ISBN 978-979-8461-63-3

PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI MINERAL DAN BATUBARA
“Konstribusi Litbang Mineral dan Batubara

Dalam Mendukung Pelaksanaan Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara”

Bandung, 15 Juli 2009

Editor : Binarko Santoso Pramusanto I.G. Ngurah Ardha Husaini Datin Fatia Umar Darsa Permana Slamet Suprapto Tatang Wahyudi Retno Damayanti Fauzan

D M AN A SUMBERDAY

DEPARTEMEN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI MINERAL DAN BATUBARA 2009

IN

ER AL

I RG ENE

Hak Cipta / Penerbit

MIRA
Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. Jend. Sudirman No. 623, Bandung 40211 Telepon : 022 - 6030483, Fax : 022 - 6003373

Penasihat Kepala Badan Litbang ESDM Penanggung Jawab Kepala Puslitbang tekMIRA Panitia Pengarah Kuswandani, Suganal, Edwin Daranin R.M. Nendaryono, Siti Rochani Dewan Redaksi Binarko Santoso Staf Redaksi Doeto Poespojoedo, Umar Antana Bachtiar Efendi, Arie Aryansyah, Hatif Hidayat Moderator Datin Fatia Umar, Miftahul Huda, Edwin Daranin Yenny Sofaety, R.M. Nendaryono, Stefano Munir Notulis Kuswandani, Wiroto, Isyatun Rodliyah Sri Sugiarti, Dedi Yaskuri, Hasniati Artika Nuryadi Saleh

ISBN 978-979-8461-63-3 Hak cipta dilindungi oleh Undang-undang Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit

KATA PENGANTAR

Dalam rangka mensosialisasikan Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, yang menggantikan Undang-undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan, Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara (tekMIRA) telah menyelenggarakan Kolokium Pertambangan 2009 pada tanggal 15 Juli 2009, Kolokium yang bertemakan “Konstribusi Litbang Mineral dan Batubara Dalam Mendukung Pelaksanaan Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara”, dihadiri oleh para pejabat pemerintah di tingkat pusat dan daerah, pelaku usaha, para peneliti dan pejabat fungsional lainnya, mahasiswa serta masyarakat luas yang terkait dengan pengembangan pertambangan mineral dan batubara. Sebagai lembaga litbang di bidang teknologi mineral dan batubara, Puslitbang tekMIRA diharapkan dapat berperan secara aktif dalam meningkatkan nilai tambah mineral dan batubara sebagaimana amanat yang terkandung dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tersebut. Di samping itu, melalui kegiatan ini diharapkan pula dapat diperoleh masukan dari pelaku industri dan masyarakat pertambangan tentang posisi, peran, dan kontribusi litbang mineral dan batubara dalam menunjang pelaksanaan Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. Prosiding ini merupakan rangkuman dari seluruh makalah yang dipresentasikan dalam Kolokium, serta diharapkan dapat dijadikan salah satu rujukan mengenai perkembangan pertambangan, penelitian, dan kajian yang berhubungan dengan peningkatan nilai tambah mineral dan batubara. Melalui prosiding ini, siapapun dapat melihat sampai sejauhmana para peneliti Indonesia telah berkiprah dalam memajukan sektor pertambangan mineral dan batubara nasional. Dalam kesempatan ini kami menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak, baik perorangan, perusahan, instansi pemerintah, perguruan tinggi maupun seluruh pembicara dan peserta, atas pemikiran atau karya-karya terbaiknya, sehingga Prosiding ini memiliki nilai keilmiahan yang baik. Kami menyadari banyak kekurangan dalam penyusunan dan penerbitan Prosiding ini. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan penyusunan dan penerbitan Prosiding di masa yang akan datang.

Bandung, 15 Juli 2009

Tim Penyunting

PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009

i

sekaligus menjadi stimulus bagi Puslitbang tekMIRA agar menghasilkan karya litbang yang lebih baik dan berbobot serta mampu bersaing dengan lembaga litbang sejenis. saya minta kepada seluruh jajaran di Puslitbang tekMIRA untuk PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 ii . Peserta Kolokium yang Saya Hormati. Kolokium Puslitbang tekMIRA kali ini bertemakan “Kontribusi Litbang Mineral dan Batubara Dalam Mendukung Pelaksanaan Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara”. memang sudah menjadi agenda tahunan yang diharapkan dapat menampilkan karya yang bermanfaat bagi para pemangku kepentingan. Saya menilai tema kolokium 2009 ini sebagai bentuk tanggung jawab Puslitbang tekMIRA untuk berperanserta dalam pelaksanaan Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009. Salam Sejahtera bagi Kita Semua. melaksanakan. Tuhan Yang Maha Kuasa. kolokium di lembaga litbang akan menjadi tolok ukur sampai sejauhmana para peneliti dan pejabat fungsional kita lainnya mampu mengembangkan diri dalam upaya berkontribusi bagi kemajuan sektor ESDM di tanah air. Perlu dicatat pula. khususnya yang berhubungan dengan pasal 95 huruf c dan pasal 146. Penyelenggaraan kolokium di Puslitbang tekMIRA – dan juga Puslitbang lain di lingkungan Badan Litbang ESDM. yaitu pemerintah. Terkait dengan pemberlakuan Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009. serta pasal 146 tentang kewajiban pemerintah dan pemerintah daerah untuk mendorong. 15 JULI 2009 Yang kami hormati. industri. karena berkat perkenan-Nya kita dapat menghadiri acara Kolokium yang diselenggarakan oleh Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara (tekMIRA). Kedua pasal tersebut merupakan spirit dan juga momentum yang akan lebih memacu kegiatan litbang mineral dan batubara di tanah air. dan/atau memfasilitasi pelaksanaan litbang mineral dan batubara. Puji dan syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu Wata’alla. Para Pejabat Eselon I di Lingkungan Departemen ESDM atau yang mewakilinya. Undangan dan Hadirin yang Berbahagia Assalamualaikum Warohmatullohi Wabarokatuh. Saudara-saudara Sekalian. Selamat Pagi. Para Pejabat Eselon II di Lingkungan Departemen ESDM atau yang mewakilinya. dan masyarakat luas. Para Profesor Riset dan Pejabat Fungsional di Lingkungan Badan Litbang ESDM. khususnya yang menyangkut isi pasal 95 huruf c tentang kewajiban perusahaan untuk meningkatkan nilai tambah mineral dan/atau batubara di dalam negeri.SAMBUTAN KEPALA BADAN LITBANG ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL PADA ACARA KOLOKIUM PUSLITBANG TEKNOLOGI MINERAL DAN BATUBARA BANDUNG.

Persoalannya adalah. Selain dengan pemerintah daerah. tetapi juga kemakmuran bagi masyarakat. tetapi sekaligus menguntungkan jika dilempar ke pasaran. di sisi lain. serta untuk mengukur di mana posisi Puslitbang tekMIRA berada. Dalam berbagai kesempatan. memerlukan percepatan regenerasi dan “transfer of knowledge”. saya yakin Puslitbang tekMIRA memiliki sumber daya manusia (SDM) yang telah mampu melaksanakan penelitian secara profesional. Saya tahu Puslitbang tekMIRA telah lama melakukan hal itu. Namun. Kedua. tidak saja memberikan kontribusi terhadap kemajuan bidang pertambangan mineral dan batubara. Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 yang bernuansa desentralisasi – artinya pengelolaan pertambangan mineral dan batubara berada di pemerintah daerah. Untuk itu. Ketiga. Namun perlu saya garis bawahi. mengharuskan kita untuk secara lebih intens menjalin kerja sama dengan mereka. tetapi. tingkatkan kualitas sumber daya manusia. Puslitbang tekMIRA juga pasti merasakan kebijakan “zero growth” yang ditetapkan beberapa tahun yang lalu. apakah Puslitbang tekMIRA akan menjadi leader atau follower dalam industri mineral dan batubara di tanah air? Saya katakan bahwa Puslitbang tekMIRA mesti fokus pada keduanya. nilai tambah dan keekonomian selalu berjalan beriringan. Oleh karena itu. iii PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . ke depan. Sebagai lembaga litbang. sehingga tidak terlalu sulit untuk meningkatkannya. Bagaimanapun keberadaan karyawan yunior ini merupakan modal dasar bagi eksistensi Puslitbang tekMIRA ke depan. mengikuti berbagai kursus atau pertemuan ilmiah. Seluruh kerja sama antara Puslitbang tekMIRA dengan pemangku kepentingan sudah seharusnya bersifat saling bermanfaat bagi kedua belah pihak. di satu sisi. Hal ini disebabkan antara lain oleh adanya kompetitor yang berharga lebih murah.melaksanakan beberapa hal berikut ini: Pertama. Puslitbang tekMIRA harus dapat mengatasi permasalahan sebagai langkah penanggulangan. sebagaimana dialami oleh hampir seluruh instansi pemerintah. Tetapi tidak selamanya peningkatan nilai tambah akan memberi keuntungan jika dijual ke pasaran. Puslitbang tekMIRA harus berani memulai kegiatan litbang yang berorientasi pada peningkatan nilai tambah. atau daya serap pasar masih kecil dan tidak sebanding dengan biaya produksi. Dalam beberapa hal. Ini berarti. bukan menara gading yang tidak tersentuh dengan melakukan penelitian sesuai keinginannya sendiri. fokus kepada pemecahan permasalahan yang sedang dan kemungkinan akan dihadapi oleh industri pertambangan mineral dan batubara. tingkatkan kerja sama dengan pemangku kepentingan (stakeholders). perlu mendapat prioritas utama. artinya peningkatan nilai tambah akan mengakibatkan suatu material bernilai lebih tinggi dan menguntungkan. fokus kepada litbang yang berorientasi pada peningkatan nilai tambah sekaligus memperhitungkan keekonomiannya. magang pada perusahaan besar. Kesenjangan antara senior dengan yunior yang semakin melebar. Keempat. dan dapat bersaing dengan para pakar di dalam negeri maupun di forum internasional. tetapi juga bermanfaat bagi pemerintah dan Daerah serta masyarakat pertambangan. peningkatan kerja sama dengan lembaga litbang lain. dan hal-hal lain yang pada intinya dapat sarana untuk meningkatkan kemampuan mereka. saya selalu mengatakan bahwa lembaga litbang harus menjadi bagian tak terpisahkan dari dunia yang digelutinya. solusi yang dapat ditempuh adalah dengan membuka kesempatan kepada karyawan yunior untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. juga harus dapat memprediksi arah kecenderungan yang terjadi sebagai langkah antisipasi agar tidak berada pada kondisi status quo dan melaksanakan pekerjaan yang bersifat rutin atau business as usual. kerja sama tersebut harus dapat menghasilkan sesuatu yang tidak saja “menguntungkan” Puslitbang tekMIRA. baik di dalam maupun di luar negeri. Hal ini penting dilakukan sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan kemampuan Puslitbang tekMIRA menghadapi tantangan masa kini dan masa depan.

Wassalamualaikum Warohmatullohi Wabarokatuh. dan di manapun Saudara ditempatkan. untuk membuktikan sampai sejauhmana inovasi dan kreativitas Saudara-saudara andaikata sarana peralatan baru tersebut tidak terpenuhi. jangan pernah merasa yang satu lebih superior daripada yang lain. serta tingkatkan kemampuan rancang bangun dan rekayasa. Saya telah menyinggung masalah ini pada acara “Sinkronisasi Kegiatan Litbang di Lingkungan Badan Litbang ESDM” pada 14-15 April 2009 yang lalu. semoga dapat memaknai dan mengimplementasikannya demi tercapainya tujuan kita memajukan sektor ESDM pada khususnya dan masyarakat pada umumnya. Insya Allah. Saya berharap Saudara-saudara dapat menyongsong era desentralisasi di bidang pertambangan mineral dan batubara ini dengan optimisme tinggi dan penuh rasa tanggung jawab. Harapan saya kepada seluruh jajaran Puslitbang tekMIRA. Akhirnya dengan tetap memohon ridho Tuhan Yang Maha Kuasa. Demikian sambutan dan arahan yang dapat saya sampaikan. Terima kasih. Saya tidak perlu mengulas lebih dalam. Bambang Dwiyanto PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 iv . Untuk itu. yaitu “bersatu kita teguh. jaga soliditas di lingkungan Puslitbang tekMIRA. Ada ungkapan sederhana yang sudah lama kita kenal dan tahu artinya. yaitu dengan berupaya meningkatkan kemampuan rancang bangun dan rekayasa pada peralatan teknologi tinggi. Undangan dan Hadirin Sekalian. namun satu hal patut diingat bahwa jika keinginan untuk melengkapi dan memutakhirkan dengan sarana dan prasarana penelitian mutakhir tidak terpenuhi bukan berarti kita harus berdiam diri. Kepala. Kita harus berbuat sesuatu. berat sama dipikul”. siapapun Saudara. Kolokium yang bertemakan “Kontribusi Litbang Mineral dan Batubara Dalam Mendukung Pelaksanaan Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara” secara resmi saya buka.Kelima. lalu bicara dan berbuatlah dengan bahasa yang sama dalam ikatan kesatuan yang kuat. apapun latar belakang pendidikan Saudara. Berjalanlah dalam koridor Rencana Stratejik yang telah dibuat oleh Saudara-saudara sendiri. Oleh karena itu saya mengajak peneliti Puslitbang tekMIRA dan juga peneliti Puslitbang lain di lingkungan Badan Litbang ESDM. bercerai kita runtuh” dan “ringan sama dijinjing. Keenam. optimalkan peralatan yang ada. lalu stagnan. permasalahan seberat apapun akan menjadi jauh lebih ringan dan tidak sulit untuk dipecahkan. bahkan seluruh keluarga besar Badan Litbang ESDM.

.................... Hasniati Astika dan Supriatna Mujahidin Pemanfaatan Karbon Aktif dari Batubara pada Pengolahan ............ Provinsi Kalimantan Selatan............ Propinsi Kalimantan ..................... untuk Bahan Baku Keramik Subari...... 15 JULI 2009 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ....................................................................................... Kabupaten Tapin....... Kabupaten Banyuwangi.KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 BANDUNG. Nuryadi Saleh dan Apriandi Pengolahan Pasir Kuarsa Berlempung Asal Rantaubujur....... Limbah Cair Industri Gula Ika Monika dan Nining Sudini Ningrum Kemungkinan Pemanfaatan Bakterisida Fenol untuk Pencegahan .............................. Pengaruh Titik Leleh Abu terhadap Pengendapannya pada Pembakaran ....................................... Enymia dan Sumarsih Presentasi Makalah Paralel II Masa Kini dan Masa Depan Batubara Indonesia .. ..................................................... Producer Gas dari Batubara Slamet Suprapto dan Nurhadi Implementasi Pengelolaan Lingkungan Sektor Energi dan Sumber Daya Mineral ..................................................................... Jawa Timur Bambang Yunianto Pengembangan Metode Analisis Ter dan Partikulat dalam ................................................................ MAKALAH YANG DIPRESENTASIKAN Presentasi Makalah Paralel I Permasalahan Pengelolaan Potensi Emas di Gunung Tumpang Pitu ........................... pada Era Otonomi Daerah Umar Dhani Peningkatan Kadar Bijih Besi dari Daerah Pelaihari............. pada Era Globalisasi Djoko Sunarjanto dan Bambang Wicaksono Peluang Pengembangan Pertambangan Mineral dan Batubara ..... Kecamatan Pesanggaran......................... Air Asam Tambang Siti Rafiah Untung dan Nia Rosnia H............. Keruntuhan Batuan Atap (Roof Failure) pada Tambang Bawah Tanah Zulfahmi................................. Selatan dengan Menggunakan Klasifayer dan Pemisah Magnetik Pramusanto..................... Ijang Suherman Pengembangan Sistem dan Alat Pemantauan Sederhana untuk Mendeteksi ...... Batubara dengan Pembakar Siklon di Beberapa Fasilitas Industri Sumaryono 55 70 1 i ii v 16 23 30 39 48 78 83 90 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 v ................... SAMBUTAN KEPALA BADAN LITBANG ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL ........... DAFTAR ISI ...............

............. Leni herlina dan Nining Sudini Ningrum vi PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .............. 147 Rochman Saefudin. Datin Fatia Umar dan Bukin Daulay MAKALAH DIPOSTERKAN Analisis Potensi Limbah Hasil Pembakaran Batubara pada Industri Kecil dan ........ 194 Propinsi Jambi Endang Suryati dan M.... 128 Roza Adriany Eksplorasi Potensi Konsentrat Timah Berdasarkan Data Seismik Refleksi ........................................ Husaini Presentasi Makalah Paralel III 97 Karakteristik Merkuri dalam Sedimen dan Air pada Pengolahan Tailing ..... Lutfi Minyak Sintetik dari Pencairan Batubara dan Peningkatan Mutunya ............................ Yuhelda dan Firiza Yuliana Penggunaan Pasir Sungai sebagai Bed Material pada Gasifikasi Batubara ............ 115 Kalimantan Tengah dengan Electrostatic Separator Pramusanto.... Miftahul Huda.. Lutfi dan Retno Damayanti Pengaruh Penggunaan Ultrasonik terhadap Hasil Pemisahan Pasir Zirkon ............................ .. 175 sebagai Katalis Pencairan Batubara Nining Sudini Ningrum dan Hermanu Prijono Karakteristik dan Optimalisasi Pembriketan Batubara Hasil Proses ............................... Novie Ardhyarini dan Nining Sudini Ningrum Bahan Bakar Minyak Sintetik dari Pencairan Batubara ............................. Nuryadi Saleh..... Subandrio Penetapan Nilai Bagi Hasil atas Produksi Batubara Mutu Rendah .... 122 Sistem Fluidized Bed Nurhadi dan Slamet Suprapto Metode Pengurangan Emisi Merkuri pada Pembakaran Batubara .. nasution........Pengolahan dan Pemanfaatan Bauksit .......................... 168 Slamet Suprapto Uji Sulfidasi Bijih Besi Kalimantan Selatan dan Tailing PT.................... Abdul Haris....... 189 Peringkat Rendah di Indonesia Gandhi Kurnia Hudaya Kajian Manfaat dan Biaya Penambangan Bijih Besi di Kabupaten Merangin.................. 204 sebagai Bahan Bakar Muh Kurniawan............... 181 Upgraded Brown Coal Skala Pilot Ikin Sodikin dan Datin Fatia Umar Analisis Dampak Ekonomi Teknologi Peningkatan Kualitas Batubara ...................................... 105 Amalgamasi di Kegiatan Pertambangan Emas Rakyat Secara Sianidasi (Studi Kasus KUD Perintis. 134 (Studi Kasus Perairan Bangka Utara) Ediar Usman dan Andri S..... Ijang Suherman.............S.............................. Daerah Tonayan Selatan) M.... Freeport Indonesia ..... Leni Herlina.......... 209 A.......... 161 Menengah di Pulau Jawa Triswan Suseno dan Tuti Hernawati Pengaruh Proses Upgraded Brown Coal (UBC) terhadap Peringkat Batubara ......

PRESENTASI MAKALAH PARALEL I .

esdm. KABUPATEN BANYUWANGI. mining environment. yaitu: 1) melakukan kajian kegiatan pertambangan terkait pemanfaatan lahan sektor lain. namely: 1) to assess the mining activity related to the land use. Indo Multi Niaga (PT. Banyuwangi meliputi isu potensi emas. 3) to allocate the mining area for the local community in the concession area of the company that contains gold placer. 32 tahun 2004. Kecamatan Pesanggaran. tambang emas. Kata Kunci: isu pertambangan. environment or the Permasalahan Pengelolaan Potensi Emas di Gunung Tumpang Pitu . 38 Tahun 2007.. perlu dialokasikan Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) yang berasal dari wilayah konsesi PT. Jend. agar tidak menimbulkan permasalahan yang lebih besar dan kompleks. lingkungan maupun dalam manajemen berusaha terhadap para penambang rakyat tersebut. Sudirman 623 Bandung 40211 Telp. District of Pesanggaran. Kesiapan daerah tersebut meliputi beberapa kegiatan. to conduct guidance and monitoring. JAWA TIMUR Bambang Yunianto Peneliti Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. 4) dalam menangani persoalan Pertambangan Tanpa Izin (PETI) atau gurandil seyogyanya tidak menggunakan cara-cara represif. dan 5) sesuai kebijakan otonomi daerah yang tertuang dalam UU No. The regional readiness includes several activities. it requires the regional readiness to manage the gold potential in the region.6030483 Fax.go. pengelolaan potensi emas ABSTRACT The mining issues related to manage the potential and the activity of gold mining in Gunung Tumpang Pitu. Then. UU No. Kemudian perlu dilakukan pembinaan dan pengawasan. Bambang Yunianto 1 .id SARI Isu pertambangan terkait pengelolaan potensi dan kegiatan pertambangan emas di Gunung Tumpang Pitu. tumpang tindih dengan sector lain. interest conflict and the socio-economic-culture. Indo Multi Niaga (PT. 2) to reassess the mining activity conducted by PT. 022 . lingkungan pertambangan. dan isu sosekbud. the mining techniques. IMN). 33 Tahun 2004. dan PP No. 022 . kesiapan daerah. baik dalam hal teknis penambangan. tetapi harus dengan persuasive. Kecamatan Pesanggaran..PERMASALAHAN PENGELOLAAN POTENSI EMAS DI GUNUNG TUMPANG PITU KECAMATAN PESANGGARAN. 3) untuk menampung partisipasi masyarakat dalam pertambangan. IMN yang memiliki potensi emas sekunder (alluvial). 2) mengkaji kembali kegiatan pertambangan emas oleh PT. Based on the review toward these issues. Kabupaten Banyuwangi. maka perlu dibentuk kantor/ dinas pertambangan dan energi yang tugasnya mengelola kegiatan pertambangan di daerah. Berdasarkan penelaahan terhadap ke-empat isu tersebut diperlukan kesiapan daerah (Pemerintah Kabupaten Banyuwangi) dalam mengelola potensi emas di Gunung Tumpang Pitu.6003373 e-mail : yunianto@tekmira. IMN). Regency of Banyuwangi include the gold mining.

Indo Multi Niaga (PT. dan tabelisasi. Berdasarkan informasi secara informal. Data primer berupa hasil wawancara langsung dengan berbagai pihak yang terkait dengan permasalahan pengelolaan potensi emas di Gunung Tumpang Pitu. dokumentasi. management of gold potential 1. Provinsi Jawa Timur dilakukan untuk menginventarisasi dan mengidentifikasi permasalahan mengenai isu lingkungan pertambangan tanpa izin (PETI) emas dan isu tumpang-tindih kegiatan PT. PENDAHULUAN ini mendapat sorotan dari berbagai pihak di Kabupaten Banyuwangi. sebagaimana dipilih sesuai judul tulisan ini. it is required to set an office of mining and energy in managing mining operation in the region. Tim Isu Puslitbang tekMIRA menurunkan tim yang terdiri atas berbagai disiplin ilmu (tambang/ geologi. Selasa. Kabupaten Banyuwangi. UU 32/2004. Oleh karena itu. seperti Pemda Perekonomian Kabupaten Banyuwangi. and 5) in accordance with the regional autonomy policy. Banyuwangi sesuai peraturan terkait. Keywords: mining issues. Kegiatan survai lapangan pemantauan isu pertambangan di Kabupaten Banyuwangi. regional readiness. Kecamatan Pesanggaran. Sedangkan dalam merekonstruksikan pemecahan permasalahan dan masukan bagi daerah didasarkan kepada pertimbangan-pertimbangan rasional dan berlandaskan kepada arah kebijakan pertambangan dan kebijakan lain yang terkait pada era otonomi daerah. dan surveyor). Rabu. sosial ekonomi. Senin. Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten 2 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Sebentuk Kanibalisasi antar -Potensi”. Detik Surabaya. Berita Fajar FM. akar permasalahan dari mencuatnya isu pertambangan terkait potensi emas di Gunung Tumpang Pitu. 2) “Masyarakat Banyuwangi Tolak Tambang Emas di Hutan Lindung Tumpang Pitu”. Kegiatan survai lapangan isu lingkungan dan tumpang-tindih pertambangan dengan sektor kehutanan di Pegunungan Tumpang Pitu di atas didasarkan pemberitaan dan informasi di media mass berikut: 1) “Emas vs Potensi Agraris Banyuwangi. sebagai bahan masukan bagi daerah dalam mengelola sumber daya tambang yang ada di daerahnya. 19 April 2008. Maksud penulisan ini adalah mengidentifikasi dan menganalisis permasalahan pengelolaan potensi emas di Gunung Tumpang Pitu. Harian Kompas. 28 April. Berdasarkan hasil survai lapangan. Kecamatan Pesanggaran. 4) not to apply repressive actions towards illegal mining. Banyuwangi. isu tumpang-tindih sektor pertambangan dengan sektor lain (kehutanan. Harian Kompas. isu pertambangan tersebut kembali mencuat setelah terjadi penangkapan terhadap para PETI yang dilakukan Polres Kabupaten Banyuwangi. Bappeda Kabupaten Banyuwangi. 4) “Penambang Emas Dadakan di Banyuwangi Capai 3 Ribu Orang”. isu lingkungan. UU 33/2004 and PP 38/2007. serta isu sosial ekonomi kemasyarakatan. Kecamatan Pesanggaran. 16 Juni 2008 3) “Ribuan Penambang Emas Banyuwangi Diusir”. Kecamatan Pesanggaran. Analisis data dilakukan secara deskriptif analitis. Pengolahan data menggunakan teknik kategorisasi. antara lain. wawancara berpanduan. Harian Kompas. dengan menggunakan berbagai parameter keilmuan dalam membahas permasalahan utama yang dikaji. kompilasi. sekembalinya Tim Isu Pertambangan Puslitbang tekMIRA dari lapangan. Isu pertambangan di Kabupaten Banyuwangi tersebut memiliki bobot penting karena ada beberapa masalah. Inventarisasi data melalui teknik observasi. Kabupaten Banyuwangi. Provinsi Jawa Timur sebetulnya terletak kepada kesiapan daerah di dalam pengelolaan pertambangan.management of the business for the miners. dan masalah 2. Jumat 27 Februari 2009. dan diskusi. 17 Mei 2009. METODOLOGI Secara umum metodologi yang digunakan adalah pendekatan multidisiplin ilmu. gold mine. pertanian dan perkebunan). but to persuade not to create a bigger problem and complex. IMN) di Pegunungan Tumpang Pitu. 2009 5) “Berebut Emas di Tumpang Pitu”. Data yang mendukung penulisan ini berupa data primer maupun sekunder hasil survai lapangan. Penangkapan ini telah menyulut konflik antara aparat dan para PETI. Sabtu.

Survai ke lokasi PETI emas di sekitar pegunungan Tumpang Pitu.. para gurandil. Banyuwangi (Distamben belum ada). IMN dan tata ruang (hutan lindung). Bambang Yunianto 3 . Camat dan staf Kecamatan Pesanggaran. Pak Wahyu Diyono. IMN. Kecamatan Pesanggaran serta informasi dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan mass media. Banyuwangi (Pak Gatot Sudjadi). PT. Pendataan di BPS Kabupaten Banyuwangi dengan Pak Ruslan Survai lapangan ke lokasi di Kecamatan Pesanggaran. Banyuwangi dengan Pak Mujiono. Sedangkan data sekunder berasal dari instansi terkait. baik di tingkat Kabupaten Banyuwangi. Koordinasi dan pendataan dengan Kepala TU Kantor Lingkungan Hidup Kab. Gambar 1. PT. Mengenai pelaksanaan kegiatan survai lapangan dari tanggal 20 – 25 April 2009 adalah: 1) Melakukan kegiatan koordinasi dengan Kepala Bagian Perekonomian (Pak Bambang Edi Sunaryo) dan Sekertaris (Bu Tri) tentang isu lingkungan PETI emas di pegunungan Tumpang Pitu di Kantor Pemda Kab.Banyuwangi. dan masyarakat setempat. Mengenai route survai lapangan lihat Gambar 1. Route survai lapangan tim isu pertambangan Puslitbang tekMIRA di Kabupaten Banyuwangi Permasalahan Pengelolaan Potensi Emas di Gunung Tumpang Pitu . 2) Koordinasi dan pendataan di Bappeda Kab. dan berkoordinasi dan diskusi dengan staf Kecamatan Pak Sujono dan Pak Sunoto. Pak Rudianto tentang isu Lingkungan 3) 4) 5) 6) 7) PETI emas. Koordinasi dan diskusi denga PT. dokumentasi dan wawancara dengan gurandil. aparat keamanan yang bertugas di Gunung Tumpang Pitu. sedangkan dokumentasi survai lapangan dapat dilihat pada Lampiran Foto-Foto Survai Lapangan. IMN yang diwakili Pak Hilman dan Pak Yuswardi..

000. dan c. Saat ini perusahaan menampung 125 warga menjadi buruh kasar. KONDISI KEGIATAN PERTAMBANGAN 4. Desa Pesanggaran. 78.21 km2. 76. pada lokasi 56 gurandil/ PETI (Pertambangan Tanpa Izin) beroperasi pada wilayah Perhutani diperkirakan meliputi luas sekitar 203. a. Potensi Sektor Lainnya Kabupten Banyuwangi dikelilingi 3 Taman Nasional (TN). Gunung Sumber Salak. memiliki andil dalam menopang ketahanan pangan nasional. cadangan bijih yang dieksplorasi mencapai 9.8 ton. Pemkab Banyuwangi telah menyetujui rencana mengajukan permohonan alih fungsi kawasan hutan lindung dalam KPH Banyuwangi Selatan. 77. 30 liter per/ detik. Cebakan emas ditemukan dalam bentuk urat-urat kuarsa pada batuan volkanik yang diterobos oleh batuan intrusif berupa diorite. Selain cebakan emas primer yang ditemukan. Di samping itu. dan TN Baluran. Jumlah ini. IMN seluas 11. 3. IMN. setelah disidangkan oleh Bapedalda Jawa Timur pada 26 Mei lalu. Berdasarkan studi kelayakan PT. Wonogiri. Kontribusi komoditi getah damar sebesar 49 ton senilai Rp. PETI/ Gurandil PETI/ gurandil beroperasi di Gunung Tumpang Pitu. Malang. Kadar emas di daerah ini adalah 2. Banyuwangi. Fenomena seperti ini sangat umum ditemukan di Pulau Jawa. granodiorit dan dasit.2. Selain itu. kabupaten ini memiliki 3 Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) seperti Banyuwangi (KPH Banyuwangi Selatan. Biasanya emas ditemukan bersama logam lainnya seperti perak.3.251. Kecamatan Pesanggaran. RPH Kesilir Baru. Eksplorasi itu meliputi kawasan hutan produksi seluas 736. Banyumas. KPH Banyuwangi Barat. padahal logam-logam tersebut memiliki nilai ekonomis bila sejak dini sudah diketahui nilai potensinya.621. Menurut RTRW Jatim 2020 kawasan tersebut telah ditetapkan sebagai kawasan resapan air katagori tinggi.1. b. Dokumen Amdal PT IMN telah disahkan oleh Tim Amdal Propinsi Jawa Timur. KPH Banyuwangi Selatan. Gunung Macan dan kawasan lindung setempat. Tepatnya pada Petak 75. Kampung 56. keberadaan 3 KPH dan 3 TN tersebut secaraa riil telah memberikan kontribusi yang nyata bagi PAD kabupaten ini. Pongkor. Menteri Kehutanan melalui surat S. 77 dan 78 kawasan hutan tersebut. 45 ha atau 116.45 ha. IMN merupakan perusahaan tambang emas yang modalnya swasta nasional. cadangan emas 320. pada aliran Sungai Gonggo. Potensi Tambang Cebakan emas di daerah Pesanggaran ditemukan berdasarkan pada pemboran eksplorasi sebanyak 14 lubang bor dengan kedalaman total 4. IMN meliputi kawasan Gunung Tumpang Pitu. Pacitan.5 ha dipetak 75. Gunung Wedi Ireng. yakni TN Alas Purwo. POTENSI TAMBANG DAN SEKTOR LAIN DI GUNUNG TUMPANG PITU 3. Kontribusi sektor pertanian terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Banyuwangi (lebih dari 60%).000 dipulangkan 4 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . saat ini diperkirakan mencapai 3. BKPH Sukamade. Berdasarkan hasil tracking Tim Isu Pertambangan Puslitbang tekMIRA sewaktu survai.3 ha dan hutan lindung seluas 1. PT.643 ton (BPS: 2007) atau setara dengan Rp.000.000 ton.600.2.3 gr/ton.000 orang (Gambar 3). Lembah Gunung Tumpang Pitu. IMN) PT.3 ha (Gambar 2). 76. dan kadar logam-logam lainnya tidak ada datanya.600. dan KPH Banyuwangi Utara). Keberadaan 3 KPH dan 3 TN ini berhubungan erat sumber mata air dan sungai-sungai yang menjadi sumber irigasi bagi sektor pertanian dan perkebunan yang saat ini diunggulkan sebagai sektor penting bagi Kabupaten Banyuwangi. Dusun Ringinagung. 4. andesit. 247. seperti di Cikotok. yang penyebarannya mengikuti sungai-sungai tua pada jaman dahulu.70 ton senilai Rp.6 miliar. TN Meru Betiri. 4. Sementara itu. tembaga.230. kadar emas rata-rata 2.3 gram/ton. Gunung Jatian.000. dan akan ditingkatkan statusnya menjadi KP eksploitasi. Indo Multi Niaga (PT.100 meter pada KP Eksplorasi PT. Data hasil kekayaan hutan non-kayu Banyuwangi pada tahun 2006 meliputi. setelah pada akhir bulan April 2009 sekitar 6. Kontribusi komiditi kopi yang berada di dalam kawasan hutan produksi sebesar 10.1. dan menjadikan kabupaten ini sebagai lumbung padi nasional. Kontribusi komiditi getah pinus sebanyak 2.621.406/MENHUTVII/PW/2007 mengijinkan perusahaan melakukan eksplorasi selama 2 tahun.2. Lumajang. ada juga emas plaser/ sekunder di sekitar lokasi emas primer tersebut.672. hingga Juli 2009. 68. Konsesi PT. Keberadaan emas sekunder ini sebagian besar berada pada lahan Perhutani. Luas konsesi yang diberikan pemerintah sekitar 11.

Lembah Gunung Tumpang Pitu. Banyuwangi Permasalahan Pengelolaan Potensi Emas di Gunung Tumpang Pitu . Banyuwangi Gambar 3.. Desa Pesanggaran. Dusun Ringinagung. lembah Gunung Tumpang Pitu. Kecamatan Pesanggaran. Konsesi PT. Dusun Ringinagung.3 Ha). Lokasi PETI/ Gurandil di Petak 56 (Luas Perkiraan 203. Kampung 56.Gambar 2. Bambang Yunianto 5 . Kecamatan Pesanggaran.. Desa Pesanggaran. Kampung 56. IMN dan lokasi aktivitas PETI/ Gurandil di Petak 56.

maupun tanaman pertanian/ perkebunan masyarakat (petani magersari). ada juga emas plaser/sekunder di sekitar lokasi emas primer tersebut. dengan jarak antarlubang bor sepanjang 2 km. Dalam rangka memberi kepastian. maupun tanaman pertanian/ perkebunan masyarakat (petani magersari) sehingga harus dihentikan. lokasi-lokasi PETI di Gunung Tumpang Pitu memang mengandung emas (perlu uji laboratorium). Nabire dan Bandung.3 gr/ton. Sedangkan. 5. setiap daerah harus mencadangkan wilayahnya untuk menggali potensi bahan galiannya. Untuk itu. 5. agar dapat dimanfaatkan sebagai lahan usaha bagi masyarakat setempat dalam bentuk Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR). karena jumlah lubang bor yang dilakukan oleh PT. Ini berarti bahwa kelak saat operasi penambangan emas ini berlangsung. IMN relatif sedikit. Perhutani dan pemilik izin ekplorasi emas PT. emas ditemukan bersama logam lainnya seperti perak. apabila sejak dini sudah diketahui nilai potensinya. hal ini menjadi tugas tersendiri bagi perusahaan tambang tersebut untuk melakukan uji laboratorium terhadap logam-logam tersebut. tembaga. Dengan demikian. yang akan berpotensi menimbulkan banjir dan longsor serta kerusakan hutan jati. status ‘cadangan’nya perlu direvisi. Sampai saat ini.secara paksa oleh sekitar 190 personil aparat keamanan. Potensi Bahan Tambang Fenomena geologis di daerah eksplorasi tersebut tidak hanya tersebar di daerah Pesanggaran. Keberadaan emas sekunder ini perlu dicermati untuk dieksplorasi lebih lanjut. asosiasi logam-logam tersebut akan terbuang dengan percuma. jarak antarlubang bor ini terlalu panjang. Jadi. jarak lubang bor ini adalah 500 m. mengingat potensi usaha pertambangan di daerah ini memperlihatkan prospek bila dikelola dengan baik. Pada umumnya. PETI yang dilakukan ribuan gurandil telah merusak lingkungan. Dari pantauan sementara Tim Isu Puslitbang tekMIRA. PERMASALAHAN DAN PEMBAHASAN lahan usaha tambang dalam peta tata ruangnya.21 km2. terutama dalam pengelolaan Lingkungan. IMN karena kurangnya transparansi dalam Publikasi berbagai kemajuan kegiatan.5 meter. tepatnya di petak 79. masih diperlukan pemboran eksplorasi yang lebih banyak lagi. Untuk meningkatkan status potensinya. terutama pada petak 56 maupun 79 sebagai sampel wilayah-wilayah sekitarnya. Maraknya PETI telah menimbulkan kerusakan di Sungai Gonggo dan hutan jati. Pemkab Banyuwangi sudah mengambil beberapa sampel untuk diuji. 6 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . karena pada lokasi tersebut telah banyak gurandil yang betul-betul mendapatkan emas. Kadar emas di daerah ini adalah 2. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 4/2009. namun untuk memberi kesahihan data telah ditunjuk tim independen untuk melakukan uji laboratorium. agar tingkat keyakinan geologisnya menjadi tinggi. Status cadangan untuk kategori perhitungan potensi cebakan emasnya belum tepat. seperti pendulang emas asal Kalimantan.2. Sungai Gonggo mengalami pelebaran hingga tujuh meter dari lebar awalnya satu meter. Rapat yang dipimpin langsung Bupati Banyuwangi Ratna Ani Lestari itu menyimpulkan PETI yang dilakukan ribuan gurandil tersebut telah merusak lingkungan. di kabupaten ini belum dialokasikan Isu lingkungan terkait kegiatan pertambangan di Gunung Tumpang Pitu tidak hanya diakibatkan oleh kegiatan PETI/ gurandil saja. namun juga tersebar di daerah sekitarnya seperti Glenmore dan Bangorejo. Jadi. Secara umum. awalnya hanya setengah meter kini berubah menjadi 1. namun. Tidak tertutup kemungkinannya. yakni hanya 14 buah untuk mengeksplorasi daerah seluas 116. Lingkungan 5. kadar logamlogam lainnya tidak ada datanya. Pemulangan itu dilakukan setelah Pemerintah Kabupaten Banyuwangi melakukan rapat koordinasi dengan muspida. IMN. Dengan demikian tidak tertutup kemungkinan bahwa potensi penyebarannya juga terdapat di daerah-daerah tersebut.1. logam-logam tersebut akan menjadi perolehan yang menguntungkan. dan berpotensi menimbulkan banjir dan longsor serta kerusakan hutan jati. Permasalahan ini harus segera diselesaikan. Selain cebakan emas primer yang ditemukan. Isu kalau butiran seperti emas itu adalah logam jenis pirit (FeS2) perlu dicarikan kepastiannya. Beberapa pohon jati juga turut tumbang akibat aktifitas penambangan PETI secara tradisional tersebut. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi harus mempersiapkan lokasi peruntukan lahan bagi sektor pertambangan. tetapi juga akibat isu Lingkungan pertambangan PT. selain itu kedalaman Sungai Gonggo turut mengalami perubahan drastis. agar perhitungan operasi penambangannya dapat dilakukan dengan tepat. Sulawesi.

dan Dewan Rakyat Jalanan untuk Demokrasi (Derajad). dan Camat Pesanggaran). Padahal keterbukaan informasi ini penting sebagai tolok ukur tinggi-rendahnya itikad baik dari pemrakarsa rencana pertambangan maupun pemkab dan pemrop. b. perwakilan TNI AL. terutama pakar. Kurva Hijau. Keterbukaan informasi menjadi sesuatu yang logis untuk dimiliki oleh warga Pancer karena dampak apapun dari pertambangan tersebut jelas-jelas akan berpengaruh langsung kepada mereka. Berdasarkan Peraturan Meneg LH no.4 tentang “Peta Rencana Tata Letak Kegiatan” dapat dilihat dengan jelas bahwa tailing (limbah tambang) akan dibuang ke laut. Berdasarkan Peraturan Meneg LH no. Amdal yang dibuat oleh PT IMN sebagai pemrakarsa adalah dokumen Amdal yang tidak layak dan harus ditolak. Amdal yang dibuat oleh PT IMN sebagai pemrakarsa adalah dokumen Amdal yang tidak layak dan harus ditolak. sehingga warga tidak memiliki informasi mengenai Amdal. 11 tahun 2006 tersebut. karena tidak ada satu pun dokumen Amdal yang dibagikan kepada warga Dusun Pancer. Sidang Amdal tersebut di atas merupakan sidang yang tidak adil. d. perwakilan Makoramil Pesanggaran. Dalam Dokumen Andal yang dibuat oleh PT IMN. Bambang Yunianto 7 . IMN tersebut. 11 tahun 2006. Bahkan hingga kini pun belum terlihat kemauan pemrakarsa untuk mengumumkan secara terbuka tentang Sidang Revisi Amdal.berbagai isu Lingkungan yang diakibatkan PT. Beberapa butir yang dijadikan dasar penolakan AMDAL PT. antara lain: a. sejatinya Sidang Amdal yang diselenggarakan dan dipimpin oleh Komisi Amdal Propinsi/Bapedalprop Jatim tidak sah. pada gambar 2. IMN dapat ditunjukkan berdasakan surat penolakan AMDAL oleh Masyarakat Banyuwangi yang tergabung dalam Komunitas Pecinta Alam Pemerhati Lingkungan (Kappala Indonesia) region Banyuwangi.. karena pihak pemrakarsa tidak membuat pengumuman tentang rencana Sidang Amdal yang layak dan mencukupi. Hal ini menunjukkan minimnya kemauan Pemprop Jatim dan Pemkab Banyuwangi untuk melakukan penguatan terhadap rakyatnya. g. Warga pun tidak punya kecukupan waktu untuk memilih pihak yang menurut warga memiliki kompetensi untuk mendampinginya dalam mengikuti Sidang Amdal. kewenangannya berada di tangan Deputi Bidang Amdal Kementerian Negara Lingkungan Hidup. c. Pembuangan tailing ke laut ini. Semenjak awal bergulirnya rencana penambangan emas di HLGTP oleh PT IMN. dan merekalah pihak pertama yang akan merasakannya. karena tidak ada satu pun dari peta yang termuat di dalamnya yang menampakkan keberaradaan Pulau Permasalahan Pengelolaan Potensi Emas di Gunung Tumpang Pitu . bukan di tangan Komisi Amdal Propinsi/Bapedalprop Jatim. Amdal yang dibuat oleh PT IMN sebagai pemrakarsa adalah dokumen Amdal yang tidak layak dan harus ditolak. Dalam acara tersebut tidak ada itikad baik dari pemrakarsa untuk menjelaskan apa itu sianida? Apa saja dampaknya? Dan apa yang membuat pemrakarsa yakin bahwa sianida aman? f. Dengan demikian. sehingga warga tidak memiliki kesiapan untuk berdialog dengan pihak yang terkait. Warga Pancer tidak diberi kecukupan waktu untuk mempelajari Amdal tersebut. Komisi Amdal Propinsi/Bapedalprop Jatim tidak berwenang menilai Amdal PT IMN. 11 tahun 2006. Dimana penolakan tersebut telah mereka sampaikan dalam acara Sosialisasi Penambangan Emas HLGTP yang diselenggarakan pada 12 Maret 2008 lalu di Balai Dusun (dihadiri oleh perwakilan Pemkab Banyuwangi. PT IMN telah melakukan kebohongan publik dengan menyatakan kepada seluruh hadirin bahwa merkuri berbahaya sementara sianida aman.. penilaian Amdal dari sebuah rencana pertambangan yang menggunakan STD seperti halnya PT IMN tersebut. e. karena dalam Presentasi Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan (KA-Andal) yang bertempat di ruang Minakjingga Pemkab Banyuwangi pada tanggal 30 Januari 2008. Penolakan tersebut juga telah disuarakan oleh 5 (lima) orang utusan Warga Pancer yang menghadiri Sidang Amdal tanggal 26 Mei 2008 di Surabaya. Warga Pancer telah menolak rencana tersebut. dalam Lampiran Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup nomor 11 tahun 2006 tentang Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup disebut sebagai Submarine Tailing Disposal (STD). karena tidak sesuai dengan Peraturan Meneg LH no. perwakilan Mapolsek Pesanggaran.

Gunung Jatian. berbagai informasi mengenai penolakan terhadap kegiatan pertambangan di kawasan Gunung Tumpang Pitu di atas. termasuk sektor perikanan bila pembuangan tailing dilakukan di dasar laut. Isu dampak sosekbud PT. BKPH Sukamade.3 ha dan hutan lindung seluas 1. seperti pertanian.5 ha dipetak 75. Eksplorasi itu meliputi kawasan hutan produksi seluas 736.5 ha dipetak 75. setelah disidangkan oleh Bapedalda Jawa Timur pada 26 Mei lalu. KPH Banyuwangi Selatan. koordinator Koalisi Tolak Tambang di Tumpang Pitu (KT3P). Gunung Macan. sungai yang dimanfaatkan untuk irigasi. 5. RPH Kesilir Baru. IMN vs Rakyat). Gunung Wedi Ireng. perkebunan. 5. dan kekhawatiran penggunaan air raksa yang akan mencemari lingkungan (darat dan perairan) bila tidak ditangani dengan serius. semakin meresahkan warga. yang berfungsi sebagai daerah penyangga. dan isu utama beberapa unjuk rasa mengenai lingkungan hidup perlu dijadikan barometer dalam memahami berbagai persoalan lingkungan pertambangan di Gunung Tumpang Pitu dan sekitarnya. 76. pertanian. 76. Berbagai persoalan tersebut tidak perlu langsung ditanggapi apreori. IMN terhadap berbagai aktivitas mata pencaharian masyarakat di sekitar proyek.406/MENHUT_vii/ PW/2007 tertanggal 27 Juli 2007. perkebunan dan nelayan. KPH Banyuwangi Selatan.251. serta menggambarkan rendahnya kepedulian PT IMN terhadap area penting seperti Pulau Merah. Pemkab Banyuwangi telah menyetujui rencana mengajukan permohonan alih fungsi kawasan hutan lindung dalam KPH Banyuwangi Selatan.406/MENHUTVII/PW/2007 mengijinkan perusahaan melakukan eksplorasi selama 2 tahun. Dampak sosekbud PETI/ Gurandil terutama akibat rusaknya lingkungan. terkesan memberi sinyal ditingkatkannya status PT IMN dari eksplorasi menjadi eksploitasi. 76. Konflik kepentingan antara sektor pertambangan dengan sektor kehutanan. Menurut Tim Isu Puslitbang tekMIRA.Merah. Gunung Sumber Salak.621 hektar yang meliputi kawasan Gunung Tumpang Pitu. Gunung Tumpang Pitu memiliki kaitan erat dengan aktivitas penduduk di sekitarnya. Kawasan Eksplorasi itu meliputi kawasan hutan produksi seluas 736. Gunung Wedi Ireng. bagian yang tidak terpisahkan dari 3 KPH dan 3 TH. dan kawasan hutan lindung setempat. IMN terkait dengan dampak kegiatan PT. hingga Juli 2009. dan perikanan tersebut perlu dipertimbangkan positif dan negatifnya. Sebelumnya. tetapi perlu didudukan secara proporsional pada sumber akar persoalannya. Berapa aktivitas ekonomi masyarakat yang akan terganggu (misal pertanian. Sementara itu. PT IMN mendapat izin kuasa eksplorasi emas dikawasan hutan dari Menteri Kehutanan MS Kaban nomor . Tidak adanya Pulau Merah di semua peta yang terdapat dalam dokumen Andal tersebut mencerminkan keteledoran PT IMN. IMN.251. Tumpang-tindih antar Sektor Konsesi PT IMN di Tumpang Pitu meliputi areal seluas 11. pertanian dan perkebunan rusak akibat terinjak-injak ataupun rusak karena ditambang. 78.4. berhubungan erat sebagai sumber mata air dan sungai-sungai yang menjadi sumber irigasi bagi sektor pertanian dan perkebunan yang saat ini diunggulkan sebagai sektor penting bagi Kabupaten Banyuwangi. IMN maupun PETI/ Gurandil dan isu kesamaan hak atas sumber daya bahan tambang (PT. Sebagai kawasan penyangga. Menteri Kehutanan melalui surat S. perikanan) dan bagaimana proses pengelolaannya. Sementara itu. dan kawasan hutan lindung setempat. yaitu Petak 75. perkebunan. Petak 56 dan Petak 79 masuk dalam wilayah konsesi PT. Gunung Sumber Salak. 77. Unjuk rasa beberapa komponen masyarakat terhadap kegiatan pertambangan dapat dijadikan barometer bagi pengembangan kegiatan pertambangan di daerah ini.3 ha dan hutan lindung seluas 1. 77 dan 78 kawasan hutan tersebut. tambang emas yang dibangun oleh PT IMN di Tumpang Pitu memakan areal seluas 11. Gunung Jatian. Pengesahan Dokumen Amdal PT IMN oleh Tim Amdal Propinsi Jawa Timur dan kedatangan Mentri Kehutanan MS Kaban di Banyuwangi. RPH Kesilir Baru.621 ha yang meliputi kawasan Gunung Tumpang Pitu. yaitu: 1) Sejumlah Petani dan Nelayan Banyuwangi Jawa Timur ke Jakarta mendesak agar 8 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . 78. 77. Gunung Macan.3. Dokumen Amdal PT IMN telah disahkan oleh Tim Amdal Propinsi Jawa Timur. Sedangkan wilayah yang ditambang oleh PETI. BKPH Sukamade. yaitu isu dampak sosekbud PT. Kawasan Gunung Tumpang Pitu merupakan kawasan hutan lindung dan hutan produksi. Sosial Ekonomi Masyarakat Isu social terbagi dua.

setiap ada persoalan masing-masing saling menunggu dan bagi-bagi tanggung jawab/ peran. mengecam pertemuan antara Dirjen Planologi Departemen Kehutanan dan PT Indo Multi Niaga (IMN) serta pihak terkait lainnya di Pendopo Banyuwangi. ada kesan dalam menangani setiap persoalan PETI/ Gurandil dilakukan dengan cara-cara represif. Mengenai isu kesamaan hak dalam pemanfaatan bahan tambang (PT. Di samping itu. IMN.. dengan persuasif menjaga wilayah operasi PETI/ gurandil tersebut. Banyuwangi. Kecamatan Pesanggaran.Banyuwangi akan terancam hidupnya.dihentikan kegiatan PT. maka Pemda Kabupaten Banyuwangi seharusnya menyiapkan WPR sebagai wadah menampung aspirasi rakyat dalam kegiatan pertambangan dengan beberapa tahap berikut: 1) Secepatnya meminimalkan daerah operasi PETI/ gurandil untuk mengurangi dampak Lingkungan. 2) Bila kegiatan pertambangan lebih menguntungkan. 2) Menyiapkan Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) pada daerah-daerah di lembah Gunung Tumpang Pitu yang memiliki kandungan emas alluvial. KESIMPULAN DAN TINDAK LANJUT Berdasarkan pembahasan terhadap ke-empat isu potensi dan kegiatan pertambangan emas di Gunung Tumpang Pitu di atas (isu potensi emas. karena kalau tidak ditempatkan pada koridor yang semestinya. 2) Puluhan ribu warga yang tinggal sepanjang Rajekwesi sampai Muncar . 4) Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Peduli Lingkungan (AMMPeL). yang dianggap telah telah melakukan ketidakadilan informasi terhadap masyarakat terkait aktifitas PT IMN di Gunung Tumpang Pitu karena tidak transparan. yang secara tingkatan fungsi hutan lebih rendah. Untuk memberi rasa keadilan. dengan dampak yang dapat Permasalahan Pengelolaan Potensi Emas di Gunung Tumpang Pitu . Masalah tersebut terkait dengan pertanyaan mendasar. Mereka mendesak pemerintah mencabut ijin petambangan dan AMDAL tambang emas PT Indo Multi Niaga (IMN) yang cacat dan menolak ijin pinjam pakai penggunaan hutan. IMN dan masyarakat penambang. kalau PT. 3) Kunjungan Rombongan Dirjen Planologi Departemen Kehutanan ke lokasi penambangan emas tradisional di lereng Gunung Tumpang Pitu Kampung 56 Dusun Wringin Agung Desa/Kecamatan Pesanggaran. kenapa rakyat dilarang di kawasan hutan produksi. lingkungan dan manajemen usaha bagi penambang rakyat. 3) Melakukan kajian eksplorasi terhadap daerah yang disiapkan untuk WPR dan menyiapkan perizinannya dengan wadah badan usaha Koperasi. dan isu sosekbud). berdasarkan kasus-kasus di beberapa daerah. Bappeda dan Kantor Lingkungan Hidup menyebabkan persoalan pertambangan tidak tertangani secara optimal. Berbagai persoalan yang mendasar tersebut timbul. Kesiapan daerah dalam mengelola potensi emas di Gunung Pitu tersebut meliputi beberapa tahap kegiatan berikut: 1) Perlu ada kajian mengenai keuntungan dan kerugian (cost benefit analysis) antara kegiatan pertambangan dengan sektor kehutan. tumpang tindih dengan sektor lain. sesuai pasal 33 UUD 45 dapat menjadi pemicu isu-isu lainnya di kawasan tersebut. 6. IMN diperbolehkan melakukan aktivitas di kawasan hutan lindung. Perlu dipahami. IMN vs PETI/ Gurandil) merupakan isu penting.. diwarnai aksi penghadangan oleh ratusan massa anti tambang. pembinaan dan pengawasan teknis penambangan. Kabupaten Banyuwangi. kalau pelarangan PETI/ Gurandil karena merusak Lingkungan dan tidak berizin sehingga tidak ada pemasukan bagi pemda. bagaimana seharusnya. dan sektor lain terkait fungsi hutan sebagai penyimpan sumber daya air sektorsektor pertanian dan perkebunan. Pertanyaan ini berlanjut dengan masalah. kesamaan hak atas sumber daya alam antara PT. saat ini dengan persoalan pertambangan yang komplek ditangani oleh Pemda Bagian Perekonomian. Bambang Yunianto 9 . karena Pemda Kabupaten Banyuwangi kurang cepat dalam menanganinya sebagai akibat belum adanya kantor/ dinas pertambangan yang seharusnya bertanggung jawab terhadap persoalan pertambangan di daerah. termasuk perikanan mendesak dihentikannya rencana pengerukan emas di hutan lindung Tumpang Pitu. Lingkungan pertambangan. Padahal. cara-cara represif justru akan menimbulkan persoalan baru yang lebih besar. diperlukan kesiapan daerah (Pemerintah Kabupaten Banyuwangi) dalam mengelola potensi emas di Gunung Tumpang Pitu. 4) Menyiapkan bimbingan.

4 45. tetapi harus dengan persuasive.4 51.9 15.6 20. sedangkan pengalokasian WPR diatur pasal 20-26 UU No.9 19. maka perlu dilakukan pembatasan kembali wilayah PT.8 2. IMN. 5) Dalam menangani persoalan PETI/ Gurandil seyogyanya tidak menggunakan cara-cara represif.8 16. serta kandungan mineral ikutan emas berdasarkan hasil laboratorium yang terakreditasi.8 58. ada beberapa hal yang perlu diklarifikasi: wilayah konsesi.2 30.7 2.00" dan titik 15 seharusnya 36’.7 58.8 30.7 11.4 58. dan lainnya) kalau ditangani secara represif akan menimbulkan persoalan baru yang lebih besar.2 19. Kapur di Padalarang Jawa Barat. dan perlu dilakukan secara transparan. kajian terhadap kegiatan di sekitar proyek perlu diperluas dan diperdalam sehingga dapat memberi gambaran yang valid mengenai keadaan yang sebenarnya.8 53.9 57 57 37. 4/2009.2 36.8 hrsnya 00 11.4 51. terutama terkait fungsi hutan lindung sebagai sumber mata air. dan rencana pengelolaannya.4 29.6 15. PETI Emas di Sulawesi Utara. IMN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 113 113 113 113 113 113 113 113 114 114 114 114 114 114 114 114 114 114 114 114 56 56 57 57 57 57 59 59 1 1 2 2 4 4 4 4 3 3 0 0 45.4 17. perlu dilakukan pembatasan wilayah konsesi untuk meminimalkan dampak lingkungan. 6) Dalam pengalokasian WPR perlu dilakukan kegiatan inventarisasi potensi bahan galian Tabel 1. 4) PT.00") yang bisa fatal karena sebagai batas wilayah konsesi (Tabel 1). PETI Batubara di Kalimantan Selatan.2 3.6 8.4 20.6 53. dan sungaisungai bagi sektor pertanian dan perkebunan.7 8. batas wilayah yang terdapat pada tabel titik koordinat terdapat kesalahan pada titik 14 dan 15 (koordinat y garis lintang/ LS untuk titik 14 seharusnya 36’. dalam kajian AMDAL perlu diperjelas mengenai rencana pembuangan limbah.4 29.4 36.8 hrsnya 00 12.4 58.6 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 37 35 35 34 34 33 33 32 32 32 32 35 35 38 hrs-nya 36 38 hrs-nya 36 38 38 39 39 37 16. dan wilayah yang berpotensi emas sekunder/ alluvial dialokasikan sebagai Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) untuk mewadahi aspirasi rakyat/ masyarakat dalam kegiatan pertambangan. 3) Berdasarkan kajian terhadap AMDAL PT.2 37. IMN perlu memberi penjelasan yang ilmiah mengenai potensi emas primer maupun emas sekunder/ alluvial di dalam wilayah konsesinya di Gunung Tumpang Pitu.6 12. Indah Multi Niaga 10 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Mengenai tahap eksplorasi diatur dalam pasal 42-45 UU No. 4/2009. karena kasus-kasus semacam ini (PETI Emas Pongkor. wilayah konsesi. Koordinat Wilayah Kuasa Pertambangan PT.9 3.8 Sumber: ANDAL Pertambangan PT. IMN (relinquish) dari tahap eksplorasi ke tahap eksploitasi.diminimalkan dibanding kerugian yang akan terjadi terhadap sektor-sektor nonpertambangan.2 17.

Kabupaten Banyuwangi. dan PP No. 2009. “Berebut Emas di Tumpang Pitu”. PT. maka perlu dibentuk kantor/ dinas pertambangan dan energi yang tugasnya mengelola kegiatan pertambangan di daerah. “Penambang Emas Dadakan di Banyuwangi Capai 3 Ribu Orang”. PT. 2008. Bappeda Kabupaten Banyuwangi. BPS Kabupaten Banyuwangi. 2009. “Emas vs Potensi Agraris Banyuwangi. 32 tahun 2004. Harian Kompas. Provinsi Jawa Timur. “Ribuan Penambang Emas Banyuwangi Diusir”. 2005. 38 Tahun 2007. Detik Surabaya. Kabupaten Banyuwangi. 16 Juni 2008 Harian Kompas. 2008. Kabupaten Banyuwang Dalam Angka Tahun 2008. Harian Kompas. Lampiran ANDAL PT. Rabo. 2008. maka perizinan perlu disiapkan dan perlu dilakukan pembinaan dan pengawasan. 28 April. 2005. Indo Multi Niaga. 2008. Harian Kompas. Kecamatan Pesanggaran. Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Banyuwangi 2005-2015 (Laporan Rencana). 7) Setelah Pemda Kabupaten Banyuwangi mengalokasikan WPR. Kecamatan Pesanggaran. “Masyarakat Banyuwangi Tolak Tambang Emas di Hutan Lindung Tumpang Pitu”. Rencana Umum Tata Ruang Kota dengan Kedalaman Rencana Detail Tata Ruang Kota Pesanggaran. Bambang Yunianto 11 . Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) Rencana Penambangan Emas DMP di Desa Sumber Agung. Indo Multi Niaga.. Provinsi Jawa Timur. PDRB Kabupaten Banyuwangi Tahun 2008. Provinsi Jawa Timur. Permasalahan Pengelolaan Potensi Emas di Gunung Tumpang Pitu . 2008. Kecamatan Pesanggaran.emas sekunder pada wilayah-wilayah yang potensial dan dampaknya dapat diminimalkan. PT. Tim Isu Puslitbang tekMIRA. Berita Fajar. 2009. 8) Untuk menangani berbagai permasalahan pertambangan di Kabupaten Banyuwangi. 2009. 19 April 2008. 17 Mei 2009. Kecamatan Pesanggaran. Rencana Penambangan Emas DMP di Desa Sumber Agung. ANDAL PT. Jumat 27 Februari 2009. Kecamatan Pesanggaran Dalam Angka Tahun 2007. Senin. Sebentuk Kanibalisasi antar Potensi”. Provinsi Jawa Timur. Sabtu. Harian Kompas. DAFTAR PUSTAKA Bappeda Kabupaten Banyuwangi. 2008.. Indo Multi Niaga. Jakarta 2008 (Laporan Akhir). 2009. Kabupaten Banyuwangi. PT. Indo Multi Niaga. Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Banyuwangi 2007-2027 (Album Peta/ Gambar). Jakarta 2008. BPS Kabupaten Banyuwangi. Berita Fajar FM. Detik Surabaya. Indo Multi Niaga Rencana Penambangan Emas DMP di Desa Sumber Agung. 2009. Bappeda Kabupaten Banyuwangi. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) Rencana Penambangan Emas DMP di Desa Sumber Agung. Banyuwangi. Potensi pertambangan di Gunung Tumpang Pitu dan Pulau Batu Merah. Kecamatan Pesanggaran. BPS Kabupaten Banyuwangi. 2008. 2009. 2008. Harian Kompas. Indo Multi Niaga. lingkungan maupun dalam manajemen berusaha. Bahan Presentasi Kabid Fisik dan Prasarana Wilayah. 2007. Jakarta 2008. UU No. Bappeda Kabupaten Banyuwangi. Kabupaten Banyuwangi. 33 Tahun 2004. Selasa. sesuai kebijakan otonomi daerah yang tertuang dalam UU No. baik dalam hal teknis penambangan. Jakarta 2008. Foto-foto dokumentasi survai di perkantoran dan dokumentasi PETI di Gunung Tumpang Pitu.

LAMPIRAN FOTO-FOTO SURVAI LAPANGAN 12 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .

Bambang Yunianto 13 .Permasalahan Pengelolaan Potensi Emas di Gunung Tumpang Pitu ...

14 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .

.Permasalahan Pengelolaan Potensi Emas di Gunung Tumpang Pitu .. Bambang Yunianto 15 .

Research and Development Center for Mineral and Coal Technology is developing utilization of producer gas resulted from coal gasification for diesel powered electric generation using dual fuel system at Coal Technology Center. producer gas. Metoda ini menggunakan peralatan yang terdiri atas nozzle isokinetik yang dilengkapi heater untuk mengambil contoh producer gas. The coal 16 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Salah satu parameter kualitas producer gas untuk digunakan pada sistem pembakaran internal seperti mesin diesel adalah kadar ter dan partikulat.go. Batubara yang digunakan berasal dari Kalimantan Selatan yang mempunyai nilai kalor 5. penyaring keramik untuk memisahkan partikulat. The installed apparatus is tested for determining the content of tar and particulate of producer gas resulted from coal gasification. nurhadi@tekmira.PENGEMBANGAN METODE ANALISIS TER DAN PARTIKULAT DALAM PRODUCER GAS DARI BATUBARA Slamet Suprapto dan Nurhadi Puslitbang tekMIRA. Cirebon. Fax: (022) 6003373 email: slamets@tekmira. Pengembangan lebih lanjut diharapkan difokuskan pada standarisasi dan uji pembanding Round Robin test dan analisis sistem on-line langsung ke komputer untuk mengetahui secara langsung komposisi producer gas. Telp. heat exchanger dan botol kondensasi untuk mengasorbsi lengas dan botol impinger untuk mengadsorbsi ter dalam contoh producer gas. Palimanan Cirebon.esdm. This method used apparatus which consists of iso-kinetic nozzle equipped with heater to take sample of producer gas.500 kal/g. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengembangkan metoda sampling dan analisis kadar ter dan partikulat dalam producer gas dari batubara. Jend. heat exchanger and condense bottle to absorb moisture and impinge bottle to absorb tar in the producer gas sample. One of quality parameter of producer gas to be used for internal combustion like diesel engine is the content of tar and particulate. 623 Bandung. ter. metoda analisis ABSTRACT In relation to increase and diversify the utilization of coal. Kata kunci: gasifikasi batubara. The purpose of this research is to develop sampling and analysis method for determination tar and particulate contents in producer gas from coal.esdm.go. Metoda ini belum distandarisasi karena tidak tersedianya gas standar.500 dan 4. Peralatan yang telah terangkai kemudian diujicoba untuk menentukan kadar ter dan partikulat dalam producer gas produk gasifikasi. (022)6030483. Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara sedang mengembangkan pemanfaatan producer gas hasil gasifikasi batubara untuk pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) sistem dual fuel di Sentra Teknologi Pemanfaatan Batubara.id SARI Dalam rangka meningkatkan dan mendiversifikasikan pemanfaatan batubara. ceramic filter to separate particulate. Percobaan pengoperasian mesin diesel menggunakan sistem dual fuel menunjukkan kinerja yang baik dan tidak terdapat endapan ter dan partikulat dalam ruang bakar mesin diesel. partikulat. Sudirman no. Pengujian metoda sampling dan analisis terhadap producer gas hasil gasifikasi batubara tersebut menunjukkan kadar ter dan partikulat yang cukup rendah yaitu <100 mg ter/Nm3 dan <50 mg partikulat/Nm3 dan sudah memenuhi persyaratan untuk bahan bakar mesin diesel.id. Jln. Palimanan.

Gas Lurgi merupakan gas kalori menengah (medium calorie gas) dengan nilai kalor antara 200-400 Btu/ft3. Proses gasifikasi menggunakan pereaksi udara dan uap air menghasilkan gas yang disebut producer gas dengan komposisi terdiri atas gas mampu bakar (combustible gas) CO dan H2 dan dan sedikit gas hidrokarbon seperti CH 4. Kalau pada awalnya gasifikasi batubara hanya menghasilkan producer gas (gas bakar) dan gas kota. 1981.. Substitute Natural Gas) dengan komponen utama CH4. Proses gasifikasi batubara yang saat ini berkembang dengan maju adalah proses konversi batubara dalam sebuah reaktor dengan menggunakan pereaksi.. Slamet Suprapto dan Nurhadi 17 . Keywords : coal gasification. particulate. perlu dikembangkan metoda analisis ter dan partikulat dalam producer gas dari batubara. tetapi sekarang bisa berupa gas sintesis. Proses gasifikasi menggunakan pereaksi campuran oksigen/uap air menghasilkan produk gas yang disebut gas Lurgi dengan komponen utama berupa CO dan H2 dan sedikit gas-gas hidrokarbon. Palimanan. serta pengotor. The operation of diesel engine using dual fuel system shows good performance and there were no tar and particulate deposit in the combustion chamber. penggunaan gas alam untuk mesin diesel dual fuel gas sudah dilakukan di Tarakan. producer gas. Francis.500 cal/g. Untuk mendukung kegiatan pilot plant tersebut diperlukan perlatan dan metoda analisis producer gas yang dapat menentukan komposisi dan kadar kadar ter dan partikulat. Nowacki. producer gas dari biomassa telah digunakan untuk mesin pembakaran internal (internal combustion engine) seperti mesin gas (gas engine) dan mesin diesel dual fuel secara komersial di banyak negara. syngas) dengan komponen utama CO dan H2. Gas ini termasuk gas kalori rendah (low calorie gas) dengan nilai kalor <200 Btu/ft3 (<1780 kkal/m3). PENDAHULUAN 2. SNG) dan bahan baku industri kimia. gas alam sintetik (synthetic natural gas. Proses gasifikasi menggunakan pereaksi hidrogen juga dapat menghasilkan gas alam sintetik yang mempunyai nilai kalor sekitar 1000 Btu/ft3 dan termasuk gas kalori tinggi (high calorie gas) (Elliot. Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara bekerjasama dengan PT PLN (Persero) dan PT Coal Gas Indonesia sedang mengembangkan pemanfaatan producer gas dari batubara untuk pembangkit listrik tenaga diesel dengan membangun pilot plant di Sentra Teknologi Pemanfaatan Batubara tekMIRA. Sementara itu. Di Indonesia. Batubara dari berbagai jenis dan peringkat dapat dikonversikan menjadi gas secara komersial. Producer gas juga dapat dihasilkan dari proses gasifikasi bahan karbonan (carbonaceous matter) lainnya seperti biomassa (Anonymous.used comes from South Kalimantan which have calorific values of 5.500 and 4. Peresmian pengoperasian pilot plant tersebut telah dilakukan pada tanggal 19 Maret 2008. Oleh karena itu. analysis method 1. Sedangkan metode analisis kadar ter dan partikulat dalam producer gas hasil gasifikasi biomassa juga baru dikembangkan di beberapa negara Eropa. Kalimantan Timur. 1965. Produk gas yang dihasilkan proses gasifikasi batubara tergantung pereaksi yang digunakan. Apabila gas Lurgi tersebut dimurnikan maka dihasilkan gas sintesis (synthesis gas. 1981. 1986) dan dengan pereaksi campuran udara/uap air. Cirebon. Sehubungan dengan hal tersebut di atas. The results show that the content of tar and particulate are <100 mg of tar/m3 and <50 mg of particulate/m3 respectively which correspond with the requirement of producer gas as fuel for dual fuel diesel engine. This method has not been standardized yet because standard reference gas is not available yet. Gas sintesis dapat diproses lebih lanjut melalui proses metanasi untuk mendapatkan gas SNG (Synthetic Natural Gas. Further development needs to be focused on standardization and on-line system connected to computer which can show the composition of producer gas directly. Perbedaan proses gasifikasi biomassa yang menghasilkan producer gas untuk mesin Pengembangan Metode Analisis Ter dan Partikulat dalam Producer . TINJAUAN PUSTAKA Proses konversi batubara menjadi gas yang dikenal dengan istilah gasifikasi batubara sudah berkembang dengan maju. 1984). Ward. Metode analisis komposisi gas hasil gasifikasi biomassa maupun batubara umumnya menggunakan kromatografi gas. tar. serta pengotor N 2 mencapai sekitar 50%.

Prosedur Analisis Ter dan Partikulat Setelah peralatan sampling dan analisis terpasang kemudian contoh gas dialirkan melalui nozzle dan penyaring keramik. Bahkan Energy research Center of the Netherlands (ECN) Belanda mengembangkan prosedur tersebut menjadi standar untuk kawasan Eropa dengan mengadakan Round Robin test. Sampai saat ini. di daerah-daerah terpencil di banyak negara misalnya Pilipina. 1986. 2006): ter : <500 mg ter /m3 gas partikulat : 50 mg partikulat/m3 gas. yakni batubara dimasukkan dari atas dan gas dikeluarkan dari bawah reaktor sehingga ter biomassa mengalami perekahan (cracking) menjadi molekul gas. 2005). Turare). Alat sampling tersebut berupa nozzle isokinetik yang dipasang pada pipa aliran gas dan dilengkapi pitot tube dengan dimensi tertentu. Mesin-mesin pembakaran internal normalnya dirancang untuk menggunakan bahan bakar bensin atau solar yang relatif bersih dibanding producer gas. 1998. pada pipa aliran contoh gas dipasang pemanas suhu 200ºC agar ter tidak mengembun dan menempel pada nozzle dan pipa sirkulasi. Penyaring keramik tersebut memiliki rongga-rongga 3 mikron. Skema pemasangan nozzle pada pipa aliran produk gas hasil gasifikasi batubara dapat dilihat pada Gambar 1. Oleh karena itu. Pembuatan Peralatan Tahap awal dari pengembangan metoda adalah pembuatan peralatan sampling dan analisis sesuai dengan peralatan yang digunakan untuk sampling dan analisis producer gas yang dikembangkan di Eropa. Botol kondensasi berisi 800 mL air suling (aquadest) yang didinginkan pada suhu 0OC. Penangkap ter terdiri atas botol pengembun uap air (moisture condensation bottle) dan 3 (tiga) botol tar impinger seperti terlihat pada Gambar 2. scrubber dan pendingin. Namun pada unit gasifikasi batubara mempunyai sistem pemurnian gas yang juga dilengkapi penangkap ter khusus. Disamping itu. van de Kamp. Unit penangkap ter tersebut cukup efektif sehingga kadar ter dalam producer gas memenuhi syarat untuk penggunaan mesin diesel. Pipa teflon dicelupkan dalam air suling sedalam 15 mm. Uap air dan sebagian 18 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Prinsip dasar metode tersebut adalah sampling dan analisis aliran producer gas yang mengandung ter dan partikulat secera on-line dengan menggunakan peralatan yang terdiri atas nozzle isokinetik dan penangkap ter dan partikulat. Sedangkan gasifikasi batubara menggunakan reaktor sistem updraft sehingga produk gas mengandung lebih banyak ter. Contoh gas didinginkan dalam chiller yang terbuat dari gelas dan menggunakan air pendingin suhu 10 O C. Afrika. yakni tar electrostatic precipitator. Oleh karena itu.1. Eropa maupun Amerika Serikat masih ditemukan bus atau traktor bermesin diesel sistem dual fuel dengan bahan bakar solar dan producer gas (Anonymous. agar mesin diesel dapat beroperasi dengan normal. kadar ter dalam relatif rendah dan unit pemurniaan gas yang digunakan untuk gasifikasi biomassa cukup hanya terdiri atas siklon. Selanjutnya. 1986. kadar ter dan partikulat yang masih dapat ditoleransi untuk bahan bakar mesin pembakaran internal adalah adalah sebagai berikut (Anonymous. Reaktor gasifikasi biomassa adalah sistem downdraft. Anonymous. Selandia Baru. Tetapi metode analisis ter dan partikulat dalam producer gas dari biomassa telah dikembangkan di Swiss dan Belanda (Nusbanmer. Ujung teflon berbentuk lobang-lobang dengan diameter 1 mm sebanyak 20 buah. maka producer gas harus mengandung ter dan partikulat serendah mungkin. 3. Alat penangkap partikulat berupa penyaring keramik (ceramic filter) dipasang pada aliran contoh gas sebelum masuk ke rangkaian penangkap ter. Penggunaan tersebut mencapai puncaknya selama masa Perang Dunia II terutama dilakukan oleh Jerman untuk menjalankan kendaraankendaraan perangnya.pembakaran internal dan proses gasifikasi batubara yang digunakan di pilot plant pemanfaatan gasifikasi batubara untuk PLTD adalah pada reaktor dan sistem pemurnian gas. kadar ter dan partikulat ditentukan berdasarkan gravimetri. belum ada prosedur standar untuk menentukan kadar ter dan partikulat dalam producer gas. Penggunaan producer gas hasil gasifikasi biomassa untuk mesin diesel pembangkit listrik maupun kendaraan telah dimulai sejak awal abad 20. Air dan tar yang mengembun kemudian dilewatkan pada pipa teflon untuk dialirkan ke dalam botol kondensasi.2. Sampai sekarang. METODOLOGI 3. 3. Secara umum.

. 2005) Gambar 2. van de Kamp.Gambar 1. Skema alat sampling producer gas (Nussbanmer. Slamet Suprapto dan Nurhadi 19 . 2005) Pengembangan Metode Analisis Ter dan Partikulat dalam Producer . 1998.. 1998. Skema penangkap partikulat dan ter ((Nussbanmer. van de Kamp.

Pengujian Metoda Pengujian metoda dilakukan terhadap producer gas hasil gasifikasi contoh batubara Kalimantan yang mempunyai nilai kalor 5. Walaupun batubara yang digunakan sama tetapi komposisi producer gas yang dihasilkan oleh percobaan ke 1 dan ke 2 belum tentu sama. Ter yang terkandung dalam contoh gas akan mengembun dan terabsorbsi dalam anisol. 1981. Selanjutnya dilakukan langkah-langkah sesuai dengan prosedur analisis ter dan partikulat. mg/m3 = vg Di mana: mt = berat ter hasil destilasi. fragmentasi termal dan sifat caking). distribusi ukuran.3. Kualitas dan kuantitas produk gas hasil gasifikasi tergantung kondisi operasi sebagai berikut (Elliot. kemudian gas batubara dimasukkan sampai beban mencapai maksimum 150 kW. Pengujian tersebut dapat menghasilkan data kadar ter dan partikulat yang masing-masing antara 7–62 mg ter/m3 dan 31-50 mg partikulat/m3. suhu rasio pereaksi/batubara. waktu yang dibutuhkan akan semakin lama. Setelah dilakukan langkah-langkah sampling gas dan pemisahan partikulat dan ter seperti seperti tersebut di atas. Apabila kadar ter dan partikulat dalam producer gas sudah memenuhi syarat. Kadar ter dan partikulat producer gas dari contoh batubara dengan nilai kalor 5. mg vg = volume contoh gas.3 m/detik. ter yang sudah teradsorbsi dalam botol kondensasi dan botol impinger dipisahkan melalui destilasi vakum pada suhu 85 OC dan tekanan 10 – 20 mBar.ter dalam contoh gas akan mengembun dalam botol kondensasi yang berisi air suling. maka gas digunakan untuk mengoperasikan mesin diesel sistem dual fuel. van Dyk): kualitas batubara (analisis proksimat. Setelah operasi gasifikasi berjalan lancar (steady) kemudian dilakukan sampling gas dengan membuka aliran nozzle.5 . 1981. Sisa contoh gas dibakar dengan pembakar (burner).500 kal/g dan 4.500 kal/g (A) menunjukkan hasil yang berbeda antara percobaan gasifikasi ke 1 dan percobaan gasifikasi ke 2. Producer gas dengan kadar ter dan partikulat yang demikian sudah memenuhi syarat untuk digunakan pada mesin diesel. mg/m3 = vg Di mana: mc1 = berat penyaring keramik sebelum percobaan. 20 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Kadar tar dapat dihitung dengan membagi berat ter yang diperoleh dari destilasi vakum dengan volume contoh gas. tergantung kandungan ter dan partikulat. Contoh gas kemudian disedot oleh pompa vakum pada laju alir antara 1. Sampling gas dilakukan selama 0. Nowacki. sebagai berikut: mt Kadar partikulat.1 jam. mg mc2 = berat penyaring sesudah percobaan. Ketiga buah botol impinger tersebut didinginkan dalam chiller pada suhu -3 sampai dengan -4 O C. kemudian kadar partikulat dan ter dapat ditentukan dengan membagi berat ter dengan volume contoh gas sebagai berikut: mc1 – mc2 Kadar partikulat. m3 Sedangkan untuk menentukan kadar ter.500 kal/g. 4. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengujian metoda untuk analisis kadar ter dan partikulat contoh producer gas hasil gasifikasi dapat dilihat pada Tabel 1. Ter yang diperoleh kemudian ditimbang. m3 3. reaktivitas. Hal ini disebabkan bervariasnya kondisi operasi gasifikasi batubara. Pengujian diawali dengan proses gasifikasi batubara yakni dengan mengumpankan batubara ± 150 kg/jam.7 – 3. Langkah selanjutnya adalah mengalirkan gas ke dalam 3 buah botol impinger yang masing-masing berisi 50 mL anisol dan satu buah botol impinger kosong sebagai drop separator. Semakin kecil kandungan partikulat dan ter. Pengoperasian mesin diesel diawali dengan menggunakan bahan bakar 100 % solar pada berbagai beban (daya) 30 kW. rasio udara/uap air). yakni <500 mg ter/m3 dan 50 mg partikulat/m3. mg = volume contoh gas.

Pengembangan metoda sampling dan analisis producer gas juga perlu dikembangkan agar komposisi gas dapat langsung diketahui sehingga pemanfaatan untuk mesin diesel dapat terjamin. Hasil analisis ter dan partikulat No. Ukuran batubara yang digunakan dalam percobaan gasifikasi adalah – 5 + 1 cm. 5. Perbedaan kondisi proses tersebut menyebabkan terjadinya perbedaan kualitas produk berbeda. Disamping itu. mg/m3 Ter 38 7 62 Partikulat 50 31 43 A B 5. Hal ini menunjukkan bahwa kadar ter dan partikulat cukup rendah dan memenuhi syarat. Pengembangan standar analisis producer gas dari biomassa yang dilakukan oleh van de Kamp (2005) adalah dengan memvariasikan kondisi operasi gasifikasi yang terdiri atas. suhu dan tekanan. belum ada laboraorium lain yang mengembangkan metoda analisis ter dan partikulat yang dapat bekerjasama dalam melakukan uji Round Robin guna membandingkan hasil analisis. Walaupun metoda ini sudah bisa digunakan. down draft).. Saran Hasil ini agar dapat ditindaklanjuti dengan pengembangan metoda standar melalui kerjasama dengan laboratorium lain untuk melakukan uji pembanding (Round Robin test). oksigen/uap air). Pengembangan Metode Analisis Ter dan Partikulat dalam Producer .Tabel 1.500 Analisis proksimat. tetapi yang masih menjadi masalah adalah belum dikembangkannya standar. 1. reaktivitas dan sifat caking batubara yang sama akan menghasilkan kondisi operasi yang sama. jenis reaktor (fixed bed. Pengoperasian mesin diesel menggunakan producer gas dari batubara menunjukkan kinerja yang cukup baik. Metoda sampling dan analisis ter dan producer gas telah dikembangkan dan diujicobakan dengan baik terhadap producer gas hasil gasifikasi batubara dari Kalimantan Selatan yang menghasilkan kadar ter dan partikulat masing-masing antara 7 – 62 mg ter/Nm3 dan 31 – 50 mg partikulat/Nm 3 yang telah memenuhi persyaratan untuk pengoperasian mesin diesel. tetapi kemungkinan distribusi ukurannya tidak merata sehingga menyebabkan kondisi percobaan ke 1 dan ke 2 tidak sama. Hal ini juga dapat membuat penyebaran panas dalam unggun batubara tidak merata dan selanjutnya menyebabkan fragmentasi ukuran tidak sama sehingga kondisi proses berbeda. pereaksi (udara/uap air. 2. 5.. fluidized bed.500 4. yakni mengirimkan contoh-contoh gas yang sama ke beberapa laboratorium kemudian membandingkan hasilnya. Contoh Batubara Nilai Kalorkal/g Kadar Ter dan Partikulat. tidak terdapat endapan ter dan partikulat dalan ruang bakar mesin.1. Dalam program standarisasi tersebut dilakukan uji Round Robin. Hal ini mengingat belum adanya standard reference gas yang sudah mempunyai kandungan ter dan partikulat tertentu. updraft. Kesimpulan Peralatan sampling dan analisis ter dan partikulat dalam producer gas dari batubara telah dapat dirancang bangun dan dipasang pada pilot plant gasifikasi batubara untuk PLTD di Palimanan Cirebon. Hasil pengujian penggunaan gas untuk mengoperasikan mesin diesel sistem dual fuel secara kontinyu dan beban maksimal menunjukkan kinerja yang cukup baik.2. KESIMPULAN DAN SARAN 5. Slamet Suprapto dan Nurhadi 21 . Hasil pengamatan terhadap ruang bakar mesin diesel setelah operasi kontinyu tidak menunjukkan perbedaan dengan menggunakan bahan bakar 100% solar dan tidak ditemukan adanya endapan kerak atau ter batubara dalam ruang bakar mesin diesel. seperti yang dihasilkan oleh uji metoda analisis. 3.

M. M. Wood Gas as Engine Fuel.. H. P. Swiss Federal Institute of Zurich. Zielke.. Biomass Gasification – Technology and Utilization. T. Van Dyk. Knoef. Biomass downdraft gasifier engine system. Second Suppl. C. Liliedahl. C. Ward. Oxford..). Francis.nrel. W.. 1984. R&D Division. Noyes Data Corporation Jersey. Nussbanmer. 1965. J. Anonymous. (ed. Nowacki. ARTES Institute Glucksburg. Paris. Elliot. J. 17-21 October. W. 1981. U. John Wiley & Sons.. Syngas and Coal Technologies.UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terimakasih disampaikan kepada Puslitbang tekMIRA. H. http:/devafdc. Fuels and Fuel Technology. M.. 1981. Rome.. Tar measurement standard for sampling and analysis of tars and particles in biomass gasification product gas. de Wild. Turare. Neeft. DAFTAR PUSTAKA Anonymous.. FAO. Coal Geology and Coal Technology. Chemistry of coal utilization. M. Vol.)...gov/pdfs.R. Melbourne. Keyser. Guide line for Sampling and analisis of Tars Condensates and Particulates From Biomass Gasifier.. Section C: Gaseous Fuels. 2005.. Whitehouse. 2006. PT PLN Jasa Produksi dan PT Coal Gas Indonesia (PT CGI) atas kerjasamanya dalam penyelenggaraan kegiatan ini. South Afrika... T. M. Blackwell Scientific Publications. 1998. 14th European Biomass Conference & Exhibition.J. Unger. Zurich. Good.A. Coal Gasification Process. P. J. Germany. C. J. Sasol Technology. Sasolburg. Pergamon Press.C. & Coertzen. (Ed. Suomalainen. Sasol’s Unique Position in Production from South African Coal Source Using Sasol–Lurgi Fixed Bed Dry Bottom Gasifier. 22 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . & Kiel. New York.. 1986. Vol II. van de Hoek. van de Kamp.

Adanya berbagai input dan proses kegiatan pertambangan. bambangwtm@lemigas.IMPLEMENTASI PENGELOLAAN LINGKUNGAN SEKTOR ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL PADA ERA GLOBALISASI Djoko Sunarjanto dan Bambang Wicaksono Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi (LEMIGAS) Jl.021 7226011 e-mail : djokosnj@lemigas.esdm. yakni jenis mineral.esdm. Cipulir-Kebayoran Lama. Jakarta Selatan 12230 Telp. akan menghasilkan output yang bermanfaat secara berkelanjutan utamanya selalu mempertimbangkan faktor lingkungan dan masyarakat sekitar kegiatan pertambangan. Diperlukan antisipasi pengelolaan sebaik-baiknya yang meliputi 3 faktor utama pengelolaan lingkungan Sektor ESDM di Indonesia.go. Djoko Sunarjo dan Bambang Wicaksono 23 .id. Ciledug Raya Kav 109. Analisis pada studi kasus kegiatan pertambangan apabila berpatokan pada nuansa desentralisasi dan meninggalkan sentralisasi akan menimbulkan dampak baru. Sektor ESDM. pengembangan teknologi termasuk impor peralatan masih dalam konteks sentralisasi. Demikian juga pengelolaan ekspor mineral. terdapat persamaan antara lain tentang kepedulian lingkungan. Salah satunya adalah konsep Green Mining and Energy. Permasalahan bertambah kompleks dengan berfluktuasinya produksi dan harga komoditas mineral.. menjadi masukan informasi untuk kembali ke konsep pengelolaan lingkungan yang sudah ada. Kata kunci : lingkungan.. luas wilayah dan perkembangan perekonomian. namun menjadi urusan internasional. globalisasi Implementasi Pengelolaan Lingkungan Sektor Energi . Perlu upaya khusus untuk implementasi pengelolaan lingkungan dan penanganan dinamika kegiatan pertambangan mineral dan energi pada era globalisasi.go. Dampak lingkungan yang timbul dapat berkembang menjadi permasalahan global.id SARI Paradigma baru pengelolaan Sektor Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus bergulir. Dari implementasi UU Migas dan UU Minerba yang baru.021 7222583 Fac. setelah penyerahan UU Nomor 22 Tahun 2001 tentang Migas kemudian UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (Minerba). tidak terkotak-kotak wewenang daerah/pusat.

LATAR BELAKANG kelistrikan serta beberapa studi kasus. Analisis komparatif dilakukan dengan subsektor lainnya dikompilasi dengan kekhususan pengembangan subsektor minyak dan gas bumi. Penyusunan makalah ini diharapkan dapat dijadikan sebagai masukan dalam rangka mempersiapkan peraturan dan keputusan sebagai turunan dan pendukung Undang Undang Minerba yang baru. Keywords: environment. Export activities of minerals. development of technologies and import of equipment which is still centralized and the complexity of the problems with fluctuations of product and mineral price need anticipation to manage it. in primary environment factors and community of the surrounding mining activities. Insentif yang diberikan berupa pemotongan dana pengembangan batubara yang merupakan bagian dari Dana Hasil Produsen Batubara (DHPB) yang disetor perusahaan tambang ke kas negara. antara lain pasal 78) Kegiatan Reklamasi dan Pascatambang (pasal 39) Dengan terbitnya perundang-undangan yang mendasari pelaksanaan pengelolaan energi dan sumber daya mineral. Perlu kesadaran manfaat dan resiko bahaya yang dihadapi dan kemampuan masyarakat untuk melindungi diri dari dampak negatif yang timbul. POTENSI DAN PEMANFAATAN BATUBARA INDONESIA 2. reklamasi sampai pascatambang. terdapat persamaan dalam permasalahan lingkungan yang tertuang dalam UU Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi dan UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. Salah satunya adalah dengan memberikan insentif kepada perusahaan batubara pemasok pembangkit listrik PLTU. Penanganan lingkungan hidup Rencana pengembangan dan pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah pertambangan (beberapa pasal. jumlah dan penyebaran penduduk yang timpang serta adanya perbedaan ekologi di berbagai kawasan Indonesia. energy and mineral resources sector. mining area. Dalam UU Minerba yang baru telah dilengkapi tata cara pengembangan terkait masyarakat. Pendekatan kegiatan berbasis masyarakat (community based activities). tidaklah mengherankan apabila pada masing-masing wilayah terdapat perbedaan dalam upaya penanganan lingkungan dan peningkatan perekonomian atau Pendapatan Asli Daerah dari kegiatan pertambangan. yaitu. 4 year 2009) is going on. Insentif tersebut diberikan hanya untuk kebutuhan pembangunan pembangkit listrik dan tidak boleh digunakan untuk keperluan ekspor.000 MW menggunakan bukan Bahan Bakar Minyak atau non-BBM. these involve five factors: minerals item. produksi mineral. economics development. Pemutakhiran dan upaya khusus implementasi pengelolaan lingkungan di tengah dinamika kegiatan pertambangan mineral dan energi sangat diperlukan guna menciptakan pertambangan berwawasan lingkungan. not only local but also international. 3. Special effort is needed for environment management to cope with the dynamics of mineral and energy activities in globalization era. dan pemanfaatan batubara untuk Sejak tahun 2006 Pemerintah menggulirkan beberapa kebijakan untuk mendukung pembangunan pembangkit listrik 10. Sebagai negara kepulauan. after Oil and Gas Law (Law No.ABSTRACT New paradigm on management Energy and Mineral Resources Sector. Environmental effect could generate the global problems. 24 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . lebih mungkin menghasilkan tindakan yang merespon kebutuhan riil penduduk ataupun masyarakat lingkar pertambangan. The implementations of those laws pay the same attention on environment management. PENDEKATAN TEORI DAN ANALISIS Pendekatan kegiatan menggunakan teori kebijakan dan geologi lingkungan dikomparasi dengan data sekunder pengusahaan mineral dan batubara. globalization 1. Analysis from case study in mining activity if decentralism spirit is used and leaving from centralization spirit will create new impact. 22 year 2001) and Mining and Coal Law (Law No. With the inputs from mining activities there be sufficient information to come back to available environment management since Green Mining and Energy concept will cause a sustainable benefit output.

sehingga menjamin pasokan. yaitu . seperti dalam pengusahaan migas dibedakan institusi pemerintah sebagai regulator (Ditjen Migas) dan badan yang melakukan pengawasan kegiatan baik hulu dan hilir migas oleh BP Migas dan BPH Migas. Saat ini pertambangan mineral dan batubara di Indonesia cenderung menggunakan sistem tambang terbuka (open pit mining) yang menggunakan lahan luas. sampai saat ini masih relevan. Paiton dan Tuban. demikian juga nantinya untuk mineral strategis lainnya termasuk batubara. ANALISIS KOMPARATIF Upaya mengatasi permasalahan yang timbul dapat diantisipasi dengan pengelolaan sebaik-baiknya. PLTU Labuhan dan Tangerang (Provinsi Banten). Produksi batubara dalam negeri sekitar 203 juta ton per tahun. selaras hasil penelitian yang menyebutkan bahwa Indonesia memiliki potensi batubara kalori rendah cukup besar yang selama ini belum dieksplorasi.000 MW sebagian besar menggunakan batubara. dalam UU Minerba yang baru diuraikan pada BAB VI pasal 34. di samping berdampak timbul masalah gangguan kualitas lingkungan. Namun dalam pengelolaan dan pekembangannya diperlukan inovasi dan keluwesan mengaplikasikan dalam peraturan perundangan baru. 4. dekat kawasan budi daya atau pada kawasan hutan dan kawasan lainnya. Jenis Mineral Klasifikasi mineral ataupun pembagian bahan galian sesuai Undang-Undang atau PP No 27 Tahun 1980 dibedakan menjadi 3 jenis atau kategori.. Usaha Pertambangan dikelompokkan menjadi pertambangan mineral dan pertambangan batubara. Jayawijaya. dalam Program 10. Jawa Tengah akan dibangun PLTU Rembang dan Tanjung Jati. Akan dibangun PLTU Suralaya. Pertambangan mineral masih digolongkan lagi menjadi. yaitu kategori A (Bahan Galian Strategis). Wilayah Pertambangan 3. Jenis Mineral 2. Gambar 1. misal penambangan di daerah resapan air tanah. meliputi 3 faktor utama yang berperan penting dalam pengelolaan lingkungan Sektor ESDM di Indonesia. 2006) Implementasi Pengelolaan Lingkungan Sektor Energi . Terkait dengan jenis mineral dan pertambangan. 1. Kebijakan Energi Nasional 2003-2009 menyebutkan bahwa penggunaan batubara dapat mendorong pengembangan batubara kalori rendah di dalam negeri. untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar sejumlah PLTU diperlukan sebanyak 21. Ibrahim (2008) dalam bukunya General Check-Up KELISTRIKAN NASIONAL.. Kegiatan operasi di tambang terbuka Batu Hijau (Foto : Newmont Nusa Tenggara.Meningkatnya pemakaian BBM untuk pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) dan listrik tenaga uap (PLTU) memberatkan PLN dari segi biaya. Contoh pertambangan mineral logam PT Newmont Nusa Tenggara memerlukan wilayah yang luas Gambar 1. pertambangan mineral radioaktif. batubara di Sawahlunto. pertambangan mineral logam. Di Jawa Barat akan dibangun PLTU Indramayu dan Pelabuhan Ratu. Peningkatan pertambangan batuan sesuai kegiatan pembangunan fisik sarana-prasarana. Sedangkan di Jawa Timur akan dibangun PLTU Pacitan. Salah satu solusi jangka panjang untuk menekan beban PLN dengan menggunakan batubara untuk pembangkit listrik yang akan dibangun maupun yang telah beroperasi. Batubara sebagai bahan bakar PLTU pengganti BBM dilandasi alasan karena batubara lebih murah dan cadangannya cukup besar. Perkembangan Perekonomian 1.28 juta ton per tahun. Djoko Sunarjo dan Bambang Wicaksono 25 . pertambangan mineral nonlogam dan pertambangan batuan (UndangUndang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara) Sesuai klasifikasi untuk pengelolaannya tergantung jenis dan kategori mineral. tetap memerlukan kewaspadaan dalam pengelo-laannya terkait lingkungan. Sebaliknya beberapa tambang dalam memerlukan lahan yang relatif tidak luas. kategori B (Bahan Galian Vital atau Logam) dan Golongan C (Industri atau bahan bangunan). seperti tambang yang sudah lama dikembangkan tambang emas Pongkor.

3. khusus Pulau Jawa menampung hampir 60 % penduduk Indonesia.49 6.604.67 36.181 159.222 5.376. emas.704.24 33. akuisisi perusahaan. Pengembangan pertambangan akan mempertimbangkan lebih banyak faktor pada daerah padat penduduk.483 7. Tercatat produksi nasional tembaga. Sebagai contoh. termasuk di dalamnya investasi dan nilai tukar mata uang. sejak perencanaan.134 6.406. salah satu implementasinya BP MIGAS membuka kantor perwakilan dan penghubung di daerah.989. mesin dan teknologi dari beberapa negara luar.809.73 17. Sisi lain pengelolaan pertambangan mineral dan energi tergantung pada modal besar dan beresiko tinggi. Dari sisi mikro-ekonomi fluktuasi harga komoditas. Produksi hasil tambang terpilih.783 797.442 - Tembaga (Ton) Emas (KG) Perak (KG) Timah (Ton) Bauksit (MT) Bijih Nikel (Ton) *) Termasuk Kuasa Pertambangan Status Data.671 97.862 25.07 80.134 Ton) untuk memenuhi kebutuhan luar negeri (Tabel 1).144 12.044. sebaliknya hasil kegiatan pertambangan diekspor ke luar negeri.46 25. Keterkaitan wilayah dan kepadatan penduduk terlihat perbedaan antara Wilayah Jawa dan luar Jawa. perak dan timah lebih besar untuk kebutuhan luar negeri. sehingga diperlukan pendekatan sosio kemasyarakatan dan teknologi dalam pengelolaan mineral dan energi.43 330.267 272. ketenagakerjaan sampai ekspor-impor.42 122.31 90.48 287. mengakibatkan ketergantungan pada perekonomian global. Perkembangan Perekonomian Akhir-akhir ini permasalahan lingkungan menjadi bagian penting dalam perekonomian.775 3.398 244.248. Wilayah Indonesia yang memiliki tidak kurang dari 13.176 1. penyerobotan wilayah oleh pertambangan tanpa ijin termasuk permasalahan lingkungan yang tidak mudah diselesaikan.75 497. Jawa.619.326 4.796 816. Keberhasilan kegiatan community development atau social responsibility dan program kemasyarakatan yang sejenis menjadi indikator keberhasilan kegiatan pertambangan suatu wilayah (Sunarjanto dan Adji.470 97. pajak.183 3. Untuk itu pelaksanaan rangkaian kegiatan pertambangan di Indonesia masih dikontrol langsung pemerintah.536.555. eksplorasi-eksploitasi sampai pengawasan dan audit pascakegiatan pertambangan.937 1. 2005). Sumatera.309.353.882 117.832 4.309. bahkan tahun 2007 produksi bauksit (1. kasus penanganan pengawasan Usaha Hulu Migas yang selama ini dilakukan BP MIGAS sesuai UU No 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi.665.357 61.048 747 1.48 188. Tantangan ke depan menjadi bertambah karena peningkatan jumlah penduduk dan pertambangan mengarah ke wilayah padat penduduk.667 pulau mempengaruhi implementasi organisasi. salah satu penyebabnya diduga pengelolaan dan pengusahaannya mengabaikan prosedur dan pengawasan lingkungan dan keselamatan kerja seperti yang seharusnya berlaku pada kegiatan tambang bawah tanah/tambang batubara.308 102.515 65.407 22.031.884 85. efektivitas dan efisiensi terkait kewilayahan.127.967 269. penggabungan beberapa perusahaan bahkan pengalihan bidang usahapun perlu diperhitungkan untuk keamanan berusaha dan mempertahankan stabilitas investasi.024 5.774.536. Juli 2008 Sumber : Directorate General of Mineral Coal and Geothermal (2008) 26 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . dan temehadap pada satu sisi akan menjadi potensi sumber daya yang tidak boleh diabaikan.249.923 32.542 MT) dan bijih nikel (4. sesuai UU Minerba baru daerah pertambangan berpotensi untuk dikembangkan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi (pasal 28).318 261.411 85.726.186 42. kebutuhan dalam negeri dan ekspor 2006 2007*) 2008*) Produksi Ekspor Domestik Produksi Ekspor Domestik Produksi Ekspor Domestik 817. Dari berbagai pulau. Hal ini karena kompleksnya permasalahan pengawasan kegiatan hulu migas dan lokasi wilayah yang tersebar dan sulit dijangkau.284.Kasus terjadinya ledakan tambang batubara Sawahlunto yang menelan korban meninggal lebih dari 30 orang pada pertengahan Juni 2009. demikian juga antara Sumatera Jawa dengan pulau lain di Indonesia Timur. masalah tumpang-tindih dengan sektor atau subsektor lain.762.927 91. Impor peralatan.623.422 1.037.105 56.501. Kalimantan dan Sulawesi merupakan tempat pemukiman yang utama.542 15.64 83. Wilayah Pertambangan Keberadaan wilayah pertambangan sangat mempengaruhi pelaksanaan dan permasalahan yang timbul di lapangan.702.61 1. Tabel 1.706. 2. Tingkat kepadatan penduduk tempat kegiatan pertambangan berada.

dengan disesuaikan terhadap terdapatnya sumber daya mineral dan energi. 6. membentuk rantai semacam siklus. berbau menyengat dan sangat berbahaya bagi tumbuhan dan hewan. pengembangan wilayah Sektor ESDM terdiri dari 3 alternatif. Implementasi Pengelolaan Lingkungan Sektor Energi . Dampak lainnya mengakibatkan terjadinya hujan asam yang dapat merusak tanaman serta mempercepat kepunahan keanekaragaman hayati yang sangat merugikan kehidupan. Salah satu emisi yang harus mendapatkan perhatian dari pembakaran batubara pada pembangkit listrik adalah SO2. Penggunaan energi batubara dalam penyediaan tenaga listrik ataupun industri mineral dan energi lainnya diupayakan agar lebih ramah lingkungan dan dilakukan dengan melengkapi peralatan yang dapat mengatasi polutan. Sebagai bahan pengambilan keputusan ataupun masukan dalam penyusunan peraturan. Menjadi peluang dan tantangan untuk lebih intensif mengembangkan pertambangan mineral di lepas pantai. pemanasan global juga dapat menimbulkan terjadinya kerusakan ekosistem terumbu karang. 2000). baik lingkar 1. penurunan produktivitas perikanan laut. Perubahan pada era globalisasi yang kadang berubah secara cepat dari segenap pihak pemangku kepentingan. Secara fisik tampak mata adalah perubahan bentang alam. Dapat ditinjau kembali konsep pengelolaan lingkungan yang sudah ada. Bila dibandingkan masih lebih banyak kegiatan migas yang mengeksplorasi dan mengeksploitasi cadangan migas lepas pantai. Selain mendorong terjadinya kepunahan keanekaragaman hayati. analisis dan alternatif yang sudah disusun ahli maupun institusi. Menurut Soelistijo (2000) secara makronasional. Newmont Nusa Tenggara dalam jangka waktu kurang dari 10 tahun mampu membangun Pusat Pertumbuhan Ekonomi baru di Wilayah Indonesia Timur Gambar 2. PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP 7. Bambang dan Sunarjanto. dan abu. maka gas buang dari PLTU ataupun industri menjadi aman bagi lingkungan (Brodjonegoro. Dalam perkembangannya selama ini banyak kajian ilmiah. karena banyak di antara spesies yang punah tersebut merupakan spesies yang berguna bagi manusia (Christensen. Pusat pertumbuhan (growth center). Berdasarkan analisis komparatif. Regional Integratif: yang potensinya bersifat merangsang pengembangan wilayah sektor lain. Dampak negatif yang tidak tampak secara langsung sebagai sumber utama emisi berbahaya seperti SO2. salah satunya adalah konsep Green Mining and Energy akan menghasilkan output yang bermanfaat secara berkelanjutan. 1991). di mana daratan hanya menempati sepertiga Wilayah Indonesia. Kegiatan ESDM khususnya pertambangan mineral masih terkonsentrasi di darat. yang merupakan gas tidak berwarna.. yaitu . sebagai ilustrasi digambarkan dalam Gambar 1. Apabila dikaitkan dengan lingkungan dan pengembangan wilayah selalu mempertimbangkan faktor lingkungan dan masyarakat sekitar kegiatan pertambangan atau diistilahkan masyarakat lingkar luar. Dengan melengkapi peralatan sejenis penyaring. Peningkatan emisi gas CO2 di atmosfer akan dapat mempengaruhi terjadinya perubahan curah hujan dan pemanasan global. lingkar 2 dan seterusnya. Sebagai contoh nyata adanya kegiatan pertambangan mineral logam di Maluk Sumbawa yang termasuk Wilayah PT. Diperlukan pemutakhiran dan diskusi yang berkelanjutan mengantisipasi perubahan yang dinamis. Penanganan lingkungan hidup termasuk reklamasi dan pengelolaan pascatambang (BAB VII pasal 39 UU Minerba) menjadi upaya penting memperbesar dampak positif menciptakan pertambangan secara berkelanjutan sejak eksplorasi sampai dengan esok menjadi suatu kawasan pusat pertumbuhan ekonomi. terjadinya perubahan musim. CO2.. CO.5. Djoko Sunarjo dan Bambang Wicaksono 27 . DISKUSI Sampai saat ini sumber energi fosil merupakan sumber utama dan penggunaan bahan bakar batubara pada PLTU dapat berdampak merugikan lingkungan. hujan badai. meledaknya hama dan wabah penyakit. shareholder sampai pihak luar/internasional. Penambangan timah dan pasir laut di daerah Riau Kepulauan dan sekitarnya menjadi contoh pertambangan mineral lepas pantai yang dapat dilakukan pada wilayah lain. ALTERNATIF SOLUSI Alternatif solusi merupakan bagian dari strategi yang diperlukan guna mempercepat dan akurasi suatu proses untuk mencapai tujuan yang diharapkan. dapat menyebabkan kebutaan dan kematian pada manusia. SO2 menyebabkan gangguan pernafasan. sebagai suatu alternatif solusi terdapat input dan proses kegiatan pertambangan dapat diarahkan mencapai output yang bermanfaat banyak pihak. Agregatif: yang potensinya menunjang konsepsi pengembangan wilayah sektor lain. banjir bandang dan sebagainya.

Suatu kawasan pertambangan mengubah lokasi terpencil menjadi pusat pertumbuhan ekonomi sudah banyak terbukti berhasil pada beberapa wilayah. Indonesia’s Mineral and Coal Development. Global Science. M. Hadi Purnomo. 2008. Energy. MediapIus Network. UCAPAN TERIMA KASIH Tersusunnya makalah ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Prof.Sc DIC yang memberi kesempatan penulis menyampaikan makalah ini. Dr. antara lain : Produksi dan harga komoditas mineral yang terus berfluktuasi. 2008. ISBN 0-8403-4657-3. Ir. Proceedings of INSAHP. 699 p. Bapak Dr. DAFTAR PUSTAKA Brodjonegoro. H.. Pengelolaan lingkungan Sektor ESDM menjadikan lingkungan bumi yang berkualitas sekaligus sebagai warisan generasi yang akan datang. Ibrahim. Bambang and Sunarjanto. Christensen. Suprajitno Munadi. Pengelolaan lingkungan pertambangan lepas pantai yang baik sebagai upaya optimalisasi pemanfaatan wilayah dan ikut melindungi pelestarian alam. Environment. third edition. Perbandingan maluk. J.MALUK 1995 MALUK 2005 Gambar 2. Kendall/Hunt Publishing Company. Pongkor Gold Mine-West Java Indonesia. Bali-Indonesia. 2000. Dubuqe Iowa. 28 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .W. Country Paper. sebagai pusat pertumbuhan ekonomi (Sumber : PT Newmont Nusa Tenggara) diperlukan perhatian khusus pada permasalahan. Bencana lingkungan dan kebumian yang tidak terkait pertambangan ataupun ESDM. PENUTUP Penanganan lingkungan hidup sampai kegiatan pertambangan selesai/ pascatambang menjadi upaya penting memperbesar dampak positif dan memperkecil dampak negatif. Sumbawa pada tahun 1995 dan 2005. dijadikan alasan untuk menyalahkan dunia pertambangan dan pemangku kepentingan. Terima kasih kepada Kepala PPPTMGB LEMIGAS. The Sustainable Economic Growth Pole in The Mining Area Using AHP Method: Case Study of PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. Resources. namun masih diperlukan usaha lain agar tercipta pertambangan bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan sekitarnya secara berkelanjutan.. Directorate General of Mineral Coal and Geothermal. Ministry of Energy and Mineral Resources The Republic of Indonesia. Jakarta. 1991. yang telah bersedia mengoreksi dan memberi masukan. 8. A.. General Check-Up Kelistrikan Nasional. Dampak lingkungan (dampak negatif) yang timbul dapat berkembang secara cepat menjadi permasalahan global.

Pengembangan Wilayah Sektor Pertambangan dan Energi.. Kini dan Esok. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara Implementasi Pengelolaan Lingkungan Sektor Energi . Newmont Nusa Tenggara . 2000. Batu Hijau. U. PPTP. Soelistijo. Bandung. and Adji G. W. Djoko Sunarjo dan Bambang Wicaksono 29 . Corporate Social Responsibility One of Methods To Expand The Benefit for Oil and Gas Bearing Area.D.PT. Sunarjanto.Cetakan Pertama November 2008. DPE.T. Cetakan Kedua. 2005.. Proceedings 30th Annual Meeting IPA. Jakarta. ISBN 978979-18898-0-3. Ditjend Pertambangan Umum.. Dulu. 2006.. ISBN 979-98000-7-2.

sehingga akan menimbulkan kondisi yang tidak kondusif dan dapat menghambat pertumbuhan ekonomi maupun peluang investasi di daerah. and this causes collection of taxes. otonomi daerah ABSTRACT The release of the regional autonomy policy in the early 2000 is a new era of the regional government. 022. Dengan adanya kebijakan tersebut. dengan kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus daerahnya secara luas. retribution and other taxes. which are no relation with the public interest and the higher regulations.go. nyata dan bertanggung jawab. berupa timbulnya pungutan pajak dan retribusi atau pungutan lainnya yang bertentangan dengan kepentingan umum atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa produk Perda yang telah disusun cukup banyak yang bermasalah. Hingga pertengahan bulan Juni tahun 2009.6003373 e-mail : umard@tekmira. This is against the investment promotion in the country. in which the region has an authority to manage its region professionally.031 Perda dan berdasarkan hasil evaluasi telah merekomendasikan sebanyak 2. 022 .6030483 Fax. Maraknya daerah menyusun perda menimbulkan masalah baru. Jend. Selain itu. antara lain : kewenangan pengelolaan dan pemanfaatan potensi bahan galian.esdm.894 perda dibatalkan dan 144 perda direvisi. Kata kunci: peluang. dengan adanya kebijakan otonomi memberi peluang pengembangan pertambangan di daerah.id SARI Digulirkannya kebijakan Otonomi Daerah pada awal tahun 2000.PELUANG PENGEMBANGAN PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA PADA ERA OTONOMI DAERAH Umar Dhani Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. Sudriman 623 Bandung 40211 Telp. merupakan babak baru dalam pemerintahan daerah. Pemerintah Daerah berpacu mengoptimalkan potensi sumber daya yang ada dan menciptakan kebijakan untuk meningkatkan pendapatan daerah (PAD) dengan legitimasi berupa Perda. kesempatan kerja dan berusaha serta terciptanya pengembangan wilayah. the regional government is pushed to optimized potential of the resources and to create a policy of improving regional revenue by legitimating regional regulations. Departemen Keuangan telah mengumpulkan 12. Dalam waktu yang sangat singkat. 30 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . these regulations grow widely. pengembangan pertambangan. Consequently. In a relatively short time. perda-perda tumbuh bak jamur di musim hujan. peningkatan penerimaan.

dan bertanggung jawab. pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota telah melakukan pembenahan dan penyesuaian administratif dan struktur organisasi. job creation and regional development. 2. Kewenangan daerah mencakup kewenangan semua bidang pemerintahan. yaitu desentralisasi pemerintahan dari pusat ke daerah yang diimplementasikan pada UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan disempurnakan menjadi UU Nomor 32 Tahun 2004. sehingga menimbulkan ketidakselarasan dengan kebijakan di atasnya atau kebijakan sektor lain. KEBIJAKAN OTONOMI DAERAH Pada hakekatnya otonomi daerah merupakan hak. Tujuan pemberian kewenangan dalam penyelenggaraan otonomi daerah adalah meningkatkan kesejahteraan rakyat.984 regulations are deleted and 114 are revised. menghormati budaya budaya lokal. the Ministry of Finance has collected 12. Maraknya meenerbitkan Perda tersebut. termasuk sektor pertambangan. Permasalahan tersebut terjadi pada seluruh sektor usaha. bahkan cenderung tumpang tindih dan terkesan hanya berorientasi meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) semata. Sejak diberlakukannya otonomi daerah tahun 2000.. masih banyak terjadi perbedaan penjabaran mengenai otonomi daerah yang dituangkan dalam perda pada masing-masing daerah. Sejak terjadi krisis ekonomi pada tahun 1997. dan sumber daya Peluang Pengembangan Pertambangan Mineral dan Batubara pada Era . peradilan. Pada era ini peran Pemerintah Pusat sangat menonjol. moneter dan fiskal. nyata. tetapi juga kebijakan pertambangan yang mengacu pada UU Nomor 11 Tahun 1967 sudah tidak selaras dengan semangat otonomi daerah yang sedang digiatkan. masih banyak yang tidak selaras dengan kebijakan yang lebih tinggi. khususnya pada sektor pertambangan. Moreover. Keywords: opportunity. agama. terjadi penurunan investasi pada seluruh sektor usaha. Otonomi daerah diartikan kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus daerahnya secara luas. Selain itu masih terjadi perbedaan persepsi dalam menterjemahkan kebijakan otonomi daerah. 2.031 regional regulations. mining development. This indicates that those regulations have problems. sehingga menimbulkan ketergantungan daerah terhadap pusat. because they will create an unconducive condition and can hamper the economic growth and the opportunity of investing in the mining sector in the region.. pemerataan dan keadilan. According to the evaluation results. Pemerintah Daerah diberi kewenangan untuk mengelola sumber daya alam. dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundangundangan. kelembagaan. revenue increase. the autonomous policy has provided an opportunity to develop the mining sector in a region in terms of management authority of utilizing mineral potential. pertahanan keamanan.Until the mid of June 2009. Permasalahan-permasalahan tersebut pada akhirnya dapat berakibat terganggunya perekonomian daerah maupun nasional. termasuk pada sektor pertambangan mineral dan batubara. kebijakan otonomi daerah di Indonesia mengacu kepada Undang-Undang (UU) Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah. wewenang. dan bidang lainnya yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Salah satu upaya yang menonjol yang dilakukan oleh pemerintah daerah pada era ini adalah menerbitkan Peraturan Daerah (Perda). regional autonomy 1. kecuali kewenangan di bidang politik luar negeri. Pemerintah daerah tidak mempunyai keleluasaan dalam menetapkan program-program pembangunan di daerahnya serta sumber keuangan penyelenggaraan pemerintahan diatur oleh pusat. sumber daya buatan. PENDAHULUAN Selama lebih dari dua dasawarsa. Penurunan tersebut bukan hanya dipicu oleh diberlakukannya kebijakan otonomi daerah. Hal ini akan menimbulkan iklim yang tidak kondusif karena ketidak-konsistenan kebijakan dan bahkan dapat menghambat pertumbuhan ekonomi maupun peluang investasi di daerah. serta memperhatikan potensi dan keanekaragaman daerah. so they must be eliminated or revised. Selain itu. Umar Dhani 31 . Pada awal tahun 2000 diberlakukannya kebijakan otonomi. demokratisasi.

bagi hasil atas pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. dan kriteria. Di dalam menetapkan norma. pemanfaatan. pemerintahan daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan. akuntabilitas.manusia yang ada di wilayahnya masing-masing (UU Nomor 32 Tahun 2004). prosedur. sumber daya manusia. pengalihan sarana dan prasarana. keinginan pembentukan daerah otonom baru berkembang sangat pesat. 173 kabupaten. yaitu terdiri atas 31 (tiga puluh satu) bidang urusan pemerintahan (PP Nomor 38 Tahun 2007). Hubungan dalam bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antarpemerintah daerah sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (4) dan ayat (5) meliputi : pelaksanaan pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya yang menjadi kewenangan daerah. dan penyerasian lingkungan dan tata ruang serta rehabilitasi lahan. Dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan. dan kriteria perlu diperhatikan keserasian hubungan pemerintah dengan pemerintah daerah dan antarpemerintah daerah sebagai satu kesatuan sistem dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Prinsip otonomi daerah adalah desentralisasi. Dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah. Yang dimaksud dengan “kriteria eksternalitas” dalam ketentuan ini adalah penyelenggara suatu urusan pemerintahan ditentukan berdasarkan luas. standar. dan jangkauan dampak yang ditimbulkan oleh penyelenggaraan suatu urusan pemerintahan. moneter dan fiskal. prosedur. dan pengelolaan perizinan bersama dalam pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya 32 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . besaran. Pemerintahan daerah menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya. “kriteria efisiensi” adalah penyelenggara suatu urusan pemerintahan ditentukan berdasarkan perbandingan tingkat daya guna yang paling tinggi yang dapat diperoleh. serta kepegawaian. standar. sarana dan prasarana. kriteria akuntabilitas” adalah penanggung jawab penyelenggaraan suatu urusan pemerintahan ditentukan berdasarkan kedekatannya dengan luas. masih terdapat usulan baru yang siap dibahas maupun yang belum diproses tentang pembentukan daerah otonom baru. kerja sama dan bagi hasil atas pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antarpemerintahan daerah. pemeliharaan pengendalian dampak lingkungan. dan kriteria untuk pelaksanaan urusan wajib dan urusan pilihan. dan pelestarian. standar. dan jangkauan dampak yang timbul akibat penyelenggaraan suatu urusan pemerintahan. Urusan pemerintahan wajib dan pilihan menjadi dasar penyusunan susunan organisasi dan tata kerja perangkat daerah. Penyelenggaraan urusan pemerintah dibagi berdasarkan kriteria eksternalitas. Dalam penyerahan disertai pembiayaan. prosedur. serta agama. besaran. dan 35 kota. Hubungan dalam bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antarpemerintah dan pemerintah daerah sebagaimana dimaksud dalam UU Nomor 32 Tahun 2004 pasal 2 ayat (4) dan ayat (5) meliputi : kewenangan. dan prosedur. Setelah diberlakukan kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah. dan efisiensi dengan memperhatikan keserasian hubungan antarsusunan pemerintahan. penyerahan semua kewenangan kecuali bidang politik luar negeri. Pemerintah daerah provinsi dan pemerintah daerah kabupaten/kota dalam melaksanakan urusan pemerintahan wajib. peradilan/yustisi. dan pilihan berpedoman kepada norma. Hal ini dapat terlihat dengan meningkatnya jumlah daerah otonom baru sejak tahun 1999 hingga Desember 2008 sebanyak 215 daerah otonom baru. Pelaksanaan kewenangan didasarkan pada norma. yang terdiri atas : 7 provinsi. tanggung jawab. Menteri/Kepala Lembaga Pemerintah Non Departemen menetapkan norma. kecuali urusan pemerintahan yang oleh UU Nomor 32 Tahun 2004 ditentukan menjadi urusan pemerintah. Urusan pemerintahan yang diserahkan kepada daerah disertai dengan sumber pendanaan. standar. pemerintah menyelenggarakan sendiri atau dapat melimpahkan sebagian urusan pemerintahan kepada perangkat pemerintah atau wakil pemerintah di daerah atau dapat menugaskan kepada pemerintahan daerah dan/atau pemerintahan desa. pertahanan keamanan. Urusan pemerintahan yang dibagi bersama antartingkatan dan/atau susunan pemerintahan adalah semua urusan pemerintahan di luar urusan yang menjadi kewenangan pemerintah. Selain itu.

maka diperlukan dasar hukum pelaksanaan. Berdasarkan UU Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan pasal 7 Ayat (1) mengatur hirarki peraturan perundang-undangan yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia. yaitu : Berpotensi bertentangan dengan prinsip keutuhan wilayah ekonomi nasional. Perda yang disusun tersebut merupakan penjabaran lebih lanjut dari peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dengan memperhatikan ciri khas masing-masing daerah. Umar Dhani 33 .894 perda dan 144 perda direvisi. Berpotensi menyebabkan munculnya persaingan yang tidak sehat (monopoli. Perda dan ketentuan daerah lainnya bersifat mengatur dan diundangkan melalui Lembaran Daerah. Merupakan suatu bentuk pelanggaran kewenangan pemerintah. dll). dan tata ruang sebelum ditetapkan dan diberlakukan terlebih dahulu dilakukan evaluasi oleh pemerintah. Dengan demikian. menyelaraskan dan menyesuaikan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dan/atau peraturan daerah lainnya. substansi dan yuridis. Hal ini dimaksudkan untuk melindungi kepentingan umum. Perda yang dikategorikan bermasalah adalah berdasarkan prinsipil. Anggaran Penerimaan dan Belanja Daerah (APBD). Berdasarkan hasil evaluasi Tim Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Departemen Keuangan hingga Juni tahun 2009 telah merekomendasikan untuk membatalkan 2. sedangkan setelahnya pembatalan melalui Peraturan Presiden.031 perda untuk dievaluasi. retribusi daerah.. Hal ini bertolak belakang dengan gencarnya pemerintah menggalakkan investasi untuk pembangunan di Indonesia. agar wewenang pemerintah daerah dapat dijalankan. Dari jumlah tersebut sebagian besar telah dilakukan evaluasi. Berpotensi menghalangi atau mengurangi akses masyarakat (bertentangan dengan prinsip keadilan). oligopoli. perubahan APBD. Departemen Keuangan telah mengumpulkan 12. Kepala Daerah sebagai kepala eksekutif menetapkan Perda atas persetujuan bersama DPRD. Bermasalah secara prinsipil adalah perda yang memberikan hambatan dalam konteks ekonomi makro. Perda yang terbit sebelum Oktober 2004. Hal ini. Atau bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi.Pemerintahan daerah merupakan satuan pemerintahan teritorial tingkat lebih rendah dalam negara kesatuan RI. yaitu sesuai pasal 136 ayat 1 UU Nomor 32 Tahun 2004. Perda yang disusun oleh pemerintah daerah tidak boleh bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi dan dapat dibatalkan sesuai ketentuan yang berlaku. Perda bermasalah pada prinsipnya adalah perdaperda yang karena keberadaannya akan menyebabkan terhambatnya efektifitas perekonomian (P. maka perlu dilakukan evaluasi terhadap perda yang berkaitan dengan pajak dan retribusi daerah. Implikasi dari kebijakan desentralisasi ini adalah banyaknya produk perda yang berkaitan dengan pajak dan retribusi daerah bertentangan dengan kebijakan yang lebih tinggi atau kepentingan umum. Maraknya daerah menyusun perda menimbulkan masalah baru. Dengan demikian. Hingga pertengahan tahun 2009. Hal ini Peluang Pengembangan Pertambangan Mineral dan Batubara pada Era . Berdasarkan permasalahan ini. pembatalannya melalui Keputusan Menteri Dalam Negeri. Satuan pemerintahan teritorial tersebut disebut daerah otonom. Pemerintah daerah dalam meningkatkan perekonomian dapat memberikan insentif dan/atau kemudahan kepada masyarakat dan/atau investor yang diatur dalam perda dengan berpedoman pada peraturan perundang-undangan yang berlaku. kemitraan wajib.. Agus Pambudhi. berupa timbulnya pungutan pajak dan retribusi yang bertentangan dengan kepentingan umum atau peraturan perundangundangan yang lebih tinggi. perda merupakan salah satu produk hukum yang ada di Indonesia. yang berhak mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahannya (Bagir Manan. Untuk perda yang mengatur mengenai pajak daerah. 2001). dapat berakibat terganggunya iklim investasi yang ada di daerah dan berdampak pada perekonomian daerah maupun nasional. Pemerintah daerah menyusun perda dalam rangka merumuskan berbagai kebijakan pembangunan atau dalam rangka memacu pertumbuhan perekonomian di daerah. 2006). sedangkan hak mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan di bidang administrasi negara yang merupakan urusan rumah tangga daerah disebut otonomi. Perda merupakan penjabaran lebih lanjut dari peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dengan memperhatikan ciri khas masing-masing daerah. Berdampak negatif terhadap perekonomian (ekonomi biaya tinggi atau pajak ganda).

Departemen ESDM telah menerbitkan Keputusan Menteri mengenai pedoman teknis (Kepmen No. Pada umumnya pembatalan perda tentang pajak dan retribusi pertambangan adalah bertentangan dengan UU Nomor 34 tahun 2000 dan PP 65 Nomor 2001. perda yang mengatur tentang pengelolaan pertambangan sebagian besar wilayah kabupaten belum menyusun. Dalam PP tersebut diuraikan secara jelas mengenai jenjang kewenangan antara pemerintah. Hal ini menunjukkan bahwa. pengelolaan lingkungan. retribusi. Pemberian izin usaha pertambangan untuk melaksanakan kegiatan penyelidikan umum. sebagian besar (183 perda atau 75%) mengatur tentang pungutan (pajak. Pada sisi lain pasal 10 ayat 1 dinyatakan bahwa “daerah berwenang mengelola sumber daya nasional yang tersedia di wilayahnya dan bertanggung jawab memelihara lingkungan sesuai dengan peraturan perundang-undangan”. Sedangkan. terutama pasal 7 dan pasal 10 UU Nomor 32 Tahun 2004. dan kabupaten/kota. baru dapat dilaksanakan. Dasar pembatalan perda tentang pertambangan umum adalah berkaitan dengan pajak dan retribusi izin usaha pertambangan dan birokrasi proses perizinan. KK dan PKP2B) telah dikenakan iuran tetap (landrent) dan iuran eksplorasi dan eksploitasi (royalty). 34 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . yaitu berupa Kuasa Pertambangan (Peraturan Pemerintah Nomor 75 Tahun 2001). pengolahan dan pemurnian. retribusi dan sumbangan pihak ketiga).K/29/NEM/2000). khususnya berkaitan dengan kewenangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. eksploitasi. Hal ini sangat rentan terhadap aktivitas pertambangan maupun lingkungan. Pelaksanaan otonomi daerah dimulai pada awal tahun 2000 telah menimbulkan interpretasi yang. Khusus perda yang berkaitan dengan pajak. Sebagai pedoman teknis penyelenggaraan kewenangan tersebut Pemerintah telah mengeluarkan PP Nomor 38 Tahun 2007. Pemerintah daerah sesuai dengan lingkup usahanya menugaskan pemegang izin pertambangan sesuai dengan tahapan dan skala usahanya untuk membantu program pengembangan masyarakat dan pengembangan wilayah pada masyarakat setempat. apabila dikenakan pungutan lain akan menimbulkan pungutan ganda dan dapat memberatkan pelaku usaha di bidang pertambangan. Dengan demikian. Berdasarkan hasil kompilasi perda yang berkaitan dengan kegiatan pertambangan pada 8 provinsi. terkumpul 242 perda pada 147 kabupaten. tersebut menimbulkan adanya ketidakjelasan kewenangan pengelolaan sumber daya alam (minerba) antara pusat dan daerah.menunjukkan bahwa produk Perda yang telah disusun cukup banyak yang bermasalah. Dalam kebijakan tersebut telah terjadi perubahan yang mendasar tentang pengawasan perda. pengangkutan dan penjualan. KEBIJAKAN PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA Setiap usaha pertambangan bahan galian yang termasuk dalam golongan bahan galian strategis dan golongan bahan galian vital. pemerintah daerah lebih mendahulukan kebijakan yang berkaitan dengan pungutan dibandingkan kebijakan tentang pengelolaan kegiatan pertambangan. APBD dan tata ruang setelah Oktober 2004 dilakukan evaluasi oleh pusat sebelum ditetapkan oleh daerah. Dengan diterbitkannya PP Nomor 38 Tahun 2007 yang merupakan turunan dari UU Nomor 32 Tahun 2004 telah secara jelas mengatur pembagian urusan antara pemerintah dan pemerintah daerah. Dari jumlah perda tersebut. Dalam pedoman teknis tersebut telah diatur mengenai tata cara permohonan perizinan. 3. eksplorasi. Dalam pasal tersebut dinyatakan bahwa. pengawasan lingkungan. provinsi. Diharapkan dengan adanya kegiatan ini masyarakat sekitar merasakan dampak positif aktivitas pertambangan di daerahnya. pendayagunaan sumber daya alam serta teknologi tinggi yang strategis merupakan kewenangan pusat. Dalam rangka mendukung dan memfasilitasi daerah dalam penyelenggaraan tugas pemerintahan di bidang pertambangan umum. eksplorasi. Kegiatan usaha di sektor pertambangan umum (KP. apabila terlebih dahulu telah mendapatkan izin. Sebenarnya dari kedua pasal. sehingga diinterpretasikan bahwa kegiatan sektor pertambangan umum merupakan kewenangan daerah. Banyaknya perda yang bermasalah tersebut dapat berakibat terganggunya aktivitas pemerintahan maupun perekonomian wilayah. yaitu hanya terdapat 39 perda. 1453. kesehatan dan mendorong pertumbuhan ekonomi. sehingga harus dibatalkan atau direvisi. yaitu berupa pengembangan sumber daya manusia.

Pemanfaatan ruang untuk kegiatan pertambangan harus berada pada kawasan yang ditetapkan sebagai kawasan pertambangan pada RTRW. Umar Dhani 35 . antara lain : Sistem perizinan. pemerintah daerah berlomba-lomba menyusun kebijakan untuk mengelola dan memanfaatkan potensi wilayah dalam rangka pengelolaan pertambangan dan meningkatkan pendapatan asli daerah melalui pajak dan retribusi daerah maupun pungutan lainnya (sumbangan pihak ketiga). Dengan demikian. Diharapkan. Maka peraturan yang berkaitan dengan pertambangan harus menyesuaikan dengan perubahan tersebut. Dengan demikian. demokratisasi. Optimalisasi pemanfaatan potensi ini bertujuan untuk meningkatkan pendapatan daerah dan pembiayaan pembangunan. Pada intinya UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara sebagai pengganti UU Nomor 11 Tahun 1967 disusun dengan mempertimbangkan seluruh aspek perubahan saat ini.. Propinsi dan Kabupaten/ Kota. Optimalisasi Pemanfaatan Potensi Bahan Galian Pada umumnya potensi bahan galian belum diusahakan secara maksimal dan belum memberikan dampak yang signifikan terhadap perekonomian daerah. Hal ini dimaksudkan adanya kesesuaian fungsi kawasan maupun menghindari tumpang tindih pemanfaatan ruang atau benturan kepentingan antarsektor. politik dan ekonomi. dan produksi. HAM. untuk melaksanakan kewenangan tersebut. Pemerintah Daerah (provinsi dan kabupaten/kota) menindaklanjuti dengan menerbitkan perda. pengembangan potensi bahan galian yang ada menjadi sulit dilakukan karena keberadaanya bukan merupakan fungsi kawasan pertambangan. 4. Untuk wilayah yang memanfaatkan bahan galian golongan A dan B yang mempunyai nilai ekonomi lebih tinggi. retribusi dan sumbangan pihak ketiga). Aspek nilai tambah. lingkungan hidup dan ekonomi telah mendorong atas kebutuhan mendasar ke arah perubahan sistem yang desentralistik . kebutuhan sosial. PELUANG PENGEMBANGAN PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA Perda a. Klarifikasi wewenang dan ruang lingkup Pemerintah Pusat.konservasi. baik yang berkaitan dengan pengelolaan pertambangan umum maupun pungutan (pajak. telah memberikan kontribusi yang cukup berarti bagi perekonomian dan penerimaan daerah serta menyumbangkan terhadap penerimaan negara.l. Hal ini karena potensi bahan galian yang dikembangkan adalah bahan galian golongan C dan dilakukan secara tadisional atau tambang rakyat. Butir-butir penting dalam UU Nomor 4 Tahun 2009. seperti otonomi daerah. Peluang Pengembangan Pertambangan Mineral dan Batubara pada Era . Namun demikian. Pedoman maupun acuan dalam menyusun Perda pengelolaan pertambangan telah diatur dan penerapan penyusunannya disesuaikan dengan karakteristik wilayah. Krisis ekonomi pada tahun 1997 yang diikuti oleh tuntutan reformasi. yaitu pemrosesan dan pemurnian logam harus dilakukan di dalam negeri. Tidak ada lagi sistem kontrak langsung antara perusahaan dengan Pemerintah. HAM. Pengembangan masyarakat difokuskan pada kesejahteraan rakyat. Kemampuan daerah dalam melaksanakan pembangunan sangat dipengaruhi oleh ketersediaan sumber daya maupun kemampuan dalam pengelolaannya. eksplorasi dan eksploitasi lebih sederhana. b. a. Untuk melegalisasi meningkatkan pendapatan dan pembangunan daerah tersebut pemerintah daerah menyusun perda. dengan adanya tersedianya acuan pengelolaan pertambangan yang baik dapat merangsang investasi pengusahaan pertambangan di daerah. perda yang telah diterbitkan oleh pemerintah daerah tentang pengelolaan pertambangan umum masih banyak yang belum sesuai acuan di atas. Semenjak digulirkanya kebijakan otonomi daerah. lingkungan hidup. Pemerintah Daerah segera menyiapkan kawasan untuk kegiatan pertambangan yang ditetapkan dalam kebijakan RTRW. Selanjutnya. Pada umumnya sebagian besar daerah Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang telah disusun belum pengalokasikan kawasan untuk pengembangan kegiatan pertambangan. melainkan diberlakukannya sistem izin usaha pertambangan (IUP). Dalam pemanfaatan ruang untuk kegiatan usaha harus mengacu pada kebijakan tata ruang yang ada. bahkan masih ditemukan perda yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi..

Sementara pusat berpegang pada kebijakan yang berlaku. yaitu semakin bertambahnya investasi di bidang pertambangan di daerah. yaitu yang ditunjukkan dengan meningkatnya jumlah izin usaha pertambangan yang diterbitkan pemerintah daerah. Berdasarkan rekapitulasi dari Departemen ESDM. Saat ini sebagian besar Pemerintah Daerah gencar melakukan identifikasi dan inventarisasi potensi bahan galian yang ada dalam rangka menarik investor menanamkan modalnya di bidang pertambangan. Penerimaan daerah secara langsung berupa pajak dan retribusi daerah. c. sehingga mengganggu penganggaran di daerah. Sebagai contoh. Hal ini sangat mempengaruhi dalam pelaksanan rencana pembangunan yang telah ditetapkan oleh daerah. Meningkatnya jumlah izin usaha bidang pertambangan (KP) tersebut menunjukkan adanya peningkatkan investasi bidang pertambangan dan meningkatnya PAD melalui sektor pertambangan. jika dibandingkan dengan sistem pemerintahan sebelumnya. Dengan adanya kebijakan ini memberikan peluang termanfaatkannya potensi yang ada. sedangkan perizinan pengusahaan bahan galian golongan C diterbitkan oleh pemerintah daerah dalam bentuk SIPD. Rekapitulasi Izin Pertambangan Jenis kontrak KP KK PKP2B 2001 600 55 119 2002 597 62 101 2003 597 61 101 2004 825 54 87 2005 848 46 82 2006 965 41 81 Sumber : Dirjen Minerbapabum. PKP2B dan KP. Melalui UU tersebut membuka peluang bagi pemerintah daerah untuk mengelola dan memanfaatkan sumber kekayaan alam yang ada di wilayahnya. sedangkan Tabel 1. Dalam ketidakberdayaan ini ada sebagian daerah yang mengusulkan agar dana dari perusahaan pertambangan langsung ditransfer ke rekening pemerintah daerah tanpa melalui rekning pemerintah pusat. bahwa royalty merupakan penerimaan pusat yang dibagihasilkan dan bukan merupakan pajak daerah. karena penerimaan yang diperoleh tidak tepat waktu. telah terbit ratusan KP batubara yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kabupaten (Bupati) salah satu provinsi di Kalimantan. 260 buah diantaranya berupa KP yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah.Kebijakan otonomi daerah telah memberikan kewenangan untuk mengelola dan memanfaatkan potensi sumber daya yang ada di wilayahnya. Salah satu pengaruh adanya kegiatan pertambangan adalah peningkatan penerimaan daerah baik secara langsung maupun tidak langsung. Dari sisi perundang-undangan tersebut di atas pajak dan royalti dari perusahaan pertambangan merupakan penerimaan pusat. d. Perizinan Pertambangan pemerintah daerah terjadi peningkatan yang cukup signifikan (Tabel 1). namun untuk izin yang berupa KP yang dikeluarkan oleh Distribusi pajak-pajak pertambangan yang menjadi hak daerah belum dilakukan secara lebih adil dan tepat waktu ke daerah penghasil yang berhak. 2008 36 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . yaitu terdapat 354 izin yang telah dikeluarkan. Penerimaan Daerah Sebelum adanya otonomi daerah perizinan di bidang pertambangan umum dikeluarkan oleh pemerintah pusat dalam bentuk KK. Secara umum upaya yang dilakukan ini telah menunjukkan tingkat keberhasilan yang cukup baik. Dalam rangka desentralisasi ada sebagian dari penerimaan ini yang dibagihasilkan. izin usaha pertambangan dalam bentuk KK dan PKP2B jumlahnya cenderung menurun. Salah satunya faktor maraknya izin pertambangan yang dikeluarkan daerah adalah adanya kebijakan otonomi daerah. Pada saat ini perizinan usaha pertambangan umum diterbitkan oleh pemerintah dan pemerintah daerah sesuai kewenangannya. Untuk melakukan perpanjangan izin yang dikeluarkan dari pusat (KK dan PKP2B) selebihnya menjadi kewenangan daerah sesuai kewenangannya. Masalah utama dari bagi hasil ini dipandang dari sisi daerah adalah tidak pastinya waktu pencairan dari pusat.

1 2 Sumber Penerimaan Pajak PNBP Iuran Tetap Royalti Penjualan Hasil Tambang Total Sumber : Dirjen Minerbapabum. Dengan demikian. Meskipun banyak kalangan yang menolak PP tersebut karena dinilai melegitimasi perusakan hutan lindung selama ada bayarannya dan murahnya tarif yang dikenakan . Penerimaan Pajak dan PNBP dari Pertambangan Mineral dan Batubara Tahun 2004-2006 (Milyar Rupiah) No.00 8. dengan berkembangnya kegiatan di suatu wilayah secara tidak langsung akan memberi peluang berusaha dan menciptakan pengembangan wilayah. yaitu pada tahun 2006 sebesar 29.. Pengembangan dan pemanfaatan potensi bahan galian yang berada di kawasan lindung tidak dapat dimanfaatkan.200.026. KESIMPULAN Maraknya kegiatan pertambangan di daerah akan semakin membuka peluang kerja berusaha bagi masyarakat sekitar.10 3. f. sehingga menghambat investasi di daerah.57 29. Semenjak digulirkan otonomi daerah pada tahun awal tahun 2000.66 2006 23. 2008 2004 6.519.827.664. Komponen PNBP terdiri atas iuran tetap.12 2007 17.642.697.442.01 25. 5. realisasi penerimaan negara yang berasal dari mineral. Umar Dhani 37 . batubara dan panas bumi atau setara dengan Rp 17.993.17 881.25 4.81 58. banyak perda-perda yang harus dibatalkan atau direvisi.849.20 trlyun pada tahun 2007.82 2.69 trilyun. e.28 2005 12. Perda-perda yang telah terbit tersebut. Penerimaan pajak dan PNBP pertambangan merupakan penerimaan Negara dan dibagi-hasilkan ke daerah. Komponen terbesar penerimaan justru berasal dari penerimaan pajak dibandingkan PNBP (Tabel 2).691.788.897.99 2.771.31 6.94 1.41 4. Secara umum. Hasil pertambangan mineral dan batubara telah memberikan kontribusi bagi penerimaan Negara yang cukup besar.419. royalti dan penjualan hasil tambang.24 5. Selain itu.163. yaitu yang dikelompokkan menjadi kawasan lindung dan budidaya.72 57.62 2. meski penerimaan negara pada tahun 2007 mengalami penurunan sebesar 17% dibandingkan dengan periode sebelumnya.592.. batubara dan panas bumi dalam empat tahun terakhir menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. sehingga potensinya tidak memberikan nilai ekonomi.07 76. Dengan terbitnya UU Tabel 2.penerimaan tidak langsung adalah penerimaan dari pajak dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Kesempatan Kerja dan Berusaha Nomor 41 Tahun 1999 jo PP Nomor 2 Tahun 2008 telah memberikan peluang pengusahaan pertambangan di kawasan hutan produksi dan hutan lindung.138. tapi dapat lebih memberikan kontribusi terlibat langsung pada aktivitas pertambangan sebagai pekerja. Kebijakan tata ruang ini menghindari tumpang tindih pemanfaatan ruang atau benturan kepentingan antarsektor. Berdasarkan dari hasil identifikasi terdapat beberapa izin pertambangan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah daerah tidak selaras Peluang Pengembangan Pertambangan Mineral dan Batubara pada Era .07 Penerimaan pajak ini menyumbang sekitar 67% dari total penerimaan negara yang berasal dari sektor mineral.66 50. masih banyak yang tidak selaras dengan peraturan yang lebih tinggi atau mengakibatkan biaya tinggi.13 1. Masyarakat tidak hanya menjadi penontan seperti yang terjadi selama ini.68 17.36 8. telah terbit ribuan perda sebagai acuan dalam pelaksanaan pembangunan di daerah.573. Kewilayahan Pemanfaatan ruang untuk kegiatan usaha harus mengacu pada kebijakan tata ruang yang ada.

Tuntutan pemenuhan standar lingkungan hidup yang makin ketat. tidak atau belum dialokasikan secara tegas. Hal ini menunjukkan bahwa izin pertambangan yang telah diterbitkan tidak melalui koordinasi dengan dinas/instansi terkait. masih banyak wilayah belum ada alokasi kawasan pertambangan. kawasan untuk kegiatan pertambangan. keberadaan sumber daya mineral yang pada umumnya tersebar di bawah permukaan. arahan pengembangan pertambangan dikemudian hari. 2. membuka kesempatan bekerja dan berusaha. Pelaksanaan otonomi daerah yang berjalan hampir 9 tahun telah menimbulkan pengaruh yang cukup besar terhadap kegiatan pertambangan di daerah.dengan peraturan yang lebih tinggi atau tumpang tindih dengan sektor lain. Bandung. 5. terbatasnya jumlah maupun kemampuan aparat. Pustaka Setia. Pengaruh tersebut. dan minimnya data/informasi potensi wilayah. 3. antara lain : 1. Untuk mengantisipasi tumpang izin usaha pertambangan yaitu dengan penyusunan basis data pertambangan dengan format yang sama dan menyusun ulang izin-izin yang bermasalah. Diperlukan kebijakan/ peraturan daerah yang mengatur tentang pengelolaan pertambangan mulai dari segi perizinan pengusahaan. antara lain : kewenangan dalam pengelolaan pertambangan. Diperlukan peningkatan jumlah dan kemampuan apatur dinas seiring dengan maraknya pengusahaan pertambangan. Penyusunan RTRW Nasional. Dengan demikian. Tersedianya data informasi potensi sumber daya mineral dan batubara. Tahun 2007 Makro Ekonomi. Kamis 25 Januari 2006. terciptanya pengembangan wilayah. Pada saat ini dalam kebijakan tata ruang. upaya yang dilakukan adalah menerapkan metode penambangan secara tepat dan berawasan lingkungan. sehingga pada saat ruang tersebut akan dikembangkan untuk kegiatan pertambangan menjadi tumpang tindih dengan kegiatan sektor lain. 2005 Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 1967 tentang Pokok-Pokok Pertambangan Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Jika dilihat dari permasalahan yang timbul dengan adanya kegiatan pertambangan serta faktor penyebab permasalahan tersebut. Direktorat Mineral. sehingga tercipta pertambangan yang berkelanjutan (good mining practice). Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah kabupaten/Kota. Perencanaan Pembangunan Daerah. Pipin Syarifin. Otonomi Daerah Turunkan Investasi Pertambangan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah. Berdasarkan dari peluang dan tantangan tersebut. antara tersebut antara lain : ketidaksonsistenan peraturan yang ada. Gramedia 2005 Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan Departemen Keuangan Republik Indonesia. Mineral. 4. meningkatnya pemanfaatan sumber daya mineral dan batubara. perlu diperhatikan tantangan dalam pengembangannya. Penyiapkan zonasi kawasan untuk pengembangan pertambangan yang ditetapkan dalam kebijakan RTRW. Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara 38 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Batubara dan Pas Bumi. menjadi terkalahkan oleh pengembangan ruang sektor lain. Pemerintahan Daerah di Indonesia. meningkatnya penerimaan daerah. tingkat kerusakan lingkungan yang cenderung meningkat. Berdasarkan peluang-peluang tersebut. Provinsi dan Kabupaten yang saling sinergis. sebagai media promosi investasi pengusahaan pertambangan DAFTAR PUSTAKA Dedi Supriady Bratakusumah. Laporan Tim Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Periode Januari – Desember 2008. hingga pemantauan lingkungan pasca tambang. Coal and Geothermal. maka pembahasan pelaksanaan pertambangan di daerah perlu dilakukan evaluasi yang bertujuan untuk pengembangan pertambangan di daerah. Adanya kepastian hokum dan kepastian berusaha. Departemen Energi Sumber Daya Mineral.

PENINGKATAN KADAR BIJIH BESI DARI DAERAH PELAIHARI, PROPINSI KALIMANTAN SELATAN MENGGUNAKAN KLASIFAYER DAN PEMISAH MAGNETIK

Pramusanto, Nuryadi Saleh dan Apriandi Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl Jenderal Sudirman No. 623 Bandung, 40211 Telp (022) 6030843, Fax. (022) 6003373

SARI Karakteristik bahan baku bijih besi Pelaihari dicirikan oleh kadar besinya rendah (sekitar 30% Fetotal). Mineralnya terdiri dari hematit dan magnetit. Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kadar besinya adalah dengan melakukan percobaan klasifayer dan pemisah magnetik. Penelitian ini membahas tentang percobaan klasifayer yang dilanjutkan dengan percobaan pemisah magnetik. Percobaan pemisah magnetik dilakukan dengan memvariasikan intensitas magnet, ukuran butir dan waktu pengadukan umpan. Percobaan klasifayer dilakukan untuk mengurangi mineral pengotor dengan memanfaatkan perbedaan ukuran butir dan berat jenis, sedangkan pemisah magnetik dilakukan untuk meningkatkan mineral berharga berupa hematit dan magnetit melalui pemanfaatan perbedaan kerentanan terhadap magnet antara mineral pengotor dengan mineral berharga. Hasil percobaan klasifayer dapat meningkatkan kadar Fetotal menjadi 34,6%, sedangkan pada pemisah magnetik, variabel yang dapat meningkatkan kadar tertinggi adalah waktu pengadukan umpan dengan kadar Fetotal tertinggi yang diperoleh 55,9%. Waktu pengadukan umpan 10 dan 20 menit. Perolehan tertinggi besi sebesar 33,26% terjadi pada waktu pengadukan umpan selama 20 menit. Kata kunci : bijih besi, Pelaihari, klasifayer, pemisah magnetik

ABSTRACT Raw iron ore of Pelaihari is known by its low iron content. The ore consists of hematite and magnetite as the main iron minerals. In order to increase the iron content, some efforts can be conducted by sequence of laboratory tests, namely classifier and magnetic separator. The experiment using magnetic separator is conducted at various magnetic intensity, grain size and agitation time. The purpose of classifying tests is lessening the impurity mineral by exploiting difference of grain size and specific gravity, while magnetic separator will increase the valuable mineral in the form of hematite and magnetite by exploiting difference of magnetic susceptibility between the impurities and valuable minerals. The experiment results of classifying increase the total iron grade up to 34.6%, followed by magnetic separator. The later increases the highest grade of total iron up to 55.9% at agitation time of 10 and 20 minutes. The highest iron recovery of 33.26% was conducted at 20 minutes of feed agitation time. Keywords : iron ore, Pelaihari, classifier, magnetic separator

Peningkatan Kadar Bijih Besi dari Daerah Pelaihari ... Pramusanto, dkk.

39

1.

PENDAHULUAN

Kebutuhan baja nasional terus mengalami peningkatan seiring dengan perkembangan sektor industri dan semakin maraknya pembangunan infrastruktur di Indonesia. Pada saat ini konsumsi baja diperkirakan telah mencapai 6,3 juta ton, sedangkan produksinya hanya 3,8 juta ton. Kekurangan penyediaan baja sebesar 2,5 juta ton masih dipasok dari impor, sehingga PT Krakatau Steel untuk memproduksi baja di Indonesia memerlukan bahan baku dan penunjang yang sebagian besar masih diimpor. Bahan-bahan yang pengadaannya masih bergantung pada impor adalah pelet bijih besi, sedangkan skrep, bijih besi bongkah (lump ore) dan bijih besi halus kasar (coarse fine) sebagian masih dapat dipasok dari dalam negeri, misalnya untuk bijih besi bongkah berkadar Fe 57% dan bijih besi halus kasar berkadar Fe 56% telah dapat dipasok dari endapan besi laterit oleh PT Sebuku Iron Lateritic Ore, Kalimantan Selatan [sebukuiron.co.id]. Untuk menunjang keperluan industri besi baja yang terus meningkat di masa mendatang, Indonesia memiliki potensi sumber daya bijih besi yang cukup besar, berupa bijih besi primer dengan estimasi cadangan 320 juta MT dan kadar 25 – 62% Fe, bijih besi laterit dengan estimasi cadangan 1.391 juta MT dan kadar 40 – 56% Fe serta pasir besi dengan estimasi cadangan 600 juta MT dan kadar 25 – 40% Fe [Koesnohadi dan Sobandi, 2008]. Namun sumber daya tersebut belum dapat dimanfaatkan secara optimal karena kadar Fe yang terkandung relatif rendah. Pada umumnya industri baja membutuhkan besi dengan kadar Fe 60-69%, sedangkan P.T. Krakatau Steel membutuhkan pelet bijih besi dengan kandungan Fe minimum 65%. Untuk menjawab tantangan tersebut, perlu adanya kajian intensif agar kadar Fe yang dikandung besi dapat ditingkatkan, sehingga dapat dimanfaatkan oleh industri dalam negeri seperti oleh PT Krakatau Steel. Proses peningkatan kadar Fe pada bijih besi biasa dilakukan dengan cara kominusi (crushing dan grinding), konsentrasi secara gravitasi, pemisahan magnetik, pemisahan elektrostatik maupun flotasi. Flotasi biasanya dilakukan sebagai lanjutan dari proses pemisahan magnetik, pemisahan elektrostatik, konsentrasi secara gravitasi maupun kominusi [Habashi, 1997]. Pemisahan secara magnetik terhadap bijih besi sudah lazim dikerjakan [Pramusanto, dkk, 1999].

Pemisah magnetik merupakan alat yang digunakan dalam proses pemisahan secara magnetik. Prinsip kerja alat ini adalah memisahkan mineral berharga dari pengotornya berdasarkan derajat kemagnetan atau mudah tidaknya mineral mengalami pengaruh dalam medan magnet (magnetic sussceptibility) [Kelly, and Spottiswood, 1982]. Bijih besi merupakan mineral-mineral yang mengandung besi seperti magnetit, hematit, goethit, limonit atau campuran dari mineral-mineral tersebut dengan mineral pengotornya, seperti silika, alumina, dan krom [Perkins, 2002]. Berdasarkan pada magnetic susceptibility mineral tersebut dapat diklasifikasikan dalam dua grup, yaitu paramagnetik dan diamagnetik. Mineral diamagnetik merupakan mineral yang tidak mengalami ketertarikan dalam medan magnet, seperti silika, dan alumina. Sedangkan mineral paramagnetik yang dapat ditarik oleh magnet, seperti hematit dan limonit. Dari mineral paramagnetik ini terdapat mineral-mineral yang memiliki sifat magnet yang sangat kuat disebut ferromagnetik, seperti magnetit [Wills, 1988]. Berdasarkan hasil pengujian mineragrafi, bijih yang digunakan untuk percobaan ini mengandung magnetit-hematit. Magnetit dan hematit memiliki derajat kemagnitan signifikan, yang berbeda dengan mineral pengotor berupa silika, alumina dan lain-lain; sehingga sebagai studi awal, proses pemisahan berdasarkan sifat kemagnetan mineral menggunakan pemisah magnet dapat dimanfaatkan.

2.

METODOLOGI

Metodologi peningkatan kadar bijih besi ini dilakukan dalam beberapa tahapan, yaitu; preparasi percontoh (pengeringan, pengayakan dan pemercontoh), studi bahan baku (analisa kimia, ayak dan mineralogi), pencucian dengan spiral classifier untuk menghilangkan pengotor, dan percobaan menggunakan pemisah magnet untuk meningkatkan hematit dan magnetit. *****

3.

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Studi Bahan Baku Studi bahan baku ini bertujuan untuk mengetahui dan menentukan komposisi dan kadar dari mineral-mineral yang terdapat di dalam percontoh bijih besi tersebut.

40

PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009

3.1.1 Analisis Komposisi Kimia Berdasarkan hasil analisis komposisi kimia, maka diperoleh komposisi kimia bijih besi sebagai berikut; Fetotal 31,3%, Fe2O3 37,94%, Fe3O4 6,55%, SiO2 28%, CaO 15,67%, Al2O3 5,61%, MgO 1,01 %, TiO2 1,63%, Cr2O3 0,111% dan LOI 1,93%. 3.1.2 Analisis Ayak Berdasarkan Gambar 1 dapat dilihat terjadi perubahan distribusi ukuran butir akibat pencucian dengan spiral classifier, sehingga underflow spiral classifier menyebabkan kenaikan nilai persen berat tertahan fraksi ukuran -250+150 µm (-60+100 mesh) sampai fraksi +1,7 mm (+10 mesh) dan menyebabkan penurunan nilai persen berat tertahan dari fraksi ukuran -150+106 µm (-100+140 mesh) sampai fraksi -75 µm (-200 mesh) terhadap percontoh asal bijih besi. Hal ini menjelaskan bahwa proses spiral classifier menyebabkan terjadinya pemisahan antara partikel halus dengan kasar, sehingga dapat dilihat adanya perbedaan persentase berat tertahan antara percontoh asal dengan underflow spiral classifier.

70,00%, hematit derajat sebesar 94,55%, dan gangue sebesar 98,41%.

 
Derajat Liberasi [DL] (%)

100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0
-75 (-200) -106+75 -150+106 -250+150 -425+250 -850+425 -1700+850 (-140+200) (-100+140) (-60+100) (-40+60) (-20+40) (-10+20) +1700 (+10)

35 30 25 20 15 10 5 0 Distribusi DL [DDL] (%)
Distribusi DL [DDL] (%)

Fraksi Ukuran µm (m esh)
DL Magnetit DDL Magnetit DL Hematit DDL Hematit DL Gangue DDL Gangue

Gambar 2. Hubungan fraksi ukuran terhadap derajat liberasi dan distribusi derajat liberasi percontoh asal

 
Persen Berat Tertahan (%)

45 40 35 30 25 20 15 10 5 0
-75 (-200) -106+75 (-140+200) -150+106 (-100+140) -250+150 (-60+100) -425+250 40+60) (-850+425 20+40) (-1700+850 (- +1700 10+20) (+10)

Percontoh Asal Percontoh Spiral Classifier

Menurut perhitungan derajat liberasi total fraksi kasar dan halus untuk percontoh asal, dapat dijelaskan bahwa persentase derajat liberasi total pada fraksi kasar (+1700 µm) atau +10 mesh sampai -425+250 µm (-40+60 mesh) masih sangat rendah; magnetit sebesar 0,45%, hematit sebesar 1,08% dan gangue sebesar 13,70%. Persentase derajat liberasi total pada fraksi halus (-250+150 µm) atau (-60+100 mesh) sampai -75 µm (-200 mesh) sudah cukup tinggi; magnetit sebesar 37,62%, hematit sebesar 58,95% dan gangue sebesar 77,56%.

Fraksi Ukuran µm (m esh)

 
Derajat Liberasi [DL] (%)

100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0
-75 (-200) -106+75 -150+106 -250+150 -425+250 -850+425 (-140+200) (-100+140) (-60+100) (-40+60) (-20+40) -1700+850 (-10+20) +1700 (+10)

40 35 30 25 20 15 10 5 0

Gambar 1. Hubungan fraksi ukuran dengan komposisi mineral percontoh asal dan underflow spiral classifier

3.1.2.1 Derajat Liberasi Berdasarkan Gambar 2, untuk derajat liberasi percontoh asal terlihat bahwa semakin kecil ukuran ayak, maka tingkat kebebasan suatu butiran mineral dalam suatu fraksi ukuran semakin tinggi. Derajat liberasi tertinggi pada percontoh asal terdapat pada fraksi -75 µm (-200 mesh) dengan derajat liberasi untuk mineral magnetit sebesar

Fraksi Ukuan µm (m esh)
DL Magnetit DDL Magnetit DL Hematit DDL Hematit DL Gangue DDL Gangue

Gambar 3. Hubungan fraksi ukuran terhadap derajat liberasi dan distribusi derajat liberasi percontoh underflow spiral classifier

Peningkatan Kadar Bijih Besi dari Daerah Pelaihari ... Pramusanto, dkk.

41

Berdasarkan Gambar 3, derajat liberasi tertinggi untuk percontoh underflow spiral classifier terdapat pada fraksi -75 µm (-200 mesh) dengan derajat liberasi mineral magnetit sebesar 69,61%, hematit sebesar 93,42%, dan gangue sebesar 97,96%. Menurut perhitungan distribusi derajat liberasi untuk fraksi kasar dan halus untuk percontoh bijih besi underflow spiral classifier, terlihat bahwa persentase distribusi derajat liberasi total pada fraksi kasar (+1700 µm) atau +10 mesh sampai 425+250 µm (-40+60 mesh) masih sangat rendah; magnetit sebesar 0,60%, hematit sebesar 1,50% dan gangue sebesar 23,54%. Persentase distribusi derajat liberasi total pada fraksi halus (-250+150 µm) atau -60+100 mesh sampai -75 µm (-200 mesh) masih cukup tinggi; magnetit sebesar 28,21%, hematit sebesar 46,41% dan gangue sebesar 64,11%.

dan hematit dengan komposisi hampir homogen pada setiap fraksi ukuran yang terdapat pada kedua percontoh analisis ayak. Komposisi mineral rata-rata seluruh fraksi ukuran untuk percontoh asal adalah 6,22% magnetit, 37,53% hematit dan 56,25% gangue, sedangkan untuk percontoh hasil percobaan spiral classifier adalah 6,98% magnetit, 39,87% hematit dan 53,15% gangue.

 
Komposisi Mineral (%)

70 60 50 40 30 20 10 0
-75 (-200) -106+75 (-140+200) -150+106 (-100+140) -250+150 (-60+100) -425+250 40+60) (- -850+425 20+40) (- -1700+850 (-10+20) +1700 (+10)

Fraksi Ukuran µm (m esh)
Magnetit Percontoh Asal Hematit Percontoh Asal Gangue Percontoh Asal Magnetit Limp, Bawah Klasif ay er Spiral Hematit Limp. Bawah Klasif ay er Spiral Gangue Limp. Bawah Klasif ay er Spiral

Gambar 5. Hubungan fraksi ukuran dengan komposisi mineral percontoh asal dan percontoh underflow spiral classifier

3.2. Percobaan Spiral Classifier Berdasarkan Gambar 6, dapat dijelaskan bahwa pada percobaan ini telah terjadi pemisahan antara partikel halus dengan kasar. Hal ini terlihat dari adanya kenaikan kadar Fe total. Kadar Fe total pada percontoh asal sebagai umpan sebesar 31,3%, setelah dilakukan proses klasifikasi menggunakan spiral classifier meningkat menjadi 34,6% untuk produk underflow (sebagai produk pemisahan yang memiliki partikel kasar) dan terjadi penurunan kadar Fe total menjadi 24,6% untuk produk overflow (sebagai produk pemisahan partikel yang berukuran halus). 3.3. Peningkatan Kadar dengan Pemisah Magnetik Di dalam percobaan pemisah magnetik ini dilakukan analisis mineralogi untuk meninjau perubahan komposisi mineral dan derajat liberasi pada konsentrat dan tailing akibat pengaruh dari variabel percobaan terhadap peningkatkan kadar dan perolehan. Analisis kimia hanya dilakukan pada konsentrat untuk menetukan kadar Fe total.

Gambar 4. Fotomikrograf sayatan poles bijih besi (H = hematit, M = magnetit, G = mineral gangue, HM = hematit + magnetit HG = hematit + gangue)

Berdasarkan Gambar 4, dapat dilihat bahwa pada fraksi ukuran -106+75 µm (-140+200 mesh), bahwa antara magnetit dan hematit terjadi keterikatan dan antara hematit dan gangue juga terjadi keterikatan. Antara magnetit dan gangue tidak tampak adanya keterikatan. Menurut perhitungan komposisi mineral pada ukuran tersebut, komposisi hematit 41,80% dengan derajat liberasi 88,68% dan magnetit 7,80% dengan derajat liberasi 58,97% serta gangue 50,40% dengan derajat liberasi 96,23%. 3.1.2.2 Komposisi Mineral Berdasarkan Gambar 4, mineral berharga yang terdapat pada percontoh bijih besi ini adalah magnetit

42

PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009

tetapi pada ukuran <250 µm mengalami kenaikan kembali.1 Pengaruh Intensitas Magnet terhadap Komposisi Mineral dan Derajat Liberasi pada Konsentrat Berdasarkan grafik pengaruh intensitas magnet yang divariasikan dari 2000-10000 gauss terhadap komposisi mineral dan derajat liberasi konsentrat pada Gambar 7.28%) dan gangue terbesar (43. Gangue meningkat.73% dan gangue yang terkecil (22. sedangkan derajat liberasinya juga mengalami penurunan.3. Namun pada gangue. Pramusanto. Komposisi hematit terkecil diperoleh pada intensitas magnet 10000 gauss (47. dengan magnetit sebesar 7. sehingga meningkatkan komposisi hematit dan gangue yang berikatan.2 Pengaruh Ukuran Butir terhadap Komposisi Mineral dan Derajat Liberasi pada Konsentrat Berdasarkan grafik pengaruh ukuran butiran yang divariasikan dari ukuran <75 sampai <250 µm terhadap komposisi mineral dan derajat liberasi konsentrat seperti pada Gambar 8. dengan magnetit (8..  Komposisi Kimia (%) 40 35 30 25 20 15 10 5 0 Fe total SiO2 CaO Al2O3 MgO TiO2 Cr2O3 LOI Nam a Mineral Percontoh Asal Underflow Overflow konsentrat. Pengaruh intensitas magnet terhadap komposisi mineral dan derajat liberasi konsentrat Gambar 8. Gambar 6.94%).80%). Derajat Liberasi {DL} (%) 43 .   Komposisi Mineral (%)   100 80 60 40 20 0 2000 4000 6000 8000 10000 100 Derajat Liberasi {DL) (%) 100 Komposisi Mineral (%) 100 80 60 40 20 0 <75 <106 <150 <180 <250 80 60 40 20 0 Intensitas Magnet (Gauss) Magnetit DL Hematit Hematit DL Magnetit Gangue DL Gangue 80 60 40 20 0 Ukuran Butir (µm ) Magnetit DL Hematit Hematit DL Magnetit Gangue DL Gangue Gambar 7. Terjadinya peningkatan komposisi hematit yang berikatan dengan gangue menyebabkan terjadinya penurunan derajat liberasi dan komposisi hematit.. tapi mengalami penurunan kembali pada ukuran <250 µm. Hubungan percobaan spiral classifier terhadap komposisi kimia 3. sedangkan derajat liberasinya turun. Pengaruh ukuran butir terhadap komposisi mineral dan derajat liberasi konsentrat Hal ini berarti pengaruh intensitas magnet menyebabkan peningkatan penarikan hematit yang masih berikatan dengan gangue ke dalam Perubahan komposisi mineral dan derajat liberasi pada mineral magnetik maupun gangue disebabkan oleh adanya pengaruh gaya gravitasi dan hidrodinamis yang bekerja pada butiran serta Peningkatan Kadar Bijih Besi dari Daerah Pelaihari .20%).3. Komposisi hematit yang terbesar diperoleh pada intensitas magnet 2000 gauss sebesar 70. Magnetit cenderung stabil namun derajat liberasinya juga turun. menunjukan penurunan hematit seiring dengan peningkatan intensitas magnet.07%. dapat ditarik kesimpulan bahwa semakin besar ukuran butiran semakin turun komposisi mineral. dkk. semakin besar ukuran butiran mengakibatkan kenaikan komposisi mineral. namun hal tersebut menaikan komposisi gangue. 3.

84%. 44 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 Kadar Fe (%) . magnetit sebesar 8.40%). Pada waktu pengadukan umpan 20 menit.   Perolehan Fe (%) 60 50 40 30 20 60 50 40 30 20 10 2000 4000 6000 8000 10000   100 Komposisi Mineral (%) 100 80 60 40 20 0 1 10 20 80 60 40 20 0 Waktu Pengadukan Um pan (Menit) Magnetit DL Hematit Hematit DL Magnetit Gangue DL Gangue Derajat Liberasi {DL} (%) 10 Intensitas Magnet (Gauss) Recov ery Fe Kadar Fe Gambar 10.derajat liberasi butiran.3. Komposisi hematit terkecil diperoleh pada ukuran butir <180 µm (68. 3. sebaliknya dengan kadar Fe total cenderung turun seiring dengan peningkatan kadar. pengaruh waktu pengadukan ini menyebabkan Al2O3 ataupun CaO yang ada dalam umpan tercampur dengan baik. Pengaruh intensitas magnet terhadap perolehan dan kadar Fetotal konsentrat Gambar 9. Penyebab-penyebab tersebut dapat mengakibatkan peningkatkan penarikan mineral magnetik oleh magnet menjadikan konsentrat. Komposisi hematit terbesar diperoleh pada ukuran butir <75 µm (70.3.3 Pengaruh Waktu Pengadukan Umpan terhadap Komposisi Mineral dan Derajat Liberasi pada Konsentrat Berdasarkan Gambar 9 dapat ditarik kesimpulan bahwa untuk derajat liberasi. Hal ini disebabkan oleh lepasnya ikatan mineral-mineral besi dengan gangue yang berikatan tidak begitu kuat.40%. didapatkan komposisi mineral hematit sebesar 72. disimpulkan bahwa perolehan dan kadar dipengaruhi oleh pengaruh ukuran butir akibat adanya perubahan komposisi mineral dan derajat liberasi.17%. Penyebab lain. 3. magnetit sebesar 6. magnetit sebesar 7.4 Pengaruh Intensitas Magnet terhadap Perolehan dan Kadar Fe Total pada Konsentrat Dari grafik pengaruh intensitas magnetik terhadap perolehan dan kadar Fe total (Gambar 10).7%. waktu pengadukan umpan memiliki sedikit pengaruh terhadap peningkatkan derajat liberasi antara hematit dan gangue.33%). disimpulkan bahwa pengaruh intensitas magnet terhadap perolehan menunjukan semakin besar intensitas magnet semakin meningkat perolehan.93% dan gangue sebesar 21.7%) dengan perolehan terendah 28.27% dan gangue sebesar 25. Kadar Fe tertinggi didapatkan pada ukuran <250. Perolehan yang semakin besar seiring dengan besarnya intensitas magnet. Pengaruh waktu pengadukan umpan terhadap komposisi mineral dan derajat liberasi konsentrat 3.3.27%.93%).07% dan gangue sebesar 20. Hal ini mempengaruhi daya tarik magnet ke dalam konsentrat.13% dan sisanya gangue. Hal ini terjadi karena gangue yang berikatan dengan mineral magnetik ikut tertarik menjadi konsentrat.5 Pengaruh Ukuran Butir terhadap Perolehan dan Kadar Fetotal pada Konsentrat Berdasarkan grafik pengaruh ukuran butir terhadap perolehan dan kadar Fe Total Gambar 11.50%.67%. Komposisi hematit terbesar diperoleh pada waktu pengadukan umpan 10 menit (71. <106 dan <75 µm sebesar 54.8%) dengan perolehan tertinggi 54.00%. Perolehan tertinggi didapatkan pada ukuran butir <75 µm sebesar 31. magnetit sebesar 8. Kadar Fe total tertinggi diperoleh pada intensitas magnet 2000 gauss (54. Kadar Fe total terendah diperoleh pada intensitas magnet 10000 gauss (38.

Hematit terbesar terdapat pada ukuran butir <180 µm (29.33%)..8 Analisis Komposisi Mineral pada Tailing Variabel Ukuran Butir Dari Gambar 14 terlihat bahwa semakin besar ukuran butir semakin besar pula kecenderungan komposisi hematit.47%) dan gangue-nya sebesar 71.53%. Pengaruh ukuran butir terhadap perolehan dan kadar Fetotal konsentrat   Komposisi Mineral (%) 3.3. Kadar Fe (%) 35 30 40 25 30 20 <75 <106 <150 <180 <250 20 Ukuran Butiran (µm ) Recov ery Fe Kadar Fe Gambar 11. Pengaruh intensitas magnet terhadap komposisi mineral tailing 50 70 40 60 Kadar Fe (%) 3.  Perolehan Fe (%) 40 70 60 50 3. sedangkan gangue cenderung semakin kecil. Komposisi hematit terkecil terdapat pada intensitas magnet 10000 gauss (27. 45 . sedangkan gangue-nya sebesar 72. Pramusanto.20%) dan gangue sebesar 70. Magnetit pada tailing masingmasing variabel ini sudah tidak ada. 80 70 60 50 40 30 20 10 0 2000 4000 6000 8000 10000 Intensitas Magnet (gauss) Magnetit Hematit Gangue   Perolehan Fe (%) Gambar 13.3. seluruh magnetit tertarik semua ke dalam konsentrat pada setiap variabel intensitas magnet..9%. dkk.67%. Pengaruh waktu pengadukan umpan terhadap perolehan dan kadar Fetotal konsentrat Peningkatan Kadar Bijih Besi dari Daerah Pelaihari . Hematit berkurang seiring dengan bertambahnya intensitas magnet.3. sedangkan gangue mengalami peningkatan. artinya mineral magnetit tertarik semua ke dalam konsentrat.26%.6 Pengaruh Waktu Pengadukan Umpan terhadap Perolehan dan Kadar Fetotal pada Konsentrat Dari Gambar 12 diperoleh kesimpulan bahwa waktu pengadukan juga memberikan pengaruh terhadap perolehan dan kadar akibat adanya perubahan komposisi mineral dan derajat liberasi. 30 50 20 40 10 1 10 20 30 Waktu Pengadukan Um pan (Menit) Recov ery Fe Kadar Fe Gambar 12. Kadar Fe total tertinggi diperoleh pada waktu pengadukan umpan sebesar 55. Hematit terbesar terjadi pada intensitas 2000 gauss (28.80%. Perolehan tertinggi terjadi pada pengadukan umpan selama 20 menit dengan perolehan sebesar 33.7 Analisis Komposisi Mineral pada Tailing Variabel Intensitas Magnet Berdasarkan Gambar 13 menunjukkan bahwa mineral magnetit pada tailing hasil percobaan pemisah magnetik sudah tidak ada.

50% ada pada ukuran butir <75 µm. 5. Pada percobaan pengaruh waktu pengadukan umpan. kadar Fe total tertinggi 54. Prosiding Kolokium Pertambangan.9 Analisis Komposisi Mineral pada Tailing Variabel Waktu Pengadukan Umpan Gambar 15 menunjukan bahwa pada tailing variabel waktu pengadukan umpan. Fathi (editor). Weinhem. Pencucian mengunakan spiral classifier meningkatkan kadar besi total menjadi 34. Kelly Erol G. kadar Fe total tertinggi 54. Komposisi hematit terbesar terdapat pada waktu pengadukan satu menit sebesar 26. 2008 “Potensi Sumber Daya Lokal Untuk Membangun kemandirian dan Daya Saing Industri Baja Nasional”.3..9% untuk waktu pengadukan umpan 10 dan 20 menit. 2002 “Mineralogy 2nd Edition”. sedangkan gangue semakin besar.   Komposisi Mineral (%) 80 70 60 50 40 30 20 10 0 1 10 20 Waktu Pengadukan Um pan (Menit) Magnetit Hematit Gangue Gambar 15.. Perkins. 2. 1982 “Introduction to Mineral Processing”. 1997 “Handbook of Extractive Metallurgy Volume I: The Metals Industry Ferrous”. DAFTAR PUSTAKA Habashi. sedangkan mineral gangue sebesar 73. United Stated of America. Bandung. Prentice-Hall Inc. New Jersey. John Willey & Sons. CaO 5. Al2O3 15. New York Koesnohadi dan Ahmad Sobandi. Federal Republic of Germany.  Komposisi Mineral (%) 4.26%.3% dengan mineral gangue terdiri atas SiO2 28.26% terjadi pada waktu pengadukan umpan 20 menit. <106 dan <75 µm.7% pada ukuran butir <25.7% dengan perolehan 28.61%.00%. 4.74%. Wiley-VCH. 3. Pada percobaan pengaruh intensitas magnet. Spottiswood David J. magnetit tidak ada.67%. Gambar 14. 80 70 60 50 40 30 20 10 0 <75 <106 <150 <180 <250 Ukuran Butir (µm ) Magnetit Hematit Gangue KESIMPULAN Beberapa kesimpulan yang dapat ditarik adalah : 1. Perolehan tertinggi 31. Pada percobaan pengaruh ukuran butir. Bijih besi Pelaihari mempunyai mempunyai kadar Fe total 31. Komposisi hematit semakin kecil seiring dengan bertambahnya waktu pengadukan. Pengaruh waktu pengadukan umpan terhadap komposisi mineral tailing 46 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Perolehan tertinggi 33. kadar Fe total tertinggi adalah 55. Pengaruh ukuran butir terhadap komposisi mineral tailing 3.6%. Dexter.84% pada intensitas magnet 2000 gauss.

co. A. Bandung. Pergamon Press. PT SILO.id/silo_products. B. 1999 “Pengerjaan Awal Bijih Besi Laterit Melalui Pemisahan Secara Magnetis dalam Drum Magnetic Separator pada Pembentukan Campuran Bijih Besi Laterit dan Kokas”. Oxford.Pramusanto. 1988... “Mineral Processing Technology 5Th Edition”. Pusat Penelitian Pengembangan Teknologi dan Mineral. New York. tanggal 20 Mei 2009.. dkk. dkk.. Wills. Pramusanto. Peningkatan Kadar Bijih Besi dari Daerah Pelaihari .sebukuiron.htm. diunduh pada jam 10:57. www. 47 .

85 % SiO2 . Pasir kuarsa ini masih bercampur dengan material lempung berwarna krem kekuningan.PENGOLAHAN PASIR KUARSA BERLEMPUNG ASAL RANTAUBUJUR.063 mm. pengolahan/pencucian.85 % SiO2. mengalami kenaikan kadar silika (SiO2) yang cukup signifikan. 0.27 % SiO2 menjadi 94. KABUPATEN TAPIN. which to appear of overburden on the coal deposit. the clayed quartz sand sample need to beneficiat by washing and sieving on several size of 1. South Tapin District . bodi keramik putih ABSTACT There are a lot of the quartz sand deposit in Rantaubujur area. Kata kunci: pasir kuarsa berlempung. 0.Tapin Regency abaout 186. This pure quartz sand has to fulfill as ceramic raw material for made the whiteware ceramic as the filler material. Because of that. silika.0 mm. yakni dari 80.378. PROVINSI KALIMANTAN SELATAN. sampel pasir kuarsa yang berlempung tersebut perlu dilakukan proses pengolahan dengan cara pencucian dan pengayakan dengan menggunakan ayakan ukuran 1. silica grade. Kabupaten Tapin sebanyak 186378000 m3. yang merupakan lapisan tanah penutup (over burden) pada endapan batu bara.063 mm. Achmad Yani 392 Bandung Telp.27 % SiO2 become 94. Based on the beneficiation experiments as much as 3 (three) time be found the pure quartz sand of 658. Pasir kuarsa terolah ini telah memenuhi syarat sebagai bahan baku keramik untuk dibuat bodi keramik putih yang fungsinya sebagai bahan pengisi. UNTUK BAHAN BAKU KERAMIK Subari.0 mm.7206221 / 7207115) SARI Jumlah cadangan endapan pasir kuarsa di daerah Rantaubujur Kecamatan Tapin Selatan. This quartz sand still mixed with yellowish cream clay materials.30 grams from the natural quartz sand of 900 grams. 022 .000 m3. Keywords : clayed quartz sand. beneficiation 48 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Hasil analisis kimia pasir kuarsa asli (masih bercampur lempung) dan yang terolah.5 mm. Enymia dan Sumarsih Balai Besar Keramik Jl. The chemical analysis result of natural quartz sand and pure quartz sand that has increased of silica (SiO2) significant enough namely from 80. Jend. Dari hasil percobaan pencucian yang dilakukan sebanyak 3 (tiga) kali diperoleh 658. 0.30 gram pasir kuarsa terolah dari sebanyak 900 gram pasir kuarsa asli. Oleh karena itu.

Pasir kuarsa dicuci dan kemudian diayak/disaring dengan menggunakan ayakan ukuran 1.. 0. seperti misalnya penelitian Vyas et al.. HASIL DAN PEMBAHASAN 3. Tapin Selatan tergantung pada karakteristik bahan.al. Dari hasil percobaan pengolahan ini diharapkan kualitas pasir kuarsa meningkat serta dapat dimanfaatkan untuk industri keramik bahkan bisa juga digunakan untuk industri gelas.1. Setelah itu komposisi bodi ini dicetak ubin keramik berukuran (7.378. Kondisi endapan pasir kuarsa semacam ini juga di jumpai di desa Rajpardi “Bharuch district”. Untuk mengetahui perolehan silika atau kuarsa yang dihasilkan dari proses pengolahan (benefisiasi) pasir kuarsa alam dapat digunakan rumus (Wills. et al. 2003). silikon karbida dan bahan abrasif. Sebagai bahan baku utama. dengan jumlah cadangan sebesar 186. METODE PENELITIAN Pasir kuarsa alam atau kuarsa asli yang digunakan dalam percobaan pengolahan (benefisiasi) berasal dari daerah Rantau Bujur Kecamatan Tapin Selatan. mineral horblende dan biotit (Chakraborty. Bagan alir proses benefisiasi terhadap pasir kuarsa tercantum pada Gambar 1. hal ini tergantung pada tingkat kemurnian bahan baku yang digunakan( Achuthan et al. PENDAHULUAN Di daerah Rantau Bujur Kecamatan Tapin Selatan Kabupaten Tapin Provinsi Kalimantan Selatan terdapat endapan pasir kuarsa/silika yang merupakan lapisan tanah penutup (overburden) pada endapan batubara. Sedangkan pasir kuarsa sebagai bahan baku campuran. Kemudian komposisi bodi tersebut dicampur sampai homogen dengan menambahkan air sekitar 5 % dari total berat bahan baku. Dengan adanya kandungan bahan pengotor (impurities) tersebut maka pasir kuarsa ini perlu dilakukan proses pengolahan (benefisiasi) yang tujuannya untuk meningkatkan kualitas kuarsa/ silika agar dapat digunakan sebagai bahan baku keramik terutama untuk bodi keramik putih (whiteware ceramic) seperti stoneware dan porselen. pasir kuarsa dapat digunakan dalam industri gelas. Sehubungan hal tersebut di atas. kerikil. Metode pengolahan yang digunakan dalam proses pengolahan pasir kuarsa dari Kec. 2001). ferosilikon.000 m3 (Widyajasa. dan akhirnya dibakar dalam tungku listrik pada suhu 1150. ubin teraso. 2000.0 mm.5 x 0..5 mm dan 0. 2006): Pengolahan Pasir Kuarsa Berlempung Asal Rantaubujur. 3. yang merupakan lapisan overburden pada tambang batubara jenis lignit.1200 dan 1250 °C. Carty.. (2000) setelah melakukan proses pengolahan pasir kuarsa yang berwarna kuning hingga kuning kecoklat-coklatan dengan menggunakan metode pengayakan cara kering. Bahan pengotor yang terkandung didalam pasir kuarsa Rajpardi yaitu oksida besi seperti ilmenit atau limonit. yang merupakan bahan pengotor sehingga warna pasirnya bervariasi dari krem sampai kuning kecoklat-coklatan. 2. (2000) maka metode pengolahan yang dilakukan adalah proses pengayakan cara basah.1.8) cm. Benda uji ubin selanjutnya dikeringkan dalam oven pengering pada suhu 100 0C. Sedangkan penggunaan kuarsa atau silika pada industri keramik berkisar antara 10 – 25% berat dari kompo-sisi bodi keramik stoneware atau perselen. Pasir kuarsa di sini nampaknya masih bercampur dengan material lempung. Adapun komposisi bodi keramik yang dicoba terdiri dari bahan baku kuarsa terolah 20 %. dkk. Dalam industri manufaktur. pasir kuarsa yang diteliti akan digunakan sebagai bahan baku campuran dalam pembuatan ubin keramik selain menggunakan felspar dan kaolin. 49 . penggunaan pasir kuarsa sudah berkembang ke berbagai industri baik sebagai bahan baku utama maupun untuk bahan campuran atau aditif. Kabupaten Tapin . et. pengayakan cara basah dan cara magnetik. Perolehan (recovery) kuarsa terolah Teknologi pengolahan pasir kuarsa dari Tapin Selatan ini dilakukan dengan pengayakan atau penyaringan secara basah yang menggunakan beberapa ukuran ayakan. misalnya pada industri pengecoran logam. India. Pasir kuarsa ini masih bercampur dengan material lempung berwarna krem kekuningan. industri perminyakan dan industri keramik termasuk refraktori.063 mm. kaolin 50 % dan lempung 30 %. akar tetumbuhan dan lain sebagainya. 2000). Berdasarkan pada karakteristik pasir kuarsa yang masih mengandung bahan pengotor dan mengacu pada penelitian Vyas.5 x 7. Subari. Proses pengolahannya di lakukan sebanyak 3 (tiga) kali percobaan yang hasil percobaannya dapat di lihat pada Tabel 1.

0.063 mm Kuarsa terolah + 0.5 mm Diayak basah ukuran 0.0 mm Kotoran kerikil + 1.5 mm .0.063 mm Lempung kotor .Bagan alir proses benefisiasi pasir kuarsa Tabel 1.3 Kotoran 1 ( gram ) 32 27 28 29 Kotoran 2 ( gram ) 107 170 276 184.33 Kehilangan ( gram ) 21 28 36 28.0 mm Kuarsa & lempung -1.5 mm Kuarsa & lempung 0.33 50 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .Kuarsa alam dibuat massa lumpur Diayak basah 1.0 mm Diayak basah ukuran 0.5 mm Kuarsa terolah + 0.063 mm Gambar 1. Material balance pada proses benefisiasi pasir kuarsa Percobaan 1 2 3 Rata-rata Kuarsa asli ( gram ) 900 900 900 900 Kuarsa terolah ( gram ) 740 675 560 658.

menunjukkan bahwa untuk kuarsa asli terdapat kandungan mineral kaolinite selain alfa kuarsa sedangkan yang kuarsa terolah hanya mengandung alfa kuarsa serta tidak ada lagi kandungan mineral kaolinitnya. apabila pasir kuarsa diolah semuanya maka yang diperoleh sebanyak 161.3 %.85 % serta kadar Fe2O3 dan TiO2 mengalami penurunan masing-masing yaitu 0.27 Jumlah cadangan pasir kuarsa alam (kuarsa asli) sebesar 186. Menurut ketentuan tersebut diatas nampaknya pasir kuarsa dari Kabupaten Tapin telah memenuhi syarat sebagai bahan baku untuk body keramik porselen atau stoneware.Dimana : R = Recovery. 3. Subari.5 % SiO2 ( Hartono dan Subari.30 x 94. 1. Dengan demikian perolehan pasir kuarsa terolah adalah : 658.85% SiO 2 kualitasnya hampir sama dengan yang pasir kuarsa Bangka. Kadar SiO2 didalam kuarsa asli (umpan) = 80. gram f = Kadar SiO2 didalam umpan. gram c = Kadar SiO2 didalam konsentrat. Kemudian dari data analisis X Ray diffraktometer terhadap pasir kuarsa asli (belum diolah) kode KCT dan kuarsa yang sudah diolah kode KMT seperti tercantum dalam Gambar 2. dan TiO2 masing-masing sebesar 80.Grafik difraktogram pasir kuarsa asli dan kuarsa terolah Pengolahan Pasir Kuarsa Berlempung Asal Rantaubujur. Fe2O3.347. Kabupaten Tapin .378. Data komposisi Kimia dan Mineral Data komposisi kimia terhadap pasir kuarsa asli atau belum diolah terutama kadar silika (SiO2).23 %.85 R= 900 x 80. % F = Umpan (feed) pasir kuarsa asli. Dilihat dari kadar Fe2O3 dan TiO2 bahwa menurut SNI 15-1026-1989 mengenai kuarsa untuk pembuatan porselen dan stoneware batas kadar yang disyaratkan untuk Fe2O3 = 0.435 m3. Gambar 2. Sehingga pasir kuarsa terolah tersebut masih bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku keramik untuk body keramik stoneware atau porselen dan juga barang tahan api (refractory). dkk.. maka pasir kuarsa terolah dari Kecamatan Tapin Selatan dengan kadar silika sebesar 94.4 % dan yang TiO2 = 0. % C = Kuarsa terolah (konsentrat).2.57 % dengan cara pencucian dan pengayakan tersebut memberikan hasil yang baik.000 m3.27 % dan yang didalam konsentrat (kuarsa terolah) =94.85 %.04 %. Dibandingkan dengan pasir kuarsa dari pulau Bangka dan pulau Belitung yang kadar silikanya masing-masing sebesar 95-99 % SiO2 dan 96-99. 1986).% Menurut Tabel 1 bahwa banyaknya kuarsa terolah rata-rata sekitar 658. Dengan berdasarkan ketentuan tersebut maka proses pengolahan pasir kuarsa dengan cara pencucian dan pengayakan cukup berhasil dan bisa dikembangkan dalam skala produksi. Dengan demikian proses pengolahan pasir kuarsa dari Kabupaten Tapin x 100 % = 86.27 %. dan 0.34 % dan 0.20%. 51 ..30 gram dari sebanyak kuarsa asli sebesar 900 gram. Kemudian pasir kuarsa setelah diolah dengan cara pencucian dan pengayakan ternyata kadar SiO2 nya mengalami kenaikan menjadi 94.

M.13 %.24 %. Adapun komposisi bodi keramik yang dicoba terdiri dari bahan baku kuarsa terolah 20 %. Pemakaian pasir kuarsa terolah untuk dibuat ubin keramik sebesar 20% dicampur dengan lempung 30% dan kaolin 50% dari Kabupaten Tapin.5 x 0. lempung dan felspar.85 %. yang dibakar pada suhu 1150-1250 0C bodinya berwarna putih susu serta digolongkan ke dalam bodi putih (whiteware ceramic). Pembuatan Keramik dari Kuarsa Terolah Bahan baku yang biasanya digunakan dalam pembuatan keramik konvensional atau tradisional adalah kuarsa. Hal ini disebabkan lubang pori-pori dalam bodi ubin semakin mengecil dan ikatan paertikel-partikel bahan yang satu dengan lainnya menjadi semakin kuat akibat semakin tingginya suhu pembakaran. Demikian pula sebaliknya. makin tinggi suhu pembakaran nilai kuat lenturnya semakin besar yaitu masing. Peer.347..063 mm dapat meningkatkan kadar silika (SiO 2) dari 80.T. 0.435 m3 cukup potensial untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku industri keramik dalam pembuatan ubin keramik dan bata tahan api silika. et. Carty. 2. Ubin setelah dibakar ternyata makin tinggi suhu pembakaran penyerapan airnya semakin kecil masing. A. 16. Effect of Precipitated Silica Additions to the Composition of Ceramic Glazes.al. Ceramic engineering and Sci- 52 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Sedangkan bahan lempung yang merupakan pengotor (impurity) dari pasir kuarsa mengandung kadar SiO2 nya sebesar 70. Dengan demikian kuarsa terolah yang mengandung SiO2 = 94. 2000). 3. Untuk percobaan pembuatan bodi keramik disini menggunakan kuarsa dari hasil pengolahan pasir kuarsa berlempung dan sedikit mengandung kerikil.3. 2001. Di samping itu warna bodi ubin keramik setelah dibakar pada suhu 1150 0C sampai 1250 0C berwarna putih susu sampai krem.N. Benda uji ubin selanjutnya dikeringkan dalam oven pengering pada suhu 100 0C.85 % telah memenuhi syarat untuk dibuat bata tahan api silika (silica brick refractory).57 kg/cm2. kaolin 50 % dan lempung 30 %. dan akhirnya dibakar dalam tungku listrik pada suhu 1150. W. (2000) bahwa untuk membuat bahan tahan api tersebut digunakan silika dengan kadar SiO2 minimum 93 % pada suhu pembakaran 1430-1450 0 C. A. Perolehan (recovery) pasir kuarsa terolah sebanyak 161. Lempung ini masih bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku keramik untuk dibuat bodi merah atau terakota.65 kg/ cm2 dan 143. Dari hasil analisis kimia terhadap kuarsa terolah ternyata mengandung kadar silika (SiO2) yang cukup tinggi yaitu 94. UCAPAN TERIMAKASIH Dengan terpublikasinya makalah ini penulis menyampaikan banyak terima kasih kepada Kepala Dinas Pertambangan Kabupaten Tapin beserta stafnya. Setelah itu komposisi bodi ini dicetak ubin keramik berukuran (7.8) cm. Maiti. kaolin. 137.0 mm. DAFTAR PUSTAKA Achuthan.masing 135.85 %. Proses pengolahan pasir kuarsa berlempung asal Kabupaten Tapin dengan cara dicuci dan diayak menggunakan ukuran ayakan 1. Kemudian komposisi bodi tersebut dicampur sampai homogen dengan menambahkan air sekitar 5 % dari total berat bahan baku. Volume 57. agar pada suhu pembakaran 1250 0C bodinya sudah bersifat padat (vitrified) sehingga penyerapan airnya bisa mencapai di bawah 10 % (Chakraborty et al.. yang telah membantu untuk mendapatkan sampel bahan galian golongan C jenis pasir kuarsa berlempung dari Kecamatan Tapin Selatan serta data potensi cadangannya.M.92 kg/cm2. Selain untuk ubin keramik pasir kuarsa terolah ini bisa juga digunakan sebagai bahan baku utama bata tahan api silika karena menurut Goswami.3.1200 dan 1250 0C. Interceram. Nilai penyerapan ubin keramik ini masih di atas 15% karena di dalam komposisi bodi ubin tidak menggunakan felspar yang fungsinya sebagai bahan pelebur guna membantu dalam proses sintering.No. 2008. sehingga bodi keramik tersebut dapat dikatagorikan keramik putih (whiteware ceramic).77% menjadi sebesar 94. Kandungan silika bebas tersebut juga terdapat di dalam lempung (clay).98 %.5 mm dan 0.1.masing sebesar 17. Misalnya lempung berwarna kuning kecoklatan dari daerah Zorka mengandung kadar SiO2 69.87 % dan 15. 4. K. KESIMPULAN 1..15%.5 x 7. dan felspar.

Issue 2. Interceram.K. J. Goswami.. Vol. X Ray Diffractometric Determination of Tridymite in Silica Refractories. Chakraborty. K.. Pengolahan Pasir Kuarsa Berlempung Asal Rantaubujur.. Vyas. Y. 53 .. Seventh Edition-ELSEVIER.R. Sojitra. B.ence. Maiti. Oxford-UK. Volume 49 No.N. Subari. Widyajasa.3.D. B.P. 2006. Panda. Kabupaten Tapin . Studi Komprehenship Inventarisasi dan Evaluasi Bahan Galian Tambang di Kabupaten Tapin. 2000. Interceram. Proceedings. A. D. Mineral Processing Technology. A. B.A. 1986. Beneficiation of Rajpardi Silica Sand For Use in the Ceramics and Glass Industry.5. Wills. Bapeda Pemerintah Kabupaten Tapin. 2003..K.T.G. Interceram. 49 No. A. Volume 49 No.R.G. Effects of Substitution of Quartz by Rajpardi Silica Sand on the Thermomechanical Properties of Conventional Ceramics. Hartono.M.N. Teori Benefisiasi Bahan Mentah Keramik Halus. 2. Chakraborty. Sojitra. 2000. Material and Equipment and Whitewares. 2000. dkk.. Vyas. G.. Balai Besar Industri Keramik Bandung. Maiti.V dan Subari. K. D. Volume 22.

PRESENTASI MAKALAH PARALEL II .

Fax. metalurgi. Due to the presence of the National Energy Policy about energy diversification through PP No. in the future time will increase. pemanfaatan ABSTRACT The role of coal as an energy supply. masa depan. metallurgy. paper. cement industry. di masa mendatang akan terus meningkat meskipun harga batubara sedikit terkoreksi sebagai dampak dari harga minyak yang baru saja terkoreksi tajam. the utilization of coal in Indonesia keeps developing in various market segments including: coal-fired power. kertas. baik di Indonesia maupun belahan dunia lainnya.5 Tahun 2006. industri semen. Adanya Kebijaksanaan Energi Nasional mengenai diversifikasi energi. coal. although its price is slightly corrected as the impact of the oil price that was just sharply corrected. Besides. either in Indonesia or other countries. will support the effort of optimizing supply and demand of the coal in Indonesia in the future time. 4 Year 2009 about mineral and coal mining. Ijang Suherman 55 . textile. batubara. briket batubara dan industri lainnya. Di samping itu. the implementation of UU No. 5 Year 2006. melalui PP No. future. (022) 6003373 e-mail : ijang@tekmira. Sudirman 623 Bandung 40211 Telp. Kata kunci: masa kini. coal briquette and so forth.MASA KINI DAN MASA DEPAN BATUBARA INDONESIA Ijang Suherman Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. dengan berlakunya UU No 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral Batubara. Jend. pemanfaatan batubara di wilayah Indonesia terus berkembang di berbagai segmen pasar yang meliputi PLTU. (022) 6030483.go.esdm. akan mendukung upaya optimalisasi permintaan dan pemasokan batubara Indonesia dimasa depan.id SARI Peran batubara sebagai pemasok energi. Keyword: nowadays. tekstil. utilization Masa Kini dan Masa Depan Batubara Indonesia.

Jawa Barat. Pada tahun 2008 produksi batubara nasional telah mencapai 233. Jawa Timur. Gasifikasi Batubara dan Pencairan batubara adalah arah pemanfaatan batubara untuk masa mendatang. 56 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . tahun 2008. 4.1. dengan jumlah cadangan sebesar 22. dan industri lainnya. PKP2B memegang peranan yang cukup menonjol sekitar 75. Sumatera Selatan. baik untuk pemakaian domestik maupun pasar ekspor.75 miliar ton. maka ke depan sistim perijinan hanya ada satu jenis. kertas. Nusa Tenggara Timur. Kalimanatan Timur. namun terbesar terutama di Pulau Sumatera dan Kalimantan sebanyak masing – masing 50. Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. Kondisi saat ini. 4. serta pemanfaatan batubara untuk briket batubara. Seluruh daerah (propinsi) ini dianggap dapat mewakili produsen maupun konsumen batubara di Indonesia.75 milyar ton dan cadangan 22. produksi batubara selama 16 tahun terakhir telah menunjukkan peningkatan yang cukup pesat. Sedangkan model pengolahan dan teknik analisis yang digunakan adalah statistka deskriptif dan trend analysis.1. Jumlah sumber daya dan cadangan batubara Indonesia setiap tahun terus bertambah.56%. namun setelah digulirkannya otda ada peningkatan yang cukup berarti dengan tingkat pertumbuhan ratarata 21. dengan kenaikan produksi rata-rata per tahun secara nasional adalah 17. Pemberlakuan UU No 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral Batubara. hingga kini sumber daya mencapai 104. industri semen. pemanfaatan batubara di dalam negeri menjadi semakin penting sejalan dengan ditemukannya cadangan batubara yang besar. serta terwujudnya bauran energi (energy mix) yang optimal pada tahun 2025. Sedangkan peran KP awalnya relatif masih kecil di bawah BUMN (PTBA). Kegiatan penelitian ini dilakukan di 11 lokasi di Indonesia. Sulawesi Selatan. METODOLOGI Sejalan dengan upaya penganekaragaman energi dan peningkatan kebutuhan batubara. tetapi sampai sekarang harga batubara masih tetap tinggi walau agak terkoreksi. adanya kebijaksanaan energi nasional mengenai diversifikasi energi. Tingkat Produksi Batubara 2. berdasarkan perhitungan Pusat Sumber Daya Geologi.25 milyar ton. telah memacu pemanfaatan batubara di berbagai segmen pasar (industri) di wilayah Indonesia. Pola Pengusahaan Batubara Ijin pengusahaan batubara di Indonesia secara garis besar dibedakan dalam tiga pola. 6 pulau. Sumatera Barat. dan lainnya untuk mendapatkan data primer dengan hasil-hasil publikasi dari instansi terkait sebagai data skunder. dan Jawa Tengah.62 juta ton. industri peleburan (metalurgi). Metoda dalam kajian ini.25 miliar ton (Gambar 1). Banten. Dalam kurun waktu tersebut (1992 – 2008) telah terjadi perubahan distribusi produksi yang signifikan.76% dengan pertumbuhan 16. dan Kuasa Pertambangan (KP). jumlah sumber daya adalah sebesar 104.04%. tekstil. Selain itu. Di samping kondisi global tersebut.2. PENGUSAHAAN BATUBARA 4. adalah menghubungkan hasil-hasil penelitian survei sampling secara langsung seperti ke PLTU. Namun dengan di telah disyahkannya Undang-Undang No 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. industri semen. Kalimantan Selatan.15% dan 49.02% pertahun (Tabel 1). Sedangkan Upgrading Brown Coal (UBC). yaitu Ijin Usaha Pertambangan (IUP) untuk satu wilayah tertentu. Badan Usaha Milik Negara (BUMN). industri tekstil. Segmen pasar yang menggunakan batubara sebagai bahan bakar meliputi PLTU. akan mendukung untuk menciptakan keamanan pasokan energi nasional secara berkelanjutan dan pemanfaatan energi secara efisien.93% pertahun. PENDAHULUAN 3. yaitu Propinsi Sumatera Utara. Perjanjian Kerjasama Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B). industri kertas. POTENSI SUMBER DAYA DAN CADANGAN Harga dunia minyak yang demikian tinggi baru saja terkoreksi tajam. menimbang cadangan minyak bumi Indonesia yang semakin menipis. Sumber daya batubara tersebut tersebar di 19 propinsi.

Masa Kini dan Masa Depan Batubara Indonesia. Distribusi Sumber Daya Batubara Indonesia 57 . Ijang Suherman Gambar 1.

sedangkan pada tahun 2008 mencapai 73.93 KP 1.85% dari jumlah seluruh kebutuhan.713 171.467 5.3.281 18.389 82.570 66.02 Jumlah 15. 2009 (diolah Kembali) 4.532 87. dan BUMN sebesar 2. diikuti oleh pemegang KP sebesar 7. maka kedepan perlu mencermatinya untuk melakukan pembatasan ekspor.103 7.992 164.288 juta ton.286 3.Tabel 1. Ada yang berpendapat mungkin semakin meningkat karena permintaan yang jauh melebihi penawaran. Dengan adanya kecenderungan tersebut.138 2.654 1.57%.741 45. Perusahaan pemegang PKP2B merupakan eksportir batubara terbesar.966 4.570 176.292 8. tahun 1992 – 2008 Tahun 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 (%) Produksi (x000Ton) PTBA 7.576 37.375 233.408 4. Tingkat Penjualan Batubara 4. yaitu sebesar 54.604 61.069 52.477 29.87% dari jumlah ekspor batubara Indonesia.925 juta ton (Tabel 2).35 %.862 41. serta kran ekspor China ditutup. yaitu sekitar 89. diikuti oleh pemegang KP sebesar 34.874 23.80%.288 juta ton. Ekspor batubara Indonesia pada tahun 1992 hanya sebesar PENGGUNAAN BATUBARA DI INDONESIA Harga dunia minyak yang demikian tinggi baru saja terkoreksi tajam. sedangkan pada tahun 2008 tercatat sebesar 158.318 juta ton (Tabel 3).374 6.1 Penjualan batubara dalam negeri Jumlah penjualan batubara di dalam negeri tahun 1992 sebesar 7. menimbang cadangan minyak bumi Indonesia 58 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Kebutuhan batubara dunia saat ini ternyata meningkat sangat cepat.859 11.3. dan BUMN PTBA serbesar 10. Hal ini yang mengantarkan Indonesia sebagai pemasok (eksportir) terbesar menyaingi Australia dan Afrika Selatan.890 104.3.474 10.965 9. antara lain dipicu oleh booming harga dan semakin banyaknya pembangunan PLTU di luar negeri yang menggunakan bahan bakar batubara.207 10.56%.607 9. yang berarti setiap tahun penjualannya rata-rata meningkat sebesar 17. 5.078 96.17%.746 10.470 25.555 10.533 36.885 33.815 40.482 10.935 20.921.597 2.251 123.2 Penjualan batubara ekspor 16. Ini berarti volume ekspor rata-rata naik sebesar 15. Tahun 2008. Di samping kondisi global tersebut.796 6.994 22. 4.645 156.71%. perusahaan pemegang PKP2B merupakan pemasok batubara dalam negeri yang terbesar.707 7.246 208.707 76.707 8. Jumlah produksi batubara Indonesia menurut kelompok perusahaan.07 PKP2B 14.951 10. tetapi sampai sekarang harga batubara masih tetap tinggi walau agak terkoreksi.328 93.171 145.04 Sumber : DPPMB dan APBI.602 47.986 187.057 57.489 21.620 17.230 9.993 16.682 5.123 4.027 8.212 9.812 7.979 9.180 62.926 4.805 46. Hal ini diperlukan untuk mengutamakan jaminan pasokan dalam negeri serta kegiatan peningkatan produksi yang mengacu pada konsep konservasi.300 113.

495.686 58.920 21.431.389.276.294.894.268.168 1.755 1.979 64.001 Jumlah 16.178 918.085.386.364 7.534 127.086.195.620.140.044 22.985 41.584.777 2.262.848.975.939 37.710.646 8.662.799.024.574.966 4.397 949.830.240 6.501.680.181 8.787.973 53.260.852.633.375.895 9.022.079.715.083.754.298.713 9.892.064.000 2.005.421 948.886.047.124.354 34.110 73.933 10.381 1.482 3.492.361 25.865 6.575 8.822.454.233 13.597.621.714 31.014 7.262 454.969. tahun 1992 – 2008 Tahun 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Penjualan Batubara (Ton) BUMN 6.395.712.973 3.212 1.195 4.209.550 22.510.585 2.969 2.428 8.980.233 12.819.539.895 7.521 74.924.132.767.116.356.921.691. Tahun 1992 – 2008 Tahun 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Ekspor Batubara (Ton) BUMN PKP2B KP 1.001 12.201 99.601.854.349. Jumlah Ekspor Batubara Indonesia Menurut Kelompok Perusahaan.160.492 59.119 Jumlah 6.536 815.239.306.405.105 1.895.312.366 16.000 32.239.623.957 66.206.077 142.053 51.053.377 18.265 813.034 2.000 7.304 12.157 1.577 15.256.225.550 158.475 142.000 85. Ijang Suherman 59 .206.138 52.775 7.247 4.713 14.816.230.061.834.131 3.255.815 1.117 19.307.192.228 PKP2B 356.697.256.994 2.424 9.971 830.000 4.827 1.011.913.600 41.835.321 20.758.858 85.874 6.104 5.341 47.420 40.606.272 92.201 55.394.550.254.575.363 76.735.966 3.212 3.520.541 5.044 158.826 Sumber : DPPMB.995 6.194.984 9. 2009 (diolahKembali) Tabel 3.318.734.720 8.782 3.276.480 KP 363.537 2.829 21.185 36.703 31.989 29.041.538 7.095.210.977 2.000 1.975.856.842 Sumber : DPPMB.145 36.000 41.435.022.153.915 25.875 4.783 36.097 3.Tabel 2.764 756.979.581 1.323 938. 2009 (diolah Kembali) Masa Kini dan Masa Depan Batubara Indonesia. Jumlah penjualan dalam negeri batubara Indonesia menurut kelompok perusahaan.443 26.178.003 30.000 106.381 4.750 710.727.444 1.773 1.257.875 48.428 143.616 2.787 27.548.152.657.766 6.565.318 1.549.142.221 25.544 13.955.364 2.621.387.124 7.114.307 11.506 18.

659.000 MW. PT Jorong Barutama. Langkah ini merupakan upaya strategis untuk meningkatkan rasio elektrifikasi serta menyehatkan bauran energi nasional dari ketergantungan pada BBM. PT Daya Citra Mulia. Sedangkan di kawasan PLTU Paiton ada tiga operator pembangkit.yang semakin menipis.61% dari kebutuhan batubara nasional.230 MW yang dikelola perusahaan swasta PT Java Power dan unit 7 dan 8 yang dikelola PT Paiton Energy dengan kapasitas 1.64 dan USD 1. Proyek percepatan 10. Batubara yang digunakan sebagian besar dipasok dari Pulau Kalimantan. yang hingga kini sumber daya mencapai 104.783.960 MW dan total kontrak mencapai Rp 7. telah memacu pemanfaatan batubara di berbagai segmen pasar di wilayah Indonesia.25 miliar ton.454 juta ton per tahun. 69.400 MW menggunakan batubara sebesar 13. Laporan yang disampaikan kepada Menteri ESDM per tanggal 8 Mei 2009 menyebutkan bahwa untuk 10 proyek yang berlokasi di Jawa. 5.007. 60 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Pemasok utama batubara untuk PLTU Suralaya. kecuali pada industri metalurgi dan briket batubara perkembangan penggunaan batubara berfluktuatif dan cenderung tetap. sedangkan sisanya dipasok dari beberapa perusahaan di Kalimantan.61% di antaranya digunakan oleh PLTU. PLTU berbahan bakar batubara. PT.540 MW (lihat Tabel 6). adanya kebijaksanaan energi nasional mengenai diversifikasi energi.75 miliar ton dan cadangan 22. antara lain dari PT. 10 PLTU di antaranya akan dibangun di Pulau Jawa dengan kapasitas 7. Untuk merealisasikan rencana tersebut. Kideco Jaya Agung. Indonesia Power memiliki 7 unit pembangkit dengan total kapasitas terpasang 3. Total kapasitas PLTU batubara yang dimiliki PLN dan Swasta saat ini sebesar 9. Hingga saat ini.885. dua di antaranya paling banyak menggunakan batubara sebagai bahan bakar utamanya adalah PLTU Suralaya dan PLTU Paiton. ada 13 PLTU. PT.460 MW dan 30 sisanya dibangun di berbagai daerah di Indonesia dengan kapasitas 2. Penggunaan batubara dalam negeri masih didominasi oleh PLTU. industri kertas.144 juta ton per tahun. Dalam upaya mengantisipasi kekurangan listrik dan untuk meningkatkan efisiensi pemakaian BBM secara nasional. Peranan PLTU pada pembangkit tenaga listrik nasional adalah yang terbesar. unit 5 dan 6 kapasitas 1. Hal tersebut sejalan dengan penambahan PLTU baru sebagai dampak permintaan listrik yang terus meningkat. Batubara yang dibutuhkan untuk 10 PLTU Sistem Kelistrikan Jawa sedikitnya 25. yaitu 54. Adaro dan PT.64.131.48%.928. serta pemanfaatan batubara untuk briket batubara.575 juta ton.031.674. dan industri lainnya. PLTU Suralaya dikelola PT.33. PLTU PLTU merupakan industri yang paling banyak menggunakan batubara sebagai bahan bakar pada boiler untuk mendidihkan air menjadi uap air.37% (Tabel 5). baik milk PLN maupun yang dikelola swasta.40 dan USD 4. dengan total kontrak mencapai Rp 17.0%. serta industri lainnya terus meningkat.000 MW yang diharapkan siap beroperasi tahun 2010. Arutmin. sedangkan batubara yang dibutuhkan untuk 30 PLTU Sistem Kelistrikan Luar Jawa sedikitnya 7. Segmen pasar yang menggunakan batubara sebagai bahan bakar meliputi PLTU. yakni unit 1 dan 2 kapasitas 800 MW yang dikelola oleh PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB). industri semen. pemerintah telah membuat rencana pembangunan sebanyak 40 PLTU dengan daya terpasang sebesar 10.470 MW dengan mengkonsumsi batubara sekitar 36. Berdasarkan data dalam kurun waktu 1998-2008.161.230 MW. Trend penggunaan batubara pada industri kertas dan tekstil.460 MW telah memasuki tahap kontrak dan tahap kontruksi. (Tabel 4).1.575 juta ton per tahun. pemerintah melalui Peraturan Pemerintah No 71 Tahun 2006 telah menunjuk PLN untuk melakukan Percepatan Pembangunan PLTU batubar 10. penggunaan batubara di PLTU untuk setiap tahunnya meningkat rata-rata 13. sebanyak 7.223. Sedangkan dari 30 proyek pembangunan PLTU di luar Jawa. Kemudian uap air tersebut digunakan untuk menggerakan turbin pembangkit listrik. Tercatat dari seluruh konsumsi batubara dalam negeri pada tahun 2008 sebesar 36. Berau Coal. dan lain-lain.279.0 juta ton per tahun. sebanyak 22 proyek dengan total kapasitas 1.981.000 MW mengalami kemajuan signifikan.168.967. industri peleburan (metalurgi). industri tekstil. kemudian diikuti oleh industri semen sebesar 14.5 juta ton per tahun. seperti PT Adaro Indonesia. yaitu 69. Selain itu. pemanfaatan batubara di dalam negeri menjadi semakin penting sejalan dengan ditemukannya cadangan batubara yang besar yang terus meningkat. Total batubara yang dibutuhkan sekitar 12.

1998 – 2008 (Ton) 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 119.345 6.827 160.911.256 21.366.334 593.575.017.165.541.003 4.000.115 2.328 26.883.787 2001 2002 2003 2004 2005 19.671.147 568.621 18.060.907 123.730 25.894 665.545.906 27.501 13.047.920 9.492.774 1.774.161 23.487.907 122.397 766.956.142.338 1998 1999 102.407.819.Berau 58.363 663.068.454.000 11.304 1.646 1.000 4.174 2007 631.034 1.916 2.302 36.965 376.310.688 23.666 PT.967 824.793.000 PLTU Ombilin Bukit Asam Tarahan Suralaya (PTIP) 7.Tabel 4.481 4.905 1.990 36.457.902.170.871 11.456.000 180.564 669.490 31.648. Newmont Sumbawa 70.000 180.000 58.800 58.000 4.153.550 2.000.227 2.095 406.263.079 417.088 4.749 3.709 PT.000.575.251.272.751 1.325 52.000.540 2.000 554.060 7.000 12.161 23.155 12.101 1.300.544.265.424.492.902.443 220.911.548 2006 27.958 36.307 600.943.120 1.824 Industri Tekstil Industi Kertas 692.137.650 623.753 9.990.609 Jumlah 15.000 664.165.619. Tonasa 300.906 5.564 1.060 61 .667 3.180.800 13.613 19.298 650.828.609.085 1.137.766 8.610 804.561 9.000 506.933 3.399 720.849.73 25.231.896.061 36.963 38.691 3.072 Asam-Asam 127.256 21.245 3.828.792.573.613 Semen 1.799 Lain-lain 2.680.411.578 506.054 23.800 36.428 282.355 5.023.708 24.000 929.800 35.368.763 2.000 300.907 35.436 568.307.2008 (diolah kembali) Tabel 5.000 1.308.976 23.819 5.800 Jumlah 10.328 26.797 39. Penggunaan batubara pada pltu di indonesia.318 (Ton) 2008 631.341 13.943.000 300.503.549 Metalurgi 144.440.193.106.514 49.802 225.600.932 2.151.123 2.000 506.202 471.192.230 9.518.341 13.895 (Ton) 2008 36.563.047.000 706.000 482.068.000 300. Freeport 646.226 134.092.000 1.643 1.200.000.636. Konsumsi batubara menurut jenis industri di Indonesia Tahun 1998 .206.506 28. Ijang Suherman Seumber :DPPMB dan hasil survei tekMIRA.267 2.731 11.666 236.782 2.589 Masa Kini dan Masa Depan Batubara Indonesia.583 28.866 299.252 Cilacap Tanjung Jati B Paiton 2.637 505.607 125. 2006.393 Briket 29.225.132 477.839 PT.104 8.000 5.054 23.333 635.547.408 374.310.248 1.717 13.318 6.992 6.057.000 929.000 Mpanau Lati .338 5.399 720.337.218 10.819.090.974 1.855 547.265 24.009 10.083 488.2008 Jenis Industri 1998 1999 2000 PLTU 10.653.080.000 58.610 480.144 31.276.717 13.692.000 12.810.430.057.144.874 2007 35.337 638.452 1.012 4.644.339.737 805.889 9.810.887 282.337.018 979.

924 179.379 179.970 50.000 2.159.Tabel 6.924 179. Balai Kerimun Baru PLTU Tarahan Baru PLTU Pontianak Baru PLTU Singkawang Baru PLTU Asam-Asam PLTU Palangkaraya PLTU Sampit Baru PLTU Amurang Baru PLTU Sulut Baru PLTU Gorontalo Baru PLTU Bone PLTU Kendari PLTU Bima PLTU Lombok Batu PLTU Ende PLTU Kupang Baru PLTU Ambon Baru PLTU Ternate PLTU Timika PLTU Jayapura NAD Sumatera Utara Sumatera Utara Sumatera Barat Bangka Belitung Bangka Belitung Bangka Belitung Bangka Belitung Riau Riau Kepulauan Riau Lampung kalimantan Barat kalimantan Barat Kalimantan Selatan Kalimantan Selatan Kalimantan Tengah Sulawesi Utara Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Timur Maluku Maluku Utara Papua Papua 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 65 100 100 100 10 10 25 15 7 5 7 100 25 50 65 65 7 25 25 25 50 10 7 25 7 15 7 7 7 10 467.501.697 179.375.379 50.848 71.379 107.091 2.515 Banten Banten Banten Jawa Barat Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Tengah Jawa Timur Jawa Timur Jawa Timur 1 2 2 2 2 1 2 2 1 2 17 300 660 300 300 300 660 300 300 600 600 1.159.379 50.182 25.091 4.024.848 467.970 71.000 MW Tahap I Nama Proyek / Lokasi Pulau Jawa 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 PLTU Labuan PLTU Suralaya Baru PLTU Teluk Naga PLTU Jabar Selatan PLTU Jabar Utara PLTU Tanjung Jati Baru PLTU Rembang PLTU Jatim Selatan.159.242 32.803 719.379 71.750.803 467.545 4.091 2.697 719.697 71.159.159.477. Pacitan PLTU Tanjung Awar-Awar PLTU Paiton Baru Jumlah Di luar Pulau Jawa 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 PLTU Meulaboh PLTU Sibolga Baru PLTU Medan Baru PLTU Sumbar Pesisir Selatan PLTU Mantung PLTU Air Anyer PLTU Bangka Baru PLTU Belitung Baru PLTU Bengkalis PLTU Selat Panjang PLTU Tj.924 107.159.985 50.000 2.970 7.318.803 50.091 2.079. Rencana pembangunan PLTU 10.955 50.379 179.955 50.697 719.379 719.924 50.379 35.091 2.273 Propinsi Kapasitas (MW) Kebutuhan Batubara (Ton) Jumlah Jumlah seluruh Sumber : Peraturan Presiden Republik Indonesia No 71 Tahun 2006 62 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .924 359.970 179.924 359.091 2.

Uap yang dihasilkan digunakan untuk proses pencelupan. PT. Kemudian disusul oleh Propinsi Jawa Tengah. PT Semen Padang 1. dan sebagainya. Uap yang dihasilkan dipergunakan untuk memasak/membuat pulp (bubur kertas). digunakan sebagai bahan bakar pada tanur putar untuk proses pembuatan klinker sebelum menjadi semen. namun pada tahun 2008 sudah bertambah menjadi 328 perusahaan. Penurunan ini sangat dipengaruhi oleh adanya penurunan produksi di beberapa perusahaan semen. perkembangan penggunaan batubara pada industri semen berfluktuasi. pemakaian batubara rata-rata naik sangat signifikan.395 juta ton. Semen Holcim 1. yaitu 7. Industri Semen Industri semen merupakan konsumen batubara kedua terbesar setelah PLTU. penerangan. Dari sisi keberadaannya.03%. dan Jawa Timur (lihat Tabel 8). sedangkan PT Semen Andalas dalam proses akhir rekontruksi setelah terkena gelombang tsunami.102 juta ton.4.2. seiring perkembangan ekonomi yang mulai membaik di dalam negeri (Tabel 7). Banten. 5. Uap yang dihasilkan digunakan untuk menggerakan turbin pembangkit listrik. Pada tahun 2008.763 juta ton. Selama sepuluh tahun terakhir ini.194 juta ton pada tahun 2008. Indocement Tunggal Perkasa. Cirebon (Propinsi Jawa Barat).48% kebutuhan batubara dalam negeri digunakan oleh industri semen atau 7. dan yang lainnya di bawah 0.150 ton pada tahun 2003 naik menjadi 4. 5 perusahaan masingmasing terdapat di Propinsi Banten. yang sebagian besar terletak di Propinsi Jawa Barat. Semen Gresik.609 juta ton. Perusahaan ini memiliki tiga pabrik di lokasi yang berbeda. Seperti diperlihatkan pada Gambar 2. Semen Tonasa 0. Indocement Tunggal Prakarsa dan PT. dan Tarjun Kabupaten Kotabaru (Propinsi Kalimantan Selatan).3.81% dan 5. Perusahaan semen yang paling banyak menggunakan batubara adalah PT.5 juta ton. yaitu sekitar 240 perusahaan (73. PT. Batubara dalam industri tekstil digunakan pada boiler untuk memasak air menjadi uap. yaitu dari 274. Ijang Suherman 63 . Industri Tekstil Industri tekstil memiliki tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap bahan bakar minyak (BBM). Industri Metalurgi Dari sisi jumlah industri metalurgi (pengecoran logam) yang telah menggunakan batubara sebagai bahan bakar pada proses produksinya dapat Masa Kini dan Masa Depan Batubara Indonesia. Listrik yang dihasilkan dimanfaatkan berbagai keperluan seperti menggerakan mesin produksi. Menurut para pengusaha.14%) dengan mengkonsumsi batubara sebesar 3. 19 perusahaan di Propinsi Jawa Timur. Semen Gresik dengan kebutuhan 1.828 juta ton. industri tekstil di Indonesia terpusat di Pulau Jawa. menunjukkan bahwa perkembangan jumlah perusahaan tekstil yang menggunakan batubara tampaknya akan terus meningkat. Pemanfaatan batubara pada industri semen. Saat ini terdapat 9 perusahaan semen yang terletak di beberapa wilayah di Indonesia. Memasuki tahun 2004 hingga tahun 2008 cenderung meningkat hanya sempat menurun pada tahun 2006. dan 2 perusahaan di Propinsi Riau.5. yaitu sebesar 2. tercatat sekitar 14.005 juta ton PT.03%. yaitu di Cibinong. kebutuhan batubara pada industri semen mengalami perubahan yang positif. 5. 5. Industri Kertas Seperti halnya pada perusahaan tekstil. batubara dalam industri kertas digunakan sebagai bahan bakar dimana energi panas yang dihasilkan digunakan untuk memasak air pada mesin uap. karena biaya bahan bakar merupakan komponen terbesar di dalam biaya produksi. sementar PT Semen Kupang produksinya tersendat serta dalam proses akuisisi oleh Perusahaan India. jumlah kebutuhan batubara untuk industri ini mencapai sekitar 2.519 juta ton. namun pada tahun 2002 dan 2003 sempat mengalami penurunan hingga 9. Beberapa industri tekstil dilengkapi oleh powerplant berbahan bakar batubara untuk memasak air menjadi uap. Tahun 2008. perubahan pola penggunaan bahan bakar ke batubara merupakan salah satu alternatif yang sangat tepat karena mampu menekan biaya pengeluaran bahan bakar walaupun harus melakukan modifikasi terhadap boiler atau mengganti boiler yang baru yang berbahan bakar batubara. Terdapat 36 perusahaan kertas yang telah menggunakan batubara. Hal ini dapat dilihat dari jumlah perusahaan tekstil pada tahun 2003 hanya 18 perusahaan saja. yaitu 64. Antara tahun 1998-2001. Jawa Barat dan Jawa Tengah.79%). (Tabel 9).36%. Kebutuhan batubaranya pun meningkat sangat signifikan. Berikutnya adalah PT.5.430 juta ton (81.

776. Semen Padang PT.638 1. Holcim-Cilacap.607 42.868 5.305 254.000 1.000 827.340 tp tp tp tp 483. Semen Kupang Jumlah (Ton) 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 33.775 88. Semen Baturaja PT.721 68.431 231. Semen Gresik PT.317 296. Indocement TP (Cirebon) PT. Semen Tonasa.026.013 464.215 262. Semen Holcim Narogong PT. 2006 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .495 659.425 1999 19.564 1.407 448.245 6.529 131.849 554.085 4.765 1.412 2.172 1.526 5.923 556.392 454.439 207.749 5.637 692.841 349.420 397.521 6.499 30. Semen Gresik.189 7. Indocement-Cirebon.262 474.283 546.301 269.430 680.908 67.762.147 130.700 14.655 80.202.829 88.583 862.324 202. Semen Tonasa PT.754 62.170.473 697.352 99.564 368. Semen Andalas PT.437.372 1. PT.679 75.180 328.850 577.370 454.515 153.441 1.436 397.179 1.082 243.141. dan PT Semen Kupang (Survei tekMIRA 2006) .950.000 185.801 545. Semen Holcim Cilacap PT.569 1.973 1.184.102.413 364. Indocement TP (Cibinong) PT.018 155.181 276.065.277 850.323 202.140 379. PT.396 547.509.860 151.743.082 243.710 359.448 103.64 Tabel 7. 2008 .085 472.345.691 3.457 375.PT.860 328.847 26.430.643 47.826 683.772 451.315 311.860 328.063.DPPMB.Asosiasi Semen Indonesia.317 296.308.233 593.950. PT.876 252.438 207. Konsumsi batubara pada industri semen 1998 – 2008 (ton) 1998 59. PT.004.510. Bosowa Cement PT.618 35.465 912.081 143.124 782.440 481. Semen Bosowa.923 1.214 678.375 416.050 168.000 2.674 166.973 133.090.153 Catatan : tp = tidak berproduksi Sumber : .029 862.357 110.248 5.060 397.975 95.523 469.868 6.157 116.833 409.415 187. Indocement (Tanjung) PT.265.023.271 Industri Semen PT.018 793.529 1.606 715.019.939 129.876 252.123 2.311 75.793 151.763 760.376 528.868 800.

518. Tahun 2008 No.430.193.887 Masa Kini dan Masa Depan Batubara Indonesia.393 292. Industri tekstil berbahan bakar batubara di Indonesia.661 46.433 47.932 Tabel 9. Ijang Suherman 65 .440 145. 1 2 3 4 5 Lokasi Banten Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Timur Riau Jumlah Jumlah Perusahaan (Buah) 5 5 5 19 2 36 Kebutuhan Batubara (Ton/Tahun) 620. menurut Provinsi. Industri kertas berbahan bakar batubara di Indonesia No.Gambar 2. 1 2 3 4 5 Lokasi Banten Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Timur Luar Jawa Jumlah Jumlah Perusahaan (Buah) 15 240 68 5 0 328 Kebutuhan Batubara (Ton/Tahun) 423.100.916 605. perkembangan perusahaan tekstil pemakai batubara di indonesia tahun 2003 – 2008 Tabel 8.479 1.406 3.700 0 4.391 2.

666 236. pemindangan ikan. termasuk beberapa jenis industri kecil.dikatakan relatif tidak bertambah. industri rumahan tertentu sebagai bahan bakar.850 ton.850 ton. Kelitbangan UBC telah sampai pada skala demo plant 1. Sedangkan potensi pemanfaatan ke depan adalah pada pengusahaan Upgraded Brown Coal (UBC). 66 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . tepung ikan. Perkembangan kebutuhan batubara oleh industri metalurgi berfluktuasi. dan lainnya. pembakaran kapur.708 24. mengingat teknologi dan peralatan yang digunakan relatif sederhana. pengembangan briket batubara diperkenalkan sejak tahun 1993. dan obat nyamuk.7. padahal dari sisi potensi masih banyak perusahaan yang belum menggunakan batubara sebagai bahan bakarnya. Namun yang paling dominan dan memasyarakat penggunaan briket batubara adalah pada peternakan ayam. Hal tersebut dapat dilihat perkembangan briket batubara selama kurun waktu 2001 – 2008 yang fluktuatif (lihat Tabel 11).802 225. 2008 (diolah kembali) *) perkiraan Di samping industri metalurgi. pemanfaatan briket batubara digunakan pada industri kecil atau 5. katering/restoran. Perkembangan penggunaan batubara pada Industri briket batubara.213 Tabel 11.393 220.730 321.226 134.530 299. pengecoran logam. kimia. Industri Lainnya Di samping industri yang disebutkan di atas.907 122. Briket Batubara Briket batubara merupakan energi alternatif atau pengganti minyak tanah dan kayu bakar yang paling murah dan dimungkinkan untuk dikembangkan secara masal. pengeringan bawang.010 36. yaitu sebagai penghangat anak ayam. antara lain industri makanan. Berdasarkan survai sampling tahun 2008.907 123. yang merupakan suatu proses untuk meningkatkan nilai kalori batubara melalui penurunan kadar air. Perkembangan penggunaan batubara pada industri metalurgi. antara lain industri makanan. pengecoran logam. pembakaran kapur. Tahun 2001 – 2008 Tahun 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 *) Pemakaian Batubara (Ton) 31.339 juta ton.976 17.990 282. kimia.265 24.6. namun hingga kini tidak dapat berkembang dengan baik. pembakaran bata.643 Sumber : DPPMB. kerupuk.018 25. termasuk beberapa jenis industri kecil.2008 Tahun 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 *) Pemakaian Batubara (Ton) 144. karet ban. tahu/tempe. seperti industri pengeringan gerabah.000 ton/hari. dan lainnya.827 183. Potensi lainnya adalah pencairan batubara. Tabel 10. di Propinsi Banten ada 33 perusahaan yang telah menggunakan batubara dengan total kebutuhan diperkirakan mencapai 342. masih banyak industri lainnya yang menggunakan batubara sebagai bahan bakar dalam mendukung proses produksinya. masih banyak industri lainnya yang menggunakan batubara sebagai bahan bakar dalam mendukung proses produksinya. Sedangkan kebutuhan batubara untuk industri lainnya secara menyeluruh (nasional) diperkirakan tidak kurang dari 1. 2008 (diolah kembali) *) perkiraan Sumber : DPPMB. Di masyarakat. namun ada trend perkembangan yang meningkat sejalan dengan tingkat produksi perusahaan (Tabel 10). seperti halnya yang telah berhasil pada industri pengeringan teh. Di Indonesia. di Propinsi Banten ada 33 perusahaan yang telah menggunakan batubara dengan total kebutuhan diperkirakan mencapai 342. pengeringan tembakau. 5.120 25. pembakaran kapur. karet ban.963 32. Selain itu potensi gasifikasi batubara untuk industri kecil menengah. Tahun 1998 . Berdasarkan survai sampling tahun 2008.

maka batubara Indonesia mempunyai prospek dimasa depan. Batubara dan Panas Bumi sudah melebihi angka 500 KP. Tetapi dengan adanya kecenderungan tersebut.620 juta ton. 10 dari Generasi II dan 21dari Generasi III). Dalam prakteknya sebagian besar dari KP yang dikeluarkan selama otonomi daerah tersebut diterbitkan oleh kabupaten. Peningkatan jumlah konsumsi yang sangat tajam yang disebabkan meningkat tajamnya permintaan batubara sebagai sumber energi terutama untuk pembangkit listrik. atau meningkat rata-rata per tahun 17. Meningkatnya permintaan China dan India di masa datang akan menambah tingginya kecenderungan permintaan ekspor. Jika diasumsikan pertumbuhan produksi tetap tinggi. dan adanya kebijakan-kebijakan yang terkait. sedangkan yang dikeluarkan menteri harus yang berbataskan sedikitnya 2 propinsi. Hal ini diperlukan untuk mengutamakan jaminan pasokan dalam negeri serta perkembangan tingkat produksi yang mengacu pada konsep konservasi. adanya peluang sekaligus tantang.04%. Hal ini dapat dimengerti karena untuk perizinan KP yang dikeluarkan oleh propinsi harus yang berbatasan antara sedikitnya 2 kabupaten. ke depan perlu mencermatinya untuk melakukan pengendalian atau pembatasan ekspor. sebaliknya peran batubara dan gas akan semakin besar. khususnya pembangkit listrik di Indonesia maupun industri lain di berbagai belahan dunia. sedangkan yang telah berproduksi 129 KP. Saat ini alternatif yang sedang dijajagi adalah menerapkan teknologi Sasol. 3. Perkembangan Penggunaan di Dalam Negeri Peran batubara sebagai energi akan semakin besar pada berbagai industri. terlihat dari tingginya tingkat pertumbuhan ekspor Indonesia yang mencapai 15. Sedangkan jumlah Kuasa Pertambangan (KP) yang dikeluarkan di daerah yang terinventarisasi di Direktorat Jenderal Mineral. gubernur atau menteri sesuai dengan kewenangannya. Ijang Suherman 67 . proyeksi ekspor batubara tanpa adanya pembatasan. apabila sejalan dengan itu jumlah perusahaan pertambangan batubara di Indonesia pun tumbuh pesat khususnya dalam beberapa tahun terakhir. padahal kebijakan ekspor memproyeksikan sekitar 150 – 236 jua ton. dan perlu bernegosiasi lanjutan.8%. Berkembangnya KP tersebut terjadi pada era otonomi daerah. MASA DEPAN BATUBARA INDONESIA Menyimak berbagai keberhasilan kinerja pertambangan batubara di Indonesia dimasa lalu hingga masa kini. jauh di atas rata-rata dunia.Sebelumnya telah melakukan upaya pengembangan teknologi BCL. khususnya sejak tahun 2001 ketika dikeluarkannya PP 75 tahun 2001. Belum adanya keseimbangan antara permintaan dan pemasokan batubara pada tataran dunia. Peningkatan produksi yang pesat didorong oleh meningkat tajamnya permintaan ekspor dan permintaan dalam negeri. yang berdasarkan aturan tersebut diberikan oleh bupati. maka pada tahun 2025 dapat mencapai 742 juta ton. Diperkirakan di masa-masa mendatang peran minyak akan semakin berkurang. Lagi-lagi. Tidak mengherankan Masa Kini dan Masa Depan Batubara Indonesia. namun APBI sejalan dengan kebijakan pemerintah telah memproyesikan yang cukup wajar sebesar 471 juta ton. yang terdiri dari 40 perusahaan PKP2B sudah produksi (9 dari Generasi I. baik di dalam negeri maupun di negara-negara importir. 15 status konstruksi. namun belum ada kesepakatan yang mengikat. dari 15. Perkembangan Ekspor Saat ini pasar ekspor terbesar Indonesia adalah Jepang. di samping China dan India yang merupakan buyer baru bagi Indonesia. Kriteria ini sangat jarang ditemui di lapangan. Perkembangan Produksi Selama 16 tahun terakhir (1992-2008) produksi batubara Indonesia telah meningkat hampir 15 kali lipat.935 juta juta ton menjadi 233.51%. Pelaku Usaha Pertambangan Sampai dengan tahun 2008 perusahaan penambangan batubara di Indonesia dengan status PKP2B aktif berjumlah 76 perusahaan. 16 status studi kelayakan. Korea Selatan dan Taiwan. Pada satu sisi.3 juta ton. 6. hal tersebut merupakan peluang Indonesia untuk meningkatkan pangsa pasar ekspor. potensi sumberdaya dan cadangan yang besar. baik sengaja atau tidak sengaja. yaitu ketika penegasan tentang pemberian Kuasa Pertambangan (KP) dilakukan oleh Pemerintah Daerah. dan 5 status eksplorasi. karena belum terbukti (unprovent) terjadi kemandegan. pada tahun 2025 akan mencapai 509.

maka tetap juga harus dijaga dan dijamin ketersediaannya dalam memenuhi kebutuhan akan energi di dalam negeri selama dan seekonomis mungkin. Coal. Jawa Tengah. Keadaan ini terlihat dengan meningkatnya pemanfaatan batubara di berbagai pusat pembangkit listrik. Di samping itu mengenai perijinan pertambangan batubara hanya satu pola.4%.1% dan Coal Bed Methane (CBM) 3. pengelolaannya perlu dilaksanakan melalui kebijakan yang terpadu dan sinergi dengan sektor-sektor pembangunan lainnya. Hal ini telah diproyeksikan sebagaimana termuat pada Blueprint Pengelolaan Energi Nasional 2010-2025. 2008.5 juta ton. Pasar global telah dapat pula diterobos dan menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara pengekspor batubara uap terbesar di dunia. industri kimia. 68 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Oleh karena itu. diperkirakan konsumsi batubara Indonesia akan mencapai 90 juta ton atau meningkat hampir dua kali lipat dibanding tahun 2006. and Geothermal Statistics 2008.9 juta ton. 2006. Jumlah tersebut terdistribusi pada PLTU sebesar 69.1 juta ton. Penyusunan “blueprint” merupakan tindak lanjut Peraturan Presiden (Perpres) No 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional yang mengamanatkan Menteri ESDM menetapkan cetak biru tersebut. Jawa Barat. Daftar Industri yang Menggunakan Boiler Berbahan Bakar Batubara. Jawa Barat dan Jawa Tengah. Distamben Provinsi Jawa Tengah. Indonesia Mineral. 2006. pabrik kertas. Sedangkan di bagian hilirnya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari KEN. pengelolaan lingkungan. dan pengembangan masyarakat (community development). industri semen 8. di luar peranan Bahan Bakar Batubara Cair (BBBC) sebesar 3. yaitu untuk menjamin pengadaan energi nasional yang dapat diandalkan tanpa mengabaikan prinsip pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Di samping peranan batubara yang cukup besar. PENUTUP Sektor pertambangan batubara sampai saat ini telah berhasil dalam menunjang Kebijakan Energi Nasional. Dinas Tenaga Kerja Propinsi Banten. 2008. Dengan adanya kebikan-kebijakan tersebut tentunya diharapkan akan dihasilkan pelaku pertambangan yang andal di bagian hulu (pertambangan batubara) dengan melakukan good mining practices. Kebijakan Pemerintah baru saja menerbitkan “Blueprint” Pengelolaan Energi Nasional (BP PEN) 2010-2025 merupakan re-evaluasi BP PEN 2005-2025. dengan visi berupa terjaminnya energi dengan harga wajar untuk kepentingan nasional. Data Pemakaian Batubara Sebagai Sumber Energi. Semua ini merupakan modal dasar bagi industri batubara Indonesia untuk terus berkembang dalam menunjang keberhasilan pengembangan energi nasional maupun global.5 juta ton. Direktorat Pengusahaan Pertambangan Mineral.Ketika semua proyek Percepatan pembangunan PLTU 10.000 MW telah beroperasi yang ditargetkan pada tahun 2010.3%. Batubara. 2008. industri tekstil 4. dan kemudian diberikan prioritas untuk mendapatkan IUP. Asosiasi Semen Indonesia (ASI). Data Pemakaian Batubara Dan Boiler Tahun 2007. mengisyaratkan pemerintah dapat mengoptimalkan pengelolaan batubara antara lain pengendalian produksi dan ekspor serta jaminan pasokan dalam negeri melalui Domestic Obligation Market (DMO) dan Penetapan Harga Batubara Nasional. yaitu dalam bentuk Ijin Usaha Pertambangan (IUP). pabrik semen. dan Panas Bumi. Diperkirakan pada tahun 2025 konsumsi batubara dalam negeri mencapai 236 juta ton. DAFTAR PUSTAKA Asosiasi Pertekstilan Indonesia. 6. yang menargetkan peranan batubara pada bauran energi nasional sebesar 34. dan industri kecil. Jakarta.0 juta dan industri lainnya sekitar 4. industri kertas 3. Balai Pengelolaan Pertambangan dan Energi Wilayah. Indonesia Cement Statistic 2005. Adapun PKP2B termasuk KP yang ada tetap dihormati sampai ijinnya berakhir. yang akan menjadi dasar penyusunan pola pengembangan dan pemanfaatan energi secara nasional hingga 2025. Di sisi lain dengan telah disyahkannya UndangUndang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.

71. 2008. 5. PLN untuk Melakukan Percepatan Pembangunan PLTU yang menggunakan batubara. Tahun 2006 Tentang Penugasan kepada PT. 2006. Blueprint Pengelolaan Energi Nasional 2010-2025. dkk. Tahun 2006 Tentang Kebijakan Energi Nasional. Kajian Batubara Nasional 2006. Masa Kini dan Masa Depan Batubara Indonesia. Puslitbang Teknologi dan Batubara (tekMIRA). Menteri ESDM. Peraturan Presiden Republik Indonesia No. Peraturan Presiden Republik Indonesia No.Presiden Republik Indonesia. Perkembangan Produksi Listrik dan Kebutuhan Bahan Bakar Batubara. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. ____________. 2009. Suherman I. ____________.. Ijang Suherman 69 . Unit Bisnis Pembangkitan Suralaya..

Kata kunci : keruntuhan atap. 022 . The result of a calibration in a studio and running test in one of the underground coal mine could be known that the monitoring tools and the system which applied can be used as a centralized monitoring system with a significant result.6003373 e-mail : zulfahmi@tekmira. potensio.go. where all of the monitoring equipment and data recording process can operated from one place as a central.esdm.go. Hasniati Astika 2).PENGEMBANGAN SISTEM DAN ALAT PEMANTAUAN SEDERHANA UNTUK MENDETEKSI KERUNTUHAN BATUAN ATAP (ROOF FAILURE) PADA TAMBANG BAWAH TANAH Zulfahmi 1). lvdt.esdm.esdm. lvdt. Dari hasil kalibrasi di studio dan ujicoba di salah satu tambang batubara bawah tanah. Keywords: roof failure.go.id. alat dan system yang diterapkan terbukti dapat digunakan sebagai sistem pemantauan terpusat dengan hasil yang signifikan. tambang bawah tanah ABSTRACT Roof failure is one of the main causes injuries that happened in the underground mine.6030483 Fax. Monitoring system that developed consists of monitoring tools. datalogger sebagai perekam dan penyimpan data serta CPU komputer untuk pengolahan data. yaitu pengembangan alat pemantauan menggunakan Potensiometer transducer yang dapat mendeteksi pergerakan pada beberapa lapisan batuan atap dan pengembangan alat pemantauan menggunakan Linear Variable Differential Transducer (LVDT) yang hanya dapat mendeteksi pergerakan pada permukaan batuan atap saja. dimana semua alat pemantauan dan proses perekaman data dapat dioperasikan dari satu tempat sebagai sentral. didit@tekmira. Supriatna Mujahidin 3) 1) Peneliti Madya 2) Peneliti Pertama 3) Teknisi Litkayasa Penyelia Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. potentiometer. hasni@tekmira.id SARI Keruntuhan batuan atap (Roof Failure) merupakan salah satu penyebab utama terjadinya kecelakaan pada tambang bawah tanah. there was a development of monitoring tools using Potentiometer Transducer that can detect movement in some rock layers of the roof and Linear Variable Differential Transducer (LVDT) that can detect movement on the surface rock of the roof only. Sistem pemantauan yang digunakan terdiri dari alat pemantauan. Two type of monitoring tools have been designed. data logger for record and storage tool and a computer for data processing. Terdapat dua macam alat pemantauan yang dirancang.id. Sudirman 623 Bandung 40211 Telp. 022 . underground mine 70 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Jend.

dkk. Dari data tersebut. Teknologi pengawasan secara dini sangat diperlukan.. Zulfahmi. 82% dari total kecelakaan pada tambang bawah tanah terjadi pada tambang batubara.1. 71 .msha. Metodologi penelitian pengembangan alat pemantauan sederhana untuk mendeteksi pergerakan batuan atap pada tambang bawah tanah Pengembangan Sistem dan Alat Pemantau Sederhana untuk Mendeteksi . Selanjutnya dilakukan perancangan sampai didapatkan sistem dan peralatan yang layak digunakan dengan melakukan kalibrasi dan juga ujicoba.. dengan tujuan utama untuk melakukan pengawasan dan mengetahui sedini mungkin kondisi tidak aman pada suatu lokasi tambang agar dapat ditanggulangi sebelumnya. Diperoleh baik dari hasil studi pustaka maupun hasil penelusuran pada cybernet untuk mendapatkan metoda dan dasar yang akan digunakan dalam perancangan sistem dan peralatan pemantauan. LATAR BELAKANG Berdasarkan data yang diperoleh dari www. STUDI PUSTAKA/ CYBERNET Kajian teoritis tentang perkembangan sistem pemantauan & konsep sistem peringatan dini Dasar-dasar teori mengenai keruntuhan atap (roof failure) Konsep & Aplikasi peralatan PENENTUAN SISTEM & ALAT PEMANTAUAN PERANCANGAN & MODIFIKASI ALAT PERBAIKAN ALAT/PERUBAHAN SISTEM KALIBRASI UJICOBA ALAT & RUNNING TEST EVALUASI HASIL UJICOBA SESUAI STANDARD Ya Tidak ALAT PEMANTAUAN KERUNTUHAN ATAP Gambar 1. Salahsatunya dengan merancang alat pemantauan sederhana dengan menggunakan peralatan yang mudah didapatkan di Indonesia. keruntuhan batuan atap merupakan salah satu penyebab terbesar terjadinya kecelakaan pada tambang bawah tanah. 2. 24. METODA PENELITIAN Metode penelitian yang diterapkan dalam kegiatan ini lebih mengarah kepada kajian terhadap perkembangan peralatan pemantauan keruntuhan batuan atap pada tambang bawah tanah.50% diantaranya diakibatkan oleh keruntuhan atap selain yang disebabkan oleh ledakan gas dan debu tambang dan juga kecelakaan pada pengangkutan (mine haulage).gov dari tahun 2003 sampai dengan 2007.

2004). Perancangan Alat Pemantauan Keruntuhan Atap Peralatan pemantauan keruntuhan batuan atap yang dirancang merupakan pengembangan dari peralatan pemantauan sebelumnya. Pada saat posisi nol berarti tidak ada medan magnet dalam kedua kumparan sekunder oleh karena tidak ada pergerakan pada probe. pengolahan data dilakukan dengan menggunakan aplikasi microsoft excel untuk selanjutnya dibuat grafik pergerakan batuan yang terjadi. yaitu LVDT dan Potensiometer. Alat pemantauan yang dirancang terdiri dari 2 macam. Ketidakseimbangan pada medan magnet menyebabkan perubahan keluaran voltase yang sebanding dengan perubahan jarak dan arah dari pergerakan tersebut. (a) Prinsip kerja LVDT (b) LVDT RDP DCTH400AG 72 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Linear Variable Differential Transformer (LVDT) merupakan salah satu jenis sensor yang digunakan untuk mengukur perubahan jarak. Skema pemantauan keruntuhan atap Sebagai pembaca dan penyimpan data yang digunakan pada sistem pemantauan keruntuhan atap ini digunakan Datataker DT800. (a) (b) Gambar 3. HASIL DAN PEMBAHASAN Perancangan Sistem Pemantauan Keruntuhan Atap Sistem Pemantauan keruntuhan atap yang dirancang terdiri dari alat pemantauan. Data yang tersimpan dalam datalogger masih merupakan data mentah untuk selanjutnya diolah pada perangkat komputer. Datataker DT800 merupakan instrumen penerima dan penyimpan data yang dapat mengukur dan merekam data dengan beragam dan dalam jumlah yang banyak serta dapat diprogram dengan menggunakan perintah kerja yang sangat mudah (Anonym. Untuk menghubungkan setiap unit dari sistem tersebut digunakan sistem kabel. LVDT mempunyai resolusi yang tinggi (Cheekiralla. LVDT terdiri dari satu kumparan magnetik primer dan dua kumparan magnetik sekunder dan satu inti magnetik (Gambar 3(a)). Alat pemantauan yang telah terpasang pada batuan atap terhubung dengan datalogger sebagai pembaca dan penyimpan data. datalogger dan CPU komputer. Skema monitoring dapat dilihat pada gambar 2. 2001-2004). Gambar 2. Selain merupakan instrumen yang kuat. Ketika kumparan magnet tidak dalam posisi nol (terjadi pergerakan pada probe) akan ada ketidakseimbangan medan magnet dari kedua kumparan sekunder.3. Kelebihan dari LVDT sebagai sensor jarak adalah tidak adanya kontak fisik pada unsur sensor sehingga lebih kuat dan tahan lama dibandingkan dengan sensor-sensor lain.

Selain itu kalibrasi juga bertujuan untuk melakukan ujicoba alat dan sistem pemantauan. yaitu dengan melihat pergeseran pada pada indikator yang terdapat pada alat pemantauan (Mark and Iannacchione. sedangkan pada alat monitoring ini pergerakan dapat dibaca dengan menghubungkan alat pemantauan dengan datalogger. sehingga terjadi perubahan tegangan yang dapat terukur. pergerakan pada batuan atap menggerakan probe pada LVDT dan menyebabkan perubahan tegangan (voltase) pada alat monitoring. dengan persamaan garis linier yang digunakan sebagai rumus untuk memperoleh data pergerakan (a) (b) Gambar 4.. Kalibrasi Sistem dan Alat Pemantauan Keruntuhan Atap Kalibrasi dilakukan untuk mendapatkan hubungan antara perubahan tegangan (Volt) pada alat LVDT dan perubahan tahanan (Ohm) pada Potensiometer terhadap perubahan jarak yang dikondisikan pada masing-masing alat pemantauan. alat pemantauan ditempatkan tepat di bawah atap batuan. Alat pemantauan keruntuhan atap (a) LVDT (b) Potensio Prinsip kerja alat ini sebagai alat pemantauan pergerakan batuan adalah dengan menempatkan 4 buah jangkar yang masing-masing terhubung dengan Potensiometer pada berbagai ketinggian lapisan batuan atap yang akan diamati pergerakannya. dimana jangkar nantinya akan ditempatkan pada lapisan batuan yang diamati pergerakannya.. serta untuk mengetahui performa sistem dan alat yang telah dirancang. Pulley terhubung dengan jangkar menggunakan kawat baja. dimana masingmasing potensiometer tersebut terhubung dengan pulley. Dari hasil kalibrasi diperoleh grafik hubungan antara pergerakan (mm) terhadap perubahan tegangan (Volt) pada alat pemantauan LVDT (Gambar 5) sedangkan grafik hubungan antara pergerakan (mm) terhadap perubahan tahanan (Ohm) pada alat pemantauan Potensio dapat dilihat pada (Gambar 6). Kecenderungan dari titik-titik pergerakan hasil kalibrasi dari masing-masing alat pemantauan menunjukkan garis yang linier. Untuk mengukur pergerakan atap. Sensor LVDT dilapisi dengan pipa PVC agar aman dan terlindungi (Gambar 4. 2001). Sedangkan untuk alat pemantauan potensio digunakan 4 buah potensiometer. komponen-komponen tersebut ditempatkan pada suatu box yang aman dan terlindungi (Gambar 4(b)). dkk. Pengembangan Sistem dan Alat Pemantau Sederhana untuk Mendeteksi . Zulfahmi. 73 . Alat yang dirancang mempunyai prinsip kerja yang atap hasil pemantauan dalam satuan mm.LVDT yang digunakan pada kegiatan ini adalah keluaran RDP dengan type DCTH400AG (Gambar 3 (b)). Pada telltale pembacaan pergerakan yang terjadi dilakukan secara manual. sama dengan telltale. Perubahan tegangan tersebut dikalibrasikan dengan perubahan jarak (pergerakan) yang terjadi. Kisaran jarak pergerakan yang bisa terukur oleh alat ini sebesar 22 mm. Perubahan voltase tersebut dapat dikonversikan terhadap perubahan jarak yang terjadi. Pergerakan pada batuan atap memutar pulley yang terhubung dengan Potensiometer.(a)).

073 R2 0. Persamaan regresi linier untuk masing-masing alat pemantauan keruntuhan atap hasil kalibrasi No 1.LVDT 30 27 24 21 18 15 12 9 6 3 0 -400 -3 0 400 800 1200 1600 2000 2400 2800 3200 3600 Pergerakan (mm) y = -0.0.0076x + 24.103x + 0.064 Y = 1. 5.9980 74 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .9797 Tegangan (Volt) Gambar 5.102x + 0.019 R2 = 0.9980 0.101x + 0. Grafik hasil kalibrasi LVDT Gambar 6.9980 0.0076x + 24. Alat Monitoring LVDT Potensiometer 1 Potensiometer 2 Potensiometer 3 Potensiometer 4 Persamaan Regresi Linier Y = .437 Y = 1. 4.9797 0.100x + 0.019 Y = 1.406 Y = 1. Grafik hasil kalibrasi potensio Tabel 1.9999 0. 3. 2.

Dari grafik diperoleh persamaan garis linier dan juga nilai R 2 untuk masing-masing alat Pemantauan (Tabel 1). sedangkan alat pemantauan Potensio ditanamkan pada batuan atap. 75 . dkk. setiap data yang direkam disimpan pada memori yang terdapat pada datalogger. alat dihubungkan dengan sistem yang telah dirancang sebelumnya. Nilai R 2 hasil kalibrasi masing-masing alat menunjukkan nilai yang mendekati 1. Untuk mengetahui performa dari peralatan dan sistem yang telah di rancang. ujicoba dilakukan pada salah satu tambang bawah tanah yang ada di Sumatera Barat.9980 sampai dengan 0. (a) Pemasangan alat pemantauan (b) Komponen peralatan dalam pannel box Pengembangan Sistem dan Alat Pemantau Sederhana untuk Mendeteksi . Semua perangkat tersebut ditempatkan dalam pannel box yang tertutup dan aman.9999 untuk Potensiometer. ujicoba sistem dan alat pemantauan juga dilakukan pada tambang bawah tanah yang merupakan kegiatan penerapan dan running test di lapangan.. Sistem pemantauan terdiri dari datalogger sebagai pembaca dan penyimpan data. (a) (b) Gambar 7. yang berarti bahwa hasil pembacaan pada kedua alat tersebut mendekati besarnya pergerakan yang mungkin terjadi. Setelah semua alat pemantauan terpasang dengan baik. terlebih dahulu dibuat lubang bor dengan kedalaman yang sesuai dengan kedalaman lapisan batuan atap yang akan diukur pergerakannya (Gambar 7(b)).9797 untuk LVDT dan 0. Alat pemantauan LVDT ditempatkan tepat dibawah permukaan batuan atap (Gambar 7 (a)). LVDT (b) Potensio (a) (b) Gambar 8. Pannel box ditempatkan dekat dengan lokasi penempatan alat pemantauan (Gambar 8 (b)). Nilai tersebut menunjukkan nilai variabel bebas pada persamaan regresi linier yang diperoleh telah dapat menjelaskan hampir 100% dari nilai hasil pengukuran oleh setiap alat pemantauan.. Ujicoba Sistem dan Alat Pemantauan Keruntuhan Atap Selain kalibrasi. Untuk pemasangan alat pemantauan Potensio. Penempatan alat pemantauan keruntuhan atap (a). Zulfahmi. yaitu 0. Masing-masing alat pemantauan ditempatkan pada lokasi yang berbeda.

kemudian dibuat grafik pergerakan batuan (mm) terhadap waktu.Evaluasi Hasil Ujicoba Running test alat di tambang bawah tanah dilakukan secara terus menerus selama 18 hari dengan proses perekaman data setiap 110 detik yang disesuaikan dengan kapasitas memori dari datalogger. LVD T 0.6 -0.001 mm -0.2 0 -0. Grafik hasil pemantauan dapat dilihat pada Gambar 9 dan Gambar 10. Hasil pemantauan keruntuhan atap menggunakan LVDT Gambar 10.8 -1 -1. Data yang terekam di konversikan dengan mengunakan rumus regresi linier dari masing-masing alat pemantauan. detik LVD 1 T LVD 2 T 0 200000 400000 600000 800000 1000000 1200000 1400000 1600000 Gambar 9.4 -0.2 Pergerakan. 0. Hasil pemantauan keruntuhan atap menggunakan potensio 76 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .6 W aktu.2 -1.4 -1.

Massachusetts Institute of Technology.. S. Australia.. 2004. Saran Perlu dilakukan pengembangan terhadap casing dari alat yang digunakan. semua alat pemantauan dioperasikan dari satu tempat begitu pula data yang diperoleh dari setiap alat dapat terbaca dan tersimpan dalam satu tempat sebagai Pengembangan Sistem dan Alat Pemantau Sederhana untuk Mendeteksi . 2001-2004. dkk. Alat pemantauan dioperasikan dari satu tempat begitu pula data yang diperoleh dari setiap alat pemantauan dapat terbaca dan tersimpan dalam satu tempat sebagai sentral. Development of Wireless Sensor Unit for Tunnel Monitoring. DAFTAR PUSTAKA http://www. Paper in the Proceedings of the 20th International Conference on Ground Control in Mining 2001.Injuries and Fatalities from Rock Falls. Dengan kata lain alat yang telah diujicoba layak dimanfaatkan untuk memantau pergerakan batuan atap pada tambang bawah tanah. sehingga aman untuk digunakan di tambang bawah tanah. Hal tersebut disebabkan oleh adanya gangguan (noise) yang dapat dipengaruhi oleh kondisi sekitar dan sensitifitas dari alat pemantauan. Iannacchione A. Semua alat tersebut terhubung dalam satu sistem sebagai sistem pemantauan terpusat.mit. PA.pdf. Secara umum kajian yang telah dilakukan menujukkan nilai yang signifikan.. Dari grafik pergerakan batuan pada setiap alat pemantauan. UM-0068-A2. Kesimpulan Teknologi pemantauan keruntuhan atap batuan pada tambang bawah tanah dengan menggunakan LVDT Tranduser dan Potensiometer dapat digunakan untuk mendeteksi pergerakan yang terjadi pada atap terowongan sebagai peralatan pemantauan keruntuhan atap batuan (roof failure) tambang bawah tanah. Best Practice to Mitigate. Setiap alat yang diujicoba dapat mendeteksi adanya pergerakan lapisan batuan atap pada tempat diterapkannya alat. Hal tersebut juga menunjukkan sistem yang diterapkan terbukti dapat digunakan sebagai sistem pemantauan keruntuhan batuan atap secara terpusat.gov/stats/charts/ chartshome. Anonym.pdf. Zulfahmi.htm. Sistem yang dirancang merupakan sistem pemantauan terpusat. KESIMPULAN DAN SARAN 4.2. 4. www..T. dapat dilihat bahwa kurva yang diperoleh bergerigi. Cheekiralla. 2001. 4. Mark C.gov/niosh/mining/pubs/pdfs/ bptmi. web.Semua alat pemantauan telah diujicoba dan dapat bekerja dengan baik.1. NIOSH. terutama pada kurva hasil monitoring dengan menggunakan Potensiometer.edu/ sivaram/www/Sivaram-MS-thesis. 2008. sentral. Datataker Pty Ltd. pemantauan dapat dilakukan pada beberapa tempat dengan berbagai macam alat pemantauan dalam satu sistem.. dataTaker DT800 User’s Manual.msha. Diperlukan kajian lebih lanjut sehingga diperoleh sistem monitoring yang dapat digunakan sebagai sistem peringatan dini dan data pergerakan secara real time. 77 .cdc. Pittsburgh.

Dengan tingkat penurunan sebesar 74%. The result showed that the concentration COD was decrease 74% at time condition 90 minutes and 2.id SARI Karbon aktif pada industri gula umumnya digunakan sebagai bahan pemudar warna.0 gram. activated carbon used in waste processing is made from coconut shell. 7.PEMANFAATAN KARBON AKTIF DARI BATUBARA PADA PENGOLAHAN LIMBAH CAIR INDUSTRI GULA Ika Monika dan Nining Sudini Ningrum Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jalan Jenderal Sudirman No. maka karbon aktif dari batubara juga dapat digunakan.5. waste processing 78 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . The variables of weights activated carbon are 2.623 Bandung 40211 Tlp. Nowadays. adsorpsi. Keywords : activated carbon.0. 022-6030483. Kata kunci : karbon aktif. 7.5 gram dan waktu proses selama 90 menit. Karbon aktif yang digunakan dibuat dari batubara Air Laya Sumatera Selatan yang berukuran 12 mm dengan bilangan yodium berkisar antara 600 dan 700 mg/g. Selama ini.5 gram of activated carbon.0. Liquid waste produced from sugar industry consists of many Chemical Oxygen Demand (COD). Percobaan dilakukan dengan variabel jumlah karbon aktif dan waktu proses. However. Limbah cair yang dihasilkan dari pabrik gula memiliki kandungan COD (Chemical Oxygen Demand) yang cukup tinggi. COD ABSTRACT Commonly. dalam pengolahan limbah cair dari pabrik gula. 60. karbon aktif yang digunakan dalam proses tersebut adalah karbon aktif yang dibuat dari tempurung kelapa. dengan jumlah karbon aktif 2. it can be used as absorber of waste sugar industry. Coal from Air Laya.5 dan 10. dan 90 menit. In order to decrease COD. 022-6003373 e-mail : ika@tekmira. 5. 60 and 90 minutes.5. Variabel jumlah karbon aktif yang digunakan adalah 2. activated carbon is used as fader in sugar industries.0. Namun sebenarnya karbon aktif juga dapat digunakan dalam proses pengolahan limbah cair yang dikeluarkan dari pabrik gula dan laboratorium analisis kimia di pabrik gula. Untuk menurunkan kandungan COD dalam limbah tersebut. telah dicoba dengan menggunakan karbon aktif yang dibuat dari batubara.esdm.go. The iodine number of activated carbon is in the range of 600 to 700 mg/g. Namun pada dasarnya. it has been tried to use activated carbon from coal as absorber. mengingat sifat karbon aktif batubara yang menyerupai sifat karbon aktif tempurung kelapa. The research is carried out using the variables of activated carbon weight and the length of process time. pengolahan limbah. South Sumatra which is 12 mm in particle size was used as raw material of activated carbon. konsentrasi COD tersebut belum memenuhi persyaratan kualitas limbah cair yang memiliki ambang batas maksimal 300 mg/l.5 and 10. 5. Hasil percobaan menunjukkan. konsentrasi COD yang semula sebesar 2355 mg/l turun menjadi 609 mg/l. sedangkan waktu proses adalah 30. with the 30. Faks. adsorption.

berbagai teknologi pengolahan limbah baik limbah cair.1. padat dan gas terus dikembangkan. dilakukan penelitian pemanfaatan karbon aktif dari batubara. (2) mikrotransport. Di Indonesia. atau cairan dengan padatan. 2009). Salah satu bahan yang digunakan dalam proses pengolahan air adalah karbon aktif. warna dan rasa. dilakukan dengan menambahkan bahanbahan kimia tertentu antara lain menggunakan PAC (Poly Alumunium Chloride). Teknologi Pengolahan Air Salah satu cara pengolahan air yang saat ini sedang berkembang adalah melalui mekanisme adsorpsi. terjadi karena gaya elektrostatis. PENDAHULUAN Seiring dengan perkembangan dan permasalahan lingkungan. perpindahan zat pencemar (adsorbat) di dalam air menuju permukaan adsorban. pelekatan zat adsorbat ke dinding poripori atau jaringan pembuluh kapiler mikroskopis. yang dapat berfungsi sebagai koagulan. mempunyai konsentrasi COD 1000 mg/gr dapat meningkatkan jumlah bakteri E-coli empat kali lipat (PERSI. Proses adsorpsi terbagi dalam tiga jenis. adsorpsi fisika. TINJAUAN PUSTAKA COD adalah jumlah oksigen (mg O 2 ) yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat-zat organik dan anorganik yang ada dalam 1 liter air (Nazir. Limbah cair yang dikeluarkan Instalasi Penjernihan Air (IPA) di daerah Karangpilang. Terdapat dua cara utama pengolahan yaitu secara kimia dan fisik. Kedua. fenomena pemanfaatan karbon aktif dari batubara masih menjadi sesuatu yang tidak lazim. 2000). Adsorpsi jenis ini eksoterm (mengeluarkan panas) dan tidak dapat berbalik kembali (irreversible). Namun sebenarnya karbon aktif dari batubara juga dapat digunakan dalam proses tersebut. Pengolahan air secara fisik bertujuan untuk mengurangi atau menghilangkan kotoran-kotoran yang kasar. Tujuan penelitian adalah untuk meningkatkan kualitas air yang dikeluarkan dari limbah pabrik gula dan mengurangi ketergantungan karbon aktif yang dibuat dari tempurung kelapa. Saat ini teknologi yang kian berkembang pesat adalah pengolahan air. 2. meskipun di negara lain seperti di China jenis karbon aktif ini sudah banyak digunakan oleh masyarakat. 2. Hal ini menimbulkan berbagai penyakit bagi kehidupan manusia. Umumnya proses aktivasi dilakukan dengan menggunakan uap air. yang disebabkan oleh limbah organik. Hasil penelitian merupakan acuan untuk pemanfaatan karbon aktif batubara pada industri gula. Di Indonesia. Karbon aktif dengan luas permukaan yang semakin luas menunjukkan semakin tinggi daya adsorpsinya. tawas.. Pengolahan air secara kimia. Limbah yang dihasilkan adalah limbah cair yang berasal dari proses pengolahan gula dan laboratorium pabrik (Santoso. Ketiga mekanisme adsorpsi tersebut terdiri atas tiga tahap yaitu .1.2. juga sebagai bahan untuk pemurnian. COD merupakan salah satu parameter indikator pencemar di dalam air. Karbon aktif umumnya digunakan selain sebagai penjernih. Proses untuk memperoleh daya adsorpsi tinggi dilakukan melalui proses aktivasi terhadap arang. gula. dalam waktu tertentu (Cahyana. bahan baku tebu merupakan bahan yang terdiri atas komposisi kimia organik. baik cairan dengan cairan. Proses aktivasi akan memperbesar luas permukaan dan volume 2. 2008). penghilang bau. 2001). Dalam proses pembuatan Pemanfaatan Karbon Aktif dari Batubara pada Pengolahan .. Dampak konsentrasi COD tinggi menyebabkan kandungan oksigen yang terlarut di dalam air menjadi rendah. (3) sorpsi . baik air baku maupun air limbah. Berdasarkan kondisi tersebut. cairan dengan gas. pemisahan lumpur dan pasir serta mengurangi zat-zat organik dalam air yang akan diolah. Pertama. (1) makrotransport . sehingga mahluk air menjadi mati. karena selain murah juga relatif mudah. Karbon Aktif dari Batubara Salah satu adsorban yang biasa digunakan dalam pengolahan air (termasuk limbah) adalah karbon aktif. bahkan habis sama sekali. kapur ataupun bahan-bahan kimia lainnya. penetralisir ataupun sebagai desinfektan. terjadi karena gaya tarik molekul oleh gaya Van Der Waals dan yang ketiga pertukaran ion. perpindahan adsorbat menuju pori-pori di dalam adsorban. Salah satu yang menjadi objek penelitian adalah penurunan kadar COD (Chemical Oxygen Demand) dalam limbah cair yang dihasilkan dari salah satu pabrik gula yang ada di wilayah provinsi Banten. adsorpsi kimia yaitu terjadi karena ikatan kimia antara molekul zat terlarut (adsorbat) dengan molekul adsorban. Adsorpsi adalah suatu proses pengumpulan zat terlarut pada suatu permukaan media akibat adanya perbedaan muatan diantara kedua zat. Akibatnya oksigen yang menjadi sumber kehidupan mahluk air (hewan dan tumbuhan) tidak dapat terpenuhi. Ika Monika dan Nining Sudini Ningrum 79 . karbon aktif yang digunakan pada pengolahan air umumnya karbon aktif yang dibuat dari tempurung kelapa.

jenis zat adsorbat dan temperatur pada saat proses berlangsung. 5. rasa. 3. Campuran tersebut kemudian diaduk setiap 10 menit selama masing-masing 30. Selanjutnya. Bentuk karbon aktif dapat diklasifikasikan menjadi dua golongan yaitu bentuk granular dan powder (Activated Carbon. Karbon aktif granular memiliki persentase makropori dan transportpori yang lebih besar sehingga memungkinkan molekul-molekul besar terserap. Teknik ini meliputi pengukuran volume gas nitrogen yang terserap. filtrat ditampung di dalam botol untuk selanjutnya dilakukan analsisis COD. Struktur pori dari suatu adsorban diklasifikasikan menjadi transportpori yang memiliki diameter sekitar 500 A°.0 gr 949 823 766 80 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . 1975). mesopori dengan diameter antara 20 dan 500 A°. pengolahan dan penjernihan air. Struktur dan distribusi pori-pori merupakan faktor utama dalam menentukan daya serap karbon aktif dibandingkan dengan luas permukaan (Harald. Dengan perhitungan persamaan BET. Luas permukaan karbon aktif dari batubara dapat mencapai 500-1400 m 2 /gr. Metoda analisis COD mengacu pada SNI 06-6989.5. karbon aktif ditambahkan ke dalam 200 ml conto limbah. 60 dan 90 menit. Sedangkan. botol plastik.15-2004. Setelah selesai proses pencampuran.5 gr 30 60 90 667 661 609 2355 Berat karbon aktif 5. struktur dan distribusi pori-pori karbon aktif dapat diketahui. gelas piala.5 gr 925 719 888 10. dan pori-pori dengan diameter kurang dari 8 A° yang disebut submikropori (Pruss. 2007). Tabel 1. Sedangkan penggunaan karbon aktif powder pada fasa cair harus selalu diaduk agar homogenitas tetap terjaga dan tidak terjadi sedimentasi suspensi.0 gr 715 799 975 7. distribusi dan ukuran pori-pori karbon aktif menjadi faktor yang menentukan kemampuan adsorban dalam mengadsorpsi berbagai jenis adsobat. 1972). 7. corong. Hasil analisis COD limbah cair pabrik gula Konsentrasi COD sebelum proses (mg/l) Waktu proses (menit) Konsentrasi COD setelah proses (mg/l) 2. Karbon aktif granular dibuat dalam ukuran yang berbeda tergantung pada aplikasinya. METODOLOGI Alat Peralatan laboratorium seperti . Penentuan luas permukaan menggunakan metode BET (BrunauerEmmnett-Teller). Karbon aktif bentuk powder lebih tepat digunakan untuk fasa gas karena memiliki mikropori yang lebih besar sehingga mampu menyerap molekul-molekul kecil. efektifitas adsorpsi sangat tergantung pada jenis bahan baku adsorban. sehingga efektif menyerap partikel-partikel yang sangat halus (O-Fish.pori-pori bagian dalam karbon aktif. pengaduk gelas. 4. 2007). kemudian dilakukan penyaringan. Karbon aktif granular biasa digunakan untuk menghilangkan senyawa organik yang menimbulkan bau.5 dan 10 gram. Karbon aktif dari tempurung kelapa umumnya memiliki luas permukaan seluas 500-1500 m2/gr. mikropori dengan diameter antara 8 dan 20 A°. Struktur.0. dan timbangan analitik Bahan Conto limbah gula (cair) Karbon aktif berukuran 12 mesh dengan bilangan yodium berkisar antara 600 dan 700 mg/gr Cara kerja Karbon aktif berukuran 12 mm ditimbang masingmasing 2. atau warna yang tidak diinginkan pada fasa cair. atau bisa juga dilakukan dengan penyaringan. Kedua bentuk ini dapat digunakan dalam proses pemurnian. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil percobaan pengolahan limbah cair yang dikeluarkan dari pabrik gula tercantum pada Tabel 1.

Penambahan berat karbon aktif lebih besar dari 2. 5. tingkat penurunan mencapai 60% selama 30 menit.5 gram selama waktu 30. http:// Gedehace. DAFTAR PUSTAKA Cahyana. Mengacu pada baku mutu limbah cair yang mempunyai nilai ambang batas COD 300 mg/gr. Media Informasi Ikan Hias dan Tanaman.com. dengan jumlah karbon aktif rendah.. Gede. O-Fish. Pada pengolahan limbah cair di salah satu pabrik gula. dapat digambarkan seperti pada Gambar 1. dengan tingkat penurunan mencapai 59%.3. Tetapi.com/2009/03/adsorpsikarbon-aktif. Hasil tersebut diperoleh dengan penambahan karbon aktif sebesar 2. karbon aktif yang digunakan terbuat dari tempurung kelapa mempunyai bilangan yodium 6. http://o-fish. Faktor-faktor ini dapat mempengaruhi persentase penurunan adsorpsi karbon aktif. Majalah Air Minum. Salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya efektifitas adsorpsi adalah kualitas karbon aktif. KESIMPULAN Berdasarkan hasil percobaan. Teknik pengolahan adalah dengan cara mengalirkan debit limbah melalui suatu kolom yang berisi karbon aktif. perlu pengaturan ukuran butir dan cara pengolahan limbah sehingga diperoleh hasil yang memenuhi standar kualitas limbah cair. Nazir..5 gram selama 90 menit.Konsentrasi COD di dalam limbah gula semula sebesar 2355 mg/gr. 30.. Setelah ditambah karbon aktif. Chemicals. SARAN Untuk memperoleh hasil yang maksimal.6. 1975. 2000. 60 dan 90 menit.blogspot. Konsentrasi COD yang terendah adalah 609 mg/gr. diperoleh kesimpulan sebagai berikut: Karbon aktif yang berukuran 12 mm dengan bilangan yodium antara 600 dan 700 mg/gr dapat menurunkan konsentrasi COD limbah gula dari 2355 mg/gr menjadi 609 mg/gr. perlu meningkatkan kualitas karbon aktif dari bilangan yodium 600 dan 700 mg/gr menjadi 1000 mg/gr. Dari Gambar 1 terlihat bahwa persentase penurunan adsorpsi terendah terjadi pada penambahan karbon aktif sebesar 5. Bila dihitung berdasarkan persentase penurunan tingkat adsorpsi. konsentrasi COD sebesar 609 mg/l belum memenuhi persyaratan mutu limbah cair. Filter Kimia.5 gram selama 90 menit. Teknik Sampling dan Analisis Air Permukaan. Selain kualitas karbon aktif. Waktu kontak relatif cepat. menunjukkan penurunan konsentrasi COD yang relatif stabil. tidak menunjukkan semakin turunnya konsentrasi COD. Chapter 30. Berdasarkan data pada Tabel 1. Ernawita. namun karena kualitas karbon aktif tinggi. tingkat penurunan adsorpsi relatif rendah. Persentase penurunan adsorpsi Konsentrasi COD 609 mg/gr belum memenuhi persyaratan kualitas limbah cair yang mempunyai nilai ambang batas 300 mg/gr. semakin besar jumlah karbon aktif yang ditambahkan. diperoleh dengan penambahan berat karbon aktif 2.0 gram selama 90 menit.000 mg/gr. Gambar 1. 1. Pemanfaatan Karbon Aktif dari Batubara pada Pengolahan .html. Selain itu.5 gram. and Other Products. faktor yang mempengaruhi efektifitas adsorpsi adalah jenis bahan baku karbon aktif. maka penurunan COD sangat signifikan. 2007. Februari 2009 Harald. Ika Monika dan Nining Sudini Ningrum 81 . Begitu pula dengan penambahan karbon aktif 10 gram. H. diperoleh dengan penambahan karbon aktif 2.4. 2009. Persentase penurunan adsorpsi terbesar.. jenis adsorbat dan cara pengolahan. nilai COD menjadi turun. Conversion of Coal and Gas Produced from Coal Into Fuels.

1972. Pasuruan. Eddy. http:// www. 42. Rabu 22 Agustus Pruss. Limbah Pabrik Gula: Penanganan... W.co. Penelitian Perkebunan Gula Indonesia. Brennestoff-Chemical. B.pdpersi.id. Pencegahan Dan Pemanfaatannya. Pusat Data dan Informasi. 2001. 2009.PERSI. Determination of Pore Size and Pore Distribution in Coal and Coke. 157-160 Santoso. Indonesia 82 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .

83 . pengelolaan lingkungan yang umum diterapkan untuk penanggulangan AAT antara lain adalah netralisasi..id.KEMUNGKINAN PEMANFAATAN BAKTERISIDA FENOL UNTUK PENCEGAHAN AIR ASAM TAMBANG Siti Rafiah Untung dan Nia Rosnia H Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. Percobaan dilakukan dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 3 faktor.. 022 .6030483 Fax. terlihat kemampuan fenol dalam mereduksi asam dari batuan penutup lebih kecil dari gamping. yaitu jenis batuan. air asam tambang. bakterisida.esdm. ukuran dan jenis bakterisida selama 12 minggu. fenol. pengaruh bakteri Kemungkinan Pemanfaatan Bakterisida Fenol untuk . Kedua jenis batuan tersebut dipreparasi menjadi ukuran 100 mesh. Salah satu cara yang cukup efektif untuk mengatasi masalah tersebut adalah melakukan pencegahan dan pengontrolan pembentukkan AAT dengan mengurangi aktivitas bakteri.6. penambahan fenol dan gamping (CaCO3) dapat meningkatkan pH lindian berturut-turut menjadi 6. Lampung Selatan. Hasil percobaan menunjukkan.go. Secara umum. Sehubungan dengan hal tersebut telah dilakukan penelitian penggunaan bakterisida untuk menanganani AAT. Proses netralisasi dapat membentuk logam hidroksida yang dapat mengendap berupa lumpur sehingga diperlukan penanganan lebih lanjut. polusi. Jend.15%. Kecamatan Kedongdong.id SARI Peningkatan pertambangan batubara. Sumatera dan Papua menyebabkan munculnya fenomena air asam tambang (AAT). bijih emas dan tembaga seperti di Kalimantan. Kehadiran jasad renik Thiobacillus ferroksidans juga dapat mempercepat terjadinya AAT. rosniasruntung@tekmira. -10+35 mm dan -1+1/2 cm. Asam sulfat ini akan melarutkan logam sehingga dapat mencemari badan perairan sekitarnya. 022 .pembentukan lahan basah dan pengkapsulan. netralisasi. AAT dapat terjadi apabila mineral sulfida seperti pirit terpapar ke udara dan bereaksi dengan udara dan air membentuk asam sulfat.73.67% dan kemampuan kapur mereduksi asam mencapai 48-15.% .1 dan 10.esdm. Bakterisida yang digunakan adalah fenol dengan dosis 5 mg/g dan sebagai pembanding digunakan gamping dengan dosis 10 mg/g.67% -51.6003373 e-mail : sruntung@tekmira. Kata kunci: lingkungan tambang. lindian. Dari hasil tersebut. Pada penelitian ini digunakan 2 jenis batuan penutup yang berwarna abu-abu dan coklat berasal dari KUD Tambang Harapan. Sudirman 623 Bandung 40211 Telp. Fenol mampu mereduksi asam 6.go. Siti Rafiah Untung dan Nia Rosnia H.

6. Kecamatan Kedongdong. berasal dari KUD Tambang Harapan. batuan penutup dapat dibedakan menjadi 2 jenis. Pada umumnya perusahan-perusahan tersebut telah menangani masalah tersebut dengan berbagai cara antara lain netralisasi dengan CaCO3 (kapur). The result showed that the phenol and lime stone can increase the pH of leached respectively 6. environmental management such as neutralization. phenol. a laboratory research on the use of bactericide to handle the AMD was carried out. Kabupaten Lampung Selatan. Generally. neutralization.% . PT. Kedongdong Subdistric.1 and 10. Phenol as bactericide with dose 50mg/g was used while limestone with dose 100mg/g also used as a comparison. South Lampung were used in this experiment. The overburden was prepared to be 100 mesh.67% and limestone 48-15. The presence of Thiobacillus ferroksidans can also accelerate the formation of AMD. leached.15%.ABSTRACT The increases of coal. Sumatera and Papua lead to the occurrence of acid mine drainage (AMD). bactericide. -10+35 mm dan -1+1/2 cm. Hal ini berdampak terhadap penurunan kualitas badan perairan karena sungai terkontaminasi oleh keasaman dan logam-logam terlarut dan juga menyebabkan reklamasi daerah tambang menjadi lebih mahal. penutupan dengan air. Salah satu pencegahan yang dapat diterapkan adalah penggunaan fenol. size and bactericide. Biaya penanggulangan AAT pada umumnya mahal. Freeport Indonesia dan PT. Berdasarkan warnanya. Keywords : mine environment . Fenol atau asam karbolik dengan rumus kimia C5H6OH adalah bakterisida. Regarding to the problem. gold and copper ore from mine activities in Kalimantan. yaitu berwarna abu ( BP abu) dan coklat (BP coklat). Berau Coal dan PT. Fenol. Pembentukkan air asam tambang (AAT) merupakan masalah utama dalam pertambangan batubara dan mineral. Fenol ini ini dapat menghambat pertumbuhan jasad renik sampai mematikannya. acid mine drainage.67% -51.73. Hal yang sama juga dialami oleh perusahaan pertambangan batubara di Kalimantan Timur seperti PT. Newmont Minahasa mengalami masalah AAT ini. pengkapsulan/penghalang fisik dan pemanfaatan rawa/ rawa buatan (wetland). AAT dapat terbentuk apabila ada mineral pirit yang terpapar sehingga teroksidasi dan selanjutnya air membentuk asam sulat yang dapat menurunkan pH air dan melarutkan logam. Phenol and limestone respectively could reduce acid 6. Kecamatan Kedongdong. Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara telah mengadakan penelitian laboratorium pencegahan AAT dengan menggunakan fenol dan gamping (CaCO 3). in capsulation and wetland are common to handle the AMD in Indonesia. Dalam penelitian. Kabupaten Lampung Selatan. Sehubungan dengan hal tersebut. microbial influence 1.1. Oleh karena itu kehadiran AAT di lingkungan sangat tidak diharapkan. berasal dari KUD Tambang Emas Harapan. the capacity of phenol to reduce acidity of overburden is much less than limestone. Based on the result. contoh batuan yang digunakan adalah batuan penutup. namely type of overburden. PENDAHULUAN kan karena dapat menghemat biaya pengelolaan. salah satu baktersida umum digunakan di rumah sakit sebagai antiseptik. Beberapa perusahaan pertambangan mineral seperti PT. Kedua contoh 84 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . pollution. The acid can dissolve metals and pollute the water body surrounding the area. kapur padam (Ca(OH)2) dan kapur tohor (CaO). Design of Group Random was used with 3 factors. BAHAN DAN METODE 2. Bahan dan Peralatan Contoh dalam penelitian ini adalah batuan penutup. limestone. Two types of overburden which colour were gray and chocolate from KUD Tambang Harapan. Kelian Equatorial Mining. Fenol dibeli dari toko kimia dan gamping diperoleh dari tambang rakyat di daerah Citatah. Neutralization process can form metal hydroxide and it will precipitate as sludge which need to be optimally managed. Acid mine drainage can occur if sulphide mineral such pyrite was exposed to the air and it will react with oxygen water to form sulphuric acid. Kaltim Prima Coal. namun apabila pembentukkan asam dapat dicegah akan sangat menguntung- 2.

04 0. fenol dan kapur yang diujikan sebagai bahan pencegahan pembentukkan asam digunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 3 faktor. Lindiannya ditampung dalam gelas plastik Setiap kolom pelindian diisi dengan contoh batuan yang disusun secara berlapis dengan fenol dan gamping. Selanjutnya. yaitu kontrol (c0).01 Mg 0. 3. fenol (c1) dan gamping (c2). Faktor pertama (A) adalah ukuran batuan dengan taraf. Analisis dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan pada taraf nyata 5% jika terdapat perbedaan antar perlakuan.1.12 0. 2.. Fe. Faktor ketiga (c) adalah jenis bahan kimia dengan dua taraf. 85 . Dari faktor perlakuan tersebut diperoleh 24 kombinasi perlakuan dan setiap kombinasi perlakuan diulang dua kali.90 2. Setiap hari masing masing kolom pelindian ditambahkan 10 ml air suling sebagai media pelindian.2 Peralatan Kolom pelindian adalah botol plastik + 250 ml yang bagian bawahnya diberi lubang kapiler untuk mengeluarkan lindian.batuan penutup tersebut dipreparasi menjadi beberapa ukuran. yaitu: batuan penutup berwarna abu (BP abu) dan coklat (BP coklat). 2.01 0. yaitu 100 #. 100 mesh (a1). Faktor kedua (B) adalah jenis batuan dengan dua taraf. kemudian dimasukkan ke dalam masing masing kolom secara berlapis fenol dan kapur dengan dosis masing-masing 5 mg/g dan 10 mg/g kecuali kontrol. abu Parameter (%) Fe 8. Zn.06 0.03 Pb 0. Metode Uji karakterisasi contoh batuan dilakukan untuk mengetahui kandungan logamnya (Cu. Lampung Selatan = lapisan batu berwarna cokalt dari tambang emas rakyat di Kecamatan Kedongdong.05 0. Proses tersebut dilakukan dalam akuarium tertutup pada suhu kamar selama 12 minggu dengan kelembaban berkisar 90 %. Ke dalam setiap kolom pelindian dimasukkan secara berturut-turut 100 gr contoh batuan. Kolom yang digunakan dalam pelindian adalah botol plastik + 250 ml. coklat P. Analisa kadar logam dari contoh dengan AAS Hasil analisa/penentuan kadar logam dan S dalam contoh BP abu dan BP coklat adalah sebagai berikut : Tabel 1. Bakterisida yang digunakan adalah fenol yang dibeli dari toko bahan kimia dan sebagai pembanding adalah kapur gamping (CaCO3) yang berasal dari tambang rakyat Desa Citatah. Hasil analisis kandungan logam dan sulfur dalam contoh batuan Contoh Batuan Cu BP coklat BP abu Sumber Keterangan P. Untuk menjaga kelembaban.. Percobaan untuk mengetahui interaksi dari jenis batuan dan ukurannya.39 31. Pengukuran pH lindian dilakukan setiap minggu. -10+35mm (a2) dan -1+1/2cm (a3).29 0. yaitu BP abu (b1) dan BP coklat (b2).1.19 0. Air suling berfungsi sebagai media pelindi. Siti Rafiah Untung dan Nia Rosnia H.22 Mn 0. lampung Selatan Kemungkinan Pemanfaatan Bakterisida Fenol untuk . Peralatan lain yang digunakan adalah pH meter dan alat gelas. (-10 + 35 mm) dan (-1 + ½ cm).04 Ca 0. Seluruh pengujian dilakukan di laboratorium Lingkungan Puslitbang tekMIRA. 1978).10 : Data Primer Hasil Uji Puslitbang tekMira Bandung : = batuan berwarna cokalt dari tambang emas rakyat di Kecamatan Kedongdong. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.82 Zn 0. Mn dan Ca) dalam bentuk oksida dan S (belerang) terhadap kedua jenis batuan.2. Pb. Mg. Bagian bawah botol tersebut diberi lubang kapiler untuk mengeluarkan air pelindian. terhadap kedua contoh batuan tersebut juga dilakukan pengujian air asam tambang dengan metode Sobek (Sobek.11 S 1. botol-botol tersebut disimpan dalam akuarium tertutup dan dijaga kelembapannya sekitar 90%.

37-3.15 : Data Primer Hasil Uji Puslitbang tekMira Bandung : = batuan penutup berwarna abu = batuan penutup berwarna coklat Dari Tabel 2. Hasil pengukuran pH lindian selama 12 minggu dapat dilihat pada Tabel 4 dan Gambar 1.69 194. Proses penetralan dengan gamping terlihat bahwa nilai pH lindian tidak ditentukan baik oleh ukuran contoh maupun oleh perhitungan asam basa.1.1 10.13 kg H2SO4/ton.19-70.39 . bakteri.37 3. Hasil perhitungan menunjukkan nilai MPA kedua contoh berkisar antara 58. yaitu 63. 1996 mengklasifikasikan batuan pembentuk asam menjadi 4 jenis seperti tertera pada Tabel 3. Nilai pH lindian tersebut lebih ditentukan oleh kemampuan contoh dalam pembentukan asam maksimum dan potensi batuan dalam menetralkan dan bukan ukuran contoh.7.19 0 0 84. Dengan demikian pH lindian BP abu lebih rendah (4. Kedua jenis batuan juga mengandung sulfur dengan kisaran 1.8 atau rata-rata 10.2). menyatakan senyawa fenol dapat masuk ke dalam sel bakteri dengan cara merusak dinding selnya dan juga dapat mengendapkan proteinnya.6. Kedua contoh nilai NAPP-nya positif. Hasil analisis uji pembentukan air asam tambang Kode Sampel BP abu BP coklat Sumber Keterangan BP abu BP coklat MPA ANC NAPP NAG NAG kg kg kg 4. P.39 74. Dari Tabel 3 dan Gambar 1 terlihat pada bahwa blanko (kontrol) air lindian bersifat asam pH dengan berkisar 2. sedangkan kandungan logam lainnya rendah.90% sampai dengan 2.29% dan nilai tersebut berhubungan langsung dengan nilai MPA. Penggunaan fenol dalam percobaan ini ternyata mampu meningkatkan air lindian 4.6.2-7.56 63. kedua contoh batuan tersebut dapat Me2+ 2SO42.6 atau rata-rata 3.11-0. logam yang dominan dalam kedua jenis batuan penutup tersebut adalah besi dalam bentuk Fe2O3 dengan kisaran antara 8.6.15 berarti bahwa contoh-contoh tersebut bersifat asam.29%.31.5 . Hal ini dapat dilihat dari kisaran pHnya.59 104.56 kg H2SO4/ ton.13 58. Peningkatan pH lindian pada percobaan penambahan fenol mungkin disebabkan oleh kemampuan fenol menghambat pertumbuhan 86 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Berdasarkan pengklasifikasian tersebut.42 pH 1:2 2. Dari uraian tersebut dapat Tabel 2. Hal ini menunjukkan bahwa kedua contoh tersebut dapat membentuk asam yang reaksi pembentukannya secara umum sebagai berikut: MeS2 +7/2O2 + H2O (logam sulfida) Dalam proses pembentukan AAT tersebut. Dharmawan.29 1.5kg 7kg Sulfur (%S) H SO /ton H SO /ton H SO /ton H SO /ton H SO /ton 2 4 2 4 2 4 2 4 2 4 Total 2. Hal ini mungkin disebabkan oleh kandungan kalsium (Ca) kecil.65 52.6 hanya ditemukan pada batuan BP coklat dengan ukuran 100 mesh.90% 2.09 pH NAG 2.88 3. yaitu 10. Buck (2001).Hasil analisis menunjukkan.2 atau rata-rata 6.0) dari BP coklat (5. terlihat derajat keasaman pH (1:2) contoh yang dianalisis berkisar dari 2. Mengacu kepada hasil analisis dari Uji Identifikasi Pembentukan Air Asam Tambang pada Tabel 2. Salah satu penanganan adalah penggunaan fenol yang merupakan bakterisida dan sebagai pembanding digunakan gamping (CaCO3). yaitu ratarata 10.82%.7.+2H+ digolongkan tipe 4 atau potensi pembentuk asam kapasitas tinggi sehingga diperlukan penanganan agar tidak mencemari lingkungan sekitar. Kedua contoh batuan menunjukkan nilai ANC = 0 berarti contoh tersebut tidak mampu untuk menetralisasi asam.90 70.5.59-84. Kadar belerang (S) total kedua contoh berkisar dari 1. peran bakteri adalah mempercepat reaksi. yaitu berkisar 0.12 %. pH tertinggi 5. Nilai pH lindian tertinggi ditunjukkan oleh penambahan gamping. diduga bahwa kedua jenis batuan tersebut berpotensi menghasilkan air asam tambang.90-5.

9 5.9 6 10.2 4. Gambar 1. pH batuan (1 : 2) lebih kecil dari 4 nilai NAG pada pH 4. a3 = ukuran batu dilihat bahwa dosis gamping berpengaruh terhadap pH lindian. Tipe 3 4.5 lebih besar atau sama dengan 5 kg H2SO4 per ton NAPP lebih besar atau sama dengan 10 kg H2SO4 per ton Nilai pH uji NAG lebih kecil dari 4 . Parliyanto .8 5.Tabel 3. C2 = gamping b = jenis batu.6 3. Siti Rafiah Untung dan Nia Rosnia H.nilai NAG pada pH 4. 1.2 10.8 Keterangan: C0=control..1 – 10. a2. Tipe 4 Pembentuk asam Sumber: Dharmawan.5 10. Penggolongan jenis batuan pembentuk asam No.nilai NAG pada pH kapasitas rendah 4.4 6. 1996 Tabel 4. Golongan Tipe 1 Tipe 2 Jenis Batuan Bukan pembentuk asam Keterangan Nilai pH uji NAG lebih besar atau sama dengan 4 atau nilai NAPP negatif Potensi pembentuk asam Nilai pH uji NAG lebih kecil dari 4 .. b-2 = BPcoklat a1.5 lebih kecil dari 5 kg H2SO4 per ton NAPP 0 – 10 kg H2SO4 per ton Potensi pembentuk asam kapasitas tinggi Nilai pH uji NAG lebih kecil dari 4.5 –7. C1 = fenol.2 dan gamping antara 10. Nilai pH lindian dari Kemungkinan Pemanfaatan Bakterisida Fenol untuk . 87 . Pada penetralan ini terjadi reaksi sebagai berikut: CaCO3+ H2SO4 CaSO4+ H2CO3 3 CaCO3 + Fe2(SO4)3 + 6 H2O 2 CaSO4+2 Fe(OH)2 + 3 H2CO3 Kapasitas reduksi asam untuk masing-masing perlakuan dapat dilihat pada Tabel 5. 2.7 2. b 1 = BP abu.5 lebih besar atau sama dengan 5 kg H2SO4 per ton NAPP lebih besar atau sama dengan 10 kg H2SO4 per ton 3.9 10.6 7.6 7 10. Perubahan pH lindian dari batuan dengan penambahan kapur dan fenol Tabel 5 menunjukkan nilai pH lindian rata-rata dari penggunaan fenol berkisar antara 4.2 10. Rata-rata perubahan pH lindian dengan penambahan fenol dan kapur No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Perlakuan a 1b 1 c 0 a 1b 1 c 1 a 1b 1 c 2 a 1b 2 c 0 a 1b 2 c 1 a 1b 2 c 2 a 2b 1 c 0 a 2b 1 c 1 a 2b 1 c 2 pH 2.8.8 4.1 No 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Perlakuan a2 b2 c 0 a2 b2 c 1 a2 b2 c 2 a3 b1 c 0 a3 b1 c 1 a3 b1 c 2 a3 b2 c 0 a3 b2 c 1 a3 b2 c 2 pH 3.

67 73. dapat dilihat bahwa ukuran batuan berpengaruh terhadap perlakuan. Kapasitas reduksi asam dari fenol dan gamping terhadap blanko Jenis Penanganan Blanko Perlakuan a1b1c0 a1b2c0 a2b1c0 a2b2c0 a3b1c0 a3b2c0 a1b1c1 a1b2c1 a2b1c1 a2b2c1 a3b1c1 a3b2c1 a1b1c2 a1b2c2 a2b1c2 a2b2c2 a3b1c2 a3b2c2 Rata-rata pH 2.6 2.9 3.9 6. jadi lebih tinggi dari fenol.36 58.5 –7.8 10.7 10. Nilai pH dan reduksi asam tertinggi terjadi pada batuan ukuran -1+1/2cm dan terkecil pada ukuran batuan 100 mesh baik untuk perlakuan dengan fenol maupun batuan. KESIMPULAN DAN SARAN 5.0 7.1.2 4. 5.67%.5 3.3 1.9 7. 202/2004 Kapasitas reduksi asam untuk fenol dengan dosis 5 mg/g berkisar antara 6.6 4.1 7.9 5.00 50.1 5. Dari hasil percobaan terlihat kemampuan fenol dalm mereduksi asam lebih kecil dari gamping. Penelitian Siwik (1989) menunjukkan penambahan Ca(OH)2 (kapur padam) dengan dosis 5000 mg/kg selama 50 minggu dapat mereduksi asam sampai 80%. Ukuran bijih berpengaruh terhadap nilai pH dan reduksi asam baik untuk penggunaan fenol maupun gamping.15 66.67% -51.67 50.2 7.4 Reduksi asam (%) 44. Batuan dengan potensi pembentuk kapasitas asam tinggi (BP abu) kemampuannya dalam mereduksi asam lebih rendah dari BP coklat.4 Fenol Gamping fenol sudah memenuhi syarat sebagai air limbah dari kegiatan penambangan bijh emas berdasarkan Kepmen LH No.00 6.4 5.9 5.6 0.15%.9 7. 202/2004 (pH 6-9).3 3.Tabel 5.1 10.6 10.1 7.73. Hasil lindian (pH) dan reduksi asam dari BP abu lebih rendah dari BP coklat untuk semua jenis ukuran batu.2 3.3 1. 202/2004 (pH 6-9) dan dapat menetralkan asam berkisar antara 6. Kapasitas reduksi asam untuk gamping dengan dosis 10 mg/g berkisar 48-15. Penurunan dosis dilakukan dengan berbagai cara antara lain dengan menurunkan dosis gamping dan menggunakan asam seperti H2SO4 atau HCl sehingga diperoleh nilai pH air limbah yang sesuai dengan Kepmen LH No.4 3. Kesimpulan Hasil penelitian menujukkan berbagai hal sebagai berikut: Fenol dapat digunakan dalam pencegahan air asam tambang dan dapat meningkatkan nilai pH lindian dengan kisaran 4.42 72.67%.0 10. Namun apabila dilihat nilai pH lindian dari penggunaan gamping telah melampau nilai yang ditentukan oleh Kepmen tersebut.7 7.3 3. sehingga perlu dilakukan penurunan dosis gamping agar hasil lindian dapat memenuhi syarat.5 6. Penetralan dengan gamping dapat mereduksi asam 48-15. Penurunan dosis gamping lebih dianjurkan karena dapat menghindari adanya biaya tambahan pengelolaan air limbah.67% -51. Dari Tabel 5.8 10.2.15 48.23 20.2 7.4 3.1 5.5 3.% .2 7.% - 88 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .8 Selisih thd blanko 0 0 0 0 0 0 2.72 51. Nilai tersebut memenuhi syarat sebagai air limbah dari kegiatan penambangan bijh emas berdasarkan Kepmen LH No.64 68.52 Kapasitas reduksi (per mg) 2.7 7.6 0.9 5.

Chalkey. 4750. ‘Control of acid generation from reactive waste rock with the use of chemicals’. Kepala KUD Tambang Harapan.15%.73. Kirsten.A.R.A. The effects of Germicides on Microorganism. Siti Rafiah Untung dan Nia Rosnia H. M. Kemungkinan Pemanfaatan Bakterisida Fenol untuk . Wheeland.). Pergamon Press.M. DAFTAR PUSTAKA Buck.. Ukuran batuan dan jenis batuan berpengaruh terhadap hasil lindian. EPA-600/2-78-054.1 – 10. J. S. Paper disajikan pada Seminar Air Asam Tambang di Indonesia. Sobek. Environmental Protection Agency.. Tailings and Effluent Management.S. Arutmin Indonesia. UCAPAN TERIMAKASIH Penulis mengucapkan terimakasih kepada Bapak Sahroji.8. 1989. Untuk melihat pengaruh ukuran dan jenis batuan terhadap kelarutan logam-logam maka perlu dilakukan pengukuran konsentrasi logam-logam yang terekstrasi.com/articles/ 191clean. Kapasitas fenol dalam mereduksi asam lebih kecil dari gamping. Kecamatan Kedongdong. Schuller. et al (eds. Payant and K. E.. 89 . 1978... R. Cincinnati. U.2. 2001. 202/2004 sehingga diperlukan penurunan dosis gamping. Saran Penelitian perlu dilanjutkan dengan pemberian bakterisida yang lain seperti surfaktan sehingga dapat ditentukan bakterisida yang lebih beperan dalam pencegahan air asam tambang. Freeman. http:// www.html diakses tanggal 15 Juni 2009 Dharmawan Parliyanto. dan pH berkisar 10. W. Aula Barat ITB 1-2 Juli 1996 Siwik R. Kabupaten Lampung Selatan yang telah mengirim contoh batuan sehinnga penelitian ini dapat berjalan lancar. A. 1996.infectioncontroltoday. and Smith. 5. Field and Laboratory Methods Applicable to Overburdens and Minesoils. M. Karena nilai ini sudah melampaui baku mutu air limbah dari kegiatan penambangan bijh emas berdasarkan Kepmen LH No. Identifikasi Potensi Air Asam Tambang di Daerah Tambang Batubara PT. New York. Ohio. 45268.

in the operation of the cyclone combustor in steam boiler. For cyclone combustor operation./Fax : 022 – 6038027. jauh dibawah 1200°C. Diuraikan juga proses pengendapan partikel abu dari ketiga jenis abu dalam fasilitas industri tersebut dan lokasi pengendapannya. (b) group has medium melting point or close to the operational temperature of the cyclone combustor at 1200°C. far below 1200°C.go. Jend. Untuk pengoperasian pembakar siklon. since it is difficult to obtain pure coal. didapat abu golongan a lebih dari 90% tertiup keluar siklon. Tulisan ini menguraikan proses penanganan abu untuk ketiga jenis abu tersebut. This paper describes the handling process of those ash groups. From this observation. titik leleh abu.esdm. Particularly the impurities which may affect the combustion process such as the ash content with its various characteristics. The deposition processes of the ash particles in those industrial facilities and their deposition locations are also described. Khususnya pengotor-pengotor yang dapat mempengaruhi proses pembakaran seperti kandungan abu dengan berbagai karakteristiknya yang selain mempengaruhi proses pembakaran juga dapat mengganggu produk dan fasilitas industri yang dilayani. Kata kunci : pembakar siklon. 081321237913 e-mail : soemaryono@tekmira. kadar abu yang tinggi dengan titik leleh yang bervariasi dapat mempengaruhi kinerja alat. golongan b bertitik leleh sedang atau mendekati suhu operasional pembakar siklon 1200°C dan golongan c bertitik leleh rendah. high ash content with various melting points may affect the combustor performance.PENGARUH TITIK LELEH ABU TERHADAP PENGENDAPANNYA PADA PEMBAKARAN BATUBARA DENGAN PEMBAKAR SIKLON DI BEBERAPA FASILITAS INDUSTRI Sumaryono Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara (tekMIRA) Jl. Based on its melting point. ash may be divided into three groups. free from impurities. Sudirman 623 Bandung Telp. (a) group has high melting point. Dari pengamatan tersebut. dalam pengoperasian pembakar siklon untuk ketel uap. Berdasarkan titik lelehnya abu dibagi menjadi 3 golongan yaitu golongan a bertitik leleh tinggi. pengendapan ABSTRACT Coal may be viewed as a dirty fuel. 90 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . abu golongan b lebih dari 50% menempel sebagai kerak di dalam siklon dan abu golongan c lebih dari 90% meleleh di dalam siklon kemudian mengalir ke dalam kotak abu. oil heater and rotary dryer. bersih dari kotoran. pemanas oli dan pengering berputar. which either affecting the combustion process or may affect the product and the industrial facilities served.id SARI Batubara dapat dikatakan sebagai bahan bakar yang kotor karena sulit untuk mendapatkan batubara yang murni. and (c) group has low melting point.

Dengan kinerja yang semakin baik maka hal ini merupakan dukungan pada program pemerintah untuk terus meningkatkan kontribusi batubara dalam konsumsi energi nasional yang ditargetkan sebesar 33% pada tahun 2025 (Yusgiantoro. Jelas pula pengaruhnya pada teknik pembakaran batubara bubuk (pulverized coal combustion) (Singer. Sifat-sifat abu khususnya menyangkut sifat melelehnya yang dapat mengganggu operasional siklon tersebut dipengaruhi oleh kandungan unsurunsur tertentu di dalam abu. Tetapi sejak tahun 2008 mulai terjadi kelangkaan batubara standar karena naiknya harga ekspor batubara sehingga pasokan batubara standar untuk dalam negeri terganggu dan di pasaran dalam negeri hanya tersedia batubara dengan spesifikasi yang berubah-ubah dalam jumlah-jumlah kecil. dapat menyumbat aliran api karena jika kerak semakin tebal. LATAR BELAKANG TEORI Komponen-komponen abu dalam batubara terutama terdiri atas unsur-unsur Si. Untuk pembakaran terus menerus. sulfat atau fosfat. bisa berupa abu terbang atau abu dasar. pemanas oli. Tergantung nilai titik Pengaruh Titik Leleh Abu terhadap Pengendapannya pada Pembakaran . Pada teknik pembakaran kisi berjalan (Changzhou. sifat titik leleh dapat mengganggu operasional pembakar siklon karena abu dapat berupa padatan yang tertiup keluar siklon. Sebagai contoh. 2009). titik leleh abu yang rendah mengakibatkan tertutupnya kisi oleh lelehan abu sehingga mengganggu aliran udara pembakar. Mg. operasional pembakar siklon dapat terganggu. Al.. dengan banyaknya senyawa CaO. pengelolaan abunya tergantung pada titik leleh abu. Karakteristik abu dipengaruhi oleh unsur-unsur yang dikandungnya. belerang.. Ca dan sedikit Ti. Tulisan ini menguraikan beberapa proses pembakaran batubara dengan titik leleh abu yang berbeda-beda pada beberapa fasilitas industri dan akibat-akibat yang ditimbulkan oleh abu batubara tersebut pada operasional pembakar siklon. K yang terikat dengan silikat. Keywords: cyclone combustor. pengering berputar. 2007). Sumaryono 91 . atau berupa kerak yang menempel di dinding siklon sehingga jika semakin tebal. ash melting point. 2003). (b) group ash more than 50% adhered as slag in the cyclone and (c) group ash more than 90% melted in the cyclone and then flowed into the ash box. Pembakar siklon digunakan untuk menggantikan pembakar BBM di berbagai fasilitas industri tersebut (Sumaryono. 1975). terutama jika kandungan SiO2-nya tinggi. Pembakar siklon perlu terus dikembangkan sehingga semakin handal untuk dapat menghadapi berbagai parameter karakteristik batubara yang berbeda-beda. Keadaan ini mengakibatkan operasional pembakar siklon sering terganggu karena mutu batubara yang berubah-ubah dan cenderung semakin turun mutunya. karakteristik abu sangat penting selain berpengaruh pada efisiensi pembakaran. Unsur lain yang dapat menurunkan titik leleh abu adalah Na2O dan K2O. Jika perbandingan Al2O3 : SiO2 mendekati 1 : 1. oksida. 2. Masalah titik leleh abu juga berpengaruh pada operasional teknik pembakaran batubara lainnya.it was found that (a) group ash.18 maka abu bersifat refraktori dengan titik leleh tinggi. jika digunakan batubara dengan titik leleh mendekati suhu pembakaran atau dibawahnya mengakibatkan unggun mengeras setelah dingin sehingga harus dihancurkan dengan linggis. pengaruh Al2O3 dan SiO2. LATAR BELAKANG Pembakar siklon dengan bahan bakar batubara halus berukuran -30 mesh telah digunakan di industri untuk berbagai jenis fasilitas seperti ketel uap. khususnya titik leleh abu yang merupakan parameter penting dalam proses pembakaran batubara (Rance. deposition 1. dll sejak tahun 2005. 2003). Pada teknik pembakaran dengan unggun terfluidakan (Basuki. MgO dan Fe2O3 mengakibatkan turunnya titik leleh abu. more than 90% was blown out of the cyclone. 1991). Pembakaran batubara dengan pembakar siklon dilakukan dengan batubara tepung (-30 mesh). Jika menempel di moncong keluarnya api. Sebaliknya. Na. Mn. Parameter titik leleh abu akan dibahas dalam tulisan ini karena merupakan salah satu faktor yang berpengaruh dalam operasional pembakar siklon. Fe. diameter moncong siklon semakin kecil.

SEBARAN ABU DAN KARAKTERISTIKNYA 3.leleh abu. Abu bertitik leleh tinggi (a). dalam ruang api Lokasi c.2.5%. Abu dengan titik leleh oksidasi lebih rendah dari suhu operasional pembakar siklon. yaitu sekitar 1200°C.1. °C Sperikal >1500 1255 1135 Hemisfer >1500 1260 1160 Alir >1500 1325 1180 92 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Semakin rendah titik leleh abu. maka viskositas tinggi sehingga lengket dan tidak bisa mengalir. Sedangkan pegoperasian dengan batubara mengandung abu gol. titik leleh abu dibagi menjadi tiga golongan yaitu : a. Sebaran Abu Dalam Fasilitas Industri 3. Jika titik leleh abu jauh di bawah suhu siklon. akan semakin rendah viskositas abu tersebut sehingga cairannya mudah mengalir ke bagian bawah pembakar siklon. dalam pipa api Lokasi d. Abu dengan titik leleh oksidasi sama atau mendekati suhu operasional pembakar siklon. menghasilkan abu yang lunak dan lengket menempel pada dinding bagian dalam pembakar siklon. Titik leleh oksidasi adalah titik leleh abu dalam atmosfer pembakaran oksidasi. b yang titik lelehnya hampir sama dengan suhu operasional pembakar siklon. Abu dengan titik leleh oksidasi lebih tinggi dari suhu operasional pembakar siklon. dalam siklon Lokasi b. c dan titik lelehnya Golongan Abu A B C Deformasi 1305 1140 1075 Reduksi. 3. Pengoperasian ketel uap ini dengan batubara berkandungan abu gol. jadi dalam suasana pembakaran dengan jumlah oksigen lebih dari oksigen stoikiometrinya. b dan c. Jika titik lelehnya hampir sama dengan suhu siklon. Beberapa contoh abu golongan a.1 Ketel uap Gambar 1 adalah skema ketel uap jenis pipa api (fire tube) yang telah dipasang pembakar siklon sebagai ganti pembakar solar dan daerah-daerah pengendapan abunya. dalam waktu 1 hari kerak sudah terlalu tebal sehingga siklon semakin mengecil volumenya dan lingkaran dalam leher siklon semakin menyempit sehingga mengganggu aliran api dari siklon ke dalam ketel uap. b. c. Kerak ini dengan mudah dapat dikorek dari dinding siklon. tergantung pada titik lelehnya. Pembakaran dihentikan. Sebaran kerak dan kotoran padat lain adalah : Tabel 1. Setelah dingin abu yang lengket ini mengeras berupa kerak. Pembakar siklon dapat beroperasi dengan lancar jika titik leleh abu jauh di atas atau di bawah suhu operasional siklon. Beberapa Golongan Titik Leleh Abu Dalam kaitannya dengan operasional pembakar siklon. Tabel 1 adalah beberapa contoh abu yang termasuk dalam abu golongan a. Sedangkan abu yang bertitik leleh rendah akan mudah mencair dan mengalir ke tempat yang lebih rendah. bagian bawah cerobong Keluar dari sistem lewat cerobong : : : : : : 5% 15% 0% 30% 30% 20% 3. dalam penampung debu Lokasi e. siklon dibiarkan dingin untuk dilakukan pembersihan dindingnya dari kerak.2. jika titik lelehnya tinggi maka abu tetap berupa debu padat. Sedang yang bertitik leleh mendekati operasional pembakar siklon akan bersifat melunak tetapi belum mudah mencair sehingga lengket dan menempel di dinding siklon. °C Sperikal 1435 1150 1080 Hemisfer 1460 1160 1090 Alir >1500 1225 1155 Deformasi 1470 1235 1125 Oksidasi. Pada pembakaran batubara yang berkadar abu 5. b. akan tetap berupa debu padat pada saat operasional pembakaran siklon. yang bertitik leleh jauh lebih tinggi dari suhu pengoperasian siklon (1180 – 1230°C) dengan kadar abu kurang dari 2%. menghasilkan abu padat dengan sebaran : Lokasi a. a. maka viskositas lelehan abu menjadi rendah sehingga dengan mudah mengalir ke bawah.

dalam siklon Lokasi b. Pada pembakaran batubara jenis ini yang berkadar abu 7. bagian bawah cerobong Keluar dari sistem lewat cerobong : 60% : 20% : 0% : 10% : 5% : 5% Gambar 2. Abu yang datang selanjutnya melekat di permukaan lelehan sebelumnya sehingga membentuk kerak yang semakin tebal. kemudian asapnya keluar melalui cerobong. lelehan abu yang mengalir ke dalam kotak abu segera membeku membentuk padatan yang sangat keras berwarna coklat kehitaman. dalam pipa api Lokasi d.2.2 Pemanas oli Pemanas oli (oil heater) di pabrik tekstil.6%. dalam pipa api Lokasi d. Skema pemanas oli dengan pembakar siklon Pengoperasian dengan batubara mengandung abu gol. bagian bawah cerobong Keluar dari sistem lewat cerobong 3. dalam rangkaian pipa oli Lokasi e.. Gambar 2 adalah skema pemanas oli jenis vertikal yang telah dipasang pembakar siklon di bagian atasnya sebagai pengganti : 95% : 0% : 0% : 0% : 0% : 5% Api dari pembakar siklon turun ke dalam ruang api (b). dalam penampung abu Lokasi d. dalam siklon Lokasi b.. Karena viskositas abu sangat tinggi maka abu yang lunak dan lengket ini menempel di permukaan dinding bagian dalam siklon. dalam ruang api Lokasi c. Sumaryono 93 .pembakar solar dan daerah-daerah lokasi pengendapan abunya. menghasilkan abu yang padat dengan sebaran : Lokasi a. menghasilkan abu yang sudah mencair dan mengalir ke lantai siklon. c yang titik lelehnya dibawah suhu operasional pembakar siklon. Akibat fatal dari kejadian ini terutama diameter dalam L-bow dari siklon menuju ruang api dari Pengaruh Titik Leleh Abu terhadap Pengendapannya pada Pembakaran . Dinding bagian dalam siklon terlihat mengkilap karena terlapisi oleh cairan dari abu yang mencair dengan viskositas yang rendah. naik dan turun lagi memanaskan pipa-pipa oli (d). Bongkahan-bongkahan lelehan abu yang menjadi padat diambil dari kotak abu 2 jam sekali. dalam penampung debu Lokasi e. masuk ke dalam kotak abu. Skema ketel uap dengan pembakar siklon Lokasi a. dalam ruang api Lokasi c. Pengoperasian dengan batubara mengandung abu golongan a yang titik lelehnya diatas suhu operasional pembakar siklon. dalam penampung debu Lokasi e. pemasakan dll. makanan dan industri kimia digunakan untuk memproduksi panas yang disalurkan dengan menyalurkan oli panas (220 – 250°) ke unit-unit proses yang memerlukan seperti untuk pengeringan. Gambar 1. dalam ruang api Lokasi c. Sebaran abu dalam siklon dan ketel uap adalah : Lokasi a. dalam siklon Lokasi b. bagian bawah cerobong Keluar dari sistem lewat cerobong : 5% : 0% : 55% : 2% : 25% : 13% Pengoperasian dengan batubara mengandung abu golongan b yang titik lelehnya hampir sama dengan suhu operasional pembakar siklon menghasilkan abu yang lengket.

Tetapi karena perjalanan dari silinder siklon ke lorong api utama melewati moncong siklon yang diameternya 60 cm. Sedangkan penggunaan batubara dengan abu golongan b. maka jumlah abu yang bercampur dengan 1. proses pengeringan pupuk fosfat yang produksinya 1500 kg/jam.3% dari berat pupuk. Demikian pula untuk abu golongan c. sedangkan sampah padat yang tertiup kedalam pengering berputar tidak diukur karena jumlahnya relatif kecil setelah bercampur dengan komoditas yang dikeringkan. Sebagai contoh. Hanya kurang dari 10% yang tertinggal didalam silinder siklon. untuk fasilitas industri berupa ketel uap jenis pipa api.39 atau hanya berbeda sedikit. maka terjadi turbulensi di dalam lorong api utama sehingga kesempatan partikel abu untuk mengendap dalam lorong ini Gambar 3.5 kg/jam.2. karena lebih cepat mengalirnya.pemanas oli semakin mengecil sehingga tekanan didalam ruang siklon membesar dan aliran api ke dalam pemanas oli terhambat.64 : 1. dalam siklon Lokasi b. sebagian besar abu meleleh keluar dari dalam siklon masuk ke dalam kotak abu. bagian bawah cerobong Keluar dari sistem lewat cerobong : 60% : 0% : 20% : 3% : 5% : 12% 4. abu akan berbentuk tepung padat yang akan tertiup bersama asap. Semakin rendah titik leleh abu.500 kg pupuk fosfat adalah 94 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . dalam penampung abu Lokasi d. Percobaan menggunakan batubara dengan abu golongan c belum dilakukan untuk siklon dengan pemanas oli ini. 3.9 = 1. Perbandingan luas penampang adalah sebanding dengan kuadrat radius atau 652 : 402 = 2. Sebaran abu berupa kerak dan padatan lain adalah : Lokasi a.3 Pengering berputar Gambar 3 adalah skema pengering berputar (rotary dryer) dengan pembakar siklon yang menggantikan posisi pembakar solar. disebabkan viskositas yang rendah. sebagian lagi karena menabraknya partikel-partikel abu ke suatu dinding kemudian terjatuh oleh gaya gravitasi. keluar silinder siklon. selebihnya mengendap dalam bagian-bagian tertentu dari fasilitas industri. Perubahan kecepatan aliran dari dalam silinder siklon ke dalam lorong api utama dipengaruhi oleh luas penampang dan suhu dari kedua lokasi tersebut. semakin banyak abu yang meleleh keluar siklon.64 : 1. Maka perbandingan kecepatan aliran asap didalam siklon/kecepatan asap dalam lorong api adalah 2.5 kg atau 0. sehingga pengendapan partikel abu karena perbedaan kecepatan asap kecil pengaruhnya. Jumlah abu berupa kerak yang menempel di dalam dinding siklon sekitar 60% dan sisanya tertiup dan tercampur dengan produk yang dikeringkan. Sedangkan perubahan suhunya dari sekitar 1470°K didalam siklon menjadi sekitar 770°K didalam lorong api utama atau 1.9 : 1. konsumsi batubara dengan pembakar siklon 90 kg/jam dengan kadar abu batubara = 5% atau jumlah abu yang dihasilkan = 4. identik penggunaannya pada pemanas oli dan ketel uap. 4. dalam rangkaian pipa oli Lokasi e. Mekanisme pengendapan partikel-partikel abu sebagian karena perlambatan aliran asap. karena batubara dengan abu demikian jarang didapat dipasaran. Sebagai contoh. Pada penggunaannya untuk pengeringan pupuk atau semen pozolan yang berputar dalam pengering. PEMBAHASAN Pengendapan abu bertitik leleh tinggi (abu golongan a) Abu dengan titik leleh tinggi. Pembakar siklon berdiameter bagian dalam 130 cm menyalurkan api kedalam lorong api utama dari ketel uap yang berdiemeter bagian dalam 80 cm melalui moncong siklon yang berdiameter bagian dalam 60 cm. sampah padat yang keluar dari pembakar siklon akan masuk kedalam pengering berputar dan bercampur dengan produk pengeringan. dalam ruang api Lokasi c. Pengering berputar Pengamatan sebaran pengendapan abu hanya dapat dilakukan didalam pembakar siklon. Pembakaran harus dihentikan dan kerak dibersihkan.

Sebagian lagi yang tidak sempat menempel di permukaan siklon. Asap kemudian mengalir melalui pipa api yang berdiameter 7. Abu bertitik leleh tinggi (golongan a) sebagian besar atau lebih dari 90%. mengalir ke bawah. Partikel abu yang datang kemudian juga meleleh. maka pengendapan abu dominan berada di penampung abu dan dibagian bawah cerobong. Abu bertitik leleh rendah (golongan c) Pengaruh Titik Leleh Abu terhadap Pengendapannya pada Pembakaran . tetapi viskositasnya belum cukup untuk membuatnya mengalir mengikuti gaya gravitasi.5 cm. Keadaan ini mengakibatkan energi kinetik partikel abu menurun sehingga terkalahkan oleh gaya gravitasi dan terjadi pengendapan. Seperti terlihat pada Gambar 2. sebagian besar abu tertiup keluar pembakar siklon bercampur dengan komoditas yang diproses. melainkan bersifat lengket sehingga menempel dipermukaan dalam pembakar siklon. sehingga partikel abu banyak yang jatuh selain karena perlambatan kecepatan. kembali menuju ruang pengendapan abu. dengan jumlah total di dua lokasi itu sekitar 60 70%. pengendapan abu dengan mekanisme perlambatan kecepatan asap dan tabrakan partikel abu dengan dinding yang membentuk sudut mendekati 90°C dengan arah jalannya asap. Selanjutnya asap bergerak menuju ruang penampung abu dengan penampung yang lebih luas. Dengan demikian maka sebagian besar abu menempel didinding siklon sampai 60 – 75% kemudian di ruang api 10 – 20%. lelehan abu mengalir masuk kedalam kotak abu. b. Pengendapan abu bertitik leleh rendah (abu golongan c) Abu jenis ini segera meleleh terpapar oleh suhu pembakaran dalam siklon. Dengan demikian. Hasil pengamatan ini menunjukkan bahwa pembakaran batubara dengan pembakar siklon. Hanya sebagian kecil yang lolos sampai cerobong. c. Jika viskositasnya rendah. Abu yang datang kemudian terus meleleh. yaitu partikel-partikel abu yang tidak sempat mengalami aglomerasi.juga tidak besar. khususnya yang berupa debu halus keluar bersama asap cerobong. Sebaran abu jenis ini dipengaruhi oleh banyak faktor seperti karakteristik pembakaran batubaranya sendiri. Sebaran abu dalam penggunaan abu bertitik leleh abu tinggi untuk pemanas oli identik dengan penggunaannya untuk ketel uap. Sisa partikel abu lainnya.. atmosfer pembakaran dll (Rance. Karena diameter yang kecil ini maka kecepatan asap dilokasi ini tinggi sehingga didaerah ini pertikel abu yang mengendap hanya sedikit. tertiup keluar siklon. KESIMPULAN 1. dan yang terbawa sampai cerobong hanya sejumlah kecil saja.2. Hanya sedikit sekali yang tertiup ke luar. sifat-sifat lelehan abu. Sumaryono 95 . lengket terpapar oleh panas sehingga segera menempel pada permukaan abu sebelumnya sehingga menambah tebal tumpukan lelehan abu tersebut. Sedangkan penggunaannya untuk pengering berputar. sisanya 5 – 10% tersebar sampai dibawah cerobong. 1975). untuk batubara dengan 3 golongan titik leleh abu menunjukkan : a. 5. masuk kedalam ruang api. kecepatan pembakaran. terlempar keluar tetapi dengan ukuran yang lebih besar karena proses aglomerasi dan jatuh tidak jauh dari lokasi pembakar siklon. juga disebabkan partikel-partikel abu menabrak dinding cerobong. selanjutnya menuju cerobong. sebaran ukuran butir batubara. Pengendapan abu bertitik leleh sedang (abu golongan b) Abu bertititk leleh mendekati suhu operasional siklon ternyata terkumpul di lokasi tidak jauh dari pembakar siklon itu sendiri. Abu jenis ini mulai meleleh pada suhu operasional pembakar siklon. Abu bertitik leleh sedang (golongan b) lebih dari 50% tertahan di dalam siklon berupa kerak. sehingga permukaan dalam siklon hanya tertutup oleh lapisan tipis lelehan abu..1 dan uraian ini menjelaskan proses yang terjadi. pengendapan di penampung abu dominan sebab disini berlangsung 2 mekanisme yaitu mekanisme perlambatan kecepatan asap dan tabrakan partikel asap dengan dasar dari ruang api. Penyebaran endapan abu diberbagai lokasi pengendapan dalam ketel uap telah dikemukakan di sub-bab 3. Banyak partikel abu yang mengendap di bagian bawah cerobong selain karena kecepatan asap melambat atau diameter cerobong yang membesar. juga karena menabrak dinding. Hal ini disebabkan hanya sedikit partikel-partikel abu yang dapat bertahan dalam keadaan padat pada suhu jauh diatas titik lelehnya. Asap berbalik.

Vol. Abu yang mempunyai titik leleh tinggi.. Sebagian kecil tertinggal di saluran-saluran asap dan yang berukuran halus keluar melalui cerobong. Coal Fired Fluidized Boiler. Brochure. 1975. meleleh didalam siklon dan kemudian mengalir kedalam kotak abu. mudah mencair dan mengalir kedalam kotak abu dan membeku. Semarang. 2009. Abu mencair karena suhu siklon jauh diatas titik leleh abu ini sehingga viskositas lelehan abu rendah. Shell Int.. c. b.. 2007.. 2003.G. Yusgiantoro. lengket melekat di dinding siklon. Mekanisme pengendapan abu terutama disebabkan oleh : a. Rance. P. Jakarta Changzhou Boiler Co.. Bandung. 1991.E. 12 No. LTD. ABB.P. J. Petroleum Co. Connecticut. DAFTAR PUSTAKA Basuki. tertiup keluar siklon dan mengendap dalam perangkap-perangkap abu seperti ruang penampung abu dan bagian bawah cerobong.. H. 96 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . 2003. 13 (29-33). Boiler. LTD. 2. Combustion Fossil Power. Abu menjadi lunak tetapi viskositasnya masih tinggi sehingga bahan ini menjadi lunak. Perlambatan kecepatan asap secara mendadak dan tabrakan partikel abu dengan dinding. Sumaryono. Sustainabilitas Energi di Indonesia Dalam 30 Tahun Mendatang. Development of Cyclone Coal Burner For Fuel Oil Burner Substitution in Industries. B. 3. Coal Quality Parameters and Their Influence in Coal Utilization. Indonesian Mining Journal. Xishan. Singer.sebagian besar atau lebih dari 90%. Seminar Nasional Sustainable Alternatif Energi.C.

dan brookit. dengan kandungan beberapa mineral pengotor seperti magnetit. Bauxite upgrading can be carried out by washing and scrubbing. proses Bayer dan Hall-Heroult ABSTRACT Bauxite is aluminum ore containing 45-60% Al2O3. More than 90% of bauxite deposits have been treated into alumina or aluminum metal. anatas. Jend. Indonesia itself has bauxite reserve deposits more than 900 million metric tons scattered in Riau islands and West Kalimantan. Kata kunci : peningkatan kadar. Bayer and Hall-Heroult processes Pengolahan dan Pemanfaatan Bauksit.Total reserves of bauxite in the world were 24 billion metric tons. kaolinite. kaolinit. Bayer process is the most effective and feasible method for alumina production from bauxite. ilmenite. ilmenit. aluminium. PAC. Lebih dari 90% cadangan bauksit diolah menjadi alumina atau logam alumunium. Total cadangan bauksit dunia adalah sebesar 24 milyar ton. bauksit. 12-30% H2O. pemisahan dengan magnetik dan media berat serta flotasi. Untuk memproduksi sebanyak 2 ton alumina atau 1 ton logam aluminium dibutuhkan bauksit rata-rata 4-5 ton. goethite. aluminum metal. Open pit mining followed by upgrading preceded bauxite extraction to be alumina. and brookite.esdm. antara lain koagulan (alum. pengayakan/klasifikasi. heavy media separation.6030483 Fax. Keywords : upgrading. 022 . with several impurities minerals such as magnetite. Sistem tambang terbuka yang dilanjutkan dengan proses peningkatan kadar mendahului ekstraksi bauksit menjadi alumina. PAC. and AlCl3). rutil. anatase. 12-30% H2O. hematit. gotit.id SARI Bauksit merupakan bijih aluminium yang mengandung 45-60% Al2O3. sisanya dimanfaatkan untuk pembuatan bahan kimia. alumina. Indonesia sendiri memiliki cadangan bauksit terukur lebih dari 900 juta ton yang tersebar di kepulauan Riau dan Kalimantan Barat. magnetic separation. chosen based on the bauxite character to be upgraded. yang dipilih berdasarkan karakteristik bijih bauksit yang akan diolah. Peningkatan mutu (uggrading) bauksit dapat dilakukan dengan cara washing & scrubbing. 623 Bandung 40211 Telp. The alumina produced is processed into aluminum metal through electrolysis process called Hall-Heroult. Sudirman No. the rest is utilized for producing chemicals such as coagulants (alum. siderite. hematite. elektrolisis. Husaini 97 .PENGOLAHAN DAN PEMANFAATAN BAUKSIT Husaini Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. 022 . Proses Bayer adalah cara yang paling efektif dan menguntungkan untuk memproduksi alumina dari bauksit. rutile. Alumina yang dihasilkan tersebut dibuat menjadi logam aluminium melalui proses elektrolisis Hall-Heroult. screening/classification.6003373 e-mail : husaini@tekmira. dan AlCl3). To produce 2 tons of alumina or 1 ton of aluminum metal need about 4-5 tons of bauxite in average. and flotation. siderit.go. bauxite. alumina. electrolysis.

5048. beberapa di antaranya adalah cara washing & scrubbing. Dari percobaan yang telah dilakukan. kadar aluminanya relatif rendah dan kandungan pengotornya relative tinggi. pemisahan dengan magnetik. sisanya yang 20% dengan tambang bawah tanah sampai kedalaman 70 m dibawah permukaan tanah. PAC. Sedangkan jumlah cadangan bauksit di Indonesia sendiri sebesar 907. mengingat bauksit dari tambang memiliki ukuran butir yang bervariasi dan tiap fraksi ukuran memiliki komposisi kimia yang berbeda-beda. hematit (Fe2O3). 720 juta ton (China). Guyana). 20 juta ton (USA).9 milyar ton (Brazil). dan berbagai macam pengotor antara lain adalah magnetit (Fe3O4). Bauksit umumnya mengandung 45-60% Al2O3. Hasil tambang tersebut selanjutnya diproses menjadi alumina berdekatan dengan lokasi penambangan. kaolinit (H4Al2Si2O9). 2009c). 2009a).1. 2009d).1. antara lain koagulan (alum. Penghasil bauksit utama dunia adalah Australia (lebih dari 40 juta ton/tahun). 2007b). maupun hasil penelitian yang dilakukan sendiri. dan AlCl3). PENDAHULUAN Bauksit merupakan bijih aluminium yang terdapat pada mineral gibbsite [Al(OH)3].1 ton untuk memghasilkan 1 ton logam aluminium (Anonim. Sekitar 95% bauksit dunia diolah menjadi alumina atau logam alumunium (Anonim. dan brookit (TiO2) (Anonim. 200 juta ton (Rusia).000 ton (Bangka).100. 3.500. Kazakhstan dan Eropa (Yunani). bauksit dari tambang terlebih dahulu ditingkatkan kadarnya. Berdasarkan data hasil karakterisasi. pemisahan dengan media berat. sehingga total cadangan dunia sebesar 24 milyar ton (Wikipedia.757 ton (terukur) yang tersebar di kepulauan Riau dan Kalimantan Barat.sebesar 3. 3. dan flotasi. ilmenit (FeTiO3). Istilah bauksit diambil dari nama daerah pedesaan Les Baux-de-Provence dibagian selatan Perancis. Cara ini relatif baik untuk meningkatkan kadar alumina. (Husaini dan Wijayanti. cadangan tereka. Berdasarkan data ratarata di dunia. kemudian dibuat menjadi logam aluminium melalui proses elektrolisis Hall-Heroult. Rusia. oleh karena itu produk hasil scrubbing dan pencucian yang diambil adalah fraksi ukuran di atas 2 mm. Jumlah cadangan bauksit di beberapa Negara tersebut pada tahun 2001 diperkirakan sebesar 3.1 milyar ton. Kemudian dari data yang terkumpul dilakukan evaluasi dan pembahasan yang akhirnya sampai kepada kesimpulan. 320 juta ton (Venezuela). Proses Peningkatan Mutu Ada beberapa cara yang sudah umum diterapkan dalam peningkatan kadar bauksit. 2002). diperoleh data bahwa bijih bauksit asal Kijang yang semula memiliki kandungan Al2O3 antara 40. 12-30% H2O. Di Eropa sendiri biasanya menkonsumsi bauksit rata-rata 4. rutil. Peningkatan mutu (uggrading) bauksit yang dapat dilakukan tergantung dari karakteristik bauksitnya. Brazil. Surinam.1 Scrubbing dan screening Proses scrubbing yang dikombinasikan dengan pencucian dan pengayakan untuk meningkatkan kadar alumina dalam bauksit merupakan cara yang sederhana dan cukup efektif yang sudah diterapkan secara komersial. tempat pertama kali ditemukannya mineral ini oleh seorang ahli geologi bernama Pierre Berthier pada tahun 1821 (Wikipedia. internet.8 milyar ton (Australia). Sebelum diekstraksi menjadi alumina. 2007b). India. metodologi yang digunakan adalah dengan cara melakukan survei literatur dari berbagai sumber antara lain hasil penelitian yang terkait dengan tema makalah baik di perpustakaan. setelah melalui scrubbing –screening 98 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . atau dikapalkan ke pabrik peleburan ke berbagai negara di dunia. 700 juta ton (Guyana). bijih bauksit berukuran makin halus mutunya semakin rendah (kandungan pengotor semakin tinggi).36 %. 7. China). sekitar 4-5 ton bauksit dibutuhkan untuk memproduksi 2 ton alumina atau 1 ton sebagai logam aluminium. Cara penambangan yang diterapkan di berbagai belahan dunia umumnya dengan sistem tambang terbuka (80%) dengan kapasitas produksi >100 juta ton bauksit tiap tahun. Asia (Indonesia. 2 milyar ton (Jamaika). Negara lainnya 4. Afrika (Guinea). Umumnya bauksit berukuran di bawah 2 mm. boehmite atau diaspore (AlOOH).4 milyar ton (Guinea). 2. TEKNOLOGI PENGOLAHAN DAN PEMANFAATAN BAUKSIT 3. 770 juta ton (India).1. Amerika Tengah dan Selatan (Jamaika. 680 juta ton (Suriname).000 ton (Bangka). anatas. gotit (FeO(OH)). Alumina yang diperoleh dari proses Bayer.843. dan cadangan hipotetik sebesar 13. 3. Venezuela. pengayakan/klasifikasi. sisanya dimanfaatkan untuk pembuatan bahan kimia. siderit (FeCO3). beberapa di antaranya yang akan dibahas disini adalah scrubbing dan screening. METODOLOGI Untuk menyusun makalah ini. pemisahan dengan magnetik dan media berat serta flotasi.

89 dan pengencer karbon tetra klorida 1.59). produk terapung memiliki kadar Al2O3 sebesar 55. 2007a). Husaini 99 . setelah dilewatkan pemisah magnetik pada kondisi 5 Am-1. dengan kondisi pemisahan yang sama dihasilkan produk non magnetik (58 % berat) dengan kadar Al2O3 57.42-84. 2004).16. 2002).yang didahului peremukan diperoleh produk dengan kadar Al 2 O 3 antara 50.66% dan rasio konsentrasi 78.3 Pemisahan dengan media berat Prinsip pemisahan dengan media berat adalah dengan memanfaatkan perbedaan berat jenis mineral-mineral yang akan dipisahkan. dan Fe2O3 9. sedangkan bagian yang tenggelam memiliki kadar Al2O3 sebesar 12. Jadi kualitas (bauksit) setelah dipisahkan lebih baik dibandingkan sebelum dipisahkan yang mempunyai komposisi kimia awal Al2O3 48 % dan Fe2O3 15 % (Husaini dan Soenara.53-53. Salah satu mineral yang memiliki komponen oksida besi adalah tailing hasil pencucian bauksit Pulau Kijang yang besarnya berkisar antara 9. Teknik pemisahan dengan magnetik ini telah dilakukan juga oleh Jamieson dkk.65 dan media berat (bromoform 2.49 % Fe2O3). 2003).7 %.12 %. Dari uji coba yang telah dilakukan terhadap tailing bijih bauksit (komposisi kimia 48. Salah satu produknya berupa material magnetik (besi oksida) yang memiliki kadar Fe 40%.1. Sedangkan depres- Pengolahan dan Pemanfaatan Bauksit.67% (persayatan bahan baku untuk proses Bayer adalah di atas 51% Al2O3.34 % dan kadar Fe2O3 30. pengatur pH). proses benefisiasi untuk peningkatan kadar alumina dalam bauksit juga dilakukan dengan cara peremukan yang dilanjutkan dengan pengayakan cara kering untuk menurunkan kandungan silikanya (Nandi. yang sebelumnya dipanaskan pada suhu 450 o C. Dengan demikian hematit akan tenggelam karena berat jenisnya lebih tinggi dari berat jenis bromoform. dengan menggunakan bromoform dengan berat jenis 2.05%.8 % dan Fe2O3 9.97 %. Perbedaan sifat permukaan suatu mineral dengan mineral lainnya dapat terbentuk dengan menambahkan zat aktif permukaan (kolektor).25 % dan Fe2O315 %.1.78-89.93 . sebaliknya mineral yang lebih besar berat jenisnya akan tenggelam. 3.18 % dan kadar Fe2O3 7. 2007). sedangkan bauksit yang berat jenisnya lebih rendah dari berat jenis bromoform akan mengapung. sehingga kadar alumina dalam bauksit yang mengapung meningkat.1. Di India. Penggunaan pembusa adalah untuk menstabilkan gelembung udara supaya tidak mudah pecah. Penerapan teknologi pemisahan secara magnetik tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan dalam mengatasi permasalahan penumpukan red mud yang dihasilkan yang besarnya berkisar antara 40-50%) dari berat bijih bauksit yang diolah melalui proses Bayer.14 %. Perolehan alumina yang didapat dari proses scrubbing tersebut berkisar 82. Bahan kimia lainnya yang digunakan adalah pembusa (frother). (2006) terhadap mineral red mud yang dihasilkan dari ekstraksi bijih bauksit dengan soda kostik pada kondisi intensitas rendah dan intensitas tinggi cara basah. Dari data hasil poercobaan dengan menggunakan bauksit berukuran -100+200 mkesh dan waktu pengendapan 20 menit menunjukkan adanya peningkatan kadar Al2O3 dan penurunan kadar Fe2O3 dibandingkan dengan keadaan kadar awalnya.2 Pemisahan dengan magnetik Mineral-mineral bersifat magnetik seperti besi oksida yang terkandung dalam bijih bauksit ataupun tailing hasil ekstraksi bijih bauksit dapat dipisahkan dengan pemisah magnetik (magnetic separator). ini berarti terjadi peningkatan kadar Al2O3 sebesar 4. dan regulator (activator. maksimum 3% silica reaktif dan maksimum 7% Fe2O3).35%. telah dihasilkan produk non magnetik (70% berat) dengan kadar Al2O3 53. 3.4 Flotasi Flotasi merupakan salah satu cara pemisahan yang memanfaatkan perbedaan sifat kimia-fisika permukaan dari berbagai macam partikel mineral.82% dan penurunan kadar Fe2O3 sebesar 2. Sebagai contoh.41 % (Husaini dan Wijayanti. sementara produk kedua berupa material non magnetik yang mengandung silika yang tiggi (93% SiO2) yang pemanfaatannya sangat sesuai untuk konstruksi beton. Cara lain untuk mendapatkan kadar bauksit yang memenuhi syarat dan konsisten adalah dengan mencampurkan (blending) bauksit kadar rendah yang sudah diolah dengan yang kadarnya lebih tinggi (Anonim.. Dalam hal ini mineral besi (hematit) memiliki berat jenis sekitar 7. depressant.98 % Al2O3 dan 11. 3.59. Produk yang ketiga terdiri dari campuran besi dan silika yang umumnya cocok untuk material pengisi. Mineral yang lebih rendah berat jenisnya daripada berat jenis media berat (heavy liquid) akan terapung. Sedangkan untuk tailing bauksit berkadar Al2O3 42. bauksit 2.8% (Husaini dkk. Mineral yang terlapisi kolektor akan bersifat hidrofobik (suka udara) sehingga mudah menempel pada gelembung udara dan dapat diapungkan.

dodecyl trimethyl ammonium chloride (DTAC) atau dodecylguanidine sulfate (DDGS) adalah layak pada kondisi alkalin kuat. piropilit dan kaolinit. Flotasi balik juga berhasil dilakukan untuk memisahkan kaolinit dari diaspore dengan menggunakan kolektor dodecylamine (DDA) dan depressant cationic polyacrylamide (CPAM) pada pH 5. (2) pemisahan dan pencucian pengotor yang tidak larut (red mud) untuk mendapatkan alumina terlarut dan soda kostik.sant berfungsi untuk menekan agar mineral yang tidak diinginkan tidak ikut mengapung. seluruhnya dihasilkan dengan memproses bauksit melalui proses Bayer. Bahan yang diflotasi berupa tailing hasil proses scrubbing dan desliming yang kandungan kuarsanya relatif tinggi. dkk.5 (Guangyi Liu. dkk.1. 3. 2007).72 dan perolehan Al sebesar 81.. Ketiga jenis kolektor tersebut menunjukkan selektifitas yang tinggi terhadap diaspore. Konsentrat bauksit yang mengandung mineral gibsit. Reaksi kesetimbangan mengarah ke kanan dengan meningkatnya konsentrasi soda kostik dan suhu. Hasil penelitian lainnya (Liuyin Xia. (2008) untuk memisahkan mineral kaolinit. Kanji (starch) digunakan sebagai depressant dan ether-amine sebagai kolektor kationik. pemisahan cara flotasi terhadap beberapa mineral pengotor yang terkandung dalam bauksit (diaspore) yang dilakukan pada pH antara 9-10 menghasilkan seletifitas yang signifikan terhadap ilit. Massola dkk. Total produksi alumina dunia sebesar 40 juta ton pada tahun 1995. Hasil percobaan skala pilot pada kondisi pH optimum sekitar 10 menghasilkan konsentrat mutu metalurgi dengan kadar alumina 42. dan DDGS merupakan kolektor terbaik dibandingkan dengan DDAC dan DTAC dalam memisahkan mineral alumino silikat. Kemampuan adsorpsi grup kation CPAM pada permukaan kaolinit yang bermuatan negatif diperlemah oleh induksi dan efek sterik senyawa metil dalam gugus CH2N+(CH3)3 yang membuat CPAM memiliki pengaruh yang kurang signifikan pada adsorpsi DDA pada permukaan kaolinit. Hal ini dilakukan agar bauksit yang sebelumnya mengandung alumina yang rendah dapat ditingkatkan kadarnya sampai memenuhi syarat sebagai bahan baku untuk proses Bayer. Konsentrat yang dihasilkan dari percobaan skala bench scale memiliki ratio Al/Si sebesar 9. dan titan. piropilit dan ilit dari diaspore. Proses Bayer merupakan cara yang paling ekonomis yang memanfaatkan reaksi antara alumunium trihidroksida dan aluminium oksida dengan soda kostik membentuk sodium aluminat. Alumina dapat diperoleh dari ekstraksi bauksit dengan soda kostik. Penelitian mengenai penggunaan kolektor-kolektor yang efektif untuk pemisahan mineral pengotor (lempung) dan depressant untuk menekan diaspore asal China juga telah dilakukan. Lebih dari itu. Kolektor jenis dimer tersebut menunjukkan daya pengumpul yang lebih baik dibandingkan kolektor jenis monomernya. ratio alumina/silika 12.5–8.3%. (2008) telah melakukan penelitian yang inovatif mengenai peningkatan kadar gibsit dengan cara flotasi balik yang menghasilkkan bauksit jenis metalurgi.ù-bis (dimethyl dodeculammonium bromide) dalam flotasi balik telah berhasil memisahkan mineral mineral kaolinit. Pengaruh gugus kationik dari kolektor rantai karbon 12 (12-carbon chain collectors) telah diteliti oleh Hong Zhong. Operasi berikut dilakukan secara berurutan yaitu (1) pelarutan alumina pada suhu tinggi. Kalau yang diapungkan mineral yang tidak dikehendaki prosesnya disebut flotasi balik (reverse flotation). Penelitian sejenis mengenai peningkatan kandungan diaspore dengan flotasi balik untuk memisahkan mineral pengotor juga dilakukan oleh Zhenghe Xu (2004). tetapi cara ini tidak digunakan lagi setelah ditemukan proses baru (Bayer) oleh ahli kimia Austria tahun 1887. (3) hidrolisis parsial larutan sodium aluminat pada suhu rendah untuk mengendapkan 100 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . besi. Bila ditambahkan depressant kanji (corn starch). 2007). Penyerapan CPAM pada seluruh permukaan kristal diaspore mencegah spesi kation DDA untuk terserap pada permukaan diaspore. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemisahan diaspore dari mineral-mineral alumino silikat dengan menggunakan kolektor kation dodecylamine chloride (DDAC).6 dan total perolehan alumina dalam konsentrat akhir (produk non-magnetik) sebesar 69. sehingga diaspore dapat ditekan (tidak ikut mengapung).2. piropilit dan ilit dari bauksit jenis diaspore.25%.3% dan ratio alumina/silika sebesar 11. Ekstraksi bauksit secara komersial pertama kali dilakukan oleh Sainte-Claire Deville di Perancis tahun 1865. daya apung terhadap kaolin lebih baik daripada ilit dan piropilit dalam selang pH tertentu. selanjutnya ditingkatkan lagi kadarnya melalui pemisahan secara magnetik menghasilkan kadar alumina 54%. Hasil penelitian yang didapat menunjukkan peningkatan ratio alumina/silika dari <6 menjadi >10. Pembuatan Alumina Hidrat/Alumina Alumina (Al2O3) adalah material halus berwarna putih mirip dengan garam (Anonim. 2009) menunjukkan bahwa penggunaan kolektor kationik (zat aktif permukaan) jenis butane-á.

nisbah asam 1:4. Produk tawas butek yang dihasilkan mempunyai kadar Al2O3 9. waktu 6 jam.00 % dan Al2O3 48.92-11. nisbah padatan dengan larutan 1:12. Hasil pelarutan bauksit dengan asam sulfat mencapai persen ekstraksi Al 2O 3 dan Fe 2 O 3 tertinggi masing-masing sekitar 99 % dan 65 % pada ukuran butiran 87. bars.Na3AlF6). 2009a).2 Dari alumina hidrat Alumina hidrat [Al (OH)3] dapat dibuat menjadi tawas [Al2(SO4)3] maupun poly aluminium chloride (PAC).4 %. Cryolite sintetik umumnya dibuat dari asam florida dan sodium aluminat (hasil proses Bayer) dengan persamaan reaksi sbb (Anonim. Pembuatan Koagulan 3. Husaini 101 . plates. Fe2O3 11.40.71 %. Pembuatan tawas dari alumina hidrat Pengolahan dan Pemanfaatan Bauksit.5 g/ml). PAC dll).8 (untuk alum komersial rationya 34-35) dan bauksit dengan kadar A12O3 62.3% dan Fe2O3 3% adalah cocok untuk pembuatan alaum. 1999). Sedangan tawas bening yang dihasilkan mempunyai kadar Al2O3 9. rolled into sheets. dkk.04% lolos100 mesh. Dalam pembuatan koagulan ini ada beberapa parameter yang berpengaruh di antaranya adalah konsentrasi asam. Reaksi kimia yang terjadi adalah sebagai berikut: Al2O3 + 3H2SO4 Fe2O3 + 3H2SO4 Al2 (SO4) 3 + 3H2O Fe2 (SO4) 3 + 3H2O Gas asam florida umumnya dibuat dari acid-grad fluorspar dan asam sulfat dengan reaksi sbb : CaF2 + H2SO4 2 HF + CaSO4 Pada proses elektrolisis ini oksigen yang terikat pada alumina bereaksi dengan elektroda karbon menghasilkan gas karbon dioksida dan logam aluminium.3. (4) regenerasi larutan untuk didaur ulang ke tahap (1) dengan penguapan air yang dimasukkan saat pencucian. lama pelarutan 1 jam.1 Dari bauksit (asli/bauksit tercuci/ tailing) Semua mineral yang mengandung unsur aluminium termasuk bauksit dapat digunakan untuk pembuatan koagulan (alum. Hasil ekstraksi ini berupa lumpur yang mengandung larutan aluminium sulfat yang masih bercampur dengan senyawa besi dan residu yang tidak larut. Secara umum sekitar 1 ton alumina dapat dihasilkan dari 2 ton bauksit. suhu pelarutan. konsentrasi asam 40 %. Penelitian pembuatan alum dari bauksit berukuran -100 mesh dengan menggunakan asam sulfat konsentrasi (30-40 %) di dalam reaktor berpengaduk pada suhu 100 o C dan lama pengadukan sekitar 60 menit juga telah dilakukan oleh Husaini (2007). 2009a) : 6 HF + 3 NaAlO2 Na3AlF6 + 3 H2O. Setiap ton aluminium membutuhkan 0. foil. Pada kondisi optimum ini ratio alumina yang didapat sebesar 34. waktu pelarutan.49 % digunakan untuk uji coba tersebut. Dua jenis bauksit Kijang dengan komposisi Al2O3 42. atau rod. maka alumina akan meleleh dan tereduksi menjadi logam aluminium yang dikenal sebagai proses Hall-Héroult. 3. Penelitian yang telah dilakukan oleh Acquah.5 ton anoda karbon. Larutan hasil reduksi selanjutnya ditambah amonia (kadar 21 %) menghasilkan kristal berupa garam rangkap [Al2(SO4)3 (NH4)2SO4xH2O] dengan kadar Al2O3 antara 11-14 %.alumunium trihidrat. (Acquah. Lelehan aluminium selanjutnya dicetak menjadi ingots. Larutan yang sudah dipisahkan dari residunya.55 % dan Fe2O3 2-2. dan ukuran butir bauksit. Proses ini mengkonsumsi energi sangat tinggi. 3.49-12. dan suhu 100oC. suhu 100°C.53 % dan Fe2O3 0.98 %. 3. nisbah padatan dengan larutan.4. dan (5) mengubah trihidroksida menjadi alumina anhidrat melalui kalsinasi pada suhu 1450 oK (Anonim. atau dengan mereaksikan asam florida dengan soda kostik dan alumina dengan reaksi sbb : 12 HF + 6 NaOH + Al2O3 2 Na3AlF6 + 9 H2O (1999) menghasilkan kondisi optimum sebagai berikut: ukuran partikel 7+14 mesh. kemudian direduksi dengan logam Al sambil dipanaskan sampai terjadi perubahan warna dari coklat menjadi hijau muda dengan densitas tertentu (1.4. Fe2O3 15. Selain itu telah dibuat juga tawas butek [Al 2 (SO4 ) 3. dkk. Produk antara ini kemudian dibentuk di pabrik pemrosesan yang mengubah aluminum menjadi produk akhir (consumer products). x H 2O] setelah besi dalam larutan diturunkan terlebih dahulu dengan penambahan larutan Na2S. Kristal yang terbentuk dipisahkan dari filtrat yang masih tersisa. Pembuatan Logam Aluminium Bila alumina (Al2O3) yang diperoleh dari proses Bayer tersebut dipanaskan lebih lanjut sampai suhu 1000 °C dengan bantuan bahan pelebur (cryolite .4.25 %.5-2.

Tundishes. penghambat kebakaran (fire retardant). refraktori.35% SO4. Persamaan reaksi kimia yang terjadi adalah sbb : 2Al (OH)3 + 3H2SO4 Al2 (SO4) 3 + 6H2O Bahan baku proses elektrolisis Hall-Heroult untuk memproduksi logam Al Pembuatan bahan kimia tertentu seperti :busi (spark plugs). pabrik petro kimia. tanpa proses penyaringan.001-0.003% V2O5.040% CaO. Logam Aluminium Proses pemanasan larutan dilanjutkan untuk menguapkan air sampai berat jenis tertentu. <0. dilanjutkan dengan penyaringan. Sedangkan dalam pembuatan PAC. Kemudian ke dalam campuran ditambahkan kapur untuk menurunkan pH sampai 4.3.005-0. 1998. Reheat/Soaking Pits. maka semakin tinggi kandungan aluminanya.50% Na2O. ampelas (abrasive) dan refraktori. pengepakan. besi klorida. fero sulfat. semen.30-0. 2009). karena tidak dihasilkan residu sebagaimana yang diperlihatkan dalam pelarutan bauksit. Bauksit dapat digunakan untuk pembuatan berbagai jenis bahan kimia antara lain alumina hidrat. kepala silinder.050. tawas.0010.0015% P2O5. Cement. <0. Di sektor listrik.0050. dan logam aluminium (Patricia. 4. 1998) adalah 99. Anonim 2007a): Aluminium merupakan salah satu logam yang sangat penting dan digunakan secara luas di sektor transportasi. Electric Arc furnaces.20% SO3. Bila diinginkan produk berupa bubuk. dan Aluminum. 2009b): Di sektor transport. zeolit sintetik. <0.025% SiO2. Di sektor pengepakan. untuk membuat produk pengepak seperti karton untuk jus buah-buahan dan obat-obatan. Alcoa melaporkan penemuan bubuk alumina spesial untuk sistem pembuangan otomatis (auto exhaust system) dan ampelas halus (fine abrasives). maka PAC cair dikeringkan dengan menggunakan spray drier pada suhu tertentu. poli aluminium klorida (PAC). 4. < 0.ini prosesnya sederhana yaitu dengan melarutkan alumina hidrat dengan asam sulfat pada suhu 100°C sampai larut sempurna. aluminium fllorida.015% Ga2O3. Komposisi tipikal alumina (Steven dkk. aluminium digunakan dalam bentuk kawat yang diperkuat dengan baja membentuk kabel listrik. Alumina dapat juga dijadikan bahan kimia (aluminium sulfat. rel kereta api.3-99. 4. konstruksi. Alumina Hidrat Alumina hidrat dapat digunakan untuk pembuatan berbagai jenis bahan kimia antara lain tawas. aluminium digunakan dalam bentuk lembaran paduan untuk kaleng minuman. alumina.008% TiO2. dan panel bodi).020% Fe2O3. lembaran untuk keperluan rumah tangga dan pembungkus komersial.7% Al2O3 (by diff. 9% Cl. Di sektor konstruksi. AlCl3. truk dan bus (lembaran dan plat untuk bodi). <0.005-0. 0. dan proses pengolahan gas alam.1. Iron/Steel Ladles. semen. marmer sintetik.. Larutan jernih hasil penyaringan ini merupakan PAC cair yang spesifikasinya adalah sbb: 12% Al2O3. aluminium digunakan dalam kendaraan bermotor (blok mesin. Open Hearth. Penemuan produk khusus yaitu alumina aktif yang digunakan untuk menghilangkan kontaminan dari proses pengilangan minyak. aluminium digunakan dalam bentuk produk lembaran untuk atap dan dinding. 4. katalis. 0. 102 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . alumina hidrat direaksikan dengan asam klorida dan asam sulfat sampai alumina hidrat larut sempurna.).4.. alum. Soaking Pits. dan listrik (Anonim. kemudian didinginkan sampai mengkristal. 0.2. semakin rendah kadar air kristalnya. Alumina Alumina merupakan produk komoditas yang dapat digunakan antara lain untuk (Steven dkk. dan refraktori.005-0. bauksit digunakan untuk pembuatan Blast Furnaces. Kadar alumina dalam tawas tergantung pada kadar air yang terkandung. Bauksit Asli/Bauksit Tercuci Secara tradisional. dan pesawat terbang. Torpedo Cars. keramik. <0. 0. pasta gigi.0001-0. bahan abrasif. jendela dan pintu dan dicetak menjadi peralatan keras (builders’ hardware). 1. dan poli aluminium silikat sulfat (PASS). aluminium klorida).010% ZnO. rumah tranmisi. PENGGUNAAN BAHAN BERBASIS ALUMINA 4.001-0.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral. Changsha 410083. Cooling and N. 2009b. Yuehua Hu. Shenggui Zhao and Liuyin Xia. Central South University. D. ionic polyacrylamide in the reverse flotation of diasporic bauxite. Penelitian Pendahuluan Pembuatan Tawas dari Bauksit Kijang. 2009a. Husaini dan Wijayanti. Sudirman No. Magnetic separation of Red Sand to produce value. May 1999. PR China. Changsha 410083. Bauksit tercuci dapat dikonversi menjadi alumina melalui proses Bayer dan bila diolah lebih lanjut dengan cara elektrolisis menghasilkan logam aluminium yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan di antaranya di sektor transportasi.att. Perth. Kijang Dengan Cara Pemisahan Menggunakan Media Berat (Heavy Media Separation). Pemilihan cara pengolahan tersebut tergantung pada karakteristik (di antaranya kandungan mineral pengotor) bijih bauksit yang diolah. diakses 17 Juni 2009 Anonim. Bauxite Mineral. 2008. Pengurangan Kadar Besi Dalam Bauksit P. Institute of Industrial Research. School of Minerals Processing and Bioengineering.qal. Hong Zhong. 2007. namun yang sudah diterapkan di Indonesia sampai saat ini hanya dengan cara pencucian dan scrubbing diikuti pengayakan dengan ukuran produk + 2 mm. E. P. Alcoa World Alumina.CSIR. Jamieson. Peningkatan Kadar Bijih Bauksit Kijang Dan Tayan Dengan Metode Scrubbing. Pusltbang tekMIRA Jl.. diakses 30 April 2007 Anonim.kuleuven. diakses 30 April 2007 Anonim.net/africantech/GhIE/Awaso 1. Changsha 410083.5. Australia. Production of Alum From Awaso Bauxite. Obeng Y. htm. dan listrik. Proses peningkatan kadar yang dapat digunakan ada beberapa macam antara lain scrubbing.com/suppliers asp?.au/. 2009. Bauxite – Wikipedia.O. Husaini dkk. School DAFTAR PUSTAKA Anonim. Australia. http://www. Flotation separation of diaspore from kaolinite. Uses of bauxite. http:// www.Accra.doc. bauxite Supplier. Institute of Minerals Processing and Bioengineering.. Changsha 410083. Yuehua Hu. Hong Zhong. http:// www. diakses 17 Juni 2009 Acquah F. The role of cat- Pengolahan dan Pemanfaatan Bauksit.htm. 2007. Yiping Lu. WA. Liuyin Xia. 2009c. Curtin University of Technology. the free encyclopedia.ac. Peningkatan Kualitas Bauksit dari Pulau Kijang dengan Magnetik Separator Cara Basah. Husaini 103 .com. School of Chemistry and Chemical Engineering. Institute of Chemistry and Chemical Engineering. tersebar di Kijang (Riau). 2008. Alumina. dan Tayan (Kalimantan Barat) yang jumlahnya tidak kurang dari 900 juta ton. R. China. http:/ /home. Guangyi Liu. aluminium and bauxite. Laporan Kegiatan Proyek Kelompok Program Teknologi Pengolahan Mineral. Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara.azon. Aluminium. 2002. 2009d. Bahan Galian Industri. Box 161. Husaini. diakses 17 Juni 2009 Anonim. Central South University. Alumina Process. Zhiqiang Huang and Qingwei Chang. Liuyin Xia. China. Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara. 2007b. pyrophyllite and illite using three cationic collectors. Kwinana... A.mtm. Stockton. Mensah B. PR China. Shenggui Zhao and Xinyang Yu. 2006..The European Aluminium Association. Central South University. 2007. Jend.. 2003. pemisahan dengan magnetik dan media berat serta flotasi. Guangyi Liu. 2007a. Balitbang energi dan sumberdaya mineral. diakses 17 Juni 2009 Anonim. Bauxite Information. pengepakan. konstruksi. published in the Ghana Engineer. Flotation separation of the aluminosilicates from diaspore by a Gemini cationic collector. KESIMPULAN Potensi cadangan bauksit di Indonesia relatif besar. Central South University. 623 Bandung. Jones. htm. Ghana. Technology Delivery Group. WA 6966. Husaini dan Trisna Soenara. Guangyi Liu. Hong Zhong.be/Education/ N o n M a t I r C o u r s e s / M a t / 5 c%20aluminium.

R. Fazenda Chorona. MG. Patricia A. Suraksha Apartments.nsf/ProductLookupItemID/JOM-980534/$FILE/JOM-9805-34F. McGrath and Lawrence C. 2004. 104 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Department of Chemical and Materials Engineering. MFC Commodities India 104-B. C. Brazil. aDepartment of Mining and Petroleum Engineering–Escola Politécnica.P. Central South University.F. Chaves. 2373. Steven F. Verne Plitt and Qi Liu. Plunkert. Amravati Road Nagpur-440033. and Andrade. USP. Hindustan Colony. 16.tms.. Nandi. Farrar. Tianjin University.of Chemistry and Chemical Engineering.. 2004. A. Miraí Department.. 1998. Prof. 536 Chemical-Mineral Engineering Building.. J. Tianjin 300072. 410083. Edmonton. http://minerals. Bauxite And Alumina. 2009. Minerals and Metals Division. Recent advances in reverse flotation of diasporic ores– –A Chinese experience.. Companhia Brasileira de Alumínio. Changsha.org/ezMerchant/ prodtms. 05508-900 SP.B. http://doc. PR China.pdf. Zhenghe Xu. bSchool of Chemical Engineering and Technology. Lima.usgs. Canada T6G 2G6. diakses Juni 2009. C. Miraí 36790-000. University of Alberta. Present Status Of BauxiteAlumina Industry Of India. Alta. Massola. INDIA. Sonochemical Technology for Processing Bauxite.gov/minerals/pubs/commodity/bauxite/090495. 2008. PR China. A.pdf?OpenElement. K. Brazil. Mello Moraes Av. Separation of silica from bauxite via froth flotation.P.

PRESENTASI MAKALAH PARALEL III .

0.go.034 mg/L) pada semua lokasi penelitian yakni di daerah hulu. WAC 172 – 204 – 320). yakni mengolah tailing yang berasal dari proses amalgamasi dengan cara sianidasi. Propinsi Sulawesi Utara. Konsentrasi Hg pada sedimen yang berkisar pada 0. Pada saat ini. amalgamasi. Kabupaten Bolaang Mongondow. sehingga produk yang dihasilkan sangat rendah dan dapat menimbulkan pencemaran yang tinggi. merkuri. Konsentrasi Hg di air berkisar antara (0. Sudirman 623 Bandung 40211 Telp.. proses yang berlangsung merupakan gabungan dari proses amalgamasi dan sianidasi.KARAKTERISASI MERKURI DALAM SEDIMEN DAN AIR PADA PENGOLAHAN TAILING AMALGAMASI DI KEGIATAN PERTAMBANGAN EMAS RAKYAT SECARA SIANIDASI (STUDI KASUS KUD PERINTIS. Kurangnya pengetahuan dan keterampilan para penambang emas rakyat menyebabkan limbah tailing dari bijih emas berbentuk halus yang masih mengandung emas dan bulir Hg langsung dibuang ke perairan. Jend.id SARI Pengolahan bijih emas pada pertambangan emas rakyat umumnya dilakukan dengan proses amalgamasi menggunakan merkuri (Hg). M. dan hilir.20 ppm di semua lokasi penelitian belum melewati ambang batas aman terhadap racun yang ada (sesuai Washington state Sediment. tambang emas skala kecil yang dikelola KUD Perintis mengalihkan proses pengolahan emas dari secara amalgamasi cara sianidasi untuk meningkatkan perolehan bijihnya.id.esdm. DAERAH TANOYAN SELATAN) M. pertambangan emas rakyat Karakteristik Merkuri dalam Sedimen dan Air pada Pengolahan .01 . tailing.0. Lutfi dan Retno Damayanti 105 .17 .esdm. (022) 6003373 e-mail : lutfi@tekmira. (022) 6030843 Faks. Lutfi dan Retno Damayanti Psat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. Kata kunci : pertambangan rakyat. outlet pengolahan. retnod@tekmira.. Dampak negatif kegiatan pengolahan tailing amalgamasi dengan cara sianidasi diamati melalui kondisi kualitas perairan dan sedimen disekitar lokasi pengolahannya. Di Kecamatan Lolayan. Kondisi ini telah melewati baku mutu yang diperbolehkan dalam (Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air Kelas II dan KEP202/MENLH/2004 tentang Baku Mutu Limbah Bagi Kegiatan Pengolahan Bijih Emas dan/atau Tembaga.go. Tetapi kadar merkuri di sedimen itu dapat meningkat seiring turunnya merkuri di air ke dasar sungai.

0. PENDAHULUAN Salah satu tujuan pembangunan nasional yang berwawasan lingkungan adalah terciptanya keserasian hubungan antara manusia dengan lingkungan alam sekitarnya dengan cara pembangunan yang berkelanjutan. Of course it will produce low gold recovery and cause high risk in environmental pollution. Secara umum proses sianidasi pada pengolahan bijih emas pada pertambangan emas rakyat dilakukan pada kondisi basa. tailing. The negative impacts of cyanidation process to the amalgamation tailing was conducted by observe the water quality and its sediment surrounding the processing area. Proses sianidasi untuk tailing pengolahan dipakai untuk meningkatkan perolehan produknya. Usaha pertambangan oleh sebagian masyarakat sering dianggap sebagai penyebab kerusakan dan pencemaran lingkungan.com). miners usually dispose tailing that contains gold and mercury directly to the water. Kurangnya pengetahuan dan keterampilan para penambang. Dalam laporan Komisi Sedunia tentang Lingkungan dan Pembangunan (WCED. gold artisanal mining 1. seperti Cu. Namun proses sianidasi ini.fathom. Merkuri (Hg) yang dipakai dalam pengolahan ini termasuk dalam kategori B3 (Rachmat Yusuf.01 . Due to the lack of skill and knowladge. perolehan hasil akhir (produk) yang didapat sangat rendah. Oleh karenanya pengelolaan bahan galian harus diupayakan secara optimal sesuai denganazas konservasi dan berwawasan lingkungan dengan menekan dampak negatif yang ditimbulkan seminimal mungkin. menimbulkan juga dampak negatif karena tailing amalgamasi masih mengandung merkuri dan logan ikutan lainnya. Sebagai contoh. 2004).034 mg/L. But sometimes they were combined both of the two methodes by processing the amalgamation tailing with cyanidation methode. Zn. These are still in the permitted concentration range (based on Washington state Sediment. cyanidation. pengolahan bijih emas dilakukan melalui proses amalgamasi dengan merkuri (Hg) sebagai media untuk mengikat emas. 82/2001 about Water Quality Assessment and Water Pollution Handling Class II and in the Decree of Environment Ministry KEP-202/MENLH/2004 about Waste water standard for Gold/Copper Processing.17 0. Berdasarkan kenyataan tersebut. Pb. WAC 172-204-320). 1987) pembangunan berkelanjutan didefinisikan sebagai “pembangunan yang mengusahakan dipenuhinya kebutuhan sekarang tanpa mengurangi kemampuan generasi yang akan datang untuk memenuhi kebutuhan mereka” (www. But mercury concentration could become increased as the mercury Keywords : amalgamation. Meskipun sebagian besar sianida dalam proses pengolahan ini dapat dimanfaatkan kembali. Unfortunately. the small scale goldmining whichmanaged by KUD Perintis change gold processing from amalgamation to cyanidation methode to improve gold ore receipt. penyebaran dan termetilasi (pembentukan metil-Hg).20 ppm in all sampling location. air larian dari penyaringan kompleks emas sianida masih tetap mengandung senyawa beracun ini meski dalam 106 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Adanya interaksi ion Hg dengan CN akan mempermudah kelarutan. the mercury concentration has exceeded the standard mentioned in Government Regulation No. Sebagai akibatnya. pada kegiatan usaha pertambangan emas skala kecil. menyebabkan limbah yang berupa ampas pengolahan (tailing) yang dihasilkan masih mengandung emas dan butir-butir Hg yang biasanya langsung dibuang ke perairan. Mercury concentration in water was found in the range of 0.ABSTRACT Artisanal gold mine generally proceeds in amalgamation process. At Lolayan in the Bolaang Mongondow district. Those happened in almost entire waters from upstream to downstream. tambang rakyat di Sulawesi Utara mengubah sistem pengolahannya dengan menggunakan proses sianidasi baik untuk mengolah bijihnya ataupun ampas pengolahannya yang masih mengandung emas. Mercury concentration in the sediment found in the range of 0. North Sulawesi. sehingga diperkirakan bahaya yang ditimbulkan akan lebih tinggi.

jumlah yang relatif sedikit. Diagram alir proses pengolahan bijih emas sistem sianidasi Karakteristik Merkuri dalam Sedimen dan Air pada Pengolahan . Setelah proses pelindian selesai.stamp mill. Parameter CN total yang berasal dari perairan dan kolam pengendapan akan ditentukan pula. Lutfi dan Retno Damayanti 107 . Dampak pemakaian sianida pada kegiatan pengolahan emas di tambang-tambang rakyat diperkirakan akan lebih serius mengingat senyawa sianida tersebut mampu melarutkan logam-logam lain yang terdapat di dalam batuannya. Tailing Amalgamasi Tanki Penampungan crusher. biasanya hasil tailing proses amalgamasi diproses lagi guna meningkatkan perolehan bijih. dilakukan dengan proses penyaringan (screening) untuk memisahkan karbon aktif yang telah menyerap kompleks sianida .. M. abu hasil penggarangan ditambah boraks dan digarang lagi untuk menghasilkan bulion emas dan perak. Disamping itu akan diamati pula kandungan logam-logam berat lain yang terdapat dalam batuan pembawa bijihnya serta karakteristik sedimen pada kolam pengendapan pada proses sianidasi. Tahapan-tahapan proses pengolahan dengan sistem sianidasi dapat dilihat pada Gambar 1. Di samping itu apabila kreativitas rakyat dalam mengkombinasikan proses amalgamasi dan sianidasi tidak dapat terkontrol diperkirakan akan terjadi pula peningkatan dalam jumlah merkuri yang ikut terlarutkan. Karbon aktif hasil penyaringan tersebut digarang (roasted) sampai menjadi abu untuk menghilangkan senyawa sianidanya. Bulion tersebut selanjutnya direaksikan dengan aqua regia untuk memisahkan emas dan peraknya. Penelitian ini hendak melihat karakteristik merkuri yang berasal dari tailing amalgamasi yang diolah dengan cara sianidasi.. ball mill Larutan NaCN Kapur Reaksi yang terjadi: 2 Au + 4 NaCN + 1/2 O + H O  2 NaAu(CN) + 2 NaOH Tanki Reaktor Sianidasi Karbon Aktif Screen (penyaring) Tailing Karbon aktif yang  menyerap kompleks  emas dan sianida Roasting (penggarangan)   Settling Pond (kolam pengendap) Roasting (penggarangan) Bullion Emas dan Perak Gambar 1.emas dan membuang tailingnya. Berbeda dengan kontaminasi yang umumnya terjadi di lingkungan. penurunan kualitas air permukaan yang disebabkan oleh adanya logam-logam berat terlarut akibat proses sianidasi merupakan parameter yang akan dominan diamati. Pada kegiatan tambang rakyat yang dilakukan di KUD ini.

Peta kesampaian daerah Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan survey langsung (Grounded checking). dan hilir pengolahan. Lokasi pengambilan conto air ada di 3 tempat. conto bijih. ampas. air. yaitu di hulu pengolahan. Gambar 2. sedimen. meliputi. dapat membuat contoh bertahan hingga 7 hari. Conto yang akan dianalisis disaring terlebih dahulu untuk menghindari suspensi yang terlarut. conductivity meter. Parameter tertentu seperti pH dan Daya Hantar Listrik ditentukan langsung di lapangan dengan mengguna- Untuk parameter logam. Penyaringan dibantu dengan pompa vacuum untuk mempercepat proses. volume conto yang diperlukan adalah sebanyak 100 mL untuk merkuri.2. Sulawesi Utara. Untuk keperluan analisis laboratorium. Lokasi ini dipilih berdasarkan pertimbangan bahwa daerah ini merupakan salah satu daerah tambang rakyat yang dikelola oleh KUD Perintis yang mengolah bijih emas dan tailing amalgamasi dengan proses sianidasi. Untuk merkuri diberikan penambahan pengawet HNO3 dengan pH <2 yang dapat bertahan hingga 6 bulan. penyimpanan contoh dilakukan dalam wadah contoh bervolume 500 mLyang terbuat dari plastik. Metode Pengambilan Conto yang dilakukan. sedangkan analisis yang digunakan untuk logam berat dengan metode AAS. 108 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Kabupaten Bolaang Mongondow. kan peralatan pH meter (water quality checker). Pada lokasi pengolahan dilakukan pengambilan contoh di 4 kolam pengendapan. yang meliputi pengambilan contoh air dan sedimen. lokasi pengolahan. Parameter kimia lain seperti merkuri dan logam-logam terlarut ditentukan dengan Atomic Absorption Spectrometer. Titik-titik lokasi tersebut ditampilkan pada gambar 2. METODOLOGI Lokasi Penelitianterletak di daerah Tanoyan. Lokasi penelitian terletak + 240 km dari Kota Manado atau 30 km dari Kota Kotamobagu (gambar 2).

Pengambilan conto sedimen dilakukan secara grab sampling dengan menggunakan sekop pada lokasi pengambilan air dan di salah satu mulut tambang. Conto yang diambil masing-masing ± 1 kg, kemudian dimasukkan ke dalam kantung plastik berlabel. Adapun parameter-parameter yang dianalisis di laboratorium adalah merkuri (Hg) dan logam-logam berat lain seperti Pb, Cu dan Zn.

3. 3.1.

HASIL DAN PEMBAHASAN Kualitas Air (Air Sungai)

Kualitas air merupakan hal yang paling pokok dalam kegiatan ini karena air (sungai) merupakan tempat bercampurnya faktor-faktor alami dengan unsur-unsur pencemar dan air juga merupakan unsur esensial yang dibutuhkan oleh makhluk hidup dalam kehidupan kesehariannya (UNEP,

Gambar 3. Peta lokasi pengambilan contoh

Tabel 1. Koordinat lokasi pengambilan contoh No. 1 2 3 Lokasi Hulu Pengolahan Hilir Titik LU 124° 15’ 40,22" 124° 15’ 05,27" 124° 16’ 23,34" BT 0° 36’ 28,47" 0° 36’ 27,83" 0° 36’ 2,81"

Karakteristik Merkuri dalam Sedimen dan Air pada Pengolahan ... M. Lutfi dan Retno Damayanti

109

1991). Sehingga dapat dikatakan badan air merupakan tempat interaksi langsung antara unsur hayati dengan unsur pencemar. Secara alamiah sungai mempunyai kemampuan dalam pembersihan diri (self purification) sepanjang buangan yang diterima sungai tidak melebihi kapasitas asimilasi sungai (assimilative capacity). Sementara, dalam kurun waktu cukup lama, unsur merkuri yang terbuang ke sungai kemungkinan dapat menjadi senyawa metil merkuri yang berbahaya melalui proses yang terjadi secara alamiah.Hasil pengukuran parameter fisik air di lapangan (pH, temperatur, DHL, TDS, dan TSS) dapat dilihat pada Tabel 2 di bawah.

Analisis laboratorium conto air untuk logam berat ditentukan dengan metode spektrofotometri. Kegiatan tersebut digunakan untuk mengetahui perubahan-perubahan yang telah terjadi di daerah sekitar penambangan khususnya dan daerah Tanoyan Selatan, Kecamatan Lolayan sebagai akibat adanya pertambangan bijih emas dengan sebagian besar hasil pengolahan limbahnya dibuang ke anak sungai Onggak. Hasil analisis laboratorium conto air dapat dilihat pada tabel dibawah ini. Menurut data kualitas air yang diperoleh, diketahui kadar merkuri (Hg) di semua lokasi percontoan

Tabel 2. Parameter fisik contoh air di lokasi pengolahan dan sungai di sekitarnya No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Lokasi Air bor dapur Kolam pengolahan 1 Kolam pengolahan 2 Kolam pengolahan 3 Kolam pengolahan 4 Outlet pengolahan bijih Hulu Sungai Tanoyan Outlet pengolahan keseluruhan Hilir pH 8,34 8,37 6,35 8,56 2,85 8,2 8,34 8,12 8,37 TDS 160 500 390 250 670 210 160 190 180 Suhu [°C] 30,2 29,3 31,4 31,1 27,2 24,8 27,3 28,3 DHL [µmhos] 852 648 391,4 989 312 245,7 337 267,8 TSS [mg/L] 4.8 88 208 743 108.8 18 42 4.8

Tabel 3. Hasil analisis sianida dan logam-logam berat dalam contoh air di lokasi pengolahan dan sungai di sekitarnya No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Lokasi Air bor dapur* Kolam pengolahan 1 Kolam pengolahan 2 Kolam pengolahan 3 Kolam pengolahan 4 Outlet pengolahan bijih Hulu S. Tanoyan** Outlet pengolahan keseluruhan*** Hilir S. Tanoyan (Hulu S. Onggak)** Baku Mutu* Baku Mutu** Baku Mutu *** CN Total [mg/L] 0,058 86,400 3,920 21,700 2,170 16,700 0,066 7,960 0,019 0,1 0,02 0,5 Hg [mg/L] 0,055 0,17 0,16 0,17 0,15 0,20 0,024 0,010 0,034 0,001 0,002 0,005 Pb [mg/L] 0,110 0,068 0,073 0,110 0,170 0,097 0,089 0,083 0,110 0,05 0,03 1 Cu [mg/L] 0,002 8,110 26,200 4,790 1,490 3,230 0,150 0,042 0,0160 1 0,02 2 Zn [mg/L] 0,073 0,550 0,055 0,033 0,080 0,068 0,048 0,030 0,023 5 0,05 5

Catatan: * Peraturan Menteri Kesehatan RI No.: 416/MENKES/PER/IX/1990 tentang Daftar Persyaratan Kualitas Air Minum ** Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air Kelas II *** KEP-202/MENLH/2004 tentang Baku Mutu Limbah Bagi Kegiatan Pengolahan Bijih Emas dan/atau Tembaga

110

PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009

(hulu dan hilir sungai Tanoyan serta outlet pengolahan keseluruhan) sudah melebihi baku mutu yang ditentukan. Bahkan pada daerah hulu, dimana badan air belum mendapatkan masukan dari proses pengolahan maupun proses penambangan, kadar merkuri pun sudah diatas baku mutu. Hal ini dapat terjadi karena adanya proses amalgamasi oleh penambang-penambang lain di luar KUD yang menggunakan merkuri di daerah sungai yang lebih tinggi dan/atau adanya susunan batuan yang mengandung merkuri (Tabel 4 hasil analisis batuan asal) di daerah penelitian.

sebelum masuk kolam pengolahan (outlet pengolahan bijih) adalah 0,2 mg/L, dan setelah melewati 4 kolam pengolahan turun hingga 0,01 mg/L atau turun sebanyak 0,19 mg/L. Kadar merkuri di daerah hilir lebih tinggi dibandingkan dengan daerah outlet pengolahan menandakan adanya penambahan merkuri yang mungkin berasal dari kegiatan di sekitar sungai tersebut meskipun pemerintah daerah sudah melakukan berbagai pembatasan. Kadar sianida yang berada diatas baku mutu terdapat di daerah/area pengolahan, hal ini

Tabel 4. Hasil analisis sedimen pada kedalaman 0 – 10 cm dan batuan No. 1 2 3 4 5 6 7 8 Lokasi Kolam pengolahan 1 Kolam pengolahan 2 Kolam pengolahan 3 Kolam pengolahan 4 5 meter dari pengolahan bijih Hulu S. Tanoyan* Hilir S. Tanoyan (Hulu S. Onggak)* Lubang tambang (batuan asal) Baku Mutu*
Catatan: * Washington state Sediment, WAC 172 – 204 – 320

Hg Pb [ppm] [ppm] 0,70 0,37 0,36 3,01 2,66 0,17 0,20 0,16 0,41 tt 14,14 65,40 33,90 17,27 tt tt 6,88 450

Cu [ppm] 17,86 47,10 162,00 60,7 130,00 56,70 87,90 34,70 390

Zn [ppm]

As [ppm]

Cr [ppm] 45,6 56,5 86,0 79,3 158,4 42,0 47,5 38,5 250

Ni [ppm] 8,31 4,27 8,98 0,88 2,35 3,87 4,06 10,47 -

54,3 74,70 136,0 51,00 367,0 39,00 136,0 105,00 74,9 74,20 100,0 0,97 97,8 1,29 428,0 1,74 410 57

Hasil penelitian terdahulu (Selinawati dan Ngurah Ardha, 2003) pada pertambangan emas di KUD Perintis data kualitas air yang mengandung kadar merkuri di kolam pengolahan 1 adalah 0.0814 ppm, kolam pengolahan 2 adalah 0.0539 ppm, sedangkan pada S. Onggak (hilir S. Tanoyan) mencapai 0.0011. Pada saat itu, KUD Perintis melakukan pengolahan dengan proses amalgamasi saja dari bijih emas dan menggunakan hanya 2 kolam pengolahan. Data menunjukkan bahwa konsentrasi Hg dalam air sangat kecil, hal ini kemungkinan disebabkan karena kelarutan Hg dalam air sangat kecil. Pada penelitian ini (2008) nilai konsentrasi Hg di daerah pengolahan berkisar antara 0,15 – 0,20 ppm. Peningkatan ini dimungkinakn oleh adanya ion CN dalam pengolahan tailing amalgamasi yang dapat melarutkan Hg. Berdasarkan hasil pemeriksaan kandungan logam, kolam pengolahan efektif dalam menurunkan kadar merkuri pada air buangan, dimana kadar merkuri

dikarenakan proses pengolahan tailing amalgamasi menggunakan proses sianidasi. Pada proses sianidasi ini ditambahkan unsur Zn untuk mengendapkan logam emas dan peraknya. Tetapi rendahnya konsentrasi Zn di dalam air (tabel 2) dibandingkan konsentrasi awal/alami Zn pada batuan bijih (tabel 3) disebabkan terjadinya pengendapan unsur Zn selama aliran pengolahan. Proses yang biasanya terjadi adalah: 2Zn + 2NaAu(CN)2 + 4NaCN + 2H2O = 2Au + 2NaOH + 2Na2Zn(CN)4 + H2 3.2. Kualitas Sedimen Sedimen merupakan tempat logam berat mengendap secara gravitasi di badan perairan. Kualitas sedimen badan perairan harus lebih serius diperhatikan karena sifatnya sebagai tempat akhir logam berat di alam. Dan pada akhirnya logam berat yang ada di sedimen dapat kembali ke badan

Karakteristik Merkuri dalam Sedimen dan Air pada Pengolahan ... M. Lutfi dan Retno Damayanti

111

air karena berbagai hal, misalnya karena arus sungai, hujan, atau jalur transportasi (DPE. Pedoman Teknis Penyusunan AMDAL untuk kegiatan Pertambangan dan Energi, 1996). Kontaminasi merkuri (Hg) dalam sedimen sungai terjadi karena proses alamiah (pelapukan batuan termineralisasi), proses pengolahan emas secara tradisional (amalgamasi), maupun proses industri yang menggunakan bahan baku yang mengandung merkuri. Untuk mengetahui sumber kontaminasi Hg ini perlu diperhatikan dengan cermat. Untuk mengetahui adanya kontaminasi logam berat dalam sedimen maka dilakukan pemeriksaan sedimen di lokasi yang diperkirakan terkena dampak proses pengolahan tailing. Pengambilan conto sedimen dilakukan pada kolam pengendap, hulu sungai, hilir sungai. Selanjutnya conto sedimen, batuan bijih, dan tanah dianalisis di laboratorium menggunakan metode AAS. Dari hasil analisis conto tersebut di atas, kemudian dilakukan perbandingan dengan peraturan dan standar yang dapat dianggap sebagai tolok ukur

kualitas konsentrasi unsur di alam. Oleh karena itu sumber acuan yang dijadikan sebagai pembanding pada laporan ini adalah Washington state Sediment, WAC 172 – 204 – 320. Data kualitas sedimen dapat dilihat pada tabel 4. Adapun hasil penelitian kandungan merkuri dalam sedimen apabila dibandingkan dengan data tahun 2003 menunjukkan penurunan. Namun demikian nilai tersebut masih dibawah ambang batas aman. Untuk mengetahui lebih jelasnya mengenai kualitas air dan sedimen pada tahun 2003 sebagai pembanding dapat dilihat pada Tabel 4. Berdasarkan hasil diatas, terlihat bahwa kandungan merkuri pada sedimen di daerah yang memiliki dampak terhadap kehidupan masyarakat sekitar (daerah hulu dan hilir sungai Tanoyan) berada dibawah ambang batas aman yang dikeluarkan Washington state Sediment, WAC 172 – 204 – 320. Tetapi tetap perlu diperhatikan adanya keterkaitan antara kadar merkuri di air dan sedimen dengan beberapa faktor lingkungan, yaitu hujan, arus sungai, dan jalur transportasi masyarakat.

Tabel 5. Conto data kualitas air dan sedimen di KUD Perintis tahun 2003 No 1 2 3 4 5 6 Lokasi Kolam Pengolahan 1 Kolam Pengolahan 2 S. Tanoyan 1 (Hulu S. Tanoyan) S. Tanoyan 2 S. Tanoyan 3 S. Onggak Konsentrasi Hg [ppm] Air 0,0814 0,0539 0,001 0,0739 0,0179 0,0011 Sedimen 0,67 3,12 0,42 1,49 5,97 0,92

Sumber : Selinawati dan Ngurah Ardha, 2003

Gambar 4. Hubungan keterkaitan antara konsentrasi merkuri di sedimen dan air

112

PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009

Kesimpulan Berdasarkan hasil kajian pengolahan tailing dengan proses sianidasi dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: Berdasarkan informasi dari penambang karakterisasi pada kegiatan pengolahan tailing amalgamasi dengan proses sianidasi dipertambangan emas rakyat dapat meningkatkan efisiensi perolehan bulion emas dari bijihnya.0. Perlu dibentuk wilayah pertambangan rakyat (WPR) untuk lebih memudahkan pemerintah dalam hal koordinasi dan pengawasan kegiatan penambangan dan pengolahan emas rakyat.17 .01 . Departemen Pertambangan dan Energi. DAFTAR PUSTAKA Anonim. 1996. WAC 172 – 204 – 320) yaitu sebesar 1 ppm. Kadar merkuri di air pada daerah pengolahan relatif rendah dibandingkan pada sedimen. di mana semakin ke hilir badan air.. Protocol for Environment and Health Assessment.com/course/seasion2 Karakteristik Merkuri dalam Sedimen dan Air pada Pengolahan . Konsentrasi Hg di air (0.034 mg/L) pada semua lokasi penelitian (hulu. Washington NEL. Saran Dari kegiatan penelitian merkuri dalam sedimen dan air pada pengolhan tailing amalgamasi di pertambangan emas rakyat secara sianidasi.. Global Mercury Project. maka diperlukan: Pembinaan terhadap para penambang dan pengusaha pengolahan tailing agar lebih memeperhatikan aspek lingkungan dalam setiap kegiatannya.Pada Gambar 4 ditunjukkan hubungan antara konsentrasimerkuri di sedimen dan air.2.0. Kegiatan pengolahan tailing amalgamasi dengan proses sianidasi memberikan dampak negatif terhadap kualitas air dan sedimen disekitar lokasi pengolahannya. Tetapi kadar merkuri di sedimen itu dapat meningkat seiring mengendapnya merkuri ke dasar sungai. Sedangkan jumlah merkuri di air dan sedimen sangat berkaitan. 4. outlet pengolahan.Ucapan terima kasih juga ditujukan kepada Bapak Marsen Alimano dan Ibu Wulandari Surono yang telah membantu selama percobaan dan penelitian ini berlangsung. hujan. 2004. ataupun lintasan transportasi dari masyarakat sekitar. Proses kombinasi ini diterapkan karena keberadaan bijih emas dengan bentuk kasar semakin sedikit. dan hilir) melewati baku mutu yang diperbolehkan (sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air Kelas II dan KEP-202/MENLH/2004 tentang Baku Mutu Limbah Bagi Kegiatan Pengolahan Bijih Emas dan/atau Tembaga). KESIMPULAN DAN SARAN 4. antara lain arus sungai (karena merupakan sungai dangkal). Diperlukan adanya pengawasan yang lebih ketat dari pemerintah baik pusat maupun daerah berkaitan dengan kegiatan penambangan dan pengolahan emas yang memiliki dampak besar terhadap lingkungan. hal ini disebabkan oleh adanya ikatan kompleks sebagai senyawa merkuri-sianid (HgCN) yang mengendap. dari +40% secara amalgamasi sendiri menjadi +90% secara kombinasi amalgamasi dan sianidasi. Lutfi dan Retno Damayanti 113 .1.20 ppm) pada semua lokasi penelitian belum melewati ambang batas aman terhadap racun yang ada (sesuai UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Selinawati TD dan Bapak Harry Tetra Antono atas saran serta sumbang wawasan terhadap tulisan ini. sehingga meningkatkan pendapatan para penambang. Draft. M. Sediment Quality Standards (WAC 172204-320). Pedoman Teknis Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Untuk Kegiatan Pertambangan dan Energi.. http://www. Washington state Sediment.fathom. Konsentrasi Hg pada sedimen (0. dimana keberadaan merkuri di air merupakan tempat singgah sementara sebelum sampai di dasar (berkaitan dengan berat jenisnya) dan juga merupakan pelepasan merkuri dari sedimen yang diakibatkan beberapa faktor. 4.

D. and Ngurah Ardha. Amalgamasi. Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. Penanggulangan Masalah Pertambangan Tanpa Izin (PETI) (Implementasi Inpres No. 2004. Study On Mercury Lost and Its Concentration from Artisanal Gold Minings in Indonesia. Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara. Penambangan dan Pengolahan Emas di Indonesia. 1987 114 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Rachmat. 2003.Tim Terpadu Pusat Penanggulangan Masalah Pertambangan Tanpa Ijin (PETI. 3 Tahun 2000).T. Selinawati. Yusuf. World Commision on Enviroment & Development (WCED). 2000. Research and Development Center for Mineral and Coal Technology.

go. 22. ultrasonic.. Sebelum umpan dipisahkan menggunakan variabel – variabel optimum pada electrostatic separator terlebih dahulu umpan mendapat perlakuan ultrasonik (sonikfikasi). electrostatic separator ABSTRACT Zircon as tailing product of alluvial gold processing in Central Kalimantan has low grade that is 36. 022 .esdm. 115 .esdm.5 Variabel optimum pada ultrasonik yaitu selama 30 menit dimana umpan yang mendapat perlakuan ultrasonik dapat membersihkan pasir zirkon dari unsur –unsur minor yang tidak diinginkan. Kata kunci: zirkon. Sudirman 623 Bandung 40211 Telp.id. Pengaruh Penggunaan Ultrasonik terhadap Hasil Pemisahan Pasir Zirkon . Peningkatan kadar zirkon dilakukan dengan beberapa metoda pengolahan. nuryadi@tekmira. Yuhelda1 dan Fitriza Yuliana2 1 Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. Concentration is done based on different of electrical conductivity property applies electrostatic separator where zircon mineral (ZrSiO4) as non conductor mineral will separated from its the gangue mineral as conductor mineral for example ilmenite (FeTiO3) and rutile (TiO2). 022 .38 % ZrO2 sehingga belum memenuhi persyaratan untuk dijual ataupun diekspor. Pemisahan dilakukan berdasarkan perbedaan sifat konduktifitas listrik menggunakan electrostatic separator dimana mineral zirkon (ZrSiO4) sebagai mineral non konduktor akan terpisah dari mineral pengotornya sebagai mineral konduktor seperti ilmenit (FeTiO3) dan rutil (TiO2). 24. yuhelda@tekmira. Zircon done by concentration is concentrate from wet magnetic separator.id.go.6030483 Fax.38 % ZrO2 so that has not fulfilled clauses to be sold and or is exported. 1. Nuryadi Saleh1. Variabel – variabel optimum pada electrostatic separator : Variabel tegangan listrik 30 KV Variabel posisi splitter 30° Variabel skala kecepatan umpan 7. Jend. Upgrading of zircon grade is done with a few processing method.. 26 Bandung 40116 SARI Zirkon sebagai hasil tailing dari pengolahan emas aluvial di Kalimantan Tengah memiliki kadar yang rendah yaitu 36. Pramusanto. Zirkon yang dilakukan pemisahan merupakan konsentrat dari magnetik separator basah.id 2 Jurusan Teknik Pertambangan.go.6003373 e-mail : pramusanto@tekmira. Taman Sari No. dkk.esdm. Universitas Islam Bandung (UNISBA) Jl.PENGARUH PENGGUNAAN ULTRASONIK TERHADAP HASIL PEMISAHAN PASIR ZIRKON KALIMANTAN TENGAH DENGAN ELECTROSTATIC SEPARATOR Pramusanto1. Before feeder concentration using optimum variables at electrostatic separator beforehand feed got treatment of ultrasonic (sonicfication). 20.

Pemisahan secara kering yang dilakukan pada mineral . rutil (TiO2). METODOLOGI Metodologi peningkatan kadar pasir zirkon Kalimantan Tengah yang telah dilakukan studi bahan baku oleh pihak laboratorium pengolahan tekMIRA. Persiapan dan Analisis Umpan Preparasi umpan yang akan dipisahkan berdasarkan perbedaan sifat konduktifitas listrik 116 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Untuk membersihkan partikel – partikel halus yang menempel pada permukaan zirkon. xenotim (YPO4) dan kuarsa (SiO2) [www. Y.go.mineral berat yang terdapat dalam konsentrat menggunakan berbagai macam pemisahan berdasarkan sifat . Hasil penelitian pengolahan terdahulu yang telah dilakukan (Saleh dan Pramusanto. electrostatic separator 1. Zirkon yang ditemukan di Kalimantan Tengah kemungkinan berasosiasi dengan mineral – mineral pengotor seperti ilmenit (FeTiO3).id]. 2007) yaitu pemisahan berdasarkan berat jenis menggunakan meja goyang dan berdasarkan sifat kemagnetan menggunakan magnetik separator kering dilanjutkan dengan magnetik separator basah. Pendekatan proses pengolahan mineral zirkon. ultrasonic.sifat fisik mineral seperti konduktifitas listrik. Kepulauan Riau.esdm. 2. Pulau Belitung) dan di Kalimantan (Kalimantan Tengah. Zirkon yang terdapat di Pulau Bangka adalah mineral ikutan bijih timah (kasiterit) yang merupakan tailing dari pengolahan timah sedangkan zirkon yang terdapat di Kalimantan Tengah adalah mineral ikutan bijih emas aluvial yang merupakan tailing dari pengolahan bijih emas dengan alat sederhana sluice box. Keyword: zircon. Th)PO4). Mineral rutil dan zirkon bersifat non magnet sehingga proses pengolahan yang dilakukan sebatas pemisahan berdasarkan sifat kemagnetan masih belum memadai. La. Sebagian besar mineral – mineral pengotor di atas merupakan mineral berat sehingga perlu dilakukan pengolahan dan peningkatan nilai tambahnya. 2007). 1997).5 Optimum variable at ultrasonic that is during 30 minutes where feeder getting treatment of ultrasonic can clean zircon sand from minor elements undesirable. monasit ((Ce. Perlakuan ultrasonik (sonikasi) dilaporkan dapat membersihkan lebih lanjut terhadap produk pasir zirkon dari unsur – unsur minor yang tidak diinginkan (Farmer. proses mana yang lebih baik itu umumnya tergantung pada karakteristik zirkon yang akan diolah maupun pemanfaatan dari produk yang akan dihasilkan (Pramusanto dkk. 2007). sehingga umpan perlu mendapat perlakuan ultrasonik sebelum dipisahkan menggunakan variabel – variabel optimum pada electrostatic separator. Analisis terhadap nisbah konsentrasi (NK) bertujuan untuk mengetahui perbandingan antara berat umpan yang akan dipisahkan dengan berat konsentrat yang diperoleh pada proses pemisahan yang dilakukan dan kemudian akan korelasikan dengan kadar zirkon (ZrO2). Berdasarkan hasil analisis kimia terhadap konsentrat magnetik separator basah ternyata masih terdapat unsur-unsur mineral pengotor seperti rutil (TiO2) dan ilmenit (FeTiO3).bgl. Kalimantan Timur) [Suhala dan Arifin. PENDAHULUAN Indonesia sebagai salah satu negara penghasil zirkon memiliki penyebaran zirkon di Sumatera (Sumatera Utara. Karakteristik mineral . Pulau Bangka. Dahlan dan Saleh. yaitu dengan melakukan percobaan menggunakan ultrasonik sebelum umpan dipisahkan menggunakan variabel – variabel optimum pada electrostatic separator.Optimum variables at electrostatic separator : Voltage variable 30 KV Variable position of splitter 30° Feed speed scale variable 7. kemagnetan dan gaya berat (Woodcock. 1997]. 1980).mineral pengotor pada zirkon sangat tergantung dari ganesa mineral sehingga setiap tempat memiliki karakteristik mineral yang berbeda (Pramusanto. 2.1.

kemudian dilakukan pemisahan basah secara manual antara partikel mineral berat yang berada pada bagian bawah gelas ukur dengan partikel mineral ringan yang berada pada bagian atas. Pramusanto. 2. Pertama sampel dimasukkan ke dalam gelas ukur yang berukuran 250 ml dan ditambahkan air sebanyak 150 ml atau 60 % dari kapasitas tempat penampungannya. Peningkatan Kadar Pasir Zirkon dengan Electrostatic Separator Peningkatan kadar pasir zirkon dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan electrostatic separator yang digunakan dalam peningkatan kadar. Kemudian pemisahan dilakukan Gambar 1. 45 menit dan 60 menit. Partikel yang berada pada bagian atas diambil menggunakan sendok tipis secara perlahan. TiO2. terdapat perbedaan warna mineral yang berada di dalam gelas ukur yang telah bercampur dengan air.3. seperti pada Gambar 2. mineral yang berada pada posisi atas dipisahkan dan terlihat lebih berwarna hitam sedangkan pada posisi bawah sebagai konsentrat berwarna coklat kemerah – merahan. dkk.. Gambar 2. Selama percobaan ini juga terlihat air yang sebelumnya jernih berubah menjadi keruh. FeTiO3 dan lain-lain menggunakan electrostatic separator. 117 . Alat ultrasonik Percobaan dilakukan dengan variabel waktu getar selama 15 menit. Getaran yang terjadi pada alat ultrasonik membawa mineral ringan terangkat ke atas sehingga berdasarkan masing–masing waktu yang di variabelkan. sedangkan sisanya yang melayang diambil dengan cara disaring menggunakan kertas penyaring. Setelah perlakuan ultrasonik dilakukan.yang berasal dari konsentrat magnetik separator basah dilakukan bertujuan untuk mendapatkan contoh yang representatif. Electrostatic Separator dari Reichert Equipment tipe MK III Bench seri 063 2. Kemudian gelas ukur tersebut diletakkan di atas jaring atau kawat yang berada di dalam alat ultrasonik.2. Percobaan Menggunakan Ultrasonik Percobaan menggunakan alat ultrasonik yang biasa digunakan untuk membersihkan ayakan berukuran halus. Alat electrostatic separator yang digunakan dalam percobaan dapat dilihat pada Gambar 1. dalam penelitian ini dilakukan untuk membersihkan partikel–partikel halus yang mungkin masih menempel pada permukaan butiran umpan sebelum dipisahkan dengan electrostatic separator. 30 menit. Peningkatan kadar dapat dilakukan dengan cara memisahkan mineral non konduktor sebagai mineral berharga yaitu ZrSiO4 dengan mineral . Pengaruh Penggunaan Ultrasonik terhadap Hasil Pemisahan Pasir Zirkon . Sampel hasil pemisahan setelah perlakuan ultrasonik kemudian dijadikan umpan pada pemisahan dengan electrostatic separator setelah dikeringkan terlebih dahulu dalam oven pengering selama satu hari. Setelah digetarkan menggunakan alat ini. Ukuran partikel mineral sebagai hasil saringan terlihat sangat halus dibandingkan dengan ukuran butiran partikel yang mengendap..mineral konduktor sebagai mineral pengotor seperti.

Hasil analisis umpan Gambar 4.81. HASIL DAN PEMBAHASAN 3. ilmenit (FeTiO3). Analisis Umpan Hasil analisis kimia secara XRF (Fluoresen Sinar X) terhadap umpan sebelum dipisahkan menggunakan electrostatic separator dapat dilihat pada Gambar 3. Nisbah konsentrasi yang diperoleh pada skala kecepatan umpan 2.5.2 Pengaruh skala kecepatan umpan terhadap nisbah konsentrasi dan kadar ZrO2 Percobaan dilakukan dengan variabel berubah yaitu skala kecepatan umpan sedangkan variabel tetapnya pada tegangan listrik 30 KV dan posisi splitter 300. Hasil percobaan dengan memvariabelkan tegangan listrik 15 KV. 1 0. (0. Kemungkinan lain dapat disebabkan oleh jarak elektroda yang tidak sesuai. Pengaruh tegangan listrik 3.2.68 dengan kadar ZrO2 yang diperoleh sebesar 56.11.1 0. 10 secara berurutan sebesar 0.67 % dan 61.1. 3.46 %. 3. 5. 4. 3. hematit (Fe2O3).38 gram/menit. 57. 59.5.47 gram/menit. Hal ini berbeda dengan hasil percobaan yang dilakukan yang kemungkinan disebabkan oleh pengaruh perbedaan sifat kelistrikan atau konduktifitas mineral-mineral yang terdapat dalam umpan seperti mineral zirkon (ZrSiO4).4 gram/menit) dan 10 (5 gram/menit) secara berturut – turut 118 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . tetapi jarak elektroda tidak divariasikan di dalam percobaan ini.2.01 ZrO 2 N O a2 P 5 2O Y 3 2O C 3 r2O Fe 3 2O N 2O b 5 A 3 l2O C 2 eO T 2 hO SiO 2 H 2 fO MO n MO g TiO 2 K2 O CO a S Unsur Hasil Analisis Umpan Gambar 3.96 %.5.4 gram/menit dan 5 gram/menit. Kecepatan umpan yang digunakan pada masing – masing skala kecepatan umpan 2. Pengaruh tegangan listrik terhadap nisbah konsentrasi dan kadar ZrO2 pada posisi splitter 40° dan skala kecepatan umpan 5 3. 20 KV. Dimana dengan jarak elektroda yang terlalu dekat dan tegangan yang besar akan menyebabkan tertariknya semua mineral. 25 KV dan 30 KV menghasilkan nisbah konsentrasi secara berturutturut sebesar 6. Pemisahan yang baik seharusnya menghasilkan nisbah konsentrasi yang besar dan kadar ZrO2 yang besar pula.47 gram/ menit).   100 10 K da (% a r ) terhadap nisbah konsentrasi dan kadar ZrO2 pada Gambar 4 yaitu semakin besar tegangan listrik yang digunakan maka nisbah konsentrasinya semakin kecil dan kadar ZrO2 yang dihasilkanpun semakin besar. 7.pada kondisi variabel optimum dengan electrostatic separator yang telah dilakukan pada percobaan sebelumnya. rutil (TiO2) dan lain-lain. 5 (2. 1.1 Pengaruh tegangan listrik terhadap nisbah konsentrasi dan kadar ZrO2 Percobaan dilakukan dengan variabel berubah yaitu tegangan listrik sedangkan variabel tetapnya pada posisi splitter 40° dan pada skala kecepatan umpan 5. 3.51 %. 2. Peningkatan Kadar Pasir Zirkon dengan Electrostatic Separator Di dalam percobaan electrostatic separator ini dilakukan analisis kimia secara XRF (Fluoresen Sinar X) untuk meninjau perubahan unsur-unsur terhadap konsentrat akibat pengaruh dari variabelvariabel percobaan terhadap nisbah konsentrasi dan peningkatkan kadar. menjabarkan grafik persentase semua unsur yang terdeteksi dalam skala logaritma. baik yang bersifat konduktor kuat maupun konduktor lemah.5 (3. 7.39.38 gram/menit).2.

45 %.52 %.5 61 Gambar 5. Pada waktu getar selama 45 menit perolehan yang didapatkan hampir 90 % dan kadar 60.14 dan 1.68 % dan 60.58 % ZrO2.09 1. Pengaruh penggunaan ultrasonik terhadap nisbah konsentrasi dan kadar ZrO2 pada tegangan listrik 30 KV.40 Kecepatan (gram/menit) NK Kadar 5.92 %.10.2. 60.sebesar 1.. Pramusanto. Berdasarkan waktu getar selama 15 menit pada alat ultrasonik perolehan yang didapatkan lebih dari 90 % dan kadar 60. Hal ini disebabkan karena lamanya waktu getar akan mempengaruhi hasil kerja gelombang ultrasonik sehingga juga akan berpengaruh terhadap hasil umpan yang akan dipisahkan menggunakan electrostatic separator.13 0.09.1 1.08 15 30 45 60 Waktu (Menit) NK Kadar 61 Kadar ZrO2 (%) 60. 45.16 1.58 %.   Nisbah Konsentrasi 1. 30. 45 dan 60 menit. Konsentrat kering dari ultrasonik kemudian dipisahkan menggunakan electrostatic separator dengan variabel optimum pada percobaan sebelumnya yaitu pada tegangan listrik 30 KV.38 3. 1. 30. 63. dkk.5. Pengaruh skala kecepatan umpan terhadap nisbah konsentrasi dan kadar ZrO2 pada tegangan listrik 30 KV dan posisi splitter 30° Kadar ZrO2 (%)   Nisbah Konsentrasi 1. posisi splitter 30 0 dan skala Gambar 6. 3.15 1. maka nisbah konsentrasi dan kadar ZrO2 yang dihasilkan akan semakin besar.5 62 61.15. Kecepatan umpan (gram/menit) pada percobaan ini tergantung skala kecepatan umpan yang dipakai dan berat masing – masing umpan yang digunakan dalam percobaan. Kecepatan yang tinggi akan mengakibatkan mineral – mineral non konduktor kasar akan terlempar ke konduktor sehingga kadar zirkon akan rendah.14 1.5 63 62. Pada waktu getar selama 30 menit perolehan yang didapatkan lebih dari 90 % dan kadar 60.11 1.17 1.12 dengan kadar ZrO2 yang diperoleh sebesar 60.15 1.19. Percobaan pada alat ultrasonik dilakukan dengan memvariabelkan waktu getar selama 15. pengaruh kecepatan umpan terhadap nisbah konsentrasi dan kadar ZrO2 yaitu semakin cepat umpan yang diberikan maka nisbah konsentrasinya semakin kecil dan kadar ZrO2 yang dihasilkanpun semakin besar.13 1.5 Berdasarkan grafik pada Gambar 5.4 Pengaruh penggunaan ultrasonik terhadap perolehan dan kadar ZrO2 Berdasarkan grafik yang terdapat pada Gambar 7 dapat ditarik garis rata – rata sehingga diperoleh grafik yang menunjukkan kecenderungan perubahan perolehan dan kadar ZrO2 terhadap penggunaan ultrasonik. 60. 1.18 1.9 60. kecepatan umpan 7. 1.92 % ZrO2.18. 60 menit pada ultrasonik secara berturut – turut sebesar 1. Dengan kecepatan yang tinggi.12 1.42 % dan 62.47 2.5 3. umpan yang berukuran kasar cenderung mengalami lifting effect meskipun tidak bersifat sebagai konduktor dan umpan yang berukuran halus cenderung mengalami pinning effect.8 60.6 60. Pengaruh penggunaan ultrasonik dengan variabel waktu terhadap nisbah konsentrasi dan kadar ZrO2 berdasarkan Gambar 6 di atas adalah semakin lama waktu getar yang diberikan oleh ultrasonik terhadap umpan. 1.69 %. 62. 1.3 Pengaruh penggunaan ultrasonik terhadap nisbah konsentrasi dan kadar ZrO2 Ultrasonik bekerja dengan getarannya untuk melepaskan ikatan – ikatan mineral pengotor lainnya pada mineral zirkon sebagai mineral utama.14 dengan kadar ZrO2 yang diperoleh sebesar 61.2 1.7 60.70 %.68 % ZrO2 sedangkan pada waktu getar Pengaruh Penggunaan Ultrasonik terhadap Hasil Pemisahan Pasir Zirkon .14 1.2. Nisbah konsentrasi yang diperoleh setelah dipisahkan menggunakan electrostatic separator dengan variabel waktu 15..19 1. posisi splitter 300 dan skala kecepatan umpan 7.00 63. 119 .

5 Selain itu. Sedangkan unsur . Gambar 7.unsur yang kadarnya naik dan turun bahkan ada beberapa unsur yang hilang. K2O. kadar ZrO2 optimum sebesar 61. Pada percobaan pengaruh skala kecepatan umpan. TiO2 dan S. Hal ini terjadi karena adanya pengaruh getaran yang diberikan pada umpan dengan waktu getar tertentu sehingga dapat melepaskan partikel halus dari mineral pengotor yang melekat pada permukaaan umpan yang akan dipisahkan.09 dan perolehan lebih dari 90 %.8 60. Nb2O5. KESIMPULAN Berdasarkan hasil percobaan terhadap pengaruh penggunaan ultrasonik terhadap pasir zirkon Kalimantan Tengah hasil pemisahan dengan electrostatic separator.6 60.4 gram/menit) dengan nisbah konsentrasi 1. 2. Cr2O3 dan ThO2. Na2O. Selain itu.4 60. Selain itu. Dari hasil percobaan yang dilakukan bahwa ada beberapa unsur yang tidak diinginkan hilang setelah mendapatkan perlakuan ultrasonik. Perbedaan perolehan dan kadar ZrO2 yang didapatkan pada percobaan tidak begitu jauh dimana perolehan rata – rata zirkon hampir 90 % dengan kadar 60 % ZrO2. beberapa unsur yang hilang setelah mendapat perlakuan ultrasonik antara lain MnO. Kondisi optimum penggunaan ultrasonik yaitu pada waktu getar selama 30 menit. ZrO2.92 % yaitu pada waktu getar 30 menit dengan nisbah konsentrasi 1.unsur yang kadarnya turun antara lain SiO2. Pada percobaan umpan yang mendapat perlakuan ultrasonik.   100 10 Kadar (%) 1 0.68.2 60 K adar (% ) unsur .5 (3.selama 60 menit perolehan yang didapatkan 90 % dan kadar 60. frekuensi yang ada pada ultrasonik kemungkinan akan mempengaruhi terjadinya efek mekanik seperti gerakan – gerakan partikel pada umpan yang berada di dalam gelas ukur sehingga dapat menimbulkan gaya gesek. posisi splitter 300 dan skala kecepatan umpan 7. Nb2O5. Pada percobaan pengaruh tegangan listrik. Pengaruh gelombang ultrasonik ini cukup kuat dan efektif untuk melepaskan partikel halus berupa mirel pengotor yang melekat pada permukaan sampel bijih zirkon. hasil analisis pada percobaan dengan variabel optimum yaitu pada tegangan listrik 30 KV. setelah umpan mendapat perlakuan ultrasonik terlihat adanya beberapa 120 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .42 % yaitu pada skala 7. Hasil perbandingan dapat dilihat pada Gambar 8. Pengaruh penggunaan ultrasonik terhadap perolehan dan kadar ZrO2 pada tegangan listrik 30KV. CaO.1 0. posisi splitter 40° dan skala kecepatan umpan 7. 4. Perbandingan kandungan unsurunsur sebelum dan setelah mendapatkan perlakuan ultrasonik Berdasarkan Gambar 8. 3. Adanya beberapa unsur yang hilang setelah mendapat perlakuan ultrasonik (sonikasi) diantaranya MnO.69 % ZrO2. Cr2O3 dan ThO2. P2O5. tekanan dan getaran pada butiran umpan. Fe2O3. HfO2 dan Y2O3.5 diperbandingkan antara umpan yang tidak dan yang mendapat perlakuan ultrasonik. 4. didapat beberapa kesimpulan : 1.01 Fe2O3 Nb2O5 Cr2O3 Na2O Al2O3 Y2O3 ThO2 P2O5 TiO2 MnO MgO CaO ZrO2 HfO2 SiO2 K2O S Unsur Sebelum M endapat P erlakuan Ultraso nik Setelah M endapat P erlakuan Ultraso nik Gambar 8. kadar ZrO2 optimum sebesar 60. Unsur unsur yang kadarnya naik antara lain Al2O3.   Perolehan (% ) 93 92 91 90 89 88 87 15 30 45 60 Waktu (Menit) Perolehan ZrO2 Kadar ZrO2 61 60.96 % yaitu pada tegangan listrik 30 KV dengan nisbah konsentrasi 1. kadar ZrO2 optimum sebesar 63.18. MgO.

. Rochani. Ardha... Suhala. dkk. Department of Mining and Mineral Process Engineering University of British Columbia Vancouver. Puslitbang tekMIRA. “Bahan Galian Industri”. 1997.. Saleh. “Peningkatan Nilai Tambah Pasir Zirkon Kalimantan Tengah”. “Mining and Metallurgical Practices in Australia”. 2008. David J. 121 . J. Nuryadi dan Pramusanto. 2000. Pramusanto. N.C. 1997. Pengaruh Penggunaan Ultrasonik terhadap Hasil Pemisahan Pasir Zirkon . Kelly. “Pengembangan Produk dan Peningkatan Mutu Bahan Galian”. Saleh. “Pembuatan Zirconia dari Pasir Zircon Kalimantan dan Bangka”. The Australian Institute of Mining and Metallurgy.. dkk.. Puslitbang Teknologi Mineral Bidang Litbang Teknologi Pengolahan Mineral.DAFTAR PUSTAKA Dahlan. T. “Heavy Mineral Sands Separation of Waringin. Muta’alim.. Australia. Chatswood NSW 2067.. D. Pramusanto.. Pusat Pengembangan Teknologi Mineral. Komunikasi Langsung. Dahlan. Errol G. Puslitbang tekMIRA. S. Victoria. 1982 “Introduction to Mineral Processing”. Spottiswood. Canada. 1980. Kolokium Pertambangan 2007. Central Kalimantan”. Woodcock. 2007. B... Farmer. dan Arifin M.. Bandung... Andrew L. Supriatna. Yuhelda.. Pramusanto. 2007.. Y. N. Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara-tekMIRA. Australia. John Willey & Sons. New York Mular. A. Agricola Consulting Services Pty Ltd. “Elements Of Mineral Process Engineering”. 2007.

percontoh batubara dan oksigen di-input-kan ke dalam reaktor.id SARI Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penggunaan pasir sungai sebagai bed material terhadap konversi karbon.esdm. carbon conversion and gasification efficiency. bed material . Gas product (syngas) was purified and cooled through cyclone. komposisi gas produk. gasification efficiency and ratio of hydrogen to carbon monoxide in fluidized bed coal gasification. efisiensi gasifikasi dan rasio gas hidrogen terhadap gas karbon monoksida pada proses gasifikasi batubara tipe fluidized bed. bed material. Sudirman no. Finally.go. and scrubber.6030483 Fax.PENGGUNAAN PASIR SUNGAI SEBAGAI BED MATERIAL PADA GASIFIKASI BATUBARA SISTEM FLUIDIZED BED Nurhadi dan Slamet Suprapto Pussat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. heat exchanger. coal sample and oxygen were inputted into reactor. pasir sungai ABSTRACT This research was conducted to know the influence of river sand use as bed material to carbon conversion. Gas produk dimurnikan dan didinginkan melalui siklon. Jend. syngas composition was analyzed by gas chromatography. river sand 122 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Hasil percobaan menunjukkan bahwa penggunaan pasir sungai sebagai bed material dapat berfungsi baik sebagai dalam proses pembuatan gas sintesis dari batubara dilihat dari komposisi syngas. After gasifier temperature reaching 900°C. and gasifying reaction happened. Variabel yang digunakan adalah jumlah bed material dan jenis bed material. Keywords: gasification. Result was shown river sand use as bed material functioned well based on syngas composition.6003373 e-mail: Nurhadi@tekmira. 623 Bandung 40211 Telp. Experiment was conducted by heated bed material in gasifier used nitrogen gas as fluidization media. 022 . product gas composition. sehingga terjadi reaksi gasifikasi. Percobaan dilakukan dengan memanaskan bed material dalam gasifier menggunakan media fluidisasi gas nitrogen. heat exchanger dan scrubber untuk selanjutnya dianalisa komposisinya menggunakan gas kromatografi. coal. 022 . konversi karbon dan efisiensi gasifikasi. Kata kunci: gasifikasi. Setelah suhu gasifier mencapai 900°C. batubara.

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penggunaan pasir sungai sebagai bed material terhadap konversi karbon. Sumber daya batubara Indonesia yang berjumlah 107. sehingga menjadi unggun terfluidisasi. Pemanfaatan batubara peringkat rendah dengan teknologi gasifikasi menghasilkan produk yang mudah dikonversi menjadi beberapa macam sumber energi dan bahan baku industri kimia. oksigen dan nitrogen sebagai bahan baku. Bed material digunakan sebagai transfer panas. 1991). uap air. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian pembuatan gas sintesis dilakukan terhadap percontoh batubara Indonesia.4 milyar ton merupakan aset ekonomi dan aset energi yang sampai saat ini belum dapat dimanfaatkan secara optimal (Setiawan.1.. 1987).. Peralatan yang digunakan untuk kegiatan ini terdiri atas 1 unit peralatan pembuatan gas sintesis skala laboratorium. 2006) Penggunaan Pasir Sungai sebagai Bed Material pada Gasifikasi Batubara . komposisi gas produk dan efesiensi gasifikasi pada proses gasifikasi batubara tipe fluidized bed. karbon dioksida atau campuran dari zat tersebut dan menghasilkan campuran gas yang dapat dibakar. Gambar 1. nitrogen dan hidrokarbon rantai ringan (Kubota. Gas produk ini dapat langsung dimanfaatkan sebagai bahan bakar gas atau dikonversi menjadi berbagai macam sumber energi dan bahan baku industri kimia (Penner. Batubara dimasukkan ke dalam gasifier dari bagian samping gasifier 2. sehingga sangat cocok dikembangkan sebagai bed material untuk gasifikasi batubara menggunakan gasifier tipe fluidized bed. yaitu menggunakan pasir silika dan pasir sungai. Gasifikasi batubara adalah reaksi antara batubara dengan pereaksi udara. Gasifikasi batubara tipe fluidized bed menggunakan bed material berupa pasir. dkk. 2006). Bahan-bahan yang digunakan untuk percobaan ini adalah batubara. PENDAHULUAN menggunakan screw feeder (Kunii dan Levenspiel.. sehingga diperoleh karakteristik proses pembuatan gas sintesis menggunakan batubara Indonesia. karbon monoksida. Diagram alir penelitian pembuatan gas sintesis (Nurhadi. Gas pereaksi masuk dari bagian bawah gasifier melalui plat distributor untuk mengangkat bed material. Pasir sungai cukup melimpah keberadaannya di Indonesia dan harganya cukup murah. sehingga suhu dalam gasifier menjadi homogen. Bagan alir proses penelitian pembutan gas sintesis dapat dilihat pada Gambar 1. 2008). Fluidized bed merupakan sistem yang efisien untuk kontak fase gas-padat. Gas produk gasifikasi berupa campuran gas hidrogen. Nurhadi dan Slamet Suprapto 123 . karbon dioksida. Sebagai bed material digunakan pasir silika dan pasir sungai. Batubara yang digunakan adalah batubara peringkat lignit dengan variabel jenis bed material.

Sifat kimia pasir silika Parameter SiO2. % adb.37 21.56 CO2 15. Nilai Parameter 53. Tabel 4.83 2. Hidrogen. konversi karbon dan efisiensi gasifikasi.19 15. nilai kalor.57 3. % Fe2O3.55 0.3170 124 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . % Al2O3. Nilai 97. % adb. Zat Terbang.7437 21. Hasil percobaan penelitian skala laboratorium pembuatan gas sintesis dari batubara berupa komposisi produk syngas.32 2.3.36 44. Abu. % adb.23 30.55 2.26 TT TT Tabel 1.01 43.85 42. Untuk percobaan gasifikasi percontoh batubara dipreparasi.687 0. konversi karbon dan efisiensi gasifikasi pada berbagai variabel dapat dilihat pada Tabel 4 sampai dengan Tabel 6.58 CH4 3.01 TT Bed material berupa pasir silika dan pasir sungai juga sudah dianalisis seperti terlihat pada Tabel 2 dan Tabel 3.52 2.73 C2H4 3.89 2. % TT = tidak terdeteksi Nilai 46.975 1.6278 22.764 0. Komposisi produk syngas Kode Percontoh P Silika 15 P Silika 20 P Silika 25 P Sungai 15 P Sungai 20 P Sungai 25 H2 30. yaitu pasir silika dan pasir sungai.685 0.36 37.02 32.32 30. nilai kalor. % adb Nitrogen. Analisis Ultimat Abu. % adb.86 32.36 1. % adb.24 SiO2. Belerang.94 2. 20 gram (P Silika 20 dan P Sungai 20) dan 25 gram (P Silika 25 dan P Sungai 25).36 2. Penelitian dilakukan terhadap dua jenis bed material.51 3. % adb. % CaO. Nilai Kalor. % adb. Karbon.58 1. neraca massa.83 39. % adb.3932 22. sehingga diperoleh ukuran partikel – 48 + 60 mesh. % CaO. % MgO.05 O2 5.20 0. % Fe2O3. HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 2.80 32.34 44. Hasil percobaan yang dibahas dalam makalah ini meliputi pengaruh jenis bed material pasir silika dan pasir sungai terhadap komposisi gas terutama kadar CO dan H2.18 Komposisi Rata-rata Tanpa Nitrogen (% mol) CO 42.7938 21. Hasil analisis percontoh batubara Tabel 3. kal/g adb.03 6.26 16.95 2.83 5.r. % TT = tidak terdeteksi Percontoh batubara yang digunakan untuk percobaan adalah batubara lignit yang berasal dari Sumatera Selatan.719 BM 22.90 19. a.83 0.52 3. neraca massa.16 54.31 2. Sifat kimia pasir sungai Parameter Analisis Proksimat Air Total.8542 22. Air Lembab.23 4. Untuk percobaan masing-masing bed material dipreparasi sehingga diperoleh ukuran partikel – 48 + 60 mesh. Karbon Padat.14 0.758 0.48 31.54 2. Setiap bed material kemudian digunakan dalam percobaan dengan variasi 15 gram (P Silika 15 dan P Sungai 15).24 8. % adb.91 43. Hasil analisis percontoh batubara dapat dilihat pada Tabel 1.716 0.66 17. %.03 16.05 total 100 100 100 100 100 100 H2/CO 0.90 15. % Al2O3.48 3. Oksigen. % MgO.

070 2.434 1.067 1.85 CH4 3.377 1.067 O2 0.982 0.586 0.135 0.982 0.433 (mL/s) 1.36 2.287 1.976 3.95 2.135 0.354 1.449 1. neraca massa.067 1.067 O2 0.067 1.Tabel 5. nilai kalor.685 BM 22.499 By Produk Char (mg/s) 0. sehingga menyebabkan nilai kalor gas juga berkurang. Sebaliknya.54 total 100 100 100 H2/CO 0. Nilai kalor. Pengaruh jumlah pasir silika terhadap neraca massa bahan baku dan produk Kode Percontoh P Silika 15 P Silika 20 P Silika 25 Bahan Baku (mg/s) Batubara 1.6278 22.340 1.108 0.23 30.384 (mL/s) 1.36 44.067 1. Pengaruh jumlah pasir silika terhadap komposisi produk syngas Kode Percontoh P Silika 15 P Silika 20 P Silika 25 H2 30.587 0.465 0. Semakin banyak jumlah pasir silika sebagai bed material dalam reaktor.975 3.982 0.982 0.19 C2H4 3.287 1.122 0.577 0.433 1.32 30.7437 Tabel 8.3932 22.57 3.55 Komposisi Rata-rata Tanpa Nitrogen (% mol) CO 42.185 0.434 1.579 By Produk Char (mg/s) 0. Neraca massa bahan baku dan produk Kode Percontoh P Silika 15 P Silika 20 P Silika 25 P Sungai 15 P Sungai 20 P Sungai 25 Bahan Baku (mg/s) Batubara 1.067 1.499 0. Tabel 7.117 Penggunaan Pasir Sungai sebagai Bed Material pada Gasifikasi Batubara ..982 Produk Syngas (mg/s) 1.32 2.185 0.067 1..388 1.982 0.982 0.086 Tabel 6.067 1. maka rasio gas hidrogen terhadap karbon monoksida berkurang.577 0.03 16.115 2.465 0.02 O2 5.287 1.411 1.287 1.716 0.31 2. Nurhadi dan Slamet Suprapto 125 .52 CO2 15.449 1.411 By Produk Ter (mg/s) 0. Komposisi gas cenderung sedikit berpengaruh terhadap perubahan jumlah pasir silika sebagai bed material dalam reaktor.66 17.899 2. konversi karbon dan efisiensi gasifikasi dapat dilihat pada Tabel 7 sampai dengan Tabel 9. konversi karbon dan efisiensi gasifikasi Kode Percontoh P Silika 15 P Silika 20 P Silika 25 P Sungai 15 P Sungai 20 P Sungai 25 Konversi C (%) 67 77 75 71 73 74 Efisiensi Gasifikasi (%) 74 80 77 77 81 78 Nilai Kalor (kkal/Nm3) 3. Penggunaan Pasir Silika sebagai Bed Material Pengaruh jumlah pasir silika sebagai bed material terhadap komposisi gas.01 43.117 0.687 0.52 3.982 0.389 By Produk Ter (mg/s) 0.1.982 Produk Syngas (mg/s) 1.959 2.

Sebaliknya.719 BM 21.899 semakin bertambah jumlah pasir silika sebagai bed material dalam reaktor maka jumlah produksi syngas secara kuantitatif meningkat. Semakin banyak jumlah bed material dalam reaktor menyebabkan lebih banyak batubara yang bereaksi menjadi syngas sehingga meningkatkan konversi karbon. kemudian akan menurun kembali jika pasir silika sebagai bed material ditambahkan lagi menjadi 25 gram. char dan ter juga akan terjadi konversi gas CO menjadi gas CO2.122 0. Hal ini menyebabkan syngas memiliki rasio gas hidrogen terhadap gas karbon monoksida lebih tinggi.579 By Produk Char (mg/s) 0. sehingga masih banyak char yang tidak bereaksi.067 1. Pengaruh jumlah pasir silika terhadap nilai kalor.586 0.389 By Produk Ter (mg/s) 0.05 total 100 100 100 H2/CO 0.36 1.18 Komposisi Rata-rata Tanpa Nitrogen (% mol) CO 42.982 0. jika jumlah bed material sedikit menyebabkan reaksi kurang sempurna. maka nilai kalor syngas dan efisiensi gasifikasi akan menurun. Dengan bertambahnya gas CO2 yang sudah tidak memiliki nilai kalor.354 1.56 CO2 15.48 3. sehingga meningkatkan konversi karbon.91 43.86 32. Penggunaan Pasir Sungai sebagai Bed Material Pengaruh jumlah pasir sungai sebagai bed material terhadap komposisi gas.90 15.73 C2H4 2. nilai kalor. maka selain terjadi konversi batubara.388 1.83 2.2.58 CH4 2. Jika bed material ditambahkan lagi menjadi 25 gram. 1991).587 0.384 (mL/s) 1. 3.377 1.067 1.Tabel 9.982 0.108 0.340 1. konversi karbon dan efisiensi gasifikasi Kode Percontoh P Silika 15 P Silika 20 P Silika 25 Konversi C (%) 67 77 75 Efisiensi Gasifikasi (%) 74 80 77 Nilai Kalor (kkal/Nm3) 3.758 0.764 0.959 2. neraca massa.067 O2 0. Dalam reaktor fluidized bed. karena sebagian besar syngas berasal zat terbang yang lebih banyak mengandung unsur hidrogen dibandingkan char.070 2.80 32. Pengaruh jumlah pasir sungai terhadap neraca massa bahan baku dan produk Kode Percontoh P Sungai 15 P Sungai 20 P Sungai 25 Bahan Baku (mg/s) Batubara 1. Tabel 10.51 3.086 126 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .7938 21.94 2.982 Produk Syngas (mg/s) 1.05 O2 2.89 2. Hal ini disebabkan karena pada penambahan bed material sebanyak 15 gram dan 20 gram akan terjadi peningkatan konversi batubara.26 16. konversi karbon dan efisiensi gasifikasi dapat dilihat pada Tabel 10 sampai dengan Tabel 12.8542 22. Pengaruh jumlah pasir sungai terhadap komposisi produk syngas Kode Percontoh P Sungai 15 P Sungai 20 P Sungai 25 H2 32.3170 Tabel 11. sehingga meningkatkan nilai kalor syngas dan efisiensi gasifikasi.34 44. bed material berfungsi sebagai media transfer panas (Kunii dan Levenspiel. Sedangkan nilai kalor syngas dan efisiensi gasifikasi akan naik pada penambahan pasir silika sebagai bed material sebanyak 15 gram dan 20 gram. char dan ter menjadi syngas terutama gas hidrogen dan karbon monoksida.

Tabel 12. Pengaruh jumlah pasir sungai terhadap nilai kalor, konversi karbon dan efisiensi gasifikasi Kode Percontoh P Sungai 15 P Sungai 20 P Sungai 25 Konversi C (%) 71 73 74 Efisiensi Gasifikasi (%) 77 81 78 Nilai Kalor (kkal/Nm3) 2,976 3,115 2,975

Komposisi gas cenderung sedikit berpengaruh terhadap perubahan jumlah pasir sungai sebagai bed material dalam reaktor. Semakin banyak jumlah pasir sungai sebagai bed material dalam reaktor maka rasio gas hidrogen terhadap karbon monoksida berkurang sehingga menyebabkan nilai kalor gas juga berkurang. Sebaliknya semakin bertambah jumlah pasir sungai sebagai bed material dalam reaktor maka jumlah produksi syngas secara kuantitatif meningkat, sehingga meningkatkan konversi karbon. Nilai kalor syngas dan efisiensi gasifikasi menunjukkan kenaikan pada penambahan pasir sungai sebagai bed material sebanyak 15 gram dan 20 gram, kemudian akan menurun kembali jika pasir sungai sebagai bed material ditambahkan lagi menjadi 25 gram. Fenomena ini sama seperti pada penggunaan pasir silika sebagai bed material. Hal ini menunjukkan bahwa pasir sungai yang digunakan dalam percobaan ini dapat berfungsi dengan baik. Hasil ini juga menunjukkan jumlah pasir sungai sebagai bed material yang optimum untuk laju alir batubara 1,067 adalah 15 gram.

ke dalam gasifier. Batubara kemudian berreaksi dengan gas oksigen menjadi syngas. Syngas kemudian dimurnikan dan didinginkan melalui siklon, heat exchanger dan scrubber. Syngas kemudian dianalisis menggunakan gas kromatografi. Hasil percobaan menunjukkan pasir sungai dapat berfungsi baik sebagai bed material dalam proses pembuatan gas sintesis dari batubara dilihat dari komposisi syngas, konversi karbon dan efisiensi gasifikasi.

DAFTAR PUSTAKA Kubota, N., 2006. Development of Novel Low Rank Coal Gasifier “TIGAR”, dipresentasikan pada Seminar on Low Rank Coal Gasification, Badan Litbang Energi dan Sumber Daya Mineral, Jakarta, 16 Mei 2006. Kunii, D., dan Levenspiel, O., 1991. Engeneering Fluidization, second edition, ButterworthHeinemann Publishing, Stoneham, M.A. Nurhadi, dkk., 2006. Pembuatan Gas Sintesis dari Batubara dengan Teknologi Gasifikasi Unggun Terfluidakan, Puslitbang tekMIRA. Setiawan, B., 2008. Indonesia Coal Policy, APEC Clean Fossil Energy Technical and Policy Seminar in conjunction with 7th Coaltech, Jakarta 17 November 2008. Penner, S.S., 1987. Coal Gasification: Direct Application and Syntheses of Chemicals and Fuels, U.S. Department of Energy, Office of Energy Research, Washington.

4.

KESIMPULAN

Percobaan ini dimaksudkan untuk mengetahui unjuk kerja penggunaan pasir sungai sebagai bed material pada gasifikasi batubara sistem fluidized bed. Sebagai pembanding, dilakukan juga percobaan penggunaan pasir silika sebagai bed material. Percobaan dimulai dengan pemanasan bed material dalam gasifier menggunakan pemanas listrik. Sebagai media fluidisasi digunakan gas nitrogen. Setelah suhu gasifier mencapai 900°C, percontoh batubara dan gas oksigen dimasukkan

Penggunaan Pasir Sungai sebagai Bed Material pada Gasifikasi Batubara ... Nurhadi dan Slamet Suprapto

127

METODE PENGURANGAN EMISI MERKURI PADA PEMBAKARAN BATUBARA

Dra. Roza Adriany M.Si Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi Jl. Ciledug Raya Cipulir Kebayoran Lama Jakarta Selatan Telp. 021 - 7394422 ext 1552

SARI Pengurangan emisi Merkuri yang maksimal pada pembakaran batubara seperti pada boiler bergantung pada beberapa faktor yaitu jenis batubara, konfigurasi alat pengontrol emisi dan proses tambahan lain seperti penambahan senyawa Halogen, pencampuran 2 jenis batubara, serta penggunaan teknologi ACI (Activated Carbon Injection). Dalam tulisan ini akan ditinjau masing-masing faktor yang mempengaruhi jumlah emisi Merkuri, dan jenis senyawa Merkuri yang diemisikan (Merkuri dalam wujud uap logam, oksida Hg dan Partikulat) serta pengaruh lain seperti UBC (Unburn Carbon) dan SO2. Kata kunci : emisi merkuri, batubara, pengontrol emisi, senyawa halogen

1.

PENDAHULUAN

Emisi Merkuri yang dihasilkan dari pembakaran batubara seperti pada unit Boiler mendapat perhatian yang besar dari pemerhati lingkungan karena berpotensi merusak lingkungan dan menjadi ancaman bagi kesehatan makhluk hidup. Menurut data EPA (Environmental Protection Agency), di Amerika Serikat diperkirakan sekitar 51 ton Merkuri pertahun telah diemisikan ke udara oleh Pabrik yang menggunakan batubara sebagai sumber energi pembakaran. Jenis Merkuri yang diemisikan ke udara pun bervariasi yaitu dalam bentuk uap Merkuri (Hg°), Oksida Merkuri dan Partikulat. Uap Merkuri (Hg°) mempunyai waktu tinggal yang lama di udara yaitu bisa mencapai satu tahun, sehingga dapat menyebar pada jarak yang sangat jauh dari sumbernya. Ketika Hg° terdeposit di tanah atau air , maka dia dapat mengalami transformasi menjadi merkuri organik yaitu metil merkuri yang dapat memasuki rantai makanan seperti ikan. Merkuri yang berbentuk oksida (Hg2+), mempunyai waktu tinggal di udara hanya beberapa hari saja, disebabkan karena tingkat kelarutan yang tinggi dari Hg2+ di dalam uap air yang ada di udara (Senior 2001).

Berbagai teknologi untuk mengurangi emisi merkuri maupun polutan lain yang berasal dari pembakaran Batubara seperti pada unit Boiler telah banyak dikembangkan dan sampai saat ini penelitianpenelitian mengenai hal ini masih terus dilakukan. Walaupun konfigurasi metode atau alat pengontrol emisi telah digunakan, pada kenyataannya jumlah merkuri yang diemisikan masih cukup tinggi dan akan berbeda-beda dari satu Pabrik dengan Pabrik lainnya. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi jumlah emisi Merkuri antara lain adalah jenis batubara, konfigurasi alat pengontrol emisi dan proses tambahan lain seperti penambahan senyawa Halogen, pencampuran 2 jenis batubara, penggunaan teknologi ACI (Activated Carbon Injection) serta pengaruh lain seperti UBC (Unburn Carbon) dan SO2 (Institute of Clean Air Companies, 2006 dan Durham, 2005). Dalam tulisan ini akan ditinjau masing-masing faktor yang mempengaruhi jumlah emisi Merkuri, serta jenis senyawa Merkuri yang diemisikan (Merkuri dalam wujud uap logam, oksida Hg dan Partikulat).

128

PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009

2.

METODOLOGI

Tulisan ini dibuat berdasarkan data atau informasi yang diperoleh dari penelitian-penelitian yang telah dilakukan terutama oleh EPA (Environmental Protection Agency) 3. HASIL DAN PEMBAHASAN

jection) yaitu penginjeksian karbon aktif kering berbentuk bubuk ke dalam flue gas. ACI biasanya ditempatkan antara pemanas udara (air preheater) dan ESP (Electrostatic Precipitator) atau FF (Fabric Filter). 3.1.1 Teknologi “Co Benefits” Hasil penelitian pada Tabel 1, Tabel 2 dan Tabel 3 berikut menunjukkan bagaimana pengaruh konfigurasi alat pengontrol polutan terhadap jumlah Merkuri yang dibuang ke udara, untuk jenis batubara yang sama. Data diperoleh dari ICR (Information Collection Request) EPA (U.S Environmental Protection Agency, 2000). Dari Tabel 1 terlihat bahwa konfigurasi alat pengontrol polutan yang paling efisien untuk Batubara Bituminous adalah SDA/FF dengan jumlah Merkuri yang dibuang 1,78 %. Dari Tabel 2 terlihat bahwa konfigurasi alat pengontrol polutan yang paling efisien untuk Batubara Sub-Bituminous adalah CS/FF dengan jumlah Merkuri yang dibuang 27,57 %. Dari Tabel 3 terlihat bahwa konfigurasi alat pengontrol polutan yang paling efisien untuk Batubara Lignit adalah CS-ESP dan wet FGD Scrubber dengan jumlah Merkuri yang dibuang 62,52 %. Untuk jenis alat pengontrol polutan yang sama misalnya menggunakan CS-ESP, terlihat bahwa % jumlah emisi dari Batubara Lignit adalah yang paling tinggi yaitu 98,53% diikuti oleh SubBituminous 85,52% dan yang terendah adalah Bituminous yaitu 53,52%. 3.1.2 Teknologi ACI (Activated Carbon Injection) ACI (Activated Carbon Injection) adalah penginjeksian karbon aktif kering berbentuk bubuk ke dalam flue gas. ACI biasanya ditempatkan antara pemanas udara dan ESP atau FF (Durham, 2005 dan Praven, 2003). Hasil penelitian dari: Durham,M. “Tools for Planning and Implementing Mercury Control Technology”, menunjukkan bagaimana pengaruh kecepatan injeksi karbon aktif terhadap % Merkuri yang dapat dikontrol (distabilkan) dengan menggunakan 2 alat pengontrol polutan yaitu ESP dan FF untuk Batubara Bituminous dan Sub Bituminous, seperti tampak pada Gambar 1.

Faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah emisi merkuri Seperti telah dijelaskan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi jumlah emisi Merkuri pada pembakaran Batubara yaitu jenis Batubara, konfigurasi alat pengontrol emisi dan proses tambahan lain seperti penambahan senyawa Halogen, pencampuran 2 jenis batubara, penggunaan teknologi ACI (Activated Carbon Injection) serta pengaruh lain seperti UBC (Unburn Carbon) dan SO2. 3.1. Jenis Batubara dan Konfigurasi Alat Pengontrol Merkuri Teknologi pengontrol Merkuri pada dasarnya dibagi dalam 2 bagian: Pertama adalah teknologi yang di sebut “Co Benefits” yaitu teknologi yang sebenarnya didesain untuk mengontrol polutan lain selain Merkuri , seperti NOx , SOx dan bahan partikulat (PM) tetapi dalam hal ini dapat juga digunakan sebagai alat pengontrol Merkuri (Praven, 2003). NOx dapat dikontrol menggunakan SCR (Selective Catalytic Reduction). Selain berfungsi sebagai pengontrol NOx , SCR dapat juga digunakan sebagai pengontrol emisi Merkuri dengan cara mengoksidasi uap Merkuri menggunakan katalis SCR. SOx adalah polutan yang dikontrol menggunakan FGD (Flue Gas Desulfurization). Selain berfungsi sebagai pengontrol SOx, FGD dapat juga digunakan sebagai pengontrol emisi Merkuri dengan cara melarutkan oksida Merkuri di dalam air (U.S Environmental Protection 2003 dan Praveen, 2003). Bahan Partikulat (PM), baik yang berasal dari Partikulat Merkuri atau Partikulat lainnya dapat dikontrol dengan alat seperti CS-ESP, HS-ESP, FF dan PM Scrubber (U.S Environmental Protection Agency, 2000). Teknologi kedua adalah teknologi yang spesifik untuk Merkuri seperti ACI (Activated Carbon In-

Metode Pengurangan Emisi Merkuri pada Pembakaran Batubara ... Rosa Adriany

129

Tabel 1. Pengaruh konfigurasi alat pengontrol polutan terhadap jumlah merkuri yang dibuang ke udara untuk batubara bituminous. Jenis Batubara Bituminous Jenis Boiler PC Boiler Alat Pengontrol Polutan SDA/FF SCR dan SDA/FF CS-FF dan wet FGD Scrubber SNCR dan CS-ESP FF Wet FGD Scrubber HS-ESP-Wet FGD Scrubber CS-ESP DSI dan CS-ESP HS-ESP % Merkuri yang Dibuang ke Udara 1,78 2,44 3,59 9,1 16,90 18,77 44,95 53,52 55,11 87,98

Tabel 2. Pengaruh konfigurasi alat pengontrol polutan terhadap jumlah merkuri yang dibuang ke udara untuk batubara sub bituminous Jenis Batubara Jenis Boiler Alat Pengontrol Polutan CS-FF CS-ESP / SDA CS-ESP dan Wet FGD Scrubber HS-ESP dan Wet FGD Scrubber SDA/FF CS/ESP HS-ESP PM/Scrubber % Merkuri yang Dibuang ke Udara 27,57 62,06 64,88 67,38 74,60 85,52 86,54 85,57

Sub Bituminous PC Boiler

Tabel 3. Pengaruh konfigurasi alat pengontrol polutan terhadap jumlah merkuri yang dibuang ke udara untuk batubara lignit Jenis Batubara Lignit Jenis Boiler PC Boiler Alat Pengontrol Polutan CS-ESP dan wet FGD Scrubber PM-Scrubber SDA-FF CS-ESP dan FF CS-ESP
SDA DSI SCR FGD SNCR

% Merkuri yang Dibuang ke Udara 62,52 67,23 82,62 95,07 98,53
Particulate Collector) : Spray Dryer Absorber (Dry Scrubber) : Duct Sorbent Injection : Selective Catalytic Reduction : Flue Gas Desulfurization : Selective Non-Catalytic Reduction

PC FBC CS-ESP HS-ESP FF PM FF (COHPAC)

: Pulverized Coal : Fluidized Bed Combustor : Cold-Side Electrostatic Precipitator : Hot-Side Electrostatic Precipitator : Fabric Filter : Particulate Matter : Fabric Filter pilot unit (Compact Hybrid

130

PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009

HCl tidak dapat mengoksidasi Hgº secara langsung melalui reaksi fasa gas yang Homogen ... UBC (Unburn Carbon) yang ada dalam abu terbang dengan Merkuri yang ada dalam flue gas. molekul Cl2 dan sebagai HCl.2. tetapi HCl merupakan jenis klorin yang utama di dalam flue gas yang dapat melakukan reaksi oksidasi melalui reaksi Heterogen dengan cara mempromosikan oksidasi Merkuri pada permukaan padatan (Zhuang. 2006). umumnya menghasilkan Hg+2 dan Hgp yang lebih banyak di dalam flue gas dibandingkan dengan merkuri dalam bentuk Hgº (Zhuang. Pada penggunaan alat pengontrol polutan ESP untuk jenis Batubara Sub Bituminous diperoleh hasil bahwa pengurangan emisi maksimum adalah sekitar 60% dan terjadi mulai dari kecepatan injeksi sekitar 7 lb/Macf. 2006). atom Cl diperkirakan sebagai jenis Klorin yang paling dominan berperan dalam mengoksidasi merkuri secara Homogen (Zhuang. kemungkinan hal ini disebabkan karena sensitifitas Cl2 yang lebih rendah dibanding Cl pada suhu tersebut. Diantara berbagai jenis Klorin tersebut. Pengaruh Penambahan Halogen Adanya senyawa Halogen seperti Klorin baik yang berasal dari Batubara maupun yang ditambahkan sebagai aditif dapat mempengaruhi oksidasi Merkuri (perubahan dari Hgº menjadi Hg+2 ) dan juga mempengaruhi perubahan Merkuri dari Hgº ke bentuk partikulat Merkuri (Hgp). Reaksi klorinasi ini dapat terjadi pada fasa yang sama (Homogen) maupun pada fasa yang berbeda (Heterogen). diperlukan 5 kali lebih banyak penyerap karbon aktif bila menggunakan ESP dari pada FF. pengurangan merkuri sampai dengan 90% dapat tercapai pada kecepatan injeksi karbon aktif sekitar 20 lb/Macf (million actual cubic feet) sedangkan untuk alat pengontrol baghouse (FF) untuk Batubara yang sama . Pengaruh kecepatan injeksi karbon aktif terhadap % pengurangan merkuri Pada Gambar 1 terlihat bahwa untuk alat pengontrol ESP pada Batubara Bituminous. 2003). 3. Hal ini kemungkinan disebabkan karena terbentuknya lapisan Karbon pada bagfilter sehingga penyerapan lebih maksimal (Praven. Metode Pengurangan Emisi Merkuri pada Pembakaran Batubara . Klorin di dalam flue gas. 2006). 2003). Dengan kata lain untuk mencapai 90% pengurangan Merkuri. Rosa Adriany 131 . dapat berada dalam bentuk 3 senyawa yaitu sebagai atom Cl. Kandungan Klorin yang tinggi di dalam Batubara. FF mempunyai tingkat penangkapan Merkuri yang lebih tinggi dibandingkan ESP. Reaksi Heterogen adalah reaksi yang terjadi antara Klorin. Kenaikan kecepatan injeksi karbon aktif selanjutnya ternyata tidak dapat menaikkan persentase pengurangan Merkuri. Pada studi lainnya ditemukan bahwa pada suhu di bawah 500 ºC reaksi oksidasi merkuri yang utama dilakukan oleh Cl2 bukan oleh atom Cl.Gambar 1. pemisahan merkuri sampai dengan 90% dapat tercapai pada kecepatan injeksi 4 lb/Macf (Praven.

Jumlah UBC yang ada di dalam abu terbang dipengaruhi oleh penggunaan alat pengontrol polutan NOx yang digunakan. tetapi dengan konfigurasi alat pengontrol Merkuri diganti menjadi SDA-ESP maka diperoleh hasil dimana efek pencampuran kedua Batubara tidak signifikan dalam meningkatkan efisiensi penangkapan Merkuri. Hal ini memperlihatkan bahwa konfigurasi SDA FF lebih baik dibanding SDA-ESF (Durham. Dalam beberapa kasus dapat mencapai kenaikan hingga 20 % berat. kedua. klorinasi merkuri pada flue gas dapat berlangsung melalui tiga cara yaitu pertama. 2006). Dengan demikian. Pengaruh pencampuran bituminous dengan sub bituminous terhadap persentase pengurangan emisi Hg 132 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Dari Gambar 2 terlihat bahwa semakin bertambahnya komposisi batubara bituminous dalam campuran maka semakin besar persentase Hg yang dapat dipindahkan. 3. pengetahuan mengenai interaksi Fisika dan Kimia antara partikel Gambar 2. dengan penambahan SCR atau dengan melakukan pemanasan bertingkat. Bagaimanapun. melalui reaksi fasa gas yang Homogen. Alat pengontrol merkuri yang digunakan adalah SDA-FF. Dampak dari penggunaan teknologi ini adalah meningkatnya kandungan UBC yang ada di dalam abu terbang.Penelitian lain menunjukkan bahwa UBC dapat memfasilitasi perubahan HCl di dalam flue gas untuk membentuk pusat karbon terklorinasi. melalui reaksi Heterogen dan yang ketiga melalui pembentukan pusat Heterogen yang dapat berupa permukaan padatan dengan kondisi yang sesuai seperti partikel UBC. untuk komposisi pencampuran yang sama dari Batubara yang sama.4. Pada penelitian selanjutnya. Pengurangan emisi NOx umumnya dilakukan dengan berbagai strategi misalnya dengan memasang low-NOx burners. Pengaruh dari UBC (Unburn Carbon) Pada umumnya kandungan karbon di dalam abu terbang berkisar antara 2-12%. katalis SCR atau partikel yang diinjeksikan (Zhuang. Hasil penelitian Durham (2005) seperti tampak pada Gambar 2 berikut memperlihatkan pengaruh pencampuran batubara bituminous berkadar klorin tinggi (106 µg/g) dengan batubara sub bituminous berkadar klorin rendah (9 µg/g). 3. 2005).3. 2006). Pengaruh Pencampuran 2 Jenis Batubara Salah satu metode alternatif dalam meningkatkan kemampuan penangkapan Merkuri adalah dengan mencampurkan 2 jenis Batubara yaitu Batubara yang mengandung Klorin atau Bromin yang tinggi dengan Batubara yang mengandung Klorin atau Bromin rendah. Peningkatan kandungan UBC ini dikarenakan kondisi pembakaran yang kekurangan oksigen dan atau rendahnya suhu pembakaran (Zhuang. Penelitian dari Hasset dan Eylands membuktikan bahwa kenaikan kandungan UBC (Unburned Carbon) dan adanya penurunan suhu pembakaran akan menaikkan efisiensi penangkapan Merkuri di dalam abu terbang.

epa. 4. Hasil studi EPA seperti pada Tabel 1.com. A. Dikarenakan konsentrasi SO2 di dalam Flue gas jauh lebih besar dibanding Merkuri maka kapasitas adsorpsi Karbon aktif bergantung pada konsentrasi SO2 yang dapat membentuk H2SO4 pada permukaan Karbon. Dengan demikian kapasitas Karbon aktif dalam mengadsorpsi Merkuri akan lebih tinggi pada saat kadar SO2 di dalam Flue gas lebih rendah. Praveen.epa. Tabel 2 dan Tabel 3 memperlihatkan bahwa pada Bituminous diperoleh konfigurasi alat pengontrol Polutan yang paling efisien adalah SDA/FF.icac. KESIMPULAN DAFTAR PUSTAKA Durham. Penambahan Halogen Adanya senyawa Halogen seperti Klorin baik yang berasal dari Batubara maupun yang ditambahkan sebagai aditif dapat meningkatkan oksidasi Merkuri (perubahan dari Hgº menjadi Hg+2 ) dan juga mempengaruhi perubahan Merkuri dari Hgº ke bentuk partikulat Merkuri (Hgp) 3. www.. U. Dalam hal ini adanya senyawa Halogen dalam jumlah yang cukup akan sangat membantu meningkatkan efisiensi penangkapan Merkuri (Zhuang. 2000. “Mercury Emissions From Coal – Fired Power Plants”. “Enhancing Mercury Control on Coal-Fired Boilers with SCR.. “Performance and Cost of Mercury and Multipollutant Emission Control Technology Aplication on Electric Utility Boilers”. “Mercury Control for PRB and PRB/Bituminous Blends” www.S Environmental Protection Agency. 4. 2. Efisiensi penangkapan merkuri pada teknologi ACI bergantung pada kecepatan injeksi karbon aktif dan konfigurasi alat pengontrol polutan yang digunakan. pemisahan merkuri sampai dengan 90% dapat tercapai pada kecepatan injeksi 4 lb/Macf. Zhuang. Jenis Batubara dan Konfigurasi Alat Pengontrol Merkuri Jenis batubara yang berbeda dan konfigurasi alat pengontrol Polutan yang berbeda dapat menghasilkan efisiensi penangkapan Merkuri yang berbeda.org. Mercury Transformations in Coal Combustion Flue Gas”. masih kurang memadai (Zhuang. 2001. M.icac.. www. 2003.. Oxidation Catalyst.nescaum.D.”Behaviour of Mercury in Air Pollution Control Devices on Coal-Fired Utility Boilers”. Pengaruh SO2 terhadap Karbon Aktif Karbon aktif dapat mengkatalisis SO2 menjadi H2SO4 di dalam Flue gas. 2006. Institute of Clean Air Companies.UBC dengan Merkuri.. UT. 2006). 2003. and FGD” . EPA/600/ R-03/110.com. U.org.undeerc.L.gov. 3. www. Asam Sulfat ini akan terakumulasi pada permukaan Karbon dan kemungkinan dapat menghambat adsorpsi Merkuri. “Electric Utility Steam Generating Units Hazardous Air Pollutant Emission Study (Mercury ICR). Snowbird. www. C.reaction_eng. 2006. pada Sub Bituminous adalah CS-FF dan pada Lignit adalah CSESP dan wet FGD Scrubber. Metode Pengurangan Emisi Merkuri pada Pembakaran Batubara .S Environmental Protection Agency.. Hasil studi Durham menunjukkan bahwa untuk alat pengontrol ESP pada Batubara Bituminous. Rosa Adriany 133 . Metode pengurangan emisi Merkuri yang maksimal pada pembakaran batubara seperti pada boiler bergantung pada beberapa faktor antara lain: 1. Senior. Y. pengurangan merkuri sampai dengan 90% dapat tercapai pada kecepatan injeksi karbon aktif sekitar 20 lb/Macf (million actual cubic feet) sedangkan untuk alat pengontrol baghouse (FF) untuk Batubara yang sama . SO2 terhadap Karbon Aktif Kapasitas Karbon aktif dalam mengadsorpsi Merkuri akan lebih tinggi pada saat kadar SO2 di dalam Flue gas lebih rendah. Century: Impacts of Fuel Quality and Operations Engineering Foundation Conference. Pencampuran dua jenis Batubara.gov. 2006). Pencampuran 2 jenis Batubara yang mengandung Klorin atau Bromin tinggi dengan Batubara yang mengandung Klorin atau Bromin rendah dapat meningkatkan efisiensi penangkapan Merkuri. www.5. 2005. www.com.

000. Dr.24 meter. Di bagian selatan. Sejalan dengan bertambahnya kedalaman laut. bahkan di beberapa tempat membentuk bidang yang tipis dengan ketebalan kurang dari 2 meter. data penting yang diperlukan untuk mengetahui keberadaan dan perhitungan volume sedimen mengandung potensi konsentrat timah adalah data seismik refleksi. Kata kunci: data seismik. Subandrio2) 1) Pusat Eksplorasi dan Pengembangan Geologi Kelautan. mengandung rata-rata 3 kg konsentrat timah. sehingga diperoleh volume sedimen seluruhnya adalah 350. Hasil interpretasi penampang seismik refleksi di perairan Bangka Utara menunjukkan ketebalan sedimen mengandung timah antara 2 . dan konsentrat timah.com 2) Departemen Teknik Geologi. maka diperkirakan kandungan timah di daerah eksplorasi sekitar 1. perairan utara Bangka 134 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .000 ha. Institut Teknologi Bandung Jl. Ganesa No.usman@gmail. Jika dalam volume 1 m3 sedimen.EKSPLORASI POTENSI KONSENTRAT TIMAH BERDASARKAN DATA SEISMIK REFLEKSI (STUDI KASUS PERAIRAN BANGKA UTARA) Ediar Usman1) dan Andri S.000 kg (1. lembah purba.050. Junjunan No. lembah-lembah purba ditunjukkan oleh bentuk morfologi cekungan pada permukaan granit yang terisi oleh sedimen dan konsentrat timah. Jl. ketebalan kurang dari 4 meter. SARI Pada kegiatan eksplorasi konsentrat timah di laut.000 m3. Balitbang ESDM. Jumlah kandungan konsentrat timah tersebut merupakan potensi ekonomis untuk ekploitasi konsentrat timah di daerah eksplorasi. 10 Bandung. memperlihatkan makin menebalnya sedimen ke arah utara (offshore) dengan ketebalan antara 10 . Hasil eksplorasi konsentrat timah menggunakan data seismik refleksi ini dapat menjadi acuan dalam kegiatan studi kelayakan.30 meter. eksplorasi lebih rinci dan peningkatan investasi pertambangan di perairan Bangka Utara. dan luas daerah eksplorasi sekitar 5.050. Pada penampang seismik. Prinsip kerja metode seismik refleksi ini adalah pantulan gelombang suara yang dapat membedakan antara granit.30 meter dan kedalaman batuan dasar adalah 65 meter sebagai pusat lembah.000 ton). Ketebalan terbesar terdapat di bagian tengah daerah eksplorasi berkisar antara 16 . potensi konsentrat timah. Daerah pengendapan sedimen dan timah yang dapat diidentifikasi melalui data seismik adalah lembah-lembah purba (paleovalleys) yang terisi sedimen (channel fill) berbutir kuarsa berukuran sedang-kasar. 236 Bandung 40174 e-mail: ediar. jenis dan ketebalan sedimen.000. Sedimen dan timah tersebut berasal dari darat dan dari tubuh granit di laut melalui sungai-sungai purba (paleochannels). Hasil perhitungan ketebalan rata-rata adalah 7 meter.

penyebaran sedimen dan morfologi granit. On seismic profile.050. dan Subandrio. Sebagai langkah awal untuk mengetahui keberadaan sedimen mengandung timah tersebut. dipantulkan oleh bidang batas batuan dan selanjutnya diterima oleh seperangkat peralatan seismik (receiver). Ediar Usman dan Andri S. Melalui pemahaman karakter pantulan seismik pada penampang seismik akan dapat diinterpretasi ketebalan sedimen dan morfologi granit. sehingga dapat diketahui ketebalan dan lembah-lembah purba yang mengandung konsentrat timah. melalui penjalaran gelombang suara dalam media air dan batuan. dapat ditetapkan target kegiatan eksplorasi dalam mengidentifikasi sedimen mengandung konsentrat timah. the paleovalleys is shown by basin morphology form at surface of granite that are loaded by sediment and tin concentrate. If on 1 m3 volume of sediment with content 3 kg of tin concentrate. Daerah sungai purba (paleochannel) dan lembah purba (paleovalley) bawah laut.000. Amount of the tin concentrate content represent the economic potency for the exploitation of tin concentrate in exploration area and its surrounding. Berdasarkan metode seismik. ketebalan dan jenis sedimen. The tranportation of sediment and tin from land and granite body in sea through paleochannel.000 kg (1. diperkirakan di daerah ini terdapat lembah (paleo-channel) sebagai daerah sedimentasi pasir asal darat dan laut yang mengandung konsentrat timah.000 m3. wide of exploration area around 5. PENDAHULUAN Perairan Kepulauan Bangka Utara. termasuk konsentrat timah. paleovalleys. The principal of this reflection seismic method is sound wave reflection can differentiate between granite. The area of depositional of sediments and tin concentrate identified through seismic data is paleovalleys which filled by sediment. Result of seismic profile calculation. more detail tin exploration and also increasing the mines investment in the territorial waters of North Bangka. On the contrary. the content estimation of tin concentrate in the exploration area around 1. and tin concentrate. 2008). yang merupakan tempat akumulasi mineral berat. Eksplorasi seismik dalam pelaksanaannya menggunakan seperangkat peralatan dengan menggunakan prinsip-prinsip gelombang suara yang dilepaskan ke dasar laut.050. perlu dilakukan eksplorasi geologi dan geofisika kelautan dengan menggunakan metode seismik pantul beresolusi tinggi (high resolution) (Usman.000 ha. Result of interpretation on reflection seismic profiles in the territorial waters of North Bangka shows that the sediment thickness with ranges from 2 to 30 meters. territorial waters of North Bangka 1. the deeper sea tends to northwards and also correlated with thicker sediment. tin concentrate potency. the important data that are needed to know existence and calculation of sediment volume of tin concentrate reserve is reflection seismic data.000. Keywords: seismic data. In southern part of area. Subandrio 135 . the thickness is less than 4 meters. the average of thickness approximately is 7 meters. yaitu: 1.. Sedimen berbutir kasar (coarse fluvial depos- Eksplorasi Potensi Konsentrat Timah Berdasarkan Data .. Survei seismik akan dapat memberikan gambaran tentang daerah akumulasi sedimen. Keberadaan dan keterdapan konsentrat timah di laut memerlukan alat bantu yang memberikan keyakinan tentang volume dan potensinya. Prinsip dasar seismik pantul beresolusi tinggi tersebut merupakan satu keterpaduan untuk mengetahui ketebalan. The sediment thickness in this area is estimated between 10 to 24 meters.ABSTRACT At activity of tin concentrate exploration in the sea.000 ton). medium sand – very fine sand of quartz grain. Result of tin concentrate exploration by using the reflection seismic data can become reference on the activities of feasibility study. so that the sediment volume entirely is 350. The thickest area lies in the center of survey area with depth ranges from 16 to 30 meters and depth of bedrock is 65 meters as central of paleovalley. type and sediment thickness. 2. Sebagai daerah jalur timah. and in some places it even forms thin layer of less than 2 meters. secara regional merupakan daerah jalur timah (tin belt) yang kaya dengan konsentrat timah.

GEOLOGI REGIONAL Kerangka geologi regional Kepulauan Bangka dan pulau-pulau di sekitarnya termasuk dalam Punggungan Bangka Belitung (Bangka-Biliton Ridge). Pulau Bangka yang dimasukkan pada Main Tin Belt Granite dan di Pulau Belitung termasuk pada Western Tin Belt Granite (Gambar 2). Sebagai dasar dalam penentuan titik pemboran inti untuk mengetahui kualitas dan kuantitas timah secara vertikal dan horizontal.its). 4. 1980. 3. 1983). Batchelor. Di perairan Bangka Utara dan sekitarnya. Semenanjung Malaysia. batuan alas adalah granit yang kaya dengan butiran kuarsa dan mineral timah (Sn). Punggungan ini merupakan bagian dari jalur timah batuan granit (Tin Belt Granite) dari Kraton Sunda yang memanjang dari daratan Thailand. Daerah survei terletak di lepas pantai bagian utara Pulau Bangka. Batuan dasar granit ini muncul di sepanjang jalur timah yang mempunyai jenis berbeda-beda. 2. Peta lokasi eksplorasi 136 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Kepulauan Riau. Morfologi batuan alas (bedrock) sebagai batuan sumber mineral timah. Secara umum lokasi survei termasuk dalam perairan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung kerana letaknya di luar perairan kabupaten/kota yang berjarak di luar daerah 4 mil laut. Akumulasi mineral timah tidak jauh dari batuan sumber. Daerah ini merupakan tinggian batuan dasar berada di sebelah timur Cekungan Sumatera Selatan dan di sebelah utara Cekungan Sunda (Katili. 1980). yaitu sedimen yang prospek mengandung timah. termasuk dalam wilayah perairan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung atau sekitar 7 km ke lepas pantai pada kedalaman laut 10 – 15 meter. Perkembangan zona vulkanik Sumatera memperlihatkan bahwa granit Belitung berumur lebih tua (berumur Perem hingga Jura) (Lehmann Gambar 1. Bangka-Belitung hingga Kalimantan Barat (Katili.

Berdasarkan kerangka tektonik. dicirikan oleh grafik anomali magnetik yang tajam dan oleh grafik gravitasi yang agak halus (smooth). Cakupan platform ini mulai dari Laut Natuna di bagian Utara dan batas bagian selatan dari platform ini adalah Punggungan Bangka-Belitung (Bangka-Biliton Ridge).. yaitu: Paparan Sunda Bagian Utara. diabas. Platform tersebut dicirikan oleh morfologi batuan dasar yang dangkal dan ditutupi oleh sedimen yang tipis. 1970). Pada platform ini terdapat dua depresi cekungan sedimen yang memiliki ketebalan sedimen lebih dari 800 meter. juga dicirikan oleh tubuh-tubuh batuan dasar kecil yang memiliki kecepatan seismik tinggi. Subandrio 137 . Secara fisiografis. dibandingkan granit di Bangka dan di daratan pulau Sumatera yang berumur Trias. Platform Singapura merupakan pemisah antara Paparan Sunda bagian utara dan Paparan Sunda bagian selatan. 1990). perairan Bangka Utara terletak di Paparan Sunda (Sunda Shelf) yang secara tektonik telah stabil sejak awal Miosen. Ediar Usman dan Andri S. Basement dari platform ini sebagian besar terdiri atas batuan beku (gabro. Peta jalur granit regional Asia Tenggara (Batchelor.Gambar 2. yaitu Depresi Bangka yang memanjang dengan arah barat laut – tenggara (sejajar dengan pantai Eksplorasi Potensi Konsentrat Timah Berdasarkan Data . Hal ini memberi informasi bahwa proses erosi pada tinggian-tinggian granit di daerah Bangka Belitung juga telah berjalan cukup lama. andesit dan granit) berumur mesozoik hingga akhir Kapur yang kemudian pada awal Miosen diintrusi oleh granit dari berbagai jenis (Ishihara.. sehingga hasilnya berupa endapan aluvial dalam bentuk endapan pantai dan laut telah berjalan lebih intensif. 1983) and Harmanto. Berdasarkan peta struktur pada top dari morfologi batuan dasar. Paparan Sunda dapat dibedakan menjadi tiga bagian (Tjia. daerah survei termasuk bagian dari Platform Singapura. Platform Singapura dan Paparan Sunda Bagian Selatan (Laut Jawa). Sedimen Kenozoik di platform ini hanya sampai ketebalan 500 meter. 1977).

Sumatera) dan Depresi Belitung yang memanjang berarah utara-selatan (sejajar dengan pantai barat Kalimantan). Di daerah survei, Punggungan Bangka-Belitung terdapat di bagian barat daya dan Depresi Bangka memotong bagian tengah daerah eksplorasi dengan arah barat laut - tenggara. Pulau Bangka merupakan bagian ujung selatan dari Platform Singapura dan terletak paling dekat dengan daerah eksplorasi. Pulau ini umumnya merupakan daerah yang hampir rata dan secara geologis dapat mewakili tataan geologi Platform Singapura, khususnya geologi Punggungan Bangka-Balitung dan umumnya untuk tataan geologi daerah eksplorasi. Secara geologis, Pulau Bangka berbeda dengan Pulau Sumatera, karena batuan tertua yang tersingkap di Pulau Bangka adalah Kompleks Pemali dari batuan metamorfik yang berumur Permo-Karbon. Kompleks ini diterobos oleh diabas Penyabung berumur Permo – Triasik. Geologi lepas pantai sekitar perairan Bangka Utara merupakan kelanjutan dari kondisi geologis Kepulauan Bangka Belitung. Batuan dasar berupa batuan magmatis granit maupun batuan beku lainnya, terbentang di atasnya sedimen PraTersier, dan tertutup oleh endapan marin yang merupakan sedimen permukaan dasar laut. Geologi lepas pantai dari hasil rekaman seismik pantul dangkal dan pemboran di Selat Gaspar di Tanjung Beriga, menunjukkan empat kelompok batuan sedimen yang diendapkan sampai umur Miosen (Batchelor, 1983), yaitu: a. Aluvium muda teridiri dari, sedimen penutup muda berumur Holosen dan Kompleks Aluvium berumur Plistosen Akhir. b. Unit Transisi terdiri atas sedimen laut, berumur Plistosen Akhir dan Unit Transisi berumur Plistosen Tengah. c. Sedimen penutup purba, berumur Plistosen Awal sampai Akhir terdiri atas fasies dataran aluvium purba dan menjemari dengan fasies kipas (sedimen bongkah granit). d. Regolit Daratan Sunda terdiri atas endapan koluvial dan materi kipas, berumur Pliosen dan latosol, laterit serta bauksit berasal dari pelapukan batuan dasar (granit dan batuan sedimen), berumur Miosen Akhir. Kepulauan Singkep Tujuh hingga Belitung berpotensi akan endapan kasiterit letakan. Secara

geologis, genesisnya merupakan sistem letakan lembah (placer valley systems). Sistem ini erat kaitannya dengan perubahan muka air laut (sea level changes) yang terjadi selama Plio-Plistosen (Yoo and Park, 2000), dan memengaruhi kondisi geologis saat ini, baik yang berada di daerah daratan maupun di daerah lepas pantai, khususnya daerah granit Sengkeli, Pering dan Lenggang. Perubahanperubahan muka air laut di masa lampau yang mencapai ± 100 meter ini setidaknya menyebabkan terjadinya tiga kali proses erosional (erosional events), yakni proses erosi, akumulasi sedimen rombakan dan tertutup oleh lapisan sedimen Resen. Perubahan muka air laut ini juga memengaruhi Paparan Sunda, khususnya Laut Jawa dan Selat Karimata saat ini, yakni membentuk alur-alur sungai purba, seperti yang teridentifikasi oleh Emery dan Aubrey (1972) (Gambar 3). Pada aluralur sungai purba ini dipercayai mengandung potensi sumber daya mineral yang merupakan endapan plaser. Berdasarkan kondisi regional, potensi konsentrat timah di perairan Bangka Utara sampai saat ini belum diketahui secara pasti karena keterbatasan data eksplorasi secara rinci dan publikasi terdahulu. Data yang ada masih bersifat regional, dan masih memerlukan kajian-kajian yang lebih terpadu dari berbagai publikasi dan eksplorasi timah terdahulu. Kajian potensi saat ini mengacu pada data geologi dan sungai-sungai purba regional di daerah eksplorasi, khususnya di utara Pulau Bangka (Gambar 3). Kegiatan eksplorasi dan penambangan timah saat ini mengacu pada sistem penyebaran sungai dan lembah purba. Kegiatan survei seismik dilakukan untuk mengidentifikasi keberadaan lembah dan sungai purba serta cabang-cabangnya yang berukuran lebih kecil, tetapi diyakini sebagai pembawa konsentrat timah. Berdasarkan geologi regional dan distribusi sungaisungai purba tersebut dapat diperikirakan penyebaran sedimen mengandung timah di perairan Bangka Utara. Secara umum, sedimen akan mengalami proses transportasi dari darat ke laut melalui sungai-sungai purba dan menyebar dalam bentuk limpahan secara lateral dan vertikal (progradation) ke morfologi cekungan di laut. Pada umumnya, sungai-sungai purba tersebut tertutup oleh sedimen Resen yang lebih muda. Untuk itu, eksplorasi timah berdasarkan metode seismik di

138

PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009

Gambar 3. Peta distribusi sungai-sungai purba (paleo-channel) di perairan Bangka sebagai daerah aliran sedimen mengandung konsentra timah (disederhanakan dari Emery, 1972)

perairan Bangka Utara diharapkan dapat menemukan lembah dan sungai purba sebagai indikasi awal keberadaan timah.

3.

METODE EKSPLORASI

Geologi bawah permukaan dasar laut (struktur dan batuan) disusun berdasarkan penafsiran data seismik pantul dengan menggunakan prinsipprinsip Seismik Stratigrafi, yaitu pengenalan terhadap ciri-ciri reflektor batas atas, batas bawah dan bagian dalam (internal reflector) setiap unit seismik (Sangree & Wiedmier, 1979; Sherif, 1980). Interpretasi lapisan sedimen mengandung konsentrat timah adalah daerah yang dekat dengan batuan sumber (bedrock), membentuk lembah sebagai akumulasi daerah dengan berat jenis tinggi dan litologinya adalah coarse fluvial deposits (sedimen fluvial berbutir kasar) atau disebut sedimen Kuarter. Selanjutnya, guna memastikan sedimen mengandung konsentrat timah, data seismik dikorelasi dengan data pemboran sehingga

diperoleh gambaran menyeluruh tentang potensi konsentrat timah di daerah eksplorasi. Data tersebut kemudian diolah secara digital untuk mendapatkan volume endapan dan selanjutnya dapat diperhitungkan potensi konsentrat timah. Pengambilan data seismik di perairan Bangka Utara gunanya untuk mengetahui ketebalan lapisan sedimen Kuarter, lembah dan saluran (channels) pada batuan dasar. Lembah dan saluran di bawah dasar laut atau pada batuan dasar akan terlihat dari pola kontur kedalaman batuan dasar tersebut. Perhitungan ketebalan sedimen dan kedalaman granit berdasarkan atas perhitungan dengan persamaan: S = V x t, di mana S adalah jarak, V kecepatan gelombang dalam sedimen V.sed) dan t adalah waktu. Kecepatan gelombang dalam sedimen dengan V.sed = 1600 meter/Sec. (Hubrol et al., 1980; Khesin et al., 1995). Pada eksplorasi ini dipergunakan sapuan (sweep) adalah 0,25 Sec. dan firing rate adalah 1 Sec. Total sapuan seismik adalah 250 milli Sec. dalam Two Way Traveltime (TWT) atau 125 milli Sec. dalam One Way

Eksplorasi Potensi Konsentrat Timah Berdasarkan Data ... Ediar Usman dan Andri S. Subandrio

139

Traveltime (OWT). Selanjutnya setelah diperoleh ketebalan sedimen, dan luas daerah eksplorasi 5000 ha dapat dihitung volumen sedimen berdasarkan metode Trapezoidal dan Simpson’s Role dengan rumus luas kali tebal secara digital. Volume juga dapat dihitung berdasarkan luas dan tebal rata-rata.

Hasil interpretasi rekaman seismik di daerah survei diperoleh pola reflektor yang menunjukkan batuan sedimen dengan ciri-ciri di bagian atas adalah selaras (concordance), laminasi sejajar, bergelombang terputus-putus, perlapisan terpotong-potong. Bagian bawah membentuk pengisian, longsoran, dan bidang ketidakselarasan. Pada penampang seismik Lintasan 36 (LINE 36) berarah barat – timur menunjukkan batas yang tegas antara batuan sedimen di bagian atas dan granit di bagian bawah. Pada penampang tersebut juga menunjukkan adanya daerah lembah purba yang berbentuk cekungan pada permukaan granit dan terisi oleh sedimen. Pada cekungan tersebut pengisian oleh sedimen hasil transportasi dari darat dan dari tubuh granit di laut. Pada penampang Lintasan 36 (LINE 36) (Gambar 4) dengan arah lintasan barat – timur dan hasil interpretasinya (Gambar 5) memperlihatkan keberadaan lembah berada di bagian timur daerah survei makin dalam ke arah utara. Di bagian barat tersebut, keberadaan lembah lebih dangkal dan tipis, tetapi berdasarkan bentuk reflektor yang masih menunjukkan ciri-ciri bergelombang terputus-putus, perlapisan terpotong-potong, longsoran dan pengisian diperkirakan di bagian barat lebih kasar dibandingkan dengan bagian timur. Di bagian timur ditandai oleh hilangnya pantulan di bagian lembah, sebagai akibat gelombang seismik melalui madium yang halus (kaolin) atau medium yang kasar (kerikil) yang berongga dengan kandungan air yang tinggi. Antara batuan dasar sebagai batuan alas dengan sedimen Kuarter di bagian atas dipisahkan oleh suatu bidang pepat erosi. Bidang tersebut mengalasi sedimen yang dibedakan dari perbedaan ciri-ciri reflektor. Secara umum ciri-ciri reflektor pada penampang barat – timur seperti contoh pada L-36 mempunyai kesamaan dengan ciri-ciri pada penampang lainnya yang menggambarkan batuan alas di bagian bawah dan sedimen Kuarter di bagian atas sebagaimana yang dikemukakan oleh Ringis (1993). Bila dikaitkan dengan kondisi geologis dasar laut regional, sumber sedimen-sedimen tersebut adalah granit terdekat yang mengalami erosi yang intensif. Setelah seluruh lintasan seismik diinterpretasi, dan dilakukan perhitungan ketebalan berdasarkan kecepatan gelombang dalam sedimen (V.sed = 1600 m/det) dan waktu penjalaran gelombang to-

4.

HASIL EKSPLORASI

Ketebalan Sedimen dan Kedalaman Lembah Purba Ketebalan sedimen diperoleh dari hasil interpretasi rekaman seismik yang dilakukan berdasarkan pengenalan terhadap ciri-ciri reflektor. Pengenalan lainnya adalah kenampakan batas antara sedimen dan batuan dasar yang ditandai oleh penguatan reflektor sebagai bidang batas (Sukmono, 1999; Priyono, 2000). Batuan sedimen umumnya berukuran lempung, lanau, pasir dan kerikil dengan ciri-ciri reflektor adalah selaras (concordance), laminasi sejajar, bergelombang terputus-putus (wavy), perlapisan terpotong-potong (hummocky), longsoran (slump) dan pengisian (channel fill). Batas antara granit dengan sedimen Kuarter membentuk bidang ketidakselarasan atau pepat erosi (erosional truncation) atau kontak onlap (Sangree and Wiedmier, 1979; Sherif, 1980). Sedangkan ciriciri reflektor granit sebagai batuan alas/dasar pada penampang seismik adalah berbukit-bukit (mounded), berbintik-bintik kacau tidak beraturan (chaotic), kadang-kadang muncul perulangan bidang pantulan (multiple) dan makin ke bawah bebas pantulan (free reflektor) (Ringis, 1993). Adanya pola choatic dan multiple menunjukkan gelombang melalui medium yang keras dan padat berupa batuan tanpa bidang perlapisan. Ciri-ciri seperti ini dapat diinterpretasikan sebagai batuan alas dan antara keduanya dipisahkan oleh bidang ketidakselarasan (erosional truncation). Bagian paling bawah sering disebut sebagai Acoustic Basement dan sekaligus juga merupakan batuan dasar. Di perairan Bangka-Belitung, batuan alas adalah granit (Batchelor, 1983); sedangkan hilangnya pantulan gelombang (free reflektor) dapat juga disebabkan oleh adanya medium yang halus (ada organik), porous dan berongga. Pada batuan beku tidak memberikan respon seismik, karena batuan tidak berlapis dan bersifat homogen (Boggs, 2006).

140

PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009

tal pada total penampang seismik adalah 0,125 Sec, diperoleh ketebalan sedimen. Selanjutnya, setelah seluruh lintasan diinterpretasi dan dihitung ketebalannya, dan data ketebalan tersebut diplot

pada peta kerja dengan menarik kontur yang mempunyai angka ketebalan yang sama, maka akan menghasilkan peta ketebalan sedimen (isopach) (Gambar 6).

Gambar 4. Penampang seismik pantul Lintasan 36 (LINE 36) dengan arah Timur - Barat

Gambar 5. Hasil interpretasi rekaman seismik pantul Lintasan 36 (LINE 36) dengan arah Timur – Barat

Eksplorasi Potensi Konsentrat Timah Berdasarkan Data ... Ediar Usman dan Andri S. Subandrio

141

Selanjutnya. Tetapi bila ketebalan sedimen dengan kontur yang rapat tidak berhimpitan dengan morfologi lembah. Pada penampang seismik. Peta ketebalan sedimen (isopach) perairan utara Bangka Pada bagian kontur yang rapat menunjukkan ketebalan sedimen lebih besar. Pada daerah morfologi lembah pada batuan dasar tersebut merupakan daerah yang mempunyai volume sedimen yang besar dan prospektif konsentrat timah yang besar. Sejalan dengan bertambahnya kedalaman laut. 142 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . berarti penebalan ke bagian atas membentuk gosong pasir.30 meter. morfologi granit dan kedalaman lembah purba digambarkan oleh garis kontur kedalaman batuan dasar. Selanjutnya.30 meter. maka kondisi ini menujukkan bahwa sedimen tersebut menebal ke arah bawah. Di bagian selatan. Bagian paling tebal terdapat di bagian tengah daerah eksplorasi berkisar antara 16 . memperlihatkan makin menebalnya sedimen ke arah utara dengan ketebalan antara 10 . menunjukkan adanya sedimen Resen dengan proses sedimentasi ke bagian atas dan tidak berhimpitan dengan lembah atau sungai purba. sehingga dapat dikembangkan lebih lanjut untuk eksplorasi lebih rinci. lembah purba pada penampang seismik dikenal sebagai pengisian lembah. Penebalan ke bagian atas.Gambar 6. ketebalan kurang dari 4 meter. peta ketebalan sedimen tersebut ditumpangtindihkan dengan peta morfologi batuan dasar. Secara genesis.25 meter. Hasil pengukuran ketebalan sedimen diperoleh ketebalan berkisar antara 2 . Makin menipisnya sedimen di bagian selatan disebabkan makin mendekat ke arah pantai dengan batuan dasar yang lebih dangkal. Bila ketebalan tersebut tepat pada morfologi lembah pada batuan dasar. bahkan di beberapa tempat membentuk bidang yang tipis dengan ketebalan kurang dari 2 meter.

40 meter.. Metode yang dipergunakan dalam penghitungan volume/potensi adalah Trapezoidal dan Simpson’s Role diperoleh volume sedimen perairan utara Bangka adalah antara 353. Di bagian utara kedalaman batuan dasar bervariasi dan bersifat setempat-setempat. tebal.65 Secara umum. Subandrio 143 .412. Metode lainnya sebagai koreksi dilakukan secara Eksplorasi Potensi Konsentrat Timah Berdasarkan Data . morfologi batuan dasar relatif datar dengan kedalaman antara 20 . yaitu granit (Gambar 7). Sedangkan di bagian selatan.688.24723 – 354.60 meter. Berdasarkan pemahaman geologi regional.. Ediar Usman dan Andri S.795. Kondisi ini disebabkan karena di bagian selatan makin menuju ke arah perairan pantai Pulau Bangka sebagai pusat granit. berkisar antara 60 . disebut sebagai basement top. Lembah-lembah purba ditunjukkan oleh kontur yang rapat dan bulat mamanjang relatif barat – timur. terdapat kedalaman lembah purba antara 50 . Estimasi Volume Sedimen dan Potensi Konsentrat Timah Selanjutnya. untuk mendapatkan kandungan sedimen di daerah eksplorasi adalah Vol = luas x Gambar 7.kedalaman batuan dasar merupakan bagian permukaan dari dasar akustik gelombang seismik (basement accoustic). kedalaman batuan dasar di bagian selatan makin dangkal dibandingkan bagian utara. dasar akustik tersebut diinterpretasikan sebagai batuan dasar (bedrock).35 meter. pada umumnya kedalaman lembah purba antara 20 .982. Peta morfologi batuan dasar (granit) di perairan Bangka Utara meter. Di bagian barat laut. Bagian terdalam lembah purba tersebut terletak di bagian tengah.79397 m3.

000. Sedangkan alur-alur yang berukuran lebih kecil di bagian tengah.sederhana dengan menghitung ketebalan rata-rata pada penampang seismik dan luas daerah eksplorasi. dan dua di antaranya merupakan lembah purba terdalam dan terbesar di daerah survei. Alur sungai purba di bagian tengah tersebut berarah dari barat ke timur. selatan dan timur mempunyai arah yang bervariasi (Gambar 8). maka total kandungan timah adalah 1. Jika luas daerah eksplorasi adalah 5000 ha (dihitung pada program MapInfo) dan ketebalan rata-rata berdasarkan hasil perhitungan pada penampang seismik sekitar 7 meter. maka diperoleh volume sedimen 350. dan di bagian barat laut berkisar antara 50 . Sungai-sungai purba tersebut melewati beberapa lembah-lembah purba. alur sungai purba di daerah survei tersebut merupakan cabang dari sistem alur purba regional Hasil interpretasi seismik dan kedalaman batuan dasar dapat dilakukan proses rekonstruksi lokasi dan penyebaran sungai-sungai purba di daerah Gambar 8. dan diperkirakan keduanya sebagai pusat atau muara dari aliran sungai purba yang juga merupakan pusat pengendapan sedimen mengandung konsentrat timah. Hasil perhitungan secara digital dan manual tersebut tidak menunjukkan perbedaan yang terlalu besar. Alur sungai purba hasil interpretasi seismik sebagai daerah aliran dan pengendapan sedimen mengandung konsentrat timah di daerah survei 144 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .60 meter.000 m3. dan di bagian barat laut dari arah timur ke barat. Dua lembah purba tersebut terletak di bagian tengah dan bagian barat laut. Berdasarkan posisinya terhadap sungai purba regional.65 meter.000 kg (1.000 ton). 2008). 5.050. Di bagian tengah kedalaman lembah berkisar antara 60 . Jika setiap 1 m3 mengandung rata-rata 3 kg timah (Usman and Subandrio.000. PEMBAHASAN survei.050.

Hasil perhitungan antara Computations dan manual menunjukkan volume yang hampir sama dan perbedaan yang tidak terlalu besar.688. Pada saat penurunan permukaan laut. and Aubrey. 1983. di bagian selatan disebabkan makin mendekat ke arah pantai dengan batuan dasar yang lebih dangkal. dan di bagian selatan. Ketebalan sedimen dan lembah purba merupakan bagian terpenting dari kegiatan eksplorasi konsentrat timah. Sedimen yang menutupi sungai-sungai purba. K. suluruh wilayah laut di Paparan Sunda termasuk di Selat Malaka dan Laut Jawa mengalami proses kekeringan.G. Principles of Sedimentology and Stratigraphy. berkisar antara 60 .795. Kondisi ini juga akan mempermudah. terdapat di perairan Laut Jawa..65 meter dan di bagian barat laut kedalamannya antara 50 .C. Thesis Ph. dan di utara perairan Bangka Belitung yang bermuara ke Laut China Selatan (Emery and Aubrey. Proses pengendapan sedimen tersebut telah berlangsung cukup lama. Alur purba terbesar di Paparan Sunda.000. Sejalan dengan bertambahnya kedalaman laut. KESIMPULAN Ketebalan sedimen berkisar antara 2 . Sea Levels. 1972).. sehingga memungkinkan proses pengendapan terjadi yang membentuk lapisan sedimen yang cukup tebal mencapai 30 meter. 2000). dan batuan di daratan Paparan Sunda mengalami proses pelapukan dan erosi (Zaim. Sejak dimulainya pencairan es di kutub pada awal Plistosen tersebut. studi kelayakan. merupakan periode awal proses sedimentasi di Paparan Sunda (Yoo and Park. Of Geology. ketebalan kurang dari 4 meter. Di samping itu. Pada eksplorasi yang menggunakan metode seismik pantul.40 meter. Dept. Data ini akan menjadi dasar dalam eksplorasi yang lebih rinci. Sistem ini erat kaitannya dengan penurunan permukaan laut yang terjadi di Paparan Sunda selama periode PlioPlistosen atau sekitar 2 . Di bagian utara kedalaman batuan dasar bervariasi antara 20 . and Tide Gauges.000 m 3 .24723 – 354. kedalaman antara 20 .O. Periode ini merupakan masa iklim dingin global yang ditandai terjadinya peningkatan pembentukan es di kutub.yang bermuara di Laut China Selatan. DAFTAR PUSTAKA Boggs. Hasil eksplorasi ini telah dapat menggambarkan kondisi yang dimaksud dan menjadi dasar dalam eksplorasi berikutnya. identifikasi sungai dan lembah purba akan mempermudah dalam perencanaan kegiatan eksplorasi rinci dan studi kelayakan. Pearson Prentice Hall. sehingga akan menambah akurasi keberhasilan dalam survei-survei berikutnya. estimasi volume sedimen dan potensi konsentrat timah. Kedalaman lembah purba menunjukkan bagian terdalam terletak di bagian tengah. 2006. Land Levels. Springer- 6. D. Makin menipisnya sedimen Eksplorasi Potensi Konsentrat Timah Berdasarkan Data . Subandrio 145 . hasil data seismik dapat menggambarkan kondisi vertikal dan lateral granit sebagai batuan sumber sedimen dan konsentrat timah. dan adanya jejak lembah-lembah purba yang terbentuk sejak awal Plistosen di daerah survei dapat diamati secara langsung melalui rekaman seismik pantul.30 meter. bagian paling tebal terdapat di bagian tengah daerah antara 16 . Late Cenozoic Coastal and Offshore Stratigraphy in Western Malaysia and Indonesia.79397 m3. kedalaman batuan dasar di bagian selatan makin rendah dibandingkan bagian utara karena di bagian selatan makin menuju ke arah daratan Pulau Bangka sebagai pusat granit. sehingga sungai-sungai purba tertutup oleh sedimen (Zaim. di beberapa tempat kurang dari 2 meter. memperlihatkan makin menebalnya sedimen ke arah utara dengan ketebalan antara 10 .. Jr.35 meter. University Malaya.412. 2000) dan Laut Jawa.60 meter. Ediar Usman dan Andri S. Secara umum..24 meter.982. Di bagian selatan. Data ini juga akan menjadi arahan dalam menentukan daerah akumulasi sedimen mengandung konsentrat timah.. mempercepat waktu dan menghemat biaya dalam survei-survei berikutnya. diikuti oleh pembentukan alur-alur purba yang mengerosi batuan dasar berupa granit membentuk sedimen yang kaya mineral kuarsa dan konsentrat timah (Batchelor.. 1983). 1972. Volume sedimen berdasarkan perhitungan Grid Volume Computations adalah antara 353.8 juta tahun lalu (Yoo and Park.1. seperti eksplorasi lanjut. B. Sedangkan berdasarkan perhitungan manual diperoleh sebesar 350. S. New Jersey: 618 pp. Kuala Lumpur. Akibatnya. Emery. Batchelor. 1996). 1996).8 juta tahun.30 meter. sejak sekitar 1.D.

Journal of Sedimentary Research. Shallow Seismic Imaging for Paleo-Channel Mapping Related To Tin Prospecting On Tanjung Penyusuk Offshore. and Subandrio. B. 27: 293-305. S.Verlag Pub. Quaternary Shorelines of the Sunda Land.C.V. 70(2): 296-309. S. Penerbit ITB.. Jour. Interpretasi Seismik Refleksi. Jakarta: 271 pp. Yoo. and Wiedmier. 49(2): p.. 1979..D.E. J.E. Sherif. Econ.M. Geol. J. Directorate General of Mines. 1977. Geol. A. and Harmanto. 1990. Interpretation Facies from Seismic Data. Texas USA: 203 pp. Hubrol.. South East Asia.35-144. Belitung Island. A Modern View. Cipanas. International Human Resources Development Corporation.. Bandung: 269 hal. A.B.. P. Seismic Stratigraphy. and Park. Deposit Models for Detrital Heavy Minerals on East Asian Shelf Areas and the Use of High Resolution Seismic Profiling Techniques in Their Exploration. Stratigrafi Kuarter di Indonesia: Pengaruh Perubahan Muka Laut Global Kala Plistosen Terhadap Penyebaran dan Lingkungan Hidup Manusia Purba di Jawa. Boston: 222 pp.. Kluwer Academic Publishers. Makalah PIT Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (PIT IAAI) ke-VII. S. 1980. Interval Velocities from Seismic Reflection Time Measurements. 1999.: 237pp. Priyono. Y. 2000. The Magnetite Series and Ilmenite Series Granitic Rocks. 1980. R. Zaim. Alexeyen. Lehmann. CCOP Publication. Western Geophysical Company.. E. Jurusan Geofisika Institut Teknologi Bandung. 1970. Joint Exploration of MGI – APMR/APRI.. Geotectonics of Indonesia. Diktat Kuliah Program Pasca Sarjana Geologi dan Geofisika Institut Teknologi Bandung..A. Katili. and Krey. 1980... Intern Report: 90 pp. Usman. Northern Bangka. 85: 99-111. D. London: 352 pp. J. High Resolution Seismic Study as a Tool for Sequence Stratigraphic Evidence of High Frequency Sea Level Changes: Latest Pleistocene-Holocene Example from Korea Strait. Large Scale Tin Depletion in the Tanjung Pandan Tin Granite. Ishihara. 2008. Interpretation of Geophysical Fields in Complicated Environments. B.. 1993.. Indonesia.. Sukmono. 1995. J. Sangree.G. V. 255 hal. 2000. Ringis. Mijnbouw.S. Interpretasi Geologi Seismik. T. of Mining Geol. Geophysic 44(2): 131 pp. H. Eppelbaum. 1996. 146 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .. Tjia. Khesin.

go. Bandung.0 % Empat parameter atau lebih : 8.esdm. baik di dalam usaha penambangan. abu. dan kandungan sulfur >2% dalam air dried basis (adb). Batubara sebagai salah satu sumber energi jumlahnya sangat besar.5 % d) Alternatif IV : Membagi nilai bagi hasil batubara mutu rendah berdasarkan nilai kalornya (NK). yaitu nilai kalor. perlu ditetapkan nilai bagian pemerintah atas produksi batubara mutu rendah dari pengusahaan(PKP2B) supaya bisa bersaing dengan batubara mutu baik. yaitu 104. nilai bagi hasil Penetapan Nilai Bagi Hasil atas Produksi Batubara Mutu Rendah.0 % Empat parameter atau lebih : 8.id. dan natrium.6030483 Fax. Agar pengusahaan batubara mutu rendah bisa ekonomis. 022 . Dari hasil kajian yang telah dilakukan melalui model simulasi dengan menggunakan 4 (empat) parameter. kandungan abu >17%.PENETAPAN NILAI BAGI HASIL ATAS PRODUKSI BATUBARA MUTU RENDAH Rochman Saefudin.5% Kata kunci : batubara mutu rendah.id. Jenderal Sudirman No.0% NK d” 4.id. yaitu : 5. Batubara sebagai salah satu sumber energi dapat berfungsi sebagai bahan bakar dan bahan baku.6038027 e-mail : rochman@tekmira. maseral dan sifat fisik) maupun peringkatnya yaitu rendah (lignit).esdm. Datin F. 022 .600 kkal/kg : 7. baik dilihat dari jenis (komposisi kimia.Umar. 40211 Telp.600 kkal/kg : 9.5 % Parameter Lignit : 7.go.623. sulfur. maupun pemanfaatannya sebagai bahan bakar atau bahan baku. datin@tekmira. dkk.go. bukin@tekmira. Bukin Daulay Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. ijang@tekmira. 147 .8 miliar ton dengan mutu yang sangat bervariasi. menengah (subbituminus) dan tinggi (bituminus-antrasit).esdm.id SARI Energi mempunyai peranan yang sangat penting dalam pembangunan nasional yang berkelanjutan.100 kkal/kg.5 % b) Alternatif II : Dua atau tiga parameter : 10.0 % Parameter Lignit : 7. terutama untuk mendukung proses industrialisasi. namun dari jumlah batubara tersebut sebagian besar merupakan batubara bermutu menengah dan bermutu rendah yang kurang ekonomis bila diusahakan.100 kkal/kg < NK > 4. Ijang Suherman. tiga atau empat parameter : 9. maka diusulkan 3 (tiga) alternatif nilai bagi hasil untuk batubara mutu rendah sebagai berikut : a) Alternatif I : Dua atau tiga parameter : 10. Batubara mutu rendah adalah batubara yang memiliki nilai kalor < 5.esdm.0 % c) Alternatif III : Dua.go. Rochman Saefudin.

it is suggested 3 alternatives of the production sharing for the LRC as follows: a) Alternative I 2 or 3 parameters : 10.100 kcal/kg < CV > 4. yakni pemakaian batubara diharapkan mencapai 34.545 juta ton pada 2008. Untuk mencapai sasaran bauran energi nasional 2025.0% CV d” 4. can function as fuel and raw material. Indonesia sendiri mengalami pertumbuhan konsumsi batubara yang cukup pesat dalam beberapa tahun terakhir. most of the coals is low-rank coal (LRC) and is not economical for the utilization. ash content of >17% and sulphur content of >2% in air-dried basis (adb).100 kcal/kg.0 % 4 parameters or more : 8. dari jumlah cadangan batubara Indonesia sebesar 104. Coal. value of production sharing 1. 2008).5 % b) Alternative II 2 or 3 parameters : 10.5 % Lignite parameter : 7.5% Keywords: low-rank coal (LRC). Peningkatan jumlah konsumsi yang sangat tajam tersebut disebabkan meningkat tajamnya permintaan batubara sebagai sumber energi terutama untuk pembangkit listrik. one of the energy sources. 3 or 4 parameters : 9.5 % e) Alternative IV Dividing the value of production sharing of LRC based on its calorific value (CV): 5. In order to improve the business of the LRC economically.8 miliar ton sebagian besar termasuk ke dalam katagori batubara peringkat rendah (Low Rank Coal) (Pusat Sumber daya Geologi. Tidak mengherankan apabila sejalan dengan itu jumlah perusahaan pertambangan batubara di Indonesia pun tumbuh pesat khususnya dalam beberapa tahun terakhir.0 % 4 parameters or more : 8.600 kcal/kg : 9. Di sisi lain. which is 104. either the mining operation or the utilization as fuel or raw material. maka salah satu langkah yang perlu dilakukan untuk menunjang ketahanan energi nasional tersebut adalah menetapkan tarif nilai bagi hasil untuk pengusahaan batubara mutu rendah yang akan menjadi pemasok batubara 148 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .0 % c) Alternative III 2. However. subbituminous. The LRC has a calorific value of <5.600 kcal/kg : 7. maceral and physical property) and the rank (lignite. so that it can compete with high-rank coals. baik di dalam negeri maupun di negara-negara importir. yakni dari 13. Its quality is various according to the type (chemical composition.2 juta ton pada 1997 menjadi 52. According to the assessment that has been carried out through a simulation model by applying 4 parameters that are calorific value. bituminous and anthracite). Coal has a huge potential in Indonesia. sulphur and sodium. PENDAHULUAN Meningkatnya peran batubara sebagai pemasok energi di masa mendatang membuat industri ini memiliki daya tarik yang sangat besar bagi para investor tak terkecuali di Indonesia. ash.4%. atau meningkat 4 kali lipat (392%). it needs to determine a value of the government side for the LRC production from Coal Contract of Work.8 billion tons.ABSTRACT Energy has a main role in the sustainable national development to particularly support the industrialization process.0 % Lignite parameter : 7.

93 32.81 22.100 kal/gr. dan batubara mutu tinggi seringkali dikaitkan dengan tujuan pemanfaatan batubara itu sendiri yang tergambarkan dengan permintaan pada spesifikasi batubara yang diinginkan.100 kal/gr.708. dll) Sifat fisik batubara (kekerasan. dkk. yang dihimpun oleh Pusat Sumber Daya Geologi tahun 2008 dari laporan perusahaanperusahaam PKP2B di Indonesia adalah sebesar 22. kuantitas.16 10.83 Jumlah % 20.251.5% dari produksi batubara yang terjual.19 4.100 kal/gr.43 0.021.1. batubara mutu sedang.41 482.08 Terukur 5. 2008 Penetapan Nilai Bagi Hasil atas Produksi Batubara Mutu Rendah. Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral adalah sebesar 104.50 1. Kriteria kualitas batubara dapat dibedakan atas beberapa macam. abu. danau.100 . 4) Batubara Kalori Sangat Tinggi > 7.146.588.57 Total 21. Berdasarkan tingkat kalorinya batubara Indonesia dibagi menjadi 4 (empat) bagian .100 .40 Tereka 6. darat. dengan jumlah cadangan batubara Indonesia dihitung terhadap endapan bahan batubara yang telah diketahui ukuran. karbon tertambat. belerang.68 27.96 100.550. Keadaan lingkungan pengendapan yang berbeda-beda tersebut Tabel 1. Hal tersebut perlu dilakukan karena sampai saat ini belum ada ketetapan tarif yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk pengusahaan batubara mutu rendah.815.183. yaitu : 1) Batubara Kalori Rendah < 5.29 5. sumberdaya. 3) Batubara Kalori Tinggi 6. 2) Batubara Kalori Sedang 5.22 66. Jumlah sumber daya batubara Indonesia tahun 2008 berdasarkan perhitungan Pusat Sumber Daya Geologi. khususnya untuk PKP2B.96 11.05 69.888.069. dan delta yang kadang-kadang dipengaruhi oleh pasang surut air laut.956.2 miliar ton (Tabel 1). Potensi dan Cadangan Wilayah Indonesia diketahui memiliki potensi endapan batubara sangat luas.100 kal/gr.8 miliar ton.738.941. Rochman Saefudin. laguna.64 104. zat terbang.764.001.6. dan secara ekonomi memenuhi kriteria layak tambang.untuk PLTU sehingga harganya bisa kompetitif dengan batubara mutu baik.057.620. besarnya hasil produksi batubara yang harus diserahkan kepada Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dapat dipertimbangkan kembali berdasarkan hasil kajian yang diajukan oleh perusahaan Kontraktor Swasta” menghasilkan jenis batubara yang bervariasi dalam bentuk dan ketebalan (kuantitas) maupun kualitas batubara. kualitas. Kualitas.756.18 90. 2008 Kualitas Kalori Rendah Kalori Sedang Kalori Tinggi Kalori Sangat Tinggi Total Sumberdaya (Juta Ton) Hipotetik 5. sebaran.7.21 6. 149 . 2.80 25. cadangan dan produksi batubara Indonesia.61 422.187. Penggolongan kualitas batubara mutu rendah.79 Tertunjuk 3.43 1.00 Sumber : Pusat Sumbe Daya geologi.056. titik leleh abu). Endapan batubara di Indonesia terbentuk pada lingkungan pengendapan yang bervariasi mulai lingkungan rawa-rawa. bentuk.721. TINJAUAN PUSTAKA 2.39 12. pada umumnya didasarkan pada: Peringkat Batubara (Coal Rank) Nilai Kalori (Calorivic Value) Kandungan bahan/unsur dalam batubara (kadar air.65 13.11 34. dan ketentuan tambahan yang tertuang di dalam Keppres No. namun batubara yang bernilai ekonomis untuk dikembangkan hanya terkonsentrasi pada cekungan-cekungan Tersier di Indonesia bagian barat yaitu di pulau Sumatera dan pulau Kalimantan.75 Tahun 1996 tentang Ketentuan Pokok Perjanjian Kontrak Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara Pasal 3 ayat 2 yang berbunyi : “Dalam hal pengusahaan pertambangan dilakukan dengan cara bawah tanah dan atau batubara yang diproduksi ternyata bermutu rendah. Yang ada adalah ketentuan bagian pemerintah untuk batubara mutu baik sebesar 13.24 18. muai bebas.82 1.

sulfida. oksigen (O) dan sulfur/ belerang (S). analisis komposisi abu. mutu atau kualitas ditentukan dari dua faktor utama. subbituminus. titik leleh abu (ash fusion temperature). senyawasenyawa tersebut juga terdapat pada komponen mineral seperti karbonat. yaitu jenis (type) dan peringkat (rank) batubara tersebut. yaitu untuk mengetahui kandungan air lembab. Vitrinit juga merupakan maseral utama pada batubara. sehingga perlu tidaknya migitasi gas-gas NOx dan SOx dapat diketahui sebelumnya. dan mekanik. Kecuali nitrogen. bituminus. silikat dan karbonat.2. sulfida. Jenis atau tipe batubara sangat dipengaruhi oleh jenis tumbuhan pembentuk dan lingkungan pengendapan dimana batubara tersebut terdapat. 3) Analisis Sifat-Sifat Lain Analisis sifat-sifat lainnya termasuk penentuan nilai kalor (calorific value).3. nilai ketergerusan (hardgrove grindability index). lignit. 2) Analisis Ultimat Analisis ultimat merupakan analisis kimia untuk mengetahui persentase dari senyawa kimia yang terbentuk dari hasil ikatan antara karbon. Berdasarkan gabungan maseralnya. berat jenis. 2. inertinit dan liptinit) dan mineral pembentuk seperti lempung. Klasifikasi microlithotype batubara Grup Mono-Maseral* Microlithotype Vitrit Inertit Liptit KlaritVitrinertitDurit Komposisi Maseral Vitrinit >95% Inertinit >95% Liptinit >95% Vitrinit + Liptinit >95% Vitrinit + inertinit >95% Liptinit + inertinit >95% Vitrinit > Liptinit > Inertinit Inertinit > Vitrinit > Liptinit Liptinit > Vitrinit > Inertinit Bi-Maseral* Tri-Maseral* Duroklarit Klarodurit Vitrinertoliptit * Setiap maseral >5% 150 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . termasuk ASTM (1977) seperti pada Tabel 3. abu dan karbon tertambat (fixed carbon). pengguna batubara khususnya pembangkit listrik dan pabrik semen sudah dapat memprediksi perilaku unsur-unsur tersebut baik pada saat berlangsungnya proses pembakaran maupun setelah pembakaran. berlangsung proses Tabel 2.2. Hidrogen dan oksigen juga merupakan komponen yang penting dalam analisis penentuan kandungan air total batubara. Khusus untuk batubara. Jenis batubara ditentukan dari komponen/komposisi batubara yang terdiri dari maseral (vitrinit. Terminologi Batubara Mutu Rendah Mutu (grade) adalah nilai keadaan sesuatu berdasarkan sifat fisik. nitrogen (N). Batubara Mutu Rendah Secara umum ada tiga jenis analisis dan pengujian yang dilakukan untuk menenetukan mutu batubara. microlithotype dapat dibagi menjadi 3 kelompok utama yaitu monomaseral (1-maseral). Dalam perkembangannya. kimia. nilai muai bebas (free swelling index). komposisi maseral (maceral composition) dan reflektansi vitrinit (vitrinite reflectance). Dari hasil analisis tersebut. semiantrasit sampai antrasit seperti diilustrasikan pada Gambar 1. yaitu : 1) Analisis Proksimat Analisis proksimat merupakan analisis mendasar dalam penentuan mutu batubara. Sedangkan peringkat batubara berhubungan erat dengan tingkat pematangan batubara (pembatubaraan/ coalification). bi-maseral (2-maseral) dan trimaseral (3-maseral) seperti terlihat pada Table 2. yang dimulai dari gambut. sulfat dan mineral lempung. zat terbang (volatile matter). tidak terpengaruh oleh pelapukan dan nilai yang diperoleh dapat dikorelasikan dengan standar peringkat batubara yang ada.

06 – 3. faktor slagging dan faktor fouling. % (adb) Sulfur.6 > 2.48 – 0.58 – 0.00 >3.6 0.05 2. Namun demikian. 1990) Faktor Slagging. dkk.71 0. Rs < 0. Dengan demikian besaran nilai setiap parameter yang disajikan disini adalah nilai yang sangat menonjol (significant). Parameter yang umum dipergunakan untuk menentukan peringkat batubara antara lain adalah nilai kalor.5 0. khusus untuk kajian ini faktor pengotor yang digunakan baru dua. nitrogen. yaitu abu. HGI. dan jenisnya (umumnya pengotor).5 Sangat Tinggi Sangat Tinggi Gambar 1. dan sulfur.6 Tipe Slagging Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi Faktor Fouling.72 – 1. Besaran nilai setiap parameter tersebut di atas yang dipergunakan oleh konsumen tidaklah sama karena sangat tergantung kepada teknis operasional (rancangan peralatan). ºC Sodium (Na2O). kandungan air. kkal/kg (adb) Abu. maka dalam menilai mutu batubara harus ditinjau dari peringkat (nilai kalor). hanya terjadi proses fisika berupa pemadatan. sehingga definisi Batubara Mutu Rendah adalah Tabel 4. Secara umum parameter yang sering dipergunakan untuk menentukan mutu batubara adalah peringkat dan pengotor. % Faktor Slagging Faktor Fouling Batasan Nilai < 5. Rochman Saefudin.10 1. Faktor slagging dan fouling abu batubara bituminus (Wall. regulasi yang ada setempat dan keekonomian masing-masing penggunaaan batubara. dan Tabel 6 yang berdampak negatif terhadap nilai jual dan pemanfaatan dari batubara tersebut. Dalam tulisan ini parameter peringkat yang dipergunakan adalah nilai kalor. titik leleh abu (AFT). karbon total dan reflektansi vitrinit.37 – 0. Dari uraian di atas. Selama perkembangannya. Tabel 5.50 1. Sedangkan parameter pengotor antara lain adalah kandungan abu. % < 0.6 – 2.0 2.100 >17 >2 <35 <1150 >4 >1. % dalam Abu Nitrogen. 151 .57 0. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Parameter Nilai Kalor. Pengertian mutu batubara kimia dan biokimia. Sedangakan peringkat batubara dipengaruhi oleh salah satu atau gabungan dari temperatur.00 Peringkat Lignite Subbituminous High Volatile Bituminous C High Volatile Bituminous B High Volatile Bituminous A Medium Volatile Bituminous Low Volatile Bituminous Semi Anthracite Anthracite sodium. Rf < 0.0 > 1.47 0. Tabel 5. % (adb) HGI Titik Leleh Abu.Tabel 3. seperti pada Tabel 4. sulfur.2 0. Hubungan antara reflektansi vitrinit dan peringkat batubara menurut klasifikasi ASTM (1977) Reflektansi Vitrinit.5 – 1.0 – 2. Parameter dan batasan nilai untuk penentuan batubara mutu rendah No.0 Tipe Fouling Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi Penetapan Nilai Bagi Hasil atas Produksi Batubara Mutu Rendah.11 – 1.2 – 0. tekanan dan waktu.37 0.51 – 2.

Dengan perkataan lain persentase bagi hasil bagian pemerintah dari pengusahaan batubara mutu rendah sebagai fungsi dari faktor koreksi atau faktor bobot dikalikan dengan konstanta persentase bagi hasil dari batubara mutu tinggi (13.5 % Besar pendapatan bagian Pemerintah (N) merupakan hasil perkalian persentasi bagian pemerintah (G(h)) dengan jumlah produksi (Q) dan harga batubara (P). yaitu sebesar 13. sebagai sandaran perumusan adalah bagian pemerintah dari hasil pengusahaan Selanjutnya untuk menentukan atau menghitung bagi hasil bagian pemerintah dari produksi batubara mutu rendah dengan mengacu kepada persentase bagi hasil dari pengusahaan batubara yang berlaku saat ini. Rf < 2. Faktor slagging dan fouling abu batubara lignitik (Wall. Disamping itu. dan menjadikan batubara mutu rendah mempunyai nilai kompetitif dengan batubara mutu tinggi. yaitu : G (l) = 13. Model Bagi Hasil Sesuai dengan isi perjanjian kontrak kerja antara Pemerintah dengan perusahaan kontraktor dengan menggunakan pola Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B). Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya swa bakar adalah sebagai berikut: Peringkat batubara Kadar air dalam batubara Komposisi petrografi batubara Ukuran butir Temperatur timbunan Konsentrasi oksigen yang kontak dengan batubara Kelembaban udara Peredaran/kecepatan aliran udara batubara oleh kontraktor yang berlaku saat ini.5 % x F dengan : G(l) = Persentase bagi hasil bagian pemerintah dari pengusahaan batubara mutu rendah 13. 2. seperti yang ditunjukkan pada persamaan berikut : N = G (h) x Q x P 3. besarnya persentase bagian Pemerintah telah ditetapkan sebagai berikut : G (h) = 13.0 – 3.0 3. yang masih diberlakukan secara umum.0 > 6. Penyusunan Model Bagi Hasil Faktor substansial yang perlu dicermati dalam menetapkan besaran persentasi bagi hasil adalah menentukan atau menghitung bagi hasil bagian pemerintah dari produksi batubara mutu rendah dengan mengacu kepada pembagian hasil keuntungan yang wajar (reasonable) antara pengusaha batubara (kontraktor) dan pemerintah. yang secara matematis dirumuskan cukup sederhana.0 – 6.5% dari jumlah produksi. Penanganan Batubara Peringkat Rendah Batubara peringkat rendah (lignit dan Subbituminus B dan C) mempunyai kecenderungan terhadap terjadinya swabakar (self combustion).0 Tipe Fouling Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi batubara yang memiliki nilai kalor < 5.100 kkal/ kg. MODEL PENENTUAN TARIF BAGI HASIL UNTUK BATUBARA MUTU RENDAH 3. 1990) Faktor Slagging. dan sulfur >2% dalam air dried basis (adb).5%). Rs > 1340°C 1340 . abu > 17%.4.1. Oleh karena itu model pemecahannya akan mengacu pada konsep ekonomi pemanfaatan sumber daya batubara yang telah diuraikan di atas. a.0 2.1150°C < 1150°C Tipe Slagging Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi Faktor Fouling.5% = Persentase bagi hasil bagian pemerintah dari pengusahaan batubara (PKP2B) yang berlaku saat 152 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .1250°C 1250 .Tabel 6.

titik leleh abu. 153 . dan faktor fouling. Oleh karena itu.5%) untuk menghitung persentasi bagi hasil bagian pemerintah dari pengusahaan batubara mutu rendah. Faktor-faktor alam dimaksudkan adalah parameter karakteristik (mutu) batubara. yaitu parameter peringkat dan parameter pengotor.CV(l)} / CV(l)] x P(h) Pengaruh Pengotor : Cli = Ki x {li(l) . Dengan demikian. ki = konstanta Pada model persamaan koreksi harga dari pengaruh peringkat. Pemanfaatan sumber daya batubara sebagai komoditas energi dipengaruhi oleh mutunya dan pada proses pengalihannya menjadi komoditas. Model Faktor Bobot Faktor bobot merupakan faktor/ variabel koreksi terhadap persentase bagi hasil bagian pemerintah yang berlaku saat ini (13. sulfur. Adapun kandungan air dan reflektansi vitrinit sudah terwakili oleh nilai kalor. karena pangsa pasarnya yang belum ada. Penyederhanaan penilaian pada proses pemanfaatan sumber daya dilakukan dari faktorfaktor alam dan parameter ekonomi yang sangat kompleks. sodium (Na2O). karena ada korelasi kuat diantara kedua parameter tersebut. faktor bobot diformulasikan sebagai berikut : F=k Pcor(l) P(h) dengan : Pcor (l) = Harga batubara mutu rendah berdasarkan harga batubara mutu tinggi yang terkoreksi P(h) = Harga batubara mutu tinggi k = konstanta Yang menjadi permasalahan dari model faktor bobot tersebut adalah belum diketahuinya harga batubara mutu rendah yang sesuai keekonomiannya. Dalam kajian ini. Sedangkan pada persamaan koreksi harga dari pengaruh pengotor. HGI. natrium. perumusan dalam tanda kurung kurawal merupakan koefisien elastisitas. Berdasarkan pengertian tersebut. yakni selisih nilai pengotor (abu. sebagaimana komoditas lain. baik dari nilai kalor maupun tingkat pengotornya.li(h)} x P(h) dengan : CCV = Koreksi harga dari penurunan nilai kalor CIi = Koreksi harga dari perubahan kenaikan tingkat pengotor unsur i P = Harga batubara mutu tinggi CV(h) = Nilai kalor batubara mutu tinggi CV(l) = Nilai kalor batubara mutu rendah Ii(h) = Nilai unsur pengotor i pada batubara mutu tinggi Ii(l) = Nilai unsur pengotor i pada batubara mutu rendah c. yang menunjukkan perbedaan efisiensi energi antara batubara mutu tinggi dan batubara mutu rendah. perumusan faktor bobot didefinisikan sebagai fungsi dari perbandingan (proporsi) relatif harga batubara mutu rendah dan batubara mutu tinggi. perumusan dalam tanda kurung besar merupakan koefisien elastisitas.F ini. langkah selanjutnya di dalam penghitungan untuk penetapan nilai bagi hasil bagian pemerintah dari PKP2B untuk batubara mutu rendah adalah merumuskan faktor bobot tersebut. untuk penyusunan model harga batubara mutu rendah akan ditentukan melalui simulasi pemodelan berdasarkan konsep ekonomi pemanfaatan sumber daya batubara. akan dipengaruhi oleh biaya produksi dan harga. dkk. Secara matematik. yang meliputi abu. Dalam permodelan koreksi tersebut. sulfur. simulasi koefisien elastisitas dari pengaruh perubahan nilai kalor dan perubahan tingkat pengotor merupakan Oleh karena itu. yaitu proporsi relatif dari perbedaaan nilai kalor. dan sodium) dari kedua jenis batubara tersebut. = Faktor bobot atau faktor koreksi atau faktor insentif parameter ekonomi terdiri dari biaya penanganan (handling cost). Sedangkan Penetapan Nilai Bagi Hasil atas Produksi Batubara Mutu Rendah. Rochman Saefudin. b. c. maka model persamaan koreksi harga dari unsur peringkat dan pengotor adalah sebagai berikut : Pengaruh Peringkat : CCV = c x [{CV(h) . harga akan terkoreksi oleh perbedaan nilai kalor (peringkat) dan oleh perbedaan tingkat pengotor. Model Koreksi Pengaruh Peringkat dan Pengotor Pada prinsipnya tingkat harga batubara di pasaran ditentukan oleh karakteristik atau mutu batubara. faktor slagging.

{HC(l) . dan pengotor (sulfur. P(h) = Harga batubara mutu tinggi MC(l) = Biaya penanganan batubara mutu rendah MC(h) = Biaya penanganan batubara mutu tinggi η = Persentase profit margin 3.dua dari empat parameter yang dipertimbangkan dalam optimalisasi perberbedaan atau “delta” harga batubara mutu tinggi dan mutu rendah. Sedangkan biaya penanganan (handling cost) untuk mutu rendah relatif lebih besar dari pada batubara mutu tinggi. dan marginal profit.Σ iCCli dengan : Pcor (l) = Harga batubara mutu rendah berdasarkan harga batubara mutu tinggi yang terkoreksi P(h) = Harga batubara mutu tinggi HC(l) = Biaya penanganan batubara mutu rendah HC(h) = Biaya penanganan batubara mutu tinggi = Koreksi harga dari peringkat atau CCIi pengotor Harga Minimum : Pmin(l) = (1+η )[{1 + B(l)} x {MC(l) + HC(h)}] dengan : Pmin (l) = Harga minimum batubara mutu rendah B(l) = Persentase bagi hasil bagian pemerintah dari batubara mutu rendah. model persamaannya adalah: dengan : HC (l ) = Biaya penanganan (handling cost) batubara mutu rendah HC (h) = Biaya penanganan (handling cost) batubara mutu tinggi d (l ) d (h ) = Densitas batubara mutu rendah = Densitas batubara mutu tinggi CV (l ) = Nilai kalor batubara mutu rendah CV (h ) = Nilai kalor batubara mutu tinggi Semakin besar perbedaan densitas demikian pula perbedaan nilai kalor. harga batubara mutu rendah dihitung berdasarkan penurunan harga mutu tinggi karena terkoreksi atau disesuaikan karena adanya penurunan peringkat dan gangguan tingkat pengotor termasuk handling cost relatif. Ada dua pendekatan dalam menentukan atau menghitung tingkat harga.HC(h)} . bagi hasil. maka akan semakin signifikan kenaikan biaya handling cost batubara mutu rendah dibanding handling cost batubara tinggi. e. Aplikasi Model untuk Penetapan Bagi Hasil Permodelan bagi hasil bagian pemerintah dari pengusahaan batubara mutu rendah dalam pola Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) yang telah dirumuskan di atas. Biaya pekerjaan penambangan (mining cost) pada pengusahaan batubara mutu tinggi dan mutu rendah akan sama. karena menggunakan jenis peralatan yang sama. Model Handling Cost Pekerjaan eksploitasi pada pengusahaan batubara dapat dikelompokkan menjadi pekerjaan penambangan/penggalian dan pekerjaan penanganan (handling cost). Pertama. d. sebagai kovensasi dari adanya perbedaan volume untuk energi yang sama. natrium dan Hubungan fungsional antara biaya penangan batubara mutu rendah dengan mutu tinggi dihubungkan dengan koefisien elastisitas dari simulasi perbandingan densitas dan nilai kalor. Model Harga Tingkat harga batubara secara ekonomi ditentukan dengan mempertimbangkan kriteria dari sisi produsen dan konsumen atau ditentukan dengan mempertimbangkan manfaat yang diterima 154 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Secara matematis model persamaan harga batubara mutu rendah tersebut adalah : Harga Koreksi/Penyesuaian : Pcor(l) = P(h) . antara lain karena perbedaan densitas dan perbedaan nilai kalor.2. Secara matematis. CV(h) ⎫ ⎧ d(h) HC(l) = ⎨ × ⎬ × HC(h) d(l) CV(l) ⎭ ⎩ produsen dan konsumen. dimaksudkan untuk menentukan besaran persentase bagi hasil bagian pemerintah berdasarkan pengaruh perbedaan peringkat (nilai kalor). abu. Sebagai pembanding dihitung pula harga minimum sebagai fungsi dari biaya produksi (mining cost dan handling cost).

Batubara mutu rendah sebagai obyek yang akan ditimbang. Penetapan Nilai Bagi Hasil atas Produksi Batubara Mutu Rendah. Adapun dari variasi naik-turunnya harga batubara tersebut berdampak tidak signifikan terhadap besaran perhitungan bagi hasil bagian pemerintah.100 kkal/kg abu (ash) sulfur sodium (Na2O) Mining Cost Handling Cost Harga = 4% = 1% = 1.33 %. Simulasi dengan menggunakan parameter batubara lignit. b. 8. h. dan rata-rata harga batubara mutu rendah yang masih kompetitif 26. Simulasi dengan menggunakan empat variasi parameter. b. c. Setiap penurunan nilai kalor dari CV(h) ke CV(l) diasumsikan harga terkoreksi sebesar [{CV(h)-CV(l)}/CV(h)] x P(h).00 USD /ton = 40 USD /ton.7 USD.15. Adapun besaran bagi hasil bagian pemerintah berkisar antara 10.sebagainya) serta biaya produksi (handling cost) antara batubara mutu rendah dan mutu tinggi.34 % atau rata-rata 10. c.2 % = 25 USD /ton = 2. dan lainnya) sebagai berikut : a) Batasan : a. d. Adapun untuk variasi tiga dan empat parameter batubara mutu rendah serta untuk batubara lignit. Hal ini dapat dilihat dari grafik sensitifitas harga seperti contoh untuk batubara lignit pada Gambar 3. nama perusahaan tidak dicantumkan atau diganti dengan nama perusahaan A. Simulasi dengan menggunakan dua variasi parameter.005 x P(t).52 %. Hal ini dapat dilihat pada gambar 2. atau sodium = 4 %. Semakin besar (tinggi) harga batubara mutu tinggi maka semakin besar pula harga batubara mutu rendah. yaitu parameter nilai kalor = 5. Perhitungan bagi hasil batubara mutu rendah dibatasi oleh harga batubara mutu rendah yang minimum. Hasil dari proses aplikasi model dapat dilihat pada Tabel 7. g. sedangkan batubara mutu tinggi sebagai obyek penimbangnya. b) Simulasi Variasi : a. e.4 USD atau delta harga dengan batubara mutu tinggi minimum 8. Parameter batubara mutu tinggi yang dijadikan sebagai standar penimbang adalah : nilai kalor (caloric value) = 6. maka akan dicoba digunakan di dalam perhitungan kelayakan pengusahaan batubara mutu rendah.100 kkal/kg dan salah satu parameter pengotor yang diwakili oleh abu = 17 %. sulfur = 2 %.07 % – 10. d. Selanjutnya untuk mengetahui pengaruh besaran nilai bagi hasil yang diperoleh terhadap kelayakan usaha penambangan batubara mutu rendah. yaitu nilai kalor dan salah satu paramater pengotor. Setiap kenaikan satu satuan (1%) nilai natrium diasumsikan harga terkoreksi sebesar 0. namun perbedaannya (delta) semakin besar secara proporsional (agar dapat kompetitif). Perusahaan yang akan dijadikan contoh di dalam proses simulasi ada 2 perusahaan yang berlokasi di Kalimantan yang berencana mengembangkan ke penambangan batubara mutu rendah. maka untuk menjaga kerahasiaan. masing masing rata-rata besaran bagi hasil bagian pemerintah adalah 9. Simulasi dengan menggunakan tiga variasi parameter. Dari hasil simulasi tersebut dapat diulas sebagai berikut : a. Persentase profit margin dari pengusahaan batubara mutu rendah diasumsikan 10%. Karena data yang akan digunakan di dalam perhitungan ini merupakan data keuangan perusahaan yang akan dijadikan contoh di dalam proses penghitungan. dan 7. Perbandingan densitas batubara mutu tingggi dan mutu rendah 1. dkk.025 x P(t). dan perusahaan B. diperoleh handling cost 2. Setiap kenaikan satu satuan (1%) nilai sulfur diasumsikan harga terkoreksi sebesar 0. Setiap kenaikan satu satuan (1%) nilai ash (abu) diasumsikan harga terkoreksi sebesar 0. 155 .05 x P(t). f. b.3 : 1.18 %. yaitu nilai kalor dan tiga parameter pengotor. natrium. Untuk mengaplikasikan model dalam rangka menentukan besaran bagi hasil bagian pemerintah dari pengusahaan batubara mutu rendah diperlukan batasan-batasan (asumsi) dan simulasi variasi parameter peringkat (nilai kalor) dan parameter pengotor (abu. sulpur.6 USD.35 %. Untuk variasi dua parameter batubara mutu rendah. dengan memasukkan terhadap aliran kas (cah flow) dari laporan studi kelayakan penambangan batubara. Rochman Saefudin. c. yaitu nilai kalor dan dua parameter pengotor.

30 7.00 20 25 30 35 40 45 50 55 HARGA BATUBARA MUTU TINGGI (USD) Gambar 2.00 25.35 (%) 7.50 7.00 10.00 HARGA BATUBARA MUTU RENDAH (USD) 30.00 Dua Parameter Tiga Parameter Empat Parameter 20.40 BAG I HS I L (% ) 7.00 Lignit 15.25 7. Hubungan harga batubara mutu rendah dan mutu tinggi 7.20 7.40.45 7.00 5. Grafik sensitivitas harga terhadap persentase bagi hasil untuk batubara lignit 156 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .00 35.15 12 14 16 18 20 HARGA (USD) 22 24 26 28 30 Gambar 3.

46 9.00 17.00 4.58 2.00 2.54 7.92 4612.63 8.00 4.52 8.00 12.00 16.75 10.49 26.00 17.00 2.Gambar 7.70 9.33 Penetapan Nilai Bagi Hasil atas Produksi Batubara Mutu Rendah.19 18.01 7.89 5100.58 2.00 35.47 5100.11 8.77 9.00 17.99 15.00 18.07 18.00 4.64 18.24 0.58 2.33 7.77 9.70 10.68 9. Rochman Saefudin.70 9.00 1.70 9.00 12. Na2O = Sodium 157 .20 1.33 7.19 26.77 10.28 26.81 8. S = Sulfur.00 1.58 2.00 1.00 12.92 Keterangan : CV = Nilai Kalor (Caloric Value).70 8.38 0.75 10.00 12.00 2.00 4.36 0.35 5100.58 2.14 18.20 12.20 12.39 0. Simulasi bagi hasil bagian pemerintah dari batubara mutu rendah Variasi Peringkat dan Pengotor Dua Parameter CV+Ash CV+S CV+Na2O CV+Ash+S CV+Ash+Na2O CV+S+Na2O Tiga Parameter Empat Parameter CV+Ash+S+Na2O Lignit Uraian Mutu Tinggi (Penimbang) Nilai Kalor (Kkal/kg) Abu (%) Sulfur (%) Sodium (Na2O) (%) Mining Cost (US$) Handling Cost (US$) Harga (A) (US$) 5100.70 8.36 10.70 2.58 12.58 2.58 2.70 9.94 24.00 2.14 18.00 17. Mutu Rendah (Ditimbang) Nilai Kalor (Kkal/kg) Ash (%) Sulfur (%) Sodium (Na2O) (%) Mining Cost (US$) Handling Cost (US$) Koreksi Harga (US$) Harga Terkoreksi (US$) Selisih (delta) harga (US$) Harga Minimum (B) (US$) Faktor Insentif (Bobot) Bagian Pemerintah (%) RATA-RATA 18.00 1.08 12.52 7.21 22.18 18.53 10.46 23.00 5100. dkk.00 1.40 0.76 24.52 0.00 12.58 2.17 5100.70 12.72 8.00 5100.19 9.20 12.00 4.34 10.01 19.00 1.00 4.51 0.83 11.00 4.00 4.55 0.00 4.40 6100. Ash = Abu.00 2.00 1.52 8.00 17.33 7.

dirumuskan sebagai fungsi dari faktor bobot 158 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . 4.7 1.84 Bagi hasil untuk Pemerintah dalam penghitungan ini sesuai dengan perjanjian kontrak antara Pemerintah dan perusahaan untuk batubara secara umum.86 10. b.14 13. yang termasuk di dalam biaya operasi/produksi yang ditetapkan sebagai patokan dasar.0 1:5 17 44.5 % x F.19% Kalori – sulfur – natrium : 9.7 24. maka dirumuskan melalui simulasi pemodelan berdasarkan konsep ekonomi pemanfaatan sumber daya batubara.5 1 : 7.2 17 4.000 42.61 10.83 <0 9.40% c) Untuk empat parameter (kalori – abu – sulfur – natrium) : 8.0 2.14 15.7 39.2 100.58 13.87 16.8.5 6.02 .1 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Batubara Mutu Rendah adalah batubara yang memiliki peringkat menengah dan tinggi dengan kandungan pengotor tinggi.5 29.52% d) Untuk Lignit nilai bagi hasil : 7.00 C 4.46% kalori – abu – natrium : 9. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Uraian Nilai Kalori Jumlah Cadangan Jarak Tambang ke Terminal Kapasitas Produksi Stripping Ratio Umur Tambang Biaya Investasi Biaya Produksi Harga Jual Nilai Bagi Hasil Net Present Value (NPV) Internal Rate of Return (IRR) Satuan A Kkal/kg Juta ton Km Juta ton/thn tahun Juta US$ US$/ton US$/ton % Juta US$ % 5.31 (647.30 20.14 13.47 21. yaitu sebagai fungsi dari parameter batubara (peringkat dan pengotor) dan parameter ekonomi termasuk biaya penanganan (handling cost).Tabel 8. termasuk batubara peringkat rendah (lignit). Faktor bobot (F) didefinisikan sebagai fungsi dari perbandingan (proporsi) harga batubara mutu rendah dan batubara mutu tinggi.838 48.62 9.66 Perusahaan B 4. maka diperoleh nilai indikator keuntungan untuk perusahaan A dan B sebagai berikut : dikalikan persentase bagi hasil yang secara matematis ditulis G (l) = 13. 2.82 26.0 100 2. sulfur. Dengan nilai MARR (Minimal Atractive Rate of Return) yang digunakan 10%.0 9. yaitu sebesar 13.34% kalori – natrium : 10. Karena harga batubara mutu rendah belum ada. Net Present Value (NPV).14% kalori – sulfur : 10.66 13. Na2O) diperoleh nilai bagi hasil untuk batubara mutu rendah sebagai berikut : a) Untuk dua parameter : kalori – abu : 10. Data perusahaan dan nilai indikator keuntungan penambangan batubara mutu rendah No.4 18 48.800 51. 4.5% dan nilai bagi hasil berdasarkan perhitungan yang baru.07% b) Untuk tiga parameter : kalori – abu – sulfur : 9. 3.9) 47.5 1 : 2. Model bagi hasil bagian pemerintah dari pengusahaan batubara (PKP2B) mutu rendah .5 15.47 18. Internal Rate of Return (IRR).33%. Dari hasil simulasi model yang dibuat berdasarkan kombinasi nilai kalor dan pengotor (abu. Untuk selanjutnya akan dihitung nilai indikator keuntungan dari kelayakan finansial penambangan batubara mutu rendah masing-masing perusahaan Indikator keuntungan yang dihitung di dalam proses simulasi ini adalah : a.

Du Mairy. Yogyakarta.0% 4 parameter nilai bagi hasil : 8. yaitu : d” 3 parameter nilai bagi hasil : 10. James Nisbet & Co. 2.2. Directorate of Mineral Resources Inventory. Batubara dan Panas Bumi. Standard classification of coals by rank D 388 – 92a. Direktorat Pengusahaan Mineral. Jakarta. Penetapan Nilai Bagi Hasil atas Produksi Batubara Mutu Rendah. 2004.5% 4 parameter dan lignit : 7. sedangkan potensi cadangan batubara sebagian besar bermutu menengah ke bawah. 2008. Bandung.M. Karena nilai bagi hasil untuk memproduksi batubara mutu rendah belum ada ketetapannya. Matematika Terapan untuk Bisnis dan Ekonomi. Blue Print Pengelolaan Energi Nasional 2010 . Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. 2004. Saran 1. American Society For Testing and Material.4.2025. Jakarta.5% DAFTAR PUSTAKA American Society For Testing and Material (ASTM). 2008.5% Lignit : 7. Economic Theory and Exhaustible Resources. Dasgupta. maka perlu ditetapkan tarif nilai bagi hasil untuk pengusahaan (PKP2B) batubara mutu rendah agar harganya bisa kompetitif dengan batubara mutu baik. BPFE. 1979. maka untuk mengoptimalkan pengusahaan dan pemanfaatan batubara mutu rendah sebagai sumber energi. And Cambridge University Press. 2009. yaitu : d” 3 parameter nilai bagi hasil : 9. maka berdasarkan nilai kalor dan jumlah pengotornya disarankan untuk membaginya menjadi : a) Tiga nilai bagi hasil.S. 2009. Rochman Saefudin. 2008. Directorate of Mineral Resources Inventory. dan Heal. Indonesia Mineral and Coal Statistic.5% b) Dua nilai bagi hasil. Indonesia Coal : Resources. dkk. Directorate General of Geology and Mineral Resources. 1993. khususnya untuk memasok PLTU yang akan dibangun. 159 . G. Ltd. Untuk mempermudah penerapan nilai bagi hasil untuk produksi batubara mutu rendah. reserves and calorific value. P.

MAKALAH DIPOSTERKAN .

417 companies consumption of coal amount 5. Proses pembakaran batubara pada industri ternyata menghasilkan limbah yang disebut dengan abu dasar dan abu terbang.99 juta ton selama satu tahun. In 2007. Kata kunci : limbah. disusul kemudian industri kertas sebesar 8. abu dasar. ke 417 perusahaan tersebut telah menggunakan batubara sebanyak 5.id SARI Jumlah industri kecil dan menengah di Pulau Jawa yang menggunakan batubara pada tahun 2007 tercatat sudah mencapai 417 perusahaan.63% and others is 15..99 juta ton. yaitu 75.78%. 115 companies at Central Java. dan Jawa Timur 24 perusahaan. Industri tekstil merupakan industri yang paling banyak menggunakan batubara. Untuk mengetahui jumlah limbah yang dihasilkan oleh perusahaan-perusahaan di Pulau Jawa ini. semakin banyak pula limbah yang akan dihasilkan. 022 . textile industry is the most used coal is 75. abu terbang ABSTRACT Amount middle and small industry in Java have to use coal year 2007 is 417 company. 52 companie at Banten and 24 companies at East Java. To be found out amount of produced wasted by companies in Java.6030483 Fax. diikuti Jawa Tengah 115 perusahaan. Triswan Suseno dan Tuti Hernawati 161 .78%. Sudirman 623 Bandung 40211 Telp. ternyata telah dihasilkan limbah abu dasar sebanyak 251. There are about 226 companies at West Java Province is used coal.ANALISIS POTENSI LIMBAH HASIL PEMBAKARAN BATUBARA PADA INDUSTRI KECIL DAN MENENGAH DI PULAU JAWA Triswan Suseno dan Tuti Hernawati Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. Coal burning processing at industry to produced wasted there are bottom ash and fly ash.63%.07 million Analisis Potensi Limbah Hasil Pembakaran Batubara pada Industri .esdm. Selama tahun 2007.59%. paper industry is 8.36 juta ton.07 juta ton.. Semakin banyak batubara yang dibakar.99 million ton. Jawa Timur 1. Metode yang digunakan untuk memperkirakan jumlah limbah yang dihasilkan adalah metode analisis regresi.877 ton. have to sampling as much as 94 companies are coal user in Regency of Bandung. To estimated of wasted is regression analysis method.59%. Terdapat sekitar 226 perusahaan di Provinsi Jawa Barat yang telah menggunakan batubara. diambil contoh untuk diamati sebanyak 94 perusahaan pemakai batubara di Kabupaten Bandung. masing-masing digunakan oleh Jawa Barat 3. Jend.47 juta ton. Banten 1.6003373 e-mail : triswan@tekmira. each consumpted by West Java amount 3. dan industri lainnya 15.09 juta ton. dan Jawa Tengah sebesar 0.go. Besarnya limbah yang dihasilkan dari pembakaran ini sangat dipengaruhi oleh jumlah batubara yang digunakan oleh setiap perusahaan. Banten 52 perusahaan. Amount of wasted produced by companies influenced by amount of coal to used.336 ton dan abu terbang 82. Dari pembakaran batubara sebanyak 5. 022 .

.. a = koefisien perpotongan b = koefisien regresi y = variabel limbah hasil pembakaran batubara x = variabel jumlah pemakaian batubara setiap IKM Tampak jelas bahwa perkembangan kebutuhan batubara tidak terlepas dari perkembangan industri di suatu daerah. akan terjadi peningkatan penggunaan batubara pada industri kecil dan menengah (IKM) sekaligus akan menimbulkan permasalahan baru............. PENDAHULUAN ash) dan abu dasar (bottom ash).. khususnya dalam bidang energi.. Untuk mengetahui sejauhmana pemakaian batubara tersebut mempengaruhi besarnya limbah yang dihasilkan tersebut digunakan metode analisis regresi... Data Data yang digunakan untuk mendukung analisis ini terdiri atas data primer dan data sekunder... (3) Dalam hal ini.........99 million ton in a year.. bottom ash.. sehingga ada korelasi yang sangat 162 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .... Data sekunder adalah data yang diperoleh dari berbagai instansi terkait... More and more coal is burned is more and more produce wasted. Selain menyediakan lokasi tempat penyimpanan batubara untuk beberapa hari ke depan....2... Akibat adanya pola perubahan konsumsi energi tersebut. 1990) sebagai berikut: . METODOLOGI 2...ton... jelas masalah ini sangat mengkhawatirkan mengingat limbah batubara ini akan terus mengalami peningkatan sehingga harus ada penanganan khusus terhadap masalah ini. 2.... Peningkatan konsumsi batubara ini cenderung akan mempengaruhi peningkatan jumlah limbah batubara. yaitu limbah batubara yang disebut sebagai abu terbang (fly 2.09 million ton and Cenral Java 0..877 ton.... dan beracun (B3) sehingga masyarakat akan memprotes keberadaan industri pengguna batubara yang akhirnya dapat mengganggu kegiatan produksi dan perekonomian nasional.. namun bagi perusahaan yang memiliki lahan terbatas masalah tempat pembuangan limbah batubara menjadi salah satu kendala... perusahaan juga harus mencari tempat pembuangan limbah batubara..... maka memahami perubahan pola konsumsi energi yang dilakukan oleh masyarakat industri adalah suatu keharusan dan menjadi hal penting bagi pemerintah sebagai pembuat dan pengendali kebijakan dalam mendukung kelancaran roda perekonomian... Imbauan pemerintah agar masyarakat industri menggunakan energi alternatif seperti batubara ternyata berdampak posistif terhadap kelangsungan aktifitas industri dalam negeri apalagi dengan berkurangnya subsidi bahan bakar minyak untuk industri.. fly ash 1. Dalam situasi seperti ini.... Seiring dengan sudah semakin banyaknya industri tekstil yang menggunakan batubara sebagai bahan bakar dalam kegiatan produksinya.1. mengakibatkan produk limbah batubara dari setiap perusahaan pun semakin meningkat. sehingga hubungan ini dapat dinyatakan dalam bentuk model regresi sederhana (Gaspersz. Model Analisis Tingkat produksi limbah hasil pembakaran batubara sangat dipengaruhi oleh pemakaian batubara yang digunakan oleh IKM...... Dalam jangka panjang..From coal burning amount 5.... untuk sementara waktu mungkin hal ini dapat diatasi...... (2) . Asosiasi Pertekstilan Indonesia.... Sebagian perusahaan yang masih memiliki lahan....... berbahaya... Sedangkan data primer adalah data yang diperoleh dari hasil wawancara langsung ke beberapa perusahaan IKM secara acak......... Banten 1.....36 million ton..366 ton and 82..47 million ton... antara lain Dinas Tenaga Kerja.. Keywords : wasted..... (1) ... produced of bottom ash and fly ash each are 251.. dan Dinas Lingkungan Hidup.... East Java 1....... sehingga banyak industri yang beralih penggunaan bahan bakar minyaknya ke batubara. Salah satu kemungkinan yang timbul adalah masalah sosial akibat adanya isu lingkungan yang mengklasifikasikan batubara sebagai limbah bahan berbau.....

Triswan Suseno dan Tuti Hernawati 163 . Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah.50%. dari 193 perusahaan pada tahun 2006 (Ijang Suherman. Kabupaten Tangerang (29 perusahaan). berarti dalam kurun waktu tersebut sudah mengalami kenaikan sekitar 250%. Kabupaten Bandung merupakan konsumen batubara terbesar dengan jumlah pemakaian mencapai 44. Jawa Tengah.500 ton). Sukoharjo. tercatat ada 115 perusahaan. Padahal pada tahun 2005 baru tercatat sebanyak 15 perusahaan saja. KONSUMSI BATUBARA DAN POTENSI LIMBAH BATUBARA DI PULAU JAWA Rencana pemerintah mengurangi pasokan dan penghapusan subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang selama ini menjadi beban yang sangat berat ditanggung oleh pemerintah memaksa pelaku industri untuk mengubah pola penggunaan bahan bakar. Purwakarta dan Karawang masing-masing 16. Surakarta. sisanya adalah industri kertas. disusul oleh Kabupaten Tangerang (416. berarti hampir 69.069. seperti Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi. kapur. Di antara jumlah IKM pemakai batubara. Jawa Barat.57 juta ton untuk 199 perusahaan tekstil. Industri pemakai batubara tersebut tersebar di Kota Cilegon (9 perusahaan). Kajian Batubara Nasional. 2007. 2008). briket. pengecoran logam. dan bijih plastik. Semarang. dan Grobogan. khususnya di Pulau Jawa. Analisis Potensi Limbah Hasil Pembakaran Batubara pada Industri . Sebanyak 118 perusahaan (atau 52. dan Kota Tangerang (3 perusahaan). berarti naik sebesar 9. Konsumsi batubara di daerah ini pada tahun 2007 diperkirakan mencapai 3. berdasarkan hasil penelitian ternyata bahwa IKM yang telah beralih menggunakan batubara sudah mencapai 226 perusahaan. Informasi ini diperoleh dari berbagai sumber.21% dan 12.040 ton.71%. disusul Kota Cimahi sebanyak 47 perusahaan (20. percetakan. Puslitbang Tekmira..erat antara tren perkembangan industri dengan perubahan kebutuhan batubara dan limbahnya. dan lainlain. Jenis tekstil dan produk tekstil merupakan perusahaan yang paling banyak menggunakan batubara (85. 3. stereofoam. sedangkan sisanya tersebar di berbagai lokasi di Jawa Barat. minyak sawit. Pati. karet.06%.7% terhadap pemanfaatan bauran energi nasional mengingat cadangan batubara di Indonesia cukup besar. minuman.980 ton). BPLH Jawa Barat. Kabupaten Serang (11 perusahaan). Perusahaan yang paling banyak menggunakan batubara adalah industri tekstil. Ungaran.84%). sisanya digunakan oleh IKM di daerah lainnya. Sragen.008 ton. disusul kemudian oleh Kota Cimahi.83% dari jumlah keseluruhan penggunaan batubara di Jawa Tengah (465. Jumlah IKM pemakai batubara di Provinsi Jawa Barat selalu mengalami kenaikan. ban. Jumlah pemakaian batubara sampai tahun 2008 diperkirakan sudah mencapai 1. Klaten. Bandung) menjadi 226 pada tahun 2007 perusahaan (API.730 ton. Di Provinsi Banten saja jumlah IKM yang sudah mengunakan bahan bakar batubara sudah mencapai 52 perusahaan. Dinas Lingkungan Hidup. lainnya adalah perusahaan sepatu. jumlahnya mencapai 2. Kendal.21%) di antaranya berada di Kabupaten Bandung.362.23%. dan Jawa Timur ternyata pesat sekali. briket batubara. memaksa pemerintah untuk memacu penggunaan batubara oleh industri sehingga kontribusinya mencapai 32. 98 di antaranya adalah perusahaan tekstil. Target pemerintah sampai dengan tahun 2025 mengurangi penggunaan BBM hingga dua puluh persen. industri tekstil ini pulalah yang paling banyak menggunakan batubara sebagai bahan bakar. Pada tahun 2007 saja penggunaannya mencapai 325. Kudus. dan obat-obatan.396 ton).. Himbauan pemerintah kepada masyarakat industri untuk mengalihkan penggunaan bahan bakar minyak ke batubara dan adanya larangan pemerintah agar industri baru menggunakan batubara ternyata berdampak sangat signifikan terhadap kenaikan konsumsi batubara di Indonesia. Kabupaten Serang merupakan pemakai batubara batubara terbanyak yaitu 639.000 ton).250 ton. penggunaan batubara oleh IKM di beberapa wilayah seperti Banten. dan kota Cilegon (115. Di Provinsi Jawa Barat. Disnaker. 14.80%). Konsentrasi perusahaan pemakai batubara paling banyak terletak di Kabupaten Pekalongan (21 perusahaan) dan Karanganyar (16 perusahaan). Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jawa Barat. sedangkan sisanya tersebar di Batang. makanan. Kota Tangerang (191. makanan. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh tim dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Bandung tahun 2008. Di Provinsi Jawa Tengah.

Selain kesulitan dalam menyediakan tempat penyimpanan batubara.Berdasarkan hasil survei di Jawa Timur. Tjiwi Kimia yang berlokasi di pinggir jalan raya Mojokerto. perusahaan tekstil sebesar 4.000 ton. kadar karbon. perusahaan tekstil menjadi penyumbang terbesar limbah hasil pembakaran batubara. Perusahaan kertas yang paling banyak menggunakan batubara adalah PT. 2006). Banyak produk limbah batubara dari beberapa perusahaan tidak bisa digunakan sebagai bahan batako.088. dan Jawa Tengah (7. limbah yang dihasilkan dari pembakaran batubara tersebut sekitar 103. jumlahnya mencapai 186. Di tengah harga BBM yang semakin melambung. POTENSI LIMBAH HASIL PEMBAKARAN BATUBARA OLEH IKM DI PULAU JAWA Sebagaimana dijelaskan sebelumnya.39 + 13. sulfate sulfur. dan titik leleh abu (ash fusion temperature) (Raharjo. Dari jumlah IKM sebanyak 417 perusahaan. yaitu 51.419 ton.72 x Kedua model di atas digunakan untuk mengestimasi potensi limbah yang dihasilkan dari proses pembakaran batubara oleh IKM di Pulau Jawa. Di sisi lain. limbah abu dasar dan abu terbang dari 94 perusahaan tersebut. 2006 dan 2007).45% di antaranya digunakan oleh perusahaan kertas. Provinsi Jawa Barat merupakan daerah yang memberikan kontribusi limbah terbesar. kandungan zat terbang.77%). 94 perusahaan di antaranya menjadi contoh (sample) untuk dicatat jumlah abu dasar dan abu terbang yang dihasilkan dari pembakaran batubara di setiap perusahaan tersebut. Sehingga pemilihan kualitas batubara yang sesuai akhirnya akan sangat berpengaruh terhadap daya tahan mesin agar mesin berfungsi secara optimal. Diketahui bahwa setiap hari ke 94 perusahaan tersebut menggunakan batubara tidak kurang dari 2. dan sisanya oleh perusahaan briket. disusul kemudian oleh perusahaan tekstil (5 perusahaan) dan briket(1 perusahaan). P2O5. diperoleh informasi bahwa tercatat sebanyak 24 perusahaan yang telah menggunakan bahan bakar batubara. sehingga variabel ini merupakan parameter potensial yang sangat mempengaruhi produksi abu dasar dan abu terbang. Biasanya parameter yang digunakan dalam memilih batubara adalah kalori.266 ton (2007).14%. 95. disusul kemudian oleh Banten (22.19%. kadar abu. organic sulfur).20%).20% dari limbah tersebut adalah abu dasar sedangkan sisanya berupa abu terbang. di samping parameter lain seperti analisis unsur yang terdapat dalam abu (SiO2. Dari sisi jenis industri. dengan pemakaian pertahun mencapai 720.98 x 2) Model regresi abu terbang : y = 173. penggunaan batubara merupakan salah satu alternatif yang sangat membantu dalam menekan biaya penggunaan bahan bakar yang memang jauh lebih efisien dan ekonomis. yaitu limbah hasil pembakaran batubara. Al2O3. 75. di 4. ternyata menghasilkan limbah hasil pembakaran batubara sebanyak 334. Kualitas limbah batubara pasca pembakaran sangat dipengaruhi oleh jenis batubara dan sistem pembakarannya. sehingga pemerintah daerah pun mengalami kesulitan dalam mengawasinya. mereka mengalami kesulitan pula dalam membuang limbah batubara sehingga mereka membuangnya di sembarang tempat dengan tidak memperhatikan dampak dari pembuangan tersebut. kadar sulfur. konsumsi. dan lain lain).297 kg abu dasar dan 53.82%). Jumlah batubara yang digunakan IKM di Pulau Jawa sebesar 5.985. analisis komposisi sulfur (pyritic sulfur. Fe2O3.21%. karena karakteristik mesin atau peralatan yang digunakan dalam kegiatan produksi berbeda satu dengan yang lainnya.100 ton.100 ton (atau 55.58% dari jumlah 164 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . dan tingkat ketergerusan.13% dan industri lainnya 9.213 ton atau 5.75 + 41. Jawa Timur (18. Perusahaan kertas (18 perusahaan) adalah pemakai batubara terbesar di wilayah ini. ternyata menghasilkan model regresi sebagai berikut : 1) Model regresi abu dasar : y = 23. Hal ini sangat penting. Apabila hal ini terjadi terus menerus dikhawatirkan akan menimbulkan masalah baru khususnya yang berkaitan dengan masalah pencemaran lingkungan sehingga dapat menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat.430 kg abu terbang (Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung.68%) disusul oleh industri kertas 35. Pembuangan dilakukan secara diamdiam tanpa melakukan koordinasi dengan pihak pemerintah daerah. semakin maraknya penggunaan batubara pada IKM memunculkan persoalan baru. Jumlah pemakaian batubara pada tahun 2007 tercatat 1. ukuran. bahwa jumlah limbah hasil pembakaran batubara sangat dipengaruhi oleh variabel pemakaian batubara di setiap IKM. Berdasarkan data jumlah pamakaian batubara. kadar kelembaban. hasilnya dapat dilihat dalam Tabel 2.

750 13.362.708 4.985. Jawa Barat. Triswan Suseno dan Tuti Hernawati Banten Jabar Jateng Jatim 16.Tabel 1.413 1. Jawa Timur (2008) Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung ( 2007) Asosiasi Pertekstilan Indonesia Jawa Barat (2007) Hasil survei Tim Pola Distribusi Batubara Tahun 2008.088.102..227 128.898 Jumlah 140.7477+41.008 45.101 43. Estimasi jumlah abu dasar (ad) dan abu terbang (at)hasil pembakaran batubara di Pulau Jawa menurut jenis ikm (ton) Kertas Abu Dasar 26.575 15.767 1.104 Abu Terbang Lainnya Abu Dasar 14. Puslitbang Tekmira Bandung Tabel 2.850 132.72 X.160 66.069.440 2.849 19.39+13.052 15.809 198 22.297 6.119 82.4%.768 3. 165 .074 14.400 5.074 Berdasarkan model regresi : y(ad) =23.800 65 546. koefisien korelasi (r) = 48. Jawa Tengah.566.336 Abu Terbang 18.887 42.651 1.300 8. Jumlah perusahaan pemakai dan konsumsi batubara oleh ikm di Pulau Jawa tahun 2007 Jumlah Perusahaan (Buah) Dan Konsumsi Batubara (Ton) Kertas Konsumsi Batubara 399.500 52 226 115 24 417 Banyaknya Perusahaan Konsumsi Batubara Banyaknya Perusahaan Konsumsi Batubara Banyaknya Perusahaan Lainnya Jumlah Konsumsi Batubara 1..561 45.97 X .775 107.0%.000 3.522 681 46.877 979 125 7.544 35.080 73.336.067 465.543 3.877 Provinsi 5.699 251. y(at) =173.800 325.576 5.313 29.962 Abu Terbang 4.038.604 88.367 Tekstil Provinsi Banyaknya Perusahaan Banten Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Timur 14 199 98 5 Jumlah 316 Sumber : - Dinas Tenaga Kerja Provinsi Banten.747 Jumlah Abu Dasar 57. koefisien korelasi (r) = 93.556 2.280 4.440 370.248 36 2.141 1.119 5.600 33 19 12 1 342.026 Tekstil Abu Dasar Abu Terbang Analisis Potensi Limbah Hasil Pembakaran Batubara pada Industri .218 5 8 5 18 620.680 1.

2) Terdapat korelasi yang sangat signifikan antara penggunaan batubara dengan limbahnya. mereka memanfaatkan pihak ketiga atau pemasok batubara untuk mengangkutnya. dari 94 perusahaan pemakai batubara hanya 26. sehingga produknya tidak dapat digunakan secara bebas sebelum produk tersebut benar-benar dinyatakan bebas dari limbah B3 atas izin Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). Dengan kata lain. harus ada suatu bimbingan teknis yang dilakukan oleh para aparat kepada para pekerja di pabrik yang menggunakan batubara. Padahal berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh berbagai instansi termasuk Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral di Bandung.81% tidak/belum memiliki TPS sama sekali (Dinas Lingkungan Hidup. tergantung pada kondisi dan kemampuan masing-masing perusahaan. KESIMPULAN DAN SARAN 5. Seiring dengan berjalannya waktu. Namun produknya hanya boleh digunakan untuk memenuhi kebutuhan intern. Timbul kekhawatiran limbah tersebut dibuang di sembarang tempat. untuk sementara limbahnya ditimbun di tempat pembuangan sementara (TPS) di sekitar lahan milik perusahaan tersebut. sehingga tidak diketahui kemana limbah tersebut dibuang. Dalam menangani limbah hasil pembakaran batubara setiap perusahaan melakukannya dengan cara yang berbeda. Kesimpulan Berdasarkan hasil kajian di atas dapat disimpulkan bahwa: 1) Selama batubara masih menjadi pilihan utama sebagai pengganti BBM.04% saja telah memiliki TPS yang berizin. 166 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . sementara TPS yang ada sudah tidak mampu untuk menampungnya. penggunaan batubara terus mengalami peningkatan sehingga berkorelasi erat dengan bertambahnya limbah. Daliatex di Kabupaten Bandung yang telah mengolah limbah batubara menjadi batako.04% memiliki TPS tapi tak berizin dan 40. 4) Kualitas batubara dari pemasok dan teknik pembakaran batubara yang tidak sempurna menjadikan limbah ini dinyatakan sebagai limbah B3. Bagi sebagian perusahaan yang masih memiliki lahan luas.1. Perusahaan lain yang telah melakukan pemanfaatan dan pengelolaan limbah dengan baik sesuai dengan prosedur yang berlaku adalah perusahaan tekstil PT. 26. 3) Hanya 26. Namun tidak semua perusahaan memiliki lahan yang luas. Faktor penyebabnya antara lain karena pembakaran yang tidak sempurna. semakin banyak batubara yang digunakan akan semakin banyak pula abu dasar dan abu terbang yang dihasilkan dari pembakaran batubara setiap IKM. Oleh karena itu. 18 Tahun 1999 jo PP 85 Tahun 1999 yang menyatakan limbah tersebut termasuk kategori limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).antaranya banyak ditemukan pada mesin boiler pembakar batubara di sejumlah perusahaan tekstil di wilayah Kabupaten Bandung. Berdasarkan informasi yang diperoleh. kualitas batubara yang selalu berubah dan tidak sesuai dengan spesifikasi boiler. ternyata limbah hasil pembakaran batubara dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan paving blok atau batubata. 2007). harus ada solusi untuk menangani limbah tersebut.04% saja IKM yang memiliki TPS berizin. akibat keterbatasan lahan untuk menyimpan sementara hasil pembakaran batubara. 5. Sudah banyak lembaga/instansi yang peduli terhadap limbah ini dan telah mencoba berbagai teknik untuk mengolah limbah ini menjadi bermanfaat. maka diprediksi akan semakin banyak IKM yang akan menggunakan batubara sebagai bahan bakar untuk kegiatan produksinya. Namun pemanfaatan produk dari limbah tersebut ternyata masih terkendala oleh Peraturan Pemerintah No. perusahaan kecil biasanya menggunakan jasa pemasok batubara atau pihak ketiga untuk mengangkut limbah tersebut. tidak atau belum boleh dijual ke masyarakat umum. Oleh karena itu. Pihak KLH sendiri dalam mengeluarkan izin pengolahan dan penggunaan produk limbah batubara sangat selektif dan berhati-hati sekali mengingat tidak semua perusahaan mampu mengelola limbah batubara dengan baik dan benar karena ada dugaan yang menyatakan bahwa sebagian besar perusahaan dalam melakukan pembakaran batubara dilakukan tidak secara sempurna. Sehingga di dalam limbah hasil pembakaran batubara masih banyak mengandung batubara walaupun kalorinya rendah.

Bandung. Bandung. 2007. dan memasarkannya. Suherman. Laporan Kegiatan Seksi Pengendalian Pencemaran Limbah Padat dan B3. memanfaatkan dalam bentuk barang (rekomendasi KLH). 2009. Gaspersz. dan lain-lain. Dinas Tenaga Kerja Provinsi Jawa Timur. Ijang. Dinas Tenaga Kerja Provinsi Jawa Barat. Memberikan izin memasarkan/menggunakan barang yang dibuat dari hasil pengolahan dan pemanfaatan limbah batubara. Kajian Batubara Nasional. mengolah (dengan rekomendasi KLH).. 2007. mulai dari menampung. seperti luas.. Bandung. 2008. Dinas Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah.beritaiptek. Rabu. DAFTAR PUSTAKA Asosiasi Pertekstilan Indonesia Jawa Barat. Daftar Perusahaan Yang Menggunakan Batubara. Daftar Perusahaan Yang Menggunakan Batubara di Provinsi Banten. Semarang. Bandung. Analisis Kuantitatif Untuk Perencanaan. Daftar Perusahaan Yang Menggunakan Batubara. Raharjo. Analisis Potensi Limbah Hasil Pembakaran Batubara pada Industri . Dinas Tenaga Kerja Provinsi Banten.com. 2008.2. Untuk memudahkan pemantauan sebaiknya pemerintah atau swasta dapat membuat IPLB secara terpadu yang dapat menampung semua limbah batubara dari setiap industri pengguna batubara untuk memudahkan pengawasan. www. Artikel Iptek . Dinas Lingkungan Hidup. Serang. Penerbit “Tarsito”. Triswan Suseno dan Tuti Hernawati 167 . 08:40:21.5. Puslitbang Tekmira. Vincent. keamanan. Melakukan pengawasan yang ketat dan berkesinambungan kepada perusahaan yang diberi kewenangan mengelola dan memanfaatkan limbah batubara. Surabaya. Izin pengolahan limbah batubara ini diharapkan harus benar-benar digunakan agar tidak terjadi seperti IPAL yang saat ini mereka miliki ternyata tidak berfungsi sepenuhnya. Soreang. 2008. Mengenal Batubara (2). Pemerintah dapat memberikan izin kepada perusahaan yang benar-benar mampu mengelola (mengumpulkan dan mengolah.Bidang Energi dan Sumber Daya Alam. Membentuk lembaga/perusahaan yang khusus mengawasi dan mengelola limbah batubara secara profesional serta harus bertanggung jawab kepada pemerintah (Daerah/Pusat/KLH). 2006. Imam Budi. Konsumsi Batubara Oleh Perusahaan Anggota API Jawa Barat. 2008. Setiap perusahaan diwajibkan memiliki instalasi pengolahan limbah batubara (IPLB) seperti halnya mereka diwajibkan memiliki instalasi pengolahan limbah (IPAL) dan memanfaatkannya secara optimal. Harus ada satu atau dua perusahaan yang diberi kewenangan khusus menangani limbah batubara. letak. Pemerintah harus mampu meyakinkan masyarakat bahwa limbah dan produk limbah batubara tidak berbahaya karena sudah melalui prosedur pengolahan yang benar. Pengawas harus memberikan laporan secara benar tentang perusahaan pengguna batubara yang diawasinya kepada (Daerah/Pusat/KLH). Setiap perusahaan pengguna batubara harus mampu melakukan pembakaran batubara secara benar (sempurna) sehingga tidak ada batubara ke dalam limbahnya. Daftar Perusahaan Yang Menggunakan Batubara. 2006 dan 2007. dan memanfaatkan) limbah batubara secara baik dan benar. 1990. Saran Solusi permasalahan limbah batubara : Mencari dan menentukan lokasi tempat pembuangan limbah batubara yang benar-benar memenuhi persyaratan teknis dan nonteknis.

The result shows that there UBC process does not increase the rank of coal. reflektan vitrinit. Jenderal Sudirman No. There is an increase of vitrinite reflectance. Kata kunci: proses UBC. Hasil kajian menunjukkan bahwa proses UBC tidak menyebabkan kenaikan peringkat batubara. coal rank. vitrinite reflectance. Fax.PENGARUH PROSES UPGRADED BROWN COAL (UBC) TERHADAP PERINGKAT BATUBARA Slamet Suprapto Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. 623. Keywords: UBC process. study on the effect of UBC process on coal rank needs to be carried out. perlu dilakukan kajian tentang pengaruh proses UBC terhadap peringkat batubara. (022) 6003373 e-mail: SARI Untuk mengatasi salah pengertian tentang peringkat batubara hasil proses Upgraded Brown Coal (UBC). (022) 6030483. tetapi tidak signifikan dan mirip dengan kenaikan yang dialami oleh batubara raw yang dikeringkan dalam oven. coal classification 168 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . but not so significant and still similar with oven dried of raw coal. Terdapat kenaikan reflektan vitrinit. Kajian dilakukan dengan membandingkan kondisi proses UBC terhadap kondisi pembatubaraan dan mengumpulkan serta mengolah data analisis kimia dan analisis petrografi batubara raw dan produk UBC. klasifikasi batubara ABSTRACT To overcome misunderstanding about the rank of coal produced by Upgraded Brown Coal (UBC) process. The study is carried out by comparing the condition of UBC process with the condition of coalification and collecting and calculating chemical and petrographical analysis of raw coal and UBC product. peringkat batubara. Bandung 40211 Telp.

yakni dengan kadar abu dan kadar belerang rendah. Produk UBC bisa berupa serbuk apabila langsung dimanfaatkan atau berbentuk briket apabila akan ditransportasi pada jarak jauh (Umar. Namun demikian. Oleh karena itu perlu dilakukan kajian untuk mempelajari pengaruh proses UBC terhadap peringkat batubara. Hal ini didasarkan kenyataan bahwa produk UBC mempunyai nilai kalor yang mirip dengan nilai kalor batubara peringkat bituminous. yakni dengan kadar air tinggi dan nilai kalor rendah. penentuan peringkat batubara tidak bisa ditentukan dari nilai kalor batubara kering udara. Keberhasilan tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan pembangunan demonstration plant kapasitas 1000 ton/jam di Kalimantan Selatan. Salah satu teknologi peningkatan kualitas batubara lignit yang saat ini dikembangkan oleh Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara bekerjasama dengan JCOAL. Dengan mengurangi kadar air. Tetapi tingginya kadar air pada batubara peringkat rendah terutama lignit menyebabkan tingginya biaya pengangkutan. Proses pengering pada Upgraded Brown Coal Ujicoba pilot plant dengan menggunakan batubara peringkat rendah yang berasal dari beberapa daerah di Indonesia telah beberapa kali dilakukan dan berhasil dengan baik. tingginya kadar air juga menyebabkan rendahnya nilai kalor. Padahal. Proses UBC Teknologi UBC adalah salah proses coal upgrading yang meningkatkan nilai kalor melalui proses pengeringan (evaporative drying) yang pertama kali dikembangkan oleh Kobe Steel. Sedangkan minyak tanah diperlukan sebagai media dalam proses. batubara peringkat rendah disebut juga batubara kualitas rendah (low grade coal) karena tingginya kadar air dan rendahnya nilai kalor. maka nilai kalor batubara dapat meningkat. Jepang. Untuk mengatasi permasalahan batubara lignit.1. Pada saat ini sebagian besar batubara yang ditambang adalah peringat bituminous dan sub bituminous. Penelitian skala laboratorium dan skala bench dilakukan di Jepang.6 miliar ton tersebar terutama di Sumatera dan Kalimantan. Dengan nilai kalor yang tinggi dan kadar abu serta belerang rendah. Teknologi yang saat ini berkembang umumnya didasarkan atas proses pengurangan kadar air atau pengeringan. Namun. Jepang adalah proses Upgraded Brown Coal. Produk UBC yang dihasilkan mempunyai nilai kalor >6.300 kal/g (adb) dan kadar air ± 7%. mencapai 104. Slamet Suprapto 169 . Namun sebagian besar batubara Indonesia termasuk peringkat rendah (lignit – sub bituminus). minyak residu dan minyak tanah. Prinsip proses UBC adalah dengan mencampurkan batubara. sampai saat ini banyak yang menganggap bahwa teknologi UBC juga meningkatkan peringkat batubara. Pilot plant kapasitas 5 ton/jam telah dibangun di Palimanan dan hasil ujicobanya membuktikan bahwa kadar air batubara peringkat rendah dapat dikurangi dan nilai kalornya meningkat. 2. Padahal batubara peringkat rendah di Indonesia umumnya termasuk bersih. ekspoitasi terhadap batubara lignit juga mulai dikembangkan. air bebas (surface moisture) dan juga air lembab (inherent moisture) yang terdapat dalam pori-pori batubara akan diuapkan. Kedua hal tersebut menyebabkan lignit lebih sulit dipasarkan dibanding batubara bituminous dan sub bituminous. Disamping itu. teknologi-teknologi peningkatan kualitas batubara telah banyak berkembang. Penambahan minyak residu diperlukan untuk menutup pori-pori batubara sehingga kestabilan kadar air bawaan pasca proses dapat terjaga (Gambar 1). TINJAUAN PUSTAKA Indonesia memiliki sumber daya batubara yang cukup besar. Gambar 1. kemudian untuk pilot plant dan demonstration plant dikembangkan di Indonesia. Mengingat kebutuhan semakin meningkat.1. Dengan temperatur dan tekanan tersebut. produk UBC lebih baik dibanding batubara bituminous yang mempunyai kadar abu dan belerang tinggi Pengaruh Proses Upgraded Brown Coal (UBC) terhadap Peringkat Batubara. Campuran tersebut kemudian dipanaskan pada temperatur 150-160ºC dengan tekanan 250-350 kPa. 2005). PENDAHULUAN 2.

1982. kadar zat terbang). 1982): turunnya kadar air (bed moisture). Besarnya tekanan tergantung dalamnya endapan batubara atau tebalnya lapisan tanah penutup. makin dalam endapannya makin lanjut proses pematangan.9 1. sedangkan untuk batubara bituminous diperlukan temperatur 100 . Pemanasan yang lebih lama akan menghasilkan pematangan yang lebih tinggi sehingga endapan batubara yang berumur lebih tua mempunyai tingkat pembatubaraan yang lebih tinggi. Tingkat pembatubaraan atau posisi batubara dalam seri lignit – antrasit ini disebut peringkat (rank) (Stach. yakni berkisar antara beberapa kilogram sampai ratusan kilogram. Hubungan antara peringkat dengan kadar karbon dapat dilihat pada Tabel 2.6 24 Menurut Francis (1965) terdapat hubungan antara peringkat dengan kadar karbon pada batubara murni (dry mineral matter free. O.sehingga sangat cocok untuk keperluan dalam negeri maupun ekspor. Waktu juga berpengaruh terhadap pematangan bahan organik. 170 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . dan naiknya reflektan vitrinit. Proses Pembatubaraan Batubara terbentuk dari pembusukan sisa tanaman purba yang terpadatkan setelah tertimbun oleh lapisan penutup di atasnya. yakni tahap penggambutan (peatification) dan tahap pembatubaraan (coalification). Falcon. Temperatur berfungsi mempercepat pematangan bahan organik.2. Kualitas tersebut mirip dengan kualitas batubara peringkat menengah. turunnya kadar H. Proses pembentukan batubara pada dasarnya dapat dibagi menjadi 2 tahap. Pada tahap pembatubaraan. sirkulasi hidrotermal.3.8 8. 1986). turunnya kadar zat terbang. yakni perubahan dari gambut menjadi batubara lignit dan seterusnya menjadi batubara-batubara sub bituminous.9 2. Proses pembatubaan dipengaruhi oleh 3 faktor. makin tinggi rasio bahan bakar. Sedangkan untuk analisis petrografi digunakan data reflektan vitrinit (Rv). bituminous dan antrasit. analisis ultimat (kadar karbon) dan nilai kalor. makin tinggi peringkat batubara karena makin dekat dengan sumber panas dalam bumi. yakni makin tinggi peringkat batubara. temperatur dan waktu. N dan S dan naiknya kadar C. 2. Makin tinggi tinggi peringkat batubara. Kenaikan peringkat batubara juga diikuti oleh perubahan kimia dan sifat fisik batubara sebagai berikut (Francis. Untuk membentuk antrasit diperlukan temperatur 300ºC. makin dalam endapannya. Pada tahap ini sebetulnya terjadi proses pematangan. Stach. Tabel 1. 1982).C. Penentuan Peringkat Batubara Peringkat batubara dapat ditentukan melalui data analisis kimia atau analisis petrografi. Temperatur pada proses pembatubaraan normal tidak lebih dari 300ºC. 1965. Menurut H. panas gesekan dan kompilasi tektonik. 2. Rance (1975). waktu yang dibutuhkan dalam proses pembatubaraan berkisar antara puluhan sampai ratusan juta tahun. Rasio bahan bakar adalah perbandingan antara karbon padat dengan kadar zat terbang. 1965. dmmf). sisa tanaman sudah tertutup oleh lapisan tanah penutup sehingga terjadi proses geokimia. Tekanan berfungsi memadatkan sisa tanaman dan mengurangi kadar air. makin tinggi kadar karbon (dmmf). dan naiknya nilai kalor. Hubungan tipikal antara peringkat batubara dengan rasio bahan bakar dapat dilihat pada Tabel 1.150ºC (Francis. Normalnya. Pada tahap penggambutan terjadi proses biokimia sehingga sisa-sisa tanaman mengalami proses pembusukan. yakni tekanan. Oleh karena itu. Data analisis kimia yang digunakan diantaranya analisis proksimat (kadar karbon padat.3 1. terdapat hubungan antara rasio bahan bakar (fuel ratio) dengan peringkat batubara. Stach. Pada tahap ini sisa tanaman masih dalam keadaan terbuka dan belum tertutup oleh tanah penutup. Proses pematangan juga dapat dipercepat oleh pengaruh dari luar seperti intrusi batuan beku. Hubungan tipikal antara peringkat batubara dengan rasio bahan bakar Peringkat Batubara Lignit High volatile bituminous Medium volatile bituminous Low volatile bituminous Semi antrasit Antrasit Rasio Bahan Bakar 0.

2005) sebagai berikut: Karbon padat = (dmmf).5 – 1. peringkat menengah dan peringkat tinggi. zat terbang dan nilai kalor dari batubara murni. % S = kadar belerang (adb).2. Klasifikasi batubara berdasarkan peringkat menurut ASTM dapat dilihat pada Lampiran 1. peringkat batubara ditentukan berdasarkan nilai kalor (mmf) batubara yang masih mengandung air lapisan (bed moisture). Apabila penentuan peringkat menggunakan nilai kalor (mmf). 2005) kemudian membuat klasifikasi batubara berdasarkan peringkat dengan menggunakan data reflektan vitrinit (Rv). Pengolahan Data Data hasil analisis batubara raw dan produk UBC pada kondisi kering udara diolah menjadi kondisi kering dan bebas bahan mineral (dmmf) menggunakan rumus Par (Anonymus. peringkat menengah (bituminous D .5 – 6. Pengumpulan Data Data sekunder berupa hasil analisis kmia dan petrografi batubara raw dan produk UBC diperoleh dari laporan kegiatan pilot plant UBC di Palimanan Cirebon yang beroperasi menggunakan batubara Binungan. Slamet Suprapto 171 . Peringkat rendah (lignit dan sub bituminous) dengan Rv <0.5 – 2. % A = kadar abu (adb). sedangkan batubara peringkat tertinggi (meta antrasit) mempunyai Rv 2. % dimana. Hubungan antara peringkat dengan kadar karbon (dmmf) Peringkat Antrasit Carbonaceous Bituminous Sub bituminous Lignit Kadar karbon.0. % M = kadar air bawaan (adb).4 <0.1 0.55 S) Karbon = (dmmf).0% dan peringkat tinggi (antrasit C .Tabel 2. Sedangkan untuk batubara yang mempunyai kadar karbon padat (dmmf) <31% atau kadar zat terbang (dmmf) >69%.0 – 2.3 .5. METODOLOGI 3.% dmmf 93 – 95 91 – 93 80 – 91 75 – 80 60 – 75 Tabel 3. tetapi dengan memasukkan data kadar air lapisan. Hubungan antara peringkat batubara dengan reflektan vitrinit Peringkat batubara (ASTM) Meta antrasit Antrasit Semi antrasit Low volatile bituminous Medium volatile bitumious High volatile bituminous Sub bituminous Lignit Gambut Reflektan vitrinit 3.0%.6 – 2. % C = kadar karbon (adb).1 – 1. KP = kadar karbon padat (adb). % KP – 0. 3. Peringkat batubara dibagi menjadi tiga. 1986) membuat hubungan antara refelektan vitrinit dengan gambut dan peringkat batubara menurut ASTM (Tabel 3).6 0.55 S) Zat terbang = 100 – kadar karbon padat (dmmf) (dmmf).4 – 0. Taban dan Samaranggau.0 – 6. peringkat batubara ditentukan berdasarkan kadar karbon padat dan zat terbang.A) dengan Rv 0.15 S x 100 100 – (M + 1.5 0.mmf).08 A + 0. International Standard (Anonymous. yakni kadar karbon padat. diperlukan contoh batubara yang masih segar (fresh) dan langsung diambil dari tambang.3 – 0.A) dengan Rv 2.0 2.5 – 3. % Pengaruh Proses Upgraded Brown Coal (UBC) terhadap Peringkat Batubara. Untuk batubara yang mempunyai kadar karbon padat (dmmf) e”69% atau kadar zat terbang (dmmf) <31%. 2005) membuat klasifikasi batubara berdasarkan peringkat dengan menggunakan data analisisi kimia. % C x 100 100 – (M + 1. yakni peringkat rendah. 3. Teichmuller dan Barntenstein (Falcon.08 A + 0. yakni kering bebas bahan mineral (dmmf) atau basah dan bebas bahan mineral (moist mineral matter free .4%.3 American Society for Testing Materials (Anonymous.1.0 – 6.5 2.0 1.0%. Klasifikasi batubara berdasarkan peringkat menurut International Standard (ISO) dapat dilihat pada Lampiran 2.5 1. Batubara peringkat paling rendah (lignit) mempunyai Rv 0.

Hal ini berarti tidak terjadi kenaikan peringkat batubara akibat proses UBC. Produk UBC mempunyai kadar air lembab 5.75 15. Kadar karbon (dmmf) batubara raw berkisar antara 71.96-0.628 172 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .76%.20 30.13 6.60 4.80 4. 33.15 38.08 – 8.00 6. Sebagai pembanding.90 7.20 28.11 22. Batubara lignit mempunyai kadar air 34.78 44. yakni lignit.98 menyatakan bahwa peringkat batubara produk masih tetap rendah. % ar Karbon padat.40 5.50 2.88 Samaranggau Raw 32.805 65.006 Sub bituminous 19.20 40.31 5. Sedangkan batubara peringkat bituminous mempunyai kadar air 5. Hal ini terbukti bahwa kadar zat terbang (dmmf) batubara produk UBC lebih tinggi dari yang terdapat pada batubara raw (Tabel 7).310 – 6.36 37. % adb Nilai kalor.00 44.805 kal/g.324 57.48% dan nilai kalor 6. kal/g adb Karbon.894 kal/g.93 48. mirip dengan kualitas batubara umpan (raw coal) untuk proses UBC.80 30. Rasio bahan bakar batubara produk UBC (Tabel 6) yang berkisar antara 0.74%.05 37.278 High volatile B bituminous 12.89 6.60 6.70 – 71.52 6.59 Produk.80% dan nilai kalor 4.67 45. % adb Zat terbang.60 35. 2004 Binungan Produk. Air total.278 – 7.50 – 12. % ar Nilai kalor.625 66. 1981 Peringkat Menengah High volatile C bituminous 10. % adb Karbon Padat.61 47. zat terbang 46. Hasil analisis batubara raw dan produk UBC Paramater Raw.00 30.33 2.40% dan nilai kalor 6.5 12.42 40.048 53. Tabel 8 menunjukkan bahwa tidak terdapat perubahan kadar karbon (dmmf) yang siginifikan dari produk UBC dibanding batubara raw. Hasil analisis tersebut mirip dengan kualitas batubara peringkat high volatile bituminous.00 47. % ar Zat terbang.07 6.310 64.47 5.50 45. % ar Abu. 1.55 Taban Produk.006 kal/g.56 16. % adb Sumber: Umar. 4.90 5. Data analisis contoh batubara peringkat rendah – menengah Peringkat Rendah Parameter Air. 5. Bahkan terdapat kecenderungan penurunan rasio bahan bakar produk UBC dibanding batubara raw.68 39. HASIL DAN PEMBAHASAN Data analisis batubara raw dan produk UBC pada kondisi kering udara dapat dilihat pada Tabel 4. 1981).54 – 45.65 2.55 5.19 3.01 Tabel 5.894 Lignit 34.78 – 48.80 6. kal/g ar Sumber: Singer.589 High volatile A bituminous 5. sedangkan kadar karbon (dmmf) produk UBC berkisar antara 69.34% dan karbon padat 42.54 6. Peringkat batubara raw dan produk UBC masih tetap termasuk lignit. mirip dengan kualitas produk UBC. % adb Abu. % ar Air lembab.90 32.81 46. Dari Tabel 7 juga dapat dilihat bahwa seluruh batubara raw maupun produk UBC mempunyai kadar karbon padat (dmmf) <69% dan kadar zat Tabel 4. Tabel 5 menyatakan komposisi kimia contoh-contoh batubara peringkat rendah – menengah pada kondisi as received (ar contoh asal) (Singer.35 4.43 17.80 60.19 Raw. Penurunan rasio bahan bakar tersebut dikarenakan oleh naiknya kadar zat terbang yang kemungkinan akibat penambahan atau sisa residu (LSWR) yang ditambahkan selama proses UBC (lihat Gambar 1).431 57.07%.34 42.4.

Mengingat nilai kalor (mmf) harus ditentukan dari batubara yang masih mengandung air lapisan.Tabel 6.88 0.35 – 0. Rasio bahan bakar batubara raw dan produk UBC Contoh Batubara Binungan Taban Samaranggau Raw Produk Raw Produk Raw Produk Rasio Bahan Bakar 1.51 Pengaruh Proses Upgraded Brown Coal (UBC) terhadap Peringkat Batubara. Pembahasan tersebut di atas menyatakan bahwa peringkat batubara produk UBC cenderung sama dengan peringkat batubara raw. Kadar karbon padat dan zat terbang batubara raw dan produk UBC Contoh Batubara Binungan Taban Samaranggau Raw Produk Raw Produk Raw Produk Karbon padat. Kadar karbon batubara raw dan produk UBC Contoh Batubara Binungan Taban Samaranggau Raw Produk Raw Produk Raw Produk Kadar Karbon% dmmf 74. Dengan demikian maka peringkat batubara harus ditentukan dari nilai kalor (mmf).29 – 0.57 terbang (dmmf) >31%.43 50.38 0.29-0.50 49.32 – 0.98 53.43 Zat terbang%. peringkat batubara produk UBC tidak mengalami kenaikan yang berarti.34 71.08 0.18 69.38% menjadi 0. 2008 Reflektan Vitrinit. produk UBC dan batubara kering oven Contoh Kisaran Batubara raw Produk UBC Batubara kering oven Sumber: Daulay.44 0.038 0.44% atau ratarata 0.60 71.12 73.43 Deviasi 0.10 48. % Rata-rata 0.54 51.46 48. namun waktu (durasi) proses sangat berbeda.50 50.% dmmf 51.97 0.45 0.02 46. Tabel 9 menunjukkan terjadinya kenaikan reflektan vitrinit akibat proses UBC. Reflektan vitrinit batubara raw berkisar antara 0. Apalagi refelektan vitrinit batubara kering oven yang juga mengalami kenaikan dibandingkan batubara raw.57 49. Slamet Suprapto 173 .95 Tabel 8. Temperatur yang digunakan untuk proses UBC memang mirip dengan temperatur proses pembatubaraan. maka peringkat batubara produk UBC tidak bisa ditentukan menurut kalsifikasi ASTM. Waktu tinggal batubara pada proses UBC tidak lebih dari 1 hari.60% atau rata-rata 0.98 0.60 0.50 51. dmmf 48.35-0.70 Tabel 7. Reflektan vitrinit batubara raw. Tetapi.76 72.45.053 0. Tabel 9.96 0. sedangkan proses pembatubaraan yang merubah batubara lignit menjadi batubara high votaltile bituminous terjadi dalam waktu puluhan juta tahun.039 0.

Pengujian Peningkatan Kualitas Batubara Peringkat Rendah dengan Proses UBC (Upgraded Brown Coal) Skala Pilot. Pergamon Press. Classification of coal. T.5. R. and Snyman.. tetapi mirip dengan kenaikan pada batubara kering oven. Coal Quality Parameters and their Influence in Coal Utilization. Francis. E. Chandra. 25. 2005. 2005. Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara.F. Taylor. J. B... Classification of Coal by Rank. tetapi peringkatnya relatifsama dengan batubara raw. pp.. vol.G. Rance. Annual Book of ASTM Standard. Proses UBC tidak berpengaruh terhadap peringkat batubara. Berlin. & Teichmuller.. 2.F. S.1. Teichmuller. Fuels and Fuel Technology. Falcon. and Sugita.. Review Paper No. C. Anonymous. The Geological Society of South Africa.. rographic Constituents in the Bituminous Coals of South Africa. Fossil Power.S.C.. D. D 388 – 99(2004). Daulay. 2004. D. Daulay. 1986. Stach’s Textbook of Coal Petrology. H. 1975. ISO 11760:2005(E). Bandung. Petrografphy of Raw Coal and its UBC Product. B. 2008. KESIMPULAN Kualitas batubara produk UBC mirip dengan batubara peringkat high volatile bituminous. Bandung. I. Coal preparation. Mackowsky. M. Gebruder Borntraeger. Oxford. Combustion Engineering. Deguchi.M. Stach. TH. D. rasio bahan bakar. Usui. Combustion... B. Ltd. Windsor. 1991. International Standard. Inc. 1982. W. R & D Centre for Mineral and Coal Technology. (Ed... Shell International Petroleum Co.. Terdapat sedikit kenaikan reflektan vitrinit...P. 2005. Characterization of upgraded brown coal (UBC). R. Umar. G. An Introduction to Coal Petrography: Atlas of Pet- 174 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Daulay.). DAFTAR PUSTAKA Anonymous. M.H... 31-45. Connecticut. kadar karbon dmmf tetap dan tidak mengalami perubahan yang berarti. 1965. Suganal & Rijwan. H. Umar.. Singer. no.

022 . Metoda yang digunakan adalah dengan melakukan uji sulfidasi untuk mengamati pertumbuhan kristal pirhotit dan mengetahui persentasi produk dan konversi pencairan batubara. FREEPORT INDONESIA SEBAGAI KATALIS PENCAIRAN BATUBARA Nining Sudini Ningrum dan Hermanu Prijono Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jln. Dalam rangka menambah sumber katalis pencairan batubara yang ada di Indonesia.UJI SULFIDASI BIJIH BESI KALIMANTAN SELATAN DAN TAILING PT. hermanu@tekmira. Freeport Indonesia (PT.id. sulfidasi. Sudirman No.FI). mineral yang terkandung dalam bahan katalis bijih besi berpengaruh terhadap terbentuknya kristal pirhotit.Freeport.. ukuran kristal pirhotit yang terbentuk dari katalis bijih besi Kalsel lebih kecil daripada katalis tailing PT. The aim of this research is to identify of reactivity and activity of iron ore as catalyst on coal liquefaction.. Kunci: bijih besi. Nining Sudini Ningrum dan Hermanu Prijono 175 . maka telah dicoba bijih besi dari Kalimantan Selatan untuk digunakan sebagai katalis.6003373 e-mail : ninings@tekmira. tailing. semakin tinggi suhu maka kristal pirhotit yang terbentuk semakin besar. The result of the research will be compared to that of the research using tailing from PT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu berpengaruh terhadap terbentuknya ukuran kristal pirhotit dari katalis bijih besi Kalsel. the research of iron ore from South Kalimantan as coal liquefaction catalyst has been carried out.. The oil yield and percentage of coal conversion increased as compare to that of tailing catalyst. Katalis yang banyak digunakan dalam pencairan batubara adalah katalis yang berbasis besi.go. crystal pyrrhotite size Uji Sulfidasi Bijih Besi Kalimantan Selatan dan Tailing . 022 . In order to develop Indonesian catalyst sources for coal liquefaction. The methodology of the research is sulfidation to observe the crystal growth of pyrrhotite and percentage of coal yield and coal conversion. perubahan suhu dari 350-450°C cenderung tidak berpengaruh terhadap ukuran kristal pirhotit yang terbentuk dari katalis tailing PT. 623 Bandung 40211 Telp. The result show that the temperature and mineral mater in iron ore is influential to the size of crystal pyrrhotite but temperature and mineral mater in tailing is not influential to the size of crystal pyrrhotite.go. Tujuannya adalah untuk mengetahui reaktifitas/aktifitas/efektifitas penggunaan bahan katalis berbasis besi dari bijih besi Kalimantan Selatan.id ABSTRAK Katalis dalam pencairan batubara berperan sangat penting untuk dapat meningkatkan konversi batubara menjadi minyak. sulfidation. Keywords: iron ore. The size of crystal pyrrhotite formed from iron ore catalyst is smaller than that from tailing catalyst. Freeport Indonesia. tailing.Freeport Indonesia. It is generally recognized that the iron based catalyst is an active phase in coal liquefaction. Hasil percobaan dibandingkan dengan hasil yang diperoleh dengan menggunakan katalis tailing dari PT. ukuran kristal pirhotit ABSTRACT Catalyst in coal liquefaction is very important to increase percentage of coal conversion.6030483 Fax. hal ini dibuktikan dari kereaktifannya yakni perolehan produk minyak serta hasil konversi pencairan batubara yang lebih besar pada kondisi proses yang sama.esdm.esdm.

Jalan baru yang dimaksud yaitu jalan yang mempunyai energi aktivasi yang lebih rendah. Kedua syarat di atas dapat terakomodasi dengan baik apabila ada katalis. Katalis dapat mengantarkan reaktan melalui jalan baru yang lebih mudah untuk berubah menjadi produk. tekanan dan waktu reaksi. Untuk mengetahui kinerja dari pirhotit ini salah satunya dengan melihat ukuran kristal yang terbentuk.1. katalis berbasis besi ditambahkan sulfur. dkk. Seperti disebutkan sebelumnya bahwa semakin besar ukuran kristal pirhotit semakin rendah kereaktifannya yang berakibat rendahnya jumlah batubara yang dapat dicairkan. Dalam proses pencairan batubara. KAJIAN PUSTAKA Suatu reaksi dapat berlangsung bila terjadi kontak yang efektif antar molekul reaktan. karena pada kondisi reaksi pencairan berlangsung unsur besi dalam katalis bereaksi dengan sulfur membentuk senyawa pirhotit. 1998). 1986). FI). Tujuan penelitian untuk mengetahui (reaktifitas/ aktifitas/efektifitas) penggunaan bahan katalis berbasis besi dari bijih besi Kalimantan Selatan dan tailing dari PT. Semakin besar ukuran kristal pirhotit semakin rendah kereaktifannya yang berakibat rendahnya jumlah batubara yang dapat dicairkan. Mineral-mineral yang mengandung oksida besi antara lain laterit dari Pulau Sebuku dan limonit dari Soroako berasal dari PT. Pada penelitian ini telah dilakukan pengujian katalis berbasis besi berupa bijih besi. satu katalis hanya sesuai untuk satu jenis reaksi saja. Uji Sulfidasi Katalis Percobaan uji sulfidasi katalis dilakukan dengan menggunakan beberapa variabel: i) Pelarut + Bijih Besi Kalsel (ukuran -325#) + Sulfur.. Katalis memiliki sifat tertentu. Pada pencairan batubara. dari Kalimantan Selatan. Pyrrhotite dan Troilite dianggap sesuai sebagai katalis pencairan batubara karena cukup aktif dan berharga murah (Yokoyama. PERCOBAAN 3. International Nikel Indonesia. Fe(1-x)S yang merupakan fasa aktif yang sangat berperan dalam proses pencairan batubara. 3. PENDAHULUAN 2. Katalis juga bersifat spesifik. dkk. ukuran partikel dan ukuran kristal katalis. ratio atom S/Fe 2 pada suhu 350°C ii) Pelarut + Bijih Besi Kalsel (ukuran -325#) + Sulfur. terhadap: pertumbuhan pembentukan kristal pirhotit dengan melakukan proses sulfidasi pada suhu 350-425°C. Penggunaan bijih besi yang relatif murah diharapkan dapat menekan ongkos yang diperlukan untuk pembelian katalis. Aktifitas katalis sangat dipengaruhi oleh dispersi katalis yang tergantung pada luas permukaan. persentasi produk dan konversi pencairan batubara secara langsung. Bijih Besi dari Kalimantan Selatan mudah diperoleh dan cadangannya banyak mempunyai kandungan oksida besi yang tinggi.. Suatu bahan katalis memiliki kinerja yang baik untuk pencairan batubara bila ukuran kristal fasa aktif pirhotit tidak lebih dari 40 nm (Kaneko. Disamping itu katalis juga dapat membuat kondisi reaksi menjadi lebih moderat seperti menurunkan suhu. Hasil dari uji sulfidasi dicuci dengan tetrahidrofuran sehingga kristal pirhotit bersih dari pengotor yang kemudian dipisahkan dari pelarut dengan pompa vacuum untuk selanjutnya diuji dengan XRD guna mengetahui kristal pirhotit yang terbentuk. Keberadaan katalis juga dapat meningkatkan jumlah tumbukan antar molekul reaktan. Freeport Indonesia (PT. yakni katalis tidak mengubah kesetimbangan dan katalis hanya berpengaruh pada sifat kinetik seperti mekanisme reaksi. Beberapa jenis katalis telah dicoba untuk pencairan batubara tetapi sampai saat ini. Ukuran kristal dapat membesar karena adanya aglomerasi antar partikel pirhotit. ratio atom S/Fe 2 pada suhu 375°C iii) Pelarut + Bijih Besi Kalsel (ukuran -325#) + Sulfur. tapi dilakukan tanpa batubara. Pengujian ini dilakukan untuk melihat kinerja pirhotit yang terbentuk dari katalis. Ukuran kristal pirhotit dapat dihitung dengan formula dari Scherer yang datanya diambil dari uji XRD hasil uji sulfidasi.1. katalis mempunyai peran yang sangat penting yakni dapat meningkatkan konversi batubara menjadi minyak. Dengan demikian konversi yang dihasilkan tidak akan melebihi konversi kesetimbangan. dan terpenuhi energi aktivasinya. Pengujian sulfidasi hampir mirip dengan pengujian pencairan batubara. besi sulfida seperti Pyrite. ratio atom S/Fe 2 pada suhu 400°C iv) Pelarut + Bijih Besi Kalsel (ukuran -325#) + 176 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .

 t =  60 menit. 400°C. ratio atom S/Fe 2 pada suhu 375°C vii) Pelarut + Tailing PT. 425OC Kondisis pencairan : T = 400 °C. Freeport Indonesia. Tetrahidrofuran % Produk dan % konversi filtrat Kristal pirhotit Uji XRD Uji Sulfidasi Bijih Besi Kalimantan Selatan dan Tailing . Penambahan Sulfurdg rasio Cuci dengan tetrahidrofuran. soltv = 15 g . Uji Sulfidasi Variasi percobaan adalah sebagai berikut: i) Katalis Bijih Besi Kalimantan Selatan (suhu 350°C.. Toluena b. dan 425°C). Analisis Kimia Penggerusan Analisis Ayak 1. ratio atom S/Fe 2 pada suhu 400°C viii) Pelarut + Tailing PT.  Kat sbg Fe 3% dari BB 1. 400°C. mesh Variasi suhu= 350.ukuran ‐325. Bahan baku katalis berbasis besi Peremukan Uji : 1. dan 425°C) ii) Katalis Tailing PT.   saring dengan pompa vacum Ektraksi dengan a. Kat sbg  Fe = 3%.FI (ukuran -325#) + Sulfur. -325 # Uji Sulfidasi pada   = 0 menit.2. 375°C.Sulfur. ratio atom S/Fe 2 pada suhu 425°C v) 3. PH2 = 10 MPa. PT. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil analisis kimia dan XRD bahan baku katalis 4. Nining Sudini Ningrum dan Hermanu Prijono 177 . XRD 2.  S/F = 2. 375°C. soltv =  15 g.FI (suhu 350°C. Heksana c.FI (ukuran -325#) + Sulfur. . ratio atom S/Fe 2 pada suhu 350°C vi) Pelarut + Tailing PT. 400. ratio atom S/Fe 2 pada suhu 425°C Pelarut + Tailing PT. Uji Katalis untuk Pencairan Batubara 4. PH2 =  t 10 MPa.1..FI (ukuran -325#) + Sulfur.FI (ukuran -325#) + Sulfur. 375.

Secara umum ukuran kristal pirhotit bertambah dengan meningkatnya suhu.5406 Pos. Kalsel. Pengamatan pada percobaan ini dilakukan pada suhu 3500C. Kalsel terjadi pada suhu sulfidasi 375ºC.41 0. Pada suhu sulfidasi 350ºC. Percobaan sulfidasi ini dilakukan untuk mengetahui kinerja katalis bijih besi. FI. Pengamatan dilakukan untuk mengetahui pengaruh suhu terhadap ukuran kristal fasa aktif pirhotit.1 Sulfidisasi katalis bijih besi Kalimantan Selatan Kondisi operasi sulfidasi katalis dilakukan tanpa batubara pada tekanan 100 MPa dan waktu tinggal operasi mendekati 0 menit (t = 0 menit). Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Ningrum dan Prijono (2009) menunjukkan bahwa penambahan katalis berbasis besi berpengaruh terhadap perolehan produk dan persen konversi pencairan batubara.87 FWHM [°2Th. Pada percobaan sulfidasi ini.90 29. dan ukurannya meningkat dengan semakin tingginya suhu. Katalis dari tailing PT. Hal ini diperkirakan karena struktur kristal yang masih amorf sehingga bidang kristal pirhotit belum terbentuk dengan sempurna.90 29.FI mengandung sulfur yang berasosiasi dengan besi dalam bentuk pirit.49 0. Pada Tabel 1 di atas terlihat bahwa perubahan suhu berpengaruh pada ukuran kristal pirhotit yang terbentuk. 4000C. merupakan acuan kondisi operasi yang diambil dari Kaneko.hkl 200 29. sehingga didapat suhu optimal dimana katalis memiliki aktifitas maksimal. konversi komponen besi dari katalis tailing PT. [°2Th.1. Percobaan sulfidasi ini dilakukan menggunakan autoclave dengan laju pemanasan 5°C/menit pada tekanan awal dari H2 10 MPa dengan penambahan sulfur..2 Sulfidisasi katalis tailing PT. Dari data yang didapat maka suhu 375ºC merupakan suhu dimana kristal pirhotit memiliki ukuran terkecil sehingga katalis memiliki kereaktifan yang terbaik dalam meningkatkan jumlah batubara yang dicairkan seperti terlihat pula pada Gambar 1. Tabel 1. Gambar 1.] Bid. dan proses sulfidasi dilakukan mendekati kondisi proses pencairan. dan 4250C.19 178 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Suatu bahan katalis memiliki kinerja yang baik untuk pencairan batubara bila ukuran kristal fasa aktif pirhotit kecil.33 0.19 16. Kalsel Suhu Sulfidasi (°C) 350 375 400 425 λ (A) 1.FI berpengaruh terhadap perolehan produk dan persen konversi pencairan batubara. (1998) dan Ningrum dan Prijono (2009) dengan ukuran partikel katalis adalah -325 #. 4000C.88 29. ukuran partikel katalis -325#.4. 3750C. dan 4250C. Hasil analisis XRD untuk hasil uji sulfida katalis Tailing PT. Hasil analisis XRD untuk hasil uji sulfidasi.5406 1.5406 1.79 20. Pengamatan dilakukan untuk mengetahui pengaruh suhu terhadap ukuran kristal fasa aktif pirhotit. Hal ini disebabkan terjadinya aglomerisasi antar partikel pirihotit pada suhu yang semakin tinggi. Kalsel dengan melihat ukuran kristal yang terbentuk.15 25. ukuran kristal pirhotit katalis bijih besi Kalsel lebih besar dibanding ukuran kristal yang terbentuk pada suhu 375ºC. Pengaruh suhu terhadap ukuran pirhotit katalis bijih besi. Kristal pirhotit terkecil yang terbentuk dari katalis bijih besi. rasio atom S/Fe – katalis = 2. sehingga diperoleh suhu optimal dan memiliki aktifitas maksimal.5406 1.1.] 0. Pengamatan dilakukan pada suhu 3500C.33 Ukuran Kristal (nm) 25. Grafik hubungan ukuran kristal pirhotit katalis bijih besi terhadap suhu 4. FI Pada penelitian Ningrum dan Prijono (2009) telah dibahas bahwa penambahan katalis dari tailing PT. FI dilakukan pada autoclave dengan kondisi operasi sama dengan katalis bijih besi. 3750C. dkk.

yang dilakukan pada kondisi tekanan awal H210 Mpa perbandingan atom S/Fe = 2..20 71. Grafik hubungan ukuran kristal pirhotit katalis tailing PT.06 44.FI Suhu Sulfidasi (0C) 350 375 400 425 λ (A) 1. Kalsel dengan ukuran kristal pirhotit yang lebih kecil menghasilkan produk minyak berat yang lebih besar daripada yang menggunakan katalis tailing PT. Penelitian yang dilakukan oleh Kaneko.06 44.79 25.FI lebih banyak daripada pencairan dengan katalis bijih besi.15 28.33 0. Tabel 2.72 Aspalten 19. Freeport terhadap suhu Uji Sulfidasi Bijih Besi Kalimantan Selatan dan Tailing .19 Tabel 3.FI cenderung tidak terlalu berpengaruh pada ukuran kristal pirhotit yang terbentuk. Data pada Tabel 2 menunjukkan bahwa suhu 3750C merupakan suhu dimana kristal pirhotit yang terbentuk memiliki ukuran terkecil sehingga memiliki kereaktifan terbaik dan dapat meningkatkan jumlah batubara yang dicairkan. FI pada Produk dan Konversi Pengaruh jenis bahan katalis berbasis besi dan ukuran kristal pirhotit yang terbentuk terhadap produk pencairan batubara dapat dilihat pada Tabel 3.30 % Konversi Ekstraksi n. [°2Th.86 29.5406 1.5406 1.86 29. Dalam Tabel 3 ini diperlihatkan perbandingan produk dan persen konversi hasil pencairan batubara menggunakan katalis bijih besi Kalimantan Selatan dan katalis tailing PT.29 0. dan suhu 4000C. Produk aspalten pencairan batubara yang menggunakan katalis tailing PT. Hal ini diperkirakan karena adanya unsur Si yang menghambat kereaktifan katalis sehingga ukuran katalis cenderung sama. ukuran partikel katalis -325#.02 Jenis Katalis Bijih Besi Kalsel Tailing PT.79 Produk (%) Minyak Berat 65. Freeport Dari Tabel 3 terlihat bahwa pencairan batubara yang menggunakan katalis bijih besi.Pada Tabel 2 di atas terlihat bahwa perubahan suhu pada katalis tailing PT. Kristal pirhotit yang terbentuk dari pirit lebih besar dari kristal pirhotit yang terbentuk dari katalis besi oksida.5406 Pos. Hasil percobaan menunjukkan bahwa konversi dengan n.33 0.33 Ukuran Kristal (nm) 25. Nining Sudini Ningrum dan Hermanu Prijono 179 . Pengaruh Ukuran Kristal Pirhotit Katalis Bijih Besi Kalsel dan Tailing PT. Kalsel yang memiliki ukuran kristal pirhotit kecil hasilnya lebih Gambar 2. sedangkan ukuran kristal pirhotit terbesar pada suhu 4000C. Pengaruh suhu terhadap ukuran kristal pirhotit katalis tailing PT.19 28.FI.5406 1.20 25.] 0. Ukuran kristal pirhotit katalis yang terbentuk cenderung sama dengan ukuran terkecil kristal pirhotit pada suhu sulfidasi 375 0 C. Pengaruh jenis katalis dan ukuran kristal pihotit terhadap jumlah produk dan persen konversi pencairan batubara Ukuran Kristal Pirhotit (nm) 20. 4.87 FWHM [°2Th.14 26. et. heksan 65.99 29.2.] Bid.. hexan maupun toluen pada pencairan batubara dengan katalis bijih besi.al (1998) juga menunjukkan bahwa kristal pirhotit yang terbentuk dari pirit lebih besar daripada limonit dan goetit.FI yang memiliki kristal pirhotit yang besar.72 Ekstraksi toluen 84.hkl 200 29.

Satou. Indonesia. N. 65. Koyama.. ukuran kristal pirhotit yang terbentuk dari katalis bijih besi Kalsel lebih kecil daripada katalis tailing PT. Catalytic Activity of Various Iron Sulphides in Coal Liquefaction.S dan Prijono. FMIPA UNS Surakarta. Dilihat dari jumlah hasil produk dan persen konversi secara keseluruhan. pp. Gambar 3. perolehan produk minyak serta hasil konversi pencairan batubara yang lebih besar pada kondisi proses yang sama. Kageyama. Transformation of Iron Catalyst to the Active Phase in Coal Liquefaction. Grafik hubungan ukuran kristal pirhotit dan jenis bahan katalis besi terhadap persen konversi N Heksan dan Toluen Ningrum. sehingga peran katalis lebih efektif. Tazawa. Shimasaki.baik dibanding katalis dari tailing PT. T. Hal ini disebabkan semakin kecil ukuran kristal pirhotit yang terbentuk. Pengaruh Fraksi Ukuran Katalis Tailing PT. K. 1986. Yoshida. Gambar 4. Maekawa. Fuel. Yokoyama.FI yang memiliki kristal pirhotit lebih besar. K. K. 12. Energy & Fuels. selama proses pencairan ukuran kristal pirhotit akan membesar seiring dengan meningkatnya suhu operasi. KESIMPULAN Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: suhu berpengaruh terhadap terbentuknya ukuran kristal pirhotit dari katalis berbasis besi yang merupakan fasa aktif pencairan batubara. 180 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . H. perubahan suhu dari 350-450°C cenderung tidak berpengaruh terhadap ukuran kristal pirhotit yang terbentuk dari katalis tailing PT. FI yang mengandung unsur sulfur dalam bentuk pirit.FI). Vol.. and Y. 5. H. luas permukaan kontak kristal pirhotit semakin besar. Prosiding Seminar Energi Baru Terbarukan: Peranan Energi Baru Terbarukan Dalam Mengatasi Krisis Energi dan Menghambat Laju Pemanasan Global. pp. T. S. Grafik hubungan ukuran kristal pirhotit dan jenis bahan katalis berbasis besi terhadap jumlah produk hasil pencairan batubara DAFTAR PUSTAKA Kaneko. Narita. Semakin tinggi suhu maka kristal pirhotit yang terbentuk semakin besar. maka bijih besi Kalsel lebih baik sebagai katalis pencairan batubara daripada tailing PT. 897-904. K. Freeport Indonesia (PT. Freeport Indonesia dan Waktu Tinggal Reaksi pada Pencairan Batubara. katalis dari bijih besi Kalsel yang terdiri atas hematit ukuran kristal pirhotit yang terbentuk lebih kecil dibandingkan yang berasal dari tailing PT. 164-170. 2009. Kodaira and Y. 1998. R. mineral yang terkandung dalam bahan katalis berpengaruh terhadap terbentuknya kristal pirhotit. FI (Gambar 3 dan 4).Freeport hal ini dibuktikan dari kereaktifannya. pp. 82-96.

dapat ditingkatkan menjadi >7. Dari 7 contoh batubara peringkat rendah yang berasal dari beberapa daerah di Indonesia. Pada kondisi ini briket UBC yang dihasilkan mempunyai kuat tekan 73 . 227.esdm. e-mail : ikin@tekmira. Jawa Barat.000 kal/g. zat terbang. the coal with calorific value of <5.go.200 cal/gr increased to be >7. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan karakteristik batubara Mulia yang berasal dari daerah Satui..015 – 1.77 kg/cm2. started with UBC pilot plant construction with a capacity of 5 ton/day in Palimanan.id dan Datin@tekmira. karbon dan nitrogen mengalami kenaikan.go. skala pilot ABSTRACT Research on low rank coal upgrading with Upgraded Brown Coal (UBC) technology has been developed since 2002. belerang.110°C. Hasil proses UBC yang dilakukan dapat menurunkan kadar air bawaan (inherent moisture) batubara Mulia sebesar 71.200 kal/g.200 kal/g. Bandung – 40211 Telp. : (022) 6038027. ext. densitas 1.200 cal/gr. proses UBC. Cirebon.000 cal/gr can be increased to be >6. Fax. pembriketan.104 kg/ jam.. sedangkan kadar hidrogen dan oksigen turun.6%.id SARI Penelitian peningkatan kualitas batubara peringkat rendah dengan teknologi Upgraded Brown Coal (UBC) telah dilakukan sejak tahun 2002. Kondisi optimum pembriketan didapat pada kondisi putaran roll 8 rpm dan temperatur 80 . batubara dengan nilai kalori <5. 623. The aim of this research is to know the changes of Mulia coal characteristics from Satui. Bahkan batubara yang berasal dari Banko dengan nilai kalori <5.04 g/cm3 dan kecepatan produk briket UBC yang dihasilkan sebanyak 1. : (022) 6030483. Karakterisasi dan Optimalisasi Pembriketan pada Batubara . Cirebon. Cirebon.esdm. dimulai dengan pembangunan UBC skala pilot kapasitas 5 ton/hari di Palimanan.5%. From 7 Indonesian low rank coal samples. Sementara kadar abu. Ikin Sodikin dan Datin Fatia Umar 181 . Kata kunci : karakterisasi.KARAKTERISASI DAN OPTIMALISASI PEMBRIKETAN PADA BATUBARA HASIL PROSES UPGRADED BROWN COAL SKALA PILOT Ikin Sodikin dan Datin Fatia Umar Pusat Penelitian dan Pegembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. meanwhile low rank coal from Banko with calorific value of <5.000 cal/gr. Kalimantan Selatan. sehingga nilai kalor naik sebesar 26. Cirebon. 000 kal/g dapat ditingkatkan menjadi >6. Jenderal Sudirman No. karbon padat. West Java. South Kalimantan after process and the optimum conditions of briquetting to coal after process in UBC pilot plant Palimanan. setelah dilakukan proses dan mengetahui kondisi optimum pembriketan pada batubara hasil proses pada UBC skala pilot di Palimanan.

The result of UBC process.2. setelah dilakukan proses UBC dan mengetahui kondisi optimum pembriketan pada batubara hasil proses UBC skala pilot yang berlokasi di Palimanan.7 milyar ton (Sukhyar. density 1. therefore. 2009). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan karakteristik batubara Mulia yang berasal dari daerah Satui. Pilot plant tersebut telah berhasil dioperasikan dengan baik.000 kal/g. Australia.000 kal/g dapat ditingkatkan menjadi >6. sehingga nilai kalori batubara tersebut menjadi lebih tinggi. sedangkan penurunan kadar air lembab harus dilakukan dengan cara pemanasan. UBC process. 2. Kandungan Air Dalam batubara Air yang terkandung dalam batubara terdiri atas air bebas (free moisture) dan air lembab (inherent moisture). Kalimantan Selatan. sulfur. Jepang. Batubara peringkat rendah ini belum banyak dieksploitasi karena masih mengalami kendala dalam masalah transportasi dan pemanfaatannya. UBC briquettes resulted have a pressure strength of 73-77 kg cm2. inherent moisture of Mulia coal can be decreased about 71. yaitu sekitar 60% dari total sumber daya yang jumlahnya 104.6%. Salah satu di antaranya adalah teknologi Upgraded Brown Coal (UBC) yang merupakan teknologi peningkatan nilai kalor (upgrading) batubara peringkat rendah melalui penurunan kadar air total yang dikembangkan oleh Kobe Steel Ltd. The optimum condition of briquetting was reached at roll rotation of 8 rpm and temperature of 80-110 °C. Air bebas adalah air yang terikat secara mekanik dengan batubara pada permukaan dalam rekahan atau kapiler yang mempunyai tekanan uap normal.015 –1. Whilst ash. batubara peringkat rendah mempunyai kandungan air total cukup tinggi yang menyebabkan nilai kalor menjadi rendah. briquetting. the calorific value increased about 26. hydrogen. karena memberikan pengaruh yang negatif terhadap biaya transportasi dan proses pembakarannya. yang akan dipakai sebagai acuan untuk pengoperasian proses UBC demonstration plant di Satui. 2000). Proses UBC Penurunan kadar air dalam batubara dapat dilakukan dengan cara mekanik atau perlakuan panas. batubara dengan nilai kalori <5. Cirebon.5%. Keuntungan teknologi ini. Salah satu teknologi untuk menurunkan kadar air lembab adalah proses UBC yang merupakan teknologi peningkatan kualitas (upgrading) batubara peringkat rendah 182 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . and oxygen were deacreased. Air lembab adalah air yang terikat secara fisik pada struktur pori-pori bagian dalam batubara dan mempunyai tekanan uap yang lebih rendah daripada tekanan uap normal. Jawa Barat. Kalimantan Selatan. Seperti diketahui.200 kal/g dapat ditingkatkan menjadi >7. Kegiatan penelitian peningkatan kualitas batubara peringkat rendah dengan teknologi UBC ini telah dimulai sejak tahun 2002 oleh Puslitbang tekMIRA bekerjasama dengan Kobe Steel Ltd. 2. 2000). di antaranya adalah karena proses berlangsung pada temperatur dan tekanan rendah..104 kg/hour..1. dkk. LATAR BELAKANG Kualitas batubara Indonesia pada umumnya didominasi oleh batubara peringkat rendah (lignit dan subbituminus). Dari 7 contoh batubara peringkat rendah yang berasal dari beberapa daerah di Indonesia. volatile matter.04 g/cm3 and briquet production capacity of about 1. Kandungan air dalam batubara baik air bebas maupun air lembab merupakan faktor yang merugikan. Keywords : Characteristics. Jawa Barat.200 kal/g. carbon and nitrogen contents were increased. Kadar air bebas dapat dikurangi secara efektif dengan cara mekanik. dengan dimulainya pembangunan UBC skala pilot dengan kapasitas 5 ton/hari di Palimanan. Beberapa penelitian dengan maksud tersebut telah banyak dilakukan sejak tahun 1920-an di Amerika Serikat. KAJIAN TEORITIS 2. maka dalam proses ditambahkan minyak residu untuk melapisi pori-pori pada partikel batubara. Jepang (Shigehisa et al. Bahkan batubara yang berasal dari Banko dengan nilai kalori <5. pilot plant 1. 2007). Untuk mencegah masuknya kembali air ke dalam batubara. Jepang dan lain-lain (Suwono.. fixed carbon. In this condition. Dengan demikian diperlukan teknologi khusus untuk menurunkan kadar air. Hasil kegiatan proses UBC ini digunakan sebagai acuan dalam pembangunan UBC demonstration plant (Umar.

pengeluaran tar dari batubara belum sempurna. Oleh sebab itu. Penambahan minyak residu diperlukan untuk menutup pori-pori batubara yang terbuka. tetes tebu (mollase). 2000). Perbandingan beberapa teknologi upgrading terhadap UBC dapat dilihat pada Tabel 1. dekomposisi gugus karboksil. maka terjadi reaksi kimia yang menghasilkan produk gas atau cairan yang banyak berhubungan dengan sistem pori-pori batubara. pada temperatur 100 . Proses UBC. menyebabkan terjadi kekosongan pori-pori tersebut. minyak residu yang masuk ke dalam pori-pori batubara akan kering kemudian bersatu dengan batubara. 2002). Pemanasan batubara pada temperatur dekomposisi aktif. hidrogen. yaitu pemanasan di bawah temperatur dekomposisi. maka pori-pori batubara yang terbuka akan diisi oleh residu dan menutup permukaan batubara sehingga air yang telah keluar tidak akan terserap kembali (Deguchi et al. air terikat secara fisik dan air yang terjebak dalam struktur pori-pori batubara. sehingga batubara dapat disimpan di tempat terbuka untuk jangka waktu yang cukup lama (Shigehisa et al. metana dan zat lain yang mudah menguap dari batubara selama terjadi pemanasan. Dalam proses UBC. tetapi perlu aktivasi yang cukup besar.4.5 atm. sehingga air yang telah keluar tidak akan terserap kembali. yaitu >200°C. Karakterisasi dan Optimalisasi Pembriketan pada Batubara . sedangkan campuran minyak tanah dan residu digunakan kembali untuk proses selanjutnya. Oleh karena itu perlu ditambahkan zat aditif sebagai penutup permukaan batubara seperti kanji. tar. sedangkan penguapan air bawaan dianalogikan dengan air kristal atau hidroksida dengan reaksi sebagai berikut : M(OH)2 MOn + nH2O Secara termodinamika.melalui penurunan kadar air total. Dengan kesamaan sifat kimia tersebut. slope pekat (fuse oil) dan minyak residu.175. 2. maka reaksi berlangsung harus pada temperatur di atas 120°C. batubara dicampur dengan minyak residu kemudian dipanaskan pada tekanan dan temperatur yang relatif rendah. proses UBC mempunyai keuntungan. CO2. Penguapan air bebas akan berperilaku sama dengan pengeringan secara umum. Ikin Sodikin dan Datin Fatia Umar 183 . Pemanasan Proses pemanasan batubara sampai temperatur tertentu menyebabkan terjadinya perubahan komposisi struktur batubara.3T J/mol Adanya reaksi seperti di atas pada proses pengeringan batubara tidak dikehendaki. CO dan hidrokarbon. penyusutan gas-gas hidrogen dan oksigen kompleks serta aromatisasi.. Porositas batubara dapat menyebabkan terjadinya difusi keluar uap air. air yang menguap berupa air bebas. sifat fisik yang memegang peranan penting pada proses pemanasan adalah sifat porositas. menyebabkan terjadinya penguapan air bebas. Untuk proses UBC sebagai aditif digunakan minyak residu yang merupakan suatu senyawa organik yang beberapa sifat kimianya mempunyai kesamaan dengan batubara. Secara termodinamika. oleh karena itu diperlukan suatu kondisi pemanasan yang inert. 2. Batubara hasil proses dipisahkan.. Dibandingkan dengan proses upgrading lainnya. Dengan memanaskan batubara. Pada reaksi ini terjadi penguapan air. daerah dekomposisi aktif dan pemanasan di atas temperatur dekomposisi. karena prosesnya dilakukan pada temperatur dan tekanan relatif rendah. batubara dibuat slurry dengan menggunakan minyak tanah yang dicampur dengan minyak residu kemudian dipanaskan pada temperatur 150°C dan tekanan sekitar 3.3. Dekomposisi aktif adalah terdekomposisinya mineral organik penyusun batubara menjadi tar dan penguapan air. Lapisan minyak ini cukup kuat dan dapat menempel pada waktu yang cukup lama. Menurut Tsai (1982). Komposisi dan sifat produk akhir akan bermacam-macam tergantung pada temperatur pemanasan. Kehilangan sejumlah massa bahanbahan penyusun batubara melalui pori-pori. Karena proses pemanasan. Dalam proses UBC. terjadi perubahan kimia karena menguapnya air bawaan. Dengan minyak residu tersebut. dikeringkan dan dibuat briket.8T J/mol G = -223400 .120°C terjadi reaksi endotermis. air bawaan/terikat secara kimia. dengan temperatur sekitar 150°C. Porositas batubara tersebut menyangkut sistem pori-pori yang dimiliki. Pengaruh Penambahan Aditif Dalam melakukan pemanasan pada batubara ada 3 daerah pemanasan yang berpengaruh terhadap terjadinya dekomposisi. reaksi ini berlangsung pada berbagai temperatur.0. reaksi antara batubara dengan oksigen adalah: C + O2 2C + O2 CO2 2CO G = -394100 .

000 of North Dakota Btu/lb SYNCOAL Montana (USA) Rosebud SynCoal Partnership ENCOAL Wyoming (USA) SMC mining SGI Int.000 Btu/lb 10.184 Nilai Kalor Batubara Asal Temperatur Tekanan Status Kapasitas 5.000 .500 Btu/lb 11.3 MPa 8.000 Btu/lb 270-300°C 8-12 MPa 5. wikipedia. JAPAN & tekMIRA INDONESIA K-FUEL Wyoming USA KFx Inc.600 Btu/lb 12.500-11.9.000 Btu/lb 150-160°C 0.000 ton/hari plant 2-3 MPa Demonstration 1.500 Btu/lb Demonstration 1. of La PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 Sumber: http// www.000 Btu/lb 12.200 Btu/lb 475-550°C 2-3 MPa Demonstration 1.. com (2008) . USA FLEISSNER Voest-Alpnie AG HWD/SD AUSTRIA YUGOSLAVIA Grand Forks (USA).000-12. emisi SO2 Menurunkan Na.200 -9.2-0. S dan Cl 7.000 ton/hari plant Padatan Mengurangi masalah slagging dan fouling Slurry - Tabel 1.500 -8.000 Btu/lb 350-450°C 8. Perkembangan Teknologi Upgrading Batubara di Dunia Teknologi Lokasi Pengembang UBC Palimanan INDONESIA Kobe Steel.000 -8.800 Btu/lb 450-550°C 230-280°C 3-6 MPa 4-6 MPa 8.000 -9. Melbourne (Australia) The University 8.000 ton/hari plant 3-8 juta ton/th Nilai Kalor Batubara Produk Produk Keterangan Padatan Menurunkan kandungan air Padatan Padatan Komersial sejak 2005 Komersial sejak 1927 di Dalam tahap rencana ke komersial Mengurangi Hg.7 ton/hari Padatan Menurunkan Na 12.

32% dan pada run 2 turun menjadi 8. Kondisi proses UBC yang dianggap optimum pada pilot plant Palimanan Cirebon. karbon padat.4 dan 71. zat terbang.1. Percobaan proses UBC 4. adalah : Ukuran batubara umpan < 3mm dengan kecepatan pengumpanan 100 kg/jam. Pada kondisi tersebut di atas.2. sehingga air yang terkandung di dalam pori-pori batubara teruapkan dan diganti dengan residu melapisi pori-pori tersebut. 70% minyak tanah yang mengandung 0.42%. Dari Tabel 2 dapat dilihat bahwa kadar air total dan air bawaan batubara asal cukup tinggi. Optimalisasi Pembriketan Setelah dilakukan modifikasi di seksi 500 dengan jalan mengganti roll pada mesin briket dengan ukuran cetakan yang lebih kecil (ukuran ini sesuai dengan ukuran cetakan pada mesin briket yang akan digunakan pada UBC demontration plant).2. Kalimantan Selatan yang akan dipakai umpan pada UBC demontration plant.8%.05 g/cm3 dan kecepatan produk briket UBC sebanyak 840 kg/jam. 4.5% residu) Kecepatan pengumapan slurry ke dalam decanter 350 l/jam Kecepatan pengumpanan cake ke dalam rotary tube dryer 15 Hz. Percobaan dilaksanakan 2 kali dengan tujuan untuk mengetahui : Perubahan karakteristik batubara hasil proses pada kondisi optimum. sedangkan kadar hidrogen dan oksigen turun karena turunnya kadar air (H2O). 2. sehingga nilai kalor naik sebesar 26. sehingga air yang telah keluar dari batubara tidak dapat masuk kembali. Konsentrasi batubara dalam slurry 30% (30 % batubara. adalah : Ukuran batubara umpan < 3mm dengan kecepatan pengumpanan 100 kg/jam Konsentrasi batubara dalam slurry 30% (30 % batubara. Kecepatan pengumpanan cake ke dalam rotary tube dryer 15 Hz. Sementara kadar abu. Karakterisasi dan Optimalisasi Pembriketan pada Batubara . yaitu masing-masing 32. 70% minyak tanah yang mengandung 0. Proses slurry dewatering merupakan salah satu proses utama dari rangkaian proses UBC..1. Proses pembriketan pada percobaan ini mempunyai unjuk kerja yang sangat baik dibandingkan dengan pembriketan pada percobaan sebelumnya. densitas 1. jumlah batubara yang harus dibakar akan menjadi lebih besar. Dengan terlapisinya pori-pori batubara tersebut. maka akan membuat batubara tersebut lebih stabil dan kecenderungan untuk terbakar dengan sendirinya (self combustion) akan berkurang. 10.5% residu). Dengan kadar air bawaan yang tinggi dapat mengakibatkan rendahnya nilai kalor. yaitu 0. Dari hasil ini dapat diketahui bahwa proses UBC efektif menurunkan kadar air total dengan persen penurunan antara 71. 3. Pelaksanaan proses UBC : 1.3.28% dengan kadar abu yang sangat rendah.17 dan 20 Temperatur pembriketan: antara 70ºC dan 115°C Kegiatan proses UBC pada skala pilot dimaksudkan untuk mendapatkan data sebagai pendukung operasional UBC demonstration plant.. Selanjutnya. 15. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. Briket UBC mempunyai kuat tekan 98 kg/cm2. Pengoperasian pilot plant UBC dilakukan dengan menggunakan batubara dari Satui. Kecepatan pengumapan slurry ke dalam decanter 350 l/jam.98%. Karakteristik Batubara Karakteristik batubara sebelum dan setelah proses UBC skala pilot untuk run 1 dan 2 dapat dilihat pada Tabel 2. sehingga gas CO2 yang dihasilkannya pun akan menjadi besar. Ikin Sodikin dan Datin Fatia Umar 185 . KEGIATAN PERCOBAAN 3. di mana batubara dicampur dengan minyak tanah dan residu dipanaskan pada temperatur tertentu dan tekanan tertentu. belerang dan nitrogen mengalami sedikit kenaikan. karbon. Setelah proses UBC. efisiensi pembakaran akan menjadi kecil sehingga untuk mendapatkan jumlah kalor tertentu. 13. air bawaan pada run 1 turun menjadi 8. proses UBC menurunkan kadar air bawaan (inherent moisture) batubara Satui sebesar 71.5%.6%. Optimalisasi Proses UBC Skala Pilot Dengan kondisi proses UBC yang dianggap optimum pada pilot plant Palimanan Cirebon. Optimasi proses pembriketan terhadap batubara hasil proses UBC. Variabel percobaan terdiri atas : Kecepatan roll: 8.

873 6.75% menjadi 40.60 0.69% menjadi 62. Kadar nitrogen dan sulfur batubara setelah proses UBC tidak mengalami perubahan yang cukup berarti.000 kal/gr 4.135kal/g pada run 2 atau terjadi kenaikan yang cukup signifikan antara 25. menjadi abu sisa pembakaran batubara.17% pada run 2.17 RUN1 8. Kenaikan zat terbang ini disebabkan karena masih adanya minyak pada batubara hasil proses UBC yang ikut teruapkan saat pemanasan dan terdeteksi sebagai zat terbang. karena masih <5%.873 kal/g menjadi 6.80% menjadi 47.28 29.55% pada run 1 dan menjadi 41.36 0. nilai kalor naik dari 4.73 0. Sementara kandungan karbon padat naik karena turunnya kandungan air lembab.000 2.44 40.2%.83% pada run 2.     50 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 AIR BAWAAN ABU ZAT TERBANG KARBON PADAT 8.135 63. Karakteristik Batubara Mulia Sebelum dan Setelah Proses UBC ANALISIS AIR TOTAL PROKSIMAT : AIR BAWAAN ABU ZAT TERBANG KARBON PADAT NILAI KALOR ULTIMAT : KARBON HIDROGEN NITROGEN OKSIGEN SULFUR SATUAN % ar % adb % adb % adb % adb Kal/gr % adb % adb % adb % adb % adb BATUBARAASAL 32.49 41.07 0. kenaikan kadar abu ini tidak akan menjadi masalah.44% pada run 1 dan menjadi 46.59 26.73 0.16 RUN2 8.15 Dari Gambar 1 dapat dilihat bahwa dengan turunnya air bawaan.17 6.135 %. Hal ini dilakukan agar mendekati keadaan sebenarnya.58 46. karena pada umumnya batubara hasil proses UBC tidak langsung digunakan konsumen tapi disimpan terlebih dahulu sebagai persediaan.69 47. Namun demikian. Hasil analisis proksimat sebelum dan sesudah proses UBC 186 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .000 0 BATUBARA ASAL 6.196 kal/gr pada run 1 dan menjadi 6. Analisis proksimat dan ultimat batubara hasil proses UBC dilakukan setelah disimpan sekian lama sampai mencapai kesetimbangan.Tabel 2. Hasil analisis ultimat seperti pada Gambar 3 memperlihatkan bahwa kadar karbon naik dari 50.48 6. Kandungan zat terbang naik secara signifikan dari 37.000 4.80 31.83 41.51% pada run 2.42 3.48% pada run 1 dan menjadi 63. Dari hasil analisis proksimat seperti pada Gambar 2 memperlihatkan bahwa kenaikan kadar abu kemungkinan besar terjadi karena adanya sisasisa minyak residu yang menempel pada batubara.58 26.75 4.47 0.98 37. Pengaruh Proses Terhadap Kenaikan Nilai Kalori Gambar 2.873 50. Penurunan oksigen lebih signifikan dibandingkan dengan penurunan kandungan hidrogen.44 0. yaitu dari 31.55 6.196 6.196 62.32 3.9 dan 27.69 6. adb RUN 1 RUN 2 BATUBARA ASAL RUN 1 RUN 2 Gambar 1. Kandungan hidrogen dan oksigen turun sebagai akibat turunnya kadar air (H 2 O).51 5.

. Hasil unjuk kerja pembriketan pada percobaan ini sangat memuaskan.04 g/cm3 dan kecepatan produk briket UBC yang dihasilkan sebanyak 1. Hasil ini hampir sama dengan hasil pembriketan dengan kondisi yang sama pada percobaan sebelumnya yang dapat menghasilkan briket dengan kuat tekan rata-rata 70 . Proses pembriketan yang paling baik pada percobaan ini adalah pembriketan dengan kondisi kecepatan roll 8 rpm dan temperatur 80 . sedangkan pada run 2 dicapai pada kecepatan roll 8 dengan kuat tekan 98 kg/cm2. densitas 1. Optimalisasi Pembriketan Setelah dilakukan modifikasi di seksi 500 dengan jalan mengganti roll pada mesin briket dengan ukuran cetakan yang lebih kecil (ukuran ini sesuai dengan ukuran cetakan pada mesin briket yang akan digunakan pada UBC demontration plant).80 kg/cm2. %. makin rendah kuat Gambar 5. Hasil analisis ultimat sebelum dan sesudah proses UBC 4.77 kg/cm2. Ikin Sodikin dan Datin Fatia Umar 187 .015 – 1. Variabel percobaan terdiri atas: Kecepatan roll: 8. Gambar 4 menunjukkan bahwa kecepatan roll pada temperatur yang sama sangat berpengaruh terhadap kuat tekan briket UBC yang dihasilkan. Pengaruh temperatur pembriketan terhadap kuat tekan dan densitas briket UBC pda kecepatan roll yang sama dapat dilihat pada Gambar 5.. Hal ini dapat terjadi karena ukuran cetakan briket batubara lebih kecil dibandingkan dengan ukuran cetakan briket pada percobaan sebelumnya. adb BATUBARA ASAL RUN 1 RUN 2 Gambar 3. 15. 13. Proses pembriketan pada percobaan ini mempunyai unjuk kerja yang sangat baik dibandingkan dengan pembriketan pada percobaan sebelumnya.1100C.  70 60 50 40 30 20 10 0 KARBON HIDROGEN NITROGEN OKSIGEN SULFUR tekan briket yang dihasilkan.17 dan 20 Temperatur pembriketan: antara 70°C dan 115°C Hasil percobaan pengaruh kecepatan roll terhadap kuat tekan dapat dilihat pada Gambar 4. 10. Temperatur optimum dicapai pada temperatur 80ºC dengan kuat tekan 73 kg/cm2 pada run 1 dengan kuat tekan 98 kg/cm2 pada run 2 pada temperatur yang sama. Pada kondisi ini briket UBC yang dihasilkan mempunyai kuat tekan 73 . sehingga kuat tekan briket yang dihasilkan lebih tinggi. sehingga data yang dihasilkan akan Gambar 4. kuat tekan briket mengalami penurunan baik pada run 1 maupun pada run 2.3. Pengaruh kecepatan roll terhadap kuat tekan dan densitas briket Karakterisasi dan Optimalisasi Pembriketan pada Batubara . Sedangkan densitas berfluktuasi tapi tidak cukup berarti.104 kg/jam. Pengaruh temperatur terhadap kuat tekan dan densitas briket Dari Gambar 5 dapat dilihat bahwa temperatur berpengaruh terhadap kuat tekan dan densitas briket UBC yang dihasilkan pada kecepatan roll yang sama. Pada run 1. kecepatan roll optimum adalah pada 10 rpm dengan kuat tekan 73 kg/cm2. Makin tinggi kecepatan roll. Ketika temperatur dinaikkan.

Pada kondisi tersebut di atas. S. karbon.6%. 6.C. Elsevier Publishing Company.. proses UBC menurunkan kadar air bawaan (inherent moisture) batubara Mulia sebesar 71. kecepatan roll 8 rpm. pilot plant Umar D. 149-159. temperatur 80 . Kalimantan Selatan. sehingga nilai kalor naik sebesar 26. Shimasaki. T. Tsai. pp. 2002. densitas 1. Indonesia. Sukhiyar. 188 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Deguchi.. and Otaka. Cirebon yang dilakukan pada kajian ini. Coal Preparation. F. Setiawan L. Deguchi. Development of UBC Process Paper presented at the International Conference on Fluid and Thermal Energy Conversion.77 kg/cm2. Kalimantan Selatan. R. Sedangkan untuk proses pembriketan yang paling baik pada percobaan ini adalah pembriketan dengan kondisi. belerang dan nitrogen mengalami sedikit kenaikan. Karena itu. Laporan Intern Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara. dan Hamdani. wikipedia. G. Indonesia. Shigehisa. KESIMPULAN DAN SARAN UBC. Kesimpulan DAFTAR PUSTAKA Kondisi proses UBC yang dianggap optimum pada pilot plant Palimanan Cirebon.1. K.. I.... Suwono.104 kg/jam. Saran Kondisi proses yang dianggap optimum pada pilot plant UBC. K. Vol 21.04 g/cm3 dan kecepatan produk briket UBC yang dihasilkan sebanyak 1. 6. Hudaya.. Makino. www.015 – 1. K.. 70% minyak tanah yang mengandung 0.sangat mendukung untuk kepentingan uji coba pada UBC demontration plant di Kecamatan Satui. 2009.. kuat tekan 73 . 1982. Palimanan. E. adalah pada kondisi : Ukuran batubara umpan < 3mm dengan kecepatan pengumpanan 100 kg/jam Konsentrasi batubara dalam slurry 30% (30% batubara. com (2008).. Sementara kadar abu. and Makino. Seminar dan Workshop “Indonesian Coal Conference” Jakarta.2.. T.. Sedangkan untuk batubara dari daerah lain kondisinya akan berbeda. Y. Shigehisa. Palimanan. Coal Science and Technology 2. Upgrading The Indonesian’s Low Rank Coal by Superheated Steam Drying with Tar Coating Process and its Application for Preparation of CWM. Study on Upgraded Brown Coal Process for Indonesian Low Rank Coals. Fundamental of Coal Beneficiation and Utilization. 2000.5%. Cirebon hendaknya tetap digunakan sebagai sarana penelitian untuk pengembangan proses UBC terhadap batubara lainnya di Indonesia guna mendapatkan teknologi proses yang secara teknis dan ekonomis lebih menguntungkan. E. Coal-Tech 2002. Proc. Rijwan. 6.1100C. 2007. International Conference and Exhibition on Clean and Efficient Coal Technology in Power Generation. sedangkan kadar hidrogen dan oksigen turun karena turunnya kadar air (H2O).. dan Sodikin. Sumberdaya dan Cadangan Batubara Indonesia. zat terbang. Persiapan Pembangunan UBC Demonstration Plant. A. berlaku untuk batubara Mulia yang berasal dari daerah Satui. Kunrat S.5% residu) Kecepatan pengumapan slurry ke dalam decanter 350 l/jam Kecepatan pengumpanan cake ke dalam rotary tube dryer 15 Hz. T. I. 2000. karbon padat. T.

id SARI Kebutuhan batubara di dunia semakin meningkat terutama sebagai bahan bakar pembangkit listrik. Kata kunci : batubara peringkat rendah. menciptakan lapangan kerja 1. UBC. UBC. Indonesia adalah salah satu negara pengekspor terbesar di dunia. Cadangan batubara Indonesia didominasi oleh batubara peringkat rendah sebesar 59%. Teknologi itu adalah UBC (Upgraded Brown Coal) dan BCB (Binderless Coal Briquetting). menciptakan multiplier effect bagi perekonomian daerah dan menciptakan iklim investasi yang baik bagi industri pertambangan dan pengolahannya. The technology developed by companies in Japan and Australia is technology to improve the quality of low rank coal through the reducing of water contained in coal so that the caloriefic value of coal increased then the marketing will be easier and selling price will also increase. increase government tax revenue of Rp 130-200 billion per year. Indonesia is one of the largest exporter country in the world. Indonesia coal reserve is dominated by low-rank coal as much as 59%. creat 1. 022 . Fax. Keywords : low rank coal.e-mail : gandhi@tekmira. The technologies are UBC (Upgraded Brown Coal) and BCB (Binder less Coal Briquetting).000 jobs.. BCB.6003373 . economic impact Analisis Dampak Ekonomi Teknologi Peningkatan Kualitas Batubara .6030483. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui dampak ekonomi dari pengembangan teknologi UBC dan BCB serta penerapan teknologi tersebut dengan membangun pabrik komersialnya di Indonesia. increase the state income of US$ 140-210 million per year. Teknologi yang dikembangkan oleh perusahaan Jepang dan Australia adalah teknologi peningkatan kualitas batubara peringkat rendah melalui upaya menghilangkan kandungan air di dalam batubara tersebut untuk meningkatkan nilai kalorinya sehingga pemasarannya akan mudah dan harga jualnya meningkat. Gandhi Kurnia Hudaya 189 . creating a multiplier effect for regional economic and create a better investment climate for mining and processing industries.ANALISIS DAMPAK EKONOMI TEKNOLOGI PENINGKATAN KUALITAS BATUBARA PERINGKAT RENDAH DI INDONESIA Gandhi Kurnia Hudaya Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jalan Jenderal Sudirman 623 Bandung 40211 Telp.go. BCB..000 orang. menambah devisa negara sebesar US$ 140-210 juta pertahun. menambah pendapatan pajak pemerintah sebesar Rp 130-200 milyar pertahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dampak ekonominya adalah : pemanfaatan batubara peringkat rendah yang meningkat.esdm. 022 . Results indicate that the economic impact are: increase the utilization of low rank coal. This study is aimed to understand the economic impact of developing UBC and BCB technologies and the implementation of these technologies includes building commercial plant in Indonesia. dampak ekonomi ABSTRACT The needs of coal in the world has been increasing mainly as a fuel of power.

Batubara lebih disukai karena untuk menghasilkan listrik sebesar 1 MGW/h dibutuhkan biaya US$ 12. Produk UBC berupa serbuk dan briket (Gambar 1).98 (asumsi harga batubara US$ 90/ton) lebih kecil bila dibandingkan dengan minyak yang sebesar US$ 30 (asumsi harga minyak US$ 54/ barrel) dan LNG yang sebesar US$ 20. 2. Teknologi UBC merupakan proses penurunan kadar air bawaan batubara peringkat rendah menjadi menyerupai batubara peringkat tinggi (bituminus) sehingga nilai kalori batubara tersebut meningkat. Kedua pabrik tersebut berlokasi di Kalimantan. Harganya yang relatif rendah serta ketersediaannya yang masih melimpah merupakan daya tarik bagi industri-industri di dunia yang saat ini banyak sekali dibutuhkan untuk menghasilkan listrik. Indonesia adalah salah satu negara pengekspor batubara terbesar di dunia dan memiliki cadangan yang cukup besar. umumnya hanya digunakan untuk pencampuran atau digunakan pada pembangkit listrik mulut tambang. Gambar 1. 2008).id). Diagram proses teknologi UBC (sumber : brosur UBC) 190 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .go. TEKNOLOGI UBC DAN BCB Teknologi UBC Teknologi UBC dikembangkan oleh Kobe Steel Ltd. Batubara kalori rendah Indonesia memiliki keunggulan dibandingkan dengan batubara dari negara lain. Hingga saat ini. Kadar air yang tinggi menyebabkan tingginya biaya penanganan dan transportasi yang tinggi serta nilai kalori yang rendah sehingga hingga saat ini penggunaan batubara kalori rendah masih terbatas. Diharapkan hasil analisis ini dapat menjadi salah satu bahan. kemudian dipanaskan pada temperatur 1500C – 1600C dengan tekanan 250 kPa – 350 kPa. Teknologi peningkatan kualitas batubara kalori rendah merupakan teknologi yang diharapkan dapat menjaga kesinambungan pasokan batubara serta untuk meningkatkan pemanfaatan batubara kalori rendah dengan maksimal. minyak residu dan minyak tanah. telah berdiri dua pabrik teknologi peningkatan kualitas batubara kalori rendah di Indonesia yaitu pabrik percontohan UBC (Upgraded Brown Coal) dan pabrik komersial BCB (Binderless Coal Briquetting). Batubara peringkat rendah Indonesia pada umumnya mengandung kadar air yang tinggi (20-40%).47 (asumsi harga LNG $6/Mmbtu) (Ermina Miranti. A. baik untuk calon investor maupun untuk pemerintah dalam mengambil kebijakan terhadap teknologi yang tergolong teknologi baru. Proses ini dilakukan dengan mencampurkan batubara. sekitar 59% dari cadangan tersebut termasuk batubara peringkat rendah (Ermina Miranti. 2008). potensi batubara Indonesia mencapai ±105 milyar ton dimana ±22 milyar ton diantaranya berupa cadangan (www. PENDAHULUAN Batubara adalah salah satu sumber energi yang saat ini menjadi primadona di dunia. sebuah perusahaan baja di Jepang.1. Namun. Pada akhir tahun 2008.esdm. yaitu memiliki kadar abu dan sulfur yang rendah sehingga dijadikan target utama untuk pengembangan teknologi tersebut. Penelitian ini bermaksud menganalisis dampak ekonomi bagi pengembangan teknologi UBC dan BCB serta penerapannya melalui pembangunan pabriknya di Indonesia.

Gambar 2. Proses utamanya adalah menggerus batubara dan kemudian memanaskannya untuk menghilangkan kadar air dalam batubara. Nilai investasi pabrik ini mencapai US$ 68 juta (Koran Investor Daily. Gandhi Kurnia Hudaya 191 .000 ton/hari umpan atau ± 600 ton/hari produk dibangun di Satui. Gambar 3. batubara dimampatkan melalui proses pembriketan (Gambar 3). 2006).7 juta ton pertahun. Gambar 4..sg) Analisis Dampak Ekonomi Teknologi Peningkatan Kualitas Batubara . Teknologi BCB mampu membuat batubara dari kalori rendah 4.. Biaya konstruksi dan pengoperasian pabrik UBC skala percontohan dari tahun 2007-2010 diperkirakan memakan biaya sebesar US$ 70 juta (Kobelco. Kalimantan Timur (Gambar 4).bayan.200 kcal/kg gross as received (GAR) menjadi 6. Pabrik ini telah diresmikan pada bulan April 2009 dan direncanakan akan mulai berproduksi pada akhir semester kedua 2009.000 kal/g dapat ditingkatkan menjadi 6.100 kcal/kg GAR. Indonesia (Gambar 2).com) PT Bayan Resources Tbk (BAYAN) menggandeng White Energy Company membentuk perusahaan patungan PT Kaltim Supacoal (KSC) untuk membangun pabrik modular peningkatan mutu batubara bersih berkapasitas satu juta ton/tahun di tambang Tabang. Teknologi BCB Teknologi BCB dikembangkan oleh White Energy Company. Pabrik UBC komersial direncanakan berkapasitas sebesar minimal 5000 ton produk per hari atau 1.Pabrik UBC skala percontohan dengan kapasitas 1. 27 April 2009). telah berhasil dikembangkan dan dioperasikan.200-6.800 kal/g. Nilai kalori batubara dari < 5. Teknologi BCB merupakan proses peningkatan mutu batubara dengan cara menghilangkan kadar air dalam batubara sehingga nilai kalorinya akan meningkat. Jawa Barat dengan kapasitas 5 ton/hari.whiteenergyco. Jepang dan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. Pabrik UBC skala pilot di Palimanan. Pabrik percontohan UBC (sumber : brosur UBC) B. Pabrik modular peningkatan mutu batubara bersih (sumber : www. Kalimantan Selatan di lokasi tambang batubara PT Arutmin berdasarkan perjanjian kerjasama antara Japan Coal Energy Center (JCOAL). Diagram proses teknologi BCB (sumber : ww. sebuah perusahaan teknologi coal upgrading yang berpusat di Australia.com. Setelah dipanaskan.

Meningkatkan penghasilan negara dari pajak perusahaan Pendapatan negara Indonesia didominasi oleh sektor pajak. Sebagai perbandingan. 2. lowongan kerja juga akan terbuka bagi 4. yaitu mencari referensi dan literatur untuk memperoleh data sekunder mengenai teknologi peningkatan kualitas batubara kalori rendah di Indonesia. Setiap pembangunan pabrik UBC dan BCB membutuhkan pasokan batubara wantah diluar produksi batubara saat ini. Untuk setiap pabrik UBC dan BCB yang dibangun. batubara kalori rendah kurang dimanfaatkan atau bila diekspor hanya sebagai pencampur (blending) batubara kalori tinggi.3. Selain untuk karyawan pabrik.8 juta ton dan memberikan kontribusi kepada pemerintah dalam bentuk pajak sebesar Rp 844 milyar (Rania Rahmundita. Menambah devisa negara Indonesia adalah salah satu eksportir batubara terbesar di dunia. pada tahun 2008 menjual batubara sebanyak 12. teknologi ini maka keluaran pabrik yang berupa batubara berkalori tinggi akan mudah untuk dijual baik di dalam negeri maupun di luar negeri sehingga memberikan nilai tambah yang lebih besar. 3. Analisis deskripsi dilakukan terhadap data-data yang telah dikumpulkan yang berhubungan dengan teknologi peningkatan kualitas batubara kalori rendah di Indonesia serta data-data lain yang berhubungan. akan dihasilkan produk upgraded coal sebanyak 2-3 juta ton pertahun. Pengolahan data Pengolahan data dilakukan dengan analisis deskripsi dan analisa kuantitatif. Dari perbandingan jumlah penjualan maka dapat diperkirakan bahwa setiap pabrik UBC dan BCB yang dibangun dapat menambah penghasilan negara melalui pajak sekitar Rp 130-Rp 200 milyar per tahun. Sebelumnya. 2009). akan diekspor sebanyak 160 juta ton dan sisanya digunakan untuk kebutuhan dalam negeri. dapat menambah produksi batubara sebesar 2-3 juta ton per tahun. selain pajak juga ada royalti untuk setiap ton batubara yang diproduksi. Dengan adanya 192 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . maka devisa negara yang dapat dihasilkan adalah US$ 140210 juta. Analisa kuantitatif dilakukan terhadap data-data ekonomi yang telah dikumpulkan untuk memberikan gambaran dampak ekonomi dari aplikasi teknologi peningkatan kualitas batubara kalori rendah di Indonesia. Indonesia adalah negara sasaran utama untuk ujicoba dan pengembangan teknologi tersebut karena keunggulan kualitas dan jumlah batubara peringkat rendahnya. Lowongan pekerjaan ini akan terbuka sejak pekerjaan konstruksi pabrik dimulai hingga kemudian beroperasinya pabrikpabrik tersebut. 4. dimana salah satunya adalah pajak perusahaan. dari produksi batubara sebanyak 190 juta ton. Setiap pendirian 1 buah pabrik komersial UBC dan BCB. HASIL DAN PEMBAHASAN Tren pemanfaatan batubara terutama untuk sektor listrik di dunia mendorong banyak pihak untuk dapat terlibat di dalamnya. Untuk perusahaan tambang. Untuk mengetahui dampaknya bagi Indonesia maka salah satu dampak yang mudah dihitung atau dianalisis secara kuantitatif adalah dampak ekonomi. Dampak ekonomi penerapan teknologi peningkatan kualitas batubara kalori rendah di Indonesia antara lain adalah sebagai berikut : 1. akan memberikan lowongan pekerjaan yang cukup besar bagi masyarakat Indonesia umumnya dan bagi masyarakat sekitar pabrik pada khususnya. Menciptakan lapangan pekerjaan Pembangunan pabrik peningkatan kualitas batubara baik teknologi UBC maupun BCB. Dengan asumsi harga batubara tahun 2009 sebesar US$ 70 per ton. Pada tahun 2009. Pemanfaatan sumber daya alam Potensi batubara kalori rendah Indonesia sebesar 60 milyar ton (60% dari cadangan total 104 milyar ton) termasuk besar dan dapat lebih ditingkatkan pemanfaatannya. Perusahaan Kobe Steel dan White Energy berinvestasi dalam riset teknologi peningkatan kualitas batubara kalori rendah agar dapat memiliki patent teknologi yang menguntungkan perusahaan. METODE PENELITIAN Pengumpulan data Pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka. perusahaan tambang batubara PT Bukit Asam (PTBA).

Hal ini akan membantu program pemerintah dalam mengurangi kemiskinan dan mengurangi pengangguran. Analisis Dampak Ekonomi Teknologi Peningkatan Kualitas Batubara .go.peningkatan kapasitas produksi ataupun pembangunan infrastruktur tambang yang baru untuk memasok kebutuhan pabrik tersebut. KESIMPULAN Dampak ekonomi dari pembangunan pabrik teknologi peningkatan kualitas batubara peringkat rendah dengan teknologi UBC dan BCB adalah : a) Pemanfaatan batubara peringkat rendah sebagai sumber daya alam.esdm. e) Menciptakan multiplier effect yang bermanfaat.. Peresmian Pabrik Percontohan UBC di Satui. DAFTAR PUSTAKA Brosur UBC. Januari 2009. f) Menciptakan iklim investasi yang baik bagi investor. Website PT Tambang Batubara Bukit Asam (Tbk). maka pabrik itu akan membutuhkan 4-5 juta ton batubara per tahun. 6. akan mulai memproduksinya untuk memenuhi kebutuhan pabrik peningkatan kualitas batubara tersebut.com.. Website White Energy www. Perusahaan tambang yang selama ini belum menggarap cadangan batubara peringkat rendah di wilayah kerjanya. http:// Investorindonesia. 5. Selain itu perekonomian di daerah tersebut akan tumbuh untuk memenuhi kebutuhan pabrik-pabrik yang baru seperti perusahaan katering. http:// www. akan memberikan kesan baik kepada investor lokal maupun luar negeri akan aman dan ramahnya iklim investasi di Indonesia. 214. c) Menambah pendapatan dari pajak sebesar Rp 130-200 milyar per tahun.id. Investor Daily. Menciptakan iklim investasi yang baik bagi investor Keberhasilan proyek peningkatan kualitas batubara dimana proyek ini termasuk proyek besar. www.000 orang. Coal Mining.346 pegawai. 5 July 2006.jp.co. Rania Rahmundita. Prospek Industri Batubara di Indonesia. CIMB-GK Research. Economic Review No.co.bayan. Sebagai perbandingan. Diharapkan para investor tersebut akan ikut juga berinvestasi di indonesia.id Website PT Bayan www. http://www.kobelco. Gandhi Kurnia Hudaya 193 . Resources (Tbk). 5. Company. Desember 2008. transportasi dan perusahaan pendukung lainnya. d) Menciptakan lapangan kerja sebanyak 1.whiteenergyco. maka dapat diperkirakan bahwa lowongan kerja baru yang akan tersedia adalah sekitar 1.000 orang. Website Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral. 27 April 2009.sg. terutama di sektor pertambangan dan pengolahannya. 2008.ptba.com Kobelco Online. Juni 2009. PTBA saat ini mempekerjakan sekitar 3. terutama bagi perekonomian daerah. Menciptakan multiplier effect dari proyek Seandainya pabrik peningkatan kualitas batubara beroperasi dengan kapasitas 2-3 juta ton. Ermina Miranti. b) Menambah devisa negara sebesar US$ 140210 juta per tahun. Jika dibandingkan berdasarkan jumlah penjualan batubara pertahun.com.

.esdm. Kata kunci : manfaat dan biaya.000.go. Manfaat dari kegiatan penambangan. contingent valuation method 194 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Keywords: benefit and cost. iron ore mine activity. Yang berarti manfaat lebih besar dari pada biaya eksternalitas.id SARI Produksi penambangan bijih besi di Kabupaten Merangin.id. 022 . berasal dari pajak dan retribusi sebesar Rp jadi total manfaat sebesar Rp 420.000. metode valuasi kontingesi ABSTRACT Iron ore production is mine at Merangin regency to plan 60.000.000.000. Sudirman 623 Bandung 40211 Telp. Local labor are total income Rp 60.-. dengan penghasilan rata-rata Rp 1.000. yaitu adanya peluang kerja untuk masyarakat lokal.000.290.-. menimbulkan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi daerah.000 sampai dengan 400.500.KAJIAN MANFAAT DAN BIAYA PENAMBANGAN BIJIH BESI DI KABUPATEN MERANGIN. Kegiatan penambangan bijih besi. hal ini dapat dilihat dari penyerapan tenaga kerja lokal sebesar 35. maka jumlah penghasilan seluruh tenaga kerja lokal per bulan Rp 60. maka perbandingan manfaat dan biaya eksternalitas adalah 1. Mine activities for benefit are local labor 35.6030483 Fax.000.-.08%. Untuk menghitung manfaat dan biaya dipergunakan Metode Valuasi Kontingensi (Contingent Valuation Method).290. tax and retribution are Rp 420.000. 022 .000 ton per year. kegiatan penambangan bijih besi. 1. direncanakan antara 60. Jend. So benefit and externalities cost comparative are 1:2. PROPINSI JAMBI Endang Suryati dan M..000 ton per tahun.—. Lutfi Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl.000.-/month. Disamping itu manfaat yang diperoleh daerah.6003373 e-mail : endangs@tekmira.08% dapat terserap di kegiatan penambangan bijih besi.go.000.per month.per bulan/orang. lutfi@tekmira. dari kegiatan penambangan tersebut.500. Iron ore mine activity is positive impact to arouse for region economic growth.Externalities cost are Rp 403.04. Contingent Valuation Method use for calculation of benefit and cost.-.000. Apabila dibandingkan dengan biaya eksternalitas sebesar Rp 403.0000 until 400.esdm. income person Rp.

Berdasarkan pengamatan lapangan. sedang dampak negatifnya adalah biaya kerusakan 2. tentang nilai manfaat SDA dan lingkungan yang mereka rasakan.. PEMBAHASAN Lokasi Rencana Kegiatan Secara administrasi pemerintah daerah. serta desa Mentawak Kecamatan Nalo Tantan.714 jiwa yang terdiri atas 874 jiwa laki-laki dan 840 jiwa perempuan sedangkan yang terkecil terdapat di desa Rantau Alay yaitu sebesar 621 jiwa yang terdiri atas 300 jiwa laki-laki dan 321 jiwa perempuan (Gambar 2). Berdasarkan studi kelayakan. lokasi rencana kegiatan juga termasuk dalam Kecamatan Karangan dan Kaubun yang merupakan wilayah pemekaran Kecamatan Sangkulirag. PENDAHULUAN lingkungan akibat penambangan bijih besi. Metode inii merupakan metode valuasi Sumber Daya Alam (SDA) dan lingkungan dengan cara menanyakan langsung kepada masyarakat sekitar. Berdasarkan perhitungan cadangan. Mengingat dampak positif dan negatif yang ditimbulkan cukup penting. Salah satu lokasi cadangan bijih besi di Indonesia terdapat di desa Pulau Layang. 1986) Rencana Kegiatan penambangan pasir besi di Kabupaten Merangin. Desa Pulau Layang dan Kecamatan Batang Mesumai merupakan desa dan kecamatan yang relative baru sebagai kecamatan definitif. Pada saat yang sama. Jumlah penduduk desa Pulau Layang relatif lebih tinggi yaitu 1. merupakan pemekaran dan Kecamatan. Kependudukan Jumlah penduduk di lokasi studi pada tahun 2007 adalah 3. Kabupaten Merangin. Oleh karena itu.1. kegiatan pertambangan bijih besi termasuk dalam wilayah Kecamatan Bengalon dan Kecamatan Sangkulirang Bangko.000 ton per tahun. Kabupaten Merangin. Propinsi Jambi. lingkungan wilayah secara langsung menyediakan jasa yang menyumbang pada peningkatan kesejahteraan seperti tersirat pada pembangunan ekonomi. Lokasi studi berada di 3 (tiga) desa yaitu desa Pulau Layang dan desa Rantau Alai di wilayah kecamatan Batang Mesumai. METODOLOGI Untuk menghitung kajian manfaat dan biaya. Propinsi Jambi). masalah yang penting adalah melaksanakan kegiatan pembangunan sedemikian rupa agar dapat melestarikan produktivitas jangka panjang sistem alami agar pembangunan berkelanjutan dan dapat minimumkan kerusakan kualitas lingkungan. Dixon & Maynard M. operasional tambang diperkirakan akan berlangsung sampai 2. Lutfi 195 . dipergunakan Metode Valuasi Kontingensi ( Contingent Valuation Method). Kecamatan Batang Mesumai. Endang Suryati dan M. pertumbuhan ekonomi sering diikuti dengan tekanan yang makin berat pada sistem alami dan dampak negatif kualitas lingkungan. Pembangunan ekonomi mengandung arti peningkatan yang berkelanjutan bagi kesejahteraan masyarakat yang diperoleh dari barang-barang dan jasa-jasa konvensional.Batang Mesumai.(John A. yang produksinya sering memerlukan sumber daya alam dan sistem alami yang produktif.0000 – 400.090 jiwa Kajian Manfaat dan Biaya Penambangan Bijih Besi . 3. di pasar internasional.( Kumpulan Materi Ekonomi Lingkungan PSLH UGM Yogyakarta). Lagi pula. Pembangunan ekonomi baik di negara industri maupun di negara berkembang berdasarkan pada sumber daya alam dan produktivitas sistem alami.3 tahun. Kabupaten Merangin. Jumlah angkatan kerja produktif di desa-desa lokasi studi relatif seimbang.690 jiwa (Badan Pusat Statistik Kabupaten Merangin. Propinsi Jambi. Dampak positif yang timbul biasanya berhubungan dengan pertumbuhan perekonomian daerah. tidak terlepas dari tingginya permintaan akan komuditas bijih besi. Hufschmidt. maka diperlukan analisis manfaat dan biaya yang diakibatkan oleh kegiatan penambangan bijih besi. produksi bijih besi direncanakan mencapai 60. Kegiatan eksplorasi bijih besi mendapat dukungan dari pemerintah dalam upaya melakukan diversifikasi produk ekspor guna meningkatkan devisa bagi negara. secara kuantitatif yang mempunyai angkatan kerja produktif terbesar adalah di desa Pulau Layang yaitu 1..

Desa Mentawak (63.Gambar 1. seperti terlihat pada Gambar 3. 196 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .3%). Pada umumnya penduduk di lokasi studi memiliki tingkat pendidikan tertinggi setingkat SD. Dari uraian terlihat bahwa motivasi orang tua untuk menyekolahkan anak-anaknya ketingkat yang lebih tinggi di wilayah penelitian cukup tinggi. Persentase terbanyak diantara desa-desa lokasi studi yang penduduknya menamatkan pendidikan tertinggi sampai SLTA adalah di Desa Rantau Alai sebesar 19. Jumlah penduduk di desa-desa sekitar kegiatan penambangan bijih besi (63. Hal ini terlihat dari banyaknya anak-anak responden yang mempunyai pendidikan setingkat SLTP dan SLTA.2% dan Desa Mentawak sebanyak 12. yaitu Desa Pulau Layang (79..21%.7%) dan Rantau Alay (46. Peta lokasi Tingkat Pendidikan Kualitas sumberdaya manusia masyarakat di sekitar lokasi rencana kegiatan relatif rendah. Gambaran ini menunjukan bahwa penduduk di wilayah penelitian terdorong untuk membekali Gambar 2.41% dan desa Mentawak 57.3%.2%).6%) dari total penduduk. sedangkan di desa Rantau Alai 53. walaupun jarak dari desa-desa ke lokasi sekolah cukup jauh dan angkutan umum terbatas.

Endang Suryati dan M. Pendapat Masyarakat Untuk mengetahui pendapat masyarakat. Pekerjaan tambahan mereka.2%) dan buruh tani (5. Di desa-desa sekitar lokasi penambangan sebagian besar mengandalkan kehidupannya dari pertanian (petani) yang digeluti oleh 80% penduduk. Selain itu juga ada yang menjadi buruh bangunan musiman di kota. pembangunan pertambangan bijih besi dianggap oleh penduduk akan memberikan keuntungan kepada mereka. terutama masih di sektor pertanian seperti buruh tani dan menggarap lahan orang lain yang terdapat di desa mereka.7% pada umumnya penduduk menghubungkan keuntungan tersebut dengan akan bertambahnya peluang kesempatan kerja. Lutfi 197 . Hadirnya kegiatan pertambangan bijih besi. Hasil wawancara dengan responden di lokasi studi memperlihatkan bahwa seluruh responden di Desa Pulau Layang dan Rantau Alai sebanyak 100% sudah mengetahui rencana dari pembanguna pertambangan bijih besi. disisi lain pembangunan ini juga menimbulkan kekhawatiran di kalangan penduduk. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 1 dan 2. Pada umumnya alasan tidak keberatan adalah karena pertambangan tersebut merupakan program pemerintahan dan untuk kepentingan umum.5%). hanya sebagian kecil Kepala Keluarga yang memiliki pekerjaan tambahan. pedagang (7. mendorong penduduk untuk mendapatkan pendidikan formal yang lebih baik agar dapat memasuki lapangan pekerjaan tersebut. Sedangkan responden yang menyatakan keberatan terhadap rencana pertambangan hanya 5%. serta berdagang. yaitu sebanyak 10% saja.10%) menyatakan tidak keberatan terhadap rencana pembangunan pertambangan bijih besi yang akan melewati rumah pemukiman mereka. Mata pencaharian di desa-desa sekitar kegiatan penambangan bijih besi Mata Pencaharian Penduduk Mata pencaharian utama kepala keluarga di desadesa lokasi studi adalah di sektor pertanian bidang perkebunan karet dan kelapa sawit.. Kajian Manfaat dan Biaya Penambangan Bijih Besi . Berdasarkan kriteria responden di atas. masyarakat diberi pertanyaan/kuesioner mengenai manfaat dan resiko dari kegiatan pertambangan ini. Dan yang menyatakan memberikan keuntungan dengan adanya penambangan bijih besi ini sebanyak 78. Gambar 4. Sedangkan penduduk Mentawak relatif lebih kecil yang sudah mengetahui rencana tersebut. Berdasarkan tiga kriteria responden yang telah disebutkan diatas. mengenai rencana pembangunan pertambangan bijih besi. Mata pencaharian di desa-desa sekitar kegiatan penambangan bijih besi Selain itu dengan semakin ramainya kawasan Kota Bangka dan sekitarnya. Pada tabel 3 memperlihatkan sebagian besar responden di lokasi studi (80. Gambar 3. Namun. pada satu sisi dianggap akan memberikan keuntungan kepada masyarakat sekitarnya.pendidikan tinggi kepada anak-anaknya agar dapat memasuki peluang kerja yang lebih baik dibandingkan orang tua mereka. serta proyek tersebut tidak akan merugikan masyarakat. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 4.. Di desadesa lokasi studi. desa jadi lebih ramai serta dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat di desa tersebut.

Tabel 1.krn unt kepentingan umum. pengetahuan responden terhadap rencana pembangunan pertambangan bijih besi Pengetahuan tentang rencana pembangunan Tahu Jml Pulau Layang Rantai Alai Mentawak Sumber : Data Primer. Sumber informasi tentang rencana pembangunan pertambangan bijih besi Sumber Informasi tentang rencana pembangunan Desa Pemilik lahan Jml Pulau Layang Rantai Alai Mentawak Sumber : Data Primer. diolah 36 4 0 2 0 2 0 2 8 50 100 198 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Data Primer.3 100 Ya.3 2.5 2. diolah Tidak tahu % 100 100 10 Jml 0 0 8 % 0 0 80 Tidak menjawab Jml 0 0 1 % 0 0 10 Jml 50 20 10 Jumlah % 100 100 100 50 20 1 Tabel 2. tdk keberatan.5 1.5 5 2. asal perhatikan warga Tidak keberatan.3 5 11.desa jadi rencana penambangan Tidak keberatan. ada peluang usaha Terserah/tidak peduli.5 1. Sikap responden terhadap rencana pertambangan bijih besi Desa Sikap terhadap rencana pembangunan Pulau Layang Jml % 72 8 0 4 0 4 0 4 4 Rantau Alai Jml 16 0 0 0 1 0 0 1 2 20 % 80 0 0 0 5 0 0 5 10 100 Mentawak Jml 3 0 2 0 0 0 1 1 3 10 % 30 0 20 0 0 0 10 10 30 100 Jumlah Jml 55 4 2 2 1 2 1 4 9 80 % 68. Terserah warga lain Tidak keberatan. rencana penambangan Keberatan/tidak setuju Tidak menjawab Total Sumber . diolah Aparat Desa Jml 4 0 0 % 8 0 0 Tim survey Jml 6 2 1 % 12 10 10 Tidak menjawab Jml 38 18 9 % 76 90 10 Total Jml 98 20 10 % 100 100 100 % 4 0 0 50 0 0 Tabel 3. tidak keberatan Ya.

8 1.3 100 % 12 40 0 2 0 2 14 4 0 22 6 20 0 1 0 1 7 8 0 11 50 100 pembangunan pertambangan bijih besi dianggap oleh penduduk akan menimbulkan kekhawatiran kepada mereka.5 5 21. Fasilitas jalan dan jembatan Fasilitas pelabuhan untuk pemuatan bijih besi dalam tongkang Fasilitas pembangkit tenaga listrik Tabel 5. Sebanyak 78.8 6.8 8.7% responden memberikan rasa kekhawatiran dengan adanya rencana penambangan ini. diolah Rantau Alai Jml 4 4 1 6 2 1 0 2 20 % 20 20 5 30 10 5 0 10 100 Mentawak Jml 1 5 0 1 0 0 0 3 10 % 10 50 0 10 0 0 0 30 100 Jumlah Jml 22 10 4 17 3 7 1 16 80 % 27.5 1.3 2.3 1.3 21.5 3. Sarana dan Prasarana Fasilitas yang diperlukan dalam pengangkutan bijih besi dari lokasi penambangan ke lokasi stockpile sementara dan selanjutnya ke lokasi pengolahan di pelabuhan antara lain .Tabel 4.5 12.. Dengan adanya pembangunan penanbangan bijih besi di daerah inidiharapkan tidak menimbulkan kerugian bagi penduduk. Pada umumnya masyarakat menginginkan bahwa pembangunan dan pengoperasian penambangan bijih besi dapat memberikan peluang usaha baru bagi mereka. diolah Rantau Alai Jml 1 6 1 0 1 1 4 1 1 4 20 % 5 30 5 0 5 5 20 5 5 20 100 Mentawak Jml 1 6 0 1 0 0 0 0 0 2 10 % 10 60 0 10 0 0 0 0 0 20 100 Jumlah Jml 8 32 1 2 1 2 11 5 1 17 80 % 10 40 1.5 13. Keuntungan dari rencana penambangan bijih besi Desa Keterangan Pulau Layang Jml Memberi sumbangan Jml pada kegiatan desa Peluang kerja proyek Jml Desa jadi ramai Peluang kerja & desa jadi ramai Harga tanah & desa jadi ramai Desa jadi ramai transport lancar Ekonomi meningkat Peluang kerja transport lancar Ganti rugi tinggi Tidak tahu Total Sumber : Data Primer.. (Tabel 5). Lutfi 199 .3 2. seperti ditunjuka pada Tabel 6 dibawah ini. Endang Suryati dan M. Kekhawatiran responden terhadap rencana penambangan bijih besi Desa Keterangan Pulau Layang Jml Lahan tani berkurang % Polusi udara Jml kebisingan Sedikit terima tenaga ocal Air sungai terganggu % Pembayaran ganti Jml rugi lambat Jalan jadi rusak Tidak ada kerugian Tidak tahu Total Sumber : Data Primer.3 20 100 % 34 2 6 20 2 12 2 22 17 1 3 10 1 6 1 11 50 100 Kajian Manfaat dan Biaya Penambangan Bijih Besi .

Rapak yang mengalir di daerah penambangan dengan debit 600 lt/detik pada saat peralihan musim kemarau ke musim hujan. km dari blok penambangan Area 1 dan Area 2. Jalan kabupaten dan provinsi sudah dilapisi aspal.5 100 % 48 8 4 4 4 16 0 6 10 24 4 2 2 2 8 0 3 5 50 100 Fasilitas pasokan air bersih Bangunan pendukung operasi tambang Bangunan khusus bahan peledak Fasilitas penanganan dan penyimpanan bahan bakar Fasilitas penanganan limbah Bijih besi hasil penambangan (ROM) diangkut dengan dump truck menuju lokasi mesin pemecah bijih besi (crushing plant) di stockpile tambang yang lokasinya berjarak 37 km. Rapak dan anak S. Listrik Ekonomi meningkat Lebih perhatikan Jml lingkungan Ganti rugi lancar Sungai tidak tercemar Jalan desa diperbaiki Setelah ditambang Jml dijadikan pertanian Tidak tahu Total Sumber : Data Primer. Air yang diperlukan dapat dicukupi dari S. Jalan dari tambang ke desa ini masih merupakan jalan tanah yang sebagian kecil sudah dilakukan perkerasan dengan kemiringan maksimum 15°. Bijih besi dari stockpile tambang diangkut dengan dump truck menuju ke tempat pengolahan (coal processing plant/CPP) di lokasi pelabuhan Jambi melewati jalan yang sudah diperkeras berjarak + 15. agar dapat menampung sampai dengan 100.3 1.5 7. jalan kabupaten dan jalan provinsi yang juga dimanfaatkan oleh penduduk setempat sebagai akses transportasi darat. Jenis Sumber Energi/Bahan Bakar Sumber energi berasal dari pembangkit listrik utama dengan daya 2 x 65 MW/jam ditambah dengan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) dan genset prime mover berbahan bakar solar sebesar 2 x 250 KVA. dengan tinggi penimbunan maksimal 5 (lima) meter sehingga dibutuhkan areal penimbunan seluas + 104 Ha.3 5 7. Kapasitas tampung stockpile di pelabuhan adalah 100 ton bijih besi ROM. Harapan responden berdasarkan posisi rumah/lahan terhadap rencana penambangan bijih besi Desa Keterangan Pulau Layang Jml Kampung TK lokal Jml lebih banyak Bantuan fas. dengan saluran air akan dibuat di kedua sisinya. bengkel dan MCK bagi perumahan/ mess.8 11. Pada saat kemarau panjang debit aliran agak menyusut sampai 200 liter/detik dan bisa mencapai 2000 liter/detik di musim penghujan. Luas lokasi penimbunan bijih besi di dekat areal penambangan lebih kurang 12 ha. selain dipakai oleh beberapa perusahaan perkebunan yang saat ini beroperasi di daerah sekitar rencana kegiatan. Debit dan Sumber Air Kebutuhan air dalam kegiatan penambangan terutama digunakan untuk penyemprotan daerah berdebu.000 ton bijih besi hasil penambangan (ROM). Lebar jalan adalah 12 m. merupakan tempat penimbunan (stockpile) sementara yang dibuat berdampingan dengan tempat penambangan.8 7. diolah Rantau Alai Jml 6 2 4 1 5 1 1 0 0 20 % 30 10 20 5 25 5 5 0 0 100 Mentawak Jml 5 0 0 3 0 0 0 1 1 10 % 50 0 0 30 0 0 0 10 10 100 Jumlah Jml 35 6 6 6 7 9 1 4 6 80 % 43. Air sungai tersebut cocok dipakai untuk kegiatan konstruksi dan 200 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . dan coal preparation plant.Tabel 6.5 7. pencucian peralatan angkut dan muat bijih besi.5 8. Jalur jalan pengangkutan darat dari lokasi tambang ke pelabuhan menggunakan jalan desa.

Di lokasi rencana kegiatan pertambangan bijih besi tidak terdapat kegiatan sejenis yang berbatasan langsung dengan daerah rencana penambangan bijih besi. Peluang Kerja Pada tahap operasi klasifikasi tenaga kerja yang dibutuhkan. Segara Timber. Sangkulirang. Perkebunan kelapa sawit Di sebelah timur terdapat perkebunan kelapa sawit PT. Telen dan PT. Permukiman penduduk Di sebelah timur terdapat permukiman SP I Bumi Etam. Klasifikasi dan jumlah tenaga kerja Pekerjaan General Manager Manajer Tambang Sekretaris Sub-Total Kadiv. dapat dilihat pada tabel 7. Lutfi 201 . bahkan bila disaring. Meranti Mitra Persada.. c. Gawi Mulya. Operasional Tambang Supervisor penambangan Supervisor pengangkutan Supervisor Pemetaan Supervisor Perawatan Staf (Pengawasan Tambang) Staf Pengawas Transportasi Staff (Surveyor) Staff perawatan S1 Tambang S1 Tambang S1 Tambang D3 Geodesi STM /D3 dan Training S1 Tambang STM Tambang /teknik STM Tambang/ geodesi STM /SLTA dan Training >8 th >3 th >8 th >3 th >3 th >3 th >3 th >3 th >3 th Pendidikan Sarjana Tambang Sarjana Tambang D-3 Sekretaris S1 Tambang S1 Tambang S1 Geologi S1 Tambang S1 Geologi D3 Geodesi SLTA + Kursus STM + Training Pengalaman >15 th >10 th >3 th >8 th >5 th >8th > 3 th >3 th >3 th >3 th >2 th Jumlah 1 1 1 3 1 1 1 1 1 1 1 2 8 17 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Kajian Manfaat dan Biaya Penambangan Bijih Besi . Gempu dan PT. PT. Kegiatan Lain di Sekitar Lokasi Rencana Kegiatan Daerah rencana tambang semula merupakan areal HPH dari beberapa perusahaan kayu yaitu PT. SP II Bumi Rapak. Sawit Prima Nusantara dan PT.industri. di sebelah utara juga terdapat lahan perkebunan kelapa sawit milik PT. Telen. Lahan Hutan Tanaman Industri Di sebelah selatan rencana kegiatan penambangan bijih besi terdapat hutan produksi kayu milik perusahaan pemegang HPH PT. Rashua Indochem. diendapkan dan disterilisasi dapat dipakai sebagai bahan air minum. Perencanaan Supervisor Perencanaan Tambang Lanjutan Supervisor pengembangan Staff ( Mining eng ) Staf ( Geologist ) Staff ( surveyor) Staff ( operator komputer) Staf ( juru gambar) Helper Sub-Total Kadiv. Kegiatan lain di sekitar daerah rencana penambangan bijih besi adalah : a. Tabel 7. b. Georgia Pacific. Endang Suryati dan M. PT. SP VI Mata Air dan SP VII Bukit Permata. Manfaat yang diperoleh bagi Daerah dan Masyarakat Kesempatan Kerja Pendapatan Daerah Peluang Usaha Kerusakan/kerugian : Gangguan kesehatan karena debu dari transportasi pengangkut bijih besi Menurunnya sumber air Manfaat kegiatan pertambangan bijih besi 1. PT. Bunta Samba.. sedangkan di sebelah timur HPH milik PT.

. & Keuangan Kepala Personalia dan Umum Kepala Keuangan Kepala pemasaran Kepala Keamanan Kepala Logistik/Gudang Pengawas Camp Kepala Humas Staf/Pembantu Umum Staf/Pembantu LogistikLanjutan Staf Pembantu Keuangan Operator Komputer/Juru tik Petugas Satpam Juru Masak Supir Helper Sub-Total Kadiv... Lanjutan .500.Tabel 7. dan jumlah penduduk menurut pendidikannya. CPP Supervisor processing Supervisor quality control Staf CPP Operator genset Opertor cpp Helper Sub-Total Kadiv Admini.. Jumlah yg diperlukan 40 orang. maka penduduk sekitar yang dapat direkrut adalah lulusan sekolah menengah atas atau sekolah kejuruan. Pekerjaan Staff ( pengawas O/B) Operator Pompa Helper Sub-Total Kadiv. Lingkungan – K3 Kepala Lingkungan Kepala K3 Staff lingkungan Staff K-3 Staff Comdev Helper Sub-Total Total S1 S1 S1 SLTA/D3 SLTA/D3 SLTA/D3 >5th >3th >3th >3th >3th >3th S1 Ekonomi/Manajemen S1 Hukum D3 Akuntansi S1 Ekonomi/Manajemen D-3 Purnawirawan TNI D-3 Ekonomi/Manajemen SLTA D3 SLTA SLTA +Training SLTA SLTA SLTP Keatas SD Keatas SLTA >5 th >3 th >3 th >3 th >3 th >3 th >5 th >3th >3 th >3 th >3 th >3 th >3 th >3 th >3 th S1 Mesin S1/D3 teknik S1/D3 kimia STM /SLTA/D3 STM Listrik + Training STM Mesin + Training >8 th >5 th >5 th >5 th >3 th >3 th Pendidikan STM /SLTA SLTA + Training Pengalaman >3 th >3 th Jumlah 1 2 9 21 1 1 1 2 2 2 5 14 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 4 3 4 9 33 1 1 1 2 3 2 5 15 103 Jika dilihat dari tabel diatas. maka total pendapatan yang diterima masyarakat sekitar sebesar 40 orang x Rp 1. Dengan gaji sebesar Rp 1. dan semuanya dapat diambil dari penduduk setempat.juta = Rp 60.500..000.000.000.000.- 202 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .

Kabupaten Merangin Dalam Angka 2007 Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gajah Mada.290.000.Com.penerimaan 40 org a Rp 1.Manfaat kegiatan pertambangan bijih besi no 1 2 3. Lutfi 203 . Kesimpulan Dari pembahasan diatas.000. maka dampak dari kegiatan penambangan batubara untuk pertumbuhan perekonomian daerah bersifat positif.420. Komponen Peluang kerja Retribusi Pajak dll Total manfaat Biaya eksternalitas no 1 2 3 Total Komponen Biaya Jumlah (Rp) 11.177. dengan demikian kegiatan penambangan bijih besi sangat berperan dalam meningkatkan pendapatan penduduk sekitar.1. M.500. Gajah Mada University Press.240 hr x Rp 5. Penterjemah. perlu dilakukan upaya pengelolaan.000. Teknik Penilaian Ekonomi Terhadap Lingkungan. dapat disimpulkan manfaat lebih besar dari biaya eksternalitas.000.- Dari hasil perhitungan diatas.300.215.- Kesehatan 12 x Rp 5. Kajian Manfaat dan Biaya Penambangan Bijih Besi . DAFTAR PUSTAKA Badan Pusat Statistik. KESIMPULAN DAN SARAN 4.000. Manfaat dari kegiatan penambangan bijih besi bagi penduduk sekitar lebih besar.Hilangnya pohon 1434 ph x Rp 150..- 4. 2008 John A.000 x 50 Jumlah (Rp) 60. dengan selisih Rp 16. Sedangkan untuk meminimalkan dampak negatif. perlu di lakukan upaya pengelolaan.100. bila dibandingkan dengan biaya eksternalitas. Kumpulan Materi Ekonomi Lingkungan. dapat disimpulkan sebagai berikut : 1.000. Endang Suryati dan M. Jumlah penduduk usia produktif setempat yang dapat direkrut di kegiatan penambangan bijih besi sekitar 35. Adanya peningkatan pendapatan masyarakat dan peningkatan pendapatan daerah yang berasal dari pajak-pajak.000. 2. 3.000.60.403.120. terutama yang menyangkut masalah hajat masyarakat pada umumnya seperti keperluan air bersih. 4. Sukanto Reksohadiprojo. Prof.000..1993. Dixon. terutama dalam peningkatan pendapatan masyarakat dan daerah.000. Saran Untuk memaksimalkan dampak positif.070.08 %. 2007. Dr.000.000.000.000.000.2.710.000 x 185 Persediaan air bersih 300 hr x 738 x Rp 800.

021 .35 m2/ g. Perolehan distilasi menunjukkan minyak sintetik ini lebih tepat diarahkan untuk menjadi solar berkadar sekitar 65 % berat. serta tergolong sebagai naftenik-naftenik menurut klasifikasi US Bureau of Mines. serta kenaikan rasio molar hidrogen/karbon (H/C) dari 1. Hidrotreating dilakukan terhadap fraksi solar ringan 180-300°C dengan katalis NiMo/Al2O3 tersebut pada alat autoclave pada tiga kondisi perbandingan hidrogen dan umpan. hidrotreating 204 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Dalam penelitian ini telah dipreparasi katalis monofungsional Ni-Mo/Al2O3 dengan konsentrasi Ni dan Mo masing-masing 3 dan 12%.75.6030483 Fax.MINYAK SINTETIK DARI PENCAIRAN BATUBARA DAN PENINGKATAN MUTUNYA SEBAGAI BAHAN BAKAR Muh Kurniawan1.6003373 e-mail : ninings@tekmira.079 % menjadi 0.9664 menjadi 0. Tujuan penelitian ini adalah adalah mengkarakterisasi minyak hasil pencairan batubara. luas permukaan 109. Cipulir-Kebayoran Lama. sulfur (S) dari 0. Kata kunci : minyak sintetik. Sudirman 623 Bandung 40211 Telp. peningkatan mutu. Watson dan Murphy). Jakarta Selatan 12230 Telp. Ciledug Raya Kav 109. Produk hidrotreating fraksi solar minyak sintetik tersebut mempunyai rasio hidrogen/karbon yang diperoleh tersebut masih belum mendekati rasio hidrogen/karbon solar dari minyak bumi yaitu sebesar 1.82 %. 021 . dan kadar sulfur setelah presulfiding 6 %-wt.42. Novie Ardhyarini1. 022 . Untuk itu penelitian ini akan dilanjutkan dengan mengoptimalkan kondisi operasi hidrotreating dan komposisi katalisnya. kadar nitrogen dari 0.id SARI Teknologi pencairan batubara telah dikembangkan oleh Puslitbang Tekmira. Kondisi HDT-3 yang perbandingan hidrogen terhadap umpan paling besar memberikan hasil yang paling baik yaitu penurunan spesific gravity dari 0. Batubara cair (synthetic crude) yang dihasilkan tersebut mirip dengan minyak bumi yang masih perlu diolah dan ditingkatkan mutunya agar memenuhi syarat sebagai bahan bakar minyak. Minyak sintetik merupakan minyak yang berat dan termasuk klasifikasi aromatik menurut kriteria UOP (Nelson.7226011 2) Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl.3 % menjadi 80.58 % menjadi 0.016 %. kadar karbon dari 87. Nining Sudini Ningrum2 1) Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi (LEMIGAS) Jl.esdm. 022 .9247. Leni Herlina1.2675mL/g. volume pori 0. serta meningkatkan mutunya agar dapat memenuhi kriteria sebagai bahan bakar setara dengan bahan bakar dari minyak bumi. Jend.30 menjadi 1.17 %.7222583 Fax.go.

this experiment will be followed up by optimizing the operating conditions of hydro-treating and the catalyst composition. Watson dan Murphy). this synthetic crude is suitable to produce gasoil. Pada distilasi ini juga dilakukan pemotongan fraksi pada rentang temperatur 250-275°C dan 391419°C.75. Keywords: synthetic crude oil. The synthetic crude is similar to petroleum crude oil. hydro-treating 1. Temperatur ini setara dengan rentang temperatur pada distilasi hempel yang digunakan untuk pengklasifikasian hidrokarbon menurut LaneGarton(Riazi. Karakterisasi fraksi batubara cair. 2.016 %. Batubara cair (synthetic crude) yang dihasilkan identik dengan minyak bumi sehingga masih perlu diolah dan ditingkatkan mutunya agar memenuhi persyaratan sebagai bahan bakar minyak.079 % to 0.9664 to 0. Sehubungan dengan cadangan batubara nasional cukup besar maka pencairan batubara secara langsung merupakan salah satu peluang yang dapat menggantikan peranan minyak bumi sebagai bahan bakar cair untuk mesin transportasi dan industri. pore volume of 0.3 % to 80. dkk. which is 1. Penelitian pencairan batubara telah dikembangkan oleh PPP-Tekmira Bandung. nitrogen content from 0.58 % to 0.82 %.The experiment is conducted in three different conditions of hydrogen to feed ratio. Having 65%wt of distillation yield at 180-350°C.9247. surface area of 109. Proses fraksinasi dilakukan dengan distilasi True Boiling Point (TBP) menurut metode ASTM D2892. Hydro-treating experiment is conducted on light gasoil fraction (180-300°C) by using autoclave reactor and Ni-Mo/Al2O3 catalyst. dan pengujian Reid Vapor Pressure (RVP) dengan ASTM D-323(ASTM. serta meningkatkan mutunya agar dapat memenuhi kriteria sebagai bahan bakar setara dengan bahan bakar cair dari minyak bumi. HDT-3 condition with largest H2/feed ratio gave the best result.35 m2/g. proses fraksinasi. quality upgraded. and sulfur content of 6 %-wt (after presulfiding). preparasi katalis Ni-Mo/Al2O3 dan penelitian hidrotreating fraksi batubara cair akan disajikan pada makalah ini. sulphur content from 0. Minyak Sintetik dari Pencairan Batubara dan Peningkatan Mutunya . preparasi katalis Ni-Mo/Al2O3 dan penelitian hidrotreating terhadap fraksi solar dari batubara cair tersebut.2005).. Peningkatan mutu batubara cair tersebut dengan proses hidrotreating diteliti oleh PPPTMGB ”Lemigas”. and increasing of hidrogen/karbon (H/C) molar ratio from 1. Tujuan penelitian ini adalah mengkarakterisasi cairan hasil pencairan batubara. PENDAHULUAN Keterbatasan cadangan minyak bumi mendorong berbagai upaya untuk menemukan energi alternatif. Proses pencairan dinilai sesuai untuk meningkatkan nilai tambah batubara Indonesia yang sebagian besar bermutu rendah. The catalyst is a mono-functional Ni-Mo/Al2O3 catalyst having Ni and Mo concentration of 3 and 12%wt respectively. untuk pengujian titik nyala digunakan metode PMCC ASTM D-93. and classified as naphthenic-naphthenic according to US Bureau of Mines (Lane-Garton). PERCOBAAN Karakterisasi sifat-sifat fisika batubara cair (synthetic crude) dilakukan menurut metode yang lazim dilakukan untuk minyak bumi. The purpose of this work is charaterizing synthetic crude and upgrading its quality to meet fuel criteria equivalent to conventional petroleum fuel. Untuk pengujian spesific gravity dilakukan dengan metode IP 189-190. Muh Kurniawan. classified as aromatic oil according to UOP ((Nelson. 205 . that is necessary to be refined and upgraded to meet fuel specification.ABSTRACT Coal liquefaction technology have been developed by Puslitbang Tekmira. 2005). The synthetic crude is a heavy oil.. The hydrogen/carbon (H/C) ratio of this hydro-treated gasoil is still lower than that of petroleum gasoil. resulting a liquefied coal or synthetic crude oil.17 %. dalam penelitian ini dilakukan karakterisasi batubara cair. untuk viskositas kinematis digunakan metode ASTM D-445.30 to 1. Untuk itu. For this reason. It is observed from the decreasing of spesific gravity from 0.2675mL/g.42. carbon content from 87.

Sementara itu. Hasil ini terlihat juga pada kurva distilasi TBP dalam Gambar 2. 2004). Adapun perbandingan katalis terhadap umpan dibuat tetap sebesar 10% berat. HASIL DAN DISKUSI 3.04 dan °API 4. Proses hidrotreating dilakukan terhadap fraksi 180300°C dari minyak sintetik dengan katalis monofungsional Ni-Mo/Al 2 O 3 yang telah dipresulfiding. 2005). Kondisi operasi hidrotreating Parameter Umpan Katalis Tekanan Suhu Waktu Vol. Secara keseluruhan. disajikan pada Tabel 1. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa minyak hasil pencairan batubara ini mengandung banyak senyawa aromatik (Riazi. Suhu. hasil pengukuran °API pada fraksi distilat 250-275°C dan 391-419C menggolongkan karakteristik minyak sintetik ini sebagai NaftenikNaftenik menurut Lane-Garton. Sulfur-Oxygen Analyzer) (Bhattacharryya. Dua sifat penguapan yaitu Reid Vapor Pressure (RVP) sebesar 0 psi dan flash point di atas 100°C menunjukkan bahwa kadar fraksi ringan dalam batubara cair ini sedikit.6. Produk reaksi hidrotreating fraksi (180-3000C) minyak sintetik kemudian dikarakterisasi sifat fisikanya antara lain spesific gravity dan viskositas kinematik. termasuk kategori minyak berat dalam klasifikasi yang lazim diterapkan dalam minyak bumi konvensional. Komposisi katalis hidrotreating adalah kadar nikel dan molibdenum masing-masing sebesar 3 dan 12 % berat. Reaktor yang digunakan adalah autoclave dengan kapasitas 500 mL. Komposisi kimia ditentukan dengan alat CHNS-O Analyzer (Carbon. Autoclave Pada penelitian ini dilakukan tiga kondisi operasi hidrotreating dengan memvariasikan perbandingan jumlah umpan dengan gas hidrogen. 2005). Tabel 1. Viskositas kinematik minyak sintetik ini berkisar pada 5 cSt dan pour point-nya di bawah nol celsius sehingga tidak memerlukan perlakuan khusus pada suhu ruang. serta kadar sulfur 6 % berat dari presulfiding(Kokayeff. Reaktor yang digunakan adalah autoclave bervolume 500mL yang juga akan dipakai untuk penelitian hidrotreating. Gambar 1. H2 Satuan mL gr Bar oC Menit mL HDT-1 HDT-2 HDT-3 250 25 40 390 80 250 100 10 40 390 80 400 50 5 40 390 80 450 3. waktu reaksi. Watson dan Murphy). (Gambar 1).4 menempatkan minyak sintetik ke dalam klasifikasi aromatik menurut kriteria UOP (Nelson. Nilai K-UOP sebasar 9.5 gram dimetil disulfida dengan pelarut solar komersial sebanyak 200mL. Suhu operasi presulfiding adalah 300°C selama 200 menit dengan tekanan awal gas hidrogen 40 bar.1. Karakteristik Batubara cair Hasil karakterisasi batubara cair dapat dilihat pada Tabel 2. ketiga kondisi operasi 206 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Nitrogen. Setelah impregnasi dilanjutkan dengan kalsinasi pada suhu 400°C selama 4 jam. Hydrogen. Sebanyak 40 gram katalis disulfurisasi dengan 18. Sistem pengadukan adalah horizontal shaking dengan kecepatan 37-150 rpm dan jarak pengadukan 100mm. Minyak sintetik ini mempunyai spesific gravity (SG) 1. dan tekanan awal juga tetap untuk ketiga kondisi.Katalis hidrotreating monofungsional Ni-Mo/Al2O3 dipreparasi dengan mengimpregnasi support alumina (Al2O3) dengan inti logam nikel dari garam nitrat dan logam molibdenum dari amonium molibdat.

hasil percobaan hidrotreating dengan ketiga kondisi dapat dilihat pada Gambar 3. Muh Kurniawan.6 5. Umpan HDT-1 HDT-2 HDT-3 Gambar 3. fraksi yang diperoleh hanya sekitar 0.796 3. 2005). dengan menyisakan residu sekitar 4% berat.Ni . Sampai dengan suhu 180°C. Secara visual.2. maka dilakukan penelitian untuk peningkatan mutunyadengan proses hidrotreating.1982)..4 NaftenikNaftenik Karakteristik katalis hidrotreating yang telah dipreparasi secara laboratorium. dkk. Karakteristik batubara cair Parameter Spesific Gravity 60/60°F °API Viskositas Kinematik @ 100°F @ 140°F Titik Tuang Flash Point PMCC Reid Vapor Pressure K-UOP Karakteristik Lane-Garton Satuan — — cSt °C °C Psi — — Nilai 1. volume pori. Tabel 3. Gambar 2. 207 . Sehubungan dengan fraksi solar (180-300°C) yang diperoleh ini berkadar aromatik tinggi. Minyak Sintetik dari Pencairan Batubara dan Peningkatan Mutunya . dan HDT-3 Ketiga produk hidrotreating tersebut menunjukkan perubahan warna dibandingkan dengan umpannya.Mo Luas Permukaan Volume Pori Kadar Sulfur Satuan %-wt %-wt m2/g mL/g %-wt Nilai 3. Fraksi berat di atas 350°C hingga titik didih akhir pada 520°C diperoleh sekitar 30% berat.513 4. di mana kondisi HDT-3 memberikan hasil yang paling baik (Tabel 4) (Armstrong.5% berat. minyak sintetik tersebut cukup baik diarahkan untuk pembuatan gasoil.040 4. HDT-2. luas permukaan. Umpan dan produk percobaan hidrtrotreating dengan kondisi HDT-1. yaitu konsentrasi Ni-Mo.354 -20 105 0. yaitu warna produk menjadi lebih terang.0 9. Kurva kemudian terlihat mendatar pada rentang 250 sampai 350°C. dan kadar sulfur katalis mendekati karakteristik katalis hidrotreating komersial (Tabel 3) (Bhattacharryya. yaitu HDT-1. HDT-2 dan HDT-3 berturut-turut memiliki rasio H2 terhadap umpan semakin besar. dengan perolehan sekitar 65% dari total minyak sintetik. Kurva distilasi TBP batubara Cair Kurva ini memberikan gambaran titik didih awal (IBP) yang relatif tinggi yaitu di atas 150°C. Proses Hidrotreating Proses hidrotreating dilakukan pada tiga kondisi sebagaimana ditampilkan pada Tabel 1. Berdasarkan kurva distilasi TBP. Dari ketiga kondisi tersebut..268 5.0 12. Karakteristik Katalis Hidrotreating Parameter Konsentrasi : . yang menunjukkan perolehan fraksi solar yang paling besar yaitu sekitar 65% berat.0 109.Tabel 2.3 0.

.03 1.17 %berat sulfur (S) dari 0.42 Hasil penelitian proses penghidromurnian fraksi 180 – 300oC dari minyak sintetik dengan bantuan katalis Ni-Mo/Al2O3 dengan kadar sulfur 6. Hydro-treating coal-derived liquid distillation fractions.. Duayne.82 208 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . vol.56 1.30 menjadi 1. 1982) %. “ Chapter 8.58 %berat menjadi 0. di mana HDT3 memberikan hasil yang paling baik. 1032-1037 Kokayeff. 1982 dan Jankowski. sulfur (S) dari 0. R. Handbook Of Petroleum Refining Processes 3rd Ed. Untuk memperoleh rasio hidrogen/karbon (H/C) setara solar dari minyak bumi yaitu H/C = 1. Fuel. Watson dan Murphy).32 HDT-2 3. Characterzation and Properties of Petroleum Fractions. kadar nitrogen dari 0. 2005.026 3.3 % menjadi 80. kadar karbon (C) dari 87.75.41 Riazi. Vol 05.079 2. vol 61. (2004). Karakterisasi produk hidrotreating Parameter Kinematik Visc.9664 87. Derbyshire. Jankowski A. serta kenaikan rasio hidrogen/karbon (H/C) dari 1. Talukdar.67 9. vol. 2005 Armstrong P. DAFTAR PUSTAKA Annual Book of ASTM Standards. Odoerfer and Leslie R. Malvina Farcasiu. Minyak sintetik ini mengandung fraksi solar (180300°C) sebesar 30% berkadar aromatik tinggi.30 0. 2005 Whitehurst D.3 UOP Uniofining Technology”.016 %..53 9.320 0. 1.316 0. kadar karbon (C) dari 87. Narosa Publishing House. Hasil percobaan hidrotreating terhadap fraksi solar ringan 180-300C menunjukkan perbaikan karakteristik produk solar tersebut. serta tergolong sebagai Naftenik-Naftenik menurut klasifikasi Lane-Garton. 1051-1057. Bhattacharryya K. Butrill Jr. 8. 61. 1982.30 menjadi 1. M. Anup K.42. dan adanya kenaikan rasio hidrogen/karbon (H/C) dari 1.9247 80.42.. Werner Doehler and Ulrich Graeser.17 %. maka proses hidrotreating fraksi 180-300°C tersebut masih perlu ditingkatkan kondisi operasinya dengan pengoptimalan komposisi katalis.079 %berat menjadi 0. India. nitrogen (N) dari 0.9574 84.3 %berat menjadi 80.17 0. dengan penurunan spesific gravity dari 0.57 0.32 0. 61.9247.31-8.027 5. by diff. Untuk memperoleh rasio hidrogen/karbon setara solar dari minyak bumi yaitu sebesar 1.30 9.75.42 1. Fuel. Catalysis in Petroleum and Petrochemical Industries. P.71 1.9365 86. Fuel. New characterization techniques for coal-derived liquids.0 % berat pada tiga jenis kondisi operasi menunjukkan peningkatan mutu fraksi 180-300oC tersebut dengan diamatinya penurunan karakteristik produk hidrotreating yaitu antara lain: spesific gravity dari 0. Upgrading of syncrude from coal.961 0.G.. maka proses penghidromurnian fraksi 180-300oC berkadar aromatik besar tersebut masih perlu ditingkatkan kondisi operasinya dengan pengoptimalan komposisi katalis (Whitehurst.9664 menjadi 0. 1982.725 0.30 HDT-1 3.97 0. ASTM. George A. Sidney E. Study of single-stage treated products for transport fuel use..079 % menjadi 0.47 0.02.Tabel 4. Rasio H/C Umpan 5.58 0. Rudnick.16 %berat. Francis J.58 % menjadi 0.9247. 1982.82 %berat.82 9.9664 menjadi 0.016 9.41 0. 4. KESIMPULAN Batubara cair ini tergolong minyak berat dengan klasifikasi aromatik menurut kriteria UOP (Nelson.38 HDT-3 2. (40oC) SG 60/60 Carbon (%-wt) Hidrogen (%-wt) Nitrogen (%-wt) Sulfur (%-wt) Oksigen.

Jakarta Selatan 12230 Telp. or indirect coal liquefaction or coal to liquid technology (CTL) such as CTL technology of SASOL in South Africa over Fischer Tropsch processes of syn-gas (CO+H2) from gasification of bituminous coal. 209 . Coal liquefaction into the synthetic crude can be direct coal liquefaction. such as brown coal liquefaction (BCL) and NEDOL aJapan’s technology.S.756 billions ton in the 2008 and the part of this coal can be converted into synthetic crude to substituted the imported crude oil. Nasution*.go. A. pencairan batubara dan proses Fischer-Tropcsh ABTSRACT Indonesia’s petroleum refinery processes is about 1. Produk minyak sintetik dari proses pencairan batubara dapat ditingkatkan dengan pengembangan katalis dan optimalisasi kondisi operasi. Cipulir-Kebayoran Lama. 021 . 022 .756 milliar ton yang sebagian dapat dikonversi menjadi minyak sintetik untuk mensubtitusi minyak mentah import tersebut. ninings@tekmira. coal liquefaction and Fischer-Tropcsh processes.id. Jend. teknologi dari Jepang atau secara tidak langsung (indirect coal liquefaction) yaitu coal to liquid technology (CTL) teknologi CTL-SASOL. will be discussed briefly in this paper. Ciledug Raya Kav 109.075 juta barel/hari sedangkan produksi nasional hanya sekitar 0. 022 . Sudirman 623 Bandung 40211 Telp. The synthetic crude of this coal liquefaction can be increased by the catalyst developments and the optimum of the operating conditions of the coal liquefaction processes.esdm. Minyak sintetik tersebut dapat diolah menjadi bahan bakar minyak sintetik dengan proses katalitik pada kilang minyak bumi. 021 .BAHAN BAKAR MINYAK SINTETIK DARI PENCAIRAN BATUBARA A.id SARI Indonesia mengolah minyak mentah adalah sebesar 1.S.6030483 Fax.7222583 Fax. Coal liquefaction by BCL and Ficher-Tropsch processes into the synthetic crudes and their conversion into the synthetic fuel oil. Bahan Bakar Minyak Sintetik dari Pencairan Batubara. Leni Herlina* dan Nining Sudini Ningrum** * Pusat Teknologi Penelitian dan Pengembangan Minyak dan Gas Bumi (LEMIGAS) Jl. dkk. melalui proses Ficsher-Tropsch gas sintes (CO + H2) dari produk gasifikasi batubara (bituminous coal).6003373 e-mail : huda@tekmira. supplied by national production of about 0. Nasution. Afrika Selatan. Proses pencairan batubara menjadi minyak sintetik dengan proses BCL dan Ficsher-Tropsch serta pengolahan minyak sintetik tersebut menjadi bahan bakar minyak sintetik akan dibahas dalam makalah ini.go. National coal reserves are about of 104.75 million barrels/day and plus the imported crude oil. Kata kunci: minyak sintetik.esdm. Cadangan batubara Nasional pada tahun 2008 adalah sebesar 104. This synthetic crude can be converted into the synthetic fuel oil by catalytic process of the petroleum refinery.75 juta barel/hari dan kekuranganya masih diimport. Key words: synthetic fuel oil. Abdul Haris*.7226011 ** Pusat Teknologi Penelitian dan Pengembangan Mineral dan Batubara Jl. Miftahul Huda**. Pencairan batubara menjadi minyak sintetik dapat dilakukan secara langsung (direct coal liquefaction) yaitu Brown Coal Liquefaction (BCL) dan NEDOL.075 million barrels/day of the crude oils.

hidrogen. tanpa tahun). yang dimasukan ke dalam slurry reactor di mana molekul batubara direngkah menjadi produk minyak sintentik.75 juta barel/hari dan kekuranganya masih diimport (Dirjen Migas.756 milliar ton pada tahun 2008 dengan jenis low rank coal sekitar 60 % dari total cadangan. yaitu antara lain brown coal liquefaction (BCL) oleh Teknologi Jepang 210 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . PENDAHULUAN Indonesia mengolah minyak mentah sebesar 1. vehicle solvent. yang sebagian batubara tersebut dapat dicairkan menjadi minyak sitentik untuk mensubtitusi minyak mentah impor tersebut.1. hydrogen donating. melalui proses Fischer Tropsch gas sistesis ( CO + H2) dari produk gasifikasi batubara (bituminous coal) (Supriyadi. Cadangan batubara nasional cukup besar yaitu sekitar 104. katalis. Umpan proses hidrogenasi batubara adalah suatu suspensi dari campuran: batubara. yaitu brown coal liquefaction (BCL) dan NEDOL yang merupakan teknologi Jepang melalui proses hidrogenasi batubara yang hidrogennya dari produk gasifikasi batubara.Satterfield. 2006).2006. PENCAIRAN BATUBARA MENJADI MINYAK SINTETIK Pencairan batubara menjadi minyak sintetik terdiri atas dua jenis proses berikut : Proses pencairan batubara secara langsung ( direct coal liquefaction). tanpa tahun) Pembentukan produk minyak sintetik dari proses pencairan batubara (proses BCL dan proses   Pencairan Batubara dan Rantai Pasokan BBM  Impor Crude Oil  Impor BBM  Crude Oil  CSO  Batubara Indonesia  pada berbagai lokasi  Kilang Minyak  BBM  Untuk domestik  Pencairan Batubara  BBM  Untuk Ekspor  Masuknya CSO dalam rantai pasokan BBM terutama akan berdampak positif  dalam penyediaan BBM domestic dan mengurangi impor  Gambar 1. Jeffey Mulyono. Pencairan Batubara Pencairan batubara menjadi minyak sintetik dapat dilakukan secara langsung ( direct coal liquefaction) yang masih dalam taraf demonstration plant. 2.2006). Proses Fischer-Tropsch adalah suatu reductive polymerization reaction yang mengkonversi gas sintesis (CO + H2) menjadi produk utama hidrokarbon normal parafin dan normal olefin dengan bantuan katalis (Charles. seperti terlihat pada Gambar 1 (Sukardjo.075 juta barel/hari di mana produksi nasional hanya sekitar 0. Sedang pencairan batubara secara tak langsung (indirect coal liquefaction) atau coal to liquid technology (CTL) merupakan teknologi CTL SASOL telah dioperasikan sejak tahun 1950 di Afrika Selatan. Fischer-Tropsch) dengan berbagai jenis katalis dan pengolahan minyak sintetik tersebut menjadi bahan bakar minyak sintentik akan disajikan dalam makalah ini. N.

Proses pencairan batubara dengan memakai katalis monofungsional berinti aktif logam. dkk. katalis sub-micron. Satterfield. Pemutusan ikatan karbon di antara dua cincin aromatik dengan radikal hidrogen baik yang berasal dari hydrogen donating maupun yang berasal dari gas hidrogen dengan bantuan katalis Gambar 2. Hertan. Staker. R*1 + R*2 R1 R2 Produk minyak sintetik dari proses pencairan batubara dengan hydrogen donating saja tanpa katalis diamati menurun secara cepat dengan waktu reaksi. atau dapat juga terbentuk dari gas hidrogen dengan bantuan katalis. dkk. Nasution. Kelvin. dan juga dapat mempercepat terbentuknya radikal hidrogen dari gas hidrogen (Takau. Bahan Bakar Minyak Sintetik dari Pencairan Batubara. R. dkk.. 2002. Proses pencairan batubara secara tak langsung (indirect coal liquefaction) melalui proses Fischer Tropsch gas sintes ( CO+ H2) dari produk gasifikasi batubara (bitumineous coal) atau Coal to Liguid Technology. A. Model Molekul Zat Organik Batubara Umpan batubara pada proses hidrogenasi batubara muda ini dalam bentuk suspensi yaitu suatu campuran dari : bubuk batubara < 60 mesh. R* + H* RH Perengkahan lanjut dari radikal-radikal besar seperti asphaltene. oleh teknologi CTL-SASOL di Afrika Selatan yang telah beroprasi sejak tahun 1955.V.P.. preasphaltene menjadi radikal kecil yang lebih stabil seperti minyak sintetik dan olefin.melalui proses hidrogenasi batubara yang masih dalam taraf demonstration plant. Proses Hidrogenasi Batubara Batubara muda (low-rank coal) mengandung kadar oksigen tinggi dengan banyak grup fungsional berantai yang sangat reaktif mudah pecah oleh panas. 2002). hal ini diperkirakan karena keterbatasannya dalam pelepasan radikal hydrogen tersebut (R. hidrogen dan vehicle solvent dimasukan ke dalam suatu slurry reactor. tanpa tahun. Kelvin. hydrogen donating.S. N. 211 . 1985).S. dkk. 2. Satterfield. dan oil (minyak sintetik) seperti terlihat pada Gambar 3 (Charles N. serta mengandung grup aromatik dengan berat molekul relatif rendah. Gas hidrogen yang dipakai pada proses pencairan batubara ini diperoleh dari produk gasifikasi batubara seperti terlihat pada Gambar 2 (Takao. C*n H2n + 1 C*x H2x + 1 + CYH2Y di mana n = x + y Pengabungan radikal-radikal besar menjadi molekul yang kompleks (kokas). tanpa tahun): Radikal bergabung dengan radikal hidrogen ( H*) yang dihasilakan dari hidrogen donating tanpa atau dengan bantuan katalis. K. 2002). N.1... Staker. 1994. seperti FeS2 dapat mengaktifkan kembali hydrogen donating yang telah melepaskan radikal hydrogennya dengan reaksi hidrogenasi. dkk.P. Peter A.V. K.. sehingga proses pencairannya dapat menghasilkan perolehan minyak sintetik tinggi. 1994). Gambar 3. Nasution. preasphaltene. Mula-mula molekul batubara akan pecah secara termal menjadi beberapa jenis molekul radikal ( R*=C* n H2n + 1) seperti asphaltene. A. Konversi Batubara Stabilisasi radikal-radikal tersebut dengan beberapa reaksi radikal adalah berikut (Charles N.

Reaksi hidrokonversi Modifikasi katalis Fischer . seperti Ni-Mo/Al2O3-SiO2 dapat memecah cincin poliaromatik dari produk minyak sintetik tersebut melalui pembentukan senyawa antara ion karbonium ( R+) dengan bantuan inti aktif asam katalis baik Lewis maupun Bronsted seperti halnya pada proses hidrorengkah fraksi minyak bumi seperti terlihat pada Gambar 4 (R. -H+ –C–C–C C–C=C–C Ion karbonium beratom karbon C ³ 6 dapat membentuk ion karbonium siklis. Minyak sintetik.. 1979). K.F Lepage. tanpa tahun). N. Pengaruh vehicle solvent pada perolehan produk minyak sintetik disajikan pada Gambar 5 (Peter A. Keasaman katalis. 1987). yang akan 212 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . sehingga percampuran antara molekul batubara dengan katalis akan meningkat. m mol/g. 1985). Kelvin. Pengaruh Keasaman Katalis Pada Minyak Sintetik 2. 102 Gambar 5. Hertan. J..Tropsch yaitu katalis bifungsional berinti dua jenis aktif (logam dan asam) yaitu antara lain Fe/Ziolit dan Co/Al2O3 SiO2 akan mengkonversi senyawa olefin-1 menjadi olefin-2 melalui senyawa antara molekul ion karbonium (R+) yang lebih sulit berpolimerisasi menjadi produk normal hidrokarbon panjang +H+ C=C–C–C +C Vehicle solvent dapat menaikan kelarutan dan pendispersian bubuk batubara di dalam suspensi umpan. dkk. 1994. Pengaruh chain probability factor (α) adalah (α) : rp / rp + rt (rp dan rt = laju propogasi dan terminasi) pada distribusi produk utama hidrokarbon (minyak sintetik) tersebut disajikan pada Gambar 6 (Charles N. Wolk. sehingga kadar hidrokarbon poliaromatik (rasio atom C/H) dari produk minyak sintetik tersebut diamati relatif lebih tinggi dari pada fraksi yang di kandung oleh minyak bumi (Takau.. Satterfield. dan juga solvent tersebut dapat menghambat terjadinya pengabungan (repolymerization) antara radikalradikal besar menjadi molekul besar (kokas). kat . Gambar 4. akan mengkonversi gas sintes melalui suatu reductive polymerijation reaction menjadi produk utama normal hidrokarbon parafin dan normal olefin dengan sedikit produk samping senyawa organik oksigen seperti alkohol (Charles N. dkk. Staker.2. tanpa tahun).Katalis bifungsional berinti aktif logam dan asam.P.V. 2002. Satterfield. Proses Fischer-Tropsch Gas Sintes (CO + H2) Proses Fischer-Tropsch dengan memakai katalis konvensional monofungsional Fe atau Co berinti aktif logam saja. maf monofungsional tersebut cukup sulit. Ronald H.

1994. Pengaruh Alfa Pada Prosentase Produk terkonversi menjadi hidrokarbon aromatik yaitu : +H+ +H+ 3. tanpa tahun. Staker. A.Gambar 6. Co(1)/alumina silica dan c. Co/silica b. Kelvin. Nasution. Hildebrand. dkk. N.V. Fisher. Bensin dan solar diperoleh dari masing-masing fraksi ringan dan fraksi berat dari fraksi minyak sintetik tersebut dengan bantuan proses – proses katalitik seperti terlihat pada Tabel 2 (Charles N.. Richard E.S.F Lepage. Ronald H. Co (2)/alumina silica Gambar 7. Hubungan antara jumlah atom karbon pada fraksi mol relatif Bahan Bakar Minyak Sintetik dari Pencairan Batubara.P. 1979). J. Minyak sintetik dari pencairan batubara secara langsung mengandung banyak hidrokarbon aromatik sehingga pengolahan fraksi berat minyak sintetiknya menjadi produk solar memerlukan proses hidropemurnian tinggi atau proses hidrorengkah. Proses-proses katalitik yang dioperasikan Fraksi mol realtif Jumlah atom karbon Catatan : a. 1987). Satterfield. BAHAN BAKAR MINYAK SINTETIK C6H12 C6H13 + Proses Fischer-Tropsch gas sintesa dengan katalis bifungsional dapat menghasilkan produk utama berkadar banyak iso-olefin rendah (C 4 – C 7) dengan sedikit produk samping metana seperti terlihat pada Gambar 7 dan Tabel 1(R. 213 .

Tabel 1.180 °C Fraksi Sedang 180 . yaitu: bergabung Tabel 2.350 °C Fraksi Berat > 350 °C 214 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Produk Minyak Sintetik Dengan Katalis Fe/Zeolit Pengaruh Kadar MnO Pada Katalis Fe-MnO/Zeolit pada kilang minyak yaitu: Dimerisasi fraksi gas (C3 / C4) Isomerisasi fraksi nafta ringan (C5 / C6 ) Reformasi fraksi nafta berat (C7 – 180o ) Hidrotreating fraksi berat (180o – 350o C ) Hidrorengkah fraksi berat (>350o C) Mekanisme reaksi dari proses katalitik tersebut (kecuali proses hydrotreating) membentuk senyawa antara ion karbonium (R +) dengan bantuan inti aktif asam dari katalis bifungsional (kecuali proses dimerisasi) yang kemudian masing-masing bereaksi. HF Bifungsional Pt pada Al2O2-Cl atau zeolit Bifungsional Pt/Rh atau Pt/Sn pada Al2O2-Cl Monofungsional Ni/Mo atau Ni/W pada Al2O2 Bifungsional Ni/Mo atau Ni/W pada Al2O2-SiO2 atau zeolit Katalis Fraksi Gas Olefin C2/C4 Fraksi Nafta Ringan C5/C6 Fraksi Nafta Berat C7 . Pembuatan Bahan Bakar Minyak Sintetik Umpan Proses Katalistik/Produk Dimerisasi/Dimer Isomerisasi/Isomerat Reforming/Reformat Hidrotreating/Kerosin + Solar Hidrorengkah/Kerosin + Solar H2SO4.

215 . Gambar 9. Minyak sintetik dari proses pencairan batubara dapat meningkatkan pemanfaatan potensi batubara dan juga mensubtitusi sebagian impor minyak mentah dan bahan bakar minyak.S. dkk. dan pecah (hidrorengkah) menjadi produk – produk utamanya seperti terlihat pada Gambar 8. kerosin dan solar dengan memakai proses – proses katalitik yang dioperasikan di kilang minyak bumi. Nasution. siklisasi (reforming). Reaksi Hidrokonversi Parafin Bahan Bakar Minyak Sintetik dari Pencairan Batubara.dan Gambar 9 (J. PENUTUP Minyak sintetik dari proses pencairan batubara secara langsung ( direct coal liquefaction) atau secara tak langsung (indirect coal liquefaction) dapat dikonversi menjadi bahan bakar minyak sintetik setara bensin.Gambar 8. 4. 1987). isomerisasi.F Lepage. Proses katalitik memegang peranan penting pada pencairan batubara dan konversi minyak sintetik tersebut menjadi bahan bakar minyak sintetik. A. Mekanisme Reaksi Dengan Katalis Bifungsional (dimerisasi).

Sukardjo. New York. Seminar Nasional Penciran Batubara Ladang Minyak Masa Depan. Nasution. Jakarta 12 Desember 2002. Seminar Nasional Penciran Batubara Ladang Minyak Masa Depan. Hertan. (331343) Symposium Paper. Ronald H. Peter A. Fuel. Advances in Coal Utilization Technology. Jakarta 13 Januari 2006. J. PP 1251-1254 Ronald H. 216 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Wolk. hydrogenation of brown coal. (273-290). Sumber Daya Batubara Indonesia. Hildebrand.P. Katalis Limonite Soroako Pada Prosese Pencairan Batubara Banko. hydrogenation Characteristics Of Australian Coals. 1994 Elservier Science B. Vol 64. 1979.V. Kentucky. Satterfield. 2th Heterogeneous Catalysis Industrial Practice. Noriyuki. Edition Technip. pp. pp 287. Indonesian Japan Coal Liguefaction Seminar.S. Seminar Pencairan Batu Bara Banko Indonesia 2002. Roy Jackson and Frank B. Nining Sudiningrum Dan Chairil Anwar. Mc GrawHill I Nc. Production Of Lube-Oil Blending Stock Through Hydrotreating. W. Staker and N. Supriyadi. 1979. Paris 1987. Jakarta 13 Januari 2006. A. Kentucky. Pusat Sumber Daya Geologi. Lorkins. Penyedian dan Kebutuhan Batubara untuk Bahan Baku Pencairan Batubara. Symposium Paper. Kelvin. Advances in Coal Utilization Technology.Respons Of Oil Yields To Process Conditions. Jeffey Mulyono. Overview of Liquefaction Process Technology. Jakarta 22 Februari 2002. Jakarta 13 Januari 2006. Transportation Fuels Synthetic Gas. September 1985.F Lepage. R. Okuyama And Masaaki Tamura. (b3). Synthetic Gas And Associated Processes Pp 419-470. Fisher and Richard E.DAFAR PUSTAKA Direktorat Jenderal Minyak Dan Gas Bumi Kebijakan Dan Kebutuhan Bahan Bakar. Liquefaction Of Banko Coal With Limonite Catalyst. Ass.V. Oberlin Sidjabat. Satoru Sugita. Charles N. pp 16-19 Gas Conversion. Seminar Nasional Pencairan Batubara “Ladang Minyak Masa Depan”. pp 435-466 Applied Heterogeneous Catalysis.335. Deputi Menko Perekonomian Kebijakan Pemerintah Dalam Program Aksi Pencairan Batubara. Takau kaneko And Eiichiro Makito.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful