ISBN 978-979-8461-63-3

PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI MINERAL DAN BATUBARA
“Konstribusi Litbang Mineral dan Batubara

Dalam Mendukung Pelaksanaan Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara”

Bandung, 15 Juli 2009

Editor : Binarko Santoso Pramusanto I.G. Ngurah Ardha Husaini Datin Fatia Umar Darsa Permana Slamet Suprapto Tatang Wahyudi Retno Damayanti Fauzan

D M AN A SUMBERDAY

DEPARTEMEN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI MINERAL DAN BATUBARA 2009

IN

ER AL

I RG ENE

Hak Cipta / Penerbit

MIRA
Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. Jend. Sudirman No. 623, Bandung 40211 Telepon : 022 - 6030483, Fax : 022 - 6003373

Penasihat Kepala Badan Litbang ESDM Penanggung Jawab Kepala Puslitbang tekMIRA Panitia Pengarah Kuswandani, Suganal, Edwin Daranin R.M. Nendaryono, Siti Rochani Dewan Redaksi Binarko Santoso Staf Redaksi Doeto Poespojoedo, Umar Antana Bachtiar Efendi, Arie Aryansyah, Hatif Hidayat Moderator Datin Fatia Umar, Miftahul Huda, Edwin Daranin Yenny Sofaety, R.M. Nendaryono, Stefano Munir Notulis Kuswandani, Wiroto, Isyatun Rodliyah Sri Sugiarti, Dedi Yaskuri, Hasniati Artika Nuryadi Saleh

ISBN 978-979-8461-63-3 Hak cipta dilindungi oleh Undang-undang Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit

KATA PENGANTAR

Dalam rangka mensosialisasikan Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, yang menggantikan Undang-undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan, Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara (tekMIRA) telah menyelenggarakan Kolokium Pertambangan 2009 pada tanggal 15 Juli 2009, Kolokium yang bertemakan “Konstribusi Litbang Mineral dan Batubara Dalam Mendukung Pelaksanaan Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara”, dihadiri oleh para pejabat pemerintah di tingkat pusat dan daerah, pelaku usaha, para peneliti dan pejabat fungsional lainnya, mahasiswa serta masyarakat luas yang terkait dengan pengembangan pertambangan mineral dan batubara. Sebagai lembaga litbang di bidang teknologi mineral dan batubara, Puslitbang tekMIRA diharapkan dapat berperan secara aktif dalam meningkatkan nilai tambah mineral dan batubara sebagaimana amanat yang terkandung dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tersebut. Di samping itu, melalui kegiatan ini diharapkan pula dapat diperoleh masukan dari pelaku industri dan masyarakat pertambangan tentang posisi, peran, dan kontribusi litbang mineral dan batubara dalam menunjang pelaksanaan Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. Prosiding ini merupakan rangkuman dari seluruh makalah yang dipresentasikan dalam Kolokium, serta diharapkan dapat dijadikan salah satu rujukan mengenai perkembangan pertambangan, penelitian, dan kajian yang berhubungan dengan peningkatan nilai tambah mineral dan batubara. Melalui prosiding ini, siapapun dapat melihat sampai sejauhmana para peneliti Indonesia telah berkiprah dalam memajukan sektor pertambangan mineral dan batubara nasional. Dalam kesempatan ini kami menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak, baik perorangan, perusahan, instansi pemerintah, perguruan tinggi maupun seluruh pembicara dan peserta, atas pemikiran atau karya-karya terbaiknya, sehingga Prosiding ini memiliki nilai keilmiahan yang baik. Kami menyadari banyak kekurangan dalam penyusunan dan penerbitan Prosiding ini. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan penyusunan dan penerbitan Prosiding di masa yang akan datang.

Bandung, 15 Juli 2009

Tim Penyunting

PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009

i

Perlu dicatat pula. Kedua pasal tersebut merupakan spirit dan juga momentum yang akan lebih memacu kegiatan litbang mineral dan batubara di tanah air. industri. Para Profesor Riset dan Pejabat Fungsional di Lingkungan Badan Litbang ESDM. dan masyarakat luas. Para Pejabat Eselon I di Lingkungan Departemen ESDM atau yang mewakilinya. Peserta Kolokium yang Saya Hormati. Kolokium Puslitbang tekMIRA kali ini bertemakan “Kontribusi Litbang Mineral dan Batubara Dalam Mendukung Pelaksanaan Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara”. Tuhan Yang Maha Kuasa. Saudara-saudara Sekalian. yaitu pemerintah. Undangan dan Hadirin yang Berbahagia Assalamualaikum Warohmatullohi Wabarokatuh. Penyelenggaraan kolokium di Puslitbang tekMIRA – dan juga Puslitbang lain di lingkungan Badan Litbang ESDM. serta pasal 146 tentang kewajiban pemerintah dan pemerintah daerah untuk mendorong. khususnya yang menyangkut isi pasal 95 huruf c tentang kewajiban perusahaan untuk meningkatkan nilai tambah mineral dan/atau batubara di dalam negeri. Selamat Pagi. saya minta kepada seluruh jajaran di Puslitbang tekMIRA untuk PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 ii . memang sudah menjadi agenda tahunan yang diharapkan dapat menampilkan karya yang bermanfaat bagi para pemangku kepentingan. Puji dan syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu Wata’alla. Salam Sejahtera bagi Kita Semua. Terkait dengan pemberlakuan Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009. karena berkat perkenan-Nya kita dapat menghadiri acara Kolokium yang diselenggarakan oleh Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara (tekMIRA). Saya menilai tema kolokium 2009 ini sebagai bentuk tanggung jawab Puslitbang tekMIRA untuk berperanserta dalam pelaksanaan Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009. melaksanakan.SAMBUTAN KEPALA BADAN LITBANG ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL PADA ACARA KOLOKIUM PUSLITBANG TEKNOLOGI MINERAL DAN BATUBARA BANDUNG. Para Pejabat Eselon II di Lingkungan Departemen ESDM atau yang mewakilinya. kolokium di lembaga litbang akan menjadi tolok ukur sampai sejauhmana para peneliti dan pejabat fungsional kita lainnya mampu mengembangkan diri dalam upaya berkontribusi bagi kemajuan sektor ESDM di tanah air. dan/atau memfasilitasi pelaksanaan litbang mineral dan batubara. khususnya yang berhubungan dengan pasal 95 huruf c dan pasal 146. sekaligus menjadi stimulus bagi Puslitbang tekMIRA agar menghasilkan karya litbang yang lebih baik dan berbobot serta mampu bersaing dengan lembaga litbang sejenis. 15 JULI 2009 Yang kami hormati.

Kesenjangan antara senior dengan yunior yang semakin melebar. tetapi. Selain dengan pemerintah daerah. Bagaimanapun keberadaan karyawan yunior ini merupakan modal dasar bagi eksistensi Puslitbang tekMIRA ke depan. Saya tahu Puslitbang tekMIRA telah lama melakukan hal itu. Tetapi tidak selamanya peningkatan nilai tambah akan memberi keuntungan jika dijual ke pasaran. Hal ini disebabkan antara lain oleh adanya kompetitor yang berharga lebih murah. saya selalu mengatakan bahwa lembaga litbang harus menjadi bagian tak terpisahkan dari dunia yang digelutinya. Oleh karena itu. Keempat. Puslitbang tekMIRA harus dapat mengatasi permasalahan sebagai langkah penanggulangan. serta untuk mengukur di mana posisi Puslitbang tekMIRA berada. Namun. saya yakin Puslitbang tekMIRA memiliki sumber daya manusia (SDM) yang telah mampu melaksanakan penelitian secara profesional. atau daya serap pasar masih kecil dan tidak sebanding dengan biaya produksi. Dalam beberapa hal. di satu sisi. solusi yang dapat ditempuh adalah dengan membuka kesempatan kepada karyawan yunior untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. di sisi lain. sebagaimana dialami oleh hampir seluruh instansi pemerintah. Namun perlu saya garis bawahi. Persoalannya adalah. Kedua. artinya peningkatan nilai tambah akan mengakibatkan suatu material bernilai lebih tinggi dan menguntungkan. tetapi juga kemakmuran bagi masyarakat. mengikuti berbagai kursus atau pertemuan ilmiah. dan hal-hal lain yang pada intinya dapat sarana untuk meningkatkan kemampuan mereka. dan dapat bersaing dengan para pakar di dalam negeri maupun di forum internasional. Puslitbang tekMIRA juga pasti merasakan kebijakan “zero growth” yang ditetapkan beberapa tahun yang lalu. perlu mendapat prioritas utama. fokus kepada pemecahan permasalahan yang sedang dan kemungkinan akan dihadapi oleh industri pertambangan mineral dan batubara. juga harus dapat memprediksi arah kecenderungan yang terjadi sebagai langkah antisipasi agar tidak berada pada kondisi status quo dan melaksanakan pekerjaan yang bersifat rutin atau business as usual. Seluruh kerja sama antara Puslitbang tekMIRA dengan pemangku kepentingan sudah seharusnya bersifat saling bermanfaat bagi kedua belah pihak. apakah Puslitbang tekMIRA akan menjadi leader atau follower dalam industri mineral dan batubara di tanah air? Saya katakan bahwa Puslitbang tekMIRA mesti fokus pada keduanya. Hal ini penting dilakukan sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan kemampuan Puslitbang tekMIRA menghadapi tantangan masa kini dan masa depan. Dalam berbagai kesempatan. tidak saja memberikan kontribusi terhadap kemajuan bidang pertambangan mineral dan batubara. Ketiga. memerlukan percepatan regenerasi dan “transfer of knowledge”. Untuk itu. nilai tambah dan keekonomian selalu berjalan beriringan. tetapi sekaligus menguntungkan jika dilempar ke pasaran. mengharuskan kita untuk secara lebih intens menjalin kerja sama dengan mereka. tingkatkan kerja sama dengan pemangku kepentingan (stakeholders). Ini berarti. Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 yang bernuansa desentralisasi – artinya pengelolaan pertambangan mineral dan batubara berada di pemerintah daerah. sehingga tidak terlalu sulit untuk meningkatkannya. iii PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . fokus kepada litbang yang berorientasi pada peningkatan nilai tambah sekaligus memperhitungkan keekonomiannya. baik di dalam maupun di luar negeri.melaksanakan beberapa hal berikut ini: Pertama. Sebagai lembaga litbang. Puslitbang tekMIRA harus berani memulai kegiatan litbang yang berorientasi pada peningkatan nilai tambah. ke depan. magang pada perusahaan besar. tingkatkan kualitas sumber daya manusia. tetapi juga bermanfaat bagi pemerintah dan Daerah serta masyarakat pertambangan. bukan menara gading yang tidak tersentuh dengan melakukan penelitian sesuai keinginannya sendiri. kerja sama tersebut harus dapat menghasilkan sesuatu yang tidak saja “menguntungkan” Puslitbang tekMIRA. peningkatan kerja sama dengan lembaga litbang lain.

bercerai kita runtuh” dan “ringan sama dijinjing. bahkan seluruh keluarga besar Badan Litbang ESDM. Wassalamualaikum Warohmatullohi Wabarokatuh. Berjalanlah dalam koridor Rencana Stratejik yang telah dibuat oleh Saudara-saudara sendiri. Kita harus berbuat sesuatu.Kelima. Insya Allah. permasalahan seberat apapun akan menjadi jauh lebih ringan dan tidak sulit untuk dipecahkan. siapapun Saudara. Kolokium yang bertemakan “Kontribusi Litbang Mineral dan Batubara Dalam Mendukung Pelaksanaan Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara” secara resmi saya buka. Harapan saya kepada seluruh jajaran Puslitbang tekMIRA. Terima kasih. Kepala. untuk membuktikan sampai sejauhmana inovasi dan kreativitas Saudara-saudara andaikata sarana peralatan baru tersebut tidak terpenuhi. yaitu “bersatu kita teguh. Untuk itu. apapun latar belakang pendidikan Saudara. Keenam. jaga soliditas di lingkungan Puslitbang tekMIRA. Saya telah menyinggung masalah ini pada acara “Sinkronisasi Kegiatan Litbang di Lingkungan Badan Litbang ESDM” pada 14-15 April 2009 yang lalu. Bambang Dwiyanto PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 iv . Undangan dan Hadirin Sekalian. lalu bicara dan berbuatlah dengan bahasa yang sama dalam ikatan kesatuan yang kuat. Demikian sambutan dan arahan yang dapat saya sampaikan. jangan pernah merasa yang satu lebih superior daripada yang lain. Oleh karena itu saya mengajak peneliti Puslitbang tekMIRA dan juga peneliti Puslitbang lain di lingkungan Badan Litbang ESDM. dan di manapun Saudara ditempatkan. berat sama dipikul”. serta tingkatkan kemampuan rancang bangun dan rekayasa. optimalkan peralatan yang ada. namun satu hal patut diingat bahwa jika keinginan untuk melengkapi dan memutakhirkan dengan sarana dan prasarana penelitian mutakhir tidak terpenuhi bukan berarti kita harus berdiam diri. Saya berharap Saudara-saudara dapat menyongsong era desentralisasi di bidang pertambangan mineral dan batubara ini dengan optimisme tinggi dan penuh rasa tanggung jawab. Saya tidak perlu mengulas lebih dalam. Akhirnya dengan tetap memohon ridho Tuhan Yang Maha Kuasa. Ada ungkapan sederhana yang sudah lama kita kenal dan tahu artinya. yaitu dengan berupaya meningkatkan kemampuan rancang bangun dan rekayasa pada peralatan teknologi tinggi. semoga dapat memaknai dan mengimplementasikannya demi tercapainya tujuan kita memajukan sektor ESDM pada khususnya dan masyarakat pada umumnya. lalu stagnan.

.................................................... Kabupaten Banyuwangi.. Propinsi Kalimantan ............... untuk Bahan Baku Keramik Subari.......... Producer Gas dari Batubara Slamet Suprapto dan Nurhadi Implementasi Pengelolaan Lingkungan Sektor Energi dan Sumber Daya Mineral ................................ Limbah Cair Industri Gula Ika Monika dan Nining Sudini Ningrum Kemungkinan Pemanfaatan Bakterisida Fenol untuk Pencegahan . Hasniati Astika dan Supriatna Mujahidin Pemanfaatan Karbon Aktif dari Batubara pada Pengolahan ................... Air Asam Tambang Siti Rafiah Untung dan Nia Rosnia H..................... Kecamatan Pesanggaran................................... ............................................................................................................ MAKALAH YANG DIPRESENTASIKAN Presentasi Makalah Paralel I Permasalahan Pengelolaan Potensi Emas di Gunung Tumpang Pitu ............................................................. Selatan dengan Menggunakan Klasifayer dan Pemisah Magnetik Pramusanto. Pengaruh Titik Leleh Abu terhadap Pengendapannya pada Pembakaran ................ Provinsi Kalimantan Selatan...................... Keruntuhan Batuan Atap (Roof Failure) pada Tambang Bawah Tanah Zulfahmi........................................ Jawa Timur Bambang Yunianto Pengembangan Metode Analisis Ter dan Partikulat dalam ..... pada Era Globalisasi Djoko Sunarjanto dan Bambang Wicaksono Peluang Pengembangan Pertambangan Mineral dan Batubara ... SAMBUTAN KEPALA BADAN LITBANG ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL ..... Nuryadi Saleh dan Apriandi Pengolahan Pasir Kuarsa Berlempung Asal Rantaubujur............ Ijang Suherman Pengembangan Sistem dan Alat Pemantauan Sederhana untuk Mendeteksi ..................................... Kabupaten Tapin............................ 15 JULI 2009 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR .......... Batubara dengan Pembakar Siklon di Beberapa Fasilitas Industri Sumaryono 55 70 1 i ii v 16 23 30 39 48 78 83 90 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 v ............. DAFTAR ISI .................. Enymia dan Sumarsih Presentasi Makalah Paralel II Masa Kini dan Masa Depan Batubara Indonesia ................................KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 BANDUNG.................. pada Era Otonomi Daerah Umar Dhani Peningkatan Kadar Bijih Besi dari Daerah Pelaihari...

............................. Ijang Suherman......................S.................... Datin Fatia Umar dan Bukin Daulay MAKALAH DIPOSTERKAN Analisis Potensi Limbah Hasil Pembakaran Batubara pada Industri Kecil dan ........ nasution. 204 sebagai Bahan Bakar Muh Kurniawan... 105 Amalgamasi di Kegiatan Pertambangan Emas Rakyat Secara Sianidasi (Studi Kasus KUD Perintis.Pengolahan dan Pemanfaatan Bauksit ................. Abdul Haris........... Leni Herlina................... 181 Upgraded Brown Coal Skala Pilot Ikin Sodikin dan Datin Fatia Umar Analisis Dampak Ekonomi Teknologi Peningkatan Kualitas Batubara ......... 194 Propinsi Jambi Endang Suryati dan M........ . Miftahul Huda................... Husaini Presentasi Makalah Paralel III 97 Karakteristik Merkuri dalam Sedimen dan Air pada Pengolahan Tailing .. Lutfi Minyak Sintetik dari Pencairan Batubara dan Peningkatan Mutunya .. 134 (Studi Kasus Perairan Bangka Utara) Ediar Usman dan Andri S.................................................... Yuhelda dan Firiza Yuliana Penggunaan Pasir Sungai sebagai Bed Material pada Gasifikasi Batubara ...................... 189 Peringkat Rendah di Indonesia Gandhi Kurnia Hudaya Kajian Manfaat dan Biaya Penambangan Bijih Besi di Kabupaten Merangin.................. Lutfi dan Retno Damayanti Pengaruh Penggunaan Ultrasonik terhadap Hasil Pemisahan Pasir Zirkon .................. 128 Roza Adriany Eksplorasi Potensi Konsentrat Timah Berdasarkan Data Seismik Refleksi ..................... 115 Kalimantan Tengah dengan Electrostatic Separator Pramusanto.... 161 Menengah di Pulau Jawa Triswan Suseno dan Tuti Hernawati Pengaruh Proses Upgraded Brown Coal (UBC) terhadap Peringkat Batubara ... 168 Slamet Suprapto Uji Sulfidasi Bijih Besi Kalimantan Selatan dan Tailing PT.. Subandrio Penetapan Nilai Bagi Hasil atas Produksi Batubara Mutu Rendah ..... 175 sebagai Katalis Pencairan Batubara Nining Sudini Ningrum dan Hermanu Prijono Karakteristik dan Optimalisasi Pembriketan Batubara Hasil Proses ............................. 147 Rochman Saefudin........... Leni herlina dan Nining Sudini Ningrum vi PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . 122 Sistem Fluidized Bed Nurhadi dan Slamet Suprapto Metode Pengurangan Emisi Merkuri pada Pembakaran Batubara ......................................... Daerah Tonayan Selatan) M.................. Novie Ardhyarini dan Nining Sudini Ningrum Bahan Bakar Minyak Sintetik dari Pencairan Batubara ......... Nuryadi Saleh............. Freeport Indonesia ... 209 A......

PRESENTASI MAKALAH PARALEL I .

baik dalam hal teknis penambangan. agar tidak menimbulkan permasalahan yang lebih besar dan kompleks.go. 2) mengkaji kembali kegiatan pertambangan emas oleh PT. IMN yang memiliki potensi emas sekunder (alluvial). 38 Tahun 2007.. IMN). KABUPATEN BANYUWANGI. Kata Kunci: isu pertambangan. yaitu: 1) melakukan kajian kegiatan pertambangan terkait pemanfaatan lahan sektor lain.esdm. Kabupaten Banyuwangi. Kesiapan daerah tersebut meliputi beberapa kegiatan. interest conflict and the socio-economic-culture.PERMASALAHAN PENGELOLAAN POTENSI EMAS DI GUNUNG TUMPANG PITU KECAMATAN PESANGGARAN. the mining techniques. Berdasarkan penelaahan terhadap ke-empat isu tersebut diperlukan kesiapan daerah (Pemerintah Kabupaten Banyuwangi) dalam mengelola potensi emas di Gunung Tumpang Pitu. mining environment. tumpang tindih dengan sector lain. The regional readiness includes several activities. Sudirman 623 Bandung 40211 Telp. tambang emas. Based on the review toward these issues. kesiapan daerah. 022 . Jend. 3) to allocate the mining area for the local community in the concession area of the company that contains gold placer. it requires the regional readiness to manage the gold potential in the region. namely: 1) to assess the mining activity related to the land use. 4) dalam menangani persoalan Pertambangan Tanpa Izin (PETI) atau gurandil seyogyanya tidak menggunakan cara-cara represif. Indo Multi Niaga (PT. Regency of Banyuwangi include the gold mining. Kecamatan Pesanggaran.6003373 e-mail : yunianto@tekmira. JAWA TIMUR Bambang Yunianto Peneliti Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. 3) untuk menampung partisipasi masyarakat dalam pertambangan. to conduct guidance and monitoring. environment or the Permasalahan Pengelolaan Potensi Emas di Gunung Tumpang Pitu . Then. maka perlu dibentuk kantor/ dinas pertambangan dan energi yang tugasnya mengelola kegiatan pertambangan di daerah. Banyuwangi meliputi isu potensi emas. 022 . dan 5) sesuai kebijakan otonomi daerah yang tertuang dalam UU No. dan PP No. 33 Tahun 2004. lingkungan pertambangan. 2) to reassess the mining activity conducted by PT. Kecamatan Pesanggaran. UU No. Bambang Yunianto 1 . dan isu sosekbud.. Kemudian perlu dilakukan pembinaan dan pengawasan.id SARI Isu pertambangan terkait pengelolaan potensi dan kegiatan pertambangan emas di Gunung Tumpang Pitu. District of Pesanggaran. tetapi harus dengan persuasive.6030483 Fax. perlu dialokasikan Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) yang berasal dari wilayah konsesi PT. lingkungan maupun dalam manajemen berusaha terhadap para penambang rakyat tersebut. IMN). 32 tahun 2004. Indo Multi Niaga (PT. pengelolaan potensi emas ABSTRACT The mining issues related to manage the potential and the activity of gold mining in Gunung Tumpang Pitu.

wawancara berpanduan. pertanian dan perkebunan). isu lingkungan. Inventarisasi data melalui teknik observasi. akar permasalahan dari mencuatnya isu pertambangan terkait potensi emas di Gunung Tumpang Pitu. Tim Isu Puslitbang tekMIRA menurunkan tim yang terdiri atas berbagai disiplin ilmu (tambang/ geologi. dan tabelisasi. Pengolahan data menggunakan teknik kategorisasi. Kabupaten Banyuwangi. regional readiness. Isu pertambangan di Kabupaten Banyuwangi tersebut memiliki bobot penting karena ada beberapa masalah. Berita Fajar FM. Kegiatan survai lapangan isu lingkungan dan tumpang-tindih pertambangan dengan sektor kehutanan di Pegunungan Tumpang Pitu di atas didasarkan pemberitaan dan informasi di media mass berikut: 1) “Emas vs Potensi Agraris Banyuwangi. 2) “Masyarakat Banyuwangi Tolak Tambang Emas di Hutan Lindung Tumpang Pitu”. Analisis data dilakukan secara deskriptif analitis. Kabupaten Banyuwangi. it is required to set an office of mining and energy in managing mining operation in the region. Maksud penulisan ini adalah mengidentifikasi dan menganalisis permasalahan pengelolaan potensi emas di Gunung Tumpang Pitu. management of gold potential 1. Oleh karena itu. Sebentuk Kanibalisasi antar -Potensi”. IMN) di Pegunungan Tumpang Pitu. Senin. Harian Kompas. 28 April.management of the business for the miners. isu tumpang-tindih sektor pertambangan dengan sektor lain (kehutanan. 4) “Penambang Emas Dadakan di Banyuwangi Capai 3 Ribu Orang”. Kecamatan Pesanggaran. sebagai bahan masukan bagi daerah dalam mengelola sumber daya tambang yang ada di daerahnya. antara lain. Berdasarkan informasi secara informal. UU 33/2004 and PP 38/2007. 4) not to apply repressive actions towards illegal mining. Banyuwangi. Harian Kompas. 17 Mei 2009. kompilasi. Harian Kompas. 19 April 2008. Rabu. Penangkapan ini telah menyulut konflik antara aparat dan para PETI. Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten 2 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . METODOLOGI Secara umum metodologi yang digunakan adalah pendekatan multidisiplin ilmu. but to persuade not to create a bigger problem and complex. and 5) in accordance with the regional autonomy policy. UU 32/2004. dengan menggunakan berbagai parameter keilmuan dalam membahas permasalahan utama yang dikaji. 16 Juni 2008 3) “Ribuan Penambang Emas Banyuwangi Diusir”. Sabtu. dan diskusi. Kecamatan Pesanggaran. Kecamatan Pesanggaran. serta isu sosial ekonomi kemasyarakatan. Provinsi Jawa Timur sebetulnya terletak kepada kesiapan daerah di dalam pengelolaan pertambangan. sebagaimana dipilih sesuai judul tulisan ini. Kecamatan Pesanggaran. Banyuwangi sesuai peraturan terkait. dokumentasi. Bappeda Kabupaten Banyuwangi. sosial ekonomi. Provinsi Jawa Timur dilakukan untuk menginventarisasi dan mengidentifikasi permasalahan mengenai isu lingkungan pertambangan tanpa izin (PETI) emas dan isu tumpang-tindih kegiatan PT. Detik Surabaya. Berdasarkan hasil survai lapangan. Selasa. seperti Pemda Perekonomian Kabupaten Banyuwangi. Jumat 27 Februari 2009. Data primer berupa hasil wawancara langsung dengan berbagai pihak yang terkait dengan permasalahan pengelolaan potensi emas di Gunung Tumpang Pitu. sekembalinya Tim Isu Pertambangan Puslitbang tekMIRA dari lapangan. Data yang mendukung penulisan ini berupa data primer maupun sekunder hasil survai lapangan. 2009 5) “Berebut Emas di Tumpang Pitu”. PENDAHULUAN ini mendapat sorotan dari berbagai pihak di Kabupaten Banyuwangi. Indo Multi Niaga (PT. Keywords: mining issues. dan masalah 2. Sedangkan dalam merekonstruksikan pemecahan permasalahan dan masukan bagi daerah didasarkan kepada pertimbangan-pertimbangan rasional dan berlandaskan kepada arah kebijakan pertambangan dan kebijakan lain yang terkait pada era otonomi daerah. dan surveyor). gold mine. Kegiatan survai lapangan pemantauan isu pertambangan di Kabupaten Banyuwangi. isu pertambangan tersebut kembali mencuat setelah terjadi penangkapan terhadap para PETI yang dilakukan Polres Kabupaten Banyuwangi.

Pak Wahyu Diyono. aparat keamanan yang bertugas di Gunung Tumpang Pitu. sedangkan dokumentasi survai lapangan dapat dilihat pada Lampiran Foto-Foto Survai Lapangan.. Banyuwangi dengan Pak Mujiono. dan berkoordinasi dan diskusi dengan staf Kecamatan Pak Sujono dan Pak Sunoto. Kecamatan Pesanggaran serta informasi dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan mass media. Mengenai pelaksanaan kegiatan survai lapangan dari tanggal 20 – 25 April 2009 adalah: 1) Melakukan kegiatan koordinasi dengan Kepala Bagian Perekonomian (Pak Bambang Edi Sunaryo) dan Sekertaris (Bu Tri) tentang isu lingkungan PETI emas di pegunungan Tumpang Pitu di Kantor Pemda Kab. Banyuwangi (Pak Gatot Sudjadi). Bambang Yunianto 3 . IMN. para gurandil. Pendataan di BPS Kabupaten Banyuwangi dengan Pak Ruslan Survai lapangan ke lokasi di Kecamatan Pesanggaran. Koordinasi dan diskusi denga PT. dokumentasi dan wawancara dengan gurandil. baik di tingkat Kabupaten Banyuwangi. Pak Rudianto tentang isu Lingkungan 3) 4) 5) 6) 7) PETI emas. PT. IMN dan tata ruang (hutan lindung). dan masyarakat setempat. Route survai lapangan tim isu pertambangan Puslitbang tekMIRA di Kabupaten Banyuwangi Permasalahan Pengelolaan Potensi Emas di Gunung Tumpang Pitu . 2) Koordinasi dan pendataan di Bappeda Kab. Sedangkan data sekunder berasal dari instansi terkait.. Camat dan staf Kecamatan Pesanggaran. Banyuwangi (Distamben belum ada). Mengenai route survai lapangan lihat Gambar 1. Koordinasi dan pendataan dengan Kepala TU Kantor Lingkungan Hidup Kab. Gambar 1. Survai ke lokasi PETI emas di sekitar pegunungan Tumpang Pitu. IMN yang diwakili Pak Hilman dan Pak Yuswardi.Banyuwangi. PT.

Menteri Kehutanan melalui surat S. yakni TN Alas Purwo. Indo Multi Niaga (PT.2. Berdasarkan studi kelayakan PT.21 km2. PETI/ Gurandil PETI/ gurandil beroperasi di Gunung Tumpang Pitu. Berdasarkan hasil tracking Tim Isu Pertambangan Puslitbang tekMIRA sewaktu survai. IMN) PT. Di samping itu. a. Banyuwangi. memiliki andil dalam menopang ketahanan pangan nasional.3 ha dan hutan lindung seluas 1.3 ha (Gambar 2).100 meter pada KP Eksplorasi PT.000.600. andesit. Fenomena seperti ini sangat umum ditemukan di Pulau Jawa. Tepatnya pada Petak 75. cadangan emas 320. Saat ini perusahaan menampung 125 warga menjadi buruh kasar. Wonogiri. saat ini diperkirakan mencapai 3. kadar emas rata-rata 2.000 ton.2.643 ton (BPS: 2007) atau setara dengan Rp. Kadar emas di daerah ini adalah 2. dan c. Kontribusi komiditi getah pinus sebanyak 2.251. kabupaten ini memiliki 3 Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) seperti Banyuwangi (KPH Banyuwangi Selatan.5 ha dipetak 75.672. Selain cebakan emas primer yang ditemukan. Kontribusi sektor pertanian terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Banyuwangi (lebih dari 60%). dan akan ditingkatkan statusnya menjadi KP eksploitasi. Konsesi PT. IMN merupakan perusahaan tambang emas yang modalnya swasta nasional. PT. Data hasil kekayaan hutan non-kayu Banyuwangi pada tahun 2006 meliputi. Kontribusi komoditi getah damar sebesar 49 ton senilai Rp. Gunung Wedi Ireng. ada juga emas plaser/ sekunder di sekitar lokasi emas primer tersebut. keberadaan 3 KPH dan 3 TN tersebut secaraa riil telah memberikan kontribusi yang nyata bagi PAD kabupaten ini. TN Meru Betiri. 30 liter per/ detik. KONDISI KEGIATAN PERTAMBANGAN 4. Dusun Ringinagung. dan menjadikan kabupaten ini sebagai lumbung padi nasional. Biasanya emas ditemukan bersama logam lainnya seperti perak. Gunung Macan dan kawasan lindung setempat. 4. tembaga.2.8 ton. POTENSI TAMBANG DAN SEKTOR LAIN DI GUNUNG TUMPANG PITU 3. pada lokasi 56 gurandil/ PETI (Pertambangan Tanpa Izin) beroperasi pada wilayah Perhutani diperkirakan meliputi luas sekitar 203. Lumajang. hingga Juli 2009.1. cadangan bijih yang dieksplorasi mencapai 9.000 orang (Gambar 3).621. Desa Pesanggaran.621.230.600. Jumlah ini. 76. KPH Banyuwangi Selatan. 68. setelah disidangkan oleh Bapedalda Jawa Timur pada 26 Mei lalu. b. Cebakan emas ditemukan dalam bentuk urat-urat kuarsa pada batuan volkanik yang diterobos oleh batuan intrusif berupa diorite. Banyumas. RPH Kesilir Baru.70 ton senilai Rp. pada aliran Sungai Gonggo. Keberadaan 3 KPH dan 3 TN ini berhubungan erat sumber mata air dan sungai-sungai yang menjadi sumber irigasi bagi sektor pertanian dan perkebunan yang saat ini diunggulkan sebagai sektor penting bagi Kabupaten Banyuwangi. Malang.3 gram/ton. 77.000 dipulangkan 4 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . dan KPH Banyuwangi Utara). Luas konsesi yang diberikan pemerintah sekitar 11.3 gr/ton. Selain itu. 77 dan 78 kawasan hutan tersebut.3. Pemkab Banyuwangi telah menyetujui rencana mengajukan permohonan alih fungsi kawasan hutan lindung dalam KPH Banyuwangi Selatan. 45 ha atau 116. KPH Banyuwangi Barat. padahal logam-logam tersebut memiliki nilai ekonomis bila sejak dini sudah diketahui nilai potensinya. Kecamatan Pesanggaran. Potensi Sektor Lainnya Kabupten Banyuwangi dikelilingi 3 Taman Nasional (TN). Pacitan. Menurut RTRW Jatim 2020 kawasan tersebut telah ditetapkan sebagai kawasan resapan air katagori tinggi. seperti di Cikotok. Lembah Gunung Tumpang Pitu. Dokumen Amdal PT IMN telah disahkan oleh Tim Amdal Propinsi Jawa Timur. Keberadaan emas sekunder ini sebagian besar berada pada lahan Perhutani. Pongkor. 247. 76. Kampung 56. IMN.6 miliar. IMN meliputi kawasan Gunung Tumpang Pitu. dan TN Baluran. yang penyebarannya mengikuti sungai-sungai tua pada jaman dahulu. granodiorit dan dasit. Eksplorasi itu meliputi kawasan hutan produksi seluas 736.406/MENHUTVII/PW/2007 mengijinkan perusahaan melakukan eksplorasi selama 2 tahun. 4. Gunung Sumber Salak.000. IMN seluas 11.45 ha. 78.000. Kontribusi komiditi kopi yang berada di dalam kawasan hutan produksi sebesar 10. BKPH Sukamade. setelah pada akhir bulan April 2009 sekitar 6. Gunung Jatian.1. Sementara itu. Potensi Tambang Cebakan emas di daerah Pesanggaran ditemukan berdasarkan pada pemboran eksplorasi sebanyak 14 lubang bor dengan kedalaman total 4. dan kadar logam-logam lainnya tidak ada datanya. 3.

Konsesi PT..3 Ha).. Desa Pesanggaran. Dusun Ringinagung. lembah Gunung Tumpang Pitu. Bambang Yunianto 5 . Dusun Ringinagung. Banyuwangi Permasalahan Pengelolaan Potensi Emas di Gunung Tumpang Pitu . Lokasi PETI/ Gurandil di Petak 56 (Luas Perkiraan 203. Lembah Gunung Tumpang Pitu. Banyuwangi Gambar 3. Desa Pesanggaran. IMN dan lokasi aktivitas PETI/ Gurandil di Petak 56. Kecamatan Pesanggaran. Kampung 56. Kampung 56. Kecamatan Pesanggaran.Gambar 2.

Beberapa pohon jati juga turut tumbang akibat aktifitas penambangan PETI secara tradisional tersebut.21 km2. dan berpotensi menimbulkan banjir dan longsor serta kerusakan hutan jati. Isu kalau butiran seperti emas itu adalah logam jenis pirit (FeS2) perlu dicarikan kepastiannya. Maraknya PETI telah menimbulkan kerusakan di Sungai Gonggo dan hutan jati. Sedangkan.1.secara paksa oleh sekitar 190 personil aparat keamanan. tetapi juga akibat isu Lingkungan pertambangan PT. tembaga. terutama pada petak 56 maupun 79 sebagai sampel wilayah-wilayah sekitarnya. setiap daerah harus mencadangkan wilayahnya untuk menggali potensi bahan galiannya. seperti pendulang emas asal Kalimantan. hal ini menjadi tugas tersendiri bagi perusahaan tambang tersebut untuk melakukan uji laboratorium terhadap logam-logam tersebut. Keberadaan emas sekunder ini perlu dicermati untuk dieksplorasi lebih lanjut. apabila sejak dini sudah diketahui nilai potensinya. selain itu kedalaman Sungai Gonggo turut mengalami perubahan drastis. lokasi-lokasi PETI di Gunung Tumpang Pitu memang mengandung emas (perlu uji laboratorium).2. Sampai saat ini. Permasalahan ini harus segera diselesaikan. emas ditemukan bersama logam lainnya seperti perak. Selain cebakan emas primer yang ditemukan. logam-logam tersebut akan menjadi perolehan yang menguntungkan. namun. PERMASALAHAN DAN PEMBAHASAN lahan usaha tambang dalam peta tata ruangnya. yang akan berpotensi menimbulkan banjir dan longsor serta kerusakan hutan jati. agar dapat dimanfaatkan sebagai lahan usaha bagi masyarakat setempat dalam bentuk Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR). jarak lubang bor ini adalah 500 m.5 meter. Rapat yang dipimpin langsung Bupati Banyuwangi Ratna Ani Lestari itu menyimpulkan PETI yang dilakukan ribuan gurandil tersebut telah merusak lingkungan. karena jumlah lubang bor yang dilakukan oleh PT. mengingat potensi usaha pertambangan di daerah ini memperlihatkan prospek bila dikelola dengan baik. Ini berarti bahwa kelak saat operasi penambangan emas ini berlangsung. Nabire dan Bandung. 5. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 4/2009. Untuk itu. IMN karena kurangnya transparansi dalam Publikasi berbagai kemajuan kegiatan. Jadi. di kabupaten ini belum dialokasikan Isu lingkungan terkait kegiatan pertambangan di Gunung Tumpang Pitu tidak hanya diakibatkan oleh kegiatan PETI/ gurandil saja. dengan jarak antarlubang bor sepanjang 2 km. tepatnya di petak 79. Dengan demikian. Kadar emas di daerah ini adalah 2. awalnya hanya setengah meter kini berubah menjadi 1. PETI yang dilakukan ribuan gurandil telah merusak lingkungan. Pada umumnya. masih diperlukan pemboran eksplorasi yang lebih banyak lagi. IMN. 6 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . ada juga emas plaser/sekunder di sekitar lokasi emas primer tersebut. Untuk meningkatkan status potensinya. Status cadangan untuk kategori perhitungan potensi cebakan emasnya belum tepat. Dari pantauan sementara Tim Isu Puslitbang tekMIRA. agar tingkat keyakinan geologisnya menjadi tinggi. Jadi. Lingkungan 5. Sulawesi. terutama dalam pengelolaan Lingkungan. Perhutani dan pemilik izin ekplorasi emas PT. namun juga tersebar di daerah sekitarnya seperti Glenmore dan Bangorejo. Secara umum. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi harus mempersiapkan lokasi peruntukan lahan bagi sektor pertambangan.3 gr/ton. karena pada lokasi tersebut telah banyak gurandil yang betul-betul mendapatkan emas. yakni hanya 14 buah untuk mengeksplorasi daerah seluas 116. Potensi Bahan Tambang Fenomena geologis di daerah eksplorasi tersebut tidak hanya tersebar di daerah Pesanggaran. agar perhitungan operasi penambangannya dapat dilakukan dengan tepat. maupun tanaman pertanian/ perkebunan masyarakat (petani magersari). asosiasi logam-logam tersebut akan terbuang dengan percuma. Dalam rangka memberi kepastian. namun untuk memberi kesahihan data telah ditunjuk tim independen untuk melakukan uji laboratorium. kadar logamlogam lainnya tidak ada datanya. jarak antarlubang bor ini terlalu panjang. Tidak tertutup kemungkinannya. IMN relatif sedikit. Dengan demikian tidak tertutup kemungkinan bahwa potensi penyebarannya juga terdapat di daerah-daerah tersebut. Pemulangan itu dilakukan setelah Pemerintah Kabupaten Banyuwangi melakukan rapat koordinasi dengan muspida. Pemkab Banyuwangi sudah mengambil beberapa sampel untuk diuji. 5. status ‘cadangan’nya perlu direvisi. Sungai Gonggo mengalami pelebaran hingga tujuh meter dari lebar awalnya satu meter. maupun tanaman pertanian/ perkebunan masyarakat (petani magersari) sehingga harus dihentikan.

Penolakan tersebut juga telah disuarakan oleh 5 (lima) orang utusan Warga Pancer yang menghadiri Sidang Amdal tanggal 26 Mei 2008 di Surabaya. 11 tahun 2006. Kurva Hijau. g.4 tentang “Peta Rencana Tata Letak Kegiatan” dapat dilihat dengan jelas bahwa tailing (limbah tambang) akan dibuang ke laut. b. Warga Pancer telah menolak rencana tersebut. Berdasarkan Peraturan Meneg LH no. Dalam acara tersebut tidak ada itikad baik dari pemrakarsa untuk menjelaskan apa itu sianida? Apa saja dampaknya? Dan apa yang membuat pemrakarsa yakin bahwa sianida aman? f. IMN tersebut. sehingga warga tidak memiliki kesiapan untuk berdialog dengan pihak yang terkait. 11 tahun 2006 tersebut. Bambang Yunianto 7 . kewenangannya berada di tangan Deputi Bidang Amdal Kementerian Negara Lingkungan Hidup. dalam Lampiran Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup nomor 11 tahun 2006 tentang Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup disebut sebagai Submarine Tailing Disposal (STD). d. Dimana penolakan tersebut telah mereka sampaikan dalam acara Sosialisasi Penambangan Emas HLGTP yang diselenggarakan pada 12 Maret 2008 lalu di Balai Dusun (dihadiri oleh perwakilan Pemkab Banyuwangi. perwakilan Mapolsek Pesanggaran. karena pihak pemrakarsa tidak membuat pengumuman tentang rencana Sidang Amdal yang layak dan mencukupi. Hal ini menunjukkan minimnya kemauan Pemprop Jatim dan Pemkab Banyuwangi untuk melakukan penguatan terhadap rakyatnya. sejatinya Sidang Amdal yang diselenggarakan dan dipimpin oleh Komisi Amdal Propinsi/Bapedalprop Jatim tidak sah. dan merekalah pihak pertama yang akan merasakannya. karena tidak ada satu pun dari peta yang termuat di dalamnya yang menampakkan keberaradaan Pulau Permasalahan Pengelolaan Potensi Emas di Gunung Tumpang Pitu . Padahal keterbukaan informasi ini penting sebagai tolok ukur tinggi-rendahnya itikad baik dari pemrakarsa rencana pertambangan maupun pemkab dan pemrop. Dengan demikian. e. penilaian Amdal dari sebuah rencana pertambangan yang menggunakan STD seperti halnya PT IMN tersebut. IMN dapat ditunjukkan berdasakan surat penolakan AMDAL oleh Masyarakat Banyuwangi yang tergabung dalam Komunitas Pecinta Alam Pemerhati Lingkungan (Kappala Indonesia) region Banyuwangi. Warga pun tidak punya kecukupan waktu untuk memilih pihak yang menurut warga memiliki kompetensi untuk mendampinginya dalam mengikuti Sidang Amdal. terutama pakar. Beberapa butir yang dijadikan dasar penolakan AMDAL PT.. karena tidak ada satu pun dokumen Amdal yang dibagikan kepada warga Dusun Pancer.. Bahkan hingga kini pun belum terlihat kemauan pemrakarsa untuk mengumumkan secara terbuka tentang Sidang Revisi Amdal. karena tidak sesuai dengan Peraturan Meneg LH no. pada gambar 2. dan Dewan Rakyat Jalanan untuk Demokrasi (Derajad). Semenjak awal bergulirnya rencana penambangan emas di HLGTP oleh PT IMN. Amdal yang dibuat oleh PT IMN sebagai pemrakarsa adalah dokumen Amdal yang tidak layak dan harus ditolak. 11 tahun 2006. Berdasarkan Peraturan Meneg LH no. sehingga warga tidak memiliki informasi mengenai Amdal. Pembuangan tailing ke laut ini. Amdal yang dibuat oleh PT IMN sebagai pemrakarsa adalah dokumen Amdal yang tidak layak dan harus ditolak. Amdal yang dibuat oleh PT IMN sebagai pemrakarsa adalah dokumen Amdal yang tidak layak dan harus ditolak.berbagai isu Lingkungan yang diakibatkan PT. perwakilan Makoramil Pesanggaran. PT IMN telah melakukan kebohongan publik dengan menyatakan kepada seluruh hadirin bahwa merkuri berbahaya sementara sianida aman. bukan di tangan Komisi Amdal Propinsi/Bapedalprop Jatim. c. Warga Pancer tidak diberi kecukupan waktu untuk mempelajari Amdal tersebut. dan Camat Pesanggaran). Keterbukaan informasi menjadi sesuatu yang logis untuk dimiliki oleh warga Pancer karena dampak apapun dari pertambangan tersebut jelas-jelas akan berpengaruh langsung kepada mereka. karena dalam Presentasi Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan (KA-Andal) yang bertempat di ruang Minakjingga Pemkab Banyuwangi pada tanggal 30 Januari 2008. Komisi Amdal Propinsi/Bapedalprop Jatim tidak berwenang menilai Amdal PT IMN. perwakilan TNI AL. Dalam Dokumen Andal yang dibuat oleh PT IMN. antara lain: a. Sidang Amdal tersebut di atas merupakan sidang yang tidak adil.

Gunung Sumber Salak. Sebelumnya. Berapa aktivitas ekonomi masyarakat yang akan terganggu (misal pertanian. Berbagai persoalan tersebut tidak perlu langsung ditanggapi apreori. Gunung Wedi Ireng. koordinator Koalisi Tolak Tambang di Tumpang Pitu (KT3P). terkesan memberi sinyal ditingkatkannya status PT IMN dari eksplorasi menjadi eksploitasi. Menteri Kehutanan melalui surat S. 5. 77. Gunung Macan. perkebunan. yaitu isu dampak sosekbud PT. hingga Juli 2009. seperti pertanian. Sementara itu. Konflik kepentingan antara sektor pertambangan dengan sektor kehutanan. dan kekhawatiran penggunaan air raksa yang akan mencemari lingkungan (darat dan perairan) bila tidak ditangani dengan serius. Menurut Tim Isu Puslitbang tekMIRA.Merah. IMN terhadap berbagai aktivitas mata pencaharian masyarakat di sekitar proyek.406/MENHUTVII/PW/2007 mengijinkan perusahaan melakukan eksplorasi selama 2 tahun. 76.251.4. berhubungan erat sebagai sumber mata air dan sungai-sungai yang menjadi sumber irigasi bagi sektor pertanian dan perkebunan yang saat ini diunggulkan sebagai sektor penting bagi Kabupaten Banyuwangi. 78.251. Gunung Tumpang Pitu memiliki kaitan erat dengan aktivitas penduduk di sekitarnya. setelah disidangkan oleh Bapedalda Jawa Timur pada 26 Mei lalu. pertanian dan perkebunan rusak akibat terinjak-injak ataupun rusak karena ditambang. Kawasan Gunung Tumpang Pitu merupakan kawasan hutan lindung dan hutan produksi. BKPH Sukamade.621 hektar yang meliputi kawasan Gunung Tumpang Pitu. berbagai informasi mengenai penolakan terhadap kegiatan pertambangan di kawasan Gunung Tumpang Pitu di atas. dan kawasan hutan lindung setempat. IMN. 77 dan 78 kawasan hutan tersebut. pertanian.621 ha yang meliputi kawasan Gunung Tumpang Pitu. Gunung Macan. sungai yang dimanfaatkan untuk irigasi. Petak 56 dan Petak 79 masuk dalam wilayah konsesi PT. Gunung Wedi Ireng. Eksplorasi itu meliputi kawasan hutan produksi seluas 736. 5. Sedangkan wilayah yang ditambang oleh PETI. tambang emas yang dibangun oleh PT IMN di Tumpang Pitu memakan areal seluas 11. perkebunan. yaitu Petak 75.5 ha dipetak 75. Tidak adanya Pulau Merah di semua peta yang terdapat dalam dokumen Andal tersebut mencerminkan keteledoran PT IMN. Gunung Jatian. 76. IMN terkait dengan dampak kegiatan PT. Gunung Sumber Salak. IMN vs Rakyat). 78. Pengesahan Dokumen Amdal PT IMN oleh Tim Amdal Propinsi Jawa Timur dan kedatangan Mentri Kehutanan MS Kaban di Banyuwangi. tetapi perlu didudukan secara proporsional pada sumber akar persoalannya. 76. Isu dampak sosekbud PT. dan perikanan tersebut perlu dipertimbangkan positif dan negatifnya. semakin meresahkan warga. perkebunan dan nelayan. Dampak sosekbud PETI/ Gurandil terutama akibat rusaknya lingkungan. RPH Kesilir Baru.3 ha dan hutan lindung seluas 1. dan kawasan hutan lindung setempat. Sementara itu.406/MENHUT_vii/ PW/2007 tertanggal 27 Juli 2007.5 ha dipetak 75. KPH Banyuwangi Selatan. Kawasan Eksplorasi itu meliputi kawasan hutan produksi seluas 736. dan isu utama beberapa unjuk rasa mengenai lingkungan hidup perlu dijadikan barometer dalam memahami berbagai persoalan lingkungan pertambangan di Gunung Tumpang Pitu dan sekitarnya. Gunung Jatian. 77. Tumpang-tindih antar Sektor Konsesi PT IMN di Tumpang Pitu meliputi areal seluas 11. KPH Banyuwangi Selatan. serta menggambarkan rendahnya kepedulian PT IMN terhadap area penting seperti Pulau Merah. bagian yang tidak terpisahkan dari 3 KPH dan 3 TH.3 ha dan hutan lindung seluas 1. termasuk sektor perikanan bila pembuangan tailing dilakukan di dasar laut. BKPH Sukamade. Sebagai kawasan penyangga. Unjuk rasa beberapa komponen masyarakat terhadap kegiatan pertambangan dapat dijadikan barometer bagi pengembangan kegiatan pertambangan di daerah ini. Sosial Ekonomi Masyarakat Isu social terbagi dua. PT IMN mendapat izin kuasa eksplorasi emas dikawasan hutan dari Menteri Kehutanan MS Kaban nomor . perikanan) dan bagaimana proses pengelolaannya.3. Dokumen Amdal PT IMN telah disahkan oleh Tim Amdal Propinsi Jawa Timur. yaitu: 1) Sejumlah Petani dan Nelayan Banyuwangi Jawa Timur ke Jakarta mendesak agar 8 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . IMN maupun PETI/ Gurandil dan isu kesamaan hak atas sumber daya bahan tambang (PT. Pemkab Banyuwangi telah menyetujui rencana mengajukan permohonan alih fungsi kawasan hutan lindung dalam KPH Banyuwangi Selatan. RPH Kesilir Baru. yang berfungsi sebagai daerah penyangga.

sesuai pasal 33 UUD 45 dapat menjadi pemicu isu-isu lainnya di kawasan tersebut. Mengenai isu kesamaan hak dalam pemanfaatan bahan tambang (PT. 2) Puluhan ribu warga yang tinggal sepanjang Rajekwesi sampai Muncar . dan isu sosekbud). KESIMPULAN DAN TINDAK LANJUT Berdasarkan pembahasan terhadap ke-empat isu potensi dan kegiatan pertambangan emas di Gunung Tumpang Pitu di atas (isu potensi emas. Kabupaten Banyuwangi. diwarnai aksi penghadangan oleh ratusan massa anti tambang. diperlukan kesiapan daerah (Pemerintah Kabupaten Banyuwangi) dalam mengelola potensi emas di Gunung Tumpang Pitu. IMN vs PETI/ Gurandil) merupakan isu penting. Lingkungan pertambangan. 3) Kunjungan Rombongan Dirjen Planologi Departemen Kehutanan ke lokasi penambangan emas tradisional di lereng Gunung Tumpang Pitu Kampung 56 Dusun Wringin Agung Desa/Kecamatan Pesanggaran. berdasarkan kasus-kasus di beberapa daerah. karena Pemda Kabupaten Banyuwangi kurang cepat dalam menanganinya sebagai akibat belum adanya kantor/ dinas pertambangan yang seharusnya bertanggung jawab terhadap persoalan pertambangan di daerah.Banyuwangi akan terancam hidupnya. dan sektor lain terkait fungsi hutan sebagai penyimpan sumber daya air sektorsektor pertanian dan perkebunan. Banyuwangi. kesamaan hak atas sumber daya alam antara PT. pembinaan dan pengawasan teknis penambangan.dihentikan kegiatan PT. maka Pemda Kabupaten Banyuwangi seharusnya menyiapkan WPR sebagai wadah menampung aspirasi rakyat dalam kegiatan pertambangan dengan beberapa tahap berikut: 1) Secepatnya meminimalkan daerah operasi PETI/ gurandil untuk mengurangi dampak Lingkungan. Padahal. cara-cara represif justru akan menimbulkan persoalan baru yang lebih besar. 6. Bambang Yunianto 9 . Pertanyaan ini berlanjut dengan masalah. Untuk memberi rasa keadilan. saat ini dengan persoalan pertambangan yang komplek ditangani oleh Pemda Bagian Perekonomian.. yang secara tingkatan fungsi hutan lebih rendah. IMN. yang dianggap telah telah melakukan ketidakadilan informasi terhadap masyarakat terkait aktifitas PT IMN di Gunung Tumpang Pitu karena tidak transparan. tumpang tindih dengan sektor lain. bagaimana seharusnya. kalau pelarangan PETI/ Gurandil karena merusak Lingkungan dan tidak berizin sehingga tidak ada pemasukan bagi pemda. kenapa rakyat dilarang di kawasan hutan produksi. Kesiapan daerah dalam mengelola potensi emas di Gunung Pitu tersebut meliputi beberapa tahap kegiatan berikut: 1) Perlu ada kajian mengenai keuntungan dan kerugian (cost benefit analysis) antara kegiatan pertambangan dengan sektor kehutan. Di samping itu.. mengecam pertemuan antara Dirjen Planologi Departemen Kehutanan dan PT Indo Multi Niaga (IMN) serta pihak terkait lainnya di Pendopo Banyuwangi. lingkungan dan manajemen usaha bagi penambang rakyat. 2) Menyiapkan Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) pada daerah-daerah di lembah Gunung Tumpang Pitu yang memiliki kandungan emas alluvial. ada kesan dalam menangani setiap persoalan PETI/ Gurandil dilakukan dengan cara-cara represif. dengan dampak yang dapat Permasalahan Pengelolaan Potensi Emas di Gunung Tumpang Pitu . karena kalau tidak ditempatkan pada koridor yang semestinya. setiap ada persoalan masing-masing saling menunggu dan bagi-bagi tanggung jawab/ peran. termasuk perikanan mendesak dihentikannya rencana pengerukan emas di hutan lindung Tumpang Pitu. Kecamatan Pesanggaran. 2) Bila kegiatan pertambangan lebih menguntungkan. Perlu dipahami. IMN dan masyarakat penambang. dengan persuasif menjaga wilayah operasi PETI/ gurandil tersebut. 3) Melakukan kajian eksplorasi terhadap daerah yang disiapkan untuk WPR dan menyiapkan perizinannya dengan wadah badan usaha Koperasi. 4) Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Peduli Lingkungan (AMMPeL). Mereka mendesak pemerintah mencabut ijin petambangan dan AMDAL tambang emas PT Indo Multi Niaga (IMN) yang cacat dan menolak ijin pinjam pakai penggunaan hutan. kalau PT. Berbagai persoalan yang mendasar tersebut timbul. 4) Menyiapkan bimbingan. Masalah tersebut terkait dengan pertanyaan mendasar. Bappeda dan Kantor Lingkungan Hidup menyebabkan persoalan pertambangan tidak tertangani secara optimal. IMN diperbolehkan melakukan aktivitas di kawasan hutan lindung.

diminimalkan dibanding kerugian yang akan terjadi terhadap sektor-sektor nonpertambangan.7 8.4 51. IMN.2 37. dan sungaisungai bagi sektor pertanian dan perkebunan.4 29.2 30.4 58.4 17.6 15.2 36.8 30.6 53.8 hrsnya 00 12. dalam kajian AMDAL perlu diperjelas mengenai rencana pembuangan limbah. serta kandungan mineral ikutan emas berdasarkan hasil laboratorium yang terakreditasi. sedangkan pengalokasian WPR diatur pasal 20-26 UU No.8 hrsnya 00 11. PETI Batubara di Kalimantan Selatan. IMN (relinquish) dari tahap eksplorasi ke tahap eksploitasi. 4/2009. 5) Dalam menangani persoalan PETI/ Gurandil seyogyanya tidak menggunakan cara-cara represif.6 20.9 15.6 8. Kapur di Padalarang Jawa Barat. dan perlu dilakukan secara transparan.2 19.4 29.4 58. Koordinat Wilayah Kuasa Pertambangan PT.7 2. batas wilayah yang terdapat pada tabel titik koordinat terdapat kesalahan pada titik 14 dan 15 (koordinat y garis lintang/ LS untuk titik 14 seharusnya 36’.8 Sumber: ANDAL Pertambangan PT.8 53. dan lainnya) kalau ditangani secara represif akan menimbulkan persoalan baru yang lebih besar.4 45. IMN perlu memberi penjelasan yang ilmiah mengenai potensi emas primer maupun emas sekunder/ alluvial di dalam wilayah konsesinya di Gunung Tumpang Pitu. terutama terkait fungsi hutan lindung sebagai sumber mata air. 6) Dalam pengalokasian WPR perlu dilakukan kegiatan inventarisasi potensi bahan galian Tabel 1. ada beberapa hal yang perlu diklarifikasi: wilayah konsesi.9 57 57 37. Mengenai tahap eksplorasi diatur dalam pasal 42-45 UU No.4 20.6 12. dan wilayah yang berpotensi emas sekunder/ alluvial dialokasikan sebagai Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) untuk mewadahi aspirasi rakyat/ masyarakat dalam kegiatan pertambangan. tetapi harus dengan persuasive. 4) PT. kajian terhadap kegiatan di sekitar proyek perlu diperluas dan diperdalam sehingga dapat memberi gambaran yang valid mengenai keadaan yang sebenarnya.7 58. 4/2009. dan rencana pengelolaannya. PETI Emas di Sulawesi Utara.00") yang bisa fatal karena sebagai batas wilayah konsesi (Tabel 1).8 2.8 58.7 11.4 36.2 3.6 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 37 35 35 34 34 33 33 32 32 32 32 35 35 38 hrs-nya 36 38 hrs-nya 36 38 38 39 39 37 16. maka perlu dilakukan pembatasan kembali wilayah PT.9 3. karena kasus-kasus semacam ini (PETI Emas Pongkor. perlu dilakukan pembatasan wilayah konsesi untuk meminimalkan dampak lingkungan. IMN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 113 113 113 113 113 113 113 113 114 114 114 114 114 114 114 114 114 114 114 114 56 56 57 57 57 57 59 59 1 1 2 2 4 4 4 4 3 3 0 0 45. Indah Multi Niaga 10 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . 3) Berdasarkan kajian terhadap AMDAL PT.8 16. wilayah konsesi.9 19.2 17.00" dan titik 15 seharusnya 36’.4 51.

Kabupaten Banyuwang Dalam Angka Tahun 2008. BPS Kabupaten Banyuwangi. Jakarta 2008 (Laporan Akhir). Sebentuk Kanibalisasi antar Potensi”. Detik Surabaya. 2008. 2009. PDRB Kabupaten Banyuwangi Tahun 2008. Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Banyuwangi 2007-2027 (Album Peta/ Gambar). Indo Multi Niaga. Jakarta 2008. Provinsi Jawa Timur. Provinsi Jawa Timur. Bahan Presentasi Kabid Fisik dan Prasarana Wilayah. maka perlu dibentuk kantor/ dinas pertambangan dan energi yang tugasnya mengelola kegiatan pertambangan di daerah. 38 Tahun 2007. Kecamatan Pesanggaran. Indo Multi Niaga. 2007. Harian Kompas.. Kecamatan Pesanggaran. ANDAL PT. Indo Multi Niaga. Lampiran ANDAL PT. “Emas vs Potensi Agraris Banyuwangi. Potensi pertambangan di Gunung Tumpang Pitu dan Pulau Batu Merah. 16 Juni 2008 Harian Kompas. Bappeda Kabupaten Banyuwangi. Berita Fajar. 17 Mei 2009. Provinsi Jawa Timur. sesuai kebijakan otonomi daerah yang tertuang dalam UU No. maka perizinan perlu disiapkan dan perlu dilakukan pembinaan dan pengawasan. PT. Banyuwangi. Rabo. Kecamatan Pesanggaran Dalam Angka Tahun 2007. 2009. 2008. 32 tahun 2004. 2008. 2008. Harian Kompas. 7) Setelah Pemda Kabupaten Banyuwangi mengalokasikan WPR. “Masyarakat Banyuwangi Tolak Tambang Emas di Hutan Lindung Tumpang Pitu”. Selasa. Bambang Yunianto 11 . 2009. Detik Surabaya. Permasalahan Pengelolaan Potensi Emas di Gunung Tumpang Pitu . 19 April 2008. UU No. 33 Tahun 2004. Kecamatan Pesanggaran. baik dalam hal teknis penambangan. Kabupaten Banyuwangi. 2009. PT. Harian Kompas. Indo Multi Niaga Rencana Penambangan Emas DMP di Desa Sumber Agung. Indo Multi Niaga. PT. 28 April. 2009. 2009. Jakarta 2008. Jumat 27 Februari 2009. lingkungan maupun dalam manajemen berusaha. Senin. “Berebut Emas di Tumpang Pitu”. 2005. BPS Kabupaten Banyuwangi. Kecamatan Pesanggaran. Rencana Umum Tata Ruang Kota dengan Kedalaman Rencana Detail Tata Ruang Kota Pesanggaran. Kabupaten Banyuwangi. Foto-foto dokumentasi survai di perkantoran dan dokumentasi PETI di Gunung Tumpang Pitu. Sabtu. DAFTAR PUSTAKA Bappeda Kabupaten Banyuwangi. Harian Kompas. 2008. 2005. BPS Kabupaten Banyuwangi.. Berita Fajar FM. 2008. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) Rencana Penambangan Emas DMP di Desa Sumber Agung. “Ribuan Penambang Emas Banyuwangi Diusir”. Indo Multi Niaga. dan PP No. Provinsi Jawa Timur. Bappeda Kabupaten Banyuwangi. 2009. 2008. Rencana Penambangan Emas DMP di Desa Sumber Agung. “Penambang Emas Dadakan di Banyuwangi Capai 3 Ribu Orang”. Tim Isu Puslitbang tekMIRA. Bappeda Kabupaten Banyuwangi. 8) Untuk menangani berbagai permasalahan pertambangan di Kabupaten Banyuwangi. Harian Kompas. Kecamatan Pesanggaran. PT. Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) Rencana Penambangan Emas DMP di Desa Sumber Agung. Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Banyuwangi 2005-2015 (Laporan Rencana). Kabupaten Banyuwangi. 2008. Jakarta 2008.emas sekunder pada wilayah-wilayah yang potensial dan dampaknya dapat diminimalkan. Kabupaten Banyuwangi.

LAMPIRAN FOTO-FOTO SURVAI LAPANGAN 12 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .

.. Bambang Yunianto 13 .Permasalahan Pengelolaan Potensi Emas di Gunung Tumpang Pitu .

14 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .

.Permasalahan Pengelolaan Potensi Emas di Gunung Tumpang Pitu . Bambang Yunianto 15 ..

PENGEMBANGAN METODE ANALISIS TER DAN PARTIKULAT DALAM PRODUCER GAS DARI BATUBARA Slamet Suprapto dan Nurhadi Puslitbang tekMIRA. 623 Bandung. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengembangkan metoda sampling dan analisis kadar ter dan partikulat dalam producer gas dari batubara.esdm. Percobaan pengoperasian mesin diesel menggunakan sistem dual fuel menunjukkan kinerja yang baik dan tidak terdapat endapan ter dan partikulat dalam ruang bakar mesin diesel.id SARI Dalam rangka meningkatkan dan mendiversifikasikan pemanfaatan batubara.go. heat exchanger and condense bottle to absorb moisture and impinge bottle to absorb tar in the producer gas sample.500 kal/g. Fax: (022) 6003373 email: slamets@tekmira. Jend. Cirebon. The purpose of this research is to develop sampling and analysis method for determination tar and particulate contents in producer gas from coal. One of quality parameter of producer gas to be used for internal combustion like diesel engine is the content of tar and particulate.esdm. Salah satu parameter kualitas producer gas untuk digunakan pada sistem pembakaran internal seperti mesin diesel adalah kadar ter dan partikulat. ter. Research and Development Center for Mineral and Coal Technology is developing utilization of producer gas resulted from coal gasification for diesel powered electric generation using dual fuel system at Coal Technology Center. Peralatan yang telah terangkai kemudian diujicoba untuk menentukan kadar ter dan partikulat dalam producer gas produk gasifikasi. Kata kunci: gasifikasi batubara.500 dan 4. (022)6030483. Metoda ini menggunakan peralatan yang terdiri atas nozzle isokinetik yang dilengkapi heater untuk mengambil contoh producer gas. producer gas. metoda analisis ABSTRACT In relation to increase and diversify the utilization of coal. Palimanan Cirebon. Metoda ini belum distandarisasi karena tidak tersedianya gas standar. Jln. nurhadi@tekmira. partikulat. Telp. ceramic filter to separate particulate. The coal 16 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Pengembangan lebih lanjut diharapkan difokuskan pada standarisasi dan uji pembanding Round Robin test dan analisis sistem on-line langsung ke komputer untuk mengetahui secara langsung komposisi producer gas.id. Palimanan. heat exchanger dan botol kondensasi untuk mengasorbsi lengas dan botol impinger untuk mengadsorbsi ter dalam contoh producer gas. Pengujian metoda sampling dan analisis terhadap producer gas hasil gasifikasi batubara tersebut menunjukkan kadar ter dan partikulat yang cukup rendah yaitu <100 mg ter/Nm3 dan <50 mg partikulat/Nm3 dan sudah memenuhi persyaratan untuk bahan bakar mesin diesel. Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara sedang mengembangkan pemanfaatan producer gas hasil gasifikasi batubara untuk pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) sistem dual fuel di Sentra Teknologi Pemanfaatan Batubara. Batubara yang digunakan berasal dari Kalimantan Selatan yang mempunyai nilai kalor 5. This method used apparatus which consists of iso-kinetic nozzle equipped with heater to take sample of producer gas. penyaring keramik untuk memisahkan partikulat.go. Sudirman no. The installed apparatus is tested for determining the content of tar and particulate of producer gas resulted from coal gasification.

particulate. Perbedaan proses gasifikasi biomassa yang menghasilkan producer gas untuk mesin Pengembangan Metode Analisis Ter dan Partikulat dalam Producer . producer gas dari biomassa telah digunakan untuk mesin pembakaran internal (internal combustion engine) seperti mesin gas (gas engine) dan mesin diesel dual fuel secara komersial di banyak negara. Cirebon. Gas Lurgi merupakan gas kalori menengah (medium calorie gas) dengan nilai kalor antara 200-400 Btu/ft3. Produk gas yang dihasilkan proses gasifikasi batubara tergantung pereaksi yang digunakan. syngas) dengan komponen utama CO dan H2. Gas ini termasuk gas kalori rendah (low calorie gas) dengan nilai kalor <200 Btu/ft3 (<1780 kkal/m3). Further development needs to be focused on standardization and on-line system connected to computer which can show the composition of producer gas directly. SNG) dan bahan baku industri kimia. Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara bekerjasama dengan PT PLN (Persero) dan PT Coal Gas Indonesia sedang mengembangkan pemanfaatan producer gas dari batubara untuk pembangkit listrik tenaga diesel dengan membangun pilot plant di Sentra Teknologi Pemanfaatan Batubara tekMIRA. Sementara itu. Nowacki. Untuk mendukung kegiatan pilot plant tersebut diperlukan perlatan dan metoda analisis producer gas yang dapat menentukan komposisi dan kadar kadar ter dan partikulat. Sehubungan dengan hal tersebut di atas. Francis. Kalau pada awalnya gasifikasi batubara hanya menghasilkan producer gas (gas bakar) dan gas kota. gas alam sintetik (synthetic natural gas. Sedangkan metode analisis kadar ter dan partikulat dalam producer gas hasil gasifikasi biomassa juga baru dikembangkan di beberapa negara Eropa. Apabila gas Lurgi tersebut dimurnikan maka dihasilkan gas sintesis (synthesis gas. serta pengotor N 2 mencapai sekitar 50%. 1984). tar. tetapi sekarang bisa berupa gas sintesis. PENDAHULUAN 2. Metode analisis komposisi gas hasil gasifikasi biomassa maupun batubara umumnya menggunakan kromatografi gas. Palimanan.500 and 4. 1981.. Di Indonesia.. 1981. analysis method 1.500 cal/g. Proses gasifikasi menggunakan pereaksi campuran oksigen/uap air menghasilkan produk gas yang disebut gas Lurgi dengan komponen utama berupa CO dan H2 dan sedikit gas-gas hidrokarbon. Gas sintesis dapat diproses lebih lanjut melalui proses metanasi untuk mendapatkan gas SNG (Synthetic Natural Gas. penggunaan gas alam untuk mesin diesel dual fuel gas sudah dilakukan di Tarakan. Batubara dari berbagai jenis dan peringkat dapat dikonversikan menjadi gas secara komersial. Proses gasifikasi menggunakan pereaksi udara dan uap air menghasilkan gas yang disebut producer gas dengan komposisi terdiri atas gas mampu bakar (combustible gas) CO dan H2 dan dan sedikit gas hidrokarbon seperti CH 4. 1965.used comes from South Kalimantan which have calorific values of 5. Slamet Suprapto dan Nurhadi 17 . The results show that the content of tar and particulate are <100 mg of tar/m3 and <50 mg of particulate/m3 respectively which correspond with the requirement of producer gas as fuel for dual fuel diesel engine. Proses gasifikasi batubara yang saat ini berkembang dengan maju adalah proses konversi batubara dalam sebuah reaktor dengan menggunakan pereaksi. producer gas. Ward. 1986) dan dengan pereaksi campuran udara/uap air. This method has not been standardized yet because standard reference gas is not available yet. The operation of diesel engine using dual fuel system shows good performance and there were no tar and particulate deposit in the combustion chamber. Producer gas juga dapat dihasilkan dari proses gasifikasi bahan karbonan (carbonaceous matter) lainnya seperti biomassa (Anonymous. Kalimantan Timur. Proses gasifikasi menggunakan pereaksi hidrogen juga dapat menghasilkan gas alam sintetik yang mempunyai nilai kalor sekitar 1000 Btu/ft3 dan termasuk gas kalori tinggi (high calorie gas) (Elliot. Peresmian pengoperasian pilot plant tersebut telah dilakukan pada tanggal 19 Maret 2008. perlu dikembangkan metoda analisis ter dan partikulat dalam producer gas dari batubara. Keywords : coal gasification. Oleh karena itu. Substitute Natural Gas) dengan komponen utama CH4. TINJAUAN PUSTAKA Proses konversi batubara menjadi gas yang dikenal dengan istilah gasifikasi batubara sudah berkembang dengan maju. serta pengotor.

METODOLOGI 3. maka producer gas harus mengandung ter dan partikulat serendah mungkin. Eropa maupun Amerika Serikat masih ditemukan bus atau traktor bermesin diesel sistem dual fuel dengan bahan bakar solar dan producer gas (Anonymous. 1998.1. Disamping itu. 1986. Pipa teflon dicelupkan dalam air suling sedalam 15 mm. Penggunaan producer gas hasil gasifikasi biomassa untuk mesin diesel pembangkit listrik maupun kendaraan telah dimulai sejak awal abad 20. scrubber dan pendingin. Skema pemasangan nozzle pada pipa aliran produk gas hasil gasifikasi batubara dapat dilihat pada Gambar 1. Air dan tar yang mengembun kemudian dilewatkan pada pipa teflon untuk dialirkan ke dalam botol kondensasi. Unit penangkap ter tersebut cukup efektif sehingga kadar ter dalam producer gas memenuhi syarat untuk penggunaan mesin diesel. agar mesin diesel dapat beroperasi dengan normal. Turare). Alat sampling tersebut berupa nozzle isokinetik yang dipasang pada pipa aliran gas dan dilengkapi pitot tube dengan dimensi tertentu. Selanjutnya. Tetapi metode analisis ter dan partikulat dalam producer gas dari biomassa telah dikembangkan di Swiss dan Belanda (Nusbanmer. Afrika. Secara umum. Alat penangkap partikulat berupa penyaring keramik (ceramic filter) dipasang pada aliran contoh gas sebelum masuk ke rangkaian penangkap ter. Prosedur Analisis Ter dan Partikulat Setelah peralatan sampling dan analisis terpasang kemudian contoh gas dialirkan melalui nozzle dan penyaring keramik. 3. Penyaring keramik tersebut memiliki rongga-rongga 3 mikron. Selandia Baru. belum ada prosedur standar untuk menentukan kadar ter dan partikulat dalam producer gas. Penangkap ter terdiri atas botol pengembun uap air (moisture condensation bottle) dan 3 (tiga) botol tar impinger seperti terlihat pada Gambar 2. Penggunaan tersebut mencapai puncaknya selama masa Perang Dunia II terutama dilakukan oleh Jerman untuk menjalankan kendaraankendaraan perangnya. Mesin-mesin pembakaran internal normalnya dirancang untuk menggunakan bahan bakar bensin atau solar yang relatif bersih dibanding producer gas. Prinsip dasar metode tersebut adalah sampling dan analisis aliran producer gas yang mengandung ter dan partikulat secera on-line dengan menggunakan peralatan yang terdiri atas nozzle isokinetik dan penangkap ter dan partikulat. Pembuatan Peralatan Tahap awal dari pengembangan metoda adalah pembuatan peralatan sampling dan analisis sesuai dengan peralatan yang digunakan untuk sampling dan analisis producer gas yang dikembangkan di Eropa. Oleh karena itu. Botol kondensasi berisi 800 mL air suling (aquadest) yang didinginkan pada suhu 0OC. van de Kamp. 1986. 2005). Sampai saat ini. yakni batubara dimasukkan dari atas dan gas dikeluarkan dari bawah reaktor sehingga ter biomassa mengalami perekahan (cracking) menjadi molekul gas. yakni tar electrostatic precipitator. Oleh karena itu. Uap air dan sebagian 18 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .2. kadar ter dan partikulat ditentukan berdasarkan gravimetri. Anonymous. di daerah-daerah terpencil di banyak negara misalnya Pilipina. 2006): ter : <500 mg ter /m3 gas partikulat : 50 mg partikulat/m3 gas. pada pipa aliran contoh gas dipasang pemanas suhu 200ºC agar ter tidak mengembun dan menempel pada nozzle dan pipa sirkulasi. kadar ter dan partikulat yang masih dapat ditoleransi untuk bahan bakar mesin pembakaran internal adalah adalah sebagai berikut (Anonymous. Sampai sekarang.pembakaran internal dan proses gasifikasi batubara yang digunakan di pilot plant pemanfaatan gasifikasi batubara untuk PLTD adalah pada reaktor dan sistem pemurnian gas. Namun pada unit gasifikasi batubara mempunyai sistem pemurnian gas yang juga dilengkapi penangkap ter khusus. kadar ter dalam relatif rendah dan unit pemurniaan gas yang digunakan untuk gasifikasi biomassa cukup hanya terdiri atas siklon. Contoh gas didinginkan dalam chiller yang terbuat dari gelas dan menggunakan air pendingin suhu 10 O C. Sedangkan gasifikasi batubara menggunakan reaktor sistem updraft sehingga produk gas mengandung lebih banyak ter. Bahkan Energy research Center of the Netherlands (ECN) Belanda mengembangkan prosedur tersebut menjadi standar untuk kawasan Eropa dengan mengadakan Round Robin test. 3. Ujung teflon berbentuk lobang-lobang dengan diameter 1 mm sebanyak 20 buah. Reaktor gasifikasi biomassa adalah sistem downdraft.

. 2005) Pengembangan Metode Analisis Ter dan Partikulat dalam Producer . Skema alat sampling producer gas (Nussbanmer.Gambar 1. Skema penangkap partikulat dan ter ((Nussbanmer. 2005) Gambar 2. van de Kamp.. van de Kamp. 1998. 1998. Slamet Suprapto dan Nurhadi 19 .

mg vg = volume contoh gas. kemudian gas batubara dimasukkan sampai beban mencapai maksimum 150 kW. Selanjutnya dilakukan langkah-langkah sesuai dengan prosedur analisis ter dan partikulat. Hal ini disebabkan bervariasnya kondisi operasi gasifikasi batubara.3 m/detik. mg = volume contoh gas. 1981. van Dyk): kualitas batubara (analisis proksimat.5 . maka gas digunakan untuk mengoperasikan mesin diesel sistem dual fuel. ter yang sudah teradsorbsi dalam botol kondensasi dan botol impinger dipisahkan melalui destilasi vakum pada suhu 85 OC dan tekanan 10 – 20 mBar. Producer gas dengan kadar ter dan partikulat yang demikian sudah memenuhi syarat untuk digunakan pada mesin diesel. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengujian metoda untuk analisis kadar ter dan partikulat contoh producer gas hasil gasifikasi dapat dilihat pada Tabel 1. Nowacki. Ter yang terkandung dalam contoh gas akan mengembun dan terabsorbsi dalam anisol. distribusi ukuran. Ter yang diperoleh kemudian ditimbang.1 jam. Pengoperasian mesin diesel diawali dengan menggunakan bahan bakar 100 % solar pada berbagai beban (daya) 30 kW. Setelah operasi gasifikasi berjalan lancar (steady) kemudian dilakukan sampling gas dengan membuka aliran nozzle. Kadar ter dan partikulat producer gas dari contoh batubara dengan nilai kalor 5. mg/m3 = vg Di mana: mc1 = berat penyaring keramik sebelum percobaan. yakni <500 mg ter/m3 dan 50 mg partikulat/m3. Semakin kecil kandungan partikulat dan ter. 20 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .500 kal/g (A) menunjukkan hasil yang berbeda antara percobaan gasifikasi ke 1 dan percobaan gasifikasi ke 2. Pengujian tersebut dapat menghasilkan data kadar ter dan partikulat yang masing-masing antara 7–62 mg ter/m3 dan 31-50 mg partikulat/m3. Contoh gas kemudian disedot oleh pompa vakum pada laju alir antara 1.ter dalam contoh gas akan mengembun dalam botol kondensasi yang berisi air suling.7 – 3. Pengujian diawali dengan proses gasifikasi batubara yakni dengan mengumpankan batubara ± 150 kg/jam.500 kal/g. mg/m3 = vg Di mana: mt = berat ter hasil destilasi. tergantung kandungan ter dan partikulat. Kadar tar dapat dihitung dengan membagi berat ter yang diperoleh dari destilasi vakum dengan volume contoh gas. Pengujian Metoda Pengujian metoda dilakukan terhadap producer gas hasil gasifikasi contoh batubara Kalimantan yang mempunyai nilai kalor 5. Walaupun batubara yang digunakan sama tetapi komposisi producer gas yang dihasilkan oleh percobaan ke 1 dan ke 2 belum tentu sama. Setelah dilakukan langkah-langkah sampling gas dan pemisahan partikulat dan ter seperti seperti tersebut di atas. Sampling gas dilakukan selama 0. m3 Sedangkan untuk menentukan kadar ter.500 kal/g dan 4. Ketiga buah botol impinger tersebut didinginkan dalam chiller pada suhu -3 sampai dengan -4 O C. waktu yang dibutuhkan akan semakin lama. sebagai berikut: mt Kadar partikulat.3. kemudian kadar partikulat dan ter dapat ditentukan dengan membagi berat ter dengan volume contoh gas sebagai berikut: mc1 – mc2 Kadar partikulat. Sisa contoh gas dibakar dengan pembakar (burner). m3 3. Langkah selanjutnya adalah mengalirkan gas ke dalam 3 buah botol impinger yang masing-masing berisi 50 mL anisol dan satu buah botol impinger kosong sebagai drop separator. Apabila kadar ter dan partikulat dalam producer gas sudah memenuhi syarat. Kualitas dan kuantitas produk gas hasil gasifikasi tergantung kondisi operasi sebagai berikut (Elliot. 1981. 4. rasio udara/uap air). mg mc2 = berat penyaring sesudah percobaan. suhu rasio pereaksi/batubara. fragmentasi termal dan sifat caking). reaktivitas.

Hasil pengamatan terhadap ruang bakar mesin diesel setelah operasi kontinyu tidak menunjukkan perbedaan dengan menggunakan bahan bakar 100% solar dan tidak ditemukan adanya endapan kerak atau ter batubara dalam ruang bakar mesin diesel. updraft.1. yakni mengirimkan contoh-contoh gas yang sama ke beberapa laboratorium kemudian membandingkan hasilnya. Pengembangan Metode Analisis Ter dan Partikulat dalam Producer . down draft). 5.Tabel 1. oksigen/uap air). Hal ini juga dapat membuat penyebaran panas dalam unggun batubara tidak merata dan selanjutnya menyebabkan fragmentasi ukuran tidak sama sehingga kondisi proses berbeda. pereaksi (udara/uap air. mg/m3 Ter 38 7 62 Partikulat 50 31 43 A B 5. Hal ini menunjukkan bahwa kadar ter dan partikulat cukup rendah dan memenuhi syarat. tidak terdapat endapan ter dan partikulat dalan ruang bakar mesin. reaktivitas dan sifat caking batubara yang sama akan menghasilkan kondisi operasi yang sama. Dalam program standarisasi tersebut dilakukan uji Round Robin. tetapi yang masih menjadi masalah adalah belum dikembangkannya standar.. Disamping itu. tetapi kemungkinan distribusi ukurannya tidak merata sehingga menyebabkan kondisi percobaan ke 1 dan ke 2 tidak sama. suhu dan tekanan. Pengembangan standar analisis producer gas dari biomassa yang dilakukan oleh van de Kamp (2005) adalah dengan memvariasikan kondisi operasi gasifikasi yang terdiri atas. Ukuran batubara yang digunakan dalam percobaan gasifikasi adalah – 5 + 1 cm.. Walaupun metoda ini sudah bisa digunakan. jenis reaktor (fixed bed. Slamet Suprapto dan Nurhadi 21 . seperti yang dihasilkan oleh uji metoda analisis.500 Analisis proksimat. Metoda sampling dan analisis ter dan producer gas telah dikembangkan dan diujicobakan dengan baik terhadap producer gas hasil gasifikasi batubara dari Kalimantan Selatan yang menghasilkan kadar ter dan partikulat masing-masing antara 7 – 62 mg ter/Nm3 dan 31 – 50 mg partikulat/Nm 3 yang telah memenuhi persyaratan untuk pengoperasian mesin diesel. Contoh Batubara Nilai Kalorkal/g Kadar Ter dan Partikulat.500 4. Perbedaan kondisi proses tersebut menyebabkan terjadinya perbedaan kualitas produk berbeda. Hal ini mengingat belum adanya standard reference gas yang sudah mempunyai kandungan ter dan partikulat tertentu. fluidized bed. Saran Hasil ini agar dapat ditindaklanjuti dengan pengembangan metoda standar melalui kerjasama dengan laboratorium lain untuk melakukan uji pembanding (Round Robin test). 5. Hasil analisis ter dan partikulat No. KESIMPULAN DAN SARAN 5. belum ada laboraorium lain yang mengembangkan metoda analisis ter dan partikulat yang dapat bekerjasama dalam melakukan uji Round Robin guna membandingkan hasil analisis. Kesimpulan Peralatan sampling dan analisis ter dan partikulat dalam producer gas dari batubara telah dapat dirancang bangun dan dipasang pada pilot plant gasifikasi batubara untuk PLTD di Palimanan Cirebon. 1.2. Hasil pengujian penggunaan gas untuk mengoperasikan mesin diesel sistem dual fuel secara kontinyu dan beban maksimal menunjukkan kinerja yang cukup baik. Pengembangan metoda sampling dan analisis producer gas juga perlu dikembangkan agar komposisi gas dapat langsung diketahui sehingga pemanfaatan untuk mesin diesel dapat terjamin. 2. 3. Pengoperasian mesin diesel menggunakan producer gas dari batubara menunjukkan kinerja yang cukup baik.

1981. Neeft. 14th European Biomass Conference & Exhibition. Vol. Swiss Federal Institute of Zurich. Biomass downdraft gasifier engine system. Ward. Suomalainen... Turare. 1981. Anonymous. (ed. Nussbanmer. South Afrika. U. de Wild. van de Kamp.C.. W. 22 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . 2005. Sasolburg. Rome. C. Wood Gas as Engine Fuel. Zurich. M. van de Hoek... M. John Wiley & Sons. Knoef.UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terimakasih disampaikan kepada Puslitbang tekMIRA.J. 1986.). 17-21 October.A. Guide line for Sampling and analisis of Tars Condensates and Particulates From Biomass Gasifier. New York. Oxford. T. J. Tar measurement standard for sampling and analysis of tars and particles in biomass gasification product gas. Noyes Data Corporation Jersey. P. ARTES Institute Glucksburg. J. Sasol’s Unique Position in Production from South African Coal Source Using Sasol–Lurgi Fixed Bed Dry Bottom Gasifier.nrel. Liliedahl... Nowacki. Unger. Melbourne. 2006. Blackwell Scientific Publications. Good. Second Suppl. FAO. Keyser. & Coertzen. http:/devafdc. Paris. M. J. Biomass Gasification – Technology and Utilization. J.).. DAFTAR PUSTAKA Anonymous.R.. Fuels and Fuel Technology.. M. Zielke. Chemistry of coal utilization. & Kiel. Coal Gasification Process. Elliot. T. Coal Geology and Coal Technology. Francis. R&D Division. M. 1965. C. Van Dyk. C.. Whitehouse.. (Ed.gov/pdfs. P.. H. Vol II. H. W. PT PLN Jasa Produksi dan PT Coal Gas Indonesia (PT CGI) atas kerjasamanya dalam penyelenggaraan kegiatan ini. Sasol Technology.. Pergamon Press. Section C: Gaseous Fuels. 1998. Syngas and Coal Technologies.. Germany. 1984.

021 7226011 e-mail : djokosnj@lemigas.021 7222583 Fac.go. yakni jenis mineral. Kata kunci : lingkungan.id SARI Paradigma baru pengelolaan Sektor Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus bergulir.esdm. Cipulir-Kebayoran Lama. Dari implementasi UU Migas dan UU Minerba yang baru.IMPLEMENTASI PENGELOLAAN LINGKUNGAN SEKTOR ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL PADA ERA GLOBALISASI Djoko Sunarjanto dan Bambang Wicaksono Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi (LEMIGAS) Jl. Salah satunya adalah konsep Green Mining and Energy. Sektor ESDM.id. Adanya berbagai input dan proses kegiatan pertambangan. pengembangan teknologi termasuk impor peralatan masih dalam konteks sentralisasi. Demikian juga pengelolaan ekspor mineral. Djoko Sunarjo dan Bambang Wicaksono 23 . menjadi masukan informasi untuk kembali ke konsep pengelolaan lingkungan yang sudah ada. Ciledug Raya Kav 109.. tidak terkotak-kotak wewenang daerah/pusat. globalisasi Implementasi Pengelolaan Lingkungan Sektor Energi . terdapat persamaan antara lain tentang kepedulian lingkungan. Dampak lingkungan yang timbul dapat berkembang menjadi permasalahan global. Analisis pada studi kasus kegiatan pertambangan apabila berpatokan pada nuansa desentralisasi dan meninggalkan sentralisasi akan menimbulkan dampak baru. Jakarta Selatan 12230 Telp. setelah penyerahan UU Nomor 22 Tahun 2001 tentang Migas kemudian UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (Minerba). akan menghasilkan output yang bermanfaat secara berkelanjutan utamanya selalu mempertimbangkan faktor lingkungan dan masyarakat sekitar kegiatan pertambangan. luas wilayah dan perkembangan perekonomian. bambangwtm@lemigas. Diperlukan antisipasi pengelolaan sebaik-baiknya yang meliputi 3 faktor utama pengelolaan lingkungan Sektor ESDM di Indonesia.esdm.go. namun menjadi urusan internasional. Perlu upaya khusus untuk implementasi pengelolaan lingkungan dan penanganan dinamika kegiatan pertambangan mineral dan energi pada era globalisasi. Permasalahan bertambah kompleks dengan berfluktuasinya produksi dan harga komoditas mineral..

ABSTRACT New paradigm on management Energy and Mineral Resources Sector. produksi mineral.000 MW menggunakan bukan Bahan Bakar Minyak atau non-BBM. With the inputs from mining activities there be sufficient information to come back to available environment management since Green Mining and Energy concept will cause a sustainable benefit output. development of technologies and import of equipment which is still centralized and the complexity of the problems with fluctuations of product and mineral price need anticipation to manage it. POTENSI DAN PEMANFAATAN BATUBARA INDONESIA 2. Perlu kesadaran manfaat dan resiko bahaya yang dihadapi dan kemampuan masyarakat untuk melindungi diri dari dampak negatif yang timbul. 22 year 2001) and Mining and Coal Law (Law No. jumlah dan penyebaran penduduk yang timpang serta adanya perbedaan ekologi di berbagai kawasan Indonesia. Pendekatan kegiatan berbasis masyarakat (community based activities). Analysis from case study in mining activity if decentralism spirit is used and leaving from centralization spirit will create new impact. dan pemanfaatan batubara untuk Sejak tahun 2006 Pemerintah menggulirkan beberapa kebijakan untuk mendukung pembangunan pembangkit listrik 10. in primary environment factors and community of the surrounding mining activities. Environmental effect could generate the global problems. Special effort is needed for environment management to cope with the dynamics of mineral and energy activities in globalization era. Insentif yang diberikan berupa pemotongan dana pengembangan batubara yang merupakan bagian dari Dana Hasil Produsen Batubara (DHPB) yang disetor perusahaan tambang ke kas negara. 24 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Salah satunya adalah dengan memberikan insentif kepada perusahaan batubara pemasok pembangkit listrik PLTU. economics development. Insentif tersebut diberikan hanya untuk kebutuhan pembangunan pembangkit listrik dan tidak boleh digunakan untuk keperluan ekspor. energy and mineral resources sector. yaitu. Pemutakhiran dan upaya khusus implementasi pengelolaan lingkungan di tengah dinamika kegiatan pertambangan mineral dan energi sangat diperlukan guna menciptakan pertambangan berwawasan lingkungan. antara lain pasal 78) Kegiatan Reklamasi dan Pascatambang (pasal 39) Dengan terbitnya perundang-undangan yang mendasari pelaksanaan pengelolaan energi dan sumber daya mineral. these involve five factors: minerals item. Penanganan lingkungan hidup Rencana pengembangan dan pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah pertambangan (beberapa pasal. lebih mungkin menghasilkan tindakan yang merespon kebutuhan riil penduduk ataupun masyarakat lingkar pertambangan. Export activities of minerals. globalization 1. PENDEKATAN TEORI DAN ANALISIS Pendekatan kegiatan menggunakan teori kebijakan dan geologi lingkungan dikomparasi dengan data sekunder pengusahaan mineral dan batubara. after Oil and Gas Law (Law No. reklamasi sampai pascatambang. Sebagai negara kepulauan. terdapat persamaan dalam permasalahan lingkungan yang tertuang dalam UU Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi dan UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. Penyusunan makalah ini diharapkan dapat dijadikan sebagai masukan dalam rangka mempersiapkan peraturan dan keputusan sebagai turunan dan pendukung Undang Undang Minerba yang baru. 3. 4 year 2009) is going on. Keywords: environment. tidaklah mengherankan apabila pada masing-masing wilayah terdapat perbedaan dalam upaya penanganan lingkungan dan peningkatan perekonomian atau Pendapatan Asli Daerah dari kegiatan pertambangan. mining area. not only local but also international. LATAR BELAKANG kelistrikan serta beberapa studi kasus. Dalam UU Minerba yang baru telah dilengkapi tata cara pengembangan terkait masyarakat. Analisis komparatif dilakukan dengan subsektor lainnya dikompilasi dengan kekhususan pengembangan subsektor minyak dan gas bumi. The implementations of those laws pay the same attention on environment management.

Ibrahim (2008) dalam bukunya General Check-Up KELISTRIKAN NASIONAL. Sebaliknya beberapa tambang dalam memerlukan lahan yang relatif tidak luas. Contoh pertambangan mineral logam PT Newmont Nusa Tenggara memerlukan wilayah yang luas Gambar 1. Jenis Mineral 2. Peningkatan pertambangan batuan sesuai kegiatan pembangunan fisik sarana-prasarana. yaitu kategori A (Bahan Galian Strategis). Usaha Pertambangan dikelompokkan menjadi pertambangan mineral dan pertambangan batubara. sehingga menjamin pasokan. pertambangan mineral logam. meliputi 3 faktor utama yang berperan penting dalam pengelolaan lingkungan Sektor ESDM di Indonesia. ANALISIS KOMPARATIF Upaya mengatasi permasalahan yang timbul dapat diantisipasi dengan pengelolaan sebaik-baiknya. seperti dalam pengusahaan migas dibedakan institusi pemerintah sebagai regulator (Ditjen Migas) dan badan yang melakukan pengawasan kegiatan baik hulu dan hilir migas oleh BP Migas dan BPH Migas. Saat ini pertambangan mineral dan batubara di Indonesia cenderung menggunakan sistem tambang terbuka (open pit mining) yang menggunakan lahan luas. Namun dalam pengelolaan dan pekembangannya diperlukan inovasi dan keluwesan mengaplikasikan dalam peraturan perundangan baru. selaras hasil penelitian yang menyebutkan bahwa Indonesia memiliki potensi batubara kalori rendah cukup besar yang selama ini belum dieksplorasi. di samping berdampak timbul masalah gangguan kualitas lingkungan. pertambangan mineral radioaktif. dalam Program 10. Batubara sebagai bahan bakar PLTU pengganti BBM dilandasi alasan karena batubara lebih murah dan cadangannya cukup besar.000 MW sebagian besar menggunakan batubara. tetap memerlukan kewaspadaan dalam pengelo-laannya terkait lingkungan. Perkembangan Perekonomian 1. Produksi batubara dalam negeri sekitar 203 juta ton per tahun.28 juta ton per tahun. Jawa Tengah akan dibangun PLTU Rembang dan Tanjung Jati. 4. Djoko Sunarjo dan Bambang Wicaksono 25 . PLTU Labuhan dan Tangerang (Provinsi Banten).. Pertambangan mineral masih digolongkan lagi menjadi. Di Jawa Barat akan dibangun PLTU Indramayu dan Pelabuhan Ratu. Wilayah Pertambangan 3. yaitu . Akan dibangun PLTU Suralaya. kategori B (Bahan Galian Vital atau Logam) dan Golongan C (Industri atau bahan bangunan). Jayawijaya. Kebijakan Energi Nasional 2003-2009 menyebutkan bahwa penggunaan batubara dapat mendorong pengembangan batubara kalori rendah di dalam negeri. Terkait dengan jenis mineral dan pertambangan. Paiton dan Tuban. seperti tambang yang sudah lama dikembangkan tambang emas Pongkor. untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar sejumlah PLTU diperlukan sebanyak 21.Meningkatnya pemakaian BBM untuk pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) dan listrik tenaga uap (PLTU) memberatkan PLN dari segi biaya. 2006) Implementasi Pengelolaan Lingkungan Sektor Energi . Salah satu solusi jangka panjang untuk menekan beban PLN dengan menggunakan batubara untuk pembangkit listrik yang akan dibangun maupun yang telah beroperasi.. demikian juga nantinya untuk mineral strategis lainnya termasuk batubara. dekat kawasan budi daya atau pada kawasan hutan dan kawasan lainnya. sampai saat ini masih relevan. pertambangan mineral nonlogam dan pertambangan batuan (UndangUndang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara) Sesuai klasifikasi untuk pengelolaannya tergantung jenis dan kategori mineral. dalam UU Minerba yang baru diuraikan pada BAB VI pasal 34. Kegiatan operasi di tambang terbuka Batu Hijau (Foto : Newmont Nusa Tenggara. 1. batubara di Sawahlunto. Jenis Mineral Klasifikasi mineral ataupun pembagian bahan galian sesuai Undang-Undang atau PP No 27 Tahun 1980 dibedakan menjadi 3 jenis atau kategori. Sedangkan di Jawa Timur akan dibangun PLTU Pacitan. Gambar 1. misal penambangan di daerah resapan air tanah.

181 159. termasuk di dalamnya investasi dan nilai tukar mata uang.884 85.536. salah satu implementasinya BP MIGAS membuka kantor perwakilan dan penghubung di daerah. Tabel 1. Keberhasilan kegiatan community development atau social responsibility dan program kemasyarakatan yang sejenis menjadi indikator keberhasilan kegiatan pertambangan suatu wilayah (Sunarjanto dan Adji. masalah tumpang-tindih dengan sektor atau subsektor lain.483 7.927 91.267 272.376. penggabungan beberapa perusahaan bahkan pengalihan bidang usahapun perlu diperhitungkan untuk keamanan berusaha dan mempertahankan stabilitas investasi.309.923 32. efektivitas dan efisiensi terkait kewilayahan.862 25.144 12.105 56.309.442 - Tembaga (Ton) Emas (KG) Perak (KG) Timah (Ton) Bauksit (MT) Bijih Nikel (Ton) *) Termasuk Kuasa Pertambangan Status Data.222 5.809.783 797. sehingga diperlukan pendekatan sosio kemasyarakatan dan teknologi dalam pengelolaan mineral dan energi. Impor peralatan.49 6.832 4.048 747 1. mesin dan teknologi dari beberapa negara luar.470 97.249.46 25. Tercatat produksi nasional tembaga. Keterkaitan wilayah dan kepadatan penduduk terlihat perbedaan antara Wilayah Jawa dan luar Jawa. demikian juga antara Sumatera Jawa dengan pulau lain di Indonesia Timur. Dari berbagai pulau. Kalimantan dan Sulawesi merupakan tempat pemukiman yang utama. kebutuhan dalam negeri dan ekspor 2006 2007*) 2008*) Produksi Ekspor Domestik Produksi Ekspor Domestik Produksi Ekspor Domestik 817. Untuk itu pelaksanaan rangkaian kegiatan pertambangan di Indonesia masih dikontrol langsung pemerintah.61 1.134 6.726.48 287.398 244. mengakibatkan ketergantungan pada perekonomian global.67 36.665. perak dan timah lebih besar untuk kebutuhan luar negeri. Dari sisi mikro-ekonomi fluktuasi harga komoditas.515 65. sesuai UU Minerba baru daerah pertambangan berpotensi untuk dikembangkan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi (pasal 28).044.775 3.31 90. Hal ini karena kompleksnya permasalahan pengawasan kegiatan hulu migas dan lokasi wilayah yang tersebar dan sulit dijangkau.937 1.037. 3. Sebagai contoh. 2.308 102. akuisisi perusahaan.411 85. eksplorasi-eksploitasi sampai pengawasan dan audit pascakegiatan pertambangan. pajak.75 497.762. sejak perencanaan.967 269.501.183 3. Juli 2008 Sumber : Directorate General of Mineral Coal and Geothermal (2008) 26 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .024 5.48 188.704. Sisi lain pengelolaan pertambangan mineral dan energi tergantung pada modal besar dan beresiko tinggi. Sumatera.422 1.796 816.623. Wilayah Pertambangan Keberadaan wilayah pertambangan sangat mempengaruhi pelaksanaan dan permasalahan yang timbul di lapangan.248.284. Perkembangan Perekonomian Akhir-akhir ini permasalahan lingkungan menjadi bagian penting dalam perekonomian.353. Pengembangan pertambangan akan mempertimbangkan lebih banyak faktor pada daerah padat penduduk.127.Kasus terjadinya ledakan tambang batubara Sawahlunto yang menelan korban meninggal lebih dari 30 orang pada pertengahan Juni 2009.73 17. sebaliknya hasil kegiatan pertambangan diekspor ke luar negeri.326 4.604. 2005). Tingkat kepadatan penduduk tempat kegiatan pertambangan berada.882 117. khusus Pulau Jawa menampung hampir 60 % penduduk Indonesia.542 15.134 Ton) untuk memenuhi kebutuhan luar negeri (Tabel 1). salah satu penyebabnya diduga pengelolaan dan pengusahaannya mengabaikan prosedur dan pengawasan lingkungan dan keselamatan kerja seperti yang seharusnya berlaku pada kegiatan tambang bawah tanah/tambang batubara. dan temehadap pada satu sisi akan menjadi potensi sumber daya yang tidak boleh diabaikan.031.42 122.542 MT) dan bijih nikel (4.24 33.357 61. Wilayah Indonesia yang memiliki tidak kurang dari 13.619.671 97.702.176 1.667 pulau mempengaruhi implementasi organisasi. bahkan tahun 2007 produksi bauksit (1.64 83.07 80. Tantangan ke depan menjadi bertambah karena peningkatan jumlah penduduk dan pertambangan mengarah ke wilayah padat penduduk. ketenagakerjaan sampai ekspor-impor.186 42.407 22. Produksi hasil tambang terpilih. emas.318 261.706. Jawa. kasus penanganan pengawasan Usaha Hulu Migas yang selama ini dilakukan BP MIGAS sesuai UU No 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi. penyerobotan wilayah oleh pertambangan tanpa ijin termasuk permasalahan lingkungan yang tidak mudah diselesaikan.406.989.536.43 330.555.774.

ALTERNATIF SOLUSI Alternatif solusi merupakan bagian dari strategi yang diperlukan guna mempercepat dan akurasi suatu proses untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Dampak negatif yang tidak tampak secara langsung sebagai sumber utama emisi berbahaya seperti SO2. Penambangan timah dan pasir laut di daerah Riau Kepulauan dan sekitarnya menjadi contoh pertambangan mineral lepas pantai yang dapat dilakukan pada wilayah lain. sebagai ilustrasi digambarkan dalam Gambar 1. 2000). Menurut Soelistijo (2000) secara makronasional. Perubahan pada era globalisasi yang kadang berubah secara cepat dari segenap pihak pemangku kepentingan. sebagai suatu alternatif solusi terdapat input dan proses kegiatan pertambangan dapat diarahkan mencapai output yang bermanfaat banyak pihak. karena banyak di antara spesies yang punah tersebut merupakan spesies yang berguna bagi manusia (Christensen. Bambang dan Sunarjanto.5. Peningkatan emisi gas CO2 di atmosfer akan dapat mempengaruhi terjadinya perubahan curah hujan dan pemanasan global. banjir bandang dan sebagainya.. analisis dan alternatif yang sudah disusun ahli maupun institusi. Sebagai bahan pengambilan keputusan ataupun masukan dalam penyusunan peraturan. SO2 menyebabkan gangguan pernafasan. yang merupakan gas tidak berwarna. salah satunya adalah konsep Green Mining and Energy akan menghasilkan output yang bermanfaat secara berkelanjutan. Bila dibandingkan masih lebih banyak kegiatan migas yang mengeksplorasi dan mengeksploitasi cadangan migas lepas pantai. dengan disesuaikan terhadap terdapatnya sumber daya mineral dan energi. pemanasan global juga dapat menimbulkan terjadinya kerusakan ekosistem terumbu karang. PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP 7. Penggunaan energi batubara dalam penyediaan tenaga listrik ataupun industri mineral dan energi lainnya diupayakan agar lebih ramah lingkungan dan dilakukan dengan melengkapi peralatan yang dapat mengatasi polutan. di mana daratan hanya menempati sepertiga Wilayah Indonesia. Apabila dikaitkan dengan lingkungan dan pengembangan wilayah selalu mempertimbangkan faktor lingkungan dan masyarakat sekitar kegiatan pertambangan atau diistilahkan masyarakat lingkar luar. Dapat ditinjau kembali konsep pengelolaan lingkungan yang sudah ada. Diperlukan pemutakhiran dan diskusi yang berkelanjutan mengantisipasi perubahan yang dinamis.. Berdasarkan analisis komparatif. 1991). Regional Integratif: yang potensinya bersifat merangsang pengembangan wilayah sektor lain. Djoko Sunarjo dan Bambang Wicaksono 27 . Selain mendorong terjadinya kepunahan keanekaragaman hayati. Pusat pertumbuhan (growth center). Kegiatan ESDM khususnya pertambangan mineral masih terkonsentrasi di darat. terjadinya perubahan musim. meledaknya hama dan wabah penyakit. CO. dapat menyebabkan kebutaan dan kematian pada manusia. Sebagai contoh nyata adanya kegiatan pertambangan mineral logam di Maluk Sumbawa yang termasuk Wilayah PT. Implementasi Pengelolaan Lingkungan Sektor Energi . Newmont Nusa Tenggara dalam jangka waktu kurang dari 10 tahun mampu membangun Pusat Pertumbuhan Ekonomi baru di Wilayah Indonesia Timur Gambar 2. maka gas buang dari PLTU ataupun industri menjadi aman bagi lingkungan (Brodjonegoro. Salah satu emisi yang harus mendapatkan perhatian dari pembakaran batubara pada pembangkit listrik adalah SO2. baik lingkar 1. Secara fisik tampak mata adalah perubahan bentang alam. penurunan produktivitas perikanan laut. Agregatif: yang potensinya menunjang konsepsi pengembangan wilayah sektor lain. DISKUSI Sampai saat ini sumber energi fosil merupakan sumber utama dan penggunaan bahan bakar batubara pada PLTU dapat berdampak merugikan lingkungan. lingkar 2 dan seterusnya. dan abu. membentuk rantai semacam siklus. Dengan melengkapi peralatan sejenis penyaring. yaitu . CO2. Dalam perkembangannya selama ini banyak kajian ilmiah. shareholder sampai pihak luar/internasional. hujan badai. pengembangan wilayah Sektor ESDM terdiri dari 3 alternatif. 6. Menjadi peluang dan tantangan untuk lebih intensif mengembangkan pertambangan mineral di lepas pantai. Penanganan lingkungan hidup termasuk reklamasi dan pengelolaan pascatambang (BAB VII pasal 39 UU Minerba) menjadi upaya penting memperbesar dampak positif menciptakan pertambangan secara berkelanjutan sejak eksplorasi sampai dengan esok menjadi suatu kawasan pusat pertumbuhan ekonomi. berbau menyengat dan sangat berbahaya bagi tumbuhan dan hewan. Dampak lainnya mengakibatkan terjadinya hujan asam yang dapat merusak tanaman serta mempercepat kepunahan keanekaragaman hayati yang sangat merugikan kehidupan.

Kendall/Hunt Publishing Company.Sc DIC yang memberi kesempatan penulis menyampaikan makalah ini. DAFTAR PUSTAKA Brodjonegoro. Jakarta. H. Ministry of Energy and Mineral Resources The Republic of Indonesia. 2000. antara lain : Produksi dan harga komoditas mineral yang terus berfluktuasi. Proceedings of INSAHP. yang telah bersedia mengoreksi dan memberi masukan. Resources.W. Bencana lingkungan dan kebumian yang tidak terkait pertambangan ataupun ESDM. Terima kasih kepada Kepala PPPTMGB LEMIGAS. Ir. Pengelolaan lingkungan pertambangan lepas pantai yang baik sebagai upaya optimalisasi pemanfaatan wilayah dan ikut melindungi pelestarian alam. Dubuqe Iowa... A. 8. Ibrahim. Bambang and Sunarjanto. Environment. sebagai pusat pertumbuhan ekonomi (Sumber : PT Newmont Nusa Tenggara) diperlukan perhatian khusus pada permasalahan. Suatu kawasan pertambangan mengubah lokasi terpencil menjadi pusat pertumbuhan ekonomi sudah banyak terbukti berhasil pada beberapa wilayah. Indonesia’s Mineral and Coal Development.. Bali-Indonesia. Christensen. MediapIus Network. 2008. ISBN 0-8403-4657-3. Dr. Hadi Purnomo. Country Paper. namun masih diperlukan usaha lain agar tercipta pertambangan bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan sekitarnya secara berkelanjutan. third edition. 2008. General Check-Up Kelistrikan Nasional. 1991. Energy. Suprajitno Munadi. Perbandingan maluk. Sumbawa pada tahun 1995 dan 2005.MALUK 1995 MALUK 2005 Gambar 2. M. PENUTUP Penanganan lingkungan hidup sampai kegiatan pertambangan selesai/ pascatambang menjadi upaya penting memperbesar dampak positif dan memperkecil dampak negatif. UCAPAN TERIMA KASIH Tersusunnya makalah ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Prof. Pongkor Gold Mine-West Java Indonesia. Global Science. dijadikan alasan untuk menyalahkan dunia pertambangan dan pemangku kepentingan. Pengelolaan lingkungan Sektor ESDM menjadikan lingkungan bumi yang berkualitas sekaligus sebagai warisan generasi yang akan datang. 28 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . J. Bapak Dr. 699 p. Directorate General of Mineral Coal and Geothermal. The Sustainable Economic Growth Pole in The Mining Area Using AHP Method: Case Study of PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. Dampak lingkungan (dampak negatif) yang timbul dapat berkembang secara cepat menjadi permasalahan global.

.. 2006. Bandung. Djoko Sunarjo dan Bambang Wicaksono 29 .Cetakan Pertama November 2008. W..D. PPTP. Ditjend Pertambangan Umum. ISBN 978979-18898-0-3. Pengembangan Wilayah Sektor Pertambangan dan Energi. Jakarta. Batu Hijau. ISBN 979-98000-7-2. DPE. Cetakan Kedua.T. and Adji G. Kini dan Esok. 2000. Newmont Nusa Tenggara .. 2005. Dulu. U.PT. Soelistijo. Sunarjanto. Proceedings 30th Annual Meeting IPA. Corporate Social Responsibility One of Methods To Expand The Benefit for Oil and Gas Bearing Area. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara Implementasi Pengelolaan Lingkungan Sektor Energi .

go. 022. dengan kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus daerahnya secara luas. Hingga pertengahan bulan Juni tahun 2009. and this causes collection of taxes. otonomi daerah ABSTRACT The release of the regional autonomy policy in the early 2000 is a new era of the regional government. 30 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . pengembangan pertambangan. In a relatively short time. these regulations grow widely.894 perda dibatalkan dan 144 perda direvisi. Departemen Keuangan telah mengumpulkan 12.6030483 Fax. dengan adanya kebijakan otonomi memberi peluang pengembangan pertambangan di daerah.esdm. kesempatan kerja dan berusaha serta terciptanya pengembangan wilayah. sehingga akan menimbulkan kondisi yang tidak kondusif dan dapat menghambat pertumbuhan ekonomi maupun peluang investasi di daerah. in which the region has an authority to manage its region professionally. This is against the investment promotion in the country. the regional government is pushed to optimized potential of the resources and to create a policy of improving regional revenue by legitimating regional regulations. retribution and other taxes. Selain itu.6003373 e-mail : umard@tekmira. Hal ini menunjukkan bahwa produk Perda yang telah disusun cukup banyak yang bermasalah. perda-perda tumbuh bak jamur di musim hujan. Dalam waktu yang sangat singkat. Sudriman 623 Bandung 40211 Telp. antara lain : kewenangan pengelolaan dan pemanfaatan potensi bahan galian.PELUANG PENGEMBANGAN PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA PADA ERA OTONOMI DAERAH Umar Dhani Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. berupa timbulnya pungutan pajak dan retribusi atau pungutan lainnya yang bertentangan dengan kepentingan umum atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. 022 . merupakan babak baru dalam pemerintahan daerah. Consequently. Dengan adanya kebijakan tersebut.id SARI Digulirkannya kebijakan Otonomi Daerah pada awal tahun 2000. Kata kunci: peluang. which are no relation with the public interest and the higher regulations. nyata dan bertanggung jawab. Pemerintah Daerah berpacu mengoptimalkan potensi sumber daya yang ada dan menciptakan kebijakan untuk meningkatkan pendapatan daerah (PAD) dengan legitimasi berupa Perda. Maraknya daerah menyusun perda menimbulkan masalah baru.031 Perda dan berdasarkan hasil evaluasi telah merekomendasikan sebanyak 2. peningkatan penerimaan. Jend.

2. Hal ini akan menimbulkan iklim yang tidak kondusif karena ketidak-konsistenan kebijakan dan bahkan dapat menghambat pertumbuhan ekonomi maupun peluang investasi di daerah. dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundangundangan. Moreover. Kewenangan daerah mencakup kewenangan semua bidang pemerintahan. Permasalahan tersebut terjadi pada seluruh sektor usaha. peradilan. pemerataan dan keadilan. menghormati budaya budaya lokal. PENDAHULUAN Selama lebih dari dua dasawarsa. job creation and regional development. sehingga menimbulkan ketergantungan daerah terhadap pusat. Pada awal tahun 2000 diberlakukannya kebijakan otonomi. masih banyak yang tidak selaras dengan kebijakan yang lebih tinggi. dan bertanggung jawab. Pemerintah Daerah diberi kewenangan untuk mengelola sumber daya alam. serta memperhatikan potensi dan keanekaragaman daerah. Pada era ini peran Pemerintah Pusat sangat menonjol. Tujuan pemberian kewenangan dalam penyelenggaraan otonomi daerah adalah meningkatkan kesejahteraan rakyat. demokratisasi. mining development. the Ministry of Finance has collected 12. so they must be eliminated or revised. revenue increase. sehingga menimbulkan ketidakselarasan dengan kebijakan di atasnya atau kebijakan sektor lain. tetapi juga kebijakan pertambangan yang mengacu pada UU Nomor 11 Tahun 1967 sudah tidak selaras dengan semangat otonomi daerah yang sedang digiatkan. dan sumber daya Peluang Pengembangan Pertambangan Mineral dan Batubara pada Era . termasuk sektor pertambangan.031 regional regulations. Selain itu. khususnya pada sektor pertambangan. KEBIJAKAN OTONOMI DAERAH Pada hakekatnya otonomi daerah merupakan hak. bahkan cenderung tumpang tindih dan terkesan hanya berorientasi meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) semata. According to the evaluation results. 2. the autonomous policy has provided an opportunity to develop the mining sector in a region in terms of management authority of utilizing mineral potential. termasuk pada sektor pertambangan mineral dan batubara. Maraknya meenerbitkan Perda tersebut. kebijakan otonomi daerah di Indonesia mengacu kepada Undang-Undang (UU) Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah. Penurunan tersebut bukan hanya dipicu oleh diberlakukannya kebijakan otonomi daerah. pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota telah melakukan pembenahan dan penyesuaian administratif dan struktur organisasi. Otonomi daerah diartikan kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus daerahnya secara luas. kelembagaan. Selain itu masih terjadi perbedaan persepsi dalam menterjemahkan kebijakan otonomi daerah. Pemerintah daerah tidak mempunyai keleluasaan dalam menetapkan program-program pembangunan di daerahnya serta sumber keuangan penyelenggaraan pemerintahan diatur oleh pusat.. Keywords: opportunity. regional autonomy 1. sumber daya buatan. Umar Dhani 31 . kecuali kewenangan di bidang politik luar negeri. dan bidang lainnya yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Sejak diberlakukannya otonomi daerah tahun 2000. nyata..984 regulations are deleted and 114 are revised. moneter dan fiskal. Permasalahan-permasalahan tersebut pada akhirnya dapat berakibat terganggunya perekonomian daerah maupun nasional. agama. Salah satu upaya yang menonjol yang dilakukan oleh pemerintah daerah pada era ini adalah menerbitkan Peraturan Daerah (Perda).Until the mid of June 2009. masih banyak terjadi perbedaan penjabaran mengenai otonomi daerah yang dituangkan dalam perda pada masing-masing daerah. wewenang. This indicates that those regulations have problems. because they will create an unconducive condition and can hamper the economic growth and the opportunity of investing in the mining sector in the region. pertahanan keamanan. terjadi penurunan investasi pada seluruh sektor usaha. Sejak terjadi krisis ekonomi pada tahun 1997. yaitu desentralisasi pemerintahan dari pusat ke daerah yang diimplementasikan pada UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan disempurnakan menjadi UU Nomor 32 Tahun 2004.

pemerintahan daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan. moneter dan fiskal. pemerintah menyelenggarakan sendiri atau dapat melimpahkan sebagian urusan pemerintahan kepada perangkat pemerintah atau wakil pemerintah di daerah atau dapat menugaskan kepada pemerintahan daerah dan/atau pemerintahan desa. penyerahan semua kewenangan kecuali bidang politik luar negeri. Hubungan dalam bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antarpemerintah daerah sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (4) dan ayat (5) meliputi : pelaksanaan pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya yang menjadi kewenangan daerah. “kriteria efisiensi” adalah penyelenggara suatu urusan pemerintahan ditentukan berdasarkan perbandingan tingkat daya guna yang paling tinggi yang dapat diperoleh. dan 35 kota. Menteri/Kepala Lembaga Pemerintah Non Departemen menetapkan norma. kriteria akuntabilitas” adalah penanggung jawab penyelenggaraan suatu urusan pemerintahan ditentukan berdasarkan kedekatannya dengan luas. pemanfaatan. dan pengelolaan perizinan bersama dalam pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya 32 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . yang terdiri atas : 7 provinsi. standar. Urusan pemerintahan yang dibagi bersama antartingkatan dan/atau susunan pemerintahan adalah semua urusan pemerintahan di luar urusan yang menjadi kewenangan pemerintah. masih terdapat usulan baru yang siap dibahas maupun yang belum diproses tentang pembentukan daerah otonom baru. peradilan/yustisi. Di dalam menetapkan norma. Dalam penyerahan disertai pembiayaan. Hal ini dapat terlihat dengan meningkatnya jumlah daerah otonom baru sejak tahun 1999 hingga Desember 2008 sebanyak 215 daerah otonom baru. Pemerintahan daerah menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya. prosedur. sumber daya manusia. akuntabilitas. serta kepegawaian. dan kriteria. Dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan. prosedur. dan kriteria untuk pelaksanaan urusan wajib dan urusan pilihan.manusia yang ada di wilayahnya masing-masing (UU Nomor 32 Tahun 2004). Setelah diberlakukan kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah. tanggung jawab. keinginan pembentukan daerah otonom baru berkembang sangat pesat. dan prosedur. Selain itu. dan pilihan berpedoman kepada norma. besaran. serta agama. Hubungan dalam bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antarpemerintah dan pemerintah daerah sebagaimana dimaksud dalam UU Nomor 32 Tahun 2004 pasal 2 ayat (4) dan ayat (5) meliputi : kewenangan. Urusan pemerintahan yang diserahkan kepada daerah disertai dengan sumber pendanaan. bagi hasil atas pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. dan jangkauan dampak yang ditimbulkan oleh penyelenggaraan suatu urusan pemerintahan. kerja sama dan bagi hasil atas pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antarpemerintahan daerah. pertahanan keamanan. dan pelestarian. standar. Pelaksanaan kewenangan didasarkan pada norma. pengalihan sarana dan prasarana. standar. Pemerintah daerah provinsi dan pemerintah daerah kabupaten/kota dalam melaksanakan urusan pemerintahan wajib. Urusan pemerintahan wajib dan pilihan menjadi dasar penyusunan susunan organisasi dan tata kerja perangkat daerah. 173 kabupaten. dan jangkauan dampak yang timbul akibat penyelenggaraan suatu urusan pemerintahan. pemeliharaan pengendalian dampak lingkungan. dan efisiensi dengan memperhatikan keserasian hubungan antarsusunan pemerintahan. kecuali urusan pemerintahan yang oleh UU Nomor 32 Tahun 2004 ditentukan menjadi urusan pemerintah. Penyelenggaraan urusan pemerintah dibagi berdasarkan kriteria eksternalitas. yaitu terdiri atas 31 (tiga puluh satu) bidang urusan pemerintahan (PP Nomor 38 Tahun 2007). besaran. standar. sarana dan prasarana. Prinsip otonomi daerah adalah desentralisasi. Dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah. dan kriteria perlu diperhatikan keserasian hubungan pemerintah dengan pemerintah daerah dan antarpemerintah daerah sebagai satu kesatuan sistem dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Yang dimaksud dengan “kriteria eksternalitas” dalam ketentuan ini adalah penyelenggara suatu urusan pemerintahan ditentukan berdasarkan luas. dan penyerasian lingkungan dan tata ruang serta rehabilitasi lahan. prosedur.

maka perlu dilakukan evaluasi terhadap perda yang berkaitan dengan pajak dan retribusi daerah. Hal ini. Bermasalah secara prinsipil adalah perda yang memberikan hambatan dalam konteks ekonomi makro. Berpotensi menghalangi atau mengurangi akses masyarakat (bertentangan dengan prinsip keadilan). sedangkan setelahnya pembatalan melalui Peraturan Presiden. Umar Dhani 33 . Berdasarkan UU Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan pasal 7 Ayat (1) mengatur hirarki peraturan perundang-undangan yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia. maka diperlukan dasar hukum pelaksanaan. Perda yang disusun oleh pemerintah daerah tidak boleh bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi dan dapat dibatalkan sesuai ketentuan yang berlaku. Atau bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi. Perda yang terbit sebelum Oktober 2004. Berdasarkan hasil evaluasi Tim Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Departemen Keuangan hingga Juni tahun 2009 telah merekomendasikan untuk membatalkan 2. Kepala Daerah sebagai kepala eksekutif menetapkan Perda atas persetujuan bersama DPRD. substansi dan yuridis. dll). Perda merupakan penjabaran lebih lanjut dari peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dengan memperhatikan ciri khas masing-masing daerah. Dari jumlah tersebut sebagian besar telah dilakukan evaluasi. 2006). Hal ini bertolak belakang dengan gencarnya pemerintah menggalakkan investasi untuk pembangunan di Indonesia.. Pemerintah daerah menyusun perda dalam rangka merumuskan berbagai kebijakan pembangunan atau dalam rangka memacu pertumbuhan perekonomian di daerah. Dengan demikian.894 perda dan 144 perda direvisi. menyelaraskan dan menyesuaikan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dan/atau peraturan daerah lainnya. Hal ini dimaksudkan untuk melindungi kepentingan umum. Hal ini Peluang Pengembangan Pertambangan Mineral dan Batubara pada Era . Perda yang disusun tersebut merupakan penjabaran lebih lanjut dari peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dengan memperhatikan ciri khas masing-masing daerah. Implikasi dari kebijakan desentralisasi ini adalah banyaknya produk perda yang berkaitan dengan pajak dan retribusi daerah bertentangan dengan kebijakan yang lebih tinggi atau kepentingan umum. 2001).031 perda untuk dievaluasi. Perda yang dikategorikan bermasalah adalah berdasarkan prinsipil. perda merupakan salah satu produk hukum yang ada di Indonesia. perubahan APBD. yaitu : Berpotensi bertentangan dengan prinsip keutuhan wilayah ekonomi nasional. Satuan pemerintahan teritorial tersebut disebut daerah otonom. Pemerintah daerah dalam meningkatkan perekonomian dapat memberikan insentif dan/atau kemudahan kepada masyarakat dan/atau investor yang diatur dalam perda dengan berpedoman pada peraturan perundang-undangan yang berlaku. Anggaran Penerimaan dan Belanja Daerah (APBD). Perda dan ketentuan daerah lainnya bersifat mengatur dan diundangkan melalui Lembaran Daerah. kemitraan wajib. Departemen Keuangan telah mengumpulkan 12. Untuk perda yang mengatur mengenai pajak daerah. Berdampak negatif terhadap perekonomian (ekonomi biaya tinggi atau pajak ganda). Merupakan suatu bentuk pelanggaran kewenangan pemerintah. Perda bermasalah pada prinsipnya adalah perdaperda yang karena keberadaannya akan menyebabkan terhambatnya efektifitas perekonomian (P.. dan tata ruang sebelum ditetapkan dan diberlakukan terlebih dahulu dilakukan evaluasi oleh pemerintah. retribusi daerah. Hingga pertengahan tahun 2009. Maraknya daerah menyusun perda menimbulkan masalah baru. Dengan demikian. oligopoli.Pemerintahan daerah merupakan satuan pemerintahan teritorial tingkat lebih rendah dalam negara kesatuan RI. Agus Pambudhi. Berpotensi menyebabkan munculnya persaingan yang tidak sehat (monopoli. Berdasarkan permasalahan ini. pembatalannya melalui Keputusan Menteri Dalam Negeri. dapat berakibat terganggunya iklim investasi yang ada di daerah dan berdampak pada perekonomian daerah maupun nasional. berupa timbulnya pungutan pajak dan retribusi yang bertentangan dengan kepentingan umum atau peraturan perundangundangan yang lebih tinggi. yang berhak mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahannya (Bagir Manan. yaitu sesuai pasal 136 ayat 1 UU Nomor 32 Tahun 2004. sedangkan hak mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan di bidang administrasi negara yang merupakan urusan rumah tangga daerah disebut otonomi. agar wewenang pemerintah daerah dapat dijalankan.

3. Dengan demikian. pengelolaan lingkungan. kesehatan dan mendorong pertumbuhan ekonomi. 1453. Pemerintah daerah sesuai dengan lingkup usahanya menugaskan pemegang izin pertambangan sesuai dengan tahapan dan skala usahanya untuk membantu program pengembangan masyarakat dan pengembangan wilayah pada masyarakat setempat. baru dapat dilaksanakan. terutama pasal 7 dan pasal 10 UU Nomor 32 Tahun 2004. Sedangkan. Banyaknya perda yang bermasalah tersebut dapat berakibat terganggunya aktivitas pemerintahan maupun perekonomian wilayah. Pada sisi lain pasal 10 ayat 1 dinyatakan bahwa “daerah berwenang mengelola sumber daya nasional yang tersedia di wilayahnya dan bertanggung jawab memelihara lingkungan sesuai dengan peraturan perundang-undangan”. Pemberian izin usaha pertambangan untuk melaksanakan kegiatan penyelidikan umum. KK dan PKP2B) telah dikenakan iuran tetap (landrent) dan iuran eksplorasi dan eksploitasi (royalty). KEBIJAKAN PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA Setiap usaha pertambangan bahan galian yang termasuk dalam golongan bahan galian strategis dan golongan bahan galian vital. pengolahan dan pemurnian. retribusi dan sumbangan pihak ketiga). eksploitasi. APBD dan tata ruang setelah Oktober 2004 dilakukan evaluasi oleh pusat sebelum ditetapkan oleh daerah. Khusus perda yang berkaitan dengan pajak. eksplorasi. yaitu hanya terdapat 39 perda. Pelaksanaan otonomi daerah dimulai pada awal tahun 2000 telah menimbulkan interpretasi yang. pemerintah daerah lebih mendahulukan kebijakan yang berkaitan dengan pungutan dibandingkan kebijakan tentang pengelolaan kegiatan pertambangan. eksplorasi. Dalam kebijakan tersebut telah terjadi perubahan yang mendasar tentang pengawasan perda. Diharapkan dengan adanya kegiatan ini masyarakat sekitar merasakan dampak positif aktivitas pertambangan di daerahnya. Hal ini menunjukkan bahwa. Dari jumlah perda tersebut.menunjukkan bahwa produk Perda yang telah disusun cukup banyak yang bermasalah. yaitu berupa pengembangan sumber daya manusia. pendayagunaan sumber daya alam serta teknologi tinggi yang strategis merupakan kewenangan pusat. pengangkutan dan penjualan. dan kabupaten/kota. sehingga diinterpretasikan bahwa kegiatan sektor pertambangan umum merupakan kewenangan daerah. Dalam pedoman teknis tersebut telah diatur mengenai tata cara permohonan perizinan. Pada umumnya pembatalan perda tentang pajak dan retribusi pertambangan adalah bertentangan dengan UU Nomor 34 tahun 2000 dan PP 65 Nomor 2001. retribusi. Dalam pasal tersebut dinyatakan bahwa. terkumpul 242 perda pada 147 kabupaten. Departemen ESDM telah menerbitkan Keputusan Menteri mengenai pedoman teknis (Kepmen No. yaitu berupa Kuasa Pertambangan (Peraturan Pemerintah Nomor 75 Tahun 2001). 34 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Berdasarkan hasil kompilasi perda yang berkaitan dengan kegiatan pertambangan pada 8 provinsi. Dalam rangka mendukung dan memfasilitasi daerah dalam penyelenggaraan tugas pemerintahan di bidang pertambangan umum. apabila dikenakan pungutan lain akan menimbulkan pungutan ganda dan dapat memberatkan pelaku usaha di bidang pertambangan. provinsi. Hal ini sangat rentan terhadap aktivitas pertambangan maupun lingkungan. perda yang mengatur tentang pengelolaan pertambangan sebagian besar wilayah kabupaten belum menyusun. Dalam PP tersebut diuraikan secara jelas mengenai jenjang kewenangan antara pemerintah. sebagian besar (183 perda atau 75%) mengatur tentang pungutan (pajak. Sebagai pedoman teknis penyelenggaraan kewenangan tersebut Pemerintah telah mengeluarkan PP Nomor 38 Tahun 2007. Kegiatan usaha di sektor pertambangan umum (KP. Dasar pembatalan perda tentang pertambangan umum adalah berkaitan dengan pajak dan retribusi izin usaha pertambangan dan birokrasi proses perizinan. Sebenarnya dari kedua pasal.K/29/NEM/2000). pengawasan lingkungan. tersebut menimbulkan adanya ketidakjelasan kewenangan pengelolaan sumber daya alam (minerba) antara pusat dan daerah. apabila terlebih dahulu telah mendapatkan izin. Dengan diterbitkannya PP Nomor 38 Tahun 2007 yang merupakan turunan dari UU Nomor 32 Tahun 2004 telah secara jelas mengatur pembagian urusan antara pemerintah dan pemerintah daerah. sehingga harus dibatalkan atau direvisi. khususnya berkaitan dengan kewenangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

Namun demikian. Pada intinya UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara sebagai pengganti UU Nomor 11 Tahun 1967 disusun dengan mempertimbangkan seluruh aspek perubahan saat ini. Untuk melegalisasi meningkatkan pendapatan dan pembangunan daerah tersebut pemerintah daerah menyusun perda. Umar Dhani 35 .l. Dengan demikian. baik yang berkaitan dengan pengelolaan pertambangan umum maupun pungutan (pajak. Dalam pemanfaatan ruang untuk kegiatan usaha harus mengacu pada kebijakan tata ruang yang ada. pengembangan potensi bahan galian yang ada menjadi sulit dilakukan karena keberadaanya bukan merupakan fungsi kawasan pertambangan. Diharapkan. Peluang Pengembangan Pertambangan Mineral dan Batubara pada Era . seperti otonomi daerah. Semenjak digulirkanya kebijakan otonomi daerah. politik dan ekonomi. perda yang telah diterbitkan oleh pemerintah daerah tentang pengelolaan pertambangan umum masih banyak yang belum sesuai acuan di atas. Butir-butir penting dalam UU Nomor 4 Tahun 2009. antara lain : Sistem perizinan. untuk melaksanakan kewenangan tersebut. PELUANG PENGEMBANGAN PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA Perda a. lingkungan hidup. HAM. melainkan diberlakukannya sistem izin usaha pertambangan (IUP). kebutuhan sosial. Pemerintah Daerah (provinsi dan kabupaten/kota) menindaklanjuti dengan menerbitkan perda. dengan adanya tersedianya acuan pengelolaan pertambangan yang baik dapat merangsang investasi pengusahaan pertambangan di daerah. Hal ini dimaksudkan adanya kesesuaian fungsi kawasan maupun menghindari tumpang tindih pemanfaatan ruang atau benturan kepentingan antarsektor. Aspek nilai tambah.. Pedoman maupun acuan dalam menyusun Perda pengelolaan pertambangan telah diatur dan penerapan penyusunannya disesuaikan dengan karakteristik wilayah. Optimalisasi Pemanfaatan Potensi Bahan Galian Pada umumnya potensi bahan galian belum diusahakan secara maksimal dan belum memberikan dampak yang signifikan terhadap perekonomian daerah. demokratisasi. Pada umumnya sebagian besar daerah Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang telah disusun belum pengalokasikan kawasan untuk pengembangan kegiatan pertambangan. Pengembangan masyarakat difokuskan pada kesejahteraan rakyat. Dengan demikian.. retribusi dan sumbangan pihak ketiga). Propinsi dan Kabupaten/ Kota. pemerintah daerah berlomba-lomba menyusun kebijakan untuk mengelola dan memanfaatkan potensi wilayah dalam rangka pengelolaan pertambangan dan meningkatkan pendapatan asli daerah melalui pajak dan retribusi daerah maupun pungutan lainnya (sumbangan pihak ketiga). lingkungan hidup dan ekonomi telah mendorong atas kebutuhan mendasar ke arah perubahan sistem yang desentralistik . Kemampuan daerah dalam melaksanakan pembangunan sangat dipengaruhi oleh ketersediaan sumber daya maupun kemampuan dalam pengelolaannya. HAM. Klarifikasi wewenang dan ruang lingkup Pemerintah Pusat. bahkan masih ditemukan perda yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. b. Tidak ada lagi sistem kontrak langsung antara perusahaan dengan Pemerintah. telah memberikan kontribusi yang cukup berarti bagi perekonomian dan penerimaan daerah serta menyumbangkan terhadap penerimaan negara. Pemanfaatan ruang untuk kegiatan pertambangan harus berada pada kawasan yang ditetapkan sebagai kawasan pertambangan pada RTRW. Hal ini karena potensi bahan galian yang dikembangkan adalah bahan galian golongan C dan dilakukan secara tadisional atau tambang rakyat. yaitu pemrosesan dan pemurnian logam harus dilakukan di dalam negeri. a. eksplorasi dan eksploitasi lebih sederhana. Pemerintah Daerah segera menyiapkan kawasan untuk kegiatan pertambangan yang ditetapkan dalam kebijakan RTRW. 4. Maka peraturan yang berkaitan dengan pertambangan harus menyesuaikan dengan perubahan tersebut.konservasi. dan produksi. Krisis ekonomi pada tahun 1997 yang diikuti oleh tuntutan reformasi. Selanjutnya. Untuk wilayah yang memanfaatkan bahan galian golongan A dan B yang mempunyai nilai ekonomi lebih tinggi. Optimalisasi pemanfaatan potensi ini bertujuan untuk meningkatkan pendapatan daerah dan pembiayaan pembangunan.

Saat ini sebagian besar Pemerintah Daerah gencar melakukan identifikasi dan inventarisasi potensi bahan galian yang ada dalam rangka menarik investor menanamkan modalnya di bidang pertambangan. Rekapitulasi Izin Pertambangan Jenis kontrak KP KK PKP2B 2001 600 55 119 2002 597 62 101 2003 597 61 101 2004 825 54 87 2005 848 46 82 2006 965 41 81 Sumber : Dirjen Minerbapabum. Dengan adanya kebijakan ini memberikan peluang termanfaatkannya potensi yang ada. Perizinan Pertambangan pemerintah daerah terjadi peningkatan yang cukup signifikan (Tabel 1). izin usaha pertambangan dalam bentuk KK dan PKP2B jumlahnya cenderung menurun. yaitu yang ditunjukkan dengan meningkatnya jumlah izin usaha pertambangan yang diterbitkan pemerintah daerah. Dalam ketidakberdayaan ini ada sebagian daerah yang mengusulkan agar dana dari perusahaan pertambangan langsung ditransfer ke rekening pemerintah daerah tanpa melalui rekning pemerintah pusat. Sementara pusat berpegang pada kebijakan yang berlaku. PKP2B dan KP. jika dibandingkan dengan sistem pemerintahan sebelumnya. sedangkan perizinan pengusahaan bahan galian golongan C diterbitkan oleh pemerintah daerah dalam bentuk SIPD. c. Dalam rangka desentralisasi ada sebagian dari penerimaan ini yang dibagihasilkan. Meningkatnya jumlah izin usaha bidang pertambangan (KP) tersebut menunjukkan adanya peningkatkan investasi bidang pertambangan dan meningkatnya PAD melalui sektor pertambangan. karena penerimaan yang diperoleh tidak tepat waktu. 2008 36 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Hal ini sangat mempengaruhi dalam pelaksanan rencana pembangunan yang telah ditetapkan oleh daerah. sedangkan Tabel 1. d. Dari sisi perundang-undangan tersebut di atas pajak dan royalti dari perusahaan pertambangan merupakan penerimaan pusat. Melalui UU tersebut membuka peluang bagi pemerintah daerah untuk mengelola dan memanfaatkan sumber kekayaan alam yang ada di wilayahnya. Pada saat ini perizinan usaha pertambangan umum diterbitkan oleh pemerintah dan pemerintah daerah sesuai kewenangannya. Salah satunya faktor maraknya izin pertambangan yang dikeluarkan daerah adalah adanya kebijakan otonomi daerah. Untuk melakukan perpanjangan izin yang dikeluarkan dari pusat (KK dan PKP2B) selebihnya menjadi kewenangan daerah sesuai kewenangannya. namun untuk izin yang berupa KP yang dikeluarkan oleh Distribusi pajak-pajak pertambangan yang menjadi hak daerah belum dilakukan secara lebih adil dan tepat waktu ke daerah penghasil yang berhak. Masalah utama dari bagi hasil ini dipandang dari sisi daerah adalah tidak pastinya waktu pencairan dari pusat. yaitu semakin bertambahnya investasi di bidang pertambangan di daerah. Secara umum upaya yang dilakukan ini telah menunjukkan tingkat keberhasilan yang cukup baik. yaitu terdapat 354 izin yang telah dikeluarkan. telah terbit ratusan KP batubara yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kabupaten (Bupati) salah satu provinsi di Kalimantan. sehingga mengganggu penganggaran di daerah. Penerimaan Daerah Sebelum adanya otonomi daerah perizinan di bidang pertambangan umum dikeluarkan oleh pemerintah pusat dalam bentuk KK.Kebijakan otonomi daerah telah memberikan kewenangan untuk mengelola dan memanfaatkan potensi sumber daya yang ada di wilayahnya. Salah satu pengaruh adanya kegiatan pertambangan adalah peningkatan penerimaan daerah baik secara langsung maupun tidak langsung. 260 buah diantaranya berupa KP yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah. bahwa royalty merupakan penerimaan pusat yang dibagihasilkan dan bukan merupakan pajak daerah. Penerimaan daerah secara langsung berupa pajak dan retribusi daerah. Sebagai contoh. Berdasarkan rekapitulasi dari Departemen ESDM.

827.31 6. KESIMPULAN Maraknya kegiatan pertambangan di daerah akan semakin membuka peluang kerja berusaha bagi masyarakat sekitar. Hasil pertambangan mineral dan batubara telah memberikan kontribusi bagi penerimaan Negara yang cukup besar. e.01 25. Dengan terbitnya UU Tabel 2.17 881.642.69 trilyun. Penerimaan pajak dan PNBP pertambangan merupakan penerimaan Negara dan dibagi-hasilkan ke daerah.07 Penerimaan pajak ini menyumbang sekitar 67% dari total penerimaan negara yang berasal dari sektor mineral. banyak perda-perda yang harus dibatalkan atau direvisi.026.163.81 58. Umar Dhani 37 . Meskipun banyak kalangan yang menolak PP tersebut karena dinilai melegitimasi perusakan hutan lindung selama ada bayarannya dan murahnya tarif yang dikenakan .72 57..62 2.94 1. Dengan demikian. Komponen terbesar penerimaan justru berasal dari penerimaan pajak dibandingkan PNBP (Tabel 2).788.849. Penerimaan Pajak dan PNBP dari Pertambangan Mineral dan Batubara Tahun 2004-2006 (Milyar Rupiah) No. 5.897.419.82 2.138. masih banyak yang tidak selaras dengan peraturan yang lebih tinggi atau mengakibatkan biaya tinggi. meski penerimaan negara pada tahun 2007 mengalami penurunan sebesar 17% dibandingkan dengan periode sebelumnya. Secara umum.penerimaan tidak langsung adalah penerimaan dari pajak dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). royalti dan penjualan hasil tambang.592. Kebijakan tata ruang ini menghindari tumpang tindih pemanfaatan ruang atau benturan kepentingan antarsektor. Perda-perda yang telah terbit tersebut. Masyarakat tidak hanya menjadi penontan seperti yang terjadi selama ini.07 76.519. Kesempatan Kerja dan Berusaha Nomor 41 Tahun 1999 jo PP Nomor 2 Tahun 2008 telah memberikan peluang pengusahaan pertambangan di kawasan hutan produksi dan hutan lindung. sehingga menghambat investasi di daerah.24 5.68 17.993. tapi dapat lebih memberikan kontribusi terlibat langsung pada aktivitas pertambangan sebagai pekerja. batubara dan panas bumi dalam empat tahun terakhir menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan.10 3.573.664.28 2005 12. realisasi penerimaan negara yang berasal dari mineral. yaitu pada tahun 2006 sebesar 29.66 2006 23..25 4. Komponen PNBP terdiri atas iuran tetap.99 2.41 4. sehingga potensinya tidak memberikan nilai ekonomi. 1 2 Sumber Penerimaan Pajak PNBP Iuran Tetap Royalti Penjualan Hasil Tambang Total Sumber : Dirjen Minerbapabum.36 8.13 1. yaitu yang dikelompokkan menjadi kawasan lindung dan budidaya.57 29. Selain itu.00 8. Semenjak digulirkan otonomi daerah pada tahun awal tahun 2000. dengan berkembangnya kegiatan di suatu wilayah secara tidak langsung akan memberi peluang berusaha dan menciptakan pengembangan wilayah. f.697.66 50. Pengembangan dan pemanfaatan potensi bahan galian yang berada di kawasan lindung tidak dapat dimanfaatkan. batubara dan panas bumi atau setara dengan Rp 17.200.771.12 2007 17. 2008 2004 6. Berdasarkan dari hasil identifikasi terdapat beberapa izin pertambangan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah daerah tidak selaras Peluang Pengembangan Pertambangan Mineral dan Batubara pada Era .442.691. telah terbit ribuan perda sebagai acuan dalam pelaksanaan pembangunan di daerah. Kewilayahan Pemanfaatan ruang untuk kegiatan usaha harus mengacu pada kebijakan tata ruang yang ada.20 trlyun pada tahun 2007.

maka pembahasan pelaksanaan pertambangan di daerah perlu dilakukan evaluasi yang bertujuan untuk pengembangan pertambangan di daerah. antara lain : kewenangan dalam pengelolaan pertambangan. sebagai media promosi investasi pengusahaan pertambangan DAFTAR PUSTAKA Dedi Supriady Bratakusumah. menjadi terkalahkan oleh pengembangan ruang sektor lain. Diperlukan kebijakan/ peraturan daerah yang mengatur tentang pengelolaan pertambangan mulai dari segi perizinan pengusahaan. 3. keberadaan sumber daya mineral yang pada umumnya tersebar di bawah permukaan. Hal ini menunjukkan bahwa izin pertambangan yang telah diterbitkan tidak melalui koordinasi dengan dinas/instansi terkait. Pada saat ini dalam kebijakan tata ruang. Pemerintahan Daerah di Indonesia. Tersedianya data informasi potensi sumber daya mineral dan batubara. Diperlukan peningkatan jumlah dan kemampuan apatur dinas seiring dengan maraknya pengusahaan pertambangan. meningkatnya pemanfaatan sumber daya mineral dan batubara. Mineral. Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara 38 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Direktorat Mineral. Provinsi dan Kabupaten yang saling sinergis. Untuk mengantisipasi tumpang izin usaha pertambangan yaitu dengan penyusunan basis data pertambangan dengan format yang sama dan menyusun ulang izin-izin yang bermasalah. kawasan untuk kegiatan pertambangan. Berdasarkan peluang-peluang tersebut. meningkatnya penerimaan daerah. dan minimnya data/informasi potensi wilayah. Bandung. 2005 Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 1967 tentang Pokok-Pokok Pertambangan Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. tidak atau belum dialokasikan secara tegas. Pelaksanaan otonomi daerah yang berjalan hampir 9 tahun telah menimbulkan pengaruh yang cukup besar terhadap kegiatan pertambangan di daerah. Penyusunan RTRW Nasional. Tahun 2007 Makro Ekonomi. Gramedia 2005 Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan Departemen Keuangan Republik Indonesia. membuka kesempatan bekerja dan berusaha. Batubara dan Pas Bumi. Kamis 25 Januari 2006. Penyiapkan zonasi kawasan untuk pengembangan pertambangan yang ditetapkan dalam kebijakan RTRW. Perencanaan Pembangunan Daerah. Tuntutan pemenuhan standar lingkungan hidup yang makin ketat. 4. Coal and Geothermal. Jika dilihat dari permasalahan yang timbul dengan adanya kegiatan pertambangan serta faktor penyebab permasalahan tersebut. Berdasarkan dari peluang dan tantangan tersebut. Laporan Tim Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Periode Januari – Desember 2008. sehingga tercipta pertambangan yang berkelanjutan (good mining practice). upaya yang dilakukan adalah menerapkan metode penambangan secara tepat dan berawasan lingkungan. Adanya kepastian hokum dan kepastian berusaha. perlu diperhatikan tantangan dalam pengembangannya. Otonomi Daerah Turunkan Investasi Pertambangan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah. Pengaruh tersebut. hingga pemantauan lingkungan pasca tambang. 5.dengan peraturan yang lebih tinggi atau tumpang tindih dengan sektor lain. Departemen Energi Sumber Daya Mineral. antara tersebut antara lain : ketidaksonsistenan peraturan yang ada. terbatasnya jumlah maupun kemampuan aparat. terciptanya pengembangan wilayah. Pustaka Setia. tingkat kerusakan lingkungan yang cenderung meningkat. 2. Dengan demikian. antara lain : 1. masih banyak wilayah belum ada alokasi kawasan pertambangan. Pipin Syarifin. arahan pengembangan pertambangan dikemudian hari. Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah kabupaten/Kota. sehingga pada saat ruang tersebut akan dikembangkan untuk kegiatan pertambangan menjadi tumpang tindih dengan kegiatan sektor lain.

PENINGKATAN KADAR BIJIH BESI DARI DAERAH PELAIHARI, PROPINSI KALIMANTAN SELATAN MENGGUNAKAN KLASIFAYER DAN PEMISAH MAGNETIK

Pramusanto, Nuryadi Saleh dan Apriandi Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl Jenderal Sudirman No. 623 Bandung, 40211 Telp (022) 6030843, Fax. (022) 6003373

SARI Karakteristik bahan baku bijih besi Pelaihari dicirikan oleh kadar besinya rendah (sekitar 30% Fetotal). Mineralnya terdiri dari hematit dan magnetit. Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kadar besinya adalah dengan melakukan percobaan klasifayer dan pemisah magnetik. Penelitian ini membahas tentang percobaan klasifayer yang dilanjutkan dengan percobaan pemisah magnetik. Percobaan pemisah magnetik dilakukan dengan memvariasikan intensitas magnet, ukuran butir dan waktu pengadukan umpan. Percobaan klasifayer dilakukan untuk mengurangi mineral pengotor dengan memanfaatkan perbedaan ukuran butir dan berat jenis, sedangkan pemisah magnetik dilakukan untuk meningkatkan mineral berharga berupa hematit dan magnetit melalui pemanfaatan perbedaan kerentanan terhadap magnet antara mineral pengotor dengan mineral berharga. Hasil percobaan klasifayer dapat meningkatkan kadar Fetotal menjadi 34,6%, sedangkan pada pemisah magnetik, variabel yang dapat meningkatkan kadar tertinggi adalah waktu pengadukan umpan dengan kadar Fetotal tertinggi yang diperoleh 55,9%. Waktu pengadukan umpan 10 dan 20 menit. Perolehan tertinggi besi sebesar 33,26% terjadi pada waktu pengadukan umpan selama 20 menit. Kata kunci : bijih besi, Pelaihari, klasifayer, pemisah magnetik

ABSTRACT Raw iron ore of Pelaihari is known by its low iron content. The ore consists of hematite and magnetite as the main iron minerals. In order to increase the iron content, some efforts can be conducted by sequence of laboratory tests, namely classifier and magnetic separator. The experiment using magnetic separator is conducted at various magnetic intensity, grain size and agitation time. The purpose of classifying tests is lessening the impurity mineral by exploiting difference of grain size and specific gravity, while magnetic separator will increase the valuable mineral in the form of hematite and magnetite by exploiting difference of magnetic susceptibility between the impurities and valuable minerals. The experiment results of classifying increase the total iron grade up to 34.6%, followed by magnetic separator. The later increases the highest grade of total iron up to 55.9% at agitation time of 10 and 20 minutes. The highest iron recovery of 33.26% was conducted at 20 minutes of feed agitation time. Keywords : iron ore, Pelaihari, classifier, magnetic separator

Peningkatan Kadar Bijih Besi dari Daerah Pelaihari ... Pramusanto, dkk.

39

1.

PENDAHULUAN

Kebutuhan baja nasional terus mengalami peningkatan seiring dengan perkembangan sektor industri dan semakin maraknya pembangunan infrastruktur di Indonesia. Pada saat ini konsumsi baja diperkirakan telah mencapai 6,3 juta ton, sedangkan produksinya hanya 3,8 juta ton. Kekurangan penyediaan baja sebesar 2,5 juta ton masih dipasok dari impor, sehingga PT Krakatau Steel untuk memproduksi baja di Indonesia memerlukan bahan baku dan penunjang yang sebagian besar masih diimpor. Bahan-bahan yang pengadaannya masih bergantung pada impor adalah pelet bijih besi, sedangkan skrep, bijih besi bongkah (lump ore) dan bijih besi halus kasar (coarse fine) sebagian masih dapat dipasok dari dalam negeri, misalnya untuk bijih besi bongkah berkadar Fe 57% dan bijih besi halus kasar berkadar Fe 56% telah dapat dipasok dari endapan besi laterit oleh PT Sebuku Iron Lateritic Ore, Kalimantan Selatan [sebukuiron.co.id]. Untuk menunjang keperluan industri besi baja yang terus meningkat di masa mendatang, Indonesia memiliki potensi sumber daya bijih besi yang cukup besar, berupa bijih besi primer dengan estimasi cadangan 320 juta MT dan kadar 25 – 62% Fe, bijih besi laterit dengan estimasi cadangan 1.391 juta MT dan kadar 40 – 56% Fe serta pasir besi dengan estimasi cadangan 600 juta MT dan kadar 25 – 40% Fe [Koesnohadi dan Sobandi, 2008]. Namun sumber daya tersebut belum dapat dimanfaatkan secara optimal karena kadar Fe yang terkandung relatif rendah. Pada umumnya industri baja membutuhkan besi dengan kadar Fe 60-69%, sedangkan P.T. Krakatau Steel membutuhkan pelet bijih besi dengan kandungan Fe minimum 65%. Untuk menjawab tantangan tersebut, perlu adanya kajian intensif agar kadar Fe yang dikandung besi dapat ditingkatkan, sehingga dapat dimanfaatkan oleh industri dalam negeri seperti oleh PT Krakatau Steel. Proses peningkatan kadar Fe pada bijih besi biasa dilakukan dengan cara kominusi (crushing dan grinding), konsentrasi secara gravitasi, pemisahan magnetik, pemisahan elektrostatik maupun flotasi. Flotasi biasanya dilakukan sebagai lanjutan dari proses pemisahan magnetik, pemisahan elektrostatik, konsentrasi secara gravitasi maupun kominusi [Habashi, 1997]. Pemisahan secara magnetik terhadap bijih besi sudah lazim dikerjakan [Pramusanto, dkk, 1999].

Pemisah magnetik merupakan alat yang digunakan dalam proses pemisahan secara magnetik. Prinsip kerja alat ini adalah memisahkan mineral berharga dari pengotornya berdasarkan derajat kemagnetan atau mudah tidaknya mineral mengalami pengaruh dalam medan magnet (magnetic sussceptibility) [Kelly, and Spottiswood, 1982]. Bijih besi merupakan mineral-mineral yang mengandung besi seperti magnetit, hematit, goethit, limonit atau campuran dari mineral-mineral tersebut dengan mineral pengotornya, seperti silika, alumina, dan krom [Perkins, 2002]. Berdasarkan pada magnetic susceptibility mineral tersebut dapat diklasifikasikan dalam dua grup, yaitu paramagnetik dan diamagnetik. Mineral diamagnetik merupakan mineral yang tidak mengalami ketertarikan dalam medan magnet, seperti silika, dan alumina. Sedangkan mineral paramagnetik yang dapat ditarik oleh magnet, seperti hematit dan limonit. Dari mineral paramagnetik ini terdapat mineral-mineral yang memiliki sifat magnet yang sangat kuat disebut ferromagnetik, seperti magnetit [Wills, 1988]. Berdasarkan hasil pengujian mineragrafi, bijih yang digunakan untuk percobaan ini mengandung magnetit-hematit. Magnetit dan hematit memiliki derajat kemagnitan signifikan, yang berbeda dengan mineral pengotor berupa silika, alumina dan lain-lain; sehingga sebagai studi awal, proses pemisahan berdasarkan sifat kemagnetan mineral menggunakan pemisah magnet dapat dimanfaatkan.

2.

METODOLOGI

Metodologi peningkatan kadar bijih besi ini dilakukan dalam beberapa tahapan, yaitu; preparasi percontoh (pengeringan, pengayakan dan pemercontoh), studi bahan baku (analisa kimia, ayak dan mineralogi), pencucian dengan spiral classifier untuk menghilangkan pengotor, dan percobaan menggunakan pemisah magnet untuk meningkatkan hematit dan magnetit. *****

3.

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Studi Bahan Baku Studi bahan baku ini bertujuan untuk mengetahui dan menentukan komposisi dan kadar dari mineral-mineral yang terdapat di dalam percontoh bijih besi tersebut.

40

PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009

3.1.1 Analisis Komposisi Kimia Berdasarkan hasil analisis komposisi kimia, maka diperoleh komposisi kimia bijih besi sebagai berikut; Fetotal 31,3%, Fe2O3 37,94%, Fe3O4 6,55%, SiO2 28%, CaO 15,67%, Al2O3 5,61%, MgO 1,01 %, TiO2 1,63%, Cr2O3 0,111% dan LOI 1,93%. 3.1.2 Analisis Ayak Berdasarkan Gambar 1 dapat dilihat terjadi perubahan distribusi ukuran butir akibat pencucian dengan spiral classifier, sehingga underflow spiral classifier menyebabkan kenaikan nilai persen berat tertahan fraksi ukuran -250+150 µm (-60+100 mesh) sampai fraksi +1,7 mm (+10 mesh) dan menyebabkan penurunan nilai persen berat tertahan dari fraksi ukuran -150+106 µm (-100+140 mesh) sampai fraksi -75 µm (-200 mesh) terhadap percontoh asal bijih besi. Hal ini menjelaskan bahwa proses spiral classifier menyebabkan terjadinya pemisahan antara partikel halus dengan kasar, sehingga dapat dilihat adanya perbedaan persentase berat tertahan antara percontoh asal dengan underflow spiral classifier.

70,00%, hematit derajat sebesar 94,55%, dan gangue sebesar 98,41%.

 
Derajat Liberasi [DL] (%)

100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0
-75 (-200) -106+75 -150+106 -250+150 -425+250 -850+425 -1700+850 (-140+200) (-100+140) (-60+100) (-40+60) (-20+40) (-10+20) +1700 (+10)

35 30 25 20 15 10 5 0 Distribusi DL [DDL] (%)
Distribusi DL [DDL] (%)

Fraksi Ukuran µm (m esh)
DL Magnetit DDL Magnetit DL Hematit DDL Hematit DL Gangue DDL Gangue

Gambar 2. Hubungan fraksi ukuran terhadap derajat liberasi dan distribusi derajat liberasi percontoh asal

 
Persen Berat Tertahan (%)

45 40 35 30 25 20 15 10 5 0
-75 (-200) -106+75 (-140+200) -150+106 (-100+140) -250+150 (-60+100) -425+250 40+60) (-850+425 20+40) (-1700+850 (- +1700 10+20) (+10)

Percontoh Asal Percontoh Spiral Classifier

Menurut perhitungan derajat liberasi total fraksi kasar dan halus untuk percontoh asal, dapat dijelaskan bahwa persentase derajat liberasi total pada fraksi kasar (+1700 µm) atau +10 mesh sampai -425+250 µm (-40+60 mesh) masih sangat rendah; magnetit sebesar 0,45%, hematit sebesar 1,08% dan gangue sebesar 13,70%. Persentase derajat liberasi total pada fraksi halus (-250+150 µm) atau (-60+100 mesh) sampai -75 µm (-200 mesh) sudah cukup tinggi; magnetit sebesar 37,62%, hematit sebesar 58,95% dan gangue sebesar 77,56%.

Fraksi Ukuran µm (m esh)

 
Derajat Liberasi [DL] (%)

100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0
-75 (-200) -106+75 -150+106 -250+150 -425+250 -850+425 (-140+200) (-100+140) (-60+100) (-40+60) (-20+40) -1700+850 (-10+20) +1700 (+10)

40 35 30 25 20 15 10 5 0

Gambar 1. Hubungan fraksi ukuran dengan komposisi mineral percontoh asal dan underflow spiral classifier

3.1.2.1 Derajat Liberasi Berdasarkan Gambar 2, untuk derajat liberasi percontoh asal terlihat bahwa semakin kecil ukuran ayak, maka tingkat kebebasan suatu butiran mineral dalam suatu fraksi ukuran semakin tinggi. Derajat liberasi tertinggi pada percontoh asal terdapat pada fraksi -75 µm (-200 mesh) dengan derajat liberasi untuk mineral magnetit sebesar

Fraksi Ukuan µm (m esh)
DL Magnetit DDL Magnetit DL Hematit DDL Hematit DL Gangue DDL Gangue

Gambar 3. Hubungan fraksi ukuran terhadap derajat liberasi dan distribusi derajat liberasi percontoh underflow spiral classifier

Peningkatan Kadar Bijih Besi dari Daerah Pelaihari ... Pramusanto, dkk.

41

Berdasarkan Gambar 3, derajat liberasi tertinggi untuk percontoh underflow spiral classifier terdapat pada fraksi -75 µm (-200 mesh) dengan derajat liberasi mineral magnetit sebesar 69,61%, hematit sebesar 93,42%, dan gangue sebesar 97,96%. Menurut perhitungan distribusi derajat liberasi untuk fraksi kasar dan halus untuk percontoh bijih besi underflow spiral classifier, terlihat bahwa persentase distribusi derajat liberasi total pada fraksi kasar (+1700 µm) atau +10 mesh sampai 425+250 µm (-40+60 mesh) masih sangat rendah; magnetit sebesar 0,60%, hematit sebesar 1,50% dan gangue sebesar 23,54%. Persentase distribusi derajat liberasi total pada fraksi halus (-250+150 µm) atau -60+100 mesh sampai -75 µm (-200 mesh) masih cukup tinggi; magnetit sebesar 28,21%, hematit sebesar 46,41% dan gangue sebesar 64,11%.

dan hematit dengan komposisi hampir homogen pada setiap fraksi ukuran yang terdapat pada kedua percontoh analisis ayak. Komposisi mineral rata-rata seluruh fraksi ukuran untuk percontoh asal adalah 6,22% magnetit, 37,53% hematit dan 56,25% gangue, sedangkan untuk percontoh hasil percobaan spiral classifier adalah 6,98% magnetit, 39,87% hematit dan 53,15% gangue.

 
Komposisi Mineral (%)

70 60 50 40 30 20 10 0
-75 (-200) -106+75 (-140+200) -150+106 (-100+140) -250+150 (-60+100) -425+250 40+60) (- -850+425 20+40) (- -1700+850 (-10+20) +1700 (+10)

Fraksi Ukuran µm (m esh)
Magnetit Percontoh Asal Hematit Percontoh Asal Gangue Percontoh Asal Magnetit Limp, Bawah Klasif ay er Spiral Hematit Limp. Bawah Klasif ay er Spiral Gangue Limp. Bawah Klasif ay er Spiral

Gambar 5. Hubungan fraksi ukuran dengan komposisi mineral percontoh asal dan percontoh underflow spiral classifier

3.2. Percobaan Spiral Classifier Berdasarkan Gambar 6, dapat dijelaskan bahwa pada percobaan ini telah terjadi pemisahan antara partikel halus dengan kasar. Hal ini terlihat dari adanya kenaikan kadar Fe total. Kadar Fe total pada percontoh asal sebagai umpan sebesar 31,3%, setelah dilakukan proses klasifikasi menggunakan spiral classifier meningkat menjadi 34,6% untuk produk underflow (sebagai produk pemisahan yang memiliki partikel kasar) dan terjadi penurunan kadar Fe total menjadi 24,6% untuk produk overflow (sebagai produk pemisahan partikel yang berukuran halus). 3.3. Peningkatan Kadar dengan Pemisah Magnetik Di dalam percobaan pemisah magnetik ini dilakukan analisis mineralogi untuk meninjau perubahan komposisi mineral dan derajat liberasi pada konsentrat dan tailing akibat pengaruh dari variabel percobaan terhadap peningkatkan kadar dan perolehan. Analisis kimia hanya dilakukan pada konsentrat untuk menetukan kadar Fe total.

Gambar 4. Fotomikrograf sayatan poles bijih besi (H = hematit, M = magnetit, G = mineral gangue, HM = hematit + magnetit HG = hematit + gangue)

Berdasarkan Gambar 4, dapat dilihat bahwa pada fraksi ukuran -106+75 µm (-140+200 mesh), bahwa antara magnetit dan hematit terjadi keterikatan dan antara hematit dan gangue juga terjadi keterikatan. Antara magnetit dan gangue tidak tampak adanya keterikatan. Menurut perhitungan komposisi mineral pada ukuran tersebut, komposisi hematit 41,80% dengan derajat liberasi 88,68% dan magnetit 7,80% dengan derajat liberasi 58,97% serta gangue 50,40% dengan derajat liberasi 96,23%. 3.1.2.2 Komposisi Mineral Berdasarkan Gambar 4, mineral berharga yang terdapat pada percontoh bijih besi ini adalah magnetit

42

PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009

1 Pengaruh Intensitas Magnet terhadap Komposisi Mineral dan Derajat Liberasi pada Konsentrat Berdasarkan grafik pengaruh intensitas magnet yang divariasikan dari 2000-10000 gauss terhadap komposisi mineral dan derajat liberasi konsentrat pada Gambar 7.73% dan gangue yang terkecil (22.. Pengaruh intensitas magnet terhadap komposisi mineral dan derajat liberasi konsentrat Gambar 8. Komposisi hematit terkecil diperoleh pada intensitas magnet 10000 gauss (47.   Komposisi Mineral (%)   100 80 60 40 20 0 2000 4000 6000 8000 10000 100 Derajat Liberasi {DL) (%) 100 Komposisi Mineral (%) 100 80 60 40 20 0 <75 <106 <150 <180 <250 80 60 40 20 0 Intensitas Magnet (Gauss) Magnetit DL Hematit Hematit DL Magnetit Gangue DL Gangue 80 60 40 20 0 Ukuran Butir (µm ) Magnetit DL Hematit Hematit DL Magnetit Gangue DL Gangue Gambar 7.  Komposisi Kimia (%) 40 35 30 25 20 15 10 5 0 Fe total SiO2 CaO Al2O3 MgO TiO2 Cr2O3 LOI Nam a Mineral Percontoh Asal Underflow Overflow konsentrat. Derajat Liberasi {DL} (%) 43 .07%. semakin besar ukuran butiran mengakibatkan kenaikan komposisi mineral. Komposisi hematit yang terbesar diperoleh pada intensitas magnet 2000 gauss sebesar 70. Pengaruh ukuran butir terhadap komposisi mineral dan derajat liberasi konsentrat Hal ini berarti pengaruh intensitas magnet menyebabkan peningkatan penarikan hematit yang masih berikatan dengan gangue ke dalam Perubahan komposisi mineral dan derajat liberasi pada mineral magnetik maupun gangue disebabkan oleh adanya pengaruh gaya gravitasi dan hidrodinamis yang bekerja pada butiran serta Peningkatan Kadar Bijih Besi dari Daerah Pelaihari . Gangue meningkat. Hubungan percobaan spiral classifier terhadap komposisi kimia 3.28%) dan gangue terbesar (43.3. Pramusanto. dapat ditarik kesimpulan bahwa semakin besar ukuran butiran semakin turun komposisi mineral.2 Pengaruh Ukuran Butir terhadap Komposisi Mineral dan Derajat Liberasi pada Konsentrat Berdasarkan grafik pengaruh ukuran butiran yang divariasikan dari ukuran <75 sampai <250 µm terhadap komposisi mineral dan derajat liberasi konsentrat seperti pada Gambar 8. Gambar 6.94%). sehingga meningkatkan komposisi hematit dan gangue yang berikatan. sedangkan derajat liberasinya juga mengalami penurunan.. dkk. menunjukan penurunan hematit seiring dengan peningkatan intensitas magnet. namun hal tersebut menaikan komposisi gangue.80%).3. tapi mengalami penurunan kembali pada ukuran <250 µm. dengan magnetit (8.20%). tetapi pada ukuran <250 µm mengalami kenaikan kembali. 3. Magnetit cenderung stabil namun derajat liberasinya juga turun. dengan magnetit sebesar 7. sedangkan derajat liberasinya turun. Namun pada gangue. Terjadinya peningkatan komposisi hematit yang berikatan dengan gangue menyebabkan terjadinya penurunan derajat liberasi dan komposisi hematit.

33%). Komposisi hematit terkecil diperoleh pada ukuran butir <180 µm (68.3 Pengaruh Waktu Pengadukan Umpan terhadap Komposisi Mineral dan Derajat Liberasi pada Konsentrat Berdasarkan Gambar 9 dapat ditarik kesimpulan bahwa untuk derajat liberasi. disimpulkan bahwa perolehan dan kadar dipengaruhi oleh pengaruh ukuran butir akibat adanya perubahan komposisi mineral dan derajat liberasi. Kadar Fe total tertinggi diperoleh pada intensitas magnet 2000 gauss (54.27% dan gangue sebesar 25. Perolehan yang semakin besar seiring dengan besarnya intensitas magnet.40%.40%).4 Pengaruh Intensitas Magnet terhadap Perolehan dan Kadar Fe Total pada Konsentrat Dari grafik pengaruh intensitas magnetik terhadap perolehan dan kadar Fe total (Gambar 10).7%. didapatkan komposisi mineral hematit sebesar 72.67%.84%.3.3. Hal ini disebabkan oleh lepasnya ikatan mineral-mineral besi dengan gangue yang berikatan tidak begitu kuat. Komposisi hematit terbesar diperoleh pada waktu pengadukan umpan 10 menit (71. Hal ini mempengaruhi daya tarik magnet ke dalam konsentrat. 3. Kadar Fe tertinggi didapatkan pada ukuran <250.derajat liberasi butiran. Penyebab lain. Kadar Fe total terendah diperoleh pada intensitas magnet 10000 gauss (38. magnetit sebesar 6. magnetit sebesar 8. Hal ini terjadi karena gangue yang berikatan dengan mineral magnetik ikut tertarik menjadi konsentrat. Pengaruh waktu pengadukan umpan terhadap komposisi mineral dan derajat liberasi konsentrat 3.3.17%. 44 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 Kadar Fe (%) . 3.93%). Pengaruh intensitas magnet terhadap perolehan dan kadar Fetotal konsentrat Gambar 9. sebaliknya dengan kadar Fe total cenderung turun seiring dengan peningkatan kadar. magnetit sebesar 7. disimpulkan bahwa pengaruh intensitas magnet terhadap perolehan menunjukan semakin besar intensitas magnet semakin meningkat perolehan. magnetit sebesar 8. pengaruh waktu pengadukan ini menyebabkan Al2O3 ataupun CaO yang ada dalam umpan tercampur dengan baik.00%.5 Pengaruh Ukuran Butir terhadap Perolehan dan Kadar Fetotal pada Konsentrat Berdasarkan grafik pengaruh ukuran butir terhadap perolehan dan kadar Fe Total Gambar 11.7%) dengan perolehan terendah 28. waktu pengadukan umpan memiliki sedikit pengaruh terhadap peningkatkan derajat liberasi antara hematit dan gangue. Perolehan tertinggi didapatkan pada ukuran butir <75 µm sebesar 31.93% dan gangue sebesar 21.   Perolehan Fe (%) 60 50 40 30 20 60 50 40 30 20 10 2000 4000 6000 8000 10000   100 Komposisi Mineral (%) 100 80 60 40 20 0 1 10 20 80 60 40 20 0 Waktu Pengadukan Um pan (Menit) Magnetit DL Hematit Hematit DL Magnetit Gangue DL Gangue Derajat Liberasi {DL} (%) 10 Intensitas Magnet (Gauss) Recov ery Fe Kadar Fe Gambar 10. <106 dan <75 µm sebesar 54. Penyebab-penyebab tersebut dapat mengakibatkan peningkatkan penarikan mineral magnetik oleh magnet menjadikan konsentrat.8%) dengan perolehan tertinggi 54.07% dan gangue sebesar 20.50%.13% dan sisanya gangue. Komposisi hematit terbesar diperoleh pada ukuran butir <75 µm (70.27%. Pada waktu pengadukan umpan 20 menit.

30 50 20 40 10 1 10 20 30 Waktu Pengadukan Um pan (Menit) Recov ery Fe Kadar Fe Gambar 12.20%) dan gangue sebesar 70. Magnetit pada tailing masingmasing variabel ini sudah tidak ada. sedangkan gangue cenderung semakin kecil.9%. Pengaruh intensitas magnet terhadap komposisi mineral tailing 50 70 40 60 Kadar Fe (%) 3. Kadar Fe total tertinggi diperoleh pada waktu pengadukan umpan sebesar 55.3. artinya mineral magnetit tertarik semua ke dalam konsentrat.80%. Pengaruh ukuran butir terhadap perolehan dan kadar Fetotal konsentrat   Komposisi Mineral (%) 3. 80 70 60 50 40 30 20 10 0 2000 4000 6000 8000 10000 Intensitas Magnet (gauss) Magnetit Hematit Gangue   Perolehan Fe (%) Gambar 13.. Hematit terbesar terdapat pada ukuran butir <180 µm (29.26%.3.33%). Pramusanto. Pengaruh waktu pengadukan umpan terhadap perolehan dan kadar Fetotal konsentrat Peningkatan Kadar Bijih Besi dari Daerah Pelaihari .53%. Komposisi hematit terkecil terdapat pada intensitas magnet 10000 gauss (27.6 Pengaruh Waktu Pengadukan Umpan terhadap Perolehan dan Kadar Fetotal pada Konsentrat Dari Gambar 12 diperoleh kesimpulan bahwa waktu pengadukan juga memberikan pengaruh terhadap perolehan dan kadar akibat adanya perubahan komposisi mineral dan derajat liberasi. Hematit terbesar terjadi pada intensitas 2000 gauss (28. sedangkan gangue-nya sebesar 72. sedangkan gangue mengalami peningkatan.8 Analisis Komposisi Mineral pada Tailing Variabel Ukuran Butir Dari Gambar 14 terlihat bahwa semakin besar ukuran butir semakin besar pula kecenderungan komposisi hematit. Kadar Fe (%) 35 30 40 25 30 20 <75 <106 <150 <180 <250 20 Ukuran Butiran (µm ) Recov ery Fe Kadar Fe Gambar 11. 45 . Hematit berkurang seiring dengan bertambahnya intensitas magnet.  Perolehan Fe (%) 40 70 60 50 3.. Perolehan tertinggi terjadi pada pengadukan umpan selama 20 menit dengan perolehan sebesar 33.67%.47%) dan gangue-nya sebesar 71. dkk.3.7 Analisis Komposisi Mineral pada Tailing Variabel Intensitas Magnet Berdasarkan Gambar 13 menunjukkan bahwa mineral magnetit pada tailing hasil percobaan pemisah magnetik sudah tidak ada. seluruh magnetit tertarik semua ke dalam konsentrat pada setiap variabel intensitas magnet.

Spottiswood David J. Pada percobaan pengaruh intensitas magnet. Prentice-Hall Inc. sedangkan gangue semakin besar. 2008 “Potensi Sumber Daya Lokal Untuk Membangun kemandirian dan Daya Saing Industri Baja Nasional”. 80 70 60 50 40 30 20 10 0 <75 <106 <150 <180 <250 Ukuran Butir (µm ) Magnetit Hematit Gangue KESIMPULAN Beberapa kesimpulan yang dapat ditarik adalah : 1. Weinhem.84% pada intensitas magnet 2000 gauss. Bandung.3. Pengaruh ukuran butir terhadap komposisi mineral tailing 3.00%. Komposisi hematit semakin kecil seiring dengan bertambahnya waktu pengadukan. Prosiding Kolokium Pertambangan.   Komposisi Mineral (%) 80 70 60 50 40 30 20 10 0 1 10 20 Waktu Pengadukan Um pan (Menit) Magnetit Hematit Gangue Gambar 15. Kelly Erol G. Gambar 14. Pada percobaan pengaruh waktu pengadukan umpan. Perkins.9% untuk waktu pengadukan umpan 10 dan 20 menit. 1997 “Handbook of Extractive Metallurgy Volume I: The Metals Industry Ferrous”. 5. United Stated of America. sedangkan mineral gangue sebesar 73. CaO 5. Perolehan tertinggi 31.26% terjadi pada waktu pengadukan umpan 20 menit. 3.. Al2O3 15. Pencucian mengunakan spiral classifier meningkatkan kadar besi total menjadi 34.. Fathi (editor). 1982 “Introduction to Mineral Processing”. John Willey & Sons.61%.6%. New Jersey. 2002 “Mineralogy 2nd Edition”. New York Koesnohadi dan Ahmad Sobandi.50% ada pada ukuran butir <75 µm.26%.67%.9 Analisis Komposisi Mineral pada Tailing Variabel Waktu Pengadukan Umpan Gambar 15 menunjukan bahwa pada tailing variabel waktu pengadukan umpan. kadar Fe total tertinggi 54. Dexter. <106 dan <75 µm.3% dengan mineral gangue terdiri atas SiO2 28.7% dengan perolehan 28. 4.74%. Pengaruh waktu pengadukan umpan terhadap komposisi mineral tailing 46 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . 2.7% pada ukuran butir <25.  Komposisi Mineral (%) 4. magnetit tidak ada. DAFTAR PUSTAKA Habashi. Bijih besi Pelaihari mempunyai mempunyai kadar Fe total 31. Wiley-VCH. Federal Republic of Germany. kadar Fe total tertinggi adalah 55. Pada percobaan pengaruh ukuran butir. Perolehan tertinggi 33. kadar Fe total tertinggi 54. Komposisi hematit terbesar terdapat pada waktu pengadukan satu menit sebesar 26.

Wills. dkk.sebukuiron.. Oxford. Pergamon Press. New York. Peningkatan Kadar Bijih Besi dari Daerah Pelaihari . 47 . 1999 “Pengerjaan Awal Bijih Besi Laterit Melalui Pemisahan Secara Magnetis dalam Drum Magnetic Separator pada Pembentukan Campuran Bijih Besi Laterit dan Kokas”. 1988.. dkk.Pramusanto.id/silo_products.co. tanggal 20 Mei 2009. diunduh pada jam 10:57. Pramusanto.. B. Bandung. “Mineral Processing Technology 5Th Edition”. A. PT SILO.htm.. www. Pusat Penelitian Pengembangan Teknologi dan Mineral.

5 mm. yang merupakan lapisan tanah penutup (over burden) pada endapan batu bara. Jend. This pure quartz sand has to fulfill as ceramic raw material for made the whiteware ceramic as the filler material. Pasir kuarsa ini masih bercampur dengan material lempung berwarna krem kekuningan.30 gram pasir kuarsa terolah dari sebanyak 900 gram pasir kuarsa asli.7206221 / 7207115) SARI Jumlah cadangan endapan pasir kuarsa di daerah Rantaubujur Kecamatan Tapin Selatan. 0. Pasir kuarsa terolah ini telah memenuhi syarat sebagai bahan baku keramik untuk dibuat bodi keramik putih yang fungsinya sebagai bahan pengisi. Kata kunci: pasir kuarsa berlempung. Because of that. Enymia dan Sumarsih Balai Besar Keramik Jl. KABUPATEN TAPIN. Keywords : clayed quartz sand.30 grams from the natural quartz sand of 900 grams.Tapin Regency abaout 186. Based on the beneficiation experiments as much as 3 (three) time be found the pure quartz sand of 658.378. 0.85 % SiO2 . This quartz sand still mixed with yellowish cream clay materials. beneficiation 48 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .063 mm. yakni dari 80. pengolahan/pencucian. Achmad Yani 392 Bandung Telp. silica grade. The chemical analysis result of natural quartz sand and pure quartz sand that has increased of silica (SiO2) significant enough namely from 80. sampel pasir kuarsa yang berlempung tersebut perlu dilakukan proses pengolahan dengan cara pencucian dan pengayakan dengan menggunakan ayakan ukuran 1. 0. which to appear of overburden on the coal deposit. Oleh karena itu. Kabupaten Tapin sebanyak 186378000 m3. the clayed quartz sand sample need to beneficiat by washing and sieving on several size of 1. mengalami kenaikan kadar silika (SiO2) yang cukup signifikan. 022 . silika.85 % SiO2.0 mm.0 mm. bodi keramik putih ABSTACT There are a lot of the quartz sand deposit in Rantaubujur area. Dari hasil percobaan pencucian yang dilakukan sebanyak 3 (tiga) kali diperoleh 658. South Tapin District .063 mm.000 m3. PROVINSI KALIMANTAN SELATAN.27 % SiO2 become 94.PENGOLAHAN PASIR KUARSA BERLEMPUNG ASAL RANTAUBUJUR. UNTUK BAHAN BAKU KERAMIK Subari.27 % SiO2 menjadi 94. Hasil analisis kimia pasir kuarsa asli (masih bercampur lempung) dan yang terolah.

dengan jumlah cadangan sebesar 186. Berdasarkan pada karakteristik pasir kuarsa yang masih mengandung bahan pengotor dan mengacu pada penelitian Vyas. Proses pengolahannya di lakukan sebanyak 3 (tiga) kali percobaan yang hasil percobaannya dapat di lihat pada Tabel 1. Perolehan (recovery) kuarsa terolah Teknologi pengolahan pasir kuarsa dari Tapin Selatan ini dilakukan dengan pengayakan atau penyaringan secara basah yang menggunakan beberapa ukuran ayakan.063 mm. India. HASIL DAN PEMBAHASAN 3. Sedangkan penggunaan kuarsa atau silika pada industri keramik berkisar antara 10 – 25% berat dari kompo-sisi bodi keramik stoneware atau perselen. 49 .5 x 0. Kemudian komposisi bodi tersebut dicampur sampai homogen dengan menambahkan air sekitar 5 % dari total berat bahan baku. ferosilikon. yang merupakan bahan pengotor sehingga warna pasirnya bervariasi dari krem sampai kuning kecoklat-coklatan. et al. 2000). METODE PENELITIAN Pasir kuarsa alam atau kuarsa asli yang digunakan dalam percobaan pengolahan (benefisiasi) berasal dari daerah Rantau Bujur Kecamatan Tapin Selatan. penggunaan pasir kuarsa sudah berkembang ke berbagai industri baik sebagai bahan baku utama maupun untuk bahan campuran atau aditif. Bahan pengotor yang terkandung didalam pasir kuarsa Rajpardi yaitu oksida besi seperti ilmenit atau limonit. Dari hasil percobaan pengolahan ini diharapkan kualitas pasir kuarsa meningkat serta dapat dimanfaatkan untuk industri keramik bahkan bisa juga digunakan untuk industri gelas. Carty. 2. Kondisi endapan pasir kuarsa semacam ini juga di jumpai di desa Rajpardi “Bharuch district”.0 mm. Kabupaten Tapin . hal ini tergantung pada tingkat kemurnian bahan baku yang digunakan( Achuthan et al. 0..000 m3 (Widyajasa. Pasir kuarsa dicuci dan kemudian diayak/disaring dengan menggunakan ayakan ukuran 1. 2000. Adapun komposisi bodi keramik yang dicoba terdiri dari bahan baku kuarsa terolah 20 %. Metode pengolahan yang digunakan dalam proses pengolahan pasir kuarsa dari Kec. Sehubungan hal tersebut di atas. (2000) maka metode pengolahan yang dilakukan adalah proses pengayakan cara basah. pasir kuarsa yang diteliti akan digunakan sebagai bahan baku campuran dalam pembuatan ubin keramik selain menggunakan felspar dan kaolin. misalnya pada industri pengecoran logam. kerikil. (2000) setelah melakukan proses pengolahan pasir kuarsa yang berwarna kuning hingga kuning kecoklat-coklatan dengan menggunakan metode pengayakan cara kering. dan akhirnya dibakar dalam tungku listrik pada suhu 1150. Dalam industri manufaktur. Setelah itu komposisi bodi ini dicetak ubin keramik berukuran (7. silikon karbida dan bahan abrasif. Pasir kuarsa ini masih bercampur dengan material lempung berwarna krem kekuningan.8) cm. et.378.. Pasir kuarsa di sini nampaknya masih bercampur dengan material lempung. Sebagai bahan baku utama. seperti misalnya penelitian Vyas et al. pasir kuarsa dapat digunakan dalam industri gelas. 2003). Sedangkan pasir kuarsa sebagai bahan baku campuran.1. ubin teraso. PENDAHULUAN Di daerah Rantau Bujur Kecamatan Tapin Selatan Kabupaten Tapin Provinsi Kalimantan Selatan terdapat endapan pasir kuarsa/silika yang merupakan lapisan tanah penutup (overburden) pada endapan batubara. dkk.5 mm dan 0. yang merupakan lapisan overburden pada tambang batubara jenis lignit. Dengan adanya kandungan bahan pengotor (impurities) tersebut maka pasir kuarsa ini perlu dilakukan proses pengolahan (benefisiasi) yang tujuannya untuk meningkatkan kualitas kuarsa/ silika agar dapat digunakan sebagai bahan baku keramik terutama untuk bodi keramik putih (whiteware ceramic) seperti stoneware dan porselen. industri perminyakan dan industri keramik termasuk refraktori. 3. pengayakan cara basah dan cara magnetik. akar tetumbuhan dan lain sebagainya. Bagan alir proses benefisiasi terhadap pasir kuarsa tercantum pada Gambar 1.1200 dan 1250 °C.5 x 7. Benda uji ubin selanjutnya dikeringkan dalam oven pengering pada suhu 100 0C. mineral horblende dan biotit (Chakraborty. kaolin 50 % dan lempung 30 %..al.1. 2006): Pengolahan Pasir Kuarsa Berlempung Asal Rantaubujur. Tapin Selatan tergantung pada karakteristik bahan.. Subari. 2001). Untuk mengetahui perolehan silika atau kuarsa yang dihasilkan dari proses pengolahan (benefisiasi) pasir kuarsa alam dapat digunakan rumus (Wills.

063 mm Lempung kotor .0 mm Kotoran kerikil + 1.5 mm Kuarsa terolah + 0.0 mm Kuarsa & lempung -1.0 mm Diayak basah ukuran 0.Kuarsa alam dibuat massa lumpur Diayak basah 1.Bagan alir proses benefisiasi pasir kuarsa Tabel 1.0.5 mm Kuarsa & lempung 0.063 mm Gambar 1.5 mm Diayak basah ukuran 0.5 mm . Material balance pada proses benefisiasi pasir kuarsa Percobaan 1 2 3 Rata-rata Kuarsa asli ( gram ) 900 900 900 900 Kuarsa terolah ( gram ) 740 675 560 658.3 Kotoran 1 ( gram ) 32 27 28 29 Kotoran 2 ( gram ) 107 170 276 184.33 50 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .063 mm Kuarsa terolah + 0.0.33 Kehilangan ( gram ) 21 28 36 28.

27 % dan yang didalam konsentrat (kuarsa terolah) =94. gram f = Kadar SiO2 didalam umpan. Gambar 2.3 %.34 % dan 0.57 % dengan cara pencucian dan pengayakan tersebut memberikan hasil yang baik. % F = Umpan (feed) pasir kuarsa asli. Data komposisi Kimia dan Mineral Data komposisi kimia terhadap pasir kuarsa asli atau belum diolah terutama kadar silika (SiO2). 1. Sehingga pasir kuarsa terolah tersebut masih bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku keramik untuk body keramik stoneware atau porselen dan juga barang tahan api (refractory).04 %. Dibandingkan dengan pasir kuarsa dari pulau Bangka dan pulau Belitung yang kadar silikanya masing-masing sebesar 95-99 % SiO2 dan 96-99.378.23 %. dan 0..347.85 R= 900 x 80. Dilihat dari kadar Fe2O3 dan TiO2 bahwa menurut SNI 15-1026-1989 mengenai kuarsa untuk pembuatan porselen dan stoneware batas kadar yang disyaratkan untuk Fe2O3 = 0. 51 .Dimana : R = Recovery. Kemudian pasir kuarsa setelah diolah dengan cara pencucian dan pengayakan ternyata kadar SiO2 nya mengalami kenaikan menjadi 94.2. apabila pasir kuarsa diolah semuanya maka yang diperoleh sebanyak 161. menunjukkan bahwa untuk kuarsa asli terdapat kandungan mineral kaolinite selain alfa kuarsa sedangkan yang kuarsa terolah hanya mengandung alfa kuarsa serta tidak ada lagi kandungan mineral kaolinitnya.. Fe2O3. Kadar SiO2 didalam kuarsa asli (umpan) = 80. Menurut ketentuan tersebut diatas nampaknya pasir kuarsa dari Kabupaten Tapin telah memenuhi syarat sebagai bahan baku untuk body keramik porselen atau stoneware. Dengan demikian proses pengolahan pasir kuarsa dari Kabupaten Tapin x 100 % = 86. 3.% Menurut Tabel 1 bahwa banyaknya kuarsa terolah rata-rata sekitar 658.4 % dan yang TiO2 = 0.30 gram dari sebanyak kuarsa asli sebesar 900 gram. gram c = Kadar SiO2 didalam konsentrat. Kabupaten Tapin .85 %. maka pasir kuarsa terolah dari Kecamatan Tapin Selatan dengan kadar silika sebesar 94. Dengan demikian perolehan pasir kuarsa terolah adalah : 658. dan TiO2 masing-masing sebesar 80.30 x 94. 1986).27 Jumlah cadangan pasir kuarsa alam (kuarsa asli) sebesar 186. % C = Kuarsa terolah (konsentrat).85 % serta kadar Fe2O3 dan TiO2 mengalami penurunan masing-masing yaitu 0. Subari.5 % SiO2 ( Hartono dan Subari.27 %.Grafik difraktogram pasir kuarsa asli dan kuarsa terolah Pengolahan Pasir Kuarsa Berlempung Asal Rantaubujur.000 m3. Kemudian dari data analisis X Ray diffraktometer terhadap pasir kuarsa asli (belum diolah) kode KCT dan kuarsa yang sudah diolah kode KMT seperti tercantum dalam Gambar 2. Dengan berdasarkan ketentuan tersebut maka proses pengolahan pasir kuarsa dengan cara pencucian dan pengayakan cukup berhasil dan bisa dikembangkan dalam skala produksi. dkk.20%.85% SiO 2 kualitasnya hampir sama dengan yang pasir kuarsa Bangka.435 m3.

347. Nilai penyerapan ubin keramik ini masih di atas 15% karena di dalam komposisi bodi ubin tidak menggunakan felspar yang fungsinya sebagai bahan pelebur guna membantu dalam proses sintering. Interceram. M. Selain untuk ubin keramik pasir kuarsa terolah ini bisa juga digunakan sebagai bahan baku utama bata tahan api silika karena menurut Goswami.98 %.65 kg/ cm2 dan 143. Dengan demikian kuarsa terolah yang mengandung SiO2 = 94. Effect of Precipitated Silica Additions to the Composition of Ceramic Glazes. dan felspar.N. Setelah itu komposisi bodi ini dicetak ubin keramik berukuran (7. 16. Proses pengolahan pasir kuarsa berlempung asal Kabupaten Tapin dengan cara dicuci dan diayak menggunakan ukuran ayakan 1. dan akhirnya dibakar dalam tungku listrik pada suhu 1150. kaolin 50 % dan lempung 30 %.al. Dari hasil analisis kimia terhadap kuarsa terolah ternyata mengandung kadar silika (SiO2) yang cukup tinggi yaitu 94.435 m3 cukup potensial untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku industri keramik dalam pembuatan ubin keramik dan bata tahan api silika. UCAPAN TERIMAKASIH Dengan terpublikasinya makalah ini penulis menyampaikan banyak terima kasih kepada Kepala Dinas Pertambangan Kabupaten Tapin beserta stafnya.92 kg/cm2. KESIMPULAN 1. Pemakaian pasir kuarsa terolah untuk dibuat ubin keramik sebesar 20% dicampur dengan lempung 30% dan kaolin 50% dari Kabupaten Tapin. 4.masing sebesar 17.1200 dan 1250 0C.0 mm.No.masing 135. makin tinggi suhu pembakaran nilai kuat lenturnya semakin besar yaitu masing. Maiti.85 %. et.M. Kemudian komposisi bodi tersebut dicampur sampai homogen dengan menambahkan air sekitar 5 % dari total berat bahan baku..3. Pembuatan Keramik dari Kuarsa Terolah Bahan baku yang biasanya digunakan dalam pembuatan keramik konvensional atau tradisional adalah kuarsa. agar pada suhu pembakaran 1250 0C bodinya sudah bersifat padat (vitrified) sehingga penyerapan airnya bisa mencapai di bawah 10 % (Chakraborty et al.. Adapun komposisi bodi keramik yang dicoba terdiri dari bahan baku kuarsa terolah 20 %.T. Carty.57 kg/cm2. Perolehan (recovery) pasir kuarsa terolah sebanyak 161. lempung dan felspar.85 % telah memenuhi syarat untuk dibuat bata tahan api silika (silica brick refractory). 3. Di samping itu warna bodi ubin keramik setelah dibakar pada suhu 1150 0C sampai 1250 0C berwarna putih susu sampai krem.87 % dan 15.063 mm dapat meningkatkan kadar silika (SiO 2) dari 80. sehingga bodi keramik tersebut dapat dikatagorikan keramik putih (whiteware ceramic). A..5 mm dan 0.77% menjadi sebesar 94. 2000). K. 2. A. yang telah membantu untuk mendapatkan sampel bahan galian golongan C jenis pasir kuarsa berlempung dari Kecamatan Tapin Selatan serta data potensi cadangannya. kaolin. Ubin setelah dibakar ternyata makin tinggi suhu pembakaran penyerapan airnya semakin kecil masing.8) cm.1. 2001. yang dibakar pada suhu 1150-1250 0C bodinya berwarna putih susu serta digolongkan ke dalam bodi putih (whiteware ceramic).5 x 0. Sedangkan bahan lempung yang merupakan pengotor (impurity) dari pasir kuarsa mengandung kadar SiO2 nya sebesar 70.5 x 7. (2000) bahwa untuk membuat bahan tahan api tersebut digunakan silika dengan kadar SiO2 minimum 93 % pada suhu pembakaran 1430-1450 0 C. Ceramic engineering and Sci- 52 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . 137. Hal ini disebabkan lubang pori-pori dalam bodi ubin semakin mengecil dan ikatan paertikel-partikel bahan yang satu dengan lainnya menjadi semakin kuat akibat semakin tingginya suhu pembakaran. Peer.13 %. Kandungan silika bebas tersebut juga terdapat di dalam lempung (clay). Benda uji ubin selanjutnya dikeringkan dalam oven pengering pada suhu 100 0C. DAFTAR PUSTAKA Achuthan.85 %. Misalnya lempung berwarna kuning kecoklatan dari daerah Zorka mengandung kadar SiO2 69. Untuk percobaan pembuatan bodi keramik disini menggunakan kuarsa dari hasil pengolahan pasir kuarsa berlempung dan sedikit mengandung kerikil. Volume 57. Demikian pula sebaliknya. W.15%.24 %. 2008.3. 0. Lempung ini masih bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku keramik untuk dibuat bodi merah atau terakota.

Effects of Substitution of Quartz by Rajpardi Silica Sand on the Thermomechanical Properties of Conventional Ceramics... Volume 22. Oxford-UK. Volume 49 No.ence. Vyas.A.R. 2000. Kabupaten Tapin ..T. Mineral Processing Technology. Pengolahan Pasir Kuarsa Berlempung Asal Rantaubujur.V dan Subari.. dkk. Teori Benefisiasi Bahan Mentah Keramik Halus. Y.M. Goswami. Studi Komprehenship Inventarisasi dan Evaluasi Bahan Galian Tambang di Kabupaten Tapin..P. Hartono. Wills. D. Chakraborty. Balai Besar Industri Keramik Bandung. J. 2.. Seventh Edition-ELSEVIER. A. Bapeda Pemerintah Kabupaten Tapin. A. Material and Equipment and Whitewares.K.. Interceram. Maiti. 1986. 2000.K. Vyas.N. Vol. Interceram. Sojitra.G. B. A. Volume 49 No. 2000. 53 . Widyajasa. 2003.R. K.N. Panda. Beneficiation of Rajpardi Silica Sand For Use in the Ceramics and Glass Industry. Maiti. B. Subari. 49 No. X Ray Diffractometric Determination of Tridymite in Silica Refractories.3. D. Interceram. Sojitra. Issue 2. 2006. G.D. Chakraborty.5.G. K. Proceedings. B.

PRESENTASI MAKALAH PARALEL II .

metallurgy. metalurgi. Jend. coal. utilization Masa Kini dan Masa Depan Batubara Indonesia. Besides. the implementation of UU No. in the future time will increase. pemanfaatan ABSTRACT The role of coal as an energy supply. Sudirman 623 Bandung 40211 Telp.5 Tahun 2006. kertas. masa depan. 4 Year 2009 about mineral and coal mining. Keyword: nowadays. di masa mendatang akan terus meningkat meskipun harga batubara sedikit terkoreksi sebagai dampak dari harga minyak yang baru saja terkoreksi tajam. coal briquette and so forth. Adanya Kebijaksanaan Energi Nasional mengenai diversifikasi energi. Due to the presence of the National Energy Policy about energy diversification through PP No. (022) 6003373 e-mail : ijang@tekmira. batubara. cement industry. paper. either in Indonesia or other countries.go. tekstil. the utilization of coal in Indonesia keeps developing in various market segments including: coal-fired power.MASA KINI DAN MASA DEPAN BATUBARA INDONESIA Ijang Suherman Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. melalui PP No. pemanfaatan batubara di wilayah Indonesia terus berkembang di berbagai segmen pasar yang meliputi PLTU. (022) 6030483. will support the effort of optimizing supply and demand of the coal in Indonesia in the future time. briket batubara dan industri lainnya.esdm. Di samping itu. industri semen. Fax. Kata kunci: masa kini. Ijang Suherman 55 . although its price is slightly corrected as the impact of the oil price that was just sharply corrected. textile. 5 Year 2006. baik di Indonesia maupun belahan dunia lainnya.id SARI Peran batubara sebagai pemasok energi. dengan berlakunya UU No 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral Batubara. future. akan mendukung upaya optimalisasi permintaan dan pemasokan batubara Indonesia dimasa depan.

25 milyar ton. baik untuk pemakaian domestik maupun pasar ekspor. industri tekstil. dengan kenaikan produksi rata-rata per tahun secara nasional adalah 17. Badan Usaha Milik Negara (BUMN). serta pemanfaatan batubara untuk briket batubara. PENGUSAHAAN BATUBARA 4. Sedangkan Upgrading Brown Coal (UBC). namun terbesar terutama di Pulau Sumatera dan Kalimantan sebanyak masing – masing 50.1. Pemberlakuan UU No 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral Batubara. menimbang cadangan minyak bumi Indonesia yang semakin menipis.75 milyar ton dan cadangan 22. Kondisi saat ini. Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. yaitu Ijin Usaha Pertambangan (IUP) untuk satu wilayah tertentu. adanya kebijaksanaan energi nasional mengenai diversifikasi energi. Seluruh daerah (propinsi) ini dianggap dapat mewakili produsen maupun konsumen batubara di Indonesia. hingga kini sumber daya mencapai 104. dan industri lainnya.1. PKP2B memegang peranan yang cukup menonjol sekitar 75. tahun 2008. Di samping kondisi global tersebut. industri semen. industri semen. Jawa Barat.62 juta ton. 4.93% pertahun. dan lainnya untuk mendapatkan data primer dengan hasil-hasil publikasi dari instansi terkait sebagai data skunder. Nusa Tenggara Timur. Dalam kurun waktu tersebut (1992 – 2008) telah terjadi perubahan distribusi produksi yang signifikan. Jawa Timur. dan Kuasa Pertambangan (KP). METODOLOGI Sejalan dengan upaya penganekaragaman energi dan peningkatan kebutuhan batubara. jumlah sumber daya adalah sebesar 104. Kalimanatan Timur.04%. dengan jumlah cadangan sebesar 22. Kalimantan Selatan. Namun dengan di telah disyahkannya Undang-Undang No 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.75 miliar ton. Pada tahun 2008 produksi batubara nasional telah mencapai 233. PENDAHULUAN 3. industri kertas. Sumatera Barat.56%. tetapi sampai sekarang harga batubara masih tetap tinggi walau agak terkoreksi. Segmen pasar yang menggunakan batubara sebagai bahan bakar meliputi PLTU. maka ke depan sistim perijinan hanya ada satu jenis. tekstil. dan Jawa Tengah.15% dan 49. telah memacu pemanfaatan batubara di berbagai segmen pasar (industri) di wilayah Indonesia. akan mendukung untuk menciptakan keamanan pasokan energi nasional secara berkelanjutan dan pemanfaatan energi secara efisien.76% dengan pertumbuhan 16. Sedangkan peran KP awalnya relatif masih kecil di bawah BUMN (PTBA). Jumlah sumber daya dan cadangan batubara Indonesia setiap tahun terus bertambah. Banten. kertas. namun setelah digulirkannya otda ada peningkatan yang cukup berarti dengan tingkat pertumbuhan ratarata 21. serta terwujudnya bauran energi (energy mix) yang optimal pada tahun 2025. Tingkat Produksi Batubara 2. berdasarkan perhitungan Pusat Sumber Daya Geologi. Pola Pengusahaan Batubara Ijin pengusahaan batubara di Indonesia secara garis besar dibedakan dalam tiga pola. Sulawesi Selatan. Selain itu. Sumatera Selatan.02% pertahun (Tabel 1). Sumber daya batubara tersebut tersebar di 19 propinsi. Metoda dalam kajian ini. POTENSI SUMBER DAYA DAN CADANGAN Harga dunia minyak yang demikian tinggi baru saja terkoreksi tajam. Perjanjian Kerjasama Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B). 56 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Sedangkan model pengolahan dan teknik analisis yang digunakan adalah statistka deskriptif dan trend analysis. produksi batubara selama 16 tahun terakhir telah menunjukkan peningkatan yang cukup pesat. 6 pulau. pemanfaatan batubara di dalam negeri menjadi semakin penting sejalan dengan ditemukannya cadangan batubara yang besar.2. industri peleburan (metalurgi). adalah menghubungkan hasil-hasil penelitian survei sampling secara langsung seperti ke PLTU. Gasifikasi Batubara dan Pencairan batubara adalah arah pemanfaatan batubara untuk masa mendatang.25 miliar ton (Gambar 1). 4. Kegiatan penelitian ini dilakukan di 11 lokasi di Indonesia. yaitu Propinsi Sumatera Utara.

Ijang Suherman Gambar 1.Masa Kini dan Masa Depan Batubara Indonesia. Distribusi Sumber Daya Batubara Indonesia 57 .

4. yang berarti setiap tahun penjualannya rata-rata meningkat sebesar 17.533 36.078 96. sedangkan pada tahun 2008 tercatat sebesar 158. tetapi sampai sekarang harga batubara masih tetap tinggi walau agak terkoreksi.746 10. yaitu sekitar 89. Tingkat Penjualan Batubara 4.555 10.859 11.470 25.180 62.951 10.890 104.741 45.925 juta ton (Tabel 2).328 93.474 10. serta kran ekspor China ditutup.138 2.607 9. Tahun 2008.979 9.815 40.570 66.246 208. tahun 1992 – 2008 Tahun 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 (%) Produksi (x000Ton) PTBA 7.93 KP 1. Perusahaan pemegang PKP2B merupakan eksportir batubara terbesar.56%.71%. diikuti oleh pemegang KP sebesar 7.027 8.3.288 juta ton. dan BUMN PTBA serbesar 10.230 9.570 176.805 46.602 47. diikuti oleh pemegang KP sebesar 34.713 171.620 17.292 8. Ada yang berpendapat mungkin semakin meningkat karena permintaan yang jauh melebihi penawaran.645 156.921.288 juta ton.300 113. Hal ini diperlukan untuk mengutamakan jaminan pasokan dalam negeri serta kegiatan peningkatan produksi yang mengacu pada konsep konservasi. sedangkan pada tahun 2008 mencapai 73.707 8.87% dari jumlah ekspor batubara Indonesia.467 5.707 76.654 1.926 4. dan BUMN sebesar 2. maka kedepan perlu mencermatinya untuk melakukan pembatasan ekspor. 2009 (diolah Kembali) 4. Jumlah produksi batubara Indonesia menurut kelompok perusahaan.281 18.482 10. perusahaan pemegang PKP2B merupakan pemasok batubara dalam negeri yang terbesar.123 4. Di samping kondisi global tersebut.251 123.07 PKP2B 14.477 29.597 2.874 23. Ekspor batubara Indonesia pada tahun 1992 hanya sebesar PENGGUNAAN BATUBARA DI INDONESIA Harga dunia minyak yang demikian tinggi baru saja terkoreksi tajam.935 20. Kebutuhan batubara dunia saat ini ternyata meningkat sangat cepat. Dengan adanya kecenderungan tersebut.057 57.286 3.375 233.3.489 21.35 %.532 87.862 41.994 22. menimbang cadangan minyak bumi Indonesia 58 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .02 Jumlah 15.212 9.796 6.993 16.965 9.1 Penjualan batubara dalam negeri Jumlah penjualan batubara di dalam negeri tahun 1992 sebesar 7.885 33.171 145.Tabel 1.682 5.04 Sumber : DPPMB dan APBI.604 61.17%.812 7.207 10.408 4.103 7.986 187.85% dari jumlah seluruh kebutuhan.576 37.707 7.966 4.80%.2 Penjualan batubara ekspor 16.992 164. antara lain dipicu oleh booming harga dan semakin banyaknya pembangunan PLTU di luar negeri yang menggunakan bahan bakar batubara.3.069 52. Ini berarti volume ekspor rata-rata naik sebesar 15. 5.57%.374 6. yaitu sebesar 54.389 82. Hal ini yang mengantarkan Indonesia sebagai pemasok (eksportir) terbesar menyaingi Australia dan Afrika Selatan.318 juta ton (Tabel 3).

875 4.354 34.239.364 7.750 710.575.520.363 76.044 158.815 1.153.119 Jumlah 6.550 158.980.044 22.387.601.306.773 1.255.110 73.140.537 2.201 99.454.265 813.168 1.633.544 13.262 454.480 KP 363.233 12.475 142.254.703 31.209.444 1.397 949.662.000 7.620.000 2.621.829 21.000 1.969 2.994 2.826 Sumber : DPPMB.720 8.247 4.538 7.581 1.443 26.827 1.152.233 13.973 3.225.854.083.606.001 Jumlah 16.975.574.541 5.212 1.097 3.424 9.984 9.124.895.195 4.239.079.734.228 PKP2B 356.549.095.272 92.377 18.206.157 1.492.777 2.194.819.548.691.294.895 9.787.865 6.212 3.000 85.022.435.775 7.852.003 30.858 85. Tahun 1992 – 2008 Tahun 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Ekspor Batubara (Ton) BUMN PKP2B KP 1.623.210.971 830.395.341 47.575 8.966 4.550.799.375.977 2.000 32.262.361 25.104 5.085.989 29.307.979. tahun 1992 – 2008 Tahun 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Penjualan Batubara (Ton) BUMN 6.835.117 19.192.754.053.321 20.000 4.714 31.933 10.011.600 41.492 59.240 6.405.014 7.178.001 12.276.735.621.276.856.195.304 12.842 Sumber : DPPMB.318 1.366 16.874 6.755 1.041.114.822.420 40.957 66.920 21.349.024.086.764 756.105 1.298.710.323 938.428 8.116.257.979 64.834.Tabel 2.915 25.201 55.939 37.034 2.142.386.727.482 3.848.924.712.061.318.178 918.005.521 74.381 4.539.875 48.206.975. Jumlah penjualan dalam negeri batubara Indonesia menurut kelompok perusahaan.966 3.000 41.782 3.713 14.381 1.077 142.389.597.124 7.260.047.131 3.985 41.713 9.495.312.892. 2009 (diolahKembali) Tabel 3.921.501.268.256.816.550 22.584.913.646 8.616 2.697.506 18.686 58.181 8.421 948.766 6. Ijang Suherman 59 .394.356.680.145 36.895 7.830.969.534 127.185 36.955.132.000 106.510.064.886.657.307 11.364 2.995 6.536 815.894.230.431. 2009 (diolah Kembali) Masa Kini dan Masa Depan Batubara Indonesia.577 15. Jumlah Ekspor Batubara Indonesia Menurut Kelompok Perusahaan.138 52.221 25.783 36.053 51.022.973 53.160.767.585 2.758.256.715.565.787 27.428 143.

Kideco Jaya Agung. baik milk PLN maupun yang dikelola swasta. telah memacu pemanfaatan batubara di berbagai segmen pasar di wilayah Indonesia.674.yang semakin menipis. PT.230 MW. Sedangkan di kawasan PLTU Paiton ada tiga operator pembangkit. sebanyak 22 proyek dengan total kapasitas 1. pemerintah telah membuat rencana pembangunan sebanyak 40 PLTU dengan daya terpasang sebesar 10. Indonesia Power memiliki 7 unit pembangkit dengan total kapasitas terpasang 3.0 juta ton per tahun. Batubara yang digunakan sebagian besar dipasok dari Pulau Kalimantan. Arutmin.575 juta ton.168. sedangkan sisanya dipasok dari beberapa perusahaan di Kalimantan. yakni unit 1 dan 2 kapasitas 800 MW yang dikelola oleh PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB).25 miliar ton.64 dan USD 1.1. PLTU berbahan bakar batubara. pemanfaatan batubara di dalam negeri menjadi semakin penting sejalan dengan ditemukannya cadangan batubara yang besar yang terus meningkat. PT Jorong Barutama.75 miliar ton dan cadangan 22. Berdasarkan data dalam kurun waktu 1998-2008. Untuk merealisasikan rencana tersebut. kemudian diikuti oleh industri semen sebesar 14. Kemudian uap air tersebut digunakan untuk menggerakan turbin pembangkit listrik. sedangkan batubara yang dibutuhkan untuk 30 PLTU Sistem Kelistrikan Luar Jawa sedikitnya 7. Hingga saat ini. seperti PT Adaro Indonesia.885.967. antara lain dari PT. Total batubara yang dibutuhkan sekitar 12. pemerintah melalui Peraturan Pemerintah No 71 Tahun 2006 telah menunjuk PLN untuk melakukan Percepatan Pembangunan PLTU batubar 10.37% (Tabel 5).659.400 MW menggunakan batubara sebesar 13. (Tabel 4). kecuali pada industri metalurgi dan briket batubara perkembangan penggunaan batubara berfluktuatif dan cenderung tetap. PT. Total kapasitas PLTU batubara yang dimiliki PLN dan Swasta saat ini sebesar 9.0%. Pemasok utama batubara untuk PLTU Suralaya. ada 13 PLTU. serta industri lainnya terus meningkat.960 MW dan total kontrak mencapai Rp 7. Dalam upaya mengantisipasi kekurangan listrik dan untuk meningkatkan efisiensi pemakaian BBM secara nasional. Adaro dan PT.33. 5. penggunaan batubara di PLTU untuk setiap tahunnya meningkat rata-rata 13. Sedangkan dari 30 proyek pembangunan PLTU di luar Jawa.540 MW (lihat Tabel 6). yaitu 69. PLTU Suralaya dikelola PT. Segmen pasar yang menggunakan batubara sebagai bahan bakar meliputi PLTU. Batubara yang dibutuhkan untuk 10 PLTU Sistem Kelistrikan Jawa sedikitnya 25.000 MW mengalami kemajuan signifikan. PT Daya Citra Mulia.131. Laporan yang disampaikan kepada Menteri ESDM per tanggal 8 Mei 2009 menyebutkan bahwa untuk 10 proyek yang berlokasi di Jawa. adanya kebijaksanaan energi nasional mengenai diversifikasi energi. dua di antaranya paling banyak menggunakan batubara sebagai bahan bakar utamanya adalah PLTU Suralaya dan PLTU Paiton.5 juta ton per tahun.460 MW telah memasuki tahap kontrak dan tahap kontruksi. unit 5 dan 6 kapasitas 1.031.161.40 dan USD 4. Trend penggunaan batubara pada industri kertas dan tekstil. sebanyak 7. industri kertas. dengan total kontrak mencapai Rp 17. 69. 60 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . serta pemanfaatan batubara untuk briket batubara.61% di antaranya digunakan oleh PLTU. Berau Coal.460 MW dan 30 sisanya dibangun di berbagai daerah di Indonesia dengan kapasitas 2. Penggunaan batubara dalam negeri masih didominasi oleh PLTU. Proyek percepatan 10. 10 PLTU di antaranya akan dibangun di Pulau Jawa dengan kapasitas 7.144 juta ton per tahun.223. Hal tersebut sejalan dengan penambahan PLTU baru sebagai dampak permintaan listrik yang terus meningkat. PLTU PLTU merupakan industri yang paling banyak menggunakan batubara sebagai bahan bakar pada boiler untuk mendidihkan air menjadi uap air.007.64.981. industri semen.230 MW yang dikelola perusahaan swasta PT Java Power dan unit 7 dan 8 yang dikelola PT Paiton Energy dengan kapasitas 1. Selain itu.783.454 juta ton per tahun. yaitu 54.48%.575 juta ton per tahun. Peranan PLTU pada pembangkit tenaga listrik nasional adalah yang terbesar. Langkah ini merupakan upaya strategis untuk meningkatkan rasio elektrifikasi serta menyehatkan bauran energi nasional dari ketergantungan pada BBM. industri peleburan (metalurgi). Tercatat dari seluruh konsumsi batubara dalam negeri pada tahun 2008 sebesar 36.61% dari kebutuhan batubara nasional.000 MW yang diharapkan siap beroperasi tahun 2010. yang hingga kini sumber daya mencapai 104.928. industri tekstil.000 MW.470 MW dengan mengkonsumsi batubara sekitar 36.279. dan lain-lain. dan industri lainnya.

578 506.976 23.Tabel 4.609 Jumlah 15.308.943.541.000.907 123.252 Cilacap Tanjung Jati B Paiton 2.550 2.000.231.333 635.144.800 58.637 505.000.610 480.793.054 23.000 554.680. Tonasa 300.399 720.137.337.548 2006 27.000 58.411.763 2.318 6.424. 1998 – 2008 (Ton) 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 119.302 36.180.974 1.000 58.905 1.613 19.636.248 1.068.436 568.000 300.956.000 4.137.810.749 3.540 2.619.887 282.080.090.256 21.492.518.503.341 13.339.895 (Ton) 2008 36.691 3.610 804.990.600.992 6.896.457.613 Semen 1. Newmont Sumbawa 70.300.73 25.563.454.251.202 471.440.165.363 663.737 805.000 1.161 23. Penggunaan batubara pada pltu di indonesia.456.2008 (diolah kembali) Tabel 5.393 Briket 29.407.017.263.047.855 547.883.018 979.057.000 506.688 23.666 PT.766 8.564 1.787 2001 2002 2003 2004 2005 19.000 506.589 Masa Kini dan Masa Depan Batubara Indonesia.575.325 52.644.170.115 2.943.123 2.545.272.057.564 669.906 27.501 13.307.337.165.000 929.667 3.345 6.267 2.643 1.894 665.906 5.000 1.916 2.147 568.003 4.849.000 Mpanau Lati .245 3.902.155 12.000 300.902.800 Jumlah 10.310.337 638.085 1.092.153.079 417.907 35. Freeport 646.819.889 9.481 4.000 482.911.544.965 376.338 5.671.492.932 2.161 23.338 1998 1999 102.101 1.866 299.012 4.000 300.000 180.871 11.800 13.174 2007 631.408 374.397 766.206.575.933 3.328 26.452 1.753 9.514 49.341 13.709 PT.200.009 10.990 36.366.490 31.920 9.355 5.000 706.000 PLTU Ombilin Bukit Asam Tarahan Suralaya (PTIP) 7.430.226 134.061 36.060 61 .708 24.106.144 31.800 35.310.621 18.583 28.334 593.132 477.487.218 10.506 28. Konsumsi batubara menurut jenis industri di Indonesia Tahun 1998 .824 Industri Tekstil Industi Kertas 692.782 2.774.907 122.000 664.549 Metalurgi 144.265 24.650 623.318 (Ton) 2008 631.034 1.054 23.298 650.142.717 13.256 21.792.547.120 1.072 Asam-Asam 127.751 1.304 1.000.653.068.000 12.265.874 2007 35.731 11.963 38.646 1.368.088 4.717 13.083 488.023.000 5.000 180.911.573.227 2.839 PT.730 25.225.192. Ijang Suherman Seumber :DPPMB dan hasil survei tekMIRA.047.797 39.399 720.607 125.827 160.000.800 36.000 12.276.151.819.307 600.428 282.828.561 9.958 36.095 406.060 7.609.819 5.193.000 929.000 11.967 824.810.828.648.799 Lain-lain 2.443 220.802 225. 2006.104 8.666 236.230 9.060.774 1.Berau 58.2008 Jenis Industri 1998 1999 2000 PLTU 10.692.328 26.000 4.

159.697 719.379 179.970 50.697 71. Pacitan PLTU Tanjung Awar-Awar PLTU Paiton Baru Jumlah Di luar Pulau Jawa 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 PLTU Meulaboh PLTU Sibolga Baru PLTU Medan Baru PLTU Sumbar Pesisir Selatan PLTU Mantung PLTU Air Anyer PLTU Bangka Baru PLTU Belitung Baru PLTU Bengkalis PLTU Selat Panjang PLTU Tj.803 719.079.697 719.924 359.379 71.379 107.159.697 179.159.970 71.091 4.515 Banten Banten Banten Jawa Barat Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Tengah Jawa Timur Jawa Timur Jawa Timur 1 2 2 2 2 1 2 2 1 2 17 300 660 300 300 300 660 300 300 600 600 1.182 25.000 2.273 Propinsi Kapasitas (MW) Kebutuhan Batubara (Ton) Jumlah Jumlah seluruh Sumber : Peraturan Presiden Republik Indonesia No 71 Tahun 2006 62 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .848 467.379 50.501.Tabel 6.091 2. Balai Kerimun Baru PLTU Tarahan Baru PLTU Pontianak Baru PLTU Singkawang Baru PLTU Asam-Asam PLTU Palangkaraya PLTU Sampit Baru PLTU Amurang Baru PLTU Sulut Baru PLTU Gorontalo Baru PLTU Bone PLTU Kendari PLTU Bima PLTU Lombok Batu PLTU Ende PLTU Kupang Baru PLTU Ambon Baru PLTU Ternate PLTU Timika PLTU Jayapura NAD Sumatera Utara Sumatera Utara Sumatera Barat Bangka Belitung Bangka Belitung Bangka Belitung Bangka Belitung Riau Riau Kepulauan Riau Lampung kalimantan Barat kalimantan Barat Kalimantan Selatan Kalimantan Selatan Kalimantan Tengah Sulawesi Utara Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Timur Maluku Maluku Utara Papua Papua 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 65 100 100 100 10 10 25 15 7 5 7 100 25 50 65 65 7 25 25 25 50 10 7 25 7 15 7 7 7 10 467.000 MW Tahap I Nama Proyek / Lokasi Pulau Jawa 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 PLTU Labuan PLTU Suralaya Baru PLTU Teluk Naga PLTU Jabar Selatan PLTU Jabar Utara PLTU Tanjung Jati Baru PLTU Rembang PLTU Jatim Selatan.379 719.970 7.091 2.318.955 50.924 179.000 2.159.803 50.375.024.159.545 4.955 50.985 50.091 2.091 2.379 35. Rencana pembangunan PLTU 10.924 359.970 179.924 50.924 179.242 32.848 71.477.379 50.924 107.750.803 467.379 179.091 2.159.

dan Tarjun Kabupaten Kotabaru (Propinsi Kalimantan Selatan). PT Semen Padang 1. Cirebon (Propinsi Jawa Barat). pemakaian batubara rata-rata naik sangat signifikan. (Tabel 9). Uap yang dihasilkan dipergunakan untuk memasak/membuat pulp (bubur kertas). batubara dalam industri kertas digunakan sebagai bahan bakar dimana energi panas yang dihasilkan digunakan untuk memasak air pada mesin uap. Industri Semen Industri semen merupakan konsumen batubara kedua terbesar setelah PLTU. Kemudian disusul oleh Propinsi Jawa Tengah.36%. yaitu sebesar 2. Industri Kertas Seperti halnya pada perusahaan tekstil. Memasuki tahun 2004 hingga tahun 2008 cenderung meningkat hanya sempat menurun pada tahun 2006. Semen Gresik dengan kebutuhan 1. Terdapat 36 perusahaan kertas yang telah menggunakan batubara. Hal ini dapat dilihat dari jumlah perusahaan tekstil pada tahun 2003 hanya 18 perusahaan saja.48% kebutuhan batubara dalam negeri digunakan oleh industri semen atau 7. penerangan. perubahan pola penggunaan bahan bakar ke batubara merupakan salah satu alternatif yang sangat tepat karena mampu menekan biaya pengeluaran bahan bakar walaupun harus melakukan modifikasi terhadap boiler atau mengganti boiler yang baru yang berbahan bakar batubara. PT. Beberapa industri tekstil dilengkapi oleh powerplant berbahan bakar batubara untuk memasak air menjadi uap. perkembangan penggunaan batubara pada industri semen berfluktuasi. yaitu 7.5. yang sebagian besar terletak di Propinsi Jawa Barat. Semen Tonasa 0. Semen Holcim 1.5. 5. 5 perusahaan masingmasing terdapat di Propinsi Banten.79%). Indocement Tunggal Perkasa. Indocement Tunggal Prakarsa dan PT. menunjukkan bahwa perkembangan jumlah perusahaan tekstil yang menggunakan batubara tampaknya akan terus meningkat. Banten. Uap yang dihasilkan digunakan untuk menggerakan turbin pembangkit listrik. jumlah kebutuhan batubara untuk industri ini mencapai sekitar 2. sementar PT Semen Kupang produksinya tersendat serta dalam proses akuisisi oleh Perusahaan India. 19 perusahaan di Propinsi Jawa Timur. Berikutnya adalah PT. dan yang lainnya di bawah 0.81% dan 5.102 juta ton. dan Jawa Timur (lihat Tabel 8).005 juta ton PT. industri tekstil di Indonesia terpusat di Pulau Jawa. PT. Saat ini terdapat 9 perusahaan semen yang terletak di beberapa wilayah di Indonesia.14%) dengan mengkonsumsi batubara sebesar 3.4. karena biaya bahan bakar merupakan komponen terbesar di dalam biaya produksi. Pemanfaatan batubara pada industri semen.763 juta ton.609 juta ton. Antara tahun 1998-2001. yaitu sekitar 240 perusahaan (73. Selama sepuluh tahun terakhir ini. namun pada tahun 2002 dan 2003 sempat mengalami penurunan hingga 9.03%.3. Ijang Suherman 63 . Perusahaan semen yang paling banyak menggunakan batubara adalah PT. 5.828 juta ton. Penurunan ini sangat dipengaruhi oleh adanya penurunan produksi di beberapa perusahaan semen.519 juta ton.430 juta ton (81.03%. seiring perkembangan ekonomi yang mulai membaik di dalam negeri (Tabel 7). dan 2 perusahaan di Propinsi Riau. yaitu di Cibinong.150 ton pada tahun 2003 naik menjadi 4.194 juta ton pada tahun 2008. Listrik yang dihasilkan dimanfaatkan berbagai keperluan seperti menggerakan mesin produksi.395 juta ton. Uap yang dihasilkan digunakan untuk proses pencelupan.2. Seperti diperlihatkan pada Gambar 2. kebutuhan batubara pada industri semen mengalami perubahan yang positif. Dari sisi keberadaannya. sedangkan PT Semen Andalas dalam proses akhir rekontruksi setelah terkena gelombang tsunami. yaitu dari 274. 5. Batubara dalam industri tekstil digunakan pada boiler untuk memasak air menjadi uap.5 juta ton. dan sebagainya. yaitu 64. Menurut para pengusaha. Perusahaan ini memiliki tiga pabrik di lokasi yang berbeda. namun pada tahun 2008 sudah bertambah menjadi 328 perusahaan. Pada tahun 2008. digunakan sebagai bahan bakar pada tanur putar untuk proses pembuatan klinker sebelum menjadi semen. Semen Gresik. tercatat sekitar 14. Jawa Barat dan Jawa Tengah. Kebutuhan batubaranya pun meningkat sangat signifikan. Tahun 2008. Industri Metalurgi Dari sisi jumlah industri metalurgi (pengecoran logam) yang telah menggunakan batubara sebagai bahan bakar pada proses produksinya dapat Masa Kini dan Masa Depan Batubara Indonesia. Industri Tekstil Industri tekstil memiliki tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap bahan bakar minyak (BBM).

Holcim-Cilacap.140 379.085 472.765 1.439 207.826 683.181 276.262 474. Indocement TP (Cibinong) PT.606 715. 2008 .457 375.510.564 1.141.876 252. Semen Bosowa.018 155.939 129.000 1.860 328.923 556. Semen Tonasa.515 153.64 Tabel 7.271 Industri Semen PT.248 5.710 359. Semen Andalas PT.583 862.420 397. Indocement TP (Cirebon) PT.172 1. Konsumsi batubara pada industri semen 1998 – 2008 (ton) 1998 59.170. dan PT Semen Kupang (Survei tekMIRA 2006) .085 4.019.908 67.214 678.277 850.529 1. PT.436 397.029 862.721 68.372 1.440 481.564 368.315 311.674 166.465 912.004.357 110.000 185.392 454.618 35.179 1.637 692. Semen Kupang Jumlah (Ton) 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 33.407 448.000 827.370 454.763 760.189 7.323 202.396 547.202.157 116.265.050 168.529 131.700 14. Semen Tonasa PT.317 296.772 451.317 296.376 528.833 409.754 62.643 47. PT.023.437. Indocement (Tanjung) PT.849 554.124 782.283 546.495 659.308.102.850 577.430.305 254.441 1.521 6.950. Bosowa Cement PT.060 397.762.082 243.123 2.499 30. PT.018 793.425 1999 19.233 593. Semen Gresik.DPPMB.065.352 99.801 545.438 207.743.180 328.523 469.412 2.923 1.340 tp tp tp tp 483. Semen Padang PT.153 Catatan : tp = tidak berproduksi Sumber : .607 42. 2006 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .973 133.950.184.868 5.829 88.655 80.345.PT.Asosiasi Semen Indonesia.013 464.430 680.215 262.775 88.749 5. Semen Holcim Narogong PT.473 697.868 6.324 202.000 2.860 328.569 1.026.245 6.082 243.081 143. Semen Gresik PT.301 269. Semen Baturaja PT.090.147 130.776.375 416.793 151.431 231.860 151.526 5.509.413 364.975 95.847 26.311 75.638 1. PT. Indocement-Cirebon.973 1.868 800.448 103.063.841 349.415 187. Semen Holcim Cilacap PT.679 75.876 252.691 3.

393 292.700 0 4. perkembangan perusahaan tekstil pemakai batubara di indonesia tahun 2003 – 2008 Tabel 8.430. Ijang Suherman 65 .440 145.100. menurut Provinsi.661 46.916 605. 1 2 3 4 5 Lokasi Banten Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Timur Riau Jumlah Jumlah Perusahaan (Buah) 5 5 5 19 2 36 Kebutuhan Batubara (Ton/Tahun) 620. 1 2 3 4 5 Lokasi Banten Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Timur Luar Jawa Jumlah Jumlah Perusahaan (Buah) 15 240 68 5 0 328 Kebutuhan Batubara (Ton/Tahun) 423.391 2.433 47.518.193. Tahun 2008 No.Gambar 2.887 Masa Kini dan Masa Depan Batubara Indonesia.479 1.932 Tabel 9. Industri kertas berbahan bakar batubara di Indonesia No. Industri tekstil berbahan bakar batubara di Indonesia.406 3.

Hal tersebut dapat dilihat perkembangan briket batubara selama kurun waktu 2001 – 2008 yang fluktuatif (lihat Tabel 11). karet ban.990 282. seperti industri pengeringan gerabah. Perkembangan penggunaan batubara pada Industri briket batubara.530 299. kimia. industri rumahan tertentu sebagai bahan bakar. antara lain industri makanan. di Propinsi Banten ada 33 perusahaan yang telah menggunakan batubara dengan total kebutuhan diperkirakan mencapai 342.6.708 24. dan lainnya. seperti halnya yang telah berhasil pada industri pengeringan teh. Perkembangan kebutuhan batubara oleh industri metalurgi berfluktuasi. masih banyak industri lainnya yang menggunakan batubara sebagai bahan bakar dalam mendukung proses produksinya. yaitu sebagai penghangat anak ayam.730 321. namun hingga kini tidak dapat berkembang dengan baik. Selain itu potensi gasifikasi batubara untuk industri kecil menengah. kerupuk. karet ban. Industri Lainnya Di samping industri yang disebutkan di atas. pemanfaatan briket batubara digunakan pada industri kecil atau 5.226 134.907 122. yang merupakan suatu proses untuk meningkatkan nilai kalori batubara melalui penurunan kadar air.907 123. pengembangan briket batubara diperkenalkan sejak tahun 1993. pengecoran logam. Sedangkan potensi pemanfaatan ke depan adalah pada pengusahaan Upgraded Brown Coal (UBC). mengingat teknologi dan peralatan yang digunakan relatif sederhana. pembakaran kapur. termasuk beberapa jenis industri kecil. dan lainnya.827 183. tahu/tempe.120 25. masih banyak industri lainnya yang menggunakan batubara sebagai bahan bakar dalam mendukung proses produksinya. pemindangan ikan.802 225.976 17. 2008 (diolah kembali) *) perkiraan Di samping industri metalurgi. 5. tepung ikan.850 ton. Kelitbangan UBC telah sampai pada skala demo plant 1.010 36. 66 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Namun yang paling dominan dan memasyarakat penggunaan briket batubara adalah pada peternakan ayam. di Propinsi Banten ada 33 perusahaan yang telah menggunakan batubara dengan total kebutuhan diperkirakan mencapai 342.dikatakan relatif tidak bertambah.643 Sumber : DPPMB. Di Indonesia. antara lain industri makanan.018 25. Berdasarkan survai sampling tahun 2008. Tabel 10. pengecoran logam. pengeringan tembakau. Briket Batubara Briket batubara merupakan energi alternatif atau pengganti minyak tanah dan kayu bakar yang paling murah dan dimungkinkan untuk dikembangkan secara masal. 2008 (diolah kembali) *) perkiraan Sumber : DPPMB.666 236. katering/restoran.850 ton. Tahun 1998 . Di masyarakat.7.000 ton/hari. dan obat nyamuk. Sedangkan kebutuhan batubara untuk industri lainnya secara menyeluruh (nasional) diperkirakan tidak kurang dari 1.339 juta ton. pembakaran kapur. termasuk beberapa jenis industri kecil. kimia.963 32. Potensi lainnya adalah pencairan batubara.2008 Tahun 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 *) Pemakaian Batubara (Ton) 144. Berdasarkan survai sampling tahun 2008. pembakaran bata. namun ada trend perkembangan yang meningkat sejalan dengan tingkat produksi perusahaan (Tabel 10).265 24. Perkembangan penggunaan batubara pada industri metalurgi.393 220.213 Tabel 11. Tahun 2001 – 2008 Tahun 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 *) Pemakaian Batubara (Ton) 31. pengeringan bawang. pembakaran kapur. padahal dari sisi potensi masih banyak perusahaan yang belum menggunakan batubara sebagai bahan bakarnya.

Pada satu sisi. Saat ini alternatif yang sedang dijajagi adalah menerapkan teknologi Sasol. Sedangkan jumlah Kuasa Pertambangan (KP) yang dikeluarkan di daerah yang terinventarisasi di Direktorat Jenderal Mineral. Korea Selatan dan Taiwan. pada tahun 2025 akan mencapai 509. Peningkatan jumlah konsumsi yang sangat tajam yang disebabkan meningkat tajamnya permintaan batubara sebagai sumber energi terutama untuk pembangkit listrik. Batubara dan Panas Bumi sudah melebihi angka 500 KP. MASA DEPAN BATUBARA INDONESIA Menyimak berbagai keberhasilan kinerja pertambangan batubara di Indonesia dimasa lalu hingga masa kini. hal tersebut merupakan peluang Indonesia untuk meningkatkan pangsa pasar ekspor. Diperkirakan di masa-masa mendatang peran minyak akan semakin berkurang. karena belum terbukti (unprovent) terjadi kemandegan. apabila sejalan dengan itu jumlah perusahaan pertambangan batubara di Indonesia pun tumbuh pesat khususnya dalam beberapa tahun terakhir. Perkembangan Ekspor Saat ini pasar ekspor terbesar Indonesia adalah Jepang. Belum adanya keseimbangan antara permintaan dan pemasokan batubara pada tataran dunia. yang berdasarkan aturan tersebut diberikan oleh bupati. 3. maka batubara Indonesia mempunyai prospek dimasa depan. Dalam prakteknya sebagian besar dari KP yang dikeluarkan selama otonomi daerah tersebut diterbitkan oleh kabupaten. Hal ini diperlukan untuk mengutamakan jaminan pasokan dalam negeri serta perkembangan tingkat produksi yang mengacu pada konsep konservasi. dan adanya kebijakan-kebijakan yang terkait. jauh di atas rata-rata dunia. namun APBI sejalan dengan kebijakan pemerintah telah memproyesikan yang cukup wajar sebesar 471 juta ton.04%. 15 status konstruksi. yaitu ketika penegasan tentang pemberian Kuasa Pertambangan (KP) dilakukan oleh Pemerintah Daerah. yang terdiri dari 40 perusahaan PKP2B sudah produksi (9 dari Generasi I. Kriteria ini sangat jarang ditemui di lapangan. Tetapi dengan adanya kecenderungan tersebut. maka pada tahun 2025 dapat mencapai 742 juta ton. sedangkan yang telah berproduksi 129 KP. terlihat dari tingginya tingkat pertumbuhan ekspor Indonesia yang mencapai 15. Perkembangan Produksi Selama 16 tahun terakhir (1992-2008) produksi batubara Indonesia telah meningkat hampir 15 kali lipat. namun belum ada kesepakatan yang mengikat. potensi sumberdaya dan cadangan yang besar. atau meningkat rata-rata per tahun 17. Peningkatan produksi yang pesat didorong oleh meningkat tajamnya permintaan ekspor dan permintaan dalam negeri. baik sengaja atau tidak sengaja.Sebelumnya telah melakukan upaya pengembangan teknologi BCL.8%. proyeksi ekspor batubara tanpa adanya pembatasan. khususnya pembangkit listrik di Indonesia maupun industri lain di berbagai belahan dunia. ke depan perlu mencermatinya untuk melakukan pengendalian atau pembatasan ekspor. dan 5 status eksplorasi.3 juta ton.620 juta ton. Perkembangan Penggunaan di Dalam Negeri Peran batubara sebagai energi akan semakin besar pada berbagai industri. Meningkatnya permintaan China dan India di masa datang akan menambah tingginya kecenderungan permintaan ekspor. adanya peluang sekaligus tantang. di samping China dan India yang merupakan buyer baru bagi Indonesia.935 juta juta ton menjadi 233. Ijang Suherman 67 . padahal kebijakan ekspor memproyeksikan sekitar 150 – 236 jua ton. Pelaku Usaha Pertambangan Sampai dengan tahun 2008 perusahaan penambangan batubara di Indonesia dengan status PKP2B aktif berjumlah 76 perusahaan. dan perlu bernegosiasi lanjutan. khususnya sejak tahun 2001 ketika dikeluarkannya PP 75 tahun 2001. 10 dari Generasi II dan 21dari Generasi III).51%. Lagi-lagi. dari 15. Hal ini dapat dimengerti karena untuk perizinan KP yang dikeluarkan oleh propinsi harus yang berbatasan antara sedikitnya 2 kabupaten. Berkembangnya KP tersebut terjadi pada era otonomi daerah. Jika diasumsikan pertumbuhan produksi tetap tinggi. 6. Tidak mengherankan Masa Kini dan Masa Depan Batubara Indonesia. sedangkan yang dikeluarkan menteri harus yang berbataskan sedikitnya 2 propinsi. 16 status studi kelayakan. sebaliknya peran batubara dan gas akan semakin besar. baik di dalam negeri maupun di negara-negara importir. gubernur atau menteri sesuai dengan kewenangannya.

2006. Semua ini merupakan modal dasar bagi industri batubara Indonesia untuk terus berkembang dalam menunjang keberhasilan pengembangan energi nasional maupun global. Diperkirakan pada tahun 2025 konsumsi batubara dalam negeri mencapai 236 juta ton. industri semen 8.000 MW telah beroperasi yang ditargetkan pada tahun 2010. Oleh karena itu. Hal ini telah diproyeksikan sebagaimana termuat pada Blueprint Pengelolaan Energi Nasional 2010-2025. 6.5 juta ton. Pasar global telah dapat pula diterobos dan menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara pengekspor batubara uap terbesar di dunia.5 juta ton. pabrik semen. maka tetap juga harus dijaga dan dijamin ketersediaannya dalam memenuhi kebutuhan akan energi di dalam negeri selama dan seekonomis mungkin. 2008. dan Panas Bumi.9 juta ton. Balai Pengelolaan Pertambangan dan Energi Wilayah. yaitu untuk menjamin pengadaan energi nasional yang dapat diandalkan tanpa mengabaikan prinsip pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Direktorat Pengusahaan Pertambangan Mineral. Jawa Barat dan Jawa Tengah. Jawa Tengah. dan kemudian diberikan prioritas untuk mendapatkan IUP. di luar peranan Bahan Bakar Batubara Cair (BBBC) sebesar 3. Indonesia Mineral. Dinas Tenaga Kerja Propinsi Banten. Kebijakan Pemerintah baru saja menerbitkan “Blueprint” Pengelolaan Energi Nasional (BP PEN) 2010-2025 merupakan re-evaluasi BP PEN 2005-2025. yaitu dalam bentuk Ijin Usaha Pertambangan (IUP). Adapun PKP2B termasuk KP yang ada tetap dihormati sampai ijinnya berakhir.1 juta ton.3%. DAFTAR PUSTAKA Asosiasi Pertekstilan Indonesia.1% dan Coal Bed Methane (CBM) 3. Data Pemakaian Batubara Sebagai Sumber Energi. dan pengembangan masyarakat (community development). Distamben Provinsi Jawa Tengah. pengelolaan lingkungan. Jumlah tersebut terdistribusi pada PLTU sebesar 69. Coal. Di samping itu mengenai perijinan pertambangan batubara hanya satu pola. Jakarta. Di samping peranan batubara yang cukup besar. Indonesia Cement Statistic 2005. yang menargetkan peranan batubara pada bauran energi nasional sebesar 34. 2006. PENUTUP Sektor pertambangan batubara sampai saat ini telah berhasil dalam menunjang Kebijakan Energi Nasional. 68 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . dengan visi berupa terjaminnya energi dengan harga wajar untuk kepentingan nasional. Data Pemakaian Batubara Dan Boiler Tahun 2007. diperkirakan konsumsi batubara Indonesia akan mencapai 90 juta ton atau meningkat hampir dua kali lipat dibanding tahun 2006. Jawa Barat. Sedangkan di bagian hilirnya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari KEN. pengelolaannya perlu dilaksanakan melalui kebijakan yang terpadu dan sinergi dengan sektor-sektor pembangunan lainnya. Dengan adanya kebikan-kebijakan tersebut tentunya diharapkan akan dihasilkan pelaku pertambangan yang andal di bagian hulu (pertambangan batubara) dengan melakukan good mining practices. industri kertas 3. industri tekstil 4. Keadaan ini terlihat dengan meningkatnya pemanfaatan batubara di berbagai pusat pembangkit listrik. mengisyaratkan pemerintah dapat mengoptimalkan pengelolaan batubara antara lain pengendalian produksi dan ekspor serta jaminan pasokan dalam negeri melalui Domestic Obligation Market (DMO) dan Penetapan Harga Batubara Nasional. Daftar Industri yang Menggunakan Boiler Berbahan Bakar Batubara.0 juta dan industri lainnya sekitar 4. 2008. yang akan menjadi dasar penyusunan pola pengembangan dan pemanfaatan energi secara nasional hingga 2025. industri kimia. dan industri kecil. pabrik kertas. Batubara.Ketika semua proyek Percepatan pembangunan PLTU 10. 2008. and Geothermal Statistics 2008. Penyusunan “blueprint” merupakan tindak lanjut Peraturan Presiden (Perpres) No 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional yang mengamanatkan Menteri ESDM menetapkan cetak biru tersebut. Di sisi lain dengan telah disyahkannya UndangUndang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.4%. Asosiasi Semen Indonesia (ASI).

Peraturan Presiden Republik Indonesia No. Unit Bisnis Pembangkitan Suralaya. dkk.. 2008. Blueprint Pengelolaan Energi Nasional 2010-2025. 71. PLN untuk Melakukan Percepatan Pembangunan PLTU yang menggunakan batubara. Ijang Suherman 69 . Peraturan Presiden Republik Indonesia No.Presiden Republik Indonesia. Kajian Batubara Nasional 2006. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. 5. Suherman I. 2009. Tahun 2006 Tentang Kebijakan Energi Nasional. Menteri ESDM. Puslitbang Teknologi dan Batubara (tekMIRA). Tahun 2006 Tentang Penugasan kepada PT. ____________.. 2006. ____________. Perkembangan Produksi Listrik dan Kebutuhan Bahan Bakar Batubara. Masa Kini dan Masa Depan Batubara Indonesia.

tambang bawah tanah ABSTRACT Roof failure is one of the main causes injuries that happened in the underground mine.go. Monitoring system that developed consists of monitoring tools.esdm. The result of a calibration in a studio and running test in one of the underground coal mine could be known that the monitoring tools and the system which applied can be used as a centralized monitoring system with a significant result.PENGEMBANGAN SISTEM DAN ALAT PEMANTAUAN SEDERHANA UNTUK MENDETEKSI KERUNTUHAN BATUAN ATAP (ROOF FAILURE) PADA TAMBANG BAWAH TANAH Zulfahmi 1). lvdt.esdm. potentiometer. data logger for record and storage tool and a computer for data processing. Two type of monitoring tools have been designed.go.esdm. alat dan system yang diterapkan terbukti dapat digunakan sebagai sistem pemantauan terpusat dengan hasil yang signifikan. underground mine 70 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .id. didit@tekmira. Dari hasil kalibrasi di studio dan ujicoba di salah satu tambang batubara bawah tanah. Kata kunci : keruntuhan atap. hasni@tekmira. Hasniati Astika 2).id SARI Keruntuhan batuan atap (Roof Failure) merupakan salah satu penyebab utama terjadinya kecelakaan pada tambang bawah tanah.go. 022 . Sistem pemantauan yang digunakan terdiri dari alat pemantauan. dimana semua alat pemantauan dan proses perekaman data dapat dioperasikan dari satu tempat sebagai sentral.6030483 Fax. datalogger sebagai perekam dan penyimpan data serta CPU komputer untuk pengolahan data. Terdapat dua macam alat pemantauan yang dirancang. yaitu pengembangan alat pemantauan menggunakan Potensiometer transducer yang dapat mendeteksi pergerakan pada beberapa lapisan batuan atap dan pengembangan alat pemantauan menggunakan Linear Variable Differential Transducer (LVDT) yang hanya dapat mendeteksi pergerakan pada permukaan batuan atap saja. Jend. Sudirman 623 Bandung 40211 Telp.id. 022 . potensio.6003373 e-mail : zulfahmi@tekmira. lvdt. there was a development of monitoring tools using Potentiometer Transducer that can detect movement in some rock layers of the roof and Linear Variable Differential Transducer (LVDT) that can detect movement on the surface rock of the roof only. where all of the monitoring equipment and data recording process can operated from one place as a central. Keywords: roof failure. Supriatna Mujahidin 3) 1) Peneliti Madya 2) Peneliti Pertama 3) Teknisi Litkayasa Penyelia Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl.

STUDI PUSTAKA/ CYBERNET Kajian teoritis tentang perkembangan sistem pemantauan & konsep sistem peringatan dini Dasar-dasar teori mengenai keruntuhan atap (roof failure) Konsep & Aplikasi peralatan PENENTUAN SISTEM & ALAT PEMANTAUAN PERANCANGAN & MODIFIKASI ALAT PERBAIKAN ALAT/PERUBAHAN SISTEM KALIBRASI UJICOBA ALAT & RUNNING TEST EVALUASI HASIL UJICOBA SESUAI STANDARD Ya Tidak ALAT PEMANTAUAN KERUNTUHAN ATAP Gambar 1. 2. keruntuhan batuan atap merupakan salah satu penyebab terbesar terjadinya kecelakaan pada tambang bawah tanah. 71 .. Metodologi penelitian pengembangan alat pemantauan sederhana untuk mendeteksi pergerakan batuan atap pada tambang bawah tanah Pengembangan Sistem dan Alat Pemantau Sederhana untuk Mendeteksi . METODA PENELITIAN Metode penelitian yang diterapkan dalam kegiatan ini lebih mengarah kepada kajian terhadap perkembangan peralatan pemantauan keruntuhan batuan atap pada tambang bawah tanah.50% diantaranya diakibatkan oleh keruntuhan atap selain yang disebabkan oleh ledakan gas dan debu tambang dan juga kecelakaan pada pengangkutan (mine haulage). LATAR BELAKANG Berdasarkan data yang diperoleh dari www..msha. 82% dari total kecelakaan pada tambang bawah tanah terjadi pada tambang batubara. Diperoleh baik dari hasil studi pustaka maupun hasil penelusuran pada cybernet untuk mendapatkan metoda dan dasar yang akan digunakan dalam perancangan sistem dan peralatan pemantauan. Teknologi pengawasan secara dini sangat diperlukan.1. 24. Zulfahmi.gov dari tahun 2003 sampai dengan 2007. Dari data tersebut. Selanjutnya dilakukan perancangan sampai didapatkan sistem dan peralatan yang layak digunakan dengan melakukan kalibrasi dan juga ujicoba. dengan tujuan utama untuk melakukan pengawasan dan mengetahui sedini mungkin kondisi tidak aman pada suatu lokasi tambang agar dapat ditanggulangi sebelumnya. dkk. Salahsatunya dengan merancang alat pemantauan sederhana dengan menggunakan peralatan yang mudah didapatkan di Indonesia.

Pada saat posisi nol berarti tidak ada medan magnet dalam kedua kumparan sekunder oleh karena tidak ada pergerakan pada probe. Linear Variable Differential Transformer (LVDT) merupakan salah satu jenis sensor yang digunakan untuk mengukur perubahan jarak. Kelebihan dari LVDT sebagai sensor jarak adalah tidak adanya kontak fisik pada unsur sensor sehingga lebih kuat dan tahan lama dibandingkan dengan sensor-sensor lain. Skema pemantauan keruntuhan atap Sebagai pembaca dan penyimpan data yang digunakan pada sistem pemantauan keruntuhan atap ini digunakan Datataker DT800. Alat pemantauan yang telah terpasang pada batuan atap terhubung dengan datalogger sebagai pembaca dan penyimpan data.3. HASIL DAN PEMBAHASAN Perancangan Sistem Pemantauan Keruntuhan Atap Sistem Pemantauan keruntuhan atap yang dirancang terdiri dari alat pemantauan. Selain merupakan instrumen yang kuat. 2004). Gambar 2. pengolahan data dilakukan dengan menggunakan aplikasi microsoft excel untuk selanjutnya dibuat grafik pergerakan batuan yang terjadi. Skema monitoring dapat dilihat pada gambar 2. Untuk menghubungkan setiap unit dari sistem tersebut digunakan sistem kabel. Alat pemantauan yang dirancang terdiri dari 2 macam. LVDT terdiri dari satu kumparan magnetik primer dan dua kumparan magnetik sekunder dan satu inti magnetik (Gambar 3(a)). Data yang tersimpan dalam datalogger masih merupakan data mentah untuk selanjutnya diolah pada perangkat komputer. Ketidakseimbangan pada medan magnet menyebabkan perubahan keluaran voltase yang sebanding dengan perubahan jarak dan arah dari pergerakan tersebut. Ketika kumparan magnet tidak dalam posisi nol (terjadi pergerakan pada probe) akan ada ketidakseimbangan medan magnet dari kedua kumparan sekunder. (a) Prinsip kerja LVDT (b) LVDT RDP DCTH400AG 72 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . LVDT mempunyai resolusi yang tinggi (Cheekiralla. yaitu LVDT dan Potensiometer. datalogger dan CPU komputer. Datataker DT800 merupakan instrumen penerima dan penyimpan data yang dapat mengukur dan merekam data dengan beragam dan dalam jumlah yang banyak serta dapat diprogram dengan menggunakan perintah kerja yang sangat mudah (Anonym. 2001-2004). (a) (b) Gambar 3. Perancangan Alat Pemantauan Keruntuhan Atap Peralatan pemantauan keruntuhan batuan atap yang dirancang merupakan pengembangan dari peralatan pemantauan sebelumnya.

Sedangkan untuk alat pemantauan potensio digunakan 4 buah potensiometer. komponen-komponen tersebut ditempatkan pada suatu box yang aman dan terlindungi (Gambar 4(b)). serta untuk mengetahui performa sistem dan alat yang telah dirancang.. Perubahan voltase tersebut dapat dikonversikan terhadap perubahan jarak yang terjadi. Pengembangan Sistem dan Alat Pemantau Sederhana untuk Mendeteksi . Untuk mengukur pergerakan atap.LVDT yang digunakan pada kegiatan ini adalah keluaran RDP dengan type DCTH400AG (Gambar 3 (b)). Kisaran jarak pergerakan yang bisa terukur oleh alat ini sebesar 22 mm. Kecenderungan dari titik-titik pergerakan hasil kalibrasi dari masing-masing alat pemantauan menunjukkan garis yang linier. Selain itu kalibrasi juga bertujuan untuk melakukan ujicoba alat dan sistem pemantauan. Pulley terhubung dengan jangkar menggunakan kawat baja. Pergerakan pada batuan atap memutar pulley yang terhubung dengan Potensiometer. Kalibrasi Sistem dan Alat Pemantauan Keruntuhan Atap Kalibrasi dilakukan untuk mendapatkan hubungan antara perubahan tegangan (Volt) pada alat LVDT dan perubahan tahanan (Ohm) pada Potensiometer terhadap perubahan jarak yang dikondisikan pada masing-masing alat pemantauan. Dari hasil kalibrasi diperoleh grafik hubungan antara pergerakan (mm) terhadap perubahan tegangan (Volt) pada alat pemantauan LVDT (Gambar 5) sedangkan grafik hubungan antara pergerakan (mm) terhadap perubahan tahanan (Ohm) pada alat pemantauan Potensio dapat dilihat pada (Gambar 6). Zulfahmi.(a)). yaitu dengan melihat pergeseran pada pada indikator yang terdapat pada alat pemantauan (Mark and Iannacchione. Pada telltale pembacaan pergerakan yang terjadi dilakukan secara manual. dkk. Perubahan tegangan tersebut dikalibrasikan dengan perubahan jarak (pergerakan) yang terjadi. 2001). dimana jangkar nantinya akan ditempatkan pada lapisan batuan yang diamati pergerakannya. dimana masingmasing potensiometer tersebut terhubung dengan pulley. sama dengan telltale. 73 .. Alat pemantauan keruntuhan atap (a) LVDT (b) Potensio Prinsip kerja alat ini sebagai alat pemantauan pergerakan batuan adalah dengan menempatkan 4 buah jangkar yang masing-masing terhubung dengan Potensiometer pada berbagai ketinggian lapisan batuan atap yang akan diamati pergerakannya. Sensor LVDT dilapisi dengan pipa PVC agar aman dan terlindungi (Gambar 4. pergerakan pada batuan atap menggerakan probe pada LVDT dan menyebabkan perubahan tegangan (voltase) pada alat monitoring. alat pemantauan ditempatkan tepat di bawah atap batuan. dengan persamaan garis linier yang digunakan sebagai rumus untuk memperoleh data pergerakan (a) (b) Gambar 4. sehingga terjadi perubahan tegangan yang dapat terukur. Alat yang dirancang mempunyai prinsip kerja yang atap hasil pemantauan dalam satuan mm. sedangkan pada alat monitoring ini pergerakan dapat dibaca dengan menghubungkan alat pemantauan dengan datalogger.

0076x + 24.019 Y = 1.064 Y = 1.437 Y = 1.019 R2 = 0. Persamaan regresi linier untuk masing-masing alat pemantauan keruntuhan atap hasil kalibrasi No 1. 4.102x + 0. 2.100x + 0.0076x + 24.9797 0. 5.9980 74 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .406 Y = 1. Alat Monitoring LVDT Potensiometer 1 Potensiometer 2 Potensiometer 3 Potensiometer 4 Persamaan Regresi Linier Y = .0.9980 0.9999 0. Grafik hasil kalibrasi LVDT Gambar 6.9980 0.103x + 0.9797 Tegangan (Volt) Gambar 5.LVDT 30 27 24 21 18 15 12 9 6 3 0 -400 -3 0 400 800 1200 1600 2000 2400 2800 3200 3600 Pergerakan (mm) y = -0. 3. Grafik hasil kalibrasi potensio Tabel 1.101x + 0.073 R2 0.

Pannel box ditempatkan dekat dengan lokasi penempatan alat pemantauan (Gambar 8 (b)). Masing-masing alat pemantauan ditempatkan pada lokasi yang berbeda. terlebih dahulu dibuat lubang bor dengan kedalaman yang sesuai dengan kedalaman lapisan batuan atap yang akan diukur pergerakannya (Gambar 7(b)). 75 . Alat pemantauan LVDT ditempatkan tepat dibawah permukaan batuan atap (Gambar 7 (a)). ujicoba dilakukan pada salah satu tambang bawah tanah yang ada di Sumatera Barat. Setelah semua alat pemantauan terpasang dengan baik.. Ujicoba Sistem dan Alat Pemantauan Keruntuhan Atap Selain kalibrasi. Nilai R 2 hasil kalibrasi masing-masing alat menunjukkan nilai yang mendekati 1. setiap data yang direkam disimpan pada memori yang terdapat pada datalogger.9999 untuk Potensiometer. yaitu 0. (a) (b) Gambar 7. Untuk mengetahui performa dari peralatan dan sistem yang telah di rancang. Untuk pemasangan alat pemantauan Potensio. alat dihubungkan dengan sistem yang telah dirancang sebelumnya.Dari grafik diperoleh persamaan garis linier dan juga nilai R 2 untuk masing-masing alat Pemantauan (Tabel 1). Penempatan alat pemantauan keruntuhan atap (a). sedangkan alat pemantauan Potensio ditanamkan pada batuan atap. Semua perangkat tersebut ditempatkan dalam pannel box yang tertutup dan aman. dkk. yang berarti bahwa hasil pembacaan pada kedua alat tersebut mendekati besarnya pergerakan yang mungkin terjadi.9797 untuk LVDT dan 0. LVDT (b) Potensio (a) (b) Gambar 8. ujicoba sistem dan alat pemantauan juga dilakukan pada tambang bawah tanah yang merupakan kegiatan penerapan dan running test di lapangan.. Zulfahmi. Sistem pemantauan terdiri dari datalogger sebagai pembaca dan penyimpan data. Nilai tersebut menunjukkan nilai variabel bebas pada persamaan regresi linier yang diperoleh telah dapat menjelaskan hampir 100% dari nilai hasil pengukuran oleh setiap alat pemantauan. (a) Pemasangan alat pemantauan (b) Komponen peralatan dalam pannel box Pengembangan Sistem dan Alat Pemantau Sederhana untuk Mendeteksi .9980 sampai dengan 0.

LVD T 0. Data yang terekam di konversikan dengan mengunakan rumus regresi linier dari masing-masing alat pemantauan. Hasil pemantauan keruntuhan atap menggunakan LVDT Gambar 10. Grafik hasil pemantauan dapat dilihat pada Gambar 9 dan Gambar 10.6 W aktu. detik LVD 1 T LVD 2 T 0 200000 400000 600000 800000 1000000 1200000 1400000 1600000 Gambar 9.2 0 -0.2 Pergerakan.Evaluasi Hasil Ujicoba Running test alat di tambang bawah tanah dilakukan secara terus menerus selama 18 hari dengan proses perekaman data setiap 110 detik yang disesuaikan dengan kapasitas memori dari datalogger. Hasil pemantauan keruntuhan atap menggunakan potensio 76 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .8 -1 -1.6 -0.001 mm -0.4 -1. kemudian dibuat grafik pergerakan batuan (mm) terhadap waktu.2 -1. 0.4 -0.

dapat dilihat bahwa kurva yang diperoleh bergerigi.gov/stats/charts/ chartshome. Cheekiralla. 2008.1. Paper in the Proceedings of the 20th International Conference on Ground Control in Mining 2001. Sistem yang dirancang merupakan sistem pemantauan terpusat.Semua alat pemantauan telah diujicoba dan dapat bekerja dengan baik. 2001-2004. pemantauan dapat dilakukan pada beberapa tempat dengan berbagai macam alat pemantauan dalam satu sistem. 2001.pdf.mit. NIOSH. dataTaker DT800 User’s Manual. Mark C. dkk.cdc. web. S. Dari grafik pergerakan batuan pada setiap alat pemantauan.htm. Pittsburgh. Diperlukan kajian lebih lanjut sehingga diperoleh sistem monitoring yang dapat digunakan sebagai sistem peringatan dini dan data pergerakan secara real time. Massachusetts Institute of Technology. DAFTAR PUSTAKA http://www.. PA. Iannacchione A.2. Zulfahmi. Hal tersebut juga menunjukkan sistem yang diterapkan terbukti dapat digunakan sebagai sistem pemantauan keruntuhan batuan atap secara terpusat. 77 .msha. sentral.. Hal tersebut disebabkan oleh adanya gangguan (noise) yang dapat dipengaruhi oleh kondisi sekitar dan sensitifitas dari alat pemantauan.gov/niosh/mining/pubs/pdfs/ bptmi.. UM-0068-A2.T. 4. sehingga aman untuk digunakan di tambang bawah tanah.edu/ sivaram/www/Sivaram-MS-thesis. Australia. Setiap alat yang diujicoba dapat mendeteksi adanya pergerakan lapisan batuan atap pada tempat diterapkannya alat. terutama pada kurva hasil monitoring dengan menggunakan Potensiometer.Injuries and Fatalities from Rock Falls. Dengan kata lain alat yang telah diujicoba layak dimanfaatkan untuk memantau pergerakan batuan atap pada tambang bawah tanah. 2004. www. Anonym.. 4. Datataker Pty Ltd. Semua alat tersebut terhubung dalam satu sistem sebagai sistem pemantauan terpusat. Best Practice to Mitigate. semua alat pemantauan dioperasikan dari satu tempat begitu pula data yang diperoleh dari setiap alat dapat terbaca dan tersimpan dalam satu tempat sebagai Pengembangan Sistem dan Alat Pemantau Sederhana untuk Mendeteksi . Secara umum kajian yang telah dilakukan menujukkan nilai yang signifikan. Saran Perlu dilakukan pengembangan terhadap casing dari alat yang digunakan. Kesimpulan Teknologi pemantauan keruntuhan atap batuan pada tambang bawah tanah dengan menggunakan LVDT Tranduser dan Potensiometer dapat digunakan untuk mendeteksi pergerakan yang terjadi pada atap terowongan sebagai peralatan pemantauan keruntuhan atap batuan (roof failure) tambang bawah tanah..pdf. KESIMPULAN DAN SARAN 4. Alat pemantauan dioperasikan dari satu tempat begitu pula data yang diperoleh dari setiap alat pemantauan dapat terbaca dan tersimpan dalam satu tempat sebagai sentral. Development of Wireless Sensor Unit for Tunnel Monitoring.

Kata kunci : karbon aktif. In order to decrease COD. Liquid waste produced from sugar industry consists of many Chemical Oxygen Demand (COD). Namun pada dasarnya.go. karbon aktif yang digunakan dalam proses tersebut adalah karbon aktif yang dibuat dari tempurung kelapa.5. Dengan tingkat penurunan sebesar 74%. Untuk menurunkan kandungan COD dalam limbah tersebut. COD ABSTRACT Commonly. it has been tried to use activated carbon from coal as absorber. sedangkan waktu proses adalah 30. waste processing 78 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . adsorpsi.PEMANFAATAN KARBON AKTIF DARI BATUBARA PADA PENGOLAHAN LIMBAH CAIR INDUSTRI GULA Ika Monika dan Nining Sudini Ningrum Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jalan Jenderal Sudirman No. 60.0 gram. konsentrasi COD tersebut belum memenuhi persyaratan kualitas limbah cair yang memiliki ambang batas maksimal 300 mg/l. Variabel jumlah karbon aktif yang digunakan adalah 2.0. pengolahan limbah. The result showed that the concentration COD was decrease 74% at time condition 90 minutes and 2. Faks. 022-6030483. 7. with the 30. activated carbon is used as fader in sugar industries. Keywords : activated carbon. The iodine number of activated carbon is in the range of 600 to 700 mg/g. Namun sebenarnya karbon aktif juga dapat digunakan dalam proses pengolahan limbah cair yang dikeluarkan dari pabrik gula dan laboratorium analisis kimia di pabrik gula. Karbon aktif yang digunakan dibuat dari batubara Air Laya Sumatera Selatan yang berukuran 12 mm dengan bilangan yodium berkisar antara 600 dan 700 mg/g. maka karbon aktif dari batubara juga dapat digunakan. dalam pengolahan limbah cair dari pabrik gula. mengingat sifat karbon aktif batubara yang menyerupai sifat karbon aktif tempurung kelapa. Nowadays.5 gram dan waktu proses selama 90 menit. 5.5. 5. dan 90 menit.5 dan 10. The variables of weights activated carbon are 2. Hasil percobaan menunjukkan.0. Limbah cair yang dihasilkan dari pabrik gula memiliki kandungan COD (Chemical Oxygen Demand) yang cukup tinggi. 022-6003373 e-mail : ika@tekmira.623 Bandung 40211 Tlp. konsentrasi COD yang semula sebesar 2355 mg/l turun menjadi 609 mg/l. Selama ini.5 and 10.5 gram of activated carbon. activated carbon used in waste processing is made from coconut shell. 7. Coal from Air Laya.id SARI Karbon aktif pada industri gula umumnya digunakan sebagai bahan pemudar warna. South Sumatra which is 12 mm in particle size was used as raw material of activated carbon. However. adsorption. Percobaan dilakukan dengan variabel jumlah karbon aktif dan waktu proses. 60 and 90 minutes.esdm. dengan jumlah karbon aktif 2. telah dicoba dengan menggunakan karbon aktif yang dibuat dari batubara. The research is carried out using the variables of activated carbon weight and the length of process time. it can be used as absorber of waste sugar industry.0.

dilakukan penelitian pemanfaatan karbon aktif dari batubara. adsorpsi kimia yaitu terjadi karena ikatan kimia antara molekul zat terlarut (adsorbat) dengan molekul adsorban. penetralisir ataupun sebagai desinfektan. mempunyai konsentrasi COD 1000 mg/gr dapat meningkatkan jumlah bakteri E-coli empat kali lipat (PERSI. COD merupakan salah satu parameter indikator pencemar di dalam air. Pengolahan air secara fisik bertujuan untuk mengurangi atau menghilangkan kotoran-kotoran yang kasar. (2) mikrotransport.1. fenomena pemanfaatan karbon aktif dari batubara masih menjadi sesuatu yang tidak lazim. Adsorpsi jenis ini eksoterm (mengeluarkan panas) dan tidak dapat berbalik kembali (irreversible). Akibatnya oksigen yang menjadi sumber kehidupan mahluk air (hewan dan tumbuhan) tidak dapat terpenuhi. yang disebabkan oleh limbah organik. Karbon aktif dengan luas permukaan yang semakin luas menunjukkan semakin tinggi daya adsorpsinya. Pengolahan air secara kimia. pemisahan lumpur dan pasir serta mengurangi zat-zat organik dalam air yang akan diolah. Dalam proses pembuatan Pemanfaatan Karbon Aktif dari Batubara pada Pengolahan . gula. Di Indonesia. perpindahan zat pencemar (adsorbat) di dalam air menuju permukaan adsorban. padat dan gas terus dikembangkan.2. 2. bahan baku tebu merupakan bahan yang terdiri atas komposisi kimia organik. Proses aktivasi akan memperbesar luas permukaan dan volume 2. Di Indonesia. Ika Monika dan Nining Sudini Ningrum 79 . Limbah cair yang dikeluarkan Instalasi Penjernihan Air (IPA) di daerah Karangpilang. sehingga mahluk air menjadi mati. Adsorpsi adalah suatu proses pengumpulan zat terlarut pada suatu permukaan media akibat adanya perbedaan muatan diantara kedua zat. Kedua. (3) sorpsi . 2008). terjadi karena gaya tarik molekul oleh gaya Van Der Waals dan yang ketiga pertukaran ion. 2009). 2000). cairan dengan gas. PENDAHULUAN Seiring dengan perkembangan dan permasalahan lingkungan. tawas. dilakukan dengan menambahkan bahanbahan kimia tertentu antara lain menggunakan PAC (Poly Alumunium Chloride). Hasil penelitian merupakan acuan untuk pemanfaatan karbon aktif batubara pada industri gula. Hal ini menimbulkan berbagai penyakit bagi kehidupan manusia. karbon aktif yang digunakan pada pengolahan air umumnya karbon aktif yang dibuat dari tempurung kelapa. Namun sebenarnya karbon aktif dari batubara juga dapat digunakan dalam proses tersebut. karena selain murah juga relatif mudah. warna dan rasa. Salah satu yang menjadi objek penelitian adalah penurunan kadar COD (Chemical Oxygen Demand) dalam limbah cair yang dihasilkan dari salah satu pabrik gula yang ada di wilayah provinsi Banten. perpindahan adsorbat menuju pori-pori di dalam adsorban. (1) makrotransport .1. atau cairan dengan padatan. Proses untuk memperoleh daya adsorpsi tinggi dilakukan melalui proses aktivasi terhadap arang. Terdapat dua cara utama pengolahan yaitu secara kimia dan fisik. juga sebagai bahan untuk pemurnian. 2001).. Salah satu bahan yang digunakan dalam proses pengolahan air adalah karbon aktif. adsorpsi fisika. baik cairan dengan cairan. Ketiga mekanisme adsorpsi tersebut terdiri atas tiga tahap yaitu . Pertama. meskipun di negara lain seperti di China jenis karbon aktif ini sudah banyak digunakan oleh masyarakat. penghilang bau. baik air baku maupun air limbah. TINJAUAN PUSTAKA COD adalah jumlah oksigen (mg O 2 ) yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat-zat organik dan anorganik yang ada dalam 1 liter air (Nazir. berbagai teknologi pengolahan limbah baik limbah cair. Dampak konsentrasi COD tinggi menyebabkan kandungan oksigen yang terlarut di dalam air menjadi rendah. pelekatan zat adsorbat ke dinding poripori atau jaringan pembuluh kapiler mikroskopis. Berdasarkan kondisi tersebut. Saat ini teknologi yang kian berkembang pesat adalah pengolahan air. Karbon aktif umumnya digunakan selain sebagai penjernih. Karbon Aktif dari Batubara Salah satu adsorban yang biasa digunakan dalam pengolahan air (termasuk limbah) adalah karbon aktif. kapur ataupun bahan-bahan kimia lainnya. Tujuan penelitian adalah untuk meningkatkan kualitas air yang dikeluarkan dari limbah pabrik gula dan mengurangi ketergantungan karbon aktif yang dibuat dari tempurung kelapa. Umumnya proses aktivasi dilakukan dengan menggunakan uap air. bahkan habis sama sekali. terjadi karena gaya elektrostatis. dalam waktu tertentu (Cahyana.. yang dapat berfungsi sebagai koagulan. Limbah yang dihasilkan adalah limbah cair yang berasal dari proses pengolahan gula dan laboratorium pabrik (Santoso. Teknologi Pengolahan Air Salah satu cara pengolahan air yang saat ini sedang berkembang adalah melalui mekanisme adsorpsi. Proses adsorpsi terbagi dalam tiga jenis. 2.

Setelah selesai proses pencampuran.5 gr 30 60 90 667 661 609 2355 Berat karbon aktif 5. 4. pengolahan dan penjernihan air. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil percobaan pengolahan limbah cair yang dikeluarkan dari pabrik gula tercantum pada Tabel 1. Karbon aktif granular biasa digunakan untuk menghilangkan senyawa organik yang menimbulkan bau. gelas piala. Selanjutnya. atau warna yang tidak diinginkan pada fasa cair. Luas permukaan karbon aktif dari batubara dapat mencapai 500-1400 m 2 /gr. 1972). Campuran tersebut kemudian diaduk setiap 10 menit selama masing-masing 30. pengaduk gelas. 2007).5 dan 10 gram. Karbon aktif bentuk powder lebih tepat digunakan untuk fasa gas karena memiliki mikropori yang lebih besar sehingga mampu menyerap molekul-molekul kecil. Penentuan luas permukaan menggunakan metode BET (BrunauerEmmnett-Teller). Sedangkan.5. mesopori dengan diameter antara 20 dan 500 A°.0 gr 949 823 766 80 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . sehingga efektif menyerap partikel-partikel yang sangat halus (O-Fish. rasa. Hasil analisis COD limbah cair pabrik gula Konsentrasi COD sebelum proses (mg/l) Waktu proses (menit) Konsentrasi COD setelah proses (mg/l) 2. Bentuk karbon aktif dapat diklasifikasikan menjadi dua golongan yaitu bentuk granular dan powder (Activated Carbon. Sedangkan penggunaan karbon aktif powder pada fasa cair harus selalu diaduk agar homogenitas tetap terjaga dan tidak terjadi sedimentasi suspensi.5 gr 925 719 888 10. Teknik ini meliputi pengukuran volume gas nitrogen yang terserap. struktur dan distribusi pori-pori karbon aktif dapat diketahui. Karbon aktif granular dibuat dalam ukuran yang berbeda tergantung pada aplikasinya. Struktur pori dari suatu adsorban diklasifikasikan menjadi transportpori yang memiliki diameter sekitar 500 A°. dan timbangan analitik Bahan Conto limbah gula (cair) Karbon aktif berukuran 12 mesh dengan bilangan yodium berkisar antara 600 dan 700 mg/gr Cara kerja Karbon aktif berukuran 12 mm ditimbang masingmasing 2. kemudian dilakukan penyaringan. filtrat ditampung di dalam botol untuk selanjutnya dilakukan analsisis COD. mikropori dengan diameter antara 8 dan 20 A°. Metoda analisis COD mengacu pada SNI 06-6989. karbon aktif ditambahkan ke dalam 200 ml conto limbah.0 gr 715 799 975 7.15-2004. Struktur dan distribusi pori-pori merupakan faktor utama dalam menentukan daya serap karbon aktif dibandingkan dengan luas permukaan (Harald. METODOLOGI Alat Peralatan laboratorium seperti . 5. 2007). 3. atau bisa juga dilakukan dengan penyaringan. Dengan perhitungan persamaan BET. efektifitas adsorpsi sangat tergantung pada jenis bahan baku adsorban. Tabel 1. botol plastik. distribusi dan ukuran pori-pori karbon aktif menjadi faktor yang menentukan kemampuan adsorban dalam mengadsorpsi berbagai jenis adsobat. jenis zat adsorbat dan temperatur pada saat proses berlangsung. 7.0. Struktur. Kedua bentuk ini dapat digunakan dalam proses pemurnian. 1975). Karbon aktif granular memiliki persentase makropori dan transportpori yang lebih besar sehingga memungkinkan molekul-molekul besar terserap. corong. Karbon aktif dari tempurung kelapa umumnya memiliki luas permukaan seluas 500-1500 m2/gr. 60 dan 90 menit.pori-pori bagian dalam karbon aktif. dan pori-pori dengan diameter kurang dari 8 A° yang disebut submikropori (Pruss.

menunjukkan penurunan konsentrasi COD yang relatif stabil. semakin besar jumlah karbon aktif yang ditambahkan. Teknik pengolahan adalah dengan cara mengalirkan debit limbah melalui suatu kolom yang berisi karbon aktif. 1. Gede. Februari 2009 Harald.6.4. DAFTAR PUSTAKA Cahyana. Gambar 1. Conversion of Coal and Gas Produced from Coal Into Fuels. Penambahan berat karbon aktif lebih besar dari 2. Persentase penurunan adsorpsi terbesar. Selain kualitas karbon aktif. tidak menunjukkan semakin turunnya konsentrasi COD. tingkat penurunan adsorpsi relatif rendah.0 gram selama 90 menit. Media Informasi Ikan Hias dan Tanaman. Dari Gambar 1 terlihat bahwa persentase penurunan adsorpsi terendah terjadi pada penambahan karbon aktif sebesar 5. diperoleh dengan penambahan karbon aktif 2. 30.5 gram selama waktu 30. nilai COD menjadi turun. dengan tingkat penurunan mencapai 59%. Selain itu. Mengacu pada baku mutu limbah cair yang mempunyai nilai ambang batas COD 300 mg/gr. Pada pengolahan limbah cair di salah satu pabrik gula. H. and Other Products. 2007. karbon aktif yang digunakan terbuat dari tempurung kelapa mempunyai bilangan yodium 6. jenis adsorbat dan cara pengolahan.5 gram selama 90 menit. Waktu kontak relatif cepat. maka penurunan COD sangat signifikan. Tetapi. perlu meningkatkan kualitas karbon aktif dari bilangan yodium 600 dan 700 mg/gr menjadi 1000 mg/gr. 60 dan 90 menit. Faktor-faktor ini dapat mempengaruhi persentase penurunan adsorpsi karbon aktif. Setelah ditambah karbon aktif.5 gram. Nazir. KESIMPULAN Berdasarkan hasil percobaan.Konsentrasi COD di dalam limbah gula semula sebesar 2355 mg/gr... perlu pengaturan ukuran butir dan cara pengolahan limbah sehingga diperoleh hasil yang memenuhi standar kualitas limbah cair. dengan jumlah karbon aktif rendah. Ernawita. Chemicals. Persentase penurunan adsorpsi Konsentrasi COD 609 mg/gr belum memenuhi persyaratan kualitas limbah cair yang mempunyai nilai ambang batas 300 mg/gr. Begitu pula dengan penambahan karbon aktif 10 gram. dapat digambarkan seperti pada Gambar 1. http:// Gedehace. http://o-fish.blogspot. Bila dihitung berdasarkan persentase penurunan tingkat adsorpsi. Majalah Air Minum. namun karena kualitas karbon aktif tinggi.. Filter Kimia.5 gram selama 90 menit. konsentrasi COD sebesar 609 mg/l belum memenuhi persyaratan mutu limbah cair. O-Fish. SARAN Untuk memperoleh hasil yang maksimal.com. Salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya efektifitas adsorpsi adalah kualitas karbon aktif. diperoleh kesimpulan sebagai berikut: Karbon aktif yang berukuran 12 mm dengan bilangan yodium antara 600 dan 700 mg/gr dapat menurunkan konsentrasi COD limbah gula dari 2355 mg/gr menjadi 609 mg/gr. Chapter 30. faktor yang mempengaruhi efektifitas adsorpsi adalah jenis bahan baku karbon aktif. 2000. Konsentrasi COD yang terendah adalah 609 mg/gr. 2009. Ika Monika dan Nining Sudini Ningrum 81 . Teknik Sampling dan Analisis Air Permukaan. Pemanfaatan Karbon Aktif dari Batubara pada Pengolahan . 1975.. Hasil tersebut diperoleh dengan penambahan karbon aktif sebesar 2.000 mg/gr.com/2009/03/adsorpsikarbon-aktif. Berdasarkan data pada Tabel 1.3.html. 5. tingkat penurunan mencapai 60% selama 30 menit. diperoleh dengan penambahan berat karbon aktif 2.

2009. Brennestoff-Chemical. 157-160 Santoso. Pencegahan Dan Pemanfaatannya.PERSI.id. Indonesia 82 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . http:// www. Determination of Pore Size and Pore Distribution in Coal and Coke.pdpersi. W. B. Eddy. Pusat Data dan Informasi.. 2001. 1972. Pasuruan. Rabu 22 Agustus Pruss.co. 42. Limbah Pabrik Gula: Penanganan. Penelitian Perkebunan Gula Indonesia..

Jend. Secara umum. 83 . bijih emas dan tembaga seperti di Kalimantan. Sudirman 623 Bandung 40211 Telp.6. Kata kunci: lingkungan tambang. Proses netralisasi dapat membentuk logam hidroksida yang dapat mengendap berupa lumpur sehingga diperlukan penanganan lebih lanjut.15%. Percobaan dilakukan dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 3 faktor. Hasil percobaan menunjukkan. pengaruh bakteri Kemungkinan Pemanfaatan Bakterisida Fenol untuk . polusi.esdm. rosniasruntung@tekmira. netralisasi.73. Bakterisida yang digunakan adalah fenol dengan dosis 5 mg/g dan sebagai pembanding digunakan gamping dengan dosis 10 mg/g.KEMUNGKINAN PEMANFAATAN BAKTERISIDA FENOL UNTUK PENCEGAHAN AIR ASAM TAMBANG Siti Rafiah Untung dan Nia Rosnia H Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl.67% dan kemampuan kapur mereduksi asam mencapai 48-15. air asam tambang. Sumatera dan Papua menyebabkan munculnya fenomena air asam tambang (AAT).go.id. Kedua jenis batuan tersebut dipreparasi menjadi ukuran 100 mesh. 022 . Fenol mampu mereduksi asam 6.6003373 e-mail : sruntung@tekmira.go. Salah satu cara yang cukup efektif untuk mengatasi masalah tersebut adalah melakukan pencegahan dan pengontrolan pembentukkan AAT dengan mengurangi aktivitas bakteri.pembentukan lahan basah dan pengkapsulan. Kehadiran jasad renik Thiobacillus ferroksidans juga dapat mempercepat terjadinya AAT. 022 . yaitu jenis batuan. Kecamatan Kedongdong. fenol. Siti Rafiah Untung dan Nia Rosnia H. -10+35 mm dan -1+1/2 cm. Pada penelitian ini digunakan 2 jenis batuan penutup yang berwarna abu-abu dan coklat berasal dari KUD Tambang Harapan.id SARI Peningkatan pertambangan batubara.esdm.. AAT dapat terjadi apabila mineral sulfida seperti pirit terpapar ke udara dan bereaksi dengan udara dan air membentuk asam sulfat.. pengelolaan lingkungan yang umum diterapkan untuk penanggulangan AAT antara lain adalah netralisasi. ukuran dan jenis bakterisida selama 12 minggu. Sehubungan dengan hal tersebut telah dilakukan penelitian penggunaan bakterisida untuk menanganani AAT. bakterisida.% . terlihat kemampuan fenol dalam mereduksi asam dari batuan penutup lebih kecil dari gamping.6030483 Fax. Lampung Selatan. penambahan fenol dan gamping (CaCO3) dapat meningkatkan pH lindian berturut-turut menjadi 6. lindian. Asam sulfat ini akan melarutkan logam sehingga dapat mencemari badan perairan sekitarnya.67% -51. Dari hasil tersebut.1 dan 10.

in capsulation and wetland are common to handle the AMD in Indonesia. Regarding to the problem. PT.67% and limestone 48-15. a laboratory research on the use of bactericide to handle the AMD was carried out. Kabupaten Lampung Selatan. microbial influence 1. batuan penutup dapat dibedakan menjadi 2 jenis. Pada umumnya perusahan-perusahan tersebut telah menangani masalah tersebut dengan berbagai cara antara lain netralisasi dengan CaCO3 (kapur). Phenol and limestone respectively could reduce acid 6. Berau Coal dan PT.1 and 10.ABSTRACT The increases of coal. gold and copper ore from mine activities in Kalimantan. yaitu berwarna abu ( BP abu) dan coklat (BP coklat). Sumatera and Papua lead to the occurrence of acid mine drainage (AMD). Sehubungan dengan hal tersebut. Kecamatan Kedongdong. Kedua contoh 84 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . leached. Oleh karena itu kehadiran AAT di lingkungan sangat tidak diharapkan. Salah satu pencegahan yang dapat diterapkan adalah penggunaan fenol. Newmont Minahasa mengalami masalah AAT ini.1.67% -51. The overburden was prepared to be 100 mesh. Kedongdong Subdistric. Bahan dan Peralatan Contoh dalam penelitian ini adalah batuan penutup. Two types of overburden which colour were gray and chocolate from KUD Tambang Harapan. berasal dari KUD Tambang Harapan. Generally. pengkapsulan/penghalang fisik dan pemanfaatan rawa/ rawa buatan (wetland). Fenol dibeli dari toko kimia dan gamping diperoleh dari tambang rakyat di daerah Citatah. acid mine drainage. Kaltim Prima Coal. The acid can dissolve metals and pollute the water body surrounding the area. Kelian Equatorial Mining. limestone. Fenol. The presence of Thiobacillus ferroksidans can also accelerate the formation of AMD. Fenol atau asam karbolik dengan rumus kimia C5H6OH adalah bakterisida. size and bactericide. neutralization. Neutralization process can form metal hydroxide and it will precipitate as sludge which need to be optimally managed. Beberapa perusahaan pertambangan mineral seperti PT. BAHAN DAN METODE 2. namely type of overburden. Phenol as bactericide with dose 50mg/g was used while limestone with dose 100mg/g also used as a comparison. Fenol ini ini dapat menghambat pertumbuhan jasad renik sampai mematikannya. Based on the result. Freeport Indonesia dan PT. penutupan dengan air. salah satu baktersida umum digunakan di rumah sakit sebagai antiseptik. Hal yang sama juga dialami oleh perusahaan pertambangan batubara di Kalimantan Timur seperti PT. Biaya penanggulangan AAT pada umumnya mahal. Kabupaten Lampung Selatan. South Lampung were used in this experiment. namun apabila pembentukkan asam dapat dicegah akan sangat menguntung- 2. the capacity of phenol to reduce acidity of overburden is much less than limestone. berasal dari KUD Tambang Emas Harapan. contoh batuan yang digunakan adalah batuan penutup. AAT dapat terbentuk apabila ada mineral pirit yang terpapar sehingga teroksidasi dan selanjutnya air membentuk asam sulat yang dapat menurunkan pH air dan melarutkan logam. Hal ini berdampak terhadap penurunan kualitas badan perairan karena sungai terkontaminasi oleh keasaman dan logam-logam terlarut dan juga menyebabkan reklamasi daerah tambang menjadi lebih mahal. Dalam penelitian. bactericide. The result showed that the phenol and lime stone can increase the pH of leached respectively 6. kapur padam (Ca(OH)2) dan kapur tohor (CaO). Pembentukkan air asam tambang (AAT) merupakan masalah utama dalam pertambangan batubara dan mineral.6. Berdasarkan warnanya. Keywords : mine environment . phenol. Kecamatan Kedongdong. pollution. PENDAHULUAN kan karena dapat menghemat biaya pengelolaan. Acid mine drainage can occur if sulphide mineral such pyrite was exposed to the air and it will react with oxygen water to form sulphuric acid. environmental management such as neutralization. Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara telah mengadakan penelitian laboratorium pencegahan AAT dengan menggunakan fenol dan gamping (CaCO 3). -10+35 mm dan -1+1/2 cm.15%.73.% . Design of Group Random was used with 3 factors.

Mn dan Ca) dalam bentuk oksida dan S (belerang) terhadap kedua jenis batuan. coklat P.39 31. Bagian bawah botol tersebut diberi lubang kapiler untuk mengeluarkan air pelindian. Selanjutnya. Fe. Pengukuran pH lindian dilakukan setiap minggu.82 Zn 0.04 0. 2.06 0. yaitu BP abu (b1) dan BP coklat (b2). Pb.05 0.12 0. botol-botol tersebut disimpan dalam akuarium tertutup dan dijaga kelembapannya sekitar 90%. terhadap kedua contoh batuan tersebut juga dilakukan pengujian air asam tambang dengan metode Sobek (Sobek.19 0. Untuk menjaga kelembaban.2. yaitu 100 #. Hasil analisis kandungan logam dan sulfur dalam contoh batuan Contoh Batuan Cu BP coklat BP abu Sumber Keterangan P. lampung Selatan Kemungkinan Pemanfaatan Bakterisida Fenol untuk . Analisis dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan pada taraf nyata 5% jika terdapat perbedaan antar perlakuan. HASIL DAN PEMBAHASAN 3. Faktor kedua (B) adalah jenis batuan dengan dua taraf. Siti Rafiah Untung dan Nia Rosnia H.11 S 1. Analisa kadar logam dari contoh dengan AAS Hasil analisa/penentuan kadar logam dan S dalam contoh BP abu dan BP coklat adalah sebagai berikut : Tabel 1. Air suling berfungsi sebagai media pelindi.. Seluruh pengujian dilakukan di laboratorium Lingkungan Puslitbang tekMIRA. Metode Uji karakterisasi contoh batuan dilakukan untuk mengetahui kandungan logamnya (Cu. 100 mesh (a1).10 : Data Primer Hasil Uji Puslitbang tekMira Bandung : = batuan berwarna cokalt dari tambang emas rakyat di Kecamatan Kedongdong. fenol (c1) dan gamping (c2). -10+35mm (a2) dan -1+1/2cm (a3). 1978).04 Ca 0. Kolom yang digunakan dalam pelindian adalah botol plastik + 250 ml. Zn. Mg. Proses tersebut dilakukan dalam akuarium tertutup pada suhu kamar selama 12 minggu dengan kelembaban berkisar 90 %.1. fenol dan kapur yang diujikan sebagai bahan pencegahan pembentukkan asam digunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 3 faktor. Peralatan lain yang digunakan adalah pH meter dan alat gelas. Lampung Selatan = lapisan batu berwarna cokalt dari tambang emas rakyat di Kecamatan Kedongdong. Dari faktor perlakuan tersebut diperoleh 24 kombinasi perlakuan dan setiap kombinasi perlakuan diulang dua kali.29 0. yaitu kontrol (c0).90 2. Ke dalam setiap kolom pelindian dimasukkan secara berturut-turut 100 gr contoh batuan.. Bakterisida yang digunakan adalah fenol yang dibeli dari toko bahan kimia dan sebagai pembanding adalah kapur gamping (CaCO3) yang berasal dari tambang rakyat Desa Citatah. (-10 + 35 mm) dan (-1 + ½ cm). Faktor pertama (A) adalah ukuran batuan dengan taraf.batuan penutup tersebut dipreparasi menjadi beberapa ukuran. 85 .1. 3. yaitu: batuan penutup berwarna abu (BP abu) dan coklat (BP coklat). Percobaan untuk mengetahui interaksi dari jenis batuan dan ukurannya.22 Mn 0. Setiap hari masing masing kolom pelindian ditambahkan 10 ml air suling sebagai media pelindian. Lindiannya ditampung dalam gelas plastik Setiap kolom pelindian diisi dengan contoh batuan yang disusun secara berlapis dengan fenol dan gamping. abu Parameter (%) Fe 8. kemudian dimasukkan ke dalam masing masing kolom secara berlapis fenol dan kapur dengan dosis masing-masing 5 mg/g dan 10 mg/g kecuali kontrol. 2.01 0.2 Peralatan Kolom pelindian adalah botol plastik + 250 ml yang bagian bawahnya diberi lubang kapiler untuk mengeluarkan lindian.01 Mg 0. Faktor ketiga (c) adalah jenis bahan kimia dengan dua taraf.03 Pb 0.

29%.5.7. yaitu 10. Hal ini menunjukkan bahwa kedua contoh tersebut dapat membentuk asam yang reaksi pembentukannya secara umum sebagai berikut: MeS2 +7/2O2 + H2O (logam sulfida) Dalam proses pembentukan AAT tersebut.37-3. Hal ini mungkin disebabkan oleh kandungan kalsium (Ca) kecil.39 74.90 70.42 pH 1:2 2.5 .56 kg H2SO4/ ton. Kedua contoh batuan menunjukkan nilai ANC = 0 berarti contoh tersebut tidak mampu untuk menetralisasi asam.88 3.1.8 atau rata-rata 10.29 1.65 52. Hal ini dapat dilihat dari kisaran pHnya. menyatakan senyawa fenol dapat masuk ke dalam sel bakteri dengan cara merusak dinding selnya dan juga dapat mengendapkan proteinnya.2 atau rata-rata 6. Peningkatan pH lindian pada percobaan penambahan fenol mungkin disebabkan oleh kemampuan fenol menghambat pertumbuhan 86 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . logam yang dominan dalam kedua jenis batuan penutup tersebut adalah besi dalam bentuk Fe2O3 dengan kisaran antara 8.15 berarti bahwa contoh-contoh tersebut bersifat asam. bakteri. pH tertinggi 5. yaitu ratarata 10.59 104.6.1 10. terlihat derajat keasaman pH (1:2) contoh yang dianalisis berkisar dari 2.82%.90% sampai dengan 2.0) dari BP coklat (5.12 %. sedangkan kandungan logam lainnya rendah.39 .7.13 kg H2SO4/ton. peran bakteri adalah mempercepat reaksi.19 0 0 84. 1996 mengklasifikasikan batuan pembentuk asam menjadi 4 jenis seperti tertera pada Tabel 3.6 hanya ditemukan pada batuan BP coklat dengan ukuran 100 mesh. Hasil pengukuran pH lindian selama 12 minggu dapat dilihat pada Tabel 4 dan Gambar 1. kedua contoh batuan tersebut dapat Me2+ 2SO42. Nilai pH lindian tertinggi ditunjukkan oleh penambahan gamping.56 63.2-7.5kg 7kg Sulfur (%S) H SO /ton H SO /ton H SO /ton H SO /ton H SO /ton 2 4 2 4 2 4 2 4 2 4 Total 2.31.+2H+ digolongkan tipe 4 atau potensi pembentuk asam kapasitas tinggi sehingga diperlukan penanganan agar tidak mencemari lingkungan sekitar.69 194.6. Kedua jenis batuan juga mengandung sulfur dengan kisaran 1.29% dan nilai tersebut berhubungan langsung dengan nilai MPA.6.37 3. Mengacu kepada hasil analisis dari Uji Identifikasi Pembentukan Air Asam Tambang pada Tabel 2. Buck (2001). P.90% 2. Dari uraian tersebut dapat Tabel 2. Penggunaan fenol dalam percobaan ini ternyata mampu meningkatkan air lindian 4. Berdasarkan pengklasifikasian tersebut. yaitu berkisar 0.19-70. Hasil analisis uji pembentukan air asam tambang Kode Sampel BP abu BP coklat Sumber Keterangan BP abu BP coklat MPA ANC NAPP NAG NAG kg kg kg 4. yaitu 63. Dari Tabel 3 dan Gambar 1 terlihat pada bahwa blanko (kontrol) air lindian bersifat asam pH dengan berkisar 2.11-0.2).59-84. Dengan demikian pH lindian BP abu lebih rendah (4. Kedua contoh nilai NAPP-nya positif. Hasil perhitungan menunjukkan nilai MPA kedua contoh berkisar antara 58. Proses penetralan dengan gamping terlihat bahwa nilai pH lindian tidak ditentukan baik oleh ukuran contoh maupun oleh perhitungan asam basa.15 : Data Primer Hasil Uji Puslitbang tekMira Bandung : = batuan penutup berwarna abu = batuan penutup berwarna coklat Dari Tabel 2.Hasil analisis menunjukkan. Salah satu penanganan adalah penggunaan fenol yang merupakan bakterisida dan sebagai pembanding digunakan gamping (CaCO3).90-5. Kadar belerang (S) total kedua contoh berkisar dari 1.6 atau rata-rata 3. diduga bahwa kedua jenis batuan tersebut berpotensi menghasilkan air asam tambang. Nilai pH lindian tersebut lebih ditentukan oleh kemampuan contoh dalam pembentukan asam maksimum dan potensi batuan dalam menetralkan dan bukan ukuran contoh.13 58.09 pH NAG 2. Dharmawan.

C1 = fenol. Golongan Tipe 1 Tipe 2 Jenis Batuan Bukan pembentuk asam Keterangan Nilai pH uji NAG lebih besar atau sama dengan 4 atau nilai NAPP negatif Potensi pembentuk asam Nilai pH uji NAG lebih kecil dari 4 .1 No 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Perlakuan a2 b2 c 0 a2 b2 c 1 a2 b2 c 2 a3 b1 c 0 a3 b1 c 1 a3 b1 c 2 a3 b2 c 0 a3 b2 c 1 a3 b2 c 2 pH 3.Tabel 3. Siti Rafiah Untung dan Nia Rosnia H. Gambar 1. pH batuan (1 : 2) lebih kecil dari 4 nilai NAG pada pH 4.5 –7.6 7..7 2. a2. b 1 = BP abu. 2.6 3.5 lebih kecil dari 5 kg H2SO4 per ton NAPP 0 – 10 kg H2SO4 per ton Potensi pembentuk asam kapasitas tinggi Nilai pH uji NAG lebih kecil dari 4. 1996 Tabel 4.4 6.5 10.9 5.8. Nilai pH lindian dari Kemungkinan Pemanfaatan Bakterisida Fenol untuk . 87 .5 lebih besar atau sama dengan 5 kg H2SO4 per ton NAPP lebih besar atau sama dengan 10 kg H2SO4 per ton Nilai pH uji NAG lebih kecil dari 4 .1 – 10.2 10. Parliyanto .2 10. Tipe 3 4.8 5.2 4. Perubahan pH lindian dari batuan dengan penambahan kapur dan fenol Tabel 5 menunjukkan nilai pH lindian rata-rata dari penggunaan fenol berkisar antara 4..8 Keterangan: C0=control. C2 = gamping b = jenis batu.8 4.2 dan gamping antara 10. Rata-rata perubahan pH lindian dengan penambahan fenol dan kapur No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Perlakuan a 1b 1 c 0 a 1b 1 c 1 a 1b 1 c 2 a 1b 2 c 0 a 1b 2 c 1 a 1b 2 c 2 a 2b 1 c 0 a 2b 1 c 1 a 2b 1 c 2 pH 2.nilai NAG pada pH 4.nilai NAG pada pH kapasitas rendah 4.5 lebih besar atau sama dengan 5 kg H2SO4 per ton NAPP lebih besar atau sama dengan 10 kg H2SO4 per ton 3. 1.6 7 10. Pada penetralan ini terjadi reaksi sebagai berikut: CaCO3+ H2SO4 CaSO4+ H2CO3 3 CaCO3 + Fe2(SO4)3 + 6 H2O 2 CaSO4+2 Fe(OH)2 + 3 H2CO3 Kapasitas reduksi asam untuk masing-masing perlakuan dapat dilihat pada Tabel 5. a3 = ukuran batu dilihat bahwa dosis gamping berpengaruh terhadap pH lindian. Tipe 4 Pembentuk asam Sumber: Dharmawan. b-2 = BPcoklat a1.9 6 10.9 10. Penggolongan jenis batuan pembentuk asam No.

23 20.7 7.4 3.67% -51. Batuan dengan potensi pembentuk kapasitas asam tinggi (BP abu) kemampuannya dalam mereduksi asam lebih rendah dari BP coklat.1 7.1.5 3.9 6.6 10.8 Selisih thd blanko 0 0 0 0 0 0 2.2 7.0 7. dapat dilihat bahwa ukuran batuan berpengaruh terhadap perlakuan.67%. jadi lebih tinggi dari fenol. Nilai tersebut memenuhi syarat sebagai air limbah dari kegiatan penambangan bijh emas berdasarkan Kepmen LH No. Ukuran bijih berpengaruh terhadap nilai pH dan reduksi asam baik untuk penggunaan fenol maupun gamping.3 3.36 58.0 10. Dari hasil percobaan terlihat kemampuan fenol dalm mereduksi asam lebih kecil dari gamping. Penurunan dosis gamping lebih dianjurkan karena dapat menghindari adanya biaya tambahan pengelolaan air limbah.67% -51.9 5.52 Kapasitas reduksi (per mg) 2.1 10. 202/2004 Kapasitas reduksi asam untuk fenol dengan dosis 5 mg/g berkisar antara 6. Dari Tabel 5.7 7.9 7.4 3.2 7.4 5.2 7.15 66. Penurunan dosis dilakukan dengan berbagai cara antara lain dengan menurunkan dosis gamping dan menggunakan asam seperti H2SO4 atau HCl sehingga diperoleh nilai pH air limbah yang sesuai dengan Kepmen LH No.2 3.64 68.5 3.6 4. Kesimpulan Hasil penelitian menujukkan berbagai hal sebagai berikut: Fenol dapat digunakan dalam pencegahan air asam tambang dan dapat meningkatkan nilai pH lindian dengan kisaran 4.% - 88 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .3 3.15%.6 0.00 6.6 2.9 5. Penelitian Siwik (1989) menunjukkan penambahan Ca(OH)2 (kapur padam) dengan dosis 5000 mg/kg selama 50 minggu dapat mereduksi asam sampai 80%.5 –7.3 1. 202/2004 (pH 6-9) dan dapat menetralkan asam berkisar antara 6.1 5.3 1.8 10.8 10. 5.67 73.Tabel 5.4 Fenol Gamping fenol sudah memenuhi syarat sebagai air limbah dari kegiatan penambangan bijh emas berdasarkan Kepmen LH No.15 48.2 4.9 5.73.9 3.67%. 202/2004 (pH 6-9).1 5.6 0. Kapasitas reduksi asam dari fenol dan gamping terhadap blanko Jenis Penanganan Blanko Perlakuan a1b1c0 a1b2c0 a2b1c0 a2b2c0 a3b1c0 a3b2c0 a1b1c1 a1b2c1 a2b1c1 a2b2c1 a3b1c1 a3b2c1 a1b1c2 a1b2c2 a2b1c2 a2b2c2 a3b1c2 a3b2c2 Rata-rata pH 2.4 Reduksi asam (%) 44. Namun apabila dilihat nilai pH lindian dari penggunaan gamping telah melampau nilai yang ditentukan oleh Kepmen tersebut.2. Penetralan dengan gamping dapat mereduksi asam 48-15.42 72.7 10. Nilai pH dan reduksi asam tertinggi terjadi pada batuan ukuran -1+1/2cm dan terkecil pada ukuran batuan 100 mesh baik untuk perlakuan dengan fenol maupun batuan. Hasil lindian (pH) dan reduksi asam dari BP abu lebih rendah dari BP coklat untuk semua jenis ukuran batu.1 7.00 50.5 6.67 50. sehingga perlu dilakukan penurunan dosis gamping agar hasil lindian dapat memenuhi syarat.72 51.9 7. KESIMPULAN DAN SARAN 5.% . Kapasitas reduksi asam untuk gamping dengan dosis 10 mg/g berkisar 48-15.

Arutmin Indonesia. EPA-600/2-78-054.73.html diakses tanggal 15 Juni 2009 Dharmawan Parliyanto. New York. 45268. Untuk melihat pengaruh ukuran dan jenis batuan terhadap kelarutan logam-logam maka perlu dilakukan pengukuran konsentrasi logam-logam yang terekstrasi. http:// www.infectioncontroltoday..)... Wheeland. Kapasitas fenol dalam mereduksi asam lebih kecil dari gamping. S. et al (eds. Payant and K. dan pH berkisar 10.2.8. UCAPAN TERIMAKASIH Penulis mengucapkan terimakasih kepada Bapak Sahroji. Sobek. U. Kirsten. M. 202/2004 sehingga diperlukan penurunan dosis gamping. E.S. DAFTAR PUSTAKA Buck. R. Environmental Protection Agency. 1989. M. Paper disajikan pada Seminar Air Asam Tambang di Indonesia. 2001..A. Ohio. ‘Control of acid generation from reactive waste rock with the use of chemicals’.. Pergamon Press.com/articles/ 191clean. Tailings and Effluent Management. Identifikasi Potensi Air Asam Tambang di Daerah Tambang Batubara PT. W. Kabupaten Lampung Selatan yang telah mengirim contoh batuan sehinnga penelitian ini dapat berjalan lancar. Cincinnati. Field and Laboratory Methods Applicable to Overburdens and Minesoils. and Smith. J. Freeman.M. Kepala KUD Tambang Harapan. 1996.A. Kecamatan Kedongdong. Ukuran batuan dan jenis batuan berpengaruh terhadap hasil lindian. The effects of Germicides on Microorganism. Aula Barat ITB 1-2 Juli 1996 Siwik R.1 – 10. 5. Kemungkinan Pemanfaatan Bakterisida Fenol untuk . Schuller. Siti Rafiah Untung dan Nia Rosnia H. 1978. Saran Penelitian perlu dilanjutkan dengan pemberian bakterisida yang lain seperti surfaktan sehingga dapat ditentukan bakterisida yang lebih beperan dalam pencegahan air asam tambang. 4750. Chalkey. 89 . Karena nilai ini sudah melampaui baku mutu air limbah dari kegiatan penambangan bijh emas berdasarkan Kepmen LH No.R. A.15%.

dalam pengoperasian pembakar siklon untuk ketel uap. Sudirman 623 Bandung Telp. Untuk pengoperasian pembakar siklon. abu golongan b lebih dari 50% menempel sebagai kerak di dalam siklon dan abu golongan c lebih dari 90% meleleh di dalam siklon kemudian mengalir ke dalam kotak abu. in the operation of the cyclone combustor in steam boiler. jauh dibawah 1200°C. Berdasarkan titik lelehnya abu dibagi menjadi 3 golongan yaitu golongan a bertitik leleh tinggi. pengendapan ABSTRACT Coal may be viewed as a dirty fuel. since it is difficult to obtain pure coal. titik leleh abu. and (c) group has low melting point. kadar abu yang tinggi dengan titik leleh yang bervariasi dapat mempengaruhi kinerja alat. 081321237913 e-mail : soemaryono@tekmira. Particularly the impurities which may affect the combustion process such as the ash content with its various characteristics. free from impurities. Tulisan ini menguraikan proses penanganan abu untuk ketiga jenis abu tersebut. bersih dari kotoran. 90 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . didapat abu golongan a lebih dari 90% tertiup keluar siklon. high ash content with various melting points may affect the combustor performance. This paper describes the handling process of those ash groups. pemanas oli dan pengering berputar. far below 1200°C. Dari pengamatan tersebut.PENGARUH TITIK LELEH ABU TERHADAP PENGENDAPANNYA PADA PEMBAKARAN BATUBARA DENGAN PEMBAKAR SIKLON DI BEBERAPA FASILITAS INDUSTRI Sumaryono Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara (tekMIRA) Jl. golongan b bertitik leleh sedang atau mendekati suhu operasional pembakar siklon 1200°C dan golongan c bertitik leleh rendah. The deposition processes of the ash particles in those industrial facilities and their deposition locations are also described. From this observation. ash may be divided into three groups. (a) group has high melting point. Khususnya pengotor-pengotor yang dapat mempengaruhi proses pembakaran seperti kandungan abu dengan berbagai karakteristiknya yang selain mempengaruhi proses pembakaran juga dapat mengganggu produk dan fasilitas industri yang dilayani. Kata kunci : pembakar siklon. oil heater and rotary dryer.esdm. (b) group has medium melting point or close to the operational temperature of the cyclone combustor at 1200°C. Diuraikan juga proses pengendapan partikel abu dari ketiga jenis abu dalam fasilitas industri tersebut dan lokasi pengendapannya.go. Based on its melting point.id SARI Batubara dapat dikatakan sebagai bahan bakar yang kotor karena sulit untuk mendapatkan batubara yang murni. which either affecting the combustion process or may affect the product and the industrial facilities served. Jend./Fax : 022 – 6038027. For cyclone combustor operation.

MgO dan Fe2O3 mengakibatkan turunnya titik leleh abu. Masalah titik leleh abu juga berpengaruh pada operasional teknik pembakaran batubara lainnya. Ca dan sedikit Ti. Jika perbandingan Al2O3 : SiO2 mendekati 1 : 1. khususnya titik leleh abu yang merupakan parameter penting dalam proses pembakaran batubara (Rance. titik leleh abu yang rendah mengakibatkan tertutupnya kisi oleh lelehan abu sehingga mengganggu aliran udara pembakar. pengelolaan abunya tergantung pada titik leleh abu. Jelas pula pengaruhnya pada teknik pembakaran batubara bubuk (pulverized coal combustion) (Singer. 1991).it was found that (a) group ash.18 maka abu bersifat refraktori dengan titik leleh tinggi. diameter moncong siklon semakin kecil. Keywords: cyclone combustor. Sebaliknya. (b) group ash more than 50% adhered as slag in the cyclone and (c) group ash more than 90% melted in the cyclone and then flowed into the ash box. Sebagai contoh. 2007). Parameter titik leleh abu akan dibahas dalam tulisan ini karena merupakan salah satu faktor yang berpengaruh dalam operasional pembakar siklon. Al. karakteristik abu sangat penting selain berpengaruh pada efisiensi pembakaran. LATAR BELAKANG Pembakar siklon dengan bahan bakar batubara halus berukuran -30 mesh telah digunakan di industri untuk berbagai jenis fasilitas seperti ketel uap. deposition 1. Na. Untuk pembakaran terus menerus. Pada teknik pembakaran dengan unggun terfluidakan (Basuki. Pembakaran batubara dengan pembakar siklon dilakukan dengan batubara tepung (-30 mesh). dll sejak tahun 2005. Sifat-sifat abu khususnya menyangkut sifat melelehnya yang dapat mengganggu operasional siklon tersebut dipengaruhi oleh kandungan unsurunsur tertentu di dalam abu. Mn. Tergantung nilai titik Pengaruh Titik Leleh Abu terhadap Pengendapannya pada Pembakaran . 2. K yang terikat dengan silikat. pengaruh Al2O3 dan SiO2. Pembakar siklon digunakan untuk menggantikan pembakar BBM di berbagai fasilitas industri tersebut (Sumaryono.. Jika menempel di moncong keluarnya api. Tetapi sejak tahun 2008 mulai terjadi kelangkaan batubara standar karena naiknya harga ekspor batubara sehingga pasokan batubara standar untuk dalam negeri terganggu dan di pasaran dalam negeri hanya tersedia batubara dengan spesifikasi yang berubah-ubah dalam jumlah-jumlah kecil. atau berupa kerak yang menempel di dinding siklon sehingga jika semakin tebal. 2009).. 2003). Tulisan ini menguraikan beberapa proses pembakaran batubara dengan titik leleh abu yang berbeda-beda pada beberapa fasilitas industri dan akibat-akibat yang ditimbulkan oleh abu batubara tersebut pada operasional pembakar siklon. ash melting point. Karakteristik abu dipengaruhi oleh unsur-unsur yang dikandungnya. 1975). pengering berputar. operasional pembakar siklon dapat terganggu. oksida. pemanas oli. Sumaryono 91 . terutama jika kandungan SiO2-nya tinggi. dengan banyaknya senyawa CaO. more than 90% was blown out of the cyclone. Keadaan ini mengakibatkan operasional pembakar siklon sering terganggu karena mutu batubara yang berubah-ubah dan cenderung semakin turun mutunya. 2003). Unsur lain yang dapat menurunkan titik leleh abu adalah Na2O dan K2O. bisa berupa abu terbang atau abu dasar. jika digunakan batubara dengan titik leleh mendekati suhu pembakaran atau dibawahnya mengakibatkan unggun mengeras setelah dingin sehingga harus dihancurkan dengan linggis. Pembakar siklon perlu terus dikembangkan sehingga semakin handal untuk dapat menghadapi berbagai parameter karakteristik batubara yang berbeda-beda. sulfat atau fosfat. Dengan kinerja yang semakin baik maka hal ini merupakan dukungan pada program pemerintah untuk terus meningkatkan kontribusi batubara dalam konsumsi energi nasional yang ditargetkan sebesar 33% pada tahun 2025 (Yusgiantoro. belerang. Mg. LATAR BELAKANG TEORI Komponen-komponen abu dalam batubara terutama terdiri atas unsur-unsur Si. dapat menyumbat aliran api karena jika kerak semakin tebal. sifat titik leleh dapat mengganggu operasional pembakar siklon karena abu dapat berupa padatan yang tertiup keluar siklon. Pada teknik pembakaran kisi berjalan (Changzhou. Fe.

jadi dalam suasana pembakaran dengan jumlah oksigen lebih dari oksigen stoikiometrinya. Abu bertitik leleh tinggi (a). b yang titik lelehnya hampir sama dengan suhu operasional pembakar siklon. Sebaran kerak dan kotoran padat lain adalah : Tabel 1. c. Jika titik lelehnya hampir sama dengan suhu siklon. maka viskositas tinggi sehingga lengket dan tidak bisa mengalir. Tabel 1 adalah beberapa contoh abu yang termasuk dalam abu golongan a. menghasilkan abu yang lunak dan lengket menempel pada dinding bagian dalam pembakar siklon. a.1. Abu dengan titik leleh oksidasi sama atau mendekati suhu operasional pembakar siklon. akan tetap berupa debu padat pada saat operasional pembakaran siklon. Sedang yang bertitik leleh mendekati operasional pembakar siklon akan bersifat melunak tetapi belum mudah mencair sehingga lengket dan menempel di dinding siklon. dalam ruang api Lokasi c. 3. Setelah dingin abu yang lengket ini mengeras berupa kerak. akan semakin rendah viskositas abu tersebut sehingga cairannya mudah mengalir ke bagian bawah pembakar siklon. Jika titik leleh abu jauh di bawah suhu siklon. Pembakar siklon dapat beroperasi dengan lancar jika titik leleh abu jauh di atas atau di bawah suhu operasional siklon. bagian bawah cerobong Keluar dari sistem lewat cerobong : : : : : : 5% 15% 0% 30% 30% 20% 3. dalam waktu 1 hari kerak sudah terlalu tebal sehingga siklon semakin mengecil volumenya dan lingkaran dalam leher siklon semakin menyempit sehingga mengganggu aliran api dari siklon ke dalam ketel uap.2. siklon dibiarkan dingin untuk dilakukan pembersihan dindingnya dari kerak. SEBARAN ABU DAN KARAKTERISTIKNYA 3. Pembakaran dihentikan. titik leleh abu dibagi menjadi tiga golongan yaitu : a. Sebaran Abu Dalam Fasilitas Industri 3. yaitu sekitar 1200°C. Abu dengan titik leleh oksidasi lebih tinggi dari suhu operasional pembakar siklon. Sedangkan pegoperasian dengan batubara mengandung abu gol. Pengoperasian ketel uap ini dengan batubara berkandungan abu gol. Beberapa contoh abu golongan a. Semakin rendah titik leleh abu.5%. Pada pembakaran batubara yang berkadar abu 5. b.leleh abu. c dan titik lelehnya Golongan Abu A B C Deformasi 1305 1140 1075 Reduksi. dalam pipa api Lokasi d. Sedangkan abu yang bertitik leleh rendah akan mudah mencair dan mengalir ke tempat yang lebih rendah. jika titik lelehnya tinggi maka abu tetap berupa debu padat. maka viskositas lelehan abu menjadi rendah sehingga dengan mudah mengalir ke bawah. b.2. Kerak ini dengan mudah dapat dikorek dari dinding siklon. Abu dengan titik leleh oksidasi lebih rendah dari suhu operasional pembakar siklon.1 Ketel uap Gambar 1 adalah skema ketel uap jenis pipa api (fire tube) yang telah dipasang pembakar siklon sebagai ganti pembakar solar dan daerah-daerah pengendapan abunya. °C Sperikal 1435 1150 1080 Hemisfer 1460 1160 1090 Alir >1500 1225 1155 Deformasi 1470 1235 1125 Oksidasi. dalam siklon Lokasi b. Titik leleh oksidasi adalah titik leleh abu dalam atmosfer pembakaran oksidasi. °C Sperikal >1500 1255 1135 Hemisfer >1500 1260 1160 Alir >1500 1325 1180 92 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Beberapa Golongan Titik Leleh Abu Dalam kaitannya dengan operasional pembakar siklon. menghasilkan abu padat dengan sebaran : Lokasi a. yang bertitik leleh jauh lebih tinggi dari suhu pengoperasian siklon (1180 – 1230°C) dengan kadar abu kurang dari 2%. dalam penampung debu Lokasi e. b dan c. tergantung pada titik lelehnya.

dalam penampung abu Lokasi d. lelehan abu yang mengalir ke dalam kotak abu segera membeku membentuk padatan yang sangat keras berwarna coklat kehitaman.2. menghasilkan abu yang sudah mencair dan mengalir ke lantai siklon. dalam ruang api Lokasi c. makanan dan industri kimia digunakan untuk memproduksi panas yang disalurkan dengan menyalurkan oli panas (220 – 250°) ke unit-unit proses yang memerlukan seperti untuk pengeringan. dalam siklon Lokasi b. Skema ketel uap dengan pembakar siklon Lokasi a. dalam pipa api Lokasi d. Pada pembakaran batubara jenis ini yang berkadar abu 7. Sebaran abu dalam siklon dan ketel uap adalah : Lokasi a.pembakar solar dan daerah-daerah lokasi pengendapan abunya. Pengoperasian dengan batubara mengandung abu golongan a yang titik lelehnya diatas suhu operasional pembakar siklon. menghasilkan abu yang padat dengan sebaran : Lokasi a. dalam ruang api Lokasi c. kemudian asapnya keluar melalui cerobong. dalam siklon Lokasi b. Sumaryono 93 . dalam ruang api Lokasi c. Akibat fatal dari kejadian ini terutama diameter dalam L-bow dari siklon menuju ruang api dari Pengaruh Titik Leleh Abu terhadap Pengendapannya pada Pembakaran . naik dan turun lagi memanaskan pipa-pipa oli (d). Karena viskositas abu sangat tinggi maka abu yang lunak dan lengket ini menempel di permukaan dinding bagian dalam siklon. c yang titik lelehnya dibawah suhu operasional pembakar siklon. pemasakan dll.6%. Skema pemanas oli dengan pembakar siklon Pengoperasian dengan batubara mengandung abu gol. dalam penampung debu Lokasi e. bagian bawah cerobong Keluar dari sistem lewat cerobong : 60% : 20% : 0% : 10% : 5% : 5% Gambar 2. Abu yang datang selanjutnya melekat di permukaan lelehan sebelumnya sehingga membentuk kerak yang semakin tebal. bagian bawah cerobong Keluar dari sistem lewat cerobong 3.2 Pemanas oli Pemanas oli (oil heater) di pabrik tekstil. Dinding bagian dalam siklon terlihat mengkilap karena terlapisi oleh cairan dari abu yang mencair dengan viskositas yang rendah. masuk ke dalam kotak abu.. Bongkahan-bongkahan lelehan abu yang menjadi padat diambil dari kotak abu 2 jam sekali. dalam penampung debu Lokasi e. dalam rangkaian pipa oli Lokasi e.. dalam pipa api Lokasi d. Gambar 1. Gambar 2 adalah skema pemanas oli jenis vertikal yang telah dipasang pembakar siklon di bagian atasnya sebagai pengganti : 95% : 0% : 0% : 0% : 0% : 5% Api dari pembakar siklon turun ke dalam ruang api (b). dalam siklon Lokasi b. bagian bawah cerobong Keluar dari sistem lewat cerobong : 5% : 0% : 55% : 2% : 25% : 13% Pengoperasian dengan batubara mengandung abu golongan b yang titik lelehnya hampir sama dengan suhu operasional pembakar siklon menghasilkan abu yang lengket.

Pembakar siklon berdiameter bagian dalam 130 cm menyalurkan api kedalam lorong api utama dari ketel uap yang berdiemeter bagian dalam 80 cm melalui moncong siklon yang berdiameter bagian dalam 60 cm. dalam ruang api Lokasi c. Hanya kurang dari 10% yang tertinggal didalam silinder siklon. dalam rangkaian pipa oli Lokasi e. selebihnya mengendap dalam bagian-bagian tertentu dari fasilitas industri. sebagian besar abu meleleh keluar dari dalam siklon masuk ke dalam kotak abu.pemanas oli semakin mengecil sehingga tekanan didalam ruang siklon membesar dan aliran api ke dalam pemanas oli terhambat.3% dari berat pupuk. sedangkan sampah padat yang tertiup kedalam pengering berputar tidak diukur karena jumlahnya relatif kecil setelah bercampur dengan komoditas yang dikeringkan. 3. Perbandingan luas penampang adalah sebanding dengan kuadrat radius atau 652 : 402 = 2. Sebaran abu berupa kerak dan padatan lain adalah : Lokasi a. identik penggunaannya pada pemanas oli dan ketel uap. keluar silinder siklon. Semakin rendah titik leleh abu. bagian bawah cerobong Keluar dari sistem lewat cerobong : 60% : 0% : 20% : 3% : 5% : 12% 4. Pengering berputar Pengamatan sebaran pengendapan abu hanya dapat dilakukan didalam pembakar siklon.64 : 1. sampah padat yang keluar dari pembakar siklon akan masuk kedalam pengering berputar dan bercampur dengan produk pengeringan. Maka perbandingan kecepatan aliran asap didalam siklon/kecepatan asap dalam lorong api adalah 2. maka jumlah abu yang bercampur dengan 1. Sebagai contoh.500 kg pupuk fosfat adalah 94 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Pembakaran harus dihentikan dan kerak dibersihkan. konsumsi batubara dengan pembakar siklon 90 kg/jam dengan kadar abu batubara = 5% atau jumlah abu yang dihasilkan = 4. karena lebih cepat mengalirnya. Perubahan kecepatan aliran dari dalam silinder siklon ke dalam lorong api utama dipengaruhi oleh luas penampang dan suhu dari kedua lokasi tersebut.3 Pengering berputar Gambar 3 adalah skema pengering berputar (rotary dryer) dengan pembakar siklon yang menggantikan posisi pembakar solar. abu akan berbentuk tepung padat yang akan tertiup bersama asap. Percobaan menggunakan batubara dengan abu golongan c belum dilakukan untuk siklon dengan pemanas oli ini.2.39 atau hanya berbeda sedikit. Mekanisme pengendapan partikel-partikel abu sebagian karena perlambatan aliran asap.5 kg/jam. 4. untuk fasilitas industri berupa ketel uap jenis pipa api.64 : 1. Sedangkan penggunaan batubara dengan abu golongan b. Jumlah abu berupa kerak yang menempel di dalam dinding siklon sekitar 60% dan sisanya tertiup dan tercampur dengan produk yang dikeringkan.9 : 1. maka terjadi turbulensi di dalam lorong api utama sehingga kesempatan partikel abu untuk mengendap dalam lorong ini Gambar 3. Tetapi karena perjalanan dari silinder siklon ke lorong api utama melewati moncong siklon yang diameternya 60 cm. dalam penampung abu Lokasi d. proses pengeringan pupuk fosfat yang produksinya 1500 kg/jam. PEMBAHASAN Pengendapan abu bertitik leleh tinggi (abu golongan a) Abu dengan titik leleh tinggi.5 kg atau 0. Sebagai contoh. disebabkan viskositas yang rendah. sebagian lagi karena menabraknya partikel-partikel abu ke suatu dinding kemudian terjatuh oleh gaya gravitasi. karena batubara dengan abu demikian jarang didapat dipasaran. Demikian pula untuk abu golongan c. sehingga pengendapan partikel abu karena perbedaan kecepatan asap kecil pengaruhnya. Pada penggunaannya untuk pengeringan pupuk atau semen pozolan yang berputar dalam pengering. dalam siklon Lokasi b.9 = 1. Sedangkan perubahan suhunya dari sekitar 1470°K didalam siklon menjadi sekitar 770°K didalam lorong api utama atau 1. semakin banyak abu yang meleleh keluar siklon.

Abu jenis ini mulai meleleh pada suhu operasional pembakar siklon. pengendapan di penampung abu dominan sebab disini berlangsung 2 mekanisme yaitu mekanisme perlambatan kecepatan asap dan tabrakan partikel asap dengan dasar dari ruang api. Sebaran abu jenis ini dipengaruhi oleh banyak faktor seperti karakteristik pembakaran batubaranya sendiri.. Abu bertitik leleh rendah (golongan c) Pengaruh Titik Leleh Abu terhadap Pengendapannya pada Pembakaran . 1975).. Karena diameter yang kecil ini maka kecepatan asap dilokasi ini tinggi sehingga didaerah ini pertikel abu yang mengendap hanya sedikit. tertiup keluar siklon. kecepatan pembakaran. Abu bertitik leleh sedang (golongan b) lebih dari 50% tertahan di dalam siklon berupa kerak. Asap kemudian mengalir melalui pipa api yang berdiameter 7. selanjutnya menuju cerobong. Seperti terlihat pada Gambar 2. untuk batubara dengan 3 golongan titik leleh abu menunjukkan : a. sehingga permukaan dalam siklon hanya tertutup oleh lapisan tipis lelehan abu. Hal ini disebabkan hanya sedikit partikel-partikel abu yang dapat bertahan dalam keadaan padat pada suhu jauh diatas titik lelehnya. yaitu partikel-partikel abu yang tidak sempat mengalami aglomerasi. Selanjutnya asap bergerak menuju ruang penampung abu dengan penampung yang lebih luas. Abu yang datang kemudian terus meleleh. mengalir ke bawah. pengendapan abu dengan mekanisme perlambatan kecepatan asap dan tabrakan partikel abu dengan dinding yang membentuk sudut mendekati 90°C dengan arah jalannya asap. Jika viskositasnya rendah. juga disebabkan partikel-partikel abu menabrak dinding cerobong. Asap berbalik. Sumaryono 95 . Sebagian lagi yang tidak sempat menempel di permukaan siklon. KESIMPULAN 1.2. maka pengendapan abu dominan berada di penampung abu dan dibagian bawah cerobong. sisanya 5 – 10% tersebar sampai dibawah cerobong. sebagian besar abu tertiup keluar pembakar siklon bercampur dengan komoditas yang diproses. lengket terpapar oleh panas sehingga segera menempel pada permukaan abu sebelumnya sehingga menambah tebal tumpukan lelehan abu tersebut. sebaran ukuran butir batubara. melainkan bersifat lengket sehingga menempel dipermukaan dalam pembakar siklon. Abu bertitik leleh tinggi (golongan a) sebagian besar atau lebih dari 90%. Pengendapan abu bertitik leleh rendah (abu golongan c) Abu jenis ini segera meleleh terpapar oleh suhu pembakaran dalam siklon. c. Dengan demikian maka sebagian besar abu menempel didinding siklon sampai 60 – 75% kemudian di ruang api 10 – 20%. Banyak partikel abu yang mengendap di bagian bawah cerobong selain karena kecepatan asap melambat atau diameter cerobong yang membesar. Sedangkan penggunaannya untuk pengering berputar. juga karena menabrak dinding. atmosfer pembakaran dll (Rance. tetapi viskositasnya belum cukup untuk membuatnya mengalir mengikuti gaya gravitasi.1 dan uraian ini menjelaskan proses yang terjadi. Dengan demikian. terlempar keluar tetapi dengan ukuran yang lebih besar karena proses aglomerasi dan jatuh tidak jauh dari lokasi pembakar siklon. dengan jumlah total di dua lokasi itu sekitar 60 70%. lelehan abu mengalir masuk kedalam kotak abu. kembali menuju ruang pengendapan abu.5 cm.juga tidak besar. Hanya sedikit sekali yang tertiup ke luar. Sebaran abu dalam penggunaan abu bertitik leleh abu tinggi untuk pemanas oli identik dengan penggunaannya untuk ketel uap. 5. Pengendapan abu bertitik leleh sedang (abu golongan b) Abu bertititk leleh mendekati suhu operasional siklon ternyata terkumpul di lokasi tidak jauh dari pembakar siklon itu sendiri. Partikel abu yang datang kemudian juga meleleh. Penyebaran endapan abu diberbagai lokasi pengendapan dalam ketel uap telah dikemukakan di sub-bab 3. Sisa partikel abu lainnya. Keadaan ini mengakibatkan energi kinetik partikel abu menurun sehingga terkalahkan oleh gaya gravitasi dan terjadi pengendapan. b. sifat-sifat lelehan abu. masuk kedalam ruang api. sehingga partikel abu banyak yang jatuh selain karena perlambatan kecepatan. Hanya sebagian kecil yang lolos sampai cerobong. khususnya yang berupa debu halus keluar bersama asap cerobong. dan yang terbawa sampai cerobong hanya sejumlah kecil saja. Hasil pengamatan ini menunjukkan bahwa pembakaran batubara dengan pembakar siklon.

Abu menjadi lunak tetapi viskositasnya masih tinggi sehingga bahan ini menjadi lunak. 2009.. Vol. Xishan. 96 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . 2. mudah mencair dan mengalir kedalam kotak abu dan membeku. 13 (29-33). Abu mencair karena suhu siklon jauh diatas titik leleh abu ini sehingga viskositas lelehan abu rendah. Coal Quality Parameters and Their Influence in Coal Utilization.. Combustion Fossil Power.. Semarang. tertiup keluar siklon dan mengendap dalam perangkap-perangkap abu seperti ruang penampung abu dan bagian bawah cerobong. 1975. Connecticut. 2007. Yusgiantoro. H. Singer. Mekanisme pengendapan abu terutama disebabkan oleh : a.. ABB.G.sebagian besar atau lebih dari 90%. 3. Indonesian Mining Journal. P. Development of Cyclone Coal Burner For Fuel Oil Burner Substitution in Industries. Sustainabilitas Energi di Indonesia Dalam 30 Tahun Mendatang. B. Petroleum Co. 2003.. Seminar Nasional Sustainable Alternatif Energi. 12 No. Jakarta Changzhou Boiler Co. Perlambatan kecepatan asap secara mendadak dan tabrakan partikel abu dengan dinding. DAFTAR PUSTAKA Basuki.P. Rance. Sebagian kecil tertinggal di saluran-saluran asap dan yang berukuran halus keluar melalui cerobong. lengket melekat di dinding siklon. Sumaryono. Shell Int.. 2003. Abu yang mempunyai titik leleh tinggi. LTD. Coal Fired Fluidized Boiler. LTD. Boiler. J. c.C. 1991.E. Brochure. Bandung. b. meleleh didalam siklon dan kemudian mengalir kedalam kotak abu.

bauxite. anatase. screening/classification. dengan kandungan beberapa mineral pengotor seperti magnetit. Bayer process is the most effective and feasible method for alumina production from bauxite.6030483 Fax. siderite. The alumina produced is processed into aluminum metal through electrolysis process called Hall-Heroult. bauksit. and brookite. rutil. alumina. alumina. Untuk memproduksi sebanyak 2 ton alumina atau 1 ton logam aluminium dibutuhkan bauksit rata-rata 4-5 ton. gotit. elektrolisis. Husaini 97 . 12-30% H2O. 022 . kaolinite. To produce 2 tons of alumina or 1 ton of aluminum metal need about 4-5 tons of bauxite in average. dan AlCl3). heavy media separation. sisanya dimanfaatkan untuk pembuatan bahan kimia. Total cadangan bauksit dunia adalah sebesar 24 milyar ton. with several impurities minerals such as magnetite. rutile. Proses Bayer adalah cara yang paling efektif dan menguntungkan untuk memproduksi alumina dari bauksit. ilmenit. proses Bayer dan Hall-Heroult ABSTRACT Bauxite is aluminum ore containing 45-60% Al2O3. Indonesia sendiri memiliki cadangan bauksit terukur lebih dari 900 juta ton yang tersebar di kepulauan Riau dan Kalimantan Barat. PAC.id SARI Bauksit merupakan bijih aluminium yang mengandung 45-60% Al2O3. 022 . Kata kunci : peningkatan kadar. aluminum metal. ilmenite.esdm. hematit.go. 623 Bandung 40211 Telp. 12-30% H2O. Keywords : upgrading. Bauxite upgrading can be carried out by washing and scrubbing. Sudirman No.Total reserves of bauxite in the world were 24 billion metric tons. hematite. aluminium. magnetic separation. kaolinit. and AlCl3). antara lain koagulan (alum. Sistem tambang terbuka yang dilanjutkan dengan proses peningkatan kadar mendahului ekstraksi bauksit menjadi alumina. Bayer and Hall-Heroult processes Pengolahan dan Pemanfaatan Bauksit. Peningkatan mutu (uggrading) bauksit dapat dilakukan dengan cara washing & scrubbing. goethite. pemisahan dengan magnetik dan media berat serta flotasi. siderit. More than 90% of bauxite deposits have been treated into alumina or aluminum metal.6003373 e-mail : husaini@tekmira. anatas.PENGOLAHAN DAN PEMANFAATAN BAUKSIT Husaini Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. dan brookit. Open pit mining followed by upgrading preceded bauxite extraction to be alumina. and flotation. Jend. the rest is utilized for producing chemicals such as coagulants (alum. PAC. chosen based on the bauxite character to be upgraded. Lebih dari 90% cadangan bauksit diolah menjadi alumina atau logam alumunium. Indonesia itself has bauxite reserve deposits more than 900 million metric tons scattered in Riau islands and West Kalimantan. Alumina yang dihasilkan tersebut dibuat menjadi logam aluminium melalui proses elektrolisis Hall-Heroult. yang dipilih berdasarkan karakteristik bijih bauksit yang akan diolah. electrolysis. pengayakan/klasifikasi.

boehmite atau diaspore (AlOOH).1. 20 juta ton (USA). maupun hasil penelitian yang dilakukan sendiri. PAC. sehingga total cadangan dunia sebesar 24 milyar ton (Wikipedia. Di Eropa sendiri biasanya menkonsumsi bauksit rata-rata 4. Alumina yang diperoleh dari proses Bayer. Afrika (Guinea). Berdasarkan data hasil karakterisasi. Kemudian dari data yang terkumpul dilakukan evaluasi dan pembahasan yang akhirnya sampai kepada kesimpulan. Rusia. METODOLOGI Untuk menyusun makalah ini. internet. dan AlCl3). 7.100.500. 200 juta ton (Rusia). kaolinit (H4Al2Si2O9). gotit (FeO(OH)).1 ton untuk memghasilkan 1 ton logam aluminium (Anonim. 2009c). PENDAHULUAN Bauksit merupakan bijih aluminium yang terdapat pada mineral gibbsite [Al(OH)3].843. Venezuela. dan flotasi. pemisahan dengan media berat. mengingat bauksit dari tambang memiliki ukuran butir yang bervariasi dan tiap fraksi ukuran memiliki komposisi kimia yang berbeda-beda. 720 juta ton (China). 2009d). anatas.9 milyar ton (Brazil). Hasil tambang tersebut selanjutnya diproses menjadi alumina berdekatan dengan lokasi penambangan. Dari percobaan yang telah dilakukan. atau dikapalkan ke pabrik peleburan ke berbagai negara di dunia. diperoleh data bahwa bijih bauksit asal Kijang yang semula memiliki kandungan Al2O3 antara 40. (Husaini dan Wijayanti. Istilah bauksit diambil dari nama daerah pedesaan Les Baux-de-Provence dibagian selatan Perancis. 3. 700 juta ton (Guyana). bijih bauksit berukuran makin halus mutunya semakin rendah (kandungan pengotor semakin tinggi). dan cadangan hipotetik sebesar 13. oleh karena itu produk hasil scrubbing dan pencucian yang diambil adalah fraksi ukuran di atas 2 mm. kadar aluminanya relatif rendah dan kandungan pengotornya relative tinggi.36 %. dan brookit (TiO2) (Anonim. 2009a). ilmenit (FeTiO3). pengayakan/klasifikasi. Guyana). China).5048. Jumlah cadangan bauksit di beberapa Negara tersebut pada tahun 2001 diperkirakan sebesar 3. 2. Sedangkan jumlah cadangan bauksit di Indonesia sendiri sebesar 907. Berdasarkan data ratarata di dunia. 3. 12-30% H2O. Sekitar 95% bauksit dunia diolah menjadi alumina atau logam alumunium (Anonim. Brazil. setelah melalui scrubbing –screening 98 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Proses Peningkatan Mutu Ada beberapa cara yang sudah umum diterapkan dalam peningkatan kadar bauksit. 2 milyar ton (Jamaika).1 Scrubbing dan screening Proses scrubbing yang dikombinasikan dengan pencucian dan pengayakan untuk meningkatkan kadar alumina dalam bauksit merupakan cara yang sederhana dan cukup efektif yang sudah diterapkan secara komersial. hematit (Fe2O3). rutil.1. 2007b). cadangan tereka. 3. TEKNOLOGI PENGOLAHAN DAN PEMANFAATAN BAUKSIT 3. Amerika Tengah dan Selatan (Jamaika. Cara penambangan yang diterapkan di berbagai belahan dunia umumnya dengan sistem tambang terbuka (80%) dengan kapasitas produksi >100 juta ton bauksit tiap tahun. Bauksit umumnya mengandung 45-60% Al2O3. tempat pertama kali ditemukannya mineral ini oleh seorang ahli geologi bernama Pierre Berthier pada tahun 1821 (Wikipedia. Negara lainnya 4. antara lain koagulan (alum. Penghasil bauksit utama dunia adalah Australia (lebih dari 40 juta ton/tahun). beberapa di antaranya adalah cara washing & scrubbing. Peningkatan mutu (uggrading) bauksit yang dapat dilakukan tergantung dari karakteristik bauksitnya.sebesar 3. 2002). Cara ini relatif baik untuk meningkatkan kadar alumina.1. sisanya dimanfaatkan untuk pembuatan bahan kimia. dan berbagai macam pengotor antara lain adalah magnetit (Fe3O4). Sebelum diekstraksi menjadi alumina. 320 juta ton (Venezuela).000 ton (Bangka). 2007b). siderit (FeCO3). pemisahan dengan magnetik.000 ton (Bangka). Asia (Indonesia. sekitar 4-5 ton bauksit dibutuhkan untuk memproduksi 2 ton alumina atau 1 ton sebagai logam aluminium. pemisahan dengan magnetik dan media berat serta flotasi. kemudian dibuat menjadi logam aluminium melalui proses elektrolisis Hall-Heroult. Kazakhstan dan Eropa (Yunani). India. 680 juta ton (Suriname). bauksit dari tambang terlebih dahulu ditingkatkan kadarnya. Surinam.757 ton (terukur) yang tersebar di kepulauan Riau dan Kalimantan Barat.4 milyar ton (Guinea).1 milyar ton. 770 juta ton (India). beberapa di antaranya yang akan dibahas disini adalah scrubbing dan screening. Umumnya bauksit berukuran di bawah 2 mm. sisanya yang 20% dengan tambang bawah tanah sampai kedalaman 70 m dibawah permukaan tanah. metodologi yang digunakan adalah dengan cara melakukan survei literatur dari berbagai sumber antara lain hasil penelitian yang terkait dengan tema makalah baik di perpustakaan.8 milyar ton (Australia).

Produk yang ketiga terdiri dari campuran besi dan silika yang umumnya cocok untuk material pengisi.67% (persayatan bahan baku untuk proses Bayer adalah di atas 51% Al2O3. maksimum 3% silica reaktif dan maksimum 7% Fe2O3). Perolehan alumina yang didapat dari proses scrubbing tersebut berkisar 82.65 dan media berat (bromoform 2.1.8% (Husaini dkk. Sedangkan untuk tailing bauksit berkadar Al2O3 42.7 %. Salah satu produknya berupa material magnetik (besi oksida) yang memiliki kadar Fe 40%.3 Pemisahan dengan media berat Prinsip pemisahan dengan media berat adalah dengan memanfaatkan perbedaan berat jenis mineral-mineral yang akan dipisahkan.34 % dan kadar Fe2O3 30. depressant. sehingga kadar alumina dalam bauksit yang mengapung meningkat. Dari data hasil poercobaan dengan menggunakan bauksit berukuran -100+200 mkesh dan waktu pengendapan 20 menit menunjukkan adanya peningkatan kadar Al2O3 dan penurunan kadar Fe2O3 dibandingkan dengan keadaan kadar awalnya. 3. yang sebelumnya dipanaskan pada suhu 450 o C. sebaliknya mineral yang lebih besar berat jenisnya akan tenggelam. 3. produk terapung memiliki kadar Al2O3 sebesar 55. telah dihasilkan produk non magnetik (70% berat) dengan kadar Al2O3 53. Dengan demikian hematit akan tenggelam karena berat jenisnya lebih tinggi dari berat jenis bromoform.18 % dan kadar Fe2O3 7.35%. 2002).42-84. Teknik pemisahan dengan magnetik ini telah dilakukan juga oleh Jamieson dkk.49 % Fe2O3).59. 3. pengatur pH). Dari uji coba yang telah dilakukan terhadap tailing bijih bauksit (komposisi kimia 48. dan regulator (activator.05%.25 % dan Fe2O315 %. Dalam hal ini mineral besi (hematit) memiliki berat jenis sekitar 7. dan Fe2O3 9.1. sementara produk kedua berupa material non magnetik yang mengandung silika yang tiggi (93% SiO2) yang pemanfaatannya sangat sesuai untuk konstruksi beton. Salah satu mineral yang memiliki komponen oksida besi adalah tailing hasil pencucian bauksit Pulau Kijang yang besarnya berkisar antara 9.66% dan rasio konsentrasi 78.yang didahului peremukan diperoleh produk dengan kadar Al 2 O 3 antara 50. setelah dilewatkan pemisah magnetik pada kondisi 5 Am-1. 2007).4 Flotasi Flotasi merupakan salah satu cara pemisahan yang memanfaatkan perbedaan sifat kimia-fisika permukaan dari berbagai macam partikel mineral.78-89.. Sedangkan depres- Pengolahan dan Pemanfaatan Bauksit.93 .97 %. Perbedaan sifat permukaan suatu mineral dengan mineral lainnya dapat terbentuk dengan menambahkan zat aktif permukaan (kolektor).89 dan pengencer karbon tetra klorida 1. Di India. 2004). sedangkan bagian yang tenggelam memiliki kadar Al2O3 sebesar 12. Jadi kualitas (bauksit) setelah dipisahkan lebih baik dibandingkan sebelum dipisahkan yang mempunyai komposisi kimia awal Al2O3 48 % dan Fe2O3 15 % (Husaini dan Soenara. Penggunaan pembusa adalah untuk menstabilkan gelembung udara supaya tidak mudah pecah. Cara lain untuk mendapatkan kadar bauksit yang memenuhi syarat dan konsisten adalah dengan mencampurkan (blending) bauksit kadar rendah yang sudah diolah dengan yang kadarnya lebih tinggi (Anonim.1. Mineral yang terlapisi kolektor akan bersifat hidrofobik (suka udara) sehingga mudah menempel pada gelembung udara dan dapat diapungkan. (2006) terhadap mineral red mud yang dihasilkan dari ekstraksi bijih bauksit dengan soda kostik pada kondisi intensitas rendah dan intensitas tinggi cara basah. Bahan kimia lainnya yang digunakan adalah pembusa (frother). Penerapan teknologi pemisahan secara magnetik tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan dalam mengatasi permasalahan penumpukan red mud yang dihasilkan yang besarnya berkisar antara 40-50%) dari berat bijih bauksit yang diolah melalui proses Bayer.82% dan penurunan kadar Fe2O3 sebesar 2.16. Husaini 99 .98 % Al2O3 dan 11. bauksit 2. Mineral yang lebih rendah berat jenisnya daripada berat jenis media berat (heavy liquid) akan terapung.2 Pemisahan dengan magnetik Mineral-mineral bersifat magnetik seperti besi oksida yang terkandung dalam bijih bauksit ataupun tailing hasil ekstraksi bijih bauksit dapat dipisahkan dengan pemisah magnetik (magnetic separator). Sebagai contoh.53-53. dengan menggunakan bromoform dengan berat jenis 2.41 % (Husaini dan Wijayanti.14 %. 2007a).8 % dan Fe2O3 9. 2003). dengan kondisi pemisahan yang sama dihasilkan produk non magnetik (58 % berat) dengan kadar Al2O3 57.59). ini berarti terjadi peningkatan kadar Al2O3 sebesar 4.12 %. sedangkan bauksit yang berat jenisnya lebih rendah dari berat jenis bromoform akan mengapung. proses benefisiasi untuk peningkatan kadar alumina dalam bauksit juga dilakukan dengan cara peremukan yang dilanjutkan dengan pengayakan cara kering untuk menurunkan kandungan silikanya (Nandi.

ù-bis (dimethyl dodeculammonium bromide) dalam flotasi balik telah berhasil memisahkan mineral mineral kaolinit. dkk. piropilit dan ilit dari bauksit jenis diaspore. Penelitian sejenis mengenai peningkatan kandungan diaspore dengan flotasi balik untuk memisahkan mineral pengotor juga dilakukan oleh Zhenghe Xu (2004). dkk. daya apung terhadap kaolin lebih baik daripada ilit dan piropilit dalam selang pH tertentu. 3. Penyerapan CPAM pada seluruh permukaan kristal diaspore mencegah spesi kation DDA untuk terserap pada permukaan diaspore. (2008) telah melakukan penelitian yang inovatif mengenai peningkatan kadar gibsit dengan cara flotasi balik yang menghasilkkan bauksit jenis metalurgi. Massola dkk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemisahan diaspore dari mineral-mineral alumino silikat dengan menggunakan kolektor kation dodecylamine chloride (DDAC). besi. Proses Bayer merupakan cara yang paling ekonomis yang memanfaatkan reaksi antara alumunium trihidroksida dan aluminium oksida dengan soda kostik membentuk sodium aluminat.5–8.25%. seluruhnya dihasilkan dengan memproses bauksit melalui proses Bayer. Kemampuan adsorpsi grup kation CPAM pada permukaan kaolinit yang bermuatan negatif diperlemah oleh induksi dan efek sterik senyawa metil dalam gugus CH2N+(CH3)3 yang membuat CPAM memiliki pengaruh yang kurang signifikan pada adsorpsi DDA pada permukaan kaolinit. Bahan yang diflotasi berupa tailing hasil proses scrubbing dan desliming yang kandungan kuarsanya relatif tinggi. Alumina dapat diperoleh dari ekstraksi bauksit dengan soda kostik. Pembuatan Alumina Hidrat/Alumina Alumina (Al2O3) adalah material halus berwarna putih mirip dengan garam (Anonim. Hasil penelitian lainnya (Liuyin Xia. selanjutnya ditingkatkan lagi kadarnya melalui pemisahan secara magnetik menghasilkan kadar alumina 54%. Hasil percobaan skala pilot pada kondisi pH optimum sekitar 10 menghasilkan konsentrat mutu metalurgi dengan kadar alumina 42. 2007).3%. Hal ini dilakukan agar bauksit yang sebelumnya mengandung alumina yang rendah dapat ditingkatkan kadarnya sampai memenuhi syarat sebagai bahan baku untuk proses Bayer. tetapi cara ini tidak digunakan lagi setelah ditemukan proses baru (Bayer) oleh ahli kimia Austria tahun 1887. Kalau yang diapungkan mineral yang tidak dikehendaki prosesnya disebut flotasi balik (reverse flotation). Kanji (starch) digunakan sebagai depressant dan ether-amine sebagai kolektor kationik. dan titan. Bila ditambahkan depressant kanji (corn starch). Reaksi kesetimbangan mengarah ke kanan dengan meningkatnya konsentrasi soda kostik dan suhu. Kolektor jenis dimer tersebut menunjukkan daya pengumpul yang lebih baik dibandingkan kolektor jenis monomernya. piropilit dan ilit dari diaspore. Konsentrat bauksit yang mengandung mineral gibsit.. pemisahan cara flotasi terhadap beberapa mineral pengotor yang terkandung dalam bauksit (diaspore) yang dilakukan pada pH antara 9-10 menghasilkan seletifitas yang signifikan terhadap ilit. (2) pemisahan dan pencucian pengotor yang tidak larut (red mud) untuk mendapatkan alumina terlarut dan soda kostik. Lebih dari itu. Total produksi alumina dunia sebesar 40 juta ton pada tahun 1995. Penelitian mengenai penggunaan kolektor-kolektor yang efektif untuk pemisahan mineral pengotor (lempung) dan depressant untuk menekan diaspore asal China juga telah dilakukan. 2007). Konsentrat yang dihasilkan dari percobaan skala bench scale memiliki ratio Al/Si sebesar 9.6 dan total perolehan alumina dalam konsentrat akhir (produk non-magnetik) sebesar 69.1. (3) hidrolisis parsial larutan sodium aluminat pada suhu rendah untuk mengendapkan 100 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Ketiga jenis kolektor tersebut menunjukkan selektifitas yang tinggi terhadap diaspore.5 (Guangyi Liu.2. (2008) untuk memisahkan mineral kaolinit. Hasil penelitian yang didapat menunjukkan peningkatan ratio alumina/silika dari <6 menjadi >10.72 dan perolehan Al sebesar 81. dodecyl trimethyl ammonium chloride (DTAC) atau dodecylguanidine sulfate (DDGS) adalah layak pada kondisi alkalin kuat. piropilit dan kaolinit. Flotasi balik juga berhasil dilakukan untuk memisahkan kaolinit dari diaspore dengan menggunakan kolektor dodecylamine (DDA) dan depressant cationic polyacrylamide (CPAM) pada pH 5. Pengaruh gugus kationik dari kolektor rantai karbon 12 (12-carbon chain collectors) telah diteliti oleh Hong Zhong.3% dan ratio alumina/silika sebesar 11. 2009) menunjukkan bahwa penggunaan kolektor kationik (zat aktif permukaan) jenis butane-á. dan DDGS merupakan kolektor terbaik dibandingkan dengan DDAC dan DTAC dalam memisahkan mineral alumino silikat.sant berfungsi untuk menekan agar mineral yang tidak diinginkan tidak ikut mengapung. Operasi berikut dilakukan secara berurutan yaitu (1) pelarutan alumina pada suhu tinggi. ratio alumina/silika 12. Ekstraksi bauksit secara komersial pertama kali dilakukan oleh Sainte-Claire Deville di Perancis tahun 1865. sehingga diaspore dapat ditekan (tidak ikut mengapung).

Secara umum sekitar 1 ton alumina dapat dihasilkan dari 2 ton bauksit. kemudian direduksi dengan logam Al sambil dipanaskan sampai terjadi perubahan warna dari coklat menjadi hijau muda dengan densitas tertentu (1.49-12. Kristal yang terbentuk dipisahkan dari filtrat yang masih tersisa. bars.53 % dan Fe2O3 0. x H 2O] setelah besi dalam larutan diturunkan terlebih dahulu dengan penambahan larutan Na2S. Pada kondisi optimum ini ratio alumina yang didapat sebesar 34. nisbah padatan dengan larutan. Pembuatan Koagulan 3. foil.5-2. Selain itu telah dibuat juga tawas butek [Al 2 (SO4 ) 3. Fe2O3 11. Setiap ton aluminium membutuhkan 0. atau dengan mereaksikan asam florida dengan soda kostik dan alumina dengan reaksi sbb : 12 HF + 6 NaOH + Al2O3 2 Na3AlF6 + 9 H2O (1999) menghasilkan kondisi optimum sebagai berikut: ukuran partikel 7+14 mesh. Dalam pembuatan koagulan ini ada beberapa parameter yang berpengaruh di antaranya adalah konsentrasi asam.98 %. Pembuatan Logam Aluminium Bila alumina (Al2O3) yang diperoleh dari proses Bayer tersebut dipanaskan lebih lanjut sampai suhu 1000 °C dengan bantuan bahan pelebur (cryolite . Fe2O3 15.5 ton anoda karbon. Penelitian yang telah dilakukan oleh Acquah. dan ukuran butir bauksit. lama pelarutan 1 jam.4. plates.4 %. 3. 2009a). Produk antara ini kemudian dibentuk di pabrik pemrosesan yang mengubah aluminum menjadi produk akhir (consumer products). konsentrasi asam 40 %.5 g/ml). maka alumina akan meleleh dan tereduksi menjadi logam aluminium yang dikenal sebagai proses Hall-Héroult.71 %.Na3AlF6). dkk. Dua jenis bauksit Kijang dengan komposisi Al2O3 42. 3.4. dan suhu 100oC. PAC dll).92-11.4. Reaksi kimia yang terjadi adalah sebagai berikut: Al2O3 + 3H2SO4 Fe2O3 + 3H2SO4 Al2 (SO4) 3 + 3H2O Fe2 (SO4) 3 + 3H2O Gas asam florida umumnya dibuat dari acid-grad fluorspar dan asam sulfat dengan reaksi sbb : CaF2 + H2SO4 2 HF + CaSO4 Pada proses elektrolisis ini oksigen yang terikat pada alumina bereaksi dengan elektroda karbon menghasilkan gas karbon dioksida dan logam aluminium. Cryolite sintetik umumnya dibuat dari asam florida dan sodium aluminat (hasil proses Bayer) dengan persamaan reaksi sbb (Anonim.25 %. nisbah asam 1:4. Sedangan tawas bening yang dihasilkan mempunyai kadar Al2O3 9. Husaini 101 . (4) regenerasi larutan untuk didaur ulang ke tahap (1) dengan penguapan air yang dimasukkan saat pencucian.00 % dan Al2O3 48.04% lolos100 mesh. suhu 100°C.40. Proses ini mengkonsumsi energi sangat tinggi. Hasil ekstraksi ini berupa lumpur yang mengandung larutan aluminium sulfat yang masih bercampur dengan senyawa besi dan residu yang tidak larut. Penelitian pembuatan alum dari bauksit berukuran -100 mesh dengan menggunakan asam sulfat konsentrasi (30-40 %) di dalam reaktor berpengaduk pada suhu 100 o C dan lama pengadukan sekitar 60 menit juga telah dilakukan oleh Husaini (2007).49 % digunakan untuk uji coba tersebut. dkk.alumunium trihidrat.55 % dan Fe2O3 2-2. waktu pelarutan. (Acquah. Lelehan aluminium selanjutnya dicetak menjadi ingots.8 (untuk alum komersial rationya 34-35) dan bauksit dengan kadar A12O3 62.2 Dari alumina hidrat Alumina hidrat [Al (OH)3] dapat dibuat menjadi tawas [Al2(SO4)3] maupun poly aluminium chloride (PAC). 1999). Pembuatan tawas dari alumina hidrat Pengolahan dan Pemanfaatan Bauksit. 2009a) : 6 HF + 3 NaAlO2 Na3AlF6 + 3 H2O. Produk tawas butek yang dihasilkan mempunyai kadar Al2O3 9. 3. Larutan yang sudah dipisahkan dari residunya.1 Dari bauksit (asli/bauksit tercuci/ tailing) Semua mineral yang mengandung unsur aluminium termasuk bauksit dapat digunakan untuk pembuatan koagulan (alum.3. dan (5) mengubah trihidroksida menjadi alumina anhidrat melalui kalsinasi pada suhu 1450 oK (Anonim.3% dan Fe2O3 3% adalah cocok untuk pembuatan alaum. atau rod. rolled into sheets. Larutan hasil reduksi selanjutnya ditambah amonia (kadar 21 %) menghasilkan kristal berupa garam rangkap [Al2(SO4)3 (NH4)2SO4xH2O] dengan kadar Al2O3 antara 11-14 %. suhu pelarutan. Hasil pelarutan bauksit dengan asam sulfat mencapai persen ekstraksi Al 2O 3 dan Fe 2 O 3 tertinggi masing-masing sekitar 99 % dan 65 % pada ukuran butiran 87. nisbah padatan dengan larutan 1:12. waktu 6 jam.

9% Cl.. 1998. aluminium digunakan dalam bentuk produk lembaran untuk atap dan dinding. aluminium digunakan dalam bentuk kawat yang diperkuat dengan baja membentuk kabel listrik. semen. Alumina dapat juga dijadikan bahan kimia (aluminium sulfat.001-0. Alumina Hidrat Alumina hidrat dapat digunakan untuk pembuatan berbagai jenis bahan kimia antara lain tawas.005-0. Larutan jernih hasil penyaringan ini merupakan PAC cair yang spesifikasinya adalah sbb: 12% Al2O3. Di sektor konstruksi. Soaking Pits.1. 0. 1. Bila diinginkan produk berupa bubuk. Open Hearth. pasta gigi.20% SO3. truk dan bus (lembaran dan plat untuk bodi). ampelas (abrasive) dan refraktori. pengepakan. besi klorida. lembaran untuk keperluan rumah tangga dan pembungkus komersial. dan panel bodi).0010. aluminium digunakan dalam kendaraan bermotor (blok mesin.040% CaO. alumina. Electric Arc furnaces. <0. Tundishes. Bauksit dapat digunakan untuk pembuatan berbagai jenis bahan kimia antara lain alumina hidrat. Bauksit Asli/Bauksit Tercuci Secara tradisional. alum. untuk membuat produk pengepak seperti karton untuk jus buah-buahan dan obat-obatan. aluminium digunakan dalam bentuk lembaran paduan untuk kaleng minuman.050.005-0.ini prosesnya sederhana yaitu dengan melarutkan alumina hidrat dengan asam sulfat pada suhu 100°C sampai larut sempurna.).015% Ga2O3. Komposisi tipikal alumina (Steven dkk. 0.7% Al2O3 (by diff. Di sektor listrik. <0.020% Fe2O3. bauksit digunakan untuk pembuatan Blast Furnaces.50% Na2O.0050. Persamaan reaksi kimia yang terjadi adalah sbb : 2Al (OH)3 + 3H2SO4 Al2 (SO4) 3 + 6H2O Bahan baku proses elektrolisis Hall-Heroult untuk memproduksi logam Al Pembuatan bahan kimia tertentu seperti :busi (spark plugs).2. marmer sintetik. tanpa proses penyaringan. maka semakin tinggi kandungan aluminanya. 102 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Kemudian ke dalam campuran ditambahkan kapur untuk menurunkan pH sampai 4. 1998) adalah 99. Reheat/Soaking Pits. 2009b): Di sektor transport. rumah tranmisi. 0. aluminium klorida). 2009). dan listrik (Anonim.010% ZnO. Alcoa melaporkan penemuan bubuk alumina spesial untuk sistem pembuangan otomatis (auto exhaust system) dan ampelas halus (fine abrasives). Di sektor pengepakan. 4. fero sulfat. AlCl3.003% V2O5. 0. PENGGUNAAN BAHAN BERBASIS ALUMINA 4. zeolit sintetik. 4. keramik. tawas. aluminium fllorida. pabrik petro kimia. Logam Aluminium Proses pemanasan larutan dilanjutkan untuk menguapkan air sampai berat jenis tertentu. refraktori. kepala silinder.001-0. katalis. < 0. dan refraktori. dan logam aluminium (Patricia.4. dan pesawat terbang. semen. dan proses pengolahan gas alam. alumina hidrat direaksikan dengan asam klorida dan asam sulfat sampai alumina hidrat larut sempurna. Cement. rel kereta api.3. jendela dan pintu dan dicetak menjadi peralatan keras (builders’ hardware). Sedangkan dalam pembuatan PAC. 4. semakin rendah kadar air kristalnya. Alumina Alumina merupakan produk komoditas yang dapat digunakan antara lain untuk (Steven dkk.3-99. kemudian didinginkan sampai mengkristal. poli aluminium klorida (PAC).025% SiO2. 4. dilanjutkan dengan penyaringan. <0.005-0. bahan abrasif. Anonim 2007a): Aluminium merupakan salah satu logam yang sangat penting dan digunakan secara luas di sektor transportasi.30-0. Iron/Steel Ladles. <0. Torpedo Cars. dan poli aluminium silikat sulfat (PASS). Penemuan produk khusus yaitu alumina aktif yang digunakan untuk menghilangkan kontaminan dari proses pengilangan minyak. Kadar alumina dalam tawas tergantung pada kadar air yang terkandung. karena tidak dihasilkan residu sebagaimana yang diperlihatkan dalam pelarutan bauksit.0001-0. maka PAC cair dikeringkan dengan menggunakan spray drier pada suhu tertentu..35% SO4.0015% P2O5.008% TiO2. dan Aluminum. <0. konstruksi. penghambat kebakaran (fire retardant).

Magnetic separation of Red Sand to produce value. Production of Alum From Awaso Bauxite.be/Education/ N o n M a t I r C o u r s e s / M a t / 5 c%20aluminium. Curtin University of Technology. 2008. aluminium and bauxite. Technology Delivery Group. Alumina. Zhiqiang Huang and Qingwei Chang.mtm. Institute of Industrial Research. Obeng Y. Hong Zhong. ionic polyacrylamide in the reverse flotation of diasporic bauxite. 2006. Bauxite Information. Jones. WA. Husaini. Guangyi Liu. Perth. diakses 17 Juni 2009 Acquah F. A. htm. 2007. Pengurangan Kadar Besi Dalam Bauksit P. dan Tayan (Kalimantan Barat) yang jumlahnya tidak kurang dari 900 juta ton. Yuehua Hu. Central South University.doc. Laporan Kegiatan Proyek Kelompok Program Teknologi Pengolahan Mineral.Accra.. The role of cat- Pengolahan dan Pemanfaatan Bauksit. Shenggui Zhao and Liuyin Xia. tersebar di Kijang (Riau). Flotation separation of the aluminosilicates from diaspore by a Gemini cationic collector. 2007a. Kijang Dengan Cara Pemisahan Menggunakan Media Berat (Heavy Media Separation). Central South University.azon. 2009c.net/africantech/GhIE/Awaso 1. Husaini 103 . KESIMPULAN Potensi cadangan bauksit di Indonesia relatif besar. 2009a. Flotation separation of diaspore from kaolinite. pengepakan. 2003. pemisahan dengan magnetik dan media berat serta flotasi. Pusltbang tekMIRA Jl. Balitbang energi dan sumberdaya mineral. Peningkatan Kadar Bijih Bauksit Kijang Dan Tayan Dengan Metode Scrubbing. China.kuleuven. Ghana. http://www. Changsha 410083. Bauxite Mineral. diakses 17 Juni 2009 Anonim. Penelitian Pendahuluan Pembuatan Tawas dari Bauksit Kijang. diakses 30 April 2007 Anonim. D. Changsha 410083. pyrophyllite and illite using three cationic collectors..com/suppliers asp?. 2008. PR China.O. Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara. http:// www. 2007b. http:/ /home. http:// www. Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral. Proses peningkatan kadar yang dapat digunakan ada beberapa macam antara lain scrubbing...htm.5. Guangyi Liu. May 1999. Hong Zhong. Australia. Central South University. Mensah B.com.CSIR. Institute of Chemistry and Chemical Engineering. Kwinana. Husaini dan Trisna Soenara. Pemilihan cara pengolahan tersebut tergantung pada karakteristik (di antaranya kandungan mineral pengotor) bijih bauksit yang diolah. Jend. Husaini dkk. 2009b. Yiping Lu. the free encyclopedia. School DAFTAR PUSTAKA Anonim. Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara. WA 6966. Alcoa World Alumina. namun yang sudah diterapkan di Indonesia sampai saat ini hanya dengan cara pencucian dan scrubbing diikuti pengayakan dengan ukuran produk + 2 mm. Institute of Minerals Processing and Bioengineering.. Bahan Galian Industri. 2009. P. Bauksit tercuci dapat dikonversi menjadi alumina melalui proses Bayer dan bila diolah lebih lanjut dengan cara elektrolisis menghasilkan logam aluminium yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan di antaranya di sektor transportasi. China. PR China. Husaini dan Wijayanti. 2007. School of Minerals Processing and Bioengineering. Uses of bauxite. Guangyi Liu. Cooling and N. School of Chemistry and Chemical Engineering. Changsha 410083. diakses 17 Juni 2009 Anonim. 2007.att. Stockton. Sudirman No. Box 161. published in the Ghana Engineer. R. Changsha 410083. dan listrik.The European Aluminium Association. Peningkatan Kualitas Bauksit dari Pulau Kijang dengan Magnetik Separator Cara Basah. Bauxite – Wikipedia. 2002. htm. Jamieson. Australia. 2009d. 623 Bandung..au/. E. bauxite Supplier. Hong Zhong. diakses 17 Juni 2009 Anonim. diakses 30 April 2007 Anonim.qal. Alumina Process. konstruksi. Liuyin Xia. Liuyin Xia. Central South University.ac. Aluminium. Shenggui Zhao and Xinyang Yu. Yuehua Hu.

Fazenda Chorona. Prof. Amravati Road Nagpur-440033.P. USP. 05508-900 SP. A. 536 Chemical-Mineral Engineering Building... 2373. INDIA.gov/minerals/pubs/commodity/bauxite/090495. bSchool of Chemical Engineering and Technology. 1998. Changsha.nsf/ProductLookupItemID/JOM-980534/$FILE/JOM-9805-34F. Recent advances in reverse flotation of diasporic ores– –A Chinese experience. McGrath and Lawrence C. K.usgs. Plunkert. C. Chaves.. Mello Moraes Av. aDepartment of Mining and Petroleum Engineering–Escola Politécnica. Present Status Of BauxiteAlumina Industry Of India. Separation of silica from bauxite via froth flotation. Patricia A.pdf?OpenElement. 2004. diakses Juni 2009.of Chemistry and Chemical Engineering. Tianjin 300072. Verne Plitt and Qi Liu. C. Suraksha Apartments. Zhenghe Xu. Brazil. PR China. A. 2009. Miraí Department. PR China. Hindustan Colony.. Lima. Miraí 36790-000. 410083. Farrar. 16. Canada T6G 2G6. http://doc. Massola.. http://minerals.B.P. Minerals and Metals Division. Department of Chemical and Materials Engineering. MG. J. 2008. Alta. Central South University. Companhia Brasileira de Alumínio. Nandi.org/ezMerchant/ prodtms. Brazil. Edmonton. Bauxite And Alumina. University of Alberta. MFC Commodities India 104-B. 104 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Sonochemical Technology for Processing Bauxite. and Andrade.R.pdf.F.tms. 2004. Steven F. Tianjin University.

PRESENTASI MAKALAH PARALEL III .

retnod@tekmira. dan hilir. merkuri.go. (022) 6030843 Faks. WAC 172 – 204 – 320). tambang emas skala kecil yang dikelola KUD Perintis mengalihkan proses pengolahan emas dari secara amalgamasi cara sianidasi untuk meningkatkan perolehan bijihnya. Tetapi kadar merkuri di sedimen itu dapat meningkat seiring turunnya merkuri di air ke dasar sungai.id SARI Pengolahan bijih emas pada pertambangan emas rakyat umumnya dilakukan dengan proses amalgamasi menggunakan merkuri (Hg). Sudirman 623 Bandung 40211 Telp.0. M.034 mg/L) pada semua lokasi penelitian yakni di daerah hulu.esdm. Propinsi Sulawesi Utara.KARAKTERISASI MERKURI DALAM SEDIMEN DAN AIR PADA PENGOLAHAN TAILING AMALGAMASI DI KEGIATAN PERTAMBANGAN EMAS RAKYAT SECARA SIANIDASI (STUDI KASUS KUD PERINTIS. yakni mengolah tailing yang berasal dari proses amalgamasi dengan cara sianidasi. pertambangan emas rakyat Karakteristik Merkuri dalam Sedimen dan Air pada Pengolahan .01 . Dampak negatif kegiatan pengolahan tailing amalgamasi dengan cara sianidasi diamati melalui kondisi kualitas perairan dan sedimen disekitar lokasi pengolahannya. amalgamasi. Kabupaten Bolaang Mongondow. (022) 6003373 e-mail : lutfi@tekmira..go.17 . Pada saat ini.20 ppm di semua lokasi penelitian belum melewati ambang batas aman terhadap racun yang ada (sesuai Washington state Sediment. sehingga produk yang dihasilkan sangat rendah dan dapat menimbulkan pencemaran yang tinggi. Kondisi ini telah melewati baku mutu yang diperbolehkan dalam (Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air Kelas II dan KEP202/MENLH/2004 tentang Baku Mutu Limbah Bagi Kegiatan Pengolahan Bijih Emas dan/atau Tembaga. outlet pengolahan. proses yang berlangsung merupakan gabungan dari proses amalgamasi dan sianidasi.. Di Kecamatan Lolayan. Kurangnya pengetahuan dan keterampilan para penambang emas rakyat menyebabkan limbah tailing dari bijih emas berbentuk halus yang masih mengandung emas dan bulir Hg langsung dibuang ke perairan.esdm. DAERAH TANOYAN SELATAN) M. Jend.0. Lutfi dan Retno Damayanti 105 .id. Kata kunci : pertambangan rakyat. Konsentrasi Hg pada sedimen yang berkisar pada 0. Lutfi dan Retno Damayanti Psat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. Konsentrasi Hg di air berkisar antara (0. tailing.

penyebaran dan termetilasi (pembentukan metil-Hg). sehingga diperkirakan bahaya yang ditimbulkan akan lebih tinggi. Unfortunately. Mercury concentration in water was found in the range of 0. pengolahan bijih emas dilakukan melalui proses amalgamasi dengan merkuri (Hg) sebagai media untuk mengikat emas. 2004). Those happened in almost entire waters from upstream to downstream. Proses sianidasi untuk tailing pengolahan dipakai untuk meningkatkan perolehan produknya. gold artisanal mining 1. The negative impacts of cyanidation process to the amalgamation tailing was conducted by observe the water quality and its sediment surrounding the processing area. Merkuri (Hg) yang dipakai dalam pengolahan ini termasuk dalam kategori B3 (Rachmat Yusuf. WAC 172-204-320).01 . North Sulawesi. seperti Cu.17 0. pada kegiatan usaha pertambangan emas skala kecil. Oleh karenanya pengelolaan bahan galian harus diupayakan secara optimal sesuai denganazas konservasi dan berwawasan lingkungan dengan menekan dampak negatif yang ditimbulkan seminimal mungkin.com). PENDAHULUAN Salah satu tujuan pembangunan nasional yang berwawasan lingkungan adalah terciptanya keserasian hubungan antara manusia dengan lingkungan alam sekitarnya dengan cara pembangunan yang berkelanjutan. Of course it will produce low gold recovery and cause high risk in environmental pollution. 1987) pembangunan berkelanjutan didefinisikan sebagai “pembangunan yang mengusahakan dipenuhinya kebutuhan sekarang tanpa mengurangi kemampuan generasi yang akan datang untuk memenuhi kebutuhan mereka” (www. Zn. Due to the lack of skill and knowladge. air larian dari penyaringan kompleks emas sianida masih tetap mengandung senyawa beracun ini meski dalam 106 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . menyebabkan limbah yang berupa ampas pengolahan (tailing) yang dihasilkan masih mengandung emas dan butir-butir Hg yang biasanya langsung dibuang ke perairan. 82/2001 about Water Quality Assessment and Water Pollution Handling Class II and in the Decree of Environment Ministry KEP-202/MENLH/2004 about Waste water standard for Gold/Copper Processing. cyanidation. miners usually dispose tailing that contains gold and mercury directly to the water. Kurangnya pengetahuan dan keterampilan para penambang. Sebagai contoh.0. Meskipun sebagian besar sianida dalam proses pengolahan ini dapat dimanfaatkan kembali.034 mg/L. the mercury concentration has exceeded the standard mentioned in Government Regulation No. tailing.fathom. Pb. But mercury concentration could become increased as the mercury Keywords : amalgamation. Mercury concentration in the sediment found in the range of 0. At Lolayan in the Bolaang Mongondow district. Adanya interaksi ion Hg dengan CN akan mempermudah kelarutan. But sometimes they were combined both of the two methodes by processing the amalgamation tailing with cyanidation methode. menimbulkan juga dampak negatif karena tailing amalgamasi masih mengandung merkuri dan logan ikutan lainnya. the small scale goldmining whichmanaged by KUD Perintis change gold processing from amalgamation to cyanidation methode to improve gold ore receipt.20 ppm in all sampling location. Namun proses sianidasi ini. Sebagai akibatnya.ABSTRACT Artisanal gold mine generally proceeds in amalgamation process. Secara umum proses sianidasi pada pengolahan bijih emas pada pertambangan emas rakyat dilakukan pada kondisi basa. perolehan hasil akhir (produk) yang didapat sangat rendah. Usaha pertambangan oleh sebagian masyarakat sering dianggap sebagai penyebab kerusakan dan pencemaran lingkungan. Dalam laporan Komisi Sedunia tentang Lingkungan dan Pembangunan (WCED. tambang rakyat di Sulawesi Utara mengubah sistem pengolahannya dengan menggunakan proses sianidasi baik untuk mengolah bijihnya ataupun ampas pengolahannya yang masih mengandung emas. Berdasarkan kenyataan tersebut. These are still in the permitted concentration range (based on Washington state Sediment.

Di samping itu apabila kreativitas rakyat dalam mengkombinasikan proses amalgamasi dan sianidasi tidak dapat terkontrol diperkirakan akan terjadi pula peningkatan dalam jumlah merkuri yang ikut terlarutkan.emas dan membuang tailingnya. Disamping itu akan diamati pula kandungan logam-logam berat lain yang terdapat dalam batuan pembawa bijihnya serta karakteristik sedimen pada kolam pengendapan pada proses sianidasi. Karbon aktif hasil penyaringan tersebut digarang (roasted) sampai menjadi abu untuk menghilangkan senyawa sianidanya. biasanya hasil tailing proses amalgamasi diproses lagi guna meningkatkan perolehan bijih. Setelah proses pelindian selesai. Dampak pemakaian sianida pada kegiatan pengolahan emas di tambang-tambang rakyat diperkirakan akan lebih serius mengingat senyawa sianida tersebut mampu melarutkan logam-logam lain yang terdapat di dalam batuannya. Lutfi dan Retno Damayanti 107 . Diagram alir proses pengolahan bijih emas sistem sianidasi Karakteristik Merkuri dalam Sedimen dan Air pada Pengolahan . Parameter CN total yang berasal dari perairan dan kolam pengendapan akan ditentukan pula. ball mill Larutan NaCN Kapur Reaksi yang terjadi: 2 Au + 4 NaCN + 1/2 O + H O  2 NaAu(CN) + 2 NaOH Tanki Reaktor Sianidasi Karbon Aktif Screen (penyaring) Tailing Karbon aktif yang  menyerap kompleks  emas dan sianida Roasting (penggarangan)   Settling Pond (kolam pengendap) Roasting (penggarangan) Bullion Emas dan Perak Gambar 1.. Pada kegiatan tambang rakyat yang dilakukan di KUD ini. penurunan kualitas air permukaan yang disebabkan oleh adanya logam-logam berat terlarut akibat proses sianidasi merupakan parameter yang akan dominan diamati.. Penelitian ini hendak melihat karakteristik merkuri yang berasal dari tailing amalgamasi yang diolah dengan cara sianidasi. Tahapan-tahapan proses pengolahan dengan sistem sianidasi dapat dilihat pada Gambar 1. dilakukan dengan proses penyaringan (screening) untuk memisahkan karbon aktif yang telah menyerap kompleks sianida .stamp mill.jumlah yang relatif sedikit. M. abu hasil penggarangan ditambah boraks dan digarang lagi untuk menghasilkan bulion emas dan perak. Bulion tersebut selanjutnya direaksikan dengan aqua regia untuk memisahkan emas dan peraknya. Berbeda dengan kontaminasi yang umumnya terjadi di lingkungan. Tailing Amalgamasi Tanki Penampungan crusher.

air. Lokasi ini dipilih berdasarkan pertimbangan bahwa daerah ini merupakan salah satu daerah tambang rakyat yang dikelola oleh KUD Perintis yang mengolah bijih emas dan tailing amalgamasi dengan proses sianidasi.2. Lokasi penelitian terletak + 240 km dari Kota Manado atau 30 km dari Kota Kotamobagu (gambar 2). conto bijih. sedangkan analisis yang digunakan untuk logam berat dengan metode AAS. dan hilir pengolahan. Parameter tertentu seperti pH dan Daya Hantar Listrik ditentukan langsung di lapangan dengan mengguna- Untuk parameter logam. Titik-titik lokasi tersebut ditampilkan pada gambar 2. Peta kesampaian daerah Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan survey langsung (Grounded checking). Metode Pengambilan Conto yang dilakukan. penyimpanan contoh dilakukan dalam wadah contoh bervolume 500 mLyang terbuat dari plastik. Gambar 2. sedimen. Kabupaten Bolaang Mongondow. Sulawesi Utara. dapat membuat contoh bertahan hingga 7 hari. yaitu di hulu pengolahan. METODOLOGI Lokasi Penelitianterletak di daerah Tanoyan. ampas. Pada lokasi pengolahan dilakukan pengambilan contoh di 4 kolam pengendapan. Conto yang akan dianalisis disaring terlebih dahulu untuk menghindari suspensi yang terlarut. 108 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . yang meliputi pengambilan contoh air dan sedimen. kan peralatan pH meter (water quality checker). lokasi pengolahan. Penyaringan dibantu dengan pompa vacuum untuk mempercepat proses. Lokasi pengambilan conto air ada di 3 tempat. meliputi. volume conto yang diperlukan adalah sebanyak 100 mL untuk merkuri. conductivity meter. Untuk merkuri diberikan penambahan pengawet HNO3 dengan pH <2 yang dapat bertahan hingga 6 bulan. Parameter kimia lain seperti merkuri dan logam-logam terlarut ditentukan dengan Atomic Absorption Spectrometer. Untuk keperluan analisis laboratorium.

Pengambilan conto sedimen dilakukan secara grab sampling dengan menggunakan sekop pada lokasi pengambilan air dan di salah satu mulut tambang. Conto yang diambil masing-masing ± 1 kg, kemudian dimasukkan ke dalam kantung plastik berlabel. Adapun parameter-parameter yang dianalisis di laboratorium adalah merkuri (Hg) dan logam-logam berat lain seperti Pb, Cu dan Zn.

3. 3.1.

HASIL DAN PEMBAHASAN Kualitas Air (Air Sungai)

Kualitas air merupakan hal yang paling pokok dalam kegiatan ini karena air (sungai) merupakan tempat bercampurnya faktor-faktor alami dengan unsur-unsur pencemar dan air juga merupakan unsur esensial yang dibutuhkan oleh makhluk hidup dalam kehidupan kesehariannya (UNEP,

Gambar 3. Peta lokasi pengambilan contoh

Tabel 1. Koordinat lokasi pengambilan contoh No. 1 2 3 Lokasi Hulu Pengolahan Hilir Titik LU 124° 15’ 40,22" 124° 15’ 05,27" 124° 16’ 23,34" BT 0° 36’ 28,47" 0° 36’ 27,83" 0° 36’ 2,81"

Karakteristik Merkuri dalam Sedimen dan Air pada Pengolahan ... M. Lutfi dan Retno Damayanti

109

1991). Sehingga dapat dikatakan badan air merupakan tempat interaksi langsung antara unsur hayati dengan unsur pencemar. Secara alamiah sungai mempunyai kemampuan dalam pembersihan diri (self purification) sepanjang buangan yang diterima sungai tidak melebihi kapasitas asimilasi sungai (assimilative capacity). Sementara, dalam kurun waktu cukup lama, unsur merkuri yang terbuang ke sungai kemungkinan dapat menjadi senyawa metil merkuri yang berbahaya melalui proses yang terjadi secara alamiah.Hasil pengukuran parameter fisik air di lapangan (pH, temperatur, DHL, TDS, dan TSS) dapat dilihat pada Tabel 2 di bawah.

Analisis laboratorium conto air untuk logam berat ditentukan dengan metode spektrofotometri. Kegiatan tersebut digunakan untuk mengetahui perubahan-perubahan yang telah terjadi di daerah sekitar penambangan khususnya dan daerah Tanoyan Selatan, Kecamatan Lolayan sebagai akibat adanya pertambangan bijih emas dengan sebagian besar hasil pengolahan limbahnya dibuang ke anak sungai Onggak. Hasil analisis laboratorium conto air dapat dilihat pada tabel dibawah ini. Menurut data kualitas air yang diperoleh, diketahui kadar merkuri (Hg) di semua lokasi percontoan

Tabel 2. Parameter fisik contoh air di lokasi pengolahan dan sungai di sekitarnya No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Lokasi Air bor dapur Kolam pengolahan 1 Kolam pengolahan 2 Kolam pengolahan 3 Kolam pengolahan 4 Outlet pengolahan bijih Hulu Sungai Tanoyan Outlet pengolahan keseluruhan Hilir pH 8,34 8,37 6,35 8,56 2,85 8,2 8,34 8,12 8,37 TDS 160 500 390 250 670 210 160 190 180 Suhu [°C] 30,2 29,3 31,4 31,1 27,2 24,8 27,3 28,3 DHL [µmhos] 852 648 391,4 989 312 245,7 337 267,8 TSS [mg/L] 4.8 88 208 743 108.8 18 42 4.8

Tabel 3. Hasil analisis sianida dan logam-logam berat dalam contoh air di lokasi pengolahan dan sungai di sekitarnya No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Lokasi Air bor dapur* Kolam pengolahan 1 Kolam pengolahan 2 Kolam pengolahan 3 Kolam pengolahan 4 Outlet pengolahan bijih Hulu S. Tanoyan** Outlet pengolahan keseluruhan*** Hilir S. Tanoyan (Hulu S. Onggak)** Baku Mutu* Baku Mutu** Baku Mutu *** CN Total [mg/L] 0,058 86,400 3,920 21,700 2,170 16,700 0,066 7,960 0,019 0,1 0,02 0,5 Hg [mg/L] 0,055 0,17 0,16 0,17 0,15 0,20 0,024 0,010 0,034 0,001 0,002 0,005 Pb [mg/L] 0,110 0,068 0,073 0,110 0,170 0,097 0,089 0,083 0,110 0,05 0,03 1 Cu [mg/L] 0,002 8,110 26,200 4,790 1,490 3,230 0,150 0,042 0,0160 1 0,02 2 Zn [mg/L] 0,073 0,550 0,055 0,033 0,080 0,068 0,048 0,030 0,023 5 0,05 5

Catatan: * Peraturan Menteri Kesehatan RI No.: 416/MENKES/PER/IX/1990 tentang Daftar Persyaratan Kualitas Air Minum ** Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air Kelas II *** KEP-202/MENLH/2004 tentang Baku Mutu Limbah Bagi Kegiatan Pengolahan Bijih Emas dan/atau Tembaga

110

PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009

(hulu dan hilir sungai Tanoyan serta outlet pengolahan keseluruhan) sudah melebihi baku mutu yang ditentukan. Bahkan pada daerah hulu, dimana badan air belum mendapatkan masukan dari proses pengolahan maupun proses penambangan, kadar merkuri pun sudah diatas baku mutu. Hal ini dapat terjadi karena adanya proses amalgamasi oleh penambang-penambang lain di luar KUD yang menggunakan merkuri di daerah sungai yang lebih tinggi dan/atau adanya susunan batuan yang mengandung merkuri (Tabel 4 hasil analisis batuan asal) di daerah penelitian.

sebelum masuk kolam pengolahan (outlet pengolahan bijih) adalah 0,2 mg/L, dan setelah melewati 4 kolam pengolahan turun hingga 0,01 mg/L atau turun sebanyak 0,19 mg/L. Kadar merkuri di daerah hilir lebih tinggi dibandingkan dengan daerah outlet pengolahan menandakan adanya penambahan merkuri yang mungkin berasal dari kegiatan di sekitar sungai tersebut meskipun pemerintah daerah sudah melakukan berbagai pembatasan. Kadar sianida yang berada diatas baku mutu terdapat di daerah/area pengolahan, hal ini

Tabel 4. Hasil analisis sedimen pada kedalaman 0 – 10 cm dan batuan No. 1 2 3 4 5 6 7 8 Lokasi Kolam pengolahan 1 Kolam pengolahan 2 Kolam pengolahan 3 Kolam pengolahan 4 5 meter dari pengolahan bijih Hulu S. Tanoyan* Hilir S. Tanoyan (Hulu S. Onggak)* Lubang tambang (batuan asal) Baku Mutu*
Catatan: * Washington state Sediment, WAC 172 – 204 – 320

Hg Pb [ppm] [ppm] 0,70 0,37 0,36 3,01 2,66 0,17 0,20 0,16 0,41 tt 14,14 65,40 33,90 17,27 tt tt 6,88 450

Cu [ppm] 17,86 47,10 162,00 60,7 130,00 56,70 87,90 34,70 390

Zn [ppm]

As [ppm]

Cr [ppm] 45,6 56,5 86,0 79,3 158,4 42,0 47,5 38,5 250

Ni [ppm] 8,31 4,27 8,98 0,88 2,35 3,87 4,06 10,47 -

54,3 74,70 136,0 51,00 367,0 39,00 136,0 105,00 74,9 74,20 100,0 0,97 97,8 1,29 428,0 1,74 410 57

Hasil penelitian terdahulu (Selinawati dan Ngurah Ardha, 2003) pada pertambangan emas di KUD Perintis data kualitas air yang mengandung kadar merkuri di kolam pengolahan 1 adalah 0.0814 ppm, kolam pengolahan 2 adalah 0.0539 ppm, sedangkan pada S. Onggak (hilir S. Tanoyan) mencapai 0.0011. Pada saat itu, KUD Perintis melakukan pengolahan dengan proses amalgamasi saja dari bijih emas dan menggunakan hanya 2 kolam pengolahan. Data menunjukkan bahwa konsentrasi Hg dalam air sangat kecil, hal ini kemungkinan disebabkan karena kelarutan Hg dalam air sangat kecil. Pada penelitian ini (2008) nilai konsentrasi Hg di daerah pengolahan berkisar antara 0,15 – 0,20 ppm. Peningkatan ini dimungkinakn oleh adanya ion CN dalam pengolahan tailing amalgamasi yang dapat melarutkan Hg. Berdasarkan hasil pemeriksaan kandungan logam, kolam pengolahan efektif dalam menurunkan kadar merkuri pada air buangan, dimana kadar merkuri

dikarenakan proses pengolahan tailing amalgamasi menggunakan proses sianidasi. Pada proses sianidasi ini ditambahkan unsur Zn untuk mengendapkan logam emas dan peraknya. Tetapi rendahnya konsentrasi Zn di dalam air (tabel 2) dibandingkan konsentrasi awal/alami Zn pada batuan bijih (tabel 3) disebabkan terjadinya pengendapan unsur Zn selama aliran pengolahan. Proses yang biasanya terjadi adalah: 2Zn + 2NaAu(CN)2 + 4NaCN + 2H2O = 2Au + 2NaOH + 2Na2Zn(CN)4 + H2 3.2. Kualitas Sedimen Sedimen merupakan tempat logam berat mengendap secara gravitasi di badan perairan. Kualitas sedimen badan perairan harus lebih serius diperhatikan karena sifatnya sebagai tempat akhir logam berat di alam. Dan pada akhirnya logam berat yang ada di sedimen dapat kembali ke badan

Karakteristik Merkuri dalam Sedimen dan Air pada Pengolahan ... M. Lutfi dan Retno Damayanti

111

air karena berbagai hal, misalnya karena arus sungai, hujan, atau jalur transportasi (DPE. Pedoman Teknis Penyusunan AMDAL untuk kegiatan Pertambangan dan Energi, 1996). Kontaminasi merkuri (Hg) dalam sedimen sungai terjadi karena proses alamiah (pelapukan batuan termineralisasi), proses pengolahan emas secara tradisional (amalgamasi), maupun proses industri yang menggunakan bahan baku yang mengandung merkuri. Untuk mengetahui sumber kontaminasi Hg ini perlu diperhatikan dengan cermat. Untuk mengetahui adanya kontaminasi logam berat dalam sedimen maka dilakukan pemeriksaan sedimen di lokasi yang diperkirakan terkena dampak proses pengolahan tailing. Pengambilan conto sedimen dilakukan pada kolam pengendap, hulu sungai, hilir sungai. Selanjutnya conto sedimen, batuan bijih, dan tanah dianalisis di laboratorium menggunakan metode AAS. Dari hasil analisis conto tersebut di atas, kemudian dilakukan perbandingan dengan peraturan dan standar yang dapat dianggap sebagai tolok ukur

kualitas konsentrasi unsur di alam. Oleh karena itu sumber acuan yang dijadikan sebagai pembanding pada laporan ini adalah Washington state Sediment, WAC 172 – 204 – 320. Data kualitas sedimen dapat dilihat pada tabel 4. Adapun hasil penelitian kandungan merkuri dalam sedimen apabila dibandingkan dengan data tahun 2003 menunjukkan penurunan. Namun demikian nilai tersebut masih dibawah ambang batas aman. Untuk mengetahui lebih jelasnya mengenai kualitas air dan sedimen pada tahun 2003 sebagai pembanding dapat dilihat pada Tabel 4. Berdasarkan hasil diatas, terlihat bahwa kandungan merkuri pada sedimen di daerah yang memiliki dampak terhadap kehidupan masyarakat sekitar (daerah hulu dan hilir sungai Tanoyan) berada dibawah ambang batas aman yang dikeluarkan Washington state Sediment, WAC 172 – 204 – 320. Tetapi tetap perlu diperhatikan adanya keterkaitan antara kadar merkuri di air dan sedimen dengan beberapa faktor lingkungan, yaitu hujan, arus sungai, dan jalur transportasi masyarakat.

Tabel 5. Conto data kualitas air dan sedimen di KUD Perintis tahun 2003 No 1 2 3 4 5 6 Lokasi Kolam Pengolahan 1 Kolam Pengolahan 2 S. Tanoyan 1 (Hulu S. Tanoyan) S. Tanoyan 2 S. Tanoyan 3 S. Onggak Konsentrasi Hg [ppm] Air 0,0814 0,0539 0,001 0,0739 0,0179 0,0011 Sedimen 0,67 3,12 0,42 1,49 5,97 0,92

Sumber : Selinawati dan Ngurah Ardha, 2003

Gambar 4. Hubungan keterkaitan antara konsentrasi merkuri di sedimen dan air

112

PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009

Departemen Pertambangan dan Energi.. http://www. ataupun lintasan transportasi dari masyarakat sekitar. DAFTAR PUSTAKA Anonim. antara lain arus sungai (karena merupakan sungai dangkal)..034 mg/L) pada semua lokasi penelitian (hulu. dari +40% secara amalgamasi sendiri menjadi +90% secara kombinasi amalgamasi dan sianidasi.com/course/seasion2 Karakteristik Merkuri dalam Sedimen dan Air pada Pengolahan . Saran Dari kegiatan penelitian merkuri dalam sedimen dan air pada pengolhan tailing amalgamasi di pertambangan emas rakyat secara sianidasi. Pedoman Teknis Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Untuk Kegiatan Pertambangan dan Energi.fathom.. dimana keberadaan merkuri di air merupakan tempat singgah sementara sebelum sampai di dasar (berkaitan dengan berat jenisnya) dan juga merupakan pelepasan merkuri dari sedimen yang diakibatkan beberapa faktor. Lutfi dan Retno Damayanti 113 . Washington state Sediment. Draft.20 ppm) pada semua lokasi penelitian belum melewati ambang batas aman terhadap racun yang ada (sesuai UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Selinawati TD dan Bapak Harry Tetra Antono atas saran serta sumbang wawasan terhadap tulisan ini. 2004. Konsentrasi Hg pada sedimen (0. Protocol for Environment and Health Assessment. Sedangkan jumlah merkuri di air dan sedimen sangat berkaitan. Tetapi kadar merkuri di sedimen itu dapat meningkat seiring mengendapnya merkuri ke dasar sungai. Konsentrasi Hg di air (0. outlet pengolahan.Pada Gambar 4 ditunjukkan hubungan antara konsentrasimerkuri di sedimen dan air. Washington NEL.0. hal ini disebabkan oleh adanya ikatan kompleks sebagai senyawa merkuri-sianid (HgCN) yang mengendap. di mana semakin ke hilir badan air. hujan. Proses kombinasi ini diterapkan karena keberadaan bijih emas dengan bentuk kasar semakin sedikit. Diperlukan adanya pengawasan yang lebih ketat dari pemerintah baik pusat maupun daerah berkaitan dengan kegiatan penambangan dan pengolahan emas yang memiliki dampak besar terhadap lingkungan.01 .Ucapan terima kasih juga ditujukan kepada Bapak Marsen Alimano dan Ibu Wulandari Surono yang telah membantu selama percobaan dan penelitian ini berlangsung. WAC 172 – 204 – 320) yaitu sebesar 1 ppm. sehingga meningkatkan pendapatan para penambang. Sediment Quality Standards (WAC 172204-320).0. KESIMPULAN DAN SARAN 4. Kegiatan pengolahan tailing amalgamasi dengan proses sianidasi memberikan dampak negatif terhadap kualitas air dan sedimen disekitar lokasi pengolahannya.2. Kadar merkuri di air pada daerah pengolahan relatif rendah dibandingkan pada sedimen. M. 4. dan hilir) melewati baku mutu yang diperbolehkan (sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air Kelas II dan KEP-202/MENLH/2004 tentang Baku Mutu Limbah Bagi Kegiatan Pengolahan Bijih Emas dan/atau Tembaga).1.17 . maka diperlukan: Pembinaan terhadap para penambang dan pengusaha pengolahan tailing agar lebih memeperhatikan aspek lingkungan dalam setiap kegiatannya. Kesimpulan Berdasarkan hasil kajian pengolahan tailing dengan proses sianidasi dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: Berdasarkan informasi dari penambang karakterisasi pada kegiatan pengolahan tailing amalgamasi dengan proses sianidasi dipertambangan emas rakyat dapat meningkatkan efisiensi perolehan bulion emas dari bijihnya. 4. 1996. Perlu dibentuk wilayah pertambangan rakyat (WPR) untuk lebih memudahkan pemerintah dalam hal koordinasi dan pengawasan kegiatan penambangan dan pengolahan emas rakyat. Global Mercury Project.

1987 114 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . and Ngurah Ardha. 2000.Tim Terpadu Pusat Penanggulangan Masalah Pertambangan Tanpa Ijin (PETI. World Commision on Enviroment & Development (WCED). Yusuf. Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. Penanggulangan Masalah Pertambangan Tanpa Izin (PETI) (Implementasi Inpres No. 3 Tahun 2000). Amalgamasi. Selinawati. Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara. 2003. 2004.D. Research and Development Center for Mineral and Coal Technology. Penambangan dan Pengolahan Emas di Indonesia. Rachmat.T. Study On Mercury Lost and Its Concentration from Artisanal Gold Minings in Indonesia.

Nuryadi Saleh1. Pengaruh Penggunaan Ultrasonik terhadap Hasil Pemisahan Pasir Zirkon . 22.38 % ZrO2 sehingga belum memenuhi persyaratan untuk dijual ataupun diekspor.6030483 Fax.go.PENGARUH PENGGUNAAN ULTRASONIK TERHADAP HASIL PEMISAHAN PASIR ZIRKON KALIMANTAN TENGAH DENGAN ELECTROSTATIC SEPARATOR Pramusanto1. Jend.. Sebelum umpan dipisahkan menggunakan variabel – variabel optimum pada electrostatic separator terlebih dahulu umpan mendapat perlakuan ultrasonik (sonikfikasi). 022 . 26 Bandung 40116 SARI Zirkon sebagai hasil tailing dari pengolahan emas aluvial di Kalimantan Tengah memiliki kadar yang rendah yaitu 36. 24. dkk.5 Variabel optimum pada ultrasonik yaitu selama 30 menit dimana umpan yang mendapat perlakuan ultrasonik dapat membersihkan pasir zirkon dari unsur –unsur minor yang tidak diinginkan.38 % ZrO2 so that has not fulfilled clauses to be sold and or is exported. Pemisahan dilakukan berdasarkan perbedaan sifat konduktifitas listrik menggunakan electrostatic separator dimana mineral zirkon (ZrSiO4) sebagai mineral non konduktor akan terpisah dari mineral pengotornya sebagai mineral konduktor seperti ilmenit (FeTiO3) dan rutil (TiO2). 022 . 1.esdm.go.id. nuryadi@tekmira. Sudirman 623 Bandung 40211 Telp. Concentration is done based on different of electrical conductivity property applies electrostatic separator where zircon mineral (ZrSiO4) as non conductor mineral will separated from its the gangue mineral as conductor mineral for example ilmenite (FeTiO3) and rutile (TiO2). Peningkatan kadar zirkon dilakukan dengan beberapa metoda pengolahan. yuhelda@tekmira. Kata kunci: zirkon. 115 . Zirkon yang dilakukan pemisahan merupakan konsentrat dari magnetik separator basah.go.6003373 e-mail : pramusanto@tekmira. Pramusanto.id 2 Jurusan Teknik Pertambangan. Upgrading of zircon grade is done with a few processing method. Variabel – variabel optimum pada electrostatic separator : Variabel tegangan listrik 30 KV Variabel posisi splitter 30° Variabel skala kecepatan umpan 7. Taman Sari No.id.. ultrasonic. Before feeder concentration using optimum variables at electrostatic separator beforehand feed got treatment of ultrasonic (sonicfication).esdm. Zircon done by concentration is concentrate from wet magnetic separator. 20.esdm. Universitas Islam Bandung (UNISBA) Jl. electrostatic separator ABSTRACT Zircon as tailing product of alluvial gold processing in Central Kalimantan has low grade that is 36. Yuhelda1 dan Fitriza Yuliana2 1 Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl.

kemagnetan dan gaya berat (Woodcock.bgl. yaitu dengan melakukan percobaan menggunakan ultrasonik sebelum umpan dipisahkan menggunakan variabel – variabel optimum pada electrostatic separator. La. Untuk membersihkan partikel – partikel halus yang menempel pada permukaan zirkon. Pulau Bangka. Pendekatan proses pengolahan mineral zirkon. 2. Keyword: zircon. Pemisahan secara kering yang dilakukan pada mineral . 1997). Analisis terhadap nisbah konsentrasi (NK) bertujuan untuk mengetahui perbandingan antara berat umpan yang akan dipisahkan dengan berat konsentrat yang diperoleh pada proses pemisahan yang dilakukan dan kemudian akan korelasikan dengan kadar zirkon (ZrO2). Zirkon yang ditemukan di Kalimantan Tengah kemungkinan berasosiasi dengan mineral – mineral pengotor seperti ilmenit (FeTiO3). 2007). Perlakuan ultrasonik (sonikasi) dilaporkan dapat membersihkan lebih lanjut terhadap produk pasir zirkon dari unsur – unsur minor yang tidak diinginkan (Farmer. Dahlan dan Saleh.mineral berat yang terdapat dalam konsentrat menggunakan berbagai macam pemisahan berdasarkan sifat . Persiapan dan Analisis Umpan Preparasi umpan yang akan dipisahkan berdasarkan perbedaan sifat konduktifitas listrik 116 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .1. 2007) yaitu pemisahan berdasarkan berat jenis menggunakan meja goyang dan berdasarkan sifat kemagnetan menggunakan magnetik separator kering dilanjutkan dengan magnetik separator basah. electrostatic separator 1. Berdasarkan hasil analisis kimia terhadap konsentrat magnetik separator basah ternyata masih terdapat unsur-unsur mineral pengotor seperti rutil (TiO2) dan ilmenit (FeTiO3). Kalimantan Timur) [Suhala dan Arifin. rutil (TiO2). 2. Mineral rutil dan zirkon bersifat non magnet sehingga proses pengolahan yang dilakukan sebatas pemisahan berdasarkan sifat kemagnetan masih belum memadai. Th)PO4). Zirkon yang terdapat di Pulau Bangka adalah mineral ikutan bijih timah (kasiterit) yang merupakan tailing dari pengolahan timah sedangkan zirkon yang terdapat di Kalimantan Tengah adalah mineral ikutan bijih emas aluvial yang merupakan tailing dari pengolahan bijih emas dengan alat sederhana sluice box. PENDAHULUAN Indonesia sebagai salah satu negara penghasil zirkon memiliki penyebaran zirkon di Sumatera (Sumatera Utara. monasit ((Ce. 1997].5 Optimum variable at ultrasonic that is during 30 minutes where feeder getting treatment of ultrasonic can clean zircon sand from minor elements undesirable. Sebagian besar mineral – mineral pengotor di atas merupakan mineral berat sehingga perlu dilakukan pengolahan dan peningkatan nilai tambahnya.esdm. 1980). Hasil penelitian pengolahan terdahulu yang telah dilakukan (Saleh dan Pramusanto. 2007). sehingga umpan perlu mendapat perlakuan ultrasonik sebelum dipisahkan menggunakan variabel – variabel optimum pada electrostatic separator. Kepulauan Riau. xenotim (YPO4) dan kuarsa (SiO2) [www. Karakteristik mineral . Pulau Belitung) dan di Kalimantan (Kalimantan Tengah.mineral pengotor pada zirkon sangat tergantung dari ganesa mineral sehingga setiap tempat memiliki karakteristik mineral yang berbeda (Pramusanto. proses mana yang lebih baik itu umumnya tergantung pada karakteristik zirkon yang akan diolah maupun pemanfaatan dari produk yang akan dihasilkan (Pramusanto dkk.Optimum variables at electrostatic separator : Voltage variable 30 KV Variable position of splitter 30° Feed speed scale variable 7.go. ultrasonic. Y. METODOLOGI Metodologi peningkatan kadar pasir zirkon Kalimantan Tengah yang telah dilakukan studi bahan baku oleh pihak laboratorium pengolahan tekMIRA.sifat fisik mineral seperti konduktifitas listrik.id].

dalam penelitian ini dilakukan untuk membersihkan partikel–partikel halus yang mungkin masih menempel pada permukaan butiran umpan sebelum dipisahkan dengan electrostatic separator. Kemudian pemisahan dilakukan Gambar 1.mineral konduktor sebagai mineral pengotor seperti. 117 . Pramusanto. Alat electrostatic separator yang digunakan dalam percobaan dapat dilihat pada Gambar 1. Partikel yang berada pada bagian atas diambil menggunakan sendok tipis secara perlahan. Alat ultrasonik Percobaan dilakukan dengan variabel waktu getar selama 15 menit. Ukuran partikel mineral sebagai hasil saringan terlihat sangat halus dibandingkan dengan ukuran butiran partikel yang mengendap. Electrostatic Separator dari Reichert Equipment tipe MK III Bench seri 063 2. Gambar 2. terdapat perbedaan warna mineral yang berada di dalam gelas ukur yang telah bercampur dengan air. Kemudian gelas ukur tersebut diletakkan di atas jaring atau kawat yang berada di dalam alat ultrasonik. Setelah perlakuan ultrasonik dilakukan. kemudian dilakukan pemisahan basah secara manual antara partikel mineral berat yang berada pada bagian bawah gelas ukur dengan partikel mineral ringan yang berada pada bagian atas. sedangkan sisanya yang melayang diambil dengan cara disaring menggunakan kertas penyaring. Pertama sampel dimasukkan ke dalam gelas ukur yang berukuran 250 ml dan ditambahkan air sebanyak 150 ml atau 60 % dari kapasitas tempat penampungannya. Peningkatan kadar dapat dilakukan dengan cara memisahkan mineral non konduktor sebagai mineral berharga yaitu ZrSiO4 dengan mineral .yang berasal dari konsentrat magnetik separator basah dilakukan bertujuan untuk mendapatkan contoh yang representatif. Sampel hasil pemisahan setelah perlakuan ultrasonik kemudian dijadikan umpan pada pemisahan dengan electrostatic separator setelah dikeringkan terlebih dahulu dalam oven pengering selama satu hari. dkk.. 45 menit dan 60 menit. FeTiO3 dan lain-lain menggunakan electrostatic separator.2. Peningkatan Kadar Pasir Zirkon dengan Electrostatic Separator Peningkatan kadar pasir zirkon dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan electrostatic separator yang digunakan dalam peningkatan kadar. 2. Getaran yang terjadi pada alat ultrasonik membawa mineral ringan terangkat ke atas sehingga berdasarkan masing–masing waktu yang di variabelkan. Setelah digetarkan menggunakan alat ini. TiO2. 30 menit.3. mineral yang berada pada posisi atas dipisahkan dan terlihat lebih berwarna hitam sedangkan pada posisi bawah sebagai konsentrat berwarna coklat kemerah – merahan.. Pengaruh Penggunaan Ultrasonik terhadap Hasil Pemisahan Pasir Zirkon . Percobaan Menggunakan Ultrasonik Percobaan menggunakan alat ultrasonik yang biasa digunakan untuk membersihkan ayakan berukuran halus. seperti pada Gambar 2. Selama percobaan ini juga terlihat air yang sebelumnya jernih berubah menjadi keruh.

4. 1 0. 3.4 gram/menit dan 5 gram/menit. Hal ini berbeda dengan hasil percobaan yang dilakukan yang kemungkinan disebabkan oleh pengaruh perbedaan sifat kelistrikan atau konduktifitas mineral-mineral yang terdapat dalam umpan seperti mineral zirkon (ZrSiO4). Kecepatan umpan yang digunakan pada masing – masing skala kecepatan umpan 2.38 gram/menit.pada kondisi variabel optimum dengan electrostatic separator yang telah dilakukan pada percobaan sebelumnya. 20 KV. 3. Dimana dengan jarak elektroda yang terlalu dekat dan tegangan yang besar akan menyebabkan tertariknya semua mineral. rutil (TiO2) dan lain-lain.1 Pengaruh tegangan listrik terhadap nisbah konsentrasi dan kadar ZrO2 Percobaan dilakukan dengan variabel berubah yaitu tegangan listrik sedangkan variabel tetapnya pada posisi splitter 40° dan pada skala kecepatan umpan 5.01 ZrO 2 N O a2 P 5 2O Y 3 2O C 3 r2O Fe 3 2O N 2O b 5 A 3 l2O C 2 eO T 2 hO SiO 2 H 2 fO MO n MO g TiO 2 K2 O CO a S Unsur Hasil Analisis Umpan Gambar 3. 2. baik yang bersifat konduktor kuat maupun konduktor lemah. Pengaruh tegangan listrik terhadap nisbah konsentrasi dan kadar ZrO2 pada posisi splitter 40° dan skala kecepatan umpan 5 3.2 Pengaruh skala kecepatan umpan terhadap nisbah konsentrasi dan kadar ZrO2 Percobaan dilakukan dengan variabel berubah yaitu skala kecepatan umpan sedangkan variabel tetapnya pada tegangan listrik 30 KV dan posisi splitter 300. 59.   100 10 K da (% a r ) terhadap nisbah konsentrasi dan kadar ZrO2 pada Gambar 4 yaitu semakin besar tegangan listrik yang digunakan maka nisbah konsentrasinya semakin kecil dan kadar ZrO2 yang dihasilkanpun semakin besar.2.47 gram/ menit). Kemungkinan lain dapat disebabkan oleh jarak elektroda yang tidak sesuai.81. Nisbah konsentrasi yang diperoleh pada skala kecepatan umpan 2. HASIL DAN PEMBAHASAN 3. Hasil percobaan dengan memvariabelkan tegangan listrik 15 KV.39. 25 KV dan 30 KV menghasilkan nisbah konsentrasi secara berturutturut sebesar 6. Peningkatan Kadar Pasir Zirkon dengan Electrostatic Separator Di dalam percobaan electrostatic separator ini dilakukan analisis kimia secara XRF (Fluoresen Sinar X) untuk meninjau perubahan unsur-unsur terhadap konsentrat akibat pengaruh dari variabelvariabel percobaan terhadap nisbah konsentrasi dan peningkatkan kadar.11.5. 3. 5 (2. hematit (Fe2O3).1 0. 10 secara berurutan sebesar 0. tetapi jarak elektroda tidak divariasikan di dalam percobaan ini.1.5. ilmenit (FeTiO3).4 gram/menit) dan 10 (5 gram/menit) secara berturut – turut 118 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . 3. Pengaruh tegangan listrik 3. Analisis Umpan Hasil analisis kimia secara XRF (Fluoresen Sinar X) terhadap umpan sebelum dipisahkan menggunakan electrostatic separator dapat dilihat pada Gambar 3. 57.2. menjabarkan grafik persentase semua unsur yang terdeteksi dalam skala logaritma. Pemisahan yang baik seharusnya menghasilkan nisbah konsentrasi yang besar dan kadar ZrO2 yang besar pula. 7.68 dengan kadar ZrO2 yang diperoleh sebesar 56. 7.96 %.47 gram/menit.5 (3.2. 1. 5.46 %.67 % dan 61.38 gram/menit).51 %. Hasil analisis umpan Gambar 4.5. (0.

58 % ZrO2.69 %. Pengaruh penggunaan ultrasonik dengan variabel waktu terhadap nisbah konsentrasi dan kadar ZrO2 berdasarkan Gambar 6 di atas adalah semakin lama waktu getar yang diberikan oleh ultrasonik terhadap umpan.2. Pramusanto. 62.6 60. Pengaruh skala kecepatan umpan terhadap nisbah konsentrasi dan kadar ZrO2 pada tegangan listrik 30 KV dan posisi splitter 30° Kadar ZrO2 (%)   Nisbah Konsentrasi 1. 1.92 %. 63. 30. Konsentrat kering dari ultrasonik kemudian dipisahkan menggunakan electrostatic separator dengan variabel optimum pada percobaan sebelumnya yaitu pada tegangan listrik 30 KV. posisi splitter 300 dan skala kecepatan umpan 7. 119 .. 45 dan 60 menit.92 % ZrO2.5 3.5 63 62. umpan yang berukuran kasar cenderung mengalami lifting effect meskipun tidak bersifat sebagai konduktor dan umpan yang berukuran halus cenderung mengalami pinning effect.sebesar 1.14 1.40 Kecepatan (gram/menit) NK Kadar 5.15 1.17 1.19.5..1 1. 60.09 1. Hal ini disebabkan karena lamanya waktu getar akan mempengaruhi hasil kerja gelombang ultrasonik sehingga juga akan berpengaruh terhadap hasil umpan yang akan dipisahkan menggunakan electrostatic separator. Pengaruh penggunaan ultrasonik terhadap nisbah konsentrasi dan kadar ZrO2 pada tegangan listrik 30 KV.8 60. Pada waktu getar selama 30 menit perolehan yang didapatkan lebih dari 90 % dan kadar 60.3 Pengaruh penggunaan ultrasonik terhadap nisbah konsentrasi dan kadar ZrO2 Ultrasonik bekerja dengan getarannya untuk melepaskan ikatan – ikatan mineral pengotor lainnya pada mineral zirkon sebagai mineral utama. Nisbah konsentrasi yang diperoleh setelah dipisahkan menggunakan electrostatic separator dengan variabel waktu 15.47 2. 60 menit pada ultrasonik secara berturut – turut sebesar 1. Kecepatan yang tinggi akan mengakibatkan mineral – mineral non konduktor kasar akan terlempar ke konduktor sehingga kadar zirkon akan rendah.52 %.68 % ZrO2 sedangkan pada waktu getar Pengaruh Penggunaan Ultrasonik terhadap Hasil Pemisahan Pasir Zirkon . kecepatan umpan 7.58 %.9 60.15.12 1.11 1. 1.13 0.18 1. pengaruh kecepatan umpan terhadap nisbah konsentrasi dan kadar ZrO2 yaitu semakin cepat umpan yang diberikan maka nisbah konsentrasinya semakin kecil dan kadar ZrO2 yang dihasilkanpun semakin besar.68 % dan 60.2 1. Percobaan pada alat ultrasonik dilakukan dengan memvariabelkan waktu getar selama 15.13 1.45 %.38 3.5 61 Gambar 5.00 63.09.14 dan 1.15 1.70 %.5 62 61. Dengan kecepatan yang tinggi. 30.   Nisbah Konsentrasi 1.19 1. 45. 1.42 % dan 62.14 dengan kadar ZrO2 yang diperoleh sebesar 61.4 Pengaruh penggunaan ultrasonik terhadap perolehan dan kadar ZrO2 Berdasarkan grafik yang terdapat pada Gambar 7 dapat ditarik garis rata – rata sehingga diperoleh grafik yang menunjukkan kecenderungan perubahan perolehan dan kadar ZrO2 terhadap penggunaan ultrasonik.5 Berdasarkan grafik pada Gambar 5.12 dengan kadar ZrO2 yang diperoleh sebesar 60.7 60. Kecepatan umpan (gram/menit) pada percobaan ini tergantung skala kecepatan umpan yang dipakai dan berat masing – masing umpan yang digunakan dalam percobaan.14 1.10.2. dkk. 1. Berdasarkan waktu getar selama 15 menit pada alat ultrasonik perolehan yang didapatkan lebih dari 90 % dan kadar 60.16 1. Pada waktu getar selama 45 menit perolehan yang didapatkan hampir 90 % dan kadar 60. posisi splitter 30 0 dan skala Gambar 6. maka nisbah konsentrasi dan kadar ZrO2 yang dihasilkan akan semakin besar. 1.18. 3. 60.08 15 30 45 60 Waktu (Menit) NK Kadar 61 Kadar ZrO2 (%) 60.

frekuensi yang ada pada ultrasonik kemungkinan akan mempengaruhi terjadinya efek mekanik seperti gerakan – gerakan partikel pada umpan yang berada di dalam gelas ukur sehingga dapat menimbulkan gaya gesek. Pada percobaan umpan yang mendapat perlakuan ultrasonik.96 % yaitu pada tegangan listrik 30 KV dengan nisbah konsentrasi 1.   100 10 Kadar (%) 1 0.selama 60 menit perolehan yang didapatkan 90 % dan kadar 60.2 60 K adar (% ) unsur . Pada percobaan pengaruh skala kecepatan umpan. setelah umpan mendapat perlakuan ultrasonik terlihat adanya beberapa 120 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . 3. Selain itu.unsur yang kadarnya naik dan turun bahkan ada beberapa unsur yang hilang. posisi splitter 300 dan skala kecepatan umpan 7.6 60. tekanan dan getaran pada butiran umpan. KESIMPULAN Berdasarkan hasil percobaan terhadap pengaruh penggunaan ultrasonik terhadap pasir zirkon Kalimantan Tengah hasil pemisahan dengan electrostatic separator. ZrO2. K2O. Kondisi optimum penggunaan ultrasonik yaitu pada waktu getar selama 30 menit.42 % yaitu pada skala 7. 4. Perbedaan perolehan dan kadar ZrO2 yang didapatkan pada percobaan tidak begitu jauh dimana perolehan rata – rata zirkon hampir 90 % dengan kadar 60 % ZrO2. Selain itu. HfO2 dan Y2O3. Nb2O5. Pengaruh gelombang ultrasonik ini cukup kuat dan efektif untuk melepaskan partikel halus berupa mirel pengotor yang melekat pada permukaan sampel bijih zirkon.69 % ZrO2. kadar ZrO2 optimum sebesar 63.68. kadar ZrO2 optimum sebesar 60. MgO.5 diperbandingkan antara umpan yang tidak dan yang mendapat perlakuan ultrasonik.92 % yaitu pada waktu getar 30 menit dengan nisbah konsentrasi 1. P2O5.5 (3. CaO.1 0. Na2O. Perbandingan kandungan unsurunsur sebelum dan setelah mendapatkan perlakuan ultrasonik Berdasarkan Gambar 8. Pengaruh penggunaan ultrasonik terhadap perolehan dan kadar ZrO2 pada tegangan listrik 30KV. TiO2 dan S. Cr2O3 dan ThO2. Cr2O3 dan ThO2. Nb2O5. Hal ini terjadi karena adanya pengaruh getaran yang diberikan pada umpan dengan waktu getar tertentu sehingga dapat melepaskan partikel halus dari mineral pengotor yang melekat pada permukaaan umpan yang akan dipisahkan. Fe2O3. 2. Unsur unsur yang kadarnya naik antara lain Al2O3. beberapa unsur yang hilang setelah mendapat perlakuan ultrasonik antara lain MnO.4 gram/menit) dengan nisbah konsentrasi 1.18.4 60.unsur yang kadarnya turun antara lain SiO2. Hasil perbandingan dapat dilihat pada Gambar 8. hasil analisis pada percobaan dengan variabel optimum yaitu pada tegangan listrik 30 KV.   Perolehan (% ) 93 92 91 90 89 88 87 15 30 45 60 Waktu (Menit) Perolehan ZrO2 Kadar ZrO2 61 60. Adanya beberapa unsur yang hilang setelah mendapat perlakuan ultrasonik (sonikasi) diantaranya MnO. Gambar 7.5 Selain itu.09 dan perolehan lebih dari 90 %.01 Fe2O3 Nb2O5 Cr2O3 Na2O Al2O3 Y2O3 ThO2 P2O5 TiO2 MnO MgO CaO ZrO2 HfO2 SiO2 K2O S Unsur Sebelum M endapat P erlakuan Ultraso nik Setelah M endapat P erlakuan Ultraso nik Gambar 8.8 60. Dari hasil percobaan yang dilakukan bahwa ada beberapa unsur yang tidak diinginkan hilang setelah mendapatkan perlakuan ultrasonik. Sedangkan unsur . kadar ZrO2 optimum sebesar 61. Pada percobaan pengaruh tegangan listrik. posisi splitter 40° dan skala kecepatan umpan 7. didapat beberapa kesimpulan : 1. 4.

Victoria. Puslitbang tekMIRA. 2007. Nuryadi dan Pramusanto.. Dahlan. Yuhelda.. Komunikasi Langsung. 2008. “Mining and Metallurgical Practices in Australia”.C. David J. Pusat Pengembangan Teknologi Mineral.. “Pembuatan Zirconia dari Pasir Zircon Kalimantan dan Bangka”. S. dan Arifin M. dkk. Saleh. “Heavy Mineral Sands Separation of Waringin. Errol G.. Ardha. N. Puslitbang Teknologi Mineral Bidang Litbang Teknologi Pengolahan Mineral. Saleh. “Elements Of Mineral Process Engineering”. Australia. Muta’alim. Woodcock. Farmer. D. B. Y. Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara-tekMIRA.. Andrew L. Spottiswood.. Canada.DAFTAR PUSTAKA Dahlan. dkk.. “Peningkatan Nilai Tambah Pasir Zirkon Kalimantan Tengah”. John Willey & Sons. 1982 “Introduction to Mineral Processing”. Puslitbang tekMIRA. Rochani. Suhala. 2007. 1980. 2000. Kolokium Pertambangan 2007. Bandung. The Australian Institute of Mining and Metallurgy... A. Pramusanto. Chatswood NSW 2067.... Pramusanto. Department of Mining and Mineral Process Engineering University of British Columbia Vancouver. Agricola Consulting Services Pty Ltd.. 1997. T.. 1997. Pramusanto. “Bahan Galian Industri”. Kelly. Pengaruh Penggunaan Ultrasonik terhadap Hasil Pemisahan Pasir Zirkon .. J. N. 2007. Australia. “Pengembangan Produk dan Peningkatan Mutu Bahan Galian”. New York Mular.. Supriatna. 121 . Central Kalimantan”.

Variabel yang digunakan adalah jumlah bed material dan jenis bed material. river sand 122 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . carbon conversion and gasification efficiency. heat exchanger dan scrubber untuk selanjutnya dianalisa komposisinya menggunakan gas kromatografi. syngas composition was analyzed by gas chromatography. Kata kunci: gasifikasi. Result was shown river sand use as bed material functioned well based on syngas composition. 623 Bandung 40211 Telp.esdm.id SARI Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penggunaan pasir sungai sebagai bed material terhadap konversi karbon. After gasifier temperature reaching 900°C. heat exchanger. Jend. coal. Setelah suhu gasifier mencapai 900°C.go. Gas product (syngas) was purified and cooled through cyclone. gasification efficiency and ratio of hydrogen to carbon monoxide in fluidized bed coal gasification. bed material . Percobaan dilakukan dengan memanaskan bed material dalam gasifier menggunakan media fluidisasi gas nitrogen. bed material. Gas produk dimurnikan dan didinginkan melalui siklon. Keywords: gasification. product gas composition.6030483 Fax. konversi karbon dan efisiensi gasifikasi. coal sample and oxygen were inputted into reactor. sehingga terjadi reaksi gasifikasi.6003373 e-mail: Nurhadi@tekmira. Finally. pasir sungai ABSTRACT This research was conducted to know the influence of river sand use as bed material to carbon conversion. efisiensi gasifikasi dan rasio gas hidrogen terhadap gas karbon monoksida pada proses gasifikasi batubara tipe fluidized bed. komposisi gas produk. 022 . batubara. Hasil percobaan menunjukkan bahwa penggunaan pasir sungai sebagai bed material dapat berfungsi baik sebagai dalam proses pembuatan gas sintesis dari batubara dilihat dari komposisi syngas. and scrubber. 022 . percontoh batubara dan oksigen di-input-kan ke dalam reaktor. Sudirman no. Experiment was conducted by heated bed material in gasifier used nitrogen gas as fluidization media. and gasifying reaction happened.PENGGUNAAN PASIR SUNGAI SEBAGAI BED MATERIAL PADA GASIFIKASI BATUBARA SISTEM FLUIDIZED BED Nurhadi dan Slamet Suprapto Pussat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl.

2008). nitrogen dan hidrokarbon rantai ringan (Kubota. Sumber daya batubara Indonesia yang berjumlah 107. Gasifikasi batubara tipe fluidized bed menggunakan bed material berupa pasir. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penggunaan pasir sungai sebagai bed material terhadap konversi karbon. yaitu menggunakan pasir silika dan pasir sungai. Gambar 1. karbon monoksida. Bed material digunakan sebagai transfer panas. sehingga diperoleh karakteristik proses pembuatan gas sintesis menggunakan batubara Indonesia. karbon dioksida atau campuran dari zat tersebut dan menghasilkan campuran gas yang dapat dibakar.. Gas pereaksi masuk dari bagian bawah gasifier melalui plat distributor untuk mengangkat bed material. Sebagai bed material digunakan pasir silika dan pasir sungai. karbon dioksida. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian pembuatan gas sintesis dilakukan terhadap percontoh batubara Indonesia. oksigen dan nitrogen sebagai bahan baku. sehingga suhu dalam gasifier menjadi homogen. dkk... sehingga menjadi unggun terfluidisasi. uap air. Pasir sungai cukup melimpah keberadaannya di Indonesia dan harganya cukup murah. Fluidized bed merupakan sistem yang efisien untuk kontak fase gas-padat.4 milyar ton merupakan aset ekonomi dan aset energi yang sampai saat ini belum dapat dimanfaatkan secara optimal (Setiawan. komposisi gas produk dan efesiensi gasifikasi pada proses gasifikasi batubara tipe fluidized bed. Pemanfaatan batubara peringkat rendah dengan teknologi gasifikasi menghasilkan produk yang mudah dikonversi menjadi beberapa macam sumber energi dan bahan baku industri kimia. Bagan alir proses penelitian pembutan gas sintesis dapat dilihat pada Gambar 1. Nurhadi dan Slamet Suprapto 123 . Bahan-bahan yang digunakan untuk percobaan ini adalah batubara. sehingga sangat cocok dikembangkan sebagai bed material untuk gasifikasi batubara menggunakan gasifier tipe fluidized bed. PENDAHULUAN menggunakan screw feeder (Kunii dan Levenspiel. 1987). Gas produk ini dapat langsung dimanfaatkan sebagai bahan bakar gas atau dikonversi menjadi berbagai macam sumber energi dan bahan baku industri kimia (Penner. Gasifikasi batubara adalah reaksi antara batubara dengan pereaksi udara. Batubara dimasukkan ke dalam gasifier dari bagian samping gasifier 2.1. Diagram alir penelitian pembuatan gas sintesis (Nurhadi. 2006) Penggunaan Pasir Sungai sebagai Bed Material pada Gasifikasi Batubara . Gas produk gasifikasi berupa campuran gas hidrogen. Peralatan yang digunakan untuk kegiatan ini terdiri atas 1 unit peralatan pembuatan gas sintesis skala laboratorium. 1991). 2006). Batubara yang digunakan adalah batubara peringkat lignit dengan variabel jenis bed material.

66 17.6278 22. Untuk percobaan gasifikasi percontoh batubara dipreparasi.975 1. Hasil percobaan yang dibahas dalam makalah ini meliputi pengaruh jenis bed material pasir silika dan pasir sungai terhadap komposisi gas terutama kadar CO dan H2.58 1.26 TT TT Tabel 1. % adb.58 CH4 3. % Fe2O3. Karbon Padat.764 0. % adb.3. Zat Terbang.55 0.758 0.73 C2H4 3.34 44.83 2.3932 22. Untuk percobaan masing-masing bed material dipreparasi sehingga diperoleh ukuran partikel – 48 + 60 mesh.03 6. Nilai 97.80 32. sehingga diperoleh ukuran partikel – 48 + 60 mesh.7437 21. % adb Nitrogen.91 43.85 42. Hasil analisis percontoh batubara Tabel 3.83 5. Hasil analisis percontoh batubara dapat dilihat pada Tabel 1.24 8. kal/g adb.32 30. % adb.18 Komposisi Rata-rata Tanpa Nitrogen (% mol) CO 42. % CaO.19 15.24 SiO2. HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 2. Karbon.14 0.52 2.8542 22. Komposisi produk syngas Kode Percontoh P Silika 15 P Silika 20 P Silika 25 P Sungai 15 P Sungai 20 P Sungai 25 H2 30.52 3.05 O2 5.55 2. % adb.54 2.r. % TT = tidak terdeteksi Percontoh batubara yang digunakan untuk percobaan adalah batubara lignit yang berasal dari Sumatera Selatan.16 54. Tabel 4. % Fe2O3.48 31. konversi karbon dan efisiensi gasifikasi. % TT = tidak terdeteksi Nilai 46.03 16. Analisis Ultimat Abu.20 0. % MgO.31 2.01 TT Bed material berupa pasir silika dan pasir sungai juga sudah dianalisis seperti terlihat pada Tabel 2 dan Tabel 3. neraca massa.01 43.94 2. yaitu pasir silika dan pasir sungai.36 2.51 3.26 16.36 44.05 total 100 100 100 100 100 100 H2/CO 0.83 39.48 3.7938 21. % CaO. nilai kalor.83 0. Sifat kimia pasir sungai Parameter Analisis Proksimat Air Total. Hasil percobaan penelitian skala laboratorium pembuatan gas sintesis dari batubara berupa komposisi produk syngas.37 21.95 2. Setiap bed material kemudian digunakan dalam percobaan dengan variasi 15 gram (P Silika 15 dan P Sungai 15). %. neraca massa. % adb. Hidrogen.687 0.716 0. % adb.02 32.56 CO2 15. Belerang.23 30. % Al2O3. a. % MgO. 20 gram (P Silika 20 dan P Sungai 20) dan 25 gram (P Silika 25 dan P Sungai 25). konversi karbon dan efisiensi gasifikasi pada berbagai variabel dapat dilihat pada Tabel 4 sampai dengan Tabel 6. % adb. nilai kalor.90 19. % Al2O3.57 3. Nilai Kalor.36 1.86 32. Nilai Parameter 53.36 37.90 15. Abu.23 4.32 2.3170 124 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . % adb. Penelitian dilakukan terhadap dua jenis bed material. Sifat kimia pasir silika Parameter SiO2. Air Lembab. % adb. Oksigen.89 2.685 0.719 BM 22.

konversi karbon dan efisiensi gasifikasi Kode Percontoh P Silika 15 P Silika 20 P Silika 25 P Sungai 15 P Sungai 20 P Sungai 25 Konversi C (%) 67 77 75 71 73 74 Efisiensi Gasifikasi (%) 74 80 77 77 81 78 Nilai Kalor (kkal/Nm3) 3. Neraca massa bahan baku dan produk Kode Percontoh P Silika 15 P Silika 20 P Silika 25 P Sungai 15 P Sungai 20 P Sungai 25 Bahan Baku (mg/s) Batubara 1.449 1.7437 Tabel 8. sehingga menyebabkan nilai kalor gas juga berkurang.982 Produk Syngas (mg/s) 1.976 3.411 By Produk Ter (mg/s) 0.411 1.3932 22.185 0.6278 22. Pengaruh jumlah pasir silika terhadap neraca massa bahan baku dan produk Kode Percontoh P Silika 15 P Silika 20 P Silika 25 Bahan Baku (mg/s) Batubara 1.03 16.287 1.52 3.433 (mL/s) 1.499 0.31 2.377 1.982 0.982 0.070 2.067 1.117 Penggunaan Pasir Sungai sebagai Bed Material pada Gasifikasi Batubara .185 0.36 2.433 1. Penggunaan Pasir Silika sebagai Bed Material Pengaruh jumlah pasir silika sebagai bed material terhadap komposisi gas. Komposisi gas cenderung sedikit berpengaruh terhadap perubahan jumlah pasir silika sebagai bed material dalam reaktor.975 3.36 44.067 1.067 1.086 Tabel 6.115 2.287 1.122 0.982 0.85 CH4 3. konversi karbon dan efisiensi gasifikasi dapat dilihat pada Tabel 7 sampai dengan Tabel 9. Tabel 7.95 2...434 1.587 0.899 2.287 1.Tabel 5.287 1.32 2.685 BM 22.579 By Produk Char (mg/s) 0.687 0.449 1.067 1.959 2.465 0.982 0.108 0. Sebaliknya.389 By Produk Ter (mg/s) 0.19 C2H4 3.354 1. maka rasio gas hidrogen terhadap karbon monoksida berkurang.66 17.55 Komposisi Rata-rata Tanpa Nitrogen (% mol) CO 42.54 total 100 100 100 H2/CO 0.57 3.465 0.01 43.135 0.067 1. Nurhadi dan Slamet Suprapto 125 .384 (mL/s) 1.32 30.982 0. Nilai kalor.577 0.982 0.135 0.586 0.117 0. Pengaruh jumlah pasir silika terhadap komposisi produk syngas Kode Percontoh P Silika 15 P Silika 20 P Silika 25 H2 30.434 1.982 0.23 30. nilai kalor. neraca massa.52 CO2 15.982 Produk Syngas (mg/s) 1.340 1. Semakin banyak jumlah pasir silika sebagai bed material dalam reaktor.067 O2 0.067 1.499 By Produk Char (mg/s) 0.388 1.067 1.577 0.716 0.1.067 O2 0.02 O2 5.

067 1. Hal ini disebabkan karena pada penambahan bed material sebanyak 15 gram dan 20 gram akan terjadi peningkatan konversi batubara.18 Komposisi Rata-rata Tanpa Nitrogen (% mol) CO 42.51 3. bed material berfungsi sebagai media transfer panas (Kunii dan Levenspiel.719 BM 21. sehingga meningkatkan nilai kalor syngas dan efisiensi gasifikasi.959 2.122 0.067 1. Semakin banyak jumlah bed material dalam reaktor menyebabkan lebih banyak batubara yang bereaksi menjadi syngas sehingga meningkatkan konversi karbon. Pengaruh jumlah pasir sungai terhadap neraca massa bahan baku dan produk Kode Percontoh P Sungai 15 P Sungai 20 P Sungai 25 Bahan Baku (mg/s) Batubara 1.340 1. maka selain terjadi konversi batubara. char dan ter juga akan terjadi konversi gas CO menjadi gas CO2. konversi karbon dan efisiensi gasifikasi Kode Percontoh P Silika 15 P Silika 20 P Silika 25 Konversi C (%) 67 77 75 Efisiensi Gasifikasi (%) 74 80 77 Nilai Kalor (kkal/Nm3) 3.34 44.354 1.05 O2 2.070 2. Sebaliknya.58 CH4 2.90 15.587 0.73 C2H4 2. Pengaruh jumlah pasir silika terhadap nilai kalor. Dengan bertambahnya gas CO2 yang sudah tidak memiliki nilai kalor.389 By Produk Ter (mg/s) 0. karena sebagian besar syngas berasal zat terbang yang lebih banyak mengandung unsur hidrogen dibandingkan char.7938 21.86 32.067 O2 0.982 0. Penggunaan Pasir Sungai sebagai Bed Material Pengaruh jumlah pasir sungai sebagai bed material terhadap komposisi gas.94 2. 3.108 0. sehingga meningkatkan konversi karbon.899 semakin bertambah jumlah pasir silika sebagai bed material dalam reaktor maka jumlah produksi syngas secara kuantitatif meningkat.Tabel 9. Jika bed material ditambahkan lagi menjadi 25 gram.388 1.764 0.982 Produk Syngas (mg/s) 1. sehingga masih banyak char yang tidak bereaksi. jika jumlah bed material sedikit menyebabkan reaksi kurang sempurna.377 1.56 CO2 15. Sedangkan nilai kalor syngas dan efisiensi gasifikasi akan naik pada penambahan pasir silika sebagai bed material sebanyak 15 gram dan 20 gram. Pengaruh jumlah pasir sungai terhadap komposisi produk syngas Kode Percontoh P Sungai 15 P Sungai 20 P Sungai 25 H2 32.05 total 100 100 100 H2/CO 0. Hal ini menyebabkan syngas memiliki rasio gas hidrogen terhadap gas karbon monoksida lebih tinggi. neraca massa.982 0.579 By Produk Char (mg/s) 0. kemudian akan menurun kembali jika pasir silika sebagai bed material ditambahkan lagi menjadi 25 gram. maka nilai kalor syngas dan efisiensi gasifikasi akan menurun. 1991).80 32.2. Dalam reaktor fluidized bed.8542 22. nilai kalor.36 1.83 2.91 43.384 (mL/s) 1.26 16.89 2.758 0.48 3.086 126 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .3170 Tabel 11. Tabel 10. konversi karbon dan efisiensi gasifikasi dapat dilihat pada Tabel 10 sampai dengan Tabel 12. char dan ter menjadi syngas terutama gas hidrogen dan karbon monoksida.586 0.

Tabel 12. Pengaruh jumlah pasir sungai terhadap nilai kalor, konversi karbon dan efisiensi gasifikasi Kode Percontoh P Sungai 15 P Sungai 20 P Sungai 25 Konversi C (%) 71 73 74 Efisiensi Gasifikasi (%) 77 81 78 Nilai Kalor (kkal/Nm3) 2,976 3,115 2,975

Komposisi gas cenderung sedikit berpengaruh terhadap perubahan jumlah pasir sungai sebagai bed material dalam reaktor. Semakin banyak jumlah pasir sungai sebagai bed material dalam reaktor maka rasio gas hidrogen terhadap karbon monoksida berkurang sehingga menyebabkan nilai kalor gas juga berkurang. Sebaliknya semakin bertambah jumlah pasir sungai sebagai bed material dalam reaktor maka jumlah produksi syngas secara kuantitatif meningkat, sehingga meningkatkan konversi karbon. Nilai kalor syngas dan efisiensi gasifikasi menunjukkan kenaikan pada penambahan pasir sungai sebagai bed material sebanyak 15 gram dan 20 gram, kemudian akan menurun kembali jika pasir sungai sebagai bed material ditambahkan lagi menjadi 25 gram. Fenomena ini sama seperti pada penggunaan pasir silika sebagai bed material. Hal ini menunjukkan bahwa pasir sungai yang digunakan dalam percobaan ini dapat berfungsi dengan baik. Hasil ini juga menunjukkan jumlah pasir sungai sebagai bed material yang optimum untuk laju alir batubara 1,067 adalah 15 gram.

ke dalam gasifier. Batubara kemudian berreaksi dengan gas oksigen menjadi syngas. Syngas kemudian dimurnikan dan didinginkan melalui siklon, heat exchanger dan scrubber. Syngas kemudian dianalisis menggunakan gas kromatografi. Hasil percobaan menunjukkan pasir sungai dapat berfungsi baik sebagai bed material dalam proses pembuatan gas sintesis dari batubara dilihat dari komposisi syngas, konversi karbon dan efisiensi gasifikasi.

DAFTAR PUSTAKA Kubota, N., 2006. Development of Novel Low Rank Coal Gasifier “TIGAR”, dipresentasikan pada Seminar on Low Rank Coal Gasification, Badan Litbang Energi dan Sumber Daya Mineral, Jakarta, 16 Mei 2006. Kunii, D., dan Levenspiel, O., 1991. Engeneering Fluidization, second edition, ButterworthHeinemann Publishing, Stoneham, M.A. Nurhadi, dkk., 2006. Pembuatan Gas Sintesis dari Batubara dengan Teknologi Gasifikasi Unggun Terfluidakan, Puslitbang tekMIRA. Setiawan, B., 2008. Indonesia Coal Policy, APEC Clean Fossil Energy Technical and Policy Seminar in conjunction with 7th Coaltech, Jakarta 17 November 2008. Penner, S.S., 1987. Coal Gasification: Direct Application and Syntheses of Chemicals and Fuels, U.S. Department of Energy, Office of Energy Research, Washington.

4.

KESIMPULAN

Percobaan ini dimaksudkan untuk mengetahui unjuk kerja penggunaan pasir sungai sebagai bed material pada gasifikasi batubara sistem fluidized bed. Sebagai pembanding, dilakukan juga percobaan penggunaan pasir silika sebagai bed material. Percobaan dimulai dengan pemanasan bed material dalam gasifier menggunakan pemanas listrik. Sebagai media fluidisasi digunakan gas nitrogen. Setelah suhu gasifier mencapai 900°C, percontoh batubara dan gas oksigen dimasukkan

Penggunaan Pasir Sungai sebagai Bed Material pada Gasifikasi Batubara ... Nurhadi dan Slamet Suprapto

127

METODE PENGURANGAN EMISI MERKURI PADA PEMBAKARAN BATUBARA

Dra. Roza Adriany M.Si Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi Jl. Ciledug Raya Cipulir Kebayoran Lama Jakarta Selatan Telp. 021 - 7394422 ext 1552

SARI Pengurangan emisi Merkuri yang maksimal pada pembakaran batubara seperti pada boiler bergantung pada beberapa faktor yaitu jenis batubara, konfigurasi alat pengontrol emisi dan proses tambahan lain seperti penambahan senyawa Halogen, pencampuran 2 jenis batubara, serta penggunaan teknologi ACI (Activated Carbon Injection). Dalam tulisan ini akan ditinjau masing-masing faktor yang mempengaruhi jumlah emisi Merkuri, dan jenis senyawa Merkuri yang diemisikan (Merkuri dalam wujud uap logam, oksida Hg dan Partikulat) serta pengaruh lain seperti UBC (Unburn Carbon) dan SO2. Kata kunci : emisi merkuri, batubara, pengontrol emisi, senyawa halogen

1.

PENDAHULUAN

Emisi Merkuri yang dihasilkan dari pembakaran batubara seperti pada unit Boiler mendapat perhatian yang besar dari pemerhati lingkungan karena berpotensi merusak lingkungan dan menjadi ancaman bagi kesehatan makhluk hidup. Menurut data EPA (Environmental Protection Agency), di Amerika Serikat diperkirakan sekitar 51 ton Merkuri pertahun telah diemisikan ke udara oleh Pabrik yang menggunakan batubara sebagai sumber energi pembakaran. Jenis Merkuri yang diemisikan ke udara pun bervariasi yaitu dalam bentuk uap Merkuri (Hg°), Oksida Merkuri dan Partikulat. Uap Merkuri (Hg°) mempunyai waktu tinggal yang lama di udara yaitu bisa mencapai satu tahun, sehingga dapat menyebar pada jarak yang sangat jauh dari sumbernya. Ketika Hg° terdeposit di tanah atau air , maka dia dapat mengalami transformasi menjadi merkuri organik yaitu metil merkuri yang dapat memasuki rantai makanan seperti ikan. Merkuri yang berbentuk oksida (Hg2+), mempunyai waktu tinggal di udara hanya beberapa hari saja, disebabkan karena tingkat kelarutan yang tinggi dari Hg2+ di dalam uap air yang ada di udara (Senior 2001).

Berbagai teknologi untuk mengurangi emisi merkuri maupun polutan lain yang berasal dari pembakaran Batubara seperti pada unit Boiler telah banyak dikembangkan dan sampai saat ini penelitianpenelitian mengenai hal ini masih terus dilakukan. Walaupun konfigurasi metode atau alat pengontrol emisi telah digunakan, pada kenyataannya jumlah merkuri yang diemisikan masih cukup tinggi dan akan berbeda-beda dari satu Pabrik dengan Pabrik lainnya. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi jumlah emisi Merkuri antara lain adalah jenis batubara, konfigurasi alat pengontrol emisi dan proses tambahan lain seperti penambahan senyawa Halogen, pencampuran 2 jenis batubara, penggunaan teknologi ACI (Activated Carbon Injection) serta pengaruh lain seperti UBC (Unburn Carbon) dan SO2 (Institute of Clean Air Companies, 2006 dan Durham, 2005). Dalam tulisan ini akan ditinjau masing-masing faktor yang mempengaruhi jumlah emisi Merkuri, serta jenis senyawa Merkuri yang diemisikan (Merkuri dalam wujud uap logam, oksida Hg dan Partikulat).

128

PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009

2.

METODOLOGI

Tulisan ini dibuat berdasarkan data atau informasi yang diperoleh dari penelitian-penelitian yang telah dilakukan terutama oleh EPA (Environmental Protection Agency) 3. HASIL DAN PEMBAHASAN

jection) yaitu penginjeksian karbon aktif kering berbentuk bubuk ke dalam flue gas. ACI biasanya ditempatkan antara pemanas udara (air preheater) dan ESP (Electrostatic Precipitator) atau FF (Fabric Filter). 3.1.1 Teknologi “Co Benefits” Hasil penelitian pada Tabel 1, Tabel 2 dan Tabel 3 berikut menunjukkan bagaimana pengaruh konfigurasi alat pengontrol polutan terhadap jumlah Merkuri yang dibuang ke udara, untuk jenis batubara yang sama. Data diperoleh dari ICR (Information Collection Request) EPA (U.S Environmental Protection Agency, 2000). Dari Tabel 1 terlihat bahwa konfigurasi alat pengontrol polutan yang paling efisien untuk Batubara Bituminous adalah SDA/FF dengan jumlah Merkuri yang dibuang 1,78 %. Dari Tabel 2 terlihat bahwa konfigurasi alat pengontrol polutan yang paling efisien untuk Batubara Sub-Bituminous adalah CS/FF dengan jumlah Merkuri yang dibuang 27,57 %. Dari Tabel 3 terlihat bahwa konfigurasi alat pengontrol polutan yang paling efisien untuk Batubara Lignit adalah CS-ESP dan wet FGD Scrubber dengan jumlah Merkuri yang dibuang 62,52 %. Untuk jenis alat pengontrol polutan yang sama misalnya menggunakan CS-ESP, terlihat bahwa % jumlah emisi dari Batubara Lignit adalah yang paling tinggi yaitu 98,53% diikuti oleh SubBituminous 85,52% dan yang terendah adalah Bituminous yaitu 53,52%. 3.1.2 Teknologi ACI (Activated Carbon Injection) ACI (Activated Carbon Injection) adalah penginjeksian karbon aktif kering berbentuk bubuk ke dalam flue gas. ACI biasanya ditempatkan antara pemanas udara dan ESP atau FF (Durham, 2005 dan Praven, 2003). Hasil penelitian dari: Durham,M. “Tools for Planning and Implementing Mercury Control Technology”, menunjukkan bagaimana pengaruh kecepatan injeksi karbon aktif terhadap % Merkuri yang dapat dikontrol (distabilkan) dengan menggunakan 2 alat pengontrol polutan yaitu ESP dan FF untuk Batubara Bituminous dan Sub Bituminous, seperti tampak pada Gambar 1.

Faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah emisi merkuri Seperti telah dijelaskan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi jumlah emisi Merkuri pada pembakaran Batubara yaitu jenis Batubara, konfigurasi alat pengontrol emisi dan proses tambahan lain seperti penambahan senyawa Halogen, pencampuran 2 jenis batubara, penggunaan teknologi ACI (Activated Carbon Injection) serta pengaruh lain seperti UBC (Unburn Carbon) dan SO2. 3.1. Jenis Batubara dan Konfigurasi Alat Pengontrol Merkuri Teknologi pengontrol Merkuri pada dasarnya dibagi dalam 2 bagian: Pertama adalah teknologi yang di sebut “Co Benefits” yaitu teknologi yang sebenarnya didesain untuk mengontrol polutan lain selain Merkuri , seperti NOx , SOx dan bahan partikulat (PM) tetapi dalam hal ini dapat juga digunakan sebagai alat pengontrol Merkuri (Praven, 2003). NOx dapat dikontrol menggunakan SCR (Selective Catalytic Reduction). Selain berfungsi sebagai pengontrol NOx , SCR dapat juga digunakan sebagai pengontrol emisi Merkuri dengan cara mengoksidasi uap Merkuri menggunakan katalis SCR. SOx adalah polutan yang dikontrol menggunakan FGD (Flue Gas Desulfurization). Selain berfungsi sebagai pengontrol SOx, FGD dapat juga digunakan sebagai pengontrol emisi Merkuri dengan cara melarutkan oksida Merkuri di dalam air (U.S Environmental Protection 2003 dan Praveen, 2003). Bahan Partikulat (PM), baik yang berasal dari Partikulat Merkuri atau Partikulat lainnya dapat dikontrol dengan alat seperti CS-ESP, HS-ESP, FF dan PM Scrubber (U.S Environmental Protection Agency, 2000). Teknologi kedua adalah teknologi yang spesifik untuk Merkuri seperti ACI (Activated Carbon In-

Metode Pengurangan Emisi Merkuri pada Pembakaran Batubara ... Rosa Adriany

129

Tabel 1. Pengaruh konfigurasi alat pengontrol polutan terhadap jumlah merkuri yang dibuang ke udara untuk batubara bituminous. Jenis Batubara Bituminous Jenis Boiler PC Boiler Alat Pengontrol Polutan SDA/FF SCR dan SDA/FF CS-FF dan wet FGD Scrubber SNCR dan CS-ESP FF Wet FGD Scrubber HS-ESP-Wet FGD Scrubber CS-ESP DSI dan CS-ESP HS-ESP % Merkuri yang Dibuang ke Udara 1,78 2,44 3,59 9,1 16,90 18,77 44,95 53,52 55,11 87,98

Tabel 2. Pengaruh konfigurasi alat pengontrol polutan terhadap jumlah merkuri yang dibuang ke udara untuk batubara sub bituminous Jenis Batubara Jenis Boiler Alat Pengontrol Polutan CS-FF CS-ESP / SDA CS-ESP dan Wet FGD Scrubber HS-ESP dan Wet FGD Scrubber SDA/FF CS/ESP HS-ESP PM/Scrubber % Merkuri yang Dibuang ke Udara 27,57 62,06 64,88 67,38 74,60 85,52 86,54 85,57

Sub Bituminous PC Boiler

Tabel 3. Pengaruh konfigurasi alat pengontrol polutan terhadap jumlah merkuri yang dibuang ke udara untuk batubara lignit Jenis Batubara Lignit Jenis Boiler PC Boiler Alat Pengontrol Polutan CS-ESP dan wet FGD Scrubber PM-Scrubber SDA-FF CS-ESP dan FF CS-ESP
SDA DSI SCR FGD SNCR

% Merkuri yang Dibuang ke Udara 62,52 67,23 82,62 95,07 98,53
Particulate Collector) : Spray Dryer Absorber (Dry Scrubber) : Duct Sorbent Injection : Selective Catalytic Reduction : Flue Gas Desulfurization : Selective Non-Catalytic Reduction

PC FBC CS-ESP HS-ESP FF PM FF (COHPAC)

: Pulverized Coal : Fluidized Bed Combustor : Cold-Side Electrostatic Precipitator : Hot-Side Electrostatic Precipitator : Fabric Filter : Particulate Matter : Fabric Filter pilot unit (Compact Hybrid

130

PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009

diperlukan 5 kali lebih banyak penyerap karbon aktif bila menggunakan ESP dari pada FF. Reaksi klorinasi ini dapat terjadi pada fasa yang sama (Homogen) maupun pada fasa yang berbeda (Heterogen). Pengaruh Penambahan Halogen Adanya senyawa Halogen seperti Klorin baik yang berasal dari Batubara maupun yang ditambahkan sebagai aditif dapat mempengaruhi oksidasi Merkuri (perubahan dari Hgº menjadi Hg+2 ) dan juga mempengaruhi perubahan Merkuri dari Hgº ke bentuk partikulat Merkuri (Hgp). UBC (Unburn Carbon) yang ada dalam abu terbang dengan Merkuri yang ada dalam flue gas.Gambar 1. Reaksi Heterogen adalah reaksi yang terjadi antara Klorin. molekul Cl2 dan sebagai HCl. atom Cl diperkirakan sebagai jenis Klorin yang paling dominan berperan dalam mengoksidasi merkuri secara Homogen (Zhuang. Rosa Adriany 131 . Pada penggunaan alat pengontrol polutan ESP untuk jenis Batubara Sub Bituminous diperoleh hasil bahwa pengurangan emisi maksimum adalah sekitar 60% dan terjadi mulai dari kecepatan injeksi sekitar 7 lb/Macf. umumnya menghasilkan Hg+2 dan Hgp yang lebih banyak di dalam flue gas dibandingkan dengan merkuri dalam bentuk Hgº (Zhuang. Hal ini kemungkinan disebabkan karena terbentuknya lapisan Karbon pada bagfilter sehingga penyerapan lebih maksimal (Praven. dapat berada dalam bentuk 3 senyawa yaitu sebagai atom Cl. kemungkinan hal ini disebabkan karena sensitifitas Cl2 yang lebih rendah dibanding Cl pada suhu tersebut.. 2003). 2006). tetapi HCl merupakan jenis klorin yang utama di dalam flue gas yang dapat melakukan reaksi oksidasi melalui reaksi Heterogen dengan cara mempromosikan oksidasi Merkuri pada permukaan padatan (Zhuang. Metode Pengurangan Emisi Merkuri pada Pembakaran Batubara . pemisahan merkuri sampai dengan 90% dapat tercapai pada kecepatan injeksi 4 lb/Macf (Praven. Kenaikan kecepatan injeksi karbon aktif selanjutnya ternyata tidak dapat menaikkan persentase pengurangan Merkuri. HCl tidak dapat mengoksidasi Hgº secara langsung melalui reaksi fasa gas yang Homogen . Diantara berbagai jenis Klorin tersebut. 3. 2003). Pada studi lainnya ditemukan bahwa pada suhu di bawah 500 ºC reaksi oksidasi merkuri yang utama dilakukan oleh Cl2 bukan oleh atom Cl.. 2006). Kandungan Klorin yang tinggi di dalam Batubara. Pengaruh kecepatan injeksi karbon aktif terhadap % pengurangan merkuri Pada Gambar 1 terlihat bahwa untuk alat pengontrol ESP pada Batubara Bituminous. 2006). FF mempunyai tingkat penangkapan Merkuri yang lebih tinggi dibandingkan ESP.2. Dengan kata lain untuk mencapai 90% pengurangan Merkuri. pengurangan merkuri sampai dengan 90% dapat tercapai pada kecepatan injeksi karbon aktif sekitar 20 lb/Macf (million actual cubic feet) sedangkan untuk alat pengontrol baghouse (FF) untuk Batubara yang sama . Klorin di dalam flue gas.

pengetahuan mengenai interaksi Fisika dan Kimia antara partikel Gambar 2. untuk komposisi pencampuran yang sama dari Batubara yang sama. tetapi dengan konfigurasi alat pengontrol Merkuri diganti menjadi SDA-ESP maka diperoleh hasil dimana efek pencampuran kedua Batubara tidak signifikan dalam meningkatkan efisiensi penangkapan Merkuri. Dengan demikian. Dari Gambar 2 terlihat bahwa semakin bertambahnya komposisi batubara bituminous dalam campuran maka semakin besar persentase Hg yang dapat dipindahkan. 2006). dengan penambahan SCR atau dengan melakukan pemanasan bertingkat. Pengaruh dari UBC (Unburn Carbon) Pada umumnya kandungan karbon di dalam abu terbang berkisar antara 2-12%. 2005). kedua. 2006). melalui reaksi Heterogen dan yang ketiga melalui pembentukan pusat Heterogen yang dapat berupa permukaan padatan dengan kondisi yang sesuai seperti partikel UBC. 3. Dalam beberapa kasus dapat mencapai kenaikan hingga 20 % berat. Hasil penelitian Durham (2005) seperti tampak pada Gambar 2 berikut memperlihatkan pengaruh pencampuran batubara bituminous berkadar klorin tinggi (106 µg/g) dengan batubara sub bituminous berkadar klorin rendah (9 µg/g). Hal ini memperlihatkan bahwa konfigurasi SDA FF lebih baik dibanding SDA-ESF (Durham. 3. Peningkatan kandungan UBC ini dikarenakan kondisi pembakaran yang kekurangan oksigen dan atau rendahnya suhu pembakaran (Zhuang.Penelitian lain menunjukkan bahwa UBC dapat memfasilitasi perubahan HCl di dalam flue gas untuk membentuk pusat karbon terklorinasi. Alat pengontrol merkuri yang digunakan adalah SDA-FF. katalis SCR atau partikel yang diinjeksikan (Zhuang. Jumlah UBC yang ada di dalam abu terbang dipengaruhi oleh penggunaan alat pengontrol polutan NOx yang digunakan. Dampak dari penggunaan teknologi ini adalah meningkatnya kandungan UBC yang ada di dalam abu terbang. Pengurangan emisi NOx umumnya dilakukan dengan berbagai strategi misalnya dengan memasang low-NOx burners. Bagaimanapun. klorinasi merkuri pada flue gas dapat berlangsung melalui tiga cara yaitu pertama. Pada penelitian selanjutnya. Pengaruh Pencampuran 2 Jenis Batubara Salah satu metode alternatif dalam meningkatkan kemampuan penangkapan Merkuri adalah dengan mencampurkan 2 jenis Batubara yaitu Batubara yang mengandung Klorin atau Bromin yang tinggi dengan Batubara yang mengandung Klorin atau Bromin rendah. melalui reaksi fasa gas yang Homogen. Pengaruh pencampuran bituminous dengan sub bituminous terhadap persentase pengurangan emisi Hg 132 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .4. Penelitian dari Hasset dan Eylands membuktikan bahwa kenaikan kandungan UBC (Unburned Carbon) dan adanya penurunan suhu pembakaran akan menaikkan efisiensi penangkapan Merkuri di dalam abu terbang.3.

Institute of Clean Air Companies. “Electric Utility Steam Generating Units Hazardous Air Pollutant Emission Study (Mercury ICR). EPA/600/ R-03/110.undeerc. Hasil studi Durham menunjukkan bahwa untuk alat pengontrol ESP pada Batubara Bituminous.org. Pencampuran 2 jenis Batubara yang mengandung Klorin atau Bromin tinggi dengan Batubara yang mengandung Klorin atau Bromin rendah dapat meningkatkan efisiensi penangkapan Merkuri.”Behaviour of Mercury in Air Pollution Control Devices on Coal-Fired Utility Boilers”. A. www. pemisahan merkuri sampai dengan 90% dapat tercapai pada kecepatan injeksi 4 lb/Macf..5. Pencampuran dua jenis Batubara. 2006). Oxidation Catalyst. UT. 2000. Century: Impacts of Fuel Quality and Operations Engineering Foundation Conference..gov. 2. Jenis Batubara dan Konfigurasi Alat Pengontrol Merkuri Jenis batubara yang berbeda dan konfigurasi alat pengontrol Polutan yang berbeda dapat menghasilkan efisiensi penangkapan Merkuri yang berbeda. “Enhancing Mercury Control on Coal-Fired Boilers with SCR. www.icac. Mercury Transformations in Coal Combustion Flue Gas”.gov. Senior. Metode Pengurangan Emisi Merkuri pada Pembakaran Batubara . masih kurang memadai (Zhuang. U. Zhuang. Efisiensi penangkapan merkuri pada teknologi ACI bergantung pada kecepatan injeksi karbon aktif dan konfigurasi alat pengontrol polutan yang digunakan. 2006. Y. Pengaruh SO2 terhadap Karbon Aktif Karbon aktif dapat mengkatalisis SO2 menjadi H2SO4 di dalam Flue gas. M. Rosa Adriany 133 .. 2001.reaction_eng.. 3. SO2 terhadap Karbon Aktif Kapasitas Karbon aktif dalam mengadsorpsi Merkuri akan lebih tinggi pada saat kadar SO2 di dalam Flue gas lebih rendah. 2006. pada Sub Bituminous adalah CS-FF dan pada Lignit adalah CSESP dan wet FGD Scrubber. “Mercury Emissions From Coal – Fired Power Plants”.com. C. KESIMPULAN DAFTAR PUSTAKA Durham. Metode pengurangan emisi Merkuri yang maksimal pada pembakaran batubara seperti pada boiler bergantung pada beberapa faktor antara lain: 1. “Performance and Cost of Mercury and Multipollutant Emission Control Technology Aplication on Electric Utility Boilers”. 4.UBC dengan Merkuri. www.S Environmental Protection Agency. U.org.epa. Dalam hal ini adanya senyawa Halogen dalam jumlah yang cukup akan sangat membantu meningkatkan efisiensi penangkapan Merkuri (Zhuang. pengurangan merkuri sampai dengan 90% dapat tercapai pada kecepatan injeksi karbon aktif sekitar 20 lb/Macf (million actual cubic feet) sedangkan untuk alat pengontrol baghouse (FF) untuk Batubara yang sama . 2005. Dengan demikian kapasitas Karbon aktif dalam mengadsorpsi Merkuri akan lebih tinggi pada saat kadar SO2 di dalam Flue gas lebih rendah. 4.D. 2003.com.. “Mercury Control for PRB and PRB/Bituminous Blends” www. Asam Sulfat ini akan terakumulasi pada permukaan Karbon dan kemungkinan dapat menghambat adsorpsi Merkuri. Snowbird. Hasil studi EPA seperti pada Tabel 1. www. Praveen.L..epa. Tabel 2 dan Tabel 3 memperlihatkan bahwa pada Bituminous diperoleh konfigurasi alat pengontrol Polutan yang paling efisien adalah SDA/FF. Dikarenakan konsentrasi SO2 di dalam Flue gas jauh lebih besar dibanding Merkuri maka kapasitas adsorpsi Karbon aktif bergantung pada konsentrasi SO2 yang dapat membentuk H2SO4 pada permukaan Karbon.com.nescaum.S Environmental Protection Agency. www. 2006). www. Penambahan Halogen Adanya senyawa Halogen seperti Klorin baik yang berasal dari Batubara maupun yang ditambahkan sebagai aditif dapat meningkatkan oksidasi Merkuri (perubahan dari Hgº menjadi Hg+2 ) dan juga mempengaruhi perubahan Merkuri dari Hgº ke bentuk partikulat Merkuri (Hgp) 3. 2003.icac. and FGD” .

000. sehingga diperoleh volume sedimen seluruhnya adalah 350. Prinsip kerja metode seismik refleksi ini adalah pantulan gelombang suara yang dapat membedakan antara granit. 236 Bandung 40174 e-mail: ediar. Ganesa No.com 2) Departemen Teknik Geologi. Ketebalan terbesar terdapat di bagian tengah daerah eksplorasi berkisar antara 16 . dan luas daerah eksplorasi sekitar 5. Sejalan dengan bertambahnya kedalaman laut. Daerah pengendapan sedimen dan timah yang dapat diidentifikasi melalui data seismik adalah lembah-lembah purba (paleovalleys) yang terisi sedimen (channel fill) berbutir kuarsa berukuran sedang-kasar. bahkan di beberapa tempat membentuk bidang yang tipis dengan ketebalan kurang dari 2 meter. maka diperkirakan kandungan timah di daerah eksplorasi sekitar 1. Junjunan No.000 m3. Pada penampang seismik. dan konsentrat timah.30 meter. lembah-lembah purba ditunjukkan oleh bentuk morfologi cekungan pada permukaan granit yang terisi oleh sedimen dan konsentrat timah.000. perairan utara Bangka 134 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .EKSPLORASI POTENSI KONSENTRAT TIMAH BERDASARKAN DATA SEISMIK REFLEKSI (STUDI KASUS PERAIRAN BANGKA UTARA) Ediar Usman1) dan Andri S.050.000 ha. 10 Bandung. SARI Pada kegiatan eksplorasi konsentrat timah di laut.30 meter dan kedalaman batuan dasar adalah 65 meter sebagai pusat lembah. Di bagian selatan. jenis dan ketebalan sedimen. ketebalan kurang dari 4 meter. Institut Teknologi Bandung Jl. Jika dalam volume 1 m3 sedimen. Kata kunci: data seismik. Hasil perhitungan ketebalan rata-rata adalah 7 meter. data penting yang diperlukan untuk mengetahui keberadaan dan perhitungan volume sedimen mengandung potensi konsentrat timah adalah data seismik refleksi. Jl. Balitbang ESDM. Hasil interpretasi penampang seismik refleksi di perairan Bangka Utara menunjukkan ketebalan sedimen mengandung timah antara 2 .000 kg (1.050. Jumlah kandungan konsentrat timah tersebut merupakan potensi ekonomis untuk ekploitasi konsentrat timah di daerah eksplorasi.24 meter. potensi konsentrat timah. Subandrio2) 1) Pusat Eksplorasi dan Pengembangan Geologi Kelautan. memperlihatkan makin menebalnya sedimen ke arah utara (offshore) dengan ketebalan antara 10 . mengandung rata-rata 3 kg konsentrat timah. Sedimen dan timah tersebut berasal dari darat dan dari tubuh granit di laut melalui sungai-sungai purba (paleochannels). eksplorasi lebih rinci dan peningkatan investasi pertambangan di perairan Bangka Utara. Dr.000 ton). Hasil eksplorasi konsentrat timah menggunakan data seismik refleksi ini dapat menjadi acuan dalam kegiatan studi kelayakan. lembah purba.usman@gmail.

and tin concentrate.050. Sedimen berbutir kasar (coarse fluvial depos- Eksplorasi Potensi Konsentrat Timah Berdasarkan Data . the average of thickness approximately is 7 meters. so that the sediment volume entirely is 350. Berdasarkan metode seismik. secara regional merupakan daerah jalur timah (tin belt) yang kaya dengan konsentrat timah. yaitu: 1. Daerah sungai purba (paleochannel) dan lembah purba (paleovalley) bawah laut. the important data that are needed to know existence and calculation of sediment volume of tin concentrate reserve is reflection seismic data. dipantulkan oleh bidang batas batuan dan selanjutnya diterima oleh seperangkat peralatan seismik (receiver).ABSTRACT At activity of tin concentrate exploration in the sea. Subandrio 135 . paleovalleys. Eksplorasi seismik dalam pelaksanaannya menggunakan seperangkat peralatan dengan menggunakan prinsip-prinsip gelombang suara yang dilepaskan ke dasar laut. melalui penjalaran gelombang suara dalam media air dan batuan.. the paleovalleys is shown by basin morphology form at surface of granite that are loaded by sediment and tin concentrate. Sebagai daerah jalur timah. territorial waters of North Bangka 1. Keberadaan dan keterdapan konsentrat timah di laut memerlukan alat bantu yang memberikan keyakinan tentang volume dan potensinya. 2. Keywords: seismic data. The tranportation of sediment and tin from land and granite body in sea through paleochannel. Result of tin concentrate exploration by using the reflection seismic data can become reference on the activities of feasibility study. tin concentrate potency. Survei seismik akan dapat memberikan gambaran tentang daerah akumulasi sedimen. diperkirakan di daerah ini terdapat lembah (paleo-channel) sebagai daerah sedimentasi pasir asal darat dan laut yang mengandung konsentrat timah. Melalui pemahaman karakter pantulan seismik pada penampang seismik akan dapat diinterpretasi ketebalan sedimen dan morfologi granit.000 ha. Result of interpretation on reflection seismic profiles in the territorial waters of North Bangka shows that the sediment thickness with ranges from 2 to 30 meters. the deeper sea tends to northwards and also correlated with thicker sediment. Prinsip dasar seismik pantul beresolusi tinggi tersebut merupakan satu keterpaduan untuk mengetahui ketebalan. PENDAHULUAN Perairan Kepulauan Bangka Utara. On seismic profile. perlu dilakukan eksplorasi geologi dan geofisika kelautan dengan menggunakan metode seismik pantul beresolusi tinggi (high resolution) (Usman. The principal of this reflection seismic method is sound wave reflection can differentiate between granite.000 ton). Ediar Usman dan Andri S.000. penyebaran sedimen dan morfologi granit. dapat ditetapkan target kegiatan eksplorasi dalam mengidentifikasi sedimen mengandung konsentrat timah. sehingga dapat diketahui ketebalan dan lembah-lembah purba yang mengandung konsentrat timah. In southern part of area. termasuk konsentrat timah. the thickness is less than 4 meters. The area of depositional of sediments and tin concentrate identified through seismic data is paleovalleys which filled by sediment. the content estimation of tin concentrate in the exploration area around 1. and in some places it even forms thin layer of less than 2 meters. Amount of the tin concentrate content represent the economic potency for the exploitation of tin concentrate in exploration area and its surrounding.000. dan Subandrio. more detail tin exploration and also increasing the mines investment in the territorial waters of North Bangka. medium sand – very fine sand of quartz grain. yang merupakan tempat akumulasi mineral berat. ketebalan dan jenis sedimen. If on 1 m3 volume of sediment with content 3 kg of tin concentrate.. Result of seismic profile calculation. 2008).000 kg (1. type and sediment thickness. wide of exploration area around 5.000 m3.050. The thickest area lies in the center of survey area with depth ranges from 16 to 30 meters and depth of bedrock is 65 meters as central of paleovalley. The sediment thickness in this area is estimated between 10 to 24 meters. On the contrary. Sebagai langkah awal untuk mengetahui keberadaan sedimen mengandung timah tersebut.

Punggungan ini merupakan bagian dari jalur timah batuan granit (Tin Belt Granite) dari Kraton Sunda yang memanjang dari daratan Thailand. Pulau Bangka yang dimasukkan pada Main Tin Belt Granite dan di Pulau Belitung termasuk pada Western Tin Belt Granite (Gambar 2). 1980). Secara umum lokasi survei termasuk dalam perairan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung kerana letaknya di luar perairan kabupaten/kota yang berjarak di luar daerah 4 mil laut. 1980. Peta lokasi eksplorasi 136 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Batuan dasar granit ini muncul di sepanjang jalur timah yang mempunyai jenis berbeda-beda. Daerah survei terletak di lepas pantai bagian utara Pulau Bangka. Akumulasi mineral timah tidak jauh dari batuan sumber. Perkembangan zona vulkanik Sumatera memperlihatkan bahwa granit Belitung berumur lebih tua (berumur Perem hingga Jura) (Lehmann Gambar 1. termasuk dalam wilayah perairan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung atau sekitar 7 km ke lepas pantai pada kedalaman laut 10 – 15 meter. 1983). Kepulauan Riau. 2. batuan alas adalah granit yang kaya dengan butiran kuarsa dan mineral timah (Sn). GEOLOGI REGIONAL Kerangka geologi regional Kepulauan Bangka dan pulau-pulau di sekitarnya termasuk dalam Punggungan Bangka Belitung (Bangka-Biliton Ridge). Sebagai dasar dalam penentuan titik pemboran inti untuk mengetahui kualitas dan kuantitas timah secara vertikal dan horizontal. Morfologi batuan alas (bedrock) sebagai batuan sumber mineral timah.its). yaitu sedimen yang prospek mengandung timah. 3. Batchelor. Daerah ini merupakan tinggian batuan dasar berada di sebelah timur Cekungan Sumatera Selatan dan di sebelah utara Cekungan Sunda (Katili. Semenanjung Malaysia. Bangka-Belitung hingga Kalimantan Barat (Katili. Di perairan Bangka Utara dan sekitarnya. 4.

andesit dan granit) berumur mesozoik hingga akhir Kapur yang kemudian pada awal Miosen diintrusi oleh granit dari berbagai jenis (Ishihara. Ediar Usman dan Andri S. diabas. yaitu: Paparan Sunda Bagian Utara. Platform Singapura merupakan pemisah antara Paparan Sunda bagian utara dan Paparan Sunda bagian selatan. 1990). Berdasarkan peta struktur pada top dari morfologi batuan dasar. Peta jalur granit regional Asia Tenggara (Batchelor. yaitu Depresi Bangka yang memanjang dengan arah barat laut – tenggara (sejajar dengan pantai Eksplorasi Potensi Konsentrat Timah Berdasarkan Data . Subandrio 137 . Paparan Sunda dapat dibedakan menjadi tiga bagian (Tjia. Pada platform ini terdapat dua depresi cekungan sedimen yang memiliki ketebalan sedimen lebih dari 800 meter. Platform tersebut dicirikan oleh morfologi batuan dasar yang dangkal dan ditutupi oleh sedimen yang tipis. juga dicirikan oleh tubuh-tubuh batuan dasar kecil yang memiliki kecepatan seismik tinggi. perairan Bangka Utara terletak di Paparan Sunda (Sunda Shelf) yang secara tektonik telah stabil sejak awal Miosen. 1983) and Harmanto. Basement dari platform ini sebagian besar terdiri atas batuan beku (gabro. 1970).Gambar 2... 1977). dibandingkan granit di Bangka dan di daratan pulau Sumatera yang berumur Trias. dicirikan oleh grafik anomali magnetik yang tajam dan oleh grafik gravitasi yang agak halus (smooth). Sedimen Kenozoik di platform ini hanya sampai ketebalan 500 meter. daerah survei termasuk bagian dari Platform Singapura. Hal ini memberi informasi bahwa proses erosi pada tinggian-tinggian granit di daerah Bangka Belitung juga telah berjalan cukup lama. sehingga hasilnya berupa endapan aluvial dalam bentuk endapan pantai dan laut telah berjalan lebih intensif. Platform Singapura dan Paparan Sunda Bagian Selatan (Laut Jawa). Berdasarkan kerangka tektonik. Secara fisiografis. Cakupan platform ini mulai dari Laut Natuna di bagian Utara dan batas bagian selatan dari platform ini adalah Punggungan Bangka-Belitung (Bangka-Biliton Ridge).

Sumatera) dan Depresi Belitung yang memanjang berarah utara-selatan (sejajar dengan pantai barat Kalimantan). Di daerah survei, Punggungan Bangka-Belitung terdapat di bagian barat daya dan Depresi Bangka memotong bagian tengah daerah eksplorasi dengan arah barat laut - tenggara. Pulau Bangka merupakan bagian ujung selatan dari Platform Singapura dan terletak paling dekat dengan daerah eksplorasi. Pulau ini umumnya merupakan daerah yang hampir rata dan secara geologis dapat mewakili tataan geologi Platform Singapura, khususnya geologi Punggungan Bangka-Balitung dan umumnya untuk tataan geologi daerah eksplorasi. Secara geologis, Pulau Bangka berbeda dengan Pulau Sumatera, karena batuan tertua yang tersingkap di Pulau Bangka adalah Kompleks Pemali dari batuan metamorfik yang berumur Permo-Karbon. Kompleks ini diterobos oleh diabas Penyabung berumur Permo – Triasik. Geologi lepas pantai sekitar perairan Bangka Utara merupakan kelanjutan dari kondisi geologis Kepulauan Bangka Belitung. Batuan dasar berupa batuan magmatis granit maupun batuan beku lainnya, terbentang di atasnya sedimen PraTersier, dan tertutup oleh endapan marin yang merupakan sedimen permukaan dasar laut. Geologi lepas pantai dari hasil rekaman seismik pantul dangkal dan pemboran di Selat Gaspar di Tanjung Beriga, menunjukkan empat kelompok batuan sedimen yang diendapkan sampai umur Miosen (Batchelor, 1983), yaitu: a. Aluvium muda teridiri dari, sedimen penutup muda berumur Holosen dan Kompleks Aluvium berumur Plistosen Akhir. b. Unit Transisi terdiri atas sedimen laut, berumur Plistosen Akhir dan Unit Transisi berumur Plistosen Tengah. c. Sedimen penutup purba, berumur Plistosen Awal sampai Akhir terdiri atas fasies dataran aluvium purba dan menjemari dengan fasies kipas (sedimen bongkah granit). d. Regolit Daratan Sunda terdiri atas endapan koluvial dan materi kipas, berumur Pliosen dan latosol, laterit serta bauksit berasal dari pelapukan batuan dasar (granit dan batuan sedimen), berumur Miosen Akhir. Kepulauan Singkep Tujuh hingga Belitung berpotensi akan endapan kasiterit letakan. Secara

geologis, genesisnya merupakan sistem letakan lembah (placer valley systems). Sistem ini erat kaitannya dengan perubahan muka air laut (sea level changes) yang terjadi selama Plio-Plistosen (Yoo and Park, 2000), dan memengaruhi kondisi geologis saat ini, baik yang berada di daerah daratan maupun di daerah lepas pantai, khususnya daerah granit Sengkeli, Pering dan Lenggang. Perubahanperubahan muka air laut di masa lampau yang mencapai ± 100 meter ini setidaknya menyebabkan terjadinya tiga kali proses erosional (erosional events), yakni proses erosi, akumulasi sedimen rombakan dan tertutup oleh lapisan sedimen Resen. Perubahan muka air laut ini juga memengaruhi Paparan Sunda, khususnya Laut Jawa dan Selat Karimata saat ini, yakni membentuk alur-alur sungai purba, seperti yang teridentifikasi oleh Emery dan Aubrey (1972) (Gambar 3). Pada aluralur sungai purba ini dipercayai mengandung potensi sumber daya mineral yang merupakan endapan plaser. Berdasarkan kondisi regional, potensi konsentrat timah di perairan Bangka Utara sampai saat ini belum diketahui secara pasti karena keterbatasan data eksplorasi secara rinci dan publikasi terdahulu. Data yang ada masih bersifat regional, dan masih memerlukan kajian-kajian yang lebih terpadu dari berbagai publikasi dan eksplorasi timah terdahulu. Kajian potensi saat ini mengacu pada data geologi dan sungai-sungai purba regional di daerah eksplorasi, khususnya di utara Pulau Bangka (Gambar 3). Kegiatan eksplorasi dan penambangan timah saat ini mengacu pada sistem penyebaran sungai dan lembah purba. Kegiatan survei seismik dilakukan untuk mengidentifikasi keberadaan lembah dan sungai purba serta cabang-cabangnya yang berukuran lebih kecil, tetapi diyakini sebagai pembawa konsentrat timah. Berdasarkan geologi regional dan distribusi sungaisungai purba tersebut dapat diperikirakan penyebaran sedimen mengandung timah di perairan Bangka Utara. Secara umum, sedimen akan mengalami proses transportasi dari darat ke laut melalui sungai-sungai purba dan menyebar dalam bentuk limpahan secara lateral dan vertikal (progradation) ke morfologi cekungan di laut. Pada umumnya, sungai-sungai purba tersebut tertutup oleh sedimen Resen yang lebih muda. Untuk itu, eksplorasi timah berdasarkan metode seismik di

138

PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009

Gambar 3. Peta distribusi sungai-sungai purba (paleo-channel) di perairan Bangka sebagai daerah aliran sedimen mengandung konsentra timah (disederhanakan dari Emery, 1972)

perairan Bangka Utara diharapkan dapat menemukan lembah dan sungai purba sebagai indikasi awal keberadaan timah.

3.

METODE EKSPLORASI

Geologi bawah permukaan dasar laut (struktur dan batuan) disusun berdasarkan penafsiran data seismik pantul dengan menggunakan prinsipprinsip Seismik Stratigrafi, yaitu pengenalan terhadap ciri-ciri reflektor batas atas, batas bawah dan bagian dalam (internal reflector) setiap unit seismik (Sangree & Wiedmier, 1979; Sherif, 1980). Interpretasi lapisan sedimen mengandung konsentrat timah adalah daerah yang dekat dengan batuan sumber (bedrock), membentuk lembah sebagai akumulasi daerah dengan berat jenis tinggi dan litologinya adalah coarse fluvial deposits (sedimen fluvial berbutir kasar) atau disebut sedimen Kuarter. Selanjutnya, guna memastikan sedimen mengandung konsentrat timah, data seismik dikorelasi dengan data pemboran sehingga

diperoleh gambaran menyeluruh tentang potensi konsentrat timah di daerah eksplorasi. Data tersebut kemudian diolah secara digital untuk mendapatkan volume endapan dan selanjutnya dapat diperhitungkan potensi konsentrat timah. Pengambilan data seismik di perairan Bangka Utara gunanya untuk mengetahui ketebalan lapisan sedimen Kuarter, lembah dan saluran (channels) pada batuan dasar. Lembah dan saluran di bawah dasar laut atau pada batuan dasar akan terlihat dari pola kontur kedalaman batuan dasar tersebut. Perhitungan ketebalan sedimen dan kedalaman granit berdasarkan atas perhitungan dengan persamaan: S = V x t, di mana S adalah jarak, V kecepatan gelombang dalam sedimen V.sed) dan t adalah waktu. Kecepatan gelombang dalam sedimen dengan V.sed = 1600 meter/Sec. (Hubrol et al., 1980; Khesin et al., 1995). Pada eksplorasi ini dipergunakan sapuan (sweep) adalah 0,25 Sec. dan firing rate adalah 1 Sec. Total sapuan seismik adalah 250 milli Sec. dalam Two Way Traveltime (TWT) atau 125 milli Sec. dalam One Way

Eksplorasi Potensi Konsentrat Timah Berdasarkan Data ... Ediar Usman dan Andri S. Subandrio

139

Traveltime (OWT). Selanjutnya setelah diperoleh ketebalan sedimen, dan luas daerah eksplorasi 5000 ha dapat dihitung volumen sedimen berdasarkan metode Trapezoidal dan Simpson’s Role dengan rumus luas kali tebal secara digital. Volume juga dapat dihitung berdasarkan luas dan tebal rata-rata.

Hasil interpretasi rekaman seismik di daerah survei diperoleh pola reflektor yang menunjukkan batuan sedimen dengan ciri-ciri di bagian atas adalah selaras (concordance), laminasi sejajar, bergelombang terputus-putus, perlapisan terpotong-potong. Bagian bawah membentuk pengisian, longsoran, dan bidang ketidakselarasan. Pada penampang seismik Lintasan 36 (LINE 36) berarah barat – timur menunjukkan batas yang tegas antara batuan sedimen di bagian atas dan granit di bagian bawah. Pada penampang tersebut juga menunjukkan adanya daerah lembah purba yang berbentuk cekungan pada permukaan granit dan terisi oleh sedimen. Pada cekungan tersebut pengisian oleh sedimen hasil transportasi dari darat dan dari tubuh granit di laut. Pada penampang Lintasan 36 (LINE 36) (Gambar 4) dengan arah lintasan barat – timur dan hasil interpretasinya (Gambar 5) memperlihatkan keberadaan lembah berada di bagian timur daerah survei makin dalam ke arah utara. Di bagian barat tersebut, keberadaan lembah lebih dangkal dan tipis, tetapi berdasarkan bentuk reflektor yang masih menunjukkan ciri-ciri bergelombang terputus-putus, perlapisan terpotong-potong, longsoran dan pengisian diperkirakan di bagian barat lebih kasar dibandingkan dengan bagian timur. Di bagian timur ditandai oleh hilangnya pantulan di bagian lembah, sebagai akibat gelombang seismik melalui madium yang halus (kaolin) atau medium yang kasar (kerikil) yang berongga dengan kandungan air yang tinggi. Antara batuan dasar sebagai batuan alas dengan sedimen Kuarter di bagian atas dipisahkan oleh suatu bidang pepat erosi. Bidang tersebut mengalasi sedimen yang dibedakan dari perbedaan ciri-ciri reflektor. Secara umum ciri-ciri reflektor pada penampang barat – timur seperti contoh pada L-36 mempunyai kesamaan dengan ciri-ciri pada penampang lainnya yang menggambarkan batuan alas di bagian bawah dan sedimen Kuarter di bagian atas sebagaimana yang dikemukakan oleh Ringis (1993). Bila dikaitkan dengan kondisi geologis dasar laut regional, sumber sedimen-sedimen tersebut adalah granit terdekat yang mengalami erosi yang intensif. Setelah seluruh lintasan seismik diinterpretasi, dan dilakukan perhitungan ketebalan berdasarkan kecepatan gelombang dalam sedimen (V.sed = 1600 m/det) dan waktu penjalaran gelombang to-

4.

HASIL EKSPLORASI

Ketebalan Sedimen dan Kedalaman Lembah Purba Ketebalan sedimen diperoleh dari hasil interpretasi rekaman seismik yang dilakukan berdasarkan pengenalan terhadap ciri-ciri reflektor. Pengenalan lainnya adalah kenampakan batas antara sedimen dan batuan dasar yang ditandai oleh penguatan reflektor sebagai bidang batas (Sukmono, 1999; Priyono, 2000). Batuan sedimen umumnya berukuran lempung, lanau, pasir dan kerikil dengan ciri-ciri reflektor adalah selaras (concordance), laminasi sejajar, bergelombang terputus-putus (wavy), perlapisan terpotong-potong (hummocky), longsoran (slump) dan pengisian (channel fill). Batas antara granit dengan sedimen Kuarter membentuk bidang ketidakselarasan atau pepat erosi (erosional truncation) atau kontak onlap (Sangree and Wiedmier, 1979; Sherif, 1980). Sedangkan ciriciri reflektor granit sebagai batuan alas/dasar pada penampang seismik adalah berbukit-bukit (mounded), berbintik-bintik kacau tidak beraturan (chaotic), kadang-kadang muncul perulangan bidang pantulan (multiple) dan makin ke bawah bebas pantulan (free reflektor) (Ringis, 1993). Adanya pola choatic dan multiple menunjukkan gelombang melalui medium yang keras dan padat berupa batuan tanpa bidang perlapisan. Ciri-ciri seperti ini dapat diinterpretasikan sebagai batuan alas dan antara keduanya dipisahkan oleh bidang ketidakselarasan (erosional truncation). Bagian paling bawah sering disebut sebagai Acoustic Basement dan sekaligus juga merupakan batuan dasar. Di perairan Bangka-Belitung, batuan alas adalah granit (Batchelor, 1983); sedangkan hilangnya pantulan gelombang (free reflektor) dapat juga disebabkan oleh adanya medium yang halus (ada organik), porous dan berongga. Pada batuan beku tidak memberikan respon seismik, karena batuan tidak berlapis dan bersifat homogen (Boggs, 2006).

140

PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009

tal pada total penampang seismik adalah 0,125 Sec, diperoleh ketebalan sedimen. Selanjutnya, setelah seluruh lintasan diinterpretasi dan dihitung ketebalannya, dan data ketebalan tersebut diplot

pada peta kerja dengan menarik kontur yang mempunyai angka ketebalan yang sama, maka akan menghasilkan peta ketebalan sedimen (isopach) (Gambar 6).

Gambar 4. Penampang seismik pantul Lintasan 36 (LINE 36) dengan arah Timur - Barat

Gambar 5. Hasil interpretasi rekaman seismik pantul Lintasan 36 (LINE 36) dengan arah Timur – Barat

Eksplorasi Potensi Konsentrat Timah Berdasarkan Data ... Ediar Usman dan Andri S. Subandrio

141

Pada penampang seismik. Selanjutnya.30 meter. morfologi granit dan kedalaman lembah purba digambarkan oleh garis kontur kedalaman batuan dasar. Peta ketebalan sedimen (isopach) perairan utara Bangka Pada bagian kontur yang rapat menunjukkan ketebalan sedimen lebih besar. Sejalan dengan bertambahnya kedalaman laut.25 meter. Penebalan ke bagian atas. sehingga dapat dikembangkan lebih lanjut untuk eksplorasi lebih rinci. Bagian paling tebal terdapat di bagian tengah daerah eksplorasi berkisar antara 16 . berarti penebalan ke bagian atas membentuk gosong pasir. Makin menipisnya sedimen di bagian selatan disebabkan makin mendekat ke arah pantai dengan batuan dasar yang lebih dangkal. Secara genesis. Pada daerah morfologi lembah pada batuan dasar tersebut merupakan daerah yang mempunyai volume sedimen yang besar dan prospektif konsentrat timah yang besar. Di bagian selatan. maka kondisi ini menujukkan bahwa sedimen tersebut menebal ke arah bawah. Tetapi bila ketebalan sedimen dengan kontur yang rapat tidak berhimpitan dengan morfologi lembah. Selanjutnya.30 meter. ketebalan kurang dari 4 meter. bahkan di beberapa tempat membentuk bidang yang tipis dengan ketebalan kurang dari 2 meter. 142 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . lembah purba pada penampang seismik dikenal sebagai pengisian lembah. Bila ketebalan tersebut tepat pada morfologi lembah pada batuan dasar. memperlihatkan makin menebalnya sedimen ke arah utara dengan ketebalan antara 10 . peta ketebalan sedimen tersebut ditumpangtindihkan dengan peta morfologi batuan dasar. Hasil pengukuran ketebalan sedimen diperoleh ketebalan berkisar antara 2 .Gambar 6. menunjukkan adanya sedimen Resen dengan proses sedimentasi ke bagian atas dan tidak berhimpitan dengan lembah atau sungai purba.

412. Ediar Usman dan Andri S. yaitu granit (Gambar 7).688. Subandrio 143 . Lembah-lembah purba ditunjukkan oleh kontur yang rapat dan bulat mamanjang relatif barat – timur. tebal.24723 – 354. disebut sebagai basement top.79397 m3.35 meter. Kondisi ini disebabkan karena di bagian selatan makin menuju ke arah perairan pantai Pulau Bangka sebagai pusat granit.65 Secara umum. morfologi batuan dasar relatif datar dengan kedalaman antara 20 . Berdasarkan pemahaman geologi regional.. Sedangkan di bagian selatan. Peta morfologi batuan dasar (granit) di perairan Bangka Utara meter.60 meter. Bagian terdalam lembah purba tersebut terletak di bagian tengah. Estimasi Volume Sedimen dan Potensi Konsentrat Timah Selanjutnya. dasar akustik tersebut diinterpretasikan sebagai batuan dasar (bedrock).795. Di bagian barat laut.kedalaman batuan dasar merupakan bagian permukaan dari dasar akustik gelombang seismik (basement accoustic). untuk mendapatkan kandungan sedimen di daerah eksplorasi adalah Vol = luas x Gambar 7.. Di bagian utara kedalaman batuan dasar bervariasi dan bersifat setempat-setempat. Metode lainnya sebagai koreksi dilakukan secara Eksplorasi Potensi Konsentrat Timah Berdasarkan Data . berkisar antara 60 . terdapat kedalaman lembah purba antara 50 .40 meter. Metode yang dipergunakan dalam penghitungan volume/potensi adalah Trapezoidal dan Simpson’s Role diperoleh volume sedimen perairan utara Bangka adalah antara 353. kedalaman batuan dasar di bagian selatan makin dangkal dibandingkan bagian utara. pada umumnya kedalaman lembah purba antara 20 .982.

dan di bagian barat laut dari arah timur ke barat. 2008). Alur sungai purba di bagian tengah tersebut berarah dari barat ke timur.60 meter.050.000 kg (1. dan diperkirakan keduanya sebagai pusat atau muara dari aliran sungai purba yang juga merupakan pusat pengendapan sedimen mengandung konsentrat timah. Jika luas daerah eksplorasi adalah 5000 ha (dihitung pada program MapInfo) dan ketebalan rata-rata berdasarkan hasil perhitungan pada penampang seismik sekitar 7 meter. Jika setiap 1 m3 mengandung rata-rata 3 kg timah (Usman and Subandrio.000. Dua lembah purba tersebut terletak di bagian tengah dan bagian barat laut. 5. Hasil perhitungan secara digital dan manual tersebut tidak menunjukkan perbedaan yang terlalu besar.000 ton). Alur sungai purba hasil interpretasi seismik sebagai daerah aliran dan pengendapan sedimen mengandung konsentrat timah di daerah survei 144 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . dan dua di antaranya merupakan lembah purba terdalam dan terbesar di daerah survei. selatan dan timur mempunyai arah yang bervariasi (Gambar 8). PEMBAHASAN survei. maka diperoleh volume sedimen 350.65 meter. alur sungai purba di daerah survei tersebut merupakan cabang dari sistem alur purba regional Hasil interpretasi seismik dan kedalaman batuan dasar dapat dilakukan proses rekonstruksi lokasi dan penyebaran sungai-sungai purba di daerah Gambar 8. Sedangkan alur-alur yang berukuran lebih kecil di bagian tengah.050. maka total kandungan timah adalah 1.000 m3.sederhana dengan menghitung ketebalan rata-rata pada penampang seismik dan luas daerah eksplorasi. Berdasarkan posisinya terhadap sungai purba regional. Di bagian tengah kedalaman lembah berkisar antara 60 . Sungai-sungai purba tersebut melewati beberapa lembah-lembah purba. dan di bagian barat laut berkisar antara 50 .000.

.24723 – 354. Data ini juga akan menjadi arahan dalam menentukan daerah akumulasi sedimen mengandung konsentrat timah. Di samping itu. sejak sekitar 1.C.000 m 3 . Ketebalan sedimen dan lembah purba merupakan bagian terpenting dari kegiatan eksplorasi konsentrat timah. Jr.30 meter. sehingga sungai-sungai purba tertutup oleh sedimen (Zaim. diikuti oleh pembentukan alur-alur purba yang mengerosi batuan dasar berupa granit membentuk sedimen yang kaya mineral kuarsa dan konsentrat timah (Batchelor. 1996). sehingga akan menambah akurasi keberhasilan dalam survei-survei berikutnya. Akibatnya. 1996). Pearson Prentice Hall. sehingga memungkinkan proses pengendapan terjadi yang membentuk lapisan sedimen yang cukup tebal mencapai 30 meter. 2006. Emery. kedalaman antara 20 . Periode ini merupakan masa iklim dingin global yang ditandai terjadinya peningkatan pembentukan es di kutub. Sejak dimulainya pencairan es di kutub pada awal Plistosen tersebut.79397 m3.412. Alur purba terbesar di Paparan Sunda. Dept.795. Subandrio 145 . B.65 meter dan di bagian barat laut kedalamannya antara 50 . Proses pengendapan sedimen tersebut telah berlangsung cukup lama.000. K. suluruh wilayah laut di Paparan Sunda termasuk di Selat Malaka dan Laut Jawa mengalami proses kekeringan.yang bermuara di Laut China Selatan. estimasi volume sedimen dan potensi konsentrat timah. Late Cenozoic Coastal and Offshore Stratigraphy in Western Malaysia and Indonesia. Secara umum.. Data ini akan menjadi dasar dalam eksplorasi yang lebih rinci. 1983. Pada eksplorasi yang menggunakan metode seismik pantul.G. mempercepat waktu dan menghemat biaya dalam survei-survei berikutnya.40 meter. Hasil perhitungan antara Computations dan manual menunjukkan volume yang hampir sama dan perbedaan yang tidak terlalu besar. University Malaya. Batchelor. kedalaman batuan dasar di bagian selatan makin rendah dibandingkan bagian utara karena di bagian selatan makin menuju ke arah daratan Pulau Bangka sebagai pusat granit.30 meter. and Aubrey. dan di bagian selatan.. hasil data seismik dapat menggambarkan kondisi vertikal dan lateral granit sebagai batuan sumber sedimen dan konsentrat timah. dan adanya jejak lembah-lembah purba yang terbentuk sejak awal Plistosen di daerah survei dapat diamati secara langsung melalui rekaman seismik pantul. Land Levels.8 juta tahun lalu (Yoo and Park.688. bagian paling tebal terdapat di bagian tengah daerah antara 16 .35 meter.1.D. Principles of Sedimentology and Stratigraphy. terdapat di perairan Laut Jawa. Sejalan dengan bertambahnya kedalaman laut. memperlihatkan makin menebalnya sedimen ke arah utara dengan ketebalan antara 10 . and Tide Gauges. Springer- 6. ketebalan kurang dari 4 meter. dan batuan di daratan Paparan Sunda mengalami proses pelapukan dan erosi (Zaim. seperti eksplorasi lanjut...982.60 meter. berkisar antara 60 .8 juta tahun. KESIMPULAN Ketebalan sedimen berkisar antara 2 . Makin menipisnya sedimen Eksplorasi Potensi Konsentrat Timah Berdasarkan Data .24 meter. Sedangkan berdasarkan perhitungan manual diperoleh sebesar 350. Di bagian utara kedalaman batuan dasar bervariasi antara 20 . Kedalaman lembah purba menunjukkan bagian terdalam terletak di bagian tengah. DAFTAR PUSTAKA Boggs. 1972. New Jersey: 618 pp. 2000) dan Laut Jawa. D. Kuala Lumpur. identifikasi sungai dan lembah purba akan mempermudah dalam perencanaan kegiatan eksplorasi rinci dan studi kelayakan. 1972). Pada saat penurunan permukaan laut. Thesis Ph. Of Geology. Volume sedimen berdasarkan perhitungan Grid Volume Computations adalah antara 353. Sea Levels. di bagian selatan disebabkan makin mendekat ke arah pantai dengan batuan dasar yang lebih dangkal. di beberapa tempat kurang dari 2 meter.O. merupakan periode awal proses sedimentasi di Paparan Sunda (Yoo and Park. 2000). 1983). studi kelayakan.. Sedimen yang menutupi sungai-sungai purba. Ediar Usman dan Andri S. Di bagian selatan. dan di utara perairan Bangka Belitung yang bermuara ke Laut China Selatan (Emery and Aubrey. Kondisi ini juga akan mempermudah. S. Hasil eksplorasi ini telah dapat menggambarkan kondisi yang dimaksud dan menjadi dasar dalam eksplorasi berikutnya. Sistem ini erat kaitannya dengan penurunan permukaan laut yang terjadi di Paparan Sunda selama periode PlioPlistosen atau sekitar 2 .

1993. Zaim. Mijnbouw. Geol. Intern Report: 90 pp.M. Eppelbaum. R.. Geophysic 44(2): 131 pp.. 1999.. Interpretation of Geophysical Fields in Complicated Environments. High Resolution Seismic Study as a Tool for Sequence Stratigraphic Evidence of High Frequency Sea Level Changes: Latest Pleistocene-Holocene Example from Korea Strait. Tjia. Jakarta: 271 pp. Quaternary Shorelines of the Sunda Land. Alexeyen. Cipanas. S. CCOP Publication.35-144. Econ. Jurusan Geofisika Institut Teknologi Bandung. Interpretation Facies from Seismic Data.S. T. S.. 2000...B. 2008. J. A. Sherif. and Subandrio. 49(2): p. 1980.E. Geotectonics of Indonesia.Verlag Pub. Ringis. Khesin. Kluwer Academic Publishers. 70(2): 296-309. 255 hal. 85: 99-111. Sukmono. 1996. B. Usman. Journal of Sedimentary Research. 2000. A Modern View. Hubrol.G. and Wiedmier. Joint Exploration of MGI – APMR/APRI.. A. Makalah PIT Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (PIT IAAI) ke-VII. 1977. 27: 293-305. Lehmann. S. J. 1980. of Mining Geol. Seismic Stratigraphy.V. Geol.: 237pp... Deposit Models for Detrital Heavy Minerals on East Asian Shelf Areas and the Use of High Resolution Seismic Profiling Techniques in Their Exploration.. Katili. Boston: 222 pp.C. J. J. D.. Sangree.. Y. Interpretasi Geologi Seismik. Belitung Island. Stratigrafi Kuarter di Indonesia: Pengaruh Perubahan Muka Laut Global Kala Plistosen Terhadap Penyebaran dan Lingkungan Hidup Manusia Purba di Jawa. B. H. Directorate General of Mines. and Harmanto. Western Geophysical Company.E. Diktat Kuliah Program Pasca Sarjana Geologi dan Geofisika Institut Teknologi Bandung. E. and Krey. 1980. Jour.. Priyono. 1970. Interval Velocities from Seismic Reflection Time Measurements. Texas USA: 203 pp. V. Yoo. P. Ishihara... Interpretasi Seismik Refleksi. and Park. South East Asia. International Human Resources Development Corporation. 1995.A.. 1990. 146 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Indonesia. Shallow Seismic Imaging for Paleo-Channel Mapping Related To Tin Prospecting On Tanjung Penyusuk Offshore. 1979. Penerbit ITB. Bandung: 269 hal.D. Northern Bangka. London: 352 pp. Large Scale Tin Depletion in the Tanjung Pandan Tin Granite. The Magnetite Series and Ilmenite Series Granitic Rocks.

esdm.600 kkal/kg : 7.go. baik dilihat dari jenis (komposisi kimia. Agar pengusahaan batubara mutu rendah bisa ekonomis. Jenderal Sudirman No. bukin@tekmira. 147 . maseral dan sifat fisik) maupun peringkatnya yaitu rendah (lignit). kandungan abu >17%.esdm. datin@tekmira. baik di dalam usaha penambangan.5 % b) Alternatif II : Dua atau tiga parameter : 10.id.0 % Parameter Lignit : 7. 022 . Batubara sebagai salah satu sumber energi dapat berfungsi sebagai bahan bakar dan bahan baku. terutama untuk mendukung proses industrialisasi. menengah (subbituminus) dan tinggi (bituminus-antrasit).0 % Empat parameter atau lebih : 8.5 % d) Alternatif IV : Membagi nilai bagi hasil batubara mutu rendah berdasarkan nilai kalornya (NK). Batubara sebagai salah satu sumber energi jumlahnya sangat besar. dkk. yaitu 104.go.5% Kata kunci : batubara mutu rendah.5 % Parameter Lignit : 7.0 % c) Alternatif III : Dua. Bukin Daulay Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. dan natrium.0% NK d” 4.go.623. dan kandungan sulfur >2% dalam air dried basis (adb).id.go.id SARI Energi mempunyai peranan yang sangat penting dalam pembangunan nasional yang berkelanjutan.8 miliar ton dengan mutu yang sangat bervariasi.id. 022 . tiga atau empat parameter : 9.6038027 e-mail : rochman@tekmira. yaitu nilai kalor.0 % Empat parameter atau lebih : 8. abu. Datin F. maka diusulkan 3 (tiga) alternatif nilai bagi hasil untuk batubara mutu rendah sebagai berikut : a) Alternatif I : Dua atau tiga parameter : 10. Batubara mutu rendah adalah batubara yang memiliki nilai kalor < 5.100 kkal/kg. Rochman Saefudin.esdm. sulfur. nilai bagi hasil Penetapan Nilai Bagi Hasil atas Produksi Batubara Mutu Rendah. yaitu : 5. Ijang Suherman. Bandung. ijang@tekmira. namun dari jumlah batubara tersebut sebagian besar merupakan batubara bermutu menengah dan bermutu rendah yang kurang ekonomis bila diusahakan.6030483 Fax. Dari hasil kajian yang telah dilakukan melalui model simulasi dengan menggunakan 4 (empat) parameter.Umar.600 kkal/kg : 9. 40211 Telp.esdm.100 kkal/kg < NK > 4. perlu ditetapkan nilai bagian pemerintah atas produksi batubara mutu rendah dari pengusahaan(PKP2B) supaya bisa bersaing dengan batubara mutu baik. maupun pemanfaatannya sebagai bahan bakar atau bahan baku.PENETAPAN NILAI BAGI HASIL ATAS PRODUKSI BATUBARA MUTU RENDAH Rochman Saefudin.

0 % 4 parameters or more : 8. so that it can compete with high-rank coals.2 juta ton pada 1997 menjadi 52. either the mining operation or the utilization as fuel or raw material.8 miliar ton sebagian besar termasuk ke dalam katagori batubara peringkat rendah (Low Rank Coal) (Pusat Sumber daya Geologi. Tidak mengherankan apabila sejalan dengan itu jumlah perusahaan pertambangan batubara di Indonesia pun tumbuh pesat khususnya dalam beberapa tahun terakhir.0 % c) Alternative III 2. Coal has a huge potential in Indonesia. one of the energy sources. atau meningkat 4 kali lipat (392%).100 kcal/kg.600 kcal/kg : 9.100 kcal/kg < CV > 4.0% CV d” 4. 2008).4%. subbituminous. bituminous and anthracite).ABSTRACT Energy has a main role in the sustainable national development to particularly support the industrialization process. The LRC has a calorific value of <5. Its quality is various according to the type (chemical composition. dari jumlah cadangan batubara Indonesia sebesar 104.0 % 4 parameters or more : 8. most of the coals is low-rank coal (LRC) and is not economical for the utilization. can function as fuel and raw material. Peningkatan jumlah konsumsi yang sangat tajam tersebut disebabkan meningkat tajamnya permintaan batubara sebagai sumber energi terutama untuk pembangkit listrik.5 % b) Alternative II 2 or 3 parameters : 10. it needs to determine a value of the government side for the LRC production from Coal Contract of Work. yakni dari 13. maka salah satu langkah yang perlu dilakukan untuk menunjang ketahanan energi nasional tersebut adalah menetapkan tarif nilai bagi hasil untuk pengusahaan batubara mutu rendah yang akan menjadi pemasok batubara 148 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .0 % Lignite parameter : 7. which is 104.5 % e) Alternative IV Dividing the value of production sharing of LRC based on its calorific value (CV): 5. baik di dalam negeri maupun di negara-negara importir. it is suggested 3 alternatives of the production sharing for the LRC as follows: a) Alternative I 2 or 3 parameters : 10. Coal.8 billion tons. In order to improve the business of the LRC economically. PENDAHULUAN Meningkatnya peran batubara sebagai pemasok energi di masa mendatang membuat industri ini memiliki daya tarik yang sangat besar bagi para investor tak terkecuali di Indonesia. ash content of >17% and sulphur content of >2% in air-dried basis (adb). Di sisi lain. However.5% Keywords: low-rank coal (LRC). 3 or 4 parameters : 9.5 % Lignite parameter : 7. maceral and physical property) and the rank (lignite.545 juta ton pada 2008. Untuk mencapai sasaran bauran energi nasional 2025. yakni pemakaian batubara diharapkan mencapai 34.600 kcal/kg : 7. sulphur and sodium. value of production sharing 1. Indonesia sendiri mengalami pertumbuhan konsumsi batubara yang cukup pesat dalam beberapa tahun terakhir. ash. According to the assessment that has been carried out through a simulation model by applying 4 parameters that are calorific value.

Rochman Saefudin. laguna. Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral adalah sebesar 104. belerang. muai bebas.79 Tertunjuk 3.620.738.61 422. 2) Batubara Kalori Sedang 5.2 miliar ton (Tabel 1).22 66. batubara mutu sedang.39 12.7.001.43 1.93 32. Berdasarkan tingkat kalorinya batubara Indonesia dibagi menjadi 4 (empat) bagian . Keadaan lingkungan pengendapan yang berbeda-beda tersebut Tabel 1.19 4.96 11. kualitas. abu.05 69.100 kal/gr.756. 3) Batubara Kalori Tinggi 6. 2008 Kualitas Kalori Rendah Kalori Sedang Kalori Tinggi Kalori Sangat Tinggi Total Sumberdaya (Juta Ton) Hipotetik 5.588.18 90.11 34. kuantitas.50 1. Endapan batubara di Indonesia terbentuk pada lingkungan pengendapan yang bervariasi mulai lingkungan rawa-rawa. besarnya hasil produksi batubara yang harus diserahkan kepada Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dapat dipertimbangkan kembali berdasarkan hasil kajian yang diajukan oleh perusahaan Kontraktor Swasta” menghasilkan jenis batubara yang bervariasi dalam bentuk dan ketebalan (kuantitas) maupun kualitas batubara.75 Tahun 1996 tentang Ketentuan Pokok Perjanjian Kontrak Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara Pasal 3 ayat 2 yang berbunyi : “Dalam hal pengusahaan pertambangan dilakukan dengan cara bawah tanah dan atau batubara yang diproduksi ternyata bermutu rendah.550.815.68 27.64 104.08 Terukur 5. 149 . Penggolongan kualitas batubara mutu rendah. karbon tertambat.056.764. darat. TINJAUAN PUSTAKA 2. titik leleh abu). dan secara ekonomi memenuhi kriteria layak tambang.1.956.81 22.183.100 . khususnya untuk PKP2B. dkk. sebaran.41 482. 4) Batubara Kalori Sangat Tinggi > 7. dan delta yang kadang-kadang dipengaruhi oleh pasang surut air laut. cadangan dan produksi batubara Indonesia. dengan jumlah cadangan batubara Indonesia dihitung terhadap endapan bahan batubara yang telah diketahui ukuran. Hal tersebut perlu dilakukan karena sampai saat ini belum ada ketetapan tarif yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk pengusahaan batubara mutu rendah. danau.721. Yang ada adalah ketentuan bagian pemerintah untuk batubara mutu baik sebesar 13. 2.83 Jumlah % 20.187. dan ketentuan tambahan yang tertuang di dalam Keppres No.100 .00 Sumber : Pusat Sumbe Daya geologi.941.6. Kualitas. yang dihimpun oleh Pusat Sumber Daya Geologi tahun 2008 dari laporan perusahaanperusahaam PKP2B di Indonesia adalah sebesar 22.888. yaitu : 1) Batubara Kalori Rendah < 5. bentuk.57 Total 21.82 1. Potensi dan Cadangan Wilayah Indonesia diketahui memiliki potensi endapan batubara sangat luas. Jumlah sumber daya batubara Indonesia tahun 2008 berdasarkan perhitungan Pusat Sumber Daya Geologi. pada umumnya didasarkan pada: Peringkat Batubara (Coal Rank) Nilai Kalori (Calorivic Value) Kandungan bahan/unsur dalam batubara (kadar air.069. sumberdaya.100 kal/gr.24 18.5% dari produksi batubara yang terjual. zat terbang.96 100.251.80 25.8 miliar ton.021.16 10. 2008 Penetapan Nilai Bagi Hasil atas Produksi Batubara Mutu Rendah.29 5.100 kal/gr.untuk PLTU sehingga harganya bisa kompetitif dengan batubara mutu baik.65 13. dan batubara mutu tinggi seringkali dikaitkan dengan tujuan pemanfaatan batubara itu sendiri yang tergambarkan dengan permintaan pada spesifikasi batubara yang diinginkan.43 0.100 kal/gr.146. dll) Sifat fisik batubara (kekerasan.057.708. Kriteria kualitas batubara dapat dibedakan atas beberapa macam.40 Tereka 6. namun batubara yang bernilai ekonomis untuk dikembangkan hanya terkonsentrasi pada cekungan-cekungan Tersier di Indonesia bagian barat yaitu di pulau Sumatera dan pulau Kalimantan.21 6.

yaitu jenis (type) dan peringkat (rank) batubara tersebut. Vitrinit juga merupakan maseral utama pada batubara. abu dan karbon tertambat (fixed carbon). titik leleh abu (ash fusion temperature). sehingga perlu tidaknya migitasi gas-gas NOx dan SOx dapat diketahui sebelumnya. Berdasarkan gabungan maseralnya. kimia. Jenis batubara ditentukan dari komponen/komposisi batubara yang terdiri dari maseral (vitrinit. yaitu untuk mengetahui kandungan air lembab. oksigen (O) dan sulfur/ belerang (S). termasuk ASTM (1977) seperti pada Tabel 3. tidak terpengaruh oleh pelapukan dan nilai yang diperoleh dapat dikorelasikan dengan standar peringkat batubara yang ada. subbituminus. berlangsung proses Tabel 2. mutu atau kualitas ditentukan dari dua faktor utama. lignit. yaitu : 1) Analisis Proksimat Analisis proksimat merupakan analisis mendasar dalam penentuan mutu batubara. inertinit dan liptinit) dan mineral pembentuk seperti lempung. Terminologi Batubara Mutu Rendah Mutu (grade) adalah nilai keadaan sesuatu berdasarkan sifat fisik. Jenis atau tipe batubara sangat dipengaruhi oleh jenis tumbuhan pembentuk dan lingkungan pengendapan dimana batubara tersebut terdapat. 2) Analisis Ultimat Analisis ultimat merupakan analisis kimia untuk mengetahui persentase dari senyawa kimia yang terbentuk dari hasil ikatan antara karbon. senyawasenyawa tersebut juga terdapat pada komponen mineral seperti karbonat. sulfat dan mineral lempung. sulfida. Batubara Mutu Rendah Secara umum ada tiga jenis analisis dan pengujian yang dilakukan untuk menenetukan mutu batubara. Dalam perkembangannya. komposisi maseral (maceral composition) dan reflektansi vitrinit (vitrinite reflectance). 3) Analisis Sifat-Sifat Lain Analisis sifat-sifat lainnya termasuk penentuan nilai kalor (calorific value).2. dan mekanik. nilai muai bebas (free swelling index). Kecuali nitrogen. bi-maseral (2-maseral) dan trimaseral (3-maseral) seperti terlihat pada Table 2. zat terbang (volatile matter). berat jenis. semiantrasit sampai antrasit seperti diilustrasikan pada Gambar 1. nitrogen (N). Khusus untuk batubara. analisis komposisi abu. Dari hasil analisis tersebut. silikat dan karbonat. pengguna batubara khususnya pembangkit listrik dan pabrik semen sudah dapat memprediksi perilaku unsur-unsur tersebut baik pada saat berlangsungnya proses pembakaran maupun setelah pembakaran. bituminus. Sedangkan peringkat batubara berhubungan erat dengan tingkat pematangan batubara (pembatubaraan/ coalification). Klasifikasi microlithotype batubara Grup Mono-Maseral* Microlithotype Vitrit Inertit Liptit KlaritVitrinertitDurit Komposisi Maseral Vitrinit >95% Inertinit >95% Liptinit >95% Vitrinit + Liptinit >95% Vitrinit + inertinit >95% Liptinit + inertinit >95% Vitrinit > Liptinit > Inertinit Inertinit > Vitrinit > Liptinit Liptinit > Vitrinit > Inertinit Bi-Maseral* Tri-Maseral* Duroklarit Klarodurit Vitrinertoliptit * Setiap maseral >5% 150 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .2. yang dimulai dari gambut.3. nilai ketergerusan (hardgrove grindability index). 2. sulfida. Hidrogen dan oksigen juga merupakan komponen yang penting dalam analisis penentuan kandungan air total batubara. microlithotype dapat dibagi menjadi 3 kelompok utama yaitu monomaseral (1-maseral).

5 Sangat Tinggi Sangat Tinggi Gambar 1. maka dalam menilai mutu batubara harus ditinjau dari peringkat (nilai kalor).5 0. sulfur. Besaran nilai setiap parameter tersebut di atas yang dipergunakan oleh konsumen tidaklah sama karena sangat tergantung kepada teknis operasional (rancangan peralatan).50 1. % < 0.00 >3. karbon total dan reflektansi vitrinit. seperti pada Tabel 4.6 Tipe Slagging Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi Faktor Fouling. Pengertian mutu batubara kimia dan biokimia.6 0. regulasi yang ada setempat dan keekonomian masing-masing penggunaaan batubara. 1990) Faktor Slagging.2 0. Namun demikian. sehingga definisi Batubara Mutu Rendah adalah Tabel 4. kandungan air. ºC Sodium (Na2O).6 – 2. hanya terjadi proses fisika berupa pemadatan. Dari uraian di atas.72 – 1. Parameter dan batasan nilai untuk penentuan batubara mutu rendah No.48 – 0. Rs < 0. nitrogen. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Parameter Nilai Kalor. % Faktor Slagging Faktor Fouling Batasan Nilai < 5.37 0.5 – 1.58 – 0.2 – 0.100 >17 >2 <35 <1150 >4 >1. dan jenisnya (umumnya pengotor). tekanan dan waktu. HGI.06 – 3. Rochman Saefudin. Parameter yang umum dipergunakan untuk menentukan peringkat batubara antara lain adalah nilai kalor. kkal/kg (adb) Abu. % dalam Abu Nitrogen.05 2. Dengan demikian besaran nilai setiap parameter yang disajikan disini adalah nilai yang sangat menonjol (significant). titik leleh abu (AFT). dkk. Rf < 0. % (adb) HGI Titik Leleh Abu. Dalam tulisan ini parameter peringkat yang dipergunakan adalah nilai kalor. yaitu abu.6 > 2.71 0. Tabel 5. Tabel 5. Sedangkan parameter pengotor antara lain adalah kandungan abu.10 1.51 – 2.00 Peringkat Lignite Subbituminous High Volatile Bituminous C High Volatile Bituminous B High Volatile Bituminous A Medium Volatile Bituminous Low Volatile Bituminous Semi Anthracite Anthracite sodium. khusus untuk kajian ini faktor pengotor yang digunakan baru dua.0 2.37 – 0. Secara umum parameter yang sering dipergunakan untuk menentukan mutu batubara adalah peringkat dan pengotor. % (adb) Sulfur. dan sulfur.47 0.11 – 1.57 0. Selama perkembangannya.0 Tipe Fouling Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi Penetapan Nilai Bagi Hasil atas Produksi Batubara Mutu Rendah. 151 .0 – 2. faktor slagging dan faktor fouling. Faktor slagging dan fouling abu batubara bituminus (Wall. dan Tabel 6 yang berdampak negatif terhadap nilai jual dan pemanfaatan dari batubara tersebut.0 > 1. Hubungan antara reflektansi vitrinit dan peringkat batubara menurut klasifikasi ASTM (1977) Reflektansi Vitrinit.Tabel 3. Sedangakan peringkat batubara dipengaruhi oleh salah satu atau gabungan dari temperatur.

5% dari jumlah produksi.0 Tipe Fouling Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi batubara yang memiliki nilai kalor < 5.5 % x F dengan : G(l) = Persentase bagi hasil bagian pemerintah dari pengusahaan batubara mutu rendah 13. abu > 17%.0 – 6.0 – 3. MODEL PENENTUAN TARIF BAGI HASIL UNTUK BATUBARA MUTU RENDAH 3. Penanganan Batubara Peringkat Rendah Batubara peringkat rendah (lignit dan Subbituminus B dan C) mempunyai kecenderungan terhadap terjadinya swabakar (self combustion). Rs > 1340°C 1340 . yaitu : G (l) = 13. yang secara matematis dirumuskan cukup sederhana.Tabel 6. Faktor slagging dan fouling abu batubara lignitik (Wall. Disamping itu.0 3.5% = Persentase bagi hasil bagian pemerintah dari pengusahaan batubara (PKP2B) yang berlaku saat 152 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .1250°C 1250 . Penyusunan Model Bagi Hasil Faktor substansial yang perlu dicermati dalam menetapkan besaran persentasi bagi hasil adalah menentukan atau menghitung bagi hasil bagian pemerintah dari produksi batubara mutu rendah dengan mengacu kepada pembagian hasil keuntungan yang wajar (reasonable) antara pengusaha batubara (kontraktor) dan pemerintah. dan menjadikan batubara mutu rendah mempunyai nilai kompetitif dengan batubara mutu tinggi. dan sulfur >2% dalam air dried basis (adb).1150°C < 1150°C Tipe Slagging Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi Faktor Fouling. Model Bagi Hasil Sesuai dengan isi perjanjian kontrak kerja antara Pemerintah dengan perusahaan kontraktor dengan menggunakan pola Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B). Rf < 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya swa bakar adalah sebagai berikut: Peringkat batubara Kadar air dalam batubara Komposisi petrografi batubara Ukuran butir Temperatur timbunan Konsentrasi oksigen yang kontak dengan batubara Kelembaban udara Peredaran/kecepatan aliran udara batubara oleh kontraktor yang berlaku saat ini. Oleh karena itu model pemecahannya akan mengacu pada konsep ekonomi pemanfaatan sumber daya batubara yang telah diuraikan di atas. yang masih diberlakukan secara umum. besarnya persentase bagian Pemerintah telah ditetapkan sebagai berikut : G (h) = 13.0 > 6. sebagai sandaran perumusan adalah bagian pemerintah dari hasil pengusahaan Selanjutnya untuk menentukan atau menghitung bagi hasil bagian pemerintah dari produksi batubara mutu rendah dengan mengacu kepada persentase bagi hasil dari pengusahaan batubara yang berlaku saat ini. Dengan perkataan lain persentase bagi hasil bagian pemerintah dari pengusahaan batubara mutu rendah sebagai fungsi dari faktor koreksi atau faktor bobot dikalikan dengan konstanta persentase bagi hasil dari batubara mutu tinggi (13.0 2.100 kkal/ kg.5%). yaitu sebesar 13.5 % Besar pendapatan bagian Pemerintah (N) merupakan hasil perkalian persentasi bagian pemerintah (G(h)) dengan jumlah produksi (Q) dan harga batubara (P).1. 2. 1990) Faktor Slagging. a. seperti yang ditunjukkan pada persamaan berikut : N = G (h) x Q x P 3.4.

Model Koreksi Pengaruh Peringkat dan Pengotor Pada prinsipnya tingkat harga batubara di pasaran ditentukan oleh karakteristik atau mutu batubara. sebagaimana komoditas lain. perumusan dalam tanda kurung kurawal merupakan koefisien elastisitas. yang meliputi abu. Oleh karena itu. faktor slagging. c. Pemanfaatan sumber daya batubara sebagai komoditas energi dipengaruhi oleh mutunya dan pada proses pengalihannya menjadi komoditas. harga akan terkoreksi oleh perbedaan nilai kalor (peringkat) dan oleh perbedaan tingkat pengotor. Sedangkan pada persamaan koreksi harga dari pengaruh pengotor. Berdasarkan pengertian tersebut. Dalam kajian ini. langkah selanjutnya di dalam penghitungan untuk penetapan nilai bagi hasil bagian pemerintah dari PKP2B untuk batubara mutu rendah adalah merumuskan faktor bobot tersebut. karena pangsa pasarnya yang belum ada. akan dipengaruhi oleh biaya produksi dan harga. 153 . Secara matematik.F ini. HGI. karena ada korelasi kuat diantara kedua parameter tersebut. yakni selisih nilai pengotor (abu. Dalam permodelan koreksi tersebut. yang menunjukkan perbedaan efisiensi energi antara batubara mutu tinggi dan batubara mutu rendah. faktor bobot diformulasikan sebagai berikut : F=k Pcor(l) P(h) dengan : Pcor (l) = Harga batubara mutu rendah berdasarkan harga batubara mutu tinggi yang terkoreksi P(h) = Harga batubara mutu tinggi k = konstanta Yang menjadi permasalahan dari model faktor bobot tersebut adalah belum diketahuinya harga batubara mutu rendah yang sesuai keekonomiannya. sodium (Na2O). dkk. Penyederhanaan penilaian pada proses pemanfaatan sumber daya dilakukan dari faktorfaktor alam dan parameter ekonomi yang sangat kompleks. b. yaitu proporsi relatif dari perbedaaan nilai kalor. Model Faktor Bobot Faktor bobot merupakan faktor/ variabel koreksi terhadap persentase bagi hasil bagian pemerintah yang berlaku saat ini (13. Faktor-faktor alam dimaksudkan adalah parameter karakteristik (mutu) batubara. dan sodium) dari kedua jenis batubara tersebut. sulfur. Dengan demikian. perumusan dalam tanda kurung besar merupakan koefisien elastisitas. baik dari nilai kalor maupun tingkat pengotornya.li(h)} x P(h) dengan : CCV = Koreksi harga dari penurunan nilai kalor CIi = Koreksi harga dari perubahan kenaikan tingkat pengotor unsur i P = Harga batubara mutu tinggi CV(h) = Nilai kalor batubara mutu tinggi CV(l) = Nilai kalor batubara mutu rendah Ii(h) = Nilai unsur pengotor i pada batubara mutu tinggi Ii(l) = Nilai unsur pengotor i pada batubara mutu rendah c. ki = konstanta Pada model persamaan koreksi harga dari pengaruh peringkat. perumusan faktor bobot didefinisikan sebagai fungsi dari perbandingan (proporsi) relatif harga batubara mutu rendah dan batubara mutu tinggi. yaitu parameter peringkat dan parameter pengotor. Sedangkan Penetapan Nilai Bagi Hasil atas Produksi Batubara Mutu Rendah. sulfur. Rochman Saefudin. natrium. simulasi koefisien elastisitas dari pengaruh perubahan nilai kalor dan perubahan tingkat pengotor merupakan Oleh karena itu. Adapun kandungan air dan reflektansi vitrinit sudah terwakili oleh nilai kalor.5%) untuk menghitung persentasi bagi hasil bagian pemerintah dari pengusahaan batubara mutu rendah. untuk penyusunan model harga batubara mutu rendah akan ditentukan melalui simulasi pemodelan berdasarkan konsep ekonomi pemanfaatan sumber daya batubara. dan faktor fouling. maka model persamaan koreksi harga dari unsur peringkat dan pengotor adalah sebagai berikut : Pengaruh Peringkat : CCV = c x [{CV(h) . = Faktor bobot atau faktor koreksi atau faktor insentif parameter ekonomi terdiri dari biaya penanganan (handling cost).CV(l)} / CV(l)] x P(h) Pengaruh Pengotor : Cli = Ki x {li(l) . titik leleh abu.

abu.dua dari empat parameter yang dipertimbangkan dalam optimalisasi perberbedaan atau “delta” harga batubara mutu tinggi dan mutu rendah. Sedangkan biaya penanganan (handling cost) untuk mutu rendah relatif lebih besar dari pada batubara mutu tinggi. Biaya pekerjaan penambangan (mining cost) pada pengusahaan batubara mutu tinggi dan mutu rendah akan sama. d.2. natrium dan Hubungan fungsional antara biaya penangan batubara mutu rendah dengan mutu tinggi dihubungkan dengan koefisien elastisitas dari simulasi perbandingan densitas dan nilai kalor. Secara matematis. Secara matematis model persamaan harga batubara mutu rendah tersebut adalah : Harga Koreksi/Penyesuaian : Pcor(l) = P(h) . antara lain karena perbedaan densitas dan perbedaan nilai kalor. Ada dua pendekatan dalam menentukan atau menghitung tingkat harga.Σ iCCli dengan : Pcor (l) = Harga batubara mutu rendah berdasarkan harga batubara mutu tinggi yang terkoreksi P(h) = Harga batubara mutu tinggi HC(l) = Biaya penanganan batubara mutu rendah HC(h) = Biaya penanganan batubara mutu tinggi = Koreksi harga dari peringkat atau CCIi pengotor Harga Minimum : Pmin(l) = (1+η )[{1 + B(l)} x {MC(l) + HC(h)}] dengan : Pmin (l) = Harga minimum batubara mutu rendah B(l) = Persentase bagi hasil bagian pemerintah dari batubara mutu rendah. Model Handling Cost Pekerjaan eksploitasi pada pengusahaan batubara dapat dikelompokkan menjadi pekerjaan penambangan/penggalian dan pekerjaan penanganan (handling cost). harga batubara mutu rendah dihitung berdasarkan penurunan harga mutu tinggi karena terkoreksi atau disesuaikan karena adanya penurunan peringkat dan gangguan tingkat pengotor termasuk handling cost relatif. karena menggunakan jenis peralatan yang sama. sebagai kovensasi dari adanya perbedaan volume untuk energi yang sama. maka akan semakin signifikan kenaikan biaya handling cost batubara mutu rendah dibanding handling cost batubara tinggi. Sebagai pembanding dihitung pula harga minimum sebagai fungsi dari biaya produksi (mining cost dan handling cost). CV(h) ⎫ ⎧ d(h) HC(l) = ⎨ × ⎬ × HC(h) d(l) CV(l) ⎭ ⎩ produsen dan konsumen. Pertama.{HC(l) .HC(h)} . P(h) = Harga batubara mutu tinggi MC(l) = Biaya penanganan batubara mutu rendah MC(h) = Biaya penanganan batubara mutu tinggi η = Persentase profit margin 3. model persamaannya adalah: dengan : HC (l ) = Biaya penanganan (handling cost) batubara mutu rendah HC (h) = Biaya penanganan (handling cost) batubara mutu tinggi d (l ) d (h ) = Densitas batubara mutu rendah = Densitas batubara mutu tinggi CV (l ) = Nilai kalor batubara mutu rendah CV (h ) = Nilai kalor batubara mutu tinggi Semakin besar perbedaan densitas demikian pula perbedaan nilai kalor. dan marginal profit. dimaksudkan untuk menentukan besaran persentase bagi hasil bagian pemerintah berdasarkan pengaruh perbedaan peringkat (nilai kalor). dan pengotor (sulfur. Aplikasi Model untuk Penetapan Bagi Hasil Permodelan bagi hasil bagian pemerintah dari pengusahaan batubara mutu rendah dalam pola Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) yang telah dirumuskan di atas. Model Harga Tingkat harga batubara secara ekonomi ditentukan dengan mempertimbangkan kriteria dari sisi produsen dan konsumen atau ditentukan dengan mempertimbangkan manfaat yang diterima 154 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . bagi hasil. e.

Batubara mutu rendah sebagai obyek yang akan ditimbang.100 kkal/kg abu (ash) sulfur sodium (Na2O) Mining Cost Handling Cost Harga = 4% = 1% = 1.7 USD. dengan memasukkan terhadap aliran kas (cah flow) dari laporan studi kelayakan penambangan batubara.sebagainya) serta biaya produksi (handling cost) antara batubara mutu rendah dan mutu tinggi. Perusahaan yang akan dijadikan contoh di dalam proses simulasi ada 2 perusahaan yang berlokasi di Kalimantan yang berencana mengembangkan ke penambangan batubara mutu rendah. namun perbedaannya (delta) semakin besar secara proporsional (agar dapat kompetitif). c.3 : 1. e. Simulasi dengan menggunakan parameter batubara lignit. f. Penetapan Nilai Bagi Hasil atas Produksi Batubara Mutu Rendah. maka akan dicoba digunakan di dalam perhitungan kelayakan pengusahaan batubara mutu rendah. Hal ini dapat dilihat dari grafik sensitifitas harga seperti contoh untuk batubara lignit pada Gambar 3. dan 7. Perbandingan densitas batubara mutu tingggi dan mutu rendah 1.52 %.15. d. yaitu nilai kalor dan tiga parameter pengotor.00 USD /ton = 40 USD /ton.05 x P(t). Persentase profit margin dari pengusahaan batubara mutu rendah diasumsikan 10%.4 USD atau delta harga dengan batubara mutu tinggi minimum 8. 155 . nama perusahaan tidak dicantumkan atau diganti dengan nama perusahaan A. c. Setiap kenaikan satu satuan (1%) nilai sulfur diasumsikan harga terkoreksi sebesar 0. Selanjutnya untuk mengetahui pengaruh besaran nilai bagi hasil yang diperoleh terhadap kelayakan usaha penambangan batubara mutu rendah. Simulasi dengan menggunakan tiga variasi parameter. Adapun untuk variasi tiga dan empat parameter batubara mutu rendah serta untuk batubara lignit. yaitu nilai kalor dan dua parameter pengotor. d. Dari hasil simulasi tersebut dapat diulas sebagai berikut : a. dkk.34 % atau rata-rata 10. yaitu nilai kalor dan salah satu paramater pengotor. Simulasi dengan menggunakan empat variasi parameter.025 x P(t). Setiap kenaikan satu satuan (1%) nilai ash (abu) diasumsikan harga terkoreksi sebesar 0.07 % – 10. dan lainnya) sebagai berikut : a) Batasan : a. Hal ini dapat dilihat pada gambar 2. dan rata-rata harga batubara mutu rendah yang masih kompetitif 26.6 USD. Adapun besaran bagi hasil bagian pemerintah berkisar antara 10. Rochman Saefudin. natrium. 8.2 % = 25 USD /ton = 2. Untuk mengaplikasikan model dalam rangka menentukan besaran bagi hasil bagian pemerintah dari pengusahaan batubara mutu rendah diperlukan batasan-batasan (asumsi) dan simulasi variasi parameter peringkat (nilai kalor) dan parameter pengotor (abu.005 x P(t).33 %. sulpur.100 kkal/kg dan salah satu parameter pengotor yang diwakili oleh abu = 17 %. sedangkan batubara mutu tinggi sebagai obyek penimbangnya. b) Simulasi Variasi : a. sulfur = 2 %. yaitu parameter nilai kalor = 5. g. Untuk variasi dua parameter batubara mutu rendah. h. Karena data yang akan digunakan di dalam perhitungan ini merupakan data keuangan perusahaan yang akan dijadikan contoh di dalam proses penghitungan. Hasil dari proses aplikasi model dapat dilihat pada Tabel 7. Setiap kenaikan satu satuan (1%) nilai natrium diasumsikan harga terkoreksi sebesar 0. dan perusahaan B. b. maka untuk menjaga kerahasiaan. diperoleh handling cost 2. Parameter batubara mutu tinggi yang dijadikan sebagai standar penimbang adalah : nilai kalor (caloric value) = 6. b.18 %. Simulasi dengan menggunakan dua variasi parameter. atau sodium = 4 %.35 %. Adapun dari variasi naik-turunnya harga batubara tersebut berdampak tidak signifikan terhadap besaran perhitungan bagi hasil bagian pemerintah. Setiap penurunan nilai kalor dari CV(h) ke CV(l) diasumsikan harga terkoreksi sebesar [{CV(h)-CV(l)}/CV(h)] x P(h). Semakin besar (tinggi) harga batubara mutu tinggi maka semakin besar pula harga batubara mutu rendah. Perhitungan bagi hasil batubara mutu rendah dibatasi oleh harga batubara mutu rendah yang minimum. b. c. masing masing rata-rata besaran bagi hasil bagian pemerintah adalah 9.

00 35.00 Dua Parameter Tiga Parameter Empat Parameter 20.20 7.00 25.00 5.00 Lignit 15.15 12 14 16 18 20 HARGA (USD) 22 24 26 28 30 Gambar 3.00 20 25 30 35 40 45 50 55 HARGA BATUBARA MUTU TINGGI (USD) Gambar 2.35 (%) 7. Grafik sensitivitas harga terhadap persentase bagi hasil untuk batubara lignit 156 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .00 HARGA BATUBARA MUTU RENDAH (USD) 30.45 7.25 7.00 10.40.30 7.40 BAG I HS I L (% ) 7.50 7. Hubungan harga batubara mutu rendah dan mutu tinggi 7.

81 8.52 8.28 26.68 9.21 22. Ash = Abu.92 Keterangan : CV = Nilai Kalor (Caloric Value).07 18.17 5100.00 1.40 6100.19 18.89 5100.00 2.52 0.00 17.76 24.46 9.00 2.Gambar 7.70 8.70 9.49 26.00 4.00 2.00 18.01 19. Na2O = Sodium 157 .00 4.75 10.00 12.36 10.34 10.33 7.51 0.70 8.58 2.99 15.00 1.20 1.83 11.64 18.20 12.58 2.00 1.54 7.00 4.00 17.94 24.75 10.39 0.33 7. S = Sulfur.40 0.58 2.00 4.58 12.33 7.58 2.52 8. Rochman Saefudin.63 8.00 16.46 23.33 Penetapan Nilai Bagi Hasil atas Produksi Batubara Mutu Rendah. Simulasi bagi hasil bagian pemerintah dari batubara mutu rendah Variasi Peringkat dan Pengotor Dua Parameter CV+Ash CV+S CV+Na2O CV+Ash+S CV+Ash+Na2O CV+S+Na2O Tiga Parameter Empat Parameter CV+Ash+S+Na2O Lignit Uraian Mutu Tinggi (Penimbang) Nilai Kalor (Kkal/kg) Abu (%) Sulfur (%) Sodium (Na2O) (%) Mining Cost (US$) Handling Cost (US$) Harga (A) (US$) 5100.00 2.70 2.18 18.00 17.00 4.77 9.77 9.00 17.24 0.19 26.70 9.11 8.08 12.20 12. dkk.70 9.01 7.35 5100.47 5100.58 2.00 1.00 12.52 7.00 1.00 5100.53 10.58 2.00 5100.00 4.36 0.00 4.70 9.00 35.19 9.58 2.38 0.14 18.00 12.00 4.55 0.00 4.00 1.20 12.00 12.92 4612. Mutu Rendah (Ditimbang) Nilai Kalor (Kkal/kg) Ash (%) Sulfur (%) Sodium (Na2O) (%) Mining Cost (US$) Handling Cost (US$) Koreksi Harga (US$) Harga Terkoreksi (US$) Selisih (delta) harga (US$) Harga Minimum (B) (US$) Faktor Insentif (Bobot) Bagian Pemerintah (%) RATA-RATA 18.58 2.00 2.00 17.00 1.70 10.70 12.77 10.00 12.72 8.14 18.

4.83 <0 9.00 C 4. Batubara Mutu Rendah adalah batubara yang memiliki peringkat menengah dan tinggi dengan kandungan pengotor tinggi.02 .0 2. yaitu sebesar 13.40% c) Untuk empat parameter (kalori – abu – sulfur – natrium) : 8.5 6.58 13.8. termasuk batubara peringkat rendah (lignit).30 20.47 18. maka dirumuskan melalui simulasi pemodelan berdasarkan konsep ekonomi pemanfaatan sumber daya batubara. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Uraian Nilai Kalori Jumlah Cadangan Jarak Tambang ke Terminal Kapasitas Produksi Stripping Ratio Umur Tambang Biaya Investasi Biaya Produksi Harga Jual Nilai Bagi Hasil Net Present Value (NPV) Internal Rate of Return (IRR) Satuan A Kkal/kg Juta ton Km Juta ton/thn tahun Juta US$ US$/ton US$/ton % Juta US$ % 5.07% b) Untuk tiga parameter : kalori – abu – sulfur : 9.61 10. 2.52% d) Untuk Lignit nilai bagi hasil : 7.5 1 : 2. 3. Model bagi hasil bagian pemerintah dari pengusahaan batubara (PKP2B) mutu rendah .84 Bagi hasil untuk Pemerintah dalam penghitungan ini sesuai dengan perjanjian kontrak antara Pemerintah dan perusahaan untuk batubara secara umum. Karena harga batubara mutu rendah belum ada. sulfur.66 13.2 17 4.86 10. Faktor bobot (F) didefinisikan sebagai fungsi dari perbandingan (proporsi) harga batubara mutu rendah dan batubara mutu tinggi.800 51. Net Present Value (NPV). yaitu sebagai fungsi dari parameter batubara (peringkat dan pengotor) dan parameter ekonomi termasuk biaya penanganan (handling cost). yang termasuk di dalam biaya operasi/produksi yang ditetapkan sebagai patokan dasar. Na2O) diperoleh nilai bagi hasil untuk batubara mutu rendah sebagai berikut : a) Untuk dua parameter : kalori – abu : 10.47 21.838 48.62 9.5 1 : 7.1 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1.0 9. 4.0 100 2.Tabel 8. Untuk selanjutnya akan dihitung nilai indikator keuntungan dari kelayakan finansial penambangan batubara mutu rendah masing-masing perusahaan Indikator keuntungan yang dihitung di dalam proses simulasi ini adalah : a.14 15.5 15.33%.5 29.4 18 48.14% kalori – sulfur : 10. dirumuskan sebagai fungsi dari faktor bobot 158 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .2 100.19% Kalori – sulfur – natrium : 9. Dengan nilai MARR (Minimal Atractive Rate of Return) yang digunakan 10%.7 1.66 Perusahaan B 4.14 13.7 39.31 (647.5% dan nilai bagi hasil berdasarkan perhitungan yang baru.14 13. maka diperoleh nilai indikator keuntungan untuk perusahaan A dan B sebagai berikut : dikalikan persentase bagi hasil yang secara matematis ditulis G (l) = 13. Internal Rate of Return (IRR).87 16. Dari hasil simulasi model yang dibuat berdasarkan kombinasi nilai kalor dan pengotor (abu.46% kalori – abu – natrium : 9. b.5 % x F.82 26.000 42. Data perusahaan dan nilai indikator keuntungan penambangan batubara mutu rendah No.34% kalori – natrium : 10.7 24.0 1:5 17 44.9) 47.

4. Jakarta.2025. yaitu : d” 3 parameter nilai bagi hasil : 9. James Nisbet & Co. 2004. 2009. Indonesia Mineral and Coal Statistic. Blue Print Pengelolaan Energi Nasional 2010 . Penetapan Nilai Bagi Hasil atas Produksi Batubara Mutu Rendah. BPFE. dkk. Standard classification of coals by rank D 388 – 92a. Economic Theory and Exhaustible Resources. 2008. Dasgupta.S. Karena nilai bagi hasil untuk memproduksi batubara mutu rendah belum ada ketetapannya. maka untuk mengoptimalkan pengusahaan dan pemanfaatan batubara mutu rendah sebagai sumber energi. Directorate General of Geology and Mineral Resources. Jakarta. yaitu : d” 3 parameter nilai bagi hasil : 10. Du Mairy.5% DAFTAR PUSTAKA American Society For Testing and Material (ASTM). Batubara dan Panas Bumi. Rochman Saefudin.5% 4 parameter dan lignit : 7. dan Heal. Matematika Terapan untuk Bisnis dan Ekonomi. 2009. maka berdasarkan nilai kalor dan jumlah pengotornya disarankan untuk membaginya menjadi : a) Tiga nilai bagi hasil. Saran 1. Untuk mempermudah penerapan nilai bagi hasil untuk produksi batubara mutu rendah. 1979. Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. Directorate of Mineral Resources Inventory.2. 2004.0% 4 parameter nilai bagi hasil : 8. 2008.M. khususnya untuk memasok PLTU yang akan dibangun. Directorate of Mineral Resources Inventory. reserves and calorific value. 1993. 2008. Bandung. 2. Direktorat Pengusahaan Mineral. Ltd. Indonesia Coal : Resources. Yogyakarta. American Society For Testing and Material. sedangkan potensi cadangan batubara sebagian besar bermutu menengah ke bawah. P. And Cambridge University Press.5% b) Dua nilai bagi hasil.5% Lignit : 7. maka perlu ditetapkan tarif nilai bagi hasil untuk pengusahaan (PKP2B) batubara mutu rendah agar harganya bisa kompetitif dengan batubara mutu baik. G. 159 .

MAKALAH DIPOSTERKAN .

52 companie at Banten and 24 companies at East Java. Banten 1. 022 .78%. paper industry is 8. Coal burning processing at industry to produced wasted there are bottom ash and fly ash.99 juta ton selama satu tahun. Kata kunci : limbah. Proses pembakaran batubara pada industri ternyata menghasilkan limbah yang disebut dengan abu dasar dan abu terbang. Dari pembakaran batubara sebanyak 5.63% and others is 15. Jend. Metode yang digunakan untuk memperkirakan jumlah limbah yang dihasilkan adalah metode analisis regresi. abu dasar.09 juta ton.go. Selama tahun 2007.id SARI Jumlah industri kecil dan menengah di Pulau Jawa yang menggunakan batubara pada tahun 2007 tercatat sudah mencapai 417 perusahaan. Terdapat sekitar 226 perusahaan di Provinsi Jawa Barat yang telah menggunakan batubara. Sudirman 623 Bandung 40211 Telp. 417 companies consumption of coal amount 5.07 juta ton.59%.877 ton.59%. Semakin banyak batubara yang dibakar.36 juta ton. Besarnya limbah yang dihasilkan dari pembakaran ini sangat dipengaruhi oleh jumlah batubara yang digunakan oleh setiap perusahaan. yaitu 75. Amount of wasted produced by companies influenced by amount of coal to used. 022 .. 115 companies at Central Java. Jawa Timur 1. To estimated of wasted is regression analysis method. textile industry is the most used coal is 75. Banten 52 perusahaan. dan industri lainnya 15. diambil contoh untuk diamati sebanyak 94 perusahaan pemakai batubara di Kabupaten Bandung. abu terbang ABSTRACT Amount middle and small industry in Java have to use coal year 2007 is 417 company. To be found out amount of produced wasted by companies in Java. Triswan Suseno dan Tuti Hernawati 161 . disusul kemudian industri kertas sebesar 8.esdm.99 juta ton. ke 417 perusahaan tersebut telah menggunakan batubara sebanyak 5. Untuk mengetahui jumlah limbah yang dihasilkan oleh perusahaan-perusahaan di Pulau Jawa ini.47 juta ton. masing-masing digunakan oleh Jawa Barat 3.6003373 e-mail : triswan@tekmira. In 2007.07 million Analisis Potensi Limbah Hasil Pembakaran Batubara pada Industri . each consumpted by West Java amount 3.99 million ton.336 ton dan abu terbang 82. Industri tekstil merupakan industri yang paling banyak menggunakan batubara. dan Jawa Tengah sebesar 0.63%. diikuti Jawa Tengah 115 perusahaan.6030483 Fax. dan Jawa Timur 24 perusahaan. have to sampling as much as 94 companies are coal user in Regency of Bandung.78%..ANALISIS POTENSI LIMBAH HASIL PEMBAKARAN BATUBARA PADA INDUSTRI KECIL DAN MENENGAH DI PULAU JAWA Triswan Suseno dan Tuti Hernawati Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. semakin banyak pula limbah yang akan dihasilkan. ternyata telah dihasilkan limbah abu dasar sebanyak 251. There are about 226 companies at West Java Province is used coal.

.... mengakibatkan produk limbah batubara dari setiap perusahaan pun semakin meningkat........ Peningkatan konsumsi batubara ini cenderung akan mempengaruhi peningkatan jumlah limbah batubara...1. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari berbagai instansi terkait...... antara lain Dinas Tenaga Kerja. a = koefisien perpotongan b = koefisien regresi y = variabel limbah hasil pembakaran batubara x = variabel jumlah pemakaian batubara setiap IKM Tampak jelas bahwa perkembangan kebutuhan batubara tidak terlepas dari perkembangan industri di suatu daerah.... bottom ash.09 million ton and Cenral Java 0. yaitu limbah batubara yang disebut sebagai abu terbang (fly 2. produced of bottom ash and fly ash each are 251. maka memahami perubahan pola konsumsi energi yang dilakukan oleh masyarakat industri adalah suatu keharusan dan menjadi hal penting bagi pemerintah sebagai pembuat dan pengendali kebijakan dalam mendukung kelancaran roda perekonomian..... berbahaya... East Java 1. dan Dinas Lingkungan Hidup.......... Banten 1. PENDAHULUAN ash) dan abu dasar (bottom ash)....... (1) ..99 million ton in a year.. Dalam jangka panjang. Model Analisis Tingkat produksi limbah hasil pembakaran batubara sangat dipengaruhi oleh pemakaian batubara yang digunakan oleh IKM. perusahaan juga harus mencari tempat pembuangan limbah batubara....From coal burning amount 5..... Akibat adanya pola perubahan konsumsi energi tersebut.... Keywords : wasted...... METODOLOGI 2.. Imbauan pemerintah agar masyarakat industri menggunakan energi alternatif seperti batubara ternyata berdampak posistif terhadap kelangsungan aktifitas industri dalam negeri apalagi dengan berkurangnya subsidi bahan bakar minyak untuk industri. namun bagi perusahaan yang memiliki lahan terbatas masalah tempat pembuangan limbah batubara menjadi salah satu kendala. Dalam situasi seperti ini.. jelas masalah ini sangat mengkhawatirkan mengingat limbah batubara ini akan terus mengalami peningkatan sehingga harus ada penanganan khusus terhadap masalah ini...2..47 million ton.. More and more coal is burned is more and more produce wasted............ fly ash 1... Salah satu kemungkinan yang timbul adalah masalah sosial akibat adanya isu lingkungan yang mengklasifikasikan batubara sebagai limbah bahan berbau.... Asosiasi Pertekstilan Indonesia. sehingga hubungan ini dapat dinyatakan dalam bentuk model regresi sederhana (Gaspersz....... Selain menyediakan lokasi tempat penyimpanan batubara untuk beberapa hari ke depan. 1990) sebagai berikut: . Untuk mengetahui sejauhmana pemakaian batubara tersebut mempengaruhi besarnya limbah yang dihasilkan tersebut digunakan metode analisis regresi. khususnya dalam bidang energi...877 ton........... Seiring dengan sudah semakin banyaknya industri tekstil yang menggunakan batubara sebagai bahan bakar dalam kegiatan produksinya.... 2. sehingga ada korelasi yang sangat 162 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . dan beracun (B3) sehingga masyarakat akan memprotes keberadaan industri pengguna batubara yang akhirnya dapat mengganggu kegiatan produksi dan perekonomian nasional.ton...... akan terjadi peningkatan penggunaan batubara pada industri kecil dan menengah (IKM) sekaligus akan menimbulkan permasalahan baru.. Sedangkan data primer adalah data yang diperoleh dari hasil wawancara langsung ke beberapa perusahaan IKM secara acak..... Data Data yang digunakan untuk mendukung analisis ini terdiri atas data primer dan data sekunder. Sebagian perusahaan yang masih memiliki lahan...36 million ton. (3) Dalam hal ini... (2) ....366 ton and 82.. untuk sementara waktu mungkin hal ini dapat diatasi... sehingga banyak industri yang beralih penggunaan bahan bakar minyaknya ke batubara.....

Himbauan pemerintah kepada masyarakat industri untuk mengalihkan penggunaan bahan bakar minyak ke batubara dan adanya larangan pemerintah agar industri baru menggunakan batubara ternyata berdampak sangat signifikan terhadap kenaikan konsumsi batubara di Indonesia. berarti hampir 69. berdasarkan hasil penelitian ternyata bahwa IKM yang telah beralih menggunakan batubara sudah mencapai 226 perusahaan. Industri pemakai batubara tersebut tersebar di Kota Cilegon (9 perusahaan). 2008). Jenis tekstil dan produk tekstil merupakan perusahaan yang paling banyak menggunakan batubara (85.21% dan 12. Kendal. sisanya digunakan oleh IKM di daerah lainnya. Sukoharjo..040 ton. lainnya adalah perusahaan sepatu.06%. Semarang. sedangkan sisanya tersebar di berbagai lokasi di Jawa Barat. 2007. briket batubara. Sebanyak 118 perusahaan (atau 52. Pati. Di antara jumlah IKM pemakai batubara. Kabupaten Serang (11 perusahaan). tercatat ada 115 perusahaan.250 ton. minyak sawit. khususnya di Pulau Jawa.80%).362.730 ton. 98 di antaranya adalah perusahaan tekstil. Sragen.980 ton). BPLH Jawa Barat. Jawa Barat. Purwakarta dan Karawang masing-masing 16. Informasi ini diperoleh dari berbagai sumber. penggunaan batubara oleh IKM di beberapa wilayah seperti Banten. Analisis Potensi Limbah Hasil Pembakaran Batubara pada Industri . disusul kemudian oleh Kota Cimahi. jumlahnya mencapai 2. Kabupaten Tangerang (29 perusahaan).21%) di antaranya berada di Kabupaten Bandung. karet. makanan. dan Jawa Timur ternyata pesat sekali.000 ton). disusul oleh Kabupaten Tangerang (416. Puslitbang Tekmira. Kudus. dan lainlain.50%. Konsentrasi perusahaan pemakai batubara paling banyak terletak di Kabupaten Pekalongan (21 perusahaan) dan Karanganyar (16 perusahaan). dan Kota Tangerang (3 perusahaan).008 ton. Jumlah pemakaian batubara sampai tahun 2008 diperkirakan sudah mencapai 1. Di Provinsi Jawa Tengah. dan obat-obatan. Jawa Tengah. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh tim dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Bandung tahun 2008. Konsumsi batubara di daerah ini pada tahun 2007 diperkirakan mencapai 3. berarti dalam kurun waktu tersebut sudah mengalami kenaikan sekitar 250%.71%. ban. Ungaran.83% dari jumlah keseluruhan penggunaan batubara di Jawa Tengah (465. Bandung) menjadi 226 pada tahun 2007 perusahaan (API.7% terhadap pemanfaatan bauran energi nasional mengingat cadangan batubara di Indonesia cukup besar.23%. Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jawa Barat. 3.erat antara tren perkembangan industri dengan perubahan kebutuhan batubara dan limbahnya. Kajian Batubara Nasional. Kabupaten Bandung merupakan konsumen batubara terbesar dengan jumlah pemakaian mencapai 44. Padahal pada tahun 2005 baru tercatat sebanyak 15 perusahaan saja. Surakarta. dan kota Cilegon (115.500 ton). berarti naik sebesar 9.396 ton). Kabupaten Serang merupakan pemakai batubara batubara terbanyak yaitu 639. sedangkan sisanya tersebar di Batang. stereofoam. Di Provinsi Banten saja jumlah IKM yang sudah mengunakan bahan bakar batubara sudah mencapai 52 perusahaan. dan bijih plastik. KONSUMSI BATUBARA DAN POTENSI LIMBAH BATUBARA DI PULAU JAWA Rencana pemerintah mengurangi pasokan dan penghapusan subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang selama ini menjadi beban yang sangat berat ditanggung oleh pemerintah memaksa pelaku industri untuk mengubah pola penggunaan bahan bakar.. disusul Kota Cimahi sebanyak 47 perusahaan (20. Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah. dan Grobogan. Kota Tangerang (191.84%). Perusahaan yang paling banyak menggunakan batubara adalah industri tekstil. industri tekstil ini pulalah yang paling banyak menggunakan batubara sebagai bahan bakar. percetakan. makanan. sisanya adalah industri kertas. Klaten. pengecoran logam. Dinas Lingkungan Hidup. Triswan Suseno dan Tuti Hernawati 163 . dari 193 perusahaan pada tahun 2006 (Ijang Suherman.069. Disnaker. kapur. seperti Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Pada tahun 2007 saja penggunaannya mencapai 325. briket. minuman. 14. Target pemerintah sampai dengan tahun 2025 mengurangi penggunaan BBM hingga dua puluh persen. Jumlah IKM pemakai batubara di Provinsi Jawa Barat selalu mengalami kenaikan.57 juta ton untuk 199 perusahaan tekstil. memaksa pemerintah untuk memacu penggunaan batubara oleh industri sehingga kontribusinya mencapai 32. Di Provinsi Jawa Barat.

dan titik leleh abu (ash fusion temperature) (Raharjo. penggunaan batubara merupakan salah satu alternatif yang sangat membantu dalam menekan biaya penggunaan bahan bakar yang memang jauh lebih efisien dan ekonomis.088.68%) disusul oleh industri kertas 35. mereka mengalami kesulitan pula dalam membuang limbah batubara sehingga mereka membuangnya di sembarang tempat dengan tidak memperhatikan dampak dari pembuangan tersebut.297 kg abu dasar dan 53. dan sisanya oleh perusahaan briket.77%). dengan pemakaian pertahun mencapai 720. kadar sulfur.82%). hasilnya dapat dilihat dalam Tabel 2. disusul kemudian oleh Banten (22. ternyata menghasilkan model regresi sebagai berikut : 1) Model regresi abu dasar : y = 23.430 kg abu terbang (Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung. diperoleh informasi bahwa tercatat sebanyak 24 perusahaan yang telah menggunakan bahan bakar batubara. karena karakteristik mesin atau peralatan yang digunakan dalam kegiatan produksi berbeda satu dengan yang lainnya. Dari sisi jenis industri. 2006 dan 2007). kadar karbon.100 ton. 94 perusahaan di antaranya menjadi contoh (sample) untuk dicatat jumlah abu dasar dan abu terbang yang dihasilkan dari pembakaran batubara di setiap perusahaan tersebut. perusahaan tekstil sebesar 4.75 + 41.100 ton (atau 55.72 x Kedua model di atas digunakan untuk mengestimasi potensi limbah yang dihasilkan dari proses pembakaran batubara oleh IKM di Pulau Jawa.45% di antaranya digunakan oleh perusahaan kertas. dan lain lain).20%). semakin maraknya penggunaan batubara pada IKM memunculkan persoalan baru. Perusahaan kertas (18 perusahaan) adalah pemakai batubara terbesar di wilayah ini. dan tingkat ketergerusan. yaitu 51. sulfate sulfur. Apabila hal ini terjadi terus menerus dikhawatirkan akan menimbulkan masalah baru khususnya yang berkaitan dengan masalah pencemaran lingkungan sehingga dapat menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat.266 ton (2007).19%. Al2O3. Dari jumlah IKM sebanyak 417 perusahaan. 95. perusahaan tekstil menjadi penyumbang terbesar limbah hasil pembakaran batubara. limbah yang dihasilkan dari pembakaran batubara tersebut sekitar 103. sehingga variabel ini merupakan parameter potensial yang sangat mempengaruhi produksi abu dasar dan abu terbang. dan Jawa Tengah (7. Jawa Timur (18. Banyak produk limbah batubara dari beberapa perusahaan tidak bisa digunakan sebagai bahan batako. konsumsi. sehingga pemerintah daerah pun mengalami kesulitan dalam mengawasinya. organic sulfur).21%. ternyata menghasilkan limbah hasil pembakaran batubara sebanyak 334. Biasanya parameter yang digunakan dalam memilih batubara adalah kalori. Sehingga pemilihan kualitas batubara yang sesuai akhirnya akan sangat berpengaruh terhadap daya tahan mesin agar mesin berfungsi secara optimal. Provinsi Jawa Barat merupakan daerah yang memberikan kontribusi limbah terbesar. yaitu limbah hasil pembakaran batubara.20% dari limbah tersebut adalah abu dasar sedangkan sisanya berupa abu terbang. Kualitas limbah batubara pasca pembakaran sangat dipengaruhi oleh jenis batubara dan sistem pembakarannya. kadar kelembaban. POTENSI LIMBAH HASIL PEMBAKARAN BATUBARA OLEH IKM DI PULAU JAWA Sebagaimana dijelaskan sebelumnya. Diketahui bahwa setiap hari ke 94 perusahaan tersebut menggunakan batubara tidak kurang dari 2. Di tengah harga BBM yang semakin melambung. P2O5.000 ton. 75. limbah abu dasar dan abu terbang dari 94 perusahaan tersebut.13% dan industri lainnya 9. Tjiwi Kimia yang berlokasi di pinggir jalan raya Mojokerto.39 + 13. Perusahaan kertas yang paling banyak menggunakan batubara adalah PT. analisis komposisi sulfur (pyritic sulfur. di 4.14%. ukuran. Di sisi lain. Hal ini sangat penting. Fe2O3.419 ton.985. Jumlah pemakaian batubara pada tahun 2007 tercatat 1. kandungan zat terbang. Pembuangan dilakukan secara diamdiam tanpa melakukan koordinasi dengan pihak pemerintah daerah. disusul kemudian oleh perusahaan tekstil (5 perusahaan) dan briket(1 perusahaan). di samping parameter lain seperti analisis unsur yang terdapat dalam abu (SiO2.58% dari jumlah 164 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . 2006).98 x 2) Model regresi abu terbang : y = 173. Berdasarkan data jumlah pamakaian batubara.Berdasarkan hasil survei di Jawa Timur. jumlahnya mencapai 186. Selain kesulitan dalam menyediakan tempat penyimpanan batubara. kadar abu. Jumlah batubara yang digunakan IKM di Pulau Jawa sebesar 5. bahwa jumlah limbah hasil pembakaran batubara sangat dipengaruhi oleh variabel pemakaian batubara di setiap IKM.213 ton atau 5.

413 1.849 19. Jawa Timur (2008) Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung ( 2007) Asosiasi Pertekstilan Indonesia Jawa Barat (2007) Hasil survei Tim Pola Distribusi Batubara Tahun 2008.768 3..Tabel 1.850 132. Triswan Suseno dan Tuti Hernawati Banten Jabar Jateng Jatim 16.4%.809 198 22.775 107.074 Berdasarkan model regresi : y(ad) =23.800 325.119 82.0%. Jawa Barat.877 979 125 7.747 Jumlah Abu Dasar 57.600 33 19 12 1 342.069.067 465.651 1.767 1.026 Tekstil Abu Dasar Abu Terbang Analisis Potensi Limbah Hasil Pembakaran Batubara pada Industri .7477+41.119 5.102.561 45.074 14.500 52 226 115 24 417 Banyaknya Perusahaan Konsumsi Batubara Banyaknya Perusahaan Konsumsi Batubara Banyaknya Perusahaan Lainnya Jumlah Konsumsi Batubara 1.227 128. Jumlah perusahaan pemakai dan konsumsi batubara oleh ikm di Pulau Jawa tahun 2007 Jumlah Perusahaan (Buah) Dan Konsumsi Batubara (Ton) Kertas Konsumsi Batubara 399.101 43.97 X .336.313 29.887 42.000 3. Jawa Tengah.367 Tekstil Provinsi Banyaknya Perusahaan Banten Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Timur 14 199 98 5 Jumlah 316 Sumber : - Dinas Tenaga Kerja Provinsi Banten.440 2.877 Provinsi 5. Puslitbang Tekmira Bandung Tabel 2.750 13. Estimasi jumlah abu dasar (ad) dan abu terbang (at)hasil pembakaran batubara di Pulau Jawa menurut jenis ikm (ton) Kertas Abu Dasar 26. 165 .576 5.898 Jumlah 140.39+13. y(at) =173.088.962 Abu Terbang 4.280 4.699 251.566..336 Abu Terbang 18.362.543 3.008 45.052 15. koefisien korelasi (r) = 93.800 65 546.680 1.160 66.038.556 2.248 36 2.218 5 8 5 18 620.300 8.141 1.440 370.708 4.297 6.104 Abu Terbang Lainnya Abu Dasar 14.72 X.522 681 46.080 73.575 15.544 35.604 88.985. koefisien korelasi (r) = 48.400 5.

Perusahaan lain yang telah melakukan pemanfaatan dan pengelolaan limbah dengan baik sesuai dengan prosedur yang berlaku adalah perusahaan tekstil PT. 5. akibat keterbatasan lahan untuk menyimpan sementara hasil pembakaran batubara. Namun tidak semua perusahaan memiliki lahan yang luas. Sudah banyak lembaga/instansi yang peduli terhadap limbah ini dan telah mencoba berbagai teknik untuk mengolah limbah ini menjadi bermanfaat.04% saja telah memiliki TPS yang berizin.antaranya banyak ditemukan pada mesin boiler pembakar batubara di sejumlah perusahaan tekstil di wilayah Kabupaten Bandung. Namun pemanfaatan produk dari limbah tersebut ternyata masih terkendala oleh Peraturan Pemerintah No. untuk sementara limbahnya ditimbun di tempat pembuangan sementara (TPS) di sekitar lahan milik perusahaan tersebut. sementara TPS yang ada sudah tidak mampu untuk menampungnya. dari 94 perusahaan pemakai batubara hanya 26. Kesimpulan Berdasarkan hasil kajian di atas dapat disimpulkan bahwa: 1) Selama batubara masih menjadi pilihan utama sebagai pengganti BBM. 3) Hanya 26. kualitas batubara yang selalu berubah dan tidak sesuai dengan spesifikasi boiler. Faktor penyebabnya antara lain karena pembakaran yang tidak sempurna. Pihak KLH sendiri dalam mengeluarkan izin pengolahan dan penggunaan produk limbah batubara sangat selektif dan berhati-hati sekali mengingat tidak semua perusahaan mampu mengelola limbah batubara dengan baik dan benar karena ada dugaan yang menyatakan bahwa sebagian besar perusahaan dalam melakukan pembakaran batubara dilakukan tidak secara sempurna. Dalam menangani limbah hasil pembakaran batubara setiap perusahaan melakukannya dengan cara yang berbeda. Sehingga di dalam limbah hasil pembakaran batubara masih banyak mengandung batubara walaupun kalorinya rendah. Dengan kata lain. mereka memanfaatkan pihak ketiga atau pemasok batubara untuk mengangkutnya. penggunaan batubara terus mengalami peningkatan sehingga berkorelasi erat dengan bertambahnya limbah. perusahaan kecil biasanya menggunakan jasa pemasok batubara atau pihak ketiga untuk mengangkut limbah tersebut. 4) Kualitas batubara dari pemasok dan teknik pembakaran batubara yang tidak sempurna menjadikan limbah ini dinyatakan sebagai limbah B3. KESIMPULAN DAN SARAN 5. Padahal berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh berbagai instansi termasuk Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral di Bandung. 18 Tahun 1999 jo PP 85 Tahun 1999 yang menyatakan limbah tersebut termasuk kategori limbah bahan berbahaya dan beracun (B3). 2) Terdapat korelasi yang sangat signifikan antara penggunaan batubara dengan limbahnya. tidak atau belum boleh dijual ke masyarakat umum.81% tidak/belum memiliki TPS sama sekali (Dinas Lingkungan Hidup.04% memiliki TPS tapi tak berizin dan 40. Bagi sebagian perusahaan yang masih memiliki lahan luas. Seiring dengan berjalannya waktu. Namun produknya hanya boleh digunakan untuk memenuhi kebutuhan intern. semakin banyak batubara yang digunakan akan semakin banyak pula abu dasar dan abu terbang yang dihasilkan dari pembakaran batubara setiap IKM. harus ada suatu bimbingan teknis yang dilakukan oleh para aparat kepada para pekerja di pabrik yang menggunakan batubara.1. 2007). Oleh karena itu. Timbul kekhawatiran limbah tersebut dibuang di sembarang tempat. Berdasarkan informasi yang diperoleh. sehingga produknya tidak dapat digunakan secara bebas sebelum produk tersebut benar-benar dinyatakan bebas dari limbah B3 atas izin Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). 26. Oleh karena itu. Daliatex di Kabupaten Bandung yang telah mengolah limbah batubara menjadi batako.04% saja IKM yang memiliki TPS berizin. harus ada solusi untuk menangani limbah tersebut. 166 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . ternyata limbah hasil pembakaran batubara dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan paving blok atau batubata. tergantung pada kondisi dan kemampuan masing-masing perusahaan. maka diprediksi akan semakin banyak IKM yang akan menggunakan batubara sebagai bahan bakar untuk kegiatan produksinya. sehingga tidak diketahui kemana limbah tersebut dibuang.

Bidang Energi dan Sumber Daya Alam. Triswan Suseno dan Tuti Hernawati 167 .. Semarang. 2006. Dinas Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah. Dinas Tenaga Kerja Provinsi Banten.. 2007. Melakukan pengawasan yang ketat dan berkesinambungan kepada perusahaan yang diberi kewenangan mengelola dan memanfaatkan limbah batubara. Setiap perusahaan pengguna batubara harus mampu melakukan pembakaran batubara secara benar (sempurna) sehingga tidak ada batubara ke dalam limbahnya. Konsumsi Batubara Oleh Perusahaan Anggota API Jawa Barat. 2007. Bandung. mengolah (dengan rekomendasi KLH). 2008. Mengenal Batubara (2). DAFTAR PUSTAKA Asosiasi Pertekstilan Indonesia Jawa Barat. Suherman. Setiap perusahaan diwajibkan memiliki instalasi pengolahan limbah batubara (IPLB) seperti halnya mereka diwajibkan memiliki instalasi pengolahan limbah (IPAL) dan memanfaatkannya secara optimal. Puslitbang Tekmira. 2006 dan 2007. Saran Solusi permasalahan limbah batubara : Mencari dan menentukan lokasi tempat pembuangan limbah batubara yang benar-benar memenuhi persyaratan teknis dan nonteknis. Serang. Vincent. keamanan. Daftar Perusahaan Yang Menggunakan Batubara. Penerbit “Tarsito”. Artikel Iptek . mulai dari menampung. Bandung. 08:40:21. Imam Budi. dan lain-lain. Analisis Potensi Limbah Hasil Pembakaran Batubara pada Industri . 1990. Dinas Tenaga Kerja Provinsi Jawa Timur. Bandung. Membentuk lembaga/perusahaan yang khusus mengawasi dan mengelola limbah batubara secara profesional serta harus bertanggung jawab kepada pemerintah (Daerah/Pusat/KLH).2. Daftar Perusahaan Yang Menggunakan Batubara. Daftar Perusahaan Yang Menggunakan Batubara. letak.beritaiptek. dan memanfaatkan) limbah batubara secara baik dan benar. Rabu.5. Dinas Tenaga Kerja Provinsi Jawa Barat. Soreang. Daftar Perusahaan Yang Menggunakan Batubara di Provinsi Banten. Bandung. 2008. Ijang. Laporan Kegiatan Seksi Pengendalian Pencemaran Limbah Padat dan B3. Gaspersz. Pemerintah harus mampu meyakinkan masyarakat bahwa limbah dan produk limbah batubara tidak berbahaya karena sudah melalui prosedur pengolahan yang benar. 2009. Analisis Kuantitatif Untuk Perencanaan. Izin pengolahan limbah batubara ini diharapkan harus benar-benar digunakan agar tidak terjadi seperti IPAL yang saat ini mereka miliki ternyata tidak berfungsi sepenuhnya. Surabaya. www. Raharjo. 2008. 2008. Pemerintah dapat memberikan izin kepada perusahaan yang benar-benar mampu mengelola (mengumpulkan dan mengolah. Memberikan izin memasarkan/menggunakan barang yang dibuat dari hasil pengolahan dan pemanfaatan limbah batubara. seperti luas. Dinas Lingkungan Hidup. Kajian Batubara Nasional.com. Harus ada satu atau dua perusahaan yang diberi kewenangan khusus menangani limbah batubara. memanfaatkan dalam bentuk barang (rekomendasi KLH). Pengawas harus memberikan laporan secara benar tentang perusahaan pengguna batubara yang diawasinya kepada (Daerah/Pusat/KLH). Untuk memudahkan pemantauan sebaiknya pemerintah atau swasta dapat membuat IPLB secara terpadu yang dapat menampung semua limbah batubara dari setiap industri pengguna batubara untuk memudahkan pengawasan. dan memasarkannya.

tetapi tidak signifikan dan mirip dengan kenaikan yang dialami oleh batubara raw yang dikeringkan dalam oven. Fax. Jenderal Sudirman No. vitrinite reflectance. The study is carried out by comparing the condition of UBC process with the condition of coalification and collecting and calculating chemical and petrographical analysis of raw coal and UBC product. coal rank. Terdapat kenaikan reflektan vitrinit. but not so significant and still similar with oven dried of raw coal. The result shows that there UBC process does not increase the rank of coal. Kajian dilakukan dengan membandingkan kondisi proses UBC terhadap kondisi pembatubaraan dan mengumpulkan serta mengolah data analisis kimia dan analisis petrografi batubara raw dan produk UBC. reflektan vitrinit. coal classification 168 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Hasil kajian menunjukkan bahwa proses UBC tidak menyebabkan kenaikan peringkat batubara. peringkat batubara. study on the effect of UBC process on coal rank needs to be carried out. perlu dilakukan kajian tentang pengaruh proses UBC terhadap peringkat batubara. Keywords: UBC process. Kata kunci: proses UBC. (022) 6003373 e-mail: SARI Untuk mengatasi salah pengertian tentang peringkat batubara hasil proses Upgraded Brown Coal (UBC).PENGARUH PROSES UPGRADED BROWN COAL (UBC) TERHADAP PERINGKAT BATUBARA Slamet Suprapto Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. Bandung 40211 Telp. There is an increase of vitrinite reflectance. 623. klasifikasi batubara ABSTRACT To overcome misunderstanding about the rank of coal produced by Upgraded Brown Coal (UBC) process. (022) 6030483.

Tetapi tingginya kadar air pada batubara peringkat rendah terutama lignit menyebabkan tingginya biaya pengangkutan. Slamet Suprapto 169 . minyak residu dan minyak tanah. Teknologi yang saat ini berkembang umumnya didasarkan atas proses pengurangan kadar air atau pengeringan. yakni dengan kadar abu dan kadar belerang rendah. Untuk mengatasi permasalahan batubara lignit. teknologi-teknologi peningkatan kualitas batubara telah banyak berkembang. produk UBC lebih baik dibanding batubara bituminous yang mempunyai kadar abu dan belerang tinggi Pengaruh Proses Upgraded Brown Coal (UBC) terhadap Peringkat Batubara. Padahal. Hal ini didasarkan kenyataan bahwa produk UBC mempunyai nilai kalor yang mirip dengan nilai kalor batubara peringkat bituminous. batubara peringkat rendah disebut juga batubara kualitas rendah (low grade coal) karena tingginya kadar air dan rendahnya nilai kalor. Pilot plant kapasitas 5 ton/jam telah dibangun di Palimanan dan hasil ujicobanya membuktikan bahwa kadar air batubara peringkat rendah dapat dikurangi dan nilai kalornya meningkat. air bebas (surface moisture) dan juga air lembab (inherent moisture) yang terdapat dalam pori-pori batubara akan diuapkan. ekspoitasi terhadap batubara lignit juga mulai dikembangkan. Salah satu teknologi peningkatan kualitas batubara lignit yang saat ini dikembangkan oleh Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara bekerjasama dengan JCOAL. mencapai 104. penentuan peringkat batubara tidak bisa ditentukan dari nilai kalor batubara kering udara. Penambahan minyak residu diperlukan untuk menutup pori-pori batubara sehingga kestabilan kadar air bawaan pasca proses dapat terjaga (Gambar 1). TINJAUAN PUSTAKA Indonesia memiliki sumber daya batubara yang cukup besar. Campuran tersebut kemudian dipanaskan pada temperatur 150-160ºC dengan tekanan 250-350 kPa. Dengan temperatur dan tekanan tersebut. tingginya kadar air juga menyebabkan rendahnya nilai kalor. Produk UBC bisa berupa serbuk apabila langsung dimanfaatkan atau berbentuk briket apabila akan ditransportasi pada jarak jauh (Umar. PENDAHULUAN 2. Padahal batubara peringkat rendah di Indonesia umumnya termasuk bersih.1. Oleh karena itu perlu dilakukan kajian untuk mempelajari pengaruh proses UBC terhadap peringkat batubara. kemudian untuk pilot plant dan demonstration plant dikembangkan di Indonesia. yakni dengan kadar air tinggi dan nilai kalor rendah. Kedua hal tersebut menyebabkan lignit lebih sulit dipasarkan dibanding batubara bituminous dan sub bituminous. Produk UBC yang dihasilkan mempunyai nilai kalor >6. Pada saat ini sebagian besar batubara yang ditambang adalah peringat bituminous dan sub bituminous. 2005). Gambar 1. sampai saat ini banyak yang menganggap bahwa teknologi UBC juga meningkatkan peringkat batubara.6 miliar ton tersebar terutama di Sumatera dan Kalimantan. Dengan nilai kalor yang tinggi dan kadar abu serta belerang rendah. maka nilai kalor batubara dapat meningkat. Jepang adalah proses Upgraded Brown Coal. Sedangkan minyak tanah diperlukan sebagai media dalam proses.1. Proses pengering pada Upgraded Brown Coal Ujicoba pilot plant dengan menggunakan batubara peringkat rendah yang berasal dari beberapa daerah di Indonesia telah beberapa kali dilakukan dan berhasil dengan baik.300 kal/g (adb) dan kadar air ± 7%. Disamping itu. Dengan mengurangi kadar air. 2. Jepang. Namun. Proses UBC Teknologi UBC adalah salah proses coal upgrading yang meningkatkan nilai kalor melalui proses pengeringan (evaporative drying) yang pertama kali dikembangkan oleh Kobe Steel. Keberhasilan tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan pembangunan demonstration plant kapasitas 1000 ton/jam di Kalimantan Selatan. Namun sebagian besar batubara Indonesia termasuk peringkat rendah (lignit – sub bituminus). Mengingat kebutuhan semakin meningkat. Namun demikian. Prinsip proses UBC adalah dengan mencampurkan batubara. Penelitian skala laboratorium dan skala bench dilakukan di Jepang.

Tekanan berfungsi memadatkan sisa tanaman dan mengurangi kadar air. 1986). Pada tahap ini sisa tanaman masih dalam keadaan terbuka dan belum tertutup oleh tanah penutup. Proses pembatubaan dipengaruhi oleh 3 faktor. dmmf). Tingkat pembatubaraan atau posisi batubara dalam seri lignit – antrasit ini disebut peringkat (rank) (Stach. Hubungan tipikal antara peringkat batubara dengan rasio bahan bakar dapat dilihat pada Tabel 1. makin dalam endapannya makin lanjut proses pematangan. dan naiknya reflektan vitrinit. sirkulasi hidrotermal. Pada tahap ini sebetulnya terjadi proses pematangan. bituminous dan antrasit.sehingga sangat cocok untuk keperluan dalam negeri maupun ekspor. Normalnya. Sedangkan untuk analisis petrografi digunakan data reflektan vitrinit (Rv). turunnya kadar H. Pemanasan yang lebih lama akan menghasilkan pematangan yang lebih tinggi sehingga endapan batubara yang berumur lebih tua mempunyai tingkat pembatubaraan yang lebih tinggi. makin tinggi peringkat batubara karena makin dekat dengan sumber panas dalam bumi. 1982. waktu yang dibutuhkan dalam proses pembatubaraan berkisar antara puluhan sampai ratusan juta tahun. sisa tanaman sudah tertutup oleh lapisan tanah penutup sehingga terjadi proses geokimia. 170 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Hubungan antara peringkat dengan kadar karbon dapat dilihat pada Tabel 2. sedangkan untuk batubara bituminous diperlukan temperatur 100 . Tabel 1. Data analisis kimia yang digunakan diantaranya analisis proksimat (kadar karbon padat. Rance (1975). makin tinggi kadar karbon (dmmf). Penentuan Peringkat Batubara Peringkat batubara dapat ditentukan melalui data analisis kimia atau analisis petrografi. makin tinggi rasio bahan bakar.C. Untuk membentuk antrasit diperlukan temperatur 300ºC. yakni berkisar antara beberapa kilogram sampai ratusan kilogram. analisis ultimat (kadar karbon) dan nilai kalor. yakni tekanan.6 24 Menurut Francis (1965) terdapat hubungan antara peringkat dengan kadar karbon pada batubara murni (dry mineral matter free. temperatur dan waktu. makin dalam endapannya.9 1. kadar zat terbang). 1965. Proses pembentukan batubara pada dasarnya dapat dibagi menjadi 2 tahap. Falcon. terdapat hubungan antara rasio bahan bakar (fuel ratio) dengan peringkat batubara.8 8. Proses pematangan juga dapat dipercepat oleh pengaruh dari luar seperti intrusi batuan beku. Temperatur pada proses pembatubaraan normal tidak lebih dari 300ºC.150ºC (Francis. Hubungan tipikal antara peringkat batubara dengan rasio bahan bakar Peringkat Batubara Lignit High volatile bituminous Medium volatile bituminous Low volatile bituminous Semi antrasit Antrasit Rasio Bahan Bakar 0.9 2. 2. Temperatur berfungsi mempercepat pematangan bahan organik. Kenaikan peringkat batubara juga diikuti oleh perubahan kimia dan sifat fisik batubara sebagai berikut (Francis.3 1. Menurut H. 2. Stach. Makin tinggi tinggi peringkat batubara. Oleh karena itu. yakni perubahan dari gambut menjadi batubara lignit dan seterusnya menjadi batubara-batubara sub bituminous. yakni makin tinggi peringkat batubara. turunnya kadar zat terbang. 1982). dan naiknya nilai kalor.2. panas gesekan dan kompilasi tektonik. Pada tahap penggambutan terjadi proses biokimia sehingga sisa-sisa tanaman mengalami proses pembusukan. N dan S dan naiknya kadar C. O. Waktu juga berpengaruh terhadap pematangan bahan organik. 1982): turunnya kadar air (bed moisture). Besarnya tekanan tergantung dalamnya endapan batubara atau tebalnya lapisan tanah penutup.3. Rasio bahan bakar adalah perbandingan antara karbon padat dengan kadar zat terbang. Proses Pembatubaraan Batubara terbentuk dari pembusukan sisa tanaman purba yang terpadatkan setelah tertimbun oleh lapisan penutup di atasnya. Kualitas tersebut mirip dengan kualitas batubara peringkat menengah. 1965. yakni tahap penggambutan (peatification) dan tahap pembatubaraan (coalification). Pada tahap pembatubaraan. Stach.

2005) membuat klasifikasi batubara berdasarkan peringkat dengan menggunakan data analisisi kimia. peringkat batubara ditentukan berdasarkan kadar karbon padat dan zat terbang.5 – 2. % C x 100 100 – (M + 1. 1986) membuat hubungan antara refelektan vitrinit dengan gambut dan peringkat batubara menurut ASTM (Tabel 3).55 S) Zat terbang = 100 – kadar karbon padat (dmmf) (dmmf).0. % C = kadar karbon (adb). KP = kadar karbon padat (adb). 2005) sebagai berikut: Karbon padat = (dmmf).3 American Society for Testing Materials (Anonymous. METODOLOGI 3. % KP – 0.5 – 6.1.4 – 0.2. Klasifikasi batubara berdasarkan peringkat menurut International Standard (ISO) dapat dilihat pada Lampiran 2. Apabila penentuan peringkat menggunakan nilai kalor (mmf). yakni peringkat rendah.3 – 0. peringkat batubara ditentukan berdasarkan nilai kalor (mmf) batubara yang masih mengandung air lapisan (bed moisture). % dimana. Teichmuller dan Barntenstein (Falcon.Tabel 2. sedangkan batubara peringkat tertinggi (meta antrasit) mempunyai Rv 2.5. Hubungan antara peringkat batubara dengan reflektan vitrinit Peringkat batubara (ASTM) Meta antrasit Antrasit Semi antrasit Low volatile bituminous Medium volatile bitumious High volatile bituminous Sub bituminous Lignit Gambut Reflektan vitrinit 3.5 1. % S = kadar belerang (adb). tetapi dengan memasukkan data kadar air lapisan.4 <0.6 0. Pengolahan Data Data hasil analisis batubara raw dan produk UBC pada kondisi kering udara diolah menjadi kondisi kering dan bebas bahan mineral (dmmf) menggunakan rumus Par (Anonymus. Batubara peringkat paling rendah (lignit) mempunyai Rv 0. yakni kering bebas bahan mineral (dmmf) atau basah dan bebas bahan mineral (moist mineral matter free .1 – 1. Sedangkan untuk batubara yang mempunyai kadar karbon padat (dmmf) <31% atau kadar zat terbang (dmmf) >69%.0 2.0 1.% dmmf 93 – 95 91 – 93 80 – 91 75 – 80 60 – 75 Tabel 3. 3.4%.0 – 2. Taban dan Samaranggau. Untuk batubara yang mempunyai kadar karbon padat (dmmf) e”69% atau kadar zat terbang (dmmf) <31%.0% dan peringkat tinggi (antrasit C . diperlukan contoh batubara yang masih segar (fresh) dan langsung diambil dari tambang.0 – 6.5 – 1. zat terbang dan nilai kalor dari batubara murni. Klasifikasi batubara berdasarkan peringkat menurut ASTM dapat dilihat pada Lampiran 1.A) dengan Rv 0. % A = kadar abu (adb). peringkat menengah (bituminous D .1 0. Peringkat batubara dibagi menjadi tiga.08 A + 0.0%.0 – 6. Slamet Suprapto 171 .55 S) Karbon = (dmmf). % Pengaruh Proses Upgraded Brown Coal (UBC) terhadap Peringkat Batubara.5 2. Peringkat rendah (lignit dan sub bituminous) dengan Rv <0.5 – 3. International Standard (Anonymous.mmf). yakni kadar karbon padat. % M = kadar air bawaan (adb). 2005) kemudian membuat klasifikasi batubara berdasarkan peringkat dengan menggunakan data reflektan vitrinit (Rv). Hubungan antara peringkat dengan kadar karbon (dmmf) Peringkat Antrasit Carbonaceous Bituminous Sub bituminous Lignit Kadar karbon. Pengumpulan Data Data sekunder berupa hasil analisis kmia dan petrografi batubara raw dan produk UBC diperoleh dari laporan kegiatan pilot plant UBC di Palimanan Cirebon yang beroperasi menggunakan batubara Binungan.15 S x 100 100 – (M + 1.08 A + 0. 3.0%.3 .5 0.A) dengan Rv 2.6 – 2. peringkat menengah dan peringkat tinggi.

% ar Zat terbang.07 6.67 45.75 15.324 57.006 Sub bituminous 19. % adb Zat terbang. Data analisis contoh batubara peringkat rendah – menengah Peringkat Rendah Parameter Air.278 High volatile B bituminous 12. Sebagai pembanding. % adb Abu. mirip dengan kualitas produk UBC.5 12.11 22.00 30.76%.34 42.50 – 12. kal/g adb Karbon. Bahkan terdapat kecenderungan penurunan rasio bahan bakar produk UBC dibanding batubara raw.431 57.278 – 7.589 High volatile A bituminous 5.88 Samaranggau Raw 32.13 6.628 172 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .54 6.70 – 71. HASIL DAN PEMBAHASAN Data analisis batubara raw dan produk UBC pada kondisi kering udara dapat dilihat pada Tabel 4.43 17.20 28.80 4.65 2.89 6.80 30. 1981).42 40. Penurunan rasio bahan bakar tersebut dikarenakan oleh naiknya kadar zat terbang yang kemungkinan akibat penambahan atau sisa residu (LSWR) yang ditambahkan selama proses UBC (lihat Gambar 1).80 6.90 32.55 5. Batubara lignit mempunyai kadar air 34.36 37. 2004 Binungan Produk.05 37.81 46.80% dan nilai kalor 4.19 3.90 5.31 5. 1981 Peringkat Menengah High volatile C bituminous 10. 4. % adb Nilai kalor.59 Produk.4. Hasil analisis tersebut mirip dengan kualitas batubara peringkat high volatile bituminous. Hal ini berarti tidak terjadi kenaikan peringkat batubara akibat proses UBC. Dari Tabel 7 juga dapat dilihat bahwa seluruh batubara raw maupun produk UBC mempunyai kadar karbon padat (dmmf) <69% dan kadar zat Tabel 4.54 – 45.310 64.15 38.00 6. % adb Karbon Padat.00 44. Tabel 8 menunjukkan bahwa tidak terdapat perubahan kadar karbon (dmmf) yang siginifikan dari produk UBC dibanding batubara raw. % ar Nilai kalor.625 66. % ar Abu.96-0.55 Taban Produk. 5.805 65.894 kal/g.68 39.52 6. Produk UBC mempunyai kadar air lembab 5.19 Raw.048 53.20 40. 33.48% dan nilai kalor 6. Sedangkan batubara peringkat bituminous mempunyai kadar air 5.805 kal/g.50 45. % adb Sumber: Umar.01 Tabel 5. Kadar karbon (dmmf) batubara raw berkisar antara 71. % ar Air lembab.80 60.60 6. sedangkan kadar karbon (dmmf) produk UBC berkisar antara 69.74%.006 kal/g.98 menyatakan bahwa peringkat batubara produk masih tetap rendah. Hasil analisis batubara raw dan produk UBC Paramater Raw.40% dan nilai kalor 6.78 44.90 7.61 47.40 5. zat terbang 46.50 2.78 – 48. 1.60 4. Rasio bahan bakar batubara produk UBC (Tabel 6) yang berkisar antara 0.08 – 8.93 48. mirip dengan kualitas batubara umpan (raw coal) untuk proses UBC.20 30. yakni lignit. % ar Karbon padat.35 4.894 Lignit 34. kal/g ar Sumber: Singer.60 35.310 – 6.33 2.34% dan karbon padat 42. Peringkat batubara raw dan produk UBC masih tetap termasuk lignit.00 47. Tabel 5 menyatakan komposisi kimia contoh-contoh batubara peringkat rendah – menengah pada kondisi as received (ar contoh asal) (Singer.47 5. Air total.07%. Hal ini terbukti bahwa kadar zat terbang (dmmf) batubara produk UBC lebih tinggi dari yang terdapat pada batubara raw (Tabel 7).56 16.

maka peringkat batubara produk UBC tidak bisa ditentukan menurut kalsifikasi ASTM.12 73.97 0.46 48.08 0.50 51. sedangkan proses pembatubaraan yang merubah batubara lignit menjadi batubara high votaltile bituminous terjadi dalam waktu puluhan juta tahun.38% menjadi 0. Slamet Suprapto 173 .76 72.038 0.35-0.60 71.54 51. Pembahasan tersebut di atas menyatakan bahwa peringkat batubara produk UBC cenderung sama dengan peringkat batubara raw. Reflektan vitrinit batubara raw.70 Tabel 7. Reflektan vitrinit batubara raw berkisar antara 0. Apalagi refelektan vitrinit batubara kering oven yang juga mengalami kenaikan dibandingkan batubara raw.98 53. Tetapi.60% atau rata-rata 0.45 0. Kadar karbon padat dan zat terbang batubara raw dan produk UBC Contoh Batubara Binungan Taban Samaranggau Raw Produk Raw Produk Raw Produk Karbon padat.51 Pengaruh Proses Upgraded Brown Coal (UBC) terhadap Peringkat Batubara.38 0.57 49.34 71.57 terbang (dmmf) >31%.18 69. Dengan demikian maka peringkat batubara harus ditentukan dari nilai kalor (mmf).039 0. Waktu tinggal batubara pada proses UBC tidak lebih dari 1 hari. Mengingat nilai kalor (mmf) harus ditentukan dari batubara yang masih mengandung air lapisan. dmmf 48. Tabel 9 menunjukkan terjadinya kenaikan reflektan vitrinit akibat proses UBC. peringkat batubara produk UBC tidak mengalami kenaikan yang berarti.60 0.43 Zat terbang%. Rasio bahan bakar batubara raw dan produk UBC Contoh Batubara Binungan Taban Samaranggau Raw Produk Raw Produk Raw Produk Rasio Bahan Bakar 1.% dmmf 51.45. Kadar karbon batubara raw dan produk UBC Contoh Batubara Binungan Taban Samaranggau Raw Produk Raw Produk Raw Produk Kadar Karbon% dmmf 74.43 50.44% atau ratarata 0. 2008 Reflektan Vitrinit.43 Deviasi 0.29-0.98 0.35 – 0.053 0.88 0. % Rata-rata 0.96 0.32 – 0.Tabel 6.10 48.95 Tabel 8.50 49.02 46.50 50. produk UBC dan batubara kering oven Contoh Kisaran Batubara raw Produk UBC Batubara kering oven Sumber: Daulay.29 – 0.44 0. Tabel 9. namun waktu (durasi) proses sangat berbeda. Temperatur yang digunakan untuk proses UBC memang mirip dengan temperatur proses pembatubaraan.

Umar. Coal preparation.C. tetapi mirip dengan kenaikan pada batubara kering oven.. Usui.M.. Daulay. Connecticut. Proses UBC tidak berpengaruh terhadap peringkat batubara. 2005. rographic Constituents in the Bituminous Coals of South Africa. International Standard. rasio bahan bakar. 2008.G. 2004. B. TH. The Geological Society of South Africa. T. 1986. Windsor. 2. Gebruder Borntraeger.F. E. S. Rance. D 388 – 99(2004).. and Sugita. no. Pengujian Peningkatan Kualitas Batubara Peringkat Rendah dengan Proses UBC (Upgraded Brown Coal) Skala Pilot... M. Bandung. Taylor. B. D. Chandra. Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara. Pergamon Press. M. Terdapat sedikit kenaikan reflektan vitrinit. Francis. Fossil Power. & Teichmuller.H. Annual Book of ASTM Standard. Inc. 1982. Oxford. Characterization of upgraded brown coal (UBC). Singer. Daulay.5.. Teichmuller.. Anonymous. Ltd. An Introduction to Coal Petrography: Atlas of Pet- 174 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .P.F. DAFTAR PUSTAKA Anonymous. tetapi peringkatnya relatifsama dengan batubara raw. J. Combustion Engineering.. Bandung.. B. Deguchi. W. R. 2005. I. Shell International Petroleum Co. Review Paper No. Fuels and Fuel Technology.. KESIMPULAN Kualitas batubara produk UBC mirip dengan batubara peringkat high volatile bituminous. (Ed. R & D Centre for Mineral and Coal Technology. Daulay.. C. Classification of Coal by Rank.. 2005. Classification of coal. H.. 1991. H.. Combustion. Suganal & Rijwan. Falcon. ISO 11760:2005(E).). Stach. 1975.1. D. vol. 1965. 25... Stach’s Textbook of Coal Petrology. G. Coal Quality Parameters and their Influence in Coal Utilization.. kadar karbon dmmf tetap dan tidak mengalami perubahan yang berarti. Mackowsky. pp. R. 31-45. Petrografphy of Raw Coal and its UBC Product. D.S. Umar. Berlin.. and Snyman.

The aim of this research is to identify of reactivity and activity of iron ore as catalyst on coal liquefaction. hermanu@tekmira. tailing. tailing. maka telah dicoba bijih besi dari Kalimantan Selatan untuk digunakan sebagai katalis. hal ini dibuktikan dari kereaktifannya yakni perolehan produk minyak serta hasil konversi pencairan batubara yang lebih besar pada kondisi proses yang sama. sulfidasi. Freeport Indonesia.id ABSTRAK Katalis dalam pencairan batubara berperan sangat penting untuk dapat meningkatkan konversi batubara menjadi minyak. Metoda yang digunakan adalah dengan melakukan uji sulfidasi untuk mengamati pertumbuhan kristal pirhotit dan mengetahui persentasi produk dan konversi pencairan batubara. Hasil percobaan dibandingkan dengan hasil yang diperoleh dengan menggunakan katalis tailing dari PT.go. ukuran kristal pirhotit ABSTRACT Catalyst in coal liquefaction is very important to increase percentage of coal conversion.Freeport Indonesia. 022 .esdm. Dalam rangka menambah sumber katalis pencairan batubara yang ada di Indonesia.esdm. mineral yang terkandung dalam bahan katalis bijih besi berpengaruh terhadap terbentuknya kristal pirhotit. 022 . perubahan suhu dari 350-450°C cenderung tidak berpengaruh terhadap ukuran kristal pirhotit yang terbentuk dari katalis tailing PT. ukuran kristal pirhotit yang terbentuk dari katalis bijih besi Kalsel lebih kecil daripada katalis tailing PT. Keywords: iron ore.Freeport.FI).id. In order to develop Indonesian catalyst sources for coal liquefaction. The size of crystal pyrrhotite formed from iron ore catalyst is smaller than that from tailing catalyst. FREEPORT INDONESIA SEBAGAI KATALIS PENCAIRAN BATUBARA Nining Sudini Ningrum dan Hermanu Prijono Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jln. Sudirman No. Nining Sudini Ningrum dan Hermanu Prijono 175 . Kunci: bijih besi. the research of iron ore from South Kalimantan as coal liquefaction catalyst has been carried out. The result show that the temperature and mineral mater in iron ore is influential to the size of crystal pyrrhotite but temperature and mineral mater in tailing is not influential to the size of crystal pyrrhotite. 623 Bandung 40211 Telp.6030483 Fax.go. sulfidation. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu berpengaruh terhadap terbentuknya ukuran kristal pirhotit dari katalis bijih besi Kalsel.UJI SULFIDASI BIJIH BESI KALIMANTAN SELATAN DAN TAILING PT.6003373 e-mail : ninings@tekmira.. It is generally recognized that the iron based catalyst is an active phase in coal liquefaction.. crystal pyrrhotite size Uji Sulfidasi Bijih Besi Kalimantan Selatan dan Tailing . The oil yield and percentage of coal conversion increased as compare to that of tailing catalyst. Katalis yang banyak digunakan dalam pencairan batubara adalah katalis yang berbasis besi. Tujuannya adalah untuk mengetahui reaktifitas/aktifitas/efektifitas penggunaan bahan katalis berbasis besi dari bijih besi Kalimantan Selatan. The result of the research will be compared to that of the research using tailing from PT. semakin tinggi suhu maka kristal pirhotit yang terbentuk semakin besar.. Freeport Indonesia (PT. The methodology of the research is sulfidation to observe the crystal growth of pyrrhotite and percentage of coal yield and coal conversion.

persentasi produk dan konversi pencairan batubara secara langsung. ratio atom S/Fe 2 pada suhu 400°C iv) Pelarut + Bijih Besi Kalsel (ukuran -325#) + 176 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Bijih Besi dari Kalimantan Selatan mudah diperoleh dan cadangannya banyak mempunyai kandungan oksida besi yang tinggi. Fe(1-x)S yang merupakan fasa aktif yang sangat berperan dalam proses pencairan batubara. dkk. Katalis memiliki sifat tertentu. terhadap: pertumbuhan pembentukan kristal pirhotit dengan melakukan proses sulfidasi pada suhu 350-425°C. Pada pencairan batubara.. yakni katalis tidak mengubah kesetimbangan dan katalis hanya berpengaruh pada sifat kinetik seperti mekanisme reaksi. ratio atom S/Fe 2 pada suhu 350°C ii) Pelarut + Bijih Besi Kalsel (ukuran -325#) + Sulfur. karena pada kondisi reaksi pencairan berlangsung unsur besi dalam katalis bereaksi dengan sulfur membentuk senyawa pirhotit. 1986). dkk. Dalam proses pencairan batubara. PERCOBAAN 3. Mineral-mineral yang mengandung oksida besi antara lain laterit dari Pulau Sebuku dan limonit dari Soroako berasal dari PT. Pada penelitian ini telah dilakukan pengujian katalis berbasis besi berupa bijih besi. tapi dilakukan tanpa batubara. dan terpenuhi energi aktivasinya. tekanan dan waktu reaksi. katalis mempunyai peran yang sangat penting yakni dapat meningkatkan konversi batubara menjadi minyak. Katalis dapat mengantarkan reaktan melalui jalan baru yang lebih mudah untuk berubah menjadi produk. Penggunaan bijih besi yang relatif murah diharapkan dapat menekan ongkos yang diperlukan untuk pembelian katalis. Pengujian ini dilakukan untuk melihat kinerja pirhotit yang terbentuk dari katalis. dari Kalimantan Selatan. Jalan baru yang dimaksud yaitu jalan yang mempunyai energi aktivasi yang lebih rendah. PENDAHULUAN 2. Katalis juga bersifat spesifik. Ukuran kristal dapat membesar karena adanya aglomerasi antar partikel pirhotit. Seperti disebutkan sebelumnya bahwa semakin besar ukuran kristal pirhotit semakin rendah kereaktifannya yang berakibat rendahnya jumlah batubara yang dapat dicairkan. FI). Disamping itu katalis juga dapat membuat kondisi reaksi menjadi lebih moderat seperti menurunkan suhu. Untuk mengetahui kinerja dari pirhotit ini salah satunya dengan melihat ukuran kristal yang terbentuk. Ukuran kristal pirhotit dapat dihitung dengan formula dari Scherer yang datanya diambil dari uji XRD hasil uji sulfidasi. Suatu bahan katalis memiliki kinerja yang baik untuk pencairan batubara bila ukuran kristal fasa aktif pirhotit tidak lebih dari 40 nm (Kaneko. Pyrrhotite dan Troilite dianggap sesuai sebagai katalis pencairan batubara karena cukup aktif dan berharga murah (Yokoyama. katalis berbasis besi ditambahkan sulfur. Dengan demikian konversi yang dihasilkan tidak akan melebihi konversi kesetimbangan. 1998).1. Uji Sulfidasi Katalis Percobaan uji sulfidasi katalis dilakukan dengan menggunakan beberapa variabel: i) Pelarut + Bijih Besi Kalsel (ukuran -325#) + Sulfur. satu katalis hanya sesuai untuk satu jenis reaksi saja.1. ratio atom S/Fe 2 pada suhu 375°C iii) Pelarut + Bijih Besi Kalsel (ukuran -325#) + Sulfur. Beberapa jenis katalis telah dicoba untuk pencairan batubara tetapi sampai saat ini. 3. Tujuan penelitian untuk mengetahui (reaktifitas/ aktifitas/efektifitas) penggunaan bahan katalis berbasis besi dari bijih besi Kalimantan Selatan dan tailing dari PT. besi sulfida seperti Pyrite. Aktifitas katalis sangat dipengaruhi oleh dispersi katalis yang tergantung pada luas permukaan.. KAJIAN PUSTAKA Suatu reaksi dapat berlangsung bila terjadi kontak yang efektif antar molekul reaktan. International Nikel Indonesia. Pengujian sulfidasi hampir mirip dengan pengujian pencairan batubara. ukuran partikel dan ukuran kristal katalis. Semakin besar ukuran kristal pirhotit semakin rendah kereaktifannya yang berakibat rendahnya jumlah batubara yang dapat dicairkan. Freeport Indonesia (PT. Hasil dari uji sulfidasi dicuci dengan tetrahidrofuran sehingga kristal pirhotit bersih dari pengotor yang kemudian dipisahkan dari pelarut dengan pompa vacuum untuk selanjutnya diuji dengan XRD guna mengetahui kristal pirhotit yang terbentuk. Keberadaan katalis juga dapat meningkatkan jumlah tumbukan antar molekul reaktan. Kedua syarat di atas dapat terakomodasi dengan baik apabila ada katalis.

dan 425°C) ii) Katalis Tailing PT. . ratio atom S/Fe 2 pada suhu 425°C Pelarut + Tailing PT. ratio atom S/Fe 2 pada suhu 375°C vii) Pelarut + Tailing PT. Heksana c. Freeport Indonesia. Bahan baku katalis berbasis besi Peremukan Uji : 1. ratio atom S/Fe 2 pada suhu 350°C vi) Pelarut + Tailing PT.FI (ukuran -325#) + Sulfur.  Kat sbg Fe 3% dari BB 1. soltv = 15 g . 400.1.   saring dengan pompa vacum Ektraksi dengan a. 375°C.2. soltv =  15 g. -325 # Uji Sulfidasi pada   = 0 menit. t =  60 menit. Penambahan Sulfurdg rasio Cuci dengan tetrahidrofuran. 400°C.FI (ukuran -325#) + Sulfur. Tetrahidrofuran % Produk dan % konversi filtrat Kristal pirhotit Uji XRD Uji Sulfidasi Bijih Besi Kalimantan Selatan dan Tailing .  S/F = 2.ukuran ‐325.FI (ukuran -325#) + Sulfur. Uji Katalis untuk Pencairan Batubara 4. Kat sbg  Fe = 3%. Toluena b. dan 425°C). Uji Sulfidasi Variasi percobaan adalah sebagai berikut: i) Katalis Bijih Besi Kalimantan Selatan (suhu 350°C. PH2 = 10 MPa.Sulfur.. PT. 400°C. ratio atom S/Fe 2 pada suhu 400°C viii) Pelarut + Tailing PT.. 375.FI (suhu 350°C. XRD 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil analisis kimia dan XRD bahan baku katalis 4. Analisis Kimia Penggerusan Analisis Ayak 1. 375°C. mesh Variasi suhu= 350.FI (ukuran -325#) + Sulfur. PH2 =  t 10 MPa. Nining Sudini Ningrum dan Hermanu Prijono 177 . 425OC Kondisis pencairan : T = 400 °C. ratio atom S/Fe 2 pada suhu 425°C v) 3.

dan ukurannya meningkat dengan semakin tingginya suhu.90 29.. Suatu bahan katalis memiliki kinerja yang baik untuk pencairan batubara bila ukuran kristal fasa aktif pirhotit kecil. Kalsel Suhu Sulfidasi (°C) 350 375 400 425 λ (A) 1. merupakan acuan kondisi operasi yang diambil dari Kaneko.1. Hal ini disebabkan terjadinya aglomerisasi antar partikel pirihotit pada suhu yang semakin tinggi. konversi komponen besi dari katalis tailing PT.] 0. 4000C.5406 Pos.5406 1.87 FWHM [°2Th. Secara umum ukuran kristal pirhotit bertambah dengan meningkatnya suhu. dan 4250C. Hasil analisis XRD untuk hasil uji sulfidasi.90 29. 3750C. sehingga didapat suhu optimal dimana katalis memiliki aktifitas maksimal. Kalsel.33 0. Dari data yang didapat maka suhu 375ºC merupakan suhu dimana kristal pirhotit memiliki ukuran terkecil sehingga katalis memiliki kereaktifan yang terbaik dalam meningkatkan jumlah batubara yang dicairkan seperti terlihat pula pada Gambar 1. Percobaan sulfidasi ini dilakukan menggunakan autoclave dengan laju pemanasan 5°C/menit pada tekanan awal dari H2 10 MPa dengan penambahan sulfur. Kalsel dengan melihat ukuran kristal yang terbentuk.79 20.19 16. Pengamatan dilakukan untuk mengetahui pengaruh suhu terhadap ukuran kristal fasa aktif pirhotit. Hal ini diperkirakan karena struktur kristal yang masih amorf sehingga bidang kristal pirhotit belum terbentuk dengan sempurna. Pada percobaan sulfidasi ini. Gambar 1. Pengaruh suhu terhadap ukuran pirhotit katalis bijih besi. Hasil analisis XRD untuk hasil uji sulfida katalis Tailing PT. Pada suhu sulfidasi 350ºC. ukuran kristal pirhotit katalis bijih besi Kalsel lebih besar dibanding ukuran kristal yang terbentuk pada suhu 375ºC.33 Ukuran Kristal (nm) 25. Pengamatan pada percobaan ini dilakukan pada suhu 3500C.2 Sulfidisasi katalis tailing PT. ukuran partikel katalis -325#.hkl 200 29. Katalis dari tailing PT.5406 1.1 Sulfidisasi katalis bijih besi Kalimantan Selatan Kondisi operasi sulfidasi katalis dilakukan tanpa batubara pada tekanan 100 MPa dan waktu tinggal operasi mendekati 0 menit (t = 0 menit).19 178 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Percobaan sulfidasi ini dilakukan untuk mengetahui kinerja katalis bijih besi. dan proses sulfidasi dilakukan mendekati kondisi proses pencairan.] Bid.15 25.41 0.5406 1. dan 4250C. Grafik hubungan ukuran kristal pirhotit katalis bijih besi terhadap suhu 4. Pengamatan dilakukan pada suhu 3500C.49 0. rasio atom S/Fe – katalis = 2. dkk. 3750C. Kalsel terjadi pada suhu sulfidasi 375ºC.FI mengandung sulfur yang berasosiasi dengan besi dalam bentuk pirit. 4000C. FI Pada penelitian Ningrum dan Prijono (2009) telah dibahas bahwa penambahan katalis dari tailing PT. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Ningrum dan Prijono (2009) menunjukkan bahwa penambahan katalis berbasis besi berpengaruh terhadap perolehan produk dan persen konversi pencairan batubara.88 29. Kristal pirhotit terkecil yang terbentuk dari katalis bijih besi. sehingga diperoleh suhu optimal dan memiliki aktifitas maksimal. FI dilakukan pada autoclave dengan kondisi operasi sama dengan katalis bijih besi. Pada Tabel 1 di atas terlihat bahwa perubahan suhu berpengaruh pada ukuran kristal pirhotit yang terbentuk. [°2Th. (1998) dan Ningrum dan Prijono (2009) dengan ukuran partikel katalis adalah -325 #.1. FI. Pengamatan dilakukan untuk mengetahui pengaruh suhu terhadap ukuran kristal fasa aktif pirhotit. Tabel 1.FI berpengaruh terhadap perolehan produk dan persen konversi pencairan batubara.4.

FI pada Produk dan Konversi Pengaruh jenis bahan katalis berbasis besi dan ukuran kristal pirhotit yang terbentuk terhadap produk pencairan batubara dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 2. Freeport Dari Tabel 3 terlihat bahwa pencairan batubara yang menggunakan katalis bijih besi. Pengaruh suhu terhadap ukuran kristal pirhotit katalis tailing PT. Penelitian yang dilakukan oleh Kaneko. Kalsel yang memiliki ukuran kristal pirhotit kecil hasilnya lebih Gambar 2. [°2Th. Pengaruh jenis katalis dan ukuran kristal pihotit terhadap jumlah produk dan persen konversi pencairan batubara Ukuran Kristal Pirhotit (nm) 20.Pada Tabel 2 di atas terlihat bahwa perubahan suhu pada katalis tailing PT.FI cenderung tidak terlalu berpengaruh pada ukuran kristal pirhotit yang terbentuk. Freeport terhadap suhu Uji Sulfidasi Bijih Besi Kalimantan Selatan dan Tailing . Dalam Tabel 3 ini diperlihatkan perbandingan produk dan persen konversi hasil pencairan batubara menggunakan katalis bijih besi Kalimantan Selatan dan katalis tailing PT.33 0.87 FWHM [°2Th. Kristal pirhotit yang terbentuk dari pirit lebih besar dari kristal pirhotit yang terbentuk dari katalis besi oksida. Nining Sudini Ningrum dan Hermanu Prijono 179 .FI Suhu Sulfidasi (0C) 350 375 400 425 λ (A) 1.FI.29 0.72 Aspalten 19.19 Tabel 3. dan suhu 4000C. Pengaruh Ukuran Kristal Pirhotit Katalis Bijih Besi Kalsel dan Tailing PT.86 29. sedangkan ukuran kristal pirhotit terbesar pada suhu 4000C. Kalsel dengan ukuran kristal pirhotit yang lebih kecil menghasilkan produk minyak berat yang lebih besar daripada yang menggunakan katalis tailing PT. ukuran partikel katalis -325#. yang dilakukan pada kondisi tekanan awal H210 Mpa perbandingan atom S/Fe = 2.72 Ekstraksi toluen 84.99 29..06 44.FI yang memiliki kristal pirhotit yang besar. Hal ini diperkirakan karena adanya unsur Si yang menghambat kereaktifan katalis sehingga ukuran katalis cenderung sama.19 28..79 25.30 % Konversi Ekstraksi n.14 26. heksan 65.5406 Pos.20 71.02 Jenis Katalis Bijih Besi Kalsel Tailing PT.hkl 200 29. Ukuran kristal pirhotit katalis yang terbentuk cenderung sama dengan ukuran terkecil kristal pirhotit pada suhu sulfidasi 375 0 C.] Bid. Grafik hubungan ukuran kristal pirhotit katalis tailing PT.86 29. Hasil percobaan menunjukkan bahwa konversi dengan n.] 0.15 28. Data pada Tabel 2 menunjukkan bahwa suhu 3750C merupakan suhu dimana kristal pirhotit yang terbentuk memiliki ukuran terkecil sehingga memiliki kereaktifan terbaik dan dapat meningkatkan jumlah batubara yang dicairkan.06 44.79 Produk (%) Minyak Berat 65.5406 1. 4.33 0.2.5406 1.20 25. hexan maupun toluen pada pencairan batubara dengan katalis bijih besi.33 Ukuran Kristal (nm) 25. et.al (1998) juga menunjukkan bahwa kristal pirhotit yang terbentuk dari pirit lebih besar daripada limonit dan goetit.5406 1. Produk aspalten pencairan batubara yang menggunakan katalis tailing PT.FI lebih banyak daripada pencairan dengan katalis bijih besi.

Vol. Shimasaki. FI yang mengandung unsur sulfur dalam bentuk pirit.. Freeport Indonesia dan Waktu Tinggal Reaksi pada Pencairan Batubara. selama proses pencairan ukuran kristal pirhotit akan membesar seiring dengan meningkatnya suhu operasi. K. Pengaruh Fraksi Ukuran Katalis Tailing PT. R. Yokoyama. Satou. Koyama. Maekawa. 12. mineral yang terkandung dalam bahan katalis berpengaruh terhadap terbentuknya kristal pirhotit.. Energy & Fuels. K. Tazawa. T.Freeport hal ini dibuktikan dari kereaktifannya. Kageyama. KESIMPULAN Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: suhu berpengaruh terhadap terbentuknya ukuran kristal pirhotit dari katalis berbasis besi yang merupakan fasa aktif pencairan batubara. luas permukaan kontak kristal pirhotit semakin besar. 180 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . perubahan suhu dari 350-450°C cenderung tidak berpengaruh terhadap ukuran kristal pirhotit yang terbentuk dari katalis tailing PT. 1998. H. sehingga peran katalis lebih efektif. katalis dari bijih besi Kalsel yang terdiri atas hematit ukuran kristal pirhotit yang terbentuk lebih kecil dibandingkan yang berasal dari tailing PT. pp. K.S dan Prijono. Gambar 3. ukuran kristal pirhotit yang terbentuk dari katalis bijih besi Kalsel lebih kecil daripada katalis tailing PT. 164-170.baik dibanding katalis dari tailing PT. Indonesia. Yoshida. 65. 897-904. Semakin tinggi suhu maka kristal pirhotit yang terbentuk semakin besar. Kodaira and Y. 82-96. K. Gambar 4. Fuel. Prosiding Seminar Energi Baru Terbarukan: Peranan Energi Baru Terbarukan Dalam Mengatasi Krisis Energi dan Menghambat Laju Pemanasan Global.FI yang memiliki kristal pirhotit lebih besar. S. 5. FMIPA UNS Surakarta.FI). maka bijih besi Kalsel lebih baik sebagai katalis pencairan batubara daripada tailing PT. Grafik hubungan ukuran kristal pirhotit dan jenis bahan katalis berbasis besi terhadap jumlah produk hasil pencairan batubara DAFTAR PUSTAKA Kaneko. Hal ini disebabkan semakin kecil ukuran kristal pirhotit yang terbentuk. 2009. 1986. Narita. perolehan produk minyak serta hasil konversi pencairan batubara yang lebih besar pada kondisi proses yang sama. H. and Y. N. FI (Gambar 3 dan 4). Grafik hubungan ukuran kristal pirhotit dan jenis bahan katalis besi terhadap persen konversi N Heksan dan Toluen Ningrum. Transformation of Iron Catalyst to the Active Phase in Coal Liquefaction. T. pp. Freeport Indonesia (PT. Dilihat dari jumlah hasil produk dan persen konversi secara keseluruhan. Catalytic Activity of Various Iron Sulphides in Coal Liquefaction. pp.

Cirebon. 227.id dan Datin@tekmira. zat terbang. Cirebon.. Fax. densitas 1. Jawa Barat. karbon padat. West Java. dimulai dengan pembangunan UBC skala pilot kapasitas 5 ton/hari di Palimanan. Kata kunci : karakterisasi. setelah dilakukan proses dan mengetahui kondisi optimum pembriketan pada batubara hasil proses pada UBC skala pilot di Palimanan. sedangkan kadar hidrogen dan oksigen turun.015 – 1. Cirebon.200 cal/gr increased to be >7. Hasil proses UBC yang dilakukan dapat menurunkan kadar air bawaan (inherent moisture) batubara Mulia sebesar 71.200 kal/g.200 kal/g. Karakterisasi dan Optimalisasi Pembriketan pada Batubara .000 kal/g. Ikin Sodikin dan Datin Fatia Umar 181 . Jenderal Sudirman No. Bandung – 40211 Telp. South Kalimantan after process and the optimum conditions of briquetting to coal after process in UBC pilot plant Palimanan. Bahkan batubara yang berasal dari Banko dengan nilai kalori <5. : (022) 6030483. From 7 Indonesian low rank coal samples. Kondisi optimum pembriketan didapat pada kondisi putaran roll 8 rpm dan temperatur 80 .000 cal/gr can be increased to be >6. proses UBC..04 g/cm3 dan kecepatan produk briket UBC yang dihasilkan sebanyak 1. batubara dengan nilai kalori <5.id SARI Penelitian peningkatan kualitas batubara peringkat rendah dengan teknologi Upgraded Brown Coal (UBC) telah dilakukan sejak tahun 2002.200 cal/gr. ext. 000 kal/g dapat ditingkatkan menjadi >6. Dari 7 contoh batubara peringkat rendah yang berasal dari beberapa daerah di Indonesia.go. Cirebon. started with UBC pilot plant construction with a capacity of 5 ton/day in Palimanan.77 kg/cm2. sehingga nilai kalor naik sebesar 26. Kalimantan Selatan.KARAKTERISASI DAN OPTIMALISASI PEMBRIKETAN PADA BATUBARA HASIL PROSES UPGRADED BROWN COAL SKALA PILOT Ikin Sodikin dan Datin Fatia Umar Pusat Penelitian dan Pegembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl.esdm. 623. : (022) 6038027. skala pilot ABSTRACT Research on low rank coal upgrading with Upgraded Brown Coal (UBC) technology has been developed since 2002.5%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan karakteristik batubara Mulia yang berasal dari daerah Satui.110°C. Pada kondisi ini briket UBC yang dihasilkan mempunyai kuat tekan 73 . belerang. e-mail : ikin@tekmira. The aim of this research is to know the changes of Mulia coal characteristics from Satui.go. Sementara kadar abu. meanwhile low rank coal from Banko with calorific value of <5. karbon dan nitrogen mengalami kenaikan.104 kg/ jam.000 cal/gr.esdm.6%. pembriketan. dapat ditingkatkan menjadi >7. the coal with calorific value of <5.

2. Air bebas adalah air yang terikat secara mekanik dengan batubara pada permukaan dalam rekahan atau kapiler yang mempunyai tekanan uap normal. UBC briquettes resulted have a pressure strength of 73-77 kg cm2.000 kal/g. Salah satu di antaranya adalah teknologi Upgraded Brown Coal (UBC) yang merupakan teknologi peningkatan nilai kalor (upgrading) batubara peringkat rendah melalui penurunan kadar air total yang dikembangkan oleh Kobe Steel Ltd. Seperti diketahui. In this condition.. Jawa Barat. sulfur.. batubara peringkat rendah mempunyai kandungan air total cukup tinggi yang menyebabkan nilai kalor menjadi rendah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan karakteristik batubara Mulia yang berasal dari daerah Satui. therefore. yang akan dipakai sebagai acuan untuk pengoperasian proses UBC demonstration plant di Satui. LATAR BELAKANG Kualitas batubara Indonesia pada umumnya didominasi oleh batubara peringkat rendah (lignit dan subbituminus). dkk. 2007). Kalimantan Selatan.000 kal/g dapat ditingkatkan menjadi >6.04 g/cm3 and briquet production capacity of about 1. Salah satu teknologi untuk menurunkan kadar air lembab adalah proses UBC yang merupakan teknologi peningkatan kualitas (upgrading) batubara peringkat rendah 182 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . The optimum condition of briquetting was reached at roll rotation of 8 rpm and temperature of 80-110 °C. and oxygen were deacreased. Australia.200 kal/g dapat ditingkatkan menjadi >7. Air lembab adalah air yang terikat secara fisik pada struktur pori-pori bagian dalam batubara dan mempunyai tekanan uap yang lebih rendah daripada tekanan uap normal. sedangkan penurunan kadar air lembab harus dilakukan dengan cara pemanasan. Hasil kegiatan proses UBC ini digunakan sebagai acuan dalam pembangunan UBC demonstration plant (Umar. pilot plant 1. Dengan demikian diperlukan teknologi khusus untuk menurunkan kadar air.. UBC process. 2009). Pilot plant tersebut telah berhasil dioperasikan dengan baik. 2000). Batubara peringkat rendah ini belum banyak dieksploitasi karena masih mengalami kendala dalam masalah transportasi dan pemanfaatannya. volatile matter. Jawa Barat. di antaranya adalah karena proses berlangsung pada temperatur dan tekanan rendah. setelah dilakukan proses UBC dan mengetahui kondisi optimum pembriketan pada batubara hasil proses UBC skala pilot yang berlokasi di Palimanan. Whilst ash. Kandungan Air Dalam batubara Air yang terkandung dalam batubara terdiri atas air bebas (free moisture) dan air lembab (inherent moisture). Jepang. batubara dengan nilai kalori <5. Kandungan air dalam batubara baik air bebas maupun air lembab merupakan faktor yang merugikan. Kalimantan Selatan. Bahkan batubara yang berasal dari Banko dengan nilai kalori <5.1. density 1. fixed carbon.2. dengan dimulainya pembangunan UBC skala pilot dengan kapasitas 5 ton/hari di Palimanan. Beberapa penelitian dengan maksud tersebut telah banyak dilakukan sejak tahun 1920-an di Amerika Serikat. briquetting. carbon and nitrogen contents were increased. Jepang dan lain-lain (Suwono. Kadar air bebas dapat dikurangi secara efektif dengan cara mekanik. karena memberikan pengaruh yang negatif terhadap biaya transportasi dan proses pembakarannya. Dari 7 contoh batubara peringkat rendah yang berasal dari beberapa daerah di Indonesia.200 kal/g. inherent moisture of Mulia coal can be decreased about 71. yaitu sekitar 60% dari total sumber daya yang jumlahnya 104. Kegiatan penelitian peningkatan kualitas batubara peringkat rendah dengan teknologi UBC ini telah dimulai sejak tahun 2002 oleh Puslitbang tekMIRA bekerjasama dengan Kobe Steel Ltd. Keywords : Characteristics. sehingga nilai kalori batubara tersebut menjadi lebih tinggi. 2000). Keuntungan teknologi ini. Proses UBC Penurunan kadar air dalam batubara dapat dilakukan dengan cara mekanik atau perlakuan panas.6%. KAJIAN TEORITIS 2. maka dalam proses ditambahkan minyak residu untuk melapisi pori-pori pada partikel batubara. hydrogen. Untuk mencegah masuknya kembali air ke dalam batubara. the calorific value increased about 26. Jepang (Shigehisa et al.104 kg/hour.5%. 2.7 milyar ton (Sukhyar. Cirebon.The result of UBC process.015 –1.

Untuk proses UBC sebagai aditif digunakan minyak residu yang merupakan suatu senyawa organik yang beberapa sifat kimianya mempunyai kesamaan dengan batubara.3. air terikat secara fisik dan air yang terjebak dalam struktur pori-pori batubara. penyusutan gas-gas hidrogen dan oksigen kompleks serta aromatisasi. Karena proses pemanasan. Pada reaksi ini terjadi penguapan air.175. yaitu >200°C. dikeringkan dan dibuat briket. Oleh sebab itu. Pengaruh Penambahan Aditif Dalam melakukan pemanasan pada batubara ada 3 daerah pemanasan yang berpengaruh terhadap terjadinya dekomposisi. yaitu pemanasan di bawah temperatur dekomposisi. Perbandingan beberapa teknologi upgrading terhadap UBC dapat dilihat pada Tabel 1. Lapisan minyak ini cukup kuat dan dapat menempel pada waktu yang cukup lama. dengan temperatur sekitar 150°C. Secara termodinamika. Porositas batubara dapat menyebabkan terjadinya difusi keluar uap air. 2..melalui penurunan kadar air total. maka reaksi berlangsung harus pada temperatur di atas 120°C. Kehilangan sejumlah massa bahanbahan penyusun batubara melalui pori-pori. Ikin Sodikin dan Datin Fatia Umar 183 . sedangkan penguapan air bawaan dianalogikan dengan air kristal atau hidroksida dengan reaksi sebagai berikut : M(OH)2 MOn + nH2O Secara termodinamika. Dalam proses UBC. maka terjadi reaksi kimia yang menghasilkan produk gas atau cairan yang banyak berhubungan dengan sistem pori-pori batubara. oleh karena itu diperlukan suatu kondisi pemanasan yang inert. 2002). menyebabkan terjadinya penguapan air bebas. Menurut Tsai (1982). Dengan minyak residu tersebut. sedangkan campuran minyak tanah dan residu digunakan kembali untuk proses selanjutnya. Porositas batubara tersebut menyangkut sistem pori-pori yang dimiliki. CO dan hidrokarbon. air bawaan/terikat secara kimia. Oleh karena itu perlu ditambahkan zat aditif sebagai penutup permukaan batubara seperti kanji. reaksi antara batubara dengan oksigen adalah: C + O2 2C + O2 CO2 2CO G = -394100 .4. Dibandingkan dengan proses upgrading lainnya. proses UBC mempunyai keuntungan. batubara dibuat slurry dengan menggunakan minyak tanah yang dicampur dengan minyak residu kemudian dipanaskan pada temperatur 150°C dan tekanan sekitar 3. Proses UBC. Karakterisasi dan Optimalisasi Pembriketan pada Batubara . Dekomposisi aktif adalah terdekomposisinya mineral organik penyusun batubara menjadi tar dan penguapan air. Dengan kesamaan sifat kimia tersebut. 2. Pemanasan Proses pemanasan batubara sampai temperatur tertentu menyebabkan terjadinya perubahan komposisi struktur batubara. Dengan memanaskan batubara. reaksi ini berlangsung pada berbagai temperatur. sifat fisik yang memegang peranan penting pada proses pemanasan adalah sifat porositas.120°C terjadi reaksi endotermis. Penambahan minyak residu diperlukan untuk menutup pori-pori batubara yang terbuka. Dalam proses UBC.. hidrogen. metana dan zat lain yang mudah menguap dari batubara selama terjadi pemanasan. tetapi perlu aktivasi yang cukup besar. maka pori-pori batubara yang terbuka akan diisi oleh residu dan menutup permukaan batubara sehingga air yang telah keluar tidak akan terserap kembali (Deguchi et al. Penguapan air bebas akan berperilaku sama dengan pengeringan secara umum. terjadi perubahan kimia karena menguapnya air bawaan. tetes tebu (mollase). air yang menguap berupa air bebas. dekomposisi gugus karboksil. sehingga air yang telah keluar tidak akan terserap kembali.8T J/mol G = -223400 .3T J/mol Adanya reaksi seperti di atas pada proses pengeringan batubara tidak dikehendaki. 2000). menyebabkan terjadi kekosongan pori-pori tersebut.5 atm. sehingga batubara dapat disimpan di tempat terbuka untuk jangka waktu yang cukup lama (Shigehisa et al. tar. pengeluaran tar dari batubara belum sempurna. batubara dicampur dengan minyak residu kemudian dipanaskan pada tekanan dan temperatur yang relatif rendah. Komposisi dan sifat produk akhir akan bermacam-macam tergantung pada temperatur pemanasan. pada temperatur 100 . Batubara hasil proses dipisahkan. minyak residu yang masuk ke dalam pori-pori batubara akan kering kemudian bersatu dengan batubara. karena prosesnya dilakukan pada temperatur dan tekanan relatif rendah. slope pekat (fuse oil) dan minyak residu. Pemanasan batubara pada temperatur dekomposisi aktif. CO2. daerah dekomposisi aktif dan pemanasan di atas temperatur dekomposisi.0.

500 -8.200 -9.200 Btu/lb 475-550°C 2-3 MPa Demonstration 1.000 -8.000 . Perkembangan Teknologi Upgrading Batubara di Dunia Teknologi Lokasi Pengembang UBC Palimanan INDONESIA Kobe Steel.500 Btu/lb Demonstration 1.500-11.000 ton/hari plant 2-3 MPa Demonstration 1.000 Btu/lb 350-450°C 8. JAPAN & tekMIRA INDONESIA K-FUEL Wyoming USA KFx Inc.600 Btu/lb 12. emisi SO2 Menurunkan Na.2-0. com (2008) .7 ton/hari Padatan Menurunkan Na 12.800 Btu/lb 450-550°C 230-280°C 3-6 MPa 4-6 MPa 8.3 MPa 8.000 ton/hari plant 3-8 juta ton/th Nilai Kalor Batubara Produk Produk Keterangan Padatan Menurunkan kandungan air Padatan Padatan Komersial sejak 2005 Komersial sejak 1927 di Dalam tahap rencana ke komersial Mengurangi Hg. S dan Cl 7.500 Btu/lb 11.000 Btu/lb 12.000 Btu/lb 270-300°C 8-12 MPa 5. Melbourne (Australia) The University 8. of La PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 Sumber: http// www.000-12.000 ton/hari plant Padatan Mengurangi masalah slagging dan fouling Slurry - Tabel 1.184 Nilai Kalor Batubara Asal Temperatur Tekanan Status Kapasitas 5.000 Btu/lb 150-160°C 0. USA FLEISSNER Voest-Alpnie AG HWD/SD AUSTRIA YUGOSLAVIA Grand Forks (USA).000 of North Dakota Btu/lb SYNCOAL Montana (USA) Rosebud SynCoal Partnership ENCOAL Wyoming (USA) SMC mining SGI Int.000 Btu/lb 10.9.. wikipedia.000 -9.

sehingga air yang telah keluar dari batubara tidak dapat masuk kembali. karbon. belerang dan nitrogen mengalami sedikit kenaikan. KEGIATAN PERCOBAAN 3. Pada kondisi tersebut di atas.05 g/cm3 dan kecepatan produk briket UBC sebanyak 840 kg/jam. yaitu masing-masing 32.42%. Dari hasil ini dapat diketahui bahwa proses UBC efektif menurunkan kadar air total dengan persen penurunan antara 71. Sementara kadar abu.5% residu). Kecepatan pengumpanan cake ke dalam rotary tube dryer 15 Hz.98%.1. 15. Percobaan dilaksanakan 2 kali dengan tujuan untuk mengetahui : Perubahan karakteristik batubara hasil proses pada kondisi optimum.1. Dengan terlapisinya pori-pori batubara tersebut. Briket UBC mempunyai kuat tekan 98 kg/cm2. jumlah batubara yang harus dibakar akan menjadi lebih besar. 10.5% residu) Kecepatan pengumapan slurry ke dalam decanter 350 l/jam Kecepatan pengumpanan cake ke dalam rotary tube dryer 15 Hz.17 dan 20 Temperatur pembriketan: antara 70ºC dan 115°C Kegiatan proses UBC pada skala pilot dimaksudkan untuk mendapatkan data sebagai pendukung operasional UBC demonstration plant.28% dengan kadar abu yang sangat rendah. Percobaan proses UBC 4. 2.. 70% minyak tanah yang mengandung 0. Proses slurry dewatering merupakan salah satu proses utama dari rangkaian proses UBC. Optimalisasi Proses UBC Skala Pilot Dengan kondisi proses UBC yang dianggap optimum pada pilot plant Palimanan Cirebon. Proses pembriketan pada percobaan ini mempunyai unjuk kerja yang sangat baik dibandingkan dengan pembriketan pada percobaan sebelumnya. air bawaan pada run 1 turun menjadi 8. Setelah proses UBC. adalah : Ukuran batubara umpan < 3mm dengan kecepatan pengumpanan 100 kg/jam. Kecepatan pengumapan slurry ke dalam decanter 350 l/jam. Dengan kadar air bawaan yang tinggi dapat mengakibatkan rendahnya nilai kalor. Karakterisasi dan Optimalisasi Pembriketan pada Batubara . Karakteristik Batubara Karakteristik batubara sebelum dan setelah proses UBC skala pilot untuk run 1 dan 2 dapat dilihat pada Tabel 2. Kondisi proses UBC yang dianggap optimum pada pilot plant Palimanan Cirebon. Konsentrasi batubara dalam slurry 30% (30 % batubara. yaitu 0. sehingga nilai kalor naik sebesar 26.2. Pengoperasian pilot plant UBC dilakukan dengan menggunakan batubara dari Satui.8%. Optimalisasi Pembriketan Setelah dilakukan modifikasi di seksi 500 dengan jalan mengganti roll pada mesin briket dengan ukuran cetakan yang lebih kecil (ukuran ini sesuai dengan ukuran cetakan pada mesin briket yang akan digunakan pada UBC demontration plant). Variabel percobaan terdiri atas : Kecepatan roll: 8.5%. proses UBC menurunkan kadar air bawaan (inherent moisture) batubara Satui sebesar 71.. karbon padat. zat terbang. sedangkan kadar hidrogen dan oksigen turun karena turunnya kadar air (H2O). Kalimantan Selatan yang akan dipakai umpan pada UBC demontration plant. densitas 1. sehingga gas CO2 yang dihasilkannya pun akan menjadi besar.32% dan pada run 2 turun menjadi 8. adalah : Ukuran batubara umpan < 3mm dengan kecepatan pengumpanan 100 kg/jam Konsentrasi batubara dalam slurry 30% (30 % batubara.3. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.4 dan 71. Ikin Sodikin dan Datin Fatia Umar 185 . sehingga air yang terkandung di dalam pori-pori batubara teruapkan dan diganti dengan residu melapisi pori-pori tersebut. Pelaksanaan proses UBC : 1. efisiensi pembakaran akan menjadi kecil sehingga untuk mendapatkan jumlah kalor tertentu.6%. 13. 3. di mana batubara dicampur dengan minyak tanah dan residu dipanaskan pada temperatur tertentu dan tekanan tertentu. Optimasi proses pembriketan terhadap batubara hasil proses UBC. 70% minyak tanah yang mengandung 0. 4. Dari Tabel 2 dapat dilihat bahwa kadar air total dan air bawaan batubara asal cukup tinggi. Selanjutnya. maka akan membuat batubara tersebut lebih stabil dan kecenderungan untuk terbakar dengan sendirinya (self combustion) akan berkurang.2.

menjadi abu sisa pembakaran batubara.17 6.73 0.15 Dari Gambar 1 dapat dilihat bahwa dengan turunnya air bawaan. Hasil analisis ultimat seperti pada Gambar 3 memperlihatkan bahwa kadar karbon naik dari 50.69 6. adb RUN 1 RUN 2 BATUBARA ASAL RUN 1 RUN 2 Gambar 1.32 3. Sementara kandungan karbon padat naik karena turunnya kandungan air lembab.873 kal/g menjadi 6. Penurunan oksigen lebih signifikan dibandingkan dengan penurunan kandungan hidrogen.75% menjadi 40.     50 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 AIR BAWAAN ABU ZAT TERBANG KARBON PADAT 8.69 47.2%.51% pada run 2. Analisis proksimat dan ultimat batubara hasil proses UBC dilakukan setelah disimpan sekian lama sampai mencapai kesetimbangan. kenaikan kadar abu ini tidak akan menjadi masalah.75 4. Hal ini dilakukan agar mendekati keadaan sebenarnya.48% pada run 1 dan menjadi 63.44 0. Kandungan hidrogen dan oksigen turun sebagai akibat turunnya kadar air (H 2 O).55 6.59 26. Hasil analisis proksimat sebelum dan sesudah proses UBC 186 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .17% pada run 2. nilai kalor naik dari 4.60 0.873 6. yaitu dari 31.196 62.44% pada run 1 dan menjadi 46.58 46. Dari hasil analisis proksimat seperti pada Gambar 2 memperlihatkan bahwa kenaikan kadar abu kemungkinan besar terjadi karena adanya sisasisa minyak residu yang menempel pada batubara.873 50.000 4.51 5. Kadar nitrogen dan sulfur batubara setelah proses UBC tidak mengalami perubahan yang cukup berarti.9 dan 27.000 2.Tabel 2. Karakteristik Batubara Mulia Sebelum dan Setelah Proses UBC ANALISIS AIR TOTAL PROKSIMAT : AIR BAWAAN ABU ZAT TERBANG KARBON PADAT NILAI KALOR ULTIMAT : KARBON HIDROGEN NITROGEN OKSIGEN SULFUR SATUAN % ar % adb % adb % adb % adb Kal/gr % adb % adb % adb % adb % adb BATUBARAASAL 32.47 0. karena masih <5%.73 0.196 kal/gr pada run 1 dan menjadi 6. karena pada umumnya batubara hasil proses UBC tidak langsung digunakan konsumen tapi disimpan terlebih dahulu sebagai persediaan.135kal/g pada run 2 atau terjadi kenaikan yang cukup signifikan antara 25. Namun demikian.135 %.80 31.49 41.36 0.98 37.135 63.16 RUN2 8. Kenaikan zat terbang ini disebabkan karena masih adanya minyak pada batubara hasil proses UBC yang ikut teruapkan saat pemanasan dan terdeteksi sebagai zat terbang.000 0 BATUBARA ASAL 6.80% menjadi 47.48 6. Pengaruh Proses Terhadap Kenaikan Nilai Kalori Gambar 2.69% menjadi 62.28 29.83% pada run 2.44 40.196 6. Kandungan zat terbang naik secara signifikan dari 37.83 41.55% pada run 1 dan menjadi 41.42 3.07 0.000 kal/gr 4.58 26.17 RUN1 8.

makin rendah kuat Gambar 5.04 g/cm3 dan kecepatan produk briket UBC yang dihasilkan sebanyak 1.3. Ikin Sodikin dan Datin Fatia Umar 187 . Pada kondisi ini briket UBC yang dihasilkan mempunyai kuat tekan 73 . Gambar 4 menunjukkan bahwa kecepatan roll pada temperatur yang sama sangat berpengaruh terhadap kuat tekan briket UBC yang dihasilkan. Variabel percobaan terdiri atas: Kecepatan roll: 8. Sedangkan densitas berfluktuasi tapi tidak cukup berarti. Pengaruh temperatur pembriketan terhadap kuat tekan dan densitas briket UBC pda kecepatan roll yang sama dapat dilihat pada Gambar 5. kecepatan roll optimum adalah pada 10 rpm dengan kuat tekan 73 kg/cm2.  70 60 50 40 30 20 10 0 KARBON HIDROGEN NITROGEN OKSIGEN SULFUR tekan briket yang dihasilkan. Ketika temperatur dinaikkan. Makin tinggi kecepatan roll. Pengaruh kecepatan roll terhadap kuat tekan dan densitas briket Karakterisasi dan Optimalisasi Pembriketan pada Batubara . Proses pembriketan pada percobaan ini mempunyai unjuk kerja yang sangat baik dibandingkan dengan pembriketan pada percobaan sebelumnya. adb BATUBARA ASAL RUN 1 RUN 2 Gambar 3.80 kg/cm2. %. Optimalisasi Pembriketan Setelah dilakukan modifikasi di seksi 500 dengan jalan mengganti roll pada mesin briket dengan ukuran cetakan yang lebih kecil (ukuran ini sesuai dengan ukuran cetakan pada mesin briket yang akan digunakan pada UBC demontration plant). Temperatur optimum dicapai pada temperatur 80ºC dengan kuat tekan 73 kg/cm2 pada run 1 dengan kuat tekan 98 kg/cm2 pada run 2 pada temperatur yang sama. Hasil unjuk kerja pembriketan pada percobaan ini sangat memuaskan.77 kg/cm2.. 13. 10. kuat tekan briket mengalami penurunan baik pada run 1 maupun pada run 2..104 kg/jam. Hasil ini hampir sama dengan hasil pembriketan dengan kondisi yang sama pada percobaan sebelumnya yang dapat menghasilkan briket dengan kuat tekan rata-rata 70 . sedangkan pada run 2 dicapai pada kecepatan roll 8 dengan kuat tekan 98 kg/cm2. 15. sehingga kuat tekan briket yang dihasilkan lebih tinggi.17 dan 20 Temperatur pembriketan: antara 70°C dan 115°C Hasil percobaan pengaruh kecepatan roll terhadap kuat tekan dapat dilihat pada Gambar 4. densitas 1. Pada run 1. Hal ini dapat terjadi karena ukuran cetakan briket batubara lebih kecil dibandingkan dengan ukuran cetakan briket pada percobaan sebelumnya. Hasil analisis ultimat sebelum dan sesudah proses UBC 4. Pengaruh temperatur terhadap kuat tekan dan densitas briket Dari Gambar 5 dapat dilihat bahwa temperatur berpengaruh terhadap kuat tekan dan densitas briket UBC yang dihasilkan pada kecepatan roll yang sama. sehingga data yang dihasilkan akan Gambar 4.015 – 1. Proses pembriketan yang paling baik pada percobaan ini adalah pembriketan dengan kondisi kecepatan roll 8 rpm dan temperatur 80 .1100C.

T.sangat mendukung untuk kepentingan uji coba pada UBC demontration plant di Kecamatan Satui. temperatur 80 . Kalimantan Selatan. K. Vol 21.1100C. International Conference and Exhibition on Clean and Efficient Coal Technology in Power Generation.015 – 1. Coal Science and Technology 2.04 g/cm3 dan kecepatan produk briket UBC yang dihasilkan sebanyak 1.. Laporan Intern Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara. S. Suwono.2. Shigehisa. Indonesia. Seminar dan Workshop “Indonesian Coal Conference” Jakarta. K. 2002. zat terbang. R. A. Elsevier Publishing Company. T. E. E.77 kg/cm2. 2000. wikipedia. www.. Palimanan. Kunrat S. 2007. dan Hamdani. 2000. Makino. T.. Pada kondisi tersebut di atas. KESIMPULAN DAN SARAN UBC. 6. 6. adalah pada kondisi : Ukuran batubara umpan < 3mm dengan kecepatan pengumpanan 100 kg/jam Konsentrasi batubara dalam slurry 30% (30% batubara. 149-159. Persiapan Pembangunan UBC Demonstration Plant. karbon... and Otaka. 1982. Development of UBC Process Paper presented at the International Conference on Fluid and Thermal Energy Conversion. Study on Upgraded Brown Coal Process for Indonesian Low Rank Coals. and Makino.104 kg/jam. Tsai. 188 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . 6. Shimasaki. G. Indonesia. sehingga nilai kalor naik sebesar 26. I. dan Sodikin. belerang dan nitrogen mengalami sedikit kenaikan. densitas 1. 70% minyak tanah yang mengandung 0. sedangkan kadar hidrogen dan oksigen turun karena turunnya kadar air (H2O).. Sementara kadar abu...1. pp. kecepatan roll 8 rpm. Proc. K. Cirebon hendaknya tetap digunakan sebagai sarana penelitian untuk pengembangan proses UBC terhadap batubara lainnya di Indonesia guna mendapatkan teknologi proses yang secara teknis dan ekonomis lebih menguntungkan.5%. Rijwan. Cirebon yang dilakukan pada kajian ini. Setiawan L.. Kesimpulan DAFTAR PUSTAKA Kondisi proses UBC yang dianggap optimum pada pilot plant Palimanan Cirebon. Upgrading The Indonesian’s Low Rank Coal by Superheated Steam Drying with Tar Coating Process and its Application for Preparation of CWM.C. Karena itu.. Kalimantan Selatan. berlaku untuk batubara Mulia yang berasal dari daerah Satui. com (2008). Sedangkan untuk batubara dari daerah lain kondisinya akan berbeda. Shigehisa. Deguchi.. pilot plant Umar D.. kuat tekan 73 . Sumberdaya dan Cadangan Batubara Indonesia. proses UBC menurunkan kadar air bawaan (inherent moisture) batubara Mulia sebesar 71. Hudaya. karbon padat. I. T. 2009. Saran Kondisi proses yang dianggap optimum pada pilot plant UBC. Coal-Tech 2002. Sedangkan untuk proses pembriketan yang paling baik pada percobaan ini adalah pembriketan dengan kondisi. Palimanan..5% residu) Kecepatan pengumapan slurry ke dalam decanter 350 l/jam Kecepatan pengumpanan cake ke dalam rotary tube dryer 15 Hz.6%. Deguchi. Sukhiyar. Y. Fundamental of Coal Beneficiation and Utilization. F. Coal Preparation.

6003373 . BCB. 022 . dampak ekonomi ABSTRACT The needs of coal in the world has been increasing mainly as a fuel of power. 022 .. Results indicate that the economic impact are: increase the utilization of low rank coal. increase government tax revenue of Rp 130-200 billion per year. menciptakan multiplier effect bagi perekonomian daerah dan menciptakan iklim investasi yang baik bagi industri pertambangan dan pengolahannya. BCB. Cadangan batubara Indonesia didominasi oleh batubara peringkat rendah sebesar 59%. Teknologi yang dikembangkan oleh perusahaan Jepang dan Australia adalah teknologi peningkatan kualitas batubara peringkat rendah melalui upaya menghilangkan kandungan air di dalam batubara tersebut untuk meningkatkan nilai kalorinya sehingga pemasarannya akan mudah dan harga jualnya meningkat.id SARI Kebutuhan batubara di dunia semakin meningkat terutama sebagai bahan bakar pembangkit listrik. economic impact Analisis Dampak Ekonomi Teknologi Peningkatan Kualitas Batubara .6030483. Gandhi Kurnia Hudaya 189 .ANALISIS DAMPAK EKONOMI TEKNOLOGI PENINGKATAN KUALITAS BATUBARA PERINGKAT RENDAH DI INDONESIA Gandhi Kurnia Hudaya Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jalan Jenderal Sudirman 623 Bandung 40211 Telp. creat 1.go. Indonesia is one of the largest exporter country in the world. menciptakan lapangan kerja 1. Indonesia adalah salah satu negara pengekspor terbesar di dunia.000 jobs. menambah pendapatan pajak pemerintah sebesar Rp 130-200 milyar pertahun. UBC.esdm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dampak ekonominya adalah : pemanfaatan batubara peringkat rendah yang meningkat.000 orang. Teknologi itu adalah UBC (Upgraded Brown Coal) dan BCB (Binderless Coal Briquetting). Indonesia coal reserve is dominated by low-rank coal as much as 59%. increase the state income of US$ 140-210 million per year. Fax.e-mail : gandhi@tekmira. The technology developed by companies in Japan and Australia is technology to improve the quality of low rank coal through the reducing of water contained in coal so that the caloriefic value of coal increased then the marketing will be easier and selling price will also increase. Kata kunci : batubara peringkat rendah. This study is aimed to understand the economic impact of developing UBC and BCB technologies and the implementation of these technologies includes building commercial plant in Indonesia. UBC. menambah devisa negara sebesar US$ 140-210 juta pertahun. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui dampak ekonomi dari pengembangan teknologi UBC dan BCB serta penerapan teknologi tersebut dengan membangun pabrik komersialnya di Indonesia. creating a multiplier effect for regional economic and create a better investment climate for mining and processing industries. Keywords : low rank coal.. The technologies are UBC (Upgraded Brown Coal) and BCB (Binder less Coal Briquetting).

Kadar air yang tinggi menyebabkan tingginya biaya penanganan dan transportasi yang tinggi serta nilai kalori yang rendah sehingga hingga saat ini penggunaan batubara kalori rendah masih terbatas. Batubara lebih disukai karena untuk menghasilkan listrik sebesar 1 MGW/h dibutuhkan biaya US$ 12. Gambar 1. Penelitian ini bermaksud menganalisis dampak ekonomi bagi pengembangan teknologi UBC dan BCB serta penerapannya melalui pembangunan pabriknya di Indonesia. Hingga saat ini. Batubara kalori rendah Indonesia memiliki keunggulan dibandingkan dengan batubara dari negara lain. TEKNOLOGI UBC DAN BCB Teknologi UBC Teknologi UBC dikembangkan oleh Kobe Steel Ltd. kemudian dipanaskan pada temperatur 1500C – 1600C dengan tekanan 250 kPa – 350 kPa. baik untuk calon investor maupun untuk pemerintah dalam mengambil kebijakan terhadap teknologi yang tergolong teknologi baru.98 (asumsi harga batubara US$ 90/ton) lebih kecil bila dibandingkan dengan minyak yang sebesar US$ 30 (asumsi harga minyak US$ 54/ barrel) dan LNG yang sebesar US$ 20. A. 2008). Teknologi UBC merupakan proses penurunan kadar air bawaan batubara peringkat rendah menjadi menyerupai batubara peringkat tinggi (bituminus) sehingga nilai kalori batubara tersebut meningkat. Batubara peringkat rendah Indonesia pada umumnya mengandung kadar air yang tinggi (20-40%). sebuah perusahaan baja di Jepang. Harganya yang relatif rendah serta ketersediaannya yang masih melimpah merupakan daya tarik bagi industri-industri di dunia yang saat ini banyak sekali dibutuhkan untuk menghasilkan listrik. PENDAHULUAN Batubara adalah salah satu sumber energi yang saat ini menjadi primadona di dunia.esdm. Namun. Kedua pabrik tersebut berlokasi di Kalimantan. sekitar 59% dari cadangan tersebut termasuk batubara peringkat rendah (Ermina Miranti. Produk UBC berupa serbuk dan briket (Gambar 1). potensi batubara Indonesia mencapai ±105 milyar ton dimana ±22 milyar ton diantaranya berupa cadangan (www.47 (asumsi harga LNG $6/Mmbtu) (Ermina Miranti. minyak residu dan minyak tanah. Diagram proses teknologi UBC (sumber : brosur UBC) 190 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .go. Proses ini dilakukan dengan mencampurkan batubara. Pada akhir tahun 2008. yaitu memiliki kadar abu dan sulfur yang rendah sehingga dijadikan target utama untuk pengembangan teknologi tersebut. telah berdiri dua pabrik teknologi peningkatan kualitas batubara kalori rendah di Indonesia yaitu pabrik percontohan UBC (Upgraded Brown Coal) dan pabrik komersial BCB (Binderless Coal Briquetting). 2008). Teknologi peningkatan kualitas batubara kalori rendah merupakan teknologi yang diharapkan dapat menjaga kesinambungan pasokan batubara serta untuk meningkatkan pemanfaatan batubara kalori rendah dengan maksimal.id). Diharapkan hasil analisis ini dapat menjadi salah satu bahan.1. umumnya hanya digunakan untuk pencampuran atau digunakan pada pembangkit listrik mulut tambang. Indonesia adalah salah satu negara pengekspor batubara terbesar di dunia dan memiliki cadangan yang cukup besar. 2.

7 juta ton pertahun.bayan. batubara dimampatkan melalui proses pembriketan (Gambar 3). Pabrik ini telah diresmikan pada bulan April 2009 dan direncanakan akan mulai berproduksi pada akhir semester kedua 2009. Diagram proses teknologi BCB (sumber : ww. Pabrik percontohan UBC (sumber : brosur UBC) B. 2006).whiteenergyco. Biaya konstruksi dan pengoperasian pabrik UBC skala percontohan dari tahun 2007-2010 diperkirakan memakan biaya sebesar US$ 70 juta (Kobelco. Teknologi BCB merupakan proses peningkatan mutu batubara dengan cara menghilangkan kadar air dalam batubara sehingga nilai kalorinya akan meningkat. Teknologi BCB Teknologi BCB dikembangkan oleh White Energy Company. Pabrik UBC skala pilot di Palimanan..000 ton/hari umpan atau ± 600 ton/hari produk dibangun di Satui. Kalimantan Selatan di lokasi tambang batubara PT Arutmin berdasarkan perjanjian kerjasama antara Japan Coal Energy Center (JCOAL). Gambar 2.com.. Nilai kalori batubara dari < 5. Jawa Barat dengan kapasitas 5 ton/hari.sg) Analisis Dampak Ekonomi Teknologi Peningkatan Kualitas Batubara . Kalimantan Timur (Gambar 4). Teknologi BCB mampu membuat batubara dari kalori rendah 4.200-6. Jepang dan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. Indonesia (Gambar 2).Pabrik UBC skala percontohan dengan kapasitas 1.800 kal/g. Gandhi Kurnia Hudaya 191 . telah berhasil dikembangkan dan dioperasikan.com) PT Bayan Resources Tbk (BAYAN) menggandeng White Energy Company membentuk perusahaan patungan PT Kaltim Supacoal (KSC) untuk membangun pabrik modular peningkatan mutu batubara bersih berkapasitas satu juta ton/tahun di tambang Tabang. sebuah perusahaan teknologi coal upgrading yang berpusat di Australia.200 kcal/kg gross as received (GAR) menjadi 6.100 kcal/kg GAR. Pabrik modular peningkatan mutu batubara bersih (sumber : www. Nilai investasi pabrik ini mencapai US$ 68 juta (Koran Investor Daily. Gambar 3.000 kal/g dapat ditingkatkan menjadi 6. Setelah dipanaskan. Pabrik UBC komersial direncanakan berkapasitas sebesar minimal 5000 ton produk per hari atau 1. 27 April 2009). Gambar 4. Proses utamanya adalah menggerus batubara dan kemudian memanaskannya untuk menghilangkan kadar air dalam batubara.

Indonesia adalah negara sasaran utama untuk ujicoba dan pengembangan teknologi tersebut karena keunggulan kualitas dan jumlah batubara peringkat rendahnya.8 juta ton dan memberikan kontribusi kepada pemerintah dalam bentuk pajak sebesar Rp 844 milyar (Rania Rahmundita. akan dihasilkan produk upgraded coal sebanyak 2-3 juta ton pertahun. Untuk perusahaan tambang. Pengolahan data Pengolahan data dilakukan dengan analisis deskripsi dan analisa kuantitatif. 4. dapat menambah produksi batubara sebesar 2-3 juta ton per tahun. Lowongan pekerjaan ini akan terbuka sejak pekerjaan konstruksi pabrik dimulai hingga kemudian beroperasinya pabrikpabrik tersebut. Sebagai perbandingan. Dampak ekonomi penerapan teknologi peningkatan kualitas batubara kalori rendah di Indonesia antara lain adalah sebagai berikut : 1. Menambah devisa negara Indonesia adalah salah satu eksportir batubara terbesar di dunia. perusahaan tambang batubara PT Bukit Asam (PTBA). Sebelumnya. lowongan kerja juga akan terbuka bagi 4. Dengan asumsi harga batubara tahun 2009 sebesar US$ 70 per ton. Perusahaan Kobe Steel dan White Energy berinvestasi dalam riset teknologi peningkatan kualitas batubara kalori rendah agar dapat memiliki patent teknologi yang menguntungkan perusahaan. Setiap pembangunan pabrik UBC dan BCB membutuhkan pasokan batubara wantah diluar produksi batubara saat ini. akan memberikan lowongan pekerjaan yang cukup besar bagi masyarakat Indonesia umumnya dan bagi masyarakat sekitar pabrik pada khususnya. 3. teknologi ini maka keluaran pabrik yang berupa batubara berkalori tinggi akan mudah untuk dijual baik di dalam negeri maupun di luar negeri sehingga memberikan nilai tambah yang lebih besar. Dengan adanya 192 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . 2. Analisa kuantitatif dilakukan terhadap data-data ekonomi yang telah dikumpulkan untuk memberikan gambaran dampak ekonomi dari aplikasi teknologi peningkatan kualitas batubara kalori rendah di Indonesia. Analisis deskripsi dilakukan terhadap data-data yang telah dikumpulkan yang berhubungan dengan teknologi peningkatan kualitas batubara kalori rendah di Indonesia serta data-data lain yang berhubungan. Pada tahun 2009. selain pajak juga ada royalti untuk setiap ton batubara yang diproduksi. Dari perbandingan jumlah penjualan maka dapat diperkirakan bahwa setiap pabrik UBC dan BCB yang dibangun dapat menambah penghasilan negara melalui pajak sekitar Rp 130-Rp 200 milyar per tahun. Untuk setiap pabrik UBC dan BCB yang dibangun. 2009). yaitu mencari referensi dan literatur untuk memperoleh data sekunder mengenai teknologi peningkatan kualitas batubara kalori rendah di Indonesia. batubara kalori rendah kurang dimanfaatkan atau bila diekspor hanya sebagai pencampur (blending) batubara kalori tinggi. pada tahun 2008 menjual batubara sebanyak 12. Selain untuk karyawan pabrik. Menciptakan lapangan pekerjaan Pembangunan pabrik peningkatan kualitas batubara baik teknologi UBC maupun BCB. dari produksi batubara sebanyak 190 juta ton. dimana salah satunya adalah pajak perusahaan. Untuk mengetahui dampaknya bagi Indonesia maka salah satu dampak yang mudah dihitung atau dianalisis secara kuantitatif adalah dampak ekonomi. HASIL DAN PEMBAHASAN Tren pemanfaatan batubara terutama untuk sektor listrik di dunia mendorong banyak pihak untuk dapat terlibat di dalamnya. akan diekspor sebanyak 160 juta ton dan sisanya digunakan untuk kebutuhan dalam negeri. maka devisa negara yang dapat dihasilkan adalah US$ 140210 juta. Meningkatkan penghasilan negara dari pajak perusahaan Pendapatan negara Indonesia didominasi oleh sektor pajak.3. Setiap pendirian 1 buah pabrik komersial UBC dan BCB. Pemanfaatan sumber daya alam Potensi batubara kalori rendah Indonesia sebesar 60 milyar ton (60% dari cadangan total 104 milyar ton) termasuk besar dan dapat lebih ditingkatkan pemanfaatannya. METODE PENELITIAN Pengumpulan data Pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka.

kobelco.id Website PT Bayan www. 5 July 2006.346 pegawai.com. Juni 2009. d) Menciptakan lapangan kerja sebanyak 1.bayan. Menciptakan iklim investasi yang baik bagi investor Keberhasilan proyek peningkatan kualitas batubara dimana proyek ini termasuk proyek besar.000 orang. Coal Mining.whiteenergyco. Company. Website Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral. akan memberikan kesan baik kepada investor lokal maupun luar negeri akan aman dan ramahnya iklim investasi di Indonesia. 5. Perusahaan tambang yang selama ini belum menggarap cadangan batubara peringkat rendah di wilayah kerjanya. 2008.go. Ermina Miranti. Website White Energy www.. Resources (Tbk). CIMB-GK Research. PTBA saat ini mempekerjakan sekitar 3. KESIMPULAN Dampak ekonomi dari pembangunan pabrik teknologi peningkatan kualitas batubara peringkat rendah dengan teknologi UBC dan BCB adalah : a) Pemanfaatan batubara peringkat rendah sebagai sumber daya alam. Menciptakan multiplier effect dari proyek Seandainya pabrik peningkatan kualitas batubara beroperasi dengan kapasitas 2-3 juta ton.. Desember 2008. Jika dibandingkan berdasarkan jumlah penjualan batubara pertahun.jp.com. Gandhi Kurnia Hudaya 193 . 214. Prospek Industri Batubara di Indonesia. www. 5.id. maka pabrik itu akan membutuhkan 4-5 juta ton batubara per tahun. Analisis Dampak Ekonomi Teknologi Peningkatan Kualitas Batubara . terutama bagi perekonomian daerah.peningkatan kapasitas produksi ataupun pembangunan infrastruktur tambang yang baru untuk memasok kebutuhan pabrik tersebut. b) Menambah devisa negara sebesar US$ 140210 juta per tahun.com Kobelco Online. f) Menciptakan iklim investasi yang baik bagi investor.sg.ptba. http://www. transportasi dan perusahaan pendukung lainnya. maka dapat diperkirakan bahwa lowongan kerja baru yang akan tersedia adalah sekitar 1. Hal ini akan membantu program pemerintah dalam mengurangi kemiskinan dan mengurangi pengangguran. Rania Rahmundita.co.esdm.co. Sebagai perbandingan. Selain itu perekonomian di daerah tersebut akan tumbuh untuk memenuhi kebutuhan pabrik-pabrik yang baru seperti perusahaan katering. c) Menambah pendapatan dari pajak sebesar Rp 130-200 milyar per tahun. Diharapkan para investor tersebut akan ikut juga berinvestasi di indonesia. 27 April 2009. e) Menciptakan multiplier effect yang bermanfaat. http:// Investorindonesia. DAFTAR PUSTAKA Brosur UBC. http:// www. Peresmian Pabrik Percontohan UBC di Satui. 6. Januari 2009.000 orang. Investor Daily. Website PT Tambang Batubara Bukit Asam (Tbk). akan mulai memproduksinya untuk memenuhi kebutuhan pabrik peningkatan kualitas batubara tersebut. terutama di sektor pertambangan dan pengolahannya. Economic Review No.

000. Apabila dibandingkan dengan biaya eksternalitas sebesar Rp 403.go.6030483 Fax.000. contingent valuation method 194 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . income person Rp. PROPINSI JAMBI Endang Suryati dan M. dari kegiatan penambangan tersebut.000 sampai dengan 400. Manfaat dari kegiatan penambangan.0000 until 400.000 ton per tahun.000 ton per year.000.. Sudirman 623 Bandung 40211 Telp.go. Jend.000.esdm.—.08% dapat terserap di kegiatan penambangan bijih besi. Mine activities for benefit are local labor 35. Disamping itu manfaat yang diperoleh daerah. Iron ore mine activity is positive impact to arouse for region economic growth.04.000. iron ore mine activity. Keywords: benefit and cost.per bulan/orang. yaitu adanya peluang kerja untuk masyarakat lokal.-.id SARI Produksi penambangan bijih besi di Kabupaten Merangin.000.6003373 e-mail : endangs@tekmira. kegiatan penambangan bijih besi. hal ini dapat dilihat dari penyerapan tenaga kerja lokal sebesar 35. Kata kunci : manfaat dan biaya. direncanakan antara 60.000.290. maka jumlah penghasilan seluruh tenaga kerja lokal per bulan Rp 60.-. berasal dari pajak dan retribusi sebesar Rp jadi total manfaat sebesar Rp 420. So benefit and externalities cost comparative are 1:2. Local labor are total income Rp 60. Kegiatan penambangan bijih besi.290. Contingent Valuation Method use for calculation of benefit and cost.-.500.esdm.-/month. 022 . lutfi@tekmira. Yang berarti manfaat lebih besar dari pada biaya eksternalitas.KAJIAN MANFAAT DAN BIAYA PENAMBANGAN BIJIH BESI DI KABUPATEN MERANGIN. maka perbandingan manfaat dan biaya eksternalitas adalah 1.per month.000.000.000.Externalities cost are Rp 403.500. 022 . Lutfi Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. tax and retribution are Rp 420.000.000.08%. 1. menimbulkan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi daerah. metode valuasi kontingesi ABSTRACT Iron ore production is mine at Merangin regency to plan 60.id. dengan penghasilan rata-rata Rp 1.-.. Untuk menghitung manfaat dan biaya dipergunakan Metode Valuasi Kontingensi (Contingent Valuation Method).

714 jiwa yang terdiri atas 874 jiwa laki-laki dan 840 jiwa perempuan sedangkan yang terkecil terdapat di desa Rantau Alay yaitu sebesar 621 jiwa yang terdiri atas 300 jiwa laki-laki dan 321 jiwa perempuan (Gambar 2).Batang Mesumai. lingkungan wilayah secara langsung menyediakan jasa yang menyumbang pada peningkatan kesejahteraan seperti tersirat pada pembangunan ekonomi. tidak terlepas dari tingginya permintaan akan komuditas bijih besi. Lokasi studi berada di 3 (tiga) desa yaitu desa Pulau Layang dan desa Rantau Alai di wilayah kecamatan Batang Mesumai. Pembangunan ekonomi mengandung arti peningkatan yang berkelanjutan bagi kesejahteraan masyarakat yang diperoleh dari barang-barang dan jasa-jasa konvensional. yang produksinya sering memerlukan sumber daya alam dan sistem alami yang produktif.. kegiatan pertambangan bijih besi termasuk dalam wilayah Kecamatan Bengalon dan Kecamatan Sangkulirang Bangko. tentang nilai manfaat SDA dan lingkungan yang mereka rasakan. METODOLOGI Untuk menghitung kajian manfaat dan biaya. masalah yang penting adalah melaksanakan kegiatan pembangunan sedemikian rupa agar dapat melestarikan produktivitas jangka panjang sistem alami agar pembangunan berkelanjutan dan dapat minimumkan kerusakan kualitas lingkungan. pertumbuhan ekonomi sering diikuti dengan tekanan yang makin berat pada sistem alami dan dampak negatif kualitas lingkungan. Kabupaten Merangin.3 tahun. Hufschmidt. PEMBAHASAN Lokasi Rencana Kegiatan Secara administrasi pemerintah daerah. produksi bijih besi direncanakan mencapai 60. Propinsi Jambi). operasional tambang diperkirakan akan berlangsung sampai 2. Desa Pulau Layang dan Kecamatan Batang Mesumai merupakan desa dan kecamatan yang relative baru sebagai kecamatan definitif. Kependudukan Jumlah penduduk di lokasi studi pada tahun 2007 adalah 3. Lagi pula. Mengingat dampak positif dan negatif yang ditimbulkan cukup penting. serta desa Mentawak Kecamatan Nalo Tantan..090 jiwa Kajian Manfaat dan Biaya Penambangan Bijih Besi . Dampak positif yang timbul biasanya berhubungan dengan pertumbuhan perekonomian daerah. sedang dampak negatifnya adalah biaya kerusakan 2. Jumlah penduduk desa Pulau Layang relatif lebih tinggi yaitu 1. Salah satu lokasi cadangan bijih besi di Indonesia terdapat di desa Pulau Layang. merupakan pemekaran dan Kecamatan. Pembangunan ekonomi baik di negara industri maupun di negara berkembang berdasarkan pada sumber daya alam dan produktivitas sistem alami. Oleh karena itu. Kabupaten Merangin. Propinsi Jambi. di pasar internasional. Lutfi 195 . Berdasarkan studi kelayakan. 1986) Rencana Kegiatan penambangan pasir besi di Kabupaten Merangin. dipergunakan Metode Valuasi Kontingensi ( Contingent Valuation Method). Dixon & Maynard M. Berdasarkan perhitungan cadangan. Propinsi Jambi. 3. Kabupaten Merangin.(John A. lokasi rencana kegiatan juga termasuk dalam Kecamatan Karangan dan Kaubun yang merupakan wilayah pemekaran Kecamatan Sangkulirag. PENDAHULUAN lingkungan akibat penambangan bijih besi. Endang Suryati dan M. Kegiatan eksplorasi bijih besi mendapat dukungan dari pemerintah dalam upaya melakukan diversifikasi produk ekspor guna meningkatkan devisa bagi negara. Kecamatan Batang Mesumai. secara kuantitatif yang mempunyai angkatan kerja produktif terbesar adalah di desa Pulau Layang yaitu 1.1.690 jiwa (Badan Pusat Statistik Kabupaten Merangin. Metode inii merupakan metode valuasi Sumber Daya Alam (SDA) dan lingkungan dengan cara menanyakan langsung kepada masyarakat sekitar.000 ton per tahun. maka diperlukan analisis manfaat dan biaya yang diakibatkan oleh kegiatan penambangan bijih besi. Jumlah angkatan kerja produktif di desa-desa lokasi studi relatif seimbang. Berdasarkan pengamatan lapangan. Pada saat yang sama.( Kumpulan Materi Ekonomi Lingkungan PSLH UGM Yogyakarta).0000 – 400.

Gambaran ini menunjukan bahwa penduduk di wilayah penelitian terdorong untuk membekali Gambar 2. 196 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .21%. Desa Mentawak (63. Hal ini terlihat dari banyaknya anak-anak responden yang mempunyai pendidikan setingkat SLTP dan SLTA. walaupun jarak dari desa-desa ke lokasi sekolah cukup jauh dan angkutan umum terbatas.7%) dan Rantau Alay (46.. yaitu Desa Pulau Layang (79.Gambar 1.3%. Jumlah penduduk di desa-desa sekitar kegiatan penambangan bijih besi (63.2%). sedangkan di desa Rantau Alai 53.6%) dari total penduduk. Peta lokasi Tingkat Pendidikan Kualitas sumberdaya manusia masyarakat di sekitar lokasi rencana kegiatan relatif rendah.2% dan Desa Mentawak sebanyak 12. Pada umumnya penduduk di lokasi studi memiliki tingkat pendidikan tertinggi setingkat SD. Dari uraian terlihat bahwa motivasi orang tua untuk menyekolahkan anak-anaknya ketingkat yang lebih tinggi di wilayah penelitian cukup tinggi. Persentase terbanyak diantara desa-desa lokasi studi yang penduduknya menamatkan pendidikan tertinggi sampai SLTA adalah di Desa Rantau Alai sebesar 19.3%).41% dan desa Mentawak 57. seperti terlihat pada Gambar 3.

10%) menyatakan tidak keberatan terhadap rencana pembangunan pertambangan bijih besi yang akan melewati rumah pemukiman mereka.. disisi lain pembangunan ini juga menimbulkan kekhawatiran di kalangan penduduk. desa jadi lebih ramai serta dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat di desa tersebut. Berdasarkan tiga kriteria responden yang telah disebutkan diatas. pedagang (7. hanya sebagian kecil Kepala Keluarga yang memiliki pekerjaan tambahan. Di desadesa lokasi studi. Pekerjaan tambahan mereka. terutama masih di sektor pertanian seperti buruh tani dan menggarap lahan orang lain yang terdapat di desa mereka. Selain itu juga ada yang menjadi buruh bangunan musiman di kota.pendidikan tinggi kepada anak-anaknya agar dapat memasuki peluang kerja yang lebih baik dibandingkan orang tua mereka. serta proyek tersebut tidak akan merugikan masyarakat. mendorong penduduk untuk mendapatkan pendidikan formal yang lebih baik agar dapat memasuki lapangan pekerjaan tersebut. Gambar 3. Kajian Manfaat dan Biaya Penambangan Bijih Besi . Lutfi 197 . Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 1 dan 2. pembangunan pertambangan bijih besi dianggap oleh penduduk akan memberikan keuntungan kepada mereka. Namun. Gambar 4. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 4. Pada umumnya alasan tidak keberatan adalah karena pertambangan tersebut merupakan program pemerintahan dan untuk kepentingan umum.. mengenai rencana pembangunan pertambangan bijih besi. Pendapat Masyarakat Untuk mengetahui pendapat masyarakat.7% pada umumnya penduduk menghubungkan keuntungan tersebut dengan akan bertambahnya peluang kesempatan kerja. Di desa-desa sekitar lokasi penambangan sebagian besar mengandalkan kehidupannya dari pertanian (petani) yang digeluti oleh 80% penduduk. serta berdagang. Sedangkan penduduk Mentawak relatif lebih kecil yang sudah mengetahui rencana tersebut. pada satu sisi dianggap akan memberikan keuntungan kepada masyarakat sekitarnya. Hadirnya kegiatan pertambangan bijih besi.2%) dan buruh tani (5. Mata pencaharian di desa-desa sekitar kegiatan penambangan bijih besi Selain itu dengan semakin ramainya kawasan Kota Bangka dan sekitarnya.5%). yaitu sebanyak 10% saja. masyarakat diberi pertanyaan/kuesioner mengenai manfaat dan resiko dari kegiatan pertambangan ini. Endang Suryati dan M. Sedangkan responden yang menyatakan keberatan terhadap rencana pertambangan hanya 5%. Dan yang menyatakan memberikan keuntungan dengan adanya penambangan bijih besi ini sebanyak 78. Hasil wawancara dengan responden di lokasi studi memperlihatkan bahwa seluruh responden di Desa Pulau Layang dan Rantau Alai sebanyak 100% sudah mengetahui rencana dari pembanguna pertambangan bijih besi. Berdasarkan kriteria responden di atas. Mata pencaharian di desa-desa sekitar kegiatan penambangan bijih besi Mata Pencaharian Penduduk Mata pencaharian utama kepala keluarga di desadesa lokasi studi adalah di sektor pertanian bidang perkebunan karet dan kelapa sawit. Pada tabel 3 memperlihatkan sebagian besar responden di lokasi studi (80.

pengetahuan responden terhadap rencana pembangunan pertambangan bijih besi Pengetahuan tentang rencana pembangunan Tahu Jml Pulau Layang Rantai Alai Mentawak Sumber : Data Primer.3 2.5 1.Tabel 1. diolah 36 4 0 2 0 2 0 2 8 50 100 198 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .5 5 2.5 1. Sikap responden terhadap rencana pertambangan bijih besi Desa Sikap terhadap rencana pembangunan Pulau Layang Jml % 72 8 0 4 0 4 0 4 4 Rantau Alai Jml 16 0 0 0 1 0 0 1 2 20 % 80 0 0 0 5 0 0 5 10 100 Mentawak Jml 3 0 2 0 0 0 1 1 3 10 % 30 0 20 0 0 0 10 10 30 100 Jumlah Jml 55 4 2 2 1 2 1 4 9 80 % 68. tdk keberatan.3 5 11.krn unt kepentingan umum.5 2. Data Primer.desa jadi rencana penambangan Tidak keberatan. diolah Tidak tahu % 100 100 10 Jml 0 0 8 % 0 0 80 Tidak menjawab Jml 0 0 1 % 0 0 10 Jml 50 20 10 Jumlah % 100 100 100 50 20 1 Tabel 2. diolah Aparat Desa Jml 4 0 0 % 8 0 0 Tim survey Jml 6 2 1 % 12 10 10 Tidak menjawab Jml 38 18 9 % 76 90 10 Total Jml 98 20 10 % 100 100 100 % 4 0 0 50 0 0 Tabel 3. ada peluang usaha Terserah/tidak peduli. Sumber informasi tentang rencana pembangunan pertambangan bijih besi Sumber Informasi tentang rencana pembangunan Desa Pemilik lahan Jml Pulau Layang Rantai Alai Mentawak Sumber : Data Primer.3 100 Ya. rencana penambangan Keberatan/tidak setuju Tidak menjawab Total Sumber . Terserah warga lain Tidak keberatan. tidak keberatan Ya. asal perhatikan warga Tidak keberatan.

5 3.3 2. Keuntungan dari rencana penambangan bijih besi Desa Keterangan Pulau Layang Jml Memberi sumbangan Jml pada kegiatan desa Peluang kerja proyek Jml Desa jadi ramai Peluang kerja & desa jadi ramai Harga tanah & desa jadi ramai Desa jadi ramai transport lancar Ekonomi meningkat Peluang kerja transport lancar Ganti rugi tinggi Tidak tahu Total Sumber : Data Primer.3 100 % 12 40 0 2 0 2 14 4 0 22 6 20 0 1 0 1 7 8 0 11 50 100 pembangunan pertambangan bijih besi dianggap oleh penduduk akan menimbulkan kekhawatiran kepada mereka.5 5 21.7% responden memberikan rasa kekhawatiran dengan adanya rencana penambangan ini. Sebanyak 78.Tabel 4. seperti ditunjuka pada Tabel 6 dibawah ini.8 6..3 1.5 1.. Pada umumnya masyarakat menginginkan bahwa pembangunan dan pengoperasian penambangan bijih besi dapat memberikan peluang usaha baru bagi mereka. Endang Suryati dan M. Dengan adanya pembangunan penanbangan bijih besi di daerah inidiharapkan tidak menimbulkan kerugian bagi penduduk.3 20 100 % 34 2 6 20 2 12 2 22 17 1 3 10 1 6 1 11 50 100 Kajian Manfaat dan Biaya Penambangan Bijih Besi . Kekhawatiran responden terhadap rencana penambangan bijih besi Desa Keterangan Pulau Layang Jml Lahan tani berkurang % Polusi udara Jml kebisingan Sedikit terima tenaga ocal Air sungai terganggu % Pembayaran ganti Jml rugi lambat Jalan jadi rusak Tidak ada kerugian Tidak tahu Total Sumber : Data Primer. Fasilitas jalan dan jembatan Fasilitas pelabuhan untuk pemuatan bijih besi dalam tongkang Fasilitas pembangkit tenaga listrik Tabel 5.5 13.8 1. (Tabel 5). diolah Rantau Alai Jml 1 6 1 0 1 1 4 1 1 4 20 % 5 30 5 0 5 5 20 5 5 20 100 Mentawak Jml 1 6 0 1 0 0 0 0 0 2 10 % 10 60 0 10 0 0 0 0 0 20 100 Jumlah Jml 8 32 1 2 1 2 11 5 1 17 80 % 10 40 1. Lutfi 199 .5 12. diolah Rantau Alai Jml 4 4 1 6 2 1 0 2 20 % 20 20 5 30 10 5 0 10 100 Mentawak Jml 1 5 0 1 0 0 0 3 10 % 10 50 0 10 0 0 0 30 100 Jumlah Jml 22 10 4 17 3 7 1 16 80 % 27.8 8. Sarana dan Prasarana Fasilitas yang diperlukan dalam pengangkutan bijih besi dari lokasi penambangan ke lokasi stockpile sementara dan selanjutnya ke lokasi pengolahan di pelabuhan antara lain .3 21.3 2.

Air sungai tersebut cocok dipakai untuk kegiatan konstruksi dan 200 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . merupakan tempat penimbunan (stockpile) sementara yang dibuat berdampingan dengan tempat penambangan. Lebar jalan adalah 12 m. agar dapat menampung sampai dengan 100. Air yang diperlukan dapat dicukupi dari S.3 5 7. Jalan kabupaten dan provinsi sudah dilapisi aspal. km dari blok penambangan Area 1 dan Area 2. Rapak dan anak S.5 7. Jalan dari tambang ke desa ini masih merupakan jalan tanah yang sebagian kecil sudah dilakukan perkerasan dengan kemiringan maksimum 15°. Bijih besi dari stockpile tambang diangkut dengan dump truck menuju ke tempat pengolahan (coal processing plant/CPP) di lokasi pelabuhan Jambi melewati jalan yang sudah diperkeras berjarak + 15. Luas lokasi penimbunan bijih besi di dekat areal penambangan lebih kurang 12 ha. bengkel dan MCK bagi perumahan/ mess. Rapak yang mengalir di daerah penambangan dengan debit 600 lt/detik pada saat peralihan musim kemarau ke musim hujan. Pada saat kemarau panjang debit aliran agak menyusut sampai 200 liter/detik dan bisa mencapai 2000 liter/detik di musim penghujan. Jenis Sumber Energi/Bahan Bakar Sumber energi berasal dari pembangkit listrik utama dengan daya 2 x 65 MW/jam ditambah dengan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) dan genset prime mover berbahan bakar solar sebesar 2 x 250 KVA.000 ton bijih besi hasil penambangan (ROM).8 7. Listrik Ekonomi meningkat Lebih perhatikan Jml lingkungan Ganti rugi lancar Sungai tidak tercemar Jalan desa diperbaiki Setelah ditambang Jml dijadikan pertanian Tidak tahu Total Sumber : Data Primer.5 100 % 48 8 4 4 4 16 0 6 10 24 4 2 2 2 8 0 3 5 50 100 Fasilitas pasokan air bersih Bangunan pendukung operasi tambang Bangunan khusus bahan peledak Fasilitas penanganan dan penyimpanan bahan bakar Fasilitas penanganan limbah Bijih besi hasil penambangan (ROM) diangkut dengan dump truck menuju lokasi mesin pemecah bijih besi (crushing plant) di stockpile tambang yang lokasinya berjarak 37 km.5 8. Debit dan Sumber Air Kebutuhan air dalam kegiatan penambangan terutama digunakan untuk penyemprotan daerah berdebu. Jalur jalan pengangkutan darat dari lokasi tambang ke pelabuhan menggunakan jalan desa. jalan kabupaten dan jalan provinsi yang juga dimanfaatkan oleh penduduk setempat sebagai akses transportasi darat.3 1.Tabel 6. pencucian peralatan angkut dan muat bijih besi. Kapasitas tampung stockpile di pelabuhan adalah 100 ton bijih besi ROM. diolah Rantau Alai Jml 6 2 4 1 5 1 1 0 0 20 % 30 10 20 5 25 5 5 0 0 100 Mentawak Jml 5 0 0 3 0 0 0 1 1 10 % 50 0 0 30 0 0 0 10 10 100 Jumlah Jml 35 6 6 6 7 9 1 4 6 80 % 43. dengan tinggi penimbunan maksimal 5 (lima) meter sehingga dibutuhkan areal penimbunan seluas + 104 Ha.5 7. dan coal preparation plant. dengan saluran air akan dibuat di kedua sisinya. Harapan responden berdasarkan posisi rumah/lahan terhadap rencana penambangan bijih besi Desa Keterangan Pulau Layang Jml Kampung TK lokal Jml lebih banyak Bantuan fas.8 11. selain dipakai oleh beberapa perusahaan perkebunan yang saat ini beroperasi di daerah sekitar rencana kegiatan.

Perencanaan Supervisor Perencanaan Tambang Lanjutan Supervisor pengembangan Staff ( Mining eng ) Staf ( Geologist ) Staff ( surveyor) Staff ( operator komputer) Staf ( juru gambar) Helper Sub-Total Kadiv. di sebelah utara juga terdapat lahan perkebunan kelapa sawit milik PT. Kegiatan lain di sekitar daerah rencana penambangan bijih besi adalah : a. Sawit Prima Nusantara dan PT. Telen. Peluang Kerja Pada tahap operasi klasifikasi tenaga kerja yang dibutuhkan. Lahan Hutan Tanaman Industri Di sebelah selatan rencana kegiatan penambangan bijih besi terdapat hutan produksi kayu milik perusahaan pemegang HPH PT. Lutfi 201 .industri. Gawi Mulya. Tabel 7. Sangkulirang. Rashua Indochem. Manfaat yang diperoleh bagi Daerah dan Masyarakat Kesempatan Kerja Pendapatan Daerah Peluang Usaha Kerusakan/kerugian : Gangguan kesehatan karena debu dari transportasi pengangkut bijih besi Menurunnya sumber air Manfaat kegiatan pertambangan bijih besi 1. dapat dilihat pada tabel 7. b. sedangkan di sebelah timur HPH milik PT.. PT. c. Klasifikasi dan jumlah tenaga kerja Pekerjaan General Manager Manajer Tambang Sekretaris Sub-Total Kadiv. PT. Operasional Tambang Supervisor penambangan Supervisor pengangkutan Supervisor Pemetaan Supervisor Perawatan Staf (Pengawasan Tambang) Staf Pengawas Transportasi Staff (Surveyor) Staff perawatan S1 Tambang S1 Tambang S1 Tambang D3 Geodesi STM /D3 dan Training S1 Tambang STM Tambang /teknik STM Tambang/ geodesi STM /SLTA dan Training >8 th >3 th >8 th >3 th >3 th >3 th >3 th >3 th >3 th Pendidikan Sarjana Tambang Sarjana Tambang D-3 Sekretaris S1 Tambang S1 Tambang S1 Geologi S1 Tambang S1 Geologi D3 Geodesi SLTA + Kursus STM + Training Pengalaman >15 th >10 th >3 th >8 th >5 th >8th > 3 th >3 th >3 th >3 th >2 th Jumlah 1 1 1 3 1 1 1 1 1 1 1 2 8 17 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Kajian Manfaat dan Biaya Penambangan Bijih Besi . Georgia Pacific. Endang Suryati dan M. SP VI Mata Air dan SP VII Bukit Permata. bahkan bila disaring. Segara Timber. Perkebunan kelapa sawit Di sebelah timur terdapat perkebunan kelapa sawit PT. diendapkan dan disterilisasi dapat dipakai sebagai bahan air minum. Gempu dan PT. Meranti Mitra Persada. PT. Bunta Samba. Telen dan PT. Permukiman penduduk Di sebelah timur terdapat permukiman SP I Bumi Etam. Di lokasi rencana kegiatan pertambangan bijih besi tidak terdapat kegiatan sejenis yang berbatasan langsung dengan daerah rencana penambangan bijih besi.. Kegiatan Lain di Sekitar Lokasi Rencana Kegiatan Daerah rencana tambang semula merupakan areal HPH dari beberapa perusahaan kayu yaitu PT. SP II Bumi Rapak.

000.. maka total pendapatan yang diterima masyarakat sekitar sebesar 40 orang x Rp 1. & Keuangan Kepala Personalia dan Umum Kepala Keuangan Kepala pemasaran Kepala Keamanan Kepala Logistik/Gudang Pengawas Camp Kepala Humas Staf/Pembantu Umum Staf/Pembantu LogistikLanjutan Staf Pembantu Keuangan Operator Komputer/Juru tik Petugas Satpam Juru Masak Supir Helper Sub-Total Kadiv.500.Tabel 7.juta = Rp 60.000.000.. maka penduduk sekitar yang dapat direkrut adalah lulusan sekolah menengah atas atau sekolah kejuruan... dan semuanya dapat diambil dari penduduk setempat. CPP Supervisor processing Supervisor quality control Staf CPP Operator genset Opertor cpp Helper Sub-Total Kadiv Admini.- 202 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Lanjutan . Dengan gaji sebesar Rp 1. Jumlah yg diperlukan 40 orang.000. Lingkungan – K3 Kepala Lingkungan Kepala K3 Staff lingkungan Staff K-3 Staff Comdev Helper Sub-Total Total S1 S1 S1 SLTA/D3 SLTA/D3 SLTA/D3 >5th >3th >3th >3th >3th >3th S1 Ekonomi/Manajemen S1 Hukum D3 Akuntansi S1 Ekonomi/Manajemen D-3 Purnawirawan TNI D-3 Ekonomi/Manajemen SLTA D3 SLTA SLTA +Training SLTA SLTA SLTP Keatas SD Keatas SLTA >5 th >3 th >3 th >3 th >3 th >3 th >5 th >3th >3 th >3 th >3 th >3 th >3 th >3 th >3 th S1 Mesin S1/D3 teknik S1/D3 kimia STM /SLTA/D3 STM Listrik + Training STM Mesin + Training >8 th >5 th >5 th >5 th >3 th >3 th Pendidikan STM /SLTA SLTA + Training Pengalaman >3 th >3 th Jumlah 1 2 9 21 1 1 1 2 2 2 5 14 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 4 3 4 9 33 1 1 1 2 3 2 5 15 103 Jika dilihat dari tabel diatas. dan jumlah penduduk menurut pendidikannya. Pekerjaan Staff ( pengawas O/B) Operator Pompa Helper Sub-Total Kadiv..500.

Com.070. Gajah Mada University Press. 2008 John A.000. maka dampak dari kegiatan penambangan batubara untuk pertumbuhan perekonomian daerah bersifat positif.- 4.420.215.000. Teknik Penilaian Ekonomi Terhadap Lingkungan. perlu dilakukan upaya pengelolaan.000. Kabupaten Merangin Dalam Angka 2007 Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gajah Mada. Jumlah penduduk usia produktif setempat yang dapat direkrut di kegiatan penambangan bijih besi sekitar 35.120. 4.290.240 hr x Rp 5.000..000. Kumpulan Materi Ekonomi Lingkungan.000. 2007. Adanya peningkatan pendapatan masyarakat dan peningkatan pendapatan daerah yang berasal dari pajak-pajak.2. bila dibandingkan dengan biaya eksternalitas. dengan selisih Rp 16. Saran Untuk memaksimalkan dampak positif. Manfaat dari kegiatan penambangan bijih besi bagi penduduk sekitar lebih besar. Sedangkan untuk meminimalkan dampak negatif.Manfaat kegiatan pertambangan bijih besi no 1 2 3.60.000.000. Dixon. Kesimpulan Dari pembahasan diatas.08 %. terutama yang menyangkut masalah hajat masyarakat pada umumnya seperti keperluan air bersih. terutama dalam peningkatan pendapatan masyarakat dan daerah.Hilangnya pohon 1434 ph x Rp 150. Prof. DAFTAR PUSTAKA Badan Pusat Statistik.000. Penterjemah.000. dengan demikian kegiatan penambangan bijih besi sangat berperan dalam meningkatkan pendapatan penduduk sekitar. KESIMPULAN DAN SARAN 4.000.- Dari hasil perhitungan diatas. perlu di lakukan upaya pengelolaan. dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Endang Suryati dan M.000. Sukanto Reksohadiprojo.000. Dr. M.1993. 3.177.000.300. Lutfi 203 . dapat disimpulkan manfaat lebih besar dari biaya eksternalitas.000 x 50 Jumlah (Rp) 60. Komponen Peluang kerja Retribusi Pajak dll Total manfaat Biaya eksternalitas no 1 2 3 Total Komponen Biaya Jumlah (Rp) 11.- Kesehatan 12 x Rp 5. Kajian Manfaat dan Biaya Penambangan Bijih Besi .403. 2.000.1.100.penerimaan 40 org a Rp 1..710.500.000 x 185 Persediaan air bersih 300 hr x 738 x Rp 800.

Hidrotreating dilakukan terhadap fraksi solar ringan 180-300°C dengan katalis NiMo/Al2O3 tersebut pada alat autoclave pada tiga kondisi perbandingan hidrogen dan umpan. sulfur (S) dari 0.MINYAK SINTETIK DARI PENCAIRAN BATUBARA DAN PENINGKATAN MUTUNYA SEBAGAI BAHAN BAKAR Muh Kurniawan1.go. Nining Sudini Ningrum2 1) Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi (LEMIGAS) Jl.079 % menjadi 0. luas permukaan 109. Jakarta Selatan 12230 Telp.3 % menjadi 80.58 % menjadi 0.82 %. Perolehan distilasi menunjukkan minyak sintetik ini lebih tepat diarahkan untuk menjadi solar berkadar sekitar 65 % berat.016 %. Untuk itu penelitian ini akan dilanjutkan dengan mengoptimalkan kondisi operasi hidrotreating dan komposisi katalisnya.6030483 Fax. kadar karbon dari 87. Batubara cair (synthetic crude) yang dihasilkan tersebut mirip dengan minyak bumi yang masih perlu diolah dan ditingkatkan mutunya agar memenuhi syarat sebagai bahan bakar minyak.35 m2/ g.7222583 Fax. Kata kunci : minyak sintetik. serta meningkatkan mutunya agar dapat memenuhi kriteria sebagai bahan bakar setara dengan bahan bakar dari minyak bumi. kadar nitrogen dari 0. volume pori 0. Leni Herlina1.2675mL/g.42. serta tergolong sebagai naftenik-naftenik menurut klasifikasi US Bureau of Mines.esdm. Dalam penelitian ini telah dipreparasi katalis monofungsional Ni-Mo/Al2O3 dengan konsentrasi Ni dan Mo masing-masing 3 dan 12%. Minyak sintetik merupakan minyak yang berat dan termasuk klasifikasi aromatik menurut kriteria UOP (Nelson. Cipulir-Kebayoran Lama.7226011 2) Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. Kondisi HDT-3 yang perbandingan hidrogen terhadap umpan paling besar memberikan hasil yang paling baik yaitu penurunan spesific gravity dari 0. 022 . peningkatan mutu. Ciledug Raya Kav 109. Sudirman 623 Bandung 40211 Telp. Watson dan Murphy). serta kenaikan rasio molar hidrogen/karbon (H/C) dari 1. Jend.17 %. Produk hidrotreating fraksi solar minyak sintetik tersebut mempunyai rasio hidrogen/karbon yang diperoleh tersebut masih belum mendekati rasio hidrogen/karbon solar dari minyak bumi yaitu sebesar 1.6003373 e-mail : ninings@tekmira. 022 .9247. dan kadar sulfur setelah presulfiding 6 %-wt. 021 . Novie Ardhyarini1. 021 .id SARI Teknologi pencairan batubara telah dikembangkan oleh Puslitbang Tekmira.30 menjadi 1. hidrotreating 204 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .75. Tujuan penelitian ini adalah adalah mengkarakterisasi minyak hasil pencairan batubara.9664 menjadi 0.

Karakterisasi fraksi batubara cair.016 %. proses fraksinasi. hydro-treating 1.82 %.9247.2005).2675mL/g. classified as aromatic oil according to UOP ((Nelson. Untuk itu. PERCOBAAN Karakterisasi sifat-sifat fisika batubara cair (synthetic crude) dilakukan menurut metode yang lazim dilakukan untuk minyak bumi.079 % to 0. Watson dan Murphy). Keywords: synthetic crude oil. Untuk pengujian spesific gravity dilakukan dengan metode IP 189-190. 2.30 to 1.ABSTRACT Coal liquefaction technology have been developed by Puslitbang Tekmira. surface area of 109. this synthetic crude is suitable to produce gasoil. 205 . sulphur content from 0.. carbon content from 87. that is necessary to be refined and upgraded to meet fuel specification. The synthetic crude is a heavy oil. Minyak Sintetik dari Pencairan Batubara dan Peningkatan Mutunya . dkk. pore volume of 0.42. Pada distilasi ini juga dilakukan pemotongan fraksi pada rentang temperatur 250-275°C dan 391419°C. 2005). and sulfur content of 6 %-wt (after presulfiding). untuk pengujian titik nyala digunakan metode PMCC ASTM D-93.35 m2/g.58 % to 0. For this reason. nitrogen content from 0.. preparasi katalis Ni-Mo/Al2O3 dan penelitian hidrotreating terhadap fraksi solar dari batubara cair tersebut.75. Tujuan penelitian ini adalah mengkarakterisasi cairan hasil pencairan batubara. Proses pencairan dinilai sesuai untuk meningkatkan nilai tambah batubara Indonesia yang sebagian besar bermutu rendah. serta meningkatkan mutunya agar dapat memenuhi kriteria sebagai bahan bakar setara dengan bahan bakar cair dari minyak bumi. Hydro-treating experiment is conducted on light gasoil fraction (180-300°C) by using autoclave reactor and Ni-Mo/Al2O3 catalyst.17 %. untuk viskositas kinematis digunakan metode ASTM D-445. Batubara cair (synthetic crude) yang dihasilkan identik dengan minyak bumi sehingga masih perlu diolah dan ditingkatkan mutunya agar memenuhi persyaratan sebagai bahan bakar minyak. PENDAHULUAN Keterbatasan cadangan minyak bumi mendorong berbagai upaya untuk menemukan energi alternatif. this experiment will be followed up by optimizing the operating conditions of hydro-treating and the catalyst composition. Sehubungan dengan cadangan batubara nasional cukup besar maka pencairan batubara secara langsung merupakan salah satu peluang yang dapat menggantikan peranan minyak bumi sebagai bahan bakar cair untuk mesin transportasi dan industri. resulting a liquefied coal or synthetic crude oil. and classified as naphthenic-naphthenic according to US Bureau of Mines (Lane-Garton). and increasing of hidrogen/karbon (H/C) molar ratio from 1. The hydrogen/carbon (H/C) ratio of this hydro-treated gasoil is still lower than that of petroleum gasoil. The purpose of this work is charaterizing synthetic crude and upgrading its quality to meet fuel criteria equivalent to conventional petroleum fuel. It is observed from the decreasing of spesific gravity from 0. which is 1. Muh Kurniawan. The catalyst is a mono-functional Ni-Mo/Al2O3 catalyst having Ni and Mo concentration of 3 and 12%wt respectively. quality upgraded. Temperatur ini setara dengan rentang temperatur pada distilasi hempel yang digunakan untuk pengklasifikasian hidrokarbon menurut LaneGarton(Riazi.The experiment is conducted in three different conditions of hydrogen to feed ratio. dan pengujian Reid Vapor Pressure (RVP) dengan ASTM D-323(ASTM. Peningkatan mutu batubara cair tersebut dengan proses hidrotreating diteliti oleh PPPTMGB ”Lemigas”. Penelitian pencairan batubara telah dikembangkan oleh PPP-Tekmira Bandung. preparasi katalis Ni-Mo/Al2O3 dan penelitian hidrotreating fraksi batubara cair akan disajikan pada makalah ini.9664 to 0.3 % to 80. HDT-3 condition with largest H2/feed ratio gave the best result. The synthetic crude is similar to petroleum crude oil. Having 65%wt of distillation yield at 180-350°C. dalam penelitian ini dilakukan karakterisasi batubara cair. Proses fraksinasi dilakukan dengan distilasi True Boiling Point (TBP) menurut metode ASTM D2892.

Produk reaksi hidrotreating fraksi (180-3000C) minyak sintetik kemudian dikarakterisasi sifat fisikanya antara lain spesific gravity dan viskositas kinematik.4 menempatkan minyak sintetik ke dalam klasifikasi aromatik menurut kriteria UOP (Nelson. Sementara itu. termasuk kategori minyak berat dalam klasifikasi yang lazim diterapkan dalam minyak bumi konvensional. HASIL DAN DISKUSI 3. Dua sifat penguapan yaitu Reid Vapor Pressure (RVP) sebesar 0 psi dan flash point di atas 100°C menunjukkan bahwa kadar fraksi ringan dalam batubara cair ini sedikit. Tabel 1. disajikan pada Tabel 1. 2004). (Gambar 1). 2005). Hydrogen. Minyak sintetik ini mempunyai spesific gravity (SG) 1.04 dan °API 4. Komposisi kimia ditentukan dengan alat CHNS-O Analyzer (Carbon. Gambar 1. Nitrogen. dan tekanan awal juga tetap untuk ketiga kondisi. ketiga kondisi operasi 206 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Sulfur-Oxygen Analyzer) (Bhattacharryya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa minyak hasil pencairan batubara ini mengandung banyak senyawa aromatik (Riazi. Komposisi katalis hidrotreating adalah kadar nikel dan molibdenum masing-masing sebesar 3 dan 12 % berat.6. Reaktor yang digunakan adalah autoclave bervolume 500mL yang juga akan dipakai untuk penelitian hidrotreating. Proses hidrotreating dilakukan terhadap fraksi 180300°C dari minyak sintetik dengan katalis monofungsional Ni-Mo/Al 2 O 3 yang telah dipresulfiding. Secara keseluruhan. Viskositas kinematik minyak sintetik ini berkisar pada 5 cSt dan pour point-nya di bawah nol celsius sehingga tidak memerlukan perlakuan khusus pada suhu ruang. Nilai K-UOP sebasar 9. Suhu operasi presulfiding adalah 300°C selama 200 menit dengan tekanan awal gas hidrogen 40 bar. Hasil ini terlihat juga pada kurva distilasi TBP dalam Gambar 2. Kondisi operasi hidrotreating Parameter Umpan Katalis Tekanan Suhu Waktu Vol. Setelah impregnasi dilanjutkan dengan kalsinasi pada suhu 400°C selama 4 jam. Karakteristik Batubara cair Hasil karakterisasi batubara cair dapat dilihat pada Tabel 2.1. Adapun perbandingan katalis terhadap umpan dibuat tetap sebesar 10% berat. Reaktor yang digunakan adalah autoclave dengan kapasitas 500 mL. waktu reaksi. hasil pengukuran °API pada fraksi distilat 250-275°C dan 391-419C menggolongkan karakteristik minyak sintetik ini sebagai NaftenikNaftenik menurut Lane-Garton. Sebanyak 40 gram katalis disulfurisasi dengan 18. H2 Satuan mL gr Bar oC Menit mL HDT-1 HDT-2 HDT-3 250 25 40 390 80 250 100 10 40 390 80 400 50 5 40 390 80 450 3. Suhu. Sistem pengadukan adalah horizontal shaking dengan kecepatan 37-150 rpm dan jarak pengadukan 100mm.5 gram dimetil disulfida dengan pelarut solar komersial sebanyak 200mL.Katalis hidrotreating monofungsional Ni-Mo/Al2O3 dipreparasi dengan mengimpregnasi support alumina (Al2O3) dengan inti logam nikel dari garam nitrat dan logam molibdenum dari amonium molibdat. Autoclave Pada penelitian ini dilakukan tiga kondisi operasi hidrotreating dengan memvariasikan perbandingan jumlah umpan dengan gas hidrogen. serta kadar sulfur 6 % berat dari presulfiding(Kokayeff. Watson dan Murphy). 2005).

dengan menyisakan residu sekitar 4% berat. dan HDT-3 Ketiga produk hidrotreating tersebut menunjukkan perubahan warna dibandingkan dengan umpannya. Kurva distilasi TBP batubara Cair Kurva ini memberikan gambaran titik didih awal (IBP) yang relatif tinggi yaitu di atas 150°C. HDT-2 dan HDT-3 berturut-turut memiliki rasio H2 terhadap umpan semakin besar.Mo Luas Permukaan Volume Pori Kadar Sulfur Satuan %-wt %-wt m2/g mL/g %-wt Nilai 3. HDT-2. Proses Hidrotreating Proses hidrotreating dilakukan pada tiga kondisi sebagaimana ditampilkan pada Tabel 1..796 3. dengan perolehan sekitar 65% dari total minyak sintetik.3 0.1982). 207 . Secara visual.5% berat.4 NaftenikNaftenik Karakteristik katalis hidrotreating yang telah dipreparasi secara laboratorium.0 9. Karakteristik Katalis Hidrotreating Parameter Konsentrasi : . minyak sintetik tersebut cukup baik diarahkan untuk pembuatan gasoil.0 12.354 -20 105 0.268 5.2. yaitu warna produk menjadi lebih terang. luas permukaan.040 4. Gambar 2.. volume pori. Karakteristik batubara cair Parameter Spesific Gravity 60/60°F °API Viskositas Kinematik @ 100°F @ 140°F Titik Tuang Flash Point PMCC Reid Vapor Pressure K-UOP Karakteristik Lane-Garton Satuan — — cSt °C °C Psi — — Nilai 1. dan kadar sulfur katalis mendekati karakteristik katalis hidrotreating komersial (Tabel 3) (Bhattacharryya. Fraksi berat di atas 350°C hingga titik didih akhir pada 520°C diperoleh sekitar 30% berat. dkk.513 4. hasil percobaan hidrotreating dengan ketiga kondisi dapat dilihat pada Gambar 3. Umpan HDT-1 HDT-2 HDT-3 Gambar 3. maka dilakukan penelitian untuk peningkatan mutunyadengan proses hidrotreating. Berdasarkan kurva distilasi TBP. yang menunjukkan perolehan fraksi solar yang paling besar yaitu sekitar 65% berat.0 109. Sampai dengan suhu 180°C. Kurva kemudian terlihat mendatar pada rentang 250 sampai 350°C. Umpan dan produk percobaan hidrtrotreating dengan kondisi HDT-1. Dari ketiga kondisi tersebut. Minyak Sintetik dari Pencairan Batubara dan Peningkatan Mutunya . Tabel 3. di mana kondisi HDT-3 memberikan hasil yang paling baik (Tabel 4) (Armstrong. yaitu HDT-1. 2005). Muh Kurniawan. yaitu konsentrasi Ni-Mo.Tabel 2. Sehubungan dengan fraksi solar (180-300°C) yang diperoleh ini berkadar aromatik tinggi. fraksi yang diperoleh hanya sekitar 0.6 5.Ni .

9664 menjadi 0..82 208 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . M.42 1.53 9. (2004).079 %berat menjadi 0.30 menjadi 1. Werner Doehler and Ulrich Graeser.Tabel 4.3 % menjadi 80. Hydro-treating coal-derived liquid distillation fractions. vol.9664 87.17 %berat sulfur (S) dari 0. 1051-1057. 1982 dan Jankowski. 2005 Armstrong P. Derbyshire. 8. 1. by diff. kadar karbon (C) dari 87. maka proses hidrotreating fraksi 180-300°C tersebut masih perlu ditingkatkan kondisi operasinya dengan pengoptimalan komposisi katalis. Anup K.9574 84. kadar nitrogen dari 0.42 Hasil penelitian proses penghidromurnian fraksi 180 – 300oC dari minyak sintetik dengan bantuan katalis Ni-Mo/Al2O3 dengan kadar sulfur 6. New characterization techniques for coal-derived liquids. ASTM. Hasil percobaan hidrotreating terhadap fraksi solar ringan 180-300C menunjukkan perbaikan karakteristik produk solar tersebut. Untuk memperoleh rasio hidrogen/karbon (H/C) setara solar dari minyak bumi yaitu H/C = 1.17 0. India.016 9. Jankowski A.027 5. DAFTAR PUSTAKA Annual Book of ASTM Standards. Characterzation and Properties of Petroleum Fractions. Rudnick.079 2.079 % menjadi 0. kadar karbon (C) dari 87. vol.31-8.58 % menjadi 0. maka proses penghidromurnian fraksi 180-300oC berkadar aromatik besar tersebut masih perlu ditingkatkan kondisi operasinya dengan pengoptimalan komposisi katalis (Whitehurst. Malvina Farcasiu. dengan penurunan spesific gravity dari 0. Butrill Jr.3 %berat menjadi 80.026 3. Karakterisasi produk hidrotreating Parameter Kinematik Visc.56 1.82 9.17 %.47 0.30 menjadi 1. R. nitrogen (N) dari 0. P. 1032-1037 Kokayeff.9247 80. 2005 Whitehurst D.30 0. 4. Catalysis in Petroleum and Petrochemical Industries. “ Chapter 8. Rasio H/C Umpan 5.961 0.320 0.30 HDT-1 3.57 0. (40oC) SG 60/60 Carbon (%-wt) Hidrogen (%-wt) Nitrogen (%-wt) Sulfur (%-wt) Oksigen. Narosa Publishing House. Minyak sintetik ini mengandung fraksi solar (180300°C) sebesar 30% berkadar aromatik tinggi.316 0.725 0.75. Upgrading of syncrude from coal. Sidney E. 61. 1982. di mana HDT3 memberikan hasil yang paling baik.32 0.30 9.9664 menjadi 0. 2005.9247.016 %.42. serta tergolong sebagai Naftenik-Naftenik menurut klasifikasi Lane-Garton. Vol 05. dan adanya kenaikan rasio hidrogen/karbon (H/C) dari 1.58 0.3 UOP Uniofining Technology”.58 %berat menjadi 0.41 0. 1982. 61. Handbook Of Petroleum Refining Processes 3rd Ed. Fuel.75.71 1.41 Riazi. George A..82 %berat. Study of single-stage treated products for transport fuel use.42.32 HDT-2 3. Duayne. KESIMPULAN Batubara cair ini tergolong minyak berat dengan klasifikasi aromatik menurut kriteria UOP (Nelson. Odoerfer and Leslie R.. Untuk memperoleh rasio hidrogen/karbon setara solar dari minyak bumi yaitu sebesar 1.67 9. sulfur (S) dari 0.9365 86.38 HDT-3 2. 1982) %.. Bhattacharryya K.16 %berat. serta kenaikan rasio hidrogen/karbon (H/C) dari 1. Francis J. 1982.9247.03 1.0 % berat pada tiga jenis kondisi operasi menunjukkan peningkatan mutu fraksi 180-300oC tersebut dengan diamatinya penurunan karakteristik produk hidrotreating yaitu antara lain: spesific gravity dari 0. vol 61... Fuel. Watson dan Murphy).97 0.02. Talukdar.G. Fuel.

021 .075 million barrels/day of the crude oils. pencairan batubara dan proses Fischer-Tropcsh ABTSRACT Indonesia’s petroleum refinery processes is about 1. Nasution.S. will be discussed briefly in this paper. or indirect coal liquefaction or coal to liquid technology (CTL) such as CTL technology of SASOL in South Africa over Fischer Tropsch processes of syn-gas (CO+H2) from gasification of bituminous coal.756 billions ton in the 2008 and the part of this coal can be converted into synthetic crude to substituted the imported crude oil. Kata kunci: minyak sintetik. Jakarta Selatan 12230 Telp.756 milliar ton yang sebagian dapat dikonversi menjadi minyak sintetik untuk mensubtitusi minyak mentah import tersebut. 022 . Abdul Haris*. dkk. The synthetic crude of this coal liquefaction can be increased by the catalyst developments and the optimum of the operating conditions of the coal liquefaction processes.6003373 e-mail : huda@tekmira.id SARI Indonesia mengolah minyak mentah adalah sebesar 1. 022 .7226011 ** Pusat Teknologi Penelitian dan Pengembangan Mineral dan Batubara Jl. A. Nasution*.BAHAN BAKAR MINYAK SINTETIK DARI PENCAIRAN BATUBARA A.7222583 Fax.id. Jend. teknologi dari Jepang atau secara tidak langsung (indirect coal liquefaction) yaitu coal to liquid technology (CTL) teknologi CTL-SASOL.6030483 Fax.esdm.S. National coal reserves are about of 104.75 million barrels/day and plus the imported crude oil. Coal liquefaction by BCL and Ficher-Tropsch processes into the synthetic crudes and their conversion into the synthetic fuel oil.go. coal liquefaction and Fischer-Tropcsh processes. melalui proses Ficsher-Tropsch gas sintes (CO + H2) dari produk gasifikasi batubara (bituminous coal).esdm. Bahan Bakar Minyak Sintetik dari Pencairan Batubara. Cipulir-Kebayoran Lama. This synthetic crude can be converted into the synthetic fuel oil by catalytic process of the petroleum refinery. 021 . such as brown coal liquefaction (BCL) and NEDOL aJapan’s technology.75 juta barel/hari dan kekuranganya masih diimport.go. Miftahul Huda**. Ciledug Raya Kav 109. ninings@tekmira. Key words: synthetic fuel oil. Produk minyak sintetik dari proses pencairan batubara dapat ditingkatkan dengan pengembangan katalis dan optimalisasi kondisi operasi. Afrika Selatan. Cadangan batubara Nasional pada tahun 2008 adalah sebesar 104. Proses pencairan batubara menjadi minyak sintetik dengan proses BCL dan Ficsher-Tropsch serta pengolahan minyak sintetik tersebut menjadi bahan bakar minyak sintetik akan dibahas dalam makalah ini. 209 . Leni Herlina* dan Nining Sudini Ningrum** * Pusat Teknologi Penelitian dan Pengembangan Minyak dan Gas Bumi (LEMIGAS) Jl. Minyak sintetik tersebut dapat diolah menjadi bahan bakar minyak sintetik dengan proses katalitik pada kilang minyak bumi. Pencairan batubara menjadi minyak sintetik dapat dilakukan secara langsung (direct coal liquefaction) yaitu Brown Coal Liquefaction (BCL) dan NEDOL.075 juta barel/hari sedangkan produksi nasional hanya sekitar 0. Sudirman 623 Bandung 40211 Telp. supplied by national production of about 0. Coal liquefaction into the synthetic crude can be direct coal liquefaction.

Sedang pencairan batubara secara tak langsung (indirect coal liquefaction) atau coal to liquid technology (CTL) merupakan teknologi CTL SASOL telah dioperasikan sejak tahun 1950 di Afrika Selatan. Jeffey Mulyono. 2006). Proses Fischer-Tropsch adalah suatu reductive polymerization reaction yang mengkonversi gas sintesis (CO + H2) menjadi produk utama hidrokarbon normal parafin dan normal olefin dengan bantuan katalis (Charles. yang sebagian batubara tersebut dapat dicairkan menjadi minyak sitentik untuk mensubtitusi minyak mentah impor tersebut.2006). Cadangan batubara nasional cukup besar yaitu sekitar 104. Fischer-Tropsch) dengan berbagai jenis katalis dan pengolahan minyak sintetik tersebut menjadi bahan bakar minyak sintentik akan disajikan dalam makalah ini.75 juta barel/hari dan kekuranganya masih diimport (Dirjen Migas. tanpa tahun) Pembentukan produk minyak sintetik dari proses pencairan batubara (proses BCL dan proses   Pencairan Batubara dan Rantai Pasokan BBM  Impor Crude Oil  Impor BBM  Crude Oil  CSO  Batubara Indonesia  pada berbagai lokasi  Kilang Minyak  BBM  Untuk domestik  Pencairan Batubara  BBM  Untuk Ekspor  Masuknya CSO dalam rantai pasokan BBM terutama akan berdampak positif  dalam penyediaan BBM domestic dan mengurangi impor  Gambar 1. yaitu antara lain brown coal liquefaction (BCL) oleh Teknologi Jepang 210 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . hydrogen donating.2006. PENDAHULUAN Indonesia mengolah minyak mentah sebesar 1. vehicle solvent. hidrogen. katalis. seperti terlihat pada Gambar 1 (Sukardjo. Umpan proses hidrogenasi batubara adalah suatu suspensi dari campuran: batubara.1. yaitu brown coal liquefaction (BCL) dan NEDOL yang merupakan teknologi Jepang melalui proses hidrogenasi batubara yang hidrogennya dari produk gasifikasi batubara. N.Satterfield. PENCAIRAN BATUBARA MENJADI MINYAK SINTETIK Pencairan batubara menjadi minyak sintetik terdiri atas dua jenis proses berikut : Proses pencairan batubara secara langsung ( direct coal liquefaction). melalui proses Fischer Tropsch gas sistesis ( CO + H2) dari produk gasifikasi batubara (bituminous coal) (Supriyadi. 2.756 milliar ton pada tahun 2008 dengan jenis low rank coal sekitar 60 % dari total cadangan. yang dimasukan ke dalam slurry reactor di mana molekul batubara direngkah menjadi produk minyak sintentik.075 juta barel/hari di mana produksi nasional hanya sekitar 0. tanpa tahun). Pencairan Batubara Pencairan batubara menjadi minyak sintetik dapat dilakukan secara langsung ( direct coal liquefaction) yang masih dalam taraf demonstration plant.

Staker. dan juga dapat mempercepat terbentuknya radikal hidrogen dari gas hidrogen (Takau. Satterfield.. K.V. tanpa tahun): Radikal bergabung dengan radikal hidrogen ( H*) yang dihasilakan dari hidrogen donating tanpa atau dengan bantuan katalis. 1994.S. 2002).. 1994). R. 2002). Kelvin. Nasution.P. C*n H2n + 1 C*x H2x + 1 + CYH2Y di mana n = x + y Pengabungan radikal-radikal besar menjadi molekul yang kompleks (kokas).1.. dan oil (minyak sintetik) seperti terlihat pada Gambar 3 (Charles N. katalis sub-micron. dkk. preasphaltene menjadi radikal kecil yang lebih stabil seperti minyak sintetik dan olefin. R*1 + R*2 R1 R2 Produk minyak sintetik dari proses pencairan batubara dengan hydrogen donating saja tanpa katalis diamati menurun secara cepat dengan waktu reaksi. hydrogen donating.melalui proses hidrogenasi batubara yang masih dalam taraf demonstration plant. hidrogen dan vehicle solvent dimasukan ke dalam suatu slurry reactor. R* + H* RH Perengkahan lanjut dari radikal-radikal besar seperti asphaltene. 211 . Model Molekul Zat Organik Batubara Umpan batubara pada proses hidrogenasi batubara muda ini dalam bentuk suspensi yaitu suatu campuran dari : bubuk batubara < 60 mesh. dkk. 2002.V. preasphaltene. dkk. tanpa tahun. serta mengandung grup aromatik dengan berat molekul relatif rendah. Gas hidrogen yang dipakai pada proses pencairan batubara ini diperoleh dari produk gasifikasi batubara seperti terlihat pada Gambar 2 (Takao. 1985). Proses pencairan batubara secara tak langsung (indirect coal liquefaction) melalui proses Fischer Tropsch gas sintes ( CO+ H2) dari produk gasifikasi batubara (bitumineous coal) atau Coal to Liguid Technology. atau dapat juga terbentuk dari gas hidrogen dengan bantuan katalis. N. Proses Hidrogenasi Batubara Batubara muda (low-rank coal) mengandung kadar oksigen tinggi dengan banyak grup fungsional berantai yang sangat reaktif mudah pecah oleh panas. Pemutusan ikatan karbon di antara dua cincin aromatik dengan radikal hidrogen baik yang berasal dari hydrogen donating maupun yang berasal dari gas hidrogen dengan bantuan katalis Gambar 2. N. Mula-mula molekul batubara akan pecah secara termal menjadi beberapa jenis molekul radikal ( R*=C* n H2n + 1) seperti asphaltene. dkk. Kelvin. sehingga proses pencairannya dapat menghasilkan perolehan minyak sintetik tinggi.P. dkk. Proses pencairan batubara dengan memakai katalis monofungsional berinti aktif logam.S. Staker. A. hal ini diperkirakan karena keterbatasannya dalam pelepasan radikal hydrogen tersebut (R. Nasution. A. K... Peter A. Konversi Batubara Stabilisasi radikal-radikal tersebut dengan beberapa reaksi radikal adalah berikut (Charles N. Gambar 3. 2. Bahan Bakar Minyak Sintetik dari Pencairan Batubara. oleh teknologi CTL-SASOL di Afrika Selatan yang telah beroprasi sejak tahun 1955. Hertan. seperti FeS2 dapat mengaktifkan kembali hydrogen donating yang telah melepaskan radikal hydrogennya dengan reaksi hidrogenasi. Satterfield.

Pengaruh Keasaman Katalis Pada Minyak Sintetik 2.Tropsch yaitu katalis bifungsional berinti dua jenis aktif (logam dan asam) yaitu antara lain Fe/Ziolit dan Co/Al2O3 SiO2 akan mengkonversi senyawa olefin-1 menjadi olefin-2 melalui senyawa antara molekul ion karbonium (R+) yang lebih sulit berpolimerisasi menjadi produk normal hidrokarbon panjang +H+ C=C–C–C +C Vehicle solvent dapat menaikan kelarutan dan pendispersian bubuk batubara di dalam suspensi umpan. Gambar 4. Keasaman katalis. K.V. Ronald H. Reaksi hidrokonversi Modifikasi katalis Fischer . Satterfield. sehingga percampuran antara molekul batubara dengan katalis akan meningkat. Hertan. Pengaruh chain probability factor (α) adalah (α) : rp / rp + rt (rp dan rt = laju propogasi dan terminasi) pada distribusi produk utama hidrokarbon (minyak sintetik) tersebut disajikan pada Gambar 6 (Charles N. 102 Gambar 5. Pengaruh vehicle solvent pada perolehan produk minyak sintetik disajikan pada Gambar 5 (Peter A.. akan mengkonversi gas sintes melalui suatu reductive polymerijation reaction menjadi produk utama normal hidrokarbon parafin dan normal olefin dengan sedikit produk samping senyawa organik oksigen seperti alkohol (Charles N. tanpa tahun). 1994..P. -H+ –C–C–C C–C=C–C Ion karbonium beratom karbon C ³ 6 dapat membentuk ion karbonium siklis. dan juga solvent tersebut dapat menghambat terjadinya pengabungan (repolymerization) antara radikalradikal besar menjadi molekul besar (kokas). sehingga kadar hidrokarbon poliaromatik (rasio atom C/H) dari produk minyak sintetik tersebut diamati relatif lebih tinggi dari pada fraksi yang di kandung oleh minyak bumi (Takau. tanpa tahun). dkk. Wolk. seperti Ni-Mo/Al2O3-SiO2 dapat memecah cincin poliaromatik dari produk minyak sintetik tersebut melalui pembentukan senyawa antara ion karbonium ( R+) dengan bantuan inti aktif asam katalis baik Lewis maupun Bronsted seperti halnya pada proses hidrorengkah fraksi minyak bumi seperti terlihat pada Gambar 4 (R. Satterfield. Staker. dkk. J. Kelvin. yang akan 212 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Proses Fischer-Tropsch Gas Sintes (CO + H2) Proses Fischer-Tropsch dengan memakai katalis konvensional monofungsional Fe atau Co berinti aktif logam saja. Minyak sintetik.2. 1979). 2002. m mol/g. 1985).Katalis bifungsional berinti aktif logam dan asam.. kat .F Lepage. maf monofungsional tersebut cukup sulit. N. 1987).

Kelvin.F Lepage.Gambar 6. tanpa tahun. Richard E. Satterfield. 213 . Hildebrand. Co (2)/alumina silica Gambar 7. N. dkk. Nasution. 1994. Hubungan antara jumlah atom karbon pada fraksi mol relatif Bahan Bakar Minyak Sintetik dari Pencairan Batubara. A. Co/silica b. Staker. 1987). 1979).S. Minyak sintetik dari pencairan batubara secara langsung mengandung banyak hidrokarbon aromatik sehingga pengolahan fraksi berat minyak sintetiknya menjadi produk solar memerlukan proses hidropemurnian tinggi atau proses hidrorengkah. Co(1)/alumina silica dan c. BAHAN BAKAR MINYAK SINTETIK C6H12 C6H13 + Proses Fischer-Tropsch gas sintesa dengan katalis bifungsional dapat menghasilkan produk utama berkadar banyak iso-olefin rendah (C 4 – C 7) dengan sedikit produk samping metana seperti terlihat pada Gambar 7 dan Tabel 1(R. Fisher. Pengaruh Alfa Pada Prosentase Produk terkonversi menjadi hidrokarbon aromatik yaitu : +H+ +H+ 3.V. J. Proses-proses katalitik yang dioperasikan Fraksi mol realtif Jumlah atom karbon Catatan : a. Ronald H.P. Bensin dan solar diperoleh dari masing-masing fraksi ringan dan fraksi berat dari fraksi minyak sintetik tersebut dengan bantuan proses – proses katalitik seperti terlihat pada Tabel 2 (Charles N..

Tabel 1.180 °C Fraksi Sedang 180 . yaitu: bergabung Tabel 2. Pembuatan Bahan Bakar Minyak Sintetik Umpan Proses Katalistik/Produk Dimerisasi/Dimer Isomerisasi/Isomerat Reforming/Reformat Hidrotreating/Kerosin + Solar Hidrorengkah/Kerosin + Solar H2SO4.350 °C Fraksi Berat > 350 °C 214 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . HF Bifungsional Pt pada Al2O2-Cl atau zeolit Bifungsional Pt/Rh atau Pt/Sn pada Al2O2-Cl Monofungsional Ni/Mo atau Ni/W pada Al2O2 Bifungsional Ni/Mo atau Ni/W pada Al2O2-SiO2 atau zeolit Katalis Fraksi Gas Olefin C2/C4 Fraksi Nafta Ringan C5/C6 Fraksi Nafta Berat C7 . Produk Minyak Sintetik Dengan Katalis Fe/Zeolit Pengaruh Kadar MnO Pada Katalis Fe-MnO/Zeolit pada kilang minyak yaitu: Dimerisasi fraksi gas (C3 / C4) Isomerisasi fraksi nafta ringan (C5 / C6 ) Reformasi fraksi nafta berat (C7 – 180o ) Hidrotreating fraksi berat (180o – 350o C ) Hidrorengkah fraksi berat (>350o C) Mekanisme reaksi dari proses katalitik tersebut (kecuali proses hydrotreating) membentuk senyawa antara ion karbonium (R +) dengan bantuan inti aktif asam dari katalis bifungsional (kecuali proses dimerisasi) yang kemudian masing-masing bereaksi.

1987). Mekanisme Reaksi Dengan Katalis Bifungsional (dimerisasi).F Lepage.Gambar 8. Nasution. Gambar 9.S.dan Gambar 9 (J. dan pecah (hidrorengkah) menjadi produk – produk utamanya seperti terlihat pada Gambar 8. 215 . 4. Minyak sintetik dari proses pencairan batubara dapat meningkatkan pemanfaatan potensi batubara dan juga mensubtitusi sebagian impor minyak mentah dan bahan bakar minyak. siklisasi (reforming). kerosin dan solar dengan memakai proses – proses katalitik yang dioperasikan di kilang minyak bumi. PENUTUP Minyak sintetik dari proses pencairan batubara secara langsung ( direct coal liquefaction) atau secara tak langsung (indirect coal liquefaction) dapat dikonversi menjadi bahan bakar minyak sintetik setara bensin. Proses katalitik memegang peranan penting pada pencairan batubara dan konversi minyak sintetik tersebut menjadi bahan bakar minyak sintetik. isomerisasi. Reaksi Hidrokonversi Parafin Bahan Bakar Minyak Sintetik dari Pencairan Batubara. dkk. A.

Noriyuki. A. Edition Technip.P. Fisher and Richard E. Satterfield. Kentucky. 1994 Elservier Science B. 1979. Kelvin. Jakarta 22 Februari 2002. Indonesian Japan Coal Liguefaction Seminar. Jakarta 12 Desember 2002. W.V. Kentucky. Oberlin Sidjabat. Satoru Sugita. Wolk. Charles N. Seminar Pencairan Batu Bara Banko Indonesia 2002. Nasution. Paris 1987. R. Katalis Limonite Soroako Pada Prosese Pencairan Batubara Banko. Fuel. Roy Jackson and Frank B. Production Of Lube-Oil Blending Stock Through Hydrotreating. Advances in Coal Utilization Technology. September 1985. J.V. pp 16-19 Gas Conversion.335. (b3).S. hydrogenation Characteristics Of Australian Coals. Pusat Sumber Daya Geologi. Mc GrawHill I Nc. Deputi Menko Perekonomian Kebijakan Pemerintah Dalam Program Aksi Pencairan Batubara. Synthetic Gas And Associated Processes Pp 419-470.F Lepage. New York. Takau kaneko And Eiichiro Makito. 216 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Hertan. Hildebrand. Seminar Nasional Penciran Batubara Ladang Minyak Masa Depan. Supriyadi. Vol 64. Penyedian dan Kebutuhan Batubara untuk Bahan Baku Pencairan Batubara. pp. Advances in Coal Utilization Technology. Okuyama And Masaaki Tamura. Jakarta 13 Januari 2006. 1979. Ronald H. Ass. Sukardjo. Sumber Daya Batubara Indonesia. (331343) Symposium Paper. Seminar Nasional Pencairan Batubara “Ladang Minyak Masa Depan”.Respons Of Oil Yields To Process Conditions. hydrogenation of brown coal. Seminar Nasional Penciran Batubara Ladang Minyak Masa Depan. Jakarta 13 Januari 2006. Nining Sudiningrum Dan Chairil Anwar. 2th Heterogeneous Catalysis Industrial Practice. pp 435-466 Applied Heterogeneous Catalysis. Jeffey Mulyono. Staker and N. Peter A. Jakarta 13 Januari 2006. (273-290). Symposium Paper.DAFAR PUSTAKA Direktorat Jenderal Minyak Dan Gas Bumi Kebijakan Dan Kebutuhan Bahan Bakar. Overview of Liquefaction Process Technology. PP 1251-1254 Ronald H. pp 287. Lorkins. Liquefaction Of Banko Coal With Limonite Catalyst. Transportation Fuels Synthetic Gas.