ISBN 978-979-8461-63-3

PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI MINERAL DAN BATUBARA
“Konstribusi Litbang Mineral dan Batubara

Dalam Mendukung Pelaksanaan Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara”

Bandung, 15 Juli 2009

Editor : Binarko Santoso Pramusanto I.G. Ngurah Ardha Husaini Datin Fatia Umar Darsa Permana Slamet Suprapto Tatang Wahyudi Retno Damayanti Fauzan

D M AN A SUMBERDAY

DEPARTEMEN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI MINERAL DAN BATUBARA 2009

IN

ER AL

I RG ENE

Hak Cipta / Penerbit

MIRA
Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. Jend. Sudirman No. 623, Bandung 40211 Telepon : 022 - 6030483, Fax : 022 - 6003373

Penasihat Kepala Badan Litbang ESDM Penanggung Jawab Kepala Puslitbang tekMIRA Panitia Pengarah Kuswandani, Suganal, Edwin Daranin R.M. Nendaryono, Siti Rochani Dewan Redaksi Binarko Santoso Staf Redaksi Doeto Poespojoedo, Umar Antana Bachtiar Efendi, Arie Aryansyah, Hatif Hidayat Moderator Datin Fatia Umar, Miftahul Huda, Edwin Daranin Yenny Sofaety, R.M. Nendaryono, Stefano Munir Notulis Kuswandani, Wiroto, Isyatun Rodliyah Sri Sugiarti, Dedi Yaskuri, Hasniati Artika Nuryadi Saleh

ISBN 978-979-8461-63-3 Hak cipta dilindungi oleh Undang-undang Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit

KATA PENGANTAR

Dalam rangka mensosialisasikan Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, yang menggantikan Undang-undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan, Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara (tekMIRA) telah menyelenggarakan Kolokium Pertambangan 2009 pada tanggal 15 Juli 2009, Kolokium yang bertemakan “Konstribusi Litbang Mineral dan Batubara Dalam Mendukung Pelaksanaan Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara”, dihadiri oleh para pejabat pemerintah di tingkat pusat dan daerah, pelaku usaha, para peneliti dan pejabat fungsional lainnya, mahasiswa serta masyarakat luas yang terkait dengan pengembangan pertambangan mineral dan batubara. Sebagai lembaga litbang di bidang teknologi mineral dan batubara, Puslitbang tekMIRA diharapkan dapat berperan secara aktif dalam meningkatkan nilai tambah mineral dan batubara sebagaimana amanat yang terkandung dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tersebut. Di samping itu, melalui kegiatan ini diharapkan pula dapat diperoleh masukan dari pelaku industri dan masyarakat pertambangan tentang posisi, peran, dan kontribusi litbang mineral dan batubara dalam menunjang pelaksanaan Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. Prosiding ini merupakan rangkuman dari seluruh makalah yang dipresentasikan dalam Kolokium, serta diharapkan dapat dijadikan salah satu rujukan mengenai perkembangan pertambangan, penelitian, dan kajian yang berhubungan dengan peningkatan nilai tambah mineral dan batubara. Melalui prosiding ini, siapapun dapat melihat sampai sejauhmana para peneliti Indonesia telah berkiprah dalam memajukan sektor pertambangan mineral dan batubara nasional. Dalam kesempatan ini kami menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak, baik perorangan, perusahan, instansi pemerintah, perguruan tinggi maupun seluruh pembicara dan peserta, atas pemikiran atau karya-karya terbaiknya, sehingga Prosiding ini memiliki nilai keilmiahan yang baik. Kami menyadari banyak kekurangan dalam penyusunan dan penerbitan Prosiding ini. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan penyusunan dan penerbitan Prosiding di masa yang akan datang.

Bandung, 15 Juli 2009

Tim Penyunting

PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009

i

Saudara-saudara Sekalian. Para Pejabat Eselon I di Lingkungan Departemen ESDM atau yang mewakilinya. Para Profesor Riset dan Pejabat Fungsional di Lingkungan Badan Litbang ESDM. Salam Sejahtera bagi Kita Semua. dan/atau memfasilitasi pelaksanaan litbang mineral dan batubara. dan masyarakat luas. Perlu dicatat pula. 15 JULI 2009 Yang kami hormati. Para Pejabat Eselon II di Lingkungan Departemen ESDM atau yang mewakilinya. memang sudah menjadi agenda tahunan yang diharapkan dapat menampilkan karya yang bermanfaat bagi para pemangku kepentingan.SAMBUTAN KEPALA BADAN LITBANG ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL PADA ACARA KOLOKIUM PUSLITBANG TEKNOLOGI MINERAL DAN BATUBARA BANDUNG. Kedua pasal tersebut merupakan spirit dan juga momentum yang akan lebih memacu kegiatan litbang mineral dan batubara di tanah air. kolokium di lembaga litbang akan menjadi tolok ukur sampai sejauhmana para peneliti dan pejabat fungsional kita lainnya mampu mengembangkan diri dalam upaya berkontribusi bagi kemajuan sektor ESDM di tanah air. industri. Peserta Kolokium yang Saya Hormati. Undangan dan Hadirin yang Berbahagia Assalamualaikum Warohmatullohi Wabarokatuh. khususnya yang berhubungan dengan pasal 95 huruf c dan pasal 146. khususnya yang menyangkut isi pasal 95 huruf c tentang kewajiban perusahaan untuk meningkatkan nilai tambah mineral dan/atau batubara di dalam negeri. Kolokium Puslitbang tekMIRA kali ini bertemakan “Kontribusi Litbang Mineral dan Batubara Dalam Mendukung Pelaksanaan Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara”. karena berkat perkenan-Nya kita dapat menghadiri acara Kolokium yang diselenggarakan oleh Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara (tekMIRA). Terkait dengan pemberlakuan Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009. Saya menilai tema kolokium 2009 ini sebagai bentuk tanggung jawab Puslitbang tekMIRA untuk berperanserta dalam pelaksanaan Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009. Selamat Pagi. Puji dan syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu Wata’alla. yaitu pemerintah. Tuhan Yang Maha Kuasa. melaksanakan. saya minta kepada seluruh jajaran di Puslitbang tekMIRA untuk PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 ii . Penyelenggaraan kolokium di Puslitbang tekMIRA – dan juga Puslitbang lain di lingkungan Badan Litbang ESDM. sekaligus menjadi stimulus bagi Puslitbang tekMIRA agar menghasilkan karya litbang yang lebih baik dan berbobot serta mampu bersaing dengan lembaga litbang sejenis. serta pasal 146 tentang kewajiban pemerintah dan pemerintah daerah untuk mendorong.

Dalam beberapa hal. Tetapi tidak selamanya peningkatan nilai tambah akan memberi keuntungan jika dijual ke pasaran.melaksanakan beberapa hal berikut ini: Pertama. Ini berarti. Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 yang bernuansa desentralisasi – artinya pengelolaan pertambangan mineral dan batubara berada di pemerintah daerah. mengikuti berbagai kursus atau pertemuan ilmiah. perlu mendapat prioritas utama. Puslitbang tekMIRA harus berani memulai kegiatan litbang yang berorientasi pada peningkatan nilai tambah. dan hal-hal lain yang pada intinya dapat sarana untuk meningkatkan kemampuan mereka. tetapi juga kemakmuran bagi masyarakat. Persoalannya adalah. Puslitbang tekMIRA harus dapat mengatasi permasalahan sebagai langkah penanggulangan. mengharuskan kita untuk secara lebih intens menjalin kerja sama dengan mereka. Ketiga. fokus kepada pemecahan permasalahan yang sedang dan kemungkinan akan dihadapi oleh industri pertambangan mineral dan batubara. baik di dalam maupun di luar negeri. Selain dengan pemerintah daerah. iii PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . sebagaimana dialami oleh hampir seluruh instansi pemerintah. Puslitbang tekMIRA juga pasti merasakan kebijakan “zero growth” yang ditetapkan beberapa tahun yang lalu. Dalam berbagai kesempatan. di sisi lain. dan dapat bersaing dengan para pakar di dalam negeri maupun di forum internasional. tingkatkan kualitas sumber daya manusia. Bagaimanapun keberadaan karyawan yunior ini merupakan modal dasar bagi eksistensi Puslitbang tekMIRA ke depan. saya yakin Puslitbang tekMIRA memiliki sumber daya manusia (SDM) yang telah mampu melaksanakan penelitian secara profesional. peningkatan kerja sama dengan lembaga litbang lain. Sebagai lembaga litbang. tetapi. tingkatkan kerja sama dengan pemangku kepentingan (stakeholders). magang pada perusahaan besar. kerja sama tersebut harus dapat menghasilkan sesuatu yang tidak saja “menguntungkan” Puslitbang tekMIRA. ke depan. juga harus dapat memprediksi arah kecenderungan yang terjadi sebagai langkah antisipasi agar tidak berada pada kondisi status quo dan melaksanakan pekerjaan yang bersifat rutin atau business as usual. solusi yang dapat ditempuh adalah dengan membuka kesempatan kepada karyawan yunior untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. apakah Puslitbang tekMIRA akan menjadi leader atau follower dalam industri mineral dan batubara di tanah air? Saya katakan bahwa Puslitbang tekMIRA mesti fokus pada keduanya. Keempat. memerlukan percepatan regenerasi dan “transfer of knowledge”. Hal ini penting dilakukan sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan kemampuan Puslitbang tekMIRA menghadapi tantangan masa kini dan masa depan. serta untuk mengukur di mana posisi Puslitbang tekMIRA berada. Seluruh kerja sama antara Puslitbang tekMIRA dengan pemangku kepentingan sudah seharusnya bersifat saling bermanfaat bagi kedua belah pihak. saya selalu mengatakan bahwa lembaga litbang harus menjadi bagian tak terpisahkan dari dunia yang digelutinya. tetapi juga bermanfaat bagi pemerintah dan Daerah serta masyarakat pertambangan. Saya tahu Puslitbang tekMIRA telah lama melakukan hal itu. sehingga tidak terlalu sulit untuk meningkatkannya. artinya peningkatan nilai tambah akan mengakibatkan suatu material bernilai lebih tinggi dan menguntungkan. Kesenjangan antara senior dengan yunior yang semakin melebar. Hal ini disebabkan antara lain oleh adanya kompetitor yang berharga lebih murah. Kedua. nilai tambah dan keekonomian selalu berjalan beriringan. tidak saja memberikan kontribusi terhadap kemajuan bidang pertambangan mineral dan batubara. Untuk itu. di satu sisi. Namun. bukan menara gading yang tidak tersentuh dengan melakukan penelitian sesuai keinginannya sendiri. Namun perlu saya garis bawahi. Oleh karena itu. atau daya serap pasar masih kecil dan tidak sebanding dengan biaya produksi. fokus kepada litbang yang berorientasi pada peningkatan nilai tambah sekaligus memperhitungkan keekonomiannya. tetapi sekaligus menguntungkan jika dilempar ke pasaran.

Kelima. Saya tidak perlu mengulas lebih dalam. yaitu “bersatu kita teguh. yaitu dengan berupaya meningkatkan kemampuan rancang bangun dan rekayasa pada peralatan teknologi tinggi. bahkan seluruh keluarga besar Badan Litbang ESDM. lalu stagnan. Kepala. semoga dapat memaknai dan mengimplementasikannya demi tercapainya tujuan kita memajukan sektor ESDM pada khususnya dan masyarakat pada umumnya. jaga soliditas di lingkungan Puslitbang tekMIRA. Undangan dan Hadirin Sekalian. permasalahan seberat apapun akan menjadi jauh lebih ringan dan tidak sulit untuk dipecahkan. Terima kasih. optimalkan peralatan yang ada. Kita harus berbuat sesuatu. apapun latar belakang pendidikan Saudara. Keenam. untuk membuktikan sampai sejauhmana inovasi dan kreativitas Saudara-saudara andaikata sarana peralatan baru tersebut tidak terpenuhi. berat sama dipikul”. Ada ungkapan sederhana yang sudah lama kita kenal dan tahu artinya. Kolokium yang bertemakan “Kontribusi Litbang Mineral dan Batubara Dalam Mendukung Pelaksanaan Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara” secara resmi saya buka. Wassalamualaikum Warohmatullohi Wabarokatuh. Untuk itu. Saya telah menyinggung masalah ini pada acara “Sinkronisasi Kegiatan Litbang di Lingkungan Badan Litbang ESDM” pada 14-15 April 2009 yang lalu. Saya berharap Saudara-saudara dapat menyongsong era desentralisasi di bidang pertambangan mineral dan batubara ini dengan optimisme tinggi dan penuh rasa tanggung jawab. namun satu hal patut diingat bahwa jika keinginan untuk melengkapi dan memutakhirkan dengan sarana dan prasarana penelitian mutakhir tidak terpenuhi bukan berarti kita harus berdiam diri. Demikian sambutan dan arahan yang dapat saya sampaikan. serta tingkatkan kemampuan rancang bangun dan rekayasa. siapapun Saudara. Akhirnya dengan tetap memohon ridho Tuhan Yang Maha Kuasa. Insya Allah. Harapan saya kepada seluruh jajaran Puslitbang tekMIRA. Bambang Dwiyanto PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 iv . Berjalanlah dalam koridor Rencana Stratejik yang telah dibuat oleh Saudara-saudara sendiri. jangan pernah merasa yang satu lebih superior daripada yang lain. lalu bicara dan berbuatlah dengan bahasa yang sama dalam ikatan kesatuan yang kuat. Oleh karena itu saya mengajak peneliti Puslitbang tekMIRA dan juga peneliti Puslitbang lain di lingkungan Badan Litbang ESDM. dan di manapun Saudara ditempatkan. bercerai kita runtuh” dan “ringan sama dijinjing.

... untuk Bahan Baku Keramik Subari.. Provinsi Kalimantan Selatan....... Kabupaten Banyuwangi... Ijang Suherman Pengembangan Sistem dan Alat Pemantauan Sederhana untuk Mendeteksi ........................................................... Air Asam Tambang Siti Rafiah Untung dan Nia Rosnia H............. Keruntuhan Batuan Atap (Roof Failure) pada Tambang Bawah Tanah Zulfahmi................. pada Era Otonomi Daerah Umar Dhani Peningkatan Kadar Bijih Besi dari Daerah Pelaihari............ Producer Gas dari Batubara Slamet Suprapto dan Nurhadi Implementasi Pengelolaan Lingkungan Sektor Energi dan Sumber Daya Mineral ............................ DAFTAR ISI ...................... Hasniati Astika dan Supriatna Mujahidin Pemanfaatan Karbon Aktif dari Batubara pada Pengolahan ....... pada Era Globalisasi Djoko Sunarjanto dan Bambang Wicaksono Peluang Pengembangan Pertambangan Mineral dan Batubara ...... SAMBUTAN KEPALA BADAN LITBANG ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL ....................................................................................................................................... Kabupaten Tapin..................... Kecamatan Pesanggaran.KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 BANDUNG............................................ Propinsi Kalimantan ................................................ Pengaruh Titik Leleh Abu terhadap Pengendapannya pada Pembakaran ... Limbah Cair Industri Gula Ika Monika dan Nining Sudini Ningrum Kemungkinan Pemanfaatan Bakterisida Fenol untuk Pencegahan ........................................ Batubara dengan Pembakar Siklon di Beberapa Fasilitas Industri Sumaryono 55 70 1 i ii v 16 23 30 39 48 78 83 90 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 v .... ...... MAKALAH YANG DIPRESENTASIKAN Presentasi Makalah Paralel I Permasalahan Pengelolaan Potensi Emas di Gunung Tumpang Pitu ................. Enymia dan Sumarsih Presentasi Makalah Paralel II Masa Kini dan Masa Depan Batubara Indonesia ........................................... Jawa Timur Bambang Yunianto Pengembangan Metode Analisis Ter dan Partikulat dalam ................................ Nuryadi Saleh dan Apriandi Pengolahan Pasir Kuarsa Berlempung Asal Rantaubujur...................................... Selatan dengan Menggunakan Klasifayer dan Pemisah Magnetik Pramusanto. 15 JULI 2009 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR .......

. Miftahul Huda.....................Pengolahan dan Pemanfaatan Bauksit ........ Freeport Indonesia .......... Datin Fatia Umar dan Bukin Daulay MAKALAH DIPOSTERKAN Analisis Potensi Limbah Hasil Pembakaran Batubara pada Industri Kecil dan ............... 209 A... Yuhelda dan Firiza Yuliana Penggunaan Pasir Sungai sebagai Bed Material pada Gasifikasi Batubara ................ 181 Upgraded Brown Coal Skala Pilot Ikin Sodikin dan Datin Fatia Umar Analisis Dampak Ekonomi Teknologi Peningkatan Kualitas Batubara ......... 194 Propinsi Jambi Endang Suryati dan M. 115 Kalimantan Tengah dengan Electrostatic Separator Pramusanto..................... 105 Amalgamasi di Kegiatan Pertambangan Emas Rakyat Secara Sianidasi (Studi Kasus KUD Perintis.... Daerah Tonayan Selatan) M...................... 134 (Studi Kasus Perairan Bangka Utara) Ediar Usman dan Andri S...... Husaini Presentasi Makalah Paralel III 97 Karakteristik Merkuri dalam Sedimen dan Air pada Pengolahan Tailing .......................... Leni Herlina........ ............................. Novie Ardhyarini dan Nining Sudini Ningrum Bahan Bakar Minyak Sintetik dari Pencairan Batubara . 168 Slamet Suprapto Uji Sulfidasi Bijih Besi Kalimantan Selatan dan Tailing PT.... nasution.................................... Leni herlina dan Nining Sudini Ningrum vi PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Ijang Suherman........... Lutfi Minyak Sintetik dari Pencairan Batubara dan Peningkatan Mutunya ..... 175 sebagai Katalis Pencairan Batubara Nining Sudini Ningrum dan Hermanu Prijono Karakteristik dan Optimalisasi Pembriketan Batubara Hasil Proses ............ Nuryadi Saleh.......................... 161 Menengah di Pulau Jawa Triswan Suseno dan Tuti Hernawati Pengaruh Proses Upgraded Brown Coal (UBC) terhadap Peringkat Batubara .........S..... 204 sebagai Bahan Bakar Muh Kurniawan.. Subandrio Penetapan Nilai Bagi Hasil atas Produksi Batubara Mutu Rendah ... 122 Sistem Fluidized Bed Nurhadi dan Slamet Suprapto Metode Pengurangan Emisi Merkuri pada Pembakaran Batubara ................. 128 Roza Adriany Eksplorasi Potensi Konsentrat Timah Berdasarkan Data Seismik Refleksi ............ Abdul Haris....... Lutfi dan Retno Damayanti Pengaruh Penggunaan Ultrasonik terhadap Hasil Pemisahan Pasir Zirkon ............ 147 Rochman Saefudin............................................................. 189 Peringkat Rendah di Indonesia Gandhi Kurnia Hudaya Kajian Manfaat dan Biaya Penambangan Bijih Besi di Kabupaten Merangin........................

PRESENTASI MAKALAH PARALEL I .

dan 5) sesuai kebijakan otonomi daerah yang tertuang dalam UU No. the mining techniques. Kemudian perlu dilakukan pembinaan dan pengawasan. UU No. 022 . yaitu: 1) melakukan kajian kegiatan pertambangan terkait pemanfaatan lahan sektor lain. IMN yang memiliki potensi emas sekunder (alluvial). maka perlu dibentuk kantor/ dinas pertambangan dan energi yang tugasnya mengelola kegiatan pertambangan di daerah. 3) to allocate the mining area for the local community in the concession area of the company that contains gold placer. 022 . Kecamatan Pesanggaran. Berdasarkan penelaahan terhadap ke-empat isu tersebut diperlukan kesiapan daerah (Pemerintah Kabupaten Banyuwangi) dalam mengelola potensi emas di Gunung Tumpang Pitu. IMN). dan PP No. 33 Tahun 2004. IMN). it requires the regional readiness to manage the gold potential in the region. Bambang Yunianto 1 . to conduct guidance and monitoring. KABUPATEN BANYUWANGI.id SARI Isu pertambangan terkait pengelolaan potensi dan kegiatan pertambangan emas di Gunung Tumpang Pitu. Sudirman 623 Bandung 40211 Telp. tambang emas. JAWA TIMUR Bambang Yunianto Peneliti Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. tumpang tindih dengan sector lain. Regency of Banyuwangi include the gold mining.6030483 Fax. Based on the review toward these issues. 2) mengkaji kembali kegiatan pertambangan emas oleh PT. namely: 1) to assess the mining activity related to the land use. mining environment. Kabupaten Banyuwangi. Kata Kunci: isu pertambangan.6003373 e-mail : yunianto@tekmira. Indo Multi Niaga (PT. agar tidak menimbulkan permasalahan yang lebih besar dan kompleks. The regional readiness includes several activities. tetapi harus dengan persuasive. 4) dalam menangani persoalan Pertambangan Tanpa Izin (PETI) atau gurandil seyogyanya tidak menggunakan cara-cara represif. lingkungan maupun dalam manajemen berusaha terhadap para penambang rakyat tersebut. interest conflict and the socio-economic-culture. 2) to reassess the mining activity conducted by PT. Then..PERMASALAHAN PENGELOLAAN POTENSI EMAS DI GUNUNG TUMPANG PITU KECAMATAN PESANGGARAN. Kesiapan daerah tersebut meliputi beberapa kegiatan. lingkungan pertambangan.go. perlu dialokasikan Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) yang berasal dari wilayah konsesi PT. Banyuwangi meliputi isu potensi emas. Jend.esdm. 3) untuk menampung partisipasi masyarakat dalam pertambangan. baik dalam hal teknis penambangan. 32 tahun 2004. environment or the Permasalahan Pengelolaan Potensi Emas di Gunung Tumpang Pitu . dan isu sosekbud. pengelolaan potensi emas ABSTRACT The mining issues related to manage the potential and the activity of gold mining in Gunung Tumpang Pitu. District of Pesanggaran. Kecamatan Pesanggaran. kesiapan daerah. 38 Tahun 2007.. Indo Multi Niaga (PT.

Senin. kompilasi. Isu pertambangan di Kabupaten Banyuwangi tersebut memiliki bobot penting karena ada beberapa masalah. Kegiatan survai lapangan isu lingkungan dan tumpang-tindih pertambangan dengan sektor kehutanan di Pegunungan Tumpang Pitu di atas didasarkan pemberitaan dan informasi di media mass berikut: 1) “Emas vs Potensi Agraris Banyuwangi. isu tumpang-tindih sektor pertambangan dengan sektor lain (kehutanan. 2009 5) “Berebut Emas di Tumpang Pitu”. 4) “Penambang Emas Dadakan di Banyuwangi Capai 3 Ribu Orang”. Detik Surabaya. management of gold potential 1. Kabupaten Banyuwangi.management of the business for the miners. sebagaimana dipilih sesuai judul tulisan ini. Data primer berupa hasil wawancara langsung dengan berbagai pihak yang terkait dengan permasalahan pengelolaan potensi emas di Gunung Tumpang Pitu. Berdasarkan informasi secara informal. 28 April. Selasa. Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten 2 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . sekembalinya Tim Isu Pertambangan Puslitbang tekMIRA dari lapangan. 17 Mei 2009. Provinsi Jawa Timur sebetulnya terletak kepada kesiapan daerah di dalam pengelolaan pertambangan. sebagai bahan masukan bagi daerah dalam mengelola sumber daya tambang yang ada di daerahnya. isu pertambangan tersebut kembali mencuat setelah terjadi penangkapan terhadap para PETI yang dilakukan Polres Kabupaten Banyuwangi. Banyuwangi. 19 April 2008. Provinsi Jawa Timur dilakukan untuk menginventarisasi dan mengidentifikasi permasalahan mengenai isu lingkungan pertambangan tanpa izin (PETI) emas dan isu tumpang-tindih kegiatan PT. akar permasalahan dari mencuatnya isu pertambangan terkait potensi emas di Gunung Tumpang Pitu. Kegiatan survai lapangan pemantauan isu pertambangan di Kabupaten Banyuwangi. Data yang mendukung penulisan ini berupa data primer maupun sekunder hasil survai lapangan. dokumentasi. Sebentuk Kanibalisasi antar -Potensi”. Analisis data dilakukan secara deskriptif analitis. dan surveyor). wawancara berpanduan. Kabupaten Banyuwangi. UU 33/2004 and PP 38/2007. Kecamatan Pesanggaran. Jumat 27 Februari 2009. and 5) in accordance with the regional autonomy policy. dan masalah 2. Banyuwangi sesuai peraturan terkait. Bappeda Kabupaten Banyuwangi. Indo Multi Niaga (PT. it is required to set an office of mining and energy in managing mining operation in the region. Berita Fajar FM. Sedangkan dalam merekonstruksikan pemecahan permasalahan dan masukan bagi daerah didasarkan kepada pertimbangan-pertimbangan rasional dan berlandaskan kepada arah kebijakan pertambangan dan kebijakan lain yang terkait pada era otonomi daerah. Kecamatan Pesanggaran. but to persuade not to create a bigger problem and complex. Harian Kompas. Pengolahan data menggunakan teknik kategorisasi. Oleh karena itu. METODOLOGI Secara umum metodologi yang digunakan adalah pendekatan multidisiplin ilmu. dengan menggunakan berbagai parameter keilmuan dalam membahas permasalahan utama yang dikaji. IMN) di Pegunungan Tumpang Pitu. Kecamatan Pesanggaran. gold mine. Harian Kompas. regional readiness. seperti Pemda Perekonomian Kabupaten Banyuwangi. isu lingkungan. 2) “Masyarakat Banyuwangi Tolak Tambang Emas di Hutan Lindung Tumpang Pitu”. Penangkapan ini telah menyulut konflik antara aparat dan para PETI. Tim Isu Puslitbang tekMIRA menurunkan tim yang terdiri atas berbagai disiplin ilmu (tambang/ geologi. Rabu. Harian Kompas. UU 32/2004. serta isu sosial ekonomi kemasyarakatan. Keywords: mining issues. Inventarisasi data melalui teknik observasi. Maksud penulisan ini adalah mengidentifikasi dan menganalisis permasalahan pengelolaan potensi emas di Gunung Tumpang Pitu. dan diskusi. 4) not to apply repressive actions towards illegal mining. Kecamatan Pesanggaran. sosial ekonomi. Sabtu. dan tabelisasi. 16 Juni 2008 3) “Ribuan Penambang Emas Banyuwangi Diusir”. Berdasarkan hasil survai lapangan. pertanian dan perkebunan). PENDAHULUAN ini mendapat sorotan dari berbagai pihak di Kabupaten Banyuwangi. antara lain.

Kecamatan Pesanggaran serta informasi dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan mass media. Banyuwangi dengan Pak Mujiono. baik di tingkat Kabupaten Banyuwangi. 2) Koordinasi dan pendataan di Bappeda Kab.Banyuwangi. Pak Wahyu Diyono. Pak Rudianto tentang isu Lingkungan 3) 4) 5) 6) 7) PETI emas. Route survai lapangan tim isu pertambangan Puslitbang tekMIRA di Kabupaten Banyuwangi Permasalahan Pengelolaan Potensi Emas di Gunung Tumpang Pitu . dan masyarakat setempat. Mengenai route survai lapangan lihat Gambar 1. Sedangkan data sekunder berasal dari instansi terkait. Camat dan staf Kecamatan Pesanggaran. sedangkan dokumentasi survai lapangan dapat dilihat pada Lampiran Foto-Foto Survai Lapangan. Mengenai pelaksanaan kegiatan survai lapangan dari tanggal 20 – 25 April 2009 adalah: 1) Melakukan kegiatan koordinasi dengan Kepala Bagian Perekonomian (Pak Bambang Edi Sunaryo) dan Sekertaris (Bu Tri) tentang isu lingkungan PETI emas di pegunungan Tumpang Pitu di Kantor Pemda Kab. para gurandil.. Koordinasi dan pendataan dengan Kepala TU Kantor Lingkungan Hidup Kab. aparat keamanan yang bertugas di Gunung Tumpang Pitu. PT. Banyuwangi (Distamben belum ada). Banyuwangi (Pak Gatot Sudjadi). Bambang Yunianto 3 . Pendataan di BPS Kabupaten Banyuwangi dengan Pak Ruslan Survai lapangan ke lokasi di Kecamatan Pesanggaran. Gambar 1. IMN yang diwakili Pak Hilman dan Pak Yuswardi. PT. dan berkoordinasi dan diskusi dengan staf Kecamatan Pak Sujono dan Pak Sunoto. dokumentasi dan wawancara dengan gurandil. IMN. Survai ke lokasi PETI emas di sekitar pegunungan Tumpang Pitu.. Koordinasi dan diskusi denga PT. IMN dan tata ruang (hutan lindung).

000. Selain itu. IMN merupakan perusahaan tambang emas yang modalnya swasta nasional. Jumlah ini.45 ha.621. TN Meru Betiri.672. Sementara itu. Berdasarkan studi kelayakan PT. pada lokasi 56 gurandil/ PETI (Pertambangan Tanpa Izin) beroperasi pada wilayah Perhutani diperkirakan meliputi luas sekitar 203. 77.643 ton (BPS: 2007) atau setara dengan Rp. yakni TN Alas Purwo. Kontribusi komiditi getah pinus sebanyak 2. cadangan bijih yang dieksplorasi mencapai 9.1. Saat ini perusahaan menampung 125 warga menjadi buruh kasar.600. RPH Kesilir Baru.3 gr/ton. Menteri Kehutanan melalui surat S. POTENSI TAMBANG DAN SEKTOR LAIN DI GUNUNG TUMPANG PITU 3. KONDISI KEGIATAN PERTAMBANGAN 4. PT. Gunung Sumber Salak. hingga Juli 2009.3. Kadar emas di daerah ini adalah 2. andesit.2. kadar emas rata-rata 2. dan c. Selain cebakan emas primer yang ditemukan. 68. PETI/ Gurandil PETI/ gurandil beroperasi di Gunung Tumpang Pitu. KPH Banyuwangi Barat. dan kadar logam-logam lainnya tidak ada datanya.600. dan menjadikan kabupaten ini sebagai lumbung padi nasional. Keberadaan emas sekunder ini sebagian besar berada pada lahan Perhutani. granodiorit dan dasit. Dokumen Amdal PT IMN telah disahkan oleh Tim Amdal Propinsi Jawa Timur.000.2. yang penyebarannya mengikuti sungai-sungai tua pada jaman dahulu. 247.8 ton. Wonogiri. seperti di Cikotok. Gunung Wedi Ireng. Luas konsesi yang diberikan pemerintah sekitar 11.100 meter pada KP Eksplorasi PT. 4.5 ha dipetak 75. IMN) PT. dan KPH Banyuwangi Utara). Lembah Gunung Tumpang Pitu.3 ha dan hutan lindung seluas 1. keberadaan 3 KPH dan 3 TN tersebut secaraa riil telah memberikan kontribusi yang nyata bagi PAD kabupaten ini. 30 liter per/ detik. dan TN Baluran. Malang. Potensi Tambang Cebakan emas di daerah Pesanggaran ditemukan berdasarkan pada pemboran eksplorasi sebanyak 14 lubang bor dengan kedalaman total 4. setelah disidangkan oleh Bapedalda Jawa Timur pada 26 Mei lalu. Berdasarkan hasil tracking Tim Isu Pertambangan Puslitbang tekMIRA sewaktu survai. Banyumas. Kontribusi komoditi getah damar sebesar 49 ton senilai Rp. Biasanya emas ditemukan bersama logam lainnya seperti perak.6 miliar. BKPH Sukamade. Gunung Jatian. Indo Multi Niaga (PT.1. b. IMN meliputi kawasan Gunung Tumpang Pitu.251. Kontribusi komiditi kopi yang berada di dalam kawasan hutan produksi sebesar 10.2. 3. Keberadaan 3 KPH dan 3 TN ini berhubungan erat sumber mata air dan sungai-sungai yang menjadi sumber irigasi bagi sektor pertanian dan perkebunan yang saat ini diunggulkan sebagai sektor penting bagi Kabupaten Banyuwangi. 4. Pongkor.3 gram/ton. Kecamatan Pesanggaran. tembaga. Dusun Ringinagung.000 ton. dan akan ditingkatkan statusnya menjadi KP eksploitasi. Kontribusi sektor pertanian terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Banyuwangi (lebih dari 60%). Pemkab Banyuwangi telah menyetujui rencana mengajukan permohonan alih fungsi kawasan hutan lindung dalam KPH Banyuwangi Selatan.230. Lumajang. Di samping itu. IMN. padahal logam-logam tersebut memiliki nilai ekonomis bila sejak dini sudah diketahui nilai potensinya.3 ha (Gambar 2). Gunung Macan dan kawasan lindung setempat. memiliki andil dalam menopang ketahanan pangan nasional. Konsesi PT.000.000 dipulangkan 4 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Pacitan. a. kabupaten ini memiliki 3 Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) seperti Banyuwangi (KPH Banyuwangi Selatan.406/MENHUTVII/PW/2007 mengijinkan perusahaan melakukan eksplorasi selama 2 tahun.21 km2. 77 dan 78 kawasan hutan tersebut. Potensi Sektor Lainnya Kabupten Banyuwangi dikelilingi 3 Taman Nasional (TN). Data hasil kekayaan hutan non-kayu Banyuwangi pada tahun 2006 meliputi. Fenomena seperti ini sangat umum ditemukan di Pulau Jawa. 76. pada aliran Sungai Gonggo. KPH Banyuwangi Selatan. 78. Tepatnya pada Petak 75. Banyuwangi.70 ton senilai Rp. Menurut RTRW Jatim 2020 kawasan tersebut telah ditetapkan sebagai kawasan resapan air katagori tinggi.000 orang (Gambar 3). Eksplorasi itu meliputi kawasan hutan produksi seluas 736. saat ini diperkirakan mencapai 3. 45 ha atau 116. ada juga emas plaser/ sekunder di sekitar lokasi emas primer tersebut. 76. Kampung 56. cadangan emas 320.621. IMN seluas 11. Desa Pesanggaran. Cebakan emas ditemukan dalam bentuk urat-urat kuarsa pada batuan volkanik yang diterobos oleh batuan intrusif berupa diorite. setelah pada akhir bulan April 2009 sekitar 6.

Bambang Yunianto 5 . Banyuwangi Permasalahan Pengelolaan Potensi Emas di Gunung Tumpang Pitu . lembah Gunung Tumpang Pitu. Lokasi PETI/ Gurandil di Petak 56 (Luas Perkiraan 203. Desa Pesanggaran.Gambar 2. Kecamatan Pesanggaran.3 Ha). Banyuwangi Gambar 3. Dusun Ringinagung. Dusun Ringinagung. IMN dan lokasi aktivitas PETI/ Gurandil di Petak 56.. Kampung 56. Lembah Gunung Tumpang Pitu.. Kampung 56. Desa Pesanggaran. Konsesi PT. Kecamatan Pesanggaran.

tembaga. 5. tepatnya di petak 79. Rapat yang dipimpin langsung Bupati Banyuwangi Ratna Ani Lestari itu menyimpulkan PETI yang dilakukan ribuan gurandil tersebut telah merusak lingkungan. di kabupaten ini belum dialokasikan Isu lingkungan terkait kegiatan pertambangan di Gunung Tumpang Pitu tidak hanya diakibatkan oleh kegiatan PETI/ gurandil saja. emas ditemukan bersama logam lainnya seperti perak. karena jumlah lubang bor yang dilakukan oleh PT. Sedangkan. Maraknya PETI telah menimbulkan kerusakan di Sungai Gonggo dan hutan jati. 6 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Status cadangan untuk kategori perhitungan potensi cebakan emasnya belum tepat. Selain cebakan emas primer yang ditemukan. tetapi juga akibat isu Lingkungan pertambangan PT.secara paksa oleh sekitar 190 personil aparat keamanan. PERMASALAHAN DAN PEMBAHASAN lahan usaha tambang dalam peta tata ruangnya. namun untuk memberi kesahihan data telah ditunjuk tim independen untuk melakukan uji laboratorium. agar tingkat keyakinan geologisnya menjadi tinggi. Keberadaan emas sekunder ini perlu dicermati untuk dieksplorasi lebih lanjut.5 meter. maupun tanaman pertanian/ perkebunan masyarakat (petani magersari).21 km2. PETI yang dilakukan ribuan gurandil telah merusak lingkungan. Dengan demikian. Jadi. Pemkab Banyuwangi sudah mengambil beberapa sampel untuk diuji. namun. lokasi-lokasi PETI di Gunung Tumpang Pitu memang mengandung emas (perlu uji laboratorium). selain itu kedalaman Sungai Gonggo turut mengalami perubahan drastis. Pada umumnya. dan berpotensi menimbulkan banjir dan longsor serta kerusakan hutan jati. Kadar emas di daerah ini adalah 2. setiap daerah harus mencadangkan wilayahnya untuk menggali potensi bahan galiannya. seperti pendulang emas asal Kalimantan. IMN relatif sedikit.1. Sulawesi. jarak lubang bor ini adalah 500 m.2. agar dapat dimanfaatkan sebagai lahan usaha bagi masyarakat setempat dalam bentuk Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR). status ‘cadangan’nya perlu direvisi. maupun tanaman pertanian/ perkebunan masyarakat (petani magersari) sehingga harus dihentikan. asosiasi logam-logam tersebut akan terbuang dengan percuma. Lingkungan 5. kadar logamlogam lainnya tidak ada datanya. jarak antarlubang bor ini terlalu panjang. yakni hanya 14 buah untuk mengeksplorasi daerah seluas 116. agar perhitungan operasi penambangannya dapat dilakukan dengan tepat. Perhutani dan pemilik izin ekplorasi emas PT. Beberapa pohon jati juga turut tumbang akibat aktifitas penambangan PETI secara tradisional tersebut. Dari pantauan sementara Tim Isu Puslitbang tekMIRA. mengingat potensi usaha pertambangan di daerah ini memperlihatkan prospek bila dikelola dengan baik. Permasalahan ini harus segera diselesaikan. Ini berarti bahwa kelak saat operasi penambangan emas ini berlangsung. Sungai Gonggo mengalami pelebaran hingga tujuh meter dari lebar awalnya satu meter. masih diperlukan pemboran eksplorasi yang lebih banyak lagi. Jadi. awalnya hanya setengah meter kini berubah menjadi 1. Sampai saat ini. Pemulangan itu dilakukan setelah Pemerintah Kabupaten Banyuwangi melakukan rapat koordinasi dengan muspida. Dalam rangka memberi kepastian. Untuk itu. IMN. ada juga emas plaser/sekunder di sekitar lokasi emas primer tersebut. apabila sejak dini sudah diketahui nilai potensinya. Potensi Bahan Tambang Fenomena geologis di daerah eksplorasi tersebut tidak hanya tersebar di daerah Pesanggaran. Dengan demikian tidak tertutup kemungkinan bahwa potensi penyebarannya juga terdapat di daerah-daerah tersebut. terutama dalam pengelolaan Lingkungan. yang akan berpotensi menimbulkan banjir dan longsor serta kerusakan hutan jati. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi harus mempersiapkan lokasi peruntukan lahan bagi sektor pertambangan.3 gr/ton. namun juga tersebar di daerah sekitarnya seperti Glenmore dan Bangorejo. hal ini menjadi tugas tersendiri bagi perusahaan tambang tersebut untuk melakukan uji laboratorium terhadap logam-logam tersebut. 5. Secara umum. terutama pada petak 56 maupun 79 sebagai sampel wilayah-wilayah sekitarnya. Untuk meningkatkan status potensinya. dengan jarak antarlubang bor sepanjang 2 km. Tidak tertutup kemungkinannya. Nabire dan Bandung. karena pada lokasi tersebut telah banyak gurandil yang betul-betul mendapatkan emas. IMN karena kurangnya transparansi dalam Publikasi berbagai kemajuan kegiatan. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 4/2009. Isu kalau butiran seperti emas itu adalah logam jenis pirit (FeS2) perlu dicarikan kepastiannya. logam-logam tersebut akan menjadi perolehan yang menguntungkan.

11 tahun 2006. pada gambar 2. 11 tahun 2006. dan merekalah pihak pertama yang akan merasakannya. Berdasarkan Peraturan Meneg LH no. kewenangannya berada di tangan Deputi Bidang Amdal Kementerian Negara Lingkungan Hidup. g. Warga pun tidak punya kecukupan waktu untuk memilih pihak yang menurut warga memiliki kompetensi untuk mendampinginya dalam mengikuti Sidang Amdal. Beberapa butir yang dijadikan dasar penolakan AMDAL PT. dan Dewan Rakyat Jalanan untuk Demokrasi (Derajad). Dalam Dokumen Andal yang dibuat oleh PT IMN. karena tidak sesuai dengan Peraturan Meneg LH no. Keterbukaan informasi menjadi sesuatu yang logis untuk dimiliki oleh warga Pancer karena dampak apapun dari pertambangan tersebut jelas-jelas akan berpengaruh langsung kepada mereka. Dimana penolakan tersebut telah mereka sampaikan dalam acara Sosialisasi Penambangan Emas HLGTP yang diselenggarakan pada 12 Maret 2008 lalu di Balai Dusun (dihadiri oleh perwakilan Pemkab Banyuwangi. Bahkan hingga kini pun belum terlihat kemauan pemrakarsa untuk mengumumkan secara terbuka tentang Sidang Revisi Amdal. Padahal keterbukaan informasi ini penting sebagai tolok ukur tinggi-rendahnya itikad baik dari pemrakarsa rencana pertambangan maupun pemkab dan pemrop. terutama pakar. karena dalam Presentasi Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan (KA-Andal) yang bertempat di ruang Minakjingga Pemkab Banyuwangi pada tanggal 30 Januari 2008. Sidang Amdal tersebut di atas merupakan sidang yang tidak adil. PT IMN telah melakukan kebohongan publik dengan menyatakan kepada seluruh hadirin bahwa merkuri berbahaya sementara sianida aman. Berdasarkan Peraturan Meneg LH no. d. Pembuangan tailing ke laut ini.berbagai isu Lingkungan yang diakibatkan PT. b. dalam Lampiran Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup nomor 11 tahun 2006 tentang Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup disebut sebagai Submarine Tailing Disposal (STD). Penolakan tersebut juga telah disuarakan oleh 5 (lima) orang utusan Warga Pancer yang menghadiri Sidang Amdal tanggal 26 Mei 2008 di Surabaya. Bambang Yunianto 7 . perwakilan Mapolsek Pesanggaran. Warga Pancer telah menolak rencana tersebut. Warga Pancer tidak diberi kecukupan waktu untuk mempelajari Amdal tersebut. 11 tahun 2006 tersebut. penilaian Amdal dari sebuah rencana pertambangan yang menggunakan STD seperti halnya PT IMN tersebut. IMN dapat ditunjukkan berdasakan surat penolakan AMDAL oleh Masyarakat Banyuwangi yang tergabung dalam Komunitas Pecinta Alam Pemerhati Lingkungan (Kappala Indonesia) region Banyuwangi. karena pihak pemrakarsa tidak membuat pengumuman tentang rencana Sidang Amdal yang layak dan mencukupi. Dalam acara tersebut tidak ada itikad baik dari pemrakarsa untuk menjelaskan apa itu sianida? Apa saja dampaknya? Dan apa yang membuat pemrakarsa yakin bahwa sianida aman? f. Semenjak awal bergulirnya rencana penambangan emas di HLGTP oleh PT IMN. Amdal yang dibuat oleh PT IMN sebagai pemrakarsa adalah dokumen Amdal yang tidak layak dan harus ditolak. antara lain: a. Komisi Amdal Propinsi/Bapedalprop Jatim tidak berwenang menilai Amdal PT IMN. sejatinya Sidang Amdal yang diselenggarakan dan dipimpin oleh Komisi Amdal Propinsi/Bapedalprop Jatim tidak sah.. sehingga warga tidak memiliki informasi mengenai Amdal. Hal ini menunjukkan minimnya kemauan Pemprop Jatim dan Pemkab Banyuwangi untuk melakukan penguatan terhadap rakyatnya. Amdal yang dibuat oleh PT IMN sebagai pemrakarsa adalah dokumen Amdal yang tidak layak dan harus ditolak. perwakilan TNI AL. Amdal yang dibuat oleh PT IMN sebagai pemrakarsa adalah dokumen Amdal yang tidak layak dan harus ditolak. e. perwakilan Makoramil Pesanggaran. IMN tersebut. Kurva Hijau. Dengan demikian. bukan di tangan Komisi Amdal Propinsi/Bapedalprop Jatim. dan Camat Pesanggaran). c.4 tentang “Peta Rencana Tata Letak Kegiatan” dapat dilihat dengan jelas bahwa tailing (limbah tambang) akan dibuang ke laut. karena tidak ada satu pun dokumen Amdal yang dibagikan kepada warga Dusun Pancer. sehingga warga tidak memiliki kesiapan untuk berdialog dengan pihak yang terkait.. karena tidak ada satu pun dari peta yang termuat di dalamnya yang menampakkan keberaradaan Pulau Permasalahan Pengelolaan Potensi Emas di Gunung Tumpang Pitu .

yaitu isu dampak sosekbud PT. Isu dampak sosekbud PT. Gunung Macan. dan isu utama beberapa unjuk rasa mengenai lingkungan hidup perlu dijadikan barometer dalam memahami berbagai persoalan lingkungan pertambangan di Gunung Tumpang Pitu dan sekitarnya. KPH Banyuwangi Selatan. Petak 56 dan Petak 79 masuk dalam wilayah konsesi PT.3 ha dan hutan lindung seluas 1.251. Menteri Kehutanan melalui surat S. Sementara itu. yaitu Petak 75. IMN. Sementara itu. 5. Pemkab Banyuwangi telah menyetujui rencana mengajukan permohonan alih fungsi kawasan hutan lindung dalam KPH Banyuwangi Selatan. Konflik kepentingan antara sektor pertambangan dengan sektor kehutanan. yang berfungsi sebagai daerah penyangga.3 ha dan hutan lindung seluas 1. perkebunan dan nelayan. sungai yang dimanfaatkan untuk irigasi. BKPH Sukamade. Tumpang-tindih antar Sektor Konsesi PT IMN di Tumpang Pitu meliputi areal seluas 11. 77 dan 78 kawasan hutan tersebut. berhubungan erat sebagai sumber mata air dan sungai-sungai yang menjadi sumber irigasi bagi sektor pertanian dan perkebunan yang saat ini diunggulkan sebagai sektor penting bagi Kabupaten Banyuwangi.5 ha dipetak 75. Kawasan Eksplorasi itu meliputi kawasan hutan produksi seluas 736. 76. Sebagai kawasan penyangga. RPH Kesilir Baru.4. yaitu: 1) Sejumlah Petani dan Nelayan Banyuwangi Jawa Timur ke Jakarta mendesak agar 8 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Pengesahan Dokumen Amdal PT IMN oleh Tim Amdal Propinsi Jawa Timur dan kedatangan Mentri Kehutanan MS Kaban di Banyuwangi. Kawasan Gunung Tumpang Pitu merupakan kawasan hutan lindung dan hutan produksi. terkesan memberi sinyal ditingkatkannya status PT IMN dari eksplorasi menjadi eksploitasi. pertanian dan perkebunan rusak akibat terinjak-injak ataupun rusak karena ditambang. Eksplorasi itu meliputi kawasan hutan produksi seluas 736. BKPH Sukamade. Gunung Wedi Ireng.406/MENHUT_vii/ PW/2007 tertanggal 27 Juli 2007. seperti pertanian. RPH Kesilir Baru. Gunung Tumpang Pitu memiliki kaitan erat dengan aktivitas penduduk di sekitarnya. IMN terhadap berbagai aktivitas mata pencaharian masyarakat di sekitar proyek. Gunung Jatian. serta menggambarkan rendahnya kepedulian PT IMN terhadap area penting seperti Pulau Merah. 76.621 ha yang meliputi kawasan Gunung Tumpang Pitu. Gunung Sumber Salak. dan kekhawatiran penggunaan air raksa yang akan mencemari lingkungan (darat dan perairan) bila tidak ditangani dengan serius. Berapa aktivitas ekonomi masyarakat yang akan terganggu (misal pertanian. Unjuk rasa beberapa komponen masyarakat terhadap kegiatan pertambangan dapat dijadikan barometer bagi pengembangan kegiatan pertambangan di daerah ini. 77. Gunung Wedi Ireng.5 ha dipetak 75.3. perikanan) dan bagaimana proses pengelolaannya. IMN vs Rakyat). tambang emas yang dibangun oleh PT IMN di Tumpang Pitu memakan areal seluas 11. IMN terkait dengan dampak kegiatan PT. Menurut Tim Isu Puslitbang tekMIRA. koordinator Koalisi Tolak Tambang di Tumpang Pitu (KT3P). KPH Banyuwangi Selatan. Sosial Ekonomi Masyarakat Isu social terbagi dua. Dampak sosekbud PETI/ Gurandil terutama akibat rusaknya lingkungan. pertanian. semakin meresahkan warga. hingga Juli 2009. termasuk sektor perikanan bila pembuangan tailing dilakukan di dasar laut. bagian yang tidak terpisahkan dari 3 KPH dan 3 TH.406/MENHUTVII/PW/2007 mengijinkan perusahaan melakukan eksplorasi selama 2 tahun.621 hektar yang meliputi kawasan Gunung Tumpang Pitu. IMN maupun PETI/ Gurandil dan isu kesamaan hak atas sumber daya bahan tambang (PT. Sebelumnya. 5. Berbagai persoalan tersebut tidak perlu langsung ditanggapi apreori. 78. Tidak adanya Pulau Merah di semua peta yang terdapat dalam dokumen Andal tersebut mencerminkan keteledoran PT IMN. Gunung Sumber Salak. dan kawasan hutan lindung setempat. Gunung Jatian. perkebunan. perkebunan. 76. setelah disidangkan oleh Bapedalda Jawa Timur pada 26 Mei lalu. PT IMN mendapat izin kuasa eksplorasi emas dikawasan hutan dari Menteri Kehutanan MS Kaban nomor .Merah. Sedangkan wilayah yang ditambang oleh PETI. berbagai informasi mengenai penolakan terhadap kegiatan pertambangan di kawasan Gunung Tumpang Pitu di atas. Dokumen Amdal PT IMN telah disahkan oleh Tim Amdal Propinsi Jawa Timur. dan kawasan hutan lindung setempat. dan perikanan tersebut perlu dipertimbangkan positif dan negatifnya. 77. tetapi perlu didudukan secara proporsional pada sumber akar persoalannya.251. 78. Gunung Macan.

kesamaan hak atas sumber daya alam antara PT. sesuai pasal 33 UUD 45 dapat menjadi pemicu isu-isu lainnya di kawasan tersebut. Padahal. berdasarkan kasus-kasus di beberapa daerah. dan isu sosekbud).. 2) Bila kegiatan pertambangan lebih menguntungkan. ada kesan dalam menangani setiap persoalan PETI/ Gurandil dilakukan dengan cara-cara represif. IMN. IMN diperbolehkan melakukan aktivitas di kawasan hutan lindung. 2) Menyiapkan Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) pada daerah-daerah di lembah Gunung Tumpang Pitu yang memiliki kandungan emas alluvial. dengan dampak yang dapat Permasalahan Pengelolaan Potensi Emas di Gunung Tumpang Pitu . Untuk memberi rasa keadilan.. 2) Puluhan ribu warga yang tinggal sepanjang Rajekwesi sampai Muncar . 3) Melakukan kajian eksplorasi terhadap daerah yang disiapkan untuk WPR dan menyiapkan perizinannya dengan wadah badan usaha Koperasi. Banyuwangi. 4) Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Peduli Lingkungan (AMMPeL). Kabupaten Banyuwangi. Berbagai persoalan yang mendasar tersebut timbul. maka Pemda Kabupaten Banyuwangi seharusnya menyiapkan WPR sebagai wadah menampung aspirasi rakyat dalam kegiatan pertambangan dengan beberapa tahap berikut: 1) Secepatnya meminimalkan daerah operasi PETI/ gurandil untuk mengurangi dampak Lingkungan. saat ini dengan persoalan pertambangan yang komplek ditangani oleh Pemda Bagian Perekonomian. cara-cara represif justru akan menimbulkan persoalan baru yang lebih besar. bagaimana seharusnya. yang secara tingkatan fungsi hutan lebih rendah. 3) Kunjungan Rombongan Dirjen Planologi Departemen Kehutanan ke lokasi penambangan emas tradisional di lereng Gunung Tumpang Pitu Kampung 56 Dusun Wringin Agung Desa/Kecamatan Pesanggaran. lingkungan dan manajemen usaha bagi penambang rakyat. tumpang tindih dengan sektor lain. kenapa rakyat dilarang di kawasan hutan produksi. KESIMPULAN DAN TINDAK LANJUT Berdasarkan pembahasan terhadap ke-empat isu potensi dan kegiatan pertambangan emas di Gunung Tumpang Pitu di atas (isu potensi emas. Pertanyaan ini berlanjut dengan masalah.Banyuwangi akan terancam hidupnya. Masalah tersebut terkait dengan pertanyaan mendasar. Di samping itu. Mereka mendesak pemerintah mencabut ijin petambangan dan AMDAL tambang emas PT Indo Multi Niaga (IMN) yang cacat dan menolak ijin pinjam pakai penggunaan hutan. termasuk perikanan mendesak dihentikannya rencana pengerukan emas di hutan lindung Tumpang Pitu. 4) Menyiapkan bimbingan. Perlu dipahami. karena Pemda Kabupaten Banyuwangi kurang cepat dalam menanganinya sebagai akibat belum adanya kantor/ dinas pertambangan yang seharusnya bertanggung jawab terhadap persoalan pertambangan di daerah. pembinaan dan pengawasan teknis penambangan. IMN vs PETI/ Gurandil) merupakan isu penting. dan sektor lain terkait fungsi hutan sebagai penyimpan sumber daya air sektorsektor pertanian dan perkebunan.dihentikan kegiatan PT. Bappeda dan Kantor Lingkungan Hidup menyebabkan persoalan pertambangan tidak tertangani secara optimal. kalau pelarangan PETI/ Gurandil karena merusak Lingkungan dan tidak berizin sehingga tidak ada pemasukan bagi pemda. IMN dan masyarakat penambang. setiap ada persoalan masing-masing saling menunggu dan bagi-bagi tanggung jawab/ peran. Kesiapan daerah dalam mengelola potensi emas di Gunung Pitu tersebut meliputi beberapa tahap kegiatan berikut: 1) Perlu ada kajian mengenai keuntungan dan kerugian (cost benefit analysis) antara kegiatan pertambangan dengan sektor kehutan. karena kalau tidak ditempatkan pada koridor yang semestinya. 6. diperlukan kesiapan daerah (Pemerintah Kabupaten Banyuwangi) dalam mengelola potensi emas di Gunung Tumpang Pitu. kalau PT. Bambang Yunianto 9 . dengan persuasif menjaga wilayah operasi PETI/ gurandil tersebut. Mengenai isu kesamaan hak dalam pemanfaatan bahan tambang (PT. diwarnai aksi penghadangan oleh ratusan massa anti tambang. Lingkungan pertambangan. Kecamatan Pesanggaran. yang dianggap telah telah melakukan ketidakadilan informasi terhadap masyarakat terkait aktifitas PT IMN di Gunung Tumpang Pitu karena tidak transparan. mengecam pertemuan antara Dirjen Planologi Departemen Kehutanan dan PT Indo Multi Niaga (IMN) serta pihak terkait lainnya di Pendopo Banyuwangi.

dan wilayah yang berpotensi emas sekunder/ alluvial dialokasikan sebagai Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) untuk mewadahi aspirasi rakyat/ masyarakat dalam kegiatan pertambangan.8 53. PETI Batubara di Kalimantan Selatan.6 20.4 17. dan sungaisungai bagi sektor pertanian dan perkebunan. wilayah konsesi.8 hrsnya 00 12.9 19.00") yang bisa fatal karena sebagai batas wilayah konsesi (Tabel 1).4 58.6 8. ada beberapa hal yang perlu diklarifikasi: wilayah konsesi.9 15. IMN (relinquish) dari tahap eksplorasi ke tahap eksploitasi. IMN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 113 113 113 113 113 113 113 113 114 114 114 114 114 114 114 114 114 114 114 114 56 56 57 57 57 57 59 59 1 1 2 2 4 4 4 4 3 3 0 0 45. perlu dilakukan pembatasan wilayah konsesi untuk meminimalkan dampak lingkungan. batas wilayah yang terdapat pada tabel titik koordinat terdapat kesalahan pada titik 14 dan 15 (koordinat y garis lintang/ LS untuk titik 14 seharusnya 36’. Koordinat Wilayah Kuasa Pertambangan PT. IMN perlu memberi penjelasan yang ilmiah mengenai potensi emas primer maupun emas sekunder/ alluvial di dalam wilayah konsesinya di Gunung Tumpang Pitu.4 29.8 hrsnya 00 11. dan lainnya) kalau ditangani secara represif akan menimbulkan persoalan baru yang lebih besar.6 12.7 8. dan rencana pengelolaannya. IMN. 3) Berdasarkan kajian terhadap AMDAL PT. karena kasus-kasus semacam ini (PETI Emas Pongkor.9 3.2 36.6 53.2 19.00" dan titik 15 seharusnya 36’. Mengenai tahap eksplorasi diatur dalam pasal 42-45 UU No.diminimalkan dibanding kerugian yang akan terjadi terhadap sektor-sektor nonpertambangan. 4/2009.2 3.6 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 37 35 35 34 34 33 33 32 32 32 32 35 35 38 hrs-nya 36 38 hrs-nya 36 38 38 39 39 37 16. sedangkan pengalokasian WPR diatur pasal 20-26 UU No.8 58.8 30. 4/2009. 6) Dalam pengalokasian WPR perlu dilakukan kegiatan inventarisasi potensi bahan galian Tabel 1.8 Sumber: ANDAL Pertambangan PT.8 2. 5) Dalam menangani persoalan PETI/ Gurandil seyogyanya tidak menggunakan cara-cara represif.2 17. Kapur di Padalarang Jawa Barat.4 51. Indah Multi Niaga 10 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . PETI Emas di Sulawesi Utara.7 2.4 29.7 58. terutama terkait fungsi hutan lindung sebagai sumber mata air.8 16.2 37. maka perlu dilakukan pembatasan kembali wilayah PT. kajian terhadap kegiatan di sekitar proyek perlu diperluas dan diperdalam sehingga dapat memberi gambaran yang valid mengenai keadaan yang sebenarnya.9 57 57 37.4 45.4 51.4 36.7 11.4 58.4 20.6 15. dalam kajian AMDAL perlu diperjelas mengenai rencana pembuangan limbah. 4) PT. serta kandungan mineral ikutan emas berdasarkan hasil laboratorium yang terakreditasi. dan perlu dilakukan secara transparan.2 30. tetapi harus dengan persuasive.

“Penambang Emas Dadakan di Banyuwangi Capai 3 Ribu Orang”. 2008. 2008. Kabupaten Banyuwang Dalam Angka Tahun 2008. Indo Multi Niaga Rencana Penambangan Emas DMP di Desa Sumber Agung. Kecamatan Pesanggaran. Provinsi Jawa Timur. Senin. 2008. Kabupaten Banyuwangi. 19 April 2008. Indo Multi Niaga. 2008. Jakarta 2008 (Laporan Akhir). Bappeda Kabupaten Banyuwangi. baik dalam hal teknis penambangan. 2009. Kecamatan Pesanggaran Dalam Angka Tahun 2007. Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Banyuwangi 2005-2015 (Laporan Rencana). lingkungan maupun dalam manajemen berusaha. 2005. 2008.. Indo Multi Niaga. Provinsi Jawa Timur. Bappeda Kabupaten Banyuwangi. 2008. Berita Fajar FM. Lampiran ANDAL PT. Rencana Penambangan Emas DMP di Desa Sumber Agung. Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Banyuwangi 2007-2027 (Album Peta/ Gambar). Provinsi Jawa Timur. Harian Kompas. Kabupaten Banyuwangi. Kabupaten Banyuwangi. “Emas vs Potensi Agraris Banyuwangi. Detik Surabaya. Bappeda Kabupaten Banyuwangi. “Ribuan Penambang Emas Banyuwangi Diusir”. UU No. 2009. Indo Multi Niaga. Harian Kompas. 2009. Rencana Umum Tata Ruang Kota dengan Kedalaman Rencana Detail Tata Ruang Kota Pesanggaran. Bahan Presentasi Kabid Fisik dan Prasarana Wilayah. Berita Fajar. Indo Multi Niaga.emas sekunder pada wilayah-wilayah yang potensial dan dampaknya dapat diminimalkan. Provinsi Jawa Timur. BPS Kabupaten Banyuwangi. 2007. Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) Rencana Penambangan Emas DMP di Desa Sumber Agung. Selasa. Bambang Yunianto 11 . 28 April. ANDAL PT. PT. 16 Juni 2008 Harian Kompas. 17 Mei 2009. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) Rencana Penambangan Emas DMP di Desa Sumber Agung. Jakarta 2008. 2005. Detik Surabaya. Sebentuk Kanibalisasi antar Potensi”. 33 Tahun 2004. dan PP No. BPS Kabupaten Banyuwangi. Kecamatan Pesanggaran. 2009. 2009. Jakarta 2008. PT. Indo Multi Niaga. Foto-foto dokumentasi survai di perkantoran dan dokumentasi PETI di Gunung Tumpang Pitu. 38 Tahun 2007. Kecamatan Pesanggaran. sesuai kebijakan otonomi daerah yang tertuang dalam UU No. Potensi pertambangan di Gunung Tumpang Pitu dan Pulau Batu Merah. 32 tahun 2004. PDRB Kabupaten Banyuwangi Tahun 2008. “Masyarakat Banyuwangi Tolak Tambang Emas di Hutan Lindung Tumpang Pitu”. 8) Untuk menangani berbagai permasalahan pertambangan di Kabupaten Banyuwangi. Jakarta 2008. “Berebut Emas di Tumpang Pitu”. Harian Kompas. Jumat 27 Februari 2009. Kecamatan Pesanggaran. maka perlu dibentuk kantor/ dinas pertambangan dan energi yang tugasnya mengelola kegiatan pertambangan di daerah. 2009. 2008. Harian Kompas. Tim Isu Puslitbang tekMIRA. maka perizinan perlu disiapkan dan perlu dilakukan pembinaan dan pengawasan. Rabo. Kecamatan Pesanggaran. BPS Kabupaten Banyuwangi. 2009. Banyuwangi. PT. Permasalahan Pengelolaan Potensi Emas di Gunung Tumpang Pitu . PT. Kabupaten Banyuwangi. Harian Kompas. Sabtu.. DAFTAR PUSTAKA Bappeda Kabupaten Banyuwangi. 7) Setelah Pemda Kabupaten Banyuwangi mengalokasikan WPR. 2008.

LAMPIRAN FOTO-FOTO SURVAI LAPANGAN 12 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .

. Bambang Yunianto 13 .Permasalahan Pengelolaan Potensi Emas di Gunung Tumpang Pitu ..

14 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .

.Permasalahan Pengelolaan Potensi Emas di Gunung Tumpang Pitu . Bambang Yunianto 15 ..

go. Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara sedang mengembangkan pemanfaatan producer gas hasil gasifikasi batubara untuk pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) sistem dual fuel di Sentra Teknologi Pemanfaatan Batubara. Jln. The purpose of this research is to develop sampling and analysis method for determination tar and particulate contents in producer gas from coal.esdm. ter.id SARI Dalam rangka meningkatkan dan mendiversifikasikan pemanfaatan batubara. ceramic filter to separate particulate. One of quality parameter of producer gas to be used for internal combustion like diesel engine is the content of tar and particulate.id.go. Kata kunci: gasifikasi batubara. Telp. penyaring keramik untuk memisahkan partikulat. This method used apparatus which consists of iso-kinetic nozzle equipped with heater to take sample of producer gas. Salah satu parameter kualitas producer gas untuk digunakan pada sistem pembakaran internal seperti mesin diesel adalah kadar ter dan partikulat. The coal 16 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Percobaan pengoperasian mesin diesel menggunakan sistem dual fuel menunjukkan kinerja yang baik dan tidak terdapat endapan ter dan partikulat dalam ruang bakar mesin diesel.500 kal/g. The installed apparatus is tested for determining the content of tar and particulate of producer gas resulted from coal gasification. producer gas. Metoda ini belum distandarisasi karena tidak tersedianya gas standar. Pengujian metoda sampling dan analisis terhadap producer gas hasil gasifikasi batubara tersebut menunjukkan kadar ter dan partikulat yang cukup rendah yaitu <100 mg ter/Nm3 dan <50 mg partikulat/Nm3 dan sudah memenuhi persyaratan untuk bahan bakar mesin diesel. Batubara yang digunakan berasal dari Kalimantan Selatan yang mempunyai nilai kalor 5. Palimanan. Pengembangan lebih lanjut diharapkan difokuskan pada standarisasi dan uji pembanding Round Robin test dan analisis sistem on-line langsung ke komputer untuk mengetahui secara langsung komposisi producer gas. metoda analisis ABSTRACT In relation to increase and diversify the utilization of coal. Research and Development Center for Mineral and Coal Technology is developing utilization of producer gas resulted from coal gasification for diesel powered electric generation using dual fuel system at Coal Technology Center. Palimanan Cirebon. Cirebon. 623 Bandung. Jend. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengembangkan metoda sampling dan analisis kadar ter dan partikulat dalam producer gas dari batubara. nurhadi@tekmira. Sudirman no. Metoda ini menggunakan peralatan yang terdiri atas nozzle isokinetik yang dilengkapi heater untuk mengambil contoh producer gas. heat exchanger and condense bottle to absorb moisture and impinge bottle to absorb tar in the producer gas sample. Peralatan yang telah terangkai kemudian diujicoba untuk menentukan kadar ter dan partikulat dalam producer gas produk gasifikasi.500 dan 4. Fax: (022) 6003373 email: slamets@tekmira. heat exchanger dan botol kondensasi untuk mengasorbsi lengas dan botol impinger untuk mengadsorbsi ter dalam contoh producer gas. (022)6030483.PENGEMBANGAN METODE ANALISIS TER DAN PARTIKULAT DALAM PRODUCER GAS DARI BATUBARA Slamet Suprapto dan Nurhadi Puslitbang tekMIRA.esdm. partikulat.

Further development needs to be focused on standardization and on-line system connected to computer which can show the composition of producer gas directly. Producer gas juga dapat dihasilkan dari proses gasifikasi bahan karbonan (carbonaceous matter) lainnya seperti biomassa (Anonymous. Palimanan. Gas ini termasuk gas kalori rendah (low calorie gas) dengan nilai kalor <200 Btu/ft3 (<1780 kkal/m3). PENDAHULUAN 2.used comes from South Kalimantan which have calorific values of 5. The operation of diesel engine using dual fuel system shows good performance and there were no tar and particulate deposit in the combustion chamber. 1981. The results show that the content of tar and particulate are <100 mg of tar/m3 and <50 mg of particulate/m3 respectively which correspond with the requirement of producer gas as fuel for dual fuel diesel engine. SNG) dan bahan baku industri kimia. particulate. Proses gasifikasi menggunakan pereaksi hidrogen juga dapat menghasilkan gas alam sintetik yang mempunyai nilai kalor sekitar 1000 Btu/ft3 dan termasuk gas kalori tinggi (high calorie gas) (Elliot. Di Indonesia. Keywords : coal gasification. Proses gasifikasi menggunakan pereaksi campuran oksigen/uap air menghasilkan produk gas yang disebut gas Lurgi dengan komponen utama berupa CO dan H2 dan sedikit gas-gas hidrokarbon. Ward. Produk gas yang dihasilkan proses gasifikasi batubara tergantung pereaksi yang digunakan. Slamet Suprapto dan Nurhadi 17 . Peresmian pengoperasian pilot plant tersebut telah dilakukan pada tanggal 19 Maret 2008. Gas sintesis dapat diproses lebih lanjut melalui proses metanasi untuk mendapatkan gas SNG (Synthetic Natural Gas. serta pengotor N 2 mencapai sekitar 50%. penggunaan gas alam untuk mesin diesel dual fuel gas sudah dilakukan di Tarakan. Untuk mendukung kegiatan pilot plant tersebut diperlukan perlatan dan metoda analisis producer gas yang dapat menentukan komposisi dan kadar kadar ter dan partikulat. analysis method 1.. Metode analisis komposisi gas hasil gasifikasi biomassa maupun batubara umumnya menggunakan kromatografi gas. Francis. Cirebon. Perbedaan proses gasifikasi biomassa yang menghasilkan producer gas untuk mesin Pengembangan Metode Analisis Ter dan Partikulat dalam Producer . Kalimantan Timur. Nowacki. This method has not been standardized yet because standard reference gas is not available yet.500 and 4. Substitute Natural Gas) dengan komponen utama CH4. 1965. Sedangkan metode analisis kadar ter dan partikulat dalam producer gas hasil gasifikasi biomassa juga baru dikembangkan di beberapa negara Eropa. Sementara itu. 1986) dan dengan pereaksi campuran udara/uap air. 1981. Gas Lurgi merupakan gas kalori menengah (medium calorie gas) dengan nilai kalor antara 200-400 Btu/ft3. Apabila gas Lurgi tersebut dimurnikan maka dihasilkan gas sintesis (synthesis gas. Proses gasifikasi batubara yang saat ini berkembang dengan maju adalah proses konversi batubara dalam sebuah reaktor dengan menggunakan pereaksi. Sehubungan dengan hal tersebut di atas. producer gas dari biomassa telah digunakan untuk mesin pembakaran internal (internal combustion engine) seperti mesin gas (gas engine) dan mesin diesel dual fuel secara komersial di banyak negara. Proses gasifikasi menggunakan pereaksi udara dan uap air menghasilkan gas yang disebut producer gas dengan komposisi terdiri atas gas mampu bakar (combustible gas) CO dan H2 dan dan sedikit gas hidrokarbon seperti CH 4. Oleh karena itu. tar. Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara bekerjasama dengan PT PLN (Persero) dan PT Coal Gas Indonesia sedang mengembangkan pemanfaatan producer gas dari batubara untuk pembangkit listrik tenaga diesel dengan membangun pilot plant di Sentra Teknologi Pemanfaatan Batubara tekMIRA. 1984). producer gas. gas alam sintetik (synthetic natural gas. serta pengotor.500 cal/g. tetapi sekarang bisa berupa gas sintesis. Kalau pada awalnya gasifikasi batubara hanya menghasilkan producer gas (gas bakar) dan gas kota. TINJAUAN PUSTAKA Proses konversi batubara menjadi gas yang dikenal dengan istilah gasifikasi batubara sudah berkembang dengan maju. Batubara dari berbagai jenis dan peringkat dapat dikonversikan menjadi gas secara komersial. perlu dikembangkan metoda analisis ter dan partikulat dalam producer gas dari batubara. syngas) dengan komponen utama CO dan H2..

Sedangkan gasifikasi batubara menggunakan reaktor sistem updraft sehingga produk gas mengandung lebih banyak ter. Alat sampling tersebut berupa nozzle isokinetik yang dipasang pada pipa aliran gas dan dilengkapi pitot tube dengan dimensi tertentu. Namun pada unit gasifikasi batubara mempunyai sistem pemurnian gas yang juga dilengkapi penangkap ter khusus. 3. pada pipa aliran contoh gas dipasang pemanas suhu 200ºC agar ter tidak mengembun dan menempel pada nozzle dan pipa sirkulasi. Bahkan Energy research Center of the Netherlands (ECN) Belanda mengembangkan prosedur tersebut menjadi standar untuk kawasan Eropa dengan mengadakan Round Robin test. maka producer gas harus mengandung ter dan partikulat serendah mungkin. METODOLOGI 3. Penangkap ter terdiri atas botol pengembun uap air (moisture condensation bottle) dan 3 (tiga) botol tar impinger seperti terlihat pada Gambar 2. 1986. Unit penangkap ter tersebut cukup efektif sehingga kadar ter dalam producer gas memenuhi syarat untuk penggunaan mesin diesel.1. Tetapi metode analisis ter dan partikulat dalam producer gas dari biomassa telah dikembangkan di Swiss dan Belanda (Nusbanmer. Ujung teflon berbentuk lobang-lobang dengan diameter 1 mm sebanyak 20 buah. yakni batubara dimasukkan dari atas dan gas dikeluarkan dari bawah reaktor sehingga ter biomassa mengalami perekahan (cracking) menjadi molekul gas. Reaktor gasifikasi biomassa adalah sistem downdraft. Prinsip dasar metode tersebut adalah sampling dan analisis aliran producer gas yang mengandung ter dan partikulat secera on-line dengan menggunakan peralatan yang terdiri atas nozzle isokinetik dan penangkap ter dan partikulat. Botol kondensasi berisi 800 mL air suling (aquadest) yang didinginkan pada suhu 0OC. Selandia Baru. Contoh gas didinginkan dalam chiller yang terbuat dari gelas dan menggunakan air pendingin suhu 10 O C. di daerah-daerah terpencil di banyak negara misalnya Pilipina. Prosedur Analisis Ter dan Partikulat Setelah peralatan sampling dan analisis terpasang kemudian contoh gas dialirkan melalui nozzle dan penyaring keramik. 2006): ter : <500 mg ter /m3 gas partikulat : 50 mg partikulat/m3 gas. Turare). Oleh karena itu. Afrika. 1998.pembakaran internal dan proses gasifikasi batubara yang digunakan di pilot plant pemanfaatan gasifikasi batubara untuk PLTD adalah pada reaktor dan sistem pemurnian gas. Disamping itu. Air dan tar yang mengembun kemudian dilewatkan pada pipa teflon untuk dialirkan ke dalam botol kondensasi. Penggunaan tersebut mencapai puncaknya selama masa Perang Dunia II terutama dilakukan oleh Jerman untuk menjalankan kendaraankendaraan perangnya.2. belum ada prosedur standar untuk menentukan kadar ter dan partikulat dalam producer gas. 3. 1986. Secara umum. kadar ter dan partikulat yang masih dapat ditoleransi untuk bahan bakar mesin pembakaran internal adalah adalah sebagai berikut (Anonymous. Mesin-mesin pembakaran internal normalnya dirancang untuk menggunakan bahan bakar bensin atau solar yang relatif bersih dibanding producer gas. Sampai saat ini. Eropa maupun Amerika Serikat masih ditemukan bus atau traktor bermesin diesel sistem dual fuel dengan bahan bakar solar dan producer gas (Anonymous. Anonymous. kadar ter dan partikulat ditentukan berdasarkan gravimetri. kadar ter dalam relatif rendah dan unit pemurniaan gas yang digunakan untuk gasifikasi biomassa cukup hanya terdiri atas siklon. Uap air dan sebagian 18 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Alat penangkap partikulat berupa penyaring keramik (ceramic filter) dipasang pada aliran contoh gas sebelum masuk ke rangkaian penangkap ter. Skema pemasangan nozzle pada pipa aliran produk gas hasil gasifikasi batubara dapat dilihat pada Gambar 1. Penyaring keramik tersebut memiliki rongga-rongga 3 mikron. Pembuatan Peralatan Tahap awal dari pengembangan metoda adalah pembuatan peralatan sampling dan analisis sesuai dengan peralatan yang digunakan untuk sampling dan analisis producer gas yang dikembangkan di Eropa. agar mesin diesel dapat beroperasi dengan normal. Pipa teflon dicelupkan dalam air suling sedalam 15 mm. yakni tar electrostatic precipitator. Selanjutnya. 2005). van de Kamp. Oleh karena itu. scrubber dan pendingin. Sampai sekarang. Penggunaan producer gas hasil gasifikasi biomassa untuk mesin diesel pembangkit listrik maupun kendaraan telah dimulai sejak awal abad 20.

Skema alat sampling producer gas (Nussbanmer. 2005) Gambar 2.. Slamet Suprapto dan Nurhadi 19 . Skema penangkap partikulat dan ter ((Nussbanmer. van de Kamp. 1998. van de Kamp. 1998.Gambar 1.. 2005) Pengembangan Metode Analisis Ter dan Partikulat dalam Producer .

HASIL DAN PEMBAHASAN Pengujian metoda untuk analisis kadar ter dan partikulat contoh producer gas hasil gasifikasi dapat dilihat pada Tabel 1.7 – 3. Apabila kadar ter dan partikulat dalam producer gas sudah memenuhi syarat. Nowacki. Sampling gas dilakukan selama 0.500 kal/g dan 4. 1981. mg mc2 = berat penyaring sesudah percobaan. Kualitas dan kuantitas produk gas hasil gasifikasi tergantung kondisi operasi sebagai berikut (Elliot.ter dalam contoh gas akan mengembun dalam botol kondensasi yang berisi air suling. Pengujian diawali dengan proses gasifikasi batubara yakni dengan mengumpankan batubara ± 150 kg/jam. kemudian kadar partikulat dan ter dapat ditentukan dengan membagi berat ter dengan volume contoh gas sebagai berikut: mc1 – mc2 Kadar partikulat. maka gas digunakan untuk mengoperasikan mesin diesel sistem dual fuel. Producer gas dengan kadar ter dan partikulat yang demikian sudah memenuhi syarat untuk digunakan pada mesin diesel. m3 3. van Dyk): kualitas batubara (analisis proksimat. Ketiga buah botol impinger tersebut didinginkan dalam chiller pada suhu -3 sampai dengan -4 O C. Walaupun batubara yang digunakan sama tetapi komposisi producer gas yang dihasilkan oleh percobaan ke 1 dan ke 2 belum tentu sama. Sisa contoh gas dibakar dengan pembakar (burner). mg/m3 = vg Di mana: mc1 = berat penyaring keramik sebelum percobaan. Pengoperasian mesin diesel diawali dengan menggunakan bahan bakar 100 % solar pada berbagai beban (daya) 30 kW. Ter yang terkandung dalam contoh gas akan mengembun dan terabsorbsi dalam anisol. 20 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .500 kal/g.500 kal/g (A) menunjukkan hasil yang berbeda antara percobaan gasifikasi ke 1 dan percobaan gasifikasi ke 2. Contoh gas kemudian disedot oleh pompa vakum pada laju alir antara 1. 4. Hal ini disebabkan bervariasnya kondisi operasi gasifikasi batubara. Kadar tar dapat dihitung dengan membagi berat ter yang diperoleh dari destilasi vakum dengan volume contoh gas. Pengujian tersebut dapat menghasilkan data kadar ter dan partikulat yang masing-masing antara 7–62 mg ter/m3 dan 31-50 mg partikulat/m3. kemudian gas batubara dimasukkan sampai beban mencapai maksimum 150 kW.1 jam. Pengujian Metoda Pengujian metoda dilakukan terhadap producer gas hasil gasifikasi contoh batubara Kalimantan yang mempunyai nilai kalor 5. 1981. Setelah dilakukan langkah-langkah sampling gas dan pemisahan partikulat dan ter seperti seperti tersebut di atas. fragmentasi termal dan sifat caking). waktu yang dibutuhkan akan semakin lama. Ter yang diperoleh kemudian ditimbang. mg vg = volume contoh gas. Setelah operasi gasifikasi berjalan lancar (steady) kemudian dilakukan sampling gas dengan membuka aliran nozzle. Langkah selanjutnya adalah mengalirkan gas ke dalam 3 buah botol impinger yang masing-masing berisi 50 mL anisol dan satu buah botol impinger kosong sebagai drop separator. Semakin kecil kandungan partikulat dan ter. distribusi ukuran. sebagai berikut: mt Kadar partikulat. rasio udara/uap air). Kadar ter dan partikulat producer gas dari contoh batubara dengan nilai kalor 5. yakni <500 mg ter/m3 dan 50 mg partikulat/m3.5 . tergantung kandungan ter dan partikulat.3. suhu rasio pereaksi/batubara.3 m/detik. m3 Sedangkan untuk menentukan kadar ter. reaktivitas. Selanjutnya dilakukan langkah-langkah sesuai dengan prosedur analisis ter dan partikulat. mg = volume contoh gas. ter yang sudah teradsorbsi dalam botol kondensasi dan botol impinger dipisahkan melalui destilasi vakum pada suhu 85 OC dan tekanan 10 – 20 mBar. mg/m3 = vg Di mana: mt = berat ter hasil destilasi.

belum ada laboraorium lain yang mengembangkan metoda analisis ter dan partikulat yang dapat bekerjasama dalam melakukan uji Round Robin guna membandingkan hasil analisis. Perbedaan kondisi proses tersebut menyebabkan terjadinya perbedaan kualitas produk berbeda. Disamping itu.1. Contoh Batubara Nilai Kalorkal/g Kadar Ter dan Partikulat. Ukuran batubara yang digunakan dalam percobaan gasifikasi adalah – 5 + 1 cm. Hal ini juga dapat membuat penyebaran panas dalam unggun batubara tidak merata dan selanjutnya menyebabkan fragmentasi ukuran tidak sama sehingga kondisi proses berbeda. KESIMPULAN DAN SARAN 5. 1. Hasil pengamatan terhadap ruang bakar mesin diesel setelah operasi kontinyu tidak menunjukkan perbedaan dengan menggunakan bahan bakar 100% solar dan tidak ditemukan adanya endapan kerak atau ter batubara dalam ruang bakar mesin diesel. 5. tidak terdapat endapan ter dan partikulat dalan ruang bakar mesin.Tabel 1. 3. reaktivitas dan sifat caking batubara yang sama akan menghasilkan kondisi operasi yang sama. Metoda sampling dan analisis ter dan producer gas telah dikembangkan dan diujicobakan dengan baik terhadap producer gas hasil gasifikasi batubara dari Kalimantan Selatan yang menghasilkan kadar ter dan partikulat masing-masing antara 7 – 62 mg ter/Nm3 dan 31 – 50 mg partikulat/Nm 3 yang telah memenuhi persyaratan untuk pengoperasian mesin diesel. Pengoperasian mesin diesel menggunakan producer gas dari batubara menunjukkan kinerja yang cukup baik.2. seperti yang dihasilkan oleh uji metoda analisis. Hasil analisis ter dan partikulat No. oksigen/uap air). Hal ini mengingat belum adanya standard reference gas yang sudah mempunyai kandungan ter dan partikulat tertentu. jenis reaktor (fixed bed. Saran Hasil ini agar dapat ditindaklanjuti dengan pengembangan metoda standar melalui kerjasama dengan laboratorium lain untuk melakukan uji pembanding (Round Robin test). Slamet Suprapto dan Nurhadi 21 .. Dalam program standarisasi tersebut dilakukan uji Round Robin. Hasil pengujian penggunaan gas untuk mengoperasikan mesin diesel sistem dual fuel secara kontinyu dan beban maksimal menunjukkan kinerja yang cukup baik.500 4. Pengembangan Metode Analisis Ter dan Partikulat dalam Producer . Pengembangan metoda sampling dan analisis producer gas juga perlu dikembangkan agar komposisi gas dapat langsung diketahui sehingga pemanfaatan untuk mesin diesel dapat terjamin. tetapi yang masih menjadi masalah adalah belum dikembangkannya standar. Pengembangan standar analisis producer gas dari biomassa yang dilakukan oleh van de Kamp (2005) adalah dengan memvariasikan kondisi operasi gasifikasi yang terdiri atas. suhu dan tekanan.. updraft. 2. fluidized bed. pereaksi (udara/uap air. down draft). Walaupun metoda ini sudah bisa digunakan.500 Analisis proksimat. tetapi kemungkinan distribusi ukurannya tidak merata sehingga menyebabkan kondisi percobaan ke 1 dan ke 2 tidak sama. 5. Hal ini menunjukkan bahwa kadar ter dan partikulat cukup rendah dan memenuhi syarat. yakni mengirimkan contoh-contoh gas yang sama ke beberapa laboratorium kemudian membandingkan hasilnya. Kesimpulan Peralatan sampling dan analisis ter dan partikulat dalam producer gas dari batubara telah dapat dirancang bangun dan dipasang pada pilot plant gasifikasi batubara untuk PLTD di Palimanan Cirebon. mg/m3 Ter 38 7 62 Partikulat 50 31 43 A B 5.

de Wild. M. M. Turare. Zurich.. Syngas and Coal Technologies. J. C. Nowacki. 1981. Germany. Rome. Oxford. M. http:/devafdc.. Chemistry of coal utilization. Melbourne. Blackwell Scientific Publications.J. Nussbanmer. Zielke. Biomass Gasification – Technology and Utilization. U. & Kiel.. Vol. R&D Division. Sasol’s Unique Position in Production from South African Coal Source Using Sasol–Lurgi Fixed Bed Dry Bottom Gasifier. South Afrika. 1986. Neeft. New York. P. P.gov/pdfs. Anonymous. ARTES Institute Glucksburg. Fuels and Fuel Technology.A... Good. 2006. PT PLN Jasa Produksi dan PT Coal Gas Indonesia (PT CGI) atas kerjasamanya dalam penyelenggaraan kegiatan ini. C.. T. Paris. H. Swiss Federal Institute of Zurich. Noyes Data Corporation Jersey. Vol II.. FAO. (ed. (Ed. & Coertzen. Ward. Van Dyk. Pergamon Press. 2005. M. Liliedahl.. 1998. John Wiley & Sons. 17-21 October. H..). W. Sasolburg.). Section C: Gaseous Fuels. 14th European Biomass Conference & Exhibition. C. J.. J.UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terimakasih disampaikan kepada Puslitbang tekMIRA.nrel.. Wood Gas as Engine Fuel.. Francis. W. Keyser. 22 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . van de Hoek. M. Sasol Technology.. 1984. Knoef. Coal Geology and Coal Technology. 1965. Guide line for Sampling and analisis of Tars Condensates and Particulates From Biomass Gasifier.C. van de Kamp. Biomass downdraft gasifier engine system. J. 1981. Suomalainen. Tar measurement standard for sampling and analysis of tars and particles in biomass gasification product gas.R. Coal Gasification Process.. T. Whitehouse. Elliot. Unger.. DAFTAR PUSTAKA Anonymous. Second Suppl.

.go.id SARI Paradigma baru pengelolaan Sektor Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus bergulir. luas wilayah dan perkembangan perekonomian. Demikian juga pengelolaan ekspor mineral.esdm. terdapat persamaan antara lain tentang kepedulian lingkungan. globalisasi Implementasi Pengelolaan Lingkungan Sektor Energi .021 7222583 Fac. yakni jenis mineral. akan menghasilkan output yang bermanfaat secara berkelanjutan utamanya selalu mempertimbangkan faktor lingkungan dan masyarakat sekitar kegiatan pertambangan.go. menjadi masukan informasi untuk kembali ke konsep pengelolaan lingkungan yang sudah ada. Perlu upaya khusus untuk implementasi pengelolaan lingkungan dan penanganan dinamika kegiatan pertambangan mineral dan energi pada era globalisasi. Diperlukan antisipasi pengelolaan sebaik-baiknya yang meliputi 3 faktor utama pengelolaan lingkungan Sektor ESDM di Indonesia. Kata kunci : lingkungan. namun menjadi urusan internasional. Dari implementasi UU Migas dan UU Minerba yang baru. Salah satunya adalah konsep Green Mining and Energy. Adanya berbagai input dan proses kegiatan pertambangan. Djoko Sunarjo dan Bambang Wicaksono 23 .IMPLEMENTASI PENGELOLAAN LINGKUNGAN SEKTOR ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL PADA ERA GLOBALISASI Djoko Sunarjanto dan Bambang Wicaksono Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi (LEMIGAS) Jl. Ciledug Raya Kav 109.id. bambangwtm@lemigas..021 7226011 e-mail : djokosnj@lemigas. Permasalahan bertambah kompleks dengan berfluktuasinya produksi dan harga komoditas mineral. Cipulir-Kebayoran Lama. Dampak lingkungan yang timbul dapat berkembang menjadi permasalahan global. setelah penyerahan UU Nomor 22 Tahun 2001 tentang Migas kemudian UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (Minerba). pengembangan teknologi termasuk impor peralatan masih dalam konteks sentralisasi. tidak terkotak-kotak wewenang daerah/pusat. Jakarta Selatan 12230 Telp. Sektor ESDM.esdm. Analisis pada studi kasus kegiatan pertambangan apabila berpatokan pada nuansa desentralisasi dan meninggalkan sentralisasi akan menimbulkan dampak baru.

With the inputs from mining activities there be sufficient information to come back to available environment management since Green Mining and Energy concept will cause a sustainable benefit output. Salah satunya adalah dengan memberikan insentif kepada perusahaan batubara pemasok pembangkit listrik PLTU. reklamasi sampai pascatambang. Sebagai negara kepulauan. not only local but also international. LATAR BELAKANG kelistrikan serta beberapa studi kasus. globalization 1. Analysis from case study in mining activity if decentralism spirit is used and leaving from centralization spirit will create new impact. mining area. 24 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . development of technologies and import of equipment which is still centralized and the complexity of the problems with fluctuations of product and mineral price need anticipation to manage it. produksi mineral. Analisis komparatif dilakukan dengan subsektor lainnya dikompilasi dengan kekhususan pengembangan subsektor minyak dan gas bumi. dan pemanfaatan batubara untuk Sejak tahun 2006 Pemerintah menggulirkan beberapa kebijakan untuk mendukung pembangunan pembangkit listrik 10. 22 year 2001) and Mining and Coal Law (Law No. Penyusunan makalah ini diharapkan dapat dijadikan sebagai masukan dalam rangka mempersiapkan peraturan dan keputusan sebagai turunan dan pendukung Undang Undang Minerba yang baru. after Oil and Gas Law (Law No. Perlu kesadaran manfaat dan resiko bahaya yang dihadapi dan kemampuan masyarakat untuk melindungi diri dari dampak negatif yang timbul. tidaklah mengherankan apabila pada masing-masing wilayah terdapat perbedaan dalam upaya penanganan lingkungan dan peningkatan perekonomian atau Pendapatan Asli Daerah dari kegiatan pertambangan. Export activities of minerals. Dalam UU Minerba yang baru telah dilengkapi tata cara pengembangan terkait masyarakat. economics development. 4 year 2009) is going on. lebih mungkin menghasilkan tindakan yang merespon kebutuhan riil penduduk ataupun masyarakat lingkar pertambangan. Keywords: environment. Pemutakhiran dan upaya khusus implementasi pengelolaan lingkungan di tengah dinamika kegiatan pertambangan mineral dan energi sangat diperlukan guna menciptakan pertambangan berwawasan lingkungan. antara lain pasal 78) Kegiatan Reklamasi dan Pascatambang (pasal 39) Dengan terbitnya perundang-undangan yang mendasari pelaksanaan pengelolaan energi dan sumber daya mineral. in primary environment factors and community of the surrounding mining activities. Pendekatan kegiatan berbasis masyarakat (community based activities). yaitu. Penanganan lingkungan hidup Rencana pengembangan dan pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah pertambangan (beberapa pasal.000 MW menggunakan bukan Bahan Bakar Minyak atau non-BBM. PENDEKATAN TEORI DAN ANALISIS Pendekatan kegiatan menggunakan teori kebijakan dan geologi lingkungan dikomparasi dengan data sekunder pengusahaan mineral dan batubara. Insentif yang diberikan berupa pemotongan dana pengembangan batubara yang merupakan bagian dari Dana Hasil Produsen Batubara (DHPB) yang disetor perusahaan tambang ke kas negara. The implementations of those laws pay the same attention on environment management. jumlah dan penyebaran penduduk yang timpang serta adanya perbedaan ekologi di berbagai kawasan Indonesia. Special effort is needed for environment management to cope with the dynamics of mineral and energy activities in globalization era.ABSTRACT New paradigm on management Energy and Mineral Resources Sector. Environmental effect could generate the global problems. terdapat persamaan dalam permasalahan lingkungan yang tertuang dalam UU Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi dan UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. these involve five factors: minerals item. energy and mineral resources sector. Insentif tersebut diberikan hanya untuk kebutuhan pembangunan pembangkit listrik dan tidak boleh digunakan untuk keperluan ekspor. POTENSI DAN PEMANFAATAN BATUBARA INDONESIA 2. 3.

4. dekat kawasan budi daya atau pada kawasan hutan dan kawasan lainnya. Perkembangan Perekonomian 1. misal penambangan di daerah resapan air tanah. selaras hasil penelitian yang menyebutkan bahwa Indonesia memiliki potensi batubara kalori rendah cukup besar yang selama ini belum dieksplorasi. sampai saat ini masih relevan. meliputi 3 faktor utama yang berperan penting dalam pengelolaan lingkungan Sektor ESDM di Indonesia. di samping berdampak timbul masalah gangguan kualitas lingkungan.. Saat ini pertambangan mineral dan batubara di Indonesia cenderung menggunakan sistem tambang terbuka (open pit mining) yang menggunakan lahan luas. PLTU Labuhan dan Tangerang (Provinsi Banten). yaitu kategori A (Bahan Galian Strategis). Namun dalam pengelolaan dan pekembangannya diperlukan inovasi dan keluwesan mengaplikasikan dalam peraturan perundangan baru. Sebaliknya beberapa tambang dalam memerlukan lahan yang relatif tidak luas. Sedangkan di Jawa Timur akan dibangun PLTU Pacitan. Wilayah Pertambangan 3. Batubara sebagai bahan bakar PLTU pengganti BBM dilandasi alasan karena batubara lebih murah dan cadangannya cukup besar. Jayawijaya. dalam Program 10.28 juta ton per tahun. Contoh pertambangan mineral logam PT Newmont Nusa Tenggara memerlukan wilayah yang luas Gambar 1. pertambangan mineral radioaktif. dalam UU Minerba yang baru diuraikan pada BAB VI pasal 34. Jawa Tengah akan dibangun PLTU Rembang dan Tanjung Jati. Kebijakan Energi Nasional 2003-2009 menyebutkan bahwa penggunaan batubara dapat mendorong pengembangan batubara kalori rendah di dalam negeri. Akan dibangun PLTU Suralaya. Djoko Sunarjo dan Bambang Wicaksono 25 . kategori B (Bahan Galian Vital atau Logam) dan Golongan C (Industri atau bahan bangunan).000 MW sebagian besar menggunakan batubara. Peningkatan pertambangan batuan sesuai kegiatan pembangunan fisik sarana-prasarana. sehingga menjamin pasokan. Terkait dengan jenis mineral dan pertambangan. Salah satu solusi jangka panjang untuk menekan beban PLN dengan menggunakan batubara untuk pembangkit listrik yang akan dibangun maupun yang telah beroperasi. ANALISIS KOMPARATIF Upaya mengatasi permasalahan yang timbul dapat diantisipasi dengan pengelolaan sebaik-baiknya. pertambangan mineral logam. pertambangan mineral nonlogam dan pertambangan batuan (UndangUndang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara) Sesuai klasifikasi untuk pengelolaannya tergantung jenis dan kategori mineral. yaitu . Kegiatan operasi di tambang terbuka Batu Hijau (Foto : Newmont Nusa Tenggara. Usaha Pertambangan dikelompokkan menjadi pertambangan mineral dan pertambangan batubara. 1. Jenis Mineral 2. untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar sejumlah PLTU diperlukan sebanyak 21. Di Jawa Barat akan dibangun PLTU Indramayu dan Pelabuhan Ratu. demikian juga nantinya untuk mineral strategis lainnya termasuk batubara. Paiton dan Tuban. tetap memerlukan kewaspadaan dalam pengelo-laannya terkait lingkungan.. Gambar 1. 2006) Implementasi Pengelolaan Lingkungan Sektor Energi . Pertambangan mineral masih digolongkan lagi menjadi.Meningkatnya pemakaian BBM untuk pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) dan listrik tenaga uap (PLTU) memberatkan PLN dari segi biaya. seperti dalam pengusahaan migas dibedakan institusi pemerintah sebagai regulator (Ditjen Migas) dan badan yang melakukan pengawasan kegiatan baik hulu dan hilir migas oleh BP Migas dan BPH Migas. batubara di Sawahlunto. Produksi batubara dalam negeri sekitar 203 juta ton per tahun. seperti tambang yang sudah lama dikembangkan tambang emas Pongkor. Jenis Mineral Klasifikasi mineral ataupun pembagian bahan galian sesuai Undang-Undang atau PP No 27 Tahun 1980 dibedakan menjadi 3 jenis atau kategori. Ibrahim (2008) dalam bukunya General Check-Up KELISTRIKAN NASIONAL.

783 797. Dari berbagai pulau. penyerobotan wilayah oleh pertambangan tanpa ijin termasuk permasalahan lingkungan yang tidak mudah diselesaikan.542 MT) dan bijih nikel (4.884 85.353. kasus penanganan pengawasan Usaha Hulu Migas yang selama ini dilakukan BP MIGAS sesuai UU No 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi. mesin dan teknologi dari beberapa negara luar. Perkembangan Perekonomian Akhir-akhir ini permasalahan lingkungan menjadi bagian penting dalam perekonomian.542 15.357 61.183 3.483 7.309. sejak perencanaan.702.406.882 117.127.398 244. Sebagai contoh.46 25.176 1.024 5.07 80.726. dan temehadap pada satu sisi akan menjadi potensi sumber daya yang tidak boleh diabaikan. perak dan timah lebih besar untuk kebutuhan luar negeri.318 261. sehingga diperlukan pendekatan sosio kemasyarakatan dan teknologi dalam pengelolaan mineral dan energi. Keberhasilan kegiatan community development atau social responsibility dan program kemasyarakatan yang sejenis menjadi indikator keberhasilan kegiatan pertambangan suatu wilayah (Sunarjanto dan Adji. ketenagakerjaan sampai ekspor-impor. Juli 2008 Sumber : Directorate General of Mineral Coal and Geothermal (2008) 26 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . efektivitas dan efisiensi terkait kewilayahan. Sisi lain pengelolaan pertambangan mineral dan energi tergantung pada modal besar dan beresiko tinggi.105 56. salah satu penyebabnya diduga pengelolaan dan pengusahaannya mengabaikan prosedur dan pengawasan lingkungan dan keselamatan kerja seperti yang seharusnya berlaku pada kegiatan tambang bawah tanah/tambang batubara.308 102. eksplorasi-eksploitasi sampai pengawasan dan audit pascakegiatan pertambangan.937 1.222 5.67 36.422 1. 2.048 747 1.186 42.181 159.24 33. akuisisi perusahaan.619. Untuk itu pelaksanaan rangkaian kegiatan pertambangan di Indonesia masih dikontrol langsung pemerintah.796 816.411 85.309.248.376. Pengembangan pertambangan akan mempertimbangkan lebih banyak faktor pada daerah padat penduduk. Keterkaitan wilayah dan kepadatan penduduk terlihat perbedaan antara Wilayah Jawa dan luar Jawa. Tabel 1.989. masalah tumpang-tindih dengan sektor atau subsektor lain. sesuai UU Minerba baru daerah pertambangan berpotensi untuk dikembangkan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi (pasal 28).249. Tingkat kepadatan penduduk tempat kegiatan pertambangan berada.515 65.536.144 12. 2005).501.442 - Tembaga (Ton) Emas (KG) Perak (KG) Timah (Ton) Bauksit (MT) Bijih Nikel (Ton) *) Termasuk Kuasa Pertambangan Status Data.775 3. sebaliknya hasil kegiatan pertambangan diekspor ke luar negeri.407 22. emas.48 287.64 83.326 4. Impor peralatan. 3.75 497.604. Kalimantan dan Sulawesi merupakan tempat pemukiman yang utama. kebutuhan dalam negeri dan ekspor 2006 2007*) 2008*) Produksi Ekspor Domestik Produksi Ekspor Domestik Produksi Ekspor Domestik 817. Wilayah Pertambangan Keberadaan wilayah pertambangan sangat mempengaruhi pelaksanaan dan permasalahan yang timbul di lapangan.967 269.42 122.809.134 6.555.623. Sumatera. salah satu implementasinya BP MIGAS membuka kantor perwakilan dan penghubung di daerah.706.762. mengakibatkan ketergantungan pada perekonomian global.61 1.671 97. pajak.134 Ton) untuk memenuhi kebutuhan luar negeri (Tabel 1).536.470 97. Tercatat produksi nasional tembaga. demikian juga antara Sumatera Jawa dengan pulau lain di Indonesia Timur.862 25.284.037.923 32.927 91.667 pulau mempengaruhi implementasi organisasi. Hal ini karena kompleksnya permasalahan pengawasan kegiatan hulu migas dan lokasi wilayah yang tersebar dan sulit dijangkau.48 188.Kasus terjadinya ledakan tambang batubara Sawahlunto yang menelan korban meninggal lebih dari 30 orang pada pertengahan Juni 2009.43 330.031. Wilayah Indonesia yang memiliki tidak kurang dari 13.832 4. Dari sisi mikro-ekonomi fluktuasi harga komoditas.49 6.73 17.704.267 272.31 90. termasuk di dalamnya investasi dan nilai tukar mata uang. bahkan tahun 2007 produksi bauksit (1. khusus Pulau Jawa menampung hampir 60 % penduduk Indonesia.044. penggabungan beberapa perusahaan bahkan pengalihan bidang usahapun perlu diperhitungkan untuk keamanan berusaha dan mempertahankan stabilitas investasi.665. Tantangan ke depan menjadi bertambah karena peningkatan jumlah penduduk dan pertambangan mengarah ke wilayah padat penduduk. Produksi hasil tambang terpilih.774. Jawa.

Penggunaan energi batubara dalam penyediaan tenaga listrik ataupun industri mineral dan energi lainnya diupayakan agar lebih ramah lingkungan dan dilakukan dengan melengkapi peralatan yang dapat mengatasi polutan. Perubahan pada era globalisasi yang kadang berubah secara cepat dari segenap pihak pemangku kepentingan. yang merupakan gas tidak berwarna. Pusat pertumbuhan (growth center). berbau menyengat dan sangat berbahaya bagi tumbuhan dan hewan. sebagai ilustrasi digambarkan dalam Gambar 1. Agregatif: yang potensinya menunjang konsepsi pengembangan wilayah sektor lain. hujan badai. meledaknya hama dan wabah penyakit. Kegiatan ESDM khususnya pertambangan mineral masih terkonsentrasi di darat. Djoko Sunarjo dan Bambang Wicaksono 27 . dapat menyebabkan kebutaan dan kematian pada manusia. membentuk rantai semacam siklus.. PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP 7. Dengan melengkapi peralatan sejenis penyaring. Implementasi Pengelolaan Lingkungan Sektor Energi . Dalam perkembangannya selama ini banyak kajian ilmiah.5. ALTERNATIF SOLUSI Alternatif solusi merupakan bagian dari strategi yang diperlukan guna mempercepat dan akurasi suatu proses untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Berdasarkan analisis komparatif. shareholder sampai pihak luar/internasional. Penambangan timah dan pasir laut di daerah Riau Kepulauan dan sekitarnya menjadi contoh pertambangan mineral lepas pantai yang dapat dilakukan pada wilayah lain. Menjadi peluang dan tantangan untuk lebih intensif mengembangkan pertambangan mineral di lepas pantai. DISKUSI Sampai saat ini sumber energi fosil merupakan sumber utama dan penggunaan bahan bakar batubara pada PLTU dapat berdampak merugikan lingkungan. Dampak negatif yang tidak tampak secara langsung sebagai sumber utama emisi berbahaya seperti SO2. Regional Integratif: yang potensinya bersifat merangsang pengembangan wilayah sektor lain. karena banyak di antara spesies yang punah tersebut merupakan spesies yang berguna bagi manusia (Christensen. Sebagai bahan pengambilan keputusan ataupun masukan dalam penyusunan peraturan. Newmont Nusa Tenggara dalam jangka waktu kurang dari 10 tahun mampu membangun Pusat Pertumbuhan Ekonomi baru di Wilayah Indonesia Timur Gambar 2. sebagai suatu alternatif solusi terdapat input dan proses kegiatan pertambangan dapat diarahkan mencapai output yang bermanfaat banyak pihak. yaitu . CO2. 1991). lingkar 2 dan seterusnya. Dampak lainnya mengakibatkan terjadinya hujan asam yang dapat merusak tanaman serta mempercepat kepunahan keanekaragaman hayati yang sangat merugikan kehidupan. Apabila dikaitkan dengan lingkungan dan pengembangan wilayah selalu mempertimbangkan faktor lingkungan dan masyarakat sekitar kegiatan pertambangan atau diistilahkan masyarakat lingkar luar. Dapat ditinjau kembali konsep pengelolaan lingkungan yang sudah ada. Menurut Soelistijo (2000) secara makronasional. pemanasan global juga dapat menimbulkan terjadinya kerusakan ekosistem terumbu karang. dan abu. Secara fisik tampak mata adalah perubahan bentang alam. Sebagai contoh nyata adanya kegiatan pertambangan mineral logam di Maluk Sumbawa yang termasuk Wilayah PT.. banjir bandang dan sebagainya. salah satunya adalah konsep Green Mining and Energy akan menghasilkan output yang bermanfaat secara berkelanjutan. di mana daratan hanya menempati sepertiga Wilayah Indonesia. Bila dibandingkan masih lebih banyak kegiatan migas yang mengeksplorasi dan mengeksploitasi cadangan migas lepas pantai. Penanganan lingkungan hidup termasuk reklamasi dan pengelolaan pascatambang (BAB VII pasal 39 UU Minerba) menjadi upaya penting memperbesar dampak positif menciptakan pertambangan secara berkelanjutan sejak eksplorasi sampai dengan esok menjadi suatu kawasan pusat pertumbuhan ekonomi. analisis dan alternatif yang sudah disusun ahli maupun institusi. Salah satu emisi yang harus mendapatkan perhatian dari pembakaran batubara pada pembangkit listrik adalah SO2. SO2 menyebabkan gangguan pernafasan. 6. dengan disesuaikan terhadap terdapatnya sumber daya mineral dan energi. penurunan produktivitas perikanan laut. Peningkatan emisi gas CO2 di atmosfer akan dapat mempengaruhi terjadinya perubahan curah hujan dan pemanasan global. Diperlukan pemutakhiran dan diskusi yang berkelanjutan mengantisipasi perubahan yang dinamis. terjadinya perubahan musim. pengembangan wilayah Sektor ESDM terdiri dari 3 alternatif. 2000). maka gas buang dari PLTU ataupun industri menjadi aman bagi lingkungan (Brodjonegoro. baik lingkar 1. Bambang dan Sunarjanto. Selain mendorong terjadinya kepunahan keanekaragaman hayati. CO.

H. Country Paper. General Check-Up Kelistrikan Nasional. 28 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . J. Global Science. Environment.MALUK 1995 MALUK 2005 Gambar 2.. A. Jakarta. Ibrahim. 2000. Sumbawa pada tahun 1995 dan 2005. ISBN 0-8403-4657-3. Perbandingan maluk. sebagai pusat pertumbuhan ekonomi (Sumber : PT Newmont Nusa Tenggara) diperlukan perhatian khusus pada permasalahan. Proceedings of INSAHP. Directorate General of Mineral Coal and Geothermal. Dampak lingkungan (dampak negatif) yang timbul dapat berkembang secara cepat menjadi permasalahan global. UCAPAN TERIMA KASIH Tersusunnya makalah ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Prof..Sc DIC yang memberi kesempatan penulis menyampaikan makalah ini. Ministry of Energy and Mineral Resources The Republic of Indonesia. Suatu kawasan pertambangan mengubah lokasi terpencil menjadi pusat pertumbuhan ekonomi sudah banyak terbukti berhasil pada beberapa wilayah. PENUTUP Penanganan lingkungan hidup sampai kegiatan pertambangan selesai/ pascatambang menjadi upaya penting memperbesar dampak positif dan memperkecil dampak negatif. Pongkor Gold Mine-West Java Indonesia. yang telah bersedia mengoreksi dan memberi masukan. Terima kasih kepada Kepala PPPTMGB LEMIGAS. Hadi Purnomo. namun masih diperlukan usaha lain agar tercipta pertambangan bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan sekitarnya secara berkelanjutan. Bapak Dr. Bambang and Sunarjanto. M. Pengelolaan lingkungan pertambangan lepas pantai yang baik sebagai upaya optimalisasi pemanfaatan wilayah dan ikut melindungi pelestarian alam. 8. Indonesia’s Mineral and Coal Development. Bencana lingkungan dan kebumian yang tidak terkait pertambangan ataupun ESDM. DAFTAR PUSTAKA Brodjonegoro. antara lain : Produksi dan harga komoditas mineral yang terus berfluktuasi. Christensen. Pengelolaan lingkungan Sektor ESDM menjadikan lingkungan bumi yang berkualitas sekaligus sebagai warisan generasi yang akan datang. Energy. Kendall/Hunt Publishing Company.W. third edition. Dubuqe Iowa.. The Sustainable Economic Growth Pole in The Mining Area Using AHP Method: Case Study of PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. Bali-Indonesia. 2008. Dr. 1991. 2008. MediapIus Network. 699 p. Ir. Suprajitno Munadi. Resources. dijadikan alasan untuk menyalahkan dunia pertambangan dan pemangku kepentingan.

and Adji G. Ditjend Pertambangan Umum. Cetakan Kedua. Bandung. ISBN 978979-18898-0-3. 2006. Pengembangan Wilayah Sektor Pertambangan dan Energi. PPTP. Dulu. 2005.. Corporate Social Responsibility One of Methods To Expand The Benefit for Oil and Gas Bearing Area.T. Sunarjanto.PT. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara Implementasi Pengelolaan Lingkungan Sektor Energi ...D. ISBN 979-98000-7-2. Jakarta..Cetakan Pertama November 2008. DPE. Djoko Sunarjo dan Bambang Wicaksono 29 . Kini dan Esok. Soelistijo. Newmont Nusa Tenggara . Batu Hijau. W. Proceedings 30th Annual Meeting IPA. U. 2000.

dengan kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus daerahnya secara luas. Maraknya daerah menyusun perda menimbulkan masalah baru. Dalam waktu yang sangat singkat. Consequently. In a relatively short time. kesempatan kerja dan berusaha serta terciptanya pengembangan wilayah. perda-perda tumbuh bak jamur di musim hujan. dengan adanya kebijakan otonomi memberi peluang pengembangan pertambangan di daerah.031 Perda dan berdasarkan hasil evaluasi telah merekomendasikan sebanyak 2. 022 . sehingga akan menimbulkan kondisi yang tidak kondusif dan dapat menghambat pertumbuhan ekonomi maupun peluang investasi di daerah.esdm. in which the region has an authority to manage its region professionally. 30 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Jend. which are no relation with the public interest and the higher regulations. Kata kunci: peluang. This is against the investment promotion in the country. antara lain : kewenangan pengelolaan dan pemanfaatan potensi bahan galian. these regulations grow widely. Dengan adanya kebijakan tersebut. Departemen Keuangan telah mengumpulkan 12. nyata dan bertanggung jawab. Hal ini menunjukkan bahwa produk Perda yang telah disusun cukup banyak yang bermasalah.go. Pemerintah Daerah berpacu mengoptimalkan potensi sumber daya yang ada dan menciptakan kebijakan untuk meningkatkan pendapatan daerah (PAD) dengan legitimasi berupa Perda. Hingga pertengahan bulan Juni tahun 2009. pengembangan pertambangan.PELUANG PENGEMBANGAN PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA PADA ERA OTONOMI DAERAH Umar Dhani Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. otonomi daerah ABSTRACT The release of the regional autonomy policy in the early 2000 is a new era of the regional government. retribution and other taxes. Sudriman 623 Bandung 40211 Telp.6003373 e-mail : umard@tekmira. merupakan babak baru dalam pemerintahan daerah. 022. the regional government is pushed to optimized potential of the resources and to create a policy of improving regional revenue by legitimating regional regulations.894 perda dibatalkan dan 144 perda direvisi.id SARI Digulirkannya kebijakan Otonomi Daerah pada awal tahun 2000. peningkatan penerimaan. and this causes collection of taxes.6030483 Fax. Selain itu. berupa timbulnya pungutan pajak dan retribusi atau pungutan lainnya yang bertentangan dengan kepentingan umum atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.

tetapi juga kebijakan pertambangan yang mengacu pada UU Nomor 11 Tahun 1967 sudah tidak selaras dengan semangat otonomi daerah yang sedang digiatkan. dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundangundangan. Permasalahan-permasalahan tersebut pada akhirnya dapat berakibat terganggunya perekonomian daerah maupun nasional. termasuk sektor pertambangan. According to the evaluation results. kebijakan otonomi daerah di Indonesia mengacu kepada Undang-Undang (UU) Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah. menghormati budaya budaya lokal. wewenang. dan bertanggung jawab. 2. serta memperhatikan potensi dan keanekaragaman daerah. Selain itu. agama. PENDAHULUAN Selama lebih dari dua dasawarsa. dan bidang lainnya yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. bahkan cenderung tumpang tindih dan terkesan hanya berorientasi meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) semata. nyata. khususnya pada sektor pertambangan. job creation and regional development. pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota telah melakukan pembenahan dan penyesuaian administratif dan struktur organisasi. Keywords: opportunity. Tujuan pemberian kewenangan dalam penyelenggaraan otonomi daerah adalah meningkatkan kesejahteraan rakyat. Otonomi daerah diartikan kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus daerahnya secara luas. Pemerintah daerah tidak mempunyai keleluasaan dalam menetapkan program-program pembangunan di daerahnya serta sumber keuangan penyelenggaraan pemerintahan diatur oleh pusat.031 regional regulations. the Ministry of Finance has collected 12. Pada era ini peran Pemerintah Pusat sangat menonjol. moneter dan fiskal. masih banyak terjadi perbedaan penjabaran mengenai otonomi daerah yang dituangkan dalam perda pada masing-masing daerah. Umar Dhani 31 . pertahanan keamanan. regional autonomy 1. This indicates that those regulations have problems. Pada awal tahun 2000 diberlakukannya kebijakan otonomi. Pemerintah Daerah diberi kewenangan untuk mengelola sumber daya alam. Sejak diberlakukannya otonomi daerah tahun 2000. Moreover. Sejak terjadi krisis ekonomi pada tahun 1997. dan sumber daya Peluang Pengembangan Pertambangan Mineral dan Batubara pada Era . kelembagaan. Hal ini akan menimbulkan iklim yang tidak kondusif karena ketidak-konsistenan kebijakan dan bahkan dapat menghambat pertumbuhan ekonomi maupun peluang investasi di daerah. sehingga menimbulkan ketidakselarasan dengan kebijakan di atasnya atau kebijakan sektor lain. 2. Salah satu upaya yang menonjol yang dilakukan oleh pemerintah daerah pada era ini adalah menerbitkan Peraturan Daerah (Perda). demokratisasi. Maraknya meenerbitkan Perda tersebut. Kewenangan daerah mencakup kewenangan semua bidang pemerintahan. so they must be eliminated or revised. Permasalahan tersebut terjadi pada seluruh sektor usaha. Penurunan tersebut bukan hanya dipicu oleh diberlakukannya kebijakan otonomi daerah.984 regulations are deleted and 114 are revised. yaitu desentralisasi pemerintahan dari pusat ke daerah yang diimplementasikan pada UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan disempurnakan menjadi UU Nomor 32 Tahun 2004. peradilan. kecuali kewenangan di bidang politik luar negeri. KEBIJAKAN OTONOMI DAERAH Pada hakekatnya otonomi daerah merupakan hak. pemerataan dan keadilan. mining development.. sumber daya buatan. termasuk pada sektor pertambangan mineral dan batubara. sehingga menimbulkan ketergantungan daerah terhadap pusat. because they will create an unconducive condition and can hamper the economic growth and the opportunity of investing in the mining sector in the region.Until the mid of June 2009.. revenue increase. the autonomous policy has provided an opportunity to develop the mining sector in a region in terms of management authority of utilizing mineral potential. terjadi penurunan investasi pada seluruh sektor usaha. masih banyak yang tidak selaras dengan kebijakan yang lebih tinggi. Selain itu masih terjadi perbedaan persepsi dalam menterjemahkan kebijakan otonomi daerah.

Hubungan dalam bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antarpemerintah dan pemerintah daerah sebagaimana dimaksud dalam UU Nomor 32 Tahun 2004 pasal 2 ayat (4) dan ayat (5) meliputi : kewenangan. dan kriteria untuk pelaksanaan urusan wajib dan urusan pilihan. keinginan pembentukan daerah otonom baru berkembang sangat pesat. prosedur. prosedur. pemanfaatan. standar. penyerahan semua kewenangan kecuali bidang politik luar negeri. Di dalam menetapkan norma. dan jangkauan dampak yang timbul akibat penyelenggaraan suatu urusan pemerintahan. prosedur. “kriteria efisiensi” adalah penyelenggara suatu urusan pemerintahan ditentukan berdasarkan perbandingan tingkat daya guna yang paling tinggi yang dapat diperoleh.manusia yang ada di wilayahnya masing-masing (UU Nomor 32 Tahun 2004). Urusan pemerintahan yang diserahkan kepada daerah disertai dengan sumber pendanaan. akuntabilitas. dan 35 kota. masih terdapat usulan baru yang siap dibahas maupun yang belum diproses tentang pembentukan daerah otonom baru. dan penyerasian lingkungan dan tata ruang serta rehabilitasi lahan. Menteri/Kepala Lembaga Pemerintah Non Departemen menetapkan norma. Yang dimaksud dengan “kriteria eksternalitas” dalam ketentuan ini adalah penyelenggara suatu urusan pemerintahan ditentukan berdasarkan luas. Setelah diberlakukan kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah. Penyelenggaraan urusan pemerintah dibagi berdasarkan kriteria eksternalitas. standar. dan jangkauan dampak yang ditimbulkan oleh penyelenggaraan suatu urusan pemerintahan. yaitu terdiri atas 31 (tiga puluh satu) bidang urusan pemerintahan (PP Nomor 38 Tahun 2007). Dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah. standar. Urusan pemerintahan wajib dan pilihan menjadi dasar penyusunan susunan organisasi dan tata kerja perangkat daerah. standar. Pemerintah daerah provinsi dan pemerintah daerah kabupaten/kota dalam melaksanakan urusan pemerintahan wajib. tanggung jawab. serta kepegawaian. dan efisiensi dengan memperhatikan keserasian hubungan antarsusunan pemerintahan. dan kriteria perlu diperhatikan keserasian hubungan pemerintah dengan pemerintah daerah dan antarpemerintah daerah sebagai satu kesatuan sistem dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. kecuali urusan pemerintahan yang oleh UU Nomor 32 Tahun 2004 ditentukan menjadi urusan pemerintah. Hubungan dalam bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antarpemerintah daerah sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (4) dan ayat (5) meliputi : pelaksanaan pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya yang menjadi kewenangan daerah. pengalihan sarana dan prasarana. Hal ini dapat terlihat dengan meningkatnya jumlah daerah otonom baru sejak tahun 1999 hingga Desember 2008 sebanyak 215 daerah otonom baru. Dalam penyerahan disertai pembiayaan. sumber daya manusia. moneter dan fiskal. peradilan/yustisi. besaran. sarana dan prasarana. besaran. dan pilihan berpedoman kepada norma. dan prosedur. kerja sama dan bagi hasil atas pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antarpemerintahan daerah. pemerintahan daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan. pemeliharaan pengendalian dampak lingkungan. pemerintah menyelenggarakan sendiri atau dapat melimpahkan sebagian urusan pemerintahan kepada perangkat pemerintah atau wakil pemerintah di daerah atau dapat menugaskan kepada pemerintahan daerah dan/atau pemerintahan desa. kriteria akuntabilitas” adalah penanggung jawab penyelenggaraan suatu urusan pemerintahan ditentukan berdasarkan kedekatannya dengan luas. dan kriteria. Urusan pemerintahan yang dibagi bersama antartingkatan dan/atau susunan pemerintahan adalah semua urusan pemerintahan di luar urusan yang menjadi kewenangan pemerintah. serta agama. Pemerintahan daerah menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya. yang terdiri atas : 7 provinsi. Selain itu. pertahanan keamanan. Prinsip otonomi daerah adalah desentralisasi. bagi hasil atas pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. dan pengelolaan perizinan bersama dalam pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya 32 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan. Pelaksanaan kewenangan didasarkan pada norma. dan pelestarian. 173 kabupaten.

Hal ini bertolak belakang dengan gencarnya pemerintah menggalakkan investasi untuk pembangunan di Indonesia. maka perlu dilakukan evaluasi terhadap perda yang berkaitan dengan pajak dan retribusi daerah. Merupakan suatu bentuk pelanggaran kewenangan pemerintah. Implikasi dari kebijakan desentralisasi ini adalah banyaknya produk perda yang berkaitan dengan pajak dan retribusi daerah bertentangan dengan kebijakan yang lebih tinggi atau kepentingan umum. Berpotensi menghalangi atau mengurangi akses masyarakat (bertentangan dengan prinsip keadilan). Berdasarkan UU Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan pasal 7 Ayat (1) mengatur hirarki peraturan perundang-undangan yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia. sedangkan hak mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan di bidang administrasi negara yang merupakan urusan rumah tangga daerah disebut otonomi. Dari jumlah tersebut sebagian besar telah dilakukan evaluasi. retribusi daerah. Berpotensi menyebabkan munculnya persaingan yang tidak sehat (monopoli.894 perda dan 144 perda direvisi. Hal ini Peluang Pengembangan Pertambangan Mineral dan Batubara pada Era . perubahan APBD. Perda yang dikategorikan bermasalah adalah berdasarkan prinsipil. berupa timbulnya pungutan pajak dan retribusi yang bertentangan dengan kepentingan umum atau peraturan perundangundangan yang lebih tinggi. Pemerintah daerah menyusun perda dalam rangka merumuskan berbagai kebijakan pembangunan atau dalam rangka memacu pertumbuhan perekonomian di daerah. Satuan pemerintahan teritorial tersebut disebut daerah otonom. Hal ini. Berdasarkan permasalahan ini. Pemerintah daerah dalam meningkatkan perekonomian dapat memberikan insentif dan/atau kemudahan kepada masyarakat dan/atau investor yang diatur dalam perda dengan berpedoman pada peraturan perundang-undangan yang berlaku. Maraknya daerah menyusun perda menimbulkan masalah baru. Anggaran Penerimaan dan Belanja Daerah (APBD). Agus Pambudhi. Untuk perda yang mengatur mengenai pajak daerah. Perda dan ketentuan daerah lainnya bersifat mengatur dan diundangkan melalui Lembaran Daerah. dapat berakibat terganggunya iklim investasi yang ada di daerah dan berdampak pada perekonomian daerah maupun nasional. Berdampak negatif terhadap perekonomian (ekonomi biaya tinggi atau pajak ganda). Dengan demikian. yang berhak mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahannya (Bagir Manan. Perda bermasalah pada prinsipnya adalah perdaperda yang karena keberadaannya akan menyebabkan terhambatnya efektifitas perekonomian (P. perda merupakan salah satu produk hukum yang ada di Indonesia. kemitraan wajib. Perda yang disusun oleh pemerintah daerah tidak boleh bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi dan dapat dibatalkan sesuai ketentuan yang berlaku. pembatalannya melalui Keputusan Menteri Dalam Negeri. menyelaraskan dan menyesuaikan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dan/atau peraturan daerah lainnya. Hal ini dimaksudkan untuk melindungi kepentingan umum. Umar Dhani 33 . 2001).. maka diperlukan dasar hukum pelaksanaan. Atau bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi.Pemerintahan daerah merupakan satuan pemerintahan teritorial tingkat lebih rendah dalam negara kesatuan RI.. agar wewenang pemerintah daerah dapat dijalankan. Hingga pertengahan tahun 2009. sedangkan setelahnya pembatalan melalui Peraturan Presiden. dan tata ruang sebelum ditetapkan dan diberlakukan terlebih dahulu dilakukan evaluasi oleh pemerintah. yaitu : Berpotensi bertentangan dengan prinsip keutuhan wilayah ekonomi nasional. Perda yang terbit sebelum Oktober 2004. Departemen Keuangan telah mengumpulkan 12. 2006). Perda yang disusun tersebut merupakan penjabaran lebih lanjut dari peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dengan memperhatikan ciri khas masing-masing daerah. Berdasarkan hasil evaluasi Tim Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Departemen Keuangan hingga Juni tahun 2009 telah merekomendasikan untuk membatalkan 2. Perda merupakan penjabaran lebih lanjut dari peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dengan memperhatikan ciri khas masing-masing daerah. Dengan demikian. oligopoli.031 perda untuk dievaluasi. dll). yaitu sesuai pasal 136 ayat 1 UU Nomor 32 Tahun 2004. substansi dan yuridis. Kepala Daerah sebagai kepala eksekutif menetapkan Perda atas persetujuan bersama DPRD. Bermasalah secara prinsipil adalah perda yang memberikan hambatan dalam konteks ekonomi makro.

pendayagunaan sumber daya alam serta teknologi tinggi yang strategis merupakan kewenangan pusat. Sedangkan. 34 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Pada umumnya pembatalan perda tentang pajak dan retribusi pertambangan adalah bertentangan dengan UU Nomor 34 tahun 2000 dan PP 65 Nomor 2001. Kegiatan usaha di sektor pertambangan umum (KP. sehingga diinterpretasikan bahwa kegiatan sektor pertambangan umum merupakan kewenangan daerah. yaitu hanya terdapat 39 perda. pengangkutan dan penjualan. yaitu berupa pengembangan sumber daya manusia. retribusi. apabila terlebih dahulu telah mendapatkan izin. Hal ini menunjukkan bahwa. terutama pasal 7 dan pasal 10 UU Nomor 32 Tahun 2004. yaitu berupa Kuasa Pertambangan (Peraturan Pemerintah Nomor 75 Tahun 2001). Dengan diterbitkannya PP Nomor 38 Tahun 2007 yang merupakan turunan dari UU Nomor 32 Tahun 2004 telah secara jelas mengatur pembagian urusan antara pemerintah dan pemerintah daerah. Pelaksanaan otonomi daerah dimulai pada awal tahun 2000 telah menimbulkan interpretasi yang.menunjukkan bahwa produk Perda yang telah disusun cukup banyak yang bermasalah. retribusi dan sumbangan pihak ketiga). Pada sisi lain pasal 10 ayat 1 dinyatakan bahwa “daerah berwenang mengelola sumber daya nasional yang tersedia di wilayahnya dan bertanggung jawab memelihara lingkungan sesuai dengan peraturan perundang-undangan”. Dasar pembatalan perda tentang pertambangan umum adalah berkaitan dengan pajak dan retribusi izin usaha pertambangan dan birokrasi proses perizinan. Dalam rangka mendukung dan memfasilitasi daerah dalam penyelenggaraan tugas pemerintahan di bidang pertambangan umum. Banyaknya perda yang bermasalah tersebut dapat berakibat terganggunya aktivitas pemerintahan maupun perekonomian wilayah. dan kabupaten/kota. Dalam pasal tersebut dinyatakan bahwa. pemerintah daerah lebih mendahulukan kebijakan yang berkaitan dengan pungutan dibandingkan kebijakan tentang pengelolaan kegiatan pertambangan. terkumpul 242 perda pada 147 kabupaten. pengawasan lingkungan. 3. Hal ini sangat rentan terhadap aktivitas pertambangan maupun lingkungan. KK dan PKP2B) telah dikenakan iuran tetap (landrent) dan iuran eksplorasi dan eksploitasi (royalty). Pemerintah daerah sesuai dengan lingkup usahanya menugaskan pemegang izin pertambangan sesuai dengan tahapan dan skala usahanya untuk membantu program pengembangan masyarakat dan pengembangan wilayah pada masyarakat setempat. pengelolaan lingkungan. sebagian besar (183 perda atau 75%) mengatur tentang pungutan (pajak. Khusus perda yang berkaitan dengan pajak. Sebenarnya dari kedua pasal. khususnya berkaitan dengan kewenangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Sebagai pedoman teknis penyelenggaraan kewenangan tersebut Pemerintah telah mengeluarkan PP Nomor 38 Tahun 2007. baru dapat dilaksanakan. Dari jumlah perda tersebut. kesehatan dan mendorong pertumbuhan ekonomi. KEBIJAKAN PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA Setiap usaha pertambangan bahan galian yang termasuk dalam golongan bahan galian strategis dan golongan bahan galian vital. Berdasarkan hasil kompilasi perda yang berkaitan dengan kegiatan pertambangan pada 8 provinsi. provinsi. eksplorasi. Dalam kebijakan tersebut telah terjadi perubahan yang mendasar tentang pengawasan perda. pengolahan dan pemurnian. APBD dan tata ruang setelah Oktober 2004 dilakukan evaluasi oleh pusat sebelum ditetapkan oleh daerah. 1453.K/29/NEM/2000). Pemberian izin usaha pertambangan untuk melaksanakan kegiatan penyelidikan umum. tersebut menimbulkan adanya ketidakjelasan kewenangan pengelolaan sumber daya alam (minerba) antara pusat dan daerah. sehingga harus dibatalkan atau direvisi. Diharapkan dengan adanya kegiatan ini masyarakat sekitar merasakan dampak positif aktivitas pertambangan di daerahnya. Dalam pedoman teknis tersebut telah diatur mengenai tata cara permohonan perizinan. Dengan demikian. eksplorasi. apabila dikenakan pungutan lain akan menimbulkan pungutan ganda dan dapat memberatkan pelaku usaha di bidang pertambangan. Departemen ESDM telah menerbitkan Keputusan Menteri mengenai pedoman teknis (Kepmen No. Dalam PP tersebut diuraikan secara jelas mengenai jenjang kewenangan antara pemerintah. eksploitasi. perda yang mengatur tentang pengelolaan pertambangan sebagian besar wilayah kabupaten belum menyusun.

b. telah memberikan kontribusi yang cukup berarti bagi perekonomian dan penerimaan daerah serta menyumbangkan terhadap penerimaan negara. antara lain : Sistem perizinan. Hal ini dimaksudkan adanya kesesuaian fungsi kawasan maupun menghindari tumpang tindih pemanfaatan ruang atau benturan kepentingan antarsektor. Untuk wilayah yang memanfaatkan bahan galian golongan A dan B yang mempunyai nilai ekonomi lebih tinggi. eksplorasi dan eksploitasi lebih sederhana. melainkan diberlakukannya sistem izin usaha pertambangan (IUP). bahkan masih ditemukan perda yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. yaitu pemrosesan dan pemurnian logam harus dilakukan di dalam negeri. dan produksi. Optimalisasi pemanfaatan potensi ini bertujuan untuk meningkatkan pendapatan daerah dan pembiayaan pembangunan. a. HAM. Pengembangan masyarakat difokuskan pada kesejahteraan rakyat.. HAM. Dengan demikian. lingkungan hidup dan ekonomi telah mendorong atas kebutuhan mendasar ke arah perubahan sistem yang desentralistik .konservasi. kebutuhan sosial. politik dan ekonomi. baik yang berkaitan dengan pengelolaan pertambangan umum maupun pungutan (pajak. Hal ini karena potensi bahan galian yang dikembangkan adalah bahan galian golongan C dan dilakukan secara tadisional atau tambang rakyat. Untuk melegalisasi meningkatkan pendapatan dan pembangunan daerah tersebut pemerintah daerah menyusun perda. demokratisasi. Dalam pemanfaatan ruang untuk kegiatan usaha harus mengacu pada kebijakan tata ruang yang ada. pengembangan potensi bahan galian yang ada menjadi sulit dilakukan karena keberadaanya bukan merupakan fungsi kawasan pertambangan. Namun demikian. dengan adanya tersedianya acuan pengelolaan pertambangan yang baik dapat merangsang investasi pengusahaan pertambangan di daerah. Tidak ada lagi sistem kontrak langsung antara perusahaan dengan Pemerintah.. Pemerintah Daerah segera menyiapkan kawasan untuk kegiatan pertambangan yang ditetapkan dalam kebijakan RTRW. Butir-butir penting dalam UU Nomor 4 Tahun 2009. Kemampuan daerah dalam melaksanakan pembangunan sangat dipengaruhi oleh ketersediaan sumber daya maupun kemampuan dalam pengelolaannya. perda yang telah diterbitkan oleh pemerintah daerah tentang pengelolaan pertambangan umum masih banyak yang belum sesuai acuan di atas. 4. seperti otonomi daerah. Pedoman maupun acuan dalam menyusun Perda pengelolaan pertambangan telah diatur dan penerapan penyusunannya disesuaikan dengan karakteristik wilayah. Optimalisasi Pemanfaatan Potensi Bahan Galian Pada umumnya potensi bahan galian belum diusahakan secara maksimal dan belum memberikan dampak yang signifikan terhadap perekonomian daerah. Pemerintah Daerah (provinsi dan kabupaten/kota) menindaklanjuti dengan menerbitkan perda.l. untuk melaksanakan kewenangan tersebut. lingkungan hidup. Pemanfaatan ruang untuk kegiatan pertambangan harus berada pada kawasan yang ditetapkan sebagai kawasan pertambangan pada RTRW. Selanjutnya. Umar Dhani 35 . Dengan demikian. Diharapkan. Pada intinya UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara sebagai pengganti UU Nomor 11 Tahun 1967 disusun dengan mempertimbangkan seluruh aspek perubahan saat ini. Aspek nilai tambah. Propinsi dan Kabupaten/ Kota. Peluang Pengembangan Pertambangan Mineral dan Batubara pada Era . Maka peraturan yang berkaitan dengan pertambangan harus menyesuaikan dengan perubahan tersebut. Pada umumnya sebagian besar daerah Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang telah disusun belum pengalokasikan kawasan untuk pengembangan kegiatan pertambangan. retribusi dan sumbangan pihak ketiga). PELUANG PENGEMBANGAN PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA Perda a. Semenjak digulirkanya kebijakan otonomi daerah. Krisis ekonomi pada tahun 1997 yang diikuti oleh tuntutan reformasi. pemerintah daerah berlomba-lomba menyusun kebijakan untuk mengelola dan memanfaatkan potensi wilayah dalam rangka pengelolaan pertambangan dan meningkatkan pendapatan asli daerah melalui pajak dan retribusi daerah maupun pungutan lainnya (sumbangan pihak ketiga). Klarifikasi wewenang dan ruang lingkup Pemerintah Pusat.

Masalah utama dari bagi hasil ini dipandang dari sisi daerah adalah tidak pastinya waktu pencairan dari pusat. c. PKP2B dan KP. karena penerimaan yang diperoleh tidak tepat waktu. Berdasarkan rekapitulasi dari Departemen ESDM. yaitu yang ditunjukkan dengan meningkatnya jumlah izin usaha pertambangan yang diterbitkan pemerintah daerah. Dari sisi perundang-undangan tersebut di atas pajak dan royalti dari perusahaan pertambangan merupakan penerimaan pusat. 2008 36 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Sementara pusat berpegang pada kebijakan yang berlaku. sedangkan perizinan pengusahaan bahan galian golongan C diterbitkan oleh pemerintah daerah dalam bentuk SIPD. Rekapitulasi Izin Pertambangan Jenis kontrak KP KK PKP2B 2001 600 55 119 2002 597 62 101 2003 597 61 101 2004 825 54 87 2005 848 46 82 2006 965 41 81 Sumber : Dirjen Minerbapabum. Penerimaan Daerah Sebelum adanya otonomi daerah perizinan di bidang pertambangan umum dikeluarkan oleh pemerintah pusat dalam bentuk KK. jika dibandingkan dengan sistem pemerintahan sebelumnya. Dalam ketidakberdayaan ini ada sebagian daerah yang mengusulkan agar dana dari perusahaan pertambangan langsung ditransfer ke rekening pemerintah daerah tanpa melalui rekning pemerintah pusat. Saat ini sebagian besar Pemerintah Daerah gencar melakukan identifikasi dan inventarisasi potensi bahan galian yang ada dalam rangka menarik investor menanamkan modalnya di bidang pertambangan. Untuk melakukan perpanjangan izin yang dikeluarkan dari pusat (KK dan PKP2B) selebihnya menjadi kewenangan daerah sesuai kewenangannya. namun untuk izin yang berupa KP yang dikeluarkan oleh Distribusi pajak-pajak pertambangan yang menjadi hak daerah belum dilakukan secara lebih adil dan tepat waktu ke daerah penghasil yang berhak. Sebagai contoh. izin usaha pertambangan dalam bentuk KK dan PKP2B jumlahnya cenderung menurun. Meningkatnya jumlah izin usaha bidang pertambangan (KP) tersebut menunjukkan adanya peningkatkan investasi bidang pertambangan dan meningkatnya PAD melalui sektor pertambangan. Secara umum upaya yang dilakukan ini telah menunjukkan tingkat keberhasilan yang cukup baik. Dalam rangka desentralisasi ada sebagian dari penerimaan ini yang dibagihasilkan. sedangkan Tabel 1. Melalui UU tersebut membuka peluang bagi pemerintah daerah untuk mengelola dan memanfaatkan sumber kekayaan alam yang ada di wilayahnya. Dengan adanya kebijakan ini memberikan peluang termanfaatkannya potensi yang ada. yaitu semakin bertambahnya investasi di bidang pertambangan di daerah. Hal ini sangat mempengaruhi dalam pelaksanan rencana pembangunan yang telah ditetapkan oleh daerah. Salah satunya faktor maraknya izin pertambangan yang dikeluarkan daerah adalah adanya kebijakan otonomi daerah. Penerimaan daerah secara langsung berupa pajak dan retribusi daerah. telah terbit ratusan KP batubara yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kabupaten (Bupati) salah satu provinsi di Kalimantan. yaitu terdapat 354 izin yang telah dikeluarkan. d. Perizinan Pertambangan pemerintah daerah terjadi peningkatan yang cukup signifikan (Tabel 1). Pada saat ini perizinan usaha pertambangan umum diterbitkan oleh pemerintah dan pemerintah daerah sesuai kewenangannya. bahwa royalty merupakan penerimaan pusat yang dibagihasilkan dan bukan merupakan pajak daerah. 260 buah diantaranya berupa KP yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah.Kebijakan otonomi daerah telah memberikan kewenangan untuk mengelola dan memanfaatkan potensi sumber daya yang ada di wilayahnya. Salah satu pengaruh adanya kegiatan pertambangan adalah peningkatan penerimaan daerah baik secara langsung maupun tidak langsung. sehingga mengganggu penganggaran di daerah.

Meskipun banyak kalangan yang menolak PP tersebut karena dinilai melegitimasi perusakan hutan lindung selama ada bayarannya dan murahnya tarif yang dikenakan .519. Masyarakat tidak hanya menjadi penontan seperti yang terjadi selama ini. Semenjak digulirkan otonomi daerah pada tahun awal tahun 2000. sehingga potensinya tidak memberikan nilai ekonomi. 1 2 Sumber Penerimaan Pajak PNBP Iuran Tetap Royalti Penjualan Hasil Tambang Total Sumber : Dirjen Minerbapabum.94 1. f.01 25.99 2. meski penerimaan negara pada tahun 2007 mengalami penurunan sebesar 17% dibandingkan dengan periode sebelumnya.24 5.36 8.642.57 29. Berdasarkan dari hasil identifikasi terdapat beberapa izin pertambangan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah daerah tidak selaras Peluang Pengembangan Pertambangan Mineral dan Batubara pada Era .138.. 5.12 2007 17.66 50.442.592..849.17 881.07 Penerimaan pajak ini menyumbang sekitar 67% dari total penerimaan negara yang berasal dari sektor mineral. Dengan demikian. masih banyak yang tidak selaras dengan peraturan yang lebih tinggi atau mengakibatkan biaya tinggi.07 76.200. Penerimaan pajak dan PNBP pertambangan merupakan penerimaan Negara dan dibagi-hasilkan ke daerah. sehingga menghambat investasi di daerah.00 8.69 trilyun.827.163.771.573.697. tapi dapat lebih memberikan kontribusi terlibat langsung pada aktivitas pertambangan sebagai pekerja.41 4. telah terbit ribuan perda sebagai acuan dalam pelaksanaan pembangunan di daerah. KESIMPULAN Maraknya kegiatan pertambangan di daerah akan semakin membuka peluang kerja berusaha bagi masyarakat sekitar. Selain itu. Kewilayahan Pemanfaatan ruang untuk kegiatan usaha harus mengacu pada kebijakan tata ruang yang ada. realisasi penerimaan negara yang berasal dari mineral.026. 2008 2004 6.993. royalti dan penjualan hasil tambang.62 2. batubara dan panas bumi dalam empat tahun terakhir menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Komponen terbesar penerimaan justru berasal dari penerimaan pajak dibandingkan PNBP (Tabel 2). Kesempatan Kerja dan Berusaha Nomor 41 Tahun 1999 jo PP Nomor 2 Tahun 2008 telah memberikan peluang pengusahaan pertambangan di kawasan hutan produksi dan hutan lindung. Penerimaan Pajak dan PNBP dari Pertambangan Mineral dan Batubara Tahun 2004-2006 (Milyar Rupiah) No. Kebijakan tata ruang ini menghindari tumpang tindih pemanfaatan ruang atau benturan kepentingan antarsektor. Pengembangan dan pemanfaatan potensi bahan galian yang berada di kawasan lindung tidak dapat dimanfaatkan. dengan berkembangnya kegiatan di suatu wilayah secara tidak langsung akan memberi peluang berusaha dan menciptakan pengembangan wilayah.664.31 6. Komponen PNBP terdiri atas iuran tetap.68 17. Dengan terbitnya UU Tabel 2. batubara dan panas bumi atau setara dengan Rp 17.25 4. Hasil pertambangan mineral dan batubara telah memberikan kontribusi bagi penerimaan Negara yang cukup besar. Umar Dhani 37 .81 58.72 57.10 3.66 2006 23. yaitu pada tahun 2006 sebesar 29. Secara umum.penerimaan tidak langsung adalah penerimaan dari pajak dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). e.897.691.419. banyak perda-perda yang harus dibatalkan atau direvisi.788.13 1.82 2.20 trlyun pada tahun 2007. yaitu yang dikelompokkan menjadi kawasan lindung dan budidaya.28 2005 12. Perda-perda yang telah terbit tersebut.

sebagai media promosi investasi pengusahaan pertambangan DAFTAR PUSTAKA Dedi Supriady Bratakusumah. Penyiapkan zonasi kawasan untuk pengembangan pertambangan yang ditetapkan dalam kebijakan RTRW.dengan peraturan yang lebih tinggi atau tumpang tindih dengan sektor lain. Departemen Energi Sumber Daya Mineral. upaya yang dilakukan adalah menerapkan metode penambangan secara tepat dan berawasan lingkungan. Hal ini menunjukkan bahwa izin pertambangan yang telah diterbitkan tidak melalui koordinasi dengan dinas/instansi terkait. sehingga tercipta pertambangan yang berkelanjutan (good mining practice). 3. tingkat kerusakan lingkungan yang cenderung meningkat. tidak atau belum dialokasikan secara tegas. Otonomi Daerah Turunkan Investasi Pertambangan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah. 2005 Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 1967 tentang Pokok-Pokok Pertambangan Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Pengaruh tersebut. Coal and Geothermal. antara tersebut antara lain : ketidaksonsistenan peraturan yang ada. perlu diperhatikan tantangan dalam pengembangannya. meningkatnya pemanfaatan sumber daya mineral dan batubara. antara lain : 1. keberadaan sumber daya mineral yang pada umumnya tersebar di bawah permukaan. kawasan untuk kegiatan pertambangan. Diperlukan peningkatan jumlah dan kemampuan apatur dinas seiring dengan maraknya pengusahaan pertambangan. Laporan Tim Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Periode Januari – Desember 2008. maka pembahasan pelaksanaan pertambangan di daerah perlu dilakukan evaluasi yang bertujuan untuk pengembangan pertambangan di daerah. Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara 38 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . 5. Pustaka Setia. dan minimnya data/informasi potensi wilayah. Berdasarkan peluang-peluang tersebut. Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah kabupaten/Kota. arahan pengembangan pertambangan dikemudian hari. Tahun 2007 Makro Ekonomi. Kamis 25 Januari 2006. sehingga pada saat ruang tersebut akan dikembangkan untuk kegiatan pertambangan menjadi tumpang tindih dengan kegiatan sektor lain. Gramedia 2005 Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan Departemen Keuangan Republik Indonesia. Provinsi dan Kabupaten yang saling sinergis. Mineral. terbatasnya jumlah maupun kemampuan aparat. masih banyak wilayah belum ada alokasi kawasan pertambangan. Adanya kepastian hokum dan kepastian berusaha. menjadi terkalahkan oleh pengembangan ruang sektor lain. Pelaksanaan otonomi daerah yang berjalan hampir 9 tahun telah menimbulkan pengaruh yang cukup besar terhadap kegiatan pertambangan di daerah. Untuk mengantisipasi tumpang izin usaha pertambangan yaitu dengan penyusunan basis data pertambangan dengan format yang sama dan menyusun ulang izin-izin yang bermasalah. Berdasarkan dari peluang dan tantangan tersebut. Pada saat ini dalam kebijakan tata ruang. hingga pemantauan lingkungan pasca tambang. 4. Jika dilihat dari permasalahan yang timbul dengan adanya kegiatan pertambangan serta faktor penyebab permasalahan tersebut. terciptanya pengembangan wilayah. Perencanaan Pembangunan Daerah. Dengan demikian. Direktorat Mineral. membuka kesempatan bekerja dan berusaha. Batubara dan Pas Bumi. Pemerintahan Daerah di Indonesia. antara lain : kewenangan dalam pengelolaan pertambangan. Tersedianya data informasi potensi sumber daya mineral dan batubara. Bandung. meningkatnya penerimaan daerah. Tuntutan pemenuhan standar lingkungan hidup yang makin ketat. Diperlukan kebijakan/ peraturan daerah yang mengatur tentang pengelolaan pertambangan mulai dari segi perizinan pengusahaan. Penyusunan RTRW Nasional. Pipin Syarifin. 2.

PENINGKATAN KADAR BIJIH BESI DARI DAERAH PELAIHARI, PROPINSI KALIMANTAN SELATAN MENGGUNAKAN KLASIFAYER DAN PEMISAH MAGNETIK

Pramusanto, Nuryadi Saleh dan Apriandi Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl Jenderal Sudirman No. 623 Bandung, 40211 Telp (022) 6030843, Fax. (022) 6003373

SARI Karakteristik bahan baku bijih besi Pelaihari dicirikan oleh kadar besinya rendah (sekitar 30% Fetotal). Mineralnya terdiri dari hematit dan magnetit. Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kadar besinya adalah dengan melakukan percobaan klasifayer dan pemisah magnetik. Penelitian ini membahas tentang percobaan klasifayer yang dilanjutkan dengan percobaan pemisah magnetik. Percobaan pemisah magnetik dilakukan dengan memvariasikan intensitas magnet, ukuran butir dan waktu pengadukan umpan. Percobaan klasifayer dilakukan untuk mengurangi mineral pengotor dengan memanfaatkan perbedaan ukuran butir dan berat jenis, sedangkan pemisah magnetik dilakukan untuk meningkatkan mineral berharga berupa hematit dan magnetit melalui pemanfaatan perbedaan kerentanan terhadap magnet antara mineral pengotor dengan mineral berharga. Hasil percobaan klasifayer dapat meningkatkan kadar Fetotal menjadi 34,6%, sedangkan pada pemisah magnetik, variabel yang dapat meningkatkan kadar tertinggi adalah waktu pengadukan umpan dengan kadar Fetotal tertinggi yang diperoleh 55,9%. Waktu pengadukan umpan 10 dan 20 menit. Perolehan tertinggi besi sebesar 33,26% terjadi pada waktu pengadukan umpan selama 20 menit. Kata kunci : bijih besi, Pelaihari, klasifayer, pemisah magnetik

ABSTRACT Raw iron ore of Pelaihari is known by its low iron content. The ore consists of hematite and magnetite as the main iron minerals. In order to increase the iron content, some efforts can be conducted by sequence of laboratory tests, namely classifier and magnetic separator. The experiment using magnetic separator is conducted at various magnetic intensity, grain size and agitation time. The purpose of classifying tests is lessening the impurity mineral by exploiting difference of grain size and specific gravity, while magnetic separator will increase the valuable mineral in the form of hematite and magnetite by exploiting difference of magnetic susceptibility between the impurities and valuable minerals. The experiment results of classifying increase the total iron grade up to 34.6%, followed by magnetic separator. The later increases the highest grade of total iron up to 55.9% at agitation time of 10 and 20 minutes. The highest iron recovery of 33.26% was conducted at 20 minutes of feed agitation time. Keywords : iron ore, Pelaihari, classifier, magnetic separator

Peningkatan Kadar Bijih Besi dari Daerah Pelaihari ... Pramusanto, dkk.

39

1.

PENDAHULUAN

Kebutuhan baja nasional terus mengalami peningkatan seiring dengan perkembangan sektor industri dan semakin maraknya pembangunan infrastruktur di Indonesia. Pada saat ini konsumsi baja diperkirakan telah mencapai 6,3 juta ton, sedangkan produksinya hanya 3,8 juta ton. Kekurangan penyediaan baja sebesar 2,5 juta ton masih dipasok dari impor, sehingga PT Krakatau Steel untuk memproduksi baja di Indonesia memerlukan bahan baku dan penunjang yang sebagian besar masih diimpor. Bahan-bahan yang pengadaannya masih bergantung pada impor adalah pelet bijih besi, sedangkan skrep, bijih besi bongkah (lump ore) dan bijih besi halus kasar (coarse fine) sebagian masih dapat dipasok dari dalam negeri, misalnya untuk bijih besi bongkah berkadar Fe 57% dan bijih besi halus kasar berkadar Fe 56% telah dapat dipasok dari endapan besi laterit oleh PT Sebuku Iron Lateritic Ore, Kalimantan Selatan [sebukuiron.co.id]. Untuk menunjang keperluan industri besi baja yang terus meningkat di masa mendatang, Indonesia memiliki potensi sumber daya bijih besi yang cukup besar, berupa bijih besi primer dengan estimasi cadangan 320 juta MT dan kadar 25 – 62% Fe, bijih besi laterit dengan estimasi cadangan 1.391 juta MT dan kadar 40 – 56% Fe serta pasir besi dengan estimasi cadangan 600 juta MT dan kadar 25 – 40% Fe [Koesnohadi dan Sobandi, 2008]. Namun sumber daya tersebut belum dapat dimanfaatkan secara optimal karena kadar Fe yang terkandung relatif rendah. Pada umumnya industri baja membutuhkan besi dengan kadar Fe 60-69%, sedangkan P.T. Krakatau Steel membutuhkan pelet bijih besi dengan kandungan Fe minimum 65%. Untuk menjawab tantangan tersebut, perlu adanya kajian intensif agar kadar Fe yang dikandung besi dapat ditingkatkan, sehingga dapat dimanfaatkan oleh industri dalam negeri seperti oleh PT Krakatau Steel. Proses peningkatan kadar Fe pada bijih besi biasa dilakukan dengan cara kominusi (crushing dan grinding), konsentrasi secara gravitasi, pemisahan magnetik, pemisahan elektrostatik maupun flotasi. Flotasi biasanya dilakukan sebagai lanjutan dari proses pemisahan magnetik, pemisahan elektrostatik, konsentrasi secara gravitasi maupun kominusi [Habashi, 1997]. Pemisahan secara magnetik terhadap bijih besi sudah lazim dikerjakan [Pramusanto, dkk, 1999].

Pemisah magnetik merupakan alat yang digunakan dalam proses pemisahan secara magnetik. Prinsip kerja alat ini adalah memisahkan mineral berharga dari pengotornya berdasarkan derajat kemagnetan atau mudah tidaknya mineral mengalami pengaruh dalam medan magnet (magnetic sussceptibility) [Kelly, and Spottiswood, 1982]. Bijih besi merupakan mineral-mineral yang mengandung besi seperti magnetit, hematit, goethit, limonit atau campuran dari mineral-mineral tersebut dengan mineral pengotornya, seperti silika, alumina, dan krom [Perkins, 2002]. Berdasarkan pada magnetic susceptibility mineral tersebut dapat diklasifikasikan dalam dua grup, yaitu paramagnetik dan diamagnetik. Mineral diamagnetik merupakan mineral yang tidak mengalami ketertarikan dalam medan magnet, seperti silika, dan alumina. Sedangkan mineral paramagnetik yang dapat ditarik oleh magnet, seperti hematit dan limonit. Dari mineral paramagnetik ini terdapat mineral-mineral yang memiliki sifat magnet yang sangat kuat disebut ferromagnetik, seperti magnetit [Wills, 1988]. Berdasarkan hasil pengujian mineragrafi, bijih yang digunakan untuk percobaan ini mengandung magnetit-hematit. Magnetit dan hematit memiliki derajat kemagnitan signifikan, yang berbeda dengan mineral pengotor berupa silika, alumina dan lain-lain; sehingga sebagai studi awal, proses pemisahan berdasarkan sifat kemagnetan mineral menggunakan pemisah magnet dapat dimanfaatkan.

2.

METODOLOGI

Metodologi peningkatan kadar bijih besi ini dilakukan dalam beberapa tahapan, yaitu; preparasi percontoh (pengeringan, pengayakan dan pemercontoh), studi bahan baku (analisa kimia, ayak dan mineralogi), pencucian dengan spiral classifier untuk menghilangkan pengotor, dan percobaan menggunakan pemisah magnet untuk meningkatkan hematit dan magnetit. *****

3.

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Studi Bahan Baku Studi bahan baku ini bertujuan untuk mengetahui dan menentukan komposisi dan kadar dari mineral-mineral yang terdapat di dalam percontoh bijih besi tersebut.

40

PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009

3.1.1 Analisis Komposisi Kimia Berdasarkan hasil analisis komposisi kimia, maka diperoleh komposisi kimia bijih besi sebagai berikut; Fetotal 31,3%, Fe2O3 37,94%, Fe3O4 6,55%, SiO2 28%, CaO 15,67%, Al2O3 5,61%, MgO 1,01 %, TiO2 1,63%, Cr2O3 0,111% dan LOI 1,93%. 3.1.2 Analisis Ayak Berdasarkan Gambar 1 dapat dilihat terjadi perubahan distribusi ukuran butir akibat pencucian dengan spiral classifier, sehingga underflow spiral classifier menyebabkan kenaikan nilai persen berat tertahan fraksi ukuran -250+150 µm (-60+100 mesh) sampai fraksi +1,7 mm (+10 mesh) dan menyebabkan penurunan nilai persen berat tertahan dari fraksi ukuran -150+106 µm (-100+140 mesh) sampai fraksi -75 µm (-200 mesh) terhadap percontoh asal bijih besi. Hal ini menjelaskan bahwa proses spiral classifier menyebabkan terjadinya pemisahan antara partikel halus dengan kasar, sehingga dapat dilihat adanya perbedaan persentase berat tertahan antara percontoh asal dengan underflow spiral classifier.

70,00%, hematit derajat sebesar 94,55%, dan gangue sebesar 98,41%.

 
Derajat Liberasi [DL] (%)

100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0
-75 (-200) -106+75 -150+106 -250+150 -425+250 -850+425 -1700+850 (-140+200) (-100+140) (-60+100) (-40+60) (-20+40) (-10+20) +1700 (+10)

35 30 25 20 15 10 5 0 Distribusi DL [DDL] (%)
Distribusi DL [DDL] (%)

Fraksi Ukuran µm (m esh)
DL Magnetit DDL Magnetit DL Hematit DDL Hematit DL Gangue DDL Gangue

Gambar 2. Hubungan fraksi ukuran terhadap derajat liberasi dan distribusi derajat liberasi percontoh asal

 
Persen Berat Tertahan (%)

45 40 35 30 25 20 15 10 5 0
-75 (-200) -106+75 (-140+200) -150+106 (-100+140) -250+150 (-60+100) -425+250 40+60) (-850+425 20+40) (-1700+850 (- +1700 10+20) (+10)

Percontoh Asal Percontoh Spiral Classifier

Menurut perhitungan derajat liberasi total fraksi kasar dan halus untuk percontoh asal, dapat dijelaskan bahwa persentase derajat liberasi total pada fraksi kasar (+1700 µm) atau +10 mesh sampai -425+250 µm (-40+60 mesh) masih sangat rendah; magnetit sebesar 0,45%, hematit sebesar 1,08% dan gangue sebesar 13,70%. Persentase derajat liberasi total pada fraksi halus (-250+150 µm) atau (-60+100 mesh) sampai -75 µm (-200 mesh) sudah cukup tinggi; magnetit sebesar 37,62%, hematit sebesar 58,95% dan gangue sebesar 77,56%.

Fraksi Ukuran µm (m esh)

 
Derajat Liberasi [DL] (%)

100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0
-75 (-200) -106+75 -150+106 -250+150 -425+250 -850+425 (-140+200) (-100+140) (-60+100) (-40+60) (-20+40) -1700+850 (-10+20) +1700 (+10)

40 35 30 25 20 15 10 5 0

Gambar 1. Hubungan fraksi ukuran dengan komposisi mineral percontoh asal dan underflow spiral classifier

3.1.2.1 Derajat Liberasi Berdasarkan Gambar 2, untuk derajat liberasi percontoh asal terlihat bahwa semakin kecil ukuran ayak, maka tingkat kebebasan suatu butiran mineral dalam suatu fraksi ukuran semakin tinggi. Derajat liberasi tertinggi pada percontoh asal terdapat pada fraksi -75 µm (-200 mesh) dengan derajat liberasi untuk mineral magnetit sebesar

Fraksi Ukuan µm (m esh)
DL Magnetit DDL Magnetit DL Hematit DDL Hematit DL Gangue DDL Gangue

Gambar 3. Hubungan fraksi ukuran terhadap derajat liberasi dan distribusi derajat liberasi percontoh underflow spiral classifier

Peningkatan Kadar Bijih Besi dari Daerah Pelaihari ... Pramusanto, dkk.

41

Berdasarkan Gambar 3, derajat liberasi tertinggi untuk percontoh underflow spiral classifier terdapat pada fraksi -75 µm (-200 mesh) dengan derajat liberasi mineral magnetit sebesar 69,61%, hematit sebesar 93,42%, dan gangue sebesar 97,96%. Menurut perhitungan distribusi derajat liberasi untuk fraksi kasar dan halus untuk percontoh bijih besi underflow spiral classifier, terlihat bahwa persentase distribusi derajat liberasi total pada fraksi kasar (+1700 µm) atau +10 mesh sampai 425+250 µm (-40+60 mesh) masih sangat rendah; magnetit sebesar 0,60%, hematit sebesar 1,50% dan gangue sebesar 23,54%. Persentase distribusi derajat liberasi total pada fraksi halus (-250+150 µm) atau -60+100 mesh sampai -75 µm (-200 mesh) masih cukup tinggi; magnetit sebesar 28,21%, hematit sebesar 46,41% dan gangue sebesar 64,11%.

dan hematit dengan komposisi hampir homogen pada setiap fraksi ukuran yang terdapat pada kedua percontoh analisis ayak. Komposisi mineral rata-rata seluruh fraksi ukuran untuk percontoh asal adalah 6,22% magnetit, 37,53% hematit dan 56,25% gangue, sedangkan untuk percontoh hasil percobaan spiral classifier adalah 6,98% magnetit, 39,87% hematit dan 53,15% gangue.

 
Komposisi Mineral (%)

70 60 50 40 30 20 10 0
-75 (-200) -106+75 (-140+200) -150+106 (-100+140) -250+150 (-60+100) -425+250 40+60) (- -850+425 20+40) (- -1700+850 (-10+20) +1700 (+10)

Fraksi Ukuran µm (m esh)
Magnetit Percontoh Asal Hematit Percontoh Asal Gangue Percontoh Asal Magnetit Limp, Bawah Klasif ay er Spiral Hematit Limp. Bawah Klasif ay er Spiral Gangue Limp. Bawah Klasif ay er Spiral

Gambar 5. Hubungan fraksi ukuran dengan komposisi mineral percontoh asal dan percontoh underflow spiral classifier

3.2. Percobaan Spiral Classifier Berdasarkan Gambar 6, dapat dijelaskan bahwa pada percobaan ini telah terjadi pemisahan antara partikel halus dengan kasar. Hal ini terlihat dari adanya kenaikan kadar Fe total. Kadar Fe total pada percontoh asal sebagai umpan sebesar 31,3%, setelah dilakukan proses klasifikasi menggunakan spiral classifier meningkat menjadi 34,6% untuk produk underflow (sebagai produk pemisahan yang memiliki partikel kasar) dan terjadi penurunan kadar Fe total menjadi 24,6% untuk produk overflow (sebagai produk pemisahan partikel yang berukuran halus). 3.3. Peningkatan Kadar dengan Pemisah Magnetik Di dalam percobaan pemisah magnetik ini dilakukan analisis mineralogi untuk meninjau perubahan komposisi mineral dan derajat liberasi pada konsentrat dan tailing akibat pengaruh dari variabel percobaan terhadap peningkatkan kadar dan perolehan. Analisis kimia hanya dilakukan pada konsentrat untuk menetukan kadar Fe total.

Gambar 4. Fotomikrograf sayatan poles bijih besi (H = hematit, M = magnetit, G = mineral gangue, HM = hematit + magnetit HG = hematit + gangue)

Berdasarkan Gambar 4, dapat dilihat bahwa pada fraksi ukuran -106+75 µm (-140+200 mesh), bahwa antara magnetit dan hematit terjadi keterikatan dan antara hematit dan gangue juga terjadi keterikatan. Antara magnetit dan gangue tidak tampak adanya keterikatan. Menurut perhitungan komposisi mineral pada ukuran tersebut, komposisi hematit 41,80% dengan derajat liberasi 88,68% dan magnetit 7,80% dengan derajat liberasi 58,97% serta gangue 50,40% dengan derajat liberasi 96,23%. 3.1.2.2 Komposisi Mineral Berdasarkan Gambar 4, mineral berharga yang terdapat pada percontoh bijih besi ini adalah magnetit

42

PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009

Komposisi hematit terkecil diperoleh pada intensitas magnet 10000 gauss (47. dengan magnetit (8.2 Pengaruh Ukuran Butir terhadap Komposisi Mineral dan Derajat Liberasi pada Konsentrat Berdasarkan grafik pengaruh ukuran butiran yang divariasikan dari ukuran <75 sampai <250 µm terhadap komposisi mineral dan derajat liberasi konsentrat seperti pada Gambar 8. dapat ditarik kesimpulan bahwa semakin besar ukuran butiran semakin turun komposisi mineral.07%. namun hal tersebut menaikan komposisi gangue. Hubungan percobaan spiral classifier terhadap komposisi kimia 3. Namun pada gangue. Magnetit cenderung stabil namun derajat liberasinya juga turun.1 Pengaruh Intensitas Magnet terhadap Komposisi Mineral dan Derajat Liberasi pada Konsentrat Berdasarkan grafik pengaruh intensitas magnet yang divariasikan dari 2000-10000 gauss terhadap komposisi mineral dan derajat liberasi konsentrat pada Gambar 7. sedangkan derajat liberasinya turun. Gambar 6.73% dan gangue yang terkecil (22. sehingga meningkatkan komposisi hematit dan gangue yang berikatan. Pengaruh intensitas magnet terhadap komposisi mineral dan derajat liberasi konsentrat Gambar 8. tapi mengalami penurunan kembali pada ukuran <250 µm.94%).3. Terjadinya peningkatan komposisi hematit yang berikatan dengan gangue menyebabkan terjadinya penurunan derajat liberasi dan komposisi hematit. semakin besar ukuran butiran mengakibatkan kenaikan komposisi mineral.3.  Komposisi Kimia (%) 40 35 30 25 20 15 10 5 0 Fe total SiO2 CaO Al2O3 MgO TiO2 Cr2O3 LOI Nam a Mineral Percontoh Asal Underflow Overflow konsentrat. sedangkan derajat liberasinya juga mengalami penurunan. 3. menunjukan penurunan hematit seiring dengan peningkatan intensitas magnet. tetapi pada ukuran <250 µm mengalami kenaikan kembali. Gangue meningkat. dengan magnetit sebesar 7. dkk. Pramusanto.28%) dan gangue terbesar (43.   Komposisi Mineral (%)   100 80 60 40 20 0 2000 4000 6000 8000 10000 100 Derajat Liberasi {DL) (%) 100 Komposisi Mineral (%) 100 80 60 40 20 0 <75 <106 <150 <180 <250 80 60 40 20 0 Intensitas Magnet (Gauss) Magnetit DL Hematit Hematit DL Magnetit Gangue DL Gangue 80 60 40 20 0 Ukuran Butir (µm ) Magnetit DL Hematit Hematit DL Magnetit Gangue DL Gangue Gambar 7.. Komposisi hematit yang terbesar diperoleh pada intensitas magnet 2000 gauss sebesar 70. Pengaruh ukuran butir terhadap komposisi mineral dan derajat liberasi konsentrat Hal ini berarti pengaruh intensitas magnet menyebabkan peningkatan penarikan hematit yang masih berikatan dengan gangue ke dalam Perubahan komposisi mineral dan derajat liberasi pada mineral magnetik maupun gangue disebabkan oleh adanya pengaruh gaya gravitasi dan hidrodinamis yang bekerja pada butiran serta Peningkatan Kadar Bijih Besi dari Daerah Pelaihari .. Derajat Liberasi {DL} (%) 43 .80%).20%).

Pada waktu pengadukan umpan 20 menit. 3. Perolehan yang semakin besar seiring dengan besarnya intensitas magnet.27%. waktu pengadukan umpan memiliki sedikit pengaruh terhadap peningkatkan derajat liberasi antara hematit dan gangue. magnetit sebesar 7. Komposisi hematit terkecil diperoleh pada ukuran butir <180 µm (68.5 Pengaruh Ukuran Butir terhadap Perolehan dan Kadar Fetotal pada Konsentrat Berdasarkan grafik pengaruh ukuran butir terhadap perolehan dan kadar Fe Total Gambar 11. Penyebab lain. didapatkan komposisi mineral hematit sebesar 72. Kadar Fe total tertinggi diperoleh pada intensitas magnet 2000 gauss (54. Komposisi hematit terbesar diperoleh pada waktu pengadukan umpan 10 menit (71. 3.3.8%) dengan perolehan tertinggi 54.7%.84%. Kadar Fe tertinggi didapatkan pada ukuran <250.67%. 44 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 Kadar Fe (%) .7%) dengan perolehan terendah 28. Penyebab-penyebab tersebut dapat mengakibatkan peningkatkan penarikan mineral magnetik oleh magnet menjadikan konsentrat.27% dan gangue sebesar 25. Komposisi hematit terbesar diperoleh pada ukuran butir <75 µm (70. Hal ini terjadi karena gangue yang berikatan dengan mineral magnetik ikut tertarik menjadi konsentrat.13% dan sisanya gangue.17%.00%.3.   Perolehan Fe (%) 60 50 40 30 20 60 50 40 30 20 10 2000 4000 6000 8000 10000   100 Komposisi Mineral (%) 100 80 60 40 20 0 1 10 20 80 60 40 20 0 Waktu Pengadukan Um pan (Menit) Magnetit DL Hematit Hematit DL Magnetit Gangue DL Gangue Derajat Liberasi {DL} (%) 10 Intensitas Magnet (Gauss) Recov ery Fe Kadar Fe Gambar 10. Pengaruh intensitas magnet terhadap perolehan dan kadar Fetotal konsentrat Gambar 9.40%). disimpulkan bahwa perolehan dan kadar dipengaruhi oleh pengaruh ukuran butir akibat adanya perubahan komposisi mineral dan derajat liberasi. magnetit sebesar 8. magnetit sebesar 8.50%.93%).33%).derajat liberasi butiran.93% dan gangue sebesar 21. Hal ini disebabkan oleh lepasnya ikatan mineral-mineral besi dengan gangue yang berikatan tidak begitu kuat.3 Pengaruh Waktu Pengadukan Umpan terhadap Komposisi Mineral dan Derajat Liberasi pada Konsentrat Berdasarkan Gambar 9 dapat ditarik kesimpulan bahwa untuk derajat liberasi. sebaliknya dengan kadar Fe total cenderung turun seiring dengan peningkatan kadar. Perolehan tertinggi didapatkan pada ukuran butir <75 µm sebesar 31. pengaruh waktu pengadukan ini menyebabkan Al2O3 ataupun CaO yang ada dalam umpan tercampur dengan baik.4 Pengaruh Intensitas Magnet terhadap Perolehan dan Kadar Fe Total pada Konsentrat Dari grafik pengaruh intensitas magnetik terhadap perolehan dan kadar Fe total (Gambar 10).3.40%. Kadar Fe total terendah diperoleh pada intensitas magnet 10000 gauss (38. disimpulkan bahwa pengaruh intensitas magnet terhadap perolehan menunjukan semakin besar intensitas magnet semakin meningkat perolehan. magnetit sebesar 6.07% dan gangue sebesar 20. <106 dan <75 µm sebesar 54. Hal ini mempengaruhi daya tarik magnet ke dalam konsentrat. Pengaruh waktu pengadukan umpan terhadap komposisi mineral dan derajat liberasi konsentrat 3.

sedangkan gangue mengalami peningkatan. Kadar Fe total tertinggi diperoleh pada waktu pengadukan umpan sebesar 55.26%. Perolehan tertinggi terjadi pada pengadukan umpan selama 20 menit dengan perolehan sebesar 33.3. seluruh magnetit tertarik semua ke dalam konsentrat pada setiap variabel intensitas magnet.67%. Hematit terbesar terjadi pada intensitas 2000 gauss (28.80%. Komposisi hematit terkecil terdapat pada intensitas magnet 10000 gauss (27.3.  Perolehan Fe (%) 40 70 60 50 3. Pengaruh ukuran butir terhadap perolehan dan kadar Fetotal konsentrat   Komposisi Mineral (%) 3.6 Pengaruh Waktu Pengadukan Umpan terhadap Perolehan dan Kadar Fetotal pada Konsentrat Dari Gambar 12 diperoleh kesimpulan bahwa waktu pengadukan juga memberikan pengaruh terhadap perolehan dan kadar akibat adanya perubahan komposisi mineral dan derajat liberasi. Pengaruh intensitas magnet terhadap komposisi mineral tailing 50 70 40 60 Kadar Fe (%) 3. 30 50 20 40 10 1 10 20 30 Waktu Pengadukan Um pan (Menit) Recov ery Fe Kadar Fe Gambar 12.3.. Hematit terbesar terdapat pada ukuran butir <180 µm (29. dkk. Pramusanto. sedangkan gangue cenderung semakin kecil. Kadar Fe (%) 35 30 40 25 30 20 <75 <106 <150 <180 <250 20 Ukuran Butiran (µm ) Recov ery Fe Kadar Fe Gambar 11.53%.8 Analisis Komposisi Mineral pada Tailing Variabel Ukuran Butir Dari Gambar 14 terlihat bahwa semakin besar ukuran butir semakin besar pula kecenderungan komposisi hematit. artinya mineral magnetit tertarik semua ke dalam konsentrat. Pengaruh waktu pengadukan umpan terhadap perolehan dan kadar Fetotal konsentrat Peningkatan Kadar Bijih Besi dari Daerah Pelaihari .7 Analisis Komposisi Mineral pada Tailing Variabel Intensitas Magnet Berdasarkan Gambar 13 menunjukkan bahwa mineral magnetit pada tailing hasil percobaan pemisah magnetik sudah tidak ada. 45 . sedangkan gangue-nya sebesar 72.20%) dan gangue sebesar 70.47%) dan gangue-nya sebesar 71.33%). Hematit berkurang seiring dengan bertambahnya intensitas magnet. Magnetit pada tailing masingmasing variabel ini sudah tidak ada.9%. 80 70 60 50 40 30 20 10 0 2000 4000 6000 8000 10000 Intensitas Magnet (gauss) Magnetit Hematit Gangue   Perolehan Fe (%) Gambar 13..

3% dengan mineral gangue terdiri atas SiO2 28.26%.. kadar Fe total tertinggi 54. CaO 5. Dexter.84% pada intensitas magnet 2000 gauss. 80 70 60 50 40 30 20 10 0 <75 <106 <150 <180 <250 Ukuran Butir (µm ) Magnetit Hematit Gangue KESIMPULAN Beberapa kesimpulan yang dapat ditarik adalah : 1. magnetit tidak ada. Komposisi hematit terbesar terdapat pada waktu pengadukan satu menit sebesar 26. Federal Republic of Germany. 2.74%. Perolehan tertinggi 31.9 Analisis Komposisi Mineral pada Tailing Variabel Waktu Pengadukan Umpan Gambar 15 menunjukan bahwa pada tailing variabel waktu pengadukan umpan. DAFTAR PUSTAKA Habashi. 2008 “Potensi Sumber Daya Lokal Untuk Membangun kemandirian dan Daya Saing Industri Baja Nasional”.3. United Stated of America. sedangkan mineral gangue sebesar 73.9% untuk waktu pengadukan umpan 10 dan 20 menit. Pada percobaan pengaruh intensitas magnet. Bijih besi Pelaihari mempunyai mempunyai kadar Fe total 31. <106 dan <75 µm. Pada percobaan pengaruh ukuran butir. New Jersey.61%. kadar Fe total tertinggi adalah 55. 4.7% pada ukuran butir <25.. Bandung. Wiley-VCH. 3. 1997 “Handbook of Extractive Metallurgy Volume I: The Metals Industry Ferrous”. 2002 “Mineralogy 2nd Edition”.67%.50% ada pada ukuran butir <75 µm.  Komposisi Mineral (%) 4. Perkins. sedangkan gangue semakin besar. Gambar 14. Pengaruh waktu pengadukan umpan terhadap komposisi mineral tailing 46 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . 5.7% dengan perolehan 28. Spottiswood David J. John Willey & Sons. New York Koesnohadi dan Ahmad Sobandi. Pencucian mengunakan spiral classifier meningkatkan kadar besi total menjadi 34.00%. Kelly Erol G. Weinhem. Al2O3 15.6%. Komposisi hematit semakin kecil seiring dengan bertambahnya waktu pengadukan. Prosiding Kolokium Pertambangan. Pengaruh ukuran butir terhadap komposisi mineral tailing 3. Fathi (editor). Prentice-Hall Inc. Pada percobaan pengaruh waktu pengadukan umpan.   Komposisi Mineral (%) 80 70 60 50 40 30 20 10 0 1 10 20 Waktu Pengadukan Um pan (Menit) Magnetit Hematit Gangue Gambar 15.26% terjadi pada waktu pengadukan umpan 20 menit. kadar Fe total tertinggi 54. Perolehan tertinggi 33. 1982 “Introduction to Mineral Processing”.

Wills.. 1988. Pramusanto.. A.sebukuiron. Bandung. tanggal 20 Mei 2009.Pramusanto. dkk. Peningkatan Kadar Bijih Besi dari Daerah Pelaihari . www. diunduh pada jam 10:57. “Mineral Processing Technology 5Th Edition”.. dkk. Pusat Penelitian Pengembangan Teknologi dan Mineral..co. PT SILO. B. Pergamon Press. New York. Oxford.htm. 47 . 1999 “Pengerjaan Awal Bijih Besi Laterit Melalui Pemisahan Secara Magnetis dalam Drum Magnetic Separator pada Pembentukan Campuran Bijih Besi Laterit dan Kokas”.id/silo_products.

bodi keramik putih ABSTACT There are a lot of the quartz sand deposit in Rantaubujur area. Based on the beneficiation experiments as much as 3 (three) time be found the pure quartz sand of 658.Tapin Regency abaout 186. This pure quartz sand has to fulfill as ceramic raw material for made the whiteware ceramic as the filler material.7206221 / 7207115) SARI Jumlah cadangan endapan pasir kuarsa di daerah Rantaubujur Kecamatan Tapin Selatan. 022 . silica grade. Kabupaten Tapin sebanyak 186378000 m3.27 % SiO2 become 94. Jend. Dari hasil percobaan pencucian yang dilakukan sebanyak 3 (tiga) kali diperoleh 658. yakni dari 80.0 mm. KABUPATEN TAPIN. Keywords : clayed quartz sand. This quartz sand still mixed with yellowish cream clay materials. which to appear of overburden on the coal deposit. yang merupakan lapisan tanah penutup (over burden) pada endapan batu bara. Hasil analisis kimia pasir kuarsa asli (masih bercampur lempung) dan yang terolah. the clayed quartz sand sample need to beneficiat by washing and sieving on several size of 1. 0. sampel pasir kuarsa yang berlempung tersebut perlu dilakukan proses pengolahan dengan cara pencucian dan pengayakan dengan menggunakan ayakan ukuran 1. Because of that. Oleh karena itu.5 mm. South Tapin District . UNTUK BAHAN BAKU KERAMIK Subari.378. Pasir kuarsa terolah ini telah memenuhi syarat sebagai bahan baku keramik untuk dibuat bodi keramik putih yang fungsinya sebagai bahan pengisi.85 % SiO2. PROVINSI KALIMANTAN SELATAN. Achmad Yani 392 Bandung Telp.85 % SiO2 .PENGOLAHAN PASIR KUARSA BERLEMPUNG ASAL RANTAUBUJUR. mengalami kenaikan kadar silika (SiO2) yang cukup signifikan. 0. 0.30 grams from the natural quartz sand of 900 grams. silika. Kata kunci: pasir kuarsa berlempung. Enymia dan Sumarsih Balai Besar Keramik Jl.063 mm. beneficiation 48 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Pasir kuarsa ini masih bercampur dengan material lempung berwarna krem kekuningan.30 gram pasir kuarsa terolah dari sebanyak 900 gram pasir kuarsa asli. The chemical analysis result of natural quartz sand and pure quartz sand that has increased of silica (SiO2) significant enough namely from 80.063 mm. pengolahan/pencucian.0 mm.27 % SiO2 menjadi 94.000 m3.

Berdasarkan pada karakteristik pasir kuarsa yang masih mengandung bahan pengotor dan mengacu pada penelitian Vyas. ferosilikon. Pasir kuarsa dicuci dan kemudian diayak/disaring dengan menggunakan ayakan ukuran 1. Dengan adanya kandungan bahan pengotor (impurities) tersebut maka pasir kuarsa ini perlu dilakukan proses pengolahan (benefisiasi) yang tujuannya untuk meningkatkan kualitas kuarsa/ silika agar dapat digunakan sebagai bahan baku keramik terutama untuk bodi keramik putih (whiteware ceramic) seperti stoneware dan porselen. HASIL DAN PEMBAHASAN 3. ubin teraso. 2000. Dari hasil percobaan pengolahan ini diharapkan kualitas pasir kuarsa meningkat serta dapat dimanfaatkan untuk industri keramik bahkan bisa juga digunakan untuk industri gelas. silikon karbida dan bahan abrasif. Bagan alir proses benefisiasi terhadap pasir kuarsa tercantum pada Gambar 1.5 x 0. Pasir kuarsa ini masih bercampur dengan material lempung berwarna krem kekuningan. 2. Benda uji ubin selanjutnya dikeringkan dalam oven pengering pada suhu 100 0C..5 mm dan 0. Kabupaten Tapin . Proses pengolahannya di lakukan sebanyak 3 (tiga) kali percobaan yang hasil percobaannya dapat di lihat pada Tabel 1. 2003).1. Kemudian komposisi bodi tersebut dicampur sampai homogen dengan menambahkan air sekitar 5 % dari total berat bahan baku. Kondisi endapan pasir kuarsa semacam ini juga di jumpai di desa Rajpardi “Bharuch district”. et. 0. 2000). misalnya pada industri pengecoran logam. Pasir kuarsa di sini nampaknya masih bercampur dengan material lempung. Adapun komposisi bodi keramik yang dicoba terdiri dari bahan baku kuarsa terolah 20 %.1.1200 dan 1250 °C.. industri perminyakan dan industri keramik termasuk refraktori. Carty. yang merupakan bahan pengotor sehingga warna pasirnya bervariasi dari krem sampai kuning kecoklat-coklatan. 49 . Untuk mengetahui perolehan silika atau kuarsa yang dihasilkan dari proses pengolahan (benefisiasi) pasir kuarsa alam dapat digunakan rumus (Wills. Sehubungan hal tersebut di atas. (2000) setelah melakukan proses pengolahan pasir kuarsa yang berwarna kuning hingga kuning kecoklat-coklatan dengan menggunakan metode pengayakan cara kering.000 m3 (Widyajasa. Sedangkan pasir kuarsa sebagai bahan baku campuran. akar tetumbuhan dan lain sebagainya. Sebagai bahan baku utama.0 mm. dan akhirnya dibakar dalam tungku listrik pada suhu 1150.. mineral horblende dan biotit (Chakraborty. seperti misalnya penelitian Vyas et al. pengayakan cara basah dan cara magnetik. et al. 2001). Tapin Selatan tergantung pada karakteristik bahan. India. pasir kuarsa dapat digunakan dalam industri gelas. (2000) maka metode pengolahan yang dilakukan adalah proses pengayakan cara basah. kaolin 50 % dan lempung 30 %. 2006): Pengolahan Pasir Kuarsa Berlempung Asal Rantaubujur. METODE PENELITIAN Pasir kuarsa alam atau kuarsa asli yang digunakan dalam percobaan pengolahan (benefisiasi) berasal dari daerah Rantau Bujur Kecamatan Tapin Selatan. Perolehan (recovery) kuarsa terolah Teknologi pengolahan pasir kuarsa dari Tapin Selatan ini dilakukan dengan pengayakan atau penyaringan secara basah yang menggunakan beberapa ukuran ayakan. Dalam industri manufaktur. hal ini tergantung pada tingkat kemurnian bahan baku yang digunakan( Achuthan et al.al..378. dkk. Bahan pengotor yang terkandung didalam pasir kuarsa Rajpardi yaitu oksida besi seperti ilmenit atau limonit. Setelah itu komposisi bodi ini dicetak ubin keramik berukuran (7. 3. Metode pengolahan yang digunakan dalam proses pengolahan pasir kuarsa dari Kec. yang merupakan lapisan overburden pada tambang batubara jenis lignit. kerikil. Subari. penggunaan pasir kuarsa sudah berkembang ke berbagai industri baik sebagai bahan baku utama maupun untuk bahan campuran atau aditif.8) cm.063 mm. dengan jumlah cadangan sebesar 186.5 x 7. pasir kuarsa yang diteliti akan digunakan sebagai bahan baku campuran dalam pembuatan ubin keramik selain menggunakan felspar dan kaolin. PENDAHULUAN Di daerah Rantau Bujur Kecamatan Tapin Selatan Kabupaten Tapin Provinsi Kalimantan Selatan terdapat endapan pasir kuarsa/silika yang merupakan lapisan tanah penutup (overburden) pada endapan batubara. Sedangkan penggunaan kuarsa atau silika pada industri keramik berkisar antara 10 – 25% berat dari kompo-sisi bodi keramik stoneware atau perselen.

063 mm Kuarsa terolah + 0.0 mm Diayak basah ukuran 0.Kuarsa alam dibuat massa lumpur Diayak basah 1.5 mm Kuarsa terolah + 0.063 mm Lempung kotor .Bagan alir proses benefisiasi pasir kuarsa Tabel 1. Material balance pada proses benefisiasi pasir kuarsa Percobaan 1 2 3 Rata-rata Kuarsa asli ( gram ) 900 900 900 900 Kuarsa terolah ( gram ) 740 675 560 658.0.5 mm .063 mm Gambar 1.33 50 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .3 Kotoran 1 ( gram ) 32 27 28 29 Kotoran 2 ( gram ) 107 170 276 184.5 mm Kuarsa & lempung 0.0 mm Kotoran kerikil + 1.33 Kehilangan ( gram ) 21 28 36 28.0.0 mm Kuarsa & lempung -1.5 mm Diayak basah ukuran 0.

Kabupaten Tapin . Dilihat dari kadar Fe2O3 dan TiO2 bahwa menurut SNI 15-1026-1989 mengenai kuarsa untuk pembuatan porselen dan stoneware batas kadar yang disyaratkan untuk Fe2O3 = 0.23 %..27 Jumlah cadangan pasir kuarsa alam (kuarsa asli) sebesar 186.4 % dan yang TiO2 = 0.30 gram dari sebanyak kuarsa asli sebesar 900 gram. % F = Umpan (feed) pasir kuarsa asli. Kadar SiO2 didalam kuarsa asli (umpan) = 80. gram f = Kadar SiO2 didalam umpan.04 %.347.378. 3.5 % SiO2 ( Hartono dan Subari. menunjukkan bahwa untuk kuarsa asli terdapat kandungan mineral kaolinite selain alfa kuarsa sedangkan yang kuarsa terolah hanya mengandung alfa kuarsa serta tidak ada lagi kandungan mineral kaolinitnya.34 % dan 0. Sehingga pasir kuarsa terolah tersebut masih bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku keramik untuk body keramik stoneware atau porselen dan juga barang tahan api (refractory).85 R= 900 x 80. Gambar 2.% Menurut Tabel 1 bahwa banyaknya kuarsa terolah rata-rata sekitar 658.85 % serta kadar Fe2O3 dan TiO2 mengalami penurunan masing-masing yaitu 0.27 % dan yang didalam konsentrat (kuarsa terolah) =94.3 %. dkk.27 %.. Subari. Data komposisi Kimia dan Mineral Data komposisi kimia terhadap pasir kuarsa asli atau belum diolah terutama kadar silika (SiO2). Dengan berdasarkan ketentuan tersebut maka proses pengolahan pasir kuarsa dengan cara pencucian dan pengayakan cukup berhasil dan bisa dikembangkan dalam skala produksi.000 m3. Dengan demikian perolehan pasir kuarsa terolah adalah : 658. Menurut ketentuan tersebut diatas nampaknya pasir kuarsa dari Kabupaten Tapin telah memenuhi syarat sebagai bahan baku untuk body keramik porselen atau stoneware. gram c = Kadar SiO2 didalam konsentrat.435 m3. maka pasir kuarsa terolah dari Kecamatan Tapin Selatan dengan kadar silika sebesar 94.30 x 94.20%. 1. dan TiO2 masing-masing sebesar 80. Fe2O3. Dengan demikian proses pengolahan pasir kuarsa dari Kabupaten Tapin x 100 % = 86.85 %.85% SiO 2 kualitasnya hampir sama dengan yang pasir kuarsa Bangka. Kemudian dari data analisis X Ray diffraktometer terhadap pasir kuarsa asli (belum diolah) kode KCT dan kuarsa yang sudah diolah kode KMT seperti tercantum dalam Gambar 2. % C = Kuarsa terolah (konsentrat). Kemudian pasir kuarsa setelah diolah dengan cara pencucian dan pengayakan ternyata kadar SiO2 nya mengalami kenaikan menjadi 94.57 % dengan cara pencucian dan pengayakan tersebut memberikan hasil yang baik. 51 .2. apabila pasir kuarsa diolah semuanya maka yang diperoleh sebanyak 161.Grafik difraktogram pasir kuarsa asli dan kuarsa terolah Pengolahan Pasir Kuarsa Berlempung Asal Rantaubujur. dan 0.Dimana : R = Recovery. Dibandingkan dengan pasir kuarsa dari pulau Bangka dan pulau Belitung yang kadar silikanya masing-masing sebesar 95-99 % SiO2 dan 96-99. 1986).

0 mm.3. dan felspar.M. Kemudian komposisi bodi tersebut dicampur sampai homogen dengan menambahkan air sekitar 5 % dari total berat bahan baku. 137. Adapun komposisi bodi keramik yang dicoba terdiri dari bahan baku kuarsa terolah 20 %. Dengan demikian kuarsa terolah yang mengandung SiO2 = 94.masing sebesar 17.98 %. Peer.8) cm. Untuk percobaan pembuatan bodi keramik disini menggunakan kuarsa dari hasil pengolahan pasir kuarsa berlempung dan sedikit mengandung kerikil. 16. sehingga bodi keramik tersebut dapat dikatagorikan keramik putih (whiteware ceramic). Selain untuk ubin keramik pasir kuarsa terolah ini bisa juga digunakan sebagai bahan baku utama bata tahan api silika karena menurut Goswami.15%.85 % telah memenuhi syarat untuk dibuat bata tahan api silika (silica brick refractory). Demikian pula sebaliknya. Sedangkan bahan lempung yang merupakan pengotor (impurity) dari pasir kuarsa mengandung kadar SiO2 nya sebesar 70.5 x 0. Hal ini disebabkan lubang pori-pori dalam bodi ubin semakin mengecil dan ikatan paertikel-partikel bahan yang satu dengan lainnya menjadi semakin kuat akibat semakin tingginya suhu pembakaran.T. KESIMPULAN 1. Nilai penyerapan ubin keramik ini masih di atas 15% karena di dalam komposisi bodi ubin tidak menggunakan felspar yang fungsinya sebagai bahan pelebur guna membantu dalam proses sintering.al. Ceramic engineering and Sci- 52 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . 3.85 %. 2000).13 %. yang telah membantu untuk mendapatkan sampel bahan galian golongan C jenis pasir kuarsa berlempung dari Kecamatan Tapin Selatan serta data potensi cadangannya. Kandungan silika bebas tersebut juga terdapat di dalam lempung (clay). kaolin 50 % dan lempung 30 %. 2008.N.92 kg/cm2.No. Volume 57.masing 135. Proses pengolahan pasir kuarsa berlempung asal Kabupaten Tapin dengan cara dicuci dan diayak menggunakan ukuran ayakan 1. DAFTAR PUSTAKA Achuthan. Pembuatan Keramik dari Kuarsa Terolah Bahan baku yang biasanya digunakan dalam pembuatan keramik konvensional atau tradisional adalah kuarsa. yang dibakar pada suhu 1150-1250 0C bodinya berwarna putih susu serta digolongkan ke dalam bodi putih (whiteware ceramic)..5 x 7. Perolehan (recovery) pasir kuarsa terolah sebanyak 161.347. makin tinggi suhu pembakaran nilai kuat lenturnya semakin besar yaitu masing.3. 0. Pemakaian pasir kuarsa terolah untuk dibuat ubin keramik sebesar 20% dicampur dengan lempung 30% dan kaolin 50% dari Kabupaten Tapin. Lempung ini masih bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku keramik untuk dibuat bodi merah atau terakota. A. Benda uji ubin selanjutnya dikeringkan dalam oven pengering pada suhu 100 0C. Di samping itu warna bodi ubin keramik setelah dibakar pada suhu 1150 0C sampai 1250 0C berwarna putih susu sampai krem.57 kg/cm2.063 mm dapat meningkatkan kadar silika (SiO 2) dari 80. K.435 m3 cukup potensial untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku industri keramik dalam pembuatan ubin keramik dan bata tahan api silika. agar pada suhu pembakaran 1250 0C bodinya sudah bersifat padat (vitrified) sehingga penyerapan airnya bisa mencapai di bawah 10 % (Chakraborty et al.24 %. Maiti. Setelah itu komposisi bodi ini dicetak ubin keramik berukuran (7.77% menjadi sebesar 94. Ubin setelah dibakar ternyata makin tinggi suhu pembakaran penyerapan airnya semakin kecil masing. 4. Effect of Precipitated Silica Additions to the Composition of Ceramic Glazes. Carty. M.85 %.65 kg/ cm2 dan 143. UCAPAN TERIMAKASIH Dengan terpublikasinya makalah ini penulis menyampaikan banyak terima kasih kepada Kepala Dinas Pertambangan Kabupaten Tapin beserta stafnya. kaolin. et. W.. lempung dan felspar.1200 dan 1250 0C. Misalnya lempung berwarna kuning kecoklatan dari daerah Zorka mengandung kadar SiO2 69. 2001. (2000) bahwa untuk membuat bahan tahan api tersebut digunakan silika dengan kadar SiO2 minimum 93 % pada suhu pembakaran 1430-1450 0 C. Interceram.1.87 % dan 15. 2. Dari hasil analisis kimia terhadap kuarsa terolah ternyata mengandung kadar silika (SiO2) yang cukup tinggi yaitu 94.. dan akhirnya dibakar dalam tungku listrik pada suhu 1150. A.5 mm dan 0.

Volume 22.D..M. Goswami. K. G.. 2000. A. B. 2000. Subari. 2000. Effects of Substitution of Quartz by Rajpardi Silica Sand on the Thermomechanical Properties of Conventional Ceramics. Material and Equipment and Whitewares. Chakraborty. B. Pengolahan Pasir Kuarsa Berlempung Asal Rantaubujur. Balai Besar Industri Keramik Bandung.ence.G. 2. Interceram. Teori Benefisiasi Bahan Mentah Keramik Halus. B. X Ray Diffractometric Determination of Tridymite in Silica Refractories. Seventh Edition-ELSEVIER. A.3. Studi Komprehenship Inventarisasi dan Evaluasi Bahan Galian Tambang di Kabupaten Tapin. dkk.K. Proceedings. Interceram. 2006.A.G. Panda. 1986.5. Beneficiation of Rajpardi Silica Sand For Use in the Ceramics and Glass Industry. Kabupaten Tapin . D.P. Volume 49 No. Vyas. Sojitra. Interceram. 2003. Sojitra. Oxford-UK. Volume 49 No. Widyajasa. Mineral Processing Technology. 53 .R. Hartono. J.V dan Subari. D. Bapeda Pemerintah Kabupaten Tapin. Y. Vyas.R. Maiti. Vol..N.T.N. K. Wills. Chakraborty...K.. 49 No.. Issue 2. A. Maiti.

PRESENTASI MAKALAH PARALEL II .

coal briquette and so forth. industri semen. although its price is slightly corrected as the impact of the oil price that was just sharply corrected. pemanfaatan ABSTRACT The role of coal as an energy supply. Ijang Suherman 55 . (022) 6003373 e-mail : ijang@tekmira. paper. Kata kunci: masa kini.MASA KINI DAN MASA DEPAN BATUBARA INDONESIA Ijang Suherman Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. coal. Due to the presence of the National Energy Policy about energy diversification through PP No. masa depan. Besides. (022) 6030483. di masa mendatang akan terus meningkat meskipun harga batubara sedikit terkoreksi sebagai dampak dari harga minyak yang baru saja terkoreksi tajam.5 Tahun 2006. in the future time will increase. melalui PP No. 5 Year 2006. metallurgy. dengan berlakunya UU No 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral Batubara. metalurgi. textile. batubara. baik di Indonesia maupun belahan dunia lainnya. Sudirman 623 Bandung 40211 Telp. Fax. Di samping itu. the implementation of UU No. cement industry. either in Indonesia or other countries.id SARI Peran batubara sebagai pemasok energi.esdm. Adanya Kebijaksanaan Energi Nasional mengenai diversifikasi energi. future. the utilization of coal in Indonesia keeps developing in various market segments including: coal-fired power. utilization Masa Kini dan Masa Depan Batubara Indonesia. will support the effort of optimizing supply and demand of the coal in Indonesia in the future time. Keyword: nowadays. 4 Year 2009 about mineral and coal mining. pemanfaatan batubara di wilayah Indonesia terus berkembang di berbagai segmen pasar yang meliputi PLTU. briket batubara dan industri lainnya. kertas.go. tekstil. Jend. akan mendukung upaya optimalisasi permintaan dan pemasokan batubara Indonesia dimasa depan.

kertas. dengan jumlah cadangan sebesar 22. 4. 56 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .15% dan 49. industri tekstil. Nusa Tenggara Timur. PENGUSAHAAN BATUBARA 4. jumlah sumber daya adalah sebesar 104. baik untuk pemakaian domestik maupun pasar ekspor.75 miliar ton.1. Sedangkan model pengolahan dan teknik analisis yang digunakan adalah statistka deskriptif dan trend analysis.25 miliar ton (Gambar 1).1. Sumatera Selatan. tahun 2008. dengan kenaikan produksi rata-rata per tahun secara nasional adalah 17. Kalimanatan Timur. Namun dengan di telah disyahkannya Undang-Undang No 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. Jawa Timur. 6 pulau. Pemberlakuan UU No 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral Batubara. dan industri lainnya. Metoda dalam kajian ini. serta pemanfaatan batubara untuk briket batubara. tekstil. menimbang cadangan minyak bumi Indonesia yang semakin menipis. pemanfaatan batubara di dalam negeri menjadi semakin penting sejalan dengan ditemukannya cadangan batubara yang besar. industri semen. POTENSI SUMBER DAYA DAN CADANGAN Harga dunia minyak yang demikian tinggi baru saja terkoreksi tajam.04%. Jumlah sumber daya dan cadangan batubara Indonesia setiap tahun terus bertambah. PENDAHULUAN 3. hingga kini sumber daya mencapai 104. Seluruh daerah (propinsi) ini dianggap dapat mewakili produsen maupun konsumen batubara di Indonesia. Dalam kurun waktu tersebut (1992 – 2008) telah terjadi perubahan distribusi produksi yang signifikan. tetapi sampai sekarang harga batubara masih tetap tinggi walau agak terkoreksi. adalah menghubungkan hasil-hasil penelitian survei sampling secara langsung seperti ke PLTU. Sedangkan peran KP awalnya relatif masih kecil di bawah BUMN (PTBA).56%. adanya kebijaksanaan energi nasional mengenai diversifikasi energi. produksi batubara selama 16 tahun terakhir telah menunjukkan peningkatan yang cukup pesat. maka ke depan sistim perijinan hanya ada satu jenis. yaitu Propinsi Sumatera Utara. Badan Usaha Milik Negara (BUMN).25 milyar ton. 4.02% pertahun (Tabel 1). industri kertas. METODOLOGI Sejalan dengan upaya penganekaragaman energi dan peningkatan kebutuhan batubara. Tingkat Produksi Batubara 2. industri semen. Pada tahun 2008 produksi batubara nasional telah mencapai 233.2. akan mendukung untuk menciptakan keamanan pasokan energi nasional secara berkelanjutan dan pemanfaatan energi secara efisien.75 milyar ton dan cadangan 22. Di samping kondisi global tersebut. Kondisi saat ini. Segmen pasar yang menggunakan batubara sebagai bahan bakar meliputi PLTU. dan Jawa Tengah. namun terbesar terutama di Pulau Sumatera dan Kalimantan sebanyak masing – masing 50. Sumatera Barat.76% dengan pertumbuhan 16. Jawa Barat. Gasifikasi Batubara dan Pencairan batubara adalah arah pemanfaatan batubara untuk masa mendatang. dan lainnya untuk mendapatkan data primer dengan hasil-hasil publikasi dari instansi terkait sebagai data skunder. Kalimantan Selatan. Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. yaitu Ijin Usaha Pertambangan (IUP) untuk satu wilayah tertentu. Kegiatan penelitian ini dilakukan di 11 lokasi di Indonesia. namun setelah digulirkannya otda ada peningkatan yang cukup berarti dengan tingkat pertumbuhan ratarata 21. berdasarkan perhitungan Pusat Sumber Daya Geologi. Perjanjian Kerjasama Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B). industri peleburan (metalurgi).93% pertahun. dan Kuasa Pertambangan (KP). Banten. PKP2B memegang peranan yang cukup menonjol sekitar 75. Sulawesi Selatan. Sumber daya batubara tersebut tersebar di 19 propinsi. Selain itu. Sedangkan Upgrading Brown Coal (UBC). serta terwujudnya bauran energi (energy mix) yang optimal pada tahun 2025. Pola Pengusahaan Batubara Ijin pengusahaan batubara di Indonesia secara garis besar dibedakan dalam tiga pola.62 juta ton. telah memacu pemanfaatan batubara di berbagai segmen pasar (industri) di wilayah Indonesia.

Ijang Suherman Gambar 1. Distribusi Sumber Daya Batubara Indonesia 57 .Masa Kini dan Masa Depan Batubara Indonesia.

sedangkan pada tahun 2008 mencapai 73.707 7.123 4.796 6.645 156.389 82.602 47.85% dari jumlah seluruh kebutuhan.04 Sumber : DPPMB dan APBI. diikuti oleh pemegang KP sebesar 34.230 9. 5.805 46.180 62.874 23. Ekspor batubara Indonesia pada tahun 1992 hanya sebesar PENGGUNAAN BATUBARA DI INDONESIA Harga dunia minyak yang demikian tinggi baru saja terkoreksi tajam.555 10. Hal ini yang mengantarkan Indonesia sebagai pemasok (eksportir) terbesar menyaingi Australia dan Afrika Selatan.71%.17%.57%.470 25. Hal ini diperlukan untuk mengutamakan jaminan pasokan dalam negeri serta kegiatan peningkatan produksi yang mengacu pada konsep konservasi.993 16.935 20.862 41.713 171.02 Jumlah 15. diikuti oleh pemegang KP sebesar 7.474 10.746 10. 2009 (diolah Kembali) 4. Jumlah produksi batubara Indonesia menurut kelompok perusahaan. maka kedepan perlu mencermatinya untuk melakukan pembatasan ekspor.207 10.300 113.992 164.328 93.3. serta kran ekspor China ditutup.Tabel 1.027 8.078 96. yang berarti setiap tahun penjualannya rata-rata meningkat sebesar 17. dan BUMN PTBA serbesar 10.979 9.986 187.859 11.318 juta ton (Tabel 3).288 juta ton.890 104.925 juta ton (Tabel 2). sedangkan pada tahun 2008 tercatat sebesar 158.35 %.286 3. tahun 1992 – 2008 Tahun 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 (%) Produksi (x000Ton) PTBA 7. Ada yang berpendapat mungkin semakin meningkat karena permintaan yang jauh melebihi penawaran.069 52.057 57.926 4.576 37.212 9. antara lain dipicu oleh booming harga dan semakin banyaknya pembangunan PLTU di luar negeri yang menggunakan bahan bakar batubara.570 66.741 45.994 22.532 87.292 8.246 208.533 36.489 21.3.965 9.408 4. perusahaan pemegang PKP2B merupakan pemasok batubara dalam negeri yang terbesar.288 juta ton.93 KP 1.682 5.607 9. Dengan adanya kecenderungan tersebut. Perusahaan pemegang PKP2B merupakan eksportir batubara terbesar. Kebutuhan batubara dunia saat ini ternyata meningkat sangat cepat.477 29.80%.885 33.620 17.281 18.171 145. yaitu sekitar 89.1 Penjualan batubara dalam negeri Jumlah penjualan batubara di dalam negeri tahun 1992 sebesar 7.604 61. Tingkat Penjualan Batubara 4.815 40.921. Di samping kondisi global tersebut.103 7.707 76. 4. Ini berarti volume ekspor rata-rata naik sebesar 15.951 10.467 5. dan BUMN sebesar 2. yaitu sebesar 54.482 10.251 123.374 6.812 7.87% dari jumlah ekspor batubara Indonesia.654 1.375 233. menimbang cadangan minyak bumi Indonesia 58 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .597 2.138 2.966 4. Tahun 2008.56%.3.707 8. tetapi sampai sekarang harga batubara masih tetap tinggi walau agak terkoreksi.570 176.2 Penjualan batubara ekspor 16.07 PKP2B 14.

181 8.160.381 1.178.323 938.939 37.209.389.773 1.254.000 1.616 2.827 1.492.304 12.381 4. Ijang Suherman 59 .541 5.758.356.061.077 142.239.119 Jumlah 6.034 2.826 Sumber : DPPMB.116.874 6.501.834.104 5.000 4.799.142.865 6.349.114.105 1.955.842 Sumber : DPPMB.854.225.221 25.366 16.621.585 2.022.000 85.265 813.966 3.975.710.117 19.268.913.886.083.971 830.720 8.206.256.995 6.646 8.363 76.262 454.815 1.206.492 59.539.623.212 1.047.022.856.444 1.686 58.550 158.233 13.420 40.620. Tahun 1992 – 2008 Tahun 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Ekspor Batubara (Ton) BUMN PKP2B KP 1.975.044 22.443 26.597.895 9.829 21.662.294.680.495.095.276.000 7.318 1.000 32.194.424 9.875 4.830.195.140.341 47.714 31.421 948.973 3.783 36.835.364 7.816.787.600 41.124.475 142.152.691. 2009 (diolah Kembali) Masa Kini dan Masa Depan Batubara Indonesia.132.979 64.548.318.240 6.973 53.895 7.534 127.011.858 85.969.822.124 7.145 36.276.775 7.787 27.819.989 29.212 3.097 3.601.727.247 4.848.397 949.979.262. Jumlah Ekspor Batubara Indonesia Menurut Kelompok Perusahaan.000 2.185 36.713 14.Tabel 2.201 55.000 41.041.053 51.131 3.966 4.195 4.782 3.994 2.915 25.210.233 12.575.537 2. Jumlah penjualan dalam negeri batubara Indonesia menurut kelompok perusahaan.574.307 11.086.307.565. tahun 1992 – 2008 Tahun 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Penjualan Batubara (Ton) BUMN 6.581 1.712.875 48.153.230.138 52.584.894.364 2.085.506 18.000 106.980.985 41.538 7.957 66.766 6.110 73. 2009 (diolahKembali) Tabel 3.435.260.697.428 8.431.895.053.536 815.480 KP 363.001 Jumlah 16.079.255.510.001 12.550.715.606.764 756.312.621.386.920 21.933 10.014 7.977 2.044 158.703 31.657.387.168 1.633.984 9.577 15.395.377 18.544 13.298.239.354 34.192.157 1.228 PKP2B 356.969 2.428 143.575 8.521 74.921.549.735.892.755 1.257.003 30.178 918.734.256.064.201 99.767.005.454.375.272 92.482 3.754.394.024.361 25.405.306.777 2.852.924.713 9.520.550 22.321 20.750 710.

dengan total kontrak mencapai Rp 17. Penggunaan batubara dalam negeri masih didominasi oleh PLTU. dan lain-lain.25 miliar ton.5 juta ton per tahun. seperti PT Adaro Indonesia.460 MW telah memasuki tahap kontrak dan tahap kontruksi.967. Hal tersebut sejalan dengan penambahan PLTU baru sebagai dampak permintaan listrik yang terus meningkat.031.223.000 MW yang diharapkan siap beroperasi tahun 2010. 10 PLTU di antaranya akan dibangun di Pulau Jawa dengan kapasitas 7. Langkah ini merupakan upaya strategis untuk meningkatkan rasio elektrifikasi serta menyehatkan bauran energi nasional dari ketergantungan pada BBM. Segmen pasar yang menggunakan batubara sebagai bahan bakar meliputi PLTU.470 MW dengan mengkonsumsi batubara sekitar 36. Kemudian uap air tersebut digunakan untuk menggerakan turbin pembangkit listrik.000 MW.168.230 MW. Indonesia Power memiliki 7 unit pembangkit dengan total kapasitas terpasang 3. dan industri lainnya. Peranan PLTU pada pembangkit tenaga listrik nasional adalah yang terbesar. Laporan yang disampaikan kepada Menteri ESDM per tanggal 8 Mei 2009 menyebutkan bahwa untuk 10 proyek yang berlokasi di Jawa. dua di antaranya paling banyak menggunakan batubara sebagai bahan bakar utamanya adalah PLTU Suralaya dan PLTU Paiton. (Tabel 4).575 juta ton per tahun. industri peleburan (metalurgi). PT. baik milk PLN maupun yang dikelola swasta.37% (Tabel 5).981. ada 13 PLTU. Berau Coal. Sedangkan di kawasan PLTU Paiton ada tiga operator pembangkit. PT.659.61% dari kebutuhan batubara nasional.960 MW dan total kontrak mencapai Rp 7. pemerintah telah membuat rencana pembangunan sebanyak 40 PLTU dengan daya terpasang sebesar 10. Berdasarkan data dalam kurun waktu 1998-2008.007. Sedangkan dari 30 proyek pembangunan PLTU di luar Jawa. adanya kebijaksanaan energi nasional mengenai diversifikasi energi. serta pemanfaatan batubara untuk briket batubara. industri tekstil. 5. pemerintah melalui Peraturan Pemerintah No 71 Tahun 2006 telah menunjuk PLN untuk melakukan Percepatan Pembangunan PLTU batubar 10. Batubara yang dibutuhkan untuk 10 PLTU Sistem Kelistrikan Jawa sedikitnya 25.674. kemudian diikuti oleh industri semen sebesar 14. Kideco Jaya Agung.48%.540 MW (lihat Tabel 6). pemanfaatan batubara di dalam negeri menjadi semakin penting sejalan dengan ditemukannya cadangan batubara yang besar yang terus meningkat. Adaro dan PT. Dalam upaya mengantisipasi kekurangan listrik dan untuk meningkatkan efisiensi pemakaian BBM secara nasional. industri kertas.460 MW dan 30 sisanya dibangun di berbagai daerah di Indonesia dengan kapasitas 2.0%. Proyek percepatan 10. PLTU PLTU merupakan industri yang paling banyak menggunakan batubara sebagai bahan bakar pada boiler untuk mendidihkan air menjadi uap air.000 MW mengalami kemajuan signifikan.885.144 juta ton per tahun. Trend penggunaan batubara pada industri kertas dan tekstil. Arutmin.yang semakin menipis.400 MW menggunakan batubara sebesar 13. sebanyak 7. serta industri lainnya terus meningkat.0 juta ton per tahun.230 MW yang dikelola perusahaan swasta PT Java Power dan unit 7 dan 8 yang dikelola PT Paiton Energy dengan kapasitas 1.40 dan USD 4. PLTU berbahan bakar batubara.928. kecuali pada industri metalurgi dan briket batubara perkembangan penggunaan batubara berfluktuatif dan cenderung tetap. Selain itu. yaitu 69.61% di antaranya digunakan oleh PLTU.131. unit 5 dan 6 kapasitas 1. antara lain dari PT.161. penggunaan batubara di PLTU untuk setiap tahunnya meningkat rata-rata 13. Batubara yang digunakan sebagian besar dipasok dari Pulau Kalimantan. industri semen. Untuk merealisasikan rencana tersebut.783. yakni unit 1 dan 2 kapasitas 800 MW yang dikelola oleh PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB). Total batubara yang dibutuhkan sekitar 12. PT Daya Citra Mulia. Hingga saat ini. sebanyak 22 proyek dengan total kapasitas 1. telah memacu pemanfaatan batubara di berbagai segmen pasar di wilayah Indonesia. yang hingga kini sumber daya mencapai 104.1.33. Tercatat dari seluruh konsumsi batubara dalam negeri pada tahun 2008 sebesar 36.64 dan USD 1.75 miliar ton dan cadangan 22. sedangkan sisanya dipasok dari beberapa perusahaan di Kalimantan. PT Jorong Barutama. sedangkan batubara yang dibutuhkan untuk 30 PLTU Sistem Kelistrikan Luar Jawa sedikitnya 7. Pemasok utama batubara untuk PLTU Suralaya. 69. 60 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .454 juta ton per tahun. PLTU Suralaya dikelola PT.575 juta ton. yaitu 54. Total kapasitas PLTU batubara yang dimiliki PLN dan Swasta saat ini sebesar 9.64.279.

248 1.564 669.092.691 3.060 7.147 568.399 720.430.368.548 2006 27.272.000 180.206.307 600.943.328 26.408 374.265.308.774.000 4.202 471.325 52.932 2.174 2007 631.000.799 Lain-lain 2.503.895 (Ton) 2008 36.318 6.440.263.457.000 300.974 1.366. Freeport 646.688 23.894 665. 2006.339.328 26.227 2.452 1.501 13.958 36.545.083 488.619.318 (Ton) 2008 631.561 9.911.095 406.792.692.547. Konsumsi batubara menurut jenis industri di Indonesia Tahun 1998 .101 1.753 9. Tonasa 300.827 160.637 505.610 480.800 58.000 1.621 18.920 9.337.090.170.802 225.000 482.653.142.731 11.106.889 9.000 12.787 2001 2002 2003 2004 2005 19.068.636.763 2.054 23.956.990 36.492.583 28.200.992 6.896.061 36.407.650 623.717 13.751 1.Tabel 4.341 13.009 10.000 929.782 2.000.906 27.000 300.057.Berau 58.298 650.905 1.000 12.916 2.000.245 3.256 21.000 Mpanau Lati .428 282.906 5.000 664.907 122.871 11.000 180.231.933 3.397 766. Penggunaan batubara pada pltu di indonesia.730 25.151.144 31.737 805.589 Masa Kini dan Masa Depan Batubara Indonesia.911.481 4.193.855 547.544.085 1.192.251.866 299.492.749 3.609.047.667 3.839 PT.666 236.307.541.265 24.153.034 1.549 Metalurgi 144.080.717 13.709 PT.393 Briket 29.573.267 2.490 31.600.115 2.017.310.068.003 4.023.276.514 49.337.000 706.012 4.774 1.000 4.456.000 929.607 125.300.810.540 2.902.161 23.648.341 13.000.334 593.226 134.333 635.355 5.963 38.155 12.610 804.883.000 PLTU Ombilin Bukit Asam Tarahan Suralaya (PTIP) 7.800 36.252 Cilacap Tanjung Jati B Paiton 2.800 35.132 477.990.363 663.506 28.137.054 23.137.578 506.766 8.2008 Jenis Industri 1998 1999 2000 PLTU 10.060.218 10.000 506.338 5.338 1998 1999 102.828.902.000 5.310.800 Jumlah 10.000 58.302 36.609 Jumlah 15.123 2.671.424.680.047.180.976 23.000 1.550 2.256 21.120 1.000 300.165.613 19.907 123. 1998 – 2008 (Ton) 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 119.646 1.643 1.943.104 8. Ijang Suherman Seumber :DPPMB dan hasil survei tekMIRA.819.000 58.563.575.000 506.443 220.225.828.613 Semen 1.564 1.819.874 2007 35.411.000.161 23.518.144.666 PT.079 417.824 Industri Tekstil Industi Kertas 692.399 720.849.165.819 5.967 824.800 13.018 979.072 Asam-Asam 127.000 554.487.304 1.810.060 61 .454.644. Newmont Sumbawa 70.887 282.907 35.436 568.345 6.708 24.337 638.2008 (diolah kembali) Tabel 5.088 4.797 39.057.000 11.73 25.230 9.793.575.965 376.

091 2.091 2.318.Tabel 6.803 467.000 MW Tahap I Nama Proyek / Lokasi Pulau Jawa 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 PLTU Labuan PLTU Suralaya Baru PLTU Teluk Naga PLTU Jabar Selatan PLTU Jabar Utara PLTU Tanjung Jati Baru PLTU Rembang PLTU Jatim Selatan.159.242 32.955 50.924 107.697 719.159.955 50.970 71.091 2.970 179.091 4.848 71.697 179.985 50.501.924 179. Rencana pembangunan PLTU 10.477.159.079.375.159.697 71.803 719. Pacitan PLTU Tanjung Awar-Awar PLTU Paiton Baru Jumlah Di luar Pulau Jawa 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 PLTU Meulaboh PLTU Sibolga Baru PLTU Medan Baru PLTU Sumbar Pesisir Selatan PLTU Mantung PLTU Air Anyer PLTU Bangka Baru PLTU Belitung Baru PLTU Bengkalis PLTU Selat Panjang PLTU Tj.000 2.924 359.545 4.091 2.697 719. Balai Kerimun Baru PLTU Tarahan Baru PLTU Pontianak Baru PLTU Singkawang Baru PLTU Asam-Asam PLTU Palangkaraya PLTU Sampit Baru PLTU Amurang Baru PLTU Sulut Baru PLTU Gorontalo Baru PLTU Bone PLTU Kendari PLTU Bima PLTU Lombok Batu PLTU Ende PLTU Kupang Baru PLTU Ambon Baru PLTU Ternate PLTU Timika PLTU Jayapura NAD Sumatera Utara Sumatera Utara Sumatera Barat Bangka Belitung Bangka Belitung Bangka Belitung Bangka Belitung Riau Riau Kepulauan Riau Lampung kalimantan Barat kalimantan Barat Kalimantan Selatan Kalimantan Selatan Kalimantan Tengah Sulawesi Utara Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Timur Maluku Maluku Utara Papua Papua 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 65 100 100 100 10 10 25 15 7 5 7 100 25 50 65 65 7 25 25 25 50 10 7 25 7 15 7 7 7 10 467.159.159.379 107.924 359.379 179.091 2.182 25.000 2.379 50.024.379 71.970 7.379 179.273 Propinsi Kapasitas (MW) Kebutuhan Batubara (Ton) Jumlah Jumlah seluruh Sumber : Peraturan Presiden Republik Indonesia No 71 Tahun 2006 62 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .750.379 719.924 179.848 467.379 50.379 35.515 Banten Banten Banten Jawa Barat Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Tengah Jawa Timur Jawa Timur Jawa Timur 1 2 2 2 2 1 2 2 1 2 17 300 660 300 300 300 660 300 300 600 600 1.803 50.924 50.970 50.

Indocement Tunggal Perkasa. Pada tahun 2008. Memasuki tahun 2004 hingga tahun 2008 cenderung meningkat hanya sempat menurun pada tahun 2006. Kebutuhan batubaranya pun meningkat sangat signifikan. Dari sisi keberadaannya. Listrik yang dihasilkan dimanfaatkan berbagai keperluan seperti menggerakan mesin produksi. Industri Metalurgi Dari sisi jumlah industri metalurgi (pengecoran logam) yang telah menggunakan batubara sebagai bahan bakar pada proses produksinya dapat Masa Kini dan Masa Depan Batubara Indonesia. yaitu dari 274.79%).36%. sedangkan PT Semen Andalas dalam proses akhir rekontruksi setelah terkena gelombang tsunami.5. Semen Tonasa 0. yaitu sekitar 240 perusahaan (73.763 juta ton. Industri Semen Industri semen merupakan konsumen batubara kedua terbesar setelah PLTU. industri tekstil di Indonesia terpusat di Pulau Jawa. 19 perusahaan di Propinsi Jawa Timur. Berikutnya adalah PT.14%) dengan mengkonsumsi batubara sebesar 3. seiring perkembangan ekonomi yang mulai membaik di dalam negeri (Tabel 7). Hal ini dapat dilihat dari jumlah perusahaan tekstil pada tahun 2003 hanya 18 perusahaan saja. 5 perusahaan masingmasing terdapat di Propinsi Banten. Perusahaan ini memiliki tiga pabrik di lokasi yang berbeda.395 juta ton. Ijang Suherman 63 .005 juta ton PT. yang sebagian besar terletak di Propinsi Jawa Barat. perubahan pola penggunaan bahan bakar ke batubara merupakan salah satu alternatif yang sangat tepat karena mampu menekan biaya pengeluaran bahan bakar walaupun harus melakukan modifikasi terhadap boiler atau mengganti boiler yang baru yang berbahan bakar batubara. Beberapa industri tekstil dilengkapi oleh powerplant berbahan bakar batubara untuk memasak air menjadi uap.828 juta ton. PT.03%. kebutuhan batubara pada industri semen mengalami perubahan yang positif.81% dan 5.102 juta ton. dan Jawa Timur (lihat Tabel 8). Cirebon (Propinsi Jawa Barat).3. 5. 5. Kemudian disusul oleh Propinsi Jawa Tengah. dan Tarjun Kabupaten Kotabaru (Propinsi Kalimantan Selatan). pemakaian batubara rata-rata naik sangat signifikan. Seperti diperlihatkan pada Gambar 2. PT Semen Padang 1. yaitu 7.519 juta ton. Semen Gresik.03%. namun pada tahun 2002 dan 2003 sempat mengalami penurunan hingga 9. Menurut para pengusaha. Industri Kertas Seperti halnya pada perusahaan tekstil. jumlah kebutuhan batubara untuk industri ini mencapai sekitar 2. Uap yang dihasilkan digunakan untuk menggerakan turbin pembangkit listrik. yaitu 64. Batubara dalam industri tekstil digunakan pada boiler untuk memasak air menjadi uap. Semen Holcim 1. Tahun 2008. karena biaya bahan bakar merupakan komponen terbesar di dalam biaya produksi. Semen Gresik dengan kebutuhan 1. Industri Tekstil Industri tekstil memiliki tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap bahan bakar minyak (BBM). yaitu sebesar 2. Saat ini terdapat 9 perusahaan semen yang terletak di beberapa wilayah di Indonesia. Uap yang dihasilkan digunakan untuk proses pencelupan. Perusahaan semen yang paling banyak menggunakan batubara adalah PT. 5. yaitu di Cibinong. dan yang lainnya di bawah 0. sementar PT Semen Kupang produksinya tersendat serta dalam proses akuisisi oleh Perusahaan India. Indocement Tunggal Prakarsa dan PT.194 juta ton pada tahun 2008. digunakan sebagai bahan bakar pada tanur putar untuk proses pembuatan klinker sebelum menjadi semen.5 juta ton.609 juta ton. tercatat sekitar 14. Pemanfaatan batubara pada industri semen. menunjukkan bahwa perkembangan jumlah perusahaan tekstil yang menggunakan batubara tampaknya akan terus meningkat.5. Jawa Barat dan Jawa Tengah. batubara dalam industri kertas digunakan sebagai bahan bakar dimana energi panas yang dihasilkan digunakan untuk memasak air pada mesin uap. Selama sepuluh tahun terakhir ini. Penurunan ini sangat dipengaruhi oleh adanya penurunan produksi di beberapa perusahaan semen. dan sebagainya.150 ton pada tahun 2003 naik menjadi 4. Banten. perkembangan penggunaan batubara pada industri semen berfluktuasi. PT.4. penerangan. Antara tahun 1998-2001. Uap yang dihasilkan dipergunakan untuk memasak/membuat pulp (bubur kertas). (Tabel 9). Terdapat 36 perusahaan kertas yang telah menggunakan batubara. dan 2 perusahaan di Propinsi Riau.430 juta ton (81.2. namun pada tahun 2008 sudah bertambah menjadi 328 perusahaan.48% kebutuhan batubara dalam negeri digunakan oleh industri semen atau 7.

923 1.829 88.826 683.638 1.345.441 1.440 481.721 68.396 547.499 30. Konsumsi batubara pada industri semen 1998 – 2008 (ton) 1998 59. Semen Gresik PT.018 155.495 659.157 116. PT. Indocement-Cirebon.529 1.184.637 692.085 4.407 448.847 26. Semen Holcim Narogong PT.425 1999 19.765 1.357 110.515 153. Semen Holcim Cilacap PT.833 409.868 6.674 166.323 202.124 782.801 545. Semen Padang PT.465 912.754 62.860 328.277 850.510.973 1.606 715.876 252.308.140 379.181 276.776. Semen Kupang Jumlah (Ton) 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 33. Semen Tonasa PT.521 6.569 1.436 397.305 254.412 2.618 35.655 80.710 359.050 168. 2006 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .375 416.315 311.000 1.376 528.564 368.743.583 862.085 472. Semen Gresik.202. Indocement TP (Cibinong) PT.102.248 5.189 7.000 185.065.018 793.311 75.060 397. Holcim-Cilacap.301 269. Semen Andalas PT.081 143.431 231.679 75. Indocement (Tanjung) PT.317 296.762.013 464. Semen Baturaja PT.179 1.438 207.000 827.019.509.868 5.523 469. Semen Bosowa.841 349.000 2.317 296.180 328.529 131.352 99.147 130.749 5.420 397.437.430 680.262 474.090.415 187.457 375.082 243.643 47.413 364.372 1.170.564 1.DPPMB.973 133.029 862.245 6.271 Industri Semen PT.430.923 556.700 14.123 2.026.233 593.439 207. dan PT Semen Kupang (Survei tekMIRA 2006) .850 577. PT.860 328.215 262.324 202.172 1. Semen Tonasa.950.265.772 451.876 252.Asosiasi Semen Indonesia. Bosowa Cement PT.473 697.PT. PT.214 678.004.063.691 3. 2008 .526 5.908 67.340 tp tp tp tp 483.939 129.763 760.448 103.868 800.975 95. Indocement TP (Cirebon) PT.153 Catatan : tp = tidak berproduksi Sumber : .392 454.950.860 151.849 554.370 454.793 151.775 88.283 546.023. PT.64 Tabel 7.141.082 243.607 42.

433 47.661 46.440 145. Industri kertas berbahan bakar batubara di Indonesia No.887 Masa Kini dan Masa Depan Batubara Indonesia.100.193.700 0 4.406 3.391 2.932 Tabel 9. Industri tekstil berbahan bakar batubara di Indonesia. 1 2 3 4 5 Lokasi Banten Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Timur Luar Jawa Jumlah Jumlah Perusahaan (Buah) 15 240 68 5 0 328 Kebutuhan Batubara (Ton/Tahun) 423. 1 2 3 4 5 Lokasi Banten Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Timur Riau Jumlah Jumlah Perusahaan (Buah) 5 5 5 19 2 36 Kebutuhan Batubara (Ton/Tahun) 620. Ijang Suherman 65 .916 605. menurut Provinsi. Tahun 2008 No.393 292.479 1. perkembangan perusahaan tekstil pemakai batubara di indonesia tahun 2003 – 2008 Tabel 8.430.Gambar 2.518.

pengeringan tembakau. 2008 (diolah kembali) *) perkiraan Di samping industri metalurgi.730 321.850 ton. Perkembangan kebutuhan batubara oleh industri metalurgi berfluktuasi. Di Indonesia. Briket Batubara Briket batubara merupakan energi alternatif atau pengganti minyak tanah dan kayu bakar yang paling murah dan dimungkinkan untuk dikembangkan secara masal. pembakaran kapur. 66 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .963 32.dikatakan relatif tidak bertambah. pengembangan briket batubara diperkenalkan sejak tahun 1993.120 25. pembakaran kapur. Berdasarkan survai sampling tahun 2008. antara lain industri makanan. di Propinsi Banten ada 33 perusahaan yang telah menggunakan batubara dengan total kebutuhan diperkirakan mencapai 342.990 282. Tabel 10.265 24. pembakaran kapur. seperti halnya yang telah berhasil pada industri pengeringan teh. masih banyak industri lainnya yang menggunakan batubara sebagai bahan bakar dalam mendukung proses produksinya. Selain itu potensi gasifikasi batubara untuk industri kecil menengah. seperti industri pengeringan gerabah. Potensi lainnya adalah pencairan batubara. dan obat nyamuk. pemanfaatan briket batubara digunakan pada industri kecil atau 5.976 17.018 25.339 juta ton. yang merupakan suatu proses untuk meningkatkan nilai kalori batubara melalui penurunan kadar air.850 ton. mengingat teknologi dan peralatan yang digunakan relatif sederhana.2008 Tahun 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 *) Pemakaian Batubara (Ton) 144. kerupuk.6.393 220.226 134.643 Sumber : DPPMB. kimia. karet ban.708 24.666 236.802 225. namun ada trend perkembangan yang meningkat sejalan dengan tingkat produksi perusahaan (Tabel 10).827 183. Perkembangan penggunaan batubara pada Industri briket batubara. karet ban.213 Tabel 11. pengeringan bawang. Tahun 2001 – 2008 Tahun 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 *) Pemakaian Batubara (Ton) 31. pembakaran bata. industri rumahan tertentu sebagai bahan bakar.010 36. Sedangkan kebutuhan batubara untuk industri lainnya secara menyeluruh (nasional) diperkirakan tidak kurang dari 1. Industri Lainnya Di samping industri yang disebutkan di atas. pengecoran logam. 2008 (diolah kembali) *) perkiraan Sumber : DPPMB. namun hingga kini tidak dapat berkembang dengan baik.907 122. termasuk beberapa jenis industri kecil. Kelitbangan UBC telah sampai pada skala demo plant 1.530 299. dan lainnya. pemindangan ikan. di Propinsi Banten ada 33 perusahaan yang telah menggunakan batubara dengan total kebutuhan diperkirakan mencapai 342. masih banyak industri lainnya yang menggunakan batubara sebagai bahan bakar dalam mendukung proses produksinya.7. Namun yang paling dominan dan memasyarakat penggunaan briket batubara adalah pada peternakan ayam. dan lainnya. Di masyarakat.907 123. antara lain industri makanan. Perkembangan penggunaan batubara pada industri metalurgi. Sedangkan potensi pemanfaatan ke depan adalah pada pengusahaan Upgraded Brown Coal (UBC). pengecoran logam. Hal tersebut dapat dilihat perkembangan briket batubara selama kurun waktu 2001 – 2008 yang fluktuatif (lihat Tabel 11). 5. tahu/tempe. kimia. padahal dari sisi potensi masih banyak perusahaan yang belum menggunakan batubara sebagai bahan bakarnya. katering/restoran. tepung ikan.000 ton/hari. termasuk beberapa jenis industri kecil. Berdasarkan survai sampling tahun 2008. yaitu sebagai penghangat anak ayam. Tahun 1998 .

Saat ini alternatif yang sedang dijajagi adalah menerapkan teknologi Sasol. yang terdiri dari 40 perusahaan PKP2B sudah produksi (9 dari Generasi I. Berkembangnya KP tersebut terjadi pada era otonomi daerah.620 juta ton. Tidak mengherankan Masa Kini dan Masa Depan Batubara Indonesia. Perkembangan Ekspor Saat ini pasar ekspor terbesar Indonesia adalah Jepang. baik sengaja atau tidak sengaja. Perkembangan Penggunaan di Dalam Negeri Peran batubara sebagai energi akan semakin besar pada berbagai industri.8%. Meningkatnya permintaan China dan India di masa datang akan menambah tingginya kecenderungan permintaan ekspor. Sedangkan jumlah Kuasa Pertambangan (KP) yang dikeluarkan di daerah yang terinventarisasi di Direktorat Jenderal Mineral. Peningkatan produksi yang pesat didorong oleh meningkat tajamnya permintaan ekspor dan permintaan dalam negeri. potensi sumberdaya dan cadangan yang besar. Peningkatan jumlah konsumsi yang sangat tajam yang disebabkan meningkat tajamnya permintaan batubara sebagai sumber energi terutama untuk pembangkit listrik. apabila sejalan dengan itu jumlah perusahaan pertambangan batubara di Indonesia pun tumbuh pesat khususnya dalam beberapa tahun terakhir. 16 status studi kelayakan. karena belum terbukti (unprovent) terjadi kemandegan. Ijang Suherman 67 .3 juta ton. Pelaku Usaha Pertambangan Sampai dengan tahun 2008 perusahaan penambangan batubara di Indonesia dengan status PKP2B aktif berjumlah 76 perusahaan. terlihat dari tingginya tingkat pertumbuhan ekspor Indonesia yang mencapai 15. maka pada tahun 2025 dapat mencapai 742 juta ton. khususnya pembangkit listrik di Indonesia maupun industri lain di berbagai belahan dunia. di samping China dan India yang merupakan buyer baru bagi Indonesia. adanya peluang sekaligus tantang. MASA DEPAN BATUBARA INDONESIA Menyimak berbagai keberhasilan kinerja pertambangan batubara di Indonesia dimasa lalu hingga masa kini. sebaliknya peran batubara dan gas akan semakin besar. Belum adanya keseimbangan antara permintaan dan pemasokan batubara pada tataran dunia. yaitu ketika penegasan tentang pemberian Kuasa Pertambangan (KP) dilakukan oleh Pemerintah Daerah. dan perlu bernegosiasi lanjutan. Diperkirakan di masa-masa mendatang peran minyak akan semakin berkurang. 6. namun APBI sejalan dengan kebijakan pemerintah telah memproyesikan yang cukup wajar sebesar 471 juta ton. padahal kebijakan ekspor memproyeksikan sekitar 150 – 236 jua ton. Jika diasumsikan pertumbuhan produksi tetap tinggi. Perkembangan Produksi Selama 16 tahun terakhir (1992-2008) produksi batubara Indonesia telah meningkat hampir 15 kali lipat. Pada satu sisi. dari 15.04%. Hal ini dapat dimengerti karena untuk perizinan KP yang dikeluarkan oleh propinsi harus yang berbatasan antara sedikitnya 2 kabupaten. dan adanya kebijakan-kebijakan yang terkait.51%. hal tersebut merupakan peluang Indonesia untuk meningkatkan pangsa pasar ekspor. 10 dari Generasi II dan 21dari Generasi III). dan 5 status eksplorasi. 3. sedangkan yang dikeluarkan menteri harus yang berbataskan sedikitnya 2 propinsi. jauh di atas rata-rata dunia.935 juta juta ton menjadi 233. atau meningkat rata-rata per tahun 17. gubernur atau menteri sesuai dengan kewenangannya. Hal ini diperlukan untuk mengutamakan jaminan pasokan dalam negeri serta perkembangan tingkat produksi yang mengacu pada konsep konservasi. namun belum ada kesepakatan yang mengikat. yang berdasarkan aturan tersebut diberikan oleh bupati. Batubara dan Panas Bumi sudah melebihi angka 500 KP. Dalam prakteknya sebagian besar dari KP yang dikeluarkan selama otonomi daerah tersebut diterbitkan oleh kabupaten. Lagi-lagi. 15 status konstruksi. maka batubara Indonesia mempunyai prospek dimasa depan. Kriteria ini sangat jarang ditemui di lapangan. sedangkan yang telah berproduksi 129 KP. Korea Selatan dan Taiwan. Tetapi dengan adanya kecenderungan tersebut. khususnya sejak tahun 2001 ketika dikeluarkannya PP 75 tahun 2001. baik di dalam negeri maupun di negara-negara importir. proyeksi ekspor batubara tanpa adanya pembatasan. pada tahun 2025 akan mencapai 509.Sebelumnya telah melakukan upaya pengembangan teknologi BCL. ke depan perlu mencermatinya untuk melakukan pengendalian atau pembatasan ekspor.

Keadaan ini terlihat dengan meningkatnya pemanfaatan batubara di berbagai pusat pembangkit listrik. Dinas Tenaga Kerja Propinsi Banten. 2006. and Geothermal Statistics 2008. maka tetap juga harus dijaga dan dijamin ketersediaannya dalam memenuhi kebutuhan akan energi di dalam negeri selama dan seekonomis mungkin. Di sisi lain dengan telah disyahkannya UndangUndang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. 2008. Dengan adanya kebikan-kebijakan tersebut tentunya diharapkan akan dihasilkan pelaku pertambangan yang andal di bagian hulu (pertambangan batubara) dengan melakukan good mining practices. Daftar Industri yang Menggunakan Boiler Berbahan Bakar Batubara. Adapun PKP2B termasuk KP yang ada tetap dihormati sampai ijinnya berakhir. yang akan menjadi dasar penyusunan pola pengembangan dan pemanfaatan energi secara nasional hingga 2025. Diperkirakan pada tahun 2025 konsumsi batubara dalam negeri mencapai 236 juta ton. 2006. dan industri kecil. Jawa Tengah. Jawa Barat dan Jawa Tengah.1 juta ton.3%. Indonesia Mineral.000 MW telah beroperasi yang ditargetkan pada tahun 2010. yang menargetkan peranan batubara pada bauran energi nasional sebesar 34. industri kimia. Penyusunan “blueprint” merupakan tindak lanjut Peraturan Presiden (Perpres) No 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional yang mengamanatkan Menteri ESDM menetapkan cetak biru tersebut. dan Panas Bumi. Data Pemakaian Batubara Sebagai Sumber Energi. pabrik semen. yaitu dalam bentuk Ijin Usaha Pertambangan (IUP). 68 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Pasar global telah dapat pula diterobos dan menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara pengekspor batubara uap terbesar di dunia. Jumlah tersebut terdistribusi pada PLTU sebesar 69. pengelolaannya perlu dilaksanakan melalui kebijakan yang terpadu dan sinergi dengan sektor-sektor pembangunan lainnya. Balai Pengelolaan Pertambangan dan Energi Wilayah. Indonesia Cement Statistic 2005. Coal.Ketika semua proyek Percepatan pembangunan PLTU 10.4%. Distamben Provinsi Jawa Tengah. industri tekstil 4. Data Pemakaian Batubara Dan Boiler Tahun 2007.1% dan Coal Bed Methane (CBM) 3. Oleh karena itu. Hal ini telah diproyeksikan sebagaimana termuat pada Blueprint Pengelolaan Energi Nasional 2010-2025. di luar peranan Bahan Bakar Batubara Cair (BBBC) sebesar 3. pengelolaan lingkungan. DAFTAR PUSTAKA Asosiasi Pertekstilan Indonesia. mengisyaratkan pemerintah dapat mengoptimalkan pengelolaan batubara antara lain pengendalian produksi dan ekspor serta jaminan pasokan dalam negeri melalui Domestic Obligation Market (DMO) dan Penetapan Harga Batubara Nasional. PENUTUP Sektor pertambangan batubara sampai saat ini telah berhasil dalam menunjang Kebijakan Energi Nasional. diperkirakan konsumsi batubara Indonesia akan mencapai 90 juta ton atau meningkat hampir dua kali lipat dibanding tahun 2006. Batubara. 2008. industri kertas 3. industri semen 8. 6. Di samping peranan batubara yang cukup besar. Sedangkan di bagian hilirnya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari KEN. Kebijakan Pemerintah baru saja menerbitkan “Blueprint” Pengelolaan Energi Nasional (BP PEN) 2010-2025 merupakan re-evaluasi BP PEN 2005-2025. yaitu untuk menjamin pengadaan energi nasional yang dapat diandalkan tanpa mengabaikan prinsip pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. 2008.5 juta ton. Asosiasi Semen Indonesia (ASI). Jakarta. dan kemudian diberikan prioritas untuk mendapatkan IUP. pabrik kertas. dengan visi berupa terjaminnya energi dengan harga wajar untuk kepentingan nasional. Semua ini merupakan modal dasar bagi industri batubara Indonesia untuk terus berkembang dalam menunjang keberhasilan pengembangan energi nasional maupun global. Direktorat Pengusahaan Pertambangan Mineral.5 juta ton. Jawa Barat.0 juta dan industri lainnya sekitar 4.9 juta ton. dan pengembangan masyarakat (community development). Di samping itu mengenai perijinan pertambangan batubara hanya satu pola.

Ijang Suherman 69 . 71. ____________. 2006. Tahun 2006 Tentang Penugasan kepada PT. Peraturan Presiden Republik Indonesia No. Suherman I. Unit Bisnis Pembangkitan Suralaya. Tahun 2006 Tentang Kebijakan Energi Nasional.. ____________..Presiden Republik Indonesia. Puslitbang Teknologi dan Batubara (tekMIRA). Masa Kini dan Masa Depan Batubara Indonesia. Perkembangan Produksi Listrik dan Kebutuhan Bahan Bakar Batubara. 2008. Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 2009. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. dkk. Kajian Batubara Nasional 2006. 5. Blueprint Pengelolaan Energi Nasional 2010-2025. Menteri ESDM. PLN untuk Melakukan Percepatan Pembangunan PLTU yang menggunakan batubara.

Monitoring system that developed consists of monitoring tools.PENGEMBANGAN SISTEM DAN ALAT PEMANTAUAN SEDERHANA UNTUK MENDETEKSI KERUNTUHAN BATUAN ATAP (ROOF FAILURE) PADA TAMBANG BAWAH TANAH Zulfahmi 1). potentiometer. Keywords: roof failure. datalogger sebagai perekam dan penyimpan data serta CPU komputer untuk pengolahan data. dimana semua alat pemantauan dan proses perekaman data dapat dioperasikan dari satu tempat sebagai sentral.6003373 e-mail : zulfahmi@tekmira. Jend. tambang bawah tanah ABSTRACT Roof failure is one of the main causes injuries that happened in the underground mine. where all of the monitoring equipment and data recording process can operated from one place as a central. Terdapat dua macam alat pemantauan yang dirancang.id.go.6030483 Fax. yaitu pengembangan alat pemantauan menggunakan Potensiometer transducer yang dapat mendeteksi pergerakan pada beberapa lapisan batuan atap dan pengembangan alat pemantauan menggunakan Linear Variable Differential Transducer (LVDT) yang hanya dapat mendeteksi pergerakan pada permukaan batuan atap saja. potensio. didit@tekmira.id. Sistem pemantauan yang digunakan terdiri dari alat pemantauan. data logger for record and storage tool and a computer for data processing. Kata kunci : keruntuhan atap. lvdt. underground mine 70 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Supriatna Mujahidin 3) 1) Peneliti Madya 2) Peneliti Pertama 3) Teknisi Litkayasa Penyelia Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl.id SARI Keruntuhan batuan atap (Roof Failure) merupakan salah satu penyebab utama terjadinya kecelakaan pada tambang bawah tanah.esdm.esdm. lvdt. Dari hasil kalibrasi di studio dan ujicoba di salah satu tambang batubara bawah tanah. The result of a calibration in a studio and running test in one of the underground coal mine could be known that the monitoring tools and the system which applied can be used as a centralized monitoring system with a significant result. Two type of monitoring tools have been designed. 022 . Sudirman 623 Bandung 40211 Telp. alat dan system yang diterapkan terbukti dapat digunakan sebagai sistem pemantauan terpusat dengan hasil yang signifikan.go.go.esdm. there was a development of monitoring tools using Potentiometer Transducer that can detect movement in some rock layers of the roof and Linear Variable Differential Transducer (LVDT) that can detect movement on the surface rock of the roof only. hasni@tekmira. 022 . Hasniati Astika 2).

Diperoleh baik dari hasil studi pustaka maupun hasil penelusuran pada cybernet untuk mendapatkan metoda dan dasar yang akan digunakan dalam perancangan sistem dan peralatan pemantauan. 71 . keruntuhan batuan atap merupakan salah satu penyebab terbesar terjadinya kecelakaan pada tambang bawah tanah.. Selanjutnya dilakukan perancangan sampai didapatkan sistem dan peralatan yang layak digunakan dengan melakukan kalibrasi dan juga ujicoba.1. 24..msha. Teknologi pengawasan secara dini sangat diperlukan. dkk. STUDI PUSTAKA/ CYBERNET Kajian teoritis tentang perkembangan sistem pemantauan & konsep sistem peringatan dini Dasar-dasar teori mengenai keruntuhan atap (roof failure) Konsep & Aplikasi peralatan PENENTUAN SISTEM & ALAT PEMANTAUAN PERANCANGAN & MODIFIKASI ALAT PERBAIKAN ALAT/PERUBAHAN SISTEM KALIBRASI UJICOBA ALAT & RUNNING TEST EVALUASI HASIL UJICOBA SESUAI STANDARD Ya Tidak ALAT PEMANTAUAN KERUNTUHAN ATAP Gambar 1. Metodologi penelitian pengembangan alat pemantauan sederhana untuk mendeteksi pergerakan batuan atap pada tambang bawah tanah Pengembangan Sistem dan Alat Pemantau Sederhana untuk Mendeteksi . LATAR BELAKANG Berdasarkan data yang diperoleh dari www. Zulfahmi.gov dari tahun 2003 sampai dengan 2007. 82% dari total kecelakaan pada tambang bawah tanah terjadi pada tambang batubara. Dari data tersebut. dengan tujuan utama untuk melakukan pengawasan dan mengetahui sedini mungkin kondisi tidak aman pada suatu lokasi tambang agar dapat ditanggulangi sebelumnya.50% diantaranya diakibatkan oleh keruntuhan atap selain yang disebabkan oleh ledakan gas dan debu tambang dan juga kecelakaan pada pengangkutan (mine haulage). 2. METODA PENELITIAN Metode penelitian yang diterapkan dalam kegiatan ini lebih mengarah kepada kajian terhadap perkembangan peralatan pemantauan keruntuhan batuan atap pada tambang bawah tanah. Salahsatunya dengan merancang alat pemantauan sederhana dengan menggunakan peralatan yang mudah didapatkan di Indonesia.

LVDT mempunyai resolusi yang tinggi (Cheekiralla.3. Selain merupakan instrumen yang kuat. Skema pemantauan keruntuhan atap Sebagai pembaca dan penyimpan data yang digunakan pada sistem pemantauan keruntuhan atap ini digunakan Datataker DT800. Datataker DT800 merupakan instrumen penerima dan penyimpan data yang dapat mengukur dan merekam data dengan beragam dan dalam jumlah yang banyak serta dapat diprogram dengan menggunakan perintah kerja yang sangat mudah (Anonym. Skema monitoring dapat dilihat pada gambar 2. 2001-2004). yaitu LVDT dan Potensiometer. LVDT terdiri dari satu kumparan magnetik primer dan dua kumparan magnetik sekunder dan satu inti magnetik (Gambar 3(a)). Alat pemantauan yang dirancang terdiri dari 2 macam. (a) (b) Gambar 3. Kelebihan dari LVDT sebagai sensor jarak adalah tidak adanya kontak fisik pada unsur sensor sehingga lebih kuat dan tahan lama dibandingkan dengan sensor-sensor lain. Ketika kumparan magnet tidak dalam posisi nol (terjadi pergerakan pada probe) akan ada ketidakseimbangan medan magnet dari kedua kumparan sekunder. Perancangan Alat Pemantauan Keruntuhan Atap Peralatan pemantauan keruntuhan batuan atap yang dirancang merupakan pengembangan dari peralatan pemantauan sebelumnya. HASIL DAN PEMBAHASAN Perancangan Sistem Pemantauan Keruntuhan Atap Sistem Pemantauan keruntuhan atap yang dirancang terdiri dari alat pemantauan. 2004). Gambar 2. (a) Prinsip kerja LVDT (b) LVDT RDP DCTH400AG 72 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Alat pemantauan yang telah terpasang pada batuan atap terhubung dengan datalogger sebagai pembaca dan penyimpan data. Linear Variable Differential Transformer (LVDT) merupakan salah satu jenis sensor yang digunakan untuk mengukur perubahan jarak. Data yang tersimpan dalam datalogger masih merupakan data mentah untuk selanjutnya diolah pada perangkat komputer. Pada saat posisi nol berarti tidak ada medan magnet dalam kedua kumparan sekunder oleh karena tidak ada pergerakan pada probe. pengolahan data dilakukan dengan menggunakan aplikasi microsoft excel untuk selanjutnya dibuat grafik pergerakan batuan yang terjadi. Untuk menghubungkan setiap unit dari sistem tersebut digunakan sistem kabel. Ketidakseimbangan pada medan magnet menyebabkan perubahan keluaran voltase yang sebanding dengan perubahan jarak dan arah dari pergerakan tersebut. datalogger dan CPU komputer.

Pergerakan pada batuan atap memutar pulley yang terhubung dengan Potensiometer.LVDT yang digunakan pada kegiatan ini adalah keluaran RDP dengan type DCTH400AG (Gambar 3 (b)). Alat pemantauan keruntuhan atap (a) LVDT (b) Potensio Prinsip kerja alat ini sebagai alat pemantauan pergerakan batuan adalah dengan menempatkan 4 buah jangkar yang masing-masing terhubung dengan Potensiometer pada berbagai ketinggian lapisan batuan atap yang akan diamati pergerakannya. Perubahan voltase tersebut dapat dikonversikan terhadap perubahan jarak yang terjadi. pergerakan pada batuan atap menggerakan probe pada LVDT dan menyebabkan perubahan tegangan (voltase) pada alat monitoring. Alat yang dirancang mempunyai prinsip kerja yang atap hasil pemantauan dalam satuan mm. 2001). Pada telltale pembacaan pergerakan yang terjadi dilakukan secara manual.. Zulfahmi. Selain itu kalibrasi juga bertujuan untuk melakukan ujicoba alat dan sistem pemantauan. dimana jangkar nantinya akan ditempatkan pada lapisan batuan yang diamati pergerakannya. 73 .. sehingga terjadi perubahan tegangan yang dapat terukur. sama dengan telltale. Kalibrasi Sistem dan Alat Pemantauan Keruntuhan Atap Kalibrasi dilakukan untuk mendapatkan hubungan antara perubahan tegangan (Volt) pada alat LVDT dan perubahan tahanan (Ohm) pada Potensiometer terhadap perubahan jarak yang dikondisikan pada masing-masing alat pemantauan. Sensor LVDT dilapisi dengan pipa PVC agar aman dan terlindungi (Gambar 4. Kisaran jarak pergerakan yang bisa terukur oleh alat ini sebesar 22 mm. alat pemantauan ditempatkan tepat di bawah atap batuan. Dari hasil kalibrasi diperoleh grafik hubungan antara pergerakan (mm) terhadap perubahan tegangan (Volt) pada alat pemantauan LVDT (Gambar 5) sedangkan grafik hubungan antara pergerakan (mm) terhadap perubahan tahanan (Ohm) pada alat pemantauan Potensio dapat dilihat pada (Gambar 6). Sedangkan untuk alat pemantauan potensio digunakan 4 buah potensiometer. dengan persamaan garis linier yang digunakan sebagai rumus untuk memperoleh data pergerakan (a) (b) Gambar 4. sedangkan pada alat monitoring ini pergerakan dapat dibaca dengan menghubungkan alat pemantauan dengan datalogger.(a)). dkk. Pulley terhubung dengan jangkar menggunakan kawat baja. dimana masingmasing potensiometer tersebut terhubung dengan pulley. serta untuk mengetahui performa sistem dan alat yang telah dirancang. komponen-komponen tersebut ditempatkan pada suatu box yang aman dan terlindungi (Gambar 4(b)). yaitu dengan melihat pergeseran pada pada indikator yang terdapat pada alat pemantauan (Mark and Iannacchione. Perubahan tegangan tersebut dikalibrasikan dengan perubahan jarak (pergerakan) yang terjadi. Untuk mengukur pergerakan atap. Kecenderungan dari titik-titik pergerakan hasil kalibrasi dari masing-masing alat pemantauan menunjukkan garis yang linier. Pengembangan Sistem dan Alat Pemantau Sederhana untuk Mendeteksi .

406 Y = 1.0076x + 24. Persamaan regresi linier untuk masing-masing alat pemantauan keruntuhan atap hasil kalibrasi No 1.103x + 0.101x + 0.102x + 0.064 Y = 1.437 Y = 1.019 Y = 1.0. Alat Monitoring LVDT Potensiometer 1 Potensiometer 2 Potensiometer 3 Potensiometer 4 Persamaan Regresi Linier Y = .073 R2 0.9980 0. Grafik hasil kalibrasi potensio Tabel 1. 4. Grafik hasil kalibrasi LVDT Gambar 6. 3. 2.LVDT 30 27 24 21 18 15 12 9 6 3 0 -400 -3 0 400 800 1200 1600 2000 2400 2800 3200 3600 Pergerakan (mm) y = -0.9797 0.9980 74 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .9980 0. 5.0076x + 24.9999 0.9797 Tegangan (Volt) Gambar 5.019 R2 = 0.100x + 0.

dkk. LVDT (b) Potensio (a) (b) Gambar 8.9999 untuk Potensiometer. alat dihubungkan dengan sistem yang telah dirancang sebelumnya. Penempatan alat pemantauan keruntuhan atap (a). sedangkan alat pemantauan Potensio ditanamkan pada batuan atap.. setiap data yang direkam disimpan pada memori yang terdapat pada datalogger. 75 .9980 sampai dengan 0. terlebih dahulu dibuat lubang bor dengan kedalaman yang sesuai dengan kedalaman lapisan batuan atap yang akan diukur pergerakannya (Gambar 7(b)). Setelah semua alat pemantauan terpasang dengan baik. Pannel box ditempatkan dekat dengan lokasi penempatan alat pemantauan (Gambar 8 (b)). ujicoba sistem dan alat pemantauan juga dilakukan pada tambang bawah tanah yang merupakan kegiatan penerapan dan running test di lapangan. yaitu 0. (a) Pemasangan alat pemantauan (b) Komponen peralatan dalam pannel box Pengembangan Sistem dan Alat Pemantau Sederhana untuk Mendeteksi . Ujicoba Sistem dan Alat Pemantauan Keruntuhan Atap Selain kalibrasi. (a) (b) Gambar 7.. Untuk mengetahui performa dari peralatan dan sistem yang telah di rancang. Nilai R 2 hasil kalibrasi masing-masing alat menunjukkan nilai yang mendekati 1. Sistem pemantauan terdiri dari datalogger sebagai pembaca dan penyimpan data. Zulfahmi.9797 untuk LVDT dan 0. yang berarti bahwa hasil pembacaan pada kedua alat tersebut mendekati besarnya pergerakan yang mungkin terjadi. Semua perangkat tersebut ditempatkan dalam pannel box yang tertutup dan aman. Masing-masing alat pemantauan ditempatkan pada lokasi yang berbeda. ujicoba dilakukan pada salah satu tambang bawah tanah yang ada di Sumatera Barat. Untuk pemasangan alat pemantauan Potensio.Dari grafik diperoleh persamaan garis linier dan juga nilai R 2 untuk masing-masing alat Pemantauan (Tabel 1). Alat pemantauan LVDT ditempatkan tepat dibawah permukaan batuan atap (Gambar 7 (a)). Nilai tersebut menunjukkan nilai variabel bebas pada persamaan regresi linier yang diperoleh telah dapat menjelaskan hampir 100% dari nilai hasil pengukuran oleh setiap alat pemantauan.

8 -1 -1. Hasil pemantauan keruntuhan atap menggunakan potensio 76 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .Evaluasi Hasil Ujicoba Running test alat di tambang bawah tanah dilakukan secara terus menerus selama 18 hari dengan proses perekaman data setiap 110 detik yang disesuaikan dengan kapasitas memori dari datalogger. Data yang terekam di konversikan dengan mengunakan rumus regresi linier dari masing-masing alat pemantauan.4 -0. LVD T 0. Grafik hasil pemantauan dapat dilihat pada Gambar 9 dan Gambar 10.6 -0. kemudian dibuat grafik pergerakan batuan (mm) terhadap waktu. detik LVD 1 T LVD 2 T 0 200000 400000 600000 800000 1000000 1200000 1400000 1600000 Gambar 9.2 0 -0.001 mm -0.2 -1. Hasil pemantauan keruntuhan atap menggunakan LVDT Gambar 10. 0.4 -1.6 W aktu.2 Pergerakan.

. semua alat pemantauan dioperasikan dari satu tempat begitu pula data yang diperoleh dari setiap alat dapat terbaca dan tersimpan dalam satu tempat sebagai Pengembangan Sistem dan Alat Pemantau Sederhana untuk Mendeteksi . Kesimpulan Teknologi pemantauan keruntuhan atap batuan pada tambang bawah tanah dengan menggunakan LVDT Tranduser dan Potensiometer dapat digunakan untuk mendeteksi pergerakan yang terjadi pada atap terowongan sebagai peralatan pemantauan keruntuhan atap batuan (roof failure) tambang bawah tanah.. Pittsburgh. 77 .edu/ sivaram/www/Sivaram-MS-thesis. 2001.cdc. Zulfahmi. 2001-2004. Iannacchione A.. Dengan kata lain alat yang telah diujicoba layak dimanfaatkan untuk memantau pergerakan batuan atap pada tambang bawah tanah.htm. Setiap alat yang diujicoba dapat mendeteksi adanya pergerakan lapisan batuan atap pada tempat diterapkannya alat. Anonym. Alat pemantauan dioperasikan dari satu tempat begitu pula data yang diperoleh dari setiap alat pemantauan dapat terbaca dan tersimpan dalam satu tempat sebagai sentral. Datataker Pty Ltd. Mark C.gov/niosh/mining/pubs/pdfs/ bptmi.pdf.. S.mit.Semua alat pemantauan telah diujicoba dan dapat bekerja dengan baik. 4. dapat dilihat bahwa kurva yang diperoleh bergerigi. Diperlukan kajian lebih lanjut sehingga diperoleh sistem monitoring yang dapat digunakan sebagai sistem peringatan dini dan data pergerakan secara real time.T. terutama pada kurva hasil monitoring dengan menggunakan Potensiometer. 2004. pemantauan dapat dilakukan pada beberapa tempat dengan berbagai macam alat pemantauan dalam satu sistem.2.. Cheekiralla. Dari grafik pergerakan batuan pada setiap alat pemantauan. PA. Secara umum kajian yang telah dilakukan menujukkan nilai yang signifikan. Paper in the Proceedings of the 20th International Conference on Ground Control in Mining 2001.1. Development of Wireless Sensor Unit for Tunnel Monitoring.Injuries and Fatalities from Rock Falls. web. dkk. NIOSH. 2008.gov/stats/charts/ chartshome. Hal tersebut juga menunjukkan sistem yang diterapkan terbukti dapat digunakan sebagai sistem pemantauan keruntuhan batuan atap secara terpusat. sehingga aman untuk digunakan di tambang bawah tanah. Massachusetts Institute of Technology. DAFTAR PUSTAKA http://www. www.pdf. UM-0068-A2. Australia. Best Practice to Mitigate. Sistem yang dirancang merupakan sistem pemantauan terpusat. sentral. KESIMPULAN DAN SARAN 4.msha. dataTaker DT800 User’s Manual. Semua alat tersebut terhubung dalam satu sistem sebagai sistem pemantauan terpusat. 4. Saran Perlu dilakukan pengembangan terhadap casing dari alat yang digunakan. Hal tersebut disebabkan oleh adanya gangguan (noise) yang dapat dipengaruhi oleh kondisi sekitar dan sensitifitas dari alat pemantauan.

sedangkan waktu proses adalah 30. Liquid waste produced from sugar industry consists of many Chemical Oxygen Demand (COD). However. dengan jumlah karbon aktif 2. The variables of weights activated carbon are 2. Hasil percobaan menunjukkan.5. activated carbon is used as fader in sugar industries. adsorption.go.5 dan 10. it has been tried to use activated carbon from coal as absorber.0. South Sumatra which is 12 mm in particle size was used as raw material of activated carbon. 022-6003373 e-mail : ika@tekmira. The research is carried out using the variables of activated carbon weight and the length of process time.esdm. pengolahan limbah.0. Keywords : activated carbon. 5. dalam pengolahan limbah cair dari pabrik gula. COD ABSTRACT Commonly. adsorpsi. 5. dan 90 menit. Namun pada dasarnya. 022-6030483.0 gram. Karbon aktif yang digunakan dibuat dari batubara Air Laya Sumatera Selatan yang berukuran 12 mm dengan bilangan yodium berkisar antara 600 dan 700 mg/g.623 Bandung 40211 Tlp.id SARI Karbon aktif pada industri gula umumnya digunakan sebagai bahan pemudar warna. activated carbon used in waste processing is made from coconut shell. The iodine number of activated carbon is in the range of 600 to 700 mg/g. with the 30. Kata kunci : karbon aktif. karbon aktif yang digunakan dalam proses tersebut adalah karbon aktif yang dibuat dari tempurung kelapa.5 gram of activated carbon. telah dicoba dengan menggunakan karbon aktif yang dibuat dari batubara.5. 60. waste processing 78 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . 7. Selama ini. Coal from Air Laya. Percobaan dilakukan dengan variabel jumlah karbon aktif dan waktu proses. Namun sebenarnya karbon aktif juga dapat digunakan dalam proses pengolahan limbah cair yang dikeluarkan dari pabrik gula dan laboratorium analisis kimia di pabrik gula. Nowadays. Untuk menurunkan kandungan COD dalam limbah tersebut. Limbah cair yang dihasilkan dari pabrik gula memiliki kandungan COD (Chemical Oxygen Demand) yang cukup tinggi. konsentrasi COD yang semula sebesar 2355 mg/l turun menjadi 609 mg/l. maka karbon aktif dari batubara juga dapat digunakan. Dengan tingkat penurunan sebesar 74%.0. mengingat sifat karbon aktif batubara yang menyerupai sifat karbon aktif tempurung kelapa. 60 and 90 minutes.5 gram dan waktu proses selama 90 menit. Faks.PEMANFAATAN KARBON AKTIF DARI BATUBARA PADA PENGOLAHAN LIMBAH CAIR INDUSTRI GULA Ika Monika dan Nining Sudini Ningrum Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jalan Jenderal Sudirman No. konsentrasi COD tersebut belum memenuhi persyaratan kualitas limbah cair yang memiliki ambang batas maksimal 300 mg/l. 7. The result showed that the concentration COD was decrease 74% at time condition 90 minutes and 2. Variabel jumlah karbon aktif yang digunakan adalah 2. it can be used as absorber of waste sugar industry.5 and 10. In order to decrease COD.

Adsorpsi adalah suatu proses pengumpulan zat terlarut pada suatu permukaan media akibat adanya perbedaan muatan diantara kedua zat. Ika Monika dan Nining Sudini Ningrum 79 . Proses untuk memperoleh daya adsorpsi tinggi dilakukan melalui proses aktivasi terhadap arang. Hal ini menimbulkan berbagai penyakit bagi kehidupan manusia. Ketiga mekanisme adsorpsi tersebut terdiri atas tiga tahap yaitu . Karbon Aktif dari Batubara Salah satu adsorban yang biasa digunakan dalam pengolahan air (termasuk limbah) adalah karbon aktif.1. kapur ataupun bahan-bahan kimia lainnya.. padat dan gas terus dikembangkan. Limbah cair yang dikeluarkan Instalasi Penjernihan Air (IPA) di daerah Karangpilang. Salah satu bahan yang digunakan dalam proses pengolahan air adalah karbon aktif. Pengolahan air secara kimia. Di Indonesia. karena selain murah juga relatif mudah. Berdasarkan kondisi tersebut. 2000). 2008). yang dapat berfungsi sebagai koagulan. juga sebagai bahan untuk pemurnian. Limbah yang dihasilkan adalah limbah cair yang berasal dari proses pengolahan gula dan laboratorium pabrik (Santoso. terjadi karena gaya elektrostatis. atau cairan dengan padatan. penghilang bau. dilakukan dengan menambahkan bahanbahan kimia tertentu antara lain menggunakan PAC (Poly Alumunium Chloride). penetralisir ataupun sebagai desinfektan. Dalam proses pembuatan Pemanfaatan Karbon Aktif dari Batubara pada Pengolahan . COD merupakan salah satu parameter indikator pencemar di dalam air. 2001). cairan dengan gas. 2009). bahkan habis sama sekali. Salah satu yang menjadi objek penelitian adalah penurunan kadar COD (Chemical Oxygen Demand) dalam limbah cair yang dihasilkan dari salah satu pabrik gula yang ada di wilayah provinsi Banten. fenomena pemanfaatan karbon aktif dari batubara masih menjadi sesuatu yang tidak lazim. meskipun di negara lain seperti di China jenis karbon aktif ini sudah banyak digunakan oleh masyarakat. dilakukan penelitian pemanfaatan karbon aktif dari batubara. Namun sebenarnya karbon aktif dari batubara juga dapat digunakan dalam proses tersebut. pemisahan lumpur dan pasir serta mengurangi zat-zat organik dalam air yang akan diolah. Proses aktivasi akan memperbesar luas permukaan dan volume 2. Adsorpsi jenis ini eksoterm (mengeluarkan panas) dan tidak dapat berbalik kembali (irreversible). Umumnya proses aktivasi dilakukan dengan menggunakan uap air. tawas. baik air baku maupun air limbah. Pertama. perpindahan zat pencemar (adsorbat) di dalam air menuju permukaan adsorban. bahan baku tebu merupakan bahan yang terdiri atas komposisi kimia organik. Akibatnya oksigen yang menjadi sumber kehidupan mahluk air (hewan dan tumbuhan) tidak dapat terpenuhi. pelekatan zat adsorbat ke dinding poripori atau jaringan pembuluh kapiler mikroskopis. gula. terjadi karena gaya tarik molekul oleh gaya Van Der Waals dan yang ketiga pertukaran ion. Hasil penelitian merupakan acuan untuk pemanfaatan karbon aktif batubara pada industri gula. Karbon aktif dengan luas permukaan yang semakin luas menunjukkan semakin tinggi daya adsorpsinya. Kedua. Pengolahan air secara fisik bertujuan untuk mengurangi atau menghilangkan kotoran-kotoran yang kasar. mempunyai konsentrasi COD 1000 mg/gr dapat meningkatkan jumlah bakteri E-coli empat kali lipat (PERSI. Dampak konsentrasi COD tinggi menyebabkan kandungan oksigen yang terlarut di dalam air menjadi rendah. dalam waktu tertentu (Cahyana. Karbon aktif umumnya digunakan selain sebagai penjernih. 2. warna dan rasa. Di Indonesia. Teknologi Pengolahan Air Salah satu cara pengolahan air yang saat ini sedang berkembang adalah melalui mekanisme adsorpsi. (1) makrotransport . adsorpsi fisika. Terdapat dua cara utama pengolahan yaitu secara kimia dan fisik. (2) mikrotransport. sehingga mahluk air menjadi mati. baik cairan dengan cairan.2.. adsorpsi kimia yaitu terjadi karena ikatan kimia antara molekul zat terlarut (adsorbat) dengan molekul adsorban. TINJAUAN PUSTAKA COD adalah jumlah oksigen (mg O 2 ) yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat-zat organik dan anorganik yang ada dalam 1 liter air (Nazir. Tujuan penelitian adalah untuk meningkatkan kualitas air yang dikeluarkan dari limbah pabrik gula dan mengurangi ketergantungan karbon aktif yang dibuat dari tempurung kelapa. perpindahan adsorbat menuju pori-pori di dalam adsorban. karbon aktif yang digunakan pada pengolahan air umumnya karbon aktif yang dibuat dari tempurung kelapa. Proses adsorpsi terbagi dalam tiga jenis. PENDAHULUAN Seiring dengan perkembangan dan permasalahan lingkungan. 2.1. yang disebabkan oleh limbah organik. (3) sorpsi . Saat ini teknologi yang kian berkembang pesat adalah pengolahan air. berbagai teknologi pengolahan limbah baik limbah cair.

karbon aktif ditambahkan ke dalam 200 ml conto limbah. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil percobaan pengolahan limbah cair yang dikeluarkan dari pabrik gula tercantum pada Tabel 1. struktur dan distribusi pori-pori karbon aktif dapat diketahui.5 gr 30 60 90 667 661 609 2355 Berat karbon aktif 5. Struktur pori dari suatu adsorban diklasifikasikan menjadi transportpori yang memiliki diameter sekitar 500 A°. Karbon aktif granular biasa digunakan untuk menghilangkan senyawa organik yang menimbulkan bau. rasa. dan timbangan analitik Bahan Conto limbah gula (cair) Karbon aktif berukuran 12 mesh dengan bilangan yodium berkisar antara 600 dan 700 mg/gr Cara kerja Karbon aktif berukuran 12 mm ditimbang masingmasing 2.15-2004. Teknik ini meliputi pengukuran volume gas nitrogen yang terserap.5.5 gr 925 719 888 10. 3. Tabel 1. pengolahan dan penjernihan air.0 gr 715 799 975 7. 2007). pengaduk gelas.0. dan pori-pori dengan diameter kurang dari 8 A° yang disebut submikropori (Pruss. Metoda analisis COD mengacu pada SNI 06-6989. 4. 2007). corong. Selanjutnya. Karbon aktif bentuk powder lebih tepat digunakan untuk fasa gas karena memiliki mikropori yang lebih besar sehingga mampu menyerap molekul-molekul kecil. Setelah selesai proses pencampuran. gelas piala. Sedangkan penggunaan karbon aktif powder pada fasa cair harus selalu diaduk agar homogenitas tetap terjaga dan tidak terjadi sedimentasi suspensi. 7. Karbon aktif granular memiliki persentase makropori dan transportpori yang lebih besar sehingga memungkinkan molekul-molekul besar terserap. atau warna yang tidak diinginkan pada fasa cair. Hasil analisis COD limbah cair pabrik gula Konsentrasi COD sebelum proses (mg/l) Waktu proses (menit) Konsentrasi COD setelah proses (mg/l) 2. Luas permukaan karbon aktif dari batubara dapat mencapai 500-1400 m 2 /gr.0 gr 949 823 766 80 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . sehingga efektif menyerap partikel-partikel yang sangat halus (O-Fish. Struktur dan distribusi pori-pori merupakan faktor utama dalam menentukan daya serap karbon aktif dibandingkan dengan luas permukaan (Harald. mikropori dengan diameter antara 8 dan 20 A°. Kedua bentuk ini dapat digunakan dalam proses pemurnian. Karbon aktif dari tempurung kelapa umumnya memiliki luas permukaan seluas 500-1500 m2/gr. jenis zat adsorbat dan temperatur pada saat proses berlangsung. 60 dan 90 menit. kemudian dilakukan penyaringan. Bentuk karbon aktif dapat diklasifikasikan menjadi dua golongan yaitu bentuk granular dan powder (Activated Carbon. efektifitas adsorpsi sangat tergantung pada jenis bahan baku adsorban. Dengan perhitungan persamaan BET. mesopori dengan diameter antara 20 dan 500 A°. Struktur. Penentuan luas permukaan menggunakan metode BET (BrunauerEmmnett-Teller). Karbon aktif granular dibuat dalam ukuran yang berbeda tergantung pada aplikasinya.5 dan 10 gram. 1975). 5. METODOLOGI Alat Peralatan laboratorium seperti . distribusi dan ukuran pori-pori karbon aktif menjadi faktor yang menentukan kemampuan adsorban dalam mengadsorpsi berbagai jenis adsobat.pori-pori bagian dalam karbon aktif. botol plastik. Sedangkan. filtrat ditampung di dalam botol untuk selanjutnya dilakukan analsisis COD. 1972). Campuran tersebut kemudian diaduk setiap 10 menit selama masing-masing 30. atau bisa juga dilakukan dengan penyaringan.

30. Conversion of Coal and Gas Produced from Coal Into Fuels. Tetapi.6. tingkat penurunan mencapai 60% selama 30 menit. menunjukkan penurunan konsentrasi COD yang relatif stabil. dapat digambarkan seperti pada Gambar 1. Pemanfaatan Karbon Aktif dari Batubara pada Pengolahan . H. semakin besar jumlah karbon aktif yang ditambahkan. SARAN Untuk memperoleh hasil yang maksimal. Hasil tersebut diperoleh dengan penambahan karbon aktif sebesar 2.5 gram. Faktor-faktor ini dapat mempengaruhi persentase penurunan adsorpsi karbon aktif. Persentase penurunan adsorpsi terbesar. http:// Gedehace. tidak menunjukkan semakin turunnya konsentrasi COD.blogspot. Selain itu. Persentase penurunan adsorpsi Konsentrasi COD 609 mg/gr belum memenuhi persyaratan kualitas limbah cair yang mempunyai nilai ambang batas 300 mg/gr.5 gram selama waktu 30. konsentrasi COD sebesar 609 mg/l belum memenuhi persyaratan mutu limbah cair.. maka penurunan COD sangat signifikan. Filter Kimia. nilai COD menjadi turun. Setelah ditambah karbon aktif. Nazir.. jenis adsorbat dan cara pengolahan. Selain kualitas karbon aktif.html. Ernawita. Majalah Air Minum. Ika Monika dan Nining Sudini Ningrum 81 . DAFTAR PUSTAKA Cahyana.4.5 gram selama 90 menit. Februari 2009 Harald. 2000. Mengacu pada baku mutu limbah cair yang mempunyai nilai ambang batas COD 300 mg/gr.com/2009/03/adsorpsikarbon-aktif. tingkat penurunan adsorpsi relatif rendah. Teknik Sampling dan Analisis Air Permukaan. perlu meningkatkan kualitas karbon aktif dari bilangan yodium 600 dan 700 mg/gr menjadi 1000 mg/gr. dengan tingkat penurunan mencapai 59%. 5. Bila dihitung berdasarkan persentase penurunan tingkat adsorpsi.. 60 dan 90 menit.000 mg/gr.Konsentrasi COD di dalam limbah gula semula sebesar 2355 mg/gr. http://o-fish. Konsentrasi COD yang terendah adalah 609 mg/gr. 1975. Berdasarkan data pada Tabel 1.com. namun karena kualitas karbon aktif tinggi.. 1. Waktu kontak relatif cepat. O-Fish. KESIMPULAN Berdasarkan hasil percobaan.5 gram selama 90 menit. and Other Products. Penambahan berat karbon aktif lebih besar dari 2. Chapter 30. perlu pengaturan ukuran butir dan cara pengolahan limbah sehingga diperoleh hasil yang memenuhi standar kualitas limbah cair. Media Informasi Ikan Hias dan Tanaman. Begitu pula dengan penambahan karbon aktif 10 gram. 2009. 2007. faktor yang mempengaruhi efektifitas adsorpsi adalah jenis bahan baku karbon aktif. Chemicals.3. dengan jumlah karbon aktif rendah. diperoleh kesimpulan sebagai berikut: Karbon aktif yang berukuran 12 mm dengan bilangan yodium antara 600 dan 700 mg/gr dapat menurunkan konsentrasi COD limbah gula dari 2355 mg/gr menjadi 609 mg/gr. Pada pengolahan limbah cair di salah satu pabrik gula. karbon aktif yang digunakan terbuat dari tempurung kelapa mempunyai bilangan yodium 6.0 gram selama 90 menit. Gambar 1. Salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya efektifitas adsorpsi adalah kualitas karbon aktif. diperoleh dengan penambahan berat karbon aktif 2. diperoleh dengan penambahan karbon aktif 2. Gede. Dari Gambar 1 terlihat bahwa persentase penurunan adsorpsi terendah terjadi pada penambahan karbon aktif sebesar 5. Teknik pengolahan adalah dengan cara mengalirkan debit limbah melalui suatu kolom yang berisi karbon aktif.

.pdpersi. Brennestoff-Chemical. Penelitian Perkebunan Gula Indonesia. 2009.. 157-160 Santoso. Indonesia 82 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .PERSI. Pusat Data dan Informasi. Eddy. 2001.id. B. W. Rabu 22 Agustus Pruss.co. Pasuruan. 42. Pencegahan Dan Pemanfaatannya. Limbah Pabrik Gula: Penanganan. http:// www. Determination of Pore Size and Pore Distribution in Coal and Coke. 1972.

Jend. bijih emas dan tembaga seperti di Kalimantan.id.6.id SARI Peningkatan pertambangan batubara. 83 . Asam sulfat ini akan melarutkan logam sehingga dapat mencemari badan perairan sekitarnya.6003373 e-mail : sruntung@tekmira. penambahan fenol dan gamping (CaCO3) dapat meningkatkan pH lindian berturut-turut menjadi 6.. Salah satu cara yang cukup efektif untuk mengatasi masalah tersebut adalah melakukan pencegahan dan pengontrolan pembentukkan AAT dengan mengurangi aktivitas bakteri. Sehubungan dengan hal tersebut telah dilakukan penelitian penggunaan bakterisida untuk menanganani AAT. Lampung Selatan. lindian.go. Pada penelitian ini digunakan 2 jenis batuan penutup yang berwarna abu-abu dan coklat berasal dari KUD Tambang Harapan. Hasil percobaan menunjukkan. 022 . rosniasruntung@tekmira.pembentukan lahan basah dan pengkapsulan. Kedua jenis batuan tersebut dipreparasi menjadi ukuran 100 mesh. -10+35 mm dan -1+1/2 cm. Kata kunci: lingkungan tambang. fenol.esdm. Bakterisida yang digunakan adalah fenol dengan dosis 5 mg/g dan sebagai pembanding digunakan gamping dengan dosis 10 mg/g. Secara umum. 022 . terlihat kemampuan fenol dalam mereduksi asam dari batuan penutup lebih kecil dari gamping. AAT dapat terjadi apabila mineral sulfida seperti pirit terpapar ke udara dan bereaksi dengan udara dan air membentuk asam sulfat. yaitu jenis batuan. bakterisida. Siti Rafiah Untung dan Nia Rosnia H.6030483 Fax.67% -51. Fenol mampu mereduksi asam 6.1 dan 10.67% dan kemampuan kapur mereduksi asam mencapai 48-15.15%.go.% . pengaruh bakteri Kemungkinan Pemanfaatan Bakterisida Fenol untuk . Dari hasil tersebut. Kecamatan Kedongdong. netralisasi. polusi. ukuran dan jenis bakterisida selama 12 minggu.73. Percobaan dilakukan dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 3 faktor. Sumatera dan Papua menyebabkan munculnya fenomena air asam tambang (AAT).esdm. pengelolaan lingkungan yang umum diterapkan untuk penanggulangan AAT antara lain adalah netralisasi. Kehadiran jasad renik Thiobacillus ferroksidans juga dapat mempercepat terjadinya AAT. Proses netralisasi dapat membentuk logam hidroksida yang dapat mengendap berupa lumpur sehingga diperlukan penanganan lebih lanjut. air asam tambang. Sudirman 623 Bandung 40211 Telp.KEMUNGKINAN PEMANFAATAN BAKTERISIDA FENOL UNTUK PENCEGAHAN AIR ASAM TAMBANG Siti Rafiah Untung dan Nia Rosnia H Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl..

Design of Group Random was used with 3 factors. a laboratory research on the use of bactericide to handle the AMD was carried out. Sumatera and Papua lead to the occurrence of acid mine drainage (AMD). Kelian Equatorial Mining. Kecamatan Kedongdong. leached. South Lampung were used in this experiment. microbial influence 1. Berdasarkan warnanya. Fenol ini ini dapat menghambat pertumbuhan jasad renik sampai mematikannya. AAT dapat terbentuk apabila ada mineral pirit yang terpapar sehingga teroksidasi dan selanjutnya air membentuk asam sulat yang dapat menurunkan pH air dan melarutkan logam. Generally. Sehubungan dengan hal tersebut. Pembentukkan air asam tambang (AAT) merupakan masalah utama dalam pertambangan batubara dan mineral. Kecamatan Kedongdong. The overburden was prepared to be 100 mesh. yaitu berwarna abu ( BP abu) dan coklat (BP coklat). Acid mine drainage can occur if sulphide mineral such pyrite was exposed to the air and it will react with oxygen water to form sulphuric acid.67% -51.15%. PT. The result showed that the phenol and lime stone can increase the pH of leached respectively 6. Hal yang sama juga dialami oleh perusahaan pertambangan batubara di Kalimantan Timur seperti PT. kapur padam (Ca(OH)2) dan kapur tohor (CaO). Fenol atau asam karbolik dengan rumus kimia C5H6OH adalah bakterisida. neutralization. Based on the result. Phenol as bactericide with dose 50mg/g was used while limestone with dose 100mg/g also used as a comparison. berasal dari KUD Tambang Emas Harapan. Regarding to the problem. pollution. the capacity of phenol to reduce acidity of overburden is much less than limestone. size and bactericide. Kabupaten Lampung Selatan. berasal dari KUD Tambang Harapan.% . limestone. Oleh karena itu kehadiran AAT di lingkungan sangat tidak diharapkan. namun apabila pembentukkan asam dapat dicegah akan sangat menguntung- 2. Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara telah mengadakan penelitian laboratorium pencegahan AAT dengan menggunakan fenol dan gamping (CaCO 3). -10+35 mm dan -1+1/2 cm.1. bactericide. Beberapa perusahaan pertambangan mineral seperti PT.1 and 10. Pada umumnya perusahan-perusahan tersebut telah menangani masalah tersebut dengan berbagai cara antara lain netralisasi dengan CaCO3 (kapur). salah satu baktersida umum digunakan di rumah sakit sebagai antiseptik. namely type of overburden. Newmont Minahasa mengalami masalah AAT ini. phenol. Kedua contoh 84 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Keywords : mine environment . batuan penutup dapat dibedakan menjadi 2 jenis. Fenol. Fenol dibeli dari toko kimia dan gamping diperoleh dari tambang rakyat di daerah Citatah. Freeport Indonesia dan PT.6. Dalam penelitian. Kedongdong Subdistric. Salah satu pencegahan yang dapat diterapkan adalah penggunaan fenol. acid mine drainage. The acid can dissolve metals and pollute the water body surrounding the area.73. Bahan dan Peralatan Contoh dalam penelitian ini adalah batuan penutup. Berau Coal dan PT. environmental management such as neutralization. PENDAHULUAN kan karena dapat menghemat biaya pengelolaan. Kaltim Prima Coal. gold and copper ore from mine activities in Kalimantan. Neutralization process can form metal hydroxide and it will precipitate as sludge which need to be optimally managed.67% and limestone 48-15. contoh batuan yang digunakan adalah batuan penutup. Hal ini berdampak terhadap penurunan kualitas badan perairan karena sungai terkontaminasi oleh keasaman dan logam-logam terlarut dan juga menyebabkan reklamasi daerah tambang menjadi lebih mahal. penutupan dengan air. Two types of overburden which colour were gray and chocolate from KUD Tambang Harapan. Phenol and limestone respectively could reduce acid 6. Kabupaten Lampung Selatan. in capsulation and wetland are common to handle the AMD in Indonesia. Biaya penanggulangan AAT pada umumnya mahal.ABSTRACT The increases of coal. BAHAN DAN METODE 2. pengkapsulan/penghalang fisik dan pemanfaatan rawa/ rawa buatan (wetland). The presence of Thiobacillus ferroksidans can also accelerate the formation of AMD.

Percobaan untuk mengetahui interaksi dari jenis batuan dan ukurannya.04 0. Hasil analisis kandungan logam dan sulfur dalam contoh batuan Contoh Batuan Cu BP coklat BP abu Sumber Keterangan P.2 Peralatan Kolom pelindian adalah botol plastik + 250 ml yang bagian bawahnya diberi lubang kapiler untuk mengeluarkan lindian.. HASIL DAN PEMBAHASAN 3. fenol dan kapur yang diujikan sebagai bahan pencegahan pembentukkan asam digunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 3 faktor. Siti Rafiah Untung dan Nia Rosnia H.90 2. yaitu BP abu (b1) dan BP coklat (b2). lampung Selatan Kemungkinan Pemanfaatan Bakterisida Fenol untuk . coklat P.10 : Data Primer Hasil Uji Puslitbang tekMira Bandung : = batuan berwarna cokalt dari tambang emas rakyat di Kecamatan Kedongdong.29 0. Peralatan lain yang digunakan adalah pH meter dan alat gelas.19 0. Ke dalam setiap kolom pelindian dimasukkan secara berturut-turut 100 gr contoh batuan. Kolom yang digunakan dalam pelindian adalah botol plastik + 250 ml. Selanjutnya.04 Ca 0. abu Parameter (%) Fe 8. Mn dan Ca) dalam bentuk oksida dan S (belerang) terhadap kedua jenis batuan. botol-botol tersebut disimpan dalam akuarium tertutup dan dijaga kelembapannya sekitar 90%. Untuk menjaga kelembaban. (-10 + 35 mm) dan (-1 + ½ cm). Faktor pertama (A) adalah ukuran batuan dengan taraf. 1978). Fe.11 S 1. -10+35mm (a2) dan -1+1/2cm (a3).82 Zn 0.01 Mg 0. Faktor kedua (B) adalah jenis batuan dengan dua taraf. Mg. Zn. Pengukuran pH lindian dilakukan setiap minggu. Metode Uji karakterisasi contoh batuan dilakukan untuk mengetahui kandungan logamnya (Cu. 2. terhadap kedua contoh batuan tersebut juga dilakukan pengujian air asam tambang dengan metode Sobek (Sobek. 100 mesh (a1). Air suling berfungsi sebagai media pelindi. Faktor ketiga (c) adalah jenis bahan kimia dengan dua taraf. Dari faktor perlakuan tersebut diperoleh 24 kombinasi perlakuan dan setiap kombinasi perlakuan diulang dua kali. yaitu 100 #. Lindiannya ditampung dalam gelas plastik Setiap kolom pelindian diisi dengan contoh batuan yang disusun secara berlapis dengan fenol dan gamping.06 0. fenol (c1) dan gamping (c2).05 0. Proses tersebut dilakukan dalam akuarium tertutup pada suhu kamar selama 12 minggu dengan kelembaban berkisar 90 %.12 0.2.22 Mn 0. Lampung Selatan = lapisan batu berwarna cokalt dari tambang emas rakyat di Kecamatan Kedongdong.batuan penutup tersebut dipreparasi menjadi beberapa ukuran. 3. Analisis dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan pada taraf nyata 5% jika terdapat perbedaan antar perlakuan. Bagian bawah botol tersebut diberi lubang kapiler untuk mengeluarkan air pelindian. Bakterisida yang digunakan adalah fenol yang dibeli dari toko bahan kimia dan sebagai pembanding adalah kapur gamping (CaCO3) yang berasal dari tambang rakyat Desa Citatah. Setiap hari masing masing kolom pelindian ditambahkan 10 ml air suling sebagai media pelindian. yaitu kontrol (c0). kemudian dimasukkan ke dalam masing masing kolom secara berlapis fenol dan kapur dengan dosis masing-masing 5 mg/g dan 10 mg/g kecuali kontrol. 85 .1.39 31.. 2. Pb.1.01 0. Analisa kadar logam dari contoh dengan AAS Hasil analisa/penentuan kadar logam dan S dalam contoh BP abu dan BP coklat adalah sebagai berikut : Tabel 1. yaitu: batuan penutup berwarna abu (BP abu) dan coklat (BP coklat).03 Pb 0. Seluruh pengujian dilakukan di laboratorium Lingkungan Puslitbang tekMIRA.

yaitu 10. Hasil pengukuran pH lindian selama 12 minggu dapat dilihat pada Tabel 4 dan Gambar 1.39 .8 atau rata-rata 10. logam yang dominan dalam kedua jenis batuan penutup tersebut adalah besi dalam bentuk Fe2O3 dengan kisaran antara 8.29% dan nilai tersebut berhubungan langsung dengan nilai MPA.7. yaitu 63.29 1. Berdasarkan pengklasifikasian tersebut. Hasil perhitungan menunjukkan nilai MPA kedua contoh berkisar antara 58.09 pH NAG 2.6 atau rata-rata 3. Dari Tabel 3 dan Gambar 1 terlihat pada bahwa blanko (kontrol) air lindian bersifat asam pH dengan berkisar 2.39 74.19 0 0 84.6. Kedua contoh nilai NAPP-nya positif. yaitu ratarata 10.90 70.69 194.56 63. terlihat derajat keasaman pH (1:2) contoh yang dianalisis berkisar dari 2. Nilai pH lindian tersebut lebih ditentukan oleh kemampuan contoh dalam pembentukan asam maksimum dan potensi batuan dalam menetralkan dan bukan ukuran contoh.+2H+ digolongkan tipe 4 atau potensi pembentuk asam kapasitas tinggi sehingga diperlukan penanganan agar tidak mencemari lingkungan sekitar.6 hanya ditemukan pada batuan BP coklat dengan ukuran 100 mesh. kedua contoh batuan tersebut dapat Me2+ 2SO42.6. menyatakan senyawa fenol dapat masuk ke dalam sel bakteri dengan cara merusak dinding selnya dan juga dapat mengendapkan proteinnya.90-5. 1996 mengklasifikasikan batuan pembentuk asam menjadi 4 jenis seperti tertera pada Tabel 3.15 : Data Primer Hasil Uji Puslitbang tekMira Bandung : = batuan penutup berwarna abu = batuan penutup berwarna coklat Dari Tabel 2.5. Mengacu kepada hasil analisis dari Uji Identifikasi Pembentukan Air Asam Tambang pada Tabel 2.90% sampai dengan 2.13 kg H2SO4/ton. yaitu berkisar 0.13 58. Dharmawan. Nilai pH lindian tertinggi ditunjukkan oleh penambahan gamping. Buck (2001).82%. Salah satu penanganan adalah penggunaan fenol yang merupakan bakterisida dan sebagai pembanding digunakan gamping (CaCO3).11-0.19-70. diduga bahwa kedua jenis batuan tersebut berpotensi menghasilkan air asam tambang.2).90% 2.2 atau rata-rata 6.6. Kedua jenis batuan juga mengandung sulfur dengan kisaran 1.12 %.37-3.37 3.5 . sedangkan kandungan logam lainnya rendah.Hasil analisis menunjukkan. Dari uraian tersebut dapat Tabel 2. Kadar belerang (S) total kedua contoh berkisar dari 1. Penggunaan fenol dalam percobaan ini ternyata mampu meningkatkan air lindian 4.56 kg H2SO4/ ton. Hal ini dapat dilihat dari kisaran pHnya. Hal ini mungkin disebabkan oleh kandungan kalsium (Ca) kecil.1.31.65 52.42 pH 1:2 2.2-7.59 104. Dengan demikian pH lindian BP abu lebih rendah (4.15 berarti bahwa contoh-contoh tersebut bersifat asam. Kedua contoh batuan menunjukkan nilai ANC = 0 berarti contoh tersebut tidak mampu untuk menetralisasi asam. Peningkatan pH lindian pada percobaan penambahan fenol mungkin disebabkan oleh kemampuan fenol menghambat pertumbuhan 86 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . bakteri.5kg 7kg Sulfur (%S) H SO /ton H SO /ton H SO /ton H SO /ton H SO /ton 2 4 2 4 2 4 2 4 2 4 Total 2.29%. P.7.59-84.1 10. peran bakteri adalah mempercepat reaksi.88 3. Hal ini menunjukkan bahwa kedua contoh tersebut dapat membentuk asam yang reaksi pembentukannya secara umum sebagai berikut: MeS2 +7/2O2 + H2O (logam sulfida) Dalam proses pembentukan AAT tersebut. Proses penetralan dengan gamping terlihat bahwa nilai pH lindian tidak ditentukan baik oleh ukuran contoh maupun oleh perhitungan asam basa. Hasil analisis uji pembentukan air asam tambang Kode Sampel BP abu BP coklat Sumber Keterangan BP abu BP coklat MPA ANC NAPP NAG NAG kg kg kg 4.0) dari BP coklat (5. pH tertinggi 5.

C2 = gamping b = jenis batu. Gambar 1. Perubahan pH lindian dari batuan dengan penambahan kapur dan fenol Tabel 5 menunjukkan nilai pH lindian rata-rata dari penggunaan fenol berkisar antara 4. 2.2 4. a3 = ukuran batu dilihat bahwa dosis gamping berpengaruh terhadap pH lindian.Tabel 3.2 dan gamping antara 10.8 Keterangan: C0=control.2 10. Siti Rafiah Untung dan Nia Rosnia H. pH batuan (1 : 2) lebih kecil dari 4 nilai NAG pada pH 4.8.nilai NAG pada pH kapasitas rendah 4. Penggolongan jenis batuan pembentuk asam No. b 1 = BP abu.2 10. Golongan Tipe 1 Tipe 2 Jenis Batuan Bukan pembentuk asam Keterangan Nilai pH uji NAG lebih besar atau sama dengan 4 atau nilai NAPP negatif Potensi pembentuk asam Nilai pH uji NAG lebih kecil dari 4 .. Pada penetralan ini terjadi reaksi sebagai berikut: CaCO3+ H2SO4 CaSO4+ H2CO3 3 CaCO3 + Fe2(SO4)3 + 6 H2O 2 CaSO4+2 Fe(OH)2 + 3 H2CO3 Kapasitas reduksi asam untuk masing-masing perlakuan dapat dilihat pada Tabel 5.9 10. 1. Rata-rata perubahan pH lindian dengan penambahan fenol dan kapur No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Perlakuan a 1b 1 c 0 a 1b 1 c 1 a 1b 1 c 2 a 1b 2 c 0 a 1b 2 c 1 a 1b 2 c 2 a 2b 1 c 0 a 2b 1 c 1 a 2b 1 c 2 pH 2. Tipe 3 4. 1996 Tabel 4.6 7 10. a2. Nilai pH lindian dari Kemungkinan Pemanfaatan Bakterisida Fenol untuk .4 6.5 10.8 5.. 87 .1 – 10.nilai NAG pada pH 4.6 7. b-2 = BPcoklat a1.5 lebih besar atau sama dengan 5 kg H2SO4 per ton NAPP lebih besar atau sama dengan 10 kg H2SO4 per ton 3.9 5. Parliyanto .1 No 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Perlakuan a2 b2 c 0 a2 b2 c 1 a2 b2 c 2 a3 b1 c 0 a3 b1 c 1 a3 b1 c 2 a3 b2 c 0 a3 b2 c 1 a3 b2 c 2 pH 3.5 –7.9 6 10. C1 = fenol. Tipe 4 Pembentuk asam Sumber: Dharmawan.6 3.5 lebih besar atau sama dengan 5 kg H2SO4 per ton NAPP lebih besar atau sama dengan 10 kg H2SO4 per ton Nilai pH uji NAG lebih kecil dari 4 .5 lebih kecil dari 5 kg H2SO4 per ton NAPP 0 – 10 kg H2SO4 per ton Potensi pembentuk asam kapasitas tinggi Nilai pH uji NAG lebih kecil dari 4.7 2.8 4.

1. 202/2004 (pH 6-9) dan dapat menetralkan asam berkisar antara 6.52 Kapasitas reduksi (per mg) 2.9 5.9 7.6 10. Batuan dengan potensi pembentuk kapasitas asam tinggi (BP abu) kemampuannya dalam mereduksi asam lebih rendah dari BP coklat.9 3.7 7. Kesimpulan Hasil penelitian menujukkan berbagai hal sebagai berikut: Fenol dapat digunakan dalam pencegahan air asam tambang dan dapat meningkatkan nilai pH lindian dengan kisaran 4.6 2.Tabel 5.6 0.7 10.% - 88 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . jadi lebih tinggi dari fenol.64 68.67 50.3 1.4 5.1 5. 202/2004 Kapasitas reduksi asam untuk fenol dengan dosis 5 mg/g berkisar antara 6. Dari Tabel 5.4 3. Penelitian Siwik (1989) menunjukkan penambahan Ca(OH)2 (kapur padam) dengan dosis 5000 mg/kg selama 50 minggu dapat mereduksi asam sampai 80%.6 0.0 7. dapat dilihat bahwa ukuran batuan berpengaruh terhadap perlakuan.67% -51.5 –7.15 66.2 4.1 7.3 1. 202/2004 (pH 6-9).67% -51.1 5. Kapasitas reduksi asam dari fenol dan gamping terhadap blanko Jenis Penanganan Blanko Perlakuan a1b1c0 a1b2c0 a2b1c0 a2b2c0 a3b1c0 a3b2c0 a1b1c1 a1b2c1 a2b1c1 a2b2c1 a3b1c1 a3b2c1 a1b1c2 a1b2c2 a2b1c2 a2b2c2 a3b1c2 a3b2c2 Rata-rata pH 2.% . Penurunan dosis dilakukan dengan berbagai cara antara lain dengan menurunkan dosis gamping dan menggunakan asam seperti H2SO4 atau HCl sehingga diperoleh nilai pH air limbah yang sesuai dengan Kepmen LH No. Penetralan dengan gamping dapat mereduksi asam 48-15.1 10.8 10. 5.72 51.4 3. Nilai tersebut memenuhi syarat sebagai air limbah dari kegiatan penambangan bijh emas berdasarkan Kepmen LH No.4 Reduksi asam (%) 44. Dari hasil percobaan terlihat kemampuan fenol dalm mereduksi asam lebih kecil dari gamping.5 3.8 Selisih thd blanko 0 0 0 0 0 0 2.42 72.2 7.9 7.2 3.73. Kapasitas reduksi asam untuk gamping dengan dosis 10 mg/g berkisar 48-15.67%.1 7.15 48.67%. Penurunan dosis gamping lebih dianjurkan karena dapat menghindari adanya biaya tambahan pengelolaan air limbah. Hasil lindian (pH) dan reduksi asam dari BP abu lebih rendah dari BP coklat untuk semua jenis ukuran batu. KESIMPULAN DAN SARAN 5.5 6.15%. Ukuran bijih berpengaruh terhadap nilai pH dan reduksi asam baik untuk penggunaan fenol maupun gamping.2 7.7 7. Namun apabila dilihat nilai pH lindian dari penggunaan gamping telah melampau nilai yang ditentukan oleh Kepmen tersebut.2 7.6 4.9 6.9 5. sehingga perlu dilakukan penurunan dosis gamping agar hasil lindian dapat memenuhi syarat. Nilai pH dan reduksi asam tertinggi terjadi pada batuan ukuran -1+1/2cm dan terkecil pada ukuran batuan 100 mesh baik untuk perlakuan dengan fenol maupun batuan.36 58.3 3.0 10.23 20.3 3.4 Fenol Gamping fenol sudah memenuhi syarat sebagai air limbah dari kegiatan penambangan bijh emas berdasarkan Kepmen LH No.67 73.9 5.8 10.5 3.00 50.00 6.2.

. 4750. Aula Barat ITB 1-2 Juli 1996 Siwik R. 45268. Kepala KUD Tambang Harapan. EPA-600/2-78-054. dan pH berkisar 10.A.A. Field and Laboratory Methods Applicable to Overburdens and Minesoils. Schuller. Ohio.. 2001.2. Payant and K. Kapasitas fenol dalam mereduksi asam lebih kecil dari gamping. and Smith.1 – 10. 1996. W. 1978. J. Kirsten. Kabupaten Lampung Selatan yang telah mengirim contoh batuan sehinnga penelitian ini dapat berjalan lancar. Freeman. Paper disajikan pada Seminar Air Asam Tambang di Indonesia. Cincinnati. 202/2004 sehingga diperlukan penurunan dosis gamping. Wheeland. Environmental Protection Agency.. et al (eds. A. R. Siti Rafiah Untung dan Nia Rosnia H. Untuk melihat pengaruh ukuran dan jenis batuan terhadap kelarutan logam-logam maka perlu dilakukan pengukuran konsentrasi logam-logam yang terekstrasi.). Kecamatan Kedongdong.. Saran Penelitian perlu dilanjutkan dengan pemberian bakterisida yang lain seperti surfaktan sehingga dapat ditentukan bakterisida yang lebih beperan dalam pencegahan air asam tambang. Identifikasi Potensi Air Asam Tambang di Daerah Tambang Batubara PT. Kemungkinan Pemanfaatan Bakterisida Fenol untuk . S.S. Karena nilai ini sudah melampaui baku mutu air limbah dari kegiatan penambangan bijh emas berdasarkan Kepmen LH No.R. Ukuran batuan dan jenis batuan berpengaruh terhadap hasil lindian. http:// www. DAFTAR PUSTAKA Buck.15%.infectioncontroltoday. U. Tailings and Effluent Management.com/articles/ 191clean. 1989.8. New York. Pergamon Press. 89 . Arutmin Indonesia.html diakses tanggal 15 Juni 2009 Dharmawan Parliyanto. Chalkey. UCAPAN TERIMAKASIH Penulis mengucapkan terimakasih kepada Bapak Sahroji. 5. Sobek. M.. E. M.73. ‘Control of acid generation from reactive waste rock with the use of chemicals’. The effects of Germicides on Microorganism.M.

free from impurities. This paper describes the handling process of those ash groups.id SARI Batubara dapat dikatakan sebagai bahan bakar yang kotor karena sulit untuk mendapatkan batubara yang murni. golongan b bertitik leleh sedang atau mendekati suhu operasional pembakar siklon 1200°C dan golongan c bertitik leleh rendah. Jend. titik leleh abu. (b) group has medium melting point or close to the operational temperature of the cyclone combustor at 1200°C. high ash content with various melting points may affect the combustor performance. since it is difficult to obtain pure coal. and (c) group has low melting point. Diuraikan juga proses pengendapan partikel abu dari ketiga jenis abu dalam fasilitas industri tersebut dan lokasi pengendapannya. From this observation. 90 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . For cyclone combustor operation. Sudirman 623 Bandung Telp. pemanas oli dan pengering berputar. ash may be divided into three groups.PENGARUH TITIK LELEH ABU TERHADAP PENGENDAPANNYA PADA PEMBAKARAN BATUBARA DENGAN PEMBAKAR SIKLON DI BEBERAPA FASILITAS INDUSTRI Sumaryono Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara (tekMIRA) Jl./Fax : 022 – 6038027. Kata kunci : pembakar siklon. in the operation of the cyclone combustor in steam boiler. dalam pengoperasian pembakar siklon untuk ketel uap. oil heater and rotary dryer. didapat abu golongan a lebih dari 90% tertiup keluar siklon. The deposition processes of the ash particles in those industrial facilities and their deposition locations are also described. bersih dari kotoran. pengendapan ABSTRACT Coal may be viewed as a dirty fuel. Khususnya pengotor-pengotor yang dapat mempengaruhi proses pembakaran seperti kandungan abu dengan berbagai karakteristiknya yang selain mempengaruhi proses pembakaran juga dapat mengganggu produk dan fasilitas industri yang dilayani. Particularly the impurities which may affect the combustion process such as the ash content with its various characteristics. Dari pengamatan tersebut. kadar abu yang tinggi dengan titik leleh yang bervariasi dapat mempengaruhi kinerja alat. 081321237913 e-mail : soemaryono@tekmira. Tulisan ini menguraikan proses penanganan abu untuk ketiga jenis abu tersebut. Berdasarkan titik lelehnya abu dibagi menjadi 3 golongan yaitu golongan a bertitik leleh tinggi. Untuk pengoperasian pembakar siklon. far below 1200°C. Based on its melting point.go. jauh dibawah 1200°C. (a) group has high melting point. abu golongan b lebih dari 50% menempel sebagai kerak di dalam siklon dan abu golongan c lebih dari 90% meleleh di dalam siklon kemudian mengalir ke dalam kotak abu. which either affecting the combustion process or may affect the product and the industrial facilities served.esdm.

Keywords: cyclone combustor. atau berupa kerak yang menempel di dinding siklon sehingga jika semakin tebal.18 maka abu bersifat refraktori dengan titik leleh tinggi. ash melting point. pengelolaan abunya tergantung pada titik leleh abu. Na. Pembakaran batubara dengan pembakar siklon dilakukan dengan batubara tepung (-30 mesh). Ca dan sedikit Ti. karakteristik abu sangat penting selain berpengaruh pada efisiensi pembakaran. operasional pembakar siklon dapat terganggu. Untuk pembakaran terus menerus. Unsur lain yang dapat menurunkan titik leleh abu adalah Na2O dan K2O. sulfat atau fosfat. dll sejak tahun 2005. 1975). deposition 1. belerang. Pada teknik pembakaran kisi berjalan (Changzhou. 2003). Jika perbandingan Al2O3 : SiO2 mendekati 1 : 1. Masalah titik leleh abu juga berpengaruh pada operasional teknik pembakaran batubara lainnya.. 2. Tetapi sejak tahun 2008 mulai terjadi kelangkaan batubara standar karena naiknya harga ekspor batubara sehingga pasokan batubara standar untuk dalam negeri terganggu dan di pasaran dalam negeri hanya tersedia batubara dengan spesifikasi yang berubah-ubah dalam jumlah-jumlah kecil. Tergantung nilai titik Pengaruh Titik Leleh Abu terhadap Pengendapannya pada Pembakaran . Jelas pula pengaruhnya pada teknik pembakaran batubara bubuk (pulverized coal combustion) (Singer. Sumaryono 91 . bisa berupa abu terbang atau abu dasar.. Dengan kinerja yang semakin baik maka hal ini merupakan dukungan pada program pemerintah untuk terus meningkatkan kontribusi batubara dalam konsumsi energi nasional yang ditargetkan sebesar 33% pada tahun 2025 (Yusgiantoro. pengering berputar. Keadaan ini mengakibatkan operasional pembakar siklon sering terganggu karena mutu batubara yang berubah-ubah dan cenderung semakin turun mutunya. diameter moncong siklon semakin kecil. pengaruh Al2O3 dan SiO2. Sebaliknya. sifat titik leleh dapat mengganggu operasional pembakar siklon karena abu dapat berupa padatan yang tertiup keluar siklon. 2009). dapat menyumbat aliran api karena jika kerak semakin tebal. Pembakar siklon digunakan untuk menggantikan pembakar BBM di berbagai fasilitas industri tersebut (Sumaryono. MgO dan Fe2O3 mengakibatkan turunnya titik leleh abu. 2003). Jika menempel di moncong keluarnya api. Sifat-sifat abu khususnya menyangkut sifat melelehnya yang dapat mengganggu operasional siklon tersebut dipengaruhi oleh kandungan unsurunsur tertentu di dalam abu. Fe. jika digunakan batubara dengan titik leleh mendekati suhu pembakaran atau dibawahnya mengakibatkan unggun mengeras setelah dingin sehingga harus dihancurkan dengan linggis. K yang terikat dengan silikat. titik leleh abu yang rendah mengakibatkan tertutupnya kisi oleh lelehan abu sehingga mengganggu aliran udara pembakar. khususnya titik leleh abu yang merupakan parameter penting dalam proses pembakaran batubara (Rance. Sebagai contoh. 1991). pemanas oli. Parameter titik leleh abu akan dibahas dalam tulisan ini karena merupakan salah satu faktor yang berpengaruh dalam operasional pembakar siklon. Pembakar siklon perlu terus dikembangkan sehingga semakin handal untuk dapat menghadapi berbagai parameter karakteristik batubara yang berbeda-beda. Al. (b) group ash more than 50% adhered as slag in the cyclone and (c) group ash more than 90% melted in the cyclone and then flowed into the ash box. more than 90% was blown out of the cyclone. Karakteristik abu dipengaruhi oleh unsur-unsur yang dikandungnya. Mg. terutama jika kandungan SiO2-nya tinggi. Pada teknik pembakaran dengan unggun terfluidakan (Basuki.it was found that (a) group ash. oksida. Mn. Tulisan ini menguraikan beberapa proses pembakaran batubara dengan titik leleh abu yang berbeda-beda pada beberapa fasilitas industri dan akibat-akibat yang ditimbulkan oleh abu batubara tersebut pada operasional pembakar siklon. LATAR BELAKANG TEORI Komponen-komponen abu dalam batubara terutama terdiri atas unsur-unsur Si. dengan banyaknya senyawa CaO. LATAR BELAKANG Pembakar siklon dengan bahan bakar batubara halus berukuran -30 mesh telah digunakan di industri untuk berbagai jenis fasilitas seperti ketel uap. 2007).

Abu dengan titik leleh oksidasi lebih tinggi dari suhu operasional pembakar siklon. b yang titik lelehnya hampir sama dengan suhu operasional pembakar siklon.1 Ketel uap Gambar 1 adalah skema ketel uap jenis pipa api (fire tube) yang telah dipasang pembakar siklon sebagai ganti pembakar solar dan daerah-daerah pengendapan abunya.leleh abu. maka viskositas tinggi sehingga lengket dan tidak bisa mengalir. tergantung pada titik lelehnya. menghasilkan abu padat dengan sebaran : Lokasi a. Pengoperasian ketel uap ini dengan batubara berkandungan abu gol. dalam pipa api Lokasi d. Beberapa contoh abu golongan a. dalam ruang api Lokasi c. b dan c. Abu dengan titik leleh oksidasi sama atau mendekati suhu operasional pembakar siklon. Tabel 1 adalah beberapa contoh abu yang termasuk dalam abu golongan a. SEBARAN ABU DAN KARAKTERISTIKNYA 3. yang bertitik leleh jauh lebih tinggi dari suhu pengoperasian siklon (1180 – 1230°C) dengan kadar abu kurang dari 2%. titik leleh abu dibagi menjadi tiga golongan yaitu : a. Semakin rendah titik leleh abu. maka viskositas lelehan abu menjadi rendah sehingga dengan mudah mengalir ke bawah. akan semakin rendah viskositas abu tersebut sehingga cairannya mudah mengalir ke bagian bawah pembakar siklon.5%. menghasilkan abu yang lunak dan lengket menempel pada dinding bagian dalam pembakar siklon. Pembakar siklon dapat beroperasi dengan lancar jika titik leleh abu jauh di atas atau di bawah suhu operasional siklon.2. 3. Pembakaran dihentikan.1. Sedang yang bertitik leleh mendekati operasional pembakar siklon akan bersifat melunak tetapi belum mudah mencair sehingga lengket dan menempel di dinding siklon. Jika titik leleh abu jauh di bawah suhu siklon.2. Sebaran Abu Dalam Fasilitas Industri 3. b. Abu bertitik leleh tinggi (a). dalam siklon Lokasi b. dalam penampung debu Lokasi e. Abu dengan titik leleh oksidasi lebih rendah dari suhu operasional pembakar siklon. Pada pembakaran batubara yang berkadar abu 5. Setelah dingin abu yang lengket ini mengeras berupa kerak. Beberapa Golongan Titik Leleh Abu Dalam kaitannya dengan operasional pembakar siklon. Sebaran kerak dan kotoran padat lain adalah : Tabel 1. Jika titik lelehnya hampir sama dengan suhu siklon. Titik leleh oksidasi adalah titik leleh abu dalam atmosfer pembakaran oksidasi. dalam waktu 1 hari kerak sudah terlalu tebal sehingga siklon semakin mengecil volumenya dan lingkaran dalam leher siklon semakin menyempit sehingga mengganggu aliran api dari siklon ke dalam ketel uap. siklon dibiarkan dingin untuk dilakukan pembersihan dindingnya dari kerak. jadi dalam suasana pembakaran dengan jumlah oksigen lebih dari oksigen stoikiometrinya. a. °C Sperikal >1500 1255 1135 Hemisfer >1500 1260 1160 Alir >1500 1325 1180 92 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . jika titik lelehnya tinggi maka abu tetap berupa debu padat. °C Sperikal 1435 1150 1080 Hemisfer 1460 1160 1090 Alir >1500 1225 1155 Deformasi 1470 1235 1125 Oksidasi. yaitu sekitar 1200°C. Sedangkan pegoperasian dengan batubara mengandung abu gol. c. c dan titik lelehnya Golongan Abu A B C Deformasi 1305 1140 1075 Reduksi. Sedangkan abu yang bertitik leleh rendah akan mudah mencair dan mengalir ke tempat yang lebih rendah. b. bagian bawah cerobong Keluar dari sistem lewat cerobong : : : : : : 5% 15% 0% 30% 30% 20% 3. akan tetap berupa debu padat pada saat operasional pembakaran siklon. Kerak ini dengan mudah dapat dikorek dari dinding siklon.

Akibat fatal dari kejadian ini terutama diameter dalam L-bow dari siklon menuju ruang api dari Pengaruh Titik Leleh Abu terhadap Pengendapannya pada Pembakaran . Bongkahan-bongkahan lelehan abu yang menjadi padat diambil dari kotak abu 2 jam sekali. dalam pipa api Lokasi d. c yang titik lelehnya dibawah suhu operasional pembakar siklon.. dalam siklon Lokasi b. Pengoperasian dengan batubara mengandung abu golongan a yang titik lelehnya diatas suhu operasional pembakar siklon. kemudian asapnya keluar melalui cerobong. Sumaryono 93 . menghasilkan abu yang padat dengan sebaran : Lokasi a. Karena viskositas abu sangat tinggi maka abu yang lunak dan lengket ini menempel di permukaan dinding bagian dalam siklon. Skema ketel uap dengan pembakar siklon Lokasi a. dalam penampung abu Lokasi d. Gambar 2 adalah skema pemanas oli jenis vertikal yang telah dipasang pembakar siklon di bagian atasnya sebagai pengganti : 95% : 0% : 0% : 0% : 0% : 5% Api dari pembakar siklon turun ke dalam ruang api (b). Skema pemanas oli dengan pembakar siklon Pengoperasian dengan batubara mengandung abu gol. Pada pembakaran batubara jenis ini yang berkadar abu 7. Abu yang datang selanjutnya melekat di permukaan lelehan sebelumnya sehingga membentuk kerak yang semakin tebal. dalam siklon Lokasi b. dalam siklon Lokasi b. dalam penampung debu Lokasi e.6%. masuk ke dalam kotak abu. dalam ruang api Lokasi c. dalam ruang api Lokasi c. dalam pipa api Lokasi d. menghasilkan abu yang sudah mencair dan mengalir ke lantai siklon.pembakar solar dan daerah-daerah lokasi pengendapan abunya.2. makanan dan industri kimia digunakan untuk memproduksi panas yang disalurkan dengan menyalurkan oli panas (220 – 250°) ke unit-unit proses yang memerlukan seperti untuk pengeringan. naik dan turun lagi memanaskan pipa-pipa oli (d). pemasakan dll. bagian bawah cerobong Keluar dari sistem lewat cerobong 3. dalam rangkaian pipa oli Lokasi e. dalam ruang api Lokasi c. Gambar 1. dalam penampung debu Lokasi e. bagian bawah cerobong Keluar dari sistem lewat cerobong : 60% : 20% : 0% : 10% : 5% : 5% Gambar 2. lelehan abu yang mengalir ke dalam kotak abu segera membeku membentuk padatan yang sangat keras berwarna coklat kehitaman.2 Pemanas oli Pemanas oli (oil heater) di pabrik tekstil.. Sebaran abu dalam siklon dan ketel uap adalah : Lokasi a. Dinding bagian dalam siklon terlihat mengkilap karena terlapisi oleh cairan dari abu yang mencair dengan viskositas yang rendah. bagian bawah cerobong Keluar dari sistem lewat cerobong : 5% : 0% : 55% : 2% : 25% : 13% Pengoperasian dengan batubara mengandung abu golongan b yang titik lelehnya hampir sama dengan suhu operasional pembakar siklon menghasilkan abu yang lengket.

sehingga pengendapan partikel abu karena perbedaan kecepatan asap kecil pengaruhnya.64 : 1.5 kg atau 0.9 = 1. maka jumlah abu yang bercampur dengan 1.500 kg pupuk fosfat adalah 94 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .3% dari berat pupuk. abu akan berbentuk tepung padat yang akan tertiup bersama asap. Pembakaran harus dihentikan dan kerak dibersihkan. Jumlah abu berupa kerak yang menempel di dalam dinding siklon sekitar 60% dan sisanya tertiup dan tercampur dengan produk yang dikeringkan. Sebagai contoh. 3. Sedangkan perubahan suhunya dari sekitar 1470°K didalam siklon menjadi sekitar 770°K didalam lorong api utama atau 1. dalam ruang api Lokasi c. Perbandingan luas penampang adalah sebanding dengan kuadrat radius atau 652 : 402 = 2.2.64 : 1. selebihnya mengendap dalam bagian-bagian tertentu dari fasilitas industri. Pada penggunaannya untuk pengeringan pupuk atau semen pozolan yang berputar dalam pengering. karena lebih cepat mengalirnya. untuk fasilitas industri berupa ketel uap jenis pipa api.pemanas oli semakin mengecil sehingga tekanan didalam ruang siklon membesar dan aliran api ke dalam pemanas oli terhambat. konsumsi batubara dengan pembakar siklon 90 kg/jam dengan kadar abu batubara = 5% atau jumlah abu yang dihasilkan = 4. maka terjadi turbulensi di dalam lorong api utama sehingga kesempatan partikel abu untuk mengendap dalam lorong ini Gambar 3. Perubahan kecepatan aliran dari dalam silinder siklon ke dalam lorong api utama dipengaruhi oleh luas penampang dan suhu dari kedua lokasi tersebut. Mekanisme pengendapan partikel-partikel abu sebagian karena perlambatan aliran asap.9 : 1.39 atau hanya berbeda sedikit. sebagian besar abu meleleh keluar dari dalam siklon masuk ke dalam kotak abu. Demikian pula untuk abu golongan c. Pembakar siklon berdiameter bagian dalam 130 cm menyalurkan api kedalam lorong api utama dari ketel uap yang berdiemeter bagian dalam 80 cm melalui moncong siklon yang berdiameter bagian dalam 60 cm. semakin banyak abu yang meleleh keluar siklon. sebagian lagi karena menabraknya partikel-partikel abu ke suatu dinding kemudian terjatuh oleh gaya gravitasi. dalam penampung abu Lokasi d. Tetapi karena perjalanan dari silinder siklon ke lorong api utama melewati moncong siklon yang diameternya 60 cm. Sedangkan penggunaan batubara dengan abu golongan b. Maka perbandingan kecepatan aliran asap didalam siklon/kecepatan asap dalam lorong api adalah 2. Hanya kurang dari 10% yang tertinggal didalam silinder siklon. sampah padat yang keluar dari pembakar siklon akan masuk kedalam pengering berputar dan bercampur dengan produk pengeringan. disebabkan viskositas yang rendah. PEMBAHASAN Pengendapan abu bertitik leleh tinggi (abu golongan a) Abu dengan titik leleh tinggi. Semakin rendah titik leleh abu. sedangkan sampah padat yang tertiup kedalam pengering berputar tidak diukur karena jumlahnya relatif kecil setelah bercampur dengan komoditas yang dikeringkan. karena batubara dengan abu demikian jarang didapat dipasaran. Sebaran abu berupa kerak dan padatan lain adalah : Lokasi a. Pengering berputar Pengamatan sebaran pengendapan abu hanya dapat dilakukan didalam pembakar siklon. identik penggunaannya pada pemanas oli dan ketel uap. bagian bawah cerobong Keluar dari sistem lewat cerobong : 60% : 0% : 20% : 3% : 5% : 12% 4. Sebagai contoh. dalam rangkaian pipa oli Lokasi e. keluar silinder siklon. dalam siklon Lokasi b.3 Pengering berputar Gambar 3 adalah skema pengering berputar (rotary dryer) dengan pembakar siklon yang menggantikan posisi pembakar solar. Percobaan menggunakan batubara dengan abu golongan c belum dilakukan untuk siklon dengan pemanas oli ini.5 kg/jam. proses pengeringan pupuk fosfat yang produksinya 1500 kg/jam. 4.

Asap berbalik.. sebagian besar abu tertiup keluar pembakar siklon bercampur dengan komoditas yang diproses. Abu jenis ini mulai meleleh pada suhu operasional pembakar siklon. sifat-sifat lelehan abu. Jika viskositasnya rendah. untuk batubara dengan 3 golongan titik leleh abu menunjukkan : a. khususnya yang berupa debu halus keluar bersama asap cerobong. Hasil pengamatan ini menunjukkan bahwa pembakaran batubara dengan pembakar siklon.5 cm. tertiup keluar siklon. Karena diameter yang kecil ini maka kecepatan asap dilokasi ini tinggi sehingga didaerah ini pertikel abu yang mengendap hanya sedikit. yaitu partikel-partikel abu yang tidak sempat mengalami aglomerasi. sebaran ukuran butir batubara. Sumaryono 95 . Hanya sedikit sekali yang tertiup ke luar. sehingga permukaan dalam siklon hanya tertutup oleh lapisan tipis lelehan abu. kecepatan pembakaran. lengket terpapar oleh panas sehingga segera menempel pada permukaan abu sebelumnya sehingga menambah tebal tumpukan lelehan abu tersebut. tetapi viskositasnya belum cukup untuk membuatnya mengalir mengikuti gaya gravitasi. pengendapan di penampung abu dominan sebab disini berlangsung 2 mekanisme yaitu mekanisme perlambatan kecepatan asap dan tabrakan partikel asap dengan dasar dari ruang api. Abu yang datang kemudian terus meleleh. maka pengendapan abu dominan berada di penampung abu dan dibagian bawah cerobong. Abu bertitik leleh sedang (golongan b) lebih dari 50% tertahan di dalam siklon berupa kerak.juga tidak besar. melainkan bersifat lengket sehingga menempel dipermukaan dalam pembakar siklon. kembali menuju ruang pengendapan abu. Selanjutnya asap bergerak menuju ruang penampung abu dengan penampung yang lebih luas. pengendapan abu dengan mekanisme perlambatan kecepatan asap dan tabrakan partikel abu dengan dinding yang membentuk sudut mendekati 90°C dengan arah jalannya asap. Abu bertitik leleh tinggi (golongan a) sebagian besar atau lebih dari 90%. Sebaran abu jenis ini dipengaruhi oleh banyak faktor seperti karakteristik pembakaran batubaranya sendiri. Pengendapan abu bertitik leleh rendah (abu golongan c) Abu jenis ini segera meleleh terpapar oleh suhu pembakaran dalam siklon. Partikel abu yang datang kemudian juga meleleh. Penyebaran endapan abu diberbagai lokasi pengendapan dalam ketel uap telah dikemukakan di sub-bab 3. juga karena menabrak dinding. KESIMPULAN 1. Keadaan ini mengakibatkan energi kinetik partikel abu menurun sehingga terkalahkan oleh gaya gravitasi dan terjadi pengendapan. b. Hanya sebagian kecil yang lolos sampai cerobong. Banyak partikel abu yang mengendap di bagian bawah cerobong selain karena kecepatan asap melambat atau diameter cerobong yang membesar. Dengan demikian maka sebagian besar abu menempel didinding siklon sampai 60 – 75% kemudian di ruang api 10 – 20%. Abu bertitik leleh rendah (golongan c) Pengaruh Titik Leleh Abu terhadap Pengendapannya pada Pembakaran . Dengan demikian. sehingga partikel abu banyak yang jatuh selain karena perlambatan kecepatan. sisanya 5 – 10% tersebar sampai dibawah cerobong. Seperti terlihat pada Gambar 2. Pengendapan abu bertitik leleh sedang (abu golongan b) Abu bertititk leleh mendekati suhu operasional siklon ternyata terkumpul di lokasi tidak jauh dari pembakar siklon itu sendiri. dan yang terbawa sampai cerobong hanya sejumlah kecil saja. Asap kemudian mengalir melalui pipa api yang berdiameter 7. c. Sisa partikel abu lainnya. Sebagian lagi yang tidak sempat menempel di permukaan siklon. atmosfer pembakaran dll (Rance. selanjutnya menuju cerobong. dengan jumlah total di dua lokasi itu sekitar 60 70%. 1975).. lelehan abu mengalir masuk kedalam kotak abu.1 dan uraian ini menjelaskan proses yang terjadi. mengalir ke bawah. Sedangkan penggunaannya untuk pengering berputar. Sebaran abu dalam penggunaan abu bertitik leleh abu tinggi untuk pemanas oli identik dengan penggunaannya untuk ketel uap. Hal ini disebabkan hanya sedikit partikel-partikel abu yang dapat bertahan dalam keadaan padat pada suhu jauh diatas titik lelehnya. 5. terlempar keluar tetapi dengan ukuran yang lebih besar karena proses aglomerasi dan jatuh tidak jauh dari lokasi pembakar siklon.2. juga disebabkan partikel-partikel abu menabrak dinding cerobong. masuk kedalam ruang api.

. Petroleum Co. mudah mencair dan mengalir kedalam kotak abu dan membeku. Combustion Fossil Power. Abu mencair karena suhu siklon jauh diatas titik leleh abu ini sehingga viskositas lelehan abu rendah. Connecticut. lengket melekat di dinding siklon. b. H. Yusgiantoro. Bandung. meleleh didalam siklon dan kemudian mengalir kedalam kotak abu. 13 (29-33). Mekanisme pengendapan abu terutama disebabkan oleh : a. Semarang. 2007.C. c. P.. Abu menjadi lunak tetapi viskositasnya masih tinggi sehingga bahan ini menjadi lunak. 12 No. Sumaryono. B.P. Coal Quality Parameters and Their Influence in Coal Utilization. Brochure. Singer. 2003. Xishan. LTD. DAFTAR PUSTAKA Basuki.G. ABB. 1975. 1991.sebagian besar atau lebih dari 90%. 3. Jakarta Changzhou Boiler Co. 2009. Seminar Nasional Sustainable Alternatif Energi.. Sebagian kecil tertinggal di saluran-saluran asap dan yang berukuran halus keluar melalui cerobong. Development of Cyclone Coal Burner For Fuel Oil Burner Substitution in Industries.. Sustainabilitas Energi di Indonesia Dalam 30 Tahun Mendatang.. tertiup keluar siklon dan mengendap dalam perangkap-perangkap abu seperti ruang penampung abu dan bagian bawah cerobong. Abu yang mempunyai titik leleh tinggi. LTD. Shell Int.. 2.E. Coal Fired Fluidized Boiler. J. Indonesian Mining Journal. Boiler. Perlambatan kecepatan asap secara mendadak dan tabrakan partikel abu dengan dinding. 96 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Vol. 2003. Rance.

pemisahan dengan magnetik dan media berat serta flotasi. pengayakan/klasifikasi.go. dan AlCl3). magnetic separation. bauxite. rutil. PAC. ilmenit. ilmenite. Total cadangan bauksit dunia adalah sebesar 24 milyar ton. Peningkatan mutu (uggrading) bauksit dapat dilakukan dengan cara washing & scrubbing. gotit. kaolinit. and brookite. siderite. Keywords : upgrading. siderit. More than 90% of bauxite deposits have been treated into alumina or aluminum metal. aluminum metal. dengan kandungan beberapa mineral pengotor seperti magnetit. anatas. and flotation. Sudirman No. 022 . 12-30% H2O. Proses Bayer adalah cara yang paling efektif dan menguntungkan untuk memproduksi alumina dari bauksit. 022 . 623 Bandung 40211 Telp.6030483 Fax. Indonesia itself has bauxite reserve deposits more than 900 million metric tons scattered in Riau islands and West Kalimantan. anatase. Alumina yang dihasilkan tersebut dibuat menjadi logam aluminium melalui proses elektrolisis Hall-Heroult. elektrolisis.id SARI Bauksit merupakan bijih aluminium yang mengandung 45-60% Al2O3. kaolinite. 12-30% H2O. chosen based on the bauxite character to be upgraded. Open pit mining followed by upgrading preceded bauxite extraction to be alumina. and AlCl3). electrolysis. PAC. Sistem tambang terbuka yang dilanjutkan dengan proses peningkatan kadar mendahului ekstraksi bauksit menjadi alumina. Bayer process is the most effective and feasible method for alumina production from bauxite.esdm. bauksit. Husaini 97 . proses Bayer dan Hall-Heroult ABSTRACT Bauxite is aluminum ore containing 45-60% Al2O3. Bayer and Hall-Heroult processes Pengolahan dan Pemanfaatan Bauksit.PENGOLAHAN DAN PEMANFAATAN BAUKSIT Husaini Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. Lebih dari 90% cadangan bauksit diolah menjadi alumina atau logam alumunium. alumina. screening/classification.Total reserves of bauxite in the world were 24 billion metric tons. Untuk memproduksi sebanyak 2 ton alumina atau 1 ton logam aluminium dibutuhkan bauksit rata-rata 4-5 ton. Kata kunci : peningkatan kadar. Indonesia sendiri memiliki cadangan bauksit terukur lebih dari 900 juta ton yang tersebar di kepulauan Riau dan Kalimantan Barat. Jend. with several impurities minerals such as magnetite. heavy media separation. the rest is utilized for producing chemicals such as coagulants (alum. yang dipilih berdasarkan karakteristik bijih bauksit yang akan diolah. Bauxite upgrading can be carried out by washing and scrubbing. dan brookit. alumina. The alumina produced is processed into aluminum metal through electrolysis process called Hall-Heroult. hematite. hematit. sisanya dimanfaatkan untuk pembuatan bahan kimia. To produce 2 tons of alumina or 1 ton of aluminum metal need about 4-5 tons of bauxite in average. aluminium.6003373 e-mail : husaini@tekmira. antara lain koagulan (alum. rutile. goethite.

Proses Peningkatan Mutu Ada beberapa cara yang sudah umum diterapkan dalam peningkatan kadar bauksit.500.sebesar 3. 20 juta ton (USA).100.1. Berdasarkan data hasil karakterisasi.1 ton untuk memghasilkan 1 ton logam aluminium (Anonim. 12-30% H2O. Umumnya bauksit berukuran di bawah 2 mm. dan brookit (TiO2) (Anonim. 3. Dari percobaan yang telah dilakukan. 770 juta ton (India).4 milyar ton (Guinea).1 Scrubbing dan screening Proses scrubbing yang dikombinasikan dengan pencucian dan pengayakan untuk meningkatkan kadar alumina dalam bauksit merupakan cara yang sederhana dan cukup efektif yang sudah diterapkan secara komersial. sisanya dimanfaatkan untuk pembuatan bahan kimia. Hasil tambang tersebut selanjutnya diproses menjadi alumina berdekatan dengan lokasi penambangan. boehmite atau diaspore (AlOOH). beberapa di antaranya adalah cara washing & scrubbing. kemudian dibuat menjadi logam aluminium melalui proses elektrolisis Hall-Heroult. 2. 2 milyar ton (Jamaika). 720 juta ton (China). rutil. 2009d). pengayakan/klasifikasi. anatas. bauksit dari tambang terlebih dahulu ditingkatkan kadarnya. Penghasil bauksit utama dunia adalah Australia (lebih dari 40 juta ton/tahun). pemisahan dengan media berat. Venezuela. dan flotasi. 200 juta ton (Rusia).1 milyar ton. pemisahan dengan magnetik dan media berat serta flotasi. Brazil. Istilah bauksit diambil dari nama daerah pedesaan Les Baux-de-Provence dibagian selatan Perancis. atau dikapalkan ke pabrik peleburan ke berbagai negara di dunia. Cara ini relatif baik untuk meningkatkan kadar alumina. ilmenit (FeTiO3). kaolinit (H4Al2Si2O9).36 %. sekitar 4-5 ton bauksit dibutuhkan untuk memproduksi 2 ton alumina atau 1 ton sebagai logam aluminium. oleh karena itu produk hasil scrubbing dan pencucian yang diambil adalah fraksi ukuran di atas 2 mm.8 milyar ton (Australia). Alumina yang diperoleh dari proses Bayer. 320 juta ton (Venezuela). 2009c). Bauksit umumnya mengandung 45-60% Al2O3. dan berbagai macam pengotor antara lain adalah magnetit (Fe3O4). 7. 2002).1. Cara penambangan yang diterapkan di berbagai belahan dunia umumnya dengan sistem tambang terbuka (80%) dengan kapasitas produksi >100 juta ton bauksit tiap tahun.9 milyar ton (Brazil). PENDAHULUAN Bauksit merupakan bijih aluminium yang terdapat pada mineral gibbsite [Al(OH)3]. antara lain koagulan (alum.757 ton (terukur) yang tersebar di kepulauan Riau dan Kalimantan Barat. dan cadangan hipotetik sebesar 13. hematit (Fe2O3). siderit (FeCO3). Sebelum diekstraksi menjadi alumina. Surinam. Guyana). dan AlCl3). Peningkatan mutu (uggrading) bauksit yang dapat dilakukan tergantung dari karakteristik bauksitnya. 3. 2007b). diperoleh data bahwa bijih bauksit asal Kijang yang semula memiliki kandungan Al2O3 antara 40.843. Negara lainnya 4. pemisahan dengan magnetik. mengingat bauksit dari tambang memiliki ukuran butir yang bervariasi dan tiap fraksi ukuran memiliki komposisi kimia yang berbeda-beda. 680 juta ton (Suriname). India. Afrika (Guinea).000 ton (Bangka). Sekitar 95% bauksit dunia diolah menjadi alumina atau logam alumunium (Anonim. Berdasarkan data ratarata di dunia. Amerika Tengah dan Selatan (Jamaika. TEKNOLOGI PENGOLAHAN DAN PEMANFAATAN BAUKSIT 3. Rusia. Jumlah cadangan bauksit di beberapa Negara tersebut pada tahun 2001 diperkirakan sebesar 3. sisanya yang 20% dengan tambang bawah tanah sampai kedalaman 70 m dibawah permukaan tanah. gotit (FeO(OH)). Kazakhstan dan Eropa (Yunani).5048. bijih bauksit berukuran makin halus mutunya semakin rendah (kandungan pengotor semakin tinggi). Asia (Indonesia. PAC. sehingga total cadangan dunia sebesar 24 milyar ton (Wikipedia. China). Sedangkan jumlah cadangan bauksit di Indonesia sendiri sebesar 907. kadar aluminanya relatif rendah dan kandungan pengotornya relative tinggi. 3. cadangan tereka. beberapa di antaranya yang akan dibahas disini adalah scrubbing dan screening. (Husaini dan Wijayanti. METODOLOGI Untuk menyusun makalah ini. internet.000 ton (Bangka). maupun hasil penelitian yang dilakukan sendiri. Kemudian dari data yang terkumpul dilakukan evaluasi dan pembahasan yang akhirnya sampai kepada kesimpulan.1. metodologi yang digunakan adalah dengan cara melakukan survei literatur dari berbagai sumber antara lain hasil penelitian yang terkait dengan tema makalah baik di perpustakaan. 700 juta ton (Guyana). 2007b). setelah melalui scrubbing –screening 98 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . tempat pertama kali ditemukannya mineral ini oleh seorang ahli geologi bernama Pierre Berthier pada tahun 1821 (Wikipedia. 2009a). Di Eropa sendiri biasanya menkonsumsi bauksit rata-rata 4.

Salah satu produknya berupa material magnetik (besi oksida) yang memiliki kadar Fe 40%. Jadi kualitas (bauksit) setelah dipisahkan lebih baik dibandingkan sebelum dipisahkan yang mempunyai komposisi kimia awal Al2O3 48 % dan Fe2O3 15 % (Husaini dan Soenara. Dalam hal ini mineral besi (hematit) memiliki berat jenis sekitar 7. pengatur pH).82% dan penurunan kadar Fe2O3 sebesar 2. sementara produk kedua berupa material non magnetik yang mengandung silika yang tiggi (93% SiO2) yang pemanfaatannya sangat sesuai untuk konstruksi beton. Dari uji coba yang telah dilakukan terhadap tailing bijih bauksit (komposisi kimia 48.97 %. sedangkan bauksit yang berat jenisnya lebih rendah dari berat jenis bromoform akan mengapung. Perolehan alumina yang didapat dari proses scrubbing tersebut berkisar 82. dan regulator (activator.1.2 Pemisahan dengan magnetik Mineral-mineral bersifat magnetik seperti besi oksida yang terkandung dalam bijih bauksit ataupun tailing hasil ekstraksi bijih bauksit dapat dipisahkan dengan pemisah magnetik (magnetic separator). 3. Salah satu mineral yang memiliki komponen oksida besi adalah tailing hasil pencucian bauksit Pulau Kijang yang besarnya berkisar antara 9. Dari data hasil poercobaan dengan menggunakan bauksit berukuran -100+200 mkesh dan waktu pengendapan 20 menit menunjukkan adanya peningkatan kadar Al2O3 dan penurunan kadar Fe2O3 dibandingkan dengan keadaan kadar awalnya. Mineral yang lebih rendah berat jenisnya daripada berat jenis media berat (heavy liquid) akan terapung.41 % (Husaini dan Wijayanti. Sedangkan depres- Pengolahan dan Pemanfaatan Bauksit. 2007a).25 % dan Fe2O315 %.53-53. depressant. Husaini 99 . dengan menggunakan bromoform dengan berat jenis 2.35%.49 % Fe2O3). Cara lain untuk mendapatkan kadar bauksit yang memenuhi syarat dan konsisten adalah dengan mencampurkan (blending) bauksit kadar rendah yang sudah diolah dengan yang kadarnya lebih tinggi (Anonim. Perbedaan sifat permukaan suatu mineral dengan mineral lainnya dapat terbentuk dengan menambahkan zat aktif permukaan (kolektor). 2002).. bauksit 2.89 dan pengencer karbon tetra klorida 1.42-84. Dengan demikian hematit akan tenggelam karena berat jenisnya lebih tinggi dari berat jenis bromoform. Mineral yang terlapisi kolektor akan bersifat hidrofobik (suka udara) sehingga mudah menempel pada gelembung udara dan dapat diapungkan. 3.59).78-89. dengan kondisi pemisahan yang sama dihasilkan produk non magnetik (58 % berat) dengan kadar Al2O3 57. Produk yang ketiga terdiri dari campuran besi dan silika yang umumnya cocok untuk material pengisi. dan Fe2O3 9.98 % Al2O3 dan 11.yang didahului peremukan diperoleh produk dengan kadar Al 2 O 3 antara 50.65 dan media berat (bromoform 2. telah dihasilkan produk non magnetik (70% berat) dengan kadar Al2O3 53.34 % dan kadar Fe2O3 30.12 %.16.18 % dan kadar Fe2O3 7. sedangkan bagian yang tenggelam memiliki kadar Al2O3 sebesar 12. maksimum 3% silica reaktif dan maksimum 7% Fe2O3).7 %. Sebagai contoh.8 % dan Fe2O3 9. sehingga kadar alumina dalam bauksit yang mengapung meningkat. 3. 2007).1. Sedangkan untuk tailing bauksit berkadar Al2O3 42.93 . setelah dilewatkan pemisah magnetik pada kondisi 5 Am-1.05%.3 Pemisahan dengan media berat Prinsip pemisahan dengan media berat adalah dengan memanfaatkan perbedaan berat jenis mineral-mineral yang akan dipisahkan. yang sebelumnya dipanaskan pada suhu 450 o C. proses benefisiasi untuk peningkatan kadar alumina dalam bauksit juga dilakukan dengan cara peremukan yang dilanjutkan dengan pengayakan cara kering untuk menurunkan kandungan silikanya (Nandi. sebaliknya mineral yang lebih besar berat jenisnya akan tenggelam.1. Bahan kimia lainnya yang digunakan adalah pembusa (frother). Di India.8% (Husaini dkk. Penerapan teknologi pemisahan secara magnetik tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan dalam mengatasi permasalahan penumpukan red mud yang dihasilkan yang besarnya berkisar antara 40-50%) dari berat bijih bauksit yang diolah melalui proses Bayer. 2003). produk terapung memiliki kadar Al2O3 sebesar 55.67% (persayatan bahan baku untuk proses Bayer adalah di atas 51% Al2O3. Penggunaan pembusa adalah untuk menstabilkan gelembung udara supaya tidak mudah pecah. 2004).4 Flotasi Flotasi merupakan salah satu cara pemisahan yang memanfaatkan perbedaan sifat kimia-fisika permukaan dari berbagai macam partikel mineral.14 %. (2006) terhadap mineral red mud yang dihasilkan dari ekstraksi bijih bauksit dengan soda kostik pada kondisi intensitas rendah dan intensitas tinggi cara basah. ini berarti terjadi peningkatan kadar Al2O3 sebesar 4. Teknik pemisahan dengan magnetik ini telah dilakukan juga oleh Jamieson dkk.59.66% dan rasio konsentrasi 78.

Penelitian sejenis mengenai peningkatan kandungan diaspore dengan flotasi balik untuk memisahkan mineral pengotor juga dilakukan oleh Zhenghe Xu (2004). Kalau yang diapungkan mineral yang tidak dikehendaki prosesnya disebut flotasi balik (reverse flotation).25%. seluruhnya dihasilkan dengan memproses bauksit melalui proses Bayer. Kanji (starch) digunakan sebagai depressant dan ether-amine sebagai kolektor kationik. Penelitian mengenai penggunaan kolektor-kolektor yang efektif untuk pemisahan mineral pengotor (lempung) dan depressant untuk menekan diaspore asal China juga telah dilakukan. Pembuatan Alumina Hidrat/Alumina Alumina (Al2O3) adalah material halus berwarna putih mirip dengan garam (Anonim. Bahan yang diflotasi berupa tailing hasil proses scrubbing dan desliming yang kandungan kuarsanya relatif tinggi. (2) pemisahan dan pencucian pengotor yang tidak larut (red mud) untuk mendapatkan alumina terlarut dan soda kostik.ù-bis (dimethyl dodeculammonium bromide) dalam flotasi balik telah berhasil memisahkan mineral mineral kaolinit. (3) hidrolisis parsial larutan sodium aluminat pada suhu rendah untuk mengendapkan 100 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Penyerapan CPAM pada seluruh permukaan kristal diaspore mencegah spesi kation DDA untuk terserap pada permukaan diaspore. dodecyl trimethyl ammonium chloride (DTAC) atau dodecylguanidine sulfate (DDGS) adalah layak pada kondisi alkalin kuat.sant berfungsi untuk menekan agar mineral yang tidak diinginkan tidak ikut mengapung. dan titan. selanjutnya ditingkatkan lagi kadarnya melalui pemisahan secara magnetik menghasilkan kadar alumina 54%.5–8.6 dan total perolehan alumina dalam konsentrat akhir (produk non-magnetik) sebesar 69.72 dan perolehan Al sebesar 81. Konsentrat yang dihasilkan dari percobaan skala bench scale memiliki ratio Al/Si sebesar 9. Konsentrat bauksit yang mengandung mineral gibsit. 2007). (2008) untuk memisahkan mineral kaolinit. Hasil penelitian yang didapat menunjukkan peningkatan ratio alumina/silika dari <6 menjadi >10. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemisahan diaspore dari mineral-mineral alumino silikat dengan menggunakan kolektor kation dodecylamine chloride (DDAC). Lebih dari itu. 2009) menunjukkan bahwa penggunaan kolektor kationik (zat aktif permukaan) jenis butane-á. Hasil percobaan skala pilot pada kondisi pH optimum sekitar 10 menghasilkan konsentrat mutu metalurgi dengan kadar alumina 42. Flotasi balik juga berhasil dilakukan untuk memisahkan kaolinit dari diaspore dengan menggunakan kolektor dodecylamine (DDA) dan depressant cationic polyacrylamide (CPAM) pada pH 5. pemisahan cara flotasi terhadap beberapa mineral pengotor yang terkandung dalam bauksit (diaspore) yang dilakukan pada pH antara 9-10 menghasilkan seletifitas yang signifikan terhadap ilit. 3. (2008) telah melakukan penelitian yang inovatif mengenai peningkatan kadar gibsit dengan cara flotasi balik yang menghasilkkan bauksit jenis metalurgi. dkk. Ekstraksi bauksit secara komersial pertama kali dilakukan oleh Sainte-Claire Deville di Perancis tahun 1865. daya apung terhadap kaolin lebih baik daripada ilit dan piropilit dalam selang pH tertentu. piropilit dan ilit dari diaspore.. 2007). Ketiga jenis kolektor tersebut menunjukkan selektifitas yang tinggi terhadap diaspore. Massola dkk. Reaksi kesetimbangan mengarah ke kanan dengan meningkatnya konsentrasi soda kostik dan suhu. sehingga diaspore dapat ditekan (tidak ikut mengapung). Total produksi alumina dunia sebesar 40 juta ton pada tahun 1995. dan DDGS merupakan kolektor terbaik dibandingkan dengan DDAC dan DTAC dalam memisahkan mineral alumino silikat. ratio alumina/silika 12.3% dan ratio alumina/silika sebesar 11. Pengaruh gugus kationik dari kolektor rantai karbon 12 (12-carbon chain collectors) telah diteliti oleh Hong Zhong. Alumina dapat diperoleh dari ekstraksi bauksit dengan soda kostik. Kemampuan adsorpsi grup kation CPAM pada permukaan kaolinit yang bermuatan negatif diperlemah oleh induksi dan efek sterik senyawa metil dalam gugus CH2N+(CH3)3 yang membuat CPAM memiliki pengaruh yang kurang signifikan pada adsorpsi DDA pada permukaan kaolinit. dkk. piropilit dan kaolinit. tetapi cara ini tidak digunakan lagi setelah ditemukan proses baru (Bayer) oleh ahli kimia Austria tahun 1887. Operasi berikut dilakukan secara berurutan yaitu (1) pelarutan alumina pada suhu tinggi.1. Bila ditambahkan depressant kanji (corn starch).5 (Guangyi Liu.2. Kolektor jenis dimer tersebut menunjukkan daya pengumpul yang lebih baik dibandingkan kolektor jenis monomernya. piropilit dan ilit dari bauksit jenis diaspore. Hal ini dilakukan agar bauksit yang sebelumnya mengandung alumina yang rendah dapat ditingkatkan kadarnya sampai memenuhi syarat sebagai bahan baku untuk proses Bayer. Hasil penelitian lainnya (Liuyin Xia. besi.3%. Proses Bayer merupakan cara yang paling ekonomis yang memanfaatkan reaksi antara alumunium trihidroksida dan aluminium oksida dengan soda kostik membentuk sodium aluminat.

Cryolite sintetik umumnya dibuat dari asam florida dan sodium aluminat (hasil proses Bayer) dengan persamaan reaksi sbb (Anonim. Selain itu telah dibuat juga tawas butek [Al 2 (SO4 ) 3.8 (untuk alum komersial rationya 34-35) dan bauksit dengan kadar A12O3 62.71 %. Dua jenis bauksit Kijang dengan komposisi Al2O3 42. Pembuatan Koagulan 3. Penelitian yang telah dilakukan oleh Acquah.00 % dan Al2O3 48.alumunium trihidrat. 3. (4) regenerasi larutan untuk didaur ulang ke tahap (1) dengan penguapan air yang dimasukkan saat pencucian. Fe2O3 15.Na3AlF6). Produk antara ini kemudian dibentuk di pabrik pemrosesan yang mengubah aluminum menjadi produk akhir (consumer products).4.49 % digunakan untuk uji coba tersebut. Produk tawas butek yang dihasilkan mempunyai kadar Al2O3 9. Lelehan aluminium selanjutnya dicetak menjadi ingots. Fe2O3 11. suhu 100°C.25 %. Penelitian pembuatan alum dari bauksit berukuran -100 mesh dengan menggunakan asam sulfat konsentrasi (30-40 %) di dalam reaktor berpengaduk pada suhu 100 o C dan lama pengadukan sekitar 60 menit juga telah dilakukan oleh Husaini (2007).2 Dari alumina hidrat Alumina hidrat [Al (OH)3] dapat dibuat menjadi tawas [Al2(SO4)3] maupun poly aluminium chloride (PAC). rolled into sheets. 3. waktu pelarutan.92-11.04% lolos100 mesh. Secara umum sekitar 1 ton alumina dapat dihasilkan dari 2 ton bauksit. Kristal yang terbentuk dipisahkan dari filtrat yang masih tersisa.1 Dari bauksit (asli/bauksit tercuci/ tailing) Semua mineral yang mengandung unsur aluminium termasuk bauksit dapat digunakan untuk pembuatan koagulan (alum. bars.4 %. (Acquah. PAC dll).5-2. konsentrasi asam 40 %. maka alumina akan meleleh dan tereduksi menjadi logam aluminium yang dikenal sebagai proses Hall-Héroult.98 %. 3. 2009a) : 6 HF + 3 NaAlO2 Na3AlF6 + 3 H2O. Reaksi kimia yang terjadi adalah sebagai berikut: Al2O3 + 3H2SO4 Fe2O3 + 3H2SO4 Al2 (SO4) 3 + 3H2O Fe2 (SO4) 3 + 3H2O Gas asam florida umumnya dibuat dari acid-grad fluorspar dan asam sulfat dengan reaksi sbb : CaF2 + H2SO4 2 HF + CaSO4 Pada proses elektrolisis ini oksigen yang terikat pada alumina bereaksi dengan elektroda karbon menghasilkan gas karbon dioksida dan logam aluminium. nisbah padatan dengan larutan.55 % dan Fe2O3 2-2.5 g/ml).4. Sedangan tawas bening yang dihasilkan mempunyai kadar Al2O3 9.3% dan Fe2O3 3% adalah cocok untuk pembuatan alaum.49-12. Pada kondisi optimum ini ratio alumina yang didapat sebesar 34. suhu pelarutan. 1999). Setiap ton aluminium membutuhkan 0. Husaini 101 . dan (5) mengubah trihidroksida menjadi alumina anhidrat melalui kalsinasi pada suhu 1450 oK (Anonim. Hasil ekstraksi ini berupa lumpur yang mengandung larutan aluminium sulfat yang masih bercampur dengan senyawa besi dan residu yang tidak larut. dan ukuran butir bauksit. dan suhu 100oC. atau rod. Larutan hasil reduksi selanjutnya ditambah amonia (kadar 21 %) menghasilkan kristal berupa garam rangkap [Al2(SO4)3 (NH4)2SO4xH2O] dengan kadar Al2O3 antara 11-14 %. nisbah padatan dengan larutan 1:12.5 ton anoda karbon.4. nisbah asam 1:4. Hasil pelarutan bauksit dengan asam sulfat mencapai persen ekstraksi Al 2O 3 dan Fe 2 O 3 tertinggi masing-masing sekitar 99 % dan 65 % pada ukuran butiran 87. dkk. Larutan yang sudah dipisahkan dari residunya. foil.53 % dan Fe2O3 0. waktu 6 jam. atau dengan mereaksikan asam florida dengan soda kostik dan alumina dengan reaksi sbb : 12 HF + 6 NaOH + Al2O3 2 Na3AlF6 + 9 H2O (1999) menghasilkan kondisi optimum sebagai berikut: ukuran partikel 7+14 mesh. plates.3. lama pelarutan 1 jam. kemudian direduksi dengan logam Al sambil dipanaskan sampai terjadi perubahan warna dari coklat menjadi hijau muda dengan densitas tertentu (1. 2009a). Dalam pembuatan koagulan ini ada beberapa parameter yang berpengaruh di antaranya adalah konsentrasi asam. x H 2O] setelah besi dalam larutan diturunkan terlebih dahulu dengan penambahan larutan Na2S. Pembuatan Logam Aluminium Bila alumina (Al2O3) yang diperoleh dari proses Bayer tersebut dipanaskan lebih lanjut sampai suhu 1000 °C dengan bantuan bahan pelebur (cryolite . Pembuatan tawas dari alumina hidrat Pengolahan dan Pemanfaatan Bauksit. Proses ini mengkonsumsi energi sangat tinggi.40. dkk.

0.040% CaO. Di sektor pengepakan. 0.0050. besi klorida.001-0. Bila diinginkan produk berupa bubuk. pengepakan. aluminium digunakan dalam bentuk kawat yang diperkuat dengan baja membentuk kabel listrik.. alumina hidrat direaksikan dengan asam klorida dan asam sulfat sampai alumina hidrat larut sempurna.7% Al2O3 (by diff. untuk membuat produk pengepak seperti karton untuk jus buah-buahan dan obat-obatan. dan pesawat terbang.010% ZnO. fero sulfat. Sedangkan dalam pembuatan PAC. < 0. Di sektor konstruksi. katalis. ampelas (abrasive) dan refraktori. pabrik petro kimia.20% SO3. tanpa proses penyaringan.050. marmer sintetik. <0. zeolit sintetik. Kemudian ke dalam campuran ditambahkan kapur untuk menurunkan pH sampai 4.. dan listrik (Anonim. dan poli aluminium silikat sulfat (PASS). Tundishes.4.2.50% Na2O. Open Hearth.30-0. dan Aluminum. 2009). 0.35% SO4. Alumina Alumina merupakan produk komoditas yang dapat digunakan antara lain untuk (Steven dkk. jendela dan pintu dan dicetak menjadi peralatan keras (builders’ hardware). <0. rel kereta api. dilanjutkan dengan penyaringan. keramik.).0001-0. Alumina Hidrat Alumina hidrat dapat digunakan untuk pembuatan berbagai jenis bahan kimia antara lain tawas. Cement. 4.015% Ga2O3. Alumina dapat juga dijadikan bahan kimia (aluminium sulfat. maka semakin tinggi kandungan aluminanya. 4. Bauksit Asli/Bauksit Tercuci Secara tradisional. 1998. aluminium digunakan dalam bentuk lembaran paduan untuk kaleng minuman.003% V2O5. karena tidak dihasilkan residu sebagaimana yang diperlihatkan dalam pelarutan bauksit.3-99.ini prosesnya sederhana yaitu dengan melarutkan alumina hidrat dengan asam sulfat pada suhu 100°C sampai larut sempurna. 102 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .001-0. aluminium fllorida. 9% Cl. <0. Bauksit dapat digunakan untuk pembuatan berbagai jenis bahan kimia antara lain alumina hidrat. Anonim 2007a): Aluminium merupakan salah satu logam yang sangat penting dan digunakan secara luas di sektor transportasi. Electric Arc furnaces. 4. 1998) adalah 99. AlCl3. Di sektor listrik. dan proses pengolahan gas alam. Torpedo Cars. bahan abrasif. 2009b): Di sektor transport. aluminium digunakan dalam bentuk produk lembaran untuk atap dan dinding. poli aluminium klorida (PAC). Logam Aluminium Proses pemanasan larutan dilanjutkan untuk menguapkan air sampai berat jenis tertentu. aluminium digunakan dalam kendaraan bermotor (blok mesin. Komposisi tipikal alumina (Steven dkk. Soaking Pits. refraktori. semen. <0.008% TiO2. Penemuan produk khusus yaitu alumina aktif yang digunakan untuk menghilangkan kontaminan dari proses pengilangan minyak. dan panel bodi).025% SiO2. Kadar alumina dalam tawas tergantung pada kadar air yang terkandung.005-0. 0. aluminium klorida). lembaran untuk keperluan rumah tangga dan pembungkus komersial. dan logam aluminium (Patricia. rumah tranmisi. PENGGUNAAN BAHAN BERBASIS ALUMINA 4. <0. 4. truk dan bus (lembaran dan plat untuk bodi). Larutan jernih hasil penyaringan ini merupakan PAC cair yang spesifikasinya adalah sbb: 12% Al2O3.020% Fe2O3. pasta gigi. kepala silinder.1.005-0. Iron/Steel Ladles. penghambat kebakaran (fire retardant).005-0. Persamaan reaksi kimia yang terjadi adalah sbb : 2Al (OH)3 + 3H2SO4 Al2 (SO4) 3 + 6H2O Bahan baku proses elektrolisis Hall-Heroult untuk memproduksi logam Al Pembuatan bahan kimia tertentu seperti :busi (spark plugs). semen. konstruksi. bauksit digunakan untuk pembuatan Blast Furnaces. Alcoa melaporkan penemuan bubuk alumina spesial untuk sistem pembuangan otomatis (auto exhaust system) dan ampelas halus (fine abrasives). kemudian didinginkan sampai mengkristal. tawas. dan refraktori. alumina.0015% P2O5.3. maka PAC cair dikeringkan dengan menggunakan spray drier pada suhu tertentu.0010. 1. Reheat/Soaking Pits. alum. semakin rendah kadar air kristalnya.

Pengurangan Kadar Besi Dalam Bauksit P. Husaini 103 . Uses of bauxite. Hong Zhong. School DAFTAR PUSTAKA Anonim. Technology Delivery Group. Bauxite Mineral. Kwinana. WA 6966. http:// www. China. 2007. China. Penelitian Pendahuluan Pembuatan Tawas dari Bauksit Kijang. Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara. Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara. Husaini dan Wijayanti. Box 161. 2009b.. http:// www. Changsha 410083. Sudirman No. konstruksi. 2008.Accra.att.htm. May 1999.net/africantech/GhIE/Awaso 1.. pengepakan.. aluminium and bauxite. Bauxite – Wikipedia. Production of Alum From Awaso Bauxite. Shenggui Zhao and Xinyang Yu.. diakses 17 Juni 2009 Anonim. Stockton. Guangyi Liu. Yiping Lu. Jones. dan Tayan (Kalimantan Barat) yang jumlahnya tidak kurang dari 900 juta ton. Husaini dkk. Alumina.CSIR. diakses 17 Juni 2009 Anonim. School of Minerals Processing and Bioengineering. Husaini. 2009c. 2007a. the free encyclopedia. http://www.com/suppliers asp?. WA. E. 2007. P. Mensah B. Central South University. PR China. bauxite Supplier. Ghana. Bauksit tercuci dapat dikonversi menjadi alumina melalui proses Bayer dan bila diolah lebih lanjut dengan cara elektrolisis menghasilkan logam aluminium yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan di antaranya di sektor transportasi.com. Hong Zhong. Guangyi Liu. Institute of Minerals Processing and Bioengineering. dan listrik. Proses peningkatan kadar yang dapat digunakan ada beberapa macam antara lain scrubbing. Perth. published in the Ghana Engineer. Laporan Kegiatan Proyek Kelompok Program Teknologi Pengolahan Mineral. Australia. Jamieson. 2008.kuleuven. Kijang Dengan Cara Pemisahan Menggunakan Media Berat (Heavy Media Separation). Jend.qal.be/Education/ N o n M a t I r C o u r s e s / M a t / 5 c%20aluminium. Central South University.ac. Flotation separation of the aluminosilicates from diaspore by a Gemini cationic collector. Peningkatan Kualitas Bauksit dari Pulau Kijang dengan Magnetik Separator Cara Basah. htm. Flotation separation of diaspore from kaolinite. D. Alumina Process. R. 2009d. Bahan Galian Industri. diakses 30 April 2007 Anonim. tersebar di Kijang (Riau). http:/ /home. Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral. Changsha 410083. diakses 17 Juni 2009 Anonim.O. Aluminium. 2007. Curtin University of Technology. Liuyin Xia. 2006. namun yang sudah diterapkan di Indonesia sampai saat ini hanya dengan cara pencucian dan scrubbing diikuti pengayakan dengan ukuran produk + 2 mm. htm.doc.. School of Chemistry and Chemical Engineering.The European Aluminium Association. The role of cat- Pengolahan dan Pemanfaatan Bauksit.5.azon. Pusltbang tekMIRA Jl. Hong Zhong. PR China. Changsha 410083. Balitbang energi dan sumberdaya mineral.. Alcoa World Alumina. Pemilihan cara pengolahan tersebut tergantung pada karakteristik (di antaranya kandungan mineral pengotor) bijih bauksit yang diolah. Institute of Chemistry and Chemical Engineering. Obeng Y. Yuehua Hu. Central South University. pemisahan dengan magnetik dan media berat serta flotasi. 2003. Institute of Industrial Research. Peningkatan Kadar Bijih Bauksit Kijang Dan Tayan Dengan Metode Scrubbing. 2009. KESIMPULAN Potensi cadangan bauksit di Indonesia relatif besar. Changsha 410083. 2009a. Liuyin Xia. Zhiqiang Huang and Qingwei Chang.mtm. Magnetic separation of Red Sand to produce value. ionic polyacrylamide in the reverse flotation of diasporic bauxite. diakses 17 Juni 2009 Acquah F. Central South University. diakses 30 April 2007 Anonim. 623 Bandung. A. 2002. Yuehua Hu. Cooling and N. 2007b. Shenggui Zhao and Liuyin Xia. Bauxite Information. Husaini dan Trisna Soenara. Guangyi Liu. Australia.au/. pyrophyllite and illite using three cationic collectors.

tms. J. MG. 536 Chemical-Mineral Engineering Building. 16.. Alta. C.pdf?OpenElement. MFC Commodities India 104-B. bSchool of Chemical Engineering and Technology. 2373. Companhia Brasileira de Alumínio. Nandi..gov/minerals/pubs/commodity/bauxite/090495. Farrar. Lima.. Present Status Of BauxiteAlumina Industry Of India.org/ezMerchant/ prodtms. Edmonton.F. A. Fazenda Chorona. USP. Brazil. Zhenghe Xu.. Amravati Road Nagpur-440033. Canada T6G 2G6.P. University of Alberta. 05508-900 SP. aDepartment of Mining and Petroleum Engineering–Escola Politécnica. diakses Juni 2009. Recent advances in reverse flotation of diasporic ores– –A Chinese experience. and Andrade. Hindustan Colony.B. Bauxite And Alumina.P. Mello Moraes Av. Patricia A. Plunkert. Steven F. Separation of silica from bauxite via froth flotation. PR China. 1998. Miraí 36790-000. Changsha. McGrath and Lawrence C. http://minerals. Sonochemical Technology for Processing Bauxite. Miraí Department.usgs. Suraksha Apartments. 2004. 410083.. Tianjin 300072. Brazil. Chaves. 104 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . K. 2009. Verne Plitt and Qi Liu. A. Tianjin University.nsf/ProductLookupItemID/JOM-980534/$FILE/JOM-9805-34F.R. Massola. Central South University. http://doc. 2008.pdf. Minerals and Metals Division. INDIA. Prof. Department of Chemical and Materials Engineering.of Chemistry and Chemical Engineering. C. PR China. 2004.

PRESENTASI MAKALAH PARALEL III .

go.. (022) 6030843 Faks. Kondisi ini telah melewati baku mutu yang diperbolehkan dalam (Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air Kelas II dan KEP202/MENLH/2004 tentang Baku Mutu Limbah Bagi Kegiatan Pengolahan Bijih Emas dan/atau Tembaga.go. Tetapi kadar merkuri di sedimen itu dapat meningkat seiring turunnya merkuri di air ke dasar sungai.01 . Jend. dan hilir.esdm.20 ppm di semua lokasi penelitian belum melewati ambang batas aman terhadap racun yang ada (sesuai Washington state Sediment. DAERAH TANOYAN SELATAN) M.0. Di Kecamatan Lolayan. M. Dampak negatif kegiatan pengolahan tailing amalgamasi dengan cara sianidasi diamati melalui kondisi kualitas perairan dan sedimen disekitar lokasi pengolahannya. tailing. (022) 6003373 e-mail : lutfi@tekmira.esdm.. Kabupaten Bolaang Mongondow. sehingga produk yang dihasilkan sangat rendah dan dapat menimbulkan pencemaran yang tinggi. proses yang berlangsung merupakan gabungan dari proses amalgamasi dan sianidasi. merkuri. pertambangan emas rakyat Karakteristik Merkuri dalam Sedimen dan Air pada Pengolahan .0.id SARI Pengolahan bijih emas pada pertambangan emas rakyat umumnya dilakukan dengan proses amalgamasi menggunakan merkuri (Hg).034 mg/L) pada semua lokasi penelitian yakni di daerah hulu.17 . Lutfi dan Retno Damayanti 105 . Lutfi dan Retno Damayanti Psat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. yakni mengolah tailing yang berasal dari proses amalgamasi dengan cara sianidasi.KARAKTERISASI MERKURI DALAM SEDIMEN DAN AIR PADA PENGOLAHAN TAILING AMALGAMASI DI KEGIATAN PERTAMBANGAN EMAS RAKYAT SECARA SIANIDASI (STUDI KASUS KUD PERINTIS. amalgamasi. tambang emas skala kecil yang dikelola KUD Perintis mengalihkan proses pengolahan emas dari secara amalgamasi cara sianidasi untuk meningkatkan perolehan bijihnya. WAC 172 – 204 – 320). Pada saat ini. outlet pengolahan. Propinsi Sulawesi Utara. retnod@tekmira. Kata kunci : pertambangan rakyat. Konsentrasi Hg di air berkisar antara (0.id. Sudirman 623 Bandung 40211 Telp. Konsentrasi Hg pada sedimen yang berkisar pada 0. Kurangnya pengetahuan dan keterampilan para penambang emas rakyat menyebabkan limbah tailing dari bijih emas berbentuk halus yang masih mengandung emas dan bulir Hg langsung dibuang ke perairan.

The negative impacts of cyanidation process to the amalgamation tailing was conducted by observe the water quality and its sediment surrounding the processing area.17 0. 1987) pembangunan berkelanjutan didefinisikan sebagai “pembangunan yang mengusahakan dipenuhinya kebutuhan sekarang tanpa mengurangi kemampuan generasi yang akan datang untuk memenuhi kebutuhan mereka” (www.com). Mercury concentration in the sediment found in the range of 0. Merkuri (Hg) yang dipakai dalam pengolahan ini termasuk dalam kategori B3 (Rachmat Yusuf. cyanidation. But sometimes they were combined both of the two methodes by processing the amalgamation tailing with cyanidation methode. Dalam laporan Komisi Sedunia tentang Lingkungan dan Pembangunan (WCED. Pb. pengolahan bijih emas dilakukan melalui proses amalgamasi dengan merkuri (Hg) sebagai media untuk mengikat emas. 2004).0. PENDAHULUAN Salah satu tujuan pembangunan nasional yang berwawasan lingkungan adalah terciptanya keserasian hubungan antara manusia dengan lingkungan alam sekitarnya dengan cara pembangunan yang berkelanjutan. gold artisanal mining 1. Oleh karenanya pengelolaan bahan galian harus diupayakan secara optimal sesuai denganazas konservasi dan berwawasan lingkungan dengan menekan dampak negatif yang ditimbulkan seminimal mungkin. miners usually dispose tailing that contains gold and mercury directly to the water. Due to the lack of skill and knowladge. menyebabkan limbah yang berupa ampas pengolahan (tailing) yang dihasilkan masih mengandung emas dan butir-butir Hg yang biasanya langsung dibuang ke perairan. WAC 172-204-320). sehingga diperkirakan bahaya yang ditimbulkan akan lebih tinggi. Mercury concentration in water was found in the range of 0. Zn. Adanya interaksi ion Hg dengan CN akan mempermudah kelarutan. Proses sianidasi untuk tailing pengolahan dipakai untuk meningkatkan perolehan produknya. 82/2001 about Water Quality Assessment and Water Pollution Handling Class II and in the Decree of Environment Ministry KEP-202/MENLH/2004 about Waste water standard for Gold/Copper Processing.034 mg/L. North Sulawesi. Kurangnya pengetahuan dan keterampilan para penambang.20 ppm in all sampling location. Secara umum proses sianidasi pada pengolahan bijih emas pada pertambangan emas rakyat dilakukan pada kondisi basa. penyebaran dan termetilasi (pembentukan metil-Hg). At Lolayan in the Bolaang Mongondow district. Sebagai akibatnya. Those happened in almost entire waters from upstream to downstream. Of course it will produce low gold recovery and cause high risk in environmental pollution. seperti Cu. Unfortunately. Sebagai contoh. tailing.fathom.ABSTRACT Artisanal gold mine generally proceeds in amalgamation process. menimbulkan juga dampak negatif karena tailing amalgamasi masih mengandung merkuri dan logan ikutan lainnya. perolehan hasil akhir (produk) yang didapat sangat rendah. the small scale goldmining whichmanaged by KUD Perintis change gold processing from amalgamation to cyanidation methode to improve gold ore receipt. Usaha pertambangan oleh sebagian masyarakat sering dianggap sebagai penyebab kerusakan dan pencemaran lingkungan. Namun proses sianidasi ini. pada kegiatan usaha pertambangan emas skala kecil. Berdasarkan kenyataan tersebut. Meskipun sebagian besar sianida dalam proses pengolahan ini dapat dimanfaatkan kembali. tambang rakyat di Sulawesi Utara mengubah sistem pengolahannya dengan menggunakan proses sianidasi baik untuk mengolah bijihnya ataupun ampas pengolahannya yang masih mengandung emas.01 . air larian dari penyaringan kompleks emas sianida masih tetap mengandung senyawa beracun ini meski dalam 106 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . the mercury concentration has exceeded the standard mentioned in Government Regulation No. These are still in the permitted concentration range (based on Washington state Sediment. But mercury concentration could become increased as the mercury Keywords : amalgamation.

Bulion tersebut selanjutnya direaksikan dengan aqua regia untuk memisahkan emas dan peraknya.. abu hasil penggarangan ditambah boraks dan digarang lagi untuk menghasilkan bulion emas dan perak. Disamping itu akan diamati pula kandungan logam-logam berat lain yang terdapat dalam batuan pembawa bijihnya serta karakteristik sedimen pada kolam pengendapan pada proses sianidasi..emas dan membuang tailingnya. Setelah proses pelindian selesai. biasanya hasil tailing proses amalgamasi diproses lagi guna meningkatkan perolehan bijih. Berbeda dengan kontaminasi yang umumnya terjadi di lingkungan. M.stamp mill. Pada kegiatan tambang rakyat yang dilakukan di KUD ini. Di samping itu apabila kreativitas rakyat dalam mengkombinasikan proses amalgamasi dan sianidasi tidak dapat terkontrol diperkirakan akan terjadi pula peningkatan dalam jumlah merkuri yang ikut terlarutkan. Tailing Amalgamasi Tanki Penampungan crusher. Dampak pemakaian sianida pada kegiatan pengolahan emas di tambang-tambang rakyat diperkirakan akan lebih serius mengingat senyawa sianida tersebut mampu melarutkan logam-logam lain yang terdapat di dalam batuannya. Tahapan-tahapan proses pengolahan dengan sistem sianidasi dapat dilihat pada Gambar 1. Lutfi dan Retno Damayanti 107 .jumlah yang relatif sedikit. penurunan kualitas air permukaan yang disebabkan oleh adanya logam-logam berat terlarut akibat proses sianidasi merupakan parameter yang akan dominan diamati. Parameter CN total yang berasal dari perairan dan kolam pengendapan akan ditentukan pula. Karbon aktif hasil penyaringan tersebut digarang (roasted) sampai menjadi abu untuk menghilangkan senyawa sianidanya. Diagram alir proses pengolahan bijih emas sistem sianidasi Karakteristik Merkuri dalam Sedimen dan Air pada Pengolahan . Penelitian ini hendak melihat karakteristik merkuri yang berasal dari tailing amalgamasi yang diolah dengan cara sianidasi. dilakukan dengan proses penyaringan (screening) untuk memisahkan karbon aktif yang telah menyerap kompleks sianida . ball mill Larutan NaCN Kapur Reaksi yang terjadi: 2 Au + 4 NaCN + 1/2 O + H O  2 NaAu(CN) + 2 NaOH Tanki Reaktor Sianidasi Karbon Aktif Screen (penyaring) Tailing Karbon aktif yang  menyerap kompleks  emas dan sianida Roasting (penggarangan)   Settling Pond (kolam pengendap) Roasting (penggarangan) Bullion Emas dan Perak Gambar 1.

Untuk merkuri diberikan penambahan pengawet HNO3 dengan pH <2 yang dapat bertahan hingga 6 bulan. kan peralatan pH meter (water quality checker).2. sedangkan analisis yang digunakan untuk logam berat dengan metode AAS. Parameter kimia lain seperti merkuri dan logam-logam terlarut ditentukan dengan Atomic Absorption Spectrometer. Untuk keperluan analisis laboratorium. Peta kesampaian daerah Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan survey langsung (Grounded checking). Titik-titik lokasi tersebut ditampilkan pada gambar 2. 108 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Lokasi pengambilan conto air ada di 3 tempat. yaitu di hulu pengolahan. meliputi. yang meliputi pengambilan contoh air dan sedimen. Sulawesi Utara. METODOLOGI Lokasi Penelitianterletak di daerah Tanoyan. air. penyimpanan contoh dilakukan dalam wadah contoh bervolume 500 mLyang terbuat dari plastik. Lokasi penelitian terletak + 240 km dari Kota Manado atau 30 km dari Kota Kotamobagu (gambar 2). Penyaringan dibantu dengan pompa vacuum untuk mempercepat proses. dan hilir pengolahan. sedimen. dapat membuat contoh bertahan hingga 7 hari. conductivity meter. lokasi pengolahan. Lokasi ini dipilih berdasarkan pertimbangan bahwa daerah ini merupakan salah satu daerah tambang rakyat yang dikelola oleh KUD Perintis yang mengolah bijih emas dan tailing amalgamasi dengan proses sianidasi. Parameter tertentu seperti pH dan Daya Hantar Listrik ditentukan langsung di lapangan dengan mengguna- Untuk parameter logam. Kabupaten Bolaang Mongondow. conto bijih. Pada lokasi pengolahan dilakukan pengambilan contoh di 4 kolam pengendapan. volume conto yang diperlukan adalah sebanyak 100 mL untuk merkuri. Conto yang akan dianalisis disaring terlebih dahulu untuk menghindari suspensi yang terlarut. ampas. Metode Pengambilan Conto yang dilakukan. Gambar 2.

Pengambilan conto sedimen dilakukan secara grab sampling dengan menggunakan sekop pada lokasi pengambilan air dan di salah satu mulut tambang. Conto yang diambil masing-masing ± 1 kg, kemudian dimasukkan ke dalam kantung plastik berlabel. Adapun parameter-parameter yang dianalisis di laboratorium adalah merkuri (Hg) dan logam-logam berat lain seperti Pb, Cu dan Zn.

3. 3.1.

HASIL DAN PEMBAHASAN Kualitas Air (Air Sungai)

Kualitas air merupakan hal yang paling pokok dalam kegiatan ini karena air (sungai) merupakan tempat bercampurnya faktor-faktor alami dengan unsur-unsur pencemar dan air juga merupakan unsur esensial yang dibutuhkan oleh makhluk hidup dalam kehidupan kesehariannya (UNEP,

Gambar 3. Peta lokasi pengambilan contoh

Tabel 1. Koordinat lokasi pengambilan contoh No. 1 2 3 Lokasi Hulu Pengolahan Hilir Titik LU 124° 15’ 40,22" 124° 15’ 05,27" 124° 16’ 23,34" BT 0° 36’ 28,47" 0° 36’ 27,83" 0° 36’ 2,81"

Karakteristik Merkuri dalam Sedimen dan Air pada Pengolahan ... M. Lutfi dan Retno Damayanti

109

1991). Sehingga dapat dikatakan badan air merupakan tempat interaksi langsung antara unsur hayati dengan unsur pencemar. Secara alamiah sungai mempunyai kemampuan dalam pembersihan diri (self purification) sepanjang buangan yang diterima sungai tidak melebihi kapasitas asimilasi sungai (assimilative capacity). Sementara, dalam kurun waktu cukup lama, unsur merkuri yang terbuang ke sungai kemungkinan dapat menjadi senyawa metil merkuri yang berbahaya melalui proses yang terjadi secara alamiah.Hasil pengukuran parameter fisik air di lapangan (pH, temperatur, DHL, TDS, dan TSS) dapat dilihat pada Tabel 2 di bawah.

Analisis laboratorium conto air untuk logam berat ditentukan dengan metode spektrofotometri. Kegiatan tersebut digunakan untuk mengetahui perubahan-perubahan yang telah terjadi di daerah sekitar penambangan khususnya dan daerah Tanoyan Selatan, Kecamatan Lolayan sebagai akibat adanya pertambangan bijih emas dengan sebagian besar hasil pengolahan limbahnya dibuang ke anak sungai Onggak. Hasil analisis laboratorium conto air dapat dilihat pada tabel dibawah ini. Menurut data kualitas air yang diperoleh, diketahui kadar merkuri (Hg) di semua lokasi percontoan

Tabel 2. Parameter fisik contoh air di lokasi pengolahan dan sungai di sekitarnya No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Lokasi Air bor dapur Kolam pengolahan 1 Kolam pengolahan 2 Kolam pengolahan 3 Kolam pengolahan 4 Outlet pengolahan bijih Hulu Sungai Tanoyan Outlet pengolahan keseluruhan Hilir pH 8,34 8,37 6,35 8,56 2,85 8,2 8,34 8,12 8,37 TDS 160 500 390 250 670 210 160 190 180 Suhu [°C] 30,2 29,3 31,4 31,1 27,2 24,8 27,3 28,3 DHL [µmhos] 852 648 391,4 989 312 245,7 337 267,8 TSS [mg/L] 4.8 88 208 743 108.8 18 42 4.8

Tabel 3. Hasil analisis sianida dan logam-logam berat dalam contoh air di lokasi pengolahan dan sungai di sekitarnya No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Lokasi Air bor dapur* Kolam pengolahan 1 Kolam pengolahan 2 Kolam pengolahan 3 Kolam pengolahan 4 Outlet pengolahan bijih Hulu S. Tanoyan** Outlet pengolahan keseluruhan*** Hilir S. Tanoyan (Hulu S. Onggak)** Baku Mutu* Baku Mutu** Baku Mutu *** CN Total [mg/L] 0,058 86,400 3,920 21,700 2,170 16,700 0,066 7,960 0,019 0,1 0,02 0,5 Hg [mg/L] 0,055 0,17 0,16 0,17 0,15 0,20 0,024 0,010 0,034 0,001 0,002 0,005 Pb [mg/L] 0,110 0,068 0,073 0,110 0,170 0,097 0,089 0,083 0,110 0,05 0,03 1 Cu [mg/L] 0,002 8,110 26,200 4,790 1,490 3,230 0,150 0,042 0,0160 1 0,02 2 Zn [mg/L] 0,073 0,550 0,055 0,033 0,080 0,068 0,048 0,030 0,023 5 0,05 5

Catatan: * Peraturan Menteri Kesehatan RI No.: 416/MENKES/PER/IX/1990 tentang Daftar Persyaratan Kualitas Air Minum ** Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air Kelas II *** KEP-202/MENLH/2004 tentang Baku Mutu Limbah Bagi Kegiatan Pengolahan Bijih Emas dan/atau Tembaga

110

PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009

(hulu dan hilir sungai Tanoyan serta outlet pengolahan keseluruhan) sudah melebihi baku mutu yang ditentukan. Bahkan pada daerah hulu, dimana badan air belum mendapatkan masukan dari proses pengolahan maupun proses penambangan, kadar merkuri pun sudah diatas baku mutu. Hal ini dapat terjadi karena adanya proses amalgamasi oleh penambang-penambang lain di luar KUD yang menggunakan merkuri di daerah sungai yang lebih tinggi dan/atau adanya susunan batuan yang mengandung merkuri (Tabel 4 hasil analisis batuan asal) di daerah penelitian.

sebelum masuk kolam pengolahan (outlet pengolahan bijih) adalah 0,2 mg/L, dan setelah melewati 4 kolam pengolahan turun hingga 0,01 mg/L atau turun sebanyak 0,19 mg/L. Kadar merkuri di daerah hilir lebih tinggi dibandingkan dengan daerah outlet pengolahan menandakan adanya penambahan merkuri yang mungkin berasal dari kegiatan di sekitar sungai tersebut meskipun pemerintah daerah sudah melakukan berbagai pembatasan. Kadar sianida yang berada diatas baku mutu terdapat di daerah/area pengolahan, hal ini

Tabel 4. Hasil analisis sedimen pada kedalaman 0 – 10 cm dan batuan No. 1 2 3 4 5 6 7 8 Lokasi Kolam pengolahan 1 Kolam pengolahan 2 Kolam pengolahan 3 Kolam pengolahan 4 5 meter dari pengolahan bijih Hulu S. Tanoyan* Hilir S. Tanoyan (Hulu S. Onggak)* Lubang tambang (batuan asal) Baku Mutu*
Catatan: * Washington state Sediment, WAC 172 – 204 – 320

Hg Pb [ppm] [ppm] 0,70 0,37 0,36 3,01 2,66 0,17 0,20 0,16 0,41 tt 14,14 65,40 33,90 17,27 tt tt 6,88 450

Cu [ppm] 17,86 47,10 162,00 60,7 130,00 56,70 87,90 34,70 390

Zn [ppm]

As [ppm]

Cr [ppm] 45,6 56,5 86,0 79,3 158,4 42,0 47,5 38,5 250

Ni [ppm] 8,31 4,27 8,98 0,88 2,35 3,87 4,06 10,47 -

54,3 74,70 136,0 51,00 367,0 39,00 136,0 105,00 74,9 74,20 100,0 0,97 97,8 1,29 428,0 1,74 410 57

Hasil penelitian terdahulu (Selinawati dan Ngurah Ardha, 2003) pada pertambangan emas di KUD Perintis data kualitas air yang mengandung kadar merkuri di kolam pengolahan 1 adalah 0.0814 ppm, kolam pengolahan 2 adalah 0.0539 ppm, sedangkan pada S. Onggak (hilir S. Tanoyan) mencapai 0.0011. Pada saat itu, KUD Perintis melakukan pengolahan dengan proses amalgamasi saja dari bijih emas dan menggunakan hanya 2 kolam pengolahan. Data menunjukkan bahwa konsentrasi Hg dalam air sangat kecil, hal ini kemungkinan disebabkan karena kelarutan Hg dalam air sangat kecil. Pada penelitian ini (2008) nilai konsentrasi Hg di daerah pengolahan berkisar antara 0,15 – 0,20 ppm. Peningkatan ini dimungkinakn oleh adanya ion CN dalam pengolahan tailing amalgamasi yang dapat melarutkan Hg. Berdasarkan hasil pemeriksaan kandungan logam, kolam pengolahan efektif dalam menurunkan kadar merkuri pada air buangan, dimana kadar merkuri

dikarenakan proses pengolahan tailing amalgamasi menggunakan proses sianidasi. Pada proses sianidasi ini ditambahkan unsur Zn untuk mengendapkan logam emas dan peraknya. Tetapi rendahnya konsentrasi Zn di dalam air (tabel 2) dibandingkan konsentrasi awal/alami Zn pada batuan bijih (tabel 3) disebabkan terjadinya pengendapan unsur Zn selama aliran pengolahan. Proses yang biasanya terjadi adalah: 2Zn + 2NaAu(CN)2 + 4NaCN + 2H2O = 2Au + 2NaOH + 2Na2Zn(CN)4 + H2 3.2. Kualitas Sedimen Sedimen merupakan tempat logam berat mengendap secara gravitasi di badan perairan. Kualitas sedimen badan perairan harus lebih serius diperhatikan karena sifatnya sebagai tempat akhir logam berat di alam. Dan pada akhirnya logam berat yang ada di sedimen dapat kembali ke badan

Karakteristik Merkuri dalam Sedimen dan Air pada Pengolahan ... M. Lutfi dan Retno Damayanti

111

air karena berbagai hal, misalnya karena arus sungai, hujan, atau jalur transportasi (DPE. Pedoman Teknis Penyusunan AMDAL untuk kegiatan Pertambangan dan Energi, 1996). Kontaminasi merkuri (Hg) dalam sedimen sungai terjadi karena proses alamiah (pelapukan batuan termineralisasi), proses pengolahan emas secara tradisional (amalgamasi), maupun proses industri yang menggunakan bahan baku yang mengandung merkuri. Untuk mengetahui sumber kontaminasi Hg ini perlu diperhatikan dengan cermat. Untuk mengetahui adanya kontaminasi logam berat dalam sedimen maka dilakukan pemeriksaan sedimen di lokasi yang diperkirakan terkena dampak proses pengolahan tailing. Pengambilan conto sedimen dilakukan pada kolam pengendap, hulu sungai, hilir sungai. Selanjutnya conto sedimen, batuan bijih, dan tanah dianalisis di laboratorium menggunakan metode AAS. Dari hasil analisis conto tersebut di atas, kemudian dilakukan perbandingan dengan peraturan dan standar yang dapat dianggap sebagai tolok ukur

kualitas konsentrasi unsur di alam. Oleh karena itu sumber acuan yang dijadikan sebagai pembanding pada laporan ini adalah Washington state Sediment, WAC 172 – 204 – 320. Data kualitas sedimen dapat dilihat pada tabel 4. Adapun hasil penelitian kandungan merkuri dalam sedimen apabila dibandingkan dengan data tahun 2003 menunjukkan penurunan. Namun demikian nilai tersebut masih dibawah ambang batas aman. Untuk mengetahui lebih jelasnya mengenai kualitas air dan sedimen pada tahun 2003 sebagai pembanding dapat dilihat pada Tabel 4. Berdasarkan hasil diatas, terlihat bahwa kandungan merkuri pada sedimen di daerah yang memiliki dampak terhadap kehidupan masyarakat sekitar (daerah hulu dan hilir sungai Tanoyan) berada dibawah ambang batas aman yang dikeluarkan Washington state Sediment, WAC 172 – 204 – 320. Tetapi tetap perlu diperhatikan adanya keterkaitan antara kadar merkuri di air dan sedimen dengan beberapa faktor lingkungan, yaitu hujan, arus sungai, dan jalur transportasi masyarakat.

Tabel 5. Conto data kualitas air dan sedimen di KUD Perintis tahun 2003 No 1 2 3 4 5 6 Lokasi Kolam Pengolahan 1 Kolam Pengolahan 2 S. Tanoyan 1 (Hulu S. Tanoyan) S. Tanoyan 2 S. Tanoyan 3 S. Onggak Konsentrasi Hg [ppm] Air 0,0814 0,0539 0,001 0,0739 0,0179 0,0011 Sedimen 0,67 3,12 0,42 1,49 5,97 0,92

Sumber : Selinawati dan Ngurah Ardha, 2003

Gambar 4. Hubungan keterkaitan antara konsentrasi merkuri di sedimen dan air

112

PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009

. Sediment Quality Standards (WAC 172204-320). 1996. maka diperlukan: Pembinaan terhadap para penambang dan pengusaha pengolahan tailing agar lebih memeperhatikan aspek lingkungan dalam setiap kegiatannya. Kegiatan pengolahan tailing amalgamasi dengan proses sianidasi memberikan dampak negatif terhadap kualitas air dan sedimen disekitar lokasi pengolahannya. Lutfi dan Retno Damayanti 113 . KESIMPULAN DAN SARAN 4. Saran Dari kegiatan penelitian merkuri dalam sedimen dan air pada pengolhan tailing amalgamasi di pertambangan emas rakyat secara sianidasi.com/course/seasion2 Karakteristik Merkuri dalam Sedimen dan Air pada Pengolahan . outlet pengolahan. Pedoman Teknis Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Untuk Kegiatan Pertambangan dan Energi.. di mana semakin ke hilir badan air. M. ataupun lintasan transportasi dari masyarakat sekitar. Sedangkan jumlah merkuri di air dan sedimen sangat berkaitan. Protocol for Environment and Health Assessment.01 .2. http://www.0. Konsentrasi Hg pada sedimen (0.034 mg/L) pada semua lokasi penelitian (hulu. dimana keberadaan merkuri di air merupakan tempat singgah sementara sebelum sampai di dasar (berkaitan dengan berat jenisnya) dan juga merupakan pelepasan merkuri dari sedimen yang diakibatkan beberapa faktor. dari +40% secara amalgamasi sendiri menjadi +90% secara kombinasi amalgamasi dan sianidasi.17 .fathom.0.Pada Gambar 4 ditunjukkan hubungan antara konsentrasimerkuri di sedimen dan air. hal ini disebabkan oleh adanya ikatan kompleks sebagai senyawa merkuri-sianid (HgCN) yang mengendap. Draft. WAC 172 – 204 – 320) yaitu sebesar 1 ppm. Global Mercury Project. Proses kombinasi ini diterapkan karena keberadaan bijih emas dengan bentuk kasar semakin sedikit. dan hilir) melewati baku mutu yang diperbolehkan (sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air Kelas II dan KEP-202/MENLH/2004 tentang Baku Mutu Limbah Bagi Kegiatan Pengolahan Bijih Emas dan/atau Tembaga).. antara lain arus sungai (karena merupakan sungai dangkal). Tetapi kadar merkuri di sedimen itu dapat meningkat seiring mengendapnya merkuri ke dasar sungai. Perlu dibentuk wilayah pertambangan rakyat (WPR) untuk lebih memudahkan pemerintah dalam hal koordinasi dan pengawasan kegiatan penambangan dan pengolahan emas rakyat. Kadar merkuri di air pada daerah pengolahan relatif rendah dibandingkan pada sedimen. sehingga meningkatkan pendapatan para penambang. Diperlukan adanya pengawasan yang lebih ketat dari pemerintah baik pusat maupun daerah berkaitan dengan kegiatan penambangan dan pengolahan emas yang memiliki dampak besar terhadap lingkungan. Konsentrasi Hg di air (0.Ucapan terima kasih juga ditujukan kepada Bapak Marsen Alimano dan Ibu Wulandari Surono yang telah membantu selama percobaan dan penelitian ini berlangsung. 4. DAFTAR PUSTAKA Anonim. Washington state Sediment.20 ppm) pada semua lokasi penelitian belum melewati ambang batas aman terhadap racun yang ada (sesuai UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Selinawati TD dan Bapak Harry Tetra Antono atas saran serta sumbang wawasan terhadap tulisan ini. Kesimpulan Berdasarkan hasil kajian pengolahan tailing dengan proses sianidasi dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: Berdasarkan informasi dari penambang karakterisasi pada kegiatan pengolahan tailing amalgamasi dengan proses sianidasi dipertambangan emas rakyat dapat meningkatkan efisiensi perolehan bulion emas dari bijihnya. Washington NEL. 4. hujan.1. Departemen Pertambangan dan Energi. 2004.

Yusuf. Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara. 1987 114 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .Tim Terpadu Pusat Penanggulangan Masalah Pertambangan Tanpa Ijin (PETI. Penambangan dan Pengolahan Emas di Indonesia. Selinawati. Penanggulangan Masalah Pertambangan Tanpa Izin (PETI) (Implementasi Inpres No. 2000. 2004. World Commision on Enviroment & Development (WCED). Amalgamasi. Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral.T. and Ngurah Ardha. Research and Development Center for Mineral and Coal Technology. 2003.D. Rachmat. Study On Mercury Lost and Its Concentration from Artisanal Gold Minings in Indonesia. 3 Tahun 2000).

38 % ZrO2 sehingga belum memenuhi persyaratan untuk dijual ataupun diekspor.esdm.. Upgrading of zircon grade is done with a few processing method.esdm.id. dkk.id 2 Jurusan Teknik Pertambangan. 22. yuhelda@tekmira.PENGARUH PENGGUNAAN ULTRASONIK TERHADAP HASIL PEMISAHAN PASIR ZIRKON KALIMANTAN TENGAH DENGAN ELECTROSTATIC SEPARATOR Pramusanto1. Jend. Sebelum umpan dipisahkan menggunakan variabel – variabel optimum pada electrostatic separator terlebih dahulu umpan mendapat perlakuan ultrasonik (sonikfikasi).38 % ZrO2 so that has not fulfilled clauses to be sold and or is exported. Zircon done by concentration is concentrate from wet magnetic separator. electrostatic separator ABSTRACT Zircon as tailing product of alluvial gold processing in Central Kalimantan has low grade that is 36. Nuryadi Saleh1.go. 022 ..6030483 Fax. nuryadi@tekmira. Variabel – variabel optimum pada electrostatic separator : Variabel tegangan listrik 30 KV Variabel posisi splitter 30° Variabel skala kecepatan umpan 7. ultrasonic.5 Variabel optimum pada ultrasonik yaitu selama 30 menit dimana umpan yang mendapat perlakuan ultrasonik dapat membersihkan pasir zirkon dari unsur –unsur minor yang tidak diinginkan.6003373 e-mail : pramusanto@tekmira. Kata kunci: zirkon. Pemisahan dilakukan berdasarkan perbedaan sifat konduktifitas listrik menggunakan electrostatic separator dimana mineral zirkon (ZrSiO4) sebagai mineral non konduktor akan terpisah dari mineral pengotornya sebagai mineral konduktor seperti ilmenit (FeTiO3) dan rutil (TiO2). 20. Peningkatan kadar zirkon dilakukan dengan beberapa metoda pengolahan. 26 Bandung 40116 SARI Zirkon sebagai hasil tailing dari pengolahan emas aluvial di Kalimantan Tengah memiliki kadar yang rendah yaitu 36. Before feeder concentration using optimum variables at electrostatic separator beforehand feed got treatment of ultrasonic (sonicfication). Concentration is done based on different of electrical conductivity property applies electrostatic separator where zircon mineral (ZrSiO4) as non conductor mineral will separated from its the gangue mineral as conductor mineral for example ilmenite (FeTiO3) and rutile (TiO2).id. Taman Sari No. Pramusanto.go. 24.go. Universitas Islam Bandung (UNISBA) Jl. 115 . Sudirman 623 Bandung 40211 Telp. 1. Yuhelda1 dan Fitriza Yuliana2 1 Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. Zirkon yang dilakukan pemisahan merupakan konsentrat dari magnetik separator basah. Pengaruh Penggunaan Ultrasonik terhadap Hasil Pemisahan Pasir Zirkon . 022 .esdm.

METODOLOGI Metodologi peningkatan kadar pasir zirkon Kalimantan Tengah yang telah dilakukan studi bahan baku oleh pihak laboratorium pengolahan tekMIRA.Optimum variables at electrostatic separator : Voltage variable 30 KV Variable position of splitter 30° Feed speed scale variable 7. 2. Untuk membersihkan partikel – partikel halus yang menempel pada permukaan zirkon.1. Pendekatan proses pengolahan mineral zirkon. ultrasonic. Karakteristik mineral .bgl. Zirkon yang ditemukan di Kalimantan Tengah kemungkinan berasosiasi dengan mineral – mineral pengotor seperti ilmenit (FeTiO3). rutil (TiO2). Kalimantan Timur) [Suhala dan Arifin. xenotim (YPO4) dan kuarsa (SiO2) [www. Persiapan dan Analisis Umpan Preparasi umpan yang akan dipisahkan berdasarkan perbedaan sifat konduktifitas listrik 116 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Th)PO4). PENDAHULUAN Indonesia sebagai salah satu negara penghasil zirkon memiliki penyebaran zirkon di Sumatera (Sumatera Utara. monasit ((Ce. Y. Analisis terhadap nisbah konsentrasi (NK) bertujuan untuk mengetahui perbandingan antara berat umpan yang akan dipisahkan dengan berat konsentrat yang diperoleh pada proses pemisahan yang dilakukan dan kemudian akan korelasikan dengan kadar zirkon (ZrO2).id]. Sebagian besar mineral – mineral pengotor di atas merupakan mineral berat sehingga perlu dilakukan pengolahan dan peningkatan nilai tambahnya.sifat fisik mineral seperti konduktifitas listrik. Keyword: zircon. Dahlan dan Saleh. Perlakuan ultrasonik (sonikasi) dilaporkan dapat membersihkan lebih lanjut terhadap produk pasir zirkon dari unsur – unsur minor yang tidak diinginkan (Farmer. Hasil penelitian pengolahan terdahulu yang telah dilakukan (Saleh dan Pramusanto. 2.5 Optimum variable at ultrasonic that is during 30 minutes where feeder getting treatment of ultrasonic can clean zircon sand from minor elements undesirable.esdm. Pulau Bangka. Mineral rutil dan zirkon bersifat non magnet sehingga proses pengolahan yang dilakukan sebatas pemisahan berdasarkan sifat kemagnetan masih belum memadai. 1997). 2007). Kepulauan Riau. electrostatic separator 1. kemagnetan dan gaya berat (Woodcock. sehingga umpan perlu mendapat perlakuan ultrasonik sebelum dipisahkan menggunakan variabel – variabel optimum pada electrostatic separator. 1980). 2007).go. Pulau Belitung) dan di Kalimantan (Kalimantan Tengah.mineral berat yang terdapat dalam konsentrat menggunakan berbagai macam pemisahan berdasarkan sifat . 1997].mineral pengotor pada zirkon sangat tergantung dari ganesa mineral sehingga setiap tempat memiliki karakteristik mineral yang berbeda (Pramusanto. Berdasarkan hasil analisis kimia terhadap konsentrat magnetik separator basah ternyata masih terdapat unsur-unsur mineral pengotor seperti rutil (TiO2) dan ilmenit (FeTiO3). proses mana yang lebih baik itu umumnya tergantung pada karakteristik zirkon yang akan diolah maupun pemanfaatan dari produk yang akan dihasilkan (Pramusanto dkk. Zirkon yang terdapat di Pulau Bangka adalah mineral ikutan bijih timah (kasiterit) yang merupakan tailing dari pengolahan timah sedangkan zirkon yang terdapat di Kalimantan Tengah adalah mineral ikutan bijih emas aluvial yang merupakan tailing dari pengolahan bijih emas dengan alat sederhana sluice box. 2007) yaitu pemisahan berdasarkan berat jenis menggunakan meja goyang dan berdasarkan sifat kemagnetan menggunakan magnetik separator kering dilanjutkan dengan magnetik separator basah. La. yaitu dengan melakukan percobaan menggunakan ultrasonik sebelum umpan dipisahkan menggunakan variabel – variabel optimum pada electrostatic separator. Pemisahan secara kering yang dilakukan pada mineral .

mineral konduktor sebagai mineral pengotor seperti. dalam penelitian ini dilakukan untuk membersihkan partikel–partikel halus yang mungkin masih menempel pada permukaan butiran umpan sebelum dipisahkan dengan electrostatic separator.. Setelah digetarkan menggunakan alat ini. 2. 117 . Sampel hasil pemisahan setelah perlakuan ultrasonik kemudian dijadikan umpan pada pemisahan dengan electrostatic separator setelah dikeringkan terlebih dahulu dalam oven pengering selama satu hari. 45 menit dan 60 menit. Peningkatan Kadar Pasir Zirkon dengan Electrostatic Separator Peningkatan kadar pasir zirkon dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan electrostatic separator yang digunakan dalam peningkatan kadar. Setelah perlakuan ultrasonik dilakukan. Percobaan Menggunakan Ultrasonik Percobaan menggunakan alat ultrasonik yang biasa digunakan untuk membersihkan ayakan berukuran halus. Alat ultrasonik Percobaan dilakukan dengan variabel waktu getar selama 15 menit. Kemudian gelas ukur tersebut diletakkan di atas jaring atau kawat yang berada di dalam alat ultrasonik. seperti pada Gambar 2. Ukuran partikel mineral sebagai hasil saringan terlihat sangat halus dibandingkan dengan ukuran butiran partikel yang mengendap. Peningkatan kadar dapat dilakukan dengan cara memisahkan mineral non konduktor sebagai mineral berharga yaitu ZrSiO4 dengan mineral . terdapat perbedaan warna mineral yang berada di dalam gelas ukur yang telah bercampur dengan air. mineral yang berada pada posisi atas dipisahkan dan terlihat lebih berwarna hitam sedangkan pada posisi bawah sebagai konsentrat berwarna coklat kemerah – merahan. Electrostatic Separator dari Reichert Equipment tipe MK III Bench seri 063 2. Getaran yang terjadi pada alat ultrasonik membawa mineral ringan terangkat ke atas sehingga berdasarkan masing–masing waktu yang di variabelkan.2. Selama percobaan ini juga terlihat air yang sebelumnya jernih berubah menjadi keruh.. Partikel yang berada pada bagian atas diambil menggunakan sendok tipis secara perlahan.yang berasal dari konsentrat magnetik separator basah dilakukan bertujuan untuk mendapatkan contoh yang representatif. Alat electrostatic separator yang digunakan dalam percobaan dapat dilihat pada Gambar 1. Pengaruh Penggunaan Ultrasonik terhadap Hasil Pemisahan Pasir Zirkon . kemudian dilakukan pemisahan basah secara manual antara partikel mineral berat yang berada pada bagian bawah gelas ukur dengan partikel mineral ringan yang berada pada bagian atas. Gambar 2. 30 menit. Pertama sampel dimasukkan ke dalam gelas ukur yang berukuran 250 ml dan ditambahkan air sebanyak 150 ml atau 60 % dari kapasitas tempat penampungannya. sedangkan sisanya yang melayang diambil dengan cara disaring menggunakan kertas penyaring. dkk. Pramusanto.3. FeTiO3 dan lain-lain menggunakan electrostatic separator. TiO2. Kemudian pemisahan dilakukan Gambar 1.

59. rutil (TiO2) dan lain-lain. 10 secara berurutan sebesar 0. 5. 2. 7.2.5 (3.4 gram/menit) dan 10 (5 gram/menit) secara berturut – turut 118 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .38 gram/menit. 5 (2.2 Pengaruh skala kecepatan umpan terhadap nisbah konsentrasi dan kadar ZrO2 Percobaan dilakukan dengan variabel berubah yaitu skala kecepatan umpan sedangkan variabel tetapnya pada tegangan listrik 30 KV dan posisi splitter 300. 57.51 %.4 gram/menit dan 5 gram/menit. Pemisahan yang baik seharusnya menghasilkan nisbah konsentrasi yang besar dan kadar ZrO2 yang besar pula. 1.2.5. Nisbah konsentrasi yang diperoleh pada skala kecepatan umpan 2.2.5. Dimana dengan jarak elektroda yang terlalu dekat dan tegangan yang besar akan menyebabkan tertariknya semua mineral.11.47 gram/ menit). Kemungkinan lain dapat disebabkan oleh jarak elektroda yang tidak sesuai. (0. menjabarkan grafik persentase semua unsur yang terdeteksi dalam skala logaritma. tetapi jarak elektroda tidak divariasikan di dalam percobaan ini.96 %.   100 10 K da (% a r ) terhadap nisbah konsentrasi dan kadar ZrO2 pada Gambar 4 yaitu semakin besar tegangan listrik yang digunakan maka nisbah konsentrasinya semakin kecil dan kadar ZrO2 yang dihasilkanpun semakin besar.68 dengan kadar ZrO2 yang diperoleh sebesar 56. Pengaruh tegangan listrik terhadap nisbah konsentrasi dan kadar ZrO2 pada posisi splitter 40° dan skala kecepatan umpan 5 3. Hal ini berbeda dengan hasil percobaan yang dilakukan yang kemungkinan disebabkan oleh pengaruh perbedaan sifat kelistrikan atau konduktifitas mineral-mineral yang terdapat dalam umpan seperti mineral zirkon (ZrSiO4).pada kondisi variabel optimum dengan electrostatic separator yang telah dilakukan pada percobaan sebelumnya. baik yang bersifat konduktor kuat maupun konduktor lemah.46 %. 3.1 0.67 % dan 61.39.81.01 ZrO 2 N O a2 P 5 2O Y 3 2O C 3 r2O Fe 3 2O N 2O b 5 A 3 l2O C 2 eO T 2 hO SiO 2 H 2 fO MO n MO g TiO 2 K2 O CO a S Unsur Hasil Analisis Umpan Gambar 3. 25 KV dan 30 KV menghasilkan nisbah konsentrasi secara berturutturut sebesar 6. 1 0. Hasil analisis umpan Gambar 4. Analisis Umpan Hasil analisis kimia secara XRF (Fluoresen Sinar X) terhadap umpan sebelum dipisahkan menggunakan electrostatic separator dapat dilihat pada Gambar 3. 3. 3. HASIL DAN PEMBAHASAN 3. ilmenit (FeTiO3). Hasil percobaan dengan memvariabelkan tegangan listrik 15 KV. 7. Pengaruh tegangan listrik 3. 3.1 Pengaruh tegangan listrik terhadap nisbah konsentrasi dan kadar ZrO2 Percobaan dilakukan dengan variabel berubah yaitu tegangan listrik sedangkan variabel tetapnya pada posisi splitter 40° dan pada skala kecepatan umpan 5. hematit (Fe2O3).47 gram/menit. Kecepatan umpan yang digunakan pada masing – masing skala kecepatan umpan 2.38 gram/menit). Peningkatan Kadar Pasir Zirkon dengan Electrostatic Separator Di dalam percobaan electrostatic separator ini dilakukan analisis kimia secara XRF (Fluoresen Sinar X) untuk meninjau perubahan unsur-unsur terhadap konsentrat akibat pengaruh dari variabelvariabel percobaan terhadap nisbah konsentrasi dan peningkatkan kadar. 20 KV.5.1. 4.

14 dengan kadar ZrO2 yang diperoleh sebesar 61.. 60.   Nisbah Konsentrasi 1. dkk. Pramusanto. 30.5 61 Gambar 5. Konsentrat kering dari ultrasonik kemudian dipisahkan menggunakan electrostatic separator dengan variabel optimum pada percobaan sebelumnya yaitu pada tegangan listrik 30 KV.8 60.6 60. Berdasarkan waktu getar selama 15 menit pada alat ultrasonik perolehan yang didapatkan lebih dari 90 % dan kadar 60.09 1. umpan yang berukuran kasar cenderung mengalami lifting effect meskipun tidak bersifat sebagai konduktor dan umpan yang berukuran halus cenderung mengalami pinning effect.58 % ZrO2. kecepatan umpan 7. Hal ini disebabkan karena lamanya waktu getar akan mempengaruhi hasil kerja gelombang ultrasonik sehingga juga akan berpengaruh terhadap hasil umpan yang akan dipisahkan menggunakan electrostatic separator. Pada waktu getar selama 45 menit perolehan yang didapatkan hampir 90 % dan kadar 60. 1.45 %.69 %.42 % dan 62.14 1.11 1.14 dan 1.16 1.. posisi splitter 30 0 dan skala Gambar 6.5. Pengaruh skala kecepatan umpan terhadap nisbah konsentrasi dan kadar ZrO2 pada tegangan listrik 30 KV dan posisi splitter 30° Kadar ZrO2 (%)   Nisbah Konsentrasi 1. 45 dan 60 menit.15 1.3 Pengaruh penggunaan ultrasonik terhadap nisbah konsentrasi dan kadar ZrO2 Ultrasonik bekerja dengan getarannya untuk melepaskan ikatan – ikatan mineral pengotor lainnya pada mineral zirkon sebagai mineral utama. 3.15 1. maka nisbah konsentrasi dan kadar ZrO2 yang dihasilkan akan semakin besar.2 1. 1.47 2.15.5 Berdasarkan grafik pada Gambar 5.18 1. 62. Dengan kecepatan yang tinggi. 60 menit pada ultrasonik secara berturut – turut sebesar 1.2.09.68 % ZrO2 sedangkan pada waktu getar Pengaruh Penggunaan Ultrasonik terhadap Hasil Pemisahan Pasir Zirkon . posisi splitter 300 dan skala kecepatan umpan 7.68 % dan 60.52 %.40 Kecepatan (gram/menit) NK Kadar 5.70 %.08 15 30 45 60 Waktu (Menit) NK Kadar 61 Kadar ZrO2 (%) 60.58 %. Pengaruh penggunaan ultrasonik dengan variabel waktu terhadap nisbah konsentrasi dan kadar ZrO2 berdasarkan Gambar 6 di atas adalah semakin lama waktu getar yang diberikan oleh ultrasonik terhadap umpan.2.5 3.19.1 1.5 62 61. Kecepatan umpan (gram/menit) pada percobaan ini tergantung skala kecepatan umpan yang dipakai dan berat masing – masing umpan yang digunakan dalam percobaan.00 63. 1.12 dengan kadar ZrO2 yang diperoleh sebesar 60. Percobaan pada alat ultrasonik dilakukan dengan memvariabelkan waktu getar selama 15.5 63 62.92 % ZrO2.19 1. Kecepatan yang tinggi akan mengakibatkan mineral – mineral non konduktor kasar akan terlempar ke konduktor sehingga kadar zirkon akan rendah. 60.7 60.18. 1.92 %. Nisbah konsentrasi yang diperoleh setelah dipisahkan menggunakan electrostatic separator dengan variabel waktu 15. pengaruh kecepatan umpan terhadap nisbah konsentrasi dan kadar ZrO2 yaitu semakin cepat umpan yang diberikan maka nisbah konsentrasinya semakin kecil dan kadar ZrO2 yang dihasilkanpun semakin besar. Pada waktu getar selama 30 menit perolehan yang didapatkan lebih dari 90 % dan kadar 60.12 1.13 0. 30.sebesar 1.14 1.4 Pengaruh penggunaan ultrasonik terhadap perolehan dan kadar ZrO2 Berdasarkan grafik yang terdapat pada Gambar 7 dapat ditarik garis rata – rata sehingga diperoleh grafik yang menunjukkan kecenderungan perubahan perolehan dan kadar ZrO2 terhadap penggunaan ultrasonik. Pengaruh penggunaan ultrasonik terhadap nisbah konsentrasi dan kadar ZrO2 pada tegangan listrik 30 KV.9 60.10. 1.13 1.38 3. 63.17 1. 45. 119 .

Nb2O5. Fe2O3. Cr2O3 dan ThO2. Selain itu.   Perolehan (% ) 93 92 91 90 89 88 87 15 30 45 60 Waktu (Menit) Perolehan ZrO2 Kadar ZrO2 61 60. Adanya beberapa unsur yang hilang setelah mendapat perlakuan ultrasonik (sonikasi) diantaranya MnO.6 60. Unsur unsur yang kadarnya naik antara lain Al2O3. kadar ZrO2 optimum sebesar 60. Gambar 7.   100 10 Kadar (%) 1 0. Perbedaan perolehan dan kadar ZrO2 yang didapatkan pada percobaan tidak begitu jauh dimana perolehan rata – rata zirkon hampir 90 % dengan kadar 60 % ZrO2.selama 60 menit perolehan yang didapatkan 90 % dan kadar 60.1 0. kadar ZrO2 optimum sebesar 63. didapat beberapa kesimpulan : 1. Na2O.unsur yang kadarnya turun antara lain SiO2. hasil analisis pada percobaan dengan variabel optimum yaitu pada tegangan listrik 30 KV. KESIMPULAN Berdasarkan hasil percobaan terhadap pengaruh penggunaan ultrasonik terhadap pasir zirkon Kalimantan Tengah hasil pemisahan dengan electrostatic separator.5 Selain itu. kadar ZrO2 optimum sebesar 61.4 gram/menit) dengan nisbah konsentrasi 1. Pengaruh penggunaan ultrasonik terhadap perolehan dan kadar ZrO2 pada tegangan listrik 30KV. Kondisi optimum penggunaan ultrasonik yaitu pada waktu getar selama 30 menit. Hal ini terjadi karena adanya pengaruh getaran yang diberikan pada umpan dengan waktu getar tertentu sehingga dapat melepaskan partikel halus dari mineral pengotor yang melekat pada permukaaan umpan yang akan dipisahkan. K2O. ZrO2. setelah umpan mendapat perlakuan ultrasonik terlihat adanya beberapa 120 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Pada percobaan pengaruh tegangan listrik. Sedangkan unsur . beberapa unsur yang hilang setelah mendapat perlakuan ultrasonik antara lain MnO. 3.69 % ZrO2.01 Fe2O3 Nb2O5 Cr2O3 Na2O Al2O3 Y2O3 ThO2 P2O5 TiO2 MnO MgO CaO ZrO2 HfO2 SiO2 K2O S Unsur Sebelum M endapat P erlakuan Ultraso nik Setelah M endapat P erlakuan Ultraso nik Gambar 8. CaO. Pada percobaan umpan yang mendapat perlakuan ultrasonik. Cr2O3 dan ThO2.unsur yang kadarnya naik dan turun bahkan ada beberapa unsur yang hilang. Selain itu. tekanan dan getaran pada butiran umpan.4 60. posisi splitter 300 dan skala kecepatan umpan 7. Hasil perbandingan dapat dilihat pada Gambar 8. Dari hasil percobaan yang dilakukan bahwa ada beberapa unsur yang tidak diinginkan hilang setelah mendapatkan perlakuan ultrasonik. P2O5. 4.8 60. Pengaruh gelombang ultrasonik ini cukup kuat dan efektif untuk melepaskan partikel halus berupa mirel pengotor yang melekat pada permukaan sampel bijih zirkon.92 % yaitu pada waktu getar 30 menit dengan nisbah konsentrasi 1.42 % yaitu pada skala 7.5 diperbandingkan antara umpan yang tidak dan yang mendapat perlakuan ultrasonik.18.09 dan perolehan lebih dari 90 %. TiO2 dan S. Perbandingan kandungan unsurunsur sebelum dan setelah mendapatkan perlakuan ultrasonik Berdasarkan Gambar 8. frekuensi yang ada pada ultrasonik kemungkinan akan mempengaruhi terjadinya efek mekanik seperti gerakan – gerakan partikel pada umpan yang berada di dalam gelas ukur sehingga dapat menimbulkan gaya gesek.2 60 K adar (% ) unsur .96 % yaitu pada tegangan listrik 30 KV dengan nisbah konsentrasi 1. Nb2O5. HfO2 dan Y2O3. Pada percobaan pengaruh skala kecepatan umpan.68. posisi splitter 40° dan skala kecepatan umpan 7. MgO. 2. 4.5 (3.

B. David J. 1982 “Introduction to Mineral Processing”. dan Arifin M. 1997. 121 .. “Heavy Mineral Sands Separation of Waringin. Saleh. Pramusanto. Ardha. Pramusanto... Australia. N. Rochani. “Elements Of Mineral Process Engineering”. Supriatna.. Farmer. Agricola Consulting Services Pty Ltd. Puslitbang Teknologi Mineral Bidang Litbang Teknologi Pengolahan Mineral. 2007. T.. 2007. Pusat Pengembangan Teknologi Mineral. “Mining and Metallurgical Practices in Australia”. Canada. Kelly. Andrew L. Woodcock.. Saleh. Y. “Pembuatan Zirconia dari Pasir Zircon Kalimantan dan Bangka”. S. Pramusanto. Chatswood NSW 2067.. dkk. N.. Australia. Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara-tekMIRA. D. Puslitbang tekMIRA. Spottiswood. “Peningkatan Nilai Tambah Pasir Zirkon Kalimantan Tengah”. A. Kolokium Pertambangan 2007. Suhala.. Department of Mining and Mineral Process Engineering University of British Columbia Vancouver. Komunikasi Langsung. 2007. Bandung. Puslitbang tekMIRA. “Pengembangan Produk dan Peningkatan Mutu Bahan Galian”. 1980. Nuryadi dan Pramusanto. John Willey & Sons. Pengaruh Penggunaan Ultrasonik terhadap Hasil Pemisahan Pasir Zirkon . Errol G.. Dahlan. J.... Muta’alim. New York Mular. Victoria.DAFTAR PUSTAKA Dahlan. Yuhelda. dkk.. 2008. The Australian Institute of Mining and Metallurgy. 1997. “Bahan Galian Industri”. Central Kalimantan”.. 2000..C.

Percobaan dilakukan dengan memanaskan bed material dalam gasifier menggunakan media fluidisasi gas nitrogen.go. river sand 122 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . bed material . syngas composition was analyzed by gas chromatography.PENGGUNAAN PASIR SUNGAI SEBAGAI BED MATERIAL PADA GASIFIKASI BATUBARA SISTEM FLUIDIZED BED Nurhadi dan Slamet Suprapto Pussat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. coal sample and oxygen were inputted into reactor. Keywords: gasification. carbon conversion and gasification efficiency.id SARI Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penggunaan pasir sungai sebagai bed material terhadap konversi karbon. and scrubber. Gas produk dimurnikan dan didinginkan melalui siklon.6030483 Fax. Variabel yang digunakan adalah jumlah bed material dan jenis bed material. bed material. 623 Bandung 40211 Telp. Result was shown river sand use as bed material functioned well based on syngas composition. and gasifying reaction happened. heat exchanger dan scrubber untuk selanjutnya dianalisa komposisinya menggunakan gas kromatografi. 022 . Sudirman no. konversi karbon dan efisiensi gasifikasi. efisiensi gasifikasi dan rasio gas hidrogen terhadap gas karbon monoksida pada proses gasifikasi batubara tipe fluidized bed.6003373 e-mail: Nurhadi@tekmira. coal. Setelah suhu gasifier mencapai 900°C. heat exchanger. gasification efficiency and ratio of hydrogen to carbon monoxide in fluidized bed coal gasification. Hasil percobaan menunjukkan bahwa penggunaan pasir sungai sebagai bed material dapat berfungsi baik sebagai dalam proses pembuatan gas sintesis dari batubara dilihat dari komposisi syngas. 022 . Jend. product gas composition. percontoh batubara dan oksigen di-input-kan ke dalam reaktor. Kata kunci: gasifikasi. Gas product (syngas) was purified and cooled through cyclone. Finally. sehingga terjadi reaksi gasifikasi. komposisi gas produk.esdm. After gasifier temperature reaching 900°C. batubara. Experiment was conducted by heated bed material in gasifier used nitrogen gas as fluidization media. pasir sungai ABSTRACT This research was conducted to know the influence of river sand use as bed material to carbon conversion.

Batubara yang digunakan adalah batubara peringkat lignit dengan variabel jenis bed material. 2008). Peralatan yang digunakan untuk kegiatan ini terdiri atas 1 unit peralatan pembuatan gas sintesis skala laboratorium. karbon dioksida. Gambar 1. sehingga diperoleh karakteristik proses pembuatan gas sintesis menggunakan batubara Indonesia. sehingga sangat cocok dikembangkan sebagai bed material untuk gasifikasi batubara menggunakan gasifier tipe fluidized bed. Bagan alir proses penelitian pembutan gas sintesis dapat dilihat pada Gambar 1. dkk. Nurhadi dan Slamet Suprapto 123 . Gas produk gasifikasi berupa campuran gas hidrogen. Bed material digunakan sebagai transfer panas. Pasir sungai cukup melimpah keberadaannya di Indonesia dan harganya cukup murah. oksigen dan nitrogen sebagai bahan baku. Bahan-bahan yang digunakan untuk percobaan ini adalah batubara.. Gasifikasi batubara adalah reaksi antara batubara dengan pereaksi udara. Sebagai bed material digunakan pasir silika dan pasir sungai. Diagram alir penelitian pembuatan gas sintesis (Nurhadi.. Gas produk ini dapat langsung dimanfaatkan sebagai bahan bakar gas atau dikonversi menjadi berbagai macam sumber energi dan bahan baku industri kimia (Penner. Pemanfaatan batubara peringkat rendah dengan teknologi gasifikasi menghasilkan produk yang mudah dikonversi menjadi beberapa macam sumber energi dan bahan baku industri kimia. komposisi gas produk dan efesiensi gasifikasi pada proses gasifikasi batubara tipe fluidized bed.. karbon dioksida atau campuran dari zat tersebut dan menghasilkan campuran gas yang dapat dibakar. yaitu menggunakan pasir silika dan pasir sungai.4 milyar ton merupakan aset ekonomi dan aset energi yang sampai saat ini belum dapat dimanfaatkan secara optimal (Setiawan. sehingga menjadi unggun terfluidisasi. 2006). Gasifikasi batubara tipe fluidized bed menggunakan bed material berupa pasir. karbon monoksida. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian pembuatan gas sintesis dilakukan terhadap percontoh batubara Indonesia. uap air. Fluidized bed merupakan sistem yang efisien untuk kontak fase gas-padat. Sumber daya batubara Indonesia yang berjumlah 107. PENDAHULUAN menggunakan screw feeder (Kunii dan Levenspiel. sehingga suhu dalam gasifier menjadi homogen. Batubara dimasukkan ke dalam gasifier dari bagian samping gasifier 2.1. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penggunaan pasir sungai sebagai bed material terhadap konversi karbon. nitrogen dan hidrokarbon rantai ringan (Kubota. 1987). 2006) Penggunaan Pasir Sungai sebagai Bed Material pada Gasifikasi Batubara . 1991). Gas pereaksi masuk dari bagian bawah gasifier melalui plat distributor untuk mengangkat bed material.

32 2. Hasil percobaan penelitian skala laboratorium pembuatan gas sintesis dari batubara berupa komposisi produk syngas. neraca massa.94 2.14 0. Abu.03 6. yaitu pasir silika dan pasir sungai. Belerang. % adb.57 3.3.52 3. Hasil analisis percontoh batubara Tabel 3.83 5. Nilai Kalor.34 44.52 2.95 2.55 2.83 39. Penelitian dilakukan terhadap dua jenis bed material. Hasil analisis percontoh batubara dapat dilihat pada Tabel 1. Nilai Parameter 53. % adb.687 0.36 1. % Al2O3. sehingga diperoleh ukuran partikel – 48 + 60 mesh.37 21. kal/g adb.32 30.89 2.23 4.975 1.23 30. 20 gram (P Silika 20 dan P Sungai 20) dan 25 gram (P Silika 25 dan P Sungai 25).91 43. Oksigen.6278 22. % adb.05 O2 5.758 0.51 3.685 0.24 SiO2.20 0.54 2.36 37.26 TT TT Tabel 1.r.24 8. Setiap bed material kemudian digunakan dalam percobaan dengan variasi 15 gram (P Silika 15 dan P Sungai 15). % adb. a. Karbon Padat.56 CO2 15. nilai kalor. konversi karbon dan efisiensi gasifikasi pada berbagai variabel dapat dilihat pada Tabel 4 sampai dengan Tabel 6. Air Lembab.31 2.3170 124 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . neraca massa. % adb. % MgO. % adb.73 C2H4 3. Tabel 4.26 16.3932 22. % adb Nitrogen. HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 2.85 42.8542 22. Karbon. nilai kalor. Zat Terbang.01 43. % CaO.01 TT Bed material berupa pasir silika dan pasir sungai juga sudah dianalisis seperti terlihat pada Tabel 2 dan Tabel 3. % TT = tidak terdeteksi Nilai 46. Hasil percobaan yang dibahas dalam makalah ini meliputi pengaruh jenis bed material pasir silika dan pasir sungai terhadap komposisi gas terutama kadar CO dan H2.7938 21.19 15. Sifat kimia pasir sungai Parameter Analisis Proksimat Air Total. konversi karbon dan efisiensi gasifikasi. % Fe2O3. Sifat kimia pasir silika Parameter SiO2.716 0.03 16. % MgO. % adb. % adb. % adb.86 32.764 0.05 total 100 100 100 100 100 100 H2/CO 0. Komposisi produk syngas Kode Percontoh P Silika 15 P Silika 20 P Silika 25 P Sungai 15 P Sungai 20 P Sungai 25 H2 30. Nilai 97.58 CH4 3.66 17.48 31.7437 21.02 32.36 2. Untuk percobaan masing-masing bed material dipreparasi sehingga diperoleh ukuran partikel – 48 + 60 mesh.18 Komposisi Rata-rata Tanpa Nitrogen (% mol) CO 42.16 54.719 BM 22. Analisis Ultimat Abu.83 0. Hidrogen. Untuk percobaan gasifikasi percontoh batubara dipreparasi. % Al2O3.80 32. % CaO. % Fe2O3. %.58 1.48 3.36 44. % TT = tidak terdeteksi Percontoh batubara yang digunakan untuk percobaan adalah batubara lignit yang berasal dari Sumatera Selatan.90 15.83 2.90 19.55 0.

982 0. Sebaliknya.Tabel 5. Pengaruh jumlah pasir silika terhadap komposisi produk syngas Kode Percontoh P Silika 15 P Silika 20 P Silika 25 H2 30.577 0.287 1. Penggunaan Pasir Silika sebagai Bed Material Pengaruh jumlah pasir silika sebagai bed material terhadap komposisi gas.499 0.465 0.31 2.449 1.982 0. Komposisi gas cenderung sedikit berpengaruh terhadap perubahan jumlah pasir silika sebagai bed material dalam reaktor.389 By Produk Ter (mg/s) 0.36 2. Tabel 7.36 44.7437 Tabel 8. nilai kalor..6278 22.115 2.959 2.32 30. konversi karbon dan efisiensi gasifikasi Kode Percontoh P Silika 15 P Silika 20 P Silika 25 P Sungai 15 P Sungai 20 P Sungai 25 Konversi C (%) 67 77 75 71 73 74 Efisiensi Gasifikasi (%) 74 80 77 77 81 78 Nilai Kalor (kkal/Nm3) 3.067 1.067 1.117 Penggunaan Pasir Sungai sebagai Bed Material pada Gasifikasi Batubara .377 1.287 1.384 (mL/s) 1.117 0.716 0.976 3.19 C2H4 3.067 1.57 3.54 total 100 100 100 H2/CO 0.434 1.52 3.067 O2 0.449 1.52 CO2 15.577 0.587 0.85 CH4 3.411 By Produk Ter (mg/s) 0.975 3.685 BM 22.499 By Produk Char (mg/s) 0.122 0.067 1.687 0.982 0.982 0.185 0. konversi karbon dan efisiensi gasifikasi dapat dilihat pada Tabel 7 sampai dengan Tabel 9.185 0.982 Produk Syngas (mg/s) 1.465 0.067 1.586 0. sehingga menyebabkan nilai kalor gas juga berkurang.01 43.135 0.434 1.086 Tabel 6.95 2.411 1.32 2.579 By Produk Char (mg/s) 0.287 1..354 1.388 1.067 1.982 0.135 0.287 1.433 (mL/s) 1. Nilai kalor.3932 22. Nurhadi dan Slamet Suprapto 125 .02 O2 5.982 0.067 1. Semakin banyak jumlah pasir silika sebagai bed material dalam reaktor.067 O2 0.070 2.433 1.23 30.66 17.982 Produk Syngas (mg/s) 1.982 0. neraca massa.108 0.55 Komposisi Rata-rata Tanpa Nitrogen (% mol) CO 42. Neraca massa bahan baku dan produk Kode Percontoh P Silika 15 P Silika 20 P Silika 25 P Sungai 15 P Sungai 20 P Sungai 25 Bahan Baku (mg/s) Batubara 1.1. maka rasio gas hidrogen terhadap karbon monoksida berkurang.03 16.340 1. Pengaruh jumlah pasir silika terhadap neraca massa bahan baku dan produk Kode Percontoh P Silika 15 P Silika 20 P Silika 25 Bahan Baku (mg/s) Batubara 1.899 2.

bed material berfungsi sebagai media transfer panas (Kunii dan Levenspiel.389 By Produk Ter (mg/s) 0.94 2.34 44.3170 Tabel 11. jika jumlah bed material sedikit menyebabkan reaksi kurang sempurna.086 126 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . neraca massa. sehingga masih banyak char yang tidak bereaksi. Hal ini disebabkan karena pada penambahan bed material sebanyak 15 gram dan 20 gram akan terjadi peningkatan konversi batubara.26 16.51 3. Pengaruh jumlah pasir sungai terhadap komposisi produk syngas Kode Percontoh P Sungai 15 P Sungai 20 P Sungai 25 H2 32.05 total 100 100 100 H2/CO 0.758 0.587 0.58 CH4 2. Dalam reaktor fluidized bed.56 CO2 15.982 Produk Syngas (mg/s) 1.586 0.90 15.982 0.8542 22.122 0. Hal ini menyebabkan syngas memiliki rasio gas hidrogen terhadap gas karbon monoksida lebih tinggi.18 Komposisi Rata-rata Tanpa Nitrogen (% mol) CO 42.36 1. sehingga meningkatkan konversi karbon. char dan ter juga akan terjadi konversi gas CO menjadi gas CO2.067 O2 0.070 2.108 0.354 1.982 0.Tabel 9. karena sebagian besar syngas berasal zat terbang yang lebih banyak mengandung unsur hidrogen dibandingkan char.89 2.764 0.899 semakin bertambah jumlah pasir silika sebagai bed material dalam reaktor maka jumlah produksi syngas secara kuantitatif meningkat. Sedangkan nilai kalor syngas dan efisiensi gasifikasi akan naik pada penambahan pasir silika sebagai bed material sebanyak 15 gram dan 20 gram.067 1.05 O2 2.80 32.579 By Produk Char (mg/s) 0. kemudian akan menurun kembali jika pasir silika sebagai bed material ditambahkan lagi menjadi 25 gram. nilai kalor.719 BM 21. 3. konversi karbon dan efisiensi gasifikasi dapat dilihat pada Tabel 10 sampai dengan Tabel 12. 1991). Jika bed material ditambahkan lagi menjadi 25 gram.86 32. sehingga meningkatkan nilai kalor syngas dan efisiensi gasifikasi. maka selain terjadi konversi batubara. Penggunaan Pasir Sungai sebagai Bed Material Pengaruh jumlah pasir sungai sebagai bed material terhadap komposisi gas. Dengan bertambahnya gas CO2 yang sudah tidak memiliki nilai kalor.48 3.2.73 C2H4 2.384 (mL/s) 1. char dan ter menjadi syngas terutama gas hidrogen dan karbon monoksida.7938 21. Pengaruh jumlah pasir sungai terhadap neraca massa bahan baku dan produk Kode Percontoh P Sungai 15 P Sungai 20 P Sungai 25 Bahan Baku (mg/s) Batubara 1. Sebaliknya.388 1.959 2. Pengaruh jumlah pasir silika terhadap nilai kalor. konversi karbon dan efisiensi gasifikasi Kode Percontoh P Silika 15 P Silika 20 P Silika 25 Konversi C (%) 67 77 75 Efisiensi Gasifikasi (%) 74 80 77 Nilai Kalor (kkal/Nm3) 3.91 43. maka nilai kalor syngas dan efisiensi gasifikasi akan menurun.067 1.340 1.377 1. Tabel 10. Semakin banyak jumlah bed material dalam reaktor menyebabkan lebih banyak batubara yang bereaksi menjadi syngas sehingga meningkatkan konversi karbon.83 2.

Tabel 12. Pengaruh jumlah pasir sungai terhadap nilai kalor, konversi karbon dan efisiensi gasifikasi Kode Percontoh P Sungai 15 P Sungai 20 P Sungai 25 Konversi C (%) 71 73 74 Efisiensi Gasifikasi (%) 77 81 78 Nilai Kalor (kkal/Nm3) 2,976 3,115 2,975

Komposisi gas cenderung sedikit berpengaruh terhadap perubahan jumlah pasir sungai sebagai bed material dalam reaktor. Semakin banyak jumlah pasir sungai sebagai bed material dalam reaktor maka rasio gas hidrogen terhadap karbon monoksida berkurang sehingga menyebabkan nilai kalor gas juga berkurang. Sebaliknya semakin bertambah jumlah pasir sungai sebagai bed material dalam reaktor maka jumlah produksi syngas secara kuantitatif meningkat, sehingga meningkatkan konversi karbon. Nilai kalor syngas dan efisiensi gasifikasi menunjukkan kenaikan pada penambahan pasir sungai sebagai bed material sebanyak 15 gram dan 20 gram, kemudian akan menurun kembali jika pasir sungai sebagai bed material ditambahkan lagi menjadi 25 gram. Fenomena ini sama seperti pada penggunaan pasir silika sebagai bed material. Hal ini menunjukkan bahwa pasir sungai yang digunakan dalam percobaan ini dapat berfungsi dengan baik. Hasil ini juga menunjukkan jumlah pasir sungai sebagai bed material yang optimum untuk laju alir batubara 1,067 adalah 15 gram.

ke dalam gasifier. Batubara kemudian berreaksi dengan gas oksigen menjadi syngas. Syngas kemudian dimurnikan dan didinginkan melalui siklon, heat exchanger dan scrubber. Syngas kemudian dianalisis menggunakan gas kromatografi. Hasil percobaan menunjukkan pasir sungai dapat berfungsi baik sebagai bed material dalam proses pembuatan gas sintesis dari batubara dilihat dari komposisi syngas, konversi karbon dan efisiensi gasifikasi.

DAFTAR PUSTAKA Kubota, N., 2006. Development of Novel Low Rank Coal Gasifier “TIGAR”, dipresentasikan pada Seminar on Low Rank Coal Gasification, Badan Litbang Energi dan Sumber Daya Mineral, Jakarta, 16 Mei 2006. Kunii, D., dan Levenspiel, O., 1991. Engeneering Fluidization, second edition, ButterworthHeinemann Publishing, Stoneham, M.A. Nurhadi, dkk., 2006. Pembuatan Gas Sintesis dari Batubara dengan Teknologi Gasifikasi Unggun Terfluidakan, Puslitbang tekMIRA. Setiawan, B., 2008. Indonesia Coal Policy, APEC Clean Fossil Energy Technical and Policy Seminar in conjunction with 7th Coaltech, Jakarta 17 November 2008. Penner, S.S., 1987. Coal Gasification: Direct Application and Syntheses of Chemicals and Fuels, U.S. Department of Energy, Office of Energy Research, Washington.

4.

KESIMPULAN

Percobaan ini dimaksudkan untuk mengetahui unjuk kerja penggunaan pasir sungai sebagai bed material pada gasifikasi batubara sistem fluidized bed. Sebagai pembanding, dilakukan juga percobaan penggunaan pasir silika sebagai bed material. Percobaan dimulai dengan pemanasan bed material dalam gasifier menggunakan pemanas listrik. Sebagai media fluidisasi digunakan gas nitrogen. Setelah suhu gasifier mencapai 900°C, percontoh batubara dan gas oksigen dimasukkan

Penggunaan Pasir Sungai sebagai Bed Material pada Gasifikasi Batubara ... Nurhadi dan Slamet Suprapto

127

METODE PENGURANGAN EMISI MERKURI PADA PEMBAKARAN BATUBARA

Dra. Roza Adriany M.Si Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi Jl. Ciledug Raya Cipulir Kebayoran Lama Jakarta Selatan Telp. 021 - 7394422 ext 1552

SARI Pengurangan emisi Merkuri yang maksimal pada pembakaran batubara seperti pada boiler bergantung pada beberapa faktor yaitu jenis batubara, konfigurasi alat pengontrol emisi dan proses tambahan lain seperti penambahan senyawa Halogen, pencampuran 2 jenis batubara, serta penggunaan teknologi ACI (Activated Carbon Injection). Dalam tulisan ini akan ditinjau masing-masing faktor yang mempengaruhi jumlah emisi Merkuri, dan jenis senyawa Merkuri yang diemisikan (Merkuri dalam wujud uap logam, oksida Hg dan Partikulat) serta pengaruh lain seperti UBC (Unburn Carbon) dan SO2. Kata kunci : emisi merkuri, batubara, pengontrol emisi, senyawa halogen

1.

PENDAHULUAN

Emisi Merkuri yang dihasilkan dari pembakaran batubara seperti pada unit Boiler mendapat perhatian yang besar dari pemerhati lingkungan karena berpotensi merusak lingkungan dan menjadi ancaman bagi kesehatan makhluk hidup. Menurut data EPA (Environmental Protection Agency), di Amerika Serikat diperkirakan sekitar 51 ton Merkuri pertahun telah diemisikan ke udara oleh Pabrik yang menggunakan batubara sebagai sumber energi pembakaran. Jenis Merkuri yang diemisikan ke udara pun bervariasi yaitu dalam bentuk uap Merkuri (Hg°), Oksida Merkuri dan Partikulat. Uap Merkuri (Hg°) mempunyai waktu tinggal yang lama di udara yaitu bisa mencapai satu tahun, sehingga dapat menyebar pada jarak yang sangat jauh dari sumbernya. Ketika Hg° terdeposit di tanah atau air , maka dia dapat mengalami transformasi menjadi merkuri organik yaitu metil merkuri yang dapat memasuki rantai makanan seperti ikan. Merkuri yang berbentuk oksida (Hg2+), mempunyai waktu tinggal di udara hanya beberapa hari saja, disebabkan karena tingkat kelarutan yang tinggi dari Hg2+ di dalam uap air yang ada di udara (Senior 2001).

Berbagai teknologi untuk mengurangi emisi merkuri maupun polutan lain yang berasal dari pembakaran Batubara seperti pada unit Boiler telah banyak dikembangkan dan sampai saat ini penelitianpenelitian mengenai hal ini masih terus dilakukan. Walaupun konfigurasi metode atau alat pengontrol emisi telah digunakan, pada kenyataannya jumlah merkuri yang diemisikan masih cukup tinggi dan akan berbeda-beda dari satu Pabrik dengan Pabrik lainnya. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi jumlah emisi Merkuri antara lain adalah jenis batubara, konfigurasi alat pengontrol emisi dan proses tambahan lain seperti penambahan senyawa Halogen, pencampuran 2 jenis batubara, penggunaan teknologi ACI (Activated Carbon Injection) serta pengaruh lain seperti UBC (Unburn Carbon) dan SO2 (Institute of Clean Air Companies, 2006 dan Durham, 2005). Dalam tulisan ini akan ditinjau masing-masing faktor yang mempengaruhi jumlah emisi Merkuri, serta jenis senyawa Merkuri yang diemisikan (Merkuri dalam wujud uap logam, oksida Hg dan Partikulat).

128

PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009

2.

METODOLOGI

Tulisan ini dibuat berdasarkan data atau informasi yang diperoleh dari penelitian-penelitian yang telah dilakukan terutama oleh EPA (Environmental Protection Agency) 3. HASIL DAN PEMBAHASAN

jection) yaitu penginjeksian karbon aktif kering berbentuk bubuk ke dalam flue gas. ACI biasanya ditempatkan antara pemanas udara (air preheater) dan ESP (Electrostatic Precipitator) atau FF (Fabric Filter). 3.1.1 Teknologi “Co Benefits” Hasil penelitian pada Tabel 1, Tabel 2 dan Tabel 3 berikut menunjukkan bagaimana pengaruh konfigurasi alat pengontrol polutan terhadap jumlah Merkuri yang dibuang ke udara, untuk jenis batubara yang sama. Data diperoleh dari ICR (Information Collection Request) EPA (U.S Environmental Protection Agency, 2000). Dari Tabel 1 terlihat bahwa konfigurasi alat pengontrol polutan yang paling efisien untuk Batubara Bituminous adalah SDA/FF dengan jumlah Merkuri yang dibuang 1,78 %. Dari Tabel 2 terlihat bahwa konfigurasi alat pengontrol polutan yang paling efisien untuk Batubara Sub-Bituminous adalah CS/FF dengan jumlah Merkuri yang dibuang 27,57 %. Dari Tabel 3 terlihat bahwa konfigurasi alat pengontrol polutan yang paling efisien untuk Batubara Lignit adalah CS-ESP dan wet FGD Scrubber dengan jumlah Merkuri yang dibuang 62,52 %. Untuk jenis alat pengontrol polutan yang sama misalnya menggunakan CS-ESP, terlihat bahwa % jumlah emisi dari Batubara Lignit adalah yang paling tinggi yaitu 98,53% diikuti oleh SubBituminous 85,52% dan yang terendah adalah Bituminous yaitu 53,52%. 3.1.2 Teknologi ACI (Activated Carbon Injection) ACI (Activated Carbon Injection) adalah penginjeksian karbon aktif kering berbentuk bubuk ke dalam flue gas. ACI biasanya ditempatkan antara pemanas udara dan ESP atau FF (Durham, 2005 dan Praven, 2003). Hasil penelitian dari: Durham,M. “Tools for Planning and Implementing Mercury Control Technology”, menunjukkan bagaimana pengaruh kecepatan injeksi karbon aktif terhadap % Merkuri yang dapat dikontrol (distabilkan) dengan menggunakan 2 alat pengontrol polutan yaitu ESP dan FF untuk Batubara Bituminous dan Sub Bituminous, seperti tampak pada Gambar 1.

Faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah emisi merkuri Seperti telah dijelaskan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi jumlah emisi Merkuri pada pembakaran Batubara yaitu jenis Batubara, konfigurasi alat pengontrol emisi dan proses tambahan lain seperti penambahan senyawa Halogen, pencampuran 2 jenis batubara, penggunaan teknologi ACI (Activated Carbon Injection) serta pengaruh lain seperti UBC (Unburn Carbon) dan SO2. 3.1. Jenis Batubara dan Konfigurasi Alat Pengontrol Merkuri Teknologi pengontrol Merkuri pada dasarnya dibagi dalam 2 bagian: Pertama adalah teknologi yang di sebut “Co Benefits” yaitu teknologi yang sebenarnya didesain untuk mengontrol polutan lain selain Merkuri , seperti NOx , SOx dan bahan partikulat (PM) tetapi dalam hal ini dapat juga digunakan sebagai alat pengontrol Merkuri (Praven, 2003). NOx dapat dikontrol menggunakan SCR (Selective Catalytic Reduction). Selain berfungsi sebagai pengontrol NOx , SCR dapat juga digunakan sebagai pengontrol emisi Merkuri dengan cara mengoksidasi uap Merkuri menggunakan katalis SCR. SOx adalah polutan yang dikontrol menggunakan FGD (Flue Gas Desulfurization). Selain berfungsi sebagai pengontrol SOx, FGD dapat juga digunakan sebagai pengontrol emisi Merkuri dengan cara melarutkan oksida Merkuri di dalam air (U.S Environmental Protection 2003 dan Praveen, 2003). Bahan Partikulat (PM), baik yang berasal dari Partikulat Merkuri atau Partikulat lainnya dapat dikontrol dengan alat seperti CS-ESP, HS-ESP, FF dan PM Scrubber (U.S Environmental Protection Agency, 2000). Teknologi kedua adalah teknologi yang spesifik untuk Merkuri seperti ACI (Activated Carbon In-

Metode Pengurangan Emisi Merkuri pada Pembakaran Batubara ... Rosa Adriany

129

Tabel 1. Pengaruh konfigurasi alat pengontrol polutan terhadap jumlah merkuri yang dibuang ke udara untuk batubara bituminous. Jenis Batubara Bituminous Jenis Boiler PC Boiler Alat Pengontrol Polutan SDA/FF SCR dan SDA/FF CS-FF dan wet FGD Scrubber SNCR dan CS-ESP FF Wet FGD Scrubber HS-ESP-Wet FGD Scrubber CS-ESP DSI dan CS-ESP HS-ESP % Merkuri yang Dibuang ke Udara 1,78 2,44 3,59 9,1 16,90 18,77 44,95 53,52 55,11 87,98

Tabel 2. Pengaruh konfigurasi alat pengontrol polutan terhadap jumlah merkuri yang dibuang ke udara untuk batubara sub bituminous Jenis Batubara Jenis Boiler Alat Pengontrol Polutan CS-FF CS-ESP / SDA CS-ESP dan Wet FGD Scrubber HS-ESP dan Wet FGD Scrubber SDA/FF CS/ESP HS-ESP PM/Scrubber % Merkuri yang Dibuang ke Udara 27,57 62,06 64,88 67,38 74,60 85,52 86,54 85,57

Sub Bituminous PC Boiler

Tabel 3. Pengaruh konfigurasi alat pengontrol polutan terhadap jumlah merkuri yang dibuang ke udara untuk batubara lignit Jenis Batubara Lignit Jenis Boiler PC Boiler Alat Pengontrol Polutan CS-ESP dan wet FGD Scrubber PM-Scrubber SDA-FF CS-ESP dan FF CS-ESP
SDA DSI SCR FGD SNCR

% Merkuri yang Dibuang ke Udara 62,52 67,23 82,62 95,07 98,53
Particulate Collector) : Spray Dryer Absorber (Dry Scrubber) : Duct Sorbent Injection : Selective Catalytic Reduction : Flue Gas Desulfurization : Selective Non-Catalytic Reduction

PC FBC CS-ESP HS-ESP FF PM FF (COHPAC)

: Pulverized Coal : Fluidized Bed Combustor : Cold-Side Electrostatic Precipitator : Hot-Side Electrostatic Precipitator : Fabric Filter : Particulate Matter : Fabric Filter pilot unit (Compact Hybrid

130

PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009

Reaksi klorinasi ini dapat terjadi pada fasa yang sama (Homogen) maupun pada fasa yang berbeda (Heterogen). Pada studi lainnya ditemukan bahwa pada suhu di bawah 500 ºC reaksi oksidasi merkuri yang utama dilakukan oleh Cl2 bukan oleh atom Cl. dapat berada dalam bentuk 3 senyawa yaitu sebagai atom Cl.. 3. pemisahan merkuri sampai dengan 90% dapat tercapai pada kecepatan injeksi 4 lb/Macf (Praven. Pengaruh Penambahan Halogen Adanya senyawa Halogen seperti Klorin baik yang berasal dari Batubara maupun yang ditambahkan sebagai aditif dapat mempengaruhi oksidasi Merkuri (perubahan dari Hgº menjadi Hg+2 ) dan juga mempengaruhi perubahan Merkuri dari Hgº ke bentuk partikulat Merkuri (Hgp). atom Cl diperkirakan sebagai jenis Klorin yang paling dominan berperan dalam mengoksidasi merkuri secara Homogen (Zhuang. kemungkinan hal ini disebabkan karena sensitifitas Cl2 yang lebih rendah dibanding Cl pada suhu tersebut. Pada penggunaan alat pengontrol polutan ESP untuk jenis Batubara Sub Bituminous diperoleh hasil bahwa pengurangan emisi maksimum adalah sekitar 60% dan terjadi mulai dari kecepatan injeksi sekitar 7 lb/Macf. HCl tidak dapat mengoksidasi Hgº secara langsung melalui reaksi fasa gas yang Homogen . tetapi HCl merupakan jenis klorin yang utama di dalam flue gas yang dapat melakukan reaksi oksidasi melalui reaksi Heterogen dengan cara mempromosikan oksidasi Merkuri pada permukaan padatan (Zhuang. Kenaikan kecepatan injeksi karbon aktif selanjutnya ternyata tidak dapat menaikkan persentase pengurangan Merkuri. UBC (Unburn Carbon) yang ada dalam abu terbang dengan Merkuri yang ada dalam flue gas. 2003). diperlukan 5 kali lebih banyak penyerap karbon aktif bila menggunakan ESP dari pada FF. FF mempunyai tingkat penangkapan Merkuri yang lebih tinggi dibandingkan ESP. Dengan kata lain untuk mencapai 90% pengurangan Merkuri. Rosa Adriany 131 . Kandungan Klorin yang tinggi di dalam Batubara.2. 2006). pengurangan merkuri sampai dengan 90% dapat tercapai pada kecepatan injeksi karbon aktif sekitar 20 lb/Macf (million actual cubic feet) sedangkan untuk alat pengontrol baghouse (FF) untuk Batubara yang sama . umumnya menghasilkan Hg+2 dan Hgp yang lebih banyak di dalam flue gas dibandingkan dengan merkuri dalam bentuk Hgº (Zhuang. molekul Cl2 dan sebagai HCl. 2006). Diantara berbagai jenis Klorin tersebut.Gambar 1. Metode Pengurangan Emisi Merkuri pada Pembakaran Batubara .. Pengaruh kecepatan injeksi karbon aktif terhadap % pengurangan merkuri Pada Gambar 1 terlihat bahwa untuk alat pengontrol ESP pada Batubara Bituminous. 2003). Reaksi Heterogen adalah reaksi yang terjadi antara Klorin. 2006). Klorin di dalam flue gas. Hal ini kemungkinan disebabkan karena terbentuknya lapisan Karbon pada bagfilter sehingga penyerapan lebih maksimal (Praven.

pengetahuan mengenai interaksi Fisika dan Kimia antara partikel Gambar 2. 2005). Hasil penelitian Durham (2005) seperti tampak pada Gambar 2 berikut memperlihatkan pengaruh pencampuran batubara bituminous berkadar klorin tinggi (106 µg/g) dengan batubara sub bituminous berkadar klorin rendah (9 µg/g). Pengaruh dari UBC (Unburn Carbon) Pada umumnya kandungan karbon di dalam abu terbang berkisar antara 2-12%. Pengaruh pencampuran bituminous dengan sub bituminous terhadap persentase pengurangan emisi Hg 132 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Peningkatan kandungan UBC ini dikarenakan kondisi pembakaran yang kekurangan oksigen dan atau rendahnya suhu pembakaran (Zhuang. dengan penambahan SCR atau dengan melakukan pemanasan bertingkat. klorinasi merkuri pada flue gas dapat berlangsung melalui tiga cara yaitu pertama. tetapi dengan konfigurasi alat pengontrol Merkuri diganti menjadi SDA-ESP maka diperoleh hasil dimana efek pencampuran kedua Batubara tidak signifikan dalam meningkatkan efisiensi penangkapan Merkuri. Pada penelitian selanjutnya. Dengan demikian.Penelitian lain menunjukkan bahwa UBC dapat memfasilitasi perubahan HCl di dalam flue gas untuk membentuk pusat karbon terklorinasi.3. 3. Dari Gambar 2 terlihat bahwa semakin bertambahnya komposisi batubara bituminous dalam campuran maka semakin besar persentase Hg yang dapat dipindahkan. Dampak dari penggunaan teknologi ini adalah meningkatnya kandungan UBC yang ada di dalam abu terbang. katalis SCR atau partikel yang diinjeksikan (Zhuang. Penelitian dari Hasset dan Eylands membuktikan bahwa kenaikan kandungan UBC (Unburned Carbon) dan adanya penurunan suhu pembakaran akan menaikkan efisiensi penangkapan Merkuri di dalam abu terbang. 3. 2006). melalui reaksi fasa gas yang Homogen. Jumlah UBC yang ada di dalam abu terbang dipengaruhi oleh penggunaan alat pengontrol polutan NOx yang digunakan. melalui reaksi Heterogen dan yang ketiga melalui pembentukan pusat Heterogen yang dapat berupa permukaan padatan dengan kondisi yang sesuai seperti partikel UBC. 2006).4. Pengurangan emisi NOx umumnya dilakukan dengan berbagai strategi misalnya dengan memasang low-NOx burners. Alat pengontrol merkuri yang digunakan adalah SDA-FF. Pengaruh Pencampuran 2 Jenis Batubara Salah satu metode alternatif dalam meningkatkan kemampuan penangkapan Merkuri adalah dengan mencampurkan 2 jenis Batubara yaitu Batubara yang mengandung Klorin atau Bromin yang tinggi dengan Batubara yang mengandung Klorin atau Bromin rendah. Dalam beberapa kasus dapat mencapai kenaikan hingga 20 % berat. kedua. Bagaimanapun. Hal ini memperlihatkan bahwa konfigurasi SDA FF lebih baik dibanding SDA-ESF (Durham. untuk komposisi pencampuran yang sama dari Batubara yang sama.

icac. Pengaruh SO2 terhadap Karbon Aktif Karbon aktif dapat mengkatalisis SO2 menjadi H2SO4 di dalam Flue gas. SO2 terhadap Karbon Aktif Kapasitas Karbon aktif dalam mengadsorpsi Merkuri akan lebih tinggi pada saat kadar SO2 di dalam Flue gas lebih rendah. Dikarenakan konsentrasi SO2 di dalam Flue gas jauh lebih besar dibanding Merkuri maka kapasitas adsorpsi Karbon aktif bergantung pada konsentrasi SO2 yang dapat membentuk H2SO4 pada permukaan Karbon. “Electric Utility Steam Generating Units Hazardous Air Pollutant Emission Study (Mercury ICR). U.com. Oxidation Catalyst.. Zhuang. KESIMPULAN DAFTAR PUSTAKA Durham. UT. Pencampuran 2 jenis Batubara yang mengandung Klorin atau Bromin tinggi dengan Batubara yang mengandung Klorin atau Bromin rendah dapat meningkatkan efisiensi penangkapan Merkuri.5. Rosa Adriany 133 .nescaum. Hasil studi Durham menunjukkan bahwa untuk alat pengontrol ESP pada Batubara Bituminous.D.. www. Hasil studi EPA seperti pada Tabel 1. A. Asam Sulfat ini akan terakumulasi pada permukaan Karbon dan kemungkinan dapat menghambat adsorpsi Merkuri.reaction_eng.epa.gov.com.gov.org. www. Mercury Transformations in Coal Combustion Flue Gas”.. “Mercury Emissions From Coal – Fired Power Plants”. Senior.icac. Dalam hal ini adanya senyawa Halogen dalam jumlah yang cukup akan sangat membantu meningkatkan efisiensi penangkapan Merkuri (Zhuang. 2006. Tabel 2 dan Tabel 3 memperlihatkan bahwa pada Bituminous diperoleh konfigurasi alat pengontrol Polutan yang paling efisien adalah SDA/FF.com. Metode pengurangan emisi Merkuri yang maksimal pada pembakaran batubara seperti pada boiler bergantung pada beberapa faktor antara lain: 1. Snowbird.UBC dengan Merkuri. www. 2. masih kurang memadai (Zhuang. 4.org. Jenis Batubara dan Konfigurasi Alat Pengontrol Merkuri Jenis batubara yang berbeda dan konfigurasi alat pengontrol Polutan yang berbeda dapat menghasilkan efisiensi penangkapan Merkuri yang berbeda.S Environmental Protection Agency. pada Sub Bituminous adalah CS-FF dan pada Lignit adalah CSESP dan wet FGD Scrubber. C.undeerc. “Mercury Control for PRB and PRB/Bituminous Blends” www. Dengan demikian kapasitas Karbon aktif dalam mengadsorpsi Merkuri akan lebih tinggi pada saat kadar SO2 di dalam Flue gas lebih rendah. www. “Performance and Cost of Mercury and Multipollutant Emission Control Technology Aplication on Electric Utility Boilers”. 2006. 2005. 2000. 2003. M. pengurangan merkuri sampai dengan 90% dapat tercapai pada kecepatan injeksi karbon aktif sekitar 20 lb/Macf (million actual cubic feet) sedangkan untuk alat pengontrol baghouse (FF) untuk Batubara yang sama . Metode Pengurangan Emisi Merkuri pada Pembakaran Batubara .. pemisahan merkuri sampai dengan 90% dapat tercapai pada kecepatan injeksi 4 lb/Macf. Penambahan Halogen Adanya senyawa Halogen seperti Klorin baik yang berasal dari Batubara maupun yang ditambahkan sebagai aditif dapat meningkatkan oksidasi Merkuri (perubahan dari Hgº menjadi Hg+2 ) dan juga mempengaruhi perubahan Merkuri dari Hgº ke bentuk partikulat Merkuri (Hgp) 3. Century: Impacts of Fuel Quality and Operations Engineering Foundation Conference. Efisiensi penangkapan merkuri pada teknologi ACI bergantung pada kecepatan injeksi karbon aktif dan konfigurasi alat pengontrol polutan yang digunakan. 3.. Institute of Clean Air Companies. “Enhancing Mercury Control on Coal-Fired Boilers with SCR. Y.epa. EPA/600/ R-03/110. www. www. Praveen..L. 2006). 4. 2003.”Behaviour of Mercury in Air Pollution Control Devices on Coal-Fired Utility Boilers”.S Environmental Protection Agency. Pencampuran dua jenis Batubara. 2001. and FGD” . 2006). U.

Kata kunci: data seismik.000 m3. sehingga diperoleh volume sedimen seluruhnya adalah 350. Sedimen dan timah tersebut berasal dari darat dan dari tubuh granit di laut melalui sungai-sungai purba (paleochannels). Hasil perhitungan ketebalan rata-rata adalah 7 meter.000 ha. 236 Bandung 40174 e-mail: ediar.30 meter. lembah purba. SARI Pada kegiatan eksplorasi konsentrat timah di laut. Hasil eksplorasi konsentrat timah menggunakan data seismik refleksi ini dapat menjadi acuan dalam kegiatan studi kelayakan.com 2) Departemen Teknik Geologi.000 kg (1. dan luas daerah eksplorasi sekitar 5.usman@gmail. perairan utara Bangka 134 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . ketebalan kurang dari 4 meter. Prinsip kerja metode seismik refleksi ini adalah pantulan gelombang suara yang dapat membedakan antara granit.000. lembah-lembah purba ditunjukkan oleh bentuk morfologi cekungan pada permukaan granit yang terisi oleh sedimen dan konsentrat timah.EKSPLORASI POTENSI KONSENTRAT TIMAH BERDASARKAN DATA SEISMIK REFLEKSI (STUDI KASUS PERAIRAN BANGKA UTARA) Ediar Usman1) dan Andri S.050. 10 Bandung. Jumlah kandungan konsentrat timah tersebut merupakan potensi ekonomis untuk ekploitasi konsentrat timah di daerah eksplorasi. jenis dan ketebalan sedimen. memperlihatkan makin menebalnya sedimen ke arah utara (offshore) dengan ketebalan antara 10 . Hasil interpretasi penampang seismik refleksi di perairan Bangka Utara menunjukkan ketebalan sedimen mengandung timah antara 2 . Balitbang ESDM. Dr. dan konsentrat timah. Jl. potensi konsentrat timah. Daerah pengendapan sedimen dan timah yang dapat diidentifikasi melalui data seismik adalah lembah-lembah purba (paleovalleys) yang terisi sedimen (channel fill) berbutir kuarsa berukuran sedang-kasar. Sejalan dengan bertambahnya kedalaman laut.30 meter dan kedalaman batuan dasar adalah 65 meter sebagai pusat lembah. Subandrio2) 1) Pusat Eksplorasi dan Pengembangan Geologi Kelautan. Jika dalam volume 1 m3 sedimen.000. data penting yang diperlukan untuk mengetahui keberadaan dan perhitungan volume sedimen mengandung potensi konsentrat timah adalah data seismik refleksi.050. bahkan di beberapa tempat membentuk bidang yang tipis dengan ketebalan kurang dari 2 meter. Junjunan No. maka diperkirakan kandungan timah di daerah eksplorasi sekitar 1. Ganesa No. eksplorasi lebih rinci dan peningkatan investasi pertambangan di perairan Bangka Utara. Di bagian selatan. mengandung rata-rata 3 kg konsentrat timah. Pada penampang seismik.24 meter. Ketebalan terbesar terdapat di bagian tengah daerah eksplorasi berkisar antara 16 .000 ton). Institut Teknologi Bandung Jl.

Sebagai daerah jalur timah. Prinsip dasar seismik pantul beresolusi tinggi tersebut merupakan satu keterpaduan untuk mengetahui ketebalan.000. The principal of this reflection seismic method is sound wave reflection can differentiate between granite. tin concentrate potency. Berdasarkan metode seismik. termasuk konsentrat timah. Amount of the tin concentrate content represent the economic potency for the exploitation of tin concentrate in exploration area and its surrounding. Sebagai langkah awal untuk mengetahui keberadaan sedimen mengandung timah tersebut. type and sediment thickness. dipantulkan oleh bidang batas batuan dan selanjutnya diterima oleh seperangkat peralatan seismik (receiver). PENDAHULUAN Perairan Kepulauan Bangka Utara. dapat ditetapkan target kegiatan eksplorasi dalam mengidentifikasi sedimen mengandung konsentrat timah. territorial waters of North Bangka 1. Result of interpretation on reflection seismic profiles in the territorial waters of North Bangka shows that the sediment thickness with ranges from 2 to 30 meters.ABSTRACT At activity of tin concentrate exploration in the sea. Eksplorasi seismik dalam pelaksanaannya menggunakan seperangkat peralatan dengan menggunakan prinsip-prinsip gelombang suara yang dilepaskan ke dasar laut. If on 1 m3 volume of sediment with content 3 kg of tin concentrate. yang merupakan tempat akumulasi mineral berat. The area of depositional of sediments and tin concentrate identified through seismic data is paleovalleys which filled by sediment. In southern part of area. the paleovalleys is shown by basin morphology form at surface of granite that are loaded by sediment and tin concentrate.050. the content estimation of tin concentrate in the exploration area around 1. dan Subandrio. 2008). the important data that are needed to know existence and calculation of sediment volume of tin concentrate reserve is reflection seismic data. The thickest area lies in the center of survey area with depth ranges from 16 to 30 meters and depth of bedrock is 65 meters as central of paleovalley. ketebalan dan jenis sedimen. medium sand – very fine sand of quartz grain. paleovalleys. perlu dilakukan eksplorasi geologi dan geofisika kelautan dengan menggunakan metode seismik pantul beresolusi tinggi (high resolution) (Usman. Result of tin concentrate exploration by using the reflection seismic data can become reference on the activities of feasibility study. yaitu: 1..000. wide of exploration area around 5. Result of seismic profile calculation. The sediment thickness in this area is estimated between 10 to 24 meters.000 m3. Ediar Usman dan Andri S. penyebaran sedimen dan morfologi granit. Daerah sungai purba (paleochannel) dan lembah purba (paleovalley) bawah laut. and in some places it even forms thin layer of less than 2 meters. so that the sediment volume entirely is 350. Keywords: seismic data. more detail tin exploration and also increasing the mines investment in the territorial waters of North Bangka. 2. Sedimen berbutir kasar (coarse fluvial depos- Eksplorasi Potensi Konsentrat Timah Berdasarkan Data .000 ton). Subandrio 135 . On seismic profile. Melalui pemahaman karakter pantulan seismik pada penampang seismik akan dapat diinterpretasi ketebalan sedimen dan morfologi granit. diperkirakan di daerah ini terdapat lembah (paleo-channel) sebagai daerah sedimentasi pasir asal darat dan laut yang mengandung konsentrat timah. and tin concentrate..050.000 kg (1. sehingga dapat diketahui ketebalan dan lembah-lembah purba yang mengandung konsentrat timah. the deeper sea tends to northwards and also correlated with thicker sediment. melalui penjalaran gelombang suara dalam media air dan batuan. the average of thickness approximately is 7 meters. the thickness is less than 4 meters.000 ha. The tranportation of sediment and tin from land and granite body in sea through paleochannel. Survei seismik akan dapat memberikan gambaran tentang daerah akumulasi sedimen. secara regional merupakan daerah jalur timah (tin belt) yang kaya dengan konsentrat timah. Keberadaan dan keterdapan konsentrat timah di laut memerlukan alat bantu yang memberikan keyakinan tentang volume dan potensinya. On the contrary.

its). Perkembangan zona vulkanik Sumatera memperlihatkan bahwa granit Belitung berumur lebih tua (berumur Perem hingga Jura) (Lehmann Gambar 1. yaitu sedimen yang prospek mengandung timah. 2. Sebagai dasar dalam penentuan titik pemboran inti untuk mengetahui kualitas dan kuantitas timah secara vertikal dan horizontal. Secara umum lokasi survei termasuk dalam perairan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung kerana letaknya di luar perairan kabupaten/kota yang berjarak di luar daerah 4 mil laut. Daerah ini merupakan tinggian batuan dasar berada di sebelah timur Cekungan Sumatera Selatan dan di sebelah utara Cekungan Sunda (Katili. Pulau Bangka yang dimasukkan pada Main Tin Belt Granite dan di Pulau Belitung termasuk pada Western Tin Belt Granite (Gambar 2). 1980). 3. Daerah survei terletak di lepas pantai bagian utara Pulau Bangka. Batuan dasar granit ini muncul di sepanjang jalur timah yang mempunyai jenis berbeda-beda. Akumulasi mineral timah tidak jauh dari batuan sumber. Kepulauan Riau. Bangka-Belitung hingga Kalimantan Barat (Katili. 4. 1980. Morfologi batuan alas (bedrock) sebagai batuan sumber mineral timah. GEOLOGI REGIONAL Kerangka geologi regional Kepulauan Bangka dan pulau-pulau di sekitarnya termasuk dalam Punggungan Bangka Belitung (Bangka-Biliton Ridge). 1983). termasuk dalam wilayah perairan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung atau sekitar 7 km ke lepas pantai pada kedalaman laut 10 – 15 meter. Di perairan Bangka Utara dan sekitarnya. Peta lokasi eksplorasi 136 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . batuan alas adalah granit yang kaya dengan butiran kuarsa dan mineral timah (Sn). Batchelor. Punggungan ini merupakan bagian dari jalur timah batuan granit (Tin Belt Granite) dari Kraton Sunda yang memanjang dari daratan Thailand. Semenanjung Malaysia.

dicirikan oleh grafik anomali magnetik yang tajam dan oleh grafik gravitasi yang agak halus (smooth). perairan Bangka Utara terletak di Paparan Sunda (Sunda Shelf) yang secara tektonik telah stabil sejak awal Miosen. juga dicirikan oleh tubuh-tubuh batuan dasar kecil yang memiliki kecepatan seismik tinggi. Subandrio 137 . diabas. dibandingkan granit di Bangka dan di daratan pulau Sumatera yang berumur Trias. yaitu: Paparan Sunda Bagian Utara.Gambar 2.. andesit dan granit) berumur mesozoik hingga akhir Kapur yang kemudian pada awal Miosen diintrusi oleh granit dari berbagai jenis (Ishihara. Secara fisiografis. daerah survei termasuk bagian dari Platform Singapura. Berdasarkan kerangka tektonik. Cakupan platform ini mulai dari Laut Natuna di bagian Utara dan batas bagian selatan dari platform ini adalah Punggungan Bangka-Belitung (Bangka-Biliton Ridge). Ediar Usman dan Andri S. Platform Singapura merupakan pemisah antara Paparan Sunda bagian utara dan Paparan Sunda bagian selatan. Berdasarkan peta struktur pada top dari morfologi batuan dasar. Platform Singapura dan Paparan Sunda Bagian Selatan (Laut Jawa). 1990). Paparan Sunda dapat dibedakan menjadi tiga bagian (Tjia. 1970). 1977). Sedimen Kenozoik di platform ini hanya sampai ketebalan 500 meter. 1983) and Harmanto. yaitu Depresi Bangka yang memanjang dengan arah barat laut – tenggara (sejajar dengan pantai Eksplorasi Potensi Konsentrat Timah Berdasarkan Data . Pada platform ini terdapat dua depresi cekungan sedimen yang memiliki ketebalan sedimen lebih dari 800 meter.. Hal ini memberi informasi bahwa proses erosi pada tinggian-tinggian granit di daerah Bangka Belitung juga telah berjalan cukup lama. Peta jalur granit regional Asia Tenggara (Batchelor. sehingga hasilnya berupa endapan aluvial dalam bentuk endapan pantai dan laut telah berjalan lebih intensif. Platform tersebut dicirikan oleh morfologi batuan dasar yang dangkal dan ditutupi oleh sedimen yang tipis. Basement dari platform ini sebagian besar terdiri atas batuan beku (gabro.

Sumatera) dan Depresi Belitung yang memanjang berarah utara-selatan (sejajar dengan pantai barat Kalimantan). Di daerah survei, Punggungan Bangka-Belitung terdapat di bagian barat daya dan Depresi Bangka memotong bagian tengah daerah eksplorasi dengan arah barat laut - tenggara. Pulau Bangka merupakan bagian ujung selatan dari Platform Singapura dan terletak paling dekat dengan daerah eksplorasi. Pulau ini umumnya merupakan daerah yang hampir rata dan secara geologis dapat mewakili tataan geologi Platform Singapura, khususnya geologi Punggungan Bangka-Balitung dan umumnya untuk tataan geologi daerah eksplorasi. Secara geologis, Pulau Bangka berbeda dengan Pulau Sumatera, karena batuan tertua yang tersingkap di Pulau Bangka adalah Kompleks Pemali dari batuan metamorfik yang berumur Permo-Karbon. Kompleks ini diterobos oleh diabas Penyabung berumur Permo – Triasik. Geologi lepas pantai sekitar perairan Bangka Utara merupakan kelanjutan dari kondisi geologis Kepulauan Bangka Belitung. Batuan dasar berupa batuan magmatis granit maupun batuan beku lainnya, terbentang di atasnya sedimen PraTersier, dan tertutup oleh endapan marin yang merupakan sedimen permukaan dasar laut. Geologi lepas pantai dari hasil rekaman seismik pantul dangkal dan pemboran di Selat Gaspar di Tanjung Beriga, menunjukkan empat kelompok batuan sedimen yang diendapkan sampai umur Miosen (Batchelor, 1983), yaitu: a. Aluvium muda teridiri dari, sedimen penutup muda berumur Holosen dan Kompleks Aluvium berumur Plistosen Akhir. b. Unit Transisi terdiri atas sedimen laut, berumur Plistosen Akhir dan Unit Transisi berumur Plistosen Tengah. c. Sedimen penutup purba, berumur Plistosen Awal sampai Akhir terdiri atas fasies dataran aluvium purba dan menjemari dengan fasies kipas (sedimen bongkah granit). d. Regolit Daratan Sunda terdiri atas endapan koluvial dan materi kipas, berumur Pliosen dan latosol, laterit serta bauksit berasal dari pelapukan batuan dasar (granit dan batuan sedimen), berumur Miosen Akhir. Kepulauan Singkep Tujuh hingga Belitung berpotensi akan endapan kasiterit letakan. Secara

geologis, genesisnya merupakan sistem letakan lembah (placer valley systems). Sistem ini erat kaitannya dengan perubahan muka air laut (sea level changes) yang terjadi selama Plio-Plistosen (Yoo and Park, 2000), dan memengaruhi kondisi geologis saat ini, baik yang berada di daerah daratan maupun di daerah lepas pantai, khususnya daerah granit Sengkeli, Pering dan Lenggang. Perubahanperubahan muka air laut di masa lampau yang mencapai ± 100 meter ini setidaknya menyebabkan terjadinya tiga kali proses erosional (erosional events), yakni proses erosi, akumulasi sedimen rombakan dan tertutup oleh lapisan sedimen Resen. Perubahan muka air laut ini juga memengaruhi Paparan Sunda, khususnya Laut Jawa dan Selat Karimata saat ini, yakni membentuk alur-alur sungai purba, seperti yang teridentifikasi oleh Emery dan Aubrey (1972) (Gambar 3). Pada aluralur sungai purba ini dipercayai mengandung potensi sumber daya mineral yang merupakan endapan plaser. Berdasarkan kondisi regional, potensi konsentrat timah di perairan Bangka Utara sampai saat ini belum diketahui secara pasti karena keterbatasan data eksplorasi secara rinci dan publikasi terdahulu. Data yang ada masih bersifat regional, dan masih memerlukan kajian-kajian yang lebih terpadu dari berbagai publikasi dan eksplorasi timah terdahulu. Kajian potensi saat ini mengacu pada data geologi dan sungai-sungai purba regional di daerah eksplorasi, khususnya di utara Pulau Bangka (Gambar 3). Kegiatan eksplorasi dan penambangan timah saat ini mengacu pada sistem penyebaran sungai dan lembah purba. Kegiatan survei seismik dilakukan untuk mengidentifikasi keberadaan lembah dan sungai purba serta cabang-cabangnya yang berukuran lebih kecil, tetapi diyakini sebagai pembawa konsentrat timah. Berdasarkan geologi regional dan distribusi sungaisungai purba tersebut dapat diperikirakan penyebaran sedimen mengandung timah di perairan Bangka Utara. Secara umum, sedimen akan mengalami proses transportasi dari darat ke laut melalui sungai-sungai purba dan menyebar dalam bentuk limpahan secara lateral dan vertikal (progradation) ke morfologi cekungan di laut. Pada umumnya, sungai-sungai purba tersebut tertutup oleh sedimen Resen yang lebih muda. Untuk itu, eksplorasi timah berdasarkan metode seismik di

138

PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009

Gambar 3. Peta distribusi sungai-sungai purba (paleo-channel) di perairan Bangka sebagai daerah aliran sedimen mengandung konsentra timah (disederhanakan dari Emery, 1972)

perairan Bangka Utara diharapkan dapat menemukan lembah dan sungai purba sebagai indikasi awal keberadaan timah.

3.

METODE EKSPLORASI

Geologi bawah permukaan dasar laut (struktur dan batuan) disusun berdasarkan penafsiran data seismik pantul dengan menggunakan prinsipprinsip Seismik Stratigrafi, yaitu pengenalan terhadap ciri-ciri reflektor batas atas, batas bawah dan bagian dalam (internal reflector) setiap unit seismik (Sangree & Wiedmier, 1979; Sherif, 1980). Interpretasi lapisan sedimen mengandung konsentrat timah adalah daerah yang dekat dengan batuan sumber (bedrock), membentuk lembah sebagai akumulasi daerah dengan berat jenis tinggi dan litologinya adalah coarse fluvial deposits (sedimen fluvial berbutir kasar) atau disebut sedimen Kuarter. Selanjutnya, guna memastikan sedimen mengandung konsentrat timah, data seismik dikorelasi dengan data pemboran sehingga

diperoleh gambaran menyeluruh tentang potensi konsentrat timah di daerah eksplorasi. Data tersebut kemudian diolah secara digital untuk mendapatkan volume endapan dan selanjutnya dapat diperhitungkan potensi konsentrat timah. Pengambilan data seismik di perairan Bangka Utara gunanya untuk mengetahui ketebalan lapisan sedimen Kuarter, lembah dan saluran (channels) pada batuan dasar. Lembah dan saluran di bawah dasar laut atau pada batuan dasar akan terlihat dari pola kontur kedalaman batuan dasar tersebut. Perhitungan ketebalan sedimen dan kedalaman granit berdasarkan atas perhitungan dengan persamaan: S = V x t, di mana S adalah jarak, V kecepatan gelombang dalam sedimen V.sed) dan t adalah waktu. Kecepatan gelombang dalam sedimen dengan V.sed = 1600 meter/Sec. (Hubrol et al., 1980; Khesin et al., 1995). Pada eksplorasi ini dipergunakan sapuan (sweep) adalah 0,25 Sec. dan firing rate adalah 1 Sec. Total sapuan seismik adalah 250 milli Sec. dalam Two Way Traveltime (TWT) atau 125 milli Sec. dalam One Way

Eksplorasi Potensi Konsentrat Timah Berdasarkan Data ... Ediar Usman dan Andri S. Subandrio

139

Traveltime (OWT). Selanjutnya setelah diperoleh ketebalan sedimen, dan luas daerah eksplorasi 5000 ha dapat dihitung volumen sedimen berdasarkan metode Trapezoidal dan Simpson’s Role dengan rumus luas kali tebal secara digital. Volume juga dapat dihitung berdasarkan luas dan tebal rata-rata.

Hasil interpretasi rekaman seismik di daerah survei diperoleh pola reflektor yang menunjukkan batuan sedimen dengan ciri-ciri di bagian atas adalah selaras (concordance), laminasi sejajar, bergelombang terputus-putus, perlapisan terpotong-potong. Bagian bawah membentuk pengisian, longsoran, dan bidang ketidakselarasan. Pada penampang seismik Lintasan 36 (LINE 36) berarah barat – timur menunjukkan batas yang tegas antara batuan sedimen di bagian atas dan granit di bagian bawah. Pada penampang tersebut juga menunjukkan adanya daerah lembah purba yang berbentuk cekungan pada permukaan granit dan terisi oleh sedimen. Pada cekungan tersebut pengisian oleh sedimen hasil transportasi dari darat dan dari tubuh granit di laut. Pada penampang Lintasan 36 (LINE 36) (Gambar 4) dengan arah lintasan barat – timur dan hasil interpretasinya (Gambar 5) memperlihatkan keberadaan lembah berada di bagian timur daerah survei makin dalam ke arah utara. Di bagian barat tersebut, keberadaan lembah lebih dangkal dan tipis, tetapi berdasarkan bentuk reflektor yang masih menunjukkan ciri-ciri bergelombang terputus-putus, perlapisan terpotong-potong, longsoran dan pengisian diperkirakan di bagian barat lebih kasar dibandingkan dengan bagian timur. Di bagian timur ditandai oleh hilangnya pantulan di bagian lembah, sebagai akibat gelombang seismik melalui madium yang halus (kaolin) atau medium yang kasar (kerikil) yang berongga dengan kandungan air yang tinggi. Antara batuan dasar sebagai batuan alas dengan sedimen Kuarter di bagian atas dipisahkan oleh suatu bidang pepat erosi. Bidang tersebut mengalasi sedimen yang dibedakan dari perbedaan ciri-ciri reflektor. Secara umum ciri-ciri reflektor pada penampang barat – timur seperti contoh pada L-36 mempunyai kesamaan dengan ciri-ciri pada penampang lainnya yang menggambarkan batuan alas di bagian bawah dan sedimen Kuarter di bagian atas sebagaimana yang dikemukakan oleh Ringis (1993). Bila dikaitkan dengan kondisi geologis dasar laut regional, sumber sedimen-sedimen tersebut adalah granit terdekat yang mengalami erosi yang intensif. Setelah seluruh lintasan seismik diinterpretasi, dan dilakukan perhitungan ketebalan berdasarkan kecepatan gelombang dalam sedimen (V.sed = 1600 m/det) dan waktu penjalaran gelombang to-

4.

HASIL EKSPLORASI

Ketebalan Sedimen dan Kedalaman Lembah Purba Ketebalan sedimen diperoleh dari hasil interpretasi rekaman seismik yang dilakukan berdasarkan pengenalan terhadap ciri-ciri reflektor. Pengenalan lainnya adalah kenampakan batas antara sedimen dan batuan dasar yang ditandai oleh penguatan reflektor sebagai bidang batas (Sukmono, 1999; Priyono, 2000). Batuan sedimen umumnya berukuran lempung, lanau, pasir dan kerikil dengan ciri-ciri reflektor adalah selaras (concordance), laminasi sejajar, bergelombang terputus-putus (wavy), perlapisan terpotong-potong (hummocky), longsoran (slump) dan pengisian (channel fill). Batas antara granit dengan sedimen Kuarter membentuk bidang ketidakselarasan atau pepat erosi (erosional truncation) atau kontak onlap (Sangree and Wiedmier, 1979; Sherif, 1980). Sedangkan ciriciri reflektor granit sebagai batuan alas/dasar pada penampang seismik adalah berbukit-bukit (mounded), berbintik-bintik kacau tidak beraturan (chaotic), kadang-kadang muncul perulangan bidang pantulan (multiple) dan makin ke bawah bebas pantulan (free reflektor) (Ringis, 1993). Adanya pola choatic dan multiple menunjukkan gelombang melalui medium yang keras dan padat berupa batuan tanpa bidang perlapisan. Ciri-ciri seperti ini dapat diinterpretasikan sebagai batuan alas dan antara keduanya dipisahkan oleh bidang ketidakselarasan (erosional truncation). Bagian paling bawah sering disebut sebagai Acoustic Basement dan sekaligus juga merupakan batuan dasar. Di perairan Bangka-Belitung, batuan alas adalah granit (Batchelor, 1983); sedangkan hilangnya pantulan gelombang (free reflektor) dapat juga disebabkan oleh adanya medium yang halus (ada organik), porous dan berongga. Pada batuan beku tidak memberikan respon seismik, karena batuan tidak berlapis dan bersifat homogen (Boggs, 2006).

140

PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009

tal pada total penampang seismik adalah 0,125 Sec, diperoleh ketebalan sedimen. Selanjutnya, setelah seluruh lintasan diinterpretasi dan dihitung ketebalannya, dan data ketebalan tersebut diplot

pada peta kerja dengan menarik kontur yang mempunyai angka ketebalan yang sama, maka akan menghasilkan peta ketebalan sedimen (isopach) (Gambar 6).

Gambar 4. Penampang seismik pantul Lintasan 36 (LINE 36) dengan arah Timur - Barat

Gambar 5. Hasil interpretasi rekaman seismik pantul Lintasan 36 (LINE 36) dengan arah Timur – Barat

Eksplorasi Potensi Konsentrat Timah Berdasarkan Data ... Ediar Usman dan Andri S. Subandrio

141

Penebalan ke bagian atas. berarti penebalan ke bagian atas membentuk gosong pasir. Selanjutnya.30 meter. Peta ketebalan sedimen (isopach) perairan utara Bangka Pada bagian kontur yang rapat menunjukkan ketebalan sedimen lebih besar. Tetapi bila ketebalan sedimen dengan kontur yang rapat tidak berhimpitan dengan morfologi lembah. Bila ketebalan tersebut tepat pada morfologi lembah pada batuan dasar. bahkan di beberapa tempat membentuk bidang yang tipis dengan ketebalan kurang dari 2 meter. Secara genesis. Hasil pengukuran ketebalan sedimen diperoleh ketebalan berkisar antara 2 . peta ketebalan sedimen tersebut ditumpangtindihkan dengan peta morfologi batuan dasar. Selanjutnya. Sejalan dengan bertambahnya kedalaman laut. memperlihatkan makin menebalnya sedimen ke arah utara dengan ketebalan antara 10 . 142 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . morfologi granit dan kedalaman lembah purba digambarkan oleh garis kontur kedalaman batuan dasar. Makin menipisnya sedimen di bagian selatan disebabkan makin mendekat ke arah pantai dengan batuan dasar yang lebih dangkal. Di bagian selatan.Gambar 6. Pada penampang seismik. maka kondisi ini menujukkan bahwa sedimen tersebut menebal ke arah bawah. lembah purba pada penampang seismik dikenal sebagai pengisian lembah. menunjukkan adanya sedimen Resen dengan proses sedimentasi ke bagian atas dan tidak berhimpitan dengan lembah atau sungai purba. ketebalan kurang dari 4 meter. sehingga dapat dikembangkan lebih lanjut untuk eksplorasi lebih rinci.30 meter.25 meter. Bagian paling tebal terdapat di bagian tengah daerah eksplorasi berkisar antara 16 . Pada daerah morfologi lembah pada batuan dasar tersebut merupakan daerah yang mempunyai volume sedimen yang besar dan prospektif konsentrat timah yang besar.

Di bagian utara kedalaman batuan dasar bervariasi dan bersifat setempat-setempat.35 meter. yaitu granit (Gambar 7). Peta morfologi batuan dasar (granit) di perairan Bangka Utara meter. Bagian terdalam lembah purba tersebut terletak di bagian tengah.40 meter.24723 – 354.982. morfologi batuan dasar relatif datar dengan kedalaman antara 20 . Metode yang dipergunakan dalam penghitungan volume/potensi adalah Trapezoidal dan Simpson’s Role diperoleh volume sedimen perairan utara Bangka adalah antara 353.65 Secara umum. Kondisi ini disebabkan karena di bagian selatan makin menuju ke arah perairan pantai Pulau Bangka sebagai pusat granit.. kedalaman batuan dasar di bagian selatan makin dangkal dibandingkan bagian utara. Di bagian barat laut. tebal. terdapat kedalaman lembah purba antara 50 . Estimasi Volume Sedimen dan Potensi Konsentrat Timah Selanjutnya.. Berdasarkan pemahaman geologi regional. untuk mendapatkan kandungan sedimen di daerah eksplorasi adalah Vol = luas x Gambar 7. dasar akustik tersebut diinterpretasikan sebagai batuan dasar (bedrock). berkisar antara 60 . Sedangkan di bagian selatan. Subandrio 143 .412.kedalaman batuan dasar merupakan bagian permukaan dari dasar akustik gelombang seismik (basement accoustic).795. Metode lainnya sebagai koreksi dilakukan secara Eksplorasi Potensi Konsentrat Timah Berdasarkan Data .79397 m3. Ediar Usman dan Andri S.688. Lembah-lembah purba ditunjukkan oleh kontur yang rapat dan bulat mamanjang relatif barat – timur. disebut sebagai basement top. pada umumnya kedalaman lembah purba antara 20 .60 meter.

Jika luas daerah eksplorasi adalah 5000 ha (dihitung pada program MapInfo) dan ketebalan rata-rata berdasarkan hasil perhitungan pada penampang seismik sekitar 7 meter.000 kg (1.000 m3. Sungai-sungai purba tersebut melewati beberapa lembah-lembah purba. PEMBAHASAN survei. Sedangkan alur-alur yang berukuran lebih kecil di bagian tengah. dan di bagian barat laut berkisar antara 50 .050. dan di bagian barat laut dari arah timur ke barat.000 ton). Dua lembah purba tersebut terletak di bagian tengah dan bagian barat laut. Alur sungai purba hasil interpretasi seismik sebagai daerah aliran dan pengendapan sedimen mengandung konsentrat timah di daerah survei 144 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .000. maka diperoleh volume sedimen 350.65 meter.60 meter. Di bagian tengah kedalaman lembah berkisar antara 60 . 2008). Alur sungai purba di bagian tengah tersebut berarah dari barat ke timur. selatan dan timur mempunyai arah yang bervariasi (Gambar 8). alur sungai purba di daerah survei tersebut merupakan cabang dari sistem alur purba regional Hasil interpretasi seismik dan kedalaman batuan dasar dapat dilakukan proses rekonstruksi lokasi dan penyebaran sungai-sungai purba di daerah Gambar 8. Berdasarkan posisinya terhadap sungai purba regional. 5.050.sederhana dengan menghitung ketebalan rata-rata pada penampang seismik dan luas daerah eksplorasi. dan diperkirakan keduanya sebagai pusat atau muara dari aliran sungai purba yang juga merupakan pusat pengendapan sedimen mengandung konsentrat timah.000. maka total kandungan timah adalah 1. Jika setiap 1 m3 mengandung rata-rata 3 kg timah (Usman and Subandrio. dan dua di antaranya merupakan lembah purba terdalam dan terbesar di daerah survei. Hasil perhitungan secara digital dan manual tersebut tidak menunjukkan perbedaan yang terlalu besar.

Ketebalan sedimen dan lembah purba merupakan bagian terpenting dari kegiatan eksplorasi konsentrat timah. studi kelayakan. ketebalan kurang dari 4 meter. Ediar Usman dan Andri S. Sedimen yang menutupi sungai-sungai purba.35 meter.412. 1983. sehingga akan menambah akurasi keberhasilan dalam survei-survei berikutnya. Di samping itu. Secara umum. mempercepat waktu dan menghemat biaya dalam survei-survei berikutnya. 2000).000.000 m 3 . Dept. 1972. sejak sekitar 1. Akibatnya.1. suluruh wilayah laut di Paparan Sunda termasuk di Selat Malaka dan Laut Jawa mengalami proses kekeringan. Makin menipisnya sedimen Eksplorasi Potensi Konsentrat Timah Berdasarkan Data .30 meter. seperti eksplorasi lanjut. 1996). Kuala Lumpur. dan di utara perairan Bangka Belitung yang bermuara ke Laut China Selatan (Emery and Aubrey. sehingga memungkinkan proses pengendapan terjadi yang membentuk lapisan sedimen yang cukup tebal mencapai 30 meter. 1983). Data ini juga akan menjadi arahan dalam menentukan daerah akumulasi sedimen mengandung konsentrat timah. diikuti oleh pembentukan alur-alur purba yang mengerosi batuan dasar berupa granit membentuk sedimen yang kaya mineral kuarsa dan konsentrat timah (Batchelor. Data ini akan menjadi dasar dalam eksplorasi yang lebih rinci. Sejalan dengan bertambahnya kedalaman laut.. kedalaman batuan dasar di bagian selatan makin rendah dibandingkan bagian utara karena di bagian selatan makin menuju ke arah daratan Pulau Bangka sebagai pusat granit. 1972).40 meter.24723 – 354. terdapat di perairan Laut Jawa. Hasil eksplorasi ini telah dapat menggambarkan kondisi yang dimaksud dan menjadi dasar dalam eksplorasi berikutnya. Kedalaman lembah purba menunjukkan bagian terdalam terletak di bagian tengah. Alur purba terbesar di Paparan Sunda. Springer- 6. sehingga sungai-sungai purba tertutup oleh sedimen (Zaim. Periode ini merupakan masa iklim dingin global yang ditandai terjadinya peningkatan pembentukan es di kutub.. Pada eksplorasi yang menggunakan metode seismik pantul.. estimasi volume sedimen dan potensi konsentrat timah. Kondisi ini juga akan mempermudah.79397 m3. dan batuan di daratan Paparan Sunda mengalami proses pelapukan dan erosi (Zaim. di beberapa tempat kurang dari 2 meter.O.24 meter. S.. bagian paling tebal terdapat di bagian tengah daerah antara 16 . D. memperlihatkan makin menebalnya sedimen ke arah utara dengan ketebalan antara 10 . Land Levels..D. Subandrio 145 .65 meter dan di bagian barat laut kedalamannya antara 50 . dan di bagian selatan. New Jersey: 618 pp. merupakan periode awal proses sedimentasi di Paparan Sunda (Yoo and Park. Of Geology. B. Proses pengendapan sedimen tersebut telah berlangsung cukup lama.30 meter.60 meter.G. Late Cenozoic Coastal and Offshore Stratigraphy in Western Malaysia and Indonesia. identifikasi sungai dan lembah purba akan mempermudah dalam perencanaan kegiatan eksplorasi rinci dan studi kelayakan. Pearson Prentice Hall. and Aubrey.8 juta tahun lalu (Yoo and Park. 1996). DAFTAR PUSTAKA Boggs.. 2000) dan Laut Jawa. Pada saat penurunan permukaan laut.982. Volume sedimen berdasarkan perhitungan Grid Volume Computations adalah antara 353. kedalaman antara 20 .C. Di bagian utara kedalaman batuan dasar bervariasi antara 20 . and Tide Gauges.688. Emery. University Malaya. dan adanya jejak lembah-lembah purba yang terbentuk sejak awal Plistosen di daerah survei dapat diamati secara langsung melalui rekaman seismik pantul. Di bagian selatan. Hasil perhitungan antara Computations dan manual menunjukkan volume yang hampir sama dan perbedaan yang tidak terlalu besar. Sedangkan berdasarkan perhitungan manual diperoleh sebesar 350. Sistem ini erat kaitannya dengan penurunan permukaan laut yang terjadi di Paparan Sunda selama periode PlioPlistosen atau sekitar 2 . berkisar antara 60 . hasil data seismik dapat menggambarkan kondisi vertikal dan lateral granit sebagai batuan sumber sedimen dan konsentrat timah.795. Sejak dimulainya pencairan es di kutub pada awal Plistosen tersebut. KESIMPULAN Ketebalan sedimen berkisar antara 2 . Thesis Ph. Principles of Sedimentology and Stratigraphy.yang bermuara di Laut China Selatan. Batchelor. 2006. K. Jr. di bagian selatan disebabkan makin mendekat ke arah pantai dengan batuan dasar yang lebih dangkal.8 juta tahun. Sea Levels.

Lehmann. Interpretation of Geophysical Fields in Complicated Environments. D. 2008. Quaternary Shorelines of the Sunda Land. 1995. Deposit Models for Detrital Heavy Minerals on East Asian Shelf Areas and the Use of High Resolution Seismic Profiling Techniques in Their Exploration.. 1993. Ishihara. Eppelbaum.. South East Asia. Jurusan Geofisika Institut Teknologi Bandung. Belitung Island.E. 146 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Western Geophysical Company.. A Modern View.A. Makalah PIT Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (PIT IAAI) ke-VII.. Katili. Indonesia. J. 2000. 1977.. E. High Resolution Seismic Study as a Tool for Sequence Stratigraphic Evidence of High Frequency Sea Level Changes: Latest Pleistocene-Holocene Example from Korea Strait. Kluwer Academic Publishers. Geol. The Magnetite Series and Ilmenite Series Granitic Rocks.V. 1980. Shallow Seismic Imaging for Paleo-Channel Mapping Related To Tin Prospecting On Tanjung Penyusuk Offshore. Penerbit ITB. and Park.Verlag Pub.. and Krey. B. Interval Velocities from Seismic Reflection Time Measurements. 49(2): p. Northern Bangka.. V. Priyono. Intern Report: 90 pp. Y. A. A.: 237pp. Interpretation Facies from Seismic Data. 27: 293-305. London: 352 pp.35-144.B. S. T. 255 hal. B. Geophysic 44(2): 131 pp. S. Ringis. Tjia. J. and Subandrio.M.. Joint Exploration of MGI – APMR/APRI. 1996. Bandung: 269 hal. 70(2): 296-309. Large Scale Tin Depletion in the Tanjung Pandan Tin Granite.. Interpretasi Seismik Refleksi. 85: 99-111. Jour.G. Econ. J. 2000. Stratigrafi Kuarter di Indonesia: Pengaruh Perubahan Muka Laut Global Kala Plistosen Terhadap Penyebaran dan Lingkungan Hidup Manusia Purba di Jawa. 1990. Zaim. 1970. Cipanas... Mijnbouw. Texas USA: 203 pp. Journal of Sedimentary Research. Boston: 222 pp. 1979. Seismic Stratigraphy.. International Human Resources Development Corporation... Directorate General of Mines. R. Sherif. H. CCOP Publication. J.E. Geol. 1999. Alexeyen. 1980. of Mining Geol. P.S.. Sangree.C. Sukmono.D. Jakarta: 271 pp. Hubrol. S. Diktat Kuliah Program Pasca Sarjana Geologi dan Geofisika Institut Teknologi Bandung. Geotectonics of Indonesia. Interpretasi Geologi Seismik. Usman. and Wiedmier. Yoo. 1980. Khesin. and Harmanto..

dan kandungan sulfur >2% dalam air dried basis (adb). Datin F. yaitu nilai kalor.id SARI Energi mempunyai peranan yang sangat penting dalam pembangunan nasional yang berkelanjutan.id. baik di dalam usaha penambangan. maka diusulkan 3 (tiga) alternatif nilai bagi hasil untuk batubara mutu rendah sebagai berikut : a) Alternatif I : Dua atau tiga parameter : 10. maseral dan sifat fisik) maupun peringkatnya yaitu rendah (lignit).600 kkal/kg : 9.go.0 % Parameter Lignit : 7. yaitu 104.id.5 % Parameter Lignit : 7. nilai bagi hasil Penetapan Nilai Bagi Hasil atas Produksi Batubara Mutu Rendah.5% Kata kunci : batubara mutu rendah. Ijang Suherman. Rochman Saefudin.go.5 % b) Alternatif II : Dua atau tiga parameter : 10. Bandung.0% NK d” 4.100 kkal/kg.623.PENETAPAN NILAI BAGI HASIL ATAS PRODUKSI BATUBARA MUTU RENDAH Rochman Saefudin. Batubara sebagai salah satu sumber energi jumlahnya sangat besar. perlu ditetapkan nilai bagian pemerintah atas produksi batubara mutu rendah dari pengusahaan(PKP2B) supaya bisa bersaing dengan batubara mutu baik.go.6038027 e-mail : rochman@tekmira. Jenderal Sudirman No.esdm.Umar. tiga atau empat parameter : 9.100 kkal/kg < NK > 4. 022 . ijang@tekmira.esdm. maupun pemanfaatannya sebagai bahan bakar atau bahan baku.go.esdm. kandungan abu >17%.id. Dari hasil kajian yang telah dilakukan melalui model simulasi dengan menggunakan 4 (empat) parameter. Batubara mutu rendah adalah batubara yang memiliki nilai kalor < 5. Batubara sebagai salah satu sumber energi dapat berfungsi sebagai bahan bakar dan bahan baku.0 % Empat parameter atau lebih : 8.6030483 Fax. dkk. datin@tekmira. baik dilihat dari jenis (komposisi kimia. namun dari jumlah batubara tersebut sebagian besar merupakan batubara bermutu menengah dan bermutu rendah yang kurang ekonomis bila diusahakan.5 % d) Alternatif IV : Membagi nilai bagi hasil batubara mutu rendah berdasarkan nilai kalornya (NK).esdm.600 kkal/kg : 7. yaitu : 5. Agar pengusahaan batubara mutu rendah bisa ekonomis. dan natrium. 147 . terutama untuk mendukung proses industrialisasi. Bukin Daulay Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. menengah (subbituminus) dan tinggi (bituminus-antrasit). abu.0 % c) Alternatif III : Dua.0 % Empat parameter atau lebih : 8.8 miliar ton dengan mutu yang sangat bervariasi. sulfur. bukin@tekmira. 40211 Telp. 022 .

can function as fuel and raw material.4%. either the mining operation or the utilization as fuel or raw material.8 miliar ton sebagian besar termasuk ke dalam katagori batubara peringkat rendah (Low Rank Coal) (Pusat Sumber daya Geologi.600 kcal/kg : 9. 2008). PENDAHULUAN Meningkatnya peran batubara sebagai pemasok energi di masa mendatang membuat industri ini memiliki daya tarik yang sangat besar bagi para investor tak terkecuali di Indonesia. According to the assessment that has been carried out through a simulation model by applying 4 parameters that are calorific value. Indonesia sendiri mengalami pertumbuhan konsumsi batubara yang cukup pesat dalam beberapa tahun terakhir.8 billion tons. most of the coals is low-rank coal (LRC) and is not economical for the utilization.5 % e) Alternative IV Dividing the value of production sharing of LRC based on its calorific value (CV): 5.545 juta ton pada 2008. sulphur and sodium.600 kcal/kg : 7. Peningkatan jumlah konsumsi yang sangat tajam tersebut disebabkan meningkat tajamnya permintaan batubara sebagai sumber energi terutama untuk pembangkit listrik.2 juta ton pada 1997 menjadi 52. Coal. bituminous and anthracite). In order to improve the business of the LRC economically. it needs to determine a value of the government side for the LRC production from Coal Contract of Work. it is suggested 3 alternatives of the production sharing for the LRC as follows: a) Alternative I 2 or 3 parameters : 10. Its quality is various according to the type (chemical composition.0 % 4 parameters or more : 8.0 % Lignite parameter : 7. ash content of >17% and sulphur content of >2% in air-dried basis (adb). However.0 % 4 parameters or more : 8. dari jumlah cadangan batubara Indonesia sebesar 104.ABSTRACT Energy has a main role in the sustainable national development to particularly support the industrialization process.5 % b) Alternative II 2 or 3 parameters : 10.100 kcal/kg. one of the energy sources. Di sisi lain. ash.0% CV d” 4. so that it can compete with high-rank coals. The LRC has a calorific value of <5. baik di dalam negeri maupun di negara-negara importir. atau meningkat 4 kali lipat (392%). yakni dari 13.5 % Lignite parameter : 7. which is 104. 3 or 4 parameters : 9. value of production sharing 1.5% Keywords: low-rank coal (LRC).100 kcal/kg < CV > 4. subbituminous. Untuk mencapai sasaran bauran energi nasional 2025. yakni pemakaian batubara diharapkan mencapai 34. maka salah satu langkah yang perlu dilakukan untuk menunjang ketahanan energi nasional tersebut adalah menetapkan tarif nilai bagi hasil untuk pengusahaan batubara mutu rendah yang akan menjadi pemasok batubara 148 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .0 % c) Alternative III 2. maceral and physical property) and the rank (lignite. Coal has a huge potential in Indonesia. Tidak mengherankan apabila sejalan dengan itu jumlah perusahaan pertambangan batubara di Indonesia pun tumbuh pesat khususnya dalam beberapa tahun terakhir.

danau. Potensi dan Cadangan Wilayah Indonesia diketahui memiliki potensi endapan batubara sangat luas. namun batubara yang bernilai ekonomis untuk dikembangkan hanya terkonsentrasi pada cekungan-cekungan Tersier di Indonesia bagian barat yaitu di pulau Sumatera dan pulau Kalimantan.100 .68 27.22 66. dan secara ekonomi memenuhi kriteria layak tambang. belerang. dan batubara mutu tinggi seringkali dikaitkan dengan tujuan pemanfaatan batubara itu sendiri yang tergambarkan dengan permintaan pada spesifikasi batubara yang diinginkan.81 22. dll) Sifat fisik batubara (kekerasan.43 0.39 12. yaitu : 1) Batubara Kalori Rendah < 5.721. dan delta yang kadang-kadang dipengaruhi oleh pasang surut air laut.16 10.43 1. 4) Batubara Kalori Sangat Tinggi > 7. Yang ada adalah ketentuan bagian pemerintah untuk batubara mutu baik sebesar 13.187.18 90.82 1.100 . 2008 Kualitas Kalori Rendah Kalori Sedang Kalori Tinggi Kalori Sangat Tinggi Total Sumberdaya (Juta Ton) Hipotetik 5. pada umumnya didasarkan pada: Peringkat Batubara (Coal Rank) Nilai Kalori (Calorivic Value) Kandungan bahan/unsur dalam batubara (kadar air.550.620. besarnya hasil produksi batubara yang harus diserahkan kepada Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dapat dipertimbangkan kembali berdasarkan hasil kajian yang diajukan oleh perusahaan Kontraktor Swasta” menghasilkan jenis batubara yang bervariasi dalam bentuk dan ketebalan (kuantitas) maupun kualitas batubara.756.75 Tahun 1996 tentang Ketentuan Pokok Perjanjian Kontrak Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara Pasal 3 ayat 2 yang berbunyi : “Dalam hal pengusahaan pertambangan dilakukan dengan cara bawah tanah dan atau batubara yang diproduksi ternyata bermutu rendah.021.61 422.08 Terukur 5.1.7.100 kal/gr.100 kal/gr. 149 .057. kuantitas. khususnya untuk PKP2B. batubara mutu sedang.96 100.738. Endapan batubara di Indonesia terbentuk pada lingkungan pengendapan yang bervariasi mulai lingkungan rawa-rawa. Berdasarkan tingkat kalorinya batubara Indonesia dibagi menjadi 4 (empat) bagian . Kualitas.6.941. Kriteria kualitas batubara dapat dibedakan atas beberapa macam. darat. dkk.41 482.956.100 kal/gr. cadangan dan produksi batubara Indonesia. Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral adalah sebesar 104. abu. 2008 Penetapan Nilai Bagi Hasil atas Produksi Batubara Mutu Rendah.79 Tertunjuk 3. yang dihimpun oleh Pusat Sumber Daya Geologi tahun 2008 dari laporan perusahaanperusahaam PKP2B di Indonesia adalah sebesar 22. sumberdaya.183. 2) Batubara Kalori Sedang 5.untuk PLTU sehingga harganya bisa kompetitif dengan batubara mutu baik.96 11.2 miliar ton (Tabel 1).05 69.251. zat terbang. laguna.64 104. Jumlah sumber daya batubara Indonesia tahun 2008 berdasarkan perhitungan Pusat Sumber Daya Geologi.11 34.764.888.069. TINJAUAN PUSTAKA 2.5% dari produksi batubara yang terjual.588.8 miliar ton.83 Jumlah % 20.19 4. titik leleh abu).21 6.001.65 13.80 25. kualitas. Hal tersebut perlu dilakukan karena sampai saat ini belum ada ketetapan tarif yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk pengusahaan batubara mutu rendah. Rochman Saefudin. karbon tertambat. Keadaan lingkungan pengendapan yang berbeda-beda tersebut Tabel 1. muai bebas. bentuk.056.29 5.57 Total 21. dan ketentuan tambahan yang tertuang di dalam Keppres No.100 kal/gr.00 Sumber : Pusat Sumbe Daya geologi. 3) Batubara Kalori Tinggi 6. sebaran.40 Tereka 6.24 18. Penggolongan kualitas batubara mutu rendah.708.50 1. 2. dengan jumlah cadangan batubara Indonesia dihitung terhadap endapan bahan batubara yang telah diketahui ukuran.93 32.146.815.

oksigen (O) dan sulfur/ belerang (S). silikat dan karbonat. analisis komposisi abu. nilai muai bebas (free swelling index). Jenis atau tipe batubara sangat dipengaruhi oleh jenis tumbuhan pembentuk dan lingkungan pengendapan dimana batubara tersebut terdapat. komposisi maseral (maceral composition) dan reflektansi vitrinit (vitrinite reflectance). sulfida. pengguna batubara khususnya pembangkit listrik dan pabrik semen sudah dapat memprediksi perilaku unsur-unsur tersebut baik pada saat berlangsungnya proses pembakaran maupun setelah pembakaran. Dalam perkembangannya. bituminus. titik leleh abu (ash fusion temperature).2. Terminologi Batubara Mutu Rendah Mutu (grade) adalah nilai keadaan sesuatu berdasarkan sifat fisik. Khusus untuk batubara. termasuk ASTM (1977) seperti pada Tabel 3. abu dan karbon tertambat (fixed carbon). Kecuali nitrogen. kimia. Vitrinit juga merupakan maseral utama pada batubara. sulfat dan mineral lempung. 2) Analisis Ultimat Analisis ultimat merupakan analisis kimia untuk mengetahui persentase dari senyawa kimia yang terbentuk dari hasil ikatan antara karbon. bi-maseral (2-maseral) dan trimaseral (3-maseral) seperti terlihat pada Table 2. tidak terpengaruh oleh pelapukan dan nilai yang diperoleh dapat dikorelasikan dengan standar peringkat batubara yang ada. nilai ketergerusan (hardgrove grindability index). yaitu untuk mengetahui kandungan air lembab. yang dimulai dari gambut. Klasifikasi microlithotype batubara Grup Mono-Maseral* Microlithotype Vitrit Inertit Liptit KlaritVitrinertitDurit Komposisi Maseral Vitrinit >95% Inertinit >95% Liptinit >95% Vitrinit + Liptinit >95% Vitrinit + inertinit >95% Liptinit + inertinit >95% Vitrinit > Liptinit > Inertinit Inertinit > Vitrinit > Liptinit Liptinit > Vitrinit > Inertinit Bi-Maseral* Tri-Maseral* Duroklarit Klarodurit Vitrinertoliptit * Setiap maseral >5% 150 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .2. subbituminus. mutu atau kualitas ditentukan dari dua faktor utama. yaitu : 1) Analisis Proksimat Analisis proksimat merupakan analisis mendasar dalam penentuan mutu batubara. berat jenis. sulfida. yaitu jenis (type) dan peringkat (rank) batubara tersebut. 2. microlithotype dapat dibagi menjadi 3 kelompok utama yaitu monomaseral (1-maseral). nitrogen (N). dan mekanik.3. zat terbang (volatile matter). 3) Analisis Sifat-Sifat Lain Analisis sifat-sifat lainnya termasuk penentuan nilai kalor (calorific value). berlangsung proses Tabel 2. semiantrasit sampai antrasit seperti diilustrasikan pada Gambar 1. Sedangkan peringkat batubara berhubungan erat dengan tingkat pematangan batubara (pembatubaraan/ coalification). Hidrogen dan oksigen juga merupakan komponen yang penting dalam analisis penentuan kandungan air total batubara. Berdasarkan gabungan maseralnya. Jenis batubara ditentukan dari komponen/komposisi batubara yang terdiri dari maseral (vitrinit. Dari hasil analisis tersebut. senyawasenyawa tersebut juga terdapat pada komponen mineral seperti karbonat. lignit. Batubara Mutu Rendah Secara umum ada tiga jenis analisis dan pengujian yang dilakukan untuk menenetukan mutu batubara. inertinit dan liptinit) dan mineral pembentuk seperti lempung. sehingga perlu tidaknya migitasi gas-gas NOx dan SOx dapat diketahui sebelumnya.

dan sulfur.6 > 2. HGI. Rochman Saefudin. hanya terjadi proses fisika berupa pemadatan. Dalam tulisan ini parameter peringkat yang dipergunakan adalah nilai kalor. khusus untuk kajian ini faktor pengotor yang digunakan baru dua.0 – 2.58 – 0.06 – 3. Sedangkan parameter pengotor antara lain adalah kandungan abu. % < 0.6 – 2.72 – 1.0 Tipe Fouling Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi Penetapan Nilai Bagi Hasil atas Produksi Batubara Mutu Rendah.Tabel 3. Selama perkembangannya.0 2.50 1.37 – 0.57 0.71 0. faktor slagging dan faktor fouling. Secara umum parameter yang sering dipergunakan untuk menentukan mutu batubara adalah peringkat dan pengotor.47 0.2 0. sulfur.5 0. % dalam Abu Nitrogen.51 – 2. Rs < 0. 1990) Faktor Slagging. maka dalam menilai mutu batubara harus ditinjau dari peringkat (nilai kalor). Namun demikian. tekanan dan waktu.5 – 1. % Faktor Slagging Faktor Fouling Batasan Nilai < 5.2 – 0. Hubungan antara reflektansi vitrinit dan peringkat batubara menurut klasifikasi ASTM (1977) Reflektansi Vitrinit. karbon total dan reflektansi vitrinit. dan jenisnya (umumnya pengotor).00 >3. kandungan air. Faktor slagging dan fouling abu batubara bituminus (Wall.10 1.37 0.6 Tipe Slagging Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi Faktor Fouling.100 >17 >2 <35 <1150 >4 >1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Parameter Nilai Kalor.11 – 1. Dengan demikian besaran nilai setiap parameter yang disajikan disini adalah nilai yang sangat menonjol (significant). Dari uraian di atas. titik leleh abu (AFT).0 > 1. kkal/kg (adb) Abu. Pengertian mutu batubara kimia dan biokimia. Besaran nilai setiap parameter tersebut di atas yang dipergunakan oleh konsumen tidaklah sama karena sangat tergantung kepada teknis operasional (rancangan peralatan).05 2. regulasi yang ada setempat dan keekonomian masing-masing penggunaaan batubara. Parameter yang umum dipergunakan untuk menentukan peringkat batubara antara lain adalah nilai kalor.48 – 0. ºC Sodium (Na2O). seperti pada Tabel 4. % (adb) Sulfur. 151 . Parameter dan batasan nilai untuk penentuan batubara mutu rendah No. Rf < 0. Tabel 5.5 Sangat Tinggi Sangat Tinggi Gambar 1.6 0. yaitu abu. sehingga definisi Batubara Mutu Rendah adalah Tabel 4. Sedangakan peringkat batubara dipengaruhi oleh salah satu atau gabungan dari temperatur. % (adb) HGI Titik Leleh Abu. dkk. nitrogen. Tabel 5. dan Tabel 6 yang berdampak negatif terhadap nilai jual dan pemanfaatan dari batubara tersebut.00 Peringkat Lignite Subbituminous High Volatile Bituminous C High Volatile Bituminous B High Volatile Bituminous A Medium Volatile Bituminous Low Volatile Bituminous Semi Anthracite Anthracite sodium.

1990) Faktor Slagging.5%). Penyusunan Model Bagi Hasil Faktor substansial yang perlu dicermati dalam menetapkan besaran persentasi bagi hasil adalah menentukan atau menghitung bagi hasil bagian pemerintah dari produksi batubara mutu rendah dengan mengacu kepada pembagian hasil keuntungan yang wajar (reasonable) antara pengusaha batubara (kontraktor) dan pemerintah.0 > 6. besarnya persentase bagian Pemerintah telah ditetapkan sebagai berikut : G (h) = 13.4. yaitu sebesar 13. Rs > 1340°C 1340 . Oleh karena itu model pemecahannya akan mengacu pada konsep ekonomi pemanfaatan sumber daya batubara yang telah diuraikan di atas. MODEL PENENTUAN TARIF BAGI HASIL UNTUK BATUBARA MUTU RENDAH 3. Penanganan Batubara Peringkat Rendah Batubara peringkat rendah (lignit dan Subbituminus B dan C) mempunyai kecenderungan terhadap terjadinya swabakar (self combustion). Disamping itu. yang masih diberlakukan secara umum. yang secara matematis dirumuskan cukup sederhana. a.0 Tipe Fouling Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi batubara yang memiliki nilai kalor < 5.5 % Besar pendapatan bagian Pemerintah (N) merupakan hasil perkalian persentasi bagian pemerintah (G(h)) dengan jumlah produksi (Q) dan harga batubara (P).100 kkal/ kg.1250°C 1250 . seperti yang ditunjukkan pada persamaan berikut : N = G (h) x Q x P 3. abu > 17%. Model Bagi Hasil Sesuai dengan isi perjanjian kontrak kerja antara Pemerintah dengan perusahaan kontraktor dengan menggunakan pola Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B). sebagai sandaran perumusan adalah bagian pemerintah dari hasil pengusahaan Selanjutnya untuk menentukan atau menghitung bagi hasil bagian pemerintah dari produksi batubara mutu rendah dengan mengacu kepada persentase bagi hasil dari pengusahaan batubara yang berlaku saat ini. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya swa bakar adalah sebagai berikut: Peringkat batubara Kadar air dalam batubara Komposisi petrografi batubara Ukuran butir Temperatur timbunan Konsentrasi oksigen yang kontak dengan batubara Kelembaban udara Peredaran/kecepatan aliran udara batubara oleh kontraktor yang berlaku saat ini. dan sulfur >2% dalam air dried basis (adb). yaitu : G (l) = 13. 2. Dengan perkataan lain persentase bagi hasil bagian pemerintah dari pengusahaan batubara mutu rendah sebagai fungsi dari faktor koreksi atau faktor bobot dikalikan dengan konstanta persentase bagi hasil dari batubara mutu tinggi (13.5% dari jumlah produksi.0 – 3. Faktor slagging dan fouling abu batubara lignitik (Wall.0 3. dan menjadikan batubara mutu rendah mempunyai nilai kompetitif dengan batubara mutu tinggi.0 2. Rf < 2.5 % x F dengan : G(l) = Persentase bagi hasil bagian pemerintah dari pengusahaan batubara mutu rendah 13.1150°C < 1150°C Tipe Slagging Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi Faktor Fouling.Tabel 6.1.0 – 6.5% = Persentase bagi hasil bagian pemerintah dari pengusahaan batubara (PKP2B) yang berlaku saat 152 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .

HGI. Model Koreksi Pengaruh Peringkat dan Pengotor Pada prinsipnya tingkat harga batubara di pasaran ditentukan oleh karakteristik atau mutu batubara. perumusan dalam tanda kurung besar merupakan koefisien elastisitas. langkah selanjutnya di dalam penghitungan untuk penetapan nilai bagi hasil bagian pemerintah dari PKP2B untuk batubara mutu rendah adalah merumuskan faktor bobot tersebut.5%) untuk menghitung persentasi bagi hasil bagian pemerintah dari pengusahaan batubara mutu rendah. Dengan demikian. Dalam kajian ini. perumusan dalam tanda kurung kurawal merupakan koefisien elastisitas.li(h)} x P(h) dengan : CCV = Koreksi harga dari penurunan nilai kalor CIi = Koreksi harga dari perubahan kenaikan tingkat pengotor unsur i P = Harga batubara mutu tinggi CV(h) = Nilai kalor batubara mutu tinggi CV(l) = Nilai kalor batubara mutu rendah Ii(h) = Nilai unsur pengotor i pada batubara mutu tinggi Ii(l) = Nilai unsur pengotor i pada batubara mutu rendah c. yang meliputi abu. Sedangkan Penetapan Nilai Bagi Hasil atas Produksi Batubara Mutu Rendah. dan sodium) dari kedua jenis batubara tersebut. Oleh karena itu. sulfur. yaitu proporsi relatif dari perbedaaan nilai kalor. dan faktor fouling. karena pangsa pasarnya yang belum ada. = Faktor bobot atau faktor koreksi atau faktor insentif parameter ekonomi terdiri dari biaya penanganan (handling cost). yaitu parameter peringkat dan parameter pengotor. titik leleh abu. Pemanfaatan sumber daya batubara sebagai komoditas energi dipengaruhi oleh mutunya dan pada proses pengalihannya menjadi komoditas. Berdasarkan pengertian tersebut. Faktor-faktor alam dimaksudkan adalah parameter karakteristik (mutu) batubara. Adapun kandungan air dan reflektansi vitrinit sudah terwakili oleh nilai kalor. Penyederhanaan penilaian pada proses pemanfaatan sumber daya dilakukan dari faktorfaktor alam dan parameter ekonomi yang sangat kompleks. 153 . Rochman Saefudin. dkk. yakni selisih nilai pengotor (abu. akan dipengaruhi oleh biaya produksi dan harga. harga akan terkoreksi oleh perbedaan nilai kalor (peringkat) dan oleh perbedaan tingkat pengotor. Sedangkan pada persamaan koreksi harga dari pengaruh pengotor. simulasi koefisien elastisitas dari pengaruh perubahan nilai kalor dan perubahan tingkat pengotor merupakan Oleh karena itu. karena ada korelasi kuat diantara kedua parameter tersebut.F ini. Secara matematik. faktor slagging. sulfur. natrium. perumusan faktor bobot didefinisikan sebagai fungsi dari perbandingan (proporsi) relatif harga batubara mutu rendah dan batubara mutu tinggi. sodium (Na2O). ki = konstanta Pada model persamaan koreksi harga dari pengaruh peringkat. Model Faktor Bobot Faktor bobot merupakan faktor/ variabel koreksi terhadap persentase bagi hasil bagian pemerintah yang berlaku saat ini (13. sebagaimana komoditas lain.CV(l)} / CV(l)] x P(h) Pengaruh Pengotor : Cli = Ki x {li(l) . maka model persamaan koreksi harga dari unsur peringkat dan pengotor adalah sebagai berikut : Pengaruh Peringkat : CCV = c x [{CV(h) . b. Dalam permodelan koreksi tersebut. baik dari nilai kalor maupun tingkat pengotornya. faktor bobot diformulasikan sebagai berikut : F=k Pcor(l) P(h) dengan : Pcor (l) = Harga batubara mutu rendah berdasarkan harga batubara mutu tinggi yang terkoreksi P(h) = Harga batubara mutu tinggi k = konstanta Yang menjadi permasalahan dari model faktor bobot tersebut adalah belum diketahuinya harga batubara mutu rendah yang sesuai keekonomiannya. yang menunjukkan perbedaan efisiensi energi antara batubara mutu tinggi dan batubara mutu rendah. untuk penyusunan model harga batubara mutu rendah akan ditentukan melalui simulasi pemodelan berdasarkan konsep ekonomi pemanfaatan sumber daya batubara. c.

P(h) = Harga batubara mutu tinggi MC(l) = Biaya penanganan batubara mutu rendah MC(h) = Biaya penanganan batubara mutu tinggi η = Persentase profit margin 3.HC(h)} . harga batubara mutu rendah dihitung berdasarkan penurunan harga mutu tinggi karena terkoreksi atau disesuaikan karena adanya penurunan peringkat dan gangguan tingkat pengotor termasuk handling cost relatif.2. Sebagai pembanding dihitung pula harga minimum sebagai fungsi dari biaya produksi (mining cost dan handling cost). Secara matematis. Model Harga Tingkat harga batubara secara ekonomi ditentukan dengan mempertimbangkan kriteria dari sisi produsen dan konsumen atau ditentukan dengan mempertimbangkan manfaat yang diterima 154 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . maka akan semakin signifikan kenaikan biaya handling cost batubara mutu rendah dibanding handling cost batubara tinggi. model persamaannya adalah: dengan : HC (l ) = Biaya penanganan (handling cost) batubara mutu rendah HC (h) = Biaya penanganan (handling cost) batubara mutu tinggi d (l ) d (h ) = Densitas batubara mutu rendah = Densitas batubara mutu tinggi CV (l ) = Nilai kalor batubara mutu rendah CV (h ) = Nilai kalor batubara mutu tinggi Semakin besar perbedaan densitas demikian pula perbedaan nilai kalor. CV(h) ⎫ ⎧ d(h) HC(l) = ⎨ × ⎬ × HC(h) d(l) CV(l) ⎭ ⎩ produsen dan konsumen. sebagai kovensasi dari adanya perbedaan volume untuk energi yang sama. Aplikasi Model untuk Penetapan Bagi Hasil Permodelan bagi hasil bagian pemerintah dari pengusahaan batubara mutu rendah dalam pola Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) yang telah dirumuskan di atas. Ada dua pendekatan dalam menentukan atau menghitung tingkat harga. antara lain karena perbedaan densitas dan perbedaan nilai kalor.dua dari empat parameter yang dipertimbangkan dalam optimalisasi perberbedaan atau “delta” harga batubara mutu tinggi dan mutu rendah. karena menggunakan jenis peralatan yang sama. Biaya pekerjaan penambangan (mining cost) pada pengusahaan batubara mutu tinggi dan mutu rendah akan sama. Pertama. abu. Model Handling Cost Pekerjaan eksploitasi pada pengusahaan batubara dapat dikelompokkan menjadi pekerjaan penambangan/penggalian dan pekerjaan penanganan (handling cost).Σ iCCli dengan : Pcor (l) = Harga batubara mutu rendah berdasarkan harga batubara mutu tinggi yang terkoreksi P(h) = Harga batubara mutu tinggi HC(l) = Biaya penanganan batubara mutu rendah HC(h) = Biaya penanganan batubara mutu tinggi = Koreksi harga dari peringkat atau CCIi pengotor Harga Minimum : Pmin(l) = (1+η )[{1 + B(l)} x {MC(l) + HC(h)}] dengan : Pmin (l) = Harga minimum batubara mutu rendah B(l) = Persentase bagi hasil bagian pemerintah dari batubara mutu rendah. natrium dan Hubungan fungsional antara biaya penangan batubara mutu rendah dengan mutu tinggi dihubungkan dengan koefisien elastisitas dari simulasi perbandingan densitas dan nilai kalor. dan marginal profit. bagi hasil.{HC(l) . e. dan pengotor (sulfur. Sedangkan biaya penanganan (handling cost) untuk mutu rendah relatif lebih besar dari pada batubara mutu tinggi. dimaksudkan untuk menentukan besaran persentase bagi hasil bagian pemerintah berdasarkan pengaruh perbedaan peringkat (nilai kalor). Secara matematis model persamaan harga batubara mutu rendah tersebut adalah : Harga Koreksi/Penyesuaian : Pcor(l) = P(h) . d.

100 kkal/kg abu (ash) sulfur sodium (Na2O) Mining Cost Handling Cost Harga = 4% = 1% = 1. dan perusahaan B. Penetapan Nilai Bagi Hasil atas Produksi Batubara Mutu Rendah. c. yaitu parameter nilai kalor = 5. dan 7. Dari hasil simulasi tersebut dapat diulas sebagai berikut : a. Rochman Saefudin.6 USD. sulfur = 2 %. 155 . Setiap kenaikan satu satuan (1%) nilai natrium diasumsikan harga terkoreksi sebesar 0.3 : 1. c. Selanjutnya untuk mengetahui pengaruh besaran nilai bagi hasil yang diperoleh terhadap kelayakan usaha penambangan batubara mutu rendah. Adapun dari variasi naik-turunnya harga batubara tersebut berdampak tidak signifikan terhadap besaran perhitungan bagi hasil bagian pemerintah.34 % atau rata-rata 10. f. natrium. atau sodium = 4 %. Simulasi dengan menggunakan empat variasi parameter. yaitu nilai kalor dan tiga parameter pengotor. Hal ini dapat dilihat pada gambar 2. Parameter batubara mutu tinggi yang dijadikan sebagai standar penimbang adalah : nilai kalor (caloric value) = 6. Setiap kenaikan satu satuan (1%) nilai ash (abu) diasumsikan harga terkoreksi sebesar 0. b. maka untuk menjaga kerahasiaan.005 x P(t). Simulasi dengan menggunakan dua variasi parameter.7 USD.4 USD atau delta harga dengan batubara mutu tinggi minimum 8. namun perbedaannya (delta) semakin besar secara proporsional (agar dapat kompetitif).100 kkal/kg dan salah satu parameter pengotor yang diwakili oleh abu = 17 %. yaitu nilai kalor dan salah satu paramater pengotor. dan lainnya) sebagai berikut : a) Batasan : a. Simulasi dengan menggunakan tiga variasi parameter. Simulasi dengan menggunakan parameter batubara lignit. sedangkan batubara mutu tinggi sebagai obyek penimbangnya. Adapun besaran bagi hasil bagian pemerintah berkisar antara 10.33 %. sulpur. c.sebagainya) serta biaya produksi (handling cost) antara batubara mutu rendah dan mutu tinggi. dengan memasukkan terhadap aliran kas (cah flow) dari laporan studi kelayakan penambangan batubara. Untuk variasi dua parameter batubara mutu rendah. maka akan dicoba digunakan di dalam perhitungan kelayakan pengusahaan batubara mutu rendah. Karena data yang akan digunakan di dalam perhitungan ini merupakan data keuangan perusahaan yang akan dijadikan contoh di dalam proses penghitungan.15.07 % – 10.18 %. b. Semakin besar (tinggi) harga batubara mutu tinggi maka semakin besar pula harga batubara mutu rendah. diperoleh handling cost 2. Adapun untuk variasi tiga dan empat parameter batubara mutu rendah serta untuk batubara lignit.2 % = 25 USD /ton = 2. Perusahaan yang akan dijadikan contoh di dalam proses simulasi ada 2 perusahaan yang berlokasi di Kalimantan yang berencana mengembangkan ke penambangan batubara mutu rendah. Perbandingan densitas batubara mutu tingggi dan mutu rendah 1. yaitu nilai kalor dan dua parameter pengotor.05 x P(t). Hal ini dapat dilihat dari grafik sensitifitas harga seperti contoh untuk batubara lignit pada Gambar 3. d.52 %.00 USD /ton = 40 USD /ton. e. dan rata-rata harga batubara mutu rendah yang masih kompetitif 26.35 %. Setiap penurunan nilai kalor dari CV(h) ke CV(l) diasumsikan harga terkoreksi sebesar [{CV(h)-CV(l)}/CV(h)] x P(h). Perhitungan bagi hasil batubara mutu rendah dibatasi oleh harga batubara mutu rendah yang minimum. Batubara mutu rendah sebagai obyek yang akan ditimbang. d. Setiap kenaikan satu satuan (1%) nilai sulfur diasumsikan harga terkoreksi sebesar 0. Persentase profit margin dari pengusahaan batubara mutu rendah diasumsikan 10%. b. masing masing rata-rata besaran bagi hasil bagian pemerintah adalah 9. 8. h. Untuk mengaplikasikan model dalam rangka menentukan besaran bagi hasil bagian pemerintah dari pengusahaan batubara mutu rendah diperlukan batasan-batasan (asumsi) dan simulasi variasi parameter peringkat (nilai kalor) dan parameter pengotor (abu. b) Simulasi Variasi : a. dkk. g. nama perusahaan tidak dicantumkan atau diganti dengan nama perusahaan A.025 x P(t). Hasil dari proses aplikasi model dapat dilihat pada Tabel 7.

00 5.00 HARGA BATUBARA MUTU RENDAH (USD) 30.40.35 (%) 7.30 7.00 25.20 7.50 7.00 10.15 12 14 16 18 20 HARGA (USD) 22 24 26 28 30 Gambar 3.00 Dua Parameter Tiga Parameter Empat Parameter 20. Hubungan harga batubara mutu rendah dan mutu tinggi 7. Grafik sensitivitas harga terhadap persentase bagi hasil untuk batubara lignit 156 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .25 7.00 Lignit 15.40 BAG I HS I L (% ) 7.00 20 25 30 35 40 45 50 55 HARGA BATUBARA MUTU TINGGI (USD) Gambar 2.00 35.45 7.

Ash = Abu.00 4.39 0.00 18.92 4612. Mutu Rendah (Ditimbang) Nilai Kalor (Kkal/kg) Ash (%) Sulfur (%) Sodium (Na2O) (%) Mining Cost (US$) Handling Cost (US$) Koreksi Harga (US$) Harga Terkoreksi (US$) Selisih (delta) harga (US$) Harga Minimum (B) (US$) Faktor Insentif (Bobot) Bagian Pemerintah (%) RATA-RATA 18.01 19.01 7.00 12.36 10.40 6100.14 18.19 9.00 12.77 9.00 12.68 9.47 5100.24 0.75 10. S = Sulfur.94 24.72 8.00 5100.00 4.34 10.76 24. Simulasi bagi hasil bagian pemerintah dari batubara mutu rendah Variasi Peringkat dan Pengotor Dua Parameter CV+Ash CV+S CV+Na2O CV+Ash+S CV+Ash+Na2O CV+S+Na2O Tiga Parameter Empat Parameter CV+Ash+S+Na2O Lignit Uraian Mutu Tinggi (Penimbang) Nilai Kalor (Kkal/kg) Abu (%) Sulfur (%) Sodium (Na2O) (%) Mining Cost (US$) Handling Cost (US$) Harga (A) (US$) 5100.00 17.00 1.00 1.58 2.00 17.53 10.49 26.55 0.70 12.00 2.00 2.33 7.33 7.20 12.83 11.70 9.81 8.00 1.52 7.99 15.36 0.20 12.19 26.00 17.38 0.58 12.63 8.19 18.20 1. Rochman Saefudin.54 7.58 2.70 10.20 12.33 Penetapan Nilai Bagi Hasil atas Produksi Batubara Mutu Rendah.75 10.92 Keterangan : CV = Nilai Kalor (Caloric Value).00 4.64 18.40 0.70 9.11 8.00 1.46 23.51 0.00 2.00 35.00 4.14 18.00 1.00 1.46 9.33 7.70 8.17 5100.77 9.18 18.52 0.07 18.21 22.77 10.00 4.08 12.00 5100.Gambar 7.58 2.00 4.00 4.00 2.58 2.00 12. dkk.70 9.70 2.00 4.58 2.35 5100.52 8.00 1.00 12.28 26.00 17.00 16.89 5100.58 2.70 9.58 2.00 4. Na2O = Sodium 157 .70 8.58 2.00 2.00 17.52 8.

Dari hasil simulasi model yang dibuat berdasarkan kombinasi nilai kalor dan pengotor (abu. termasuk batubara peringkat rendah (lignit). Faktor bobot (F) didefinisikan sebagai fungsi dari perbandingan (proporsi) harga batubara mutu rendah dan batubara mutu tinggi.14% kalori – sulfur : 10.07% b) Untuk tiga parameter : kalori – abu – sulfur : 9.2 100.19% Kalori – sulfur – natrium : 9.66 Perusahaan B 4.Tabel 8.5 1 : 2. Batubara Mutu Rendah adalah batubara yang memiliki peringkat menengah dan tinggi dengan kandungan pengotor tinggi.0 100 2. Dengan nilai MARR (Minimal Atractive Rate of Return) yang digunakan 10%. Model bagi hasil bagian pemerintah dari pengusahaan batubara (PKP2B) mutu rendah .5 1 : 7.800 51.31 (647.0 1:5 17 44. yaitu sebesar 13.14 15. maka diperoleh nilai indikator keuntungan untuk perusahaan A dan B sebagai berikut : dikalikan persentase bagi hasil yang secara matematis ditulis G (l) = 13. yaitu sebagai fungsi dari parameter batubara (peringkat dan pengotor) dan parameter ekonomi termasuk biaya penanganan (handling cost). 2.83 <0 9.1 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1.838 48.14 13.33%.82 26.4 18 48.40% c) Untuk empat parameter (kalori – abu – sulfur – natrium) : 8.8. 3.0 9.7 1. Untuk selanjutnya akan dihitung nilai indikator keuntungan dari kelayakan finansial penambangan batubara mutu rendah masing-masing perusahaan Indikator keuntungan yang dihitung di dalam proses simulasi ini adalah : a.47 21. Na2O) diperoleh nilai bagi hasil untuk batubara mutu rendah sebagai berikut : a) Untuk dua parameter : kalori – abu : 10. sulfur.000 42. dirumuskan sebagai fungsi dari faktor bobot 158 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .87 16.7 39.02 .0 2.30 20.52% d) Untuk Lignit nilai bagi hasil : 7.00 C 4. Karena harga batubara mutu rendah belum ada.2 17 4.86 10.62 9.14 13.5 % x F.34% kalori – natrium : 10.66 13. yang termasuk di dalam biaya operasi/produksi yang ditetapkan sebagai patokan dasar. Net Present Value (NPV).5 15. Internal Rate of Return (IRR). maka dirumuskan melalui simulasi pemodelan berdasarkan konsep ekonomi pemanfaatan sumber daya batubara.5 29.58 13.9) 47. b.7 24. Data perusahaan dan nilai indikator keuntungan penambangan batubara mutu rendah No.61 10.46% kalori – abu – natrium : 9.5 6. 4.47 18. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Uraian Nilai Kalori Jumlah Cadangan Jarak Tambang ke Terminal Kapasitas Produksi Stripping Ratio Umur Tambang Biaya Investasi Biaya Produksi Harga Jual Nilai Bagi Hasil Net Present Value (NPV) Internal Rate of Return (IRR) Satuan A Kkal/kg Juta ton Km Juta ton/thn tahun Juta US$ US$/ton US$/ton % Juta US$ % 5.5% dan nilai bagi hasil berdasarkan perhitungan yang baru.84 Bagi hasil untuk Pemerintah dalam penghitungan ini sesuai dengan perjanjian kontrak antara Pemerintah dan perusahaan untuk batubara secara umum. 4.

sedangkan potensi cadangan batubara sebagian besar bermutu menengah ke bawah. Bandung. Batubara dan Panas Bumi. maka perlu ditetapkan tarif nilai bagi hasil untuk pengusahaan (PKP2B) batubara mutu rendah agar harganya bisa kompetitif dengan batubara mutu baik. reserves and calorific value. Du Mairy. Jakarta. BPFE. Blue Print Pengelolaan Energi Nasional 2010 . G. yaitu : d” 3 parameter nilai bagi hasil : 10. Untuk mempermudah penerapan nilai bagi hasil untuk produksi batubara mutu rendah. 2. 1979. Indonesia Mineral and Coal Statistic. 1993. maka berdasarkan nilai kalor dan jumlah pengotornya disarankan untuk membaginya menjadi : a) Tiga nilai bagi hasil. 2004. dkk. P. American Society For Testing and Material.4. Dasgupta. Directorate of Mineral Resources Inventory. dan Heal. maka untuk mengoptimalkan pengusahaan dan pemanfaatan batubara mutu rendah sebagai sumber energi. 2009.2. Jakarta. Indonesia Coal : Resources.2025. Ltd.S.0% 4 parameter nilai bagi hasil : 8. And Cambridge University Press. 2008. 2004. Yogyakarta. Standard classification of coals by rank D 388 – 92a.M. Economic Theory and Exhaustible Resources. Rochman Saefudin. 2008.5% Lignit : 7. khususnya untuk memasok PLTU yang akan dibangun. James Nisbet & Co. Karena nilai bagi hasil untuk memproduksi batubara mutu rendah belum ada ketetapannya.5% 4 parameter dan lignit : 7. 2008. Directorate General of Geology and Mineral Resources. Directorate of Mineral Resources Inventory. Matematika Terapan untuk Bisnis dan Ekonomi. yaitu : d” 3 parameter nilai bagi hasil : 9. 2009. Penetapan Nilai Bagi Hasil atas Produksi Batubara Mutu Rendah. Direktorat Pengusahaan Mineral. 159 . Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral.5% b) Dua nilai bagi hasil.5% DAFTAR PUSTAKA American Society For Testing and Material (ASTM). Saran 1.

MAKALAH DIPOSTERKAN .

. masing-masing digunakan oleh Jawa Barat 3.99 juta ton. Proses pembakaran batubara pada industri ternyata menghasilkan limbah yang disebut dengan abu dasar dan abu terbang. To estimated of wasted is regression analysis method.36 juta ton. Metode yang digunakan untuk memperkirakan jumlah limbah yang dihasilkan adalah metode analisis regresi. each consumpted by West Java amount 3.07 juta ton.09 juta ton. Terdapat sekitar 226 perusahaan di Provinsi Jawa Barat yang telah menggunakan batubara. ke 417 perusahaan tersebut telah menggunakan batubara sebanyak 5.99 juta ton selama satu tahun.07 million Analisis Potensi Limbah Hasil Pembakaran Batubara pada Industri .63%. Sudirman 623 Bandung 40211 Telp.59%. Selama tahun 2007. 417 companies consumption of coal amount 5. To be found out amount of produced wasted by companies in Java. There are about 226 companies at West Java Province is used coal.go.esdm. ternyata telah dihasilkan limbah abu dasar sebanyak 251. yaitu 75. 115 companies at Central Java. disusul kemudian industri kertas sebesar 8.47 juta ton.6003373 e-mail : triswan@tekmira. Triswan Suseno dan Tuti Hernawati 161 .ANALISIS POTENSI LIMBAH HASIL PEMBAKARAN BATUBARA PADA INDUSTRI KECIL DAN MENENGAH DI PULAU JAWA Triswan Suseno dan Tuti Hernawati Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. have to sampling as much as 94 companies are coal user in Regency of Bandung. dan Jawa Timur 24 perusahaan.336 ton dan abu terbang 82. Untuk mengetahui jumlah limbah yang dihasilkan oleh perusahaan-perusahaan di Pulau Jawa ini. Banten 1.63% and others is 15. Industri tekstil merupakan industri yang paling banyak menggunakan batubara. Jend. paper industry is 8.78%.id SARI Jumlah industri kecil dan menengah di Pulau Jawa yang menggunakan batubara pada tahun 2007 tercatat sudah mencapai 417 perusahaan. 022 .6030483 Fax. dan Jawa Tengah sebesar 0.877 ton. Besarnya limbah yang dihasilkan dari pembakaran ini sangat dipengaruhi oleh jumlah batubara yang digunakan oleh setiap perusahaan. dan industri lainnya 15.78%. Dari pembakaran batubara sebanyak 5. semakin banyak pula limbah yang akan dihasilkan.59%. Kata kunci : limbah. 52 companie at Banten and 24 companies at East Java. diikuti Jawa Tengah 115 perusahaan. abu terbang ABSTRACT Amount middle and small industry in Java have to use coal year 2007 is 417 company.. In 2007. Semakin banyak batubara yang dibakar. Amount of wasted produced by companies influenced by amount of coal to used. diambil contoh untuk diamati sebanyak 94 perusahaan pemakai batubara di Kabupaten Bandung.99 million ton. textile industry is the most used coal is 75. Jawa Timur 1. Banten 52 perusahaan. abu dasar. Coal burning processing at industry to produced wasted there are bottom ash and fly ash. 022 .

... yaitu limbah batubara yang disebut sebagai abu terbang (fly 2.....47 million ton. sehingga ada korelasi yang sangat 162 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . maka memahami perubahan pola konsumsi energi yang dilakukan oleh masyarakat industri adalah suatu keharusan dan menjadi hal penting bagi pemerintah sebagai pembuat dan pengendali kebijakan dalam mendukung kelancaran roda perekonomian...... Selain menyediakan lokasi tempat penyimpanan batubara untuk beberapa hari ke depan..... fly ash 1.. Dalam situasi seperti ini.... Sedangkan data primer adalah data yang diperoleh dari hasil wawancara langsung ke beberapa perusahaan IKM secara acak.. Sebagian perusahaan yang masih memiliki lahan..... (3) Dalam hal ini.. produced of bottom ash and fly ash each are 251............ More and more coal is burned is more and more produce wasted. Untuk mengetahui sejauhmana pemakaian batubara tersebut mempengaruhi besarnya limbah yang dihasilkan tersebut digunakan metode analisis regresi.. sehingga hubungan ini dapat dinyatakan dalam bentuk model regresi sederhana (Gaspersz..... antara lain Dinas Tenaga Kerja. Imbauan pemerintah agar masyarakat industri menggunakan energi alternatif seperti batubara ternyata berdampak posistif terhadap kelangsungan aktifitas industri dalam negeri apalagi dengan berkurangnya subsidi bahan bakar minyak untuk industri....... Peningkatan konsumsi batubara ini cenderung akan mempengaruhi peningkatan jumlah limbah batubara.. sehingga banyak industri yang beralih penggunaan bahan bakar minyaknya ke batubara.. Seiring dengan sudah semakin banyaknya industri tekstil yang menggunakan batubara sebagai bahan bakar dalam kegiatan produksinya.. 2.......... berbahaya. dan beracun (B3) sehingga masyarakat akan memprotes keberadaan industri pengguna batubara yang akhirnya dapat mengganggu kegiatan produksi dan perekonomian nasional... Dalam jangka panjang...... METODOLOGI 2...366 ton and 82... Salah satu kemungkinan yang timbul adalah masalah sosial akibat adanya isu lingkungan yang mengklasifikasikan batubara sebagai limbah bahan berbau.. Model Analisis Tingkat produksi limbah hasil pembakaran batubara sangat dipengaruhi oleh pemakaian batubara yang digunakan oleh IKM.... untuk sementara waktu mungkin hal ini dapat diatasi.2......877 ton...... akan terjadi peningkatan penggunaan batubara pada industri kecil dan menengah (IKM) sekaligus akan menimbulkan permasalahan baru..ton.... Data Data yang digunakan untuk mendukung analisis ini terdiri atas data primer dan data sekunder..From coal burning amount 5. PENDAHULUAN ash) dan abu dasar (bottom ash). Data sekunder adalah data yang diperoleh dari berbagai instansi terkait. Asosiasi Pertekstilan Indonesia... 1990) sebagai berikut: ..99 million ton in a year. khususnya dalam bidang energi....... dan Dinas Lingkungan Hidup.. (2) .09 million ton and Cenral Java 0. (1) . bottom ash.... jelas masalah ini sangat mengkhawatirkan mengingat limbah batubara ini akan terus mengalami peningkatan sehingga harus ada penanganan khusus terhadap masalah ini. East Java 1.. mengakibatkan produk limbah batubara dari setiap perusahaan pun semakin meningkat..... Akibat adanya pola perubahan konsumsi energi tersebut. Banten 1.....1..... Keywords : wasted... a = koefisien perpotongan b = koefisien regresi y = variabel limbah hasil pembakaran batubara x = variabel jumlah pemakaian batubara setiap IKM Tampak jelas bahwa perkembangan kebutuhan batubara tidak terlepas dari perkembangan industri di suatu daerah.. namun bagi perusahaan yang memiliki lahan terbatas masalah tempat pembuangan limbah batubara menjadi salah satu kendala.36 million ton........ perusahaan juga harus mencari tempat pembuangan limbah batubara.

tercatat ada 115 perusahaan.. sedangkan sisanya tersebar di Batang. disusul kemudian oleh Kota Cimahi. Industri pemakai batubara tersebut tersebar di Kota Cilegon (9 perusahaan). lainnya adalah perusahaan sepatu. minyak sawit. berarti hampir 69. dan obat-obatan. memaksa pemerintah untuk memacu penggunaan batubara oleh industri sehingga kontribusinya mencapai 32. berarti naik sebesar 9. 98 di antaranya adalah perusahaan tekstil. Triswan Suseno dan Tuti Hernawati 163 . BPLH Jawa Barat. Ungaran. Disnaker. Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah. briket batubara.000 ton). sisanya digunakan oleh IKM di daerah lainnya. industri tekstil ini pulalah yang paling banyak menggunakan batubara sebagai bahan bakar. karet.57 juta ton untuk 199 perusahaan tekstil. Bandung) menjadi 226 pada tahun 2007 perusahaan (API. Di Provinsi Jawa Tengah. Klaten.21% dan 12. Pada tahun 2007 saja penggunaannya mencapai 325. penggunaan batubara oleh IKM di beberapa wilayah seperti Banten.erat antara tren perkembangan industri dengan perubahan kebutuhan batubara dan limbahnya. Kabupaten Serang merupakan pemakai batubara batubara terbanyak yaitu 639.069. Jumlah IKM pemakai batubara di Provinsi Jawa Barat selalu mengalami kenaikan.040 ton.396 ton). Jumlah pemakaian batubara sampai tahun 2008 diperkirakan sudah mencapai 1. jumlahnya mencapai 2. Informasi ini diperoleh dari berbagai sumber. 14. Analisis Potensi Limbah Hasil Pembakaran Batubara pada Industri . dan Grobogan. Padahal pada tahun 2005 baru tercatat sebanyak 15 perusahaan saja. stereofoam. briket. Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jawa Barat.71%. sisanya adalah industri kertas.23%.362. Jawa Tengah. seperti Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Perusahaan yang paling banyak menggunakan batubara adalah industri tekstil. Sragen. Surakarta.84%).7% terhadap pemanfaatan bauran energi nasional mengingat cadangan batubara di Indonesia cukup besar.83% dari jumlah keseluruhan penggunaan batubara di Jawa Tengah (465. minuman. 3.008 ton. khususnya di Pulau Jawa.80%).250 ton. Kajian Batubara Nasional.21%) di antaranya berada di Kabupaten Bandung. 2008). 2007. berdasarkan hasil penelitian ternyata bahwa IKM yang telah beralih menggunakan batubara sudah mencapai 226 perusahaan. kapur. Dinas Lingkungan Hidup. Di Provinsi Banten saja jumlah IKM yang sudah mengunakan bahan bakar batubara sudah mencapai 52 perusahaan. Semarang.980 ton). Kudus. percetakan.500 ton). Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh tim dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Bandung tahun 2008. Jenis tekstil dan produk tekstil merupakan perusahaan yang paling banyak menggunakan batubara (85. Di Provinsi Jawa Barat. Pati.06%. Jawa Barat. disusul oleh Kabupaten Tangerang (416. Purwakarta dan Karawang masing-masing 16. Kabupaten Serang (11 perusahaan). Di antara jumlah IKM pemakai batubara. pengecoran logam. dan bijih plastik. dan Jawa Timur ternyata pesat sekali.50%. sedangkan sisanya tersebar di berbagai lokasi di Jawa Barat. Kendal. Himbauan pemerintah kepada masyarakat industri untuk mengalihkan penggunaan bahan bakar minyak ke batubara dan adanya larangan pemerintah agar industri baru menggunakan batubara ternyata berdampak sangat signifikan terhadap kenaikan konsumsi batubara di Indonesia. dan lainlain. dan Kota Tangerang (3 perusahaan). Kabupaten Bandung merupakan konsumen batubara terbesar dengan jumlah pemakaian mencapai 44. makanan. Kota Tangerang (191. Kabupaten Tangerang (29 perusahaan). dari 193 perusahaan pada tahun 2006 (Ijang Suherman. berarti dalam kurun waktu tersebut sudah mengalami kenaikan sekitar 250%. Konsentrasi perusahaan pemakai batubara paling banyak terletak di Kabupaten Pekalongan (21 perusahaan) dan Karanganyar (16 perusahaan). Sebanyak 118 perusahaan (atau 52. makanan. KONSUMSI BATUBARA DAN POTENSI LIMBAH BATUBARA DI PULAU JAWA Rencana pemerintah mengurangi pasokan dan penghapusan subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang selama ini menjadi beban yang sangat berat ditanggung oleh pemerintah memaksa pelaku industri untuk mengubah pola penggunaan bahan bakar. dan kota Cilegon (115. Puslitbang Tekmira.730 ton.. Konsumsi batubara di daerah ini pada tahun 2007 diperkirakan mencapai 3. Sukoharjo. ban. Target pemerintah sampai dengan tahun 2025 mengurangi penggunaan BBM hingga dua puluh persen. disusul Kota Cimahi sebanyak 47 perusahaan (20.

21%.45% di antaranya digunakan oleh perusahaan kertas. Hal ini sangat penting.13% dan industri lainnya 9. Jawa Timur (18. penggunaan batubara merupakan salah satu alternatif yang sangat membantu dalam menekan biaya penggunaan bahan bakar yang memang jauh lebih efisien dan ekonomis. dan lain lain).088. kadar sulfur. di samping parameter lain seperti analisis unsur yang terdapat dalam abu (SiO2. dan titik leleh abu (ash fusion temperature) (Raharjo. Jumlah pemakaian batubara pada tahun 2007 tercatat 1.985. Sehingga pemilihan kualitas batubara yang sesuai akhirnya akan sangat berpengaruh terhadap daya tahan mesin agar mesin berfungsi secara optimal. 95.419 ton. perusahaan tekstil menjadi penyumbang terbesar limbah hasil pembakaran batubara. mereka mengalami kesulitan pula dalam membuang limbah batubara sehingga mereka membuangnya di sembarang tempat dengan tidak memperhatikan dampak dari pembuangan tersebut. Perusahaan kertas (18 perusahaan) adalah pemakai batubara terbesar di wilayah ini. POTENSI LIMBAH HASIL PEMBAKARAN BATUBARA OLEH IKM DI PULAU JAWA Sebagaimana dijelaskan sebelumnya.19%. 2006). Fe2O3.20%). Dari sisi jenis industri. 2006 dan 2007).39 + 13. ternyata menghasilkan model regresi sebagai berikut : 1) Model regresi abu dasar : y = 23. ternyata menghasilkan limbah hasil pembakaran batubara sebanyak 334. Banyak produk limbah batubara dari beberapa perusahaan tidak bisa digunakan sebagai bahan batako. Al2O3. Selain kesulitan dalam menyediakan tempat penyimpanan batubara. semakin maraknya penggunaan batubara pada IKM memunculkan persoalan baru.75 + 41. yaitu limbah hasil pembakaran batubara.98 x 2) Model regresi abu terbang : y = 173.Berdasarkan hasil survei di Jawa Timur.14%. P2O5. limbah abu dasar dan abu terbang dari 94 perusahaan tersebut.100 ton (atau 55. di 4. kadar karbon.000 ton. bahwa jumlah limbah hasil pembakaran batubara sangat dipengaruhi oleh variabel pemakaian batubara di setiap IKM. kadar kelembaban. ukuran. dengan pemakaian pertahun mencapai 720. Biasanya parameter yang digunakan dalam memilih batubara adalah kalori.266 ton (2007). organic sulfur). konsumsi. 75. analisis komposisi sulfur (pyritic sulfur.68%) disusul oleh industri kertas 35. dan tingkat ketergerusan. Kualitas limbah batubara pasca pembakaran sangat dipengaruhi oleh jenis batubara dan sistem pembakarannya. kandungan zat terbang. 94 perusahaan di antaranya menjadi contoh (sample) untuk dicatat jumlah abu dasar dan abu terbang yang dihasilkan dari pembakaran batubara di setiap perusahaan tersebut. karena karakteristik mesin atau peralatan yang digunakan dalam kegiatan produksi berbeda satu dengan yang lainnya.58% dari jumlah 164 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Di sisi lain. Tjiwi Kimia yang berlokasi di pinggir jalan raya Mojokerto. perusahaan tekstil sebesar 4. sehingga variabel ini merupakan parameter potensial yang sangat mempengaruhi produksi abu dasar dan abu terbang. Diketahui bahwa setiap hari ke 94 perusahaan tersebut menggunakan batubara tidak kurang dari 2.100 ton. Apabila hal ini terjadi terus menerus dikhawatirkan akan menimbulkan masalah baru khususnya yang berkaitan dengan masalah pencemaran lingkungan sehingga dapat menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat.72 x Kedua model di atas digunakan untuk mengestimasi potensi limbah yang dihasilkan dari proses pembakaran batubara oleh IKM di Pulau Jawa. yaitu 51. limbah yang dihasilkan dari pembakaran batubara tersebut sekitar 103. dan sisanya oleh perusahaan briket.297 kg abu dasar dan 53.430 kg abu terbang (Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung. Berdasarkan data jumlah pamakaian batubara. sehingga pemerintah daerah pun mengalami kesulitan dalam mengawasinya.20% dari limbah tersebut adalah abu dasar sedangkan sisanya berupa abu terbang.82%). Di tengah harga BBM yang semakin melambung. hasilnya dapat dilihat dalam Tabel 2.77%). dan Jawa Tengah (7. Jumlah batubara yang digunakan IKM di Pulau Jawa sebesar 5. Perusahaan kertas yang paling banyak menggunakan batubara adalah PT.213 ton atau 5. disusul kemudian oleh perusahaan tekstil (5 perusahaan) dan briket(1 perusahaan). Provinsi Jawa Barat merupakan daerah yang memberikan kontribusi limbah terbesar. kadar abu. sulfate sulfur. jumlahnya mencapai 186. Pembuangan dilakukan secara diamdiam tanpa melakukan koordinasi dengan pihak pemerintah daerah. diperoleh informasi bahwa tercatat sebanyak 24 perusahaan yang telah menggunakan bahan bakar batubara. disusul kemudian oleh Banten (22. Dari jumlah IKM sebanyak 417 perusahaan.

104 Abu Terbang Lainnya Abu Dasar 14.651 1.074 Berdasarkan model regresi : y(ad) =23.119 82.300 8. Jawa Timur (2008) Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung ( 2007) Asosiasi Pertekstilan Indonesia Jawa Barat (2007) Hasil survei Tim Pola Distribusi Batubara Tahun 2008. Jawa Tengah.800 65 546.440 2..544 35. y(at) =173.877 979 125 7.708 4.000 3. Jawa Barat.543 3.Tabel 1.97 X . Jumlah perusahaan pemakai dan konsumsi batubara oleh ikm di Pulau Jawa tahun 2007 Jumlah Perusahaan (Buah) Dan Konsumsi Batubara (Ton) Kertas Konsumsi Batubara 399.680 1.600 33 19 12 1 342.052 15.440 370.227 128. Puslitbang Tekmira Bandung Tabel 2.280 4.575 15.008 45.336 Abu Terbang 18.747 Jumlah Abu Dasar 57.72 X.4%.160 66.7477+41.985.313 29.800 325.218 5 8 5 18 620.400 5.699 251.775 107.522 681 46.962 Abu Terbang 4.067 465.026 Tekstil Abu Dasar Abu Terbang Analisis Potensi Limbah Hasil Pembakaran Batubara pada Industri .367 Tekstil Provinsi Banyaknya Perusahaan Banten Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Timur 14 199 98 5 Jumlah 316 Sumber : - Dinas Tenaga Kerja Provinsi Banten.768 3. koefisien korelasi (r) = 48.566.500 52 226 115 24 417 Banyaknya Perusahaan Konsumsi Batubara Banyaknya Perusahaan Konsumsi Batubara Banyaknya Perusahaan Lainnya Jumlah Konsumsi Batubara 1.102..809 198 22.141 1.248 36 2.362. Triswan Suseno dan Tuti Hernawati Banten Jabar Jateng Jatim 16.887 42.556 2.297 6.0%.101 43.576 5.750 13.413 1.336.877 Provinsi 5.850 132. 165 . Estimasi jumlah abu dasar (ad) dan abu terbang (at)hasil pembakaran batubara di Pulau Jawa menurut jenis ikm (ton) Kertas Abu Dasar 26.119 5.080 73.767 1.604 88.038.39+13.088.849 19.561 45.069.074 14. koefisien korelasi (r) = 93.898 Jumlah 140.

3) Hanya 26. Dengan kata lain. 5. semakin banyak batubara yang digunakan akan semakin banyak pula abu dasar dan abu terbang yang dihasilkan dari pembakaran batubara setiap IKM.antaranya banyak ditemukan pada mesin boiler pembakar batubara di sejumlah perusahaan tekstil di wilayah Kabupaten Bandung. sehingga tidak diketahui kemana limbah tersebut dibuang. Namun pemanfaatan produk dari limbah tersebut ternyata masih terkendala oleh Peraturan Pemerintah No. Faktor penyebabnya antara lain karena pembakaran yang tidak sempurna. Sehingga di dalam limbah hasil pembakaran batubara masih banyak mengandung batubara walaupun kalorinya rendah. Berdasarkan informasi yang diperoleh.04% memiliki TPS tapi tak berizin dan 40. Kesimpulan Berdasarkan hasil kajian di atas dapat disimpulkan bahwa: 1) Selama batubara masih menjadi pilihan utama sebagai pengganti BBM. Perusahaan lain yang telah melakukan pemanfaatan dan pengelolaan limbah dengan baik sesuai dengan prosedur yang berlaku adalah perusahaan tekstil PT. tidak atau belum boleh dijual ke masyarakat umum. Oleh karena itu. perusahaan kecil biasanya menggunakan jasa pemasok batubara atau pihak ketiga untuk mengangkut limbah tersebut. harus ada suatu bimbingan teknis yang dilakukan oleh para aparat kepada para pekerja di pabrik yang menggunakan batubara. harus ada solusi untuk menangani limbah tersebut. 18 Tahun 1999 jo PP 85 Tahun 1999 yang menyatakan limbah tersebut termasuk kategori limbah bahan berbahaya dan beracun (B3). ternyata limbah hasil pembakaran batubara dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan paving blok atau batubata. untuk sementara limbahnya ditimbun di tempat pembuangan sementara (TPS) di sekitar lahan milik perusahaan tersebut. Seiring dengan berjalannya waktu. Oleh karena itu. tergantung pada kondisi dan kemampuan masing-masing perusahaan. Padahal berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh berbagai instansi termasuk Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral di Bandung. Pihak KLH sendiri dalam mengeluarkan izin pengolahan dan penggunaan produk limbah batubara sangat selektif dan berhati-hati sekali mengingat tidak semua perusahaan mampu mengelola limbah batubara dengan baik dan benar karena ada dugaan yang menyatakan bahwa sebagian besar perusahaan dalam melakukan pembakaran batubara dilakukan tidak secara sempurna. 166 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Dalam menangani limbah hasil pembakaran batubara setiap perusahaan melakukannya dengan cara yang berbeda. 4) Kualitas batubara dari pemasok dan teknik pembakaran batubara yang tidak sempurna menjadikan limbah ini dinyatakan sebagai limbah B3. Timbul kekhawatiran limbah tersebut dibuang di sembarang tempat. maka diprediksi akan semakin banyak IKM yang akan menggunakan batubara sebagai bahan bakar untuk kegiatan produksinya. Namun tidak semua perusahaan memiliki lahan yang luas. 2007). 26. mereka memanfaatkan pihak ketiga atau pemasok batubara untuk mengangkutnya. penggunaan batubara terus mengalami peningkatan sehingga berkorelasi erat dengan bertambahnya limbah. Namun produknya hanya boleh digunakan untuk memenuhi kebutuhan intern. Daliatex di Kabupaten Bandung yang telah mengolah limbah batubara menjadi batako. sementara TPS yang ada sudah tidak mampu untuk menampungnya.1. Sudah banyak lembaga/instansi yang peduli terhadap limbah ini dan telah mencoba berbagai teknik untuk mengolah limbah ini menjadi bermanfaat. dari 94 perusahaan pemakai batubara hanya 26.04% saja telah memiliki TPS yang berizin. kualitas batubara yang selalu berubah dan tidak sesuai dengan spesifikasi boiler. Bagi sebagian perusahaan yang masih memiliki lahan luas. sehingga produknya tidak dapat digunakan secara bebas sebelum produk tersebut benar-benar dinyatakan bebas dari limbah B3 atas izin Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).04% saja IKM yang memiliki TPS berizin. KESIMPULAN DAN SARAN 5. 2) Terdapat korelasi yang sangat signifikan antara penggunaan batubara dengan limbahnya. akibat keterbatasan lahan untuk menyimpan sementara hasil pembakaran batubara.81% tidak/belum memiliki TPS sama sekali (Dinas Lingkungan Hidup.

Vincent. Bandung.beritaiptek. Pemerintah harus mampu meyakinkan masyarakat bahwa limbah dan produk limbah batubara tidak berbahaya karena sudah melalui prosedur pengolahan yang benar. Dinas Tenaga Kerja Provinsi Jawa Timur. Kajian Batubara Nasional. Dinas Tenaga Kerja Provinsi Banten. Laporan Kegiatan Seksi Pengendalian Pencemaran Limbah Padat dan B3. Membentuk lembaga/perusahaan yang khusus mengawasi dan mengelola limbah batubara secara profesional serta harus bertanggung jawab kepada pemerintah (Daerah/Pusat/KLH). Setiap perusahaan pengguna batubara harus mampu melakukan pembakaran batubara secara benar (sempurna) sehingga tidak ada batubara ke dalam limbahnya. Konsumsi Batubara Oleh Perusahaan Anggota API Jawa Barat. Imam Budi. Semarang. Izin pengolahan limbah batubara ini diharapkan harus benar-benar digunakan agar tidak terjadi seperti IPAL yang saat ini mereka miliki ternyata tidak berfungsi sepenuhnya.com. 1990. Daftar Perusahaan Yang Menggunakan Batubara. Ijang. Artikel Iptek . letak. 08:40:21. 2009. Suherman. mengolah (dengan rekomendasi KLH). Daftar Perusahaan Yang Menggunakan Batubara di Provinsi Banten. dan lain-lain. dan memanfaatkan) limbah batubara secara baik dan benar. Dinas Tenaga Kerja Provinsi Jawa Barat. Harus ada satu atau dua perusahaan yang diberi kewenangan khusus menangani limbah batubara.5. seperti luas.. Soreang. Daftar Perusahaan Yang Menggunakan Batubara.2. Dinas Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah. Gaspersz. 2008. Setiap perusahaan diwajibkan memiliki instalasi pengolahan limbah batubara (IPLB) seperti halnya mereka diwajibkan memiliki instalasi pengolahan limbah (IPAL) dan memanfaatkannya secara optimal. keamanan. 2007. 2008. dan memasarkannya. Melakukan pengawasan yang ketat dan berkesinambungan kepada perusahaan yang diberi kewenangan mengelola dan memanfaatkan limbah batubara. Bandung. Surabaya. Analisis Potensi Limbah Hasil Pembakaran Batubara pada Industri .Bidang Energi dan Sumber Daya Alam. Analisis Kuantitatif Untuk Perencanaan. Rabu. Bandung. Saran Solusi permasalahan limbah batubara : Mencari dan menentukan lokasi tempat pembuangan limbah batubara yang benar-benar memenuhi persyaratan teknis dan nonteknis. Untuk memudahkan pemantauan sebaiknya pemerintah atau swasta dapat membuat IPLB secara terpadu yang dapat menampung semua limbah batubara dari setiap industri pengguna batubara untuk memudahkan pengawasan. Bandung. 2007. Pemerintah dapat memberikan izin kepada perusahaan yang benar-benar mampu mengelola (mengumpulkan dan mengolah. Puslitbang Tekmira. Penerbit “Tarsito”. Serang. Dinas Lingkungan Hidup. 2008. www. 2006 dan 2007. mulai dari menampung. DAFTAR PUSTAKA Asosiasi Pertekstilan Indonesia Jawa Barat. Memberikan izin memasarkan/menggunakan barang yang dibuat dari hasil pengolahan dan pemanfaatan limbah batubara. Pengawas harus memberikan laporan secara benar tentang perusahaan pengguna batubara yang diawasinya kepada (Daerah/Pusat/KLH). 2006. Raharjo.. memanfaatkan dalam bentuk barang (rekomendasi KLH). Daftar Perusahaan Yang Menggunakan Batubara. Mengenal Batubara (2). 2008. Triswan Suseno dan Tuti Hernawati 167 .

The study is carried out by comparing the condition of UBC process with the condition of coalification and collecting and calculating chemical and petrographical analysis of raw coal and UBC product. coal rank. Fax. coal classification 168 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . reflektan vitrinit. but not so significant and still similar with oven dried of raw coal. Keywords: UBC process. (022) 6003373 e-mail: SARI Untuk mengatasi salah pengertian tentang peringkat batubara hasil proses Upgraded Brown Coal (UBC). Terdapat kenaikan reflektan vitrinit. (022) 6030483. Kata kunci: proses UBC. Jenderal Sudirman No. Kajian dilakukan dengan membandingkan kondisi proses UBC terhadap kondisi pembatubaraan dan mengumpulkan serta mengolah data analisis kimia dan analisis petrografi batubara raw dan produk UBC. perlu dilakukan kajian tentang pengaruh proses UBC terhadap peringkat batubara. tetapi tidak signifikan dan mirip dengan kenaikan yang dialami oleh batubara raw yang dikeringkan dalam oven. study on the effect of UBC process on coal rank needs to be carried out.PENGARUH PROSES UPGRADED BROWN COAL (UBC) TERHADAP PERINGKAT BATUBARA Slamet Suprapto Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. 623. Bandung 40211 Telp. peringkat batubara. Hasil kajian menunjukkan bahwa proses UBC tidak menyebabkan kenaikan peringkat batubara. klasifikasi batubara ABSTRACT To overcome misunderstanding about the rank of coal produced by Upgraded Brown Coal (UBC) process. There is an increase of vitrinite reflectance. The result shows that there UBC process does not increase the rank of coal. vitrinite reflectance.

1. 2005). kemudian untuk pilot plant dan demonstration plant dikembangkan di Indonesia. Oleh karena itu perlu dilakukan kajian untuk mempelajari pengaruh proses UBC terhadap peringkat batubara. Proses pengering pada Upgraded Brown Coal Ujicoba pilot plant dengan menggunakan batubara peringkat rendah yang berasal dari beberapa daerah di Indonesia telah beberapa kali dilakukan dan berhasil dengan baik. Dengan temperatur dan tekanan tersebut. sampai saat ini banyak yang menganggap bahwa teknologi UBC juga meningkatkan peringkat batubara. Namun demikian. yakni dengan kadar air tinggi dan nilai kalor rendah. Penambahan minyak residu diperlukan untuk menutup pori-pori batubara sehingga kestabilan kadar air bawaan pasca proses dapat terjaga (Gambar 1). Pada saat ini sebagian besar batubara yang ditambang adalah peringat bituminous dan sub bituminous. Campuran tersebut kemudian dipanaskan pada temperatur 150-160ºC dengan tekanan 250-350 kPa. Padahal batubara peringkat rendah di Indonesia umumnya termasuk bersih. yakni dengan kadar abu dan kadar belerang rendah. Namun. Disamping itu. batubara peringkat rendah disebut juga batubara kualitas rendah (low grade coal) karena tingginya kadar air dan rendahnya nilai kalor. Produk UBC yang dihasilkan mempunyai nilai kalor >6. Prinsip proses UBC adalah dengan mencampurkan batubara. Slamet Suprapto 169 . tingginya kadar air juga menyebabkan rendahnya nilai kalor. teknologi-teknologi peningkatan kualitas batubara telah banyak berkembang.300 kal/g (adb) dan kadar air ± 7%. Jepang adalah proses Upgraded Brown Coal. mencapai 104. Dengan nilai kalor yang tinggi dan kadar abu serta belerang rendah.1. Gambar 1. TINJAUAN PUSTAKA Indonesia memiliki sumber daya batubara yang cukup besar. 2. Teknologi yang saat ini berkembang umumnya didasarkan atas proses pengurangan kadar air atau pengeringan. Namun sebagian besar batubara Indonesia termasuk peringkat rendah (lignit – sub bituminus). Untuk mengatasi permasalahan batubara lignit. Sedangkan minyak tanah diperlukan sebagai media dalam proses. produk UBC lebih baik dibanding batubara bituminous yang mempunyai kadar abu dan belerang tinggi Pengaruh Proses Upgraded Brown Coal (UBC) terhadap Peringkat Batubara. Hal ini didasarkan kenyataan bahwa produk UBC mempunyai nilai kalor yang mirip dengan nilai kalor batubara peringkat bituminous. ekspoitasi terhadap batubara lignit juga mulai dikembangkan. PENDAHULUAN 2. Produk UBC bisa berupa serbuk apabila langsung dimanfaatkan atau berbentuk briket apabila akan ditransportasi pada jarak jauh (Umar. Kedua hal tersebut menyebabkan lignit lebih sulit dipasarkan dibanding batubara bituminous dan sub bituminous. minyak residu dan minyak tanah. Padahal.6 miliar ton tersebar terutama di Sumatera dan Kalimantan. Pilot plant kapasitas 5 ton/jam telah dibangun di Palimanan dan hasil ujicobanya membuktikan bahwa kadar air batubara peringkat rendah dapat dikurangi dan nilai kalornya meningkat. penentuan peringkat batubara tidak bisa ditentukan dari nilai kalor batubara kering udara. Penelitian skala laboratorium dan skala bench dilakukan di Jepang. Proses UBC Teknologi UBC adalah salah proses coal upgrading yang meningkatkan nilai kalor melalui proses pengeringan (evaporative drying) yang pertama kali dikembangkan oleh Kobe Steel. Mengingat kebutuhan semakin meningkat. air bebas (surface moisture) dan juga air lembab (inherent moisture) yang terdapat dalam pori-pori batubara akan diuapkan. Tetapi tingginya kadar air pada batubara peringkat rendah terutama lignit menyebabkan tingginya biaya pengangkutan. Salah satu teknologi peningkatan kualitas batubara lignit yang saat ini dikembangkan oleh Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara bekerjasama dengan JCOAL. maka nilai kalor batubara dapat meningkat. Jepang. Keberhasilan tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan pembangunan demonstration plant kapasitas 1000 ton/jam di Kalimantan Selatan. Dengan mengurangi kadar air.

Pada tahap penggambutan terjadi proses biokimia sehingga sisa-sisa tanaman mengalami proses pembusukan. waktu yang dibutuhkan dalam proses pembatubaraan berkisar antara puluhan sampai ratusan juta tahun. Kualitas tersebut mirip dengan kualitas batubara peringkat menengah. temperatur dan waktu. terdapat hubungan antara rasio bahan bakar (fuel ratio) dengan peringkat batubara. panas gesekan dan kompilasi tektonik. yakni tekanan. Pemanasan yang lebih lama akan menghasilkan pematangan yang lebih tinggi sehingga endapan batubara yang berumur lebih tua mempunyai tingkat pembatubaraan yang lebih tinggi. yakni tahap penggambutan (peatification) dan tahap pembatubaraan (coalification). kadar zat terbang). dan naiknya nilai kalor.150ºC (Francis. yakni perubahan dari gambut menjadi batubara lignit dan seterusnya menjadi batubara-batubara sub bituminous. sisa tanaman sudah tertutup oleh lapisan tanah penutup sehingga terjadi proses geokimia. Pada tahap ini sebetulnya terjadi proses pematangan. Hubungan antara peringkat dengan kadar karbon dapat dilihat pada Tabel 2. sirkulasi hidrotermal. Rasio bahan bakar adalah perbandingan antara karbon padat dengan kadar zat terbang.3. Proses pembentukan batubara pada dasarnya dapat dibagi menjadi 2 tahap. dan naiknya reflektan vitrinit. 2. 170 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .9 1. Menurut H. 1982): turunnya kadar air (bed moisture). Sedangkan untuk analisis petrografi digunakan data reflektan vitrinit (Rv).6 24 Menurut Francis (1965) terdapat hubungan antara peringkat dengan kadar karbon pada batubara murni (dry mineral matter free. Stach. Stach. Normalnya. makin dalam endapannya makin lanjut proses pematangan. Falcon. 1982). Temperatur pada proses pembatubaraan normal tidak lebih dari 300ºC.9 2. Kenaikan peringkat batubara juga diikuti oleh perubahan kimia dan sifat fisik batubara sebagai berikut (Francis. Makin tinggi tinggi peringkat batubara.3 1. Proses pembatubaan dipengaruhi oleh 3 faktor. turunnya kadar zat terbang. Pada tahap ini sisa tanaman masih dalam keadaan terbuka dan belum tertutup oleh tanah penutup. Hubungan tipikal antara peringkat batubara dengan rasio bahan bakar Peringkat Batubara Lignit High volatile bituminous Medium volatile bituminous Low volatile bituminous Semi antrasit Antrasit Rasio Bahan Bakar 0. Penentuan Peringkat Batubara Peringkat batubara dapat ditentukan melalui data analisis kimia atau analisis petrografi. Tekanan berfungsi memadatkan sisa tanaman dan mengurangi kadar air.sehingga sangat cocok untuk keperluan dalam negeri maupun ekspor. 2. Hubungan tipikal antara peringkat batubara dengan rasio bahan bakar dapat dilihat pada Tabel 1. bituminous dan antrasit. Proses Pembatubaraan Batubara terbentuk dari pembusukan sisa tanaman purba yang terpadatkan setelah tertimbun oleh lapisan penutup di atasnya. Rance (1975). makin tinggi kadar karbon (dmmf). 1965. Temperatur berfungsi mempercepat pematangan bahan organik. makin tinggi rasio bahan bakar.2. Pada tahap pembatubaraan. analisis ultimat (kadar karbon) dan nilai kalor.C. N dan S dan naiknya kadar C. yakni berkisar antara beberapa kilogram sampai ratusan kilogram. Untuk membentuk antrasit diperlukan temperatur 300ºC. Tingkat pembatubaraan atau posisi batubara dalam seri lignit – antrasit ini disebut peringkat (rank) (Stach. 1982. Besarnya tekanan tergantung dalamnya endapan batubara atau tebalnya lapisan tanah penutup. dmmf). sedangkan untuk batubara bituminous diperlukan temperatur 100 . Proses pematangan juga dapat dipercepat oleh pengaruh dari luar seperti intrusi batuan beku. yakni makin tinggi peringkat batubara. Oleh karena itu. Waktu juga berpengaruh terhadap pematangan bahan organik. makin tinggi peringkat batubara karena makin dekat dengan sumber panas dalam bumi. Tabel 1. makin dalam endapannya. O. turunnya kadar H. 1986). 1965. Data analisis kimia yang digunakan diantaranya analisis proksimat (kadar karbon padat.8 8.

% dmmf 93 – 95 91 – 93 80 – 91 75 – 80 60 – 75 Tabel 3. Slamet Suprapto 171 . sedangkan batubara peringkat tertinggi (meta antrasit) mempunyai Rv 2.A) dengan Rv 2.1 0. Pengumpulan Data Data sekunder berupa hasil analisis kmia dan petrografi batubara raw dan produk UBC diperoleh dari laporan kegiatan pilot plant UBC di Palimanan Cirebon yang beroperasi menggunakan batubara Binungan.0 2. METODOLOGI 3.0 – 2.4%.3 . 2005) kemudian membuat klasifikasi batubara berdasarkan peringkat dengan menggunakan data reflektan vitrinit (Rv).mmf). diperlukan contoh batubara yang masih segar (fresh) dan langsung diambil dari tambang. % C = kadar karbon (adb).Tabel 2.5 – 3.A) dengan Rv 0. tetapi dengan memasukkan data kadar air lapisan. yakni peringkat rendah.4 <0. KP = kadar karbon padat (adb).0%.3 American Society for Testing Materials (Anonymous.4 – 0.5. Sedangkan untuk batubara yang mempunyai kadar karbon padat (dmmf) <31% atau kadar zat terbang (dmmf) >69%. Klasifikasi batubara berdasarkan peringkat menurut ASTM dapat dilihat pada Lampiran 1. International Standard (Anonymous.0%. % C x 100 100 – (M + 1.15 S x 100 100 – (M + 1.1 – 1. % A = kadar abu (adb).0. % KP – 0. Klasifikasi batubara berdasarkan peringkat menurut International Standard (ISO) dapat dilihat pada Lampiran 2. peringkat batubara ditentukan berdasarkan kadar karbon padat dan zat terbang.2.1.08 A + 0.5 – 6. % dimana. % M = kadar air bawaan (adb). % Pengaruh Proses Upgraded Brown Coal (UBC) terhadap Peringkat Batubara.0 – 6. Hubungan antara peringkat batubara dengan reflektan vitrinit Peringkat batubara (ASTM) Meta antrasit Antrasit Semi antrasit Low volatile bituminous Medium volatile bitumious High volatile bituminous Sub bituminous Lignit Gambut Reflektan vitrinit 3. peringkat menengah dan peringkat tinggi.5 – 1. yakni kadar karbon padat.6 0.08 A + 0. zat terbang dan nilai kalor dari batubara murni.55 S) Karbon = (dmmf). yakni kering bebas bahan mineral (dmmf) atau basah dan bebas bahan mineral (moist mineral matter free . 2005) membuat klasifikasi batubara berdasarkan peringkat dengan menggunakan data analisisi kimia. Peringkat batubara dibagi menjadi tiga. Teichmuller dan Barntenstein (Falcon. Hubungan antara peringkat dengan kadar karbon (dmmf) Peringkat Antrasit Carbonaceous Bituminous Sub bituminous Lignit Kadar karbon.5 – 2.5 0. Apabila penentuan peringkat menggunakan nilai kalor (mmf).0% dan peringkat tinggi (antrasit C . 1986) membuat hubungan antara refelektan vitrinit dengan gambut dan peringkat batubara menurut ASTM (Tabel 3).5 1. peringkat batubara ditentukan berdasarkan nilai kalor (mmf) batubara yang masih mengandung air lapisan (bed moisture). Peringkat rendah (lignit dan sub bituminous) dengan Rv <0.55 S) Zat terbang = 100 – kadar karbon padat (dmmf) (dmmf).6 – 2.0 – 6. 3. 2005) sebagai berikut: Karbon padat = (dmmf). peringkat menengah (bituminous D . Pengolahan Data Data hasil analisis batubara raw dan produk UBC pada kondisi kering udara diolah menjadi kondisi kering dan bebas bahan mineral (dmmf) menggunakan rumus Par (Anonymus.3 – 0. % S = kadar belerang (adb).0 1. Batubara peringkat paling rendah (lignit) mempunyai Rv 0. Untuk batubara yang mempunyai kadar karbon padat (dmmf) e”69% atau kadar zat terbang (dmmf) <31%. 3. Taban dan Samaranggau.5 2.

1981). HASIL DAN PEMBAHASAN Data analisis batubara raw dan produk UBC pada kondisi kering udara dapat dilihat pada Tabel 4.80 30.60 6.93 48.90 5.278 – 7. 33.431 57.60 35.50 45.76%.65 2. kal/g adb Karbon.00 47.15 38. Hasil analisis batubara raw dan produk UBC Paramater Raw.36 37. Penurunan rasio bahan bakar tersebut dikarenakan oleh naiknya kadar zat terbang yang kemungkinan akibat penambahan atau sisa residu (LSWR) yang ditambahkan selama proses UBC (lihat Gambar 1).80% dan nilai kalor 4.54 6. 2004 Binungan Produk. Sebagai pembanding.80 4.20 30.34% dan karbon padat 42. Hasil analisis tersebut mirip dengan kualitas batubara peringkat high volatile bituminous.19 3.70 – 71.81 46.13 6. Peringkat batubara raw dan produk UBC masih tetap termasuk lignit. Tabel 5 menyatakan komposisi kimia contoh-contoh batubara peringkat rendah – menengah pada kondisi as received (ar contoh asal) (Singer.90 7. % adb Zat terbang. Tabel 8 menunjukkan bahwa tidak terdapat perubahan kadar karbon (dmmf) yang siginifikan dari produk UBC dibanding batubara raw.278 High volatile B bituminous 12. % adb Nilai kalor.4.96-0. % ar Karbon padat.324 57.08 – 8.048 53. Bahkan terdapat kecenderungan penurunan rasio bahan bakar produk UBC dibanding batubara raw.50 – 12. 4.59 Produk.00 44.54 – 45. Air total.80 6. mirip dengan kualitas batubara umpan (raw coal) untuk proses UBC. Kadar karbon (dmmf) batubara raw berkisar antara 71.98 menyatakan bahwa peringkat batubara produk masih tetap rendah.40% dan nilai kalor 6. 1981 Peringkat Menengah High volatile C bituminous 10. % adb Sumber: Umar.20 40.006 kal/g. sedangkan kadar karbon (dmmf) produk UBC berkisar antara 69. % ar Abu. mirip dengan kualitas produk UBC. Hal ini berarti tidak terjadi kenaikan peringkat batubara akibat proses UBC. % ar Air lembab.55 Taban Produk. yakni lignit. Batubara lignit mempunyai kadar air 34.89 6.310 – 6.00 6.31 5.11 22.48% dan nilai kalor 6. Hal ini terbukti bahwa kadar zat terbang (dmmf) batubara produk UBC lebih tinggi dari yang terdapat pada batubara raw (Tabel 7). % adb Abu. % ar Nilai kalor.43 17. 1.68 39.74%.628 172 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .894 Lignit 34.50 2.01 Tabel 5.55 5.006 Sub bituminous 19.78 – 48.52 6.60 4. Sedangkan batubara peringkat bituminous mempunyai kadar air 5.80 60.5 12.19 Raw.625 66.07%.40 5. Rasio bahan bakar batubara produk UBC (Tabel 6) yang berkisar antara 0.00 30.805 kal/g. Dari Tabel 7 juga dapat dilihat bahwa seluruh batubara raw maupun produk UBC mempunyai kadar karbon padat (dmmf) <69% dan kadar zat Tabel 4.67 45.20 28. 5.894 kal/g.34 42.47 5.35 4.310 64. % adb Karbon Padat.61 47.33 2. Produk UBC mempunyai kadar air lembab 5.78 44.88 Samaranggau Raw 32. % ar Zat terbang.90 32. kal/g ar Sumber: Singer.56 16.75 15.07 6.42 40.589 High volatile A bituminous 5. Data analisis contoh batubara peringkat rendah – menengah Peringkat Rendah Parameter Air.05 37.805 65. zat terbang 46.

50 51.44 0.35 – 0.10 48.29-0. maka peringkat batubara produk UBC tidak bisa ditentukan menurut kalsifikasi ASTM.50 49.70 Tabel 7.97 0.60% atau rata-rata 0. Tabel 9 menunjukkan terjadinya kenaikan reflektan vitrinit akibat proses UBC.60 0.43 Deviasi 0.38 0.54 51.44% atau ratarata 0.08 0.45 0. Slamet Suprapto 173 .51 Pengaruh Proses Upgraded Brown Coal (UBC) terhadap Peringkat Batubara.% dmmf 51.57 49.35-0. Pembahasan tersebut di atas menyatakan bahwa peringkat batubara produk UBC cenderung sama dengan peringkat batubara raw.98 53.039 0. Kadar karbon padat dan zat terbang batubara raw dan produk UBC Contoh Batubara Binungan Taban Samaranggau Raw Produk Raw Produk Raw Produk Karbon padat. 2008 Reflektan Vitrinit. produk UBC dan batubara kering oven Contoh Kisaran Batubara raw Produk UBC Batubara kering oven Sumber: Daulay.Tabel 6.34 71. Apalagi refelektan vitrinit batubara kering oven yang juga mengalami kenaikan dibandingkan batubara raw.98 0.053 0.32 – 0.60 71.57 terbang (dmmf) >31%. sedangkan proses pembatubaraan yang merubah batubara lignit menjadi batubara high votaltile bituminous terjadi dalam waktu puluhan juta tahun.038 0.96 0. Waktu tinggal batubara pada proses UBC tidak lebih dari 1 hari. peringkat batubara produk UBC tidak mengalami kenaikan yang berarti.76 72. Dengan demikian maka peringkat batubara harus ditentukan dari nilai kalor (mmf). Rasio bahan bakar batubara raw dan produk UBC Contoh Batubara Binungan Taban Samaranggau Raw Produk Raw Produk Raw Produk Rasio Bahan Bakar 1. % Rata-rata 0. namun waktu (durasi) proses sangat berbeda. Kadar karbon batubara raw dan produk UBC Contoh Batubara Binungan Taban Samaranggau Raw Produk Raw Produk Raw Produk Kadar Karbon% dmmf 74. Reflektan vitrinit batubara raw berkisar antara 0. Temperatur yang digunakan untuk proses UBC memang mirip dengan temperatur proses pembatubaraan. Tetapi.45.18 69. Mengingat nilai kalor (mmf) harus ditentukan dari batubara yang masih mengandung air lapisan. Reflektan vitrinit batubara raw.43 Zat terbang%. Tabel 9.95 Tabel 8.29 – 0.12 73.88 0.46 48.38% menjadi 0.50 50. dmmf 48.43 50.02 46.

H. 1982. E. Stach. Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara. J. Daulay. Stach’s Textbook of Coal Petrology. rasio bahan bakar. Umar. Singer. 25. & Teichmuller. Petrografphy of Raw Coal and its UBC Product.. 2005.C.. Classification of coal.. Bandung. B. Fuels and Fuel Technology. tetapi mirip dengan kenaikan pada batubara kering oven. 2005. Windsor. 1965.. 2005. vol. Taylor. 1975.. 31-45. Chandra. Classification of Coal by Rank. 2008.. no. Coal Quality Parameters and their Influence in Coal Utilization. Pengujian Peningkatan Kualitas Batubara Peringkat Rendah dengan Proses UBC (Upgraded Brown Coal) Skala Pilot. Bandung.. Berlin. R. D.. Inc. ISO 11760:2005(E). M. Ltd.M. S.. Anonymous..1. Pergamon Press. tetapi peringkatnya relatifsama dengan batubara raw. TH.. Characterization of upgraded brown coal (UBC). B.. Umar. Usui..). Daulay. Teichmuller. B. H. (Ed. DAFTAR PUSTAKA Anonymous. G.5. Deguchi. Combustion. M. Shell International Petroleum Co. Rance. Fossil Power. C.. International Standard. and Snyman. D. Francis. Coal preparation. Oxford. D 388 – 99(2004). Suganal & Rijwan. Proses UBC tidak berpengaruh terhadap peringkat batubara. Review Paper No.G. W.P.. Connecticut.. pp. R. Combustion Engineering. T. D. and Sugita. R & D Centre for Mineral and Coal Technology. Falcon. 1991. 2. Gebruder Borntraeger.F. kadar karbon dmmf tetap dan tidak mengalami perubahan yang berarti. rographic Constituents in the Bituminous Coals of South Africa. The Geological Society of South Africa. Mackowsky. An Introduction to Coal Petrography: Atlas of Pet- 174 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .S. Annual Book of ASTM Standard. 1986. 2004.. Terdapat sedikit kenaikan reflektan vitrinit.F. KESIMPULAN Kualitas batubara produk UBC mirip dengan batubara peringkat high volatile bituminous. Daulay. I.H..

Keywords: iron ore. perubahan suhu dari 350-450°C cenderung tidak berpengaruh terhadap ukuran kristal pirhotit yang terbentuk dari katalis tailing PT. hermanu@tekmira. Metoda yang digunakan adalah dengan melakukan uji sulfidasi untuk mengamati pertumbuhan kristal pirhotit dan mengetahui persentasi produk dan konversi pencairan batubara.Freeport. The oil yield and percentage of coal conversion increased as compare to that of tailing catalyst. hal ini dibuktikan dari kereaktifannya yakni perolehan produk minyak serta hasil konversi pencairan batubara yang lebih besar pada kondisi proses yang sama. sulfidation. ukuran kristal pirhotit ABSTRACT Catalyst in coal liquefaction is very important to increase percentage of coal conversion. Katalis yang banyak digunakan dalam pencairan batubara adalah katalis yang berbasis besi.6003373 e-mail : ninings@tekmira. Freeport Indonesia (PT. The result of the research will be compared to that of the research using tailing from PT. maka telah dicoba bijih besi dari Kalimantan Selatan untuk digunakan sebagai katalis. Freeport Indonesia. It is generally recognized that the iron based catalyst is an active phase in coal liquefaction.FI). 623 Bandung 40211 Telp.go. Dalam rangka menambah sumber katalis pencairan batubara yang ada di Indonesia. Hasil percobaan dibandingkan dengan hasil yang diperoleh dengan menggunakan katalis tailing dari PT. ukuran kristal pirhotit yang terbentuk dari katalis bijih besi Kalsel lebih kecil daripada katalis tailing PT. The result show that the temperature and mineral mater in iron ore is influential to the size of crystal pyrrhotite but temperature and mineral mater in tailing is not influential to the size of crystal pyrrhotite.Freeport Indonesia.id ABSTRAK Katalis dalam pencairan batubara berperan sangat penting untuk dapat meningkatkan konversi batubara menjadi minyak.id. In order to develop Indonesian catalyst sources for coal liquefaction.UJI SULFIDASI BIJIH BESI KALIMANTAN SELATAN DAN TAILING PT. The aim of this research is to identify of reactivity and activity of iron ore as catalyst on coal liquefaction.esdm. tailing. Sudirman No..6030483 Fax.go.esdm. mineral yang terkandung dalam bahan katalis bijih besi berpengaruh terhadap terbentuknya kristal pirhotit. the research of iron ore from South Kalimantan as coal liquefaction catalyst has been carried out. Tujuannya adalah untuk mengetahui reaktifitas/aktifitas/efektifitas penggunaan bahan katalis berbasis besi dari bijih besi Kalimantan Selatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu berpengaruh terhadap terbentuknya ukuran kristal pirhotit dari katalis bijih besi Kalsel. Nining Sudini Ningrum dan Hermanu Prijono 175 . crystal pyrrhotite size Uji Sulfidasi Bijih Besi Kalimantan Selatan dan Tailing . tailing. semakin tinggi suhu maka kristal pirhotit yang terbentuk semakin besar. 022 . FREEPORT INDONESIA SEBAGAI KATALIS PENCAIRAN BATUBARA Nining Sudini Ningrum dan Hermanu Prijono Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jln.. 022 . The methodology of the research is sulfidation to observe the crystal growth of pyrrhotite and percentage of coal yield and coal conversion. Kunci: bijih besi. sulfidasi. The size of crystal pyrrhotite formed from iron ore catalyst is smaller than that from tailing catalyst..

besi sulfida seperti Pyrite. Tujuan penelitian untuk mengetahui (reaktifitas/ aktifitas/efektifitas) penggunaan bahan katalis berbasis besi dari bijih besi Kalimantan Selatan dan tailing dari PT. Aktifitas katalis sangat dipengaruhi oleh dispersi katalis yang tergantung pada luas permukaan. Disamping itu katalis juga dapat membuat kondisi reaksi menjadi lebih moderat seperti menurunkan suhu. dkk. katalis berbasis besi ditambahkan sulfur. Hasil dari uji sulfidasi dicuci dengan tetrahidrofuran sehingga kristal pirhotit bersih dari pengotor yang kemudian dipisahkan dari pelarut dengan pompa vacuum untuk selanjutnya diuji dengan XRD guna mengetahui kristal pirhotit yang terbentuk. karena pada kondisi reaksi pencairan berlangsung unsur besi dalam katalis bereaksi dengan sulfur membentuk senyawa pirhotit. Dengan demikian konversi yang dihasilkan tidak akan melebihi konversi kesetimbangan. International Nikel Indonesia. 3. Suatu bahan katalis memiliki kinerja yang baik untuk pencairan batubara bila ukuran kristal fasa aktif pirhotit tidak lebih dari 40 nm (Kaneko. Pengujian sulfidasi hampir mirip dengan pengujian pencairan batubara. Ukuran kristal dapat membesar karena adanya aglomerasi antar partikel pirhotit. dan terpenuhi energi aktivasinya. ratio atom S/Fe 2 pada suhu 400°C iv) Pelarut + Bijih Besi Kalsel (ukuran -325#) + 176 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . PERCOBAAN 3.1. terhadap: pertumbuhan pembentukan kristal pirhotit dengan melakukan proses sulfidasi pada suhu 350-425°C. Bijih Besi dari Kalimantan Selatan mudah diperoleh dan cadangannya banyak mempunyai kandungan oksida besi yang tinggi. tapi dilakukan tanpa batubara. dari Kalimantan Selatan.. Semakin besar ukuran kristal pirhotit semakin rendah kereaktifannya yang berakibat rendahnya jumlah batubara yang dapat dicairkan. Dalam proses pencairan batubara. ratio atom S/Fe 2 pada suhu 375°C iii) Pelarut + Bijih Besi Kalsel (ukuran -325#) + Sulfur. Uji Sulfidasi Katalis Percobaan uji sulfidasi katalis dilakukan dengan menggunakan beberapa variabel: i) Pelarut + Bijih Besi Kalsel (ukuran -325#) + Sulfur. Pengujian ini dilakukan untuk melihat kinerja pirhotit yang terbentuk dari katalis. Kedua syarat di atas dapat terakomodasi dengan baik apabila ada katalis. Penggunaan bijih besi yang relatif murah diharapkan dapat menekan ongkos yang diperlukan untuk pembelian katalis.1. dkk. 1986). KAJIAN PUSTAKA Suatu reaksi dapat berlangsung bila terjadi kontak yang efektif antar molekul reaktan. persentasi produk dan konversi pencairan batubara secara langsung. Fe(1-x)S yang merupakan fasa aktif yang sangat berperan dalam proses pencairan batubara. Katalis dapat mengantarkan reaktan melalui jalan baru yang lebih mudah untuk berubah menjadi produk.. Ukuran kristal pirhotit dapat dihitung dengan formula dari Scherer yang datanya diambil dari uji XRD hasil uji sulfidasi. Mineral-mineral yang mengandung oksida besi antara lain laterit dari Pulau Sebuku dan limonit dari Soroako berasal dari PT. Freeport Indonesia (PT. satu katalis hanya sesuai untuk satu jenis reaksi saja. ukuran partikel dan ukuran kristal katalis. Jalan baru yang dimaksud yaitu jalan yang mempunyai energi aktivasi yang lebih rendah. Seperti disebutkan sebelumnya bahwa semakin besar ukuran kristal pirhotit semakin rendah kereaktifannya yang berakibat rendahnya jumlah batubara yang dapat dicairkan. 1998). ratio atom S/Fe 2 pada suhu 350°C ii) Pelarut + Bijih Besi Kalsel (ukuran -325#) + Sulfur. FI). Beberapa jenis katalis telah dicoba untuk pencairan batubara tetapi sampai saat ini. Katalis juga bersifat spesifik. Keberadaan katalis juga dapat meningkatkan jumlah tumbukan antar molekul reaktan. katalis mempunyai peran yang sangat penting yakni dapat meningkatkan konversi batubara menjadi minyak. Pada penelitian ini telah dilakukan pengujian katalis berbasis besi berupa bijih besi. yakni katalis tidak mengubah kesetimbangan dan katalis hanya berpengaruh pada sifat kinetik seperti mekanisme reaksi. tekanan dan waktu reaksi. Katalis memiliki sifat tertentu. Untuk mengetahui kinerja dari pirhotit ini salah satunya dengan melihat ukuran kristal yang terbentuk. PENDAHULUAN 2. Pada pencairan batubara. Pyrrhotite dan Troilite dianggap sesuai sebagai katalis pencairan batubara karena cukup aktif dan berharga murah (Yokoyama.

ratio atom S/Fe 2 pada suhu 400°C viii) Pelarut + Tailing PT.   saring dengan pompa vacum Ektraksi dengan a.FI (ukuran -325#) + Sulfur. Analisis Kimia Penggerusan Analisis Ayak 1. soltv =  15 g.  S/F = 2.. 375°C. Tetrahidrofuran % Produk dan % konversi filtrat Kristal pirhotit Uji XRD Uji Sulfidasi Bijih Besi Kalimantan Selatan dan Tailing . ratio atom S/Fe 2 pada suhu 375°C vii) Pelarut + Tailing PT.FI (ukuran -325#) + Sulfur. Freeport Indonesia. 375°C.Sulfur.  Kat sbg Fe 3% dari BB 1. 375.FI (suhu 350°C. Penambahan Sulfurdg rasio Cuci dengan tetrahidrofuran. Heksana c. Bahan baku katalis berbasis besi Peremukan Uji : 1. Uji Katalis untuk Pencairan Batubara 4.FI (ukuran -325#) + Sulfur. -325 # Uji Sulfidasi pada   = 0 menit. ratio atom S/Fe 2 pada suhu 350°C vi) Pelarut + Tailing PT. ratio atom S/Fe 2 pada suhu 425°C v) 3. 400°C. PH2 =  t 10 MPa.ukuran ‐325. ratio atom S/Fe 2 pada suhu 425°C Pelarut + Tailing PT. Uji Sulfidasi Variasi percobaan adalah sebagai berikut: i) Katalis Bijih Besi Kalimantan Selatan (suhu 350°C.. mesh Variasi suhu= 350. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil analisis kimia dan XRD bahan baku katalis 4.2. dan 425°C) ii) Katalis Tailing PT. Toluena b. soltv = 15 g .FI (ukuran -325#) + Sulfur. 425OC Kondisis pencairan : T = 400 °C. XRD 2.1. . Kat sbg  Fe = 3%. dan 425°C). PT. t =  60 menit. 400°C. 400. Nining Sudini Ningrum dan Hermanu Prijono 177 . PH2 = 10 MPa.

ukuran partikel katalis -325#. 4000C. Kalsel. ukuran kristal pirhotit katalis bijih besi Kalsel lebih besar dibanding ukuran kristal yang terbentuk pada suhu 375ºC.19 178 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . [°2Th. Gambar 1.1. merupakan acuan kondisi operasi yang diambil dari Kaneko.90 29. Pada percobaan sulfidasi ini. dan 4250C.5406 1. Katalis dari tailing PT. sehingga diperoleh suhu optimal dan memiliki aktifitas maksimal. dan proses sulfidasi dilakukan mendekati kondisi proses pencairan. Pengaruh suhu terhadap ukuran pirhotit katalis bijih besi.33 0. konversi komponen besi dari katalis tailing PT.33 Ukuran Kristal (nm) 25. rasio atom S/Fe – katalis = 2. Hasil analisis XRD untuk hasil uji sulfida katalis Tailing PT. sehingga didapat suhu optimal dimana katalis memiliki aktifitas maksimal. FI.79 20. Secara umum ukuran kristal pirhotit bertambah dengan meningkatnya suhu.1 Sulfidisasi katalis bijih besi Kalimantan Selatan Kondisi operasi sulfidasi katalis dilakukan tanpa batubara pada tekanan 100 MPa dan waktu tinggal operasi mendekati 0 menit (t = 0 menit). Kristal pirhotit terkecil yang terbentuk dari katalis bijih besi. Pengamatan pada percobaan ini dilakukan pada suhu 3500C. Hal ini diperkirakan karena struktur kristal yang masih amorf sehingga bidang kristal pirhotit belum terbentuk dengan sempurna. 4000C. (1998) dan Ningrum dan Prijono (2009) dengan ukuran partikel katalis adalah -325 #. Hal ini disebabkan terjadinya aglomerisasi antar partikel pirihotit pada suhu yang semakin tinggi.4. dkk.15 25. dan ukurannya meningkat dengan semakin tingginya suhu. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Ningrum dan Prijono (2009) menunjukkan bahwa penambahan katalis berbasis besi berpengaruh terhadap perolehan produk dan persen konversi pencairan batubara. Pengamatan dilakukan untuk mengetahui pengaruh suhu terhadap ukuran kristal fasa aktif pirhotit.41 0.FI berpengaruh terhadap perolehan produk dan persen konversi pencairan batubara. 3750C. Pengamatan dilakukan pada suhu 3500C.] 0.5406 Pos. Hasil analisis XRD untuk hasil uji sulfidasi. Kalsel Suhu Sulfidasi (°C) 350 375 400 425 λ (A) 1. Grafik hubungan ukuran kristal pirhotit katalis bijih besi terhadap suhu 4.49 0. Kalsel terjadi pada suhu sulfidasi 375ºC..2 Sulfidisasi katalis tailing PT. dan 4250C.19 16.5406 1.88 29.] Bid. Pada Tabel 1 di atas terlihat bahwa perubahan suhu berpengaruh pada ukuran kristal pirhotit yang terbentuk. Kalsel dengan melihat ukuran kristal yang terbentuk. Pengamatan dilakukan untuk mengetahui pengaruh suhu terhadap ukuran kristal fasa aktif pirhotit. Percobaan sulfidasi ini dilakukan untuk mengetahui kinerja katalis bijih besi.FI mengandung sulfur yang berasosiasi dengan besi dalam bentuk pirit. Tabel 1. Suatu bahan katalis memiliki kinerja yang baik untuk pencairan batubara bila ukuran kristal fasa aktif pirhotit kecil. Dari data yang didapat maka suhu 375ºC merupakan suhu dimana kristal pirhotit memiliki ukuran terkecil sehingga katalis memiliki kereaktifan yang terbaik dalam meningkatkan jumlah batubara yang dicairkan seperti terlihat pula pada Gambar 1. Pada suhu sulfidasi 350ºC. 3750C. FI Pada penelitian Ningrum dan Prijono (2009) telah dibahas bahwa penambahan katalis dari tailing PT.90 29. Percobaan sulfidasi ini dilakukan menggunakan autoclave dengan laju pemanasan 5°C/menit pada tekanan awal dari H2 10 MPa dengan penambahan sulfur.87 FWHM [°2Th.hkl 200 29.1.5406 1. FI dilakukan pada autoclave dengan kondisi operasi sama dengan katalis bijih besi.

72 Ekstraksi toluen 84.33 0.33 0. et. 4.19 28.86 29.5406 1.14 26.5406 1. Produk aspalten pencairan batubara yang menggunakan katalis tailing PT. Pengaruh jenis katalis dan ukuran kristal pihotit terhadap jumlah produk dan persen konversi pencairan batubara Ukuran Kristal Pirhotit (nm) 20. Pengaruh suhu terhadap ukuran kristal pirhotit katalis tailing PT.15 28. Hal ini diperkirakan karena adanya unsur Si yang menghambat kereaktifan katalis sehingga ukuran katalis cenderung sama.06 44. Grafik hubungan ukuran kristal pirhotit katalis tailing PT. heksan 65.20 71.30 % Konversi Ekstraksi n. sedangkan ukuran kristal pirhotit terbesar pada suhu 4000C.. Freeport Dari Tabel 3 terlihat bahwa pencairan batubara yang menggunakan katalis bijih besi.20 25.] Bid.72 Aspalten 19.02 Jenis Katalis Bijih Besi Kalsel Tailing PT.FI. dan suhu 4000C.33 Ukuran Kristal (nm) 25.06 44.. Tabel 2.2.29 0.86 29. Kalsel yang memiliki ukuran kristal pirhotit kecil hasilnya lebih Gambar 2. Dalam Tabel 3 ini diperlihatkan perbandingan produk dan persen konversi hasil pencairan batubara menggunakan katalis bijih besi Kalimantan Selatan dan katalis tailing PT.] 0.FI lebih banyak daripada pencairan dengan katalis bijih besi.Pada Tabel 2 di atas terlihat bahwa perubahan suhu pada katalis tailing PT.19 Tabel 3.5406 1.99 29. Kalsel dengan ukuran kristal pirhotit yang lebih kecil menghasilkan produk minyak berat yang lebih besar daripada yang menggunakan katalis tailing PT. Nining Sudini Ningrum dan Hermanu Prijono 179 .87 FWHM [°2Th.79 Produk (%) Minyak Berat 65. Hasil percobaan menunjukkan bahwa konversi dengan n. Data pada Tabel 2 menunjukkan bahwa suhu 3750C merupakan suhu dimana kristal pirhotit yang terbentuk memiliki ukuran terkecil sehingga memiliki kereaktifan terbaik dan dapat meningkatkan jumlah batubara yang dicairkan. Kristal pirhotit yang terbentuk dari pirit lebih besar dari kristal pirhotit yang terbentuk dari katalis besi oksida. yang dilakukan pada kondisi tekanan awal H210 Mpa perbandingan atom S/Fe = 2.FI cenderung tidak terlalu berpengaruh pada ukuran kristal pirhotit yang terbentuk. [°2Th.FI yang memiliki kristal pirhotit yang besar. Ukuran kristal pirhotit katalis yang terbentuk cenderung sama dengan ukuran terkecil kristal pirhotit pada suhu sulfidasi 375 0 C. FI pada Produk dan Konversi Pengaruh jenis bahan katalis berbasis besi dan ukuran kristal pirhotit yang terbentuk terhadap produk pencairan batubara dapat dilihat pada Tabel 3. ukuran partikel katalis -325#.al (1998) juga menunjukkan bahwa kristal pirhotit yang terbentuk dari pirit lebih besar daripada limonit dan goetit. Pengaruh Ukuran Kristal Pirhotit Katalis Bijih Besi Kalsel dan Tailing PT.5406 Pos. hexan maupun toluen pada pencairan batubara dengan katalis bijih besi.hkl 200 29. Freeport terhadap suhu Uji Sulfidasi Bijih Besi Kalimantan Selatan dan Tailing .FI Suhu Sulfidasi (0C) 350 375 400 425 λ (A) 1.79 25. Penelitian yang dilakukan oleh Kaneko.

FI yang mengandung unsur sulfur dalam bentuk pirit. T. Hal ini disebabkan semakin kecil ukuran kristal pirhotit yang terbentuk. 5. T. 12. Koyama. Gambar 3.FI). Gambar 4. maka bijih besi Kalsel lebih baik sebagai katalis pencairan batubara daripada tailing PT. Narita. selama proses pencairan ukuran kristal pirhotit akan membesar seiring dengan meningkatnya suhu operasi. Catalytic Activity of Various Iron Sulphides in Coal Liquefaction. Freeport Indonesia dan Waktu Tinggal Reaksi pada Pencairan Batubara. KESIMPULAN Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: suhu berpengaruh terhadap terbentuknya ukuran kristal pirhotit dari katalis berbasis besi yang merupakan fasa aktif pencairan batubara. Vol. Pengaruh Fraksi Ukuran Katalis Tailing PT. FI (Gambar 3 dan 4). Indonesia. Yokoyama. Freeport Indonesia (PT. 164-170. Shimasaki. mineral yang terkandung dalam bahan katalis berpengaruh terhadap terbentuknya kristal pirhotit. 1986.FI yang memiliki kristal pirhotit lebih besar. ukuran kristal pirhotit yang terbentuk dari katalis bijih besi Kalsel lebih kecil daripada katalis tailing PT. luas permukaan kontak kristal pirhotit semakin besar. Kageyama. S. Yoshida. 897-904. 65. Prosiding Seminar Energi Baru Terbarukan: Peranan Energi Baru Terbarukan Dalam Mengatasi Krisis Energi dan Menghambat Laju Pemanasan Global. FMIPA UNS Surakarta. N. Maekawa. Transformation of Iron Catalyst to the Active Phase in Coal Liquefaction. R. H.S dan Prijono. pp. K. perolehan produk minyak serta hasil konversi pencairan batubara yang lebih besar pada kondisi proses yang sama. Kodaira and Y. K.baik dibanding katalis dari tailing PT. perubahan suhu dari 350-450°C cenderung tidak berpengaruh terhadap ukuran kristal pirhotit yang terbentuk dari katalis tailing PT. Grafik hubungan ukuran kristal pirhotit dan jenis bahan katalis besi terhadap persen konversi N Heksan dan Toluen Ningrum. Tazawa. 1998.. H. and Y. Energy & Fuels. Fuel. sehingga peran katalis lebih efektif. 2009. Semakin tinggi suhu maka kristal pirhotit yang terbentuk semakin besar. pp.. Satou. 82-96. K. K. Grafik hubungan ukuran kristal pirhotit dan jenis bahan katalis berbasis besi terhadap jumlah produk hasil pencairan batubara DAFTAR PUSTAKA Kaneko. pp. Dilihat dari jumlah hasil produk dan persen konversi secara keseluruhan. katalis dari bijih besi Kalsel yang terdiri atas hematit ukuran kristal pirhotit yang terbentuk lebih kecil dibandingkan yang berasal dari tailing PT.Freeport hal ini dibuktikan dari kereaktifannya. 180 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .

: (022) 6038027.000 kal/g. Kata kunci : karakterisasi. : (022) 6030483. batubara dengan nilai kalori <5.200 kal/g. Cirebon. Karakterisasi dan Optimalisasi Pembriketan pada Batubara . skala pilot ABSTRACT Research on low rank coal upgrading with Upgraded Brown Coal (UBC) technology has been developed since 2002.000 cal/gr can be increased to be >6.04 g/cm3 dan kecepatan produk briket UBC yang dihasilkan sebanyak 1. the coal with calorific value of <5. Jawa Barat. Pada kondisi ini briket UBC yang dihasilkan mempunyai kuat tekan 73 . 623..200 cal/gr increased to be >7. densitas 1.go. Bandung – 40211 Telp.110°C.77 kg/cm2.015 – 1. Kondisi optimum pembriketan didapat pada kondisi putaran roll 8 rpm dan temperatur 80 . Bahkan batubara yang berasal dari Banko dengan nilai kalori <5. karbon dan nitrogen mengalami kenaikan.go. setelah dilakukan proses dan mengetahui kondisi optimum pembriketan pada batubara hasil proses pada UBC skala pilot di Palimanan. 227. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan karakteristik batubara Mulia yang berasal dari daerah Satui. karbon padat.id dan Datin@tekmira. sedangkan kadar hidrogen dan oksigen turun.200 kal/g.. Ikin Sodikin dan Datin Fatia Umar 181 . Cirebon. Fax. Kalimantan Selatan. From 7 Indonesian low rank coal samples. proses UBC.id SARI Penelitian peningkatan kualitas batubara peringkat rendah dengan teknologi Upgraded Brown Coal (UBC) telah dilakukan sejak tahun 2002. pembriketan. Cirebon. Cirebon. belerang. West Java. Hasil proses UBC yang dilakukan dapat menurunkan kadar air bawaan (inherent moisture) batubara Mulia sebesar 71. 000 kal/g dapat ditingkatkan menjadi >6.200 cal/gr. zat terbang.esdm. dapat ditingkatkan menjadi >7. e-mail : ikin@tekmira. Jenderal Sudirman No. meanwhile low rank coal from Banko with calorific value of <5.KARAKTERISASI DAN OPTIMALISASI PEMBRIKETAN PADA BATUBARA HASIL PROSES UPGRADED BROWN COAL SKALA PILOT Ikin Sodikin dan Datin Fatia Umar Pusat Penelitian dan Pegembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. Dari 7 contoh batubara peringkat rendah yang berasal dari beberapa daerah di Indonesia.esdm.6%.104 kg/ jam. started with UBC pilot plant construction with a capacity of 5 ton/day in Palimanan. South Kalimantan after process and the optimum conditions of briquetting to coal after process in UBC pilot plant Palimanan.000 cal/gr.5%. The aim of this research is to know the changes of Mulia coal characteristics from Satui. sehingga nilai kalor naik sebesar 26. dimulai dengan pembangunan UBC skala pilot kapasitas 5 ton/hari di Palimanan. Sementara kadar abu. ext.

5%.000 kal/g.. Proses UBC Penurunan kadar air dalam batubara dapat dilakukan dengan cara mekanik atau perlakuan panas. Beberapa penelitian dengan maksud tersebut telah banyak dilakukan sejak tahun 1920-an di Amerika Serikat. 2000). Pilot plant tersebut telah berhasil dioperasikan dengan baik. yang akan dipakai sebagai acuan untuk pengoperasian proses UBC demonstration plant di Satui. Kandungan Air Dalam batubara Air yang terkandung dalam batubara terdiri atas air bebas (free moisture) dan air lembab (inherent moisture). yaitu sekitar 60% dari total sumber daya yang jumlahnya 104. UBC briquettes resulted have a pressure strength of 73-77 kg cm2. setelah dilakukan proses UBC dan mengetahui kondisi optimum pembriketan pada batubara hasil proses UBC skala pilot yang berlokasi di Palimanan. LATAR BELAKANG Kualitas batubara Indonesia pada umumnya didominasi oleh batubara peringkat rendah (lignit dan subbituminus). Bahkan batubara yang berasal dari Banko dengan nilai kalori <5. sehingga nilai kalori batubara tersebut menjadi lebih tinggi. hydrogen. Keuntungan teknologi ini. Seperti diketahui. Jepang. Kalimantan Selatan. briquetting. therefore. pilot plant 1. Salah satu teknologi untuk menurunkan kadar air lembab adalah proses UBC yang merupakan teknologi peningkatan kualitas (upgrading) batubara peringkat rendah 182 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . dkk. Jawa Barat. Kadar air bebas dapat dikurangi secara efektif dengan cara mekanik. Hasil kegiatan proses UBC ini digunakan sebagai acuan dalam pembangunan UBC demonstration plant (Umar. Air bebas adalah air yang terikat secara mekanik dengan batubara pada permukaan dalam rekahan atau kapiler yang mempunyai tekanan uap normal. Whilst ash. In this condition. Jepang (Shigehisa et al.7 milyar ton (Sukhyar. Dari 7 contoh batubara peringkat rendah yang berasal dari beberapa daerah di Indonesia.6%. The optimum condition of briquetting was reached at roll rotation of 8 rpm and temperature of 80-110 °C. volatile matter. 2000). 2. batubara peringkat rendah mempunyai kandungan air total cukup tinggi yang menyebabkan nilai kalor menjadi rendah. and oxygen were deacreased. inherent moisture of Mulia coal can be decreased about 71. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan karakteristik batubara Mulia yang berasal dari daerah Satui. batubara dengan nilai kalori <5. Jawa Barat. 2007)..015 –1. Untuk mencegah masuknya kembali air ke dalam batubara. 2009). KAJIAN TEORITIS 2. Australia. 2.2. Kandungan air dalam batubara baik air bebas maupun air lembab merupakan faktor yang merugikan. sulfur.1.The result of UBC process..04 g/cm3 and briquet production capacity of about 1. fixed carbon.000 kal/g dapat ditingkatkan menjadi >6. density 1. karena memberikan pengaruh yang negatif terhadap biaya transportasi dan proses pembakarannya.200 kal/g dapat ditingkatkan menjadi >7. Salah satu di antaranya adalah teknologi Upgraded Brown Coal (UBC) yang merupakan teknologi peningkatan nilai kalor (upgrading) batubara peringkat rendah melalui penurunan kadar air total yang dikembangkan oleh Kobe Steel Ltd. Dengan demikian diperlukan teknologi khusus untuk menurunkan kadar air.200 kal/g. Batubara peringkat rendah ini belum banyak dieksploitasi karena masih mengalami kendala dalam masalah transportasi dan pemanfaatannya. Jepang dan lain-lain (Suwono. Keywords : Characteristics. UBC process. Kalimantan Selatan.104 kg/hour. maka dalam proses ditambahkan minyak residu untuk melapisi pori-pori pada partikel batubara. dengan dimulainya pembangunan UBC skala pilot dengan kapasitas 5 ton/hari di Palimanan. di antaranya adalah karena proses berlangsung pada temperatur dan tekanan rendah. Cirebon. Air lembab adalah air yang terikat secara fisik pada struktur pori-pori bagian dalam batubara dan mempunyai tekanan uap yang lebih rendah daripada tekanan uap normal. carbon and nitrogen contents were increased. the calorific value increased about 26. sedangkan penurunan kadar air lembab harus dilakukan dengan cara pemanasan. Kegiatan penelitian peningkatan kualitas batubara peringkat rendah dengan teknologi UBC ini telah dimulai sejak tahun 2002 oleh Puslitbang tekMIRA bekerjasama dengan Kobe Steel Ltd.

0. metana dan zat lain yang mudah menguap dari batubara selama terjadi pemanasan. Pada reaksi ini terjadi penguapan air. Kehilangan sejumlah massa bahanbahan penyusun batubara melalui pori-pori. 2000). Penambahan minyak residu diperlukan untuk menutup pori-pori batubara yang terbuka. karena prosesnya dilakukan pada temperatur dan tekanan relatif rendah. Porositas batubara dapat menyebabkan terjadinya difusi keluar uap air. maka terjadi reaksi kimia yang menghasilkan produk gas atau cairan yang banyak berhubungan dengan sistem pori-pori batubara. Dekomposisi aktif adalah terdekomposisinya mineral organik penyusun batubara menjadi tar dan penguapan air. air terikat secara fisik dan air yang terjebak dalam struktur pori-pori batubara. Pemanasan Proses pemanasan batubara sampai temperatur tertentu menyebabkan terjadinya perubahan komposisi struktur batubara. sifat fisik yang memegang peranan penting pada proses pemanasan adalah sifat porositas. Dengan memanaskan batubara. Lapisan minyak ini cukup kuat dan dapat menempel pada waktu yang cukup lama. 2.5 atm. air yang menguap berupa air bebas. terjadi perubahan kimia karena menguapnya air bawaan. tetes tebu (mollase). tar. Porositas batubara tersebut menyangkut sistem pori-pori yang dimiliki. yaitu pemanasan di bawah temperatur dekomposisi.melalui penurunan kadar air total. batubara dicampur dengan minyak residu kemudian dipanaskan pada tekanan dan temperatur yang relatif rendah. menyebabkan terjadinya penguapan air bebas. proses UBC mempunyai keuntungan. tetapi perlu aktivasi yang cukup besar.3T J/mol Adanya reaksi seperti di atas pada proses pengeringan batubara tidak dikehendaki. reaksi antara batubara dengan oksigen adalah: C + O2 2C + O2 CO2 2CO G = -394100 . penyusutan gas-gas hidrogen dan oksigen kompleks serta aromatisasi. oleh karena itu diperlukan suatu kondisi pemanasan yang inert. Penguapan air bebas akan berperilaku sama dengan pengeringan secara umum. Komposisi dan sifat produk akhir akan bermacam-macam tergantung pada temperatur pemanasan.4. sedangkan penguapan air bawaan dianalogikan dengan air kristal atau hidroksida dengan reaksi sebagai berikut : M(OH)2 MOn + nH2O Secara termodinamika.120°C terjadi reaksi endotermis. Proses UBC. pada temperatur 100 . batubara dibuat slurry dengan menggunakan minyak tanah yang dicampur dengan minyak residu kemudian dipanaskan pada temperatur 150°C dan tekanan sekitar 3. dikeringkan dan dibuat briket. Ikin Sodikin dan Datin Fatia Umar 183 .. Oleh karena itu perlu ditambahkan zat aditif sebagai penutup permukaan batubara seperti kanji.. air bawaan/terikat secara kimia. CO2.8T J/mol G = -223400 . reaksi ini berlangsung pada berbagai temperatur. Perbandingan beberapa teknologi upgrading terhadap UBC dapat dilihat pada Tabel 1.3. Dengan kesamaan sifat kimia tersebut. menyebabkan terjadi kekosongan pori-pori tersebut. slope pekat (fuse oil) dan minyak residu. dengan temperatur sekitar 150°C. sehingga air yang telah keluar tidak akan terserap kembali. yaitu >200°C. pengeluaran tar dari batubara belum sempurna. Pemanasan batubara pada temperatur dekomposisi aktif. Karena proses pemanasan. Menurut Tsai (1982).175. Dibandingkan dengan proses upgrading lainnya. Dalam proses UBC. sehingga batubara dapat disimpan di tempat terbuka untuk jangka waktu yang cukup lama (Shigehisa et al. maka pori-pori batubara yang terbuka akan diisi oleh residu dan menutup permukaan batubara sehingga air yang telah keluar tidak akan terserap kembali (Deguchi et al. 2. sedangkan campuran minyak tanah dan residu digunakan kembali untuk proses selanjutnya. Pengaruh Penambahan Aditif Dalam melakukan pemanasan pada batubara ada 3 daerah pemanasan yang berpengaruh terhadap terjadinya dekomposisi. maka reaksi berlangsung harus pada temperatur di atas 120°C. Secara termodinamika. daerah dekomposisi aktif dan pemanasan di atas temperatur dekomposisi. Dalam proses UBC. minyak residu yang masuk ke dalam pori-pori batubara akan kering kemudian bersatu dengan batubara. dekomposisi gugus karboksil. Dengan minyak residu tersebut. 2002). CO dan hidrokarbon. Untuk proses UBC sebagai aditif digunakan minyak residu yang merupakan suatu senyawa organik yang beberapa sifat kimianya mempunyai kesamaan dengan batubara. Batubara hasil proses dipisahkan. hidrogen. Oleh sebab itu. Karakterisasi dan Optimalisasi Pembriketan pada Batubara .

500 Btu/lb 11. Perkembangan Teknologi Upgrading Batubara di Dunia Teknologi Lokasi Pengembang UBC Palimanan INDONESIA Kobe Steel.7 ton/hari Padatan Menurunkan Na 12.184 Nilai Kalor Batubara Asal Temperatur Tekanan Status Kapasitas 5.2-0.000 Btu/lb 10.500 Btu/lb Demonstration 1. JAPAN & tekMIRA INDONESIA K-FUEL Wyoming USA KFx Inc. of La PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 Sumber: http// www.000 -9.000 ton/hari plant 2-3 MPa Demonstration 1. S dan Cl 7.600 Btu/lb 12.500-11. Melbourne (Australia) The University 8.000 ton/hari plant 3-8 juta ton/th Nilai Kalor Batubara Produk Produk Keterangan Padatan Menurunkan kandungan air Padatan Padatan Komersial sejak 2005 Komersial sejak 1927 di Dalam tahap rencana ke komersial Mengurangi Hg.200 Btu/lb 475-550°C 2-3 MPa Demonstration 1.000 Btu/lb 150-160°C 0.9. wikipedia.000-12.000 Btu/lb 12.000 of North Dakota Btu/lb SYNCOAL Montana (USA) Rosebud SynCoal Partnership ENCOAL Wyoming (USA) SMC mining SGI Int.000 ton/hari plant Padatan Mengurangi masalah slagging dan fouling Slurry - Tabel 1.000 Btu/lb 270-300°C 8-12 MPa 5.000 . emisi SO2 Menurunkan Na. USA FLEISSNER Voest-Alpnie AG HWD/SD AUSTRIA YUGOSLAVIA Grand Forks (USA).800 Btu/lb 450-550°C 230-280°C 3-6 MPa 4-6 MPa 8.500 -8. com (2008) .3 MPa 8.000 Btu/lb 350-450°C 8.200 -9.000 -8..

Dengan kadar air bawaan yang tinggi dapat mengakibatkan rendahnya nilai kalor.3.. karbon. 15. Briket UBC mempunyai kuat tekan 98 kg/cm2. yaitu masing-masing 32. efisiensi pembakaran akan menjadi kecil sehingga untuk mendapatkan jumlah kalor tertentu.17 dan 20 Temperatur pembriketan: antara 70ºC dan 115°C Kegiatan proses UBC pada skala pilot dimaksudkan untuk mendapatkan data sebagai pendukung operasional UBC demonstration plant. yaitu 0. jumlah batubara yang harus dibakar akan menjadi lebih besar. Dengan terlapisinya pori-pori batubara tersebut.5%. Proses slurry dewatering merupakan salah satu proses utama dari rangkaian proses UBC.4 dan 71. sedangkan kadar hidrogen dan oksigen turun karena turunnya kadar air (H2O).1. sehingga gas CO2 yang dihasilkannya pun akan menjadi besar. belerang dan nitrogen mengalami sedikit kenaikan. Proses pembriketan pada percobaan ini mempunyai unjuk kerja yang sangat baik dibandingkan dengan pembriketan pada percobaan sebelumnya. Percobaan proses UBC 4. densitas 1. 13. di mana batubara dicampur dengan minyak tanah dan residu dipanaskan pada temperatur tertentu dan tekanan tertentu. Pengoperasian pilot plant UBC dilakukan dengan menggunakan batubara dari Satui. Kecepatan pengumapan slurry ke dalam decanter 350 l/jam.32% dan pada run 2 turun menjadi 8. karbon padat. Kalimantan Selatan yang akan dipakai umpan pada UBC demontration plant. Kondisi proses UBC yang dianggap optimum pada pilot plant Palimanan Cirebon. Setelah proses UBC.28% dengan kadar abu yang sangat rendah. Dari Tabel 2 dapat dilihat bahwa kadar air total dan air bawaan batubara asal cukup tinggi.98%. sehingga air yang telah keluar dari batubara tidak dapat masuk kembali.42%. maka akan membuat batubara tersebut lebih stabil dan kecenderungan untuk terbakar dengan sendirinya (self combustion) akan berkurang. air bawaan pada run 1 turun menjadi 8. sehingga air yang terkandung di dalam pori-pori batubara teruapkan dan diganti dengan residu melapisi pori-pori tersebut. 3.8%. Pelaksanaan proses UBC : 1.05 g/cm3 dan kecepatan produk briket UBC sebanyak 840 kg/jam. zat terbang.1. 70% minyak tanah yang mengandung 0.2. Optimalisasi Pembriketan Setelah dilakukan modifikasi di seksi 500 dengan jalan mengganti roll pada mesin briket dengan ukuran cetakan yang lebih kecil (ukuran ini sesuai dengan ukuran cetakan pada mesin briket yang akan digunakan pada UBC demontration plant). Karakteristik Batubara Karakteristik batubara sebelum dan setelah proses UBC skala pilot untuk run 1 dan 2 dapat dilihat pada Tabel 2. 2. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. Pada kondisi tersebut di atas. sehingga nilai kalor naik sebesar 26. Ikin Sodikin dan Datin Fatia Umar 185 . Percobaan dilaksanakan 2 kali dengan tujuan untuk mengetahui : Perubahan karakteristik batubara hasil proses pada kondisi optimum. Karakterisasi dan Optimalisasi Pembriketan pada Batubara .5% residu). proses UBC menurunkan kadar air bawaan (inherent moisture) batubara Satui sebesar 71. Optimasi proses pembriketan terhadap batubara hasil proses UBC. 4.5% residu) Kecepatan pengumapan slurry ke dalam decanter 350 l/jam Kecepatan pengumpanan cake ke dalam rotary tube dryer 15 Hz. 70% minyak tanah yang mengandung 0. Dari hasil ini dapat diketahui bahwa proses UBC efektif menurunkan kadar air total dengan persen penurunan antara 71. Sementara kadar abu.. Konsentrasi batubara dalam slurry 30% (30 % batubara. Kecepatan pengumpanan cake ke dalam rotary tube dryer 15 Hz. Optimalisasi Proses UBC Skala Pilot Dengan kondisi proses UBC yang dianggap optimum pada pilot plant Palimanan Cirebon.6%. adalah : Ukuran batubara umpan < 3mm dengan kecepatan pengumpanan 100 kg/jam. Variabel percobaan terdiri atas : Kecepatan roll: 8.2. 10. KEGIATAN PERCOBAAN 3. Selanjutnya. adalah : Ukuran batubara umpan < 3mm dengan kecepatan pengumpanan 100 kg/jam Konsentrasi batubara dalam slurry 30% (30 % batubara.

55 6.55% pada run 1 dan menjadi 41.75% menjadi 40. Hal ini dilakukan agar mendekati keadaan sebenarnya. Kadar nitrogen dan sulfur batubara setelah proses UBC tidak mengalami perubahan yang cukup berarti.135kal/g pada run 2 atau terjadi kenaikan yang cukup signifikan antara 25.17 6.17 RUN1 8.873 kal/g menjadi 6.51 5. Kandungan zat terbang naik secara signifikan dari 37. Sementara kandungan karbon padat naik karena turunnya kandungan air lembab.000 4. Namun demikian. Hasil analisis ultimat seperti pada Gambar 3 memperlihatkan bahwa kadar karbon naik dari 50.44 40. adb RUN 1 RUN 2 BATUBARA ASAL RUN 1 RUN 2 Gambar 1.80 31. Penurunan oksigen lebih signifikan dibandingkan dengan penurunan kandungan hidrogen.36 0.44 0. kenaikan kadar abu ini tidak akan menjadi masalah.42 3. Kandungan hidrogen dan oksigen turun sebagai akibat turunnya kadar air (H 2 O).80% menjadi 47.16 RUN2 8.     50 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 AIR BAWAAN ABU ZAT TERBANG KARBON PADAT 8.73 0.48% pada run 1 dan menjadi 63. menjadi abu sisa pembakaran batubara.000 kal/gr 4.32 3.60 0. Pengaruh Proses Terhadap Kenaikan Nilai Kalori Gambar 2.000 0 BATUBARA ASAL 6. karena pada umumnya batubara hasil proses UBC tidak langsung digunakan konsumen tapi disimpan terlebih dahulu sebagai persediaan.83% pada run 2.9 dan 27.196 6.75 4. Analisis proksimat dan ultimat batubara hasil proses UBC dilakukan setelah disimpan sekian lama sampai mencapai kesetimbangan.69 47.07 0.69 6.69% menjadi 62.135 %. Dari hasil analisis proksimat seperti pada Gambar 2 memperlihatkan bahwa kenaikan kadar abu kemungkinan besar terjadi karena adanya sisasisa minyak residu yang menempel pada batubara.58 26.28 29.873 6. Kenaikan zat terbang ini disebabkan karena masih adanya minyak pada batubara hasil proses UBC yang ikut teruapkan saat pemanasan dan terdeteksi sebagai zat terbang.873 50.2%.Tabel 2.58 46.83 41.98 37.000 2.49 41.59 26.51% pada run 2.73 0.135 63. nilai kalor naik dari 4. Karakteristik Batubara Mulia Sebelum dan Setelah Proses UBC ANALISIS AIR TOTAL PROKSIMAT : AIR BAWAAN ABU ZAT TERBANG KARBON PADAT NILAI KALOR ULTIMAT : KARBON HIDROGEN NITROGEN OKSIGEN SULFUR SATUAN % ar % adb % adb % adb % adb Kal/gr % adb % adb % adb % adb % adb BATUBARAASAL 32.48 6.47 0. Hasil analisis proksimat sebelum dan sesudah proses UBC 186 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .196 kal/gr pada run 1 dan menjadi 6.44% pada run 1 dan menjadi 46. yaitu dari 31.15 Dari Gambar 1 dapat dilihat bahwa dengan turunnya air bawaan.196 62. karena masih <5%.17% pada run 2.

Proses pembriketan pada percobaan ini mempunyai unjuk kerja yang sangat baik dibandingkan dengan pembriketan pada percobaan sebelumnya. sedangkan pada run 2 dicapai pada kecepatan roll 8 dengan kuat tekan 98 kg/cm2. kecepatan roll optimum adalah pada 10 rpm dengan kuat tekan 73 kg/cm2. 15.015 – 1. Hasil unjuk kerja pembriketan pada percobaan ini sangat memuaskan.. Hal ini dapat terjadi karena ukuran cetakan briket batubara lebih kecil dibandingkan dengan ukuran cetakan briket pada percobaan sebelumnya. Pengaruh temperatur terhadap kuat tekan dan densitas briket Dari Gambar 5 dapat dilihat bahwa temperatur berpengaruh terhadap kuat tekan dan densitas briket UBC yang dihasilkan pada kecepatan roll yang sama. Sedangkan densitas berfluktuasi tapi tidak cukup berarti. makin rendah kuat Gambar 5.17 dan 20 Temperatur pembriketan: antara 70°C dan 115°C Hasil percobaan pengaruh kecepatan roll terhadap kuat tekan dapat dilihat pada Gambar 4. kuat tekan briket mengalami penurunan baik pada run 1 maupun pada run 2. Ikin Sodikin dan Datin Fatia Umar 187 . sehingga data yang dihasilkan akan Gambar 4. %.104 kg/jam. Pengaruh kecepatan roll terhadap kuat tekan dan densitas briket Karakterisasi dan Optimalisasi Pembriketan pada Batubara . Pada run 1. Hasil ini hampir sama dengan hasil pembriketan dengan kondisi yang sama pada percobaan sebelumnya yang dapat menghasilkan briket dengan kuat tekan rata-rata 70 . Hasil analisis ultimat sebelum dan sesudah proses UBC 4.  70 60 50 40 30 20 10 0 KARBON HIDROGEN NITROGEN OKSIGEN SULFUR tekan briket yang dihasilkan.. adb BATUBARA ASAL RUN 1 RUN 2 Gambar 3. sehingga kuat tekan briket yang dihasilkan lebih tinggi. Optimalisasi Pembriketan Setelah dilakukan modifikasi di seksi 500 dengan jalan mengganti roll pada mesin briket dengan ukuran cetakan yang lebih kecil (ukuran ini sesuai dengan ukuran cetakan pada mesin briket yang akan digunakan pada UBC demontration plant).77 kg/cm2. Ketika temperatur dinaikkan. Makin tinggi kecepatan roll. densitas 1. Temperatur optimum dicapai pada temperatur 80ºC dengan kuat tekan 73 kg/cm2 pada run 1 dengan kuat tekan 98 kg/cm2 pada run 2 pada temperatur yang sama. 13. Gambar 4 menunjukkan bahwa kecepatan roll pada temperatur yang sama sangat berpengaruh terhadap kuat tekan briket UBC yang dihasilkan.80 kg/cm2. 10. Pada kondisi ini briket UBC yang dihasilkan mempunyai kuat tekan 73 . Variabel percobaan terdiri atas: Kecepatan roll: 8.3. Proses pembriketan yang paling baik pada percobaan ini adalah pembriketan dengan kondisi kecepatan roll 8 rpm dan temperatur 80 .04 g/cm3 dan kecepatan produk briket UBC yang dihasilkan sebanyak 1.1100C. Pengaruh temperatur pembriketan terhadap kuat tekan dan densitas briket UBC pda kecepatan roll yang sama dapat dilihat pada Gambar 5.

K. www. Hudaya. E. 2000. Sementara kadar abu. R. Kunrat S.1100C. Development of UBC Process Paper presented at the International Conference on Fluid and Thermal Energy Conversion. Persiapan Pembangunan UBC Demonstration Plant. Kalimantan Selatan. T. Saran Kondisi proses yang dianggap optimum pada pilot plant UBC. 2002. 2000. kecepatan roll 8 rpm. 188 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . T. 6. sehingga nilai kalor naik sebesar 26. Deguchi. Y.. Deguchi.. Shigehisa. 2007. Cirebon hendaknya tetap digunakan sebagai sarana penelitian untuk pengembangan proses UBC terhadap batubara lainnya di Indonesia guna mendapatkan teknologi proses yang secara teknis dan ekonomis lebih menguntungkan. G. Study on Upgraded Brown Coal Process for Indonesian Low Rank Coals. K. Shimasaki. Makino. 2009. Seminar dan Workshop “Indonesian Coal Conference” Jakarta. Upgrading The Indonesian’s Low Rank Coal by Superheated Steam Drying with Tar Coating Process and its Application for Preparation of CWM. proses UBC menurunkan kadar air bawaan (inherent moisture) batubara Mulia sebesar 71. berlaku untuk batubara Mulia yang berasal dari daerah Satui. and Makino. densitas 1.. 6. pilot plant Umar D.. Proc. Suwono. T. 6. Palimanan. sedangkan kadar hidrogen dan oksigen turun karena turunnya kadar air (H2O). Laporan Intern Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara. karbon. Elsevier Publishing Company.. Rijwan.. Indonesia. Sedangkan untuk batubara dari daerah lain kondisinya akan berbeda. Tsai. temperatur 80 . KESIMPULAN DAN SARAN UBC. Shigehisa. Pada kondisi tersebut di atas. K. wikipedia. Kalimantan Selatan. Vol 21.5% residu) Kecepatan pengumapan slurry ke dalam decanter 350 l/jam Kecepatan pengumpanan cake ke dalam rotary tube dryer 15 Hz. T. Fundamental of Coal Beneficiation and Utilization. Sumberdaya dan Cadangan Batubara Indonesia.104 kg/jam. International Conference and Exhibition on Clean and Efficient Coal Technology in Power Generation. karbon padat. kuat tekan 73 .5%. 1982. com (2008).. Palimanan. Coal Science and Technology 2. 149-159. Karena itu.. F. belerang dan nitrogen mengalami sedikit kenaikan. E. Sukhiyar. Sedangkan untuk proses pembriketan yang paling baik pada percobaan ini adalah pembriketan dengan kondisi.6%. I. A.1.04 g/cm3 dan kecepatan produk briket UBC yang dihasilkan sebanyak 1. dan Sodikin..77 kg/cm2.015 – 1..sangat mendukung untuk kepentingan uji coba pada UBC demontration plant di Kecamatan Satui. Kesimpulan DAFTAR PUSTAKA Kondisi proses UBC yang dianggap optimum pada pilot plant Palimanan Cirebon. and Otaka. zat terbang. adalah pada kondisi : Ukuran batubara umpan < 3mm dengan kecepatan pengumpanan 100 kg/jam Konsentrasi batubara dalam slurry 30% (30% batubara. Coal Preparation. Cirebon yang dilakukan pada kajian ini... pp. Coal-Tech 2002.2. Setiawan L.C. Indonesia.. I. 70% minyak tanah yang mengandung 0. dan Hamdani. S.

022 . UBC.6030483. economic impact Analisis Dampak Ekonomi Teknologi Peningkatan Kualitas Batubara . BCB. increase the state income of US$ 140-210 million per year. Indonesia is one of the largest exporter country in the world.. UBC. The technologies are UBC (Upgraded Brown Coal) and BCB (Binder less Coal Briquetting). menciptakan lapangan kerja 1.6003373 . menambah devisa negara sebesar US$ 140-210 juta pertahun. Teknologi yang dikembangkan oleh perusahaan Jepang dan Australia adalah teknologi peningkatan kualitas batubara peringkat rendah melalui upaya menghilangkan kandungan air di dalam batubara tersebut untuk meningkatkan nilai kalorinya sehingga pemasarannya akan mudah dan harga jualnya meningkat. This study is aimed to understand the economic impact of developing UBC and BCB technologies and the implementation of these technologies includes building commercial plant in Indonesia.000 jobs. creating a multiplier effect for regional economic and create a better investment climate for mining and processing industries. creat 1. Cadangan batubara Indonesia didominasi oleh batubara peringkat rendah sebesar 59%.esdm. menambah pendapatan pajak pemerintah sebesar Rp 130-200 milyar pertahun.000 orang.ANALISIS DAMPAK EKONOMI TEKNOLOGI PENINGKATAN KUALITAS BATUBARA PERINGKAT RENDAH DI INDONESIA Gandhi Kurnia Hudaya Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jalan Jenderal Sudirman 623 Bandung 40211 Telp. Indonesia adalah salah satu negara pengekspor terbesar di dunia. Kata kunci : batubara peringkat rendah.go. 022 .id SARI Kebutuhan batubara di dunia semakin meningkat terutama sebagai bahan bakar pembangkit listrik. Teknologi itu adalah UBC (Upgraded Brown Coal) dan BCB (Binderless Coal Briquetting). Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui dampak ekonomi dari pengembangan teknologi UBC dan BCB serta penerapan teknologi tersebut dengan membangun pabrik komersialnya di Indonesia. dampak ekonomi ABSTRACT The needs of coal in the world has been increasing mainly as a fuel of power. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dampak ekonominya adalah : pemanfaatan batubara peringkat rendah yang meningkat. Results indicate that the economic impact are: increase the utilization of low rank coal. Fax. BCB. The technology developed by companies in Japan and Australia is technology to improve the quality of low rank coal through the reducing of water contained in coal so that the caloriefic value of coal increased then the marketing will be easier and selling price will also increase. Gandhi Kurnia Hudaya 189 .e-mail : gandhi@tekmira. increase government tax revenue of Rp 130-200 billion per year. menciptakan multiplier effect bagi perekonomian daerah dan menciptakan iklim investasi yang baik bagi industri pertambangan dan pengolahannya. Indonesia coal reserve is dominated by low-rank coal as much as 59%. Keywords : low rank coal..

telah berdiri dua pabrik teknologi peningkatan kualitas batubara kalori rendah di Indonesia yaitu pabrik percontohan UBC (Upgraded Brown Coal) dan pabrik komersial BCB (Binderless Coal Briquetting). Harganya yang relatif rendah serta ketersediaannya yang masih melimpah merupakan daya tarik bagi industri-industri di dunia yang saat ini banyak sekali dibutuhkan untuk menghasilkan listrik. Diagram proses teknologi UBC (sumber : brosur UBC) 190 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . 2008).47 (asumsi harga LNG $6/Mmbtu) (Ermina Miranti. Teknologi UBC merupakan proses penurunan kadar air bawaan batubara peringkat rendah menjadi menyerupai batubara peringkat tinggi (bituminus) sehingga nilai kalori batubara tersebut meningkat. baik untuk calon investor maupun untuk pemerintah dalam mengambil kebijakan terhadap teknologi yang tergolong teknologi baru.go. minyak residu dan minyak tanah. Batubara peringkat rendah Indonesia pada umumnya mengandung kadar air yang tinggi (20-40%). Gambar 1. TEKNOLOGI UBC DAN BCB Teknologi UBC Teknologi UBC dikembangkan oleh Kobe Steel Ltd. yaitu memiliki kadar abu dan sulfur yang rendah sehingga dijadikan target utama untuk pengembangan teknologi tersebut. Penelitian ini bermaksud menganalisis dampak ekonomi bagi pengembangan teknologi UBC dan BCB serta penerapannya melalui pembangunan pabriknya di Indonesia. Indonesia adalah salah satu negara pengekspor batubara terbesar di dunia dan memiliki cadangan yang cukup besar. umumnya hanya digunakan untuk pencampuran atau digunakan pada pembangkit listrik mulut tambang. Pada akhir tahun 2008. Kedua pabrik tersebut berlokasi di Kalimantan. sebuah perusahaan baja di Jepang. PENDAHULUAN Batubara adalah salah satu sumber energi yang saat ini menjadi primadona di dunia. Teknologi peningkatan kualitas batubara kalori rendah merupakan teknologi yang diharapkan dapat menjaga kesinambungan pasokan batubara serta untuk meningkatkan pemanfaatan batubara kalori rendah dengan maksimal.1. A. Diharapkan hasil analisis ini dapat menjadi salah satu bahan.esdm. Namun. 2.98 (asumsi harga batubara US$ 90/ton) lebih kecil bila dibandingkan dengan minyak yang sebesar US$ 30 (asumsi harga minyak US$ 54/ barrel) dan LNG yang sebesar US$ 20. 2008). kemudian dipanaskan pada temperatur 1500C – 1600C dengan tekanan 250 kPa – 350 kPa. Proses ini dilakukan dengan mencampurkan batubara. Batubara lebih disukai karena untuk menghasilkan listrik sebesar 1 MGW/h dibutuhkan biaya US$ 12. Produk UBC berupa serbuk dan briket (Gambar 1).id). potensi batubara Indonesia mencapai ±105 milyar ton dimana ±22 milyar ton diantaranya berupa cadangan (www. Batubara kalori rendah Indonesia memiliki keunggulan dibandingkan dengan batubara dari negara lain. sekitar 59% dari cadangan tersebut termasuk batubara peringkat rendah (Ermina Miranti. Kadar air yang tinggi menyebabkan tingginya biaya penanganan dan transportasi yang tinggi serta nilai kalori yang rendah sehingga hingga saat ini penggunaan batubara kalori rendah masih terbatas. Hingga saat ini.

Pabrik UBC skala percontohan dengan kapasitas 1. Pabrik modular peningkatan mutu batubara bersih (sumber : www.7 juta ton pertahun.sg) Analisis Dampak Ekonomi Teknologi Peningkatan Kualitas Batubara .. Gandhi Kurnia Hudaya 191 . sebuah perusahaan teknologi coal upgrading yang berpusat di Australia. 27 April 2009). Teknologi BCB merupakan proses peningkatan mutu batubara dengan cara menghilangkan kadar air dalam batubara sehingga nilai kalorinya akan meningkat. Gambar 4. Teknologi BCB Teknologi BCB dikembangkan oleh White Energy Company. Teknologi BCB mampu membuat batubara dari kalori rendah 4.bayan. Nilai investasi pabrik ini mencapai US$ 68 juta (Koran Investor Daily.com. Kalimantan Timur (Gambar 4). Pabrik UBC skala pilot di Palimanan.800 kal/g. Nilai kalori batubara dari < 5. Pabrik percontohan UBC (sumber : brosur UBC) B. Gambar 3.200-6. Kalimantan Selatan di lokasi tambang batubara PT Arutmin berdasarkan perjanjian kerjasama antara Japan Coal Energy Center (JCOAL).100 kcal/kg GAR. Proses utamanya adalah menggerus batubara dan kemudian memanaskannya untuk menghilangkan kadar air dalam batubara.200 kcal/kg gross as received (GAR) menjadi 6. batubara dimampatkan melalui proses pembriketan (Gambar 3). Gambar 2. Pabrik UBC komersial direncanakan berkapasitas sebesar minimal 5000 ton produk per hari atau 1. Jepang dan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. Indonesia (Gambar 2). telah berhasil dikembangkan dan dioperasikan. Diagram proses teknologi BCB (sumber : ww. Pabrik ini telah diresmikan pada bulan April 2009 dan direncanakan akan mulai berproduksi pada akhir semester kedua 2009.com) PT Bayan Resources Tbk (BAYAN) menggandeng White Energy Company membentuk perusahaan patungan PT Kaltim Supacoal (KSC) untuk membangun pabrik modular peningkatan mutu batubara bersih berkapasitas satu juta ton/tahun di tambang Tabang.000 kal/g dapat ditingkatkan menjadi 6.000 ton/hari umpan atau ± 600 ton/hari produk dibangun di Satui.. 2006). Biaya konstruksi dan pengoperasian pabrik UBC skala percontohan dari tahun 2007-2010 diperkirakan memakan biaya sebesar US$ 70 juta (Kobelco. Jawa Barat dengan kapasitas 5 ton/hari. Setelah dipanaskan.whiteenergyco.

2009). akan memberikan lowongan pekerjaan yang cukup besar bagi masyarakat Indonesia umumnya dan bagi masyarakat sekitar pabrik pada khususnya. Menciptakan lapangan pekerjaan Pembangunan pabrik peningkatan kualitas batubara baik teknologi UBC maupun BCB. teknologi ini maka keluaran pabrik yang berupa batubara berkalori tinggi akan mudah untuk dijual baik di dalam negeri maupun di luar negeri sehingga memberikan nilai tambah yang lebih besar. Pada tahun 2009. 4. Sebelumnya.8 juta ton dan memberikan kontribusi kepada pemerintah dalam bentuk pajak sebesar Rp 844 milyar (Rania Rahmundita. Indonesia adalah negara sasaran utama untuk ujicoba dan pengembangan teknologi tersebut karena keunggulan kualitas dan jumlah batubara peringkat rendahnya. yaitu mencari referensi dan literatur untuk memperoleh data sekunder mengenai teknologi peningkatan kualitas batubara kalori rendah di Indonesia. Untuk perusahaan tambang. Dengan asumsi harga batubara tahun 2009 sebesar US$ 70 per ton. akan diekspor sebanyak 160 juta ton dan sisanya digunakan untuk kebutuhan dalam negeri. METODE PENELITIAN Pengumpulan data Pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka. Meningkatkan penghasilan negara dari pajak perusahaan Pendapatan negara Indonesia didominasi oleh sektor pajak. Menambah devisa negara Indonesia adalah salah satu eksportir batubara terbesar di dunia. dimana salah satunya adalah pajak perusahaan. Pemanfaatan sumber daya alam Potensi batubara kalori rendah Indonesia sebesar 60 milyar ton (60% dari cadangan total 104 milyar ton) termasuk besar dan dapat lebih ditingkatkan pemanfaatannya. Dari perbandingan jumlah penjualan maka dapat diperkirakan bahwa setiap pabrik UBC dan BCB yang dibangun dapat menambah penghasilan negara melalui pajak sekitar Rp 130-Rp 200 milyar per tahun. 3. dapat menambah produksi batubara sebesar 2-3 juta ton per tahun. Pengolahan data Pengolahan data dilakukan dengan analisis deskripsi dan analisa kuantitatif. perusahaan tambang batubara PT Bukit Asam (PTBA). pada tahun 2008 menjual batubara sebanyak 12. Lowongan pekerjaan ini akan terbuka sejak pekerjaan konstruksi pabrik dimulai hingga kemudian beroperasinya pabrikpabrik tersebut. dari produksi batubara sebanyak 190 juta ton. Setiap pembangunan pabrik UBC dan BCB membutuhkan pasokan batubara wantah diluar produksi batubara saat ini.3. HASIL DAN PEMBAHASAN Tren pemanfaatan batubara terutama untuk sektor listrik di dunia mendorong banyak pihak untuk dapat terlibat di dalamnya. 2. Untuk mengetahui dampaknya bagi Indonesia maka salah satu dampak yang mudah dihitung atau dianalisis secara kuantitatif adalah dampak ekonomi. Selain untuk karyawan pabrik. lowongan kerja juga akan terbuka bagi 4. Setiap pendirian 1 buah pabrik komersial UBC dan BCB. selain pajak juga ada royalti untuk setiap ton batubara yang diproduksi. Analisis deskripsi dilakukan terhadap data-data yang telah dikumpulkan yang berhubungan dengan teknologi peningkatan kualitas batubara kalori rendah di Indonesia serta data-data lain yang berhubungan. Sebagai perbandingan. Untuk setiap pabrik UBC dan BCB yang dibangun. Dengan adanya 192 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Analisa kuantitatif dilakukan terhadap data-data ekonomi yang telah dikumpulkan untuk memberikan gambaran dampak ekonomi dari aplikasi teknologi peningkatan kualitas batubara kalori rendah di Indonesia. Perusahaan Kobe Steel dan White Energy berinvestasi dalam riset teknologi peningkatan kualitas batubara kalori rendah agar dapat memiliki patent teknologi yang menguntungkan perusahaan. maka devisa negara yang dapat dihasilkan adalah US$ 140210 juta. akan dihasilkan produk upgraded coal sebanyak 2-3 juta ton pertahun. Dampak ekonomi penerapan teknologi peningkatan kualitas batubara kalori rendah di Indonesia antara lain adalah sebagai berikut : 1. batubara kalori rendah kurang dimanfaatkan atau bila diekspor hanya sebagai pencampur (blending) batubara kalori tinggi.

PTBA saat ini mempekerjakan sekitar 3.co.000 orang. d) Menciptakan lapangan kerja sebanyak 1.com. Analisis Dampak Ekonomi Teknologi Peningkatan Kualitas Batubara . KESIMPULAN Dampak ekonomi dari pembangunan pabrik teknologi peningkatan kualitas batubara peringkat rendah dengan teknologi UBC dan BCB adalah : a) Pemanfaatan batubara peringkat rendah sebagai sumber daya alam. 2008. Peresmian Pabrik Percontohan UBC di Satui.kobelco. Coal Mining. http:// www. Jika dibandingkan berdasarkan jumlah penjualan batubara pertahun.co.jp.. akan mulai memproduksinya untuk memenuhi kebutuhan pabrik peningkatan kualitas batubara tersebut. Website White Energy www. Selain itu perekonomian di daerah tersebut akan tumbuh untuk memenuhi kebutuhan pabrik-pabrik yang baru seperti perusahaan katering.whiteenergyco. terutama bagi perekonomian daerah. Juni 2009. maka dapat diperkirakan bahwa lowongan kerja baru yang akan tersedia adalah sekitar 1. Company. Resources (Tbk). akan memberikan kesan baik kepada investor lokal maupun luar negeri akan aman dan ramahnya iklim investasi di Indonesia.bayan.. maka pabrik itu akan membutuhkan 4-5 juta ton batubara per tahun. 5. DAFTAR PUSTAKA Brosur UBC. Website PT Tambang Batubara Bukit Asam (Tbk). f) Menciptakan iklim investasi yang baik bagi investor. 214.go. c) Menambah pendapatan dari pajak sebesar Rp 130-200 milyar per tahun. http://www. Ermina Miranti.com.esdm.id Website PT Bayan www.346 pegawai. Website Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral. Januari 2009.com Kobelco Online. Hal ini akan membantu program pemerintah dalam mengurangi kemiskinan dan mengurangi pengangguran. Sebagai perbandingan. b) Menambah devisa negara sebesar US$ 140210 juta per tahun. Desember 2008. Menciptakan multiplier effect dari proyek Seandainya pabrik peningkatan kualitas batubara beroperasi dengan kapasitas 2-3 juta ton. transportasi dan perusahaan pendukung lainnya. e) Menciptakan multiplier effect yang bermanfaat. 6. Rania Rahmundita.id. Economic Review No. http:// Investorindonesia. Diharapkan para investor tersebut akan ikut juga berinvestasi di indonesia.000 orang.ptba. Gandhi Kurnia Hudaya 193 . 5 July 2006.sg. terutama di sektor pertambangan dan pengolahannya. Prospek Industri Batubara di Indonesia. Menciptakan iklim investasi yang baik bagi investor Keberhasilan proyek peningkatan kualitas batubara dimana proyek ini termasuk proyek besar. 5. 27 April 2009.peningkatan kapasitas produksi ataupun pembangunan infrastruktur tambang yang baru untuk memasok kebutuhan pabrik tersebut. CIMB-GK Research. www. Investor Daily. Perusahaan tambang yang selama ini belum menggarap cadangan batubara peringkat rendah di wilayah kerjanya.

08% dapat terserap di kegiatan penambangan bijih besi. contingent valuation method 194 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .go.6003373 e-mail : endangs@tekmira. Jend. Kegiatan penambangan bijih besi.id. Lutfi Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. direncanakan antara 60.08%.000.500. hal ini dapat dilihat dari penyerapan tenaga kerja lokal sebesar 35. maka perbandingan manfaat dan biaya eksternalitas adalah 1. Apabila dibandingkan dengan biaya eksternalitas sebesar Rp 403. 022 .000 sampai dengan 400.KAJIAN MANFAAT DAN BIAYA PENAMBANGAN BIJIH BESI DI KABUPATEN MERANGIN.000 ton per tahun. 022 . 1.-.-.04. berasal dari pajak dan retribusi sebesar Rp jadi total manfaat sebesar Rp 420. PROPINSI JAMBI Endang Suryati dan M.000.-.290.Externalities cost are Rp 403. So benefit and externalities cost comparative are 1:2. Kata kunci : manfaat dan biaya. Sudirman 623 Bandung 40211 Telp.000.000.—. Mine activities for benefit are local labor 35.-.500.000.esdm.6030483 Fax.000.000..0000 until 400. tax and retribution are Rp 420. menimbulkan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi daerah.esdm. yaitu adanya peluang kerja untuk masyarakat lokal. income person Rp.000. kegiatan penambangan bijih besi. maka jumlah penghasilan seluruh tenaga kerja lokal per bulan Rp 60. Yang berarti manfaat lebih besar dari pada biaya eksternalitas.000.-/month. Keywords: benefit and cost. dengan penghasilan rata-rata Rp 1.id SARI Produksi penambangan bijih besi di Kabupaten Merangin..per bulan/orang.per month. Local labor are total income Rp 60.000. Manfaat dari kegiatan penambangan. lutfi@tekmira. Iron ore mine activity is positive impact to arouse for region economic growth.000 ton per year.000.000. dari kegiatan penambangan tersebut.go. Disamping itu manfaat yang diperoleh daerah. Contingent Valuation Method use for calculation of benefit and cost.290. metode valuasi kontingesi ABSTRACT Iron ore production is mine at Merangin regency to plan 60. Untuk menghitung manfaat dan biaya dipergunakan Metode Valuasi Kontingensi (Contingent Valuation Method). iron ore mine activity.

Pada saat yang sama..690 jiwa (Badan Pusat Statistik Kabupaten Merangin. lokasi rencana kegiatan juga termasuk dalam Kecamatan Karangan dan Kaubun yang merupakan wilayah pemekaran Kecamatan Sangkulirag. maka diperlukan analisis manfaat dan biaya yang diakibatkan oleh kegiatan penambangan bijih besi. merupakan pemekaran dan Kecamatan. dipergunakan Metode Valuasi Kontingensi ( Contingent Valuation Method). Berdasarkan perhitungan cadangan. Kependudukan Jumlah penduduk di lokasi studi pada tahun 2007 adalah 3. secara kuantitatif yang mempunyai angkatan kerja produktif terbesar adalah di desa Pulau Layang yaitu 1. Berdasarkan pengamatan lapangan. Desa Pulau Layang dan Kecamatan Batang Mesumai merupakan desa dan kecamatan yang relative baru sebagai kecamatan definitif.000 ton per tahun. operasional tambang diperkirakan akan berlangsung sampai 2.714 jiwa yang terdiri atas 874 jiwa laki-laki dan 840 jiwa perempuan sedangkan yang terkecil terdapat di desa Rantau Alay yaitu sebesar 621 jiwa yang terdiri atas 300 jiwa laki-laki dan 321 jiwa perempuan (Gambar 2).3 tahun. tentang nilai manfaat SDA dan lingkungan yang mereka rasakan. Pembangunan ekonomi baik di negara industri maupun di negara berkembang berdasarkan pada sumber daya alam dan produktivitas sistem alami.0000 – 400. Jumlah angkatan kerja produktif di desa-desa lokasi studi relatif seimbang. Kegiatan eksplorasi bijih besi mendapat dukungan dari pemerintah dalam upaya melakukan diversifikasi produk ekspor guna meningkatkan devisa bagi negara.( Kumpulan Materi Ekonomi Lingkungan PSLH UGM Yogyakarta). Mengingat dampak positif dan negatif yang ditimbulkan cukup penting. Kabupaten Merangin. sedang dampak negatifnya adalah biaya kerusakan 2. masalah yang penting adalah melaksanakan kegiatan pembangunan sedemikian rupa agar dapat melestarikan produktivitas jangka panjang sistem alami agar pembangunan berkelanjutan dan dapat minimumkan kerusakan kualitas lingkungan.(John A. Dampak positif yang timbul biasanya berhubungan dengan pertumbuhan perekonomian daerah. pertumbuhan ekonomi sering diikuti dengan tekanan yang makin berat pada sistem alami dan dampak negatif kualitas lingkungan. Jumlah penduduk desa Pulau Layang relatif lebih tinggi yaitu 1. Endang Suryati dan M. serta desa Mentawak Kecamatan Nalo Tantan. PEMBAHASAN Lokasi Rencana Kegiatan Secara administrasi pemerintah daerah. 3. produksi bijih besi direncanakan mencapai 60. Kecamatan Batang Mesumai. METODOLOGI Untuk menghitung kajian manfaat dan biaya. Salah satu lokasi cadangan bijih besi di Indonesia terdapat di desa Pulau Layang.090 jiwa Kajian Manfaat dan Biaya Penambangan Bijih Besi . PENDAHULUAN lingkungan akibat penambangan bijih besi. Lokasi studi berada di 3 (tiga) desa yaitu desa Pulau Layang dan desa Rantau Alai di wilayah kecamatan Batang Mesumai. kegiatan pertambangan bijih besi termasuk dalam wilayah Kecamatan Bengalon dan Kecamatan Sangkulirang Bangko. Kabupaten Merangin. tidak terlepas dari tingginya permintaan akan komuditas bijih besi. Hufschmidt. Oleh karena itu. Berdasarkan studi kelayakan..Batang Mesumai. lingkungan wilayah secara langsung menyediakan jasa yang menyumbang pada peningkatan kesejahteraan seperti tersirat pada pembangunan ekonomi. Propinsi Jambi). di pasar internasional. Kabupaten Merangin.1. Pembangunan ekonomi mengandung arti peningkatan yang berkelanjutan bagi kesejahteraan masyarakat yang diperoleh dari barang-barang dan jasa-jasa konvensional. Lutfi 195 . Metode inii merupakan metode valuasi Sumber Daya Alam (SDA) dan lingkungan dengan cara menanyakan langsung kepada masyarakat sekitar. yang produksinya sering memerlukan sumber daya alam dan sistem alami yang produktif. 1986) Rencana Kegiatan penambangan pasir besi di Kabupaten Merangin. Lagi pula. Propinsi Jambi. Propinsi Jambi. Dixon & Maynard M.

Desa Mentawak (63. yaitu Desa Pulau Layang (79. Peta lokasi Tingkat Pendidikan Kualitas sumberdaya manusia masyarakat di sekitar lokasi rencana kegiatan relatif rendah. seperti terlihat pada Gambar 3. Pada umumnya penduduk di lokasi studi memiliki tingkat pendidikan tertinggi setingkat SD.2%).. walaupun jarak dari desa-desa ke lokasi sekolah cukup jauh dan angkutan umum terbatas.7%) dan Rantau Alay (46.6%) dari total penduduk. Hal ini terlihat dari banyaknya anak-anak responden yang mempunyai pendidikan setingkat SLTP dan SLTA.21%.3%). 196 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Gambaran ini menunjukan bahwa penduduk di wilayah penelitian terdorong untuk membekali Gambar 2.41% dan desa Mentawak 57. Dari uraian terlihat bahwa motivasi orang tua untuk menyekolahkan anak-anaknya ketingkat yang lebih tinggi di wilayah penelitian cukup tinggi. sedangkan di desa Rantau Alai 53.2% dan Desa Mentawak sebanyak 12. Persentase terbanyak diantara desa-desa lokasi studi yang penduduknya menamatkan pendidikan tertinggi sampai SLTA adalah di Desa Rantau Alai sebesar 19.Gambar 1. Jumlah penduduk di desa-desa sekitar kegiatan penambangan bijih besi (63.3%.

Namun. Sedangkan penduduk Mentawak relatif lebih kecil yang sudah mengetahui rencana tersebut.10%) menyatakan tidak keberatan terhadap rencana pembangunan pertambangan bijih besi yang akan melewati rumah pemukiman mereka. yaitu sebanyak 10% saja. Endang Suryati dan M. disisi lain pembangunan ini juga menimbulkan kekhawatiran di kalangan penduduk. Berdasarkan kriteria responden di atas. pembangunan pertambangan bijih besi dianggap oleh penduduk akan memberikan keuntungan kepada mereka. Pada umumnya alasan tidak keberatan adalah karena pertambangan tersebut merupakan program pemerintahan dan untuk kepentingan umum. Pada tabel 3 memperlihatkan sebagian besar responden di lokasi studi (80. Mata pencaharian di desa-desa sekitar kegiatan penambangan bijih besi Selain itu dengan semakin ramainya kawasan Kota Bangka dan sekitarnya.7% pada umumnya penduduk menghubungkan keuntungan tersebut dengan akan bertambahnya peluang kesempatan kerja. Gambar 4. serta proyek tersebut tidak akan merugikan masyarakat. masyarakat diberi pertanyaan/kuesioner mengenai manfaat dan resiko dari kegiatan pertambangan ini. pada satu sisi dianggap akan memberikan keuntungan kepada masyarakat sekitarnya. desa jadi lebih ramai serta dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat di desa tersebut. Hadirnya kegiatan pertambangan bijih besi. terutama masih di sektor pertanian seperti buruh tani dan menggarap lahan orang lain yang terdapat di desa mereka.5%).. Selain itu juga ada yang menjadi buruh bangunan musiman di kota. Lutfi 197 . hanya sebagian kecil Kepala Keluarga yang memiliki pekerjaan tambahan. Di desa-desa sekitar lokasi penambangan sebagian besar mengandalkan kehidupannya dari pertanian (petani) yang digeluti oleh 80% penduduk. Gambar 3. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 1 dan 2.pendidikan tinggi kepada anak-anaknya agar dapat memasuki peluang kerja yang lebih baik dibandingkan orang tua mereka.. mengenai rencana pembangunan pertambangan bijih besi. Dan yang menyatakan memberikan keuntungan dengan adanya penambangan bijih besi ini sebanyak 78. mendorong penduduk untuk mendapatkan pendidikan formal yang lebih baik agar dapat memasuki lapangan pekerjaan tersebut. Sedangkan responden yang menyatakan keberatan terhadap rencana pertambangan hanya 5%. serta berdagang. Pendapat Masyarakat Untuk mengetahui pendapat masyarakat. Pekerjaan tambahan mereka. Kajian Manfaat dan Biaya Penambangan Bijih Besi . Berdasarkan tiga kriteria responden yang telah disebutkan diatas. Hasil wawancara dengan responden di lokasi studi memperlihatkan bahwa seluruh responden di Desa Pulau Layang dan Rantau Alai sebanyak 100% sudah mengetahui rencana dari pembanguna pertambangan bijih besi. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 4.2%) dan buruh tani (5. Mata pencaharian di desa-desa sekitar kegiatan penambangan bijih besi Mata Pencaharian Penduduk Mata pencaharian utama kepala keluarga di desadesa lokasi studi adalah di sektor pertanian bidang perkebunan karet dan kelapa sawit. pedagang (7. Di desadesa lokasi studi.

Tabel 1. ada peluang usaha Terserah/tidak peduli. Sumber informasi tentang rencana pembangunan pertambangan bijih besi Sumber Informasi tentang rencana pembangunan Desa Pemilik lahan Jml Pulau Layang Rantai Alai Mentawak Sumber : Data Primer.desa jadi rencana penambangan Tidak keberatan.5 1.3 5 11. diolah Aparat Desa Jml 4 0 0 % 8 0 0 Tim survey Jml 6 2 1 % 12 10 10 Tidak menjawab Jml 38 18 9 % 76 90 10 Total Jml 98 20 10 % 100 100 100 % 4 0 0 50 0 0 Tabel 3. rencana penambangan Keberatan/tidak setuju Tidak menjawab Total Sumber .krn unt kepentingan umum. Data Primer. pengetahuan responden terhadap rencana pembangunan pertambangan bijih besi Pengetahuan tentang rencana pembangunan Tahu Jml Pulau Layang Rantai Alai Mentawak Sumber : Data Primer. Sikap responden terhadap rencana pertambangan bijih besi Desa Sikap terhadap rencana pembangunan Pulau Layang Jml % 72 8 0 4 0 4 0 4 4 Rantau Alai Jml 16 0 0 0 1 0 0 1 2 20 % 80 0 0 0 5 0 0 5 10 100 Mentawak Jml 3 0 2 0 0 0 1 1 3 10 % 30 0 20 0 0 0 10 10 30 100 Jumlah Jml 55 4 2 2 1 2 1 4 9 80 % 68. tdk keberatan.5 1.3 100 Ya.3 2. tidak keberatan Ya. diolah Tidak tahu % 100 100 10 Jml 0 0 8 % 0 0 80 Tidak menjawab Jml 0 0 1 % 0 0 10 Jml 50 20 10 Jumlah % 100 100 100 50 20 1 Tabel 2.5 2. Terserah warga lain Tidak keberatan. diolah 36 4 0 2 0 2 0 2 8 50 100 198 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .5 5 2. asal perhatikan warga Tidak keberatan.

Kekhawatiran responden terhadap rencana penambangan bijih besi Desa Keterangan Pulau Layang Jml Lahan tani berkurang % Polusi udara Jml kebisingan Sedikit terima tenaga ocal Air sungai terganggu % Pembayaran ganti Jml rugi lambat Jalan jadi rusak Tidak ada kerugian Tidak tahu Total Sumber : Data Primer. Keuntungan dari rencana penambangan bijih besi Desa Keterangan Pulau Layang Jml Memberi sumbangan Jml pada kegiatan desa Peluang kerja proyek Jml Desa jadi ramai Peluang kerja & desa jadi ramai Harga tanah & desa jadi ramai Desa jadi ramai transport lancar Ekonomi meningkat Peluang kerja transport lancar Ganti rugi tinggi Tidak tahu Total Sumber : Data Primer. Sarana dan Prasarana Fasilitas yang diperlukan dalam pengangkutan bijih besi dari lokasi penambangan ke lokasi stockpile sementara dan selanjutnya ke lokasi pengolahan di pelabuhan antara lain . Dengan adanya pembangunan penanbangan bijih besi di daerah inidiharapkan tidak menimbulkan kerugian bagi penduduk.. diolah Rantau Alai Jml 1 6 1 0 1 1 4 1 1 4 20 % 5 30 5 0 5 5 20 5 5 20 100 Mentawak Jml 1 6 0 1 0 0 0 0 0 2 10 % 10 60 0 10 0 0 0 0 0 20 100 Jumlah Jml 8 32 1 2 1 2 11 5 1 17 80 % 10 40 1. Fasilitas jalan dan jembatan Fasilitas pelabuhan untuk pemuatan bijih besi dalam tongkang Fasilitas pembangkit tenaga listrik Tabel 5.Tabel 4. (Tabel 5).3 20 100 % 34 2 6 20 2 12 2 22 17 1 3 10 1 6 1 11 50 100 Kajian Manfaat dan Biaya Penambangan Bijih Besi .3 21.3 2.5 3. Lutfi 199 . Pada umumnya masyarakat menginginkan bahwa pembangunan dan pengoperasian penambangan bijih besi dapat memberikan peluang usaha baru bagi mereka.3 2. diolah Rantau Alai Jml 4 4 1 6 2 1 0 2 20 % 20 20 5 30 10 5 0 10 100 Mentawak Jml 1 5 0 1 0 0 0 3 10 % 10 50 0 10 0 0 0 30 100 Jumlah Jml 22 10 4 17 3 7 1 16 80 % 27. Sebanyak 78.3 1.8 1. Endang Suryati dan M.7% responden memberikan rasa kekhawatiran dengan adanya rencana penambangan ini.5 12..8 8. seperti ditunjuka pada Tabel 6 dibawah ini.5 13.5 1.3 100 % 12 40 0 2 0 2 14 4 0 22 6 20 0 1 0 1 7 8 0 11 50 100 pembangunan pertambangan bijih besi dianggap oleh penduduk akan menimbulkan kekhawatiran kepada mereka.8 6.5 5 21.

Air sungai tersebut cocok dipakai untuk kegiatan konstruksi dan 200 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Luas lokasi penimbunan bijih besi di dekat areal penambangan lebih kurang 12 ha. Harapan responden berdasarkan posisi rumah/lahan terhadap rencana penambangan bijih besi Desa Keterangan Pulau Layang Jml Kampung TK lokal Jml lebih banyak Bantuan fas. bengkel dan MCK bagi perumahan/ mess.5 8. merupakan tempat penimbunan (stockpile) sementara yang dibuat berdampingan dengan tempat penambangan. selain dipakai oleh beberapa perusahaan perkebunan yang saat ini beroperasi di daerah sekitar rencana kegiatan. dan coal preparation plant. Bijih besi dari stockpile tambang diangkut dengan dump truck menuju ke tempat pengolahan (coal processing plant/CPP) di lokasi pelabuhan Jambi melewati jalan yang sudah diperkeras berjarak + 15. Jalur jalan pengangkutan darat dari lokasi tambang ke pelabuhan menggunakan jalan desa. jalan kabupaten dan jalan provinsi yang juga dimanfaatkan oleh penduduk setempat sebagai akses transportasi darat.8 7. Listrik Ekonomi meningkat Lebih perhatikan Jml lingkungan Ganti rugi lancar Sungai tidak tercemar Jalan desa diperbaiki Setelah ditambang Jml dijadikan pertanian Tidak tahu Total Sumber : Data Primer. Pada saat kemarau panjang debit aliran agak menyusut sampai 200 liter/detik dan bisa mencapai 2000 liter/detik di musim penghujan. Jalan kabupaten dan provinsi sudah dilapisi aspal.8 11. dengan tinggi penimbunan maksimal 5 (lima) meter sehingga dibutuhkan areal penimbunan seluas + 104 Ha. Jenis Sumber Energi/Bahan Bakar Sumber energi berasal dari pembangkit listrik utama dengan daya 2 x 65 MW/jam ditambah dengan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) dan genset prime mover berbahan bakar solar sebesar 2 x 250 KVA.5 7. pencucian peralatan angkut dan muat bijih besi.5 100 % 48 8 4 4 4 16 0 6 10 24 4 2 2 2 8 0 3 5 50 100 Fasilitas pasokan air bersih Bangunan pendukung operasi tambang Bangunan khusus bahan peledak Fasilitas penanganan dan penyimpanan bahan bakar Fasilitas penanganan limbah Bijih besi hasil penambangan (ROM) diangkut dengan dump truck menuju lokasi mesin pemecah bijih besi (crushing plant) di stockpile tambang yang lokasinya berjarak 37 km.5 7. diolah Rantau Alai Jml 6 2 4 1 5 1 1 0 0 20 % 30 10 20 5 25 5 5 0 0 100 Mentawak Jml 5 0 0 3 0 0 0 1 1 10 % 50 0 0 30 0 0 0 10 10 100 Jumlah Jml 35 6 6 6 7 9 1 4 6 80 % 43. dengan saluran air akan dibuat di kedua sisinya. Rapak dan anak S. Jalan dari tambang ke desa ini masih merupakan jalan tanah yang sebagian kecil sudah dilakukan perkerasan dengan kemiringan maksimum 15°. Lebar jalan adalah 12 m. Kapasitas tampung stockpile di pelabuhan adalah 100 ton bijih besi ROM.3 5 7. Rapak yang mengalir di daerah penambangan dengan debit 600 lt/detik pada saat peralihan musim kemarau ke musim hujan. km dari blok penambangan Area 1 dan Area 2. Debit dan Sumber Air Kebutuhan air dalam kegiatan penambangan terutama digunakan untuk penyemprotan daerah berdebu.3 1. Air yang diperlukan dapat dicukupi dari S.000 ton bijih besi hasil penambangan (ROM). agar dapat menampung sampai dengan 100.Tabel 6.

industri. Di lokasi rencana kegiatan pertambangan bijih besi tidak terdapat kegiatan sejenis yang berbatasan langsung dengan daerah rencana penambangan bijih besi. Gempu dan PT. Telen. Gawi Mulya. c. Kegiatan lain di sekitar daerah rencana penambangan bijih besi adalah : a. Sawit Prima Nusantara dan PT. b. Meranti Mitra Persada. Sangkulirang. PT. dapat dilihat pada tabel 7. Rashua Indochem. Permukiman penduduk Di sebelah timur terdapat permukiman SP I Bumi Etam. di sebelah utara juga terdapat lahan perkebunan kelapa sawit milik PT. Perencanaan Supervisor Perencanaan Tambang Lanjutan Supervisor pengembangan Staff ( Mining eng ) Staf ( Geologist ) Staff ( surveyor) Staff ( operator komputer) Staf ( juru gambar) Helper Sub-Total Kadiv. SP VI Mata Air dan SP VII Bukit Permata. Telen dan PT. bahkan bila disaring. Bunta Samba. diendapkan dan disterilisasi dapat dipakai sebagai bahan air minum. Kegiatan Lain di Sekitar Lokasi Rencana Kegiatan Daerah rencana tambang semula merupakan areal HPH dari beberapa perusahaan kayu yaitu PT.. Endang Suryati dan M. Georgia Pacific. Tabel 7. Lahan Hutan Tanaman Industri Di sebelah selatan rencana kegiatan penambangan bijih besi terdapat hutan produksi kayu milik perusahaan pemegang HPH PT. Manfaat yang diperoleh bagi Daerah dan Masyarakat Kesempatan Kerja Pendapatan Daerah Peluang Usaha Kerusakan/kerugian : Gangguan kesehatan karena debu dari transportasi pengangkut bijih besi Menurunnya sumber air Manfaat kegiatan pertambangan bijih besi 1.. PT. Segara Timber. Klasifikasi dan jumlah tenaga kerja Pekerjaan General Manager Manajer Tambang Sekretaris Sub-Total Kadiv. Perkebunan kelapa sawit Di sebelah timur terdapat perkebunan kelapa sawit PT. SP II Bumi Rapak. Operasional Tambang Supervisor penambangan Supervisor pengangkutan Supervisor Pemetaan Supervisor Perawatan Staf (Pengawasan Tambang) Staf Pengawas Transportasi Staff (Surveyor) Staff perawatan S1 Tambang S1 Tambang S1 Tambang D3 Geodesi STM /D3 dan Training S1 Tambang STM Tambang /teknik STM Tambang/ geodesi STM /SLTA dan Training >8 th >3 th >8 th >3 th >3 th >3 th >3 th >3 th >3 th Pendidikan Sarjana Tambang Sarjana Tambang D-3 Sekretaris S1 Tambang S1 Tambang S1 Geologi S1 Tambang S1 Geologi D3 Geodesi SLTA + Kursus STM + Training Pengalaman >15 th >10 th >3 th >8 th >5 th >8th > 3 th >3 th >3 th >3 th >2 th Jumlah 1 1 1 3 1 1 1 1 1 1 1 2 8 17 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Kajian Manfaat dan Biaya Penambangan Bijih Besi . PT. Peluang Kerja Pada tahap operasi klasifikasi tenaga kerja yang dibutuhkan. Lutfi 201 . sedangkan di sebelah timur HPH milik PT.

000. Lingkungan – K3 Kepala Lingkungan Kepala K3 Staff lingkungan Staff K-3 Staff Comdev Helper Sub-Total Total S1 S1 S1 SLTA/D3 SLTA/D3 SLTA/D3 >5th >3th >3th >3th >3th >3th S1 Ekonomi/Manajemen S1 Hukum D3 Akuntansi S1 Ekonomi/Manajemen D-3 Purnawirawan TNI D-3 Ekonomi/Manajemen SLTA D3 SLTA SLTA +Training SLTA SLTA SLTP Keatas SD Keatas SLTA >5 th >3 th >3 th >3 th >3 th >3 th >5 th >3th >3 th >3 th >3 th >3 th >3 th >3 th >3 th S1 Mesin S1/D3 teknik S1/D3 kimia STM /SLTA/D3 STM Listrik + Training STM Mesin + Training >8 th >5 th >5 th >5 th >3 th >3 th Pendidikan STM /SLTA SLTA + Training Pengalaman >3 th >3 th Jumlah 1 2 9 21 1 1 1 2 2 2 5 14 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 4 3 4 9 33 1 1 1 2 3 2 5 15 103 Jika dilihat dari tabel diatas. maka penduduk sekitar yang dapat direkrut adalah lulusan sekolah menengah atas atau sekolah kejuruan.. Pekerjaan Staff ( pengawas O/B) Operator Pompa Helper Sub-Total Kadiv.. dan jumlah penduduk menurut pendidikannya.000.juta = Rp 60..500. Lanjutan .500.. Dengan gaji sebesar Rp 1.Tabel 7. CPP Supervisor processing Supervisor quality control Staf CPP Operator genset Opertor cpp Helper Sub-Total Kadiv Admini.. & Keuangan Kepala Personalia dan Umum Kepala Keuangan Kepala pemasaran Kepala Keamanan Kepala Logistik/Gudang Pengawas Camp Kepala Humas Staf/Pembantu Umum Staf/Pembantu LogistikLanjutan Staf Pembantu Keuangan Operator Komputer/Juru tik Petugas Satpam Juru Masak Supir Helper Sub-Total Kadiv.000.- 202 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Jumlah yg diperlukan 40 orang. dan semuanya dapat diambil dari penduduk setempat. maka total pendapatan yang diterima masyarakat sekitar sebesar 40 orang x Rp 1.000.

2.100.177. Saran Untuk memaksimalkan dampak positif.- Dari hasil perhitungan diatas. Kajian Manfaat dan Biaya Penambangan Bijih Besi .. Jumlah penduduk usia produktif setempat yang dapat direkrut di kegiatan penambangan bijih besi sekitar 35.300.- Kesehatan 12 x Rp 5. Prof.000.000. Sedangkan untuk meminimalkan dampak negatif.000. Komponen Peluang kerja Retribusi Pajak dll Total manfaat Biaya eksternalitas no 1 2 3 Total Komponen Biaya Jumlah (Rp) 11. perlu di lakukan upaya pengelolaan. perlu dilakukan upaya pengelolaan. Dr.2.403. dapat disimpulkan sebagai berikut : 1.290. bila dibandingkan dengan biaya eksternalitas. Lutfi 203 . Adanya peningkatan pendapatan masyarakat dan peningkatan pendapatan daerah yang berasal dari pajak-pajak. Endang Suryati dan M. Teknik Penilaian Ekonomi Terhadap Lingkungan. Kabupaten Merangin Dalam Angka 2007 Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gajah Mada.000 x 50 Jumlah (Rp) 60. M.000 x 185 Persediaan air bersih 300 hr x 738 x Rp 800.000. 2008 John A.- 4.000.000.070.215. 3. Kesimpulan Dari pembahasan diatas. DAFTAR PUSTAKA Badan Pusat Statistik.000.08 %.500.000.Com. terutama dalam peningkatan pendapatan masyarakat dan daerah.Manfaat kegiatan pertambangan bijih besi no 1 2 3.60. dengan selisih Rp 16. KESIMPULAN DAN SARAN 4.000.000.000.1. dapat disimpulkan manfaat lebih besar dari biaya eksternalitas. dengan demikian kegiatan penambangan bijih besi sangat berperan dalam meningkatkan pendapatan penduduk sekitar. 4.000.710.. Kumpulan Materi Ekonomi Lingkungan.000. terutama yang menyangkut masalah hajat masyarakat pada umumnya seperti keperluan air bersih. Dixon. Manfaat dari kegiatan penambangan bijih besi bagi penduduk sekitar lebih besar.000. maka dampak dari kegiatan penambangan batubara untuk pertumbuhan perekonomian daerah bersifat positif. Sukanto Reksohadiprojo. Penterjemah.Hilangnya pohon 1434 ph x Rp 150.penerimaan 40 org a Rp 1.000.120.240 hr x Rp 5.1993. Gajah Mada University Press. 2007.420.

022 . Watson dan Murphy).MINYAK SINTETIK DARI PENCAIRAN BATUBARA DAN PENINGKATAN MUTUNYA SEBAGAI BAHAN BAKAR Muh Kurniawan1. Cipulir-Kebayoran Lama. Leni Herlina1.9247.58 % menjadi 0.9664 menjadi 0. Jakarta Selatan 12230 Telp. Tujuan penelitian ini adalah adalah mengkarakterisasi minyak hasil pencairan batubara. 021 .17 %.7222583 Fax.42. Sudirman 623 Bandung 40211 Telp. Dalam penelitian ini telah dipreparasi katalis monofungsional Ni-Mo/Al2O3 dengan konsentrasi Ni dan Mo masing-masing 3 dan 12%.016 %. Kata kunci : minyak sintetik. Untuk itu penelitian ini akan dilanjutkan dengan mengoptimalkan kondisi operasi hidrotreating dan komposisi katalisnya.go. 022 . hidrotreating 204 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .6030483 Fax. serta meningkatkan mutunya agar dapat memenuhi kriteria sebagai bahan bakar setara dengan bahan bakar dari minyak bumi. Produk hidrotreating fraksi solar minyak sintetik tersebut mempunyai rasio hidrogen/karbon yang diperoleh tersebut masih belum mendekati rasio hidrogen/karbon solar dari minyak bumi yaitu sebesar 1. serta kenaikan rasio molar hidrogen/karbon (H/C) dari 1. sulfur (S) dari 0. Hidrotreating dilakukan terhadap fraksi solar ringan 180-300°C dengan katalis NiMo/Al2O3 tersebut pada alat autoclave pada tiga kondisi perbandingan hidrogen dan umpan. kadar karbon dari 87.id SARI Teknologi pencairan batubara telah dikembangkan oleh Puslitbang Tekmira.30 menjadi 1. Batubara cair (synthetic crude) yang dihasilkan tersebut mirip dengan minyak bumi yang masih perlu diolah dan ditingkatkan mutunya agar memenuhi syarat sebagai bahan bakar minyak. Perolehan distilasi menunjukkan minyak sintetik ini lebih tepat diarahkan untuk menjadi solar berkadar sekitar 65 % berat. Minyak sintetik merupakan minyak yang berat dan termasuk klasifikasi aromatik menurut kriteria UOP (Nelson. Ciledug Raya Kav 109. Nining Sudini Ningrum2 1) Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi (LEMIGAS) Jl. volume pori 0. serta tergolong sebagai naftenik-naftenik menurut klasifikasi US Bureau of Mines. Kondisi HDT-3 yang perbandingan hidrogen terhadap umpan paling besar memberikan hasil yang paling baik yaitu penurunan spesific gravity dari 0. luas permukaan 109.6003373 e-mail : ninings@tekmira.3 % menjadi 80. Jend.82 %. peningkatan mutu.75. dan kadar sulfur setelah presulfiding 6 %-wt. Novie Ardhyarini1.7226011 2) Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl.esdm.2675mL/g. 021 . kadar nitrogen dari 0.35 m2/ g.079 % menjadi 0.

2. preparasi katalis Ni-Mo/Al2O3 dan penelitian hidrotreating fraksi batubara cair akan disajikan pada makalah ini. and increasing of hidrogen/karbon (H/C) molar ratio from 1. The synthetic crude is a heavy oil.3 % to 80. It is observed from the decreasing of spesific gravity from 0.75. hydro-treating 1. Having 65%wt of distillation yield at 180-350°C. For this reason. pore volume of 0. Penelitian pencairan batubara telah dikembangkan oleh PPP-Tekmira Bandung. Untuk itu. classified as aromatic oil according to UOP ((Nelson. this experiment will be followed up by optimizing the operating conditions of hydro-treating and the catalyst composition. Keywords: synthetic crude oil.58 % to 0.2675mL/g.. The synthetic crude is similar to petroleum crude oil. Muh Kurniawan. Proses fraksinasi dilakukan dengan distilasi True Boiling Point (TBP) menurut metode ASTM D2892. HDT-3 condition with largest H2/feed ratio gave the best result.9664 to 0. that is necessary to be refined and upgraded to meet fuel specification. and sulfur content of 6 %-wt (after presulfiding). Watson dan Murphy). Tujuan penelitian ini adalah mengkarakterisasi cairan hasil pencairan batubara. serta meningkatkan mutunya agar dapat memenuhi kriteria sebagai bahan bakar setara dengan bahan bakar cair dari minyak bumi. Hydro-treating experiment is conducted on light gasoil fraction (180-300°C) by using autoclave reactor and Ni-Mo/Al2O3 catalyst. carbon content from 87.82 %. surface area of 109. resulting a liquefied coal or synthetic crude oil. Untuk pengujian spesific gravity dilakukan dengan metode IP 189-190. untuk viskositas kinematis digunakan metode ASTM D-445.The experiment is conducted in three different conditions of hydrogen to feed ratio. 2005). Proses pencairan dinilai sesuai untuk meningkatkan nilai tambah batubara Indonesia yang sebagian besar bermutu rendah. nitrogen content from 0.079 % to 0. Peningkatan mutu batubara cair tersebut dengan proses hidrotreating diteliti oleh PPPTMGB ”Lemigas”. which is 1.9247.35 m2/g. this synthetic crude is suitable to produce gasoil. dalam penelitian ini dilakukan karakterisasi batubara cair. The purpose of this work is charaterizing synthetic crude and upgrading its quality to meet fuel criteria equivalent to conventional petroleum fuel. Batubara cair (synthetic crude) yang dihasilkan identik dengan minyak bumi sehingga masih perlu diolah dan ditingkatkan mutunya agar memenuhi persyaratan sebagai bahan bakar minyak.17 %. quality upgraded. Minyak Sintetik dari Pencairan Batubara dan Peningkatan Mutunya . preparasi katalis Ni-Mo/Al2O3 dan penelitian hidrotreating terhadap fraksi solar dari batubara cair tersebut. The hydrogen/carbon (H/C) ratio of this hydro-treated gasoil is still lower than that of petroleum gasoil. PERCOBAAN Karakterisasi sifat-sifat fisika batubara cair (synthetic crude) dilakukan menurut metode yang lazim dilakukan untuk minyak bumi. Sehubungan dengan cadangan batubara nasional cukup besar maka pencairan batubara secara langsung merupakan salah satu peluang yang dapat menggantikan peranan minyak bumi sebagai bahan bakar cair untuk mesin transportasi dan industri. Karakterisasi fraksi batubara cair. The catalyst is a mono-functional Ni-Mo/Al2O3 catalyst having Ni and Mo concentration of 3 and 12%wt respectively. Pada distilasi ini juga dilakukan pemotongan fraksi pada rentang temperatur 250-275°C dan 391419°C.42.016 %.ABSTRACT Coal liquefaction technology have been developed by Puslitbang Tekmira. PENDAHULUAN Keterbatasan cadangan minyak bumi mendorong berbagai upaya untuk menemukan energi alternatif. sulphur content from 0. and classified as naphthenic-naphthenic according to US Bureau of Mines (Lane-Garton).30 to 1. untuk pengujian titik nyala digunakan metode PMCC ASTM D-93.2005). dan pengujian Reid Vapor Pressure (RVP) dengan ASTM D-323(ASTM. dkk. 205 .. Temperatur ini setara dengan rentang temperatur pada distilasi hempel yang digunakan untuk pengklasifikasian hidrokarbon menurut LaneGarton(Riazi. proses fraksinasi.

4 menempatkan minyak sintetik ke dalam klasifikasi aromatik menurut kriteria UOP (Nelson. Gambar 1. Adapun perbandingan katalis terhadap umpan dibuat tetap sebesar 10% berat. Sistem pengadukan adalah horizontal shaking dengan kecepatan 37-150 rpm dan jarak pengadukan 100mm. Tabel 1. Autoclave Pada penelitian ini dilakukan tiga kondisi operasi hidrotreating dengan memvariasikan perbandingan jumlah umpan dengan gas hidrogen. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa minyak hasil pencairan batubara ini mengandung banyak senyawa aromatik (Riazi. Sulfur-Oxygen Analyzer) (Bhattacharryya. Sebanyak 40 gram katalis disulfurisasi dengan 18. Secara keseluruhan. Sementara itu. (Gambar 1). 2005). 2004). HASIL DAN DISKUSI 3. Produk reaksi hidrotreating fraksi (180-3000C) minyak sintetik kemudian dikarakterisasi sifat fisikanya antara lain spesific gravity dan viskositas kinematik. Setelah impregnasi dilanjutkan dengan kalsinasi pada suhu 400°C selama 4 jam.1. serta kadar sulfur 6 % berat dari presulfiding(Kokayeff. Suhu. H2 Satuan mL gr Bar oC Menit mL HDT-1 HDT-2 HDT-3 250 25 40 390 80 250 100 10 40 390 80 400 50 5 40 390 80 450 3.Katalis hidrotreating monofungsional Ni-Mo/Al2O3 dipreparasi dengan mengimpregnasi support alumina (Al2O3) dengan inti logam nikel dari garam nitrat dan logam molibdenum dari amonium molibdat.04 dan °API 4. Minyak sintetik ini mempunyai spesific gravity (SG) 1. Dua sifat penguapan yaitu Reid Vapor Pressure (RVP) sebesar 0 psi dan flash point di atas 100°C menunjukkan bahwa kadar fraksi ringan dalam batubara cair ini sedikit. Hydrogen. Hasil ini terlihat juga pada kurva distilasi TBP dalam Gambar 2. disajikan pada Tabel 1. Proses hidrotreating dilakukan terhadap fraksi 180300°C dari minyak sintetik dengan katalis monofungsional Ni-Mo/Al 2 O 3 yang telah dipresulfiding. termasuk kategori minyak berat dalam klasifikasi yang lazim diterapkan dalam minyak bumi konvensional. ketiga kondisi operasi 206 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Viskositas kinematik minyak sintetik ini berkisar pada 5 cSt dan pour point-nya di bawah nol celsius sehingga tidak memerlukan perlakuan khusus pada suhu ruang. Reaktor yang digunakan adalah autoclave dengan kapasitas 500 mL. Komposisi katalis hidrotreating adalah kadar nikel dan molibdenum masing-masing sebesar 3 dan 12 % berat. Watson dan Murphy). Reaktor yang digunakan adalah autoclave bervolume 500mL yang juga akan dipakai untuk penelitian hidrotreating. Kondisi operasi hidrotreating Parameter Umpan Katalis Tekanan Suhu Waktu Vol. Nitrogen. hasil pengukuran °API pada fraksi distilat 250-275°C dan 391-419C menggolongkan karakteristik minyak sintetik ini sebagai NaftenikNaftenik menurut Lane-Garton. dan tekanan awal juga tetap untuk ketiga kondisi. waktu reaksi.6. Komposisi kimia ditentukan dengan alat CHNS-O Analyzer (Carbon. Karakteristik Batubara cair Hasil karakterisasi batubara cair dapat dilihat pada Tabel 2.5 gram dimetil disulfida dengan pelarut solar komersial sebanyak 200mL. Nilai K-UOP sebasar 9. 2005). Suhu operasi presulfiding adalah 300°C selama 200 menit dengan tekanan awal gas hidrogen 40 bar.

Gambar 2. Umpan dan produk percobaan hidrtrotreating dengan kondisi HDT-1.513 4. yaitu warna produk menjadi lebih terang. dengan perolehan sekitar 65% dari total minyak sintetik. Umpan HDT-1 HDT-2 HDT-3 Gambar 3.268 5. Kurva kemudian terlihat mendatar pada rentang 250 sampai 350°C. volume pori. Kurva distilasi TBP batubara Cair Kurva ini memberikan gambaran titik didih awal (IBP) yang relatif tinggi yaitu di atas 150°C. Sehubungan dengan fraksi solar (180-300°C) yang diperoleh ini berkadar aromatik tinggi. dengan menyisakan residu sekitar 4% berat.5% berat.Tabel 2.3 0. Minyak Sintetik dari Pencairan Batubara dan Peningkatan Mutunya .040 4.6 5.Ni . Berdasarkan kurva distilasi TBP..4 NaftenikNaftenik Karakteristik katalis hidrotreating yang telah dipreparasi secara laboratorium. Tabel 3. Dari ketiga kondisi tersebut. dan kadar sulfur katalis mendekati karakteristik katalis hidrotreating komersial (Tabel 3) (Bhattacharryya. Sampai dengan suhu 180°C. HDT-2.1982). minyak sintetik tersebut cukup baik diarahkan untuk pembuatan gasoil. HDT-2 dan HDT-3 berturut-turut memiliki rasio H2 terhadap umpan semakin besar. dkk. hasil percobaan hidrotreating dengan ketiga kondisi dapat dilihat pada Gambar 3. di mana kondisi HDT-3 memberikan hasil yang paling baik (Tabel 4) (Armstrong.0 12. fraksi yang diperoleh hanya sekitar 0. yaitu konsentrasi Ni-Mo. Fraksi berat di atas 350°C hingga titik didih akhir pada 520°C diperoleh sekitar 30% berat. Proses Hidrotreating Proses hidrotreating dilakukan pada tiga kondisi sebagaimana ditampilkan pada Tabel 1.0 9. 207 . 2005). Secara visual. Muh Kurniawan.2.354 -20 105 0.796 3. yaitu HDT-1. dan HDT-3 Ketiga produk hidrotreating tersebut menunjukkan perubahan warna dibandingkan dengan umpannya. yang menunjukkan perolehan fraksi solar yang paling besar yaitu sekitar 65% berat. luas permukaan. maka dilakukan penelitian untuk peningkatan mutunyadengan proses hidrotreating.0 109.. Karakteristik batubara cair Parameter Spesific Gravity 60/60°F °API Viskositas Kinematik @ 100°F @ 140°F Titik Tuang Flash Point PMCC Reid Vapor Pressure K-UOP Karakteristik Lane-Garton Satuan — — cSt °C °C Psi — — Nilai 1.Mo Luas Permukaan Volume Pori Kadar Sulfur Satuan %-wt %-wt m2/g mL/g %-wt Nilai 3. Karakteristik Katalis Hidrotreating Parameter Konsentrasi : .

Jankowski A. 2005 Whitehurst D. 1032-1037 Kokayeff. Karakterisasi produk hidrotreating Parameter Kinematik Visc. Vol 05. 1.9574 84.Tabel 4.30 0.58 % menjadi 0.82 9. dan adanya kenaikan rasio hidrogen/karbon (H/C) dari 1. Upgrading of syncrude from coal.17 %berat sulfur (S) dari 0. P. 1051-1057.316 0. 1982. maka proses penghidromurnian fraksi 180-300oC berkadar aromatik besar tersebut masih perlu ditingkatkan kondisi operasinya dengan pengoptimalan komposisi katalis (Whitehurst. (2004). Anup K. Minyak sintetik ini mengandung fraksi solar (180300°C) sebesar 30% berkadar aromatik tinggi. 1982.3 %berat menjadi 80..027 5.3 UOP Uniofining Technology”. 1982) %. 1982 dan Jankowski. 2005 Armstrong P. vol. Handbook Of Petroleum Refining Processes 3rd Ed. vol.58 0. Rudnick. by diff. maka proses hidrotreating fraksi 180-300°C tersebut masih perlu ditingkatkan kondisi operasinya dengan pengoptimalan komposisi katalis.42 1.02. (40oC) SG 60/60 Carbon (%-wt) Hidrogen (%-wt) Nitrogen (%-wt) Sulfur (%-wt) Oksigen..47 0. Narosa Publishing House. George A.67 9. di mana HDT3 memberikan hasil yang paling baik.57 0.9664 menjadi 0. Odoerfer and Leslie R. KESIMPULAN Batubara cair ini tergolong minyak berat dengan klasifikasi aromatik menurut kriteria UOP (Nelson. Talukdar. vol 61. Rasio H/C Umpan 5.58 %berat menjadi 0. DAFTAR PUSTAKA Annual Book of ASTM Standards. 2005. 61. Werner Doehler and Ulrich Graeser. Untuk memperoleh rasio hidrogen/karbon (H/C) setara solar dari minyak bumi yaitu H/C = 1.97 0.71 1.42.53 9. sulfur (S) dari 0.82 %berat..75. dengan penurunan spesific gravity dari 0.9664 menjadi 0.16 %berat.320 0.9247. India.82 208 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . kadar karbon (C) dari 87.961 0.9664 87.725 0. M. Butrill Jr.75.42 Hasil penelitian proses penghidromurnian fraksi 180 – 300oC dari minyak sintetik dengan bantuan katalis Ni-Mo/Al2O3 dengan kadar sulfur 6. Untuk memperoleh rasio hidrogen/karbon setara solar dari minyak bumi yaitu sebesar 1.30 menjadi 1.0 % berat pada tiga jenis kondisi operasi menunjukkan peningkatan mutu fraksi 180-300oC tersebut dengan diamatinya penurunan karakteristik produk hidrotreating yaitu antara lain: spesific gravity dari 0. Derbyshire. Duayne.3 % menjadi 80.17 0. New characterization techniques for coal-derived liquids. Characterzation and Properties of Petroleum Fractions. serta tergolong sebagai Naftenik-Naftenik menurut klasifikasi Lane-Garton.079 %berat menjadi 0. Hasil percobaan hidrotreating terhadap fraksi solar ringan 180-300C menunjukkan perbaikan karakteristik produk solar tersebut. 61. nitrogen (N) dari 0. Francis J. Watson dan Murphy). Catalysis in Petroleum and Petrochemical Industries.. 1982. “ Chapter 8.9365 86. Study of single-stage treated products for transport fuel use.016 9..03 1.32 0.9247.079 2.42.30 menjadi 1.56 1.30 HDT-1 3.41 Riazi.9247 80. Sidney E.32 HDT-2 3. 4.41 0.30 9.17 %.. kadar nitrogen dari 0. Bhattacharryya K.38 HDT-3 2.G. 8.016 %.31-8.079 % menjadi 0. Fuel. Fuel. Hydro-treating coal-derived liquid distillation fractions. ASTM. kadar karbon (C) dari 87. serta kenaikan rasio hidrogen/karbon (H/C) dari 1.026 3. Fuel. R. Malvina Farcasiu.

Cipulir-Kebayoran Lama.id SARI Indonesia mengolah minyak mentah adalah sebesar 1.S. Ciledug Raya Kav 109. teknologi dari Jepang atau secara tidak langsung (indirect coal liquefaction) yaitu coal to liquid technology (CTL) teknologi CTL-SASOL. The synthetic crude of this coal liquefaction can be increased by the catalyst developments and the optimum of the operating conditions of the coal liquefaction processes.75 million barrels/day and plus the imported crude oil. Abdul Haris*.esdm.7226011 ** Pusat Teknologi Penelitian dan Pengembangan Mineral dan Batubara Jl.75 juta barel/hari dan kekuranganya masih diimport.6003373 e-mail : huda@tekmira. 209 . Pencairan batubara menjadi minyak sintetik dapat dilakukan secara langsung (direct coal liquefaction) yaitu Brown Coal Liquefaction (BCL) dan NEDOL. 021 . A. 022 . dkk.go. Cadangan batubara Nasional pada tahun 2008 adalah sebesar 104. melalui proses Ficsher-Tropsch gas sintes (CO + H2) dari produk gasifikasi batubara (bituminous coal). Coal liquefaction by BCL and Ficher-Tropsch processes into the synthetic crudes and their conversion into the synthetic fuel oil. Kata kunci: minyak sintetik. Miftahul Huda**.6030483 Fax. such as brown coal liquefaction (BCL) and NEDOL aJapan’s technology. Sudirman 623 Bandung 40211 Telp. will be discussed briefly in this paper.7222583 Fax.S. Nasution*. supplied by national production of about 0. pencairan batubara dan proses Fischer-Tropcsh ABTSRACT Indonesia’s petroleum refinery processes is about 1. Afrika Selatan. Jend. Minyak sintetik tersebut dapat diolah menjadi bahan bakar minyak sintetik dengan proses katalitik pada kilang minyak bumi. ninings@tekmira.075 juta barel/hari sedangkan produksi nasional hanya sekitar 0.075 million barrels/day of the crude oils.id. Produk minyak sintetik dari proses pencairan batubara dapat ditingkatkan dengan pengembangan katalis dan optimalisasi kondisi operasi.756 milliar ton yang sebagian dapat dikonversi menjadi minyak sintetik untuk mensubtitusi minyak mentah import tersebut. or indirect coal liquefaction or coal to liquid technology (CTL) such as CTL technology of SASOL in South Africa over Fischer Tropsch processes of syn-gas (CO+H2) from gasification of bituminous coal.go. This synthetic crude can be converted into the synthetic fuel oil by catalytic process of the petroleum refinery. 021 . Key words: synthetic fuel oil. Bahan Bakar Minyak Sintetik dari Pencairan Batubara.BAHAN BAKAR MINYAK SINTETIK DARI PENCAIRAN BATUBARA A.756 billions ton in the 2008 and the part of this coal can be converted into synthetic crude to substituted the imported crude oil. Proses pencairan batubara menjadi minyak sintetik dengan proses BCL dan Ficsher-Tropsch serta pengolahan minyak sintetik tersebut menjadi bahan bakar minyak sintetik akan dibahas dalam makalah ini.esdm. Jakarta Selatan 12230 Telp. Leni Herlina* dan Nining Sudini Ningrum** * Pusat Teknologi Penelitian dan Pengembangan Minyak dan Gas Bumi (LEMIGAS) Jl. Coal liquefaction into the synthetic crude can be direct coal liquefaction. coal liquefaction and Fischer-Tropcsh processes. 022 . Nasution. National coal reserves are about of 104.

yang sebagian batubara tersebut dapat dicairkan menjadi minyak sitentik untuk mensubtitusi minyak mentah impor tersebut. yaitu brown coal liquefaction (BCL) dan NEDOL yang merupakan teknologi Jepang melalui proses hidrogenasi batubara yang hidrogennya dari produk gasifikasi batubara. 2006).75 juta barel/hari dan kekuranganya masih diimport (Dirjen Migas. 2. Sedang pencairan batubara secara tak langsung (indirect coal liquefaction) atau coal to liquid technology (CTL) merupakan teknologi CTL SASOL telah dioperasikan sejak tahun 1950 di Afrika Selatan. tanpa tahun). vehicle solvent. hydrogen donating. PENDAHULUAN Indonesia mengolah minyak mentah sebesar 1. yang dimasukan ke dalam slurry reactor di mana molekul batubara direngkah menjadi produk minyak sintentik. melalui proses Fischer Tropsch gas sistesis ( CO + H2) dari produk gasifikasi batubara (bituminous coal) (Supriyadi.2006. Fischer-Tropsch) dengan berbagai jenis katalis dan pengolahan minyak sintetik tersebut menjadi bahan bakar minyak sintentik akan disajikan dalam makalah ini.756 milliar ton pada tahun 2008 dengan jenis low rank coal sekitar 60 % dari total cadangan.075 juta barel/hari di mana produksi nasional hanya sekitar 0. yaitu antara lain brown coal liquefaction (BCL) oleh Teknologi Jepang 210 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . katalis. N.Satterfield. tanpa tahun) Pembentukan produk minyak sintetik dari proses pencairan batubara (proses BCL dan proses   Pencairan Batubara dan Rantai Pasokan BBM  Impor Crude Oil  Impor BBM  Crude Oil  CSO  Batubara Indonesia  pada berbagai lokasi  Kilang Minyak  BBM  Untuk domestik  Pencairan Batubara  BBM  Untuk Ekspor  Masuknya CSO dalam rantai pasokan BBM terutama akan berdampak positif  dalam penyediaan BBM domestic dan mengurangi impor  Gambar 1. PENCAIRAN BATUBARA MENJADI MINYAK SINTETIK Pencairan batubara menjadi minyak sintetik terdiri atas dua jenis proses berikut : Proses pencairan batubara secara langsung ( direct coal liquefaction). Proses Fischer-Tropsch adalah suatu reductive polymerization reaction yang mengkonversi gas sintesis (CO + H2) menjadi produk utama hidrokarbon normal parafin dan normal olefin dengan bantuan katalis (Charles. Umpan proses hidrogenasi batubara adalah suatu suspensi dari campuran: batubara. Jeffey Mulyono. hidrogen. Pencairan Batubara Pencairan batubara menjadi minyak sintetik dapat dilakukan secara langsung ( direct coal liquefaction) yang masih dalam taraf demonstration plant. Cadangan batubara nasional cukup besar yaitu sekitar 104.1.2006). seperti terlihat pada Gambar 1 (Sukardjo.

Hertan.V. Staker.S. 1994). Nasution. dkk.. R* + H* RH Perengkahan lanjut dari radikal-radikal besar seperti asphaltene. K. dan juga dapat mempercepat terbentuknya radikal hidrogen dari gas hidrogen (Takau. Gambar 3. tanpa tahun): Radikal bergabung dengan radikal hidrogen ( H*) yang dihasilakan dari hidrogen donating tanpa atau dengan bantuan katalis.1. katalis sub-micron. C*n H2n + 1 C*x H2x + 1 + CYH2Y di mana n = x + y Pengabungan radikal-radikal besar menjadi molekul yang kompleks (kokas). 211 .P. serta mengandung grup aromatik dengan berat molekul relatif rendah. Bahan Bakar Minyak Sintetik dari Pencairan Batubara. A. Kelvin. 2002). Konversi Batubara Stabilisasi radikal-radikal tersebut dengan beberapa reaksi radikal adalah berikut (Charles N. Gas hidrogen yang dipakai pada proses pencairan batubara ini diperoleh dari produk gasifikasi batubara seperti terlihat pada Gambar 2 (Takao.melalui proses hidrogenasi batubara yang masih dalam taraf demonstration plant. dkk. Satterfield. Peter A. Proses pencairan batubara dengan memakai katalis monofungsional berinti aktif logam. Mula-mula molekul batubara akan pecah secara termal menjadi beberapa jenis molekul radikal ( R*=C* n H2n + 1) seperti asphaltene. 2. 2002).P. hal ini diperkirakan karena keterbatasannya dalam pelepasan radikal hydrogen tersebut (R. dkk.. hidrogen dan vehicle solvent dimasukan ke dalam suatu slurry reactor. dkk. Nasution. Proses Hidrogenasi Batubara Batubara muda (low-rank coal) mengandung kadar oksigen tinggi dengan banyak grup fungsional berantai yang sangat reaktif mudah pecah oleh panas. R*1 + R*2 R1 R2 Produk minyak sintetik dari proses pencairan batubara dengan hydrogen donating saja tanpa katalis diamati menurun secara cepat dengan waktu reaksi. tanpa tahun. K. N. seperti FeS2 dapat mengaktifkan kembali hydrogen donating yang telah melepaskan radikal hydrogennya dengan reaksi hidrogenasi. atau dapat juga terbentuk dari gas hidrogen dengan bantuan katalis. Satterfield.V. Proses pencairan batubara secara tak langsung (indirect coal liquefaction) melalui proses Fischer Tropsch gas sintes ( CO+ H2) dari produk gasifikasi batubara (bitumineous coal) atau Coal to Liguid Technology... Model Molekul Zat Organik Batubara Umpan batubara pada proses hidrogenasi batubara muda ini dalam bentuk suspensi yaitu suatu campuran dari : bubuk batubara < 60 mesh. 1985). dan oil (minyak sintetik) seperti terlihat pada Gambar 3 (Charles N. Kelvin. A. dkk. N. preasphaltene menjadi radikal kecil yang lebih stabil seperti minyak sintetik dan olefin.S. preasphaltene. Pemutusan ikatan karbon di antara dua cincin aromatik dengan radikal hidrogen baik yang berasal dari hydrogen donating maupun yang berasal dari gas hidrogen dengan bantuan katalis Gambar 2. 2002. Staker. 1994. hydrogen donating. oleh teknologi CTL-SASOL di Afrika Selatan yang telah beroprasi sejak tahun 1955. sehingga proses pencairannya dapat menghasilkan perolehan minyak sintetik tinggi. R..

1994. J. Pengaruh chain probability factor (α) adalah (α) : rp / rp + rt (rp dan rt = laju propogasi dan terminasi) pada distribusi produk utama hidrokarbon (minyak sintetik) tersebut disajikan pada Gambar 6 (Charles N. m mol/g.2. kat . maf monofungsional tersebut cukup sulit.V.. Satterfield. Keasaman katalis.. Hertan. Kelvin. N. yang akan 212 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . sehingga percampuran antara molekul batubara dengan katalis akan meningkat. Satterfield. Minyak sintetik. Pengaruh Keasaman Katalis Pada Minyak Sintetik 2. 2002. Ronald H. Staker. 1987).P. dkk. seperti Ni-Mo/Al2O3-SiO2 dapat memecah cincin poliaromatik dari produk minyak sintetik tersebut melalui pembentukan senyawa antara ion karbonium ( R+) dengan bantuan inti aktif asam katalis baik Lewis maupun Bronsted seperti halnya pada proses hidrorengkah fraksi minyak bumi seperti terlihat pada Gambar 4 (R. dan juga solvent tersebut dapat menghambat terjadinya pengabungan (repolymerization) antara radikalradikal besar menjadi molekul besar (kokas). sehingga kadar hidrokarbon poliaromatik (rasio atom C/H) dari produk minyak sintetik tersebut diamati relatif lebih tinggi dari pada fraksi yang di kandung oleh minyak bumi (Takau. -H+ –C–C–C C–C=C–C Ion karbonium beratom karbon C ³ 6 dapat membentuk ion karbonium siklis. 102 Gambar 5.Tropsch yaitu katalis bifungsional berinti dua jenis aktif (logam dan asam) yaitu antara lain Fe/Ziolit dan Co/Al2O3 SiO2 akan mengkonversi senyawa olefin-1 menjadi olefin-2 melalui senyawa antara molekul ion karbonium (R+) yang lebih sulit berpolimerisasi menjadi produk normal hidrokarbon panjang +H+ C=C–C–C +C Vehicle solvent dapat menaikan kelarutan dan pendispersian bubuk batubara di dalam suspensi umpan.Katalis bifungsional berinti aktif logam dan asam. akan mengkonversi gas sintes melalui suatu reductive polymerijation reaction menjadi produk utama normal hidrokarbon parafin dan normal olefin dengan sedikit produk samping senyawa organik oksigen seperti alkohol (Charles N. Wolk. tanpa tahun). dkk. 1979). tanpa tahun). Reaksi hidrokonversi Modifikasi katalis Fischer . Proses Fischer-Tropsch Gas Sintes (CO + H2) Proses Fischer-Tropsch dengan memakai katalis konvensional monofungsional Fe atau Co berinti aktif logam saja. Gambar 4.F Lepage. K.. 1985). Pengaruh vehicle solvent pada perolehan produk minyak sintetik disajikan pada Gambar 5 (Peter A.

1979). N. Pengaruh Alfa Pada Prosentase Produk terkonversi menjadi hidrokarbon aromatik yaitu : +H+ +H+ 3. Hubungan antara jumlah atom karbon pada fraksi mol relatif Bahan Bakar Minyak Sintetik dari Pencairan Batubara. Staker.F Lepage. Hildebrand.S. Ronald H. 213 . 1987). tanpa tahun.V. Proses-proses katalitik yang dioperasikan Fraksi mol realtif Jumlah atom karbon Catatan : a. Bensin dan solar diperoleh dari masing-masing fraksi ringan dan fraksi berat dari fraksi minyak sintetik tersebut dengan bantuan proses – proses katalitik seperti terlihat pada Tabel 2 (Charles N. Minyak sintetik dari pencairan batubara secara langsung mengandung banyak hidrokarbon aromatik sehingga pengolahan fraksi berat minyak sintetiknya menjadi produk solar memerlukan proses hidropemurnian tinggi atau proses hidrorengkah. Kelvin. Fisher. Co(1)/alumina silica dan c.P.Gambar 6.. dkk. BAHAN BAKAR MINYAK SINTETIK C6H12 C6H13 + Proses Fischer-Tropsch gas sintesa dengan katalis bifungsional dapat menghasilkan produk utama berkadar banyak iso-olefin rendah (C 4 – C 7) dengan sedikit produk samping metana seperti terlihat pada Gambar 7 dan Tabel 1(R. J. Richard E. Co (2)/alumina silica Gambar 7. Nasution. A. 1994. Satterfield. Co/silica b.

yaitu: bergabung Tabel 2. Pembuatan Bahan Bakar Minyak Sintetik Umpan Proses Katalistik/Produk Dimerisasi/Dimer Isomerisasi/Isomerat Reforming/Reformat Hidrotreating/Kerosin + Solar Hidrorengkah/Kerosin + Solar H2SO4. Produk Minyak Sintetik Dengan Katalis Fe/Zeolit Pengaruh Kadar MnO Pada Katalis Fe-MnO/Zeolit pada kilang minyak yaitu: Dimerisasi fraksi gas (C3 / C4) Isomerisasi fraksi nafta ringan (C5 / C6 ) Reformasi fraksi nafta berat (C7 – 180o ) Hidrotreating fraksi berat (180o – 350o C ) Hidrorengkah fraksi berat (>350o C) Mekanisme reaksi dari proses katalitik tersebut (kecuali proses hydrotreating) membentuk senyawa antara ion karbonium (R +) dengan bantuan inti aktif asam dari katalis bifungsional (kecuali proses dimerisasi) yang kemudian masing-masing bereaksi.180 °C Fraksi Sedang 180 . HF Bifungsional Pt pada Al2O2-Cl atau zeolit Bifungsional Pt/Rh atau Pt/Sn pada Al2O2-Cl Monofungsional Ni/Mo atau Ni/W pada Al2O2 Bifungsional Ni/Mo atau Ni/W pada Al2O2-SiO2 atau zeolit Katalis Fraksi Gas Olefin C2/C4 Fraksi Nafta Ringan C5/C6 Fraksi Nafta Berat C7 .350 °C Fraksi Berat > 350 °C 214 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .Tabel 1.

F Lepage. 215 .Gambar 8. dkk. PENUTUP Minyak sintetik dari proses pencairan batubara secara langsung ( direct coal liquefaction) atau secara tak langsung (indirect coal liquefaction) dapat dikonversi menjadi bahan bakar minyak sintetik setara bensin. Proses katalitik memegang peranan penting pada pencairan batubara dan konversi minyak sintetik tersebut menjadi bahan bakar minyak sintetik. kerosin dan solar dengan memakai proses – proses katalitik yang dioperasikan di kilang minyak bumi. Gambar 9. siklisasi (reforming). 1987). Mekanisme Reaksi Dengan Katalis Bifungsional (dimerisasi).S. A. isomerisasi. dan pecah (hidrorengkah) menjadi produk – produk utamanya seperti terlihat pada Gambar 8. 4.dan Gambar 9 (J. Nasution. Minyak sintetik dari proses pencairan batubara dapat meningkatkan pemanfaatan potensi batubara dan juga mensubtitusi sebagian impor minyak mentah dan bahan bakar minyak. Reaksi Hidrokonversi Parafin Bahan Bakar Minyak Sintetik dari Pencairan Batubara.

Charles N. PP 1251-1254 Ronald H. Vol 64. Symposium Paper. Fisher and Richard E. 1979. pp 287.P. 216 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . W. Deputi Menko Perekonomian Kebijakan Pemerintah Dalam Program Aksi Pencairan Batubara. Nasution.S. Kentucky. 1979. Okuyama And Masaaki Tamura. pp 16-19 Gas Conversion. Jakarta 13 Januari 2006. Seminar Nasional Pencairan Batubara “Ladang Minyak Masa Depan”. Jakarta 13 Januari 2006. pp. Jeffey Mulyono. Hildebrand. Paris 1987. Jakarta 22 Februari 2002. Seminar Pencairan Batu Bara Banko Indonesia 2002. Fuel. Production Of Lube-Oil Blending Stock Through Hydrotreating.DAFAR PUSTAKA Direktorat Jenderal Minyak Dan Gas Bumi Kebijakan Dan Kebutuhan Bahan Bakar. Edition Technip. Kentucky. pp 435-466 Applied Heterogeneous Catalysis. Jakarta 13 Januari 2006.F Lepage. Mc GrawHill I Nc. Sukardjo. Transportation Fuels Synthetic Gas. Kelvin. Advances in Coal Utilization Technology. 1994 Elservier Science B. Roy Jackson and Frank B. New York. Seminar Nasional Penciran Batubara Ladang Minyak Masa Depan. Penyedian dan Kebutuhan Batubara untuk Bahan Baku Pencairan Batubara. Indonesian Japan Coal Liguefaction Seminar. Wolk. Satterfield. (273-290). Oberlin Sidjabat. R. hydrogenation Characteristics Of Australian Coals. Pusat Sumber Daya Geologi. A. Takau kaneko And Eiichiro Makito. Seminar Nasional Penciran Batubara Ladang Minyak Masa Depan. Ass.335. hydrogenation of brown coal.Respons Of Oil Yields To Process Conditions. Peter A. Satoru Sugita. Sumber Daya Batubara Indonesia. (b3).V. (331343) Symposium Paper.V. Lorkins. Hertan. Ronald H. September 1985. Advances in Coal Utilization Technology. Liquefaction Of Banko Coal With Limonite Catalyst. Synthetic Gas And Associated Processes Pp 419-470. Noriyuki. Overview of Liquefaction Process Technology. Jakarta 12 Desember 2002. Nining Sudiningrum Dan Chairil Anwar. 2th Heterogeneous Catalysis Industrial Practice. Supriyadi. Staker and N. J. Katalis Limonite Soroako Pada Prosese Pencairan Batubara Banko.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful