BAB 5 IKHTISAR SEJARAH PEMIKIRAN FILSAFAT (2): JURUS-JURUS KAJIAN RASIONAL

Pernah kepada Sang Budha ditanyakan: "Apakah Allah itu?" Sang Budha tersenyum, menaikkan kening, menggerakkan jari penunjuk ke bibirnya, dan hanya "Sssst" keluar dari bibirnya. Hal-hal luhur adalah benar, asalkan tidak sampai dirumuskan; jika dirumuskan, tidak benar lagi. Dari : J W M Verhaar, SJ, Identitas Manusia. Kanisius, 1989, halaman 137

4. Zaman Modern (1500 - 1800)
Para filsuf zaman modern menegaskan bahwa pengetahuan tidak berasal dari kitab suci atau ajaran agama, tidak juga dari para penguasa, tetapi dari diri manusia sendiri. Namun tentang aspek mana yang berperan ada beda pendapat. Aliran rasionalisme beranggapan bahwa sumber pengetahuan adalah rasio: kebenaran pasti berasal dari rasio (akal). Aliran empirisme, sebaliknya, meyakini pengalamanlah sumber pengetahuan itu, baik yang batin, maupun yang inderawi. Lalu muncul aliran kritisisme, yang mencoba memadukan kedua pendapat berbeda itu. Aliran rasionalisme dipelopori oleh Rene Descartes (1596-1650 M). Dalam buku Discourse de la Methode tahun 1637 ia menegaskan perlunya ada metode yang jitu sebagai dasar kokoh bagi semua pengetahuan, yaitu dengan menyangsikan segalanya, secara metodis. Kalau suatu kebenaran tahan terhadap ujian kesangsian yang radikal ini, maka kebenaran itu 100% pasti dan menjadi landasan bagi seluruh pengetahuan. Tetapi dalam rangka kesangsian yang metodis ini ternyata hanya ada satu hal yang tidak dapat diragukan, yaitu "saya ragu-ragu". Ini bukan khayalan, tetapi kenyataan, bahwa "aku ragu-ragu". Jika aku menyangsikan sesuatu, aku menyadari bahwa aku menyangsikan adanya. Dengan lain kata kesangsian itu langsung menyatakan adanya aku. Itulah "cogito ergo sum", aku berpikir (= menyadari) maka aku ada. Itulah kebenaran yang tidak dapat disangkal lagi. -- Mengapa kebenaran itu pasti? Sebab aku mengerti itu dengan "jelas, dan terpilah-pilah" -- "clearly and distinctly", "clara et distincta". Artinya, yang jelas dan terpilah-pilah itulah yang harus diterima sebagai benar. Dan itu menjadi norma Descartes dalam menentukan kebenaran. Descartes menerima 3 realitas atau substansi bawaan, yang sudah ada sejak kita lahir, yaitu (1) realitas pikiran (res cogitan), (2) realitas perluasan (res extensa, "extention") atau materi, dan (3) Tuhan (sebagai Wujud yang seluruhnya sempurna, penyebab sempurna dari kedua realitas itu). Pikiran sesungguhnya adalah kesadaran, tidak mengambil ruang dan tak dapat dibagi-bagi menjadi bagian yang lebih kecil. Materi adalah keluasan, mengambil tempat dan dapat dibagibagi, dan tak memiliki kesadaran. Kedua substansi berasal dari Tuhan, sebab hanya Tuhan sajalah yang ada tanpa tergantung pada apapun juga. Descartes adalah seorang dualis, menerapkan pembagian tegas antara realitas pikiran dan realitas yang meluas. Manusia memiliki keduanya, sedang binatang hanya memiliki realitas keluasan: manusia memiliki badan sebagaimana binatang, dan memiliki pikiran sebagaimana malaikat. Binatang adalah mesin otomat, bekerja mekanistik, sedang manusia adalah mesin otomat yang sempurna, karena dari pikirannya ia memiliki kecerdasan. (Mesin otomat jaman sekarang adalah komputer yang tampak seperti memiliki kecerdasan buatan). Descartes adalah pelopor kaum rasionalis, yaitu mereka yang percaya bahwa dasar semua pengetahuan ada dalam pikiran.

Demikian Kant membuat kritik atas seluruh pemikiran filsafat. Yang disebut kepastian hanya mengungkapkan harapan kita saja dan tidak boleh dimengerti lebih dari "probable" (berpeluang). yang memilih pengalaman sebagai sumber utama pengetahuan. Namun dari kesan itu mengapa muncul gagasan kertas. dan bukan yang lainnya? Bagi Hume. kesimpulan itu tidak berdasarkan pengalaman. Jika gejala tertentu diikuti oleh gejala lainnya. yang lebih didikte oleh kebiasaan atau perasaan kita saja. Ada kondisi-kondisi tertentu dalam manusia yang ikut menentukan konsepsi manusia tentang dunia. Dari kesan muncul gagasan. Kausalitas. Atas dasar pengalaman itu tidak dapat disimpulkan. Maka Hume menolak kausalitas. Oleh karena itu pengenalan inderawi merupakan bentuk pengenalan yang paling jelas dan sempurna. namun dalam akal kita ada faktor-faktor yang menentukan bagaimana kita memandang dunia sekitar kita. Ini bentuk pengetahuan. Benarlah bahwa pengetahuan kita tentang dunia berasal dari indera kita. Jika kita bicara tentang "hukum alam" atau "sebab-akibat". Hukum alam adalah hukum alam. Kant setuju dengan Hume bahwa kita tidak mengetahui secara pasti seperti apa dunia "itu sendiri" ("das Ding an sich"). ada dua unsur yang memberi sumbangan kepada pengetahuan manusia tentang dunia. sebab harapan bahwa sesuatu mengikuti yang lain tidak melekat pada hal-hal itu sendiri. yang merupakan gagasan kita saja. Hume merupakan pelopor para empirisis. Hume tidak menerima substansi. atau "bagi semua orang".Aliran empririsme nyata dalam pemikiran David Hume (1711-1776). Thoman Hobbes (1588-1679). Namun. Filsafat zaman modern berfokus pada manusia. dan meletakkan dasar bagi aneka aliran filsafat masa kini. Dua hal dicermati oleh Hume. Filsuf penting adalah N Macchiavelli (1469-1527). Itu materi pengetahuan. Pengalaman itu dapat yang bersifat lahirilah (yang menyangkut dunia). bahwa ada substansi tetap yang misalnya disebut kertas. sebab yang dialami hanya kesan-kesan saja tentang beberapa ciri yang selalu ada bersama-sama. menurut Kant. Dalam zaman modern ada periode yang disebut Renaissance ("kelahiran kembali"). Bahwa di dunia ada realitas kertas. Kant berpendapat bahwa masing-masing pendekatan benar separuh. Catatan. Thomas More (1478-1535) dan Francis Bacon (1561-1626). yaitu substansi dan kausalitas. dan salah separuh. licin. membuat suatu sintesis. Yang pertama adalah kondisi-kondisi lahirilah ruang dan waktu yang tidak dapat kita ketahui sebelum kita menangkapnya dengan indera kita. diterima oleh Hume. atau Tuhan (pada abad pertengahan). yang memiliki ciri-ciri tadi. Ruang dan waktu adalah cara pandang dan bukan atribut dari dunia fisik. bukan kosmos (seperti pada zaman kuno). Misal kualami kesan: putih. namun hanya dalam gagasan kita. Kebudayaan klasik warisan Yunani-Romawi dicermati dan dihidupkan kembali. Menurut Hume ada batasan-batasan yang tegas tentang bagaimana kesimpulan dapat diambil melalui persepsi indera kita. seni dan filsafat mencari inspirasi dari sana. sebenarnya kita membicarakan apa yang kita harapkan. maupun yang batiniah (yang menyangkut pribadi manusia). 2 . ringan. sedang gagasan adalah ingatan akan kesan-kesan seperti itu. tipis. "aku" tidak lain hanyalah "a bundle or collection of perceptions (= kesadaran tertentu)". Dengan kritisisme Imanuel Kant (1724-1804) mencoba mengembangkan suatu sintesis atas dua pendekatan yang bertentangan ini. misal batu yang disinari matahari menjadi panas. Kesan adalah hasil penginderaan langsung. namun hanya dunia itu seperti tampak "bagiku". Pengalaman hanya memberi kita urutan gejala. yang percaya bahwa seluruh pengetahuan tentang dunia berasal dari indera. tetapi tidak memperlihatkan kepada kita urutan sebab-akibat. Yang kedua adalah kondisi-kondisi batiniah dalam manusia mengenai prosesproses yang tunduk kepada hukum kausalitas yang tak terpatahkan.

Maka seluruh realitas hanya dapat dibuat jelas dalam alur pemikiran ini. Itulah faham yang dicetuskan oleh Ludwig Andreas Feuerbach (18041872). Para filsuf periode ini adalah Rene Descrates. Hegel pada dasarnya meniadakan kemutlakan. karena pastilah ada yang-ada-diluar-materi yang "mengendalikan" proses dalam materi itu untuk materi bisa menjadi-lebihsempurna-dari-sebelumnya. G Berkeley (1684-1753). namun adalah materi belaka. materi adalah titik pangkal segala sesuatu dan segala sesuatu yang mengatasi alam benda harus dikesampingkan. Feuerbach berpendapat Tuhan hanyalah proyeksi mausia tentang dirinya sendiri dan agama hanyalah sarana manusia memproyeksikan cita-cita (belum terwujud!) manusia tentang dirinya sendiri. Yang Mutlak itu tidak mutlak jika masih harus dilaksanakan. suatu pelarian dari kenyataan hidup yang umumnya pahit. Filsafat masa kini merupakan aneka bentuk reaksi langsung atau taklangsung atas pemikiran Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831). Periode ketiga ditandai dengan fajar budi ("enlightenment" atau "Aufklarung"). Dalam katagori ini juga dimasukkan Jean-Jacques Rousseau (1712-1778) dan Immanuel Kant. yang sering sedang-menjadi-lebih-sempurna bukanlah ide ("Yang Mutlak"). Dengan mengatakan Yang Mutak itu menjadi. Menurut Feuerbach. sebab jika betul-betul mutlak. Dari sini dapat difahami munculnya sejumlah aliran-aliran penting dewasa ini: Positivisme menyatakan bahwa pemikiran tiap manusia. Kesalahan Hegel adalah tidak menerima bahwa Yang Mutlak itu berdiri sendiri dan ada-diatassegalanya. Sistem filsafatnya juga menggunakan menggunakan matematika. yang ada bukan Tuhan yang mahaadil. 1818-1883) mengajarkan bahwa kenyataan hanya terdiri atas materi belaka. Pada tahap dewasa dan matang digunakan metode-metode positif dan ilmiah. dan jika maha sempurna tidak menjadi. namun yang ada hanyalah manusia yang ingin menjadi adil. Hegel ingin menerangkan alam semesta dan gerak-geriknya berdasarkan suatu prinsip. bahwa "agama adalah candu bagi rakyat". Namun celakanya. maka materialisme pun jatuh dalam kubangan yang sama. Selanjutnya Marx menegaskan bahwa filsafat hanya memberi interpretasi atas perkembangan masyarakat dan sejarah. Oleh sebab itu pemikiran Hegel langsung ditentang oleh aliran pemikiran materialisme yang mengajarkan bahwa yang sedang-menjadi itu. Marx adalah pengikut setia Feuerbach (sekurangnya pada tahap awal). John Stuart Mill (1806-1873) dan H Spencer (1820-1903). Dalam cara sama. Barukh de Spinoza (1632-1677) dan Gottfried Wilhelm Leibniz (1646-1710). dalam arti tidak dalam satu realitas dengan segala yang sedang-menjadi tersebut. yang menekankan akal budi. 3 . karena agama hanya membawa manusia masuk dalam "surga fantasi". Manusia muda atau suku-suku primitif pada tahap teologis" dibutuhkan figur dewa-dewa untuk "menerangkan" kenyataan. materi itu sendiri tidak bisa menjadi mutlak. Marxisme (diberi nama mengikuti tokoh utama Karl Marx. Dari sini dapat difahami mengapa Marx berkata. metafisis dan positif ilmiah. Maksudnya. dan dikembangkan menjadi neo-positivisme oleh kelompok filsuf lingkaran Wina.Periode kedua adalah zaman Barok. dengan mengatakan bahwa yang mutlak itu materi. Meningkat remaja dan mulai dewasa dipakai prinsip-prinsip abstrak dan metafisis. 5. David Hume (1711-1776). tentunya maha sempurna. Aliran positivisme dianut oleh August Comte (1798-1857). tiap ilmu dan suku bangsa melalui 3 tahap. yang berkembang dalam proses dialektis (dalam ritme tesis-antitesis-sintesis). Masa kini (1800-sekarang). Menurut Hegel semua yang ada dan semua kejadian merupakan pelaksanaan-yang-sedang-berjalan dari Yang Mutlak dan bersifat rohani. Para filsuf katagori ini adalah John Locke (1632-1704). Yang justru dibutuhkan adalah aksi untuk mengarahkan perubahan dan untuk itu harus dikembangkan hukum-hukum obyektif mengenai perkembangan masyarakat. yang sesungguhnya ada adalah materi (alam benda). Sayangnya. yaitu teologis.

merupakan inti dari pendekatan yang dipakai untuk mendeskripsikan realitas menurut apa adanya. dan karena itu tidak berperikemanusiaan (dan tak ber keTuhanan pula!). Akhirnya sejak 1960 berkembang strukturalisme yang menyelidiki pola-pola dasar yang tetap yang terdapat dalam bahasa-bahasa. karena ide menjadi benar oleh tindakan tertentu. dan hakekat itu berbicara kepada kita jika kita membuka diri kepada gejala-gejala yang kita terima. antropologi. manusia itu. konsep-konsep. Gabriel Marcel (1889-1973). Hanya dalam ilmu pengetahuan alam pernyataan memiliki makna. Disamping itu masih ada aliran filsafat analitik yang menyibukkan diri dengan analisis bahasa dan analisis atas konsep-konsep. Kierkegaard (1813-1855). Pragmatisme tidak menanyakan "apakah itu?". Kualifikasi "penerapan dalam situasi dan kondisi Indonesia" (apapun itu) pastilah tidak membuat faham marhaenisme sebagai suatu aliran filsafat dan pastilah tidak harus sama dengan faham marxisme sebagai diterapkan di dalam lingkungan masyarakat lain. 1859-1938) yang ingin mendekati realitas tidak melalui argumen-argumen. Fenomenologi banyak diterapkan dalam epistemologi. Martin Heidegger (1889-1976). Neo-kantisme dan neo-thomisme merupakan aliran-aliran yang merupakan kelahiran kembali dari aliran yang lama. yaitu suatu ideologi politik praktis Partai Komunis di negara mana saja untuk merubah dunia. Stalin dan Mao Tse Tung. Pancasila telah menjadi obyek aneka kajian filsafat. Tokoh pencetus: Ludwig Wittgenstein (18891952). dan studi-studi keagamaan (misalnya kajian atas kitab suci). Setiap obyek memiliki hakekat. Tokoh aliran ini: John Dewey (1859-1914). Karl Jaspers (1883-1969).] Ditangan Friedrich Engels (1820-1895). Eksistensialime merupakan himpunan aneka pemikiran yang memiliki inti sama.kembali kepada benda-benda itu sendiri. yaitu keyakinan. "Batas-batas bahasaku adalah batas-batas duniaku". Esensi manusia ditentukan oleh eksistensinya. Dalam berfilsafat. Yang dipersoalkan bukan "benar atau salah".[Catatan. Sangat nyata bahwa dimana saja Partai Komunis itu menjalankan praktek-praktek yang nyatanya mengingkari hak-hak azasi manusia. dan bukan pada hakekat (esensi) manusia-pada-umumnya. melainkan "apakah gunanya itu?" atau "untuk apakah itu?". 6. jangan katakan jika hal itu tidak dapat dikatakan. Pancasila sebagai obyek kajian filsafat. psikologi. agama-agama. Kalau kita "mengambil jarak" dari obyek itu. maka obyek itu "berbicara" sendiri mengenai hakekatnya. "Zuruck zu den sachen selbst" -. melepaskan obyek itu dari pengaruh pandangan-pandangan lain. yang ada hanya manusia ini. Antara lain terkenallah temuan Notonagoro dalam kajian filsafat hukum. aliran filsafat Marxisme ini menjadi gerakan komunisme. Manusia-pada-umumnya tidak ada. untuk mendapatkan atau tidak mendapatkan makna dibalik bahasa yang digunakan. atau teori umum. bahwa filsafat harus berpangkal pada adanya (eksistensi) manusia konkrit. Soal-soal falsafi seyogyanya dipecahkan melalui analisis atas bahasa. oleh dialog dengan aliran lain. sistem-sistem dan karya-karya kesusasteraan. Sebagai filsafat dan pandangan hidup bangsa Indonesia. karena pernyataan itu bersifat faktual. Tokoh aliran ini J P Sartre (1905-1980). dan gejala-gejala itu kita cermati. dan lebih-lebih oleh Lenin. Fenomenologi merupakan aliran (tokoh penting: Edmund Husserl. dan kita memahaminya berkat intuisi dalam diri kita. bahwa 4 . Friederich Nietzche (1844-1900). Soekarno mengklim telah mencetuskan marhaenisme sebagai marxisme diterapkan dalam situasi dan kondisi Indonesia.

Pancasila menjadi "defining characteristics" = pernyataan jatidiri bangsa = cita-cita atau tantangan yang ingin diwujudkan = hakekat berdalam dari bangsa Indonesia. Menurut Hardono Hadi. memiliki dan menggunakan barang-barang yang berguna sebagai syarat-syarat. Namun rasanya lebih tepat untuk melihat Pancasila sebagai obyek kajian filsafat politik. Mengenai hal ini evidensi atau isyarat yang tak dapat diragukan mengenai Pancasila terdapat naskah Pembukaan UUD 1945 dan dalam kata "Bhinneka Tunggal Ika" dalam lambang negara Republik Indonesia. setiap anggauta harus dihormati dan diterima sebagai pribadi yang sama haknya. Memasyarakat berarti mengadakan kesatuan karya dan agar kesatuan karya itu betul-betul merupakan pelaksanaan dari perikemanusiaan. dan kunci bagi kegiatan merumuskan muatan filsafat yang terdapat dalam Pancasila. Sekalipun nyata bobot dan latar belakang yang bersifat politis. Penjelmaan dari perikemanusiaan ini disebut "keadilan sosial". jika Pancasila menjadi obyek kajian filsafat.. Menurut Driyarkara. "Bhinneka Tunggal Ika" secara harafiah identik dengan "E Pluribus Unum" pada lambang negara Amerika Serikat. keberadaan manusia senantiasa bersifat ada-bersama manusia lain. Itulah demokrasi = "kerakyatan yang dipimpin . kebudayaan dan adat istiadat. Tercatat ada pula sejumlah naskah tentang Pancasila dalam perspektif suatu agama karena selain unsur-unsur lokal ("milik dan ciri khas bangsa Indonesia") diakui adanya unsur universal yang biasanya diklim ada dalam setiap agama. Suatu kajian atas Pancasila dalam kacamata filsafat tentang manusia menurut aliran eksistensialisme disumbangkan oleh N Driyarkara. dan bukan bertolak dari urut-urutan logis ("ordo essendi") yang menempatkan Allah sebagai prioritas utama. Dalam konteks itu dapatlah diidentifikasikan mana yang bernilai universifal dan mana yang bersifat lokal = ciri khas bangsa Indonesia. Buatlah suatu analisis mengenai perbedaan muatan dalam kedua teks itu. telah menjadikan 5 .Pancasila adalah sumber dari segala sumber hukum di Indonesia. Perikemanusiaan itu harus juga kulakukan dalam hubunganku dengan sesamaku yang oleh perjalanan sejarah. Perikemanusiaan itu harus kujalankan dalam bersama-sama menciptakan. yang berbicara mengenai kehidupan bersama manusia menurut pertimbangan epistemologis yang bertolak dari urut-urutan pemahaman ("ordo cognoscendi"). keadaan tempat. Perwudjudan sikap cintakasih dengan sesama manusia itu disebut "Perikemanusiaan yang adil dan beradab". Demikian pula dokumen Pembukaan UUD 1945 memiliki bobot sama dengan "Declaration of Independence" negara tersebut. maka harus ditegaskan lebih dahulu apakah dalam filsafat Pancasila itu dibicarakan filsafat tentang Pancasila (yaitu hakekat Pancasila) atau filsafat yang terdapat dalam Pancasila (yaitu muatan filsafatnya). alat-alat dan perlengkapan hidup. Namun dengan menjadikan Pancasila jatidiri bangsa tidak dengan sendirinya jelas apakah nilai-nilai yang termuat di dalamnya sudah terumus jelas dan terpilahpilah. Dalam naskah Pembukaan UUD 1945 itu.". Dalam jatidiri ada unsur kepribadian. Oleh karena itu rumusan filsafat dari Pancasila adalah sebagai berikut: Aku manusia mengakui bahwa adaku itu merupakan ada-bersama-dalam-ikatan-cintakasih ("liebendes Miteinadersein") dengan sesamaku.. Pancasila telah dinyatakan dalam GBHN 1983 sebagai "satusatunya azas" dalam hidup bermasyarakat dan bernegara. Perikemanusiaan itu harus kulakukan juga dalam memasyarakat. keturunan. unsur keunikan dan unsur identitas diri. Sesungguhnya dalam kata "Bhinneka Tunggal Ika" terdapat isyarat utama untuk mendapatkan informasi tentang arti Pancasila. Tugas.

Adaku bukan sumber dari adaku. tidak atas kekuatanku sendiri. serba tergantung. 6 . Selanjutnya aku meyakini bahwa adaku itu ada-bersama. semangat dan cara berfikir. Itulah sila kebangsaan atau "persatuan Indonesia". Adaku tidak sempurna. Pribadi (Dhat) yang mahasempurna. Sang Maha Ada. Yang menjadi sumber adaku hanyalah Ada-Yang-Mutlak.aku manusia konkrit dalam perasaan. Tuhan yang mahaesa. Itulah dasar bagi sila pertama: "Ketuhanan yang mahaesa". serba-tersokong. ada-terhubung.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful