ISBN 978-979-8461-63-3

PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI MINERAL DAN BATUBARA
“Konstribusi Litbang Mineral dan Batubara

Dalam Mendukung Pelaksanaan Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara”

Bandung, 15 Juli 2009

Editor : Binarko Santoso Pramusanto I.G. Ngurah Ardha Husaini Datin Fatia Umar Darsa Permana Slamet Suprapto Tatang Wahyudi Retno Damayanti Fauzan

D M AN A SUMBERDAY

DEPARTEMEN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI MINERAL DAN BATUBARA 2009

IN

ER AL

I RG ENE

Hak Cipta / Penerbit

MIRA
Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. Jend. Sudirman No. 623, Bandung 40211 Telepon : 022 - 6030483, Fax : 022 - 6003373

Penasihat Kepala Badan Litbang ESDM Penanggung Jawab Kepala Puslitbang tekMIRA Panitia Pengarah Kuswandani, Suganal, Edwin Daranin R.M. Nendaryono, Siti Rochani Dewan Redaksi Binarko Santoso Staf Redaksi Doeto Poespojoedo, Umar Antana Bachtiar Efendi, Arie Aryansyah, Hatif Hidayat Moderator Datin Fatia Umar, Miftahul Huda, Edwin Daranin Yenny Sofaety, R.M. Nendaryono, Stefano Munir Notulis Kuswandani, Wiroto, Isyatun Rodliyah Sri Sugiarti, Dedi Yaskuri, Hasniati Artika Nuryadi Saleh

ISBN 978-979-8461-63-3 Hak cipta dilindungi oleh Undang-undang Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit

KATA PENGANTAR

Dalam rangka mensosialisasikan Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, yang menggantikan Undang-undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan, Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara (tekMIRA) telah menyelenggarakan Kolokium Pertambangan 2009 pada tanggal 15 Juli 2009, Kolokium yang bertemakan “Konstribusi Litbang Mineral dan Batubara Dalam Mendukung Pelaksanaan Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara”, dihadiri oleh para pejabat pemerintah di tingkat pusat dan daerah, pelaku usaha, para peneliti dan pejabat fungsional lainnya, mahasiswa serta masyarakat luas yang terkait dengan pengembangan pertambangan mineral dan batubara. Sebagai lembaga litbang di bidang teknologi mineral dan batubara, Puslitbang tekMIRA diharapkan dapat berperan secara aktif dalam meningkatkan nilai tambah mineral dan batubara sebagaimana amanat yang terkandung dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tersebut. Di samping itu, melalui kegiatan ini diharapkan pula dapat diperoleh masukan dari pelaku industri dan masyarakat pertambangan tentang posisi, peran, dan kontribusi litbang mineral dan batubara dalam menunjang pelaksanaan Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. Prosiding ini merupakan rangkuman dari seluruh makalah yang dipresentasikan dalam Kolokium, serta diharapkan dapat dijadikan salah satu rujukan mengenai perkembangan pertambangan, penelitian, dan kajian yang berhubungan dengan peningkatan nilai tambah mineral dan batubara. Melalui prosiding ini, siapapun dapat melihat sampai sejauhmana para peneliti Indonesia telah berkiprah dalam memajukan sektor pertambangan mineral dan batubara nasional. Dalam kesempatan ini kami menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak, baik perorangan, perusahan, instansi pemerintah, perguruan tinggi maupun seluruh pembicara dan peserta, atas pemikiran atau karya-karya terbaiknya, sehingga Prosiding ini memiliki nilai keilmiahan yang baik. Kami menyadari banyak kekurangan dalam penyusunan dan penerbitan Prosiding ini. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan penyusunan dan penerbitan Prosiding di masa yang akan datang.

Bandung, 15 Juli 2009

Tim Penyunting

PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009

i

Selamat Pagi. Saudara-saudara Sekalian. Para Pejabat Eselon II di Lingkungan Departemen ESDM atau yang mewakilinya. Saya menilai tema kolokium 2009 ini sebagai bentuk tanggung jawab Puslitbang tekMIRA untuk berperanserta dalam pelaksanaan Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009. dan/atau memfasilitasi pelaksanaan litbang mineral dan batubara. sekaligus menjadi stimulus bagi Puslitbang tekMIRA agar menghasilkan karya litbang yang lebih baik dan berbobot serta mampu bersaing dengan lembaga litbang sejenis. Peserta Kolokium yang Saya Hormati. Perlu dicatat pula. Para Profesor Riset dan Pejabat Fungsional di Lingkungan Badan Litbang ESDM. khususnya yang menyangkut isi pasal 95 huruf c tentang kewajiban perusahaan untuk meningkatkan nilai tambah mineral dan/atau batubara di dalam negeri. Salam Sejahtera bagi Kita Semua. Undangan dan Hadirin yang Berbahagia Assalamualaikum Warohmatullohi Wabarokatuh. kolokium di lembaga litbang akan menjadi tolok ukur sampai sejauhmana para peneliti dan pejabat fungsional kita lainnya mampu mengembangkan diri dalam upaya berkontribusi bagi kemajuan sektor ESDM di tanah air. industri. khususnya yang berhubungan dengan pasal 95 huruf c dan pasal 146. karena berkat perkenan-Nya kita dapat menghadiri acara Kolokium yang diselenggarakan oleh Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara (tekMIRA). dan masyarakat luas. memang sudah menjadi agenda tahunan yang diharapkan dapat menampilkan karya yang bermanfaat bagi para pemangku kepentingan. 15 JULI 2009 Yang kami hormati. saya minta kepada seluruh jajaran di Puslitbang tekMIRA untuk PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 ii . melaksanakan. Tuhan Yang Maha Kuasa. Para Pejabat Eselon I di Lingkungan Departemen ESDM atau yang mewakilinya. serta pasal 146 tentang kewajiban pemerintah dan pemerintah daerah untuk mendorong. Kedua pasal tersebut merupakan spirit dan juga momentum yang akan lebih memacu kegiatan litbang mineral dan batubara di tanah air. Puji dan syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu Wata’alla. Kolokium Puslitbang tekMIRA kali ini bertemakan “Kontribusi Litbang Mineral dan Batubara Dalam Mendukung Pelaksanaan Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara”.SAMBUTAN KEPALA BADAN LITBANG ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL PADA ACARA KOLOKIUM PUSLITBANG TEKNOLOGI MINERAL DAN BATUBARA BANDUNG. Penyelenggaraan kolokium di Puslitbang tekMIRA – dan juga Puslitbang lain di lingkungan Badan Litbang ESDM. yaitu pemerintah. Terkait dengan pemberlakuan Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009.

Oleh karena itu. Sebagai lembaga litbang. Keempat. Kesenjangan antara senior dengan yunior yang semakin melebar. atau daya serap pasar masih kecil dan tidak sebanding dengan biaya produksi.melaksanakan beberapa hal berikut ini: Pertama. peningkatan kerja sama dengan lembaga litbang lain. Seluruh kerja sama antara Puslitbang tekMIRA dengan pemangku kepentingan sudah seharusnya bersifat saling bermanfaat bagi kedua belah pihak. di sisi lain. fokus kepada pemecahan permasalahan yang sedang dan kemungkinan akan dihadapi oleh industri pertambangan mineral dan batubara. tetapi sekaligus menguntungkan jika dilempar ke pasaran. tingkatkan kualitas sumber daya manusia. tingkatkan kerja sama dengan pemangku kepentingan (stakeholders). Dalam berbagai kesempatan. Puslitbang tekMIRA harus dapat mengatasi permasalahan sebagai langkah penanggulangan. dan hal-hal lain yang pada intinya dapat sarana untuk meningkatkan kemampuan mereka. tetapi juga bermanfaat bagi pemerintah dan Daerah serta masyarakat pertambangan. solusi yang dapat ditempuh adalah dengan membuka kesempatan kepada karyawan yunior untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. sehingga tidak terlalu sulit untuk meningkatkannya. Saya tahu Puslitbang tekMIRA telah lama melakukan hal itu. mengikuti berbagai kursus atau pertemuan ilmiah. sebagaimana dialami oleh hampir seluruh instansi pemerintah. Hal ini penting dilakukan sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan kemampuan Puslitbang tekMIRA menghadapi tantangan masa kini dan masa depan. Persoalannya adalah. Selain dengan pemerintah daerah. baik di dalam maupun di luar negeri. Puslitbang tekMIRA harus berani memulai kegiatan litbang yang berorientasi pada peningkatan nilai tambah. Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 yang bernuansa desentralisasi – artinya pengelolaan pertambangan mineral dan batubara berada di pemerintah daerah. memerlukan percepatan regenerasi dan “transfer of knowledge”. tetapi. ke depan. Namun perlu saya garis bawahi. iii PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . juga harus dapat memprediksi arah kecenderungan yang terjadi sebagai langkah antisipasi agar tidak berada pada kondisi status quo dan melaksanakan pekerjaan yang bersifat rutin atau business as usual. perlu mendapat prioritas utama. Bagaimanapun keberadaan karyawan yunior ini merupakan modal dasar bagi eksistensi Puslitbang tekMIRA ke depan. Dalam beberapa hal. tetapi juga kemakmuran bagi masyarakat. apakah Puslitbang tekMIRA akan menjadi leader atau follower dalam industri mineral dan batubara di tanah air? Saya katakan bahwa Puslitbang tekMIRA mesti fokus pada keduanya. Hal ini disebabkan antara lain oleh adanya kompetitor yang berharga lebih murah. di satu sisi. mengharuskan kita untuk secara lebih intens menjalin kerja sama dengan mereka. bukan menara gading yang tidak tersentuh dengan melakukan penelitian sesuai keinginannya sendiri. fokus kepada litbang yang berorientasi pada peningkatan nilai tambah sekaligus memperhitungkan keekonomiannya. saya selalu mengatakan bahwa lembaga litbang harus menjadi bagian tak terpisahkan dari dunia yang digelutinya. Kedua. artinya peningkatan nilai tambah akan mengakibatkan suatu material bernilai lebih tinggi dan menguntungkan. serta untuk mengukur di mana posisi Puslitbang tekMIRA berada. dan dapat bersaing dengan para pakar di dalam negeri maupun di forum internasional. Ini berarti. tidak saja memberikan kontribusi terhadap kemajuan bidang pertambangan mineral dan batubara. Ketiga. Untuk itu. magang pada perusahaan besar. Tetapi tidak selamanya peningkatan nilai tambah akan memberi keuntungan jika dijual ke pasaran. Namun. Puslitbang tekMIRA juga pasti merasakan kebijakan “zero growth” yang ditetapkan beberapa tahun yang lalu. nilai tambah dan keekonomian selalu berjalan beriringan. kerja sama tersebut harus dapat menghasilkan sesuatu yang tidak saja “menguntungkan” Puslitbang tekMIRA. saya yakin Puslitbang tekMIRA memiliki sumber daya manusia (SDM) yang telah mampu melaksanakan penelitian secara profesional.

yaitu dengan berupaya meningkatkan kemampuan rancang bangun dan rekayasa pada peralatan teknologi tinggi. apapun latar belakang pendidikan Saudara. berat sama dipikul”. Terima kasih. Kepala. Harapan saya kepada seluruh jajaran Puslitbang tekMIRA. semoga dapat memaknai dan mengimplementasikannya demi tercapainya tujuan kita memajukan sektor ESDM pada khususnya dan masyarakat pada umumnya. Untuk itu. lalu bicara dan berbuatlah dengan bahasa yang sama dalam ikatan kesatuan yang kuat. Demikian sambutan dan arahan yang dapat saya sampaikan. Ada ungkapan sederhana yang sudah lama kita kenal dan tahu artinya.Kelima. Akhirnya dengan tetap memohon ridho Tuhan Yang Maha Kuasa. Kita harus berbuat sesuatu. Kolokium yang bertemakan “Kontribusi Litbang Mineral dan Batubara Dalam Mendukung Pelaksanaan Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara” secara resmi saya buka. serta tingkatkan kemampuan rancang bangun dan rekayasa. yaitu “bersatu kita teguh. jaga soliditas di lingkungan Puslitbang tekMIRA. dan di manapun Saudara ditempatkan. optimalkan peralatan yang ada. Keenam. Saya berharap Saudara-saudara dapat menyongsong era desentralisasi di bidang pertambangan mineral dan batubara ini dengan optimisme tinggi dan penuh rasa tanggung jawab. Saya tidak perlu mengulas lebih dalam. untuk membuktikan sampai sejauhmana inovasi dan kreativitas Saudara-saudara andaikata sarana peralatan baru tersebut tidak terpenuhi. Saya telah menyinggung masalah ini pada acara “Sinkronisasi Kegiatan Litbang di Lingkungan Badan Litbang ESDM” pada 14-15 April 2009 yang lalu. Oleh karena itu saya mengajak peneliti Puslitbang tekMIRA dan juga peneliti Puslitbang lain di lingkungan Badan Litbang ESDM. lalu stagnan. jangan pernah merasa yang satu lebih superior daripada yang lain. permasalahan seberat apapun akan menjadi jauh lebih ringan dan tidak sulit untuk dipecahkan. Insya Allah. Undangan dan Hadirin Sekalian. siapapun Saudara. bahkan seluruh keluarga besar Badan Litbang ESDM. Wassalamualaikum Warohmatullohi Wabarokatuh. Berjalanlah dalam koridor Rencana Stratejik yang telah dibuat oleh Saudara-saudara sendiri. bercerai kita runtuh” dan “ringan sama dijinjing. Bambang Dwiyanto PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 iv . namun satu hal patut diingat bahwa jika keinginan untuk melengkapi dan memutakhirkan dengan sarana dan prasarana penelitian mutakhir tidak terpenuhi bukan berarti kita harus berdiam diri.

................ Hasniati Astika dan Supriatna Mujahidin Pemanfaatan Karbon Aktif dari Batubara pada Pengolahan . 15 JULI 2009 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR .............. Keruntuhan Batuan Atap (Roof Failure) pada Tambang Bawah Tanah Zulfahmi............. Pengaruh Titik Leleh Abu terhadap Pengendapannya pada Pembakaran ............. Kecamatan Pesanggaran....... Limbah Cair Industri Gula Ika Monika dan Nining Sudini Ningrum Kemungkinan Pemanfaatan Bakterisida Fenol untuk Pencegahan ..... DAFTAR ISI ........... Provinsi Kalimantan Selatan....... pada Era Otonomi Daerah Umar Dhani Peningkatan Kadar Bijih Besi dari Daerah Pelaihari...................... Propinsi Kalimantan ...... Batubara dengan Pembakar Siklon di Beberapa Fasilitas Industri Sumaryono 55 70 1 i ii v 16 23 30 39 48 78 83 90 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 v .......... MAKALAH YANG DIPRESENTASIKAN Presentasi Makalah Paralel I Permasalahan Pengelolaan Potensi Emas di Gunung Tumpang Pitu .................... Enymia dan Sumarsih Presentasi Makalah Paralel II Masa Kini dan Masa Depan Batubara Indonesia ................................................... SAMBUTAN KEPALA BADAN LITBANG ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL ............................. Kabupaten Banyuwangi.......... Kabupaten Tapin............. Nuryadi Saleh dan Apriandi Pengolahan Pasir Kuarsa Berlempung Asal Rantaubujur..... pada Era Globalisasi Djoko Sunarjanto dan Bambang Wicaksono Peluang Pengembangan Pertambangan Mineral dan Batubara ........... Producer Gas dari Batubara Slamet Suprapto dan Nurhadi Implementasi Pengelolaan Lingkungan Sektor Energi dan Sumber Daya Mineral ......................................................................... Ijang Suherman Pengembangan Sistem dan Alat Pemantauan Sederhana untuk Mendeteksi .................... ........................................... Jawa Timur Bambang Yunianto Pengembangan Metode Analisis Ter dan Partikulat dalam ....... untuk Bahan Baku Keramik Subari................................................................KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 BANDUNG................. Air Asam Tambang Siti Rafiah Untung dan Nia Rosnia H........................................................................................................................... Selatan dengan Menggunakan Klasifayer dan Pemisah Magnetik Pramusanto........

....... 209 A.................... Yuhelda dan Firiza Yuliana Penggunaan Pasir Sungai sebagai Bed Material pada Gasifikasi Batubara ..... 161 Menengah di Pulau Jawa Triswan Suseno dan Tuti Hernawati Pengaruh Proses Upgraded Brown Coal (UBC) terhadap Peringkat Batubara .. 147 Rochman Saefudin............ Datin Fatia Umar dan Bukin Daulay MAKALAH DIPOSTERKAN Analisis Potensi Limbah Hasil Pembakaran Batubara pada Industri Kecil dan ............. Leni herlina dan Nining Sudini Ningrum vi PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 ....................... Subandrio Penetapan Nilai Bagi Hasil atas Produksi Batubara Mutu Rendah .............. Leni Herlina. Novie Ardhyarini dan Nining Sudini Ningrum Bahan Bakar Minyak Sintetik dari Pencairan Batubara ... 189 Peringkat Rendah di Indonesia Gandhi Kurnia Hudaya Kajian Manfaat dan Biaya Penambangan Bijih Besi di Kabupaten Merangin..................S........ Daerah Tonayan Selatan) M................ Lutfi dan Retno Damayanti Pengaruh Penggunaan Ultrasonik terhadap Hasil Pemisahan Pasir Zirkon .......... nasution.................................................... 204 sebagai Bahan Bakar Muh Kurniawan.... 105 Amalgamasi di Kegiatan Pertambangan Emas Rakyat Secara Sianidasi (Studi Kasus KUD Perintis...................Pengolahan dan Pemanfaatan Bauksit ........ Nuryadi Saleh...... 115 Kalimantan Tengah dengan Electrostatic Separator Pramusanto.. 194 Propinsi Jambi Endang Suryati dan M...... .... Ijang Suherman.... Husaini Presentasi Makalah Paralel III 97 Karakteristik Merkuri dalam Sedimen dan Air pada Pengolahan Tailing .......................... Abdul Haris..................... Freeport Indonesia .. 134 (Studi Kasus Perairan Bangka Utara) Ediar Usman dan Andri S. Miftahul Huda........................... 181 Upgraded Brown Coal Skala Pilot Ikin Sodikin dan Datin Fatia Umar Analisis Dampak Ekonomi Teknologi Peningkatan Kualitas Batubara ............. 122 Sistem Fluidized Bed Nurhadi dan Slamet Suprapto Metode Pengurangan Emisi Merkuri pada Pembakaran Batubara ........................................ 128 Roza Adriany Eksplorasi Potensi Konsentrat Timah Berdasarkan Data Seismik Refleksi ........... 175 sebagai Katalis Pencairan Batubara Nining Sudini Ningrum dan Hermanu Prijono Karakteristik dan Optimalisasi Pembriketan Batubara Hasil Proses .............. Lutfi Minyak Sintetik dari Pencairan Batubara dan Peningkatan Mutunya ....................... 168 Slamet Suprapto Uji Sulfidasi Bijih Besi Kalimantan Selatan dan Tailing PT.............

PRESENTASI MAKALAH PARALEL I .

namely: 1) to assess the mining activity related to the land use.id SARI Isu pertambangan terkait pengelolaan potensi dan kegiatan pertambangan emas di Gunung Tumpang Pitu. Regency of Banyuwangi include the gold mining. baik dalam hal teknis penambangan. Berdasarkan penelaahan terhadap ke-empat isu tersebut diperlukan kesiapan daerah (Pemerintah Kabupaten Banyuwangi) dalam mengelola potensi emas di Gunung Tumpang Pitu. 32 tahun 2004.esdm. Then. 3) to allocate the mining area for the local community in the concession area of the company that contains gold placer. tetapi harus dengan persuasive. the mining techniques. IMN yang memiliki potensi emas sekunder (alluvial). mining environment. dan 5) sesuai kebijakan otonomi daerah yang tertuang dalam UU No.. JAWA TIMUR Bambang Yunianto Peneliti Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. 022 . 4) dalam menangani persoalan Pertambangan Tanpa Izin (PETI) atau gurandil seyogyanya tidak menggunakan cara-cara represif. UU No. 022 . Bambang Yunianto 1 . Kecamatan Pesanggaran.6030483 Fax. 2) to reassess the mining activity conducted by PT.go. 3) untuk menampung partisipasi masyarakat dalam pertambangan. it requires the regional readiness to manage the gold potential in the region. lingkungan pertambangan. 38 Tahun 2007. maka perlu dibentuk kantor/ dinas pertambangan dan energi yang tugasnya mengelola kegiatan pertambangan di daerah. agar tidak menimbulkan permasalahan yang lebih besar dan kompleks. interest conflict and the socio-economic-culture. tumpang tindih dengan sector lain. Sudirman 623 Bandung 40211 Telp. to conduct guidance and monitoring. 2) mengkaji kembali kegiatan pertambangan emas oleh PT. Indo Multi Niaga (PT. dan isu sosekbud. dan PP No. lingkungan maupun dalam manajemen berusaha terhadap para penambang rakyat tersebut.PERMASALAHAN PENGELOLAAN POTENSI EMAS DI GUNUNG TUMPANG PITU KECAMATAN PESANGGARAN. yaitu: 1) melakukan kajian kegiatan pertambangan terkait pemanfaatan lahan sektor lain. Kemudian perlu dilakukan pembinaan dan pengawasan. kesiapan daerah.. KABUPATEN BANYUWANGI. The regional readiness includes several activities. Jend. tambang emas. environment or the Permasalahan Pengelolaan Potensi Emas di Gunung Tumpang Pitu . perlu dialokasikan Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) yang berasal dari wilayah konsesi PT. 33 Tahun 2004. IMN). District of Pesanggaran. Kata Kunci: isu pertambangan. Based on the review toward these issues. pengelolaan potensi emas ABSTRACT The mining issues related to manage the potential and the activity of gold mining in Gunung Tumpang Pitu. Kecamatan Pesanggaran. Banyuwangi meliputi isu potensi emas. Kesiapan daerah tersebut meliputi beberapa kegiatan. Kabupaten Banyuwangi. Indo Multi Niaga (PT.6003373 e-mail : yunianto@tekmira. IMN).

Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten 2 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . serta isu sosial ekonomi kemasyarakatan. Indo Multi Niaga (PT. Penangkapan ini telah menyulut konflik antara aparat dan para PETI. Rabu. isu tumpang-tindih sektor pertambangan dengan sektor lain (kehutanan. Pengolahan data menggunakan teknik kategorisasi. METODOLOGI Secara umum metodologi yang digunakan adalah pendekatan multidisiplin ilmu. Selasa. dan masalah 2. Detik Surabaya. Kecamatan Pesanggaran. gold mine. dan diskusi. seperti Pemda Perekonomian Kabupaten Banyuwangi. Bappeda Kabupaten Banyuwangi. Sebentuk Kanibalisasi antar -Potensi”. Data yang mendukung penulisan ini berupa data primer maupun sekunder hasil survai lapangan. Senin. 4) “Penambang Emas Dadakan di Banyuwangi Capai 3 Ribu Orang”. dan surveyor). sekembalinya Tim Isu Pertambangan Puslitbang tekMIRA dari lapangan. Kabupaten Banyuwangi. kompilasi. akar permasalahan dari mencuatnya isu pertambangan terkait potensi emas di Gunung Tumpang Pitu. 2009 5) “Berebut Emas di Tumpang Pitu”. antara lain. Berdasarkan informasi secara informal. Kecamatan Pesanggaran. Analisis data dilakukan secara deskriptif analitis. Provinsi Jawa Timur dilakukan untuk menginventarisasi dan mengidentifikasi permasalahan mengenai isu lingkungan pertambangan tanpa izin (PETI) emas dan isu tumpang-tindih kegiatan PT. Kabupaten Banyuwangi. wawancara berpanduan. isu pertambangan tersebut kembali mencuat setelah terjadi penangkapan terhadap para PETI yang dilakukan Polres Kabupaten Banyuwangi. 19 April 2008. 16 Juni 2008 3) “Ribuan Penambang Emas Banyuwangi Diusir”. sebagaimana dipilih sesuai judul tulisan ini. UU 33/2004 and PP 38/2007. Tim Isu Puslitbang tekMIRA menurunkan tim yang terdiri atas berbagai disiplin ilmu (tambang/ geologi. Provinsi Jawa Timur sebetulnya terletak kepada kesiapan daerah di dalam pengelolaan pertambangan. Inventarisasi data melalui teknik observasi. Banyuwangi sesuai peraturan terkait. Harian Kompas. sosial ekonomi. Banyuwangi. sebagai bahan masukan bagi daerah dalam mengelola sumber daya tambang yang ada di daerahnya. Kegiatan survai lapangan pemantauan isu pertambangan di Kabupaten Banyuwangi.management of the business for the miners. Isu pertambangan di Kabupaten Banyuwangi tersebut memiliki bobot penting karena ada beberapa masalah. Jumat 27 Februari 2009. Harian Kompas. dokumentasi. Sedangkan dalam merekonstruksikan pemecahan permasalahan dan masukan bagi daerah didasarkan kepada pertimbangan-pertimbangan rasional dan berlandaskan kepada arah kebijakan pertambangan dan kebijakan lain yang terkait pada era otonomi daerah. Kegiatan survai lapangan isu lingkungan dan tumpang-tindih pertambangan dengan sektor kehutanan di Pegunungan Tumpang Pitu di atas didasarkan pemberitaan dan informasi di media mass berikut: 1) “Emas vs Potensi Agraris Banyuwangi. Berdasarkan hasil survai lapangan. PENDAHULUAN ini mendapat sorotan dari berbagai pihak di Kabupaten Banyuwangi. Oleh karena itu. pertanian dan perkebunan). Berita Fajar FM. and 5) in accordance with the regional autonomy policy. dengan menggunakan berbagai parameter keilmuan dalam membahas permasalahan utama yang dikaji. Kecamatan Pesanggaran. Harian Kompas. 4) not to apply repressive actions towards illegal mining. it is required to set an office of mining and energy in managing mining operation in the region. Maksud penulisan ini adalah mengidentifikasi dan menganalisis permasalahan pengelolaan potensi emas di Gunung Tumpang Pitu. UU 32/2004. management of gold potential 1. but to persuade not to create a bigger problem and complex. Kecamatan Pesanggaran. Keywords: mining issues. isu lingkungan. Sabtu. dan tabelisasi. 17 Mei 2009. IMN) di Pegunungan Tumpang Pitu. Data primer berupa hasil wawancara langsung dengan berbagai pihak yang terkait dengan permasalahan pengelolaan potensi emas di Gunung Tumpang Pitu. 2) “Masyarakat Banyuwangi Tolak Tambang Emas di Hutan Lindung Tumpang Pitu”. 28 April. regional readiness.

Kecamatan Pesanggaran serta informasi dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan mass media. IMN. Banyuwangi (Pak Gatot Sudjadi). PT. Mengenai route survai lapangan lihat Gambar 1.. Bambang Yunianto 3 . dokumentasi dan wawancara dengan gurandil. Banyuwangi dengan Pak Mujiono. baik di tingkat Kabupaten Banyuwangi.. para gurandil. PT. Survai ke lokasi PETI emas di sekitar pegunungan Tumpang Pitu. Route survai lapangan tim isu pertambangan Puslitbang tekMIRA di Kabupaten Banyuwangi Permasalahan Pengelolaan Potensi Emas di Gunung Tumpang Pitu . IMN dan tata ruang (hutan lindung). aparat keamanan yang bertugas di Gunung Tumpang Pitu. Camat dan staf Kecamatan Pesanggaran. Koordinasi dan diskusi denga PT. Mengenai pelaksanaan kegiatan survai lapangan dari tanggal 20 – 25 April 2009 adalah: 1) Melakukan kegiatan koordinasi dengan Kepala Bagian Perekonomian (Pak Bambang Edi Sunaryo) dan Sekertaris (Bu Tri) tentang isu lingkungan PETI emas di pegunungan Tumpang Pitu di Kantor Pemda Kab. Koordinasi dan pendataan dengan Kepala TU Kantor Lingkungan Hidup Kab. Sedangkan data sekunder berasal dari instansi terkait. dan berkoordinasi dan diskusi dengan staf Kecamatan Pak Sujono dan Pak Sunoto. IMN yang diwakili Pak Hilman dan Pak Yuswardi. Pak Rudianto tentang isu Lingkungan 3) 4) 5) 6) 7) PETI emas. dan masyarakat setempat. sedangkan dokumentasi survai lapangan dapat dilihat pada Lampiran Foto-Foto Survai Lapangan.Banyuwangi. Pendataan di BPS Kabupaten Banyuwangi dengan Pak Ruslan Survai lapangan ke lokasi di Kecamatan Pesanggaran. Gambar 1. 2) Koordinasi dan pendataan di Bappeda Kab. Pak Wahyu Diyono. Banyuwangi (Distamben belum ada).

77. Kontribusi komiditi kopi yang berada di dalam kawasan hutan produksi sebesar 10.251. Gunung Wedi Ireng. dan c. Biasanya emas ditemukan bersama logam lainnya seperti perak. Lembah Gunung Tumpang Pitu. Fenomena seperti ini sangat umum ditemukan di Pulau Jawa. Tepatnya pada Petak 75.600. Berdasarkan hasil tracking Tim Isu Pertambangan Puslitbang tekMIRA sewaktu survai. Kontribusi sektor pertanian terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Banyuwangi (lebih dari 60%).3 ha dan hutan lindung seluas 1. Pongkor.000 dipulangkan 4 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Malang. setelah disidangkan oleh Bapedalda Jawa Timur pada 26 Mei lalu. Berdasarkan studi kelayakan PT.6 miliar. 4.000 orang (Gambar 3).000. 30 liter per/ detik. Kontribusi komiditi getah pinus sebanyak 2. IMN meliputi kawasan Gunung Tumpang Pitu. KPH Banyuwangi Barat. Dokumen Amdal PT IMN telah disahkan oleh Tim Amdal Propinsi Jawa Timur.21 km2.643 ton (BPS: 2007) atau setara dengan Rp.621. pada aliran Sungai Gonggo. cadangan emas 320. setelah pada akhir bulan April 2009 sekitar 6. Kampung 56. Lumajang. Pemkab Banyuwangi telah menyetujui rencana mengajukan permohonan alih fungsi kawasan hutan lindung dalam KPH Banyuwangi Selatan. Desa Pesanggaran. Keberadaan emas sekunder ini sebagian besar berada pada lahan Perhutani. Konsesi PT. Potensi Tambang Cebakan emas di daerah Pesanggaran ditemukan berdasarkan pada pemboran eksplorasi sebanyak 14 lubang bor dengan kedalaman total 4.000. padahal logam-logam tersebut memiliki nilai ekonomis bila sejak dini sudah diketahui nilai potensinya. dan TN Baluran. Keberadaan 3 KPH dan 3 TN ini berhubungan erat sumber mata air dan sungai-sungai yang menjadi sumber irigasi bagi sektor pertanian dan perkebunan yang saat ini diunggulkan sebagai sektor penting bagi Kabupaten Banyuwangi.3 gram/ton.000. keberadaan 3 KPH dan 3 TN tersebut secaraa riil telah memberikan kontribusi yang nyata bagi PAD kabupaten ini. IMN.2. Di samping itu. PT. Luas konsesi yang diberikan pemerintah sekitar 11. kadar emas rata-rata 2. saat ini diperkirakan mencapai 3. KONDISI KEGIATAN PERTAMBANGAN 4. ada juga emas plaser/ sekunder di sekitar lokasi emas primer tersebut. tembaga.3 gr/ton. memiliki andil dalam menopang ketahanan pangan nasional. kabupaten ini memiliki 3 Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) seperti Banyuwangi (KPH Banyuwangi Selatan. Pacitan. dan akan ditingkatkan statusnya menjadi KP eksploitasi.70 ton senilai Rp. 68. yang penyebarannya mengikuti sungai-sungai tua pada jaman dahulu. Kecamatan Pesanggaran.1.8 ton.621. 76.2. andesit. Sementara itu.2. IMN merupakan perusahaan tambang emas yang modalnya swasta nasional. Banyuwangi.5 ha dipetak 75.672. RPH Kesilir Baru. Menurut RTRW Jatim 2020 kawasan tersebut telah ditetapkan sebagai kawasan resapan air katagori tinggi.000 ton. a. KPH Banyuwangi Selatan.3. dan KPH Banyuwangi Utara). Saat ini perusahaan menampung 125 warga menjadi buruh kasar.100 meter pada KP Eksplorasi PT. BKPH Sukamade. Gunung Jatian. Gunung Macan dan kawasan lindung setempat. pada lokasi 56 gurandil/ PETI (Pertambangan Tanpa Izin) beroperasi pada wilayah Perhutani diperkirakan meliputi luas sekitar 203.45 ha. 78. Kadar emas di daerah ini adalah 2. dan menjadikan kabupaten ini sebagai lumbung padi nasional. Kontribusi komoditi getah damar sebesar 49 ton senilai Rp. TN Meru Betiri. PETI/ Gurandil PETI/ gurandil beroperasi di Gunung Tumpang Pitu. yakni TN Alas Purwo. Potensi Sektor Lainnya Kabupten Banyuwangi dikelilingi 3 Taman Nasional (TN). Dusun Ringinagung. Selain cebakan emas primer yang ditemukan. Banyumas. 77 dan 78 kawasan hutan tersebut. 247. granodiorit dan dasit. b. seperti di Cikotok.3 ha (Gambar 2). Selain itu. Jumlah ini. dan kadar logam-logam lainnya tidak ada datanya. 3. Menteri Kehutanan melalui surat S.406/MENHUTVII/PW/2007 mengijinkan perusahaan melakukan eksplorasi selama 2 tahun.230. IMN) PT. IMN seluas 11. POTENSI TAMBANG DAN SEKTOR LAIN DI GUNUNG TUMPANG PITU 3.600. 45 ha atau 116.1. 76. Data hasil kekayaan hutan non-kayu Banyuwangi pada tahun 2006 meliputi. Cebakan emas ditemukan dalam bentuk urat-urat kuarsa pada batuan volkanik yang diterobos oleh batuan intrusif berupa diorite. hingga Juli 2009. Indo Multi Niaga (PT. cadangan bijih yang dieksplorasi mencapai 9. Gunung Sumber Salak. Eksplorasi itu meliputi kawasan hutan produksi seluas 736. Wonogiri. 4.

Kecamatan Pesanggaran. Konsesi PT. Kampung 56.. Desa Pesanggaran. Lokasi PETI/ Gurandil di Petak 56 (Luas Perkiraan 203. Dusun Ringinagung. Kecamatan Pesanggaran. Desa Pesanggaran. Dusun Ringinagung. Kampung 56. Banyuwangi Gambar 3. IMN dan lokasi aktivitas PETI/ Gurandil di Petak 56. Banyuwangi Permasalahan Pengelolaan Potensi Emas di Gunung Tumpang Pitu .Gambar 2. lembah Gunung Tumpang Pitu. Bambang Yunianto 5 .. Lembah Gunung Tumpang Pitu.3 Ha).

Pemulangan itu dilakukan setelah Pemerintah Kabupaten Banyuwangi melakukan rapat koordinasi dengan muspida. Dengan demikian tidak tertutup kemungkinan bahwa potensi penyebarannya juga terdapat di daerah-daerah tersebut. Tidak tertutup kemungkinannya. Jadi. seperti pendulang emas asal Kalimantan. masih diperlukan pemboran eksplorasi yang lebih banyak lagi. lokasi-lokasi PETI di Gunung Tumpang Pitu memang mengandung emas (perlu uji laboratorium). Beberapa pohon jati juga turut tumbang akibat aktifitas penambangan PETI secara tradisional tersebut. maupun tanaman pertanian/ perkebunan masyarakat (petani magersari) sehingga harus dihentikan. Permasalahan ini harus segera diselesaikan. Jadi. ada juga emas plaser/sekunder di sekitar lokasi emas primer tersebut. IMN relatif sedikit. Secara umum. namun. Sungai Gonggo mengalami pelebaran hingga tujuh meter dari lebar awalnya satu meter. karena jumlah lubang bor yang dilakukan oleh PT. tepatnya di petak 79. Sulawesi. setiap daerah harus mencadangkan wilayahnya untuk menggali potensi bahan galiannya. Pada umumnya.5 meter. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 4/2009. Ini berarti bahwa kelak saat operasi penambangan emas ini berlangsung. maupun tanaman pertanian/ perkebunan masyarakat (petani magersari). Untuk itu. Maraknya PETI telah menimbulkan kerusakan di Sungai Gonggo dan hutan jati. dan berpotensi menimbulkan banjir dan longsor serta kerusakan hutan jati.21 km2. terutama pada petak 56 maupun 79 sebagai sampel wilayah-wilayah sekitarnya. di kabupaten ini belum dialokasikan Isu lingkungan terkait kegiatan pertambangan di Gunung Tumpang Pitu tidak hanya diakibatkan oleh kegiatan PETI/ gurandil saja. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi harus mempersiapkan lokasi peruntukan lahan bagi sektor pertambangan. Keberadaan emas sekunder ini perlu dicermati untuk dieksplorasi lebih lanjut. agar dapat dimanfaatkan sebagai lahan usaha bagi masyarakat setempat dalam bentuk Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR). Lingkungan 5. logam-logam tersebut akan menjadi perolehan yang menguntungkan. Selain cebakan emas primer yang ditemukan. karena pada lokasi tersebut telah banyak gurandil yang betul-betul mendapatkan emas. emas ditemukan bersama logam lainnya seperti perak. yang akan berpotensi menimbulkan banjir dan longsor serta kerusakan hutan jati. PERMASALAHAN DAN PEMBAHASAN lahan usaha tambang dalam peta tata ruangnya. Dalam rangka memberi kepastian. namun juga tersebar di daerah sekitarnya seperti Glenmore dan Bangorejo. 5. Sampai saat ini. apabila sejak dini sudah diketahui nilai potensinya. Kadar emas di daerah ini adalah 2. Untuk meningkatkan status potensinya.1. agar perhitungan operasi penambangannya dapat dilakukan dengan tepat. tetapi juga akibat isu Lingkungan pertambangan PT. IMN. Isu kalau butiran seperti emas itu adalah logam jenis pirit (FeS2) perlu dicarikan kepastiannya. awalnya hanya setengah meter kini berubah menjadi 1. IMN karena kurangnya transparansi dalam Publikasi berbagai kemajuan kegiatan. Dengan demikian. Perhutani dan pemilik izin ekplorasi emas PT. Sedangkan. jarak antarlubang bor ini terlalu panjang. 5. Nabire dan Bandung.2. namun untuk memberi kesahihan data telah ditunjuk tim independen untuk melakukan uji laboratorium. Rapat yang dipimpin langsung Bupati Banyuwangi Ratna Ani Lestari itu menyimpulkan PETI yang dilakukan ribuan gurandil tersebut telah merusak lingkungan. tembaga. Dari pantauan sementara Tim Isu Puslitbang tekMIRA.secara paksa oleh sekitar 190 personil aparat keamanan. status ‘cadangan’nya perlu direvisi. Status cadangan untuk kategori perhitungan potensi cebakan emasnya belum tepat. 6 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . kadar logamlogam lainnya tidak ada datanya. mengingat potensi usaha pertambangan di daerah ini memperlihatkan prospek bila dikelola dengan baik. asosiasi logam-logam tersebut akan terbuang dengan percuma. Potensi Bahan Tambang Fenomena geologis di daerah eksplorasi tersebut tidak hanya tersebar di daerah Pesanggaran. dengan jarak antarlubang bor sepanjang 2 km. hal ini menjadi tugas tersendiri bagi perusahaan tambang tersebut untuk melakukan uji laboratorium terhadap logam-logam tersebut.3 gr/ton. terutama dalam pengelolaan Lingkungan. Pemkab Banyuwangi sudah mengambil beberapa sampel untuk diuji. jarak lubang bor ini adalah 500 m. PETI yang dilakukan ribuan gurandil telah merusak lingkungan. agar tingkat keyakinan geologisnya menjadi tinggi. selain itu kedalaman Sungai Gonggo turut mengalami perubahan drastis. yakni hanya 14 buah untuk mengeksplorasi daerah seluas 116.

Komisi Amdal Propinsi/Bapedalprop Jatim tidak berwenang menilai Amdal PT IMN. penilaian Amdal dari sebuah rencana pertambangan yang menggunakan STD seperti halnya PT IMN tersebut. sejatinya Sidang Amdal yang diselenggarakan dan dipimpin oleh Komisi Amdal Propinsi/Bapedalprop Jatim tidak sah. dan merekalah pihak pertama yang akan merasakannya. Hal ini menunjukkan minimnya kemauan Pemprop Jatim dan Pemkab Banyuwangi untuk melakukan penguatan terhadap rakyatnya. Beberapa butir yang dijadikan dasar penolakan AMDAL PT. IMN tersebut. karena tidak ada satu pun dokumen Amdal yang dibagikan kepada warga Dusun Pancer. antara lain: a. Dengan demikian. Warga pun tidak punya kecukupan waktu untuk memilih pihak yang menurut warga memiliki kompetensi untuk mendampinginya dalam mengikuti Sidang Amdal.. pada gambar 2. Warga Pancer telah menolak rencana tersebut. 11 tahun 2006. Dimana penolakan tersebut telah mereka sampaikan dalam acara Sosialisasi Penambangan Emas HLGTP yang diselenggarakan pada 12 Maret 2008 lalu di Balai Dusun (dihadiri oleh perwakilan Pemkab Banyuwangi. Berdasarkan Peraturan Meneg LH no. Berdasarkan Peraturan Meneg LH no. Bambang Yunianto 7 . perwakilan Mapolsek Pesanggaran. bukan di tangan Komisi Amdal Propinsi/Bapedalprop Jatim. Amdal yang dibuat oleh PT IMN sebagai pemrakarsa adalah dokumen Amdal yang tidak layak dan harus ditolak. g. b. Semenjak awal bergulirnya rencana penambangan emas di HLGTP oleh PT IMN. karena dalam Presentasi Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan (KA-Andal) yang bertempat di ruang Minakjingga Pemkab Banyuwangi pada tanggal 30 Januari 2008. 11 tahun 2006. karena pihak pemrakarsa tidak membuat pengumuman tentang rencana Sidang Amdal yang layak dan mencukupi. perwakilan Makoramil Pesanggaran. Pembuangan tailing ke laut ini. dan Camat Pesanggaran). terutama pakar. e. IMN dapat ditunjukkan berdasakan surat penolakan AMDAL oleh Masyarakat Banyuwangi yang tergabung dalam Komunitas Pecinta Alam Pemerhati Lingkungan (Kappala Indonesia) region Banyuwangi. Penolakan tersebut juga telah disuarakan oleh 5 (lima) orang utusan Warga Pancer yang menghadiri Sidang Amdal tanggal 26 Mei 2008 di Surabaya.berbagai isu Lingkungan yang diakibatkan PT. dan Dewan Rakyat Jalanan untuk Demokrasi (Derajad). sehingga warga tidak memiliki kesiapan untuk berdialog dengan pihak yang terkait. Amdal yang dibuat oleh PT IMN sebagai pemrakarsa adalah dokumen Amdal yang tidak layak dan harus ditolak. Amdal yang dibuat oleh PT IMN sebagai pemrakarsa adalah dokumen Amdal yang tidak layak dan harus ditolak. dalam Lampiran Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup nomor 11 tahun 2006 tentang Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup disebut sebagai Submarine Tailing Disposal (STD). sehingga warga tidak memiliki informasi mengenai Amdal. c. karena tidak sesuai dengan Peraturan Meneg LH no. Keterbukaan informasi menjadi sesuatu yang logis untuk dimiliki oleh warga Pancer karena dampak apapun dari pertambangan tersebut jelas-jelas akan berpengaruh langsung kepada mereka. Padahal keterbukaan informasi ini penting sebagai tolok ukur tinggi-rendahnya itikad baik dari pemrakarsa rencana pertambangan maupun pemkab dan pemrop. Kurva Hijau.4 tentang “Peta Rencana Tata Letak Kegiatan” dapat dilihat dengan jelas bahwa tailing (limbah tambang) akan dibuang ke laut. Bahkan hingga kini pun belum terlihat kemauan pemrakarsa untuk mengumumkan secara terbuka tentang Sidang Revisi Amdal. kewenangannya berada di tangan Deputi Bidang Amdal Kementerian Negara Lingkungan Hidup. Dalam acara tersebut tidak ada itikad baik dari pemrakarsa untuk menjelaskan apa itu sianida? Apa saja dampaknya? Dan apa yang membuat pemrakarsa yakin bahwa sianida aman? f. Sidang Amdal tersebut di atas merupakan sidang yang tidak adil. Warga Pancer tidak diberi kecukupan waktu untuk mempelajari Amdal tersebut. Dalam Dokumen Andal yang dibuat oleh PT IMN. perwakilan TNI AL. 11 tahun 2006 tersebut. d. PT IMN telah melakukan kebohongan publik dengan menyatakan kepada seluruh hadirin bahwa merkuri berbahaya sementara sianida aman.. karena tidak ada satu pun dari peta yang termuat di dalamnya yang menampakkan keberaradaan Pulau Permasalahan Pengelolaan Potensi Emas di Gunung Tumpang Pitu .

bagian yang tidak terpisahkan dari 3 KPH dan 3 TH. 76. RPH Kesilir Baru. terkesan memberi sinyal ditingkatkannya status PT IMN dari eksplorasi menjadi eksploitasi. Dokumen Amdal PT IMN telah disahkan oleh Tim Amdal Propinsi Jawa Timur. Gunung Tumpang Pitu memiliki kaitan erat dengan aktivitas penduduk di sekitarnya. 78.3 ha dan hutan lindung seluas 1. BKPH Sukamade. semakin meresahkan warga. KPH Banyuwangi Selatan. yang berfungsi sebagai daerah penyangga. Isu dampak sosekbud PT. pertanian dan perkebunan rusak akibat terinjak-injak ataupun rusak karena ditambang.251. Gunung Jatian. Gunung Jatian.406/MENHUTVII/PW/2007 mengijinkan perusahaan melakukan eksplorasi selama 2 tahun. 77 dan 78 kawasan hutan tersebut. Pemkab Banyuwangi telah menyetujui rencana mengajukan permohonan alih fungsi kawasan hutan lindung dalam KPH Banyuwangi Selatan. tambang emas yang dibangun oleh PT IMN di Tumpang Pitu memakan areal seluas 11. Tumpang-tindih antar Sektor Konsesi PT IMN di Tumpang Pitu meliputi areal seluas 11. IMN. Sedangkan wilayah yang ditambang oleh PETI. 78. Petak 56 dan Petak 79 masuk dalam wilayah konsesi PT. Gunung Wedi Ireng. perkebunan. berbagai informasi mengenai penolakan terhadap kegiatan pertambangan di kawasan Gunung Tumpang Pitu di atas. RPH Kesilir Baru. Gunung Wedi Ireng. dan perikanan tersebut perlu dipertimbangkan positif dan negatifnya. dan kawasan hutan lindung setempat. 76.621 hektar yang meliputi kawasan Gunung Tumpang Pitu.3. yaitu: 1) Sejumlah Petani dan Nelayan Banyuwangi Jawa Timur ke Jakarta mendesak agar 8 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Gunung Sumber Salak. sungai yang dimanfaatkan untuk irigasi. dan isu utama beberapa unjuk rasa mengenai lingkungan hidup perlu dijadikan barometer dalam memahami berbagai persoalan lingkungan pertambangan di Gunung Tumpang Pitu dan sekitarnya. Tidak adanya Pulau Merah di semua peta yang terdapat dalam dokumen Andal tersebut mencerminkan keteledoran PT IMN. Gunung Macan. Menurut Tim Isu Puslitbang tekMIRA. pertanian. yaitu Petak 75. Kawasan Eksplorasi itu meliputi kawasan hutan produksi seluas 736. 5.251. KPH Banyuwangi Selatan. Pengesahan Dokumen Amdal PT IMN oleh Tim Amdal Propinsi Jawa Timur dan kedatangan Mentri Kehutanan MS Kaban di Banyuwangi. berhubungan erat sebagai sumber mata air dan sungai-sungai yang menjadi sumber irigasi bagi sektor pertanian dan perkebunan yang saat ini diunggulkan sebagai sektor penting bagi Kabupaten Banyuwangi. IMN maupun PETI/ Gurandil dan isu kesamaan hak atas sumber daya bahan tambang (PT. yaitu isu dampak sosekbud PT. Sementara itu. PT IMN mendapat izin kuasa eksplorasi emas dikawasan hutan dari Menteri Kehutanan MS Kaban nomor . Eksplorasi itu meliputi kawasan hutan produksi seluas 736.5 ha dipetak 75.621 ha yang meliputi kawasan Gunung Tumpang Pitu. Gunung Macan. setelah disidangkan oleh Bapedalda Jawa Timur pada 26 Mei lalu.Merah.4. Sebagai kawasan penyangga. Unjuk rasa beberapa komponen masyarakat terhadap kegiatan pertambangan dapat dijadikan barometer bagi pengembangan kegiatan pertambangan di daerah ini. Berapa aktivitas ekonomi masyarakat yang akan terganggu (misal pertanian. 5. Sementara itu. Sosial Ekonomi Masyarakat Isu social terbagi dua. IMN terhadap berbagai aktivitas mata pencaharian masyarakat di sekitar proyek. seperti pertanian. tetapi perlu didudukan secara proporsional pada sumber akar persoalannya. Menteri Kehutanan melalui surat S.5 ha dipetak 75. Berbagai persoalan tersebut tidak perlu langsung ditanggapi apreori. Gunung Sumber Salak. IMN vs Rakyat). hingga Juli 2009. 77. dan kawasan hutan lindung setempat. Sebelumnya. Dampak sosekbud PETI/ Gurandil terutama akibat rusaknya lingkungan. 77. termasuk sektor perikanan bila pembuangan tailing dilakukan di dasar laut.3 ha dan hutan lindung seluas 1. BKPH Sukamade. perkebunan dan nelayan. koordinator Koalisi Tolak Tambang di Tumpang Pitu (KT3P). perkebunan. perikanan) dan bagaimana proses pengelolaannya. Kawasan Gunung Tumpang Pitu merupakan kawasan hutan lindung dan hutan produksi. Konflik kepentingan antara sektor pertambangan dengan sektor kehutanan. serta menggambarkan rendahnya kepedulian PT IMN terhadap area penting seperti Pulau Merah. 76. IMN terkait dengan dampak kegiatan PT. dan kekhawatiran penggunaan air raksa yang akan mencemari lingkungan (darat dan perairan) bila tidak ditangani dengan serius.406/MENHUT_vii/ PW/2007 tertanggal 27 Juli 2007.

.dihentikan kegiatan PT. yang dianggap telah telah melakukan ketidakadilan informasi terhadap masyarakat terkait aktifitas PT IMN di Gunung Tumpang Pitu karena tidak transparan. IMN dan masyarakat penambang. Kecamatan Pesanggaran. dengan dampak yang dapat Permasalahan Pengelolaan Potensi Emas di Gunung Tumpang Pitu .. Bappeda dan Kantor Lingkungan Hidup menyebabkan persoalan pertambangan tidak tertangani secara optimal. cara-cara represif justru akan menimbulkan persoalan baru yang lebih besar. 2) Puluhan ribu warga yang tinggal sepanjang Rajekwesi sampai Muncar . maka Pemda Kabupaten Banyuwangi seharusnya menyiapkan WPR sebagai wadah menampung aspirasi rakyat dalam kegiatan pertambangan dengan beberapa tahap berikut: 1) Secepatnya meminimalkan daerah operasi PETI/ gurandil untuk mengurangi dampak Lingkungan. pembinaan dan pengawasan teknis penambangan. Lingkungan pertambangan. kalau PT. bagaimana seharusnya. IMN diperbolehkan melakukan aktivitas di kawasan hutan lindung. Berbagai persoalan yang mendasar tersebut timbul. 3) Kunjungan Rombongan Dirjen Planologi Departemen Kehutanan ke lokasi penambangan emas tradisional di lereng Gunung Tumpang Pitu Kampung 56 Dusun Wringin Agung Desa/Kecamatan Pesanggaran. Di samping itu. dengan persuasif menjaga wilayah operasi PETI/ gurandil tersebut. 3) Melakukan kajian eksplorasi terhadap daerah yang disiapkan untuk WPR dan menyiapkan perizinannya dengan wadah badan usaha Koperasi. 2) Menyiapkan Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) pada daerah-daerah di lembah Gunung Tumpang Pitu yang memiliki kandungan emas alluvial. IMN vs PETI/ Gurandil) merupakan isu penting. karena kalau tidak ditempatkan pada koridor yang semestinya. 6. Kabupaten Banyuwangi. Untuk memberi rasa keadilan. Masalah tersebut terkait dengan pertanyaan mendasar. Pertanyaan ini berlanjut dengan masalah. IMN. Bambang Yunianto 9 . termasuk perikanan mendesak dihentikannya rencana pengerukan emas di hutan lindung Tumpang Pitu. karena Pemda Kabupaten Banyuwangi kurang cepat dalam menanganinya sebagai akibat belum adanya kantor/ dinas pertambangan yang seharusnya bertanggung jawab terhadap persoalan pertambangan di daerah.Banyuwangi akan terancam hidupnya. saat ini dengan persoalan pertambangan yang komplek ditangani oleh Pemda Bagian Perekonomian. dan isu sosekbud). 4) Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Peduli Lingkungan (AMMPeL). Kesiapan daerah dalam mengelola potensi emas di Gunung Pitu tersebut meliputi beberapa tahap kegiatan berikut: 1) Perlu ada kajian mengenai keuntungan dan kerugian (cost benefit analysis) antara kegiatan pertambangan dengan sektor kehutan. kalau pelarangan PETI/ Gurandil karena merusak Lingkungan dan tidak berizin sehingga tidak ada pemasukan bagi pemda. kenapa rakyat dilarang di kawasan hutan produksi. dan sektor lain terkait fungsi hutan sebagai penyimpan sumber daya air sektorsektor pertanian dan perkebunan. Banyuwangi. lingkungan dan manajemen usaha bagi penambang rakyat. ada kesan dalam menangani setiap persoalan PETI/ Gurandil dilakukan dengan cara-cara represif. 4) Menyiapkan bimbingan. diwarnai aksi penghadangan oleh ratusan massa anti tambang. berdasarkan kasus-kasus di beberapa daerah. Padahal. Mereka mendesak pemerintah mencabut ijin petambangan dan AMDAL tambang emas PT Indo Multi Niaga (IMN) yang cacat dan menolak ijin pinjam pakai penggunaan hutan. setiap ada persoalan masing-masing saling menunggu dan bagi-bagi tanggung jawab/ peran. 2) Bila kegiatan pertambangan lebih menguntungkan. Mengenai isu kesamaan hak dalam pemanfaatan bahan tambang (PT. diperlukan kesiapan daerah (Pemerintah Kabupaten Banyuwangi) dalam mengelola potensi emas di Gunung Tumpang Pitu. mengecam pertemuan antara Dirjen Planologi Departemen Kehutanan dan PT Indo Multi Niaga (IMN) serta pihak terkait lainnya di Pendopo Banyuwangi. tumpang tindih dengan sektor lain. Perlu dipahami. kesamaan hak atas sumber daya alam antara PT. KESIMPULAN DAN TINDAK LANJUT Berdasarkan pembahasan terhadap ke-empat isu potensi dan kegiatan pertambangan emas di Gunung Tumpang Pitu di atas (isu potensi emas. sesuai pasal 33 UUD 45 dapat menjadi pemicu isu-isu lainnya di kawasan tersebut. yang secara tingkatan fungsi hutan lebih rendah.

7 11.9 19. maka perlu dilakukan pembatasan kembali wilayah PT.8 58.7 8.9 15.8 16.8 53.6 15. dan rencana pengelolaannya.9 3.4 17. 6) Dalam pengalokasian WPR perlu dilakukan kegiatan inventarisasi potensi bahan galian Tabel 1.8 30.2 17. Koordinat Wilayah Kuasa Pertambangan PT.diminimalkan dibanding kerugian yang akan terjadi terhadap sektor-sektor nonpertambangan. 5) Dalam menangani persoalan PETI/ Gurandil seyogyanya tidak menggunakan cara-cara represif. kajian terhadap kegiatan di sekitar proyek perlu diperluas dan diperdalam sehingga dapat memberi gambaran yang valid mengenai keadaan yang sebenarnya.2 19.8 Sumber: ANDAL Pertambangan PT. batas wilayah yang terdapat pada tabel titik koordinat terdapat kesalahan pada titik 14 dan 15 (koordinat y garis lintang/ LS untuk titik 14 seharusnya 36’.8 hrsnya 00 12.00" dan titik 15 seharusnya 36’. 3) Berdasarkan kajian terhadap AMDAL PT.6 53.6 12. wilayah konsesi.2 30. dalam kajian AMDAL perlu diperjelas mengenai rencana pembuangan limbah.6 20. PETI Batubara di Kalimantan Selatan.6 8.2 3. 4) PT. terutama terkait fungsi hutan lindung sebagai sumber mata air.4 29.00") yang bisa fatal karena sebagai batas wilayah konsesi (Tabel 1).9 57 57 37. 4/2009. Indah Multi Niaga 10 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Mengenai tahap eksplorasi diatur dalam pasal 42-45 UU No. ada beberapa hal yang perlu diklarifikasi: wilayah konsesi.4 29. dan wilayah yang berpotensi emas sekunder/ alluvial dialokasikan sebagai Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) untuk mewadahi aspirasi rakyat/ masyarakat dalam kegiatan pertambangan. IMN. Kapur di Padalarang Jawa Barat.2 36. 4/2009.6 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 37 35 35 34 34 33 33 32 32 32 32 35 35 38 hrs-nya 36 38 hrs-nya 36 38 38 39 39 37 16. sedangkan pengalokasian WPR diatur pasal 20-26 UU No. IMN (relinquish) dari tahap eksplorasi ke tahap eksploitasi. dan perlu dilakukan secara transparan. IMN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 113 113 113 113 113 113 113 113 114 114 114 114 114 114 114 114 114 114 114 114 56 56 57 57 57 57 59 59 1 1 2 2 4 4 4 4 3 3 0 0 45.4 51. PETI Emas di Sulawesi Utara. tetapi harus dengan persuasive.4 58.4 36.4 58.7 2.4 45.7 58. IMN perlu memberi penjelasan yang ilmiah mengenai potensi emas primer maupun emas sekunder/ alluvial di dalam wilayah konsesinya di Gunung Tumpang Pitu.8 2. dan lainnya) kalau ditangani secara represif akan menimbulkan persoalan baru yang lebih besar. karena kasus-kasus semacam ini (PETI Emas Pongkor.4 51.8 hrsnya 00 11. serta kandungan mineral ikutan emas berdasarkan hasil laboratorium yang terakreditasi.2 37. dan sungaisungai bagi sektor pertanian dan perkebunan.4 20. perlu dilakukan pembatasan wilayah konsesi untuk meminimalkan dampak lingkungan.

33 Tahun 2004. baik dalam hal teknis penambangan. Indo Multi Niaga. Berita Fajar. Jakarta 2008 (Laporan Akhir). PT. 2009. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) Rencana Penambangan Emas DMP di Desa Sumber Agung. 32 tahun 2004. 2009. Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Banyuwangi 2005-2015 (Laporan Rencana). Rabo. sesuai kebijakan otonomi daerah yang tertuang dalam UU No. Provinsi Jawa Timur. Foto-foto dokumentasi survai di perkantoran dan dokumentasi PETI di Gunung Tumpang Pitu. 2009. “Berebut Emas di Tumpang Pitu”. Harian Kompas. ANDAL PT. BPS Kabupaten Banyuwangi. Indo Multi Niaga. BPS Kabupaten Banyuwangi. Bappeda Kabupaten Banyuwangi. 38 Tahun 2007. 2008. 2008. 2008. 7) Setelah Pemda Kabupaten Banyuwangi mengalokasikan WPR. Kabupaten Banyuwang Dalam Angka Tahun 2008. Selasa. 2008. Indo Multi Niaga. 2005. 2007. Berita Fajar FM. Provinsi Jawa Timur. Jakarta 2008. DAFTAR PUSTAKA Bappeda Kabupaten Banyuwangi. maka perizinan perlu disiapkan dan perlu dilakukan pembinaan dan pengawasan. UU No. Kecamatan Pesanggaran. Harian Kompas. Provinsi Jawa Timur.. Bambang Yunianto 11 . 19 April 2008. Jakarta 2008. 8) Untuk menangani berbagai permasalahan pertambangan di Kabupaten Banyuwangi. PT. 2008. 16 Juni 2008 Harian Kompas.emas sekunder pada wilayah-wilayah yang potensial dan dampaknya dapat diminimalkan. Rencana Umum Tata Ruang Kota dengan Kedalaman Rencana Detail Tata Ruang Kota Pesanggaran. Senin. 2009. Bappeda Kabupaten Banyuwangi. “Masyarakat Banyuwangi Tolak Tambang Emas di Hutan Lindung Tumpang Pitu”. Harian Kompas. 2008. Potensi pertambangan di Gunung Tumpang Pitu dan Pulau Batu Merah. 17 Mei 2009. Sabtu. Detik Surabaya. Permasalahan Pengelolaan Potensi Emas di Gunung Tumpang Pitu . 2009. Indo Multi Niaga. Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Banyuwangi 2007-2027 (Album Peta/ Gambar). Tim Isu Puslitbang tekMIRA. dan PP No. 28 April. Sebentuk Kanibalisasi antar Potensi”. Harian Kompas. Kecamatan Pesanggaran. Kecamatan Pesanggaran. Indo Multi Niaga. Kabupaten Banyuwangi. Banyuwangi. Harian Kompas. 2009. Kecamatan Pesanggaran Dalam Angka Tahun 2007. Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) Rencana Penambangan Emas DMP di Desa Sumber Agung. “Penambang Emas Dadakan di Banyuwangi Capai 3 Ribu Orang”.. maka perlu dibentuk kantor/ dinas pertambangan dan energi yang tugasnya mengelola kegiatan pertambangan di daerah. PDRB Kabupaten Banyuwangi Tahun 2008. Bappeda Kabupaten Banyuwangi. Kecamatan Pesanggaran. “Emas vs Potensi Agraris Banyuwangi. 2009. Bahan Presentasi Kabid Fisik dan Prasarana Wilayah. Jakarta 2008. PT. Kabupaten Banyuwangi. PT. Kabupaten Banyuwangi. BPS Kabupaten Banyuwangi. 2008. Indo Multi Niaga Rencana Penambangan Emas DMP di Desa Sumber Agung. Detik Surabaya. Rencana Penambangan Emas DMP di Desa Sumber Agung. lingkungan maupun dalam manajemen berusaha. Jumat 27 Februari 2009. Kabupaten Banyuwangi. Lampiran ANDAL PT. Provinsi Jawa Timur. 2008. Kecamatan Pesanggaran. 2005. “Ribuan Penambang Emas Banyuwangi Diusir”.

LAMPIRAN FOTO-FOTO SURVAI LAPANGAN 12 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .

Permasalahan Pengelolaan Potensi Emas di Gunung Tumpang Pitu ... Bambang Yunianto 13 .

14 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .

Bambang Yunianto 15 ..Permasalahan Pengelolaan Potensi Emas di Gunung Tumpang Pitu ..

Pengembangan lebih lanjut diharapkan difokuskan pada standarisasi dan uji pembanding Round Robin test dan analisis sistem on-line langsung ke komputer untuk mengetahui secara langsung komposisi producer gas. (022)6030483. The installed apparatus is tested for determining the content of tar and particulate of producer gas resulted from coal gasification. This method used apparatus which consists of iso-kinetic nozzle equipped with heater to take sample of producer gas. penyaring keramik untuk memisahkan partikulat. heat exchanger dan botol kondensasi untuk mengasorbsi lengas dan botol impinger untuk mengadsorbsi ter dalam contoh producer gas. metoda analisis ABSTRACT In relation to increase and diversify the utilization of coal.PENGEMBANGAN METODE ANALISIS TER DAN PARTIKULAT DALAM PRODUCER GAS DARI BATUBARA Slamet Suprapto dan Nurhadi Puslitbang tekMIRA. The purpose of this research is to develop sampling and analysis method for determination tar and particulate contents in producer gas from coal.go. Telp. 623 Bandung. Pengujian metoda sampling dan analisis terhadap producer gas hasil gasifikasi batubara tersebut menunjukkan kadar ter dan partikulat yang cukup rendah yaitu <100 mg ter/Nm3 dan <50 mg partikulat/Nm3 dan sudah memenuhi persyaratan untuk bahan bakar mesin diesel.esdm. Fax: (022) 6003373 email: slamets@tekmira. Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara sedang mengembangkan pemanfaatan producer gas hasil gasifikasi batubara untuk pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) sistem dual fuel di Sentra Teknologi Pemanfaatan Batubara. partikulat. producer gas. Palimanan.id. Jend. Batubara yang digunakan berasal dari Kalimantan Selatan yang mempunyai nilai kalor 5. The coal 16 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .go. Percobaan pengoperasian mesin diesel menggunakan sistem dual fuel menunjukkan kinerja yang baik dan tidak terdapat endapan ter dan partikulat dalam ruang bakar mesin diesel. Sudirman no. Metoda ini menggunakan peralatan yang terdiri atas nozzle isokinetik yang dilengkapi heater untuk mengambil contoh producer gas. Peralatan yang telah terangkai kemudian diujicoba untuk menentukan kadar ter dan partikulat dalam producer gas produk gasifikasi. ter. ceramic filter to separate particulate. Palimanan Cirebon. Metoda ini belum distandarisasi karena tidak tersedianya gas standar. Kata kunci: gasifikasi batubara.id SARI Dalam rangka meningkatkan dan mendiversifikasikan pemanfaatan batubara.500 kal/g. Salah satu parameter kualitas producer gas untuk digunakan pada sistem pembakaran internal seperti mesin diesel adalah kadar ter dan partikulat. Cirebon. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengembangkan metoda sampling dan analisis kadar ter dan partikulat dalam producer gas dari batubara. Jln.500 dan 4. One of quality parameter of producer gas to be used for internal combustion like diesel engine is the content of tar and particulate. nurhadi@tekmira. Research and Development Center for Mineral and Coal Technology is developing utilization of producer gas resulted from coal gasification for diesel powered electric generation using dual fuel system at Coal Technology Center. heat exchanger and condense bottle to absorb moisture and impinge bottle to absorb tar in the producer gas sample.esdm.

SNG) dan bahan baku industri kimia. The operation of diesel engine using dual fuel system shows good performance and there were no tar and particulate deposit in the combustion chamber. Proses gasifikasi batubara yang saat ini berkembang dengan maju adalah proses konversi batubara dalam sebuah reaktor dengan menggunakan pereaksi..500 and 4. serta pengotor N 2 mencapai sekitar 50%. analysis method 1.used comes from South Kalimantan which have calorific values of 5. Produk gas yang dihasilkan proses gasifikasi batubara tergantung pereaksi yang digunakan. producer gas dari biomassa telah digunakan untuk mesin pembakaran internal (internal combustion engine) seperti mesin gas (gas engine) dan mesin diesel dual fuel secara komersial di banyak negara. Metode analisis komposisi gas hasil gasifikasi biomassa maupun batubara umumnya menggunakan kromatografi gas. Peresmian pengoperasian pilot plant tersebut telah dilakukan pada tanggal 19 Maret 2008. PENDAHULUAN 2. syngas) dengan komponen utama CO dan H2. Sementara itu. Proses gasifikasi menggunakan pereaksi campuran oksigen/uap air menghasilkan produk gas yang disebut gas Lurgi dengan komponen utama berupa CO dan H2 dan sedikit gas-gas hidrokarbon. Kalimantan Timur. Perbedaan proses gasifikasi biomassa yang menghasilkan producer gas untuk mesin Pengembangan Metode Analisis Ter dan Partikulat dalam Producer . tar. gas alam sintetik (synthetic natural gas.500 cal/g. serta pengotor. Francis. The results show that the content of tar and particulate are <100 mg of tar/m3 and <50 mg of particulate/m3 respectively which correspond with the requirement of producer gas as fuel for dual fuel diesel engine. Further development needs to be focused on standardization and on-line system connected to computer which can show the composition of producer gas directly. particulate. Di Indonesia.. Sedangkan metode analisis kadar ter dan partikulat dalam producer gas hasil gasifikasi biomassa juga baru dikembangkan di beberapa negara Eropa. Producer gas juga dapat dihasilkan dari proses gasifikasi bahan karbonan (carbonaceous matter) lainnya seperti biomassa (Anonymous. Gas sintesis dapat diproses lebih lanjut melalui proses metanasi untuk mendapatkan gas SNG (Synthetic Natural Gas. Proses gasifikasi menggunakan pereaksi udara dan uap air menghasilkan gas yang disebut producer gas dengan komposisi terdiri atas gas mampu bakar (combustible gas) CO dan H2 dan dan sedikit gas hidrokarbon seperti CH 4. Proses gasifikasi menggunakan pereaksi hidrogen juga dapat menghasilkan gas alam sintetik yang mempunyai nilai kalor sekitar 1000 Btu/ft3 dan termasuk gas kalori tinggi (high calorie gas) (Elliot. TINJAUAN PUSTAKA Proses konversi batubara menjadi gas yang dikenal dengan istilah gasifikasi batubara sudah berkembang dengan maju. Untuk mendukung kegiatan pilot plant tersebut diperlukan perlatan dan metoda analisis producer gas yang dapat menentukan komposisi dan kadar kadar ter dan partikulat. 1984). Ward. 1986) dan dengan pereaksi campuran udara/uap air. Sehubungan dengan hal tersebut di atas. Batubara dari berbagai jenis dan peringkat dapat dikonversikan menjadi gas secara komersial. Cirebon. 1981. Nowacki. This method has not been standardized yet because standard reference gas is not available yet. perlu dikembangkan metoda analisis ter dan partikulat dalam producer gas dari batubara. Substitute Natural Gas) dengan komponen utama CH4. producer gas. Palimanan. 1965. Oleh karena itu. Gas ini termasuk gas kalori rendah (low calorie gas) dengan nilai kalor <200 Btu/ft3 (<1780 kkal/m3). Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara bekerjasama dengan PT PLN (Persero) dan PT Coal Gas Indonesia sedang mengembangkan pemanfaatan producer gas dari batubara untuk pembangkit listrik tenaga diesel dengan membangun pilot plant di Sentra Teknologi Pemanfaatan Batubara tekMIRA. penggunaan gas alam untuk mesin diesel dual fuel gas sudah dilakukan di Tarakan. Apabila gas Lurgi tersebut dimurnikan maka dihasilkan gas sintesis (synthesis gas. Slamet Suprapto dan Nurhadi 17 . 1981. Keywords : coal gasification. Gas Lurgi merupakan gas kalori menengah (medium calorie gas) dengan nilai kalor antara 200-400 Btu/ft3. Kalau pada awalnya gasifikasi batubara hanya menghasilkan producer gas (gas bakar) dan gas kota. tetapi sekarang bisa berupa gas sintesis.

Uap air dan sebagian 18 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . agar mesin diesel dapat beroperasi dengan normal. yakni batubara dimasukkan dari atas dan gas dikeluarkan dari bawah reaktor sehingga ter biomassa mengalami perekahan (cracking) menjadi molekul gas. Prinsip dasar metode tersebut adalah sampling dan analisis aliran producer gas yang mengandung ter dan partikulat secera on-line dengan menggunakan peralatan yang terdiri atas nozzle isokinetik dan penangkap ter dan partikulat. Namun pada unit gasifikasi batubara mempunyai sistem pemurnian gas yang juga dilengkapi penangkap ter khusus.pembakaran internal dan proses gasifikasi batubara yang digunakan di pilot plant pemanfaatan gasifikasi batubara untuk PLTD adalah pada reaktor dan sistem pemurnian gas. 2006): ter : <500 mg ter /m3 gas partikulat : 50 mg partikulat/m3 gas. Skema pemasangan nozzle pada pipa aliran produk gas hasil gasifikasi batubara dapat dilihat pada Gambar 1. Selanjutnya. Oleh karena itu. METODOLOGI 3. 1986. Air dan tar yang mengembun kemudian dilewatkan pada pipa teflon untuk dialirkan ke dalam botol kondensasi. belum ada prosedur standar untuk menentukan kadar ter dan partikulat dalam producer gas. Turare). Reaktor gasifikasi biomassa adalah sistem downdraft. kadar ter dalam relatif rendah dan unit pemurniaan gas yang digunakan untuk gasifikasi biomassa cukup hanya terdiri atas siklon. Bahkan Energy research Center of the Netherlands (ECN) Belanda mengembangkan prosedur tersebut menjadi standar untuk kawasan Eropa dengan mengadakan Round Robin test. kadar ter dan partikulat yang masih dapat ditoleransi untuk bahan bakar mesin pembakaran internal adalah adalah sebagai berikut (Anonymous. 3. van de Kamp. Penangkap ter terdiri atas botol pengembun uap air (moisture condensation bottle) dan 3 (tiga) botol tar impinger seperti terlihat pada Gambar 2. Alat sampling tersebut berupa nozzle isokinetik yang dipasang pada pipa aliran gas dan dilengkapi pitot tube dengan dimensi tertentu. Pipa teflon dicelupkan dalam air suling sedalam 15 mm. Botol kondensasi berisi 800 mL air suling (aquadest) yang didinginkan pada suhu 0OC. scrubber dan pendingin. Secara umum. Alat penangkap partikulat berupa penyaring keramik (ceramic filter) dipasang pada aliran contoh gas sebelum masuk ke rangkaian penangkap ter. Afrika.2. Contoh gas didinginkan dalam chiller yang terbuat dari gelas dan menggunakan air pendingin suhu 10 O C. di daerah-daerah terpencil di banyak negara misalnya Pilipina. Tetapi metode analisis ter dan partikulat dalam producer gas dari biomassa telah dikembangkan di Swiss dan Belanda (Nusbanmer. Penggunaan tersebut mencapai puncaknya selama masa Perang Dunia II terutama dilakukan oleh Jerman untuk menjalankan kendaraankendaraan perangnya. Unit penangkap ter tersebut cukup efektif sehingga kadar ter dalam producer gas memenuhi syarat untuk penggunaan mesin diesel. yakni tar electrostatic precipitator. 2005). Mesin-mesin pembakaran internal normalnya dirancang untuk menggunakan bahan bakar bensin atau solar yang relatif bersih dibanding producer gas. Ujung teflon berbentuk lobang-lobang dengan diameter 1 mm sebanyak 20 buah. Sampai saat ini. Oleh karena itu. Pembuatan Peralatan Tahap awal dari pengembangan metoda adalah pembuatan peralatan sampling dan analisis sesuai dengan peralatan yang digunakan untuk sampling dan analisis producer gas yang dikembangkan di Eropa. kadar ter dan partikulat ditentukan berdasarkan gravimetri. Prosedur Analisis Ter dan Partikulat Setelah peralatan sampling dan analisis terpasang kemudian contoh gas dialirkan melalui nozzle dan penyaring keramik. pada pipa aliran contoh gas dipasang pemanas suhu 200ºC agar ter tidak mengembun dan menempel pada nozzle dan pipa sirkulasi.1. Penyaring keramik tersebut memiliki rongga-rongga 3 mikron. Selandia Baru. maka producer gas harus mengandung ter dan partikulat serendah mungkin. Disamping itu. 1986. 3. Anonymous. Eropa maupun Amerika Serikat masih ditemukan bus atau traktor bermesin diesel sistem dual fuel dengan bahan bakar solar dan producer gas (Anonymous. 1998. Sedangkan gasifikasi batubara menggunakan reaktor sistem updraft sehingga produk gas mengandung lebih banyak ter. Sampai sekarang. Penggunaan producer gas hasil gasifikasi biomassa untuk mesin diesel pembangkit listrik maupun kendaraan telah dimulai sejak awal abad 20.

2005) Pengembangan Metode Analisis Ter dan Partikulat dalam Producer ..Gambar 1. 1998. Skema penangkap partikulat dan ter ((Nussbanmer. Skema alat sampling producer gas (Nussbanmer. Slamet Suprapto dan Nurhadi 19 . van de Kamp. 2005) Gambar 2.. 1998. van de Kamp.

fragmentasi termal dan sifat caking). reaktivitas. suhu rasio pereaksi/batubara. mg = volume contoh gas. Pengujian Metoda Pengujian metoda dilakukan terhadap producer gas hasil gasifikasi contoh batubara Kalimantan yang mempunyai nilai kalor 5. Sampling gas dilakukan selama 0. Selanjutnya dilakukan langkah-langkah sesuai dengan prosedur analisis ter dan partikulat. Walaupun batubara yang digunakan sama tetapi komposisi producer gas yang dihasilkan oleh percobaan ke 1 dan ke 2 belum tentu sama. 1981. Ter yang diperoleh kemudian ditimbang.7 – 3.1 jam. kemudian kadar partikulat dan ter dapat ditentukan dengan membagi berat ter dengan volume contoh gas sebagai berikut: mc1 – mc2 Kadar partikulat.500 kal/g. Ketiga buah botol impinger tersebut didinginkan dalam chiller pada suhu -3 sampai dengan -4 O C. van Dyk): kualitas batubara (analisis proksimat. Kualitas dan kuantitas produk gas hasil gasifikasi tergantung kondisi operasi sebagai berikut (Elliot. Kadar ter dan partikulat producer gas dari contoh batubara dengan nilai kalor 5. Sisa contoh gas dibakar dengan pembakar (burner). Setelah operasi gasifikasi berjalan lancar (steady) kemudian dilakukan sampling gas dengan membuka aliran nozzle. tergantung kandungan ter dan partikulat. Apabila kadar ter dan partikulat dalam producer gas sudah memenuhi syarat. Pengujian tersebut dapat menghasilkan data kadar ter dan partikulat yang masing-masing antara 7–62 mg ter/m3 dan 31-50 mg partikulat/m3. Producer gas dengan kadar ter dan partikulat yang demikian sudah memenuhi syarat untuk digunakan pada mesin diesel.500 kal/g dan 4. Kadar tar dapat dihitung dengan membagi berat ter yang diperoleh dari destilasi vakum dengan volume contoh gas. ter yang sudah teradsorbsi dalam botol kondensasi dan botol impinger dipisahkan melalui destilasi vakum pada suhu 85 OC dan tekanan 10 – 20 mBar. Ter yang terkandung dalam contoh gas akan mengembun dan terabsorbsi dalam anisol. m3 3. mg/m3 = vg Di mana: mc1 = berat penyaring keramik sebelum percobaan. 4. Semakin kecil kandungan partikulat dan ter. mg/m3 = vg Di mana: mt = berat ter hasil destilasi. Nowacki. rasio udara/uap air). maka gas digunakan untuk mengoperasikan mesin diesel sistem dual fuel. Contoh gas kemudian disedot oleh pompa vakum pada laju alir antara 1. distribusi ukuran. Pengujian diawali dengan proses gasifikasi batubara yakni dengan mengumpankan batubara ± 150 kg/jam.3.3 m/detik. Hal ini disebabkan bervariasnya kondisi operasi gasifikasi batubara. mg vg = volume contoh gas. kemudian gas batubara dimasukkan sampai beban mencapai maksimum 150 kW. m3 Sedangkan untuk menentukan kadar ter. 1981. yakni <500 mg ter/m3 dan 50 mg partikulat/m3.ter dalam contoh gas akan mengembun dalam botol kondensasi yang berisi air suling. 20 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . waktu yang dibutuhkan akan semakin lama.500 kal/g (A) menunjukkan hasil yang berbeda antara percobaan gasifikasi ke 1 dan percobaan gasifikasi ke 2. Setelah dilakukan langkah-langkah sampling gas dan pemisahan partikulat dan ter seperti seperti tersebut di atas. sebagai berikut: mt Kadar partikulat.5 . Langkah selanjutnya adalah mengalirkan gas ke dalam 3 buah botol impinger yang masing-masing berisi 50 mL anisol dan satu buah botol impinger kosong sebagai drop separator. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengujian metoda untuk analisis kadar ter dan partikulat contoh producer gas hasil gasifikasi dapat dilihat pada Tabel 1. Pengoperasian mesin diesel diawali dengan menggunakan bahan bakar 100 % solar pada berbagai beban (daya) 30 kW. mg mc2 = berat penyaring sesudah percobaan.

1. Pengembangan Metode Analisis Ter dan Partikulat dalam Producer . tidak terdapat endapan ter dan partikulat dalan ruang bakar mesin. down draft). Saran Hasil ini agar dapat ditindaklanjuti dengan pengembangan metoda standar melalui kerjasama dengan laboratorium lain untuk melakukan uji pembanding (Round Robin test). Ukuran batubara yang digunakan dalam percobaan gasifikasi adalah – 5 + 1 cm. KESIMPULAN DAN SARAN 5. Dalam program standarisasi tersebut dilakukan uji Round Robin. Metoda sampling dan analisis ter dan producer gas telah dikembangkan dan diujicobakan dengan baik terhadap producer gas hasil gasifikasi batubara dari Kalimantan Selatan yang menghasilkan kadar ter dan partikulat masing-masing antara 7 – 62 mg ter/Nm3 dan 31 – 50 mg partikulat/Nm 3 yang telah memenuhi persyaratan untuk pengoperasian mesin diesel. Hal ini juga dapat membuat penyebaran panas dalam unggun batubara tidak merata dan selanjutnya menyebabkan fragmentasi ukuran tidak sama sehingga kondisi proses berbeda. mg/m3 Ter 38 7 62 Partikulat 50 31 43 A B 5. 5. reaktivitas dan sifat caking batubara yang sama akan menghasilkan kondisi operasi yang sama. pereaksi (udara/uap air. jenis reaktor (fixed bed.. Hal ini mengingat belum adanya standard reference gas yang sudah mempunyai kandungan ter dan partikulat tertentu.500 Analisis proksimat.2. 2. Pengembangan standar analisis producer gas dari biomassa yang dilakukan oleh van de Kamp (2005) adalah dengan memvariasikan kondisi operasi gasifikasi yang terdiri atas. Walaupun metoda ini sudah bisa digunakan. Hasil pengamatan terhadap ruang bakar mesin diesel setelah operasi kontinyu tidak menunjukkan perbedaan dengan menggunakan bahan bakar 100% solar dan tidak ditemukan adanya endapan kerak atau ter batubara dalam ruang bakar mesin diesel. oksigen/uap air).Tabel 1. Hasil analisis ter dan partikulat No. fluidized bed. suhu dan tekanan.500 4. Pengembangan metoda sampling dan analisis producer gas juga perlu dikembangkan agar komposisi gas dapat langsung diketahui sehingga pemanfaatan untuk mesin diesel dapat terjamin. updraft. 5. 3. Disamping itu. Slamet Suprapto dan Nurhadi 21 . Perbedaan kondisi proses tersebut menyebabkan terjadinya perbedaan kualitas produk berbeda. yakni mengirimkan contoh-contoh gas yang sama ke beberapa laboratorium kemudian membandingkan hasilnya. tetapi yang masih menjadi masalah adalah belum dikembangkannya standar. Hal ini menunjukkan bahwa kadar ter dan partikulat cukup rendah dan memenuhi syarat. belum ada laboraorium lain yang mengembangkan metoda analisis ter dan partikulat yang dapat bekerjasama dalam melakukan uji Round Robin guna membandingkan hasil analisis.. seperti yang dihasilkan oleh uji metoda analisis. Contoh Batubara Nilai Kalorkal/g Kadar Ter dan Partikulat. Pengoperasian mesin diesel menggunakan producer gas dari batubara menunjukkan kinerja yang cukup baik. Hasil pengujian penggunaan gas untuk mengoperasikan mesin diesel sistem dual fuel secara kontinyu dan beban maksimal menunjukkan kinerja yang cukup baik.1. tetapi kemungkinan distribusi ukurannya tidak merata sehingga menyebabkan kondisi percobaan ke 1 dan ke 2 tidak sama. Kesimpulan Peralatan sampling dan analisis ter dan partikulat dalam producer gas dari batubara telah dapat dirancang bangun dan dipasang pada pilot plant gasifikasi batubara untuk PLTD di Palimanan Cirebon.

Coal Geology and Coal Technology.R... 14th European Biomass Conference & Exhibition. Oxford. Second Suppl. Pergamon Press. Turare. C. New York. T. J. Paris. 1998. C. Sasolburg. Suomalainen. Melbourne. 2005. Noyes Data Corporation Jersey.).UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terimakasih disampaikan kepada Puslitbang tekMIRA. Liliedahl. J. Blackwell Scientific Publications. Germany. H. Coal Gasification Process. Zurich. R&D Division. Knoef.nrel.. Ward. John Wiley & Sons.. 2006. W. 1965. J. Chemistry of coal utilization. Nussbanmer. U. W. T.). Guide line for Sampling and analisis of Tars Condensates and Particulates From Biomass Gasifier.. P. South Afrika. 1981. H. Whitehouse. Tar measurement standard for sampling and analysis of tars and particles in biomass gasification product gas. 1984. PT PLN Jasa Produksi dan PT Coal Gas Indonesia (PT CGI) atas kerjasamanya dalam penyelenggaraan kegiatan ini. Biomass Gasification – Technology and Utilization. & Kiel. Francis. 17-21 October. van de Hoek. Fuels and Fuel Technology. van de Kamp. 1981. (ed. ARTES Institute Glucksburg.. 1986...gov/pdfs. Sasol’s Unique Position in Production from South African Coal Source Using Sasol–Lurgi Fixed Bed Dry Bottom Gasifier. Zielke. Van Dyk.. J. Rome. M.. P. M. & Coertzen. Syngas and Coal Technologies. DAFTAR PUSTAKA Anonymous. M. Good.A.J. FAO. Nowacki.. M.. Elliot. Sasol Technology. Biomass downdraft gasifier engine system.. C.. Unger. M. Vol II. Anonymous. Vol. 22 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Swiss Federal Institute of Zurich. http:/devafdc. de Wild.C. Neeft. Section C: Gaseous Fuels. Keyser. (Ed.. Wood Gas as Engine Fuel.

pengembangan teknologi termasuk impor peralatan masih dalam konteks sentralisasi. tidak terkotak-kotak wewenang daerah/pusat. Jakarta Selatan 12230 Telp.. Ciledug Raya Kav 109. menjadi masukan informasi untuk kembali ke konsep pengelolaan lingkungan yang sudah ada.go.IMPLEMENTASI PENGELOLAAN LINGKUNGAN SEKTOR ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL PADA ERA GLOBALISASI Djoko Sunarjanto dan Bambang Wicaksono Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi (LEMIGAS) Jl. bambangwtm@lemigas.esdm. Dari implementasi UU Migas dan UU Minerba yang baru.id. Djoko Sunarjo dan Bambang Wicaksono 23 . Cipulir-Kebayoran Lama. namun menjadi urusan internasional.021 7222583 Fac.. Salah satunya adalah konsep Green Mining and Energy. Dampak lingkungan yang timbul dapat berkembang menjadi permasalahan global. globalisasi Implementasi Pengelolaan Lingkungan Sektor Energi .id SARI Paradigma baru pengelolaan Sektor Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus bergulir.esdm. Permasalahan bertambah kompleks dengan berfluktuasinya produksi dan harga komoditas mineral. akan menghasilkan output yang bermanfaat secara berkelanjutan utamanya selalu mempertimbangkan faktor lingkungan dan masyarakat sekitar kegiatan pertambangan. Kata kunci : lingkungan. Diperlukan antisipasi pengelolaan sebaik-baiknya yang meliputi 3 faktor utama pengelolaan lingkungan Sektor ESDM di Indonesia. Demikian juga pengelolaan ekspor mineral. setelah penyerahan UU Nomor 22 Tahun 2001 tentang Migas kemudian UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (Minerba).021 7226011 e-mail : djokosnj@lemigas. terdapat persamaan antara lain tentang kepedulian lingkungan. luas wilayah dan perkembangan perekonomian. Sektor ESDM. yakni jenis mineral. Perlu upaya khusus untuk implementasi pengelolaan lingkungan dan penanganan dinamika kegiatan pertambangan mineral dan energi pada era globalisasi. Analisis pada studi kasus kegiatan pertambangan apabila berpatokan pada nuansa desentralisasi dan meninggalkan sentralisasi akan menimbulkan dampak baru. Adanya berbagai input dan proses kegiatan pertambangan.go.

POTENSI DAN PEMANFAATAN BATUBARA INDONESIA 2. Analisis komparatif dilakukan dengan subsektor lainnya dikompilasi dengan kekhususan pengembangan subsektor minyak dan gas bumi. 22 year 2001) and Mining and Coal Law (Law No. With the inputs from mining activities there be sufficient information to come back to available environment management since Green Mining and Energy concept will cause a sustainable benefit output. mining area. PENDEKATAN TEORI DAN ANALISIS Pendekatan kegiatan menggunakan teori kebijakan dan geologi lingkungan dikomparasi dengan data sekunder pengusahaan mineral dan batubara. yaitu. The implementations of those laws pay the same attention on environment management. development of technologies and import of equipment which is still centralized and the complexity of the problems with fluctuations of product and mineral price need anticipation to manage it. Pemutakhiran dan upaya khusus implementasi pengelolaan lingkungan di tengah dinamika kegiatan pertambangan mineral dan energi sangat diperlukan guna menciptakan pertambangan berwawasan lingkungan.000 MW menggunakan bukan Bahan Bakar Minyak atau non-BBM. Environmental effect could generate the global problems. Analysis from case study in mining activity if decentralism spirit is used and leaving from centralization spirit will create new impact. Penanganan lingkungan hidup Rencana pengembangan dan pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah pertambangan (beberapa pasal. Export activities of minerals. Sebagai negara kepulauan. Keywords: environment. terdapat persamaan dalam permasalahan lingkungan yang tertuang dalam UU Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi dan UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. Penyusunan makalah ini diharapkan dapat dijadikan sebagai masukan dalam rangka mempersiapkan peraturan dan keputusan sebagai turunan dan pendukung Undang Undang Minerba yang baru. Perlu kesadaran manfaat dan resiko bahaya yang dihadapi dan kemampuan masyarakat untuk melindungi diri dari dampak negatif yang timbul. Special effort is needed for environment management to cope with the dynamics of mineral and energy activities in globalization era. after Oil and Gas Law (Law No. 4 year 2009) is going on. economics development. tidaklah mengherankan apabila pada masing-masing wilayah terdapat perbedaan dalam upaya penanganan lingkungan dan peningkatan perekonomian atau Pendapatan Asli Daerah dari kegiatan pertambangan. dan pemanfaatan batubara untuk Sejak tahun 2006 Pemerintah menggulirkan beberapa kebijakan untuk mendukung pembangunan pembangkit listrik 10. Salah satunya adalah dengan memberikan insentif kepada perusahaan batubara pemasok pembangkit listrik PLTU. Dalam UU Minerba yang baru telah dilengkapi tata cara pengembangan terkait masyarakat. in primary environment factors and community of the surrounding mining activities. 3. these involve five factors: minerals item. globalization 1. produksi mineral. Insentif yang diberikan berupa pemotongan dana pengembangan batubara yang merupakan bagian dari Dana Hasil Produsen Batubara (DHPB) yang disetor perusahaan tambang ke kas negara. energy and mineral resources sector. jumlah dan penyebaran penduduk yang timpang serta adanya perbedaan ekologi di berbagai kawasan Indonesia. Pendekatan kegiatan berbasis masyarakat (community based activities). not only local but also international. reklamasi sampai pascatambang.ABSTRACT New paradigm on management Energy and Mineral Resources Sector. antara lain pasal 78) Kegiatan Reklamasi dan Pascatambang (pasal 39) Dengan terbitnya perundang-undangan yang mendasari pelaksanaan pengelolaan energi dan sumber daya mineral. lebih mungkin menghasilkan tindakan yang merespon kebutuhan riil penduduk ataupun masyarakat lingkar pertambangan. Insentif tersebut diberikan hanya untuk kebutuhan pembangunan pembangkit listrik dan tidak boleh digunakan untuk keperluan ekspor. LATAR BELAKANG kelistrikan serta beberapa studi kasus. 24 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .

Akan dibangun PLTU Suralaya.000 MW sebagian besar menggunakan batubara. sehingga menjamin pasokan.. 1. di samping berdampak timbul masalah gangguan kualitas lingkungan. dalam UU Minerba yang baru diuraikan pada BAB VI pasal 34. Contoh pertambangan mineral logam PT Newmont Nusa Tenggara memerlukan wilayah yang luas Gambar 1. pertambangan mineral logam. Sedangkan di Jawa Timur akan dibangun PLTU Pacitan. PLTU Labuhan dan Tangerang (Provinsi Banten). Saat ini pertambangan mineral dan batubara di Indonesia cenderung menggunakan sistem tambang terbuka (open pit mining) yang menggunakan lahan luas. Jawa Tengah akan dibangun PLTU Rembang dan Tanjung Jati. dalam Program 10. meliputi 3 faktor utama yang berperan penting dalam pengelolaan lingkungan Sektor ESDM di Indonesia. pertambangan mineral radioaktif. Perkembangan Perekonomian 1. tetap memerlukan kewaspadaan dalam pengelo-laannya terkait lingkungan.. misal penambangan di daerah resapan air tanah. Kegiatan operasi di tambang terbuka Batu Hijau (Foto : Newmont Nusa Tenggara. Salah satu solusi jangka panjang untuk menekan beban PLN dengan menggunakan batubara untuk pembangkit listrik yang akan dibangun maupun yang telah beroperasi.Meningkatnya pemakaian BBM untuk pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) dan listrik tenaga uap (PLTU) memberatkan PLN dari segi biaya. seperti tambang yang sudah lama dikembangkan tambang emas Pongkor. Jenis Mineral 2. Kebijakan Energi Nasional 2003-2009 menyebutkan bahwa penggunaan batubara dapat mendorong pengembangan batubara kalori rendah di dalam negeri. selaras hasil penelitian yang menyebutkan bahwa Indonesia memiliki potensi batubara kalori rendah cukup besar yang selama ini belum dieksplorasi. Pertambangan mineral masih digolongkan lagi menjadi. ANALISIS KOMPARATIF Upaya mengatasi permasalahan yang timbul dapat diantisipasi dengan pengelolaan sebaik-baiknya. untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar sejumlah PLTU diperlukan sebanyak 21. Peningkatan pertambangan batuan sesuai kegiatan pembangunan fisik sarana-prasarana. batubara di Sawahlunto. Djoko Sunarjo dan Bambang Wicaksono 25 . dekat kawasan budi daya atau pada kawasan hutan dan kawasan lainnya. seperti dalam pengusahaan migas dibedakan institusi pemerintah sebagai regulator (Ditjen Migas) dan badan yang melakukan pengawasan kegiatan baik hulu dan hilir migas oleh BP Migas dan BPH Migas. 2006) Implementasi Pengelolaan Lingkungan Sektor Energi . pertambangan mineral nonlogam dan pertambangan batuan (UndangUndang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara) Sesuai klasifikasi untuk pengelolaannya tergantung jenis dan kategori mineral. Produksi batubara dalam negeri sekitar 203 juta ton per tahun. yaitu kategori A (Bahan Galian Strategis). Sebaliknya beberapa tambang dalam memerlukan lahan yang relatif tidak luas. Gambar 1. 4. Jayawijaya. Jenis Mineral Klasifikasi mineral ataupun pembagian bahan galian sesuai Undang-Undang atau PP No 27 Tahun 1980 dibedakan menjadi 3 jenis atau kategori. demikian juga nantinya untuk mineral strategis lainnya termasuk batubara. Paiton dan Tuban. Batubara sebagai bahan bakar PLTU pengganti BBM dilandasi alasan karena batubara lebih murah dan cadangannya cukup besar. sampai saat ini masih relevan. Di Jawa Barat akan dibangun PLTU Indramayu dan Pelabuhan Ratu. kategori B (Bahan Galian Vital atau Logam) dan Golongan C (Industri atau bahan bangunan). yaitu . Usaha Pertambangan dikelompokkan menjadi pertambangan mineral dan pertambangan batubara. Namun dalam pengelolaan dan pekembangannya diperlukan inovasi dan keluwesan mengaplikasikan dalam peraturan perundangan baru. Ibrahim (2008) dalam bukunya General Check-Up KELISTRIKAN NASIONAL.28 juta ton per tahun. Terkait dengan jenis mineral dan pertambangan. Wilayah Pertambangan 3.

037. Hal ini karena kompleksnya permasalahan pengawasan kegiatan hulu migas dan lokasi wilayah yang tersebar dan sulit dijangkau.796 816.762. sebaliknya hasil kegiatan pertambangan diekspor ke luar negeri.774. Jawa. salah satu penyebabnya diduga pengelolaan dan pengusahaannya mengabaikan prosedur dan pengawasan lingkungan dan keselamatan kerja seperti yang seharusnya berlaku pada kegiatan tambang bawah tanah/tambang batubara. 2. penyerobotan wilayah oleh pertambangan tanpa ijin termasuk permasalahan lingkungan yang tidak mudah diselesaikan.667 pulau mempengaruhi implementasi organisasi.309.967 269.536.406. Wilayah Indonesia yang memiliki tidak kurang dari 13. Sumatera.127.64 83. Produksi hasil tambang terpilih.48 188.357 61.181 159.318 261. khusus Pulau Jawa menampung hampir 60 % penduduk Indonesia.044.623.501. 3.105 56.442 - Tembaga (Ton) Emas (KG) Perak (KG) Timah (Ton) Bauksit (MT) Bijih Nikel (Ton) *) Termasuk Kuasa Pertambangan Status Data.604.48 287. Dari sisi mikro-ekonomi fluktuasi harga komoditas. akuisisi perusahaan. Tantangan ke depan menjadi bertambah karena peningkatan jumlah penduduk dan pertambangan mengarah ke wilayah padat penduduk.67 36. bahkan tahun 2007 produksi bauksit (1. Tingkat kepadatan penduduk tempat kegiatan pertambangan berada. mengakibatkan ketergantungan pada perekonomian global. Keberhasilan kegiatan community development atau social responsibility dan program kemasyarakatan yang sejenis menjadi indikator keberhasilan kegiatan pertambangan suatu wilayah (Sunarjanto dan Adji.398 244.048 747 1. perak dan timah lebih besar untuk kebutuhan luar negeri.923 32.07 80.284.183 3.422 1.775 3. Untuk itu pelaksanaan rangkaian kegiatan pertambangan di Indonesia masih dikontrol langsung pemerintah.Kasus terjadinya ledakan tambang batubara Sawahlunto yang menelan korban meninggal lebih dari 30 orang pada pertengahan Juni 2009.411 85.144 12. Keterkaitan wilayah dan kepadatan penduduk terlihat perbedaan antara Wilayah Jawa dan luar Jawa.989. mesin dan teknologi dari beberapa negara luar.470 97.671 97.927 91. sesuai UU Minerba baru daerah pertambangan berpotensi untuk dikembangkan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi (pasal 28). eksplorasi-eksploitasi sampai pengawasan dan audit pascakegiatan pertambangan.31 90.726.376. ketenagakerjaan sampai ekspor-impor. efektivitas dan efisiensi terkait kewilayahan.706. Dari berbagai pulau. sehingga diperlukan pendekatan sosio kemasyarakatan dan teknologi dalam pengelolaan mineral dan energi.555.024 5.619. Sisi lain pengelolaan pertambangan mineral dan energi tergantung pada modal besar dan beresiko tinggi.882 117. Perkembangan Perekonomian Akhir-akhir ini permasalahan lingkungan menjadi bagian penting dalam perekonomian. Tabel 1.176 1. masalah tumpang-tindih dengan sektor atau subsektor lain.353. salah satu implementasinya BP MIGAS membuka kantor perwakilan dan penghubung di daerah. Impor peralatan.542 15.884 85.134 6.249.783 797.483 7.46 25. emas.24 33.809.665. kebutuhan dalam negeri dan ekspor 2006 2007*) 2008*) Produksi Ekspor Domestik Produksi Ekspor Domestik Produksi Ekspor Domestik 817.031. Pengembangan pertambangan akan mempertimbangkan lebih banyak faktor pada daerah padat penduduk.862 25. pajak. Tercatat produksi nasional tembaga. Wilayah Pertambangan Keberadaan wilayah pertambangan sangat mempengaruhi pelaksanaan dan permasalahan yang timbul di lapangan.407 22.542 MT) dan bijih nikel (4. demikian juga antara Sumatera Jawa dengan pulau lain di Indonesia Timur.536.75 497.326 4. 2005).702.832 4. termasuk di dalamnya investasi dan nilai tukar mata uang.515 65.49 6. Sebagai contoh.43 330.248.186 42.134 Ton) untuk memenuhi kebutuhan luar negeri (Tabel 1).73 17. Juli 2008 Sumber : Directorate General of Mineral Coal and Geothermal (2008) 26 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .222 5.267 272. sejak perencanaan.308 102. dan temehadap pada satu sisi akan menjadi potensi sumber daya yang tidak boleh diabaikan.704. penggabungan beberapa perusahaan bahkan pengalihan bidang usahapun perlu diperhitungkan untuk keamanan berusaha dan mempertahankan stabilitas investasi.937 1. Kalimantan dan Sulawesi merupakan tempat pemukiman yang utama. kasus penanganan pengawasan Usaha Hulu Migas yang selama ini dilakukan BP MIGAS sesuai UU No 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi.61 1.42 122.309.

5.. Djoko Sunarjo dan Bambang Wicaksono 27 . Sebagai bahan pengambilan keputusan ataupun masukan dalam penyusunan peraturan. analisis dan alternatif yang sudah disusun ahli maupun institusi. Apabila dikaitkan dengan lingkungan dan pengembangan wilayah selalu mempertimbangkan faktor lingkungan dan masyarakat sekitar kegiatan pertambangan atau diistilahkan masyarakat lingkar luar. salah satunya adalah konsep Green Mining and Energy akan menghasilkan output yang bermanfaat secara berkelanjutan. dengan disesuaikan terhadap terdapatnya sumber daya mineral dan energi. Diperlukan pemutakhiran dan diskusi yang berkelanjutan mengantisipasi perubahan yang dinamis. Menurut Soelistijo (2000) secara makronasional. yang merupakan gas tidak berwarna. CO. 2000). Bila dibandingkan masih lebih banyak kegiatan migas yang mengeksplorasi dan mengeksploitasi cadangan migas lepas pantai. penurunan produktivitas perikanan laut. Secara fisik tampak mata adalah perubahan bentang alam. Newmont Nusa Tenggara dalam jangka waktu kurang dari 10 tahun mampu membangun Pusat Pertumbuhan Ekonomi baru di Wilayah Indonesia Timur Gambar 2. DISKUSI Sampai saat ini sumber energi fosil merupakan sumber utama dan penggunaan bahan bakar batubara pada PLTU dapat berdampak merugikan lingkungan.. Berdasarkan analisis komparatif. Dampak lainnya mengakibatkan terjadinya hujan asam yang dapat merusak tanaman serta mempercepat kepunahan keanekaragaman hayati yang sangat merugikan kehidupan. karena banyak di antara spesies yang punah tersebut merupakan spesies yang berguna bagi manusia (Christensen. Penanganan lingkungan hidup termasuk reklamasi dan pengelolaan pascatambang (BAB VII pasal 39 UU Minerba) menjadi upaya penting memperbesar dampak positif menciptakan pertambangan secara berkelanjutan sejak eksplorasi sampai dengan esok menjadi suatu kawasan pusat pertumbuhan ekonomi. Penambangan timah dan pasir laut di daerah Riau Kepulauan dan sekitarnya menjadi contoh pertambangan mineral lepas pantai yang dapat dilakukan pada wilayah lain. Dalam perkembangannya selama ini banyak kajian ilmiah. Implementasi Pengelolaan Lingkungan Sektor Energi . Peningkatan emisi gas CO2 di atmosfer akan dapat mempengaruhi terjadinya perubahan curah hujan dan pemanasan global. SO2 menyebabkan gangguan pernafasan. Salah satu emisi yang harus mendapatkan perhatian dari pembakaran batubara pada pembangkit listrik adalah SO2. Perubahan pada era globalisasi yang kadang berubah secara cepat dari segenap pihak pemangku kepentingan. Kegiatan ESDM khususnya pertambangan mineral masih terkonsentrasi di darat. ALTERNATIF SOLUSI Alternatif solusi merupakan bagian dari strategi yang diperlukan guna mempercepat dan akurasi suatu proses untuk mencapai tujuan yang diharapkan. 6. di mana daratan hanya menempati sepertiga Wilayah Indonesia. yaitu . pengembangan wilayah Sektor ESDM terdiri dari 3 alternatif. sebagai ilustrasi digambarkan dalam Gambar 1. meledaknya hama dan wabah penyakit. shareholder sampai pihak luar/internasional. Regional Integratif: yang potensinya bersifat merangsang pengembangan wilayah sektor lain. maka gas buang dari PLTU ataupun industri menjadi aman bagi lingkungan (Brodjonegoro. Bambang dan Sunarjanto. berbau menyengat dan sangat berbahaya bagi tumbuhan dan hewan. membentuk rantai semacam siklus. 1991). Dengan melengkapi peralatan sejenis penyaring. dapat menyebabkan kebutaan dan kematian pada manusia. sebagai suatu alternatif solusi terdapat input dan proses kegiatan pertambangan dapat diarahkan mencapai output yang bermanfaat banyak pihak. Menjadi peluang dan tantangan untuk lebih intensif mengembangkan pertambangan mineral di lepas pantai. Agregatif: yang potensinya menunjang konsepsi pengembangan wilayah sektor lain. terjadinya perubahan musim. lingkar 2 dan seterusnya. Selain mendorong terjadinya kepunahan keanekaragaman hayati. dan abu. banjir bandang dan sebagainya. Dampak negatif yang tidak tampak secara langsung sebagai sumber utama emisi berbahaya seperti SO2. baik lingkar 1. pemanasan global juga dapat menimbulkan terjadinya kerusakan ekosistem terumbu karang. PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP 7. hujan badai. Dapat ditinjau kembali konsep pengelolaan lingkungan yang sudah ada. Penggunaan energi batubara dalam penyediaan tenaga listrik ataupun industri mineral dan energi lainnya diupayakan agar lebih ramah lingkungan dan dilakukan dengan melengkapi peralatan yang dapat mengatasi polutan. Pusat pertumbuhan (growth center). Sebagai contoh nyata adanya kegiatan pertambangan mineral logam di Maluk Sumbawa yang termasuk Wilayah PT. CO2.

Pengelolaan lingkungan Sektor ESDM menjadikan lingkungan bumi yang berkualitas sekaligus sebagai warisan generasi yang akan datang. Resources. 2008. A. Suprajitno Munadi.W. 1991. Bali-Indonesia. Bapak Dr. Dr. H. Ir. PENUTUP Penanganan lingkungan hidup sampai kegiatan pertambangan selesai/ pascatambang menjadi upaya penting memperbesar dampak positif dan memperkecil dampak negatif. Pengelolaan lingkungan pertambangan lepas pantai yang baik sebagai upaya optimalisasi pemanfaatan wilayah dan ikut melindungi pelestarian alam. third edition. Kendall/Hunt Publishing Company. Dampak lingkungan (dampak negatif) yang timbul dapat berkembang secara cepat menjadi permasalahan global. Global Science. Country Paper. antara lain : Produksi dan harga komoditas mineral yang terus berfluktuasi. Suatu kawasan pertambangan mengubah lokasi terpencil menjadi pusat pertumbuhan ekonomi sudah banyak terbukti berhasil pada beberapa wilayah. Ministry of Energy and Mineral Resources The Republic of Indonesia. Ibrahim. 699 p. Directorate General of Mineral Coal and Geothermal. ISBN 0-8403-4657-3. 2008. Energy... namun masih diperlukan usaha lain agar tercipta pertambangan bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan sekitarnya secara berkelanjutan. Bencana lingkungan dan kebumian yang tidak terkait pertambangan ataupun ESDM. MediapIus Network. Dubuqe Iowa. 28 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .Sc DIC yang memberi kesempatan penulis menyampaikan makalah ini. Jakarta. Bambang and Sunarjanto. Pongkor Gold Mine-West Java Indonesia. The Sustainable Economic Growth Pole in The Mining Area Using AHP Method: Case Study of PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. DAFTAR PUSTAKA Brodjonegoro. 2000. yang telah bersedia mengoreksi dan memberi masukan. Environment. sebagai pusat pertumbuhan ekonomi (Sumber : PT Newmont Nusa Tenggara) diperlukan perhatian khusus pada permasalahan. General Check-Up Kelistrikan Nasional. 8.MALUK 1995 MALUK 2005 Gambar 2.. Hadi Purnomo. Sumbawa pada tahun 1995 dan 2005. J. Perbandingan maluk. Terima kasih kepada Kepala PPPTMGB LEMIGAS. dijadikan alasan untuk menyalahkan dunia pertambangan dan pemangku kepentingan. Indonesia’s Mineral and Coal Development. Christensen. Proceedings of INSAHP. UCAPAN TERIMA KASIH Tersusunnya makalah ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Prof. M.

T.. ISBN 978979-18898-0-3. Batu Hijau. Jakarta.D. Djoko Sunarjo dan Bambang Wicaksono 29 . Cetakan Kedua. Bandung.Cetakan Pertama November 2008. Corporate Social Responsibility One of Methods To Expand The Benefit for Oil and Gas Bearing Area. Kini dan Esok. Newmont Nusa Tenggara . and Adji G. Proceedings 30th Annual Meeting IPA.. 2005. Dulu.. 2006. W. ISBN 979-98000-7-2. 2000. PPTP. Sunarjanto.PT. U. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara Implementasi Pengelolaan Lingkungan Sektor Energi . Soelistijo. Pengembangan Wilayah Sektor Pertambangan dan Energi. Ditjend Pertambangan Umum.. DPE.

Kata kunci: peluang.esdm. these regulations grow widely. 30 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . which are no relation with the public interest and the higher regulations. This is against the investment promotion in the country. kesempatan kerja dan berusaha serta terciptanya pengembangan wilayah. in which the region has an authority to manage its region professionally.031 Perda dan berdasarkan hasil evaluasi telah merekomendasikan sebanyak 2. In a relatively short time. dengan adanya kebijakan otonomi memberi peluang pengembangan pertambangan di daerah. dengan kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus daerahnya secara luas. Sudriman 623 Bandung 40211 Telp. Jend.894 perda dibatalkan dan 144 perda direvisi. peningkatan penerimaan. and this causes collection of taxes.go.6030483 Fax. Departemen Keuangan telah mengumpulkan 12.PELUANG PENGEMBANGAN PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA PADA ERA OTONOMI DAERAH Umar Dhani Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. Dengan adanya kebijakan tersebut. perda-perda tumbuh bak jamur di musim hujan. nyata dan bertanggung jawab. 022 . Hal ini menunjukkan bahwa produk Perda yang telah disusun cukup banyak yang bermasalah. antara lain : kewenangan pengelolaan dan pemanfaatan potensi bahan galian. Selain itu. Hingga pertengahan bulan Juni tahun 2009. berupa timbulnya pungutan pajak dan retribusi atau pungutan lainnya yang bertentangan dengan kepentingan umum atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.id SARI Digulirkannya kebijakan Otonomi Daerah pada awal tahun 2000. 022. sehingga akan menimbulkan kondisi yang tidak kondusif dan dapat menghambat pertumbuhan ekonomi maupun peluang investasi di daerah. Consequently.6003373 e-mail : umard@tekmira. Dalam waktu yang sangat singkat. retribution and other taxes. Pemerintah Daerah berpacu mengoptimalkan potensi sumber daya yang ada dan menciptakan kebijakan untuk meningkatkan pendapatan daerah (PAD) dengan legitimasi berupa Perda. merupakan babak baru dalam pemerintahan daerah. the regional government is pushed to optimized potential of the resources and to create a policy of improving regional revenue by legitimating regional regulations. otonomi daerah ABSTRACT The release of the regional autonomy policy in the early 2000 is a new era of the regional government. pengembangan pertambangan. Maraknya daerah menyusun perda menimbulkan masalah baru.

pemerataan dan keadilan. Salah satu upaya yang menonjol yang dilakukan oleh pemerintah daerah pada era ini adalah menerbitkan Peraturan Daerah (Perda). kelembagaan.. termasuk pada sektor pertambangan mineral dan batubara. Sejak terjadi krisis ekonomi pada tahun 1997. dan sumber daya Peluang Pengembangan Pertambangan Mineral dan Batubara pada Era . so they must be eliminated or revised. KEBIJAKAN OTONOMI DAERAH Pada hakekatnya otonomi daerah merupakan hak. Pada era ini peran Pemerintah Pusat sangat menonjol. Pemerintah daerah tidak mempunyai keleluasaan dalam menetapkan program-program pembangunan di daerahnya serta sumber keuangan penyelenggaraan pemerintahan diatur oleh pusat. mining development. Sejak diberlakukannya otonomi daerah tahun 2000. dan bidang lainnya yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. revenue increase. This indicates that those regulations have problems. menghormati budaya budaya lokal. demokratisasi. job creation and regional development. Otonomi daerah diartikan kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus daerahnya secara luas. Selain itu. sehingga menimbulkan ketidakselarasan dengan kebijakan di atasnya atau kebijakan sektor lain. the autonomous policy has provided an opportunity to develop the mining sector in a region in terms of management authority of utilizing mineral potential. tetapi juga kebijakan pertambangan yang mengacu pada UU Nomor 11 Tahun 1967 sudah tidak selaras dengan semangat otonomi daerah yang sedang digiatkan. kebijakan otonomi daerah di Indonesia mengacu kepada Undang-Undang (UU) Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah. Hal ini akan menimbulkan iklim yang tidak kondusif karena ketidak-konsistenan kebijakan dan bahkan dapat menghambat pertumbuhan ekonomi maupun peluang investasi di daerah. 2. According to the evaluation results. pertahanan keamanan. wewenang. masih banyak terjadi perbedaan penjabaran mengenai otonomi daerah yang dituangkan dalam perda pada masing-masing daerah. kecuali kewenangan di bidang politik luar negeri. because they will create an unconducive condition and can hamper the economic growth and the opportunity of investing in the mining sector in the region. sumber daya buatan. Maraknya meenerbitkan Perda tersebut. Permasalahan-permasalahan tersebut pada akhirnya dapat berakibat terganggunya perekonomian daerah maupun nasional. moneter dan fiskal. PENDAHULUAN Selama lebih dari dua dasawarsa. Moreover. termasuk sektor pertambangan. Keywords: opportunity. Pada awal tahun 2000 diberlakukannya kebijakan otonomi. Tujuan pemberian kewenangan dalam penyelenggaraan otonomi daerah adalah meningkatkan kesejahteraan rakyat. nyata. sehingga menimbulkan ketergantungan daerah terhadap pusat. Pemerintah Daerah diberi kewenangan untuk mengelola sumber daya alam. Umar Dhani 31 .Until the mid of June 2009. khususnya pada sektor pertambangan.. Selain itu masih terjadi perbedaan persepsi dalam menterjemahkan kebijakan otonomi daerah. the Ministry of Finance has collected 12. masih banyak yang tidak selaras dengan kebijakan yang lebih tinggi. Penurunan tersebut bukan hanya dipicu oleh diberlakukannya kebijakan otonomi daerah. peradilan. serta memperhatikan potensi dan keanekaragaman daerah. 2. Permasalahan tersebut terjadi pada seluruh sektor usaha.984 regulations are deleted and 114 are revised. agama. Kewenangan daerah mencakup kewenangan semua bidang pemerintahan. dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundangundangan. dan bertanggung jawab.031 regional regulations. regional autonomy 1. bahkan cenderung tumpang tindih dan terkesan hanya berorientasi meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) semata. yaitu desentralisasi pemerintahan dari pusat ke daerah yang diimplementasikan pada UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan disempurnakan menjadi UU Nomor 32 Tahun 2004. terjadi penurunan investasi pada seluruh sektor usaha. pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota telah melakukan pembenahan dan penyesuaian administratif dan struktur organisasi.

dan pelestarian. prosedur. tanggung jawab. dan efisiensi dengan memperhatikan keserasian hubungan antarsusunan pemerintahan. prosedur. dan jangkauan dampak yang ditimbulkan oleh penyelenggaraan suatu urusan pemerintahan. yang terdiri atas : 7 provinsi. pengalihan sarana dan prasarana.manusia yang ada di wilayahnya masing-masing (UU Nomor 32 Tahun 2004). dan pengelolaan perizinan bersama dalam pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya 32 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . pemanfaatan. Dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan. standar. kriteria akuntabilitas” adalah penanggung jawab penyelenggaraan suatu urusan pemerintahan ditentukan berdasarkan kedekatannya dengan luas. Pemerintahan daerah menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya. yaitu terdiri atas 31 (tiga puluh satu) bidang urusan pemerintahan (PP Nomor 38 Tahun 2007). Selain itu. Pelaksanaan kewenangan didasarkan pada norma. standar. pemerintah menyelenggarakan sendiri atau dapat melimpahkan sebagian urusan pemerintahan kepada perangkat pemerintah atau wakil pemerintah di daerah atau dapat menugaskan kepada pemerintahan daerah dan/atau pemerintahan desa. serta kepegawaian. kerja sama dan bagi hasil atas pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antarpemerintahan daerah. Prinsip otonomi daerah adalah desentralisasi. Setelah diberlakukan kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah. dan jangkauan dampak yang timbul akibat penyelenggaraan suatu urusan pemerintahan. moneter dan fiskal. Dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah. keinginan pembentukan daerah otonom baru berkembang sangat pesat. dan penyerasian lingkungan dan tata ruang serta rehabilitasi lahan. standar. Hubungan dalam bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antarpemerintah daerah sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (4) dan ayat (5) meliputi : pelaksanaan pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya yang menjadi kewenangan daerah. pertahanan keamanan. serta agama. Menteri/Kepala Lembaga Pemerintah Non Departemen menetapkan norma. Penyelenggaraan urusan pemerintah dibagi berdasarkan kriteria eksternalitas. Dalam penyerahan disertai pembiayaan. pemeliharaan pengendalian dampak lingkungan. penyerahan semua kewenangan kecuali bidang politik luar negeri. sumber daya manusia. “kriteria efisiensi” adalah penyelenggara suatu urusan pemerintahan ditentukan berdasarkan perbandingan tingkat daya guna yang paling tinggi yang dapat diperoleh. pemerintahan daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan. prosedur. dan kriteria untuk pelaksanaan urusan wajib dan urusan pilihan. dan prosedur. 173 kabupaten. bagi hasil atas pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. Yang dimaksud dengan “kriteria eksternalitas” dalam ketentuan ini adalah penyelenggara suatu urusan pemerintahan ditentukan berdasarkan luas. Di dalam menetapkan norma. besaran. sarana dan prasarana. standar. dan 35 kota. Urusan pemerintahan wajib dan pilihan menjadi dasar penyusunan susunan organisasi dan tata kerja perangkat daerah. Hal ini dapat terlihat dengan meningkatnya jumlah daerah otonom baru sejak tahun 1999 hingga Desember 2008 sebanyak 215 daerah otonom baru. dan pilihan berpedoman kepada norma. masih terdapat usulan baru yang siap dibahas maupun yang belum diproses tentang pembentukan daerah otonom baru. akuntabilitas. Pemerintah daerah provinsi dan pemerintah daerah kabupaten/kota dalam melaksanakan urusan pemerintahan wajib. kecuali urusan pemerintahan yang oleh UU Nomor 32 Tahun 2004 ditentukan menjadi urusan pemerintah. Urusan pemerintahan yang dibagi bersama antartingkatan dan/atau susunan pemerintahan adalah semua urusan pemerintahan di luar urusan yang menjadi kewenangan pemerintah. Urusan pemerintahan yang diserahkan kepada daerah disertai dengan sumber pendanaan. dan kriteria. peradilan/yustisi. besaran. dan kriteria perlu diperhatikan keserasian hubungan pemerintah dengan pemerintah daerah dan antarpemerintah daerah sebagai satu kesatuan sistem dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hubungan dalam bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antarpemerintah dan pemerintah daerah sebagaimana dimaksud dalam UU Nomor 32 Tahun 2004 pasal 2 ayat (4) dan ayat (5) meliputi : kewenangan.

dll). Agus Pambudhi. retribusi daerah. Kepala Daerah sebagai kepala eksekutif menetapkan Perda atas persetujuan bersama DPRD.Pemerintahan daerah merupakan satuan pemerintahan teritorial tingkat lebih rendah dalam negara kesatuan RI. Perda yang terbit sebelum Oktober 2004. Perda merupakan penjabaran lebih lanjut dari peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dengan memperhatikan ciri khas masing-masing daerah. Umar Dhani 33 . Hal ini dimaksudkan untuk melindungi kepentingan umum. kemitraan wajib. 2001). yang berhak mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahannya (Bagir Manan. Perda yang disusun tersebut merupakan penjabaran lebih lanjut dari peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dengan memperhatikan ciri khas masing-masing daerah. menyelaraskan dan menyesuaikan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dan/atau peraturan daerah lainnya. Berdampak negatif terhadap perekonomian (ekonomi biaya tinggi atau pajak ganda). Perda bermasalah pada prinsipnya adalah perdaperda yang karena keberadaannya akan menyebabkan terhambatnya efektifitas perekonomian (P. Hal ini bertolak belakang dengan gencarnya pemerintah menggalakkan investasi untuk pembangunan di Indonesia. yaitu : Berpotensi bertentangan dengan prinsip keutuhan wilayah ekonomi nasional. Implikasi dari kebijakan desentralisasi ini adalah banyaknya produk perda yang berkaitan dengan pajak dan retribusi daerah bertentangan dengan kebijakan yang lebih tinggi atau kepentingan umum. Hal ini Peluang Pengembangan Pertambangan Mineral dan Batubara pada Era .031 perda untuk dievaluasi. berupa timbulnya pungutan pajak dan retribusi yang bertentangan dengan kepentingan umum atau peraturan perundangundangan yang lebih tinggi. oligopoli. Dari jumlah tersebut sebagian besar telah dilakukan evaluasi. maka perlu dilakukan evaluasi terhadap perda yang berkaitan dengan pajak dan retribusi daerah. Hal ini. Pemerintah daerah dalam meningkatkan perekonomian dapat memberikan insentif dan/atau kemudahan kepada masyarakat dan/atau investor yang diatur dalam perda dengan berpedoman pada peraturan perundang-undangan yang berlaku. 2006). Untuk perda yang mengatur mengenai pajak daerah. Maraknya daerah menyusun perda menimbulkan masalah baru. Anggaran Penerimaan dan Belanja Daerah (APBD). dan tata ruang sebelum ditetapkan dan diberlakukan terlebih dahulu dilakukan evaluasi oleh pemerintah.. agar wewenang pemerintah daerah dapat dijalankan. Berpotensi menyebabkan munculnya persaingan yang tidak sehat (monopoli. Berdasarkan hasil evaluasi Tim Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Departemen Keuangan hingga Juni tahun 2009 telah merekomendasikan untuk membatalkan 2. yaitu sesuai pasal 136 ayat 1 UU Nomor 32 Tahun 2004. maka diperlukan dasar hukum pelaksanaan. Dengan demikian. Departemen Keuangan telah mengumpulkan 12. substansi dan yuridis. pembatalannya melalui Keputusan Menteri Dalam Negeri. Pemerintah daerah menyusun perda dalam rangka merumuskan berbagai kebijakan pembangunan atau dalam rangka memacu pertumbuhan perekonomian di daerah. Dengan demikian. dapat berakibat terganggunya iklim investasi yang ada di daerah dan berdampak pada perekonomian daerah maupun nasional. Satuan pemerintahan teritorial tersebut disebut daerah otonom. Perda dan ketentuan daerah lainnya bersifat mengatur dan diundangkan melalui Lembaran Daerah. sedangkan setelahnya pembatalan melalui Peraturan Presiden.. sedangkan hak mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan di bidang administrasi negara yang merupakan urusan rumah tangga daerah disebut otonomi. Berpotensi menghalangi atau mengurangi akses masyarakat (bertentangan dengan prinsip keadilan). Berdasarkan UU Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan pasal 7 Ayat (1) mengatur hirarki peraturan perundang-undangan yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Perda yang disusun oleh pemerintah daerah tidak boleh bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi dan dapat dibatalkan sesuai ketentuan yang berlaku. Bermasalah secara prinsipil adalah perda yang memberikan hambatan dalam konteks ekonomi makro. Atau bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi.894 perda dan 144 perda direvisi. Berdasarkan permasalahan ini. Merupakan suatu bentuk pelanggaran kewenangan pemerintah. perda merupakan salah satu produk hukum yang ada di Indonesia. perubahan APBD. Hingga pertengahan tahun 2009. Perda yang dikategorikan bermasalah adalah berdasarkan prinsipil.

retribusi. Diharapkan dengan adanya kegiatan ini masyarakat sekitar merasakan dampak positif aktivitas pertambangan di daerahnya. retribusi dan sumbangan pihak ketiga). APBD dan tata ruang setelah Oktober 2004 dilakukan evaluasi oleh pusat sebelum ditetapkan oleh daerah. Sebagai pedoman teknis penyelenggaraan kewenangan tersebut Pemerintah telah mengeluarkan PP Nomor 38 Tahun 2007. pengangkutan dan penjualan. terutama pasal 7 dan pasal 10 UU Nomor 32 Tahun 2004. Pemerintah daerah sesuai dengan lingkup usahanya menugaskan pemegang izin pertambangan sesuai dengan tahapan dan skala usahanya untuk membantu program pengembangan masyarakat dan pengembangan wilayah pada masyarakat setempat. Pada umumnya pembatalan perda tentang pajak dan retribusi pertambangan adalah bertentangan dengan UU Nomor 34 tahun 2000 dan PP 65 Nomor 2001. pengolahan dan pemurnian. Dasar pembatalan perda tentang pertambangan umum adalah berkaitan dengan pajak dan retribusi izin usaha pertambangan dan birokrasi proses perizinan. Dalam rangka mendukung dan memfasilitasi daerah dalam penyelenggaraan tugas pemerintahan di bidang pertambangan umum. pengelolaan lingkungan. Kegiatan usaha di sektor pertambangan umum (KP. Dalam pasal tersebut dinyatakan bahwa. eksplorasi. Hal ini menunjukkan bahwa. sehingga harus dibatalkan atau direvisi. eksploitasi. Sebenarnya dari kedua pasal. dan kabupaten/kota. sebagian besar (183 perda atau 75%) mengatur tentang pungutan (pajak. sehingga diinterpretasikan bahwa kegiatan sektor pertambangan umum merupakan kewenangan daerah. 34 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Berdasarkan hasil kompilasi perda yang berkaitan dengan kegiatan pertambangan pada 8 provinsi. Pada sisi lain pasal 10 ayat 1 dinyatakan bahwa “daerah berwenang mengelola sumber daya nasional yang tersedia di wilayahnya dan bertanggung jawab memelihara lingkungan sesuai dengan peraturan perundang-undangan”. perda yang mengatur tentang pengelolaan pertambangan sebagian besar wilayah kabupaten belum menyusun. Departemen ESDM telah menerbitkan Keputusan Menteri mengenai pedoman teknis (Kepmen No. KEBIJAKAN PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA Setiap usaha pertambangan bahan galian yang termasuk dalam golongan bahan galian strategis dan golongan bahan galian vital. yaitu hanya terdapat 39 perda. Pelaksanaan otonomi daerah dimulai pada awal tahun 2000 telah menimbulkan interpretasi yang. 1453.menunjukkan bahwa produk Perda yang telah disusun cukup banyak yang bermasalah. yaitu berupa pengembangan sumber daya manusia. Dengan demikian. terkumpul 242 perda pada 147 kabupaten. 3. eksplorasi. apabila dikenakan pungutan lain akan menimbulkan pungutan ganda dan dapat memberatkan pelaku usaha di bidang pertambangan. Dari jumlah perda tersebut. baru dapat dilaksanakan. Banyaknya perda yang bermasalah tersebut dapat berakibat terganggunya aktivitas pemerintahan maupun perekonomian wilayah. Dengan diterbitkannya PP Nomor 38 Tahun 2007 yang merupakan turunan dari UU Nomor 32 Tahun 2004 telah secara jelas mengatur pembagian urusan antara pemerintah dan pemerintah daerah. Khusus perda yang berkaitan dengan pajak. yaitu berupa Kuasa Pertambangan (Peraturan Pemerintah Nomor 75 Tahun 2001). kesehatan dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Dalam pedoman teknis tersebut telah diatur mengenai tata cara permohonan perizinan. Dalam kebijakan tersebut telah terjadi perubahan yang mendasar tentang pengawasan perda. KK dan PKP2B) telah dikenakan iuran tetap (landrent) dan iuran eksplorasi dan eksploitasi (royalty). tersebut menimbulkan adanya ketidakjelasan kewenangan pengelolaan sumber daya alam (minerba) antara pusat dan daerah. provinsi. pemerintah daerah lebih mendahulukan kebijakan yang berkaitan dengan pungutan dibandingkan kebijakan tentang pengelolaan kegiatan pertambangan.K/29/NEM/2000). Sedangkan. Pemberian izin usaha pertambangan untuk melaksanakan kegiatan penyelidikan umum. Hal ini sangat rentan terhadap aktivitas pertambangan maupun lingkungan. khususnya berkaitan dengan kewenangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. apabila terlebih dahulu telah mendapatkan izin. pengawasan lingkungan. Dalam PP tersebut diuraikan secara jelas mengenai jenjang kewenangan antara pemerintah. pendayagunaan sumber daya alam serta teknologi tinggi yang strategis merupakan kewenangan pusat.

b. Pemerintah Daerah segera menyiapkan kawasan untuk kegiatan pertambangan yang ditetapkan dalam kebijakan RTRW. Hal ini karena potensi bahan galian yang dikembangkan adalah bahan galian golongan C dan dilakukan secara tadisional atau tambang rakyat. Diharapkan. Optimalisasi pemanfaatan potensi ini bertujuan untuk meningkatkan pendapatan daerah dan pembiayaan pembangunan. antara lain : Sistem perizinan. Umar Dhani 35 . Untuk melegalisasi meningkatkan pendapatan dan pembangunan daerah tersebut pemerintah daerah menyusun perda. dengan adanya tersedianya acuan pengelolaan pertambangan yang baik dapat merangsang investasi pengusahaan pertambangan di daerah.konservasi. Pengembangan masyarakat difokuskan pada kesejahteraan rakyat. Pemerintah Daerah (provinsi dan kabupaten/kota) menindaklanjuti dengan menerbitkan perda. bahkan masih ditemukan perda yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. 4. a. Klarifikasi wewenang dan ruang lingkup Pemerintah Pusat. yaitu pemrosesan dan pemurnian logam harus dilakukan di dalam negeri. Tidak ada lagi sistem kontrak langsung antara perusahaan dengan Pemerintah. Propinsi dan Kabupaten/ Kota. politik dan ekonomi. lingkungan hidup dan ekonomi telah mendorong atas kebutuhan mendasar ke arah perubahan sistem yang desentralistik . pengembangan potensi bahan galian yang ada menjadi sulit dilakukan karena keberadaanya bukan merupakan fungsi kawasan pertambangan.. Pada umumnya sebagian besar daerah Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang telah disusun belum pengalokasikan kawasan untuk pengembangan kegiatan pertambangan. Aspek nilai tambah. Pemanfaatan ruang untuk kegiatan pertambangan harus berada pada kawasan yang ditetapkan sebagai kawasan pertambangan pada RTRW. HAM. Hal ini dimaksudkan adanya kesesuaian fungsi kawasan maupun menghindari tumpang tindih pemanfaatan ruang atau benturan kepentingan antarsektor. PELUANG PENGEMBANGAN PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA Perda a. dan produksi. Krisis ekonomi pada tahun 1997 yang diikuti oleh tuntutan reformasi. Peluang Pengembangan Pertambangan Mineral dan Batubara pada Era . pemerintah daerah berlomba-lomba menyusun kebijakan untuk mengelola dan memanfaatkan potensi wilayah dalam rangka pengelolaan pertambangan dan meningkatkan pendapatan asli daerah melalui pajak dan retribusi daerah maupun pungutan lainnya (sumbangan pihak ketiga). seperti otonomi daerah.. Namun demikian. Maka peraturan yang berkaitan dengan pertambangan harus menyesuaikan dengan perubahan tersebut. lingkungan hidup. Dengan demikian. melainkan diberlakukannya sistem izin usaha pertambangan (IUP). Untuk wilayah yang memanfaatkan bahan galian golongan A dan B yang mempunyai nilai ekonomi lebih tinggi. Pedoman maupun acuan dalam menyusun Perda pengelolaan pertambangan telah diatur dan penerapan penyusunannya disesuaikan dengan karakteristik wilayah. perda yang telah diterbitkan oleh pemerintah daerah tentang pengelolaan pertambangan umum masih banyak yang belum sesuai acuan di atas. kebutuhan sosial. telah memberikan kontribusi yang cukup berarti bagi perekonomian dan penerimaan daerah serta menyumbangkan terhadap penerimaan negara.l. Selanjutnya. baik yang berkaitan dengan pengelolaan pertambangan umum maupun pungutan (pajak. Semenjak digulirkanya kebijakan otonomi daerah. Butir-butir penting dalam UU Nomor 4 Tahun 2009. demokratisasi. retribusi dan sumbangan pihak ketiga). untuk melaksanakan kewenangan tersebut. Pada intinya UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara sebagai pengganti UU Nomor 11 Tahun 1967 disusun dengan mempertimbangkan seluruh aspek perubahan saat ini. eksplorasi dan eksploitasi lebih sederhana. Optimalisasi Pemanfaatan Potensi Bahan Galian Pada umumnya potensi bahan galian belum diusahakan secara maksimal dan belum memberikan dampak yang signifikan terhadap perekonomian daerah. HAM. Kemampuan daerah dalam melaksanakan pembangunan sangat dipengaruhi oleh ketersediaan sumber daya maupun kemampuan dalam pengelolaannya. Dalam pemanfaatan ruang untuk kegiatan usaha harus mengacu pada kebijakan tata ruang yang ada. Dengan demikian.

Kebijakan otonomi daerah telah memberikan kewenangan untuk mengelola dan memanfaatkan potensi sumber daya yang ada di wilayahnya. Salah satu pengaruh adanya kegiatan pertambangan adalah peningkatan penerimaan daerah baik secara langsung maupun tidak langsung. Dengan adanya kebijakan ini memberikan peluang termanfaatkannya potensi yang ada. yaitu yang ditunjukkan dengan meningkatnya jumlah izin usaha pertambangan yang diterbitkan pemerintah daerah. Pada saat ini perizinan usaha pertambangan umum diterbitkan oleh pemerintah dan pemerintah daerah sesuai kewenangannya. Penerimaan daerah secara langsung berupa pajak dan retribusi daerah. c. sehingga mengganggu penganggaran di daerah. Dalam rangka desentralisasi ada sebagian dari penerimaan ini yang dibagihasilkan. Perizinan Pertambangan pemerintah daerah terjadi peningkatan yang cukup signifikan (Tabel 1). Secara umum upaya yang dilakukan ini telah menunjukkan tingkat keberhasilan yang cukup baik. sedangkan perizinan pengusahaan bahan galian golongan C diterbitkan oleh pemerintah daerah dalam bentuk SIPD. PKP2B dan KP. Dalam ketidakberdayaan ini ada sebagian daerah yang mengusulkan agar dana dari perusahaan pertambangan langsung ditransfer ke rekening pemerintah daerah tanpa melalui rekning pemerintah pusat. Dari sisi perundang-undangan tersebut di atas pajak dan royalti dari perusahaan pertambangan merupakan penerimaan pusat. Sebagai contoh. bahwa royalty merupakan penerimaan pusat yang dibagihasilkan dan bukan merupakan pajak daerah. 2008 36 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . jika dibandingkan dengan sistem pemerintahan sebelumnya. yaitu semakin bertambahnya investasi di bidang pertambangan di daerah. karena penerimaan yang diperoleh tidak tepat waktu. izin usaha pertambangan dalam bentuk KK dan PKP2B jumlahnya cenderung menurun. d. Masalah utama dari bagi hasil ini dipandang dari sisi daerah adalah tidak pastinya waktu pencairan dari pusat. Penerimaan Daerah Sebelum adanya otonomi daerah perizinan di bidang pertambangan umum dikeluarkan oleh pemerintah pusat dalam bentuk KK. Hal ini sangat mempengaruhi dalam pelaksanan rencana pembangunan yang telah ditetapkan oleh daerah. Untuk melakukan perpanjangan izin yang dikeluarkan dari pusat (KK dan PKP2B) selebihnya menjadi kewenangan daerah sesuai kewenangannya. Rekapitulasi Izin Pertambangan Jenis kontrak KP KK PKP2B 2001 600 55 119 2002 597 62 101 2003 597 61 101 2004 825 54 87 2005 848 46 82 2006 965 41 81 Sumber : Dirjen Minerbapabum. yaitu terdapat 354 izin yang telah dikeluarkan. Berdasarkan rekapitulasi dari Departemen ESDM. Saat ini sebagian besar Pemerintah Daerah gencar melakukan identifikasi dan inventarisasi potensi bahan galian yang ada dalam rangka menarik investor menanamkan modalnya di bidang pertambangan. Sementara pusat berpegang pada kebijakan yang berlaku. namun untuk izin yang berupa KP yang dikeluarkan oleh Distribusi pajak-pajak pertambangan yang menjadi hak daerah belum dilakukan secara lebih adil dan tepat waktu ke daerah penghasil yang berhak. Meningkatnya jumlah izin usaha bidang pertambangan (KP) tersebut menunjukkan adanya peningkatkan investasi bidang pertambangan dan meningkatnya PAD melalui sektor pertambangan. sedangkan Tabel 1. telah terbit ratusan KP batubara yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kabupaten (Bupati) salah satu provinsi di Kalimantan. 260 buah diantaranya berupa KP yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah. Melalui UU tersebut membuka peluang bagi pemerintah daerah untuk mengelola dan memanfaatkan sumber kekayaan alam yang ada di wilayahnya. Salah satunya faktor maraknya izin pertambangan yang dikeluarkan daerah adalah adanya kebijakan otonomi daerah.

68 17.788.66 2006 23.697.72 57. batubara dan panas bumi atau setara dengan Rp 17.00 8.07 76. yaitu yang dikelompokkan menjadi kawasan lindung dan budidaya.771. Kebijakan tata ruang ini menghindari tumpang tindih pemanfaatan ruang atau benturan kepentingan antarsektor. Kewilayahan Pemanfaatan ruang untuk kegiatan usaha harus mengacu pada kebijakan tata ruang yang ada. Dengan demikian.849.573.81 58.026. Penerimaan Pajak dan PNBP dari Pertambangan Mineral dan Batubara Tahun 2004-2006 (Milyar Rupiah) No.897. e. yaitu pada tahun 2006 sebesar 29. Umar Dhani 37 . Masyarakat tidak hanya menjadi penontan seperti yang terjadi selama ini.20 trlyun pada tahun 2007.31 6. 2008 2004 6.17 881. Penerimaan pajak dan PNBP pertambangan merupakan penerimaan Negara dan dibagi-hasilkan ke daerah.993.827. Berdasarkan dari hasil identifikasi terdapat beberapa izin pertambangan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah daerah tidak selaras Peluang Pengembangan Pertambangan Mineral dan Batubara pada Era .200.82 2. Secara umum. batubara dan panas bumi dalam empat tahun terakhir menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. meski penerimaan negara pada tahun 2007 mengalami penurunan sebesar 17% dibandingkan dengan periode sebelumnya.691.28 2005 12. 5. Semenjak digulirkan otonomi daerah pada tahun awal tahun 2000. sehingga menghambat investasi di daerah. dengan berkembangnya kegiatan di suatu wilayah secara tidak langsung akan memberi peluang berusaha dan menciptakan pengembangan wilayah.592.69 trilyun.10 3. KESIMPULAN Maraknya kegiatan pertambangan di daerah akan semakin membuka peluang kerja berusaha bagi masyarakat sekitar.642.57 29. Pengembangan dan pemanfaatan potensi bahan galian yang berada di kawasan lindung tidak dapat dimanfaatkan. masih banyak yang tidak selaras dengan peraturan yang lebih tinggi atau mengakibatkan biaya tinggi. Komponen PNBP terdiri atas iuran tetap.penerimaan tidak langsung adalah penerimaan dari pajak dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). royalti dan penjualan hasil tambang. Meskipun banyak kalangan yang menolak PP tersebut karena dinilai melegitimasi perusakan hutan lindung selama ada bayarannya dan murahnya tarif yang dikenakan .36 8. realisasi penerimaan negara yang berasal dari mineral. banyak perda-perda yang harus dibatalkan atau direvisi. Kesempatan Kerja dan Berusaha Nomor 41 Tahun 1999 jo PP Nomor 2 Tahun 2008 telah memberikan peluang pengusahaan pertambangan di kawasan hutan produksi dan hutan lindung.13 1. 1 2 Sumber Penerimaan Pajak PNBP Iuran Tetap Royalti Penjualan Hasil Tambang Total Sumber : Dirjen Minerbapabum.163.66 50. tapi dapat lebih memberikan kontribusi terlibat langsung pada aktivitas pertambangan sebagai pekerja.94 1..99 2.138.664.. Komponen terbesar penerimaan justru berasal dari penerimaan pajak dibandingkan PNBP (Tabel 2).519.41 4.419.442. Hasil pertambangan mineral dan batubara telah memberikan kontribusi bagi penerimaan Negara yang cukup besar. telah terbit ribuan perda sebagai acuan dalam pelaksanaan pembangunan di daerah.07 Penerimaan pajak ini menyumbang sekitar 67% dari total penerimaan negara yang berasal dari sektor mineral.01 25. f.25 4. Perda-perda yang telah terbit tersebut.12 2007 17. Dengan terbitnya UU Tabel 2.24 5. Selain itu. sehingga potensinya tidak memberikan nilai ekonomi.62 2.

Kamis 25 Januari 2006. kawasan untuk kegiatan pertambangan. Pengaruh tersebut. Diperlukan kebijakan/ peraturan daerah yang mengatur tentang pengelolaan pertambangan mulai dari segi perizinan pengusahaan. Pipin Syarifin. Pada saat ini dalam kebijakan tata ruang. Penyusunan RTRW Nasional. Direktorat Mineral. membuka kesempatan bekerja dan berusaha. arahan pengembangan pertambangan dikemudian hari. Otonomi Daerah Turunkan Investasi Pertambangan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah. Dengan demikian. Penyiapkan zonasi kawasan untuk pengembangan pertambangan yang ditetapkan dalam kebijakan RTRW. Batubara dan Pas Bumi. Mineral. terbatasnya jumlah maupun kemampuan aparat. 5. Untuk mengantisipasi tumpang izin usaha pertambangan yaitu dengan penyusunan basis data pertambangan dengan format yang sama dan menyusun ulang izin-izin yang bermasalah. Pemerintahan Daerah di Indonesia. antara tersebut antara lain : ketidaksonsistenan peraturan yang ada. Perencanaan Pembangunan Daerah. Berdasarkan dari peluang dan tantangan tersebut. sehingga tercipta pertambangan yang berkelanjutan (good mining practice). Provinsi dan Kabupaten yang saling sinergis. Hal ini menunjukkan bahwa izin pertambangan yang telah diterbitkan tidak melalui koordinasi dengan dinas/instansi terkait. sebagai media promosi investasi pengusahaan pertambangan DAFTAR PUSTAKA Dedi Supriady Bratakusumah. 3. Adanya kepastian hokum dan kepastian berusaha. terciptanya pengembangan wilayah. 2005 Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 1967 tentang Pokok-Pokok Pertambangan Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Bandung. Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah kabupaten/Kota. Tahun 2007 Makro Ekonomi. 4. Pustaka Setia. maka pembahasan pelaksanaan pertambangan di daerah perlu dilakukan evaluasi yang bertujuan untuk pengembangan pertambangan di daerah. 2. Laporan Tim Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Periode Januari – Desember 2008. tingkat kerusakan lingkungan yang cenderung meningkat. upaya yang dilakukan adalah menerapkan metode penambangan secara tepat dan berawasan lingkungan. keberadaan sumber daya mineral yang pada umumnya tersebar di bawah permukaan. antara lain : 1. tidak atau belum dialokasikan secara tegas. Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara 38 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Jika dilihat dari permasalahan yang timbul dengan adanya kegiatan pertambangan serta faktor penyebab permasalahan tersebut. perlu diperhatikan tantangan dalam pengembangannya. Tersedianya data informasi potensi sumber daya mineral dan batubara. Tuntutan pemenuhan standar lingkungan hidup yang makin ketat. dan minimnya data/informasi potensi wilayah. Departemen Energi Sumber Daya Mineral. meningkatnya pemanfaatan sumber daya mineral dan batubara. Diperlukan peningkatan jumlah dan kemampuan apatur dinas seiring dengan maraknya pengusahaan pertambangan. Berdasarkan peluang-peluang tersebut. meningkatnya penerimaan daerah. menjadi terkalahkan oleh pengembangan ruang sektor lain. hingga pemantauan lingkungan pasca tambang. sehingga pada saat ruang tersebut akan dikembangkan untuk kegiatan pertambangan menjadi tumpang tindih dengan kegiatan sektor lain. masih banyak wilayah belum ada alokasi kawasan pertambangan.dengan peraturan yang lebih tinggi atau tumpang tindih dengan sektor lain. Gramedia 2005 Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan Departemen Keuangan Republik Indonesia. Pelaksanaan otonomi daerah yang berjalan hampir 9 tahun telah menimbulkan pengaruh yang cukup besar terhadap kegiatan pertambangan di daerah. antara lain : kewenangan dalam pengelolaan pertambangan. Coal and Geothermal.

PENINGKATAN KADAR BIJIH BESI DARI DAERAH PELAIHARI, PROPINSI KALIMANTAN SELATAN MENGGUNAKAN KLASIFAYER DAN PEMISAH MAGNETIK

Pramusanto, Nuryadi Saleh dan Apriandi Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl Jenderal Sudirman No. 623 Bandung, 40211 Telp (022) 6030843, Fax. (022) 6003373

SARI Karakteristik bahan baku bijih besi Pelaihari dicirikan oleh kadar besinya rendah (sekitar 30% Fetotal). Mineralnya terdiri dari hematit dan magnetit. Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kadar besinya adalah dengan melakukan percobaan klasifayer dan pemisah magnetik. Penelitian ini membahas tentang percobaan klasifayer yang dilanjutkan dengan percobaan pemisah magnetik. Percobaan pemisah magnetik dilakukan dengan memvariasikan intensitas magnet, ukuran butir dan waktu pengadukan umpan. Percobaan klasifayer dilakukan untuk mengurangi mineral pengotor dengan memanfaatkan perbedaan ukuran butir dan berat jenis, sedangkan pemisah magnetik dilakukan untuk meningkatkan mineral berharga berupa hematit dan magnetit melalui pemanfaatan perbedaan kerentanan terhadap magnet antara mineral pengotor dengan mineral berharga. Hasil percobaan klasifayer dapat meningkatkan kadar Fetotal menjadi 34,6%, sedangkan pada pemisah magnetik, variabel yang dapat meningkatkan kadar tertinggi adalah waktu pengadukan umpan dengan kadar Fetotal tertinggi yang diperoleh 55,9%. Waktu pengadukan umpan 10 dan 20 menit. Perolehan tertinggi besi sebesar 33,26% terjadi pada waktu pengadukan umpan selama 20 menit. Kata kunci : bijih besi, Pelaihari, klasifayer, pemisah magnetik

ABSTRACT Raw iron ore of Pelaihari is known by its low iron content. The ore consists of hematite and magnetite as the main iron minerals. In order to increase the iron content, some efforts can be conducted by sequence of laboratory tests, namely classifier and magnetic separator. The experiment using magnetic separator is conducted at various magnetic intensity, grain size and agitation time. The purpose of classifying tests is lessening the impurity mineral by exploiting difference of grain size and specific gravity, while magnetic separator will increase the valuable mineral in the form of hematite and magnetite by exploiting difference of magnetic susceptibility between the impurities and valuable minerals. The experiment results of classifying increase the total iron grade up to 34.6%, followed by magnetic separator. The later increases the highest grade of total iron up to 55.9% at agitation time of 10 and 20 minutes. The highest iron recovery of 33.26% was conducted at 20 minutes of feed agitation time. Keywords : iron ore, Pelaihari, classifier, magnetic separator

Peningkatan Kadar Bijih Besi dari Daerah Pelaihari ... Pramusanto, dkk.

39

1.

PENDAHULUAN

Kebutuhan baja nasional terus mengalami peningkatan seiring dengan perkembangan sektor industri dan semakin maraknya pembangunan infrastruktur di Indonesia. Pada saat ini konsumsi baja diperkirakan telah mencapai 6,3 juta ton, sedangkan produksinya hanya 3,8 juta ton. Kekurangan penyediaan baja sebesar 2,5 juta ton masih dipasok dari impor, sehingga PT Krakatau Steel untuk memproduksi baja di Indonesia memerlukan bahan baku dan penunjang yang sebagian besar masih diimpor. Bahan-bahan yang pengadaannya masih bergantung pada impor adalah pelet bijih besi, sedangkan skrep, bijih besi bongkah (lump ore) dan bijih besi halus kasar (coarse fine) sebagian masih dapat dipasok dari dalam negeri, misalnya untuk bijih besi bongkah berkadar Fe 57% dan bijih besi halus kasar berkadar Fe 56% telah dapat dipasok dari endapan besi laterit oleh PT Sebuku Iron Lateritic Ore, Kalimantan Selatan [sebukuiron.co.id]. Untuk menunjang keperluan industri besi baja yang terus meningkat di masa mendatang, Indonesia memiliki potensi sumber daya bijih besi yang cukup besar, berupa bijih besi primer dengan estimasi cadangan 320 juta MT dan kadar 25 – 62% Fe, bijih besi laterit dengan estimasi cadangan 1.391 juta MT dan kadar 40 – 56% Fe serta pasir besi dengan estimasi cadangan 600 juta MT dan kadar 25 – 40% Fe [Koesnohadi dan Sobandi, 2008]. Namun sumber daya tersebut belum dapat dimanfaatkan secara optimal karena kadar Fe yang terkandung relatif rendah. Pada umumnya industri baja membutuhkan besi dengan kadar Fe 60-69%, sedangkan P.T. Krakatau Steel membutuhkan pelet bijih besi dengan kandungan Fe minimum 65%. Untuk menjawab tantangan tersebut, perlu adanya kajian intensif agar kadar Fe yang dikandung besi dapat ditingkatkan, sehingga dapat dimanfaatkan oleh industri dalam negeri seperti oleh PT Krakatau Steel. Proses peningkatan kadar Fe pada bijih besi biasa dilakukan dengan cara kominusi (crushing dan grinding), konsentrasi secara gravitasi, pemisahan magnetik, pemisahan elektrostatik maupun flotasi. Flotasi biasanya dilakukan sebagai lanjutan dari proses pemisahan magnetik, pemisahan elektrostatik, konsentrasi secara gravitasi maupun kominusi [Habashi, 1997]. Pemisahan secara magnetik terhadap bijih besi sudah lazim dikerjakan [Pramusanto, dkk, 1999].

Pemisah magnetik merupakan alat yang digunakan dalam proses pemisahan secara magnetik. Prinsip kerja alat ini adalah memisahkan mineral berharga dari pengotornya berdasarkan derajat kemagnetan atau mudah tidaknya mineral mengalami pengaruh dalam medan magnet (magnetic sussceptibility) [Kelly, and Spottiswood, 1982]. Bijih besi merupakan mineral-mineral yang mengandung besi seperti magnetit, hematit, goethit, limonit atau campuran dari mineral-mineral tersebut dengan mineral pengotornya, seperti silika, alumina, dan krom [Perkins, 2002]. Berdasarkan pada magnetic susceptibility mineral tersebut dapat diklasifikasikan dalam dua grup, yaitu paramagnetik dan diamagnetik. Mineral diamagnetik merupakan mineral yang tidak mengalami ketertarikan dalam medan magnet, seperti silika, dan alumina. Sedangkan mineral paramagnetik yang dapat ditarik oleh magnet, seperti hematit dan limonit. Dari mineral paramagnetik ini terdapat mineral-mineral yang memiliki sifat magnet yang sangat kuat disebut ferromagnetik, seperti magnetit [Wills, 1988]. Berdasarkan hasil pengujian mineragrafi, bijih yang digunakan untuk percobaan ini mengandung magnetit-hematit. Magnetit dan hematit memiliki derajat kemagnitan signifikan, yang berbeda dengan mineral pengotor berupa silika, alumina dan lain-lain; sehingga sebagai studi awal, proses pemisahan berdasarkan sifat kemagnetan mineral menggunakan pemisah magnet dapat dimanfaatkan.

2.

METODOLOGI

Metodologi peningkatan kadar bijih besi ini dilakukan dalam beberapa tahapan, yaitu; preparasi percontoh (pengeringan, pengayakan dan pemercontoh), studi bahan baku (analisa kimia, ayak dan mineralogi), pencucian dengan spiral classifier untuk menghilangkan pengotor, dan percobaan menggunakan pemisah magnet untuk meningkatkan hematit dan magnetit. *****

3.

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Studi Bahan Baku Studi bahan baku ini bertujuan untuk mengetahui dan menentukan komposisi dan kadar dari mineral-mineral yang terdapat di dalam percontoh bijih besi tersebut.

40

PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009

3.1.1 Analisis Komposisi Kimia Berdasarkan hasil analisis komposisi kimia, maka diperoleh komposisi kimia bijih besi sebagai berikut; Fetotal 31,3%, Fe2O3 37,94%, Fe3O4 6,55%, SiO2 28%, CaO 15,67%, Al2O3 5,61%, MgO 1,01 %, TiO2 1,63%, Cr2O3 0,111% dan LOI 1,93%. 3.1.2 Analisis Ayak Berdasarkan Gambar 1 dapat dilihat terjadi perubahan distribusi ukuran butir akibat pencucian dengan spiral classifier, sehingga underflow spiral classifier menyebabkan kenaikan nilai persen berat tertahan fraksi ukuran -250+150 µm (-60+100 mesh) sampai fraksi +1,7 mm (+10 mesh) dan menyebabkan penurunan nilai persen berat tertahan dari fraksi ukuran -150+106 µm (-100+140 mesh) sampai fraksi -75 µm (-200 mesh) terhadap percontoh asal bijih besi. Hal ini menjelaskan bahwa proses spiral classifier menyebabkan terjadinya pemisahan antara partikel halus dengan kasar, sehingga dapat dilihat adanya perbedaan persentase berat tertahan antara percontoh asal dengan underflow spiral classifier.

70,00%, hematit derajat sebesar 94,55%, dan gangue sebesar 98,41%.

 
Derajat Liberasi [DL] (%)

100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0
-75 (-200) -106+75 -150+106 -250+150 -425+250 -850+425 -1700+850 (-140+200) (-100+140) (-60+100) (-40+60) (-20+40) (-10+20) +1700 (+10)

35 30 25 20 15 10 5 0 Distribusi DL [DDL] (%)
Distribusi DL [DDL] (%)

Fraksi Ukuran µm (m esh)
DL Magnetit DDL Magnetit DL Hematit DDL Hematit DL Gangue DDL Gangue

Gambar 2. Hubungan fraksi ukuran terhadap derajat liberasi dan distribusi derajat liberasi percontoh asal

 
Persen Berat Tertahan (%)

45 40 35 30 25 20 15 10 5 0
-75 (-200) -106+75 (-140+200) -150+106 (-100+140) -250+150 (-60+100) -425+250 40+60) (-850+425 20+40) (-1700+850 (- +1700 10+20) (+10)

Percontoh Asal Percontoh Spiral Classifier

Menurut perhitungan derajat liberasi total fraksi kasar dan halus untuk percontoh asal, dapat dijelaskan bahwa persentase derajat liberasi total pada fraksi kasar (+1700 µm) atau +10 mesh sampai -425+250 µm (-40+60 mesh) masih sangat rendah; magnetit sebesar 0,45%, hematit sebesar 1,08% dan gangue sebesar 13,70%. Persentase derajat liberasi total pada fraksi halus (-250+150 µm) atau (-60+100 mesh) sampai -75 µm (-200 mesh) sudah cukup tinggi; magnetit sebesar 37,62%, hematit sebesar 58,95% dan gangue sebesar 77,56%.

Fraksi Ukuran µm (m esh)

 
Derajat Liberasi [DL] (%)

100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0
-75 (-200) -106+75 -150+106 -250+150 -425+250 -850+425 (-140+200) (-100+140) (-60+100) (-40+60) (-20+40) -1700+850 (-10+20) +1700 (+10)

40 35 30 25 20 15 10 5 0

Gambar 1. Hubungan fraksi ukuran dengan komposisi mineral percontoh asal dan underflow spiral classifier

3.1.2.1 Derajat Liberasi Berdasarkan Gambar 2, untuk derajat liberasi percontoh asal terlihat bahwa semakin kecil ukuran ayak, maka tingkat kebebasan suatu butiran mineral dalam suatu fraksi ukuran semakin tinggi. Derajat liberasi tertinggi pada percontoh asal terdapat pada fraksi -75 µm (-200 mesh) dengan derajat liberasi untuk mineral magnetit sebesar

Fraksi Ukuan µm (m esh)
DL Magnetit DDL Magnetit DL Hematit DDL Hematit DL Gangue DDL Gangue

Gambar 3. Hubungan fraksi ukuran terhadap derajat liberasi dan distribusi derajat liberasi percontoh underflow spiral classifier

Peningkatan Kadar Bijih Besi dari Daerah Pelaihari ... Pramusanto, dkk.

41

Berdasarkan Gambar 3, derajat liberasi tertinggi untuk percontoh underflow spiral classifier terdapat pada fraksi -75 µm (-200 mesh) dengan derajat liberasi mineral magnetit sebesar 69,61%, hematit sebesar 93,42%, dan gangue sebesar 97,96%. Menurut perhitungan distribusi derajat liberasi untuk fraksi kasar dan halus untuk percontoh bijih besi underflow spiral classifier, terlihat bahwa persentase distribusi derajat liberasi total pada fraksi kasar (+1700 µm) atau +10 mesh sampai 425+250 µm (-40+60 mesh) masih sangat rendah; magnetit sebesar 0,60%, hematit sebesar 1,50% dan gangue sebesar 23,54%. Persentase distribusi derajat liberasi total pada fraksi halus (-250+150 µm) atau -60+100 mesh sampai -75 µm (-200 mesh) masih cukup tinggi; magnetit sebesar 28,21%, hematit sebesar 46,41% dan gangue sebesar 64,11%.

dan hematit dengan komposisi hampir homogen pada setiap fraksi ukuran yang terdapat pada kedua percontoh analisis ayak. Komposisi mineral rata-rata seluruh fraksi ukuran untuk percontoh asal adalah 6,22% magnetit, 37,53% hematit dan 56,25% gangue, sedangkan untuk percontoh hasil percobaan spiral classifier adalah 6,98% magnetit, 39,87% hematit dan 53,15% gangue.

 
Komposisi Mineral (%)

70 60 50 40 30 20 10 0
-75 (-200) -106+75 (-140+200) -150+106 (-100+140) -250+150 (-60+100) -425+250 40+60) (- -850+425 20+40) (- -1700+850 (-10+20) +1700 (+10)

Fraksi Ukuran µm (m esh)
Magnetit Percontoh Asal Hematit Percontoh Asal Gangue Percontoh Asal Magnetit Limp, Bawah Klasif ay er Spiral Hematit Limp. Bawah Klasif ay er Spiral Gangue Limp. Bawah Klasif ay er Spiral

Gambar 5. Hubungan fraksi ukuran dengan komposisi mineral percontoh asal dan percontoh underflow spiral classifier

3.2. Percobaan Spiral Classifier Berdasarkan Gambar 6, dapat dijelaskan bahwa pada percobaan ini telah terjadi pemisahan antara partikel halus dengan kasar. Hal ini terlihat dari adanya kenaikan kadar Fe total. Kadar Fe total pada percontoh asal sebagai umpan sebesar 31,3%, setelah dilakukan proses klasifikasi menggunakan spiral classifier meningkat menjadi 34,6% untuk produk underflow (sebagai produk pemisahan yang memiliki partikel kasar) dan terjadi penurunan kadar Fe total menjadi 24,6% untuk produk overflow (sebagai produk pemisahan partikel yang berukuran halus). 3.3. Peningkatan Kadar dengan Pemisah Magnetik Di dalam percobaan pemisah magnetik ini dilakukan analisis mineralogi untuk meninjau perubahan komposisi mineral dan derajat liberasi pada konsentrat dan tailing akibat pengaruh dari variabel percobaan terhadap peningkatkan kadar dan perolehan. Analisis kimia hanya dilakukan pada konsentrat untuk menetukan kadar Fe total.

Gambar 4. Fotomikrograf sayatan poles bijih besi (H = hematit, M = magnetit, G = mineral gangue, HM = hematit + magnetit HG = hematit + gangue)

Berdasarkan Gambar 4, dapat dilihat bahwa pada fraksi ukuran -106+75 µm (-140+200 mesh), bahwa antara magnetit dan hematit terjadi keterikatan dan antara hematit dan gangue juga terjadi keterikatan. Antara magnetit dan gangue tidak tampak adanya keterikatan. Menurut perhitungan komposisi mineral pada ukuran tersebut, komposisi hematit 41,80% dengan derajat liberasi 88,68% dan magnetit 7,80% dengan derajat liberasi 58,97% serta gangue 50,40% dengan derajat liberasi 96,23%. 3.1.2.2 Komposisi Mineral Berdasarkan Gambar 4, mineral berharga yang terdapat pada percontoh bijih besi ini adalah magnetit

42

PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009

80%). sedangkan derajat liberasinya turun.   Komposisi Mineral (%)   100 80 60 40 20 0 2000 4000 6000 8000 10000 100 Derajat Liberasi {DL) (%) 100 Komposisi Mineral (%) 100 80 60 40 20 0 <75 <106 <150 <180 <250 80 60 40 20 0 Intensitas Magnet (Gauss) Magnetit DL Hematit Hematit DL Magnetit Gangue DL Gangue 80 60 40 20 0 Ukuran Butir (µm ) Magnetit DL Hematit Hematit DL Magnetit Gangue DL Gangue Gambar 7. sedangkan derajat liberasinya juga mengalami penurunan. Gambar 6.3. Komposisi hematit yang terbesar diperoleh pada intensitas magnet 2000 gauss sebesar 70. tapi mengalami penurunan kembali pada ukuran <250 µm. 3.1 Pengaruh Intensitas Magnet terhadap Komposisi Mineral dan Derajat Liberasi pada Konsentrat Berdasarkan grafik pengaruh intensitas magnet yang divariasikan dari 2000-10000 gauss terhadap komposisi mineral dan derajat liberasi konsentrat pada Gambar 7. semakin besar ukuran butiran mengakibatkan kenaikan komposisi mineral. Pramusanto. namun hal tersebut menaikan komposisi gangue.28%) dan gangue terbesar (43. Pengaruh intensitas magnet terhadap komposisi mineral dan derajat liberasi konsentrat Gambar 8. Komposisi hematit terkecil diperoleh pada intensitas magnet 10000 gauss (47..3.73% dan gangue yang terkecil (22. Gangue meningkat. Derajat Liberasi {DL} (%) 43 .  Komposisi Kimia (%) 40 35 30 25 20 15 10 5 0 Fe total SiO2 CaO Al2O3 MgO TiO2 Cr2O3 LOI Nam a Mineral Percontoh Asal Underflow Overflow konsentrat.07%.20%)..2 Pengaruh Ukuran Butir terhadap Komposisi Mineral dan Derajat Liberasi pada Konsentrat Berdasarkan grafik pengaruh ukuran butiran yang divariasikan dari ukuran <75 sampai <250 µm terhadap komposisi mineral dan derajat liberasi konsentrat seperti pada Gambar 8. dapat ditarik kesimpulan bahwa semakin besar ukuran butiran semakin turun komposisi mineral. menunjukan penurunan hematit seiring dengan peningkatan intensitas magnet. dkk. Namun pada gangue. tetapi pada ukuran <250 µm mengalami kenaikan kembali. Magnetit cenderung stabil namun derajat liberasinya juga turun. Pengaruh ukuran butir terhadap komposisi mineral dan derajat liberasi konsentrat Hal ini berarti pengaruh intensitas magnet menyebabkan peningkatan penarikan hematit yang masih berikatan dengan gangue ke dalam Perubahan komposisi mineral dan derajat liberasi pada mineral magnetik maupun gangue disebabkan oleh adanya pengaruh gaya gravitasi dan hidrodinamis yang bekerja pada butiran serta Peningkatan Kadar Bijih Besi dari Daerah Pelaihari . Terjadinya peningkatan komposisi hematit yang berikatan dengan gangue menyebabkan terjadinya penurunan derajat liberasi dan komposisi hematit. dengan magnetit sebesar 7.94%). Hubungan percobaan spiral classifier terhadap komposisi kimia 3. sehingga meningkatkan komposisi hematit dan gangue yang berikatan. dengan magnetit (8.

8%) dengan perolehan tertinggi 54. Komposisi hematit terbesar diperoleh pada waktu pengadukan umpan 10 menit (71. magnetit sebesar 8.40%. pengaruh waktu pengadukan ini menyebabkan Al2O3 ataupun CaO yang ada dalam umpan tercampur dengan baik.50%. disimpulkan bahwa pengaruh intensitas magnet terhadap perolehan menunjukan semakin besar intensitas magnet semakin meningkat perolehan.40%). Hal ini disebabkan oleh lepasnya ikatan mineral-mineral besi dengan gangue yang berikatan tidak begitu kuat.5 Pengaruh Ukuran Butir terhadap Perolehan dan Kadar Fetotal pada Konsentrat Berdasarkan grafik pengaruh ukuran butir terhadap perolehan dan kadar Fe Total Gambar 11.33%). Komposisi hematit terkecil diperoleh pada ukuran butir <180 µm (68.13% dan sisanya gangue. Perolehan yang semakin besar seiring dengan besarnya intensitas magnet.   Perolehan Fe (%) 60 50 40 30 20 60 50 40 30 20 10 2000 4000 6000 8000 10000   100 Komposisi Mineral (%) 100 80 60 40 20 0 1 10 20 80 60 40 20 0 Waktu Pengadukan Um pan (Menit) Magnetit DL Hematit Hematit DL Magnetit Gangue DL Gangue Derajat Liberasi {DL} (%) 10 Intensitas Magnet (Gauss) Recov ery Fe Kadar Fe Gambar 10. waktu pengadukan umpan memiliki sedikit pengaruh terhadap peningkatkan derajat liberasi antara hematit dan gangue.00%. magnetit sebesar 7.3.7%) dengan perolehan terendah 28. Kadar Fe total terendah diperoleh pada intensitas magnet 10000 gauss (38. Penyebab lain. 44 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 Kadar Fe (%) .27%. didapatkan komposisi mineral hematit sebesar 72. Pada waktu pengadukan umpan 20 menit. Kadar Fe tertinggi didapatkan pada ukuran <250. 3. Hal ini terjadi karena gangue yang berikatan dengan mineral magnetik ikut tertarik menjadi konsentrat. Kadar Fe total tertinggi diperoleh pada intensitas magnet 2000 gauss (54.7%. Pengaruh waktu pengadukan umpan terhadap komposisi mineral dan derajat liberasi konsentrat 3.3 Pengaruh Waktu Pengadukan Umpan terhadap Komposisi Mineral dan Derajat Liberasi pada Konsentrat Berdasarkan Gambar 9 dapat ditarik kesimpulan bahwa untuk derajat liberasi.27% dan gangue sebesar 25. Penyebab-penyebab tersebut dapat mengakibatkan peningkatkan penarikan mineral magnetik oleh magnet menjadikan konsentrat.3.07% dan gangue sebesar 20.93%). Hal ini mempengaruhi daya tarik magnet ke dalam konsentrat.67%. 3. magnetit sebesar 6. <106 dan <75 µm sebesar 54.derajat liberasi butiran.4 Pengaruh Intensitas Magnet terhadap Perolehan dan Kadar Fe Total pada Konsentrat Dari grafik pengaruh intensitas magnetik terhadap perolehan dan kadar Fe total (Gambar 10).3. Perolehan tertinggi didapatkan pada ukuran butir <75 µm sebesar 31. sebaliknya dengan kadar Fe total cenderung turun seiring dengan peningkatan kadar. Komposisi hematit terbesar diperoleh pada ukuran butir <75 µm (70.17%.93% dan gangue sebesar 21. Pengaruh intensitas magnet terhadap perolehan dan kadar Fetotal konsentrat Gambar 9.84%. magnetit sebesar 8. disimpulkan bahwa perolehan dan kadar dipengaruhi oleh pengaruh ukuran butir akibat adanya perubahan komposisi mineral dan derajat liberasi.

47%) dan gangue-nya sebesar 71.7 Analisis Komposisi Mineral pada Tailing Variabel Intensitas Magnet Berdasarkan Gambar 13 menunjukkan bahwa mineral magnetit pada tailing hasil percobaan pemisah magnetik sudah tidak ada. Hematit berkurang seiring dengan bertambahnya intensitas magnet.3. Magnetit pada tailing masingmasing variabel ini sudah tidak ada.26%.. Hematit terbesar terjadi pada intensitas 2000 gauss (28. Hematit terbesar terdapat pada ukuran butir <180 µm (29. Pramusanto. sedangkan gangue-nya sebesar 72..20%) dan gangue sebesar 70.67%. 30 50 20 40 10 1 10 20 30 Waktu Pengadukan Um pan (Menit) Recov ery Fe Kadar Fe Gambar 12.6 Pengaruh Waktu Pengadukan Umpan terhadap Perolehan dan Kadar Fetotal pada Konsentrat Dari Gambar 12 diperoleh kesimpulan bahwa waktu pengadukan juga memberikan pengaruh terhadap perolehan dan kadar akibat adanya perubahan komposisi mineral dan derajat liberasi. Komposisi hematit terkecil terdapat pada intensitas magnet 10000 gauss (27.3. Perolehan tertinggi terjadi pada pengadukan umpan selama 20 menit dengan perolehan sebesar 33.80%.9%.53%. 45 . Pengaruh waktu pengadukan umpan terhadap perolehan dan kadar Fetotal konsentrat Peningkatan Kadar Bijih Besi dari Daerah Pelaihari . dkk.33%). sedangkan gangue mengalami peningkatan. Kadar Fe total tertinggi diperoleh pada waktu pengadukan umpan sebesar 55.  Perolehan Fe (%) 40 70 60 50 3. artinya mineral magnetit tertarik semua ke dalam konsentrat. seluruh magnetit tertarik semua ke dalam konsentrat pada setiap variabel intensitas magnet. Pengaruh intensitas magnet terhadap komposisi mineral tailing 50 70 40 60 Kadar Fe (%) 3. Kadar Fe (%) 35 30 40 25 30 20 <75 <106 <150 <180 <250 20 Ukuran Butiran (µm ) Recov ery Fe Kadar Fe Gambar 11. Pengaruh ukuran butir terhadap perolehan dan kadar Fetotal konsentrat   Komposisi Mineral (%) 3.3. sedangkan gangue cenderung semakin kecil.8 Analisis Komposisi Mineral pada Tailing Variabel Ukuran Butir Dari Gambar 14 terlihat bahwa semakin besar ukuran butir semakin besar pula kecenderungan komposisi hematit. 80 70 60 50 40 30 20 10 0 2000 4000 6000 8000 10000 Intensitas Magnet (gauss) Magnetit Hematit Gangue   Perolehan Fe (%) Gambar 13.

1982 “Introduction to Mineral Processing”.00%. Perkins. Bijih besi Pelaihari mempunyai mempunyai kadar Fe total 31. kadar Fe total tertinggi 54. kadar Fe total tertinggi adalah 55. 4. 3. 2008 “Potensi Sumber Daya Lokal Untuk Membangun kemandirian dan Daya Saing Industri Baja Nasional”. Kelly Erol G. Pengaruh ukuran butir terhadap komposisi mineral tailing 3.3. New Jersey. Perolehan tertinggi 33. Pencucian mengunakan spiral classifier meningkatkan kadar besi total menjadi 34. Komposisi hematit terbesar terdapat pada waktu pengadukan satu menit sebesar 26. sedangkan mineral gangue sebesar 73. kadar Fe total tertinggi 54. Federal Republic of Germany. Wiley-VCH. DAFTAR PUSTAKA Habashi. New York Koesnohadi dan Ahmad Sobandi.26% terjadi pada waktu pengadukan umpan 20 menit.67%. 5.3% dengan mineral gangue terdiri atas SiO2 28. Prentice-Hall Inc. 2002 “Mineralogy 2nd Edition”. Pada percobaan pengaruh ukuran butir.84% pada intensitas magnet 2000 gauss. Komposisi hematit semakin kecil seiring dengan bertambahnya waktu pengadukan.61%. Fathi (editor). Dexter. Gambar 14. <106 dan <75 µm. Weinhem. Prosiding Kolokium Pertambangan.  Komposisi Mineral (%) 4..74%. sedangkan gangue semakin besar.7% dengan perolehan 28.9 Analisis Komposisi Mineral pada Tailing Variabel Waktu Pengadukan Umpan Gambar 15 menunjukan bahwa pada tailing variabel waktu pengadukan umpan. 80 70 60 50 40 30 20 10 0 <75 <106 <150 <180 <250 Ukuran Butir (µm ) Magnetit Hematit Gangue KESIMPULAN Beberapa kesimpulan yang dapat ditarik adalah : 1.   Komposisi Mineral (%) 80 70 60 50 40 30 20 10 0 1 10 20 Waktu Pengadukan Um pan (Menit) Magnetit Hematit Gangue Gambar 15. Al2O3 15. John Willey & Sons. magnetit tidak ada.26%. Pengaruh waktu pengadukan umpan terhadap komposisi mineral tailing 46 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Bandung. Pada percobaan pengaruh waktu pengadukan umpan.50% ada pada ukuran butir <75 µm. 2.6%. Spottiswood David J.9% untuk waktu pengadukan umpan 10 dan 20 menit. CaO 5.. Pada percobaan pengaruh intensitas magnet. United Stated of America. 1997 “Handbook of Extractive Metallurgy Volume I: The Metals Industry Ferrous”.7% pada ukuran butir <25. Perolehan tertinggi 31.

New York.. PT SILO. www. Oxford. Bandung. Wills. dkk. Pusat Penelitian Pengembangan Teknologi dan Mineral. 47 . Pramusanto. dkk. A. B.. Peningkatan Kadar Bijih Besi dari Daerah Pelaihari .sebukuiron..Pramusanto. 1999 “Pengerjaan Awal Bijih Besi Laterit Melalui Pemisahan Secara Magnetis dalam Drum Magnetic Separator pada Pembentukan Campuran Bijih Besi Laterit dan Kokas”. diunduh pada jam 10:57.htm.co. “Mineral Processing Technology 5Th Edition”.id/silo_products. 1988. tanggal 20 Mei 2009.. Pergamon Press.

Because of that. Oleh karena itu. bodi keramik putih ABSTACT There are a lot of the quartz sand deposit in Rantaubujur area. Dari hasil percobaan pencucian yang dilakukan sebanyak 3 (tiga) kali diperoleh 658. 0. 022 . yakni dari 80. beneficiation 48 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . which to appear of overburden on the coal deposit. 0. Pasir kuarsa ini masih bercampur dengan material lempung berwarna krem kekuningan.85 % SiO2.063 mm. The chemical analysis result of natural quartz sand and pure quartz sand that has increased of silica (SiO2) significant enough namely from 80. Keywords : clayed quartz sand.378. This quartz sand still mixed with yellowish cream clay materials. mengalami kenaikan kadar silika (SiO2) yang cukup signifikan. 0. the clayed quartz sand sample need to beneficiat by washing and sieving on several size of 1.PENGOLAHAN PASIR KUARSA BERLEMPUNG ASAL RANTAUBUJUR. Achmad Yani 392 Bandung Telp.Tapin Regency abaout 186.85 % SiO2 .27 % SiO2 become 94.27 % SiO2 menjadi 94. Jend. Based on the beneficiation experiments as much as 3 (three) time be found the pure quartz sand of 658.063 mm. South Tapin District . Enymia dan Sumarsih Balai Besar Keramik Jl. This pure quartz sand has to fulfill as ceramic raw material for made the whiteware ceramic as the filler material. UNTUK BAHAN BAKU KERAMIK Subari.7206221 / 7207115) SARI Jumlah cadangan endapan pasir kuarsa di daerah Rantaubujur Kecamatan Tapin Selatan. Kata kunci: pasir kuarsa berlempung.0 mm.000 m3. yang merupakan lapisan tanah penutup (over burden) pada endapan batu bara. sampel pasir kuarsa yang berlempung tersebut perlu dilakukan proses pengolahan dengan cara pencucian dan pengayakan dengan menggunakan ayakan ukuran 1. Hasil analisis kimia pasir kuarsa asli (masih bercampur lempung) dan yang terolah.30 grams from the natural quartz sand of 900 grams. PROVINSI KALIMANTAN SELATAN. silika.5 mm. Kabupaten Tapin sebanyak 186378000 m3.30 gram pasir kuarsa terolah dari sebanyak 900 gram pasir kuarsa asli.0 mm. silica grade. Pasir kuarsa terolah ini telah memenuhi syarat sebagai bahan baku keramik untuk dibuat bodi keramik putih yang fungsinya sebagai bahan pengisi. pengolahan/pencucian. KABUPATEN TAPIN.

Kabupaten Tapin . Adapun komposisi bodi keramik yang dicoba terdiri dari bahan baku kuarsa terolah 20 %. industri perminyakan dan industri keramik termasuk refraktori. yang merupakan lapisan overburden pada tambang batubara jenis lignit. pasir kuarsa yang diteliti akan digunakan sebagai bahan baku campuran dalam pembuatan ubin keramik selain menggunakan felspar dan kaolin.5 x 0. Dari hasil percobaan pengolahan ini diharapkan kualitas pasir kuarsa meningkat serta dapat dimanfaatkan untuk industri keramik bahkan bisa juga digunakan untuk industri gelas. penggunaan pasir kuarsa sudah berkembang ke berbagai industri baik sebagai bahan baku utama maupun untuk bahan campuran atau aditif. hal ini tergantung pada tingkat kemurnian bahan baku yang digunakan( Achuthan et al. 2.0 mm. 2000.1200 dan 1250 °C. Sedangkan pasir kuarsa sebagai bahan baku campuran. Sebagai bahan baku utama. 2006): Pengolahan Pasir Kuarsa Berlempung Asal Rantaubujur.1. 3. Setelah itu komposisi bodi ini dicetak ubin keramik berukuran (7. Metode pengolahan yang digunakan dalam proses pengolahan pasir kuarsa dari Kec. dan akhirnya dibakar dalam tungku listrik pada suhu 1150. Tapin Selatan tergantung pada karakteristik bahan. Bagan alir proses benefisiasi terhadap pasir kuarsa tercantum pada Gambar 1. Kondisi endapan pasir kuarsa semacam ini juga di jumpai di desa Rajpardi “Bharuch district”. Pasir kuarsa dicuci dan kemudian diayak/disaring dengan menggunakan ayakan ukuran 1. et. 2003).al. Sedangkan penggunaan kuarsa atau silika pada industri keramik berkisar antara 10 – 25% berat dari kompo-sisi bodi keramik stoneware atau perselen. Perolehan (recovery) kuarsa terolah Teknologi pengolahan pasir kuarsa dari Tapin Selatan ini dilakukan dengan pengayakan atau penyaringan secara basah yang menggunakan beberapa ukuran ayakan. (2000) setelah melakukan proses pengolahan pasir kuarsa yang berwarna kuning hingga kuning kecoklat-coklatan dengan menggunakan metode pengayakan cara kering. Untuk mengetahui perolehan silika atau kuarsa yang dihasilkan dari proses pengolahan (benefisiasi) pasir kuarsa alam dapat digunakan rumus (Wills. kaolin 50 % dan lempung 30 %. dengan jumlah cadangan sebesar 186. misalnya pada industri pengecoran logam. 2001). Pasir kuarsa di sini nampaknya masih bercampur dengan material lempung. Kemudian komposisi bodi tersebut dicampur sampai homogen dengan menambahkan air sekitar 5 % dari total berat bahan baku.000 m3 (Widyajasa. pasir kuarsa dapat digunakan dalam industri gelas. mineral horblende dan biotit (Chakraborty. Bahan pengotor yang terkandung didalam pasir kuarsa Rajpardi yaitu oksida besi seperti ilmenit atau limonit... Pasir kuarsa ini masih bercampur dengan material lempung berwarna krem kekuningan. PENDAHULUAN Di daerah Rantau Bujur Kecamatan Tapin Selatan Kabupaten Tapin Provinsi Kalimantan Selatan terdapat endapan pasir kuarsa/silika yang merupakan lapisan tanah penutup (overburden) pada endapan batubara. seperti misalnya penelitian Vyas et al.. (2000) maka metode pengolahan yang dilakukan adalah proses pengayakan cara basah.. 49 . Benda uji ubin selanjutnya dikeringkan dalam oven pengering pada suhu 100 0C. Dalam industri manufaktur. ubin teraso.1.5 mm dan 0. Sehubungan hal tersebut di atas.063 mm. 2000). Carty.8) cm. Subari. yang merupakan bahan pengotor sehingga warna pasirnya bervariasi dari krem sampai kuning kecoklat-coklatan. Dengan adanya kandungan bahan pengotor (impurities) tersebut maka pasir kuarsa ini perlu dilakukan proses pengolahan (benefisiasi) yang tujuannya untuk meningkatkan kualitas kuarsa/ silika agar dapat digunakan sebagai bahan baku keramik terutama untuk bodi keramik putih (whiteware ceramic) seperti stoneware dan porselen. 0. India. silikon karbida dan bahan abrasif. et al. dkk. pengayakan cara basah dan cara magnetik. kerikil. akar tetumbuhan dan lain sebagainya.378. Proses pengolahannya di lakukan sebanyak 3 (tiga) kali percobaan yang hasil percobaannya dapat di lihat pada Tabel 1. METODE PENELITIAN Pasir kuarsa alam atau kuarsa asli yang digunakan dalam percobaan pengolahan (benefisiasi) berasal dari daerah Rantau Bujur Kecamatan Tapin Selatan. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.5 x 7. ferosilikon. Berdasarkan pada karakteristik pasir kuarsa yang masih mengandung bahan pengotor dan mengacu pada penelitian Vyas.

0 mm Diayak basah ukuran 0.Bagan alir proses benefisiasi pasir kuarsa Tabel 1.3 Kotoran 1 ( gram ) 32 27 28 29 Kotoran 2 ( gram ) 107 170 276 184.5 mm .0 mm Kotoran kerikil + 1.063 mm Gambar 1.5 mm Kuarsa terolah + 0. Material balance pada proses benefisiasi pasir kuarsa Percobaan 1 2 3 Rata-rata Kuarsa asli ( gram ) 900 900 900 900 Kuarsa terolah ( gram ) 740 675 560 658.063 mm Lempung kotor .0 mm Kuarsa & lempung -1.0.5 mm Kuarsa & lempung 0.0.33 Kehilangan ( gram ) 21 28 36 28.33 50 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .5 mm Diayak basah ukuran 0.Kuarsa alam dibuat massa lumpur Diayak basah 1.063 mm Kuarsa terolah + 0.

000 m3. Gambar 2. Kabupaten Tapin .Dimana : R = Recovery. Dengan demikian proses pengolahan pasir kuarsa dari Kabupaten Tapin x 100 % = 86.85% SiO 2 kualitasnya hampir sama dengan yang pasir kuarsa Bangka. 1986). menunjukkan bahwa untuk kuarsa asli terdapat kandungan mineral kaolinite selain alfa kuarsa sedangkan yang kuarsa terolah hanya mengandung alfa kuarsa serta tidak ada lagi kandungan mineral kaolinitnya.3 %. Dilihat dari kadar Fe2O3 dan TiO2 bahwa menurut SNI 15-1026-1989 mengenai kuarsa untuk pembuatan porselen dan stoneware batas kadar yang disyaratkan untuk Fe2O3 = 0.5 % SiO2 ( Hartono dan Subari.435 m3. 3. 1. % C = Kuarsa terolah (konsentrat).% Menurut Tabel 1 bahwa banyaknya kuarsa terolah rata-rata sekitar 658. dkk.Grafik difraktogram pasir kuarsa asli dan kuarsa terolah Pengolahan Pasir Kuarsa Berlempung Asal Rantaubujur. apabila pasir kuarsa diolah semuanya maka yang diperoleh sebanyak 161. 51 . % F = Umpan (feed) pasir kuarsa asli.27 %. Kemudian dari data analisis X Ray diffraktometer terhadap pasir kuarsa asli (belum diolah) kode KCT dan kuarsa yang sudah diolah kode KMT seperti tercantum dalam Gambar 2.27 % dan yang didalam konsentrat (kuarsa terolah) =94.23 %.34 % dan 0. gram f = Kadar SiO2 didalam umpan. dan TiO2 masing-masing sebesar 80. Sehingga pasir kuarsa terolah tersebut masih bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku keramik untuk body keramik stoneware atau porselen dan juga barang tahan api (refractory). Dibandingkan dengan pasir kuarsa dari pulau Bangka dan pulau Belitung yang kadar silikanya masing-masing sebesar 95-99 % SiO2 dan 96-99.27 Jumlah cadangan pasir kuarsa alam (kuarsa asli) sebesar 186. Data komposisi Kimia dan Mineral Data komposisi kimia terhadap pasir kuarsa asli atau belum diolah terutama kadar silika (SiO2)..30 x 94.85 %.378. Kemudian pasir kuarsa setelah diolah dengan cara pencucian dan pengayakan ternyata kadar SiO2 nya mengalami kenaikan menjadi 94.2. Menurut ketentuan tersebut diatas nampaknya pasir kuarsa dari Kabupaten Tapin telah memenuhi syarat sebagai bahan baku untuk body keramik porselen atau stoneware. Fe2O3. dan 0. Kadar SiO2 didalam kuarsa asli (umpan) = 80. gram c = Kadar SiO2 didalam konsentrat.57 % dengan cara pencucian dan pengayakan tersebut memberikan hasil yang baik.347.04 %..85 R= 900 x 80.30 gram dari sebanyak kuarsa asli sebesar 900 gram.4 % dan yang TiO2 = 0. Dengan berdasarkan ketentuan tersebut maka proses pengolahan pasir kuarsa dengan cara pencucian dan pengayakan cukup berhasil dan bisa dikembangkan dalam skala produksi.85 % serta kadar Fe2O3 dan TiO2 mengalami penurunan masing-masing yaitu 0. Subari. Dengan demikian perolehan pasir kuarsa terolah adalah : 658. maka pasir kuarsa terolah dari Kecamatan Tapin Selatan dengan kadar silika sebesar 94.20%.

kaolin. 16. A. Interceram. 2.masing sebesar 17. DAFTAR PUSTAKA Achuthan. Misalnya lempung berwarna kuning kecoklatan dari daerah Zorka mengandung kadar SiO2 69.24 %. Untuk percobaan pembuatan bodi keramik disini menggunakan kuarsa dari hasil pengolahan pasir kuarsa berlempung dan sedikit mengandung kerikil. A. sehingga bodi keramik tersebut dapat dikatagorikan keramik putih (whiteware ceramic).13 %. Sedangkan bahan lempung yang merupakan pengotor (impurity) dari pasir kuarsa mengandung kadar SiO2 nya sebesar 70.al. UCAPAN TERIMAKASIH Dengan terpublikasinya makalah ini penulis menyampaikan banyak terima kasih kepada Kepala Dinas Pertambangan Kabupaten Tapin beserta stafnya.85 %.15%.87 % dan 15.masing 135. Hal ini disebabkan lubang pori-pori dalam bodi ubin semakin mengecil dan ikatan paertikel-partikel bahan yang satu dengan lainnya menjadi semakin kuat akibat semakin tingginya suhu pembakaran. 3.5 mm dan 0. 4..77% menjadi sebesar 94.063 mm dapat meningkatkan kadar silika (SiO 2) dari 80.5 x 0. Ceramic engineering and Sci- 52 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Kandungan silika bebas tersebut juga terdapat di dalam lempung (clay). Perolehan (recovery) pasir kuarsa terolah sebanyak 161. Pembuatan Keramik dari Kuarsa Terolah Bahan baku yang biasanya digunakan dalam pembuatan keramik konvensional atau tradisional adalah kuarsa.347. Effect of Precipitated Silica Additions to the Composition of Ceramic Glazes. Ubin setelah dibakar ternyata makin tinggi suhu pembakaran penyerapan airnya semakin kecil masing.1200 dan 1250 0C. Nilai penyerapan ubin keramik ini masih di atas 15% karena di dalam komposisi bodi ubin tidak menggunakan felspar yang fungsinya sebagai bahan pelebur guna membantu dalam proses sintering. Dengan demikian kuarsa terolah yang mengandung SiO2 = 94. 137.57 kg/cm2.85 % telah memenuhi syarat untuk dibuat bata tahan api silika (silica brick refractory). Adapun komposisi bodi keramik yang dicoba terdiri dari bahan baku kuarsa terolah 20 %. Lempung ini masih bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku keramik untuk dibuat bodi merah atau terakota. 2001. Kemudian komposisi bodi tersebut dicampur sampai homogen dengan menambahkan air sekitar 5 % dari total berat bahan baku.N. Carty. (2000) bahwa untuk membuat bahan tahan api tersebut digunakan silika dengan kadar SiO2 minimum 93 % pada suhu pembakaran 1430-1450 0 C. Selain untuk ubin keramik pasir kuarsa terolah ini bisa juga digunakan sebagai bahan baku utama bata tahan api silika karena menurut Goswami. 0. kaolin 50 % dan lempung 30 %.85 %. yang dibakar pada suhu 1150-1250 0C bodinya berwarna putih susu serta digolongkan ke dalam bodi putih (whiteware ceramic). Proses pengolahan pasir kuarsa berlempung asal Kabupaten Tapin dengan cara dicuci dan diayak menggunakan ukuran ayakan 1.5 x 7. makin tinggi suhu pembakaran nilai kuat lenturnya semakin besar yaitu masing.M. 2000). et. Demikian pula sebaliknya.T. Peer.65 kg/ cm2 dan 143.No.0 mm. 2008.3. lempung dan felspar. Maiti. Volume 57. M.. Di samping itu warna bodi ubin keramik setelah dibakar pada suhu 1150 0C sampai 1250 0C berwarna putih susu sampai krem. dan akhirnya dibakar dalam tungku listrik pada suhu 1150. K..3. KESIMPULAN 1. W.98 %. Setelah itu komposisi bodi ini dicetak ubin keramik berukuran (7.1.435 m3 cukup potensial untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku industri keramik dalam pembuatan ubin keramik dan bata tahan api silika. dan felspar. Benda uji ubin selanjutnya dikeringkan dalam oven pengering pada suhu 100 0C. yang telah membantu untuk mendapatkan sampel bahan galian golongan C jenis pasir kuarsa berlempung dari Kecamatan Tapin Selatan serta data potensi cadangannya.8) cm. Pemakaian pasir kuarsa terolah untuk dibuat ubin keramik sebesar 20% dicampur dengan lempung 30% dan kaolin 50% dari Kabupaten Tapin. agar pada suhu pembakaran 1250 0C bodinya sudah bersifat padat (vitrified) sehingga penyerapan airnya bisa mencapai di bawah 10 % (Chakraborty et al.92 kg/cm2. Dari hasil analisis kimia terhadap kuarsa terolah ternyata mengandung kadar silika (SiO2) yang cukup tinggi yaitu 94.

B.G. Panda. dkk.V dan Subari. Wills. A. Interceram. 1986.A. 2003.. 2000. D..R. 2006. Goswami. 2000.P.R. Subari. Sojitra.G. Y. 53 .3.. Seventh Edition-ELSEVIER. Oxford-UK. Maiti.. D. G. Issue 2. Chakraborty. 49 No. Volume 49 No. Vyas. A.5. Studi Komprehenship Inventarisasi dan Evaluasi Bahan Galian Tambang di Kabupaten Tapin. Interceram. Vol. 2.T. Interceram. Vyas. Bapeda Pemerintah Kabupaten Tapin. Maiti. Mineral Processing Technology.. Teori Benefisiasi Bahan Mentah Keramik Halus.N.ence. Sojitra. K. Beneficiation of Rajpardi Silica Sand For Use in the Ceramics and Glass Industry. K.. Kabupaten Tapin . B. Volume 49 No. Pengolahan Pasir Kuarsa Berlempung Asal Rantaubujur. Material and Equipment and Whitewares. B. Hartono.K.D. Proceedings. Widyajasa. Balai Besar Industri Keramik Bandung. X Ray Diffractometric Determination of Tridymite in Silica Refractories. A..N. J. 2000. Effects of Substitution of Quartz by Rajpardi Silica Sand on the Thermomechanical Properties of Conventional Ceramics.M.K. Volume 22. Chakraborty.

PRESENTASI MAKALAH PARALEL II .

cement industry. Jend. pemanfaatan batubara di wilayah Indonesia terus berkembang di berbagai segmen pasar yang meliputi PLTU.5 Tahun 2006. tekstil. textile. kertas. dengan berlakunya UU No 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral Batubara. Kata kunci: masa kini. either in Indonesia or other countries. in the future time will increase. Fax. will support the effort of optimizing supply and demand of the coal in Indonesia in the future time. Ijang Suherman 55 . the utilization of coal in Indonesia keeps developing in various market segments including: coal-fired power. melalui PP No. Besides.id SARI Peran batubara sebagai pemasok energi. Keyword: nowadays. Di samping itu. batubara. utilization Masa Kini dan Masa Depan Batubara Indonesia. 5 Year 2006. although its price is slightly corrected as the impact of the oil price that was just sharply corrected.go. (022) 6003373 e-mail : ijang@tekmira. di masa mendatang akan terus meningkat meskipun harga batubara sedikit terkoreksi sebagai dampak dari harga minyak yang baru saja terkoreksi tajam.MASA KINI DAN MASA DEPAN BATUBARA INDONESIA Ijang Suherman Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. (022) 6030483. baik di Indonesia maupun belahan dunia lainnya. pemanfaatan ABSTRACT The role of coal as an energy supply. Sudirman 623 Bandung 40211 Telp. metallurgy. 4 Year 2009 about mineral and coal mining. future. Adanya Kebijaksanaan Energi Nasional mengenai diversifikasi energi. the implementation of UU No.esdm. coal briquette and so forth. briket batubara dan industri lainnya. masa depan. Due to the presence of the National Energy Policy about energy diversification through PP No. coal. industri semen. metalurgi. paper. akan mendukung upaya optimalisasi permintaan dan pemasokan batubara Indonesia dimasa depan.

Kalimantan Selatan. Sulawesi Selatan. namun setelah digulirkannya otda ada peningkatan yang cukup berarti dengan tingkat pertumbuhan ratarata 21.15% dan 49.1. dengan kenaikan produksi rata-rata per tahun secara nasional adalah 17. Dalam kurun waktu tersebut (1992 – 2008) telah terjadi perubahan distribusi produksi yang signifikan. Jawa Timur. tetapi sampai sekarang harga batubara masih tetap tinggi walau agak terkoreksi. tekstil. Di samping kondisi global tersebut. Selain itu.1. telah memacu pemanfaatan batubara di berbagai segmen pasar (industri) di wilayah Indonesia.75 milyar ton dan cadangan 22. jumlah sumber daya adalah sebesar 104. POTENSI SUMBER DAYA DAN CADANGAN Harga dunia minyak yang demikian tinggi baru saja terkoreksi tajam. industri peleburan (metalurgi). dan industri lainnya. 4. industri kertas. Kondisi saat ini. Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. Jumlah sumber daya dan cadangan batubara Indonesia setiap tahun terus bertambah. Nusa Tenggara Timur. adanya kebijaksanaan energi nasional mengenai diversifikasi energi. namun terbesar terutama di Pulau Sumatera dan Kalimantan sebanyak masing – masing 50. Sumber daya batubara tersebut tersebar di 19 propinsi. adalah menghubungkan hasil-hasil penelitian survei sampling secara langsung seperti ke PLTU. Sedangkan peran KP awalnya relatif masih kecil di bawah BUMN (PTBA). Pola Pengusahaan Batubara Ijin pengusahaan batubara di Indonesia secara garis besar dibedakan dalam tiga pola. PENGUSAHAAN BATUBARA 4. menimbang cadangan minyak bumi Indonesia yang semakin menipis. dan Jawa Tengah. dan lainnya untuk mendapatkan data primer dengan hasil-hasil publikasi dari instansi terkait sebagai data skunder. tahun 2008. akan mendukung untuk menciptakan keamanan pasokan energi nasional secara berkelanjutan dan pemanfaatan energi secara efisien. Banten. dan Kuasa Pertambangan (KP). Sedangkan model pengolahan dan teknik analisis yang digunakan adalah statistka deskriptif dan trend analysis. PENDAHULUAN 3.04%. 6 pulau. baik untuk pemakaian domestik maupun pasar ekspor. Kegiatan penelitian ini dilakukan di 11 lokasi di Indonesia. Sumatera Selatan. serta terwujudnya bauran energi (energy mix) yang optimal pada tahun 2025. METODOLOGI Sejalan dengan upaya penganekaragaman energi dan peningkatan kebutuhan batubara. Kalimanatan Timur.93% pertahun. serta pemanfaatan batubara untuk briket batubara.76% dengan pertumbuhan 16.25 milyar ton. industri tekstil. maka ke depan sistim perijinan hanya ada satu jenis.2. yaitu Ijin Usaha Pertambangan (IUP) untuk satu wilayah tertentu.02% pertahun (Tabel 1). Jawa Barat. industri semen. Badan Usaha Milik Negara (BUMN). PKP2B memegang peranan yang cukup menonjol sekitar 75. Sedangkan Upgrading Brown Coal (UBC). Seluruh daerah (propinsi) ini dianggap dapat mewakili produsen maupun konsumen batubara di Indonesia.25 miliar ton (Gambar 1). Gasifikasi Batubara dan Pencairan batubara adalah arah pemanfaatan batubara untuk masa mendatang. kertas. 4. produksi batubara selama 16 tahun terakhir telah menunjukkan peningkatan yang cukup pesat. yaitu Propinsi Sumatera Utara. Tingkat Produksi Batubara 2. Perjanjian Kerjasama Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B). Pada tahun 2008 produksi batubara nasional telah mencapai 233.75 miliar ton. Metoda dalam kajian ini. industri semen.62 juta ton.56%. Sumatera Barat. 56 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . berdasarkan perhitungan Pusat Sumber Daya Geologi. Segmen pasar yang menggunakan batubara sebagai bahan bakar meliputi PLTU. dengan jumlah cadangan sebesar 22. Pemberlakuan UU No 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral Batubara. hingga kini sumber daya mencapai 104. pemanfaatan batubara di dalam negeri menjadi semakin penting sejalan dengan ditemukannya cadangan batubara yang besar. Namun dengan di telah disyahkannya Undang-Undang No 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.

Ijang Suherman Gambar 1.Masa Kini dan Masa Depan Batubara Indonesia. Distribusi Sumber Daya Batubara Indonesia 57 .

2 Penjualan batubara ekspor 16.389 82.212 9.04 Sumber : DPPMB dan APBI.935 20.966 4. yaitu sebesar 54. Hal ini diperlukan untuk mengutamakan jaminan pasokan dalam negeri serta kegiatan peningkatan produksi yang mengacu pada konsep konservasi.707 7.570 66. sedangkan pada tahun 2008 tercatat sebesar 158.474 10.713 171.859 11.3.35 %.87% dari jumlah ekspor batubara Indonesia.71%.17%. 2009 (diolah Kembali) 4.408 4.862 41.103 7.890 104.281 18.533 36. antara lain dipicu oleh booming harga dan semakin banyaknya pembangunan PLTU di luar negeri yang menggunakan bahan bakar batubara. Ekspor batubara Indonesia pada tahun 1992 hanya sebesar PENGGUNAAN BATUBARA DI INDONESIA Harga dunia minyak yang demikian tinggi baru saja terkoreksi tajam.965 9. Tahun 2008.02 Jumlah 15.078 96.489 21.123 4.288 juta ton.602 47.207 10.251 123.477 29.607 9.926 4. Kebutuhan batubara dunia saat ini ternyata meningkat sangat cepat.069 52.467 5.180 62.992 164.951 10.532 87.246 208. tetapi sampai sekarang harga batubara masih tetap tinggi walau agak terkoreksi.482 10.604 61.993 16.300 113.057 57. diikuti oleh pemegang KP sebesar 7.Tabel 1.292 8.374 6.93 KP 1.921.027 8.85% dari jumlah seluruh kebutuhan. yaitu sekitar 89.874 23. diikuti oleh pemegang KP sebesar 34. yang berarti setiap tahun penjualannya rata-rata meningkat sebesar 17.230 9.682 5.318 juta ton (Tabel 3).994 22.375 233.570 176. menimbang cadangan minyak bumi Indonesia 58 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .885 33. sedangkan pada tahun 2008 mencapai 73.707 8.620 17.741 45. dan BUMN PTBA serbesar 10. maka kedepan perlu mencermatinya untuk melakukan pembatasan ekspor.645 156. Dengan adanya kecenderungan tersebut.3.328 93.470 25.171 145. Ini berarti volume ekspor rata-rata naik sebesar 15.986 187.576 37.654 1.979 9.1 Penjualan batubara dalam negeri Jumlah penjualan batubara di dalam negeri tahun 1992 sebesar 7.925 juta ton (Tabel 2). dan BUMN sebesar 2.746 10.57%.80%.805 46.288 juta ton.555 10. Hal ini yang mengantarkan Indonesia sebagai pemasok (eksportir) terbesar menyaingi Australia dan Afrika Selatan. 4. Ada yang berpendapat mungkin semakin meningkat karena permintaan yang jauh melebihi penawaran.286 3.815 40.56%. Jumlah produksi batubara Indonesia menurut kelompok perusahaan.3.812 7.138 2. perusahaan pemegang PKP2B merupakan pemasok batubara dalam negeri yang terbesar. tahun 1992 – 2008 Tahun 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 (%) Produksi (x000Ton) PTBA 7. serta kran ekspor China ditutup. Tingkat Penjualan Batubara 4.796 6.707 76. 5.597 2.07 PKP2B 14. Di samping kondisi global tersebut. Perusahaan pemegang PKP2B merupakan eksportir batubara terbesar.

160.782 3.966 3.754.077 142.000 32.000 4.142.138 52.381 1.394.697.022.710.377 18.256.787 27.140.995 6.501.152.475 142.616 2.913.920 21.886.657.306.247 4.539.104 5.431.856.420 40.980.124.294.206.000 41.153.005.064.480 KP 363.577 15.034 2.083.265 813.000 106.550 22.713 9.830.239.773 1.984 9.799.829 21.865 6.492.966 4.985 41.957 66.550.715.375.686 58.116.117 19.895.225.381 4.581 1.260.506 18.435.386.361 25.001 Jumlah 16.233 13.044 158.272 92.621.550 158.257.921.775 7.212 3.842 Sumber : DPPMB.955.262.312. Jumlah penjualan dalam negeri batubara Indonesia menurut kelompok perusahaan.767.221 25.389.276.195.875 48.181 8.989 29.000 7.323 938.206.835.262 454.606.969.894.827 1.168 1.119 Jumlah 6. Jumlah Ekspor Batubara Indonesia Menurut Kelompok Perusahaan.192.822.000 85.421 948.201 99.428 143.095.939 37.735.492 59.000 1.047.044 22.124 7.892.304 12.443 26.256.011.185 36.662.086.755 1.255.428 8.691.819.105 1.366 16.157 1.601.895 9.201 55. 2009 (diolah Kembali) Masa Kini dan Masa Depan Batubara Indonesia.444 1.145 36.826 Sumber : DPPMB.318 1.734.230. Tahun 1992 – 2008 Tahun 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Ekspor Batubara (Ton) BUMN PKP2B KP 1.356.354 34.307 11.233 12.623.834.079.549.548.364 7.454.195 4.994 2.268.703 31.061.041.854.620.915 25.971 830.858 85.318.541 5.520.979 64.298.405.001 12.680.254.510.110 73.131 3.097 3.633.975.276.816.482 3.495.536 815. tahun 1992 – 2008 Tahun 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Penjualan Batubara (Ton) BUMN 6.787.727.132.178 918.969 2.777 2.209.712.363 76.713 14.852. 2009 (diolahKembali) Tabel 3.053 51.875 4.228 PKP2B 356.646 8.977 2.597.014 7.600 41.321 20.003 30.395.575.212 1.979.521 74.387.874 6.424 9.565.022. Ijang Suherman 59 .240 6.024.239.575 8.973 3.114.584.341 47.848.194.178.933 10.307.758.Tabel 2.364 2.349.000 2.815 1.621.053.973 53.210.783 36.397 949.924.534 127.766 6.544 13.537 2.750 710.574.764 756.585 2.714 31.975.538 7.085.720 8.895 7.

(Tabel 4). industri tekstil. yakni unit 1 dan 2 kapasitas 800 MW yang dikelola oleh PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB). Untuk merealisasikan rencana tersebut.007. serta industri lainnya terus meningkat.61% dari kebutuhan batubara nasional.1. PT. dan lain-lain.61% di antaranya digunakan oleh PLTU.460 MW telah memasuki tahap kontrak dan tahap kontruksi.960 MW dan total kontrak mencapai Rp 7. Total kapasitas PLTU batubara yang dimiliki PLN dan Swasta saat ini sebesar 9.400 MW menggunakan batubara sebesar 13. Arutmin.967. Pemasok utama batubara untuk PLTU Suralaya.yang semakin menipis. yaitu 54. industri peleburan (metalurgi). 60 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Berau Coal. Adaro dan PT.0 juta ton per tahun. Kideco Jaya Agung. Batubara yang dibutuhkan untuk 10 PLTU Sistem Kelistrikan Jawa sedikitnya 25.470 MW dengan mengkonsumsi batubara sekitar 36. kecuali pada industri metalurgi dan briket batubara perkembangan penggunaan batubara berfluktuatif dan cenderung tetap. Trend penggunaan batubara pada industri kertas dan tekstil.75 miliar ton dan cadangan 22.40 dan USD 4. PT. industri kertas. Laporan yang disampaikan kepada Menteri ESDM per tanggal 8 Mei 2009 menyebutkan bahwa untuk 10 proyek yang berlokasi di Jawa.144 juta ton per tahun. dua di antaranya paling banyak menggunakan batubara sebagai bahan bakar utamanya adalah PLTU Suralaya dan PLTU Paiton.031. sedangkan batubara yang dibutuhkan untuk 30 PLTU Sistem Kelistrikan Luar Jawa sedikitnya 7.928.674. Berdasarkan data dalam kurun waktu 1998-2008.168. 10 PLTU di antaranya akan dibangun di Pulau Jawa dengan kapasitas 7.000 MW.540 MW (lihat Tabel 6).230 MW. PT Jorong Barutama.783.25 miliar ton.64.460 MW dan 30 sisanya dibangun di berbagai daerah di Indonesia dengan kapasitas 2. industri semen.131. pemerintah melalui Peraturan Pemerintah No 71 Tahun 2006 telah menunjuk PLN untuk melakukan Percepatan Pembangunan PLTU batubar 10.981.33. pemerintah telah membuat rencana pembangunan sebanyak 40 PLTU dengan daya terpasang sebesar 10.161. yaitu 69. Proyek percepatan 10.885. Langkah ini merupakan upaya strategis untuk meningkatkan rasio elektrifikasi serta menyehatkan bauran energi nasional dari ketergantungan pada BBM. pemanfaatan batubara di dalam negeri menjadi semakin penting sejalan dengan ditemukannya cadangan batubara yang besar yang terus meningkat. telah memacu pemanfaatan batubara di berbagai segmen pasar di wilayah Indonesia. adanya kebijaksanaan energi nasional mengenai diversifikasi energi. ada 13 PLTU. Batubara yang digunakan sebagian besar dipasok dari Pulau Kalimantan. seperti PT Adaro Indonesia. Tercatat dari seluruh konsumsi batubara dalam negeri pada tahun 2008 sebesar 36. Hal tersebut sejalan dengan penambahan PLTU baru sebagai dampak permintaan listrik yang terus meningkat. Peranan PLTU pada pembangkit tenaga listrik nasional adalah yang terbesar. baik milk PLN maupun yang dikelola swasta. antara lain dari PT.0%.230 MW yang dikelola perusahaan swasta PT Java Power dan unit 7 dan 8 yang dikelola PT Paiton Energy dengan kapasitas 1. sebanyak 7. Penggunaan batubara dalam negeri masih didominasi oleh PLTU. sebanyak 22 proyek dengan total kapasitas 1. Sedangkan di kawasan PLTU Paiton ada tiga operator pembangkit.279. penggunaan batubara di PLTU untuk setiap tahunnya meningkat rata-rata 13. 5. Indonesia Power memiliki 7 unit pembangkit dengan total kapasitas terpasang 3.454 juta ton per tahun.64 dan USD 1. serta pemanfaatan batubara untuk briket batubara.575 juta ton per tahun. Total batubara yang dibutuhkan sekitar 12. Segmen pasar yang menggunakan batubara sebagai bahan bakar meliputi PLTU. 69. PLTU Suralaya dikelola PT. dengan total kontrak mencapai Rp 17.575 juta ton. dan industri lainnya. Hingga saat ini.659. Kemudian uap air tersebut digunakan untuk menggerakan turbin pembangkit listrik. Selain itu. unit 5 dan 6 kapasitas 1. Sedangkan dari 30 proyek pembangunan PLTU di luar Jawa. yang hingga kini sumber daya mencapai 104.37% (Tabel 5).000 MW mengalami kemajuan signifikan. sedangkan sisanya dipasok dari beberapa perusahaan di Kalimantan. kemudian diikuti oleh industri semen sebesar 14. PLTU berbahan bakar batubara.223. Dalam upaya mengantisipasi kekurangan listrik dan untuk meningkatkan efisiensi pemakaian BBM secara nasional. PLTU PLTU merupakan industri yang paling banyak menggunakan batubara sebagai bahan bakar pada boiler untuk mendidihkan air menjadi uap air. PT Daya Citra Mulia.48%.000 MW yang diharapkan siap beroperasi tahun 2010.5 juta ton per tahun.

430.000.490 31.766 8.000 929.889 9.610 804.871 11.180.907 35.334 593. Freeport 646.174 2007 631.883.541.456.452 1.192.165.393 Briket 29.120 1.248 1.265 24.774.800 13.967 824.810.666 PT.132 477.018 979.000 300.000 554.000 12.990.800 Jumlah 10.549 Metalurgi 144.874 2007 35.341 13.609.023.144.607 125.092.000 PLTU Ombilin Bukit Asam Tarahan Suralaya (PTIP) 7.932 2.492. Penggunaan batubara pada pltu di indonesia.325 52.407.115 2.337.252 Cilacap Tanjung Jati B Paiton 2.906 5.800 58.563.000 1.202 471.256 21.916 2.310.824 Industri Tekstil Industi Kertas 692.792.774 1.828.573.589 Masa Kini dan Masa Depan Batubara Indonesia.298 650.920 9.902.548 2006 27.578 506.000 5.965 376.688 23.544.300.338 1998 1999 102.245 3.101 1.090.000 706.000 506.161 23.518.328 26.251.692.408 374.000 58. 2006.170.068.047.963 38.708 24.310.644.751 1.906 27.503.263.613 Semen 1.206.200.267 2.085 1.155 12.000 11. Konsumsi batubara menurut jenis industri di Indonesia Tahun 1998 .643 1.514 49.547.368.095 406.550 2.Berau 58.256 21.905 1.Tabel 4.231.436 568.061 36.318 6.366.151.894 665.428 282.487. Ijang Suherman Seumber :DPPMB dan hasil survei tekMIRA.564 1.000 506.575.506 28.165.933 3.000 4.218 10.609 Jumlah 15.302 36.583 28.000 300.227 2.902.137.226 134.619.443 220.304 1.106.610 480.337 638.003 4.730 25.819.088 4.060 61 .225.73 25.650 623.561 9.363 663.034 1.653.060 7.819 5.839 PT.717 13.318 (Ton) 2008 631.338 5.440.575.907 123.501 13.000 4.333 635.943.072 Asam-Asam 127.161 23.147 568.974 1.976 23.958 36.308.397 766.545.009 10. 1998 – 2008 (Ton) 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 119.481 4.454.797 39.339.355 5.142.492.054 23.411.000.810.753 9.802 225.047.787 2001 2002 2003 2004 2005 19.907 122.793.911.709 PT.680.911.265.849.144 31.399 720.272.731 11.079 417.666 236.060.341 13.307 600.855 547.307.137.057.800 36.000.000 Mpanau Lati .193. Newmont Sumbawa 70.000 180.671.057.399 720.667 3.763 2.564 669.800 35.000 929.017.828.104 8.337.600.000 1.2008 (diolah kembali) Tabel 5.827 160.230 9.819.2008 Jenis Industri 1998 1999 2000 PLTU 10.345 6.782 2.621 18.068.956.000.866 299.896.540 2. Tonasa 300.749 3.000 664.276.637 505.943.887 282.992 6.328 26.083 488.691 3.000.990 36.717 13.457.646 1.895 (Ton) 2008 36.000 180.000 58.636.424.054 23.153.080.648.000 482.737 805.012 4.000 300.799 Lain-lain 2.123 2.000 12.613 19.

924 179.091 2.955 50.379 50.924 359.159.985 50.159.970 71.242 32.970 50.545 4.750.182 25.697 719.159.000 2.091 4.091 2.091 2.159.379 71.159. Balai Kerimun Baru PLTU Tarahan Baru PLTU Pontianak Baru PLTU Singkawang Baru PLTU Asam-Asam PLTU Palangkaraya PLTU Sampit Baru PLTU Amurang Baru PLTU Sulut Baru PLTU Gorontalo Baru PLTU Bone PLTU Kendari PLTU Bima PLTU Lombok Batu PLTU Ende PLTU Kupang Baru PLTU Ambon Baru PLTU Ternate PLTU Timika PLTU Jayapura NAD Sumatera Utara Sumatera Utara Sumatera Barat Bangka Belitung Bangka Belitung Bangka Belitung Bangka Belitung Riau Riau Kepulauan Riau Lampung kalimantan Barat kalimantan Barat Kalimantan Selatan Kalimantan Selatan Kalimantan Tengah Sulawesi Utara Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Timur Maluku Maluku Utara Papua Papua 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 65 100 100 100 10 10 25 15 7 5 7 100 25 50 65 65 7 25 25 25 50 10 7 25 7 15 7 7 7 10 467.697 179.924 107.924 50.000 2. Pacitan PLTU Tanjung Awar-Awar PLTU Paiton Baru Jumlah Di luar Pulau Jawa 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 PLTU Meulaboh PLTU Sibolga Baru PLTU Medan Baru PLTU Sumbar Pesisir Selatan PLTU Mantung PLTU Air Anyer PLTU Bangka Baru PLTU Belitung Baru PLTU Bengkalis PLTU Selat Panjang PLTU Tj.379 179.501.803 50.091 2.379 719.970 7.159.000 MW Tahap I Nama Proyek / Lokasi Pulau Jawa 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 PLTU Labuan PLTU Suralaya Baru PLTU Teluk Naga PLTU Jabar Selatan PLTU Jabar Utara PLTU Tanjung Jati Baru PLTU Rembang PLTU Jatim Selatan.379 107.970 179.079.379 35.955 50.697 719.803 719.515 Banten Banten Banten Jawa Barat Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Tengah Jawa Timur Jawa Timur Jawa Timur 1 2 2 2 2 1 2 2 1 2 17 300 660 300 300 300 660 300 300 600 600 1.379 50.924 179.Tabel 6. Rencana pembangunan PLTU 10.924 359.318.848 71.024.697 71.379 179.273 Propinsi Kapasitas (MW) Kebutuhan Batubara (Ton) Jumlah Jumlah seluruh Sumber : Peraturan Presiden Republik Indonesia No 71 Tahun 2006 62 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .848 467.375.477.091 2.803 467.

menunjukkan bahwa perkembangan jumlah perusahaan tekstil yang menggunakan batubara tampaknya akan terus meningkat. Uap yang dihasilkan dipergunakan untuk memasak/membuat pulp (bubur kertas). Antara tahun 1998-2001.5. Uap yang dihasilkan digunakan untuk proses pencelupan. dan 2 perusahaan di Propinsi Riau.150 ton pada tahun 2003 naik menjadi 4.03%. tercatat sekitar 14.519 juta ton.5 juta ton. Memasuki tahun 2004 hingga tahun 2008 cenderung meningkat hanya sempat menurun pada tahun 2006. Selama sepuluh tahun terakhir ini.4.609 juta ton. dan Jawa Timur (lihat Tabel 8). namun pada tahun 2008 sudah bertambah menjadi 328 perusahaan. Uap yang dihasilkan digunakan untuk menggerakan turbin pembangkit listrik. Saat ini terdapat 9 perusahaan semen yang terletak di beberapa wilayah di Indonesia. dan sebagainya.395 juta ton. yaitu dari 274. 5. Industri Tekstil Industri tekstil memiliki tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap bahan bakar minyak (BBM). kebutuhan batubara pada industri semen mengalami perubahan yang positif. Industri Metalurgi Dari sisi jumlah industri metalurgi (pengecoran logam) yang telah menggunakan batubara sebagai bahan bakar pada proses produksinya dapat Masa Kini dan Masa Depan Batubara Indonesia. Pada tahun 2008.36%. PT Semen Padang 1. Terdapat 36 perusahaan kertas yang telah menggunakan batubara. dan yang lainnya di bawah 0.828 juta ton.102 juta ton. yaitu 7. Kemudian disusul oleh Propinsi Jawa Tengah. seiring perkembangan ekonomi yang mulai membaik di dalam negeri (Tabel 7). Indocement Tunggal Prakarsa dan PT. yaitu 64. industri tekstil di Indonesia terpusat di Pulau Jawa. Listrik yang dihasilkan dimanfaatkan berbagai keperluan seperti menggerakan mesin produksi. 5. Semen Gresik dengan kebutuhan 1.3. 5. dan Tarjun Kabupaten Kotabaru (Propinsi Kalimantan Selatan). Penurunan ini sangat dipengaruhi oleh adanya penurunan produksi di beberapa perusahaan semen.5.2. Industri Kertas Seperti halnya pada perusahaan tekstil. penerangan. Semen Holcim 1. Menurut para pengusaha. Dari sisi keberadaannya. digunakan sebagai bahan bakar pada tanur putar untuk proses pembuatan klinker sebelum menjadi semen. yaitu di Cibinong. Tahun 2008. PT. Industri Semen Industri semen merupakan konsumen batubara kedua terbesar setelah PLTU. yaitu sebesar 2. 19 perusahaan di Propinsi Jawa Timur. Perusahaan semen yang paling banyak menggunakan batubara adalah PT.430 juta ton (81. karena biaya bahan bakar merupakan komponen terbesar di dalam biaya produksi. 5 perusahaan masingmasing terdapat di Propinsi Banten. Kebutuhan batubaranya pun meningkat sangat signifikan. Semen Tonasa 0. Perusahaan ini memiliki tiga pabrik di lokasi yang berbeda. Ijang Suherman 63 . Seperti diperlihatkan pada Gambar 2. sementar PT Semen Kupang produksinya tersendat serta dalam proses akuisisi oleh Perusahaan India. batubara dalam industri kertas digunakan sebagai bahan bakar dimana energi panas yang dihasilkan digunakan untuk memasak air pada mesin uap.48% kebutuhan batubara dalam negeri digunakan oleh industri semen atau 7. jumlah kebutuhan batubara untuk industri ini mencapai sekitar 2. Cirebon (Propinsi Jawa Barat). Beberapa industri tekstil dilengkapi oleh powerplant berbahan bakar batubara untuk memasak air menjadi uap. Semen Gresik.79%).763 juta ton.14%) dengan mengkonsumsi batubara sebesar 3.194 juta ton pada tahun 2008. yang sebagian besar terletak di Propinsi Jawa Barat. (Tabel 9).005 juta ton PT. Berikutnya adalah PT. sedangkan PT Semen Andalas dalam proses akhir rekontruksi setelah terkena gelombang tsunami. Hal ini dapat dilihat dari jumlah perusahaan tekstil pada tahun 2003 hanya 18 perusahaan saja. Jawa Barat dan Jawa Tengah. Indocement Tunggal Perkasa. Batubara dalam industri tekstil digunakan pada boiler untuk memasak air menjadi uap. namun pada tahun 2002 dan 2003 sempat mengalami penurunan hingga 9. perubahan pola penggunaan bahan bakar ke batubara merupakan salah satu alternatif yang sangat tepat karena mampu menekan biaya pengeluaran bahan bakar walaupun harus melakukan modifikasi terhadap boiler atau mengganti boiler yang baru yang berbahan bakar batubara. perkembangan penggunaan batubara pada industri semen berfluktuasi.81% dan 5. yaitu sekitar 240 perusahaan (73. PT. Banten.03%. Pemanfaatan batubara pada industri semen. pemakaian batubara rata-rata naik sangat signifikan.

499 30.606 715.847 26.743. dan PT Semen Kupang (Survei tekMIRA 2006) .655 80.437.305 254.876 252.323 202.023.340 tp tp tp tp 483.762.184.180 328.352 99.412 2.Asosiasi Semen Indonesia.317 296.147 130. Semen Andalas PT.564 368.019.082 243.265.754 62.271 Industri Semen PT.923 1.607 42.202.521 6.637 692.123 2. Indocement TP (Cirebon) PT.370 454.000 185.085 472.564 1.523 469.691 3. PT.829 88. Semen Tonasa PT.018 155.090.529 131.215 262.868 800.841 349.973 1.495 659.415 187.029 862. PT.763 760.413 364.345.529 1.430 680.357 110.283 546.721 68.PT.018 793.438 207. Semen Tonasa. Indocement TP (Cibinong) PT. 2008 .465 912.140 379.826 683.793 151.375 416.396 547.233 593. Bosowa Cement PT.081 143.392 454. Semen Gresik.245 6.372 1.860 151.509.214 678.876 252.004. Semen Kupang Jumlah (Ton) 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 33. Semen Holcim Narogong PT.776.315 311. PT. Semen Gresik PT.801 545.510.000 1.440 481.189 7.64 Tabel 7.170.975 95.441 1.301 269.157 116.439 207.065.939 129.248 5.973 133.317 296.583 862.407 448.679 75.833 409.082 243. Semen Bosowa.515 153.172 1.436 397. Indocement (Tanjung) PT.868 6.063.950.324 202.308.311 75.923 556. PT.050 168.775 88.849 554.950.710 359.153 Catatan : tp = tidak berproduksi Sumber : .868 5. Semen Baturaja PT.643 47.674 166.431 231.026.013 464.772 451. Semen Holcim Cilacap PT.850 577.765 1.124 782.DPPMB.000 2.860 328.457 375.700 14.420 397. Semen Padang PT.638 1.277 850.102.376 528.181 276.908 67.569 1.085 4.618 35. Holcim-Cilacap.430.749 5.179 1. Indocement-Cirebon.860 328. Konsumsi batubara pada industri semen 1998 – 2008 (ton) 1998 59.000 827.526 5.425 1999 19.448 103. 2006 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .262 474.141.473 697.060 397.

440 145.Gambar 2. 1 2 3 4 5 Lokasi Banten Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Timur Riau Jumlah Jumlah Perusahaan (Buah) 5 5 5 19 2 36 Kebutuhan Batubara (Ton/Tahun) 620. 1 2 3 4 5 Lokasi Banten Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Timur Luar Jawa Jumlah Jumlah Perusahaan (Buah) 15 240 68 5 0 328 Kebutuhan Batubara (Ton/Tahun) 423.433 47. Industri tekstil berbahan bakar batubara di Indonesia.100.700 0 4.661 46.916 605. Industri kertas berbahan bakar batubara di Indonesia No.887 Masa Kini dan Masa Depan Batubara Indonesia. Ijang Suherman 65 .518.193.479 1.430.391 2. Tahun 2008 No.932 Tabel 9. menurut Provinsi. perkembangan perusahaan tekstil pemakai batubara di indonesia tahun 2003 – 2008 Tabel 8.393 292.406 3.

pembakaran bata.730 321.976 17. tepung ikan. Di Indonesia. 2008 (diolah kembali) *) perkiraan Di samping industri metalurgi. dan lainnya. Industri Lainnya Di samping industri yang disebutkan di atas. kimia. pengeringan tembakau. kerupuk. yaitu sebagai penghangat anak ayam. Namun yang paling dominan dan memasyarakat penggunaan briket batubara adalah pada peternakan ayam. termasuk beberapa jenis industri kecil. masih banyak industri lainnya yang menggunakan batubara sebagai bahan bakar dalam mendukung proses produksinya. namun hingga kini tidak dapat berkembang dengan baik.213 Tabel 11. namun ada trend perkembangan yang meningkat sejalan dengan tingkat produksi perusahaan (Tabel 10).393 220. Kelitbangan UBC telah sampai pada skala demo plant 1. pengeringan bawang. tahu/tempe.530 299.963 32. antara lain industri makanan. seperti halnya yang telah berhasil pada industri pengeringan teh. Sedangkan kebutuhan batubara untuk industri lainnya secara menyeluruh (nasional) diperkirakan tidak kurang dari 1. pengecoran logam. 66 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .827 183. karet ban. Di masyarakat. Briket Batubara Briket batubara merupakan energi alternatif atau pengganti minyak tanah dan kayu bakar yang paling murah dan dimungkinkan untuk dikembangkan secara masal.265 24. pembakaran kapur.000 ton/hari.018 25. dan obat nyamuk. Tahun 2001 – 2008 Tahun 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 *) Pemakaian Batubara (Ton) 31. di Propinsi Banten ada 33 perusahaan yang telah menggunakan batubara dengan total kebutuhan diperkirakan mencapai 342.850 ton.802 225. pengecoran logam. Selain itu potensi gasifikasi batubara untuk industri kecil menengah. yang merupakan suatu proses untuk meningkatkan nilai kalori batubara melalui penurunan kadar air.907 123. pemindangan ikan.dikatakan relatif tidak bertambah. padahal dari sisi potensi masih banyak perusahaan yang belum menggunakan batubara sebagai bahan bakarnya. Perkembangan penggunaan batubara pada Industri briket batubara.666 236. Tahun 1998 . Sedangkan potensi pemanfaatan ke depan adalah pada pengusahaan Upgraded Brown Coal (UBC). di Propinsi Banten ada 33 perusahaan yang telah menggunakan batubara dengan total kebutuhan diperkirakan mencapai 342. termasuk beberapa jenis industri kecil. mengingat teknologi dan peralatan yang digunakan relatif sederhana. seperti industri pengeringan gerabah.708 24. 2008 (diolah kembali) *) perkiraan Sumber : DPPMB. Tabel 10. 5.7. pembakaran kapur. masih banyak industri lainnya yang menggunakan batubara sebagai bahan bakar dalam mendukung proses produksinya. pemanfaatan briket batubara digunakan pada industri kecil atau 5. antara lain industri makanan.643 Sumber : DPPMB. pembakaran kapur. kimia.990 282.907 122. Potensi lainnya adalah pencairan batubara.226 134. Berdasarkan survai sampling tahun 2008. Perkembangan kebutuhan batubara oleh industri metalurgi berfluktuasi. dan lainnya. Berdasarkan survai sampling tahun 2008. industri rumahan tertentu sebagai bahan bakar. karet ban.010 36.850 ton. Hal tersebut dapat dilihat perkembangan briket batubara selama kurun waktu 2001 – 2008 yang fluktuatif (lihat Tabel 11). pengembangan briket batubara diperkenalkan sejak tahun 1993.6.2008 Tahun 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 *) Pemakaian Batubara (Ton) 144.120 25.339 juta ton. Perkembangan penggunaan batubara pada industri metalurgi. katering/restoran.

Tidak mengherankan Masa Kini dan Masa Depan Batubara Indonesia.8%. namun belum ada kesepakatan yang mengikat. Jika diasumsikan pertumbuhan produksi tetap tinggi. Hal ini diperlukan untuk mengutamakan jaminan pasokan dalam negeri serta perkembangan tingkat produksi yang mengacu pada konsep konservasi. atau meningkat rata-rata per tahun 17. khususnya pembangkit listrik di Indonesia maupun industri lain di berbagai belahan dunia. Perkembangan Produksi Selama 16 tahun terakhir (1992-2008) produksi batubara Indonesia telah meningkat hampir 15 kali lipat. Meningkatnya permintaan China dan India di masa datang akan menambah tingginya kecenderungan permintaan ekspor. ke depan perlu mencermatinya untuk melakukan pengendalian atau pembatasan ekspor. Hal ini dapat dimengerti karena untuk perizinan KP yang dikeluarkan oleh propinsi harus yang berbatasan antara sedikitnya 2 kabupaten. yaitu ketika penegasan tentang pemberian Kuasa Pertambangan (KP) dilakukan oleh Pemerintah Daerah. Pada satu sisi.51%. Peningkatan jumlah konsumsi yang sangat tajam yang disebabkan meningkat tajamnya permintaan batubara sebagai sumber energi terutama untuk pembangkit listrik. di samping China dan India yang merupakan buyer baru bagi Indonesia. Ijang Suherman 67 .Sebelumnya telah melakukan upaya pengembangan teknologi BCL. karena belum terbukti (unprovent) terjadi kemandegan. apabila sejalan dengan itu jumlah perusahaan pertambangan batubara di Indonesia pun tumbuh pesat khususnya dalam beberapa tahun terakhir. Saat ini alternatif yang sedang dijajagi adalah menerapkan teknologi Sasol. 6. baik di dalam negeri maupun di negara-negara importir. Korea Selatan dan Taiwan. potensi sumberdaya dan cadangan yang besar. dan perlu bernegosiasi lanjutan. Kriteria ini sangat jarang ditemui di lapangan. jauh di atas rata-rata dunia. Diperkirakan di masa-masa mendatang peran minyak akan semakin berkurang. Peningkatan produksi yang pesat didorong oleh meningkat tajamnya permintaan ekspor dan permintaan dalam negeri. namun APBI sejalan dengan kebijakan pemerintah telah memproyesikan yang cukup wajar sebesar 471 juta ton. Belum adanya keseimbangan antara permintaan dan pemasokan batubara pada tataran dunia. 15 status konstruksi. hal tersebut merupakan peluang Indonesia untuk meningkatkan pangsa pasar ekspor. sebaliknya peran batubara dan gas akan semakin besar. 10 dari Generasi II dan 21dari Generasi III). maka batubara Indonesia mempunyai prospek dimasa depan. Pelaku Usaha Pertambangan Sampai dengan tahun 2008 perusahaan penambangan batubara di Indonesia dengan status PKP2B aktif berjumlah 76 perusahaan. pada tahun 2025 akan mencapai 509. 16 status studi kelayakan. dan adanya kebijakan-kebijakan yang terkait. Lagi-lagi. yang berdasarkan aturan tersebut diberikan oleh bupati. dan 5 status eksplorasi. terlihat dari tingginya tingkat pertumbuhan ekspor Indonesia yang mencapai 15. Perkembangan Penggunaan di Dalam Negeri Peran batubara sebagai energi akan semakin besar pada berbagai industri. Batubara dan Panas Bumi sudah melebihi angka 500 KP. maka pada tahun 2025 dapat mencapai 742 juta ton. yang terdiri dari 40 perusahaan PKP2B sudah produksi (9 dari Generasi I. Berkembangnya KP tersebut terjadi pada era otonomi daerah.620 juta ton. Sedangkan jumlah Kuasa Pertambangan (KP) yang dikeluarkan di daerah yang terinventarisasi di Direktorat Jenderal Mineral. adanya peluang sekaligus tantang. dari 15. sedangkan yang dikeluarkan menteri harus yang berbataskan sedikitnya 2 propinsi. Tetapi dengan adanya kecenderungan tersebut. baik sengaja atau tidak sengaja. padahal kebijakan ekspor memproyeksikan sekitar 150 – 236 jua ton. Perkembangan Ekspor Saat ini pasar ekspor terbesar Indonesia adalah Jepang. MASA DEPAN BATUBARA INDONESIA Menyimak berbagai keberhasilan kinerja pertambangan batubara di Indonesia dimasa lalu hingga masa kini. sedangkan yang telah berproduksi 129 KP. gubernur atau menteri sesuai dengan kewenangannya.935 juta juta ton menjadi 233.04%. 3. proyeksi ekspor batubara tanpa adanya pembatasan. khususnya sejak tahun 2001 ketika dikeluarkannya PP 75 tahun 2001. Dalam prakteknya sebagian besar dari KP yang dikeluarkan selama otonomi daerah tersebut diterbitkan oleh kabupaten.3 juta ton.

2006. Jawa Barat. Dinas Tenaga Kerja Propinsi Banten.4%.1% dan Coal Bed Methane (CBM) 3. Oleh karena itu. 2006. yaitu dalam bentuk Ijin Usaha Pertambangan (IUP). Jakarta. diperkirakan konsumsi batubara Indonesia akan mencapai 90 juta ton atau meningkat hampir dua kali lipat dibanding tahun 2006. 6.5 juta ton. Data Pemakaian Batubara Dan Boiler Tahun 2007. Di samping itu mengenai perijinan pertambangan batubara hanya satu pola. Balai Pengelolaan Pertambangan dan Energi Wilayah. 2008. mengisyaratkan pemerintah dapat mengoptimalkan pengelolaan batubara antara lain pengendalian produksi dan ekspor serta jaminan pasokan dalam negeri melalui Domestic Obligation Market (DMO) dan Penetapan Harga Batubara Nasional. Di samping peranan batubara yang cukup besar.Ketika semua proyek Percepatan pembangunan PLTU 10. industri tekstil 4. pabrik semen. Coal.0 juta dan industri lainnya sekitar 4. Jumlah tersebut terdistribusi pada PLTU sebesar 69. yang akan menjadi dasar penyusunan pola pengembangan dan pemanfaatan energi secara nasional hingga 2025. Batubara.9 juta ton. PENUTUP Sektor pertambangan batubara sampai saat ini telah berhasil dalam menunjang Kebijakan Energi Nasional. 2008. Kebijakan Pemerintah baru saja menerbitkan “Blueprint” Pengelolaan Energi Nasional (BP PEN) 2010-2025 merupakan re-evaluasi BP PEN 2005-2025. dan kemudian diberikan prioritas untuk mendapatkan IUP. Indonesia Cement Statistic 2005.000 MW telah beroperasi yang ditargetkan pada tahun 2010. dan pengembangan masyarakat (community development).1 juta ton. pengelolaan lingkungan. and Geothermal Statistics 2008. Distamben Provinsi Jawa Tengah. Jawa Tengah. Penyusunan “blueprint” merupakan tindak lanjut Peraturan Presiden (Perpres) No 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional yang mengamanatkan Menteri ESDM menetapkan cetak biru tersebut. Pasar global telah dapat pula diterobos dan menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara pengekspor batubara uap terbesar di dunia. dan Panas Bumi. Daftar Industri yang Menggunakan Boiler Berbahan Bakar Batubara. DAFTAR PUSTAKA Asosiasi Pertekstilan Indonesia. Dengan adanya kebikan-kebijakan tersebut tentunya diharapkan akan dihasilkan pelaku pertambangan yang andal di bagian hulu (pertambangan batubara) dengan melakukan good mining practices. yaitu untuk menjamin pengadaan energi nasional yang dapat diandalkan tanpa mengabaikan prinsip pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Direktorat Pengusahaan Pertambangan Mineral. Hal ini telah diproyeksikan sebagaimana termuat pada Blueprint Pengelolaan Energi Nasional 2010-2025. pengelolaannya perlu dilaksanakan melalui kebijakan yang terpadu dan sinergi dengan sektor-sektor pembangunan lainnya. industri semen 8. Adapun PKP2B termasuk KP yang ada tetap dihormati sampai ijinnya berakhir. Data Pemakaian Batubara Sebagai Sumber Energi. industri kertas 3. Keadaan ini terlihat dengan meningkatnya pemanfaatan batubara di berbagai pusat pembangkit listrik. Diperkirakan pada tahun 2025 konsumsi batubara dalam negeri mencapai 236 juta ton. Sedangkan di bagian hilirnya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari KEN. dengan visi berupa terjaminnya energi dengan harga wajar untuk kepentingan nasional.3%. industri kimia. Di sisi lain dengan telah disyahkannya UndangUndang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. pabrik kertas. dan industri kecil. yang menargetkan peranan batubara pada bauran energi nasional sebesar 34. Indonesia Mineral. Asosiasi Semen Indonesia (ASI). di luar peranan Bahan Bakar Batubara Cair (BBBC) sebesar 3. 2008. Jawa Barat dan Jawa Tengah. 68 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .5 juta ton. Semua ini merupakan modal dasar bagi industri batubara Indonesia untuk terus berkembang dalam menunjang keberhasilan pengembangan energi nasional maupun global. maka tetap juga harus dijaga dan dijamin ketersediaannya dalam memenuhi kebutuhan akan energi di dalam negeri selama dan seekonomis mungkin.

Ijang Suherman 69 . 2008. 5. Unit Bisnis Pembangkitan Suralaya. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. Peraturan Presiden Republik Indonesia No. Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 2009. PLN untuk Melakukan Percepatan Pembangunan PLTU yang menggunakan batubara. Masa Kini dan Masa Depan Batubara Indonesia. Menteri ESDM..Presiden Republik Indonesia. Perkembangan Produksi Listrik dan Kebutuhan Bahan Bakar Batubara. ____________. 2006. Tahun 2006 Tentang Penugasan kepada PT. Blueprint Pengelolaan Energi Nasional 2010-2025. dkk. 71. Tahun 2006 Tentang Kebijakan Energi Nasional. Suherman I. Kajian Batubara Nasional 2006. ____________. Puslitbang Teknologi dan Batubara (tekMIRA)..

6003373 e-mail : zulfahmi@tekmira. hasni@tekmira. The result of a calibration in a studio and running test in one of the underground coal mine could be known that the monitoring tools and the system which applied can be used as a centralized monitoring system with a significant result.6030483 Fax.go. 022 . Two type of monitoring tools have been designed. dimana semua alat pemantauan dan proses perekaman data dapat dioperasikan dari satu tempat sebagai sentral.id SARI Keruntuhan batuan atap (Roof Failure) merupakan salah satu penyebab utama terjadinya kecelakaan pada tambang bawah tanah. didit@tekmira.PENGEMBANGAN SISTEM DAN ALAT PEMANTAUAN SEDERHANA UNTUK MENDETEKSI KERUNTUHAN BATUAN ATAP (ROOF FAILURE) PADA TAMBANG BAWAH TANAH Zulfahmi 1). lvdt. yaitu pengembangan alat pemantauan menggunakan Potensiometer transducer yang dapat mendeteksi pergerakan pada beberapa lapisan batuan atap dan pengembangan alat pemantauan menggunakan Linear Variable Differential Transducer (LVDT) yang hanya dapat mendeteksi pergerakan pada permukaan batuan atap saja. lvdt. Kata kunci : keruntuhan atap. 022 . Sudirman 623 Bandung 40211 Telp. Hasniati Astika 2). Jend.go. Terdapat dua macam alat pemantauan yang dirancang. where all of the monitoring equipment and data recording process can operated from one place as a central. there was a development of monitoring tools using Potentiometer Transducer that can detect movement in some rock layers of the roof and Linear Variable Differential Transducer (LVDT) that can detect movement on the surface rock of the roof only.id.esdm. Sistem pemantauan yang digunakan terdiri dari alat pemantauan. data logger for record and storage tool and a computer for data processing. tambang bawah tanah ABSTRACT Roof failure is one of the main causes injuries that happened in the underground mine. Keywords: roof failure. Dari hasil kalibrasi di studio dan ujicoba di salah satu tambang batubara bawah tanah. potentiometer.id.go. potensio. Monitoring system that developed consists of monitoring tools.esdm. alat dan system yang diterapkan terbukti dapat digunakan sebagai sistem pemantauan terpusat dengan hasil yang signifikan.esdm. datalogger sebagai perekam dan penyimpan data serta CPU komputer untuk pengolahan data. Supriatna Mujahidin 3) 1) Peneliti Madya 2) Peneliti Pertama 3) Teknisi Litkayasa Penyelia Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. underground mine 70 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .

2.50% diantaranya diakibatkan oleh keruntuhan atap selain yang disebabkan oleh ledakan gas dan debu tambang dan juga kecelakaan pada pengangkutan (mine haulage). dengan tujuan utama untuk melakukan pengawasan dan mengetahui sedini mungkin kondisi tidak aman pada suatu lokasi tambang agar dapat ditanggulangi sebelumnya. keruntuhan batuan atap merupakan salah satu penyebab terbesar terjadinya kecelakaan pada tambang bawah tanah.1. Metodologi penelitian pengembangan alat pemantauan sederhana untuk mendeteksi pergerakan batuan atap pada tambang bawah tanah Pengembangan Sistem dan Alat Pemantau Sederhana untuk Mendeteksi . dkk.gov dari tahun 2003 sampai dengan 2007. Zulfahmi..msha. 82% dari total kecelakaan pada tambang bawah tanah terjadi pada tambang batubara. 71 . Salahsatunya dengan merancang alat pemantauan sederhana dengan menggunakan peralatan yang mudah didapatkan di Indonesia. Selanjutnya dilakukan perancangan sampai didapatkan sistem dan peralatan yang layak digunakan dengan melakukan kalibrasi dan juga ujicoba. Diperoleh baik dari hasil studi pustaka maupun hasil penelusuran pada cybernet untuk mendapatkan metoda dan dasar yang akan digunakan dalam perancangan sistem dan peralatan pemantauan.. LATAR BELAKANG Berdasarkan data yang diperoleh dari www. METODA PENELITIAN Metode penelitian yang diterapkan dalam kegiatan ini lebih mengarah kepada kajian terhadap perkembangan peralatan pemantauan keruntuhan batuan atap pada tambang bawah tanah. STUDI PUSTAKA/ CYBERNET Kajian teoritis tentang perkembangan sistem pemantauan & konsep sistem peringatan dini Dasar-dasar teori mengenai keruntuhan atap (roof failure) Konsep & Aplikasi peralatan PENENTUAN SISTEM & ALAT PEMANTAUAN PERANCANGAN & MODIFIKASI ALAT PERBAIKAN ALAT/PERUBAHAN SISTEM KALIBRASI UJICOBA ALAT & RUNNING TEST EVALUASI HASIL UJICOBA SESUAI STANDARD Ya Tidak ALAT PEMANTAUAN KERUNTUHAN ATAP Gambar 1. Dari data tersebut. Teknologi pengawasan secara dini sangat diperlukan. 24.

Linear Variable Differential Transformer (LVDT) merupakan salah satu jenis sensor yang digunakan untuk mengukur perubahan jarak. Gambar 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Perancangan Sistem Pemantauan Keruntuhan Atap Sistem Pemantauan keruntuhan atap yang dirancang terdiri dari alat pemantauan. pengolahan data dilakukan dengan menggunakan aplikasi microsoft excel untuk selanjutnya dibuat grafik pergerakan batuan yang terjadi. Data yang tersimpan dalam datalogger masih merupakan data mentah untuk selanjutnya diolah pada perangkat komputer. Ketidakseimbangan pada medan magnet menyebabkan perubahan keluaran voltase yang sebanding dengan perubahan jarak dan arah dari pergerakan tersebut. 2004). Skema monitoring dapat dilihat pada gambar 2.3. (a) (b) Gambar 3. Selain merupakan instrumen yang kuat. yaitu LVDT dan Potensiometer. LVDT mempunyai resolusi yang tinggi (Cheekiralla. Perancangan Alat Pemantauan Keruntuhan Atap Peralatan pemantauan keruntuhan batuan atap yang dirancang merupakan pengembangan dari peralatan pemantauan sebelumnya. Alat pemantauan yang dirancang terdiri dari 2 macam. Untuk menghubungkan setiap unit dari sistem tersebut digunakan sistem kabel. (a) Prinsip kerja LVDT (b) LVDT RDP DCTH400AG 72 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . LVDT terdiri dari satu kumparan magnetik primer dan dua kumparan magnetik sekunder dan satu inti magnetik (Gambar 3(a)). datalogger dan CPU komputer. Ketika kumparan magnet tidak dalam posisi nol (terjadi pergerakan pada probe) akan ada ketidakseimbangan medan magnet dari kedua kumparan sekunder. 2001-2004). Datataker DT800 merupakan instrumen penerima dan penyimpan data yang dapat mengukur dan merekam data dengan beragam dan dalam jumlah yang banyak serta dapat diprogram dengan menggunakan perintah kerja yang sangat mudah (Anonym. Skema pemantauan keruntuhan atap Sebagai pembaca dan penyimpan data yang digunakan pada sistem pemantauan keruntuhan atap ini digunakan Datataker DT800. Alat pemantauan yang telah terpasang pada batuan atap terhubung dengan datalogger sebagai pembaca dan penyimpan data. Kelebihan dari LVDT sebagai sensor jarak adalah tidak adanya kontak fisik pada unsur sensor sehingga lebih kuat dan tahan lama dibandingkan dengan sensor-sensor lain. Pada saat posisi nol berarti tidak ada medan magnet dalam kedua kumparan sekunder oleh karena tidak ada pergerakan pada probe.

Dari hasil kalibrasi diperoleh grafik hubungan antara pergerakan (mm) terhadap perubahan tegangan (Volt) pada alat pemantauan LVDT (Gambar 5) sedangkan grafik hubungan antara pergerakan (mm) terhadap perubahan tahanan (Ohm) pada alat pemantauan Potensio dapat dilihat pada (Gambar 6). Sensor LVDT dilapisi dengan pipa PVC agar aman dan terlindungi (Gambar 4. Untuk mengukur pergerakan atap. dimana masingmasing potensiometer tersebut terhubung dengan pulley. komponen-komponen tersebut ditempatkan pada suatu box yang aman dan terlindungi (Gambar 4(b)). Pergerakan pada batuan atap memutar pulley yang terhubung dengan Potensiometer. Kisaran jarak pergerakan yang bisa terukur oleh alat ini sebesar 22 mm. alat pemantauan ditempatkan tepat di bawah atap batuan. serta untuk mengetahui performa sistem dan alat yang telah dirancang. dkk. Kalibrasi Sistem dan Alat Pemantauan Keruntuhan Atap Kalibrasi dilakukan untuk mendapatkan hubungan antara perubahan tegangan (Volt) pada alat LVDT dan perubahan tahanan (Ohm) pada Potensiometer terhadap perubahan jarak yang dikondisikan pada masing-masing alat pemantauan. Sedangkan untuk alat pemantauan potensio digunakan 4 buah potensiometer. yaitu dengan melihat pergeseran pada pada indikator yang terdapat pada alat pemantauan (Mark and Iannacchione. Zulfahmi. 73 . sedangkan pada alat monitoring ini pergerakan dapat dibaca dengan menghubungkan alat pemantauan dengan datalogger. Kecenderungan dari titik-titik pergerakan hasil kalibrasi dari masing-masing alat pemantauan menunjukkan garis yang linier.. Pada telltale pembacaan pergerakan yang terjadi dilakukan secara manual. dengan persamaan garis linier yang digunakan sebagai rumus untuk memperoleh data pergerakan (a) (b) Gambar 4. Pengembangan Sistem dan Alat Pemantau Sederhana untuk Mendeteksi .(a)). sehingga terjadi perubahan tegangan yang dapat terukur.. Perubahan tegangan tersebut dikalibrasikan dengan perubahan jarak (pergerakan) yang terjadi. Perubahan voltase tersebut dapat dikonversikan terhadap perubahan jarak yang terjadi. Alat pemantauan keruntuhan atap (a) LVDT (b) Potensio Prinsip kerja alat ini sebagai alat pemantauan pergerakan batuan adalah dengan menempatkan 4 buah jangkar yang masing-masing terhubung dengan Potensiometer pada berbagai ketinggian lapisan batuan atap yang akan diamati pergerakannya. Alat yang dirancang mempunyai prinsip kerja yang atap hasil pemantauan dalam satuan mm.LVDT yang digunakan pada kegiatan ini adalah keluaran RDP dengan type DCTH400AG (Gambar 3 (b)). Pulley terhubung dengan jangkar menggunakan kawat baja. dimana jangkar nantinya akan ditempatkan pada lapisan batuan yang diamati pergerakannya. pergerakan pada batuan atap menggerakan probe pada LVDT dan menyebabkan perubahan tegangan (voltase) pada alat monitoring. sama dengan telltale. 2001). Selain itu kalibrasi juga bertujuan untuk melakukan ujicoba alat dan sistem pemantauan.

0. 2.102x + 0. 5. Persamaan regresi linier untuk masing-masing alat pemantauan keruntuhan atap hasil kalibrasi No 1. Grafik hasil kalibrasi LVDT Gambar 6.103x + 0.9999 0.100x + 0.019 R2 = 0.9980 0.101x + 0.437 Y = 1. Grafik hasil kalibrasi potensio Tabel 1.0076x + 24.019 Y = 1.LVDT 30 27 24 21 18 15 12 9 6 3 0 -400 -3 0 400 800 1200 1600 2000 2400 2800 3200 3600 Pergerakan (mm) y = -0.064 Y = 1. Alat Monitoring LVDT Potensiometer 1 Potensiometer 2 Potensiometer 3 Potensiometer 4 Persamaan Regresi Linier Y = .9980 0. 4.9980 74 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .073 R2 0.0076x + 24. 3.406 Y = 1.9797 Tegangan (Volt) Gambar 5.9797 0.

sedangkan alat pemantauan Potensio ditanamkan pada batuan atap. dkk. Sistem pemantauan terdiri dari datalogger sebagai pembaca dan penyimpan data.. Nilai tersebut menunjukkan nilai variabel bebas pada persamaan regresi linier yang diperoleh telah dapat menjelaskan hampir 100% dari nilai hasil pengukuran oleh setiap alat pemantauan. alat dihubungkan dengan sistem yang telah dirancang sebelumnya. Ujicoba Sistem dan Alat Pemantauan Keruntuhan Atap Selain kalibrasi. terlebih dahulu dibuat lubang bor dengan kedalaman yang sesuai dengan kedalaman lapisan batuan atap yang akan diukur pergerakannya (Gambar 7(b)). Semua perangkat tersebut ditempatkan dalam pannel box yang tertutup dan aman. yaitu 0. LVDT (b) Potensio (a) (b) Gambar 8. Penempatan alat pemantauan keruntuhan atap (a). ujicoba dilakukan pada salah satu tambang bawah tanah yang ada di Sumatera Barat.9980 sampai dengan 0. 75 . Untuk mengetahui performa dari peralatan dan sistem yang telah di rancang. (a) (b) Gambar 7. setiap data yang direkam disimpan pada memori yang terdapat pada datalogger. Untuk pemasangan alat pemantauan Potensio.Dari grafik diperoleh persamaan garis linier dan juga nilai R 2 untuk masing-masing alat Pemantauan (Tabel 1). Pannel box ditempatkan dekat dengan lokasi penempatan alat pemantauan (Gambar 8 (b)). Nilai R 2 hasil kalibrasi masing-masing alat menunjukkan nilai yang mendekati 1. Setelah semua alat pemantauan terpasang dengan baik. Alat pemantauan LVDT ditempatkan tepat dibawah permukaan batuan atap (Gambar 7 (a)). (a) Pemasangan alat pemantauan (b) Komponen peralatan dalam pannel box Pengembangan Sistem dan Alat Pemantau Sederhana untuk Mendeteksi . Zulfahmi.. Masing-masing alat pemantauan ditempatkan pada lokasi yang berbeda. yang berarti bahwa hasil pembacaan pada kedua alat tersebut mendekati besarnya pergerakan yang mungkin terjadi. ujicoba sistem dan alat pemantauan juga dilakukan pada tambang bawah tanah yang merupakan kegiatan penerapan dan running test di lapangan.9797 untuk LVDT dan 0.9999 untuk Potensiometer.

2 Pergerakan.6 W aktu. 0. kemudian dibuat grafik pergerakan batuan (mm) terhadap waktu. LVD T 0. Hasil pemantauan keruntuhan atap menggunakan potensio 76 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .2 -1.4 -0. Data yang terekam di konversikan dengan mengunakan rumus regresi linier dari masing-masing alat pemantauan. Hasil pemantauan keruntuhan atap menggunakan LVDT Gambar 10.Evaluasi Hasil Ujicoba Running test alat di tambang bawah tanah dilakukan secara terus menerus selama 18 hari dengan proses perekaman data setiap 110 detik yang disesuaikan dengan kapasitas memori dari datalogger.001 mm -0.2 0 -0.6 -0.4 -1.8 -1 -1. detik LVD 1 T LVD 2 T 0 200000 400000 600000 800000 1000000 1200000 1400000 1600000 Gambar 9. Grafik hasil pemantauan dapat dilihat pada Gambar 9 dan Gambar 10.

Zulfahmi. www. Secara umum kajian yang telah dilakukan menujukkan nilai yang signifikan. web. 2001-2004. Anonym.Semua alat pemantauan telah diujicoba dan dapat bekerja dengan baik...pdf. dataTaker DT800 User’s Manual.T. Alat pemantauan dioperasikan dari satu tempat begitu pula data yang diperoleh dari setiap alat pemantauan dapat terbaca dan tersimpan dalam satu tempat sebagai sentral.. sentral. DAFTAR PUSTAKA http://www.Injuries and Fatalities from Rock Falls. Setiap alat yang diujicoba dapat mendeteksi adanya pergerakan lapisan batuan atap pada tempat diterapkannya alat.gov/stats/charts/ chartshome.cdc.2. Datataker Pty Ltd. 77 . Saran Perlu dilakukan pengembangan terhadap casing dari alat yang digunakan. 2001. 2004. dapat dilihat bahwa kurva yang diperoleh bergerigi. PA.msha. pemantauan dapat dilakukan pada beberapa tempat dengan berbagai macam alat pemantauan dalam satu sistem. NIOSH. Cheekiralla.pdf. semua alat pemantauan dioperasikan dari satu tempat begitu pula data yang diperoleh dari setiap alat dapat terbaca dan tersimpan dalam satu tempat sebagai Pengembangan Sistem dan Alat Pemantau Sederhana untuk Mendeteksi . Massachusetts Institute of Technology.gov/niosh/mining/pubs/pdfs/ bptmi.edu/ sivaram/www/Sivaram-MS-thesis. Dengan kata lain alat yang telah diujicoba layak dimanfaatkan untuk memantau pergerakan batuan atap pada tambang bawah tanah. Kesimpulan Teknologi pemantauan keruntuhan atap batuan pada tambang bawah tanah dengan menggunakan LVDT Tranduser dan Potensiometer dapat digunakan untuk mendeteksi pergerakan yang terjadi pada atap terowongan sebagai peralatan pemantauan keruntuhan atap batuan (roof failure) tambang bawah tanah.htm.1.. 4. Best Practice to Mitigate. Dari grafik pergerakan batuan pada setiap alat pemantauan. Mark C. KESIMPULAN DAN SARAN 4. Hal tersebut juga menunjukkan sistem yang diterapkan terbukti dapat digunakan sebagai sistem pemantauan keruntuhan batuan atap secara terpusat. S..mit. Sistem yang dirancang merupakan sistem pemantauan terpusat. UM-0068-A2. Pittsburgh. Australia. sehingga aman untuk digunakan di tambang bawah tanah. dkk. Paper in the Proceedings of the 20th International Conference on Ground Control in Mining 2001. Hal tersebut disebabkan oleh adanya gangguan (noise) yang dapat dipengaruhi oleh kondisi sekitar dan sensitifitas dari alat pemantauan. 4. terutama pada kurva hasil monitoring dengan menggunakan Potensiometer. Diperlukan kajian lebih lanjut sehingga diperoleh sistem monitoring yang dapat digunakan sebagai sistem peringatan dini dan data pergerakan secara real time. 2008. Iannacchione A. Semua alat tersebut terhubung dalam satu sistem sebagai sistem pemantauan terpusat. Development of Wireless Sensor Unit for Tunnel Monitoring.

Kata kunci : karbon aktif. The result showed that the concentration COD was decrease 74% at time condition 90 minutes and 2. Namun sebenarnya karbon aktif juga dapat digunakan dalam proses pengolahan limbah cair yang dikeluarkan dari pabrik gula dan laboratorium analisis kimia di pabrik gula.5. Limbah cair yang dihasilkan dari pabrik gula memiliki kandungan COD (Chemical Oxygen Demand) yang cukup tinggi.0. adsorption.esdm.go. telah dicoba dengan menggunakan karbon aktif yang dibuat dari batubara. 60. it can be used as absorber of waste sugar industry. it has been tried to use activated carbon from coal as absorber. The research is carried out using the variables of activated carbon weight and the length of process time. Karbon aktif yang digunakan dibuat dari batubara Air Laya Sumatera Selatan yang berukuran 12 mm dengan bilangan yodium berkisar antara 600 dan 700 mg/g. dan 90 menit. dalam pengolahan limbah cair dari pabrik gula.5 dan 10. Variabel jumlah karbon aktif yang digunakan adalah 2. South Sumatra which is 12 mm in particle size was used as raw material of activated carbon.5 and 10.5. 7. pengolahan limbah. konsentrasi COD tersebut belum memenuhi persyaratan kualitas limbah cair yang memiliki ambang batas maksimal 300 mg/l. Faks. Nowadays. Coal from Air Laya. 60 and 90 minutes. 7. However. 022-6003373 e-mail : ika@tekmira.0. dengan jumlah karbon aktif 2. Percobaan dilakukan dengan variabel jumlah karbon aktif dan waktu proses. Liquid waste produced from sugar industry consists of many Chemical Oxygen Demand (COD).623 Bandung 40211 Tlp. In order to decrease COD. Selama ini. konsentrasi COD yang semula sebesar 2355 mg/l turun menjadi 609 mg/l. 5. Untuk menurunkan kandungan COD dalam limbah tersebut. 5. Keywords : activated carbon. The iodine number of activated carbon is in the range of 600 to 700 mg/g. Hasil percobaan menunjukkan. activated carbon used in waste processing is made from coconut shell. karbon aktif yang digunakan dalam proses tersebut adalah karbon aktif yang dibuat dari tempurung kelapa.id SARI Karbon aktif pada industri gula umumnya digunakan sebagai bahan pemudar warna. maka karbon aktif dari batubara juga dapat digunakan. activated carbon is used as fader in sugar industries. adsorpsi.5 gram of activated carbon. waste processing 78 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . 022-6030483. with the 30.0 gram. sedangkan waktu proses adalah 30. The variables of weights activated carbon are 2.5 gram dan waktu proses selama 90 menit. mengingat sifat karbon aktif batubara yang menyerupai sifat karbon aktif tempurung kelapa.0. Dengan tingkat penurunan sebesar 74%. Namun pada dasarnya. COD ABSTRACT Commonly.PEMANFAATAN KARBON AKTIF DARI BATUBARA PADA PENGOLAHAN LIMBAH CAIR INDUSTRI GULA Ika Monika dan Nining Sudini Ningrum Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jalan Jenderal Sudirman No.

juga sebagai bahan untuk pemurnian.1. Limbah yang dihasilkan adalah limbah cair yang berasal dari proses pengolahan gula dan laboratorium pabrik (Santoso. penghilang bau. Salah satu yang menjadi objek penelitian adalah penurunan kadar COD (Chemical Oxygen Demand) dalam limbah cair yang dihasilkan dari salah satu pabrik gula yang ada di wilayah provinsi Banten. Tujuan penelitian adalah untuk meningkatkan kualitas air yang dikeluarkan dari limbah pabrik gula dan mengurangi ketergantungan karbon aktif yang dibuat dari tempurung kelapa. yang disebabkan oleh limbah organik. atau cairan dengan padatan. Adsorpsi jenis ini eksoterm (mengeluarkan panas) dan tidak dapat berbalik kembali (irreversible). kapur ataupun bahan-bahan kimia lainnya. Pertama. cairan dengan gas. pemisahan lumpur dan pasir serta mengurangi zat-zat organik dalam air yang akan diolah. baik cairan dengan cairan. perpindahan zat pencemar (adsorbat) di dalam air menuju permukaan adsorban. Ketiga mekanisme adsorpsi tersebut terdiri atas tiga tahap yaitu . Terdapat dua cara utama pengolahan yaitu secara kimia dan fisik. Umumnya proses aktivasi dilakukan dengan menggunakan uap air. adsorpsi kimia yaitu terjadi karena ikatan kimia antara molekul zat terlarut (adsorbat) dengan molekul adsorban. sehingga mahluk air menjadi mati. perpindahan adsorbat menuju pori-pori di dalam adsorban. dalam waktu tertentu (Cahyana. mempunyai konsentrasi COD 1000 mg/gr dapat meningkatkan jumlah bakteri E-coli empat kali lipat (PERSI. Saat ini teknologi yang kian berkembang pesat adalah pengolahan air. berbagai teknologi pengolahan limbah baik limbah cair. Proses untuk memperoleh daya adsorpsi tinggi dilakukan melalui proses aktivasi terhadap arang. karbon aktif yang digunakan pada pengolahan air umumnya karbon aktif yang dibuat dari tempurung kelapa. dilakukan dengan menambahkan bahanbahan kimia tertentu antara lain menggunakan PAC (Poly Alumunium Chloride). Namun sebenarnya karbon aktif dari batubara juga dapat digunakan dalam proses tersebut. 2000). penetralisir ataupun sebagai desinfektan. Dampak konsentrasi COD tinggi menyebabkan kandungan oksigen yang terlarut di dalam air menjadi rendah. Kedua. Adsorpsi adalah suatu proses pengumpulan zat terlarut pada suatu permukaan media akibat adanya perbedaan muatan diantara kedua zat. (3) sorpsi . karena selain murah juga relatif mudah. yang dapat berfungsi sebagai koagulan. Pengolahan air secara fisik bertujuan untuk mengurangi atau menghilangkan kotoran-kotoran yang kasar. Karbon aktif umumnya digunakan selain sebagai penjernih. Karbon Aktif dari Batubara Salah satu adsorban yang biasa digunakan dalam pengolahan air (termasuk limbah) adalah karbon aktif. Di Indonesia. Proses aktivasi akan memperbesar luas permukaan dan volume 2.2. bahkan habis sama sekali.. PENDAHULUAN Seiring dengan perkembangan dan permasalahan lingkungan. Karbon aktif dengan luas permukaan yang semakin luas menunjukkan semakin tinggi daya adsorpsinya. dilakukan penelitian pemanfaatan karbon aktif dari batubara. fenomena pemanfaatan karbon aktif dari batubara masih menjadi sesuatu yang tidak lazim. Hal ini menimbulkan berbagai penyakit bagi kehidupan manusia. Limbah cair yang dikeluarkan Instalasi Penjernihan Air (IPA) di daerah Karangpilang. Salah satu bahan yang digunakan dalam proses pengolahan air adalah karbon aktif. bahan baku tebu merupakan bahan yang terdiri atas komposisi kimia organik. gula. (1) makrotransport .1. COD merupakan salah satu parameter indikator pencemar di dalam air. Ika Monika dan Nining Sudini Ningrum 79 . meskipun di negara lain seperti di China jenis karbon aktif ini sudah banyak digunakan oleh masyarakat. 2. TINJAUAN PUSTAKA COD adalah jumlah oksigen (mg O 2 ) yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat-zat organik dan anorganik yang ada dalam 1 liter air (Nazir. baik air baku maupun air limbah. Pengolahan air secara kimia. Berdasarkan kondisi tersebut.. 2008). adsorpsi fisika. Di Indonesia. (2) mikrotransport. Dalam proses pembuatan Pemanfaatan Karbon Aktif dari Batubara pada Pengolahan . Akibatnya oksigen yang menjadi sumber kehidupan mahluk air (hewan dan tumbuhan) tidak dapat terpenuhi. pelekatan zat adsorbat ke dinding poripori atau jaringan pembuluh kapiler mikroskopis. 2009). terjadi karena gaya elektrostatis. terjadi karena gaya tarik molekul oleh gaya Van Der Waals dan yang ketiga pertukaran ion. warna dan rasa. 2. tawas. 2001). Hasil penelitian merupakan acuan untuk pemanfaatan karbon aktif batubara pada industri gula. padat dan gas terus dikembangkan. Teknologi Pengolahan Air Salah satu cara pengolahan air yang saat ini sedang berkembang adalah melalui mekanisme adsorpsi. Proses adsorpsi terbagi dalam tiga jenis.

5. 1972). Metoda analisis COD mengacu pada SNI 06-6989. corong. rasa. METODOLOGI Alat Peralatan laboratorium seperti . Luas permukaan karbon aktif dari batubara dapat mencapai 500-1400 m 2 /gr. 60 dan 90 menit. pengolahan dan penjernihan air. Struktur. Karbon aktif granular memiliki persentase makropori dan transportpori yang lebih besar sehingga memungkinkan molekul-molekul besar terserap. Penentuan luas permukaan menggunakan metode BET (BrunauerEmmnett-Teller). filtrat ditampung di dalam botol untuk selanjutnya dilakukan analsisis COD. Karbon aktif dari tempurung kelapa umumnya memiliki luas permukaan seluas 500-1500 m2/gr. 2007).0 gr 949 823 766 80 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .5 gr 925 719 888 10. Bentuk karbon aktif dapat diklasifikasikan menjadi dua golongan yaitu bentuk granular dan powder (Activated Carbon. distribusi dan ukuran pori-pori karbon aktif menjadi faktor yang menentukan kemampuan adsorban dalam mengadsorpsi berbagai jenis adsobat. efektifitas adsorpsi sangat tergantung pada jenis bahan baku adsorban.5 gr 30 60 90 667 661 609 2355 Berat karbon aktif 5. 3. 4. 2007). Hasil analisis COD limbah cair pabrik gula Konsentrasi COD sebelum proses (mg/l) Waktu proses (menit) Konsentrasi COD setelah proses (mg/l) 2. dan pori-pori dengan diameter kurang dari 8 A° yang disebut submikropori (Pruss. Teknik ini meliputi pengukuran volume gas nitrogen yang terserap. 1975). botol plastik. Campuran tersebut kemudian diaduk setiap 10 menit selama masing-masing 30.pori-pori bagian dalam karbon aktif. mesopori dengan diameter antara 20 dan 500 A°. Karbon aktif granular dibuat dalam ukuran yang berbeda tergantung pada aplikasinya. dan timbangan analitik Bahan Conto limbah gula (cair) Karbon aktif berukuran 12 mesh dengan bilangan yodium berkisar antara 600 dan 700 mg/gr Cara kerja Karbon aktif berukuran 12 mm ditimbang masingmasing 2.0.0 gr 715 799 975 7. Karbon aktif bentuk powder lebih tepat digunakan untuk fasa gas karena memiliki mikropori yang lebih besar sehingga mampu menyerap molekul-molekul kecil. Selanjutnya. Kedua bentuk ini dapat digunakan dalam proses pemurnian.5 dan 10 gram. jenis zat adsorbat dan temperatur pada saat proses berlangsung. pengaduk gelas.15-2004. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil percobaan pengolahan limbah cair yang dikeluarkan dari pabrik gula tercantum pada Tabel 1. Struktur dan distribusi pori-pori merupakan faktor utama dalam menentukan daya serap karbon aktif dibandingkan dengan luas permukaan (Harald. kemudian dilakukan penyaringan. karbon aktif ditambahkan ke dalam 200 ml conto limbah. Setelah selesai proses pencampuran. Tabel 1. Dengan perhitungan persamaan BET. gelas piala. atau warna yang tidak diinginkan pada fasa cair.5. Struktur pori dari suatu adsorban diklasifikasikan menjadi transportpori yang memiliki diameter sekitar 500 A°. 7. Karbon aktif granular biasa digunakan untuk menghilangkan senyawa organik yang menimbulkan bau. Sedangkan. atau bisa juga dilakukan dengan penyaringan. mikropori dengan diameter antara 8 dan 20 A°. struktur dan distribusi pori-pori karbon aktif dapat diketahui. Sedangkan penggunaan karbon aktif powder pada fasa cair harus selalu diaduk agar homogenitas tetap terjaga dan tidak terjadi sedimentasi suspensi. sehingga efektif menyerap partikel-partikel yang sangat halus (O-Fish.

Pemanfaatan Karbon Aktif dari Batubara pada Pengolahan .com/2009/03/adsorpsikarbon-aktif.5 gram selama 90 menit. Konsentrasi COD yang terendah adalah 609 mg/gr. karbon aktif yang digunakan terbuat dari tempurung kelapa mempunyai bilangan yodium 6. Media Informasi Ikan Hias dan Tanaman. tingkat penurunan adsorpsi relatif rendah.4. Faktor-faktor ini dapat mempengaruhi persentase penurunan adsorpsi karbon aktif. Teknik pengolahan adalah dengan cara mengalirkan debit limbah melalui suatu kolom yang berisi karbon aktif. Mengacu pada baku mutu limbah cair yang mempunyai nilai ambang batas COD 300 mg/gr. konsentrasi COD sebesar 609 mg/l belum memenuhi persyaratan mutu limbah cair.5 gram. Waktu kontak relatif cepat. dengan jumlah karbon aktif rendah. Salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya efektifitas adsorpsi adalah kualitas karbon aktif. 1. Filter Kimia.6.5 gram selama 90 menit. http:// Gedehace. and Other Products. Bila dihitung berdasarkan persentase penurunan tingkat adsorpsi.3.html. perlu pengaturan ukuran butir dan cara pengolahan limbah sehingga diperoleh hasil yang memenuhi standar kualitas limbah cair. Persentase penurunan adsorpsi Konsentrasi COD 609 mg/gr belum memenuhi persyaratan kualitas limbah cair yang mempunyai nilai ambang batas 300 mg/gr.000 mg/gr. 2007. 1975. faktor yang mempengaruhi efektifitas adsorpsi adalah jenis bahan baku karbon aktif.5 gram selama waktu 30. menunjukkan penurunan konsentrasi COD yang relatif stabil. Chemicals. diperoleh kesimpulan sebagai berikut: Karbon aktif yang berukuran 12 mm dengan bilangan yodium antara 600 dan 700 mg/gr dapat menurunkan konsentrasi COD limbah gula dari 2355 mg/gr menjadi 609 mg/gr. SARAN Untuk memperoleh hasil yang maksimal. Selain itu. Gambar 1. dengan tingkat penurunan mencapai 59%. Persentase penurunan adsorpsi terbesar. dapat digambarkan seperti pada Gambar 1. Setelah ditambah karbon aktif. semakin besar jumlah karbon aktif yang ditambahkan. Ika Monika dan Nining Sudini Ningrum 81 . O-Fish. jenis adsorbat dan cara pengolahan. KESIMPULAN Berdasarkan hasil percobaan. Nazir. Majalah Air Minum. perlu meningkatkan kualitas karbon aktif dari bilangan yodium 600 dan 700 mg/gr menjadi 1000 mg/gr. Berdasarkan data pada Tabel 1. Gede. DAFTAR PUSTAKA Cahyana. Hasil tersebut diperoleh dengan penambahan karbon aktif sebesar 2. Pada pengolahan limbah cair di salah satu pabrik gula.blogspot. maka penurunan COD sangat signifikan. diperoleh dengan penambahan berat karbon aktif 2.. Begitu pula dengan penambahan karbon aktif 10 gram. Conversion of Coal and Gas Produced from Coal Into Fuels. Chapter 30. nilai COD menjadi turun. tingkat penurunan mencapai 60% selama 30 menit. H. 2000. diperoleh dengan penambahan karbon aktif 2. 60 dan 90 menit.com..0 gram selama 90 menit. 2009. Februari 2009 Harald. Penambahan berat karbon aktif lebih besar dari 2..Konsentrasi COD di dalam limbah gula semula sebesar 2355 mg/gr. tidak menunjukkan semakin turunnya konsentrasi COD.. Teknik Sampling dan Analisis Air Permukaan. Selain kualitas karbon aktif. 5. 30. Tetapi. Dari Gambar 1 terlihat bahwa persentase penurunan adsorpsi terendah terjadi pada penambahan karbon aktif sebesar 5. namun karena kualitas karbon aktif tinggi. http://o-fish. Ernawita.

Pasuruan. 42. Indonesia 82 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . W.PERSI. 157-160 Santoso. Eddy. 2001. 1972. Brennestoff-Chemical. Pencegahan Dan Pemanfaatannya.id. Determination of Pore Size and Pore Distribution in Coal and Coke. B..co..pdpersi. Rabu 22 Agustus Pruss. Pusat Data dan Informasi. Limbah Pabrik Gula: Penanganan. Penelitian Perkebunan Gula Indonesia. http:// www. 2009.

bakterisida. Kata kunci: lingkungan tambang.73.67% dan kemampuan kapur mereduksi asam mencapai 48-15.go. Sumatera dan Papua menyebabkan munculnya fenomena air asam tambang (AAT).% .15%. Sehubungan dengan hal tersebut telah dilakukan penelitian penggunaan bakterisida untuk menanganani AAT.6. terlihat kemampuan fenol dalam mereduksi asam dari batuan penutup lebih kecil dari gamping. Sudirman 623 Bandung 40211 Telp. yaitu jenis batuan. Proses netralisasi dapat membentuk logam hidroksida yang dapat mengendap berupa lumpur sehingga diperlukan penanganan lebih lanjut. 022 .KEMUNGKINAN PEMANFAATAN BAKTERISIDA FENOL UNTUK PENCEGAHAN AIR ASAM TAMBANG Siti Rafiah Untung dan Nia Rosnia H Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl.go.67% -51.6003373 e-mail : sruntung@tekmira.. Jend. Percobaan dilakukan dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 3 faktor. air asam tambang. -10+35 mm dan -1+1/2 cm. ukuran dan jenis bakterisida selama 12 minggu.id. Secara umum. pengelolaan lingkungan yang umum diterapkan untuk penanggulangan AAT antara lain adalah netralisasi. Kedua jenis batuan tersebut dipreparasi menjadi ukuran 100 mesh. Asam sulfat ini akan melarutkan logam sehingga dapat mencemari badan perairan sekitarnya. Pada penelitian ini digunakan 2 jenis batuan penutup yang berwarna abu-abu dan coklat berasal dari KUD Tambang Harapan. lindian. Lampung Selatan.id SARI Peningkatan pertambangan batubara. Salah satu cara yang cukup efektif untuk mengatasi masalah tersebut adalah melakukan pencegahan dan pengontrolan pembentukkan AAT dengan mengurangi aktivitas bakteri. Dari hasil tersebut. Bakterisida yang digunakan adalah fenol dengan dosis 5 mg/g dan sebagai pembanding digunakan gamping dengan dosis 10 mg/g. Siti Rafiah Untung dan Nia Rosnia H.esdm. bijih emas dan tembaga seperti di Kalimantan. fenol. rosniasruntung@tekmira.1 dan 10. penambahan fenol dan gamping (CaCO3) dapat meningkatkan pH lindian berturut-turut menjadi 6.esdm. 83 . Kecamatan Kedongdong. netralisasi. 022 . AAT dapat terjadi apabila mineral sulfida seperti pirit terpapar ke udara dan bereaksi dengan udara dan air membentuk asam sulfat.pembentukan lahan basah dan pengkapsulan. Fenol mampu mereduksi asam 6. Hasil percobaan menunjukkan. pengaruh bakteri Kemungkinan Pemanfaatan Bakterisida Fenol untuk . Kehadiran jasad renik Thiobacillus ferroksidans juga dapat mempercepat terjadinya AAT.6030483 Fax. polusi..

pollution. Generally. penutupan dengan air. Kabupaten Lampung Selatan. Berau Coal dan PT.1. Dalam penelitian. Salah satu pencegahan yang dapat diterapkan adalah penggunaan fenol. size and bactericide. Kaltim Prima Coal.67% and limestone 48-15. the capacity of phenol to reduce acidity of overburden is much less than limestone. -10+35 mm dan -1+1/2 cm.1 and 10. Berdasarkan warnanya.% . The acid can dissolve metals and pollute the water body surrounding the area. Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara telah mengadakan penelitian laboratorium pencegahan AAT dengan menggunakan fenol dan gamping (CaCO 3). contoh batuan yang digunakan adalah batuan penutup. Based on the result. Bahan dan Peralatan Contoh dalam penelitian ini adalah batuan penutup. Phenol as bactericide with dose 50mg/g was used while limestone with dose 100mg/g also used as a comparison. Kabupaten Lampung Selatan. berasal dari KUD Tambang Emas Harapan. gold and copper ore from mine activities in Kalimantan. The result showed that the phenol and lime stone can increase the pH of leached respectively 6. microbial influence 1.15%. environmental management such as neutralization. Kedua contoh 84 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Keywords : mine environment . berasal dari KUD Tambang Harapan. Oleh karena itu kehadiran AAT di lingkungan sangat tidak diharapkan. Fenol atau asam karbolik dengan rumus kimia C5H6OH adalah bakterisida. PENDAHULUAN kan karena dapat menghemat biaya pengelolaan. a laboratory research on the use of bactericide to handle the AMD was carried out. Freeport Indonesia dan PT. Phenol and limestone respectively could reduce acid 6. PT. Kedongdong Subdistric. Fenol dibeli dari toko kimia dan gamping diperoleh dari tambang rakyat di daerah Citatah. Hal ini berdampak terhadap penurunan kualitas badan perairan karena sungai terkontaminasi oleh keasaman dan logam-logam terlarut dan juga menyebabkan reklamasi daerah tambang menjadi lebih mahal. Kecamatan Kedongdong. phenol. Two types of overburden which colour were gray and chocolate from KUD Tambang Harapan. Regarding to the problem. Kecamatan Kedongdong. South Lampung were used in this experiment. Pembentukkan air asam tambang (AAT) merupakan masalah utama dalam pertambangan batubara dan mineral.ABSTRACT The increases of coal. AAT dapat terbentuk apabila ada mineral pirit yang terpapar sehingga teroksidasi dan selanjutnya air membentuk asam sulat yang dapat menurunkan pH air dan melarutkan logam. in capsulation and wetland are common to handle the AMD in Indonesia.6. acid mine drainage. Hal yang sama juga dialami oleh perusahaan pertambangan batubara di Kalimantan Timur seperti PT. yaitu berwarna abu ( BP abu) dan coklat (BP coklat). salah satu baktersida umum digunakan di rumah sakit sebagai antiseptik. namely type of overburden.73. Sehubungan dengan hal tersebut. namun apabila pembentukkan asam dapat dicegah akan sangat menguntung- 2. bactericide.67% -51. Design of Group Random was used with 3 factors. Biaya penanggulangan AAT pada umumnya mahal. Pada umumnya perusahan-perusahan tersebut telah menangani masalah tersebut dengan berbagai cara antara lain netralisasi dengan CaCO3 (kapur). kapur padam (Ca(OH)2) dan kapur tohor (CaO). Acid mine drainage can occur if sulphide mineral such pyrite was exposed to the air and it will react with oxygen water to form sulphuric acid. leached. limestone. BAHAN DAN METODE 2. Sumatera and Papua lead to the occurrence of acid mine drainage (AMD). The presence of Thiobacillus ferroksidans can also accelerate the formation of AMD. Fenol ini ini dapat menghambat pertumbuhan jasad renik sampai mematikannya. Kelian Equatorial Mining. Neutralization process can form metal hydroxide and it will precipitate as sludge which need to be optimally managed. pengkapsulan/penghalang fisik dan pemanfaatan rawa/ rawa buatan (wetland). Beberapa perusahaan pertambangan mineral seperti PT. Newmont Minahasa mengalami masalah AAT ini. batuan penutup dapat dibedakan menjadi 2 jenis. Fenol. neutralization. The overburden was prepared to be 100 mesh.

coklat P. yaitu kontrol (c0). 3. Dari faktor perlakuan tersebut diperoleh 24 kombinasi perlakuan dan setiap kombinasi perlakuan diulang dua kali. Hasil analisis kandungan logam dan sulfur dalam contoh batuan Contoh Batuan Cu BP coklat BP abu Sumber Keterangan P. Mn dan Ca) dalam bentuk oksida dan S (belerang) terhadap kedua jenis batuan. yaitu 100 #. Selanjutnya.1..39 31. 100 mesh (a1). Bagian bawah botol tersebut diberi lubang kapiler untuk mengeluarkan air pelindian. Faktor ketiga (c) adalah jenis bahan kimia dengan dua taraf. Air suling berfungsi sebagai media pelindi.batuan penutup tersebut dipreparasi menjadi beberapa ukuran. Peralatan lain yang digunakan adalah pH meter dan alat gelas. 85 . Fe. Ke dalam setiap kolom pelindian dimasukkan secara berturut-turut 100 gr contoh batuan. 2. Setiap hari masing masing kolom pelindian ditambahkan 10 ml air suling sebagai media pelindian. 1978). Seluruh pengujian dilakukan di laboratorium Lingkungan Puslitbang tekMIRA.12 0. yaitu BP abu (b1) dan BP coklat (b2). Analisis dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan pada taraf nyata 5% jika terdapat perbedaan antar perlakuan. Bakterisida yang digunakan adalah fenol yang dibeli dari toko bahan kimia dan sebagai pembanding adalah kapur gamping (CaCO3) yang berasal dari tambang rakyat Desa Citatah.04 Ca 0.29 0.1.. Proses tersebut dilakukan dalam akuarium tertutup pada suhu kamar selama 12 minggu dengan kelembaban berkisar 90 %.90 2. Mg. Lampung Selatan = lapisan batu berwarna cokalt dari tambang emas rakyat di Kecamatan Kedongdong.05 0.04 0. Siti Rafiah Untung dan Nia Rosnia H.2 Peralatan Kolom pelindian adalah botol plastik + 250 ml yang bagian bawahnya diberi lubang kapiler untuk mengeluarkan lindian. HASIL DAN PEMBAHASAN 3. Pb.2. botol-botol tersebut disimpan dalam akuarium tertutup dan dijaga kelembapannya sekitar 90%. kemudian dimasukkan ke dalam masing masing kolom secara berlapis fenol dan kapur dengan dosis masing-masing 5 mg/g dan 10 mg/g kecuali kontrol.03 Pb 0. Faktor kedua (B) adalah jenis batuan dengan dua taraf. (-10 + 35 mm) dan (-1 + ½ cm). Pengukuran pH lindian dilakukan setiap minggu. -10+35mm (a2) dan -1+1/2cm (a3). Lindiannya ditampung dalam gelas plastik Setiap kolom pelindian diisi dengan contoh batuan yang disusun secara berlapis dengan fenol dan gamping.82 Zn 0. Analisa kadar logam dari contoh dengan AAS Hasil analisa/penentuan kadar logam dan S dalam contoh BP abu dan BP coklat adalah sebagai berikut : Tabel 1.11 S 1.01 0.10 : Data Primer Hasil Uji Puslitbang tekMira Bandung : = batuan berwarna cokalt dari tambang emas rakyat di Kecamatan Kedongdong. fenol (c1) dan gamping (c2). Kolom yang digunakan dalam pelindian adalah botol plastik + 250 ml.06 0. terhadap kedua contoh batuan tersebut juga dilakukan pengujian air asam tambang dengan metode Sobek (Sobek. Faktor pertama (A) adalah ukuran batuan dengan taraf. Metode Uji karakterisasi contoh batuan dilakukan untuk mengetahui kandungan logamnya (Cu. abu Parameter (%) Fe 8. 2. Zn.19 0. Untuk menjaga kelembaban. lampung Selatan Kemungkinan Pemanfaatan Bakterisida Fenol untuk .22 Mn 0.01 Mg 0. Percobaan untuk mengetahui interaksi dari jenis batuan dan ukurannya. fenol dan kapur yang diujikan sebagai bahan pencegahan pembentukkan asam digunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 3 faktor. yaitu: batuan penutup berwarna abu (BP abu) dan coklat (BP coklat).

Mengacu kepada hasil analisis dari Uji Identifikasi Pembentukan Air Asam Tambang pada Tabel 2. kedua contoh batuan tersebut dapat Me2+ 2SO42. Peningkatan pH lindian pada percobaan penambahan fenol mungkin disebabkan oleh kemampuan fenol menghambat pertumbuhan 86 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . yaitu ratarata 10. Hasil pengukuran pH lindian selama 12 minggu dapat dilihat pada Tabel 4 dan Gambar 1. Hasil analisis uji pembentukan air asam tambang Kode Sampel BP abu BP coklat Sumber Keterangan BP abu BP coklat MPA ANC NAPP NAG NAG kg kg kg 4.12 %.29%.6.15 berarti bahwa contoh-contoh tersebut bersifat asam. Kedua contoh batuan menunjukkan nilai ANC = 0 berarti contoh tersebut tidak mampu untuk menetralisasi asam.5kg 7kg Sulfur (%S) H SO /ton H SO /ton H SO /ton H SO /ton H SO /ton 2 4 2 4 2 4 2 4 2 4 Total 2.6 hanya ditemukan pada batuan BP coklat dengan ukuran 100 mesh.2-7.13 58.11-0. Hal ini dapat dilihat dari kisaran pHnya. yaitu 10. yaitu berkisar 0.2).13 kg H2SO4/ton. sedangkan kandungan logam lainnya rendah.1. pH tertinggi 5.29% dan nilai tersebut berhubungan langsung dengan nilai MPA.42 pH 1:2 2. Berdasarkan pengklasifikasian tersebut.7.7.56 kg H2SO4/ ton. Hal ini menunjukkan bahwa kedua contoh tersebut dapat membentuk asam yang reaksi pembentukannya secara umum sebagai berikut: MeS2 +7/2O2 + H2O (logam sulfida) Dalam proses pembentukan AAT tersebut.39 . Nilai pH lindian tersebut lebih ditentukan oleh kemampuan contoh dalam pembentukan asam maksimum dan potensi batuan dalam menetralkan dan bukan ukuran contoh. P. Kedua contoh nilai NAPP-nya positif.90 70.19-70.5 .59-84. menyatakan senyawa fenol dapat masuk ke dalam sel bakteri dengan cara merusak dinding selnya dan juga dapat mengendapkan proteinnya.65 52.6 atau rata-rata 3.59 104.8 atau rata-rata 10.0) dari BP coklat (5. Hal ini mungkin disebabkan oleh kandungan kalsium (Ca) kecil.1 10.+2H+ digolongkan tipe 4 atau potensi pembentuk asam kapasitas tinggi sehingga diperlukan penanganan agar tidak mencemari lingkungan sekitar.37 3.69 194.90% 2. Nilai pH lindian tertinggi ditunjukkan oleh penambahan gamping.2 atau rata-rata 6.09 pH NAG 2. peran bakteri adalah mempercepat reaksi.37-3.82%.88 3. yaitu 63.Hasil analisis menunjukkan. 1996 mengklasifikasikan batuan pembentuk asam menjadi 4 jenis seperti tertera pada Tabel 3.5. Penggunaan fenol dalam percobaan ini ternyata mampu meningkatkan air lindian 4. logam yang dominan dalam kedua jenis batuan penutup tersebut adalah besi dalam bentuk Fe2O3 dengan kisaran antara 8.15 : Data Primer Hasil Uji Puslitbang tekMira Bandung : = batuan penutup berwarna abu = batuan penutup berwarna coklat Dari Tabel 2.90-5. terlihat derajat keasaman pH (1:2) contoh yang dianalisis berkisar dari 2. Salah satu penanganan adalah penggunaan fenol yang merupakan bakterisida dan sebagai pembanding digunakan gamping (CaCO3). Buck (2001).19 0 0 84.56 63. bakteri. diduga bahwa kedua jenis batuan tersebut berpotensi menghasilkan air asam tambang. Hasil perhitungan menunjukkan nilai MPA kedua contoh berkisar antara 58.90% sampai dengan 2. Dengan demikian pH lindian BP abu lebih rendah (4. Dari Tabel 3 dan Gambar 1 terlihat pada bahwa blanko (kontrol) air lindian bersifat asam pH dengan berkisar 2.6. Dharmawan.39 74. Kadar belerang (S) total kedua contoh berkisar dari 1.31.29 1.6. Dari uraian tersebut dapat Tabel 2. Kedua jenis batuan juga mengandung sulfur dengan kisaran 1. Proses penetralan dengan gamping terlihat bahwa nilai pH lindian tidak ditentukan baik oleh ukuran contoh maupun oleh perhitungan asam basa.

4 6.5 lebih besar atau sama dengan 5 kg H2SO4 per ton NAPP lebih besar atau sama dengan 10 kg H2SO4 per ton Nilai pH uji NAG lebih kecil dari 4 . Nilai pH lindian dari Kemungkinan Pemanfaatan Bakterisida Fenol untuk . 1.5 lebih besar atau sama dengan 5 kg H2SO4 per ton NAPP lebih besar atau sama dengan 10 kg H2SO4 per ton 3.7 2. b 1 = BP abu. 87 . 2.2 10.9 10. Penggolongan jenis batuan pembentuk asam No.. Siti Rafiah Untung dan Nia Rosnia H. Parliyanto .nilai NAG pada pH kapasitas rendah 4. Perubahan pH lindian dari batuan dengan penambahan kapur dan fenol Tabel 5 menunjukkan nilai pH lindian rata-rata dari penggunaan fenol berkisar antara 4.5 lebih kecil dari 5 kg H2SO4 per ton NAPP 0 – 10 kg H2SO4 per ton Potensi pembentuk asam kapasitas tinggi Nilai pH uji NAG lebih kecil dari 4. Gambar 1. Pada penetralan ini terjadi reaksi sebagai berikut: CaCO3+ H2SO4 CaSO4+ H2CO3 3 CaCO3 + Fe2(SO4)3 + 6 H2O 2 CaSO4+2 Fe(OH)2 + 3 H2CO3 Kapasitas reduksi asam untuk masing-masing perlakuan dapat dilihat pada Tabel 5. a3 = ukuran batu dilihat bahwa dosis gamping berpengaruh terhadap pH lindian. Tipe 3 4. Golongan Tipe 1 Tipe 2 Jenis Batuan Bukan pembentuk asam Keterangan Nilai pH uji NAG lebih besar atau sama dengan 4 atau nilai NAPP negatif Potensi pembentuk asam Nilai pH uji NAG lebih kecil dari 4 .8.8 5. C2 = gamping b = jenis batu.. Rata-rata perubahan pH lindian dengan penambahan fenol dan kapur No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Perlakuan a 1b 1 c 0 a 1b 1 c 1 a 1b 1 c 2 a 1b 2 c 0 a 1b 2 c 1 a 1b 2 c 2 a 2b 1 c 0 a 2b 1 c 1 a 2b 1 c 2 pH 2.9 5.8 4.5 10.1 No 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Perlakuan a2 b2 c 0 a2 b2 c 1 a2 b2 c 2 a3 b1 c 0 a3 b1 c 1 a3 b1 c 2 a3 b2 c 0 a3 b2 c 1 a3 b2 c 2 pH 3.nilai NAG pada pH 4.8 Keterangan: C0=control.5 –7.Tabel 3.9 6 10. 1996 Tabel 4. C1 = fenol.2 4. a2.6 7 10.6 7. Tipe 4 Pembentuk asam Sumber: Dharmawan.1 – 10.2 10.2 dan gamping antara 10.6 3. pH batuan (1 : 2) lebih kecil dari 4 nilai NAG pada pH 4. b-2 = BPcoklat a1.

2 4.6 4.6 0.5 3. Penurunan dosis gamping lebih dianjurkan karena dapat menghindari adanya biaya tambahan pengelolaan air limbah. Hasil lindian (pH) dan reduksi asam dari BP abu lebih rendah dari BP coklat untuk semua jenis ukuran batu. Nilai pH dan reduksi asam tertinggi terjadi pada batuan ukuran -1+1/2cm dan terkecil pada ukuran batuan 100 mesh baik untuk perlakuan dengan fenol maupun batuan. 202/2004 (pH 6-9). Kesimpulan Hasil penelitian menujukkan berbagai hal sebagai berikut: Fenol dapat digunakan dalam pencegahan air asam tambang dan dapat meningkatkan nilai pH lindian dengan kisaran 4.6 10. Ukuran bijih berpengaruh terhadap nilai pH dan reduksi asam baik untuk penggunaan fenol maupun gamping. KESIMPULAN DAN SARAN 5.6 2.1 7. Dari Tabel 5.67 73.0 7. 202/2004 (pH 6-9) dan dapat menetralkan asam berkisar antara 6. sehingga perlu dilakukan penurunan dosis gamping agar hasil lindian dapat memenuhi syarat.3 3.3 3.2 7.2 3.6 0.52 Kapasitas reduksi (per mg) 2.1.67% -51. 5. Kapasitas reduksi asam dari fenol dan gamping terhadap blanko Jenis Penanganan Blanko Perlakuan a1b1c0 a1b2c0 a2b1c0 a2b2c0 a3b1c0 a3b2c0 a1b1c1 a1b2c1 a2b1c1 a2b2c1 a3b1c1 a3b2c1 a1b1c2 a1b2c2 a2b1c2 a2b2c2 a3b1c2 a3b2c2 Rata-rata pH 2.9 7. Dari hasil percobaan terlihat kemampuan fenol dalm mereduksi asam lebih kecil dari gamping.2 7. 202/2004 Kapasitas reduksi asam untuk fenol dengan dosis 5 mg/g berkisar antara 6.Tabel 5.% .1 5.15%.67%.7 10.67 50. dapat dilihat bahwa ukuran batuan berpengaruh terhadap perlakuan.9 5.00 6.7 7. jadi lebih tinggi dari fenol.15 48. Namun apabila dilihat nilai pH lindian dari penggunaan gamping telah melampau nilai yang ditentukan oleh Kepmen tersebut.4 Fenol Gamping fenol sudah memenuhi syarat sebagai air limbah dari kegiatan penambangan bijh emas berdasarkan Kepmen LH No.9 5.15 66.9 7.5 6.% - 88 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .9 6.3 1.4 3.67%. Penetralan dengan gamping dapat mereduksi asam 48-15.5 3.36 58.7 7.1 10.9 3.9 5. Batuan dengan potensi pembentuk kapasitas asam tinggi (BP abu) kemampuannya dalam mereduksi asam lebih rendah dari BP coklat.1 5.8 10.3 1.42 72.23 20.5 –7.8 10.4 Reduksi asam (%) 44.00 50.2.2 7.4 5.72 51.0 10.4 3.73. Kapasitas reduksi asam untuk gamping dengan dosis 10 mg/g berkisar 48-15. Penurunan dosis dilakukan dengan berbagai cara antara lain dengan menurunkan dosis gamping dan menggunakan asam seperti H2SO4 atau HCl sehingga diperoleh nilai pH air limbah yang sesuai dengan Kepmen LH No. Nilai tersebut memenuhi syarat sebagai air limbah dari kegiatan penambangan bijh emas berdasarkan Kepmen LH No.64 68. Penelitian Siwik (1989) menunjukkan penambahan Ca(OH)2 (kapur padam) dengan dosis 5000 mg/kg selama 50 minggu dapat mereduksi asam sampai 80%.8 Selisih thd blanko 0 0 0 0 0 0 2.67% -51.1 7.

2001.. Aula Barat ITB 1-2 Juli 1996 Siwik R. Payant and K.A.8.73. Kecamatan Kedongdong. ‘Control of acid generation from reactive waste rock with the use of chemicals’.R. R.2. 1989. Kemungkinan Pemanfaatan Bakterisida Fenol untuk .A. 89 . J.15%. 5.S.html diakses tanggal 15 Juni 2009 Dharmawan Parliyanto. U. Kapasitas fenol dalam mereduksi asam lebih kecil dari gamping. Kirsten. Karena nilai ini sudah melampaui baku mutu air limbah dari kegiatan penambangan bijh emas berdasarkan Kepmen LH No. M. Chalkey.). dan pH berkisar 10.. Sobek. 1978. Environmental Protection Agency.infectioncontroltoday. Cincinnati. Saran Penelitian perlu dilanjutkan dengan pemberian bakterisida yang lain seperti surfaktan sehingga dapat ditentukan bakterisida yang lebih beperan dalam pencegahan air asam tambang. UCAPAN TERIMAKASIH Penulis mengucapkan terimakasih kepada Bapak Sahroji.. Ohio. 1996. 45268.com/articles/ 191clean. Ukuran batuan dan jenis batuan berpengaruh terhadap hasil lindian. Identifikasi Potensi Air Asam Tambang di Daerah Tambang Batubara PT..1 – 10. S. Paper disajikan pada Seminar Air Asam Tambang di Indonesia. et al (eds. EPA-600/2-78-054. DAFTAR PUSTAKA Buck. Schuller. A. Kabupaten Lampung Selatan yang telah mengirim contoh batuan sehinnga penelitian ini dapat berjalan lancar. New York. Arutmin Indonesia. The effects of Germicides on Microorganism. E. Wheeland. Siti Rafiah Untung dan Nia Rosnia H. Tailings and Effluent Management.. Kepala KUD Tambang Harapan. Field and Laboratory Methods Applicable to Overburdens and Minesoils. W.M. http:// www. Pergamon Press. and Smith. 202/2004 sehingga diperlukan penurunan dosis gamping. 4750. Untuk melihat pengaruh ukuran dan jenis batuan terhadap kelarutan logam-logam maka perlu dilakukan pengukuran konsentrasi logam-logam yang terekstrasi. Freeman. M.

081321237913 e-mail : soemaryono@tekmira. didapat abu golongan a lebih dari 90% tertiup keluar siklon. oil heater and rotary dryer. This paper describes the handling process of those ash groups. Diuraikan juga proses pengendapan partikel abu dari ketiga jenis abu dalam fasilitas industri tersebut dan lokasi pengendapannya./Fax : 022 – 6038027. abu golongan b lebih dari 50% menempel sebagai kerak di dalam siklon dan abu golongan c lebih dari 90% meleleh di dalam siklon kemudian mengalir ke dalam kotak abu. kadar abu yang tinggi dengan titik leleh yang bervariasi dapat mempengaruhi kinerja alat. 90 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Jend. Dari pengamatan tersebut. Based on its melting point. free from impurities.go. ash may be divided into three groups.PENGARUH TITIK LELEH ABU TERHADAP PENGENDAPANNYA PADA PEMBAKARAN BATUBARA DENGAN PEMBAKAR SIKLON DI BEBERAPA FASILITAS INDUSTRI Sumaryono Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara (tekMIRA) Jl.esdm. Untuk pengoperasian pembakar siklon. Sudirman 623 Bandung Telp. far below 1200°C. (a) group has high melting point. since it is difficult to obtain pure coal. From this observation.id SARI Batubara dapat dikatakan sebagai bahan bakar yang kotor karena sulit untuk mendapatkan batubara yang murni. golongan b bertitik leleh sedang atau mendekati suhu operasional pembakar siklon 1200°C dan golongan c bertitik leleh rendah. Particularly the impurities which may affect the combustion process such as the ash content with its various characteristics. which either affecting the combustion process or may affect the product and the industrial facilities served. jauh dibawah 1200°C. titik leleh abu. Khususnya pengotor-pengotor yang dapat mempengaruhi proses pembakaran seperti kandungan abu dengan berbagai karakteristiknya yang selain mempengaruhi proses pembakaran juga dapat mengganggu produk dan fasilitas industri yang dilayani. and (c) group has low melting point. For cyclone combustor operation. Berdasarkan titik lelehnya abu dibagi menjadi 3 golongan yaitu golongan a bertitik leleh tinggi. pemanas oli dan pengering berputar. Kata kunci : pembakar siklon. pengendapan ABSTRACT Coal may be viewed as a dirty fuel. Tulisan ini menguraikan proses penanganan abu untuk ketiga jenis abu tersebut. in the operation of the cyclone combustor in steam boiler. high ash content with various melting points may affect the combustor performance. dalam pengoperasian pembakar siklon untuk ketel uap. (b) group has medium melting point or close to the operational temperature of the cyclone combustor at 1200°C. The deposition processes of the ash particles in those industrial facilities and their deposition locations are also described. bersih dari kotoran.

Fe. 2003). dengan banyaknya senyawa CaO.. terutama jika kandungan SiO2-nya tinggi. ash melting point. operasional pembakar siklon dapat terganggu. Tetapi sejak tahun 2008 mulai terjadi kelangkaan batubara standar karena naiknya harga ekspor batubara sehingga pasokan batubara standar untuk dalam negeri terganggu dan di pasaran dalam negeri hanya tersedia batubara dengan spesifikasi yang berubah-ubah dalam jumlah-jumlah kecil. belerang. Keywords: cyclone combustor. Untuk pembakaran terus menerus. khususnya titik leleh abu yang merupakan parameter penting dalam proses pembakaran batubara (Rance. Sebaliknya. 2003). K yang terikat dengan silikat. Mg. atau berupa kerak yang menempel di dinding siklon sehingga jika semakin tebal. oksida.18 maka abu bersifat refraktori dengan titik leleh tinggi. Sifat-sifat abu khususnya menyangkut sifat melelehnya yang dapat mengganggu operasional siklon tersebut dipengaruhi oleh kandungan unsurunsur tertentu di dalam abu. 2009). diameter moncong siklon semakin kecil. Pada teknik pembakaran kisi berjalan (Changzhou. LATAR BELAKANG Pembakar siklon dengan bahan bakar batubara halus berukuran -30 mesh telah digunakan di industri untuk berbagai jenis fasilitas seperti ketel uap. Mn. MgO dan Fe2O3 mengakibatkan turunnya titik leleh abu.it was found that (a) group ash. 2007). Sebagai contoh. Pembakar siklon digunakan untuk menggantikan pembakar BBM di berbagai fasilitas industri tersebut (Sumaryono. 1975). titik leleh abu yang rendah mengakibatkan tertutupnya kisi oleh lelehan abu sehingga mengganggu aliran udara pembakar. Sumaryono 91 . Na. LATAR BELAKANG TEORI Komponen-komponen abu dalam batubara terutama terdiri atas unsur-unsur Si. Jelas pula pengaruhnya pada teknik pembakaran batubara bubuk (pulverized coal combustion) (Singer. Parameter titik leleh abu akan dibahas dalam tulisan ini karena merupakan salah satu faktor yang berpengaruh dalam operasional pembakar siklon. (b) group ash more than 50% adhered as slag in the cyclone and (c) group ash more than 90% melted in the cyclone and then flowed into the ash box. sulfat atau fosfat. jika digunakan batubara dengan titik leleh mendekati suhu pembakaran atau dibawahnya mengakibatkan unggun mengeras setelah dingin sehingga harus dihancurkan dengan linggis. Jika perbandingan Al2O3 : SiO2 mendekati 1 : 1. dapat menyumbat aliran api karena jika kerak semakin tebal. Jika menempel di moncong keluarnya api. Al. Pembakaran batubara dengan pembakar siklon dilakukan dengan batubara tepung (-30 mesh). 1991). sifat titik leleh dapat mengganggu operasional pembakar siklon karena abu dapat berupa padatan yang tertiup keluar siklon. dll sejak tahun 2005. more than 90% was blown out of the cyclone. Dengan kinerja yang semakin baik maka hal ini merupakan dukungan pada program pemerintah untuk terus meningkatkan kontribusi batubara dalam konsumsi energi nasional yang ditargetkan sebesar 33% pada tahun 2025 (Yusgiantoro. Unsur lain yang dapat menurunkan titik leleh abu adalah Na2O dan K2O. Keadaan ini mengakibatkan operasional pembakar siklon sering terganggu karena mutu batubara yang berubah-ubah dan cenderung semakin turun mutunya. Masalah titik leleh abu juga berpengaruh pada operasional teknik pembakaran batubara lainnya. pemanas oli. Karakteristik abu dipengaruhi oleh unsur-unsur yang dikandungnya. 2.. Tulisan ini menguraikan beberapa proses pembakaran batubara dengan titik leleh abu yang berbeda-beda pada beberapa fasilitas industri dan akibat-akibat yang ditimbulkan oleh abu batubara tersebut pada operasional pembakar siklon. deposition 1. pengaruh Al2O3 dan SiO2. Pembakar siklon perlu terus dikembangkan sehingga semakin handal untuk dapat menghadapi berbagai parameter karakteristik batubara yang berbeda-beda. Pada teknik pembakaran dengan unggun terfluidakan (Basuki. karakteristik abu sangat penting selain berpengaruh pada efisiensi pembakaran. pengering berputar. Ca dan sedikit Ti. bisa berupa abu terbang atau abu dasar. Tergantung nilai titik Pengaruh Titik Leleh Abu terhadap Pengendapannya pada Pembakaran . pengelolaan abunya tergantung pada titik leleh abu.

Semakin rendah titik leleh abu. jadi dalam suasana pembakaran dengan jumlah oksigen lebih dari oksigen stoikiometrinya. Setelah dingin abu yang lengket ini mengeras berupa kerak. Sedangkan abu yang bertitik leleh rendah akan mudah mencair dan mengalir ke tempat yang lebih rendah. akan semakin rendah viskositas abu tersebut sehingga cairannya mudah mengalir ke bagian bawah pembakar siklon. b. menghasilkan abu yang lunak dan lengket menempel pada dinding bagian dalam pembakar siklon. Abu bertitik leleh tinggi (a). dalam waktu 1 hari kerak sudah terlalu tebal sehingga siklon semakin mengecil volumenya dan lingkaran dalam leher siklon semakin menyempit sehingga mengganggu aliran api dari siklon ke dalam ketel uap.1 Ketel uap Gambar 1 adalah skema ketel uap jenis pipa api (fire tube) yang telah dipasang pembakar siklon sebagai ganti pembakar solar dan daerah-daerah pengendapan abunya. jika titik lelehnya tinggi maka abu tetap berupa debu padat. °C Sperikal 1435 1150 1080 Hemisfer 1460 1160 1090 Alir >1500 1225 1155 Deformasi 1470 1235 1125 Oksidasi. Abu dengan titik leleh oksidasi lebih rendah dari suhu operasional pembakar siklon. titik leleh abu dibagi menjadi tiga golongan yaitu : a. Jika titik leleh abu jauh di bawah suhu siklon. dalam pipa api Lokasi d. °C Sperikal >1500 1255 1135 Hemisfer >1500 1260 1160 Alir >1500 1325 1180 92 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . siklon dibiarkan dingin untuk dilakukan pembersihan dindingnya dari kerak. dalam ruang api Lokasi c. maka viskositas lelehan abu menjadi rendah sehingga dengan mudah mengalir ke bawah. Pembakar siklon dapat beroperasi dengan lancar jika titik leleh abu jauh di atas atau di bawah suhu operasional siklon. Pengoperasian ketel uap ini dengan batubara berkandungan abu gol. b yang titik lelehnya hampir sama dengan suhu operasional pembakar siklon. Beberapa contoh abu golongan a.5%. Sebaran Abu Dalam Fasilitas Industri 3. Tabel 1 adalah beberapa contoh abu yang termasuk dalam abu golongan a. b. Jika titik lelehnya hampir sama dengan suhu siklon. Pembakaran dihentikan. maka viskositas tinggi sehingga lengket dan tidak bisa mengalir. bagian bawah cerobong Keluar dari sistem lewat cerobong : : : : : : 5% 15% 0% 30% 30% 20% 3. Pada pembakaran batubara yang berkadar abu 5. menghasilkan abu padat dengan sebaran : Lokasi a. 3. c dan titik lelehnya Golongan Abu A B C Deformasi 1305 1140 1075 Reduksi. akan tetap berupa debu padat pada saat operasional pembakaran siklon. dalam penampung debu Lokasi e. Kerak ini dengan mudah dapat dikorek dari dinding siklon. yang bertitik leleh jauh lebih tinggi dari suhu pengoperasian siklon (1180 – 1230°C) dengan kadar abu kurang dari 2%.2. Abu dengan titik leleh oksidasi sama atau mendekati suhu operasional pembakar siklon. SEBARAN ABU DAN KARAKTERISTIKNYA 3.leleh abu. dalam siklon Lokasi b. tergantung pada titik lelehnya.1. a. Sedangkan pegoperasian dengan batubara mengandung abu gol. Titik leleh oksidasi adalah titik leleh abu dalam atmosfer pembakaran oksidasi. yaitu sekitar 1200°C. Beberapa Golongan Titik Leleh Abu Dalam kaitannya dengan operasional pembakar siklon. Sebaran kerak dan kotoran padat lain adalah : Tabel 1. c.2. Abu dengan titik leleh oksidasi lebih tinggi dari suhu operasional pembakar siklon. Sedang yang bertitik leleh mendekati operasional pembakar siklon akan bersifat melunak tetapi belum mudah mencair sehingga lengket dan menempel di dinding siklon. b dan c.

pembakar solar dan daerah-daerah lokasi pengendapan abunya. dalam siklon Lokasi b. dalam siklon Lokasi b. dalam ruang api Lokasi c.. lelehan abu yang mengalir ke dalam kotak abu segera membeku membentuk padatan yang sangat keras berwarna coklat kehitaman. Bongkahan-bongkahan lelehan abu yang menjadi padat diambil dari kotak abu 2 jam sekali. dalam ruang api Lokasi c. dalam penampung abu Lokasi d.6%. dalam penampung debu Lokasi e. Sumaryono 93 . kemudian asapnya keluar melalui cerobong. pemasakan dll. Sebaran abu dalam siklon dan ketel uap adalah : Lokasi a.2 Pemanas oli Pemanas oli (oil heater) di pabrik tekstil. bagian bawah cerobong Keluar dari sistem lewat cerobong : 5% : 0% : 55% : 2% : 25% : 13% Pengoperasian dengan batubara mengandung abu golongan b yang titik lelehnya hampir sama dengan suhu operasional pembakar siklon menghasilkan abu yang lengket. dalam rangkaian pipa oli Lokasi e. dalam penampung debu Lokasi e. Skema ketel uap dengan pembakar siklon Lokasi a. Akibat fatal dari kejadian ini terutama diameter dalam L-bow dari siklon menuju ruang api dari Pengaruh Titik Leleh Abu terhadap Pengendapannya pada Pembakaran . Pengoperasian dengan batubara mengandung abu golongan a yang titik lelehnya diatas suhu operasional pembakar siklon. masuk ke dalam kotak abu. dalam pipa api Lokasi d. Dinding bagian dalam siklon terlihat mengkilap karena terlapisi oleh cairan dari abu yang mencair dengan viskositas yang rendah. menghasilkan abu yang sudah mencair dan mengalir ke lantai siklon. c yang titik lelehnya dibawah suhu operasional pembakar siklon.2. Gambar 1. dalam pipa api Lokasi d. dalam siklon Lokasi b. dalam ruang api Lokasi c.. Gambar 2 adalah skema pemanas oli jenis vertikal yang telah dipasang pembakar siklon di bagian atasnya sebagai pengganti : 95% : 0% : 0% : 0% : 0% : 5% Api dari pembakar siklon turun ke dalam ruang api (b). makanan dan industri kimia digunakan untuk memproduksi panas yang disalurkan dengan menyalurkan oli panas (220 – 250°) ke unit-unit proses yang memerlukan seperti untuk pengeringan. Skema pemanas oli dengan pembakar siklon Pengoperasian dengan batubara mengandung abu gol. bagian bawah cerobong Keluar dari sistem lewat cerobong : 60% : 20% : 0% : 10% : 5% : 5% Gambar 2. Karena viskositas abu sangat tinggi maka abu yang lunak dan lengket ini menempel di permukaan dinding bagian dalam siklon. naik dan turun lagi memanaskan pipa-pipa oli (d). menghasilkan abu yang padat dengan sebaran : Lokasi a. Abu yang datang selanjutnya melekat di permukaan lelehan sebelumnya sehingga membentuk kerak yang semakin tebal. Pada pembakaran batubara jenis ini yang berkadar abu 7. bagian bawah cerobong Keluar dari sistem lewat cerobong 3.

selebihnya mengendap dalam bagian-bagian tertentu dari fasilitas industri. 3. maka terjadi turbulensi di dalam lorong api utama sehingga kesempatan partikel abu untuk mengendap dalam lorong ini Gambar 3. konsumsi batubara dengan pembakar siklon 90 kg/jam dengan kadar abu batubara = 5% atau jumlah abu yang dihasilkan = 4.64 : 1.3% dari berat pupuk. abu akan berbentuk tepung padat yang akan tertiup bersama asap. dalam ruang api Lokasi c. Sebagai contoh.2. Perubahan kecepatan aliran dari dalam silinder siklon ke dalam lorong api utama dipengaruhi oleh luas penampang dan suhu dari kedua lokasi tersebut. sampah padat yang keluar dari pembakar siklon akan masuk kedalam pengering berputar dan bercampur dengan produk pengeringan. Sedangkan perubahan suhunya dari sekitar 1470°K didalam siklon menjadi sekitar 770°K didalam lorong api utama atau 1. Maka perbandingan kecepatan aliran asap didalam siklon/kecepatan asap dalam lorong api adalah 2.500 kg pupuk fosfat adalah 94 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .5 kg/jam.9 : 1.39 atau hanya berbeda sedikit. sehingga pengendapan partikel abu karena perbedaan kecepatan asap kecil pengaruhnya. maka jumlah abu yang bercampur dengan 1. karena batubara dengan abu demikian jarang didapat dipasaran. keluar silinder siklon. sebagian lagi karena menabraknya partikel-partikel abu ke suatu dinding kemudian terjatuh oleh gaya gravitasi. dalam siklon Lokasi b. bagian bawah cerobong Keluar dari sistem lewat cerobong : 60% : 0% : 20% : 3% : 5% : 12% 4. Percobaan menggunakan batubara dengan abu golongan c belum dilakukan untuk siklon dengan pemanas oli ini. dalam penampung abu Lokasi d. sebagian besar abu meleleh keluar dari dalam siklon masuk ke dalam kotak abu. semakin banyak abu yang meleleh keluar siklon. Pada penggunaannya untuk pengeringan pupuk atau semen pozolan yang berputar dalam pengering. Mekanisme pengendapan partikel-partikel abu sebagian karena perlambatan aliran asap. PEMBAHASAN Pengendapan abu bertitik leleh tinggi (abu golongan a) Abu dengan titik leleh tinggi. untuk fasilitas industri berupa ketel uap jenis pipa api. sedangkan sampah padat yang tertiup kedalam pengering berputar tidak diukur karena jumlahnya relatif kecil setelah bercampur dengan komoditas yang dikeringkan. identik penggunaannya pada pemanas oli dan ketel uap. Pembakar siklon berdiameter bagian dalam 130 cm menyalurkan api kedalam lorong api utama dari ketel uap yang berdiemeter bagian dalam 80 cm melalui moncong siklon yang berdiameter bagian dalam 60 cm.3 Pengering berputar Gambar 3 adalah skema pengering berputar (rotary dryer) dengan pembakar siklon yang menggantikan posisi pembakar solar. Jumlah abu berupa kerak yang menempel di dalam dinding siklon sekitar 60% dan sisanya tertiup dan tercampur dengan produk yang dikeringkan. proses pengeringan pupuk fosfat yang produksinya 1500 kg/jam. karena lebih cepat mengalirnya. Pembakaran harus dihentikan dan kerak dibersihkan. Sedangkan penggunaan batubara dengan abu golongan b. Perbandingan luas penampang adalah sebanding dengan kuadrat radius atau 652 : 402 = 2.64 : 1. dalam rangkaian pipa oli Lokasi e. Sebaran abu berupa kerak dan padatan lain adalah : Lokasi a. Tetapi karena perjalanan dari silinder siklon ke lorong api utama melewati moncong siklon yang diameternya 60 cm. disebabkan viskositas yang rendah. Sebagai contoh. Demikian pula untuk abu golongan c.5 kg atau 0.9 = 1.pemanas oli semakin mengecil sehingga tekanan didalam ruang siklon membesar dan aliran api ke dalam pemanas oli terhambat. Pengering berputar Pengamatan sebaran pengendapan abu hanya dapat dilakukan didalam pembakar siklon. Hanya kurang dari 10% yang tertinggal didalam silinder siklon. Semakin rendah titik leleh abu. 4.

Selanjutnya asap bergerak menuju ruang penampung abu dengan penampung yang lebih luas. atmosfer pembakaran dll (Rance. Pengendapan abu bertitik leleh sedang (abu golongan b) Abu bertititk leleh mendekati suhu operasional siklon ternyata terkumpul di lokasi tidak jauh dari pembakar siklon itu sendiri.2. sisanya 5 – 10% tersebar sampai dibawah cerobong. 5. 1975). Seperti terlihat pada Gambar 2. Dengan demikian. Penyebaran endapan abu diberbagai lokasi pengendapan dalam ketel uap telah dikemukakan di sub-bab 3. tetapi viskositasnya belum cukup untuk membuatnya mengalir mengikuti gaya gravitasi. tertiup keluar siklon. pengendapan di penampung abu dominan sebab disini berlangsung 2 mekanisme yaitu mekanisme perlambatan kecepatan asap dan tabrakan partikel asap dengan dasar dari ruang api. yaitu partikel-partikel abu yang tidak sempat mengalami aglomerasi.1 dan uraian ini menjelaskan proses yang terjadi. Banyak partikel abu yang mengendap di bagian bawah cerobong selain karena kecepatan asap melambat atau diameter cerobong yang membesar. Dengan demikian maka sebagian besar abu menempel didinding siklon sampai 60 – 75% kemudian di ruang api 10 – 20%. masuk kedalam ruang api. juga disebabkan partikel-partikel abu menabrak dinding cerobong. Abu bertitik leleh tinggi (golongan a) sebagian besar atau lebih dari 90%. dan yang terbawa sampai cerobong hanya sejumlah kecil saja. Hanya sedikit sekali yang tertiup ke luar. selanjutnya menuju cerobong. mengalir ke bawah. Pengendapan abu bertitik leleh rendah (abu golongan c) Abu jenis ini segera meleleh terpapar oleh suhu pembakaran dalam siklon. c. Keadaan ini mengakibatkan energi kinetik partikel abu menurun sehingga terkalahkan oleh gaya gravitasi dan terjadi pengendapan. Abu bertitik leleh sedang (golongan b) lebih dari 50% tertahan di dalam siklon berupa kerak. Sedangkan penggunaannya untuk pengering berputar. Sebaran abu dalam penggunaan abu bertitik leleh abu tinggi untuk pemanas oli identik dengan penggunaannya untuk ketel uap. KESIMPULAN 1. sebaran ukuran butir batubara. Abu jenis ini mulai meleleh pada suhu operasional pembakar siklon. Sumaryono 95 . lelehan abu mengalir masuk kedalam kotak abu. Partikel abu yang datang kemudian juga meleleh. Hal ini disebabkan hanya sedikit partikel-partikel abu yang dapat bertahan dalam keadaan padat pada suhu jauh diatas titik lelehnya.. Sebagian lagi yang tidak sempat menempel di permukaan siklon. sehingga permukaan dalam siklon hanya tertutup oleh lapisan tipis lelehan abu. sehingga partikel abu banyak yang jatuh selain karena perlambatan kecepatan. maka pengendapan abu dominan berada di penampung abu dan dibagian bawah cerobong.juga tidak besar. Asap berbalik. khususnya yang berupa debu halus keluar bersama asap cerobong. Sebaran abu jenis ini dipengaruhi oleh banyak faktor seperti karakteristik pembakaran batubaranya sendiri. pengendapan abu dengan mekanisme perlambatan kecepatan asap dan tabrakan partikel abu dengan dinding yang membentuk sudut mendekati 90°C dengan arah jalannya asap. melainkan bersifat lengket sehingga menempel dipermukaan dalam pembakar siklon. juga karena menabrak dinding. untuk batubara dengan 3 golongan titik leleh abu menunjukkan : a. Abu bertitik leleh rendah (golongan c) Pengaruh Titik Leleh Abu terhadap Pengendapannya pada Pembakaran . Jika viskositasnya rendah. Hanya sebagian kecil yang lolos sampai cerobong. terlempar keluar tetapi dengan ukuran yang lebih besar karena proses aglomerasi dan jatuh tidak jauh dari lokasi pembakar siklon.5 cm. b. Sisa partikel abu lainnya. Abu yang datang kemudian terus meleleh. kembali menuju ruang pengendapan abu. lengket terpapar oleh panas sehingga segera menempel pada permukaan abu sebelumnya sehingga menambah tebal tumpukan lelehan abu tersebut. Hasil pengamatan ini menunjukkan bahwa pembakaran batubara dengan pembakar siklon. dengan jumlah total di dua lokasi itu sekitar 60 70%.. Asap kemudian mengalir melalui pipa api yang berdiameter 7. Karena diameter yang kecil ini maka kecepatan asap dilokasi ini tinggi sehingga didaerah ini pertikel abu yang mengendap hanya sedikit. sifat-sifat lelehan abu. kecepatan pembakaran. sebagian besar abu tertiup keluar pembakar siklon bercampur dengan komoditas yang diproses.

H. Seminar Nasional Sustainable Alternatif Energi. 2009. LTD. Mekanisme pengendapan abu terutama disebabkan oleh : a. Xishan.. B. Yusgiantoro.G. 2.sebagian besar atau lebih dari 90%. tertiup keluar siklon dan mengendap dalam perangkap-perangkap abu seperti ruang penampung abu dan bagian bawah cerobong.. DAFTAR PUSTAKA Basuki. b. 3. Sebagian kecil tertinggal di saluran-saluran asap dan yang berukuran halus keluar melalui cerobong. Perlambatan kecepatan asap secara mendadak dan tabrakan partikel abu dengan dinding. Bandung. Singer. Sustainabilitas Energi di Indonesia Dalam 30 Tahun Mendatang.. LTD. Shell Int.C. Rance. 13 (29-33). mudah mencair dan mengalir kedalam kotak abu dan membeku. lengket melekat di dinding siklon. Semarang. Indonesian Mining Journal. 2007. Combustion Fossil Power. Coal Fired Fluidized Boiler. Boiler. Development of Cyclone Coal Burner For Fuel Oil Burner Substitution in Industries. 1975. 1991. Abu mencair karena suhu siklon jauh diatas titik leleh abu ini sehingga viskositas lelehan abu rendah... Sumaryono.P. J. c.E. 96 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Coal Quality Parameters and Their Influence in Coal Utilization. Brochure. Petroleum Co. Abu menjadi lunak tetapi viskositasnya masih tinggi sehingga bahan ini menjadi lunak. Connecticut. 2003. ABB. Abu yang mempunyai titik leleh tinggi.. Vol. meleleh didalam siklon dan kemudian mengalir kedalam kotak abu. Jakarta Changzhou Boiler Co. 12 No. 2003. P.

gotit. and brookite. Keywords : upgrading. heavy media separation. anatas. 12-30% H2O. yang dipilih berdasarkan karakteristik bijih bauksit yang akan diolah. Open pit mining followed by upgrading preceded bauxite extraction to be alumina. 623 Bandung 40211 Telp. rutile. kaolinite. alumina. hematite.6030483 Fax. proses Bayer dan Hall-Heroult ABSTRACT Bauxite is aluminum ore containing 45-60% Al2O3. bauksit. 022 . Bayer and Hall-Heroult processes Pengolahan dan Pemanfaatan Bauksit. kaolinit. Indonesia sendiri memiliki cadangan bauksit terukur lebih dari 900 juta ton yang tersebar di kepulauan Riau dan Kalimantan Barat. Bayer process is the most effective and feasible method for alumina production from bauxite. screening/classification.go. sisanya dimanfaatkan untuk pembuatan bahan kimia. dan brookit. Total cadangan bauksit dunia adalah sebesar 24 milyar ton.Total reserves of bauxite in the world were 24 billion metric tons. alumina. Lebih dari 90% cadangan bauksit diolah menjadi alumina atau logam alumunium. PAC. Alumina yang dihasilkan tersebut dibuat menjadi logam aluminium melalui proses elektrolisis Hall-Heroult. aluminum metal. aluminium. pengayakan/klasifikasi. pemisahan dengan magnetik dan media berat serta flotasi.esdm. 022 . Indonesia itself has bauxite reserve deposits more than 900 million metric tons scattered in Riau islands and West Kalimantan. rutil. and AlCl3). Husaini 97 . the rest is utilized for producing chemicals such as coagulants (alum. electrolysis. More than 90% of bauxite deposits have been treated into alumina or aluminum metal. dengan kandungan beberapa mineral pengotor seperti magnetit. antara lain koagulan (alum.6003373 e-mail : husaini@tekmira. Jend. dan AlCl3). Peningkatan mutu (uggrading) bauksit dapat dilakukan dengan cara washing & scrubbing. ilmenite. 12-30% H2O. PAC. and flotation. ilmenit. Kata kunci : peningkatan kadar. hematit. siderit. magnetic separation. elektrolisis. with several impurities minerals such as magnetite. Untuk memproduksi sebanyak 2 ton alumina atau 1 ton logam aluminium dibutuhkan bauksit rata-rata 4-5 ton. siderite. To produce 2 tons of alumina or 1 ton of aluminum metal need about 4-5 tons of bauxite in average.PENGOLAHAN DAN PEMANFAATAN BAUKSIT Husaini Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. Sistem tambang terbuka yang dilanjutkan dengan proses peningkatan kadar mendahului ekstraksi bauksit menjadi alumina.id SARI Bauksit merupakan bijih aluminium yang mengandung 45-60% Al2O3. anatase. Bauxite upgrading can be carried out by washing and scrubbing. goethite. chosen based on the bauxite character to be upgraded. The alumina produced is processed into aluminum metal through electrolysis process called Hall-Heroult. bauxite. Sudirman No. Proses Bayer adalah cara yang paling efektif dan menguntungkan untuk memproduksi alumina dari bauksit.

diperoleh data bahwa bijih bauksit asal Kijang yang semula memiliki kandungan Al2O3 antara 40.1 milyar ton. tempat pertama kali ditemukannya mineral ini oleh seorang ahli geologi bernama Pierre Berthier pada tahun 1821 (Wikipedia. Rusia.8 milyar ton (Australia).1 Scrubbing dan screening Proses scrubbing yang dikombinasikan dengan pencucian dan pengayakan untuk meningkatkan kadar alumina dalam bauksit merupakan cara yang sederhana dan cukup efektif yang sudah diterapkan secara komersial. 3. Berdasarkan data hasil karakterisasi.4 milyar ton (Guinea). metodologi yang digunakan adalah dengan cara melakukan survei literatur dari berbagai sumber antara lain hasil penelitian yang terkait dengan tema makalah baik di perpustakaan. PENDAHULUAN Bauksit merupakan bijih aluminium yang terdapat pada mineral gibbsite [Al(OH)3].757 ton (terukur) yang tersebar di kepulauan Riau dan Kalimantan Barat. atau dikapalkan ke pabrik peleburan ke berbagai negara di dunia. Venezuela. bijih bauksit berukuran makin halus mutunya semakin rendah (kandungan pengotor semakin tinggi). cadangan tereka. Afrika (Guinea). Sebelum diekstraksi menjadi alumina. Jumlah cadangan bauksit di beberapa Negara tersebut pada tahun 2001 diperkirakan sebesar 3. Di Eropa sendiri biasanya menkonsumsi bauksit rata-rata 4. 2009c). dan berbagai macam pengotor antara lain adalah magnetit (Fe3O4). Hasil tambang tersebut selanjutnya diproses menjadi alumina berdekatan dengan lokasi penambangan. PAC. 12-30% H2O. Peningkatan mutu (uggrading) bauksit yang dapat dilakukan tergantung dari karakteristik bauksitnya. sekitar 4-5 ton bauksit dibutuhkan untuk memproduksi 2 ton alumina atau 1 ton sebagai logam aluminium. internet. ilmenit (FeTiO3). Umumnya bauksit berukuran di bawah 2 mm. Sedangkan jumlah cadangan bauksit di Indonesia sendiri sebesar 907. kadar aluminanya relatif rendah dan kandungan pengotornya relative tinggi.100. Guyana). Sekitar 95% bauksit dunia diolah menjadi alumina atau logam alumunium (Anonim. Asia (Indonesia. Cara penambangan yang diterapkan di berbagai belahan dunia umumnya dengan sistem tambang terbuka (80%) dengan kapasitas produksi >100 juta ton bauksit tiap tahun. dan AlCl3). India. China). 2007b). maupun hasil penelitian yang dilakukan sendiri.000 ton (Bangka). METODOLOGI Untuk menyusun makalah ini. TEKNOLOGI PENGOLAHAN DAN PEMANFAATAN BAUKSIT 3. oleh karena itu produk hasil scrubbing dan pencucian yang diambil adalah fraksi ukuran di atas 2 mm. antara lain koagulan (alum. anatas. kaolinit (H4Al2Si2O9). 2002).5048. 680 juta ton (Suriname). Penghasil bauksit utama dunia adalah Australia (lebih dari 40 juta ton/tahun).1 ton untuk memghasilkan 1 ton logam aluminium (Anonim. hematit (Fe2O3). beberapa di antaranya yang akan dibahas disini adalah scrubbing dan screening. pengayakan/klasifikasi. pemisahan dengan magnetik. 2009a).9 milyar ton (Brazil). 2007b). bauksit dari tambang terlebih dahulu ditingkatkan kadarnya.500. 2 milyar ton (Jamaika). mengingat bauksit dari tambang memiliki ukuran butir yang bervariasi dan tiap fraksi ukuran memiliki komposisi kimia yang berbeda-beda. 720 juta ton (China). Dari percobaan yang telah dilakukan.sebesar 3.1. gotit (FeO(OH)). beberapa di antaranya adalah cara washing & scrubbing. dan brookit (TiO2) (Anonim. Alumina yang diperoleh dari proses Bayer. Kazakhstan dan Eropa (Yunani). siderit (FeCO3). 20 juta ton (USA). dan cadangan hipotetik sebesar 13. 2. 3. 700 juta ton (Guyana). 7. setelah melalui scrubbing –screening 98 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Negara lainnya 4. kemudian dibuat menjadi logam aluminium melalui proses elektrolisis Hall-Heroult. Istilah bauksit diambil dari nama daerah pedesaan Les Baux-de-Provence dibagian selatan Perancis. (Husaini dan Wijayanti. Brazil. 2009d). Surinam. Kemudian dari data yang terkumpul dilakukan evaluasi dan pembahasan yang akhirnya sampai kepada kesimpulan. dan flotasi. pemisahan dengan media berat. sehingga total cadangan dunia sebesar 24 milyar ton (Wikipedia.843. rutil. Amerika Tengah dan Selatan (Jamaika. 200 juta ton (Rusia).36 %. Proses Peningkatan Mutu Ada beberapa cara yang sudah umum diterapkan dalam peningkatan kadar bauksit. 320 juta ton (Venezuela). sisanya dimanfaatkan untuk pembuatan bahan kimia.000 ton (Bangka). 3. pemisahan dengan magnetik dan media berat serta flotasi. 770 juta ton (India). Bauksit umumnya mengandung 45-60% Al2O3.1. Berdasarkan data ratarata di dunia. sisanya yang 20% dengan tambang bawah tanah sampai kedalaman 70 m dibawah permukaan tanah. Cara ini relatif baik untuk meningkatkan kadar alumina. boehmite atau diaspore (AlOOH).1.

3 Pemisahan dengan media berat Prinsip pemisahan dengan media berat adalah dengan memanfaatkan perbedaan berat jenis mineral-mineral yang akan dipisahkan. Penggunaan pembusa adalah untuk menstabilkan gelembung udara supaya tidak mudah pecah.66% dan rasio konsentrasi 78. Dari data hasil poercobaan dengan menggunakan bauksit berukuran -100+200 mkesh dan waktu pengendapan 20 menit menunjukkan adanya peningkatan kadar Al2O3 dan penurunan kadar Fe2O3 dibandingkan dengan keadaan kadar awalnya. Produk yang ketiga terdiri dari campuran besi dan silika yang umumnya cocok untuk material pengisi.59). Perbedaan sifat permukaan suatu mineral dengan mineral lainnya dapat terbentuk dengan menambahkan zat aktif permukaan (kolektor).yang didahului peremukan diperoleh produk dengan kadar Al 2 O 3 antara 50.2 Pemisahan dengan magnetik Mineral-mineral bersifat magnetik seperti besi oksida yang terkandung dalam bijih bauksit ataupun tailing hasil ekstraksi bijih bauksit dapat dipisahkan dengan pemisah magnetik (magnetic separator). depressant. Perolehan alumina yang didapat dari proses scrubbing tersebut berkisar 82.78-89. pengatur pH).14 %. Sebagai contoh.1. sementara produk kedua berupa material non magnetik yang mengandung silika yang tiggi (93% SiO2) yang pemanfaatannya sangat sesuai untuk konstruksi beton.34 % dan kadar Fe2O3 30. Di India. dengan menggunakan bromoform dengan berat jenis 2.8 % dan Fe2O3 9. Sedangkan untuk tailing bauksit berkadar Al2O3 42. proses benefisiasi untuk peningkatan kadar alumina dalam bauksit juga dilakukan dengan cara peremukan yang dilanjutkan dengan pengayakan cara kering untuk menurunkan kandungan silikanya (Nandi.1. 2003). Dengan demikian hematit akan tenggelam karena berat jenisnya lebih tinggi dari berat jenis bromoform. Mineral yang lebih rendah berat jenisnya daripada berat jenis media berat (heavy liquid) akan terapung.12 %. Husaini 99 . 2007). 2007a).25 % dan Fe2O315 %. setelah dilewatkan pemisah magnetik pada kondisi 5 Am-1. sedangkan bagian yang tenggelam memiliki kadar Al2O3 sebesar 12.97 %. telah dihasilkan produk non magnetik (70% berat) dengan kadar Al2O3 53. 3.59. yang sebelumnya dipanaskan pada suhu 450 o C.4 Flotasi Flotasi merupakan salah satu cara pemisahan yang memanfaatkan perbedaan sifat kimia-fisika permukaan dari berbagai macam partikel mineral. sebaliknya mineral yang lebih besar berat jenisnya akan tenggelam. Penerapan teknologi pemisahan secara magnetik tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan dalam mengatasi permasalahan penumpukan red mud yang dihasilkan yang besarnya berkisar antara 40-50%) dari berat bijih bauksit yang diolah melalui proses Bayer.. Sedangkan depres- Pengolahan dan Pemanfaatan Bauksit.42-84.05%.18 % dan kadar Fe2O3 7. Dari uji coba yang telah dilakukan terhadap tailing bijih bauksit (komposisi kimia 48.53-53. 3.35%.41 % (Husaini dan Wijayanti. Jadi kualitas (bauksit) setelah dipisahkan lebih baik dibandingkan sebelum dipisahkan yang mempunyai komposisi kimia awal Al2O3 48 % dan Fe2O3 15 % (Husaini dan Soenara. maksimum 3% silica reaktif dan maksimum 7% Fe2O3).93 .98 % Al2O3 dan 11. Salah satu produknya berupa material magnetik (besi oksida) yang memiliki kadar Fe 40%. Salah satu mineral yang memiliki komponen oksida besi adalah tailing hasil pencucian bauksit Pulau Kijang yang besarnya berkisar antara 9. produk terapung memiliki kadar Al2O3 sebesar 55. 2004). dengan kondisi pemisahan yang sama dihasilkan produk non magnetik (58 % berat) dengan kadar Al2O3 57.65 dan media berat (bromoform 2. sedangkan bauksit yang berat jenisnya lebih rendah dari berat jenis bromoform akan mengapung.89 dan pengencer karbon tetra klorida 1.49 % Fe2O3).16. (2006) terhadap mineral red mud yang dihasilkan dari ekstraksi bijih bauksit dengan soda kostik pada kondisi intensitas rendah dan intensitas tinggi cara basah. dan regulator (activator. Dalam hal ini mineral besi (hematit) memiliki berat jenis sekitar 7. sehingga kadar alumina dalam bauksit yang mengapung meningkat.67% (persayatan bahan baku untuk proses Bayer adalah di atas 51% Al2O3.8% (Husaini dkk. Mineral yang terlapisi kolektor akan bersifat hidrofobik (suka udara) sehingga mudah menempel pada gelembung udara dan dapat diapungkan. Teknik pemisahan dengan magnetik ini telah dilakukan juga oleh Jamieson dkk. Bahan kimia lainnya yang digunakan adalah pembusa (frother). bauksit 2.82% dan penurunan kadar Fe2O3 sebesar 2.7 %. 2002). 3.1. dan Fe2O3 9. Cara lain untuk mendapatkan kadar bauksit yang memenuhi syarat dan konsisten adalah dengan mencampurkan (blending) bauksit kadar rendah yang sudah diolah dengan yang kadarnya lebih tinggi (Anonim. ini berarti terjadi peningkatan kadar Al2O3 sebesar 4.

(3) hidrolisis parsial larutan sodium aluminat pada suhu rendah untuk mengendapkan 100 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . ratio alumina/silika 12. Penelitian sejenis mengenai peningkatan kandungan diaspore dengan flotasi balik untuk memisahkan mineral pengotor juga dilakukan oleh Zhenghe Xu (2004). Konsentrat bauksit yang mengandung mineral gibsit. Operasi berikut dilakukan secara berurutan yaitu (1) pelarutan alumina pada suhu tinggi. (2008) telah melakukan penelitian yang inovatif mengenai peningkatan kadar gibsit dengan cara flotasi balik yang menghasilkkan bauksit jenis metalurgi. Konsentrat yang dihasilkan dari percobaan skala bench scale memiliki ratio Al/Si sebesar 9. Ekstraksi bauksit secara komersial pertama kali dilakukan oleh Sainte-Claire Deville di Perancis tahun 1865. Alumina dapat diperoleh dari ekstraksi bauksit dengan soda kostik. tetapi cara ini tidak digunakan lagi setelah ditemukan proses baru (Bayer) oleh ahli kimia Austria tahun 1887. besi. Kolektor jenis dimer tersebut menunjukkan daya pengumpul yang lebih baik dibandingkan kolektor jenis monomernya. Hasil percobaan skala pilot pada kondisi pH optimum sekitar 10 menghasilkan konsentrat mutu metalurgi dengan kadar alumina 42. daya apung terhadap kaolin lebih baik daripada ilit dan piropilit dalam selang pH tertentu. Proses Bayer merupakan cara yang paling ekonomis yang memanfaatkan reaksi antara alumunium trihidroksida dan aluminium oksida dengan soda kostik membentuk sodium aluminat. piropilit dan kaolinit. Hasil penelitian lainnya (Liuyin Xia. sehingga diaspore dapat ditekan (tidak ikut mengapung). Penyerapan CPAM pada seluruh permukaan kristal diaspore mencegah spesi kation DDA untuk terserap pada permukaan diaspore.25%. selanjutnya ditingkatkan lagi kadarnya melalui pemisahan secara magnetik menghasilkan kadar alumina 54%. pemisahan cara flotasi terhadap beberapa mineral pengotor yang terkandung dalam bauksit (diaspore) yang dilakukan pada pH antara 9-10 menghasilkan seletifitas yang signifikan terhadap ilit. Reaksi kesetimbangan mengarah ke kanan dengan meningkatnya konsentrasi soda kostik dan suhu. 2007). Kalau yang diapungkan mineral yang tidak dikehendaki prosesnya disebut flotasi balik (reverse flotation). Lebih dari itu.2. Ketiga jenis kolektor tersebut menunjukkan selektifitas yang tinggi terhadap diaspore. Kemampuan adsorpsi grup kation CPAM pada permukaan kaolinit yang bermuatan negatif diperlemah oleh induksi dan efek sterik senyawa metil dalam gugus CH2N+(CH3)3 yang membuat CPAM memiliki pengaruh yang kurang signifikan pada adsorpsi DDA pada permukaan kaolinit. Bahan yang diflotasi berupa tailing hasil proses scrubbing dan desliming yang kandungan kuarsanya relatif tinggi. piropilit dan ilit dari bauksit jenis diaspore.ù-bis (dimethyl dodeculammonium bromide) dalam flotasi balik telah berhasil memisahkan mineral mineral kaolinit. (2) pemisahan dan pencucian pengotor yang tidak larut (red mud) untuk mendapatkan alumina terlarut dan soda kostik. dkk. Massola dkk. 3. seluruhnya dihasilkan dengan memproses bauksit melalui proses Bayer.. Hasil penelitian yang didapat menunjukkan peningkatan ratio alumina/silika dari <6 menjadi >10.3% dan ratio alumina/silika sebesar 11. dan titan. Pengaruh gugus kationik dari kolektor rantai karbon 12 (12-carbon chain collectors) telah diteliti oleh Hong Zhong.1.6 dan total perolehan alumina dalam konsentrat akhir (produk non-magnetik) sebesar 69. Total produksi alumina dunia sebesar 40 juta ton pada tahun 1995. dodecyl trimethyl ammonium chloride (DTAC) atau dodecylguanidine sulfate (DDGS) adalah layak pada kondisi alkalin kuat. Kanji (starch) digunakan sebagai depressant dan ether-amine sebagai kolektor kationik. Penelitian mengenai penggunaan kolektor-kolektor yang efektif untuk pemisahan mineral pengotor (lempung) dan depressant untuk menekan diaspore asal China juga telah dilakukan. Flotasi balik juga berhasil dilakukan untuk memisahkan kaolinit dari diaspore dengan menggunakan kolektor dodecylamine (DDA) dan depressant cationic polyacrylamide (CPAM) pada pH 5.5 (Guangyi Liu. dan DDGS merupakan kolektor terbaik dibandingkan dengan DDAC dan DTAC dalam memisahkan mineral alumino silikat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemisahan diaspore dari mineral-mineral alumino silikat dengan menggunakan kolektor kation dodecylamine chloride (DDAC).sant berfungsi untuk menekan agar mineral yang tidak diinginkan tidak ikut mengapung. 2009) menunjukkan bahwa penggunaan kolektor kationik (zat aktif permukaan) jenis butane-á. 2007).72 dan perolehan Al sebesar 81.5–8. Bila ditambahkan depressant kanji (corn starch). Hal ini dilakukan agar bauksit yang sebelumnya mengandung alumina yang rendah dapat ditingkatkan kadarnya sampai memenuhi syarat sebagai bahan baku untuk proses Bayer. dkk. piropilit dan ilit dari diaspore.3%. Pembuatan Alumina Hidrat/Alumina Alumina (Al2O3) adalah material halus berwarna putih mirip dengan garam (Anonim. (2008) untuk memisahkan mineral kaolinit.

Produk antara ini kemudian dibentuk di pabrik pemrosesan yang mengubah aluminum menjadi produk akhir (consumer products). Hasil ekstraksi ini berupa lumpur yang mengandung larutan aluminium sulfat yang masih bercampur dengan senyawa besi dan residu yang tidak larut. plates. Larutan yang sudah dipisahkan dari residunya.1 Dari bauksit (asli/bauksit tercuci/ tailing) Semua mineral yang mengandung unsur aluminium termasuk bauksit dapat digunakan untuk pembuatan koagulan (alum. Fe2O3 15.49 % digunakan untuk uji coba tersebut. foil. Lelehan aluminium selanjutnya dicetak menjadi ingots.4 %.8 (untuk alum komersial rationya 34-35) dan bauksit dengan kadar A12O3 62.55 % dan Fe2O3 2-2. 1999). Reaksi kimia yang terjadi adalah sebagai berikut: Al2O3 + 3H2SO4 Fe2O3 + 3H2SO4 Al2 (SO4) 3 + 3H2O Fe2 (SO4) 3 + 3H2O Gas asam florida umumnya dibuat dari acid-grad fluorspar dan asam sulfat dengan reaksi sbb : CaF2 + H2SO4 2 HF + CaSO4 Pada proses elektrolisis ini oksigen yang terikat pada alumina bereaksi dengan elektroda karbon menghasilkan gas karbon dioksida dan logam aluminium. dan ukuran butir bauksit.00 % dan Al2O3 48.98 %. Setiap ton aluminium membutuhkan 0. suhu 100°C. Penelitian yang telah dilakukan oleh Acquah. suhu pelarutan.2 Dari alumina hidrat Alumina hidrat [Al (OH)3] dapat dibuat menjadi tawas [Al2(SO4)3] maupun poly aluminium chloride (PAC). 2009a). nisbah asam 1:4.53 % dan Fe2O3 0. konsentrasi asam 40 %.4.71 %. atau dengan mereaksikan asam florida dengan soda kostik dan alumina dengan reaksi sbb : 12 HF + 6 NaOH + Al2O3 2 Na3AlF6 + 9 H2O (1999) menghasilkan kondisi optimum sebagai berikut: ukuran partikel 7+14 mesh. (4) regenerasi larutan untuk didaur ulang ke tahap (1) dengan penguapan air yang dimasukkan saat pencucian. Fe2O3 11.49-12. kemudian direduksi dengan logam Al sambil dipanaskan sampai terjadi perubahan warna dari coklat menjadi hijau muda dengan densitas tertentu (1. Proses ini mengkonsumsi energi sangat tinggi.3% dan Fe2O3 3% adalah cocok untuk pembuatan alaum. Pembuatan Koagulan 3. Pembuatan Logam Aluminium Bila alumina (Al2O3) yang diperoleh dari proses Bayer tersebut dipanaskan lebih lanjut sampai suhu 1000 °C dengan bantuan bahan pelebur (cryolite . dkk. 3.3. nisbah padatan dengan larutan 1:12. Sedangan tawas bening yang dihasilkan mempunyai kadar Al2O3 9. PAC dll).5 ton anoda karbon. atau rod. nisbah padatan dengan larutan. Pada kondisi optimum ini ratio alumina yang didapat sebesar 34. Secara umum sekitar 1 ton alumina dapat dihasilkan dari 2 ton bauksit. Husaini 101 . dan (5) mengubah trihidroksida menjadi alumina anhidrat melalui kalsinasi pada suhu 1450 oK (Anonim. waktu pelarutan. 2009a) : 6 HF + 3 NaAlO2 Na3AlF6 + 3 H2O.25 %. Penelitian pembuatan alum dari bauksit berukuran -100 mesh dengan menggunakan asam sulfat konsentrasi (30-40 %) di dalam reaktor berpengaduk pada suhu 100 o C dan lama pengadukan sekitar 60 menit juga telah dilakukan oleh Husaini (2007).4. Dalam pembuatan koagulan ini ada beberapa parameter yang berpengaruh di antaranya adalah konsentrasi asam. 3. Selain itu telah dibuat juga tawas butek [Al 2 (SO4 ) 3. (Acquah. 3. Cryolite sintetik umumnya dibuat dari asam florida dan sodium aluminat (hasil proses Bayer) dengan persamaan reaksi sbb (Anonim. rolled into sheets.40. bars. Hasil pelarutan bauksit dengan asam sulfat mencapai persen ekstraksi Al 2O 3 dan Fe 2 O 3 tertinggi masing-masing sekitar 99 % dan 65 % pada ukuran butiran 87.5-2.92-11. lama pelarutan 1 jam. dan suhu 100oC.04% lolos100 mesh. dkk.5 g/ml). waktu 6 jam.4. Dua jenis bauksit Kijang dengan komposisi Al2O3 42. maka alumina akan meleleh dan tereduksi menjadi logam aluminium yang dikenal sebagai proses Hall-Héroult.alumunium trihidrat. Produk tawas butek yang dihasilkan mempunyai kadar Al2O3 9. Kristal yang terbentuk dipisahkan dari filtrat yang masih tersisa. Larutan hasil reduksi selanjutnya ditambah amonia (kadar 21 %) menghasilkan kristal berupa garam rangkap [Al2(SO4)3 (NH4)2SO4xH2O] dengan kadar Al2O3 antara 11-14 %. Pembuatan tawas dari alumina hidrat Pengolahan dan Pemanfaatan Bauksit.Na3AlF6). x H 2O] setelah besi dalam larutan diturunkan terlebih dahulu dengan penambahan larutan Na2S.

4. <0. 0.0015% P2O5. alum.3.001-0. rel kereta api. dan panel bodi). Logam Aluminium Proses pemanasan larutan dilanjutkan untuk menguapkan air sampai berat jenis tertentu. Alumina dapat juga dijadikan bahan kimia (aluminium sulfat..35% SO4. dan Aluminum. Di sektor listrik. Alumina Hidrat Alumina hidrat dapat digunakan untuk pembuatan berbagai jenis bahan kimia antara lain tawas. <0. Soaking Pits. Bauksit dapat digunakan untuk pembuatan berbagai jenis bahan kimia antara lain alumina hidrat. <0. 1998. Open Hearth. maka semakin tinggi kandungan aluminanya. Kadar alumina dalam tawas tergantung pada kadar air yang terkandung. semen. 0. konstruksi.001-0.005-0. aluminium digunakan dalam bentuk produk lembaran untuk atap dan dinding. aluminium digunakan dalam kendaraan bermotor (blok mesin. Alcoa melaporkan penemuan bubuk alumina spesial untuk sistem pembuangan otomatis (auto exhaust system) dan ampelas halus (fine abrasives). tawas. 9% Cl. karena tidak dihasilkan residu sebagaimana yang diperlihatkan dalam pelarutan bauksit.020% Fe2O3. jendela dan pintu dan dicetak menjadi peralatan keras (builders’ hardware).0050. 2009).1. semen. Tundishes. besi klorida.50% Na2O. ampelas (abrasive) dan refraktori. pengepakan. Sedangkan dalam pembuatan PAC.025% SiO2.7% Al2O3 (by diff.4.. kemudian didinginkan sampai mengkristal. 4. alumina hidrat direaksikan dengan asam klorida dan asam sulfat sampai alumina hidrat larut sempurna. kepala silinder. Reheat/Soaking Pits. Penemuan produk khusus yaitu alumina aktif yang digunakan untuk menghilangkan kontaminan dari proses pengilangan minyak.ini prosesnya sederhana yaitu dengan melarutkan alumina hidrat dengan asam sulfat pada suhu 100°C sampai larut sempurna. aluminium digunakan dalam bentuk lembaran paduan untuk kaleng minuman. 0. fero sulfat. 4. dan poli aluminium silikat sulfat (PASS). lembaran untuk keperluan rumah tangga dan pembungkus komersial. keramik. Alumina Alumina merupakan produk komoditas yang dapat digunakan antara lain untuk (Steven dkk.005-0. 102 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . aluminium digunakan dalam bentuk kawat yang diperkuat dengan baja membentuk kabel listrik. untuk membuat produk pengepak seperti karton untuk jus buah-buahan dan obat-obatan. katalis. <0. Kemudian ke dalam campuran ditambahkan kapur untuk menurunkan pH sampai 4. 1998) adalah 99. 4.015% Ga2O3. Komposisi tipikal alumina (Steven dkk. Anonim 2007a): Aluminium merupakan salah satu logam yang sangat penting dan digunakan secara luas di sektor transportasi.0010.003% V2O5. penghambat kebakaran (fire retardant). Di sektor pengepakan. pasta gigi.30-0. Cement.20% SO3. maka PAC cair dikeringkan dengan menggunakan spray drier pada suhu tertentu. 2009b): Di sektor transport. marmer sintetik.3-99. 1. Bila diinginkan produk berupa bubuk.040% CaO. dilanjutkan dengan penyaringan. Torpedo Cars. dan logam aluminium (Patricia. dan proses pengolahan gas alam.005-0.008% TiO2. truk dan bus (lembaran dan plat untuk bodi). dan pesawat terbang. aluminium fllorida. 0. < 0. PENGGUNAAN BAHAN BERBASIS ALUMINA 4. Di sektor konstruksi. pabrik petro kimia. alumina. dan refraktori. zeolit sintetik. Electric Arc furnaces. bahan abrasif.). Larutan jernih hasil penyaringan ini merupakan PAC cair yang spesifikasinya adalah sbb: 12% Al2O3. dan listrik (Anonim.010% ZnO.0001-0. bauksit digunakan untuk pembuatan Blast Furnaces. rumah tranmisi. Persamaan reaksi kimia yang terjadi adalah sbb : 2Al (OH)3 + 3H2SO4 Al2 (SO4) 3 + 6H2O Bahan baku proses elektrolisis Hall-Heroult untuk memproduksi logam Al Pembuatan bahan kimia tertentu seperti :busi (spark plugs). AlCl3. <0. Bauksit Asli/Bauksit Tercuci Secara tradisional. aluminium klorida).050. poli aluminium klorida (PAC). Iron/Steel Ladles. tanpa proses penyaringan. refraktori.2. semakin rendah kadar air kristalnya.

Alumina. http://www. bauxite Supplier. Central South University.net/africantech/GhIE/Awaso 1. http:/ /home.. Sudirman No. Pengurangan Kadar Besi Dalam Bauksit P. htm. Bauxite Mineral.ac. KESIMPULAN Potensi cadangan bauksit di Indonesia relatif besar. dan Tayan (Kalimantan Barat) yang jumlahnya tidak kurang dari 900 juta ton. 623 Bandung.Accra.htm. Jend. Obeng Y. Institute of Chemistry and Chemical Engineering. Liuyin Xia. Peningkatan Kualitas Bauksit dari Pulau Kijang dengan Magnetik Separator Cara Basah. Liuyin Xia. School of Chemistry and Chemical Engineering. Shenggui Zhao and Xinyang Yu.mtm. Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral. Kwinana. Institute of Industrial Research. 2009. D. Guangyi Liu. Changsha 410083. Penelitian Pendahuluan Pembuatan Tawas dari Bauksit Kijang. Hong Zhong.au/.com. May 1999. Central South University. China. Pemilihan cara pengolahan tersebut tergantung pada karakteristik (di antaranya kandungan mineral pengotor) bijih bauksit yang diolah. Bauxite Information.5. diakses 17 Juni 2009 Anonim. dan listrik. Stockton. Husaini. Alcoa World Alumina. diakses 30 April 2007 Anonim. E. Aluminium. PR China. 2007. Flotation separation of diaspore from kaolinite. the free encyclopedia. Jones. Ghana. Changsha 410083. Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara.The European Aluminium Association. Magnetic separation of Red Sand to produce value. WA 6966. Australia. Yiping Lu. 2007b.CSIR.. 2009b. Yuehua Hu. Cooling and N. 2007a. Mensah B.doc. 2002. Zhiqiang Huang and Qingwei Chang. http:// www. diakses 30 April 2007 Anonim. Production of Alum From Awaso Bauxite. Balitbang energi dan sumberdaya mineral. 2007. WA. Alumina Process. 2009a. Technology Delivery Group. ionic polyacrylamide in the reverse flotation of diasporic bauxite. Hong Zhong. Central South University. Central South University. A. School DAFTAR PUSTAKA Anonim. Husaini dan Wijayanti. Bauxite – Wikipedia. 2007.com/suppliers asp?. tersebar di Kijang (Riau). htm. Husaini 103 . China. Guangyi Liu.. Yuehua Hu. Shenggui Zhao and Liuyin Xia. 2008.qal. R. Perth. 2006. School of Minerals Processing and Bioengineering.azon. Bahan Galian Industri. Changsha 410083.be/Education/ N o n M a t I r C o u r s e s / M a t / 5 c%20aluminium. Institute of Minerals Processing and Bioengineering. Hong Zhong. published in the Ghana Engineer. konstruksi.att. Guangyi Liu. PR China. Bauksit tercuci dapat dikonversi menjadi alumina melalui proses Bayer dan bila diolah lebih lanjut dengan cara elektrolisis menghasilkan logam aluminium yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan di antaranya di sektor transportasi. Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara. aluminium and bauxite. The role of cat- Pengolahan dan Pemanfaatan Bauksit. Peningkatan Kadar Bijih Bauksit Kijang Dan Tayan Dengan Metode Scrubbing. Proses peningkatan kadar yang dapat digunakan ada beberapa macam antara lain scrubbing.. P. Laporan Kegiatan Proyek Kelompok Program Teknologi Pengolahan Mineral. namun yang sudah diterapkan di Indonesia sampai saat ini hanya dengan cara pencucian dan scrubbing diikuti pengayakan dengan ukuran produk + 2 mm.. Jamieson. Box 161. 2008. diakses 17 Juni 2009 Acquah F. Kijang Dengan Cara Pemisahan Menggunakan Media Berat (Heavy Media Separation). Husaini dan Trisna Soenara. 2003. diakses 17 Juni 2009 Anonim.O. 2009d. pengepakan. Changsha 410083.. Uses of bauxite. Curtin University of Technology. Flotation separation of the aluminosilicates from diaspore by a Gemini cationic collector. Pusltbang tekMIRA Jl. Husaini dkk. 2009c. http:// www. pemisahan dengan magnetik dan media berat serta flotasi. diakses 17 Juni 2009 Anonim.kuleuven. Australia. pyrophyllite and illite using three cationic collectors.

Miraí Department. 2008. Tianjin 300072.nsf/ProductLookupItemID/JOM-980534/$FILE/JOM-9805-34F.. Alta.org/ezMerchant/ prodtms. Minerals and Metals Division. 2004. Mello Moraes Av. Steven F.usgs. Canada T6G 2G6. Nandi. Tianjin University. PR China. 05508-900 SP.pdf?OpenElement.pdf. diakses Juni 2009. 2004. Separation of silica from bauxite via froth flotation. Chaves. and Andrade. INDIA. 2009..B. McGrath and Lawrence C. Department of Chemical and Materials Engineering. Miraí 36790-000.R. PR China. Farrar. Edmonton. J. Changsha.. MG. USP. Brazil.. Suraksha Apartments.tms. A.P. MFC Commodities India 104-B. Recent advances in reverse flotation of diasporic ores– –A Chinese experience. Present Status Of BauxiteAlumina Industry Of India. bSchool of Chemical Engineering and Technology. Prof. Zhenghe Xu.F. Sonochemical Technology for Processing Bauxite. Plunkert. Bauxite And Alumina. C. Verne Plitt and Qi Liu. Amravati Road Nagpur-440033. 16. 2373.gov/minerals/pubs/commodity/bauxite/090495. http://minerals. Massola. 536 Chemical-Mineral Engineering Building.of Chemistry and Chemical Engineering. 104 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . University of Alberta. Brazil. 410083. Central South University.P. http://doc. aDepartment of Mining and Petroleum Engineering–Escola Politécnica. Patricia A. K. C. A. Lima. 1998. Fazenda Chorona.. Companhia Brasileira de Alumínio. Hindustan Colony.

PRESENTASI MAKALAH PARALEL III .

proses yang berlangsung merupakan gabungan dari proses amalgamasi dan sianidasi. Kurangnya pengetahuan dan keterampilan para penambang emas rakyat menyebabkan limbah tailing dari bijih emas berbentuk halus yang masih mengandung emas dan bulir Hg langsung dibuang ke perairan. Lutfi dan Retno Damayanti Psat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl.KARAKTERISASI MERKURI DALAM SEDIMEN DAN AIR PADA PENGOLAHAN TAILING AMALGAMASI DI KEGIATAN PERTAMBANGAN EMAS RAKYAT SECARA SIANIDASI (STUDI KASUS KUD PERINTIS. WAC 172 – 204 – 320). retnod@tekmira.0. Kabupaten Bolaang Mongondow. tambang emas skala kecil yang dikelola KUD Perintis mengalihkan proses pengolahan emas dari secara amalgamasi cara sianidasi untuk meningkatkan perolehan bijihnya.id. (022) 6030843 Faks. Konsentrasi Hg di air berkisar antara (0. Pada saat ini. Konsentrasi Hg pada sedimen yang berkisar pada 0. Sudirman 623 Bandung 40211 Telp. Dampak negatif kegiatan pengolahan tailing amalgamasi dengan cara sianidasi diamati melalui kondisi kualitas perairan dan sedimen disekitar lokasi pengolahannya. merkuri.id SARI Pengolahan bijih emas pada pertambangan emas rakyat umumnya dilakukan dengan proses amalgamasi menggunakan merkuri (Hg).go.0. M. pertambangan emas rakyat Karakteristik Merkuri dalam Sedimen dan Air pada Pengolahan . yakni mengolah tailing yang berasal dari proses amalgamasi dengan cara sianidasi.esdm. Kondisi ini telah melewati baku mutu yang diperbolehkan dalam (Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air Kelas II dan KEP202/MENLH/2004 tentang Baku Mutu Limbah Bagi Kegiatan Pengolahan Bijih Emas dan/atau Tembaga. Jend. Tetapi kadar merkuri di sedimen itu dapat meningkat seiring turunnya merkuri di air ke dasar sungai.esdm. Propinsi Sulawesi Utara.034 mg/L) pada semua lokasi penelitian yakni di daerah hulu. sehingga produk yang dihasilkan sangat rendah dan dapat menimbulkan pencemaran yang tinggi. tailing. Lutfi dan Retno Damayanti 105 .20 ppm di semua lokasi penelitian belum melewati ambang batas aman terhadap racun yang ada (sesuai Washington state Sediment.go. Kata kunci : pertambangan rakyat. dan hilir.. (022) 6003373 e-mail : lutfi@tekmira. amalgamasi.01 . outlet pengolahan.17 . DAERAH TANOYAN SELATAN) M.. Di Kecamatan Lolayan.

But sometimes they were combined both of the two methodes by processing the amalgamation tailing with cyanidation methode. the mercury concentration has exceeded the standard mentioned in Government Regulation No. Unfortunately. seperti Cu. 2004). cyanidation. At Lolayan in the Bolaang Mongondow district. miners usually dispose tailing that contains gold and mercury directly to the water.0. Merkuri (Hg) yang dipakai dalam pengolahan ini termasuk dalam kategori B3 (Rachmat Yusuf. tambang rakyat di Sulawesi Utara mengubah sistem pengolahannya dengan menggunakan proses sianidasi baik untuk mengolah bijihnya ataupun ampas pengolahannya yang masih mengandung emas. the small scale goldmining whichmanaged by KUD Perintis change gold processing from amalgamation to cyanidation methode to improve gold ore receipt. Mercury concentration in water was found in the range of 0. Sebagai contoh.ABSTRACT Artisanal gold mine generally proceeds in amalgamation process. The negative impacts of cyanidation process to the amalgamation tailing was conducted by observe the water quality and its sediment surrounding the processing area. Usaha pertambangan oleh sebagian masyarakat sering dianggap sebagai penyebab kerusakan dan pencemaran lingkungan. North Sulawesi. tailing. gold artisanal mining 1. Mercury concentration in the sediment found in the range of 0. pengolahan bijih emas dilakukan melalui proses amalgamasi dengan merkuri (Hg) sebagai media untuk mengikat emas. WAC 172-204-320). pada kegiatan usaha pertambangan emas skala kecil. Dalam laporan Komisi Sedunia tentang Lingkungan dan Pembangunan (WCED. Meskipun sebagian besar sianida dalam proses pengolahan ini dapat dimanfaatkan kembali. air larian dari penyaringan kompleks emas sianida masih tetap mengandung senyawa beracun ini meski dalam 106 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Proses sianidasi untuk tailing pengolahan dipakai untuk meningkatkan perolehan produknya. Sebagai akibatnya.034 mg/L. menyebabkan limbah yang berupa ampas pengolahan (tailing) yang dihasilkan masih mengandung emas dan butir-butir Hg yang biasanya langsung dibuang ke perairan. menimbulkan juga dampak negatif karena tailing amalgamasi masih mengandung merkuri dan logan ikutan lainnya. Of course it will produce low gold recovery and cause high risk in environmental pollution. Adanya interaksi ion Hg dengan CN akan mempermudah kelarutan. 82/2001 about Water Quality Assessment and Water Pollution Handling Class II and in the Decree of Environment Ministry KEP-202/MENLH/2004 about Waste water standard for Gold/Copper Processing. Secara umum proses sianidasi pada pengolahan bijih emas pada pertambangan emas rakyat dilakukan pada kondisi basa. 1987) pembangunan berkelanjutan didefinisikan sebagai “pembangunan yang mengusahakan dipenuhinya kebutuhan sekarang tanpa mengurangi kemampuan generasi yang akan datang untuk memenuhi kebutuhan mereka” (www. But mercury concentration could become increased as the mercury Keywords : amalgamation. Those happened in almost entire waters from upstream to downstream.fathom. Namun proses sianidasi ini. Due to the lack of skill and knowladge. Kurangnya pengetahuan dan keterampilan para penambang. Zn. These are still in the permitted concentration range (based on Washington state Sediment. Berdasarkan kenyataan tersebut. sehingga diperkirakan bahaya yang ditimbulkan akan lebih tinggi. perolehan hasil akhir (produk) yang didapat sangat rendah. penyebaran dan termetilasi (pembentukan metil-Hg). Pb. PENDAHULUAN Salah satu tujuan pembangunan nasional yang berwawasan lingkungan adalah terciptanya keserasian hubungan antara manusia dengan lingkungan alam sekitarnya dengan cara pembangunan yang berkelanjutan.17 0.01 . Oleh karenanya pengelolaan bahan galian harus diupayakan secara optimal sesuai denganazas konservasi dan berwawasan lingkungan dengan menekan dampak negatif yang ditimbulkan seminimal mungkin.com).20 ppm in all sampling location.

Berbeda dengan kontaminasi yang umumnya terjadi di lingkungan.. Pada kegiatan tambang rakyat yang dilakukan di KUD ini. Tahapan-tahapan proses pengolahan dengan sistem sianidasi dapat dilihat pada Gambar 1. Penelitian ini hendak melihat karakteristik merkuri yang berasal dari tailing amalgamasi yang diolah dengan cara sianidasi. penurunan kualitas air permukaan yang disebabkan oleh adanya logam-logam berat terlarut akibat proses sianidasi merupakan parameter yang akan dominan diamati. Lutfi dan Retno Damayanti 107 . Di samping itu apabila kreativitas rakyat dalam mengkombinasikan proses amalgamasi dan sianidasi tidak dapat terkontrol diperkirakan akan terjadi pula peningkatan dalam jumlah merkuri yang ikut terlarutkan.stamp mill.jumlah yang relatif sedikit. Diagram alir proses pengolahan bijih emas sistem sianidasi Karakteristik Merkuri dalam Sedimen dan Air pada Pengolahan . abu hasil penggarangan ditambah boraks dan digarang lagi untuk menghasilkan bulion emas dan perak. Disamping itu akan diamati pula kandungan logam-logam berat lain yang terdapat dalam batuan pembawa bijihnya serta karakteristik sedimen pada kolam pengendapan pada proses sianidasi. Bulion tersebut selanjutnya direaksikan dengan aqua regia untuk memisahkan emas dan peraknya. Parameter CN total yang berasal dari perairan dan kolam pengendapan akan ditentukan pula. ball mill Larutan NaCN Kapur Reaksi yang terjadi: 2 Au + 4 NaCN + 1/2 O + H O  2 NaAu(CN) + 2 NaOH Tanki Reaktor Sianidasi Karbon Aktif Screen (penyaring) Tailing Karbon aktif yang  menyerap kompleks  emas dan sianida Roasting (penggarangan)   Settling Pond (kolam pengendap) Roasting (penggarangan) Bullion Emas dan Perak Gambar 1. Karbon aktif hasil penyaringan tersebut digarang (roasted) sampai menjadi abu untuk menghilangkan senyawa sianidanya.. Tailing Amalgamasi Tanki Penampungan crusher. M. dilakukan dengan proses penyaringan (screening) untuk memisahkan karbon aktif yang telah menyerap kompleks sianida . Setelah proses pelindian selesai.emas dan membuang tailingnya. biasanya hasil tailing proses amalgamasi diproses lagi guna meningkatkan perolehan bijih. Dampak pemakaian sianida pada kegiatan pengolahan emas di tambang-tambang rakyat diperkirakan akan lebih serius mengingat senyawa sianida tersebut mampu melarutkan logam-logam lain yang terdapat di dalam batuannya.

sedangkan analisis yang digunakan untuk logam berat dengan metode AAS. Pada lokasi pengolahan dilakukan pengambilan contoh di 4 kolam pengendapan. Parameter tertentu seperti pH dan Daya Hantar Listrik ditentukan langsung di lapangan dengan mengguna- Untuk parameter logam. Penyaringan dibantu dengan pompa vacuum untuk mempercepat proses. conductivity meter. Gambar 2. Untuk merkuri diberikan penambahan pengawet HNO3 dengan pH <2 yang dapat bertahan hingga 6 bulan. conto bijih. sedimen. dan hilir pengolahan. meliputi. lokasi pengolahan. Titik-titik lokasi tersebut ditampilkan pada gambar 2. 108 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . penyimpanan contoh dilakukan dalam wadah contoh bervolume 500 mLyang terbuat dari plastik. Peta kesampaian daerah Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan survey langsung (Grounded checking). kan peralatan pH meter (water quality checker). Sulawesi Utara. Kabupaten Bolaang Mongondow. yang meliputi pengambilan contoh air dan sedimen. volume conto yang diperlukan adalah sebanyak 100 mL untuk merkuri. dapat membuat contoh bertahan hingga 7 hari. Lokasi penelitian terletak + 240 km dari Kota Manado atau 30 km dari Kota Kotamobagu (gambar 2). air.2. METODOLOGI Lokasi Penelitianterletak di daerah Tanoyan. Lokasi ini dipilih berdasarkan pertimbangan bahwa daerah ini merupakan salah satu daerah tambang rakyat yang dikelola oleh KUD Perintis yang mengolah bijih emas dan tailing amalgamasi dengan proses sianidasi. ampas. yaitu di hulu pengolahan. Parameter kimia lain seperti merkuri dan logam-logam terlarut ditentukan dengan Atomic Absorption Spectrometer. Metode Pengambilan Conto yang dilakukan. Untuk keperluan analisis laboratorium. Lokasi pengambilan conto air ada di 3 tempat. Conto yang akan dianalisis disaring terlebih dahulu untuk menghindari suspensi yang terlarut.

Pengambilan conto sedimen dilakukan secara grab sampling dengan menggunakan sekop pada lokasi pengambilan air dan di salah satu mulut tambang. Conto yang diambil masing-masing ± 1 kg, kemudian dimasukkan ke dalam kantung plastik berlabel. Adapun parameter-parameter yang dianalisis di laboratorium adalah merkuri (Hg) dan logam-logam berat lain seperti Pb, Cu dan Zn.

3. 3.1.

HASIL DAN PEMBAHASAN Kualitas Air (Air Sungai)

Kualitas air merupakan hal yang paling pokok dalam kegiatan ini karena air (sungai) merupakan tempat bercampurnya faktor-faktor alami dengan unsur-unsur pencemar dan air juga merupakan unsur esensial yang dibutuhkan oleh makhluk hidup dalam kehidupan kesehariannya (UNEP,

Gambar 3. Peta lokasi pengambilan contoh

Tabel 1. Koordinat lokasi pengambilan contoh No. 1 2 3 Lokasi Hulu Pengolahan Hilir Titik LU 124° 15’ 40,22" 124° 15’ 05,27" 124° 16’ 23,34" BT 0° 36’ 28,47" 0° 36’ 27,83" 0° 36’ 2,81"

Karakteristik Merkuri dalam Sedimen dan Air pada Pengolahan ... M. Lutfi dan Retno Damayanti

109

1991). Sehingga dapat dikatakan badan air merupakan tempat interaksi langsung antara unsur hayati dengan unsur pencemar. Secara alamiah sungai mempunyai kemampuan dalam pembersihan diri (self purification) sepanjang buangan yang diterima sungai tidak melebihi kapasitas asimilasi sungai (assimilative capacity). Sementara, dalam kurun waktu cukup lama, unsur merkuri yang terbuang ke sungai kemungkinan dapat menjadi senyawa metil merkuri yang berbahaya melalui proses yang terjadi secara alamiah.Hasil pengukuran parameter fisik air di lapangan (pH, temperatur, DHL, TDS, dan TSS) dapat dilihat pada Tabel 2 di bawah.

Analisis laboratorium conto air untuk logam berat ditentukan dengan metode spektrofotometri. Kegiatan tersebut digunakan untuk mengetahui perubahan-perubahan yang telah terjadi di daerah sekitar penambangan khususnya dan daerah Tanoyan Selatan, Kecamatan Lolayan sebagai akibat adanya pertambangan bijih emas dengan sebagian besar hasil pengolahan limbahnya dibuang ke anak sungai Onggak. Hasil analisis laboratorium conto air dapat dilihat pada tabel dibawah ini. Menurut data kualitas air yang diperoleh, diketahui kadar merkuri (Hg) di semua lokasi percontoan

Tabel 2. Parameter fisik contoh air di lokasi pengolahan dan sungai di sekitarnya No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Lokasi Air bor dapur Kolam pengolahan 1 Kolam pengolahan 2 Kolam pengolahan 3 Kolam pengolahan 4 Outlet pengolahan bijih Hulu Sungai Tanoyan Outlet pengolahan keseluruhan Hilir pH 8,34 8,37 6,35 8,56 2,85 8,2 8,34 8,12 8,37 TDS 160 500 390 250 670 210 160 190 180 Suhu [°C] 30,2 29,3 31,4 31,1 27,2 24,8 27,3 28,3 DHL [µmhos] 852 648 391,4 989 312 245,7 337 267,8 TSS [mg/L] 4.8 88 208 743 108.8 18 42 4.8

Tabel 3. Hasil analisis sianida dan logam-logam berat dalam contoh air di lokasi pengolahan dan sungai di sekitarnya No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Lokasi Air bor dapur* Kolam pengolahan 1 Kolam pengolahan 2 Kolam pengolahan 3 Kolam pengolahan 4 Outlet pengolahan bijih Hulu S. Tanoyan** Outlet pengolahan keseluruhan*** Hilir S. Tanoyan (Hulu S. Onggak)** Baku Mutu* Baku Mutu** Baku Mutu *** CN Total [mg/L] 0,058 86,400 3,920 21,700 2,170 16,700 0,066 7,960 0,019 0,1 0,02 0,5 Hg [mg/L] 0,055 0,17 0,16 0,17 0,15 0,20 0,024 0,010 0,034 0,001 0,002 0,005 Pb [mg/L] 0,110 0,068 0,073 0,110 0,170 0,097 0,089 0,083 0,110 0,05 0,03 1 Cu [mg/L] 0,002 8,110 26,200 4,790 1,490 3,230 0,150 0,042 0,0160 1 0,02 2 Zn [mg/L] 0,073 0,550 0,055 0,033 0,080 0,068 0,048 0,030 0,023 5 0,05 5

Catatan: * Peraturan Menteri Kesehatan RI No.: 416/MENKES/PER/IX/1990 tentang Daftar Persyaratan Kualitas Air Minum ** Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air Kelas II *** KEP-202/MENLH/2004 tentang Baku Mutu Limbah Bagi Kegiatan Pengolahan Bijih Emas dan/atau Tembaga

110

PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009

(hulu dan hilir sungai Tanoyan serta outlet pengolahan keseluruhan) sudah melebihi baku mutu yang ditentukan. Bahkan pada daerah hulu, dimana badan air belum mendapatkan masukan dari proses pengolahan maupun proses penambangan, kadar merkuri pun sudah diatas baku mutu. Hal ini dapat terjadi karena adanya proses amalgamasi oleh penambang-penambang lain di luar KUD yang menggunakan merkuri di daerah sungai yang lebih tinggi dan/atau adanya susunan batuan yang mengandung merkuri (Tabel 4 hasil analisis batuan asal) di daerah penelitian.

sebelum masuk kolam pengolahan (outlet pengolahan bijih) adalah 0,2 mg/L, dan setelah melewati 4 kolam pengolahan turun hingga 0,01 mg/L atau turun sebanyak 0,19 mg/L. Kadar merkuri di daerah hilir lebih tinggi dibandingkan dengan daerah outlet pengolahan menandakan adanya penambahan merkuri yang mungkin berasal dari kegiatan di sekitar sungai tersebut meskipun pemerintah daerah sudah melakukan berbagai pembatasan. Kadar sianida yang berada diatas baku mutu terdapat di daerah/area pengolahan, hal ini

Tabel 4. Hasil analisis sedimen pada kedalaman 0 – 10 cm dan batuan No. 1 2 3 4 5 6 7 8 Lokasi Kolam pengolahan 1 Kolam pengolahan 2 Kolam pengolahan 3 Kolam pengolahan 4 5 meter dari pengolahan bijih Hulu S. Tanoyan* Hilir S. Tanoyan (Hulu S. Onggak)* Lubang tambang (batuan asal) Baku Mutu*
Catatan: * Washington state Sediment, WAC 172 – 204 – 320

Hg Pb [ppm] [ppm] 0,70 0,37 0,36 3,01 2,66 0,17 0,20 0,16 0,41 tt 14,14 65,40 33,90 17,27 tt tt 6,88 450

Cu [ppm] 17,86 47,10 162,00 60,7 130,00 56,70 87,90 34,70 390

Zn [ppm]

As [ppm]

Cr [ppm] 45,6 56,5 86,0 79,3 158,4 42,0 47,5 38,5 250

Ni [ppm] 8,31 4,27 8,98 0,88 2,35 3,87 4,06 10,47 -

54,3 74,70 136,0 51,00 367,0 39,00 136,0 105,00 74,9 74,20 100,0 0,97 97,8 1,29 428,0 1,74 410 57

Hasil penelitian terdahulu (Selinawati dan Ngurah Ardha, 2003) pada pertambangan emas di KUD Perintis data kualitas air yang mengandung kadar merkuri di kolam pengolahan 1 adalah 0.0814 ppm, kolam pengolahan 2 adalah 0.0539 ppm, sedangkan pada S. Onggak (hilir S. Tanoyan) mencapai 0.0011. Pada saat itu, KUD Perintis melakukan pengolahan dengan proses amalgamasi saja dari bijih emas dan menggunakan hanya 2 kolam pengolahan. Data menunjukkan bahwa konsentrasi Hg dalam air sangat kecil, hal ini kemungkinan disebabkan karena kelarutan Hg dalam air sangat kecil. Pada penelitian ini (2008) nilai konsentrasi Hg di daerah pengolahan berkisar antara 0,15 – 0,20 ppm. Peningkatan ini dimungkinakn oleh adanya ion CN dalam pengolahan tailing amalgamasi yang dapat melarutkan Hg. Berdasarkan hasil pemeriksaan kandungan logam, kolam pengolahan efektif dalam menurunkan kadar merkuri pada air buangan, dimana kadar merkuri

dikarenakan proses pengolahan tailing amalgamasi menggunakan proses sianidasi. Pada proses sianidasi ini ditambahkan unsur Zn untuk mengendapkan logam emas dan peraknya. Tetapi rendahnya konsentrasi Zn di dalam air (tabel 2) dibandingkan konsentrasi awal/alami Zn pada batuan bijih (tabel 3) disebabkan terjadinya pengendapan unsur Zn selama aliran pengolahan. Proses yang biasanya terjadi adalah: 2Zn + 2NaAu(CN)2 + 4NaCN + 2H2O = 2Au + 2NaOH + 2Na2Zn(CN)4 + H2 3.2. Kualitas Sedimen Sedimen merupakan tempat logam berat mengendap secara gravitasi di badan perairan. Kualitas sedimen badan perairan harus lebih serius diperhatikan karena sifatnya sebagai tempat akhir logam berat di alam. Dan pada akhirnya logam berat yang ada di sedimen dapat kembali ke badan

Karakteristik Merkuri dalam Sedimen dan Air pada Pengolahan ... M. Lutfi dan Retno Damayanti

111

air karena berbagai hal, misalnya karena arus sungai, hujan, atau jalur transportasi (DPE. Pedoman Teknis Penyusunan AMDAL untuk kegiatan Pertambangan dan Energi, 1996). Kontaminasi merkuri (Hg) dalam sedimen sungai terjadi karena proses alamiah (pelapukan batuan termineralisasi), proses pengolahan emas secara tradisional (amalgamasi), maupun proses industri yang menggunakan bahan baku yang mengandung merkuri. Untuk mengetahui sumber kontaminasi Hg ini perlu diperhatikan dengan cermat. Untuk mengetahui adanya kontaminasi logam berat dalam sedimen maka dilakukan pemeriksaan sedimen di lokasi yang diperkirakan terkena dampak proses pengolahan tailing. Pengambilan conto sedimen dilakukan pada kolam pengendap, hulu sungai, hilir sungai. Selanjutnya conto sedimen, batuan bijih, dan tanah dianalisis di laboratorium menggunakan metode AAS. Dari hasil analisis conto tersebut di atas, kemudian dilakukan perbandingan dengan peraturan dan standar yang dapat dianggap sebagai tolok ukur

kualitas konsentrasi unsur di alam. Oleh karena itu sumber acuan yang dijadikan sebagai pembanding pada laporan ini adalah Washington state Sediment, WAC 172 – 204 – 320. Data kualitas sedimen dapat dilihat pada tabel 4. Adapun hasil penelitian kandungan merkuri dalam sedimen apabila dibandingkan dengan data tahun 2003 menunjukkan penurunan. Namun demikian nilai tersebut masih dibawah ambang batas aman. Untuk mengetahui lebih jelasnya mengenai kualitas air dan sedimen pada tahun 2003 sebagai pembanding dapat dilihat pada Tabel 4. Berdasarkan hasil diatas, terlihat bahwa kandungan merkuri pada sedimen di daerah yang memiliki dampak terhadap kehidupan masyarakat sekitar (daerah hulu dan hilir sungai Tanoyan) berada dibawah ambang batas aman yang dikeluarkan Washington state Sediment, WAC 172 – 204 – 320. Tetapi tetap perlu diperhatikan adanya keterkaitan antara kadar merkuri di air dan sedimen dengan beberapa faktor lingkungan, yaitu hujan, arus sungai, dan jalur transportasi masyarakat.

Tabel 5. Conto data kualitas air dan sedimen di KUD Perintis tahun 2003 No 1 2 3 4 5 6 Lokasi Kolam Pengolahan 1 Kolam Pengolahan 2 S. Tanoyan 1 (Hulu S. Tanoyan) S. Tanoyan 2 S. Tanoyan 3 S. Onggak Konsentrasi Hg [ppm] Air 0,0814 0,0539 0,001 0,0739 0,0179 0,0011 Sedimen 0,67 3,12 0,42 1,49 5,97 0,92

Sumber : Selinawati dan Ngurah Ardha, 2003

Gambar 4. Hubungan keterkaitan antara konsentrasi merkuri di sedimen dan air

112

PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009

Perlu dibentuk wilayah pertambangan rakyat (WPR) untuk lebih memudahkan pemerintah dalam hal koordinasi dan pengawasan kegiatan penambangan dan pengolahan emas rakyat. http://www.0. Saran Dari kegiatan penelitian merkuri dalam sedimen dan air pada pengolhan tailing amalgamasi di pertambangan emas rakyat secara sianidasi. outlet pengolahan.com/course/seasion2 Karakteristik Merkuri dalam Sedimen dan Air pada Pengolahan . Konsentrasi Hg di air (0. hal ini disebabkan oleh adanya ikatan kompleks sebagai senyawa merkuri-sianid (HgCN) yang mengendap. Washington NEL. Kegiatan pengolahan tailing amalgamasi dengan proses sianidasi memberikan dampak negatif terhadap kualitas air dan sedimen disekitar lokasi pengolahannya. 1996. maka diperlukan: Pembinaan terhadap para penambang dan pengusaha pengolahan tailing agar lebih memeperhatikan aspek lingkungan dalam setiap kegiatannya. Diperlukan adanya pengawasan yang lebih ketat dari pemerintah baik pusat maupun daerah berkaitan dengan kegiatan penambangan dan pengolahan emas yang memiliki dampak besar terhadap lingkungan. Global Mercury Project.. Lutfi dan Retno Damayanti 113 .17 .. DAFTAR PUSTAKA Anonim.fathom. Kadar merkuri di air pada daerah pengolahan relatif rendah dibandingkan pada sedimen. Protocol for Environment and Health Assessment. di mana semakin ke hilir badan air. sehingga meningkatkan pendapatan para penambang. Draft.2.20 ppm) pada semua lokasi penelitian belum melewati ambang batas aman terhadap racun yang ada (sesuai UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Selinawati TD dan Bapak Harry Tetra Antono atas saran serta sumbang wawasan terhadap tulisan ini.. Tetapi kadar merkuri di sedimen itu dapat meningkat seiring mengendapnya merkuri ke dasar sungai. M. 2004. Konsentrasi Hg pada sedimen (0.0. WAC 172 – 204 – 320) yaitu sebesar 1 ppm.034 mg/L) pada semua lokasi penelitian (hulu.Ucapan terima kasih juga ditujukan kepada Bapak Marsen Alimano dan Ibu Wulandari Surono yang telah membantu selama percobaan dan penelitian ini berlangsung. dan hilir) melewati baku mutu yang diperbolehkan (sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air Kelas II dan KEP-202/MENLH/2004 tentang Baku Mutu Limbah Bagi Kegiatan Pengolahan Bijih Emas dan/atau Tembaga). 4. antara lain arus sungai (karena merupakan sungai dangkal). KESIMPULAN DAN SARAN 4.Pada Gambar 4 ditunjukkan hubungan antara konsentrasimerkuri di sedimen dan air. Sedangkan jumlah merkuri di air dan sedimen sangat berkaitan.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil kajian pengolahan tailing dengan proses sianidasi dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: Berdasarkan informasi dari penambang karakterisasi pada kegiatan pengolahan tailing amalgamasi dengan proses sianidasi dipertambangan emas rakyat dapat meningkatkan efisiensi perolehan bulion emas dari bijihnya. Sediment Quality Standards (WAC 172204-320). hujan. Departemen Pertambangan dan Energi. dari +40% secara amalgamasi sendiri menjadi +90% secara kombinasi amalgamasi dan sianidasi. dimana keberadaan merkuri di air merupakan tempat singgah sementara sebelum sampai di dasar (berkaitan dengan berat jenisnya) dan juga merupakan pelepasan merkuri dari sedimen yang diakibatkan beberapa faktor. ataupun lintasan transportasi dari masyarakat sekitar. Proses kombinasi ini diterapkan karena keberadaan bijih emas dengan bentuk kasar semakin sedikit.01 . Washington state Sediment. 4. Pedoman Teknis Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Untuk Kegiatan Pertambangan dan Energi.

Yusuf. Penambangan dan Pengolahan Emas di Indonesia.T. Study On Mercury Lost and Its Concentration from Artisanal Gold Minings in Indonesia. 2000. Research and Development Center for Mineral and Coal Technology. Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral.Tim Terpadu Pusat Penanggulangan Masalah Pertambangan Tanpa Ijin (PETI. Penanggulangan Masalah Pertambangan Tanpa Izin (PETI) (Implementasi Inpres No. and Ngurah Ardha.D. 2004. Amalgamasi. 1987 114 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara. 2003. World Commision on Enviroment & Development (WCED). Rachmat. Selinawati. 3 Tahun 2000).

Yuhelda1 dan Fitriza Yuliana2 1 Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. 022 . Variabel – variabel optimum pada electrostatic separator : Variabel tegangan listrik 30 KV Variabel posisi splitter 30° Variabel skala kecepatan umpan 7.go. Zirkon yang dilakukan pemisahan merupakan konsentrat dari magnetik separator basah. Sudirman 623 Bandung 40211 Telp. Pramusanto. Before feeder concentration using optimum variables at electrostatic separator beforehand feed got treatment of ultrasonic (sonicfication).esdm. Pengaruh Penggunaan Ultrasonik terhadap Hasil Pemisahan Pasir Zirkon .5 Variabel optimum pada ultrasonik yaitu selama 30 menit dimana umpan yang mendapat perlakuan ultrasonik dapat membersihkan pasir zirkon dari unsur –unsur minor yang tidak diinginkan.6030483 Fax. 20.6003373 e-mail : pramusanto@tekmira. dkk. Jend.. Sebelum umpan dipisahkan menggunakan variabel – variabel optimum pada electrostatic separator terlebih dahulu umpan mendapat perlakuan ultrasonik (sonikfikasi). 022 . 1. Pemisahan dilakukan berdasarkan perbedaan sifat konduktifitas listrik menggunakan electrostatic separator dimana mineral zirkon (ZrSiO4) sebagai mineral non konduktor akan terpisah dari mineral pengotornya sebagai mineral konduktor seperti ilmenit (FeTiO3) dan rutil (TiO2). 26 Bandung 40116 SARI Zirkon sebagai hasil tailing dari pengolahan emas aluvial di Kalimantan Tengah memiliki kadar yang rendah yaitu 36.id.. 24.go. Kata kunci: zirkon.38 % ZrO2 sehingga belum memenuhi persyaratan untuk dijual ataupun diekspor. yuhelda@tekmira. Taman Sari No. Nuryadi Saleh1.38 % ZrO2 so that has not fulfilled clauses to be sold and or is exported. Peningkatan kadar zirkon dilakukan dengan beberapa metoda pengolahan. Concentration is done based on different of electrical conductivity property applies electrostatic separator where zircon mineral (ZrSiO4) as non conductor mineral will separated from its the gangue mineral as conductor mineral for example ilmenite (FeTiO3) and rutile (TiO2).esdm. Zircon done by concentration is concentrate from wet magnetic separator.PENGARUH PENGGUNAAN ULTRASONIK TERHADAP HASIL PEMISAHAN PASIR ZIRKON KALIMANTAN TENGAH DENGAN ELECTROSTATIC SEPARATOR Pramusanto1.go.id. nuryadi@tekmira. 115 .esdm.id 2 Jurusan Teknik Pertambangan. ultrasonic. 22. Upgrading of zircon grade is done with a few processing method. electrostatic separator ABSTRACT Zircon as tailing product of alluvial gold processing in Central Kalimantan has low grade that is 36. Universitas Islam Bandung (UNISBA) Jl.

mineral berat yang terdapat dalam konsentrat menggunakan berbagai macam pemisahan berdasarkan sifat . xenotim (YPO4) dan kuarsa (SiO2) [www. Pemisahan secara kering yang dilakukan pada mineral . METODOLOGI Metodologi peningkatan kadar pasir zirkon Kalimantan Tengah yang telah dilakukan studi bahan baku oleh pihak laboratorium pengolahan tekMIRA. yaitu dengan melakukan percobaan menggunakan ultrasonik sebelum umpan dipisahkan menggunakan variabel – variabel optimum pada electrostatic separator.bgl. Pulau Bangka. 1997). Zirkon yang ditemukan di Kalimantan Tengah kemungkinan berasosiasi dengan mineral – mineral pengotor seperti ilmenit (FeTiO3). Analisis terhadap nisbah konsentrasi (NK) bertujuan untuk mengetahui perbandingan antara berat umpan yang akan dipisahkan dengan berat konsentrat yang diperoleh pada proses pemisahan yang dilakukan dan kemudian akan korelasikan dengan kadar zirkon (ZrO2). electrostatic separator 1. Persiapan dan Analisis Umpan Preparasi umpan yang akan dipisahkan berdasarkan perbedaan sifat konduktifitas listrik 116 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .sifat fisik mineral seperti konduktifitas listrik. Pendekatan proses pengolahan mineral zirkon.go. kemagnetan dan gaya berat (Woodcock. Dahlan dan Saleh. Mineral rutil dan zirkon bersifat non magnet sehingga proses pengolahan yang dilakukan sebatas pemisahan berdasarkan sifat kemagnetan masih belum memadai. 2007).id]. Untuk membersihkan partikel – partikel halus yang menempel pada permukaan zirkon. 2007) yaitu pemisahan berdasarkan berat jenis menggunakan meja goyang dan berdasarkan sifat kemagnetan menggunakan magnetik separator kering dilanjutkan dengan magnetik separator basah. Berdasarkan hasil analisis kimia terhadap konsentrat magnetik separator basah ternyata masih terdapat unsur-unsur mineral pengotor seperti rutil (TiO2) dan ilmenit (FeTiO3).mineral pengotor pada zirkon sangat tergantung dari ganesa mineral sehingga setiap tempat memiliki karakteristik mineral yang berbeda (Pramusanto. sehingga umpan perlu mendapat perlakuan ultrasonik sebelum dipisahkan menggunakan variabel – variabel optimum pada electrostatic separator. 1980). Perlakuan ultrasonik (sonikasi) dilaporkan dapat membersihkan lebih lanjut terhadap produk pasir zirkon dari unsur – unsur minor yang tidak diinginkan (Farmer. Y. Sebagian besar mineral – mineral pengotor di atas merupakan mineral berat sehingga perlu dilakukan pengolahan dan peningkatan nilai tambahnya. Th)PO4). Kalimantan Timur) [Suhala dan Arifin. Karakteristik mineral . Kepulauan Riau. Pulau Belitung) dan di Kalimantan (Kalimantan Tengah. monasit ((Ce.esdm. Zirkon yang terdapat di Pulau Bangka adalah mineral ikutan bijih timah (kasiterit) yang merupakan tailing dari pengolahan timah sedangkan zirkon yang terdapat di Kalimantan Tengah adalah mineral ikutan bijih emas aluvial yang merupakan tailing dari pengolahan bijih emas dengan alat sederhana sluice box. 2.1. Hasil penelitian pengolahan terdahulu yang telah dilakukan (Saleh dan Pramusanto.Optimum variables at electrostatic separator : Voltage variable 30 KV Variable position of splitter 30° Feed speed scale variable 7. Keyword: zircon. ultrasonic. 2007). rutil (TiO2). proses mana yang lebih baik itu umumnya tergantung pada karakteristik zirkon yang akan diolah maupun pemanfaatan dari produk yang akan dihasilkan (Pramusanto dkk. La.5 Optimum variable at ultrasonic that is during 30 minutes where feeder getting treatment of ultrasonic can clean zircon sand from minor elements undesirable. 2. PENDAHULUAN Indonesia sebagai salah satu negara penghasil zirkon memiliki penyebaran zirkon di Sumatera (Sumatera Utara. 1997].

Sampel hasil pemisahan setelah perlakuan ultrasonik kemudian dijadikan umpan pada pemisahan dengan electrostatic separator setelah dikeringkan terlebih dahulu dalam oven pengering selama satu hari.2. 45 menit dan 60 menit. 117 . Setelah perlakuan ultrasonik dilakukan. terdapat perbedaan warna mineral yang berada di dalam gelas ukur yang telah bercampur dengan air.3.. Partikel yang berada pada bagian atas diambil menggunakan sendok tipis secara perlahan. seperti pada Gambar 2. Pramusanto. dalam penelitian ini dilakukan untuk membersihkan partikel–partikel halus yang mungkin masih menempel pada permukaan butiran umpan sebelum dipisahkan dengan electrostatic separator.yang berasal dari konsentrat magnetik separator basah dilakukan bertujuan untuk mendapatkan contoh yang representatif. 2. Peningkatan kadar dapat dilakukan dengan cara memisahkan mineral non konduktor sebagai mineral berharga yaitu ZrSiO4 dengan mineral . Alat electrostatic separator yang digunakan dalam percobaan dapat dilihat pada Gambar 1.. mineral yang berada pada posisi atas dipisahkan dan terlihat lebih berwarna hitam sedangkan pada posisi bawah sebagai konsentrat berwarna coklat kemerah – merahan. Peningkatan Kadar Pasir Zirkon dengan Electrostatic Separator Peningkatan kadar pasir zirkon dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan electrostatic separator yang digunakan dalam peningkatan kadar. Ukuran partikel mineral sebagai hasil saringan terlihat sangat halus dibandingkan dengan ukuran butiran partikel yang mengendap. dkk. Electrostatic Separator dari Reichert Equipment tipe MK III Bench seri 063 2. Setelah digetarkan menggunakan alat ini. Percobaan Menggunakan Ultrasonik Percobaan menggunakan alat ultrasonik yang biasa digunakan untuk membersihkan ayakan berukuran halus. kemudian dilakukan pemisahan basah secara manual antara partikel mineral berat yang berada pada bagian bawah gelas ukur dengan partikel mineral ringan yang berada pada bagian atas. Pertama sampel dimasukkan ke dalam gelas ukur yang berukuran 250 ml dan ditambahkan air sebanyak 150 ml atau 60 % dari kapasitas tempat penampungannya. TiO2. Kemudian gelas ukur tersebut diletakkan di atas jaring atau kawat yang berada di dalam alat ultrasonik.mineral konduktor sebagai mineral pengotor seperti. Gambar 2. Selama percobaan ini juga terlihat air yang sebelumnya jernih berubah menjadi keruh. 30 menit. Getaran yang terjadi pada alat ultrasonik membawa mineral ringan terangkat ke atas sehingga berdasarkan masing–masing waktu yang di variabelkan. FeTiO3 dan lain-lain menggunakan electrostatic separator. sedangkan sisanya yang melayang diambil dengan cara disaring menggunakan kertas penyaring. Kemudian pemisahan dilakukan Gambar 1. Alat ultrasonik Percobaan dilakukan dengan variabel waktu getar selama 15 menit. Pengaruh Penggunaan Ultrasonik terhadap Hasil Pemisahan Pasir Zirkon .

81.4 gram/menit) dan 10 (5 gram/menit) secara berturut – turut 118 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Peningkatan Kadar Pasir Zirkon dengan Electrostatic Separator Di dalam percobaan electrostatic separator ini dilakukan analisis kimia secara XRF (Fluoresen Sinar X) untuk meninjau perubahan unsur-unsur terhadap konsentrat akibat pengaruh dari variabelvariabel percobaan terhadap nisbah konsentrasi dan peningkatkan kadar.2. 4. 7. 3.1 Pengaruh tegangan listrik terhadap nisbah konsentrasi dan kadar ZrO2 Percobaan dilakukan dengan variabel berubah yaitu tegangan listrik sedangkan variabel tetapnya pada posisi splitter 40° dan pada skala kecepatan umpan 5. 3.47 gram/menit. Dimana dengan jarak elektroda yang terlalu dekat dan tegangan yang besar akan menyebabkan tertariknya semua mineral.46 %. 1 0.pada kondisi variabel optimum dengan electrostatic separator yang telah dilakukan pada percobaan sebelumnya. 57. menjabarkan grafik persentase semua unsur yang terdeteksi dalam skala logaritma. 59. 5. Hasil percobaan dengan memvariabelkan tegangan listrik 15 KV. (0. Kecepatan umpan yang digunakan pada masing – masing skala kecepatan umpan 2.38 gram/menit. 7. rutil (TiO2) dan lain-lain.38 gram/menit). ilmenit (FeTiO3).5 (3. 10 secara berurutan sebesar 0. 1.4 gram/menit dan 5 gram/menit.5. 25 KV dan 30 KV menghasilkan nisbah konsentrasi secara berturutturut sebesar 6. Hal ini berbeda dengan hasil percobaan yang dilakukan yang kemungkinan disebabkan oleh pengaruh perbedaan sifat kelistrikan atau konduktifitas mineral-mineral yang terdapat dalam umpan seperti mineral zirkon (ZrSiO4).2.   100 10 K da (% a r ) terhadap nisbah konsentrasi dan kadar ZrO2 pada Gambar 4 yaitu semakin besar tegangan listrik yang digunakan maka nisbah konsentrasinya semakin kecil dan kadar ZrO2 yang dihasilkanpun semakin besar. hematit (Fe2O3). Pengaruh tegangan listrik terhadap nisbah konsentrasi dan kadar ZrO2 pada posisi splitter 40° dan skala kecepatan umpan 5 3.2.5.51 %.1 0.39.68 dengan kadar ZrO2 yang diperoleh sebesar 56. tetapi jarak elektroda tidak divariasikan di dalam percobaan ini. Pengaruh tegangan listrik 3.47 gram/ menit). 2. 3. 5 (2. Pemisahan yang baik seharusnya menghasilkan nisbah konsentrasi yang besar dan kadar ZrO2 yang besar pula.5. 3.11. Nisbah konsentrasi yang diperoleh pada skala kecepatan umpan 2.96 %. Analisis Umpan Hasil analisis kimia secara XRF (Fluoresen Sinar X) terhadap umpan sebelum dipisahkan menggunakan electrostatic separator dapat dilihat pada Gambar 3. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.01 ZrO 2 N O a2 P 5 2O Y 3 2O C 3 r2O Fe 3 2O N 2O b 5 A 3 l2O C 2 eO T 2 hO SiO 2 H 2 fO MO n MO g TiO 2 K2 O CO a S Unsur Hasil Analisis Umpan Gambar 3.2 Pengaruh skala kecepatan umpan terhadap nisbah konsentrasi dan kadar ZrO2 Percobaan dilakukan dengan variabel berubah yaitu skala kecepatan umpan sedangkan variabel tetapnya pada tegangan listrik 30 KV dan posisi splitter 300.1. baik yang bersifat konduktor kuat maupun konduktor lemah. Kemungkinan lain dapat disebabkan oleh jarak elektroda yang tidak sesuai. Hasil analisis umpan Gambar 4. 20 KV.67 % dan 61.

pengaruh kecepatan umpan terhadap nisbah konsentrasi dan kadar ZrO2 yaitu semakin cepat umpan yang diberikan maka nisbah konsentrasinya semakin kecil dan kadar ZrO2 yang dihasilkanpun semakin besar. kecepatan umpan 7.17 1.2. 119 .40 Kecepatan (gram/menit) NK Kadar 5. Pada waktu getar selama 30 menit perolehan yang didapatkan lebih dari 90 % dan kadar 60.7 60.12 dengan kadar ZrO2 yang diperoleh sebesar 60.00 63. umpan yang berukuran kasar cenderung mengalami lifting effect meskipun tidak bersifat sebagai konduktor dan umpan yang berukuran halus cenderung mengalami pinning effect. maka nisbah konsentrasi dan kadar ZrO2 yang dihasilkan akan semakin besar. 1. Percobaan pada alat ultrasonik dilakukan dengan memvariabelkan waktu getar selama 15. 1. 45. Nisbah konsentrasi yang diperoleh setelah dipisahkan menggunakan electrostatic separator dengan variabel waktu 15.9 60.15 1. Dengan kecepatan yang tinggi.5 63 62. 60.45 %.2 1.sebesar 1. Pramusanto. posisi splitter 30 0 dan skala Gambar 6. Pengaruh penggunaan ultrasonik terhadap nisbah konsentrasi dan kadar ZrO2 pada tegangan listrik 30 KV.11 1. Pada waktu getar selama 45 menit perolehan yang didapatkan hampir 90 % dan kadar 60. Kecepatan yang tinggi akan mengakibatkan mineral – mineral non konduktor kasar akan terlempar ke konduktor sehingga kadar zirkon akan rendah.10.14 dan 1.5.69 %. dkk. Berdasarkan waktu getar selama 15 menit pada alat ultrasonik perolehan yang didapatkan lebih dari 90 % dan kadar 60. 30.58 %.13 1.09 1.14 1.3 Pengaruh penggunaan ultrasonik terhadap nisbah konsentrasi dan kadar ZrO2 Ultrasonik bekerja dengan getarannya untuk melepaskan ikatan – ikatan mineral pengotor lainnya pada mineral zirkon sebagai mineral utama.2.15. 45 dan 60 menit. posisi splitter 300 dan skala kecepatan umpan 7. 1.38 3.92 % ZrO2.52 %. Kecepatan umpan (gram/menit) pada percobaan ini tergantung skala kecepatan umpan yang dipakai dan berat masing – masing umpan yang digunakan dalam percobaan.58 % ZrO2. Hal ini disebabkan karena lamanya waktu getar akan mempengaruhi hasil kerja gelombang ultrasonik sehingga juga akan berpengaruh terhadap hasil umpan yang akan dipisahkan menggunakan electrostatic separator.42 % dan 62.18.6 60.19.13 0. 1.08 15 30 45 60 Waktu (Menit) NK Kadar 61 Kadar ZrO2 (%) 60.   Nisbah Konsentrasi 1.8 60.47 2. 63.5 61 Gambar 5.70 %.09.4 Pengaruh penggunaan ultrasonik terhadap perolehan dan kadar ZrO2 Berdasarkan grafik yang terdapat pada Gambar 7 dapat ditarik garis rata – rata sehingga diperoleh grafik yang menunjukkan kecenderungan perubahan perolehan dan kadar ZrO2 terhadap penggunaan ultrasonik.1 1. 30. Pengaruh penggunaan ultrasonik dengan variabel waktu terhadap nisbah konsentrasi dan kadar ZrO2 berdasarkan Gambar 6 di atas adalah semakin lama waktu getar yang diberikan oleh ultrasonik terhadap umpan..68 % ZrO2 sedangkan pada waktu getar Pengaruh Penggunaan Ultrasonik terhadap Hasil Pemisahan Pasir Zirkon . 3. 60 menit pada ultrasonik secara berturut – turut sebesar 1.68 % dan 60. 1.12 1.14 1.15 1. Konsentrat kering dari ultrasonik kemudian dipisahkan menggunakan electrostatic separator dengan variabel optimum pada percobaan sebelumnya yaitu pada tegangan listrik 30 KV.5 62 61.19 1. Pengaruh skala kecepatan umpan terhadap nisbah konsentrasi dan kadar ZrO2 pada tegangan listrik 30 KV dan posisi splitter 30° Kadar ZrO2 (%)   Nisbah Konsentrasi 1.16 1.18 1. 60..5 Berdasarkan grafik pada Gambar 5.92 %.5 3.14 dengan kadar ZrO2 yang diperoleh sebesar 61. 62.

P2O5. kadar ZrO2 optimum sebesar 63. Perbandingan kandungan unsurunsur sebelum dan setelah mendapatkan perlakuan ultrasonik Berdasarkan Gambar 8. Cr2O3 dan ThO2. tekanan dan getaran pada butiran umpan. Pengaruh penggunaan ultrasonik terhadap perolehan dan kadar ZrO2 pada tegangan listrik 30KV.18. Nb2O5. K2O.42 % yaitu pada skala 7. Hal ini terjadi karena adanya pengaruh getaran yang diberikan pada umpan dengan waktu getar tertentu sehingga dapat melepaskan partikel halus dari mineral pengotor yang melekat pada permukaaan umpan yang akan dipisahkan. 4. beberapa unsur yang hilang setelah mendapat perlakuan ultrasonik antara lain MnO. HfO2 dan Y2O3. MgO. KESIMPULAN Berdasarkan hasil percobaan terhadap pengaruh penggunaan ultrasonik terhadap pasir zirkon Kalimantan Tengah hasil pemisahan dengan electrostatic separator. Na2O. Pada percobaan pengaruh tegangan listrik. CaO. 4.96 % yaitu pada tegangan listrik 30 KV dengan nisbah konsentrasi 1. Kondisi optimum penggunaan ultrasonik yaitu pada waktu getar selama 30 menit.4 60.01 Fe2O3 Nb2O5 Cr2O3 Na2O Al2O3 Y2O3 ThO2 P2O5 TiO2 MnO MgO CaO ZrO2 HfO2 SiO2 K2O S Unsur Sebelum M endapat P erlakuan Ultraso nik Setelah M endapat P erlakuan Ultraso nik Gambar 8. setelah umpan mendapat perlakuan ultrasonik terlihat adanya beberapa 120 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .4 gram/menit) dengan nisbah konsentrasi 1.   100 10 Kadar (%) 1 0.69 % ZrO2. kadar ZrO2 optimum sebesar 60.1 0. Nb2O5. Hasil perbandingan dapat dilihat pada Gambar 8. Selain itu. Pada percobaan pengaruh skala kecepatan umpan. Perbedaan perolehan dan kadar ZrO2 yang didapatkan pada percobaan tidak begitu jauh dimana perolehan rata – rata zirkon hampir 90 % dengan kadar 60 % ZrO2. posisi splitter 300 dan skala kecepatan umpan 7. kadar ZrO2 optimum sebesar 61. hasil analisis pada percobaan dengan variabel optimum yaitu pada tegangan listrik 30 KV. Unsur unsur yang kadarnya naik antara lain Al2O3.5 (3. 2.   Perolehan (% ) 93 92 91 90 89 88 87 15 30 45 60 Waktu (Menit) Perolehan ZrO2 Kadar ZrO2 61 60.68. Pengaruh gelombang ultrasonik ini cukup kuat dan efektif untuk melepaskan partikel halus berupa mirel pengotor yang melekat pada permukaan sampel bijih zirkon.unsur yang kadarnya turun antara lain SiO2.8 60. Selain itu. Adanya beberapa unsur yang hilang setelah mendapat perlakuan ultrasonik (sonikasi) diantaranya MnO.selama 60 menit perolehan yang didapatkan 90 % dan kadar 60.5 Selain itu.09 dan perolehan lebih dari 90 %.92 % yaitu pada waktu getar 30 menit dengan nisbah konsentrasi 1. Cr2O3 dan ThO2.2 60 K adar (% ) unsur . frekuensi yang ada pada ultrasonik kemungkinan akan mempengaruhi terjadinya efek mekanik seperti gerakan – gerakan partikel pada umpan yang berada di dalam gelas ukur sehingga dapat menimbulkan gaya gesek. ZrO2. 3. didapat beberapa kesimpulan : 1. Dari hasil percobaan yang dilakukan bahwa ada beberapa unsur yang tidak diinginkan hilang setelah mendapatkan perlakuan ultrasonik. posisi splitter 40° dan skala kecepatan umpan 7. Gambar 7.6 60. Pada percobaan umpan yang mendapat perlakuan ultrasonik. Sedangkan unsur . Fe2O3.unsur yang kadarnya naik dan turun bahkan ada beberapa unsur yang hilang. TiO2 dan S.5 diperbandingkan antara umpan yang tidak dan yang mendapat perlakuan ultrasonik.

D. Ardha..C.. Central Kalimantan”. Kelly. 2007.. Kolokium Pertambangan 2007.. Supriatna. Woodcock... Pramusanto. Muta’alim. B. “Pembuatan Zirconia dari Pasir Zircon Kalimantan dan Bangka”. Agricola Consulting Services Pty Ltd. T. David J. Nuryadi dan Pramusanto.. “Mining and Metallurgical Practices in Australia”. 2000. Komunikasi Langsung. Errol G. Y. Canada. Andrew L. S. Pusat Pengembangan Teknologi Mineral. Yuhelda. Spottiswood. “Peningkatan Nilai Tambah Pasir Zirkon Kalimantan Tengah”.. Pengaruh Penggunaan Ultrasonik terhadap Hasil Pemisahan Pasir Zirkon . Saleh. Pramusanto. “Heavy Mineral Sands Separation of Waringin. Department of Mining and Mineral Process Engineering University of British Columbia Vancouver.DAFTAR PUSTAKA Dahlan. Australia. Puslitbang tekMIRA. “Pengembangan Produk dan Peningkatan Mutu Bahan Galian”. 2008.. 2007. Farmer. Dahlan. N... 1997. 1980. Puslitbang Teknologi Mineral Bidang Litbang Teknologi Pengolahan Mineral. Suhala. John Willey & Sons. Victoria.. N. Saleh. dan Arifin M.. Australia. dkk. Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara-tekMIRA.. dkk. A. Rochani. 2007. “Elements Of Mineral Process Engineering”. 1982 “Introduction to Mineral Processing”. Bandung.. “Bahan Galian Industri”. Chatswood NSW 2067. Pramusanto. 121 . New York Mular. Puslitbang tekMIRA. J. The Australian Institute of Mining and Metallurgy.. 1997.

id SARI Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penggunaan pasir sungai sebagai bed material terhadap konversi karbon. Gas produk dimurnikan dan didinginkan melalui siklon. bed material . Gas product (syngas) was purified and cooled through cyclone. and gasifying reaction happened. syngas composition was analyzed by gas chromatography.PENGGUNAAN PASIR SUNGAI SEBAGAI BED MATERIAL PADA GASIFIKASI BATUBARA SISTEM FLUIDIZED BED Nurhadi dan Slamet Suprapto Pussat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. komposisi gas produk. Variabel yang digunakan adalah jumlah bed material dan jenis bed material. batubara. Experiment was conducted by heated bed material in gasifier used nitrogen gas as fluidization media.esdm.go. Sudirman no. Keywords: gasification. product gas composition. konversi karbon dan efisiensi gasifikasi. Jend. 022 . sehingga terjadi reaksi gasifikasi. After gasifier temperature reaching 900°C. heat exchanger. carbon conversion and gasification efficiency. pasir sungai ABSTRACT This research was conducted to know the influence of river sand use as bed material to carbon conversion. percontoh batubara dan oksigen di-input-kan ke dalam reaktor. efisiensi gasifikasi dan rasio gas hidrogen terhadap gas karbon monoksida pada proses gasifikasi batubara tipe fluidized bed. coal. coal sample and oxygen were inputted into reactor. bed material. Hasil percobaan menunjukkan bahwa penggunaan pasir sungai sebagai bed material dapat berfungsi baik sebagai dalam proses pembuatan gas sintesis dari batubara dilihat dari komposisi syngas. Kata kunci: gasifikasi. Result was shown river sand use as bed material functioned well based on syngas composition. 623 Bandung 40211 Telp. Finally. heat exchanger dan scrubber untuk selanjutnya dianalisa komposisinya menggunakan gas kromatografi.6030483 Fax. 022 . gasification efficiency and ratio of hydrogen to carbon monoxide in fluidized bed coal gasification. river sand 122 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Percobaan dilakukan dengan memanaskan bed material dalam gasifier menggunakan media fluidisasi gas nitrogen.6003373 e-mail: Nurhadi@tekmira. and scrubber. Setelah suhu gasifier mencapai 900°C.

Diagram alir penelitian pembuatan gas sintesis (Nurhadi. dkk. Gambar 1. Gas pereaksi masuk dari bagian bawah gasifier melalui plat distributor untuk mengangkat bed material. Bed material digunakan sebagai transfer panas.4 milyar ton merupakan aset ekonomi dan aset energi yang sampai saat ini belum dapat dimanfaatkan secara optimal (Setiawan. sehingga menjadi unggun terfluidisasi. sehingga suhu dalam gasifier menjadi homogen. karbon monoksida.. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian pembuatan gas sintesis dilakukan terhadap percontoh batubara Indonesia. yaitu menggunakan pasir silika dan pasir sungai. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penggunaan pasir sungai sebagai bed material terhadap konversi karbon. Bahan-bahan yang digunakan untuk percobaan ini adalah batubara. Gas produk ini dapat langsung dimanfaatkan sebagai bahan bakar gas atau dikonversi menjadi berbagai macam sumber energi dan bahan baku industri kimia (Penner. Fluidized bed merupakan sistem yang efisien untuk kontak fase gas-padat. Pemanfaatan batubara peringkat rendah dengan teknologi gasifikasi menghasilkan produk yang mudah dikonversi menjadi beberapa macam sumber energi dan bahan baku industri kimia. sehingga sangat cocok dikembangkan sebagai bed material untuk gasifikasi batubara menggunakan gasifier tipe fluidized bed. Bagan alir proses penelitian pembutan gas sintesis dapat dilihat pada Gambar 1. uap air. 1987). nitrogen dan hidrokarbon rantai ringan (Kubota. Batubara yang digunakan adalah batubara peringkat lignit dengan variabel jenis bed material... Sebagai bed material digunakan pasir silika dan pasir sungai. karbon dioksida. 2008). Gasifikasi batubara tipe fluidized bed menggunakan bed material berupa pasir. komposisi gas produk dan efesiensi gasifikasi pada proses gasifikasi batubara tipe fluidized bed. 1991).1. Sumber daya batubara Indonesia yang berjumlah 107. Gas produk gasifikasi berupa campuran gas hidrogen. Nurhadi dan Slamet Suprapto 123 . oksigen dan nitrogen sebagai bahan baku. PENDAHULUAN menggunakan screw feeder (Kunii dan Levenspiel. sehingga diperoleh karakteristik proses pembuatan gas sintesis menggunakan batubara Indonesia. 2006) Penggunaan Pasir Sungai sebagai Bed Material pada Gasifikasi Batubara . karbon dioksida atau campuran dari zat tersebut dan menghasilkan campuran gas yang dapat dibakar. Pasir sungai cukup melimpah keberadaannya di Indonesia dan harganya cukup murah. Batubara dimasukkan ke dalam gasifier dari bagian samping gasifier 2. Peralatan yang digunakan untuk kegiatan ini terdiri atas 1 unit peralatan pembuatan gas sintesis skala laboratorium. Gasifikasi batubara adalah reaksi antara batubara dengan pereaksi udara. 2006).

7437 21.3. Hasil percobaan yang dibahas dalam makalah ini meliputi pengaruh jenis bed material pasir silika dan pasir sungai terhadap komposisi gas terutama kadar CO dan H2. % adb.02 32.719 BM 22. %.91 43.975 1. Abu. neraca massa.687 0. Belerang.83 39.55 2.48 3.20 0. Air Lembab.16 54.8542 22. neraca massa. yaitu pasir silika dan pasir sungai. % MgO. % Al2O3. % adb.23 30.36 44.73 C2H4 3. % adb.95 2.94 2.r.83 2.66 17.3170 124 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . % Fe2O3.86 32.36 37.18 Komposisi Rata-rata Tanpa Nitrogen (% mol) CO 42. Karbon.32 30. % adb. % MgO.90 15.24 8. Oksigen.51 3. Nilai 97. konversi karbon dan efisiensi gasifikasi pada berbagai variabel dapat dilihat pada Tabel 4 sampai dengan Tabel 6.90 19. % adb. Analisis Ultimat Abu. Hidrogen.55 0. % adb. % adb.14 0.83 0.57 3.48 31. konversi karbon dan efisiensi gasifikasi.7938 21.05 O2 5.85 42. % TT = tidak terdeteksi Nilai 46. 20 gram (P Silika 20 dan P Sungai 20) dan 25 gram (P Silika 25 dan P Sungai 25).03 6.32 2. sehingga diperoleh ukuran partikel – 48 + 60 mesh. a. % CaO.764 0.26 16.89 2.52 2.37 21.19 15.03 16.56 CO2 15. Setiap bed material kemudian digunakan dalam percobaan dengan variasi 15 gram (P Silika 15 dan P Sungai 15). HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 2. % CaO. Sifat kimia pasir silika Parameter SiO2. Nilai Kalor.34 44.80 32. Nilai Parameter 53. Karbon Padat. % TT = tidak terdeteksi Percontoh batubara yang digunakan untuk percobaan adalah batubara lignit yang berasal dari Sumatera Selatan.758 0.58 CH4 3.26 TT TT Tabel 1. Untuk percobaan gasifikasi percontoh batubara dipreparasi.23 4. % adb. % adb Nitrogen. kal/g adb.58 1. nilai kalor. Hasil percobaan penelitian skala laboratorium pembuatan gas sintesis dari batubara berupa komposisi produk syngas. % adb. Tabel 4.01 TT Bed material berupa pasir silika dan pasir sungai juga sudah dianalisis seperti terlihat pada Tabel 2 dan Tabel 3. Untuk percobaan masing-masing bed material dipreparasi sehingga diperoleh ukuran partikel – 48 + 60 mesh. nilai kalor.36 1.52 3. Hasil analisis percontoh batubara Tabel 3.685 0. Sifat kimia pasir sungai Parameter Analisis Proksimat Air Total.24 SiO2.83 5.05 total 100 100 100 100 100 100 H2/CO 0. Zat Terbang.6278 22. Penelitian dilakukan terhadap dua jenis bed material.31 2.01 43. Hasil analisis percontoh batubara dapat dilihat pada Tabel 1.54 2. % Al2O3. Komposisi produk syngas Kode Percontoh P Silika 15 P Silika 20 P Silika 25 P Sungai 15 P Sungai 20 P Sungai 25 H2 30.36 2. % Fe2O3.716 0.3932 22.

108 0.687 0.067 1.95 2.287 1.66 17.067 1.067 1.982 0.135 0.067 1.959 2.384 (mL/s) 1. Pengaruh jumlah pasir silika terhadap neraca massa bahan baku dan produk Kode Percontoh P Silika 15 P Silika 20 P Silika 25 Bahan Baku (mg/s) Batubara 1.982 0.Tabel 5.55 Komposisi Rata-rata Tanpa Nitrogen (% mol) CO 42.411 By Produk Ter (mg/s) 0.135 0.52 3.982 0.57 3.52 CO2 15.067 1.586 0.31 2.579 By Produk Char (mg/s) 0. konversi karbon dan efisiensi gasifikasi Kode Percontoh P Silika 15 P Silika 20 P Silika 25 P Sungai 15 P Sungai 20 P Sungai 25 Konversi C (%) 67 77 75 71 73 74 Efisiensi Gasifikasi (%) 74 80 77 77 81 78 Nilai Kalor (kkal/Nm3) 3.340 1.411 1.3932 22. Semakin banyak jumlah pasir silika sebagai bed material dalam reaktor.465 0.7437 Tabel 8. Nurhadi dan Slamet Suprapto 125 .377 1..070 2.01 43.982 Produk Syngas (mg/s) 1.982 0. Pengaruh jumlah pasir silika terhadap komposisi produk syngas Kode Percontoh P Silika 15 P Silika 20 P Silika 25 H2 30.32 30.976 3. nilai kalor.433 (mL/s) 1.389 By Produk Ter (mg/s) 0.85 CH4 3.434 1.577 0. Sebaliknya.6278 22.32 2..499 By Produk Char (mg/s) 0.499 0.02 O2 5.577 0. Neraca massa bahan baku dan produk Kode Percontoh P Silika 15 P Silika 20 P Silika 25 P Sungai 15 P Sungai 20 P Sungai 25 Bahan Baku (mg/s) Batubara 1.434 1.716 0.067 O2 0.067 1.449 1.03 16.185 0. neraca massa.19 C2H4 3. maka rasio gas hidrogen terhadap karbon monoksida berkurang.23 30.388 1.115 2.067 1. Komposisi gas cenderung sedikit berpengaruh terhadap perubahan jumlah pasir silika sebagai bed material dalam reaktor.185 0.067 O2 0.465 0. sehingga menyebabkan nilai kalor gas juga berkurang.122 0.899 2.287 1.287 1.36 2. Penggunaan Pasir Silika sebagai Bed Material Pengaruh jumlah pasir silika sebagai bed material terhadap komposisi gas.117 0. konversi karbon dan efisiensi gasifikasi dapat dilihat pada Tabel 7 sampai dengan Tabel 9. Tabel 7. Nilai kalor.449 1.287 1.982 0.685 BM 22.975 3.982 Produk Syngas (mg/s) 1.587 0.54 total 100 100 100 H2/CO 0.982 0.117 Penggunaan Pasir Sungai sebagai Bed Material pada Gasifikasi Batubara .36 44.1.086 Tabel 6.354 1.433 1.982 0.

26 16.73 C2H4 2.758 0.91 43.122 0.3170 Tabel 11.94 2.56 CO2 15. karena sebagian besar syngas berasal zat terbang yang lebih banyak mengandung unsur hidrogen dibandingkan char.83 2.18 Komposisi Rata-rata Tanpa Nitrogen (% mol) CO 42. Semakin banyak jumlah bed material dalam reaktor menyebabkan lebih banyak batubara yang bereaksi menjadi syngas sehingga meningkatkan konversi karbon. kemudian akan menurun kembali jika pasir silika sebagai bed material ditambahkan lagi menjadi 25 gram. sehingga masih banyak char yang tidak bereaksi.58 CH4 2.067 1. char dan ter juga akan terjadi konversi gas CO menjadi gas CO2. Pengaruh jumlah pasir sungai terhadap komposisi produk syngas Kode Percontoh P Sungai 15 P Sungai 20 P Sungai 25 H2 32.89 2. Dalam reaktor fluidized bed. bed material berfungsi sebagai media transfer panas (Kunii dan Levenspiel.7938 21.959 2.982 Produk Syngas (mg/s) 1.48 3. Pengaruh jumlah pasir sungai terhadap neraca massa bahan baku dan produk Kode Percontoh P Sungai 15 P Sungai 20 P Sungai 25 Bahan Baku (mg/s) Batubara 1. nilai kalor.388 1. 1991). maka nilai kalor syngas dan efisiensi gasifikasi akan menurun. neraca massa.86 32.51 3.108 0. Sebaliknya. konversi karbon dan efisiensi gasifikasi dapat dilihat pada Tabel 10 sampai dengan Tabel 12. sehingga meningkatkan nilai kalor syngas dan efisiensi gasifikasi. char dan ter menjadi syngas terutama gas hidrogen dan karbon monoksida.8542 22. Tabel 10. Pengaruh jumlah pasir silika terhadap nilai kalor.354 1. Dengan bertambahnya gas CO2 yang sudah tidak memiliki nilai kalor. sehingga meningkatkan konversi karbon.340 1.579 By Produk Char (mg/s) 0.982 0.067 O2 0. Hal ini disebabkan karena pada penambahan bed material sebanyak 15 gram dan 20 gram akan terjadi peningkatan konversi batubara. jika jumlah bed material sedikit menyebabkan reaksi kurang sempurna.377 1.34 44.Tabel 9.384 (mL/s) 1.05 O2 2.586 0. 3. konversi karbon dan efisiensi gasifikasi Kode Percontoh P Silika 15 P Silika 20 P Silika 25 Konversi C (%) 67 77 75 Efisiensi Gasifikasi (%) 74 80 77 Nilai Kalor (kkal/Nm3) 3.982 0.719 BM 21.587 0.899 semakin bertambah jumlah pasir silika sebagai bed material dalam reaktor maka jumlah produksi syngas secara kuantitatif meningkat.070 2.086 126 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Hal ini menyebabkan syngas memiliki rasio gas hidrogen terhadap gas karbon monoksida lebih tinggi. Penggunaan Pasir Sungai sebagai Bed Material Pengaruh jumlah pasir sungai sebagai bed material terhadap komposisi gas.36 1.80 32.764 0. Jika bed material ditambahkan lagi menjadi 25 gram.05 total 100 100 100 H2/CO 0.90 15. maka selain terjadi konversi batubara.389 By Produk Ter (mg/s) 0. Sedangkan nilai kalor syngas dan efisiensi gasifikasi akan naik pada penambahan pasir silika sebagai bed material sebanyak 15 gram dan 20 gram.2.067 1.

Tabel 12. Pengaruh jumlah pasir sungai terhadap nilai kalor, konversi karbon dan efisiensi gasifikasi Kode Percontoh P Sungai 15 P Sungai 20 P Sungai 25 Konversi C (%) 71 73 74 Efisiensi Gasifikasi (%) 77 81 78 Nilai Kalor (kkal/Nm3) 2,976 3,115 2,975

Komposisi gas cenderung sedikit berpengaruh terhadap perubahan jumlah pasir sungai sebagai bed material dalam reaktor. Semakin banyak jumlah pasir sungai sebagai bed material dalam reaktor maka rasio gas hidrogen terhadap karbon monoksida berkurang sehingga menyebabkan nilai kalor gas juga berkurang. Sebaliknya semakin bertambah jumlah pasir sungai sebagai bed material dalam reaktor maka jumlah produksi syngas secara kuantitatif meningkat, sehingga meningkatkan konversi karbon. Nilai kalor syngas dan efisiensi gasifikasi menunjukkan kenaikan pada penambahan pasir sungai sebagai bed material sebanyak 15 gram dan 20 gram, kemudian akan menurun kembali jika pasir sungai sebagai bed material ditambahkan lagi menjadi 25 gram. Fenomena ini sama seperti pada penggunaan pasir silika sebagai bed material. Hal ini menunjukkan bahwa pasir sungai yang digunakan dalam percobaan ini dapat berfungsi dengan baik. Hasil ini juga menunjukkan jumlah pasir sungai sebagai bed material yang optimum untuk laju alir batubara 1,067 adalah 15 gram.

ke dalam gasifier. Batubara kemudian berreaksi dengan gas oksigen menjadi syngas. Syngas kemudian dimurnikan dan didinginkan melalui siklon, heat exchanger dan scrubber. Syngas kemudian dianalisis menggunakan gas kromatografi. Hasil percobaan menunjukkan pasir sungai dapat berfungsi baik sebagai bed material dalam proses pembuatan gas sintesis dari batubara dilihat dari komposisi syngas, konversi karbon dan efisiensi gasifikasi.

DAFTAR PUSTAKA Kubota, N., 2006. Development of Novel Low Rank Coal Gasifier “TIGAR”, dipresentasikan pada Seminar on Low Rank Coal Gasification, Badan Litbang Energi dan Sumber Daya Mineral, Jakarta, 16 Mei 2006. Kunii, D., dan Levenspiel, O., 1991. Engeneering Fluidization, second edition, ButterworthHeinemann Publishing, Stoneham, M.A. Nurhadi, dkk., 2006. Pembuatan Gas Sintesis dari Batubara dengan Teknologi Gasifikasi Unggun Terfluidakan, Puslitbang tekMIRA. Setiawan, B., 2008. Indonesia Coal Policy, APEC Clean Fossil Energy Technical and Policy Seminar in conjunction with 7th Coaltech, Jakarta 17 November 2008. Penner, S.S., 1987. Coal Gasification: Direct Application and Syntheses of Chemicals and Fuels, U.S. Department of Energy, Office of Energy Research, Washington.

4.

KESIMPULAN

Percobaan ini dimaksudkan untuk mengetahui unjuk kerja penggunaan pasir sungai sebagai bed material pada gasifikasi batubara sistem fluidized bed. Sebagai pembanding, dilakukan juga percobaan penggunaan pasir silika sebagai bed material. Percobaan dimulai dengan pemanasan bed material dalam gasifier menggunakan pemanas listrik. Sebagai media fluidisasi digunakan gas nitrogen. Setelah suhu gasifier mencapai 900°C, percontoh batubara dan gas oksigen dimasukkan

Penggunaan Pasir Sungai sebagai Bed Material pada Gasifikasi Batubara ... Nurhadi dan Slamet Suprapto

127

METODE PENGURANGAN EMISI MERKURI PADA PEMBAKARAN BATUBARA

Dra. Roza Adriany M.Si Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi Jl. Ciledug Raya Cipulir Kebayoran Lama Jakarta Selatan Telp. 021 - 7394422 ext 1552

SARI Pengurangan emisi Merkuri yang maksimal pada pembakaran batubara seperti pada boiler bergantung pada beberapa faktor yaitu jenis batubara, konfigurasi alat pengontrol emisi dan proses tambahan lain seperti penambahan senyawa Halogen, pencampuran 2 jenis batubara, serta penggunaan teknologi ACI (Activated Carbon Injection). Dalam tulisan ini akan ditinjau masing-masing faktor yang mempengaruhi jumlah emisi Merkuri, dan jenis senyawa Merkuri yang diemisikan (Merkuri dalam wujud uap logam, oksida Hg dan Partikulat) serta pengaruh lain seperti UBC (Unburn Carbon) dan SO2. Kata kunci : emisi merkuri, batubara, pengontrol emisi, senyawa halogen

1.

PENDAHULUAN

Emisi Merkuri yang dihasilkan dari pembakaran batubara seperti pada unit Boiler mendapat perhatian yang besar dari pemerhati lingkungan karena berpotensi merusak lingkungan dan menjadi ancaman bagi kesehatan makhluk hidup. Menurut data EPA (Environmental Protection Agency), di Amerika Serikat diperkirakan sekitar 51 ton Merkuri pertahun telah diemisikan ke udara oleh Pabrik yang menggunakan batubara sebagai sumber energi pembakaran. Jenis Merkuri yang diemisikan ke udara pun bervariasi yaitu dalam bentuk uap Merkuri (Hg°), Oksida Merkuri dan Partikulat. Uap Merkuri (Hg°) mempunyai waktu tinggal yang lama di udara yaitu bisa mencapai satu tahun, sehingga dapat menyebar pada jarak yang sangat jauh dari sumbernya. Ketika Hg° terdeposit di tanah atau air , maka dia dapat mengalami transformasi menjadi merkuri organik yaitu metil merkuri yang dapat memasuki rantai makanan seperti ikan. Merkuri yang berbentuk oksida (Hg2+), mempunyai waktu tinggal di udara hanya beberapa hari saja, disebabkan karena tingkat kelarutan yang tinggi dari Hg2+ di dalam uap air yang ada di udara (Senior 2001).

Berbagai teknologi untuk mengurangi emisi merkuri maupun polutan lain yang berasal dari pembakaran Batubara seperti pada unit Boiler telah banyak dikembangkan dan sampai saat ini penelitianpenelitian mengenai hal ini masih terus dilakukan. Walaupun konfigurasi metode atau alat pengontrol emisi telah digunakan, pada kenyataannya jumlah merkuri yang diemisikan masih cukup tinggi dan akan berbeda-beda dari satu Pabrik dengan Pabrik lainnya. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi jumlah emisi Merkuri antara lain adalah jenis batubara, konfigurasi alat pengontrol emisi dan proses tambahan lain seperti penambahan senyawa Halogen, pencampuran 2 jenis batubara, penggunaan teknologi ACI (Activated Carbon Injection) serta pengaruh lain seperti UBC (Unburn Carbon) dan SO2 (Institute of Clean Air Companies, 2006 dan Durham, 2005). Dalam tulisan ini akan ditinjau masing-masing faktor yang mempengaruhi jumlah emisi Merkuri, serta jenis senyawa Merkuri yang diemisikan (Merkuri dalam wujud uap logam, oksida Hg dan Partikulat).

128

PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009

2.

METODOLOGI

Tulisan ini dibuat berdasarkan data atau informasi yang diperoleh dari penelitian-penelitian yang telah dilakukan terutama oleh EPA (Environmental Protection Agency) 3. HASIL DAN PEMBAHASAN

jection) yaitu penginjeksian karbon aktif kering berbentuk bubuk ke dalam flue gas. ACI biasanya ditempatkan antara pemanas udara (air preheater) dan ESP (Electrostatic Precipitator) atau FF (Fabric Filter). 3.1.1 Teknologi “Co Benefits” Hasil penelitian pada Tabel 1, Tabel 2 dan Tabel 3 berikut menunjukkan bagaimana pengaruh konfigurasi alat pengontrol polutan terhadap jumlah Merkuri yang dibuang ke udara, untuk jenis batubara yang sama. Data diperoleh dari ICR (Information Collection Request) EPA (U.S Environmental Protection Agency, 2000). Dari Tabel 1 terlihat bahwa konfigurasi alat pengontrol polutan yang paling efisien untuk Batubara Bituminous adalah SDA/FF dengan jumlah Merkuri yang dibuang 1,78 %. Dari Tabel 2 terlihat bahwa konfigurasi alat pengontrol polutan yang paling efisien untuk Batubara Sub-Bituminous adalah CS/FF dengan jumlah Merkuri yang dibuang 27,57 %. Dari Tabel 3 terlihat bahwa konfigurasi alat pengontrol polutan yang paling efisien untuk Batubara Lignit adalah CS-ESP dan wet FGD Scrubber dengan jumlah Merkuri yang dibuang 62,52 %. Untuk jenis alat pengontrol polutan yang sama misalnya menggunakan CS-ESP, terlihat bahwa % jumlah emisi dari Batubara Lignit adalah yang paling tinggi yaitu 98,53% diikuti oleh SubBituminous 85,52% dan yang terendah adalah Bituminous yaitu 53,52%. 3.1.2 Teknologi ACI (Activated Carbon Injection) ACI (Activated Carbon Injection) adalah penginjeksian karbon aktif kering berbentuk bubuk ke dalam flue gas. ACI biasanya ditempatkan antara pemanas udara dan ESP atau FF (Durham, 2005 dan Praven, 2003). Hasil penelitian dari: Durham,M. “Tools for Planning and Implementing Mercury Control Technology”, menunjukkan bagaimana pengaruh kecepatan injeksi karbon aktif terhadap % Merkuri yang dapat dikontrol (distabilkan) dengan menggunakan 2 alat pengontrol polutan yaitu ESP dan FF untuk Batubara Bituminous dan Sub Bituminous, seperti tampak pada Gambar 1.

Faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah emisi merkuri Seperti telah dijelaskan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi jumlah emisi Merkuri pada pembakaran Batubara yaitu jenis Batubara, konfigurasi alat pengontrol emisi dan proses tambahan lain seperti penambahan senyawa Halogen, pencampuran 2 jenis batubara, penggunaan teknologi ACI (Activated Carbon Injection) serta pengaruh lain seperti UBC (Unburn Carbon) dan SO2. 3.1. Jenis Batubara dan Konfigurasi Alat Pengontrol Merkuri Teknologi pengontrol Merkuri pada dasarnya dibagi dalam 2 bagian: Pertama adalah teknologi yang di sebut “Co Benefits” yaitu teknologi yang sebenarnya didesain untuk mengontrol polutan lain selain Merkuri , seperti NOx , SOx dan bahan partikulat (PM) tetapi dalam hal ini dapat juga digunakan sebagai alat pengontrol Merkuri (Praven, 2003). NOx dapat dikontrol menggunakan SCR (Selective Catalytic Reduction). Selain berfungsi sebagai pengontrol NOx , SCR dapat juga digunakan sebagai pengontrol emisi Merkuri dengan cara mengoksidasi uap Merkuri menggunakan katalis SCR. SOx adalah polutan yang dikontrol menggunakan FGD (Flue Gas Desulfurization). Selain berfungsi sebagai pengontrol SOx, FGD dapat juga digunakan sebagai pengontrol emisi Merkuri dengan cara melarutkan oksida Merkuri di dalam air (U.S Environmental Protection 2003 dan Praveen, 2003). Bahan Partikulat (PM), baik yang berasal dari Partikulat Merkuri atau Partikulat lainnya dapat dikontrol dengan alat seperti CS-ESP, HS-ESP, FF dan PM Scrubber (U.S Environmental Protection Agency, 2000). Teknologi kedua adalah teknologi yang spesifik untuk Merkuri seperti ACI (Activated Carbon In-

Metode Pengurangan Emisi Merkuri pada Pembakaran Batubara ... Rosa Adriany

129

Tabel 1. Pengaruh konfigurasi alat pengontrol polutan terhadap jumlah merkuri yang dibuang ke udara untuk batubara bituminous. Jenis Batubara Bituminous Jenis Boiler PC Boiler Alat Pengontrol Polutan SDA/FF SCR dan SDA/FF CS-FF dan wet FGD Scrubber SNCR dan CS-ESP FF Wet FGD Scrubber HS-ESP-Wet FGD Scrubber CS-ESP DSI dan CS-ESP HS-ESP % Merkuri yang Dibuang ke Udara 1,78 2,44 3,59 9,1 16,90 18,77 44,95 53,52 55,11 87,98

Tabel 2. Pengaruh konfigurasi alat pengontrol polutan terhadap jumlah merkuri yang dibuang ke udara untuk batubara sub bituminous Jenis Batubara Jenis Boiler Alat Pengontrol Polutan CS-FF CS-ESP / SDA CS-ESP dan Wet FGD Scrubber HS-ESP dan Wet FGD Scrubber SDA/FF CS/ESP HS-ESP PM/Scrubber % Merkuri yang Dibuang ke Udara 27,57 62,06 64,88 67,38 74,60 85,52 86,54 85,57

Sub Bituminous PC Boiler

Tabel 3. Pengaruh konfigurasi alat pengontrol polutan terhadap jumlah merkuri yang dibuang ke udara untuk batubara lignit Jenis Batubara Lignit Jenis Boiler PC Boiler Alat Pengontrol Polutan CS-ESP dan wet FGD Scrubber PM-Scrubber SDA-FF CS-ESP dan FF CS-ESP
SDA DSI SCR FGD SNCR

% Merkuri yang Dibuang ke Udara 62,52 67,23 82,62 95,07 98,53
Particulate Collector) : Spray Dryer Absorber (Dry Scrubber) : Duct Sorbent Injection : Selective Catalytic Reduction : Flue Gas Desulfurization : Selective Non-Catalytic Reduction

PC FBC CS-ESP HS-ESP FF PM FF (COHPAC)

: Pulverized Coal : Fluidized Bed Combustor : Cold-Side Electrostatic Precipitator : Hot-Side Electrostatic Precipitator : Fabric Filter : Particulate Matter : Fabric Filter pilot unit (Compact Hybrid

130

PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009

HCl tidak dapat mengoksidasi Hgº secara langsung melalui reaksi fasa gas yang Homogen . Rosa Adriany 131 . Diantara berbagai jenis Klorin tersebut. 3. Reaksi klorinasi ini dapat terjadi pada fasa yang sama (Homogen) maupun pada fasa yang berbeda (Heterogen). 2006). atom Cl diperkirakan sebagai jenis Klorin yang paling dominan berperan dalam mengoksidasi merkuri secara Homogen (Zhuang. pengurangan merkuri sampai dengan 90% dapat tercapai pada kecepatan injeksi karbon aktif sekitar 20 lb/Macf (million actual cubic feet) sedangkan untuk alat pengontrol baghouse (FF) untuk Batubara yang sama . kemungkinan hal ini disebabkan karena sensitifitas Cl2 yang lebih rendah dibanding Cl pada suhu tersebut. 2003). Metode Pengurangan Emisi Merkuri pada Pembakaran Batubara . molekul Cl2 dan sebagai HCl. Pada studi lainnya ditemukan bahwa pada suhu di bawah 500 ºC reaksi oksidasi merkuri yang utama dilakukan oleh Cl2 bukan oleh atom Cl. umumnya menghasilkan Hg+2 dan Hgp yang lebih banyak di dalam flue gas dibandingkan dengan merkuri dalam bentuk Hgº (Zhuang. tetapi HCl merupakan jenis klorin yang utama di dalam flue gas yang dapat melakukan reaksi oksidasi melalui reaksi Heterogen dengan cara mempromosikan oksidasi Merkuri pada permukaan padatan (Zhuang. UBC (Unburn Carbon) yang ada dalam abu terbang dengan Merkuri yang ada dalam flue gas. diperlukan 5 kali lebih banyak penyerap karbon aktif bila menggunakan ESP dari pada FF.. FF mempunyai tingkat penangkapan Merkuri yang lebih tinggi dibandingkan ESP. Kandungan Klorin yang tinggi di dalam Batubara. Pengaruh Penambahan Halogen Adanya senyawa Halogen seperti Klorin baik yang berasal dari Batubara maupun yang ditambahkan sebagai aditif dapat mempengaruhi oksidasi Merkuri (perubahan dari Hgº menjadi Hg+2 ) dan juga mempengaruhi perubahan Merkuri dari Hgº ke bentuk partikulat Merkuri (Hgp). Reaksi Heterogen adalah reaksi yang terjadi antara Klorin. Klorin di dalam flue gas. 2003). Hal ini kemungkinan disebabkan karena terbentuknya lapisan Karbon pada bagfilter sehingga penyerapan lebih maksimal (Praven. Kenaikan kecepatan injeksi karbon aktif selanjutnya ternyata tidak dapat menaikkan persentase pengurangan Merkuri.2. Dengan kata lain untuk mencapai 90% pengurangan Merkuri. 2006). pemisahan merkuri sampai dengan 90% dapat tercapai pada kecepatan injeksi 4 lb/Macf (Praven. Pada penggunaan alat pengontrol polutan ESP untuk jenis Batubara Sub Bituminous diperoleh hasil bahwa pengurangan emisi maksimum adalah sekitar 60% dan terjadi mulai dari kecepatan injeksi sekitar 7 lb/Macf. dapat berada dalam bentuk 3 senyawa yaitu sebagai atom Cl.. 2006). Pengaruh kecepatan injeksi karbon aktif terhadap % pengurangan merkuri Pada Gambar 1 terlihat bahwa untuk alat pengontrol ESP pada Batubara Bituminous.Gambar 1.

Dari Gambar 2 terlihat bahwa semakin bertambahnya komposisi batubara bituminous dalam campuran maka semakin besar persentase Hg yang dapat dipindahkan.3. melalui reaksi fasa gas yang Homogen. 2005). Hasil penelitian Durham (2005) seperti tampak pada Gambar 2 berikut memperlihatkan pengaruh pencampuran batubara bituminous berkadar klorin tinggi (106 µg/g) dengan batubara sub bituminous berkadar klorin rendah (9 µg/g). Alat pengontrol merkuri yang digunakan adalah SDA-FF. 2006). Hal ini memperlihatkan bahwa konfigurasi SDA FF lebih baik dibanding SDA-ESF (Durham. untuk komposisi pencampuran yang sama dari Batubara yang sama. Pengaruh Pencampuran 2 Jenis Batubara Salah satu metode alternatif dalam meningkatkan kemampuan penangkapan Merkuri adalah dengan mencampurkan 2 jenis Batubara yaitu Batubara yang mengandung Klorin atau Bromin yang tinggi dengan Batubara yang mengandung Klorin atau Bromin rendah. Jumlah UBC yang ada di dalam abu terbang dipengaruhi oleh penggunaan alat pengontrol polutan NOx yang digunakan. katalis SCR atau partikel yang diinjeksikan (Zhuang. Dalam beberapa kasus dapat mencapai kenaikan hingga 20 % berat.4. klorinasi merkuri pada flue gas dapat berlangsung melalui tiga cara yaitu pertama. dengan penambahan SCR atau dengan melakukan pemanasan bertingkat. 3. kedua. Penelitian dari Hasset dan Eylands membuktikan bahwa kenaikan kandungan UBC (Unburned Carbon) dan adanya penurunan suhu pembakaran akan menaikkan efisiensi penangkapan Merkuri di dalam abu terbang. Dengan demikian. 2006). Pengaruh dari UBC (Unburn Carbon) Pada umumnya kandungan karbon di dalam abu terbang berkisar antara 2-12%. tetapi dengan konfigurasi alat pengontrol Merkuri diganti menjadi SDA-ESP maka diperoleh hasil dimana efek pencampuran kedua Batubara tidak signifikan dalam meningkatkan efisiensi penangkapan Merkuri. Dampak dari penggunaan teknologi ini adalah meningkatnya kandungan UBC yang ada di dalam abu terbang. 3. Pengaruh pencampuran bituminous dengan sub bituminous terhadap persentase pengurangan emisi Hg 132 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . pengetahuan mengenai interaksi Fisika dan Kimia antara partikel Gambar 2. Peningkatan kandungan UBC ini dikarenakan kondisi pembakaran yang kekurangan oksigen dan atau rendahnya suhu pembakaran (Zhuang. Pada penelitian selanjutnya.Penelitian lain menunjukkan bahwa UBC dapat memfasilitasi perubahan HCl di dalam flue gas untuk membentuk pusat karbon terklorinasi. Pengurangan emisi NOx umumnya dilakukan dengan berbagai strategi misalnya dengan memasang low-NOx burners. Bagaimanapun. melalui reaksi Heterogen dan yang ketiga melalui pembentukan pusat Heterogen yang dapat berupa permukaan padatan dengan kondisi yang sesuai seperti partikel UBC.

KESIMPULAN DAFTAR PUSTAKA Durham. Tabel 2 dan Tabel 3 memperlihatkan bahwa pada Bituminous diperoleh konfigurasi alat pengontrol Polutan yang paling efisien adalah SDA/FF.. 2003.reaction_eng. 2006. 2006. www. Rosa Adriany 133 . Zhuang. 2. Institute of Clean Air Companies.gov.undeerc. U. Pencampuran 2 jenis Batubara yang mengandung Klorin atau Bromin tinggi dengan Batubara yang mengandung Klorin atau Bromin rendah dapat meningkatkan efisiensi penangkapan Merkuri.com.”Behaviour of Mercury in Air Pollution Control Devices on Coal-Fired Utility Boilers”.D. Senior. Pengaruh SO2 terhadap Karbon Aktif Karbon aktif dapat mengkatalisis SO2 menjadi H2SO4 di dalam Flue gas. Mercury Transformations in Coal Combustion Flue Gas”. www. 2000. Y. “Mercury Control for PRB and PRB/Bituminous Blends” www. pemisahan merkuri sampai dengan 90% dapat tercapai pada kecepatan injeksi 4 lb/Macf. Pencampuran dua jenis Batubara. Oxidation Catalyst. 2005..org. Jenis Batubara dan Konfigurasi Alat Pengontrol Merkuri Jenis batubara yang berbeda dan konfigurasi alat pengontrol Polutan yang berbeda dapat menghasilkan efisiensi penangkapan Merkuri yang berbeda. www. 2003. Hasil studi EPA seperti pada Tabel 1.gov. www. “Electric Utility Steam Generating Units Hazardous Air Pollutant Emission Study (Mercury ICR). U. Dalam hal ini adanya senyawa Halogen dalam jumlah yang cukup akan sangat membantu meningkatkan efisiensi penangkapan Merkuri (Zhuang. www. M... Century: Impacts of Fuel Quality and Operations Engineering Foundation Conference. Efisiensi penangkapan merkuri pada teknologi ACI bergantung pada kecepatan injeksi karbon aktif dan konfigurasi alat pengontrol polutan yang digunakan. Dikarenakan konsentrasi SO2 di dalam Flue gas jauh lebih besar dibanding Merkuri maka kapasitas adsorpsi Karbon aktif bergantung pada konsentrasi SO2 yang dapat membentuk H2SO4 pada permukaan Karbon. Penambahan Halogen Adanya senyawa Halogen seperti Klorin baik yang berasal dari Batubara maupun yang ditambahkan sebagai aditif dapat meningkatkan oksidasi Merkuri (perubahan dari Hgº menjadi Hg+2 ) dan juga mempengaruhi perubahan Merkuri dari Hgº ke bentuk partikulat Merkuri (Hgp) 3. Asam Sulfat ini akan terakumulasi pada permukaan Karbon dan kemungkinan dapat menghambat adsorpsi Merkuri. pengurangan merkuri sampai dengan 90% dapat tercapai pada kecepatan injeksi karbon aktif sekitar 20 lb/Macf (million actual cubic feet) sedangkan untuk alat pengontrol baghouse (FF) untuk Batubara yang sama . C. 3. Metode Pengurangan Emisi Merkuri pada Pembakaran Batubara .S Environmental Protection Agency. and FGD” .UBC dengan Merkuri. Hasil studi Durham menunjukkan bahwa untuk alat pengontrol ESP pada Batubara Bituminous.com. A. Dengan demikian kapasitas Karbon aktif dalam mengadsorpsi Merkuri akan lebih tinggi pada saat kadar SO2 di dalam Flue gas lebih rendah. pada Sub Bituminous adalah CS-FF dan pada Lignit adalah CSESP dan wet FGD Scrubber.epa.. 4. Metode pengurangan emisi Merkuri yang maksimal pada pembakaran batubara seperti pada boiler bergantung pada beberapa faktor antara lain: 1. “Enhancing Mercury Control on Coal-Fired Boilers with SCR. SO2 terhadap Karbon Aktif Kapasitas Karbon aktif dalam mengadsorpsi Merkuri akan lebih tinggi pada saat kadar SO2 di dalam Flue gas lebih rendah.epa.nescaum. “Mercury Emissions From Coal – Fired Power Plants”. “Performance and Cost of Mercury and Multipollutant Emission Control Technology Aplication on Electric Utility Boilers”. Praveen. Snowbird.com. 2006).S Environmental Protection Agency.L. EPA/600/ R-03/110.icac.. www. masih kurang memadai (Zhuang.icac. 2001. 4.org. UT. 2006).5.

bahkan di beberapa tempat membentuk bidang yang tipis dengan ketebalan kurang dari 2 meter. Pada penampang seismik.000 ton). 236 Bandung 40174 e-mail: ediar. jenis dan ketebalan sedimen.050. Dr. Junjunan No. Hasil eksplorasi konsentrat timah menggunakan data seismik refleksi ini dapat menjadi acuan dalam kegiatan studi kelayakan. Ketebalan terbesar terdapat di bagian tengah daerah eksplorasi berkisar antara 16 . Jumlah kandungan konsentrat timah tersebut merupakan potensi ekonomis untuk ekploitasi konsentrat timah di daerah eksplorasi.30 meter.com 2) Departemen Teknik Geologi. dan konsentrat timah. potensi konsentrat timah. Institut Teknologi Bandung Jl. eksplorasi lebih rinci dan peningkatan investasi pertambangan di perairan Bangka Utara. dan luas daerah eksplorasi sekitar 5. sehingga diperoleh volume sedimen seluruhnya adalah 350. Prinsip kerja metode seismik refleksi ini adalah pantulan gelombang suara yang dapat membedakan antara granit.000 kg (1. data penting yang diperlukan untuk mengetahui keberadaan dan perhitungan volume sedimen mengandung potensi konsentrat timah adalah data seismik refleksi. memperlihatkan makin menebalnya sedimen ke arah utara (offshore) dengan ketebalan antara 10 . Sedimen dan timah tersebut berasal dari darat dan dari tubuh granit di laut melalui sungai-sungai purba (paleochannels). Ganesa No.usman@gmail. Subandrio2) 1) Pusat Eksplorasi dan Pengembangan Geologi Kelautan.000 ha. 10 Bandung. SARI Pada kegiatan eksplorasi konsentrat timah di laut. ketebalan kurang dari 4 meter. maka diperkirakan kandungan timah di daerah eksplorasi sekitar 1. Daerah pengendapan sedimen dan timah yang dapat diidentifikasi melalui data seismik adalah lembah-lembah purba (paleovalleys) yang terisi sedimen (channel fill) berbutir kuarsa berukuran sedang-kasar.30 meter dan kedalaman batuan dasar adalah 65 meter sebagai pusat lembah. Di bagian selatan. Kata kunci: data seismik.000 m3. lembah purba.050. lembah-lembah purba ditunjukkan oleh bentuk morfologi cekungan pada permukaan granit yang terisi oleh sedimen dan konsentrat timah. perairan utara Bangka 134 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Balitbang ESDM. Hasil interpretasi penampang seismik refleksi di perairan Bangka Utara menunjukkan ketebalan sedimen mengandung timah antara 2 . Jl. mengandung rata-rata 3 kg konsentrat timah. Sejalan dengan bertambahnya kedalaman laut.24 meter.000.EKSPLORASI POTENSI KONSENTRAT TIMAH BERDASARKAN DATA SEISMIK REFLEKSI (STUDI KASUS PERAIRAN BANGKA UTARA) Ediar Usman1) dan Andri S.000. Jika dalam volume 1 m3 sedimen. Hasil perhitungan ketebalan rata-rata adalah 7 meter.

050. sehingga dapat diketahui ketebalan dan lembah-lembah purba yang mengandung konsentrat timah.. 2. the deeper sea tends to northwards and also correlated with thicker sediment. more detail tin exploration and also increasing the mines investment in the territorial waters of North Bangka. yang merupakan tempat akumulasi mineral berat. The tranportation of sediment and tin from land and granite body in sea through paleochannel. dipantulkan oleh bidang batas batuan dan selanjutnya diterima oleh seperangkat peralatan seismik (receiver).000 ton). The sediment thickness in this area is estimated between 10 to 24 meters. The thickest area lies in the center of survey area with depth ranges from 16 to 30 meters and depth of bedrock is 65 meters as central of paleovalley. wide of exploration area around 5. Sebagai langkah awal untuk mengetahui keberadaan sedimen mengandung timah tersebut. The area of depositional of sediments and tin concentrate identified through seismic data is paleovalleys which filled by sediment. dapat ditetapkan target kegiatan eksplorasi dalam mengidentifikasi sedimen mengandung konsentrat timah. perlu dilakukan eksplorasi geologi dan geofisika kelautan dengan menggunakan metode seismik pantul beresolusi tinggi (high resolution) (Usman. Result of seismic profile calculation. diperkirakan di daerah ini terdapat lembah (paleo-channel) sebagai daerah sedimentasi pasir asal darat dan laut yang mengandung konsentrat timah. tin concentrate potency. Berdasarkan metode seismik.050.000 kg (1. paleovalleys. melalui penjalaran gelombang suara dalam media air dan batuan. 2008). the paleovalleys is shown by basin morphology form at surface of granite that are loaded by sediment and tin concentrate. Sedimen berbutir kasar (coarse fluvial depos- Eksplorasi Potensi Konsentrat Timah Berdasarkan Data . secara regional merupakan daerah jalur timah (tin belt) yang kaya dengan konsentrat timah.ABSTRACT At activity of tin concentrate exploration in the sea. penyebaran sedimen dan morfologi granit. On seismic profile. Survei seismik akan dapat memberikan gambaran tentang daerah akumulasi sedimen. the thickness is less than 4 meters. Keberadaan dan keterdapan konsentrat timah di laut memerlukan alat bantu yang memberikan keyakinan tentang volume dan potensinya. PENDAHULUAN Perairan Kepulauan Bangka Utara. type and sediment thickness. and in some places it even forms thin layer of less than 2 meters.000 ha. Keywords: seismic data. termasuk konsentrat timah. Daerah sungai purba (paleochannel) dan lembah purba (paleovalley) bawah laut. Ediar Usman dan Andri S. yaitu: 1. ketebalan dan jenis sedimen. Result of interpretation on reflection seismic profiles in the territorial waters of North Bangka shows that the sediment thickness with ranges from 2 to 30 meters. Subandrio 135 . Sebagai daerah jalur timah. The principal of this reflection seismic method is sound wave reflection can differentiate between granite.000 m3. the important data that are needed to know existence and calculation of sediment volume of tin concentrate reserve is reflection seismic data.000.000. Prinsip dasar seismik pantul beresolusi tinggi tersebut merupakan satu keterpaduan untuk mengetahui ketebalan. Amount of the tin concentrate content represent the economic potency for the exploitation of tin concentrate in exploration area and its surrounding.. Melalui pemahaman karakter pantulan seismik pada penampang seismik akan dapat diinterpretasi ketebalan sedimen dan morfologi granit. Eksplorasi seismik dalam pelaksanaannya menggunakan seperangkat peralatan dengan menggunakan prinsip-prinsip gelombang suara yang dilepaskan ke dasar laut. territorial waters of North Bangka 1. If on 1 m3 volume of sediment with content 3 kg of tin concentrate. In southern part of area. so that the sediment volume entirely is 350. medium sand – very fine sand of quartz grain. the content estimation of tin concentrate in the exploration area around 1. dan Subandrio. On the contrary. the average of thickness approximately is 7 meters. and tin concentrate. Result of tin concentrate exploration by using the reflection seismic data can become reference on the activities of feasibility study.

batuan alas adalah granit yang kaya dengan butiran kuarsa dan mineral timah (Sn). Daerah ini merupakan tinggian batuan dasar berada di sebelah timur Cekungan Sumatera Selatan dan di sebelah utara Cekungan Sunda (Katili. 4. 2. Kepulauan Riau. 1983). Sebagai dasar dalam penentuan titik pemboran inti untuk mengetahui kualitas dan kuantitas timah secara vertikal dan horizontal. yaitu sedimen yang prospek mengandung timah. Punggungan ini merupakan bagian dari jalur timah batuan granit (Tin Belt Granite) dari Kraton Sunda yang memanjang dari daratan Thailand. Pulau Bangka yang dimasukkan pada Main Tin Belt Granite dan di Pulau Belitung termasuk pada Western Tin Belt Granite (Gambar 2). 1980. 1980). termasuk dalam wilayah perairan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung atau sekitar 7 km ke lepas pantai pada kedalaman laut 10 – 15 meter. Morfologi batuan alas (bedrock) sebagai batuan sumber mineral timah. Batuan dasar granit ini muncul di sepanjang jalur timah yang mempunyai jenis berbeda-beda. Di perairan Bangka Utara dan sekitarnya. GEOLOGI REGIONAL Kerangka geologi regional Kepulauan Bangka dan pulau-pulau di sekitarnya termasuk dalam Punggungan Bangka Belitung (Bangka-Biliton Ridge). Perkembangan zona vulkanik Sumatera memperlihatkan bahwa granit Belitung berumur lebih tua (berumur Perem hingga Jura) (Lehmann Gambar 1.its). Akumulasi mineral timah tidak jauh dari batuan sumber. Semenanjung Malaysia. Daerah survei terletak di lepas pantai bagian utara Pulau Bangka. Secara umum lokasi survei termasuk dalam perairan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung kerana letaknya di luar perairan kabupaten/kota yang berjarak di luar daerah 4 mil laut. Batchelor. Peta lokasi eksplorasi 136 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Bangka-Belitung hingga Kalimantan Barat (Katili. 3.

Secara fisiografis.Gambar 2. yaitu Depresi Bangka yang memanjang dengan arah barat laut – tenggara (sejajar dengan pantai Eksplorasi Potensi Konsentrat Timah Berdasarkan Data . 1983) and Harmanto. Hal ini memberi informasi bahwa proses erosi pada tinggian-tinggian granit di daerah Bangka Belitung juga telah berjalan cukup lama. Platform Singapura dan Paparan Sunda Bagian Selatan (Laut Jawa). daerah survei termasuk bagian dari Platform Singapura. dicirikan oleh grafik anomali magnetik yang tajam dan oleh grafik gravitasi yang agak halus (smooth). 1977). Platform Singapura merupakan pemisah antara Paparan Sunda bagian utara dan Paparan Sunda bagian selatan.. diabas. Subandrio 137 . Berdasarkan peta struktur pada top dari morfologi batuan dasar. Sedimen Kenozoik di platform ini hanya sampai ketebalan 500 meter. sehingga hasilnya berupa endapan aluvial dalam bentuk endapan pantai dan laut telah berjalan lebih intensif. 1970). yaitu: Paparan Sunda Bagian Utara. Basement dari platform ini sebagian besar terdiri atas batuan beku (gabro. andesit dan granit) berumur mesozoik hingga akhir Kapur yang kemudian pada awal Miosen diintrusi oleh granit dari berbagai jenis (Ishihara. Cakupan platform ini mulai dari Laut Natuna di bagian Utara dan batas bagian selatan dari platform ini adalah Punggungan Bangka-Belitung (Bangka-Biliton Ridge). Peta jalur granit regional Asia Tenggara (Batchelor. Pada platform ini terdapat dua depresi cekungan sedimen yang memiliki ketebalan sedimen lebih dari 800 meter. Berdasarkan kerangka tektonik. dibandingkan granit di Bangka dan di daratan pulau Sumatera yang berumur Trias. 1990). juga dicirikan oleh tubuh-tubuh batuan dasar kecil yang memiliki kecepatan seismik tinggi. Paparan Sunda dapat dibedakan menjadi tiga bagian (Tjia. Platform tersebut dicirikan oleh morfologi batuan dasar yang dangkal dan ditutupi oleh sedimen yang tipis.. Ediar Usman dan Andri S. perairan Bangka Utara terletak di Paparan Sunda (Sunda Shelf) yang secara tektonik telah stabil sejak awal Miosen.

Sumatera) dan Depresi Belitung yang memanjang berarah utara-selatan (sejajar dengan pantai barat Kalimantan). Di daerah survei, Punggungan Bangka-Belitung terdapat di bagian barat daya dan Depresi Bangka memotong bagian tengah daerah eksplorasi dengan arah barat laut - tenggara. Pulau Bangka merupakan bagian ujung selatan dari Platform Singapura dan terletak paling dekat dengan daerah eksplorasi. Pulau ini umumnya merupakan daerah yang hampir rata dan secara geologis dapat mewakili tataan geologi Platform Singapura, khususnya geologi Punggungan Bangka-Balitung dan umumnya untuk tataan geologi daerah eksplorasi. Secara geologis, Pulau Bangka berbeda dengan Pulau Sumatera, karena batuan tertua yang tersingkap di Pulau Bangka adalah Kompleks Pemali dari batuan metamorfik yang berumur Permo-Karbon. Kompleks ini diterobos oleh diabas Penyabung berumur Permo – Triasik. Geologi lepas pantai sekitar perairan Bangka Utara merupakan kelanjutan dari kondisi geologis Kepulauan Bangka Belitung. Batuan dasar berupa batuan magmatis granit maupun batuan beku lainnya, terbentang di atasnya sedimen PraTersier, dan tertutup oleh endapan marin yang merupakan sedimen permukaan dasar laut. Geologi lepas pantai dari hasil rekaman seismik pantul dangkal dan pemboran di Selat Gaspar di Tanjung Beriga, menunjukkan empat kelompok batuan sedimen yang diendapkan sampai umur Miosen (Batchelor, 1983), yaitu: a. Aluvium muda teridiri dari, sedimen penutup muda berumur Holosen dan Kompleks Aluvium berumur Plistosen Akhir. b. Unit Transisi terdiri atas sedimen laut, berumur Plistosen Akhir dan Unit Transisi berumur Plistosen Tengah. c. Sedimen penutup purba, berumur Plistosen Awal sampai Akhir terdiri atas fasies dataran aluvium purba dan menjemari dengan fasies kipas (sedimen bongkah granit). d. Regolit Daratan Sunda terdiri atas endapan koluvial dan materi kipas, berumur Pliosen dan latosol, laterit serta bauksit berasal dari pelapukan batuan dasar (granit dan batuan sedimen), berumur Miosen Akhir. Kepulauan Singkep Tujuh hingga Belitung berpotensi akan endapan kasiterit letakan. Secara

geologis, genesisnya merupakan sistem letakan lembah (placer valley systems). Sistem ini erat kaitannya dengan perubahan muka air laut (sea level changes) yang terjadi selama Plio-Plistosen (Yoo and Park, 2000), dan memengaruhi kondisi geologis saat ini, baik yang berada di daerah daratan maupun di daerah lepas pantai, khususnya daerah granit Sengkeli, Pering dan Lenggang. Perubahanperubahan muka air laut di masa lampau yang mencapai ± 100 meter ini setidaknya menyebabkan terjadinya tiga kali proses erosional (erosional events), yakni proses erosi, akumulasi sedimen rombakan dan tertutup oleh lapisan sedimen Resen. Perubahan muka air laut ini juga memengaruhi Paparan Sunda, khususnya Laut Jawa dan Selat Karimata saat ini, yakni membentuk alur-alur sungai purba, seperti yang teridentifikasi oleh Emery dan Aubrey (1972) (Gambar 3). Pada aluralur sungai purba ini dipercayai mengandung potensi sumber daya mineral yang merupakan endapan plaser. Berdasarkan kondisi regional, potensi konsentrat timah di perairan Bangka Utara sampai saat ini belum diketahui secara pasti karena keterbatasan data eksplorasi secara rinci dan publikasi terdahulu. Data yang ada masih bersifat regional, dan masih memerlukan kajian-kajian yang lebih terpadu dari berbagai publikasi dan eksplorasi timah terdahulu. Kajian potensi saat ini mengacu pada data geologi dan sungai-sungai purba regional di daerah eksplorasi, khususnya di utara Pulau Bangka (Gambar 3). Kegiatan eksplorasi dan penambangan timah saat ini mengacu pada sistem penyebaran sungai dan lembah purba. Kegiatan survei seismik dilakukan untuk mengidentifikasi keberadaan lembah dan sungai purba serta cabang-cabangnya yang berukuran lebih kecil, tetapi diyakini sebagai pembawa konsentrat timah. Berdasarkan geologi regional dan distribusi sungaisungai purba tersebut dapat diperikirakan penyebaran sedimen mengandung timah di perairan Bangka Utara. Secara umum, sedimen akan mengalami proses transportasi dari darat ke laut melalui sungai-sungai purba dan menyebar dalam bentuk limpahan secara lateral dan vertikal (progradation) ke morfologi cekungan di laut. Pada umumnya, sungai-sungai purba tersebut tertutup oleh sedimen Resen yang lebih muda. Untuk itu, eksplorasi timah berdasarkan metode seismik di

138

PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009

Gambar 3. Peta distribusi sungai-sungai purba (paleo-channel) di perairan Bangka sebagai daerah aliran sedimen mengandung konsentra timah (disederhanakan dari Emery, 1972)

perairan Bangka Utara diharapkan dapat menemukan lembah dan sungai purba sebagai indikasi awal keberadaan timah.

3.

METODE EKSPLORASI

Geologi bawah permukaan dasar laut (struktur dan batuan) disusun berdasarkan penafsiran data seismik pantul dengan menggunakan prinsipprinsip Seismik Stratigrafi, yaitu pengenalan terhadap ciri-ciri reflektor batas atas, batas bawah dan bagian dalam (internal reflector) setiap unit seismik (Sangree & Wiedmier, 1979; Sherif, 1980). Interpretasi lapisan sedimen mengandung konsentrat timah adalah daerah yang dekat dengan batuan sumber (bedrock), membentuk lembah sebagai akumulasi daerah dengan berat jenis tinggi dan litologinya adalah coarse fluvial deposits (sedimen fluvial berbutir kasar) atau disebut sedimen Kuarter. Selanjutnya, guna memastikan sedimen mengandung konsentrat timah, data seismik dikorelasi dengan data pemboran sehingga

diperoleh gambaran menyeluruh tentang potensi konsentrat timah di daerah eksplorasi. Data tersebut kemudian diolah secara digital untuk mendapatkan volume endapan dan selanjutnya dapat diperhitungkan potensi konsentrat timah. Pengambilan data seismik di perairan Bangka Utara gunanya untuk mengetahui ketebalan lapisan sedimen Kuarter, lembah dan saluran (channels) pada batuan dasar. Lembah dan saluran di bawah dasar laut atau pada batuan dasar akan terlihat dari pola kontur kedalaman batuan dasar tersebut. Perhitungan ketebalan sedimen dan kedalaman granit berdasarkan atas perhitungan dengan persamaan: S = V x t, di mana S adalah jarak, V kecepatan gelombang dalam sedimen V.sed) dan t adalah waktu. Kecepatan gelombang dalam sedimen dengan V.sed = 1600 meter/Sec. (Hubrol et al., 1980; Khesin et al., 1995). Pada eksplorasi ini dipergunakan sapuan (sweep) adalah 0,25 Sec. dan firing rate adalah 1 Sec. Total sapuan seismik adalah 250 milli Sec. dalam Two Way Traveltime (TWT) atau 125 milli Sec. dalam One Way

Eksplorasi Potensi Konsentrat Timah Berdasarkan Data ... Ediar Usman dan Andri S. Subandrio

139

Traveltime (OWT). Selanjutnya setelah diperoleh ketebalan sedimen, dan luas daerah eksplorasi 5000 ha dapat dihitung volumen sedimen berdasarkan metode Trapezoidal dan Simpson’s Role dengan rumus luas kali tebal secara digital. Volume juga dapat dihitung berdasarkan luas dan tebal rata-rata.

Hasil interpretasi rekaman seismik di daerah survei diperoleh pola reflektor yang menunjukkan batuan sedimen dengan ciri-ciri di bagian atas adalah selaras (concordance), laminasi sejajar, bergelombang terputus-putus, perlapisan terpotong-potong. Bagian bawah membentuk pengisian, longsoran, dan bidang ketidakselarasan. Pada penampang seismik Lintasan 36 (LINE 36) berarah barat – timur menunjukkan batas yang tegas antara batuan sedimen di bagian atas dan granit di bagian bawah. Pada penampang tersebut juga menunjukkan adanya daerah lembah purba yang berbentuk cekungan pada permukaan granit dan terisi oleh sedimen. Pada cekungan tersebut pengisian oleh sedimen hasil transportasi dari darat dan dari tubuh granit di laut. Pada penampang Lintasan 36 (LINE 36) (Gambar 4) dengan arah lintasan barat – timur dan hasil interpretasinya (Gambar 5) memperlihatkan keberadaan lembah berada di bagian timur daerah survei makin dalam ke arah utara. Di bagian barat tersebut, keberadaan lembah lebih dangkal dan tipis, tetapi berdasarkan bentuk reflektor yang masih menunjukkan ciri-ciri bergelombang terputus-putus, perlapisan terpotong-potong, longsoran dan pengisian diperkirakan di bagian barat lebih kasar dibandingkan dengan bagian timur. Di bagian timur ditandai oleh hilangnya pantulan di bagian lembah, sebagai akibat gelombang seismik melalui madium yang halus (kaolin) atau medium yang kasar (kerikil) yang berongga dengan kandungan air yang tinggi. Antara batuan dasar sebagai batuan alas dengan sedimen Kuarter di bagian atas dipisahkan oleh suatu bidang pepat erosi. Bidang tersebut mengalasi sedimen yang dibedakan dari perbedaan ciri-ciri reflektor. Secara umum ciri-ciri reflektor pada penampang barat – timur seperti contoh pada L-36 mempunyai kesamaan dengan ciri-ciri pada penampang lainnya yang menggambarkan batuan alas di bagian bawah dan sedimen Kuarter di bagian atas sebagaimana yang dikemukakan oleh Ringis (1993). Bila dikaitkan dengan kondisi geologis dasar laut regional, sumber sedimen-sedimen tersebut adalah granit terdekat yang mengalami erosi yang intensif. Setelah seluruh lintasan seismik diinterpretasi, dan dilakukan perhitungan ketebalan berdasarkan kecepatan gelombang dalam sedimen (V.sed = 1600 m/det) dan waktu penjalaran gelombang to-

4.

HASIL EKSPLORASI

Ketebalan Sedimen dan Kedalaman Lembah Purba Ketebalan sedimen diperoleh dari hasil interpretasi rekaman seismik yang dilakukan berdasarkan pengenalan terhadap ciri-ciri reflektor. Pengenalan lainnya adalah kenampakan batas antara sedimen dan batuan dasar yang ditandai oleh penguatan reflektor sebagai bidang batas (Sukmono, 1999; Priyono, 2000). Batuan sedimen umumnya berukuran lempung, lanau, pasir dan kerikil dengan ciri-ciri reflektor adalah selaras (concordance), laminasi sejajar, bergelombang terputus-putus (wavy), perlapisan terpotong-potong (hummocky), longsoran (slump) dan pengisian (channel fill). Batas antara granit dengan sedimen Kuarter membentuk bidang ketidakselarasan atau pepat erosi (erosional truncation) atau kontak onlap (Sangree and Wiedmier, 1979; Sherif, 1980). Sedangkan ciriciri reflektor granit sebagai batuan alas/dasar pada penampang seismik adalah berbukit-bukit (mounded), berbintik-bintik kacau tidak beraturan (chaotic), kadang-kadang muncul perulangan bidang pantulan (multiple) dan makin ke bawah bebas pantulan (free reflektor) (Ringis, 1993). Adanya pola choatic dan multiple menunjukkan gelombang melalui medium yang keras dan padat berupa batuan tanpa bidang perlapisan. Ciri-ciri seperti ini dapat diinterpretasikan sebagai batuan alas dan antara keduanya dipisahkan oleh bidang ketidakselarasan (erosional truncation). Bagian paling bawah sering disebut sebagai Acoustic Basement dan sekaligus juga merupakan batuan dasar. Di perairan Bangka-Belitung, batuan alas adalah granit (Batchelor, 1983); sedangkan hilangnya pantulan gelombang (free reflektor) dapat juga disebabkan oleh adanya medium yang halus (ada organik), porous dan berongga. Pada batuan beku tidak memberikan respon seismik, karena batuan tidak berlapis dan bersifat homogen (Boggs, 2006).

140

PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009

tal pada total penampang seismik adalah 0,125 Sec, diperoleh ketebalan sedimen. Selanjutnya, setelah seluruh lintasan diinterpretasi dan dihitung ketebalannya, dan data ketebalan tersebut diplot

pada peta kerja dengan menarik kontur yang mempunyai angka ketebalan yang sama, maka akan menghasilkan peta ketebalan sedimen (isopach) (Gambar 6).

Gambar 4. Penampang seismik pantul Lintasan 36 (LINE 36) dengan arah Timur - Barat

Gambar 5. Hasil interpretasi rekaman seismik pantul Lintasan 36 (LINE 36) dengan arah Timur – Barat

Eksplorasi Potensi Konsentrat Timah Berdasarkan Data ... Ediar Usman dan Andri S. Subandrio

141

berarti penebalan ke bagian atas membentuk gosong pasir. Sejalan dengan bertambahnya kedalaman laut. Pada daerah morfologi lembah pada batuan dasar tersebut merupakan daerah yang mempunyai volume sedimen yang besar dan prospektif konsentrat timah yang besar. Di bagian selatan. Hasil pengukuran ketebalan sedimen diperoleh ketebalan berkisar antara 2 . Peta ketebalan sedimen (isopach) perairan utara Bangka Pada bagian kontur yang rapat menunjukkan ketebalan sedimen lebih besar.25 meter. Makin menipisnya sedimen di bagian selatan disebabkan makin mendekat ke arah pantai dengan batuan dasar yang lebih dangkal. bahkan di beberapa tempat membentuk bidang yang tipis dengan ketebalan kurang dari 2 meter. memperlihatkan makin menebalnya sedimen ke arah utara dengan ketebalan antara 10 .30 meter. maka kondisi ini menujukkan bahwa sedimen tersebut menebal ke arah bawah. sehingga dapat dikembangkan lebih lanjut untuk eksplorasi lebih rinci. 142 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .Gambar 6. Secara genesis. ketebalan kurang dari 4 meter. peta ketebalan sedimen tersebut ditumpangtindihkan dengan peta morfologi batuan dasar. Tetapi bila ketebalan sedimen dengan kontur yang rapat tidak berhimpitan dengan morfologi lembah. Bila ketebalan tersebut tepat pada morfologi lembah pada batuan dasar. menunjukkan adanya sedimen Resen dengan proses sedimentasi ke bagian atas dan tidak berhimpitan dengan lembah atau sungai purba. Pada penampang seismik. Bagian paling tebal terdapat di bagian tengah daerah eksplorasi berkisar antara 16 . Selanjutnya. morfologi granit dan kedalaman lembah purba digambarkan oleh garis kontur kedalaman batuan dasar. Penebalan ke bagian atas.30 meter. lembah purba pada penampang seismik dikenal sebagai pengisian lembah. Selanjutnya.

Sedangkan di bagian selatan. Metode yang dipergunakan dalam penghitungan volume/potensi adalah Trapezoidal dan Simpson’s Role diperoleh volume sedimen perairan utara Bangka adalah antara 353.79397 m3. Estimasi Volume Sedimen dan Potensi Konsentrat Timah Selanjutnya. tebal. Peta morfologi batuan dasar (granit) di perairan Bangka Utara meter.. Bagian terdalam lembah purba tersebut terletak di bagian tengah.65 Secara umum. Di bagian utara kedalaman batuan dasar bervariasi dan bersifat setempat-setempat.688. yaitu granit (Gambar 7). berkisar antara 60 . Subandrio 143 .kedalaman batuan dasar merupakan bagian permukaan dari dasar akustik gelombang seismik (basement accoustic).24723 – 354.35 meter. Di bagian barat laut.60 meter. disebut sebagai basement top. untuk mendapatkan kandungan sedimen di daerah eksplorasi adalah Vol = luas x Gambar 7. Kondisi ini disebabkan karena di bagian selatan makin menuju ke arah perairan pantai Pulau Bangka sebagai pusat granit. Metode lainnya sebagai koreksi dilakukan secara Eksplorasi Potensi Konsentrat Timah Berdasarkan Data . Ediar Usman dan Andri S.. Lembah-lembah purba ditunjukkan oleh kontur yang rapat dan bulat mamanjang relatif barat – timur. morfologi batuan dasar relatif datar dengan kedalaman antara 20 . pada umumnya kedalaman lembah purba antara 20 . kedalaman batuan dasar di bagian selatan makin dangkal dibandingkan bagian utara. terdapat kedalaman lembah purba antara 50 . Berdasarkan pemahaman geologi regional. dasar akustik tersebut diinterpretasikan sebagai batuan dasar (bedrock).982.412.795.40 meter.

PEMBAHASAN survei. selatan dan timur mempunyai arah yang bervariasi (Gambar 8). Berdasarkan posisinya terhadap sungai purba regional. alur sungai purba di daerah survei tersebut merupakan cabang dari sistem alur purba regional Hasil interpretasi seismik dan kedalaman batuan dasar dapat dilakukan proses rekonstruksi lokasi dan penyebaran sungai-sungai purba di daerah Gambar 8. dan diperkirakan keduanya sebagai pusat atau muara dari aliran sungai purba yang juga merupakan pusat pengendapan sedimen mengandung konsentrat timah.000 ton). 2008). maka diperoleh volume sedimen 350. Alur sungai purba hasil interpretasi seismik sebagai daerah aliran dan pengendapan sedimen mengandung konsentrat timah di daerah survei 144 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .000.050. Hasil perhitungan secara digital dan manual tersebut tidak menunjukkan perbedaan yang terlalu besar. dan di bagian barat laut dari arah timur ke barat. Sedangkan alur-alur yang berukuran lebih kecil di bagian tengah.000. Dua lembah purba tersebut terletak di bagian tengah dan bagian barat laut. Jika setiap 1 m3 mengandung rata-rata 3 kg timah (Usman and Subandrio.000 m3. Jika luas daerah eksplorasi adalah 5000 ha (dihitung pada program MapInfo) dan ketebalan rata-rata berdasarkan hasil perhitungan pada penampang seismik sekitar 7 meter.050. Di bagian tengah kedalaman lembah berkisar antara 60 . maka total kandungan timah adalah 1.65 meter. Alur sungai purba di bagian tengah tersebut berarah dari barat ke timur.60 meter. dan di bagian barat laut berkisar antara 50 . dan dua di antaranya merupakan lembah purba terdalam dan terbesar di daerah survei.000 kg (1. Sungai-sungai purba tersebut melewati beberapa lembah-lembah purba.sederhana dengan menghitung ketebalan rata-rata pada penampang seismik dan luas daerah eksplorasi. 5.

1996). Sistem ini erat kaitannya dengan penurunan permukaan laut yang terjadi di Paparan Sunda selama periode PlioPlistosen atau sekitar 2 .688.. Ediar Usman dan Andri S. Thesis Ph. Jr. di beberapa tempat kurang dari 2 meter. kedalaman antara 20 . Emery. berkisar antara 60 . dan adanya jejak lembah-lembah purba yang terbentuk sejak awal Plistosen di daerah survei dapat diamati secara langsung melalui rekaman seismik pantul. Akibatnya. bagian paling tebal terdapat di bagian tengah daerah antara 16 . New Jersey: 618 pp. suluruh wilayah laut di Paparan Sunda termasuk di Selat Malaka dan Laut Jawa mengalami proses kekeringan..35 meter. dan batuan di daratan Paparan Sunda mengalami proses pelapukan dan erosi (Zaim.. Springer- 6. Subandrio 145 . Kondisi ini juga akan mempermudah.. dan di bagian selatan. memperlihatkan makin menebalnya sedimen ke arah utara dengan ketebalan antara 10 . Makin menipisnya sedimen Eksplorasi Potensi Konsentrat Timah Berdasarkan Data . Late Cenozoic Coastal and Offshore Stratigraphy in Western Malaysia and Indonesia. DAFTAR PUSTAKA Boggs. Sedimen yang menutupi sungai-sungai purba.. ketebalan kurang dari 4 meter.000. seperti eksplorasi lanjut. Di samping itu. Kuala Lumpur.79397 m3.30 meter.40 meter. Kedalaman lembah purba menunjukkan bagian terdalam terletak di bagian tengah. kedalaman batuan dasar di bagian selatan makin rendah dibandingkan bagian utara karena di bagian selatan makin menuju ke arah daratan Pulau Bangka sebagai pusat granit. K. University Malaya. Secara umum.000 m 3 .8 juta tahun lalu (Yoo and Park. Of Geology. identifikasi sungai dan lembah purba akan mempermudah dalam perencanaan kegiatan eksplorasi rinci dan studi kelayakan. terdapat di perairan Laut Jawa. Di bagian selatan. Volume sedimen berdasarkan perhitungan Grid Volume Computations adalah antara 353.C. Sedangkan berdasarkan perhitungan manual diperoleh sebesar 350. B. KESIMPULAN Ketebalan sedimen berkisar antara 2 . Land Levels.G.65 meter dan di bagian barat laut kedalamannya antara 50 . S.24723 – 354. Data ini akan menjadi dasar dalam eksplorasi yang lebih rinci. Batchelor. studi kelayakan. Alur purba terbesar di Paparan Sunda.O. di bagian selatan disebabkan makin mendekat ke arah pantai dengan batuan dasar yang lebih dangkal. Pada saat penurunan permukaan laut. 1983). Pada eksplorasi yang menggunakan metode seismik pantul.yang bermuara di Laut China Selatan. and Tide Gauges.30 meter. Dept. Ketebalan sedimen dan lembah purba merupakan bagian terpenting dari kegiatan eksplorasi konsentrat timah. Pearson Prentice Hall. sehingga akan menambah akurasi keberhasilan dalam survei-survei berikutnya. sehingga sungai-sungai purba tertutup oleh sedimen (Zaim.D. Hasil perhitungan antara Computations dan manual menunjukkan volume yang hampir sama dan perbedaan yang tidak terlalu besar. Proses pengendapan sedimen tersebut telah berlangsung cukup lama. sejak sekitar 1.24 meter. 1983. Periode ini merupakan masa iklim dingin global yang ditandai terjadinya peningkatan pembentukan es di kutub.8 juta tahun. mempercepat waktu dan menghemat biaya dalam survei-survei berikutnya.412. 2000). dan di utara perairan Bangka Belitung yang bermuara ke Laut China Selatan (Emery and Aubrey. hasil data seismik dapat menggambarkan kondisi vertikal dan lateral granit sebagai batuan sumber sedimen dan konsentrat timah. Di bagian utara kedalaman batuan dasar bervariasi antara 20 . sehingga memungkinkan proses pengendapan terjadi yang membentuk lapisan sedimen yang cukup tebal mencapai 30 meter. D.1. 1972. Sejalan dengan bertambahnya kedalaman laut. 2000) dan Laut Jawa. diikuti oleh pembentukan alur-alur purba yang mengerosi batuan dasar berupa granit membentuk sedimen yang kaya mineral kuarsa dan konsentrat timah (Batchelor. Hasil eksplorasi ini telah dapat menggambarkan kondisi yang dimaksud dan menjadi dasar dalam eksplorasi berikutnya. estimasi volume sedimen dan potensi konsentrat timah. and Aubrey. Data ini juga akan menjadi arahan dalam menentukan daerah akumulasi sedimen mengandung konsentrat timah.795. 2006. Sea Levels.982. Principles of Sedimentology and Stratigraphy. 1972).60 meter. merupakan periode awal proses sedimentasi di Paparan Sunda (Yoo and Park. Sejak dimulainya pencairan es di kutub pada awal Plistosen tersebut.. 1996).

A.: 237pp. and Subandrio. 2000. 1979. Jurusan Geofisika Institut Teknologi Bandung. 1993. Directorate General of Mines. Penerbit ITB. and Harmanto. J. Journal of Sedimentary Research.. 1970. 1977. 70(2): 296-309.. Lehmann. Jour.. 255 hal.M. Interpretation Facies from Seismic Data. 2000.B. Indonesia. International Human Resources Development Corporation. Boston: 222 pp. 1980. 1980. Hubrol. 146 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Joint Exploration of MGI – APMR/APRI.S. Bandung: 269 hal. Stratigrafi Kuarter di Indonesia: Pengaruh Perubahan Muka Laut Global Kala Plistosen Terhadap Penyebaran dan Lingkungan Hidup Manusia Purba di Jawa. The Magnetite Series and Ilmenite Series Granitic Rocks. A. London: 352 pp. S. 1990.. High Resolution Seismic Study as a Tool for Sequence Stratigraphic Evidence of High Frequency Sea Level Changes: Latest Pleistocene-Holocene Example from Korea Strait. 2008.V.Verlag Pub. South East Asia. Geophysic 44(2): 131 pp. T. Large Scale Tin Depletion in the Tanjung Pandan Tin Granite. 1995.G. Intern Report: 90 pp. S. Usman. P. R.E.E. Econ. A Modern View. 27: 293-305. CCOP Publication. Texas USA: 203 pp. Alexeyen. 85: 99-111.. Western Geophysical Company. Sukmono. J. Katili. Ishihara. Priyono.A.. Geol.. V. 1999. Y. J. and Park. E.D... Northern Bangka. D. Zaim. Quaternary Shorelines of the Sunda Land. Khesin.. Makalah PIT Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (PIT IAAI) ke-VII. and Krey. Jakarta: 271 pp. of Mining Geol. Eppelbaum. Geotectonics of Indonesia. B. Mijnbouw. Yoo. Seismic Stratigraphy.. 1996.35-144. Deposit Models for Detrital Heavy Minerals on East Asian Shelf Areas and the Use of High Resolution Seismic Profiling Techniques in Their Exploration. S. H. Interpretasi Geologi Seismik. J. Shallow Seismic Imaging for Paleo-Channel Mapping Related To Tin Prospecting On Tanjung Penyusuk Offshore. Belitung Island. Sangree. Interpretation of Geophysical Fields in Complicated Environments.. Geol. Sherif. Interval Velocities from Seismic Reflection Time Measurements. and Wiedmier. 49(2): p.. 1980.C. Interpretasi Seismik Refleksi. B. Ringis. Tjia. Diktat Kuliah Program Pasca Sarjana Geologi dan Geofisika Institut Teknologi Bandung.. Kluwer Academic Publishers. Cipanas...

Jenderal Sudirman No. yaitu : 5. Batubara sebagai salah satu sumber energi dapat berfungsi sebagai bahan bakar dan bahan baku.0% NK d” 4. menengah (subbituminus) dan tinggi (bituminus-antrasit). Datin F.100 kkal/kg. Ijang Suherman. abu. maka diusulkan 3 (tiga) alternatif nilai bagi hasil untuk batubara mutu rendah sebagai berikut : a) Alternatif I : Dua atau tiga parameter : 10.8 miliar ton dengan mutu yang sangat bervariasi. Dari hasil kajian yang telah dilakukan melalui model simulasi dengan menggunakan 4 (empat) parameter.600 kkal/kg : 7.100 kkal/kg < NK > 4. Agar pengusahaan batubara mutu rendah bisa ekonomis. Bukin Daulay Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. maseral dan sifat fisik) maupun peringkatnya yaitu rendah (lignit).600 kkal/kg : 9.Umar. maupun pemanfaatannya sebagai bahan bakar atau bahan baku.0 % Parameter Lignit : 7. baik dilihat dari jenis (komposisi kimia. Batubara mutu rendah adalah batubara yang memiliki nilai kalor < 5.go.5 % d) Alternatif IV : Membagi nilai bagi hasil batubara mutu rendah berdasarkan nilai kalornya (NK). datin@tekmira. kandungan abu >17%. tiga atau empat parameter : 9. sulfur.5% Kata kunci : batubara mutu rendah.esdm. ijang@tekmira. dan kandungan sulfur >2% dalam air dried basis (adb). yaitu 104.id.0 % Empat parameter atau lebih : 8.6038027 e-mail : rochman@tekmira. 147 .go.5 % Parameter Lignit : 7. nilai bagi hasil Penetapan Nilai Bagi Hasil atas Produksi Batubara Mutu Rendah. yaitu nilai kalor.go.6030483 Fax. dan natrium. baik di dalam usaha penambangan. dkk. Batubara sebagai salah satu sumber energi jumlahnya sangat besar.id SARI Energi mempunyai peranan yang sangat penting dalam pembangunan nasional yang berkelanjutan.id. namun dari jumlah batubara tersebut sebagian besar merupakan batubara bermutu menengah dan bermutu rendah yang kurang ekonomis bila diusahakan.go. Bandung.5 % b) Alternatif II : Dua atau tiga parameter : 10.623.esdm.0 % Empat parameter atau lebih : 8. perlu ditetapkan nilai bagian pemerintah atas produksi batubara mutu rendah dari pengusahaan(PKP2B) supaya bisa bersaing dengan batubara mutu baik.0 % c) Alternatif III : Dua.esdm. 40211 Telp. bukin@tekmira. 022 .esdm.PENETAPAN NILAI BAGI HASIL ATAS PRODUKSI BATUBARA MUTU RENDAH Rochman Saefudin.id. Rochman Saefudin. terutama untuk mendukung proses industrialisasi. 022 .

atau meningkat 4 kali lipat (392%).5 % Lignite parameter : 7.0 % c) Alternative III 2. Untuk mencapai sasaran bauran energi nasional 2025. 2008).0 % Lignite parameter : 7. Peningkatan jumlah konsumsi yang sangat tajam tersebut disebabkan meningkat tajamnya permintaan batubara sebagai sumber energi terutama untuk pembangkit listrik.545 juta ton pada 2008. In order to improve the business of the LRC economically. PENDAHULUAN Meningkatnya peran batubara sebagai pemasok energi di masa mendatang membuat industri ini memiliki daya tarik yang sangat besar bagi para investor tak terkecuali di Indonesia. which is 104. one of the energy sources.600 kcal/kg : 7. subbituminous.0 % 4 parameters or more : 8. maceral and physical property) and the rank (lignite. baik di dalam negeri maupun di negara-negara importir.2 juta ton pada 1997 menjadi 52. it needs to determine a value of the government side for the LRC production from Coal Contract of Work. The LRC has a calorific value of <5. Di sisi lain. Indonesia sendiri mengalami pertumbuhan konsumsi batubara yang cukup pesat dalam beberapa tahun terakhir. either the mining operation or the utilization as fuel or raw material. maka salah satu langkah yang perlu dilakukan untuk menunjang ketahanan energi nasional tersebut adalah menetapkan tarif nilai bagi hasil untuk pengusahaan batubara mutu rendah yang akan menjadi pemasok batubara 148 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . ash content of >17% and sulphur content of >2% in air-dried basis (adb).8 miliar ton sebagian besar termasuk ke dalam katagori batubara peringkat rendah (Low Rank Coal) (Pusat Sumber daya Geologi.ABSTRACT Energy has a main role in the sustainable national development to particularly support the industrialization process. bituminous and anthracite). so that it can compete with high-rank coals. it is suggested 3 alternatives of the production sharing for the LRC as follows: a) Alternative I 2 or 3 parameters : 10. most of the coals is low-rank coal (LRC) and is not economical for the utilization.8 billion tons.0% CV d” 4. can function as fuel and raw material. yakni dari 13. According to the assessment that has been carried out through a simulation model by applying 4 parameters that are calorific value.100 kcal/kg.5% Keywords: low-rank coal (LRC).600 kcal/kg : 9. However.5 % b) Alternative II 2 or 3 parameters : 10. sulphur and sodium.0 % 4 parameters or more : 8. value of production sharing 1. 3 or 4 parameters : 9. Tidak mengherankan apabila sejalan dengan itu jumlah perusahaan pertambangan batubara di Indonesia pun tumbuh pesat khususnya dalam beberapa tahun terakhir. yakni pemakaian batubara diharapkan mencapai 34. Its quality is various according to the type (chemical composition. Coal has a huge potential in Indonesia. dari jumlah cadangan batubara Indonesia sebesar 104.100 kcal/kg < CV > 4. Coal.4%.5 % e) Alternative IV Dividing the value of production sharing of LRC based on its calorific value (CV): 5. ash.

16 10.738.056. 2. Hal tersebut perlu dilakukan karena sampai saat ini belum ada ketetapan tarif yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk pengusahaan batubara mutu rendah.00 Sumber : Pusat Sumbe Daya geologi. TINJAUAN PUSTAKA 2.7.79 Tertunjuk 3.18 90.100 kal/gr. Penggolongan kualitas batubara mutu rendah.96 11. kualitas. Keadaan lingkungan pengendapan yang berbeda-beda tersebut Tabel 1.21 6.29 5.93 32.61 422.96 100.708. dan secara ekonomi memenuhi kriteria layak tambang.untuk PLTU sehingga harganya bisa kompetitif dengan batubara mutu baik.41 482.05 69. namun batubara yang bernilai ekonomis untuk dikembangkan hanya terkonsentrasi pada cekungan-cekungan Tersier di Indonesia bagian barat yaitu di pulau Sumatera dan pulau Kalimantan.069. dan delta yang kadang-kadang dipengaruhi oleh pasang surut air laut.68 27.8 miliar ton. karbon tertambat.24 18.187.81 22. Yang ada adalah ketentuan bagian pemerintah untuk batubara mutu baik sebesar 13.75 Tahun 1996 tentang Ketentuan Pokok Perjanjian Kontrak Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara Pasal 3 ayat 2 yang berbunyi : “Dalam hal pengusahaan pertambangan dilakukan dengan cara bawah tanah dan atau batubara yang diproduksi ternyata bermutu rendah.5% dari produksi batubara yang terjual. kuantitas. danau. khususnya untuk PKP2B. yang dihimpun oleh Pusat Sumber Daya Geologi tahun 2008 dari laporan perusahaanperusahaam PKP2B di Indonesia adalah sebesar 22. cadangan dan produksi batubara Indonesia.100 kal/gr. abu.65 13. besarnya hasil produksi batubara yang harus diserahkan kepada Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dapat dipertimbangkan kembali berdasarkan hasil kajian yang diajukan oleh perusahaan Kontraktor Swasta” menghasilkan jenis batubara yang bervariasi dalam bentuk dan ketebalan (kuantitas) maupun kualitas batubara. sebaran.1. Kriteria kualitas batubara dapat dibedakan atas beberapa macam. 2008 Kualitas Kalori Rendah Kalori Sedang Kalori Tinggi Kalori Sangat Tinggi Total Sumberdaya (Juta Ton) Hipotetik 5.2 miliar ton (Tabel 1). 3) Batubara Kalori Tinggi 6.64 104.888. Endapan batubara di Indonesia terbentuk pada lingkungan pengendapan yang bervariasi mulai lingkungan rawa-rawa. zat terbang. Rochman Saefudin.183. 2008 Penetapan Nilai Bagi Hasil atas Produksi Batubara Mutu Rendah. muai bebas.100 .100 kal/gr.956. bentuk.941.100 kal/gr.550.001. yaitu : 1) Batubara Kalori Rendah < 5.39 12. 2) Batubara Kalori Sedang 5.100 . pada umumnya didasarkan pada: Peringkat Batubara (Coal Rank) Nilai Kalori (Calorivic Value) Kandungan bahan/unsur dalam batubara (kadar air. Kualitas. Jumlah sumber daya batubara Indonesia tahun 2008 berdasarkan perhitungan Pusat Sumber Daya Geologi.815. Potensi dan Cadangan Wilayah Indonesia diketahui memiliki potensi endapan batubara sangat luas.19 4.43 0.22 66.620. dengan jumlah cadangan batubara Indonesia dihitung terhadap endapan bahan batubara yang telah diketahui ukuran.021. laguna.80 25.40 Tereka 6.50 1.83 Jumlah % 20.6.756.11 34.08 Terukur 5. Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral adalah sebesar 104.057. dan batubara mutu tinggi seringkali dikaitkan dengan tujuan pemanfaatan batubara itu sendiri yang tergambarkan dengan permintaan pada spesifikasi batubara yang diinginkan. sumberdaya.251. 149 .43 1. belerang. titik leleh abu). batubara mutu sedang. Berdasarkan tingkat kalorinya batubara Indonesia dibagi menjadi 4 (empat) bagian . dan ketentuan tambahan yang tertuang di dalam Keppres No.82 1. darat.721. dkk. dll) Sifat fisik batubara (kekerasan.146.588.57 Total 21. 4) Batubara Kalori Sangat Tinggi > 7.764.

titik leleh abu (ash fusion temperature).2.2. bi-maseral (2-maseral) dan trimaseral (3-maseral) seperti terlihat pada Table 2. berat jenis. Jenis atau tipe batubara sangat dipengaruhi oleh jenis tumbuhan pembentuk dan lingkungan pengendapan dimana batubara tersebut terdapat. pengguna batubara khususnya pembangkit listrik dan pabrik semen sudah dapat memprediksi perilaku unsur-unsur tersebut baik pada saat berlangsungnya proses pembakaran maupun setelah pembakaran. nilai ketergerusan (hardgrove grindability index). komposisi maseral (maceral composition) dan reflektansi vitrinit (vitrinite reflectance). subbituminus. 2. senyawasenyawa tersebut juga terdapat pada komponen mineral seperti karbonat. yaitu : 1) Analisis Proksimat Analisis proksimat merupakan analisis mendasar dalam penentuan mutu batubara. Terminologi Batubara Mutu Rendah Mutu (grade) adalah nilai keadaan sesuatu berdasarkan sifat fisik. mutu atau kualitas ditentukan dari dua faktor utama. kimia. oksigen (O) dan sulfur/ belerang (S). zat terbang (volatile matter). Vitrinit juga merupakan maseral utama pada batubara. sulfida. berlangsung proses Tabel 2. yaitu jenis (type) dan peringkat (rank) batubara tersebut. sulfida. dan mekanik. Dari hasil analisis tersebut. semiantrasit sampai antrasit seperti diilustrasikan pada Gambar 1. 3) Analisis Sifat-Sifat Lain Analisis sifat-sifat lainnya termasuk penentuan nilai kalor (calorific value). bituminus.3. 2) Analisis Ultimat Analisis ultimat merupakan analisis kimia untuk mengetahui persentase dari senyawa kimia yang terbentuk dari hasil ikatan antara karbon. Sedangkan peringkat batubara berhubungan erat dengan tingkat pematangan batubara (pembatubaraan/ coalification). Dalam perkembangannya. yang dimulai dari gambut. sehingga perlu tidaknya migitasi gas-gas NOx dan SOx dapat diketahui sebelumnya. Jenis batubara ditentukan dari komponen/komposisi batubara yang terdiri dari maseral (vitrinit. Hidrogen dan oksigen juga merupakan komponen yang penting dalam analisis penentuan kandungan air total batubara. yaitu untuk mengetahui kandungan air lembab. Berdasarkan gabungan maseralnya. nitrogen (N). Kecuali nitrogen. inertinit dan liptinit) dan mineral pembentuk seperti lempung. tidak terpengaruh oleh pelapukan dan nilai yang diperoleh dapat dikorelasikan dengan standar peringkat batubara yang ada. Batubara Mutu Rendah Secara umum ada tiga jenis analisis dan pengujian yang dilakukan untuk menenetukan mutu batubara. Khusus untuk batubara. lignit. nilai muai bebas (free swelling index). analisis komposisi abu. Klasifikasi microlithotype batubara Grup Mono-Maseral* Microlithotype Vitrit Inertit Liptit KlaritVitrinertitDurit Komposisi Maseral Vitrinit >95% Inertinit >95% Liptinit >95% Vitrinit + Liptinit >95% Vitrinit + inertinit >95% Liptinit + inertinit >95% Vitrinit > Liptinit > Inertinit Inertinit > Vitrinit > Liptinit Liptinit > Vitrinit > Inertinit Bi-Maseral* Tri-Maseral* Duroklarit Klarodurit Vitrinertoliptit * Setiap maseral >5% 150 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . abu dan karbon tertambat (fixed carbon). termasuk ASTM (1977) seperti pada Tabel 3. microlithotype dapat dibagi menjadi 3 kelompok utama yaitu monomaseral (1-maseral). silikat dan karbonat. sulfat dan mineral lempung.

57 0. maka dalam menilai mutu batubara harus ditinjau dari peringkat (nilai kalor). ºC Sodium (Na2O).10 1. seperti pada Tabel 4.0 – 2. Selama perkembangannya. kkal/kg (adb) Abu.100 >17 >2 <35 <1150 >4 >1. Parameter yang umum dipergunakan untuk menentukan peringkat batubara antara lain adalah nilai kalor. dan jenisnya (umumnya pengotor). Secara umum parameter yang sering dipergunakan untuk menentukan mutu batubara adalah peringkat dan pengotor. dan Tabel 6 yang berdampak negatif terhadap nilai jual dan pemanfaatan dari batubara tersebut. HGI.6 – 2.0 > 1. kandungan air. % dalam Abu Nitrogen. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Parameter Nilai Kalor. Parameter dan batasan nilai untuk penentuan batubara mutu rendah No.72 – 1.6 > 2.37 – 0. khusus untuk kajian ini faktor pengotor yang digunakan baru dua.51 – 2. Dalam tulisan ini parameter peringkat yang dipergunakan adalah nilai kalor. faktor slagging dan faktor fouling.11 – 1. % Faktor Slagging Faktor Fouling Batasan Nilai < 5.6 0.47 0.58 – 0.5 Sangat Tinggi Sangat Tinggi Gambar 1.2 0. Dengan demikian besaran nilai setiap parameter yang disajikan disini adalah nilai yang sangat menonjol (significant).06 – 3. Tabel 5. karbon total dan reflektansi vitrinit. dan sulfur. Sedangkan parameter pengotor antara lain adalah kandungan abu. 1990) Faktor Slagging.71 0. Rf < 0. dkk. Hubungan antara reflektansi vitrinit dan peringkat batubara menurut klasifikasi ASTM (1977) Reflektansi Vitrinit. Sedangakan peringkat batubara dipengaruhi oleh salah satu atau gabungan dari temperatur. Namun demikian. tekanan dan waktu.6 Tipe Slagging Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi Faktor Fouling. Besaran nilai setiap parameter tersebut di atas yang dipergunakan oleh konsumen tidaklah sama karena sangat tergantung kepada teknis operasional (rancangan peralatan).48 – 0.Tabel 3. yaitu abu.50 1. 151 .05 2. % (adb) Sulfur. titik leleh abu (AFT).0 Tipe Fouling Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi Penetapan Nilai Bagi Hasil atas Produksi Batubara Mutu Rendah. regulasi yang ada setempat dan keekonomian masing-masing penggunaaan batubara. sulfur. Rochman Saefudin. Pengertian mutu batubara kimia dan biokimia.5 0.37 0. Tabel 5. hanya terjadi proses fisika berupa pemadatan. sehingga definisi Batubara Mutu Rendah adalah Tabel 4. Dari uraian di atas. nitrogen. Rs < 0.2 – 0. % (adb) HGI Titik Leleh Abu.00 >3.00 Peringkat Lignite Subbituminous High Volatile Bituminous C High Volatile Bituminous B High Volatile Bituminous A Medium Volatile Bituminous Low Volatile Bituminous Semi Anthracite Anthracite sodium.5 – 1.0 2. Faktor slagging dan fouling abu batubara bituminus (Wall. % < 0.

Rs > 1340°C 1340 . yaitu sebesar 13. Rf < 2.0 > 6. Faktor slagging dan fouling abu batubara lignitik (Wall. Penanganan Batubara Peringkat Rendah Batubara peringkat rendah (lignit dan Subbituminus B dan C) mempunyai kecenderungan terhadap terjadinya swabakar (self combustion). sebagai sandaran perumusan adalah bagian pemerintah dari hasil pengusahaan Selanjutnya untuk menentukan atau menghitung bagi hasil bagian pemerintah dari produksi batubara mutu rendah dengan mengacu kepada persentase bagi hasil dari pengusahaan batubara yang berlaku saat ini.1. Dengan perkataan lain persentase bagi hasil bagian pemerintah dari pengusahaan batubara mutu rendah sebagai fungsi dari faktor koreksi atau faktor bobot dikalikan dengan konstanta persentase bagi hasil dari batubara mutu tinggi (13.1150°C < 1150°C Tipe Slagging Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi Faktor Fouling. seperti yang ditunjukkan pada persamaan berikut : N = G (h) x Q x P 3.5% = Persentase bagi hasil bagian pemerintah dari pengusahaan batubara (PKP2B) yang berlaku saat 152 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . 1990) Faktor Slagging.0 Tipe Fouling Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi batubara yang memiliki nilai kalor < 5. a. 2. yang secara matematis dirumuskan cukup sederhana. Penyusunan Model Bagi Hasil Faktor substansial yang perlu dicermati dalam menetapkan besaran persentasi bagi hasil adalah menentukan atau menghitung bagi hasil bagian pemerintah dari produksi batubara mutu rendah dengan mengacu kepada pembagian hasil keuntungan yang wajar (reasonable) antara pengusaha batubara (kontraktor) dan pemerintah.0 – 3. yang masih diberlakukan secara umum.100 kkal/ kg. besarnya persentase bagian Pemerintah telah ditetapkan sebagai berikut : G (h) = 13.5 % Besar pendapatan bagian Pemerintah (N) merupakan hasil perkalian persentasi bagian pemerintah (G(h)) dengan jumlah produksi (Q) dan harga batubara (P).5%).5 % x F dengan : G(l) = Persentase bagi hasil bagian pemerintah dari pengusahaan batubara mutu rendah 13. Disamping itu. Oleh karena itu model pemecahannya akan mengacu pada konsep ekonomi pemanfaatan sumber daya batubara yang telah diuraikan di atas. Model Bagi Hasil Sesuai dengan isi perjanjian kontrak kerja antara Pemerintah dengan perusahaan kontraktor dengan menggunakan pola Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B).1250°C 1250 .5% dari jumlah produksi. dan sulfur >2% dalam air dried basis (adb). MODEL PENENTUAN TARIF BAGI HASIL UNTUK BATUBARA MUTU RENDAH 3. dan menjadikan batubara mutu rendah mempunyai nilai kompetitif dengan batubara mutu tinggi.0 – 6.0 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya swa bakar adalah sebagai berikut: Peringkat batubara Kadar air dalam batubara Komposisi petrografi batubara Ukuran butir Temperatur timbunan Konsentrasi oksigen yang kontak dengan batubara Kelembaban udara Peredaran/kecepatan aliran udara batubara oleh kontraktor yang berlaku saat ini.Tabel 6. abu > 17%.0 3. yaitu : G (l) = 13.4.

titik leleh abu. Model Faktor Bobot Faktor bobot merupakan faktor/ variabel koreksi terhadap persentase bagi hasil bagian pemerintah yang berlaku saat ini (13. dkk. = Faktor bobot atau faktor koreksi atau faktor insentif parameter ekonomi terdiri dari biaya penanganan (handling cost). perumusan dalam tanda kurung besar merupakan koefisien elastisitas. Secara matematik. Rochman Saefudin. ki = konstanta Pada model persamaan koreksi harga dari pengaruh peringkat. Dengan demikian. untuk penyusunan model harga batubara mutu rendah akan ditentukan melalui simulasi pemodelan berdasarkan konsep ekonomi pemanfaatan sumber daya batubara. natrium. faktor slagging. Faktor-faktor alam dimaksudkan adalah parameter karakteristik (mutu) batubara. Model Koreksi Pengaruh Peringkat dan Pengotor Pada prinsipnya tingkat harga batubara di pasaran ditentukan oleh karakteristik atau mutu batubara. c. karena pangsa pasarnya yang belum ada.li(h)} x P(h) dengan : CCV = Koreksi harga dari penurunan nilai kalor CIi = Koreksi harga dari perubahan kenaikan tingkat pengotor unsur i P = Harga batubara mutu tinggi CV(h) = Nilai kalor batubara mutu tinggi CV(l) = Nilai kalor batubara mutu rendah Ii(h) = Nilai unsur pengotor i pada batubara mutu tinggi Ii(l) = Nilai unsur pengotor i pada batubara mutu rendah c. sodium (Na2O). Sedangkan Penetapan Nilai Bagi Hasil atas Produksi Batubara Mutu Rendah. Sedangkan pada persamaan koreksi harga dari pengaruh pengotor. simulasi koefisien elastisitas dari pengaruh perubahan nilai kalor dan perubahan tingkat pengotor merupakan Oleh karena itu. yaitu parameter peringkat dan parameter pengotor. Oleh karena itu. langkah selanjutnya di dalam penghitungan untuk penetapan nilai bagi hasil bagian pemerintah dari PKP2B untuk batubara mutu rendah adalah merumuskan faktor bobot tersebut. dan faktor fouling. yang menunjukkan perbedaan efisiensi energi antara batubara mutu tinggi dan batubara mutu rendah. sebagaimana komoditas lain. akan dipengaruhi oleh biaya produksi dan harga. yakni selisih nilai pengotor (abu. Dalam permodelan koreksi tersebut. HGI.5%) untuk menghitung persentasi bagi hasil bagian pemerintah dari pengusahaan batubara mutu rendah. Adapun kandungan air dan reflektansi vitrinit sudah terwakili oleh nilai kalor. maka model persamaan koreksi harga dari unsur peringkat dan pengotor adalah sebagai berikut : Pengaruh Peringkat : CCV = c x [{CV(h) . dan sodium) dari kedua jenis batubara tersebut. 153 . Berdasarkan pengertian tersebut. perumusan dalam tanda kurung kurawal merupakan koefisien elastisitas. Dalam kajian ini. faktor bobot diformulasikan sebagai berikut : F=k Pcor(l) P(h) dengan : Pcor (l) = Harga batubara mutu rendah berdasarkan harga batubara mutu tinggi yang terkoreksi P(h) = Harga batubara mutu tinggi k = konstanta Yang menjadi permasalahan dari model faktor bobot tersebut adalah belum diketahuinya harga batubara mutu rendah yang sesuai keekonomiannya. Penyederhanaan penilaian pada proses pemanfaatan sumber daya dilakukan dari faktorfaktor alam dan parameter ekonomi yang sangat kompleks. sulfur. karena ada korelasi kuat diantara kedua parameter tersebut. yaitu proporsi relatif dari perbedaaan nilai kalor. b. sulfur. perumusan faktor bobot didefinisikan sebagai fungsi dari perbandingan (proporsi) relatif harga batubara mutu rendah dan batubara mutu tinggi. harga akan terkoreksi oleh perbedaan nilai kalor (peringkat) dan oleh perbedaan tingkat pengotor.CV(l)} / CV(l)] x P(h) Pengaruh Pengotor : Cli = Ki x {li(l) . baik dari nilai kalor maupun tingkat pengotornya.F ini. yang meliputi abu. Pemanfaatan sumber daya batubara sebagai komoditas energi dipengaruhi oleh mutunya dan pada proses pengalihannya menjadi komoditas.

natrium dan Hubungan fungsional antara biaya penangan batubara mutu rendah dengan mutu tinggi dihubungkan dengan koefisien elastisitas dari simulasi perbandingan densitas dan nilai kalor. antara lain karena perbedaan densitas dan perbedaan nilai kalor. harga batubara mutu rendah dihitung berdasarkan penurunan harga mutu tinggi karena terkoreksi atau disesuaikan karena adanya penurunan peringkat dan gangguan tingkat pengotor termasuk handling cost relatif. abu. Sedangkan biaya penanganan (handling cost) untuk mutu rendah relatif lebih besar dari pada batubara mutu tinggi.2. dimaksudkan untuk menentukan besaran persentase bagi hasil bagian pemerintah berdasarkan pengaruh perbedaan peringkat (nilai kalor). model persamaannya adalah: dengan : HC (l ) = Biaya penanganan (handling cost) batubara mutu rendah HC (h) = Biaya penanganan (handling cost) batubara mutu tinggi d (l ) d (h ) = Densitas batubara mutu rendah = Densitas batubara mutu tinggi CV (l ) = Nilai kalor batubara mutu rendah CV (h ) = Nilai kalor batubara mutu tinggi Semakin besar perbedaan densitas demikian pula perbedaan nilai kalor. CV(h) ⎫ ⎧ d(h) HC(l) = ⎨ × ⎬ × HC(h) d(l) CV(l) ⎭ ⎩ produsen dan konsumen. dan marginal profit. sebagai kovensasi dari adanya perbedaan volume untuk energi yang sama. maka akan semakin signifikan kenaikan biaya handling cost batubara mutu rendah dibanding handling cost batubara tinggi. Secara matematis.HC(h)} . Model Harga Tingkat harga batubara secara ekonomi ditentukan dengan mempertimbangkan kriteria dari sisi produsen dan konsumen atau ditentukan dengan mempertimbangkan manfaat yang diterima 154 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .dua dari empat parameter yang dipertimbangkan dalam optimalisasi perberbedaan atau “delta” harga batubara mutu tinggi dan mutu rendah. Biaya pekerjaan penambangan (mining cost) pada pengusahaan batubara mutu tinggi dan mutu rendah akan sama. Aplikasi Model untuk Penetapan Bagi Hasil Permodelan bagi hasil bagian pemerintah dari pengusahaan batubara mutu rendah dalam pola Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) yang telah dirumuskan di atas. Ada dua pendekatan dalam menentukan atau menghitung tingkat harga. Pertama. P(h) = Harga batubara mutu tinggi MC(l) = Biaya penanganan batubara mutu rendah MC(h) = Biaya penanganan batubara mutu tinggi η = Persentase profit margin 3. Secara matematis model persamaan harga batubara mutu rendah tersebut adalah : Harga Koreksi/Penyesuaian : Pcor(l) = P(h) . Sebagai pembanding dihitung pula harga minimum sebagai fungsi dari biaya produksi (mining cost dan handling cost). Model Handling Cost Pekerjaan eksploitasi pada pengusahaan batubara dapat dikelompokkan menjadi pekerjaan penambangan/penggalian dan pekerjaan penanganan (handling cost). e.Σ iCCli dengan : Pcor (l) = Harga batubara mutu rendah berdasarkan harga batubara mutu tinggi yang terkoreksi P(h) = Harga batubara mutu tinggi HC(l) = Biaya penanganan batubara mutu rendah HC(h) = Biaya penanganan batubara mutu tinggi = Koreksi harga dari peringkat atau CCIi pengotor Harga Minimum : Pmin(l) = (1+η )[{1 + B(l)} x {MC(l) + HC(h)}] dengan : Pmin (l) = Harga minimum batubara mutu rendah B(l) = Persentase bagi hasil bagian pemerintah dari batubara mutu rendah. bagi hasil. dan pengotor (sulfur. d.{HC(l) . karena menggunakan jenis peralatan yang sama.

Simulasi dengan menggunakan dua variasi parameter. sulpur. Simulasi dengan menggunakan parameter batubara lignit. Persentase profit margin dari pengusahaan batubara mutu rendah diasumsikan 10%. Hal ini dapat dilihat pada gambar 2. dan lainnya) sebagai berikut : a) Batasan : a. Perhitungan bagi hasil batubara mutu rendah dibatasi oleh harga batubara mutu rendah yang minimum. Simulasi dengan menggunakan empat variasi parameter. dan perusahaan B. nama perusahaan tidak dicantumkan atau diganti dengan nama perusahaan A. d. dengan memasukkan terhadap aliran kas (cah flow) dari laporan studi kelayakan penambangan batubara. e. masing masing rata-rata besaran bagi hasil bagian pemerintah adalah 9. c. Karena data yang akan digunakan di dalam perhitungan ini merupakan data keuangan perusahaan yang akan dijadikan contoh di dalam proses penghitungan. yaitu nilai kalor dan salah satu paramater pengotor.07 % – 10. namun perbedaannya (delta) semakin besar secara proporsional (agar dapat kompetitif). diperoleh handling cost 2. Batubara mutu rendah sebagai obyek yang akan ditimbang. yaitu nilai kalor dan tiga parameter pengotor. Untuk mengaplikasikan model dalam rangka menentukan besaran bagi hasil bagian pemerintah dari pengusahaan batubara mutu rendah diperlukan batasan-batasan (asumsi) dan simulasi variasi parameter peringkat (nilai kalor) dan parameter pengotor (abu. Hal ini dapat dilihat dari grafik sensitifitas harga seperti contoh untuk batubara lignit pada Gambar 3. Parameter batubara mutu tinggi yang dijadikan sebagai standar penimbang adalah : nilai kalor (caloric value) = 6.52 %.100 kkal/kg dan salah satu parameter pengotor yang diwakili oleh abu = 17 %. Setiap kenaikan satu satuan (1%) nilai sulfur diasumsikan harga terkoreksi sebesar 0.7 USD.00 USD /ton = 40 USD /ton. Perbandingan densitas batubara mutu tingggi dan mutu rendah 1. maka untuk menjaga kerahasiaan. Setiap kenaikan satu satuan (1%) nilai ash (abu) diasumsikan harga terkoreksi sebesar 0.3 : 1. b) Simulasi Variasi : a. g. b. dan rata-rata harga batubara mutu rendah yang masih kompetitif 26.005 x P(t).33 %. c. Rochman Saefudin.34 % atau rata-rata 10. c. yaitu parameter nilai kalor = 5. yaitu nilai kalor dan dua parameter pengotor. dan 7. 155 . Dari hasil simulasi tersebut dapat diulas sebagai berikut : a. Setiap penurunan nilai kalor dari CV(h) ke CV(l) diasumsikan harga terkoreksi sebesar [{CV(h)-CV(l)}/CV(h)] x P(h). Perusahaan yang akan dijadikan contoh di dalam proses simulasi ada 2 perusahaan yang berlokasi di Kalimantan yang berencana mengembangkan ke penambangan batubara mutu rendah. Simulasi dengan menggunakan tiga variasi parameter. f. Selanjutnya untuk mengetahui pengaruh besaran nilai bagi hasil yang diperoleh terhadap kelayakan usaha penambangan batubara mutu rendah. maka akan dicoba digunakan di dalam perhitungan kelayakan pengusahaan batubara mutu rendah. sulfur = 2 %.100 kkal/kg abu (ash) sulfur sodium (Na2O) Mining Cost Handling Cost Harga = 4% = 1% = 1.025 x P(t). Adapun besaran bagi hasil bagian pemerintah berkisar antara 10. sedangkan batubara mutu tinggi sebagai obyek penimbangnya.4 USD atau delta harga dengan batubara mutu tinggi minimum 8. Adapun untuk variasi tiga dan empat parameter batubara mutu rendah serta untuk batubara lignit.35 %. b.sebagainya) serta biaya produksi (handling cost) antara batubara mutu rendah dan mutu tinggi. d. natrium. Hasil dari proses aplikasi model dapat dilihat pada Tabel 7. 8. h. atau sodium = 4 %.18 %.6 USD. b.15. dkk.05 x P(t). Untuk variasi dua parameter batubara mutu rendah. Penetapan Nilai Bagi Hasil atas Produksi Batubara Mutu Rendah. Setiap kenaikan satu satuan (1%) nilai natrium diasumsikan harga terkoreksi sebesar 0. Adapun dari variasi naik-turunnya harga batubara tersebut berdampak tidak signifikan terhadap besaran perhitungan bagi hasil bagian pemerintah.2 % = 25 USD /ton = 2. Semakin besar (tinggi) harga batubara mutu tinggi maka semakin besar pula harga batubara mutu rendah.

00 35. Grafik sensitivitas harga terhadap persentase bagi hasil untuk batubara lignit 156 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .25 7.30 7.00 HARGA BATUBARA MUTU RENDAH (USD) 30. Hubungan harga batubara mutu rendah dan mutu tinggi 7.35 (%) 7.00 10.00 Lignit 15.20 7.50 7.00 25.00 5.40 BAG I HS I L (% ) 7.15 12 14 16 18 20 HARGA (USD) 22 24 26 28 30 Gambar 3.00 20 25 30 35 40 45 50 55 HARGA BATUBARA MUTU TINGGI (USD) Gambar 2.45 7.00 Dua Parameter Tiga Parameter Empat Parameter 20.40.

52 8.00 18. Ash = Abu. S = Sulfur.19 18.36 10.14 18.00 5100.70 9.00 4.46 23.92 4612.58 2.00 5100.00 35.24 0.00 1.00 4.00 1.70 9.00 17.40 0.75 10.58 2.00 2.20 12.00 1.92 Keterangan : CV = Nilai Kalor (Caloric Value).20 1.58 2.47 5100. dkk.54 7.33 Penetapan Nilai Bagi Hasil atas Produksi Batubara Mutu Rendah.28 26.00 2.00 2.52 8.58 2. Na2O = Sodium 157 .36 0.00 2.00 17.72 8.08 12.58 2.14 18.58 2.68 9.00 16.33 7.76 24.49 26.21 22.58 12.58 2.38 0.00 4.11 8.00 12.89 5100.70 8.00 1.70 9.34 10.01 7.75 10.70 8.33 7.64 18.00 4.55 0.00 4.52 0.70 2.00 4.46 9.63 8.19 9.77 10.00 17. Simulasi bagi hasil bagian pemerintah dari batubara mutu rendah Variasi Peringkat dan Pengotor Dua Parameter CV+Ash CV+S CV+Na2O CV+Ash+S CV+Ash+Na2O CV+S+Na2O Tiga Parameter Empat Parameter CV+Ash+S+Na2O Lignit Uraian Mutu Tinggi (Penimbang) Nilai Kalor (Kkal/kg) Abu (%) Sulfur (%) Sodium (Na2O) (%) Mining Cost (US$) Handling Cost (US$) Harga (A) (US$) 5100.00 4.70 10.83 11.33 7.18 18.01 19.53 10.35 5100.00 17.00 4.77 9.40 6100.00 4.00 17.81 8.51 0.07 18.77 9.Gambar 7. Rochman Saefudin.00 1.94 24.99 15.20 12. Mutu Rendah (Ditimbang) Nilai Kalor (Kkal/kg) Ash (%) Sulfur (%) Sodium (Na2O) (%) Mining Cost (US$) Handling Cost (US$) Koreksi Harga (US$) Harga Terkoreksi (US$) Selisih (delta) harga (US$) Harga Minimum (B) (US$) Faktor Insentif (Bobot) Bagian Pemerintah (%) RATA-RATA 18.00 2.00 1.19 26.70 9.00 12.52 7.39 0.17 5100.00 12.00 1.20 12.58 2.00 12.00 12.70 12.

2.07% b) Untuk tiga parameter : kalori – abu – sulfur : 9. Model bagi hasil bagian pemerintah dari pengusahaan batubara (PKP2B) mutu rendah .5 % x F. Faktor bobot (F) didefinisikan sebagai fungsi dari perbandingan (proporsi) harga batubara mutu rendah dan batubara mutu tinggi. maka dirumuskan melalui simulasi pemodelan berdasarkan konsep ekonomi pemanfaatan sumber daya batubara. Batubara Mutu Rendah adalah batubara yang memiliki peringkat menengah dan tinggi dengan kandungan pengotor tinggi.5% dan nilai bagi hasil berdasarkan perhitungan yang baru. Dari hasil simulasi model yang dibuat berdasarkan kombinasi nilai kalor dan pengotor (abu.84 Bagi hasil untuk Pemerintah dalam penghitungan ini sesuai dengan perjanjian kontrak antara Pemerintah dan perusahaan untuk batubara secara umum. Na2O) diperoleh nilai bagi hasil untuk batubara mutu rendah sebagai berikut : a) Untuk dua parameter : kalori – abu : 10.83 <0 9.19% Kalori – sulfur – natrium : 9. maka diperoleh nilai indikator keuntungan untuk perusahaan A dan B sebagai berikut : dikalikan persentase bagi hasil yang secara matematis ditulis G (l) = 13.62 9.40% c) Untuk empat parameter (kalori – abu – sulfur – natrium) : 8. dirumuskan sebagai fungsi dari faktor bobot 158 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .14 15.61 10.5 29.14 13.0 100 2. Dengan nilai MARR (Minimal Atractive Rate of Return) yang digunakan 10%.47 18. Karena harga batubara mutu rendah belum ada.2 100. yaitu sebesar 13.7 39.5 1 : 2.52% d) Untuk Lignit nilai bagi hasil : 7. 3.9) 47.47 21. termasuk batubara peringkat rendah (lignit).838 48.87 16.00 C 4.66 Perusahaan B 4.0 2.000 42.2 17 4.5 6.0 9.5 1 : 7. Untuk selanjutnya akan dihitung nilai indikator keuntungan dari kelayakan finansial penambangan batubara mutu rendah masing-masing perusahaan Indikator keuntungan yang dihitung di dalam proses simulasi ini adalah : a.7 1.8.66 13. Net Present Value (NPV).800 51.4 18 48.82 26.5 15.34% kalori – natrium : 10.14% kalori – sulfur : 10. Internal Rate of Return (IRR).1 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. sulfur. b. 4.7 24.46% kalori – abu – natrium : 9.Tabel 8.86 10. yang termasuk di dalam biaya operasi/produksi yang ditetapkan sebagai patokan dasar.33%.31 (647.0 1:5 17 44.58 13.30 20. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Uraian Nilai Kalori Jumlah Cadangan Jarak Tambang ke Terminal Kapasitas Produksi Stripping Ratio Umur Tambang Biaya Investasi Biaya Produksi Harga Jual Nilai Bagi Hasil Net Present Value (NPV) Internal Rate of Return (IRR) Satuan A Kkal/kg Juta ton Km Juta ton/thn tahun Juta US$ US$/ton US$/ton % Juta US$ % 5. Data perusahaan dan nilai indikator keuntungan penambangan batubara mutu rendah No. yaitu sebagai fungsi dari parameter batubara (peringkat dan pengotor) dan parameter ekonomi termasuk biaya penanganan (handling cost).14 13. 4.02 .

maka untuk mengoptimalkan pengusahaan dan pemanfaatan batubara mutu rendah sebagai sumber energi. Karena nilai bagi hasil untuk memproduksi batubara mutu rendah belum ada ketetapannya. dan Heal.2.5% DAFTAR PUSTAKA American Society For Testing and Material (ASTM). maka berdasarkan nilai kalor dan jumlah pengotornya disarankan untuk membaginya menjadi : a) Tiga nilai bagi hasil. 2008. 1979.M. Directorate of Mineral Resources Inventory. Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. Saran 1. Ltd. dkk.2025. BPFE. yaitu : d” 3 parameter nilai bagi hasil : 9. 2009. Directorate General of Geology and Mineral Resources. 159 . maka perlu ditetapkan tarif nilai bagi hasil untuk pengusahaan (PKP2B) batubara mutu rendah agar harganya bisa kompetitif dengan batubara mutu baik. 1993. Economic Theory and Exhaustible Resources. Indonesia Mineral and Coal Statistic. Blue Print Pengelolaan Energi Nasional 2010 . 2004. Directorate of Mineral Resources Inventory. Bandung. G. Untuk mempermudah penerapan nilai bagi hasil untuk produksi batubara mutu rendah. And Cambridge University Press. Batubara dan Panas Bumi. American Society For Testing and Material. 2009. yaitu : d” 3 parameter nilai bagi hasil : 10.4.S. Penetapan Nilai Bagi Hasil atas Produksi Batubara Mutu Rendah. 2008. James Nisbet & Co.0% 4 parameter nilai bagi hasil : 8. Indonesia Coal : Resources.5% 4 parameter dan lignit : 7. Jakarta. 2008. reserves and calorific value. khususnya untuk memasok PLTU yang akan dibangun. Standard classification of coals by rank D 388 – 92a.5% Lignit : 7. Jakarta. Dasgupta. Yogyakarta.5% b) Dua nilai bagi hasil. Matematika Terapan untuk Bisnis dan Ekonomi. Direktorat Pengusahaan Mineral. 2. Du Mairy. sedangkan potensi cadangan batubara sebagian besar bermutu menengah ke bawah. Rochman Saefudin. P. 2004.

MAKALAH DIPOSTERKAN .

dan Jawa Timur 24 perusahaan. ke 417 perusahaan tersebut telah menggunakan batubara sebanyak 5. ternyata telah dihasilkan limbah abu dasar sebanyak 251.ANALISIS POTENSI LIMBAH HASIL PEMBAKARAN BATUBARA PADA INDUSTRI KECIL DAN MENENGAH DI PULAU JAWA Triswan Suseno dan Tuti Hernawati Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. dan industri lainnya 15. To be found out amount of produced wasted by companies in Java.09 juta ton.78%.esdm. 417 companies consumption of coal amount 5. Sudirman 623 Bandung 40211 Telp. Proses pembakaran batubara pada industri ternyata menghasilkan limbah yang disebut dengan abu dasar dan abu terbang. Semakin banyak batubara yang dibakar.99 juta ton. Untuk mengetahui jumlah limbah yang dihasilkan oleh perusahaan-perusahaan di Pulau Jawa ini. Industri tekstil merupakan industri yang paling banyak menggunakan batubara. 52 companie at Banten and 24 companies at East Java. Amount of wasted produced by companies influenced by amount of coal to used.. To estimated of wasted is regression analysis method. 115 companies at Central Java. diambil contoh untuk diamati sebanyak 94 perusahaan pemakai batubara di Kabupaten Bandung.6030483 Fax. There are about 226 companies at West Java Province is used coal. diikuti Jawa Tengah 115 perusahaan. Jend. yaitu 75. disusul kemudian industri kertas sebesar 8. 022 .07 million Analisis Potensi Limbah Hasil Pembakaran Batubara pada Industri . In 2007. Besarnya limbah yang dihasilkan dari pembakaran ini sangat dipengaruhi oleh jumlah batubara yang digunakan oleh setiap perusahaan.36 juta ton. paper industry is 8.6003373 e-mail : triswan@tekmira.99 million ton.336 ton dan abu terbang 82. masing-masing digunakan oleh Jawa Barat 3.63%. Coal burning processing at industry to produced wasted there are bottom ash and fly ash. Dari pembakaran batubara sebanyak 5. textile industry is the most used coal is 75. each consumpted by West Java amount 3. Triswan Suseno dan Tuti Hernawati 161 .63% and others is 15. Metode yang digunakan untuk memperkirakan jumlah limbah yang dihasilkan adalah metode analisis regresi. semakin banyak pula limbah yang akan dihasilkan. Banten 52 perusahaan.47 juta ton.78%. Kata kunci : limbah. abu terbang ABSTRACT Amount middle and small industry in Java have to use coal year 2007 is 417 company.59%. Banten 1.99 juta ton selama satu tahun. Jawa Timur 1. have to sampling as much as 94 companies are coal user in Regency of Bandung. Terdapat sekitar 226 perusahaan di Provinsi Jawa Barat yang telah menggunakan batubara. 022 .id SARI Jumlah industri kecil dan menengah di Pulau Jawa yang menggunakan batubara pada tahun 2007 tercatat sudah mencapai 417 perusahaan.877 ton. dan Jawa Tengah sebesar 0..07 juta ton. Selama tahun 2007.59%.go. abu dasar.

Akibat adanya pola perubahan konsumsi energi tersebut. sehingga ada korelasi yang sangat 162 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . dan Dinas Lingkungan Hidup.. Sedangkan data primer adalah data yang diperoleh dari hasil wawancara langsung ke beberapa perusahaan IKM secara acak.09 million ton and Cenral Java 0......1... Selain menyediakan lokasi tempat penyimpanan batubara untuk beberapa hari ke depan......From coal burning amount 5... mengakibatkan produk limbah batubara dari setiap perusahaan pun semakin meningkat. Imbauan pemerintah agar masyarakat industri menggunakan energi alternatif seperti batubara ternyata berdampak posistif terhadap kelangsungan aktifitas industri dalam negeri apalagi dengan berkurangnya subsidi bahan bakar minyak untuk industri.ton.... dan beracun (B3) sehingga masyarakat akan memprotes keberadaan industri pengguna batubara yang akhirnya dapat mengganggu kegiatan produksi dan perekonomian nasional....... Data Data yang digunakan untuk mendukung analisis ini terdiri atas data primer dan data sekunder.. untuk sementara waktu mungkin hal ini dapat diatasi..... 2.. Untuk mengetahui sejauhmana pemakaian batubara tersebut mempengaruhi besarnya limbah yang dihasilkan tersebut digunakan metode analisis regresi... produced of bottom ash and fly ash each are 251. khususnya dalam bidang energi. berbahaya. Peningkatan konsumsi batubara ini cenderung akan mempengaruhi peningkatan jumlah limbah batubara.. Dalam jangka panjang.366 ton and 82. Asosiasi Pertekstilan Indonesia... sehingga banyak industri yang beralih penggunaan bahan bakar minyaknya ke batubara... akan terjadi peningkatan penggunaan batubara pada industri kecil dan menengah (IKM) sekaligus akan menimbulkan permasalahan baru. fly ash 1. Seiring dengan sudah semakin banyaknya industri tekstil yang menggunakan batubara sebagai bahan bakar dalam kegiatan produksinya... namun bagi perusahaan yang memiliki lahan terbatas masalah tempat pembuangan limbah batubara menjadi salah satu kendala. Dalam situasi seperti ini.... maka memahami perubahan pola konsumsi energi yang dilakukan oleh masyarakat industri adalah suatu keharusan dan menjadi hal penting bagi pemerintah sebagai pembuat dan pengendali kebijakan dalam mendukung kelancaran roda perekonomian. Salah satu kemungkinan yang timbul adalah masalah sosial akibat adanya isu lingkungan yang mengklasifikasikan batubara sebagai limbah bahan berbau........ More and more coal is burned is more and more produce wasted................ antara lain Dinas Tenaga Kerja.. a = koefisien perpotongan b = koefisien regresi y = variabel limbah hasil pembakaran batubara x = variabel jumlah pemakaian batubara setiap IKM Tampak jelas bahwa perkembangan kebutuhan batubara tidak terlepas dari perkembangan industri di suatu daerah...... Sebagian perusahaan yang masih memiliki lahan............ sehingga hubungan ini dapat dinyatakan dalam bentuk model regresi sederhana (Gaspersz.2. East Java 1. perusahaan juga harus mencari tempat pembuangan limbah batubara... (1) ... yaitu limbah batubara yang disebut sebagai abu terbang (fly 2.. Keywords : wasted. Banten 1. METODOLOGI 2. Model Analisis Tingkat produksi limbah hasil pembakaran batubara sangat dipengaruhi oleh pemakaian batubara yang digunakan oleh IKM... PENDAHULUAN ash) dan abu dasar (bottom ash).....877 ton.....36 million ton...99 million ton in a year.. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari berbagai instansi terkait.. 1990) sebagai berikut: ... jelas masalah ini sangat mengkhawatirkan mengingat limbah batubara ini akan terus mengalami peningkatan sehingga harus ada penanganan khusus terhadap masalah ini.. (2) . bottom ash........ (3) Dalam hal ini............47 million ton......

83% dari jumlah keseluruhan penggunaan batubara di Jawa Tengah (465. disusul oleh Kabupaten Tangerang (416. Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jawa Barat. Semarang.50%. pengecoran logam. Bandung) menjadi 226 pada tahun 2007 perusahaan (API. Sebanyak 118 perusahaan (atau 52. Purwakarta dan Karawang masing-masing 16. Kabupaten Tangerang (29 perusahaan).. Di Provinsi Banten saja jumlah IKM yang sudah mengunakan bahan bakar batubara sudah mencapai 52 perusahaan. dan obat-obatan.730 ton. Padahal pada tahun 2005 baru tercatat sebanyak 15 perusahaan saja. Di Provinsi Jawa Tengah. dan Grobogan. seperti Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Puslitbang Tekmira. Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah. 2008). Kudus. Perusahaan yang paling banyak menggunakan batubara adalah industri tekstil. dan bijih plastik. stereofoam. ban. industri tekstil ini pulalah yang paling banyak menggunakan batubara sebagai bahan bakar. 14. makanan. briket. lainnya adalah perusahaan sepatu. Sukoharjo.040 ton.21% dan 12.. memaksa pemerintah untuk memacu penggunaan batubara oleh industri sehingga kontribusinya mencapai 32. Surakarta. sedangkan sisanya tersebar di Batang. Disnaker. Kajian Batubara Nasional. makanan. Jumlah IKM pemakai batubara di Provinsi Jawa Barat selalu mengalami kenaikan.250 ton. Dinas Lingkungan Hidup.362.erat antara tren perkembangan industri dengan perubahan kebutuhan batubara dan limbahnya. Informasi ini diperoleh dari berbagai sumber. BPLH Jawa Barat.980 ton). berarti dalam kurun waktu tersebut sudah mengalami kenaikan sekitar 250%. KONSUMSI BATUBARA DAN POTENSI LIMBAH BATUBARA DI PULAU JAWA Rencana pemerintah mengurangi pasokan dan penghapusan subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang selama ini menjadi beban yang sangat berat ditanggung oleh pemerintah memaksa pelaku industri untuk mengubah pola penggunaan bahan bakar. 2007. Di Provinsi Jawa Barat. Triswan Suseno dan Tuti Hernawati 163 . Kabupaten Serang (11 perusahaan).069.23%. disusul Kota Cimahi sebanyak 47 perusahaan (20.500 ton). disusul kemudian oleh Kota Cimahi. kapur. dari 193 perusahaan pada tahun 2006 (Ijang Suherman. Pada tahun 2007 saja penggunaannya mencapai 325. percetakan. Kendal. Konsumsi batubara di daerah ini pada tahun 2007 diperkirakan mencapai 3.21%) di antaranya berada di Kabupaten Bandung. dan Kota Tangerang (3 perusahaan). berarti hampir 69. Di antara jumlah IKM pemakai batubara.57 juta ton untuk 199 perusahaan tekstil. Jenis tekstil dan produk tekstil merupakan perusahaan yang paling banyak menggunakan batubara (85.06%. khususnya di Pulau Jawa. dan Jawa Timur ternyata pesat sekali. Jumlah pemakaian batubara sampai tahun 2008 diperkirakan sudah mencapai 1.84%). Kabupaten Bandung merupakan konsumen batubara terbesar dengan jumlah pemakaian mencapai 44.008 ton. Kota Tangerang (191. sisanya adalah industri kertas. sisanya digunakan oleh IKM di daerah lainnya. Kabupaten Serang merupakan pemakai batubara batubara terbanyak yaitu 639. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh tim dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Bandung tahun 2008. dan lainlain. Jawa Tengah. Analisis Potensi Limbah Hasil Pembakaran Batubara pada Industri . minuman. Target pemerintah sampai dengan tahun 2025 mengurangi penggunaan BBM hingga dua puluh persen. Pati.71%.000 ton). Jawa Barat. penggunaan batubara oleh IKM di beberapa wilayah seperti Banten. berdasarkan hasil penelitian ternyata bahwa IKM yang telah beralih menggunakan batubara sudah mencapai 226 perusahaan. Himbauan pemerintah kepada masyarakat industri untuk mengalihkan penggunaan bahan bakar minyak ke batubara dan adanya larangan pemerintah agar industri baru menggunakan batubara ternyata berdampak sangat signifikan terhadap kenaikan konsumsi batubara di Indonesia. Konsentrasi perusahaan pemakai batubara paling banyak terletak di Kabupaten Pekalongan (21 perusahaan) dan Karanganyar (16 perusahaan).396 ton).80%). 3. briket batubara. tercatat ada 115 perusahaan. minyak sawit. Industri pemakai batubara tersebut tersebar di Kota Cilegon (9 perusahaan). jumlahnya mencapai 2. berarti naik sebesar 9. karet. sedangkan sisanya tersebar di berbagai lokasi di Jawa Barat. 98 di antaranya adalah perusahaan tekstil. Ungaran. Klaten. Sragen. dan kota Cilegon (115.7% terhadap pemanfaatan bauran energi nasional mengingat cadangan batubara di Indonesia cukup besar.

Kualitas limbah batubara pasca pembakaran sangat dipengaruhi oleh jenis batubara dan sistem pembakarannya.75 + 41. organic sulfur). Di tengah harga BBM yang semakin melambung.19%. Hal ini sangat penting.100 ton. Dari jumlah IKM sebanyak 417 perusahaan.21%. Dari sisi jenis industri. perusahaan tekstil sebesar 4. Biasanya parameter yang digunakan dalam memilih batubara adalah kalori. di samping parameter lain seperti analisis unsur yang terdapat dalam abu (SiO2. penggunaan batubara merupakan salah satu alternatif yang sangat membantu dalam menekan biaya penggunaan bahan bakar yang memang jauh lebih efisien dan ekonomis. Pembuangan dilakukan secara diamdiam tanpa melakukan koordinasi dengan pihak pemerintah daerah. Fe2O3.Berdasarkan hasil survei di Jawa Timur.82%). dan sisanya oleh perusahaan briket. ternyata menghasilkan limbah hasil pembakaran batubara sebanyak 334. kadar kelembaban. dan tingkat ketergerusan.13% dan industri lainnya 9.45% di antaranya digunakan oleh perusahaan kertas. disusul kemudian oleh Banten (22. dan titik leleh abu (ash fusion temperature) (Raharjo.77%). diperoleh informasi bahwa tercatat sebanyak 24 perusahaan yang telah menggunakan bahan bakar batubara.14%.72 x Kedua model di atas digunakan untuk mengestimasi potensi limbah yang dihasilkan dari proses pembakaran batubara oleh IKM di Pulau Jawa. 95. limbah yang dihasilkan dari pembakaran batubara tersebut sekitar 103. dan Jawa Tengah (7.419 ton. Perusahaan kertas (18 perusahaan) adalah pemakai batubara terbesar di wilayah ini.20% dari limbah tersebut adalah abu dasar sedangkan sisanya berupa abu terbang.20%). karena karakteristik mesin atau peralatan yang digunakan dalam kegiatan produksi berbeda satu dengan yang lainnya. mereka mengalami kesulitan pula dalam membuang limbah batubara sehingga mereka membuangnya di sembarang tempat dengan tidak memperhatikan dampak dari pembuangan tersebut. Perusahaan kertas yang paling banyak menggunakan batubara adalah PT.58% dari jumlah 164 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . dengan pemakaian pertahun mencapai 720. jumlahnya mencapai 186. Banyak produk limbah batubara dari beberapa perusahaan tidak bisa digunakan sebagai bahan batako. sulfate sulfur. kadar sulfur. yaitu limbah hasil pembakaran batubara. Di sisi lain. konsumsi. Provinsi Jawa Barat merupakan daerah yang memberikan kontribusi limbah terbesar. 2006 dan 2007). disusul kemudian oleh perusahaan tekstil (5 perusahaan) dan briket(1 perusahaan). bahwa jumlah limbah hasil pembakaran batubara sangat dipengaruhi oleh variabel pemakaian batubara di setiap IKM. Jumlah batubara yang digunakan IKM di Pulau Jawa sebesar 5.000 ton. Jumlah pemakaian batubara pada tahun 2007 tercatat 1. ternyata menghasilkan model regresi sebagai berikut : 1) Model regresi abu dasar : y = 23.430 kg abu terbang (Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung.266 ton (2007). dan lain lain). hasilnya dapat dilihat dalam Tabel 2.39 + 13. di 4. P2O5. yaitu 51. Berdasarkan data jumlah pamakaian batubara.68%) disusul oleh industri kertas 35. analisis komposisi sulfur (pyritic sulfur. 2006). Jawa Timur (18. Apabila hal ini terjadi terus menerus dikhawatirkan akan menimbulkan masalah baru khususnya yang berkaitan dengan masalah pencemaran lingkungan sehingga dapat menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat. sehingga pemerintah daerah pun mengalami kesulitan dalam mengawasinya. Al2O3. 75. semakin maraknya penggunaan batubara pada IKM memunculkan persoalan baru. limbah abu dasar dan abu terbang dari 94 perusahaan tersebut. Selain kesulitan dalam menyediakan tempat penyimpanan batubara.98 x 2) Model regresi abu terbang : y = 173.213 ton atau 5. kadar abu. sehingga variabel ini merupakan parameter potensial yang sangat mempengaruhi produksi abu dasar dan abu terbang.088. kandungan zat terbang.985. perusahaan tekstil menjadi penyumbang terbesar limbah hasil pembakaran batubara.297 kg abu dasar dan 53. 94 perusahaan di antaranya menjadi contoh (sample) untuk dicatat jumlah abu dasar dan abu terbang yang dihasilkan dari pembakaran batubara di setiap perusahaan tersebut. Sehingga pemilihan kualitas batubara yang sesuai akhirnya akan sangat berpengaruh terhadap daya tahan mesin agar mesin berfungsi secara optimal.100 ton (atau 55. POTENSI LIMBAH HASIL PEMBAKARAN BATUBARA OLEH IKM DI PULAU JAWA Sebagaimana dijelaskan sebelumnya. kadar karbon. ukuran. Tjiwi Kimia yang berlokasi di pinggir jalan raya Mojokerto. Diketahui bahwa setiap hari ke 94 perusahaan tersebut menggunakan batubara tidak kurang dari 2.

102.248 36 2.877 Provinsi 5.522 681 46.809 198 22.297 6.767 1.898 Jumlah 140.576 5.440 2.768 3. 165 .362.074 14.800 325.604 88. Estimasi jumlah abu dasar (ad) dan abu terbang (at)hasil pembakaran batubara di Pulau Jawa menurut jenis ikm (ton) Kertas Abu Dasar 26.600 33 19 12 1 342. koefisien korelasi (r) = 93.877 979 125 7.160 66.561 45.651 1. Jawa Timur (2008) Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung ( 2007) Asosiasi Pertekstilan Indonesia Jawa Barat (2007) Hasil survei Tim Pola Distribusi Batubara Tahun 2008. Jawa Barat.849 19.400 5.708 4.280 4.038.367 Tekstil Provinsi Banyaknya Perusahaan Banten Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Timur 14 199 98 5 Jumlah 316 Sumber : - Dinas Tenaga Kerja Provinsi Banten.218 5 8 5 18 620.336 Abu Terbang 18. Puslitbang Tekmira Bandung Tabel 2.39+13.026 Tekstil Abu Dasar Abu Terbang Analisis Potensi Limbah Hasil Pembakaran Batubara pada Industri .101 43.72 X.750 13.069.680 1.227 128.7477+41.575 15. y(at) =173.556 2.544 35.119 82.440 370. Jawa Tengah.962 Abu Terbang 4.336.Tabel 1.4%. Triswan Suseno dan Tuti Hernawati Banten Jabar Jateng Jatim 16.747 Jumlah Abu Dasar 57.008 45.313 29.985.413 1.699 251. koefisien korelasi (r) = 48.97 X .500 52 226 115 24 417 Banyaknya Perusahaan Konsumsi Batubara Banyaknya Perusahaan Konsumsi Batubara Banyaknya Perusahaan Lainnya Jumlah Konsumsi Batubara 1.800 65 546.000 3.. Jumlah perusahaan pemakai dan konsumsi batubara oleh ikm di Pulau Jawa tahun 2007 Jumlah Perusahaan (Buah) Dan Konsumsi Batubara (Ton) Kertas Konsumsi Batubara 399.0%.067 465.566.104 Abu Terbang Lainnya Abu Dasar 14.141 1.887 42.300 8.850 132..543 3.775 107.088.119 5.052 15.080 73.074 Berdasarkan model regresi : y(ad) =23.

perusahaan kecil biasanya menggunakan jasa pemasok batubara atau pihak ketiga untuk mengangkut limbah tersebut. sementara TPS yang ada sudah tidak mampu untuk menampungnya. Padahal berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh berbagai instansi termasuk Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral di Bandung. akibat keterbatasan lahan untuk menyimpan sementara hasil pembakaran batubara. Namun pemanfaatan produk dari limbah tersebut ternyata masih terkendala oleh Peraturan Pemerintah No. 3) Hanya 26. 4) Kualitas batubara dari pemasok dan teknik pembakaran batubara yang tidak sempurna menjadikan limbah ini dinyatakan sebagai limbah B3. 166 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Dalam menangani limbah hasil pembakaran batubara setiap perusahaan melakukannya dengan cara yang berbeda.04% memiliki TPS tapi tak berizin dan 40. tergantung pada kondisi dan kemampuan masing-masing perusahaan. Namun produknya hanya boleh digunakan untuk memenuhi kebutuhan intern. 18 Tahun 1999 jo PP 85 Tahun 1999 yang menyatakan limbah tersebut termasuk kategori limbah bahan berbahaya dan beracun (B3). Perusahaan lain yang telah melakukan pemanfaatan dan pengelolaan limbah dengan baik sesuai dengan prosedur yang berlaku adalah perusahaan tekstil PT. mereka memanfaatkan pihak ketiga atau pemasok batubara untuk mengangkutnya. KESIMPULAN DAN SARAN 5. sehingga tidak diketahui kemana limbah tersebut dibuang. sehingga produknya tidak dapat digunakan secara bebas sebelum produk tersebut benar-benar dinyatakan bebas dari limbah B3 atas izin Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).04% saja telah memiliki TPS yang berizin. Timbul kekhawatiran limbah tersebut dibuang di sembarang tempat.1. Bagi sebagian perusahaan yang masih memiliki lahan luas. semakin banyak batubara yang digunakan akan semakin banyak pula abu dasar dan abu terbang yang dihasilkan dari pembakaran batubara setiap IKM. 2007). 2) Terdapat korelasi yang sangat signifikan antara penggunaan batubara dengan limbahnya. 26. Berdasarkan informasi yang diperoleh. penggunaan batubara terus mengalami peningkatan sehingga berkorelasi erat dengan bertambahnya limbah. harus ada solusi untuk menangani limbah tersebut. Sehingga di dalam limbah hasil pembakaran batubara masih banyak mengandung batubara walaupun kalorinya rendah. Dengan kata lain.81% tidak/belum memiliki TPS sama sekali (Dinas Lingkungan Hidup. 5. Kesimpulan Berdasarkan hasil kajian di atas dapat disimpulkan bahwa: 1) Selama batubara masih menjadi pilihan utama sebagai pengganti BBM. Seiring dengan berjalannya waktu. tidak atau belum boleh dijual ke masyarakat umum. kualitas batubara yang selalu berubah dan tidak sesuai dengan spesifikasi boiler. Sudah banyak lembaga/instansi yang peduli terhadap limbah ini dan telah mencoba berbagai teknik untuk mengolah limbah ini menjadi bermanfaat. untuk sementara limbahnya ditimbun di tempat pembuangan sementara (TPS) di sekitar lahan milik perusahaan tersebut. Faktor penyebabnya antara lain karena pembakaran yang tidak sempurna. ternyata limbah hasil pembakaran batubara dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan paving blok atau batubata.antaranya banyak ditemukan pada mesin boiler pembakar batubara di sejumlah perusahaan tekstil di wilayah Kabupaten Bandung. harus ada suatu bimbingan teknis yang dilakukan oleh para aparat kepada para pekerja di pabrik yang menggunakan batubara. Namun tidak semua perusahaan memiliki lahan yang luas. Daliatex di Kabupaten Bandung yang telah mengolah limbah batubara menjadi batako. dari 94 perusahaan pemakai batubara hanya 26. Oleh karena itu. Pihak KLH sendiri dalam mengeluarkan izin pengolahan dan penggunaan produk limbah batubara sangat selektif dan berhati-hati sekali mengingat tidak semua perusahaan mampu mengelola limbah batubara dengan baik dan benar karena ada dugaan yang menyatakan bahwa sebagian besar perusahaan dalam melakukan pembakaran batubara dilakukan tidak secara sempurna. maka diprediksi akan semakin banyak IKM yang akan menggunakan batubara sebagai bahan bakar untuk kegiatan produksinya. Oleh karena itu.04% saja IKM yang memiliki TPS berizin.

Raharjo. Semarang. Konsumsi Batubara Oleh Perusahaan Anggota API Jawa Barat. Kajian Batubara Nasional. Melakukan pengawasan yang ketat dan berkesinambungan kepada perusahaan yang diberi kewenangan mengelola dan memanfaatkan limbah batubara. 2007. Mengenal Batubara (2). 1990.com. Membentuk lembaga/perusahaan yang khusus mengawasi dan mengelola limbah batubara secara profesional serta harus bertanggung jawab kepada pemerintah (Daerah/Pusat/KLH).beritaiptek. keamanan. Laporan Kegiatan Seksi Pengendalian Pencemaran Limbah Padat dan B3. Saran Solusi permasalahan limbah batubara : Mencari dan menentukan lokasi tempat pembuangan limbah batubara yang benar-benar memenuhi persyaratan teknis dan nonteknis. Dinas Tenaga Kerja Provinsi Jawa Barat. seperti luas. Daftar Perusahaan Yang Menggunakan Batubara. Imam Budi. Bandung. dan memanfaatkan) limbah batubara secara baik dan benar. letak. Dinas Lingkungan Hidup. 2008.5. dan memasarkannya. Analisis Kuantitatif Untuk Perencanaan. Setiap perusahaan diwajibkan memiliki instalasi pengolahan limbah batubara (IPLB) seperti halnya mereka diwajibkan memiliki instalasi pengolahan limbah (IPAL) dan memanfaatkannya secara optimal. Pengawas harus memberikan laporan secara benar tentang perusahaan pengguna batubara yang diawasinya kepada (Daerah/Pusat/KLH). Setiap perusahaan pengguna batubara harus mampu melakukan pembakaran batubara secara benar (sempurna) sehingga tidak ada batubara ke dalam limbahnya. Izin pengolahan limbah batubara ini diharapkan harus benar-benar digunakan agar tidak terjadi seperti IPAL yang saat ini mereka miliki ternyata tidak berfungsi sepenuhnya.Bidang Energi dan Sumber Daya Alam. Suherman. Dinas Tenaga Kerja Provinsi Jawa Timur. Ijang. Daftar Perusahaan Yang Menggunakan Batubara. 2008. Bandung.2. mulai dari menampung. Untuk memudahkan pemantauan sebaiknya pemerintah atau swasta dapat membuat IPLB secara terpadu yang dapat menampung semua limbah batubara dari setiap industri pengguna batubara untuk memudahkan pengawasan. 2007. Analisis Potensi Limbah Hasil Pembakaran Batubara pada Industri . memanfaatkan dalam bentuk barang (rekomendasi KLH). Memberikan izin memasarkan/menggunakan barang yang dibuat dari hasil pengolahan dan pemanfaatan limbah batubara. 2008. Daftar Perusahaan Yang Menggunakan Batubara di Provinsi Banten. mengolah (dengan rekomendasi KLH). Pemerintah dapat memberikan izin kepada perusahaan yang benar-benar mampu mengelola (mengumpulkan dan mengolah.. Triswan Suseno dan Tuti Hernawati 167 . Harus ada satu atau dua perusahaan yang diberi kewenangan khusus menangani limbah batubara. Bandung. 2006 dan 2007. 2008. Pemerintah harus mampu meyakinkan masyarakat bahwa limbah dan produk limbah batubara tidak berbahaya karena sudah melalui prosedur pengolahan yang benar. Daftar Perusahaan Yang Menggunakan Batubara. Bandung. 2006.. Artikel Iptek . Dinas Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah. Dinas Tenaga Kerja Provinsi Banten. www. Penerbit “Tarsito”. dan lain-lain. Gaspersz. 08:40:21. Puslitbang Tekmira. Vincent. Serang. DAFTAR PUSTAKA Asosiasi Pertekstilan Indonesia Jawa Barat. Soreang. Surabaya. Rabu. 2009.

623. The result shows that there UBC process does not increase the rank of coal. Kata kunci: proses UBC. Fax. klasifikasi batubara ABSTRACT To overcome misunderstanding about the rank of coal produced by Upgraded Brown Coal (UBC) process. Hasil kajian menunjukkan bahwa proses UBC tidak menyebabkan kenaikan peringkat batubara. (022) 6003373 e-mail: SARI Untuk mengatasi salah pengertian tentang peringkat batubara hasil proses Upgraded Brown Coal (UBC). study on the effect of UBC process on coal rank needs to be carried out. but not so significant and still similar with oven dried of raw coal. (022) 6030483. coal classification 168 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . perlu dilakukan kajian tentang pengaruh proses UBC terhadap peringkat batubara. Jenderal Sudirman No. Keywords: UBC process. Kajian dilakukan dengan membandingkan kondisi proses UBC terhadap kondisi pembatubaraan dan mengumpulkan serta mengolah data analisis kimia dan analisis petrografi batubara raw dan produk UBC. tetapi tidak signifikan dan mirip dengan kenaikan yang dialami oleh batubara raw yang dikeringkan dalam oven. There is an increase of vitrinite reflectance.PENGARUH PROSES UPGRADED BROWN COAL (UBC) TERHADAP PERINGKAT BATUBARA Slamet Suprapto Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. Bandung 40211 Telp. peringkat batubara. reflektan vitrinit. vitrinite reflectance. Terdapat kenaikan reflektan vitrinit. The study is carried out by comparing the condition of UBC process with the condition of coalification and collecting and calculating chemical and petrographical analysis of raw coal and UBC product. coal rank.

Dengan nilai kalor yang tinggi dan kadar abu serta belerang rendah. yakni dengan kadar abu dan kadar belerang rendah. Oleh karena itu perlu dilakukan kajian untuk mempelajari pengaruh proses UBC terhadap peringkat batubara. Gambar 1. Proses UBC Teknologi UBC adalah salah proses coal upgrading yang meningkatkan nilai kalor melalui proses pengeringan (evaporative drying) yang pertama kali dikembangkan oleh Kobe Steel. Namun. Jepang.1. Jepang adalah proses Upgraded Brown Coal. air bebas (surface moisture) dan juga air lembab (inherent moisture) yang terdapat dalam pori-pori batubara akan diuapkan. Tetapi tingginya kadar air pada batubara peringkat rendah terutama lignit menyebabkan tingginya biaya pengangkutan. Padahal batubara peringkat rendah di Indonesia umumnya termasuk bersih. Hal ini didasarkan kenyataan bahwa produk UBC mempunyai nilai kalor yang mirip dengan nilai kalor batubara peringkat bituminous. Salah satu teknologi peningkatan kualitas batubara lignit yang saat ini dikembangkan oleh Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara bekerjasama dengan JCOAL. Slamet Suprapto 169 .1. Kedua hal tersebut menyebabkan lignit lebih sulit dipasarkan dibanding batubara bituminous dan sub bituminous. mencapai 104. Teknologi yang saat ini berkembang umumnya didasarkan atas proses pengurangan kadar air atau pengeringan. Mengingat kebutuhan semakin meningkat. Namun sebagian besar batubara Indonesia termasuk peringkat rendah (lignit – sub bituminus). sampai saat ini banyak yang menganggap bahwa teknologi UBC juga meningkatkan peringkat batubara. teknologi-teknologi peningkatan kualitas batubara telah banyak berkembang. Keberhasilan tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan pembangunan demonstration plant kapasitas 1000 ton/jam di Kalimantan Selatan. Penambahan minyak residu diperlukan untuk menutup pori-pori batubara sehingga kestabilan kadar air bawaan pasca proses dapat terjaga (Gambar 1). PENDAHULUAN 2. TINJAUAN PUSTAKA Indonesia memiliki sumber daya batubara yang cukup besar. Namun demikian. Untuk mengatasi permasalahan batubara lignit. Sedangkan minyak tanah diperlukan sebagai media dalam proses. kemudian untuk pilot plant dan demonstration plant dikembangkan di Indonesia. ekspoitasi terhadap batubara lignit juga mulai dikembangkan. Produk UBC bisa berupa serbuk apabila langsung dimanfaatkan atau berbentuk briket apabila akan ditransportasi pada jarak jauh (Umar.300 kal/g (adb) dan kadar air ± 7%. Dengan temperatur dan tekanan tersebut. Campuran tersebut kemudian dipanaskan pada temperatur 150-160ºC dengan tekanan 250-350 kPa. penentuan peringkat batubara tidak bisa ditentukan dari nilai kalor batubara kering udara. Prinsip proses UBC adalah dengan mencampurkan batubara. tingginya kadar air juga menyebabkan rendahnya nilai kalor. Produk UBC yang dihasilkan mempunyai nilai kalor >6. 2005). yakni dengan kadar air tinggi dan nilai kalor rendah. Pada saat ini sebagian besar batubara yang ditambang adalah peringat bituminous dan sub bituminous. maka nilai kalor batubara dapat meningkat. 2. Proses pengering pada Upgraded Brown Coal Ujicoba pilot plant dengan menggunakan batubara peringkat rendah yang berasal dari beberapa daerah di Indonesia telah beberapa kali dilakukan dan berhasil dengan baik. Disamping itu. batubara peringkat rendah disebut juga batubara kualitas rendah (low grade coal) karena tingginya kadar air dan rendahnya nilai kalor.6 miliar ton tersebar terutama di Sumatera dan Kalimantan. minyak residu dan minyak tanah. Pilot plant kapasitas 5 ton/jam telah dibangun di Palimanan dan hasil ujicobanya membuktikan bahwa kadar air batubara peringkat rendah dapat dikurangi dan nilai kalornya meningkat. produk UBC lebih baik dibanding batubara bituminous yang mempunyai kadar abu dan belerang tinggi Pengaruh Proses Upgraded Brown Coal (UBC) terhadap Peringkat Batubara. Dengan mengurangi kadar air. Penelitian skala laboratorium dan skala bench dilakukan di Jepang. Padahal.

sisa tanaman sudah tertutup oleh lapisan tanah penutup sehingga terjadi proses geokimia.9 1. Hubungan tipikal antara peringkat batubara dengan rasio bahan bakar dapat dilihat pada Tabel 1.C. Temperatur berfungsi mempercepat pematangan bahan organik. Pada tahap ini sisa tanaman masih dalam keadaan terbuka dan belum tertutup oleh tanah penutup. Hubungan tipikal antara peringkat batubara dengan rasio bahan bakar Peringkat Batubara Lignit High volatile bituminous Medium volatile bituminous Low volatile bituminous Semi antrasit Antrasit Rasio Bahan Bakar 0. O. kadar zat terbang). 2. Temperatur pada proses pembatubaraan normal tidak lebih dari 300ºC. Stach. yakni tahap penggambutan (peatification) dan tahap pembatubaraan (coalification). 1986). Hubungan antara peringkat dengan kadar karbon dapat dilihat pada Tabel 2. analisis ultimat (kadar karbon) dan nilai kalor. Waktu juga berpengaruh terhadap pematangan bahan organik. Rasio bahan bakar adalah perbandingan antara karbon padat dengan kadar zat terbang. Pemanasan yang lebih lama akan menghasilkan pematangan yang lebih tinggi sehingga endapan batubara yang berumur lebih tua mempunyai tingkat pembatubaraan yang lebih tinggi. 2. Pada tahap ini sebetulnya terjadi proses pematangan. Proses pembentukan batubara pada dasarnya dapat dibagi menjadi 2 tahap. turunnya kadar zat terbang. Proses pematangan juga dapat dipercepat oleh pengaruh dari luar seperti intrusi batuan beku. Normalnya. yakni berkisar antara beberapa kilogram sampai ratusan kilogram. 1965. Proses Pembatubaraan Batubara terbentuk dari pembusukan sisa tanaman purba yang terpadatkan setelah tertimbun oleh lapisan penutup di atasnya.2. Pada tahap penggambutan terjadi proses biokimia sehingga sisa-sisa tanaman mengalami proses pembusukan. sirkulasi hidrotermal. dan naiknya nilai kalor.8 8.3. N dan S dan naiknya kadar C. makin tinggi rasio bahan bakar. Kenaikan peringkat batubara juga diikuti oleh perubahan kimia dan sifat fisik batubara sebagai berikut (Francis.sehingga sangat cocok untuk keperluan dalam negeri maupun ekspor. makin dalam endapannya. Penentuan Peringkat Batubara Peringkat batubara dapat ditentukan melalui data analisis kimia atau analisis petrografi. makin dalam endapannya makin lanjut proses pematangan. bituminous dan antrasit. Stach.6 24 Menurut Francis (1965) terdapat hubungan antara peringkat dengan kadar karbon pada batubara murni (dry mineral matter free. makin tinggi kadar karbon (dmmf).9 2. sedangkan untuk batubara bituminous diperlukan temperatur 100 . 1965. makin tinggi peringkat batubara karena makin dekat dengan sumber panas dalam bumi. Pada tahap pembatubaraan. Proses pembatubaan dipengaruhi oleh 3 faktor. panas gesekan dan kompilasi tektonik. 1982. Sedangkan untuk analisis petrografi digunakan data reflektan vitrinit (Rv). dmmf). Menurut H. Falcon. terdapat hubungan antara rasio bahan bakar (fuel ratio) dengan peringkat batubara. Data analisis kimia yang digunakan diantaranya analisis proksimat (kadar karbon padat. Untuk membentuk antrasit diperlukan temperatur 300ºC. Makin tinggi tinggi peringkat batubara. Tabel 1. Oleh karena itu. dan naiknya reflektan vitrinit. Kualitas tersebut mirip dengan kualitas batubara peringkat menengah. 1982): turunnya kadar air (bed moisture). turunnya kadar H. waktu yang dibutuhkan dalam proses pembatubaraan berkisar antara puluhan sampai ratusan juta tahun. yakni makin tinggi peringkat batubara. 170 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Tingkat pembatubaraan atau posisi batubara dalam seri lignit – antrasit ini disebut peringkat (rank) (Stach. Rance (1975). temperatur dan waktu. Tekanan berfungsi memadatkan sisa tanaman dan mengurangi kadar air. Besarnya tekanan tergantung dalamnya endapan batubara atau tebalnya lapisan tanah penutup. yakni tekanan. yakni perubahan dari gambut menjadi batubara lignit dan seterusnya menjadi batubara-batubara sub bituminous.150ºC (Francis. 1982).3 1.

yakni kadar karbon padat.5 2. Peringkat rendah (lignit dan sub bituminous) dengan Rv <0.0 1.A) dengan Rv 2. peringkat batubara ditentukan berdasarkan nilai kalor (mmf) batubara yang masih mengandung air lapisan (bed moisture). Sedangkan untuk batubara yang mempunyai kadar karbon padat (dmmf) <31% atau kadar zat terbang (dmmf) >69%. % A = kadar abu (adb). Pengolahan Data Data hasil analisis batubara raw dan produk UBC pada kondisi kering udara diolah menjadi kondisi kering dan bebas bahan mineral (dmmf) menggunakan rumus Par (Anonymus.0 – 6. Batubara peringkat paling rendah (lignit) mempunyai Rv 0. Hubungan antara peringkat dengan kadar karbon (dmmf) Peringkat Antrasit Carbonaceous Bituminous Sub bituminous Lignit Kadar karbon. Pengumpulan Data Data sekunder berupa hasil analisis kmia dan petrografi batubara raw dan produk UBC diperoleh dari laporan kegiatan pilot plant UBC di Palimanan Cirebon yang beroperasi menggunakan batubara Binungan. 2005) membuat klasifikasi batubara berdasarkan peringkat dengan menggunakan data analisisi kimia. Teichmuller dan Barntenstein (Falcon.3 American Society for Testing Materials (Anonymous. peringkat menengah (bituminous D .6 – 2.Tabel 2.0 – 2. Peringkat batubara dibagi menjadi tiga.5 0.5. % dimana.15 S x 100 100 – (M + 1. peringkat batubara ditentukan berdasarkan kadar karbon padat dan zat terbang.5 – 1.5 – 2. Hubungan antara peringkat batubara dengan reflektan vitrinit Peringkat batubara (ASTM) Meta antrasit Antrasit Semi antrasit Low volatile bituminous Medium volatile bitumious High volatile bituminous Sub bituminous Lignit Gambut Reflektan vitrinit 3. Apabila penentuan peringkat menggunakan nilai kalor (mmf).6 0. Klasifikasi batubara berdasarkan peringkat menurut ASTM dapat dilihat pada Lampiran 1.mmf).0. Taban dan Samaranggau. % S = kadar belerang (adb).1 – 1.55 S) Zat terbang = 100 – kadar karbon padat (dmmf) (dmmf).% dmmf 93 – 95 91 – 93 80 – 91 75 – 80 60 – 75 Tabel 3.0 2. diperlukan contoh batubara yang masih segar (fresh) dan langsung diambil dari tambang.1 0.3 – 0. KP = kadar karbon padat (adb). 2005) sebagai berikut: Karbon padat = (dmmf).08 A + 0. % Pengaruh Proses Upgraded Brown Coal (UBC) terhadap Peringkat Batubara. 3. tetapi dengan memasukkan data kadar air lapisan.0%. 1986) membuat hubungan antara refelektan vitrinit dengan gambut dan peringkat batubara menurut ASTM (Tabel 3). yakni peringkat rendah. % M = kadar air bawaan (adb). yakni kering bebas bahan mineral (dmmf) atau basah dan bebas bahan mineral (moist mineral matter free . METODOLOGI 3.55 S) Karbon = (dmmf). Untuk batubara yang mempunyai kadar karbon padat (dmmf) e”69% atau kadar zat terbang (dmmf) <31%.08 A + 0.4 <0.A) dengan Rv 0.5 – 6. % C x 100 100 – (M + 1. Slamet Suprapto 171 .5 – 3. 3. % C = kadar karbon (adb). International Standard (Anonymous. peringkat menengah dan peringkat tinggi.4 – 0. Klasifikasi batubara berdasarkan peringkat menurut International Standard (ISO) dapat dilihat pada Lampiran 2.3 .2. sedangkan batubara peringkat tertinggi (meta antrasit) mempunyai Rv 2.4%.0%.0 – 6. zat terbang dan nilai kalor dari batubara murni.1.5 1. 2005) kemudian membuat klasifikasi batubara berdasarkan peringkat dengan menggunakan data reflektan vitrinit (Rv). % KP – 0.0% dan peringkat tinggi (antrasit C .

Rasio bahan bakar batubara produk UBC (Tabel 6) yang berkisar antara 0.52 6.15 38.90 5.96-0.625 66.36 37. sedangkan kadar karbon (dmmf) produk UBC berkisar antara 69.01 Tabel 5.50 45. 4. kal/g adb Karbon.74%.47 5.20 30.65 2.89 6.93 48. Peringkat batubara raw dan produk UBC masih tetap termasuk lignit.67 45.310 64. mirip dengan kualitas produk UBC. % adb Sumber: Umar.048 53.90 7. yakni lignit.40% dan nilai kalor 6.80 30. % adb Karbon Padat.61 47.5 12. % adb Nilai kalor.628 172 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .310 – 6. mirip dengan kualitas batubara umpan (raw coal) untuk proses UBC.894 kal/g.08 – 8.78 – 48. Air total.278 – 7.54 – 45. 1981).50 2.805 kal/g.78 44. 1981 Peringkat Menengah High volatile C bituminous 10.278 High volatile B bituminous 12. Tabel 8 menunjukkan bahwa tidak terdapat perubahan kadar karbon (dmmf) yang siginifikan dari produk UBC dibanding batubara raw.55 Taban Produk.11 22.60 6. 2004 Binungan Produk.805 65. 33.07%. Dari Tabel 7 juga dapat dilihat bahwa seluruh batubara raw maupun produk UBC mempunyai kadar karbon padat (dmmf) <69% dan kadar zat Tabel 4. % ar Air lembab.31 5. % ar Abu. % ar Karbon padat.19 3. 5.60 35.68 39. Batubara lignit mempunyai kadar air 34.50 – 12. % ar Zat terbang.33 2. Hal ini terbukti bahwa kadar zat terbang (dmmf) batubara produk UBC lebih tinggi dari yang terdapat pada batubara raw (Tabel 7). Data analisis contoh batubara peringkat rendah – menengah Peringkat Rendah Parameter Air.90 32.00 47. Sedangkan batubara peringkat bituminous mempunyai kadar air 5.81 46.56 16.80% dan nilai kalor 4.35 4.00 30. Bahkan terdapat kecenderungan penurunan rasio bahan bakar produk UBC dibanding batubara raw.05 37. 1.42 40. Kadar karbon (dmmf) batubara raw berkisar antara 71.80 60.006 Sub bituminous 19.324 57.19 Raw.98 menyatakan bahwa peringkat batubara produk masih tetap rendah. Hasil analisis tersebut mirip dengan kualitas batubara peringkat high volatile bituminous. Penurunan rasio bahan bakar tersebut dikarenakan oleh naiknya kadar zat terbang yang kemungkinan akibat penambahan atau sisa residu (LSWR) yang ditambahkan selama proses UBC (lihat Gambar 1).76%. % adb Abu. Tabel 5 menyatakan komposisi kimia contoh-contoh batubara peringkat rendah – menengah pada kondisi as received (ar contoh asal) (Singer.55 5.48% dan nilai kalor 6.13 6.70 – 71.80 6.34 42.4. Hasil analisis batubara raw dan produk UBC Paramater Raw.54 6.00 44.43 17. Sebagai pembanding.431 57. HASIL DAN PEMBAHASAN Data analisis batubara raw dan produk UBC pada kondisi kering udara dapat dilihat pada Tabel 4.34% dan karbon padat 42.20 28.00 6.80 4.20 40. Produk UBC mempunyai kadar air lembab 5. zat terbang 46. % ar Nilai kalor.589 High volatile A bituminous 5. % adb Zat terbang.88 Samaranggau Raw 32.75 15. Hal ini berarti tidak terjadi kenaikan peringkat batubara akibat proses UBC.59 Produk.40 5. kal/g ar Sumber: Singer.894 Lignit 34.07 6.60 4.006 kal/g.

039 0.43 Deviasi 0.50 51. Tabel 9.35-0. Tetapi.96 0. Mengingat nilai kalor (mmf) harus ditentukan dari batubara yang masih mengandung air lapisan. Reflektan vitrinit batubara raw berkisar antara 0.32 – 0.38% menjadi 0.44 0. Waktu tinggal batubara pada proses UBC tidak lebih dari 1 hari.% dmmf 51.76 72.97 0.46 48.98 0.95 Tabel 8.38 0.038 0. Temperatur yang digunakan untuk proses UBC memang mirip dengan temperatur proses pembatubaraan.50 49.45.98 53.Tabel 6.12 73. Apalagi refelektan vitrinit batubara kering oven yang juga mengalami kenaikan dibandingkan batubara raw.45 0.29 – 0.57 49. Rasio bahan bakar batubara raw dan produk UBC Contoh Batubara Binungan Taban Samaranggau Raw Produk Raw Produk Raw Produk Rasio Bahan Bakar 1. Slamet Suprapto 173 . sedangkan proses pembatubaraan yang merubah batubara lignit menjadi batubara high votaltile bituminous terjadi dalam waktu puluhan juta tahun. peringkat batubara produk UBC tidak mengalami kenaikan yang berarti.18 69.10 48.053 0. produk UBC dan batubara kering oven Contoh Kisaran Batubara raw Produk UBC Batubara kering oven Sumber: Daulay.02 46.60% atau rata-rata 0. maka peringkat batubara produk UBC tidak bisa ditentukan menurut kalsifikasi ASTM.43 Zat terbang%.34 71.08 0. Kadar karbon padat dan zat terbang batubara raw dan produk UBC Contoh Batubara Binungan Taban Samaranggau Raw Produk Raw Produk Raw Produk Karbon padat.60 71. dmmf 48. Kadar karbon batubara raw dan produk UBC Contoh Batubara Binungan Taban Samaranggau Raw Produk Raw Produk Raw Produk Kadar Karbon% dmmf 74.43 50.57 terbang (dmmf) >31%.60 0. Reflektan vitrinit batubara raw.50 50.70 Tabel 7. Tabel 9 menunjukkan terjadinya kenaikan reflektan vitrinit akibat proses UBC. Dengan demikian maka peringkat batubara harus ditentukan dari nilai kalor (mmf).88 0. namun waktu (durasi) proses sangat berbeda. Pembahasan tersebut di atas menyatakan bahwa peringkat batubara produk UBC cenderung sama dengan peringkat batubara raw.29-0.44% atau ratarata 0. 2008 Reflektan Vitrinit.35 – 0. % Rata-rata 0.51 Pengaruh Proses Upgraded Brown Coal (UBC) terhadap Peringkat Batubara.54 51.

. G.. Terdapat sedikit kenaikan reflektan vitrinit. Fossil Power. Daulay. Review Paper No. Oxford.. Anonymous.P. Berlin. I.G. Ltd.C. Windsor. 1975..).. DAFTAR PUSTAKA Anonymous.. Bandung.F. Francis. Shell International Petroleum Co. (Ed.S. Pergamon Press. Umar.1. 2004. Inc. & Teichmuller.. Stach’s Textbook of Coal Petrology. Daulay. R. B. Gebruder Borntraeger. no. S. tetapi peringkatnya relatifsama dengan batubara raw. R & D Centre for Mineral and Coal Technology. vol. Singer. Falcon. Combustion Engineering. Connecticut. 2005. Annual Book of ASTM Standard. D 388 – 99(2004). The Geological Society of South Africa. Proses UBC tidak berpengaruh terhadap peringkat batubara.. Bandung. Rance. Teichmuller.H. M. Combustion.. pp. Coal preparation. 1965. D. 2. Stach. T. Taylor..F. 2008.. Chandra. R. Petrografphy of Raw Coal and its UBC Product.. B. TH.. E. Coal Quality Parameters and their Influence in Coal Utilization.. 31-45. tetapi mirip dengan kenaikan pada batubara kering oven. and Sugita. H. ISO 11760:2005(E). Deguchi. Characterization of upgraded brown coal (UBC). Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara. rographic Constituents in the Bituminous Coals of South Africa. rasio bahan bakar.. 1991. H. 1982. D. Mackowsky. Daulay. Umar. M.M. and Snyman. 2005. Classification of coal. D. kadar karbon dmmf tetap dan tidak mengalami perubahan yang berarti.5. Suganal & Rijwan. KESIMPULAN Kualitas batubara produk UBC mirip dengan batubara peringkat high volatile bituminous. Pengujian Peningkatan Kualitas Batubara Peringkat Rendah dengan Proses UBC (Upgraded Brown Coal) Skala Pilot.. International Standard... C. 25. W. B. Fuels and Fuel Technology. Usui. J. Classification of Coal by Rank. 2005. An Introduction to Coal Petrography: Atlas of Pet- 174 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . 1986.

.id. The methodology of the research is sulfidation to observe the crystal growth of pyrrhotite and percentage of coal yield and coal conversion. Katalis yang banyak digunakan dalam pencairan batubara adalah katalis yang berbasis besi. tailing. In order to develop Indonesian catalyst sources for coal liquefaction. tailing. sulfidation. hal ini dibuktikan dari kereaktifannya yakni perolehan produk minyak serta hasil konversi pencairan batubara yang lebih besar pada kondisi proses yang sama. Dalam rangka menambah sumber katalis pencairan batubara yang ada di Indonesia.go.UJI SULFIDASI BIJIH BESI KALIMANTAN SELATAN DAN TAILING PT.6030483 Fax. It is generally recognized that the iron based catalyst is an active phase in coal liquefaction. Hasil percobaan dibandingkan dengan hasil yang diperoleh dengan menggunakan katalis tailing dari PT. Freeport Indonesia (PT.id ABSTRAK Katalis dalam pencairan batubara berperan sangat penting untuk dapat meningkatkan konversi batubara menjadi minyak. The result of the research will be compared to that of the research using tailing from PT.esdm. Tujuannya adalah untuk mengetahui reaktifitas/aktifitas/efektifitas penggunaan bahan katalis berbasis besi dari bijih besi Kalimantan Selatan. 623 Bandung 40211 Telp. Kunci: bijih besi. the research of iron ore from South Kalimantan as coal liquefaction catalyst has been carried out. 022 . The oil yield and percentage of coal conversion increased as compare to that of tailing catalyst. The size of crystal pyrrhotite formed from iron ore catalyst is smaller than that from tailing catalyst. maka telah dicoba bijih besi dari Kalimantan Selatan untuk digunakan sebagai katalis. ukuran kristal pirhotit yang terbentuk dari katalis bijih besi Kalsel lebih kecil daripada katalis tailing PT.Freeport.Freeport Indonesia.6003373 e-mail : ninings@tekmira. Sudirman No. Freeport Indonesia. The result show that the temperature and mineral mater in iron ore is influential to the size of crystal pyrrhotite but temperature and mineral mater in tailing is not influential to the size of crystal pyrrhotite. hermanu@tekmira. FREEPORT INDONESIA SEBAGAI KATALIS PENCAIRAN BATUBARA Nining Sudini Ningrum dan Hermanu Prijono Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jln. 022 .esdm. crystal pyrrhotite size Uji Sulfidasi Bijih Besi Kalimantan Selatan dan Tailing . semakin tinggi suhu maka kristal pirhotit yang terbentuk semakin besar.go... mineral yang terkandung dalam bahan katalis bijih besi berpengaruh terhadap terbentuknya kristal pirhotit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu berpengaruh terhadap terbentuknya ukuran kristal pirhotit dari katalis bijih besi Kalsel. perubahan suhu dari 350-450°C cenderung tidak berpengaruh terhadap ukuran kristal pirhotit yang terbentuk dari katalis tailing PT.FI). Metoda yang digunakan adalah dengan melakukan uji sulfidasi untuk mengamati pertumbuhan kristal pirhotit dan mengetahui persentasi produk dan konversi pencairan batubara. Keywords: iron ore. Nining Sudini Ningrum dan Hermanu Prijono 175 . The aim of this research is to identify of reactivity and activity of iron ore as catalyst on coal liquefaction. sulfidasi. ukuran kristal pirhotit ABSTRACT Catalyst in coal liquefaction is very important to increase percentage of coal conversion.

Mineral-mineral yang mengandung oksida besi antara lain laterit dari Pulau Sebuku dan limonit dari Soroako berasal dari PT. karena pada kondisi reaksi pencairan berlangsung unsur besi dalam katalis bereaksi dengan sulfur membentuk senyawa pirhotit. Disamping itu katalis juga dapat membuat kondisi reaksi menjadi lebih moderat seperti menurunkan suhu. Bijih Besi dari Kalimantan Selatan mudah diperoleh dan cadangannya banyak mempunyai kandungan oksida besi yang tinggi. Semakin besar ukuran kristal pirhotit semakin rendah kereaktifannya yang berakibat rendahnya jumlah batubara yang dapat dicairkan. Hasil dari uji sulfidasi dicuci dengan tetrahidrofuran sehingga kristal pirhotit bersih dari pengotor yang kemudian dipisahkan dari pelarut dengan pompa vacuum untuk selanjutnya diuji dengan XRD guna mengetahui kristal pirhotit yang terbentuk. Jalan baru yang dimaksud yaitu jalan yang mempunyai energi aktivasi yang lebih rendah. Ukuran kristal dapat membesar karena adanya aglomerasi antar partikel pirhotit. Kedua syarat di atas dapat terakomodasi dengan baik apabila ada katalis. Uji Sulfidasi Katalis Percobaan uji sulfidasi katalis dilakukan dengan menggunakan beberapa variabel: i) Pelarut + Bijih Besi Kalsel (ukuran -325#) + Sulfur. Seperti disebutkan sebelumnya bahwa semakin besar ukuran kristal pirhotit semakin rendah kereaktifannya yang berakibat rendahnya jumlah batubara yang dapat dicairkan. dkk. Katalis memiliki sifat tertentu. Keberadaan katalis juga dapat meningkatkan jumlah tumbukan antar molekul reaktan. Dalam proses pencairan batubara. 3.. terhadap: pertumbuhan pembentukan kristal pirhotit dengan melakukan proses sulfidasi pada suhu 350-425°C. ratio atom S/Fe 2 pada suhu 400°C iv) Pelarut + Bijih Besi Kalsel (ukuran -325#) + 176 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . satu katalis hanya sesuai untuk satu jenis reaksi saja. persentasi produk dan konversi pencairan batubara secara langsung. tapi dilakukan tanpa batubara. International Nikel Indonesia. Ukuran kristal pirhotit dapat dihitung dengan formula dari Scherer yang datanya diambil dari uji XRD hasil uji sulfidasi. PENDAHULUAN 2. Katalis dapat mengantarkan reaktan melalui jalan baru yang lebih mudah untuk berubah menjadi produk. PERCOBAAN 3. Pengujian sulfidasi hampir mirip dengan pengujian pencairan batubara. besi sulfida seperti Pyrite.1. Dengan demikian konversi yang dihasilkan tidak akan melebihi konversi kesetimbangan. katalis berbasis besi ditambahkan sulfur. FI). dkk. Suatu bahan katalis memiliki kinerja yang baik untuk pencairan batubara bila ukuran kristal fasa aktif pirhotit tidak lebih dari 40 nm (Kaneko. Aktifitas katalis sangat dipengaruhi oleh dispersi katalis yang tergantung pada luas permukaan. Pyrrhotite dan Troilite dianggap sesuai sebagai katalis pencairan batubara karena cukup aktif dan berharga murah (Yokoyama. 1998). tekanan dan waktu reaksi. dan terpenuhi energi aktivasinya. Katalis juga bersifat spesifik.1. Fe(1-x)S yang merupakan fasa aktif yang sangat berperan dalam proses pencairan batubara. Beberapa jenis katalis telah dicoba untuk pencairan batubara tetapi sampai saat ini. Freeport Indonesia (PT. Pada penelitian ini telah dilakukan pengujian katalis berbasis besi berupa bijih besi. Untuk mengetahui kinerja dari pirhotit ini salah satunya dengan melihat ukuran kristal yang terbentuk. dari Kalimantan Selatan. katalis mempunyai peran yang sangat penting yakni dapat meningkatkan konversi batubara menjadi minyak.. Pada pencairan batubara. ratio atom S/Fe 2 pada suhu 350°C ii) Pelarut + Bijih Besi Kalsel (ukuran -325#) + Sulfur. 1986). Tujuan penelitian untuk mengetahui (reaktifitas/ aktifitas/efektifitas) penggunaan bahan katalis berbasis besi dari bijih besi Kalimantan Selatan dan tailing dari PT. KAJIAN PUSTAKA Suatu reaksi dapat berlangsung bila terjadi kontak yang efektif antar molekul reaktan. Penggunaan bijih besi yang relatif murah diharapkan dapat menekan ongkos yang diperlukan untuk pembelian katalis. Pengujian ini dilakukan untuk melihat kinerja pirhotit yang terbentuk dari katalis. yakni katalis tidak mengubah kesetimbangan dan katalis hanya berpengaruh pada sifat kinetik seperti mekanisme reaksi. ratio atom S/Fe 2 pada suhu 375°C iii) Pelarut + Bijih Besi Kalsel (ukuran -325#) + Sulfur. ukuran partikel dan ukuran kristal katalis.

dan 425°C). 425OC Kondisis pencairan : T = 400 °C. Toluena b.  Kat sbg Fe 3% dari BB 1. 375°C. ratio atom S/Fe 2 pada suhu 375°C vii) Pelarut + Tailing PT. 400. soltv = 15 g . -325 # Uji Sulfidasi pada   = 0 menit.. PH2 = 10 MPa. 400°C. 375. PT. ratio atom S/Fe 2 pada suhu 400°C viii) Pelarut + Tailing PT. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil analisis kimia dan XRD bahan baku katalis 4. Bahan baku katalis berbasis besi Peremukan Uji : 1.1. Nining Sudini Ningrum dan Hermanu Prijono 177 . Penambahan Sulfurdg rasio Cuci dengan tetrahidrofuran. . 375°C.FI (ukuran -325#) + Sulfur. ratio atom S/Fe 2 pada suhu 350°C vi) Pelarut + Tailing PT. Kat sbg  Fe = 3%. PH2 =  t 10 MPa. 400°C.Sulfur.ukuran ‐325. Tetrahidrofuran % Produk dan % konversi filtrat Kristal pirhotit Uji XRD Uji Sulfidasi Bijih Besi Kalimantan Selatan dan Tailing .FI (ukuran -325#) + Sulfur. Uji Katalis untuk Pencairan Batubara 4. Uji Sulfidasi Variasi percobaan adalah sebagai berikut: i) Katalis Bijih Besi Kalimantan Selatan (suhu 350°C. Analisis Kimia Penggerusan Analisis Ayak 1.  S/F = 2. ratio atom S/Fe 2 pada suhu 425°C v) 3.FI (ukuran -325#) + Sulfur.. mesh Variasi suhu= 350.   saring dengan pompa vacum Ektraksi dengan a. Freeport Indonesia. dan 425°C) ii) Katalis Tailing PT. XRD 2. Heksana c.FI (ukuran -325#) + Sulfur.FI (suhu 350°C. soltv =  15 g. t =  60 menit. ratio atom S/Fe 2 pada suhu 425°C Pelarut + Tailing PT.2.

Kalsel dengan melihat ukuran kristal yang terbentuk.19 16. dan 4250C. merupakan acuan kondisi operasi yang diambil dari Kaneko. FI.5406 1. (1998) dan Ningrum dan Prijono (2009) dengan ukuran partikel katalis adalah -325 #.41 0.5406 Pos.FI mengandung sulfur yang berasosiasi dengan besi dalam bentuk pirit.1 Sulfidisasi katalis bijih besi Kalimantan Selatan Kondisi operasi sulfidasi katalis dilakukan tanpa batubara pada tekanan 100 MPa dan waktu tinggal operasi mendekati 0 menit (t = 0 menit).90 29. Pada suhu sulfidasi 350ºC. dan proses sulfidasi dilakukan mendekati kondisi proses pencairan. Pengamatan dilakukan untuk mengetahui pengaruh suhu terhadap ukuran kristal fasa aktif pirhotit.2 Sulfidisasi katalis tailing PT. FI Pada penelitian Ningrum dan Prijono (2009) telah dibahas bahwa penambahan katalis dari tailing PT. Pengamatan dilakukan pada suhu 3500C. Pengamatan pada percobaan ini dilakukan pada suhu 3500C. Kalsel Suhu Sulfidasi (°C) 350 375 400 425 λ (A) 1. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Ningrum dan Prijono (2009) menunjukkan bahwa penambahan katalis berbasis besi berpengaruh terhadap perolehan produk dan persen konversi pencairan batubara.1. sehingga diperoleh suhu optimal dan memiliki aktifitas maksimal.33 Ukuran Kristal (nm) 25. Suatu bahan katalis memiliki kinerja yang baik untuk pencairan batubara bila ukuran kristal fasa aktif pirhotit kecil. Percobaan sulfidasi ini dilakukan menggunakan autoclave dengan laju pemanasan 5°C/menit pada tekanan awal dari H2 10 MPa dengan penambahan sulfur. dan 4250C. Kalsel terjadi pada suhu sulfidasi 375ºC. Hasil analisis XRD untuk hasil uji sulfidasi. 3750C.] 0.hkl 200 29.87 FWHM [°2Th. Dari data yang didapat maka suhu 375ºC merupakan suhu dimana kristal pirhotit memiliki ukuran terkecil sehingga katalis memiliki kereaktifan yang terbaik dalam meningkatkan jumlah batubara yang dicairkan seperti terlihat pula pada Gambar 1. Kalsel. sehingga didapat suhu optimal dimana katalis memiliki aktifitas maksimal.5406 1. konversi komponen besi dari katalis tailing PT.90 29. Pada Tabel 1 di atas terlihat bahwa perubahan suhu berpengaruh pada ukuran kristal pirhotit yang terbentuk. Tabel 1. [°2Th.] Bid. dan ukurannya meningkat dengan semakin tingginya suhu. Pengamatan dilakukan untuk mengetahui pengaruh suhu terhadap ukuran kristal fasa aktif pirhotit. Gambar 1. dkk..FI berpengaruh terhadap perolehan produk dan persen konversi pencairan batubara.1. Secara umum ukuran kristal pirhotit bertambah dengan meningkatnya suhu.4. 3750C. FI dilakukan pada autoclave dengan kondisi operasi sama dengan katalis bijih besi. 4000C. Kristal pirhotit terkecil yang terbentuk dari katalis bijih besi.79 20.88 29. Katalis dari tailing PT.33 0. Percobaan sulfidasi ini dilakukan untuk mengetahui kinerja katalis bijih besi. rasio atom S/Fe – katalis = 2.49 0.19 178 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Hal ini diperkirakan karena struktur kristal yang masih amorf sehingga bidang kristal pirhotit belum terbentuk dengan sempurna. Hal ini disebabkan terjadinya aglomerisasi antar partikel pirihotit pada suhu yang semakin tinggi. Pengaruh suhu terhadap ukuran pirhotit katalis bijih besi.15 25. Hasil analisis XRD untuk hasil uji sulfida katalis Tailing PT.5406 1. ukuran kristal pirhotit katalis bijih besi Kalsel lebih besar dibanding ukuran kristal yang terbentuk pada suhu 375ºC. Grafik hubungan ukuran kristal pirhotit katalis bijih besi terhadap suhu 4. 4000C. ukuran partikel katalis -325#. Pada percobaan sulfidasi ini.

al (1998) juga menunjukkan bahwa kristal pirhotit yang terbentuk dari pirit lebih besar daripada limonit dan goetit.02 Jenis Katalis Bijih Besi Kalsel Tailing PT.14 26. Pengaruh Ukuran Kristal Pirhotit Katalis Bijih Besi Kalsel dan Tailing PT.] Bid.20 25. [°2Th. Grafik hubungan ukuran kristal pirhotit katalis tailing PT.72 Aspalten 19.33 Ukuran Kristal (nm) 25.15 28.06 44.79 Produk (%) Minyak Berat 65. Freeport Dari Tabel 3 terlihat bahwa pencairan batubara yang menggunakan katalis bijih besi. 4. Kalsel yang memiliki ukuran kristal pirhotit kecil hasilnya lebih Gambar 2.29 0. Freeport terhadap suhu Uji Sulfidasi Bijih Besi Kalimantan Selatan dan Tailing .. sedangkan ukuran kristal pirhotit terbesar pada suhu 4000C. Pengaruh suhu terhadap ukuran kristal pirhotit katalis tailing PT. Nining Sudini Ningrum dan Hermanu Prijono 179 .86 29.. Dalam Tabel 3 ini diperlihatkan perbandingan produk dan persen konversi hasil pencairan batubara menggunakan katalis bijih besi Kalimantan Selatan dan katalis tailing PT. FI pada Produk dan Konversi Pengaruh jenis bahan katalis berbasis besi dan ukuran kristal pirhotit yang terbentuk terhadap produk pencairan batubara dapat dilihat pada Tabel 3.5406 1. yang dilakukan pada kondisi tekanan awal H210 Mpa perbandingan atom S/Fe = 2.99 29. ukuran partikel katalis -325#.72 Ekstraksi toluen 84.Pada Tabel 2 di atas terlihat bahwa perubahan suhu pada katalis tailing PT.20 71.19 28. heksan 65. Data pada Tabel 2 menunjukkan bahwa suhu 3750C merupakan suhu dimana kristal pirhotit yang terbentuk memiliki ukuran terkecil sehingga memiliki kereaktifan terbaik dan dapat meningkatkan jumlah batubara yang dicairkan.FI yang memiliki kristal pirhotit yang besar.87 FWHM [°2Th.FI Suhu Sulfidasi (0C) 350 375 400 425 λ (A) 1.hkl 200 29. Produk aspalten pencairan batubara yang menggunakan katalis tailing PT.33 0.5406 1. Hasil percobaan menunjukkan bahwa konversi dengan n.06 44. Kalsel dengan ukuran kristal pirhotit yang lebih kecil menghasilkan produk minyak berat yang lebih besar daripada yang menggunakan katalis tailing PT.5406 1.86 29. Pengaruh jenis katalis dan ukuran kristal pihotit terhadap jumlah produk dan persen konversi pencairan batubara Ukuran Kristal Pirhotit (nm) 20.FI cenderung tidak terlalu berpengaruh pada ukuran kristal pirhotit yang terbentuk. et.30 % Konversi Ekstraksi n.5406 Pos.19 Tabel 3.FI.FI lebih banyak daripada pencairan dengan katalis bijih besi.33 0. Penelitian yang dilakukan oleh Kaneko. dan suhu 4000C. Tabel 2.] 0. Hal ini diperkirakan karena adanya unsur Si yang menghambat kereaktifan katalis sehingga ukuran katalis cenderung sama.79 25. Kristal pirhotit yang terbentuk dari pirit lebih besar dari kristal pirhotit yang terbentuk dari katalis besi oksida.2. Ukuran kristal pirhotit katalis yang terbentuk cenderung sama dengan ukuran terkecil kristal pirhotit pada suhu sulfidasi 375 0 C. hexan maupun toluen pada pencairan batubara dengan katalis bijih besi.

Satou.baik dibanding katalis dari tailing PT. FI yang mengandung unsur sulfur dalam bentuk pirit. N. Yoshida. Freeport Indonesia (PT. Gambar 4. pp. Koyama. FMIPA UNS Surakarta. Vol. Hal ini disebabkan semakin kecil ukuran kristal pirhotit yang terbentuk. 5. Prosiding Seminar Energi Baru Terbarukan: Peranan Energi Baru Terbarukan Dalam Mengatasi Krisis Energi dan Menghambat Laju Pemanasan Global. 2009.. 164-170. pp. ukuran kristal pirhotit yang terbentuk dari katalis bijih besi Kalsel lebih kecil daripada katalis tailing PT. Catalytic Activity of Various Iron Sulphides in Coal Liquefaction. Tazawa. Shimasaki.S dan Prijono. K.FI yang memiliki kristal pirhotit lebih besar.FI). katalis dari bijih besi Kalsel yang terdiri atas hematit ukuran kristal pirhotit yang terbentuk lebih kecil dibandingkan yang berasal dari tailing PT. perolehan produk minyak serta hasil konversi pencairan batubara yang lebih besar pada kondisi proses yang sama. Maekawa.. S. Energy & Fuels. KESIMPULAN Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: suhu berpengaruh terhadap terbentuknya ukuran kristal pirhotit dari katalis berbasis besi yang merupakan fasa aktif pencairan batubara. and Y. H. Indonesia. T. Yokoyama. mineral yang terkandung dalam bahan katalis berpengaruh terhadap terbentuknya kristal pirhotit. 180 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Pengaruh Fraksi Ukuran Katalis Tailing PT. luas permukaan kontak kristal pirhotit semakin besar. Fuel. perubahan suhu dari 350-450°C cenderung tidak berpengaruh terhadap ukuran kristal pirhotit yang terbentuk dari katalis tailing PT. K. Dilihat dari jumlah hasil produk dan persen konversi secara keseluruhan. Grafik hubungan ukuran kristal pirhotit dan jenis bahan katalis berbasis besi terhadap jumlah produk hasil pencairan batubara DAFTAR PUSTAKA Kaneko. Kageyama. Gambar 3. sehingga peran katalis lebih efektif. 65. H. pp. Kodaira and Y. K. Semakin tinggi suhu maka kristal pirhotit yang terbentuk semakin besar. 12. 82-96. 1998. 897-904. FI (Gambar 3 dan 4). selama proses pencairan ukuran kristal pirhotit akan membesar seiring dengan meningkatnya suhu operasi.Freeport hal ini dibuktikan dari kereaktifannya. Grafik hubungan ukuran kristal pirhotit dan jenis bahan katalis besi terhadap persen konversi N Heksan dan Toluen Ningrum. K. R. maka bijih besi Kalsel lebih baik sebagai katalis pencairan batubara daripada tailing PT. Freeport Indonesia dan Waktu Tinggal Reaksi pada Pencairan Batubara. 1986. Transformation of Iron Catalyst to the Active Phase in Coal Liquefaction. Narita. T.

Sementara kadar abu.6%..5%. dimulai dengan pembangunan UBC skala pilot kapasitas 5 ton/hari di Palimanan. Jenderal Sudirman No. Kondisi optimum pembriketan didapat pada kondisi putaran roll 8 rpm dan temperatur 80 . Jawa Barat. ext. From 7 Indonesian low rank coal samples.go. pembriketan. Kata kunci : karakterisasi. Cirebon.id SARI Penelitian peningkatan kualitas batubara peringkat rendah dengan teknologi Upgraded Brown Coal (UBC) telah dilakukan sejak tahun 2002. sehingga nilai kalor naik sebesar 26. meanwhile low rank coal from Banko with calorific value of <5. batubara dengan nilai kalori <5.104 kg/ jam. 227. karbon padat. Cirebon. 623. Cirebon. Cirebon. West Java.esdm. sedangkan kadar hidrogen dan oksigen turun.000 kal/g.015 – 1. Pada kondisi ini briket UBC yang dihasilkan mempunyai kuat tekan 73 .200 kal/g. : (022) 6038027. The aim of this research is to know the changes of Mulia coal characteristics from Satui. skala pilot ABSTRACT Research on low rank coal upgrading with Upgraded Brown Coal (UBC) technology has been developed since 2002.04 g/cm3 dan kecepatan produk briket UBC yang dihasilkan sebanyak 1.go.77 kg/cm2. Kalimantan Selatan. zat terbang.esdm. 000 kal/g dapat ditingkatkan menjadi >6. dapat ditingkatkan menjadi >7. densitas 1. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan karakteristik batubara Mulia yang berasal dari daerah Satui. Ikin Sodikin dan Datin Fatia Umar 181 .110°C.200 cal/gr increased to be >7.id dan Datin@tekmira.000 cal/gr can be increased to be >6. belerang. setelah dilakukan proses dan mengetahui kondisi optimum pembriketan pada batubara hasil proses pada UBC skala pilot di Palimanan. started with UBC pilot plant construction with a capacity of 5 ton/day in Palimanan.200 cal/gr. the coal with calorific value of <5.. Dari 7 contoh batubara peringkat rendah yang berasal dari beberapa daerah di Indonesia.KARAKTERISASI DAN OPTIMALISASI PEMBRIKETAN PADA BATUBARA HASIL PROSES UPGRADED BROWN COAL SKALA PILOT Ikin Sodikin dan Datin Fatia Umar Pusat Penelitian dan Pegembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. e-mail : ikin@tekmira. South Kalimantan after process and the optimum conditions of briquetting to coal after process in UBC pilot plant Palimanan. proses UBC. karbon dan nitrogen mengalami kenaikan.200 kal/g. Bahkan batubara yang berasal dari Banko dengan nilai kalori <5. Hasil proses UBC yang dilakukan dapat menurunkan kadar air bawaan (inherent moisture) batubara Mulia sebesar 71. Fax. Karakterisasi dan Optimalisasi Pembriketan pada Batubara . Bandung – 40211 Telp. : (022) 6030483.000 cal/gr.

LATAR BELAKANG Kualitas batubara Indonesia pada umumnya didominasi oleh batubara peringkat rendah (lignit dan subbituminus). Kandungan Air Dalam batubara Air yang terkandung dalam batubara terdiri atas air bebas (free moisture) dan air lembab (inherent moisture). Proses UBC Penurunan kadar air dalam batubara dapat dilakukan dengan cara mekanik atau perlakuan panas. Jepang. inherent moisture of Mulia coal can be decreased about 71. maka dalam proses ditambahkan minyak residu untuk melapisi pori-pori pada partikel batubara. and oxygen were deacreased. Kegiatan penelitian peningkatan kualitas batubara peringkat rendah dengan teknologi UBC ini telah dimulai sejak tahun 2002 oleh Puslitbang tekMIRA bekerjasama dengan Kobe Steel Ltd. Beberapa penelitian dengan maksud tersebut telah banyak dilakukan sejak tahun 1920-an di Amerika Serikat. yaitu sekitar 60% dari total sumber daya yang jumlahnya 104. Batubara peringkat rendah ini belum banyak dieksploitasi karena masih mengalami kendala dalam masalah transportasi dan pemanfaatannya. Keuntungan teknologi ini. volatile matter. pilot plant 1.04 g/cm3 and briquet production capacity of about 1. therefore. Jepang (Shigehisa et al. di antaranya adalah karena proses berlangsung pada temperatur dan tekanan rendah. UBC process. yang akan dipakai sebagai acuan untuk pengoperasian proses UBC demonstration plant di Satui. sulfur. Pilot plant tersebut telah berhasil dioperasikan dengan baik. Jepang dan lain-lain (Suwono. Kalimantan Selatan. sehingga nilai kalori batubara tersebut menjadi lebih tinggi. dkk. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan karakteristik batubara Mulia yang berasal dari daerah Satui. KAJIAN TEORITIS 2. 2007). 2. 2009).2. 2000). Kandungan air dalam batubara baik air bebas maupun air lembab merupakan faktor yang merugikan.. Jawa Barat. Salah satu di antaranya adalah teknologi Upgraded Brown Coal (UBC) yang merupakan teknologi peningkatan nilai kalor (upgrading) batubara peringkat rendah melalui penurunan kadar air total yang dikembangkan oleh Kobe Steel Ltd. Dari 7 contoh batubara peringkat rendah yang berasal dari beberapa daerah di Indonesia. Cirebon.000 kal/g. Kalimantan Selatan.6%. Jawa Barat. briquetting. The optimum condition of briquetting was reached at roll rotation of 8 rpm and temperature of 80-110 °C. sedangkan penurunan kadar air lembab harus dilakukan dengan cara pemanasan.000 kal/g dapat ditingkatkan menjadi >6. 2000). Bahkan batubara yang berasal dari Banko dengan nilai kalori <5. setelah dilakukan proses UBC dan mengetahui kondisi optimum pembriketan pada batubara hasil proses UBC skala pilot yang berlokasi di Palimanan. batubara peringkat rendah mempunyai kandungan air total cukup tinggi yang menyebabkan nilai kalor menjadi rendah.5%.. dengan dimulainya pembangunan UBC skala pilot dengan kapasitas 5 ton/hari di Palimanan. fixed carbon. Seperti diketahui.7 milyar ton (Sukhyar.200 kal/g. Hasil kegiatan proses UBC ini digunakan sebagai acuan dalam pembangunan UBC demonstration plant (Umar. Air bebas adalah air yang terikat secara mekanik dengan batubara pada permukaan dalam rekahan atau kapiler yang mempunyai tekanan uap normal. karena memberikan pengaruh yang negatif terhadap biaya transportasi dan proses pembakarannya. Australia.The result of UBC process. carbon and nitrogen contents were increased. Salah satu teknologi untuk menurunkan kadar air lembab adalah proses UBC yang merupakan teknologi peningkatan kualitas (upgrading) batubara peringkat rendah 182 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . hydrogen.1.015 –1. 2.104 kg/hour. Whilst ash. Keywords : Characteristics. Dengan demikian diperlukan teknologi khusus untuk menurunkan kadar air. Air lembab adalah air yang terikat secara fisik pada struktur pori-pori bagian dalam batubara dan mempunyai tekanan uap yang lebih rendah daripada tekanan uap normal. UBC briquettes resulted have a pressure strength of 73-77 kg cm2. batubara dengan nilai kalori <5. the calorific value increased about 26..200 kal/g dapat ditingkatkan menjadi >7. Kadar air bebas dapat dikurangi secara efektif dengan cara mekanik. In this condition. density 1. Untuk mencegah masuknya kembali air ke dalam batubara.

120°C terjadi reaksi endotermis. proses UBC mempunyai keuntungan.. Dengan minyak residu tersebut. dengan temperatur sekitar 150°C. batubara dibuat slurry dengan menggunakan minyak tanah yang dicampur dengan minyak residu kemudian dipanaskan pada temperatur 150°C dan tekanan sekitar 3. metana dan zat lain yang mudah menguap dari batubara selama terjadi pemanasan. tar.4. Karakterisasi dan Optimalisasi Pembriketan pada Batubara . dekomposisi gugus karboksil. Lapisan minyak ini cukup kuat dan dapat menempel pada waktu yang cukup lama. Ikin Sodikin dan Datin Fatia Umar 183 . sifat fisik yang memegang peranan penting pada proses pemanasan adalah sifat porositas. sedangkan penguapan air bawaan dianalogikan dengan air kristal atau hidroksida dengan reaksi sebagai berikut : M(OH)2 MOn + nH2O Secara termodinamika. menyebabkan terjadi kekosongan pori-pori tersebut. sedangkan campuran minyak tanah dan residu digunakan kembali untuk proses selanjutnya. Porositas batubara dapat menyebabkan terjadinya difusi keluar uap air. Dekomposisi aktif adalah terdekomposisinya mineral organik penyusun batubara menjadi tar dan penguapan air. Penguapan air bebas akan berperilaku sama dengan pengeringan secara umum. maka terjadi reaksi kimia yang menghasilkan produk gas atau cairan yang banyak berhubungan dengan sistem pori-pori batubara. dikeringkan dan dibuat briket. hidrogen. Untuk proses UBC sebagai aditif digunakan minyak residu yang merupakan suatu senyawa organik yang beberapa sifat kimianya mempunyai kesamaan dengan batubara.8T J/mol G = -223400 . Proses UBC. Komposisi dan sifat produk akhir akan bermacam-macam tergantung pada temperatur pemanasan. reaksi ini berlangsung pada berbagai temperatur. Dibandingkan dengan proses upgrading lainnya. maka pori-pori batubara yang terbuka akan diisi oleh residu dan menutup permukaan batubara sehingga air yang telah keluar tidak akan terserap kembali (Deguchi et al.3T J/mol Adanya reaksi seperti di atas pada proses pengeringan batubara tidak dikehendaki. maka reaksi berlangsung harus pada temperatur di atas 120°C.melalui penurunan kadar air total. Dengan memanaskan batubara. menyebabkan terjadinya penguapan air bebas. air terikat secara fisik dan air yang terjebak dalam struktur pori-pori batubara. penyusutan gas-gas hidrogen dan oksigen kompleks serta aromatisasi. CO2. Dengan kesamaan sifat kimia tersebut. pengeluaran tar dari batubara belum sempurna. 2. karena prosesnya dilakukan pada temperatur dan tekanan relatif rendah. terjadi perubahan kimia karena menguapnya air bawaan. pada temperatur 100 . Pada reaksi ini terjadi penguapan air. Dalam proses UBC.175. tetes tebu (mollase). Penambahan minyak residu diperlukan untuk menutup pori-pori batubara yang terbuka. Dalam proses UBC.. tetapi perlu aktivasi yang cukup besar. daerah dekomposisi aktif dan pemanasan di atas temperatur dekomposisi. Batubara hasil proses dipisahkan. oleh karena itu diperlukan suatu kondisi pemanasan yang inert. yaitu pemanasan di bawah temperatur dekomposisi. reaksi antara batubara dengan oksigen adalah: C + O2 2C + O2 CO2 2CO G = -394100 . Kehilangan sejumlah massa bahanbahan penyusun batubara melalui pori-pori. Pemanasan Proses pemanasan batubara sampai temperatur tertentu menyebabkan terjadinya perubahan komposisi struktur batubara.5 atm. minyak residu yang masuk ke dalam pori-pori batubara akan kering kemudian bersatu dengan batubara. Pemanasan batubara pada temperatur dekomposisi aktif. sehingga batubara dapat disimpan di tempat terbuka untuk jangka waktu yang cukup lama (Shigehisa et al. Perbandingan beberapa teknologi upgrading terhadap UBC dapat dilihat pada Tabel 1. sehingga air yang telah keluar tidak akan terserap kembali. CO dan hidrokarbon. Secara termodinamika. Porositas batubara tersebut menyangkut sistem pori-pori yang dimiliki. air bawaan/terikat secara kimia. Karena proses pemanasan. batubara dicampur dengan minyak residu kemudian dipanaskan pada tekanan dan temperatur yang relatif rendah. Oleh karena itu perlu ditambahkan zat aditif sebagai penutup permukaan batubara seperti kanji.3. 2. Pengaruh Penambahan Aditif Dalam melakukan pemanasan pada batubara ada 3 daerah pemanasan yang berpengaruh terhadap terjadinya dekomposisi. 2002). slope pekat (fuse oil) dan minyak residu. air yang menguap berupa air bebas. Oleh sebab itu. yaitu >200°C. Menurut Tsai (1982). 2000).0.

000 Btu/lb 12.000 of North Dakota Btu/lb SYNCOAL Montana (USA) Rosebud SynCoal Partnership ENCOAL Wyoming (USA) SMC mining SGI Int. com (2008) .200 Btu/lb 475-550°C 2-3 MPa Demonstration 1.000 -9. S dan Cl 7.500 Btu/lb 11.000 ton/hari plant Padatan Mengurangi masalah slagging dan fouling Slurry - Tabel 1.3 MPa 8. JAPAN & tekMIRA INDONESIA K-FUEL Wyoming USA KFx Inc.500 Btu/lb Demonstration 1. wikipedia.200 -9.000 Btu/lb 270-300°C 8-12 MPa 5. Perkembangan Teknologi Upgrading Batubara di Dunia Teknologi Lokasi Pengembang UBC Palimanan INDONESIA Kobe Steel.184 Nilai Kalor Batubara Asal Temperatur Tekanan Status Kapasitas 5.500 -8.800 Btu/lb 450-550°C 230-280°C 3-6 MPa 4-6 MPa 8.000 Btu/lb 150-160°C 0.500-11. USA FLEISSNER Voest-Alpnie AG HWD/SD AUSTRIA YUGOSLAVIA Grand Forks (USA).9.000 Btu/lb 350-450°C 8.000 .000 ton/hari plant 3-8 juta ton/th Nilai Kalor Batubara Produk Produk Keterangan Padatan Menurunkan kandungan air Padatan Padatan Komersial sejak 2005 Komersial sejak 1927 di Dalam tahap rencana ke komersial Mengurangi Hg. Melbourne (Australia) The University 8.000 ton/hari plant 2-3 MPa Demonstration 1..7 ton/hari Padatan Menurunkan Na 12.2-0.000-12.600 Btu/lb 12.000 Btu/lb 10. emisi SO2 Menurunkan Na.000 -8. of La PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 Sumber: http// www.

Konsentrasi batubara dalam slurry 30% (30 % batubara. Optimasi proses pembriketan terhadap batubara hasil proses UBC. 70% minyak tanah yang mengandung 0.2. sehingga nilai kalor naik sebesar 26. 3. maka akan membuat batubara tersebut lebih stabil dan kecenderungan untuk terbakar dengan sendirinya (self combustion) akan berkurang.32% dan pada run 2 turun menjadi 8. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. Optimalisasi Proses UBC Skala Pilot Dengan kondisi proses UBC yang dianggap optimum pada pilot plant Palimanan Cirebon. Pelaksanaan proses UBC : 1.8%.1.42%. Sementara kadar abu.2. densitas 1. 70% minyak tanah yang mengandung 0..5% residu) Kecepatan pengumapan slurry ke dalam decanter 350 l/jam Kecepatan pengumpanan cake ke dalam rotary tube dryer 15 Hz.3. Percobaan dilaksanakan 2 kali dengan tujuan untuk mengetahui : Perubahan karakteristik batubara hasil proses pada kondisi optimum. 15. karbon padat. zat terbang. Karakteristik Batubara Karakteristik batubara sebelum dan setelah proses UBC skala pilot untuk run 1 dan 2 dapat dilihat pada Tabel 2. Selanjutnya. Proses pembriketan pada percobaan ini mempunyai unjuk kerja yang sangat baik dibandingkan dengan pembriketan pada percobaan sebelumnya. efisiensi pembakaran akan menjadi kecil sehingga untuk mendapatkan jumlah kalor tertentu. sehingga gas CO2 yang dihasilkannya pun akan menjadi besar. Dari hasil ini dapat diketahui bahwa proses UBC efektif menurunkan kadar air total dengan persen penurunan antara 71. 2. Pengoperasian pilot plant UBC dilakukan dengan menggunakan batubara dari Satui. sehingga air yang telah keluar dari batubara tidak dapat masuk kembali. KEGIATAN PERCOBAAN 3. yaitu 0. Dengan kadar air bawaan yang tinggi dapat mengakibatkan rendahnya nilai kalor. Kecepatan pengumpanan cake ke dalam rotary tube dryer 15 Hz.6%. adalah : Ukuran batubara umpan < 3mm dengan kecepatan pengumpanan 100 kg/jam. Kondisi proses UBC yang dianggap optimum pada pilot plant Palimanan Cirebon.. 4. Optimalisasi Pembriketan Setelah dilakukan modifikasi di seksi 500 dengan jalan mengganti roll pada mesin briket dengan ukuran cetakan yang lebih kecil (ukuran ini sesuai dengan ukuran cetakan pada mesin briket yang akan digunakan pada UBC demontration plant).5% residu). proses UBC menurunkan kadar air bawaan (inherent moisture) batubara Satui sebesar 71. 13. jumlah batubara yang harus dibakar akan menjadi lebih besar. Kalimantan Selatan yang akan dipakai umpan pada UBC demontration plant. belerang dan nitrogen mengalami sedikit kenaikan. sehingga air yang terkandung di dalam pori-pori batubara teruapkan dan diganti dengan residu melapisi pori-pori tersebut. yaitu masing-masing 32.28% dengan kadar abu yang sangat rendah. sedangkan kadar hidrogen dan oksigen turun karena turunnya kadar air (H2O). Ikin Sodikin dan Datin Fatia Umar 185 .05 g/cm3 dan kecepatan produk briket UBC sebanyak 840 kg/jam. adalah : Ukuran batubara umpan < 3mm dengan kecepatan pengumpanan 100 kg/jam Konsentrasi batubara dalam slurry 30% (30 % batubara. di mana batubara dicampur dengan minyak tanah dan residu dipanaskan pada temperatur tertentu dan tekanan tertentu. Kecepatan pengumapan slurry ke dalam decanter 350 l/jam. Pada kondisi tersebut di atas.5%. Proses slurry dewatering merupakan salah satu proses utama dari rangkaian proses UBC. Karakterisasi dan Optimalisasi Pembriketan pada Batubara . karbon. Dari Tabel 2 dapat dilihat bahwa kadar air total dan air bawaan batubara asal cukup tinggi.1. Dengan terlapisinya pori-pori batubara tersebut. Percobaan proses UBC 4. 10. air bawaan pada run 1 turun menjadi 8. Setelah proses UBC.17 dan 20 Temperatur pembriketan: antara 70ºC dan 115°C Kegiatan proses UBC pada skala pilot dimaksudkan untuk mendapatkan data sebagai pendukung operasional UBC demonstration plant.98%. Variabel percobaan terdiri atas : Kecepatan roll: 8. Briket UBC mempunyai kuat tekan 98 kg/cm2.4 dan 71.

Hasil analisis ultimat seperti pada Gambar 3 memperlihatkan bahwa kadar karbon naik dari 50.47 0.15 Dari Gambar 1 dapat dilihat bahwa dengan turunnya air bawaan.83 41.135 %.135kal/g pada run 2 atau terjadi kenaikan yang cukup signifikan antara 25.58 46.17 6.000 kal/gr 4.60 0. Karakteristik Batubara Mulia Sebelum dan Setelah Proses UBC ANALISIS AIR TOTAL PROKSIMAT : AIR BAWAAN ABU ZAT TERBANG KARBON PADAT NILAI KALOR ULTIMAT : KARBON HIDROGEN NITROGEN OKSIGEN SULFUR SATUAN % ar % adb % adb % adb % adb Kal/gr % adb % adb % adb % adb % adb BATUBARAASAL 32.75 4. Dari hasil analisis proksimat seperti pada Gambar 2 memperlihatkan bahwa kenaikan kadar abu kemungkinan besar terjadi karena adanya sisasisa minyak residu yang menempel pada batubara.75% menjadi 40. kenaikan kadar abu ini tidak akan menjadi masalah.69 6.36 0.55 6.83% pada run 2.44 40.80 31.73 0.17 RUN1 8.44% pada run 1 dan menjadi 46. Analisis proksimat dan ultimat batubara hasil proses UBC dilakukan setelah disimpan sekian lama sampai mencapai kesetimbangan.80% menjadi 47. Hasil analisis proksimat sebelum dan sesudah proses UBC 186 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .32 3.49 41.196 6. Namun demikian.16 RUN2 8. karena masih <5%.58 26.873 50.135 63.196 62.51 5. Hal ini dilakukan agar mendekati keadaan sebenarnya. nilai kalor naik dari 4. Kandungan zat terbang naik secara signifikan dari 37. Kandungan hidrogen dan oksigen turun sebagai akibat turunnya kadar air (H 2 O).51% pada run 2.Tabel 2.28 29. Kadar nitrogen dan sulfur batubara setelah proses UBC tidak mengalami perubahan yang cukup berarti.98 37.873 6. Kenaikan zat terbang ini disebabkan karena masih adanya minyak pada batubara hasil proses UBC yang ikut teruapkan saat pemanasan dan terdeteksi sebagai zat terbang.07 0.44 0. menjadi abu sisa pembakaran batubara.     50 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 AIR BAWAAN ABU ZAT TERBANG KARBON PADAT 8.873 kal/g menjadi 6. Sementara kandungan karbon padat naik karena turunnya kandungan air lembab.000 0 BATUBARA ASAL 6.69% menjadi 62.196 kal/gr pada run 1 dan menjadi 6.17% pada run 2.000 4. adb RUN 1 RUN 2 BATUBARA ASAL RUN 1 RUN 2 Gambar 1.000 2.73 0.9 dan 27.69 47.42 3. Penurunan oksigen lebih signifikan dibandingkan dengan penurunan kandungan hidrogen.2%.48% pada run 1 dan menjadi 63.59 26. karena pada umumnya batubara hasil proses UBC tidak langsung digunakan konsumen tapi disimpan terlebih dahulu sebagai persediaan.55% pada run 1 dan menjadi 41.48 6. Pengaruh Proses Terhadap Kenaikan Nilai Kalori Gambar 2. yaitu dari 31.

kuat tekan briket mengalami penurunan baik pada run 1 maupun pada run 2.. Makin tinggi kecepatan roll. Temperatur optimum dicapai pada temperatur 80ºC dengan kuat tekan 73 kg/cm2 pada run 1 dengan kuat tekan 98 kg/cm2 pada run 2 pada temperatur yang sama.80 kg/cm2.3. Proses pembriketan yang paling baik pada percobaan ini adalah pembriketan dengan kondisi kecepatan roll 8 rpm dan temperatur 80 . Proses pembriketan pada percobaan ini mempunyai unjuk kerja yang sangat baik dibandingkan dengan pembriketan pada percobaan sebelumnya. Pada run 1. Pengaruh temperatur pembriketan terhadap kuat tekan dan densitas briket UBC pda kecepatan roll yang sama dapat dilihat pada Gambar 5. Sedangkan densitas berfluktuasi tapi tidak cukup berarti.  70 60 50 40 30 20 10 0 KARBON HIDROGEN NITROGEN OKSIGEN SULFUR tekan briket yang dihasilkan. 10.. %. Variabel percobaan terdiri atas: Kecepatan roll: 8. Optimalisasi Pembriketan Setelah dilakukan modifikasi di seksi 500 dengan jalan mengganti roll pada mesin briket dengan ukuran cetakan yang lebih kecil (ukuran ini sesuai dengan ukuran cetakan pada mesin briket yang akan digunakan pada UBC demontration plant). Ketika temperatur dinaikkan. Pengaruh kecepatan roll terhadap kuat tekan dan densitas briket Karakterisasi dan Optimalisasi Pembriketan pada Batubara . Ikin Sodikin dan Datin Fatia Umar 187 . adb BATUBARA ASAL RUN 1 RUN 2 Gambar 3. sehingga kuat tekan briket yang dihasilkan lebih tinggi. sedangkan pada run 2 dicapai pada kecepatan roll 8 dengan kuat tekan 98 kg/cm2.04 g/cm3 dan kecepatan produk briket UBC yang dihasilkan sebanyak 1.015 – 1.17 dan 20 Temperatur pembriketan: antara 70°C dan 115°C Hasil percobaan pengaruh kecepatan roll terhadap kuat tekan dapat dilihat pada Gambar 4. Pengaruh temperatur terhadap kuat tekan dan densitas briket Dari Gambar 5 dapat dilihat bahwa temperatur berpengaruh terhadap kuat tekan dan densitas briket UBC yang dihasilkan pada kecepatan roll yang sama. Hasil ini hampir sama dengan hasil pembriketan dengan kondisi yang sama pada percobaan sebelumnya yang dapat menghasilkan briket dengan kuat tekan rata-rata 70 . sehingga data yang dihasilkan akan Gambar 4. 13.104 kg/jam. Hasil analisis ultimat sebelum dan sesudah proses UBC 4. Hal ini dapat terjadi karena ukuran cetakan briket batubara lebih kecil dibandingkan dengan ukuran cetakan briket pada percobaan sebelumnya.1100C. Pada kondisi ini briket UBC yang dihasilkan mempunyai kuat tekan 73 . makin rendah kuat Gambar 5. densitas 1. Hasil unjuk kerja pembriketan pada percobaan ini sangat memuaskan. kecepatan roll optimum adalah pada 10 rpm dengan kuat tekan 73 kg/cm2. Gambar 4 menunjukkan bahwa kecepatan roll pada temperatur yang sama sangat berpengaruh terhadap kuat tekan briket UBC yang dihasilkan. 15.77 kg/cm2.

2000. Sukhiyar. T. Fundamental of Coal Beneficiation and Utilization. sehingga nilai kalor naik sebesar 26. 1982. I.77 kg/cm2... temperatur 80 . Kesimpulan DAFTAR PUSTAKA Kondisi proses UBC yang dianggap optimum pada pilot plant Palimanan Cirebon. Sementara kadar abu. Hudaya. proses UBC menurunkan kadar air bawaan (inherent moisture) batubara Mulia sebesar 71. Shigehisa. 70% minyak tanah yang mengandung 0. Study on Upgraded Brown Coal Process for Indonesian Low Rank Coals. Tsai. dan Hamdani.1100C.04 g/cm3 dan kecepatan produk briket UBC yang dihasilkan sebanyak 1. Seminar dan Workshop “Indonesian Coal Conference” Jakarta. Indonesia. com (2008). Pada kondisi tersebut di atas.5% residu) Kecepatan pengumapan slurry ke dalam decanter 350 l/jam Kecepatan pengumpanan cake ke dalam rotary tube dryer 15 Hz. E. Shigehisa.2.. K. A. T. pp. KESIMPULAN DAN SARAN UBC. F.. zat terbang. Karena itu. adalah pada kondisi : Ukuran batubara umpan < 3mm dengan kecepatan pengumpanan 100 kg/jam Konsentrasi batubara dalam slurry 30% (30% batubara. dan Sodikin. Vol 21. Kunrat S. Sumberdaya dan Cadangan Batubara Indonesia.. Persiapan Pembangunan UBC Demonstration Plant. K.6%. Kalimantan Selatan. Elsevier Publishing Company. Laporan Intern Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara. Rijwan...5%. kuat tekan 73 . Development of UBC Process Paper presented at the International Conference on Fluid and Thermal Energy Conversion. Palimanan.. G. Cirebon yang dilakukan pada kajian ini. pilot plant Umar D. karbon.C. Y. Coal Science and Technology 2. 149-159. Coal Preparation. Indonesia. 2007.sangat mendukung untuk kepentingan uji coba pada UBC demontration plant di Kecamatan Satui. R.. 2000. and Makino. densitas 1. Makino. 188 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . 6. Coal-Tech 2002. wikipedia.. Setiawan L. berlaku untuk batubara Mulia yang berasal dari daerah Satui.015 – 1. 2009. 6.104 kg/jam. T. kecepatan roll 8 rpm. sedangkan kadar hidrogen dan oksigen turun karena turunnya kadar air (H2O). 2002. Shimasaki. belerang dan nitrogen mengalami sedikit kenaikan. S. K. Suwono. T. Proc. Sedangkan untuk batubara dari daerah lain kondisinya akan berbeda. E. I. karbon padat..1. Deguchi. 6. Sedangkan untuk proses pembriketan yang paling baik pada percobaan ini adalah pembriketan dengan kondisi. International Conference and Exhibition on Clean and Efficient Coal Technology in Power Generation. Palimanan. Upgrading The Indonesian’s Low Rank Coal by Superheated Steam Drying with Tar Coating Process and its Application for Preparation of CWM. Cirebon hendaknya tetap digunakan sebagai sarana penelitian untuk pengembangan proses UBC terhadap batubara lainnya di Indonesia guna mendapatkan teknologi proses yang secara teknis dan ekonomis lebih menguntungkan.. Deguchi. and Otaka.. www. Saran Kondisi proses yang dianggap optimum pada pilot plant UBC. Kalimantan Selatan.

UBC.000 orang. BCB. menciptakan multiplier effect bagi perekonomian daerah dan menciptakan iklim investasi yang baik bagi industri pertambangan dan pengolahannya. 022 .id SARI Kebutuhan batubara di dunia semakin meningkat terutama sebagai bahan bakar pembangkit listrik.000 jobs. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui dampak ekonomi dari pengembangan teknologi UBC dan BCB serta penerapan teknologi tersebut dengan membangun pabrik komersialnya di Indonesia. 022 .. menambah pendapatan pajak pemerintah sebesar Rp 130-200 milyar pertahun. increase the state income of US$ 140-210 million per year. Teknologi itu adalah UBC (Upgraded Brown Coal) dan BCB (Binderless Coal Briquetting). Cadangan batubara Indonesia didominasi oleh batubara peringkat rendah sebesar 59%. menambah devisa negara sebesar US$ 140-210 juta pertahun. The technology developed by companies in Japan and Australia is technology to improve the quality of low rank coal through the reducing of water contained in coal so that the caloriefic value of coal increased then the marketing will be easier and selling price will also increase. Indonesia adalah salah satu negara pengekspor terbesar di dunia. This study is aimed to understand the economic impact of developing UBC and BCB technologies and the implementation of these technologies includes building commercial plant in Indonesia. BCB. increase government tax revenue of Rp 130-200 billion per year. Results indicate that the economic impact are: increase the utilization of low rank coal. Teknologi yang dikembangkan oleh perusahaan Jepang dan Australia adalah teknologi peningkatan kualitas batubara peringkat rendah melalui upaya menghilangkan kandungan air di dalam batubara tersebut untuk meningkatkan nilai kalorinya sehingga pemasarannya akan mudah dan harga jualnya meningkat. economic impact Analisis Dampak Ekonomi Teknologi Peningkatan Kualitas Batubara .e-mail : gandhi@tekmira. Gandhi Kurnia Hudaya 189 . Indonesia is one of the largest exporter country in the world.6030483. UBC. Kata kunci : batubara peringkat rendah.esdm. creat 1. Keywords : low rank coal. creating a multiplier effect for regional economic and create a better investment climate for mining and processing industries.6003373 . dampak ekonomi ABSTRACT The needs of coal in the world has been increasing mainly as a fuel of power.ANALISIS DAMPAK EKONOMI TEKNOLOGI PENINGKATAN KUALITAS BATUBARA PERINGKAT RENDAH DI INDONESIA Gandhi Kurnia Hudaya Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jalan Jenderal Sudirman 623 Bandung 40211 Telp. Fax. menciptakan lapangan kerja 1.go. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dampak ekonominya adalah : pemanfaatan batubara peringkat rendah yang meningkat. The technologies are UBC (Upgraded Brown Coal) and BCB (Binder less Coal Briquetting).. Indonesia coal reserve is dominated by low-rank coal as much as 59%.

sebuah perusahaan baja di Jepang. Diharapkan hasil analisis ini dapat menjadi salah satu bahan. PENDAHULUAN Batubara adalah salah satu sumber energi yang saat ini menjadi primadona di dunia.1. Produk UBC berupa serbuk dan briket (Gambar 1). A. telah berdiri dua pabrik teknologi peningkatan kualitas batubara kalori rendah di Indonesia yaitu pabrik percontohan UBC (Upgraded Brown Coal) dan pabrik komersial BCB (Binderless Coal Briquetting). Namun. Hingga saat ini. Kadar air yang tinggi menyebabkan tingginya biaya penanganan dan transportasi yang tinggi serta nilai kalori yang rendah sehingga hingga saat ini penggunaan batubara kalori rendah masih terbatas.id). Batubara kalori rendah Indonesia memiliki keunggulan dibandingkan dengan batubara dari negara lain. TEKNOLOGI UBC DAN BCB Teknologi UBC Teknologi UBC dikembangkan oleh Kobe Steel Ltd. Harganya yang relatif rendah serta ketersediaannya yang masih melimpah merupakan daya tarik bagi industri-industri di dunia yang saat ini banyak sekali dibutuhkan untuk menghasilkan listrik. minyak residu dan minyak tanah. kemudian dipanaskan pada temperatur 1500C – 1600C dengan tekanan 250 kPa – 350 kPa. umumnya hanya digunakan untuk pencampuran atau digunakan pada pembangkit listrik mulut tambang.esdm. Proses ini dilakukan dengan mencampurkan batubara. Penelitian ini bermaksud menganalisis dampak ekonomi bagi pengembangan teknologi UBC dan BCB serta penerapannya melalui pembangunan pabriknya di Indonesia. Batubara peringkat rendah Indonesia pada umumnya mengandung kadar air yang tinggi (20-40%). 2. potensi batubara Indonesia mencapai ±105 milyar ton dimana ±22 milyar ton diantaranya berupa cadangan (www. Batubara lebih disukai karena untuk menghasilkan listrik sebesar 1 MGW/h dibutuhkan biaya US$ 12. Teknologi peningkatan kualitas batubara kalori rendah merupakan teknologi yang diharapkan dapat menjaga kesinambungan pasokan batubara serta untuk meningkatkan pemanfaatan batubara kalori rendah dengan maksimal. yaitu memiliki kadar abu dan sulfur yang rendah sehingga dijadikan target utama untuk pengembangan teknologi tersebut. Indonesia adalah salah satu negara pengekspor batubara terbesar di dunia dan memiliki cadangan yang cukup besar.98 (asumsi harga batubara US$ 90/ton) lebih kecil bila dibandingkan dengan minyak yang sebesar US$ 30 (asumsi harga minyak US$ 54/ barrel) dan LNG yang sebesar US$ 20. Kedua pabrik tersebut berlokasi di Kalimantan. 2008). Teknologi UBC merupakan proses penurunan kadar air bawaan batubara peringkat rendah menjadi menyerupai batubara peringkat tinggi (bituminus) sehingga nilai kalori batubara tersebut meningkat. Pada akhir tahun 2008.go. 2008). sekitar 59% dari cadangan tersebut termasuk batubara peringkat rendah (Ermina Miranti.47 (asumsi harga LNG $6/Mmbtu) (Ermina Miranti. Gambar 1. Diagram proses teknologi UBC (sumber : brosur UBC) 190 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . baik untuk calon investor maupun untuk pemerintah dalam mengambil kebijakan terhadap teknologi yang tergolong teknologi baru.

Proses utamanya adalah menggerus batubara dan kemudian memanaskannya untuk menghilangkan kadar air dalam batubara. Kalimantan Timur (Gambar 4). Kalimantan Selatan di lokasi tambang batubara PT Arutmin berdasarkan perjanjian kerjasama antara Japan Coal Energy Center (JCOAL). Pabrik ini telah diresmikan pada bulan April 2009 dan direncanakan akan mulai berproduksi pada akhir semester kedua 2009. Gambar 4.whiteenergyco. telah berhasil dikembangkan dan dioperasikan.sg) Analisis Dampak Ekonomi Teknologi Peningkatan Kualitas Batubara . Diagram proses teknologi BCB (sumber : ww. Jepang dan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. 27 April 2009). Gambar 2. Teknologi BCB Teknologi BCB dikembangkan oleh White Energy Company. Teknologi BCB merupakan proses peningkatan mutu batubara dengan cara menghilangkan kadar air dalam batubara sehingga nilai kalorinya akan meningkat. Pabrik modular peningkatan mutu batubara bersih (sumber : www.com) PT Bayan Resources Tbk (BAYAN) menggandeng White Energy Company membentuk perusahaan patungan PT Kaltim Supacoal (KSC) untuk membangun pabrik modular peningkatan mutu batubara bersih berkapasitas satu juta ton/tahun di tambang Tabang.800 kal/g. Setelah dipanaskan. Jawa Barat dengan kapasitas 5 ton/hari.000 kal/g dapat ditingkatkan menjadi 6.Pabrik UBC skala percontohan dengan kapasitas 1.000 ton/hari umpan atau ± 600 ton/hari produk dibangun di Satui. Nilai investasi pabrik ini mencapai US$ 68 juta (Koran Investor Daily.100 kcal/kg GAR. 2006).7 juta ton pertahun. Gambar 3.200-6. batubara dimampatkan melalui proses pembriketan (Gambar 3).bayan. Gandhi Kurnia Hudaya 191 . Biaya konstruksi dan pengoperasian pabrik UBC skala percontohan dari tahun 2007-2010 diperkirakan memakan biaya sebesar US$ 70 juta (Kobelco. Pabrik UBC komersial direncanakan berkapasitas sebesar minimal 5000 ton produk per hari atau 1.200 kcal/kg gross as received (GAR) menjadi 6. Indonesia (Gambar 2).com.. sebuah perusahaan teknologi coal upgrading yang berpusat di Australia.. Pabrik percontohan UBC (sumber : brosur UBC) B. Teknologi BCB mampu membuat batubara dari kalori rendah 4. Nilai kalori batubara dari < 5. Pabrik UBC skala pilot di Palimanan.

Sebagai perbandingan. Analisa kuantitatif dilakukan terhadap data-data ekonomi yang telah dikumpulkan untuk memberikan gambaran dampak ekonomi dari aplikasi teknologi peningkatan kualitas batubara kalori rendah di Indonesia. Setiap pembangunan pabrik UBC dan BCB membutuhkan pasokan batubara wantah diluar produksi batubara saat ini. selain pajak juga ada royalti untuk setiap ton batubara yang diproduksi.8 juta ton dan memberikan kontribusi kepada pemerintah dalam bentuk pajak sebesar Rp 844 milyar (Rania Rahmundita. METODE PENELITIAN Pengumpulan data Pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka. Pengolahan data Pengolahan data dilakukan dengan analisis deskripsi dan analisa kuantitatif. teknologi ini maka keluaran pabrik yang berupa batubara berkalori tinggi akan mudah untuk dijual baik di dalam negeri maupun di luar negeri sehingga memberikan nilai tambah yang lebih besar. Dari perbandingan jumlah penjualan maka dapat diperkirakan bahwa setiap pabrik UBC dan BCB yang dibangun dapat menambah penghasilan negara melalui pajak sekitar Rp 130-Rp 200 milyar per tahun. Indonesia adalah negara sasaran utama untuk ujicoba dan pengembangan teknologi tersebut karena keunggulan kualitas dan jumlah batubara peringkat rendahnya. Menciptakan lapangan pekerjaan Pembangunan pabrik peningkatan kualitas batubara baik teknologi UBC maupun BCB. lowongan kerja juga akan terbuka bagi 4. Analisis deskripsi dilakukan terhadap data-data yang telah dikumpulkan yang berhubungan dengan teknologi peningkatan kualitas batubara kalori rendah di Indonesia serta data-data lain yang berhubungan. Dengan asumsi harga batubara tahun 2009 sebesar US$ 70 per ton. akan dihasilkan produk upgraded coal sebanyak 2-3 juta ton pertahun. Untuk setiap pabrik UBC dan BCB yang dibangun. Pemanfaatan sumber daya alam Potensi batubara kalori rendah Indonesia sebesar 60 milyar ton (60% dari cadangan total 104 milyar ton) termasuk besar dan dapat lebih ditingkatkan pemanfaatannya. dapat menambah produksi batubara sebesar 2-3 juta ton per tahun. Menambah devisa negara Indonesia adalah salah satu eksportir batubara terbesar di dunia. akan diekspor sebanyak 160 juta ton dan sisanya digunakan untuk kebutuhan dalam negeri. dari produksi batubara sebanyak 190 juta ton. dimana salah satunya adalah pajak perusahaan. 2009). pada tahun 2008 menjual batubara sebanyak 12. Meningkatkan penghasilan negara dari pajak perusahaan Pendapatan negara Indonesia didominasi oleh sektor pajak. 3. Untuk mengetahui dampaknya bagi Indonesia maka salah satu dampak yang mudah dihitung atau dianalisis secara kuantitatif adalah dampak ekonomi. yaitu mencari referensi dan literatur untuk memperoleh data sekunder mengenai teknologi peningkatan kualitas batubara kalori rendah di Indonesia. perusahaan tambang batubara PT Bukit Asam (PTBA). Setiap pendirian 1 buah pabrik komersial UBC dan BCB. Dampak ekonomi penerapan teknologi peningkatan kualitas batubara kalori rendah di Indonesia antara lain adalah sebagai berikut : 1. Pada tahun 2009. 2.3. Lowongan pekerjaan ini akan terbuka sejak pekerjaan konstruksi pabrik dimulai hingga kemudian beroperasinya pabrikpabrik tersebut. maka devisa negara yang dapat dihasilkan adalah US$ 140210 juta. Perusahaan Kobe Steel dan White Energy berinvestasi dalam riset teknologi peningkatan kualitas batubara kalori rendah agar dapat memiliki patent teknologi yang menguntungkan perusahaan. batubara kalori rendah kurang dimanfaatkan atau bila diekspor hanya sebagai pencampur (blending) batubara kalori tinggi. Sebelumnya. Dengan adanya 192 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . HASIL DAN PEMBAHASAN Tren pemanfaatan batubara terutama untuk sektor listrik di dunia mendorong banyak pihak untuk dapat terlibat di dalamnya. 4. Selain untuk karyawan pabrik. akan memberikan lowongan pekerjaan yang cukup besar bagi masyarakat Indonesia umumnya dan bagi masyarakat sekitar pabrik pada khususnya. Untuk perusahaan tambang.

Juni 2009. Hal ini akan membantu program pemerintah dalam mengurangi kemiskinan dan mengurangi pengangguran.000 orang.sg. Sebagai perbandingan.id Website PT Bayan www. 214.esdm. 5 July 2006. 5.peningkatan kapasitas produksi ataupun pembangunan infrastruktur tambang yang baru untuk memasok kebutuhan pabrik tersebut.whiteenergyco. Website White Energy www. 6. Peresmian Pabrik Percontohan UBC di Satui. Website PT Tambang Batubara Bukit Asam (Tbk)..kobelco. terutama bagi perekonomian daerah. Analisis Dampak Ekonomi Teknologi Peningkatan Kualitas Batubara .go.id. akan memberikan kesan baik kepada investor lokal maupun luar negeri akan aman dan ramahnya iklim investasi di Indonesia. www. 27 April 2009.com Kobelco Online. terutama di sektor pertambangan dan pengolahannya.com. Januari 2009. Economic Review No. e) Menciptakan multiplier effect yang bermanfaat. 5. Investor Daily. Website Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral.000 orang.jp. PTBA saat ini mempekerjakan sekitar 3. DAFTAR PUSTAKA Brosur UBC. f) Menciptakan iklim investasi yang baik bagi investor. Ermina Miranti.co. Rania Rahmundita. c) Menambah pendapatan dari pajak sebesar Rp 130-200 milyar per tahun. Diharapkan para investor tersebut akan ikut juga berinvestasi di indonesia. Coal Mining.346 pegawai. Menciptakan iklim investasi yang baik bagi investor Keberhasilan proyek peningkatan kualitas batubara dimana proyek ini termasuk proyek besar.ptba. http:// www. http:// Investorindonesia. Prospek Industri Batubara di Indonesia. CIMB-GK Research.bayan.co.. Gandhi Kurnia Hudaya 193 . Menciptakan multiplier effect dari proyek Seandainya pabrik peningkatan kualitas batubara beroperasi dengan kapasitas 2-3 juta ton. b) Menambah devisa negara sebesar US$ 140210 juta per tahun. Company. 2008. Selain itu perekonomian di daerah tersebut akan tumbuh untuk memenuhi kebutuhan pabrik-pabrik yang baru seperti perusahaan katering. transportasi dan perusahaan pendukung lainnya. d) Menciptakan lapangan kerja sebanyak 1. Resources (Tbk). maka dapat diperkirakan bahwa lowongan kerja baru yang akan tersedia adalah sekitar 1. akan mulai memproduksinya untuk memenuhi kebutuhan pabrik peningkatan kualitas batubara tersebut. Perusahaan tambang yang selama ini belum menggarap cadangan batubara peringkat rendah di wilayah kerjanya. maka pabrik itu akan membutuhkan 4-5 juta ton batubara per tahun.com. http://www. KESIMPULAN Dampak ekonomi dari pembangunan pabrik teknologi peningkatan kualitas batubara peringkat rendah dengan teknologi UBC dan BCB adalah : a) Pemanfaatan batubara peringkat rendah sebagai sumber daya alam. Desember 2008. Jika dibandingkan berdasarkan jumlah penjualan batubara pertahun.

maka perbandingan manfaat dan biaya eksternalitas adalah 1.000.000.-. kegiatan penambangan bijih besi.000. Keywords: benefit and cost. dari kegiatan penambangan tersebut.go.000. Jend. iron ore mine activity.290.esdm. dengan penghasilan rata-rata Rp 1. Lutfi Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. 022 . income person Rp.000 ton per year. contingent valuation method 194 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .id.6030483 Fax.000.-.esdm.. Kata kunci : manfaat dan biaya.go.-.000.000.000 sampai dengan 400.000.08%. Untuk menghitung manfaat dan biaya dipergunakan Metode Valuasi Kontingensi (Contingent Valuation Method).Externalities cost are Rp 403. hal ini dapat dilihat dari penyerapan tenaga kerja lokal sebesar 35. Kegiatan penambangan bijih besi. Manfaat dari kegiatan penambangan.000.6003373 e-mail : endangs@tekmira. Local labor are total income Rp 60. Contingent Valuation Method use for calculation of benefit and cost.000 ton per tahun. Disamping itu manfaat yang diperoleh daerah. tax and retribution are Rp 420. Mine activities for benefit are local labor 35. 022 . yaitu adanya peluang kerja untuk masyarakat lokal.0000 until 400. PROPINSI JAMBI Endang Suryati dan M.04. 1.500. Yang berarti manfaat lebih besar dari pada biaya eksternalitas.—. menimbulkan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi daerah. lutfi@tekmira.500. direncanakan antara 60. maka jumlah penghasilan seluruh tenaga kerja lokal per bulan Rp 60.08% dapat terserap di kegiatan penambangan bijih besi. Iron ore mine activity is positive impact to arouse for region economic growth.000.KAJIAN MANFAAT DAN BIAYA PENAMBANGAN BIJIH BESI DI KABUPATEN MERANGIN.-. Sudirman 623 Bandung 40211 Telp.per bulan/orang.id SARI Produksi penambangan bijih besi di Kabupaten Merangin. berasal dari pajak dan retribusi sebesar Rp jadi total manfaat sebesar Rp 420. metode valuasi kontingesi ABSTRACT Iron ore production is mine at Merangin regency to plan 60.000.-/month. Apabila dibandingkan dengan biaya eksternalitas sebesar Rp 403.per month..000. So benefit and externalities cost comparative are 1:2.290.

Pembangunan ekonomi baik di negara industri maupun di negara berkembang berdasarkan pada sumber daya alam dan produktivitas sistem alami. Kabupaten Merangin. serta desa Mentawak Kecamatan Nalo Tantan. Kegiatan eksplorasi bijih besi mendapat dukungan dari pemerintah dalam upaya melakukan diversifikasi produk ekspor guna meningkatkan devisa bagi negara. Jumlah angkatan kerja produktif di desa-desa lokasi studi relatif seimbang. Desa Pulau Layang dan Kecamatan Batang Mesumai merupakan desa dan kecamatan yang relative baru sebagai kecamatan definitif. tidak terlepas dari tingginya permintaan akan komuditas bijih besi. tentang nilai manfaat SDA dan lingkungan yang mereka rasakan. Endang Suryati dan M. Lokasi studi berada di 3 (tiga) desa yaitu desa Pulau Layang dan desa Rantau Alai di wilayah kecamatan Batang Mesumai. Berdasarkan perhitungan cadangan. lingkungan wilayah secara langsung menyediakan jasa yang menyumbang pada peningkatan kesejahteraan seperti tersirat pada pembangunan ekonomi. Pada saat yang sama. METODOLOGI Untuk menghitung kajian manfaat dan biaya. Kabupaten Merangin. Mengingat dampak positif dan negatif yang ditimbulkan cukup penting. pertumbuhan ekonomi sering diikuti dengan tekanan yang makin berat pada sistem alami dan dampak negatif kualitas lingkungan. Pembangunan ekonomi mengandung arti peningkatan yang berkelanjutan bagi kesejahteraan masyarakat yang diperoleh dari barang-barang dan jasa-jasa konvensional. Salah satu lokasi cadangan bijih besi di Indonesia terdapat di desa Pulau Layang. secara kuantitatif yang mempunyai angkatan kerja produktif terbesar adalah di desa Pulau Layang yaitu 1. Propinsi Jambi. 3.. sedang dampak negatifnya adalah biaya kerusakan 2.000 ton per tahun. PEMBAHASAN Lokasi Rencana Kegiatan Secara administrasi pemerintah daerah.( Kumpulan Materi Ekonomi Lingkungan PSLH UGM Yogyakarta). masalah yang penting adalah melaksanakan kegiatan pembangunan sedemikian rupa agar dapat melestarikan produktivitas jangka panjang sistem alami agar pembangunan berkelanjutan dan dapat minimumkan kerusakan kualitas lingkungan. Kabupaten Merangin. Kependudukan Jumlah penduduk di lokasi studi pada tahun 2007 adalah 3. Jumlah penduduk desa Pulau Layang relatif lebih tinggi yaitu 1. Dampak positif yang timbul biasanya berhubungan dengan pertumbuhan perekonomian daerah. Oleh karena itu. merupakan pemekaran dan Kecamatan. Hufschmidt. produksi bijih besi direncanakan mencapai 60. kegiatan pertambangan bijih besi termasuk dalam wilayah Kecamatan Bengalon dan Kecamatan Sangkulirang Bangko.714 jiwa yang terdiri atas 874 jiwa laki-laki dan 840 jiwa perempuan sedangkan yang terkecil terdapat di desa Rantau Alay yaitu sebesar 621 jiwa yang terdiri atas 300 jiwa laki-laki dan 321 jiwa perempuan (Gambar 2). maka diperlukan analisis manfaat dan biaya yang diakibatkan oleh kegiatan penambangan bijih besi.Batang Mesumai.(John A. Kecamatan Batang Mesumai. lokasi rencana kegiatan juga termasuk dalam Kecamatan Karangan dan Kaubun yang merupakan wilayah pemekaran Kecamatan Sangkulirag.1.690 jiwa (Badan Pusat Statistik Kabupaten Merangin. Lutfi 195 . Berdasarkan pengamatan lapangan. di pasar internasional. Dixon & Maynard M. PENDAHULUAN lingkungan akibat penambangan bijih besi. Propinsi Jambi.. Berdasarkan studi kelayakan. 1986) Rencana Kegiatan penambangan pasir besi di Kabupaten Merangin.3 tahun.090 jiwa Kajian Manfaat dan Biaya Penambangan Bijih Besi . dipergunakan Metode Valuasi Kontingensi ( Contingent Valuation Method). Metode inii merupakan metode valuasi Sumber Daya Alam (SDA) dan lingkungan dengan cara menanyakan langsung kepada masyarakat sekitar. operasional tambang diperkirakan akan berlangsung sampai 2.0000 – 400. yang produksinya sering memerlukan sumber daya alam dan sistem alami yang produktif. Propinsi Jambi). Lagi pula.

2%). Gambaran ini menunjukan bahwa penduduk di wilayah penelitian terdorong untuk membekali Gambar 2.3%. Jumlah penduduk di desa-desa sekitar kegiatan penambangan bijih besi (63.2% dan Desa Mentawak sebanyak 12. walaupun jarak dari desa-desa ke lokasi sekolah cukup jauh dan angkutan umum terbatas. sedangkan di desa Rantau Alai 53. Persentase terbanyak diantara desa-desa lokasi studi yang penduduknya menamatkan pendidikan tertinggi sampai SLTA adalah di Desa Rantau Alai sebesar 19. 196 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Dari uraian terlihat bahwa motivasi orang tua untuk menyekolahkan anak-anaknya ketingkat yang lebih tinggi di wilayah penelitian cukup tinggi.41% dan desa Mentawak 57. seperti terlihat pada Gambar 3. yaitu Desa Pulau Layang (79. Desa Mentawak (63.7%) dan Rantau Alay (46.6%) dari total penduduk. Hal ini terlihat dari banyaknya anak-anak responden yang mempunyai pendidikan setingkat SLTP dan SLTA. Pada umumnya penduduk di lokasi studi memiliki tingkat pendidikan tertinggi setingkat SD.21%. Peta lokasi Tingkat Pendidikan Kualitas sumberdaya manusia masyarakat di sekitar lokasi rencana kegiatan relatif rendah..3%).Gambar 1.

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 4. masyarakat diberi pertanyaan/kuesioner mengenai manfaat dan resiko dari kegiatan pertambangan ini. Pada umumnya alasan tidak keberatan adalah karena pertambangan tersebut merupakan program pemerintahan dan untuk kepentingan umum.pendidikan tinggi kepada anak-anaknya agar dapat memasuki peluang kerja yang lebih baik dibandingkan orang tua mereka.10%) menyatakan tidak keberatan terhadap rencana pembangunan pertambangan bijih besi yang akan melewati rumah pemukiman mereka. Gambar 3. Berdasarkan kriteria responden di atas. Hasil wawancara dengan responden di lokasi studi memperlihatkan bahwa seluruh responden di Desa Pulau Layang dan Rantau Alai sebanyak 100% sudah mengetahui rencana dari pembanguna pertambangan bijih besi. Pekerjaan tambahan mereka. desa jadi lebih ramai serta dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat di desa tersebut. Di desa-desa sekitar lokasi penambangan sebagian besar mengandalkan kehidupannya dari pertanian (petani) yang digeluti oleh 80% penduduk. serta proyek tersebut tidak akan merugikan masyarakat. Selain itu juga ada yang menjadi buruh bangunan musiman di kota... Pada tabel 3 memperlihatkan sebagian besar responden di lokasi studi (80. pada satu sisi dianggap akan memberikan keuntungan kepada masyarakat sekitarnya. Berdasarkan tiga kriteria responden yang telah disebutkan diatas. Mata pencaharian di desa-desa sekitar kegiatan penambangan bijih besi Mata Pencaharian Penduduk Mata pencaharian utama kepala keluarga di desadesa lokasi studi adalah di sektor pertanian bidang perkebunan karet dan kelapa sawit. Kajian Manfaat dan Biaya Penambangan Bijih Besi . Hadirnya kegiatan pertambangan bijih besi. mendorong penduduk untuk mendapatkan pendidikan formal yang lebih baik agar dapat memasuki lapangan pekerjaan tersebut. Sedangkan penduduk Mentawak relatif lebih kecil yang sudah mengetahui rencana tersebut. yaitu sebanyak 10% saja. mengenai rencana pembangunan pertambangan bijih besi. disisi lain pembangunan ini juga menimbulkan kekhawatiran di kalangan penduduk. Dan yang menyatakan memberikan keuntungan dengan adanya penambangan bijih besi ini sebanyak 78.7% pada umumnya penduduk menghubungkan keuntungan tersebut dengan akan bertambahnya peluang kesempatan kerja. Sedangkan responden yang menyatakan keberatan terhadap rencana pertambangan hanya 5%. Lutfi 197 . pembangunan pertambangan bijih besi dianggap oleh penduduk akan memberikan keuntungan kepada mereka. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 1 dan 2.5%).2%) dan buruh tani (5. terutama masih di sektor pertanian seperti buruh tani dan menggarap lahan orang lain yang terdapat di desa mereka. Namun. Mata pencaharian di desa-desa sekitar kegiatan penambangan bijih besi Selain itu dengan semakin ramainya kawasan Kota Bangka dan sekitarnya. Pendapat Masyarakat Untuk mengetahui pendapat masyarakat. hanya sebagian kecil Kepala Keluarga yang memiliki pekerjaan tambahan. Di desadesa lokasi studi. Endang Suryati dan M. pedagang (7. Gambar 4. serta berdagang.

5 2. diolah Tidak tahu % 100 100 10 Jml 0 0 8 % 0 0 80 Tidak menjawab Jml 0 0 1 % 0 0 10 Jml 50 20 10 Jumlah % 100 100 100 50 20 1 Tabel 2. asal perhatikan warga Tidak keberatan. diolah Aparat Desa Jml 4 0 0 % 8 0 0 Tim survey Jml 6 2 1 % 12 10 10 Tidak menjawab Jml 38 18 9 % 76 90 10 Total Jml 98 20 10 % 100 100 100 % 4 0 0 50 0 0 Tabel 3.desa jadi rencana penambangan Tidak keberatan. pengetahuan responden terhadap rencana pembangunan pertambangan bijih besi Pengetahuan tentang rencana pembangunan Tahu Jml Pulau Layang Rantai Alai Mentawak Sumber : Data Primer. Terserah warga lain Tidak keberatan. tidak keberatan Ya.5 1.3 5 11. Data Primer. Sumber informasi tentang rencana pembangunan pertambangan bijih besi Sumber Informasi tentang rencana pembangunan Desa Pemilik lahan Jml Pulau Layang Rantai Alai Mentawak Sumber : Data Primer. tdk keberatan. rencana penambangan Keberatan/tidak setuju Tidak menjawab Total Sumber .Tabel 1.5 5 2.5 1. ada peluang usaha Terserah/tidak peduli.krn unt kepentingan umum.3 100 Ya. diolah 36 4 0 2 0 2 0 2 8 50 100 198 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .3 2. Sikap responden terhadap rencana pertambangan bijih besi Desa Sikap terhadap rencana pembangunan Pulau Layang Jml % 72 8 0 4 0 4 0 4 4 Rantau Alai Jml 16 0 0 0 1 0 0 1 2 20 % 80 0 0 0 5 0 0 5 10 100 Mentawak Jml 3 0 2 0 0 0 1 1 3 10 % 30 0 20 0 0 0 10 10 30 100 Jumlah Jml 55 4 2 2 1 2 1 4 9 80 % 68.

7% responden memberikan rasa kekhawatiran dengan adanya rencana penambangan ini.. Sarana dan Prasarana Fasilitas yang diperlukan dalam pengangkutan bijih besi dari lokasi penambangan ke lokasi stockpile sementara dan selanjutnya ke lokasi pengolahan di pelabuhan antara lain .5 1.5 12.5 3. Endang Suryati dan M.5 13. Keuntungan dari rencana penambangan bijih besi Desa Keterangan Pulau Layang Jml Memberi sumbangan Jml pada kegiatan desa Peluang kerja proyek Jml Desa jadi ramai Peluang kerja & desa jadi ramai Harga tanah & desa jadi ramai Desa jadi ramai transport lancar Ekonomi meningkat Peluang kerja transport lancar Ganti rugi tinggi Tidak tahu Total Sumber : Data Primer. Lutfi 199 . Sebanyak 78.5 5 21.8 8.3 20 100 % 34 2 6 20 2 12 2 22 17 1 3 10 1 6 1 11 50 100 Kajian Manfaat dan Biaya Penambangan Bijih Besi . Pada umumnya masyarakat menginginkan bahwa pembangunan dan pengoperasian penambangan bijih besi dapat memberikan peluang usaha baru bagi mereka.Tabel 4.3 1. (Tabel 5). diolah Rantau Alai Jml 4 4 1 6 2 1 0 2 20 % 20 20 5 30 10 5 0 10 100 Mentawak Jml 1 5 0 1 0 0 0 3 10 % 10 50 0 10 0 0 0 30 100 Jumlah Jml 22 10 4 17 3 7 1 16 80 % 27. seperti ditunjuka pada Tabel 6 dibawah ini.3 2.3 21.3 100 % 12 40 0 2 0 2 14 4 0 22 6 20 0 1 0 1 7 8 0 11 50 100 pembangunan pertambangan bijih besi dianggap oleh penduduk akan menimbulkan kekhawatiran kepada mereka.8 1. Dengan adanya pembangunan penanbangan bijih besi di daerah inidiharapkan tidak menimbulkan kerugian bagi penduduk.3 2.8 6.. Kekhawatiran responden terhadap rencana penambangan bijih besi Desa Keterangan Pulau Layang Jml Lahan tani berkurang % Polusi udara Jml kebisingan Sedikit terima tenaga ocal Air sungai terganggu % Pembayaran ganti Jml rugi lambat Jalan jadi rusak Tidak ada kerugian Tidak tahu Total Sumber : Data Primer. Fasilitas jalan dan jembatan Fasilitas pelabuhan untuk pemuatan bijih besi dalam tongkang Fasilitas pembangkit tenaga listrik Tabel 5. diolah Rantau Alai Jml 1 6 1 0 1 1 4 1 1 4 20 % 5 30 5 0 5 5 20 5 5 20 100 Mentawak Jml 1 6 0 1 0 0 0 0 0 2 10 % 10 60 0 10 0 0 0 0 0 20 100 Jumlah Jml 8 32 1 2 1 2 11 5 1 17 80 % 10 40 1.

dengan tinggi penimbunan maksimal 5 (lima) meter sehingga dibutuhkan areal penimbunan seluas + 104 Ha.5 100 % 48 8 4 4 4 16 0 6 10 24 4 2 2 2 8 0 3 5 50 100 Fasilitas pasokan air bersih Bangunan pendukung operasi tambang Bangunan khusus bahan peledak Fasilitas penanganan dan penyimpanan bahan bakar Fasilitas penanganan limbah Bijih besi hasil penambangan (ROM) diangkut dengan dump truck menuju lokasi mesin pemecah bijih besi (crushing plant) di stockpile tambang yang lokasinya berjarak 37 km. Jenis Sumber Energi/Bahan Bakar Sumber energi berasal dari pembangkit listrik utama dengan daya 2 x 65 MW/jam ditambah dengan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) dan genset prime mover berbahan bakar solar sebesar 2 x 250 KVA.Tabel 6. dengan saluran air akan dibuat di kedua sisinya. bengkel dan MCK bagi perumahan/ mess.3 5 7. Debit dan Sumber Air Kebutuhan air dalam kegiatan penambangan terutama digunakan untuk penyemprotan daerah berdebu.3 1.8 11. Rapak dan anak S. pencucian peralatan angkut dan muat bijih besi. Harapan responden berdasarkan posisi rumah/lahan terhadap rencana penambangan bijih besi Desa Keterangan Pulau Layang Jml Kampung TK lokal Jml lebih banyak Bantuan fas. Bijih besi dari stockpile tambang diangkut dengan dump truck menuju ke tempat pengolahan (coal processing plant/CPP) di lokasi pelabuhan Jambi melewati jalan yang sudah diperkeras berjarak + 15.5 8.000 ton bijih besi hasil penambangan (ROM). Lebar jalan adalah 12 m. Listrik Ekonomi meningkat Lebih perhatikan Jml lingkungan Ganti rugi lancar Sungai tidak tercemar Jalan desa diperbaiki Setelah ditambang Jml dijadikan pertanian Tidak tahu Total Sumber : Data Primer. selain dipakai oleh beberapa perusahaan perkebunan yang saat ini beroperasi di daerah sekitar rencana kegiatan. Luas lokasi penimbunan bijih besi di dekat areal penambangan lebih kurang 12 ha. dan coal preparation plant. merupakan tempat penimbunan (stockpile) sementara yang dibuat berdampingan dengan tempat penambangan. jalan kabupaten dan jalan provinsi yang juga dimanfaatkan oleh penduduk setempat sebagai akses transportasi darat.5 7. agar dapat menampung sampai dengan 100. Rapak yang mengalir di daerah penambangan dengan debit 600 lt/detik pada saat peralihan musim kemarau ke musim hujan. Jalan dari tambang ke desa ini masih merupakan jalan tanah yang sebagian kecil sudah dilakukan perkerasan dengan kemiringan maksimum 15°. Jalur jalan pengangkutan darat dari lokasi tambang ke pelabuhan menggunakan jalan desa. Pada saat kemarau panjang debit aliran agak menyusut sampai 200 liter/detik dan bisa mencapai 2000 liter/detik di musim penghujan. Air sungai tersebut cocok dipakai untuk kegiatan konstruksi dan 200 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Air yang diperlukan dapat dicukupi dari S.8 7. Jalan kabupaten dan provinsi sudah dilapisi aspal. km dari blok penambangan Area 1 dan Area 2. Kapasitas tampung stockpile di pelabuhan adalah 100 ton bijih besi ROM. diolah Rantau Alai Jml 6 2 4 1 5 1 1 0 0 20 % 30 10 20 5 25 5 5 0 0 100 Mentawak Jml 5 0 0 3 0 0 0 1 1 10 % 50 0 0 30 0 0 0 10 10 100 Jumlah Jml 35 6 6 6 7 9 1 4 6 80 % 43.5 7.

Telen dan PT. Meranti Mitra Persada. Tabel 7. Kegiatan Lain di Sekitar Lokasi Rencana Kegiatan Daerah rencana tambang semula merupakan areal HPH dari beberapa perusahaan kayu yaitu PT. Lutfi 201 . Perencanaan Supervisor Perencanaan Tambang Lanjutan Supervisor pengembangan Staff ( Mining eng ) Staf ( Geologist ) Staff ( surveyor) Staff ( operator komputer) Staf ( juru gambar) Helper Sub-Total Kadiv. dapat dilihat pada tabel 7. Sangkulirang. sedangkan di sebelah timur HPH milik PT. diendapkan dan disterilisasi dapat dipakai sebagai bahan air minum. Kegiatan lain di sekitar daerah rencana penambangan bijih besi adalah : a. bahkan bila disaring. Telen. Perkebunan kelapa sawit Di sebelah timur terdapat perkebunan kelapa sawit PT. Lahan Hutan Tanaman Industri Di sebelah selatan rencana kegiatan penambangan bijih besi terdapat hutan produksi kayu milik perusahaan pemegang HPH PT. c.. SP VI Mata Air dan SP VII Bukit Permata. Sawit Prima Nusantara dan PT.. Bunta Samba. PT. Gawi Mulya. Rashua Indochem. di sebelah utara juga terdapat lahan perkebunan kelapa sawit milik PT. b. Klasifikasi dan jumlah tenaga kerja Pekerjaan General Manager Manajer Tambang Sekretaris Sub-Total Kadiv. Endang Suryati dan M. Di lokasi rencana kegiatan pertambangan bijih besi tidak terdapat kegiatan sejenis yang berbatasan langsung dengan daerah rencana penambangan bijih besi. Operasional Tambang Supervisor penambangan Supervisor pengangkutan Supervisor Pemetaan Supervisor Perawatan Staf (Pengawasan Tambang) Staf Pengawas Transportasi Staff (Surveyor) Staff perawatan S1 Tambang S1 Tambang S1 Tambang D3 Geodesi STM /D3 dan Training S1 Tambang STM Tambang /teknik STM Tambang/ geodesi STM /SLTA dan Training >8 th >3 th >8 th >3 th >3 th >3 th >3 th >3 th >3 th Pendidikan Sarjana Tambang Sarjana Tambang D-3 Sekretaris S1 Tambang S1 Tambang S1 Geologi S1 Tambang S1 Geologi D3 Geodesi SLTA + Kursus STM + Training Pengalaman >15 th >10 th >3 th >8 th >5 th >8th > 3 th >3 th >3 th >3 th >2 th Jumlah 1 1 1 3 1 1 1 1 1 1 1 2 8 17 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Kajian Manfaat dan Biaya Penambangan Bijih Besi . SP II Bumi Rapak. Manfaat yang diperoleh bagi Daerah dan Masyarakat Kesempatan Kerja Pendapatan Daerah Peluang Usaha Kerusakan/kerugian : Gangguan kesehatan karena debu dari transportasi pengangkut bijih besi Menurunnya sumber air Manfaat kegiatan pertambangan bijih besi 1. PT. Permukiman penduduk Di sebelah timur terdapat permukiman SP I Bumi Etam.industri. PT. Segara Timber. Gempu dan PT. Peluang Kerja Pada tahap operasi klasifikasi tenaga kerja yang dibutuhkan. Georgia Pacific.

000. & Keuangan Kepala Personalia dan Umum Kepala Keuangan Kepala pemasaran Kepala Keamanan Kepala Logistik/Gudang Pengawas Camp Kepala Humas Staf/Pembantu Umum Staf/Pembantu LogistikLanjutan Staf Pembantu Keuangan Operator Komputer/Juru tik Petugas Satpam Juru Masak Supir Helper Sub-Total Kadiv.- 202 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 ... Jumlah yg diperlukan 40 orang. dan semuanya dapat diambil dari penduduk setempat. maka total pendapatan yang diterima masyarakat sekitar sebesar 40 orang x Rp 1.juta = Rp 60. Lingkungan – K3 Kepala Lingkungan Kepala K3 Staff lingkungan Staff K-3 Staff Comdev Helper Sub-Total Total S1 S1 S1 SLTA/D3 SLTA/D3 SLTA/D3 >5th >3th >3th >3th >3th >3th S1 Ekonomi/Manajemen S1 Hukum D3 Akuntansi S1 Ekonomi/Manajemen D-3 Purnawirawan TNI D-3 Ekonomi/Manajemen SLTA D3 SLTA SLTA +Training SLTA SLTA SLTP Keatas SD Keatas SLTA >5 th >3 th >3 th >3 th >3 th >3 th >5 th >3th >3 th >3 th >3 th >3 th >3 th >3 th >3 th S1 Mesin S1/D3 teknik S1/D3 kimia STM /SLTA/D3 STM Listrik + Training STM Mesin + Training >8 th >5 th >5 th >5 th >3 th >3 th Pendidikan STM /SLTA SLTA + Training Pengalaman >3 th >3 th Jumlah 1 2 9 21 1 1 1 2 2 2 5 14 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 4 3 4 9 33 1 1 1 2 3 2 5 15 103 Jika dilihat dari tabel diatas. CPP Supervisor processing Supervisor quality control Staf CPP Operator genset Opertor cpp Helper Sub-Total Kadiv Admini.000..000. maka penduduk sekitar yang dapat direkrut adalah lulusan sekolah menengah atas atau sekolah kejuruan.. Pekerjaan Staff ( pengawas O/B) Operator Pompa Helper Sub-Total Kadiv..000.500.Tabel 7. Dengan gaji sebesar Rp 1. Lanjutan .500. dan jumlah penduduk menurut pendidikannya.

000 x 50 Jumlah (Rp) 60. Penterjemah. Dixon. dengan demikian kegiatan penambangan bijih besi sangat berperan dalam meningkatkan pendapatan penduduk sekitar. Lutfi 203 . 4. Kajian Manfaat dan Biaya Penambangan Bijih Besi . terutama dalam peningkatan pendapatan masyarakat dan daerah. Teknik Penilaian Ekonomi Terhadap Lingkungan.Com.420.177. Manfaat dari kegiatan penambangan bijih besi bagi penduduk sekitar lebih besar.2. Dr.000 x 185 Persediaan air bersih 300 hr x 738 x Rp 800.000. Saran Untuk memaksimalkan dampak positif.60.000. Komponen Peluang kerja Retribusi Pajak dll Total manfaat Biaya eksternalitas no 1 2 3 Total Komponen Biaya Jumlah (Rp) 11.- Dari hasil perhitungan diatas.1. 2. DAFTAR PUSTAKA Badan Pusat Statistik.. dapat disimpulkan sebagai berikut : 1.120.penerimaan 40 org a Rp 1. terutama yang menyangkut masalah hajat masyarakat pada umumnya seperti keperluan air bersih. KESIMPULAN DAN SARAN 4.000.. 2008 John A.215. Kumpulan Materi Ekonomi Lingkungan. bila dibandingkan dengan biaya eksternalitas. dengan selisih Rp 16. Sedangkan untuk meminimalkan dampak negatif.1993. 3.240 hr x Rp 5.403.000.08 %. Gajah Mada University Press. 2007. Endang Suryati dan M.290.000.000. perlu dilakukan upaya pengelolaan.070. perlu di lakukan upaya pengelolaan.500. Sukanto Reksohadiprojo.- 4. Kesimpulan Dari pembahasan diatas.100.000. Prof.300. Jumlah penduduk usia produktif setempat yang dapat direkrut di kegiatan penambangan bijih besi sekitar 35.000. Adanya peningkatan pendapatan masyarakat dan peningkatan pendapatan daerah yang berasal dari pajak-pajak.000.- Kesehatan 12 x Rp 5.710. M. maka dampak dari kegiatan penambangan batubara untuk pertumbuhan perekonomian daerah bersifat positif. dapat disimpulkan manfaat lebih besar dari biaya eksternalitas.000.Hilangnya pohon 1434 ph x Rp 150. Kabupaten Merangin Dalam Angka 2007 Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gajah Mada.000.000.000.000.Manfaat kegiatan pertambangan bijih besi no 1 2 3.000.

sulfur (S) dari 0.7222583 Fax.2675mL/g.MINYAK SINTETIK DARI PENCAIRAN BATUBARA DAN PENINGKATAN MUTUNYA SEBAGAI BAHAN BAKAR Muh Kurniawan1. peningkatan mutu.9664 menjadi 0.30 menjadi 1. Kata kunci : minyak sintetik. Sudirman 623 Bandung 40211 Telp.3 % menjadi 80.esdm. Watson dan Murphy). Perolehan distilasi menunjukkan minyak sintetik ini lebih tepat diarahkan untuk menjadi solar berkadar sekitar 65 % berat. 022 . Hidrotreating dilakukan terhadap fraksi solar ringan 180-300°C dengan katalis NiMo/Al2O3 tersebut pada alat autoclave pada tiga kondisi perbandingan hidrogen dan umpan. dan kadar sulfur setelah presulfiding 6 %-wt. kadar karbon dari 87.6003373 e-mail : ninings@tekmira.6030483 Fax. Jakarta Selatan 12230 Telp.079 % menjadi 0. serta kenaikan rasio molar hidrogen/karbon (H/C) dari 1. 022 .9247.7226011 2) Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl.75. serta tergolong sebagai naftenik-naftenik menurut klasifikasi US Bureau of Mines. volume pori 0. luas permukaan 109. Tujuan penelitian ini adalah adalah mengkarakterisasi minyak hasil pencairan batubara. Batubara cair (synthetic crude) yang dihasilkan tersebut mirip dengan minyak bumi yang masih perlu diolah dan ditingkatkan mutunya agar memenuhi syarat sebagai bahan bakar minyak. Novie Ardhyarini1. Leni Herlina1.82 %.35 m2/ g. Produk hidrotreating fraksi solar minyak sintetik tersebut mempunyai rasio hidrogen/karbon yang diperoleh tersebut masih belum mendekati rasio hidrogen/karbon solar dari minyak bumi yaitu sebesar 1.go. serta meningkatkan mutunya agar dapat memenuhi kriteria sebagai bahan bakar setara dengan bahan bakar dari minyak bumi.id SARI Teknologi pencairan batubara telah dikembangkan oleh Puslitbang Tekmira. Jend.17 %. Cipulir-Kebayoran Lama. 021 . Untuk itu penelitian ini akan dilanjutkan dengan mengoptimalkan kondisi operasi hidrotreating dan komposisi katalisnya. Dalam penelitian ini telah dipreparasi katalis monofungsional Ni-Mo/Al2O3 dengan konsentrasi Ni dan Mo masing-masing 3 dan 12%. Kondisi HDT-3 yang perbandingan hidrogen terhadap umpan paling besar memberikan hasil yang paling baik yaitu penurunan spesific gravity dari 0. hidrotreating 204 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . kadar nitrogen dari 0. Minyak sintetik merupakan minyak yang berat dan termasuk klasifikasi aromatik menurut kriteria UOP (Nelson. Nining Sudini Ningrum2 1) Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi (LEMIGAS) Jl. 021 .42.58 % menjadi 0.016 %. Ciledug Raya Kav 109.

and classified as naphthenic-naphthenic according to US Bureau of Mines (Lane-Garton)..9664 to 0.079 % to 0. surface area of 109. this experiment will be followed up by optimizing the operating conditions of hydro-treating and the catalyst composition. Muh Kurniawan. For this reason. dan pengujian Reid Vapor Pressure (RVP) dengan ASTM D-323(ASTM. The hydrogen/carbon (H/C) ratio of this hydro-treated gasoil is still lower than that of petroleum gasoil. and sulfur content of 6 %-wt (after presulfiding). It is observed from the decreasing of spesific gravity from 0. dalam penelitian ini dilakukan karakterisasi batubara cair. dkk. Minyak Sintetik dari Pencairan Batubara dan Peningkatan Mutunya . proses fraksinasi.. Karakterisasi fraksi batubara cair. PENDAHULUAN Keterbatasan cadangan minyak bumi mendorong berbagai upaya untuk menemukan energi alternatif. 205 . classified as aromatic oil according to UOP ((Nelson. and increasing of hidrogen/karbon (H/C) molar ratio from 1.2675mL/g. which is 1.ABSTRACT Coal liquefaction technology have been developed by Puslitbang Tekmira. carbon content from 87.3 % to 80. nitrogen content from 0. Untuk pengujian spesific gravity dilakukan dengan metode IP 189-190. untuk viskositas kinematis digunakan metode ASTM D-445. Having 65%wt of distillation yield at 180-350°C. Sehubungan dengan cadangan batubara nasional cukup besar maka pencairan batubara secara langsung merupakan salah satu peluang yang dapat menggantikan peranan minyak bumi sebagai bahan bakar cair untuk mesin transportasi dan industri.75. preparasi katalis Ni-Mo/Al2O3 dan penelitian hidrotreating terhadap fraksi solar dari batubara cair tersebut. Peningkatan mutu batubara cair tersebut dengan proses hidrotreating diteliti oleh PPPTMGB ”Lemigas”. Proses fraksinasi dilakukan dengan distilasi True Boiling Point (TBP) menurut metode ASTM D2892.2005). 2.35 m2/g. untuk pengujian titik nyala digunakan metode PMCC ASTM D-93. Hydro-treating experiment is conducted on light gasoil fraction (180-300°C) by using autoclave reactor and Ni-Mo/Al2O3 catalyst. hydro-treating 1. Untuk itu.016 %.42. that is necessary to be refined and upgraded to meet fuel specification. HDT-3 condition with largest H2/feed ratio gave the best result. The purpose of this work is charaterizing synthetic crude and upgrading its quality to meet fuel criteria equivalent to conventional petroleum fuel. The catalyst is a mono-functional Ni-Mo/Al2O3 catalyst having Ni and Mo concentration of 3 and 12%wt respectively. sulphur content from 0.82 %. resulting a liquefied coal or synthetic crude oil. pore volume of 0. PERCOBAAN Karakterisasi sifat-sifat fisika batubara cair (synthetic crude) dilakukan menurut metode yang lazim dilakukan untuk minyak bumi.The experiment is conducted in three different conditions of hydrogen to feed ratio. Temperatur ini setara dengan rentang temperatur pada distilasi hempel yang digunakan untuk pengklasifikasian hidrokarbon menurut LaneGarton(Riazi. this synthetic crude is suitable to produce gasoil. Watson dan Murphy). quality upgraded. Pada distilasi ini juga dilakukan pemotongan fraksi pada rentang temperatur 250-275°C dan 391419°C. The synthetic crude is similar to petroleum crude oil.58 % to 0. preparasi katalis Ni-Mo/Al2O3 dan penelitian hidrotreating fraksi batubara cair akan disajikan pada makalah ini. The synthetic crude is a heavy oil.9247. Proses pencairan dinilai sesuai untuk meningkatkan nilai tambah batubara Indonesia yang sebagian besar bermutu rendah. Tujuan penelitian ini adalah mengkarakterisasi cairan hasil pencairan batubara. serta meningkatkan mutunya agar dapat memenuhi kriteria sebagai bahan bakar setara dengan bahan bakar cair dari minyak bumi. Keywords: synthetic crude oil.17 %. Batubara cair (synthetic crude) yang dihasilkan identik dengan minyak bumi sehingga masih perlu diolah dan ditingkatkan mutunya agar memenuhi persyaratan sebagai bahan bakar minyak.30 to 1. 2005). Penelitian pencairan batubara telah dikembangkan oleh PPP-Tekmira Bandung.

1. waktu reaksi. Minyak sintetik ini mempunyai spesific gravity (SG) 1. (Gambar 1). HASIL DAN DISKUSI 3. Secara keseluruhan. Sebanyak 40 gram katalis disulfurisasi dengan 18. Nilai K-UOP sebasar 9. Gambar 1. Suhu operasi presulfiding adalah 300°C selama 200 menit dengan tekanan awal gas hidrogen 40 bar. disajikan pada Tabel 1. Adapun perbandingan katalis terhadap umpan dibuat tetap sebesar 10% berat.Katalis hidrotreating monofungsional Ni-Mo/Al2O3 dipreparasi dengan mengimpregnasi support alumina (Al2O3) dengan inti logam nikel dari garam nitrat dan logam molibdenum dari amonium molibdat. Hydrogen. Suhu. Nitrogen. Kondisi operasi hidrotreating Parameter Umpan Katalis Tekanan Suhu Waktu Vol. 2005).04 dan °API 4.6. Reaktor yang digunakan adalah autoclave bervolume 500mL yang juga akan dipakai untuk penelitian hidrotreating.4 menempatkan minyak sintetik ke dalam klasifikasi aromatik menurut kriteria UOP (Nelson. Hasil ini terlihat juga pada kurva distilasi TBP dalam Gambar 2. Watson dan Murphy). Viskositas kinematik minyak sintetik ini berkisar pada 5 cSt dan pour point-nya di bawah nol celsius sehingga tidak memerlukan perlakuan khusus pada suhu ruang. Sementara itu. ketiga kondisi operasi 206 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . serta kadar sulfur 6 % berat dari presulfiding(Kokayeff.5 gram dimetil disulfida dengan pelarut solar komersial sebanyak 200mL. Dua sifat penguapan yaitu Reid Vapor Pressure (RVP) sebesar 0 psi dan flash point di atas 100°C menunjukkan bahwa kadar fraksi ringan dalam batubara cair ini sedikit. H2 Satuan mL gr Bar oC Menit mL HDT-1 HDT-2 HDT-3 250 25 40 390 80 250 100 10 40 390 80 400 50 5 40 390 80 450 3. termasuk kategori minyak berat dalam klasifikasi yang lazim diterapkan dalam minyak bumi konvensional. Setelah impregnasi dilanjutkan dengan kalsinasi pada suhu 400°C selama 4 jam. 2004). dan tekanan awal juga tetap untuk ketiga kondisi. 2005). hasil pengukuran °API pada fraksi distilat 250-275°C dan 391-419C menggolongkan karakteristik minyak sintetik ini sebagai NaftenikNaftenik menurut Lane-Garton. Produk reaksi hidrotreating fraksi (180-3000C) minyak sintetik kemudian dikarakterisasi sifat fisikanya antara lain spesific gravity dan viskositas kinematik. Reaktor yang digunakan adalah autoclave dengan kapasitas 500 mL. Tabel 1. Sulfur-Oxygen Analyzer) (Bhattacharryya. Proses hidrotreating dilakukan terhadap fraksi 180300°C dari minyak sintetik dengan katalis monofungsional Ni-Mo/Al 2 O 3 yang telah dipresulfiding. Karakteristik Batubara cair Hasil karakterisasi batubara cair dapat dilihat pada Tabel 2. Komposisi katalis hidrotreating adalah kadar nikel dan molibdenum masing-masing sebesar 3 dan 12 % berat. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa minyak hasil pencairan batubara ini mengandung banyak senyawa aromatik (Riazi. Autoclave Pada penelitian ini dilakukan tiga kondisi operasi hidrotreating dengan memvariasikan perbandingan jumlah umpan dengan gas hidrogen. Sistem pengadukan adalah horizontal shaking dengan kecepatan 37-150 rpm dan jarak pengadukan 100mm. Komposisi kimia ditentukan dengan alat CHNS-O Analyzer (Carbon.

Kurva kemudian terlihat mendatar pada rentang 250 sampai 350°C. 2005). dan kadar sulfur katalis mendekati karakteristik katalis hidrotreating komersial (Tabel 3) (Bhattacharryya. yaitu warna produk menjadi lebih terang. HDT-2. Muh Kurniawan.Tabel 2. fraksi yang diperoleh hanya sekitar 0. dkk.040 4. Dari ketiga kondisi tersebut. maka dilakukan penelitian untuk peningkatan mutunyadengan proses hidrotreating.354 -20 105 0. volume pori. Umpan HDT-1 HDT-2 HDT-3 Gambar 3.2. Fraksi berat di atas 350°C hingga titik didih akhir pada 520°C diperoleh sekitar 30% berat. Sehubungan dengan fraksi solar (180-300°C) yang diperoleh ini berkadar aromatik tinggi. Tabel 3.5% berat. yang menunjukkan perolehan fraksi solar yang paling besar yaitu sekitar 65% berat. luas permukaan. dengan menyisakan residu sekitar 4% berat.796 3. Kurva distilasi TBP batubara Cair Kurva ini memberikan gambaran titik didih awal (IBP) yang relatif tinggi yaitu di atas 150°C. Sampai dengan suhu 180°C.1982). dan HDT-3 Ketiga produk hidrotreating tersebut menunjukkan perubahan warna dibandingkan dengan umpannya. Secara visual. 207 .0 12. yaitu HDT-1. HDT-2 dan HDT-3 berturut-turut memiliki rasio H2 terhadap umpan semakin besar. Karakteristik Katalis Hidrotreating Parameter Konsentrasi : . yaitu konsentrasi Ni-Mo.0 9. Minyak Sintetik dari Pencairan Batubara dan Peningkatan Mutunya .4 NaftenikNaftenik Karakteristik katalis hidrotreating yang telah dipreparasi secara laboratorium.. minyak sintetik tersebut cukup baik diarahkan untuk pembuatan gasoil. Berdasarkan kurva distilasi TBP.268 5.6 5. dengan perolehan sekitar 65% dari total minyak sintetik. di mana kondisi HDT-3 memberikan hasil yang paling baik (Tabel 4) (Armstrong. hasil percobaan hidrotreating dengan ketiga kondisi dapat dilihat pada Gambar 3. Karakteristik batubara cair Parameter Spesific Gravity 60/60°F °API Viskositas Kinematik @ 100°F @ 140°F Titik Tuang Flash Point PMCC Reid Vapor Pressure K-UOP Karakteristik Lane-Garton Satuan — — cSt °C °C Psi — — Nilai 1. Gambar 2.Ni .3 0..513 4.Mo Luas Permukaan Volume Pori Kadar Sulfur Satuan %-wt %-wt m2/g mL/g %-wt Nilai 3. Umpan dan produk percobaan hidrtrotreating dengan kondisi HDT-1. Proses Hidrotreating Proses hidrotreating dilakukan pada tiga kondisi sebagaimana ditampilkan pada Tabel 1.0 109.

75.9247.17 0. 1982. Werner Doehler and Ulrich Graeser.47 0. ASTM. dengan penurunan spesific gravity dari 0. sulfur (S) dari 0.016 %. Anup K. M. Handbook Of Petroleum Refining Processes 3rd Ed.82 %berat. Study of single-stage treated products for transport fuel use.725 0.75.17 %. Untuk memperoleh rasio hidrogen/karbon setara solar dari minyak bumi yaitu sebesar 1. 1051-1057. Malvina Farcasiu. “ Chapter 8. 1982) %. 2005 Armstrong P. 4. Jankowski A. Hasil percobaan hidrotreating terhadap fraksi solar ringan 180-300C menunjukkan perbaikan karakteristik produk solar tersebut. (2004).Tabel 4. Rudnick. 61. maka proses hidrotreating fraksi 180-300°C tersebut masih perlu ditingkatkan kondisi operasinya dengan pengoptimalan komposisi katalis.. dan adanya kenaikan rasio hidrogen/karbon (H/C) dari 1. Upgrading of syncrude from coal. vol.079 % menjadi 0. maka proses penghidromurnian fraksi 180-300oC berkadar aromatik besar tersebut masih perlu ditingkatkan kondisi operasinya dengan pengoptimalan komposisi katalis (Whitehurst. KESIMPULAN Batubara cair ini tergolong minyak berat dengan klasifikasi aromatik menurut kriteria UOP (Nelson.71 1. Watson dan Murphy). Vol 05.02.0 % berat pada tiga jenis kondisi operasi menunjukkan peningkatan mutu fraksi 180-300oC tersebut dengan diamatinya penurunan karakteristik produk hidrotreating yaitu antara lain: spesific gravity dari 0. Karakterisasi produk hidrotreating Parameter Kinematik Visc. Catalysis in Petroleum and Petrochemical Industries..9574 84. 1982 dan Jankowski.9365 86. 1982.9247 80.67 9.16 %berat. Minyak sintetik ini mengandung fraksi solar (180300°C) sebesar 30% berkadar aromatik tinggi.9664 87.82 208 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Bhattacharryya K.41 0.58 % menjadi 0.027 5.42 Hasil penelitian proses penghidromurnian fraksi 180 – 300oC dari minyak sintetik dengan bantuan katalis Ni-Mo/Al2O3 dengan kadar sulfur 6. 2005 Whitehurst D. 1. Fuel. Narosa Publishing House.53 9. Butrill Jr. DAFTAR PUSTAKA Annual Book of ASTM Standards. Rasio H/C Umpan 5.58 0. George A. serta tergolong sebagai Naftenik-Naftenik menurut klasifikasi Lane-Garton. Fuel. Sidney E. kadar karbon (C) dari 87. India. nitrogen (N) dari 0.30 0. di mana HDT3 memberikan hasil yang paling baik. Untuk memperoleh rasio hidrogen/karbon (H/C) setara solar dari minyak bumi yaitu H/C = 1.32 0.97 0. 2005. Talukdar. (40oC) SG 60/60 Carbon (%-wt) Hidrogen (%-wt) Nitrogen (%-wt) Sulfur (%-wt) Oksigen. New characterization techniques for coal-derived liquids.17 %berat sulfur (S) dari 0.316 0.82 9.G.079 %berat menjadi 0.30 menjadi 1.03 1.026 3. by diff. kadar karbon (C) dari 87. 61.30 menjadi 1. Francis J. Characterzation and Properties of Petroleum Fractions.320 0.32 HDT-2 3. 1032-1037 Kokayeff.31-8.30 HDT-1 3.9664 menjadi 0. 8.016 9.57 0. vol.42..41 Riazi.9247.3 UOP Uniofining Technology”. R. Derbyshire. kadar nitrogen dari 0. Duayne.. 1982.3 % menjadi 80..961 0..30 9. vol 61.079 2.42 1. P.38 HDT-3 2.58 %berat menjadi 0. serta kenaikan rasio hidrogen/karbon (H/C) dari 1. Hydro-treating coal-derived liquid distillation fractions.42.3 %berat menjadi 80. Odoerfer and Leslie R.9664 menjadi 0.56 1. Fuel.

BAHAN BAKAR MINYAK SINTETIK DARI PENCAIRAN BATUBARA A.7226011 ** Pusat Teknologi Penelitian dan Pengembangan Mineral dan Batubara Jl.075 juta barel/hari sedangkan produksi nasional hanya sekitar 0. teknologi dari Jepang atau secara tidak langsung (indirect coal liquefaction) yaitu coal to liquid technology (CTL) teknologi CTL-SASOL.6003373 e-mail : huda@tekmira. Produk minyak sintetik dari proses pencairan batubara dapat ditingkatkan dengan pengembangan katalis dan optimalisasi kondisi operasi. Jend. A.esdm. melalui proses Ficsher-Tropsch gas sintes (CO + H2) dari produk gasifikasi batubara (bituminous coal). 209 .id. Leni Herlina* dan Nining Sudini Ningrum** * Pusat Teknologi Penelitian dan Pengembangan Minyak dan Gas Bumi (LEMIGAS) Jl. Nasution*.756 billions ton in the 2008 and the part of this coal can be converted into synthetic crude to substituted the imported crude oil. ninings@tekmira.esdm. Miftahul Huda**. Coal liquefaction by BCL and Ficher-Tropsch processes into the synthetic crudes and their conversion into the synthetic fuel oil.go. will be discussed briefly in this paper.S. coal liquefaction and Fischer-Tropcsh processes.75 juta barel/hari dan kekuranganya masih diimport. Bahan Bakar Minyak Sintetik dari Pencairan Batubara.756 milliar ton yang sebagian dapat dikonversi menjadi minyak sintetik untuk mensubtitusi minyak mentah import tersebut. Cipulir-Kebayoran Lama. Minyak sintetik tersebut dapat diolah menjadi bahan bakar minyak sintetik dengan proses katalitik pada kilang minyak bumi. Pencairan batubara menjadi minyak sintetik dapat dilakukan secara langsung (direct coal liquefaction) yaitu Brown Coal Liquefaction (BCL) dan NEDOL. Key words: synthetic fuel oil. Afrika Selatan. This synthetic crude can be converted into the synthetic fuel oil by catalytic process of the petroleum refinery. Nasution. 022 .id SARI Indonesia mengolah minyak mentah adalah sebesar 1. National coal reserves are about of 104. such as brown coal liquefaction (BCL) and NEDOL aJapan’s technology. Kata kunci: minyak sintetik. 022 . The synthetic crude of this coal liquefaction can be increased by the catalyst developments and the optimum of the operating conditions of the coal liquefaction processes.75 million barrels/day and plus the imported crude oil.go. 021 . Cadangan batubara Nasional pada tahun 2008 adalah sebesar 104. Sudirman 623 Bandung 40211 Telp. Proses pencairan batubara menjadi minyak sintetik dengan proses BCL dan Ficsher-Tropsch serta pengolahan minyak sintetik tersebut menjadi bahan bakar minyak sintetik akan dibahas dalam makalah ini. Coal liquefaction into the synthetic crude can be direct coal liquefaction.7222583 Fax. Jakarta Selatan 12230 Telp. dkk.075 million barrels/day of the crude oils. supplied by national production of about 0. pencairan batubara dan proses Fischer-Tropcsh ABTSRACT Indonesia’s petroleum refinery processes is about 1. Ciledug Raya Kav 109. Abdul Haris*. or indirect coal liquefaction or coal to liquid technology (CTL) such as CTL technology of SASOL in South Africa over Fischer Tropsch processes of syn-gas (CO+H2) from gasification of bituminous coal. 021 .S.6030483 Fax.

2006). PENDAHULUAN Indonesia mengolah minyak mentah sebesar 1. vehicle solvent. 2.1. yang sebagian batubara tersebut dapat dicairkan menjadi minyak sitentik untuk mensubtitusi minyak mentah impor tersebut. N. Proses Fischer-Tropsch adalah suatu reductive polymerization reaction yang mengkonversi gas sintesis (CO + H2) menjadi produk utama hidrokarbon normal parafin dan normal olefin dengan bantuan katalis (Charles. tanpa tahun).75 juta barel/hari dan kekuranganya masih diimport (Dirjen Migas. seperti terlihat pada Gambar 1 (Sukardjo.756 milliar ton pada tahun 2008 dengan jenis low rank coal sekitar 60 % dari total cadangan. Umpan proses hidrogenasi batubara adalah suatu suspensi dari campuran: batubara.Satterfield. tanpa tahun) Pembentukan produk minyak sintetik dari proses pencairan batubara (proses BCL dan proses   Pencairan Batubara dan Rantai Pasokan BBM  Impor Crude Oil  Impor BBM  Crude Oil  CSO  Batubara Indonesia  pada berbagai lokasi  Kilang Minyak  BBM  Untuk domestik  Pencairan Batubara  BBM  Untuk Ekspor  Masuknya CSO dalam rantai pasokan BBM terutama akan berdampak positif  dalam penyediaan BBM domestic dan mengurangi impor  Gambar 1. yang dimasukan ke dalam slurry reactor di mana molekul batubara direngkah menjadi produk minyak sintentik. yaitu brown coal liquefaction (BCL) dan NEDOL yang merupakan teknologi Jepang melalui proses hidrogenasi batubara yang hidrogennya dari produk gasifikasi batubara.075 juta barel/hari di mana produksi nasional hanya sekitar 0.2006. hydrogen donating. yaitu antara lain brown coal liquefaction (BCL) oleh Teknologi Jepang 210 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Pencairan Batubara Pencairan batubara menjadi minyak sintetik dapat dilakukan secara langsung ( direct coal liquefaction) yang masih dalam taraf demonstration plant. Jeffey Mulyono. Fischer-Tropsch) dengan berbagai jenis katalis dan pengolahan minyak sintetik tersebut menjadi bahan bakar minyak sintentik akan disajikan dalam makalah ini. Sedang pencairan batubara secara tak langsung (indirect coal liquefaction) atau coal to liquid technology (CTL) merupakan teknologi CTL SASOL telah dioperasikan sejak tahun 1950 di Afrika Selatan. melalui proses Fischer Tropsch gas sistesis ( CO + H2) dari produk gasifikasi batubara (bituminous coal) (Supriyadi. 2006). katalis. hidrogen. PENCAIRAN BATUBARA MENJADI MINYAK SINTETIK Pencairan batubara menjadi minyak sintetik terdiri atas dua jenis proses berikut : Proses pencairan batubara secara langsung ( direct coal liquefaction). Cadangan batubara nasional cukup besar yaitu sekitar 104.

C*n H2n + 1 C*x H2x + 1 + CYH2Y di mana n = x + y Pengabungan radikal-radikal besar menjadi molekul yang kompleks (kokas). atau dapat juga terbentuk dari gas hidrogen dengan bantuan katalis.P. Konversi Batubara Stabilisasi radikal-radikal tersebut dengan beberapa reaksi radikal adalah berikut (Charles N. 1994. Proses pencairan batubara secara tak langsung (indirect coal liquefaction) melalui proses Fischer Tropsch gas sintes ( CO+ H2) dari produk gasifikasi batubara (bitumineous coal) atau Coal to Liguid Technology. 1985). Gambar 3. 2002).S.. 2002. oleh teknologi CTL-SASOL di Afrika Selatan yang telah beroprasi sejak tahun 1955. preasphaltene menjadi radikal kecil yang lebih stabil seperti minyak sintetik dan olefin.V. R*1 + R*2 R1 R2 Produk minyak sintetik dari proses pencairan batubara dengan hydrogen donating saja tanpa katalis diamati menurun secara cepat dengan waktu reaksi. Satterfield... Bahan Bakar Minyak Sintetik dari Pencairan Batubara. dkk. Kelvin. hydrogen donating.S. seperti FeS2 dapat mengaktifkan kembali hydrogen donating yang telah melepaskan radikal hydrogennya dengan reaksi hidrogenasi.. A.V. dkk. Staker. sehingga proses pencairannya dapat menghasilkan perolehan minyak sintetik tinggi. K. Model Molekul Zat Organik Batubara Umpan batubara pada proses hidrogenasi batubara muda ini dalam bentuk suspensi yaitu suatu campuran dari : bubuk batubara < 60 mesh. 1994). preasphaltene. tanpa tahun): Radikal bergabung dengan radikal hidrogen ( H*) yang dihasilakan dari hidrogen donating tanpa atau dengan bantuan katalis. 211 . dkk. 2. dan oil (minyak sintetik) seperti terlihat pada Gambar 3 (Charles N. hal ini diperkirakan karena keterbatasannya dalam pelepasan radikal hydrogen tersebut (R. katalis sub-micron. Mula-mula molekul batubara akan pecah secara termal menjadi beberapa jenis molekul radikal ( R*=C* n H2n + 1) seperti asphaltene. Nasution. dkk.melalui proses hidrogenasi batubara yang masih dalam taraf demonstration plant. N. serta mengandung grup aromatik dengan berat molekul relatif rendah.. tanpa tahun. Proses Hidrogenasi Batubara Batubara muda (low-rank coal) mengandung kadar oksigen tinggi dengan banyak grup fungsional berantai yang sangat reaktif mudah pecah oleh panas. R. Staker. 2002). Kelvin. Pemutusan ikatan karbon di antara dua cincin aromatik dengan radikal hidrogen baik yang berasal dari hydrogen donating maupun yang berasal dari gas hidrogen dengan bantuan katalis Gambar 2. hidrogen dan vehicle solvent dimasukan ke dalam suatu slurry reactor. Satterfield. dkk. Hertan. R* + H* RH Perengkahan lanjut dari radikal-radikal besar seperti asphaltene. dan juga dapat mempercepat terbentuknya radikal hidrogen dari gas hidrogen (Takau.P. K. Nasution.1. Gas hidrogen yang dipakai pada proses pencairan batubara ini diperoleh dari produk gasifikasi batubara seperti terlihat pada Gambar 2 (Takao. A. Proses pencairan batubara dengan memakai katalis monofungsional berinti aktif logam. Peter A. N.

2002. 1985). Kelvin. Wolk.P. K. yang akan 212 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .. N. Proses Fischer-Tropsch Gas Sintes (CO + H2) Proses Fischer-Tropsch dengan memakai katalis konvensional monofungsional Fe atau Co berinti aktif logam saja. 1979). Hertan. 1994. tanpa tahun). Keasaman katalis.2. Satterfield. J.. sehingga kadar hidrokarbon poliaromatik (rasio atom C/H) dari produk minyak sintetik tersebut diamati relatif lebih tinggi dari pada fraksi yang di kandung oleh minyak bumi (Takau. m mol/g. tanpa tahun). Pengaruh vehicle solvent pada perolehan produk minyak sintetik disajikan pada Gambar 5 (Peter A. Satterfield. Gambar 4.F Lepage.Tropsch yaitu katalis bifungsional berinti dua jenis aktif (logam dan asam) yaitu antara lain Fe/Ziolit dan Co/Al2O3 SiO2 akan mengkonversi senyawa olefin-1 menjadi olefin-2 melalui senyawa antara molekul ion karbonium (R+) yang lebih sulit berpolimerisasi menjadi produk normal hidrokarbon panjang +H+ C=C–C–C +C Vehicle solvent dapat menaikan kelarutan dan pendispersian bubuk batubara di dalam suspensi umpan. maf monofungsional tersebut cukup sulit.. dkk. 102 Gambar 5. akan mengkonversi gas sintes melalui suatu reductive polymerijation reaction menjadi produk utama normal hidrokarbon parafin dan normal olefin dengan sedikit produk samping senyawa organik oksigen seperti alkohol (Charles N. kat . dkk. dan juga solvent tersebut dapat menghambat terjadinya pengabungan (repolymerization) antara radikalradikal besar menjadi molekul besar (kokas). Pengaruh Keasaman Katalis Pada Minyak Sintetik 2. Pengaruh chain probability factor (α) adalah (α) : rp / rp + rt (rp dan rt = laju propogasi dan terminasi) pada distribusi produk utama hidrokarbon (minyak sintetik) tersebut disajikan pada Gambar 6 (Charles N. -H+ –C–C–C C–C=C–C Ion karbonium beratom karbon C ³ 6 dapat membentuk ion karbonium siklis. sehingga percampuran antara molekul batubara dengan katalis akan meningkat.V. 1987). Ronald H. Staker.Katalis bifungsional berinti aktif logam dan asam. Minyak sintetik. seperti Ni-Mo/Al2O3-SiO2 dapat memecah cincin poliaromatik dari produk minyak sintetik tersebut melalui pembentukan senyawa antara ion karbonium ( R+) dengan bantuan inti aktif asam katalis baik Lewis maupun Bronsted seperti halnya pada proses hidrorengkah fraksi minyak bumi seperti terlihat pada Gambar 4 (R. Reaksi hidrokonversi Modifikasi katalis Fischer .

Proses-proses katalitik yang dioperasikan Fraksi mol realtif Jumlah atom karbon Catatan : a. Satterfield.S. Co/silica b.Gambar 6. Ronald H. Co (2)/alumina silica Gambar 7. BAHAN BAKAR MINYAK SINTETIK C6H12 C6H13 + Proses Fischer-Tropsch gas sintesa dengan katalis bifungsional dapat menghasilkan produk utama berkadar banyak iso-olefin rendah (C 4 – C 7) dengan sedikit produk samping metana seperti terlihat pada Gambar 7 dan Tabel 1(R. dkk. Kelvin. Fisher. Co(1)/alumina silica dan c. 1987). 1994. Minyak sintetik dari pencairan batubara secara langsung mengandung banyak hidrokarbon aromatik sehingga pengolahan fraksi berat minyak sintetiknya menjadi produk solar memerlukan proses hidropemurnian tinggi atau proses hidrorengkah.V. Bensin dan solar diperoleh dari masing-masing fraksi ringan dan fraksi berat dari fraksi minyak sintetik tersebut dengan bantuan proses – proses katalitik seperti terlihat pada Tabel 2 (Charles N. Nasution. Staker.F Lepage. Pengaruh Alfa Pada Prosentase Produk terkonversi menjadi hidrokarbon aromatik yaitu : +H+ +H+ 3. J.. Hildebrand. N. 1979). A. 213 .P. Richard E. tanpa tahun. Hubungan antara jumlah atom karbon pada fraksi mol relatif Bahan Bakar Minyak Sintetik dari Pencairan Batubara.

350 °C Fraksi Berat > 350 °C 214 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . yaitu: bergabung Tabel 2. Pembuatan Bahan Bakar Minyak Sintetik Umpan Proses Katalistik/Produk Dimerisasi/Dimer Isomerisasi/Isomerat Reforming/Reformat Hidrotreating/Kerosin + Solar Hidrorengkah/Kerosin + Solar H2SO4. HF Bifungsional Pt pada Al2O2-Cl atau zeolit Bifungsional Pt/Rh atau Pt/Sn pada Al2O2-Cl Monofungsional Ni/Mo atau Ni/W pada Al2O2 Bifungsional Ni/Mo atau Ni/W pada Al2O2-SiO2 atau zeolit Katalis Fraksi Gas Olefin C2/C4 Fraksi Nafta Ringan C5/C6 Fraksi Nafta Berat C7 .Tabel 1.180 °C Fraksi Sedang 180 . Produk Minyak Sintetik Dengan Katalis Fe/Zeolit Pengaruh Kadar MnO Pada Katalis Fe-MnO/Zeolit pada kilang minyak yaitu: Dimerisasi fraksi gas (C3 / C4) Isomerisasi fraksi nafta ringan (C5 / C6 ) Reformasi fraksi nafta berat (C7 – 180o ) Hidrotreating fraksi berat (180o – 350o C ) Hidrorengkah fraksi berat (>350o C) Mekanisme reaksi dari proses katalitik tersebut (kecuali proses hydrotreating) membentuk senyawa antara ion karbonium (R +) dengan bantuan inti aktif asam dari katalis bifungsional (kecuali proses dimerisasi) yang kemudian masing-masing bereaksi.

PENUTUP Minyak sintetik dari proses pencairan batubara secara langsung ( direct coal liquefaction) atau secara tak langsung (indirect coal liquefaction) dapat dikonversi menjadi bahan bakar minyak sintetik setara bensin. 4. dan pecah (hidrorengkah) menjadi produk – produk utamanya seperti terlihat pada Gambar 8. Minyak sintetik dari proses pencairan batubara dapat meningkatkan pemanfaatan potensi batubara dan juga mensubtitusi sebagian impor minyak mentah dan bahan bakar minyak. 215 . siklisasi (reforming).dan Gambar 9 (J.F Lepage. A. kerosin dan solar dengan memakai proses – proses katalitik yang dioperasikan di kilang minyak bumi. 1987). Gambar 9. dkk. Reaksi Hidrokonversi Parafin Bahan Bakar Minyak Sintetik dari Pencairan Batubara. Proses katalitik memegang peranan penting pada pencairan batubara dan konversi minyak sintetik tersebut menjadi bahan bakar minyak sintetik.Gambar 8. Nasution. isomerisasi. Mekanisme Reaksi Dengan Katalis Bifungsional (dimerisasi).S.

Supriyadi. Wolk. W. Penyedian dan Kebutuhan Batubara untuk Bahan Baku Pencairan Batubara.335. Jakarta 13 Januari 2006. Synthetic Gas And Associated Processes Pp 419-470. Kelvin. Satterfield. Seminar Nasional Penciran Batubara Ladang Minyak Masa Depan. Katalis Limonite Soroako Pada Prosese Pencairan Batubara Banko. Symposium Paper. Advances in Coal Utilization Technology.P. Takau kaneko And Eiichiro Makito. R.Respons Of Oil Yields To Process Conditions. Okuyama And Masaaki Tamura. Nasution. Production Of Lube-Oil Blending Stock Through Hydrotreating. 2th Heterogeneous Catalysis Industrial Practice. Peter A. (273-290). (331343) Symposium Paper. 1994 Elservier Science B. Edition Technip. Ronald H. Hildebrand. pp. Overview of Liquefaction Process Technology. hydrogenation Characteristics Of Australian Coals. pp 435-466 Applied Heterogeneous Catalysis. Vol 64. Seminar Nasional Pencairan Batubara “Ladang Minyak Masa Depan”. Deputi Menko Perekonomian Kebijakan Pemerintah Dalam Program Aksi Pencairan Batubara. Liquefaction Of Banko Coal With Limonite Catalyst. Seminar Nasional Penciran Batubara Ladang Minyak Masa Depan. Kentucky. Jakarta 13 Januari 2006. Jeffey Mulyono. Oberlin Sidjabat. Sukardjo. New York.DAFAR PUSTAKA Direktorat Jenderal Minyak Dan Gas Bumi Kebijakan Dan Kebutuhan Bahan Bakar. Satoru Sugita. Staker and N. Jakarta 22 Februari 2002. 1979. Seminar Pencairan Batu Bara Banko Indonesia 2002. PP 1251-1254 Ronald H. Transportation Fuels Synthetic Gas. Fisher and Richard E. A. Jakarta 13 Januari 2006. Advances in Coal Utilization Technology. Paris 1987. Roy Jackson and Frank B. 1979. Jakarta 12 Desember 2002. 216 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Mc GrawHill I Nc. Sumber Daya Batubara Indonesia. Pusat Sumber Daya Geologi. (b3).F Lepage. Noriyuki. Lorkins. Charles N. J. Indonesian Japan Coal Liguefaction Seminar.S. hydrogenation of brown coal. Nining Sudiningrum Dan Chairil Anwar. Fuel.V. pp 16-19 Gas Conversion. Hertan. September 1985. Kentucky. pp 287.V. Ass.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful