ISBN 978-979-8461-63-3

PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI MINERAL DAN BATUBARA
“Konstribusi Litbang Mineral dan Batubara

Dalam Mendukung Pelaksanaan Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara”

Bandung, 15 Juli 2009

Editor : Binarko Santoso Pramusanto I.G. Ngurah Ardha Husaini Datin Fatia Umar Darsa Permana Slamet Suprapto Tatang Wahyudi Retno Damayanti Fauzan

D M AN A SUMBERDAY

DEPARTEMEN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI MINERAL DAN BATUBARA 2009

IN

ER AL

I RG ENE

Hak Cipta / Penerbit

MIRA
Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. Jend. Sudirman No. 623, Bandung 40211 Telepon : 022 - 6030483, Fax : 022 - 6003373

Penasihat Kepala Badan Litbang ESDM Penanggung Jawab Kepala Puslitbang tekMIRA Panitia Pengarah Kuswandani, Suganal, Edwin Daranin R.M. Nendaryono, Siti Rochani Dewan Redaksi Binarko Santoso Staf Redaksi Doeto Poespojoedo, Umar Antana Bachtiar Efendi, Arie Aryansyah, Hatif Hidayat Moderator Datin Fatia Umar, Miftahul Huda, Edwin Daranin Yenny Sofaety, R.M. Nendaryono, Stefano Munir Notulis Kuswandani, Wiroto, Isyatun Rodliyah Sri Sugiarti, Dedi Yaskuri, Hasniati Artika Nuryadi Saleh

ISBN 978-979-8461-63-3 Hak cipta dilindungi oleh Undang-undang Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit

KATA PENGANTAR

Dalam rangka mensosialisasikan Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, yang menggantikan Undang-undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan, Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara (tekMIRA) telah menyelenggarakan Kolokium Pertambangan 2009 pada tanggal 15 Juli 2009, Kolokium yang bertemakan “Konstribusi Litbang Mineral dan Batubara Dalam Mendukung Pelaksanaan Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara”, dihadiri oleh para pejabat pemerintah di tingkat pusat dan daerah, pelaku usaha, para peneliti dan pejabat fungsional lainnya, mahasiswa serta masyarakat luas yang terkait dengan pengembangan pertambangan mineral dan batubara. Sebagai lembaga litbang di bidang teknologi mineral dan batubara, Puslitbang tekMIRA diharapkan dapat berperan secara aktif dalam meningkatkan nilai tambah mineral dan batubara sebagaimana amanat yang terkandung dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tersebut. Di samping itu, melalui kegiatan ini diharapkan pula dapat diperoleh masukan dari pelaku industri dan masyarakat pertambangan tentang posisi, peran, dan kontribusi litbang mineral dan batubara dalam menunjang pelaksanaan Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. Prosiding ini merupakan rangkuman dari seluruh makalah yang dipresentasikan dalam Kolokium, serta diharapkan dapat dijadikan salah satu rujukan mengenai perkembangan pertambangan, penelitian, dan kajian yang berhubungan dengan peningkatan nilai tambah mineral dan batubara. Melalui prosiding ini, siapapun dapat melihat sampai sejauhmana para peneliti Indonesia telah berkiprah dalam memajukan sektor pertambangan mineral dan batubara nasional. Dalam kesempatan ini kami menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak, baik perorangan, perusahan, instansi pemerintah, perguruan tinggi maupun seluruh pembicara dan peserta, atas pemikiran atau karya-karya terbaiknya, sehingga Prosiding ini memiliki nilai keilmiahan yang baik. Kami menyadari banyak kekurangan dalam penyusunan dan penerbitan Prosiding ini. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan penyusunan dan penerbitan Prosiding di masa yang akan datang.

Bandung, 15 Juli 2009

Tim Penyunting

PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009

i

karena berkat perkenan-Nya kita dapat menghadiri acara Kolokium yang diselenggarakan oleh Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara (tekMIRA). dan/atau memfasilitasi pelaksanaan litbang mineral dan batubara. Terkait dengan pemberlakuan Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009. Undangan dan Hadirin yang Berbahagia Assalamualaikum Warohmatullohi Wabarokatuh. memang sudah menjadi agenda tahunan yang diharapkan dapat menampilkan karya yang bermanfaat bagi para pemangku kepentingan. industri. Kedua pasal tersebut merupakan spirit dan juga momentum yang akan lebih memacu kegiatan litbang mineral dan batubara di tanah air.SAMBUTAN KEPALA BADAN LITBANG ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL PADA ACARA KOLOKIUM PUSLITBANG TEKNOLOGI MINERAL DAN BATUBARA BANDUNG. Para Pejabat Eselon I di Lingkungan Departemen ESDM atau yang mewakilinya. Perlu dicatat pula. dan masyarakat luas. Puji dan syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu Wata’alla. Penyelenggaraan kolokium di Puslitbang tekMIRA – dan juga Puslitbang lain di lingkungan Badan Litbang ESDM. Peserta Kolokium yang Saya Hormati. Kolokium Puslitbang tekMIRA kali ini bertemakan “Kontribusi Litbang Mineral dan Batubara Dalam Mendukung Pelaksanaan Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara”. 15 JULI 2009 Yang kami hormati. kolokium di lembaga litbang akan menjadi tolok ukur sampai sejauhmana para peneliti dan pejabat fungsional kita lainnya mampu mengembangkan diri dalam upaya berkontribusi bagi kemajuan sektor ESDM di tanah air. melaksanakan. sekaligus menjadi stimulus bagi Puslitbang tekMIRA agar menghasilkan karya litbang yang lebih baik dan berbobot serta mampu bersaing dengan lembaga litbang sejenis. yaitu pemerintah. saya minta kepada seluruh jajaran di Puslitbang tekMIRA untuk PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 ii . serta pasal 146 tentang kewajiban pemerintah dan pemerintah daerah untuk mendorong. Tuhan Yang Maha Kuasa. khususnya yang menyangkut isi pasal 95 huruf c tentang kewajiban perusahaan untuk meningkatkan nilai tambah mineral dan/atau batubara di dalam negeri. khususnya yang berhubungan dengan pasal 95 huruf c dan pasal 146. Para Pejabat Eselon II di Lingkungan Departemen ESDM atau yang mewakilinya. Selamat Pagi. Para Profesor Riset dan Pejabat Fungsional di Lingkungan Badan Litbang ESDM. Saya menilai tema kolokium 2009 ini sebagai bentuk tanggung jawab Puslitbang tekMIRA untuk berperanserta dalam pelaksanaan Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009. Salam Sejahtera bagi Kita Semua. Saudara-saudara Sekalian.

dan dapat bersaing dengan para pakar di dalam negeri maupun di forum internasional. Dalam beberapa hal. fokus kepada pemecahan permasalahan yang sedang dan kemungkinan akan dihadapi oleh industri pertambangan mineral dan batubara. Persoalannya adalah. di sisi lain. Kesenjangan antara senior dengan yunior yang semakin melebar. Puslitbang tekMIRA harus dapat mengatasi permasalahan sebagai langkah penanggulangan. perlu mendapat prioritas utama. Seluruh kerja sama antara Puslitbang tekMIRA dengan pemangku kepentingan sudah seharusnya bersifat saling bermanfaat bagi kedua belah pihak. peningkatan kerja sama dengan lembaga litbang lain. mengharuskan kita untuk secara lebih intens menjalin kerja sama dengan mereka. fokus kepada litbang yang berorientasi pada peningkatan nilai tambah sekaligus memperhitungkan keekonomiannya. mengikuti berbagai kursus atau pertemuan ilmiah. Namun. Hal ini penting dilakukan sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan kemampuan Puslitbang tekMIRA menghadapi tantangan masa kini dan masa depan. Puslitbang tekMIRA harus berani memulai kegiatan litbang yang berorientasi pada peningkatan nilai tambah. Keempat. solusi yang dapat ditempuh adalah dengan membuka kesempatan kepada karyawan yunior untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Saya tahu Puslitbang tekMIRA telah lama melakukan hal itu. sebagaimana dialami oleh hampir seluruh instansi pemerintah. Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 yang bernuansa desentralisasi – artinya pengelolaan pertambangan mineral dan batubara berada di pemerintah daerah. Tetapi tidak selamanya peningkatan nilai tambah akan memberi keuntungan jika dijual ke pasaran. Sebagai lembaga litbang. ke depan. Selain dengan pemerintah daerah. di satu sisi. nilai tambah dan keekonomian selalu berjalan beriringan. Ketiga. Puslitbang tekMIRA juga pasti merasakan kebijakan “zero growth” yang ditetapkan beberapa tahun yang lalu. artinya peningkatan nilai tambah akan mengakibatkan suatu material bernilai lebih tinggi dan menguntungkan. iii PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . kerja sama tersebut harus dapat menghasilkan sesuatu yang tidak saja “menguntungkan” Puslitbang tekMIRA. tingkatkan kualitas sumber daya manusia. serta untuk mengukur di mana posisi Puslitbang tekMIRA berada. juga harus dapat memprediksi arah kecenderungan yang terjadi sebagai langkah antisipasi agar tidak berada pada kondisi status quo dan melaksanakan pekerjaan yang bersifat rutin atau business as usual. baik di dalam maupun di luar negeri. tingkatkan kerja sama dengan pemangku kepentingan (stakeholders). dan hal-hal lain yang pada intinya dapat sarana untuk meningkatkan kemampuan mereka. saya yakin Puslitbang tekMIRA memiliki sumber daya manusia (SDM) yang telah mampu melaksanakan penelitian secara profesional. Ini berarti. bukan menara gading yang tidak tersentuh dengan melakukan penelitian sesuai keinginannya sendiri. tetapi juga bermanfaat bagi pemerintah dan Daerah serta masyarakat pertambangan. memerlukan percepatan regenerasi dan “transfer of knowledge”. Dalam berbagai kesempatan. Hal ini disebabkan antara lain oleh adanya kompetitor yang berharga lebih murah. atau daya serap pasar masih kecil dan tidak sebanding dengan biaya produksi. tetapi sekaligus menguntungkan jika dilempar ke pasaran. sehingga tidak terlalu sulit untuk meningkatkannya. saya selalu mengatakan bahwa lembaga litbang harus menjadi bagian tak terpisahkan dari dunia yang digelutinya. magang pada perusahaan besar. apakah Puslitbang tekMIRA akan menjadi leader atau follower dalam industri mineral dan batubara di tanah air? Saya katakan bahwa Puslitbang tekMIRA mesti fokus pada keduanya. tidak saja memberikan kontribusi terhadap kemajuan bidang pertambangan mineral dan batubara. tetapi juga kemakmuran bagi masyarakat. Oleh karena itu. Untuk itu. Kedua. Namun perlu saya garis bawahi. Bagaimanapun keberadaan karyawan yunior ini merupakan modal dasar bagi eksistensi Puslitbang tekMIRA ke depan.melaksanakan beberapa hal berikut ini: Pertama. tetapi.

permasalahan seberat apapun akan menjadi jauh lebih ringan dan tidak sulit untuk dipecahkan.Kelima. lalu stagnan. Kolokium yang bertemakan “Kontribusi Litbang Mineral dan Batubara Dalam Mendukung Pelaksanaan Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara” secara resmi saya buka. Kita harus berbuat sesuatu. apapun latar belakang pendidikan Saudara. Kepala. optimalkan peralatan yang ada. Untuk itu. Harapan saya kepada seluruh jajaran Puslitbang tekMIRA. Saya tidak perlu mengulas lebih dalam. Akhirnya dengan tetap memohon ridho Tuhan Yang Maha Kuasa. Bambang Dwiyanto PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 iv . Saya telah menyinggung masalah ini pada acara “Sinkronisasi Kegiatan Litbang di Lingkungan Badan Litbang ESDM” pada 14-15 April 2009 yang lalu. Saya berharap Saudara-saudara dapat menyongsong era desentralisasi di bidang pertambangan mineral dan batubara ini dengan optimisme tinggi dan penuh rasa tanggung jawab. jaga soliditas di lingkungan Puslitbang tekMIRA. bahkan seluruh keluarga besar Badan Litbang ESDM. yaitu dengan berupaya meningkatkan kemampuan rancang bangun dan rekayasa pada peralatan teknologi tinggi. Oleh karena itu saya mengajak peneliti Puslitbang tekMIRA dan juga peneliti Puslitbang lain di lingkungan Badan Litbang ESDM. serta tingkatkan kemampuan rancang bangun dan rekayasa. Undangan dan Hadirin Sekalian. berat sama dipikul”. dan di manapun Saudara ditempatkan. jangan pernah merasa yang satu lebih superior daripada yang lain. yaitu “bersatu kita teguh. Berjalanlah dalam koridor Rencana Stratejik yang telah dibuat oleh Saudara-saudara sendiri. namun satu hal patut diingat bahwa jika keinginan untuk melengkapi dan memutakhirkan dengan sarana dan prasarana penelitian mutakhir tidak terpenuhi bukan berarti kita harus berdiam diri. Insya Allah. untuk membuktikan sampai sejauhmana inovasi dan kreativitas Saudara-saudara andaikata sarana peralatan baru tersebut tidak terpenuhi. Demikian sambutan dan arahan yang dapat saya sampaikan. Ada ungkapan sederhana yang sudah lama kita kenal dan tahu artinya. Terima kasih. lalu bicara dan berbuatlah dengan bahasa yang sama dalam ikatan kesatuan yang kuat. siapapun Saudara. bercerai kita runtuh” dan “ringan sama dijinjing. Wassalamualaikum Warohmatullohi Wabarokatuh. semoga dapat memaknai dan mengimplementasikannya demi tercapainya tujuan kita memajukan sektor ESDM pada khususnya dan masyarakat pada umumnya. Keenam.

...................... pada Era Otonomi Daerah Umar Dhani Peningkatan Kadar Bijih Besi dari Daerah Pelaihari..... DAFTAR ISI ............................................. Enymia dan Sumarsih Presentasi Makalah Paralel II Masa Kini dan Masa Depan Batubara Indonesia ........................................ SAMBUTAN KEPALA BADAN LITBANG ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL ........................................ Selatan dengan Menggunakan Klasifayer dan Pemisah Magnetik Pramusanto............ Kabupaten Tapin....................................................... Keruntuhan Batuan Atap (Roof Failure) pada Tambang Bawah Tanah Zulfahmi....................................................... Pengaruh Titik Leleh Abu terhadap Pengendapannya pada Pembakaran ..................................... Limbah Cair Industri Gula Ika Monika dan Nining Sudini Ningrum Kemungkinan Pemanfaatan Bakterisida Fenol untuk Pencegahan .............. Batubara dengan Pembakar Siklon di Beberapa Fasilitas Industri Sumaryono 55 70 1 i ii v 16 23 30 39 48 78 83 90 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 v ..................................................KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 BANDUNG........................... MAKALAH YANG DIPRESENTASIKAN Presentasi Makalah Paralel I Permasalahan Pengelolaan Potensi Emas di Gunung Tumpang Pitu .............. Nuryadi Saleh dan Apriandi Pengolahan Pasir Kuarsa Berlempung Asal Rantaubujur........ Producer Gas dari Batubara Slamet Suprapto dan Nurhadi Implementasi Pengelolaan Lingkungan Sektor Energi dan Sumber Daya Mineral .................................................... Ijang Suherman Pengembangan Sistem dan Alat Pemantauan Sederhana untuk Mendeteksi ... 15 JULI 2009 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ....... ....................... Provinsi Kalimantan Selatan.......... Hasniati Astika dan Supriatna Mujahidin Pemanfaatan Karbon Aktif dari Batubara pada Pengolahan ............ Kabupaten Banyuwangi...... untuk Bahan Baku Keramik Subari.............. Propinsi Kalimantan ................ Air Asam Tambang Siti Rafiah Untung dan Nia Rosnia H..... pada Era Globalisasi Djoko Sunarjanto dan Bambang Wicaksono Peluang Pengembangan Pertambangan Mineral dan Batubara ...................... Jawa Timur Bambang Yunianto Pengembangan Metode Analisis Ter dan Partikulat dalam ................. Kecamatan Pesanggaran........

................................................... 128 Roza Adriany Eksplorasi Potensi Konsentrat Timah Berdasarkan Data Seismik Refleksi ...........................S......... Husaini Presentasi Makalah Paralel III 97 Karakteristik Merkuri dalam Sedimen dan Air pada Pengolahan Tailing ......... Leni Herlina...................... 209 A.............. 134 (Studi Kasus Perairan Bangka Utara) Ediar Usman dan Andri S.... 175 sebagai Katalis Pencairan Batubara Nining Sudini Ningrum dan Hermanu Prijono Karakteristik dan Optimalisasi Pembriketan Batubara Hasil Proses .................... Nuryadi Saleh............ Novie Ardhyarini dan Nining Sudini Ningrum Bahan Bakar Minyak Sintetik dari Pencairan Batubara ...... 194 Propinsi Jambi Endang Suryati dan M. Lutfi Minyak Sintetik dari Pencairan Batubara dan Peningkatan Mutunya ..... Datin Fatia Umar dan Bukin Daulay MAKALAH DIPOSTERKAN Analisis Potensi Limbah Hasil Pembakaran Batubara pada Industri Kecil dan ......... Freeport Indonesia . Ijang Suherman... 168 Slamet Suprapto Uji Sulfidasi Bijih Besi Kalimantan Selatan dan Tailing PT... 204 sebagai Bahan Bakar Muh Kurniawan........... 181 Upgraded Brown Coal Skala Pilot Ikin Sodikin dan Datin Fatia Umar Analisis Dampak Ekonomi Teknologi Peningkatan Kualitas Batubara ....................................................... 105 Amalgamasi di Kegiatan Pertambangan Emas Rakyat Secara Sianidasi (Studi Kasus KUD Perintis................... 115 Kalimantan Tengah dengan Electrostatic Separator Pramusanto........ Yuhelda dan Firiza Yuliana Penggunaan Pasir Sungai sebagai Bed Material pada Gasifikasi Batubara . Subandrio Penetapan Nilai Bagi Hasil atas Produksi Batubara Mutu Rendah ..........................................Pengolahan dan Pemanfaatan Bauksit ........... 147 Rochman Saefudin........ Leni herlina dan Nining Sudini Ningrum vi PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 ............ 189 Peringkat Rendah di Indonesia Gandhi Kurnia Hudaya Kajian Manfaat dan Biaya Penambangan Bijih Besi di Kabupaten Merangin.................. 161 Menengah di Pulau Jawa Triswan Suseno dan Tuti Hernawati Pengaruh Proses Upgraded Brown Coal (UBC) terhadap Peringkat Batubara .... Abdul Haris................. nasution... ................. Miftahul Huda.. 122 Sistem Fluidized Bed Nurhadi dan Slamet Suprapto Metode Pengurangan Emisi Merkuri pada Pembakaran Batubara .. Lutfi dan Retno Damayanti Pengaruh Penggunaan Ultrasonik terhadap Hasil Pemisahan Pasir Zirkon ............ Daerah Tonayan Selatan) M..........

PRESENTASI MAKALAH PARALEL I .

maka perlu dibentuk kantor/ dinas pertambangan dan energi yang tugasnya mengelola kegiatan pertambangan di daerah.esdm. Kabupaten Banyuwangi. 022 . yaitu: 1) melakukan kajian kegiatan pertambangan terkait pemanfaatan lahan sektor lain. baik dalam hal teknis penambangan. 2) mengkaji kembali kegiatan pertambangan emas oleh PT. tambang emas. kesiapan daerah. 2) to reassess the mining activity conducted by PT. District of Pesanggaran. IMN). IMN). 3) untuk menampung partisipasi masyarakat dalam pertambangan. Kecamatan Pesanggaran.id SARI Isu pertambangan terkait pengelolaan potensi dan kegiatan pertambangan emas di Gunung Tumpang Pitu. Jend. Regency of Banyuwangi include the gold mining.. mining environment. 38 Tahun 2007. agar tidak menimbulkan permasalahan yang lebih besar dan kompleks. UU No. Kecamatan Pesanggaran. Indo Multi Niaga (PT. tumpang tindih dengan sector lain. JAWA TIMUR Bambang Yunianto Peneliti Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl.6003373 e-mail : yunianto@tekmira. environment or the Permasalahan Pengelolaan Potensi Emas di Gunung Tumpang Pitu . 33 Tahun 2004.go. IMN yang memiliki potensi emas sekunder (alluvial). 32 tahun 2004. Berdasarkan penelaahan terhadap ke-empat isu tersebut diperlukan kesiapan daerah (Pemerintah Kabupaten Banyuwangi) dalam mengelola potensi emas di Gunung Tumpang Pitu. interest conflict and the socio-economic-culture. Indo Multi Niaga (PT. dan PP No. lingkungan pertambangan. 4) dalam menangani persoalan Pertambangan Tanpa Izin (PETI) atau gurandil seyogyanya tidak menggunakan cara-cara represif.. namely: 1) to assess the mining activity related to the land use. Bambang Yunianto 1 . Kata Kunci: isu pertambangan. to conduct guidance and monitoring. perlu dialokasikan Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) yang berasal dari wilayah konsesi PT. Based on the review toward these issues. it requires the regional readiness to manage the gold potential in the region.PERMASALAHAN PENGELOLAAN POTENSI EMAS DI GUNUNG TUMPANG PITU KECAMATAN PESANGGARAN. Sudirman 623 Bandung 40211 Telp. KABUPATEN BANYUWANGI. Kesiapan daerah tersebut meliputi beberapa kegiatan. dan 5) sesuai kebijakan otonomi daerah yang tertuang dalam UU No. tetapi harus dengan persuasive. Banyuwangi meliputi isu potensi emas. Then. The regional readiness includes several activities. dan isu sosekbud. Kemudian perlu dilakukan pembinaan dan pengawasan. pengelolaan potensi emas ABSTRACT The mining issues related to manage the potential and the activity of gold mining in Gunung Tumpang Pitu. the mining techniques. lingkungan maupun dalam manajemen berusaha terhadap para penambang rakyat tersebut. 022 . 3) to allocate the mining area for the local community in the concession area of the company that contains gold placer.6030483 Fax.

management of gold potential 1. isu lingkungan. Selasa. 4) not to apply repressive actions towards illegal mining. Berdasarkan informasi secara informal. Data yang mendukung penulisan ini berupa data primer maupun sekunder hasil survai lapangan. Keywords: mining issues. UU 32/2004. Indo Multi Niaga (PT. Maksud penulisan ini adalah mengidentifikasi dan menganalisis permasalahan pengelolaan potensi emas di Gunung Tumpang Pitu. Harian Kompas. Sebentuk Kanibalisasi antar -Potensi”. seperti Pemda Perekonomian Kabupaten Banyuwangi. isu pertambangan tersebut kembali mencuat setelah terjadi penangkapan terhadap para PETI yang dilakukan Polres Kabupaten Banyuwangi. Bappeda Kabupaten Banyuwangi. Kabupaten Banyuwangi. dokumentasi. Senin. PENDAHULUAN ini mendapat sorotan dari berbagai pihak di Kabupaten Banyuwangi. Kecamatan Pesanggaran. Kegiatan survai lapangan isu lingkungan dan tumpang-tindih pertambangan dengan sektor kehutanan di Pegunungan Tumpang Pitu di atas didasarkan pemberitaan dan informasi di media mass berikut: 1) “Emas vs Potensi Agraris Banyuwangi. Jumat 27 Februari 2009. dan tabelisasi. Tim Isu Puslitbang tekMIRA menurunkan tim yang terdiri atas berbagai disiplin ilmu (tambang/ geologi. 19 April 2008. Pengolahan data menggunakan teknik kategorisasi. gold mine. dan masalah 2. wawancara berpanduan. Analisis data dilakukan secara deskriptif analitis. Berdasarkan hasil survai lapangan. and 5) in accordance with the regional autonomy policy. serta isu sosial ekonomi kemasyarakatan. Kecamatan Pesanggaran. Harian Kompas. 17 Mei 2009. dan surveyor). Inventarisasi data melalui teknik observasi. regional readiness. Provinsi Jawa Timur sebetulnya terletak kepada kesiapan daerah di dalam pengelolaan pertambangan. dan diskusi. but to persuade not to create a bigger problem and complex. Sabtu. UU 33/2004 and PP 38/2007. 2009 5) “Berebut Emas di Tumpang Pitu”. IMN) di Pegunungan Tumpang Pitu. sekembalinya Tim Isu Pertambangan Puslitbang tekMIRA dari lapangan. Detik Surabaya. Isu pertambangan di Kabupaten Banyuwangi tersebut memiliki bobot penting karena ada beberapa masalah. Berita Fajar FM. akar permasalahan dari mencuatnya isu pertambangan terkait potensi emas di Gunung Tumpang Pitu. Kabupaten Banyuwangi. Sedangkan dalam merekonstruksikan pemecahan permasalahan dan masukan bagi daerah didasarkan kepada pertimbangan-pertimbangan rasional dan berlandaskan kepada arah kebijakan pertambangan dan kebijakan lain yang terkait pada era otonomi daerah. dengan menggunakan berbagai parameter keilmuan dalam membahas permasalahan utama yang dikaji. Harian Kompas. Oleh karena itu. antara lain. Banyuwangi sesuai peraturan terkait. Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten 2 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . sosial ekonomi. METODOLOGI Secara umum metodologi yang digunakan adalah pendekatan multidisiplin ilmu. pertanian dan perkebunan). Kecamatan Pesanggaran. 2) “Masyarakat Banyuwangi Tolak Tambang Emas di Hutan Lindung Tumpang Pitu”. sebagai bahan masukan bagi daerah dalam mengelola sumber daya tambang yang ada di daerahnya. Banyuwangi. 16 Juni 2008 3) “Ribuan Penambang Emas Banyuwangi Diusir”. isu tumpang-tindih sektor pertambangan dengan sektor lain (kehutanan. 28 April. 4) “Penambang Emas Dadakan di Banyuwangi Capai 3 Ribu Orang”. it is required to set an office of mining and energy in managing mining operation in the region. kompilasi. Kecamatan Pesanggaran. Rabu.management of the business for the miners. Provinsi Jawa Timur dilakukan untuk menginventarisasi dan mengidentifikasi permasalahan mengenai isu lingkungan pertambangan tanpa izin (PETI) emas dan isu tumpang-tindih kegiatan PT. Data primer berupa hasil wawancara langsung dengan berbagai pihak yang terkait dengan permasalahan pengelolaan potensi emas di Gunung Tumpang Pitu. Penangkapan ini telah menyulut konflik antara aparat dan para PETI. sebagaimana dipilih sesuai judul tulisan ini. Kegiatan survai lapangan pemantauan isu pertambangan di Kabupaten Banyuwangi.

PT.Banyuwangi. IMN. 2) Koordinasi dan pendataan di Bappeda Kab. Bambang Yunianto 3 . dan masyarakat setempat. dokumentasi dan wawancara dengan gurandil. Pendataan di BPS Kabupaten Banyuwangi dengan Pak Ruslan Survai lapangan ke lokasi di Kecamatan Pesanggaran. Banyuwangi dengan Pak Mujiono. Sedangkan data sekunder berasal dari instansi terkait. Mengenai pelaksanaan kegiatan survai lapangan dari tanggal 20 – 25 April 2009 adalah: 1) Melakukan kegiatan koordinasi dengan Kepala Bagian Perekonomian (Pak Bambang Edi Sunaryo) dan Sekertaris (Bu Tri) tentang isu lingkungan PETI emas di pegunungan Tumpang Pitu di Kantor Pemda Kab. Pak Rudianto tentang isu Lingkungan 3) 4) 5) 6) 7) PETI emas. sedangkan dokumentasi survai lapangan dapat dilihat pada Lampiran Foto-Foto Survai Lapangan. para gurandil. Banyuwangi (Pak Gatot Sudjadi). IMN dan tata ruang (hutan lindung). Route survai lapangan tim isu pertambangan Puslitbang tekMIRA di Kabupaten Banyuwangi Permasalahan Pengelolaan Potensi Emas di Gunung Tumpang Pitu . Koordinasi dan diskusi denga PT. IMN yang diwakili Pak Hilman dan Pak Yuswardi. Survai ke lokasi PETI emas di sekitar pegunungan Tumpang Pitu. PT. Camat dan staf Kecamatan Pesanggaran. aparat keamanan yang bertugas di Gunung Tumpang Pitu. baik di tingkat Kabupaten Banyuwangi.. Banyuwangi (Distamben belum ada). Mengenai route survai lapangan lihat Gambar 1. Gambar 1. Koordinasi dan pendataan dengan Kepala TU Kantor Lingkungan Hidup Kab.. Kecamatan Pesanggaran serta informasi dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan mass media. Pak Wahyu Diyono. dan berkoordinasi dan diskusi dengan staf Kecamatan Pak Sujono dan Pak Sunoto.

Kontribusi komoditi getah damar sebesar 49 ton senilai Rp.45 ha. Biasanya emas ditemukan bersama logam lainnya seperti perak. pada lokasi 56 gurandil/ PETI (Pertambangan Tanpa Izin) beroperasi pada wilayah Perhutani diperkirakan meliputi luas sekitar 203. Jumlah ini. dan menjadikan kabupaten ini sebagai lumbung padi nasional. Potensi Tambang Cebakan emas di daerah Pesanggaran ditemukan berdasarkan pada pemboran eksplorasi sebanyak 14 lubang bor dengan kedalaman total 4. Dusun Ringinagung. seperti di Cikotok. Lumajang. keberadaan 3 KPH dan 3 TN tersebut secaraa riil telah memberikan kontribusi yang nyata bagi PAD kabupaten ini. 45 ha atau 116. Kontribusi sektor pertanian terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Banyuwangi (lebih dari 60%). ada juga emas plaser/ sekunder di sekitar lokasi emas primer tersebut.000. POTENSI TAMBANG DAN SEKTOR LAIN DI GUNUNG TUMPANG PITU 3.621.100 meter pada KP Eksplorasi PT.3 gram/ton.000 ton. Selain itu. PT. Kontribusi komiditi kopi yang berada di dalam kawasan hutan produksi sebesar 10. Berdasarkan hasil tracking Tim Isu Pertambangan Puslitbang tekMIRA sewaktu survai. Dokumen Amdal PT IMN telah disahkan oleh Tim Amdal Propinsi Jawa Timur. 77. 76.70 ton senilai Rp. Malang. Selain cebakan emas primer yang ditemukan. Data hasil kekayaan hutan non-kayu Banyuwangi pada tahun 2006 meliputi. hingga Juli 2009. cadangan bijih yang dieksplorasi mencapai 9.000. setelah disidangkan oleh Bapedalda Jawa Timur pada 26 Mei lalu. Keberadaan emas sekunder ini sebagian besar berada pada lahan Perhutani. TN Meru Betiri. Lembah Gunung Tumpang Pitu.600. Saat ini perusahaan menampung 125 warga menjadi buruh kasar. Eksplorasi itu meliputi kawasan hutan produksi seluas 736.1. IMN seluas 11. dan kadar logam-logam lainnya tidak ada datanya. IMN) PT. Pongkor. Banyumas.3. Berdasarkan studi kelayakan PT.000 dipulangkan 4 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . IMN meliputi kawasan Gunung Tumpang Pitu. andesit. KPH Banyuwangi Selatan.672.2.406/MENHUTVII/PW/2007 mengijinkan perusahaan melakukan eksplorasi selama 2 tahun. Gunung Wedi Ireng.000 orang (Gambar 3). 76. pada aliran Sungai Gonggo.2.8 ton. granodiorit dan dasit. tembaga. BKPH Sukamade.600.621. yakni TN Alas Purwo. Keberadaan 3 KPH dan 3 TN ini berhubungan erat sumber mata air dan sungai-sungai yang menjadi sumber irigasi bagi sektor pertanian dan perkebunan yang saat ini diunggulkan sebagai sektor penting bagi Kabupaten Banyuwangi. PETI/ Gurandil PETI/ gurandil beroperasi di Gunung Tumpang Pitu. Desa Pesanggaran.3 ha (Gambar 2). Kecamatan Pesanggaran. KONDISI KEGIATAN PERTAMBANGAN 4. Fenomena seperti ini sangat umum ditemukan di Pulau Jawa. Konsesi PT. Tepatnya pada Petak 75. padahal logam-logam tersebut memiliki nilai ekonomis bila sejak dini sudah diketahui nilai potensinya. Cebakan emas ditemukan dalam bentuk urat-urat kuarsa pada batuan volkanik yang diterobos oleh batuan intrusif berupa diorite.3 ha dan hutan lindung seluas 1. 3.6 miliar. setelah pada akhir bulan April 2009 sekitar 6. dan c.251. dan akan ditingkatkan statusnya menjadi KP eksploitasi.1.3 gr/ton. Kadar emas di daerah ini adalah 2. Kontribusi komiditi getah pinus sebanyak 2. Wonogiri. a. 77 dan 78 kawasan hutan tersebut. IMN merupakan perusahaan tambang emas yang modalnya swasta nasional. Sementara itu.2. Menurut RTRW Jatim 2020 kawasan tersebut telah ditetapkan sebagai kawasan resapan air katagori tinggi. Luas konsesi yang diberikan pemerintah sekitar 11. 4. yang penyebarannya mengikuti sungai-sungai tua pada jaman dahulu.21 km2. Pacitan. 30 liter per/ detik. Indo Multi Niaga (PT. memiliki andil dalam menopang ketahanan pangan nasional. 68. Gunung Macan dan kawasan lindung setempat. dan KPH Banyuwangi Utara).643 ton (BPS: 2007) atau setara dengan Rp.230. Banyuwangi. Potensi Sektor Lainnya Kabupten Banyuwangi dikelilingi 3 Taman Nasional (TN). Di samping itu. dan TN Baluran. 247. b. Kampung 56. Menteri Kehutanan melalui surat S. Pemkab Banyuwangi telah menyetujui rencana mengajukan permohonan alih fungsi kawasan hutan lindung dalam KPH Banyuwangi Selatan. kadar emas rata-rata 2. RPH Kesilir Baru. 78.000. 4. saat ini diperkirakan mencapai 3. kabupaten ini memiliki 3 Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) seperti Banyuwangi (KPH Banyuwangi Selatan. IMN.5 ha dipetak 75. Gunung Sumber Salak. KPH Banyuwangi Barat. Gunung Jatian. cadangan emas 320.

3 Ha). Desa Pesanggaran.. Kampung 56. Desa Pesanggaran. Konsesi PT. Dusun Ringinagung. Kampung 56. Banyuwangi Permasalahan Pengelolaan Potensi Emas di Gunung Tumpang Pitu . Bambang Yunianto 5 . lembah Gunung Tumpang Pitu. Dusun Ringinagung. Lokasi PETI/ Gurandil di Petak 56 (Luas Perkiraan 203.Gambar 2. Lembah Gunung Tumpang Pitu.. Banyuwangi Gambar 3. Kecamatan Pesanggaran. Kecamatan Pesanggaran. IMN dan lokasi aktivitas PETI/ Gurandil di Petak 56.

5. selain itu kedalaman Sungai Gonggo turut mengalami perubahan drastis. Jadi. dengan jarak antarlubang bor sepanjang 2 km.1. Pada umumnya. agar tingkat keyakinan geologisnya menjadi tinggi. Untuk itu. Isu kalau butiran seperti emas itu adalah logam jenis pirit (FeS2) perlu dicarikan kepastiannya. Pemkab Banyuwangi sudah mengambil beberapa sampel untuk diuji. maupun tanaman pertanian/ perkebunan masyarakat (petani magersari) sehingga harus dihentikan. namun. maupun tanaman pertanian/ perkebunan masyarakat (petani magersari). karena jumlah lubang bor yang dilakukan oleh PT. 6 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Dari pantauan sementara Tim Isu Puslitbang tekMIRA. Maraknya PETI telah menimbulkan kerusakan di Sungai Gonggo dan hutan jati. Perhutani dan pemilik izin ekplorasi emas PT. asosiasi logam-logam tersebut akan terbuang dengan percuma. yang akan berpotensi menimbulkan banjir dan longsor serta kerusakan hutan jati. Sampai saat ini. jarak antarlubang bor ini terlalu panjang. Sungai Gonggo mengalami pelebaran hingga tujuh meter dari lebar awalnya satu meter. mengingat potensi usaha pertambangan di daerah ini memperlihatkan prospek bila dikelola dengan baik. namun juga tersebar di daerah sekitarnya seperti Glenmore dan Bangorejo. Sedangkan. PETI yang dilakukan ribuan gurandil telah merusak lingkungan.2. Tidak tertutup kemungkinannya.5 meter. kadar logamlogam lainnya tidak ada datanya.21 km2. namun untuk memberi kesahihan data telah ditunjuk tim independen untuk melakukan uji laboratorium. logam-logam tersebut akan menjadi perolehan yang menguntungkan. Status cadangan untuk kategori perhitungan potensi cebakan emasnya belum tepat. Pemulangan itu dilakukan setelah Pemerintah Kabupaten Banyuwangi melakukan rapat koordinasi dengan muspida. Jadi. Dalam rangka memberi kepastian. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi harus mempersiapkan lokasi peruntukan lahan bagi sektor pertambangan. Keberadaan emas sekunder ini perlu dicermati untuk dieksplorasi lebih lanjut. terutama dalam pengelolaan Lingkungan. Dengan demikian. jarak lubang bor ini adalah 500 m. Dengan demikian tidak tertutup kemungkinan bahwa potensi penyebarannya juga terdapat di daerah-daerah tersebut. lokasi-lokasi PETI di Gunung Tumpang Pitu memang mengandung emas (perlu uji laboratorium). Rapat yang dipimpin langsung Bupati Banyuwangi Ratna Ani Lestari itu menyimpulkan PETI yang dilakukan ribuan gurandil tersebut telah merusak lingkungan. tepatnya di petak 79. PERMASALAHAN DAN PEMBAHASAN lahan usaha tambang dalam peta tata ruangnya. terutama pada petak 56 maupun 79 sebagai sampel wilayah-wilayah sekitarnya. ada juga emas plaser/sekunder di sekitar lokasi emas primer tersebut. tetapi juga akibat isu Lingkungan pertambangan PT. seperti pendulang emas asal Kalimantan. IMN. Beberapa pohon jati juga turut tumbang akibat aktifitas penambangan PETI secara tradisional tersebut.secara paksa oleh sekitar 190 personil aparat keamanan. hal ini menjadi tugas tersendiri bagi perusahaan tambang tersebut untuk melakukan uji laboratorium terhadap logam-logam tersebut. Secara umum. IMN relatif sedikit. Potensi Bahan Tambang Fenomena geologis di daerah eksplorasi tersebut tidak hanya tersebar di daerah Pesanggaran. Untuk meningkatkan status potensinya. 5. Lingkungan 5. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 4/2009. yakni hanya 14 buah untuk mengeksplorasi daerah seluas 116. IMN karena kurangnya transparansi dalam Publikasi berbagai kemajuan kegiatan. tembaga. dan berpotensi menimbulkan banjir dan longsor serta kerusakan hutan jati. emas ditemukan bersama logam lainnya seperti perak.3 gr/ton. Kadar emas di daerah ini adalah 2. setiap daerah harus mencadangkan wilayahnya untuk menggali potensi bahan galiannya. karena pada lokasi tersebut telah banyak gurandil yang betul-betul mendapatkan emas. agar dapat dimanfaatkan sebagai lahan usaha bagi masyarakat setempat dalam bentuk Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR). Sulawesi. apabila sejak dini sudah diketahui nilai potensinya. masih diperlukan pemboran eksplorasi yang lebih banyak lagi. agar perhitungan operasi penambangannya dapat dilakukan dengan tepat. Selain cebakan emas primer yang ditemukan. Nabire dan Bandung. di kabupaten ini belum dialokasikan Isu lingkungan terkait kegiatan pertambangan di Gunung Tumpang Pitu tidak hanya diakibatkan oleh kegiatan PETI/ gurandil saja. Ini berarti bahwa kelak saat operasi penambangan emas ini berlangsung. status ‘cadangan’nya perlu direvisi. Permasalahan ini harus segera diselesaikan. awalnya hanya setengah meter kini berubah menjadi 1.

berbagai isu Lingkungan yang diakibatkan PT. sejatinya Sidang Amdal yang diselenggarakan dan dipimpin oleh Komisi Amdal Propinsi/Bapedalprop Jatim tidak sah. Kurva Hijau. perwakilan Mapolsek Pesanggaran. kewenangannya berada di tangan Deputi Bidang Amdal Kementerian Negara Lingkungan Hidup.. dan merekalah pihak pertama yang akan merasakannya. karena pihak pemrakarsa tidak membuat pengumuman tentang rencana Sidang Amdal yang layak dan mencukupi. g. b. dan Dewan Rakyat Jalanan untuk Demokrasi (Derajad). 11 tahun 2006 tersebut. Amdal yang dibuat oleh PT IMN sebagai pemrakarsa adalah dokumen Amdal yang tidak layak dan harus ditolak.4 tentang “Peta Rencana Tata Letak Kegiatan” dapat dilihat dengan jelas bahwa tailing (limbah tambang) akan dibuang ke laut. Bahkan hingga kini pun belum terlihat kemauan pemrakarsa untuk mengumumkan secara terbuka tentang Sidang Revisi Amdal. Keterbukaan informasi menjadi sesuatu yang logis untuk dimiliki oleh warga Pancer karena dampak apapun dari pertambangan tersebut jelas-jelas akan berpengaruh langsung kepada mereka. karena tidak ada satu pun dokumen Amdal yang dibagikan kepada warga Dusun Pancer. Beberapa butir yang dijadikan dasar penolakan AMDAL PT. perwakilan Makoramil Pesanggaran. Amdal yang dibuat oleh PT IMN sebagai pemrakarsa adalah dokumen Amdal yang tidak layak dan harus ditolak. karena tidak ada satu pun dari peta yang termuat di dalamnya yang menampakkan keberaradaan Pulau Permasalahan Pengelolaan Potensi Emas di Gunung Tumpang Pitu .. Bambang Yunianto 7 . pada gambar 2. Pembuangan tailing ke laut ini. antara lain: a. Amdal yang dibuat oleh PT IMN sebagai pemrakarsa adalah dokumen Amdal yang tidak layak dan harus ditolak. Dalam acara tersebut tidak ada itikad baik dari pemrakarsa untuk menjelaskan apa itu sianida? Apa saja dampaknya? Dan apa yang membuat pemrakarsa yakin bahwa sianida aman? f. IMN dapat ditunjukkan berdasakan surat penolakan AMDAL oleh Masyarakat Banyuwangi yang tergabung dalam Komunitas Pecinta Alam Pemerhati Lingkungan (Kappala Indonesia) region Banyuwangi. Sidang Amdal tersebut di atas merupakan sidang yang tidak adil. Dengan demikian. d. karena tidak sesuai dengan Peraturan Meneg LH no. 11 tahun 2006. Warga Pancer tidak diberi kecukupan waktu untuk mempelajari Amdal tersebut. sehingga warga tidak memiliki kesiapan untuk berdialog dengan pihak yang terkait. Warga pun tidak punya kecukupan waktu untuk memilih pihak yang menurut warga memiliki kompetensi untuk mendampinginya dalam mengikuti Sidang Amdal. Dalam Dokumen Andal yang dibuat oleh PT IMN. perwakilan TNI AL. 11 tahun 2006. Padahal keterbukaan informasi ini penting sebagai tolok ukur tinggi-rendahnya itikad baik dari pemrakarsa rencana pertambangan maupun pemkab dan pemrop. bukan di tangan Komisi Amdal Propinsi/Bapedalprop Jatim. Hal ini menunjukkan minimnya kemauan Pemprop Jatim dan Pemkab Banyuwangi untuk melakukan penguatan terhadap rakyatnya. Dimana penolakan tersebut telah mereka sampaikan dalam acara Sosialisasi Penambangan Emas HLGTP yang diselenggarakan pada 12 Maret 2008 lalu di Balai Dusun (dihadiri oleh perwakilan Pemkab Banyuwangi. IMN tersebut. terutama pakar. e. PT IMN telah melakukan kebohongan publik dengan menyatakan kepada seluruh hadirin bahwa merkuri berbahaya sementara sianida aman. dan Camat Pesanggaran). Penolakan tersebut juga telah disuarakan oleh 5 (lima) orang utusan Warga Pancer yang menghadiri Sidang Amdal tanggal 26 Mei 2008 di Surabaya. Berdasarkan Peraturan Meneg LH no. Semenjak awal bergulirnya rencana penambangan emas di HLGTP oleh PT IMN. sehingga warga tidak memiliki informasi mengenai Amdal. Komisi Amdal Propinsi/Bapedalprop Jatim tidak berwenang menilai Amdal PT IMN. penilaian Amdal dari sebuah rencana pertambangan yang menggunakan STD seperti halnya PT IMN tersebut. karena dalam Presentasi Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan (KA-Andal) yang bertempat di ruang Minakjingga Pemkab Banyuwangi pada tanggal 30 Januari 2008. c. dalam Lampiran Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup nomor 11 tahun 2006 tentang Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup disebut sebagai Submarine Tailing Disposal (STD). Warga Pancer telah menolak rencana tersebut. Berdasarkan Peraturan Meneg LH no.

dan kawasan hutan lindung setempat. 77 dan 78 kawasan hutan tersebut. termasuk sektor perikanan bila pembuangan tailing dilakukan di dasar laut. Gunung Sumber Salak. Menurut Tim Isu Puslitbang tekMIRA. yang berfungsi sebagai daerah penyangga. 77. Sosial Ekonomi Masyarakat Isu social terbagi dua. Pemkab Banyuwangi telah menyetujui rencana mengajukan permohonan alih fungsi kawasan hutan lindung dalam KPH Banyuwangi Selatan. berhubungan erat sebagai sumber mata air dan sungai-sungai yang menjadi sumber irigasi bagi sektor pertanian dan perkebunan yang saat ini diunggulkan sebagai sektor penting bagi Kabupaten Banyuwangi. Tidak adanya Pulau Merah di semua peta yang terdapat dalam dokumen Andal tersebut mencerminkan keteledoran PT IMN. PT IMN mendapat izin kuasa eksplorasi emas dikawasan hutan dari Menteri Kehutanan MS Kaban nomor . serta menggambarkan rendahnya kepedulian PT IMN terhadap area penting seperti Pulau Merah. hingga Juli 2009. Dokumen Amdal PT IMN telah disahkan oleh Tim Amdal Propinsi Jawa Timur. bagian yang tidak terpisahkan dari 3 KPH dan 3 TH. yaitu Petak 75. Kawasan Eksplorasi itu meliputi kawasan hutan produksi seluas 736. Berapa aktivitas ekonomi masyarakat yang akan terganggu (misal pertanian. IMN vs Rakyat). perkebunan. Gunung Wedi Ireng. Sebagai kawasan penyangga. Menteri Kehutanan melalui surat S. Gunung Sumber Salak. perkebunan. Eksplorasi itu meliputi kawasan hutan produksi seluas 736. Tumpang-tindih antar Sektor Konsesi PT IMN di Tumpang Pitu meliputi areal seluas 11. 76. 77.3 ha dan hutan lindung seluas 1. pertanian dan perkebunan rusak akibat terinjak-injak ataupun rusak karena ditambang.3 ha dan hutan lindung seluas 1. Gunung Jatian. Berbagai persoalan tersebut tidak perlu langsung ditanggapi apreori. dan kawasan hutan lindung setempat. Gunung Macan. Gunung Tumpang Pitu memiliki kaitan erat dengan aktivitas penduduk di sekitarnya. Kawasan Gunung Tumpang Pitu merupakan kawasan hutan lindung dan hutan produksi. 5.406/MENHUTVII/PW/2007 mengijinkan perusahaan melakukan eksplorasi selama 2 tahun. RPH Kesilir Baru. tambang emas yang dibangun oleh PT IMN di Tumpang Pitu memakan areal seluas 11. 76. BKPH Sukamade. IMN terhadap berbagai aktivitas mata pencaharian masyarakat di sekitar proyek. Gunung Jatian.5 ha dipetak 75. dan kekhawatiran penggunaan air raksa yang akan mencemari lingkungan (darat dan perairan) bila tidak ditangani dengan serius. dan isu utama beberapa unjuk rasa mengenai lingkungan hidup perlu dijadikan barometer dalam memahami berbagai persoalan lingkungan pertambangan di Gunung Tumpang Pitu dan sekitarnya.621 ha yang meliputi kawasan Gunung Tumpang Pitu. Isu dampak sosekbud PT. semakin meresahkan warga.251. IMN maupun PETI/ Gurandil dan isu kesamaan hak atas sumber daya bahan tambang (PT. perkebunan dan nelayan. yaitu isu dampak sosekbud PT. Gunung Wedi Ireng. Dampak sosekbud PETI/ Gurandil terutama akibat rusaknya lingkungan. setelah disidangkan oleh Bapedalda Jawa Timur pada 26 Mei lalu.3. IMN. berbagai informasi mengenai penolakan terhadap kegiatan pertambangan di kawasan Gunung Tumpang Pitu di atas. Gunung Macan. KPH Banyuwangi Selatan.4. BKPH Sukamade. 78. terkesan memberi sinyal ditingkatkannya status PT IMN dari eksplorasi menjadi eksploitasi. Konflik kepentingan antara sektor pertambangan dengan sektor kehutanan. IMN terkait dengan dampak kegiatan PT.5 ha dipetak 75. Pengesahan Dokumen Amdal PT IMN oleh Tim Amdal Propinsi Jawa Timur dan kedatangan Mentri Kehutanan MS Kaban di Banyuwangi. Sementara itu. Sebelumnya. KPH Banyuwangi Selatan.Merah. 78. Petak 56 dan Petak 79 masuk dalam wilayah konsesi PT. yaitu: 1) Sejumlah Petani dan Nelayan Banyuwangi Jawa Timur ke Jakarta mendesak agar 8 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . dan perikanan tersebut perlu dipertimbangkan positif dan negatifnya.406/MENHUT_vii/ PW/2007 tertanggal 27 Juli 2007. pertanian. sungai yang dimanfaatkan untuk irigasi. 5. Unjuk rasa beberapa komponen masyarakat terhadap kegiatan pertambangan dapat dijadikan barometer bagi pengembangan kegiatan pertambangan di daerah ini. RPH Kesilir Baru. tetapi perlu didudukan secara proporsional pada sumber akar persoalannya.251. perikanan) dan bagaimana proses pengelolaannya.621 hektar yang meliputi kawasan Gunung Tumpang Pitu. Sedangkan wilayah yang ditambang oleh PETI. seperti pertanian. koordinator Koalisi Tolak Tambang di Tumpang Pitu (KT3P). Sementara itu. 76.

diperlukan kesiapan daerah (Pemerintah Kabupaten Banyuwangi) dalam mengelola potensi emas di Gunung Tumpang Pitu. 3) Kunjungan Rombongan Dirjen Planologi Departemen Kehutanan ke lokasi penambangan emas tradisional di lereng Gunung Tumpang Pitu Kampung 56 Dusun Wringin Agung Desa/Kecamatan Pesanggaran.. Lingkungan pertambangan. IMN. Di samping itu. karena kalau tidak ditempatkan pada koridor yang semestinya. kalau pelarangan PETI/ Gurandil karena merusak Lingkungan dan tidak berizin sehingga tidak ada pemasukan bagi pemda. Kabupaten Banyuwangi. yang dianggap telah telah melakukan ketidakadilan informasi terhadap masyarakat terkait aktifitas PT IMN di Gunung Tumpang Pitu karena tidak transparan. sesuai pasal 33 UUD 45 dapat menjadi pemicu isu-isu lainnya di kawasan tersebut. Masalah tersebut terkait dengan pertanyaan mendasar. Bappeda dan Kantor Lingkungan Hidup menyebabkan persoalan pertambangan tidak tertangani secara optimal. diwarnai aksi penghadangan oleh ratusan massa anti tambang. ada kesan dalam menangani setiap persoalan PETI/ Gurandil dilakukan dengan cara-cara represif. Banyuwangi. maka Pemda Kabupaten Banyuwangi seharusnya menyiapkan WPR sebagai wadah menampung aspirasi rakyat dalam kegiatan pertambangan dengan beberapa tahap berikut: 1) Secepatnya meminimalkan daerah operasi PETI/ gurandil untuk mengurangi dampak Lingkungan. saat ini dengan persoalan pertambangan yang komplek ditangani oleh Pemda Bagian Perekonomian. pembinaan dan pengawasan teknis penambangan. mengecam pertemuan antara Dirjen Planologi Departemen Kehutanan dan PT Indo Multi Niaga (IMN) serta pihak terkait lainnya di Pendopo Banyuwangi. IMN diperbolehkan melakukan aktivitas di kawasan hutan lindung. tumpang tindih dengan sektor lain. dengan dampak yang dapat Permasalahan Pengelolaan Potensi Emas di Gunung Tumpang Pitu . Pertanyaan ini berlanjut dengan masalah. 3) Melakukan kajian eksplorasi terhadap daerah yang disiapkan untuk WPR dan menyiapkan perizinannya dengan wadah badan usaha Koperasi. Bambang Yunianto 9 . 4) Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Peduli Lingkungan (AMMPeL). Berbagai persoalan yang mendasar tersebut timbul. cara-cara represif justru akan menimbulkan persoalan baru yang lebih besar. Mereka mendesak pemerintah mencabut ijin petambangan dan AMDAL tambang emas PT Indo Multi Niaga (IMN) yang cacat dan menolak ijin pinjam pakai penggunaan hutan. kalau PT. IMN vs PETI/ Gurandil) merupakan isu penting. kesamaan hak atas sumber daya alam antara PT. berdasarkan kasus-kasus di beberapa daerah. 2) Puluhan ribu warga yang tinggal sepanjang Rajekwesi sampai Muncar .Banyuwangi akan terancam hidupnya. 6. KESIMPULAN DAN TINDAK LANJUT Berdasarkan pembahasan terhadap ke-empat isu potensi dan kegiatan pertambangan emas di Gunung Tumpang Pitu di atas (isu potensi emas. dengan persuasif menjaga wilayah operasi PETI/ gurandil tersebut. 2) Bila kegiatan pertambangan lebih menguntungkan. karena Pemda Kabupaten Banyuwangi kurang cepat dalam menanganinya sebagai akibat belum adanya kantor/ dinas pertambangan yang seharusnya bertanggung jawab terhadap persoalan pertambangan di daerah. IMN dan masyarakat penambang. kenapa rakyat dilarang di kawasan hutan produksi. Padahal. 4) Menyiapkan bimbingan.dihentikan kegiatan PT. dan sektor lain terkait fungsi hutan sebagai penyimpan sumber daya air sektorsektor pertanian dan perkebunan. Kesiapan daerah dalam mengelola potensi emas di Gunung Pitu tersebut meliputi beberapa tahap kegiatan berikut: 1) Perlu ada kajian mengenai keuntungan dan kerugian (cost benefit analysis) antara kegiatan pertambangan dengan sektor kehutan.. Untuk memberi rasa keadilan. lingkungan dan manajemen usaha bagi penambang rakyat. bagaimana seharusnya. dan isu sosekbud). Mengenai isu kesamaan hak dalam pemanfaatan bahan tambang (PT. yang secara tingkatan fungsi hutan lebih rendah. setiap ada persoalan masing-masing saling menunggu dan bagi-bagi tanggung jawab/ peran. 2) Menyiapkan Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) pada daerah-daerah di lembah Gunung Tumpang Pitu yang memiliki kandungan emas alluvial. termasuk perikanan mendesak dihentikannya rencana pengerukan emas di hutan lindung Tumpang Pitu. Kecamatan Pesanggaran. Perlu dipahami.

6 15. dan sungaisungai bagi sektor pertanian dan perkebunan.6 20. dan wilayah yang berpotensi emas sekunder/ alluvial dialokasikan sebagai Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) untuk mewadahi aspirasi rakyat/ masyarakat dalam kegiatan pertambangan.9 15. Indah Multi Niaga 10 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .8 53.00" dan titik 15 seharusnya 36’.2 30.6 53. IMN perlu memberi penjelasan yang ilmiah mengenai potensi emas primer maupun emas sekunder/ alluvial di dalam wilayah konsesinya di Gunung Tumpang Pitu. PETI Emas di Sulawesi Utara.4 51. 4) PT. ada beberapa hal yang perlu diklarifikasi: wilayah konsesi. terutama terkait fungsi hutan lindung sebagai sumber mata air.2 36. sedangkan pengalokasian WPR diatur pasal 20-26 UU No. perlu dilakukan pembatasan wilayah konsesi untuk meminimalkan dampak lingkungan. 5) Dalam menangani persoalan PETI/ Gurandil seyogyanya tidak menggunakan cara-cara represif.00") yang bisa fatal karena sebagai batas wilayah konsesi (Tabel 1). maka perlu dilakukan pembatasan kembali wilayah PT.7 8. tetapi harus dengan persuasive. Kapur di Padalarang Jawa Barat. karena kasus-kasus semacam ini (PETI Emas Pongkor.4 29. 3) Berdasarkan kajian terhadap AMDAL PT.4 58. IMN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 113 113 113 113 113 113 113 113 114 114 114 114 114 114 114 114 114 114 114 114 56 56 57 57 57 57 59 59 1 1 2 2 4 4 4 4 3 3 0 0 45.2 17. IMN (relinquish) dari tahap eksplorasi ke tahap eksploitasi. 6) Dalam pengalokasian WPR perlu dilakukan kegiatan inventarisasi potensi bahan galian Tabel 1. dalam kajian AMDAL perlu diperjelas mengenai rencana pembuangan limbah.4 36.4 51.8 2.8 16.4 45.7 58.4 20. dan perlu dilakukan secara transparan.6 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 37 35 35 34 34 33 33 32 32 32 32 35 35 38 hrs-nya 36 38 hrs-nya 36 38 38 39 39 37 16.9 19. Koordinat Wilayah Kuasa Pertambangan PT.9 3.8 hrsnya 00 11.8 hrsnya 00 12.2 37. batas wilayah yang terdapat pada tabel titik koordinat terdapat kesalahan pada titik 14 dan 15 (koordinat y garis lintang/ LS untuk titik 14 seharusnya 36’. 4/2009.4 17. Mengenai tahap eksplorasi diatur dalam pasal 42-45 UU No.8 Sumber: ANDAL Pertambangan PT.4 29. dan rencana pengelolaannya. kajian terhadap kegiatan di sekitar proyek perlu diperluas dan diperdalam sehingga dapat memberi gambaran yang valid mengenai keadaan yang sebenarnya.4 58. serta kandungan mineral ikutan emas berdasarkan hasil laboratorium yang terakreditasi.7 2.7 11. dan lainnya) kalau ditangani secara represif akan menimbulkan persoalan baru yang lebih besar.2 3. 4/2009. IMN.8 30. wilayah konsesi.2 19.8 58. PETI Batubara di Kalimantan Selatan.6 12.diminimalkan dibanding kerugian yang akan terjadi terhadap sektor-sektor nonpertambangan.6 8.9 57 57 37.

7) Setelah Pemda Kabupaten Banyuwangi mengalokasikan WPR. 2008. 2009. 2007. 33 Tahun 2004. PT. Detik Surabaya. Berita Fajar. Harian Kompas. BPS Kabupaten Banyuwangi. PT. Rencana Penambangan Emas DMP di Desa Sumber Agung. Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) Rencana Penambangan Emas DMP di Desa Sumber Agung. Harian Kompas. Potensi pertambangan di Gunung Tumpang Pitu dan Pulau Batu Merah. Kabupaten Banyuwangi. Kabupaten Banyuwangi. ANDAL PT. Rencana Umum Tata Ruang Kota dengan Kedalaman Rencana Detail Tata Ruang Kota Pesanggaran. 2009. “Berebut Emas di Tumpang Pitu”. 2008. UU No. Bappeda Kabupaten Banyuwangi. Indo Multi Niaga. maka perizinan perlu disiapkan dan perlu dilakukan pembinaan dan pengawasan. 2008. 2008. 28 April. Indo Multi Niaga. Banyuwangi. Provinsi Jawa Timur. 2009. 38 Tahun 2007. dan PP No. Indo Multi Niaga. PT. Provinsi Jawa Timur. 2008. 16 Juni 2008 Harian Kompas. Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Banyuwangi 2007-2027 (Album Peta/ Gambar). Kecamatan Pesanggaran. Provinsi Jawa Timur. BPS Kabupaten Banyuwangi.emas sekunder pada wilayah-wilayah yang potensial dan dampaknya dapat diminimalkan. Bambang Yunianto 11 . Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) Rencana Penambangan Emas DMP di Desa Sumber Agung. Kecamatan Pesanggaran Dalam Angka Tahun 2007. Selasa. lingkungan maupun dalam manajemen berusaha. 2005. Kecamatan Pesanggaran. Kabupaten Banyuwang Dalam Angka Tahun 2008. Jakarta 2008. 19 April 2008. Indo Multi Niaga. Kecamatan Pesanggaran. Senin. Jumat 27 Februari 2009. Harian Kompas. maka perlu dibentuk kantor/ dinas pertambangan dan energi yang tugasnya mengelola kegiatan pertambangan di daerah. baik dalam hal teknis penambangan. Jakarta 2008 (Laporan Akhir). Kabupaten Banyuwangi. Indo Multi Niaga. Sebentuk Kanibalisasi antar Potensi”.. Kecamatan Pesanggaran. 2008. DAFTAR PUSTAKA Bappeda Kabupaten Banyuwangi. sesuai kebijakan otonomi daerah yang tertuang dalam UU No. Sabtu. Indo Multi Niaga Rencana Penambangan Emas DMP di Desa Sumber Agung. Kecamatan Pesanggaran. Lampiran ANDAL PT. 32 tahun 2004.. Tim Isu Puslitbang tekMIRA. Bappeda Kabupaten Banyuwangi. Bappeda Kabupaten Banyuwangi. Provinsi Jawa Timur. 2008. “Ribuan Penambang Emas Banyuwangi Diusir”. 2009. Rabo. “Masyarakat Banyuwangi Tolak Tambang Emas di Hutan Lindung Tumpang Pitu”. “Emas vs Potensi Agraris Banyuwangi. Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Banyuwangi 2005-2015 (Laporan Rencana). 17 Mei 2009. PT. BPS Kabupaten Banyuwangi. Bahan Presentasi Kabid Fisik dan Prasarana Wilayah. 8) Untuk menangani berbagai permasalahan pertambangan di Kabupaten Banyuwangi. Harian Kompas. 2008. 2009. Detik Surabaya. Jakarta 2008. Berita Fajar FM. 2009. PDRB Kabupaten Banyuwangi Tahun 2008. Foto-foto dokumentasi survai di perkantoran dan dokumentasi PETI di Gunung Tumpang Pitu. 2009. 2005. “Penambang Emas Dadakan di Banyuwangi Capai 3 Ribu Orang”. Kabupaten Banyuwangi. Jakarta 2008. Harian Kompas. Permasalahan Pengelolaan Potensi Emas di Gunung Tumpang Pitu .

LAMPIRAN FOTO-FOTO SURVAI LAPANGAN 12 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .

..Permasalahan Pengelolaan Potensi Emas di Gunung Tumpang Pitu . Bambang Yunianto 13 .

14 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .

Permasalahan Pengelolaan Potensi Emas di Gunung Tumpang Pitu .. Bambang Yunianto 15 ..

One of quality parameter of producer gas to be used for internal combustion like diesel engine is the content of tar and particulate. metoda analisis ABSTRACT In relation to increase and diversify the utilization of coal.500 dan 4. The installed apparatus is tested for determining the content of tar and particulate of producer gas resulted from coal gasification. Cirebon. Jln. (022)6030483. ter. ceramic filter to separate particulate. heat exchanger and condense bottle to absorb moisture and impinge bottle to absorb tar in the producer gas sample. Salah satu parameter kualitas producer gas untuk digunakan pada sistem pembakaran internal seperti mesin diesel adalah kadar ter dan partikulat. The coal 16 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Pengembangan lebih lanjut diharapkan difokuskan pada standarisasi dan uji pembanding Round Robin test dan analisis sistem on-line langsung ke komputer untuk mengetahui secara langsung komposisi producer gas.id.go. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengembangkan metoda sampling dan analisis kadar ter dan partikulat dalam producer gas dari batubara.PENGEMBANGAN METODE ANALISIS TER DAN PARTIKULAT DALAM PRODUCER GAS DARI BATUBARA Slamet Suprapto dan Nurhadi Puslitbang tekMIRA. The purpose of this research is to develop sampling and analysis method for determination tar and particulate contents in producer gas from coal. Palimanan. penyaring keramik untuk memisahkan partikulat.esdm. Telp.500 kal/g.esdm. Research and Development Center for Mineral and Coal Technology is developing utilization of producer gas resulted from coal gasification for diesel powered electric generation using dual fuel system at Coal Technology Center.go. Metoda ini belum distandarisasi karena tidak tersedianya gas standar. Peralatan yang telah terangkai kemudian diujicoba untuk menentukan kadar ter dan partikulat dalam producer gas produk gasifikasi. partikulat. heat exchanger dan botol kondensasi untuk mengasorbsi lengas dan botol impinger untuk mengadsorbsi ter dalam contoh producer gas. 623 Bandung. Pengujian metoda sampling dan analisis terhadap producer gas hasil gasifikasi batubara tersebut menunjukkan kadar ter dan partikulat yang cukup rendah yaitu <100 mg ter/Nm3 dan <50 mg partikulat/Nm3 dan sudah memenuhi persyaratan untuk bahan bakar mesin diesel. producer gas. Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara sedang mengembangkan pemanfaatan producer gas hasil gasifikasi batubara untuk pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) sistem dual fuel di Sentra Teknologi Pemanfaatan Batubara. Batubara yang digunakan berasal dari Kalimantan Selatan yang mempunyai nilai kalor 5. This method used apparatus which consists of iso-kinetic nozzle equipped with heater to take sample of producer gas. Jend. Sudirman no. nurhadi@tekmira. Metoda ini menggunakan peralatan yang terdiri atas nozzle isokinetik yang dilengkapi heater untuk mengambil contoh producer gas.id SARI Dalam rangka meningkatkan dan mendiversifikasikan pemanfaatan batubara. Percobaan pengoperasian mesin diesel menggunakan sistem dual fuel menunjukkan kinerja yang baik dan tidak terdapat endapan ter dan partikulat dalam ruang bakar mesin diesel. Fax: (022) 6003373 email: slamets@tekmira. Palimanan Cirebon. Kata kunci: gasifikasi batubara.

Metode analisis komposisi gas hasil gasifikasi biomassa maupun batubara umumnya menggunakan kromatografi gas. Ward. 1981. producer gas dari biomassa telah digunakan untuk mesin pembakaran internal (internal combustion engine) seperti mesin gas (gas engine) dan mesin diesel dual fuel secara komersial di banyak negara. particulate. Gas ini termasuk gas kalori rendah (low calorie gas) dengan nilai kalor <200 Btu/ft3 (<1780 kkal/m3). gas alam sintetik (synthetic natural gas. Proses gasifikasi menggunakan pereaksi hidrogen juga dapat menghasilkan gas alam sintetik yang mempunyai nilai kalor sekitar 1000 Btu/ft3 dan termasuk gas kalori tinggi (high calorie gas) (Elliot. Oleh karena itu. Producer gas juga dapat dihasilkan dari proses gasifikasi bahan karbonan (carbonaceous matter) lainnya seperti biomassa (Anonymous. The results show that the content of tar and particulate are <100 mg of tar/m3 and <50 mg of particulate/m3 respectively which correspond with the requirement of producer gas as fuel for dual fuel diesel engine. 1984). analysis method 1. serta pengotor N 2 mencapai sekitar 50%. This method has not been standardized yet because standard reference gas is not available yet. Proses gasifikasi batubara yang saat ini berkembang dengan maju adalah proses konversi batubara dalam sebuah reaktor dengan menggunakan pereaksi. Gas Lurgi merupakan gas kalori menengah (medium calorie gas) dengan nilai kalor antara 200-400 Btu/ft3. The operation of diesel engine using dual fuel system shows good performance and there were no tar and particulate deposit in the combustion chamber. syngas) dengan komponen utama CO dan H2. Francis. Cirebon. Gas sintesis dapat diproses lebih lanjut melalui proses metanasi untuk mendapatkan gas SNG (Synthetic Natural Gas. Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara bekerjasama dengan PT PLN (Persero) dan PT Coal Gas Indonesia sedang mengembangkan pemanfaatan producer gas dari batubara untuk pembangkit listrik tenaga diesel dengan membangun pilot plant di Sentra Teknologi Pemanfaatan Batubara tekMIRA. Proses gasifikasi menggunakan pereaksi campuran oksigen/uap air menghasilkan produk gas yang disebut gas Lurgi dengan komponen utama berupa CO dan H2 dan sedikit gas-gas hidrokarbon. Sedangkan metode analisis kadar ter dan partikulat dalam producer gas hasil gasifikasi biomassa juga baru dikembangkan di beberapa negara Eropa. Substitute Natural Gas) dengan komponen utama CH4. Perbedaan proses gasifikasi biomassa yang menghasilkan producer gas untuk mesin Pengembangan Metode Analisis Ter dan Partikulat dalam Producer . Palimanan. Batubara dari berbagai jenis dan peringkat dapat dikonversikan menjadi gas secara komersial. tar. 1981. serta pengotor. producer gas.500 cal/g. Kalau pada awalnya gasifikasi batubara hanya menghasilkan producer gas (gas bakar) dan gas kota. perlu dikembangkan metoda analisis ter dan partikulat dalam producer gas dari batubara. penggunaan gas alam untuk mesin diesel dual fuel gas sudah dilakukan di Tarakan.. Kalimantan Timur. Apabila gas Lurgi tersebut dimurnikan maka dihasilkan gas sintesis (synthesis gas. Slamet Suprapto dan Nurhadi 17 . TINJAUAN PUSTAKA Proses konversi batubara menjadi gas yang dikenal dengan istilah gasifikasi batubara sudah berkembang dengan maju.. Sehubungan dengan hal tersebut di atas. 1965. Proses gasifikasi menggunakan pereaksi udara dan uap air menghasilkan gas yang disebut producer gas dengan komposisi terdiri atas gas mampu bakar (combustible gas) CO dan H2 dan dan sedikit gas hidrokarbon seperti CH 4. PENDAHULUAN 2.500 and 4.used comes from South Kalimantan which have calorific values of 5. 1986) dan dengan pereaksi campuran udara/uap air. Sementara itu. Keywords : coal gasification. Nowacki. SNG) dan bahan baku industri kimia. tetapi sekarang bisa berupa gas sintesis. Further development needs to be focused on standardization and on-line system connected to computer which can show the composition of producer gas directly. Peresmian pengoperasian pilot plant tersebut telah dilakukan pada tanggal 19 Maret 2008. Di Indonesia. Untuk mendukung kegiatan pilot plant tersebut diperlukan perlatan dan metoda analisis producer gas yang dapat menentukan komposisi dan kadar kadar ter dan partikulat. Produk gas yang dihasilkan proses gasifikasi batubara tergantung pereaksi yang digunakan.

Pembuatan Peralatan Tahap awal dari pengembangan metoda adalah pembuatan peralatan sampling dan analisis sesuai dengan peralatan yang digunakan untuk sampling dan analisis producer gas yang dikembangkan di Eropa. Uap air dan sebagian 18 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Alat sampling tersebut berupa nozzle isokinetik yang dipasang pada pipa aliran gas dan dilengkapi pitot tube dengan dimensi tertentu. Penggunaan tersebut mencapai puncaknya selama masa Perang Dunia II terutama dilakukan oleh Jerman untuk menjalankan kendaraankendaraan perangnya. Pipa teflon dicelupkan dalam air suling sedalam 15 mm. belum ada prosedur standar untuk menentukan kadar ter dan partikulat dalam producer gas. di daerah-daerah terpencil di banyak negara misalnya Pilipina. Bahkan Energy research Center of the Netherlands (ECN) Belanda mengembangkan prosedur tersebut menjadi standar untuk kawasan Eropa dengan mengadakan Round Robin test. 1998. 3. Oleh karena itu. Skema pemasangan nozzle pada pipa aliran produk gas hasil gasifikasi batubara dapat dilihat pada Gambar 1. Disamping itu. pada pipa aliran contoh gas dipasang pemanas suhu 200ºC agar ter tidak mengembun dan menempel pada nozzle dan pipa sirkulasi. Prinsip dasar metode tersebut adalah sampling dan analisis aliran producer gas yang mengandung ter dan partikulat secera on-line dengan menggunakan peralatan yang terdiri atas nozzle isokinetik dan penangkap ter dan partikulat. Air dan tar yang mengembun kemudian dilewatkan pada pipa teflon untuk dialirkan ke dalam botol kondensasi. Turare). Sampai sekarang.1. Penggunaan producer gas hasil gasifikasi biomassa untuk mesin diesel pembangkit listrik maupun kendaraan telah dimulai sejak awal abad 20. Mesin-mesin pembakaran internal normalnya dirancang untuk menggunakan bahan bakar bensin atau solar yang relatif bersih dibanding producer gas. kadar ter dan partikulat yang masih dapat ditoleransi untuk bahan bakar mesin pembakaran internal adalah adalah sebagai berikut (Anonymous. 3. Penyaring keramik tersebut memiliki rongga-rongga 3 mikron. Sedangkan gasifikasi batubara menggunakan reaktor sistem updraft sehingga produk gas mengandung lebih banyak ter. yakni batubara dimasukkan dari atas dan gas dikeluarkan dari bawah reaktor sehingga ter biomassa mengalami perekahan (cracking) menjadi molekul gas. Eropa maupun Amerika Serikat masih ditemukan bus atau traktor bermesin diesel sistem dual fuel dengan bahan bakar solar dan producer gas (Anonymous. Anonymous. scrubber dan pendingin. Selanjutnya.pembakaran internal dan proses gasifikasi batubara yang digunakan di pilot plant pemanfaatan gasifikasi batubara untuk PLTD adalah pada reaktor dan sistem pemurnian gas. kadar ter dalam relatif rendah dan unit pemurniaan gas yang digunakan untuk gasifikasi biomassa cukup hanya terdiri atas siklon. Prosedur Analisis Ter dan Partikulat Setelah peralatan sampling dan analisis terpasang kemudian contoh gas dialirkan melalui nozzle dan penyaring keramik. yakni tar electrostatic precipitator. Unit penangkap ter tersebut cukup efektif sehingga kadar ter dalam producer gas memenuhi syarat untuk penggunaan mesin diesel. kadar ter dan partikulat ditentukan berdasarkan gravimetri. Ujung teflon berbentuk lobang-lobang dengan diameter 1 mm sebanyak 20 buah.2. Contoh gas didinginkan dalam chiller yang terbuat dari gelas dan menggunakan air pendingin suhu 10 O C. maka producer gas harus mengandung ter dan partikulat serendah mungkin. Alat penangkap partikulat berupa penyaring keramik (ceramic filter) dipasang pada aliran contoh gas sebelum masuk ke rangkaian penangkap ter. 2005). Penangkap ter terdiri atas botol pengembun uap air (moisture condensation bottle) dan 3 (tiga) botol tar impinger seperti terlihat pada Gambar 2. METODOLOGI 3. 1986. Namun pada unit gasifikasi batubara mempunyai sistem pemurnian gas yang juga dilengkapi penangkap ter khusus. Secara umum. Selandia Baru. Reaktor gasifikasi biomassa adalah sistem downdraft. van de Kamp. 2006): ter : <500 mg ter /m3 gas partikulat : 50 mg partikulat/m3 gas. Afrika. 1986. Tetapi metode analisis ter dan partikulat dalam producer gas dari biomassa telah dikembangkan di Swiss dan Belanda (Nusbanmer. Oleh karena itu. Sampai saat ini. agar mesin diesel dapat beroperasi dengan normal. Botol kondensasi berisi 800 mL air suling (aquadest) yang didinginkan pada suhu 0OC.

1998.. 2005) Gambar 2. Skema penangkap partikulat dan ter ((Nussbanmer.. 1998.Gambar 1. van de Kamp. 2005) Pengembangan Metode Analisis Ter dan Partikulat dalam Producer . Slamet Suprapto dan Nurhadi 19 . van de Kamp. Skema alat sampling producer gas (Nussbanmer.

Ketiga buah botol impinger tersebut didinginkan dalam chiller pada suhu -3 sampai dengan -4 O C. reaktivitas. rasio udara/uap air).3 m/detik. yakni <500 mg ter/m3 dan 50 mg partikulat/m3. Ter yang diperoleh kemudian ditimbang. Apabila kadar ter dan partikulat dalam producer gas sudah memenuhi syarat. kemudian gas batubara dimasukkan sampai beban mencapai maksimum 150 kW. 4. Pengujian Metoda Pengujian metoda dilakukan terhadap producer gas hasil gasifikasi contoh batubara Kalimantan yang mempunyai nilai kalor 5. Semakin kecil kandungan partikulat dan ter. mg = volume contoh gas.500 kal/g.7 – 3. Pengujian tersebut dapat menghasilkan data kadar ter dan partikulat yang masing-masing antara 7–62 mg ter/m3 dan 31-50 mg partikulat/m3. Kadar ter dan partikulat producer gas dari contoh batubara dengan nilai kalor 5. mg/m3 = vg Di mana: mt = berat ter hasil destilasi. kemudian kadar partikulat dan ter dapat ditentukan dengan membagi berat ter dengan volume contoh gas sebagai berikut: mc1 – mc2 Kadar partikulat.1 jam.500 kal/g dan 4. 20 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . distribusi ukuran. waktu yang dibutuhkan akan semakin lama. Hal ini disebabkan bervariasnya kondisi operasi gasifikasi batubara. Walaupun batubara yang digunakan sama tetapi komposisi producer gas yang dihasilkan oleh percobaan ke 1 dan ke 2 belum tentu sama. Contoh gas kemudian disedot oleh pompa vakum pada laju alir antara 1.500 kal/g (A) menunjukkan hasil yang berbeda antara percobaan gasifikasi ke 1 dan percobaan gasifikasi ke 2.3. Sisa contoh gas dibakar dengan pembakar (burner). mg vg = volume contoh gas. 1981. mg/m3 = vg Di mana: mc1 = berat penyaring keramik sebelum percobaan. Kadar tar dapat dihitung dengan membagi berat ter yang diperoleh dari destilasi vakum dengan volume contoh gas.ter dalam contoh gas akan mengembun dalam botol kondensasi yang berisi air suling. Ter yang terkandung dalam contoh gas akan mengembun dan terabsorbsi dalam anisol. ter yang sudah teradsorbsi dalam botol kondensasi dan botol impinger dipisahkan melalui destilasi vakum pada suhu 85 OC dan tekanan 10 – 20 mBar. 1981. Nowacki. tergantung kandungan ter dan partikulat. maka gas digunakan untuk mengoperasikan mesin diesel sistem dual fuel. mg mc2 = berat penyaring sesudah percobaan. fragmentasi termal dan sifat caking). Pengujian diawali dengan proses gasifikasi batubara yakni dengan mengumpankan batubara ± 150 kg/jam. Sampling gas dilakukan selama 0. sebagai berikut: mt Kadar partikulat. Langkah selanjutnya adalah mengalirkan gas ke dalam 3 buah botol impinger yang masing-masing berisi 50 mL anisol dan satu buah botol impinger kosong sebagai drop separator. suhu rasio pereaksi/batubara. Pengoperasian mesin diesel diawali dengan menggunakan bahan bakar 100 % solar pada berbagai beban (daya) 30 kW. Setelah dilakukan langkah-langkah sampling gas dan pemisahan partikulat dan ter seperti seperti tersebut di atas. Setelah operasi gasifikasi berjalan lancar (steady) kemudian dilakukan sampling gas dengan membuka aliran nozzle. Kualitas dan kuantitas produk gas hasil gasifikasi tergantung kondisi operasi sebagai berikut (Elliot. van Dyk): kualitas batubara (analisis proksimat. m3 Sedangkan untuk menentukan kadar ter. Selanjutnya dilakukan langkah-langkah sesuai dengan prosedur analisis ter dan partikulat. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengujian metoda untuk analisis kadar ter dan partikulat contoh producer gas hasil gasifikasi dapat dilihat pada Tabel 1. Producer gas dengan kadar ter dan partikulat yang demikian sudah memenuhi syarat untuk digunakan pada mesin diesel. m3 3.5 .

Pengembangan standar analisis producer gas dari biomassa yang dilakukan oleh van de Kamp (2005) adalah dengan memvariasikan kondisi operasi gasifikasi yang terdiri atas. 3.1. 5. Hasil pengujian penggunaan gas untuk mengoperasikan mesin diesel sistem dual fuel secara kontinyu dan beban maksimal menunjukkan kinerja yang cukup baik. down draft). seperti yang dihasilkan oleh uji metoda analisis. Ukuran batubara yang digunakan dalam percobaan gasifikasi adalah – 5 + 1 cm. Pengembangan metoda sampling dan analisis producer gas juga perlu dikembangkan agar komposisi gas dapat langsung diketahui sehingga pemanfaatan untuk mesin diesel dapat terjamin. mg/m3 Ter 38 7 62 Partikulat 50 31 43 A B 5.500 4. jenis reaktor (fixed bed. Hal ini mengingat belum adanya standard reference gas yang sudah mempunyai kandungan ter dan partikulat tertentu.500 Analisis proksimat. reaktivitas dan sifat caking batubara yang sama akan menghasilkan kondisi operasi yang sama.. yakni mengirimkan contoh-contoh gas yang sama ke beberapa laboratorium kemudian membandingkan hasilnya. Hasil pengamatan terhadap ruang bakar mesin diesel setelah operasi kontinyu tidak menunjukkan perbedaan dengan menggunakan bahan bakar 100% solar dan tidak ditemukan adanya endapan kerak atau ter batubara dalam ruang bakar mesin diesel. belum ada laboraorium lain yang mengembangkan metoda analisis ter dan partikulat yang dapat bekerjasama dalam melakukan uji Round Robin guna membandingkan hasil analisis. fluidized bed. Dalam program standarisasi tersebut dilakukan uji Round Robin. tetapi kemungkinan distribusi ukurannya tidak merata sehingga menyebabkan kondisi percobaan ke 1 dan ke 2 tidak sama. updraft. Hasil analisis ter dan partikulat No. 5. KESIMPULAN DAN SARAN 5. 2. pereaksi (udara/uap air. Hal ini menunjukkan bahwa kadar ter dan partikulat cukup rendah dan memenuhi syarat. Perbedaan kondisi proses tersebut menyebabkan terjadinya perbedaan kualitas produk berbeda. Pengoperasian mesin diesel menggunakan producer gas dari batubara menunjukkan kinerja yang cukup baik.2. Metoda sampling dan analisis ter dan producer gas telah dikembangkan dan diujicobakan dengan baik terhadap producer gas hasil gasifikasi batubara dari Kalimantan Selatan yang menghasilkan kadar ter dan partikulat masing-masing antara 7 – 62 mg ter/Nm3 dan 31 – 50 mg partikulat/Nm 3 yang telah memenuhi persyaratan untuk pengoperasian mesin diesel. 1. suhu dan tekanan. Kesimpulan Peralatan sampling dan analisis ter dan partikulat dalam producer gas dari batubara telah dapat dirancang bangun dan dipasang pada pilot plant gasifikasi batubara untuk PLTD di Palimanan Cirebon. Saran Hasil ini agar dapat ditindaklanjuti dengan pengembangan metoda standar melalui kerjasama dengan laboratorium lain untuk melakukan uji pembanding (Round Robin test). tidak terdapat endapan ter dan partikulat dalan ruang bakar mesin. Pengembangan Metode Analisis Ter dan Partikulat dalam Producer . oksigen/uap air). Disamping itu. Contoh Batubara Nilai Kalorkal/g Kadar Ter dan Partikulat. Slamet Suprapto dan Nurhadi 21 . tetapi yang masih menjadi masalah adalah belum dikembangkannya standar.. Walaupun metoda ini sudah bisa digunakan.Tabel 1. Hal ini juga dapat membuat penyebaran panas dalam unggun batubara tidak merata dan selanjutnya menyebabkan fragmentasi ukuran tidak sama sehingga kondisi proses berbeda.

DAFTAR PUSTAKA Anonymous. J. J. Suomalainen. Noyes Data Corporation Jersey. 1986. U.. M. 1998. Chemistry of coal utilization. Anonymous. van de Hoek. C. 1984. John Wiley & Sons.UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terimakasih disampaikan kepada Puslitbang tekMIRA. P. van de Kamp. FAO.gov/pdfs.. Syngas and Coal Technologies. P. 14th European Biomass Conference & Exhibition.. Sasol Technology. Keyser.. R&D Division. Guide line for Sampling and analisis of Tars Condensates and Particulates From Biomass Gasifier.J. & Coertzen. C. 1981. M. Rome. Biomass downdraft gasifier engine system. Biomass Gasification – Technology and Utilization.. T. H. 17-21 October. Wood Gas as Engine Fuel.).. Turare. Good. Elliot. Vol II. Coal Gasification Process. South Afrika. & Kiel. Zielke. Tar measurement standard for sampling and analysis of tars and particles in biomass gasification product gas.. J. J.. ARTES Institute Glucksburg. Oxford.nrel..R. M. New York. Paris. Second Suppl... M..A. 22 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .. Nowacki. Germany. Neeft. W... Swiss Federal Institute of Zurich. C. Coal Geology and Coal Technology. Liliedahl. Zurich. Sasolburg. Vol. Whitehouse. T. Sasol’s Unique Position in Production from South African Coal Source Using Sasol–Lurgi Fixed Bed Dry Bottom Gasifier. 1981. Fuels and Fuel Technology. Ward. Melbourne. http:/devafdc. M. Section C: Gaseous Fuels.C. Knoef. (Ed. 2005. Francis. (ed. de Wild. 2006.). W. Unger. H. Nussbanmer. Van Dyk. PT PLN Jasa Produksi dan PT Coal Gas Indonesia (PT CGI) atas kerjasamanya dalam penyelenggaraan kegiatan ini. 1965. Blackwell Scientific Publications. Pergamon Press.

pengembangan teknologi termasuk impor peralatan masih dalam konteks sentralisasi. Permasalahan bertambah kompleks dengan berfluktuasinya produksi dan harga komoditas mineral. Demikian juga pengelolaan ekspor mineral. Sektor ESDM. Adanya berbagai input dan proses kegiatan pertambangan. globalisasi Implementasi Pengelolaan Lingkungan Sektor Energi ..esdm. tidak terkotak-kotak wewenang daerah/pusat. namun menjadi urusan internasional.go. yakni jenis mineral. Perlu upaya khusus untuk implementasi pengelolaan lingkungan dan penanganan dinamika kegiatan pertambangan mineral dan energi pada era globalisasi..IMPLEMENTASI PENGELOLAAN LINGKUNGAN SEKTOR ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL PADA ERA GLOBALISASI Djoko Sunarjanto dan Bambang Wicaksono Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi (LEMIGAS) Jl. Kata kunci : lingkungan.esdm. Ciledug Raya Kav 109. setelah penyerahan UU Nomor 22 Tahun 2001 tentang Migas kemudian UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (Minerba).021 7226011 e-mail : djokosnj@lemigas. Dampak lingkungan yang timbul dapat berkembang menjadi permasalahan global. Diperlukan antisipasi pengelolaan sebaik-baiknya yang meliputi 3 faktor utama pengelolaan lingkungan Sektor ESDM di Indonesia. terdapat persamaan antara lain tentang kepedulian lingkungan. Dari implementasi UU Migas dan UU Minerba yang baru. luas wilayah dan perkembangan perekonomian. Analisis pada studi kasus kegiatan pertambangan apabila berpatokan pada nuansa desentralisasi dan meninggalkan sentralisasi akan menimbulkan dampak baru. Djoko Sunarjo dan Bambang Wicaksono 23 . Salah satunya adalah konsep Green Mining and Energy.go. Jakarta Selatan 12230 Telp. Cipulir-Kebayoran Lama.id.021 7222583 Fac. akan menghasilkan output yang bermanfaat secara berkelanjutan utamanya selalu mempertimbangkan faktor lingkungan dan masyarakat sekitar kegiatan pertambangan. menjadi masukan informasi untuk kembali ke konsep pengelolaan lingkungan yang sudah ada.id SARI Paradigma baru pengelolaan Sektor Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus bergulir. bambangwtm@lemigas.

Insentif yang diberikan berupa pemotongan dana pengembangan batubara yang merupakan bagian dari Dana Hasil Produsen Batubara (DHPB) yang disetor perusahaan tambang ke kas negara. The implementations of those laws pay the same attention on environment management. lebih mungkin menghasilkan tindakan yang merespon kebutuhan riil penduduk ataupun masyarakat lingkar pertambangan. Environmental effect could generate the global problems. Dalam UU Minerba yang baru telah dilengkapi tata cara pengembangan terkait masyarakat. Analisis komparatif dilakukan dengan subsektor lainnya dikompilasi dengan kekhususan pengembangan subsektor minyak dan gas bumi.000 MW menggunakan bukan Bahan Bakar Minyak atau non-BBM. these involve five factors: minerals item. jumlah dan penyebaran penduduk yang timpang serta adanya perbedaan ekologi di berbagai kawasan Indonesia. in primary environment factors and community of the surrounding mining activities. Pendekatan kegiatan berbasis masyarakat (community based activities). 22 year 2001) and Mining and Coal Law (Law No.ABSTRACT New paradigm on management Energy and Mineral Resources Sector. POTENSI DAN PEMANFAATAN BATUBARA INDONESIA 2. tidaklah mengherankan apabila pada masing-masing wilayah terdapat perbedaan dalam upaya penanganan lingkungan dan peningkatan perekonomian atau Pendapatan Asli Daerah dari kegiatan pertambangan. Penyusunan makalah ini diharapkan dapat dijadikan sebagai masukan dalam rangka mempersiapkan peraturan dan keputusan sebagai turunan dan pendukung Undang Undang Minerba yang baru. Insentif tersebut diberikan hanya untuk kebutuhan pembangunan pembangkit listrik dan tidak boleh digunakan untuk keperluan ekspor. not only local but also international. Analysis from case study in mining activity if decentralism spirit is used and leaving from centralization spirit will create new impact. after Oil and Gas Law (Law No. 3. 24 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Salah satunya adalah dengan memberikan insentif kepada perusahaan batubara pemasok pembangkit listrik PLTU. With the inputs from mining activities there be sufficient information to come back to available environment management since Green Mining and Energy concept will cause a sustainable benefit output. yaitu. globalization 1. development of technologies and import of equipment which is still centralized and the complexity of the problems with fluctuations of product and mineral price need anticipation to manage it. produksi mineral. energy and mineral resources sector. LATAR BELAKANG kelistrikan serta beberapa studi kasus. Perlu kesadaran manfaat dan resiko bahaya yang dihadapi dan kemampuan masyarakat untuk melindungi diri dari dampak negatif yang timbul. dan pemanfaatan batubara untuk Sejak tahun 2006 Pemerintah menggulirkan beberapa kebijakan untuk mendukung pembangunan pembangkit listrik 10. Sebagai negara kepulauan. Pemutakhiran dan upaya khusus implementasi pengelolaan lingkungan di tengah dinamika kegiatan pertambangan mineral dan energi sangat diperlukan guna menciptakan pertambangan berwawasan lingkungan. terdapat persamaan dalam permasalahan lingkungan yang tertuang dalam UU Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi dan UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. PENDEKATAN TEORI DAN ANALISIS Pendekatan kegiatan menggunakan teori kebijakan dan geologi lingkungan dikomparasi dengan data sekunder pengusahaan mineral dan batubara. Special effort is needed for environment management to cope with the dynamics of mineral and energy activities in globalization era. 4 year 2009) is going on. Penanganan lingkungan hidup Rencana pengembangan dan pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah pertambangan (beberapa pasal. mining area. Export activities of minerals. antara lain pasal 78) Kegiatan Reklamasi dan Pascatambang (pasal 39) Dengan terbitnya perundang-undangan yang mendasari pelaksanaan pengelolaan energi dan sumber daya mineral. economics development. Keywords: environment. reklamasi sampai pascatambang.

Jayawijaya. Sebaliknya beberapa tambang dalam memerlukan lahan yang relatif tidak luas. untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar sejumlah PLTU diperlukan sebanyak 21. sehingga menjamin pasokan. 2006) Implementasi Pengelolaan Lingkungan Sektor Energi . pertambangan mineral radioaktif. demikian juga nantinya untuk mineral strategis lainnya termasuk batubara. meliputi 3 faktor utama yang berperan penting dalam pengelolaan lingkungan Sektor ESDM di Indonesia. Djoko Sunarjo dan Bambang Wicaksono 25 . Kebijakan Energi Nasional 2003-2009 menyebutkan bahwa penggunaan batubara dapat mendorong pengembangan batubara kalori rendah di dalam negeri. Contoh pertambangan mineral logam PT Newmont Nusa Tenggara memerlukan wilayah yang luas Gambar 1. Jenis Mineral 2. dalam Program 10. kategori B (Bahan Galian Vital atau Logam) dan Golongan C (Industri atau bahan bangunan). Di Jawa Barat akan dibangun PLTU Indramayu dan Pelabuhan Ratu. ANALISIS KOMPARATIF Upaya mengatasi permasalahan yang timbul dapat diantisipasi dengan pengelolaan sebaik-baiknya. dekat kawasan budi daya atau pada kawasan hutan dan kawasan lainnya. misal penambangan di daerah resapan air tanah. PLTU Labuhan dan Tangerang (Provinsi Banten). Produksi batubara dalam negeri sekitar 203 juta ton per tahun. sampai saat ini masih relevan. pertambangan mineral nonlogam dan pertambangan batuan (UndangUndang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara) Sesuai klasifikasi untuk pengelolaannya tergantung jenis dan kategori mineral. Gambar 1. yaitu kategori A (Bahan Galian Strategis). Perkembangan Perekonomian 1. Salah satu solusi jangka panjang untuk menekan beban PLN dengan menggunakan batubara untuk pembangkit listrik yang akan dibangun maupun yang telah beroperasi.. Saat ini pertambangan mineral dan batubara di Indonesia cenderung menggunakan sistem tambang terbuka (open pit mining) yang menggunakan lahan luas. Paiton dan Tuban. seperti dalam pengusahaan migas dibedakan institusi pemerintah sebagai regulator (Ditjen Migas) dan badan yang melakukan pengawasan kegiatan baik hulu dan hilir migas oleh BP Migas dan BPH Migas. Namun dalam pengelolaan dan pekembangannya diperlukan inovasi dan keluwesan mengaplikasikan dalam peraturan perundangan baru. batubara di Sawahlunto. Pertambangan mineral masih digolongkan lagi menjadi. Ibrahim (2008) dalam bukunya General Check-Up KELISTRIKAN NASIONAL. di samping berdampak timbul masalah gangguan kualitas lingkungan. Akan dibangun PLTU Suralaya. 1. seperti tambang yang sudah lama dikembangkan tambang emas Pongkor. Batubara sebagai bahan bakar PLTU pengganti BBM dilandasi alasan karena batubara lebih murah dan cadangannya cukup besar. Peningkatan pertambangan batuan sesuai kegiatan pembangunan fisik sarana-prasarana. Usaha Pertambangan dikelompokkan menjadi pertambangan mineral dan pertambangan batubara. Sedangkan di Jawa Timur akan dibangun PLTU Pacitan. Jawa Tengah akan dibangun PLTU Rembang dan Tanjung Jati.Meningkatnya pemakaian BBM untuk pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) dan listrik tenaga uap (PLTU) memberatkan PLN dari segi biaya. Jenis Mineral Klasifikasi mineral ataupun pembagian bahan galian sesuai Undang-Undang atau PP No 27 Tahun 1980 dibedakan menjadi 3 jenis atau kategori. dalam UU Minerba yang baru diuraikan pada BAB VI pasal 34. pertambangan mineral logam. Wilayah Pertambangan 3. selaras hasil penelitian yang menyebutkan bahwa Indonesia memiliki potensi batubara kalori rendah cukup besar yang selama ini belum dieksplorasi. Terkait dengan jenis mineral dan pertambangan. tetap memerlukan kewaspadaan dalam pengelo-laannya terkait lingkungan. Kegiatan operasi di tambang terbuka Batu Hijau (Foto : Newmont Nusa Tenggara..000 MW sebagian besar menggunakan batubara.28 juta ton per tahun. yaitu . 4.

Tingkat kepadatan penduduk tempat kegiatan pertambangan berada.07 80.515 65. khusus Pulau Jawa menampung hampir 60 % penduduk Indonesia. Tabel 1.927 91.706.181 159. eksplorasi-eksploitasi sampai pengawasan dan audit pascakegiatan pertambangan. Pengembangan pertambangan akan mempertimbangkan lebih banyak faktor pada daerah padat penduduk. kasus penanganan pengawasan Usaha Hulu Migas yang selama ini dilakukan BP MIGAS sesuai UU No 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi. kebutuhan dalam negeri dan ekspor 2006 2007*) 2008*) Produksi Ekspor Domestik Produksi Ekspor Domestik Produksi Ekspor Domestik 817.442 - Tembaga (Ton) Emas (KG) Perak (KG) Timah (Ton) Bauksit (MT) Bijih Nikel (Ton) *) Termasuk Kuasa Pertambangan Status Data.604. Hal ini karena kompleksnya permasalahan pengawasan kegiatan hulu migas dan lokasi wilayah yang tersebar dan sulit dijangkau.134 6.031.183 3.422 1. Dari sisi mikro-ekonomi fluktuasi harga komoditas. efektivitas dan efisiensi terkait kewilayahan.044. 2.318 261.376.308 102.284. Sebagai contoh.49 6.667 pulau mempengaruhi implementasi organisasi. termasuk di dalamnya investasi dan nilai tukar mata uang.967 269. Wilayah Pertambangan Keberadaan wilayah pertambangan sangat mempengaruhi pelaksanaan dan permasalahan yang timbul di lapangan.406. dan temehadap pada satu sisi akan menjadi potensi sumber daya yang tidak boleh diabaikan.357 61.24 33.411 85.536.048 747 1. akuisisi perusahaan.407 22.309.623. ketenagakerjaan sampai ekspor-impor.726. Jawa.809. emas. penggabungan beberapa perusahaan bahkan pengalihan bidang usahapun perlu diperhitungkan untuk keamanan berusaha dan mempertahankan stabilitas investasi.989.024 5.398 244. pajak. Kalimantan dan Sulawesi merupakan tempat pemukiman yang utama. Produksi hasil tambang terpilih.67 36. Impor peralatan. Tercatat produksi nasional tembaga.Kasus terjadinya ledakan tambang batubara Sawahlunto yang menelan korban meninggal lebih dari 30 orang pada pertengahan Juni 2009.501.937 1.353.144 12.774.536. Wilayah Indonesia yang memiliki tidak kurang dari 13.248.702. 3.326 4. penyerobotan wilayah oleh pertambangan tanpa ijin termasuk permasalahan lingkungan yang tidak mudah diselesaikan. masalah tumpang-tindih dengan sektor atau subsektor lain. Sisi lain pengelolaan pertambangan mineral dan energi tergantung pada modal besar dan beresiko tinggi.46 25.671 97.267 272.775 3. Keterkaitan wilayah dan kepadatan penduduk terlihat perbedaan antara Wilayah Jawa dan luar Jawa. demikian juga antara Sumatera Jawa dengan pulau lain di Indonesia Timur.105 56.31 90. sehingga diperlukan pendekatan sosio kemasyarakatan dan teknologi dalam pengelolaan mineral dan energi. bahkan tahun 2007 produksi bauksit (1. perak dan timah lebih besar untuk kebutuhan luar negeri. mesin dan teknologi dari beberapa negara luar.249.862 25.43 330.64 83.923 32.796 816.42 122. salah satu implementasinya BP MIGAS membuka kantor perwakilan dan penghubung di daerah.61 1. 2005).483 7.762.73 17. Tantangan ke depan menjadi bertambah karena peningkatan jumlah penduduk dan pertambangan mengarah ke wilayah padat penduduk.470 97.884 85. Juli 2008 Sumber : Directorate General of Mineral Coal and Geothermal (2008) 26 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . sejak perencanaan. sesuai UU Minerba baru daerah pertambangan berpotensi untuk dikembangkan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi (pasal 28).542 MT) dan bijih nikel (4.665.176 1.783 797. Perkembangan Perekonomian Akhir-akhir ini permasalahan lingkungan menjadi bagian penting dalam perekonomian.134 Ton) untuk memenuhi kebutuhan luar negeri (Tabel 1).186 42. Sumatera. sebaliknya hasil kegiatan pertambangan diekspor ke luar negeri.832 4.48 188.037. Untuk itu pelaksanaan rangkaian kegiatan pertambangan di Indonesia masih dikontrol langsung pemerintah.127.48 287. salah satu penyebabnya diduga pengelolaan dan pengusahaannya mengabaikan prosedur dan pengawasan lingkungan dan keselamatan kerja seperti yang seharusnya berlaku pada kegiatan tambang bawah tanah/tambang batubara. Keberhasilan kegiatan community development atau social responsibility dan program kemasyarakatan yang sejenis menjadi indikator keberhasilan kegiatan pertambangan suatu wilayah (Sunarjanto dan Adji.75 497.542 15.555.222 5. Dari berbagai pulau.704.882 117. mengakibatkan ketergantungan pada perekonomian global.619.309.

dengan disesuaikan terhadap terdapatnya sumber daya mineral dan energi. baik lingkar 1. Dampak negatif yang tidak tampak secara langsung sebagai sumber utama emisi berbahaya seperti SO2. hujan badai. Dampak lainnya mengakibatkan terjadinya hujan asam yang dapat merusak tanaman serta mempercepat kepunahan keanekaragaman hayati yang sangat merugikan kehidupan. yaitu . DISKUSI Sampai saat ini sumber energi fosil merupakan sumber utama dan penggunaan bahan bakar batubara pada PLTU dapat berdampak merugikan lingkungan. pengembangan wilayah Sektor ESDM terdiri dari 3 alternatif. pemanasan global juga dapat menimbulkan terjadinya kerusakan ekosistem terumbu karang. lingkar 2 dan seterusnya. Implementasi Pengelolaan Lingkungan Sektor Energi . Agregatif: yang potensinya menunjang konsepsi pengembangan wilayah sektor lain. Selain mendorong terjadinya kepunahan keanekaragaman hayati. 2000).. Newmont Nusa Tenggara dalam jangka waktu kurang dari 10 tahun mampu membangun Pusat Pertumbuhan Ekonomi baru di Wilayah Indonesia Timur Gambar 2.5. Kegiatan ESDM khususnya pertambangan mineral masih terkonsentrasi di darat. membentuk rantai semacam siklus. Pusat pertumbuhan (growth center). Bila dibandingkan masih lebih banyak kegiatan migas yang mengeksplorasi dan mengeksploitasi cadangan migas lepas pantai. sebagai suatu alternatif solusi terdapat input dan proses kegiatan pertambangan dapat diarahkan mencapai output yang bermanfaat banyak pihak.. Peningkatan emisi gas CO2 di atmosfer akan dapat mempengaruhi terjadinya perubahan curah hujan dan pemanasan global. Dengan melengkapi peralatan sejenis penyaring. Dapat ditinjau kembali konsep pengelolaan lingkungan yang sudah ada. penurunan produktivitas perikanan laut. Berdasarkan analisis komparatif. Penggunaan energi batubara dalam penyediaan tenaga listrik ataupun industri mineral dan energi lainnya diupayakan agar lebih ramah lingkungan dan dilakukan dengan melengkapi peralatan yang dapat mengatasi polutan. 1991). Penanganan lingkungan hidup termasuk reklamasi dan pengelolaan pascatambang (BAB VII pasal 39 UU Minerba) menjadi upaya penting memperbesar dampak positif menciptakan pertambangan secara berkelanjutan sejak eksplorasi sampai dengan esok menjadi suatu kawasan pusat pertumbuhan ekonomi. Diperlukan pemutakhiran dan diskusi yang berkelanjutan mengantisipasi perubahan yang dinamis. Sebagai bahan pengambilan keputusan ataupun masukan dalam penyusunan peraturan. berbau menyengat dan sangat berbahaya bagi tumbuhan dan hewan. Regional Integratif: yang potensinya bersifat merangsang pengembangan wilayah sektor lain. dapat menyebabkan kebutaan dan kematian pada manusia. Apabila dikaitkan dengan lingkungan dan pengembangan wilayah selalu mempertimbangkan faktor lingkungan dan masyarakat sekitar kegiatan pertambangan atau diistilahkan masyarakat lingkar luar. di mana daratan hanya menempati sepertiga Wilayah Indonesia. Bambang dan Sunarjanto. dan abu. 6. yang merupakan gas tidak berwarna. karena banyak di antara spesies yang punah tersebut merupakan spesies yang berguna bagi manusia (Christensen. CO2. sebagai ilustrasi digambarkan dalam Gambar 1. shareholder sampai pihak luar/internasional. meledaknya hama dan wabah penyakit. Menurut Soelistijo (2000) secara makronasional. salah satunya adalah konsep Green Mining and Energy akan menghasilkan output yang bermanfaat secara berkelanjutan. ALTERNATIF SOLUSI Alternatif solusi merupakan bagian dari strategi yang diperlukan guna mempercepat dan akurasi suatu proses untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Perubahan pada era globalisasi yang kadang berubah secara cepat dari segenap pihak pemangku kepentingan. analisis dan alternatif yang sudah disusun ahli maupun institusi. Sebagai contoh nyata adanya kegiatan pertambangan mineral logam di Maluk Sumbawa yang termasuk Wilayah PT. banjir bandang dan sebagainya. PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP 7. CO. Djoko Sunarjo dan Bambang Wicaksono 27 . maka gas buang dari PLTU ataupun industri menjadi aman bagi lingkungan (Brodjonegoro. Dalam perkembangannya selama ini banyak kajian ilmiah. Penambangan timah dan pasir laut di daerah Riau Kepulauan dan sekitarnya menjadi contoh pertambangan mineral lepas pantai yang dapat dilakukan pada wilayah lain. terjadinya perubahan musim. Salah satu emisi yang harus mendapatkan perhatian dari pembakaran batubara pada pembangkit listrik adalah SO2. Secara fisik tampak mata adalah perubahan bentang alam. Menjadi peluang dan tantangan untuk lebih intensif mengembangkan pertambangan mineral di lepas pantai. SO2 menyebabkan gangguan pernafasan.

Pongkor Gold Mine-West Java Indonesia. General Check-Up Kelistrikan Nasional. Proceedings of INSAHP. Bali-Indonesia. The Sustainable Economic Growth Pole in The Mining Area Using AHP Method: Case Study of PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. Global Science. UCAPAN TERIMA KASIH Tersusunnya makalah ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Prof. 2000. third edition. Bencana lingkungan dan kebumian yang tidak terkait pertambangan ataupun ESDM. Bapak Dr. J. Terima kasih kepada Kepala PPPTMGB LEMIGAS. Perbandingan maluk. H.. Sumbawa pada tahun 1995 dan 2005. PENUTUP Penanganan lingkungan hidup sampai kegiatan pertambangan selesai/ pascatambang menjadi upaya penting memperbesar dampak positif dan memperkecil dampak negatif. Dampak lingkungan (dampak negatif) yang timbul dapat berkembang secara cepat menjadi permasalahan global. Dubuqe Iowa. MediapIus Network. 699 p. Kendall/Hunt Publishing Company.Sc DIC yang memberi kesempatan penulis menyampaikan makalah ini. Christensen. Ibrahim. Ir. Suatu kawasan pertambangan mengubah lokasi terpencil menjadi pusat pertumbuhan ekonomi sudah banyak terbukti berhasil pada beberapa wilayah. Country Paper. ISBN 0-8403-4657-3. dijadikan alasan untuk menyalahkan dunia pertambangan dan pemangku kepentingan. namun masih diperlukan usaha lain agar tercipta pertambangan bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan sekitarnya secara berkelanjutan. Dr. M. A. 2008.. 8. DAFTAR PUSTAKA Brodjonegoro.W. Jakarta. Directorate General of Mineral Coal and Geothermal. yang telah bersedia mengoreksi dan memberi masukan. Energy. Pengelolaan lingkungan Sektor ESDM menjadikan lingkungan bumi yang berkualitas sekaligus sebagai warisan generasi yang akan datang. Environment. 2008. Ministry of Energy and Mineral Resources The Republic of Indonesia. Bambang and Sunarjanto. sebagai pusat pertumbuhan ekonomi (Sumber : PT Newmont Nusa Tenggara) diperlukan perhatian khusus pada permasalahan. Hadi Purnomo. 1991. antara lain : Produksi dan harga komoditas mineral yang terus berfluktuasi.MALUK 1995 MALUK 2005 Gambar 2.. 28 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Pengelolaan lingkungan pertambangan lepas pantai yang baik sebagai upaya optimalisasi pemanfaatan wilayah dan ikut melindungi pelestarian alam. Indonesia’s Mineral and Coal Development. Resources. Suprajitno Munadi.

ISBN 978979-18898-0-3. 2000. Pengembangan Wilayah Sektor Pertambangan dan Energi.Cetakan Pertama November 2008. Proceedings 30th Annual Meeting IPA. 2006. Newmont Nusa Tenggara .. Kini dan Esok.. Batu Hijau. and Adji G. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara Implementasi Pengelolaan Lingkungan Sektor Energi . 2005. Sunarjanto. DPE. PPTP. W.T.. Djoko Sunarjo dan Bambang Wicaksono 29 . Soelistijo.PT. Ditjend Pertambangan Umum.. Dulu. Jakarta.D. Corporate Social Responsibility One of Methods To Expand The Benefit for Oil and Gas Bearing Area. Cetakan Kedua. ISBN 979-98000-7-2. U. Bandung.

6003373 e-mail : umard@tekmira. This is against the investment promotion in the country. antara lain : kewenangan pengelolaan dan pemanfaatan potensi bahan galian. in which the region has an authority to manage its region professionally. otonomi daerah ABSTRACT The release of the regional autonomy policy in the early 2000 is a new era of the regional government.esdm. dengan kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus daerahnya secara luas.031 Perda dan berdasarkan hasil evaluasi telah merekomendasikan sebanyak 2. merupakan babak baru dalam pemerintahan daerah. which are no relation with the public interest and the higher regulations. retribution and other taxes. Pemerintah Daerah berpacu mengoptimalkan potensi sumber daya yang ada dan menciptakan kebijakan untuk meningkatkan pendapatan daerah (PAD) dengan legitimasi berupa Perda. Jend. Dalam waktu yang sangat singkat. perda-perda tumbuh bak jamur di musim hujan. Selain itu. berupa timbulnya pungutan pajak dan retribusi atau pungutan lainnya yang bertentangan dengan kepentingan umum atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Hingga pertengahan bulan Juni tahun 2009. the regional government is pushed to optimized potential of the resources and to create a policy of improving regional revenue by legitimating regional regulations. and this causes collection of taxes.id SARI Digulirkannya kebijakan Otonomi Daerah pada awal tahun 2000.6030483 Fax.PELUANG PENGEMBANGAN PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA PADA ERA OTONOMI DAERAH Umar Dhani Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. pengembangan pertambangan. dengan adanya kebijakan otonomi memberi peluang pengembangan pertambangan di daerah. Dengan adanya kebijakan tersebut.894 perda dibatalkan dan 144 perda direvisi. Hal ini menunjukkan bahwa produk Perda yang telah disusun cukup banyak yang bermasalah. Departemen Keuangan telah mengumpulkan 12. Maraknya daerah menyusun perda menimbulkan masalah baru. kesempatan kerja dan berusaha serta terciptanya pengembangan wilayah. In a relatively short time. nyata dan bertanggung jawab.go. 022. Kata kunci: peluang. Sudriman 623 Bandung 40211 Telp. 30 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . sehingga akan menimbulkan kondisi yang tidak kondusif dan dapat menghambat pertumbuhan ekonomi maupun peluang investasi di daerah. Consequently. 022 . peningkatan penerimaan. these regulations grow widely.

terjadi penurunan investasi pada seluruh sektor usaha. Moreover. According to the evaluation results. dan bidang lainnya yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. job creation and regional development. revenue increase. Tujuan pemberian kewenangan dalam penyelenggaraan otonomi daerah adalah meningkatkan kesejahteraan rakyat. mining development. regional autonomy 1. Sejak diberlakukannya otonomi daerah tahun 2000. Permasalahan tersebut terjadi pada seluruh sektor usaha. Kewenangan daerah mencakup kewenangan semua bidang pemerintahan. Permasalahan-permasalahan tersebut pada akhirnya dapat berakibat terganggunya perekonomian daerah maupun nasional. Umar Dhani 31 . yaitu desentralisasi pemerintahan dari pusat ke daerah yang diimplementasikan pada UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan disempurnakan menjadi UU Nomor 32 Tahun 2004. Pada awal tahun 2000 diberlakukannya kebijakan otonomi. Keywords: opportunity. termasuk pada sektor pertambangan mineral dan batubara. serta memperhatikan potensi dan keanekaragaman daerah. termasuk sektor pertambangan. 2. Pada era ini peran Pemerintah Pusat sangat menonjol. pemerataan dan keadilan. the Ministry of Finance has collected 12. Pemerintah Daerah diberi kewenangan untuk mengelola sumber daya alam. sehingga menimbulkan ketidakselarasan dengan kebijakan di atasnya atau kebijakan sektor lain. so they must be eliminated or revised. pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota telah melakukan pembenahan dan penyesuaian administratif dan struktur organisasi. Selain itu masih terjadi perbedaan persepsi dalam menterjemahkan kebijakan otonomi daerah. Hal ini akan menimbulkan iklim yang tidak kondusif karena ketidak-konsistenan kebijakan dan bahkan dapat menghambat pertumbuhan ekonomi maupun peluang investasi di daerah. Otonomi daerah diartikan kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus daerahnya secara luas. masih banyak yang tidak selaras dengan kebijakan yang lebih tinggi. pertahanan keamanan. peradilan.031 regional regulations.. Selain itu. Pemerintah daerah tidak mempunyai keleluasaan dalam menetapkan program-program pembangunan di daerahnya serta sumber keuangan penyelenggaraan pemerintahan diatur oleh pusat. bahkan cenderung tumpang tindih dan terkesan hanya berorientasi meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) semata. 2. Salah satu upaya yang menonjol yang dilakukan oleh pemerintah daerah pada era ini adalah menerbitkan Peraturan Daerah (Perda). agama. KEBIJAKAN OTONOMI DAERAH Pada hakekatnya otonomi daerah merupakan hak. sehingga menimbulkan ketergantungan daerah terhadap pusat. because they will create an unconducive condition and can hamper the economic growth and the opportunity of investing in the mining sector in the region. demokratisasi.984 regulations are deleted and 114 are revised. dan bertanggung jawab. This indicates that those regulations have problems. khususnya pada sektor pertambangan. sumber daya buatan. tetapi juga kebijakan pertambangan yang mengacu pada UU Nomor 11 Tahun 1967 sudah tidak selaras dengan semangat otonomi daerah yang sedang digiatkan. Maraknya meenerbitkan Perda tersebut. kebijakan otonomi daerah di Indonesia mengacu kepada Undang-Undang (UU) Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah. PENDAHULUAN Selama lebih dari dua dasawarsa. the autonomous policy has provided an opportunity to develop the mining sector in a region in terms of management authority of utilizing mineral potential. dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundangundangan. kecuali kewenangan di bidang politik luar negeri. dan sumber daya Peluang Pengembangan Pertambangan Mineral dan Batubara pada Era . masih banyak terjadi perbedaan penjabaran mengenai otonomi daerah yang dituangkan dalam perda pada masing-masing daerah.Until the mid of June 2009. menghormati budaya budaya lokal. moneter dan fiskal. nyata. Sejak terjadi krisis ekonomi pada tahun 1997.. kelembagaan. wewenang. Penurunan tersebut bukan hanya dipicu oleh diberlakukannya kebijakan otonomi daerah.

pemerintah menyelenggarakan sendiri atau dapat melimpahkan sebagian urusan pemerintahan kepada perangkat pemerintah atau wakil pemerintah di daerah atau dapat menugaskan kepada pemerintahan daerah dan/atau pemerintahan desa. dan penyerasian lingkungan dan tata ruang serta rehabilitasi lahan. peradilan/yustisi. Hal ini dapat terlihat dengan meningkatnya jumlah daerah otonom baru sejak tahun 1999 hingga Desember 2008 sebanyak 215 daerah otonom baru. bagi hasil atas pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. Pemerintah daerah provinsi dan pemerintah daerah kabupaten/kota dalam melaksanakan urusan pemerintahan wajib. Dalam penyerahan disertai pembiayaan. pengalihan sarana dan prasarana. Menteri/Kepala Lembaga Pemerintah Non Departemen menetapkan norma. standar. Hubungan dalam bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antarpemerintah dan pemerintah daerah sebagaimana dimaksud dalam UU Nomor 32 Tahun 2004 pasal 2 ayat (4) dan ayat (5) meliputi : kewenangan. dan jangkauan dampak yang timbul akibat penyelenggaraan suatu urusan pemerintahan. Di dalam menetapkan norma. dan kriteria. akuntabilitas. Pelaksanaan kewenangan didasarkan pada norma. dan efisiensi dengan memperhatikan keserasian hubungan antarsusunan pemerintahan. standar. prosedur. keinginan pembentukan daerah otonom baru berkembang sangat pesat. dan prosedur. dan kriteria untuk pelaksanaan urusan wajib dan urusan pilihan. Dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan. kerja sama dan bagi hasil atas pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antarpemerintahan daerah. pertahanan keamanan. pemeliharaan pengendalian dampak lingkungan. Penyelenggaraan urusan pemerintah dibagi berdasarkan kriteria eksternalitas. tanggung jawab. 173 kabupaten. pemanfaatan. sumber daya manusia. sarana dan prasarana. pemerintahan daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan. Dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah. prosedur. Prinsip otonomi daerah adalah desentralisasi. Yang dimaksud dengan “kriteria eksternalitas” dalam ketentuan ini adalah penyelenggara suatu urusan pemerintahan ditentukan berdasarkan luas.manusia yang ada di wilayahnya masing-masing (UU Nomor 32 Tahun 2004). besaran. masih terdapat usulan baru yang siap dibahas maupun yang belum diproses tentang pembentukan daerah otonom baru. dan pilihan berpedoman kepada norma. kriteria akuntabilitas” adalah penanggung jawab penyelenggaraan suatu urusan pemerintahan ditentukan berdasarkan kedekatannya dengan luas. dan 35 kota. prosedur. Urusan pemerintahan wajib dan pilihan menjadi dasar penyusunan susunan organisasi dan tata kerja perangkat daerah. standar. dan pengelolaan perizinan bersama dalam pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya 32 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Selain itu. Setelah diberlakukan kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah. penyerahan semua kewenangan kecuali bidang politik luar negeri. serta kepegawaian. dan jangkauan dampak yang ditimbulkan oleh penyelenggaraan suatu urusan pemerintahan. besaran. dan kriteria perlu diperhatikan keserasian hubungan pemerintah dengan pemerintah daerah dan antarpemerintah daerah sebagai satu kesatuan sistem dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. serta agama. Hubungan dalam bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antarpemerintah daerah sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (4) dan ayat (5) meliputi : pelaksanaan pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya yang menjadi kewenangan daerah. yang terdiri atas : 7 provinsi. moneter dan fiskal. standar. yaitu terdiri atas 31 (tiga puluh satu) bidang urusan pemerintahan (PP Nomor 38 Tahun 2007). Urusan pemerintahan yang dibagi bersama antartingkatan dan/atau susunan pemerintahan adalah semua urusan pemerintahan di luar urusan yang menjadi kewenangan pemerintah. dan pelestarian. Pemerintahan daerah menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya. Urusan pemerintahan yang diserahkan kepada daerah disertai dengan sumber pendanaan. “kriteria efisiensi” adalah penyelenggara suatu urusan pemerintahan ditentukan berdasarkan perbandingan tingkat daya guna yang paling tinggi yang dapat diperoleh. kecuali urusan pemerintahan yang oleh UU Nomor 32 Tahun 2004 ditentukan menjadi urusan pemerintah.

Agus Pambudhi. Dari jumlah tersebut sebagian besar telah dilakukan evaluasi. Hingga pertengahan tahun 2009. substansi dan yuridis. Dengan demikian. menyelaraskan dan menyesuaikan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dan/atau peraturan daerah lainnya. yang berhak mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahannya (Bagir Manan. Implikasi dari kebijakan desentralisasi ini adalah banyaknya produk perda yang berkaitan dengan pajak dan retribusi daerah bertentangan dengan kebijakan yang lebih tinggi atau kepentingan umum. maka perlu dilakukan evaluasi terhadap perda yang berkaitan dengan pajak dan retribusi daerah. perubahan APBD.Pemerintahan daerah merupakan satuan pemerintahan teritorial tingkat lebih rendah dalam negara kesatuan RI. sedangkan setelahnya pembatalan melalui Peraturan Presiden. sedangkan hak mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan di bidang administrasi negara yang merupakan urusan rumah tangga daerah disebut otonomi. Berdampak negatif terhadap perekonomian (ekonomi biaya tinggi atau pajak ganda). Perda merupakan penjabaran lebih lanjut dari peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dengan memperhatikan ciri khas masing-masing daerah.. Departemen Keuangan telah mengumpulkan 12. 2006). Perda yang disusun tersebut merupakan penjabaran lebih lanjut dari peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dengan memperhatikan ciri khas masing-masing daerah. Perda yang disusun oleh pemerintah daerah tidak boleh bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi dan dapat dibatalkan sesuai ketentuan yang berlaku. dapat berakibat terganggunya iklim investasi yang ada di daerah dan berdampak pada perekonomian daerah maupun nasional. Berpotensi menghalangi atau mengurangi akses masyarakat (bertentangan dengan prinsip keadilan). Umar Dhani 33 . Perda yang dikategorikan bermasalah adalah berdasarkan prinsipil. Kepala Daerah sebagai kepala eksekutif menetapkan Perda atas persetujuan bersama DPRD. Dengan demikian. retribusi daerah. kemitraan wajib.894 perda dan 144 perda direvisi. oligopoli. Perda dan ketentuan daerah lainnya bersifat mengatur dan diundangkan melalui Lembaran Daerah. Atau bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi. Perda yang terbit sebelum Oktober 2004. yaitu sesuai pasal 136 ayat 1 UU Nomor 32 Tahun 2004. yaitu : Berpotensi bertentangan dengan prinsip keutuhan wilayah ekonomi nasional. Hal ini dimaksudkan untuk melindungi kepentingan umum. Merupakan suatu bentuk pelanggaran kewenangan pemerintah. Hal ini bertolak belakang dengan gencarnya pemerintah menggalakkan investasi untuk pembangunan di Indonesia. Pemerintah daerah menyusun perda dalam rangka merumuskan berbagai kebijakan pembangunan atau dalam rangka memacu pertumbuhan perekonomian di daerah. Hal ini. Berdasarkan UU Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan pasal 7 Ayat (1) mengatur hirarki peraturan perundang-undangan yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Maraknya daerah menyusun perda menimbulkan masalah baru. berupa timbulnya pungutan pajak dan retribusi yang bertentangan dengan kepentingan umum atau peraturan perundangundangan yang lebih tinggi. dan tata ruang sebelum ditetapkan dan diberlakukan terlebih dahulu dilakukan evaluasi oleh pemerintah. agar wewenang pemerintah daerah dapat dijalankan. pembatalannya melalui Keputusan Menteri Dalam Negeri. Pemerintah daerah dalam meningkatkan perekonomian dapat memberikan insentif dan/atau kemudahan kepada masyarakat dan/atau investor yang diatur dalam perda dengan berpedoman pada peraturan perundang-undangan yang berlaku. Bermasalah secara prinsipil adalah perda yang memberikan hambatan dalam konteks ekonomi makro. 2001). Berpotensi menyebabkan munculnya persaingan yang tidak sehat (monopoli. Anggaran Penerimaan dan Belanja Daerah (APBD). maka diperlukan dasar hukum pelaksanaan.. Perda bermasalah pada prinsipnya adalah perdaperda yang karena keberadaannya akan menyebabkan terhambatnya efektifitas perekonomian (P. Hal ini Peluang Pengembangan Pertambangan Mineral dan Batubara pada Era . Satuan pemerintahan teritorial tersebut disebut daerah otonom. Berdasarkan hasil evaluasi Tim Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Departemen Keuangan hingga Juni tahun 2009 telah merekomendasikan untuk membatalkan 2.031 perda untuk dievaluasi. Untuk perda yang mengatur mengenai pajak daerah. Berdasarkan permasalahan ini. perda merupakan salah satu produk hukum yang ada di Indonesia. dll).

eksplorasi. pendayagunaan sumber daya alam serta teknologi tinggi yang strategis merupakan kewenangan pusat. Hal ini menunjukkan bahwa. sebagian besar (183 perda atau 75%) mengatur tentang pungutan (pajak. Dalam kebijakan tersebut telah terjadi perubahan yang mendasar tentang pengawasan perda. Sebagai pedoman teknis penyelenggaraan kewenangan tersebut Pemerintah telah mengeluarkan PP Nomor 38 Tahun 2007. sehingga harus dibatalkan atau direvisi. terutama pasal 7 dan pasal 10 UU Nomor 32 Tahun 2004. pengawasan lingkungan. KK dan PKP2B) telah dikenakan iuran tetap (landrent) dan iuran eksplorasi dan eksploitasi (royalty). Banyaknya perda yang bermasalah tersebut dapat berakibat terganggunya aktivitas pemerintahan maupun perekonomian wilayah. Departemen ESDM telah menerbitkan Keputusan Menteri mengenai pedoman teknis (Kepmen No. sehingga diinterpretasikan bahwa kegiatan sektor pertambangan umum merupakan kewenangan daerah. 3. Pelaksanaan otonomi daerah dimulai pada awal tahun 2000 telah menimbulkan interpretasi yang. Dasar pembatalan perda tentang pertambangan umum adalah berkaitan dengan pajak dan retribusi izin usaha pertambangan dan birokrasi proses perizinan. eksploitasi. Sedangkan. pengangkutan dan penjualan. pengolahan dan pemurnian. 1453. eksplorasi. kesehatan dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Dengan demikian. Dalam PP tersebut diuraikan secara jelas mengenai jenjang kewenangan antara pemerintah. yaitu berupa Kuasa Pertambangan (Peraturan Pemerintah Nomor 75 Tahun 2001). Dari jumlah perda tersebut. 34 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .menunjukkan bahwa produk Perda yang telah disusun cukup banyak yang bermasalah. retribusi dan sumbangan pihak ketiga). pengelolaan lingkungan. KEBIJAKAN PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA Setiap usaha pertambangan bahan galian yang termasuk dalam golongan bahan galian strategis dan golongan bahan galian vital. Dalam pedoman teknis tersebut telah diatur mengenai tata cara permohonan perizinan. yaitu hanya terdapat 39 perda. apabila terlebih dahulu telah mendapatkan izin.K/29/NEM/2000). Khusus perda yang berkaitan dengan pajak. Dalam pasal tersebut dinyatakan bahwa. Diharapkan dengan adanya kegiatan ini masyarakat sekitar merasakan dampak positif aktivitas pertambangan di daerahnya. Pemberian izin usaha pertambangan untuk melaksanakan kegiatan penyelidikan umum. khususnya berkaitan dengan kewenangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Pada sisi lain pasal 10 ayat 1 dinyatakan bahwa “daerah berwenang mengelola sumber daya nasional yang tersedia di wilayahnya dan bertanggung jawab memelihara lingkungan sesuai dengan peraturan perundang-undangan”. Dalam rangka mendukung dan memfasilitasi daerah dalam penyelenggaraan tugas pemerintahan di bidang pertambangan umum. Berdasarkan hasil kompilasi perda yang berkaitan dengan kegiatan pertambangan pada 8 provinsi. Kegiatan usaha di sektor pertambangan umum (KP. Sebenarnya dari kedua pasal. Dengan diterbitkannya PP Nomor 38 Tahun 2007 yang merupakan turunan dari UU Nomor 32 Tahun 2004 telah secara jelas mengatur pembagian urusan antara pemerintah dan pemerintah daerah. APBD dan tata ruang setelah Oktober 2004 dilakukan evaluasi oleh pusat sebelum ditetapkan oleh daerah. terkumpul 242 perda pada 147 kabupaten. perda yang mengatur tentang pengelolaan pertambangan sebagian besar wilayah kabupaten belum menyusun. yaitu berupa pengembangan sumber daya manusia. pemerintah daerah lebih mendahulukan kebijakan yang berkaitan dengan pungutan dibandingkan kebijakan tentang pengelolaan kegiatan pertambangan. tersebut menimbulkan adanya ketidakjelasan kewenangan pengelolaan sumber daya alam (minerba) antara pusat dan daerah. apabila dikenakan pungutan lain akan menimbulkan pungutan ganda dan dapat memberatkan pelaku usaha di bidang pertambangan. provinsi. Pemerintah daerah sesuai dengan lingkup usahanya menugaskan pemegang izin pertambangan sesuai dengan tahapan dan skala usahanya untuk membantu program pengembangan masyarakat dan pengembangan wilayah pada masyarakat setempat. retribusi. baru dapat dilaksanakan. dan kabupaten/kota. Pada umumnya pembatalan perda tentang pajak dan retribusi pertambangan adalah bertentangan dengan UU Nomor 34 tahun 2000 dan PP 65 Nomor 2001. Hal ini sangat rentan terhadap aktivitas pertambangan maupun lingkungan.

Klarifikasi wewenang dan ruang lingkup Pemerintah Pusat. HAM. dan produksi. b. yaitu pemrosesan dan pemurnian logam harus dilakukan di dalam negeri. Untuk melegalisasi meningkatkan pendapatan dan pembangunan daerah tersebut pemerintah daerah menyusun perda. Hal ini karena potensi bahan galian yang dikembangkan adalah bahan galian golongan C dan dilakukan secara tadisional atau tambang rakyat. Umar Dhani 35 . baik yang berkaitan dengan pengelolaan pertambangan umum maupun pungutan (pajak. untuk melaksanakan kewenangan tersebut. Dengan demikian. Untuk wilayah yang memanfaatkan bahan galian golongan A dan B yang mempunyai nilai ekonomi lebih tinggi. bahkan masih ditemukan perda yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Peluang Pengembangan Pertambangan Mineral dan Batubara pada Era . pemerintah daerah berlomba-lomba menyusun kebijakan untuk mengelola dan memanfaatkan potensi wilayah dalam rangka pengelolaan pertambangan dan meningkatkan pendapatan asli daerah melalui pajak dan retribusi daerah maupun pungutan lainnya (sumbangan pihak ketiga). demokratisasi. seperti otonomi daerah. Butir-butir penting dalam UU Nomor 4 Tahun 2009. 4. eksplorasi dan eksploitasi lebih sederhana.konservasi. politik dan ekonomi. Tidak ada lagi sistem kontrak langsung antara perusahaan dengan Pemerintah. Maka peraturan yang berkaitan dengan pertambangan harus menyesuaikan dengan perubahan tersebut. Pemanfaatan ruang untuk kegiatan pertambangan harus berada pada kawasan yang ditetapkan sebagai kawasan pertambangan pada RTRW. dengan adanya tersedianya acuan pengelolaan pertambangan yang baik dapat merangsang investasi pengusahaan pertambangan di daerah.. Pengembangan masyarakat difokuskan pada kesejahteraan rakyat. Kemampuan daerah dalam melaksanakan pembangunan sangat dipengaruhi oleh ketersediaan sumber daya maupun kemampuan dalam pengelolaannya. Selanjutnya. Pemerintah Daerah (provinsi dan kabupaten/kota) menindaklanjuti dengan menerbitkan perda. Pada umumnya sebagian besar daerah Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang telah disusun belum pengalokasikan kawasan untuk pengembangan kegiatan pertambangan. retribusi dan sumbangan pihak ketiga). melainkan diberlakukannya sistem izin usaha pertambangan (IUP). Hal ini dimaksudkan adanya kesesuaian fungsi kawasan maupun menghindari tumpang tindih pemanfaatan ruang atau benturan kepentingan antarsektor. pengembangan potensi bahan galian yang ada menjadi sulit dilakukan karena keberadaanya bukan merupakan fungsi kawasan pertambangan. Pedoman maupun acuan dalam menyusun Perda pengelolaan pertambangan telah diatur dan penerapan penyusunannya disesuaikan dengan karakteristik wilayah. HAM. PELUANG PENGEMBANGAN PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA Perda a. Pada intinya UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara sebagai pengganti UU Nomor 11 Tahun 1967 disusun dengan mempertimbangkan seluruh aspek perubahan saat ini. antara lain : Sistem perizinan. lingkungan hidup.. Semenjak digulirkanya kebijakan otonomi daerah. Aspek nilai tambah. lingkungan hidup dan ekonomi telah mendorong atas kebutuhan mendasar ke arah perubahan sistem yang desentralistik . Optimalisasi pemanfaatan potensi ini bertujuan untuk meningkatkan pendapatan daerah dan pembiayaan pembangunan. kebutuhan sosial. Propinsi dan Kabupaten/ Kota. perda yang telah diterbitkan oleh pemerintah daerah tentang pengelolaan pertambangan umum masih banyak yang belum sesuai acuan di atas. Pemerintah Daerah segera menyiapkan kawasan untuk kegiatan pertambangan yang ditetapkan dalam kebijakan RTRW.l. Diharapkan. a. Dalam pemanfaatan ruang untuk kegiatan usaha harus mengacu pada kebijakan tata ruang yang ada. Dengan demikian. Krisis ekonomi pada tahun 1997 yang diikuti oleh tuntutan reformasi. Optimalisasi Pemanfaatan Potensi Bahan Galian Pada umumnya potensi bahan galian belum diusahakan secara maksimal dan belum memberikan dampak yang signifikan terhadap perekonomian daerah. Namun demikian. telah memberikan kontribusi yang cukup berarti bagi perekonomian dan penerimaan daerah serta menyumbangkan terhadap penerimaan negara.

Berdasarkan rekapitulasi dari Departemen ESDM. Untuk melakukan perpanjangan izin yang dikeluarkan dari pusat (KK dan PKP2B) selebihnya menjadi kewenangan daerah sesuai kewenangannya. Dalam rangka desentralisasi ada sebagian dari penerimaan ini yang dibagihasilkan. Secara umum upaya yang dilakukan ini telah menunjukkan tingkat keberhasilan yang cukup baik. karena penerimaan yang diperoleh tidak tepat waktu. Sebagai contoh.Kebijakan otonomi daerah telah memberikan kewenangan untuk mengelola dan memanfaatkan potensi sumber daya yang ada di wilayahnya. yaitu semakin bertambahnya investasi di bidang pertambangan di daerah. c. yaitu yang ditunjukkan dengan meningkatnya jumlah izin usaha pertambangan yang diterbitkan pemerintah daerah. Hal ini sangat mempengaruhi dalam pelaksanan rencana pembangunan yang telah ditetapkan oleh daerah. Dengan adanya kebijakan ini memberikan peluang termanfaatkannya potensi yang ada. jika dibandingkan dengan sistem pemerintahan sebelumnya. Saat ini sebagian besar Pemerintah Daerah gencar melakukan identifikasi dan inventarisasi potensi bahan galian yang ada dalam rangka menarik investor menanamkan modalnya di bidang pertambangan. PKP2B dan KP. sedangkan Tabel 1. Penerimaan Daerah Sebelum adanya otonomi daerah perizinan di bidang pertambangan umum dikeluarkan oleh pemerintah pusat dalam bentuk KK. Salah satunya faktor maraknya izin pertambangan yang dikeluarkan daerah adalah adanya kebijakan otonomi daerah. Dari sisi perundang-undangan tersebut di atas pajak dan royalti dari perusahaan pertambangan merupakan penerimaan pusat. izin usaha pertambangan dalam bentuk KK dan PKP2B jumlahnya cenderung menurun. yaitu terdapat 354 izin yang telah dikeluarkan. Meningkatnya jumlah izin usaha bidang pertambangan (KP) tersebut menunjukkan adanya peningkatkan investasi bidang pertambangan dan meningkatnya PAD melalui sektor pertambangan. d. bahwa royalty merupakan penerimaan pusat yang dibagihasilkan dan bukan merupakan pajak daerah. 2008 36 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Perizinan Pertambangan pemerintah daerah terjadi peningkatan yang cukup signifikan (Tabel 1). Salah satu pengaruh adanya kegiatan pertambangan adalah peningkatan penerimaan daerah baik secara langsung maupun tidak langsung. Dalam ketidakberdayaan ini ada sebagian daerah yang mengusulkan agar dana dari perusahaan pertambangan langsung ditransfer ke rekening pemerintah daerah tanpa melalui rekning pemerintah pusat. 260 buah diantaranya berupa KP yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah. namun untuk izin yang berupa KP yang dikeluarkan oleh Distribusi pajak-pajak pertambangan yang menjadi hak daerah belum dilakukan secara lebih adil dan tepat waktu ke daerah penghasil yang berhak. Rekapitulasi Izin Pertambangan Jenis kontrak KP KK PKP2B 2001 600 55 119 2002 597 62 101 2003 597 61 101 2004 825 54 87 2005 848 46 82 2006 965 41 81 Sumber : Dirjen Minerbapabum. Pada saat ini perizinan usaha pertambangan umum diterbitkan oleh pemerintah dan pemerintah daerah sesuai kewenangannya. Sementara pusat berpegang pada kebijakan yang berlaku. Penerimaan daerah secara langsung berupa pajak dan retribusi daerah. Masalah utama dari bagi hasil ini dipandang dari sisi daerah adalah tidak pastinya waktu pencairan dari pusat. telah terbit ratusan KP batubara yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kabupaten (Bupati) salah satu provinsi di Kalimantan. sedangkan perizinan pengusahaan bahan galian golongan C diterbitkan oleh pemerintah daerah dalam bentuk SIPD. Melalui UU tersebut membuka peluang bagi pemerintah daerah untuk mengelola dan memanfaatkan sumber kekayaan alam yang ada di wilayahnya. sehingga mengganggu penganggaran di daerah.

.026. sehingga potensinya tidak memberikan nilai ekonomi. yaitu pada tahun 2006 sebesar 29.41 4. Dengan demikian.25 4. royalti dan penjualan hasil tambang. 2008 2004 6. telah terbit ribuan perda sebagai acuan dalam pelaksanaan pembangunan di daerah.94 1.13 1..573.771. Meskipun banyak kalangan yang menolak PP tersebut karena dinilai melegitimasi perusakan hutan lindung selama ada bayarannya dan murahnya tarif yang dikenakan . batubara dan panas bumi dalam empat tahun terakhir menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan.993.697.57 29.691. Selain itu.07 Penerimaan pajak ini menyumbang sekitar 67% dari total penerimaan negara yang berasal dari sektor mineral.664. Pengembangan dan pemanfaatan potensi bahan galian yang berada di kawasan lindung tidak dapat dimanfaatkan. banyak perda-perda yang harus dibatalkan atau direvisi.99 2. tapi dapat lebih memberikan kontribusi terlibat langsung pada aktivitas pertambangan sebagai pekerja.72 57. dengan berkembangnya kegiatan di suatu wilayah secara tidak langsung akan memberi peluang berusaha dan menciptakan pengembangan wilayah.897.66 50. Secara umum. Masyarakat tidak hanya menjadi penontan seperti yang terjadi selama ini.592.827. Semenjak digulirkan otonomi daerah pada tahun awal tahun 2000. Kesempatan Kerja dan Berusaha Nomor 41 Tahun 1999 jo PP Nomor 2 Tahun 2008 telah memberikan peluang pengusahaan pertambangan di kawasan hutan produksi dan hutan lindung.penerimaan tidak langsung adalah penerimaan dari pajak dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).66 2006 23. meski penerimaan negara pada tahun 2007 mengalami penurunan sebesar 17% dibandingkan dengan periode sebelumnya.12 2007 17. Umar Dhani 37 .62 2.20 trlyun pada tahun 2007.68 17. KESIMPULAN Maraknya kegiatan pertambangan di daerah akan semakin membuka peluang kerja berusaha bagi masyarakat sekitar. Penerimaan Pajak dan PNBP dari Pertambangan Mineral dan Batubara Tahun 2004-2006 (Milyar Rupiah) No. Komponen terbesar penerimaan justru berasal dari penerimaan pajak dibandingkan PNBP (Tabel 2).849. realisasi penerimaan negara yang berasal dari mineral. Komponen PNBP terdiri atas iuran tetap. 1 2 Sumber Penerimaan Pajak PNBP Iuran Tetap Royalti Penjualan Hasil Tambang Total Sumber : Dirjen Minerbapabum. Kewilayahan Pemanfaatan ruang untuk kegiatan usaha harus mengacu pada kebijakan tata ruang yang ada.07 76. Perda-perda yang telah terbit tersebut. masih banyak yang tidak selaras dengan peraturan yang lebih tinggi atau mengakibatkan biaya tinggi.36 8.24 5. e. yaitu yang dikelompokkan menjadi kawasan lindung dan budidaya.01 25.788.642. f.31 6. Penerimaan pajak dan PNBP pertambangan merupakan penerimaan Negara dan dibagi-hasilkan ke daerah. Kebijakan tata ruang ini menghindari tumpang tindih pemanfaatan ruang atau benturan kepentingan antarsektor.17 881. 5.82 2.10 3.00 8.163.138. sehingga menghambat investasi di daerah.519.28 2005 12.200.81 58. Hasil pertambangan mineral dan batubara telah memberikan kontribusi bagi penerimaan Negara yang cukup besar. Dengan terbitnya UU Tabel 2.442. Berdasarkan dari hasil identifikasi terdapat beberapa izin pertambangan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah daerah tidak selaras Peluang Pengembangan Pertambangan Mineral dan Batubara pada Era .419. batubara dan panas bumi atau setara dengan Rp 17.69 trilyun.

Batubara dan Pas Bumi. Perencanaan Pembangunan Daerah. Otonomi Daerah Turunkan Investasi Pertambangan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah. meningkatnya penerimaan daerah. terbatasnya jumlah maupun kemampuan aparat. Tersedianya data informasi potensi sumber daya mineral dan batubara. Mineral. Jika dilihat dari permasalahan yang timbul dengan adanya kegiatan pertambangan serta faktor penyebab permasalahan tersebut. keberadaan sumber daya mineral yang pada umumnya tersebar di bawah permukaan. Untuk mengantisipasi tumpang izin usaha pertambangan yaitu dengan penyusunan basis data pertambangan dengan format yang sama dan menyusun ulang izin-izin yang bermasalah. Pada saat ini dalam kebijakan tata ruang. Pustaka Setia. Bandung. Departemen Energi Sumber Daya Mineral. tingkat kerusakan lingkungan yang cenderung meningkat. Provinsi dan Kabupaten yang saling sinergis. Berdasarkan dari peluang dan tantangan tersebut. Kamis 25 Januari 2006. Pelaksanaan otonomi daerah yang berjalan hampir 9 tahun telah menimbulkan pengaruh yang cukup besar terhadap kegiatan pertambangan di daerah. Diperlukan peningkatan jumlah dan kemampuan apatur dinas seiring dengan maraknya pengusahaan pertambangan. 2. antara lain : kewenangan dalam pengelolaan pertambangan. dan minimnya data/informasi potensi wilayah. Laporan Tim Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Periode Januari – Desember 2008. Adanya kepastian hokum dan kepastian berusaha. Pipin Syarifin. tidak atau belum dialokasikan secara tegas. meningkatnya pemanfaatan sumber daya mineral dan batubara. upaya yang dilakukan adalah menerapkan metode penambangan secara tepat dan berawasan lingkungan. Gramedia 2005 Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan Departemen Keuangan Republik Indonesia. Tahun 2007 Makro Ekonomi. sehingga tercipta pertambangan yang berkelanjutan (good mining practice). antara tersebut antara lain : ketidaksonsistenan peraturan yang ada. 4. 3.dengan peraturan yang lebih tinggi atau tumpang tindih dengan sektor lain. Coal and Geothermal. 5. Pengaruh tersebut. Dengan demikian. hingga pemantauan lingkungan pasca tambang. sebagai media promosi investasi pengusahaan pertambangan DAFTAR PUSTAKA Dedi Supriady Bratakusumah. Hal ini menunjukkan bahwa izin pertambangan yang telah diterbitkan tidak melalui koordinasi dengan dinas/instansi terkait. membuka kesempatan bekerja dan berusaha. arahan pengembangan pertambangan dikemudian hari. antara lain : 1. Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah kabupaten/Kota. sehingga pada saat ruang tersebut akan dikembangkan untuk kegiatan pertambangan menjadi tumpang tindih dengan kegiatan sektor lain. maka pembahasan pelaksanaan pertambangan di daerah perlu dilakukan evaluasi yang bertujuan untuk pengembangan pertambangan di daerah. Penyusunan RTRW Nasional. kawasan untuk kegiatan pertambangan. terciptanya pengembangan wilayah. Tuntutan pemenuhan standar lingkungan hidup yang makin ketat. Pemerintahan Daerah di Indonesia. Direktorat Mineral. masih banyak wilayah belum ada alokasi kawasan pertambangan. Penyiapkan zonasi kawasan untuk pengembangan pertambangan yang ditetapkan dalam kebijakan RTRW. Berdasarkan peluang-peluang tersebut. perlu diperhatikan tantangan dalam pengembangannya. Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara 38 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . menjadi terkalahkan oleh pengembangan ruang sektor lain. Diperlukan kebijakan/ peraturan daerah yang mengatur tentang pengelolaan pertambangan mulai dari segi perizinan pengusahaan. 2005 Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 1967 tentang Pokok-Pokok Pertambangan Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.

PENINGKATAN KADAR BIJIH BESI DARI DAERAH PELAIHARI, PROPINSI KALIMANTAN SELATAN MENGGUNAKAN KLASIFAYER DAN PEMISAH MAGNETIK

Pramusanto, Nuryadi Saleh dan Apriandi Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl Jenderal Sudirman No. 623 Bandung, 40211 Telp (022) 6030843, Fax. (022) 6003373

SARI Karakteristik bahan baku bijih besi Pelaihari dicirikan oleh kadar besinya rendah (sekitar 30% Fetotal). Mineralnya terdiri dari hematit dan magnetit. Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kadar besinya adalah dengan melakukan percobaan klasifayer dan pemisah magnetik. Penelitian ini membahas tentang percobaan klasifayer yang dilanjutkan dengan percobaan pemisah magnetik. Percobaan pemisah magnetik dilakukan dengan memvariasikan intensitas magnet, ukuran butir dan waktu pengadukan umpan. Percobaan klasifayer dilakukan untuk mengurangi mineral pengotor dengan memanfaatkan perbedaan ukuran butir dan berat jenis, sedangkan pemisah magnetik dilakukan untuk meningkatkan mineral berharga berupa hematit dan magnetit melalui pemanfaatan perbedaan kerentanan terhadap magnet antara mineral pengotor dengan mineral berharga. Hasil percobaan klasifayer dapat meningkatkan kadar Fetotal menjadi 34,6%, sedangkan pada pemisah magnetik, variabel yang dapat meningkatkan kadar tertinggi adalah waktu pengadukan umpan dengan kadar Fetotal tertinggi yang diperoleh 55,9%. Waktu pengadukan umpan 10 dan 20 menit. Perolehan tertinggi besi sebesar 33,26% terjadi pada waktu pengadukan umpan selama 20 menit. Kata kunci : bijih besi, Pelaihari, klasifayer, pemisah magnetik

ABSTRACT Raw iron ore of Pelaihari is known by its low iron content. The ore consists of hematite and magnetite as the main iron minerals. In order to increase the iron content, some efforts can be conducted by sequence of laboratory tests, namely classifier and magnetic separator. The experiment using magnetic separator is conducted at various magnetic intensity, grain size and agitation time. The purpose of classifying tests is lessening the impurity mineral by exploiting difference of grain size and specific gravity, while magnetic separator will increase the valuable mineral in the form of hematite and magnetite by exploiting difference of magnetic susceptibility between the impurities and valuable minerals. The experiment results of classifying increase the total iron grade up to 34.6%, followed by magnetic separator. The later increases the highest grade of total iron up to 55.9% at agitation time of 10 and 20 minutes. The highest iron recovery of 33.26% was conducted at 20 minutes of feed agitation time. Keywords : iron ore, Pelaihari, classifier, magnetic separator

Peningkatan Kadar Bijih Besi dari Daerah Pelaihari ... Pramusanto, dkk.

39

1.

PENDAHULUAN

Kebutuhan baja nasional terus mengalami peningkatan seiring dengan perkembangan sektor industri dan semakin maraknya pembangunan infrastruktur di Indonesia. Pada saat ini konsumsi baja diperkirakan telah mencapai 6,3 juta ton, sedangkan produksinya hanya 3,8 juta ton. Kekurangan penyediaan baja sebesar 2,5 juta ton masih dipasok dari impor, sehingga PT Krakatau Steel untuk memproduksi baja di Indonesia memerlukan bahan baku dan penunjang yang sebagian besar masih diimpor. Bahan-bahan yang pengadaannya masih bergantung pada impor adalah pelet bijih besi, sedangkan skrep, bijih besi bongkah (lump ore) dan bijih besi halus kasar (coarse fine) sebagian masih dapat dipasok dari dalam negeri, misalnya untuk bijih besi bongkah berkadar Fe 57% dan bijih besi halus kasar berkadar Fe 56% telah dapat dipasok dari endapan besi laterit oleh PT Sebuku Iron Lateritic Ore, Kalimantan Selatan [sebukuiron.co.id]. Untuk menunjang keperluan industri besi baja yang terus meningkat di masa mendatang, Indonesia memiliki potensi sumber daya bijih besi yang cukup besar, berupa bijih besi primer dengan estimasi cadangan 320 juta MT dan kadar 25 – 62% Fe, bijih besi laterit dengan estimasi cadangan 1.391 juta MT dan kadar 40 – 56% Fe serta pasir besi dengan estimasi cadangan 600 juta MT dan kadar 25 – 40% Fe [Koesnohadi dan Sobandi, 2008]. Namun sumber daya tersebut belum dapat dimanfaatkan secara optimal karena kadar Fe yang terkandung relatif rendah. Pada umumnya industri baja membutuhkan besi dengan kadar Fe 60-69%, sedangkan P.T. Krakatau Steel membutuhkan pelet bijih besi dengan kandungan Fe minimum 65%. Untuk menjawab tantangan tersebut, perlu adanya kajian intensif agar kadar Fe yang dikandung besi dapat ditingkatkan, sehingga dapat dimanfaatkan oleh industri dalam negeri seperti oleh PT Krakatau Steel. Proses peningkatan kadar Fe pada bijih besi biasa dilakukan dengan cara kominusi (crushing dan grinding), konsentrasi secara gravitasi, pemisahan magnetik, pemisahan elektrostatik maupun flotasi. Flotasi biasanya dilakukan sebagai lanjutan dari proses pemisahan magnetik, pemisahan elektrostatik, konsentrasi secara gravitasi maupun kominusi [Habashi, 1997]. Pemisahan secara magnetik terhadap bijih besi sudah lazim dikerjakan [Pramusanto, dkk, 1999].

Pemisah magnetik merupakan alat yang digunakan dalam proses pemisahan secara magnetik. Prinsip kerja alat ini adalah memisahkan mineral berharga dari pengotornya berdasarkan derajat kemagnetan atau mudah tidaknya mineral mengalami pengaruh dalam medan magnet (magnetic sussceptibility) [Kelly, and Spottiswood, 1982]. Bijih besi merupakan mineral-mineral yang mengandung besi seperti magnetit, hematit, goethit, limonit atau campuran dari mineral-mineral tersebut dengan mineral pengotornya, seperti silika, alumina, dan krom [Perkins, 2002]. Berdasarkan pada magnetic susceptibility mineral tersebut dapat diklasifikasikan dalam dua grup, yaitu paramagnetik dan diamagnetik. Mineral diamagnetik merupakan mineral yang tidak mengalami ketertarikan dalam medan magnet, seperti silika, dan alumina. Sedangkan mineral paramagnetik yang dapat ditarik oleh magnet, seperti hematit dan limonit. Dari mineral paramagnetik ini terdapat mineral-mineral yang memiliki sifat magnet yang sangat kuat disebut ferromagnetik, seperti magnetit [Wills, 1988]. Berdasarkan hasil pengujian mineragrafi, bijih yang digunakan untuk percobaan ini mengandung magnetit-hematit. Magnetit dan hematit memiliki derajat kemagnitan signifikan, yang berbeda dengan mineral pengotor berupa silika, alumina dan lain-lain; sehingga sebagai studi awal, proses pemisahan berdasarkan sifat kemagnetan mineral menggunakan pemisah magnet dapat dimanfaatkan.

2.

METODOLOGI

Metodologi peningkatan kadar bijih besi ini dilakukan dalam beberapa tahapan, yaitu; preparasi percontoh (pengeringan, pengayakan dan pemercontoh), studi bahan baku (analisa kimia, ayak dan mineralogi), pencucian dengan spiral classifier untuk menghilangkan pengotor, dan percobaan menggunakan pemisah magnet untuk meningkatkan hematit dan magnetit. *****

3.

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Studi Bahan Baku Studi bahan baku ini bertujuan untuk mengetahui dan menentukan komposisi dan kadar dari mineral-mineral yang terdapat di dalam percontoh bijih besi tersebut.

40

PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009

3.1.1 Analisis Komposisi Kimia Berdasarkan hasil analisis komposisi kimia, maka diperoleh komposisi kimia bijih besi sebagai berikut; Fetotal 31,3%, Fe2O3 37,94%, Fe3O4 6,55%, SiO2 28%, CaO 15,67%, Al2O3 5,61%, MgO 1,01 %, TiO2 1,63%, Cr2O3 0,111% dan LOI 1,93%. 3.1.2 Analisis Ayak Berdasarkan Gambar 1 dapat dilihat terjadi perubahan distribusi ukuran butir akibat pencucian dengan spiral classifier, sehingga underflow spiral classifier menyebabkan kenaikan nilai persen berat tertahan fraksi ukuran -250+150 µm (-60+100 mesh) sampai fraksi +1,7 mm (+10 mesh) dan menyebabkan penurunan nilai persen berat tertahan dari fraksi ukuran -150+106 µm (-100+140 mesh) sampai fraksi -75 µm (-200 mesh) terhadap percontoh asal bijih besi. Hal ini menjelaskan bahwa proses spiral classifier menyebabkan terjadinya pemisahan antara partikel halus dengan kasar, sehingga dapat dilihat adanya perbedaan persentase berat tertahan antara percontoh asal dengan underflow spiral classifier.

70,00%, hematit derajat sebesar 94,55%, dan gangue sebesar 98,41%.

 
Derajat Liberasi [DL] (%)

100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0
-75 (-200) -106+75 -150+106 -250+150 -425+250 -850+425 -1700+850 (-140+200) (-100+140) (-60+100) (-40+60) (-20+40) (-10+20) +1700 (+10)

35 30 25 20 15 10 5 0 Distribusi DL [DDL] (%)
Distribusi DL [DDL] (%)

Fraksi Ukuran µm (m esh)
DL Magnetit DDL Magnetit DL Hematit DDL Hematit DL Gangue DDL Gangue

Gambar 2. Hubungan fraksi ukuran terhadap derajat liberasi dan distribusi derajat liberasi percontoh asal

 
Persen Berat Tertahan (%)

45 40 35 30 25 20 15 10 5 0
-75 (-200) -106+75 (-140+200) -150+106 (-100+140) -250+150 (-60+100) -425+250 40+60) (-850+425 20+40) (-1700+850 (- +1700 10+20) (+10)

Percontoh Asal Percontoh Spiral Classifier

Menurut perhitungan derajat liberasi total fraksi kasar dan halus untuk percontoh asal, dapat dijelaskan bahwa persentase derajat liberasi total pada fraksi kasar (+1700 µm) atau +10 mesh sampai -425+250 µm (-40+60 mesh) masih sangat rendah; magnetit sebesar 0,45%, hematit sebesar 1,08% dan gangue sebesar 13,70%. Persentase derajat liberasi total pada fraksi halus (-250+150 µm) atau (-60+100 mesh) sampai -75 µm (-200 mesh) sudah cukup tinggi; magnetit sebesar 37,62%, hematit sebesar 58,95% dan gangue sebesar 77,56%.

Fraksi Ukuran µm (m esh)

 
Derajat Liberasi [DL] (%)

100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0
-75 (-200) -106+75 -150+106 -250+150 -425+250 -850+425 (-140+200) (-100+140) (-60+100) (-40+60) (-20+40) -1700+850 (-10+20) +1700 (+10)

40 35 30 25 20 15 10 5 0

Gambar 1. Hubungan fraksi ukuran dengan komposisi mineral percontoh asal dan underflow spiral classifier

3.1.2.1 Derajat Liberasi Berdasarkan Gambar 2, untuk derajat liberasi percontoh asal terlihat bahwa semakin kecil ukuran ayak, maka tingkat kebebasan suatu butiran mineral dalam suatu fraksi ukuran semakin tinggi. Derajat liberasi tertinggi pada percontoh asal terdapat pada fraksi -75 µm (-200 mesh) dengan derajat liberasi untuk mineral magnetit sebesar

Fraksi Ukuan µm (m esh)
DL Magnetit DDL Magnetit DL Hematit DDL Hematit DL Gangue DDL Gangue

Gambar 3. Hubungan fraksi ukuran terhadap derajat liberasi dan distribusi derajat liberasi percontoh underflow spiral classifier

Peningkatan Kadar Bijih Besi dari Daerah Pelaihari ... Pramusanto, dkk.

41

Berdasarkan Gambar 3, derajat liberasi tertinggi untuk percontoh underflow spiral classifier terdapat pada fraksi -75 µm (-200 mesh) dengan derajat liberasi mineral magnetit sebesar 69,61%, hematit sebesar 93,42%, dan gangue sebesar 97,96%. Menurut perhitungan distribusi derajat liberasi untuk fraksi kasar dan halus untuk percontoh bijih besi underflow spiral classifier, terlihat bahwa persentase distribusi derajat liberasi total pada fraksi kasar (+1700 µm) atau +10 mesh sampai 425+250 µm (-40+60 mesh) masih sangat rendah; magnetit sebesar 0,60%, hematit sebesar 1,50% dan gangue sebesar 23,54%. Persentase distribusi derajat liberasi total pada fraksi halus (-250+150 µm) atau -60+100 mesh sampai -75 µm (-200 mesh) masih cukup tinggi; magnetit sebesar 28,21%, hematit sebesar 46,41% dan gangue sebesar 64,11%.

dan hematit dengan komposisi hampir homogen pada setiap fraksi ukuran yang terdapat pada kedua percontoh analisis ayak. Komposisi mineral rata-rata seluruh fraksi ukuran untuk percontoh asal adalah 6,22% magnetit, 37,53% hematit dan 56,25% gangue, sedangkan untuk percontoh hasil percobaan spiral classifier adalah 6,98% magnetit, 39,87% hematit dan 53,15% gangue.

 
Komposisi Mineral (%)

70 60 50 40 30 20 10 0
-75 (-200) -106+75 (-140+200) -150+106 (-100+140) -250+150 (-60+100) -425+250 40+60) (- -850+425 20+40) (- -1700+850 (-10+20) +1700 (+10)

Fraksi Ukuran µm (m esh)
Magnetit Percontoh Asal Hematit Percontoh Asal Gangue Percontoh Asal Magnetit Limp, Bawah Klasif ay er Spiral Hematit Limp. Bawah Klasif ay er Spiral Gangue Limp. Bawah Klasif ay er Spiral

Gambar 5. Hubungan fraksi ukuran dengan komposisi mineral percontoh asal dan percontoh underflow spiral classifier

3.2. Percobaan Spiral Classifier Berdasarkan Gambar 6, dapat dijelaskan bahwa pada percobaan ini telah terjadi pemisahan antara partikel halus dengan kasar. Hal ini terlihat dari adanya kenaikan kadar Fe total. Kadar Fe total pada percontoh asal sebagai umpan sebesar 31,3%, setelah dilakukan proses klasifikasi menggunakan spiral classifier meningkat menjadi 34,6% untuk produk underflow (sebagai produk pemisahan yang memiliki partikel kasar) dan terjadi penurunan kadar Fe total menjadi 24,6% untuk produk overflow (sebagai produk pemisahan partikel yang berukuran halus). 3.3. Peningkatan Kadar dengan Pemisah Magnetik Di dalam percobaan pemisah magnetik ini dilakukan analisis mineralogi untuk meninjau perubahan komposisi mineral dan derajat liberasi pada konsentrat dan tailing akibat pengaruh dari variabel percobaan terhadap peningkatkan kadar dan perolehan. Analisis kimia hanya dilakukan pada konsentrat untuk menetukan kadar Fe total.

Gambar 4. Fotomikrograf sayatan poles bijih besi (H = hematit, M = magnetit, G = mineral gangue, HM = hematit + magnetit HG = hematit + gangue)

Berdasarkan Gambar 4, dapat dilihat bahwa pada fraksi ukuran -106+75 µm (-140+200 mesh), bahwa antara magnetit dan hematit terjadi keterikatan dan antara hematit dan gangue juga terjadi keterikatan. Antara magnetit dan gangue tidak tampak adanya keterikatan. Menurut perhitungan komposisi mineral pada ukuran tersebut, komposisi hematit 41,80% dengan derajat liberasi 88,68% dan magnetit 7,80% dengan derajat liberasi 58,97% serta gangue 50,40% dengan derajat liberasi 96,23%. 3.1.2.2 Komposisi Mineral Berdasarkan Gambar 4, mineral berharga yang terdapat pada percontoh bijih besi ini adalah magnetit

42

PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009

tapi mengalami penurunan kembali pada ukuran <250 µm. dapat ditarik kesimpulan bahwa semakin besar ukuran butiran semakin turun komposisi mineral. Komposisi hematit yang terbesar diperoleh pada intensitas magnet 2000 gauss sebesar 70. namun hal tersebut menaikan komposisi gangue..2 Pengaruh Ukuran Butir terhadap Komposisi Mineral dan Derajat Liberasi pada Konsentrat Berdasarkan grafik pengaruh ukuran butiran yang divariasikan dari ukuran <75 sampai <250 µm terhadap komposisi mineral dan derajat liberasi konsentrat seperti pada Gambar 8. semakin besar ukuran butiran mengakibatkan kenaikan komposisi mineral.. Derajat Liberasi {DL} (%) 43 . dengan magnetit (8.3. tetapi pada ukuran <250 µm mengalami kenaikan kembali.94%).1 Pengaruh Intensitas Magnet terhadap Komposisi Mineral dan Derajat Liberasi pada Konsentrat Berdasarkan grafik pengaruh intensitas magnet yang divariasikan dari 2000-10000 gauss terhadap komposisi mineral dan derajat liberasi konsentrat pada Gambar 7.3.80%).07%. Pengaruh intensitas magnet terhadap komposisi mineral dan derajat liberasi konsentrat Gambar 8. 3. Gambar 6. Gangue meningkat.   Komposisi Mineral (%)   100 80 60 40 20 0 2000 4000 6000 8000 10000 100 Derajat Liberasi {DL) (%) 100 Komposisi Mineral (%) 100 80 60 40 20 0 <75 <106 <150 <180 <250 80 60 40 20 0 Intensitas Magnet (Gauss) Magnetit DL Hematit Hematit DL Magnetit Gangue DL Gangue 80 60 40 20 0 Ukuran Butir (µm ) Magnetit DL Hematit Hematit DL Magnetit Gangue DL Gangue Gambar 7. sedangkan derajat liberasinya juga mengalami penurunan. Terjadinya peningkatan komposisi hematit yang berikatan dengan gangue menyebabkan terjadinya penurunan derajat liberasi dan komposisi hematit. Namun pada gangue.20%). sedangkan derajat liberasinya turun.  Komposisi Kimia (%) 40 35 30 25 20 15 10 5 0 Fe total SiO2 CaO Al2O3 MgO TiO2 Cr2O3 LOI Nam a Mineral Percontoh Asal Underflow Overflow konsentrat.73% dan gangue yang terkecil (22. sehingga meningkatkan komposisi hematit dan gangue yang berikatan. Hubungan percobaan spiral classifier terhadap komposisi kimia 3. dengan magnetit sebesar 7. Pengaruh ukuran butir terhadap komposisi mineral dan derajat liberasi konsentrat Hal ini berarti pengaruh intensitas magnet menyebabkan peningkatan penarikan hematit yang masih berikatan dengan gangue ke dalam Perubahan komposisi mineral dan derajat liberasi pada mineral magnetik maupun gangue disebabkan oleh adanya pengaruh gaya gravitasi dan hidrodinamis yang bekerja pada butiran serta Peningkatan Kadar Bijih Besi dari Daerah Pelaihari .28%) dan gangue terbesar (43. Pramusanto. menunjukan penurunan hematit seiring dengan peningkatan intensitas magnet. Magnetit cenderung stabil namun derajat liberasinya juga turun. Komposisi hematit terkecil diperoleh pada intensitas magnet 10000 gauss (47. dkk.

40%. Perolehan tertinggi didapatkan pada ukuran butir <75 µm sebesar 31. Perolehan yang semakin besar seiring dengan besarnya intensitas magnet.40%). pengaruh waktu pengadukan ini menyebabkan Al2O3 ataupun CaO yang ada dalam umpan tercampur dengan baik. waktu pengadukan umpan memiliki sedikit pengaruh terhadap peningkatkan derajat liberasi antara hematit dan gangue.27% dan gangue sebesar 25.7%.3.derajat liberasi butiran. Penyebab lain.27%.17%. magnetit sebesar 8.5 Pengaruh Ukuran Butir terhadap Perolehan dan Kadar Fetotal pada Konsentrat Berdasarkan grafik pengaruh ukuran butir terhadap perolehan dan kadar Fe Total Gambar 11. Hal ini terjadi karena gangue yang berikatan dengan mineral magnetik ikut tertarik menjadi konsentrat.7%) dengan perolehan terendah 28. Komposisi hematit terbesar diperoleh pada waktu pengadukan umpan 10 menit (71.   Perolehan Fe (%) 60 50 40 30 20 60 50 40 30 20 10 2000 4000 6000 8000 10000   100 Komposisi Mineral (%) 100 80 60 40 20 0 1 10 20 80 60 40 20 0 Waktu Pengadukan Um pan (Menit) Magnetit DL Hematit Hematit DL Magnetit Gangue DL Gangue Derajat Liberasi {DL} (%) 10 Intensitas Magnet (Gauss) Recov ery Fe Kadar Fe Gambar 10.8%) dengan perolehan tertinggi 54. sebaliknya dengan kadar Fe total cenderung turun seiring dengan peningkatan kadar.93%).67%. 3. Kadar Fe total terendah diperoleh pada intensitas magnet 10000 gauss (38. <106 dan <75 µm sebesar 54. Hal ini mempengaruhi daya tarik magnet ke dalam konsentrat. 3. magnetit sebesar 8. Komposisi hematit terbesar diperoleh pada ukuran butir <75 µm (70.3 Pengaruh Waktu Pengadukan Umpan terhadap Komposisi Mineral dan Derajat Liberasi pada Konsentrat Berdasarkan Gambar 9 dapat ditarik kesimpulan bahwa untuk derajat liberasi. Hal ini disebabkan oleh lepasnya ikatan mineral-mineral besi dengan gangue yang berikatan tidak begitu kuat. Pengaruh waktu pengadukan umpan terhadap komposisi mineral dan derajat liberasi konsentrat 3. Komposisi hematit terkecil diperoleh pada ukuran butir <180 µm (68.3. 44 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 Kadar Fe (%) .4 Pengaruh Intensitas Magnet terhadap Perolehan dan Kadar Fe Total pada Konsentrat Dari grafik pengaruh intensitas magnetik terhadap perolehan dan kadar Fe total (Gambar 10). magnetit sebesar 6.00%. disimpulkan bahwa perolehan dan kadar dipengaruhi oleh pengaruh ukuran butir akibat adanya perubahan komposisi mineral dan derajat liberasi. Pengaruh intensitas magnet terhadap perolehan dan kadar Fetotal konsentrat Gambar 9. disimpulkan bahwa pengaruh intensitas magnet terhadap perolehan menunjukan semakin besar intensitas magnet semakin meningkat perolehan.3.07% dan gangue sebesar 20. Kadar Fe tertinggi didapatkan pada ukuran <250. Penyebab-penyebab tersebut dapat mengakibatkan peningkatkan penarikan mineral magnetik oleh magnet menjadikan konsentrat. Kadar Fe total tertinggi diperoleh pada intensitas magnet 2000 gauss (54.84%.33%). magnetit sebesar 7. didapatkan komposisi mineral hematit sebesar 72.13% dan sisanya gangue. Pada waktu pengadukan umpan 20 menit.93% dan gangue sebesar 21.50%.

Hematit terbesar terdapat pada ukuran butir <180 µm (29. Hematit terbesar terjadi pada intensitas 2000 gauss (28.3. artinya mineral magnetit tertarik semua ke dalam konsentrat.26%. Magnetit pada tailing masingmasing variabel ini sudah tidak ada. sedangkan gangue cenderung semakin kecil.. sedangkan gangue mengalami peningkatan.3. 30 50 20 40 10 1 10 20 30 Waktu Pengadukan Um pan (Menit) Recov ery Fe Kadar Fe Gambar 12. sedangkan gangue-nya sebesar 72.53%.6 Pengaruh Waktu Pengadukan Umpan terhadap Perolehan dan Kadar Fetotal pada Konsentrat Dari Gambar 12 diperoleh kesimpulan bahwa waktu pengadukan juga memberikan pengaruh terhadap perolehan dan kadar akibat adanya perubahan komposisi mineral dan derajat liberasi.47%) dan gangue-nya sebesar 71.7 Analisis Komposisi Mineral pada Tailing Variabel Intensitas Magnet Berdasarkan Gambar 13 menunjukkan bahwa mineral magnetit pada tailing hasil percobaan pemisah magnetik sudah tidak ada. seluruh magnetit tertarik semua ke dalam konsentrat pada setiap variabel intensitas magnet. Pengaruh waktu pengadukan umpan terhadap perolehan dan kadar Fetotal konsentrat Peningkatan Kadar Bijih Besi dari Daerah Pelaihari .3. Kadar Fe (%) 35 30 40 25 30 20 <75 <106 <150 <180 <250 20 Ukuran Butiran (µm ) Recov ery Fe Kadar Fe Gambar 11.67%. 45 .  Perolehan Fe (%) 40 70 60 50 3. dkk. Pengaruh ukuran butir terhadap perolehan dan kadar Fetotal konsentrat   Komposisi Mineral (%) 3. Pramusanto.9%. Kadar Fe total tertinggi diperoleh pada waktu pengadukan umpan sebesar 55.33%). Komposisi hematit terkecil terdapat pada intensitas magnet 10000 gauss (27. 80 70 60 50 40 30 20 10 0 2000 4000 6000 8000 10000 Intensitas Magnet (gauss) Magnetit Hematit Gangue   Perolehan Fe (%) Gambar 13.. Perolehan tertinggi terjadi pada pengadukan umpan selama 20 menit dengan perolehan sebesar 33.20%) dan gangue sebesar 70.80%. Hematit berkurang seiring dengan bertambahnya intensitas magnet. Pengaruh intensitas magnet terhadap komposisi mineral tailing 50 70 40 60 Kadar Fe (%) 3.8 Analisis Komposisi Mineral pada Tailing Variabel Ukuran Butir Dari Gambar 14 terlihat bahwa semakin besar ukuran butir semakin besar pula kecenderungan komposisi hematit.

Federal Republic of Germany. Fathi (editor). Weinhem.00%. Al2O3 15.7% pada ukuran butir <25. 1982 “Introduction to Mineral Processing”. Perkins. 5. United Stated of America. Bijih besi Pelaihari mempunyai mempunyai kadar Fe total 31. Komposisi hematit semakin kecil seiring dengan bertambahnya waktu pengadukan. Prosiding Kolokium Pertambangan. 4. Pada percobaan pengaruh intensitas magnet. kadar Fe total tertinggi 54. 3. Pencucian mengunakan spiral classifier meningkatkan kadar besi total menjadi 34.3. <106 dan <75 µm. New York Koesnohadi dan Ahmad Sobandi. Prentice-Hall Inc.84% pada intensitas magnet 2000 gauss. Dexter.6%. Pada percobaan pengaruh waktu pengadukan umpan.  Komposisi Mineral (%) 4.50% ada pada ukuran butir <75 µm. 80 70 60 50 40 30 20 10 0 <75 <106 <150 <180 <250 Ukuran Butir (µm ) Magnetit Hematit Gangue KESIMPULAN Beberapa kesimpulan yang dapat ditarik adalah : 1. DAFTAR PUSTAKA Habashi. sedangkan mineral gangue sebesar 73. Pengaruh ukuran butir terhadap komposisi mineral tailing 3.26%. Perolehan tertinggi 33.7% dengan perolehan 28. 2008 “Potensi Sumber Daya Lokal Untuk Membangun kemandirian dan Daya Saing Industri Baja Nasional”..67%.74%. Pengaruh waktu pengadukan umpan terhadap komposisi mineral tailing 46 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .   Komposisi Mineral (%) 80 70 60 50 40 30 20 10 0 1 10 20 Waktu Pengadukan Um pan (Menit) Magnetit Hematit Gangue Gambar 15. 1997 “Handbook of Extractive Metallurgy Volume I: The Metals Industry Ferrous”.61%.9% untuk waktu pengadukan umpan 10 dan 20 menit.9 Analisis Komposisi Mineral pada Tailing Variabel Waktu Pengadukan Umpan Gambar 15 menunjukan bahwa pada tailing variabel waktu pengadukan umpan. Bandung. John Willey & Sons.3% dengan mineral gangue terdiri atas SiO2 28.. Kelly Erol G. Perolehan tertinggi 31. sedangkan gangue semakin besar. 2002 “Mineralogy 2nd Edition”. Gambar 14. New Jersey. Spottiswood David J.26% terjadi pada waktu pengadukan umpan 20 menit. Pada percobaan pengaruh ukuran butir. Wiley-VCH. CaO 5. 2. magnetit tidak ada. Komposisi hematit terbesar terdapat pada waktu pengadukan satu menit sebesar 26. kadar Fe total tertinggi adalah 55. kadar Fe total tertinggi 54.

New York. www. 47 . Pergamon Press. dkk. “Mineral Processing Technology 5Th Edition”..id/silo_products.. Pusat Penelitian Pengembangan Teknologi dan Mineral. A. Oxford. Pramusanto. PT SILO. tanggal 20 Mei 2009. 1988.. B.htm. dkk. 1999 “Pengerjaan Awal Bijih Besi Laterit Melalui Pemisahan Secara Magnetis dalam Drum Magnetic Separator pada Pembentukan Campuran Bijih Besi Laterit dan Kokas”. Bandung.sebukuiron. diunduh pada jam 10:57. Wills.. Peningkatan Kadar Bijih Besi dari Daerah Pelaihari .Pramusanto.co.

5 mm. the clayed quartz sand sample need to beneficiat by washing and sieving on several size of 1.063 mm.85 % SiO2. mengalami kenaikan kadar silika (SiO2) yang cukup signifikan. sampel pasir kuarsa yang berlempung tersebut perlu dilakukan proses pengolahan dengan cara pencucian dan pengayakan dengan menggunakan ayakan ukuran 1. Pasir kuarsa ini masih bercampur dengan material lempung berwarna krem kekuningan. 0. Achmad Yani 392 Bandung Telp. bodi keramik putih ABSTACT There are a lot of the quartz sand deposit in Rantaubujur area.27 % SiO2 become 94. This quartz sand still mixed with yellowish cream clay materials. beneficiation 48 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .30 grams from the natural quartz sand of 900 grams. Because of that. 022 . The chemical analysis result of natural quartz sand and pure quartz sand that has increased of silica (SiO2) significant enough namely from 80.378.7206221 / 7207115) SARI Jumlah cadangan endapan pasir kuarsa di daerah Rantaubujur Kecamatan Tapin Selatan. Keywords : clayed quartz sand.000 m3. 0. 0. silica grade.PENGOLAHAN PASIR KUARSA BERLEMPUNG ASAL RANTAUBUJUR.063 mm. yang merupakan lapisan tanah penutup (over burden) pada endapan batu bara. KABUPATEN TAPIN. PROVINSI KALIMANTAN SELATAN.30 gram pasir kuarsa terolah dari sebanyak 900 gram pasir kuarsa asli. Dari hasil percobaan pencucian yang dilakukan sebanyak 3 (tiga) kali diperoleh 658. which to appear of overburden on the coal deposit. UNTUK BAHAN BAKU KERAMIK Subari. Based on the beneficiation experiments as much as 3 (three) time be found the pure quartz sand of 658.0 mm. South Tapin District . Kata kunci: pasir kuarsa berlempung.27 % SiO2 menjadi 94. Hasil analisis kimia pasir kuarsa asli (masih bercampur lempung) dan yang terolah. Jend.85 % SiO2 . Pasir kuarsa terolah ini telah memenuhi syarat sebagai bahan baku keramik untuk dibuat bodi keramik putih yang fungsinya sebagai bahan pengisi.Tapin Regency abaout 186. Kabupaten Tapin sebanyak 186378000 m3. Oleh karena itu. pengolahan/pencucian. This pure quartz sand has to fulfill as ceramic raw material for made the whiteware ceramic as the filler material. yakni dari 80. silika. Enymia dan Sumarsih Balai Besar Keramik Jl.0 mm.

Untuk mengetahui perolehan silika atau kuarsa yang dihasilkan dari proses pengolahan (benefisiasi) pasir kuarsa alam dapat digunakan rumus (Wills. India. ubin teraso. HASIL DAN PEMBAHASAN 3. akar tetumbuhan dan lain sebagainya. Kabupaten Tapin . Kondisi endapan pasir kuarsa semacam ini juga di jumpai di desa Rajpardi “Bharuch district”.. yang merupakan lapisan overburden pada tambang batubara jenis lignit.. Proses pengolahannya di lakukan sebanyak 3 (tiga) kali percobaan yang hasil percobaannya dapat di lihat pada Tabel 1.al. pengayakan cara basah dan cara magnetik. METODE PENELITIAN Pasir kuarsa alam atau kuarsa asli yang digunakan dalam percobaan pengolahan (benefisiasi) berasal dari daerah Rantau Bujur Kecamatan Tapin Selatan. Tapin Selatan tergantung pada karakteristik bahan. 2006): Pengolahan Pasir Kuarsa Berlempung Asal Rantaubujur.8) cm. 3.5 mm dan 0. 49 . 2000). Perolehan (recovery) kuarsa terolah Teknologi pengolahan pasir kuarsa dari Tapin Selatan ini dilakukan dengan pengayakan atau penyaringan secara basah yang menggunakan beberapa ukuran ayakan. Metode pengolahan yang digunakan dalam proses pengolahan pasir kuarsa dari Kec. kaolin 50 % dan lempung 30 %. (2000) setelah melakukan proses pengolahan pasir kuarsa yang berwarna kuning hingga kuning kecoklat-coklatan dengan menggunakan metode pengayakan cara kering. Sehubungan hal tersebut di atas. Pasir kuarsa ini masih bercampur dengan material lempung berwarna krem kekuningan. penggunaan pasir kuarsa sudah berkembang ke berbagai industri baik sebagai bahan baku utama maupun untuk bahan campuran atau aditif. pasir kuarsa yang diteliti akan digunakan sebagai bahan baku campuran dalam pembuatan ubin keramik selain menggunakan felspar dan kaolin.063 mm. Pasir kuarsa dicuci dan kemudian diayak/disaring dengan menggunakan ayakan ukuran 1. PENDAHULUAN Di daerah Rantau Bujur Kecamatan Tapin Selatan Kabupaten Tapin Provinsi Kalimantan Selatan terdapat endapan pasir kuarsa/silika yang merupakan lapisan tanah penutup (overburden) pada endapan batubara. Kemudian komposisi bodi tersebut dicampur sampai homogen dengan menambahkan air sekitar 5 % dari total berat bahan baku. Bagan alir proses benefisiasi terhadap pasir kuarsa tercantum pada Gambar 1.000 m3 (Widyajasa. Benda uji ubin selanjutnya dikeringkan dalam oven pengering pada suhu 100 0C.1200 dan 1250 °C. Berdasarkan pada karakteristik pasir kuarsa yang masih mengandung bahan pengotor dan mengacu pada penelitian Vyas. Bahan pengotor yang terkandung didalam pasir kuarsa Rajpardi yaitu oksida besi seperti ilmenit atau limonit.. kerikil. Carty.378. seperti misalnya penelitian Vyas et al. Subari. Sedangkan pasir kuarsa sebagai bahan baku campuran.1.. 0. hal ini tergantung pada tingkat kemurnian bahan baku yang digunakan( Achuthan et al. dkk. (2000) maka metode pengolahan yang dilakukan adalah proses pengayakan cara basah. mineral horblende dan biotit (Chakraborty. misalnya pada industri pengecoran logam.5 x 0.1. dan akhirnya dibakar dalam tungku listrik pada suhu 1150. industri perminyakan dan industri keramik termasuk refraktori. 2. 2000. yang merupakan bahan pengotor sehingga warna pasirnya bervariasi dari krem sampai kuning kecoklat-coklatan. Sedangkan penggunaan kuarsa atau silika pada industri keramik berkisar antara 10 – 25% berat dari kompo-sisi bodi keramik stoneware atau perselen.5 x 7. Adapun komposisi bodi keramik yang dicoba terdiri dari bahan baku kuarsa terolah 20 %. Sebagai bahan baku utama. ferosilikon. Pasir kuarsa di sini nampaknya masih bercampur dengan material lempung. 2001). et. 2003).0 mm. silikon karbida dan bahan abrasif. pasir kuarsa dapat digunakan dalam industri gelas. dengan jumlah cadangan sebesar 186. Dalam industri manufaktur. Dengan adanya kandungan bahan pengotor (impurities) tersebut maka pasir kuarsa ini perlu dilakukan proses pengolahan (benefisiasi) yang tujuannya untuk meningkatkan kualitas kuarsa/ silika agar dapat digunakan sebagai bahan baku keramik terutama untuk bodi keramik putih (whiteware ceramic) seperti stoneware dan porselen. et al. Setelah itu komposisi bodi ini dicetak ubin keramik berukuran (7. Dari hasil percobaan pengolahan ini diharapkan kualitas pasir kuarsa meningkat serta dapat dimanfaatkan untuk industri keramik bahkan bisa juga digunakan untuk industri gelas.

33 Kehilangan ( gram ) 21 28 36 28.0.5 mm Kuarsa & lempung 0.5 mm Diayak basah ukuran 0.Kuarsa alam dibuat massa lumpur Diayak basah 1.063 mm Gambar 1.063 mm Kuarsa terolah + 0.0 mm Kuarsa & lempung -1.063 mm Lempung kotor .0 mm Diayak basah ukuran 0.Bagan alir proses benefisiasi pasir kuarsa Tabel 1.3 Kotoran 1 ( gram ) 32 27 28 29 Kotoran 2 ( gram ) 107 170 276 184.33 50 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .0.5 mm .5 mm Kuarsa terolah + 0.0 mm Kotoran kerikil + 1. Material balance pada proses benefisiasi pasir kuarsa Percobaan 1 2 3 Rata-rata Kuarsa asli ( gram ) 900 900 900 900 Kuarsa terolah ( gram ) 740 675 560 658.

20%. Dibandingkan dengan pasir kuarsa dari pulau Bangka dan pulau Belitung yang kadar silikanya masing-masing sebesar 95-99 % SiO2 dan 96-99.57 % dengan cara pencucian dan pengayakan tersebut memberikan hasil yang baik. Kemudian dari data analisis X Ray diffraktometer terhadap pasir kuarsa asli (belum diolah) kode KCT dan kuarsa yang sudah diolah kode KMT seperti tercantum dalam Gambar 2. Data komposisi Kimia dan Mineral Data komposisi kimia terhadap pasir kuarsa asli atau belum diolah terutama kadar silika (SiO2). % C = Kuarsa terolah (konsentrat).30 gram dari sebanyak kuarsa asli sebesar 900 gram. Subari. Kadar SiO2 didalam kuarsa asli (umpan) = 80. Kemudian pasir kuarsa setelah diolah dengan cara pencucian dan pengayakan ternyata kadar SiO2 nya mengalami kenaikan menjadi 94.347.27 % dan yang didalam konsentrat (kuarsa terolah) =94.Dimana : R = Recovery.34 % dan 0.27 Jumlah cadangan pasir kuarsa alam (kuarsa asli) sebesar 186.435 m3.3 %. Sehingga pasir kuarsa terolah tersebut masih bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku keramik untuk body keramik stoneware atau porselen dan juga barang tahan api (refractory).5 % SiO2 ( Hartono dan Subari.4 % dan yang TiO2 = 0.85 % serta kadar Fe2O3 dan TiO2 mengalami penurunan masing-masing yaitu 0..23 %.% Menurut Tabel 1 bahwa banyaknya kuarsa terolah rata-rata sekitar 658. Gambar 2. Menurut ketentuan tersebut diatas nampaknya pasir kuarsa dari Kabupaten Tapin telah memenuhi syarat sebagai bahan baku untuk body keramik porselen atau stoneware. 1986).27 %. menunjukkan bahwa untuk kuarsa asli terdapat kandungan mineral kaolinite selain alfa kuarsa sedangkan yang kuarsa terolah hanya mengandung alfa kuarsa serta tidak ada lagi kandungan mineral kaolinitnya. gram c = Kadar SiO2 didalam konsentrat.30 x 94.378. apabila pasir kuarsa diolah semuanya maka yang diperoleh sebanyak 161.000 m3. dkk. Dengan demikian perolehan pasir kuarsa terolah adalah : 658.85% SiO 2 kualitasnya hampir sama dengan yang pasir kuarsa Bangka.85 %. 3.04 %. gram f = Kadar SiO2 didalam umpan.2. 1.Grafik difraktogram pasir kuarsa asli dan kuarsa terolah Pengolahan Pasir Kuarsa Berlempung Asal Rantaubujur. dan 0.85 R= 900 x 80. 51 . Dengan demikian proses pengolahan pasir kuarsa dari Kabupaten Tapin x 100 % = 86. maka pasir kuarsa terolah dari Kecamatan Tapin Selatan dengan kadar silika sebesar 94. dan TiO2 masing-masing sebesar 80. Kabupaten Tapin .. Fe2O3. % F = Umpan (feed) pasir kuarsa asli. Dilihat dari kadar Fe2O3 dan TiO2 bahwa menurut SNI 15-1026-1989 mengenai kuarsa untuk pembuatan porselen dan stoneware batas kadar yang disyaratkan untuk Fe2O3 = 0. Dengan berdasarkan ketentuan tersebut maka proses pengolahan pasir kuarsa dengan cara pencucian dan pengayakan cukup berhasil dan bisa dikembangkan dalam skala produksi.

Kemudian komposisi bodi tersebut dicampur sampai homogen dengan menambahkan air sekitar 5 % dari total berat bahan baku. 137.5 x 0.85 %.al. lempung dan felspar.347.N.3. 2001.24 %.15%.65 kg/ cm2 dan 143. M.T.M. Dengan demikian kuarsa terolah yang mengandung SiO2 = 94. A.masing 135. 3. A.1200 dan 1250 0C. Carty.92 kg/cm2. Ceramic engineering and Sci- 52 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . 2008. Hal ini disebabkan lubang pori-pori dalam bodi ubin semakin mengecil dan ikatan paertikel-partikel bahan yang satu dengan lainnya menjadi semakin kuat akibat semakin tingginya suhu pembakaran. 16.13 %.No. makin tinggi suhu pembakaran nilai kuat lenturnya semakin besar yaitu masing. yang telah membantu untuk mendapatkan sampel bahan galian golongan C jenis pasir kuarsa berlempung dari Kecamatan Tapin Selatan serta data potensi cadangannya. Perolehan (recovery) pasir kuarsa terolah sebanyak 161.. Pemakaian pasir kuarsa terolah untuk dibuat ubin keramik sebesar 20% dicampur dengan lempung 30% dan kaolin 50% dari Kabupaten Tapin. Volume 57. Benda uji ubin selanjutnya dikeringkan dalam oven pengering pada suhu 100 0C. (2000) bahwa untuk membuat bahan tahan api tersebut digunakan silika dengan kadar SiO2 minimum 93 % pada suhu pembakaran 1430-1450 0 C. KESIMPULAN 1. W. Dari hasil analisis kimia terhadap kuarsa terolah ternyata mengandung kadar silika (SiO2) yang cukup tinggi yaitu 94. Adapun komposisi bodi keramik yang dicoba terdiri dari bahan baku kuarsa terolah 20 %. Untuk percobaan pembuatan bodi keramik disini menggunakan kuarsa dari hasil pengolahan pasir kuarsa berlempung dan sedikit mengandung kerikil. Setelah itu komposisi bodi ini dicetak ubin keramik berukuran (7.063 mm dapat meningkatkan kadar silika (SiO 2) dari 80.. Effect of Precipitated Silica Additions to the Composition of Ceramic Glazes. 0.435 m3 cukup potensial untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku industri keramik dalam pembuatan ubin keramik dan bata tahan api silika. Selain untuk ubin keramik pasir kuarsa terolah ini bisa juga digunakan sebagai bahan baku utama bata tahan api silika karena menurut Goswami.5 mm dan 0. Ubin setelah dibakar ternyata makin tinggi suhu pembakaran penyerapan airnya semakin kecil masing.masing sebesar 17. Nilai penyerapan ubin keramik ini masih di atas 15% karena di dalam komposisi bodi ubin tidak menggunakan felspar yang fungsinya sebagai bahan pelebur guna membantu dalam proses sintering. Kandungan silika bebas tersebut juga terdapat di dalam lempung (clay)..85 %. Proses pengolahan pasir kuarsa berlempung asal Kabupaten Tapin dengan cara dicuci dan diayak menggunakan ukuran ayakan 1. kaolin. Demikian pula sebaliknya.77% menjadi sebesar 94. 2000). Lempung ini masih bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku keramik untuk dibuat bodi merah atau terakota. Misalnya lempung berwarna kuning kecoklatan dari daerah Zorka mengandung kadar SiO2 69. Maiti.3. sehingga bodi keramik tersebut dapat dikatagorikan keramik putih (whiteware ceramic). K.57 kg/cm2.8) cm. 4.1. Di samping itu warna bodi ubin keramik setelah dibakar pada suhu 1150 0C sampai 1250 0C berwarna putih susu sampai krem.98 %. et. Interceram. Peer. agar pada suhu pembakaran 1250 0C bodinya sudah bersifat padat (vitrified) sehingga penyerapan airnya bisa mencapai di bawah 10 % (Chakraborty et al.5 x 7. dan akhirnya dibakar dalam tungku listrik pada suhu 1150. yang dibakar pada suhu 1150-1250 0C bodinya berwarna putih susu serta digolongkan ke dalam bodi putih (whiteware ceramic). kaolin 50 % dan lempung 30 %. Sedangkan bahan lempung yang merupakan pengotor (impurity) dari pasir kuarsa mengandung kadar SiO2 nya sebesar 70. UCAPAN TERIMAKASIH Dengan terpublikasinya makalah ini penulis menyampaikan banyak terima kasih kepada Kepala Dinas Pertambangan Kabupaten Tapin beserta stafnya.0 mm. dan felspar. Pembuatan Keramik dari Kuarsa Terolah Bahan baku yang biasanya digunakan dalam pembuatan keramik konvensional atau tradisional adalah kuarsa.85 % telah memenuhi syarat untuk dibuat bata tahan api silika (silica brick refractory).87 % dan 15. DAFTAR PUSTAKA Achuthan. 2.

Oxford-UK. 2006.G.M. B. Chakraborty..D. A.N.R. Volume 22. Proceedings. G. 2. B. A. K. Mineral Processing Technology. D. Seventh Edition-ELSEVIER. 49 No. 2000. Vyas.V dan Subari. Vyas. Teori Benefisiasi Bahan Mentah Keramik Halus.K. D. X Ray Diffractometric Determination of Tridymite in Silica Refractories. Balai Besar Industri Keramik Bandung. 1986. Sojitra.G.. B.T.N.R. Interceram.. 2003. dkk. J. Material and Equipment and Whitewares. Beneficiation of Rajpardi Silica Sand For Use in the Ceramics and Glass Industry. Volume 49 No. Widyajasa. Volume 49 No. Kabupaten Tapin . Effects of Substitution of Quartz by Rajpardi Silica Sand on the Thermomechanical Properties of Conventional Ceramics. 53 . 2000.. Wills. Hartono..P. Vol.. 2000.K. A.5. Issue 2.3. Sojitra. Y. Interceram.. K. Bapeda Pemerintah Kabupaten Tapin. Studi Komprehenship Inventarisasi dan Evaluasi Bahan Galian Tambang di Kabupaten Tapin. Maiti. Goswami. Subari. Pengolahan Pasir Kuarsa Berlempung Asal Rantaubujur.A. Chakraborty. Interceram.ence. Maiti. Panda.

PRESENTASI MAKALAH PARALEL II .

paper. Kata kunci: masa kini. briket batubara dan industri lainnya.MASA KINI DAN MASA DEPAN BATUBARA INDONESIA Ijang Suherman Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. masa depan. Sudirman 623 Bandung 40211 Telp. the utilization of coal in Indonesia keeps developing in various market segments including: coal-fired power. utilization Masa Kini dan Masa Depan Batubara Indonesia. future. will support the effort of optimizing supply and demand of the coal in Indonesia in the future time. tekstil. Adanya Kebijaksanaan Energi Nasional mengenai diversifikasi energi.go. 4 Year 2009 about mineral and coal mining. pemanfaatan batubara di wilayah Indonesia terus berkembang di berbagai segmen pasar yang meliputi PLTU. the implementation of UU No. cement industry. Besides. baik di Indonesia maupun belahan dunia lainnya. pemanfaatan ABSTRACT The role of coal as an energy supply.id SARI Peran batubara sebagai pemasok energi. textile. kertas.esdm. Fax. metallurgy. melalui PP No. Di samping itu. di masa mendatang akan terus meningkat meskipun harga batubara sedikit terkoreksi sebagai dampak dari harga minyak yang baru saja terkoreksi tajam. akan mendukung upaya optimalisasi permintaan dan pemasokan batubara Indonesia dimasa depan. industri semen. although its price is slightly corrected as the impact of the oil price that was just sharply corrected. Keyword: nowadays.5 Tahun 2006. (022) 6030483. coal briquette and so forth. 5 Year 2006. batubara. (022) 6003373 e-mail : ijang@tekmira. Jend. either in Indonesia or other countries. metalurgi. Ijang Suherman 55 . in the future time will increase. dengan berlakunya UU No 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral Batubara. Due to the presence of the National Energy Policy about energy diversification through PP No. coal.

produksi batubara selama 16 tahun terakhir telah menunjukkan peningkatan yang cukup pesat. Segmen pasar yang menggunakan batubara sebagai bahan bakar meliputi PLTU. Kalimantan Selatan. jumlah sumber daya adalah sebesar 104.1. serta pemanfaatan batubara untuk briket batubara. Jumlah sumber daya dan cadangan batubara Indonesia setiap tahun terus bertambah. Kondisi saat ini.2. Sumber daya batubara tersebut tersebar di 19 propinsi. namun terbesar terutama di Pulau Sumatera dan Kalimantan sebanyak masing – masing 50. Sumatera Barat. Sedangkan Upgrading Brown Coal (UBC). Pola Pengusahaan Batubara Ijin pengusahaan batubara di Indonesia secara garis besar dibedakan dalam tiga pola.75 miliar ton. tekstil. serta terwujudnya bauran energi (energy mix) yang optimal pada tahun 2025. Pada tahun 2008 produksi batubara nasional telah mencapai 233. yaitu Propinsi Sumatera Utara. industri semen. dan industri lainnya. Di samping kondisi global tersebut. Selain itu. namun setelah digulirkannya otda ada peningkatan yang cukup berarti dengan tingkat pertumbuhan ratarata 21. dengan jumlah cadangan sebesar 22. industri tekstil.02% pertahun (Tabel 1). Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Jawa Timur. Sedangkan model pengolahan dan teknik analisis yang digunakan adalah statistka deskriptif dan trend analysis. maka ke depan sistim perijinan hanya ada satu jenis. PENGUSAHAAN BATUBARA 4. berdasarkan perhitungan Pusat Sumber Daya Geologi. Nusa Tenggara Timur. industri semen. Perjanjian Kerjasama Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B). Sumatera Selatan.1. Namun dengan di telah disyahkannya Undang-Undang No 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.15% dan 49. Banten. 56 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . 6 pulau.62 juta ton. 4. Tingkat Produksi Batubara 2. baik untuk pemakaian domestik maupun pasar ekspor. akan mendukung untuk menciptakan keamanan pasokan energi nasional secara berkelanjutan dan pemanfaatan energi secara efisien. 4.76% dengan pertumbuhan 16. Metoda dalam kajian ini. dan lainnya untuk mendapatkan data primer dengan hasil-hasil publikasi dari instansi terkait sebagai data skunder. dan Jawa Tengah. adalah menghubungkan hasil-hasil penelitian survei sampling secara langsung seperti ke PLTU. dengan kenaikan produksi rata-rata per tahun secara nasional adalah 17. industri kertas. Jawa Barat. PENDAHULUAN 3. Kalimanatan Timur. industri peleburan (metalurgi).04%. Sulawesi Selatan. Sedangkan peran KP awalnya relatif masih kecil di bawah BUMN (PTBA).93% pertahun. tahun 2008. yaitu Ijin Usaha Pertambangan (IUP) untuk satu wilayah tertentu. Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. menimbang cadangan minyak bumi Indonesia yang semakin menipis. Kegiatan penelitian ini dilakukan di 11 lokasi di Indonesia. METODOLOGI Sejalan dengan upaya penganekaragaman energi dan peningkatan kebutuhan batubara. Seluruh daerah (propinsi) ini dianggap dapat mewakili produsen maupun konsumen batubara di Indonesia. adanya kebijaksanaan energi nasional mengenai diversifikasi energi.25 milyar ton. Gasifikasi Batubara dan Pencairan batubara adalah arah pemanfaatan batubara untuk masa mendatang. Dalam kurun waktu tersebut (1992 – 2008) telah terjadi perubahan distribusi produksi yang signifikan. telah memacu pemanfaatan batubara di berbagai segmen pasar (industri) di wilayah Indonesia. PKP2B memegang peranan yang cukup menonjol sekitar 75. Pemberlakuan UU No 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral Batubara. hingga kini sumber daya mencapai 104.25 miliar ton (Gambar 1). tetapi sampai sekarang harga batubara masih tetap tinggi walau agak terkoreksi. dan Kuasa Pertambangan (KP).56%. pemanfaatan batubara di dalam negeri menjadi semakin penting sejalan dengan ditemukannya cadangan batubara yang besar.75 milyar ton dan cadangan 22. POTENSI SUMBER DAYA DAN CADANGAN Harga dunia minyak yang demikian tinggi baru saja terkoreksi tajam. kertas.

Ijang Suherman Gambar 1. Distribusi Sumber Daya Batubara Indonesia 57 .Masa Kini dan Masa Depan Batubara Indonesia.

815 40.85% dari jumlah seluruh kebutuhan. serta kran ekspor China ditutup. Ini berarti volume ekspor rata-rata naik sebesar 15. diikuti oleh pemegang KP sebesar 7.292 8.3.992 164.71%.993 16.2 Penjualan batubara ekspor 16.926 4.555 10.607 9. Ekspor batubara Indonesia pada tahun 1992 hanya sebesar PENGGUNAAN BATUBARA DI INDONESIA Harga dunia minyak yang demikian tinggi baru saja terkoreksi tajam. Hal ini diperlukan untuk mengutamakan jaminan pasokan dalam negeri serta kegiatan peningkatan produksi yang mengacu pada konsep konservasi.532 87. yaitu sebesar 54.35 %. Tingkat Penjualan Batubara 4.645 156.07 PKP2B 14. diikuti oleh pemegang KP sebesar 34. Kebutuhan batubara dunia saat ini ternyata meningkat sangat cepat.925 juta ton (Tabel 2).Tabel 1.3. Di samping kondisi global tersebut.3. sedangkan pada tahun 2008 tercatat sebesar 158.56%.374 6.482 10.570 66.474 10.477 29.078 96. Dengan adanya kecenderungan tersebut.318 juta ton (Tabel 3).207 10. perusahaan pemegang PKP2B merupakan pemasok batubara dalam negeri yang terbesar.138 2.979 9.707 7.467 5.180 62. Hal ini yang mengantarkan Indonesia sebagai pemasok (eksportir) terbesar menyaingi Australia dan Afrika Selatan. 5. Perusahaan pemegang PKP2B merupakan eksportir batubara terbesar.123 4.602 47.375 233.408 4.02 Jumlah 15.812 7.965 9.286 3.288 juta ton.890 104.994 22.057 57.859 11.288 juta ton. tahun 1992 – 2008 Tahun 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 (%) Produksi (x000Ton) PTBA 7.682 5.654 1.533 36.741 45.04 Sumber : DPPMB dan APBI.874 23.069 52.230 9. dan BUMN PTBA serbesar 10. yang berarti setiap tahun penjualannya rata-rata meningkat sebesar 17. 2009 (diolah Kembali) 4.17%.93 KP 1.246 208.171 145.470 25.328 93.935 20. antara lain dipicu oleh booming harga dan semakin banyaknya pembangunan PLTU di luar negeri yang menggunakan bahan bakar batubara. tetapi sampai sekarang harga batubara masih tetap tinggi walau agak terkoreksi. Jumlah produksi batubara Indonesia menurut kelompok perusahaan.251 123.713 171.576 37.885 33.796 6.951 10.986 187. menimbang cadangan minyak bumi Indonesia 58 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .805 46. Ada yang berpendapat mungkin semakin meningkat karena permintaan yang jauh melebihi penawaran.389 82.300 113.862 41.489 21.604 61.281 18.1 Penjualan batubara dalam negeri Jumlah penjualan batubara di dalam negeri tahun 1992 sebesar 7.80%.57%.966 4.620 17.707 76.87% dari jumlah ekspor batubara Indonesia.707 8.027 8. 4.921. Tahun 2008. yaitu sekitar 89.746 10.597 2.212 9.103 7. sedangkan pada tahun 2008 mencapai 73. dan BUMN sebesar 2. maka kedepan perlu mencermatinya untuk melakukan pembatasan ekspor.570 176.

597.921.816.827 1.142.240 6.549.933 10.750 710.703 31.000 2.758.168 1.754.971 830.495.895 7.318 1.000 32.000 1.005.140.856.104 5.915 25.262 454.428 143.195 4.985 41.364 2.201 55. tahun 1992 – 2008 Tahun 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Penjualan Batubara (Ton) BUMN 6.209.014 7.000 85.766 6.212 3.966 3.848.975.536 815.585 2.521 74.389. 2009 (diolahKembali) Tabel 3.262.975.083.973 3.691.239.420 40.000 106.306.895.584.834.256.247 4.053 51.254.079.969.001 12.145 36.600 41.657.206.875 4.775 7.386.024.022.715.830.444 1.361 25.230.492.086.424 9.815 1.276.318.565.966 4.443 26.501.606.105 1.957 66.044 158.541 5.852.783 36.764 756.323 938.256.364 7.892. 2009 (diolah Kembali) Masa Kini dan Masa Depan Batubara Indonesia.298.085.047.712.773 1. Tahun 1992 – 2008 Tahun 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Ekspor Batubara (Ton) BUMN PKP2B KP 1.260.454.735.979.153.265 813.276.201 99.969 2.181 8.727.767.895 9.713 9.955.865 6.225.787 27.979 64.720 8.397 949.994 2.829 21.375.623.131 3.022.973 53.620. Jumlah Ekspor Batubara Indonesia Menurut Kelompok Perusahaan.152.000 4.003 30.394.178 918.858 85.212 1.428 8.119 Jumlah 6.341 47.178.713 14.192.534 127.001 Jumlah 16.633.307 11.924.480 KP 363.272 92.304 12.435.510.799.116.405.782 3.095.874 6.977 2.239.395.550.697.381 4.886.363 76.114.995 6.777 2.381 1.034 2.550 158.482 3.228 PKP2B 356.117 19.132.356.539.233 12.257.011.575 8.787.577 15.097 3.894.581 1.506 18.621.431.913.686 58.206.110 73.835.574.221 25.354 34.939 37.194.538 7.124.053.321 20.138 52.268.233 13.366 16.Tabel 2.548.575.064.157 1.421 948.544 13.312.710.819.714 31.826 Sumber : DPPMB. Jumlah penjualan dalam negeri batubara Indonesia menurut kelompok perusahaan.550 22.680.195.842 Sumber : DPPMB.061.041.000 7.875 48.210.077 142.255.980.000 41.377 18.989 29.621.854.920 21.822.601.160.475 142.185 36.349.294.387.124 7.520. Ijang Suherman 59 .755 1.984 9.537 2.616 2.044 22.492 59.734.307.662.646 8.

64. 5. penggunaan batubara di PLTU untuk setiap tahunnya meningkat rata-rata 13. PLTU berbahan bakar batubara.144 juta ton per tahun. Hingga saat ini. serta industri lainnya terus meningkat. Selain itu.783. antara lain dari PT. PLTU PLTU merupakan industri yang paling banyak menggunakan batubara sebagai bahan bakar pada boiler untuk mendidihkan air menjadi uap air.161.000 MW.33. dan lain-lain.967.981.279. Berdasarkan data dalam kurun waktu 1998-2008. PT Daya Citra Mulia. Kideco Jaya Agung. yakni unit 1 dan 2 kapasitas 800 MW yang dikelola oleh PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB).540 MW (lihat Tabel 6). PT. industri kertas. ada 13 PLTU.37% (Tabel 5).40 dan USD 4. PT.48%.400 MW menggunakan batubara sebesar 13.659. sebanyak 22 proyek dengan total kapasitas 1. Berau Coal. (Tabel 4).000 MW yang diharapkan siap beroperasi tahun 2010.230 MW yang dikelola perusahaan swasta PT Java Power dan unit 7 dan 8 yang dikelola PT Paiton Energy dengan kapasitas 1. dan industri lainnya.223. adanya kebijaksanaan energi nasional mengenai diversifikasi energi. sedangkan batubara yang dibutuhkan untuk 30 PLTU Sistem Kelistrikan Luar Jawa sedikitnya 7. Indonesia Power memiliki 7 unit pembangkit dengan total kapasitas terpasang 3.0 juta ton per tahun. industri semen. Pemasok utama batubara untuk PLTU Suralaya.575 juta ton per tahun.885.168. Peranan PLTU pada pembangkit tenaga listrik nasional adalah yang terbesar. Sedangkan di kawasan PLTU Paiton ada tiga operator pembangkit.75 miliar ton dan cadangan 22. pemanfaatan batubara di dalam negeri menjadi semakin penting sejalan dengan ditemukannya cadangan batubara yang besar yang terus meningkat.230 MW. dengan total kontrak mencapai Rp 17. Segmen pasar yang menggunakan batubara sebagai bahan bakar meliputi PLTU. Untuk merealisasikan rencana tersebut. Hal tersebut sejalan dengan penambahan PLTU baru sebagai dampak permintaan listrik yang terus meningkat.674.5 juta ton per tahun. yang hingga kini sumber daya mencapai 104.25 miliar ton.1.960 MW dan total kontrak mencapai Rp 7.64 dan USD 1. Sedangkan dari 30 proyek pembangunan PLTU di luar Jawa. Kemudian uap air tersebut digunakan untuk menggerakan turbin pembangkit listrik.61% di antaranya digunakan oleh PLTU. unit 5 dan 6 kapasitas 1. kemudian diikuti oleh industri semen sebesar 14. Proyek percepatan 10. pemerintah melalui Peraturan Pemerintah No 71 Tahun 2006 telah menunjuk PLN untuk melakukan Percepatan Pembangunan PLTU batubar 10. yaitu 54.928.031. 10 PLTU di antaranya akan dibangun di Pulau Jawa dengan kapasitas 7. telah memacu pemanfaatan batubara di berbagai segmen pasar di wilayah Indonesia. Dalam upaya mengantisipasi kekurangan listrik dan untuk meningkatkan efisiensi pemakaian BBM secara nasional. sedangkan sisanya dipasok dari beberapa perusahaan di Kalimantan.460 MW dan 30 sisanya dibangun di berbagai daerah di Indonesia dengan kapasitas 2. Langkah ini merupakan upaya strategis untuk meningkatkan rasio elektrifikasi serta menyehatkan bauran energi nasional dari ketergantungan pada BBM. Penggunaan batubara dalam negeri masih didominasi oleh PLTU. serta pemanfaatan batubara untuk briket batubara. industri peleburan (metalurgi). pemerintah telah membuat rencana pembangunan sebanyak 40 PLTU dengan daya terpasang sebesar 10.61% dari kebutuhan batubara nasional.575 juta ton. Trend penggunaan batubara pada industri kertas dan tekstil.470 MW dengan mengkonsumsi batubara sekitar 36. seperti PT Adaro Indonesia. 60 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Batubara yang dibutuhkan untuk 10 PLTU Sistem Kelistrikan Jawa sedikitnya 25. Tercatat dari seluruh konsumsi batubara dalam negeri pada tahun 2008 sebesar 36. 69.yang semakin menipis. Adaro dan PT. yaitu 69. Arutmin. dua di antaranya paling banyak menggunakan batubara sebagai bahan bakar utamanya adalah PLTU Suralaya dan PLTU Paiton. Laporan yang disampaikan kepada Menteri ESDM per tanggal 8 Mei 2009 menyebutkan bahwa untuk 10 proyek yang berlokasi di Jawa. Batubara yang digunakan sebagian besar dipasok dari Pulau Kalimantan. sebanyak 7. industri tekstil.460 MW telah memasuki tahap kontrak dan tahap kontruksi. Total batubara yang dibutuhkan sekitar 12. Total kapasitas PLTU batubara yang dimiliki PLN dan Swasta saat ini sebesar 9. PT Jorong Barutama.131. PLTU Suralaya dikelola PT. kecuali pada industri metalurgi dan briket batubara perkembangan penggunaan batubara berfluktuatif dan cenderung tetap. baik milk PLN maupun yang dikelola swasta.454 juta ton per tahun.007.000 MW mengalami kemajuan signifikan.0%.

325 52.012 4.896.265 24.399 720.251.263.906 27.132 477.501 13.337 638.902.454.310.883.338 1998 1999 102.363 663.692.782 2.575.874 2007 35.161 23.080.932 2.503.256 21.688 23.648.226 134.730 25.905 1.000 664.492.328 26.609.000 506.000 300.200.573.083 488.753 9.101 1.153.000 506.339.304 1.202 471.227 2.766 8.000 5.054 23.819.000 180.774 1.73 25.749 3.318 (Ton) 2008 631.800 13.827 160.490 31.916 2.561 9.992 6.307 600.424.819. Penggunaan batubara pada pltu di indonesia.907 122.907 123.061 36.170.800 58. Freeport 646.068.115 2.338 5.000 1.300.144.142.866 299.000.644.000.958 36.894 665.506 28.337.547.155 12.057.060 61 . Tonasa 300. Newmont Sumbawa 70.800 36.000.397 766.393 Briket 29.104 8.855 547.564 1.000 300.000 180.828.106.920 9.797 39.018 979.054 23.000 706.206.787 2001 2002 2003 2004 2005 19.933 3.974 1.650 623.161 23.607 125.000 12.667 3.345 6.871 11.399 720.609 Jumlah 15.613 Semen 1.548 2006 27.407.839 PT.456.895 (Ton) 2008 36.231.902.810.443 220.440.737 805.819 5.341 13.000 11.621 18.333 635.180.646 1.000 929.799 Lain-lain 2.057. Konsumsi batubara menurut jenis industri di Indonesia Tahun 1998 .000.514 49.090.613 19.428 282.887 282.218 10.943.793.337.366.430.956.563.256 21.072 Asam-Asam 127.792.230 9.120 1.810.009 10.411.943.225.545.610 480.731 11.709 PT.436 568.252 Cilacap Tanjung Jati B Paiton 2.Tabel 4.245 3.2008 (diolah kembali) Tabel 5.000.000 12.272.034 1.023.763 2.298 650.000 554. 1998 – 2008 (Ton) 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 119.967 824.637 505.060 7.151.583 28.990 36.452 1.165.267 2.368.774.000 58.564 669.680.589 Masa Kini dan Masa Depan Batubara Indonesia.123 2.824 Industri Tekstil Industi Kertas 692.085 1.003 4.408 374.334 593.889 9.849.Berau 58.000 4.302 36.000 482.248 1.095 406.963 38.328 26.144 31.800 35.308.541.047.000 4.976 23.193.907 35.487.318 6.636.751 1.653.717 13. 2006.800 Jumlah 10.088 4.092.192.079 417.540 2.619.457.717 13.341 13.911.691 3.000 58.068.550 2.307.047.060.310.265.165.137.492.544.965 376.578 506.000 929.671.990.549 Metalurgi 144.2008 Jenis Industri 1998 1999 2000 PLTU 10.666 PT. Ijang Suherman Seumber :DPPMB dan hasil survei tekMIRA.147 568.481 4.137.276.000 300.174 2007 631.355 5.000 1.906 5.000 PLTU Ombilin Bukit Asam Tarahan Suralaya (PTIP) 7.911.610 804.666 236.708 24.802 225.600.828.017.575.518.000 Mpanau Lati .643 1.

379 179.318.379 107.697 71.182 25.242 32.159.545 4.924 107.159.379 71.091 2.848 467.970 7.091 4.515 Banten Banten Banten Jawa Barat Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Tengah Jawa Timur Jawa Timur Jawa Timur 1 2 2 2 2 1 2 2 1 2 17 300 660 300 300 300 660 300 300 600 600 1.375.803 50.024.750.159. Rencana pembangunan PLTU 10.159.000 2.955 50.379 50.924 359.379 179.985 50.379 35.803 467.924 179.697 719.379 719.955 50.091 2.803 719.273 Propinsi Kapasitas (MW) Kebutuhan Batubara (Ton) Jumlah Jumlah seluruh Sumber : Peraturan Presiden Republik Indonesia No 71 Tahun 2006 62 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .091 2.697 179.501.477.970 71.000 MW Tahap I Nama Proyek / Lokasi Pulau Jawa 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 PLTU Labuan PLTU Suralaya Baru PLTU Teluk Naga PLTU Jabar Selatan PLTU Jabar Utara PLTU Tanjung Jati Baru PLTU Rembang PLTU Jatim Selatan.924 50.159.924 179.970 179.091 2.697 719.970 50.159.079.848 71.091 2.924 359.000 2. Pacitan PLTU Tanjung Awar-Awar PLTU Paiton Baru Jumlah Di luar Pulau Jawa 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 PLTU Meulaboh PLTU Sibolga Baru PLTU Medan Baru PLTU Sumbar Pesisir Selatan PLTU Mantung PLTU Air Anyer PLTU Bangka Baru PLTU Belitung Baru PLTU Bengkalis PLTU Selat Panjang PLTU Tj. Balai Kerimun Baru PLTU Tarahan Baru PLTU Pontianak Baru PLTU Singkawang Baru PLTU Asam-Asam PLTU Palangkaraya PLTU Sampit Baru PLTU Amurang Baru PLTU Sulut Baru PLTU Gorontalo Baru PLTU Bone PLTU Kendari PLTU Bima PLTU Lombok Batu PLTU Ende PLTU Kupang Baru PLTU Ambon Baru PLTU Ternate PLTU Timika PLTU Jayapura NAD Sumatera Utara Sumatera Utara Sumatera Barat Bangka Belitung Bangka Belitung Bangka Belitung Bangka Belitung Riau Riau Kepulauan Riau Lampung kalimantan Barat kalimantan Barat Kalimantan Selatan Kalimantan Selatan Kalimantan Tengah Sulawesi Utara Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Timur Maluku Maluku Utara Papua Papua 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 65 100 100 100 10 10 25 15 7 5 7 100 25 50 65 65 7 25 25 25 50 10 7 25 7 15 7 7 7 10 467.Tabel 6.379 50.

005 juta ton PT.5. Semen Gresik dengan kebutuhan 1. namun pada tahun 2002 dan 2003 sempat mengalami penurunan hingga 9.828 juta ton. PT Semen Padang 1. Industri Semen Industri semen merupakan konsumen batubara kedua terbesar setelah PLTU.5.3. menunjukkan bahwa perkembangan jumlah perusahaan tekstil yang menggunakan batubara tampaknya akan terus meningkat. Semen Holcim 1. 5. Memasuki tahun 2004 hingga tahun 2008 cenderung meningkat hanya sempat menurun pada tahun 2006. dan sebagainya. Seperti diperlihatkan pada Gambar 2. Kemudian disusul oleh Propinsi Jawa Tengah. Kebutuhan batubaranya pun meningkat sangat signifikan. karena biaya bahan bakar merupakan komponen terbesar di dalam biaya produksi. Saat ini terdapat 9 perusahaan semen yang terletak di beberapa wilayah di Indonesia. sedangkan PT Semen Andalas dalam proses akhir rekontruksi setelah terkena gelombang tsunami. Hal ini dapat dilihat dari jumlah perusahaan tekstil pada tahun 2003 hanya 18 perusahaan saja. Uap yang dihasilkan dipergunakan untuk memasak/membuat pulp (bubur kertas).36%.03%. Semen Tonasa 0. dan yang lainnya di bawah 0. industri tekstil di Indonesia terpusat di Pulau Jawa. seiring perkembangan ekonomi yang mulai membaik di dalam negeri (Tabel 7). Beberapa industri tekstil dilengkapi oleh powerplant berbahan bakar batubara untuk memasak air menjadi uap. Listrik yang dihasilkan dimanfaatkan berbagai keperluan seperti menggerakan mesin produksi.2.79%). namun pada tahun 2008 sudah bertambah menjadi 328 perusahaan.609 juta ton.81% dan 5. Berikutnya adalah PT. Semen Gresik. yaitu sekitar 240 perusahaan (73. Banten. kebutuhan batubara pada industri semen mengalami perubahan yang positif. dan Jawa Timur (lihat Tabel 8). Tahun 2008. Batubara dalam industri tekstil digunakan pada boiler untuk memasak air menjadi uap. (Tabel 9). dan 2 perusahaan di Propinsi Riau. Perusahaan semen yang paling banyak menggunakan batubara adalah PT. Terdapat 36 perusahaan kertas yang telah menggunakan batubara. 5. 19 perusahaan di Propinsi Jawa Timur. Penurunan ini sangat dipengaruhi oleh adanya penurunan produksi di beberapa perusahaan semen. Dari sisi keberadaannya. Cirebon (Propinsi Jawa Barat). Industri Tekstil Industri tekstil memiliki tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap bahan bakar minyak (BBM). perubahan pola penggunaan bahan bakar ke batubara merupakan salah satu alternatif yang sangat tepat karena mampu menekan biaya pengeluaran bahan bakar walaupun harus melakukan modifikasi terhadap boiler atau mengganti boiler yang baru yang berbahan bakar batubara. Industri Kertas Seperti halnya pada perusahaan tekstil.102 juta ton. 5 perusahaan masingmasing terdapat di Propinsi Banten. yaitu 64. batubara dalam industri kertas digunakan sebagai bahan bakar dimana energi panas yang dihasilkan digunakan untuk memasak air pada mesin uap.4. Antara tahun 1998-2001. Pemanfaatan batubara pada industri semen. 5.14%) dengan mengkonsumsi batubara sebesar 3. PT. Uap yang dihasilkan digunakan untuk menggerakan turbin pembangkit listrik. yaitu di Cibinong.03%. tercatat sekitar 14.5 juta ton.430 juta ton (81. Ijang Suherman 63 . pemakaian batubara rata-rata naik sangat signifikan. PT. perkembangan penggunaan batubara pada industri semen berfluktuasi. dan Tarjun Kabupaten Kotabaru (Propinsi Kalimantan Selatan). yaitu 7. penerangan.519 juta ton. Menurut para pengusaha. Indocement Tunggal Perkasa. Pada tahun 2008. sementar PT Semen Kupang produksinya tersendat serta dalam proses akuisisi oleh Perusahaan India. Uap yang dihasilkan digunakan untuk proses pencelupan.150 ton pada tahun 2003 naik menjadi 4.763 juta ton.194 juta ton pada tahun 2008. Selama sepuluh tahun terakhir ini. yaitu sebesar 2. Industri Metalurgi Dari sisi jumlah industri metalurgi (pengecoran logam) yang telah menggunakan batubara sebagai bahan bakar pada proses produksinya dapat Masa Kini dan Masa Depan Batubara Indonesia. yang sebagian besar terletak di Propinsi Jawa Barat. Jawa Barat dan Jawa Tengah. Indocement Tunggal Prakarsa dan PT.48% kebutuhan batubara dalam negeri digunakan oleh industri semen atau 7. digunakan sebagai bahan bakar pada tanur putar untuk proses pembuatan klinker sebelum menjadi semen. Perusahaan ini memiliki tiga pabrik di lokasi yang berbeda. jumlah kebutuhan batubara untuk industri ini mencapai sekitar 2. yaitu dari 274.395 juta ton.

Konsumsi batubara pada industri semen 1998 – 2008 (ton) 1998 59.850 577.352 99.317 296.975 95.495 659.026.019.473 697.004.607 42.833 409.64 Tabel 7.233 593.973 133.184.674 166.147 130.140 379.868 800.849 554.170.420 397.754 62.772 451. PT.000 1.923 556.801 545.847 26.000 2.526 5.345.375 416. Semen Baturaja PT.439 207.529 131. Semen Holcim Cilacap PT.643 47.124 782.202.860 328.262 474. dan PT Semen Kupang (Survei tekMIRA 2006) .700 14.PT.868 5.437.000 185.950.618 35.529 1.436 397.181 276.340 tp tp tp tp 483.868 6.569 1.743.013 464.829 88.060 397. Semen Holcim Narogong PT.950.523 469.412 2. Bosowa Cement PT.102.DPPMB.085 472.065.763 760.765 1.775 88.430.826 683.415 187.000 827.301 269.465 912.315 311. Semen Gresik.245 6.023.923 1.283 546.413 364.637 692.248 5.179 1.357 110.324 202.090.431 231.323 202.370 454. PT.721 68.710 359. Semen Andalas PT.018 793.081 143.372 1.776.438 207.457 375. 2008 .749 5.860 328.655 80.509. Semen Kupang Jumlah (Ton) 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 33.564 1.376 528. Semen Gresik PT.050 168.430 680.841 349.215 262.141.157 116.153 Catatan : tp = tidak berproduksi Sumber : .638 1.123 2.029 862. 2006 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .Asosiasi Semen Indonesia.860 151. Semen Padang PT.082 243.499 30.180 328.214 678. Semen Bosowa. Indocement (Tanjung) PT.939 129.606 715. PT. Indocement TP (Cibinong) PT.317 296.311 75.425 1999 19. Semen Tonasa.440 481.308.085 4.762.876 252.510.691 3.441 1.396 547.521 6.407 448.876 252.392 454.172 1.189 7. Semen Tonasa PT.908 67. PT.063. Indocement-Cirebon.305 254.515 153.973 1.448 103. Indocement TP (Cirebon) PT.277 850. Holcim-Cilacap.564 368.793 151.082 243.271 Industri Semen PT.679 75.583 862.018 155.265.

391 2.887 Masa Kini dan Masa Depan Batubara Indonesia.661 46.100. Tahun 2008 No.Gambar 2. menurut Provinsi. Ijang Suherman 65 .932 Tabel 9.433 47.479 1. Industri tekstil berbahan bakar batubara di Indonesia.406 3.193. perkembangan perusahaan tekstil pemakai batubara di indonesia tahun 2003 – 2008 Tabel 8.700 0 4.430. 1 2 3 4 5 Lokasi Banten Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Timur Luar Jawa Jumlah Jumlah Perusahaan (Buah) 15 240 68 5 0 328 Kebutuhan Batubara (Ton/Tahun) 423.393 292.518.916 605. 1 2 3 4 5 Lokasi Banten Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Timur Riau Jumlah Jumlah Perusahaan (Buah) 5 5 5 19 2 36 Kebutuhan Batubara (Ton/Tahun) 620. Industri kertas berbahan bakar batubara di Indonesia No.440 145.

Di masyarakat. seperti industri pengeringan gerabah. Perkembangan kebutuhan batubara oleh industri metalurgi berfluktuasi.666 236. namun hingga kini tidak dapat berkembang dengan baik. di Propinsi Banten ada 33 perusahaan yang telah menggunakan batubara dengan total kebutuhan diperkirakan mencapai 342. Potensi lainnya adalah pencairan batubara. pengecoran logam. pengecoran logam. termasuk beberapa jenis industri kecil.018 25. dan lainnya.827 183. 66 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . pembakaran kapur. Hal tersebut dapat dilihat perkembangan briket batubara selama kurun waktu 2001 – 2008 yang fluktuatif (lihat Tabel 11). Perkembangan penggunaan batubara pada industri metalurgi. industri rumahan tertentu sebagai bahan bakar. pembakaran bata. Namun yang paling dominan dan memasyarakat penggunaan briket batubara adalah pada peternakan ayam. mengingat teknologi dan peralatan yang digunakan relatif sederhana. pembakaran kapur. Tabel 10. 2008 (diolah kembali) *) perkiraan Sumber : DPPMB. kimia. karet ban. Sedangkan kebutuhan batubara untuk industri lainnya secara menyeluruh (nasional) diperkirakan tidak kurang dari 1.730 321.393 220.963 32. kerupuk. Sedangkan potensi pemanfaatan ke depan adalah pada pengusahaan Upgraded Brown Coal (UBC). pemanfaatan briket batubara digunakan pada industri kecil atau 5. yaitu sebagai penghangat anak ayam.213 Tabel 11. Kelitbangan UBC telah sampai pada skala demo plant 1. Berdasarkan survai sampling tahun 2008. Briket Batubara Briket batubara merupakan energi alternatif atau pengganti minyak tanah dan kayu bakar yang paling murah dan dimungkinkan untuk dikembangkan secara masal.850 ton.2008 Tahun 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 *) Pemakaian Batubara (Ton) 144. antara lain industri makanan. masih banyak industri lainnya yang menggunakan batubara sebagai bahan bakar dalam mendukung proses produksinya. Berdasarkan survai sampling tahun 2008.120 25.802 225.226 134.907 122. pengembangan briket batubara diperkenalkan sejak tahun 1993. antara lain industri makanan. pengeringan tembakau. Selain itu potensi gasifikasi batubara untuk industri kecil menengah. tahu/tempe.7. masih banyak industri lainnya yang menggunakan batubara sebagai bahan bakar dalam mendukung proses produksinya.000 ton/hari. yang merupakan suatu proses untuk meningkatkan nilai kalori batubara melalui penurunan kadar air. dan lainnya. Tahun 2001 – 2008 Tahun 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 *) Pemakaian Batubara (Ton) 31.010 36.907 123. padahal dari sisi potensi masih banyak perusahaan yang belum menggunakan batubara sebagai bahan bakarnya. karet ban. seperti halnya yang telah berhasil pada industri pengeringan teh. kimia. di Propinsi Banten ada 33 perusahaan yang telah menggunakan batubara dengan total kebutuhan diperkirakan mencapai 342. 2008 (diolah kembali) *) perkiraan Di samping industri metalurgi. Industri Lainnya Di samping industri yang disebutkan di atas. 5.265 24. tepung ikan. namun ada trend perkembangan yang meningkat sejalan dengan tingkat produksi perusahaan (Tabel 10). Perkembangan penggunaan batubara pada Industri briket batubara. termasuk beberapa jenis industri kecil. pemindangan ikan. Di Indonesia.643 Sumber : DPPMB. dan obat nyamuk. pembakaran kapur.976 17. katering/restoran.530 299.339 juta ton.dikatakan relatif tidak bertambah.6.708 24.850 ton.990 282. Tahun 1998 . pengeringan bawang.

Peningkatan produksi yang pesat didorong oleh meningkat tajamnya permintaan ekspor dan permintaan dalam negeri. adanya peluang sekaligus tantang. Tidak mengherankan Masa Kini dan Masa Depan Batubara Indonesia. namun belum ada kesepakatan yang mengikat. dan perlu bernegosiasi lanjutan. pada tahun 2025 akan mencapai 509. dan adanya kebijakan-kebijakan yang terkait. Lagi-lagi. Dalam prakteknya sebagian besar dari KP yang dikeluarkan selama otonomi daerah tersebut diterbitkan oleh kabupaten.04%. 3. Belum adanya keseimbangan antara permintaan dan pemasokan batubara pada tataran dunia. 10 dari Generasi II dan 21dari Generasi III). Pelaku Usaha Pertambangan Sampai dengan tahun 2008 perusahaan penambangan batubara di Indonesia dengan status PKP2B aktif berjumlah 76 perusahaan. terlihat dari tingginya tingkat pertumbuhan ekspor Indonesia yang mencapai 15. Perkembangan Ekspor Saat ini pasar ekspor terbesar Indonesia adalah Jepang. Berkembangnya KP tersebut terjadi pada era otonomi daerah. baik sengaja atau tidak sengaja. MASA DEPAN BATUBARA INDONESIA Menyimak berbagai keberhasilan kinerja pertambangan batubara di Indonesia dimasa lalu hingga masa kini. Perkembangan Penggunaan di Dalam Negeri Peran batubara sebagai energi akan semakin besar pada berbagai industri. Perkembangan Produksi Selama 16 tahun terakhir (1992-2008) produksi batubara Indonesia telah meningkat hampir 15 kali lipat. yaitu ketika penegasan tentang pemberian Kuasa Pertambangan (KP) dilakukan oleh Pemerintah Daerah. sedangkan yang dikeluarkan menteri harus yang berbataskan sedikitnya 2 propinsi. Tetapi dengan adanya kecenderungan tersebut. baik di dalam negeri maupun di negara-negara importir. karena belum terbukti (unprovent) terjadi kemandegan. 16 status studi kelayakan. dari 15. namun APBI sejalan dengan kebijakan pemerintah telah memproyesikan yang cukup wajar sebesar 471 juta ton. gubernur atau menteri sesuai dengan kewenangannya. sedangkan yang telah berproduksi 129 KP. 6. Hal ini dapat dimengerti karena untuk perizinan KP yang dikeluarkan oleh propinsi harus yang berbatasan antara sedikitnya 2 kabupaten. hal tersebut merupakan peluang Indonesia untuk meningkatkan pangsa pasar ekspor. di samping China dan India yang merupakan buyer baru bagi Indonesia. Peningkatan jumlah konsumsi yang sangat tajam yang disebabkan meningkat tajamnya permintaan batubara sebagai sumber energi terutama untuk pembangkit listrik.620 juta ton. Saat ini alternatif yang sedang dijajagi adalah menerapkan teknologi Sasol. Batubara dan Panas Bumi sudah melebihi angka 500 KP. Hal ini diperlukan untuk mengutamakan jaminan pasokan dalam negeri serta perkembangan tingkat produksi yang mengacu pada konsep konservasi.Sebelumnya telah melakukan upaya pengembangan teknologi BCL. potensi sumberdaya dan cadangan yang besar. dan 5 status eksplorasi. proyeksi ekspor batubara tanpa adanya pembatasan. apabila sejalan dengan itu jumlah perusahaan pertambangan batubara di Indonesia pun tumbuh pesat khususnya dalam beberapa tahun terakhir. Ijang Suherman 67 . Meningkatnya permintaan China dan India di masa datang akan menambah tingginya kecenderungan permintaan ekspor.8%. atau meningkat rata-rata per tahun 17. jauh di atas rata-rata dunia. Kriteria ini sangat jarang ditemui di lapangan. ke depan perlu mencermatinya untuk melakukan pengendalian atau pembatasan ekspor. Korea Selatan dan Taiwan. khususnya pembangkit listrik di Indonesia maupun industri lain di berbagai belahan dunia. padahal kebijakan ekspor memproyeksikan sekitar 150 – 236 jua ton. maka pada tahun 2025 dapat mencapai 742 juta ton. Jika diasumsikan pertumbuhan produksi tetap tinggi. Diperkirakan di masa-masa mendatang peran minyak akan semakin berkurang. Pada satu sisi. sebaliknya peran batubara dan gas akan semakin besar. khususnya sejak tahun 2001 ketika dikeluarkannya PP 75 tahun 2001.3 juta ton. 15 status konstruksi.935 juta juta ton menjadi 233. yang terdiri dari 40 perusahaan PKP2B sudah produksi (9 dari Generasi I. maka batubara Indonesia mempunyai prospek dimasa depan. yang berdasarkan aturan tersebut diberikan oleh bupati.51%. Sedangkan jumlah Kuasa Pertambangan (KP) yang dikeluarkan di daerah yang terinventarisasi di Direktorat Jenderal Mineral.

Daftar Industri yang Menggunakan Boiler Berbahan Bakar Batubara.Ketika semua proyek Percepatan pembangunan PLTU 10. Di samping itu mengenai perijinan pertambangan batubara hanya satu pola. yaitu untuk menjamin pengadaan energi nasional yang dapat diandalkan tanpa mengabaikan prinsip pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.0 juta dan industri lainnya sekitar 4.9 juta ton. pengelolaan lingkungan. Direktorat Pengusahaan Pertambangan Mineral. Balai Pengelolaan Pertambangan dan Energi Wilayah.4%. dan Panas Bumi. industri kertas 3.000 MW telah beroperasi yang ditargetkan pada tahun 2010. dan kemudian diberikan prioritas untuk mendapatkan IUP. industri kimia. Distamben Provinsi Jawa Tengah. Keadaan ini terlihat dengan meningkatnya pemanfaatan batubara di berbagai pusat pembangkit listrik.3%. industri tekstil 4. Adapun PKP2B termasuk KP yang ada tetap dihormati sampai ijinnya berakhir. Jawa Tengah. Jawa Barat. mengisyaratkan pemerintah dapat mengoptimalkan pengelolaan batubara antara lain pengendalian produksi dan ekspor serta jaminan pasokan dalam negeri melalui Domestic Obligation Market (DMO) dan Penetapan Harga Batubara Nasional. Dinas Tenaga Kerja Propinsi Banten. Penyusunan “blueprint” merupakan tindak lanjut Peraturan Presiden (Perpres) No 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional yang mengamanatkan Menteri ESDM menetapkan cetak biru tersebut. 2008. pabrik kertas. Di samping peranan batubara yang cukup besar. Hal ini telah diproyeksikan sebagaimana termuat pada Blueprint Pengelolaan Energi Nasional 2010-2025. Data Pemakaian Batubara Sebagai Sumber Energi. 68 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . 2006. Indonesia Cement Statistic 2005. pabrik semen. DAFTAR PUSTAKA Asosiasi Pertekstilan Indonesia. Diperkirakan pada tahun 2025 konsumsi batubara dalam negeri mencapai 236 juta ton.1% dan Coal Bed Methane (CBM) 3. 2008. Dengan adanya kebikan-kebijakan tersebut tentunya diharapkan akan dihasilkan pelaku pertambangan yang andal di bagian hulu (pertambangan batubara) dengan melakukan good mining practices.1 juta ton. yang akan menjadi dasar penyusunan pola pengembangan dan pemanfaatan energi secara nasional hingga 2025. Data Pemakaian Batubara Dan Boiler Tahun 2007. di luar peranan Bahan Bakar Batubara Cair (BBBC) sebesar 3. industri semen 8. Sedangkan di bagian hilirnya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari KEN. Oleh karena itu. and Geothermal Statistics 2008. Jakarta. maka tetap juga harus dijaga dan dijamin ketersediaannya dalam memenuhi kebutuhan akan energi di dalam negeri selama dan seekonomis mungkin. Di sisi lain dengan telah disyahkannya UndangUndang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. Jawa Barat dan Jawa Tengah. dan pengembangan masyarakat (community development). Coal. Batubara. Indonesia Mineral. Semua ini merupakan modal dasar bagi industri batubara Indonesia untuk terus berkembang dalam menunjang keberhasilan pengembangan energi nasional maupun global. diperkirakan konsumsi batubara Indonesia akan mencapai 90 juta ton atau meningkat hampir dua kali lipat dibanding tahun 2006. 2008. dan industri kecil. yaitu dalam bentuk Ijin Usaha Pertambangan (IUP). Jumlah tersebut terdistribusi pada PLTU sebesar 69. dengan visi berupa terjaminnya energi dengan harga wajar untuk kepentingan nasional. Asosiasi Semen Indonesia (ASI). pengelolaannya perlu dilaksanakan melalui kebijakan yang terpadu dan sinergi dengan sektor-sektor pembangunan lainnya.5 juta ton. 6. Pasar global telah dapat pula diterobos dan menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara pengekspor batubara uap terbesar di dunia. 2006. yang menargetkan peranan batubara pada bauran energi nasional sebesar 34.5 juta ton. Kebijakan Pemerintah baru saja menerbitkan “Blueprint” Pengelolaan Energi Nasional (BP PEN) 2010-2025 merupakan re-evaluasi BP PEN 2005-2025. PENUTUP Sektor pertambangan batubara sampai saat ini telah berhasil dalam menunjang Kebijakan Energi Nasional.

71. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. Suherman I. Tahun 2006 Tentang Penugasan kepada PT. Peraturan Presiden Republik Indonesia No. Tahun 2006 Tentang Kebijakan Energi Nasional. 2009. 2006.Presiden Republik Indonesia. Kajian Batubara Nasional 2006.. Peraturan Presiden Republik Indonesia No. Blueprint Pengelolaan Energi Nasional 2010-2025. ____________. Menteri ESDM. 5. ____________.. Ijang Suherman 69 . Perkembangan Produksi Listrik dan Kebutuhan Bahan Bakar Batubara. PLN untuk Melakukan Percepatan Pembangunan PLTU yang menggunakan batubara. Puslitbang Teknologi dan Batubara (tekMIRA). dkk. Masa Kini dan Masa Depan Batubara Indonesia. Unit Bisnis Pembangkitan Suralaya. 2008.

Hasniati Astika 2).6003373 e-mail : zulfahmi@tekmira. alat dan system yang diterapkan terbukti dapat digunakan sebagai sistem pemantauan terpusat dengan hasil yang signifikan. 022 .id. yaitu pengembangan alat pemantauan menggunakan Potensiometer transducer yang dapat mendeteksi pergerakan pada beberapa lapisan batuan atap dan pengembangan alat pemantauan menggunakan Linear Variable Differential Transducer (LVDT) yang hanya dapat mendeteksi pergerakan pada permukaan batuan atap saja. didit@tekmira. tambang bawah tanah ABSTRACT Roof failure is one of the main causes injuries that happened in the underground mine. underground mine 70 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Supriatna Mujahidin 3) 1) Peneliti Madya 2) Peneliti Pertama 3) Teknisi Litkayasa Penyelia Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. Dari hasil kalibrasi di studio dan ujicoba di salah satu tambang batubara bawah tanah. Sudirman 623 Bandung 40211 Telp. Kata kunci : keruntuhan atap. lvdt.id. potensio.id SARI Keruntuhan batuan atap (Roof Failure) merupakan salah satu penyebab utama terjadinya kecelakaan pada tambang bawah tanah. hasni@tekmira. Keywords: roof failure. The result of a calibration in a studio and running test in one of the underground coal mine could be known that the monitoring tools and the system which applied can be used as a centralized monitoring system with a significant result. where all of the monitoring equipment and data recording process can operated from one place as a central.go. Terdapat dua macam alat pemantauan yang dirancang. Two type of monitoring tools have been designed.6030483 Fax.go.esdm.PENGEMBANGAN SISTEM DAN ALAT PEMANTAUAN SEDERHANA UNTUK MENDETEKSI KERUNTUHAN BATUAN ATAP (ROOF FAILURE) PADA TAMBANG BAWAH TANAH Zulfahmi 1). Monitoring system that developed consists of monitoring tools. 022 . datalogger sebagai perekam dan penyimpan data serta CPU komputer untuk pengolahan data. Jend.go. data logger for record and storage tool and a computer for data processing.esdm. lvdt.esdm. potentiometer. dimana semua alat pemantauan dan proses perekaman data dapat dioperasikan dari satu tempat sebagai sentral. Sistem pemantauan yang digunakan terdiri dari alat pemantauan. there was a development of monitoring tools using Potentiometer Transducer that can detect movement in some rock layers of the roof and Linear Variable Differential Transducer (LVDT) that can detect movement on the surface rock of the roof only.

50% diantaranya diakibatkan oleh keruntuhan atap selain yang disebabkan oleh ledakan gas dan debu tambang dan juga kecelakaan pada pengangkutan (mine haulage). Salahsatunya dengan merancang alat pemantauan sederhana dengan menggunakan peralatan yang mudah didapatkan di Indonesia.msha. 71 . dkk. 82% dari total kecelakaan pada tambang bawah tanah terjadi pada tambang batubara. 2. keruntuhan batuan atap merupakan salah satu penyebab terbesar terjadinya kecelakaan pada tambang bawah tanah. dengan tujuan utama untuk melakukan pengawasan dan mengetahui sedini mungkin kondisi tidak aman pada suatu lokasi tambang agar dapat ditanggulangi sebelumnya.. Zulfahmi. Metodologi penelitian pengembangan alat pemantauan sederhana untuk mendeteksi pergerakan batuan atap pada tambang bawah tanah Pengembangan Sistem dan Alat Pemantau Sederhana untuk Mendeteksi .1. STUDI PUSTAKA/ CYBERNET Kajian teoritis tentang perkembangan sistem pemantauan & konsep sistem peringatan dini Dasar-dasar teori mengenai keruntuhan atap (roof failure) Konsep & Aplikasi peralatan PENENTUAN SISTEM & ALAT PEMANTAUAN PERANCANGAN & MODIFIKASI ALAT PERBAIKAN ALAT/PERUBAHAN SISTEM KALIBRASI UJICOBA ALAT & RUNNING TEST EVALUASI HASIL UJICOBA SESUAI STANDARD Ya Tidak ALAT PEMANTAUAN KERUNTUHAN ATAP Gambar 1. Diperoleh baik dari hasil studi pustaka maupun hasil penelusuran pada cybernet untuk mendapatkan metoda dan dasar yang akan digunakan dalam perancangan sistem dan peralatan pemantauan. METODA PENELITIAN Metode penelitian yang diterapkan dalam kegiatan ini lebih mengarah kepada kajian terhadap perkembangan peralatan pemantauan keruntuhan batuan atap pada tambang bawah tanah. Teknologi pengawasan secara dini sangat diperlukan.. Dari data tersebut. Selanjutnya dilakukan perancangan sampai didapatkan sistem dan peralatan yang layak digunakan dengan melakukan kalibrasi dan juga ujicoba.gov dari tahun 2003 sampai dengan 2007. LATAR BELAKANG Berdasarkan data yang diperoleh dari www. 24.

(a) (b) Gambar 3. Perancangan Alat Pemantauan Keruntuhan Atap Peralatan pemantauan keruntuhan batuan atap yang dirancang merupakan pengembangan dari peralatan pemantauan sebelumnya. (a) Prinsip kerja LVDT (b) LVDT RDP DCTH400AG 72 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Skema pemantauan keruntuhan atap Sebagai pembaca dan penyimpan data yang digunakan pada sistem pemantauan keruntuhan atap ini digunakan Datataker DT800. 2004).3. datalogger dan CPU komputer. Selain merupakan instrumen yang kuat. Untuk menghubungkan setiap unit dari sistem tersebut digunakan sistem kabel. LVDT terdiri dari satu kumparan magnetik primer dan dua kumparan magnetik sekunder dan satu inti magnetik (Gambar 3(a)). LVDT mempunyai resolusi yang tinggi (Cheekiralla. Datataker DT800 merupakan instrumen penerima dan penyimpan data yang dapat mengukur dan merekam data dengan beragam dan dalam jumlah yang banyak serta dapat diprogram dengan menggunakan perintah kerja yang sangat mudah (Anonym. HASIL DAN PEMBAHASAN Perancangan Sistem Pemantauan Keruntuhan Atap Sistem Pemantauan keruntuhan atap yang dirancang terdiri dari alat pemantauan. yaitu LVDT dan Potensiometer. Alat pemantauan yang dirancang terdiri dari 2 macam. Alat pemantauan yang telah terpasang pada batuan atap terhubung dengan datalogger sebagai pembaca dan penyimpan data. Skema monitoring dapat dilihat pada gambar 2. pengolahan data dilakukan dengan menggunakan aplikasi microsoft excel untuk selanjutnya dibuat grafik pergerakan batuan yang terjadi. Ketidakseimbangan pada medan magnet menyebabkan perubahan keluaran voltase yang sebanding dengan perubahan jarak dan arah dari pergerakan tersebut. Kelebihan dari LVDT sebagai sensor jarak adalah tidak adanya kontak fisik pada unsur sensor sehingga lebih kuat dan tahan lama dibandingkan dengan sensor-sensor lain. Pada saat posisi nol berarti tidak ada medan magnet dalam kedua kumparan sekunder oleh karena tidak ada pergerakan pada probe. Ketika kumparan magnet tidak dalam posisi nol (terjadi pergerakan pada probe) akan ada ketidakseimbangan medan magnet dari kedua kumparan sekunder. Gambar 2. Linear Variable Differential Transformer (LVDT) merupakan salah satu jenis sensor yang digunakan untuk mengukur perubahan jarak. Data yang tersimpan dalam datalogger masih merupakan data mentah untuk selanjutnya diolah pada perangkat komputer. 2001-2004).

Pengembangan Sistem dan Alat Pemantau Sederhana untuk Mendeteksi . Perubahan voltase tersebut dapat dikonversikan terhadap perubahan jarak yang terjadi. sehingga terjadi perubahan tegangan yang dapat terukur. 73 . dengan persamaan garis linier yang digunakan sebagai rumus untuk memperoleh data pergerakan (a) (b) Gambar 4. alat pemantauan ditempatkan tepat di bawah atap batuan. Zulfahmi. dimana masingmasing potensiometer tersebut terhubung dengan pulley. 2001). Pulley terhubung dengan jangkar menggunakan kawat baja. sama dengan telltale. komponen-komponen tersebut ditempatkan pada suatu box yang aman dan terlindungi (Gambar 4(b)). Kecenderungan dari titik-titik pergerakan hasil kalibrasi dari masing-masing alat pemantauan menunjukkan garis yang linier. pergerakan pada batuan atap menggerakan probe pada LVDT dan menyebabkan perubahan tegangan (voltase) pada alat monitoring. dimana jangkar nantinya akan ditempatkan pada lapisan batuan yang diamati pergerakannya. yaitu dengan melihat pergeseran pada pada indikator yang terdapat pada alat pemantauan (Mark and Iannacchione. sedangkan pada alat monitoring ini pergerakan dapat dibaca dengan menghubungkan alat pemantauan dengan datalogger. Perubahan tegangan tersebut dikalibrasikan dengan perubahan jarak (pergerakan) yang terjadi. Kalibrasi Sistem dan Alat Pemantauan Keruntuhan Atap Kalibrasi dilakukan untuk mendapatkan hubungan antara perubahan tegangan (Volt) pada alat LVDT dan perubahan tahanan (Ohm) pada Potensiometer terhadap perubahan jarak yang dikondisikan pada masing-masing alat pemantauan. Sedangkan untuk alat pemantauan potensio digunakan 4 buah potensiometer. Sensor LVDT dilapisi dengan pipa PVC agar aman dan terlindungi (Gambar 4.LVDT yang digunakan pada kegiatan ini adalah keluaran RDP dengan type DCTH400AG (Gambar 3 (b)). Pada telltale pembacaan pergerakan yang terjadi dilakukan secara manual. Alat yang dirancang mempunyai prinsip kerja yang atap hasil pemantauan dalam satuan mm. Dari hasil kalibrasi diperoleh grafik hubungan antara pergerakan (mm) terhadap perubahan tegangan (Volt) pada alat pemantauan LVDT (Gambar 5) sedangkan grafik hubungan antara pergerakan (mm) terhadap perubahan tahanan (Ohm) pada alat pemantauan Potensio dapat dilihat pada (Gambar 6). Alat pemantauan keruntuhan atap (a) LVDT (b) Potensio Prinsip kerja alat ini sebagai alat pemantauan pergerakan batuan adalah dengan menempatkan 4 buah jangkar yang masing-masing terhubung dengan Potensiometer pada berbagai ketinggian lapisan batuan atap yang akan diamati pergerakannya. serta untuk mengetahui performa sistem dan alat yang telah dirancang.. dkk.. Kisaran jarak pergerakan yang bisa terukur oleh alat ini sebesar 22 mm. Pergerakan pada batuan atap memutar pulley yang terhubung dengan Potensiometer. Selain itu kalibrasi juga bertujuan untuk melakukan ujicoba alat dan sistem pemantauan. Untuk mengukur pergerakan atap.(a)).

3.019 R2 = 0.101x + 0.073 R2 0.9999 0.9980 0.9980 0. Grafik hasil kalibrasi LVDT Gambar 6.0.9980 74 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . 5. 4. Grafik hasil kalibrasi potensio Tabel 1. Persamaan regresi linier untuk masing-masing alat pemantauan keruntuhan atap hasil kalibrasi No 1.9797 0.LVDT 30 27 24 21 18 15 12 9 6 3 0 -400 -3 0 400 800 1200 1600 2000 2400 2800 3200 3600 Pergerakan (mm) y = -0.064 Y = 1.102x + 0.9797 Tegangan (Volt) Gambar 5.0076x + 24.019 Y = 1.0076x + 24.437 Y = 1. 2.406 Y = 1.100x + 0. Alat Monitoring LVDT Potensiometer 1 Potensiometer 2 Potensiometer 3 Potensiometer 4 Persamaan Regresi Linier Y = .103x + 0.

Masing-masing alat pemantauan ditempatkan pada lokasi yang berbeda. LVDT (b) Potensio (a) (b) Gambar 8. Zulfahmi. ujicoba dilakukan pada salah satu tambang bawah tanah yang ada di Sumatera Barat. 75 . Sistem pemantauan terdiri dari datalogger sebagai pembaca dan penyimpan data. Semua perangkat tersebut ditempatkan dalam pannel box yang tertutup dan aman.. yang berarti bahwa hasil pembacaan pada kedua alat tersebut mendekati besarnya pergerakan yang mungkin terjadi.9980 sampai dengan 0. Pannel box ditempatkan dekat dengan lokasi penempatan alat pemantauan (Gambar 8 (b)).. alat dihubungkan dengan sistem yang telah dirancang sebelumnya. (a) Pemasangan alat pemantauan (b) Komponen peralatan dalam pannel box Pengembangan Sistem dan Alat Pemantau Sederhana untuk Mendeteksi . Penempatan alat pemantauan keruntuhan atap (a). Untuk mengetahui performa dari peralatan dan sistem yang telah di rancang.9797 untuk LVDT dan 0.Dari grafik diperoleh persamaan garis linier dan juga nilai R 2 untuk masing-masing alat Pemantauan (Tabel 1). ujicoba sistem dan alat pemantauan juga dilakukan pada tambang bawah tanah yang merupakan kegiatan penerapan dan running test di lapangan. setiap data yang direkam disimpan pada memori yang terdapat pada datalogger. terlebih dahulu dibuat lubang bor dengan kedalaman yang sesuai dengan kedalaman lapisan batuan atap yang akan diukur pergerakannya (Gambar 7(b)). Untuk pemasangan alat pemantauan Potensio. Nilai R 2 hasil kalibrasi masing-masing alat menunjukkan nilai yang mendekati 1. Ujicoba Sistem dan Alat Pemantauan Keruntuhan Atap Selain kalibrasi. sedangkan alat pemantauan Potensio ditanamkan pada batuan atap. dkk. Nilai tersebut menunjukkan nilai variabel bebas pada persamaan regresi linier yang diperoleh telah dapat menjelaskan hampir 100% dari nilai hasil pengukuran oleh setiap alat pemantauan. Setelah semua alat pemantauan terpasang dengan baik. Alat pemantauan LVDT ditempatkan tepat dibawah permukaan batuan atap (Gambar 7 (a)). yaitu 0.9999 untuk Potensiometer. (a) (b) Gambar 7.

detik LVD 1 T LVD 2 T 0 200000 400000 600000 800000 1000000 1200000 1400000 1600000 Gambar 9. Grafik hasil pemantauan dapat dilihat pada Gambar 9 dan Gambar 10.4 -0. kemudian dibuat grafik pergerakan batuan (mm) terhadap waktu. Hasil pemantauan keruntuhan atap menggunakan potensio 76 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .Evaluasi Hasil Ujicoba Running test alat di tambang bawah tanah dilakukan secara terus menerus selama 18 hari dengan proses perekaman data setiap 110 detik yang disesuaikan dengan kapasitas memori dari datalogger. LVD T 0.6 W aktu. Hasil pemantauan keruntuhan atap menggunakan LVDT Gambar 10.6 -0. Data yang terekam di konversikan dengan mengunakan rumus regresi linier dari masing-masing alat pemantauan.001 mm -0. 0.2 Pergerakan.2 -1.2 0 -0.8 -1 -1.4 -1.

Injuries and Fatalities from Rock Falls.edu/ sivaram/www/Sivaram-MS-thesis... Best Practice to Mitigate. Alat pemantauan dioperasikan dari satu tempat begitu pula data yang diperoleh dari setiap alat pemantauan dapat terbaca dan tersimpan dalam satu tempat sebagai sentral. Hal tersebut disebabkan oleh adanya gangguan (noise) yang dapat dipengaruhi oleh kondisi sekitar dan sensitifitas dari alat pemantauan. terutama pada kurva hasil monitoring dengan menggunakan Potensiometer. 2008. Dari grafik pergerakan batuan pada setiap alat pemantauan.gov/niosh/mining/pubs/pdfs/ bptmi. Setiap alat yang diujicoba dapat mendeteksi adanya pergerakan lapisan batuan atap pada tempat diterapkannya alat. Iannacchione A. pemantauan dapat dilakukan pada beberapa tempat dengan berbagai macam alat pemantauan dalam satu sistem. Semua alat tersebut terhubung dalam satu sistem sebagai sistem pemantauan terpusat.. Zulfahmi. dapat dilihat bahwa kurva yang diperoleh bergerigi.1. DAFTAR PUSTAKA http://www.cdc. Mark C. Anonym. Cheekiralla. Sistem yang dirancang merupakan sistem pemantauan terpusat. Saran Perlu dilakukan pengembangan terhadap casing dari alat yang digunakan. Paper in the Proceedings of the 20th International Conference on Ground Control in Mining 2001.. sehingga aman untuk digunakan di tambang bawah tanah. S. Pittsburgh. UM-0068-A2. KESIMPULAN DAN SARAN 4.mit. Development of Wireless Sensor Unit for Tunnel Monitoring. Massachusetts Institute of Technology.gov/stats/charts/ chartshome.pdf. Secara umum kajian yang telah dilakukan menujukkan nilai yang signifikan. 4.msha. web. Hal tersebut juga menunjukkan sistem yang diterapkan terbukti dapat digunakan sebagai sistem pemantauan keruntuhan batuan atap secara terpusat. 77 . dkk. NIOSH. PA. Dengan kata lain alat yang telah diujicoba layak dimanfaatkan untuk memantau pergerakan batuan atap pada tambang bawah tanah. 2001-2004. 4. Australia. Kesimpulan Teknologi pemantauan keruntuhan atap batuan pada tambang bawah tanah dengan menggunakan LVDT Tranduser dan Potensiometer dapat digunakan untuk mendeteksi pergerakan yang terjadi pada atap terowongan sebagai peralatan pemantauan keruntuhan atap batuan (roof failure) tambang bawah tanah. 2004..2.T. sentral. 2001. www. semua alat pemantauan dioperasikan dari satu tempat begitu pula data yang diperoleh dari setiap alat dapat terbaca dan tersimpan dalam satu tempat sebagai Pengembangan Sistem dan Alat Pemantau Sederhana untuk Mendeteksi .pdf.htm. dataTaker DT800 User’s Manual. Diperlukan kajian lebih lanjut sehingga diperoleh sistem monitoring yang dapat digunakan sebagai sistem peringatan dini dan data pergerakan secara real time. Datataker Pty Ltd.Semua alat pemantauan telah diujicoba dan dapat bekerja dengan baik.

adsorption. maka karbon aktif dari batubara juga dapat digunakan.5 gram of activated carbon. it can be used as absorber of waste sugar industry. it has been tried to use activated carbon from coal as absorber. Liquid waste produced from sugar industry consists of many Chemical Oxygen Demand (COD). adsorpsi. 022-6003373 e-mail : ika@tekmira. 60 and 90 minutes. activated carbon used in waste processing is made from coconut shell.0. with the 30. The iodine number of activated carbon is in the range of 600 to 700 mg/g. The research is carried out using the variables of activated carbon weight and the length of process time. In order to decrease COD.0 gram. telah dicoba dengan menggunakan karbon aktif yang dibuat dari batubara. karbon aktif yang digunakan dalam proses tersebut adalah karbon aktif yang dibuat dari tempurung kelapa. pengolahan limbah. COD ABSTRACT Commonly.id SARI Karbon aktif pada industri gula umumnya digunakan sebagai bahan pemudar warna.5 and 10. Percobaan dilakukan dengan variabel jumlah karbon aktif dan waktu proses. The result showed that the concentration COD was decrease 74% at time condition 90 minutes and 2.go. 022-6030483. Untuk menurunkan kandungan COD dalam limbah tersebut. 7. Faks. activated carbon is used as fader in sugar industries.0. Coal from Air Laya. dalam pengolahan limbah cair dari pabrik gula.5 gram dan waktu proses selama 90 menit. dengan jumlah karbon aktif 2.5.5 dan 10.PEMANFAATAN KARBON AKTIF DARI BATUBARA PADA PENGOLAHAN LIMBAH CAIR INDUSTRI GULA Ika Monika dan Nining Sudini Ningrum Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jalan Jenderal Sudirman No. However. mengingat sifat karbon aktif batubara yang menyerupai sifat karbon aktif tempurung kelapa.623 Bandung 40211 Tlp. dan 90 menit. The variables of weights activated carbon are 2. Namun sebenarnya karbon aktif juga dapat digunakan dalam proses pengolahan limbah cair yang dikeluarkan dari pabrik gula dan laboratorium analisis kimia di pabrik gula. Karbon aktif yang digunakan dibuat dari batubara Air Laya Sumatera Selatan yang berukuran 12 mm dengan bilangan yodium berkisar antara 600 dan 700 mg/g. Variabel jumlah karbon aktif yang digunakan adalah 2. Selama ini. Dengan tingkat penurunan sebesar 74%. sedangkan waktu proses adalah 30. Nowadays. 7. 5. konsentrasi COD yang semula sebesar 2355 mg/l turun menjadi 609 mg/l. 60. Kata kunci : karbon aktif. Namun pada dasarnya. 5. waste processing 78 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Keywords : activated carbon. konsentrasi COD tersebut belum memenuhi persyaratan kualitas limbah cair yang memiliki ambang batas maksimal 300 mg/l. Limbah cair yang dihasilkan dari pabrik gula memiliki kandungan COD (Chemical Oxygen Demand) yang cukup tinggi. Hasil percobaan menunjukkan. South Sumatra which is 12 mm in particle size was used as raw material of activated carbon.0.5.esdm.

adsorpsi fisika.2. 2009). berbagai teknologi pengolahan limbah baik limbah cair. cairan dengan gas. warna dan rasa.. Tujuan penelitian adalah untuk meningkatkan kualitas air yang dikeluarkan dari limbah pabrik gula dan mengurangi ketergantungan karbon aktif yang dibuat dari tempurung kelapa. (2) mikrotransport. perpindahan adsorbat menuju pori-pori di dalam adsorban. dalam waktu tertentu (Cahyana. terjadi karena gaya elektrostatis.1. Di Indonesia. Proses untuk memperoleh daya adsorpsi tinggi dilakukan melalui proses aktivasi terhadap arang. meskipun di negara lain seperti di China jenis karbon aktif ini sudah banyak digunakan oleh masyarakat. (1) makrotransport . Kedua. Proses adsorpsi terbagi dalam tiga jenis. Salah satu bahan yang digunakan dalam proses pengolahan air adalah karbon aktif. Berdasarkan kondisi tersebut. Akibatnya oksigen yang menjadi sumber kehidupan mahluk air (hewan dan tumbuhan) tidak dapat terpenuhi. Karbon aktif dengan luas permukaan yang semakin luas menunjukkan semakin tinggi daya adsorpsinya. Pertama. Terdapat dua cara utama pengolahan yaitu secara kimia dan fisik. penetralisir ataupun sebagai desinfektan. Karbon Aktif dari Batubara Salah satu adsorban yang biasa digunakan dalam pengolahan air (termasuk limbah) adalah karbon aktif. terjadi karena gaya tarik molekul oleh gaya Van Der Waals dan yang ketiga pertukaran ion. adsorpsi kimia yaitu terjadi karena ikatan kimia antara molekul zat terlarut (adsorbat) dengan molekul adsorban. atau cairan dengan padatan. (3) sorpsi . perpindahan zat pencemar (adsorbat) di dalam air menuju permukaan adsorban. Di Indonesia. Limbah cair yang dikeluarkan Instalasi Penjernihan Air (IPA) di daerah Karangpilang. COD merupakan salah satu parameter indikator pencemar di dalam air. 2008). Saat ini teknologi yang kian berkembang pesat adalah pengolahan air. Teknologi Pengolahan Air Salah satu cara pengolahan air yang saat ini sedang berkembang adalah melalui mekanisme adsorpsi. dilakukan dengan menambahkan bahanbahan kimia tertentu antara lain menggunakan PAC (Poly Alumunium Chloride). 2001). pemisahan lumpur dan pasir serta mengurangi zat-zat organik dalam air yang akan diolah. Hal ini menimbulkan berbagai penyakit bagi kehidupan manusia. 2. Limbah yang dihasilkan adalah limbah cair yang berasal dari proses pengolahan gula dan laboratorium pabrik (Santoso. kapur ataupun bahan-bahan kimia lainnya. karena selain murah juga relatif mudah. Umumnya proses aktivasi dilakukan dengan menggunakan uap air. mempunyai konsentrasi COD 1000 mg/gr dapat meningkatkan jumlah bakteri E-coli empat kali lipat (PERSI. penghilang bau. bahkan habis sama sekali..1. tawas. padat dan gas terus dikembangkan. Hasil penelitian merupakan acuan untuk pemanfaatan karbon aktif batubara pada industri gula. Pengolahan air secara fisik bertujuan untuk mengurangi atau menghilangkan kotoran-kotoran yang kasar. Salah satu yang menjadi objek penelitian adalah penurunan kadar COD (Chemical Oxygen Demand) dalam limbah cair yang dihasilkan dari salah satu pabrik gula yang ada di wilayah provinsi Banten. pelekatan zat adsorbat ke dinding poripori atau jaringan pembuluh kapiler mikroskopis. yang dapat berfungsi sebagai koagulan. gula. 2000). dilakukan penelitian pemanfaatan karbon aktif dari batubara. Proses aktivasi akan memperbesar luas permukaan dan volume 2. Pengolahan air secara kimia. Adsorpsi jenis ini eksoterm (mengeluarkan panas) dan tidak dapat berbalik kembali (irreversible). baik air baku maupun air limbah. Ketiga mekanisme adsorpsi tersebut terdiri atas tiga tahap yaitu . Karbon aktif umumnya digunakan selain sebagai penjernih. karbon aktif yang digunakan pada pengolahan air umumnya karbon aktif yang dibuat dari tempurung kelapa. PENDAHULUAN Seiring dengan perkembangan dan permasalahan lingkungan. 2. yang disebabkan oleh limbah organik. fenomena pemanfaatan karbon aktif dari batubara masih menjadi sesuatu yang tidak lazim. bahan baku tebu merupakan bahan yang terdiri atas komposisi kimia organik. sehingga mahluk air menjadi mati. juga sebagai bahan untuk pemurnian. Ika Monika dan Nining Sudini Ningrum 79 . Dalam proses pembuatan Pemanfaatan Karbon Aktif dari Batubara pada Pengolahan . Adsorpsi adalah suatu proses pengumpulan zat terlarut pada suatu permukaan media akibat adanya perbedaan muatan diantara kedua zat. baik cairan dengan cairan. Namun sebenarnya karbon aktif dari batubara juga dapat digunakan dalam proses tersebut. TINJAUAN PUSTAKA COD adalah jumlah oksigen (mg O 2 ) yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat-zat organik dan anorganik yang ada dalam 1 liter air (Nazir. Dampak konsentrasi COD tinggi menyebabkan kandungan oksigen yang terlarut di dalam air menjadi rendah.

Karbon aktif bentuk powder lebih tepat digunakan untuk fasa gas karena memiliki mikropori yang lebih besar sehingga mampu menyerap molekul-molekul kecil.15-2004. Tabel 1. Bentuk karbon aktif dapat diklasifikasikan menjadi dua golongan yaitu bentuk granular dan powder (Activated Carbon. 1972). 4.0 gr 949 823 766 80 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . rasa.pori-pori bagian dalam karbon aktif. 7. pengaduk gelas. Sedangkan penggunaan karbon aktif powder pada fasa cair harus selalu diaduk agar homogenitas tetap terjaga dan tidak terjadi sedimentasi suspensi. pengolahan dan penjernihan air. efektifitas adsorpsi sangat tergantung pada jenis bahan baku adsorban. gelas piala. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil percobaan pengolahan limbah cair yang dikeluarkan dari pabrik gula tercantum pada Tabel 1. Selanjutnya.0 gr 715 799 975 7. mikropori dengan diameter antara 8 dan 20 A°. kemudian dilakukan penyaringan. Luas permukaan karbon aktif dari batubara dapat mencapai 500-1400 m 2 /gr. 5. Karbon aktif granular biasa digunakan untuk menghilangkan senyawa organik yang menimbulkan bau.5 dan 10 gram. METODOLOGI Alat Peralatan laboratorium seperti . 2007). filtrat ditampung di dalam botol untuk selanjutnya dilakukan analsisis COD. Struktur. Sedangkan. mesopori dengan diameter antara 20 dan 500 A°. 3.5 gr 925 719 888 10. jenis zat adsorbat dan temperatur pada saat proses berlangsung. Karbon aktif dari tempurung kelapa umumnya memiliki luas permukaan seluas 500-1500 m2/gr. Struktur pori dari suatu adsorban diklasifikasikan menjadi transportpori yang memiliki diameter sekitar 500 A°. 1975). Karbon aktif granular dibuat dalam ukuran yang berbeda tergantung pada aplikasinya.5 gr 30 60 90 667 661 609 2355 Berat karbon aktif 5. Struktur dan distribusi pori-pori merupakan faktor utama dalam menentukan daya serap karbon aktif dibandingkan dengan luas permukaan (Harald. 60 dan 90 menit. karbon aktif ditambahkan ke dalam 200 ml conto limbah. atau warna yang tidak diinginkan pada fasa cair. botol plastik. distribusi dan ukuran pori-pori karbon aktif menjadi faktor yang menentukan kemampuan adsorban dalam mengadsorpsi berbagai jenis adsobat. sehingga efektif menyerap partikel-partikel yang sangat halus (O-Fish. Campuran tersebut kemudian diaduk setiap 10 menit selama masing-masing 30. struktur dan distribusi pori-pori karbon aktif dapat diketahui. Karbon aktif granular memiliki persentase makropori dan transportpori yang lebih besar sehingga memungkinkan molekul-molekul besar terserap. dan timbangan analitik Bahan Conto limbah gula (cair) Karbon aktif berukuran 12 mesh dengan bilangan yodium berkisar antara 600 dan 700 mg/gr Cara kerja Karbon aktif berukuran 12 mm ditimbang masingmasing 2. corong. dan pori-pori dengan diameter kurang dari 8 A° yang disebut submikropori (Pruss. Kedua bentuk ini dapat digunakan dalam proses pemurnian. Metoda analisis COD mengacu pada SNI 06-6989.5. Hasil analisis COD limbah cair pabrik gula Konsentrasi COD sebelum proses (mg/l) Waktu proses (menit) Konsentrasi COD setelah proses (mg/l) 2. Penentuan luas permukaan menggunakan metode BET (BrunauerEmmnett-Teller). atau bisa juga dilakukan dengan penyaringan. 2007). Dengan perhitungan persamaan BET. Setelah selesai proses pencampuran. Teknik ini meliputi pengukuran volume gas nitrogen yang terserap.0.

Media Informasi Ikan Hias dan Tanaman. diperoleh dengan penambahan karbon aktif 2.. Teknik Sampling dan Analisis Air Permukaan.Konsentrasi COD di dalam limbah gula semula sebesar 2355 mg/gr. 1. 1975. Mengacu pada baku mutu limbah cair yang mempunyai nilai ambang batas COD 300 mg/gr. karbon aktif yang digunakan terbuat dari tempurung kelapa mempunyai bilangan yodium 6. Pemanfaatan Karbon Aktif dari Batubara pada Pengolahan .5 gram selama 90 menit. perlu meningkatkan kualitas karbon aktif dari bilangan yodium 600 dan 700 mg/gr menjadi 1000 mg/gr. Filter Kimia. maka penurunan COD sangat signifikan. Majalah Air Minum.000 mg/gr.blogspot. perlu pengaturan ukuran butir dan cara pengolahan limbah sehingga diperoleh hasil yang memenuhi standar kualitas limbah cair. dengan jumlah karbon aktif rendah. Nazir. diperoleh dengan penambahan berat karbon aktif 2.3. faktor yang mempengaruhi efektifitas adsorpsi adalah jenis bahan baku karbon aktif. H. semakin besar jumlah karbon aktif yang ditambahkan. Waktu kontak relatif cepat. konsentrasi COD sebesar 609 mg/l belum memenuhi persyaratan mutu limbah cair. Begitu pula dengan penambahan karbon aktif 10 gram. 60 dan 90 menit. menunjukkan penurunan konsentrasi COD yang relatif stabil. tidak menunjukkan semakin turunnya konsentrasi COD. Penambahan berat karbon aktif lebih besar dari 2. Dari Gambar 1 terlihat bahwa persentase penurunan adsorpsi terendah terjadi pada penambahan karbon aktif sebesar 5. http:// Gedehace. SARAN Untuk memperoleh hasil yang maksimal. Setelah ditambah karbon aktif. http://o-fish. Ernawita. jenis adsorbat dan cara pengolahan. 5. Februari 2009 Harald. namun karena kualitas karbon aktif tinggi. Salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya efektifitas adsorpsi adalah kualitas karbon aktif. Selain kualitas karbon aktif. 30. diperoleh kesimpulan sebagai berikut: Karbon aktif yang berukuran 12 mm dengan bilangan yodium antara 600 dan 700 mg/gr dapat menurunkan konsentrasi COD limbah gula dari 2355 mg/gr menjadi 609 mg/gr. 2009. Persentase penurunan adsorpsi terbesar. Persentase penurunan adsorpsi Konsentrasi COD 609 mg/gr belum memenuhi persyaratan kualitas limbah cair yang mempunyai nilai ambang batas 300 mg/gr. Tetapi..5 gram selama 90 menit.html. 2000. Gede. Selain itu. dengan tingkat penurunan mencapai 59%.com/2009/03/adsorpsikarbon-aktif. Pada pengolahan limbah cair di salah satu pabrik gula. Conversion of Coal and Gas Produced from Coal Into Fuels. and Other Products. tingkat penurunan mencapai 60% selama 30 menit. Konsentrasi COD yang terendah adalah 609 mg/gr. Gambar 1. Chapter 30.. Bila dihitung berdasarkan persentase penurunan tingkat adsorpsi.4. KESIMPULAN Berdasarkan hasil percobaan.0 gram selama 90 menit. nilai COD menjadi turun. O-Fish. 2007. Ika Monika dan Nining Sudini Ningrum 81 .6. DAFTAR PUSTAKA Cahyana. Teknik pengolahan adalah dengan cara mengalirkan debit limbah melalui suatu kolom yang berisi karbon aktif.5 gram.com. dapat digambarkan seperti pada Gambar 1. Berdasarkan data pada Tabel 1.5 gram selama waktu 30. Chemicals. tingkat penurunan adsorpsi relatif rendah.. Faktor-faktor ini dapat mempengaruhi persentase penurunan adsorpsi karbon aktif. Hasil tersebut diperoleh dengan penambahan karbon aktif sebesar 2.

Pusat Data dan Informasi. Penelitian Perkebunan Gula Indonesia. 2001. 2009.co.. Brennestoff-Chemical. W. 157-160 Santoso. Eddy.PERSI. B. 42.. Indonesia 82 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . 1972. http:// www. Rabu 22 Agustus Pruss. Pasuruan.id. Determination of Pore Size and Pore Distribution in Coal and Coke. Pencegahan Dan Pemanfaatannya. Limbah Pabrik Gula: Penanganan.pdpersi.

-10+35 mm dan -1+1/2 cm. air asam tambang. Kata kunci: lingkungan tambang. Fenol mampu mereduksi asam 6.73.. Sumatera dan Papua menyebabkan munculnya fenomena air asam tambang (AAT). Dari hasil tersebut. Jend.esdm.6030483 Fax. netralisasi.id SARI Peningkatan pertambangan batubara. rosniasruntung@tekmira. lindian. polusi. Salah satu cara yang cukup efektif untuk mengatasi masalah tersebut adalah melakukan pencegahan dan pengontrolan pembentukkan AAT dengan mengurangi aktivitas bakteri. pengaruh bakteri Kemungkinan Pemanfaatan Bakterisida Fenol untuk .67% dan kemampuan kapur mereduksi asam mencapai 48-15. Pada penelitian ini digunakan 2 jenis batuan penutup yang berwarna abu-abu dan coklat berasal dari KUD Tambang Harapan. Kehadiran jasad renik Thiobacillus ferroksidans juga dapat mempercepat terjadinya AAT. 022 ..go.go. Percobaan dilakukan dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 3 faktor. 022 . Sehubungan dengan hal tersebut telah dilakukan penelitian penggunaan bakterisida untuk menanganani AAT. Secara umum.pembentukan lahan basah dan pengkapsulan. fenol. Kecamatan Kedongdong.esdm. bijih emas dan tembaga seperti di Kalimantan.id. Sudirman 623 Bandung 40211 Telp.1 dan 10.15%. ukuran dan jenis bakterisida selama 12 minggu. Bakterisida yang digunakan adalah fenol dengan dosis 5 mg/g dan sebagai pembanding digunakan gamping dengan dosis 10 mg/g. Proses netralisasi dapat membentuk logam hidroksida yang dapat mengendap berupa lumpur sehingga diperlukan penanganan lebih lanjut. 83 .KEMUNGKINAN PEMANFAATAN BAKTERISIDA FENOL UNTUK PENCEGAHAN AIR ASAM TAMBANG Siti Rafiah Untung dan Nia Rosnia H Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl.% . Hasil percobaan menunjukkan.6003373 e-mail : sruntung@tekmira. Siti Rafiah Untung dan Nia Rosnia H. terlihat kemampuan fenol dalam mereduksi asam dari batuan penutup lebih kecil dari gamping. pengelolaan lingkungan yang umum diterapkan untuk penanggulangan AAT antara lain adalah netralisasi. penambahan fenol dan gamping (CaCO3) dapat meningkatkan pH lindian berturut-turut menjadi 6.67% -51. Lampung Selatan. bakterisida.6. Kedua jenis batuan tersebut dipreparasi menjadi ukuran 100 mesh. yaitu jenis batuan. Asam sulfat ini akan melarutkan logam sehingga dapat mencemari badan perairan sekitarnya. AAT dapat terjadi apabila mineral sulfida seperti pirit terpapar ke udara dan bereaksi dengan udara dan air membentuk asam sulfat.

The result showed that the phenol and lime stone can increase the pH of leached respectively 6.67% and limestone 48-15. Keywords : mine environment . batuan penutup dapat dibedakan menjadi 2 jenis. limestone. The overburden was prepared to be 100 mesh. berasal dari KUD Tambang Harapan.ABSTRACT The increases of coal. Generally. Pembentukkan air asam tambang (AAT) merupakan masalah utama dalam pertambangan batubara dan mineral. Berau Coal dan PT. in capsulation and wetland are common to handle the AMD in Indonesia. AAT dapat terbentuk apabila ada mineral pirit yang terpapar sehingga teroksidasi dan selanjutnya air membentuk asam sulat yang dapat menurunkan pH air dan melarutkan logam. a laboratory research on the use of bactericide to handle the AMD was carried out. Freeport Indonesia dan PT. Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara telah mengadakan penelitian laboratorium pencegahan AAT dengan menggunakan fenol dan gamping (CaCO 3). Based on the result.6. phenol. Regarding to the problem. leached. Phenol as bactericide with dose 50mg/g was used while limestone with dose 100mg/g also used as a comparison. Neutralization process can form metal hydroxide and it will precipitate as sludge which need to be optimally managed.% . namun apabila pembentukkan asam dapat dicegah akan sangat menguntung- 2. size and bactericide. yaitu berwarna abu ( BP abu) dan coklat (BP coklat). BAHAN DAN METODE 2. The presence of Thiobacillus ferroksidans can also accelerate the formation of AMD. bactericide. Dalam penelitian. berasal dari KUD Tambang Emas Harapan.67% -51.1 and 10. Kedongdong Subdistric. Oleh karena itu kehadiran AAT di lingkungan sangat tidak diharapkan. Design of Group Random was used with 3 factors. Newmont Minahasa mengalami masalah AAT ini. gold and copper ore from mine activities in Kalimantan. Fenol ini ini dapat menghambat pertumbuhan jasad renik sampai mematikannya.15%. PENDAHULUAN kan karena dapat menghemat biaya pengelolaan. Kabupaten Lampung Selatan. acid mine drainage. PT. Kabupaten Lampung Selatan. Two types of overburden which colour were gray and chocolate from KUD Tambang Harapan. Biaya penanggulangan AAT pada umumnya mahal. penutupan dengan air. -10+35 mm dan -1+1/2 cm. Pada umumnya perusahan-perusahan tersebut telah menangani masalah tersebut dengan berbagai cara antara lain netralisasi dengan CaCO3 (kapur). South Lampung were used in this experiment. namely type of overburden. Berdasarkan warnanya. Sumatera and Papua lead to the occurrence of acid mine drainage (AMD). pengkapsulan/penghalang fisik dan pemanfaatan rawa/ rawa buatan (wetland). pollution.73. The acid can dissolve metals and pollute the water body surrounding the area. Bahan dan Peralatan Contoh dalam penelitian ini adalah batuan penutup. kapur padam (Ca(OH)2) dan kapur tohor (CaO). Acid mine drainage can occur if sulphide mineral such pyrite was exposed to the air and it will react with oxygen water to form sulphuric acid. Kelian Equatorial Mining. Fenol. Salah satu pencegahan yang dapat diterapkan adalah penggunaan fenol. Hal yang sama juga dialami oleh perusahaan pertambangan batubara di Kalimantan Timur seperti PT. Kedua contoh 84 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Beberapa perusahaan pertambangan mineral seperti PT. Hal ini berdampak terhadap penurunan kualitas badan perairan karena sungai terkontaminasi oleh keasaman dan logam-logam terlarut dan juga menyebabkan reklamasi daerah tambang menjadi lebih mahal. neutralization. the capacity of phenol to reduce acidity of overburden is much less than limestone. Kecamatan Kedongdong. Sehubungan dengan hal tersebut. Kecamatan Kedongdong. Fenol dibeli dari toko kimia dan gamping diperoleh dari tambang rakyat di daerah Citatah. environmental management such as neutralization. Fenol atau asam karbolik dengan rumus kimia C5H6OH adalah bakterisida. salah satu baktersida umum digunakan di rumah sakit sebagai antiseptik. microbial influence 1. Kaltim Prima Coal. contoh batuan yang digunakan adalah batuan penutup.1. Phenol and limestone respectively could reduce acid 6.

. Selanjutnya. 85 .11 S 1. Faktor pertama (A) adalah ukuran batuan dengan taraf. Setiap hari masing masing kolom pelindian ditambahkan 10 ml air suling sebagai media pelindian. 3. Lampung Selatan = lapisan batu berwarna cokalt dari tambang emas rakyat di Kecamatan Kedongdong.01 0. 100 mesh (a1).01 Mg 0. 2.batuan penutup tersebut dipreparasi menjadi beberapa ukuran. Bagian bawah botol tersebut diberi lubang kapiler untuk mengeluarkan air pelindian. Untuk menjaga kelembaban. yaitu BP abu (b1) dan BP coklat (b2).2 Peralatan Kolom pelindian adalah botol plastik + 250 ml yang bagian bawahnya diberi lubang kapiler untuk mengeluarkan lindian.1. Lindiannya ditampung dalam gelas plastik Setiap kolom pelindian diisi dengan contoh batuan yang disusun secara berlapis dengan fenol dan gamping. -10+35mm (a2) dan -1+1/2cm (a3). Faktor kedua (B) adalah jenis batuan dengan dua taraf.10 : Data Primer Hasil Uji Puslitbang tekMira Bandung : = batuan berwarna cokalt dari tambang emas rakyat di Kecamatan Kedongdong. Bakterisida yang digunakan adalah fenol yang dibeli dari toko bahan kimia dan sebagai pembanding adalah kapur gamping (CaCO3) yang berasal dari tambang rakyat Desa Citatah. 2. Peralatan lain yang digunakan adalah pH meter dan alat gelas.04 Ca 0. terhadap kedua contoh batuan tersebut juga dilakukan pengujian air asam tambang dengan metode Sobek (Sobek. Pengukuran pH lindian dilakukan setiap minggu.19 0. fenol (c1) dan gamping (c2).22 Mn 0. Pb. Faktor ketiga (c) adalah jenis bahan kimia dengan dua taraf.04 0. 1978). HASIL DAN PEMBAHASAN 3. Kolom yang digunakan dalam pelindian adalah botol plastik + 250 ml. Analisa kadar logam dari contoh dengan AAS Hasil analisa/penentuan kadar logam dan S dalam contoh BP abu dan BP coklat adalah sebagai berikut : Tabel 1. (-10 + 35 mm) dan (-1 + ½ cm).03 Pb 0. yaitu kontrol (c0). lampung Selatan Kemungkinan Pemanfaatan Bakterisida Fenol untuk . Hasil analisis kandungan logam dan sulfur dalam contoh batuan Contoh Batuan Cu BP coklat BP abu Sumber Keterangan P. yaitu 100 #. Siti Rafiah Untung dan Nia Rosnia H. Dari faktor perlakuan tersebut diperoleh 24 kombinasi perlakuan dan setiap kombinasi perlakuan diulang dua kali.1.. abu Parameter (%) Fe 8. Seluruh pengujian dilakukan di laboratorium Lingkungan Puslitbang tekMIRA. kemudian dimasukkan ke dalam masing masing kolom secara berlapis fenol dan kapur dengan dosis masing-masing 5 mg/g dan 10 mg/g kecuali kontrol.05 0. Mg.12 0. botol-botol tersebut disimpan dalam akuarium tertutup dan dijaga kelembapannya sekitar 90%.06 0. Analisis dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan pada taraf nyata 5% jika terdapat perbedaan antar perlakuan. yaitu: batuan penutup berwarna abu (BP abu) dan coklat (BP coklat).29 0. fenol dan kapur yang diujikan sebagai bahan pencegahan pembentukkan asam digunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 3 faktor.39 31. Metode Uji karakterisasi contoh batuan dilakukan untuk mengetahui kandungan logamnya (Cu. Air suling berfungsi sebagai media pelindi. Mn dan Ca) dalam bentuk oksida dan S (belerang) terhadap kedua jenis batuan. Percobaan untuk mengetahui interaksi dari jenis batuan dan ukurannya. Fe. coklat P.2.82 Zn 0. Ke dalam setiap kolom pelindian dimasukkan secara berturut-turut 100 gr contoh batuan. Zn. Proses tersebut dilakukan dalam akuarium tertutup pada suhu kamar selama 12 minggu dengan kelembaban berkisar 90 %.90 2.

+2H+ digolongkan tipe 4 atau potensi pembentuk asam kapasitas tinggi sehingga diperlukan penanganan agar tidak mencemari lingkungan sekitar. Nilai pH lindian tertinggi ditunjukkan oleh penambahan gamping. yaitu ratarata 10.13 kg H2SO4/ton.82%.37 3.6 hanya ditemukan pada batuan BP coklat dengan ukuran 100 mesh.39 .7.69 194.Hasil analisis menunjukkan.12 %. Nilai pH lindian tersebut lebih ditentukan oleh kemampuan contoh dalam pembentukan asam maksimum dan potensi batuan dalam menetralkan dan bukan ukuran contoh.39 74.1 10. Dengan demikian pH lindian BP abu lebih rendah (4. Hal ini mungkin disebabkan oleh kandungan kalsium (Ca) kecil.29% dan nilai tersebut berhubungan langsung dengan nilai MPA.0) dari BP coklat (5.90-5.8 atau rata-rata 10. peran bakteri adalah mempercepat reaksi.11-0.31. Berdasarkan pengklasifikasian tersebut. Dari Tabel 3 dan Gambar 1 terlihat pada bahwa blanko (kontrol) air lindian bersifat asam pH dengan berkisar 2. sedangkan kandungan logam lainnya rendah.2 atau rata-rata 6. Hasil perhitungan menunjukkan nilai MPA kedua contoh berkisar antara 58. Kedua jenis batuan juga mengandung sulfur dengan kisaran 1. Mengacu kepada hasil analisis dari Uji Identifikasi Pembentukan Air Asam Tambang pada Tabel 2.15 : Data Primer Hasil Uji Puslitbang tekMira Bandung : = batuan penutup berwarna abu = batuan penutup berwarna coklat Dari Tabel 2. Kadar belerang (S) total kedua contoh berkisar dari 1.2).19 0 0 84.7.59-84.19-70.56 63. logam yang dominan dalam kedua jenis batuan penutup tersebut adalah besi dalam bentuk Fe2O3 dengan kisaran antara 8.88 3.6. bakteri.13 58.65 52. yaitu 63. P. Kedua contoh nilai NAPP-nya positif. Hal ini dapat dilihat dari kisaran pHnya. Salah satu penanganan adalah penggunaan fenol yang merupakan bakterisida dan sebagai pembanding digunakan gamping (CaCO3).6. Dari uraian tersebut dapat Tabel 2.90% sampai dengan 2.09 pH NAG 2. Dharmawan.29 1.59 104.56 kg H2SO4/ ton. diduga bahwa kedua jenis batuan tersebut berpotensi menghasilkan air asam tambang.5kg 7kg Sulfur (%S) H SO /ton H SO /ton H SO /ton H SO /ton H SO /ton 2 4 2 4 2 4 2 4 2 4 Total 2. Hal ini menunjukkan bahwa kedua contoh tersebut dapat membentuk asam yang reaksi pembentukannya secara umum sebagai berikut: MeS2 +7/2O2 + H2O (logam sulfida) Dalam proses pembentukan AAT tersebut.29%.6. yaitu berkisar 0. Proses penetralan dengan gamping terlihat bahwa nilai pH lindian tidak ditentukan baik oleh ukuran contoh maupun oleh perhitungan asam basa.90 70.2-7. Hasil pengukuran pH lindian selama 12 minggu dapat dilihat pada Tabel 4 dan Gambar 1.5. menyatakan senyawa fenol dapat masuk ke dalam sel bakteri dengan cara merusak dinding selnya dan juga dapat mengendapkan proteinnya. kedua contoh batuan tersebut dapat Me2+ 2SO42.90% 2. pH tertinggi 5.37-3. Peningkatan pH lindian pada percobaan penambahan fenol mungkin disebabkan oleh kemampuan fenol menghambat pertumbuhan 86 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Penggunaan fenol dalam percobaan ini ternyata mampu meningkatkan air lindian 4. Buck (2001).15 berarti bahwa contoh-contoh tersebut bersifat asam.1. terlihat derajat keasaman pH (1:2) contoh yang dianalisis berkisar dari 2. Hasil analisis uji pembentukan air asam tambang Kode Sampel BP abu BP coklat Sumber Keterangan BP abu BP coklat MPA ANC NAPP NAG NAG kg kg kg 4.5 . yaitu 10.42 pH 1:2 2. Kedua contoh batuan menunjukkan nilai ANC = 0 berarti contoh tersebut tidak mampu untuk menetralisasi asam. 1996 mengklasifikasikan batuan pembentuk asam menjadi 4 jenis seperti tertera pada Tabel 3.6 atau rata-rata 3.

Parliyanto .9 5. Nilai pH lindian dari Kemungkinan Pemanfaatan Bakterisida Fenol untuk .7 2. Tipe 3 4.1 No 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Perlakuan a2 b2 c 0 a2 b2 c 1 a2 b2 c 2 a3 b1 c 0 a3 b1 c 1 a3 b1 c 2 a3 b2 c 0 a3 b2 c 1 a3 b2 c 2 pH 3. Rata-rata perubahan pH lindian dengan penambahan fenol dan kapur No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Perlakuan a 1b 1 c 0 a 1b 1 c 1 a 1b 1 c 2 a 1b 2 c 0 a 1b 2 c 1 a 1b 2 c 2 a 2b 1 c 0 a 2b 1 c 1 a 2b 1 c 2 pH 2. 1996 Tabel 4. a3 = ukuran batu dilihat bahwa dosis gamping berpengaruh terhadap pH lindian.8 Keterangan: C0=control. Golongan Tipe 1 Tipe 2 Jenis Batuan Bukan pembentuk asam Keterangan Nilai pH uji NAG lebih besar atau sama dengan 4 atau nilai NAPP negatif Potensi pembentuk asam Nilai pH uji NAG lebih kecil dari 4 . Gambar 1.4 6.6 7 10.nilai NAG pada pH 4.8 4..2 10. 87 . 1.5 lebih besar atau sama dengan 5 kg H2SO4 per ton NAPP lebih besar atau sama dengan 10 kg H2SO4 per ton 3.5 10. b 1 = BP abu. Perubahan pH lindian dari batuan dengan penambahan kapur dan fenol Tabel 5 menunjukkan nilai pH lindian rata-rata dari penggunaan fenol berkisar antara 4.Tabel 3.5 lebih kecil dari 5 kg H2SO4 per ton NAPP 0 – 10 kg H2SO4 per ton Potensi pembentuk asam kapasitas tinggi Nilai pH uji NAG lebih kecil dari 4.. Penggolongan jenis batuan pembentuk asam No.8. Siti Rafiah Untung dan Nia Rosnia H.5 lebih besar atau sama dengan 5 kg H2SO4 per ton NAPP lebih besar atau sama dengan 10 kg H2SO4 per ton Nilai pH uji NAG lebih kecil dari 4 . Tipe 4 Pembentuk asam Sumber: Dharmawan. C2 = gamping b = jenis batu.nilai NAG pada pH kapasitas rendah 4. Pada penetralan ini terjadi reaksi sebagai berikut: CaCO3+ H2SO4 CaSO4+ H2CO3 3 CaCO3 + Fe2(SO4)3 + 6 H2O 2 CaSO4+2 Fe(OH)2 + 3 H2CO3 Kapasitas reduksi asam untuk masing-masing perlakuan dapat dilihat pada Tabel 5.1 – 10. pH batuan (1 : 2) lebih kecil dari 4 nilai NAG pada pH 4. b-2 = BPcoklat a1. 2.9 6 10.8 5.2 4. a2.6 7.2 10.6 3. C1 = fenol.5 –7.9 10.2 dan gamping antara 10.

5.1 7.2 7.6 4.6 0. Ukuran bijih berpengaruh terhadap nilai pH dan reduksi asam baik untuk penggunaan fenol maupun gamping.2 7.15 66. Dari hasil percobaan terlihat kemampuan fenol dalm mereduksi asam lebih kecil dari gamping. Penurunan dosis gamping lebih dianjurkan karena dapat menghindari adanya biaya tambahan pengelolaan air limbah.2 3.52 Kapasitas reduksi (per mg) 2.9 5.3 3. Kesimpulan Hasil penelitian menujukkan berbagai hal sebagai berikut: Fenol dapat digunakan dalam pencegahan air asam tambang dan dapat meningkatkan nilai pH lindian dengan kisaran 4.42 72. Penurunan dosis dilakukan dengan berbagai cara antara lain dengan menurunkan dosis gamping dan menggunakan asam seperti H2SO4 atau HCl sehingga diperoleh nilai pH air limbah yang sesuai dengan Kepmen LH No.5 6.5 –7.4 3.67 73. Nilai pH dan reduksi asam tertinggi terjadi pada batuan ukuran -1+1/2cm dan terkecil pada ukuran batuan 100 mesh baik untuk perlakuan dengan fenol maupun batuan.9 7. Kapasitas reduksi asam untuk gamping dengan dosis 10 mg/g berkisar 48-15.2. Batuan dengan potensi pembentuk kapasitas asam tinggi (BP abu) kemampuannya dalam mereduksi asam lebih rendah dari BP coklat. Hasil lindian (pH) dan reduksi asam dari BP abu lebih rendah dari BP coklat untuk semua jenis ukuran batu.72 51.3 1.9 7.% . 202/2004 (pH 6-9). Nilai tersebut memenuhi syarat sebagai air limbah dari kegiatan penambangan bijh emas berdasarkan Kepmen LH No.15 48.67%.67% -51.3 1.0 10.2 7. Penetralan dengan gamping dapat mereduksi asam 48-15.1 5.1 7.5 3.64 68.5 3.4 Reduksi asam (%) 44.3 3. 202/2004 (pH 6-9) dan dapat menetralkan asam berkisar antara 6.2 4.15%.7 7.36 58.7 7.% - 88 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Namun apabila dilihat nilai pH lindian dari penggunaan gamping telah melampau nilai yang ditentukan oleh Kepmen tersebut.9 6. dapat dilihat bahwa ukuran batuan berpengaruh terhadap perlakuan.67% -51.8 10.1 10.1.9 5.Tabel 5.4 5.4 3. KESIMPULAN DAN SARAN 5.8 Selisih thd blanko 0 0 0 0 0 0 2.67%. Kapasitas reduksi asam dari fenol dan gamping terhadap blanko Jenis Penanganan Blanko Perlakuan a1b1c0 a1b2c0 a2b1c0 a2b2c0 a3b1c0 a3b2c0 a1b1c1 a1b2c1 a2b1c1 a2b2c1 a3b1c1 a3b2c1 a1b1c2 a1b2c2 a2b1c2 a2b2c2 a3b1c2 a3b2c2 Rata-rata pH 2. 202/2004 Kapasitas reduksi asam untuk fenol dengan dosis 5 mg/g berkisar antara 6. Penelitian Siwik (1989) menunjukkan penambahan Ca(OH)2 (kapur padam) dengan dosis 5000 mg/kg selama 50 minggu dapat mereduksi asam sampai 80%.1 5.8 10.0 7.67 50. jadi lebih tinggi dari fenol. Dari Tabel 5.00 50.6 0.73.4 Fenol Gamping fenol sudah memenuhi syarat sebagai air limbah dari kegiatan penambangan bijh emas berdasarkan Kepmen LH No.9 3.7 10.00 6.9 5.23 20. sehingga perlu dilakukan penurunan dosis gamping agar hasil lindian dapat memenuhi syarat.6 10.6 2.

Arutmin Indonesia.. 45268. Environmental Protection Agency. Kemungkinan Pemanfaatan Bakterisida Fenol untuk . Schuller. DAFTAR PUSTAKA Buck.. Saran Penelitian perlu dilanjutkan dengan pemberian bakterisida yang lain seperti surfaktan sehingga dapat ditentukan bakterisida yang lebih beperan dalam pencegahan air asam tambang. New York. http:// www. 89 . Tailings and Effluent Management. Kapasitas fenol dalam mereduksi asam lebih kecil dari gamping. EPA-600/2-78-054.2.. W. et al (eds. Untuk melihat pengaruh ukuran dan jenis batuan terhadap kelarutan logam-logam maka perlu dilakukan pengukuran konsentrasi logam-logam yang terekstrasi. U.). Kabupaten Lampung Selatan yang telah mengirim contoh batuan sehinnga penelitian ini dapat berjalan lancar. Paper disajikan pada Seminar Air Asam Tambang di Indonesia.8. 5. Pergamon Press. Freeman. M. Kecamatan Kedongdong.R.A. 4750. Ohio. Aula Barat ITB 1-2 Juli 1996 Siwik R. 1989. Wheeland.15%. A. Siti Rafiah Untung dan Nia Rosnia H. Cincinnati. Kirsten. E.73. and Smith. Identifikasi Potensi Air Asam Tambang di Daerah Tambang Batubara PT.html diakses tanggal 15 Juni 2009 Dharmawan Parliyanto. The effects of Germicides on Microorganism.com/articles/ 191clean. 202/2004 sehingga diperlukan penurunan dosis gamping.1 – 10. R. M. 1996.. Karena nilai ini sudah melampaui baku mutu air limbah dari kegiatan penambangan bijh emas berdasarkan Kepmen LH No. Chalkey. Ukuran batuan dan jenis batuan berpengaruh terhadap hasil lindian.S. Field and Laboratory Methods Applicable to Overburdens and Minesoils. ‘Control of acid generation from reactive waste rock with the use of chemicals’. 1978. UCAPAN TERIMAKASIH Penulis mengucapkan terimakasih kepada Bapak Sahroji. Payant and K. Kepala KUD Tambang Harapan.infectioncontroltoday.A. J.M. dan pH berkisar 10. Sobek. 2001. S..

Kata kunci : pembakar siklon. high ash content with various melting points may affect the combustor performance.esdm. Berdasarkan titik lelehnya abu dibagi menjadi 3 golongan yaitu golongan a bertitik leleh tinggi. Jend.go. pengendapan ABSTRACT Coal may be viewed as a dirty fuel.PENGARUH TITIK LELEH ABU TERHADAP PENGENDAPANNYA PADA PEMBAKARAN BATUBARA DENGAN PEMBAKAR SIKLON DI BEBERAPA FASILITAS INDUSTRI Sumaryono Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara (tekMIRA) Jl.id SARI Batubara dapat dikatakan sebagai bahan bakar yang kotor karena sulit untuk mendapatkan batubara yang murni. 90 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . abu golongan b lebih dari 50% menempel sebagai kerak di dalam siklon dan abu golongan c lebih dari 90% meleleh di dalam siklon kemudian mengalir ke dalam kotak abu. didapat abu golongan a lebih dari 90% tertiup keluar siklon. 081321237913 e-mail : soemaryono@tekmira. and (c) group has low melting point. kadar abu yang tinggi dengan titik leleh yang bervariasi dapat mempengaruhi kinerja alat. which either affecting the combustion process or may affect the product and the industrial facilities served. Based on its melting point. This paper describes the handling process of those ash groups. The deposition processes of the ash particles in those industrial facilities and their deposition locations are also described. ash may be divided into three groups./Fax : 022 – 6038027. pemanas oli dan pengering berputar. Khususnya pengotor-pengotor yang dapat mempengaruhi proses pembakaran seperti kandungan abu dengan berbagai karakteristiknya yang selain mempengaruhi proses pembakaran juga dapat mengganggu produk dan fasilitas industri yang dilayani. Untuk pengoperasian pembakar siklon. titik leleh abu. oil heater and rotary dryer. far below 1200°C. Sudirman 623 Bandung Telp. (b) group has medium melting point or close to the operational temperature of the cyclone combustor at 1200°C. Particularly the impurities which may affect the combustion process such as the ash content with its various characteristics. Diuraikan juga proses pengendapan partikel abu dari ketiga jenis abu dalam fasilitas industri tersebut dan lokasi pengendapannya. Dari pengamatan tersebut. jauh dibawah 1200°C. in the operation of the cyclone combustor in steam boiler. dalam pengoperasian pembakar siklon untuk ketel uap. For cyclone combustor operation. (a) group has high melting point. golongan b bertitik leleh sedang atau mendekati suhu operasional pembakar siklon 1200°C dan golongan c bertitik leleh rendah. since it is difficult to obtain pure coal. From this observation. Tulisan ini menguraikan proses penanganan abu untuk ketiga jenis abu tersebut. free from impurities. bersih dari kotoran.

Sebagai contoh. Fe.it was found that (a) group ash. Jika menempel di moncong keluarnya api. Sumaryono 91 . (b) group ash more than 50% adhered as slag in the cyclone and (c) group ash more than 90% melted in the cyclone and then flowed into the ash box. 2009). 2003). pengelolaan abunya tergantung pada titik leleh abu. Keywords: cyclone combustor. Al. ash melting point. dll sejak tahun 2005. Jika perbandingan Al2O3 : SiO2 mendekati 1 : 1. pengering berputar. Pada teknik pembakaran kisi berjalan (Changzhou.. Mg. K yang terikat dengan silikat. 1991). oksida. khususnya titik leleh abu yang merupakan parameter penting dalam proses pembakaran batubara (Rance. Dengan kinerja yang semakin baik maka hal ini merupakan dukungan pada program pemerintah untuk terus meningkatkan kontribusi batubara dalam konsumsi energi nasional yang ditargetkan sebesar 33% pada tahun 2025 (Yusgiantoro. Jelas pula pengaruhnya pada teknik pembakaran batubara bubuk (pulverized coal combustion) (Singer. Pembakar siklon perlu terus dikembangkan sehingga semakin handal untuk dapat menghadapi berbagai parameter karakteristik batubara yang berbeda-beda. Sifat-sifat abu khususnya menyangkut sifat melelehnya yang dapat mengganggu operasional siklon tersebut dipengaruhi oleh kandungan unsurunsur tertentu di dalam abu. atau berupa kerak yang menempel di dinding siklon sehingga jika semakin tebal. dengan banyaknya senyawa CaO. Keadaan ini mengakibatkan operasional pembakar siklon sering terganggu karena mutu batubara yang berubah-ubah dan cenderung semakin turun mutunya. titik leleh abu yang rendah mengakibatkan tertutupnya kisi oleh lelehan abu sehingga mengganggu aliran udara pembakar. Parameter titik leleh abu akan dibahas dalam tulisan ini karena merupakan salah satu faktor yang berpengaruh dalam operasional pembakar siklon. operasional pembakar siklon dapat terganggu. more than 90% was blown out of the cyclone.. Pada teknik pembakaran dengan unggun terfluidakan (Basuki. Na. Tergantung nilai titik Pengaruh Titik Leleh Abu terhadap Pengendapannya pada Pembakaran . jika digunakan batubara dengan titik leleh mendekati suhu pembakaran atau dibawahnya mengakibatkan unggun mengeras setelah dingin sehingga harus dihancurkan dengan linggis. sifat titik leleh dapat mengganggu operasional pembakar siklon karena abu dapat berupa padatan yang tertiup keluar siklon. Ca dan sedikit Ti. bisa berupa abu terbang atau abu dasar. Tetapi sejak tahun 2008 mulai terjadi kelangkaan batubara standar karena naiknya harga ekspor batubara sehingga pasokan batubara standar untuk dalam negeri terganggu dan di pasaran dalam negeri hanya tersedia batubara dengan spesifikasi yang berubah-ubah dalam jumlah-jumlah kecil. Karakteristik abu dipengaruhi oleh unsur-unsur yang dikandungnya. Untuk pembakaran terus menerus. Masalah titik leleh abu juga berpengaruh pada operasional teknik pembakaran batubara lainnya. 2. MgO dan Fe2O3 mengakibatkan turunnya titik leleh abu. terutama jika kandungan SiO2-nya tinggi. Mn. Pembakar siklon digunakan untuk menggantikan pembakar BBM di berbagai fasilitas industri tersebut (Sumaryono. Unsur lain yang dapat menurunkan titik leleh abu adalah Na2O dan K2O. 2007). LATAR BELAKANG TEORI Komponen-komponen abu dalam batubara terutama terdiri atas unsur-unsur Si. sulfat atau fosfat. 2003). Sebaliknya. dapat menyumbat aliran api karena jika kerak semakin tebal. karakteristik abu sangat penting selain berpengaruh pada efisiensi pembakaran. belerang. 1975). deposition 1. LATAR BELAKANG Pembakar siklon dengan bahan bakar batubara halus berukuran -30 mesh telah digunakan di industri untuk berbagai jenis fasilitas seperti ketel uap. pengaruh Al2O3 dan SiO2. pemanas oli. Tulisan ini menguraikan beberapa proses pembakaran batubara dengan titik leleh abu yang berbeda-beda pada beberapa fasilitas industri dan akibat-akibat yang ditimbulkan oleh abu batubara tersebut pada operasional pembakar siklon. Pembakaran batubara dengan pembakar siklon dilakukan dengan batubara tepung (-30 mesh). diameter moncong siklon semakin kecil.18 maka abu bersifat refraktori dengan titik leleh tinggi.

Jika titik leleh abu jauh di bawah suhu siklon. Sedangkan pegoperasian dengan batubara mengandung abu gol. menghasilkan abu yang lunak dan lengket menempel pada dinding bagian dalam pembakar siklon. Sedangkan abu yang bertitik leleh rendah akan mudah mencair dan mengalir ke tempat yang lebih rendah. Titik leleh oksidasi adalah titik leleh abu dalam atmosfer pembakaran oksidasi. jika titik lelehnya tinggi maka abu tetap berupa debu padat. Beberapa Golongan Titik Leleh Abu Dalam kaitannya dengan operasional pembakar siklon. Sedang yang bertitik leleh mendekati operasional pembakar siklon akan bersifat melunak tetapi belum mudah mencair sehingga lengket dan menempel di dinding siklon. b. c. maka viskositas tinggi sehingga lengket dan tidak bisa mengalir. akan tetap berupa debu padat pada saat operasional pembakaran siklon. 3. b dan c. Sebaran Abu Dalam Fasilitas Industri 3. b. tergantung pada titik lelehnya. menghasilkan abu padat dengan sebaran : Lokasi a. akan semakin rendah viskositas abu tersebut sehingga cairannya mudah mengalir ke bagian bawah pembakar siklon. Semakin rendah titik leleh abu. Abu dengan titik leleh oksidasi lebih tinggi dari suhu operasional pembakar siklon. yaitu sekitar 1200°C. Sebaran kerak dan kotoran padat lain adalah : Tabel 1. dalam pipa api Lokasi d. Jika titik lelehnya hampir sama dengan suhu siklon. °C Sperikal 1435 1150 1080 Hemisfer 1460 1160 1090 Alir >1500 1225 1155 Deformasi 1470 1235 1125 Oksidasi. titik leleh abu dibagi menjadi tiga golongan yaitu : a.2.leleh abu. jadi dalam suasana pembakaran dengan jumlah oksigen lebih dari oksigen stoikiometrinya. dalam siklon Lokasi b. Abu dengan titik leleh oksidasi sama atau mendekati suhu operasional pembakar siklon. Kerak ini dengan mudah dapat dikorek dari dinding siklon.2. Pembakar siklon dapat beroperasi dengan lancar jika titik leleh abu jauh di atas atau di bawah suhu operasional siklon. maka viskositas lelehan abu menjadi rendah sehingga dengan mudah mengalir ke bawah. dalam penampung debu Lokasi e. Setelah dingin abu yang lengket ini mengeras berupa kerak.5%. dalam ruang api Lokasi c. Abu bertitik leleh tinggi (a). c dan titik lelehnya Golongan Abu A B C Deformasi 1305 1140 1075 Reduksi. a. b yang titik lelehnya hampir sama dengan suhu operasional pembakar siklon. Beberapa contoh abu golongan a. Pembakaran dihentikan. yang bertitik leleh jauh lebih tinggi dari suhu pengoperasian siklon (1180 – 1230°C) dengan kadar abu kurang dari 2%. Abu dengan titik leleh oksidasi lebih rendah dari suhu operasional pembakar siklon.1.1 Ketel uap Gambar 1 adalah skema ketel uap jenis pipa api (fire tube) yang telah dipasang pembakar siklon sebagai ganti pembakar solar dan daerah-daerah pengendapan abunya. dalam waktu 1 hari kerak sudah terlalu tebal sehingga siklon semakin mengecil volumenya dan lingkaran dalam leher siklon semakin menyempit sehingga mengganggu aliran api dari siklon ke dalam ketel uap. bagian bawah cerobong Keluar dari sistem lewat cerobong : : : : : : 5% 15% 0% 30% 30% 20% 3. siklon dibiarkan dingin untuk dilakukan pembersihan dindingnya dari kerak. °C Sperikal >1500 1255 1135 Hemisfer >1500 1260 1160 Alir >1500 1325 1180 92 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . SEBARAN ABU DAN KARAKTERISTIKNYA 3. Tabel 1 adalah beberapa contoh abu yang termasuk dalam abu golongan a. Pada pembakaran batubara yang berkadar abu 5. Pengoperasian ketel uap ini dengan batubara berkandungan abu gol.

dalam penampung abu Lokasi d.2 Pemanas oli Pemanas oli (oil heater) di pabrik tekstil. kemudian asapnya keluar melalui cerobong.pembakar solar dan daerah-daerah lokasi pengendapan abunya. Sebaran abu dalam siklon dan ketel uap adalah : Lokasi a. Pada pembakaran batubara jenis ini yang berkadar abu 7. bagian bawah cerobong Keluar dari sistem lewat cerobong : 60% : 20% : 0% : 10% : 5% : 5% Gambar 2. bagian bawah cerobong Keluar dari sistem lewat cerobong 3.2. Karena viskositas abu sangat tinggi maka abu yang lunak dan lengket ini menempel di permukaan dinding bagian dalam siklon. dalam penampung debu Lokasi e.. Akibat fatal dari kejadian ini terutama diameter dalam L-bow dari siklon menuju ruang api dari Pengaruh Titik Leleh Abu terhadap Pengendapannya pada Pembakaran . pemasakan dll. bagian bawah cerobong Keluar dari sistem lewat cerobong : 5% : 0% : 55% : 2% : 25% : 13% Pengoperasian dengan batubara mengandung abu golongan b yang titik lelehnya hampir sama dengan suhu operasional pembakar siklon menghasilkan abu yang lengket.. dalam pipa api Lokasi d. dalam siklon Lokasi b. Skema pemanas oli dengan pembakar siklon Pengoperasian dengan batubara mengandung abu gol. Bongkahan-bongkahan lelehan abu yang menjadi padat diambil dari kotak abu 2 jam sekali. Gambar 1. naik dan turun lagi memanaskan pipa-pipa oli (d). dalam ruang api Lokasi c. Skema ketel uap dengan pembakar siklon Lokasi a. dalam pipa api Lokasi d. lelehan abu yang mengalir ke dalam kotak abu segera membeku membentuk padatan yang sangat keras berwarna coklat kehitaman. masuk ke dalam kotak abu. makanan dan industri kimia digunakan untuk memproduksi panas yang disalurkan dengan menyalurkan oli panas (220 – 250°) ke unit-unit proses yang memerlukan seperti untuk pengeringan. c yang titik lelehnya dibawah suhu operasional pembakar siklon. Sumaryono 93 . dalam siklon Lokasi b. dalam penampung debu Lokasi e. Pengoperasian dengan batubara mengandung abu golongan a yang titik lelehnya diatas suhu operasional pembakar siklon. dalam rangkaian pipa oli Lokasi e. dalam ruang api Lokasi c.6%. menghasilkan abu yang padat dengan sebaran : Lokasi a. Gambar 2 adalah skema pemanas oli jenis vertikal yang telah dipasang pembakar siklon di bagian atasnya sebagai pengganti : 95% : 0% : 0% : 0% : 0% : 5% Api dari pembakar siklon turun ke dalam ruang api (b). dalam siklon Lokasi b. Abu yang datang selanjutnya melekat di permukaan lelehan sebelumnya sehingga membentuk kerak yang semakin tebal. menghasilkan abu yang sudah mencair dan mengalir ke lantai siklon. dalam ruang api Lokasi c. Dinding bagian dalam siklon terlihat mengkilap karena terlapisi oleh cairan dari abu yang mencair dengan viskositas yang rendah.

konsumsi batubara dengan pembakar siklon 90 kg/jam dengan kadar abu batubara = 5% atau jumlah abu yang dihasilkan = 4. dalam penampung abu Lokasi d. maka jumlah abu yang bercampur dengan 1. karena lebih cepat mengalirnya. abu akan berbentuk tepung padat yang akan tertiup bersama asap. karena batubara dengan abu demikian jarang didapat dipasaran. Sebagai contoh. bagian bawah cerobong Keluar dari sistem lewat cerobong : 60% : 0% : 20% : 3% : 5% : 12% 4. 4.5 kg atau 0. keluar silinder siklon. Semakin rendah titik leleh abu.5 kg/jam.3 Pengering berputar Gambar 3 adalah skema pengering berputar (rotary dryer) dengan pembakar siklon yang menggantikan posisi pembakar solar.500 kg pupuk fosfat adalah 94 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .64 : 1. Pembakar siklon berdiameter bagian dalam 130 cm menyalurkan api kedalam lorong api utama dari ketel uap yang berdiemeter bagian dalam 80 cm melalui moncong siklon yang berdiameter bagian dalam 60 cm. semakin banyak abu yang meleleh keluar siklon. dalam rangkaian pipa oli Lokasi e. Mekanisme pengendapan partikel-partikel abu sebagian karena perlambatan aliran asap. dalam siklon Lokasi b. Maka perbandingan kecepatan aliran asap didalam siklon/kecepatan asap dalam lorong api adalah 2.2. PEMBAHASAN Pengendapan abu bertitik leleh tinggi (abu golongan a) Abu dengan titik leleh tinggi. Tetapi karena perjalanan dari silinder siklon ke lorong api utama melewati moncong siklon yang diameternya 60 cm.64 : 1. Percobaan menggunakan batubara dengan abu golongan c belum dilakukan untuk siklon dengan pemanas oli ini. sehingga pengendapan partikel abu karena perbedaan kecepatan asap kecil pengaruhnya. selebihnya mengendap dalam bagian-bagian tertentu dari fasilitas industri. Sebagai contoh.39 atau hanya berbeda sedikit.9 = 1. Pembakaran harus dihentikan dan kerak dibersihkan.pemanas oli semakin mengecil sehingga tekanan didalam ruang siklon membesar dan aliran api ke dalam pemanas oli terhambat.9 : 1. Demikian pula untuk abu golongan c. Sedangkan perubahan suhunya dari sekitar 1470°K didalam siklon menjadi sekitar 770°K didalam lorong api utama atau 1. sedangkan sampah padat yang tertiup kedalam pengering berputar tidak diukur karena jumlahnya relatif kecil setelah bercampur dengan komoditas yang dikeringkan. maka terjadi turbulensi di dalam lorong api utama sehingga kesempatan partikel abu untuk mengendap dalam lorong ini Gambar 3. Hanya kurang dari 10% yang tertinggal didalam silinder siklon. proses pengeringan pupuk fosfat yang produksinya 1500 kg/jam. Sebaran abu berupa kerak dan padatan lain adalah : Lokasi a. dalam ruang api Lokasi c. Jumlah abu berupa kerak yang menempel di dalam dinding siklon sekitar 60% dan sisanya tertiup dan tercampur dengan produk yang dikeringkan. Pengering berputar Pengamatan sebaran pengendapan abu hanya dapat dilakukan didalam pembakar siklon. sampah padat yang keluar dari pembakar siklon akan masuk kedalam pengering berputar dan bercampur dengan produk pengeringan. disebabkan viskositas yang rendah. Sedangkan penggunaan batubara dengan abu golongan b. Pada penggunaannya untuk pengeringan pupuk atau semen pozolan yang berputar dalam pengering. identik penggunaannya pada pemanas oli dan ketel uap. untuk fasilitas industri berupa ketel uap jenis pipa api. Perubahan kecepatan aliran dari dalam silinder siklon ke dalam lorong api utama dipengaruhi oleh luas penampang dan suhu dari kedua lokasi tersebut. Perbandingan luas penampang adalah sebanding dengan kuadrat radius atau 652 : 402 = 2. sebagian lagi karena menabraknya partikel-partikel abu ke suatu dinding kemudian terjatuh oleh gaya gravitasi. 3. sebagian besar abu meleleh keluar dari dalam siklon masuk ke dalam kotak abu.3% dari berat pupuk.

dan yang terbawa sampai cerobong hanya sejumlah kecil saja. Sisa partikel abu lainnya. tertiup keluar siklon. 1975). lelehan abu mengalir masuk kedalam kotak abu. sehingga partikel abu banyak yang jatuh selain karena perlambatan kecepatan. Abu yang datang kemudian terus meleleh. Sebaran abu dalam penggunaan abu bertitik leleh abu tinggi untuk pemanas oli identik dengan penggunaannya untuk ketel uap. Keadaan ini mengakibatkan energi kinetik partikel abu menurun sehingga terkalahkan oleh gaya gravitasi dan terjadi pengendapan. Sebagian lagi yang tidak sempat menempel di permukaan siklon. Dengan demikian maka sebagian besar abu menempel didinding siklon sampai 60 – 75% kemudian di ruang api 10 – 20%. untuk batubara dengan 3 golongan titik leleh abu menunjukkan : a. masuk kedalam ruang api.. Hanya sebagian kecil yang lolos sampai cerobong. selanjutnya menuju cerobong. Asap kemudian mengalir melalui pipa api yang berdiameter 7.1 dan uraian ini menjelaskan proses yang terjadi. Selanjutnya asap bergerak menuju ruang penampung abu dengan penampung yang lebih luas. Dengan demikian. sisanya 5 – 10% tersebar sampai dibawah cerobong. Sebaran abu jenis ini dipengaruhi oleh banyak faktor seperti karakteristik pembakaran batubaranya sendiri. melainkan bersifat lengket sehingga menempel dipermukaan dalam pembakar siklon. juga disebabkan partikel-partikel abu menabrak dinding cerobong.2. yaitu partikel-partikel abu yang tidak sempat mengalami aglomerasi. Sumaryono 95 . Hanya sedikit sekali yang tertiup ke luar. b. Jika viskositasnya rendah.5 cm. maka pengendapan abu dominan berada di penampung abu dan dibagian bawah cerobong. lengket terpapar oleh panas sehingga segera menempel pada permukaan abu sebelumnya sehingga menambah tebal tumpukan lelehan abu tersebut. Partikel abu yang datang kemudian juga meleleh. sebaran ukuran butir batubara. KESIMPULAN 1. Banyak partikel abu yang mengendap di bagian bawah cerobong selain karena kecepatan asap melambat atau diameter cerobong yang membesar. Penyebaran endapan abu diberbagai lokasi pengendapan dalam ketel uap telah dikemukakan di sub-bab 3. juga karena menabrak dinding. sebagian besar abu tertiup keluar pembakar siklon bercampur dengan komoditas yang diproses. Abu bertitik leleh rendah (golongan c) Pengaruh Titik Leleh Abu terhadap Pengendapannya pada Pembakaran .. Hasil pengamatan ini menunjukkan bahwa pembakaran batubara dengan pembakar siklon. dengan jumlah total di dua lokasi itu sekitar 60 70%. c. Pengendapan abu bertitik leleh rendah (abu golongan c) Abu jenis ini segera meleleh terpapar oleh suhu pembakaran dalam siklon. pengendapan di penampung abu dominan sebab disini berlangsung 2 mekanisme yaitu mekanisme perlambatan kecepatan asap dan tabrakan partikel asap dengan dasar dari ruang api. khususnya yang berupa debu halus keluar bersama asap cerobong. Asap berbalik. mengalir ke bawah. atmosfer pembakaran dll (Rance. terlempar keluar tetapi dengan ukuran yang lebih besar karena proses aglomerasi dan jatuh tidak jauh dari lokasi pembakar siklon. Abu bertitik leleh sedang (golongan b) lebih dari 50% tertahan di dalam siklon berupa kerak. Seperti terlihat pada Gambar 2. sehingga permukaan dalam siklon hanya tertutup oleh lapisan tipis lelehan abu. kecepatan pembakaran. sifat-sifat lelehan abu. Karena diameter yang kecil ini maka kecepatan asap dilokasi ini tinggi sehingga didaerah ini pertikel abu yang mengendap hanya sedikit. tetapi viskositasnya belum cukup untuk membuatnya mengalir mengikuti gaya gravitasi. Abu bertitik leleh tinggi (golongan a) sebagian besar atau lebih dari 90%. Hal ini disebabkan hanya sedikit partikel-partikel abu yang dapat bertahan dalam keadaan padat pada suhu jauh diatas titik lelehnya. Abu jenis ini mulai meleleh pada suhu operasional pembakar siklon. 5. Pengendapan abu bertitik leleh sedang (abu golongan b) Abu bertititk leleh mendekati suhu operasional siklon ternyata terkumpul di lokasi tidak jauh dari pembakar siklon itu sendiri. pengendapan abu dengan mekanisme perlambatan kecepatan asap dan tabrakan partikel abu dengan dinding yang membentuk sudut mendekati 90°C dengan arah jalannya asap. kembali menuju ruang pengendapan abu.juga tidak besar. Sedangkan penggunaannya untuk pengering berputar.

2007. Boiler. Coal Quality Parameters and Their Influence in Coal Utilization... Rance. Development of Cyclone Coal Burner For Fuel Oil Burner Substitution in Industries. Mekanisme pengendapan abu terutama disebabkan oleh : a. 12 No. Perlambatan kecepatan asap secara mendadak dan tabrakan partikel abu dengan dinding. 2. Combustion Fossil Power. Sebagian kecil tertinggal di saluran-saluran asap dan yang berukuran halus keluar melalui cerobong. Sumaryono. 2009. Singer. 2003. Petroleum Co. mudah mencair dan mengalir kedalam kotak abu dan membeku.sebagian besar atau lebih dari 90%. 3. b..P. H. Xishan. 2003.C. LTD. 1991. Brochure.. DAFTAR PUSTAKA Basuki. Connecticut. P. Abu yang mempunyai titik leleh tinggi. Shell Int. Abu mencair karena suhu siklon jauh diatas titik leleh abu ini sehingga viskositas lelehan abu rendah.E. c. meleleh didalam siklon dan kemudian mengalir kedalam kotak abu. Indonesian Mining Journal. ABB. Abu menjadi lunak tetapi viskositasnya masih tinggi sehingga bahan ini menjadi lunak. Semarang. 96 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .. Yusgiantoro. B. Coal Fired Fluidized Boiler. Sustainabilitas Energi di Indonesia Dalam 30 Tahun Mendatang. Vol. 1975. Bandung.. LTD. tertiup keluar siklon dan mengendap dalam perangkap-perangkap abu seperti ruang penampung abu dan bagian bawah cerobong. Seminar Nasional Sustainable Alternatif Energi.G. Jakarta Changzhou Boiler Co. lengket melekat di dinding siklon. J. 13 (29-33).

022 .esdm. Jend. pengayakan/klasifikasi. kaolinite. To produce 2 tons of alumina or 1 ton of aluminum metal need about 4-5 tons of bauxite in average. ilmenit. dan AlCl3). Indonesia sendiri memiliki cadangan bauksit terukur lebih dari 900 juta ton yang tersebar di kepulauan Riau dan Kalimantan Barat. Kata kunci : peningkatan kadar.go. gotit. Peningkatan mutu (uggrading) bauksit dapat dilakukan dengan cara washing & scrubbing. aluminum metal. anatase. screening/classification. elektrolisis. More than 90% of bauxite deposits have been treated into alumina or aluminum metal. 12-30% H2O. the rest is utilized for producing chemicals such as coagulants (alum. sisanya dimanfaatkan untuk pembuatan bahan kimia. kaolinit. Untuk memproduksi sebanyak 2 ton alumina atau 1 ton logam aluminium dibutuhkan bauksit rata-rata 4-5 ton. rutil. Total cadangan bauksit dunia adalah sebesar 24 milyar ton. Bayer and Hall-Heroult processes Pengolahan dan Pemanfaatan Bauksit. antara lain koagulan (alum. ilmenite. Bayer process is the most effective and feasible method for alumina production from bauxite. 022 . bauksit. rutile. Sistem tambang terbuka yang dilanjutkan dengan proses peningkatan kadar mendahului ekstraksi bauksit menjadi alumina. and AlCl3). with several impurities minerals such as magnetite. Sudirman No. chosen based on the bauxite character to be upgraded.6030483 Fax. dan brookit. Proses Bayer adalah cara yang paling efektif dan menguntungkan untuk memproduksi alumina dari bauksit. siderit. Husaini 97 . pemisahan dengan magnetik dan media berat serta flotasi. magnetic separation. Open pit mining followed by upgrading preceded bauxite extraction to be alumina. The alumina produced is processed into aluminum metal through electrolysis process called Hall-Heroult. PAC.Total reserves of bauxite in the world were 24 billion metric tons. and flotation. electrolysis. yang dipilih berdasarkan karakteristik bijih bauksit yang akan diolah. Alumina yang dihasilkan tersebut dibuat menjadi logam aluminium melalui proses elektrolisis Hall-Heroult. siderite. alumina.6003373 e-mail : husaini@tekmira. Bauxite upgrading can be carried out by washing and scrubbing. hematit. and brookite. hematite. 623 Bandung 40211 Telp. bauxite. proses Bayer dan Hall-Heroult ABSTRACT Bauxite is aluminum ore containing 45-60% Al2O3. Indonesia itself has bauxite reserve deposits more than 900 million metric tons scattered in Riau islands and West Kalimantan. heavy media separation.PENGOLAHAN DAN PEMANFAATAN BAUKSIT Husaini Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. Lebih dari 90% cadangan bauksit diolah menjadi alumina atau logam alumunium. Keywords : upgrading. PAC.id SARI Bauksit merupakan bijih aluminium yang mengandung 45-60% Al2O3. goethite. dengan kandungan beberapa mineral pengotor seperti magnetit. 12-30% H2O. alumina. aluminium. anatas.

2. beberapa di antaranya adalah cara washing & scrubbing. beberapa di antaranya yang akan dibahas disini adalah scrubbing dan screening. China). Sedangkan jumlah cadangan bauksit di Indonesia sendiri sebesar 907. dan flotasi. Asia (Indonesia. Cara ini relatif baik untuk meningkatkan kadar alumina. Peningkatan mutu (uggrading) bauksit yang dapat dilakukan tergantung dari karakteristik bauksitnya. Kazakhstan dan Eropa (Yunani). gotit (FeO(OH)). 700 juta ton (Guyana). TEKNOLOGI PENGOLAHAN DAN PEMANFAATAN BAUKSIT 3.100.000 ton (Bangka). tempat pertama kali ditemukannya mineral ini oleh seorang ahli geologi bernama Pierre Berthier pada tahun 1821 (Wikipedia. Jumlah cadangan bauksit di beberapa Negara tersebut pada tahun 2001 diperkirakan sebesar 3. Proses Peningkatan Mutu Ada beberapa cara yang sudah umum diterapkan dalam peningkatan kadar bauksit. 2009d).4 milyar ton (Guinea). pemisahan dengan magnetik dan media berat serta flotasi. 3. Berdasarkan data hasil karakterisasi. Di Eropa sendiri biasanya menkonsumsi bauksit rata-rata 4. Kemudian dari data yang terkumpul dilakukan evaluasi dan pembahasan yang akhirnya sampai kepada kesimpulan.5048. 12-30% H2O. kaolinit (H4Al2Si2O9). 770 juta ton (India). Guyana).1 ton untuk memghasilkan 1 ton logam aluminium (Anonim.1. kemudian dibuat menjadi logam aluminium melalui proses elektrolisis Hall-Heroult.1 milyar ton. Afrika (Guinea). Hasil tambang tersebut selanjutnya diproses menjadi alumina berdekatan dengan lokasi penambangan. 2009c). 2009a). bijih bauksit berukuran makin halus mutunya semakin rendah (kandungan pengotor semakin tinggi). 3. 20 juta ton (USA). 680 juta ton (Suriname). antara lain koagulan (alum. setelah melalui scrubbing –screening 98 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Negara lainnya 4. sekitar 4-5 ton bauksit dibutuhkan untuk memproduksi 2 ton alumina atau 1 ton sebagai logam aluminium. dan berbagai macam pengotor antara lain adalah magnetit (Fe3O4). India. 200 juta ton (Rusia). pemisahan dengan magnetik. PAC. ilmenit (FeTiO3). oleh karena itu produk hasil scrubbing dan pencucian yang diambil adalah fraksi ukuran di atas 2 mm. dan brookit (TiO2) (Anonim. pengayakan/klasifikasi. 7. rutil. Cara penambangan yang diterapkan di berbagai belahan dunia umumnya dengan sistem tambang terbuka (80%) dengan kapasitas produksi >100 juta ton bauksit tiap tahun. Brazil. 3. hematit (Fe2O3).1. Sebelum diekstraksi menjadi alumina.000 ton (Bangka). sisanya yang 20% dengan tambang bawah tanah sampai kedalaman 70 m dibawah permukaan tanah. Rusia. Penghasil bauksit utama dunia adalah Australia (lebih dari 40 juta ton/tahun). Berdasarkan data ratarata di dunia. kadar aluminanya relatif rendah dan kandungan pengotornya relative tinggi. 320 juta ton (Venezuela).843. Bauksit umumnya mengandung 45-60% Al2O3.1 Scrubbing dan screening Proses scrubbing yang dikombinasikan dengan pencucian dan pengayakan untuk meningkatkan kadar alumina dalam bauksit merupakan cara yang sederhana dan cukup efektif yang sudah diterapkan secara komersial.757 ton (terukur) yang tersebar di kepulauan Riau dan Kalimantan Barat. bauksit dari tambang terlebih dahulu ditingkatkan kadarnya.500. Umumnya bauksit berukuran di bawah 2 mm. sehingga total cadangan dunia sebesar 24 milyar ton (Wikipedia. boehmite atau diaspore (AlOOH). atau dikapalkan ke pabrik peleburan ke berbagai negara di dunia. dan AlCl3). Alumina yang diperoleh dari proses Bayer. Istilah bauksit diambil dari nama daerah pedesaan Les Baux-de-Provence dibagian selatan Perancis. 2002). 2007b). cadangan tereka.9 milyar ton (Brazil).1. PENDAHULUAN Bauksit merupakan bijih aluminium yang terdapat pada mineral gibbsite [Al(OH)3]. Sekitar 95% bauksit dunia diolah menjadi alumina atau logam alumunium (Anonim. anatas. 720 juta ton (China). (Husaini dan Wijayanti. Venezuela.sebesar 3. metodologi yang digunakan adalah dengan cara melakukan survei literatur dari berbagai sumber antara lain hasil penelitian yang terkait dengan tema makalah baik di perpustakaan. pemisahan dengan media berat. Dari percobaan yang telah dilakukan. Surinam. mengingat bauksit dari tambang memiliki ukuran butir yang bervariasi dan tiap fraksi ukuran memiliki komposisi kimia yang berbeda-beda. dan cadangan hipotetik sebesar 13. maupun hasil penelitian yang dilakukan sendiri. Amerika Tengah dan Selatan (Jamaika. sisanya dimanfaatkan untuk pembuatan bahan kimia. internet.8 milyar ton (Australia).36 %. siderit (FeCO3). 2007b). diperoleh data bahwa bijih bauksit asal Kijang yang semula memiliki kandungan Al2O3 antara 40. METODOLOGI Untuk menyusun makalah ini. 2 milyar ton (Jamaika).

18 % dan kadar Fe2O3 7.98 % Al2O3 dan 11.8% (Husaini dkk. 2007). sementara produk kedua berupa material non magnetik yang mengandung silika yang tiggi (93% SiO2) yang pemanfaatannya sangat sesuai untuk konstruksi beton. produk terapung memiliki kadar Al2O3 sebesar 55. dan regulator (activator.8 % dan Fe2O3 9.4 Flotasi Flotasi merupakan salah satu cara pemisahan yang memanfaatkan perbedaan sifat kimia-fisika permukaan dari berbagai macam partikel mineral.35%. Jadi kualitas (bauksit) setelah dipisahkan lebih baik dibandingkan sebelum dipisahkan yang mempunyai komposisi kimia awal Al2O3 48 % dan Fe2O3 15 % (Husaini dan Soenara.41 % (Husaini dan Wijayanti. sedangkan bagian yang tenggelam memiliki kadar Al2O3 sebesar 12. Sedangkan untuk tailing bauksit berkadar Al2O3 42. dan Fe2O3 9.. Salah satu produknya berupa material magnetik (besi oksida) yang memiliki kadar Fe 40%.49 % Fe2O3).82% dan penurunan kadar Fe2O3 sebesar 2.65 dan media berat (bromoform 2. sehingga kadar alumina dalam bauksit yang mengapung meningkat. Cara lain untuk mendapatkan kadar bauksit yang memenuhi syarat dan konsisten adalah dengan mencampurkan (blending) bauksit kadar rendah yang sudah diolah dengan yang kadarnya lebih tinggi (Anonim. Produk yang ketiga terdiri dari campuran besi dan silika yang umumnya cocok untuk material pengisi. Penerapan teknologi pemisahan secara magnetik tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan dalam mengatasi permasalahan penumpukan red mud yang dihasilkan yang besarnya berkisar antara 40-50%) dari berat bijih bauksit yang diolah melalui proses Bayer. 2003). Perolehan alumina yang didapat dari proses scrubbing tersebut berkisar 82.97 %. Bahan kimia lainnya yang digunakan adalah pembusa (frother).1.42-84. Dengan demikian hematit akan tenggelam karena berat jenisnya lebih tinggi dari berat jenis bromoform.66% dan rasio konsentrasi 78. ini berarti terjadi peningkatan kadar Al2O3 sebesar 4. sebaliknya mineral yang lebih besar berat jenisnya akan tenggelam.93 . Salah satu mineral yang memiliki komponen oksida besi adalah tailing hasil pencucian bauksit Pulau Kijang yang besarnya berkisar antara 9.53-53.1. 2002). Dalam hal ini mineral besi (hematit) memiliki berat jenis sekitar 7. bauksit 2.16. 3.14 %. (2006) terhadap mineral red mud yang dihasilkan dari ekstraksi bijih bauksit dengan soda kostik pada kondisi intensitas rendah dan intensitas tinggi cara basah. Mineral yang terlapisi kolektor akan bersifat hidrofobik (suka udara) sehingga mudah menempel pada gelembung udara dan dapat diapungkan.2 Pemisahan dengan magnetik Mineral-mineral bersifat magnetik seperti besi oksida yang terkandung dalam bijih bauksit ataupun tailing hasil ekstraksi bijih bauksit dapat dipisahkan dengan pemisah magnetik (magnetic separator). Teknik pemisahan dengan magnetik ini telah dilakukan juga oleh Jamieson dkk.3 Pemisahan dengan media berat Prinsip pemisahan dengan media berat adalah dengan memanfaatkan perbedaan berat jenis mineral-mineral yang akan dipisahkan. pengatur pH). dengan menggunakan bromoform dengan berat jenis 2.34 % dan kadar Fe2O3 30. Penggunaan pembusa adalah untuk menstabilkan gelembung udara supaya tidak mudah pecah. Husaini 99 .78-89. 3. Di India. 2004). Dari uji coba yang telah dilakukan terhadap tailing bijih bauksit (komposisi kimia 48. Sedangkan depres- Pengolahan dan Pemanfaatan Bauksit. sedangkan bauksit yang berat jenisnya lebih rendah dari berat jenis bromoform akan mengapung.12 %. 3.25 % dan Fe2O315 %. proses benefisiasi untuk peningkatan kadar alumina dalam bauksit juga dilakukan dengan cara peremukan yang dilanjutkan dengan pengayakan cara kering untuk menurunkan kandungan silikanya (Nandi. maksimum 3% silica reaktif dan maksimum 7% Fe2O3). dengan kondisi pemisahan yang sama dihasilkan produk non magnetik (58 % berat) dengan kadar Al2O3 57. Perbedaan sifat permukaan suatu mineral dengan mineral lainnya dapat terbentuk dengan menambahkan zat aktif permukaan (kolektor).05%.59. setelah dilewatkan pemisah magnetik pada kondisi 5 Am-1. Sebagai contoh.67% (persayatan bahan baku untuk proses Bayer adalah di atas 51% Al2O3. yang sebelumnya dipanaskan pada suhu 450 o C. depressant.89 dan pengencer karbon tetra klorida 1.7 %.yang didahului peremukan diperoleh produk dengan kadar Al 2 O 3 antara 50.59). 2007a). telah dihasilkan produk non magnetik (70% berat) dengan kadar Al2O3 53. Dari data hasil poercobaan dengan menggunakan bauksit berukuran -100+200 mkesh dan waktu pengendapan 20 menit menunjukkan adanya peningkatan kadar Al2O3 dan penurunan kadar Fe2O3 dibandingkan dengan keadaan kadar awalnya. Mineral yang lebih rendah berat jenisnya daripada berat jenis media berat (heavy liquid) akan terapung.1.

Proses Bayer merupakan cara yang paling ekonomis yang memanfaatkan reaksi antara alumunium trihidroksida dan aluminium oksida dengan soda kostik membentuk sodium aluminat. Kalau yang diapungkan mineral yang tidak dikehendaki prosesnya disebut flotasi balik (reverse flotation). Lebih dari itu. Bahan yang diflotasi berupa tailing hasil proses scrubbing dan desliming yang kandungan kuarsanya relatif tinggi. Konsentrat yang dihasilkan dari percobaan skala bench scale memiliki ratio Al/Si sebesar 9. Hasil penelitian yang didapat menunjukkan peningkatan ratio alumina/silika dari <6 menjadi >10.ù-bis (dimethyl dodeculammonium bromide) dalam flotasi balik telah berhasil memisahkan mineral mineral kaolinit. Hal ini dilakukan agar bauksit yang sebelumnya mengandung alumina yang rendah dapat ditingkatkan kadarnya sampai memenuhi syarat sebagai bahan baku untuk proses Bayer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemisahan diaspore dari mineral-mineral alumino silikat dengan menggunakan kolektor kation dodecylamine chloride (DDAC). Penelitian sejenis mengenai peningkatan kandungan diaspore dengan flotasi balik untuk memisahkan mineral pengotor juga dilakukan oleh Zhenghe Xu (2004). daya apung terhadap kaolin lebih baik daripada ilit dan piropilit dalam selang pH tertentu. dkk. (2008) telah melakukan penelitian yang inovatif mengenai peningkatan kadar gibsit dengan cara flotasi balik yang menghasilkkan bauksit jenis metalurgi. pemisahan cara flotasi terhadap beberapa mineral pengotor yang terkandung dalam bauksit (diaspore) yang dilakukan pada pH antara 9-10 menghasilkan seletifitas yang signifikan terhadap ilit. Massola dkk.. Bila ditambahkan depressant kanji (corn starch). Kanji (starch) digunakan sebagai depressant dan ether-amine sebagai kolektor kationik. 3. Kemampuan adsorpsi grup kation CPAM pada permukaan kaolinit yang bermuatan negatif diperlemah oleh induksi dan efek sterik senyawa metil dalam gugus CH2N+(CH3)3 yang membuat CPAM memiliki pengaruh yang kurang signifikan pada adsorpsi DDA pada permukaan kaolinit. Penyerapan CPAM pada seluruh permukaan kristal diaspore mencegah spesi kation DDA untuk terserap pada permukaan diaspore. Flotasi balik juga berhasil dilakukan untuk memisahkan kaolinit dari diaspore dengan menggunakan kolektor dodecylamine (DDA) dan depressant cationic polyacrylamide (CPAM) pada pH 5. Konsentrat bauksit yang mengandung mineral gibsit. dodecyl trimethyl ammonium chloride (DTAC) atau dodecylguanidine sulfate (DDGS) adalah layak pada kondisi alkalin kuat.sant berfungsi untuk menekan agar mineral yang tidak diinginkan tidak ikut mengapung. selanjutnya ditingkatkan lagi kadarnya melalui pemisahan secara magnetik menghasilkan kadar alumina 54%.1.3% dan ratio alumina/silika sebesar 11. dan titan. Hasil percobaan skala pilot pada kondisi pH optimum sekitar 10 menghasilkan konsentrat mutu metalurgi dengan kadar alumina 42.72 dan perolehan Al sebesar 81. Ketiga jenis kolektor tersebut menunjukkan selektifitas yang tinggi terhadap diaspore. tetapi cara ini tidak digunakan lagi setelah ditemukan proses baru (Bayer) oleh ahli kimia Austria tahun 1887. ratio alumina/silika 12.5 (Guangyi Liu. (3) hidrolisis parsial larutan sodium aluminat pada suhu rendah untuk mengendapkan 100 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Ekstraksi bauksit secara komersial pertama kali dilakukan oleh Sainte-Claire Deville di Perancis tahun 1865. piropilit dan ilit dari bauksit jenis diaspore.3%. Pengaruh gugus kationik dari kolektor rantai karbon 12 (12-carbon chain collectors) telah diteliti oleh Hong Zhong.2. Penelitian mengenai penggunaan kolektor-kolektor yang efektif untuk pemisahan mineral pengotor (lempung) dan depressant untuk menekan diaspore asal China juga telah dilakukan. seluruhnya dihasilkan dengan memproses bauksit melalui proses Bayer. (2008) untuk memisahkan mineral kaolinit. Alumina dapat diperoleh dari ekstraksi bauksit dengan soda kostik. piropilit dan kaolinit. Kolektor jenis dimer tersebut menunjukkan daya pengumpul yang lebih baik dibandingkan kolektor jenis monomernya. besi. (2) pemisahan dan pencucian pengotor yang tidak larut (red mud) untuk mendapatkan alumina terlarut dan soda kostik. sehingga diaspore dapat ditekan (tidak ikut mengapung).6 dan total perolehan alumina dalam konsentrat akhir (produk non-magnetik) sebesar 69. dkk. 2009) menunjukkan bahwa penggunaan kolektor kationik (zat aktif permukaan) jenis butane-á. Operasi berikut dilakukan secara berurutan yaitu (1) pelarutan alumina pada suhu tinggi. Total produksi alumina dunia sebesar 40 juta ton pada tahun 1995. Hasil penelitian lainnya (Liuyin Xia. dan DDGS merupakan kolektor terbaik dibandingkan dengan DDAC dan DTAC dalam memisahkan mineral alumino silikat.5–8. Pembuatan Alumina Hidrat/Alumina Alumina (Al2O3) adalah material halus berwarna putih mirip dengan garam (Anonim. 2007). piropilit dan ilit dari diaspore. Reaksi kesetimbangan mengarah ke kanan dengan meningkatnya konsentrasi soda kostik dan suhu.25%. 2007).

dkk. Lelehan aluminium selanjutnya dicetak menjadi ingots. 1999).3% dan Fe2O3 3% adalah cocok untuk pembuatan alaum. Larutan yang sudah dipisahkan dari residunya.3.5-2.4. plates. nisbah padatan dengan larutan.92-11.5 g/ml).4.49-12.98 %. Fe2O3 15. 3.49 % digunakan untuk uji coba tersebut. Dua jenis bauksit Kijang dengan komposisi Al2O3 42. atau dengan mereaksikan asam florida dengan soda kostik dan alumina dengan reaksi sbb : 12 HF + 6 NaOH + Al2O3 2 Na3AlF6 + 9 H2O (1999) menghasilkan kondisi optimum sebagai berikut: ukuran partikel 7+14 mesh. 3. suhu 100°C.2 Dari alumina hidrat Alumina hidrat [Al (OH)3] dapat dibuat menjadi tawas [Al2(SO4)3] maupun poly aluminium chloride (PAC).5 ton anoda karbon. nisbah padatan dengan larutan 1:12.53 % dan Fe2O3 0. waktu pelarutan. rolled into sheets. Pembuatan Koagulan 3.25 %.55 % dan Fe2O3 2-2. Sedangan tawas bening yang dihasilkan mempunyai kadar Al2O3 9.4. Reaksi kimia yang terjadi adalah sebagai berikut: Al2O3 + 3H2SO4 Fe2O3 + 3H2SO4 Al2 (SO4) 3 + 3H2O Fe2 (SO4) 3 + 3H2O Gas asam florida umumnya dibuat dari acid-grad fluorspar dan asam sulfat dengan reaksi sbb : CaF2 + H2SO4 2 HF + CaSO4 Pada proses elektrolisis ini oksigen yang terikat pada alumina bereaksi dengan elektroda karbon menghasilkan gas karbon dioksida dan logam aluminium.1 Dari bauksit (asli/bauksit tercuci/ tailing) Semua mineral yang mengandung unsur aluminium termasuk bauksit dapat digunakan untuk pembuatan koagulan (alum. 2009a) : 6 HF + 3 NaAlO2 Na3AlF6 + 3 H2O. Dalam pembuatan koagulan ini ada beberapa parameter yang berpengaruh di antaranya adalah konsentrasi asam. Selain itu telah dibuat juga tawas butek [Al 2 (SO4 ) 3. bars.alumunium trihidrat. dan suhu 100oC. atau rod. Produk tawas butek yang dihasilkan mempunyai kadar Al2O3 9.Na3AlF6). (Acquah.8 (untuk alum komersial rationya 34-35) dan bauksit dengan kadar A12O3 62. Kristal yang terbentuk dipisahkan dari filtrat yang masih tersisa. dkk. maka alumina akan meleleh dan tereduksi menjadi logam aluminium yang dikenal sebagai proses Hall-Héroult.40. x H 2O] setelah besi dalam larutan diturunkan terlebih dahulu dengan penambahan larutan Na2S. kemudian direduksi dengan logam Al sambil dipanaskan sampai terjadi perubahan warna dari coklat menjadi hijau muda dengan densitas tertentu (1. foil. dan ukuran butir bauksit. lama pelarutan 1 jam. 2009a). 3. Penelitian pembuatan alum dari bauksit berukuran -100 mesh dengan menggunakan asam sulfat konsentrasi (30-40 %) di dalam reaktor berpengaduk pada suhu 100 o C dan lama pengadukan sekitar 60 menit juga telah dilakukan oleh Husaini (2007). Produk antara ini kemudian dibentuk di pabrik pemrosesan yang mengubah aluminum menjadi produk akhir (consumer products).04% lolos100 mesh. konsentrasi asam 40 %. Pada kondisi optimum ini ratio alumina yang didapat sebesar 34. suhu pelarutan. Setiap ton aluminium membutuhkan 0. PAC dll). Husaini 101 . Cryolite sintetik umumnya dibuat dari asam florida dan sodium aluminat (hasil proses Bayer) dengan persamaan reaksi sbb (Anonim. (4) regenerasi larutan untuk didaur ulang ke tahap (1) dengan penguapan air yang dimasukkan saat pencucian.00 % dan Al2O3 48. Secara umum sekitar 1 ton alumina dapat dihasilkan dari 2 ton bauksit. Proses ini mengkonsumsi energi sangat tinggi. Pembuatan tawas dari alumina hidrat Pengolahan dan Pemanfaatan Bauksit. Hasil ekstraksi ini berupa lumpur yang mengandung larutan aluminium sulfat yang masih bercampur dengan senyawa besi dan residu yang tidak larut. Penelitian yang telah dilakukan oleh Acquah. Larutan hasil reduksi selanjutnya ditambah amonia (kadar 21 %) menghasilkan kristal berupa garam rangkap [Al2(SO4)3 (NH4)2SO4xH2O] dengan kadar Al2O3 antara 11-14 %. waktu 6 jam. dan (5) mengubah trihidroksida menjadi alumina anhidrat melalui kalsinasi pada suhu 1450 oK (Anonim. Hasil pelarutan bauksit dengan asam sulfat mencapai persen ekstraksi Al 2O 3 dan Fe 2 O 3 tertinggi masing-masing sekitar 99 % dan 65 % pada ukuran butiran 87. Pembuatan Logam Aluminium Bila alumina (Al2O3) yang diperoleh dari proses Bayer tersebut dipanaskan lebih lanjut sampai suhu 1000 °C dengan bantuan bahan pelebur (cryolite . nisbah asam 1:4. Fe2O3 11.4 %.71 %.

003% V2O5. PENGGUNAAN BAHAN BERBASIS ALUMINA 4. Torpedo Cars.0001-0. Iron/Steel Ladles. dan Aluminum. dan listrik (Anonim. Komposisi tipikal alumina (Steven dkk.2. Persamaan reaksi kimia yang terjadi adalah sbb : 2Al (OH)3 + 3H2SO4 Al2 (SO4) 3 + 6H2O Bahan baku proses elektrolisis Hall-Heroult untuk memproduksi logam Al Pembuatan bahan kimia tertentu seperti :busi (spark plugs). maka semakin tinggi kandungan aluminanya. 4.. fero sulfat. Di sektor listrik. jendela dan pintu dan dicetak menjadi peralatan keras (builders’ hardware). ampelas (abrasive) dan refraktori. Open Hearth.7% Al2O3 (by diff. aluminium digunakan dalam kendaraan bermotor (blok mesin. poli aluminium klorida (PAC). 1998. aluminium klorida). <0.3-99. 0. penghambat kebakaran (fire retardant).0050.025% SiO2. Tundishes. Penemuan produk khusus yaitu alumina aktif yang digunakan untuk menghilangkan kontaminan dari proses pengilangan minyak. <0. dan panel bodi). 4. refraktori. rumah tranmisi. 102 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . AlCl3. 4.50% Na2O. semen. Bila diinginkan produk berupa bubuk. aluminium fllorida. semakin rendah kadar air kristalnya.ini prosesnya sederhana yaitu dengan melarutkan alumina hidrat dengan asam sulfat pada suhu 100°C sampai larut sempurna. tawas. dan logam aluminium (Patricia. bauksit digunakan untuk pembuatan Blast Furnaces. Kemudian ke dalam campuran ditambahkan kapur untuk menurunkan pH sampai 4.015% Ga2O3. Bauksit Asli/Bauksit Tercuci Secara tradisional. marmer sintetik.010% ZnO. alumina hidrat direaksikan dengan asam klorida dan asam sulfat sampai alumina hidrat larut sempurna. alumina. konstruksi. 0.005-0. 9% Cl. dan refraktori. keramik. Electric Arc furnaces.4. aluminium digunakan dalam bentuk lembaran paduan untuk kaleng minuman.040% CaO. Sedangkan dalam pembuatan PAC.0015% P2O5. dan poli aluminium silikat sulfat (PASS). 2009b): Di sektor transport. dan pesawat terbang.35% SO4. 0. Di sektor konstruksi. bahan abrasif. aluminium digunakan dalam bentuk kawat yang diperkuat dengan baja membentuk kabel listrik. dan proses pengolahan gas alam. Kadar alumina dalam tawas tergantung pada kadar air yang terkandung.005-0.001-0. 1998) adalah 99. Anonim 2007a): Aluminium merupakan salah satu logam yang sangat penting dan digunakan secara luas di sektor transportasi. Larutan jernih hasil penyaringan ini merupakan PAC cair yang spesifikasinya adalah sbb: 12% Al2O3. < 0. tanpa proses penyaringan. <0. 1.008% TiO2.001-0.0010. alum. aluminium digunakan dalam bentuk produk lembaran untuk atap dan dinding. <0. zeolit sintetik. kemudian didinginkan sampai mengkristal. Di sektor pengepakan. lembaran untuk keperluan rumah tangga dan pembungkus komersial.3. semen. Logam Aluminium Proses pemanasan larutan dilanjutkan untuk menguapkan air sampai berat jenis tertentu. dilanjutkan dengan penyaringan. truk dan bus (lembaran dan plat untuk bodi). karena tidak dihasilkan residu sebagaimana yang diperlihatkan dalam pelarutan bauksit.).050. pasta gigi. Bauksit dapat digunakan untuk pembuatan berbagai jenis bahan kimia antara lain alumina hidrat. 2009). besi klorida. Alumina Hidrat Alumina hidrat dapat digunakan untuk pembuatan berbagai jenis bahan kimia antara lain tawas. katalis.20% SO3. pabrik petro kimia. rel kereta api. Cement. Soaking Pits.30-0.005-0. maka PAC cair dikeringkan dengan menggunakan spray drier pada suhu tertentu. 0. <0.. Alcoa melaporkan penemuan bubuk alumina spesial untuk sistem pembuangan otomatis (auto exhaust system) dan ampelas halus (fine abrasives).1. pengepakan. untuk membuat produk pengepak seperti karton untuk jus buah-buahan dan obat-obatan. Alumina dapat juga dijadikan bahan kimia (aluminium sulfat.020% Fe2O3. 4. Alumina Alumina merupakan produk komoditas yang dapat digunakan antara lain untuk (Steven dkk. kepala silinder. Reheat/Soaking Pits.

Box 161. Hong Zhong. aluminium and bauxite. diakses 30 April 2007 Anonim. Perth. Peningkatan Kadar Bijih Bauksit Kijang Dan Tayan Dengan Metode Scrubbing. Husaini dkk. 2009c. 2007.O.com/suppliers asp?. 623 Bandung.mtm. 2009d. Shenggui Zhao and Xinyang Yu. PR China. Proses peningkatan kadar yang dapat digunakan ada beberapa macam antara lain scrubbing. Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara. D. the free encyclopedia. diakses 17 Juni 2009 Acquah F. Jend. Uses of bauxite. Changsha 410083. Bauxite – Wikipedia. Husaini dan Wijayanti. diakses 17 Juni 2009 Anonim. Husaini. Institute of Chemistry and Chemical Engineering.CSIR. Guangyi Liu. The role of cat- Pengolahan dan Pemanfaatan Bauksit. Curtin University of Technology. China. 2007. Peningkatan Kualitas Bauksit dari Pulau Kijang dengan Magnetik Separator Cara Basah. Yuehua Hu. 2009b. Ghana. Guangyi Liu.Accra. diakses 17 Juni 2009 Anonim.htm. Hong Zhong. Pusltbang tekMIRA Jl. E. Penelitian Pendahuluan Pembuatan Tawas dari Bauksit Kijang. WA. Central South University. WA 6966. Institute of Industrial Research. Bahan Galian Industri. Central South University.doc. Alcoa World Alumina. May 1999. bauxite Supplier.5. 2007b.qal. http:/ /home. Aluminium.. Magnetic separation of Red Sand to produce value. R. Yuehua Hu. Bauxite Mineral. Mensah B.au/. http:// www. dan listrik. KESIMPULAN Potensi cadangan bauksit di Indonesia relatif besar. Laporan Kegiatan Proyek Kelompok Program Teknologi Pengolahan Mineral. School DAFTAR PUSTAKA Anonim.. Changsha 410083. Zhiqiang Huang and Qingwei Chang.azon. P. tersebar di Kijang (Riau).. 2007. Kwinana. PR China. A. konstruksi. published in the Ghana Engineer. Alumina Process. Pemilihan cara pengolahan tersebut tergantung pada karakteristik (di antaranya kandungan mineral pengotor) bijih bauksit yang diolah. 2009.ac. Liuyin Xia. Obeng Y. htm.com. Husaini 103 . China. Kijang Dengan Cara Pemisahan Menggunakan Media Berat (Heavy Media Separation). http://www. 2006. 2008. pengepakan. Hong Zhong. Cooling and N. Stockton.net/africantech/GhIE/Awaso 1.. Bauksit tercuci dapat dikonversi menjadi alumina melalui proses Bayer dan bila diolah lebih lanjut dengan cara elektrolisis menghasilkan logam aluminium yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan di antaranya di sektor transportasi. diakses 17 Juni 2009 Anonim. pyrophyllite and illite using three cationic collectors. Changsha 410083. Flotation separation of the aluminosilicates from diaspore by a Gemini cationic collector. Changsha 410083. pemisahan dengan magnetik dan media berat serta flotasi. Central South University.The European Aluminium Association. Technology Delivery Group. Jones. diakses 30 April 2007 Anonim.. Yiping Lu. Pengurangan Kadar Besi Dalam Bauksit P. Shenggui Zhao and Liuyin Xia. http:// www. Flotation separation of diaspore from kaolinite. Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara. namun yang sudah diterapkan di Indonesia sampai saat ini hanya dengan cara pencucian dan scrubbing diikuti pengayakan dengan ukuran produk + 2 mm. Production of Alum From Awaso Bauxite. Institute of Minerals Processing and Bioengineering.kuleuven. Central South University. htm. Liuyin Xia. 2008. Alumina.be/Education/ N o n M a t I r C o u r s e s / M a t / 5 c%20aluminium.att. 2007a. School of Chemistry and Chemical Engineering. Guangyi Liu. dan Tayan (Kalimantan Barat) yang jumlahnya tidak kurang dari 900 juta ton. 2002. School of Minerals Processing and Bioengineering. Bauxite Information. 2003. Australia. Jamieson. 2009a. Sudirman No. Husaini dan Trisna Soenara. Balitbang energi dan sumberdaya mineral.. ionic polyacrylamide in the reverse flotation of diasporic bauxite. Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral. Australia.

Bauxite And Alumina. A. Miraí Department. PR China.org/ezMerchant/ prodtms. Separation of silica from bauxite via froth flotation. Department of Chemical and Materials Engineering.F. McGrath and Lawrence C... 16.usgs. Alta. PR China. 2009.R. Nandi. 2004.of Chemistry and Chemical Engineering. 05508-900 SP. diakses Juni 2009. 536 Chemical-Mineral Engineering Building. Lima.. Canada T6G 2G6. Companhia Brasileira de Alumínio. Farrar. http://minerals.pdf. Mello Moraes Av. Plunkert.. aDepartment of Mining and Petroleum Engineering–Escola Politécnica. INDIA. Edmonton. Central South University. 1998. Suraksha Apartments. A. Miraí 36790-000. Amravati Road Nagpur-440033.nsf/ProductLookupItemID/JOM-980534/$FILE/JOM-9805-34F. MFC Commodities India 104-B. Tianjin University. 2008. Zhenghe Xu. C. Recent advances in reverse flotation of diasporic ores– –A Chinese experience. Steven F. 2373. University of Alberta. 104 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Massola. J.B. USP. Brazil. C. Changsha. Fazenda Chorona. Hindustan Colony. Tianjin 300072. 410083. http://doc. MG.tms. Sonochemical Technology for Processing Bauxite. bSchool of Chemical Engineering and Technology. 2004. Chaves.P. Minerals and Metals Division.P. and Andrade. Brazil. Prof. Present Status Of BauxiteAlumina Industry Of India.gov/minerals/pubs/commodity/bauxite/090495. Verne Plitt and Qi Liu. K.pdf?OpenElement. Patricia A..

PRESENTASI MAKALAH PARALEL III .

retnod@tekmira. dan hilir.20 ppm di semua lokasi penelitian belum melewati ambang batas aman terhadap racun yang ada (sesuai Washington state Sediment. Konsentrasi Hg pada sedimen yang berkisar pada 0.KARAKTERISASI MERKURI DALAM SEDIMEN DAN AIR PADA PENGOLAHAN TAILING AMALGAMASI DI KEGIATAN PERTAMBANGAN EMAS RAKYAT SECARA SIANIDASI (STUDI KASUS KUD PERINTIS. tambang emas skala kecil yang dikelola KUD Perintis mengalihkan proses pengolahan emas dari secara amalgamasi cara sianidasi untuk meningkatkan perolehan bijihnya. Kata kunci : pertambangan rakyat. (022) 6030843 Faks.. Konsentrasi Hg di air berkisar antara (0. yakni mengolah tailing yang berasal dari proses amalgamasi dengan cara sianidasi. Lutfi dan Retno Damayanti Psat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. DAERAH TANOYAN SELATAN) M. outlet pengolahan. tailing. Di Kecamatan Lolayan.034 mg/L) pada semua lokasi penelitian yakni di daerah hulu.. proses yang berlangsung merupakan gabungan dari proses amalgamasi dan sianidasi. Tetapi kadar merkuri di sedimen itu dapat meningkat seiring turunnya merkuri di air ke dasar sungai. Kabupaten Bolaang Mongondow. sehingga produk yang dihasilkan sangat rendah dan dapat menimbulkan pencemaran yang tinggi. merkuri. Lutfi dan Retno Damayanti 105 . WAC 172 – 204 – 320). (022) 6003373 e-mail : lutfi@tekmira. Kurangnya pengetahuan dan keterampilan para penambang emas rakyat menyebabkan limbah tailing dari bijih emas berbentuk halus yang masih mengandung emas dan bulir Hg langsung dibuang ke perairan.17 . Propinsi Sulawesi Utara.esdm. Sudirman 623 Bandung 40211 Telp. Jend.id. pertambangan emas rakyat Karakteristik Merkuri dalam Sedimen dan Air pada Pengolahan . M.esdm. Dampak negatif kegiatan pengolahan tailing amalgamasi dengan cara sianidasi diamati melalui kondisi kualitas perairan dan sedimen disekitar lokasi pengolahannya.go.01 .id SARI Pengolahan bijih emas pada pertambangan emas rakyat umumnya dilakukan dengan proses amalgamasi menggunakan merkuri (Hg). Kondisi ini telah melewati baku mutu yang diperbolehkan dalam (Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air Kelas II dan KEP202/MENLH/2004 tentang Baku Mutu Limbah Bagi Kegiatan Pengolahan Bijih Emas dan/atau Tembaga.go.0. amalgamasi. Pada saat ini.0.

PENDAHULUAN Salah satu tujuan pembangunan nasional yang berwawasan lingkungan adalah terciptanya keserasian hubungan antara manusia dengan lingkungan alam sekitarnya dengan cara pembangunan yang berkelanjutan. 82/2001 about Water Quality Assessment and Water Pollution Handling Class II and in the Decree of Environment Ministry KEP-202/MENLH/2004 about Waste water standard for Gold/Copper Processing. the small scale goldmining whichmanaged by KUD Perintis change gold processing from amalgamation to cyanidation methode to improve gold ore receipt. But mercury concentration could become increased as the mercury Keywords : amalgamation. Of course it will produce low gold recovery and cause high risk in environmental pollution.0. pada kegiatan usaha pertambangan emas skala kecil. Unfortunately. Proses sianidasi untuk tailing pengolahan dipakai untuk meningkatkan perolehan produknya. cyanidation.com).ABSTRACT Artisanal gold mine generally proceeds in amalgamation process. menimbulkan juga dampak negatif karena tailing amalgamasi masih mengandung merkuri dan logan ikutan lainnya. gold artisanal mining 1. 2004). North Sulawesi. miners usually dispose tailing that contains gold and mercury directly to the water. tambang rakyat di Sulawesi Utara mengubah sistem pengolahannya dengan menggunakan proses sianidasi baik untuk mengolah bijihnya ataupun ampas pengolahannya yang masih mengandung emas. These are still in the permitted concentration range (based on Washington state Sediment. The negative impacts of cyanidation process to the amalgamation tailing was conducted by observe the water quality and its sediment surrounding the processing area. But sometimes they were combined both of the two methodes by processing the amalgamation tailing with cyanidation methode. penyebaran dan termetilasi (pembentukan metil-Hg). Mercury concentration in water was found in the range of 0. Pb.fathom. pengolahan bijih emas dilakukan melalui proses amalgamasi dengan merkuri (Hg) sebagai media untuk mengikat emas. Secara umum proses sianidasi pada pengolahan bijih emas pada pertambangan emas rakyat dilakukan pada kondisi basa. Oleh karenanya pengelolaan bahan galian harus diupayakan secara optimal sesuai denganazas konservasi dan berwawasan lingkungan dengan menekan dampak negatif yang ditimbulkan seminimal mungkin. Adanya interaksi ion Hg dengan CN akan mempermudah kelarutan. menyebabkan limbah yang berupa ampas pengolahan (tailing) yang dihasilkan masih mengandung emas dan butir-butir Hg yang biasanya langsung dibuang ke perairan. perolehan hasil akhir (produk) yang didapat sangat rendah. Merkuri (Hg) yang dipakai dalam pengolahan ini termasuk dalam kategori B3 (Rachmat Yusuf. Due to the lack of skill and knowladge. the mercury concentration has exceeded the standard mentioned in Government Regulation No. Zn. Mercury concentration in the sediment found in the range of 0. Berdasarkan kenyataan tersebut. Namun proses sianidasi ini.17 0.01 . seperti Cu. Sebagai contoh. At Lolayan in the Bolaang Mongondow district. sehingga diperkirakan bahaya yang ditimbulkan akan lebih tinggi. Dalam laporan Komisi Sedunia tentang Lingkungan dan Pembangunan (WCED. Kurangnya pengetahuan dan keterampilan para penambang. 1987) pembangunan berkelanjutan didefinisikan sebagai “pembangunan yang mengusahakan dipenuhinya kebutuhan sekarang tanpa mengurangi kemampuan generasi yang akan datang untuk memenuhi kebutuhan mereka” (www. Usaha pertambangan oleh sebagian masyarakat sering dianggap sebagai penyebab kerusakan dan pencemaran lingkungan. WAC 172-204-320). Those happened in almost entire waters from upstream to downstream. tailing.20 ppm in all sampling location. air larian dari penyaringan kompleks emas sianida masih tetap mengandung senyawa beracun ini meski dalam 106 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Sebagai akibatnya. Meskipun sebagian besar sianida dalam proses pengolahan ini dapat dimanfaatkan kembali.034 mg/L.

Penelitian ini hendak melihat karakteristik merkuri yang berasal dari tailing amalgamasi yang diolah dengan cara sianidasi. abu hasil penggarangan ditambah boraks dan digarang lagi untuk menghasilkan bulion emas dan perak. Dampak pemakaian sianida pada kegiatan pengolahan emas di tambang-tambang rakyat diperkirakan akan lebih serius mengingat senyawa sianida tersebut mampu melarutkan logam-logam lain yang terdapat di dalam batuannya. Bulion tersebut selanjutnya direaksikan dengan aqua regia untuk memisahkan emas dan peraknya. M.. Tailing Amalgamasi Tanki Penampungan crusher. Di samping itu apabila kreativitas rakyat dalam mengkombinasikan proses amalgamasi dan sianidasi tidak dapat terkontrol diperkirakan akan terjadi pula peningkatan dalam jumlah merkuri yang ikut terlarutkan.emas dan membuang tailingnya.stamp mill. ball mill Larutan NaCN Kapur Reaksi yang terjadi: 2 Au + 4 NaCN + 1/2 O + H O  2 NaAu(CN) + 2 NaOH Tanki Reaktor Sianidasi Karbon Aktif Screen (penyaring) Tailing Karbon aktif yang  menyerap kompleks  emas dan sianida Roasting (penggarangan)   Settling Pond (kolam pengendap) Roasting (penggarangan) Bullion Emas dan Perak Gambar 1. Karbon aktif hasil penyaringan tersebut digarang (roasted) sampai menjadi abu untuk menghilangkan senyawa sianidanya. Setelah proses pelindian selesai.. dilakukan dengan proses penyaringan (screening) untuk memisahkan karbon aktif yang telah menyerap kompleks sianida . Disamping itu akan diamati pula kandungan logam-logam berat lain yang terdapat dalam batuan pembawa bijihnya serta karakteristik sedimen pada kolam pengendapan pada proses sianidasi. Lutfi dan Retno Damayanti 107 . penurunan kualitas air permukaan yang disebabkan oleh adanya logam-logam berat terlarut akibat proses sianidasi merupakan parameter yang akan dominan diamati. Tahapan-tahapan proses pengolahan dengan sistem sianidasi dapat dilihat pada Gambar 1. Pada kegiatan tambang rakyat yang dilakukan di KUD ini. biasanya hasil tailing proses amalgamasi diproses lagi guna meningkatkan perolehan bijih. Parameter CN total yang berasal dari perairan dan kolam pengendapan akan ditentukan pula.jumlah yang relatif sedikit. Berbeda dengan kontaminasi yang umumnya terjadi di lingkungan. Diagram alir proses pengolahan bijih emas sistem sianidasi Karakteristik Merkuri dalam Sedimen dan Air pada Pengolahan .

sedangkan analisis yang digunakan untuk logam berat dengan metode AAS. dan hilir pengolahan. Lokasi penelitian terletak + 240 km dari Kota Manado atau 30 km dari Kota Kotamobagu (gambar 2). Penyaringan dibantu dengan pompa vacuum untuk mempercepat proses. Pada lokasi pengolahan dilakukan pengambilan contoh di 4 kolam pengendapan. air. Kabupaten Bolaang Mongondow. sedimen. Lokasi ini dipilih berdasarkan pertimbangan bahwa daerah ini merupakan salah satu daerah tambang rakyat yang dikelola oleh KUD Perintis yang mengolah bijih emas dan tailing amalgamasi dengan proses sianidasi. 108 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Peta kesampaian daerah Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan survey langsung (Grounded checking). Metode Pengambilan Conto yang dilakukan. kan peralatan pH meter (water quality checker). conductivity meter. Titik-titik lokasi tersebut ditampilkan pada gambar 2. volume conto yang diperlukan adalah sebanyak 100 mL untuk merkuri. penyimpanan contoh dilakukan dalam wadah contoh bervolume 500 mLyang terbuat dari plastik. conto bijih. METODOLOGI Lokasi Penelitianterletak di daerah Tanoyan. Lokasi pengambilan conto air ada di 3 tempat. Parameter kimia lain seperti merkuri dan logam-logam terlarut ditentukan dengan Atomic Absorption Spectrometer. Parameter tertentu seperti pH dan Daya Hantar Listrik ditentukan langsung di lapangan dengan mengguna- Untuk parameter logam. ampas. yaitu di hulu pengolahan. Untuk merkuri diberikan penambahan pengawet HNO3 dengan pH <2 yang dapat bertahan hingga 6 bulan.2. Sulawesi Utara. Untuk keperluan analisis laboratorium. yang meliputi pengambilan contoh air dan sedimen. dapat membuat contoh bertahan hingga 7 hari. lokasi pengolahan. Conto yang akan dianalisis disaring terlebih dahulu untuk menghindari suspensi yang terlarut. Gambar 2. meliputi.

Pengambilan conto sedimen dilakukan secara grab sampling dengan menggunakan sekop pada lokasi pengambilan air dan di salah satu mulut tambang. Conto yang diambil masing-masing ± 1 kg, kemudian dimasukkan ke dalam kantung plastik berlabel. Adapun parameter-parameter yang dianalisis di laboratorium adalah merkuri (Hg) dan logam-logam berat lain seperti Pb, Cu dan Zn.

3. 3.1.

HASIL DAN PEMBAHASAN Kualitas Air (Air Sungai)

Kualitas air merupakan hal yang paling pokok dalam kegiatan ini karena air (sungai) merupakan tempat bercampurnya faktor-faktor alami dengan unsur-unsur pencemar dan air juga merupakan unsur esensial yang dibutuhkan oleh makhluk hidup dalam kehidupan kesehariannya (UNEP,

Gambar 3. Peta lokasi pengambilan contoh

Tabel 1. Koordinat lokasi pengambilan contoh No. 1 2 3 Lokasi Hulu Pengolahan Hilir Titik LU 124° 15’ 40,22" 124° 15’ 05,27" 124° 16’ 23,34" BT 0° 36’ 28,47" 0° 36’ 27,83" 0° 36’ 2,81"

Karakteristik Merkuri dalam Sedimen dan Air pada Pengolahan ... M. Lutfi dan Retno Damayanti

109

1991). Sehingga dapat dikatakan badan air merupakan tempat interaksi langsung antara unsur hayati dengan unsur pencemar. Secara alamiah sungai mempunyai kemampuan dalam pembersihan diri (self purification) sepanjang buangan yang diterima sungai tidak melebihi kapasitas asimilasi sungai (assimilative capacity). Sementara, dalam kurun waktu cukup lama, unsur merkuri yang terbuang ke sungai kemungkinan dapat menjadi senyawa metil merkuri yang berbahaya melalui proses yang terjadi secara alamiah.Hasil pengukuran parameter fisik air di lapangan (pH, temperatur, DHL, TDS, dan TSS) dapat dilihat pada Tabel 2 di bawah.

Analisis laboratorium conto air untuk logam berat ditentukan dengan metode spektrofotometri. Kegiatan tersebut digunakan untuk mengetahui perubahan-perubahan yang telah terjadi di daerah sekitar penambangan khususnya dan daerah Tanoyan Selatan, Kecamatan Lolayan sebagai akibat adanya pertambangan bijih emas dengan sebagian besar hasil pengolahan limbahnya dibuang ke anak sungai Onggak. Hasil analisis laboratorium conto air dapat dilihat pada tabel dibawah ini. Menurut data kualitas air yang diperoleh, diketahui kadar merkuri (Hg) di semua lokasi percontoan

Tabel 2. Parameter fisik contoh air di lokasi pengolahan dan sungai di sekitarnya No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Lokasi Air bor dapur Kolam pengolahan 1 Kolam pengolahan 2 Kolam pengolahan 3 Kolam pengolahan 4 Outlet pengolahan bijih Hulu Sungai Tanoyan Outlet pengolahan keseluruhan Hilir pH 8,34 8,37 6,35 8,56 2,85 8,2 8,34 8,12 8,37 TDS 160 500 390 250 670 210 160 190 180 Suhu [°C] 30,2 29,3 31,4 31,1 27,2 24,8 27,3 28,3 DHL [µmhos] 852 648 391,4 989 312 245,7 337 267,8 TSS [mg/L] 4.8 88 208 743 108.8 18 42 4.8

Tabel 3. Hasil analisis sianida dan logam-logam berat dalam contoh air di lokasi pengolahan dan sungai di sekitarnya No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Lokasi Air bor dapur* Kolam pengolahan 1 Kolam pengolahan 2 Kolam pengolahan 3 Kolam pengolahan 4 Outlet pengolahan bijih Hulu S. Tanoyan** Outlet pengolahan keseluruhan*** Hilir S. Tanoyan (Hulu S. Onggak)** Baku Mutu* Baku Mutu** Baku Mutu *** CN Total [mg/L] 0,058 86,400 3,920 21,700 2,170 16,700 0,066 7,960 0,019 0,1 0,02 0,5 Hg [mg/L] 0,055 0,17 0,16 0,17 0,15 0,20 0,024 0,010 0,034 0,001 0,002 0,005 Pb [mg/L] 0,110 0,068 0,073 0,110 0,170 0,097 0,089 0,083 0,110 0,05 0,03 1 Cu [mg/L] 0,002 8,110 26,200 4,790 1,490 3,230 0,150 0,042 0,0160 1 0,02 2 Zn [mg/L] 0,073 0,550 0,055 0,033 0,080 0,068 0,048 0,030 0,023 5 0,05 5

Catatan: * Peraturan Menteri Kesehatan RI No.: 416/MENKES/PER/IX/1990 tentang Daftar Persyaratan Kualitas Air Minum ** Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air Kelas II *** KEP-202/MENLH/2004 tentang Baku Mutu Limbah Bagi Kegiatan Pengolahan Bijih Emas dan/atau Tembaga

110

PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009

(hulu dan hilir sungai Tanoyan serta outlet pengolahan keseluruhan) sudah melebihi baku mutu yang ditentukan. Bahkan pada daerah hulu, dimana badan air belum mendapatkan masukan dari proses pengolahan maupun proses penambangan, kadar merkuri pun sudah diatas baku mutu. Hal ini dapat terjadi karena adanya proses amalgamasi oleh penambang-penambang lain di luar KUD yang menggunakan merkuri di daerah sungai yang lebih tinggi dan/atau adanya susunan batuan yang mengandung merkuri (Tabel 4 hasil analisis batuan asal) di daerah penelitian.

sebelum masuk kolam pengolahan (outlet pengolahan bijih) adalah 0,2 mg/L, dan setelah melewati 4 kolam pengolahan turun hingga 0,01 mg/L atau turun sebanyak 0,19 mg/L. Kadar merkuri di daerah hilir lebih tinggi dibandingkan dengan daerah outlet pengolahan menandakan adanya penambahan merkuri yang mungkin berasal dari kegiatan di sekitar sungai tersebut meskipun pemerintah daerah sudah melakukan berbagai pembatasan. Kadar sianida yang berada diatas baku mutu terdapat di daerah/area pengolahan, hal ini

Tabel 4. Hasil analisis sedimen pada kedalaman 0 – 10 cm dan batuan No. 1 2 3 4 5 6 7 8 Lokasi Kolam pengolahan 1 Kolam pengolahan 2 Kolam pengolahan 3 Kolam pengolahan 4 5 meter dari pengolahan bijih Hulu S. Tanoyan* Hilir S. Tanoyan (Hulu S. Onggak)* Lubang tambang (batuan asal) Baku Mutu*
Catatan: * Washington state Sediment, WAC 172 – 204 – 320

Hg Pb [ppm] [ppm] 0,70 0,37 0,36 3,01 2,66 0,17 0,20 0,16 0,41 tt 14,14 65,40 33,90 17,27 tt tt 6,88 450

Cu [ppm] 17,86 47,10 162,00 60,7 130,00 56,70 87,90 34,70 390

Zn [ppm]

As [ppm]

Cr [ppm] 45,6 56,5 86,0 79,3 158,4 42,0 47,5 38,5 250

Ni [ppm] 8,31 4,27 8,98 0,88 2,35 3,87 4,06 10,47 -

54,3 74,70 136,0 51,00 367,0 39,00 136,0 105,00 74,9 74,20 100,0 0,97 97,8 1,29 428,0 1,74 410 57

Hasil penelitian terdahulu (Selinawati dan Ngurah Ardha, 2003) pada pertambangan emas di KUD Perintis data kualitas air yang mengandung kadar merkuri di kolam pengolahan 1 adalah 0.0814 ppm, kolam pengolahan 2 adalah 0.0539 ppm, sedangkan pada S. Onggak (hilir S. Tanoyan) mencapai 0.0011. Pada saat itu, KUD Perintis melakukan pengolahan dengan proses amalgamasi saja dari bijih emas dan menggunakan hanya 2 kolam pengolahan. Data menunjukkan bahwa konsentrasi Hg dalam air sangat kecil, hal ini kemungkinan disebabkan karena kelarutan Hg dalam air sangat kecil. Pada penelitian ini (2008) nilai konsentrasi Hg di daerah pengolahan berkisar antara 0,15 – 0,20 ppm. Peningkatan ini dimungkinakn oleh adanya ion CN dalam pengolahan tailing amalgamasi yang dapat melarutkan Hg. Berdasarkan hasil pemeriksaan kandungan logam, kolam pengolahan efektif dalam menurunkan kadar merkuri pada air buangan, dimana kadar merkuri

dikarenakan proses pengolahan tailing amalgamasi menggunakan proses sianidasi. Pada proses sianidasi ini ditambahkan unsur Zn untuk mengendapkan logam emas dan peraknya. Tetapi rendahnya konsentrasi Zn di dalam air (tabel 2) dibandingkan konsentrasi awal/alami Zn pada batuan bijih (tabel 3) disebabkan terjadinya pengendapan unsur Zn selama aliran pengolahan. Proses yang biasanya terjadi adalah: 2Zn + 2NaAu(CN)2 + 4NaCN + 2H2O = 2Au + 2NaOH + 2Na2Zn(CN)4 + H2 3.2. Kualitas Sedimen Sedimen merupakan tempat logam berat mengendap secara gravitasi di badan perairan. Kualitas sedimen badan perairan harus lebih serius diperhatikan karena sifatnya sebagai tempat akhir logam berat di alam. Dan pada akhirnya logam berat yang ada di sedimen dapat kembali ke badan

Karakteristik Merkuri dalam Sedimen dan Air pada Pengolahan ... M. Lutfi dan Retno Damayanti

111

air karena berbagai hal, misalnya karena arus sungai, hujan, atau jalur transportasi (DPE. Pedoman Teknis Penyusunan AMDAL untuk kegiatan Pertambangan dan Energi, 1996). Kontaminasi merkuri (Hg) dalam sedimen sungai terjadi karena proses alamiah (pelapukan batuan termineralisasi), proses pengolahan emas secara tradisional (amalgamasi), maupun proses industri yang menggunakan bahan baku yang mengandung merkuri. Untuk mengetahui sumber kontaminasi Hg ini perlu diperhatikan dengan cermat. Untuk mengetahui adanya kontaminasi logam berat dalam sedimen maka dilakukan pemeriksaan sedimen di lokasi yang diperkirakan terkena dampak proses pengolahan tailing. Pengambilan conto sedimen dilakukan pada kolam pengendap, hulu sungai, hilir sungai. Selanjutnya conto sedimen, batuan bijih, dan tanah dianalisis di laboratorium menggunakan metode AAS. Dari hasil analisis conto tersebut di atas, kemudian dilakukan perbandingan dengan peraturan dan standar yang dapat dianggap sebagai tolok ukur

kualitas konsentrasi unsur di alam. Oleh karena itu sumber acuan yang dijadikan sebagai pembanding pada laporan ini adalah Washington state Sediment, WAC 172 – 204 – 320. Data kualitas sedimen dapat dilihat pada tabel 4. Adapun hasil penelitian kandungan merkuri dalam sedimen apabila dibandingkan dengan data tahun 2003 menunjukkan penurunan. Namun demikian nilai tersebut masih dibawah ambang batas aman. Untuk mengetahui lebih jelasnya mengenai kualitas air dan sedimen pada tahun 2003 sebagai pembanding dapat dilihat pada Tabel 4. Berdasarkan hasil diatas, terlihat bahwa kandungan merkuri pada sedimen di daerah yang memiliki dampak terhadap kehidupan masyarakat sekitar (daerah hulu dan hilir sungai Tanoyan) berada dibawah ambang batas aman yang dikeluarkan Washington state Sediment, WAC 172 – 204 – 320. Tetapi tetap perlu diperhatikan adanya keterkaitan antara kadar merkuri di air dan sedimen dengan beberapa faktor lingkungan, yaitu hujan, arus sungai, dan jalur transportasi masyarakat.

Tabel 5. Conto data kualitas air dan sedimen di KUD Perintis tahun 2003 No 1 2 3 4 5 6 Lokasi Kolam Pengolahan 1 Kolam Pengolahan 2 S. Tanoyan 1 (Hulu S. Tanoyan) S. Tanoyan 2 S. Tanoyan 3 S. Onggak Konsentrasi Hg [ppm] Air 0,0814 0,0539 0,001 0,0739 0,0179 0,0011 Sedimen 0,67 3,12 0,42 1,49 5,97 0,92

Sumber : Selinawati dan Ngurah Ardha, 2003

Gambar 4. Hubungan keterkaitan antara konsentrasi merkuri di sedimen dan air

112

PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009

1. maka diperlukan: Pembinaan terhadap para penambang dan pengusaha pengolahan tailing agar lebih memeperhatikan aspek lingkungan dalam setiap kegiatannya.com/course/seasion2 Karakteristik Merkuri dalam Sedimen dan Air pada Pengolahan . KESIMPULAN DAN SARAN 4. hal ini disebabkan oleh adanya ikatan kompleks sebagai senyawa merkuri-sianid (HgCN) yang mengendap. 2004. Kegiatan pengolahan tailing amalgamasi dengan proses sianidasi memberikan dampak negatif terhadap kualitas air dan sedimen disekitar lokasi pengolahannya. Tetapi kadar merkuri di sedimen itu dapat meningkat seiring mengendapnya merkuri ke dasar sungai. Sediment Quality Standards (WAC 172204-320). Global Mercury Project. Draft.034 mg/L) pada semua lokasi penelitian (hulu. WAC 172 – 204 – 320) yaitu sebesar 1 ppm. outlet pengolahan. 1996. Konsentrasi Hg pada sedimen (0.17 . Kesimpulan Berdasarkan hasil kajian pengolahan tailing dengan proses sianidasi dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: Berdasarkan informasi dari penambang karakterisasi pada kegiatan pengolahan tailing amalgamasi dengan proses sianidasi dipertambangan emas rakyat dapat meningkatkan efisiensi perolehan bulion emas dari bijihnya. Kadar merkuri di air pada daerah pengolahan relatif rendah dibandingkan pada sedimen.2. sehingga meningkatkan pendapatan para penambang. dari +40% secara amalgamasi sendiri menjadi +90% secara kombinasi amalgamasi dan sianidasi. DAFTAR PUSTAKA Anonim.fathom. Pedoman Teknis Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Untuk Kegiatan Pertambangan dan Energi. antara lain arus sungai (karena merupakan sungai dangkal).0.. Saran Dari kegiatan penelitian merkuri dalam sedimen dan air pada pengolhan tailing amalgamasi di pertambangan emas rakyat secara sianidasi. http://www. dimana keberadaan merkuri di air merupakan tempat singgah sementara sebelum sampai di dasar (berkaitan dengan berat jenisnya) dan juga merupakan pelepasan merkuri dari sedimen yang diakibatkan beberapa faktor.01 .Ucapan terima kasih juga ditujukan kepada Bapak Marsen Alimano dan Ibu Wulandari Surono yang telah membantu selama percobaan dan penelitian ini berlangsung.. Konsentrasi Hg di air (0. Perlu dibentuk wilayah pertambangan rakyat (WPR) untuk lebih memudahkan pemerintah dalam hal koordinasi dan pengawasan kegiatan penambangan dan pengolahan emas rakyat. ataupun lintasan transportasi dari masyarakat sekitar. Proses kombinasi ini diterapkan karena keberadaan bijih emas dengan bentuk kasar semakin sedikit. hujan. dan hilir) melewati baku mutu yang diperbolehkan (sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air Kelas II dan KEP-202/MENLH/2004 tentang Baku Mutu Limbah Bagi Kegiatan Pengolahan Bijih Emas dan/atau Tembaga). 4.20 ppm) pada semua lokasi penelitian belum melewati ambang batas aman terhadap racun yang ada (sesuai UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Selinawati TD dan Bapak Harry Tetra Antono atas saran serta sumbang wawasan terhadap tulisan ini. di mana semakin ke hilir badan air. Washington NEL.0. Protocol for Environment and Health Assessment. M. Washington state Sediment. Lutfi dan Retno Damayanti 113 ..Pada Gambar 4 ditunjukkan hubungan antara konsentrasimerkuri di sedimen dan air. Diperlukan adanya pengawasan yang lebih ketat dari pemerintah baik pusat maupun daerah berkaitan dengan kegiatan penambangan dan pengolahan emas yang memiliki dampak besar terhadap lingkungan. Sedangkan jumlah merkuri di air dan sedimen sangat berkaitan. 4. Departemen Pertambangan dan Energi.

World Commision on Enviroment & Development (WCED). Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. 3 Tahun 2000). 2000. Penanggulangan Masalah Pertambangan Tanpa Izin (PETI) (Implementasi Inpres No. Yusuf. Amalgamasi. 2004. Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara. Rachmat. Study On Mercury Lost and Its Concentration from Artisanal Gold Minings in Indonesia. Penambangan dan Pengolahan Emas di Indonesia. Research and Development Center for Mineral and Coal Technology.T. Selinawati. 2003. and Ngurah Ardha.Tim Terpadu Pusat Penanggulangan Masalah Pertambangan Tanpa Ijin (PETI. 1987 114 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .D.

26 Bandung 40116 SARI Zirkon sebagai hasil tailing dari pengolahan emas aluvial di Kalimantan Tengah memiliki kadar yang rendah yaitu 36.38 % ZrO2 so that has not fulfilled clauses to be sold and or is exported. ultrasonic. yuhelda@tekmira.id 2 Jurusan Teknik Pertambangan. Zircon done by concentration is concentrate from wet magnetic separator. Pengaruh Penggunaan Ultrasonik terhadap Hasil Pemisahan Pasir Zirkon .6003373 e-mail : pramusanto@tekmira. Peningkatan kadar zirkon dilakukan dengan beberapa metoda pengolahan. Concentration is done based on different of electrical conductivity property applies electrostatic separator where zircon mineral (ZrSiO4) as non conductor mineral will separated from its the gangue mineral as conductor mineral for example ilmenite (FeTiO3) and rutile (TiO2). electrostatic separator ABSTRACT Zircon as tailing product of alluvial gold processing in Central Kalimantan has low grade that is 36. Nuryadi Saleh1. dkk. 022 ..id. 115 . Kata kunci: zirkon.PENGARUH PENGGUNAAN ULTRASONIK TERHADAP HASIL PEMISAHAN PASIR ZIRKON KALIMANTAN TENGAH DENGAN ELECTROSTATIC SEPARATOR Pramusanto1. 24. Yuhelda1 dan Fitriza Yuliana2 1 Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. 022 . Upgrading of zircon grade is done with a few processing method. nuryadi@tekmira.esdm. Variabel – variabel optimum pada electrostatic separator : Variabel tegangan listrik 30 KV Variabel posisi splitter 30° Variabel skala kecepatan umpan 7..go.esdm. Pramusanto. 1.go. Sebelum umpan dipisahkan menggunakan variabel – variabel optimum pada electrostatic separator terlebih dahulu umpan mendapat perlakuan ultrasonik (sonikfikasi).5 Variabel optimum pada ultrasonik yaitu selama 30 menit dimana umpan yang mendapat perlakuan ultrasonik dapat membersihkan pasir zirkon dari unsur –unsur minor yang tidak diinginkan. Taman Sari No. Zirkon yang dilakukan pemisahan merupakan konsentrat dari magnetik separator basah. 20.6030483 Fax. Jend. Before feeder concentration using optimum variables at electrostatic separator beforehand feed got treatment of ultrasonic (sonicfication).id. 22. Pemisahan dilakukan berdasarkan perbedaan sifat konduktifitas listrik menggunakan electrostatic separator dimana mineral zirkon (ZrSiO4) sebagai mineral non konduktor akan terpisah dari mineral pengotornya sebagai mineral konduktor seperti ilmenit (FeTiO3) dan rutil (TiO2).38 % ZrO2 sehingga belum memenuhi persyaratan untuk dijual ataupun diekspor. Universitas Islam Bandung (UNISBA) Jl. Sudirman 623 Bandung 40211 Telp.esdm.go.

Pulau Belitung) dan di Kalimantan (Kalimantan Tengah. Y. kemagnetan dan gaya berat (Woodcock. proses mana yang lebih baik itu umumnya tergantung pada karakteristik zirkon yang akan diolah maupun pemanfaatan dari produk yang akan dihasilkan (Pramusanto dkk. Untuk membersihkan partikel – partikel halus yang menempel pada permukaan zirkon. 2007) yaitu pemisahan berdasarkan berat jenis menggunakan meja goyang dan berdasarkan sifat kemagnetan menggunakan magnetik separator kering dilanjutkan dengan magnetik separator basah.go. 2. Zirkon yang ditemukan di Kalimantan Tengah kemungkinan berasosiasi dengan mineral – mineral pengotor seperti ilmenit (FeTiO3). Kalimantan Timur) [Suhala dan Arifin. Mineral rutil dan zirkon bersifat non magnet sehingga proses pengolahan yang dilakukan sebatas pemisahan berdasarkan sifat kemagnetan masih belum memadai. Berdasarkan hasil analisis kimia terhadap konsentrat magnetik separator basah ternyata masih terdapat unsur-unsur mineral pengotor seperti rutil (TiO2) dan ilmenit (FeTiO3). La. sehingga umpan perlu mendapat perlakuan ultrasonik sebelum dipisahkan menggunakan variabel – variabel optimum pada electrostatic separator. Zirkon yang terdapat di Pulau Bangka adalah mineral ikutan bijih timah (kasiterit) yang merupakan tailing dari pengolahan timah sedangkan zirkon yang terdapat di Kalimantan Tengah adalah mineral ikutan bijih emas aluvial yang merupakan tailing dari pengolahan bijih emas dengan alat sederhana sluice box. Analisis terhadap nisbah konsentrasi (NK) bertujuan untuk mengetahui perbandingan antara berat umpan yang akan dipisahkan dengan berat konsentrat yang diperoleh pada proses pemisahan yang dilakukan dan kemudian akan korelasikan dengan kadar zirkon (ZrO2). Pendekatan proses pengolahan mineral zirkon.id]. 2007). Pulau Bangka.sifat fisik mineral seperti konduktifitas listrik. 2007). Pemisahan secara kering yang dilakukan pada mineral . Dahlan dan Saleh.bgl. yaitu dengan melakukan percobaan menggunakan ultrasonik sebelum umpan dipisahkan menggunakan variabel – variabel optimum pada electrostatic separator. xenotim (YPO4) dan kuarsa (SiO2) [www. Hasil penelitian pengolahan terdahulu yang telah dilakukan (Saleh dan Pramusanto. METODOLOGI Metodologi peningkatan kadar pasir zirkon Kalimantan Tengah yang telah dilakukan studi bahan baku oleh pihak laboratorium pengolahan tekMIRA. 1980). monasit ((Ce.5 Optimum variable at ultrasonic that is during 30 minutes where feeder getting treatment of ultrasonic can clean zircon sand from minor elements undesirable. Keyword: zircon. Sebagian besar mineral – mineral pengotor di atas merupakan mineral berat sehingga perlu dilakukan pengolahan dan peningkatan nilai tambahnya. rutil (TiO2).mineral berat yang terdapat dalam konsentrat menggunakan berbagai macam pemisahan berdasarkan sifat . 1997). Persiapan dan Analisis Umpan Preparasi umpan yang akan dipisahkan berdasarkan perbedaan sifat konduktifitas listrik 116 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Kepulauan Riau. 2. ultrasonic. Karakteristik mineral . Perlakuan ultrasonik (sonikasi) dilaporkan dapat membersihkan lebih lanjut terhadap produk pasir zirkon dari unsur – unsur minor yang tidak diinginkan (Farmer.1.esdm. PENDAHULUAN Indonesia sebagai salah satu negara penghasil zirkon memiliki penyebaran zirkon di Sumatera (Sumatera Utara. 1997].mineral pengotor pada zirkon sangat tergantung dari ganesa mineral sehingga setiap tempat memiliki karakteristik mineral yang berbeda (Pramusanto. electrostatic separator 1. Th)PO4).Optimum variables at electrostatic separator : Voltage variable 30 KV Variable position of splitter 30° Feed speed scale variable 7.

dkk. Pengaruh Penggunaan Ultrasonik terhadap Hasil Pemisahan Pasir Zirkon . 117 . Kemudian gelas ukur tersebut diletakkan di atas jaring atau kawat yang berada di dalam alat ultrasonik.. 30 menit. TiO2. Selama percobaan ini juga terlihat air yang sebelumnya jernih berubah menjadi keruh. kemudian dilakukan pemisahan basah secara manual antara partikel mineral berat yang berada pada bagian bawah gelas ukur dengan partikel mineral ringan yang berada pada bagian atas. Percobaan Menggunakan Ultrasonik Percobaan menggunakan alat ultrasonik yang biasa digunakan untuk membersihkan ayakan berukuran halus. Gambar 2. Setelah digetarkan menggunakan alat ini. FeTiO3 dan lain-lain menggunakan electrostatic separator.3. Alat ultrasonik Percobaan dilakukan dengan variabel waktu getar selama 15 menit. Alat electrostatic separator yang digunakan dalam percobaan dapat dilihat pada Gambar 1. Getaran yang terjadi pada alat ultrasonik membawa mineral ringan terangkat ke atas sehingga berdasarkan masing–masing waktu yang di variabelkan. mineral yang berada pada posisi atas dipisahkan dan terlihat lebih berwarna hitam sedangkan pada posisi bawah sebagai konsentrat berwarna coklat kemerah – merahan. terdapat perbedaan warna mineral yang berada di dalam gelas ukur yang telah bercampur dengan air. 45 menit dan 60 menit.yang berasal dari konsentrat magnetik separator basah dilakukan bertujuan untuk mendapatkan contoh yang representatif. Ukuran partikel mineral sebagai hasil saringan terlihat sangat halus dibandingkan dengan ukuran butiran partikel yang mengendap. sedangkan sisanya yang melayang diambil dengan cara disaring menggunakan kertas penyaring. Setelah perlakuan ultrasonik dilakukan. Pramusanto. 2. Peningkatan Kadar Pasir Zirkon dengan Electrostatic Separator Peningkatan kadar pasir zirkon dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan electrostatic separator yang digunakan dalam peningkatan kadar. seperti pada Gambar 2. Partikel yang berada pada bagian atas diambil menggunakan sendok tipis secara perlahan. Kemudian pemisahan dilakukan Gambar 1. Electrostatic Separator dari Reichert Equipment tipe MK III Bench seri 063 2.2. Pertama sampel dimasukkan ke dalam gelas ukur yang berukuran 250 ml dan ditambahkan air sebanyak 150 ml atau 60 % dari kapasitas tempat penampungannya. Peningkatan kadar dapat dilakukan dengan cara memisahkan mineral non konduktor sebagai mineral berharga yaitu ZrSiO4 dengan mineral . Sampel hasil pemisahan setelah perlakuan ultrasonik kemudian dijadikan umpan pada pemisahan dengan electrostatic separator setelah dikeringkan terlebih dahulu dalam oven pengering selama satu hari.mineral konduktor sebagai mineral pengotor seperti.. dalam penelitian ini dilakukan untuk membersihkan partikel–partikel halus yang mungkin masih menempel pada permukaan butiran umpan sebelum dipisahkan dengan electrostatic separator.

01 ZrO 2 N O a2 P 5 2O Y 3 2O C 3 r2O Fe 3 2O N 2O b 5 A 3 l2O C 2 eO T 2 hO SiO 2 H 2 fO MO n MO g TiO 2 K2 O CO a S Unsur Hasil Analisis Umpan Gambar 3.   100 10 K da (% a r ) terhadap nisbah konsentrasi dan kadar ZrO2 pada Gambar 4 yaitu semakin besar tegangan listrik yang digunakan maka nisbah konsentrasinya semakin kecil dan kadar ZrO2 yang dihasilkanpun semakin besar.5.2. 7.1 Pengaruh tegangan listrik terhadap nisbah konsentrasi dan kadar ZrO2 Percobaan dilakukan dengan variabel berubah yaitu tegangan listrik sedangkan variabel tetapnya pada posisi splitter 40° dan pada skala kecepatan umpan 5. Hal ini berbeda dengan hasil percobaan yang dilakukan yang kemungkinan disebabkan oleh pengaruh perbedaan sifat kelistrikan atau konduktifitas mineral-mineral yang terdapat dalam umpan seperti mineral zirkon (ZrSiO4). hematit (Fe2O3).68 dengan kadar ZrO2 yang diperoleh sebesar 56. Nisbah konsentrasi yang diperoleh pada skala kecepatan umpan 2. 7.38 gram/menit). Pemisahan yang baik seharusnya menghasilkan nisbah konsentrasi yang besar dan kadar ZrO2 yang besar pula.11. Dimana dengan jarak elektroda yang terlalu dekat dan tegangan yang besar akan menyebabkan tertariknya semua mineral. Pengaruh tegangan listrik terhadap nisbah konsentrasi dan kadar ZrO2 pada posisi splitter 40° dan skala kecepatan umpan 5 3.46 %.5.38 gram/menit. 4. Hasil analisis umpan Gambar 4. tetapi jarak elektroda tidak divariasikan di dalam percobaan ini.67 % dan 61. HASIL DAN PEMBAHASAN 3. 59. Peningkatan Kadar Pasir Zirkon dengan Electrostatic Separator Di dalam percobaan electrostatic separator ini dilakukan analisis kimia secara XRF (Fluoresen Sinar X) untuk meninjau perubahan unsur-unsur terhadap konsentrat akibat pengaruh dari variabelvariabel percobaan terhadap nisbah konsentrasi dan peningkatkan kadar.96 %. Kemungkinan lain dapat disebabkan oleh jarak elektroda yang tidak sesuai.51 %. 3. 5 (2. 3. ilmenit (FeTiO3). (0.2.pada kondisi variabel optimum dengan electrostatic separator yang telah dilakukan pada percobaan sebelumnya.4 gram/menit) dan 10 (5 gram/menit) secara berturut – turut 118 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .2. Kecepatan umpan yang digunakan pada masing – masing skala kecepatan umpan 2. 5. Pengaruh tegangan listrik 3.81. baik yang bersifat konduktor kuat maupun konduktor lemah.4 gram/menit dan 5 gram/menit.2 Pengaruh skala kecepatan umpan terhadap nisbah konsentrasi dan kadar ZrO2 Percobaan dilakukan dengan variabel berubah yaitu skala kecepatan umpan sedangkan variabel tetapnya pada tegangan listrik 30 KV dan posisi splitter 300. Analisis Umpan Hasil analisis kimia secara XRF (Fluoresen Sinar X) terhadap umpan sebelum dipisahkan menggunakan electrostatic separator dapat dilihat pada Gambar 3. rutil (TiO2) dan lain-lain.39. 20 KV. 1 0.47 gram/menit. 2. 25 KV dan 30 KV menghasilkan nisbah konsentrasi secara berturutturut sebesar 6. menjabarkan grafik persentase semua unsur yang terdeteksi dalam skala logaritma. 3.47 gram/ menit). 10 secara berurutan sebesar 0.1 0.5. 57.1.5 (3. 1. 3. Hasil percobaan dengan memvariabelkan tegangan listrik 15 KV.

6 60. 1.8 60. 1.47 2.2.09 1. Pengaruh skala kecepatan umpan terhadap nisbah konsentrasi dan kadar ZrO2 pada tegangan listrik 30 KV dan posisi splitter 30° Kadar ZrO2 (%)   Nisbah Konsentrasi 1.52 %. 1.12 1.13 1.42 % dan 62. 1. Pengaruh penggunaan ultrasonik dengan variabel waktu terhadap nisbah konsentrasi dan kadar ZrO2 berdasarkan Gambar 6 di atas adalah semakin lama waktu getar yang diberikan oleh ultrasonik terhadap umpan.92 %.15 1. Pengaruh penggunaan ultrasonik terhadap nisbah konsentrasi dan kadar ZrO2 pada tegangan listrik 30 KV.19.08 15 30 45 60 Waktu (Menit) NK Kadar 61 Kadar ZrO2 (%) 60.70 %. 60.4 Pengaruh penggunaan ultrasonik terhadap perolehan dan kadar ZrO2 Berdasarkan grafik yang terdapat pada Gambar 7 dapat ditarik garis rata – rata sehingga diperoleh grafik yang menunjukkan kecenderungan perubahan perolehan dan kadar ZrO2 terhadap penggunaan ultrasonik.68 % ZrO2 sedangkan pada waktu getar Pengaruh Penggunaan Ultrasonik terhadap Hasil Pemisahan Pasir Zirkon .. kecepatan umpan 7.45 %.19 1.58 %..3 Pengaruh penggunaan ultrasonik terhadap nisbah konsentrasi dan kadar ZrO2 Ultrasonik bekerja dengan getarannya untuk melepaskan ikatan – ikatan mineral pengotor lainnya pada mineral zirkon sebagai mineral utama. Pada waktu getar selama 45 menit perolehan yang didapatkan hampir 90 % dan kadar 60.   Nisbah Konsentrasi 1.18 1.5 63 62. 30.12 dengan kadar ZrO2 yang diperoleh sebesar 60. Hal ini disebabkan karena lamanya waktu getar akan mempengaruhi hasil kerja gelombang ultrasonik sehingga juga akan berpengaruh terhadap hasil umpan yang akan dipisahkan menggunakan electrostatic separator. Konsentrat kering dari ultrasonik kemudian dipisahkan menggunakan electrostatic separator dengan variabel optimum pada percobaan sebelumnya yaitu pada tegangan listrik 30 KV. 60.40 Kecepatan (gram/menit) NK Kadar 5.00 63. 119 . umpan yang berukuran kasar cenderung mengalami lifting effect meskipun tidak bersifat sebagai konduktor dan umpan yang berukuran halus cenderung mengalami pinning effect.58 % ZrO2.1 1.10. 62. dkk. pengaruh kecepatan umpan terhadap nisbah konsentrasi dan kadar ZrO2 yaitu semakin cepat umpan yang diberikan maka nisbah konsentrasinya semakin kecil dan kadar ZrO2 yang dihasilkanpun semakin besar.68 % dan 60. 60 menit pada ultrasonik secara berturut – turut sebesar 1.13 0. Pramusanto.5 3.7 60.sebesar 1.14 dan 1. maka nisbah konsentrasi dan kadar ZrO2 yang dihasilkan akan semakin besar.18. 45.14 1.5 61 Gambar 5.5 62 61.16 1.15. 63.9 60. Nisbah konsentrasi yang diperoleh setelah dipisahkan menggunakan electrostatic separator dengan variabel waktu 15. Percobaan pada alat ultrasonik dilakukan dengan memvariabelkan waktu getar selama 15.09. 45 dan 60 menit. posisi splitter 30 0 dan skala Gambar 6.15 1.5 Berdasarkan grafik pada Gambar 5. Dengan kecepatan yang tinggi. Pada waktu getar selama 30 menit perolehan yang didapatkan lebih dari 90 % dan kadar 60. 30.14 1.11 1.2 1.69 %.5.14 dengan kadar ZrO2 yang diperoleh sebesar 61. posisi splitter 300 dan skala kecepatan umpan 7.38 3. 1. 3.2. Kecepatan yang tinggi akan mengakibatkan mineral – mineral non konduktor kasar akan terlempar ke konduktor sehingga kadar zirkon akan rendah.17 1.92 % ZrO2. Kecepatan umpan (gram/menit) pada percobaan ini tergantung skala kecepatan umpan yang dipakai dan berat masing – masing umpan yang digunakan dalam percobaan. Berdasarkan waktu getar selama 15 menit pada alat ultrasonik perolehan yang didapatkan lebih dari 90 % dan kadar 60.

tekanan dan getaran pada butiran umpan. Na2O. hasil analisis pada percobaan dengan variabel optimum yaitu pada tegangan listrik 30 KV. Hasil perbandingan dapat dilihat pada Gambar 8.selama 60 menit perolehan yang didapatkan 90 % dan kadar 60.6 60.68.2 60 K adar (% ) unsur .92 % yaitu pada waktu getar 30 menit dengan nisbah konsentrasi 1. 4. Pada percobaan pengaruh skala kecepatan umpan. posisi splitter 300 dan skala kecepatan umpan 7.   Perolehan (% ) 93 92 91 90 89 88 87 15 30 45 60 Waktu (Menit) Perolehan ZrO2 Kadar ZrO2 61 60.5 Selain itu. Nb2O5. TiO2 dan S. Nb2O5. ZrO2. Pada percobaan umpan yang mendapat perlakuan ultrasonik. Pada percobaan pengaruh tegangan listrik. didapat beberapa kesimpulan : 1. Perbedaan perolehan dan kadar ZrO2 yang didapatkan pada percobaan tidak begitu jauh dimana perolehan rata – rata zirkon hampir 90 % dengan kadar 60 % ZrO2. Gambar 7.4 60. Kondisi optimum penggunaan ultrasonik yaitu pada waktu getar selama 30 menit. K2O. MgO.4 gram/menit) dengan nisbah konsentrasi 1.5 (3. frekuensi yang ada pada ultrasonik kemungkinan akan mempengaruhi terjadinya efek mekanik seperti gerakan – gerakan partikel pada umpan yang berada di dalam gelas ukur sehingga dapat menimbulkan gaya gesek. P2O5. Fe2O3.01 Fe2O3 Nb2O5 Cr2O3 Na2O Al2O3 Y2O3 ThO2 P2O5 TiO2 MnO MgO CaO ZrO2 HfO2 SiO2 K2O S Unsur Sebelum M endapat P erlakuan Ultraso nik Setelah M endapat P erlakuan Ultraso nik Gambar 8. Adanya beberapa unsur yang hilang setelah mendapat perlakuan ultrasonik (sonikasi) diantaranya MnO. Perbandingan kandungan unsurunsur sebelum dan setelah mendapatkan perlakuan ultrasonik Berdasarkan Gambar 8. Sedangkan unsur . Hal ini terjadi karena adanya pengaruh getaran yang diberikan pada umpan dengan waktu getar tertentu sehingga dapat melepaskan partikel halus dari mineral pengotor yang melekat pada permukaaan umpan yang akan dipisahkan.   100 10 Kadar (%) 1 0. Dari hasil percobaan yang dilakukan bahwa ada beberapa unsur yang tidak diinginkan hilang setelah mendapatkan perlakuan ultrasonik. kadar ZrO2 optimum sebesar 61. Cr2O3 dan ThO2.unsur yang kadarnya turun antara lain SiO2.8 60. KESIMPULAN Berdasarkan hasil percobaan terhadap pengaruh penggunaan ultrasonik terhadap pasir zirkon Kalimantan Tengah hasil pemisahan dengan electrostatic separator. setelah umpan mendapat perlakuan ultrasonik terlihat adanya beberapa 120 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Pengaruh gelombang ultrasonik ini cukup kuat dan efektif untuk melepaskan partikel halus berupa mirel pengotor yang melekat pada permukaan sampel bijih zirkon. Selain itu.09 dan perolehan lebih dari 90 %. HfO2 dan Y2O3. Pengaruh penggunaan ultrasonik terhadap perolehan dan kadar ZrO2 pada tegangan listrik 30KV.96 % yaitu pada tegangan listrik 30 KV dengan nisbah konsentrasi 1.69 % ZrO2. Cr2O3 dan ThO2. Unsur unsur yang kadarnya naik antara lain Al2O3. 3.42 % yaitu pada skala 7. CaO.5 diperbandingkan antara umpan yang tidak dan yang mendapat perlakuan ultrasonik.unsur yang kadarnya naik dan turun bahkan ada beberapa unsur yang hilang.1 0. Selain itu. 2. kadar ZrO2 optimum sebesar 60.18. posisi splitter 40° dan skala kecepatan umpan 7. kadar ZrO2 optimum sebesar 63. 4. beberapa unsur yang hilang setelah mendapat perlakuan ultrasonik antara lain MnO.

Australia. Victoria. 1982 “Introduction to Mineral Processing”. 2007. Komunikasi Langsung. Pusat Pengembangan Teknologi Mineral. Chatswood NSW 2067. T... Pramusanto. Farmer. “Mining and Metallurgical Practices in Australia”. Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara-tekMIRA. “Peningkatan Nilai Tambah Pasir Zirkon Kalimantan Tengah”. J. Australia. Saleh. 2007. S. Puslitbang tekMIRA. Woodcock. David J. “Elements Of Mineral Process Engineering”. Dahlan. 1997. “Pengembangan Produk dan Peningkatan Mutu Bahan Galian”. N.. 121 .. 2007. dan Arifin M. Pramusanto. Errol G. Saleh.. Y.. Puslitbang tekMIRA.. Central Kalimantan”. A. Kolokium Pertambangan 2007. Kelly... Ardha. Pramusanto. Puslitbang Teknologi Mineral Bidang Litbang Teknologi Pengolahan Mineral.. Spottiswood. “Pembuatan Zirconia dari Pasir Zircon Kalimantan dan Bangka”. Bandung. The Australian Institute of Mining and Metallurgy.C. New York Mular. John Willey & Sons. D.. Yuhelda. Suhala. 2008. 2000. dkk. “Heavy Mineral Sands Separation of Waringin.DAFTAR PUSTAKA Dahlan. Canada. dkk. Nuryadi dan Pramusanto. Muta’alim.. 1997. “Bahan Galian Industri”.. B. Department of Mining and Mineral Process Engineering University of British Columbia Vancouver. Supriatna.. 1980. N... Agricola Consulting Services Pty Ltd. Andrew L. Rochani. Pengaruh Penggunaan Ultrasonik terhadap Hasil Pemisahan Pasir Zirkon .

bed material.6003373 e-mail: Nurhadi@tekmira.PENGGUNAAN PASIR SUNGAI SEBAGAI BED MATERIAL PADA GASIFIKASI BATUBARA SISTEM FLUIDIZED BED Nurhadi dan Slamet Suprapto Pussat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. Variabel yang digunakan adalah jumlah bed material dan jenis bed material. 623 Bandung 40211 Telp. coal sample and oxygen were inputted into reactor. coal. 022 . 022 . gasification efficiency and ratio of hydrogen to carbon monoxide in fluidized bed coal gasification. bed material . Result was shown river sand use as bed material functioned well based on syngas composition. Gas produk dimurnikan dan didinginkan melalui siklon. carbon conversion and gasification efficiency. batubara. and scrubber. Finally. Hasil percobaan menunjukkan bahwa penggunaan pasir sungai sebagai bed material dapat berfungsi baik sebagai dalam proses pembuatan gas sintesis dari batubara dilihat dari komposisi syngas. After gasifier temperature reaching 900°C. product gas composition. Jend. river sand 122 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Sudirman no. konversi karbon dan efisiensi gasifikasi. Percobaan dilakukan dengan memanaskan bed material dalam gasifier menggunakan media fluidisasi gas nitrogen. Experiment was conducted by heated bed material in gasifier used nitrogen gas as fluidization media. efisiensi gasifikasi dan rasio gas hidrogen terhadap gas karbon monoksida pada proses gasifikasi batubara tipe fluidized bed. and gasifying reaction happened.6030483 Fax. sehingga terjadi reaksi gasifikasi. percontoh batubara dan oksigen di-input-kan ke dalam reaktor. Setelah suhu gasifier mencapai 900°C. Kata kunci: gasifikasi.id SARI Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penggunaan pasir sungai sebagai bed material terhadap konversi karbon. komposisi gas produk. Keywords: gasification. Gas product (syngas) was purified and cooled through cyclone.go. heat exchanger dan scrubber untuk selanjutnya dianalisa komposisinya menggunakan gas kromatografi.esdm. heat exchanger. syngas composition was analyzed by gas chromatography. pasir sungai ABSTRACT This research was conducted to know the influence of river sand use as bed material to carbon conversion.

1987). Sebagai bed material digunakan pasir silika dan pasir sungai. 2006) Penggunaan Pasir Sungai sebagai Bed Material pada Gasifikasi Batubara . 2008). nitrogen dan hidrokarbon rantai ringan (Kubota. karbon dioksida. karbon dioksida atau campuran dari zat tersebut dan menghasilkan campuran gas yang dapat dibakar. Gas produk gasifikasi berupa campuran gas hidrogen.. Batubara yang digunakan adalah batubara peringkat lignit dengan variabel jenis bed material. sehingga suhu dalam gasifier menjadi homogen. Bed material digunakan sebagai transfer panas. sehingga sangat cocok dikembangkan sebagai bed material untuk gasifikasi batubara menggunakan gasifier tipe fluidized bed. Diagram alir penelitian pembuatan gas sintesis (Nurhadi. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian pembuatan gas sintesis dilakukan terhadap percontoh batubara Indonesia. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penggunaan pasir sungai sebagai bed material terhadap konversi karbon.1. Fluidized bed merupakan sistem yang efisien untuk kontak fase gas-padat. komposisi gas produk dan efesiensi gasifikasi pada proses gasifikasi batubara tipe fluidized bed. uap air. 1991). Bagan alir proses penelitian pembutan gas sintesis dapat dilihat pada Gambar 1. Peralatan yang digunakan untuk kegiatan ini terdiri atas 1 unit peralatan pembuatan gas sintesis skala laboratorium. 2006). sehingga menjadi unggun terfluidisasi.. Pasir sungai cukup melimpah keberadaannya di Indonesia dan harganya cukup murah. karbon monoksida.4 milyar ton merupakan aset ekonomi dan aset energi yang sampai saat ini belum dapat dimanfaatkan secara optimal (Setiawan. PENDAHULUAN menggunakan screw feeder (Kunii dan Levenspiel. Gasifikasi batubara tipe fluidized bed menggunakan bed material berupa pasir. oksigen dan nitrogen sebagai bahan baku. Nurhadi dan Slamet Suprapto 123 . yaitu menggunakan pasir silika dan pasir sungai. Batubara dimasukkan ke dalam gasifier dari bagian samping gasifier 2. Gas produk ini dapat langsung dimanfaatkan sebagai bahan bakar gas atau dikonversi menjadi berbagai macam sumber energi dan bahan baku industri kimia (Penner. Pemanfaatan batubara peringkat rendah dengan teknologi gasifikasi menghasilkan produk yang mudah dikonversi menjadi beberapa macam sumber energi dan bahan baku industri kimia. Gambar 1.. Bahan-bahan yang digunakan untuk percobaan ini adalah batubara. Sumber daya batubara Indonesia yang berjumlah 107. sehingga diperoleh karakteristik proses pembuatan gas sintesis menggunakan batubara Indonesia. Gas pereaksi masuk dari bagian bawah gasifier melalui plat distributor untuk mengangkat bed material. Gasifikasi batubara adalah reaksi antara batubara dengan pereaksi udara. dkk.

18 Komposisi Rata-rata Tanpa Nitrogen (% mol) CO 42. Nilai 97.01 43. % TT = tidak terdeteksi Percontoh batubara yang digunakan untuk percobaan adalah batubara lignit yang berasal dari Sumatera Selatan.83 2.23 4.03 6. % CaO. Karbon. % adb.34 44.52 3.95 2.58 1.36 37.685 0.73 C2H4 3. Hidrogen.36 44. Hasil percobaan penelitian skala laboratorium pembuatan gas sintesis dari batubara berupa komposisi produk syngas. Nilai Kalor. Sifat kimia pasir sungai Parameter Analisis Proksimat Air Total. Belerang. yaitu pasir silika dan pasir sungai.83 5. % adb. Tabel 4.975 1. Hasil analisis percontoh batubara dapat dilihat pada Tabel 1.20 0. % Fe2O3.716 0. % CaO. % MgO.19 15.01 TT Bed material berupa pasir silika dan pasir sungai juga sudah dianalisis seperti terlihat pada Tabel 2 dan Tabel 3. Karbon Padat. % adb.764 0. % Al2O3. % TT = tidak terdeteksi Nilai 46. % MgO.57 3.24 SiO2.94 2. Sifat kimia pasir silika Parameter SiO2.55 2.758 0. Oksigen. % adb.26 TT TT Tabel 1.51 3.58 CH4 3.36 1.32 2. % Fe2O3. % Al2O3. konversi karbon dan efisiensi gasifikasi pada berbagai variabel dapat dilihat pada Tabel 4 sampai dengan Tabel 6.02 32. Abu.05 O2 5. konversi karbon dan efisiensi gasifikasi. neraca massa.55 0. %.48 3.14 0.86 32. nilai kalor.3.80 32. Setiap bed material kemudian digunakan dalam percobaan dengan variasi 15 gram (P Silika 15 dan P Sungai 15).05 total 100 100 100 100 100 100 H2/CO 0.90 15.6278 22. % adb Nitrogen.66 17.3170 124 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .83 39.31 2.83 0. HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 2. Air Lembab. Untuk percobaan masing-masing bed material dipreparasi sehingga diperoleh ukuran partikel – 48 + 60 mesh. % adb.56 CO2 15.7938 21.687 0.719 BM 22. sehingga diperoleh ukuran partikel – 48 + 60 mesh. Hasil analisis percontoh batubara Tabel 3.91 43.37 21.36 2.03 16.32 30. Untuk percobaan gasifikasi percontoh batubara dipreparasi.16 54. % adb.7437 21. Hasil percobaan yang dibahas dalam makalah ini meliputi pengaruh jenis bed material pasir silika dan pasir sungai terhadap komposisi gas terutama kadar CO dan H2. kal/g adb.r. Komposisi produk syngas Kode Percontoh P Silika 15 P Silika 20 P Silika 25 P Sungai 15 P Sungai 20 P Sungai 25 H2 30.89 2.90 19. a. Analisis Ultimat Abu.24 8. Nilai Parameter 53.23 30. % adb. % adb. nilai kalor.85 42.8542 22. Penelitian dilakukan terhadap dua jenis bed material.26 16.52 2. neraca massa. % adb.54 2. Zat Terbang.48 31.3932 22. 20 gram (P Silika 20 dan P Sungai 20) dan 25 gram (P Silika 25 dan P Sungai 25).

685 BM 22.067 1.067 1. Tabel 7. nilai kalor.36 2.411 1.465 0.067 1.52 3.577 0.449 1.7437 Tabel 8. Semakin banyak jumlah pasir silika sebagai bed material dalam reaktor.117 0. Penggunaan Pasir Silika sebagai Bed Material Pengaruh jumlah pasir silika sebagai bed material terhadap komposisi gas.66 17.982 0.6278 22.411 By Produk Ter (mg/s) 0.185 0. Pengaruh jumlah pasir silika terhadap neraca massa bahan baku dan produk Kode Percontoh P Silika 15 P Silika 20 P Silika 25 Bahan Baku (mg/s) Batubara 1.32 30.586 0.982 0.687 0.03 16..449 1.982 0.067 1.108 0.465 0.122 0.067 1. konversi karbon dan efisiensi gasifikasi Kode Percontoh P Silika 15 P Silika 20 P Silika 25 P Sungai 15 P Sungai 20 P Sungai 25 Konversi C (%) 67 77 75 71 73 74 Efisiensi Gasifikasi (%) 74 80 77 77 81 78 Nilai Kalor (kkal/Nm3) 3.067 O2 0.067 O2 0.36 44.3932 22.899 2.185 0.716 0.354 1.982 0.086 Tabel 6.1.577 0.377 1.57 3.434 1.579 By Produk Char (mg/s) 0.499 By Produk Char (mg/s) 0.389 By Produk Ter (mg/s) 0. konversi karbon dan efisiensi gasifikasi dapat dilihat pada Tabel 7 sampai dengan Tabel 9.976 3.287 1..55 Komposisi Rata-rata Tanpa Nitrogen (% mol) CO 42.02 O2 5.135 0.01 43. Sebaliknya.388 1.52 CO2 15.340 1.85 CH4 3.19 C2H4 3.067 1.067 1.117 Penggunaan Pasir Sungai sebagai Bed Material pada Gasifikasi Batubara .982 Produk Syngas (mg/s) 1.287 1.434 1.135 0.433 1.31 2. Nilai kalor.287 1.54 total 100 100 100 H2/CO 0. Nurhadi dan Slamet Suprapto 125 .23 30. sehingga menyebabkan nilai kalor gas juga berkurang.982 0.433 (mL/s) 1.982 0. neraca massa.975 3.982 0.982 Produk Syngas (mg/s) 1. Neraca massa bahan baku dan produk Kode Percontoh P Silika 15 P Silika 20 P Silika 25 P Sungai 15 P Sungai 20 P Sungai 25 Bahan Baku (mg/s) Batubara 1.32 2.Tabel 5.959 2.287 1.499 0. maka rasio gas hidrogen terhadap karbon monoksida berkurang.95 2. Komposisi gas cenderung sedikit berpengaruh terhadap perubahan jumlah pasir silika sebagai bed material dalam reaktor.115 2.587 0.070 2.384 (mL/s) 1. Pengaruh jumlah pasir silika terhadap komposisi produk syngas Kode Percontoh P Silika 15 P Silika 20 P Silika 25 H2 30.

bed material berfungsi sebagai media transfer panas (Kunii dan Levenspiel.2.05 O2 2.067 1. Hal ini menyebabkan syngas memiliki rasio gas hidrogen terhadap gas karbon monoksida lebih tinggi. konversi karbon dan efisiensi gasifikasi dapat dilihat pada Tabel 10 sampai dengan Tabel 12. maka selain terjadi konversi batubara. char dan ter juga akan terjadi konversi gas CO menjadi gas CO2. Pengaruh jumlah pasir sungai terhadap neraca massa bahan baku dan produk Kode Percontoh P Sungai 15 P Sungai 20 P Sungai 25 Bahan Baku (mg/s) Batubara 1. Dalam reaktor fluidized bed.34 44. Semakin banyak jumlah bed material dalam reaktor menyebabkan lebih banyak batubara yang bereaksi menjadi syngas sehingga meningkatkan konversi karbon.758 0.587 0.91 43.36 1.586 0.377 1.94 2. maka nilai kalor syngas dan efisiensi gasifikasi akan menurun.26 16. Dengan bertambahnya gas CO2 yang sudah tidak memiliki nilai kalor. Hal ini disebabkan karena pada penambahan bed material sebanyak 15 gram dan 20 gram akan terjadi peningkatan konversi batubara.80 32.83 2. sehingga meningkatkan konversi karbon. Jika bed material ditambahkan lagi menjadi 25 gram. Sebaliknya.899 semakin bertambah jumlah pasir silika sebagai bed material dalam reaktor maka jumlah produksi syngas secara kuantitatif meningkat.48 3.982 0.90 15.3170 Tabel 11.086 126 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .51 3.384 (mL/s) 1.122 0. nilai kalor.56 CO2 15. Penggunaan Pasir Sungai sebagai Bed Material Pengaruh jumlah pasir sungai sebagai bed material terhadap komposisi gas.89 2. Pengaruh jumlah pasir silika terhadap nilai kalor. karena sebagian besar syngas berasal zat terbang yang lebih banyak mengandung unsur hidrogen dibandingkan char.354 1.067 O2 0.58 CH4 2.982 0.7938 21.8542 22.070 2. jika jumlah bed material sedikit menyebabkan reaksi kurang sempurna.05 total 100 100 100 H2/CO 0. neraca massa.Tabel 9.764 0. char dan ter menjadi syngas terutama gas hidrogen dan karbon monoksida. sehingga masih banyak char yang tidak bereaksi. Tabel 10.340 1.18 Komposisi Rata-rata Tanpa Nitrogen (% mol) CO 42.719 BM 21. konversi karbon dan efisiensi gasifikasi Kode Percontoh P Silika 15 P Silika 20 P Silika 25 Konversi C (%) 67 77 75 Efisiensi Gasifikasi (%) 74 80 77 Nilai Kalor (kkal/Nm3) 3.108 0.982 Produk Syngas (mg/s) 1. Pengaruh jumlah pasir sungai terhadap komposisi produk syngas Kode Percontoh P Sungai 15 P Sungai 20 P Sungai 25 H2 32.067 1. sehingga meningkatkan nilai kalor syngas dan efisiensi gasifikasi.73 C2H4 2.389 By Produk Ter (mg/s) 0.86 32. 3.388 1.579 By Produk Char (mg/s) 0. 1991).959 2. kemudian akan menurun kembali jika pasir silika sebagai bed material ditambahkan lagi menjadi 25 gram. Sedangkan nilai kalor syngas dan efisiensi gasifikasi akan naik pada penambahan pasir silika sebagai bed material sebanyak 15 gram dan 20 gram.

Tabel 12. Pengaruh jumlah pasir sungai terhadap nilai kalor, konversi karbon dan efisiensi gasifikasi Kode Percontoh P Sungai 15 P Sungai 20 P Sungai 25 Konversi C (%) 71 73 74 Efisiensi Gasifikasi (%) 77 81 78 Nilai Kalor (kkal/Nm3) 2,976 3,115 2,975

Komposisi gas cenderung sedikit berpengaruh terhadap perubahan jumlah pasir sungai sebagai bed material dalam reaktor. Semakin banyak jumlah pasir sungai sebagai bed material dalam reaktor maka rasio gas hidrogen terhadap karbon monoksida berkurang sehingga menyebabkan nilai kalor gas juga berkurang. Sebaliknya semakin bertambah jumlah pasir sungai sebagai bed material dalam reaktor maka jumlah produksi syngas secara kuantitatif meningkat, sehingga meningkatkan konversi karbon. Nilai kalor syngas dan efisiensi gasifikasi menunjukkan kenaikan pada penambahan pasir sungai sebagai bed material sebanyak 15 gram dan 20 gram, kemudian akan menurun kembali jika pasir sungai sebagai bed material ditambahkan lagi menjadi 25 gram. Fenomena ini sama seperti pada penggunaan pasir silika sebagai bed material. Hal ini menunjukkan bahwa pasir sungai yang digunakan dalam percobaan ini dapat berfungsi dengan baik. Hasil ini juga menunjukkan jumlah pasir sungai sebagai bed material yang optimum untuk laju alir batubara 1,067 adalah 15 gram.

ke dalam gasifier. Batubara kemudian berreaksi dengan gas oksigen menjadi syngas. Syngas kemudian dimurnikan dan didinginkan melalui siklon, heat exchanger dan scrubber. Syngas kemudian dianalisis menggunakan gas kromatografi. Hasil percobaan menunjukkan pasir sungai dapat berfungsi baik sebagai bed material dalam proses pembuatan gas sintesis dari batubara dilihat dari komposisi syngas, konversi karbon dan efisiensi gasifikasi.

DAFTAR PUSTAKA Kubota, N., 2006. Development of Novel Low Rank Coal Gasifier “TIGAR”, dipresentasikan pada Seminar on Low Rank Coal Gasification, Badan Litbang Energi dan Sumber Daya Mineral, Jakarta, 16 Mei 2006. Kunii, D., dan Levenspiel, O., 1991. Engeneering Fluidization, second edition, ButterworthHeinemann Publishing, Stoneham, M.A. Nurhadi, dkk., 2006. Pembuatan Gas Sintesis dari Batubara dengan Teknologi Gasifikasi Unggun Terfluidakan, Puslitbang tekMIRA. Setiawan, B., 2008. Indonesia Coal Policy, APEC Clean Fossil Energy Technical and Policy Seminar in conjunction with 7th Coaltech, Jakarta 17 November 2008. Penner, S.S., 1987. Coal Gasification: Direct Application and Syntheses of Chemicals and Fuels, U.S. Department of Energy, Office of Energy Research, Washington.

4.

KESIMPULAN

Percobaan ini dimaksudkan untuk mengetahui unjuk kerja penggunaan pasir sungai sebagai bed material pada gasifikasi batubara sistem fluidized bed. Sebagai pembanding, dilakukan juga percobaan penggunaan pasir silika sebagai bed material. Percobaan dimulai dengan pemanasan bed material dalam gasifier menggunakan pemanas listrik. Sebagai media fluidisasi digunakan gas nitrogen. Setelah suhu gasifier mencapai 900°C, percontoh batubara dan gas oksigen dimasukkan

Penggunaan Pasir Sungai sebagai Bed Material pada Gasifikasi Batubara ... Nurhadi dan Slamet Suprapto

127

METODE PENGURANGAN EMISI MERKURI PADA PEMBAKARAN BATUBARA

Dra. Roza Adriany M.Si Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi Jl. Ciledug Raya Cipulir Kebayoran Lama Jakarta Selatan Telp. 021 - 7394422 ext 1552

SARI Pengurangan emisi Merkuri yang maksimal pada pembakaran batubara seperti pada boiler bergantung pada beberapa faktor yaitu jenis batubara, konfigurasi alat pengontrol emisi dan proses tambahan lain seperti penambahan senyawa Halogen, pencampuran 2 jenis batubara, serta penggunaan teknologi ACI (Activated Carbon Injection). Dalam tulisan ini akan ditinjau masing-masing faktor yang mempengaruhi jumlah emisi Merkuri, dan jenis senyawa Merkuri yang diemisikan (Merkuri dalam wujud uap logam, oksida Hg dan Partikulat) serta pengaruh lain seperti UBC (Unburn Carbon) dan SO2. Kata kunci : emisi merkuri, batubara, pengontrol emisi, senyawa halogen

1.

PENDAHULUAN

Emisi Merkuri yang dihasilkan dari pembakaran batubara seperti pada unit Boiler mendapat perhatian yang besar dari pemerhati lingkungan karena berpotensi merusak lingkungan dan menjadi ancaman bagi kesehatan makhluk hidup. Menurut data EPA (Environmental Protection Agency), di Amerika Serikat diperkirakan sekitar 51 ton Merkuri pertahun telah diemisikan ke udara oleh Pabrik yang menggunakan batubara sebagai sumber energi pembakaran. Jenis Merkuri yang diemisikan ke udara pun bervariasi yaitu dalam bentuk uap Merkuri (Hg°), Oksida Merkuri dan Partikulat. Uap Merkuri (Hg°) mempunyai waktu tinggal yang lama di udara yaitu bisa mencapai satu tahun, sehingga dapat menyebar pada jarak yang sangat jauh dari sumbernya. Ketika Hg° terdeposit di tanah atau air , maka dia dapat mengalami transformasi menjadi merkuri organik yaitu metil merkuri yang dapat memasuki rantai makanan seperti ikan. Merkuri yang berbentuk oksida (Hg2+), mempunyai waktu tinggal di udara hanya beberapa hari saja, disebabkan karena tingkat kelarutan yang tinggi dari Hg2+ di dalam uap air yang ada di udara (Senior 2001).

Berbagai teknologi untuk mengurangi emisi merkuri maupun polutan lain yang berasal dari pembakaran Batubara seperti pada unit Boiler telah banyak dikembangkan dan sampai saat ini penelitianpenelitian mengenai hal ini masih terus dilakukan. Walaupun konfigurasi metode atau alat pengontrol emisi telah digunakan, pada kenyataannya jumlah merkuri yang diemisikan masih cukup tinggi dan akan berbeda-beda dari satu Pabrik dengan Pabrik lainnya. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi jumlah emisi Merkuri antara lain adalah jenis batubara, konfigurasi alat pengontrol emisi dan proses tambahan lain seperti penambahan senyawa Halogen, pencampuran 2 jenis batubara, penggunaan teknologi ACI (Activated Carbon Injection) serta pengaruh lain seperti UBC (Unburn Carbon) dan SO2 (Institute of Clean Air Companies, 2006 dan Durham, 2005). Dalam tulisan ini akan ditinjau masing-masing faktor yang mempengaruhi jumlah emisi Merkuri, serta jenis senyawa Merkuri yang diemisikan (Merkuri dalam wujud uap logam, oksida Hg dan Partikulat).

128

PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009

2.

METODOLOGI

Tulisan ini dibuat berdasarkan data atau informasi yang diperoleh dari penelitian-penelitian yang telah dilakukan terutama oleh EPA (Environmental Protection Agency) 3. HASIL DAN PEMBAHASAN

jection) yaitu penginjeksian karbon aktif kering berbentuk bubuk ke dalam flue gas. ACI biasanya ditempatkan antara pemanas udara (air preheater) dan ESP (Electrostatic Precipitator) atau FF (Fabric Filter). 3.1.1 Teknologi “Co Benefits” Hasil penelitian pada Tabel 1, Tabel 2 dan Tabel 3 berikut menunjukkan bagaimana pengaruh konfigurasi alat pengontrol polutan terhadap jumlah Merkuri yang dibuang ke udara, untuk jenis batubara yang sama. Data diperoleh dari ICR (Information Collection Request) EPA (U.S Environmental Protection Agency, 2000). Dari Tabel 1 terlihat bahwa konfigurasi alat pengontrol polutan yang paling efisien untuk Batubara Bituminous adalah SDA/FF dengan jumlah Merkuri yang dibuang 1,78 %. Dari Tabel 2 terlihat bahwa konfigurasi alat pengontrol polutan yang paling efisien untuk Batubara Sub-Bituminous adalah CS/FF dengan jumlah Merkuri yang dibuang 27,57 %. Dari Tabel 3 terlihat bahwa konfigurasi alat pengontrol polutan yang paling efisien untuk Batubara Lignit adalah CS-ESP dan wet FGD Scrubber dengan jumlah Merkuri yang dibuang 62,52 %. Untuk jenis alat pengontrol polutan yang sama misalnya menggunakan CS-ESP, terlihat bahwa % jumlah emisi dari Batubara Lignit adalah yang paling tinggi yaitu 98,53% diikuti oleh SubBituminous 85,52% dan yang terendah adalah Bituminous yaitu 53,52%. 3.1.2 Teknologi ACI (Activated Carbon Injection) ACI (Activated Carbon Injection) adalah penginjeksian karbon aktif kering berbentuk bubuk ke dalam flue gas. ACI biasanya ditempatkan antara pemanas udara dan ESP atau FF (Durham, 2005 dan Praven, 2003). Hasil penelitian dari: Durham,M. “Tools for Planning and Implementing Mercury Control Technology”, menunjukkan bagaimana pengaruh kecepatan injeksi karbon aktif terhadap % Merkuri yang dapat dikontrol (distabilkan) dengan menggunakan 2 alat pengontrol polutan yaitu ESP dan FF untuk Batubara Bituminous dan Sub Bituminous, seperti tampak pada Gambar 1.

Faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah emisi merkuri Seperti telah dijelaskan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi jumlah emisi Merkuri pada pembakaran Batubara yaitu jenis Batubara, konfigurasi alat pengontrol emisi dan proses tambahan lain seperti penambahan senyawa Halogen, pencampuran 2 jenis batubara, penggunaan teknologi ACI (Activated Carbon Injection) serta pengaruh lain seperti UBC (Unburn Carbon) dan SO2. 3.1. Jenis Batubara dan Konfigurasi Alat Pengontrol Merkuri Teknologi pengontrol Merkuri pada dasarnya dibagi dalam 2 bagian: Pertama adalah teknologi yang di sebut “Co Benefits” yaitu teknologi yang sebenarnya didesain untuk mengontrol polutan lain selain Merkuri , seperti NOx , SOx dan bahan partikulat (PM) tetapi dalam hal ini dapat juga digunakan sebagai alat pengontrol Merkuri (Praven, 2003). NOx dapat dikontrol menggunakan SCR (Selective Catalytic Reduction). Selain berfungsi sebagai pengontrol NOx , SCR dapat juga digunakan sebagai pengontrol emisi Merkuri dengan cara mengoksidasi uap Merkuri menggunakan katalis SCR. SOx adalah polutan yang dikontrol menggunakan FGD (Flue Gas Desulfurization). Selain berfungsi sebagai pengontrol SOx, FGD dapat juga digunakan sebagai pengontrol emisi Merkuri dengan cara melarutkan oksida Merkuri di dalam air (U.S Environmental Protection 2003 dan Praveen, 2003). Bahan Partikulat (PM), baik yang berasal dari Partikulat Merkuri atau Partikulat lainnya dapat dikontrol dengan alat seperti CS-ESP, HS-ESP, FF dan PM Scrubber (U.S Environmental Protection Agency, 2000). Teknologi kedua adalah teknologi yang spesifik untuk Merkuri seperti ACI (Activated Carbon In-

Metode Pengurangan Emisi Merkuri pada Pembakaran Batubara ... Rosa Adriany

129

Tabel 1. Pengaruh konfigurasi alat pengontrol polutan terhadap jumlah merkuri yang dibuang ke udara untuk batubara bituminous. Jenis Batubara Bituminous Jenis Boiler PC Boiler Alat Pengontrol Polutan SDA/FF SCR dan SDA/FF CS-FF dan wet FGD Scrubber SNCR dan CS-ESP FF Wet FGD Scrubber HS-ESP-Wet FGD Scrubber CS-ESP DSI dan CS-ESP HS-ESP % Merkuri yang Dibuang ke Udara 1,78 2,44 3,59 9,1 16,90 18,77 44,95 53,52 55,11 87,98

Tabel 2. Pengaruh konfigurasi alat pengontrol polutan terhadap jumlah merkuri yang dibuang ke udara untuk batubara sub bituminous Jenis Batubara Jenis Boiler Alat Pengontrol Polutan CS-FF CS-ESP / SDA CS-ESP dan Wet FGD Scrubber HS-ESP dan Wet FGD Scrubber SDA/FF CS/ESP HS-ESP PM/Scrubber % Merkuri yang Dibuang ke Udara 27,57 62,06 64,88 67,38 74,60 85,52 86,54 85,57

Sub Bituminous PC Boiler

Tabel 3. Pengaruh konfigurasi alat pengontrol polutan terhadap jumlah merkuri yang dibuang ke udara untuk batubara lignit Jenis Batubara Lignit Jenis Boiler PC Boiler Alat Pengontrol Polutan CS-ESP dan wet FGD Scrubber PM-Scrubber SDA-FF CS-ESP dan FF CS-ESP
SDA DSI SCR FGD SNCR

% Merkuri yang Dibuang ke Udara 62,52 67,23 82,62 95,07 98,53
Particulate Collector) : Spray Dryer Absorber (Dry Scrubber) : Duct Sorbent Injection : Selective Catalytic Reduction : Flue Gas Desulfurization : Selective Non-Catalytic Reduction

PC FBC CS-ESP HS-ESP FF PM FF (COHPAC)

: Pulverized Coal : Fluidized Bed Combustor : Cold-Side Electrostatic Precipitator : Hot-Side Electrostatic Precipitator : Fabric Filter : Particulate Matter : Fabric Filter pilot unit (Compact Hybrid

130

PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009

Gambar 1.. umumnya menghasilkan Hg+2 dan Hgp yang lebih banyak di dalam flue gas dibandingkan dengan merkuri dalam bentuk Hgº (Zhuang. Pengaruh kecepatan injeksi karbon aktif terhadap % pengurangan merkuri Pada Gambar 1 terlihat bahwa untuk alat pengontrol ESP pada Batubara Bituminous. Klorin di dalam flue gas. Reaksi klorinasi ini dapat terjadi pada fasa yang sama (Homogen) maupun pada fasa yang berbeda (Heterogen). Pada studi lainnya ditemukan bahwa pada suhu di bawah 500 ºC reaksi oksidasi merkuri yang utama dilakukan oleh Cl2 bukan oleh atom Cl. Pada penggunaan alat pengontrol polutan ESP untuk jenis Batubara Sub Bituminous diperoleh hasil bahwa pengurangan emisi maksimum adalah sekitar 60% dan terjadi mulai dari kecepatan injeksi sekitar 7 lb/Macf.. FF mempunyai tingkat penangkapan Merkuri yang lebih tinggi dibandingkan ESP. 2003). Kandungan Klorin yang tinggi di dalam Batubara. kemungkinan hal ini disebabkan karena sensitifitas Cl2 yang lebih rendah dibanding Cl pada suhu tersebut. HCl tidak dapat mengoksidasi Hgº secara langsung melalui reaksi fasa gas yang Homogen . Hal ini kemungkinan disebabkan karena terbentuknya lapisan Karbon pada bagfilter sehingga penyerapan lebih maksimal (Praven. Dengan kata lain untuk mencapai 90% pengurangan Merkuri. 2006). atom Cl diperkirakan sebagai jenis Klorin yang paling dominan berperan dalam mengoksidasi merkuri secara Homogen (Zhuang.2. Pengaruh Penambahan Halogen Adanya senyawa Halogen seperti Klorin baik yang berasal dari Batubara maupun yang ditambahkan sebagai aditif dapat mempengaruhi oksidasi Merkuri (perubahan dari Hgº menjadi Hg+2 ) dan juga mempengaruhi perubahan Merkuri dari Hgº ke bentuk partikulat Merkuri (Hgp). pengurangan merkuri sampai dengan 90% dapat tercapai pada kecepatan injeksi karbon aktif sekitar 20 lb/Macf (million actual cubic feet) sedangkan untuk alat pengontrol baghouse (FF) untuk Batubara yang sama . Metode Pengurangan Emisi Merkuri pada Pembakaran Batubara . dapat berada dalam bentuk 3 senyawa yaitu sebagai atom Cl. molekul Cl2 dan sebagai HCl. Diantara berbagai jenis Klorin tersebut. 2006). Reaksi Heterogen adalah reaksi yang terjadi antara Klorin. UBC (Unburn Carbon) yang ada dalam abu terbang dengan Merkuri yang ada dalam flue gas. Rosa Adriany 131 . tetapi HCl merupakan jenis klorin yang utama di dalam flue gas yang dapat melakukan reaksi oksidasi melalui reaksi Heterogen dengan cara mempromosikan oksidasi Merkuri pada permukaan padatan (Zhuang. 3. 2003). Kenaikan kecepatan injeksi karbon aktif selanjutnya ternyata tidak dapat menaikkan persentase pengurangan Merkuri. 2006). diperlukan 5 kali lebih banyak penyerap karbon aktif bila menggunakan ESP dari pada FF. pemisahan merkuri sampai dengan 90% dapat tercapai pada kecepatan injeksi 4 lb/Macf (Praven.

Hasil penelitian Durham (2005) seperti tampak pada Gambar 2 berikut memperlihatkan pengaruh pencampuran batubara bituminous berkadar klorin tinggi (106 µg/g) dengan batubara sub bituminous berkadar klorin rendah (9 µg/g). Pengurangan emisi NOx umumnya dilakukan dengan berbagai strategi misalnya dengan memasang low-NOx burners. Alat pengontrol merkuri yang digunakan adalah SDA-FF. Dari Gambar 2 terlihat bahwa semakin bertambahnya komposisi batubara bituminous dalam campuran maka semakin besar persentase Hg yang dapat dipindahkan. Pengaruh Pencampuran 2 Jenis Batubara Salah satu metode alternatif dalam meningkatkan kemampuan penangkapan Merkuri adalah dengan mencampurkan 2 jenis Batubara yaitu Batubara yang mengandung Klorin atau Bromin yang tinggi dengan Batubara yang mengandung Klorin atau Bromin rendah. Dalam beberapa kasus dapat mencapai kenaikan hingga 20 % berat. 3. tetapi dengan konfigurasi alat pengontrol Merkuri diganti menjadi SDA-ESP maka diperoleh hasil dimana efek pencampuran kedua Batubara tidak signifikan dalam meningkatkan efisiensi penangkapan Merkuri. pengetahuan mengenai interaksi Fisika dan Kimia antara partikel Gambar 2. 3. Pengaruh pencampuran bituminous dengan sub bituminous terhadap persentase pengurangan emisi Hg 132 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . untuk komposisi pencampuran yang sama dari Batubara yang sama. melalui reaksi fasa gas yang Homogen. 2005). katalis SCR atau partikel yang diinjeksikan (Zhuang. Dengan demikian.4. klorinasi merkuri pada flue gas dapat berlangsung melalui tiga cara yaitu pertama. Penelitian dari Hasset dan Eylands membuktikan bahwa kenaikan kandungan UBC (Unburned Carbon) dan adanya penurunan suhu pembakaran akan menaikkan efisiensi penangkapan Merkuri di dalam abu terbang. Peningkatan kandungan UBC ini dikarenakan kondisi pembakaran yang kekurangan oksigen dan atau rendahnya suhu pembakaran (Zhuang. 2006). Jumlah UBC yang ada di dalam abu terbang dipengaruhi oleh penggunaan alat pengontrol polutan NOx yang digunakan. Dampak dari penggunaan teknologi ini adalah meningkatnya kandungan UBC yang ada di dalam abu terbang. Hal ini memperlihatkan bahwa konfigurasi SDA FF lebih baik dibanding SDA-ESF (Durham. Pada penelitian selanjutnya. dengan penambahan SCR atau dengan melakukan pemanasan bertingkat.Penelitian lain menunjukkan bahwa UBC dapat memfasilitasi perubahan HCl di dalam flue gas untuk membentuk pusat karbon terklorinasi. Bagaimanapun.3. melalui reaksi Heterogen dan yang ketiga melalui pembentukan pusat Heterogen yang dapat berupa permukaan padatan dengan kondisi yang sesuai seperti partikel UBC. 2006). Pengaruh dari UBC (Unburn Carbon) Pada umumnya kandungan karbon di dalam abu terbang berkisar antara 2-12%. kedua.

Asam Sulfat ini akan terakumulasi pada permukaan Karbon dan kemungkinan dapat menghambat adsorpsi Merkuri. Dengan demikian kapasitas Karbon aktif dalam mengadsorpsi Merkuri akan lebih tinggi pada saat kadar SO2 di dalam Flue gas lebih rendah. Jenis Batubara dan Konfigurasi Alat Pengontrol Merkuri Jenis batubara yang berbeda dan konfigurasi alat pengontrol Polutan yang berbeda dapat menghasilkan efisiensi penangkapan Merkuri yang berbeda. Hasil studi Durham menunjukkan bahwa untuk alat pengontrol ESP pada Batubara Bituminous.epa. Metode Pengurangan Emisi Merkuri pada Pembakaran Batubara . Dikarenakan konsentrasi SO2 di dalam Flue gas jauh lebih besar dibanding Merkuri maka kapasitas adsorpsi Karbon aktif bergantung pada konsentrasi SO2 yang dapat membentuk H2SO4 pada permukaan Karbon. pengurangan merkuri sampai dengan 90% dapat tercapai pada kecepatan injeksi karbon aktif sekitar 20 lb/Macf (million actual cubic feet) sedangkan untuk alat pengontrol baghouse (FF) untuk Batubara yang sama . 2003. www. Penambahan Halogen Adanya senyawa Halogen seperti Klorin baik yang berasal dari Batubara maupun yang ditambahkan sebagai aditif dapat meningkatkan oksidasi Merkuri (perubahan dari Hgº menjadi Hg+2 ) dan juga mempengaruhi perubahan Merkuri dari Hgº ke bentuk partikulat Merkuri (Hgp) 3. Institute of Clean Air Companies. 2005. 2006). Century: Impacts of Fuel Quality and Operations Engineering Foundation Conference. Metode pengurangan emisi Merkuri yang maksimal pada pembakaran batubara seperti pada boiler bergantung pada beberapa faktor antara lain: 1.. A. Rosa Adriany 133 . 2006. www.”Behaviour of Mercury in Air Pollution Control Devices on Coal-Fired Utility Boilers”. Mercury Transformations in Coal Combustion Flue Gas”. SO2 terhadap Karbon Aktif Kapasitas Karbon aktif dalam mengadsorpsi Merkuri akan lebih tinggi pada saat kadar SO2 di dalam Flue gas lebih rendah. www. U.undeerc. Pengaruh SO2 terhadap Karbon Aktif Karbon aktif dapat mengkatalisis SO2 menjadi H2SO4 di dalam Flue gas.UBC dengan Merkuri.icac. EPA/600/ R-03/110. Pencampuran dua jenis Batubara. 3. pada Sub Bituminous adalah CS-FF dan pada Lignit adalah CSESP dan wet FGD Scrubber.. masih kurang memadai (Zhuang.icac. “Electric Utility Steam Generating Units Hazardous Air Pollutant Emission Study (Mercury ICR). 2006. 2.S Environmental Protection Agency. 4. Praveen.D. Pencampuran 2 jenis Batubara yang mengandung Klorin atau Bromin tinggi dengan Batubara yang mengandung Klorin atau Bromin rendah dapat meningkatkan efisiensi penangkapan Merkuri. “Performance and Cost of Mercury and Multipollutant Emission Control Technology Aplication on Electric Utility Boilers”.com. 4.gov. KESIMPULAN DAFTAR PUSTAKA Durham. Y.com. www.org.. 2001. 2003.. “Mercury Emissions From Coal – Fired Power Plants”..epa.com. C.. Efisiensi penangkapan merkuri pada teknologi ACI bergantung pada kecepatan injeksi karbon aktif dan konfigurasi alat pengontrol polutan yang digunakan.5. “Enhancing Mercury Control on Coal-Fired Boilers with SCR. and FGD” . www.nescaum.S Environmental Protection Agency.reaction_eng. Oxidation Catalyst. U. UT. Senior. Zhuang.L. Hasil studi EPA seperti pada Tabel 1. 2000. Dalam hal ini adanya senyawa Halogen dalam jumlah yang cukup akan sangat membantu meningkatkan efisiensi penangkapan Merkuri (Zhuang. M.org. Snowbird. “Mercury Control for PRB and PRB/Bituminous Blends” www. pemisahan merkuri sampai dengan 90% dapat tercapai pada kecepatan injeksi 4 lb/Macf.gov. www. 2006). Tabel 2 dan Tabel 3 memperlihatkan bahwa pada Bituminous diperoleh konfigurasi alat pengontrol Polutan yang paling efisien adalah SDA/FF.

Institut Teknologi Bandung Jl.24 meter. lembah purba.000 kg (1. perairan utara Bangka 134 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . 10 Bandung. Ganesa No. Junjunan No. Di bagian selatan.000. data penting yang diperlukan untuk mengetahui keberadaan dan perhitungan volume sedimen mengandung potensi konsentrat timah adalah data seismik refleksi. potensi konsentrat timah. Jl. Jika dalam volume 1 m3 sedimen.000 m3. Ketebalan terbesar terdapat di bagian tengah daerah eksplorasi berkisar antara 16 . Balitbang ESDM. dan konsentrat timah. lembah-lembah purba ditunjukkan oleh bentuk morfologi cekungan pada permukaan granit yang terisi oleh sedimen dan konsentrat timah. Prinsip kerja metode seismik refleksi ini adalah pantulan gelombang suara yang dapat membedakan antara granit.30 meter.000 ha. mengandung rata-rata 3 kg konsentrat timah. memperlihatkan makin menebalnya sedimen ke arah utara (offshore) dengan ketebalan antara 10 . eksplorasi lebih rinci dan peningkatan investasi pertambangan di perairan Bangka Utara. sehingga diperoleh volume sedimen seluruhnya adalah 350.30 meter dan kedalaman batuan dasar adalah 65 meter sebagai pusat lembah. maka diperkirakan kandungan timah di daerah eksplorasi sekitar 1. Pada penampang seismik.050. Hasil perhitungan ketebalan rata-rata adalah 7 meter.000 ton). Dr.usman@gmail.050. Hasil interpretasi penampang seismik refleksi di perairan Bangka Utara menunjukkan ketebalan sedimen mengandung timah antara 2 . SARI Pada kegiatan eksplorasi konsentrat timah di laut. dan luas daerah eksplorasi sekitar 5.000. Hasil eksplorasi konsentrat timah menggunakan data seismik refleksi ini dapat menjadi acuan dalam kegiatan studi kelayakan.EKSPLORASI POTENSI KONSENTRAT TIMAH BERDASARKAN DATA SEISMIK REFLEKSI (STUDI KASUS PERAIRAN BANGKA UTARA) Ediar Usman1) dan Andri S. jenis dan ketebalan sedimen. ketebalan kurang dari 4 meter. Kata kunci: data seismik.com 2) Departemen Teknik Geologi. Jumlah kandungan konsentrat timah tersebut merupakan potensi ekonomis untuk ekploitasi konsentrat timah di daerah eksplorasi. 236 Bandung 40174 e-mail: ediar. Daerah pengendapan sedimen dan timah yang dapat diidentifikasi melalui data seismik adalah lembah-lembah purba (paleovalleys) yang terisi sedimen (channel fill) berbutir kuarsa berukuran sedang-kasar. bahkan di beberapa tempat membentuk bidang yang tipis dengan ketebalan kurang dari 2 meter. Sedimen dan timah tersebut berasal dari darat dan dari tubuh granit di laut melalui sungai-sungai purba (paleochannels). Sejalan dengan bertambahnya kedalaman laut. Subandrio2) 1) Pusat Eksplorasi dan Pengembangan Geologi Kelautan.

. The area of depositional of sediments and tin concentrate identified through seismic data is paleovalleys which filled by sediment. Keberadaan dan keterdapan konsentrat timah di laut memerlukan alat bantu yang memberikan keyakinan tentang volume dan potensinya. penyebaran sedimen dan morfologi granit. Sedimen berbutir kasar (coarse fluvial depos- Eksplorasi Potensi Konsentrat Timah Berdasarkan Data . In southern part of area.000 kg (1. diperkirakan di daerah ini terdapat lembah (paleo-channel) sebagai daerah sedimentasi pasir asal darat dan laut yang mengandung konsentrat timah. Survei seismik akan dapat memberikan gambaran tentang daerah akumulasi sedimen. type and sediment thickness. termasuk konsentrat timah. dan Subandrio. On seismic profile. perlu dilakukan eksplorasi geologi dan geofisika kelautan dengan menggunakan metode seismik pantul beresolusi tinggi (high resolution) (Usman. Result of interpretation on reflection seismic profiles in the territorial waters of North Bangka shows that the sediment thickness with ranges from 2 to 30 meters. 2008). the thickness is less than 4 meters. Result of seismic profile calculation. secara regional merupakan daerah jalur timah (tin belt) yang kaya dengan konsentrat timah. medium sand – very fine sand of quartz grain. Daerah sungai purba (paleochannel) dan lembah purba (paleovalley) bawah laut. yaitu: 1.050. dipantulkan oleh bidang batas batuan dan selanjutnya diterima oleh seperangkat peralatan seismik (receiver). wide of exploration area around 5. The principal of this reflection seismic method is sound wave reflection can differentiate between granite. more detail tin exploration and also increasing the mines investment in the territorial waters of North Bangka. Eksplorasi seismik dalam pelaksanaannya menggunakan seperangkat peralatan dengan menggunakan prinsip-prinsip gelombang suara yang dilepaskan ke dasar laut. Prinsip dasar seismik pantul beresolusi tinggi tersebut merupakan satu keterpaduan untuk mengetahui ketebalan. Berdasarkan metode seismik. sehingga dapat diketahui ketebalan dan lembah-lembah purba yang mengandung konsentrat timah. dapat ditetapkan target kegiatan eksplorasi dalam mengidentifikasi sedimen mengandung konsentrat timah. melalui penjalaran gelombang suara dalam media air dan batuan. the important data that are needed to know existence and calculation of sediment volume of tin concentrate reserve is reflection seismic data. Result of tin concentrate exploration by using the reflection seismic data can become reference on the activities of feasibility study. paleovalleys. ketebalan dan jenis sedimen.050. so that the sediment volume entirely is 350. 2.000 ton). Amount of the tin concentrate content represent the economic potency for the exploitation of tin concentrate in exploration area and its surrounding. yang merupakan tempat akumulasi mineral berat.000. On the contrary. PENDAHULUAN Perairan Kepulauan Bangka Utara. If on 1 m3 volume of sediment with content 3 kg of tin concentrate. and tin concentrate. the average of thickness approximately is 7 meters. the content estimation of tin concentrate in the exploration area around 1.000. territorial waters of North Bangka 1. tin concentrate potency.000 ha.000 m3. The thickest area lies in the center of survey area with depth ranges from 16 to 30 meters and depth of bedrock is 65 meters as central of paleovalley. Keywords: seismic data. Ediar Usman dan Andri S. the paleovalleys is shown by basin morphology form at surface of granite that are loaded by sediment and tin concentrate.. and in some places it even forms thin layer of less than 2 meters. The tranportation of sediment and tin from land and granite body in sea through paleochannel. Subandrio 135 . The sediment thickness in this area is estimated between 10 to 24 meters. Sebagai daerah jalur timah. the deeper sea tends to northwards and also correlated with thicker sediment. Sebagai langkah awal untuk mengetahui keberadaan sedimen mengandung timah tersebut.ABSTRACT At activity of tin concentrate exploration in the sea. Melalui pemahaman karakter pantulan seismik pada penampang seismik akan dapat diinterpretasi ketebalan sedimen dan morfologi granit.

Secara umum lokasi survei termasuk dalam perairan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung kerana letaknya di luar perairan kabupaten/kota yang berjarak di luar daerah 4 mil laut. batuan alas adalah granit yang kaya dengan butiran kuarsa dan mineral timah (Sn). yaitu sedimen yang prospek mengandung timah. Semenanjung Malaysia. GEOLOGI REGIONAL Kerangka geologi regional Kepulauan Bangka dan pulau-pulau di sekitarnya termasuk dalam Punggungan Bangka Belitung (Bangka-Biliton Ridge). 1980). Kepulauan Riau. Punggungan ini merupakan bagian dari jalur timah batuan granit (Tin Belt Granite) dari Kraton Sunda yang memanjang dari daratan Thailand. Batuan dasar granit ini muncul di sepanjang jalur timah yang mempunyai jenis berbeda-beda. Bangka-Belitung hingga Kalimantan Barat (Katili. 1980. Pulau Bangka yang dimasukkan pada Main Tin Belt Granite dan di Pulau Belitung termasuk pada Western Tin Belt Granite (Gambar 2). Perkembangan zona vulkanik Sumatera memperlihatkan bahwa granit Belitung berumur lebih tua (berumur Perem hingga Jura) (Lehmann Gambar 1. Sebagai dasar dalam penentuan titik pemboran inti untuk mengetahui kualitas dan kuantitas timah secara vertikal dan horizontal. Akumulasi mineral timah tidak jauh dari batuan sumber. Morfologi batuan alas (bedrock) sebagai batuan sumber mineral timah. Di perairan Bangka Utara dan sekitarnya. Daerah survei terletak di lepas pantai bagian utara Pulau Bangka. 4.its). Daerah ini merupakan tinggian batuan dasar berada di sebelah timur Cekungan Sumatera Selatan dan di sebelah utara Cekungan Sunda (Katili. 1983). Peta lokasi eksplorasi 136 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . 2. termasuk dalam wilayah perairan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung atau sekitar 7 km ke lepas pantai pada kedalaman laut 10 – 15 meter. Batchelor. 3.

Berdasarkan kerangka tektonik. Subandrio 137 . Platform tersebut dicirikan oleh morfologi batuan dasar yang dangkal dan ditutupi oleh sedimen yang tipis. Platform Singapura merupakan pemisah antara Paparan Sunda bagian utara dan Paparan Sunda bagian selatan. Secara fisiografis. 1990). Cakupan platform ini mulai dari Laut Natuna di bagian Utara dan batas bagian selatan dari platform ini adalah Punggungan Bangka-Belitung (Bangka-Biliton Ridge). diabas. dibandingkan granit di Bangka dan di daratan pulau Sumatera yang berumur Trias. yaitu: Paparan Sunda Bagian Utara. andesit dan granit) berumur mesozoik hingga akhir Kapur yang kemudian pada awal Miosen diintrusi oleh granit dari berbagai jenis (Ishihara. daerah survei termasuk bagian dari Platform Singapura. sehingga hasilnya berupa endapan aluvial dalam bentuk endapan pantai dan laut telah berjalan lebih intensif. Peta jalur granit regional Asia Tenggara (Batchelor.. perairan Bangka Utara terletak di Paparan Sunda (Sunda Shelf) yang secara tektonik telah stabil sejak awal Miosen. yaitu Depresi Bangka yang memanjang dengan arah barat laut – tenggara (sejajar dengan pantai Eksplorasi Potensi Konsentrat Timah Berdasarkan Data . Platform Singapura dan Paparan Sunda Bagian Selatan (Laut Jawa). Sedimen Kenozoik di platform ini hanya sampai ketebalan 500 meter. 1977). Hal ini memberi informasi bahwa proses erosi pada tinggian-tinggian granit di daerah Bangka Belitung juga telah berjalan cukup lama. Paparan Sunda dapat dibedakan menjadi tiga bagian (Tjia. 1983) and Harmanto. Basement dari platform ini sebagian besar terdiri atas batuan beku (gabro.. juga dicirikan oleh tubuh-tubuh batuan dasar kecil yang memiliki kecepatan seismik tinggi. Pada platform ini terdapat dua depresi cekungan sedimen yang memiliki ketebalan sedimen lebih dari 800 meter. Ediar Usman dan Andri S. dicirikan oleh grafik anomali magnetik yang tajam dan oleh grafik gravitasi yang agak halus (smooth). Berdasarkan peta struktur pada top dari morfologi batuan dasar.Gambar 2. 1970).

Sumatera) dan Depresi Belitung yang memanjang berarah utara-selatan (sejajar dengan pantai barat Kalimantan). Di daerah survei, Punggungan Bangka-Belitung terdapat di bagian barat daya dan Depresi Bangka memotong bagian tengah daerah eksplorasi dengan arah barat laut - tenggara. Pulau Bangka merupakan bagian ujung selatan dari Platform Singapura dan terletak paling dekat dengan daerah eksplorasi. Pulau ini umumnya merupakan daerah yang hampir rata dan secara geologis dapat mewakili tataan geologi Platform Singapura, khususnya geologi Punggungan Bangka-Balitung dan umumnya untuk tataan geologi daerah eksplorasi. Secara geologis, Pulau Bangka berbeda dengan Pulau Sumatera, karena batuan tertua yang tersingkap di Pulau Bangka adalah Kompleks Pemali dari batuan metamorfik yang berumur Permo-Karbon. Kompleks ini diterobos oleh diabas Penyabung berumur Permo – Triasik. Geologi lepas pantai sekitar perairan Bangka Utara merupakan kelanjutan dari kondisi geologis Kepulauan Bangka Belitung. Batuan dasar berupa batuan magmatis granit maupun batuan beku lainnya, terbentang di atasnya sedimen PraTersier, dan tertutup oleh endapan marin yang merupakan sedimen permukaan dasar laut. Geologi lepas pantai dari hasil rekaman seismik pantul dangkal dan pemboran di Selat Gaspar di Tanjung Beriga, menunjukkan empat kelompok batuan sedimen yang diendapkan sampai umur Miosen (Batchelor, 1983), yaitu: a. Aluvium muda teridiri dari, sedimen penutup muda berumur Holosen dan Kompleks Aluvium berumur Plistosen Akhir. b. Unit Transisi terdiri atas sedimen laut, berumur Plistosen Akhir dan Unit Transisi berumur Plistosen Tengah. c. Sedimen penutup purba, berumur Plistosen Awal sampai Akhir terdiri atas fasies dataran aluvium purba dan menjemari dengan fasies kipas (sedimen bongkah granit). d. Regolit Daratan Sunda terdiri atas endapan koluvial dan materi kipas, berumur Pliosen dan latosol, laterit serta bauksit berasal dari pelapukan batuan dasar (granit dan batuan sedimen), berumur Miosen Akhir. Kepulauan Singkep Tujuh hingga Belitung berpotensi akan endapan kasiterit letakan. Secara

geologis, genesisnya merupakan sistem letakan lembah (placer valley systems). Sistem ini erat kaitannya dengan perubahan muka air laut (sea level changes) yang terjadi selama Plio-Plistosen (Yoo and Park, 2000), dan memengaruhi kondisi geologis saat ini, baik yang berada di daerah daratan maupun di daerah lepas pantai, khususnya daerah granit Sengkeli, Pering dan Lenggang. Perubahanperubahan muka air laut di masa lampau yang mencapai ± 100 meter ini setidaknya menyebabkan terjadinya tiga kali proses erosional (erosional events), yakni proses erosi, akumulasi sedimen rombakan dan tertutup oleh lapisan sedimen Resen. Perubahan muka air laut ini juga memengaruhi Paparan Sunda, khususnya Laut Jawa dan Selat Karimata saat ini, yakni membentuk alur-alur sungai purba, seperti yang teridentifikasi oleh Emery dan Aubrey (1972) (Gambar 3). Pada aluralur sungai purba ini dipercayai mengandung potensi sumber daya mineral yang merupakan endapan plaser. Berdasarkan kondisi regional, potensi konsentrat timah di perairan Bangka Utara sampai saat ini belum diketahui secara pasti karena keterbatasan data eksplorasi secara rinci dan publikasi terdahulu. Data yang ada masih bersifat regional, dan masih memerlukan kajian-kajian yang lebih terpadu dari berbagai publikasi dan eksplorasi timah terdahulu. Kajian potensi saat ini mengacu pada data geologi dan sungai-sungai purba regional di daerah eksplorasi, khususnya di utara Pulau Bangka (Gambar 3). Kegiatan eksplorasi dan penambangan timah saat ini mengacu pada sistem penyebaran sungai dan lembah purba. Kegiatan survei seismik dilakukan untuk mengidentifikasi keberadaan lembah dan sungai purba serta cabang-cabangnya yang berukuran lebih kecil, tetapi diyakini sebagai pembawa konsentrat timah. Berdasarkan geologi regional dan distribusi sungaisungai purba tersebut dapat diperikirakan penyebaran sedimen mengandung timah di perairan Bangka Utara. Secara umum, sedimen akan mengalami proses transportasi dari darat ke laut melalui sungai-sungai purba dan menyebar dalam bentuk limpahan secara lateral dan vertikal (progradation) ke morfologi cekungan di laut. Pada umumnya, sungai-sungai purba tersebut tertutup oleh sedimen Resen yang lebih muda. Untuk itu, eksplorasi timah berdasarkan metode seismik di

138

PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009

Gambar 3. Peta distribusi sungai-sungai purba (paleo-channel) di perairan Bangka sebagai daerah aliran sedimen mengandung konsentra timah (disederhanakan dari Emery, 1972)

perairan Bangka Utara diharapkan dapat menemukan lembah dan sungai purba sebagai indikasi awal keberadaan timah.

3.

METODE EKSPLORASI

Geologi bawah permukaan dasar laut (struktur dan batuan) disusun berdasarkan penafsiran data seismik pantul dengan menggunakan prinsipprinsip Seismik Stratigrafi, yaitu pengenalan terhadap ciri-ciri reflektor batas atas, batas bawah dan bagian dalam (internal reflector) setiap unit seismik (Sangree & Wiedmier, 1979; Sherif, 1980). Interpretasi lapisan sedimen mengandung konsentrat timah adalah daerah yang dekat dengan batuan sumber (bedrock), membentuk lembah sebagai akumulasi daerah dengan berat jenis tinggi dan litologinya adalah coarse fluvial deposits (sedimen fluvial berbutir kasar) atau disebut sedimen Kuarter. Selanjutnya, guna memastikan sedimen mengandung konsentrat timah, data seismik dikorelasi dengan data pemboran sehingga

diperoleh gambaran menyeluruh tentang potensi konsentrat timah di daerah eksplorasi. Data tersebut kemudian diolah secara digital untuk mendapatkan volume endapan dan selanjutnya dapat diperhitungkan potensi konsentrat timah. Pengambilan data seismik di perairan Bangka Utara gunanya untuk mengetahui ketebalan lapisan sedimen Kuarter, lembah dan saluran (channels) pada batuan dasar. Lembah dan saluran di bawah dasar laut atau pada batuan dasar akan terlihat dari pola kontur kedalaman batuan dasar tersebut. Perhitungan ketebalan sedimen dan kedalaman granit berdasarkan atas perhitungan dengan persamaan: S = V x t, di mana S adalah jarak, V kecepatan gelombang dalam sedimen V.sed) dan t adalah waktu. Kecepatan gelombang dalam sedimen dengan V.sed = 1600 meter/Sec. (Hubrol et al., 1980; Khesin et al., 1995). Pada eksplorasi ini dipergunakan sapuan (sweep) adalah 0,25 Sec. dan firing rate adalah 1 Sec. Total sapuan seismik adalah 250 milli Sec. dalam Two Way Traveltime (TWT) atau 125 milli Sec. dalam One Way

Eksplorasi Potensi Konsentrat Timah Berdasarkan Data ... Ediar Usman dan Andri S. Subandrio

139

Traveltime (OWT). Selanjutnya setelah diperoleh ketebalan sedimen, dan luas daerah eksplorasi 5000 ha dapat dihitung volumen sedimen berdasarkan metode Trapezoidal dan Simpson’s Role dengan rumus luas kali tebal secara digital. Volume juga dapat dihitung berdasarkan luas dan tebal rata-rata.

Hasil interpretasi rekaman seismik di daerah survei diperoleh pola reflektor yang menunjukkan batuan sedimen dengan ciri-ciri di bagian atas adalah selaras (concordance), laminasi sejajar, bergelombang terputus-putus, perlapisan terpotong-potong. Bagian bawah membentuk pengisian, longsoran, dan bidang ketidakselarasan. Pada penampang seismik Lintasan 36 (LINE 36) berarah barat – timur menunjukkan batas yang tegas antara batuan sedimen di bagian atas dan granit di bagian bawah. Pada penampang tersebut juga menunjukkan adanya daerah lembah purba yang berbentuk cekungan pada permukaan granit dan terisi oleh sedimen. Pada cekungan tersebut pengisian oleh sedimen hasil transportasi dari darat dan dari tubuh granit di laut. Pada penampang Lintasan 36 (LINE 36) (Gambar 4) dengan arah lintasan barat – timur dan hasil interpretasinya (Gambar 5) memperlihatkan keberadaan lembah berada di bagian timur daerah survei makin dalam ke arah utara. Di bagian barat tersebut, keberadaan lembah lebih dangkal dan tipis, tetapi berdasarkan bentuk reflektor yang masih menunjukkan ciri-ciri bergelombang terputus-putus, perlapisan terpotong-potong, longsoran dan pengisian diperkirakan di bagian barat lebih kasar dibandingkan dengan bagian timur. Di bagian timur ditandai oleh hilangnya pantulan di bagian lembah, sebagai akibat gelombang seismik melalui madium yang halus (kaolin) atau medium yang kasar (kerikil) yang berongga dengan kandungan air yang tinggi. Antara batuan dasar sebagai batuan alas dengan sedimen Kuarter di bagian atas dipisahkan oleh suatu bidang pepat erosi. Bidang tersebut mengalasi sedimen yang dibedakan dari perbedaan ciri-ciri reflektor. Secara umum ciri-ciri reflektor pada penampang barat – timur seperti contoh pada L-36 mempunyai kesamaan dengan ciri-ciri pada penampang lainnya yang menggambarkan batuan alas di bagian bawah dan sedimen Kuarter di bagian atas sebagaimana yang dikemukakan oleh Ringis (1993). Bila dikaitkan dengan kondisi geologis dasar laut regional, sumber sedimen-sedimen tersebut adalah granit terdekat yang mengalami erosi yang intensif. Setelah seluruh lintasan seismik diinterpretasi, dan dilakukan perhitungan ketebalan berdasarkan kecepatan gelombang dalam sedimen (V.sed = 1600 m/det) dan waktu penjalaran gelombang to-

4.

HASIL EKSPLORASI

Ketebalan Sedimen dan Kedalaman Lembah Purba Ketebalan sedimen diperoleh dari hasil interpretasi rekaman seismik yang dilakukan berdasarkan pengenalan terhadap ciri-ciri reflektor. Pengenalan lainnya adalah kenampakan batas antara sedimen dan batuan dasar yang ditandai oleh penguatan reflektor sebagai bidang batas (Sukmono, 1999; Priyono, 2000). Batuan sedimen umumnya berukuran lempung, lanau, pasir dan kerikil dengan ciri-ciri reflektor adalah selaras (concordance), laminasi sejajar, bergelombang terputus-putus (wavy), perlapisan terpotong-potong (hummocky), longsoran (slump) dan pengisian (channel fill). Batas antara granit dengan sedimen Kuarter membentuk bidang ketidakselarasan atau pepat erosi (erosional truncation) atau kontak onlap (Sangree and Wiedmier, 1979; Sherif, 1980). Sedangkan ciriciri reflektor granit sebagai batuan alas/dasar pada penampang seismik adalah berbukit-bukit (mounded), berbintik-bintik kacau tidak beraturan (chaotic), kadang-kadang muncul perulangan bidang pantulan (multiple) dan makin ke bawah bebas pantulan (free reflektor) (Ringis, 1993). Adanya pola choatic dan multiple menunjukkan gelombang melalui medium yang keras dan padat berupa batuan tanpa bidang perlapisan. Ciri-ciri seperti ini dapat diinterpretasikan sebagai batuan alas dan antara keduanya dipisahkan oleh bidang ketidakselarasan (erosional truncation). Bagian paling bawah sering disebut sebagai Acoustic Basement dan sekaligus juga merupakan batuan dasar. Di perairan Bangka-Belitung, batuan alas adalah granit (Batchelor, 1983); sedangkan hilangnya pantulan gelombang (free reflektor) dapat juga disebabkan oleh adanya medium yang halus (ada organik), porous dan berongga. Pada batuan beku tidak memberikan respon seismik, karena batuan tidak berlapis dan bersifat homogen (Boggs, 2006).

140

PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009

tal pada total penampang seismik adalah 0,125 Sec, diperoleh ketebalan sedimen. Selanjutnya, setelah seluruh lintasan diinterpretasi dan dihitung ketebalannya, dan data ketebalan tersebut diplot

pada peta kerja dengan menarik kontur yang mempunyai angka ketebalan yang sama, maka akan menghasilkan peta ketebalan sedimen (isopach) (Gambar 6).

Gambar 4. Penampang seismik pantul Lintasan 36 (LINE 36) dengan arah Timur - Barat

Gambar 5. Hasil interpretasi rekaman seismik pantul Lintasan 36 (LINE 36) dengan arah Timur – Barat

Eksplorasi Potensi Konsentrat Timah Berdasarkan Data ... Ediar Usman dan Andri S. Subandrio

141

morfologi granit dan kedalaman lembah purba digambarkan oleh garis kontur kedalaman batuan dasar. menunjukkan adanya sedimen Resen dengan proses sedimentasi ke bagian atas dan tidak berhimpitan dengan lembah atau sungai purba. Sejalan dengan bertambahnya kedalaman laut. Di bagian selatan. Tetapi bila ketebalan sedimen dengan kontur yang rapat tidak berhimpitan dengan morfologi lembah. sehingga dapat dikembangkan lebih lanjut untuk eksplorasi lebih rinci. Selanjutnya.Gambar 6. maka kondisi ini menujukkan bahwa sedimen tersebut menebal ke arah bawah. Makin menipisnya sedimen di bagian selatan disebabkan makin mendekat ke arah pantai dengan batuan dasar yang lebih dangkal.30 meter. Selanjutnya. bahkan di beberapa tempat membentuk bidang yang tipis dengan ketebalan kurang dari 2 meter. Secara genesis. berarti penebalan ke bagian atas membentuk gosong pasir. 142 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .30 meter.25 meter. lembah purba pada penampang seismik dikenal sebagai pengisian lembah. Pada penampang seismik. peta ketebalan sedimen tersebut ditumpangtindihkan dengan peta morfologi batuan dasar. Hasil pengukuran ketebalan sedimen diperoleh ketebalan berkisar antara 2 . ketebalan kurang dari 4 meter. Bagian paling tebal terdapat di bagian tengah daerah eksplorasi berkisar antara 16 . Bila ketebalan tersebut tepat pada morfologi lembah pada batuan dasar. Peta ketebalan sedimen (isopach) perairan utara Bangka Pada bagian kontur yang rapat menunjukkan ketebalan sedimen lebih besar. Pada daerah morfologi lembah pada batuan dasar tersebut merupakan daerah yang mempunyai volume sedimen yang besar dan prospektif konsentrat timah yang besar. Penebalan ke bagian atas. memperlihatkan makin menebalnya sedimen ke arah utara dengan ketebalan antara 10 .

dasar akustik tersebut diinterpretasikan sebagai batuan dasar (bedrock). Subandrio 143 . terdapat kedalaman lembah purba antara 50 .65 Secara umum. Sedangkan di bagian selatan. morfologi batuan dasar relatif datar dengan kedalaman antara 20 . yaitu granit (Gambar 7).40 meter. pada umumnya kedalaman lembah purba antara 20 . berkisar antara 60 . Estimasi Volume Sedimen dan Potensi Konsentrat Timah Selanjutnya. untuk mendapatkan kandungan sedimen di daerah eksplorasi adalah Vol = luas x Gambar 7. Peta morfologi batuan dasar (granit) di perairan Bangka Utara meter. tebal.795.412. Ediar Usman dan Andri S. disebut sebagai basement top. Metode yang dipergunakan dalam penghitungan volume/potensi adalah Trapezoidal dan Simpson’s Role diperoleh volume sedimen perairan utara Bangka adalah antara 353. Bagian terdalam lembah purba tersebut terletak di bagian tengah.688.982.35 meter... Metode lainnya sebagai koreksi dilakukan secara Eksplorasi Potensi Konsentrat Timah Berdasarkan Data . Kondisi ini disebabkan karena di bagian selatan makin menuju ke arah perairan pantai Pulau Bangka sebagai pusat granit. Di bagian utara kedalaman batuan dasar bervariasi dan bersifat setempat-setempat. Lembah-lembah purba ditunjukkan oleh kontur yang rapat dan bulat mamanjang relatif barat – timur.kedalaman batuan dasar merupakan bagian permukaan dari dasar akustik gelombang seismik (basement accoustic).79397 m3.60 meter.24723 – 354. Berdasarkan pemahaman geologi regional. kedalaman batuan dasar di bagian selatan makin dangkal dibandingkan bagian utara. Di bagian barat laut.

PEMBAHASAN survei. Di bagian tengah kedalaman lembah berkisar antara 60 . Hasil perhitungan secara digital dan manual tersebut tidak menunjukkan perbedaan yang terlalu besar. maka diperoleh volume sedimen 350.60 meter.000 ton). 5. alur sungai purba di daerah survei tersebut merupakan cabang dari sistem alur purba regional Hasil interpretasi seismik dan kedalaman batuan dasar dapat dilakukan proses rekonstruksi lokasi dan penyebaran sungai-sungai purba di daerah Gambar 8.000 m3.000 kg (1. Berdasarkan posisinya terhadap sungai purba regional. dan diperkirakan keduanya sebagai pusat atau muara dari aliran sungai purba yang juga merupakan pusat pengendapan sedimen mengandung konsentrat timah. Alur sungai purba hasil interpretasi seismik sebagai daerah aliran dan pengendapan sedimen mengandung konsentrat timah di daerah survei 144 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . selatan dan timur mempunyai arah yang bervariasi (Gambar 8).sederhana dengan menghitung ketebalan rata-rata pada penampang seismik dan luas daerah eksplorasi. Sungai-sungai purba tersebut melewati beberapa lembah-lembah purba. Alur sungai purba di bagian tengah tersebut berarah dari barat ke timur. dan di bagian barat laut berkisar antara 50 . dan dua di antaranya merupakan lembah purba terdalam dan terbesar di daerah survei.000. maka total kandungan timah adalah 1. Jika setiap 1 m3 mengandung rata-rata 3 kg timah (Usman and Subandrio. dan di bagian barat laut dari arah timur ke barat. 2008).050. Jika luas daerah eksplorasi adalah 5000 ha (dihitung pada program MapInfo) dan ketebalan rata-rata berdasarkan hasil perhitungan pada penampang seismik sekitar 7 meter.65 meter.050.000. Sedangkan alur-alur yang berukuran lebih kecil di bagian tengah. Dua lembah purba tersebut terletak di bagian tengah dan bagian barat laut.

. Data ini juga akan menjadi arahan dalam menentukan daerah akumulasi sedimen mengandung konsentrat timah. sejak sekitar 1. K. Sejak dimulainya pencairan es di kutub pada awal Plistosen tersebut. identifikasi sungai dan lembah purba akan mempermudah dalam perencanaan kegiatan eksplorasi rinci dan studi kelayakan. dan di bagian selatan. Emery. Volume sedimen berdasarkan perhitungan Grid Volume Computations adalah antara 353.O. merupakan periode awal proses sedimentasi di Paparan Sunda (Yoo and Park. memperlihatkan makin menebalnya sedimen ke arah utara dengan ketebalan antara 10 .1. Springer- 6.79397 m3. diikuti oleh pembentukan alur-alur purba yang mengerosi batuan dasar berupa granit membentuk sedimen yang kaya mineral kuarsa dan konsentrat timah (Batchelor. 2000). Di samping itu. Principles of Sedimentology and Stratigraphy.000.8 juta tahun. S. Proses pengendapan sedimen tersebut telah berlangsung cukup lama. hasil data seismik dapat menggambarkan kondisi vertikal dan lateral granit sebagai batuan sumber sedimen dan konsentrat timah. Periode ini merupakan masa iklim dingin global yang ditandai terjadinya peningkatan pembentukan es di kutub.yang bermuara di Laut China Selatan.35 meter. B.688. Di bagian utara kedalaman batuan dasar bervariasi antara 20 .000 m 3 . Hasil eksplorasi ini telah dapat menggambarkan kondisi yang dimaksud dan menjadi dasar dalam eksplorasi berikutnya. dan batuan di daratan Paparan Sunda mengalami proses pelapukan dan erosi (Zaim. Of Geology. Dept. Sedangkan berdasarkan perhitungan manual diperoleh sebesar 350. terdapat di perairan Laut Jawa.. Jr. Sea Levels. D. Kondisi ini juga akan mempermudah. berkisar antara 60 ..40 meter. Hasil perhitungan antara Computations dan manual menunjukkan volume yang hampir sama dan perbedaan yang tidak terlalu besar. 1972). Alur purba terbesar di Paparan Sunda. 2000) dan Laut Jawa. di bagian selatan disebabkan makin mendekat ke arah pantai dengan batuan dasar yang lebih dangkal. University Malaya. sehingga sungai-sungai purba tertutup oleh sedimen (Zaim. ketebalan kurang dari 4 meter. dan di utara perairan Bangka Belitung yang bermuara ke Laut China Selatan (Emery and Aubrey.24723 – 354. Makin menipisnya sedimen Eksplorasi Potensi Konsentrat Timah Berdasarkan Data . 1983). estimasi volume sedimen dan potensi konsentrat timah. Data ini akan menjadi dasar dalam eksplorasi yang lebih rinci. and Tide Gauges.982. studi kelayakan. Di bagian selatan.D. Kedalaman lembah purba menunjukkan bagian terdalam terletak di bagian tengah. Late Cenozoic Coastal and Offshore Stratigraphy in Western Malaysia and Indonesia. 1972. sehingga akan menambah akurasi keberhasilan dalam survei-survei berikutnya.65 meter dan di bagian barat laut kedalamannya antara 50 . Land Levels. kedalaman batuan dasar di bagian selatan makin rendah dibandingkan bagian utara karena di bagian selatan makin menuju ke arah daratan Pulau Bangka sebagai pusat granit. Pada eksplorasi yang menggunakan metode seismik pantul.24 meter. Pada saat penurunan permukaan laut. kedalaman antara 20 . Ketebalan sedimen dan lembah purba merupakan bagian terpenting dari kegiatan eksplorasi konsentrat timah. Pearson Prentice Hall..8 juta tahun lalu (Yoo and Park. KESIMPULAN Ketebalan sedimen berkisar antara 2 . Akibatnya. bagian paling tebal terdapat di bagian tengah daerah antara 16 . Sedimen yang menutupi sungai-sungai purba. Thesis Ph.412. Kuala Lumpur. sehingga memungkinkan proses pengendapan terjadi yang membentuk lapisan sedimen yang cukup tebal mencapai 30 meter. DAFTAR PUSTAKA Boggs. di beberapa tempat kurang dari 2 meter. New Jersey: 618 pp..795.30 meter.30 meter. Sistem ini erat kaitannya dengan penurunan permukaan laut yang terjadi di Paparan Sunda selama periode PlioPlistosen atau sekitar 2 .. 2006. 1983. dan adanya jejak lembah-lembah purba yang terbentuk sejak awal Plistosen di daerah survei dapat diamati secara langsung melalui rekaman seismik pantul. Subandrio 145 . 1996).60 meter. Sejalan dengan bertambahnya kedalaman laut.G. and Aubrey. Batchelor.C. Secara umum. suluruh wilayah laut di Paparan Sunda termasuk di Selat Malaka dan Laut Jawa mengalami proses kekeringan. seperti eksplorasi lanjut. mempercepat waktu dan menghemat biaya dalam survei-survei berikutnya. 1996). Ediar Usman dan Andri S.

Lehmann. 1970.35-144. and Harmanto. 1993. 2000. Zaim. Cipanas. High Resolution Seismic Study as a Tool for Sequence Stratigraphic Evidence of High Frequency Sea Level Changes: Latest Pleistocene-Holocene Example from Korea Strait. A. Interpretation Facies from Seismic Data.: 237pp.V. 1990. South East Asia. S. Ishihara. 1995. Kluwer Academic Publishers. and Krey. Jakarta: 271 pp. Belitung Island.E. Penerbit ITB.. Interpretasi Geologi Seismik.G. Sangree. A Modern View. Eppelbaum. 1980. London: 352 pp. B. J. R.. Diktat Kuliah Program Pasca Sarjana Geologi dan Geofisika Institut Teknologi Bandung. T. Geophysic 44(2): 131 pp. CCOP Publication. Intern Report: 90 pp. Shallow Seismic Imaging for Paleo-Channel Mapping Related To Tin Prospecting On Tanjung Penyusuk Offshore. P. S. Khesin. J. and Subandrio. 49(2): p. Hubrol. J. and Park. International Human Resources Development Corporation. Northern Bangka..A. Makalah PIT Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (PIT IAAI) ke-VII. 1977. Western Geophysical Company. Priyono. Large Scale Tin Depletion in the Tanjung Pandan Tin Granite. Interval Velocities from Seismic Reflection Time Measurements.. of Mining Geol. 85: 99-111. Jour. E.S. and Wiedmier.M.. Alexeyen. 2008. Indonesia. Directorate General of Mines. Texas USA: 203 pp. 1980. Geol. Econ. Stratigrafi Kuarter di Indonesia: Pengaruh Perubahan Muka Laut Global Kala Plistosen Terhadap Penyebaran dan Lingkungan Hidup Manusia Purba di Jawa...C. J. Ringis. S. Mijnbouw. 255 hal. Joint Exploration of MGI – APMR/APRI. 146 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .D..B. Journal of Sedimentary Research. Jurusan Geofisika Institut Teknologi Bandung.. Sukmono. V. Usman. H. Tjia. A. 70(2): 296-309. Geol. Katili. Deposit Models for Detrital Heavy Minerals on East Asian Shelf Areas and the Use of High Resolution Seismic Profiling Techniques in Their Exploration. The Magnetite Series and Ilmenite Series Granitic Rocks. 1996.. Sherif.. Seismic Stratigraphy... Interpretasi Seismik Refleksi. 27: 293-305.. Yoo. Quaternary Shorelines of the Sunda Land. 1979. D.. Geotectonics of Indonesia. 1980.E. Bandung: 269 hal. Interpretation of Geophysical Fields in Complicated Environments.Verlag Pub. B. 1999. Boston: 222 pp.. Y. 2000.

baik dilihat dari jenis (komposisi kimia. menengah (subbituminus) dan tinggi (bituminus-antrasit).0% NK d” 4. yaitu : 5. terutama untuk mendukung proses industrialisasi.623.6030483 Fax. Batubara mutu rendah adalah batubara yang memiliki nilai kalor < 5.0 % Empat parameter atau lebih : 8.5 % Parameter Lignit : 7. Dari hasil kajian yang telah dilakukan melalui model simulasi dengan menggunakan 4 (empat) parameter.100 kkal/kg.6038027 e-mail : rochman@tekmira.5 % b) Alternatif II : Dua atau tiga parameter : 10. kandungan abu >17%. sulfur.id. Jenderal Sudirman No. yaitu 104. 40211 Telp. 022 . Batubara sebagai salah satu sumber energi jumlahnya sangat besar. maseral dan sifat fisik) maupun peringkatnya yaitu rendah (lignit). bukin@tekmira. datin@tekmira.id SARI Energi mempunyai peranan yang sangat penting dalam pembangunan nasional yang berkelanjutan.PENETAPAN NILAI BAGI HASIL ATAS PRODUKSI BATUBARA MUTU RENDAH Rochman Saefudin.id.esdm.600 kkal/kg : 7.go. dkk.0 % Parameter Lignit : 7. ijang@tekmira.esdm. yaitu nilai kalor.id. Bukin Daulay Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. dan natrium. baik di dalam usaha penambangan. Agar pengusahaan batubara mutu rendah bisa ekonomis. Bandung.go. maka diusulkan 3 (tiga) alternatif nilai bagi hasil untuk batubara mutu rendah sebagai berikut : a) Alternatif I : Dua atau tiga parameter : 10. namun dari jumlah batubara tersebut sebagian besar merupakan batubara bermutu menengah dan bermutu rendah yang kurang ekonomis bila diusahakan.0 % c) Alternatif III : Dua. Ijang Suherman.Umar. 022 . dan kandungan sulfur >2% dalam air dried basis (adb). Rochman Saefudin. perlu ditetapkan nilai bagian pemerintah atas produksi batubara mutu rendah dari pengusahaan(PKP2B) supaya bisa bersaing dengan batubara mutu baik.100 kkal/kg < NK > 4.8 miliar ton dengan mutu yang sangat bervariasi. Datin F.0 % Empat parameter atau lebih : 8. tiga atau empat parameter : 9. abu.esdm.go. nilai bagi hasil Penetapan Nilai Bagi Hasil atas Produksi Batubara Mutu Rendah.esdm. Batubara sebagai salah satu sumber energi dapat berfungsi sebagai bahan bakar dan bahan baku. 147 .5 % d) Alternatif IV : Membagi nilai bagi hasil batubara mutu rendah berdasarkan nilai kalornya (NK).5% Kata kunci : batubara mutu rendah.600 kkal/kg : 9.go. maupun pemanfaatannya sebagai bahan bakar atau bahan baku.

5% Keywords: low-rank coal (LRC). PENDAHULUAN Meningkatnya peran batubara sebagai pemasok energi di masa mendatang membuat industri ini memiliki daya tarik yang sangat besar bagi para investor tak terkecuali di Indonesia.4%. ash content of >17% and sulphur content of >2% in air-dried basis (adb).5 % b) Alternative II 2 or 3 parameters : 10. atau meningkat 4 kali lipat (392%). can function as fuel and raw material.ABSTRACT Energy has a main role in the sustainable national development to particularly support the industrialization process. which is 104.100 kcal/kg < CV > 4. Indonesia sendiri mengalami pertumbuhan konsumsi batubara yang cukup pesat dalam beberapa tahun terakhir. However. subbituminous. The LRC has a calorific value of <5.0 % Lignite parameter : 7.545 juta ton pada 2008. dari jumlah cadangan batubara Indonesia sebesar 104.5 % Lignite parameter : 7. baik di dalam negeri maupun di negara-negara importir. it is suggested 3 alternatives of the production sharing for the LRC as follows: a) Alternative I 2 or 3 parameters : 10. maka salah satu langkah yang perlu dilakukan untuk menunjang ketahanan energi nasional tersebut adalah menetapkan tarif nilai bagi hasil untuk pengusahaan batubara mutu rendah yang akan menjadi pemasok batubara 148 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Di sisi lain.5 % e) Alternative IV Dividing the value of production sharing of LRC based on its calorific value (CV): 5.0% CV d” 4.0 % 4 parameters or more : 8.100 kcal/kg. yakni pemakaian batubara diharapkan mencapai 34. most of the coals is low-rank coal (LRC) and is not economical for the utilization. Coal. According to the assessment that has been carried out through a simulation model by applying 4 parameters that are calorific value. Its quality is various according to the type (chemical composition. Tidak mengherankan apabila sejalan dengan itu jumlah perusahaan pertambangan batubara di Indonesia pun tumbuh pesat khususnya dalam beberapa tahun terakhir. 3 or 4 parameters : 9.2 juta ton pada 1997 menjadi 52.600 kcal/kg : 9.0 % 4 parameters or more : 8. it needs to determine a value of the government side for the LRC production from Coal Contract of Work. 2008). one of the energy sources. yakni dari 13. Untuk mencapai sasaran bauran energi nasional 2025.8 miliar ton sebagian besar termasuk ke dalam katagori batubara peringkat rendah (Low Rank Coal) (Pusat Sumber daya Geologi.8 billion tons.0 % c) Alternative III 2. Coal has a huge potential in Indonesia. ash. either the mining operation or the utilization as fuel or raw material. value of production sharing 1. Peningkatan jumlah konsumsi yang sangat tajam tersebut disebabkan meningkat tajamnya permintaan batubara sebagai sumber energi terutama untuk pembangkit listrik. bituminous and anthracite). sulphur and sodium. In order to improve the business of the LRC economically.600 kcal/kg : 7. maceral and physical property) and the rank (lignite. so that it can compete with high-rank coals.

187.146. pada umumnya didasarkan pada: Peringkat Batubara (Coal Rank) Nilai Kalori (Calorivic Value) Kandungan bahan/unsur dalam batubara (kadar air.6. Jumlah sumber daya batubara Indonesia tahun 2008 berdasarkan perhitungan Pusat Sumber Daya Geologi. darat.815.96 11.22 66.19 4.64 104. zat terbang. Potensi dan Cadangan Wilayah Indonesia diketahui memiliki potensi endapan batubara sangat luas.untuk PLTU sehingga harganya bisa kompetitif dengan batubara mutu baik.1.11 34. kuantitas.57 Total 21. Kriteria kualitas batubara dapat dibedakan atas beberapa macam. 2.24 18.29 5.05 69.82 1. 3) Batubara Kalori Tinggi 6.40 Tereka 6. cadangan dan produksi batubara Indonesia.251.069.79 Tertunjuk 3.21 6.956. namun batubara yang bernilai ekonomis untuk dikembangkan hanya terkonsentrasi pada cekungan-cekungan Tersier di Indonesia bagian barat yaitu di pulau Sumatera dan pulau Kalimantan.75 Tahun 1996 tentang Ketentuan Pokok Perjanjian Kontrak Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara Pasal 3 ayat 2 yang berbunyi : “Dalam hal pengusahaan pertambangan dilakukan dengan cara bawah tanah dan atau batubara yang diproduksi ternyata bermutu rendah. yaitu : 1) Batubara Kalori Rendah < 5.65 13. Yang ada adalah ketentuan bagian pemerintah untuk batubara mutu baik sebesar 13.68 27. dan batubara mutu tinggi seringkali dikaitkan dengan tujuan pemanfaatan batubara itu sendiri yang tergambarkan dengan permintaan pada spesifikasi batubara yang diinginkan. muai bebas.80 25. danau.183. dan secara ekonomi memenuhi kriteria layak tambang.056.39 12.18 90.550. 2008 Penetapan Nilai Bagi Hasil atas Produksi Batubara Mutu Rendah.100 kal/gr. Penggolongan kualitas batubara mutu rendah. karbon tertambat. yang dihimpun oleh Pusat Sumber Daya Geologi tahun 2008 dari laporan perusahaanperusahaam PKP2B di Indonesia adalah sebesar 22.7.2 miliar ton (Tabel 1).00 Sumber : Pusat Sumbe Daya geologi.100 kal/gr.43 1. dll) Sifat fisik batubara (kekerasan. kualitas. Endapan batubara di Indonesia terbentuk pada lingkungan pengendapan yang bervariasi mulai lingkungan rawa-rawa.941. Kualitas.93 32. 4) Batubara Kalori Sangat Tinggi > 7.96 100.50 1. besarnya hasil produksi batubara yang harus diserahkan kepada Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dapat dipertimbangkan kembali berdasarkan hasil kajian yang diajukan oleh perusahaan Kontraktor Swasta” menghasilkan jenis batubara yang bervariasi dalam bentuk dan ketebalan (kuantitas) maupun kualitas batubara. Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral adalah sebesar 104.708.888. bentuk.5% dari produksi batubara yang terjual.738.100 kal/gr. 2008 Kualitas Kalori Rendah Kalori Sedang Kalori Tinggi Kalori Sangat Tinggi Total Sumberdaya (Juta Ton) Hipotetik 5.021. dengan jumlah cadangan batubara Indonesia dihitung terhadap endapan bahan batubara yang telah diketahui ukuran. Berdasarkan tingkat kalorinya batubara Indonesia dibagi menjadi 4 (empat) bagian . dan ketentuan tambahan yang tertuang di dalam Keppres No. TINJAUAN PUSTAKA 2. belerang. batubara mutu sedang. laguna.41 482. dan delta yang kadang-kadang dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Rochman Saefudin. 2) Batubara Kalori Sedang 5.61 422.764. sebaran.100 kal/gr.43 0.83 Jumlah % 20.588. dkk.08 Terukur 5.721.8 miliar ton. titik leleh abu).057.756.16 10. Keadaan lingkungan pengendapan yang berbeda-beda tersebut Tabel 1.81 22.001. Hal tersebut perlu dilakukan karena sampai saat ini belum ada ketetapan tarif yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk pengusahaan batubara mutu rendah. sumberdaya.620. 149 . abu. khususnya untuk PKP2B.100 .100 .

analisis komposisi abu. bi-maseral (2-maseral) dan trimaseral (3-maseral) seperti terlihat pada Table 2.2. Jenis atau tipe batubara sangat dipengaruhi oleh jenis tumbuhan pembentuk dan lingkungan pengendapan dimana batubara tersebut terdapat. Dari hasil analisis tersebut. komposisi maseral (maceral composition) dan reflektansi vitrinit (vitrinite reflectance). Kecuali nitrogen. nitrogen (N). Jenis batubara ditentukan dari komponen/komposisi batubara yang terdiri dari maseral (vitrinit. semiantrasit sampai antrasit seperti diilustrasikan pada Gambar 1. Terminologi Batubara Mutu Rendah Mutu (grade) adalah nilai keadaan sesuatu berdasarkan sifat fisik. Khusus untuk batubara. yaitu : 1) Analisis Proksimat Analisis proksimat merupakan analisis mendasar dalam penentuan mutu batubara. 3) Analisis Sifat-Sifat Lain Analisis sifat-sifat lainnya termasuk penentuan nilai kalor (calorific value). titik leleh abu (ash fusion temperature). Dalam perkembangannya. dan mekanik. nilai ketergerusan (hardgrove grindability index). Klasifikasi microlithotype batubara Grup Mono-Maseral* Microlithotype Vitrit Inertit Liptit KlaritVitrinertitDurit Komposisi Maseral Vitrinit >95% Inertinit >95% Liptinit >95% Vitrinit + Liptinit >95% Vitrinit + inertinit >95% Liptinit + inertinit >95% Vitrinit > Liptinit > Inertinit Inertinit > Vitrinit > Liptinit Liptinit > Vitrinit > Inertinit Bi-Maseral* Tri-Maseral* Duroklarit Klarodurit Vitrinertoliptit * Setiap maseral >5% 150 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . mutu atau kualitas ditentukan dari dua faktor utama. silikat dan karbonat. yaitu untuk mengetahui kandungan air lembab. nilai muai bebas (free swelling index). yang dimulai dari gambut.3. termasuk ASTM (1977) seperti pada Tabel 3. sulfat dan mineral lempung. inertinit dan liptinit) dan mineral pembentuk seperti lempung. yaitu jenis (type) dan peringkat (rank) batubara tersebut. Vitrinit juga merupakan maseral utama pada batubara. sulfida. kimia. abu dan karbon tertambat (fixed carbon). Sedangkan peringkat batubara berhubungan erat dengan tingkat pematangan batubara (pembatubaraan/ coalification). pengguna batubara khususnya pembangkit listrik dan pabrik semen sudah dapat memprediksi perilaku unsur-unsur tersebut baik pada saat berlangsungnya proses pembakaran maupun setelah pembakaran. tidak terpengaruh oleh pelapukan dan nilai yang diperoleh dapat dikorelasikan dengan standar peringkat batubara yang ada. bituminus. microlithotype dapat dibagi menjadi 3 kelompok utama yaitu monomaseral (1-maseral). berat jenis. 2) Analisis Ultimat Analisis ultimat merupakan analisis kimia untuk mengetahui persentase dari senyawa kimia yang terbentuk dari hasil ikatan antara karbon. 2.2. senyawasenyawa tersebut juga terdapat pada komponen mineral seperti karbonat. sulfida. oksigen (O) dan sulfur/ belerang (S). lignit. berlangsung proses Tabel 2. subbituminus. Hidrogen dan oksigen juga merupakan komponen yang penting dalam analisis penentuan kandungan air total batubara. Berdasarkan gabungan maseralnya. zat terbang (volatile matter). sehingga perlu tidaknya migitasi gas-gas NOx dan SOx dapat diketahui sebelumnya. Batubara Mutu Rendah Secara umum ada tiga jenis analisis dan pengujian yang dilakukan untuk menenetukan mutu batubara.

51 – 2. Secara umum parameter yang sering dipergunakan untuk menentukan mutu batubara adalah peringkat dan pengotor. 1990) Faktor Slagging.06 – 3. Parameter yang umum dipergunakan untuk menentukan peringkat batubara antara lain adalah nilai kalor. Faktor slagging dan fouling abu batubara bituminus (Wall.6 Tipe Slagging Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi Faktor Fouling.37 0.11 – 1. nitrogen. titik leleh abu (AFT).10 1. kandungan air. Besaran nilai setiap parameter tersebut di atas yang dipergunakan oleh konsumen tidaklah sama karena sangat tergantung kepada teknis operasional (rancangan peralatan).6 0.2 0. sulfur.6 – 2. Dengan demikian besaran nilai setiap parameter yang disajikan disini adalah nilai yang sangat menonjol (significant).00 Peringkat Lignite Subbituminous High Volatile Bituminous C High Volatile Bituminous B High Volatile Bituminous A Medium Volatile Bituminous Low Volatile Bituminous Semi Anthracite Anthracite sodium.00 >3.2 – 0. kkal/kg (adb) Abu.0 – 2. Rochman Saefudin. yaitu abu. Hubungan antara reflektansi vitrinit dan peringkat batubara menurut klasifikasi ASTM (1977) Reflektansi Vitrinit. seperti pada Tabel 4. hanya terjadi proses fisika berupa pemadatan. % (adb) HGI Titik Leleh Abu. sehingga definisi Batubara Mutu Rendah adalah Tabel 4. Rs < 0.5 – 1.Tabel 3. Sedangkan parameter pengotor antara lain adalah kandungan abu. Tabel 5. % (adb) Sulfur. dkk. Rf < 0.5 0. dan Tabel 6 yang berdampak negatif terhadap nilai jual dan pemanfaatan dari batubara tersebut.37 – 0. ºC Sodium (Na2O). Parameter dan batasan nilai untuk penentuan batubara mutu rendah No. Tabel 5.71 0. tekanan dan waktu. maka dalam menilai mutu batubara harus ditinjau dari peringkat (nilai kalor). % < 0. Namun demikian.5 Sangat Tinggi Sangat Tinggi Gambar 1.100 >17 >2 <35 <1150 >4 >1. Sedangakan peringkat batubara dipengaruhi oleh salah satu atau gabungan dari temperatur.6 > 2.05 2. karbon total dan reflektansi vitrinit.58 – 0. HGI.0 2.50 1. 151 . faktor slagging dan faktor fouling. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Parameter Nilai Kalor. % Faktor Slagging Faktor Fouling Batasan Nilai < 5.57 0. regulasi yang ada setempat dan keekonomian masing-masing penggunaaan batubara. khusus untuk kajian ini faktor pengotor yang digunakan baru dua. dan jenisnya (umumnya pengotor). Pengertian mutu batubara kimia dan biokimia. Selama perkembangannya.0 Tipe Fouling Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi Penetapan Nilai Bagi Hasil atas Produksi Batubara Mutu Rendah.72 – 1. dan sulfur. % dalam Abu Nitrogen.48 – 0. Dalam tulisan ini parameter peringkat yang dipergunakan adalah nilai kalor.0 > 1. Dari uraian di atas.47 0.

5% = Persentase bagi hasil bagian pemerintah dari pengusahaan batubara (PKP2B) yang berlaku saat 152 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . abu > 17%.0 – 6. MODEL PENENTUAN TARIF BAGI HASIL UNTUK BATUBARA MUTU RENDAH 3.Tabel 6.4. yang masih diberlakukan secara umum. Disamping itu. yaitu : G (l) = 13. Penyusunan Model Bagi Hasil Faktor substansial yang perlu dicermati dalam menetapkan besaran persentasi bagi hasil adalah menentukan atau menghitung bagi hasil bagian pemerintah dari produksi batubara mutu rendah dengan mengacu kepada pembagian hasil keuntungan yang wajar (reasonable) antara pengusaha batubara (kontraktor) dan pemerintah. seperti yang ditunjukkan pada persamaan berikut : N = G (h) x Q x P 3. sebagai sandaran perumusan adalah bagian pemerintah dari hasil pengusahaan Selanjutnya untuk menentukan atau menghitung bagi hasil bagian pemerintah dari produksi batubara mutu rendah dengan mengacu kepada persentase bagi hasil dari pengusahaan batubara yang berlaku saat ini. Penanganan Batubara Peringkat Rendah Batubara peringkat rendah (lignit dan Subbituminus B dan C) mempunyai kecenderungan terhadap terjadinya swabakar (self combustion).0 – 3. dan sulfur >2% dalam air dried basis (adb). Model Bagi Hasil Sesuai dengan isi perjanjian kontrak kerja antara Pemerintah dengan perusahaan kontraktor dengan menggunakan pola Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B). Rf < 2. Oleh karena itu model pemecahannya akan mengacu pada konsep ekonomi pemanfaatan sumber daya batubara yang telah diuraikan di atas. yaitu sebesar 13.5 % Besar pendapatan bagian Pemerintah (N) merupakan hasil perkalian persentasi bagian pemerintah (G(h)) dengan jumlah produksi (Q) dan harga batubara (P).1250°C 1250 .5%). yang secara matematis dirumuskan cukup sederhana. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya swa bakar adalah sebagai berikut: Peringkat batubara Kadar air dalam batubara Komposisi petrografi batubara Ukuran butir Temperatur timbunan Konsentrasi oksigen yang kontak dengan batubara Kelembaban udara Peredaran/kecepatan aliran udara batubara oleh kontraktor yang berlaku saat ini. Dengan perkataan lain persentase bagi hasil bagian pemerintah dari pengusahaan batubara mutu rendah sebagai fungsi dari faktor koreksi atau faktor bobot dikalikan dengan konstanta persentase bagi hasil dari batubara mutu tinggi (13.1150°C < 1150°C Tipe Slagging Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi Faktor Fouling.0 > 6.5 % x F dengan : G(l) = Persentase bagi hasil bagian pemerintah dari pengusahaan batubara mutu rendah 13.0 3. Rs > 1340°C 1340 .1. dan menjadikan batubara mutu rendah mempunyai nilai kompetitif dengan batubara mutu tinggi. Faktor slagging dan fouling abu batubara lignitik (Wall.0 2. a.5% dari jumlah produksi. besarnya persentase bagian Pemerintah telah ditetapkan sebagai berikut : G (h) = 13.0 Tipe Fouling Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi batubara yang memiliki nilai kalor < 5. 2. 1990) Faktor Slagging.100 kkal/ kg.

harga akan terkoreksi oleh perbedaan nilai kalor (peringkat) dan oleh perbedaan tingkat pengotor. perumusan faktor bobot didefinisikan sebagai fungsi dari perbandingan (proporsi) relatif harga batubara mutu rendah dan batubara mutu tinggi. natrium.CV(l)} / CV(l)] x P(h) Pengaruh Pengotor : Cli = Ki x {li(l) . Rochman Saefudin. c. akan dipengaruhi oleh biaya produksi dan harga. Model Faktor Bobot Faktor bobot merupakan faktor/ variabel koreksi terhadap persentase bagi hasil bagian pemerintah yang berlaku saat ini (13. yang menunjukkan perbedaan efisiensi energi antara batubara mutu tinggi dan batubara mutu rendah. sulfur. Adapun kandungan air dan reflektansi vitrinit sudah terwakili oleh nilai kalor. 153 . Pemanfaatan sumber daya batubara sebagai komoditas energi dipengaruhi oleh mutunya dan pada proses pengalihannya menjadi komoditas. dkk. Faktor-faktor alam dimaksudkan adalah parameter karakteristik (mutu) batubara. yakni selisih nilai pengotor (abu. Dengan demikian. Sedangkan Penetapan Nilai Bagi Hasil atas Produksi Batubara Mutu Rendah. karena pangsa pasarnya yang belum ada. Oleh karena itu. simulasi koefisien elastisitas dari pengaruh perubahan nilai kalor dan perubahan tingkat pengotor merupakan Oleh karena itu. sulfur.5%) untuk menghitung persentasi bagi hasil bagian pemerintah dari pengusahaan batubara mutu rendah.F ini. baik dari nilai kalor maupun tingkat pengotornya. Secara matematik. b. Model Koreksi Pengaruh Peringkat dan Pengotor Pada prinsipnya tingkat harga batubara di pasaran ditentukan oleh karakteristik atau mutu batubara. faktor slagging. Dalam permodelan koreksi tersebut. ki = konstanta Pada model persamaan koreksi harga dari pengaruh peringkat. perumusan dalam tanda kurung besar merupakan koefisien elastisitas. Berdasarkan pengertian tersebut. yaitu proporsi relatif dari perbedaaan nilai kalor. Penyederhanaan penilaian pada proses pemanfaatan sumber daya dilakukan dari faktorfaktor alam dan parameter ekonomi yang sangat kompleks. langkah selanjutnya di dalam penghitungan untuk penetapan nilai bagi hasil bagian pemerintah dari PKP2B untuk batubara mutu rendah adalah merumuskan faktor bobot tersebut. karena ada korelasi kuat diantara kedua parameter tersebut. dan sodium) dari kedua jenis batubara tersebut. yang meliputi abu. HGI.li(h)} x P(h) dengan : CCV = Koreksi harga dari penurunan nilai kalor CIi = Koreksi harga dari perubahan kenaikan tingkat pengotor unsur i P = Harga batubara mutu tinggi CV(h) = Nilai kalor batubara mutu tinggi CV(l) = Nilai kalor batubara mutu rendah Ii(h) = Nilai unsur pengotor i pada batubara mutu tinggi Ii(l) = Nilai unsur pengotor i pada batubara mutu rendah c. Dalam kajian ini. sodium (Na2O). untuk penyusunan model harga batubara mutu rendah akan ditentukan melalui simulasi pemodelan berdasarkan konsep ekonomi pemanfaatan sumber daya batubara. perumusan dalam tanda kurung kurawal merupakan koefisien elastisitas. faktor bobot diformulasikan sebagai berikut : F=k Pcor(l) P(h) dengan : Pcor (l) = Harga batubara mutu rendah berdasarkan harga batubara mutu tinggi yang terkoreksi P(h) = Harga batubara mutu tinggi k = konstanta Yang menjadi permasalahan dari model faktor bobot tersebut adalah belum diketahuinya harga batubara mutu rendah yang sesuai keekonomiannya. Sedangkan pada persamaan koreksi harga dari pengaruh pengotor. dan faktor fouling. yaitu parameter peringkat dan parameter pengotor. = Faktor bobot atau faktor koreksi atau faktor insentif parameter ekonomi terdiri dari biaya penanganan (handling cost). maka model persamaan koreksi harga dari unsur peringkat dan pengotor adalah sebagai berikut : Pengaruh Peringkat : CCV = c x [{CV(h) . sebagaimana komoditas lain. titik leleh abu.

Pertama. Model Handling Cost Pekerjaan eksploitasi pada pengusahaan batubara dapat dikelompokkan menjadi pekerjaan penambangan/penggalian dan pekerjaan penanganan (handling cost). natrium dan Hubungan fungsional antara biaya penangan batubara mutu rendah dengan mutu tinggi dihubungkan dengan koefisien elastisitas dari simulasi perbandingan densitas dan nilai kalor. CV(h) ⎫ ⎧ d(h) HC(l) = ⎨ × ⎬ × HC(h) d(l) CV(l) ⎭ ⎩ produsen dan konsumen. Aplikasi Model untuk Penetapan Bagi Hasil Permodelan bagi hasil bagian pemerintah dari pengusahaan batubara mutu rendah dalam pola Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) yang telah dirumuskan di atas. karena menggunakan jenis peralatan yang sama. dan marginal profit. Sebagai pembanding dihitung pula harga minimum sebagai fungsi dari biaya produksi (mining cost dan handling cost). abu.HC(h)} .2. dimaksudkan untuk menentukan besaran persentase bagi hasil bagian pemerintah berdasarkan pengaruh perbedaan peringkat (nilai kalor). Biaya pekerjaan penambangan (mining cost) pada pengusahaan batubara mutu tinggi dan mutu rendah akan sama. Secara matematis. Sedangkan biaya penanganan (handling cost) untuk mutu rendah relatif lebih besar dari pada batubara mutu tinggi. model persamaannya adalah: dengan : HC (l ) = Biaya penanganan (handling cost) batubara mutu rendah HC (h) = Biaya penanganan (handling cost) batubara mutu tinggi d (l ) d (h ) = Densitas batubara mutu rendah = Densitas batubara mutu tinggi CV (l ) = Nilai kalor batubara mutu rendah CV (h ) = Nilai kalor batubara mutu tinggi Semakin besar perbedaan densitas demikian pula perbedaan nilai kalor. dan pengotor (sulfur. P(h) = Harga batubara mutu tinggi MC(l) = Biaya penanganan batubara mutu rendah MC(h) = Biaya penanganan batubara mutu tinggi η = Persentase profit margin 3. sebagai kovensasi dari adanya perbedaan volume untuk energi yang sama. harga batubara mutu rendah dihitung berdasarkan penurunan harga mutu tinggi karena terkoreksi atau disesuaikan karena adanya penurunan peringkat dan gangguan tingkat pengotor termasuk handling cost relatif.dua dari empat parameter yang dipertimbangkan dalam optimalisasi perberbedaan atau “delta” harga batubara mutu tinggi dan mutu rendah. e. Ada dua pendekatan dalam menentukan atau menghitung tingkat harga.{HC(l) . maka akan semakin signifikan kenaikan biaya handling cost batubara mutu rendah dibanding handling cost batubara tinggi.Σ iCCli dengan : Pcor (l) = Harga batubara mutu rendah berdasarkan harga batubara mutu tinggi yang terkoreksi P(h) = Harga batubara mutu tinggi HC(l) = Biaya penanganan batubara mutu rendah HC(h) = Biaya penanganan batubara mutu tinggi = Koreksi harga dari peringkat atau CCIi pengotor Harga Minimum : Pmin(l) = (1+η )[{1 + B(l)} x {MC(l) + HC(h)}] dengan : Pmin (l) = Harga minimum batubara mutu rendah B(l) = Persentase bagi hasil bagian pemerintah dari batubara mutu rendah. bagi hasil. antara lain karena perbedaan densitas dan perbedaan nilai kalor. Model Harga Tingkat harga batubara secara ekonomi ditentukan dengan mempertimbangkan kriteria dari sisi produsen dan konsumen atau ditentukan dengan mempertimbangkan manfaat yang diterima 154 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . d. Secara matematis model persamaan harga batubara mutu rendah tersebut adalah : Harga Koreksi/Penyesuaian : Pcor(l) = P(h) .

Adapun besaran bagi hasil bagian pemerintah berkisar antara 10. Simulasi dengan menggunakan parameter batubara lignit. maka untuk menjaga kerahasiaan. masing masing rata-rata besaran bagi hasil bagian pemerintah adalah 9. b. Rochman Saefudin. c. Penetapan Nilai Bagi Hasil atas Produksi Batubara Mutu Rendah. Hal ini dapat dilihat dari grafik sensitifitas harga seperti contoh untuk batubara lignit pada Gambar 3.00 USD /ton = 40 USD /ton.100 kkal/kg abu (ash) sulfur sodium (Na2O) Mining Cost Handling Cost Harga = 4% = 1% = 1. natrium. b.6 USD. yaitu nilai kalor dan tiga parameter pengotor. Hasil dari proses aplikasi model dapat dilihat pada Tabel 7. Simulasi dengan menggunakan tiga variasi parameter. dan perusahaan B. sulpur. Setiap kenaikan satu satuan (1%) nilai ash (abu) diasumsikan harga terkoreksi sebesar 0. b) Simulasi Variasi : a. Perhitungan bagi hasil batubara mutu rendah dibatasi oleh harga batubara mutu rendah yang minimum.52 %. yaitu nilai kalor dan salah satu paramater pengotor. nama perusahaan tidak dicantumkan atau diganti dengan nama perusahaan A. Adapun untuk variasi tiga dan empat parameter batubara mutu rendah serta untuk batubara lignit.34 % atau rata-rata 10. Setiap kenaikan satu satuan (1%) nilai sulfur diasumsikan harga terkoreksi sebesar 0. Perusahaan yang akan dijadikan contoh di dalam proses simulasi ada 2 perusahaan yang berlokasi di Kalimantan yang berencana mengembangkan ke penambangan batubara mutu rendah. diperoleh handling cost 2. dan lainnya) sebagai berikut : a) Batasan : a. sulfur = 2 %. f. atau sodium = 4 %.sebagainya) serta biaya produksi (handling cost) antara batubara mutu rendah dan mutu tinggi. yaitu parameter nilai kalor = 5. Karena data yang akan digunakan di dalam perhitungan ini merupakan data keuangan perusahaan yang akan dijadikan contoh di dalam proses penghitungan. 155 . Persentase profit margin dari pengusahaan batubara mutu rendah diasumsikan 10%.07 % – 10. 8. b. dan 7.005 x P(t). c.7 USD. sedangkan batubara mutu tinggi sebagai obyek penimbangnya. namun perbedaannya (delta) semakin besar secara proporsional (agar dapat kompetitif).18 %. Untuk mengaplikasikan model dalam rangka menentukan besaran bagi hasil bagian pemerintah dari pengusahaan batubara mutu rendah diperlukan batasan-batasan (asumsi) dan simulasi variasi parameter peringkat (nilai kalor) dan parameter pengotor (abu. Setiap kenaikan satu satuan (1%) nilai natrium diasumsikan harga terkoreksi sebesar 0. d. Setiap penurunan nilai kalor dari CV(h) ke CV(l) diasumsikan harga terkoreksi sebesar [{CV(h)-CV(l)}/CV(h)] x P(h). Selanjutnya untuk mengetahui pengaruh besaran nilai bagi hasil yang diperoleh terhadap kelayakan usaha penambangan batubara mutu rendah. Semakin besar (tinggi) harga batubara mutu tinggi maka semakin besar pula harga batubara mutu rendah. Perbandingan densitas batubara mutu tingggi dan mutu rendah 1.33 %. Dari hasil simulasi tersebut dapat diulas sebagai berikut : a. dan rata-rata harga batubara mutu rendah yang masih kompetitif 26.4 USD atau delta harga dengan batubara mutu tinggi minimum 8. maka akan dicoba digunakan di dalam perhitungan kelayakan pengusahaan batubara mutu rendah. d.05 x P(t). Simulasi dengan menggunakan dua variasi parameter. e.2 % = 25 USD /ton = 2. Batubara mutu rendah sebagai obyek yang akan ditimbang. Simulasi dengan menggunakan empat variasi parameter. Adapun dari variasi naik-turunnya harga batubara tersebut berdampak tidak signifikan terhadap besaran perhitungan bagi hasil bagian pemerintah. c.15.35 %. dkk. dengan memasukkan terhadap aliran kas (cah flow) dari laporan studi kelayakan penambangan batubara.100 kkal/kg dan salah satu parameter pengotor yang diwakili oleh abu = 17 %. Parameter batubara mutu tinggi yang dijadikan sebagai standar penimbang adalah : nilai kalor (caloric value) = 6. yaitu nilai kalor dan dua parameter pengotor. h. g.3 : 1.025 x P(t). Untuk variasi dua parameter batubara mutu rendah. Hal ini dapat dilihat pada gambar 2.

00 10.00 20 25 30 35 40 45 50 55 HARGA BATUBARA MUTU TINGGI (USD) Gambar 2.20 7.00 25. Grafik sensitivitas harga terhadap persentase bagi hasil untuk batubara lignit 156 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .45 7.00 Dua Parameter Tiga Parameter Empat Parameter 20.00 Lignit 15.40 BAG I HS I L (% ) 7.30 7.15 12 14 16 18 20 HARGA (USD) 22 24 26 28 30 Gambar 3. Hubungan harga batubara mutu rendah dan mutu tinggi 7.35 (%) 7.25 7.40.00 35.00 5.00 HARGA BATUBARA MUTU RENDAH (USD) 30.50 7.

00 1.92 Keterangan : CV = Nilai Kalor (Caloric Value).49 26.99 15.00 1.70 8. Rochman Saefudin.58 2.00 17.00 35.07 18.21 22.00 2.00 2.39 0.00 2.94 24.00 17.58 12.38 0.58 2.35 5100.33 7.00 1.28 26.52 0.46 23.00 18.72 8.00 1.14 18.00 5100.70 12.20 12.20 12.20 12.83 11.54 7.46 9.36 10.00 4.53 10.17 5100.00 12.33 Penetapan Nilai Bagi Hasil atas Produksi Batubara Mutu Rendah.75 10.00 4.81 8.47 5100.77 10. Ash = Abu.58 2.76 24.52 8.01 7.52 8.20 1.00 4.19 18.55 0.11 8.00 17.52 7.01 19.00 5100.00 17.36 0.00 2. Mutu Rendah (Ditimbang) Nilai Kalor (Kkal/kg) Ash (%) Sulfur (%) Sodium (Na2O) (%) Mining Cost (US$) Handling Cost (US$) Koreksi Harga (US$) Harga Terkoreksi (US$) Selisih (delta) harga (US$) Harga Minimum (B) (US$) Faktor Insentif (Bobot) Bagian Pemerintah (%) RATA-RATA 18.14 18.00 1.00 1.33 7.19 26.33 7.58 2.00 4.00 12. dkk.70 9. Na2O = Sodium 157 .63 8.70 10. Simulasi bagi hasil bagian pemerintah dari batubara mutu rendah Variasi Peringkat dan Pengotor Dua Parameter CV+Ash CV+S CV+Na2O CV+Ash+S CV+Ash+Na2O CV+S+Na2O Tiga Parameter Empat Parameter CV+Ash+S+Na2O Lignit Uraian Mutu Tinggi (Penimbang) Nilai Kalor (Kkal/kg) Abu (%) Sulfur (%) Sodium (Na2O) (%) Mining Cost (US$) Handling Cost (US$) Harga (A) (US$) 5100.08 12.00 2.24 0.00 4.68 9.58 2.70 9.34 10.92 4612.Gambar 7.00 4.58 2.58 2.70 2.00 16.00 1.00 12.00 12.00 17.70 9. S = Sulfur.77 9.00 4.58 2.00 4.19 9.70 9.00 12.75 10.51 0.64 18.77 9.89 5100.18 18.70 8.00 4.40 6100.40 0.

Dengan nilai MARR (Minimal Atractive Rate of Return) yang digunakan 10%.7 39.52% d) Untuk Lignit nilai bagi hasil : 7.02 .838 48. Net Present Value (NPV).30 20.40% c) Untuk empat parameter (kalori – abu – sulfur – natrium) : 8.62 9.800 51. sulfur.58 13.9) 47.5 29.14 13.14% kalori – sulfur : 10. maka dirumuskan melalui simulasi pemodelan berdasarkan konsep ekonomi pemanfaatan sumber daya batubara.14 15.8.0 100 2. Data perusahaan dan nilai indikator keuntungan penambangan batubara mutu rendah No.Tabel 8.87 16.000 42.83 <0 9.4 18 48.47 18.34% kalori – natrium : 10.66 Perusahaan B 4.84 Bagi hasil untuk Pemerintah dalam penghitungan ini sesuai dengan perjanjian kontrak antara Pemerintah dan perusahaan untuk batubara secara umum.5 1 : 7. Dari hasil simulasi model yang dibuat berdasarkan kombinasi nilai kalor dan pengotor (abu.5 % x F.31 (647. dirumuskan sebagai fungsi dari faktor bobot 158 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . yaitu sebagai fungsi dari parameter batubara (peringkat dan pengotor) dan parameter ekonomi termasuk biaya penanganan (handling cost). 3.5 6. 4. Internal Rate of Return (IRR).14 13.33%.0 2.0 9. Na2O) diperoleh nilai bagi hasil untuk batubara mutu rendah sebagai berikut : a) Untuk dua parameter : kalori – abu : 10. Batubara Mutu Rendah adalah batubara yang memiliki peringkat menengah dan tinggi dengan kandungan pengotor tinggi.5% dan nilai bagi hasil berdasarkan perhitungan yang baru.00 C 4. yaitu sebesar 13. Karena harga batubara mutu rendah belum ada.2 17 4.5 1 : 2. 4.82 26.1 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. 2.86 10.5 15. Faktor bobot (F) didefinisikan sebagai fungsi dari perbandingan (proporsi) harga batubara mutu rendah dan batubara mutu tinggi. termasuk batubara peringkat rendah (lignit). b.47 21.2 100. yang termasuk di dalam biaya operasi/produksi yang ditetapkan sebagai patokan dasar. Model bagi hasil bagian pemerintah dari pengusahaan batubara (PKP2B) mutu rendah . 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Uraian Nilai Kalori Jumlah Cadangan Jarak Tambang ke Terminal Kapasitas Produksi Stripping Ratio Umur Tambang Biaya Investasi Biaya Produksi Harga Jual Nilai Bagi Hasil Net Present Value (NPV) Internal Rate of Return (IRR) Satuan A Kkal/kg Juta ton Km Juta ton/thn tahun Juta US$ US$/ton US$/ton % Juta US$ % 5. Untuk selanjutnya akan dihitung nilai indikator keuntungan dari kelayakan finansial penambangan batubara mutu rendah masing-masing perusahaan Indikator keuntungan yang dihitung di dalam proses simulasi ini adalah : a.66 13.07% b) Untuk tiga parameter : kalori – abu – sulfur : 9.61 10.19% Kalori – sulfur – natrium : 9.0 1:5 17 44.7 1.46% kalori – abu – natrium : 9.7 24. maka diperoleh nilai indikator keuntungan untuk perusahaan A dan B sebagai berikut : dikalikan persentase bagi hasil yang secara matematis ditulis G (l) = 13.

5% b) Dua nilai bagi hasil. BPFE. 1979.4.5% Lignit : 7. Direktorat Pengusahaan Mineral. maka berdasarkan nilai kalor dan jumlah pengotornya disarankan untuk membaginya menjadi : a) Tiga nilai bagi hasil. P. 2004. Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. Indonesia Mineral and Coal Statistic.M. maka perlu ditetapkan tarif nilai bagi hasil untuk pengusahaan (PKP2B) batubara mutu rendah agar harganya bisa kompetitif dengan batubara mutu baik. maka untuk mengoptimalkan pengusahaan dan pemanfaatan batubara mutu rendah sebagai sumber energi. 159 . Directorate of Mineral Resources Inventory. Standard classification of coals by rank D 388 – 92a. Rochman Saefudin.S. Directorate of Mineral Resources Inventory. 2008. 2009. khususnya untuk memasok PLTU yang akan dibangun. G. Yogyakarta. Du Mairy. 2004.0% 4 parameter nilai bagi hasil : 8. Blue Print Pengelolaan Energi Nasional 2010 . Jakarta. sedangkan potensi cadangan batubara sebagian besar bermutu menengah ke bawah. Untuk mempermudah penerapan nilai bagi hasil untuk produksi batubara mutu rendah. Dasgupta. 2008. American Society For Testing and Material.5% DAFTAR PUSTAKA American Society For Testing and Material (ASTM). And Cambridge University Press. 1993. Indonesia Coal : Resources. Matematika Terapan untuk Bisnis dan Ekonomi. Batubara dan Panas Bumi. James Nisbet & Co. yaitu : d” 3 parameter nilai bagi hasil : 9. Bandung. 2008. dan Heal.2025.5% 4 parameter dan lignit : 7. 2009. yaitu : d” 3 parameter nilai bagi hasil : 10. Ltd. reserves and calorific value. 2.2. Saran 1. Directorate General of Geology and Mineral Resources. Karena nilai bagi hasil untuk memproduksi batubara mutu rendah belum ada ketetapannya. Penetapan Nilai Bagi Hasil atas Produksi Batubara Mutu Rendah. dkk. Jakarta. Economic Theory and Exhaustible Resources.

MAKALAH DIPOSTERKAN .

Banten 52 perusahaan.78%.36 juta ton.id SARI Jumlah industri kecil dan menengah di Pulau Jawa yang menggunakan batubara pada tahun 2007 tercatat sudah mencapai 417 perusahaan. diambil contoh untuk diamati sebanyak 94 perusahaan pemakai batubara di Kabupaten Bandung. have to sampling as much as 94 companies are coal user in Regency of Bandung. To be found out amount of produced wasted by companies in Java. 52 companie at Banten and 24 companies at East Java. Banten 1. 115 companies at Central Java.6030483 Fax.63%. Jend.99 million ton. ternyata telah dihasilkan limbah abu dasar sebanyak 251. abu dasar. Terdapat sekitar 226 perusahaan di Provinsi Jawa Barat yang telah menggunakan batubara. dan Jawa Timur 24 perusahaan. dan industri lainnya 15. Sudirman 623 Bandung 40211 Telp. Dari pembakaran batubara sebanyak 5.6003373 e-mail : triswan@tekmira. textile industry is the most used coal is 75. paper industry is 8. Semakin banyak batubara yang dibakar.59%.. Metode yang digunakan untuk memperkirakan jumlah limbah yang dihasilkan adalah metode analisis regresi. In 2007. abu terbang ABSTRACT Amount middle and small industry in Java have to use coal year 2007 is 417 company.. To estimated of wasted is regression analysis method.99 juta ton selama satu tahun. each consumpted by West Java amount 3. Besarnya limbah yang dihasilkan dari pembakaran ini sangat dipengaruhi oleh jumlah batubara yang digunakan oleh setiap perusahaan.47 juta ton.99 juta ton. Amount of wasted produced by companies influenced by amount of coal to used. ke 417 perusahaan tersebut telah menggunakan batubara sebanyak 5.78%.59%.07 juta ton. disusul kemudian industri kertas sebesar 8. yaitu 75. Triswan Suseno dan Tuti Hernawati 161 .336 ton dan abu terbang 82. There are about 226 companies at West Java Province is used coal. 022 . diikuti Jawa Tengah 115 perusahaan. Proses pembakaran batubara pada industri ternyata menghasilkan limbah yang disebut dengan abu dasar dan abu terbang. Industri tekstil merupakan industri yang paling banyak menggunakan batubara. Selama tahun 2007. Jawa Timur 1. Coal burning processing at industry to produced wasted there are bottom ash and fly ash. dan Jawa Tengah sebesar 0. 417 companies consumption of coal amount 5.ANALISIS POTENSI LIMBAH HASIL PEMBAKARAN BATUBARA PADA INDUSTRI KECIL DAN MENENGAH DI PULAU JAWA Triswan Suseno dan Tuti Hernawati Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl.07 million Analisis Potensi Limbah Hasil Pembakaran Batubara pada Industri . semakin banyak pula limbah yang akan dihasilkan.esdm. Kata kunci : limbah. masing-masing digunakan oleh Jawa Barat 3.go. Untuk mengetahui jumlah limbah yang dihasilkan oleh perusahaan-perusahaan di Pulau Jawa ini.09 juta ton.63% and others is 15. 022 .877 ton.

..... Akibat adanya pola perubahan konsumsi energi tersebut... (3) Dalam hal ini. namun bagi perusahaan yang memiliki lahan terbatas masalah tempat pembuangan limbah batubara menjadi salah satu kendala........1.From coal burning amount 5. METODOLOGI 2. Untuk mengetahui sejauhmana pemakaian batubara tersebut mempengaruhi besarnya limbah yang dihasilkan tersebut digunakan metode analisis regresi.. Banten 1... Imbauan pemerintah agar masyarakat industri menggunakan energi alternatif seperti batubara ternyata berdampak posistif terhadap kelangsungan aktifitas industri dalam negeri apalagi dengan berkurangnya subsidi bahan bakar minyak untuk industri............. (1) ....2.... sehingga hubungan ini dapat dinyatakan dalam bentuk model regresi sederhana (Gaspersz........ Sebagian perusahaan yang masih memiliki lahan.ton. maka memahami perubahan pola konsumsi energi yang dilakukan oleh masyarakat industri adalah suatu keharusan dan menjadi hal penting bagi pemerintah sebagai pembuat dan pengendali kebijakan dalam mendukung kelancaran roda perekonomian.. jelas masalah ini sangat mengkhawatirkan mengingat limbah batubara ini akan terus mengalami peningkatan sehingga harus ada penanganan khusus terhadap masalah ini. yaitu limbah batubara yang disebut sebagai abu terbang (fly 2. Sedangkan data primer adalah data yang diperoleh dari hasil wawancara langsung ke beberapa perusahaan IKM secara acak...09 million ton and Cenral Java 0. 2.... Data Data yang digunakan untuk mendukung analisis ini terdiri atas data primer dan data sekunder..... fly ash 1.... Dalam jangka panjang.. sehingga ada korelasi yang sangat 162 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .. (2) . Keywords : wasted.. untuk sementara waktu mungkin hal ini dapat diatasi......... berbahaya.... Peningkatan konsumsi batubara ini cenderung akan mempengaruhi peningkatan jumlah limbah batubara... dan Dinas Lingkungan Hidup. Asosiasi Pertekstilan Indonesia.. More and more coal is burned is more and more produce wasted...47 million ton... khususnya dalam bidang energi. PENDAHULUAN ash) dan abu dasar (bottom ash). mengakibatkan produk limbah batubara dari setiap perusahaan pun semakin meningkat... sehingga banyak industri yang beralih penggunaan bahan bakar minyaknya ke batubara... perusahaan juga harus mencari tempat pembuangan limbah batubara......877 ton....36 million ton. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari berbagai instansi terkait.... Model Analisis Tingkat produksi limbah hasil pembakaran batubara sangat dipengaruhi oleh pemakaian batubara yang digunakan oleh IKM.366 ton and 82.. East Java 1.... Dalam situasi seperti ini..... Seiring dengan sudah semakin banyaknya industri tekstil yang menggunakan batubara sebagai bahan bakar dalam kegiatan produksinya.99 million ton in a year..... 1990) sebagai berikut: ..... bottom ash..... Selain menyediakan lokasi tempat penyimpanan batubara untuk beberapa hari ke depan. a = koefisien perpotongan b = koefisien regresi y = variabel limbah hasil pembakaran batubara x = variabel jumlah pemakaian batubara setiap IKM Tampak jelas bahwa perkembangan kebutuhan batubara tidak terlepas dari perkembangan industri di suatu daerah....... produced of bottom ash and fly ash each are 251. Salah satu kemungkinan yang timbul adalah masalah sosial akibat adanya isu lingkungan yang mengklasifikasikan batubara sebagai limbah bahan berbau... antara lain Dinas Tenaga Kerja. akan terjadi peningkatan penggunaan batubara pada industri kecil dan menengah (IKM) sekaligus akan menimbulkan permasalahan baru....... dan beracun (B3) sehingga masyarakat akan memprotes keberadaan industri pengguna batubara yang akhirnya dapat mengganggu kegiatan produksi dan perekonomian nasional..

berarti naik sebesar 9.50%. disusul kemudian oleh Kota Cimahi. pengecoran logam.069. Di Provinsi Banten saja jumlah IKM yang sudah mengunakan bahan bakar batubara sudah mencapai 52 perusahaan. makanan. dan kota Cilegon (115. Sukoharjo. jumlahnya mencapai 2.80%). berarti hampir 69. Konsumsi batubara di daerah ini pada tahun 2007 diperkirakan mencapai 3. Kendal. berdasarkan hasil penelitian ternyata bahwa IKM yang telah beralih menggunakan batubara sudah mencapai 226 perusahaan. disusul Kota Cimahi sebanyak 47 perusahaan (20.040 ton. KONSUMSI BATUBARA DAN POTENSI LIMBAH BATUBARA DI PULAU JAWA Rencana pemerintah mengurangi pasokan dan penghapusan subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang selama ini menjadi beban yang sangat berat ditanggung oleh pemerintah memaksa pelaku industri untuk mengubah pola penggunaan bahan bakar. Klaten.. Analisis Potensi Limbah Hasil Pembakaran Batubara pada Industri . Pada tahun 2007 saja penggunaannya mencapai 325. BPLH Jawa Barat. Purwakarta dan Karawang masing-masing 16. Padahal pada tahun 2005 baru tercatat sebanyak 15 perusahaan saja. dan Jawa Timur ternyata pesat sekali. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh tim dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Bandung tahun 2008. dan obat-obatan.06%. Sebanyak 118 perusahaan (atau 52. sedangkan sisanya tersebar di Batang. Sragen. berarti dalam kurun waktu tersebut sudah mengalami kenaikan sekitar 250%.000 ton). disusul oleh Kabupaten Tangerang (416. Di Provinsi Jawa Barat. minyak sawit. makanan. Kabupaten Serang merupakan pemakai batubara batubara terbanyak yaitu 639. Semarang.23%.250 ton. 14. Kabupaten Bandung merupakan konsumen batubara terbesar dengan jumlah pemakaian mencapai 44.83% dari jumlah keseluruhan penggunaan batubara di Jawa Tengah (465. Perusahaan yang paling banyak menggunakan batubara adalah industri tekstil. 2008). Disnaker.21%) di antaranya berada di Kabupaten Bandung.erat antara tren perkembangan industri dengan perubahan kebutuhan batubara dan limbahnya. Jumlah IKM pemakai batubara di Provinsi Jawa Barat selalu mengalami kenaikan.84%). dan Grobogan. Kudus. khususnya di Pulau Jawa. sisanya digunakan oleh IKM di daerah lainnya.. Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah. Himbauan pemerintah kepada masyarakat industri untuk mengalihkan penggunaan bahan bakar minyak ke batubara dan adanya larangan pemerintah agar industri baru menggunakan batubara ternyata berdampak sangat signifikan terhadap kenaikan konsumsi batubara di Indonesia. penggunaan batubara oleh IKM di beberapa wilayah seperti Banten. dan lainlain. memaksa pemerintah untuk memacu penggunaan batubara oleh industri sehingga kontribusinya mencapai 32. Jawa Barat. Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jawa Barat. Konsentrasi perusahaan pemakai batubara paling banyak terletak di Kabupaten Pekalongan (21 perusahaan) dan Karanganyar (16 perusahaan). Puslitbang Tekmira. Target pemerintah sampai dengan tahun 2025 mengurangi penggunaan BBM hingga dua puluh persen. seperti Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi. 2007. ban. Di antara jumlah IKM pemakai batubara. Kabupaten Serang (11 perusahaan). Jawa Tengah. sisanya adalah industri kertas. Dinas Lingkungan Hidup. briket. Kabupaten Tangerang (29 perusahaan).71%. Informasi ini diperoleh dari berbagai sumber.7% terhadap pemanfaatan bauran energi nasional mengingat cadangan batubara di Indonesia cukup besar. 3. percetakan. Industri pemakai batubara tersebut tersebar di Kota Cilegon (9 perusahaan). dan bijih plastik. briket batubara. Kajian Batubara Nasional.21% dan 12. lainnya adalah perusahaan sepatu. Pati. 98 di antaranya adalah perusahaan tekstil. Jumlah pemakaian batubara sampai tahun 2008 diperkirakan sudah mencapai 1. Triswan Suseno dan Tuti Hernawati 163 . dari 193 perusahaan pada tahun 2006 (Ijang Suherman.980 ton). tercatat ada 115 perusahaan. Jenis tekstil dan produk tekstil merupakan perusahaan yang paling banyak menggunakan batubara (85. dan Kota Tangerang (3 perusahaan).57 juta ton untuk 199 perusahaan tekstil. kapur.362. Di Provinsi Jawa Tengah. karet. stereofoam.730 ton. Bandung) menjadi 226 pada tahun 2007 perusahaan (API. industri tekstil ini pulalah yang paling banyak menggunakan batubara sebagai bahan bakar. Kota Tangerang (191. Ungaran.500 ton).396 ton). minuman. sedangkan sisanya tersebar di berbagai lokasi di Jawa Barat.008 ton. Surakarta.

75.100 ton (atau 55.21%.58% dari jumlah 164 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . ternyata menghasilkan limbah hasil pembakaran batubara sebanyak 334. kandungan zat terbang. limbah yang dihasilkan dari pembakaran batubara tersebut sekitar 103. POTENSI LIMBAH HASIL PEMBAKARAN BATUBARA OLEH IKM DI PULAU JAWA Sebagaimana dijelaskan sebelumnya. Jumlah pemakaian batubara pada tahun 2007 tercatat 1.20%). P2O5. konsumsi. ternyata menghasilkan model regresi sebagai berikut : 1) Model regresi abu dasar : y = 23. dan titik leleh abu (ash fusion temperature) (Raharjo.45% di antaranya digunakan oleh perusahaan kertas. dan Jawa Tengah (7. Dari sisi jenis industri. di 4.77%). 94 perusahaan di antaranya menjadi contoh (sample) untuk dicatat jumlah abu dasar dan abu terbang yang dihasilkan dari pembakaran batubara di setiap perusahaan tersebut. Jawa Timur (18. Di sisi lain. di samping parameter lain seperti analisis unsur yang terdapat dalam abu (SiO2. disusul kemudian oleh Banten (22.68%) disusul oleh industri kertas 35. Jumlah batubara yang digunakan IKM di Pulau Jawa sebesar 5.430 kg abu terbang (Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung. Perusahaan kertas yang paling banyak menggunakan batubara adalah PT. perusahaan tekstil menjadi penyumbang terbesar limbah hasil pembakaran batubara. diperoleh informasi bahwa tercatat sebanyak 24 perusahaan yang telah menggunakan bahan bakar batubara. yaitu limbah hasil pembakaran batubara. Fe2O3. Tjiwi Kimia yang berlokasi di pinggir jalan raya Mojokerto.14%.419 ton. ukuran. Provinsi Jawa Barat merupakan daerah yang memberikan kontribusi limbah terbesar. Al2O3.985. bahwa jumlah limbah hasil pembakaran batubara sangat dipengaruhi oleh variabel pemakaian batubara di setiap IKM.Berdasarkan hasil survei di Jawa Timur. sehingga pemerintah daerah pun mengalami kesulitan dalam mengawasinya. dan lain lain). limbah abu dasar dan abu terbang dari 94 perusahaan tersebut.98 x 2) Model regresi abu terbang : y = 173. 95. Sehingga pemilihan kualitas batubara yang sesuai akhirnya akan sangat berpengaruh terhadap daya tahan mesin agar mesin berfungsi secara optimal. dan tingkat ketergerusan. hasilnya dapat dilihat dalam Tabel 2. kadar karbon. jumlahnya mencapai 186. 2006). Selain kesulitan dalam menyediakan tempat penyimpanan batubara.100 ton. dengan pemakaian pertahun mencapai 720. dan sisanya oleh perusahaan briket. mereka mengalami kesulitan pula dalam membuang limbah batubara sehingga mereka membuangnya di sembarang tempat dengan tidak memperhatikan dampak dari pembuangan tersebut. kadar abu.75 + 41. Banyak produk limbah batubara dari beberapa perusahaan tidak bisa digunakan sebagai bahan batako. Apabila hal ini terjadi terus menerus dikhawatirkan akan menimbulkan masalah baru khususnya yang berkaitan dengan masalah pencemaran lingkungan sehingga dapat menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat.19%. karena karakteristik mesin atau peralatan yang digunakan dalam kegiatan produksi berbeda satu dengan yang lainnya.20% dari limbah tersebut adalah abu dasar sedangkan sisanya berupa abu terbang. Hal ini sangat penting.000 ton. perusahaan tekstil sebesar 4. Perusahaan kertas (18 perusahaan) adalah pemakai batubara terbesar di wilayah ini.82%). semakin maraknya penggunaan batubara pada IKM memunculkan persoalan baru. yaitu 51. Biasanya parameter yang digunakan dalam memilih batubara adalah kalori.213 ton atau 5.297 kg abu dasar dan 53. analisis komposisi sulfur (pyritic sulfur. Dari jumlah IKM sebanyak 417 perusahaan.266 ton (2007). kadar sulfur. Di tengah harga BBM yang semakin melambung. disusul kemudian oleh perusahaan tekstil (5 perusahaan) dan briket(1 perusahaan). Diketahui bahwa setiap hari ke 94 perusahaan tersebut menggunakan batubara tidak kurang dari 2.72 x Kedua model di atas digunakan untuk mengestimasi potensi limbah yang dihasilkan dari proses pembakaran batubara oleh IKM di Pulau Jawa. sulfate sulfur.088. Berdasarkan data jumlah pamakaian batubara. 2006 dan 2007). Pembuangan dilakukan secara diamdiam tanpa melakukan koordinasi dengan pihak pemerintah daerah. penggunaan batubara merupakan salah satu alternatif yang sangat membantu dalam menekan biaya penggunaan bahan bakar yang memang jauh lebih efisien dan ekonomis. Kualitas limbah batubara pasca pembakaran sangat dipengaruhi oleh jenis batubara dan sistem pembakarannya. organic sulfur). kadar kelembaban.13% dan industri lainnya 9.39 + 13. sehingga variabel ini merupakan parameter potensial yang sangat mempengaruhi produksi abu dasar dan abu terbang.

0%. Triswan Suseno dan Tuti Hernawati Banten Jabar Jateng Jatim 16. Jawa Barat.543 3.300 8.500 52 226 115 24 417 Banyaknya Perusahaan Konsumsi Batubara Banyaknya Perusahaan Konsumsi Batubara Banyaknya Perusahaan Lainnya Jumlah Konsumsi Batubara 1.39+13.699 251.367 Tekstil Provinsi Banyaknya Perusahaan Banten Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Timur 14 199 98 5 Jumlah 316 Sumber : - Dinas Tenaga Kerja Provinsi Banten.708 4.141 1.544 35.000 3.052 15.313 29.227 128.97 X .Tabel 1.877 Provinsi 5.800 65 546. Estimasi jumlah abu dasar (ad) dan abu terbang (at)hasil pembakaran batubara di Pulau Jawa menurut jenis ikm (ton) Kertas Abu Dasar 26. Puslitbang Tekmira Bandung Tabel 2. Jumlah perusahaan pemakai dan konsumsi batubara oleh ikm di Pulau Jawa tahun 2007 Jumlah Perusahaan (Buah) Dan Konsumsi Batubara (Ton) Kertas Konsumsi Batubara 399..800 325.248 36 2..576 5. Jawa Timur (2008) Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung ( 2007) Asosiasi Pertekstilan Indonesia Jawa Barat (2007) Hasil survei Tim Pola Distribusi Batubara Tahun 2008.651 1.336 Abu Terbang 18.074 Berdasarkan model regresi : y(ad) =23.336.850 132.101 43.413 1.038. koefisien korelasi (r) = 48.887 42.280 4.297 6.440 370.898 Jumlah 140. koefisien korelasi (r) = 93.074 14.877 979 125 7.440 2.362.767 1.600 33 19 12 1 342.72 X.080 73.119 5.680 1.556 2. y(at) =173.7477+41.522 681 46.069.747 Jumlah Abu Dasar 57.604 88.4%.575 15.104 Abu Terbang Lainnya Abu Dasar 14.566.160 66. Jawa Tengah.008 45.809 198 22.026 Tekstil Abu Dasar Abu Terbang Analisis Potensi Limbah Hasil Pembakaran Batubara pada Industri .849 19.561 45.962 Abu Terbang 4.119 82.088.750 13.768 3.102.067 465. 165 .775 107.985.218 5 8 5 18 620.400 5.

Timbul kekhawatiran limbah tersebut dibuang di sembarang tempat. dari 94 perusahaan pemakai batubara hanya 26.antaranya banyak ditemukan pada mesin boiler pembakar batubara di sejumlah perusahaan tekstil di wilayah Kabupaten Bandung. Faktor penyebabnya antara lain karena pembakaran yang tidak sempurna. Namun tidak semua perusahaan memiliki lahan yang luas. Perusahaan lain yang telah melakukan pemanfaatan dan pengelolaan limbah dengan baik sesuai dengan prosedur yang berlaku adalah perusahaan tekstil PT.04% saja IKM yang memiliki TPS berizin. Namun pemanfaatan produk dari limbah tersebut ternyata masih terkendala oleh Peraturan Pemerintah No. akibat keterbatasan lahan untuk menyimpan sementara hasil pembakaran batubara. tergantung pada kondisi dan kemampuan masing-masing perusahaan. Pihak KLH sendiri dalam mengeluarkan izin pengolahan dan penggunaan produk limbah batubara sangat selektif dan berhati-hati sekali mengingat tidak semua perusahaan mampu mengelola limbah batubara dengan baik dan benar karena ada dugaan yang menyatakan bahwa sebagian besar perusahaan dalam melakukan pembakaran batubara dilakukan tidak secara sempurna. sehingga tidak diketahui kemana limbah tersebut dibuang. Oleh karena itu. 2) Terdapat korelasi yang sangat signifikan antara penggunaan batubara dengan limbahnya. harus ada suatu bimbingan teknis yang dilakukan oleh para aparat kepada para pekerja di pabrik yang menggunakan batubara.1. harus ada solusi untuk menangani limbah tersebut. sehingga produknya tidak dapat digunakan secara bebas sebelum produk tersebut benar-benar dinyatakan bebas dari limbah B3 atas izin Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). Dalam menangani limbah hasil pembakaran batubara setiap perusahaan melakukannya dengan cara yang berbeda. tidak atau belum boleh dijual ke masyarakat umum. Sehingga di dalam limbah hasil pembakaran batubara masih banyak mengandung batubara walaupun kalorinya rendah. 4) Kualitas batubara dari pemasok dan teknik pembakaran batubara yang tidak sempurna menjadikan limbah ini dinyatakan sebagai limbah B3. mereka memanfaatkan pihak ketiga atau pemasok batubara untuk mengangkutnya. 2007). 5. Bagi sebagian perusahaan yang masih memiliki lahan luas. Berdasarkan informasi yang diperoleh. sementara TPS yang ada sudah tidak mampu untuk menampungnya. kualitas batubara yang selalu berubah dan tidak sesuai dengan spesifikasi boiler. semakin banyak batubara yang digunakan akan semakin banyak pula abu dasar dan abu terbang yang dihasilkan dari pembakaran batubara setiap IKM. perusahaan kecil biasanya menggunakan jasa pemasok batubara atau pihak ketiga untuk mengangkut limbah tersebut. Seiring dengan berjalannya waktu. 3) Hanya 26. penggunaan batubara terus mengalami peningkatan sehingga berkorelasi erat dengan bertambahnya limbah. Padahal berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh berbagai instansi termasuk Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral di Bandung.81% tidak/belum memiliki TPS sama sekali (Dinas Lingkungan Hidup. untuk sementara limbahnya ditimbun di tempat pembuangan sementara (TPS) di sekitar lahan milik perusahaan tersebut. ternyata limbah hasil pembakaran batubara dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan paving blok atau batubata. Daliatex di Kabupaten Bandung yang telah mengolah limbah batubara menjadi batako. Namun produknya hanya boleh digunakan untuk memenuhi kebutuhan intern. Sudah banyak lembaga/instansi yang peduli terhadap limbah ini dan telah mencoba berbagai teknik untuk mengolah limbah ini menjadi bermanfaat. 166 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . maka diprediksi akan semakin banyak IKM yang akan menggunakan batubara sebagai bahan bakar untuk kegiatan produksinya. 18 Tahun 1999 jo PP 85 Tahun 1999 yang menyatakan limbah tersebut termasuk kategori limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).04% saja telah memiliki TPS yang berizin. KESIMPULAN DAN SARAN 5. Oleh karena itu. 26. Kesimpulan Berdasarkan hasil kajian di atas dapat disimpulkan bahwa: 1) Selama batubara masih menjadi pilihan utama sebagai pengganti BBM. Dengan kata lain.04% memiliki TPS tapi tak berizin dan 40.

Bandung. letak. Memberikan izin memasarkan/menggunakan barang yang dibuat dari hasil pengolahan dan pemanfaatan limbah batubara. seperti luas. Pemerintah dapat memberikan izin kepada perusahaan yang benar-benar mampu mengelola (mengumpulkan dan mengolah. Izin pengolahan limbah batubara ini diharapkan harus benar-benar digunakan agar tidak terjadi seperti IPAL yang saat ini mereka miliki ternyata tidak berfungsi sepenuhnya. Dinas Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah. Dinas Tenaga Kerja Provinsi Jawa Timur. Mengenal Batubara (2).. dan memasarkannya. Bandung. 08:40:21. dan lain-lain. dan memanfaatkan) limbah batubara secara baik dan benar. Daftar Perusahaan Yang Menggunakan Batubara di Provinsi Banten. Harus ada satu atau dua perusahaan yang diberi kewenangan khusus menangani limbah batubara. Kajian Batubara Nasional. Ijang. Gaspersz. Vincent. Setiap perusahaan diwajibkan memiliki instalasi pengolahan limbah batubara (IPLB) seperti halnya mereka diwajibkan memiliki instalasi pengolahan limbah (IPAL) dan memanfaatkannya secara optimal. 2007. 2008. Penerbit “Tarsito”. Konsumsi Batubara Oleh Perusahaan Anggota API Jawa Barat. 2008. memanfaatkan dalam bentuk barang (rekomendasi KLH).beritaiptek. Bandung. Suherman. 2008.. Melakukan pengawasan yang ketat dan berkesinambungan kepada perusahaan yang diberi kewenangan mengelola dan memanfaatkan limbah batubara. Semarang. 1990. mengolah (dengan rekomendasi KLH).Bidang Energi dan Sumber Daya Alam. Raharjo. Pengawas harus memberikan laporan secara benar tentang perusahaan pengguna batubara yang diawasinya kepada (Daerah/Pusat/KLH). Dinas Tenaga Kerja Provinsi Jawa Barat. www. Rabu. DAFTAR PUSTAKA Asosiasi Pertekstilan Indonesia Jawa Barat. Artikel Iptek . Analisis Kuantitatif Untuk Perencanaan. 2008. Analisis Potensi Limbah Hasil Pembakaran Batubara pada Industri . mulai dari menampung. 2006. Puslitbang Tekmira. Triswan Suseno dan Tuti Hernawati 167 . 2009. Pemerintah harus mampu meyakinkan masyarakat bahwa limbah dan produk limbah batubara tidak berbahaya karena sudah melalui prosedur pengolahan yang benar. keamanan. Serang. Saran Solusi permasalahan limbah batubara : Mencari dan menentukan lokasi tempat pembuangan limbah batubara yang benar-benar memenuhi persyaratan teknis dan nonteknis. Laporan Kegiatan Seksi Pengendalian Pencemaran Limbah Padat dan B3. Soreang. Daftar Perusahaan Yang Menggunakan Batubara. 2006 dan 2007. Membentuk lembaga/perusahaan yang khusus mengawasi dan mengelola limbah batubara secara profesional serta harus bertanggung jawab kepada pemerintah (Daerah/Pusat/KLH).5.2. Imam Budi. Bandung. Setiap perusahaan pengguna batubara harus mampu melakukan pembakaran batubara secara benar (sempurna) sehingga tidak ada batubara ke dalam limbahnya.com. Dinas Lingkungan Hidup. Daftar Perusahaan Yang Menggunakan Batubara. Untuk memudahkan pemantauan sebaiknya pemerintah atau swasta dapat membuat IPLB secara terpadu yang dapat menampung semua limbah batubara dari setiap industri pengguna batubara untuk memudahkan pengawasan. Surabaya. Dinas Tenaga Kerja Provinsi Banten. 2007. Daftar Perusahaan Yang Menggunakan Batubara.

but not so significant and still similar with oven dried of raw coal. Jenderal Sudirman No. There is an increase of vitrinite reflectance. reflektan vitrinit. peringkat batubara.PENGARUH PROSES UPGRADED BROWN COAL (UBC) TERHADAP PERINGKAT BATUBARA Slamet Suprapto Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. coal classification 168 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . study on the effect of UBC process on coal rank needs to be carried out. Fax. klasifikasi batubara ABSTRACT To overcome misunderstanding about the rank of coal produced by Upgraded Brown Coal (UBC) process. Kata kunci: proses UBC. Terdapat kenaikan reflektan vitrinit. (022) 6030483. tetapi tidak signifikan dan mirip dengan kenaikan yang dialami oleh batubara raw yang dikeringkan dalam oven. Kajian dilakukan dengan membandingkan kondisi proses UBC terhadap kondisi pembatubaraan dan mengumpulkan serta mengolah data analisis kimia dan analisis petrografi batubara raw dan produk UBC. (022) 6003373 e-mail: SARI Untuk mengatasi salah pengertian tentang peringkat batubara hasil proses Upgraded Brown Coal (UBC). 623. The result shows that there UBC process does not increase the rank of coal. Hasil kajian menunjukkan bahwa proses UBC tidak menyebabkan kenaikan peringkat batubara. The study is carried out by comparing the condition of UBC process with the condition of coalification and collecting and calculating chemical and petrographical analysis of raw coal and UBC product. Bandung 40211 Telp. Keywords: UBC process. coal rank. vitrinite reflectance. perlu dilakukan kajian tentang pengaruh proses UBC terhadap peringkat batubara.

maka nilai kalor batubara dapat meningkat. Prinsip proses UBC adalah dengan mencampurkan batubara.300 kal/g (adb) dan kadar air ± 7%. Pilot plant kapasitas 5 ton/jam telah dibangun di Palimanan dan hasil ujicobanya membuktikan bahwa kadar air batubara peringkat rendah dapat dikurangi dan nilai kalornya meningkat. Produk UBC bisa berupa serbuk apabila langsung dimanfaatkan atau berbentuk briket apabila akan ditransportasi pada jarak jauh (Umar. 2005). mencapai 104. Namun. yakni dengan kadar air tinggi dan nilai kalor rendah. batubara peringkat rendah disebut juga batubara kualitas rendah (low grade coal) karena tingginya kadar air dan rendahnya nilai kalor. tingginya kadar air juga menyebabkan rendahnya nilai kalor. Untuk mengatasi permasalahan batubara lignit. Dengan mengurangi kadar air. yakni dengan kadar abu dan kadar belerang rendah.1. Pada saat ini sebagian besar batubara yang ditambang adalah peringat bituminous dan sub bituminous. Produk UBC yang dihasilkan mempunyai nilai kalor >6. Dengan nilai kalor yang tinggi dan kadar abu serta belerang rendah. Mengingat kebutuhan semakin meningkat. Namun sebagian besar batubara Indonesia termasuk peringkat rendah (lignit – sub bituminus). Teknologi yang saat ini berkembang umumnya didasarkan atas proses pengurangan kadar air atau pengeringan. Jepang. sampai saat ini banyak yang menganggap bahwa teknologi UBC juga meningkatkan peringkat batubara. PENDAHULUAN 2. ekspoitasi terhadap batubara lignit juga mulai dikembangkan. kemudian untuk pilot plant dan demonstration plant dikembangkan di Indonesia.6 miliar ton tersebar terutama di Sumatera dan Kalimantan. Proses pengering pada Upgraded Brown Coal Ujicoba pilot plant dengan menggunakan batubara peringkat rendah yang berasal dari beberapa daerah di Indonesia telah beberapa kali dilakukan dan berhasil dengan baik. Padahal batubara peringkat rendah di Indonesia umumnya termasuk bersih. TINJAUAN PUSTAKA Indonesia memiliki sumber daya batubara yang cukup besar. 2. Penambahan minyak residu diperlukan untuk menutup pori-pori batubara sehingga kestabilan kadar air bawaan pasca proses dapat terjaga (Gambar 1). Salah satu teknologi peningkatan kualitas batubara lignit yang saat ini dikembangkan oleh Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara bekerjasama dengan JCOAL. Jepang adalah proses Upgraded Brown Coal. Penelitian skala laboratorium dan skala bench dilakukan di Jepang. teknologi-teknologi peningkatan kualitas batubara telah banyak berkembang. Namun demikian. Slamet Suprapto 169 . Keberhasilan tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan pembangunan demonstration plant kapasitas 1000 ton/jam di Kalimantan Selatan. Gambar 1. Oleh karena itu perlu dilakukan kajian untuk mempelajari pengaruh proses UBC terhadap peringkat batubara. Sedangkan minyak tanah diperlukan sebagai media dalam proses. Tetapi tingginya kadar air pada batubara peringkat rendah terutama lignit menyebabkan tingginya biaya pengangkutan. Kedua hal tersebut menyebabkan lignit lebih sulit dipasarkan dibanding batubara bituminous dan sub bituminous. Hal ini didasarkan kenyataan bahwa produk UBC mempunyai nilai kalor yang mirip dengan nilai kalor batubara peringkat bituminous. Dengan temperatur dan tekanan tersebut. produk UBC lebih baik dibanding batubara bituminous yang mempunyai kadar abu dan belerang tinggi Pengaruh Proses Upgraded Brown Coal (UBC) terhadap Peringkat Batubara. Disamping itu. air bebas (surface moisture) dan juga air lembab (inherent moisture) yang terdapat dalam pori-pori batubara akan diuapkan. Proses UBC Teknologi UBC adalah salah proses coal upgrading yang meningkatkan nilai kalor melalui proses pengeringan (evaporative drying) yang pertama kali dikembangkan oleh Kobe Steel. Campuran tersebut kemudian dipanaskan pada temperatur 150-160ºC dengan tekanan 250-350 kPa.1. Padahal. minyak residu dan minyak tanah. penentuan peringkat batubara tidak bisa ditentukan dari nilai kalor batubara kering udara.

sehingga sangat cocok untuk keperluan dalam negeri maupun ekspor. turunnya kadar H. Kenaikan peringkat batubara juga diikuti oleh perubahan kimia dan sifat fisik batubara sebagai berikut (Francis. Kualitas tersebut mirip dengan kualitas batubara peringkat menengah. Normalnya. temperatur dan waktu. Data analisis kimia yang digunakan diantaranya analisis proksimat (kadar karbon padat. 170 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Hubungan tipikal antara peringkat batubara dengan rasio bahan bakar Peringkat Batubara Lignit High volatile bituminous Medium volatile bituminous Low volatile bituminous Semi antrasit Antrasit Rasio Bahan Bakar 0.C. Tingkat pembatubaraan atau posisi batubara dalam seri lignit – antrasit ini disebut peringkat (rank) (Stach. makin tinggi kadar karbon (dmmf). Rance (1975). dan naiknya nilai kalor. N dan S dan naiknya kadar C.9 1. Proses pematangan juga dapat dipercepat oleh pengaruh dari luar seperti intrusi batuan beku. Sedangkan untuk analisis petrografi digunakan data reflektan vitrinit (Rv). terdapat hubungan antara rasio bahan bakar (fuel ratio) dengan peringkat batubara. yakni perubahan dari gambut menjadi batubara lignit dan seterusnya menjadi batubara-batubara sub bituminous. waktu yang dibutuhkan dalam proses pembatubaraan berkisar antara puluhan sampai ratusan juta tahun. Stach. Hubungan tipikal antara peringkat batubara dengan rasio bahan bakar dapat dilihat pada Tabel 1.3 1. 1965. Pada tahap ini sebetulnya terjadi proses pematangan. makin tinggi peringkat batubara karena makin dekat dengan sumber panas dalam bumi.2. Hubungan antara peringkat dengan kadar karbon dapat dilihat pada Tabel 2. Pada tahap pembatubaraan. Falcon. yakni berkisar antara beberapa kilogram sampai ratusan kilogram. Pada tahap penggambutan terjadi proses biokimia sehingga sisa-sisa tanaman mengalami proses pembusukan.6 24 Menurut Francis (1965) terdapat hubungan antara peringkat dengan kadar karbon pada batubara murni (dry mineral matter free. yakni tekanan. Untuk membentuk antrasit diperlukan temperatur 300ºC. 1982): turunnya kadar air (bed moisture). 1982. 1965. Menurut H. Rasio bahan bakar adalah perbandingan antara karbon padat dengan kadar zat terbang. Pemanasan yang lebih lama akan menghasilkan pematangan yang lebih tinggi sehingga endapan batubara yang berumur lebih tua mempunyai tingkat pembatubaraan yang lebih tinggi. Proses pembentukan batubara pada dasarnya dapat dibagi menjadi 2 tahap. makin dalam endapannya. analisis ultimat (kadar karbon) dan nilai kalor. bituminous dan antrasit. Proses Pembatubaraan Batubara terbentuk dari pembusukan sisa tanaman purba yang terpadatkan setelah tertimbun oleh lapisan penutup di atasnya. Waktu juga berpengaruh terhadap pematangan bahan organik. sirkulasi hidrotermal.8 8. Tekanan berfungsi memadatkan sisa tanaman dan mengurangi kadar air. Temperatur pada proses pembatubaraan normal tidak lebih dari 300ºC. Oleh karena itu. Penentuan Peringkat Batubara Peringkat batubara dapat ditentukan melalui data analisis kimia atau analisis petrografi. Besarnya tekanan tergantung dalamnya endapan batubara atau tebalnya lapisan tanah penutup. Stach. turunnya kadar zat terbang. 2. makin dalam endapannya makin lanjut proses pematangan. dan naiknya reflektan vitrinit. 1986).9 2. Pada tahap ini sisa tanaman masih dalam keadaan terbuka dan belum tertutup oleh tanah penutup. Tabel 1. Temperatur berfungsi mempercepat pematangan bahan organik. dmmf). 2. kadar zat terbang). panas gesekan dan kompilasi tektonik. O. yakni tahap penggambutan (peatification) dan tahap pembatubaraan (coalification). sedangkan untuk batubara bituminous diperlukan temperatur 100 . yakni makin tinggi peringkat batubara.3.150ºC (Francis. 1982). Makin tinggi tinggi peringkat batubara. makin tinggi rasio bahan bakar. sisa tanaman sudah tertutup oleh lapisan tanah penutup sehingga terjadi proses geokimia. Proses pembatubaan dipengaruhi oleh 3 faktor.

5 0.0 1. Peringkat rendah (lignit dan sub bituminous) dengan Rv <0. Pengolahan Data Data hasil analisis batubara raw dan produk UBC pada kondisi kering udara diolah menjadi kondisi kering dan bebas bahan mineral (dmmf) menggunakan rumus Par (Anonymus.15 S x 100 100 – (M + 1. Taban dan Samaranggau. 3.1 0.4 <0. % dimana.0 – 6.55 S) Karbon = (dmmf). 1986) membuat hubungan antara refelektan vitrinit dengan gambut dan peringkat batubara menurut ASTM (Tabel 3).1. zat terbang dan nilai kalor dari batubara murni.0% dan peringkat tinggi (antrasit C . Klasifikasi batubara berdasarkan peringkat menurut ASTM dapat dilihat pada Lampiran 1.3 American Society for Testing Materials (Anonymous. yakni peringkat rendah. KP = kadar karbon padat (adb). International Standard (Anonymous. tetapi dengan memasukkan data kadar air lapisan. Pengumpulan Data Data sekunder berupa hasil analisis kmia dan petrografi batubara raw dan produk UBC diperoleh dari laporan kegiatan pilot plant UBC di Palimanan Cirebon yang beroperasi menggunakan batubara Binungan. Sedangkan untuk batubara yang mempunyai kadar karbon padat (dmmf) <31% atau kadar zat terbang (dmmf) >69%.5 – 6. peringkat batubara ditentukan berdasarkan kadar karbon padat dan zat terbang. % C x 100 100 – (M + 1. Peringkat batubara dibagi menjadi tiga. peringkat menengah (bituminous D . Hubungan antara peringkat batubara dengan reflektan vitrinit Peringkat batubara (ASTM) Meta antrasit Antrasit Semi antrasit Low volatile bituminous Medium volatile bitumious High volatile bituminous Sub bituminous Lignit Gambut Reflektan vitrinit 3.5 – 3.5. Teichmuller dan Barntenstein (Falcon. 3.0%. 2005) sebagai berikut: Karbon padat = (dmmf).5 2.mmf). peringkat batubara ditentukan berdasarkan nilai kalor (mmf) batubara yang masih mengandung air lapisan (bed moisture). % S = kadar belerang (adb).5 1. METODOLOGI 3.6 – 2. yakni kering bebas bahan mineral (dmmf) atau basah dan bebas bahan mineral (moist mineral matter free . Batubara peringkat paling rendah (lignit) mempunyai Rv 0.0.4 – 0.08 A + 0.0%. % A = kadar abu (adb).5 – 1.6 0. diperlukan contoh batubara yang masih segar (fresh) dan langsung diambil dari tambang. % Pengaruh Proses Upgraded Brown Coal (UBC) terhadap Peringkat Batubara.0 – 6.% dmmf 93 – 95 91 – 93 80 – 91 75 – 80 60 – 75 Tabel 3. Slamet Suprapto 171 . yakni kadar karbon padat. % M = kadar air bawaan (adb).A) dengan Rv 2. 2005) kemudian membuat klasifikasi batubara berdasarkan peringkat dengan menggunakan data reflektan vitrinit (Rv). sedangkan batubara peringkat tertinggi (meta antrasit) mempunyai Rv 2.3 – 0. Untuk batubara yang mempunyai kadar karbon padat (dmmf) e”69% atau kadar zat terbang (dmmf) <31%.Tabel 2. peringkat menengah dan peringkat tinggi.1 – 1. % KP – 0.A) dengan Rv 0.3 . Klasifikasi batubara berdasarkan peringkat menurut International Standard (ISO) dapat dilihat pada Lampiran 2.5 – 2. % C = kadar karbon (adb).4%. Apabila penentuan peringkat menggunakan nilai kalor (mmf).55 S) Zat terbang = 100 – kadar karbon padat (dmmf) (dmmf). Hubungan antara peringkat dengan kadar karbon (dmmf) Peringkat Antrasit Carbonaceous Bituminous Sub bituminous Lignit Kadar karbon.0 2. 2005) membuat klasifikasi batubara berdasarkan peringkat dengan menggunakan data analisisi kimia.08 A + 0.2.0 – 2.

90 5. Sebagai pembanding.43 17. Peringkat batubara raw dan produk UBC masih tetap termasuk lignit.80 30. % adb Sumber: Umar.13 6.20 30. Sedangkan batubara peringkat bituminous mempunyai kadar air 5.33 2.589 High volatile A bituminous 5. % adb Zat terbang.54 – 45. Batubara lignit mempunyai kadar air 34.4. Tabel 8 menunjukkan bahwa tidak terdapat perubahan kadar karbon (dmmf) yang siginifikan dari produk UBC dibanding batubara raw. kal/g adb Karbon. Dari Tabel 7 juga dapat dilihat bahwa seluruh batubara raw maupun produk UBC mempunyai kadar karbon padat (dmmf) <69% dan kadar zat Tabel 4.42 40.310 – 6.78 – 48. kal/g ar Sumber: Singer.61 47.00 6. Hal ini terbukti bahwa kadar zat terbang (dmmf) batubara produk UBC lebih tinggi dari yang terdapat pada batubara raw (Tabel 7).19 Raw. sedangkan kadar karbon (dmmf) produk UBC berkisar antara 69. mirip dengan kualitas batubara umpan (raw coal) untuk proses UBC. Hasil analisis tersebut mirip dengan kualitas batubara peringkat high volatile bituminous.65 2. Tabel 5 menyatakan komposisi kimia contoh-contoh batubara peringkat rendah – menengah pada kondisi as received (ar contoh asal) (Singer. % ar Nilai kalor.40 5.54 6. HASIL DAN PEMBAHASAN Data analisis batubara raw dan produk UBC pada kondisi kering udara dapat dilihat pada Tabel 4. Hal ini berarti tidak terjadi kenaikan peringkat batubara akibat proses UBC.90 7.431 57.52 6. Bahkan terdapat kecenderungan penurunan rasio bahan bakar produk UBC dibanding batubara raw.80% dan nilai kalor 4.11 22. Air total.50 45.19 3. Hasil analisis batubara raw dan produk UBC Paramater Raw. 5.98 menyatakan bahwa peringkat batubara produk masih tetap rendah. % ar Zat terbang. % adb Abu.96-0.55 5.08 – 8.278 High volatile B bituminous 12.93 48.60 6.68 39.006 kal/g. % ar Abu.01 Tabel 5.00 44.15 38.805 kal/g.36 37. 2004 Binungan Produk. % adb Nilai kalor. 1. 4.31 5.55 Taban Produk.278 – 7.60 35.20 40.35 4.40% dan nilai kalor 6.50 2.048 53.34% dan karbon padat 42.80 4.70 – 71. % adb Karbon Padat.05 37.60 4. Rasio bahan bakar batubara produk UBC (Tabel 6) yang berkisar antara 0. % ar Karbon padat.47 5.894 Lignit 34.80 60.20 28.310 64.5 12.00 30.07%. mirip dengan kualitas produk UBC.07 6.74%.34 42.628 172 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .00 47.88 Samaranggau Raw 32.48% dan nilai kalor 6. 1981). 1981 Peringkat Menengah High volatile C bituminous 10. Data analisis contoh batubara peringkat rendah – menengah Peringkat Rendah Parameter Air. Penurunan rasio bahan bakar tersebut dikarenakan oleh naiknya kadar zat terbang yang kemungkinan akibat penambahan atau sisa residu (LSWR) yang ditambahkan selama proses UBC (lihat Gambar 1).67 45. zat terbang 46. 33. Produk UBC mempunyai kadar air lembab 5.89 6.894 kal/g.324 57.59 Produk.56 16. Kadar karbon (dmmf) batubara raw berkisar antara 71. yakni lignit.76%. % ar Air lembab.78 44.625 66.50 – 12.006 Sub bituminous 19.81 46.75 15.90 32.805 65.80 6.

namun waktu (durasi) proses sangat berbeda.38 0.95 Tabel 8. Mengingat nilai kalor (mmf) harus ditentukan dari batubara yang masih mengandung air lapisan.34 71. Tabel 9.98 53.43 Zat terbang%. Tabel 9 menunjukkan terjadinya kenaikan reflektan vitrinit akibat proses UBC. Apalagi refelektan vitrinit batubara kering oven yang juga mengalami kenaikan dibandingkan batubara raw. % Rata-rata 0.29-0.039 0.50 51.35-0.45 0. Reflektan vitrinit batubara raw.29 – 0.43 Deviasi 0.60% atau rata-rata 0.38% menjadi 0. produk UBC dan batubara kering oven Contoh Kisaran Batubara raw Produk UBC Batubara kering oven Sumber: Daulay. Slamet Suprapto 173 .70 Tabel 7.10 48.96 0.88 0.12 73. Rasio bahan bakar batubara raw dan produk UBC Contoh Batubara Binungan Taban Samaranggau Raw Produk Raw Produk Raw Produk Rasio Bahan Bakar 1. Tetapi. maka peringkat batubara produk UBC tidak bisa ditentukan menurut kalsifikasi ASTM. Kadar karbon padat dan zat terbang batubara raw dan produk UBC Contoh Batubara Binungan Taban Samaranggau Raw Produk Raw Produk Raw Produk Karbon padat.32 – 0.02 46. Waktu tinggal batubara pada proses UBC tidak lebih dari 1 hari. peringkat batubara produk UBC tidak mengalami kenaikan yang berarti. dmmf 48.18 69.57 terbang (dmmf) >31%.50 49.60 0.44 0. 2008 Reflektan Vitrinit.45.038 0.46 48.08 0.053 0. Dengan demikian maka peringkat batubara harus ditentukan dari nilai kalor (mmf).98 0.50 50. sedangkan proses pembatubaraan yang merubah batubara lignit menjadi batubara high votaltile bituminous terjadi dalam waktu puluhan juta tahun. Temperatur yang digunakan untuk proses UBC memang mirip dengan temperatur proses pembatubaraan.Tabel 6.35 – 0.97 0.57 49.51 Pengaruh Proses Upgraded Brown Coal (UBC) terhadap Peringkat Batubara.44% atau ratarata 0.60 71.76 72.43 50.% dmmf 51. Pembahasan tersebut di atas menyatakan bahwa peringkat batubara produk UBC cenderung sama dengan peringkat batubara raw.54 51. Reflektan vitrinit batubara raw berkisar antara 0. Kadar karbon batubara raw dan produk UBC Contoh Batubara Binungan Taban Samaranggau Raw Produk Raw Produk Raw Produk Kadar Karbon% dmmf 74.

2004. D. Review Paper No.. Combustion. Anonymous. M. Berlin. T. Gebruder Borntraeger. 31-45. Terdapat sedikit kenaikan reflektan vitrinit. Characterization of upgraded brown coal (UBC). rographic Constituents in the Bituminous Coals of South Africa. 2008. Oxford. Daulay. D.C.. rasio bahan bakar. Stach’s Textbook of Coal Petrology. pp. and Sugita. Falcon. E. J.F. Stach. H.H.. Coal Quality Parameters and their Influence in Coal Utilization.. Pengujian Peningkatan Kualitas Batubara Peringkat Rendah dengan Proses UBC (Upgraded Brown Coal) Skala Pilot. Fuels and Fuel Technology. The Geological Society of South Africa. Singer. B. Suganal & Rijwan. Windsor. Rance...F. Mackowsky. Deguchi. M. G.5. ISO 11760:2005(E). Classification of Coal by Rank. 2005. I. 1975.. 1982. Connecticut. Proses UBC tidak berpengaruh terhadap peringkat batubara. 2. B. Bandung. Chandra.. TH. 2005. Francis. no.. 2005. H. International Standard. vol. Pergamon Press. Annual Book of ASTM Standard. Combustion Engineering.P. Daulay. Coal preparation. 1986.. (Ed.. DAFTAR PUSTAKA Anonymous. tetapi peringkatnya relatifsama dengan batubara raw. R & D Centre for Mineral and Coal Technology. W. Taylor. Umar. 1965.G. 25.. Usui. tetapi mirip dengan kenaikan pada batubara kering oven.. Ltd.. R. S. Daulay. Fossil Power. An Introduction to Coal Petrography: Atlas of Pet- 174 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .1. and Snyman. KESIMPULAN Kualitas batubara produk UBC mirip dengan batubara peringkat high volatile bituminous.. Bandung.. Classification of coal. 1991. D 388 – 99(2004).S. Inc.. Petrografphy of Raw Coal and its UBC Product. Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara. Umar.M. C. R. & Teichmuller.). Teichmuller. D. B. kadar karbon dmmf tetap dan tidak mengalami perubahan yang berarti. Shell International Petroleum Co..

The size of crystal pyrrhotite formed from iron ore catalyst is smaller than that from tailing catalyst. ukuran kristal pirhotit yang terbentuk dari katalis bijih besi Kalsel lebih kecil daripada katalis tailing PT. Keywords: iron ore. perubahan suhu dari 350-450°C cenderung tidak berpengaruh terhadap ukuran kristal pirhotit yang terbentuk dari katalis tailing PT.esdm. The result of the research will be compared to that of the research using tailing from PT.FI).go. 623 Bandung 40211 Telp. The aim of this research is to identify of reactivity and activity of iron ore as catalyst on coal liquefaction. semakin tinggi suhu maka kristal pirhotit yang terbentuk semakin besar. Kunci: bijih besi. the research of iron ore from South Kalimantan as coal liquefaction catalyst has been carried out. Freeport Indonesia (PT. 022 . Hasil percobaan dibandingkan dengan hasil yang diperoleh dengan menggunakan katalis tailing dari PT.id ABSTRAK Katalis dalam pencairan batubara berperan sangat penting untuk dapat meningkatkan konversi batubara menjadi minyak. Metoda yang digunakan adalah dengan melakukan uji sulfidasi untuk mengamati pertumbuhan kristal pirhotit dan mengetahui persentasi produk dan konversi pencairan batubara.. tailing. hal ini dibuktikan dari kereaktifannya yakni perolehan produk minyak serta hasil konversi pencairan batubara yang lebih besar pada kondisi proses yang sama. Sudirman No. mineral yang terkandung dalam bahan katalis bijih besi berpengaruh terhadap terbentuknya kristal pirhotit.Freeport. tailing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu berpengaruh terhadap terbentuknya ukuran kristal pirhotit dari katalis bijih besi Kalsel. The methodology of the research is sulfidation to observe the crystal growth of pyrrhotite and percentage of coal yield and coal conversion. The oil yield and percentage of coal conversion increased as compare to that of tailing catalyst. In order to develop Indonesian catalyst sources for coal liquefaction. ukuran kristal pirhotit ABSTRACT Catalyst in coal liquefaction is very important to increase percentage of coal conversion.. The result show that the temperature and mineral mater in iron ore is influential to the size of crystal pyrrhotite but temperature and mineral mater in tailing is not influential to the size of crystal pyrrhotite.id.go. Freeport Indonesia. Nining Sudini Ningrum dan Hermanu Prijono 175 .6030483 Fax..esdm. Dalam rangka menambah sumber katalis pencairan batubara yang ada di Indonesia. Katalis yang banyak digunakan dalam pencairan batubara adalah katalis yang berbasis besi. 022 . maka telah dicoba bijih besi dari Kalimantan Selatan untuk digunakan sebagai katalis.UJI SULFIDASI BIJIH BESI KALIMANTAN SELATAN DAN TAILING PT. sulfidasi. sulfidation. Tujuannya adalah untuk mengetahui reaktifitas/aktifitas/efektifitas penggunaan bahan katalis berbasis besi dari bijih besi Kalimantan Selatan. FREEPORT INDONESIA SEBAGAI KATALIS PENCAIRAN BATUBARA Nining Sudini Ningrum dan Hermanu Prijono Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jln.Freeport Indonesia. crystal pyrrhotite size Uji Sulfidasi Bijih Besi Kalimantan Selatan dan Tailing . hermanu@tekmira.6003373 e-mail : ninings@tekmira. It is generally recognized that the iron based catalyst is an active phase in coal liquefaction.

ratio atom S/Fe 2 pada suhu 400°C iv) Pelarut + Bijih Besi Kalsel (ukuran -325#) + 176 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .. dari Kalimantan Selatan. Tujuan penelitian untuk mengetahui (reaktifitas/ aktifitas/efektifitas) penggunaan bahan katalis berbasis besi dari bijih besi Kalimantan Selatan dan tailing dari PT. Pada pencairan batubara. Kedua syarat di atas dapat terakomodasi dengan baik apabila ada katalis. Dalam proses pencairan batubara. Katalis juga bersifat spesifik. Jalan baru yang dimaksud yaitu jalan yang mempunyai energi aktivasi yang lebih rendah. dan terpenuhi energi aktivasinya. Fe(1-x)S yang merupakan fasa aktif yang sangat berperan dalam proses pencairan batubara. Katalis memiliki sifat tertentu. FI).1. karena pada kondisi reaksi pencairan berlangsung unsur besi dalam katalis bereaksi dengan sulfur membentuk senyawa pirhotit. Katalis dapat mengantarkan reaktan melalui jalan baru yang lebih mudah untuk berubah menjadi produk. Uji Sulfidasi Katalis Percobaan uji sulfidasi katalis dilakukan dengan menggunakan beberapa variabel: i) Pelarut + Bijih Besi Kalsel (ukuran -325#) + Sulfur. Untuk mengetahui kinerja dari pirhotit ini salah satunya dengan melihat ukuran kristal yang terbentuk. Penggunaan bijih besi yang relatif murah diharapkan dapat menekan ongkos yang diperlukan untuk pembelian katalis.. yakni katalis tidak mengubah kesetimbangan dan katalis hanya berpengaruh pada sifat kinetik seperti mekanisme reaksi. tapi dilakukan tanpa batubara. Pengujian sulfidasi hampir mirip dengan pengujian pencairan batubara. Dengan demikian konversi yang dihasilkan tidak akan melebihi konversi kesetimbangan. katalis berbasis besi ditambahkan sulfur. besi sulfida seperti Pyrite. PERCOBAAN 3. Suatu bahan katalis memiliki kinerja yang baik untuk pencairan batubara bila ukuran kristal fasa aktif pirhotit tidak lebih dari 40 nm (Kaneko. katalis mempunyai peran yang sangat penting yakni dapat meningkatkan konversi batubara menjadi minyak. ukuran partikel dan ukuran kristal katalis. Bijih Besi dari Kalimantan Selatan mudah diperoleh dan cadangannya banyak mempunyai kandungan oksida besi yang tinggi. International Nikel Indonesia. PENDAHULUAN 2. KAJIAN PUSTAKA Suatu reaksi dapat berlangsung bila terjadi kontak yang efektif antar molekul reaktan. tekanan dan waktu reaksi. Disamping itu katalis juga dapat membuat kondisi reaksi menjadi lebih moderat seperti menurunkan suhu. Semakin besar ukuran kristal pirhotit semakin rendah kereaktifannya yang berakibat rendahnya jumlah batubara yang dapat dicairkan. ratio atom S/Fe 2 pada suhu 375°C iii) Pelarut + Bijih Besi Kalsel (ukuran -325#) + Sulfur. satu katalis hanya sesuai untuk satu jenis reaksi saja. Aktifitas katalis sangat dipengaruhi oleh dispersi katalis yang tergantung pada luas permukaan. Pyrrhotite dan Troilite dianggap sesuai sebagai katalis pencairan batubara karena cukup aktif dan berharga murah (Yokoyama. dkk. 1998). Freeport Indonesia (PT. Ukuran kristal dapat membesar karena adanya aglomerasi antar partikel pirhotit. 1986). Hasil dari uji sulfidasi dicuci dengan tetrahidrofuran sehingga kristal pirhotit bersih dari pengotor yang kemudian dipisahkan dari pelarut dengan pompa vacuum untuk selanjutnya diuji dengan XRD guna mengetahui kristal pirhotit yang terbentuk. Pengujian ini dilakukan untuk melihat kinerja pirhotit yang terbentuk dari katalis. Ukuran kristal pirhotit dapat dihitung dengan formula dari Scherer yang datanya diambil dari uji XRD hasil uji sulfidasi.1. persentasi produk dan konversi pencairan batubara secara langsung. dkk. Seperti disebutkan sebelumnya bahwa semakin besar ukuran kristal pirhotit semakin rendah kereaktifannya yang berakibat rendahnya jumlah batubara yang dapat dicairkan. Pada penelitian ini telah dilakukan pengujian katalis berbasis besi berupa bijih besi. Beberapa jenis katalis telah dicoba untuk pencairan batubara tetapi sampai saat ini. terhadap: pertumbuhan pembentukan kristal pirhotit dengan melakukan proses sulfidasi pada suhu 350-425°C. Mineral-mineral yang mengandung oksida besi antara lain laterit dari Pulau Sebuku dan limonit dari Soroako berasal dari PT. Keberadaan katalis juga dapat meningkatkan jumlah tumbukan antar molekul reaktan. 3. ratio atom S/Fe 2 pada suhu 350°C ii) Pelarut + Bijih Besi Kalsel (ukuran -325#) + Sulfur.

Heksana c. PH2 = 10 MPa. 375°C.  Kat sbg Fe 3% dari BB 1. Toluena b.1.2. dan 425°C) ii) Katalis Tailing PT. 400. Uji Sulfidasi Variasi percobaan adalah sebagai berikut: i) Katalis Bijih Besi Kalimantan Selatan (suhu 350°C. PT. soltv =  15 g. ratio atom S/Fe 2 pada suhu 425°C v) 3. ratio atom S/Fe 2 pada suhu 350°C vi) Pelarut + Tailing PT.ukuran ‐325.   saring dengan pompa vacum Ektraksi dengan a. Uji Katalis untuk Pencairan Batubara 4.Sulfur. soltv = 15 g . HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil analisis kimia dan XRD bahan baku katalis 4. -325 # Uji Sulfidasi pada   = 0 menit.  S/F = 2. 400°C. ratio atom S/Fe 2 pada suhu 425°C Pelarut + Tailing PT. .. dan 425°C).. 425OC Kondisis pencairan : T = 400 °C. 400°C. ratio atom S/Fe 2 pada suhu 375°C vii) Pelarut + Tailing PT. ratio atom S/Fe 2 pada suhu 400°C viii) Pelarut + Tailing PT. Bahan baku katalis berbasis besi Peremukan Uji : 1. PH2 =  t 10 MPa.FI (ukuran -325#) + Sulfur. Penambahan Sulfurdg rasio Cuci dengan tetrahidrofuran. t =  60 menit.FI (suhu 350°C.FI (ukuran -325#) + Sulfur. Freeport Indonesia.FI (ukuran -325#) + Sulfur. Nining Sudini Ningrum dan Hermanu Prijono 177 . Tetrahidrofuran % Produk dan % konversi filtrat Kristal pirhotit Uji XRD Uji Sulfidasi Bijih Besi Kalimantan Selatan dan Tailing . mesh Variasi suhu= 350. 375°C.FI (ukuran -325#) + Sulfur. Analisis Kimia Penggerusan Analisis Ayak 1. Kat sbg  Fe = 3%. 375. XRD 2.

FI dilakukan pada autoclave dengan kondisi operasi sama dengan katalis bijih besi. 4000C. Kristal pirhotit terkecil yang terbentuk dari katalis bijih besi. Secara umum ukuran kristal pirhotit bertambah dengan meningkatnya suhu. dan 4250C.5406 1.1. dan ukurannya meningkat dengan semakin tingginya suhu.FI berpengaruh terhadap perolehan produk dan persen konversi pencairan batubara.1. dan 4250C.33 0. merupakan acuan kondisi operasi yang diambil dari Kaneko.19 16. Kalsel terjadi pada suhu sulfidasi 375ºC. ukuran partikel katalis -325#.4. Katalis dari tailing PT. Hasil analisis XRD untuk hasil uji sulfidasi. Pengamatan dilakukan untuk mengetahui pengaruh suhu terhadap ukuran kristal fasa aktif pirhotit. dkk. 4000C.5406 1.79 20. ukuran kristal pirhotit katalis bijih besi Kalsel lebih besar dibanding ukuran kristal yang terbentuk pada suhu 375ºC.5406 1. Pengamatan pada percobaan ini dilakukan pada suhu 3500C. konversi komponen besi dari katalis tailing PT.88 29.5406 Pos. Hal ini disebabkan terjadinya aglomerisasi antar partikel pirihotit pada suhu yang semakin tinggi. rasio atom S/Fe – katalis = 2. Pada suhu sulfidasi 350ºC.87 FWHM [°2Th. Suatu bahan katalis memiliki kinerja yang baik untuk pencairan batubara bila ukuran kristal fasa aktif pirhotit kecil. Pada percobaan sulfidasi ini.1 Sulfidisasi katalis bijih besi Kalimantan Selatan Kondisi operasi sulfidasi katalis dilakukan tanpa batubara pada tekanan 100 MPa dan waktu tinggal operasi mendekati 0 menit (t = 0 menit). Pengamatan dilakukan untuk mengetahui pengaruh suhu terhadap ukuran kristal fasa aktif pirhotit. Percobaan sulfidasi ini dilakukan menggunakan autoclave dengan laju pemanasan 5°C/menit pada tekanan awal dari H2 10 MPa dengan penambahan sulfur.. Hasil analisis XRD untuk hasil uji sulfida katalis Tailing PT. Kalsel. Pada Tabel 1 di atas terlihat bahwa perubahan suhu berpengaruh pada ukuran kristal pirhotit yang terbentuk. 3750C. Hal ini diperkirakan karena struktur kristal yang masih amorf sehingga bidang kristal pirhotit belum terbentuk dengan sempurna.19 178 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .] Bid. Kalsel dengan melihat ukuran kristal yang terbentuk. Dari data yang didapat maka suhu 375ºC merupakan suhu dimana kristal pirhotit memiliki ukuran terkecil sehingga katalis memiliki kereaktifan yang terbaik dalam meningkatkan jumlah batubara yang dicairkan seperti terlihat pula pada Gambar 1. Percobaan sulfidasi ini dilakukan untuk mengetahui kinerja katalis bijih besi. sehingga didapat suhu optimal dimana katalis memiliki aktifitas maksimal.49 0. Pengamatan dilakukan pada suhu 3500C.hkl 200 29.33 Ukuran Kristal (nm) 25. [°2Th. Pengaruh suhu terhadap ukuran pirhotit katalis bijih besi.41 0. dan proses sulfidasi dilakukan mendekati kondisi proses pencairan.] 0. FI.90 29. Grafik hubungan ukuran kristal pirhotit katalis bijih besi terhadap suhu 4. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Ningrum dan Prijono (2009) menunjukkan bahwa penambahan katalis berbasis besi berpengaruh terhadap perolehan produk dan persen konversi pencairan batubara. Kalsel Suhu Sulfidasi (°C) 350 375 400 425 λ (A) 1. FI Pada penelitian Ningrum dan Prijono (2009) telah dibahas bahwa penambahan katalis dari tailing PT.15 25. Gambar 1. Tabel 1.90 29. 3750C. sehingga diperoleh suhu optimal dan memiliki aktifitas maksimal.FI mengandung sulfur yang berasosiasi dengan besi dalam bentuk pirit. (1998) dan Ningrum dan Prijono (2009) dengan ukuran partikel katalis adalah -325 #.2 Sulfidisasi katalis tailing PT.

ukuran partikel katalis -325#.33 0. Hal ini diperkirakan karena adanya unsur Si yang menghambat kereaktifan katalis sehingga ukuran katalis cenderung sama. Pengaruh Ukuran Kristal Pirhotit Katalis Bijih Besi Kalsel dan Tailing PT.86 29.20 71.2.06 44. Hasil percobaan menunjukkan bahwa konversi dengan n.. sedangkan ukuran kristal pirhotit terbesar pada suhu 4000C.FI yang memiliki kristal pirhotit yang besar.29 0.06 44. FI pada Produk dan Konversi Pengaruh jenis bahan katalis berbasis besi dan ukuran kristal pirhotit yang terbentuk terhadap produk pencairan batubara dapat dilihat pada Tabel 3.al (1998) juga menunjukkan bahwa kristal pirhotit yang terbentuk dari pirit lebih besar daripada limonit dan goetit. Pengaruh jenis katalis dan ukuran kristal pihotit terhadap jumlah produk dan persen konversi pencairan batubara Ukuran Kristal Pirhotit (nm) 20. [°2Th. hexan maupun toluen pada pencairan batubara dengan katalis bijih besi.79 Produk (%) Minyak Berat 65.20 25. Pengaruh suhu terhadap ukuran kristal pirhotit katalis tailing PT.15 28. Kalsel dengan ukuran kristal pirhotit yang lebih kecil menghasilkan produk minyak berat yang lebih besar daripada yang menggunakan katalis tailing PT. Ukuran kristal pirhotit katalis yang terbentuk cenderung sama dengan ukuran terkecil kristal pirhotit pada suhu sulfidasi 375 0 C. Freeport Dari Tabel 3 terlihat bahwa pencairan batubara yang menggunakan katalis bijih besi.FI Suhu Sulfidasi (0C) 350 375 400 425 λ (A) 1.99 29. Grafik hubungan ukuran kristal pirhotit katalis tailing PT. Kristal pirhotit yang terbentuk dari pirit lebih besar dari kristal pirhotit yang terbentuk dari katalis besi oksida. yang dilakukan pada kondisi tekanan awal H210 Mpa perbandingan atom S/Fe = 2.5406 Pos. Nining Sudini Ningrum dan Hermanu Prijono 179 .Pada Tabel 2 di atas terlihat bahwa perubahan suhu pada katalis tailing PT.72 Aspalten 19.hkl 200 29. Freeport terhadap suhu Uji Sulfidasi Bijih Besi Kalimantan Selatan dan Tailing .FI cenderung tidak terlalu berpengaruh pada ukuran kristal pirhotit yang terbentuk. Tabel 2.FI.FI lebih banyak daripada pencairan dengan katalis bijih besi. Dalam Tabel 3 ini diperlihatkan perbandingan produk dan persen konversi hasil pencairan batubara menggunakan katalis bijih besi Kalimantan Selatan dan katalis tailing PT.87 FWHM [°2Th. Penelitian yang dilakukan oleh Kaneko.5406 1.30 % Konversi Ekstraksi n.5406 1. et.02 Jenis Katalis Bijih Besi Kalsel Tailing PT.14 26.79 25. Kalsel yang memiliki ukuran kristal pirhotit kecil hasilnya lebih Gambar 2.] Bid. Data pada Tabel 2 menunjukkan bahwa suhu 3750C merupakan suhu dimana kristal pirhotit yang terbentuk memiliki ukuran terkecil sehingga memiliki kereaktifan terbaik dan dapat meningkatkan jumlah batubara yang dicairkan..72 Ekstraksi toluen 84.19 28. 4.5406 1. dan suhu 4000C. Produk aspalten pencairan batubara yang menggunakan katalis tailing PT. heksan 65.86 29.33 Ukuran Kristal (nm) 25.33 0.] 0.19 Tabel 3.

S. perolehan produk minyak serta hasil konversi pencairan batubara yang lebih besar pada kondisi proses yang sama. H. 5. ukuran kristal pirhotit yang terbentuk dari katalis bijih besi Kalsel lebih kecil daripada katalis tailing PT. 65.FI). Indonesia. T. Gambar 4. Kodaira and Y. maka bijih besi Kalsel lebih baik sebagai katalis pencairan batubara daripada tailing PT. Semakin tinggi suhu maka kristal pirhotit yang terbentuk semakin besar. sehingga peran katalis lebih efektif. Hal ini disebabkan semakin kecil ukuran kristal pirhotit yang terbentuk. Koyama. Freeport Indonesia dan Waktu Tinggal Reaksi pada Pencairan Batubara. FMIPA UNS Surakarta. pp.baik dibanding katalis dari tailing PT. Energy & Fuels. and Y. 180 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . KESIMPULAN Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: suhu berpengaruh terhadap terbentuknya ukuran kristal pirhotit dari katalis berbasis besi yang merupakan fasa aktif pencairan batubara. Shimasaki. pp. 1998.Freeport hal ini dibuktikan dari kereaktifannya. katalis dari bijih besi Kalsel yang terdiri atas hematit ukuran kristal pirhotit yang terbentuk lebih kecil dibandingkan yang berasal dari tailing PT. FI yang mengandung unsur sulfur dalam bentuk pirit. 897-904. Tazawa. Freeport Indonesia (PT. Grafik hubungan ukuran kristal pirhotit dan jenis bahan katalis besi terhadap persen konversi N Heksan dan Toluen Ningrum. Catalytic Activity of Various Iron Sulphides in Coal Liquefaction. N. Yokoyama.. K. Satou. Fuel. luas permukaan kontak kristal pirhotit semakin besar. mineral yang terkandung dalam bahan katalis berpengaruh terhadap terbentuknya kristal pirhotit. K. Prosiding Seminar Energi Baru Terbarukan: Peranan Energi Baru Terbarukan Dalam Mengatasi Krisis Energi dan Menghambat Laju Pemanasan Global. Grafik hubungan ukuran kristal pirhotit dan jenis bahan katalis berbasis besi terhadap jumlah produk hasil pencairan batubara DAFTAR PUSTAKA Kaneko. 82-96. 1986. Yoshida. T. Maekawa.S dan Prijono. FI (Gambar 3 dan 4). pp. Transformation of Iron Catalyst to the Active Phase in Coal Liquefaction. Kageyama. R.FI yang memiliki kristal pirhotit lebih besar. Narita. Dilihat dari jumlah hasil produk dan persen konversi secara keseluruhan. K. Vol. Pengaruh Fraksi Ukuran Katalis Tailing PT.. selama proses pencairan ukuran kristal pirhotit akan membesar seiring dengan meningkatnya suhu operasi. H. 164-170. K. Gambar 3. perubahan suhu dari 350-450°C cenderung tidak berpengaruh terhadap ukuran kristal pirhotit yang terbentuk dari katalis tailing PT. 2009. 12.

200 cal/gr. Pada kondisi ini briket UBC yang dihasilkan mempunyai kuat tekan 73 . setelah dilakukan proses dan mengetahui kondisi optimum pembriketan pada batubara hasil proses pada UBC skala pilot di Palimanan. pembriketan. densitas 1. Ikin Sodikin dan Datin Fatia Umar 181 . South Kalimantan after process and the optimum conditions of briquetting to coal after process in UBC pilot plant Palimanan. zat terbang. The aim of this research is to know the changes of Mulia coal characteristics from Satui. Fax. sedangkan kadar hidrogen dan oksigen turun. 000 kal/g dapat ditingkatkan menjadi >6. : (022) 6030483.200 kal/g. Cirebon.000 cal/gr.104 kg/ jam.04 g/cm3 dan kecepatan produk briket UBC yang dihasilkan sebanyak 1.KARAKTERISASI DAN OPTIMALISASI PEMBRIKETAN PADA BATUBARA HASIL PROSES UPGRADED BROWN COAL SKALA PILOT Ikin Sodikin dan Datin Fatia Umar Pusat Penelitian dan Pegembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. belerang. ext. karbon padat. Cirebon. Cirebon. the coal with calorific value of <5. Kata kunci : karakterisasi. Sementara kadar abu. From 7 Indonesian low rank coal samples.. started with UBC pilot plant construction with a capacity of 5 ton/day in Palimanan. Dari 7 contoh batubara peringkat rendah yang berasal dari beberapa daerah di Indonesia. e-mail : ikin@tekmira. dimulai dengan pembangunan UBC skala pilot kapasitas 5 ton/hari di Palimanan. Hasil proses UBC yang dilakukan dapat menurunkan kadar air bawaan (inherent moisture) batubara Mulia sebesar 71. Kondisi optimum pembriketan didapat pada kondisi putaran roll 8 rpm dan temperatur 80 .go.000 kal/g. karbon dan nitrogen mengalami kenaikan. Karakterisasi dan Optimalisasi Pembriketan pada Batubara .6%. Jenderal Sudirman No..200 cal/gr increased to be >7.000 cal/gr can be increased to be >6.esdm. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan karakteristik batubara Mulia yang berasal dari daerah Satui.110°C. : (022) 6038027.5%. Bahkan batubara yang berasal dari Banko dengan nilai kalori <5. West Java.esdm.77 kg/cm2.015 – 1.go. skala pilot ABSTRACT Research on low rank coal upgrading with Upgraded Brown Coal (UBC) technology has been developed since 2002.id SARI Penelitian peningkatan kualitas batubara peringkat rendah dengan teknologi Upgraded Brown Coal (UBC) telah dilakukan sejak tahun 2002. proses UBC. dapat ditingkatkan menjadi >7.id dan Datin@tekmira.200 kal/g. Jawa Barat. Kalimantan Selatan. sehingga nilai kalor naik sebesar 26. batubara dengan nilai kalori <5. Cirebon. 227. 623. Bandung – 40211 Telp. meanwhile low rank coal from Banko with calorific value of <5.

2. Whilst ash. KAJIAN TEORITIS 2. pilot plant 1. density 1. carbon and nitrogen contents were increased. sedangkan penurunan kadar air lembab harus dilakukan dengan cara pemanasan. the calorific value increased about 26. Jawa Barat.04 g/cm3 and briquet production capacity of about 1.. The optimum condition of briquetting was reached at roll rotation of 8 rpm and temperature of 80-110 °C. Kalimantan Selatan. UBC briquettes resulted have a pressure strength of 73-77 kg cm2. Jepang (Shigehisa et al. batubara dengan nilai kalori <5. Kalimantan Selatan. 2007). sehingga nilai kalori batubara tersebut menjadi lebih tinggi. 2000). 2009). batubara peringkat rendah mempunyai kandungan air total cukup tinggi yang menyebabkan nilai kalor menjadi rendah. Salah satu teknologi untuk menurunkan kadar air lembab adalah proses UBC yang merupakan teknologi peningkatan kualitas (upgrading) batubara peringkat rendah 182 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . dkk. therefore.000 kal/g. 2. sulfur. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan karakteristik batubara Mulia yang berasal dari daerah Satui. setelah dilakukan proses UBC dan mengetahui kondisi optimum pembriketan pada batubara hasil proses UBC skala pilot yang berlokasi di Palimanan.000 kal/g dapat ditingkatkan menjadi >6.104 kg/hour. Keuntungan teknologi ini.015 –1.2. Jawa Barat. Beberapa penelitian dengan maksud tersebut telah banyak dilakukan sejak tahun 1920-an di Amerika Serikat. Jepang dan lain-lain (Suwono. 2000). Kandungan Air Dalam batubara Air yang terkandung dalam batubara terdiri atas air bebas (free moisture) dan air lembab (inherent moisture). Dengan demikian diperlukan teknologi khusus untuk menurunkan kadar air. Kegiatan penelitian peningkatan kualitas batubara peringkat rendah dengan teknologi UBC ini telah dimulai sejak tahun 2002 oleh Puslitbang tekMIRA bekerjasama dengan Kobe Steel Ltd. yaitu sekitar 60% dari total sumber daya yang jumlahnya 104. Proses UBC Penurunan kadar air dalam batubara dapat dilakukan dengan cara mekanik atau perlakuan panas. Cirebon. Kadar air bebas dapat dikurangi secara efektif dengan cara mekanik. Salah satu di antaranya adalah teknologi Upgraded Brown Coal (UBC) yang merupakan teknologi peningkatan nilai kalor (upgrading) batubara peringkat rendah melalui penurunan kadar air total yang dikembangkan oleh Kobe Steel Ltd. hydrogen. UBC process. briquetting. dengan dimulainya pembangunan UBC skala pilot dengan kapasitas 5 ton/hari di Palimanan.5%.. Air bebas adalah air yang terikat secara mekanik dengan batubara pada permukaan dalam rekahan atau kapiler yang mempunyai tekanan uap normal.The result of UBC process.6%. Australia. Jepang. Seperti diketahui. Batubara peringkat rendah ini belum banyak dieksploitasi karena masih mengalami kendala dalam masalah transportasi dan pemanfaatannya. LATAR BELAKANG Kualitas batubara Indonesia pada umumnya didominasi oleh batubara peringkat rendah (lignit dan subbituminus).7 milyar ton (Sukhyar. Bahkan batubara yang berasal dari Banko dengan nilai kalori <5. Pilot plant tersebut telah berhasil dioperasikan dengan baik.1. inherent moisture of Mulia coal can be decreased about 71.200 kal/g. Air lembab adalah air yang terikat secara fisik pada struktur pori-pori bagian dalam batubara dan mempunyai tekanan uap yang lebih rendah daripada tekanan uap normal. In this condition. Kandungan air dalam batubara baik air bebas maupun air lembab merupakan faktor yang merugikan. karena memberikan pengaruh yang negatif terhadap biaya transportasi dan proses pembakarannya. Dari 7 contoh batubara peringkat rendah yang berasal dari beberapa daerah di Indonesia. yang akan dipakai sebagai acuan untuk pengoperasian proses UBC demonstration plant di Satui. volatile matter. Hasil kegiatan proses UBC ini digunakan sebagai acuan dalam pembangunan UBC demonstration plant (Umar. di antaranya adalah karena proses berlangsung pada temperatur dan tekanan rendah. Untuk mencegah masuknya kembali air ke dalam batubara. maka dalam proses ditambahkan minyak residu untuk melapisi pori-pori pada partikel batubara. Keywords : Characteristics. and oxygen were deacreased.. fixed carbon.200 kal/g dapat ditingkatkan menjadi >7.

. dekomposisi gugus karboksil. daerah dekomposisi aktif dan pemanasan di atas temperatur dekomposisi. Untuk proses UBC sebagai aditif digunakan minyak residu yang merupakan suatu senyawa organik yang beberapa sifat kimianya mempunyai kesamaan dengan batubara.melalui penurunan kadar air total.4. Porositas batubara tersebut menyangkut sistem pori-pori yang dimiliki. menyebabkan terjadinya penguapan air bebas. 2. sedangkan penguapan air bawaan dianalogikan dengan air kristal atau hidroksida dengan reaksi sebagai berikut : M(OH)2 MOn + nH2O Secara termodinamika. maka pori-pori batubara yang terbuka akan diisi oleh residu dan menutup permukaan batubara sehingga air yang telah keluar tidak akan terserap kembali (Deguchi et al. Komposisi dan sifat produk akhir akan bermacam-macam tergantung pada temperatur pemanasan. Dengan kesamaan sifat kimia tersebut. dikeringkan dan dibuat briket. sehingga air yang telah keluar tidak akan terserap kembali. Pemanasan Proses pemanasan batubara sampai temperatur tertentu menyebabkan terjadinya perubahan komposisi struktur batubara. Porositas batubara dapat menyebabkan terjadinya difusi keluar uap air. Pada reaksi ini terjadi penguapan air. minyak residu yang masuk ke dalam pori-pori batubara akan kering kemudian bersatu dengan batubara. sifat fisik yang memegang peranan penting pada proses pemanasan adalah sifat porositas. Karena proses pemanasan. dengan temperatur sekitar 150°C. Penguapan air bebas akan berperilaku sama dengan pengeringan secara umum.8T J/mol G = -223400 . pengeluaran tar dari batubara belum sempurna. oleh karena itu diperlukan suatu kondisi pemanasan yang inert. slope pekat (fuse oil) dan minyak residu. air bawaan/terikat secara kimia. hidrogen. tetes tebu (mollase). menyebabkan terjadi kekosongan pori-pori tersebut. penyusutan gas-gas hidrogen dan oksigen kompleks serta aromatisasi. Oleh sebab itu. Karakterisasi dan Optimalisasi Pembriketan pada Batubara . Penambahan minyak residu diperlukan untuk menutup pori-pori batubara yang terbuka. 2000). air yang menguap berupa air bebas. pada temperatur 100 . 2. Pengaruh Penambahan Aditif Dalam melakukan pemanasan pada batubara ada 3 daerah pemanasan yang berpengaruh terhadap terjadinya dekomposisi. reaksi antara batubara dengan oksigen adalah: C + O2 2C + O2 CO2 2CO G = -394100 . Lapisan minyak ini cukup kuat dan dapat menempel pada waktu yang cukup lama. Dibandingkan dengan proses upgrading lainnya. Dalam proses UBC. sedangkan campuran minyak tanah dan residu digunakan kembali untuk proses selanjutnya. Oleh karena itu perlu ditambahkan zat aditif sebagai penutup permukaan batubara seperti kanji. maka terjadi reaksi kimia yang menghasilkan produk gas atau cairan yang banyak berhubungan dengan sistem pori-pori batubara.5 atm.3.175. Dekomposisi aktif adalah terdekomposisinya mineral organik penyusun batubara menjadi tar dan penguapan air. Dengan memanaskan batubara. CO2. Menurut Tsai (1982). proses UBC mempunyai keuntungan. tar. reaksi ini berlangsung pada berbagai temperatur. Dengan minyak residu tersebut. Pemanasan batubara pada temperatur dekomposisi aktif. Dalam proses UBC. batubara dicampur dengan minyak residu kemudian dipanaskan pada tekanan dan temperatur yang relatif rendah. Proses UBC. yaitu >200°C. Batubara hasil proses dipisahkan. batubara dibuat slurry dengan menggunakan minyak tanah yang dicampur dengan minyak residu kemudian dipanaskan pada temperatur 150°C dan tekanan sekitar 3. air terikat secara fisik dan air yang terjebak dalam struktur pori-pori batubara. terjadi perubahan kimia karena menguapnya air bawaan. Ikin Sodikin dan Datin Fatia Umar 183 . 2002). Secara termodinamika.3T J/mol Adanya reaksi seperti di atas pada proses pengeringan batubara tidak dikehendaki. sehingga batubara dapat disimpan di tempat terbuka untuk jangka waktu yang cukup lama (Shigehisa et al. metana dan zat lain yang mudah menguap dari batubara selama terjadi pemanasan. maka reaksi berlangsung harus pada temperatur di atas 120°C. yaitu pemanasan di bawah temperatur dekomposisi. Perbandingan beberapa teknologi upgrading terhadap UBC dapat dilihat pada Tabel 1.0. CO dan hidrokarbon.. tetapi perlu aktivasi yang cukup besar. karena prosesnya dilakukan pada temperatur dan tekanan relatif rendah.120°C terjadi reaksi endotermis. Kehilangan sejumlah massa bahanbahan penyusun batubara melalui pori-pori.

500 Btu/lb 11.600 Btu/lb 12.000 ton/hari plant Padatan Mengurangi masalah slagging dan fouling Slurry - Tabel 1. of La PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 Sumber: http// www. S dan Cl 7.000-12.2-0.3 MPa 8.000 .7 ton/hari Padatan Menurunkan Na 12. com (2008) .9.000 -8.800 Btu/lb 450-550°C 230-280°C 3-6 MPa 4-6 MPa 8.000 Btu/lb 350-450°C 8.200 -9.000 -9.000 Btu/lb 270-300°C 8-12 MPa 5.000 of North Dakota Btu/lb SYNCOAL Montana (USA) Rosebud SynCoal Partnership ENCOAL Wyoming (USA) SMC mining SGI Int. emisi SO2 Menurunkan Na.000 ton/hari plant 3-8 juta ton/th Nilai Kalor Batubara Produk Produk Keterangan Padatan Menurunkan kandungan air Padatan Padatan Komersial sejak 2005 Komersial sejak 1927 di Dalam tahap rencana ke komersial Mengurangi Hg. Melbourne (Australia) The University 8.184 Nilai Kalor Batubara Asal Temperatur Tekanan Status Kapasitas 5.500 Btu/lb Demonstration 1. wikipedia. Perkembangan Teknologi Upgrading Batubara di Dunia Teknologi Lokasi Pengembang UBC Palimanan INDONESIA Kobe Steel. JAPAN & tekMIRA INDONESIA K-FUEL Wyoming USA KFx Inc.000 Btu/lb 10.000 Btu/lb 12..200 Btu/lb 475-550°C 2-3 MPa Demonstration 1. USA FLEISSNER Voest-Alpnie AG HWD/SD AUSTRIA YUGOSLAVIA Grand Forks (USA).000 Btu/lb 150-160°C 0.500 -8.500-11.000 ton/hari plant 2-3 MPa Demonstration 1.

Sementara kadar abu.1.5% residu) Kecepatan pengumapan slurry ke dalam decanter 350 l/jam Kecepatan pengumpanan cake ke dalam rotary tube dryer 15 Hz. Briket UBC mempunyai kuat tekan 98 kg/cm2. Percobaan dilaksanakan 2 kali dengan tujuan untuk mengetahui : Perubahan karakteristik batubara hasil proses pada kondisi optimum. Optimasi proses pembriketan terhadap batubara hasil proses UBC. Kondisi proses UBC yang dianggap optimum pada pilot plant Palimanan Cirebon.05 g/cm3 dan kecepatan produk briket UBC sebanyak 840 kg/jam. 2. Pengoperasian pilot plant UBC dilakukan dengan menggunakan batubara dari Satui. zat terbang.98%. Dengan kadar air bawaan yang tinggi dapat mengakibatkan rendahnya nilai kalor.4 dan 71.42%. 3. Kalimantan Selatan yang akan dipakai umpan pada UBC demontration plant. di mana batubara dicampur dengan minyak tanah dan residu dipanaskan pada temperatur tertentu dan tekanan tertentu. Optimalisasi Proses UBC Skala Pilot Dengan kondisi proses UBC yang dianggap optimum pada pilot plant Palimanan Cirebon. sehingga nilai kalor naik sebesar 26. sehingga air yang terkandung di dalam pori-pori batubara teruapkan dan diganti dengan residu melapisi pori-pori tersebut.1.6%. maka akan membuat batubara tersebut lebih stabil dan kecenderungan untuk terbakar dengan sendirinya (self combustion) akan berkurang.3. Percobaan proses UBC 4. sehingga air yang telah keluar dari batubara tidak dapat masuk kembali. 15. belerang dan nitrogen mengalami sedikit kenaikan.2. Pada kondisi tersebut di atas. Pelaksanaan proses UBC : 1..32% dan pada run 2 turun menjadi 8. 10. Karakterisasi dan Optimalisasi Pembriketan pada Batubara . 70% minyak tanah yang mengandung 0. yaitu masing-masing 32. Variabel percobaan terdiri atas : Kecepatan roll: 8. Setelah proses UBC. sedangkan kadar hidrogen dan oksigen turun karena turunnya kadar air (H2O). Ikin Sodikin dan Datin Fatia Umar 185 . sehingga gas CO2 yang dihasilkannya pun akan menjadi besar. karbon. karbon padat.5%. Selanjutnya. densitas 1. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. Proses slurry dewatering merupakan salah satu proses utama dari rangkaian proses UBC.17 dan 20 Temperatur pembriketan: antara 70ºC dan 115°C Kegiatan proses UBC pada skala pilot dimaksudkan untuk mendapatkan data sebagai pendukung operasional UBC demonstration plant. Optimalisasi Pembriketan Setelah dilakukan modifikasi di seksi 500 dengan jalan mengganti roll pada mesin briket dengan ukuran cetakan yang lebih kecil (ukuran ini sesuai dengan ukuran cetakan pada mesin briket yang akan digunakan pada UBC demontration plant).2. yaitu 0. proses UBC menurunkan kadar air bawaan (inherent moisture) batubara Satui sebesar 71. air bawaan pada run 1 turun menjadi 8.5% residu). Dari Tabel 2 dapat dilihat bahwa kadar air total dan air bawaan batubara asal cukup tinggi. KEGIATAN PERCOBAAN 3. jumlah batubara yang harus dibakar akan menjadi lebih besar. Konsentrasi batubara dalam slurry 30% (30 % batubara. Dengan terlapisinya pori-pori batubara tersebut. efisiensi pembakaran akan menjadi kecil sehingga untuk mendapatkan jumlah kalor tertentu.8%. Dari hasil ini dapat diketahui bahwa proses UBC efektif menurunkan kadar air total dengan persen penurunan antara 71. adalah : Ukuran batubara umpan < 3mm dengan kecepatan pengumpanan 100 kg/jam. Karakteristik Batubara Karakteristik batubara sebelum dan setelah proses UBC skala pilot untuk run 1 dan 2 dapat dilihat pada Tabel 2. 70% minyak tanah yang mengandung 0. adalah : Ukuran batubara umpan < 3mm dengan kecepatan pengumpanan 100 kg/jam Konsentrasi batubara dalam slurry 30% (30 % batubara. 13.28% dengan kadar abu yang sangat rendah.. Kecepatan pengumpanan cake ke dalam rotary tube dryer 15 Hz. Kecepatan pengumapan slurry ke dalam decanter 350 l/jam. 4. Proses pembriketan pada percobaan ini mempunyai unjuk kerja yang sangat baik dibandingkan dengan pembriketan pada percobaan sebelumnya.

kenaikan kadar abu ini tidak akan menjadi masalah.80 31.69% menjadi 62.51% pada run 2.98 37.873 50.28 29.83% pada run 2.135 63.58 26. Pengaruh Proses Terhadap Kenaikan Nilai Kalori Gambar 2. adb RUN 1 RUN 2 BATUBARA ASAL RUN 1 RUN 2 Gambar 1.49 41. Analisis proksimat dan ultimat batubara hasil proses UBC dilakukan setelah disimpan sekian lama sampai mencapai kesetimbangan.000 4.2%.Tabel 2. Sementara kandungan karbon padat naik karena turunnya kandungan air lembab. Kadar nitrogen dan sulfur batubara setelah proses UBC tidak mengalami perubahan yang cukup berarti.51 5.07 0. nilai kalor naik dari 4.135kal/g pada run 2 atau terjadi kenaikan yang cukup signifikan antara 25.9 dan 27.196 kal/gr pada run 1 dan menjadi 6. Hal ini dilakukan agar mendekati keadaan sebenarnya.47 0. menjadi abu sisa pembakaran batubara.75 4.44 0.44% pada run 1 dan menjadi 46.000 2.80% menjadi 47.17 6.135 %.55% pada run 1 dan menjadi 41. Karakteristik Batubara Mulia Sebelum dan Setelah Proses UBC ANALISIS AIR TOTAL PROKSIMAT : AIR BAWAAN ABU ZAT TERBANG KARBON PADAT NILAI KALOR ULTIMAT : KARBON HIDROGEN NITROGEN OKSIGEN SULFUR SATUAN % ar % adb % adb % adb % adb Kal/gr % adb % adb % adb % adb % adb BATUBARAASAL 32.75% menjadi 40.000 0 BATUBARA ASAL 6. Kenaikan zat terbang ini disebabkan karena masih adanya minyak pada batubara hasil proses UBC yang ikut teruapkan saat pemanasan dan terdeteksi sebagai zat terbang. karena masih <5%.58 46.69 6.15 Dari Gambar 1 dapat dilihat bahwa dengan turunnya air bawaan.60 0.873 kal/g menjadi 6.83 41.42 3. karena pada umumnya batubara hasil proses UBC tidak langsung digunakan konsumen tapi disimpan terlebih dahulu sebagai persediaan.36 0. yaitu dari 31.17% pada run 2.73 0. Kandungan hidrogen dan oksigen turun sebagai akibat turunnya kadar air (H 2 O).48 6.73 0.000 kal/gr 4.873 6.16 RUN2 8. Dari hasil analisis proksimat seperti pada Gambar 2 memperlihatkan bahwa kenaikan kadar abu kemungkinan besar terjadi karena adanya sisasisa minyak residu yang menempel pada batubara.196 62.32 3.55 6.     50 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 AIR BAWAAN ABU ZAT TERBANG KARBON PADAT 8. Namun demikian. Hasil analisis ultimat seperti pada Gambar 3 memperlihatkan bahwa kadar karbon naik dari 50.196 6.44 40.59 26. Penurunan oksigen lebih signifikan dibandingkan dengan penurunan kandungan hidrogen.69 47. Hasil analisis proksimat sebelum dan sesudah proses UBC 186 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Kandungan zat terbang naik secara signifikan dari 37.48% pada run 1 dan menjadi 63.17 RUN1 8.

Temperatur optimum dicapai pada temperatur 80ºC dengan kuat tekan 73 kg/cm2 pada run 1 dengan kuat tekan 98 kg/cm2 pada run 2 pada temperatur yang sama. Ikin Sodikin dan Datin Fatia Umar 187 .. Gambar 4 menunjukkan bahwa kecepatan roll pada temperatur yang sama sangat berpengaruh terhadap kuat tekan briket UBC yang dihasilkan. sehingga data yang dihasilkan akan Gambar 4. Sedangkan densitas berfluktuasi tapi tidak cukup berarti. Hasil ini hampir sama dengan hasil pembriketan dengan kondisi yang sama pada percobaan sebelumnya yang dapat menghasilkan briket dengan kuat tekan rata-rata 70 . 10. Proses pembriketan yang paling baik pada percobaan ini adalah pembriketan dengan kondisi kecepatan roll 8 rpm dan temperatur 80 .17 dan 20 Temperatur pembriketan: antara 70°C dan 115°C Hasil percobaan pengaruh kecepatan roll terhadap kuat tekan dapat dilihat pada Gambar 4.  70 60 50 40 30 20 10 0 KARBON HIDROGEN NITROGEN OKSIGEN SULFUR tekan briket yang dihasilkan.104 kg/jam.04 g/cm3 dan kecepatan produk briket UBC yang dihasilkan sebanyak 1.3. Optimalisasi Pembriketan Setelah dilakukan modifikasi di seksi 500 dengan jalan mengganti roll pada mesin briket dengan ukuran cetakan yang lebih kecil (ukuran ini sesuai dengan ukuran cetakan pada mesin briket yang akan digunakan pada UBC demontration plant).1100C. Pengaruh kecepatan roll terhadap kuat tekan dan densitas briket Karakterisasi dan Optimalisasi Pembriketan pada Batubara .015 – 1.77 kg/cm2. Variabel percobaan terdiri atas: Kecepatan roll: 8. Hal ini dapat terjadi karena ukuran cetakan briket batubara lebih kecil dibandingkan dengan ukuran cetakan briket pada percobaan sebelumnya. Pengaruh temperatur pembriketan terhadap kuat tekan dan densitas briket UBC pda kecepatan roll yang sama dapat dilihat pada Gambar 5. makin rendah kuat Gambar 5. Pengaruh temperatur terhadap kuat tekan dan densitas briket Dari Gambar 5 dapat dilihat bahwa temperatur berpengaruh terhadap kuat tekan dan densitas briket UBC yang dihasilkan pada kecepatan roll yang sama. 13.80 kg/cm2. adb BATUBARA ASAL RUN 1 RUN 2 Gambar 3.. Pada run 1. sehingga kuat tekan briket yang dihasilkan lebih tinggi. Ketika temperatur dinaikkan. Hasil unjuk kerja pembriketan pada percobaan ini sangat memuaskan. densitas 1. Makin tinggi kecepatan roll. %. Hasil analisis ultimat sebelum dan sesudah proses UBC 4. kuat tekan briket mengalami penurunan baik pada run 1 maupun pada run 2. sedangkan pada run 2 dicapai pada kecepatan roll 8 dengan kuat tekan 98 kg/cm2. Proses pembriketan pada percobaan ini mempunyai unjuk kerja yang sangat baik dibandingkan dengan pembriketan pada percobaan sebelumnya. Pada kondisi ini briket UBC yang dihasilkan mempunyai kuat tekan 73 . kecepatan roll optimum adalah pada 10 rpm dengan kuat tekan 73 kg/cm2. 15.

Sedangkan untuk proses pembriketan yang paling baik pada percobaan ini adalah pembriketan dengan kondisi. Deguchi. Kalimantan Selatan. 2000. Vol 21.1100C. pp. Coal Science and Technology 2. Persiapan Pembangunan UBC Demonstration Plant. Sementara kadar abu. Cirebon hendaknya tetap digunakan sebagai sarana penelitian untuk pengembangan proses UBC terhadap batubara lainnya di Indonesia guna mendapatkan teknologi proses yang secara teknis dan ekonomis lebih menguntungkan. Kesimpulan DAFTAR PUSTAKA Kondisi proses UBC yang dianggap optimum pada pilot plant Palimanan Cirebon. Cirebon yang dilakukan pada kajian ini.. A. 188 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .. K. T. wikipedia.6%. Palimanan.04 g/cm3 dan kecepatan produk briket UBC yang dihasilkan sebanyak 1. Saran Kondisi proses yang dianggap optimum pada pilot plant UBC. T. Shimasaki.. Hudaya. R. I.. kecepatan roll 8 rpm.. K. 2002. adalah pada kondisi : Ukuran batubara umpan < 3mm dengan kecepatan pengumpanan 100 kg/jam Konsentrasi batubara dalam slurry 30% (30% batubara. Suwono. proses UBC menurunkan kadar air bawaan (inherent moisture) batubara Mulia sebesar 71.. International Conference and Exhibition on Clean and Efficient Coal Technology in Power Generation. com (2008). Pada kondisi tersebut di atas. K. 2007. dan Sodikin. www.015 – 1.1.. E.. Laporan Intern Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara.. Fundamental of Coal Beneficiation and Utilization. T. Sedangkan untuk batubara dari daerah lain kondisinya akan berbeda. sehingga nilai kalor naik sebesar 26. 1982. kuat tekan 73 . karbon. Shigehisa. E.sangat mendukung untuk kepentingan uji coba pada UBC demontration plant di Kecamatan Satui. dan Hamdani. Tsai. Development of UBC Process Paper presented at the International Conference on Fluid and Thermal Energy Conversion.. I. Kunrat S.2. Seminar dan Workshop “Indonesian Coal Conference” Jakarta. Elsevier Publishing Company.. and Otaka. 2009. temperatur 80 . Proc. G. Setiawan L. sedangkan kadar hidrogen dan oksigen turun karena turunnya kadar air (H2O). S. Indonesia. Study on Upgraded Brown Coal Process for Indonesian Low Rank Coals. 6. zat terbang. Y. 6. Sukhiyar.5%. Karena itu. F. 2000. Kalimantan Selatan. pilot plant Umar D. 149-159. densitas 1.. Coal Preparation. KESIMPULAN DAN SARAN UBC. Coal-Tech 2002. Makino. Rijwan. berlaku untuk batubara Mulia yang berasal dari daerah Satui.77 kg/cm2. karbon padat.C. T. 6. Indonesia.104 kg/jam. Upgrading The Indonesian’s Low Rank Coal by Superheated Steam Drying with Tar Coating Process and its Application for Preparation of CWM. Deguchi. 70% minyak tanah yang mengandung 0.. Shigehisa. and Makino. belerang dan nitrogen mengalami sedikit kenaikan. Palimanan. Sumberdaya dan Cadangan Batubara Indonesia.5% residu) Kecepatan pengumapan slurry ke dalam decanter 350 l/jam Kecepatan pengumpanan cake ke dalam rotary tube dryer 15 Hz.

Teknologi itu adalah UBC (Upgraded Brown Coal) dan BCB (Binderless Coal Briquetting).esdm. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui dampak ekonomi dari pengembangan teknologi UBC dan BCB serta penerapan teknologi tersebut dengan membangun pabrik komersialnya di Indonesia. The technology developed by companies in Japan and Australia is technology to improve the quality of low rank coal through the reducing of water contained in coal so that the caloriefic value of coal increased then the marketing will be easier and selling price will also increase. Keywords : low rank coal. Results indicate that the economic impact are: increase the utilization of low rank coal. This study is aimed to understand the economic impact of developing UBC and BCB technologies and the implementation of these technologies includes building commercial plant in Indonesia.ANALISIS DAMPAK EKONOMI TEKNOLOGI PENINGKATAN KUALITAS BATUBARA PERINGKAT RENDAH DI INDONESIA Gandhi Kurnia Hudaya Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jalan Jenderal Sudirman 623 Bandung 40211 Telp. UBC. Kata kunci : batubara peringkat rendah. UBC. menambah pendapatan pajak pemerintah sebesar Rp 130-200 milyar pertahun. Indonesia is one of the largest exporter country in the world.000 orang.id SARI Kebutuhan batubara di dunia semakin meningkat terutama sebagai bahan bakar pembangkit listrik. Fax. 022 . Cadangan batubara Indonesia didominasi oleh batubara peringkat rendah sebesar 59%. menambah devisa negara sebesar US$ 140-210 juta pertahun. creating a multiplier effect for regional economic and create a better investment climate for mining and processing industries. Indonesia adalah salah satu negara pengekspor terbesar di dunia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dampak ekonominya adalah : pemanfaatan batubara peringkat rendah yang meningkat..6030483.6003373 .e-mail : gandhi@tekmira. Gandhi Kurnia Hudaya 189 . Indonesia coal reserve is dominated by low-rank coal as much as 59%. increase government tax revenue of Rp 130-200 billion per year. Teknologi yang dikembangkan oleh perusahaan Jepang dan Australia adalah teknologi peningkatan kualitas batubara peringkat rendah melalui upaya menghilangkan kandungan air di dalam batubara tersebut untuk meningkatkan nilai kalorinya sehingga pemasarannya akan mudah dan harga jualnya meningkat. BCB. dampak ekonomi ABSTRACT The needs of coal in the world has been increasing mainly as a fuel of power. creat 1.go. The technologies are UBC (Upgraded Brown Coal) and BCB (Binder less Coal Briquetting).000 jobs. economic impact Analisis Dampak Ekonomi Teknologi Peningkatan Kualitas Batubara . BCB. increase the state income of US$ 140-210 million per year.. 022 . menciptakan multiplier effect bagi perekonomian daerah dan menciptakan iklim investasi yang baik bagi industri pertambangan dan pengolahannya. menciptakan lapangan kerja 1.

98 (asumsi harga batubara US$ 90/ton) lebih kecil bila dibandingkan dengan minyak yang sebesar US$ 30 (asumsi harga minyak US$ 54/ barrel) dan LNG yang sebesar US$ 20.1. Batubara lebih disukai karena untuk menghasilkan listrik sebesar 1 MGW/h dibutuhkan biaya US$ 12. Diagram proses teknologi UBC (sumber : brosur UBC) 190 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . TEKNOLOGI UBC DAN BCB Teknologi UBC Teknologi UBC dikembangkan oleh Kobe Steel Ltd. PENDAHULUAN Batubara adalah salah satu sumber energi yang saat ini menjadi primadona di dunia. 2008).id). Penelitian ini bermaksud menganalisis dampak ekonomi bagi pengembangan teknologi UBC dan BCB serta penerapannya melalui pembangunan pabriknya di Indonesia.47 (asumsi harga LNG $6/Mmbtu) (Ermina Miranti. Teknologi UBC merupakan proses penurunan kadar air bawaan batubara peringkat rendah menjadi menyerupai batubara peringkat tinggi (bituminus) sehingga nilai kalori batubara tersebut meningkat. kemudian dipanaskan pada temperatur 1500C – 1600C dengan tekanan 250 kPa – 350 kPa.go. baik untuk calon investor maupun untuk pemerintah dalam mengambil kebijakan terhadap teknologi yang tergolong teknologi baru. potensi batubara Indonesia mencapai ±105 milyar ton dimana ±22 milyar ton diantaranya berupa cadangan (www. Kadar air yang tinggi menyebabkan tingginya biaya penanganan dan transportasi yang tinggi serta nilai kalori yang rendah sehingga hingga saat ini penggunaan batubara kalori rendah masih terbatas. umumnya hanya digunakan untuk pencampuran atau digunakan pada pembangkit listrik mulut tambang. sekitar 59% dari cadangan tersebut termasuk batubara peringkat rendah (Ermina Miranti. telah berdiri dua pabrik teknologi peningkatan kualitas batubara kalori rendah di Indonesia yaitu pabrik percontohan UBC (Upgraded Brown Coal) dan pabrik komersial BCB (Binderless Coal Briquetting). sebuah perusahaan baja di Jepang. Batubara peringkat rendah Indonesia pada umumnya mengandung kadar air yang tinggi (20-40%). 2. A. Kedua pabrik tersebut berlokasi di Kalimantan. Gambar 1. Produk UBC berupa serbuk dan briket (Gambar 1). Pada akhir tahun 2008. Namun. Indonesia adalah salah satu negara pengekspor batubara terbesar di dunia dan memiliki cadangan yang cukup besar.esdm. Batubara kalori rendah Indonesia memiliki keunggulan dibandingkan dengan batubara dari negara lain. yaitu memiliki kadar abu dan sulfur yang rendah sehingga dijadikan target utama untuk pengembangan teknologi tersebut. Diharapkan hasil analisis ini dapat menjadi salah satu bahan. Hingga saat ini. Harganya yang relatif rendah serta ketersediaannya yang masih melimpah merupakan daya tarik bagi industri-industri di dunia yang saat ini banyak sekali dibutuhkan untuk menghasilkan listrik. Proses ini dilakukan dengan mencampurkan batubara. minyak residu dan minyak tanah. Teknologi peningkatan kualitas batubara kalori rendah merupakan teknologi yang diharapkan dapat menjaga kesinambungan pasokan batubara serta untuk meningkatkan pemanfaatan batubara kalori rendah dengan maksimal. 2008).

000 kal/g dapat ditingkatkan menjadi 6. Kalimantan Timur (Gambar 4). Teknologi BCB mampu membuat batubara dari kalori rendah 4.200-6.com) PT Bayan Resources Tbk (BAYAN) menggandeng White Energy Company membentuk perusahaan patungan PT Kaltim Supacoal (KSC) untuk membangun pabrik modular peningkatan mutu batubara bersih berkapasitas satu juta ton/tahun di tambang Tabang. Diagram proses teknologi BCB (sumber : ww. Indonesia (Gambar 2).bayan. telah berhasil dikembangkan dan dioperasikan. Gambar 2.. 2006). Teknologi BCB Teknologi BCB dikembangkan oleh White Energy Company. batubara dimampatkan melalui proses pembriketan (Gambar 3). Pabrik UBC komersial direncanakan berkapasitas sebesar minimal 5000 ton produk per hari atau 1. 27 April 2009). Proses utamanya adalah menggerus batubara dan kemudian memanaskannya untuk menghilangkan kadar air dalam batubara. Jepang dan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral.whiteenergyco. Biaya konstruksi dan pengoperasian pabrik UBC skala percontohan dari tahun 2007-2010 diperkirakan memakan biaya sebesar US$ 70 juta (Kobelco. Jawa Barat dengan kapasitas 5 ton/hari. Setelah dipanaskan. Gambar 3. sebuah perusahaan teknologi coal upgrading yang berpusat di Australia.100 kcal/kg GAR.sg) Analisis Dampak Ekonomi Teknologi Peningkatan Kualitas Batubara . Pabrik UBC skala pilot di Palimanan. Pabrik percontohan UBC (sumber : brosur UBC) B. Gambar 4. Nilai investasi pabrik ini mencapai US$ 68 juta (Koran Investor Daily. Kalimantan Selatan di lokasi tambang batubara PT Arutmin berdasarkan perjanjian kerjasama antara Japan Coal Energy Center (JCOAL). Pabrik modular peningkatan mutu batubara bersih (sumber : www.Pabrik UBC skala percontohan dengan kapasitas 1.com. Pabrik ini telah diresmikan pada bulan April 2009 dan direncanakan akan mulai berproduksi pada akhir semester kedua 2009.000 ton/hari umpan atau ± 600 ton/hari produk dibangun di Satui. Gandhi Kurnia Hudaya 191 .200 kcal/kg gross as received (GAR) menjadi 6.800 kal/g. Nilai kalori batubara dari < 5..7 juta ton pertahun. Teknologi BCB merupakan proses peningkatan mutu batubara dengan cara menghilangkan kadar air dalam batubara sehingga nilai kalorinya akan meningkat.

maka devisa negara yang dapat dihasilkan adalah US$ 140210 juta.8 juta ton dan memberikan kontribusi kepada pemerintah dalam bentuk pajak sebesar Rp 844 milyar (Rania Rahmundita. 3. Untuk mengetahui dampaknya bagi Indonesia maka salah satu dampak yang mudah dihitung atau dianalisis secara kuantitatif adalah dampak ekonomi. Pemanfaatan sumber daya alam Potensi batubara kalori rendah Indonesia sebesar 60 milyar ton (60% dari cadangan total 104 milyar ton) termasuk besar dan dapat lebih ditingkatkan pemanfaatannya. Setiap pembangunan pabrik UBC dan BCB membutuhkan pasokan batubara wantah diluar produksi batubara saat ini. Meningkatkan penghasilan negara dari pajak perusahaan Pendapatan negara Indonesia didominasi oleh sektor pajak. Menciptakan lapangan pekerjaan Pembangunan pabrik peningkatan kualitas batubara baik teknologi UBC maupun BCB. selain pajak juga ada royalti untuk setiap ton batubara yang diproduksi. Analisa kuantitatif dilakukan terhadap data-data ekonomi yang telah dikumpulkan untuk memberikan gambaran dampak ekonomi dari aplikasi teknologi peningkatan kualitas batubara kalori rendah di Indonesia. batubara kalori rendah kurang dimanfaatkan atau bila diekspor hanya sebagai pencampur (blending) batubara kalori tinggi. Dengan adanya 192 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . dari produksi batubara sebanyak 190 juta ton. Menambah devisa negara Indonesia adalah salah satu eksportir batubara terbesar di dunia. akan dihasilkan produk upgraded coal sebanyak 2-3 juta ton pertahun. Pada tahun 2009. yaitu mencari referensi dan literatur untuk memperoleh data sekunder mengenai teknologi peningkatan kualitas batubara kalori rendah di Indonesia. Dari perbandingan jumlah penjualan maka dapat diperkirakan bahwa setiap pabrik UBC dan BCB yang dibangun dapat menambah penghasilan negara melalui pajak sekitar Rp 130-Rp 200 milyar per tahun. METODE PENELITIAN Pengumpulan data Pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka. Lowongan pekerjaan ini akan terbuka sejak pekerjaan konstruksi pabrik dimulai hingga kemudian beroperasinya pabrikpabrik tersebut. lowongan kerja juga akan terbuka bagi 4. Sebelumnya. teknologi ini maka keluaran pabrik yang berupa batubara berkalori tinggi akan mudah untuk dijual baik di dalam negeri maupun di luar negeri sehingga memberikan nilai tambah yang lebih besar. Pengolahan data Pengolahan data dilakukan dengan analisis deskripsi dan analisa kuantitatif. Dampak ekonomi penerapan teknologi peningkatan kualitas batubara kalori rendah di Indonesia antara lain adalah sebagai berikut : 1. Dengan asumsi harga batubara tahun 2009 sebesar US$ 70 per ton. akan memberikan lowongan pekerjaan yang cukup besar bagi masyarakat Indonesia umumnya dan bagi masyarakat sekitar pabrik pada khususnya. Perusahaan Kobe Steel dan White Energy berinvestasi dalam riset teknologi peningkatan kualitas batubara kalori rendah agar dapat memiliki patent teknologi yang menguntungkan perusahaan. 2. 4. perusahaan tambang batubara PT Bukit Asam (PTBA). HASIL DAN PEMBAHASAN Tren pemanfaatan batubara terutama untuk sektor listrik di dunia mendorong banyak pihak untuk dapat terlibat di dalamnya. Selain untuk karyawan pabrik. dapat menambah produksi batubara sebesar 2-3 juta ton per tahun. dimana salah satunya adalah pajak perusahaan. Setiap pendirian 1 buah pabrik komersial UBC dan BCB. akan diekspor sebanyak 160 juta ton dan sisanya digunakan untuk kebutuhan dalam negeri. 2009). Sebagai perbandingan. Indonesia adalah negara sasaran utama untuk ujicoba dan pengembangan teknologi tersebut karena keunggulan kualitas dan jumlah batubara peringkat rendahnya.3. Analisis deskripsi dilakukan terhadap data-data yang telah dikumpulkan yang berhubungan dengan teknologi peningkatan kualitas batubara kalori rendah di Indonesia serta data-data lain yang berhubungan. Untuk setiap pabrik UBC dan BCB yang dibangun. pada tahun 2008 menjual batubara sebanyak 12. Untuk perusahaan tambang.

Peresmian Pabrik Percontohan UBC di Satui. c) Menambah pendapatan dari pajak sebesar Rp 130-200 milyar per tahun. Menciptakan iklim investasi yang baik bagi investor Keberhasilan proyek peningkatan kualitas batubara dimana proyek ini termasuk proyek besar.com Kobelco Online. Website PT Tambang Batubara Bukit Asam (Tbk). 6. Hal ini akan membantu program pemerintah dalam mengurangi kemiskinan dan mengurangi pengangguran. Ermina Miranti. Selain itu perekonomian di daerah tersebut akan tumbuh untuk memenuhi kebutuhan pabrik-pabrik yang baru seperti perusahaan katering.346 pegawai.000 orang. Sebagai perbandingan. KESIMPULAN Dampak ekonomi dari pembangunan pabrik teknologi peningkatan kualitas batubara peringkat rendah dengan teknologi UBC dan BCB adalah : a) Pemanfaatan batubara peringkat rendah sebagai sumber daya alam. Company. http://www.id.co. b) Menambah devisa negara sebesar US$ 140210 juta per tahun.esdm. 5 July 2006. 27 April 2009. DAFTAR PUSTAKA Brosur UBC.jp.co. Menciptakan multiplier effect dari proyek Seandainya pabrik peningkatan kualitas batubara beroperasi dengan kapasitas 2-3 juta ton.kobelco. d) Menciptakan lapangan kerja sebanyak 1. Gandhi Kurnia Hudaya 193 . Juni 2009. e) Menciptakan multiplier effect yang bermanfaat. Investor Daily. Desember 2008. Rania Rahmundita. terutama di sektor pertambangan dan pengolahannya. www. Website Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral. Perusahaan tambang yang selama ini belum menggarap cadangan batubara peringkat rendah di wilayah kerjanya. maka dapat diperkirakan bahwa lowongan kerja baru yang akan tersedia adalah sekitar 1. Coal Mining. terutama bagi perekonomian daerah. 5.com. http:// www.com. Economic Review No.sg.id Website PT Bayan www. transportasi dan perusahaan pendukung lainnya. Jika dibandingkan berdasarkan jumlah penjualan batubara pertahun. Website White Energy www.peningkatan kapasitas produksi ataupun pembangunan infrastruktur tambang yang baru untuk memasok kebutuhan pabrik tersebut.ptba. Prospek Industri Batubara di Indonesia. http:// Investorindonesia. akan memberikan kesan baik kepada investor lokal maupun luar negeri akan aman dan ramahnya iklim investasi di Indonesia. CIMB-GK Research. akan mulai memproduksinya untuk memenuhi kebutuhan pabrik peningkatan kualitas batubara tersebut. Januari 2009.whiteenergyco. 214. f) Menciptakan iklim investasi yang baik bagi investor. Resources (Tbk).bayan.go.000 orang. Analisis Dampak Ekonomi Teknologi Peningkatan Kualitas Batubara . maka pabrik itu akan membutuhkan 4-5 juta ton batubara per tahun.. PTBA saat ini mempekerjakan sekitar 3. 2008.. 5. Diharapkan para investor tersebut akan ikut juga berinvestasi di indonesia.

290.-/month.per bulan/orang. Lutfi Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. Local labor are total income Rp 60.-.KAJIAN MANFAAT DAN BIAYA PENAMBANGAN BIJIH BESI DI KABUPATEN MERANGIN.id SARI Produksi penambangan bijih besi di Kabupaten Merangin.-. dengan penghasilan rata-rata Rp 1. direncanakan antara 60.000..500. Yang berarti manfaat lebih besar dari pada biaya eksternalitas.per month.04.go.000.-. kegiatan penambangan bijih besi. tax and retribution are Rp 420. 022 . yaitu adanya peluang kerja untuk masyarakat lokal.id.000. Mine activities for benefit are local labor 35. menimbulkan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi daerah.000 sampai dengan 400.08% dapat terserap di kegiatan penambangan bijih besi. So benefit and externalities cost comparative are 1:2. lutfi@tekmira. berasal dari pajak dan retribusi sebesar Rp jadi total manfaat sebesar Rp 420. Contingent Valuation Method use for calculation of benefit and cost.—.esdm.000.000 ton per tahun. dari kegiatan penambangan tersebut.000.000 ton per year.000.500.000.go.Externalities cost are Rp 403.-. Jend. PROPINSI JAMBI Endang Suryati dan M.000. 022 . Sudirman 623 Bandung 40211 Telp. iron ore mine activity.000. Manfaat dari kegiatan penambangan. Untuk menghitung manfaat dan biaya dipergunakan Metode Valuasi Kontingensi (Contingent Valuation Method). Keywords: benefit and cost. 1.000. maka perbandingan manfaat dan biaya eksternalitas adalah 1. contingent valuation method 194 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .08%.290..6003373 e-mail : endangs@tekmira. Apabila dibandingkan dengan biaya eksternalitas sebesar Rp 403.6030483 Fax. Iron ore mine activity is positive impact to arouse for region economic growth.000. maka jumlah penghasilan seluruh tenaga kerja lokal per bulan Rp 60.000.0000 until 400. Kegiatan penambangan bijih besi. metode valuasi kontingesi ABSTRACT Iron ore production is mine at Merangin regency to plan 60. hal ini dapat dilihat dari penyerapan tenaga kerja lokal sebesar 35. Disamping itu manfaat yang diperoleh daerah. Kata kunci : manfaat dan biaya. income person Rp.esdm.

Kecamatan Batang Mesumai. 3. Kabupaten Merangin. Salah satu lokasi cadangan bijih besi di Indonesia terdapat di desa Pulau Layang. Propinsi Jambi). serta desa Mentawak Kecamatan Nalo Tantan.. di pasar internasional. Lutfi 195 . Dampak positif yang timbul biasanya berhubungan dengan pertumbuhan perekonomian daerah. Berdasarkan pengamatan lapangan. Desa Pulau Layang dan Kecamatan Batang Mesumai merupakan desa dan kecamatan yang relative baru sebagai kecamatan definitif. Metode inii merupakan metode valuasi Sumber Daya Alam (SDA) dan lingkungan dengan cara menanyakan langsung kepada masyarakat sekitar.000 ton per tahun.090 jiwa Kajian Manfaat dan Biaya Penambangan Bijih Besi . tidak terlepas dari tingginya permintaan akan komuditas bijih besi. pertumbuhan ekonomi sering diikuti dengan tekanan yang makin berat pada sistem alami dan dampak negatif kualitas lingkungan. secara kuantitatif yang mempunyai angkatan kerja produktif terbesar adalah di desa Pulau Layang yaitu 1. Dixon & Maynard M. produksi bijih besi direncanakan mencapai 60. sedang dampak negatifnya adalah biaya kerusakan 2.3 tahun. maka diperlukan analisis manfaat dan biaya yang diakibatkan oleh kegiatan penambangan bijih besi.0000 – 400. Mengingat dampak positif dan negatif yang ditimbulkan cukup penting. masalah yang penting adalah melaksanakan kegiatan pembangunan sedemikian rupa agar dapat melestarikan produktivitas jangka panjang sistem alami agar pembangunan berkelanjutan dan dapat minimumkan kerusakan kualitas lingkungan.. lokasi rencana kegiatan juga termasuk dalam Kecamatan Karangan dan Kaubun yang merupakan wilayah pemekaran Kecamatan Sangkulirag. Lagi pula. dipergunakan Metode Valuasi Kontingensi ( Contingent Valuation Method). 1986) Rencana Kegiatan penambangan pasir besi di Kabupaten Merangin. Kegiatan eksplorasi bijih besi mendapat dukungan dari pemerintah dalam upaya melakukan diversifikasi produk ekspor guna meningkatkan devisa bagi negara. merupakan pemekaran dan Kecamatan. Berdasarkan studi kelayakan. tentang nilai manfaat SDA dan lingkungan yang mereka rasakan.Batang Mesumai. yang produksinya sering memerlukan sumber daya alam dan sistem alami yang produktif.1. Propinsi Jambi. Jumlah penduduk desa Pulau Layang relatif lebih tinggi yaitu 1. Berdasarkan perhitungan cadangan. Pembangunan ekonomi mengandung arti peningkatan yang berkelanjutan bagi kesejahteraan masyarakat yang diperoleh dari barang-barang dan jasa-jasa konvensional. kegiatan pertambangan bijih besi termasuk dalam wilayah Kecamatan Bengalon dan Kecamatan Sangkulirang Bangko.714 jiwa yang terdiri atas 874 jiwa laki-laki dan 840 jiwa perempuan sedangkan yang terkecil terdapat di desa Rantau Alay yaitu sebesar 621 jiwa yang terdiri atas 300 jiwa laki-laki dan 321 jiwa perempuan (Gambar 2). Oleh karena itu. operasional tambang diperkirakan akan berlangsung sampai 2. Lokasi studi berada di 3 (tiga) desa yaitu desa Pulau Layang dan desa Rantau Alai di wilayah kecamatan Batang Mesumai. Kependudukan Jumlah penduduk di lokasi studi pada tahun 2007 adalah 3. Kabupaten Merangin. PENDAHULUAN lingkungan akibat penambangan bijih besi. Kabupaten Merangin. Hufschmidt. Jumlah angkatan kerja produktif di desa-desa lokasi studi relatif seimbang.(John A. lingkungan wilayah secara langsung menyediakan jasa yang menyumbang pada peningkatan kesejahteraan seperti tersirat pada pembangunan ekonomi. Endang Suryati dan M. Pada saat yang sama. Pembangunan ekonomi baik di negara industri maupun di negara berkembang berdasarkan pada sumber daya alam dan produktivitas sistem alami. PEMBAHASAN Lokasi Rencana Kegiatan Secara administrasi pemerintah daerah.690 jiwa (Badan Pusat Statistik Kabupaten Merangin. Propinsi Jambi.( Kumpulan Materi Ekonomi Lingkungan PSLH UGM Yogyakarta). METODOLOGI Untuk menghitung kajian manfaat dan biaya.

3%.2% dan Desa Mentawak sebanyak 12. 196 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Jumlah penduduk di desa-desa sekitar kegiatan penambangan bijih besi (63.Gambar 1. Hal ini terlihat dari banyaknya anak-anak responden yang mempunyai pendidikan setingkat SLTP dan SLTA. walaupun jarak dari desa-desa ke lokasi sekolah cukup jauh dan angkutan umum terbatas.21%. Gambaran ini menunjukan bahwa penduduk di wilayah penelitian terdorong untuk membekali Gambar 2.2%).6%) dari total penduduk. sedangkan di desa Rantau Alai 53.41% dan desa Mentawak 57. Pada umumnya penduduk di lokasi studi memiliki tingkat pendidikan tertinggi setingkat SD. seperti terlihat pada Gambar 3. Persentase terbanyak diantara desa-desa lokasi studi yang penduduknya menamatkan pendidikan tertinggi sampai SLTA adalah di Desa Rantau Alai sebesar 19. Peta lokasi Tingkat Pendidikan Kualitas sumberdaya manusia masyarakat di sekitar lokasi rencana kegiatan relatif rendah. Dari uraian terlihat bahwa motivasi orang tua untuk menyekolahkan anak-anaknya ketingkat yang lebih tinggi di wilayah penelitian cukup tinggi.. yaitu Desa Pulau Layang (79.7%) dan Rantau Alay (46. Desa Mentawak (63.3%).

Kajian Manfaat dan Biaya Penambangan Bijih Besi . pembangunan pertambangan bijih besi dianggap oleh penduduk akan memberikan keuntungan kepada mereka. Hadirnya kegiatan pertambangan bijih besi. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 1 dan 2. terutama masih di sektor pertanian seperti buruh tani dan menggarap lahan orang lain yang terdapat di desa mereka. Sedangkan penduduk Mentawak relatif lebih kecil yang sudah mengetahui rencana tersebut. Endang Suryati dan M. disisi lain pembangunan ini juga menimbulkan kekhawatiran di kalangan penduduk. serta berdagang. Namun.10%) menyatakan tidak keberatan terhadap rencana pembangunan pertambangan bijih besi yang akan melewati rumah pemukiman mereka.7% pada umumnya penduduk menghubungkan keuntungan tersebut dengan akan bertambahnya peluang kesempatan kerja. pedagang (7. Lutfi 197 .5%). Hasil wawancara dengan responden di lokasi studi memperlihatkan bahwa seluruh responden di Desa Pulau Layang dan Rantau Alai sebanyak 100% sudah mengetahui rencana dari pembanguna pertambangan bijih besi.. pada satu sisi dianggap akan memberikan keuntungan kepada masyarakat sekitarnya. desa jadi lebih ramai serta dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat di desa tersebut. serta proyek tersebut tidak akan merugikan masyarakat. hanya sebagian kecil Kepala Keluarga yang memiliki pekerjaan tambahan. Dan yang menyatakan memberikan keuntungan dengan adanya penambangan bijih besi ini sebanyak 78. masyarakat diberi pertanyaan/kuesioner mengenai manfaat dan resiko dari kegiatan pertambangan ini.pendidikan tinggi kepada anak-anaknya agar dapat memasuki peluang kerja yang lebih baik dibandingkan orang tua mereka. Pendapat Masyarakat Untuk mengetahui pendapat masyarakat. mendorong penduduk untuk mendapatkan pendidikan formal yang lebih baik agar dapat memasuki lapangan pekerjaan tersebut.2%) dan buruh tani (5. Pada tabel 3 memperlihatkan sebagian besar responden di lokasi studi (80. Sedangkan responden yang menyatakan keberatan terhadap rencana pertambangan hanya 5%. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 4. Gambar 3. Pada umumnya alasan tidak keberatan adalah karena pertambangan tersebut merupakan program pemerintahan dan untuk kepentingan umum. Mata pencaharian di desa-desa sekitar kegiatan penambangan bijih besi Selain itu dengan semakin ramainya kawasan Kota Bangka dan sekitarnya. Gambar 4. Berdasarkan kriteria responden di atas. Selain itu juga ada yang menjadi buruh bangunan musiman di kota. Pekerjaan tambahan mereka.. Di desadesa lokasi studi. mengenai rencana pembangunan pertambangan bijih besi. yaitu sebanyak 10% saja. Di desa-desa sekitar lokasi penambangan sebagian besar mengandalkan kehidupannya dari pertanian (petani) yang digeluti oleh 80% penduduk. Berdasarkan tiga kriteria responden yang telah disebutkan diatas. Mata pencaharian di desa-desa sekitar kegiatan penambangan bijih besi Mata Pencaharian Penduduk Mata pencaharian utama kepala keluarga di desadesa lokasi studi adalah di sektor pertanian bidang perkebunan karet dan kelapa sawit.

3 5 11. tdk keberatan. ada peluang usaha Terserah/tidak peduli. Data Primer. Sumber informasi tentang rencana pembangunan pertambangan bijih besi Sumber Informasi tentang rencana pembangunan Desa Pemilik lahan Jml Pulau Layang Rantai Alai Mentawak Sumber : Data Primer.Tabel 1. diolah Tidak tahu % 100 100 10 Jml 0 0 8 % 0 0 80 Tidak menjawab Jml 0 0 1 % 0 0 10 Jml 50 20 10 Jumlah % 100 100 100 50 20 1 Tabel 2. diolah 36 4 0 2 0 2 0 2 8 50 100 198 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .5 1. Sikap responden terhadap rencana pertambangan bijih besi Desa Sikap terhadap rencana pembangunan Pulau Layang Jml % 72 8 0 4 0 4 0 4 4 Rantau Alai Jml 16 0 0 0 1 0 0 1 2 20 % 80 0 0 0 5 0 0 5 10 100 Mentawak Jml 3 0 2 0 0 0 1 1 3 10 % 30 0 20 0 0 0 10 10 30 100 Jumlah Jml 55 4 2 2 1 2 1 4 9 80 % 68.5 5 2. rencana penambangan Keberatan/tidak setuju Tidak menjawab Total Sumber .3 100 Ya.desa jadi rencana penambangan Tidak keberatan. pengetahuan responden terhadap rencana pembangunan pertambangan bijih besi Pengetahuan tentang rencana pembangunan Tahu Jml Pulau Layang Rantai Alai Mentawak Sumber : Data Primer. tidak keberatan Ya.3 2. Terserah warga lain Tidak keberatan. asal perhatikan warga Tidak keberatan. diolah Aparat Desa Jml 4 0 0 % 8 0 0 Tim survey Jml 6 2 1 % 12 10 10 Tidak menjawab Jml 38 18 9 % 76 90 10 Total Jml 98 20 10 % 100 100 100 % 4 0 0 50 0 0 Tabel 3.5 1.5 2.krn unt kepentingan umum.

Dengan adanya pembangunan penanbangan bijih besi di daerah inidiharapkan tidak menimbulkan kerugian bagi penduduk.8 1. Lutfi 199 .Tabel 4. diolah Rantau Alai Jml 1 6 1 0 1 1 4 1 1 4 20 % 5 30 5 0 5 5 20 5 5 20 100 Mentawak Jml 1 6 0 1 0 0 0 0 0 2 10 % 10 60 0 10 0 0 0 0 0 20 100 Jumlah Jml 8 32 1 2 1 2 11 5 1 17 80 % 10 40 1.3 21.5 12. Kekhawatiran responden terhadap rencana penambangan bijih besi Desa Keterangan Pulau Layang Jml Lahan tani berkurang % Polusi udara Jml kebisingan Sedikit terima tenaga ocal Air sungai terganggu % Pembayaran ganti Jml rugi lambat Jalan jadi rusak Tidak ada kerugian Tidak tahu Total Sumber : Data Primer.5 13.. seperti ditunjuka pada Tabel 6 dibawah ini. Sebanyak 78.3 2.7% responden memberikan rasa kekhawatiran dengan adanya rencana penambangan ini.3 20 100 % 34 2 6 20 2 12 2 22 17 1 3 10 1 6 1 11 50 100 Kajian Manfaat dan Biaya Penambangan Bijih Besi . Keuntungan dari rencana penambangan bijih besi Desa Keterangan Pulau Layang Jml Memberi sumbangan Jml pada kegiatan desa Peluang kerja proyek Jml Desa jadi ramai Peluang kerja & desa jadi ramai Harga tanah & desa jadi ramai Desa jadi ramai transport lancar Ekonomi meningkat Peluang kerja transport lancar Ganti rugi tinggi Tidak tahu Total Sumber : Data Primer.8 6. Endang Suryati dan M..5 1. diolah Rantau Alai Jml 4 4 1 6 2 1 0 2 20 % 20 20 5 30 10 5 0 10 100 Mentawak Jml 1 5 0 1 0 0 0 3 10 % 10 50 0 10 0 0 0 30 100 Jumlah Jml 22 10 4 17 3 7 1 16 80 % 27. (Tabel 5).5 3.3 100 % 12 40 0 2 0 2 14 4 0 22 6 20 0 1 0 1 7 8 0 11 50 100 pembangunan pertambangan bijih besi dianggap oleh penduduk akan menimbulkan kekhawatiran kepada mereka. Fasilitas jalan dan jembatan Fasilitas pelabuhan untuk pemuatan bijih besi dalam tongkang Fasilitas pembangkit tenaga listrik Tabel 5. Pada umumnya masyarakat menginginkan bahwa pembangunan dan pengoperasian penambangan bijih besi dapat memberikan peluang usaha baru bagi mereka. Sarana dan Prasarana Fasilitas yang diperlukan dalam pengangkutan bijih besi dari lokasi penambangan ke lokasi stockpile sementara dan selanjutnya ke lokasi pengolahan di pelabuhan antara lain .5 5 21.3 1.8 8.3 2.

Listrik Ekonomi meningkat Lebih perhatikan Jml lingkungan Ganti rugi lancar Sungai tidak tercemar Jalan desa diperbaiki Setelah ditambang Jml dijadikan pertanian Tidak tahu Total Sumber : Data Primer. Luas lokasi penimbunan bijih besi di dekat areal penambangan lebih kurang 12 ha. dan coal preparation plant. Pada saat kemarau panjang debit aliran agak menyusut sampai 200 liter/detik dan bisa mencapai 2000 liter/detik di musim penghujan. bengkel dan MCK bagi perumahan/ mess. Rapak yang mengalir di daerah penambangan dengan debit 600 lt/detik pada saat peralihan musim kemarau ke musim hujan. Kapasitas tampung stockpile di pelabuhan adalah 100 ton bijih besi ROM. merupakan tempat penimbunan (stockpile) sementara yang dibuat berdampingan dengan tempat penambangan.5 7. selain dipakai oleh beberapa perusahaan perkebunan yang saat ini beroperasi di daerah sekitar rencana kegiatan. dengan tinggi penimbunan maksimal 5 (lima) meter sehingga dibutuhkan areal penimbunan seluas + 104 Ha.5 8.3 1. km dari blok penambangan Area 1 dan Area 2. Jalan kabupaten dan provinsi sudah dilapisi aspal. agar dapat menampung sampai dengan 100.8 11. jalan kabupaten dan jalan provinsi yang juga dimanfaatkan oleh penduduk setempat sebagai akses transportasi darat. pencucian peralatan angkut dan muat bijih besi. Debit dan Sumber Air Kebutuhan air dalam kegiatan penambangan terutama digunakan untuk penyemprotan daerah berdebu. Air sungai tersebut cocok dipakai untuk kegiatan konstruksi dan 200 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Jenis Sumber Energi/Bahan Bakar Sumber energi berasal dari pembangkit listrik utama dengan daya 2 x 65 MW/jam ditambah dengan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) dan genset prime mover berbahan bakar solar sebesar 2 x 250 KVA.3 5 7.8 7.5 7. Jalan dari tambang ke desa ini masih merupakan jalan tanah yang sebagian kecil sudah dilakukan perkerasan dengan kemiringan maksimum 15°. Air yang diperlukan dapat dicukupi dari S.000 ton bijih besi hasil penambangan (ROM). dengan saluran air akan dibuat di kedua sisinya.5 100 % 48 8 4 4 4 16 0 6 10 24 4 2 2 2 8 0 3 5 50 100 Fasilitas pasokan air bersih Bangunan pendukung operasi tambang Bangunan khusus bahan peledak Fasilitas penanganan dan penyimpanan bahan bakar Fasilitas penanganan limbah Bijih besi hasil penambangan (ROM) diangkut dengan dump truck menuju lokasi mesin pemecah bijih besi (crushing plant) di stockpile tambang yang lokasinya berjarak 37 km. diolah Rantau Alai Jml 6 2 4 1 5 1 1 0 0 20 % 30 10 20 5 25 5 5 0 0 100 Mentawak Jml 5 0 0 3 0 0 0 1 1 10 % 50 0 0 30 0 0 0 10 10 100 Jumlah Jml 35 6 6 6 7 9 1 4 6 80 % 43. Rapak dan anak S. Bijih besi dari stockpile tambang diangkut dengan dump truck menuju ke tempat pengolahan (coal processing plant/CPP) di lokasi pelabuhan Jambi melewati jalan yang sudah diperkeras berjarak + 15. Lebar jalan adalah 12 m. Jalur jalan pengangkutan darat dari lokasi tambang ke pelabuhan menggunakan jalan desa. Harapan responden berdasarkan posisi rumah/lahan terhadap rencana penambangan bijih besi Desa Keterangan Pulau Layang Jml Kampung TK lokal Jml lebih banyak Bantuan fas.Tabel 6.

Telen dan PT. Gawi Mulya. Operasional Tambang Supervisor penambangan Supervisor pengangkutan Supervisor Pemetaan Supervisor Perawatan Staf (Pengawasan Tambang) Staf Pengawas Transportasi Staff (Surveyor) Staff perawatan S1 Tambang S1 Tambang S1 Tambang D3 Geodesi STM /D3 dan Training S1 Tambang STM Tambang /teknik STM Tambang/ geodesi STM /SLTA dan Training >8 th >3 th >8 th >3 th >3 th >3 th >3 th >3 th >3 th Pendidikan Sarjana Tambang Sarjana Tambang D-3 Sekretaris S1 Tambang S1 Tambang S1 Geologi S1 Tambang S1 Geologi D3 Geodesi SLTA + Kursus STM + Training Pengalaman >15 th >10 th >3 th >8 th >5 th >8th > 3 th >3 th >3 th >3 th >2 th Jumlah 1 1 1 3 1 1 1 1 1 1 1 2 8 17 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Kajian Manfaat dan Biaya Penambangan Bijih Besi . Klasifikasi dan jumlah tenaga kerja Pekerjaan General Manager Manajer Tambang Sekretaris Sub-Total Kadiv. b. di sebelah utara juga terdapat lahan perkebunan kelapa sawit milik PT. Endang Suryati dan M. sedangkan di sebelah timur HPH milik PT. dapat dilihat pada tabel 7. Meranti Mitra Persada. Kegiatan lain di sekitar daerah rencana penambangan bijih besi adalah : a. Telen. Kegiatan Lain di Sekitar Lokasi Rencana Kegiatan Daerah rencana tambang semula merupakan areal HPH dari beberapa perusahaan kayu yaitu PT. Sangkulirang. Manfaat yang diperoleh bagi Daerah dan Masyarakat Kesempatan Kerja Pendapatan Daerah Peluang Usaha Kerusakan/kerugian : Gangguan kesehatan karena debu dari transportasi pengangkut bijih besi Menurunnya sumber air Manfaat kegiatan pertambangan bijih besi 1... diendapkan dan disterilisasi dapat dipakai sebagai bahan air minum. Perkebunan kelapa sawit Di sebelah timur terdapat perkebunan kelapa sawit PT. Segara Timber.industri. bahkan bila disaring. Georgia Pacific. Peluang Kerja Pada tahap operasi klasifikasi tenaga kerja yang dibutuhkan. Di lokasi rencana kegiatan pertambangan bijih besi tidak terdapat kegiatan sejenis yang berbatasan langsung dengan daerah rencana penambangan bijih besi. Bunta Samba. Tabel 7. SP II Bumi Rapak. Perencanaan Supervisor Perencanaan Tambang Lanjutan Supervisor pengembangan Staff ( Mining eng ) Staf ( Geologist ) Staff ( surveyor) Staff ( operator komputer) Staf ( juru gambar) Helper Sub-Total Kadiv. PT. Lutfi 201 . SP VI Mata Air dan SP VII Bukit Permata. Lahan Hutan Tanaman Industri Di sebelah selatan rencana kegiatan penambangan bijih besi terdapat hutan produksi kayu milik perusahaan pemegang HPH PT. c. Permukiman penduduk Di sebelah timur terdapat permukiman SP I Bumi Etam. PT. PT. Sawit Prima Nusantara dan PT. Rashua Indochem. Gempu dan PT.

CPP Supervisor processing Supervisor quality control Staf CPP Operator genset Opertor cpp Helper Sub-Total Kadiv Admini.. dan jumlah penduduk menurut pendidikannya. dan semuanya dapat diambil dari penduduk setempat. maka total pendapatan yang diterima masyarakat sekitar sebesar 40 orang x Rp 1..500.000..000.000.000.- 202 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Dengan gaji sebesar Rp 1.Tabel 7.500. & Keuangan Kepala Personalia dan Umum Kepala Keuangan Kepala pemasaran Kepala Keamanan Kepala Logistik/Gudang Pengawas Camp Kepala Humas Staf/Pembantu Umum Staf/Pembantu LogistikLanjutan Staf Pembantu Keuangan Operator Komputer/Juru tik Petugas Satpam Juru Masak Supir Helper Sub-Total Kadiv. Lingkungan – K3 Kepala Lingkungan Kepala K3 Staff lingkungan Staff K-3 Staff Comdev Helper Sub-Total Total S1 S1 S1 SLTA/D3 SLTA/D3 SLTA/D3 >5th >3th >3th >3th >3th >3th S1 Ekonomi/Manajemen S1 Hukum D3 Akuntansi S1 Ekonomi/Manajemen D-3 Purnawirawan TNI D-3 Ekonomi/Manajemen SLTA D3 SLTA SLTA +Training SLTA SLTA SLTP Keatas SD Keatas SLTA >5 th >3 th >3 th >3 th >3 th >3 th >5 th >3th >3 th >3 th >3 th >3 th >3 th >3 th >3 th S1 Mesin S1/D3 teknik S1/D3 kimia STM /SLTA/D3 STM Listrik + Training STM Mesin + Training >8 th >5 th >5 th >5 th >3 th >3 th Pendidikan STM /SLTA SLTA + Training Pengalaman >3 th >3 th Jumlah 1 2 9 21 1 1 1 2 2 2 5 14 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 4 3 4 9 33 1 1 1 2 3 2 5 15 103 Jika dilihat dari tabel diatas.. Lanjutan .juta = Rp 60.. maka penduduk sekitar yang dapat direkrut adalah lulusan sekolah menengah atas atau sekolah kejuruan. Jumlah yg diperlukan 40 orang. Pekerjaan Staff ( pengawas O/B) Operator Pompa Helper Sub-Total Kadiv.

000.100.215. terutama dalam peningkatan pendapatan masyarakat dan daerah.000.290. Gajah Mada University Press. Jumlah penduduk usia produktif setempat yang dapat direkrut di kegiatan penambangan bijih besi sekitar 35.420. Kajian Manfaat dan Biaya Penambangan Bijih Besi . Sedangkan untuk meminimalkan dampak negatif.2.1. Dr. dengan demikian kegiatan penambangan bijih besi sangat berperan dalam meningkatkan pendapatan penduduk sekitar.08 %.000.000.000.177.- 4.000.. bila dibandingkan dengan biaya eksternalitas.- Dari hasil perhitungan diatas.000.000. perlu di lakukan upaya pengelolaan..403. Komponen Peluang kerja Retribusi Pajak dll Total manfaat Biaya eksternalitas no 1 2 3 Total Komponen Biaya Jumlah (Rp) 11. Adanya peningkatan pendapatan masyarakat dan peningkatan pendapatan daerah yang berasal dari pajak-pajak.500. 2007. Sukanto Reksohadiprojo. Prof. terutama yang menyangkut masalah hajat masyarakat pada umumnya seperti keperluan air bersih. Kabupaten Merangin Dalam Angka 2007 Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gajah Mada. Saran Untuk memaksimalkan dampak positif. Lutfi 203 . dapat disimpulkan manfaat lebih besar dari biaya eksternalitas.1993. 4. Teknik Penilaian Ekonomi Terhadap Lingkungan.Hilangnya pohon 1434 ph x Rp 150. KESIMPULAN DAN SARAN 4. Penterjemah.Manfaat kegiatan pertambangan bijih besi no 1 2 3.000 x 50 Jumlah (Rp) 60.000. Dixon.000. Kesimpulan Dari pembahasan diatas.710.300.000.- Kesehatan 12 x Rp 5. dapat disimpulkan sebagai berikut : 1.000.Com.000. 2008 John A. Kumpulan Materi Ekonomi Lingkungan. maka dampak dari kegiatan penambangan batubara untuk pertumbuhan perekonomian daerah bersifat positif. perlu dilakukan upaya pengelolaan. M.60. Manfaat dari kegiatan penambangan bijih besi bagi penduduk sekitar lebih besar. DAFTAR PUSTAKA Badan Pusat Statistik.000. 3.000 x 185 Persediaan air bersih 300 hr x 738 x Rp 800. Endang Suryati dan M.000.120.penerimaan 40 org a Rp 1.070.240 hr x Rp 5. 2. dengan selisih Rp 16.

Jakarta Selatan 12230 Telp. 021 . 022 . Produk hidrotreating fraksi solar minyak sintetik tersebut mempunyai rasio hidrogen/karbon yang diperoleh tersebut masih belum mendekati rasio hidrogen/karbon solar dari minyak bumi yaitu sebesar 1. Novie Ardhyarini1.3 % menjadi 80. luas permukaan 109.016 %.42. Cipulir-Kebayoran Lama.35 m2/ g.7226011 2) Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl.079 % menjadi 0.7222583 Fax. volume pori 0. Batubara cair (synthetic crude) yang dihasilkan tersebut mirip dengan minyak bumi yang masih perlu diolah dan ditingkatkan mutunya agar memenuhi syarat sebagai bahan bakar minyak.6030483 Fax. Perolehan distilasi menunjukkan minyak sintetik ini lebih tepat diarahkan untuk menjadi solar berkadar sekitar 65 % berat. 022 . Sudirman 623 Bandung 40211 Telp. hidrotreating 204 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .9247. Leni Herlina1. Watson dan Murphy).2675mL/g.6003373 e-mail : ninings@tekmira. sulfur (S) dari 0.30 menjadi 1.go. serta meningkatkan mutunya agar dapat memenuhi kriteria sebagai bahan bakar setara dengan bahan bakar dari minyak bumi. dan kadar sulfur setelah presulfiding 6 %-wt. peningkatan mutu. Ciledug Raya Kav 109.esdm.9664 menjadi 0. Kondisi HDT-3 yang perbandingan hidrogen terhadap umpan paling besar memberikan hasil yang paling baik yaitu penurunan spesific gravity dari 0. Kata kunci : minyak sintetik. kadar karbon dari 87. Untuk itu penelitian ini akan dilanjutkan dengan mengoptimalkan kondisi operasi hidrotreating dan komposisi katalisnya. Minyak sintetik merupakan minyak yang berat dan termasuk klasifikasi aromatik menurut kriteria UOP (Nelson. kadar nitrogen dari 0.82 %.58 % menjadi 0.75.id SARI Teknologi pencairan batubara telah dikembangkan oleh Puslitbang Tekmira.MINYAK SINTETIK DARI PENCAIRAN BATUBARA DAN PENINGKATAN MUTUNYA SEBAGAI BAHAN BAKAR Muh Kurniawan1. serta tergolong sebagai naftenik-naftenik menurut klasifikasi US Bureau of Mines. Tujuan penelitian ini adalah adalah mengkarakterisasi minyak hasil pencairan batubara. Jend. Dalam penelitian ini telah dipreparasi katalis monofungsional Ni-Mo/Al2O3 dengan konsentrasi Ni dan Mo masing-masing 3 dan 12%. 021 .17 %. Nining Sudini Ningrum2 1) Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi (LEMIGAS) Jl. Hidrotreating dilakukan terhadap fraksi solar ringan 180-300°C dengan katalis NiMo/Al2O3 tersebut pada alat autoclave pada tiga kondisi perbandingan hidrogen dan umpan. serta kenaikan rasio molar hidrogen/karbon (H/C) dari 1.

PENDAHULUAN Keterbatasan cadangan minyak bumi mendorong berbagai upaya untuk menemukan energi alternatif. this experiment will be followed up by optimizing the operating conditions of hydro-treating and the catalyst composition. Muh Kurniawan.2005).016 %. 2005).ABSTRACT Coal liquefaction technology have been developed by Puslitbang Tekmira. pore volume of 0. dalam penelitian ini dilakukan karakterisasi batubara cair. serta meningkatkan mutunya agar dapat memenuhi kriteria sebagai bahan bakar setara dengan bahan bakar cair dari minyak bumi.82 %. The hydrogen/carbon (H/C) ratio of this hydro-treated gasoil is still lower than that of petroleum gasoil.3 % to 80.75. and sulfur content of 6 %-wt (after presulfiding). PERCOBAAN Karakterisasi sifat-sifat fisika batubara cair (synthetic crude) dilakukan menurut metode yang lazim dilakukan untuk minyak bumi. Keywords: synthetic crude oil.. Karakterisasi fraksi batubara cair.30 to 1. Proses fraksinasi dilakukan dengan distilasi True Boiling Point (TBP) menurut metode ASTM D2892. The synthetic crude is similar to petroleum crude oil.17 %. dan pengujian Reid Vapor Pressure (RVP) dengan ASTM D-323(ASTM. Hydro-treating experiment is conducted on light gasoil fraction (180-300°C) by using autoclave reactor and Ni-Mo/Al2O3 catalyst.. The purpose of this work is charaterizing synthetic crude and upgrading its quality to meet fuel criteria equivalent to conventional petroleum fuel.42.9247. and increasing of hidrogen/karbon (H/C) molar ratio from 1. nitrogen content from 0. It is observed from the decreasing of spesific gravity from 0. untuk viskositas kinematis digunakan metode ASTM D-445. 205 .9664 to 0. Temperatur ini setara dengan rentang temperatur pada distilasi hempel yang digunakan untuk pengklasifikasian hidrokarbon menurut LaneGarton(Riazi. Peningkatan mutu batubara cair tersebut dengan proses hidrotreating diteliti oleh PPPTMGB ”Lemigas”. The synthetic crude is a heavy oil. HDT-3 condition with largest H2/feed ratio gave the best result. which is 1. classified as aromatic oil according to UOP ((Nelson.079 % to 0.2675mL/g. Watson dan Murphy). this synthetic crude is suitable to produce gasoil.The experiment is conducted in three different conditions of hydrogen to feed ratio.58 % to 0. preparasi katalis Ni-Mo/Al2O3 dan penelitian hidrotreating fraksi batubara cair akan disajikan pada makalah ini. hydro-treating 1. 2. For this reason. Tujuan penelitian ini adalah mengkarakterisasi cairan hasil pencairan batubara. untuk pengujian titik nyala digunakan metode PMCC ASTM D-93. sulphur content from 0.35 m2/g. that is necessary to be refined and upgraded to meet fuel specification. Untuk itu. surface area of 109. Batubara cair (synthetic crude) yang dihasilkan identik dengan minyak bumi sehingga masih perlu diolah dan ditingkatkan mutunya agar memenuhi persyaratan sebagai bahan bakar minyak. carbon content from 87. and classified as naphthenic-naphthenic according to US Bureau of Mines (Lane-Garton). Minyak Sintetik dari Pencairan Batubara dan Peningkatan Mutunya . The catalyst is a mono-functional Ni-Mo/Al2O3 catalyst having Ni and Mo concentration of 3 and 12%wt respectively. quality upgraded. Proses pencairan dinilai sesuai untuk meningkatkan nilai tambah batubara Indonesia yang sebagian besar bermutu rendah. resulting a liquefied coal or synthetic crude oil. Sehubungan dengan cadangan batubara nasional cukup besar maka pencairan batubara secara langsung merupakan salah satu peluang yang dapat menggantikan peranan minyak bumi sebagai bahan bakar cair untuk mesin transportasi dan industri. Penelitian pencairan batubara telah dikembangkan oleh PPP-Tekmira Bandung. Having 65%wt of distillation yield at 180-350°C. preparasi katalis Ni-Mo/Al2O3 dan penelitian hidrotreating terhadap fraksi solar dari batubara cair tersebut. Pada distilasi ini juga dilakukan pemotongan fraksi pada rentang temperatur 250-275°C dan 391419°C. proses fraksinasi. dkk. Untuk pengujian spesific gravity dilakukan dengan metode IP 189-190.

Viskositas kinematik minyak sintetik ini berkisar pada 5 cSt dan pour point-nya di bawah nol celsius sehingga tidak memerlukan perlakuan khusus pada suhu ruang. Produk reaksi hidrotreating fraksi (180-3000C) minyak sintetik kemudian dikarakterisasi sifat fisikanya antara lain spesific gravity dan viskositas kinematik. Proses hidrotreating dilakukan terhadap fraksi 180300°C dari minyak sintetik dengan katalis monofungsional Ni-Mo/Al 2 O 3 yang telah dipresulfiding. Karakteristik Batubara cair Hasil karakterisasi batubara cair dapat dilihat pada Tabel 2. Suhu. Hasil ini terlihat juga pada kurva distilasi TBP dalam Gambar 2. dan tekanan awal juga tetap untuk ketiga kondisi. Nitrogen. Suhu operasi presulfiding adalah 300°C selama 200 menit dengan tekanan awal gas hidrogen 40 bar. Autoclave Pada penelitian ini dilakukan tiga kondisi operasi hidrotreating dengan memvariasikan perbandingan jumlah umpan dengan gas hidrogen.6. Watson dan Murphy). Reaktor yang digunakan adalah autoclave bervolume 500mL yang juga akan dipakai untuk penelitian hidrotreating. termasuk kategori minyak berat dalam klasifikasi yang lazim diterapkan dalam minyak bumi konvensional. 2005). 2004). Adapun perbandingan katalis terhadap umpan dibuat tetap sebesar 10% berat. Secara keseluruhan. Hydrogen. waktu reaksi.1. Komposisi katalis hidrotreating adalah kadar nikel dan molibdenum masing-masing sebesar 3 dan 12 % berat. serta kadar sulfur 6 % berat dari presulfiding(Kokayeff. Sulfur-Oxygen Analyzer) (Bhattacharryya. Gambar 1. Kondisi operasi hidrotreating Parameter Umpan Katalis Tekanan Suhu Waktu Vol. HASIL DAN DISKUSI 3. Sementara itu.Katalis hidrotreating monofungsional Ni-Mo/Al2O3 dipreparasi dengan mengimpregnasi support alumina (Al2O3) dengan inti logam nikel dari garam nitrat dan logam molibdenum dari amonium molibdat. Tabel 1. Dua sifat penguapan yaitu Reid Vapor Pressure (RVP) sebesar 0 psi dan flash point di atas 100°C menunjukkan bahwa kadar fraksi ringan dalam batubara cair ini sedikit. 2005). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa minyak hasil pencairan batubara ini mengandung banyak senyawa aromatik (Riazi.5 gram dimetil disulfida dengan pelarut solar komersial sebanyak 200mL.04 dan °API 4. disajikan pada Tabel 1. Minyak sintetik ini mempunyai spesific gravity (SG) 1. (Gambar 1). Sistem pengadukan adalah horizontal shaking dengan kecepatan 37-150 rpm dan jarak pengadukan 100mm. H2 Satuan mL gr Bar oC Menit mL HDT-1 HDT-2 HDT-3 250 25 40 390 80 250 100 10 40 390 80 400 50 5 40 390 80 450 3. Komposisi kimia ditentukan dengan alat CHNS-O Analyzer (Carbon. Setelah impregnasi dilanjutkan dengan kalsinasi pada suhu 400°C selama 4 jam.4 menempatkan minyak sintetik ke dalam klasifikasi aromatik menurut kriteria UOP (Nelson. hasil pengukuran °API pada fraksi distilat 250-275°C dan 391-419C menggolongkan karakteristik minyak sintetik ini sebagai NaftenikNaftenik menurut Lane-Garton. Reaktor yang digunakan adalah autoclave dengan kapasitas 500 mL. Nilai K-UOP sebasar 9. Sebanyak 40 gram katalis disulfurisasi dengan 18. ketiga kondisi operasi 206 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .

dan HDT-3 Ketiga produk hidrotreating tersebut menunjukkan perubahan warna dibandingkan dengan umpannya.0 109. yaitu konsentrasi Ni-Mo.0 12. volume pori. Sehubungan dengan fraksi solar (180-300°C) yang diperoleh ini berkadar aromatik tinggi. yang menunjukkan perolehan fraksi solar yang paling besar yaitu sekitar 65% berat.0 9. HDT-2.268 5.4 NaftenikNaftenik Karakteristik katalis hidrotreating yang telah dipreparasi secara laboratorium. Tabel 3. yaitu HDT-1.. Karakteristik batubara cair Parameter Spesific Gravity 60/60°F °API Viskositas Kinematik @ 100°F @ 140°F Titik Tuang Flash Point PMCC Reid Vapor Pressure K-UOP Karakteristik Lane-Garton Satuan — — cSt °C °C Psi — — Nilai 1. dan kadar sulfur katalis mendekati karakteristik katalis hidrotreating komersial (Tabel 3) (Bhattacharryya. Muh Kurniawan. Kurva distilasi TBP batubara Cair Kurva ini memberikan gambaran titik didih awal (IBP) yang relatif tinggi yaitu di atas 150°C. Umpan dan produk percobaan hidrtrotreating dengan kondisi HDT-1. Umpan HDT-1 HDT-2 HDT-3 Gambar 3.513 4.Mo Luas Permukaan Volume Pori Kadar Sulfur Satuan %-wt %-wt m2/g mL/g %-wt Nilai 3.3 0. minyak sintetik tersebut cukup baik diarahkan untuk pembuatan gasoil. Secara visual. Dari ketiga kondisi tersebut. Proses Hidrotreating Proses hidrotreating dilakukan pada tiga kondisi sebagaimana ditampilkan pada Tabel 1. dkk.1982).. maka dilakukan penelitian untuk peningkatan mutunyadengan proses hidrotreating. Minyak Sintetik dari Pencairan Batubara dan Peningkatan Mutunya . Fraksi berat di atas 350°C hingga titik didih akhir pada 520°C diperoleh sekitar 30% berat. Kurva kemudian terlihat mendatar pada rentang 250 sampai 350°C. Berdasarkan kurva distilasi TBP.040 4. di mana kondisi HDT-3 memberikan hasil yang paling baik (Tabel 4) (Armstrong. fraksi yang diperoleh hanya sekitar 0. dengan menyisakan residu sekitar 4% berat. yaitu warna produk menjadi lebih terang. Sampai dengan suhu 180°C. 207 .796 3. dengan perolehan sekitar 65% dari total minyak sintetik.2. hasil percobaan hidrotreating dengan ketiga kondisi dapat dilihat pada Gambar 3. 2005). HDT-2 dan HDT-3 berturut-turut memiliki rasio H2 terhadap umpan semakin besar.6 5.354 -20 105 0. Karakteristik Katalis Hidrotreating Parameter Konsentrasi : . luas permukaan.Ni . Gambar 2.Tabel 2.5% berat.

vol. Sidney E.9574 84. Malvina Farcasiu. Minyak sintetik ini mengandung fraksi solar (180300°C) sebesar 30% berkadar aromatik tinggi. Bhattacharryya K. Francis J.56 1..3 % menjadi 80. 1051-1057.9247. Vol 05.0 % berat pada tiga jenis kondisi operasi menunjukkan peningkatan mutu fraksi 180-300oC tersebut dengan diamatinya penurunan karakteristik produk hidrotreating yaitu antara lain: spesific gravity dari 0. kadar karbon (C) dari 87. Catalysis in Petroleum and Petrochemical Industries. 61. dengan penurunan spesific gravity dari 0. KESIMPULAN Batubara cair ini tergolong minyak berat dengan klasifikasi aromatik menurut kriteria UOP (Nelson. ASTM. Anup K.58 0.079 2.026 3.30 menjadi 1.320 0.079 % menjadi 0.57 0. Watson dan Murphy). maka proses hidrotreating fraksi 180-300°C tersebut masih perlu ditingkatkan kondisi operasinya dengan pengoptimalan komposisi katalis.31-8.17 %berat sulfur (S) dari 0.32 0. Hasil percobaan hidrotreating terhadap fraksi solar ringan 180-300C menunjukkan perbaikan karakteristik produk solar tersebut. 2005 Armstrong P. vol 61.316 0.9664 87. Jankowski A. “ Chapter 8. 2005 Whitehurst D. Rudnick. Duayne.41 0.82 9. Untuk memperoleh rasio hidrogen/karbon setara solar dari minyak bumi yaitu sebesar 1.42.027 5. George A.82 %berat. 1982 dan Jankowski. 1982.30 HDT-1 3. Untuk memperoleh rasio hidrogen/karbon (H/C) setara solar dari minyak bumi yaitu H/C = 1.16 %berat.47 0. Karakterisasi produk hidrotreating Parameter Kinematik Visc.3 UOP Uniofining Technology”.. 8.67 9. Butrill Jr.42 Hasil penelitian proses penghidromurnian fraksi 180 – 300oC dari minyak sintetik dengan bantuan katalis Ni-Mo/Al2O3 dengan kadar sulfur 6.. (40oC) SG 60/60 Carbon (%-wt) Hidrogen (%-wt) Nitrogen (%-wt) Sulfur (%-wt) Oksigen. Rasio H/C Umpan 5.9247. vol.30 9.17 %.71 1.. serta kenaikan rasio hidrogen/karbon (H/C) dari 1. serta tergolong sebagai Naftenik-Naftenik menurut klasifikasi Lane-Garton.38 HDT-3 2.97 0.58 %berat menjadi 0. sulfur (S) dari 0.9664 menjadi 0. India.02.079 %berat menjadi 0. kadar nitrogen dari 0. 1982. Handbook Of Petroleum Refining Processes 3rd Ed.30 0.82 208 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Fuel. Upgrading of syncrude from coal.32 HDT-2 3. kadar karbon (C) dari 87. Talukdar.016 9. 1982. Derbyshire. Study of single-stage treated products for transport fuel use.. dan adanya kenaikan rasio hidrogen/karbon (H/C) dari 1..17 0. P.016 %. 1.75.9664 menjadi 0.3 %berat menjadi 80. 4. Narosa Publishing House. M. 1982) %.58 % menjadi 0.Tabel 4. Fuel.9365 86.42 1. Hydro-treating coal-derived liquid distillation fractions.42.30 menjadi 1. R. by diff. 1032-1037 Kokayeff. New characterization techniques for coal-derived liquids. 2005. Fuel.961 0. 61. nitrogen (N) dari 0.75.03 1. di mana HDT3 memberikan hasil yang paling baik. Characterzation and Properties of Petroleum Fractions. DAFTAR PUSTAKA Annual Book of ASTM Standards. Odoerfer and Leslie R.41 Riazi.9247 80.725 0. maka proses penghidromurnian fraksi 180-300oC berkadar aromatik besar tersebut masih perlu ditingkatkan kondisi operasinya dengan pengoptimalan komposisi katalis (Whitehurst.53 9. (2004).G. Werner Doehler and Ulrich Graeser.

Nasution. The synthetic crude of this coal liquefaction can be increased by the catalyst developments and the optimum of the operating conditions of the coal liquefaction processes.go. This synthetic crude can be converted into the synthetic fuel oil by catalytic process of the petroleum refinery.6030483 Fax. 209 . Key words: synthetic fuel oil. National coal reserves are about of 104. dkk. Abdul Haris*. melalui proses Ficsher-Tropsch gas sintes (CO + H2) dari produk gasifikasi batubara (bituminous coal).id SARI Indonesia mengolah minyak mentah adalah sebesar 1.756 billions ton in the 2008 and the part of this coal can be converted into synthetic crude to substituted the imported crude oil. Nasution*.6003373 e-mail : huda@tekmira. pencairan batubara dan proses Fischer-Tropcsh ABTSRACT Indonesia’s petroleum refinery processes is about 1. Miftahul Huda**.id. Coal liquefaction by BCL and Ficher-Tropsch processes into the synthetic crudes and their conversion into the synthetic fuel oil.7226011 ** Pusat Teknologi Penelitian dan Pengembangan Mineral dan Batubara Jl.075 million barrels/day of the crude oils.75 juta barel/hari dan kekuranganya masih diimport.7222583 Fax. 021 . Coal liquefaction into the synthetic crude can be direct coal liquefaction.75 million barrels/day and plus the imported crude oil.756 milliar ton yang sebagian dapat dikonversi menjadi minyak sintetik untuk mensubtitusi minyak mentah import tersebut. 022 . Pencairan batubara menjadi minyak sintetik dapat dilakukan secara langsung (direct coal liquefaction) yaitu Brown Coal Liquefaction (BCL) dan NEDOL. Produk minyak sintetik dari proses pencairan batubara dapat ditingkatkan dengan pengembangan katalis dan optimalisasi kondisi operasi. Jend. Afrika Selatan. Bahan Bakar Minyak Sintetik dari Pencairan Batubara.go.esdm. such as brown coal liquefaction (BCL) and NEDOL aJapan’s technology. 022 . Sudirman 623 Bandung 40211 Telp.BAHAN BAKAR MINYAK SINTETIK DARI PENCAIRAN BATUBARA A. or indirect coal liquefaction or coal to liquid technology (CTL) such as CTL technology of SASOL in South Africa over Fischer Tropsch processes of syn-gas (CO+H2) from gasification of bituminous coal. 021 . Kata kunci: minyak sintetik. teknologi dari Jepang atau secara tidak langsung (indirect coal liquefaction) yaitu coal to liquid technology (CTL) teknologi CTL-SASOL. Proses pencairan batubara menjadi minyak sintetik dengan proses BCL dan Ficsher-Tropsch serta pengolahan minyak sintetik tersebut menjadi bahan bakar minyak sintetik akan dibahas dalam makalah ini. Minyak sintetik tersebut dapat diolah menjadi bahan bakar minyak sintetik dengan proses katalitik pada kilang minyak bumi. coal liquefaction and Fischer-Tropcsh processes.S. Cadangan batubara Nasional pada tahun 2008 adalah sebesar 104. will be discussed briefly in this paper. Ciledug Raya Kav 109. A. Cipulir-Kebayoran Lama. ninings@tekmira. Jakarta Selatan 12230 Telp.S. Leni Herlina* dan Nining Sudini Ningrum** * Pusat Teknologi Penelitian dan Pengembangan Minyak dan Gas Bumi (LEMIGAS) Jl. supplied by national production of about 0.esdm.075 juta barel/hari sedangkan produksi nasional hanya sekitar 0.

2006).2006.1. Proses Fischer-Tropsch adalah suatu reductive polymerization reaction yang mengkonversi gas sintesis (CO + H2) menjadi produk utama hidrokarbon normal parafin dan normal olefin dengan bantuan katalis (Charles. 2. PENDAHULUAN Indonesia mengolah minyak mentah sebesar 1. tanpa tahun). tanpa tahun) Pembentukan produk minyak sintetik dari proses pencairan batubara (proses BCL dan proses   Pencairan Batubara dan Rantai Pasokan BBM  Impor Crude Oil  Impor BBM  Crude Oil  CSO  Batubara Indonesia  pada berbagai lokasi  Kilang Minyak  BBM  Untuk domestik  Pencairan Batubara  BBM  Untuk Ekspor  Masuknya CSO dalam rantai pasokan BBM terutama akan berdampak positif  dalam penyediaan BBM domestic dan mengurangi impor  Gambar 1.075 juta barel/hari di mana produksi nasional hanya sekitar 0.756 milliar ton pada tahun 2008 dengan jenis low rank coal sekitar 60 % dari total cadangan. yaitu antara lain brown coal liquefaction (BCL) oleh Teknologi Jepang 210 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . vehicle solvent.75 juta barel/hari dan kekuranganya masih diimport (Dirjen Migas. Umpan proses hidrogenasi batubara adalah suatu suspensi dari campuran: batubara.Satterfield. Cadangan batubara nasional cukup besar yaitu sekitar 104. Sedang pencairan batubara secara tak langsung (indirect coal liquefaction) atau coal to liquid technology (CTL) merupakan teknologi CTL SASOL telah dioperasikan sejak tahun 1950 di Afrika Selatan. seperti terlihat pada Gambar 1 (Sukardjo.2006). Jeffey Mulyono. katalis. Pencairan Batubara Pencairan batubara menjadi minyak sintetik dapat dilakukan secara langsung ( direct coal liquefaction) yang masih dalam taraf demonstration plant. melalui proses Fischer Tropsch gas sistesis ( CO + H2) dari produk gasifikasi batubara (bituminous coal) (Supriyadi. Fischer-Tropsch) dengan berbagai jenis katalis dan pengolahan minyak sintetik tersebut menjadi bahan bakar minyak sintentik akan disajikan dalam makalah ini. PENCAIRAN BATUBARA MENJADI MINYAK SINTETIK Pencairan batubara menjadi minyak sintetik terdiri atas dua jenis proses berikut : Proses pencairan batubara secara langsung ( direct coal liquefaction). yang sebagian batubara tersebut dapat dicairkan menjadi minyak sitentik untuk mensubtitusi minyak mentah impor tersebut. N. hidrogen. yang dimasukan ke dalam slurry reactor di mana molekul batubara direngkah menjadi produk minyak sintentik. yaitu brown coal liquefaction (BCL) dan NEDOL yang merupakan teknologi Jepang melalui proses hidrogenasi batubara yang hidrogennya dari produk gasifikasi batubara. hydrogen donating.

N. dkk. Gas hidrogen yang dipakai pada proses pencairan batubara ini diperoleh dari produk gasifikasi batubara seperti terlihat pada Gambar 2 (Takao. R* + H* RH Perengkahan lanjut dari radikal-radikal besar seperti asphaltene. Hertan. serta mengandung grup aromatik dengan berat molekul relatif rendah. Proses pencairan batubara secara tak langsung (indirect coal liquefaction) melalui proses Fischer Tropsch gas sintes ( CO+ H2) dari produk gasifikasi batubara (bitumineous coal) atau Coal to Liguid Technology.. 1985). oleh teknologi CTL-SASOL di Afrika Selatan yang telah beroprasi sejak tahun 1955.V. dkk. 2002. 2002). K. A. R. N. Proses pencairan batubara dengan memakai katalis monofungsional berinti aktif logam.V. dkk.1. preasphaltene. atau dapat juga terbentuk dari gas hidrogen dengan bantuan katalis.S. dan juga dapat mempercepat terbentuknya radikal hidrogen dari gas hidrogen (Takau.S. 2002). Satterfield. hal ini diperkirakan karena keterbatasannya dalam pelepasan radikal hydrogen tersebut (R. Mula-mula molekul batubara akan pecah secara termal menjadi beberapa jenis molekul radikal ( R*=C* n H2n + 1) seperti asphaltene. Kelvin. hydrogen donating. R*1 + R*2 R1 R2 Produk minyak sintetik dari proses pencairan batubara dengan hydrogen donating saja tanpa katalis diamati menurun secara cepat dengan waktu reaksi. preasphaltene menjadi radikal kecil yang lebih stabil seperti minyak sintetik dan olefin. Nasution. Staker.P. C*n H2n + 1 C*x H2x + 1 + CYH2Y di mana n = x + y Pengabungan radikal-radikal besar menjadi molekul yang kompleks (kokas).. Kelvin. Pemutusan ikatan karbon di antara dua cincin aromatik dengan radikal hidrogen baik yang berasal dari hydrogen donating maupun yang berasal dari gas hidrogen dengan bantuan katalis Gambar 2. tanpa tahun): Radikal bergabung dengan radikal hidrogen ( H*) yang dihasilakan dari hidrogen donating tanpa atau dengan bantuan katalis. 1994. 2. Peter A. katalis sub-micron..melalui proses hidrogenasi batubara yang masih dalam taraf demonstration plant. Konversi Batubara Stabilisasi radikal-radikal tersebut dengan beberapa reaksi radikal adalah berikut (Charles N. 211 . A. hidrogen dan vehicle solvent dimasukan ke dalam suatu slurry reactor. Bahan Bakar Minyak Sintetik dari Pencairan Batubara. Nasution. 1994). Gambar 3. dan oil (minyak sintetik) seperti terlihat pada Gambar 3 (Charles N.P. dkk. Model Molekul Zat Organik Batubara Umpan batubara pada proses hidrogenasi batubara muda ini dalam bentuk suspensi yaitu suatu campuran dari : bubuk batubara < 60 mesh.. Proses Hidrogenasi Batubara Batubara muda (low-rank coal) mengandung kadar oksigen tinggi dengan banyak grup fungsional berantai yang sangat reaktif mudah pecah oleh panas.. seperti FeS2 dapat mengaktifkan kembali hydrogen donating yang telah melepaskan radikal hydrogennya dengan reaksi hidrogenasi. Satterfield. dkk. K. tanpa tahun. Staker. sehingga proses pencairannya dapat menghasilkan perolehan minyak sintetik tinggi.

dkk. kat . Pengaruh vehicle solvent pada perolehan produk minyak sintetik disajikan pada Gambar 5 (Peter A. -H+ –C–C–C C–C=C–C Ion karbonium beratom karbon C ³ 6 dapat membentuk ion karbonium siklis.F Lepage. Pengaruh chain probability factor (α) adalah (α) : rp / rp + rt (rp dan rt = laju propogasi dan terminasi) pada distribusi produk utama hidrokarbon (minyak sintetik) tersebut disajikan pada Gambar 6 (Charles N. N. Ronald H.P. yang akan 212 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . seperti Ni-Mo/Al2O3-SiO2 dapat memecah cincin poliaromatik dari produk minyak sintetik tersebut melalui pembentukan senyawa antara ion karbonium ( R+) dengan bantuan inti aktif asam katalis baik Lewis maupun Bronsted seperti halnya pada proses hidrorengkah fraksi minyak bumi seperti terlihat pada Gambar 4 (R.V. Pengaruh Keasaman Katalis Pada Minyak Sintetik 2.. Wolk. tanpa tahun). Satterfield.2.. J. 1987). 1979). Gambar 4. tanpa tahun). dan juga solvent tersebut dapat menghambat terjadinya pengabungan (repolymerization) antara radikalradikal besar menjadi molekul besar (kokas). Minyak sintetik.. Staker.Tropsch yaitu katalis bifungsional berinti dua jenis aktif (logam dan asam) yaitu antara lain Fe/Ziolit dan Co/Al2O3 SiO2 akan mengkonversi senyawa olefin-1 menjadi olefin-2 melalui senyawa antara molekul ion karbonium (R+) yang lebih sulit berpolimerisasi menjadi produk normal hidrokarbon panjang +H+ C=C–C–C +C Vehicle solvent dapat menaikan kelarutan dan pendispersian bubuk batubara di dalam suspensi umpan. Reaksi hidrokonversi Modifikasi katalis Fischer . K. 1985). 2002. m mol/g. 102 Gambar 5. Satterfield. Hertan. akan mengkonversi gas sintes melalui suatu reductive polymerijation reaction menjadi produk utama normal hidrokarbon parafin dan normal olefin dengan sedikit produk samping senyawa organik oksigen seperti alkohol (Charles N. Proses Fischer-Tropsch Gas Sintes (CO + H2) Proses Fischer-Tropsch dengan memakai katalis konvensional monofungsional Fe atau Co berinti aktif logam saja. maf monofungsional tersebut cukup sulit.Katalis bifungsional berinti aktif logam dan asam. sehingga percampuran antara molekul batubara dengan katalis akan meningkat. 1994. dkk. Keasaman katalis. sehingga kadar hidrokarbon poliaromatik (rasio atom C/H) dari produk minyak sintetik tersebut diamati relatif lebih tinggi dari pada fraksi yang di kandung oleh minyak bumi (Takau. Kelvin.

dkk. tanpa tahun.S. Bensin dan solar diperoleh dari masing-masing fraksi ringan dan fraksi berat dari fraksi minyak sintetik tersebut dengan bantuan proses – proses katalitik seperti terlihat pada Tabel 2 (Charles N. 213 . A. N. J. Kelvin. Co/silica b. Pengaruh Alfa Pada Prosentase Produk terkonversi menjadi hidrokarbon aromatik yaitu : +H+ +H+ 3. Co(1)/alumina silica dan c. Minyak sintetik dari pencairan batubara secara langsung mengandung banyak hidrokarbon aromatik sehingga pengolahan fraksi berat minyak sintetiknya menjadi produk solar memerlukan proses hidropemurnian tinggi atau proses hidrorengkah. Richard E.V. Staker. 1987). Hubungan antara jumlah atom karbon pada fraksi mol relatif Bahan Bakar Minyak Sintetik dari Pencairan Batubara. Nasution. Satterfield. Co (2)/alumina silica Gambar 7.Gambar 6. Hildebrand.F Lepage. 1994. Proses-proses katalitik yang dioperasikan Fraksi mol realtif Jumlah atom karbon Catatan : a.P. Fisher. 1979). BAHAN BAKAR MINYAK SINTETIK C6H12 C6H13 + Proses Fischer-Tropsch gas sintesa dengan katalis bifungsional dapat menghasilkan produk utama berkadar banyak iso-olefin rendah (C 4 – C 7) dengan sedikit produk samping metana seperti terlihat pada Gambar 7 dan Tabel 1(R.. Ronald H.

yaitu: bergabung Tabel 2.180 °C Fraksi Sedang 180 . Produk Minyak Sintetik Dengan Katalis Fe/Zeolit Pengaruh Kadar MnO Pada Katalis Fe-MnO/Zeolit pada kilang minyak yaitu: Dimerisasi fraksi gas (C3 / C4) Isomerisasi fraksi nafta ringan (C5 / C6 ) Reformasi fraksi nafta berat (C7 – 180o ) Hidrotreating fraksi berat (180o – 350o C ) Hidrorengkah fraksi berat (>350o C) Mekanisme reaksi dari proses katalitik tersebut (kecuali proses hydrotreating) membentuk senyawa antara ion karbonium (R +) dengan bantuan inti aktif asam dari katalis bifungsional (kecuali proses dimerisasi) yang kemudian masing-masing bereaksi. HF Bifungsional Pt pada Al2O2-Cl atau zeolit Bifungsional Pt/Rh atau Pt/Sn pada Al2O2-Cl Monofungsional Ni/Mo atau Ni/W pada Al2O2 Bifungsional Ni/Mo atau Ni/W pada Al2O2-SiO2 atau zeolit Katalis Fraksi Gas Olefin C2/C4 Fraksi Nafta Ringan C5/C6 Fraksi Nafta Berat C7 .Tabel 1.350 °C Fraksi Berat > 350 °C 214 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Pembuatan Bahan Bakar Minyak Sintetik Umpan Proses Katalistik/Produk Dimerisasi/Dimer Isomerisasi/Isomerat Reforming/Reformat Hidrotreating/Kerosin + Solar Hidrorengkah/Kerosin + Solar H2SO4.

4. siklisasi (reforming). Gambar 9. kerosin dan solar dengan memakai proses – proses katalitik yang dioperasikan di kilang minyak bumi.S. isomerisasi. Reaksi Hidrokonversi Parafin Bahan Bakar Minyak Sintetik dari Pencairan Batubara. dkk. 215 . A. dan pecah (hidrorengkah) menjadi produk – produk utamanya seperti terlihat pada Gambar 8. PENUTUP Minyak sintetik dari proses pencairan batubara secara langsung ( direct coal liquefaction) atau secara tak langsung (indirect coal liquefaction) dapat dikonversi menjadi bahan bakar minyak sintetik setara bensin.dan Gambar 9 (J. Nasution. Mekanisme Reaksi Dengan Katalis Bifungsional (dimerisasi).Gambar 8. Minyak sintetik dari proses pencairan batubara dapat meningkatkan pemanfaatan potensi batubara dan juga mensubtitusi sebagian impor minyak mentah dan bahan bakar minyak. Proses katalitik memegang peranan penting pada pencairan batubara dan konversi minyak sintetik tersebut menjadi bahan bakar minyak sintetik.F Lepage. 1987).

Advances in Coal Utilization Technology. Production Of Lube-Oil Blending Stock Through Hydrotreating. Charles N. Oberlin Sidjabat. (331343) Symposium Paper. Symposium Paper. Seminar Nasional Pencairan Batubara “Ladang Minyak Masa Depan”.F Lepage. Satoru Sugita. Hertan.S.P. pp 16-19 Gas Conversion. Jakarta 22 Februari 2002. Seminar Pencairan Batu Bara Banko Indonesia 2002. Edition Technip. Synthetic Gas And Associated Processes Pp 419-470. 216 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Lorkins. Seminar Nasional Penciran Batubara Ladang Minyak Masa Depan. Pusat Sumber Daya Geologi. hydrogenation Characteristics Of Australian Coals. Fuel. Katalis Limonite Soroako Pada Prosese Pencairan Batubara Banko. Supriyadi. Peter A. Kentucky. 2th Heterogeneous Catalysis Industrial Practice. Sumber Daya Batubara Indonesia. Jakarta 13 Januari 2006.V. PP 1251-1254 Ronald H.V. 1994 Elservier Science B. J. Jakarta 12 Desember 2002. pp. Ronald H. Takau kaneko And Eiichiro Makito. Noriyuki. pp 435-466 Applied Heterogeneous Catalysis. Nasution. Vol 64. Kentucky. W. Paris 1987. A. Satterfield. Jakarta 13 Januari 2006. 1979. Staker and N. Fisher and Richard E. Wolk. Seminar Nasional Penciran Batubara Ladang Minyak Masa Depan. Advances in Coal Utilization Technology. Penyedian dan Kebutuhan Batubara untuk Bahan Baku Pencairan Batubara. Transportation Fuels Synthetic Gas. September 1985.DAFAR PUSTAKA Direktorat Jenderal Minyak Dan Gas Bumi Kebijakan Dan Kebutuhan Bahan Bakar. Jeffey Mulyono. (b3). Roy Jackson and Frank B. hydrogenation of brown coal. Deputi Menko Perekonomian Kebijakan Pemerintah Dalam Program Aksi Pencairan Batubara.335. Liquefaction Of Banko Coal With Limonite Catalyst. Nining Sudiningrum Dan Chairil Anwar. Ass. Overview of Liquefaction Process Technology. Indonesian Japan Coal Liguefaction Seminar. R.Respons Of Oil Yields To Process Conditions. Okuyama And Masaaki Tamura. Kelvin. Mc GrawHill I Nc. pp 287. Sukardjo. 1979. Jakarta 13 Januari 2006. Hildebrand. (273-290). New York.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful