INDONESIAN SUSTAINABLE PALM OIL/ISPO RINGKASAN MATERI PERTEMUAN SOSIALISASI PEMBANGUNAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT BERKELANJUTAN INDONESIA

(INDONESIAN SUSTAINABLE PALM OIL/ISPO) HOTEL ROYAL BOGOR, 28 PEBRUARI 2012 Oleh : Santobri

I. PENDAHULUAN Pada hari Selasa tanggal 28 Pebruari 2012, diselenggarakan acara Pertemuan Sosialisasi Pembangunan Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (Indonesian Sustaianable Palm Oil) yang bertempat di Hotel Royal, Bogor. Acara tersebut diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Perkebunan - Kementrian Pertanian. Kegiatan Sosialisasi dihadiri oleh 180 peserta yang mewakilan perusahaan perkebunan kelapa sawit se Indonesai, Perguruan Tinggi, Badan Sertifikasi, Asosiasi Perkebunan, LSM dan beberapa instansi pemerintah lainnya. II. TUJUAN Tujuan acara tersebut adalah memberikan pemahaman yang memadai tentang Peraturan Menteri Pertanian Nomor : 19/Permentan/OT.140/3/2011 tentang Pedoman Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan Inonesia atau Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), kepada seluruh pemangku kepentingan. III. MATERI ACARA Materi yang diberikan di dalam acara ini adalah sebagai berikut: NO AGENDA KEGIATAN PEMBICARA 1. Pengarahan dan pembukaan acara --- Menteri Pertanian R 2. Kebijakan di Bidang Perkelapasawitan---Direktur Jenderal Perkebunan (selaku Ketua Komisi ISPO) 3. Hambatan Perdagangan Minyak Sawit Indonesia---Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (selaku Wakil Ketua Komisi ISPO)

Sistem sertifikasi ISPO -----Karim Husein (Koordinator Bidang Sertifikasi.4. Pada tahun 2010 total luas areal kelapa sawit telah mencapai 8.4 Juta. tetapi juga ditingkat Negara dengan menerapkan hambatan nontarif terhadap minyak sawit. Penjelasan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 19/Permentan/OT.4 Juta Ton. Pemerintah AS memberikan kesempatan kepada Indonesia sebagai eksportir CPO terbesar dunia untuk memberikan penjelasan (notifikasi) hingga 28 Maret 2012. Italia. yaitu 15. Ekspor minyak sawit ke Amerika Serikat relative kecil.2 Juta Ton (13. Rosediana Suharto (Kepala Sekertariat Komisi ISPO) 7. Saat ini konsumen terbesar CPO Indonesia adalah India. Sedangkan emisi CPO Indonesia dinilai baru 17 % sehingga belum memenuhi standar emisi negara tersebut. Sejak tahun 2006 Indonesia telah menjadi negara produsen sawit terbesar di dunia dengan produksi mencapai 16. 2. sedangkan CPO Indonesia dinilai baru mencapai 19%. 3. disusul Tiongkok dan Uni Eropa. Negara tujuan utama ekspor CPO masih diduduki oleh India. Selain AS.140/3/2011 ---Direktur Tanaman Tahunan (Selaku Sekertaris ISPO) 6. Kontribusi minyak sawit Indonesia dalam memasok minyak sayur ke pasar dunia cukup besar. Kampanye Negatif terhadap sawit (isu deforestasi. Pengaraha Menteri Pertanian RI 1. Hal ini terjadi karena adanya kehawatiran minyak nabati yang diproduksi oleh Negara tersebut kalah bersaing dengan minyak sawit. Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (Environmental Protection Agency/EPA) awal tahun ini menerapkan Notice of Data Availability (NODA).1 Juta Ton diekspor dalam bentuk CPO. hingga mencapai sekitar 40 Juta Ton. akan tetapi karena AS Negara yang berpengaruh besar terhadap perdagangan dunia. sehingga perlu diwaspadai dampak penerapan non tariff barrier tersebut. tidak hayanya dilakukan oleh LSM.5%.1% sedangkan pangsa produksi minyak sawit Indonesia terhadap produksi minyak dunia sekitar 47. Bangladesh dan negara-negara lainnya. 4. meningkatnya emisi Gas Rumah Kaca (GRK).3%) dan sisanya adalah Belanda.1 Juta Ha dengan produksi CPO mencapai 19. RINGKASAN MATERI a. Penilaian Usaha Perkebunan----Direktur Pascapanen dan Pembinaan Usaha (selaku ketua Tim Penilai. dan seterusnya ) dalam beberapa tahun terkahir sangat marak.7 Juta Ton dan ekspor sebesar 16. yaitu 5. 5. Uni Eropa sudah lebih dulu menerapkan standar emisi untuk CPO sebesar 35 %.5%) diikuti China 2. Dalam Ketentuan tersebut EPA menerapkan standar emisi CPO untuk Biodisel sebesar 20%. Penjelasan Prinsip dan Kriteria ISPO-------Dr. rusaknya hábitat dan terbunuhnya satwa liar yang dilindungi. Sekertariat Komisi ISPO) IV. degradasi hutan.3 Juta Ton dengan nilai ekspor setara USD13.3 Juta Ton (32. Diperkirakan produksi minyak sawit Indonesia akan terus meningkat sampai dengan tahun 2020. Kelapa sawit merupakan komoditi ekspor andalan dari sub sektor perkebunan yang telah berkontribusi secara signifikan terhadap penerimaan devisa negara khususnya dari sektor non migas. Sekertariat Komisi ISPO) 5. dimana 12. dengan menyerap 60 % ekspor sawit Indonesai. .

dan yang sedang dalam proses.140/3/2011 tanggal 29 Maret 2011 tentang Pedoman Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (Indonesian Sustainable Palm Oil / ISPO). Pada tahun ini juga Kementerian Pertanian akan melaksanakan penilain kelas kebun untuk persyaratan sertifikasi ISPO 8. 7. sedangkan ISPO untuk pekebunan kelapa sawit rakyat (Plasma dan Swadaya) akan diatur kemudian. Produktivitas dan Mutu Meletakkan Usaha Perkebunan Rakyat Sebagai Prioritas Meningkatkan Nilai Tambah & Efisiensi Agribisnis Kelapa Sawit Penerapan Pembangunan Kelapa Sawit Berkelanjutan Menurut Sistem Indonesia 2. Pembentukan Keanggotaan Komisi ISPO. Untuk mengantisipasi hal tersebut Kementerian Pertanian telah menetapkan satu kebijakan baru di bidang perkelapasawitan dengan menerbitkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor: 19/Permentan/OT. kita harus melakukan langkahlangkah strategis dalam menjawab tantangan tersebut. Agar bisa meningkatkan pasar ditengah kampanye negative. Karena Pelaksanaan sertifikasi ISPO sudah dekat. Sertifikasi ISPO akan dimulai pada awal Maret 2012. Sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas kelapa sawit Nasional Pemerintah mempunyai visi pembangunan perkebunan kelapa sawit 35:26 pada tahun 2025. yaitu Penunjukkan Lembaga Sertifikasi. Kebijakan umum pengembangan perkebunan kelapa sawit di dinonesia adalah : Miningkatkan Produksi. 9. artinya produktivitas ditingkatkan menjadi 35 Ton TBS/Ha/Tahun dan rendemen CPO 26%. Pelatihan Auditor ISPO. Peraturan Menteri tersebut bersifat mandatory (wajib) dan mengatur persyaratan ISPO yang harus diterapkan oleh perusahaan perkebunan kelapa sawit. Kebijakan di Bidang Perkelapasawitan (Direktur Jenderal Perkebunan/Ketua Komisi ISPO) 1. agar pelaksaan sertifikasi berjalan dengan lancar dan baik. Perusahaan perkebunan kelapa sawit yang dapat mengajukan permohonan sertifikat ISPO harus memenuhi para syarat. Pembentukan Sekretariat Komisi ISPO. Perusahaan perkebunan kelapa sawit dalam waktu paling lambat sampai dengan tanggal 31 Desember 2014 harus sudah melaksanakan usahanya sesuai dengan ketentuan peraturan ini yang dibuktikan dengan diperolehnya Sertifikat ISPO. Sosialisasi ISPO juga akan dilaksanakan di 19 provinsi sentra perkebunan kelapa sawit. seperti Penyusunan Petunjuk Penerapan Prinsip dan Kriteria ISPO. 10. Untuk itu berbagai persiapan telah dilakukan. serta Pertemuan Sosialisasi ISPO yang saat ini sedang kita selenggarakan.140/2/2009 tentang Pedoman Penilaian Usaha Perkebunan. diharapkan seluruh perusahaan perkebunan kelapa sawit mempersiapkan segala sesuatu yang diminta oleh P&C ISPO. 3. yaitu sudah mendapat Kelas I. Kelas II. dan Kelas III berdasarkan hasil Penilaian Usaha Perkebunan sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 7/Permentan/OT. Sosialisasi ISPO di 12 Provinsi. Upaya Kementerian Pertanian dalam mendukung peningkatan produktivitas kelapa sawit adalah sebagai berikut : .6. b.

antara lain mendorong tumbuhnya waralaba benih kelapa sawit. dan seterusnya. Melakukan pemberdayaan petani melalui pelatihan. Mendorong untuk dilakukan peremajaan kebun-kebun yang sudah berumur 25 tahun dan tidak produktif. Komitmen Unilateral dari Indonesia untuk mengurangi emisi GRK 26% pada tahun 2020 (Copenhagen. Permasalahan dan Tantangan Tuduhan : Deforestasi. wilayah pasca konflik. Merintis fasilitasi penggantian benih tidak bersertifikat dengan benih unggul bermutu bersertifikat. khususnya untuk perkebunan rakyat. merusak habitat dan membunuh satwa liar yang dilindungi. yaitu wilayah pasca bencana. . wilayah miskin dan tertinggal. bimbingan. Desember 2009). perbatasan. Introduksi model-model peremajaan perkebunan rakyat kelapa sawit. khususnya jalan kebun. Moratorium : Hutan primer dan Lahan gambut Penerapan Standar Sertifikasi ISPO. yang potensi produksinya lebih tinggi dan umur panen yang lebih pendek dari tanaman yang diremajakan. dan pendampingan 4. Memberikan kemudahan akses ke sumber benih. Meningkatnya emisi Gas Rumah Kaca (GRK) Indonesia dituduh sebagi penyumbang GRK terbesar ke tiga. Mempermudah akses ke sumber pupuk. yang diharapkan dapat menekan biaya peremajaan dan ada sumber pendapatan selama menunggu tanaman belum menghasilkan. dengan menggunakan benih unggul bermutu. Merintis fasilitasi peningkatan infrastruktur. degradasi hutan. Menyediakan benih unggul bermutu bersertifikat untuk wilayah-wilayah khusus. Isue Negatif Pengembangan Kelapa Sawit : Minyak kelapa sawit sebagai minyak yang tidak sehat ? Penyebab rusaknya lingkungan ? Penyebab rusaknya hutan dan terjadinya deforestrasi ? Menyerap air sangat tinggi : penyebab kekeringan vs banjir ? Terpinggirkannya indegeneous people ? Menurunnya/matinya satwa yang dilindungi ? Menyebabkan pemanasan global dan terjadinya perubahan iklim ? CO2 Emission ? Menyusul tudingan berikutnya secara sistematis ? 5.- - - Program revitalisasi perkebunan.

RSPO VS ISPO RSPO : Merupakan standar yang disusun oleh asosiasi nirlaba pemangku kepentingan terkait kelapa sawit atas desakan konsumen Uni Eropa Di luar Uni Eropa. sehingga kurang kuat penegakannya (enforcement).140/3/2011 tanggal 29 Maret 2011 tentang Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (Indonesian Sustainable Palm Oil/ISPO). Untuk menjawab permasalah dan tantangan terebut maka pemerintah mengeluarkan kebijakan sebagai berikut : Memberlakukan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 26/Permentan/OT. Ada prasyarat kebun (Kelas I.140/2/2007 Tanggal 28 Februari 2007 tentang Pedoman Penilaian Usaha Perkebunan Memberlakukan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 19/Permentan/OT. Kebun kelapa sawit Kelas I.140/3/2011 tanggal 29 Maret 2011. Kelas II. dan Kelas III harus menerapkan ISPO paling lambat 31 Desember 2014.6. dan Kelas III dapat mengajukan permohonan sertifikasi ISPO) Penerapan ISPO akan dimulai Maret 2012 . Kebun kelapa sawit yang sudah mendapat Kelas I. belum ada tuntutan konsumen untuk menerapkan sustainability seperti RSPO. Kelas II.19/Permentan/ OT. RSPO bersifat voluntarily (sukarela). Penerapan ISPO bersifat mandatory (harus/wajib) karena ISPO berisi tentang semua ketentuan terkait yang berlaku di Indonesia - 7. ISPO adalah mandatory (wajib bagi seluruh perusahaan kelapa sawit di Indonesia) Penegakannya kuat (enforcement) . dan tidak berbasis peraturan pemerintah Tidak ada prasyarat bagi perusahaan perkebunan kelapa sawit Selama tahun 2004-2011 baru 79 perusahaan kelapa sawit menjadi anggota RSPO dan kurang lebih 13 yang telah memperoleh CSPO ISPO : Peraturan Menteri Pertanian No. Kelas II. Diterbitkan dalam rangka pemenuhan sustainability sebagai amanah UUD 1945. dan Kelas III dapat langsung mengajukan permohonan Sertifikasi ISPO. karena didasarkan atas peraturan dan ketentuan Pemerintah Seluruh perusahaan perkebunan kelapa sawit di Indonesia wajib menaati ketentuan ISPO mulai dari hulu (kebun) hingga hilir (pengolahan hasil).

4 juta ton atau senilai US $ 1.7 juta. Lima negara terbesar tujuan ekspor di Eropa adalah Belanda. Spanyol dan Yunani.8 Milyar. Hambatan perdagangan minyak sawit di AS : . Hambatan perdagangan minyak sawit di Eropa : Eropa (EU) mentargetkan penggunanaan bioesel dari campuran minyak nabati untuk mengurangi efek dari gas rumah kaca (GRK).4 ribu ton atau senilai US $ 51.7% s/d 60.9% yang berarti dapat memenuhi ketentuan EU-RED 3. Perdagangan minyak sawit ke Amerika Serikat tahun 2011 total volume ekspor sebesar 49. EU mensyaratkan bahwa penggunaan energi terbarukan tersebut harus memenuhi ketentuan dimana dapat mereduksi emisi GRK minimal sebesar 35%. Hambatan Perdagangan Minyak Sawit Indonesia (Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian selaku Wakil Ketua Komisi ISPO) 1. seluruh perusahaan perkebunan kelapa sawit sudah menerapkan persyaratan ISPO Perusahaan perkebunan kelapa sawit masih memiliki waktu yang cukup untuk melakukan persiapan dalam rangka memenuhi persyaratan ISPO (7 Prinsip dan Kriteria) Ada sanksi yang tegas jika pelaku usaha melakukan pelanggaran Persyaratan ISPO untuk kebun Plasma dan Swadaya dibuat tersendiri (disesuaikan) c. Hambatan perdagangan minyak sawit Indonesia di dunia : UNI EROPA (Non-tariff barrier) : Terkait dengan EU Directive on promotion of Renewable Energy Sources. EU akan menggunakan energi terbarukan sebesar 10 % dimana minyak sawit dapat menjadi salah satu bahan baku untuk energi terbarukan tersebut. Hasil penelitian yang telah dilaksanakan oleh KMSI bekerjasama dengan ICRAF menunjukkan bahwa saving emission untuk perkebunan kelapa sawit di lahan mineral sebesar 46. Jerman.- Paling lambat tanggal 31 Desember 2014. Itali. Perdagangan minyak wait ke Eropa tahun 2011 total volume ekspor sebesar 2.EU RED AMERIKA SERIKAT(Non-tariff barrier) : Batasan pengurangan Gas Rumah Kaca (GRK) dari biodiesel yang dibuat dari minyak sawit AUSTRALIA (Non-tariff barrier) : Terkait dengan kebijakan Food Labelling untuk mengganti/ amendement dari Food Standard Australia dan New Zealand INDIA (Tariff barrier) PAKISTAN (Tariff barrier) 2.

EPA melalui Federal Register mengeluarkan hasil analisisnya.1 juta ton atau senilai US $ 3.5 ribu ton atau senilai US $ 2. Peningkatan kebutuhan biodiesel tersebut dikhawatirkan akan mendorong pembukaan lahan kelapa sawit secara besar-besaran dan mengakibatkan peningkatan emisi GRK (CO2). Salah satu kebijakan Pemerintah Amerika Serikat untuk mengurangi pemanasan global adalah melalui peningkatan penggunaan bio energy termasuk biodiesel yang salah satu bahan bakunya adalah minyak sawit. Usulan ini pada tingkat Senat dapat diterima namun alasan pemberian label harus kesehatan (sesuai WTO). Kementerian Pertanian telah mengkoordinir rapat pembahasan hasil analisa tersebut yang dihadiri oleh berbagai stakeholder baik dari instansi Pemerintah maupun swasta bahkan bersama dengan Malaysia dan saat ini sedang mempersiapkan tanggapan atas hal tersebut. hingga usulan ini berubah menjadi kesehatan. Eskpor minyak sawit ke India Tahun 2011 total volume ekspor sebesar 3. Pertumbuhan ekspor Indonesia ke India memiliki kecenderungan naik dari tahun 2006-2011.5 Milyar.- - - - - Environmental Protection Agency (EPA) merupakan lembaga Pemerintah AS yang membuat kebijakan untuk memelihara lingkungan melalui pencegahan pemanasan global disebabkan oleh peningkatan peredaran gas CO2. Hal ini bertentangan dengan ketentuan WTO bahwa regulasi yang dikeluarkan oleh suatu Pemerintah yang berdampak terhadap akses pasar barang yang diimpor maupun diproduksi lokal harus dapat dibuktikan secara ilmiah (scientifically proven). Berdasarkan perhitungan mereka. Indonesia berpotensi kehilangan pasar biodiesel sawit ke AS. Beberapa langkah yang telah dilakukan Pemerintah Indonesia adalah : . Hasil analisa EPA tersebut diatas dapat dikatakan tidak valid karena menggunakan banyak asumsi. Dengan demikian. India merupakan negara pengimpor terbesar minyak sawit Indonesia. bahwa biodiesel dan renewable diesel dari minyak sawit tidak dapat memenuhi batas minimal penurunan emisi GRK sebesar 20%. biodiesel dan renewable diesel dari minyak sawit hanya menurunkan emisi GRK sebesar 17% dan 11%. Hambatan perdagangan minyak sawit di Australia adalah : Pemerintah Australia mengeluarkan Australia’s Food Standards Amendment (Truth in Labelling-Palm Oil) bill 2010 yang mengusulkan agar minyak sawit di nyatakan dalam label dari setiap produk dimana minyak sawit yang dikandung harus berasal dari sumber yang sustainable. 5. Hambatan perdagangan minyak sawit ke India adalah India akan mengenakan Green Tax 6.7 juta. 4. Perdagangan minyak sawit ke Australia Tahun 2010 total volume ekspor sebesar 29. Pemerintah Amerika Serikat telah memperhitungkan bahwa kebutuhan biodiesel mereka akan terus meningkat sebanyak 36 Milyar gallon pada tahun 2022. Hal ini dilakukan dalam rangka meluruskan informasi atas persepsi dunia yang salah terhadap minyak sawit Indonesia. Usulan ini sedang dipertimbangkan pada tingkat yang lebih tinggi dan harus didukung dengan bukti yang scientific dan technical evidences. Langkah penyelesaian dan antisipasi yang dilakukan adalah : Melakukan kegiatan advokasi secara sendiri-sendiri maupun bersama dengan Malaysia. Pada tanggal 27 Januari 2012.

Tujuan penilaian kebun adalah untuk mengetahui kinerja perusahaan perkebunan.o o o - Pertemuan Bilateral tingkat Menteri dimana Menteri Pertanian Indonesia mengunjungi negara tujuan ekspor yang mengeluarkan kebijakan yang menghambat minyak sawit Indonesia. Menyelenggarakan Konferensi Pers untuk mengembalikan citra minyak sawit Indonesia. Aspek penilaian kebun yang dalam tahap pembangunan dan operasional adalah sebagai berikut : aspek legalitas manajemen penyelesaian hak atas tanah realisasi pembangunan kebun/unit pengolahan kepemilikan sarana dan prasarana system pencegahan dan pengendalian kebakaran . 7. kepatuhan terhadap peraturan dan ketentuan yang berlaku. 3. Pemerintah Indonesia akan mempertanyakan pada forum tertentu di WTO. - d. Melakukan upaya peningkatan akses pasar melalui negosiasi dan perundingan penurunan tarif bea masuk produk minyak sawit Indonesia ke negara tujuan ekspor (contoh : India dan Pakistan). Seminar dan Dialog Internasional untuk menanggulangi persepsi yang salah terhadap minyak sawit Indonesia.l penerapan ISPO dan menghilangkan sumber sumber yang menghasilkan GRK Selain itu upaya pendekatan dan negosiasi terus dijalankan. dan salah satu syarat mendapatkan sertifikat ISPO. Penilaian Usaha Perkebunan (Direktur Pascapanen dan Pembinaan Usaha selaku Ketua Tim Penilai. Hanya perusahaan yang mendapatkan sertifikat Penilaian Usaha Perkebunan dengan kategori kebun kelas I. Namun demikian apabila langkah ini masih belum berhasil. Tantangan ke depan : Usaha untuk melakukan promosi minyak sawit yang berkelanjutan dan memiliki emisi GRK yang rendah perlu terus dikampanyekan. disamping itu perbaikan dan usaha mitigasi GRK harus terus dilakukan a. memenuhi baku teknis. kelas II dan kelas III yang dapat mengusulkan untuk dapat sertifikat ISPO. Sekertariat Komisi ISPO) 1.. dan kewajiban perusahaan dalam penyusunan program serta kebijakan perusahaan. Dasar pelaksanan penilaian usaha perkebunan adalah Permentan Nomor 07 Tahun 2009 tentang Pedoman Penilaian Usaha Perkebunan 2.

C. Gubernur atau Dirjen Perkebunan. Penetapan hasil penilaian usaha perkebunan : Hasil penilaian Tim (Kab/Kota) disertai saran dan pertimbangan disampaikan kepada Bupati/Walikota dengan tembusan kepada Gubernur dan DirjenBun paling lambat dua minggu setelah selesai penilaian. Hasil penilaian Tim (Pusat) disertai saran dan pertimbangan disampaikan kepada Dirjen Perkebunan dengan tembusan kepada Bupati/Walikota dan Gubernur paling lambat dua minggu setalah penilaian. o Kelas IV diberi peringatan tiga kali dengan selang waktu empat bulan. Hasil penilaian Tim (Provinsi) disertai saran dan pertimbangan disampaikan kepada Gubernur dengan tembusan kepada Bupati/Walikota dan Dirjen Perkebunan paling lambat dua minggu setalah penilaian. II. B. o Tahap operasional ditetapkan dalam kelas I. Gubernur atau Dirjen Perkebunan disampaikan kepada perusahaan dengan ditembuskan kepada Bupati/Walikota. Penetapan kelas usaha dan saran tindak lanjut oleh Bupati/Walikota. Apabila dalam waktu dua bulan penetapan kelas kebun belum dilakukan. Penetapan kelas dilakukan oleh Bupati/Walikota. IV dan V. - - - - . o Kelas V diber peringatan satu kali dengan selang waktu empat bulan. o Kelas E diberi peringatan satu kali dengan selang waktu empat bulan. Apabila saran tindak lanjut kelas D dan E atau IV dan V tidak dilaksanakan maka : o Kelas D diberi peringatan tiga kali dengan selang waktu empat bulan. D dan E. Gubernur atau Dirjen Perkebunan berdasarkan hasil Tim Penilai paling lambat dua bulan setelah diterimanya hasil penilaian. Saran tindak lanjut untuk kelas D dan E (tahap pembangunan) dan/atau kelas IV dan V (tahap opersional) wajib segera dilaksanakan oleh perusahaan perkebunan. III.- kepemilikan sarana dan prasarana system pencegahan dan pengendalian organisma pengganggu tanaman Aspek operasional Kebun Pengolahan hasil penerapan AMDAL/UKL dan UPL Penumbuhan dan pemberdayaan masyarakat/koperasi setempat Pelaporan 4. usaha perkebunan dianggap kelas A dan/atau kelas I. Hasil penilaian perkebunan : o Tahap pembangunan ditetapkan dalam kelas A.

Sanksi administrasi Perusahaan yang tidak bersedia dinilai dinyatakan kelas E atau V Perusahaan kelas D dan E atau IV dan V dalam jangka waktu peringatan belum dilaksanakan saran tindak lanjut. manajemen. 4. Menunjuk petugas yang berkompeten yang akan memberikan penjelasan kepada petugas penilai. maka ketentuan ini merupakan mandatory atau kewajiban yang harus dilaksanakan bagi pelaku usaha perkebunan di Indonesia. mendukung komitmen Indonesia dalam pelestarian Sumber Daya Alam dan fungsi lingkungan hidup. kebun. pengolahan hasil. II.5. yaitu kebun kelas I (baik sekali). Hasil penilaian tersebut berupa penentuan kelas kebun. memantapkan sikap dasar bangsa Indonesia untuk memproduksi minyak kelapa sawit berkelanjutan sesuai tuntutan masyarakat global. kelas III (sedang). dan III dapat mengajukan permohonan untuk dilakukan audit agar dapat diterbitkan sertifikat ISPO. sosial. setiap 3 tahun sekali kebun dinilai untuk mendapatkan kelas kebun (aspek legalitas. 2. ISPO didasarkan kepada peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia. 6. serta pelaporan). Tidak ada indikator mayor dan minor. 41 kriteria dan 126 indikator. Sesuai dengan Permentan No. Medan. lingkungan. 7. Tujuh prinsip ISPO meliputi : . 5. Penjelasan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 19/Permentan/OT. sehingga bersifat wajib dipenuhi. kelas II (baik). ISPO secara resmi berlaku mulai Maret 2012 dan perusahaan perkebunan kelapa sawit dalam waktu paling lambat 31 Desember 2014 harus sudah melaksanakan penilaian usaha perkebunan. 3. izin usaha perkebunannya dicabut 6.140/3/2011 tanggal 29 Maret 2011 tentang Pedoman Perkebunan Kelapa sawit Berkelanjutan Indonesia (ISPO).140/3/2011 (Direktur Tanaman Tahunan Selaku Sekertaris ISPO) 1. Tujuan ISPO adalah memposisikan pembangunan kelapa sawit sebagai bagian integral dari pembangunan ekonomi Indonesia. 7. kelas IV (kurang) dan kelas V (kurang sekali). Untuk kebun kelas I. karena seluruh indikator merupakan hal hal yang diminta oleh peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia. 07/2009 tentang Pedoman Penilaian Usaha Perkebunan. Yang perlu disiapkan oleh perusahaan perkebunan terkait penilaian usaha perkebunan adalah : Menyiapkan data dan informasi secara detail. Melakukan koordinasi dengan petugas dinas yang membidangi perkebunan kabupaten/kota/provinsi e. Dasar hukum ISPO adalah Permentan Nomor 19/Permentan/OT. ekonomi wilayah. ISPO resmi dicanangkan untuk diterapkan di perkebunan sawit Indonesia pada tanggal 30 Maret 2011 dalam acara Semarak 100 Tahun Sawit di Tiara Convention Center. ISPO memiliki 7 prinsip.

Penanaman pada lahan mineral lahan gambut sesuai ketentuan yang berlaku (moratorium Inpres No. Penerapan Pedoman Teknis Budidaya dan Pengolahan Kelapa Sawit Penerapan pedoman teknis budidaya terkait Pembukaan lahan. Mempunyai status badan hukum yang jelas sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. pengolahan TBS (penerapan GAP dan GMP). Pengendalian OPT (Penerapan PHT. Perkebunan harus memiliki perencanaan jangka panjang untuk memproduksi minyak sawit lestari. Konservasi terhadap sumber dan kualitas air (konservasi kualitas air buangan dan pengunaan air efisien).Sistem perizinan dan manajemen kebun Penerapan pedoman teknis budidaya dan pengolahan kelapa sawit Pengelolaan dan pemantauan lingkungan Tanggung jawab terhadap pekerja Tanggung jawab sosial dan komunitas Pemberdayaan kegiatan ekonomi masyarakat Peningkatan usaha secara berkelanjutan 8. Perbenihan. - . - 9. Membangun kebun untuk masyarakat sekitar paling rendah seluas 20% dari total luas areal kebun yang diusahakan (Permentan No 26/Permentan/OT.10 tahun 2011 tentang penundaan pemberian izin baru dan penyempurnaan tata kelola hutan alam primer dan lahan gambut). pengelolaan limbah dan limbah B3. Sistem Perizinan dan Manajemen Perkebunan Memiliki Perizinan dan Sertifikat Tanah sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku. penerimaan TBS di pabrik. Rencana dan realisasi pembangunan perkebunan dan pabrik.140/2/2007 tanggal 28 Pebruari 2007). Pemeliharaan tanaman. gangguan dari sumber yang tidak bergerak dan pemanfaatan limbah. Penerapan pedoman teknis pengolahan hasil perkebunan: pengangkutan buah. Pemberian informasi kepada instansi terkait/pemangku kepentingan sesuai ketentuan yang berlaku terkecuali yang patut dirahasiakan. Sesuai dengan Rencana Umum Tataruang Wilayah Provinsi (RUTWP)/Rencana Umum Tataruang Wilayah Kab/Kota (RUTWK) Apabila terdapat tumpang tindih dengan usaha pertambangan harus diselesaikan sesuai dengan ketentuan yang berlaku Lahan perkebunan yang digunakan bebas dari status sengketa dengan masyarakat/petani disekitarnya. Early Warning System/EWS) dan Pemanenan.

ekonomi dan lingkungan) dengan mengembangkan dan mengimplementasikan rencana aksi yang mendukung peningkatan produksi minyak sawit berkelanjutan. agama. Tanggung jawab pada pekerja Penerapan sistem manajemen keselamatan kerja (SMK3) Kesejahteraan dan peningkatan kemampuan pekerja/buruh Tidak adanya perlakuan yang berbeda sesuai ras. pendidikan. untuk menjamin lestarinya usaha tersebut 14. Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Kewajiban terkait analisa dampak lingkungan AMDAL. Tanggung jawab sosial dan komunitas Memiliki tanggung sosial dengan masyarakat sekitar Ikut meningkatkan kesejahteraan Mendorong pembentukan koperasi pekerja Memiliki program untuk kesejahteraan masyarakat dan kearifan lokal Memberdayakan penduduk asli 13. Peningkatan usaha secara berkelanjutan meliputi meliputi pengelola perkebunan dan pabrik/mill harus terus menerus meningkatkan kinerja (sosial. suku. klinik. UKL dan UPL Pencegahan dan penanggulangan kebakaran Pelestarian biodiversity Identifikasi dan perlindungan kawasan/suaka alam yang mempunyai nilai konservasi tinggi Mengusahakan pengurangan mitigasi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) dengan menghindari penyebabnya Konservasi kawasan yang potensial akan bererosi tinggi dan kawasan pinggiran sungai 11. tempat ibadah dan sarana olah raga 12. .10. Pemberdayaan Kegiatan Ekonomi Masyarakat Memprioritaskan untuk memberi peluang pembelian dan pengadaan barang jasa kepada masyarakat disekitar kebun Peningkatan usaha secara berkelanjutan Perbaikan usaha dilakukan secara terus menerus. dan gender Perlunya asuransi keselamatan kerja dan pembentukan serikat pekerja Sistem penggajian sesuai ketentuan yang berlaku yaitu sesuai atau lebih tinggi UMR setempat Tersedianya sarana perumahan.

juga yang menjadi persyaratan utama negara pembeli bagi palm oil biodiesel 2. Perusahaan perkebunan yang telah memenuhi persyaratan ISPO akan diberi sertifikat ISPO yang berlaku selama 5 tahun dan diumumkan kepada publik f. sebagai ketentuan Pemerintah ISPO akan di notifikasikan ke WTO agar diakui seluruh anggota WTO 7. perwakilan asing auditor harus memiliki izin kerja 3. akan dikenakan sanksi penurunan kelas kebun menjadi Kelas IV. 16.- Tersedianya rekaman hasil penerapan perbaikan/peningkatan yang dilakukan meliputi : Keputusan dari tinjauan manajemen.2. ISPO terdiri dari 7 Prinsip. dan 3 dapat mengajukan untuk disertifikasi · Lembaga independent: dilakukan oleh lembaga sertifikasi yang diakreditasi oleh KAN atau punya kerja sama dgn KAN. Kementrian Lingkungan Hidup . ISPO tidak akan memberatkan pengusaha karena peraturan tersebut seharusnya sudah dipenuhi 6. Ketua Komisi ISPO) 1. Ada dua tahap penilaian didalam sertifikasi ISPO yaitu : · Peran Pemerintah : Melakukan penilaian usaha perkebunan dan menentukan kelas kebun. II atau kelas III apabila sampai dengan tanggal 31 Desember 2014 belum mengajukan permohonan untuk mendapat sertifikasi ISPO. Perkembangan terbaru : Negara pembeli terutama Uni Eropa dan Amerika Serikat mengutamakan pengurangan gas rumah kaca (GRK)untuk energi terbarukan. ISPO dibuat berdasarkan perundang undangan yang berlaku (disarikan dari lebih dari 116) dari Kementerian Pertanian. Pengenalan Persyaratan ISPO (Dr Rosediana Suharto. kelas 1. Perusahaan Perkebunan Kelapa sawit kelas I. Penerapan teknologi baru dan Pelaksanaan tindakan korektif maupun prenventif 15. Kehutanan dan Badan Pertanahan Nasional 5. 4. kriteria sustainability ditekan kan bagi pengurangan gas rumah kaca bila dibanding dengan minyak . Ketentuan ISPO memiliki legal frame yang jelas. ISPO adalah Indonesian Sustainable Certification System yag diharapkan dapat : · · · Meningkatkan kesadaran pengusaha kelapa sawit Indonesia untuk memperbaiki lingkungan Meningkatkan daya saing minyak sawit Indonesia diluar negeri Mendukung program pengurangan gas rumah kaca. 41 Kriteria dan 126 Indokator.

Sekertariat Komisi ISPO) Perusahaan perkebunana kelapa sawit yang telah mendapat penilaian kelas I. Hal-hal penting dalam perhitungan Gas Rumah Kaca dalam ISPO adalah : Perubahan pengunaan lahan (Direct Land Use change = LUC). telah menerapkan sistem manajemen mutu dan manajemen lingkungan mempunyai internal auditor yang telah mengikuti pelatihan penerapan praktis ketentuan ispo dan cara sertifikasi yang diselenggarakan oleh pelatihan yang ditunjuk oleh komisi ispo. 07 tahun 2009 tentang penilaian usaha perkebunan. Sistem Sertifikasi ISPO (Karim Husein/Koordinator Bidang Sertifikasi. Di Eropa dan Australia kembali menerapkan kebijakan bahwa saturated acid di minyak sawit mengakibatkan penyakit jantung 8. mengajukan permohonan sertifikasi ISPO kepada LEmbaga Sertifikasi yang telah mendapat pengakuan dari Komisi ISPO Penilaian kesesuaian (Audit) ISPO : kebun kelapa sawit (pemasok) milik sendiri kebun plasma (under supervisor) kebun swadaya (mempunyai kontrak) pabrik kelapa sawit (pks) kebun yang telah mendapatkan penilaian kelas I. Waste/POME. kelas II atau kelas III sesuai Permentan no. Jika dalam waktu tersebut setelah audit. non conformances tidak dapat diperbaiki. II atau III. Ditentukan dengan menggunakan model (dimasukkan para meter yang terkait . maka audit ulang lengkap wajib dilakukan. dibawah tanah dan penggunaan pupuk. g.bumi. . Auditor ISPO : Auditor mencatat ketentuan yang tidak sinkron dan tumpang tindih untuk dipelajari untuk diusulkan perbaikannya. temuan non comformances tidak dapat ditolerir sampai dapat dibuktikan bahwa perbaikan telah dilakukan oleh perusahaan perkebunan dalam batas waktu 3 (tiga) bulan. pestisida . transpor kebun dan antar negara. dihitung GRK dengan menggunakan kurva). pengaruh co – product . Selisih pendapat mengenai ISPO P&C harus dilaporkan kepada Sekretariat yang melakukan kompilasi dan mempelajari dan melaporkan kepada ISPO. Hanya auditor yang telah dilatih ISPO yang dapat melakukan audit. Perubahan pengunaan lahan tidak Langsung (Indirect Land Use Change =ILUC). Audit ISPO mengacu pada Panduan audit sistem manajemen mutu dan atau lingkungan sni 1919011-2005 (iso 19011-2002. guidelines for quality and/or enviromental management system auditing). Penggunaan tanah gambut . Penggunaan listrik . ISPO berlaku mandatory. Karbon tersimpan diatas . dll 9.

Selanjutnya dokumen akan disampaikan ke Tim Peniali ISPO. Lembaga Sertifikasi akan melakukan verifikasi kelengkapan dokumen dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari kerja. tidak adanya IUP. selambat-lambatnya satu bulan sudah diputuskan diakui atau ditolak. selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kerja sesudah mendapat pengakuan dari Komisi ISPO. Sekertariat Komisi ISPO akan memeriksa kelengkapan dokumen permohonan selambatlambatnya 7 hari dari tanggal diterima surat. Tim akan melaporkan penyimpangan tersebut pada Kementerian terkait untuk diambil tindakan sesuai ketentuan berlaku.- - Temuan berupa penyimpangan legal yang mempunyai sanksi pidana/ perdata seperti sisa pembakaran. Penerbitan Sertifikat ISPO : Sertifikat ISPO berlaku 5 (lima) tahun. Lembaga Sertifikasi ISPO akan ditunjuk oleh Komisi ISPO pada bulan Maret 2012 . Tim Penilai ISPO melakukan verifikasi terhadap seluruh dokumen yang disampikan lembaga sertifikasi berkaitan dengan persyaratan ISPO.dan menyampaikan kembali dokumen pengakuan tersebut ke lembaga sertifikasi yang mengusulkan. Hasil verifikasi dan audit lapangan selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan setelah verifikasi lapang sudah harus disampaikan ke Komisi ISPO oleh lembaga sertifikasi untuk mendapatkan pengakuan. HGB dan perijinan lainnya wajib dilaporkan oleh auditor kepada Komisi ISPO berupa catatan khusus. surveilance dilakukan minimal sekali dalam satu tahun selama masa berlakunya sertifikat. Lembaga sertifikasi pengusul menerbitkan sertifikat ISPO atas nama perusahaan perkebunan kelapa sawit yang bersangkutan. survailance pertama terhitung satu tahun sejak dilaksanakan audit terakhir. pelaksanaan penilaian ulang/re-sertifikasi dilakukan sebelum jangka waktu 5 (lima) tahun berakhir. holding company yang memiliki beberapa perusahaan perkebunan dapat menerbitkan sertifikat atas nama holding (group) melalui proses sertifikasi mill dan group kebun yang menerapkan sistim manajemen yang sama dan diawasi sepenuhnya oleh manajer holding. Kalau sudah lengkap akan ditindak lanjuti dengan penilaian lapangan (audit) untuk menyakinkan bahwa perusahaan perkebunan yang bersangkutan telah menerapkan dan memenuhi seluruh persyaratan ISPO. selanjutnya oleh Tim Penilai akan disampaikan ke Komisi ISPO untuk diberi pengakuan (approval). Perusahaan yang dinilai memenuhi syarat.