P. 1
Prosiding Kolokium an 2009 (Pasir Kuarsa)

Prosiding Kolokium an 2009 (Pasir Kuarsa)

|Views: 292|Likes:
Published by Bayu Sayekti

More info:

Published by: Bayu Sayekti on May 31, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/08/2014

pdf

text

original

ISBN 978-979-8461-63-3

PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI MINERAL DAN BATUBARA
“Konstribusi Litbang Mineral dan Batubara

Dalam Mendukung Pelaksanaan Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara”

Bandung, 15 Juli 2009

Editor : Binarko Santoso Pramusanto I.G. Ngurah Ardha Husaini Datin Fatia Umar Darsa Permana Slamet Suprapto Tatang Wahyudi Retno Damayanti Fauzan

D M AN A SUMBERDAY

DEPARTEMEN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI MINERAL DAN BATUBARA 2009

IN

ER AL

I RG ENE

Hak Cipta / Penerbit

MIRA
Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. Jend. Sudirman No. 623, Bandung 40211 Telepon : 022 - 6030483, Fax : 022 - 6003373

Penasihat Kepala Badan Litbang ESDM Penanggung Jawab Kepala Puslitbang tekMIRA Panitia Pengarah Kuswandani, Suganal, Edwin Daranin R.M. Nendaryono, Siti Rochani Dewan Redaksi Binarko Santoso Staf Redaksi Doeto Poespojoedo, Umar Antana Bachtiar Efendi, Arie Aryansyah, Hatif Hidayat Moderator Datin Fatia Umar, Miftahul Huda, Edwin Daranin Yenny Sofaety, R.M. Nendaryono, Stefano Munir Notulis Kuswandani, Wiroto, Isyatun Rodliyah Sri Sugiarti, Dedi Yaskuri, Hasniati Artika Nuryadi Saleh

ISBN 978-979-8461-63-3 Hak cipta dilindungi oleh Undang-undang Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit

KATA PENGANTAR

Dalam rangka mensosialisasikan Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, yang menggantikan Undang-undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan, Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara (tekMIRA) telah menyelenggarakan Kolokium Pertambangan 2009 pada tanggal 15 Juli 2009, Kolokium yang bertemakan “Konstribusi Litbang Mineral dan Batubara Dalam Mendukung Pelaksanaan Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara”, dihadiri oleh para pejabat pemerintah di tingkat pusat dan daerah, pelaku usaha, para peneliti dan pejabat fungsional lainnya, mahasiswa serta masyarakat luas yang terkait dengan pengembangan pertambangan mineral dan batubara. Sebagai lembaga litbang di bidang teknologi mineral dan batubara, Puslitbang tekMIRA diharapkan dapat berperan secara aktif dalam meningkatkan nilai tambah mineral dan batubara sebagaimana amanat yang terkandung dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tersebut. Di samping itu, melalui kegiatan ini diharapkan pula dapat diperoleh masukan dari pelaku industri dan masyarakat pertambangan tentang posisi, peran, dan kontribusi litbang mineral dan batubara dalam menunjang pelaksanaan Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. Prosiding ini merupakan rangkuman dari seluruh makalah yang dipresentasikan dalam Kolokium, serta diharapkan dapat dijadikan salah satu rujukan mengenai perkembangan pertambangan, penelitian, dan kajian yang berhubungan dengan peningkatan nilai tambah mineral dan batubara. Melalui prosiding ini, siapapun dapat melihat sampai sejauhmana para peneliti Indonesia telah berkiprah dalam memajukan sektor pertambangan mineral dan batubara nasional. Dalam kesempatan ini kami menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak, baik perorangan, perusahan, instansi pemerintah, perguruan tinggi maupun seluruh pembicara dan peserta, atas pemikiran atau karya-karya terbaiknya, sehingga Prosiding ini memiliki nilai keilmiahan yang baik. Kami menyadari banyak kekurangan dalam penyusunan dan penerbitan Prosiding ini. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan penyusunan dan penerbitan Prosiding di masa yang akan datang.

Bandung, 15 Juli 2009

Tim Penyunting

PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009

i

Para Pejabat Eselon II di Lingkungan Departemen ESDM atau yang mewakilinya. Saudara-saudara Sekalian. Puji dan syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu Wata’alla. Saya menilai tema kolokium 2009 ini sebagai bentuk tanggung jawab Puslitbang tekMIRA untuk berperanserta dalam pelaksanaan Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009. Para Pejabat Eselon I di Lingkungan Departemen ESDM atau yang mewakilinya. Perlu dicatat pula. yaitu pemerintah.SAMBUTAN KEPALA BADAN LITBANG ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL PADA ACARA KOLOKIUM PUSLITBANG TEKNOLOGI MINERAL DAN BATUBARA BANDUNG. serta pasal 146 tentang kewajiban pemerintah dan pemerintah daerah untuk mendorong. Undangan dan Hadirin yang Berbahagia Assalamualaikum Warohmatullohi Wabarokatuh. Peserta Kolokium yang Saya Hormati. Kedua pasal tersebut merupakan spirit dan juga momentum yang akan lebih memacu kegiatan litbang mineral dan batubara di tanah air. saya minta kepada seluruh jajaran di Puslitbang tekMIRA untuk PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 ii . Tuhan Yang Maha Kuasa. 15 JULI 2009 Yang kami hormati. Penyelenggaraan kolokium di Puslitbang tekMIRA – dan juga Puslitbang lain di lingkungan Badan Litbang ESDM. Terkait dengan pemberlakuan Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009. melaksanakan. khususnya yang berhubungan dengan pasal 95 huruf c dan pasal 146. Kolokium Puslitbang tekMIRA kali ini bertemakan “Kontribusi Litbang Mineral dan Batubara Dalam Mendukung Pelaksanaan Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara”. dan masyarakat luas. Salam Sejahtera bagi Kita Semua. khususnya yang menyangkut isi pasal 95 huruf c tentang kewajiban perusahaan untuk meningkatkan nilai tambah mineral dan/atau batubara di dalam negeri. memang sudah menjadi agenda tahunan yang diharapkan dapat menampilkan karya yang bermanfaat bagi para pemangku kepentingan. dan/atau memfasilitasi pelaksanaan litbang mineral dan batubara. sekaligus menjadi stimulus bagi Puslitbang tekMIRA agar menghasilkan karya litbang yang lebih baik dan berbobot serta mampu bersaing dengan lembaga litbang sejenis. karena berkat perkenan-Nya kita dapat menghadiri acara Kolokium yang diselenggarakan oleh Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara (tekMIRA). Para Profesor Riset dan Pejabat Fungsional di Lingkungan Badan Litbang ESDM. kolokium di lembaga litbang akan menjadi tolok ukur sampai sejauhmana para peneliti dan pejabat fungsional kita lainnya mampu mengembangkan diri dalam upaya berkontribusi bagi kemajuan sektor ESDM di tanah air. industri. Selamat Pagi.

tidak saja memberikan kontribusi terhadap kemajuan bidang pertambangan mineral dan batubara. ke depan. Hal ini penting dilakukan sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan kemampuan Puslitbang tekMIRA menghadapi tantangan masa kini dan masa depan. dan dapat bersaing dengan para pakar di dalam negeri maupun di forum internasional. Keempat. peningkatan kerja sama dengan lembaga litbang lain. Seluruh kerja sama antara Puslitbang tekMIRA dengan pemangku kepentingan sudah seharusnya bersifat saling bermanfaat bagi kedua belah pihak. artinya peningkatan nilai tambah akan mengakibatkan suatu material bernilai lebih tinggi dan menguntungkan. dan hal-hal lain yang pada intinya dapat sarana untuk meningkatkan kemampuan mereka. apakah Puslitbang tekMIRA akan menjadi leader atau follower dalam industri mineral dan batubara di tanah air? Saya katakan bahwa Puslitbang tekMIRA mesti fokus pada keduanya. Untuk itu. tetapi. kerja sama tersebut harus dapat menghasilkan sesuatu yang tidak saja “menguntungkan” Puslitbang tekMIRA. Selain dengan pemerintah daerah. juga harus dapat memprediksi arah kecenderungan yang terjadi sebagai langkah antisipasi agar tidak berada pada kondisi status quo dan melaksanakan pekerjaan yang bersifat rutin atau business as usual. Dalam berbagai kesempatan. memerlukan percepatan regenerasi dan “transfer of knowledge”. Sebagai lembaga litbang. solusi yang dapat ditempuh adalah dengan membuka kesempatan kepada karyawan yunior untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Namun perlu saya garis bawahi. tingkatkan kualitas sumber daya manusia. tetapi juga kemakmuran bagi masyarakat. di sisi lain. Hal ini disebabkan antara lain oleh adanya kompetitor yang berharga lebih murah. Puslitbang tekMIRA harus berani memulai kegiatan litbang yang berorientasi pada peningkatan nilai tambah. Kesenjangan antara senior dengan yunior yang semakin melebar. bukan menara gading yang tidak tersentuh dengan melakukan penelitian sesuai keinginannya sendiri. Oleh karena itu. magang pada perusahaan besar. di satu sisi. mengikuti berbagai kursus atau pertemuan ilmiah. sehingga tidak terlalu sulit untuk meningkatkannya. Ketiga. Tetapi tidak selamanya peningkatan nilai tambah akan memberi keuntungan jika dijual ke pasaran. sebagaimana dialami oleh hampir seluruh instansi pemerintah. Dalam beberapa hal. Saya tahu Puslitbang tekMIRA telah lama melakukan hal itu. tetapi sekaligus menguntungkan jika dilempar ke pasaran. Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 yang bernuansa desentralisasi – artinya pengelolaan pertambangan mineral dan batubara berada di pemerintah daerah. mengharuskan kita untuk secara lebih intens menjalin kerja sama dengan mereka. serta untuk mengukur di mana posisi Puslitbang tekMIRA berada. fokus kepada litbang yang berorientasi pada peningkatan nilai tambah sekaligus memperhitungkan keekonomiannya. fokus kepada pemecahan permasalahan yang sedang dan kemungkinan akan dihadapi oleh industri pertambangan mineral dan batubara. perlu mendapat prioritas utama. Puslitbang tekMIRA harus dapat mengatasi permasalahan sebagai langkah penanggulangan. tetapi juga bermanfaat bagi pemerintah dan Daerah serta masyarakat pertambangan. tingkatkan kerja sama dengan pemangku kepentingan (stakeholders). atau daya serap pasar masih kecil dan tidak sebanding dengan biaya produksi. Puslitbang tekMIRA juga pasti merasakan kebijakan “zero growth” yang ditetapkan beberapa tahun yang lalu. iii PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Bagaimanapun keberadaan karyawan yunior ini merupakan modal dasar bagi eksistensi Puslitbang tekMIRA ke depan. saya yakin Puslitbang tekMIRA memiliki sumber daya manusia (SDM) yang telah mampu melaksanakan penelitian secara profesional. nilai tambah dan keekonomian selalu berjalan beriringan. Kedua. Ini berarti. Persoalannya adalah. Namun. baik di dalam maupun di luar negeri. saya selalu mengatakan bahwa lembaga litbang harus menjadi bagian tak terpisahkan dari dunia yang digelutinya.melaksanakan beberapa hal berikut ini: Pertama.

untuk membuktikan sampai sejauhmana inovasi dan kreativitas Saudara-saudara andaikata sarana peralatan baru tersebut tidak terpenuhi. jangan pernah merasa yang satu lebih superior daripada yang lain. permasalahan seberat apapun akan menjadi jauh lebih ringan dan tidak sulit untuk dipecahkan. serta tingkatkan kemampuan rancang bangun dan rekayasa. bahkan seluruh keluarga besar Badan Litbang ESDM. Terima kasih. Kolokium yang bertemakan “Kontribusi Litbang Mineral dan Batubara Dalam Mendukung Pelaksanaan Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara” secara resmi saya buka. dan di manapun Saudara ditempatkan.Kelima. lalu bicara dan berbuatlah dengan bahasa yang sama dalam ikatan kesatuan yang kuat. Kita harus berbuat sesuatu. semoga dapat memaknai dan mengimplementasikannya demi tercapainya tujuan kita memajukan sektor ESDM pada khususnya dan masyarakat pada umumnya. namun satu hal patut diingat bahwa jika keinginan untuk melengkapi dan memutakhirkan dengan sarana dan prasarana penelitian mutakhir tidak terpenuhi bukan berarti kita harus berdiam diri. Berjalanlah dalam koridor Rencana Stratejik yang telah dibuat oleh Saudara-saudara sendiri. Undangan dan Hadirin Sekalian. Demikian sambutan dan arahan yang dapat saya sampaikan. Kepala. Akhirnya dengan tetap memohon ridho Tuhan Yang Maha Kuasa. Wassalamualaikum Warohmatullohi Wabarokatuh. Ada ungkapan sederhana yang sudah lama kita kenal dan tahu artinya. Insya Allah. jaga soliditas di lingkungan Puslitbang tekMIRA. bercerai kita runtuh” dan “ringan sama dijinjing. siapapun Saudara. Bambang Dwiyanto PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 iv . Oleh karena itu saya mengajak peneliti Puslitbang tekMIRA dan juga peneliti Puslitbang lain di lingkungan Badan Litbang ESDM. Untuk itu. Saya tidak perlu mengulas lebih dalam. berat sama dipikul”. optimalkan peralatan yang ada. yaitu “bersatu kita teguh. lalu stagnan. yaitu dengan berupaya meningkatkan kemampuan rancang bangun dan rekayasa pada peralatan teknologi tinggi. Saya berharap Saudara-saudara dapat menyongsong era desentralisasi di bidang pertambangan mineral dan batubara ini dengan optimisme tinggi dan penuh rasa tanggung jawab. apapun latar belakang pendidikan Saudara. Saya telah menyinggung masalah ini pada acara “Sinkronisasi Kegiatan Litbang di Lingkungan Badan Litbang ESDM” pada 14-15 April 2009 yang lalu. Harapan saya kepada seluruh jajaran Puslitbang tekMIRA. Keenam.

........KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 BANDUNG........ Jawa Timur Bambang Yunianto Pengembangan Metode Analisis Ter dan Partikulat dalam ............................................................. Provinsi Kalimantan Selatan................................... Producer Gas dari Batubara Slamet Suprapto dan Nurhadi Implementasi Pengelolaan Lingkungan Sektor Energi dan Sumber Daya Mineral .. Air Asam Tambang Siti Rafiah Untung dan Nia Rosnia H. Hasniati Astika dan Supriatna Mujahidin Pemanfaatan Karbon Aktif dari Batubara pada Pengolahan ................................. Kecamatan Pesanggaran..................................................................... Kabupaten Banyuwangi......... ......................................... SAMBUTAN KEPALA BADAN LITBANG ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL ......................... Limbah Cair Industri Gula Ika Monika dan Nining Sudini Ningrum Kemungkinan Pemanfaatan Bakterisida Fenol untuk Pencegahan ...... MAKALAH YANG DIPRESENTASIKAN Presentasi Makalah Paralel I Permasalahan Pengelolaan Potensi Emas di Gunung Tumpang Pitu ............... Enymia dan Sumarsih Presentasi Makalah Paralel II Masa Kini dan Masa Depan Batubara Indonesia .................................. 15 JULI 2009 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ....... untuk Bahan Baku Keramik Subari. Nuryadi Saleh dan Apriandi Pengolahan Pasir Kuarsa Berlempung Asal Rantaubujur......................................... Propinsi Kalimantan ......... Batubara dengan Pembakar Siklon di Beberapa Fasilitas Industri Sumaryono 55 70 1 i ii v 16 23 30 39 48 78 83 90 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 v ... pada Era Globalisasi Djoko Sunarjanto dan Bambang Wicaksono Peluang Pengembangan Pertambangan Mineral dan Batubara .......................... Selatan dengan Menggunakan Klasifayer dan Pemisah Magnetik Pramusanto.. Ijang Suherman Pengembangan Sistem dan Alat Pemantauan Sederhana untuk Mendeteksi ....................... Kabupaten Tapin.............................................. Keruntuhan Batuan Atap (Roof Failure) pada Tambang Bawah Tanah Zulfahmi......... pada Era Otonomi Daerah Umar Dhani Peningkatan Kadar Bijih Besi dari Daerah Pelaihari...................................... DAFTAR ISI . Pengaruh Titik Leleh Abu terhadap Pengendapannya pada Pembakaran ..................................................................

204 sebagai Bahan Bakar Muh Kurniawan............................. Freeport Indonesia ..... 122 Sistem Fluidized Bed Nurhadi dan Slamet Suprapto Metode Pengurangan Emisi Merkuri pada Pembakaran Batubara ........ Miftahul Huda. Ijang Suherman...... Husaini Presentasi Makalah Paralel III 97 Karakteristik Merkuri dalam Sedimen dan Air pada Pengolahan Tailing ....... Yuhelda dan Firiza Yuliana Penggunaan Pasir Sungai sebagai Bed Material pada Gasifikasi Batubara .......... Novie Ardhyarini dan Nining Sudini Ningrum Bahan Bakar Minyak Sintetik dari Pencairan Batubara ............... Leni herlina dan Nining Sudini Ningrum vi PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 ............................S.... Nuryadi Saleh.. Leni Herlina............ Datin Fatia Umar dan Bukin Daulay MAKALAH DIPOSTERKAN Analisis Potensi Limbah Hasil Pembakaran Batubara pada Industri Kecil dan .. Lutfi Minyak Sintetik dari Pencairan Batubara dan Peningkatan Mutunya .......... 175 sebagai Katalis Pencairan Batubara Nining Sudini Ningrum dan Hermanu Prijono Karakteristik dan Optimalisasi Pembriketan Batubara Hasil Proses .................. 194 Propinsi Jambi Endang Suryati dan M..................................... 181 Upgraded Brown Coal Skala Pilot Ikin Sodikin dan Datin Fatia Umar Analisis Dampak Ekonomi Teknologi Peningkatan Kualitas Batubara ............................ Abdul Haris............ nasution.......................... 147 Rochman Saefudin. 115 Kalimantan Tengah dengan Electrostatic Separator Pramusanto................... ... 134 (Studi Kasus Perairan Bangka Utara) Ediar Usman dan Andri S............ 105 Amalgamasi di Kegiatan Pertambangan Emas Rakyat Secara Sianidasi (Studi Kasus KUD Perintis.......... 161 Menengah di Pulau Jawa Triswan Suseno dan Tuti Hernawati Pengaruh Proses Upgraded Brown Coal (UBC) terhadap Peringkat Batubara ................................................ 128 Roza Adriany Eksplorasi Potensi Konsentrat Timah Berdasarkan Data Seismik Refleksi ..........................Pengolahan dan Pemanfaatan Bauksit ..... Lutfi dan Retno Damayanti Pengaruh Penggunaan Ultrasonik terhadap Hasil Pemisahan Pasir Zirkon . 209 A..... 189 Peringkat Rendah di Indonesia Gandhi Kurnia Hudaya Kajian Manfaat dan Biaya Penambangan Bijih Besi di Kabupaten Merangin...... Daerah Tonayan Selatan) M............. Subandrio Penetapan Nilai Bagi Hasil atas Produksi Batubara Mutu Rendah ...................................... 168 Slamet Suprapto Uji Sulfidasi Bijih Besi Kalimantan Selatan dan Tailing PT.

PRESENTASI MAKALAH PARALEL I .

38 Tahun 2007. mining environment. Bambang Yunianto 1 . IMN). Based on the review toward these issues. kesiapan daerah. Berdasarkan penelaahan terhadap ke-empat isu tersebut diperlukan kesiapan daerah (Pemerintah Kabupaten Banyuwangi) dalam mengelola potensi emas di Gunung Tumpang Pitu. 32 tahun 2004. Kecamatan Pesanggaran. maka perlu dibentuk kantor/ dinas pertambangan dan energi yang tugasnya mengelola kegiatan pertambangan di daerah. lingkungan maupun dalam manajemen berusaha terhadap para penambang rakyat tersebut. 4) dalam menangani persoalan Pertambangan Tanpa Izin (PETI) atau gurandil seyogyanya tidak menggunakan cara-cara represif. 33 Tahun 2004. dan 5) sesuai kebijakan otonomi daerah yang tertuang dalam UU No.. 2) mengkaji kembali kegiatan pertambangan emas oleh PT. Then. the mining techniques.PERMASALAHAN PENGELOLAAN POTENSI EMAS DI GUNUNG TUMPANG PITU KECAMATAN PESANGGARAN. 022 . KABUPATEN BANYUWANGI. 3) untuk menampung partisipasi masyarakat dalam pertambangan.6030483 Fax. interest conflict and the socio-economic-culture. Kecamatan Pesanggaran. tambang emas. UU No. Kabupaten Banyuwangi. Banyuwangi meliputi isu potensi emas. Sudirman 623 Bandung 40211 Telp. it requires the regional readiness to manage the gold potential in the region. The regional readiness includes several activities. dan isu sosekbud. IMN). dan PP No. namely: 1) to assess the mining activity related to the land use. Kata Kunci: isu pertambangan. tumpang tindih dengan sector lain. JAWA TIMUR Bambang Yunianto Peneliti Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl.id SARI Isu pertambangan terkait pengelolaan potensi dan kegiatan pertambangan emas di Gunung Tumpang Pitu.6003373 e-mail : yunianto@tekmira. agar tidak menimbulkan permasalahan yang lebih besar dan kompleks. perlu dialokasikan Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) yang berasal dari wilayah konsesi PT.esdm.go. environment or the Permasalahan Pengelolaan Potensi Emas di Gunung Tumpang Pitu . 3) to allocate the mining area for the local community in the concession area of the company that contains gold placer. Indo Multi Niaga (PT. IMN yang memiliki potensi emas sekunder (alluvial). 022 . tetapi harus dengan persuasive. Indo Multi Niaga (PT. Kemudian perlu dilakukan pembinaan dan pengawasan. 2) to reassess the mining activity conducted by PT. yaitu: 1) melakukan kajian kegiatan pertambangan terkait pemanfaatan lahan sektor lain. Jend. lingkungan pertambangan. Regency of Banyuwangi include the gold mining.. District of Pesanggaran. Kesiapan daerah tersebut meliputi beberapa kegiatan. to conduct guidance and monitoring. pengelolaan potensi emas ABSTRACT The mining issues related to manage the potential and the activity of gold mining in Gunung Tumpang Pitu. baik dalam hal teknis penambangan.

Kecamatan Pesanggaran. 17 Mei 2009. Jumat 27 Februari 2009. Pengolahan data menggunakan teknik kategorisasi. antara lain. Selasa. IMN) di Pegunungan Tumpang Pitu. seperti Pemda Perekonomian Kabupaten Banyuwangi. Kegiatan survai lapangan isu lingkungan dan tumpang-tindih pertambangan dengan sektor kehutanan di Pegunungan Tumpang Pitu di atas didasarkan pemberitaan dan informasi di media mass berikut: 1) “Emas vs Potensi Agraris Banyuwangi. pertanian dan perkebunan). Bappeda Kabupaten Banyuwangi. wawancara berpanduan. management of gold potential 1. dan masalah 2. Berdasarkan hasil survai lapangan. dan tabelisasi. gold mine. Maksud penulisan ini adalah mengidentifikasi dan menganalisis permasalahan pengelolaan potensi emas di Gunung Tumpang Pitu. isu tumpang-tindih sektor pertambangan dengan sektor lain (kehutanan. dengan menggunakan berbagai parameter keilmuan dalam membahas permasalahan utama yang dikaji. Indo Multi Niaga (PT. sebagaimana dipilih sesuai judul tulisan ini. dan diskusi. Isu pertambangan di Kabupaten Banyuwangi tersebut memiliki bobot penting karena ada beberapa masalah. Sedangkan dalam merekonstruksikan pemecahan permasalahan dan masukan bagi daerah didasarkan kepada pertimbangan-pertimbangan rasional dan berlandaskan kepada arah kebijakan pertambangan dan kebijakan lain yang terkait pada era otonomi daerah. Rabu. Kabupaten Banyuwangi. 28 April. Provinsi Jawa Timur sebetulnya terletak kepada kesiapan daerah di dalam pengelolaan pertambangan. Inventarisasi data melalui teknik observasi. PENDAHULUAN ini mendapat sorotan dari berbagai pihak di Kabupaten Banyuwangi. Kecamatan Pesanggaran. dan surveyor). sebagai bahan masukan bagi daerah dalam mengelola sumber daya tambang yang ada di daerahnya. 2) “Masyarakat Banyuwangi Tolak Tambang Emas di Hutan Lindung Tumpang Pitu”. and 5) in accordance with the regional autonomy policy. Data yang mendukung penulisan ini berupa data primer maupun sekunder hasil survai lapangan. Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten 2 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . 4) “Penambang Emas Dadakan di Banyuwangi Capai 3 Ribu Orang”. Kecamatan Pesanggaran. METODOLOGI Secara umum metodologi yang digunakan adalah pendekatan multidisiplin ilmu. but to persuade not to create a bigger problem and complex. dokumentasi. Kegiatan survai lapangan pemantauan isu pertambangan di Kabupaten Banyuwangi. isu lingkungan. UU 33/2004 and PP 38/2007. Harian Kompas. UU 32/2004. Banyuwangi. Harian Kompas. Banyuwangi sesuai peraturan terkait. Kabupaten Banyuwangi. 4) not to apply repressive actions towards illegal mining. Detik Surabaya. 2009 5) “Berebut Emas di Tumpang Pitu”. Berita Fajar FM.management of the business for the miners. 16 Juni 2008 3) “Ribuan Penambang Emas Banyuwangi Diusir”. it is required to set an office of mining and energy in managing mining operation in the region. 19 April 2008. Data primer berupa hasil wawancara langsung dengan berbagai pihak yang terkait dengan permasalahan pengelolaan potensi emas di Gunung Tumpang Pitu. Sebentuk Kanibalisasi antar -Potensi”. regional readiness. Penangkapan ini telah menyulut konflik antara aparat dan para PETI. serta isu sosial ekonomi kemasyarakatan. Harian Kompas. sekembalinya Tim Isu Pertambangan Puslitbang tekMIRA dari lapangan. Keywords: mining issues. kompilasi. akar permasalahan dari mencuatnya isu pertambangan terkait potensi emas di Gunung Tumpang Pitu. sosial ekonomi. Tim Isu Puslitbang tekMIRA menurunkan tim yang terdiri atas berbagai disiplin ilmu (tambang/ geologi. Oleh karena itu. Kecamatan Pesanggaran. Berdasarkan informasi secara informal. Senin. isu pertambangan tersebut kembali mencuat setelah terjadi penangkapan terhadap para PETI yang dilakukan Polres Kabupaten Banyuwangi. Sabtu. Analisis data dilakukan secara deskriptif analitis. Provinsi Jawa Timur dilakukan untuk menginventarisasi dan mengidentifikasi permasalahan mengenai isu lingkungan pertambangan tanpa izin (PETI) emas dan isu tumpang-tindih kegiatan PT.

Survai ke lokasi PETI emas di sekitar pegunungan Tumpang Pitu. Koordinasi dan diskusi denga PT. sedangkan dokumentasi survai lapangan dapat dilihat pada Lampiran Foto-Foto Survai Lapangan. dokumentasi dan wawancara dengan gurandil. IMN.Banyuwangi. Banyuwangi dengan Pak Mujiono. 2) Koordinasi dan pendataan di Bappeda Kab. Mengenai pelaksanaan kegiatan survai lapangan dari tanggal 20 – 25 April 2009 adalah: 1) Melakukan kegiatan koordinasi dengan Kepala Bagian Perekonomian (Pak Bambang Edi Sunaryo) dan Sekertaris (Bu Tri) tentang isu lingkungan PETI emas di pegunungan Tumpang Pitu di Kantor Pemda Kab.. Kecamatan Pesanggaran serta informasi dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan mass media. Bambang Yunianto 3 . IMN dan tata ruang (hutan lindung). Pak Rudianto tentang isu Lingkungan 3) 4) 5) 6) 7) PETI emas. dan berkoordinasi dan diskusi dengan staf Kecamatan Pak Sujono dan Pak Sunoto. Pendataan di BPS Kabupaten Banyuwangi dengan Pak Ruslan Survai lapangan ke lokasi di Kecamatan Pesanggaran. dan masyarakat setempat. baik di tingkat Kabupaten Banyuwangi. Koordinasi dan pendataan dengan Kepala TU Kantor Lingkungan Hidup Kab. Mengenai route survai lapangan lihat Gambar 1. Gambar 1. PT. PT. IMN yang diwakili Pak Hilman dan Pak Yuswardi. Sedangkan data sekunder berasal dari instansi terkait. Banyuwangi (Distamben belum ada). para gurandil. aparat keamanan yang bertugas di Gunung Tumpang Pitu. Camat dan staf Kecamatan Pesanggaran.. Banyuwangi (Pak Gatot Sudjadi). Route survai lapangan tim isu pertambangan Puslitbang tekMIRA di Kabupaten Banyuwangi Permasalahan Pengelolaan Potensi Emas di Gunung Tumpang Pitu . Pak Wahyu Diyono.

Lumajang. Menteri Kehutanan melalui surat S. 76. Pongkor. hingga Juli 2009.3 ha (Gambar 2).230. IMN meliputi kawasan Gunung Tumpang Pitu. Saat ini perusahaan menampung 125 warga menjadi buruh kasar.600. seperti di Cikotok. cadangan emas 320.000. Banyuwangi. Pacitan.3. 78. keberadaan 3 KPH dan 3 TN tersebut secaraa riil telah memberikan kontribusi yang nyata bagi PAD kabupaten ini. KPH Banyuwangi Barat.643 ton (BPS: 2007) atau setara dengan Rp. 3. setelah pada akhir bulan April 2009 sekitar 6. andesit. dan TN Baluran. Kampung 56. Wonogiri. 30 liter per/ detik.406/MENHUTVII/PW/2007 mengijinkan perusahaan melakukan eksplorasi selama 2 tahun. ada juga emas plaser/ sekunder di sekitar lokasi emas primer tersebut. Dusun Ringinagung.600. b. KPH Banyuwangi Selatan. 4. Gunung Macan dan kawasan lindung setempat.70 ton senilai Rp.000 ton. RPH Kesilir Baru. Keberadaan emas sekunder ini sebagian besar berada pada lahan Perhutani. yakni TN Alas Purwo. padahal logam-logam tersebut memiliki nilai ekonomis bila sejak dini sudah diketahui nilai potensinya. PETI/ Gurandil PETI/ gurandil beroperasi di Gunung Tumpang Pitu. Biasanya emas ditemukan bersama logam lainnya seperti perak. pada lokasi 56 gurandil/ PETI (Pertambangan Tanpa Izin) beroperasi pada wilayah Perhutani diperkirakan meliputi luas sekitar 203. Gunung Wedi Ireng.621.3 gram/ton. Kontribusi komoditi getah damar sebesar 49 ton senilai Rp.45 ha. 4. Selain cebakan emas primer yang ditemukan. Banyumas. Di samping itu.2. Berdasarkan hasil tracking Tim Isu Pertambangan Puslitbang tekMIRA sewaktu survai. pada aliran Sungai Gonggo. dan KPH Banyuwangi Utara). Malang.3 ha dan hutan lindung seluas 1. 68.6 miliar. Kontribusi komiditi kopi yang berada di dalam kawasan hutan produksi sebesar 10.000 dipulangkan 4 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Jumlah ini. setelah disidangkan oleh Bapedalda Jawa Timur pada 26 Mei lalu. yang penyebarannya mengikuti sungai-sungai tua pada jaman dahulu. Gunung Sumber Salak. BKPH Sukamade. Kontribusi komiditi getah pinus sebanyak 2. kabupaten ini memiliki 3 Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) seperti Banyuwangi (KPH Banyuwangi Selatan. Kecamatan Pesanggaran.000.1.3 gr/ton.1. IMN) PT. Selain itu. dan akan ditingkatkan statusnya menjadi KP eksploitasi. a.251.621.000. kadar emas rata-rata 2. Keberadaan 3 KPH dan 3 TN ini berhubungan erat sumber mata air dan sungai-sungai yang menjadi sumber irigasi bagi sektor pertanian dan perkebunan yang saat ini diunggulkan sebagai sektor penting bagi Kabupaten Banyuwangi.21 km2. Fenomena seperti ini sangat umum ditemukan di Pulau Jawa. dan c.2. 77. memiliki andil dalam menopang ketahanan pangan nasional. Konsesi PT. Eksplorasi itu meliputi kawasan hutan produksi seluas 736. Lembah Gunung Tumpang Pitu. dan kadar logam-logam lainnya tidak ada datanya. 77 dan 78 kawasan hutan tersebut. Data hasil kekayaan hutan non-kayu Banyuwangi pada tahun 2006 meliputi. Berdasarkan studi kelayakan PT. Gunung Jatian. Kontribusi sektor pertanian terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Banyuwangi (lebih dari 60%). Potensi Sektor Lainnya Kabupten Banyuwangi dikelilingi 3 Taman Nasional (TN). KONDISI KEGIATAN PERTAMBANGAN 4. POTENSI TAMBANG DAN SEKTOR LAIN DI GUNUNG TUMPANG PITU 3. Menurut RTRW Jatim 2020 kawasan tersebut telah ditetapkan sebagai kawasan resapan air katagori tinggi.8 ton. Indo Multi Niaga (PT. IMN merupakan perusahaan tambang emas yang modalnya swasta nasional. Luas konsesi yang diberikan pemerintah sekitar 11.100 meter pada KP Eksplorasi PT. TN Meru Betiri. 76. saat ini diperkirakan mencapai 3. Tepatnya pada Petak 75. PT. 247. Desa Pesanggaran. Pemkab Banyuwangi telah menyetujui rencana mengajukan permohonan alih fungsi kawasan hutan lindung dalam KPH Banyuwangi Selatan.2. Potensi Tambang Cebakan emas di daerah Pesanggaran ditemukan berdasarkan pada pemboran eksplorasi sebanyak 14 lubang bor dengan kedalaman total 4. dan menjadikan kabupaten ini sebagai lumbung padi nasional.5 ha dipetak 75.672. IMN. IMN seluas 11.000 orang (Gambar 3). cadangan bijih yang dieksplorasi mencapai 9. Sementara itu. tembaga. Kadar emas di daerah ini adalah 2. 45 ha atau 116. granodiorit dan dasit. Cebakan emas ditemukan dalam bentuk urat-urat kuarsa pada batuan volkanik yang diterobos oleh batuan intrusif berupa diorite. Dokumen Amdal PT IMN telah disahkan oleh Tim Amdal Propinsi Jawa Timur.

Banyuwangi Permasalahan Pengelolaan Potensi Emas di Gunung Tumpang Pitu .Gambar 2. Dusun Ringinagung.. Dusun Ringinagung. lembah Gunung Tumpang Pitu. Bambang Yunianto 5 . Kampung 56. Kecamatan Pesanggaran. Desa Pesanggaran. IMN dan lokasi aktivitas PETI/ Gurandil di Petak 56. Kampung 56. Konsesi PT. Banyuwangi Gambar 3.. Kecamatan Pesanggaran. Lembah Gunung Tumpang Pitu.3 Ha). Desa Pesanggaran. Lokasi PETI/ Gurandil di Petak 56 (Luas Perkiraan 203.

jarak lubang bor ini adalah 500 m. Potensi Bahan Tambang Fenomena geologis di daerah eksplorasi tersebut tidak hanya tersebar di daerah Pesanggaran. Rapat yang dipimpin langsung Bupati Banyuwangi Ratna Ani Lestari itu menyimpulkan PETI yang dilakukan ribuan gurandil tersebut telah merusak lingkungan. IMN relatif sedikit.5 meter. namun. selain itu kedalaman Sungai Gonggo turut mengalami perubahan drastis. tembaga. PETI yang dilakukan ribuan gurandil telah merusak lingkungan. namun untuk memberi kesahihan data telah ditunjuk tim independen untuk melakukan uji laboratorium. karena jumlah lubang bor yang dilakukan oleh PT. namun juga tersebar di daerah sekitarnya seperti Glenmore dan Bangorejo. karena pada lokasi tersebut telah banyak gurandil yang betul-betul mendapatkan emas. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 4/2009. Selain cebakan emas primer yang ditemukan. 6 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .secara paksa oleh sekitar 190 personil aparat keamanan. dengan jarak antarlubang bor sepanjang 2 km. tepatnya di petak 79. Pada umumnya.21 km2. Jadi. agar dapat dimanfaatkan sebagai lahan usaha bagi masyarakat setempat dalam bentuk Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR). 5. seperti pendulang emas asal Kalimantan. Dari pantauan sementara Tim Isu Puslitbang tekMIRA. Pemulangan itu dilakukan setelah Pemerintah Kabupaten Banyuwangi melakukan rapat koordinasi dengan muspida. IMN karena kurangnya transparansi dalam Publikasi berbagai kemajuan kegiatan. Sulawesi. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi harus mempersiapkan lokasi peruntukan lahan bagi sektor pertambangan. Dalam rangka memberi kepastian. Ini berarti bahwa kelak saat operasi penambangan emas ini berlangsung. IMN. tetapi juga akibat isu Lingkungan pertambangan PT. yang akan berpotensi menimbulkan banjir dan longsor serta kerusakan hutan jati. maupun tanaman pertanian/ perkebunan masyarakat (petani magersari). Dengan demikian. Untuk itu. asosiasi logam-logam tersebut akan terbuang dengan percuma. Sedangkan. masih diperlukan pemboran eksplorasi yang lebih banyak lagi. kadar logamlogam lainnya tidak ada datanya. Kadar emas di daerah ini adalah 2. agar perhitungan operasi penambangannya dapat dilakukan dengan tepat. Pemkab Banyuwangi sudah mengambil beberapa sampel untuk diuji. jarak antarlubang bor ini terlalu panjang. PERMASALAHAN DAN PEMBAHASAN lahan usaha tambang dalam peta tata ruangnya. Nabire dan Bandung. Untuk meningkatkan status potensinya. terutama pada petak 56 maupun 79 sebagai sampel wilayah-wilayah sekitarnya.3 gr/ton. Isu kalau butiran seperti emas itu adalah logam jenis pirit (FeS2) perlu dicarikan kepastiannya. maupun tanaman pertanian/ perkebunan masyarakat (petani magersari) sehingga harus dihentikan. lokasi-lokasi PETI di Gunung Tumpang Pitu memang mengandung emas (perlu uji laboratorium). hal ini menjadi tugas tersendiri bagi perusahaan tambang tersebut untuk melakukan uji laboratorium terhadap logam-logam tersebut. Jadi. Sungai Gonggo mengalami pelebaran hingga tujuh meter dari lebar awalnya satu meter. dan berpotensi menimbulkan banjir dan longsor serta kerusakan hutan jati. emas ditemukan bersama logam lainnya seperti perak. Sampai saat ini. logam-logam tersebut akan menjadi perolehan yang menguntungkan. di kabupaten ini belum dialokasikan Isu lingkungan terkait kegiatan pertambangan di Gunung Tumpang Pitu tidak hanya diakibatkan oleh kegiatan PETI/ gurandil saja. Maraknya PETI telah menimbulkan kerusakan di Sungai Gonggo dan hutan jati. Keberadaan emas sekunder ini perlu dicermati untuk dieksplorasi lebih lanjut. 5.1.2. Tidak tertutup kemungkinannya. mengingat potensi usaha pertambangan di daerah ini memperlihatkan prospek bila dikelola dengan baik. Beberapa pohon jati juga turut tumbang akibat aktifitas penambangan PETI secara tradisional tersebut. Secara umum. yakni hanya 14 buah untuk mengeksplorasi daerah seluas 116. apabila sejak dini sudah diketahui nilai potensinya. setiap daerah harus mencadangkan wilayahnya untuk menggali potensi bahan galiannya. agar tingkat keyakinan geologisnya menjadi tinggi. awalnya hanya setengah meter kini berubah menjadi 1. Lingkungan 5. status ‘cadangan’nya perlu direvisi. terutama dalam pengelolaan Lingkungan. Dengan demikian tidak tertutup kemungkinan bahwa potensi penyebarannya juga terdapat di daerah-daerah tersebut. Status cadangan untuk kategori perhitungan potensi cebakan emasnya belum tepat. Permasalahan ini harus segera diselesaikan. Perhutani dan pemilik izin ekplorasi emas PT. ada juga emas plaser/sekunder di sekitar lokasi emas primer tersebut.

sehingga warga tidak memiliki kesiapan untuk berdialog dengan pihak yang terkait.berbagai isu Lingkungan yang diakibatkan PT. e. karena tidak ada satu pun dokumen Amdal yang dibagikan kepada warga Dusun Pancer. d. Semenjak awal bergulirnya rencana penambangan emas di HLGTP oleh PT IMN. Dengan demikian. dan merekalah pihak pertama yang akan merasakannya. Pembuangan tailing ke laut ini. karena tidak ada satu pun dari peta yang termuat di dalamnya yang menampakkan keberaradaan Pulau Permasalahan Pengelolaan Potensi Emas di Gunung Tumpang Pitu . Dalam Dokumen Andal yang dibuat oleh PT IMN. dalam Lampiran Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup nomor 11 tahun 2006 tentang Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup disebut sebagai Submarine Tailing Disposal (STD). Beberapa butir yang dijadikan dasar penolakan AMDAL PT. Hal ini menunjukkan minimnya kemauan Pemprop Jatim dan Pemkab Banyuwangi untuk melakukan penguatan terhadap rakyatnya. IMN tersebut. Amdal yang dibuat oleh PT IMN sebagai pemrakarsa adalah dokumen Amdal yang tidak layak dan harus ditolak. 11 tahun 2006 tersebut. dan Camat Pesanggaran). IMN dapat ditunjukkan berdasakan surat penolakan AMDAL oleh Masyarakat Banyuwangi yang tergabung dalam Komunitas Pecinta Alam Pemerhati Lingkungan (Kappala Indonesia) region Banyuwangi. Bambang Yunianto 7 . sehingga warga tidak memiliki informasi mengenai Amdal. Warga Pancer telah menolak rencana tersebut. Amdal yang dibuat oleh PT IMN sebagai pemrakarsa adalah dokumen Amdal yang tidak layak dan harus ditolak. Sidang Amdal tersebut di atas merupakan sidang yang tidak adil. c. kewenangannya berada di tangan Deputi Bidang Amdal Kementerian Negara Lingkungan Hidup. Amdal yang dibuat oleh PT IMN sebagai pemrakarsa adalah dokumen Amdal yang tidak layak dan harus ditolak. bukan di tangan Komisi Amdal Propinsi/Bapedalprop Jatim. Berdasarkan Peraturan Meneg LH no. penilaian Amdal dari sebuah rencana pertambangan yang menggunakan STD seperti halnya PT IMN tersebut. karena pihak pemrakarsa tidak membuat pengumuman tentang rencana Sidang Amdal yang layak dan mencukupi. Kurva Hijau. Keterbukaan informasi menjadi sesuatu yang logis untuk dimiliki oleh warga Pancer karena dampak apapun dari pertambangan tersebut jelas-jelas akan berpengaruh langsung kepada mereka. sejatinya Sidang Amdal yang diselenggarakan dan dipimpin oleh Komisi Amdal Propinsi/Bapedalprop Jatim tidak sah. Dimana penolakan tersebut telah mereka sampaikan dalam acara Sosialisasi Penambangan Emas HLGTP yang diselenggarakan pada 12 Maret 2008 lalu di Balai Dusun (dihadiri oleh perwakilan Pemkab Banyuwangi. dan Dewan Rakyat Jalanan untuk Demokrasi (Derajad). Warga Pancer tidak diberi kecukupan waktu untuk mempelajari Amdal tersebut. g. PT IMN telah melakukan kebohongan publik dengan menyatakan kepada seluruh hadirin bahwa merkuri berbahaya sementara sianida aman. perwakilan TNI AL. 11 tahun 2006. Padahal keterbukaan informasi ini penting sebagai tolok ukur tinggi-rendahnya itikad baik dari pemrakarsa rencana pertambangan maupun pemkab dan pemrop. karena dalam Presentasi Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan (KA-Andal) yang bertempat di ruang Minakjingga Pemkab Banyuwangi pada tanggal 30 Januari 2008. Dalam acara tersebut tidak ada itikad baik dari pemrakarsa untuk menjelaskan apa itu sianida? Apa saja dampaknya? Dan apa yang membuat pemrakarsa yakin bahwa sianida aman? f. Warga pun tidak punya kecukupan waktu untuk memilih pihak yang menurut warga memiliki kompetensi untuk mendampinginya dalam mengikuti Sidang Amdal. Penolakan tersebut juga telah disuarakan oleh 5 (lima) orang utusan Warga Pancer yang menghadiri Sidang Amdal tanggal 26 Mei 2008 di Surabaya.. karena tidak sesuai dengan Peraturan Meneg LH no. Komisi Amdal Propinsi/Bapedalprop Jatim tidak berwenang menilai Amdal PT IMN. Berdasarkan Peraturan Meneg LH no. perwakilan Makoramil Pesanggaran.4 tentang “Peta Rencana Tata Letak Kegiatan” dapat dilihat dengan jelas bahwa tailing (limbah tambang) akan dibuang ke laut. perwakilan Mapolsek Pesanggaran. Bahkan hingga kini pun belum terlihat kemauan pemrakarsa untuk mengumumkan secara terbuka tentang Sidang Revisi Amdal. antara lain: a. terutama pakar. b.. pada gambar 2. 11 tahun 2006.

Gunung Macan. pertanian dan perkebunan rusak akibat terinjak-injak ataupun rusak karena ditambang. perkebunan. Berbagai persoalan tersebut tidak perlu langsung ditanggapi apreori. 78. Gunung Wedi Ireng. BKPH Sukamade. Tumpang-tindih antar Sektor Konsesi PT IMN di Tumpang Pitu meliputi areal seluas 11. yaitu Petak 75. 77 dan 78 kawasan hutan tersebut. IMN.3. Sementara itu.Merah. 77. terkesan memberi sinyal ditingkatkannya status PT IMN dari eksplorasi menjadi eksploitasi. KPH Banyuwangi Selatan. Dampak sosekbud PETI/ Gurandil terutama akibat rusaknya lingkungan. perikanan) dan bagaimana proses pengelolaannya. RPH Kesilir Baru. Eksplorasi itu meliputi kawasan hutan produksi seluas 736. Isu dampak sosekbud PT. Gunung Macan. yaitu: 1) Sejumlah Petani dan Nelayan Banyuwangi Jawa Timur ke Jakarta mendesak agar 8 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . semakin meresahkan warga. tetapi perlu didudukan secara proporsional pada sumber akar persoalannya.251. Menteri Kehutanan melalui surat S. Tidak adanya Pulau Merah di semua peta yang terdapat dalam dokumen Andal tersebut mencerminkan keteledoran PT IMN. dan kekhawatiran penggunaan air raksa yang akan mencemari lingkungan (darat dan perairan) bila tidak ditangani dengan serius. tambang emas yang dibangun oleh PT IMN di Tumpang Pitu memakan areal seluas 11. sungai yang dimanfaatkan untuk irigasi. hingga Juli 2009. seperti pertanian. perkebunan dan nelayan. dan kawasan hutan lindung setempat. 5. Gunung Tumpang Pitu memiliki kaitan erat dengan aktivitas penduduk di sekitarnya. 5. dan isu utama beberapa unjuk rasa mengenai lingkungan hidup perlu dijadikan barometer dalam memahami berbagai persoalan lingkungan pertambangan di Gunung Tumpang Pitu dan sekitarnya.406/MENHUT_vii/ PW/2007 tertanggal 27 Juli 2007.5 ha dipetak 75. Sosial Ekonomi Masyarakat Isu social terbagi dua. Sedangkan wilayah yang ditambang oleh PETI. yaitu isu dampak sosekbud PT. setelah disidangkan oleh Bapedalda Jawa Timur pada 26 Mei lalu.251.621 hektar yang meliputi kawasan Gunung Tumpang Pitu. Berapa aktivitas ekonomi masyarakat yang akan terganggu (misal pertanian. Unjuk rasa beberapa komponen masyarakat terhadap kegiatan pertambangan dapat dijadikan barometer bagi pengembangan kegiatan pertambangan di daerah ini. 77. koordinator Koalisi Tolak Tambang di Tumpang Pitu (KT3P). pertanian. Gunung Sumber Salak. dan perikanan tersebut perlu dipertimbangkan positif dan negatifnya.621 ha yang meliputi kawasan Gunung Tumpang Pitu. KPH Banyuwangi Selatan. Sementara itu. Gunung Wedi Ireng. bagian yang tidak terpisahkan dari 3 KPH dan 3 TH. serta menggambarkan rendahnya kepedulian PT IMN terhadap area penting seperti Pulau Merah. Konflik kepentingan antara sektor pertambangan dengan sektor kehutanan. Kawasan Gunung Tumpang Pitu merupakan kawasan hutan lindung dan hutan produksi.3 ha dan hutan lindung seluas 1. yang berfungsi sebagai daerah penyangga. dan kawasan hutan lindung setempat. IMN vs Rakyat). Sebagai kawasan penyangga. perkebunan. Pengesahan Dokumen Amdal PT IMN oleh Tim Amdal Propinsi Jawa Timur dan kedatangan Mentri Kehutanan MS Kaban di Banyuwangi. 76. IMN terhadap berbagai aktivitas mata pencaharian masyarakat di sekitar proyek.406/MENHUTVII/PW/2007 mengijinkan perusahaan melakukan eksplorasi selama 2 tahun. IMN maupun PETI/ Gurandil dan isu kesamaan hak atas sumber daya bahan tambang (PT. Sebelumnya. RPH Kesilir Baru. Kawasan Eksplorasi itu meliputi kawasan hutan produksi seluas 736.5 ha dipetak 75.3 ha dan hutan lindung seluas 1. Petak 56 dan Petak 79 masuk dalam wilayah konsesi PT. Gunung Jatian. BKPH Sukamade. 76. berhubungan erat sebagai sumber mata air dan sungai-sungai yang menjadi sumber irigasi bagi sektor pertanian dan perkebunan yang saat ini diunggulkan sebagai sektor penting bagi Kabupaten Banyuwangi. Gunung Sumber Salak. Pemkab Banyuwangi telah menyetujui rencana mengajukan permohonan alih fungsi kawasan hutan lindung dalam KPH Banyuwangi Selatan. Dokumen Amdal PT IMN telah disahkan oleh Tim Amdal Propinsi Jawa Timur. 78.4. berbagai informasi mengenai penolakan terhadap kegiatan pertambangan di kawasan Gunung Tumpang Pitu di atas. IMN terkait dengan dampak kegiatan PT. termasuk sektor perikanan bila pembuangan tailing dilakukan di dasar laut. PT IMN mendapat izin kuasa eksplorasi emas dikawasan hutan dari Menteri Kehutanan MS Kaban nomor . 76. Gunung Jatian. Menurut Tim Isu Puslitbang tekMIRA.

cara-cara represif justru akan menimbulkan persoalan baru yang lebih besar. diperlukan kesiapan daerah (Pemerintah Kabupaten Banyuwangi) dalam mengelola potensi emas di Gunung Tumpang Pitu. IMN diperbolehkan melakukan aktivitas di kawasan hutan lindung. Lingkungan pertambangan. IMN dan masyarakat penambang. Padahal. Kecamatan Pesanggaran. Kesiapan daerah dalam mengelola potensi emas di Gunung Pitu tersebut meliputi beberapa tahap kegiatan berikut: 1) Perlu ada kajian mengenai keuntungan dan kerugian (cost benefit analysis) antara kegiatan pertambangan dengan sektor kehutan. Untuk memberi rasa keadilan. karena kalau tidak ditempatkan pada koridor yang semestinya. Bappeda dan Kantor Lingkungan Hidup menyebabkan persoalan pertambangan tidak tertangani secara optimal. saat ini dengan persoalan pertambangan yang komplek ditangani oleh Pemda Bagian Perekonomian. dan isu sosekbud). diwarnai aksi penghadangan oleh ratusan massa anti tambang. karena Pemda Kabupaten Banyuwangi kurang cepat dalam menanganinya sebagai akibat belum adanya kantor/ dinas pertambangan yang seharusnya bertanggung jawab terhadap persoalan pertambangan di daerah. Masalah tersebut terkait dengan pertanyaan mendasar. 3) Kunjungan Rombongan Dirjen Planologi Departemen Kehutanan ke lokasi penambangan emas tradisional di lereng Gunung Tumpang Pitu Kampung 56 Dusun Wringin Agung Desa/Kecamatan Pesanggaran.dihentikan kegiatan PT. Mereka mendesak pemerintah mencabut ijin petambangan dan AMDAL tambang emas PT Indo Multi Niaga (IMN) yang cacat dan menolak ijin pinjam pakai penggunaan hutan. 2) Bila kegiatan pertambangan lebih menguntungkan.Banyuwangi akan terancam hidupnya.. 2) Menyiapkan Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) pada daerah-daerah di lembah Gunung Tumpang Pitu yang memiliki kandungan emas alluvial. KESIMPULAN DAN TINDAK LANJUT Berdasarkan pembahasan terhadap ke-empat isu potensi dan kegiatan pertambangan emas di Gunung Tumpang Pitu di atas (isu potensi emas. termasuk perikanan mendesak dihentikannya rencana pengerukan emas di hutan lindung Tumpang Pitu. mengecam pertemuan antara Dirjen Planologi Departemen Kehutanan dan PT Indo Multi Niaga (IMN) serta pihak terkait lainnya di Pendopo Banyuwangi. kalau PT. Pertanyaan ini berlanjut dengan masalah. kenapa rakyat dilarang di kawasan hutan produksi. Kabupaten Banyuwangi. sesuai pasal 33 UUD 45 dapat menjadi pemicu isu-isu lainnya di kawasan tersebut.. Banyuwangi. Berbagai persoalan yang mendasar tersebut timbul. Perlu dipahami. setiap ada persoalan masing-masing saling menunggu dan bagi-bagi tanggung jawab/ peran. yang secara tingkatan fungsi hutan lebih rendah. Bambang Yunianto 9 . 6. pembinaan dan pengawasan teknis penambangan. 2) Puluhan ribu warga yang tinggal sepanjang Rajekwesi sampai Muncar . kesamaan hak atas sumber daya alam antara PT. berdasarkan kasus-kasus di beberapa daerah. bagaimana seharusnya. dengan dampak yang dapat Permasalahan Pengelolaan Potensi Emas di Gunung Tumpang Pitu . tumpang tindih dengan sektor lain. IMN. kalau pelarangan PETI/ Gurandil karena merusak Lingkungan dan tidak berizin sehingga tidak ada pemasukan bagi pemda. Di samping itu. Mengenai isu kesamaan hak dalam pemanfaatan bahan tambang (PT. 3) Melakukan kajian eksplorasi terhadap daerah yang disiapkan untuk WPR dan menyiapkan perizinannya dengan wadah badan usaha Koperasi. 4) Menyiapkan bimbingan. maka Pemda Kabupaten Banyuwangi seharusnya menyiapkan WPR sebagai wadah menampung aspirasi rakyat dalam kegiatan pertambangan dengan beberapa tahap berikut: 1) Secepatnya meminimalkan daerah operasi PETI/ gurandil untuk mengurangi dampak Lingkungan. ada kesan dalam menangani setiap persoalan PETI/ Gurandil dilakukan dengan cara-cara represif. dan sektor lain terkait fungsi hutan sebagai penyimpan sumber daya air sektorsektor pertanian dan perkebunan. yang dianggap telah telah melakukan ketidakadilan informasi terhadap masyarakat terkait aktifitas PT IMN di Gunung Tumpang Pitu karena tidak transparan. 4) Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Peduli Lingkungan (AMMPeL). dengan persuasif menjaga wilayah operasi PETI/ gurandil tersebut. lingkungan dan manajemen usaha bagi penambang rakyat. IMN vs PETI/ Gurandil) merupakan isu penting.

4/2009. karena kasus-kasus semacam ini (PETI Emas Pongkor.6 8. dan rencana pengelolaannya.8 53.4 17. Mengenai tahap eksplorasi diatur dalam pasal 42-45 UU No. IMN perlu memberi penjelasan yang ilmiah mengenai potensi emas primer maupun emas sekunder/ alluvial di dalam wilayah konsesinya di Gunung Tumpang Pitu. Kapur di Padalarang Jawa Barat.9 57 57 37. tetapi harus dengan persuasive. kajian terhadap kegiatan di sekitar proyek perlu diperluas dan diperdalam sehingga dapat memberi gambaran yang valid mengenai keadaan yang sebenarnya.6 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 37 35 35 34 34 33 33 32 32 32 32 35 35 38 hrs-nya 36 38 hrs-nya 36 38 38 39 39 37 16.4 20.8 30.6 15.2 17.4 58.9 3. Indah Multi Niaga 10 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Koordinat Wilayah Kuasa Pertambangan PT. dan perlu dilakukan secara transparan. dan sungaisungai bagi sektor pertanian dan perkebunan.8 hrsnya 00 12. PETI Emas di Sulawesi Utara. terutama terkait fungsi hutan lindung sebagai sumber mata air.9 19. dan wilayah yang berpotensi emas sekunder/ alluvial dialokasikan sebagai Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) untuk mewadahi aspirasi rakyat/ masyarakat dalam kegiatan pertambangan. batas wilayah yang terdapat pada tabel titik koordinat terdapat kesalahan pada titik 14 dan 15 (koordinat y garis lintang/ LS untuk titik 14 seharusnya 36’.2 36.00" dan titik 15 seharusnya 36’.4 36.2 3.4 29. dalam kajian AMDAL perlu diperjelas mengenai rencana pembuangan limbah.7 8. wilayah konsesi. IMN.8 Sumber: ANDAL Pertambangan PT. sedangkan pengalokasian WPR diatur pasal 20-26 UU No. PETI Batubara di Kalimantan Selatan. 6) Dalam pengalokasian WPR perlu dilakukan kegiatan inventarisasi potensi bahan galian Tabel 1.8 hrsnya 00 11.8 16.2 19.00") yang bisa fatal karena sebagai batas wilayah konsesi (Tabel 1).6 53.7 11. 3) Berdasarkan kajian terhadap AMDAL PT.2 30.4 51. IMN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 113 113 113 113 113 113 113 113 114 114 114 114 114 114 114 114 114 114 114 114 56 56 57 57 57 57 59 59 1 1 2 2 4 4 4 4 3 3 0 0 45. 4) PT. maka perlu dilakukan pembatasan kembali wilayah PT.7 58.4 58. IMN (relinquish) dari tahap eksplorasi ke tahap eksploitasi.8 58. perlu dilakukan pembatasan wilayah konsesi untuk meminimalkan dampak lingkungan.diminimalkan dibanding kerugian yang akan terjadi terhadap sektor-sektor nonpertambangan.4 29.4 51.7 2.6 20.6 12.8 2. dan lainnya) kalau ditangani secara represif akan menimbulkan persoalan baru yang lebih besar. ada beberapa hal yang perlu diklarifikasi: wilayah konsesi. serta kandungan mineral ikutan emas berdasarkan hasil laboratorium yang terakreditasi.9 15.4 45. 5) Dalam menangani persoalan PETI/ Gurandil seyogyanya tidak menggunakan cara-cara represif.2 37. 4/2009.

8) Untuk menangani berbagai permasalahan pertambangan di Kabupaten Banyuwangi. Berita Fajar FM. Provinsi Jawa Timur. Senin. “Berebut Emas di Tumpang Pitu”. Selasa. BPS Kabupaten Banyuwangi. maka perlu dibentuk kantor/ dinas pertambangan dan energi yang tugasnya mengelola kegiatan pertambangan di daerah. 16 Juni 2008 Harian Kompas. Kecamatan Pesanggaran. 2008. Sebentuk Kanibalisasi antar Potensi”. 2008. 19 April 2008. 2008. “Ribuan Penambang Emas Banyuwangi Diusir”. PT. Harian Kompas. 2005. 2005. Potensi pertambangan di Gunung Tumpang Pitu dan Pulau Batu Merah. Indo Multi Niaga. “Penambang Emas Dadakan di Banyuwangi Capai 3 Ribu Orang”. Kabupaten Banyuwangi. Provinsi Jawa Timur. Jakarta 2008. Kabupaten Banyuwangi. Harian Kompas. PDRB Kabupaten Banyuwangi Tahun 2008. Provinsi Jawa Timur. Bappeda Kabupaten Banyuwangi. 2007. “Emas vs Potensi Agraris Banyuwangi. Bahan Presentasi Kabid Fisik dan Prasarana Wilayah. DAFTAR PUSTAKA Bappeda Kabupaten Banyuwangi. Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) Rencana Penambangan Emas DMP di Desa Sumber Agung. 2009. Indo Multi Niaga. 2009. lingkungan maupun dalam manajemen berusaha. 33 Tahun 2004. Provinsi Jawa Timur. Bappeda Kabupaten Banyuwangi. Kecamatan Pesanggaran. Jakarta 2008 (Laporan Akhir).. 2009. 38 Tahun 2007. Indo Multi Niaga. UU No. Jakarta 2008. Kecamatan Pesanggaran Dalam Angka Tahun 2007. 2008. Rencana Umum Tata Ruang Kota dengan Kedalaman Rencana Detail Tata Ruang Kota Pesanggaran. 2009. 2008. “Masyarakat Banyuwangi Tolak Tambang Emas di Hutan Lindung Tumpang Pitu”. Kabupaten Banyuwangi. 2008. Banyuwangi. Indo Multi Niaga Rencana Penambangan Emas DMP di Desa Sumber Agung. Detik Surabaya. BPS Kabupaten Banyuwangi. Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Banyuwangi 2005-2015 (Laporan Rencana). 2009. Bappeda Kabupaten Banyuwangi.emas sekunder pada wilayah-wilayah yang potensial dan dampaknya dapat diminimalkan. 2009. Harian Kompas. 2008. Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Banyuwangi 2007-2027 (Album Peta/ Gambar). Indo Multi Niaga. Lampiran ANDAL PT. Harian Kompas. Bambang Yunianto 11 . PT. Rencana Penambangan Emas DMP di Desa Sumber Agung. 17 Mei 2009. Harian Kompas. 7) Setelah Pemda Kabupaten Banyuwangi mengalokasikan WPR. 28 April. Tim Isu Puslitbang tekMIRA. 2009. Indo Multi Niaga. Kecamatan Pesanggaran. Rabo. ANDAL PT. baik dalam hal teknis penambangan. BPS Kabupaten Banyuwangi. Jakarta 2008. Kecamatan Pesanggaran. PT. 2008. Sabtu. Kabupaten Banyuwang Dalam Angka Tahun 2008. Berita Fajar.. sesuai kebijakan otonomi daerah yang tertuang dalam UU No. dan PP No. Kabupaten Banyuwangi. Permasalahan Pengelolaan Potensi Emas di Gunung Tumpang Pitu . Foto-foto dokumentasi survai di perkantoran dan dokumentasi PETI di Gunung Tumpang Pitu. 32 tahun 2004. Kecamatan Pesanggaran. maka perizinan perlu disiapkan dan perlu dilakukan pembinaan dan pengawasan. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) Rencana Penambangan Emas DMP di Desa Sumber Agung. Jumat 27 Februari 2009. Detik Surabaya. PT.

LAMPIRAN FOTO-FOTO SURVAI LAPANGAN 12 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .

Bambang Yunianto 13 ..Permasalahan Pengelolaan Potensi Emas di Gunung Tumpang Pitu ..

14 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .

.Permasalahan Pengelolaan Potensi Emas di Gunung Tumpang Pitu . Bambang Yunianto 15 ..

metoda analisis ABSTRACT In relation to increase and diversify the utilization of coal. The purpose of this research is to develop sampling and analysis method for determination tar and particulate contents in producer gas from coal.500 kal/g. The installed apparatus is tested for determining the content of tar and particulate of producer gas resulted from coal gasification. Percobaan pengoperasian mesin diesel menggunakan sistem dual fuel menunjukkan kinerja yang baik dan tidak terdapat endapan ter dan partikulat dalam ruang bakar mesin diesel. penyaring keramik untuk memisahkan partikulat. Cirebon.id. 623 Bandung. Jend. Peralatan yang telah terangkai kemudian diujicoba untuk menentukan kadar ter dan partikulat dalam producer gas produk gasifikasi. partikulat. ceramic filter to separate particulate.esdm. Batubara yang digunakan berasal dari Kalimantan Selatan yang mempunyai nilai kalor 5.esdm. Kata kunci: gasifikasi batubara.PENGEMBANGAN METODE ANALISIS TER DAN PARTIKULAT DALAM PRODUCER GAS DARI BATUBARA Slamet Suprapto dan Nurhadi Puslitbang tekMIRA.id SARI Dalam rangka meningkatkan dan mendiversifikasikan pemanfaatan batubara. Pengembangan lebih lanjut diharapkan difokuskan pada standarisasi dan uji pembanding Round Robin test dan analisis sistem on-line langsung ke komputer untuk mengetahui secara langsung komposisi producer gas. Salah satu parameter kualitas producer gas untuk digunakan pada sistem pembakaran internal seperti mesin diesel adalah kadar ter dan partikulat. Research and Development Center for Mineral and Coal Technology is developing utilization of producer gas resulted from coal gasification for diesel powered electric generation using dual fuel system at Coal Technology Center. heat exchanger and condense bottle to absorb moisture and impinge bottle to absorb tar in the producer gas sample. Palimanan. (022)6030483. Metoda ini belum distandarisasi karena tidak tersedianya gas standar.go. Metoda ini menggunakan peralatan yang terdiri atas nozzle isokinetik yang dilengkapi heater untuk mengambil contoh producer gas. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengembangkan metoda sampling dan analisis kadar ter dan partikulat dalam producer gas dari batubara. Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara sedang mengembangkan pemanfaatan producer gas hasil gasifikasi batubara untuk pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) sistem dual fuel di Sentra Teknologi Pemanfaatan Batubara. Sudirman no. Palimanan Cirebon. Fax: (022) 6003373 email: slamets@tekmira. Pengujian metoda sampling dan analisis terhadap producer gas hasil gasifikasi batubara tersebut menunjukkan kadar ter dan partikulat yang cukup rendah yaitu <100 mg ter/Nm3 dan <50 mg partikulat/Nm3 dan sudah memenuhi persyaratan untuk bahan bakar mesin diesel.go. nurhadi@tekmira. ter. Jln. The coal 16 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .500 dan 4. Telp. heat exchanger dan botol kondensasi untuk mengasorbsi lengas dan botol impinger untuk mengadsorbsi ter dalam contoh producer gas. This method used apparatus which consists of iso-kinetic nozzle equipped with heater to take sample of producer gas. producer gas. One of quality parameter of producer gas to be used for internal combustion like diesel engine is the content of tar and particulate.

Francis. 1981. Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara bekerjasama dengan PT PLN (Persero) dan PT Coal Gas Indonesia sedang mengembangkan pemanfaatan producer gas dari batubara untuk pembangkit listrik tenaga diesel dengan membangun pilot plant di Sentra Teknologi Pemanfaatan Batubara tekMIRA. Cirebon. Proses gasifikasi menggunakan pereaksi campuran oksigen/uap air menghasilkan produk gas yang disebut gas Lurgi dengan komponen utama berupa CO dan H2 dan sedikit gas-gas hidrokarbon. 1984). syngas) dengan komponen utama CO dan H2. Di Indonesia. Substitute Natural Gas) dengan komponen utama CH4. gas alam sintetik (synthetic natural gas.500 and 4. producer gas dari biomassa telah digunakan untuk mesin pembakaran internal (internal combustion engine) seperti mesin gas (gas engine) dan mesin diesel dual fuel secara komersial di banyak negara. Peresmian pengoperasian pilot plant tersebut telah dilakukan pada tanggal 19 Maret 2008..500 cal/g. SNG) dan bahan baku industri kimia. Producer gas juga dapat dihasilkan dari proses gasifikasi bahan karbonan (carbonaceous matter) lainnya seperti biomassa (Anonymous. Gas ini termasuk gas kalori rendah (low calorie gas) dengan nilai kalor <200 Btu/ft3 (<1780 kkal/m3). producer gas. Keywords : coal gasification.used comes from South Kalimantan which have calorific values of 5. Gas sintesis dapat diproses lebih lanjut melalui proses metanasi untuk mendapatkan gas SNG (Synthetic Natural Gas. tar. perlu dikembangkan metoda analisis ter dan partikulat dalam producer gas dari batubara. tetapi sekarang bisa berupa gas sintesis. Batubara dari berbagai jenis dan peringkat dapat dikonversikan menjadi gas secara komersial. Produk gas yang dihasilkan proses gasifikasi batubara tergantung pereaksi yang digunakan. The operation of diesel engine using dual fuel system shows good performance and there were no tar and particulate deposit in the combustion chamber. Ward. Palimanan. Apabila gas Lurgi tersebut dimurnikan maka dihasilkan gas sintesis (synthesis gas. Untuk mendukung kegiatan pilot plant tersebut diperlukan perlatan dan metoda analisis producer gas yang dapat menentukan komposisi dan kadar kadar ter dan partikulat. penggunaan gas alam untuk mesin diesel dual fuel gas sudah dilakukan di Tarakan. serta pengotor. Slamet Suprapto dan Nurhadi 17 . Further development needs to be focused on standardization and on-line system connected to computer which can show the composition of producer gas directly. Gas Lurgi merupakan gas kalori menengah (medium calorie gas) dengan nilai kalor antara 200-400 Btu/ft3. Proses gasifikasi batubara yang saat ini berkembang dengan maju adalah proses konversi batubara dalam sebuah reaktor dengan menggunakan pereaksi. Kalimantan Timur. analysis method 1. This method has not been standardized yet because standard reference gas is not available yet. Nowacki. TINJAUAN PUSTAKA Proses konversi batubara menjadi gas yang dikenal dengan istilah gasifikasi batubara sudah berkembang dengan maju. 1981. Perbedaan proses gasifikasi biomassa yang menghasilkan producer gas untuk mesin Pengembangan Metode Analisis Ter dan Partikulat dalam Producer .. Oleh karena itu. Sehubungan dengan hal tersebut di atas. Proses gasifikasi menggunakan pereaksi udara dan uap air menghasilkan gas yang disebut producer gas dengan komposisi terdiri atas gas mampu bakar (combustible gas) CO dan H2 dan dan sedikit gas hidrokarbon seperti CH 4. Sementara itu. Kalau pada awalnya gasifikasi batubara hanya menghasilkan producer gas (gas bakar) dan gas kota. PENDAHULUAN 2. The results show that the content of tar and particulate are <100 mg of tar/m3 and <50 mg of particulate/m3 respectively which correspond with the requirement of producer gas as fuel for dual fuel diesel engine. 1965. particulate. 1986) dan dengan pereaksi campuran udara/uap air. serta pengotor N 2 mencapai sekitar 50%. Sedangkan metode analisis kadar ter dan partikulat dalam producer gas hasil gasifikasi biomassa juga baru dikembangkan di beberapa negara Eropa. Proses gasifikasi menggunakan pereaksi hidrogen juga dapat menghasilkan gas alam sintetik yang mempunyai nilai kalor sekitar 1000 Btu/ft3 dan termasuk gas kalori tinggi (high calorie gas) (Elliot. Metode analisis komposisi gas hasil gasifikasi biomassa maupun batubara umumnya menggunakan kromatografi gas.

Prosedur Analisis Ter dan Partikulat Setelah peralatan sampling dan analisis terpasang kemudian contoh gas dialirkan melalui nozzle dan penyaring keramik. Eropa maupun Amerika Serikat masih ditemukan bus atau traktor bermesin diesel sistem dual fuel dengan bahan bakar solar dan producer gas (Anonymous. Anonymous. Selandia Baru. Penggunaan producer gas hasil gasifikasi biomassa untuk mesin diesel pembangkit listrik maupun kendaraan telah dimulai sejak awal abad 20. METODOLOGI 3. Selanjutnya. 2005). Oleh karena itu. scrubber dan pendingin. Afrika. Pembuatan Peralatan Tahap awal dari pengembangan metoda adalah pembuatan peralatan sampling dan analisis sesuai dengan peralatan yang digunakan untuk sampling dan analisis producer gas yang dikembangkan di Eropa. Namun pada unit gasifikasi batubara mempunyai sistem pemurnian gas yang juga dilengkapi penangkap ter khusus. agar mesin diesel dapat beroperasi dengan normal. pada pipa aliran contoh gas dipasang pemanas suhu 200ºC agar ter tidak mengembun dan menempel pada nozzle dan pipa sirkulasi. Sampai sekarang. Reaktor gasifikasi biomassa adalah sistem downdraft. Uap air dan sebagian 18 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Skema pemasangan nozzle pada pipa aliran produk gas hasil gasifikasi batubara dapat dilihat pada Gambar 1.pembakaran internal dan proses gasifikasi batubara yang digunakan di pilot plant pemanfaatan gasifikasi batubara untuk PLTD adalah pada reaktor dan sistem pemurnian gas. Prinsip dasar metode tersebut adalah sampling dan analisis aliran producer gas yang mengandung ter dan partikulat secera on-line dengan menggunakan peralatan yang terdiri atas nozzle isokinetik dan penangkap ter dan partikulat. Disamping itu. Turare). Bahkan Energy research Center of the Netherlands (ECN) Belanda mengembangkan prosedur tersebut menjadi standar untuk kawasan Eropa dengan mengadakan Round Robin test. 1986. 3. Unit penangkap ter tersebut cukup efektif sehingga kadar ter dalam producer gas memenuhi syarat untuk penggunaan mesin diesel. yakni tar electrostatic precipitator. Penyaring keramik tersebut memiliki rongga-rongga 3 mikron. Botol kondensasi berisi 800 mL air suling (aquadest) yang didinginkan pada suhu 0OC. 1986.1. kadar ter dalam relatif rendah dan unit pemurniaan gas yang digunakan untuk gasifikasi biomassa cukup hanya terdiri atas siklon. Sedangkan gasifikasi batubara menggunakan reaktor sistem updraft sehingga produk gas mengandung lebih banyak ter. Alat penangkap partikulat berupa penyaring keramik (ceramic filter) dipasang pada aliran contoh gas sebelum masuk ke rangkaian penangkap ter. 2006): ter : <500 mg ter /m3 gas partikulat : 50 mg partikulat/m3 gas. Penggunaan tersebut mencapai puncaknya selama masa Perang Dunia II terutama dilakukan oleh Jerman untuk menjalankan kendaraankendaraan perangnya. Pipa teflon dicelupkan dalam air suling sedalam 15 mm. Secara umum. 1998. yakni batubara dimasukkan dari atas dan gas dikeluarkan dari bawah reaktor sehingga ter biomassa mengalami perekahan (cracking) menjadi molekul gas. van de Kamp. kadar ter dan partikulat ditentukan berdasarkan gravimetri. Sampai saat ini. Tetapi metode analisis ter dan partikulat dalam producer gas dari biomassa telah dikembangkan di Swiss dan Belanda (Nusbanmer. Penangkap ter terdiri atas botol pengembun uap air (moisture condensation bottle) dan 3 (tiga) botol tar impinger seperti terlihat pada Gambar 2. maka producer gas harus mengandung ter dan partikulat serendah mungkin. belum ada prosedur standar untuk menentukan kadar ter dan partikulat dalam producer gas. Oleh karena itu. kadar ter dan partikulat yang masih dapat ditoleransi untuk bahan bakar mesin pembakaran internal adalah adalah sebagai berikut (Anonymous. 3. Air dan tar yang mengembun kemudian dilewatkan pada pipa teflon untuk dialirkan ke dalam botol kondensasi. Ujung teflon berbentuk lobang-lobang dengan diameter 1 mm sebanyak 20 buah. Mesin-mesin pembakaran internal normalnya dirancang untuk menggunakan bahan bakar bensin atau solar yang relatif bersih dibanding producer gas.2. Contoh gas didinginkan dalam chiller yang terbuat dari gelas dan menggunakan air pendingin suhu 10 O C. di daerah-daerah terpencil di banyak negara misalnya Pilipina. Alat sampling tersebut berupa nozzle isokinetik yang dipasang pada pipa aliran gas dan dilengkapi pitot tube dengan dimensi tertentu.

. 2005) Gambar 2. 2005) Pengembangan Metode Analisis Ter dan Partikulat dalam Producer .Gambar 1. 1998. Skema penangkap partikulat dan ter ((Nussbanmer. 1998. Skema alat sampling producer gas (Nussbanmer. van de Kamp. van de Kamp.. Slamet Suprapto dan Nurhadi 19 .

mg vg = volume contoh gas. distribusi ukuran. 4. maka gas digunakan untuk mengoperasikan mesin diesel sistem dual fuel. Producer gas dengan kadar ter dan partikulat yang demikian sudah memenuhi syarat untuk digunakan pada mesin diesel. Setelah dilakukan langkah-langkah sampling gas dan pemisahan partikulat dan ter seperti seperti tersebut di atas. Sampling gas dilakukan selama 0. mg = volume contoh gas. tergantung kandungan ter dan partikulat. Ter yang terkandung dalam contoh gas akan mengembun dan terabsorbsi dalam anisol. Ter yang diperoleh kemudian ditimbang.500 kal/g dan 4.5 . rasio udara/uap air). Contoh gas kemudian disedot oleh pompa vakum pada laju alir antara 1. m3 3. suhu rasio pereaksi/batubara.3.500 kal/g (A) menunjukkan hasil yang berbeda antara percobaan gasifikasi ke 1 dan percobaan gasifikasi ke 2. ter yang sudah teradsorbsi dalam botol kondensasi dan botol impinger dipisahkan melalui destilasi vakum pada suhu 85 OC dan tekanan 10 – 20 mBar. van Dyk): kualitas batubara (analisis proksimat. Pengujian Metoda Pengujian metoda dilakukan terhadap producer gas hasil gasifikasi contoh batubara Kalimantan yang mempunyai nilai kalor 5. Hal ini disebabkan bervariasnya kondisi operasi gasifikasi batubara. 20 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Sisa contoh gas dibakar dengan pembakar (burner).3 m/detik. Apabila kadar ter dan partikulat dalam producer gas sudah memenuhi syarat. yakni <500 mg ter/m3 dan 50 mg partikulat/m3. mg/m3 = vg Di mana: mc1 = berat penyaring keramik sebelum percobaan. Ketiga buah botol impinger tersebut didinginkan dalam chiller pada suhu -3 sampai dengan -4 O C. Kadar ter dan partikulat producer gas dari contoh batubara dengan nilai kalor 5. Kualitas dan kuantitas produk gas hasil gasifikasi tergantung kondisi operasi sebagai berikut (Elliot. Walaupun batubara yang digunakan sama tetapi komposisi producer gas yang dihasilkan oleh percobaan ke 1 dan ke 2 belum tentu sama. Pengujian diawali dengan proses gasifikasi batubara yakni dengan mengumpankan batubara ± 150 kg/jam. Semakin kecil kandungan partikulat dan ter. reaktivitas. Kadar tar dapat dihitung dengan membagi berat ter yang diperoleh dari destilasi vakum dengan volume contoh gas. Selanjutnya dilakukan langkah-langkah sesuai dengan prosedur analisis ter dan partikulat.500 kal/g. m3 Sedangkan untuk menentukan kadar ter. mg/m3 = vg Di mana: mt = berat ter hasil destilasi. kemudian kadar partikulat dan ter dapat ditentukan dengan membagi berat ter dengan volume contoh gas sebagai berikut: mc1 – mc2 Kadar partikulat. Nowacki. sebagai berikut: mt Kadar partikulat. Pengujian tersebut dapat menghasilkan data kadar ter dan partikulat yang masing-masing antara 7–62 mg ter/m3 dan 31-50 mg partikulat/m3.7 – 3.ter dalam contoh gas akan mengembun dalam botol kondensasi yang berisi air suling. Langkah selanjutnya adalah mengalirkan gas ke dalam 3 buah botol impinger yang masing-masing berisi 50 mL anisol dan satu buah botol impinger kosong sebagai drop separator. Pengoperasian mesin diesel diawali dengan menggunakan bahan bakar 100 % solar pada berbagai beban (daya) 30 kW.1 jam. 1981. waktu yang dibutuhkan akan semakin lama. fragmentasi termal dan sifat caking). HASIL DAN PEMBAHASAN Pengujian metoda untuk analisis kadar ter dan partikulat contoh producer gas hasil gasifikasi dapat dilihat pada Tabel 1. kemudian gas batubara dimasukkan sampai beban mencapai maksimum 150 kW. 1981. mg mc2 = berat penyaring sesudah percobaan. Setelah operasi gasifikasi berjalan lancar (steady) kemudian dilakukan sampling gas dengan membuka aliran nozzle.

Pengoperasian mesin diesel menggunakan producer gas dari batubara menunjukkan kinerja yang cukup baik. down draft). Hasil analisis ter dan partikulat No. Walaupun metoda ini sudah bisa digunakan.. tetapi kemungkinan distribusi ukurannya tidak merata sehingga menyebabkan kondisi percobaan ke 1 dan ke 2 tidak sama.1. 3. KESIMPULAN DAN SARAN 5. Hasil pengujian penggunaan gas untuk mengoperasikan mesin diesel sistem dual fuel secara kontinyu dan beban maksimal menunjukkan kinerja yang cukup baik. Pengembangan Metode Analisis Ter dan Partikulat dalam Producer . Metoda sampling dan analisis ter dan producer gas telah dikembangkan dan diujicobakan dengan baik terhadap producer gas hasil gasifikasi batubara dari Kalimantan Selatan yang menghasilkan kadar ter dan partikulat masing-masing antara 7 – 62 mg ter/Nm3 dan 31 – 50 mg partikulat/Nm 3 yang telah memenuhi persyaratan untuk pengoperasian mesin diesel. Dalam program standarisasi tersebut dilakukan uji Round Robin. updraft.. Hal ini mengingat belum adanya standard reference gas yang sudah mempunyai kandungan ter dan partikulat tertentu. Pengembangan metoda sampling dan analisis producer gas juga perlu dikembangkan agar komposisi gas dapat langsung diketahui sehingga pemanfaatan untuk mesin diesel dapat terjamin. Disamping itu. 1. Hasil pengamatan terhadap ruang bakar mesin diesel setelah operasi kontinyu tidak menunjukkan perbedaan dengan menggunakan bahan bakar 100% solar dan tidak ditemukan adanya endapan kerak atau ter batubara dalam ruang bakar mesin diesel. suhu dan tekanan. oksigen/uap air).500 4. fluidized bed. Ukuran batubara yang digunakan dalam percobaan gasifikasi adalah – 5 + 1 cm. Hal ini menunjukkan bahwa kadar ter dan partikulat cukup rendah dan memenuhi syarat. yakni mengirimkan contoh-contoh gas yang sama ke beberapa laboratorium kemudian membandingkan hasilnya. 5. 5. Contoh Batubara Nilai Kalorkal/g Kadar Ter dan Partikulat. mg/m3 Ter 38 7 62 Partikulat 50 31 43 A B 5. jenis reaktor (fixed bed.500 Analisis proksimat. Hal ini juga dapat membuat penyebaran panas dalam unggun batubara tidak merata dan selanjutnya menyebabkan fragmentasi ukuran tidak sama sehingga kondisi proses berbeda. Saran Hasil ini agar dapat ditindaklanjuti dengan pengembangan metoda standar melalui kerjasama dengan laboratorium lain untuk melakukan uji pembanding (Round Robin test). Slamet Suprapto dan Nurhadi 21 . reaktivitas dan sifat caking batubara yang sama akan menghasilkan kondisi operasi yang sama. seperti yang dihasilkan oleh uji metoda analisis. tidak terdapat endapan ter dan partikulat dalan ruang bakar mesin.2. Kesimpulan Peralatan sampling dan analisis ter dan partikulat dalam producer gas dari batubara telah dapat dirancang bangun dan dipasang pada pilot plant gasifikasi batubara untuk PLTD di Palimanan Cirebon. tetapi yang masih menjadi masalah adalah belum dikembangkannya standar. Perbedaan kondisi proses tersebut menyebabkan terjadinya perbedaan kualitas produk berbeda. 2. belum ada laboraorium lain yang mengembangkan metoda analisis ter dan partikulat yang dapat bekerjasama dalam melakukan uji Round Robin guna membandingkan hasil analisis. pereaksi (udara/uap air.Tabel 1. Pengembangan standar analisis producer gas dari biomassa yang dilakukan oleh van de Kamp (2005) adalah dengan memvariasikan kondisi operasi gasifikasi yang terdiri atas.

Wood Gas as Engine Fuel. ARTES Institute Glucksburg.. & Kiel. J. 2005. J. Chemistry of coal utilization... Syngas and Coal Technologies. Van Dyk. FAO. 17-21 October. 1998. Melbourne.. van de Hoek. (ed. Coal Gasification Process. H. de Wild. M. P. M. Fuels and Fuel Technology.. Liliedahl. Rome. Section C: Gaseous Fuels. Vol II. http:/devafdc. C. R&D Division. M. Anonymous.. Biomass downdraft gasifier engine system. Blackwell Scientific Publications. 1981. 1986.gov/pdfs.. South Afrika. J. Coal Geology and Coal Technology. M. Sasol’s Unique Position in Production from South African Coal Source Using Sasol–Lurgi Fixed Bed Dry Bottom Gasifier. Whitehouse. Vol. Oxford. Noyes Data Corporation Jersey.A. 1984.. U. Neeft. Nussbanmer. Zielke. PT PLN Jasa Produksi dan PT Coal Gas Indonesia (PT CGI) atas kerjasamanya dalam penyelenggaraan kegiatan ini. Turare. Suomalainen. Ward. Good. DAFTAR PUSTAKA Anonymous. M. Sasolburg. H.J.nrel..UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terimakasih disampaikan kepada Puslitbang tekMIRA. W. 1981. Sasol Technology. Second Suppl. Tar measurement standard for sampling and analysis of tars and particles in biomass gasification product gas.. W. & Coertzen. Keyser. Germany. Zurich. (Ed. P. 2006. Guide line for Sampling and analisis of Tars Condensates and Particulates From Biomass Gasifier. Unger. 14th European Biomass Conference & Exhibition. J. 22 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . John Wiley & Sons.C.. 1965.. New York. Swiss Federal Institute of Zurich. Knoef. van de Kamp. C. T.. Paris.).. T..).R. Elliot. Francis. Nowacki. C. Pergamon Press. Biomass Gasification – Technology and Utilization.

021 7222583 Fac. Djoko Sunarjo dan Bambang Wicaksono 23 .IMPLEMENTASI PENGELOLAAN LINGKUNGAN SEKTOR ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL PADA ERA GLOBALISASI Djoko Sunarjanto dan Bambang Wicaksono Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi (LEMIGAS) Jl.id SARI Paradigma baru pengelolaan Sektor Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus bergulir. Permasalahan bertambah kompleks dengan berfluktuasinya produksi dan harga komoditas mineral..go. Salah satunya adalah konsep Green Mining and Energy. Dampak lingkungan yang timbul dapat berkembang menjadi permasalahan global. terdapat persamaan antara lain tentang kepedulian lingkungan.021 7226011 e-mail : djokosnj@lemigas. Dari implementasi UU Migas dan UU Minerba yang baru.esdm. Cipulir-Kebayoran Lama. tidak terkotak-kotak wewenang daerah/pusat. Sektor ESDM.id. namun menjadi urusan internasional. luas wilayah dan perkembangan perekonomian. Diperlukan antisipasi pengelolaan sebaik-baiknya yang meliputi 3 faktor utama pengelolaan lingkungan Sektor ESDM di Indonesia. Adanya berbagai input dan proses kegiatan pertambangan. Analisis pada studi kasus kegiatan pertambangan apabila berpatokan pada nuansa desentralisasi dan meninggalkan sentralisasi akan menimbulkan dampak baru. bambangwtm@lemigas. Perlu upaya khusus untuk implementasi pengelolaan lingkungan dan penanganan dinamika kegiatan pertambangan mineral dan energi pada era globalisasi. Demikian juga pengelolaan ekspor mineral. yakni jenis mineral.go. Jakarta Selatan 12230 Telp. globalisasi Implementasi Pengelolaan Lingkungan Sektor Energi . pengembangan teknologi termasuk impor peralatan masih dalam konteks sentralisasi. menjadi masukan informasi untuk kembali ke konsep pengelolaan lingkungan yang sudah ada.esdm. Kata kunci : lingkungan. Ciledug Raya Kav 109.. setelah penyerahan UU Nomor 22 Tahun 2001 tentang Migas kemudian UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (Minerba). akan menghasilkan output yang bermanfaat secara berkelanjutan utamanya selalu mempertimbangkan faktor lingkungan dan masyarakat sekitar kegiatan pertambangan.

Perlu kesadaran manfaat dan resiko bahaya yang dihadapi dan kemampuan masyarakat untuk melindungi diri dari dampak negatif yang timbul. antara lain pasal 78) Kegiatan Reklamasi dan Pascatambang (pasal 39) Dengan terbitnya perundang-undangan yang mendasari pelaksanaan pengelolaan energi dan sumber daya mineral. jumlah dan penyebaran penduduk yang timpang serta adanya perbedaan ekologi di berbagai kawasan Indonesia. produksi mineral. Sebagai negara kepulauan. POTENSI DAN PEMANFAATAN BATUBARA INDONESIA 2. in primary environment factors and community of the surrounding mining activities. globalization 1. 22 year 2001) and Mining and Coal Law (Law No.ABSTRACT New paradigm on management Energy and Mineral Resources Sector. Environmental effect could generate the global problems. The implementations of those laws pay the same attention on environment management. mining area. With the inputs from mining activities there be sufficient information to come back to available environment management since Green Mining and Energy concept will cause a sustainable benefit output. 4 year 2009) is going on. Analysis from case study in mining activity if decentralism spirit is used and leaving from centralization spirit will create new impact. terdapat persamaan dalam permasalahan lingkungan yang tertuang dalam UU Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi dan UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. Analisis komparatif dilakukan dengan subsektor lainnya dikompilasi dengan kekhususan pengembangan subsektor minyak dan gas bumi. economics development. not only local but also international. dan pemanfaatan batubara untuk Sejak tahun 2006 Pemerintah menggulirkan beberapa kebijakan untuk mendukung pembangunan pembangkit listrik 10. Export activities of minerals. 3. development of technologies and import of equipment which is still centralized and the complexity of the problems with fluctuations of product and mineral price need anticipation to manage it.000 MW menggunakan bukan Bahan Bakar Minyak atau non-BBM. Penanganan lingkungan hidup Rencana pengembangan dan pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah pertambangan (beberapa pasal. Pendekatan kegiatan berbasis masyarakat (community based activities). Salah satunya adalah dengan memberikan insentif kepada perusahaan batubara pemasok pembangkit listrik PLTU. Dalam UU Minerba yang baru telah dilengkapi tata cara pengembangan terkait masyarakat. after Oil and Gas Law (Law No. yaitu. Keywords: environment. Special effort is needed for environment management to cope with the dynamics of mineral and energy activities in globalization era. LATAR BELAKANG kelistrikan serta beberapa studi kasus. lebih mungkin menghasilkan tindakan yang merespon kebutuhan riil penduduk ataupun masyarakat lingkar pertambangan. Pemutakhiran dan upaya khusus implementasi pengelolaan lingkungan di tengah dinamika kegiatan pertambangan mineral dan energi sangat diperlukan guna menciptakan pertambangan berwawasan lingkungan. Insentif yang diberikan berupa pemotongan dana pengembangan batubara yang merupakan bagian dari Dana Hasil Produsen Batubara (DHPB) yang disetor perusahaan tambang ke kas negara. reklamasi sampai pascatambang. these involve five factors: minerals item. PENDEKATAN TEORI DAN ANALISIS Pendekatan kegiatan menggunakan teori kebijakan dan geologi lingkungan dikomparasi dengan data sekunder pengusahaan mineral dan batubara. Insentif tersebut diberikan hanya untuk kebutuhan pembangunan pembangkit listrik dan tidak boleh digunakan untuk keperluan ekspor. Penyusunan makalah ini diharapkan dapat dijadikan sebagai masukan dalam rangka mempersiapkan peraturan dan keputusan sebagai turunan dan pendukung Undang Undang Minerba yang baru. 24 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . energy and mineral resources sector. tidaklah mengherankan apabila pada masing-masing wilayah terdapat perbedaan dalam upaya penanganan lingkungan dan peningkatan perekonomian atau Pendapatan Asli Daerah dari kegiatan pertambangan.

selaras hasil penelitian yang menyebutkan bahwa Indonesia memiliki potensi batubara kalori rendah cukup besar yang selama ini belum dieksplorasi. pertambangan mineral radioaktif. Salah satu solusi jangka panjang untuk menekan beban PLN dengan menggunakan batubara untuk pembangkit listrik yang akan dibangun maupun yang telah beroperasi. Wilayah Pertambangan 3. seperti dalam pengusahaan migas dibedakan institusi pemerintah sebagai regulator (Ditjen Migas) dan badan yang melakukan pengawasan kegiatan baik hulu dan hilir migas oleh BP Migas dan BPH Migas. Namun dalam pengelolaan dan pekembangannya diperlukan inovasi dan keluwesan mengaplikasikan dalam peraturan perundangan baru. di samping berdampak timbul masalah gangguan kualitas lingkungan. Pertambangan mineral masih digolongkan lagi menjadi. yaitu kategori A (Bahan Galian Strategis). Batubara sebagai bahan bakar PLTU pengganti BBM dilandasi alasan karena batubara lebih murah dan cadangannya cukup besar. Gambar 1. dekat kawasan budi daya atau pada kawasan hutan dan kawasan lainnya. Terkait dengan jenis mineral dan pertambangan. Akan dibangun PLTU Suralaya. 1. ANALISIS KOMPARATIF Upaya mengatasi permasalahan yang timbul dapat diantisipasi dengan pengelolaan sebaik-baiknya. dalam Program 10. 4. pertambangan mineral nonlogam dan pertambangan batuan (UndangUndang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara) Sesuai klasifikasi untuk pengelolaannya tergantung jenis dan kategori mineral. demikian juga nantinya untuk mineral strategis lainnya termasuk batubara. misal penambangan di daerah resapan air tanah. seperti tambang yang sudah lama dikembangkan tambang emas Pongkor. Jayawijaya. batubara di Sawahlunto.Meningkatnya pemakaian BBM untuk pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) dan listrik tenaga uap (PLTU) memberatkan PLN dari segi biaya. Paiton dan Tuban.. meliputi 3 faktor utama yang berperan penting dalam pengelolaan lingkungan Sektor ESDM di Indonesia. Sebaliknya beberapa tambang dalam memerlukan lahan yang relatif tidak luas. Perkembangan Perekonomian 1. Peningkatan pertambangan batuan sesuai kegiatan pembangunan fisik sarana-prasarana. Contoh pertambangan mineral logam PT Newmont Nusa Tenggara memerlukan wilayah yang luas Gambar 1. dalam UU Minerba yang baru diuraikan pada BAB VI pasal 34. sampai saat ini masih relevan.. Saat ini pertambangan mineral dan batubara di Indonesia cenderung menggunakan sistem tambang terbuka (open pit mining) yang menggunakan lahan luas. Di Jawa Barat akan dibangun PLTU Indramayu dan Pelabuhan Ratu.28 juta ton per tahun. kategori B (Bahan Galian Vital atau Logam) dan Golongan C (Industri atau bahan bangunan). Jawa Tengah akan dibangun PLTU Rembang dan Tanjung Jati. Kebijakan Energi Nasional 2003-2009 menyebutkan bahwa penggunaan batubara dapat mendorong pengembangan batubara kalori rendah di dalam negeri. 2006) Implementasi Pengelolaan Lingkungan Sektor Energi . PLTU Labuhan dan Tangerang (Provinsi Banten).000 MW sebagian besar menggunakan batubara. Ibrahim (2008) dalam bukunya General Check-Up KELISTRIKAN NASIONAL. Produksi batubara dalam negeri sekitar 203 juta ton per tahun. Jenis Mineral 2. yaitu . Usaha Pertambangan dikelompokkan menjadi pertambangan mineral dan pertambangan batubara. untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar sejumlah PLTU diperlukan sebanyak 21. sehingga menjamin pasokan. Sedangkan di Jawa Timur akan dibangun PLTU Pacitan. Djoko Sunarjo dan Bambang Wicaksono 25 . pertambangan mineral logam. Kegiatan operasi di tambang terbuka Batu Hijau (Foto : Newmont Nusa Tenggara. tetap memerlukan kewaspadaan dalam pengelo-laannya terkait lingkungan. Jenis Mineral Klasifikasi mineral ataupun pembagian bahan galian sesuai Undang-Undang atau PP No 27 Tahun 1980 dibedakan menjadi 3 jenis atau kategori.

Keberhasilan kegiatan community development atau social responsibility dan program kemasyarakatan yang sejenis menjadi indikator keberhasilan kegiatan pertambangan suatu wilayah (Sunarjanto dan Adji.882 117.134 6. akuisisi perusahaan.24 33. demikian juga antara Sumatera Jawa dengan pulau lain di Indonesia Timur.671 97.308 102. penggabungan beberapa perusahaan bahkan pengalihan bidang usahapun perlu diperhitungkan untuk keamanan berusaha dan mempertahankan stabilitas investasi.989.398 244. kasus penanganan pengawasan Usaha Hulu Migas yang selama ini dilakukan BP MIGAS sesuai UU No 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi. efektivitas dan efisiensi terkait kewilayahan.536.318 261.667 pulau mempengaruhi implementasi organisasi.706. Hal ini karena kompleksnya permasalahan pengawasan kegiatan hulu migas dan lokasi wilayah yang tersebar dan sulit dijangkau. Produksi hasil tambang terpilih. Sebagai contoh. 2005).619.284. salah satu penyebabnya diduga pengelolaan dan pengusahaannya mengabaikan prosedur dan pengawasan lingkungan dan keselamatan kerja seperti yang seharusnya berlaku pada kegiatan tambang bawah tanah/tambang batubara.326 4. 3.267 272. Tabel 1. kebutuhan dalam negeri dan ekspor 2006 2007*) 2008*) Produksi Ekspor Domestik Produksi Ekspor Domestik Produksi Ekspor Domestik 817. perak dan timah lebih besar untuk kebutuhan luar negeri. sebaliknya hasil kegiatan pertambangan diekspor ke luar negeri.702.536. Tercatat produksi nasional tembaga. Sisi lain pengelolaan pertambangan mineral dan energi tergantung pada modal besar dan beresiko tinggi.783 797.183 3.134 Ton) untuk memenuhi kebutuhan luar negeri (Tabel 1). Dari sisi mikro-ekonomi fluktuasi harga komoditas. Juli 2008 Sumber : Directorate General of Mineral Coal and Geothermal (2008) 26 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .623.105 56.809. Pengembangan pertambangan akan mempertimbangkan lebih banyak faktor pada daerah padat penduduk.75 497.704. sesuai UU Minerba baru daerah pertambangan berpotensi untuk dikembangkan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi (pasal 28).555. masalah tumpang-tindih dengan sektor atau subsektor lain.542 MT) dan bijih nikel (4. Sumatera.222 5. Untuk itu pelaksanaan rangkaian kegiatan pertambangan di Indonesia masih dikontrol langsung pemerintah.726. bahkan tahun 2007 produksi bauksit (1. Tingkat kepadatan penduduk tempat kegiatan pertambangan berada.127.176 1.407 22.48 287.774.Kasus terjadinya ledakan tambang batubara Sawahlunto yang menelan korban meninggal lebih dari 30 orang pada pertengahan Juni 2009.775 3.353.442 - Tembaga (Ton) Emas (KG) Perak (KG) Timah (Ton) Bauksit (MT) Bijih Nikel (Ton) *) Termasuk Kuasa Pertambangan Status Data.422 1. Kalimantan dan Sulawesi merupakan tempat pemukiman yang utama.501.037. Wilayah Indonesia yang memiliki tidak kurang dari 13.796 816.937 1.862 25. sejak perencanaan.832 4.49 6. salah satu implementasinya BP MIGAS membuka kantor perwakilan dan penghubung di daerah.144 12.73 17.762. Jawa.61 1.470 97.309.31 90.048 747 1. ketenagakerjaan sampai ekspor-impor.515 65. eksplorasi-eksploitasi sampai pengawasan dan audit pascakegiatan pertambangan.46 25. Dari berbagai pulau. Tantangan ke depan menjadi bertambah karena peningkatan jumlah penduduk dan pertambangan mengarah ke wilayah padat penduduk. sehingga diperlukan pendekatan sosio kemasyarakatan dan teknologi dalam pengelolaan mineral dan energi.357 61.967 269. dan temehadap pada satu sisi akan menjadi potensi sumber daya yang tidak boleh diabaikan. 2.031. mesin dan teknologi dari beberapa negara luar.665.483 7.604. Perkembangan Perekonomian Akhir-akhir ini permasalahan lingkungan menjadi bagian penting dalam perekonomian.249. Keterkaitan wilayah dan kepadatan penduduk terlihat perbedaan antara Wilayah Jawa dan luar Jawa. khusus Pulau Jawa menampung hampir 60 % penduduk Indonesia.248.411 85.376.186 42.923 32.43 330.309. pajak. Wilayah Pertambangan Keberadaan wilayah pertambangan sangat mempengaruhi pelaksanaan dan permasalahan yang timbul di lapangan. Impor peralatan. termasuk di dalamnya investasi dan nilai tukar mata uang. emas.406.884 85.64 83.07 80.181 159.024 5. mengakibatkan ketergantungan pada perekonomian global. penyerobotan wilayah oleh pertambangan tanpa ijin termasuk permasalahan lingkungan yang tidak mudah diselesaikan.542 15.48 188.42 122.67 36.044.927 91.

Newmont Nusa Tenggara dalam jangka waktu kurang dari 10 tahun mampu membangun Pusat Pertumbuhan Ekonomi baru di Wilayah Indonesia Timur Gambar 2. dan abu. 2000). Perubahan pada era globalisasi yang kadang berubah secara cepat dari segenap pihak pemangku kepentingan. membentuk rantai semacam siklus. CO. SO2 menyebabkan gangguan pernafasan. CO2. Djoko Sunarjo dan Bambang Wicaksono 27 . Dampak negatif yang tidak tampak secara langsung sebagai sumber utama emisi berbahaya seperti SO2. Secara fisik tampak mata adalah perubahan bentang alam. Salah satu emisi yang harus mendapatkan perhatian dari pembakaran batubara pada pembangkit listrik adalah SO2. Apabila dikaitkan dengan lingkungan dan pengembangan wilayah selalu mempertimbangkan faktor lingkungan dan masyarakat sekitar kegiatan pertambangan atau diistilahkan masyarakat lingkar luar. Dampak lainnya mengakibatkan terjadinya hujan asam yang dapat merusak tanaman serta mempercepat kepunahan keanekaragaman hayati yang sangat merugikan kehidupan. Implementasi Pengelolaan Lingkungan Sektor Energi . yaitu . Sebagai bahan pengambilan keputusan ataupun masukan dalam penyusunan peraturan. Kegiatan ESDM khususnya pertambangan mineral masih terkonsentrasi di darat. karena banyak di antara spesies yang punah tersebut merupakan spesies yang berguna bagi manusia (Christensen. meledaknya hama dan wabah penyakit.. Dalam perkembangannya selama ini banyak kajian ilmiah. Dengan melengkapi peralatan sejenis penyaring. di mana daratan hanya menempati sepertiga Wilayah Indonesia. maka gas buang dari PLTU ataupun industri menjadi aman bagi lingkungan (Brodjonegoro.5. hujan badai. 6. Bambang dan Sunarjanto. Diperlukan pemutakhiran dan diskusi yang berkelanjutan mengantisipasi perubahan yang dinamis. yang merupakan gas tidak berwarna. shareholder sampai pihak luar/internasional. dapat menyebabkan kebutaan dan kematian pada manusia. Peningkatan emisi gas CO2 di atmosfer akan dapat mempengaruhi terjadinya perubahan curah hujan dan pemanasan global. PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP 7. Penambangan timah dan pasir laut di daerah Riau Kepulauan dan sekitarnya menjadi contoh pertambangan mineral lepas pantai yang dapat dilakukan pada wilayah lain. dengan disesuaikan terhadap terdapatnya sumber daya mineral dan energi. Pusat pertumbuhan (growth center). Penanganan lingkungan hidup termasuk reklamasi dan pengelolaan pascatambang (BAB VII pasal 39 UU Minerba) menjadi upaya penting memperbesar dampak positif menciptakan pertambangan secara berkelanjutan sejak eksplorasi sampai dengan esok menjadi suatu kawasan pusat pertumbuhan ekonomi. pemanasan global juga dapat menimbulkan terjadinya kerusakan ekosistem terumbu karang. lingkar 2 dan seterusnya. Berdasarkan analisis komparatif. analisis dan alternatif yang sudah disusun ahli maupun institusi. terjadinya perubahan musim. DISKUSI Sampai saat ini sumber energi fosil merupakan sumber utama dan penggunaan bahan bakar batubara pada PLTU dapat berdampak merugikan lingkungan. berbau menyengat dan sangat berbahaya bagi tumbuhan dan hewan. Dapat ditinjau kembali konsep pengelolaan lingkungan yang sudah ada. sebagai ilustrasi digambarkan dalam Gambar 1. Bila dibandingkan masih lebih banyak kegiatan migas yang mengeksplorasi dan mengeksploitasi cadangan migas lepas pantai. Penggunaan energi batubara dalam penyediaan tenaga listrik ataupun industri mineral dan energi lainnya diupayakan agar lebih ramah lingkungan dan dilakukan dengan melengkapi peralatan yang dapat mengatasi polutan. Sebagai contoh nyata adanya kegiatan pertambangan mineral logam di Maluk Sumbawa yang termasuk Wilayah PT. ALTERNATIF SOLUSI Alternatif solusi merupakan bagian dari strategi yang diperlukan guna mempercepat dan akurasi suatu proses untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Agregatif: yang potensinya menunjang konsepsi pengembangan wilayah sektor lain. pengembangan wilayah Sektor ESDM terdiri dari 3 alternatif.. banjir bandang dan sebagainya. Menjadi peluang dan tantangan untuk lebih intensif mengembangkan pertambangan mineral di lepas pantai. penurunan produktivitas perikanan laut. Regional Integratif: yang potensinya bersifat merangsang pengembangan wilayah sektor lain. sebagai suatu alternatif solusi terdapat input dan proses kegiatan pertambangan dapat diarahkan mencapai output yang bermanfaat banyak pihak. salah satunya adalah konsep Green Mining and Energy akan menghasilkan output yang bermanfaat secara berkelanjutan. 1991). baik lingkar 1. Menurut Soelistijo (2000) secara makronasional. Selain mendorong terjadinya kepunahan keanekaragaman hayati.

ISBN 0-8403-4657-3. Directorate General of Mineral Coal and Geothermal. Dubuqe Iowa. Global Science. sebagai pusat pertumbuhan ekonomi (Sumber : PT Newmont Nusa Tenggara) diperlukan perhatian khusus pada permasalahan. dijadikan alasan untuk menyalahkan dunia pertambangan dan pemangku kepentingan. 2000. Energy. General Check-Up Kelistrikan Nasional. Suprajitno Munadi. Dampak lingkungan (dampak negatif) yang timbul dapat berkembang secara cepat menjadi permasalahan global. Indonesia’s Mineral and Coal Development. antara lain : Produksi dan harga komoditas mineral yang terus berfluktuasi. Bambang and Sunarjanto. A. third edition. Pengelolaan lingkungan pertambangan lepas pantai yang baik sebagai upaya optimalisasi pemanfaatan wilayah dan ikut melindungi pelestarian alam. Pengelolaan lingkungan Sektor ESDM menjadikan lingkungan bumi yang berkualitas sekaligus sebagai warisan generasi yang akan datang.W. 28 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .. Country Paper. Ir. Hadi Purnomo. MediapIus Network. Suatu kawasan pertambangan mengubah lokasi terpencil menjadi pusat pertumbuhan ekonomi sudah banyak terbukti berhasil pada beberapa wilayah. The Sustainable Economic Growth Pole in The Mining Area Using AHP Method: Case Study of PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. 1991. UCAPAN TERIMA KASIH Tersusunnya makalah ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Prof. H. Sumbawa pada tahun 1995 dan 2005.Sc DIC yang memberi kesempatan penulis menyampaikan makalah ini. Perbandingan maluk. PENUTUP Penanganan lingkungan hidup sampai kegiatan pertambangan selesai/ pascatambang menjadi upaya penting memperbesar dampak positif dan memperkecil dampak negatif.. Resources. Bapak Dr. Terima kasih kepada Kepala PPPTMGB LEMIGAS. 2008. namun masih diperlukan usaha lain agar tercipta pertambangan bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan sekitarnya secara berkelanjutan. M. Proceedings of INSAHP.MALUK 1995 MALUK 2005 Gambar 2. J. Jakarta. Ministry of Energy and Mineral Resources The Republic of Indonesia. Dr. Ibrahim. Environment. Bencana lingkungan dan kebumian yang tidak terkait pertambangan ataupun ESDM.. 8. 2008. yang telah bersedia mengoreksi dan memberi masukan. Bali-Indonesia. Kendall/Hunt Publishing Company. Christensen. Pongkor Gold Mine-West Java Indonesia. DAFTAR PUSTAKA Brodjonegoro. 699 p.

D. Jakarta. Corporate Social Responsibility One of Methods To Expand The Benefit for Oil and Gas Bearing Area. Proceedings 30th Annual Meeting IPA. 2000. Ditjend Pertambangan Umum.. ISBN 979-98000-7-2. PPTP. Djoko Sunarjo dan Bambang Wicaksono 29 .. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara Implementasi Pengelolaan Lingkungan Sektor Energi . Bandung. Kini dan Esok.. Newmont Nusa Tenggara . Dulu.Cetakan Pertama November 2008. ISBN 978979-18898-0-3. W. Soelistijo. 2005.T. U. 2006. Sunarjanto. DPE..PT. and Adji G. Cetakan Kedua. Pengembangan Wilayah Sektor Pertambangan dan Energi. Batu Hijau.

in which the region has an authority to manage its region professionally. Hingga pertengahan bulan Juni tahun 2009.031 Perda dan berdasarkan hasil evaluasi telah merekomendasikan sebanyak 2. Hal ini menunjukkan bahwa produk Perda yang telah disusun cukup banyak yang bermasalah. nyata dan bertanggung jawab. Jend. Consequently. perda-perda tumbuh bak jamur di musim hujan. berupa timbulnya pungutan pajak dan retribusi atau pungutan lainnya yang bertentangan dengan kepentingan umum atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. dengan kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus daerahnya secara luas. Sudriman 623 Bandung 40211 Telp. which are no relation with the public interest and the higher regulations. Pemerintah Daerah berpacu mengoptimalkan potensi sumber daya yang ada dan menciptakan kebijakan untuk meningkatkan pendapatan daerah (PAD) dengan legitimasi berupa Perda. In a relatively short time. This is against the investment promotion in the country. otonomi daerah ABSTRACT The release of the regional autonomy policy in the early 2000 is a new era of the regional government. Departemen Keuangan telah mengumpulkan 12. kesempatan kerja dan berusaha serta terciptanya pengembangan wilayah. 30 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .894 perda dibatalkan dan 144 perda direvisi.esdm. retribution and other taxes.go. these regulations grow widely. 022.6030483 Fax. dengan adanya kebijakan otonomi memberi peluang pengembangan pertambangan di daerah. sehingga akan menimbulkan kondisi yang tidak kondusif dan dapat menghambat pertumbuhan ekonomi maupun peluang investasi di daerah. and this causes collection of taxes. Maraknya daerah menyusun perda menimbulkan masalah baru. Kata kunci: peluang. antara lain : kewenangan pengelolaan dan pemanfaatan potensi bahan galian. peningkatan penerimaan.id SARI Digulirkannya kebijakan Otonomi Daerah pada awal tahun 2000. Dalam waktu yang sangat singkat. Dengan adanya kebijakan tersebut. merupakan babak baru dalam pemerintahan daerah.6003373 e-mail : umard@tekmira.PELUANG PENGEMBANGAN PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA PADA ERA OTONOMI DAERAH Umar Dhani Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. 022 . the regional government is pushed to optimized potential of the resources and to create a policy of improving regional revenue by legitimating regional regulations. Selain itu. pengembangan pertambangan.

Selain itu masih terjadi perbedaan persepsi dalam menterjemahkan kebijakan otonomi daerah. termasuk sektor pertambangan. so they must be eliminated or revised. Kewenangan daerah mencakup kewenangan semua bidang pemerintahan. Sejak diberlakukannya otonomi daerah tahun 2000. According to the evaluation results.. kebijakan otonomi daerah di Indonesia mengacu kepada Undang-Undang (UU) Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah. menghormati budaya budaya lokal.Until the mid of June 2009. KEBIJAKAN OTONOMI DAERAH Pada hakekatnya otonomi daerah merupakan hak. tetapi juga kebijakan pertambangan yang mengacu pada UU Nomor 11 Tahun 1967 sudah tidak selaras dengan semangat otonomi daerah yang sedang digiatkan. dan sumber daya Peluang Pengembangan Pertambangan Mineral dan Batubara pada Era . the autonomous policy has provided an opportunity to develop the mining sector in a region in terms of management authority of utilizing mineral potential. pemerataan dan keadilan. agama. nyata. 2. dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundangundangan. Pada era ini peran Pemerintah Pusat sangat menonjol. revenue increase. pertahanan keamanan. Sejak terjadi krisis ekonomi pada tahun 1997. termasuk pada sektor pertambangan mineral dan batubara. yaitu desentralisasi pemerintahan dari pusat ke daerah yang diimplementasikan pada UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan disempurnakan menjadi UU Nomor 32 Tahun 2004. 2. sumber daya buatan. moneter dan fiskal. Penurunan tersebut bukan hanya dipicu oleh diberlakukannya kebijakan otonomi daerah.031 regional regulations. demokratisasi. masih banyak yang tidak selaras dengan kebijakan yang lebih tinggi. job creation and regional development. dan bertanggung jawab. Permasalahan tersebut terjadi pada seluruh sektor usaha. Tujuan pemberian kewenangan dalam penyelenggaraan otonomi daerah adalah meningkatkan kesejahteraan rakyat. PENDAHULUAN Selama lebih dari dua dasawarsa. terjadi penurunan investasi pada seluruh sektor usaha. Umar Dhani 31 . Pada awal tahun 2000 diberlakukannya kebijakan otonomi. dan bidang lainnya yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. masih banyak terjadi perbedaan penjabaran mengenai otonomi daerah yang dituangkan dalam perda pada masing-masing daerah. because they will create an unconducive condition and can hamper the economic growth and the opportunity of investing in the mining sector in the region. Moreover. Hal ini akan menimbulkan iklim yang tidak kondusif karena ketidak-konsistenan kebijakan dan bahkan dapat menghambat pertumbuhan ekonomi maupun peluang investasi di daerah.984 regulations are deleted and 114 are revised. Salah satu upaya yang menonjol yang dilakukan oleh pemerintah daerah pada era ini adalah menerbitkan Peraturan Daerah (Perda). kelembagaan. Otonomi daerah diartikan kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus daerahnya secara luas. mining development.. serta memperhatikan potensi dan keanekaragaman daerah. regional autonomy 1. khususnya pada sektor pertambangan. peradilan. pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota telah melakukan pembenahan dan penyesuaian administratif dan struktur organisasi. the Ministry of Finance has collected 12. sehingga menimbulkan ketergantungan daerah terhadap pusat. Pemerintah daerah tidak mempunyai keleluasaan dalam menetapkan program-program pembangunan di daerahnya serta sumber keuangan penyelenggaraan pemerintahan diatur oleh pusat. sehingga menimbulkan ketidakselarasan dengan kebijakan di atasnya atau kebijakan sektor lain. bahkan cenderung tumpang tindih dan terkesan hanya berorientasi meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) semata. This indicates that those regulations have problems. Pemerintah Daerah diberi kewenangan untuk mengelola sumber daya alam. Selain itu. wewenang. Keywords: opportunity. Maraknya meenerbitkan Perda tersebut. Permasalahan-permasalahan tersebut pada akhirnya dapat berakibat terganggunya perekonomian daerah maupun nasional. kecuali kewenangan di bidang politik luar negeri.

Hubungan dalam bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antarpemerintah daerah sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (4) dan ayat (5) meliputi : pelaksanaan pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya yang menjadi kewenangan daerah. Pemerintahan daerah menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya. dan 35 kota. tanggung jawab. dan pelestarian. yaitu terdiri atas 31 (tiga puluh satu) bidang urusan pemerintahan (PP Nomor 38 Tahun 2007). Prinsip otonomi daerah adalah desentralisasi. dan penyerasian lingkungan dan tata ruang serta rehabilitasi lahan. pemerintahan daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan. dan kriteria. standar. dan efisiensi dengan memperhatikan keserasian hubungan antarsusunan pemerintahan. serta agama. Hal ini dapat terlihat dengan meningkatnya jumlah daerah otonom baru sejak tahun 1999 hingga Desember 2008 sebanyak 215 daerah otonom baru. Urusan pemerintahan yang diserahkan kepada daerah disertai dengan sumber pendanaan. kecuali urusan pemerintahan yang oleh UU Nomor 32 Tahun 2004 ditentukan menjadi urusan pemerintah. pemanfaatan. Urusan pemerintahan wajib dan pilihan menjadi dasar penyusunan susunan organisasi dan tata kerja perangkat daerah. Dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah. dan jangkauan dampak yang ditimbulkan oleh penyelenggaraan suatu urusan pemerintahan. yang terdiri atas : 7 provinsi. masih terdapat usulan baru yang siap dibahas maupun yang belum diproses tentang pembentukan daerah otonom baru. kerja sama dan bagi hasil atas pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antarpemerintahan daerah. moneter dan fiskal. kriteria akuntabilitas” adalah penanggung jawab penyelenggaraan suatu urusan pemerintahan ditentukan berdasarkan kedekatannya dengan luas. Dalam penyerahan disertai pembiayaan. Selain itu. bagi hasil atas pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. keinginan pembentukan daerah otonom baru berkembang sangat pesat. Setelah diberlakukan kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah. serta kepegawaian. Penyelenggaraan urusan pemerintah dibagi berdasarkan kriteria eksternalitas. besaran. sumber daya manusia. dan kriteria untuk pelaksanaan urusan wajib dan urusan pilihan. dan kriteria perlu diperhatikan keserasian hubungan pemerintah dengan pemerintah daerah dan antarpemerintah daerah sebagai satu kesatuan sistem dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. pemerintah menyelenggarakan sendiri atau dapat melimpahkan sebagian urusan pemerintahan kepada perangkat pemerintah atau wakil pemerintah di daerah atau dapat menugaskan kepada pemerintahan daerah dan/atau pemerintahan desa. prosedur. Pemerintah daerah provinsi dan pemerintah daerah kabupaten/kota dalam melaksanakan urusan pemerintahan wajib. peradilan/yustisi. Hubungan dalam bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antarpemerintah dan pemerintah daerah sebagaimana dimaksud dalam UU Nomor 32 Tahun 2004 pasal 2 ayat (4) dan ayat (5) meliputi : kewenangan. prosedur. penyerahan semua kewenangan kecuali bidang politik luar negeri. dan jangkauan dampak yang timbul akibat penyelenggaraan suatu urusan pemerintahan. sarana dan prasarana. dan pengelolaan perizinan bersama dalam pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya 32 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan. dan prosedur. Menteri/Kepala Lembaga Pemerintah Non Departemen menetapkan norma. 173 kabupaten. Urusan pemerintahan yang dibagi bersama antartingkatan dan/atau susunan pemerintahan adalah semua urusan pemerintahan di luar urusan yang menjadi kewenangan pemerintah. “kriteria efisiensi” adalah penyelenggara suatu urusan pemerintahan ditentukan berdasarkan perbandingan tingkat daya guna yang paling tinggi yang dapat diperoleh. pengalihan sarana dan prasarana. pemeliharaan pengendalian dampak lingkungan. Yang dimaksud dengan “kriteria eksternalitas” dalam ketentuan ini adalah penyelenggara suatu urusan pemerintahan ditentukan berdasarkan luas. pertahanan keamanan. besaran. prosedur. Di dalam menetapkan norma. akuntabilitas. standar. standar.manusia yang ada di wilayahnya masing-masing (UU Nomor 32 Tahun 2004). dan pilihan berpedoman kepada norma. standar. Pelaksanaan kewenangan didasarkan pada norma.

Dengan demikian.Pemerintahan daerah merupakan satuan pemerintahan teritorial tingkat lebih rendah dalam negara kesatuan RI. Berdasarkan hasil evaluasi Tim Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Departemen Keuangan hingga Juni tahun 2009 telah merekomendasikan untuk membatalkan 2. Perda yang terbit sebelum Oktober 2004. pembatalannya melalui Keputusan Menteri Dalam Negeri. Pemerintah daerah dalam meningkatkan perekonomian dapat memberikan insentif dan/atau kemudahan kepada masyarakat dan/atau investor yang diatur dalam perda dengan berpedoman pada peraturan perundang-undangan yang berlaku. dan tata ruang sebelum ditetapkan dan diberlakukan terlebih dahulu dilakukan evaluasi oleh pemerintah. Maraknya daerah menyusun perda menimbulkan masalah baru. Implikasi dari kebijakan desentralisasi ini adalah banyaknya produk perda yang berkaitan dengan pajak dan retribusi daerah bertentangan dengan kebijakan yang lebih tinggi atau kepentingan umum. Perda merupakan penjabaran lebih lanjut dari peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dengan memperhatikan ciri khas masing-masing daerah. Kepala Daerah sebagai kepala eksekutif menetapkan Perda atas persetujuan bersama DPRD.894 perda dan 144 perda direvisi. sedangkan hak mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan di bidang administrasi negara yang merupakan urusan rumah tangga daerah disebut otonomi. agar wewenang pemerintah daerah dapat dijalankan. Departemen Keuangan telah mengumpulkan 12. Berdasarkan permasalahan ini. maka perlu dilakukan evaluasi terhadap perda yang berkaitan dengan pajak dan retribusi daerah. menyelaraskan dan menyesuaikan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dan/atau peraturan daerah lainnya. Hal ini Peluang Pengembangan Pertambangan Mineral dan Batubara pada Era . perubahan APBD. yaitu : Berpotensi bertentangan dengan prinsip keutuhan wilayah ekonomi nasional. Perda yang disusun oleh pemerintah daerah tidak boleh bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi dan dapat dibatalkan sesuai ketentuan yang berlaku. Hingga pertengahan tahun 2009. Perda bermasalah pada prinsipnya adalah perdaperda yang karena keberadaannya akan menyebabkan terhambatnya efektifitas perekonomian (P.. yang berhak mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahannya (Bagir Manan. 2001).. Perda yang dikategorikan bermasalah adalah berdasarkan prinsipil. Berdampak negatif terhadap perekonomian (ekonomi biaya tinggi atau pajak ganda). oligopoli.031 perda untuk dievaluasi. Atau bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi. Perda dan ketentuan daerah lainnya bersifat mengatur dan diundangkan melalui Lembaran Daerah. perda merupakan salah satu produk hukum yang ada di Indonesia. Berpotensi menyebabkan munculnya persaingan yang tidak sehat (monopoli. Dengan demikian. Pemerintah daerah menyusun perda dalam rangka merumuskan berbagai kebijakan pembangunan atau dalam rangka memacu pertumbuhan perekonomian di daerah. Satuan pemerintahan teritorial tersebut disebut daerah otonom. retribusi daerah. Perda yang disusun tersebut merupakan penjabaran lebih lanjut dari peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dengan memperhatikan ciri khas masing-masing daerah. Anggaran Penerimaan dan Belanja Daerah (APBD). kemitraan wajib. Untuk perda yang mengatur mengenai pajak daerah. yaitu sesuai pasal 136 ayat 1 UU Nomor 32 Tahun 2004. dll). Berdasarkan UU Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan pasal 7 Ayat (1) mengatur hirarki peraturan perundang-undangan yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia. 2006). Berpotensi menghalangi atau mengurangi akses masyarakat (bertentangan dengan prinsip keadilan). Hal ini. Merupakan suatu bentuk pelanggaran kewenangan pemerintah. maka diperlukan dasar hukum pelaksanaan. dapat berakibat terganggunya iklim investasi yang ada di daerah dan berdampak pada perekonomian daerah maupun nasional. Hal ini dimaksudkan untuk melindungi kepentingan umum. sedangkan setelahnya pembatalan melalui Peraturan Presiden. Bermasalah secara prinsipil adalah perda yang memberikan hambatan dalam konteks ekonomi makro. substansi dan yuridis. Dari jumlah tersebut sebagian besar telah dilakukan evaluasi. Hal ini bertolak belakang dengan gencarnya pemerintah menggalakkan investasi untuk pembangunan di Indonesia. Agus Pambudhi. Umar Dhani 33 . berupa timbulnya pungutan pajak dan retribusi yang bertentangan dengan kepentingan umum atau peraturan perundangundangan yang lebih tinggi.

eksplorasi. pendayagunaan sumber daya alam serta teknologi tinggi yang strategis merupakan kewenangan pusat. sehingga diinterpretasikan bahwa kegiatan sektor pertambangan umum merupakan kewenangan daerah. pengangkutan dan penjualan. Dari jumlah perda tersebut. Khusus perda yang berkaitan dengan pajak. Dengan diterbitkannya PP Nomor 38 Tahun 2007 yang merupakan turunan dari UU Nomor 32 Tahun 2004 telah secara jelas mengatur pembagian urusan antara pemerintah dan pemerintah daerah. Sedangkan. perda yang mengatur tentang pengelolaan pertambangan sebagian besar wilayah kabupaten belum menyusun. terutama pasal 7 dan pasal 10 UU Nomor 32 Tahun 2004. provinsi. Hal ini sangat rentan terhadap aktivitas pertambangan maupun lingkungan. retribusi. Pemerintah daerah sesuai dengan lingkup usahanya menugaskan pemegang izin pertambangan sesuai dengan tahapan dan skala usahanya untuk membantu program pengembangan masyarakat dan pengembangan wilayah pada masyarakat setempat. pengelolaan lingkungan. 3. apabila terlebih dahulu telah mendapatkan izin. yaitu berupa Kuasa Pertambangan (Peraturan Pemerintah Nomor 75 Tahun 2001). Dalam pedoman teknis tersebut telah diatur mengenai tata cara permohonan perizinan. eksplorasi.K/29/NEM/2000). yaitu hanya terdapat 39 perda. pengawasan lingkungan. Dalam pasal tersebut dinyatakan bahwa. KEBIJAKAN PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA Setiap usaha pertambangan bahan galian yang termasuk dalam golongan bahan galian strategis dan golongan bahan galian vital. Pada umumnya pembatalan perda tentang pajak dan retribusi pertambangan adalah bertentangan dengan UU Nomor 34 tahun 2000 dan PP 65 Nomor 2001. khususnya berkaitan dengan kewenangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Banyaknya perda yang bermasalah tersebut dapat berakibat terganggunya aktivitas pemerintahan maupun perekonomian wilayah. apabila dikenakan pungutan lain akan menimbulkan pungutan ganda dan dapat memberatkan pelaku usaha di bidang pertambangan. baru dapat dilaksanakan. Dasar pembatalan perda tentang pertambangan umum adalah berkaitan dengan pajak dan retribusi izin usaha pertambangan dan birokrasi proses perizinan. Sebagai pedoman teknis penyelenggaraan kewenangan tersebut Pemerintah telah mengeluarkan PP Nomor 38 Tahun 2007. Hal ini menunjukkan bahwa. Pelaksanaan otonomi daerah dimulai pada awal tahun 2000 telah menimbulkan interpretasi yang. kesehatan dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Sebenarnya dari kedua pasal. Dalam rangka mendukung dan memfasilitasi daerah dalam penyelenggaraan tugas pemerintahan di bidang pertambangan umum. pengolahan dan pemurnian. Pemberian izin usaha pertambangan untuk melaksanakan kegiatan penyelidikan umum. 34 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Pada sisi lain pasal 10 ayat 1 dinyatakan bahwa “daerah berwenang mengelola sumber daya nasional yang tersedia di wilayahnya dan bertanggung jawab memelihara lingkungan sesuai dengan peraturan perundang-undangan”. Dalam kebijakan tersebut telah terjadi perubahan yang mendasar tentang pengawasan perda. yaitu berupa pengembangan sumber daya manusia. pemerintah daerah lebih mendahulukan kebijakan yang berkaitan dengan pungutan dibandingkan kebijakan tentang pengelolaan kegiatan pertambangan. dan kabupaten/kota. Dalam PP tersebut diuraikan secara jelas mengenai jenjang kewenangan antara pemerintah. Kegiatan usaha di sektor pertambangan umum (KP. sehingga harus dibatalkan atau direvisi. KK dan PKP2B) telah dikenakan iuran tetap (landrent) dan iuran eksplorasi dan eksploitasi (royalty). Berdasarkan hasil kompilasi perda yang berkaitan dengan kegiatan pertambangan pada 8 provinsi. Diharapkan dengan adanya kegiatan ini masyarakat sekitar merasakan dampak positif aktivitas pertambangan di daerahnya. sebagian besar (183 perda atau 75%) mengatur tentang pungutan (pajak. Dengan demikian. APBD dan tata ruang setelah Oktober 2004 dilakukan evaluasi oleh pusat sebelum ditetapkan oleh daerah. Departemen ESDM telah menerbitkan Keputusan Menteri mengenai pedoman teknis (Kepmen No. retribusi dan sumbangan pihak ketiga). terkumpul 242 perda pada 147 kabupaten. tersebut menimbulkan adanya ketidakjelasan kewenangan pengelolaan sumber daya alam (minerba) antara pusat dan daerah. 1453.menunjukkan bahwa produk Perda yang telah disusun cukup banyak yang bermasalah. eksploitasi.

HAM. Pada intinya UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara sebagai pengganti UU Nomor 11 Tahun 1967 disusun dengan mempertimbangkan seluruh aspek perubahan saat ini. Semenjak digulirkanya kebijakan otonomi daerah. Pemerintah Daerah (provinsi dan kabupaten/kota) menindaklanjuti dengan menerbitkan perda.. Optimalisasi Pemanfaatan Potensi Bahan Galian Pada umumnya potensi bahan galian belum diusahakan secara maksimal dan belum memberikan dampak yang signifikan terhadap perekonomian daerah. Propinsi dan Kabupaten/ Kota. bahkan masih ditemukan perda yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Untuk melegalisasi meningkatkan pendapatan dan pembangunan daerah tersebut pemerintah daerah menyusun perda. perda yang telah diterbitkan oleh pemerintah daerah tentang pengelolaan pertambangan umum masih banyak yang belum sesuai acuan di atas. Maka peraturan yang berkaitan dengan pertambangan harus menyesuaikan dengan perubahan tersebut. Pemerintah Daerah segera menyiapkan kawasan untuk kegiatan pertambangan yang ditetapkan dalam kebijakan RTRW. Pemanfaatan ruang untuk kegiatan pertambangan harus berada pada kawasan yang ditetapkan sebagai kawasan pertambangan pada RTRW. eksplorasi dan eksploitasi lebih sederhana. Untuk wilayah yang memanfaatkan bahan galian golongan A dan B yang mempunyai nilai ekonomi lebih tinggi. untuk melaksanakan kewenangan tersebut. Peluang Pengembangan Pertambangan Mineral dan Batubara pada Era . Tidak ada lagi sistem kontrak langsung antara perusahaan dengan Pemerintah. Hal ini dimaksudkan adanya kesesuaian fungsi kawasan maupun menghindari tumpang tindih pemanfaatan ruang atau benturan kepentingan antarsektor. Klarifikasi wewenang dan ruang lingkup Pemerintah Pusat. b. pengembangan potensi bahan galian yang ada menjadi sulit dilakukan karena keberadaanya bukan merupakan fungsi kawasan pertambangan. Krisis ekonomi pada tahun 1997 yang diikuti oleh tuntutan reformasi. demokratisasi. melainkan diberlakukannya sistem izin usaha pertambangan (IUP). PELUANG PENGEMBANGAN PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA Perda a. retribusi dan sumbangan pihak ketiga). Butir-butir penting dalam UU Nomor 4 Tahun 2009. dengan adanya tersedianya acuan pengelolaan pertambangan yang baik dapat merangsang investasi pengusahaan pertambangan di daerah. 4. telah memberikan kontribusi yang cukup berarti bagi perekonomian dan penerimaan daerah serta menyumbangkan terhadap penerimaan negara.l. Pada umumnya sebagian besar daerah Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang telah disusun belum pengalokasikan kawasan untuk pengembangan kegiatan pertambangan. lingkungan hidup. Aspek nilai tambah. Dengan demikian. kebutuhan sosial. Umar Dhani 35 . Dalam pemanfaatan ruang untuk kegiatan usaha harus mengacu pada kebijakan tata ruang yang ada. baik yang berkaitan dengan pengelolaan pertambangan umum maupun pungutan (pajak. yaitu pemrosesan dan pemurnian logam harus dilakukan di dalam negeri. Namun demikian.konservasi. dan produksi. Optimalisasi pemanfaatan potensi ini bertujuan untuk meningkatkan pendapatan daerah dan pembiayaan pembangunan. antara lain : Sistem perizinan. Hal ini karena potensi bahan galian yang dikembangkan adalah bahan galian golongan C dan dilakukan secara tadisional atau tambang rakyat. Pengembangan masyarakat difokuskan pada kesejahteraan rakyat. Dengan demikian. Diharapkan. Selanjutnya. Pedoman maupun acuan dalam menyusun Perda pengelolaan pertambangan telah diatur dan penerapan penyusunannya disesuaikan dengan karakteristik wilayah.. pemerintah daerah berlomba-lomba menyusun kebijakan untuk mengelola dan memanfaatkan potensi wilayah dalam rangka pengelolaan pertambangan dan meningkatkan pendapatan asli daerah melalui pajak dan retribusi daerah maupun pungutan lainnya (sumbangan pihak ketiga). a. seperti otonomi daerah. Kemampuan daerah dalam melaksanakan pembangunan sangat dipengaruhi oleh ketersediaan sumber daya maupun kemampuan dalam pengelolaannya. HAM. politik dan ekonomi. lingkungan hidup dan ekonomi telah mendorong atas kebutuhan mendasar ke arah perubahan sistem yang desentralistik .

Penerimaan daerah secara langsung berupa pajak dan retribusi daerah. Sementara pusat berpegang pada kebijakan yang berlaku. PKP2B dan KP. Berdasarkan rekapitulasi dari Departemen ESDM. Hal ini sangat mempengaruhi dalam pelaksanan rencana pembangunan yang telah ditetapkan oleh daerah. yaitu yang ditunjukkan dengan meningkatnya jumlah izin usaha pertambangan yang diterbitkan pemerintah daerah. Dari sisi perundang-undangan tersebut di atas pajak dan royalti dari perusahaan pertambangan merupakan penerimaan pusat. Dengan adanya kebijakan ini memberikan peluang termanfaatkannya potensi yang ada. jika dibandingkan dengan sistem pemerintahan sebelumnya. 2008 36 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . sedangkan Tabel 1. c. Untuk melakukan perpanjangan izin yang dikeluarkan dari pusat (KK dan PKP2B) selebihnya menjadi kewenangan daerah sesuai kewenangannya. izin usaha pertambangan dalam bentuk KK dan PKP2B jumlahnya cenderung menurun. Sebagai contoh. yaitu semakin bertambahnya investasi di bidang pertambangan di daerah. Pada saat ini perizinan usaha pertambangan umum diterbitkan oleh pemerintah dan pemerintah daerah sesuai kewenangannya. yaitu terdapat 354 izin yang telah dikeluarkan. telah terbit ratusan KP batubara yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kabupaten (Bupati) salah satu provinsi di Kalimantan. Penerimaan Daerah Sebelum adanya otonomi daerah perizinan di bidang pertambangan umum dikeluarkan oleh pemerintah pusat dalam bentuk KK. Meningkatnya jumlah izin usaha bidang pertambangan (KP) tersebut menunjukkan adanya peningkatkan investasi bidang pertambangan dan meningkatnya PAD melalui sektor pertambangan. Secara umum upaya yang dilakukan ini telah menunjukkan tingkat keberhasilan yang cukup baik. Perizinan Pertambangan pemerintah daerah terjadi peningkatan yang cukup signifikan (Tabel 1). sehingga mengganggu penganggaran di daerah. Dalam rangka desentralisasi ada sebagian dari penerimaan ini yang dibagihasilkan. Salah satu pengaruh adanya kegiatan pertambangan adalah peningkatan penerimaan daerah baik secara langsung maupun tidak langsung. Saat ini sebagian besar Pemerintah Daerah gencar melakukan identifikasi dan inventarisasi potensi bahan galian yang ada dalam rangka menarik investor menanamkan modalnya di bidang pertambangan. sedangkan perizinan pengusahaan bahan galian golongan C diterbitkan oleh pemerintah daerah dalam bentuk SIPD. Masalah utama dari bagi hasil ini dipandang dari sisi daerah adalah tidak pastinya waktu pencairan dari pusat. Rekapitulasi Izin Pertambangan Jenis kontrak KP KK PKP2B 2001 600 55 119 2002 597 62 101 2003 597 61 101 2004 825 54 87 2005 848 46 82 2006 965 41 81 Sumber : Dirjen Minerbapabum. Salah satunya faktor maraknya izin pertambangan yang dikeluarkan daerah adalah adanya kebijakan otonomi daerah. bahwa royalty merupakan penerimaan pusat yang dibagihasilkan dan bukan merupakan pajak daerah. namun untuk izin yang berupa KP yang dikeluarkan oleh Distribusi pajak-pajak pertambangan yang menjadi hak daerah belum dilakukan secara lebih adil dan tepat waktu ke daerah penghasil yang berhak. 260 buah diantaranya berupa KP yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah.Kebijakan otonomi daerah telah memberikan kewenangan untuk mengelola dan memanfaatkan potensi sumber daya yang ada di wilayahnya. Melalui UU tersebut membuka peluang bagi pemerintah daerah untuk mengelola dan memanfaatkan sumber kekayaan alam yang ada di wilayahnya. karena penerimaan yang diperoleh tidak tepat waktu. Dalam ketidakberdayaan ini ada sebagian daerah yang mengusulkan agar dana dari perusahaan pertambangan langsung ditransfer ke rekening pemerintah daerah tanpa melalui rekning pemerintah pusat. d.

827. Pengembangan dan pemanfaatan potensi bahan galian yang berada di kawasan lindung tidak dapat dimanfaatkan. Kebijakan tata ruang ini menghindari tumpang tindih pemanfaatan ruang atau benturan kepentingan antarsektor.592. yaitu yang dikelompokkan menjadi kawasan lindung dan budidaya.573. realisasi penerimaan negara yang berasal dari mineral. Dengan terbitnya UU Tabel 2. tapi dapat lebih memberikan kontribusi terlibat langsung pada aktivitas pertambangan sebagai pekerja.07 Penerimaan pajak ini menyumbang sekitar 67% dari total penerimaan negara yang berasal dari sektor mineral. Perda-perda yang telah terbit tersebut.17 881.72 57.664.66 50.026. 5.897.419. batubara dan panas bumi dalam empat tahun terakhir menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan..01 25.07 76. telah terbit ribuan perda sebagai acuan dalam pelaksanaan pembangunan di daerah. Dengan demikian. batubara dan panas bumi atau setara dengan Rp 17.36 8. masih banyak yang tidak selaras dengan peraturan yang lebih tinggi atau mengakibatkan biaya tinggi.penerimaan tidak langsung adalah penerimaan dari pajak dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).82 2. f.20 trlyun pada tahun 2007.200. e. royalti dan penjualan hasil tambang. sehingga potensinya tidak memberikan nilai ekonomi. Semenjak digulirkan otonomi daerah pada tahun awal tahun 2000. 1 2 Sumber Penerimaan Pajak PNBP Iuran Tetap Royalti Penjualan Hasil Tambang Total Sumber : Dirjen Minerbapabum. meski penerimaan negara pada tahun 2007 mengalami penurunan sebesar 17% dibandingkan dengan periode sebelumnya.94 1.24 5. Selain itu. Komponen PNBP terdiri atas iuran tetap.12 2007 17.697.642. Hasil pertambangan mineral dan batubara telah memberikan kontribusi bagi penerimaan Negara yang cukup besar.442. Kesempatan Kerja dan Berusaha Nomor 41 Tahun 1999 jo PP Nomor 2 Tahun 2008 telah memberikan peluang pengusahaan pertambangan di kawasan hutan produksi dan hutan lindung. Secara umum. Berdasarkan dari hasil identifikasi terdapat beberapa izin pertambangan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah daerah tidak selaras Peluang Pengembangan Pertambangan Mineral dan Batubara pada Era .69 trilyun.771.163.788.66 2006 23.41 4. Masyarakat tidak hanya menjadi penontan seperti yang terjadi selama ini.68 17.28 2005 12. Penerimaan Pajak dan PNBP dari Pertambangan Mineral dan Batubara Tahun 2004-2006 (Milyar Rupiah) No.10 3. Umar Dhani 37 .62 2.31 6.138.00 8. yaitu pada tahun 2006 sebesar 29.691.519. KESIMPULAN Maraknya kegiatan pertambangan di daerah akan semakin membuka peluang kerja berusaha bagi masyarakat sekitar. Meskipun banyak kalangan yang menolak PP tersebut karena dinilai melegitimasi perusakan hutan lindung selama ada bayarannya dan murahnya tarif yang dikenakan . dengan berkembangnya kegiatan di suatu wilayah secara tidak langsung akan memberi peluang berusaha dan menciptakan pengembangan wilayah.81 58..993. banyak perda-perda yang harus dibatalkan atau direvisi.99 2. Penerimaan pajak dan PNBP pertambangan merupakan penerimaan Negara dan dibagi-hasilkan ke daerah.849. sehingga menghambat investasi di daerah. 2008 2004 6.57 29.13 1. Kewilayahan Pemanfaatan ruang untuk kegiatan usaha harus mengacu pada kebijakan tata ruang yang ada. Komponen terbesar penerimaan justru berasal dari penerimaan pajak dibandingkan PNBP (Tabel 2).25 4.

upaya yang dilakukan adalah menerapkan metode penambangan secara tepat dan berawasan lingkungan. Dengan demikian. Untuk mengantisipasi tumpang izin usaha pertambangan yaitu dengan penyusunan basis data pertambangan dengan format yang sama dan menyusun ulang izin-izin yang bermasalah. Batubara dan Pas Bumi. Mineral. Adanya kepastian hokum dan kepastian berusaha. Pengaruh tersebut. Tuntutan pemenuhan standar lingkungan hidup yang makin ketat. 2005 Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 1967 tentang Pokok-Pokok Pertambangan Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Coal and Geothermal. Penyiapkan zonasi kawasan untuk pengembangan pertambangan yang ditetapkan dalam kebijakan RTRW. hingga pemantauan lingkungan pasca tambang. Provinsi dan Kabupaten yang saling sinergis. tidak atau belum dialokasikan secara tegas. Laporan Tim Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Periode Januari – Desember 2008. dan minimnya data/informasi potensi wilayah. Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah kabupaten/Kota. Perencanaan Pembangunan Daerah. Pustaka Setia. 4. 2. Hal ini menunjukkan bahwa izin pertambangan yang telah diterbitkan tidak melalui koordinasi dengan dinas/instansi terkait. Bandung. antara lain : 1. terciptanya pengembangan wilayah.dengan peraturan yang lebih tinggi atau tumpang tindih dengan sektor lain. Kamis 25 Januari 2006. Departemen Energi Sumber Daya Mineral. Berdasarkan peluang-peluang tersebut. perlu diperhatikan tantangan dalam pengembangannya. Pipin Syarifin. Diperlukan kebijakan/ peraturan daerah yang mengatur tentang pengelolaan pertambangan mulai dari segi perizinan pengusahaan. 5. antara lain : kewenangan dalam pengelolaan pertambangan. membuka kesempatan bekerja dan berusaha. arahan pengembangan pertambangan dikemudian hari. meningkatnya pemanfaatan sumber daya mineral dan batubara. Diperlukan peningkatan jumlah dan kemampuan apatur dinas seiring dengan maraknya pengusahaan pertambangan. tingkat kerusakan lingkungan yang cenderung meningkat. menjadi terkalahkan oleh pengembangan ruang sektor lain. keberadaan sumber daya mineral yang pada umumnya tersebar di bawah permukaan. maka pembahasan pelaksanaan pertambangan di daerah perlu dilakukan evaluasi yang bertujuan untuk pengembangan pertambangan di daerah. antara tersebut antara lain : ketidaksonsistenan peraturan yang ada. terbatasnya jumlah maupun kemampuan aparat. 3. Direktorat Mineral. masih banyak wilayah belum ada alokasi kawasan pertambangan. Pelaksanaan otonomi daerah yang berjalan hampir 9 tahun telah menimbulkan pengaruh yang cukup besar terhadap kegiatan pertambangan di daerah. Tersedianya data informasi potensi sumber daya mineral dan batubara. Jika dilihat dari permasalahan yang timbul dengan adanya kegiatan pertambangan serta faktor penyebab permasalahan tersebut. sebagai media promosi investasi pengusahaan pertambangan DAFTAR PUSTAKA Dedi Supriady Bratakusumah. kawasan untuk kegiatan pertambangan. sehingga pada saat ruang tersebut akan dikembangkan untuk kegiatan pertambangan menjadi tumpang tindih dengan kegiatan sektor lain. Berdasarkan dari peluang dan tantangan tersebut. Otonomi Daerah Turunkan Investasi Pertambangan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah. Pemerintahan Daerah di Indonesia. sehingga tercipta pertambangan yang berkelanjutan (good mining practice). meningkatnya penerimaan daerah. Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara 38 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Tahun 2007 Makro Ekonomi. Pada saat ini dalam kebijakan tata ruang. Gramedia 2005 Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan Departemen Keuangan Republik Indonesia. Penyusunan RTRW Nasional.

PENINGKATAN KADAR BIJIH BESI DARI DAERAH PELAIHARI, PROPINSI KALIMANTAN SELATAN MENGGUNAKAN KLASIFAYER DAN PEMISAH MAGNETIK

Pramusanto, Nuryadi Saleh dan Apriandi Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl Jenderal Sudirman No. 623 Bandung, 40211 Telp (022) 6030843, Fax. (022) 6003373

SARI Karakteristik bahan baku bijih besi Pelaihari dicirikan oleh kadar besinya rendah (sekitar 30% Fetotal). Mineralnya terdiri dari hematit dan magnetit. Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kadar besinya adalah dengan melakukan percobaan klasifayer dan pemisah magnetik. Penelitian ini membahas tentang percobaan klasifayer yang dilanjutkan dengan percobaan pemisah magnetik. Percobaan pemisah magnetik dilakukan dengan memvariasikan intensitas magnet, ukuran butir dan waktu pengadukan umpan. Percobaan klasifayer dilakukan untuk mengurangi mineral pengotor dengan memanfaatkan perbedaan ukuran butir dan berat jenis, sedangkan pemisah magnetik dilakukan untuk meningkatkan mineral berharga berupa hematit dan magnetit melalui pemanfaatan perbedaan kerentanan terhadap magnet antara mineral pengotor dengan mineral berharga. Hasil percobaan klasifayer dapat meningkatkan kadar Fetotal menjadi 34,6%, sedangkan pada pemisah magnetik, variabel yang dapat meningkatkan kadar tertinggi adalah waktu pengadukan umpan dengan kadar Fetotal tertinggi yang diperoleh 55,9%. Waktu pengadukan umpan 10 dan 20 menit. Perolehan tertinggi besi sebesar 33,26% terjadi pada waktu pengadukan umpan selama 20 menit. Kata kunci : bijih besi, Pelaihari, klasifayer, pemisah magnetik

ABSTRACT Raw iron ore of Pelaihari is known by its low iron content. The ore consists of hematite and magnetite as the main iron minerals. In order to increase the iron content, some efforts can be conducted by sequence of laboratory tests, namely classifier and magnetic separator. The experiment using magnetic separator is conducted at various magnetic intensity, grain size and agitation time. The purpose of classifying tests is lessening the impurity mineral by exploiting difference of grain size and specific gravity, while magnetic separator will increase the valuable mineral in the form of hematite and magnetite by exploiting difference of magnetic susceptibility between the impurities and valuable minerals. The experiment results of classifying increase the total iron grade up to 34.6%, followed by magnetic separator. The later increases the highest grade of total iron up to 55.9% at agitation time of 10 and 20 minutes. The highest iron recovery of 33.26% was conducted at 20 minutes of feed agitation time. Keywords : iron ore, Pelaihari, classifier, magnetic separator

Peningkatan Kadar Bijih Besi dari Daerah Pelaihari ... Pramusanto, dkk.

39

1.

PENDAHULUAN

Kebutuhan baja nasional terus mengalami peningkatan seiring dengan perkembangan sektor industri dan semakin maraknya pembangunan infrastruktur di Indonesia. Pada saat ini konsumsi baja diperkirakan telah mencapai 6,3 juta ton, sedangkan produksinya hanya 3,8 juta ton. Kekurangan penyediaan baja sebesar 2,5 juta ton masih dipasok dari impor, sehingga PT Krakatau Steel untuk memproduksi baja di Indonesia memerlukan bahan baku dan penunjang yang sebagian besar masih diimpor. Bahan-bahan yang pengadaannya masih bergantung pada impor adalah pelet bijih besi, sedangkan skrep, bijih besi bongkah (lump ore) dan bijih besi halus kasar (coarse fine) sebagian masih dapat dipasok dari dalam negeri, misalnya untuk bijih besi bongkah berkadar Fe 57% dan bijih besi halus kasar berkadar Fe 56% telah dapat dipasok dari endapan besi laterit oleh PT Sebuku Iron Lateritic Ore, Kalimantan Selatan [sebukuiron.co.id]. Untuk menunjang keperluan industri besi baja yang terus meningkat di masa mendatang, Indonesia memiliki potensi sumber daya bijih besi yang cukup besar, berupa bijih besi primer dengan estimasi cadangan 320 juta MT dan kadar 25 – 62% Fe, bijih besi laterit dengan estimasi cadangan 1.391 juta MT dan kadar 40 – 56% Fe serta pasir besi dengan estimasi cadangan 600 juta MT dan kadar 25 – 40% Fe [Koesnohadi dan Sobandi, 2008]. Namun sumber daya tersebut belum dapat dimanfaatkan secara optimal karena kadar Fe yang terkandung relatif rendah. Pada umumnya industri baja membutuhkan besi dengan kadar Fe 60-69%, sedangkan P.T. Krakatau Steel membutuhkan pelet bijih besi dengan kandungan Fe minimum 65%. Untuk menjawab tantangan tersebut, perlu adanya kajian intensif agar kadar Fe yang dikandung besi dapat ditingkatkan, sehingga dapat dimanfaatkan oleh industri dalam negeri seperti oleh PT Krakatau Steel. Proses peningkatan kadar Fe pada bijih besi biasa dilakukan dengan cara kominusi (crushing dan grinding), konsentrasi secara gravitasi, pemisahan magnetik, pemisahan elektrostatik maupun flotasi. Flotasi biasanya dilakukan sebagai lanjutan dari proses pemisahan magnetik, pemisahan elektrostatik, konsentrasi secara gravitasi maupun kominusi [Habashi, 1997]. Pemisahan secara magnetik terhadap bijih besi sudah lazim dikerjakan [Pramusanto, dkk, 1999].

Pemisah magnetik merupakan alat yang digunakan dalam proses pemisahan secara magnetik. Prinsip kerja alat ini adalah memisahkan mineral berharga dari pengotornya berdasarkan derajat kemagnetan atau mudah tidaknya mineral mengalami pengaruh dalam medan magnet (magnetic sussceptibility) [Kelly, and Spottiswood, 1982]. Bijih besi merupakan mineral-mineral yang mengandung besi seperti magnetit, hematit, goethit, limonit atau campuran dari mineral-mineral tersebut dengan mineral pengotornya, seperti silika, alumina, dan krom [Perkins, 2002]. Berdasarkan pada magnetic susceptibility mineral tersebut dapat diklasifikasikan dalam dua grup, yaitu paramagnetik dan diamagnetik. Mineral diamagnetik merupakan mineral yang tidak mengalami ketertarikan dalam medan magnet, seperti silika, dan alumina. Sedangkan mineral paramagnetik yang dapat ditarik oleh magnet, seperti hematit dan limonit. Dari mineral paramagnetik ini terdapat mineral-mineral yang memiliki sifat magnet yang sangat kuat disebut ferromagnetik, seperti magnetit [Wills, 1988]. Berdasarkan hasil pengujian mineragrafi, bijih yang digunakan untuk percobaan ini mengandung magnetit-hematit. Magnetit dan hematit memiliki derajat kemagnitan signifikan, yang berbeda dengan mineral pengotor berupa silika, alumina dan lain-lain; sehingga sebagai studi awal, proses pemisahan berdasarkan sifat kemagnetan mineral menggunakan pemisah magnet dapat dimanfaatkan.

2.

METODOLOGI

Metodologi peningkatan kadar bijih besi ini dilakukan dalam beberapa tahapan, yaitu; preparasi percontoh (pengeringan, pengayakan dan pemercontoh), studi bahan baku (analisa kimia, ayak dan mineralogi), pencucian dengan spiral classifier untuk menghilangkan pengotor, dan percobaan menggunakan pemisah magnet untuk meningkatkan hematit dan magnetit. *****

3.

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Studi Bahan Baku Studi bahan baku ini bertujuan untuk mengetahui dan menentukan komposisi dan kadar dari mineral-mineral yang terdapat di dalam percontoh bijih besi tersebut.

40

PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009

3.1.1 Analisis Komposisi Kimia Berdasarkan hasil analisis komposisi kimia, maka diperoleh komposisi kimia bijih besi sebagai berikut; Fetotal 31,3%, Fe2O3 37,94%, Fe3O4 6,55%, SiO2 28%, CaO 15,67%, Al2O3 5,61%, MgO 1,01 %, TiO2 1,63%, Cr2O3 0,111% dan LOI 1,93%. 3.1.2 Analisis Ayak Berdasarkan Gambar 1 dapat dilihat terjadi perubahan distribusi ukuran butir akibat pencucian dengan spiral classifier, sehingga underflow spiral classifier menyebabkan kenaikan nilai persen berat tertahan fraksi ukuran -250+150 µm (-60+100 mesh) sampai fraksi +1,7 mm (+10 mesh) dan menyebabkan penurunan nilai persen berat tertahan dari fraksi ukuran -150+106 µm (-100+140 mesh) sampai fraksi -75 µm (-200 mesh) terhadap percontoh asal bijih besi. Hal ini menjelaskan bahwa proses spiral classifier menyebabkan terjadinya pemisahan antara partikel halus dengan kasar, sehingga dapat dilihat adanya perbedaan persentase berat tertahan antara percontoh asal dengan underflow spiral classifier.

70,00%, hematit derajat sebesar 94,55%, dan gangue sebesar 98,41%.

 
Derajat Liberasi [DL] (%)

100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0
-75 (-200) -106+75 -150+106 -250+150 -425+250 -850+425 -1700+850 (-140+200) (-100+140) (-60+100) (-40+60) (-20+40) (-10+20) +1700 (+10)

35 30 25 20 15 10 5 0 Distribusi DL [DDL] (%)
Distribusi DL [DDL] (%)

Fraksi Ukuran µm (m esh)
DL Magnetit DDL Magnetit DL Hematit DDL Hematit DL Gangue DDL Gangue

Gambar 2. Hubungan fraksi ukuran terhadap derajat liberasi dan distribusi derajat liberasi percontoh asal

 
Persen Berat Tertahan (%)

45 40 35 30 25 20 15 10 5 0
-75 (-200) -106+75 (-140+200) -150+106 (-100+140) -250+150 (-60+100) -425+250 40+60) (-850+425 20+40) (-1700+850 (- +1700 10+20) (+10)

Percontoh Asal Percontoh Spiral Classifier

Menurut perhitungan derajat liberasi total fraksi kasar dan halus untuk percontoh asal, dapat dijelaskan bahwa persentase derajat liberasi total pada fraksi kasar (+1700 µm) atau +10 mesh sampai -425+250 µm (-40+60 mesh) masih sangat rendah; magnetit sebesar 0,45%, hematit sebesar 1,08% dan gangue sebesar 13,70%. Persentase derajat liberasi total pada fraksi halus (-250+150 µm) atau (-60+100 mesh) sampai -75 µm (-200 mesh) sudah cukup tinggi; magnetit sebesar 37,62%, hematit sebesar 58,95% dan gangue sebesar 77,56%.

Fraksi Ukuran µm (m esh)

 
Derajat Liberasi [DL] (%)

100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0
-75 (-200) -106+75 -150+106 -250+150 -425+250 -850+425 (-140+200) (-100+140) (-60+100) (-40+60) (-20+40) -1700+850 (-10+20) +1700 (+10)

40 35 30 25 20 15 10 5 0

Gambar 1. Hubungan fraksi ukuran dengan komposisi mineral percontoh asal dan underflow spiral classifier

3.1.2.1 Derajat Liberasi Berdasarkan Gambar 2, untuk derajat liberasi percontoh asal terlihat bahwa semakin kecil ukuran ayak, maka tingkat kebebasan suatu butiran mineral dalam suatu fraksi ukuran semakin tinggi. Derajat liberasi tertinggi pada percontoh asal terdapat pada fraksi -75 µm (-200 mesh) dengan derajat liberasi untuk mineral magnetit sebesar

Fraksi Ukuan µm (m esh)
DL Magnetit DDL Magnetit DL Hematit DDL Hematit DL Gangue DDL Gangue

Gambar 3. Hubungan fraksi ukuran terhadap derajat liberasi dan distribusi derajat liberasi percontoh underflow spiral classifier

Peningkatan Kadar Bijih Besi dari Daerah Pelaihari ... Pramusanto, dkk.

41

Berdasarkan Gambar 3, derajat liberasi tertinggi untuk percontoh underflow spiral classifier terdapat pada fraksi -75 µm (-200 mesh) dengan derajat liberasi mineral magnetit sebesar 69,61%, hematit sebesar 93,42%, dan gangue sebesar 97,96%. Menurut perhitungan distribusi derajat liberasi untuk fraksi kasar dan halus untuk percontoh bijih besi underflow spiral classifier, terlihat bahwa persentase distribusi derajat liberasi total pada fraksi kasar (+1700 µm) atau +10 mesh sampai 425+250 µm (-40+60 mesh) masih sangat rendah; magnetit sebesar 0,60%, hematit sebesar 1,50% dan gangue sebesar 23,54%. Persentase distribusi derajat liberasi total pada fraksi halus (-250+150 µm) atau -60+100 mesh sampai -75 µm (-200 mesh) masih cukup tinggi; magnetit sebesar 28,21%, hematit sebesar 46,41% dan gangue sebesar 64,11%.

dan hematit dengan komposisi hampir homogen pada setiap fraksi ukuran yang terdapat pada kedua percontoh analisis ayak. Komposisi mineral rata-rata seluruh fraksi ukuran untuk percontoh asal adalah 6,22% magnetit, 37,53% hematit dan 56,25% gangue, sedangkan untuk percontoh hasil percobaan spiral classifier adalah 6,98% magnetit, 39,87% hematit dan 53,15% gangue.

 
Komposisi Mineral (%)

70 60 50 40 30 20 10 0
-75 (-200) -106+75 (-140+200) -150+106 (-100+140) -250+150 (-60+100) -425+250 40+60) (- -850+425 20+40) (- -1700+850 (-10+20) +1700 (+10)

Fraksi Ukuran µm (m esh)
Magnetit Percontoh Asal Hematit Percontoh Asal Gangue Percontoh Asal Magnetit Limp, Bawah Klasif ay er Spiral Hematit Limp. Bawah Klasif ay er Spiral Gangue Limp. Bawah Klasif ay er Spiral

Gambar 5. Hubungan fraksi ukuran dengan komposisi mineral percontoh asal dan percontoh underflow spiral classifier

3.2. Percobaan Spiral Classifier Berdasarkan Gambar 6, dapat dijelaskan bahwa pada percobaan ini telah terjadi pemisahan antara partikel halus dengan kasar. Hal ini terlihat dari adanya kenaikan kadar Fe total. Kadar Fe total pada percontoh asal sebagai umpan sebesar 31,3%, setelah dilakukan proses klasifikasi menggunakan spiral classifier meningkat menjadi 34,6% untuk produk underflow (sebagai produk pemisahan yang memiliki partikel kasar) dan terjadi penurunan kadar Fe total menjadi 24,6% untuk produk overflow (sebagai produk pemisahan partikel yang berukuran halus). 3.3. Peningkatan Kadar dengan Pemisah Magnetik Di dalam percobaan pemisah magnetik ini dilakukan analisis mineralogi untuk meninjau perubahan komposisi mineral dan derajat liberasi pada konsentrat dan tailing akibat pengaruh dari variabel percobaan terhadap peningkatkan kadar dan perolehan. Analisis kimia hanya dilakukan pada konsentrat untuk menetukan kadar Fe total.

Gambar 4. Fotomikrograf sayatan poles bijih besi (H = hematit, M = magnetit, G = mineral gangue, HM = hematit + magnetit HG = hematit + gangue)

Berdasarkan Gambar 4, dapat dilihat bahwa pada fraksi ukuran -106+75 µm (-140+200 mesh), bahwa antara magnetit dan hematit terjadi keterikatan dan antara hematit dan gangue juga terjadi keterikatan. Antara magnetit dan gangue tidak tampak adanya keterikatan. Menurut perhitungan komposisi mineral pada ukuran tersebut, komposisi hematit 41,80% dengan derajat liberasi 88,68% dan magnetit 7,80% dengan derajat liberasi 58,97% serta gangue 50,40% dengan derajat liberasi 96,23%. 3.1.2.2 Komposisi Mineral Berdasarkan Gambar 4, mineral berharga yang terdapat pada percontoh bijih besi ini adalah magnetit

42

PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009

1 Pengaruh Intensitas Magnet terhadap Komposisi Mineral dan Derajat Liberasi pada Konsentrat Berdasarkan grafik pengaruh intensitas magnet yang divariasikan dari 2000-10000 gauss terhadap komposisi mineral dan derajat liberasi konsentrat pada Gambar 7.3.80%). Pengaruh ukuran butir terhadap komposisi mineral dan derajat liberasi konsentrat Hal ini berarti pengaruh intensitas magnet menyebabkan peningkatan penarikan hematit yang masih berikatan dengan gangue ke dalam Perubahan komposisi mineral dan derajat liberasi pada mineral magnetik maupun gangue disebabkan oleh adanya pengaruh gaya gravitasi dan hidrodinamis yang bekerja pada butiran serta Peningkatan Kadar Bijih Besi dari Daerah Pelaihari . Komposisi hematit yang terbesar diperoleh pada intensitas magnet 2000 gauss sebesar 70. Komposisi hematit terkecil diperoleh pada intensitas magnet 10000 gauss (47.. sehingga meningkatkan komposisi hematit dan gangue yang berikatan. 3. Pengaruh intensitas magnet terhadap komposisi mineral dan derajat liberasi konsentrat Gambar 8. dengan magnetit sebesar 7.28%) dan gangue terbesar (43. dapat ditarik kesimpulan bahwa semakin besar ukuran butiran semakin turun komposisi mineral. Derajat Liberasi {DL} (%) 43 . dengan magnetit (8. Hubungan percobaan spiral classifier terhadap komposisi kimia 3. Pramusanto. dkk. tapi mengalami penurunan kembali pada ukuran <250 µm.  Komposisi Kimia (%) 40 35 30 25 20 15 10 5 0 Fe total SiO2 CaO Al2O3 MgO TiO2 Cr2O3 LOI Nam a Mineral Percontoh Asal Underflow Overflow konsentrat. sedangkan derajat liberasinya juga mengalami penurunan. Magnetit cenderung stabil namun derajat liberasinya juga turun.73% dan gangue yang terkecil (22. semakin besar ukuran butiran mengakibatkan kenaikan komposisi mineral.2 Pengaruh Ukuran Butir terhadap Komposisi Mineral dan Derajat Liberasi pada Konsentrat Berdasarkan grafik pengaruh ukuran butiran yang divariasikan dari ukuran <75 sampai <250 µm terhadap komposisi mineral dan derajat liberasi konsentrat seperti pada Gambar 8. tetapi pada ukuran <250 µm mengalami kenaikan kembali. namun hal tersebut menaikan komposisi gangue. Namun pada gangue.3. menunjukan penurunan hematit seiring dengan peningkatan intensitas magnet.20%).   Komposisi Mineral (%)   100 80 60 40 20 0 2000 4000 6000 8000 10000 100 Derajat Liberasi {DL) (%) 100 Komposisi Mineral (%) 100 80 60 40 20 0 <75 <106 <150 <180 <250 80 60 40 20 0 Intensitas Magnet (Gauss) Magnetit DL Hematit Hematit DL Magnetit Gangue DL Gangue 80 60 40 20 0 Ukuran Butir (µm ) Magnetit DL Hematit Hematit DL Magnetit Gangue DL Gangue Gambar 7. Terjadinya peningkatan komposisi hematit yang berikatan dengan gangue menyebabkan terjadinya penurunan derajat liberasi dan komposisi hematit.07%. Gambar 6..94%). sedangkan derajat liberasinya turun. Gangue meningkat.

4 Pengaruh Intensitas Magnet terhadap Perolehan dan Kadar Fe Total pada Konsentrat Dari grafik pengaruh intensitas magnetik terhadap perolehan dan kadar Fe total (Gambar 10). Perolehan yang semakin besar seiring dengan besarnya intensitas magnet. Penyebab lain. Kadar Fe tertinggi didapatkan pada ukuran <250.93% dan gangue sebesar 21. Hal ini mempengaruhi daya tarik magnet ke dalam konsentrat. sebaliknya dengan kadar Fe total cenderung turun seiring dengan peningkatan kadar. didapatkan komposisi mineral hematit sebesar 72. Komposisi hematit terbesar diperoleh pada waktu pengadukan umpan 10 menit (71.93%).27%. Hal ini disebabkan oleh lepasnya ikatan mineral-mineral besi dengan gangue yang berikatan tidak begitu kuat.3. disimpulkan bahwa perolehan dan kadar dipengaruhi oleh pengaruh ukuran butir akibat adanya perubahan komposisi mineral dan derajat liberasi. Hal ini terjadi karena gangue yang berikatan dengan mineral magnetik ikut tertarik menjadi konsentrat.40%).   Perolehan Fe (%) 60 50 40 30 20 60 50 40 30 20 10 2000 4000 6000 8000 10000   100 Komposisi Mineral (%) 100 80 60 40 20 0 1 10 20 80 60 40 20 0 Waktu Pengadukan Um pan (Menit) Magnetit DL Hematit Hematit DL Magnetit Gangue DL Gangue Derajat Liberasi {DL} (%) 10 Intensitas Magnet (Gauss) Recov ery Fe Kadar Fe Gambar 10. Pengaruh waktu pengadukan umpan terhadap komposisi mineral dan derajat liberasi konsentrat 3. Kadar Fe total tertinggi diperoleh pada intensitas magnet 2000 gauss (54. pengaruh waktu pengadukan ini menyebabkan Al2O3 ataupun CaO yang ada dalam umpan tercampur dengan baik.7%. Pada waktu pengadukan umpan 20 menit.67%. Penyebab-penyebab tersebut dapat mengakibatkan peningkatkan penarikan mineral magnetik oleh magnet menjadikan konsentrat. Perolehan tertinggi didapatkan pada ukuran butir <75 µm sebesar 31.3 Pengaruh Waktu Pengadukan Umpan terhadap Komposisi Mineral dan Derajat Liberasi pada Konsentrat Berdasarkan Gambar 9 dapat ditarik kesimpulan bahwa untuk derajat liberasi. Kadar Fe total terendah diperoleh pada intensitas magnet 10000 gauss (38.8%) dengan perolehan tertinggi 54. magnetit sebesar 7. magnetit sebesar 8. 44 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 Kadar Fe (%) .17%.13% dan sisanya gangue.33%). <106 dan <75 µm sebesar 54.3. Komposisi hematit terkecil diperoleh pada ukuran butir <180 µm (68. disimpulkan bahwa pengaruh intensitas magnet terhadap perolehan menunjukan semakin besar intensitas magnet semakin meningkat perolehan.7%) dengan perolehan terendah 28.40%.50%. Pengaruh intensitas magnet terhadap perolehan dan kadar Fetotal konsentrat Gambar 9. Komposisi hematit terbesar diperoleh pada ukuran butir <75 µm (70.derajat liberasi butiran.3.84%. waktu pengadukan umpan memiliki sedikit pengaruh terhadap peningkatkan derajat liberasi antara hematit dan gangue.27% dan gangue sebesar 25.5 Pengaruh Ukuran Butir terhadap Perolehan dan Kadar Fetotal pada Konsentrat Berdasarkan grafik pengaruh ukuran butir terhadap perolehan dan kadar Fe Total Gambar 11. 3.00%. magnetit sebesar 6. 3.07% dan gangue sebesar 20. magnetit sebesar 8.

Pengaruh intensitas magnet terhadap komposisi mineral tailing 50 70 40 60 Kadar Fe (%) 3. 80 70 60 50 40 30 20 10 0 2000 4000 6000 8000 10000 Intensitas Magnet (gauss) Magnetit Hematit Gangue   Perolehan Fe (%) Gambar 13. dkk.47%) dan gangue-nya sebesar 71. Kadar Fe total tertinggi diperoleh pada waktu pengadukan umpan sebesar 55.7 Analisis Komposisi Mineral pada Tailing Variabel Intensitas Magnet Berdasarkan Gambar 13 menunjukkan bahwa mineral magnetit pada tailing hasil percobaan pemisah magnetik sudah tidak ada. Perolehan tertinggi terjadi pada pengadukan umpan selama 20 menit dengan perolehan sebesar 33.  Perolehan Fe (%) 40 70 60 50 3. 30 50 20 40 10 1 10 20 30 Waktu Pengadukan Um pan (Menit) Recov ery Fe Kadar Fe Gambar 12. sedangkan gangue cenderung semakin kecil.3. Hematit terbesar terdapat pada ukuran butir <180 µm (29. sedangkan gangue-nya sebesar 72. Pengaruh waktu pengadukan umpan terhadap perolehan dan kadar Fetotal konsentrat Peningkatan Kadar Bijih Besi dari Daerah Pelaihari . Hematit berkurang seiring dengan bertambahnya intensitas magnet. Komposisi hematit terkecil terdapat pada intensitas magnet 10000 gauss (27.26%. Magnetit pada tailing masingmasing variabel ini sudah tidak ada. artinya mineral magnetit tertarik semua ke dalam konsentrat.67%.3.6 Pengaruh Waktu Pengadukan Umpan terhadap Perolehan dan Kadar Fetotal pada Konsentrat Dari Gambar 12 diperoleh kesimpulan bahwa waktu pengadukan juga memberikan pengaruh terhadap perolehan dan kadar akibat adanya perubahan komposisi mineral dan derajat liberasi.33%). seluruh magnetit tertarik semua ke dalam konsentrat pada setiap variabel intensitas magnet.20%) dan gangue sebesar 70. Hematit terbesar terjadi pada intensitas 2000 gauss (28. Pengaruh ukuran butir terhadap perolehan dan kadar Fetotal konsentrat   Komposisi Mineral (%) 3. sedangkan gangue mengalami peningkatan.8 Analisis Komposisi Mineral pada Tailing Variabel Ukuran Butir Dari Gambar 14 terlihat bahwa semakin besar ukuran butir semakin besar pula kecenderungan komposisi hematit..9%. Kadar Fe (%) 35 30 40 25 30 20 <75 <106 <150 <180 <250 20 Ukuran Butiran (µm ) Recov ery Fe Kadar Fe Gambar 11. 45 .80%. Pramusanto..3.53%.

Federal Republic of Germany. 4.. Perolehan tertinggi 31. kadar Fe total tertinggi adalah 55.3. Wiley-VCH. Komposisi hematit semakin kecil seiring dengan bertambahnya waktu pengadukan.. Pada percobaan pengaruh ukuran butir. New York Koesnohadi dan Ahmad Sobandi. Pengaruh waktu pengadukan umpan terhadap komposisi mineral tailing 46 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . 80 70 60 50 40 30 20 10 0 <75 <106 <150 <180 <250 Ukuran Butir (µm ) Magnetit Hematit Gangue KESIMPULAN Beberapa kesimpulan yang dapat ditarik adalah : 1. Komposisi hematit terbesar terdapat pada waktu pengadukan satu menit sebesar 26.3% dengan mineral gangue terdiri atas SiO2 28. Perkins. Prentice-Hall Inc. 1982 “Introduction to Mineral Processing”. Pada percobaan pengaruh waktu pengadukan umpan. Prosiding Kolokium Pertambangan. Gambar 14.50% ada pada ukuran butir <75 µm.6%. Perolehan tertinggi 33.61%. CaO 5. Spottiswood David J.74%. 2002 “Mineralogy 2nd Edition”.26%. <106 dan <75 µm.7% pada ukuran butir <25. sedangkan mineral gangue sebesar 73.67%.00%. United Stated of America.84% pada intensitas magnet 2000 gauss.  Komposisi Mineral (%) 4. Kelly Erol G.9 Analisis Komposisi Mineral pada Tailing Variabel Waktu Pengadukan Umpan Gambar 15 menunjukan bahwa pada tailing variabel waktu pengadukan umpan. DAFTAR PUSTAKA Habashi. 2008 “Potensi Sumber Daya Lokal Untuk Membangun kemandirian dan Daya Saing Industri Baja Nasional”. Weinhem. 3. John Willey & Sons. 1997 “Handbook of Extractive Metallurgy Volume I: The Metals Industry Ferrous”. sedangkan gangue semakin besar. Pada percobaan pengaruh intensitas magnet. magnetit tidak ada. Al2O3 15. Pencucian mengunakan spiral classifier meningkatkan kadar besi total menjadi 34. Fathi (editor).   Komposisi Mineral (%) 80 70 60 50 40 30 20 10 0 1 10 20 Waktu Pengadukan Um pan (Menit) Magnetit Hematit Gangue Gambar 15.9% untuk waktu pengadukan umpan 10 dan 20 menit. kadar Fe total tertinggi 54. 2. New Jersey.26% terjadi pada waktu pengadukan umpan 20 menit. Dexter. Bandung. Pengaruh ukuran butir terhadap komposisi mineral tailing 3.7% dengan perolehan 28. Bijih besi Pelaihari mempunyai mempunyai kadar Fe total 31. 5. kadar Fe total tertinggi 54.

B.sebukuiron.id/silo_products.co. Peningkatan Kadar Bijih Besi dari Daerah Pelaihari . 1988.. diunduh pada jam 10:57. Oxford. www... “Mineral Processing Technology 5Th Edition”. 47 . PT SILO. dkk. Pramusanto. A. tanggal 20 Mei 2009.. Wills. Bandung. Pusat Penelitian Pengembangan Teknologi dan Mineral. dkk.Pramusanto. 1999 “Pengerjaan Awal Bijih Besi Laterit Melalui Pemisahan Secara Magnetis dalam Drum Magnetic Separator pada Pembentukan Campuran Bijih Besi Laterit dan Kokas”.htm. New York. Pergamon Press.

Hasil analisis kimia pasir kuarsa asli (masih bercampur lempung) dan yang terolah. Enymia dan Sumarsih Balai Besar Keramik Jl.85 % SiO2 . UNTUK BAHAN BAKU KERAMIK Subari.0 mm. bodi keramik putih ABSTACT There are a lot of the quartz sand deposit in Rantaubujur area.063 mm. This pure quartz sand has to fulfill as ceramic raw material for made the whiteware ceramic as the filler material. 0.0 mm. pengolahan/pencucian. mengalami kenaikan kadar silika (SiO2) yang cukup signifikan.000 m3.27 % SiO2 become 94.30 grams from the natural quartz sand of 900 grams. Dari hasil percobaan pencucian yang dilakukan sebanyak 3 (tiga) kali diperoleh 658. The chemical analysis result of natural quartz sand and pure quartz sand that has increased of silica (SiO2) significant enough namely from 80.063 mm. PROVINSI KALIMANTAN SELATAN. yang merupakan lapisan tanah penutup (over burden) pada endapan batu bara.30 gram pasir kuarsa terolah dari sebanyak 900 gram pasir kuarsa asli. yakni dari 80. Achmad Yani 392 Bandung Telp. Pasir kuarsa ini masih bercampur dengan material lempung berwarna krem kekuningan. Kabupaten Tapin sebanyak 186378000 m3. sampel pasir kuarsa yang berlempung tersebut perlu dilakukan proses pengolahan dengan cara pencucian dan pengayakan dengan menggunakan ayakan ukuran 1.Tapin Regency abaout 186. silica grade. which to appear of overburden on the coal deposit.PENGOLAHAN PASIR KUARSA BERLEMPUNG ASAL RANTAUBUJUR.7206221 / 7207115) SARI Jumlah cadangan endapan pasir kuarsa di daerah Rantaubujur Kecamatan Tapin Selatan. KABUPATEN TAPIN. 0. 022 .27 % SiO2 menjadi 94. Based on the beneficiation experiments as much as 3 (three) time be found the pure quartz sand of 658.378. Oleh karena itu.85 % SiO2. silika.5 mm. the clayed quartz sand sample need to beneficiat by washing and sieving on several size of 1. Keywords : clayed quartz sand. 0. Because of that. Kata kunci: pasir kuarsa berlempung. This quartz sand still mixed with yellowish cream clay materials. Jend. beneficiation 48 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . South Tapin District . Pasir kuarsa terolah ini telah memenuhi syarat sebagai bahan baku keramik untuk dibuat bodi keramik putih yang fungsinya sebagai bahan pengisi.

yang merupakan bahan pengotor sehingga warna pasirnya bervariasi dari krem sampai kuning kecoklat-coklatan. penggunaan pasir kuarsa sudah berkembang ke berbagai industri baik sebagai bahan baku utama maupun untuk bahan campuran atau aditif. Proses pengolahannya di lakukan sebanyak 3 (tiga) kali percobaan yang hasil percobaannya dapat di lihat pada Tabel 1. dengan jumlah cadangan sebesar 186. Tapin Selatan tergantung pada karakteristik bahan. 2003). Sedangkan penggunaan kuarsa atau silika pada industri keramik berkisar antara 10 – 25% berat dari kompo-sisi bodi keramik stoneware atau perselen. Pasir kuarsa di sini nampaknya masih bercampur dengan material lempung. Bagan alir proses benefisiasi terhadap pasir kuarsa tercantum pada Gambar 1. Carty. Sedangkan pasir kuarsa sebagai bahan baku campuran.. pasir kuarsa yang diteliti akan digunakan sebagai bahan baku campuran dalam pembuatan ubin keramik selain menggunakan felspar dan kaolin. kerikil.000 m3 (Widyajasa. misalnya pada industri pengecoran logam. industri perminyakan dan industri keramik termasuk refraktori. 2000).5 x 7. 2000. Setelah itu komposisi bodi ini dicetak ubin keramik berukuran (7.378. Bahan pengotor yang terkandung didalam pasir kuarsa Rajpardi yaitu oksida besi seperti ilmenit atau limonit.1. silikon karbida dan bahan abrasif. (2000) setelah melakukan proses pengolahan pasir kuarsa yang berwarna kuning hingga kuning kecoklat-coklatan dengan menggunakan metode pengayakan cara kering. yang merupakan lapisan overburden pada tambang batubara jenis lignit. 3. pengayakan cara basah dan cara magnetik.1. Pasir kuarsa dicuci dan kemudian diayak/disaring dengan menggunakan ayakan ukuran 1. Pasir kuarsa ini masih bercampur dengan material lempung berwarna krem kekuningan. Kondisi endapan pasir kuarsa semacam ini juga di jumpai di desa Rajpardi “Bharuch district”.. Adapun komposisi bodi keramik yang dicoba terdiri dari bahan baku kuarsa terolah 20 %. akar tetumbuhan dan lain sebagainya. dan akhirnya dibakar dalam tungku listrik pada suhu 1150. Sebagai bahan baku utama. hal ini tergantung pada tingkat kemurnian bahan baku yang digunakan( Achuthan et al. 2001). et.0 mm.. ubin teraso. HASIL DAN PEMBAHASAN 3. Metode pengolahan yang digunakan dalam proses pengolahan pasir kuarsa dari Kec.. Kabupaten Tapin . Benda uji ubin selanjutnya dikeringkan dalam oven pengering pada suhu 100 0C. (2000) maka metode pengolahan yang dilakukan adalah proses pengayakan cara basah. pasir kuarsa dapat digunakan dalam industri gelas.5 x 0.1200 dan 1250 °C. Dengan adanya kandungan bahan pengotor (impurities) tersebut maka pasir kuarsa ini perlu dilakukan proses pengolahan (benefisiasi) yang tujuannya untuk meningkatkan kualitas kuarsa/ silika agar dapat digunakan sebagai bahan baku keramik terutama untuk bodi keramik putih (whiteware ceramic) seperti stoneware dan porselen. mineral horblende dan biotit (Chakraborty. seperti misalnya penelitian Vyas et al. India. et al. Perolehan (recovery) kuarsa terolah Teknologi pengolahan pasir kuarsa dari Tapin Selatan ini dilakukan dengan pengayakan atau penyaringan secara basah yang menggunakan beberapa ukuran ayakan. 49 .al. Dari hasil percobaan pengolahan ini diharapkan kualitas pasir kuarsa meningkat serta dapat dimanfaatkan untuk industri keramik bahkan bisa juga digunakan untuk industri gelas. 0. Kemudian komposisi bodi tersebut dicampur sampai homogen dengan menambahkan air sekitar 5 % dari total berat bahan baku.5 mm dan 0. Berdasarkan pada karakteristik pasir kuarsa yang masih mengandung bahan pengotor dan mengacu pada penelitian Vyas. Dalam industri manufaktur. Sehubungan hal tersebut di atas. PENDAHULUAN Di daerah Rantau Bujur Kecamatan Tapin Selatan Kabupaten Tapin Provinsi Kalimantan Selatan terdapat endapan pasir kuarsa/silika yang merupakan lapisan tanah penutup (overburden) pada endapan batubara. Subari. ferosilikon. dkk. kaolin 50 % dan lempung 30 %. METODE PENELITIAN Pasir kuarsa alam atau kuarsa asli yang digunakan dalam percobaan pengolahan (benefisiasi) berasal dari daerah Rantau Bujur Kecamatan Tapin Selatan.063 mm. 2. Untuk mengetahui perolehan silika atau kuarsa yang dihasilkan dari proses pengolahan (benefisiasi) pasir kuarsa alam dapat digunakan rumus (Wills. 2006): Pengolahan Pasir Kuarsa Berlempung Asal Rantaubujur.8) cm.

5 mm Kuarsa terolah + 0.33 Kehilangan ( gram ) 21 28 36 28.Kuarsa alam dibuat massa lumpur Diayak basah 1.Bagan alir proses benefisiasi pasir kuarsa Tabel 1.0 mm Diayak basah ukuran 0.33 50 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .5 mm .5 mm Diayak basah ukuran 0.063 mm Gambar 1. Material balance pada proses benefisiasi pasir kuarsa Percobaan 1 2 3 Rata-rata Kuarsa asli ( gram ) 900 900 900 900 Kuarsa terolah ( gram ) 740 675 560 658.0 mm Kotoran kerikil + 1.063 mm Lempung kotor .0 mm Kuarsa & lempung -1.5 mm Kuarsa & lempung 0.0.3 Kotoran 1 ( gram ) 32 27 28 29 Kotoran 2 ( gram ) 107 170 276 184.063 mm Kuarsa terolah + 0.0.

27 % dan yang didalam konsentrat (kuarsa terolah) =94. Gambar 2.23 %.378.2..435 m3. dan TiO2 masing-masing sebesar 80. Kemudian pasir kuarsa setelah diolah dengan cara pencucian dan pengayakan ternyata kadar SiO2 nya mengalami kenaikan menjadi 94. 3. menunjukkan bahwa untuk kuarsa asli terdapat kandungan mineral kaolinite selain alfa kuarsa sedangkan yang kuarsa terolah hanya mengandung alfa kuarsa serta tidak ada lagi kandungan mineral kaolinitnya. Kemudian dari data analisis X Ray diffraktometer terhadap pasir kuarsa asli (belum diolah) kode KCT dan kuarsa yang sudah diolah kode KMT seperti tercantum dalam Gambar 2.30 gram dari sebanyak kuarsa asli sebesar 900 gram.3 %. % C = Kuarsa terolah (konsentrat).% Menurut Tabel 1 bahwa banyaknya kuarsa terolah rata-rata sekitar 658.5 % SiO2 ( Hartono dan Subari.34 % dan 0. 51 . dkk. % F = Umpan (feed) pasir kuarsa asli. maka pasir kuarsa terolah dari Kecamatan Tapin Selatan dengan kadar silika sebesar 94. Kabupaten Tapin . 1.347.27 Jumlah cadangan pasir kuarsa alam (kuarsa asli) sebesar 186. 1986).27 %.. Subari.85 %.85 % serta kadar Fe2O3 dan TiO2 mengalami penurunan masing-masing yaitu 0.20%.85% SiO 2 kualitasnya hampir sama dengan yang pasir kuarsa Bangka.Dimana : R = Recovery.85 R= 900 x 80. Fe2O3. gram c = Kadar SiO2 didalam konsentrat. Dengan demikian perolehan pasir kuarsa terolah adalah : 658. Menurut ketentuan tersebut diatas nampaknya pasir kuarsa dari Kabupaten Tapin telah memenuhi syarat sebagai bahan baku untuk body keramik porselen atau stoneware. dan 0. Sehingga pasir kuarsa terolah tersebut masih bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku keramik untuk body keramik stoneware atau porselen dan juga barang tahan api (refractory).4 % dan yang TiO2 = 0. Data komposisi Kimia dan Mineral Data komposisi kimia terhadap pasir kuarsa asli atau belum diolah terutama kadar silika (SiO2).57 % dengan cara pencucian dan pengayakan tersebut memberikan hasil yang baik. Kadar SiO2 didalam kuarsa asli (umpan) = 80. Dibandingkan dengan pasir kuarsa dari pulau Bangka dan pulau Belitung yang kadar silikanya masing-masing sebesar 95-99 % SiO2 dan 96-99.000 m3. apabila pasir kuarsa diolah semuanya maka yang diperoleh sebanyak 161.Grafik difraktogram pasir kuarsa asli dan kuarsa terolah Pengolahan Pasir Kuarsa Berlempung Asal Rantaubujur.30 x 94. Dengan demikian proses pengolahan pasir kuarsa dari Kabupaten Tapin x 100 % = 86.04 %. Dilihat dari kadar Fe2O3 dan TiO2 bahwa menurut SNI 15-1026-1989 mengenai kuarsa untuk pembuatan porselen dan stoneware batas kadar yang disyaratkan untuk Fe2O3 = 0. Dengan berdasarkan ketentuan tersebut maka proses pengolahan pasir kuarsa dengan cara pencucian dan pengayakan cukup berhasil dan bisa dikembangkan dalam skala produksi. gram f = Kadar SiO2 didalam umpan.

85 %.5 x 7. Setelah itu komposisi bodi ini dicetak ubin keramik berukuran (7. dan akhirnya dibakar dalam tungku listrik pada suhu 1150. Pembuatan Keramik dari Kuarsa Terolah Bahan baku yang biasanya digunakan dalam pembuatan keramik konvensional atau tradisional adalah kuarsa. Perolehan (recovery) pasir kuarsa terolah sebanyak 161.5 x 0. Proses pengolahan pasir kuarsa berlempung asal Kabupaten Tapin dengan cara dicuci dan diayak menggunakan ukuran ayakan 1.57 kg/cm2. K. Demikian pula sebaliknya.87 % dan 15. 16. Adapun komposisi bodi keramik yang dicoba terdiri dari bahan baku kuarsa terolah 20 %.M. makin tinggi suhu pembakaran nilai kuat lenturnya semakin besar yaitu masing.1200 dan 1250 0C. Hal ini disebabkan lubang pori-pori dalam bodi ubin semakin mengecil dan ikatan paertikel-partikel bahan yang satu dengan lainnya menjadi semakin kuat akibat semakin tingginya suhu pembakaran.77% menjadi sebesar 94.3. 137. 3. Maiti. M.15%..347. Kandungan silika bebas tersebut juga terdapat di dalam lempung (clay). Interceram. Kemudian komposisi bodi tersebut dicampur sampai homogen dengan menambahkan air sekitar 5 % dari total berat bahan baku. Lempung ini masih bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku keramik untuk dibuat bodi merah atau terakota.masing sebesar 17. 0.T. Benda uji ubin selanjutnya dikeringkan dalam oven pengering pada suhu 100 0C. 4.masing 135. W.063 mm dapat meningkatkan kadar silika (SiO 2) dari 80. 2000).No.8) cm.. Ubin setelah dibakar ternyata makin tinggi suhu pembakaran penyerapan airnya semakin kecil masing. 2008. KESIMPULAN 1. Carty. dan felspar. Selain untuk ubin keramik pasir kuarsa terolah ini bisa juga digunakan sebagai bahan baku utama bata tahan api silika karena menurut Goswami.24 %. 2. Di samping itu warna bodi ubin keramik setelah dibakar pada suhu 1150 0C sampai 1250 0C berwarna putih susu sampai krem. Sedangkan bahan lempung yang merupakan pengotor (impurity) dari pasir kuarsa mengandung kadar SiO2 nya sebesar 70.3.. Pemakaian pasir kuarsa terolah untuk dibuat ubin keramik sebesar 20% dicampur dengan lempung 30% dan kaolin 50% dari Kabupaten Tapin.65 kg/ cm2 dan 143.13 %. et.85 % telah memenuhi syarat untuk dibuat bata tahan api silika (silica brick refractory).al. (2000) bahwa untuk membuat bahan tahan api tersebut digunakan silika dengan kadar SiO2 minimum 93 % pada suhu pembakaran 1430-1450 0 C. lempung dan felspar. A.5 mm dan 0. Dari hasil analisis kimia terhadap kuarsa terolah ternyata mengandung kadar silika (SiO2) yang cukup tinggi yaitu 94. A. Nilai penyerapan ubin keramik ini masih di atas 15% karena di dalam komposisi bodi ubin tidak menggunakan felspar yang fungsinya sebagai bahan pelebur guna membantu dalam proses sintering.85 %.0 mm. DAFTAR PUSTAKA Achuthan. Misalnya lempung berwarna kuning kecoklatan dari daerah Zorka mengandung kadar SiO2 69. yang telah membantu untuk mendapatkan sampel bahan galian golongan C jenis pasir kuarsa berlempung dari Kecamatan Tapin Selatan serta data potensi cadangannya. Peer. 2001.435 m3 cukup potensial untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku industri keramik dalam pembuatan ubin keramik dan bata tahan api silika. agar pada suhu pembakaran 1250 0C bodinya sudah bersifat padat (vitrified) sehingga penyerapan airnya bisa mencapai di bawah 10 % (Chakraborty et al.98 %. Ceramic engineering and Sci- 52 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Dengan demikian kuarsa terolah yang mengandung SiO2 = 94. yang dibakar pada suhu 1150-1250 0C bodinya berwarna putih susu serta digolongkan ke dalam bodi putih (whiteware ceramic). kaolin 50 % dan lempung 30 %. sehingga bodi keramik tersebut dapat dikatagorikan keramik putih (whiteware ceramic). UCAPAN TERIMAKASIH Dengan terpublikasinya makalah ini penulis menyampaikan banyak terima kasih kepada Kepala Dinas Pertambangan Kabupaten Tapin beserta stafnya. Volume 57. Untuk percobaan pembuatan bodi keramik disini menggunakan kuarsa dari hasil pengolahan pasir kuarsa berlempung dan sedikit mengandung kerikil. kaolin.1. Effect of Precipitated Silica Additions to the Composition of Ceramic Glazes.N.92 kg/cm2.

R. Mineral Processing Technology. 1986.3. Beneficiation of Rajpardi Silica Sand For Use in the Ceramics and Glass Industry. A. G. Kabupaten Tapin . Interceram.V dan Subari. 49 No. Interceram.. Maiti. Material and Equipment and Whitewares.R.T.. X Ray Diffractometric Determination of Tridymite in Silica Refractories. Goswami. 2006. Vyas. Interceram.K. K. 2000.N. Subari.K.ence. D.A. Y. B.M. 53 . A.. Studi Komprehenship Inventarisasi dan Evaluasi Bahan Galian Tambang di Kabupaten Tapin. Proceedings. 2000. Widyajasa.. Volume 22. Oxford-UK. Volume 49 No. dkk. A.P. Issue 2. Vol. Hartono. Seventh Edition-ELSEVIER. Pengolahan Pasir Kuarsa Berlempung Asal Rantaubujur. Vyas. 2. B. J. Volume 49 No. B.D. Panda.. D. Sojitra.5. K. Bapeda Pemerintah Kabupaten Tapin. Effects of Substitution of Quartz by Rajpardi Silica Sand on the Thermomechanical Properties of Conventional Ceramics. Balai Besar Industri Keramik Bandung. Teori Benefisiasi Bahan Mentah Keramik Halus. 2003...N. Chakraborty.G. Maiti. Sojitra. Chakraborty. Wills.G. 2000.

PRESENTASI MAKALAH PARALEL II .

Di samping itu. coal briquette and so forth. Keyword: nowadays. batubara. future. industri semen. metallurgy. Besides. dengan berlakunya UU No 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral Batubara. either in Indonesia or other countries. briket batubara dan industri lainnya. melalui PP No. baik di Indonesia maupun belahan dunia lainnya. Kata kunci: masa kini. will support the effort of optimizing supply and demand of the coal in Indonesia in the future time. (022) 6030483. Sudirman 623 Bandung 40211 Telp.go. kertas. Fax. metalurgi. pemanfaatan ABSTRACT The role of coal as an energy supply. paper.id SARI Peran batubara sebagai pemasok energi.MASA KINI DAN MASA DEPAN BATUBARA INDONESIA Ijang Suherman Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. in the future time will increase. akan mendukung upaya optimalisasi permintaan dan pemasokan batubara Indonesia dimasa depan. utilization Masa Kini dan Masa Depan Batubara Indonesia. 4 Year 2009 about mineral and coal mining. Adanya Kebijaksanaan Energi Nasional mengenai diversifikasi energi. Jend. di masa mendatang akan terus meningkat meskipun harga batubara sedikit terkoreksi sebagai dampak dari harga minyak yang baru saja terkoreksi tajam. although its price is slightly corrected as the impact of the oil price that was just sharply corrected. tekstil. the implementation of UU No. the utilization of coal in Indonesia keeps developing in various market segments including: coal-fired power. cement industry. Due to the presence of the National Energy Policy about energy diversification through PP No.esdm. masa depan. textile. Ijang Suherman 55 . coal. (022) 6003373 e-mail : ijang@tekmira. 5 Year 2006. pemanfaatan batubara di wilayah Indonesia terus berkembang di berbagai segmen pasar yang meliputi PLTU.5 Tahun 2006.

namun terbesar terutama di Pulau Sumatera dan Kalimantan sebanyak masing – masing 50. 56 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . industri semen. Sedangkan model pengolahan dan teknik analisis yang digunakan adalah statistka deskriptif dan trend analysis. telah memacu pemanfaatan batubara di berbagai segmen pasar (industri) di wilayah Indonesia. industri semen.93% pertahun. Banten. serta pemanfaatan batubara untuk briket batubara.02% pertahun (Tabel 1). Namun dengan di telah disyahkannya Undang-Undang No 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.75 milyar ton dan cadangan 22. dan Kuasa Pertambangan (KP). Sedangkan Upgrading Brown Coal (UBC). Sulawesi Selatan. 4. Kegiatan penelitian ini dilakukan di 11 lokasi di Indonesia. pemanfaatan batubara di dalam negeri menjadi semakin penting sejalan dengan ditemukannya cadangan batubara yang besar. dengan jumlah cadangan sebesar 22. dan lainnya untuk mendapatkan data primer dengan hasil-hasil publikasi dari instansi terkait sebagai data skunder. Dalam kurun waktu tersebut (1992 – 2008) telah terjadi perubahan distribusi produksi yang signifikan. 4.76% dengan pertumbuhan 16. kertas.1.04%. Jawa Timur. Jawa Barat. berdasarkan perhitungan Pusat Sumber Daya Geologi. akan mendukung untuk menciptakan keamanan pasokan energi nasional secara berkelanjutan dan pemanfaatan energi secara efisien. produksi batubara selama 16 tahun terakhir telah menunjukkan peningkatan yang cukup pesat. dan industri lainnya. industri kertas. Perjanjian Kerjasama Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B). Segmen pasar yang menggunakan batubara sebagai bahan bakar meliputi PLTU. Gasifikasi Batubara dan Pencairan batubara adalah arah pemanfaatan batubara untuk masa mendatang. Nusa Tenggara Timur. Tingkat Produksi Batubara 2.62 juta ton. Metoda dalam kajian ini. menimbang cadangan minyak bumi Indonesia yang semakin menipis. PENDAHULUAN 3. Sumber daya batubara tersebut tersebar di 19 propinsi. adanya kebijaksanaan energi nasional mengenai diversifikasi energi.1. Badan Usaha Milik Negara (BUMN).75 miliar ton.25 milyar ton. Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. industri tekstil. tetapi sampai sekarang harga batubara masih tetap tinggi walau agak terkoreksi. hingga kini sumber daya mencapai 104.56%. dengan kenaikan produksi rata-rata per tahun secara nasional adalah 17. yaitu Ijin Usaha Pertambangan (IUP) untuk satu wilayah tertentu. POTENSI SUMBER DAYA DAN CADANGAN Harga dunia minyak yang demikian tinggi baru saja terkoreksi tajam.15% dan 49. Kalimanatan Timur. Sedangkan peran KP awalnya relatif masih kecil di bawah BUMN (PTBA). Di samping kondisi global tersebut. jumlah sumber daya adalah sebesar 104.25 miliar ton (Gambar 1). industri peleburan (metalurgi). Kondisi saat ini. Jumlah sumber daya dan cadangan batubara Indonesia setiap tahun terus bertambah. maka ke depan sistim perijinan hanya ada satu jenis. tekstil. Pemberlakuan UU No 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral Batubara. Selain itu.2. METODOLOGI Sejalan dengan upaya penganekaragaman energi dan peningkatan kebutuhan batubara. Sumatera Selatan. Pola Pengusahaan Batubara Ijin pengusahaan batubara di Indonesia secara garis besar dibedakan dalam tiga pola. Seluruh daerah (propinsi) ini dianggap dapat mewakili produsen maupun konsumen batubara di Indonesia. 6 pulau. PENGUSAHAAN BATUBARA 4. dan Jawa Tengah. Kalimantan Selatan. yaitu Propinsi Sumatera Utara. Pada tahun 2008 produksi batubara nasional telah mencapai 233. PKP2B memegang peranan yang cukup menonjol sekitar 75. adalah menghubungkan hasil-hasil penelitian survei sampling secara langsung seperti ke PLTU. Sumatera Barat. tahun 2008. namun setelah digulirkannya otda ada peningkatan yang cukup berarti dengan tingkat pertumbuhan ratarata 21. baik untuk pemakaian domestik maupun pasar ekspor. serta terwujudnya bauran energi (energy mix) yang optimal pada tahun 2025.

Distribusi Sumber Daya Batubara Indonesia 57 .Masa Kini dan Masa Depan Batubara Indonesia. Ijang Suherman Gambar 1.

707 76.80%.986 187. diikuti oleh pemegang KP sebesar 34. Ini berarti volume ekspor rata-rata naik sebesar 15.3. Dengan adanya kecenderungan tersebut. dan BUMN PTBA serbesar 10.207 10. diikuti oleh pemegang KP sebesar 7.576 37. yaitu sekitar 89. serta kran ekspor China ditutup.171 145. dan BUMN sebesar 2. menimbang cadangan minyak bumi Indonesia 58 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .93 KP 1.467 5.288 juta ton.281 18.602 47.570 66. Hal ini yang mengantarkan Indonesia sebagai pemasok (eksportir) terbesar menyaingi Australia dan Afrika Selatan.374 6.597 2.965 9.533 36.07 PKP2B 14.288 juta ton. 4.746 10. sedangkan pada tahun 2008 mencapai 73.069 52.Tabel 1.713 171.1 Penjualan batubara dalam negeri Jumlah penjualan batubara di dalam negeri tahun 1992 sebesar 7.17%.570 176.926 4.645 156.885 33.123 4.993 16.935 20.470 25.180 62. Perusahaan pemegang PKP2B merupakan eksportir batubara terbesar.707 8.812 7.251 123.682 5.555 10.078 96.921.862 41.027 8.286 3.482 10.318 juta ton (Tabel 3).292 8.3.994 22.389 82. Tahun 2008.951 10. Di samping kondisi global tersebut.87% dari jumlah ekspor batubara Indonesia. Tingkat Penjualan Batubara 4.02 Jumlah 15.57%.796 6. perusahaan pemegang PKP2B merupakan pemasok batubara dalam negeri yang terbesar.212 9.328 93.489 21. Ekspor batubara Indonesia pada tahun 1992 hanya sebesar PENGGUNAAN BATUBARA DI INDONESIA Harga dunia minyak yang demikian tinggi baru saja terkoreksi tajam.138 2. Ada yang berpendapat mungkin semakin meningkat karena permintaan yang jauh melebihi penawaran.057 57.859 11.874 23.741 45.2 Penjualan batubara ekspor 16.925 juta ton (Tabel 2).815 40.477 29. sedangkan pada tahun 2008 tercatat sebesar 158.654 1.103 7. yaitu sebesar 54.300 113. tetapi sampai sekarang harga batubara masih tetap tinggi walau agak terkoreksi. tahun 1992 – 2008 Tahun 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 (%) Produksi (x000Ton) PTBA 7.620 17.992 164.230 9.979 9.607 9.474 10. Kebutuhan batubara dunia saat ini ternyata meningkat sangat cepat.56%.85% dari jumlah seluruh kebutuhan.35 %.71%.805 46. antara lain dipicu oleh booming harga dan semakin banyaknya pembangunan PLTU di luar negeri yang menggunakan bahan bakar batubara. 5.890 104.246 208.408 4.966 4.3. 2009 (diolah Kembali) 4.375 233.707 7.04 Sumber : DPPMB dan APBI.604 61. Hal ini diperlukan untuk mengutamakan jaminan pasokan dalam negeri serta kegiatan peningkatan produksi yang mengacu pada konsep konservasi. Jumlah produksi batubara Indonesia menurut kelompok perusahaan.532 87. yang berarti setiap tahun penjualannya rata-rata meningkat sebesar 17. maka kedepan perlu mencermatinya untuk melakukan pembatasan ekspor.

395.272 92.153.577 15.022.000 85.755 1.826 Sumber : DPPMB.356.601.307 11.233 13. 2009 (diolah Kembali) Masa Kini dan Masa Depan Batubara Indonesia.375.734.495.783 36.985 41.969.000 4.212 1.210.581 1.221 25.501.834.886.061.600 41.157 1.633.597.247 4.377 18.160.000 106.977 2.354 34.386.933 10.984 9.077 142.975.142.304 12.775 7.262.720 8.657.152.022.178.086.714 31.003 30.124.492.114.424 9.574.431.119 Jumlah 6.766 6.623.000 41.397 949.710.915 25.549.405.454.979 64.787 27.616 2.181 8.703 31.178 918.537 2.363 76.256.510.Tabel 2.225.606.924.822.079.024.053.321 20.758.361 25.856.194.858 85.621. Ijang Suherman 59 .298.713 14.239.138 52.966 4.727.662.185 36.575 8.110 73.565.538 7.192.428 143.294. Jumlah Ekspor Batubara Indonesia Menurut Kelompok Perusahaan.895 9.534 127.521 74.750 710.646 8.827 1.585 2.480 KP 363.105 1.124 7.787.140. tahun 1992 – 2008 Tahun 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Penjualan Batubara (Ton) BUMN 6.195 4.276.366 16.754.257.865 6.848.815 1.895.001 12.773 1.584.117 19.697.969 2.548.132.550.064.767.686 58.276.381 4.095. 2009 (diolahKembali) Tabel 3.550 158.420 40.104 5.195.482 3.212 3.265 813.307.000 7.973 53.713 9.989 29.000 32.782 3.428 8.819.011.539.233 12.394.254. Jumlah penjualan dalam negeri batubara Indonesia menurut kelompok perusahaan.920 21.268.575.053 51.201 99.206.381 1.691.364 7.939 37.975.874 6.047.712.364 2.206.966 3.892.041.421 948.323 938.764 756.387.830.044 158.621.318 1.444 1.995 6.971 830.349.875 48.228 PKP2B 356.168 1.994 2.777 2.145 36.001 Jumlah 16.536 815.842 Sumber : DPPMB.083.435.799.492 59.895 7.255.260.201 55.921.541 5.715.097 3.256.550 22.913.894. Tahun 1992 – 2008 Tahun 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Ekspor Batubara (Ton) BUMN PKP2B KP 1.852.735.957 66.085.520.680.312.620.230.341 47.875 4.014 7.979.262 454.980.973 3.000 1.005.829 21.544 13.443 26.389.506 18.475 142.131 3.116.955.835.034 2.240 6.209.318.000 2.306.044 22.816.239.854.

168. dan lain-lain.000 MW yang diharapkan siap beroperasi tahun 2010. dua di antaranya paling banyak menggunakan batubara sebagai bahan bakar utamanya adalah PLTU Suralaya dan PLTU Paiton.61% dari kebutuhan batubara nasional. 69. Tercatat dari seluruh konsumsi batubara dalam negeri pada tahun 2008 sebesar 36.161. Hingga saat ini.967.40 dan USD 4. industri tekstil. sebanyak 7. unit 5 dan 6 kapasitas 1. pemerintah telah membuat rencana pembangunan sebanyak 40 PLTU dengan daya terpasang sebesar 10. Arutmin. 5. Segmen pasar yang menggunakan batubara sebagai bahan bakar meliputi PLTU.000 MW.575 juta ton. Penggunaan batubara dalam negeri masih didominasi oleh PLTU. Batubara yang digunakan sebagian besar dipasok dari Pulau Kalimantan. industri semen. baik milk PLN maupun yang dikelola swasta. PT.674. Hal tersebut sejalan dengan penambahan PLTU baru sebagai dampak permintaan listrik yang terus meningkat.031.5 juta ton per tahun.460 MW telah memasuki tahap kontrak dan tahap kontruksi. sebanyak 22 proyek dengan total kapasitas 1.470 MW dengan mengkonsumsi batubara sekitar 36. PT Jorong Barutama. industri kertas. Batubara yang dibutuhkan untuk 10 PLTU Sistem Kelistrikan Jawa sedikitnya 25. Adaro dan PT.230 MW. kecuali pada industri metalurgi dan briket batubara perkembangan penggunaan batubara berfluktuatif dan cenderung tetap.0 juta ton per tahun. Langkah ini merupakan upaya strategis untuk meningkatkan rasio elektrifikasi serta menyehatkan bauran energi nasional dari ketergantungan pada BBM.981.61% di antaranya digunakan oleh PLTU. adanya kebijaksanaan energi nasional mengenai diversifikasi energi. serta pemanfaatan batubara untuk briket batubara.928. Kideco Jaya Agung. telah memacu pemanfaatan batubara di berbagai segmen pasar di wilayah Indonesia. yaitu 69.460 MW dan 30 sisanya dibangun di berbagai daerah di Indonesia dengan kapasitas 2. Total kapasitas PLTU batubara yang dimiliki PLN dan Swasta saat ini sebesar 9.885. Dalam upaya mengantisipasi kekurangan listrik dan untuk meningkatkan efisiensi pemakaian BBM secara nasional.37% (Tabel 5). PT Daya Citra Mulia. Total batubara yang dibutuhkan sekitar 12. PLTU PLTU merupakan industri yang paling banyak menggunakan batubara sebagai bahan bakar pada boiler untuk mendidihkan air menjadi uap air.454 juta ton per tahun. serta industri lainnya terus meningkat. yaitu 54. antara lain dari PT. Selain itu. dengan total kontrak mencapai Rp 17.144 juta ton per tahun.007. industri peleburan (metalurgi). Pemasok utama batubara untuk PLTU Suralaya. PLTU Suralaya dikelola PT. 60 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .230 MW yang dikelola perusahaan swasta PT Java Power dan unit 7 dan 8 yang dikelola PT Paiton Energy dengan kapasitas 1.575 juta ton per tahun. sedangkan sisanya dipasok dari beberapa perusahaan di Kalimantan. (Tabel 4).yang semakin menipis. Trend penggunaan batubara pada industri kertas dan tekstil. Laporan yang disampaikan kepada Menteri ESDM per tanggal 8 Mei 2009 menyebutkan bahwa untuk 10 proyek yang berlokasi di Jawa. kemudian diikuti oleh industri semen sebesar 14.75 miliar ton dan cadangan 22. PT.33. Proyek percepatan 10.659. Sedangkan dari 30 proyek pembangunan PLTU di luar Jawa.25 miliar ton. Berdasarkan data dalam kurun waktu 1998-2008.400 MW menggunakan batubara sebesar 13. Indonesia Power memiliki 7 unit pembangkit dengan total kapasitas terpasang 3.64 dan USD 1. yang hingga kini sumber daya mencapai 104. Untuk merealisasikan rencana tersebut. seperti PT Adaro Indonesia.279. penggunaan batubara di PLTU untuk setiap tahunnya meningkat rata-rata 13.1. PLTU berbahan bakar batubara.000 MW mengalami kemajuan signifikan. Peranan PLTU pada pembangkit tenaga listrik nasional adalah yang terbesar.960 MW dan total kontrak mencapai Rp 7. sedangkan batubara yang dibutuhkan untuk 30 PLTU Sistem Kelistrikan Luar Jawa sedikitnya 7. dan industri lainnya. pemerintah melalui Peraturan Pemerintah No 71 Tahun 2006 telah menunjuk PLN untuk melakukan Percepatan Pembangunan PLTU batubar 10.64.0%. Kemudian uap air tersebut digunakan untuk menggerakan turbin pembangkit listrik.131. ada 13 PLTU. Berau Coal. pemanfaatan batubara di dalam negeri menjadi semakin penting sejalan dengan ditemukannya cadangan batubara yang besar yang terus meningkat.783. 10 PLTU di antaranya akan dibangun di Pulau Jawa dengan kapasitas 7. Sedangkan di kawasan PLTU Paiton ada tiga operator pembangkit. yakni unit 1 dan 2 kapasitas 800 MW yang dikelola oleh PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB).540 MW (lihat Tabel 6).223.48%.

047.300.666 PT.974 1.933 3.206.000 12.907 35.828.000 4.017.688 23.106.000 506.610 480.165.161 23.541.889 9.000 1.621 18.737 805.090.000.799 Lain-lain 2.575. 2006.800 36.298 650.607 125.902.000 1.866 299.000 554.793.457.871 11.226 134.000.894 665.318 (Ton) 2008 631.644.774.906 27.906 5.774 1.368.548 2006 27.456.072 Asam-Asam 127.583 28.563.787 2001 2002 2003 2004 2005 19.561 9.907 122.518.824 Industri Tekstil Industi Kertas 692.680.792.397 766.339.564 1.000 300.003 4.180.200.000.540 2.855 547.436 568.452 1.307 600.308.144 31.492.151.218 10.227 2.034 1.487.000 506.549 Metalurgi 144.366.828.905 1.943.272.325 52.800 13.165.544.248 1.578 506. Newmont Sumbawa 70.083 488.060 61 .506 28.782 2.355 5.251.000.810.573.717 13.137. Ijang Suherman Seumber :DPPMB dan hasil survei tekMIRA.907 123.399 720.958 36.142.920 9.667 3.304 1.341 13.709 PT.000 58.000 11.730 25.810.174 2007 631.023.256 21.000 180.874 2007 35.120 1.802 225.575.000 5.144.202 471.263.310.Berau 58.430.092.267 2.819.018 979.896.000 664.337 638.943.338 5.399 720. Tonasa 300.341 13.123 2.000 929.976 23.411.337.000 180.965 376.000 58.276.797 39.916 2.408 374.101 1.819 5.104 8.000 4.653.883.932 2.256 21.666 236.503.047.009 10.708 24.363 663.800 Jumlah 10.054 23.265.766 8. Konsumsi batubara menurut jenis industri di Indonesia Tahun 1998 .012 4.763 2.887 282.338 1998 1999 102.992 6.085 1.650 623.328 26.717 13.490 31.963 38.424.731 11.000 300.443 220.307.827 160.147 568.000 482.060 7.302 36.691 3.057.849.Tabel 4. Freeport 646.637 505.440.000.895 (Ton) 2008 36.000 929.613 Semen 1.619.132 477.115 2.481 4.751 1.428 282.000 300.2008 Jenis Industri 1998 1999 2000 PLTU 10.000 706.492.692.800 35.407.345 6.911.613 19.068.589 Masa Kini dan Masa Depan Batubara Indonesia.000 12.060.956.310.550 2.333 635.646 1.911.902.545.819.079 417.068.643 1.155 12.245 3. Penggunaan batubara pada pltu di indonesia.800 58.337.088 4.192.73 25.501 13.393 Briket 29.057.170.193.230 9.609 Jumlah 15.334 593.231.990.454.636.225.054 23.990 36.610 804.318 6.671.000 Mpanau Lati .328 26.839 PT.600.749 3.000 PLTU Ombilin Bukit Asam Tarahan Suralaya (PTIP) 7.095 406.137.061 36.161 23.514 49.547. 1998 – 2008 (Ton) 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 119.265 24.967 824.080.252 Cilacap Tanjung Jati B Paiton 2.753 9.153.2008 (diolah kembali) Tabel 5.564 669.609.648.

379 71.379 179.848 71.Tabel 6.955 50.000 2.379 50.924 107.242 32.803 719.273 Propinsi Kapasitas (MW) Kebutuhan Batubara (Ton) Jumlah Jumlah seluruh Sumber : Peraturan Presiden Republik Indonesia No 71 Tahun 2006 62 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .159.697 71. Balai Kerimun Baru PLTU Tarahan Baru PLTU Pontianak Baru PLTU Singkawang Baru PLTU Asam-Asam PLTU Palangkaraya PLTU Sampit Baru PLTU Amurang Baru PLTU Sulut Baru PLTU Gorontalo Baru PLTU Bone PLTU Kendari PLTU Bima PLTU Lombok Batu PLTU Ende PLTU Kupang Baru PLTU Ambon Baru PLTU Ternate PLTU Timika PLTU Jayapura NAD Sumatera Utara Sumatera Utara Sumatera Barat Bangka Belitung Bangka Belitung Bangka Belitung Bangka Belitung Riau Riau Kepulauan Riau Lampung kalimantan Barat kalimantan Barat Kalimantan Selatan Kalimantan Selatan Kalimantan Tengah Sulawesi Utara Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Timur Maluku Maluku Utara Papua Papua 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 65 100 100 100 10 10 25 15 7 5 7 100 25 50 65 65 7 25 25 25 50 10 7 25 7 15 7 7 7 10 467.477.379 719.091 2.545 4.501.924 359.697 719.515 Banten Banten Banten Jawa Barat Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Tengah Jawa Timur Jawa Timur Jawa Timur 1 2 2 2 2 1 2 2 1 2 17 300 660 300 300 300 660 300 300 600 600 1.985 50.924 179.924 50.750.379 50.159. Rencana pembangunan PLTU 10.318.803 50.803 467.970 7.970 179.375.024. Pacitan PLTU Tanjung Awar-Awar PLTU Paiton Baru Jumlah Di luar Pulau Jawa 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 PLTU Meulaboh PLTU Sibolga Baru PLTU Medan Baru PLTU Sumbar Pesisir Selatan PLTU Mantung PLTU Air Anyer PLTU Bangka Baru PLTU Belitung Baru PLTU Bengkalis PLTU Selat Panjang PLTU Tj.091 4.091 2.000 2.091 2.000 MW Tahap I Nama Proyek / Lokasi Pulau Jawa 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 PLTU Labuan PLTU Suralaya Baru PLTU Teluk Naga PLTU Jabar Selatan PLTU Jabar Utara PLTU Tanjung Jati Baru PLTU Rembang PLTU Jatim Selatan.379 107.924 179.091 2.182 25.697 719.379 35.848 467.970 71.955 50.159.091 2.159.697 179.379 179.159.159.924 359.970 50.079.

kebutuhan batubara pada industri semen mengalami perubahan yang positif. digunakan sebagai bahan bakar pada tanur putar untuk proses pembuatan klinker sebelum menjadi semen. yaitu di Cibinong.48% kebutuhan batubara dalam negeri digunakan oleh industri semen atau 7. Menurut para pengusaha. Jawa Barat dan Jawa Tengah. Banten. yaitu 64.609 juta ton.03%. Industri Tekstil Industri tekstil memiliki tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap bahan bakar minyak (BBM). Industri Semen Industri semen merupakan konsumen batubara kedua terbesar setelah PLTU.828 juta ton. Uap yang dihasilkan dipergunakan untuk memasak/membuat pulp (bubur kertas). Saat ini terdapat 9 perusahaan semen yang terletak di beberapa wilayah di Indonesia. Semen Gresik. Semen Gresik dengan kebutuhan 1.194 juta ton pada tahun 2008. PT. Uap yang dihasilkan digunakan untuk menggerakan turbin pembangkit listrik. karena biaya bahan bakar merupakan komponen terbesar di dalam biaya produksi.102 juta ton.81% dan 5.150 ton pada tahun 2003 naik menjadi 4. Selama sepuluh tahun terakhir ini. 5. yaitu sebesar 2.430 juta ton (81. Cirebon (Propinsi Jawa Barat).03%. Perusahaan ini memiliki tiga pabrik di lokasi yang berbeda. Indocement Tunggal Prakarsa dan PT. jumlah kebutuhan batubara untuk industri ini mencapai sekitar 2. dan yang lainnya di bawah 0. batubara dalam industri kertas digunakan sebagai bahan bakar dimana energi panas yang dihasilkan digunakan untuk memasak air pada mesin uap.4. Kemudian disusul oleh Propinsi Jawa Tengah. Industri Metalurgi Dari sisi jumlah industri metalurgi (pengecoran logam) yang telah menggunakan batubara sebagai bahan bakar pada proses produksinya dapat Masa Kini dan Masa Depan Batubara Indonesia.79%). sedangkan PT Semen Andalas dalam proses akhir rekontruksi setelah terkena gelombang tsunami. Penurunan ini sangat dipengaruhi oleh adanya penurunan produksi di beberapa perusahaan semen.2. Kebutuhan batubaranya pun meningkat sangat signifikan.005 juta ton PT. Memasuki tahun 2004 hingga tahun 2008 cenderung meningkat hanya sempat menurun pada tahun 2006.519 juta ton. Beberapa industri tekstil dilengkapi oleh powerplant berbahan bakar batubara untuk memasak air menjadi uap. perubahan pola penggunaan bahan bakar ke batubara merupakan salah satu alternatif yang sangat tepat karena mampu menekan biaya pengeluaran bahan bakar walaupun harus melakukan modifikasi terhadap boiler atau mengganti boiler yang baru yang berbahan bakar batubara. Pada tahun 2008.5. Batubara dalam industri tekstil digunakan pada boiler untuk memasak air menjadi uap. 5. (Tabel 9). yang sebagian besar terletak di Propinsi Jawa Barat. dan sebagainya. penerangan.763 juta ton. Industri Kertas Seperti halnya pada perusahaan tekstil. Listrik yang dihasilkan dimanfaatkan berbagai keperluan seperti menggerakan mesin produksi. Perusahaan semen yang paling banyak menggunakan batubara adalah PT. dan Tarjun Kabupaten Kotabaru (Propinsi Kalimantan Selatan). Ijang Suherman 63 . menunjukkan bahwa perkembangan jumlah perusahaan tekstil yang menggunakan batubara tampaknya akan terus meningkat.395 juta ton. sementar PT Semen Kupang produksinya tersendat serta dalam proses akuisisi oleh Perusahaan India. namun pada tahun 2002 dan 2003 sempat mengalami penurunan hingga 9.5. dan Jawa Timur (lihat Tabel 8). Uap yang dihasilkan digunakan untuk proses pencelupan.14%) dengan mengkonsumsi batubara sebesar 3. namun pada tahun 2008 sudah bertambah menjadi 328 perusahaan. dan 2 perusahaan di Propinsi Riau. Semen Tonasa 0. Berikutnya adalah PT. tercatat sekitar 14.36%. Semen Holcim 1. 19 perusahaan di Propinsi Jawa Timur. Hal ini dapat dilihat dari jumlah perusahaan tekstil pada tahun 2003 hanya 18 perusahaan saja. PT Semen Padang 1.5 juta ton.3. yaitu 7. yaitu dari 274. 5. Terdapat 36 perusahaan kertas yang telah menggunakan batubara. Antara tahun 1998-2001. PT. industri tekstil di Indonesia terpusat di Pulau Jawa. pemakaian batubara rata-rata naik sangat signifikan. 5 perusahaan masingmasing terdapat di Propinsi Banten. Tahun 2008. Indocement Tunggal Perkasa. Pemanfaatan batubara pada industri semen. perkembangan penggunaan batubara pada industri semen berfluktuasi. seiring perkembangan ekonomi yang mulai membaik di dalam negeri (Tabel 7). yaitu sekitar 240 perusahaan (73. Seperti diperlihatkan pada Gambar 2. Dari sisi keberadaannya.

Semen Tonasa.569 1.436 397.420 397.340 tp tp tp tp 483.000 2.655 80.526 5.564 1.749 5.413 364.004.082 243. Indocement (Tanjung) PT. Semen Baturaja PT.923 1.147 130.170.157 116.065.438 207.102.775 88. Semen Holcim Cilacap PT.352 99.973 1.308.215 262. Semen Padang PT.637 692.124 782.153 Catatan : tp = tidak berproduksi Sumber : .370 454.179 1.876 252.618 35.376 528.564 368.833 409. PT.950.441 1.000 827.829 88. PT.425 1999 19.311 75. Semen Andalas PT.063.510.375 416.674 166.301 269.315 311.PT.013 464.606 715.082 243.448 103.772 451.473 697.691 3.396 547. Bosowa Cement PT.430 680.973 133.437.876 252.754 62.184.860 328.638 1.141.050 168.868 6.801 545.323 202.515 153. Semen Kupang Jumlah (Ton) 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 33.465 912. Indocement-Cirebon.Asosiasi Semen Indonesia. Semen Tonasa PT.090.679 75. Semen Gresik.721 68. Semen Gresik PT.793 151.529 131.607 42. Indocement TP (Cirebon) PT.407 448.412 2.499 30.509.180 328.523 469.849 554.214 678.262 474.430. Semen Holcim Narogong PT.950.939 129. PT.415 187.026.081 143.440 481.868 5.277 850.908 67.202. 2008 .085 4. PT.283 546.860 328.018 155. Indocement TP (Cibinong) PT. dan PT Semen Kupang (Survei tekMIRA 2006) .847 26.181 276.923 556.975 95.762.583 862.245 6.529 1. Semen Bosowa.000 185.826 683.060 397.439 207.765 1.457 375.495 659.140 379.172 1.868 800.64 Tabel 7.085 472.265.018 793.317 296.271 Industri Semen PT. Konsumsi batubara pada industri semen 1998 – 2008 (ton) 1998 59.000 1.841 349.710 359.189 7.521 6.643 47. 2006 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .431 231.357 110.372 1. Holcim-Cilacap.019.700 14.023.743.763 760.248 5.DPPMB.317 296.392 454.029 862.324 202.860 151.233 593.305 254.345.776.123 2.850 577.

479 1. menurut Provinsi.932 Tabel 9.406 3.Gambar 2. Ijang Suherman 65 . Tahun 2008 No. 1 2 3 4 5 Lokasi Banten Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Timur Riau Jumlah Jumlah Perusahaan (Buah) 5 5 5 19 2 36 Kebutuhan Batubara (Ton/Tahun) 620. 1 2 3 4 5 Lokasi Banten Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Timur Luar Jawa Jumlah Jumlah Perusahaan (Buah) 15 240 68 5 0 328 Kebutuhan Batubara (Ton/Tahun) 423.887 Masa Kini dan Masa Depan Batubara Indonesia.518.433 47. perkembangan perusahaan tekstil pemakai batubara di indonesia tahun 2003 – 2008 Tabel 8.700 0 4.393 292.916 605. Industri tekstil berbahan bakar batubara di Indonesia.193.391 2.440 145.661 46.430.100. Industri kertas berbahan bakar batubara di Indonesia No.

Di masyarakat. Perkembangan kebutuhan batubara oleh industri metalurgi berfluktuasi. Namun yang paling dominan dan memasyarakat penggunaan briket batubara adalah pada peternakan ayam.393 220.643 Sumber : DPPMB. kimia. antara lain industri makanan. Tahun 2001 – 2008 Tahun 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 *) Pemakaian Batubara (Ton) 31.963 32. antara lain industri makanan. pembakaran kapur. Di Indonesia. pengecoran logam. pengeringan tembakau.976 17. Tahun 1998 . namun ada trend perkembangan yang meningkat sejalan dengan tingkat produksi perusahaan (Tabel 10). namun hingga kini tidak dapat berkembang dengan baik. tahu/tempe. Kelitbangan UBC telah sampai pada skala demo plant 1. di Propinsi Banten ada 33 perusahaan yang telah menggunakan batubara dengan total kebutuhan diperkirakan mencapai 342.6. Sedangkan kebutuhan batubara untuk industri lainnya secara menyeluruh (nasional) diperkirakan tidak kurang dari 1.907 123. 2008 (diolah kembali) *) perkiraan Sumber : DPPMB. kimia. yaitu sebagai penghangat anak ayam. di Propinsi Banten ada 33 perusahaan yang telah menggunakan batubara dengan total kebutuhan diperkirakan mencapai 342. Perkembangan penggunaan batubara pada industri metalurgi. kerupuk. pemindangan ikan.2008 Tahun 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 *) Pemakaian Batubara (Ton) 144. industri rumahan tertentu sebagai bahan bakar. Potensi lainnya adalah pencairan batubara. Perkembangan penggunaan batubara pada Industri briket batubara.990 282.530 299.213 Tabel 11. katering/restoran. dan lainnya. 66 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .666 236.dikatakan relatif tidak bertambah.827 183.730 321. Selain itu potensi gasifikasi batubara untuk industri kecil menengah. seperti industri pengeringan gerabah. Tabel 10. Berdasarkan survai sampling tahun 2008. pembakaran bata.7. masih banyak industri lainnya yang menggunakan batubara sebagai bahan bakar dalam mendukung proses produksinya. padahal dari sisi potensi masih banyak perusahaan yang belum menggunakan batubara sebagai bahan bakarnya. 5.339 juta ton. pembakaran kapur. Berdasarkan survai sampling tahun 2008.708 24. pemanfaatan briket batubara digunakan pada industri kecil atau 5. pengembangan briket batubara diperkenalkan sejak tahun 1993.265 24. termasuk beberapa jenis industri kecil. karet ban. pembakaran kapur.226 134. dan obat nyamuk.907 122. pengeringan bawang. Industri Lainnya Di samping industri yang disebutkan di atas. mengingat teknologi dan peralatan yang digunakan relatif sederhana. Briket Batubara Briket batubara merupakan energi alternatif atau pengganti minyak tanah dan kayu bakar yang paling murah dan dimungkinkan untuk dikembangkan secara masal. 2008 (diolah kembali) *) perkiraan Di samping industri metalurgi.850 ton.120 25. dan lainnya. masih banyak industri lainnya yang menggunakan batubara sebagai bahan bakar dalam mendukung proses produksinya. termasuk beberapa jenis industri kecil.802 225. Sedangkan potensi pemanfaatan ke depan adalah pada pengusahaan Upgraded Brown Coal (UBC). Hal tersebut dapat dilihat perkembangan briket batubara selama kurun waktu 2001 – 2008 yang fluktuatif (lihat Tabel 11).000 ton/hari.010 36. pengecoran logam. karet ban.850 ton. yang merupakan suatu proses untuk meningkatkan nilai kalori batubara melalui penurunan kadar air.018 25. seperti halnya yang telah berhasil pada industri pengeringan teh. tepung ikan.

sebaliknya peran batubara dan gas akan semakin besar. terlihat dari tingginya tingkat pertumbuhan ekspor Indonesia yang mencapai 15. Tidak mengherankan Masa Kini dan Masa Depan Batubara Indonesia. Pelaku Usaha Pertambangan Sampai dengan tahun 2008 perusahaan penambangan batubara di Indonesia dengan status PKP2B aktif berjumlah 76 perusahaan. Kriteria ini sangat jarang ditemui di lapangan. Pada satu sisi. apabila sejalan dengan itu jumlah perusahaan pertambangan batubara di Indonesia pun tumbuh pesat khususnya dalam beberapa tahun terakhir.935 juta juta ton menjadi 233. Lagi-lagi. dan perlu bernegosiasi lanjutan. Peningkatan jumlah konsumsi yang sangat tajam yang disebabkan meningkat tajamnya permintaan batubara sebagai sumber energi terutama untuk pembangkit listrik. dan adanya kebijakan-kebijakan yang terkait. potensi sumberdaya dan cadangan yang besar.51%. padahal kebijakan ekspor memproyeksikan sekitar 150 – 236 jua ton. yaitu ketika penegasan tentang pemberian Kuasa Pertambangan (KP) dilakukan oleh Pemerintah Daerah. atau meningkat rata-rata per tahun 17. dari 15. ke depan perlu mencermatinya untuk melakukan pengendalian atau pembatasan ekspor. gubernur atau menteri sesuai dengan kewenangannya. Dalam prakteknya sebagian besar dari KP yang dikeluarkan selama otonomi daerah tersebut diterbitkan oleh kabupaten. sedangkan yang dikeluarkan menteri harus yang berbataskan sedikitnya 2 propinsi.04%. baik di dalam negeri maupun di negara-negara importir. Jika diasumsikan pertumbuhan produksi tetap tinggi. sedangkan yang telah berproduksi 129 KP. Peningkatan produksi yang pesat didorong oleh meningkat tajamnya permintaan ekspor dan permintaan dalam negeri. 3. MASA DEPAN BATUBARA INDONESIA Menyimak berbagai keberhasilan kinerja pertambangan batubara di Indonesia dimasa lalu hingga masa kini. 6. yang berdasarkan aturan tersebut diberikan oleh bupati.8%. 10 dari Generasi II dan 21dari Generasi III). adanya peluang sekaligus tantang. Perkembangan Penggunaan di Dalam Negeri Peran batubara sebagai energi akan semakin besar pada berbagai industri. dan 5 status eksplorasi. Sedangkan jumlah Kuasa Pertambangan (KP) yang dikeluarkan di daerah yang terinventarisasi di Direktorat Jenderal Mineral. maka pada tahun 2025 dapat mencapai 742 juta ton. Ijang Suherman 67 . jauh di atas rata-rata dunia. Hal ini diperlukan untuk mengutamakan jaminan pasokan dalam negeri serta perkembangan tingkat produksi yang mengacu pada konsep konservasi. Saat ini alternatif yang sedang dijajagi adalah menerapkan teknologi Sasol. Korea Selatan dan Taiwan. khususnya sejak tahun 2001 ketika dikeluarkannya PP 75 tahun 2001. hal tersebut merupakan peluang Indonesia untuk meningkatkan pangsa pasar ekspor. karena belum terbukti (unprovent) terjadi kemandegan.620 juta ton. Batubara dan Panas Bumi sudah melebihi angka 500 KP. Diperkirakan di masa-masa mendatang peran minyak akan semakin berkurang. Belum adanya keseimbangan antara permintaan dan pemasokan batubara pada tataran dunia. namun belum ada kesepakatan yang mengikat. Hal ini dapat dimengerti karena untuk perizinan KP yang dikeluarkan oleh propinsi harus yang berbatasan antara sedikitnya 2 kabupaten. maka batubara Indonesia mempunyai prospek dimasa depan. baik sengaja atau tidak sengaja. khususnya pembangkit listrik di Indonesia maupun industri lain di berbagai belahan dunia. namun APBI sejalan dengan kebijakan pemerintah telah memproyesikan yang cukup wajar sebesar 471 juta ton. 15 status konstruksi. Meningkatnya permintaan China dan India di masa datang akan menambah tingginya kecenderungan permintaan ekspor. Berkembangnya KP tersebut terjadi pada era otonomi daerah. yang terdiri dari 40 perusahaan PKP2B sudah produksi (9 dari Generasi I.Sebelumnya telah melakukan upaya pengembangan teknologi BCL. di samping China dan India yang merupakan buyer baru bagi Indonesia. 16 status studi kelayakan. proyeksi ekspor batubara tanpa adanya pembatasan. Perkembangan Produksi Selama 16 tahun terakhir (1992-2008) produksi batubara Indonesia telah meningkat hampir 15 kali lipat. pada tahun 2025 akan mencapai 509. Perkembangan Ekspor Saat ini pasar ekspor terbesar Indonesia adalah Jepang. Tetapi dengan adanya kecenderungan tersebut.3 juta ton.

Distamben Provinsi Jawa Tengah. 6. industri kertas 3. Jawa Tengah. Jawa Barat. industri tekstil 4. dengan visi berupa terjaminnya energi dengan harga wajar untuk kepentingan nasional. Jawa Barat dan Jawa Tengah. Pasar global telah dapat pula diterobos dan menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara pengekspor batubara uap terbesar di dunia. mengisyaratkan pemerintah dapat mengoptimalkan pengelolaan batubara antara lain pengendalian produksi dan ekspor serta jaminan pasokan dalam negeri melalui Domestic Obligation Market (DMO) dan Penetapan Harga Batubara Nasional. Coal. 2006. Dengan adanya kebikan-kebijakan tersebut tentunya diharapkan akan dihasilkan pelaku pertambangan yang andal di bagian hulu (pertambangan batubara) dengan melakukan good mining practices. Diperkirakan pada tahun 2025 konsumsi batubara dalam negeri mencapai 236 juta ton.4%. Data Pemakaian Batubara Sebagai Sumber Energi. Di samping itu mengenai perijinan pertambangan batubara hanya satu pola. dan Panas Bumi. Direktorat Pengusahaan Pertambangan Mineral. 2006. diperkirakan konsumsi batubara Indonesia akan mencapai 90 juta ton atau meningkat hampir dua kali lipat dibanding tahun 2006. pengelolaan lingkungan. Data Pemakaian Batubara Dan Boiler Tahun 2007. pengelolaannya perlu dilaksanakan melalui kebijakan yang terpadu dan sinergi dengan sektor-sektor pembangunan lainnya. 2008. industri kimia.000 MW telah beroperasi yang ditargetkan pada tahun 2010. Balai Pengelolaan Pertambangan dan Energi Wilayah. Penyusunan “blueprint” merupakan tindak lanjut Peraturan Presiden (Perpres) No 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional yang mengamanatkan Menteri ESDM menetapkan cetak biru tersebut. Jakarta. Indonesia Cement Statistic 2005. Indonesia Mineral. Asosiasi Semen Indonesia (ASI). DAFTAR PUSTAKA Asosiasi Pertekstilan Indonesia. Adapun PKP2B termasuk KP yang ada tetap dihormati sampai ijinnya berakhir. yaitu untuk menjamin pengadaan energi nasional yang dapat diandalkan tanpa mengabaikan prinsip pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. dan kemudian diberikan prioritas untuk mendapatkan IUP. 2008. and Geothermal Statistics 2008.Ketika semua proyek Percepatan pembangunan PLTU 10. 2008. yang menargetkan peranan batubara pada bauran energi nasional sebesar 34. Kebijakan Pemerintah baru saja menerbitkan “Blueprint” Pengelolaan Energi Nasional (BP PEN) 2010-2025 merupakan re-evaluasi BP PEN 2005-2025. Semua ini merupakan modal dasar bagi industri batubara Indonesia untuk terus berkembang dalam menunjang keberhasilan pengembangan energi nasional maupun global.1% dan Coal Bed Methane (CBM) 3. Batubara. Sedangkan di bagian hilirnya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari KEN.1 juta ton. pabrik kertas. Oleh karena itu. Dinas Tenaga Kerja Propinsi Banten. Di samping peranan batubara yang cukup besar. Keadaan ini terlihat dengan meningkatnya pemanfaatan batubara di berbagai pusat pembangkit listrik.5 juta ton.9 juta ton. pabrik semen.0 juta dan industri lainnya sekitar 4. dan pengembangan masyarakat (community development). Di sisi lain dengan telah disyahkannya UndangUndang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.3%. 68 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .5 juta ton. dan industri kecil. di luar peranan Bahan Bakar Batubara Cair (BBBC) sebesar 3. yaitu dalam bentuk Ijin Usaha Pertambangan (IUP). Jumlah tersebut terdistribusi pada PLTU sebesar 69. industri semen 8. Daftar Industri yang Menggunakan Boiler Berbahan Bakar Batubara. PENUTUP Sektor pertambangan batubara sampai saat ini telah berhasil dalam menunjang Kebijakan Energi Nasional. Hal ini telah diproyeksikan sebagaimana termuat pada Blueprint Pengelolaan Energi Nasional 2010-2025. maka tetap juga harus dijaga dan dijamin ketersediaannya dalam memenuhi kebutuhan akan energi di dalam negeri selama dan seekonomis mungkin. yang akan menjadi dasar penyusunan pola pengembangan dan pemanfaatan energi secara nasional hingga 2025.

Tahun 2006 Tentang Kebijakan Energi Nasional. PLN untuk Melakukan Percepatan Pembangunan PLTU yang menggunakan batubara. Menteri ESDM. Unit Bisnis Pembangkitan Suralaya. Suherman I. ____________. Tahun 2006 Tentang Penugasan kepada PT.. dkk. 2006. Masa Kini dan Masa Depan Batubara Indonesia. Peraturan Presiden Republik Indonesia No. Kajian Batubara Nasional 2006. 2008. Blueprint Pengelolaan Energi Nasional 2010-2025. 71. 2009.. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. Perkembangan Produksi Listrik dan Kebutuhan Bahan Bakar Batubara. ____________.Presiden Republik Indonesia. Peraturan Presiden Republik Indonesia No. Ijang Suherman 69 . Puslitbang Teknologi dan Batubara (tekMIRA). 5.

Keywords: roof failure. Hasniati Astika 2). datalogger sebagai perekam dan penyimpan data serta CPU komputer untuk pengolahan data. lvdt. Monitoring system that developed consists of monitoring tools.6030483 Fax. Terdapat dua macam alat pemantauan yang dirancang. there was a development of monitoring tools using Potentiometer Transducer that can detect movement in some rock layers of the roof and Linear Variable Differential Transducer (LVDT) that can detect movement on the surface rock of the roof only.id. The result of a calibration in a studio and running test in one of the underground coal mine could be known that the monitoring tools and the system which applied can be used as a centralized monitoring system with a significant result. Dari hasil kalibrasi di studio dan ujicoba di salah satu tambang batubara bawah tanah.go. 022 . dimana semua alat pemantauan dan proses perekaman data dapat dioperasikan dari satu tempat sebagai sentral. potentiometer.PENGEMBANGAN SISTEM DAN ALAT PEMANTAUAN SEDERHANA UNTUK MENDETEKSI KERUNTUHAN BATUAN ATAP (ROOF FAILURE) PADA TAMBANG BAWAH TANAH Zulfahmi 1). Two type of monitoring tools have been designed. Sudirman 623 Bandung 40211 Telp. where all of the monitoring equipment and data recording process can operated from one place as a central.esdm.id. yaitu pengembangan alat pemantauan menggunakan Potensiometer transducer yang dapat mendeteksi pergerakan pada beberapa lapisan batuan atap dan pengembangan alat pemantauan menggunakan Linear Variable Differential Transducer (LVDT) yang hanya dapat mendeteksi pergerakan pada permukaan batuan atap saja. 022 . alat dan system yang diterapkan terbukti dapat digunakan sebagai sistem pemantauan terpusat dengan hasil yang signifikan.esdm. Supriatna Mujahidin 3) 1) Peneliti Madya 2) Peneliti Pertama 3) Teknisi Litkayasa Penyelia Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. lvdt.id SARI Keruntuhan batuan atap (Roof Failure) merupakan salah satu penyebab utama terjadinya kecelakaan pada tambang bawah tanah. potensio. Jend. didit@tekmira.6003373 e-mail : zulfahmi@tekmira.go. Sistem pemantauan yang digunakan terdiri dari alat pemantauan. Kata kunci : keruntuhan atap.go. underground mine 70 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . tambang bawah tanah ABSTRACT Roof failure is one of the main causes injuries that happened in the underground mine. data logger for record and storage tool and a computer for data processing. hasni@tekmira.esdm.

71 . 24.gov dari tahun 2003 sampai dengan 2007. dengan tujuan utama untuk melakukan pengawasan dan mengetahui sedini mungkin kondisi tidak aman pada suatu lokasi tambang agar dapat ditanggulangi sebelumnya.msha. Dari data tersebut. Selanjutnya dilakukan perancangan sampai didapatkan sistem dan peralatan yang layak digunakan dengan melakukan kalibrasi dan juga ujicoba. 82% dari total kecelakaan pada tambang bawah tanah terjadi pada tambang batubara. Salahsatunya dengan merancang alat pemantauan sederhana dengan menggunakan peralatan yang mudah didapatkan di Indonesia. Zulfahmi. LATAR BELAKANG Berdasarkan data yang diperoleh dari www. keruntuhan batuan atap merupakan salah satu penyebab terbesar terjadinya kecelakaan pada tambang bawah tanah. STUDI PUSTAKA/ CYBERNET Kajian teoritis tentang perkembangan sistem pemantauan & konsep sistem peringatan dini Dasar-dasar teori mengenai keruntuhan atap (roof failure) Konsep & Aplikasi peralatan PENENTUAN SISTEM & ALAT PEMANTAUAN PERANCANGAN & MODIFIKASI ALAT PERBAIKAN ALAT/PERUBAHAN SISTEM KALIBRASI UJICOBA ALAT & RUNNING TEST EVALUASI HASIL UJICOBA SESUAI STANDARD Ya Tidak ALAT PEMANTAUAN KERUNTUHAN ATAP Gambar 1. Diperoleh baik dari hasil studi pustaka maupun hasil penelusuran pada cybernet untuk mendapatkan metoda dan dasar yang akan digunakan dalam perancangan sistem dan peralatan pemantauan. 2. Teknologi pengawasan secara dini sangat diperlukan..50% diantaranya diakibatkan oleh keruntuhan atap selain yang disebabkan oleh ledakan gas dan debu tambang dan juga kecelakaan pada pengangkutan (mine haulage). dkk. Metodologi penelitian pengembangan alat pemantauan sederhana untuk mendeteksi pergerakan batuan atap pada tambang bawah tanah Pengembangan Sistem dan Alat Pemantau Sederhana untuk Mendeteksi .. METODA PENELITIAN Metode penelitian yang diterapkan dalam kegiatan ini lebih mengarah kepada kajian terhadap perkembangan peralatan pemantauan keruntuhan batuan atap pada tambang bawah tanah.1.

Untuk menghubungkan setiap unit dari sistem tersebut digunakan sistem kabel. (a) Prinsip kerja LVDT (b) LVDT RDP DCTH400AG 72 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . datalogger dan CPU komputer. Kelebihan dari LVDT sebagai sensor jarak adalah tidak adanya kontak fisik pada unsur sensor sehingga lebih kuat dan tahan lama dibandingkan dengan sensor-sensor lain. Data yang tersimpan dalam datalogger masih merupakan data mentah untuk selanjutnya diolah pada perangkat komputer. Alat pemantauan yang dirancang terdiri dari 2 macam. Ketika kumparan magnet tidak dalam posisi nol (terjadi pergerakan pada probe) akan ada ketidakseimbangan medan magnet dari kedua kumparan sekunder. Selain merupakan instrumen yang kuat. Ketidakseimbangan pada medan magnet menyebabkan perubahan keluaran voltase yang sebanding dengan perubahan jarak dan arah dari pergerakan tersebut. Linear Variable Differential Transformer (LVDT) merupakan salah satu jenis sensor yang digunakan untuk mengukur perubahan jarak. LVDT terdiri dari satu kumparan magnetik primer dan dua kumparan magnetik sekunder dan satu inti magnetik (Gambar 3(a)). HASIL DAN PEMBAHASAN Perancangan Sistem Pemantauan Keruntuhan Atap Sistem Pemantauan keruntuhan atap yang dirancang terdiri dari alat pemantauan. Perancangan Alat Pemantauan Keruntuhan Atap Peralatan pemantauan keruntuhan batuan atap yang dirancang merupakan pengembangan dari peralatan pemantauan sebelumnya. (a) (b) Gambar 3. yaitu LVDT dan Potensiometer. Datataker DT800 merupakan instrumen penerima dan penyimpan data yang dapat mengukur dan merekam data dengan beragam dan dalam jumlah yang banyak serta dapat diprogram dengan menggunakan perintah kerja yang sangat mudah (Anonym. Gambar 2. pengolahan data dilakukan dengan menggunakan aplikasi microsoft excel untuk selanjutnya dibuat grafik pergerakan batuan yang terjadi. 2004). 2001-2004).3. Skema monitoring dapat dilihat pada gambar 2. LVDT mempunyai resolusi yang tinggi (Cheekiralla. Alat pemantauan yang telah terpasang pada batuan atap terhubung dengan datalogger sebagai pembaca dan penyimpan data. Pada saat posisi nol berarti tidak ada medan magnet dalam kedua kumparan sekunder oleh karena tidak ada pergerakan pada probe. Skema pemantauan keruntuhan atap Sebagai pembaca dan penyimpan data yang digunakan pada sistem pemantauan keruntuhan atap ini digunakan Datataker DT800.

Pulley terhubung dengan jangkar menggunakan kawat baja. alat pemantauan ditempatkan tepat di bawah atap batuan.(a)).. Kisaran jarak pergerakan yang bisa terukur oleh alat ini sebesar 22 mm. sehingga terjadi perubahan tegangan yang dapat terukur. Alat yang dirancang mempunyai prinsip kerja yang atap hasil pemantauan dalam satuan mm. pergerakan pada batuan atap menggerakan probe pada LVDT dan menyebabkan perubahan tegangan (voltase) pada alat monitoring. dkk. Perubahan tegangan tersebut dikalibrasikan dengan perubahan jarak (pergerakan) yang terjadi. dimana masingmasing potensiometer tersebut terhubung dengan pulley. Sensor LVDT dilapisi dengan pipa PVC agar aman dan terlindungi (Gambar 4. Untuk mengukur pergerakan atap. dimana jangkar nantinya akan ditempatkan pada lapisan batuan yang diamati pergerakannya. serta untuk mengetahui performa sistem dan alat yang telah dirancang. Kecenderungan dari titik-titik pergerakan hasil kalibrasi dari masing-masing alat pemantauan menunjukkan garis yang linier. Pengembangan Sistem dan Alat Pemantau Sederhana untuk Mendeteksi . 73 . Alat pemantauan keruntuhan atap (a) LVDT (b) Potensio Prinsip kerja alat ini sebagai alat pemantauan pergerakan batuan adalah dengan menempatkan 4 buah jangkar yang masing-masing terhubung dengan Potensiometer pada berbagai ketinggian lapisan batuan atap yang akan diamati pergerakannya. sama dengan telltale. Selain itu kalibrasi juga bertujuan untuk melakukan ujicoba alat dan sistem pemantauan.LVDT yang digunakan pada kegiatan ini adalah keluaran RDP dengan type DCTH400AG (Gambar 3 (b)). komponen-komponen tersebut ditempatkan pada suatu box yang aman dan terlindungi (Gambar 4(b)). Sedangkan untuk alat pemantauan potensio digunakan 4 buah potensiometer. Perubahan voltase tersebut dapat dikonversikan terhadap perubahan jarak yang terjadi. sedangkan pada alat monitoring ini pergerakan dapat dibaca dengan menghubungkan alat pemantauan dengan datalogger. Dari hasil kalibrasi diperoleh grafik hubungan antara pergerakan (mm) terhadap perubahan tegangan (Volt) pada alat pemantauan LVDT (Gambar 5) sedangkan grafik hubungan antara pergerakan (mm) terhadap perubahan tahanan (Ohm) pada alat pemantauan Potensio dapat dilihat pada (Gambar 6). Pada telltale pembacaan pergerakan yang terjadi dilakukan secara manual. Kalibrasi Sistem dan Alat Pemantauan Keruntuhan Atap Kalibrasi dilakukan untuk mendapatkan hubungan antara perubahan tegangan (Volt) pada alat LVDT dan perubahan tahanan (Ohm) pada Potensiometer terhadap perubahan jarak yang dikondisikan pada masing-masing alat pemantauan. dengan persamaan garis linier yang digunakan sebagai rumus untuk memperoleh data pergerakan (a) (b) Gambar 4. 2001).. Zulfahmi. yaitu dengan melihat pergeseran pada pada indikator yang terdapat pada alat pemantauan (Mark and Iannacchione. Pergerakan pada batuan atap memutar pulley yang terhubung dengan Potensiometer.

9980 74 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .406 Y = 1.064 Y = 1.9797 0.9980 0. Grafik hasil kalibrasi potensio Tabel 1.019 Y = 1.0076x + 24. 5.102x + 0. Grafik hasil kalibrasi LVDT Gambar 6.100x + 0.9980 0.103x + 0. Persamaan regresi linier untuk masing-masing alat pemantauan keruntuhan atap hasil kalibrasi No 1.0.019 R2 = 0.0076x + 24.101x + 0.LVDT 30 27 24 21 18 15 12 9 6 3 0 -400 -3 0 400 800 1200 1600 2000 2400 2800 3200 3600 Pergerakan (mm) y = -0.073 R2 0. Alat Monitoring LVDT Potensiometer 1 Potensiometer 2 Potensiometer 3 Potensiometer 4 Persamaan Regresi Linier Y = . 2.437 Y = 1.9999 0. 4.9797 Tegangan (Volt) Gambar 5. 3.

yang berarti bahwa hasil pembacaan pada kedua alat tersebut mendekati besarnya pergerakan yang mungkin terjadi. ujicoba sistem dan alat pemantauan juga dilakukan pada tambang bawah tanah yang merupakan kegiatan penerapan dan running test di lapangan. Zulfahmi. Untuk pemasangan alat pemantauan Potensio. terlebih dahulu dibuat lubang bor dengan kedalaman yang sesuai dengan kedalaman lapisan batuan atap yang akan diukur pergerakannya (Gambar 7(b)). setiap data yang direkam disimpan pada memori yang terdapat pada datalogger. (a) (b) Gambar 7. Semua perangkat tersebut ditempatkan dalam pannel box yang tertutup dan aman. Masing-masing alat pemantauan ditempatkan pada lokasi yang berbeda. alat dihubungkan dengan sistem yang telah dirancang sebelumnya.9980 sampai dengan 0. Ujicoba Sistem dan Alat Pemantauan Keruntuhan Atap Selain kalibrasi.9999 untuk Potensiometer. (a) Pemasangan alat pemantauan (b) Komponen peralatan dalam pannel box Pengembangan Sistem dan Alat Pemantau Sederhana untuk Mendeteksi . Untuk mengetahui performa dari peralatan dan sistem yang telah di rancang. 75 . Sistem pemantauan terdiri dari datalogger sebagai pembaca dan penyimpan data. Nilai tersebut menunjukkan nilai variabel bebas pada persamaan regresi linier yang diperoleh telah dapat menjelaskan hampir 100% dari nilai hasil pengukuran oleh setiap alat pemantauan. ujicoba dilakukan pada salah satu tambang bawah tanah yang ada di Sumatera Barat.9797 untuk LVDT dan 0. Penempatan alat pemantauan keruntuhan atap (a). dkk. Pannel box ditempatkan dekat dengan lokasi penempatan alat pemantauan (Gambar 8 (b)). yaitu 0. Alat pemantauan LVDT ditempatkan tepat dibawah permukaan batuan atap (Gambar 7 (a)). sedangkan alat pemantauan Potensio ditanamkan pada batuan atap.. Setelah semua alat pemantauan terpasang dengan baik. LVDT (b) Potensio (a) (b) Gambar 8.Dari grafik diperoleh persamaan garis linier dan juga nilai R 2 untuk masing-masing alat Pemantauan (Tabel 1).. Nilai R 2 hasil kalibrasi masing-masing alat menunjukkan nilai yang mendekati 1.

2 0 -0.4 -1. LVD T 0.6 -0. Hasil pemantauan keruntuhan atap menggunakan LVDT Gambar 10.4 -0. Grafik hasil pemantauan dapat dilihat pada Gambar 9 dan Gambar 10.2 Pergerakan.6 W aktu. 0. detik LVD 1 T LVD 2 T 0 200000 400000 600000 800000 1000000 1200000 1400000 1600000 Gambar 9. Data yang terekam di konversikan dengan mengunakan rumus regresi linier dari masing-masing alat pemantauan.2 -1. Hasil pemantauan keruntuhan atap menggunakan potensio 76 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .8 -1 -1.001 mm -0.Evaluasi Hasil Ujicoba Running test alat di tambang bawah tanah dilakukan secara terus menerus selama 18 hari dengan proses perekaman data setiap 110 detik yang disesuaikan dengan kapasitas memori dari datalogger. kemudian dibuat grafik pergerakan batuan (mm) terhadap waktu.

dapat dilihat bahwa kurva yang diperoleh bergerigi. Setiap alat yang diujicoba dapat mendeteksi adanya pergerakan lapisan batuan atap pada tempat diterapkannya alat.Semua alat pemantauan telah diujicoba dan dapat bekerja dengan baik. Cheekiralla. web. Australia... 77 . Pittsburgh. Anonym. dataTaker DT800 User’s Manual.Injuries and Fatalities from Rock Falls. terutama pada kurva hasil monitoring dengan menggunakan Potensiometer. Iannacchione A. Dengan kata lain alat yang telah diujicoba layak dimanfaatkan untuk memantau pergerakan batuan atap pada tambang bawah tanah.gov/stats/charts/ chartshome..edu/ sivaram/www/Sivaram-MS-thesis. Hal tersebut disebabkan oleh adanya gangguan (noise) yang dapat dipengaruhi oleh kondisi sekitar dan sensitifitas dari alat pemantauan. 2008. sehingga aman untuk digunakan di tambang bawah tanah. Sistem yang dirancang merupakan sistem pemantauan terpusat.T. KESIMPULAN DAN SARAN 4. 2001-2004. Secara umum kajian yang telah dilakukan menujukkan nilai yang signifikan. Semua alat tersebut terhubung dalam satu sistem sebagai sistem pemantauan terpusat. Datataker Pty Ltd. Development of Wireless Sensor Unit for Tunnel Monitoring. Dari grafik pergerakan batuan pada setiap alat pemantauan.2.cdc.mit. dkk.msha. PA. Zulfahmi.. 2001. Saran Perlu dilakukan pengembangan terhadap casing dari alat yang digunakan.htm. Alat pemantauan dioperasikan dari satu tempat begitu pula data yang diperoleh dari setiap alat pemantauan dapat terbaca dan tersimpan dalam satu tempat sebagai sentral. 4. semua alat pemantauan dioperasikan dari satu tempat begitu pula data yang diperoleh dari setiap alat dapat terbaca dan tersimpan dalam satu tempat sebagai Pengembangan Sistem dan Alat Pemantau Sederhana untuk Mendeteksi . sentral. 4. DAFTAR PUSTAKA http://www. Hal tersebut juga menunjukkan sistem yang diterapkan terbukti dapat digunakan sebagai sistem pemantauan keruntuhan batuan atap secara terpusat. Kesimpulan Teknologi pemantauan keruntuhan atap batuan pada tambang bawah tanah dengan menggunakan LVDT Tranduser dan Potensiometer dapat digunakan untuk mendeteksi pergerakan yang terjadi pada atap terowongan sebagai peralatan pemantauan keruntuhan atap batuan (roof failure) tambang bawah tanah.1. NIOSH. Paper in the Proceedings of the 20th International Conference on Ground Control in Mining 2001. Diperlukan kajian lebih lanjut sehingga diperoleh sistem monitoring yang dapat digunakan sebagai sistem peringatan dini dan data pergerakan secara real time. Mark C. Massachusetts Institute of Technology.pdf. Best Practice to Mitigate. www. 2004.pdf. S.gov/niosh/mining/pubs/pdfs/ bptmi. pemantauan dapat dilakukan pada beberapa tempat dengan berbagai macam alat pemantauan dalam satu sistem.. UM-0068-A2.

dengan jumlah karbon aktif 2. Kata kunci : karbon aktif.PEMANFAATAN KARBON AKTIF DARI BATUBARA PADA PENGOLAHAN LIMBAH CAIR INDUSTRI GULA Ika Monika dan Nining Sudini Ningrum Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jalan Jenderal Sudirman No. Dengan tingkat penurunan sebesar 74%. activated carbon used in waste processing is made from coconut shell. adsorption. Faks. In order to decrease COD. 022-6003373 e-mail : ika@tekmira.5 gram of activated carbon. 7. 60 and 90 minutes. South Sumatra which is 12 mm in particle size was used as raw material of activated carbon. 7.5. Nowadays. Hasil percobaan menunjukkan.5 gram dan waktu proses selama 90 menit. dan 90 menit.id SARI Karbon aktif pada industri gula umumnya digunakan sebagai bahan pemudar warna. 5. pengolahan limbah. 5. Percobaan dilakukan dengan variabel jumlah karbon aktif dan waktu proses. 60. The result showed that the concentration COD was decrease 74% at time condition 90 minutes and 2. sedangkan waktu proses adalah 30. The research is carried out using the variables of activated carbon weight and the length of process time. activated carbon is used as fader in sugar industries. Namun sebenarnya karbon aktif juga dapat digunakan dalam proses pengolahan limbah cair yang dikeluarkan dari pabrik gula dan laboratorium analisis kimia di pabrik gula.go.0. telah dicoba dengan menggunakan karbon aktif yang dibuat dari batubara.esdm.0. 022-6030483. However. it can be used as absorber of waste sugar industry.623 Bandung 40211 Tlp.0. Untuk menurunkan kandungan COD dalam limbah tersebut.5. it has been tried to use activated carbon from coal as absorber. adsorpsi. Keywords : activated carbon.0 gram. maka karbon aktif dari batubara juga dapat digunakan. karbon aktif yang digunakan dalam proses tersebut adalah karbon aktif yang dibuat dari tempurung kelapa. Coal from Air Laya. Liquid waste produced from sugar industry consists of many Chemical Oxygen Demand (COD).5 dan 10. waste processing 78 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Limbah cair yang dihasilkan dari pabrik gula memiliki kandungan COD (Chemical Oxygen Demand) yang cukup tinggi. Namun pada dasarnya. dalam pengolahan limbah cair dari pabrik gula. Karbon aktif yang digunakan dibuat dari batubara Air Laya Sumatera Selatan yang berukuran 12 mm dengan bilangan yodium berkisar antara 600 dan 700 mg/g.5 and 10. Selama ini. COD ABSTRACT Commonly. with the 30. The iodine number of activated carbon is in the range of 600 to 700 mg/g. konsentrasi COD yang semula sebesar 2355 mg/l turun menjadi 609 mg/l. Variabel jumlah karbon aktif yang digunakan adalah 2. konsentrasi COD tersebut belum memenuhi persyaratan kualitas limbah cair yang memiliki ambang batas maksimal 300 mg/l. mengingat sifat karbon aktif batubara yang menyerupai sifat karbon aktif tempurung kelapa. The variables of weights activated carbon are 2.

karena selain murah juga relatif mudah. perpindahan zat pencemar (adsorbat) di dalam air menuju permukaan adsorban. Proses adsorpsi terbagi dalam tiga jenis. Salah satu yang menjadi objek penelitian adalah penurunan kadar COD (Chemical Oxygen Demand) dalam limbah cair yang dihasilkan dari salah satu pabrik gula yang ada di wilayah provinsi Banten. berbagai teknologi pengolahan limbah baik limbah cair. 2008). Karbon aktif umumnya digunakan selain sebagai penjernih. pelekatan zat adsorbat ke dinding poripori atau jaringan pembuluh kapiler mikroskopis. yang disebabkan oleh limbah organik. baik cairan dengan cairan. baik air baku maupun air limbah. pemisahan lumpur dan pasir serta mengurangi zat-zat organik dalam air yang akan diolah. Pengolahan air secara kimia. karbon aktif yang digunakan pada pengolahan air umumnya karbon aktif yang dibuat dari tempurung kelapa. Ika Monika dan Nining Sudini Ningrum 79 . TINJAUAN PUSTAKA COD adalah jumlah oksigen (mg O 2 ) yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat-zat organik dan anorganik yang ada dalam 1 liter air (Nazir. gula. Pertama. Pengolahan air secara fisik bertujuan untuk mengurangi atau menghilangkan kotoran-kotoran yang kasar. padat dan gas terus dikembangkan. Hal ini menimbulkan berbagai penyakit bagi kehidupan manusia. meskipun di negara lain seperti di China jenis karbon aktif ini sudah banyak digunakan oleh masyarakat. penghilang bau. 2009). dilakukan penelitian pemanfaatan karbon aktif dari batubara. Namun sebenarnya karbon aktif dari batubara juga dapat digunakan dalam proses tersebut. PENDAHULUAN Seiring dengan perkembangan dan permasalahan lingkungan. kapur ataupun bahan-bahan kimia lainnya. 2000). 2.1. Saat ini teknologi yang kian berkembang pesat adalah pengolahan air. Dampak konsentrasi COD tinggi menyebabkan kandungan oksigen yang terlarut di dalam air menjadi rendah. perpindahan adsorbat menuju pori-pori di dalam adsorban. Karbon Aktif dari Batubara Salah satu adsorban yang biasa digunakan dalam pengolahan air (termasuk limbah) adalah karbon aktif. adsorpsi kimia yaitu terjadi karena ikatan kimia antara molekul zat terlarut (adsorbat) dengan molekul adsorban. Proses aktivasi akan memperbesar luas permukaan dan volume 2. dilakukan dengan menambahkan bahanbahan kimia tertentu antara lain menggunakan PAC (Poly Alumunium Chloride). Limbah cair yang dikeluarkan Instalasi Penjernihan Air (IPA) di daerah Karangpilang. Limbah yang dihasilkan adalah limbah cair yang berasal dari proses pengolahan gula dan laboratorium pabrik (Santoso. (1) makrotransport . yang dapat berfungsi sebagai koagulan. Di Indonesia. sehingga mahluk air menjadi mati. Terdapat dua cara utama pengolahan yaitu secara kimia dan fisik. atau cairan dengan padatan. Adsorpsi adalah suatu proses pengumpulan zat terlarut pada suatu permukaan media akibat adanya perbedaan muatan diantara kedua zat. Hasil penelitian merupakan acuan untuk pemanfaatan karbon aktif batubara pada industri gula. 2001). Teknologi Pengolahan Air Salah satu cara pengolahan air yang saat ini sedang berkembang adalah melalui mekanisme adsorpsi. fenomena pemanfaatan karbon aktif dari batubara masih menjadi sesuatu yang tidak lazim. penetralisir ataupun sebagai desinfektan. terjadi karena gaya tarik molekul oleh gaya Van Der Waals dan yang ketiga pertukaran ion. Di Indonesia. Salah satu bahan yang digunakan dalam proses pengolahan air adalah karbon aktif. 2.. juga sebagai bahan untuk pemurnian. (2) mikrotransport.. adsorpsi fisika.1. (3) sorpsi . warna dan rasa. bahkan habis sama sekali. Proses untuk memperoleh daya adsorpsi tinggi dilakukan melalui proses aktivasi terhadap arang. Tujuan penelitian adalah untuk meningkatkan kualitas air yang dikeluarkan dari limbah pabrik gula dan mengurangi ketergantungan karbon aktif yang dibuat dari tempurung kelapa. Adsorpsi jenis ini eksoterm (mengeluarkan panas) dan tidak dapat berbalik kembali (irreversible). Kedua. Dalam proses pembuatan Pemanfaatan Karbon Aktif dari Batubara pada Pengolahan . Umumnya proses aktivasi dilakukan dengan menggunakan uap air. Berdasarkan kondisi tersebut. tawas. bahan baku tebu merupakan bahan yang terdiri atas komposisi kimia organik. Karbon aktif dengan luas permukaan yang semakin luas menunjukkan semakin tinggi daya adsorpsinya. cairan dengan gas.2. terjadi karena gaya elektrostatis. COD merupakan salah satu parameter indikator pencemar di dalam air. Akibatnya oksigen yang menjadi sumber kehidupan mahluk air (hewan dan tumbuhan) tidak dapat terpenuhi. mempunyai konsentrasi COD 1000 mg/gr dapat meningkatkan jumlah bakteri E-coli empat kali lipat (PERSI. dalam waktu tertentu (Cahyana. Ketiga mekanisme adsorpsi tersebut terdiri atas tiga tahap yaitu .

pengolahan dan penjernihan air.pori-pori bagian dalam karbon aktif. 1972). 60 dan 90 menit. Selanjutnya. gelas piala. Hasil analisis COD limbah cair pabrik gula Konsentrasi COD sebelum proses (mg/l) Waktu proses (menit) Konsentrasi COD setelah proses (mg/l) 2. Karbon aktif dari tempurung kelapa umumnya memiliki luas permukaan seluas 500-1500 m2/gr. pengaduk gelas. jenis zat adsorbat dan temperatur pada saat proses berlangsung.15-2004. atau bisa juga dilakukan dengan penyaringan.5 dan 10 gram. 3. Teknik ini meliputi pengukuran volume gas nitrogen yang terserap. Sedangkan penggunaan karbon aktif powder pada fasa cair harus selalu diaduk agar homogenitas tetap terjaga dan tidak terjadi sedimentasi suspensi. METODOLOGI Alat Peralatan laboratorium seperti . Karbon aktif granular biasa digunakan untuk menghilangkan senyawa organik yang menimbulkan bau. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil percobaan pengolahan limbah cair yang dikeluarkan dari pabrik gula tercantum pada Tabel 1. efektifitas adsorpsi sangat tergantung pada jenis bahan baku adsorban. struktur dan distribusi pori-pori karbon aktif dapat diketahui. distribusi dan ukuran pori-pori karbon aktif menjadi faktor yang menentukan kemampuan adsorban dalam mengadsorpsi berbagai jenis adsobat. Struktur pori dari suatu adsorban diklasifikasikan menjadi transportpori yang memiliki diameter sekitar 500 A°. Metoda analisis COD mengacu pada SNI 06-6989. filtrat ditampung di dalam botol untuk selanjutnya dilakukan analsisis COD. Sedangkan. 4. rasa. karbon aktif ditambahkan ke dalam 200 ml conto limbah. Bentuk karbon aktif dapat diklasifikasikan menjadi dua golongan yaitu bentuk granular dan powder (Activated Carbon. Karbon aktif granular dibuat dalam ukuran yang berbeda tergantung pada aplikasinya. Dengan perhitungan persamaan BET.5 gr 30 60 90 667 661 609 2355 Berat karbon aktif 5.0 gr 949 823 766 80 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Struktur dan distribusi pori-pori merupakan faktor utama dalam menentukan daya serap karbon aktif dibandingkan dengan luas permukaan (Harald. dan pori-pori dengan diameter kurang dari 8 A° yang disebut submikropori (Pruss. 2007). sehingga efektif menyerap partikel-partikel yang sangat halus (O-Fish. Karbon aktif granular memiliki persentase makropori dan transportpori yang lebih besar sehingga memungkinkan molekul-molekul besar terserap. 2007). Tabel 1. 7. corong. Struktur. Campuran tersebut kemudian diaduk setiap 10 menit selama masing-masing 30.5.5 gr 925 719 888 10. dan timbangan analitik Bahan Conto limbah gula (cair) Karbon aktif berukuran 12 mesh dengan bilangan yodium berkisar antara 600 dan 700 mg/gr Cara kerja Karbon aktif berukuran 12 mm ditimbang masingmasing 2. Luas permukaan karbon aktif dari batubara dapat mencapai 500-1400 m 2 /gr. Penentuan luas permukaan menggunakan metode BET (BrunauerEmmnett-Teller).0 gr 715 799 975 7. mikropori dengan diameter antara 8 dan 20 A°. Karbon aktif bentuk powder lebih tepat digunakan untuk fasa gas karena memiliki mikropori yang lebih besar sehingga mampu menyerap molekul-molekul kecil. 5. Setelah selesai proses pencampuran. mesopori dengan diameter antara 20 dan 500 A°. atau warna yang tidak diinginkan pada fasa cair. kemudian dilakukan penyaringan. Kedua bentuk ini dapat digunakan dalam proses pemurnian.0. botol plastik. 1975).

Chapter 30. Ika Monika dan Nining Sudini Ningrum 81 . Faktor-faktor ini dapat mempengaruhi persentase penurunan adsorpsi karbon aktif.html. diperoleh dengan penambahan karbon aktif 2.5 gram selama 90 menit.6. 2007. Ernawita. faktor yang mempengaruhi efektifitas adsorpsi adalah jenis bahan baku karbon aktif. Setelah ditambah karbon aktif. 60 dan 90 menit. and Other Products. tidak menunjukkan semakin turunnya konsentrasi COD. 1.5 gram selama 90 menit. O-Fish. menunjukkan penurunan konsentrasi COD yang relatif stabil. Tetapi. http://o-fish. Waktu kontak relatif cepat.0 gram selama 90 menit..3. Mengacu pada baku mutu limbah cair yang mempunyai nilai ambang batas COD 300 mg/gr. Filter Kimia. Hasil tersebut diperoleh dengan penambahan karbon aktif sebesar 2. KESIMPULAN Berdasarkan hasil percobaan. 2000. http:// Gedehace. konsentrasi COD sebesar 609 mg/l belum memenuhi persyaratan mutu limbah cair.blogspot. jenis adsorbat dan cara pengolahan.5 gram selama waktu 30.com/2009/03/adsorpsikarbon-aktif. Conversion of Coal and Gas Produced from Coal Into Fuels.5 gram. Gede. diperoleh dengan penambahan berat karbon aktif 2. Selain kualitas karbon aktif. namun karena kualitas karbon aktif tinggi.com.. karbon aktif yang digunakan terbuat dari tempurung kelapa mempunyai bilangan yodium 6. Februari 2009 Harald. semakin besar jumlah karbon aktif yang ditambahkan. 2009.4. Pada pengolahan limbah cair di salah satu pabrik gula. SARAN Untuk memperoleh hasil yang maksimal. Persentase penurunan adsorpsi Konsentrasi COD 609 mg/gr belum memenuhi persyaratan kualitas limbah cair yang mempunyai nilai ambang batas 300 mg/gr.Konsentrasi COD di dalam limbah gula semula sebesar 2355 mg/gr. Begitu pula dengan penambahan karbon aktif 10 gram. Media Informasi Ikan Hias dan Tanaman. Bila dihitung berdasarkan persentase penurunan tingkat adsorpsi. tingkat penurunan adsorpsi relatif rendah. 5. Salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya efektifitas adsorpsi adalah kualitas karbon aktif. Teknik pengolahan adalah dengan cara mengalirkan debit limbah melalui suatu kolom yang berisi karbon aktif.. 30. Chemicals. Pemanfaatan Karbon Aktif dari Batubara pada Pengolahan . Penambahan berat karbon aktif lebih besar dari 2. 1975. tingkat penurunan mencapai 60% selama 30 menit. DAFTAR PUSTAKA Cahyana. nilai COD menjadi turun. Konsentrasi COD yang terendah adalah 609 mg/gr. Gambar 1. Berdasarkan data pada Tabel 1. dengan tingkat penurunan mencapai 59%. dengan jumlah karbon aktif rendah. Nazir. Selain itu. H. Dari Gambar 1 terlihat bahwa persentase penurunan adsorpsi terendah terjadi pada penambahan karbon aktif sebesar 5. Teknik Sampling dan Analisis Air Permukaan.000 mg/gr. dapat digambarkan seperti pada Gambar 1. diperoleh kesimpulan sebagai berikut: Karbon aktif yang berukuran 12 mm dengan bilangan yodium antara 600 dan 700 mg/gr dapat menurunkan konsentrasi COD limbah gula dari 2355 mg/gr menjadi 609 mg/gr. perlu meningkatkan kualitas karbon aktif dari bilangan yodium 600 dan 700 mg/gr menjadi 1000 mg/gr. perlu pengaturan ukuran butir dan cara pengolahan limbah sehingga diperoleh hasil yang memenuhi standar kualitas limbah cair.. Majalah Air Minum. maka penurunan COD sangat signifikan. Persentase penurunan adsorpsi terbesar.

Pencegahan Dan Pemanfaatannya. http:// www.co. Pasuruan. Indonesia 82 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . 2001. Determination of Pore Size and Pore Distribution in Coal and Coke. Penelitian Perkebunan Gula Indonesia. 42.pdpersi.. Eddy.id. 157-160 Santoso. B. Limbah Pabrik Gula: Penanganan. 2009. Brennestoff-Chemical. Pusat Data dan Informasi. 1972. Rabu 22 Agustus Pruss..PERSI. W.

73. -10+35 mm dan -1+1/2 cm. yaitu jenis batuan. polusi. Kecamatan Kedongdong. ukuran dan jenis bakterisida selama 12 minggu.KEMUNGKINAN PEMANFAATAN BAKTERISIDA FENOL UNTUK PENCEGAHAN AIR ASAM TAMBANG Siti Rafiah Untung dan Nia Rosnia H Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. Hasil percobaan menunjukkan.6030483 Fax. Siti Rafiah Untung dan Nia Rosnia H. terlihat kemampuan fenol dalam mereduksi asam dari batuan penutup lebih kecil dari gamping. pengelolaan lingkungan yang umum diterapkan untuk penanggulangan AAT antara lain adalah netralisasi. Proses netralisasi dapat membentuk logam hidroksida yang dapat mengendap berupa lumpur sehingga diperlukan penanganan lebih lanjut. penambahan fenol dan gamping (CaCO3) dapat meningkatkan pH lindian berturut-turut menjadi 6.67% dan kemampuan kapur mereduksi asam mencapai 48-15.6003373 e-mail : sruntung@tekmira. bakterisida. 022 . netralisasi.go. Secara umum. pengaruh bakteri Kemungkinan Pemanfaatan Bakterisida Fenol untuk . Jend. air asam tambang. AAT dapat terjadi apabila mineral sulfida seperti pirit terpapar ke udara dan bereaksi dengan udara dan air membentuk asam sulfat. Bakterisida yang digunakan adalah fenol dengan dosis 5 mg/g dan sebagai pembanding digunakan gamping dengan dosis 10 mg/g. Lampung Selatan. Percobaan dilakukan dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 3 faktor. bijih emas dan tembaga seperti di Kalimantan.esdm. 83 .6.. Pada penelitian ini digunakan 2 jenis batuan penutup yang berwarna abu-abu dan coklat berasal dari KUD Tambang Harapan. Sumatera dan Papua menyebabkan munculnya fenomena air asam tambang (AAT).67% -51. Fenol mampu mereduksi asam 6.esdm. fenol. Kata kunci: lingkungan tambang. Kedua jenis batuan tersebut dipreparasi menjadi ukuran 100 mesh.go.. Asam sulfat ini akan melarutkan logam sehingga dapat mencemari badan perairan sekitarnya.% .15%.pembentukan lahan basah dan pengkapsulan. 022 . Salah satu cara yang cukup efektif untuk mengatasi masalah tersebut adalah melakukan pencegahan dan pengontrolan pembentukkan AAT dengan mengurangi aktivitas bakteri.1 dan 10. Dari hasil tersebut. rosniasruntung@tekmira.id SARI Peningkatan pertambangan batubara. lindian. Sudirman 623 Bandung 40211 Telp. Sehubungan dengan hal tersebut telah dilakukan penelitian penggunaan bakterisida untuk menanganani AAT.id. Kehadiran jasad renik Thiobacillus ferroksidans juga dapat mempercepat terjadinya AAT.

ABSTRACT The increases of coal. Keywords : mine environment . size and bactericide.15%. limestone. Acid mine drainage can occur if sulphide mineral such pyrite was exposed to the air and it will react with oxygen water to form sulphuric acid.6. Hal ini berdampak terhadap penurunan kualitas badan perairan karena sungai terkontaminasi oleh keasaman dan logam-logam terlarut dan juga menyebabkan reklamasi daerah tambang menjadi lebih mahal. Based on the result. BAHAN DAN METODE 2. the capacity of phenol to reduce acidity of overburden is much less than limestone. berasal dari KUD Tambang Emas Harapan. -10+35 mm dan -1+1/2 cm.67% and limestone 48-15. Beberapa perusahaan pertambangan mineral seperti PT. Hal yang sama juga dialami oleh perusahaan pertambangan batubara di Kalimantan Timur seperti PT. Fenol ini ini dapat menghambat pertumbuhan jasad renik sampai mematikannya. Dalam penelitian. Fenol atau asam karbolik dengan rumus kimia C5H6OH adalah bakterisida. Kecamatan Kedongdong. PT. AAT dapat terbentuk apabila ada mineral pirit yang terpapar sehingga teroksidasi dan selanjutnya air membentuk asam sulat yang dapat menurunkan pH air dan melarutkan logam. leached. Phenol and limestone respectively could reduce acid 6. kapur padam (Ca(OH)2) dan kapur tohor (CaO). Pada umumnya perusahan-perusahan tersebut telah menangani masalah tersebut dengan berbagai cara antara lain netralisasi dengan CaCO3 (kapur). PENDAHULUAN kan karena dapat menghemat biaya pengelolaan. The presence of Thiobacillus ferroksidans can also accelerate the formation of AMD. Freeport Indonesia dan PT. The result showed that the phenol and lime stone can increase the pH of leached respectively 6. phenol. Sumatera and Papua lead to the occurrence of acid mine drainage (AMD).1. The acid can dissolve metals and pollute the water body surrounding the area. contoh batuan yang digunakan adalah batuan penutup. Newmont Minahasa mengalami masalah AAT ini. Design of Group Random was used with 3 factors. Berdasarkan warnanya. South Lampung were used in this experiment. namely type of overburden.67% -51. Regarding to the problem. Salah satu pencegahan yang dapat diterapkan adalah penggunaan fenol. Kabupaten Lampung Selatan. Pembentukkan air asam tambang (AAT) merupakan masalah utama dalam pertambangan batubara dan mineral. Bahan dan Peralatan Contoh dalam penelitian ini adalah batuan penutup. yaitu berwarna abu ( BP abu) dan coklat (BP coklat). The overburden was prepared to be 100 mesh. Neutralization process can form metal hydroxide and it will precipitate as sludge which need to be optimally managed. microbial influence 1. Sehubungan dengan hal tersebut. acid mine drainage. Generally. Phenol as bactericide with dose 50mg/g was used while limestone with dose 100mg/g also used as a comparison. bactericide. salah satu baktersida umum digunakan di rumah sakit sebagai antiseptik. Kecamatan Kedongdong. pengkapsulan/penghalang fisik dan pemanfaatan rawa/ rawa buatan (wetland). Kedongdong Subdistric. Oleh karena itu kehadiran AAT di lingkungan sangat tidak diharapkan. environmental management such as neutralization.% . Kaltim Prima Coal. Kelian Equatorial Mining. Two types of overburden which colour were gray and chocolate from KUD Tambang Harapan. namun apabila pembentukkan asam dapat dicegah akan sangat menguntung- 2. Kedua contoh 84 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Biaya penanggulangan AAT pada umumnya mahal. Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara telah mengadakan penelitian laboratorium pencegahan AAT dengan menggunakan fenol dan gamping (CaCO 3). batuan penutup dapat dibedakan menjadi 2 jenis.1 and 10. a laboratory research on the use of bactericide to handle the AMD was carried out. Fenol.73. neutralization. penutupan dengan air. berasal dari KUD Tambang Harapan. Fenol dibeli dari toko kimia dan gamping diperoleh dari tambang rakyat di daerah Citatah. Berau Coal dan PT. gold and copper ore from mine activities in Kalimantan. Kabupaten Lampung Selatan. in capsulation and wetland are common to handle the AMD in Indonesia. pollution.

Ke dalam setiap kolom pelindian dimasukkan secara berturut-turut 100 gr contoh batuan. Air suling berfungsi sebagai media pelindi.82 Zn 0. -10+35mm (a2) dan -1+1/2cm (a3). Bakterisida yang digunakan adalah fenol yang dibeli dari toko bahan kimia dan sebagai pembanding adalah kapur gamping (CaCO3) yang berasal dari tambang rakyat Desa Citatah.22 Mn 0. Lindiannya ditampung dalam gelas plastik Setiap kolom pelindian diisi dengan contoh batuan yang disusun secara berlapis dengan fenol dan gamping. abu Parameter (%) Fe 8.90 2.1. yaitu BP abu (b1) dan BP coklat (b2). 2. Pb. kemudian dimasukkan ke dalam masing masing kolom secara berlapis fenol dan kapur dengan dosis masing-masing 5 mg/g dan 10 mg/g kecuali kontrol. yaitu 100 #. Faktor ketiga (c) adalah jenis bahan kimia dengan dua taraf. Fe. Bagian bawah botol tersebut diberi lubang kapiler untuk mengeluarkan air pelindian. Lampung Selatan = lapisan batu berwarna cokalt dari tambang emas rakyat di Kecamatan Kedongdong.19 0. Dari faktor perlakuan tersebut diperoleh 24 kombinasi perlakuan dan setiap kombinasi perlakuan diulang dua kali. 100 mesh (a1).batuan penutup tersebut dipreparasi menjadi beberapa ukuran.03 Pb 0. coklat P.04 0.04 Ca 0. terhadap kedua contoh batuan tersebut juga dilakukan pengujian air asam tambang dengan metode Sobek (Sobek.1.06 0. Siti Rafiah Untung dan Nia Rosnia H. Analisis dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan pada taraf nyata 5% jika terdapat perbedaan antar perlakuan. 1978). Metode Uji karakterisasi contoh batuan dilakukan untuk mengetahui kandungan logamnya (Cu. Setiap hari masing masing kolom pelindian ditambahkan 10 ml air suling sebagai media pelindian. Mg. Faktor kedua (B) adalah jenis batuan dengan dua taraf.2 Peralatan Kolom pelindian adalah botol plastik + 250 ml yang bagian bawahnya diberi lubang kapiler untuk mengeluarkan lindian. Hasil analisis kandungan logam dan sulfur dalam contoh batuan Contoh Batuan Cu BP coklat BP abu Sumber Keterangan P. Kolom yang digunakan dalam pelindian adalah botol plastik + 250 ml. (-10 + 35 mm) dan (-1 + ½ cm). lampung Selatan Kemungkinan Pemanfaatan Bakterisida Fenol untuk . Untuk menjaga kelembaban. 3. Peralatan lain yang digunakan adalah pH meter dan alat gelas. Percobaan untuk mengetahui interaksi dari jenis batuan dan ukurannya.11 S 1..05 0. 85 . Zn. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.39 31.01 Mg 0. botol-botol tersebut disimpan dalam akuarium tertutup dan dijaga kelembapannya sekitar 90%. fenol dan kapur yang diujikan sebagai bahan pencegahan pembentukkan asam digunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 3 faktor.. Selanjutnya. 2. fenol (c1) dan gamping (c2). Pengukuran pH lindian dilakukan setiap minggu.2. Faktor pertama (A) adalah ukuran batuan dengan taraf.29 0. Mn dan Ca) dalam bentuk oksida dan S (belerang) terhadap kedua jenis batuan. yaitu: batuan penutup berwarna abu (BP abu) dan coklat (BP coklat). Analisa kadar logam dari contoh dengan AAS Hasil analisa/penentuan kadar logam dan S dalam contoh BP abu dan BP coklat adalah sebagai berikut : Tabel 1. Seluruh pengujian dilakukan di laboratorium Lingkungan Puslitbang tekMIRA. Proses tersebut dilakukan dalam akuarium tertutup pada suhu kamar selama 12 minggu dengan kelembaban berkisar 90 %.12 0.01 0. yaitu kontrol (c0).10 : Data Primer Hasil Uji Puslitbang tekMira Bandung : = batuan berwarna cokalt dari tambang emas rakyat di Kecamatan Kedongdong.

13 58.5.39 .6 hanya ditemukan pada batuan BP coklat dengan ukuran 100 mesh. Salah satu penanganan adalah penggunaan fenol yang merupakan bakterisida dan sebagai pembanding digunakan gamping (CaCO3). yaitu berkisar 0. Mengacu kepada hasil analisis dari Uji Identifikasi Pembentukan Air Asam Tambang pada Tabel 2.8 atau rata-rata 10.88 3. P. Buck (2001).82%. Berdasarkan pengklasifikasian tersebut. Hasil pengukuran pH lindian selama 12 minggu dapat dilihat pada Tabel 4 dan Gambar 1.39 74.2).42 pH 1:2 2. Hal ini mungkin disebabkan oleh kandungan kalsium (Ca) kecil. Kedua contoh batuan menunjukkan nilai ANC = 0 berarti contoh tersebut tidak mampu untuk menetralisasi asam.29% dan nilai tersebut berhubungan langsung dengan nilai MPA.37 3.6 atau rata-rata 3. Nilai pH lindian tertinggi ditunjukkan oleh penambahan gamping.56 63. Hal ini dapat dilihat dari kisaran pHnya.+2H+ digolongkan tipe 4 atau potensi pembentuk asam kapasitas tinggi sehingga diperlukan penanganan agar tidak mencemari lingkungan sekitar.6. 1996 mengklasifikasikan batuan pembentuk asam menjadi 4 jenis seperti tertera pada Tabel 3. yaitu 10. kedua contoh batuan tersebut dapat Me2+ 2SO42. Dharmawan. Dari Tabel 3 dan Gambar 1 terlihat pada bahwa blanko (kontrol) air lindian bersifat asam pH dengan berkisar 2. yaitu ratarata 10.15 : Data Primer Hasil Uji Puslitbang tekMira Bandung : = batuan penutup berwarna abu = batuan penutup berwarna coklat Dari Tabel 2.5 .31.12 %.90% sampai dengan 2. Hasil perhitungan menunjukkan nilai MPA kedua contoh berkisar antara 58.6. bakteri.29 1. Kedua contoh nilai NAPP-nya positif.19-70. Dengan demikian pH lindian BP abu lebih rendah (4. Kedua jenis batuan juga mengandung sulfur dengan kisaran 1. terlihat derajat keasaman pH (1:2) contoh yang dianalisis berkisar dari 2.09 pH NAG 2. sedangkan kandungan logam lainnya rendah. logam yang dominan dalam kedua jenis batuan penutup tersebut adalah besi dalam bentuk Fe2O3 dengan kisaran antara 8. pH tertinggi 5.7. Penggunaan fenol dalam percobaan ini ternyata mampu meningkatkan air lindian 4.65 52.1.59 104. Peningkatan pH lindian pada percobaan penambahan fenol mungkin disebabkan oleh kemampuan fenol menghambat pertumbuhan 86 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .13 kg H2SO4/ton.2 atau rata-rata 6. diduga bahwa kedua jenis batuan tersebut berpotensi menghasilkan air asam tambang. Hasil analisis uji pembentukan air asam tambang Kode Sampel BP abu BP coklat Sumber Keterangan BP abu BP coklat MPA ANC NAPP NAG NAG kg kg kg 4.59-84.15 berarti bahwa contoh-contoh tersebut bersifat asam.90-5.37-3. Kadar belerang (S) total kedua contoh berkisar dari 1. peran bakteri adalah mempercepat reaksi. Hal ini menunjukkan bahwa kedua contoh tersebut dapat membentuk asam yang reaksi pembentukannya secara umum sebagai berikut: MeS2 +7/2O2 + H2O (logam sulfida) Dalam proses pembentukan AAT tersebut.69 194.90 70.19 0 0 84. Dari uraian tersebut dapat Tabel 2.29%.Hasil analisis menunjukkan. Nilai pH lindian tersebut lebih ditentukan oleh kemampuan contoh dalam pembentukan asam maksimum dan potensi batuan dalam menetralkan dan bukan ukuran contoh.5kg 7kg Sulfur (%S) H SO /ton H SO /ton H SO /ton H SO /ton H SO /ton 2 4 2 4 2 4 2 4 2 4 Total 2.2-7. menyatakan senyawa fenol dapat masuk ke dalam sel bakteri dengan cara merusak dinding selnya dan juga dapat mengendapkan proteinnya.90% 2. yaitu 63.7.11-0.56 kg H2SO4/ ton.6.1 10. Proses penetralan dengan gamping terlihat bahwa nilai pH lindian tidak ditentukan baik oleh ukuran contoh maupun oleh perhitungan asam basa.0) dari BP coklat (5.

Gambar 1.Tabel 3. a2. 1996 Tabel 4. b 1 = BP abu.5 lebih besar atau sama dengan 5 kg H2SO4 per ton NAPP lebih besar atau sama dengan 10 kg H2SO4 per ton Nilai pH uji NAG lebih kecil dari 4 .8.2 dan gamping antara 10. Rata-rata perubahan pH lindian dengan penambahan fenol dan kapur No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Perlakuan a 1b 1 c 0 a 1b 1 c 1 a 1b 1 c 2 a 1b 2 c 0 a 1b 2 c 1 a 1b 2 c 2 a 2b 1 c 0 a 2b 1 c 1 a 2b 1 c 2 pH 2. Golongan Tipe 1 Tipe 2 Jenis Batuan Bukan pembentuk asam Keterangan Nilai pH uji NAG lebih besar atau sama dengan 4 atau nilai NAPP negatif Potensi pembentuk asam Nilai pH uji NAG lebih kecil dari 4 .5 lebih kecil dari 5 kg H2SO4 per ton NAPP 0 – 10 kg H2SO4 per ton Potensi pembentuk asam kapasitas tinggi Nilai pH uji NAG lebih kecil dari 4.7 2.1 – 10. pH batuan (1 : 2) lebih kecil dari 4 nilai NAG pada pH 4.2 10.5 10. b-2 = BPcoklat a1.5 –7. 2.8 4.2 4.4 6.nilai NAG pada pH 4. Siti Rafiah Untung dan Nia Rosnia H. C1 = fenol. C2 = gamping b = jenis batu.9 5. Parliyanto .2 10.1 No 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Perlakuan a2 b2 c 0 a2 b2 c 1 a2 b2 c 2 a3 b1 c 0 a3 b1 c 1 a3 b1 c 2 a3 b2 c 0 a3 b2 c 1 a3 b2 c 2 pH 3..8 Keterangan: C0=control. Tipe 3 4. 87 . Tipe 4 Pembentuk asam Sumber: Dharmawan.9 10. Penggolongan jenis batuan pembentuk asam No.6 7 10. Nilai pH lindian dari Kemungkinan Pemanfaatan Bakterisida Fenol untuk .6 3.5 lebih besar atau sama dengan 5 kg H2SO4 per ton NAPP lebih besar atau sama dengan 10 kg H2SO4 per ton 3. 1.8 5. Pada penetralan ini terjadi reaksi sebagai berikut: CaCO3+ H2SO4 CaSO4+ H2CO3 3 CaCO3 + Fe2(SO4)3 + 6 H2O 2 CaSO4+2 Fe(OH)2 + 3 H2CO3 Kapasitas reduksi asam untuk masing-masing perlakuan dapat dilihat pada Tabel 5.9 6 10.nilai NAG pada pH kapasitas rendah 4. a3 = ukuran batu dilihat bahwa dosis gamping berpengaruh terhadap pH lindian.. Perubahan pH lindian dari batuan dengan penambahan kapur dan fenol Tabel 5 menunjukkan nilai pH lindian rata-rata dari penggunaan fenol berkisar antara 4.6 7.

9 5.67 50.2 7.9 7.64 68. Dari hasil percobaan terlihat kemampuan fenol dalm mereduksi asam lebih kecil dari gamping. dapat dilihat bahwa ukuran batuan berpengaruh terhadap perlakuan.7 7.Tabel 5.0 10.9 5.67 73. Nilai pH dan reduksi asam tertinggi terjadi pada batuan ukuran -1+1/2cm dan terkecil pada ukuran batuan 100 mesh baik untuk perlakuan dengan fenol maupun batuan.1. Namun apabila dilihat nilai pH lindian dari penggunaan gamping telah melampau nilai yang ditentukan oleh Kepmen tersebut.9 6.5 3.4 5.4 3.00 50.1 5.3 1. 202/2004 (pH 6-9).15%. sehingga perlu dilakukan penurunan dosis gamping agar hasil lindian dapat memenuhi syarat.5 –7.7 10. Penurunan dosis gamping lebih dianjurkan karena dapat menghindari adanya biaya tambahan pengelolaan air limbah.1 10. Kesimpulan Hasil penelitian menujukkan berbagai hal sebagai berikut: Fenol dapat digunakan dalam pencegahan air asam tambang dan dapat meningkatkan nilai pH lindian dengan kisaran 4.8 10.6 0. Penetralan dengan gamping dapat mereduksi asam 48-15. 202/2004 Kapasitas reduksi asam untuk fenol dengan dosis 5 mg/g berkisar antara 6. Kapasitas reduksi asam dari fenol dan gamping terhadap blanko Jenis Penanganan Blanko Perlakuan a1b1c0 a1b2c0 a2b1c0 a2b2c0 a3b1c0 a3b2c0 a1b1c1 a1b2c1 a2b1c1 a2b2c1 a3b1c1 a3b2c1 a1b1c2 a1b2c2 a2b1c2 a2b2c2 a3b1c2 a3b2c2 Rata-rata pH 2.15 66. Hasil lindian (pH) dan reduksi asam dari BP abu lebih rendah dari BP coklat untuk semua jenis ukuran batu.36 58.5 6. Batuan dengan potensi pembentuk kapasitas asam tinggi (BP abu) kemampuannya dalam mereduksi asam lebih rendah dari BP coklat. Penurunan dosis dilakukan dengan berbagai cara antara lain dengan menurunkan dosis gamping dan menggunakan asam seperti H2SO4 atau HCl sehingga diperoleh nilai pH air limbah yang sesuai dengan Kepmen LH No.23 20.6 2.3 3.% .3 3.7 7.67% -51.6 10.8 Selisih thd blanko 0 0 0 0 0 0 2.3 1.4 Fenol Gamping fenol sudah memenuhi syarat sebagai air limbah dari kegiatan penambangan bijh emas berdasarkan Kepmen LH No.0 7.6 0. Penelitian Siwik (1989) menunjukkan penambahan Ca(OH)2 (kapur padam) dengan dosis 5000 mg/kg selama 50 minggu dapat mereduksi asam sampai 80%.9 5.15 48. 5.72 51.2.4 3. Nilai tersebut memenuhi syarat sebagai air limbah dari kegiatan penambangan bijh emas berdasarkan Kepmen LH No.9 3.4 Reduksi asam (%) 44. Ukuran bijih berpengaruh terhadap nilai pH dan reduksi asam baik untuk penggunaan fenol maupun gamping.2 4.6 4.1 5. 202/2004 (pH 6-9) dan dapat menetralkan asam berkisar antara 6.73. Kapasitas reduksi asam untuk gamping dengan dosis 10 mg/g berkisar 48-15.% - 88 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .1 7.52 Kapasitas reduksi (per mg) 2.8 10.67%.9 7.42 72.2 3.67%. KESIMPULAN DAN SARAN 5.00 6.2 7. jadi lebih tinggi dari fenol. Dari Tabel 5.5 3.67% -51.2 7.1 7.

html diakses tanggal 15 Juni 2009 Dharmawan Parliyanto.. Ohio.M. Ukuran batuan dan jenis batuan berpengaruh terhadap hasil lindian.com/articles/ 191clean. U. http:// www..S. Tailings and Effluent Management.2. Pergamon Press. S.A. Paper disajikan pada Seminar Air Asam Tambang di Indonesia. dan pH berkisar 10. Untuk melihat pengaruh ukuran dan jenis batuan terhadap kelarutan logam-logam maka perlu dilakukan pengukuran konsentrasi logam-logam yang terekstrasi. 89 .. Wheeland. E. Environmental Protection Agency. Chalkey. Identifikasi Potensi Air Asam Tambang di Daerah Tambang Batubara PT. 1996.73. 1978.A.. EPA-600/2-78-054. A. Kirsten. W. and Smith. Payant and K. UCAPAN TERIMAKASIH Penulis mengucapkan terimakasih kepada Bapak Sahroji. The effects of Germicides on Microorganism. et al (eds. Kapasitas fenol dalam mereduksi asam lebih kecil dari gamping. Kabupaten Lampung Selatan yang telah mengirim contoh batuan sehinnga penelitian ini dapat berjalan lancar. 2001. Aula Barat ITB 1-2 Juli 1996 Siwik R.. Schuller. Kecamatan Kedongdong. Arutmin Indonesia. Sobek. Cincinnati. Siti Rafiah Untung dan Nia Rosnia H. J.infectioncontroltoday.R.15%. 5. Saran Penelitian perlu dilanjutkan dengan pemberian bakterisida yang lain seperti surfaktan sehingga dapat ditentukan bakterisida yang lebih beperan dalam pencegahan air asam tambang. Field and Laboratory Methods Applicable to Overburdens and Minesoils. DAFTAR PUSTAKA Buck. 45268. M. R.8. Karena nilai ini sudah melampaui baku mutu air limbah dari kegiatan penambangan bijh emas berdasarkan Kepmen LH No. New York. 1989. Freeman. Kepala KUD Tambang Harapan. 202/2004 sehingga diperlukan penurunan dosis gamping. ‘Control of acid generation from reactive waste rock with the use of chemicals’. Kemungkinan Pemanfaatan Bakterisida Fenol untuk .). M. 4750.1 – 10.

/Fax : 022 – 6038027. abu golongan b lebih dari 50% menempel sebagai kerak di dalam siklon dan abu golongan c lebih dari 90% meleleh di dalam siklon kemudian mengalir ke dalam kotak abu. (b) group has medium melting point or close to the operational temperature of the cyclone combustor at 1200°C.PENGARUH TITIK LELEH ABU TERHADAP PENGENDAPANNYA PADA PEMBAKARAN BATUBARA DENGAN PEMBAKAR SIKLON DI BEBERAPA FASILITAS INDUSTRI Sumaryono Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara (tekMIRA) Jl. 081321237913 e-mail : soemaryono@tekmira. and (c) group has low melting point. high ash content with various melting points may affect the combustor performance. The deposition processes of the ash particles in those industrial facilities and their deposition locations are also described.go. Particularly the impurities which may affect the combustion process such as the ash content with its various characteristics. in the operation of the cyclone combustor in steam boiler. For cyclone combustor operation. 90 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . This paper describes the handling process of those ash groups. since it is difficult to obtain pure coal. didapat abu golongan a lebih dari 90% tertiup keluar siklon. pemanas oli dan pengering berputar. From this observation.esdm. pengendapan ABSTRACT Coal may be viewed as a dirty fuel. Sudirman 623 Bandung Telp. Dari pengamatan tersebut. Based on its melting point. titik leleh abu. which either affecting the combustion process or may affect the product and the industrial facilities served. Khususnya pengotor-pengotor yang dapat mempengaruhi proses pembakaran seperti kandungan abu dengan berbagai karakteristiknya yang selain mempengaruhi proses pembakaran juga dapat mengganggu produk dan fasilitas industri yang dilayani. Berdasarkan titik lelehnya abu dibagi menjadi 3 golongan yaitu golongan a bertitik leleh tinggi. jauh dibawah 1200°C. bersih dari kotoran. Tulisan ini menguraikan proses penanganan abu untuk ketiga jenis abu tersebut. free from impurities. Diuraikan juga proses pengendapan partikel abu dari ketiga jenis abu dalam fasilitas industri tersebut dan lokasi pengendapannya. Kata kunci : pembakar siklon. oil heater and rotary dryer. Jend. (a) group has high melting point.id SARI Batubara dapat dikatakan sebagai bahan bakar yang kotor karena sulit untuk mendapatkan batubara yang murni. far below 1200°C. golongan b bertitik leleh sedang atau mendekati suhu operasional pembakar siklon 1200°C dan golongan c bertitik leleh rendah. Untuk pengoperasian pembakar siklon. ash may be divided into three groups. dalam pengoperasian pembakar siklon untuk ketel uap. kadar abu yang tinggi dengan titik leleh yang bervariasi dapat mempengaruhi kinerja alat.

deposition 1. atau berupa kerak yang menempel di dinding siklon sehingga jika semakin tebal. ash melting point. Tulisan ini menguraikan beberapa proses pembakaran batubara dengan titik leleh abu yang berbeda-beda pada beberapa fasilitas industri dan akibat-akibat yang ditimbulkan oleh abu batubara tersebut pada operasional pembakar siklon. Keadaan ini mengakibatkan operasional pembakar siklon sering terganggu karena mutu batubara yang berubah-ubah dan cenderung semakin turun mutunya. Parameter titik leleh abu akan dibahas dalam tulisan ini karena merupakan salah satu faktor yang berpengaruh dalam operasional pembakar siklon. pengelolaan abunya tergantung pada titik leleh abu. Sifat-sifat abu khususnya menyangkut sifat melelehnya yang dapat mengganggu operasional siklon tersebut dipengaruhi oleh kandungan unsurunsur tertentu di dalam abu. 2009). Al. Pada teknik pembakaran dengan unggun terfluidakan (Basuki. Fe. (b) group ash more than 50% adhered as slag in the cyclone and (c) group ash more than 90% melted in the cyclone and then flowed into the ash box. sulfat atau fosfat. Jika menempel di moncong keluarnya api.. jika digunakan batubara dengan titik leleh mendekati suhu pembakaran atau dibawahnya mengakibatkan unggun mengeras setelah dingin sehingga harus dihancurkan dengan linggis. karakteristik abu sangat penting selain berpengaruh pada efisiensi pembakaran. Pada teknik pembakaran kisi berjalan (Changzhou. dengan banyaknya senyawa CaO. Dengan kinerja yang semakin baik maka hal ini merupakan dukungan pada program pemerintah untuk terus meningkatkan kontribusi batubara dalam konsumsi energi nasional yang ditargetkan sebesar 33% pada tahun 2025 (Yusgiantoro. sifat titik leleh dapat mengganggu operasional pembakar siklon karena abu dapat berupa padatan yang tertiup keluar siklon.18 maka abu bersifat refraktori dengan titik leleh tinggi. Na. Jika perbandingan Al2O3 : SiO2 mendekati 1 : 1. belerang. diameter moncong siklon semakin kecil. Untuk pembakaran terus menerus. Tergantung nilai titik Pengaruh Titik Leleh Abu terhadap Pengendapannya pada Pembakaran . 2003). titik leleh abu yang rendah mengakibatkan tertutupnya kisi oleh lelehan abu sehingga mengganggu aliran udara pembakar. 1991). K yang terikat dengan silikat. dapat menyumbat aliran api karena jika kerak semakin tebal. pengaruh Al2O3 dan SiO2. Unsur lain yang dapat menurunkan titik leleh abu adalah Na2O dan K2O. Pembakar siklon digunakan untuk menggantikan pembakar BBM di berbagai fasilitas industri tersebut (Sumaryono. pengering berputar. Jelas pula pengaruhnya pada teknik pembakaran batubara bubuk (pulverized coal combustion) (Singer. pemanas oli. 1975). khususnya titik leleh abu yang merupakan parameter penting dalam proses pembakaran batubara (Rance. Karakteristik abu dipengaruhi oleh unsur-unsur yang dikandungnya. Pembakar siklon perlu terus dikembangkan sehingga semakin handal untuk dapat menghadapi berbagai parameter karakteristik batubara yang berbeda-beda. more than 90% was blown out of the cyclone. Tetapi sejak tahun 2008 mulai terjadi kelangkaan batubara standar karena naiknya harga ekspor batubara sehingga pasokan batubara standar untuk dalam negeri terganggu dan di pasaran dalam negeri hanya tersedia batubara dengan spesifikasi yang berubah-ubah dalam jumlah-jumlah kecil.it was found that (a) group ash. operasional pembakar siklon dapat terganggu. MgO dan Fe2O3 mengakibatkan turunnya titik leleh abu. Ca dan sedikit Ti. Keywords: cyclone combustor. LATAR BELAKANG TEORI Komponen-komponen abu dalam batubara terutama terdiri atas unsur-unsur Si. 2003). Masalah titik leleh abu juga berpengaruh pada operasional teknik pembakaran batubara lainnya.. Sumaryono 91 . LATAR BELAKANG Pembakar siklon dengan bahan bakar batubara halus berukuran -30 mesh telah digunakan di industri untuk berbagai jenis fasilitas seperti ketel uap. dll sejak tahun 2005. bisa berupa abu terbang atau abu dasar. terutama jika kandungan SiO2-nya tinggi. Sebagai contoh. Mn. Pembakaran batubara dengan pembakar siklon dilakukan dengan batubara tepung (-30 mesh). oksida. 2. Mg. Sebaliknya. 2007).

leleh abu. 3.5%. yaitu sekitar 1200°C. °C Sperikal >1500 1255 1135 Hemisfer >1500 1260 1160 Alir >1500 1325 1180 92 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . dalam siklon Lokasi b. Abu dengan titik leleh oksidasi lebih tinggi dari suhu operasional pembakar siklon. maka viskositas tinggi sehingga lengket dan tidak bisa mengalir. Jika titik lelehnya hampir sama dengan suhu siklon. Sedang yang bertitik leleh mendekati operasional pembakar siklon akan bersifat melunak tetapi belum mudah mencair sehingga lengket dan menempel di dinding siklon. dalam waktu 1 hari kerak sudah terlalu tebal sehingga siklon semakin mengecil volumenya dan lingkaran dalam leher siklon semakin menyempit sehingga mengganggu aliran api dari siklon ke dalam ketel uap. menghasilkan abu padat dengan sebaran : Lokasi a. Abu dengan titik leleh oksidasi sama atau mendekati suhu operasional pembakar siklon. maka viskositas lelehan abu menjadi rendah sehingga dengan mudah mengalir ke bawah. °C Sperikal 1435 1150 1080 Hemisfer 1460 1160 1090 Alir >1500 1225 1155 Deformasi 1470 1235 1125 Oksidasi.1. b. a. Abu bertitik leleh tinggi (a). menghasilkan abu yang lunak dan lengket menempel pada dinding bagian dalam pembakar siklon. Sedangkan pegoperasian dengan batubara mengandung abu gol. Kerak ini dengan mudah dapat dikorek dari dinding siklon. Sedangkan abu yang bertitik leleh rendah akan mudah mencair dan mengalir ke tempat yang lebih rendah.2. Abu dengan titik leleh oksidasi lebih rendah dari suhu operasional pembakar siklon. dalam pipa api Lokasi d.1 Ketel uap Gambar 1 adalah skema ketel uap jenis pipa api (fire tube) yang telah dipasang pembakar siklon sebagai ganti pembakar solar dan daerah-daerah pengendapan abunya. c dan titik lelehnya Golongan Abu A B C Deformasi 1305 1140 1075 Reduksi. jika titik lelehnya tinggi maka abu tetap berupa debu padat. titik leleh abu dibagi menjadi tiga golongan yaitu : a. dalam penampung debu Lokasi e. Pada pembakaran batubara yang berkadar abu 5. b dan c. Pengoperasian ketel uap ini dengan batubara berkandungan abu gol. tergantung pada titik lelehnya. Titik leleh oksidasi adalah titik leleh abu dalam atmosfer pembakaran oksidasi. akan tetap berupa debu padat pada saat operasional pembakaran siklon. dalam ruang api Lokasi c. b. Pembakar siklon dapat beroperasi dengan lancar jika titik leleh abu jauh di atas atau di bawah suhu operasional siklon. siklon dibiarkan dingin untuk dilakukan pembersihan dindingnya dari kerak. Sebaran Abu Dalam Fasilitas Industri 3. Tabel 1 adalah beberapa contoh abu yang termasuk dalam abu golongan a. yang bertitik leleh jauh lebih tinggi dari suhu pengoperasian siklon (1180 – 1230°C) dengan kadar abu kurang dari 2%. Semakin rendah titik leleh abu. jadi dalam suasana pembakaran dengan jumlah oksigen lebih dari oksigen stoikiometrinya. c. Beberapa contoh abu golongan a. b yang titik lelehnya hampir sama dengan suhu operasional pembakar siklon. bagian bawah cerobong Keluar dari sistem lewat cerobong : : : : : : 5% 15% 0% 30% 30% 20% 3. Jika titik leleh abu jauh di bawah suhu siklon. Sebaran kerak dan kotoran padat lain adalah : Tabel 1. akan semakin rendah viskositas abu tersebut sehingga cairannya mudah mengalir ke bagian bawah pembakar siklon. Setelah dingin abu yang lengket ini mengeras berupa kerak. Pembakaran dihentikan. Beberapa Golongan Titik Leleh Abu Dalam kaitannya dengan operasional pembakar siklon. SEBARAN ABU DAN KARAKTERISTIKNYA 3.2.

. bagian bawah cerobong Keluar dari sistem lewat cerobong : 5% : 0% : 55% : 2% : 25% : 13% Pengoperasian dengan batubara mengandung abu golongan b yang titik lelehnya hampir sama dengan suhu operasional pembakar siklon menghasilkan abu yang lengket. lelehan abu yang mengalir ke dalam kotak abu segera membeku membentuk padatan yang sangat keras berwarna coklat kehitaman. dalam penampung abu Lokasi d. Abu yang datang selanjutnya melekat di permukaan lelehan sebelumnya sehingga membentuk kerak yang semakin tebal. Gambar 1. bagian bawah cerobong Keluar dari sistem lewat cerobong 3. Pada pembakaran batubara jenis ini yang berkadar abu 7.. Skema pemanas oli dengan pembakar siklon Pengoperasian dengan batubara mengandung abu gol. Skema ketel uap dengan pembakar siklon Lokasi a. dalam siklon Lokasi b. dalam siklon Lokasi b. makanan dan industri kimia digunakan untuk memproduksi panas yang disalurkan dengan menyalurkan oli panas (220 – 250°) ke unit-unit proses yang memerlukan seperti untuk pengeringan.pembakar solar dan daerah-daerah lokasi pengendapan abunya.6%. Dinding bagian dalam siklon terlihat mengkilap karena terlapisi oleh cairan dari abu yang mencair dengan viskositas yang rendah. Sumaryono 93 . Karena viskositas abu sangat tinggi maka abu yang lunak dan lengket ini menempel di permukaan dinding bagian dalam siklon. Bongkahan-bongkahan lelehan abu yang menjadi padat diambil dari kotak abu 2 jam sekali. Pengoperasian dengan batubara mengandung abu golongan a yang titik lelehnya diatas suhu operasional pembakar siklon. dalam penampung debu Lokasi e. pemasakan dll. c yang titik lelehnya dibawah suhu operasional pembakar siklon. Akibat fatal dari kejadian ini terutama diameter dalam L-bow dari siklon menuju ruang api dari Pengaruh Titik Leleh Abu terhadap Pengendapannya pada Pembakaran .2. dalam ruang api Lokasi c. bagian bawah cerobong Keluar dari sistem lewat cerobong : 60% : 20% : 0% : 10% : 5% : 5% Gambar 2. masuk ke dalam kotak abu. menghasilkan abu yang padat dengan sebaran : Lokasi a. dalam ruang api Lokasi c. dalam rangkaian pipa oli Lokasi e. dalam siklon Lokasi b.2 Pemanas oli Pemanas oli (oil heater) di pabrik tekstil. dalam penampung debu Lokasi e. kemudian asapnya keluar melalui cerobong. dalam pipa api Lokasi d. naik dan turun lagi memanaskan pipa-pipa oli (d). Sebaran abu dalam siklon dan ketel uap adalah : Lokasi a. Gambar 2 adalah skema pemanas oli jenis vertikal yang telah dipasang pembakar siklon di bagian atasnya sebagai pengganti : 95% : 0% : 0% : 0% : 0% : 5% Api dari pembakar siklon turun ke dalam ruang api (b). dalam ruang api Lokasi c. menghasilkan abu yang sudah mencair dan mengalir ke lantai siklon. dalam pipa api Lokasi d.

Sedangkan perubahan suhunya dari sekitar 1470°K didalam siklon menjadi sekitar 770°K didalam lorong api utama atau 1.5 kg/jam.pemanas oli semakin mengecil sehingga tekanan didalam ruang siklon membesar dan aliran api ke dalam pemanas oli terhambat. sebagian lagi karena menabraknya partikel-partikel abu ke suatu dinding kemudian terjatuh oleh gaya gravitasi. identik penggunaannya pada pemanas oli dan ketel uap. Sebaran abu berupa kerak dan padatan lain adalah : Lokasi a. dalam rangkaian pipa oli Lokasi e. sedangkan sampah padat yang tertiup kedalam pengering berputar tidak diukur karena jumlahnya relatif kecil setelah bercampur dengan komoditas yang dikeringkan. disebabkan viskositas yang rendah. Perubahan kecepatan aliran dari dalam silinder siklon ke dalam lorong api utama dipengaruhi oleh luas penampang dan suhu dari kedua lokasi tersebut. karena lebih cepat mengalirnya.39 atau hanya berbeda sedikit. Pengering berputar Pengamatan sebaran pengendapan abu hanya dapat dilakukan didalam pembakar siklon. abu akan berbentuk tepung padat yang akan tertiup bersama asap. Jumlah abu berupa kerak yang menempel di dalam dinding siklon sekitar 60% dan sisanya tertiup dan tercampur dengan produk yang dikeringkan. Percobaan menggunakan batubara dengan abu golongan c belum dilakukan untuk siklon dengan pemanas oli ini. Mekanisme pengendapan partikel-partikel abu sebagian karena perlambatan aliran asap.9 : 1. sehingga pengendapan partikel abu karena perbedaan kecepatan asap kecil pengaruhnya. konsumsi batubara dengan pembakar siklon 90 kg/jam dengan kadar abu batubara = 5% atau jumlah abu yang dihasilkan = 4. karena batubara dengan abu demikian jarang didapat dipasaran. Demikian pula untuk abu golongan c. Pembakaran harus dihentikan dan kerak dibersihkan. Semakin rendah titik leleh abu. Pembakar siklon berdiameter bagian dalam 130 cm menyalurkan api kedalam lorong api utama dari ketel uap yang berdiemeter bagian dalam 80 cm melalui moncong siklon yang berdiameter bagian dalam 60 cm. PEMBAHASAN Pengendapan abu bertitik leleh tinggi (abu golongan a) Abu dengan titik leleh tinggi.64 : 1. Sebagai contoh. sampah padat yang keluar dari pembakar siklon akan masuk kedalam pengering berputar dan bercampur dengan produk pengeringan. keluar silinder siklon. dalam penampung abu Lokasi d. maka terjadi turbulensi di dalam lorong api utama sehingga kesempatan partikel abu untuk mengendap dalam lorong ini Gambar 3. Hanya kurang dari 10% yang tertinggal didalam silinder siklon. 4. maka jumlah abu yang bercampur dengan 1.64 : 1. Perbandingan luas penampang adalah sebanding dengan kuadrat radius atau 652 : 402 = 2.9 = 1.3% dari berat pupuk. selebihnya mengendap dalam bagian-bagian tertentu dari fasilitas industri. untuk fasilitas industri berupa ketel uap jenis pipa api. sebagian besar abu meleleh keluar dari dalam siklon masuk ke dalam kotak abu.2. Pada penggunaannya untuk pengeringan pupuk atau semen pozolan yang berputar dalam pengering. Maka perbandingan kecepatan aliran asap didalam siklon/kecepatan asap dalam lorong api adalah 2. bagian bawah cerobong Keluar dari sistem lewat cerobong : 60% : 0% : 20% : 3% : 5% : 12% 4. proses pengeringan pupuk fosfat yang produksinya 1500 kg/jam. dalam ruang api Lokasi c. Sedangkan penggunaan batubara dengan abu golongan b. Sebagai contoh.3 Pengering berputar Gambar 3 adalah skema pengering berputar (rotary dryer) dengan pembakar siklon yang menggantikan posisi pembakar solar. 3.5 kg atau 0. semakin banyak abu yang meleleh keluar siklon. dalam siklon Lokasi b. Tetapi karena perjalanan dari silinder siklon ke lorong api utama melewati moncong siklon yang diameternya 60 cm.500 kg pupuk fosfat adalah 94 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .

Asap berbalik. sisanya 5 – 10% tersebar sampai dibawah cerobong. Asap kemudian mengalir melalui pipa api yang berdiameter 7. lengket terpapar oleh panas sehingga segera menempel pada permukaan abu sebelumnya sehingga menambah tebal tumpukan lelehan abu tersebut. Sisa partikel abu lainnya. Karena diameter yang kecil ini maka kecepatan asap dilokasi ini tinggi sehingga didaerah ini pertikel abu yang mengendap hanya sedikit. Partikel abu yang datang kemudian juga meleleh. Abu bertitik leleh tinggi (golongan a) sebagian besar atau lebih dari 90%. kembali menuju ruang pengendapan abu. atmosfer pembakaran dll (Rance. juga disebabkan partikel-partikel abu menabrak dinding cerobong. tetapi viskositasnya belum cukup untuk membuatnya mengalir mengikuti gaya gravitasi. pengendapan abu dengan mekanisme perlambatan kecepatan asap dan tabrakan partikel abu dengan dinding yang membentuk sudut mendekati 90°C dengan arah jalannya asap. Abu jenis ini mulai meleleh pada suhu operasional pembakar siklon. dan yang terbawa sampai cerobong hanya sejumlah kecil saja. Sedangkan penggunaannya untuk pengering berputar.. Abu yang datang kemudian terus meleleh. Hal ini disebabkan hanya sedikit partikel-partikel abu yang dapat bertahan dalam keadaan padat pada suhu jauh diatas titik lelehnya. juga karena menabrak dinding. Jika viskositasnya rendah. sehingga partikel abu banyak yang jatuh selain karena perlambatan kecepatan.. Dengan demikian. Penyebaran endapan abu diberbagai lokasi pengendapan dalam ketel uap telah dikemukakan di sub-bab 3. lelehan abu mengalir masuk kedalam kotak abu. c. 5. 1975). sehingga permukaan dalam siklon hanya tertutup oleh lapisan tipis lelehan abu. masuk kedalam ruang api. Selanjutnya asap bergerak menuju ruang penampung abu dengan penampung yang lebih luas. Abu bertitik leleh sedang (golongan b) lebih dari 50% tertahan di dalam siklon berupa kerak. Dengan demikian maka sebagian besar abu menempel didinding siklon sampai 60 – 75% kemudian di ruang api 10 – 20%. Pengendapan abu bertitik leleh sedang (abu golongan b) Abu bertititk leleh mendekati suhu operasional siklon ternyata terkumpul di lokasi tidak jauh dari pembakar siklon itu sendiri. Sebaran abu jenis ini dipengaruhi oleh banyak faktor seperti karakteristik pembakaran batubaranya sendiri.juga tidak besar. selanjutnya menuju cerobong. Hanya sedikit sekali yang tertiup ke luar.2. tertiup keluar siklon. pengendapan di penampung abu dominan sebab disini berlangsung 2 mekanisme yaitu mekanisme perlambatan kecepatan asap dan tabrakan partikel asap dengan dasar dari ruang api. Hasil pengamatan ini menunjukkan bahwa pembakaran batubara dengan pembakar siklon. khususnya yang berupa debu halus keluar bersama asap cerobong. KESIMPULAN 1. yaitu partikel-partikel abu yang tidak sempat mengalami aglomerasi. dengan jumlah total di dua lokasi itu sekitar 60 70%. Hanya sebagian kecil yang lolos sampai cerobong. melainkan bersifat lengket sehingga menempel dipermukaan dalam pembakar siklon. sebagian besar abu tertiup keluar pembakar siklon bercampur dengan komoditas yang diproses. untuk batubara dengan 3 golongan titik leleh abu menunjukkan : a. Pengendapan abu bertitik leleh rendah (abu golongan c) Abu jenis ini segera meleleh terpapar oleh suhu pembakaran dalam siklon. sifat-sifat lelehan abu. Sebagian lagi yang tidak sempat menempel di permukaan siklon. terlempar keluar tetapi dengan ukuran yang lebih besar karena proses aglomerasi dan jatuh tidak jauh dari lokasi pembakar siklon. mengalir ke bawah.5 cm. maka pengendapan abu dominan berada di penampung abu dan dibagian bawah cerobong. sebaran ukuran butir batubara. Keadaan ini mengakibatkan energi kinetik partikel abu menurun sehingga terkalahkan oleh gaya gravitasi dan terjadi pengendapan. Sebaran abu dalam penggunaan abu bertitik leleh abu tinggi untuk pemanas oli identik dengan penggunaannya untuk ketel uap. Sumaryono 95 . Abu bertitik leleh rendah (golongan c) Pengaruh Titik Leleh Abu terhadap Pengendapannya pada Pembakaran . b. Banyak partikel abu yang mengendap di bagian bawah cerobong selain karena kecepatan asap melambat atau diameter cerobong yang membesar. Seperti terlihat pada Gambar 2.1 dan uraian ini menjelaskan proses yang terjadi. kecepatan pembakaran.

Sebagian kecil tertinggal di saluran-saluran asap dan yang berukuran halus keluar melalui cerobong. Perlambatan kecepatan asap secara mendadak dan tabrakan partikel abu dengan dinding. 12 No.G. Shell Int. Coal Quality Parameters and Their Influence in Coal Utilization. 2003. Petroleum Co. Vol. Sustainabilitas Energi di Indonesia Dalam 30 Tahun Mendatang. Mekanisme pengendapan abu terutama disebabkan oleh : a. 96 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Semarang.. Boiler. Xishan. Sumaryono. LTD. 2009. tertiup keluar siklon dan mengendap dalam perangkap-perangkap abu seperti ruang penampung abu dan bagian bawah cerobong. Bandung. b. Connecticut. Jakarta Changzhou Boiler Co.P.E.sebagian besar atau lebih dari 90%. P. Seminar Nasional Sustainable Alternatif Energi. H.. Coal Fired Fluidized Boiler. mudah mencair dan mengalir kedalam kotak abu dan membeku. lengket melekat di dinding siklon. meleleh didalam siklon dan kemudian mengalir kedalam kotak abu. 2. 2003.C. 2007. 1975. Combustion Fossil Power. Abu yang mempunyai titik leleh tinggi. Rance. Brochure. ABB. 3. B. J. Development of Cyclone Coal Burner For Fuel Oil Burner Substitution in Industries. LTD. c... 13 (29-33)... 1991. Abu mencair karena suhu siklon jauh diatas titik leleh abu ini sehingga viskositas lelehan abu rendah. Abu menjadi lunak tetapi viskositasnya masih tinggi sehingga bahan ini menjadi lunak. Indonesian Mining Journal. Yusgiantoro. DAFTAR PUSTAKA Basuki. Singer.

PAC.Total reserves of bauxite in the world were 24 billion metric tons. rutil. and flotation. alumina. Sistem tambang terbuka yang dilanjutkan dengan proses peningkatan kadar mendahului ekstraksi bauksit menjadi alumina. elektrolisis. goethite. bauxite. dan AlCl3). 022 . Bayer and Hall-Heroult processes Pengolahan dan Pemanfaatan Bauksit. pemisahan dengan magnetik dan media berat serta flotasi. rutile. alumina. gotit. 022 . bauksit. yang dipilih berdasarkan karakteristik bijih bauksit yang akan diolah. screening/classification. pengayakan/klasifikasi. proses Bayer dan Hall-Heroult ABSTRACT Bauxite is aluminum ore containing 45-60% Al2O3. Open pit mining followed by upgrading preceded bauxite extraction to be alumina. 623 Bandung 40211 Telp. kaolinit. ilmenit. electrolysis. dan brookit. siderit. Proses Bayer adalah cara yang paling efektif dan menguntungkan untuk memproduksi alumina dari bauksit.go. To produce 2 tons of alumina or 1 ton of aluminum metal need about 4-5 tons of bauxite in average. magnetic separation. Keywords : upgrading. Peningkatan mutu (uggrading) bauksit dapat dilakukan dengan cara washing & scrubbing. PAC. Indonesia sendiri memiliki cadangan bauksit terukur lebih dari 900 juta ton yang tersebar di kepulauan Riau dan Kalimantan Barat. Bauxite upgrading can be carried out by washing and scrubbing. siderite. with several impurities minerals such as magnetite. chosen based on the bauxite character to be upgraded. heavy media separation. aluminium. anatas. 12-30% H2O. hematit. The alumina produced is processed into aluminum metal through electrolysis process called Hall-Heroult. and brookite. antara lain koagulan (alum.6030483 Fax. Indonesia itself has bauxite reserve deposits more than 900 million metric tons scattered in Riau islands and West Kalimantan. Kata kunci : peningkatan kadar. Husaini 97 . More than 90% of bauxite deposits have been treated into alumina or aluminum metal. Alumina yang dihasilkan tersebut dibuat menjadi logam aluminium melalui proses elektrolisis Hall-Heroult. Bayer process is the most effective and feasible method for alumina production from bauxite. anatase. Total cadangan bauksit dunia adalah sebesar 24 milyar ton. hematite. Sudirman No.id SARI Bauksit merupakan bijih aluminium yang mengandung 45-60% Al2O3.PENGOLAHAN DAN PEMANFAATAN BAUKSIT Husaini Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl.6003373 e-mail : husaini@tekmira. aluminum metal. Jend. and AlCl3). Lebih dari 90% cadangan bauksit diolah menjadi alumina atau logam alumunium. ilmenite. 12-30% H2O.esdm. the rest is utilized for producing chemicals such as coagulants (alum. dengan kandungan beberapa mineral pengotor seperti magnetit. sisanya dimanfaatkan untuk pembuatan bahan kimia. Untuk memproduksi sebanyak 2 ton alumina atau 1 ton logam aluminium dibutuhkan bauksit rata-rata 4-5 ton. kaolinite.

sisanya dimanfaatkan untuk pembuatan bahan kimia. anatas. Sekitar 95% bauksit dunia diolah menjadi alumina atau logam alumunium (Anonim. kadar aluminanya relatif rendah dan kandungan pengotornya relative tinggi. tempat pertama kali ditemukannya mineral ini oleh seorang ahli geologi bernama Pierre Berthier pada tahun 1821 (Wikipedia. 12-30% H2O. Sebelum diekstraksi menjadi alumina. metodologi yang digunakan adalah dengan cara melakukan survei literatur dari berbagai sumber antara lain hasil penelitian yang terkait dengan tema makalah baik di perpustakaan. Sedangkan jumlah cadangan bauksit di Indonesia sendiri sebesar 907. Afrika (Guinea). hematit (Fe2O3). internet. 320 juta ton (Venezuela). beberapa di antaranya adalah cara washing & scrubbing. 2007b). Venezuela. beberapa di antaranya yang akan dibahas disini adalah scrubbing dan screening. 200 juta ton (Rusia). METODOLOGI Untuk menyusun makalah ini. India. (Husaini dan Wijayanti. 3. gotit (FeO(OH)). Jumlah cadangan bauksit di beberapa Negara tersebut pada tahun 2001 diperkirakan sebesar 3. sehingga total cadangan dunia sebesar 24 milyar ton (Wikipedia. oleh karena itu produk hasil scrubbing dan pencucian yang diambil adalah fraksi ukuran di atas 2 mm. Istilah bauksit diambil dari nama daerah pedesaan Les Baux-de-Provence dibagian selatan Perancis. boehmite atau diaspore (AlOOH). 3. 2009a).9 milyar ton (Brazil). Rusia. dan flotasi. Berdasarkan data ratarata di dunia. mengingat bauksit dari tambang memiliki ukuran butir yang bervariasi dan tiap fraksi ukuran memiliki komposisi kimia yang berbeda-beda. 7. sisanya yang 20% dengan tambang bawah tanah sampai kedalaman 70 m dibawah permukaan tanah. cadangan tereka.36 %.843.1 ton untuk memghasilkan 1 ton logam aluminium (Anonim. Asia (Indonesia. bijih bauksit berukuran makin halus mutunya semakin rendah (kandungan pengotor semakin tinggi). 2. antara lain koagulan (alum. PAC. Umumnya bauksit berukuran di bawah 2 mm. 700 juta ton (Guyana).1. Kemudian dari data yang terkumpul dilakukan evaluasi dan pembahasan yang akhirnya sampai kepada kesimpulan. 720 juta ton (China). maupun hasil penelitian yang dilakukan sendiri. Alumina yang diperoleh dari proses Bayer.1. TEKNOLOGI PENGOLAHAN DAN PEMANFAATAN BAUKSIT 3. Dari percobaan yang telah dilakukan. dan berbagai macam pengotor antara lain adalah magnetit (Fe3O4).500.1. 770 juta ton (India). 2007b).8 milyar ton (Australia). Hasil tambang tersebut selanjutnya diproses menjadi alumina berdekatan dengan lokasi penambangan.1 milyar ton. 2009c). kaolinit (H4Al2Si2O9).4 milyar ton (Guinea). pengayakan/klasifikasi. 3. pemisahan dengan magnetik dan media berat serta flotasi. atau dikapalkan ke pabrik peleburan ke berbagai negara di dunia. Bauksit umumnya mengandung 45-60% Al2O3. Berdasarkan data hasil karakterisasi. Brazil. Amerika Tengah dan Selatan (Jamaika.5048. 2 milyar ton (Jamaika). Guyana). dan brookit (TiO2) (Anonim.000 ton (Bangka).100. 2009d). Cara penambangan yang diterapkan di berbagai belahan dunia umumnya dengan sistem tambang terbuka (80%) dengan kapasitas produksi >100 juta ton bauksit tiap tahun. Cara ini relatif baik untuk meningkatkan kadar alumina. Negara lainnya 4. Penghasil bauksit utama dunia adalah Australia (lebih dari 40 juta ton/tahun). kemudian dibuat menjadi logam aluminium melalui proses elektrolisis Hall-Heroult. 2002). Peningkatan mutu (uggrading) bauksit yang dapat dilakukan tergantung dari karakteristik bauksitnya. China). PENDAHULUAN Bauksit merupakan bijih aluminium yang terdapat pada mineral gibbsite [Al(OH)3]. Surinam. 20 juta ton (USA).sebesar 3. rutil. Kazakhstan dan Eropa (Yunani). setelah melalui scrubbing –screening 98 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . dan AlCl3). Proses Peningkatan Mutu Ada beberapa cara yang sudah umum diterapkan dalam peningkatan kadar bauksit. ilmenit (FeTiO3).757 ton (terukur) yang tersebar di kepulauan Riau dan Kalimantan Barat. bauksit dari tambang terlebih dahulu ditingkatkan kadarnya. pemisahan dengan magnetik. 680 juta ton (Suriname). Di Eropa sendiri biasanya menkonsumsi bauksit rata-rata 4. pemisahan dengan media berat. diperoleh data bahwa bijih bauksit asal Kijang yang semula memiliki kandungan Al2O3 antara 40. sekitar 4-5 ton bauksit dibutuhkan untuk memproduksi 2 ton alumina atau 1 ton sebagai logam aluminium. dan cadangan hipotetik sebesar 13.1 Scrubbing dan screening Proses scrubbing yang dikombinasikan dengan pencucian dan pengayakan untuk meningkatkan kadar alumina dalam bauksit merupakan cara yang sederhana dan cukup efektif yang sudah diterapkan secara komersial. siderit (FeCO3).000 ton (Bangka).

35%.59). 3.34 % dan kadar Fe2O3 30. Di India. bauksit 2.67% (persayatan bahan baku untuk proses Bayer adalah di atas 51% Al2O3.16. dengan kondisi pemisahan yang sama dihasilkan produk non magnetik (58 % berat) dengan kadar Al2O3 57. sebaliknya mineral yang lebih besar berat jenisnya akan tenggelam. Sebagai contoh.1. Produk yang ketiga terdiri dari campuran besi dan silika yang umumnya cocok untuk material pengisi.97 %. produk terapung memiliki kadar Al2O3 sebesar 55. sementara produk kedua berupa material non magnetik yang mengandung silika yang tiggi (93% SiO2) yang pemanfaatannya sangat sesuai untuk konstruksi beton. sehingga kadar alumina dalam bauksit yang mengapung meningkat.8% (Husaini dkk. Salah satu produknya berupa material magnetik (besi oksida) yang memiliki kadar Fe 40%.82% dan penurunan kadar Fe2O3 sebesar 2. sedangkan bagian yang tenggelam memiliki kadar Al2O3 sebesar 12.59. 2007a). Teknik pemisahan dengan magnetik ini telah dilakukan juga oleh Jamieson dkk.. Mineral yang lebih rendah berat jenisnya daripada berat jenis media berat (heavy liquid) akan terapung. Sedangkan untuk tailing bauksit berkadar Al2O3 42.1. maksimum 3% silica reaktif dan maksimum 7% Fe2O3). Husaini 99 . Jadi kualitas (bauksit) setelah dipisahkan lebih baik dibandingkan sebelum dipisahkan yang mempunyai komposisi kimia awal Al2O3 48 % dan Fe2O3 15 % (Husaini dan Soenara.49 % Fe2O3).53-53.89 dan pengencer karbon tetra klorida 1.1.2 Pemisahan dengan magnetik Mineral-mineral bersifat magnetik seperti besi oksida yang terkandung dalam bijih bauksit ataupun tailing hasil ekstraksi bijih bauksit dapat dipisahkan dengan pemisah magnetik (magnetic separator). 2004). dan regulator (activator. Salah satu mineral yang memiliki komponen oksida besi adalah tailing hasil pencucian bauksit Pulau Kijang yang besarnya berkisar antara 9. Mineral yang terlapisi kolektor akan bersifat hidrofobik (suka udara) sehingga mudah menempel pada gelembung udara dan dapat diapungkan. Perolehan alumina yang didapat dari proses scrubbing tersebut berkisar 82. dengan menggunakan bromoform dengan berat jenis 2. 3.3 Pemisahan dengan media berat Prinsip pemisahan dengan media berat adalah dengan memanfaatkan perbedaan berat jenis mineral-mineral yang akan dipisahkan. telah dihasilkan produk non magnetik (70% berat) dengan kadar Al2O3 53. sedangkan bauksit yang berat jenisnya lebih rendah dari berat jenis bromoform akan mengapung. (2006) terhadap mineral red mud yang dihasilkan dari ekstraksi bijih bauksit dengan soda kostik pada kondisi intensitas rendah dan intensitas tinggi cara basah.78-89. depressant.65 dan media berat (bromoform 2. setelah dilewatkan pemisah magnetik pada kondisi 5 Am-1.41 % (Husaini dan Wijayanti. 2007).42-84.14 %.66% dan rasio konsentrasi 78.12 %. Penggunaan pembusa adalah untuk menstabilkan gelembung udara supaya tidak mudah pecah.8 % dan Fe2O3 9. pengatur pH). yang sebelumnya dipanaskan pada suhu 450 o C.98 % Al2O3 dan 11. dan Fe2O3 9. 2002). proses benefisiasi untuk peningkatan kadar alumina dalam bauksit juga dilakukan dengan cara peremukan yang dilanjutkan dengan pengayakan cara kering untuk menurunkan kandungan silikanya (Nandi. Sedangkan depres- Pengolahan dan Pemanfaatan Bauksit.18 % dan kadar Fe2O3 7. 3. ini berarti terjadi peningkatan kadar Al2O3 sebesar 4. Dengan demikian hematit akan tenggelam karena berat jenisnya lebih tinggi dari berat jenis bromoform. Penerapan teknologi pemisahan secara magnetik tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan dalam mengatasi permasalahan penumpukan red mud yang dihasilkan yang besarnya berkisar antara 40-50%) dari berat bijih bauksit yang diolah melalui proses Bayer. Cara lain untuk mendapatkan kadar bauksit yang memenuhi syarat dan konsisten adalah dengan mencampurkan (blending) bauksit kadar rendah yang sudah diolah dengan yang kadarnya lebih tinggi (Anonim.yang didahului peremukan diperoleh produk dengan kadar Al 2 O 3 antara 50. 2003). Dari data hasil poercobaan dengan menggunakan bauksit berukuran -100+200 mkesh dan waktu pengendapan 20 menit menunjukkan adanya peningkatan kadar Al2O3 dan penurunan kadar Fe2O3 dibandingkan dengan keadaan kadar awalnya. Dari uji coba yang telah dilakukan terhadap tailing bijih bauksit (komposisi kimia 48.25 % dan Fe2O315 %.93 .7 %.05%. Perbedaan sifat permukaan suatu mineral dengan mineral lainnya dapat terbentuk dengan menambahkan zat aktif permukaan (kolektor).4 Flotasi Flotasi merupakan salah satu cara pemisahan yang memanfaatkan perbedaan sifat kimia-fisika permukaan dari berbagai macam partikel mineral. Bahan kimia lainnya yang digunakan adalah pembusa (frother). Dalam hal ini mineral besi (hematit) memiliki berat jenis sekitar 7.

2. (3) hidrolisis parsial larutan sodium aluminat pada suhu rendah untuk mengendapkan 100 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Lebih dari itu. dan titan. selanjutnya ditingkatkan lagi kadarnya melalui pemisahan secara magnetik menghasilkan kadar alumina 54%.25%. Penelitian mengenai penggunaan kolektor-kolektor yang efektif untuk pemisahan mineral pengotor (lempung) dan depressant untuk menekan diaspore asal China juga telah dilakukan. Hasil penelitian yang didapat menunjukkan peningkatan ratio alumina/silika dari <6 menjadi >10. Penyerapan CPAM pada seluruh permukaan kristal diaspore mencegah spesi kation DDA untuk terserap pada permukaan diaspore.6 dan total perolehan alumina dalam konsentrat akhir (produk non-magnetik) sebesar 69. 2009) menunjukkan bahwa penggunaan kolektor kationik (zat aktif permukaan) jenis butane-á. pemisahan cara flotasi terhadap beberapa mineral pengotor yang terkandung dalam bauksit (diaspore) yang dilakukan pada pH antara 9-10 menghasilkan seletifitas yang signifikan terhadap ilit. Hasil percobaan skala pilot pada kondisi pH optimum sekitar 10 menghasilkan konsentrat mutu metalurgi dengan kadar alumina 42. Penelitian sejenis mengenai peningkatan kandungan diaspore dengan flotasi balik untuk memisahkan mineral pengotor juga dilakukan oleh Zhenghe Xu (2004).3%. Pengaruh gugus kationik dari kolektor rantai karbon 12 (12-carbon chain collectors) telah diteliti oleh Hong Zhong. Bila ditambahkan depressant kanji (corn starch). 3. Hasil penelitian lainnya (Liuyin Xia. daya apung terhadap kaolin lebih baik daripada ilit dan piropilit dalam selang pH tertentu. Hal ini dilakukan agar bauksit yang sebelumnya mengandung alumina yang rendah dapat ditingkatkan kadarnya sampai memenuhi syarat sebagai bahan baku untuk proses Bayer. tetapi cara ini tidak digunakan lagi setelah ditemukan proses baru (Bayer) oleh ahli kimia Austria tahun 1887. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemisahan diaspore dari mineral-mineral alumino silikat dengan menggunakan kolektor kation dodecylamine chloride (DDAC). Reaksi kesetimbangan mengarah ke kanan dengan meningkatnya konsentrasi soda kostik dan suhu.72 dan perolehan Al sebesar 81. piropilit dan kaolinit. piropilit dan ilit dari diaspore. dan DDGS merupakan kolektor terbaik dibandingkan dengan DDAC dan DTAC dalam memisahkan mineral alumino silikat. Kanji (starch) digunakan sebagai depressant dan ether-amine sebagai kolektor kationik. Konsentrat bauksit yang mengandung mineral gibsit. Massola dkk.5 (Guangyi Liu. Proses Bayer merupakan cara yang paling ekonomis yang memanfaatkan reaksi antara alumunium trihidroksida dan aluminium oksida dengan soda kostik membentuk sodium aluminat. (2008) telah melakukan penelitian yang inovatif mengenai peningkatan kadar gibsit dengan cara flotasi balik yang menghasilkkan bauksit jenis metalurgi.3% dan ratio alumina/silika sebesar 11. (2008) untuk memisahkan mineral kaolinit. dkk. Kemampuan adsorpsi grup kation CPAM pada permukaan kaolinit yang bermuatan negatif diperlemah oleh induksi dan efek sterik senyawa metil dalam gugus CH2N+(CH3)3 yang membuat CPAM memiliki pengaruh yang kurang signifikan pada adsorpsi DDA pada permukaan kaolinit. besi. Konsentrat yang dihasilkan dari percobaan skala bench scale memiliki ratio Al/Si sebesar 9. Pembuatan Alumina Hidrat/Alumina Alumina (Al2O3) adalah material halus berwarna putih mirip dengan garam (Anonim. Operasi berikut dilakukan secara berurutan yaitu (1) pelarutan alumina pada suhu tinggi. seluruhnya dihasilkan dengan memproses bauksit melalui proses Bayer. 2007). sehingga diaspore dapat ditekan (tidak ikut mengapung). dkk. Bahan yang diflotasi berupa tailing hasil proses scrubbing dan desliming yang kandungan kuarsanya relatif tinggi.1.5–8. Flotasi balik juga berhasil dilakukan untuk memisahkan kaolinit dari diaspore dengan menggunakan kolektor dodecylamine (DDA) dan depressant cationic polyacrylamide (CPAM) pada pH 5. piropilit dan ilit dari bauksit jenis diaspore. 2007). ratio alumina/silika 12. Ketiga jenis kolektor tersebut menunjukkan selektifitas yang tinggi terhadap diaspore. dodecyl trimethyl ammonium chloride (DTAC) atau dodecylguanidine sulfate (DDGS) adalah layak pada kondisi alkalin kuat. Ekstraksi bauksit secara komersial pertama kali dilakukan oleh Sainte-Claire Deville di Perancis tahun 1865.sant berfungsi untuk menekan agar mineral yang tidak diinginkan tidak ikut mengapung. Alumina dapat diperoleh dari ekstraksi bauksit dengan soda kostik. Kolektor jenis dimer tersebut menunjukkan daya pengumpul yang lebih baik dibandingkan kolektor jenis monomernya.ù-bis (dimethyl dodeculammonium bromide) dalam flotasi balik telah berhasil memisahkan mineral mineral kaolinit. (2) pemisahan dan pencucian pengotor yang tidak larut (red mud) untuk mendapatkan alumina terlarut dan soda kostik. Kalau yang diapungkan mineral yang tidak dikehendaki prosesnya disebut flotasi balik (reverse flotation). Total produksi alumina dunia sebesar 40 juta ton pada tahun 1995..

40. Hasil pelarutan bauksit dengan asam sulfat mencapai persen ekstraksi Al 2O 3 dan Fe 2 O 3 tertinggi masing-masing sekitar 99 % dan 65 % pada ukuran butiran 87. nisbah asam 1:4. dkk. (4) regenerasi larutan untuk didaur ulang ke tahap (1) dengan penguapan air yang dimasukkan saat pencucian.5 ton anoda karbon. waktu pelarutan. Lelehan aluminium selanjutnya dicetak menjadi ingots. 3.4 %. Pembuatan tawas dari alumina hidrat Pengolahan dan Pemanfaatan Bauksit. x H 2O] setelah besi dalam larutan diturunkan terlebih dahulu dengan penambahan larutan Na2S. Reaksi kimia yang terjadi adalah sebagai berikut: Al2O3 + 3H2SO4 Fe2O3 + 3H2SO4 Al2 (SO4) 3 + 3H2O Fe2 (SO4) 3 + 3H2O Gas asam florida umumnya dibuat dari acid-grad fluorspar dan asam sulfat dengan reaksi sbb : CaF2 + H2SO4 2 HF + CaSO4 Pada proses elektrolisis ini oksigen yang terikat pada alumina bereaksi dengan elektroda karbon menghasilkan gas karbon dioksida dan logam aluminium. Selain itu telah dibuat juga tawas butek [Al 2 (SO4 ) 3. nisbah padatan dengan larutan 1:12. Dalam pembuatan koagulan ini ada beberapa parameter yang berpengaruh di antaranya adalah konsentrasi asam.49-12.alumunium trihidrat. 3. dan (5) mengubah trihidroksida menjadi alumina anhidrat melalui kalsinasi pada suhu 1450 oK (Anonim.00 % dan Al2O3 48. plates. Pembuatan Koagulan 3. Husaini 101 . Larutan yang sudah dipisahkan dari residunya.2 Dari alumina hidrat Alumina hidrat [Al (OH)3] dapat dibuat menjadi tawas [Al2(SO4)3] maupun poly aluminium chloride (PAC).5 g/ml). Penelitian pembuatan alum dari bauksit berukuran -100 mesh dengan menggunakan asam sulfat konsentrasi (30-40 %) di dalam reaktor berpengaduk pada suhu 100 o C dan lama pengadukan sekitar 60 menit juga telah dilakukan oleh Husaini (2007).98 %.71 %.25 %. Cryolite sintetik umumnya dibuat dari asam florida dan sodium aluminat (hasil proses Bayer) dengan persamaan reaksi sbb (Anonim. 3. Pembuatan Logam Aluminium Bila alumina (Al2O3) yang diperoleh dari proses Bayer tersebut dipanaskan lebih lanjut sampai suhu 1000 °C dengan bantuan bahan pelebur (cryolite . Produk antara ini kemudian dibentuk di pabrik pemrosesan yang mengubah aluminum menjadi produk akhir (consumer products).4. rolled into sheets.Na3AlF6).55 % dan Fe2O3 2-2.92-11. dkk. 1999). Sedangan tawas bening yang dihasilkan mempunyai kadar Al2O3 9. bars. suhu pelarutan. waktu 6 jam. suhu 100°C. Penelitian yang telah dilakukan oleh Acquah. (Acquah.49 % digunakan untuk uji coba tersebut.4.8 (untuk alum komersial rationya 34-35) dan bauksit dengan kadar A12O3 62. foil. dan suhu 100oC. Larutan hasil reduksi selanjutnya ditambah amonia (kadar 21 %) menghasilkan kristal berupa garam rangkap [Al2(SO4)3 (NH4)2SO4xH2O] dengan kadar Al2O3 antara 11-14 %. Secara umum sekitar 1 ton alumina dapat dihasilkan dari 2 ton bauksit. atau rod.4. Kristal yang terbentuk dipisahkan dari filtrat yang masih tersisa. Fe2O3 15. PAC dll). konsentrasi asam 40 %.3.5-2.3% dan Fe2O3 3% adalah cocok untuk pembuatan alaum. Pada kondisi optimum ini ratio alumina yang didapat sebesar 34. 2009a). Proses ini mengkonsumsi energi sangat tinggi. 2009a) : 6 HF + 3 NaAlO2 Na3AlF6 + 3 H2O. nisbah padatan dengan larutan. Dua jenis bauksit Kijang dengan komposisi Al2O3 42. lama pelarutan 1 jam.53 % dan Fe2O3 0. kemudian direduksi dengan logam Al sambil dipanaskan sampai terjadi perubahan warna dari coklat menjadi hijau muda dengan densitas tertentu (1.1 Dari bauksit (asli/bauksit tercuci/ tailing) Semua mineral yang mengandung unsur aluminium termasuk bauksit dapat digunakan untuk pembuatan koagulan (alum. dan ukuran butir bauksit. Setiap ton aluminium membutuhkan 0. Fe2O3 11.04% lolos100 mesh. Hasil ekstraksi ini berupa lumpur yang mengandung larutan aluminium sulfat yang masih bercampur dengan senyawa besi dan residu yang tidak larut. Produk tawas butek yang dihasilkan mempunyai kadar Al2O3 9. atau dengan mereaksikan asam florida dengan soda kostik dan alumina dengan reaksi sbb : 12 HF + 6 NaOH + Al2O3 2 Na3AlF6 + 9 H2O (1999) menghasilkan kondisi optimum sebagai berikut: ukuran partikel 7+14 mesh. maka alumina akan meleleh dan tereduksi menjadi logam aluminium yang dikenal sebagai proses Hall-Héroult.

semen. <0.3.2. Komposisi tipikal alumina (Steven dkk. katalis.003% V2O5. ampelas (abrasive) dan refraktori. 0. Soaking Pits. 2009b): Di sektor transport. rel kereta api. bauksit digunakan untuk pembuatan Blast Furnaces. kemudian didinginkan sampai mengkristal. untuk membuat produk pengepak seperti karton untuk jus buah-buahan dan obat-obatan. 4. konstruksi. Iron/Steel Ladles.020% Fe2O3. dan refraktori. Bauksit dapat digunakan untuk pembuatan berbagai jenis bahan kimia antara lain alumina hidrat.040% CaO. pengepakan.0050. aluminium digunakan dalam bentuk lembaran paduan untuk kaleng minuman. Cement. <0. dan pesawat terbang. 4. Alcoa melaporkan penemuan bubuk alumina spesial untuk sistem pembuangan otomatis (auto exhaust system) dan ampelas halus (fine abrasives). Di sektor konstruksi. 1.ini prosesnya sederhana yaitu dengan melarutkan alumina hidrat dengan asam sulfat pada suhu 100°C sampai larut sempurna. alum. dan panel bodi). tawas. truk dan bus (lembaran dan plat untuk bodi). Tundishes.005-0. <0. 0.30-0. dilanjutkan dengan penyaringan. Larutan jernih hasil penyaringan ini merupakan PAC cair yang spesifikasinya adalah sbb: 12% Al2O3. jendela dan pintu dan dicetak menjadi peralatan keras (builders’ hardware). Kemudian ke dalam campuran ditambahkan kapur untuk menurunkan pH sampai 4.. 2009).010% ZnO.005-0. karena tidak dihasilkan residu sebagaimana yang diperlihatkan dalam pelarutan bauksit. Alumina dapat juga dijadikan bahan kimia (aluminium sulfat. 1998) adalah 99. poli aluminium klorida (PAC).50% Na2O. dan Aluminum. Penemuan produk khusus yaitu alumina aktif yang digunakan untuk menghilangkan kontaminan dari proses pengilangan minyak. alumina. Logam Aluminium Proses pemanasan larutan dilanjutkan untuk menguapkan air sampai berat jenis tertentu.050. <0. zeolit sintetik. Bauksit Asli/Bauksit Tercuci Secara tradisional. Anonim 2007a): Aluminium merupakan salah satu logam yang sangat penting dan digunakan secara luas di sektor transportasi. Kadar alumina dalam tawas tergantung pada kadar air yang terkandung. 9% Cl. <0.3-99..001-0. 102 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . AlCl3. dan poli aluminium silikat sulfat (PASS). bahan abrasif.001-0. aluminium klorida). tanpa proses penyaringan.). pasta gigi. dan logam aluminium (Patricia.1. maka PAC cair dikeringkan dengan menggunakan spray drier pada suhu tertentu. 4.005-0. Di sektor listrik. alumina hidrat direaksikan dengan asam klorida dan asam sulfat sampai alumina hidrat larut sempurna. marmer sintetik. aluminium digunakan dalam bentuk produk lembaran untuk atap dan dinding.008% TiO2.0010. keramik. 1998. Di sektor pengepakan. semakin rendah kadar air kristalnya. rumah tranmisi. Open Hearth.015% Ga2O3. Bila diinginkan produk berupa bubuk. < 0. lembaran untuk keperluan rumah tangga dan pembungkus komersial. Alumina Hidrat Alumina hidrat dapat digunakan untuk pembuatan berbagai jenis bahan kimia antara lain tawas. fero sulfat. aluminium digunakan dalam kendaraan bermotor (blok mesin. Alumina Alumina merupakan produk komoditas yang dapat digunakan antara lain untuk (Steven dkk. dan proses pengolahan gas alam. maka semakin tinggi kandungan aluminanya. 0.35% SO4. PENGGUNAAN BAHAN BERBASIS ALUMINA 4. 0. Torpedo Cars. pabrik petro kimia. Reheat/Soaking Pits.0001-0. Persamaan reaksi kimia yang terjadi adalah sbb : 2Al (OH)3 + 3H2SO4 Al2 (SO4) 3 + 6H2O Bahan baku proses elektrolisis Hall-Heroult untuk memproduksi logam Al Pembuatan bahan kimia tertentu seperti :busi (spark plugs). aluminium digunakan dalam bentuk kawat yang diperkuat dengan baja membentuk kabel listrik. 4.0015% P2O5.025% SiO2. kepala silinder. semen.20% SO3. Electric Arc furnaces.4. dan listrik (Anonim. refraktori. besi klorida.7% Al2O3 (by diff. penghambat kebakaran (fire retardant). aluminium fllorida. Sedangkan dalam pembuatan PAC.

. konstruksi. P. Hong Zhong.com. aluminium and bauxite. Stockton. published in the Ghana Engineer. Bauxite Mineral. Jamieson. Box 161. tersebar di Kijang (Riau).Accra. pyrophyllite and illite using three cationic collectors. Sudirman No.ac. Australia. Jend. Magnetic separation of Red Sand to produce value. http:// www. namun yang sudah diterapkan di Indonesia sampai saat ini hanya dengan cara pencucian dan scrubbing diikuti pengayakan dengan ukuran produk + 2 mm. 2009c. 2007b. Jones.qal. The role of cat- Pengolahan dan Pemanfaatan Bauksit. 623 Bandung. Husaini 103 . diakses 17 Juni 2009 Anonim.be/Education/ N o n M a t I r C o u r s e s / M a t / 5 c%20aluminium. Peningkatan Kualitas Bauksit dari Pulau Kijang dengan Magnetik Separator Cara Basah. Hong Zhong. 2007.com/suppliers asp?. May 1999. KESIMPULAN Potensi cadangan bauksit di Indonesia relatif besar. Central South University. Husaini dkk. Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral. 2008.. http:/ /home. Technology Delivery Group. Laporan Kegiatan Proyek Kelompok Program Teknologi Pengolahan Mineral.net/africantech/GhIE/Awaso 1. Kwinana. 2007.kuleuven. diakses 30 April 2007 Anonim.CSIR.doc. Peningkatan Kadar Bijih Bauksit Kijang Dan Tayan Dengan Metode Scrubbing. 2008. Institute of Minerals Processing and Bioengineering. 2003. Obeng Y. Bauksit tercuci dapat dikonversi menjadi alumina melalui proses Bayer dan bila diolah lebih lanjut dengan cara elektrolisis menghasilkan logam aluminium yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan di antaranya di sektor transportasi. Uses of bauxite.. htm. E. School of Minerals Processing and Bioengineering. dan listrik.mtm. Bauxite Information.. Husaini. Central South University. School of Chemistry and Chemical Engineering. Changsha 410083. 2006. Central South University. 2009. 2009d.. Guangyi Liu. Bauxite – Wikipedia. Husaini dan Trisna Soenara. China. Kijang Dengan Cara Pemisahan Menggunakan Media Berat (Heavy Media Separation).. Changsha 410083. Guangyi Liu. School DAFTAR PUSTAKA Anonim.The European Aluminium Association.htm. Shenggui Zhao and Xinyang Yu.au/. Liuyin Xia. Alcoa World Alumina. Zhiqiang Huang and Qingwei Chang. WA 6966. Production of Alum From Awaso Bauxite. Institute of Chemistry and Chemical Engineering. Bahan Galian Industri. WA. Flotation separation of diaspore from kaolinite. dan Tayan (Kalimantan Barat) yang jumlahnya tidak kurang dari 900 juta ton. D. http:// www. diakses 17 Juni 2009 Anonim. diakses 17 Juni 2009 Anonim. Pengurangan Kadar Besi Dalam Bauksit P. Ghana. 2007a. Pemilihan cara pengolahan tersebut tergantung pada karakteristik (di antaranya kandungan mineral pengotor) bijih bauksit yang diolah. Cooling and N.azon. Institute of Industrial Research. Yiping Lu. Flotation separation of the aluminosilicates from diaspore by a Gemini cationic collector. pemisahan dengan magnetik dan media berat serta flotasi. 2009a. Changsha 410083. http://www. Proses peningkatan kadar yang dapat digunakan ada beberapa macam antara lain scrubbing. Central South University. Yuehua Hu. China. Changsha 410083. Guangyi Liu. Penelitian Pendahuluan Pembuatan Tawas dari Bauksit Kijang. Pusltbang tekMIRA Jl. the free encyclopedia. Hong Zhong. 2002. ionic polyacrylamide in the reverse flotation of diasporic bauxite. Mensah B. bauxite Supplier. Alumina. Balitbang energi dan sumberdaya mineral. Aluminium. Liuyin Xia. Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara. 2007.O. diakses 17 Juni 2009 Acquah F. Alumina Process. 2009b. Husaini dan Wijayanti. Curtin University of Technology. Australia. htm. R.5. pengepakan. PR China. Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara. Perth. Shenggui Zhao and Liuyin Xia. Yuehua Hu. PR China. A.att. diakses 30 April 2007 Anonim.

F. Bauxite And Alumina. Hindustan Colony. diakses Juni 2009. Central South University. Edmonton. Plunkert. 2009. http://doc. McGrath and Lawrence C. A. MFC Commodities India 104-B. C. Prof. INDIA. Minerals and Metals Division. Farrar. Separation of silica from bauxite via froth flotation. 104 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . 536 Chemical-Mineral Engineering Building. PR China. 1998. Amravati Road Nagpur-440033. Changsha. Alta.R. Mello Moraes Av. USP. Miraí Department. University of Alberta. Brazil. Tianjin University. MG. Companhia Brasileira de Alumínio.nsf/ProductLookupItemID/JOM-980534/$FILE/JOM-9805-34F. Chaves.. 2373. Recent advances in reverse flotation of diasporic ores– –A Chinese experience. Miraí 36790-000. Verne Plitt and Qi Liu. 2008. Steven F. A.usgs. http://minerals.tms. Massola. Department of Chemical and Materials Engineering. J. Present Status Of BauxiteAlumina Industry Of India.. C. Zhenghe Xu. Lima. 2004. K. Suraksha Apartments. bSchool of Chemical Engineering and Technology.org/ezMerchant/ prodtms.pdf?OpenElement.of Chemistry and Chemical Engineering.pdf.B. Sonochemical Technology for Processing Bauxite. Brazil. Nandi. aDepartment of Mining and Petroleum Engineering–Escola Politécnica.. Tianjin 300072.. 2004. PR China. 05508-900 SP. Patricia A. Fazenda Chorona. Canada T6G 2G6. 16. and Andrade.. 410083.gov/minerals/pubs/commodity/bauxite/090495.P.P.

PRESENTASI MAKALAH PARALEL III .

20 ppm di semua lokasi penelitian belum melewati ambang batas aman terhadap racun yang ada (sesuai Washington state Sediment. Di Kecamatan Lolayan. Kata kunci : pertambangan rakyat. tailing. Jend. Kondisi ini telah melewati baku mutu yang diperbolehkan dalam (Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air Kelas II dan KEP202/MENLH/2004 tentang Baku Mutu Limbah Bagi Kegiatan Pengolahan Bijih Emas dan/atau Tembaga. M.17 . Konsentrasi Hg pada sedimen yang berkisar pada 0. Konsentrasi Hg di air berkisar antara (0. Propinsi Sulawesi Utara.esdm. (022) 6003373 e-mail : lutfi@tekmira.. merkuri.go.. WAC 172 – 204 – 320). Lutfi dan Retno Damayanti Psat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. Kurangnya pengetahuan dan keterampilan para penambang emas rakyat menyebabkan limbah tailing dari bijih emas berbentuk halus yang masih mengandung emas dan bulir Hg langsung dibuang ke perairan. (022) 6030843 Faks.0. Kabupaten Bolaang Mongondow. retnod@tekmira. DAERAH TANOYAN SELATAN) M. sehingga produk yang dihasilkan sangat rendah dan dapat menimbulkan pencemaran yang tinggi. Pada saat ini.KARAKTERISASI MERKURI DALAM SEDIMEN DAN AIR PADA PENGOLAHAN TAILING AMALGAMASI DI KEGIATAN PERTAMBANGAN EMAS RAKYAT SECARA SIANIDASI (STUDI KASUS KUD PERINTIS. amalgamasi. Sudirman 623 Bandung 40211 Telp. Tetapi kadar merkuri di sedimen itu dapat meningkat seiring turunnya merkuri di air ke dasar sungai.go. Dampak negatif kegiatan pengolahan tailing amalgamasi dengan cara sianidasi diamati melalui kondisi kualitas perairan dan sedimen disekitar lokasi pengolahannya. outlet pengolahan. yakni mengolah tailing yang berasal dari proses amalgamasi dengan cara sianidasi.esdm.01 . tambang emas skala kecil yang dikelola KUD Perintis mengalihkan proses pengolahan emas dari secara amalgamasi cara sianidasi untuk meningkatkan perolehan bijihnya.034 mg/L) pada semua lokasi penelitian yakni di daerah hulu.id SARI Pengolahan bijih emas pada pertambangan emas rakyat umumnya dilakukan dengan proses amalgamasi menggunakan merkuri (Hg). proses yang berlangsung merupakan gabungan dari proses amalgamasi dan sianidasi. Lutfi dan Retno Damayanti 105 . dan hilir.id.0. pertambangan emas rakyat Karakteristik Merkuri dalam Sedimen dan Air pada Pengolahan .

2004).034 mg/L. PENDAHULUAN Salah satu tujuan pembangunan nasional yang berwawasan lingkungan adalah terciptanya keserasian hubungan antara manusia dengan lingkungan alam sekitarnya dengan cara pembangunan yang berkelanjutan. miners usually dispose tailing that contains gold and mercury directly to the water. Merkuri (Hg) yang dipakai dalam pengolahan ini termasuk dalam kategori B3 (Rachmat Yusuf. the mercury concentration has exceeded the standard mentioned in Government Regulation No. But sometimes they were combined both of the two methodes by processing the amalgamation tailing with cyanidation methode. sehingga diperkirakan bahaya yang ditimbulkan akan lebih tinggi. The negative impacts of cyanidation process to the amalgamation tailing was conducted by observe the water quality and its sediment surrounding the processing area. Zn. menyebabkan limbah yang berupa ampas pengolahan (tailing) yang dihasilkan masih mengandung emas dan butir-butir Hg yang biasanya langsung dibuang ke perairan. pengolahan bijih emas dilakukan melalui proses amalgamasi dengan merkuri (Hg) sebagai media untuk mengikat emas.0. tambang rakyat di Sulawesi Utara mengubah sistem pengolahannya dengan menggunakan proses sianidasi baik untuk mengolah bijihnya ataupun ampas pengolahannya yang masih mengandung emas. Adanya interaksi ion Hg dengan CN akan mempermudah kelarutan. 1987) pembangunan berkelanjutan didefinisikan sebagai “pembangunan yang mengusahakan dipenuhinya kebutuhan sekarang tanpa mengurangi kemampuan generasi yang akan datang untuk memenuhi kebutuhan mereka” (www. gold artisanal mining 1. Oleh karenanya pengelolaan bahan galian harus diupayakan secara optimal sesuai denganazas konservasi dan berwawasan lingkungan dengan menekan dampak negatif yang ditimbulkan seminimal mungkin. Secara umum proses sianidasi pada pengolahan bijih emas pada pertambangan emas rakyat dilakukan pada kondisi basa. Pb. WAC 172-204-320). North Sulawesi. At Lolayan in the Bolaang Mongondow district.com). Of course it will produce low gold recovery and cause high risk in environmental pollution. Namun proses sianidasi ini. air larian dari penyaringan kompleks emas sianida masih tetap mengandung senyawa beracun ini meski dalam 106 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . the small scale goldmining whichmanaged by KUD Perintis change gold processing from amalgamation to cyanidation methode to improve gold ore receipt. penyebaran dan termetilasi (pembentukan metil-Hg). seperti Cu. Meskipun sebagian besar sianida dalam proses pengolahan ini dapat dimanfaatkan kembali.ABSTRACT Artisanal gold mine generally proceeds in amalgamation process. Dalam laporan Komisi Sedunia tentang Lingkungan dan Pembangunan (WCED. Mercury concentration in water was found in the range of 0. Those happened in almost entire waters from upstream to downstream. Mercury concentration in the sediment found in the range of 0. perolehan hasil akhir (produk) yang didapat sangat rendah.17 0.20 ppm in all sampling location.fathom. menimbulkan juga dampak negatif karena tailing amalgamasi masih mengandung merkuri dan logan ikutan lainnya. These are still in the permitted concentration range (based on Washington state Sediment.01 . Kurangnya pengetahuan dan keterampilan para penambang. Berdasarkan kenyataan tersebut. Sebagai akibatnya. tailing. Due to the lack of skill and knowladge. Sebagai contoh. But mercury concentration could become increased as the mercury Keywords : amalgamation. Proses sianidasi untuk tailing pengolahan dipakai untuk meningkatkan perolehan produknya. pada kegiatan usaha pertambangan emas skala kecil. Usaha pertambangan oleh sebagian masyarakat sering dianggap sebagai penyebab kerusakan dan pencemaran lingkungan. cyanidation. Unfortunately. 82/2001 about Water Quality Assessment and Water Pollution Handling Class II and in the Decree of Environment Ministry KEP-202/MENLH/2004 about Waste water standard for Gold/Copper Processing.

Berbeda dengan kontaminasi yang umumnya terjadi di lingkungan. Parameter CN total yang berasal dari perairan dan kolam pengendapan akan ditentukan pula. Penelitian ini hendak melihat karakteristik merkuri yang berasal dari tailing amalgamasi yang diolah dengan cara sianidasi. dilakukan dengan proses penyaringan (screening) untuk memisahkan karbon aktif yang telah menyerap kompleks sianida . ball mill Larutan NaCN Kapur Reaksi yang terjadi: 2 Au + 4 NaCN + 1/2 O + H O  2 NaAu(CN) + 2 NaOH Tanki Reaktor Sianidasi Karbon Aktif Screen (penyaring) Tailing Karbon aktif yang  menyerap kompleks  emas dan sianida Roasting (penggarangan)   Settling Pond (kolam pengendap) Roasting (penggarangan) Bullion Emas dan Perak Gambar 1. Bulion tersebut selanjutnya direaksikan dengan aqua regia untuk memisahkan emas dan peraknya. abu hasil penggarangan ditambah boraks dan digarang lagi untuk menghasilkan bulion emas dan perak. Diagram alir proses pengolahan bijih emas sistem sianidasi Karakteristik Merkuri dalam Sedimen dan Air pada Pengolahan . Karbon aktif hasil penyaringan tersebut digarang (roasted) sampai menjadi abu untuk menghilangkan senyawa sianidanya. M. Setelah proses pelindian selesai. Pada kegiatan tambang rakyat yang dilakukan di KUD ini. Dampak pemakaian sianida pada kegiatan pengolahan emas di tambang-tambang rakyat diperkirakan akan lebih serius mengingat senyawa sianida tersebut mampu melarutkan logam-logam lain yang terdapat di dalam batuannya.stamp mill. Di samping itu apabila kreativitas rakyat dalam mengkombinasikan proses amalgamasi dan sianidasi tidak dapat terkontrol diperkirakan akan terjadi pula peningkatan dalam jumlah merkuri yang ikut terlarutkan. biasanya hasil tailing proses amalgamasi diproses lagi guna meningkatkan perolehan bijih.. Tahapan-tahapan proses pengolahan dengan sistem sianidasi dapat dilihat pada Gambar 1. Disamping itu akan diamati pula kandungan logam-logam berat lain yang terdapat dalam batuan pembawa bijihnya serta karakteristik sedimen pada kolam pengendapan pada proses sianidasi.jumlah yang relatif sedikit. Lutfi dan Retno Damayanti 107 . penurunan kualitas air permukaan yang disebabkan oleh adanya logam-logam berat terlarut akibat proses sianidasi merupakan parameter yang akan dominan diamati..emas dan membuang tailingnya. Tailing Amalgamasi Tanki Penampungan crusher.

Lokasi ini dipilih berdasarkan pertimbangan bahwa daerah ini merupakan salah satu daerah tambang rakyat yang dikelola oleh KUD Perintis yang mengolah bijih emas dan tailing amalgamasi dengan proses sianidasi. ampas. volume conto yang diperlukan adalah sebanyak 100 mL untuk merkuri. Penyaringan dibantu dengan pompa vacuum untuk mempercepat proses. lokasi pengolahan. Gambar 2. sedangkan analisis yang digunakan untuk logam berat dengan metode AAS. dapat membuat contoh bertahan hingga 7 hari. conto bijih. Lokasi pengambilan conto air ada di 3 tempat. Sulawesi Utara. air. yang meliputi pengambilan contoh air dan sedimen. METODOLOGI Lokasi Penelitianterletak di daerah Tanoyan. Metode Pengambilan Conto yang dilakukan.2. Pada lokasi pengolahan dilakukan pengambilan contoh di 4 kolam pengendapan. Lokasi penelitian terletak + 240 km dari Kota Manado atau 30 km dari Kota Kotamobagu (gambar 2). yaitu di hulu pengolahan. Titik-titik lokasi tersebut ditampilkan pada gambar 2. Kabupaten Bolaang Mongondow. Parameter tertentu seperti pH dan Daya Hantar Listrik ditentukan langsung di lapangan dengan mengguna- Untuk parameter logam. sedimen. Conto yang akan dianalisis disaring terlebih dahulu untuk menghindari suspensi yang terlarut. Untuk merkuri diberikan penambahan pengawet HNO3 dengan pH <2 yang dapat bertahan hingga 6 bulan. Untuk keperluan analisis laboratorium. dan hilir pengolahan. conductivity meter. Parameter kimia lain seperti merkuri dan logam-logam terlarut ditentukan dengan Atomic Absorption Spectrometer. Peta kesampaian daerah Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan survey langsung (Grounded checking). meliputi. 108 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . penyimpanan contoh dilakukan dalam wadah contoh bervolume 500 mLyang terbuat dari plastik. kan peralatan pH meter (water quality checker).

Pengambilan conto sedimen dilakukan secara grab sampling dengan menggunakan sekop pada lokasi pengambilan air dan di salah satu mulut tambang. Conto yang diambil masing-masing ± 1 kg, kemudian dimasukkan ke dalam kantung plastik berlabel. Adapun parameter-parameter yang dianalisis di laboratorium adalah merkuri (Hg) dan logam-logam berat lain seperti Pb, Cu dan Zn.

3. 3.1.

HASIL DAN PEMBAHASAN Kualitas Air (Air Sungai)

Kualitas air merupakan hal yang paling pokok dalam kegiatan ini karena air (sungai) merupakan tempat bercampurnya faktor-faktor alami dengan unsur-unsur pencemar dan air juga merupakan unsur esensial yang dibutuhkan oleh makhluk hidup dalam kehidupan kesehariannya (UNEP,

Gambar 3. Peta lokasi pengambilan contoh

Tabel 1. Koordinat lokasi pengambilan contoh No. 1 2 3 Lokasi Hulu Pengolahan Hilir Titik LU 124° 15’ 40,22" 124° 15’ 05,27" 124° 16’ 23,34" BT 0° 36’ 28,47" 0° 36’ 27,83" 0° 36’ 2,81"

Karakteristik Merkuri dalam Sedimen dan Air pada Pengolahan ... M. Lutfi dan Retno Damayanti

109

1991). Sehingga dapat dikatakan badan air merupakan tempat interaksi langsung antara unsur hayati dengan unsur pencemar. Secara alamiah sungai mempunyai kemampuan dalam pembersihan diri (self purification) sepanjang buangan yang diterima sungai tidak melebihi kapasitas asimilasi sungai (assimilative capacity). Sementara, dalam kurun waktu cukup lama, unsur merkuri yang terbuang ke sungai kemungkinan dapat menjadi senyawa metil merkuri yang berbahaya melalui proses yang terjadi secara alamiah.Hasil pengukuran parameter fisik air di lapangan (pH, temperatur, DHL, TDS, dan TSS) dapat dilihat pada Tabel 2 di bawah.

Analisis laboratorium conto air untuk logam berat ditentukan dengan metode spektrofotometri. Kegiatan tersebut digunakan untuk mengetahui perubahan-perubahan yang telah terjadi di daerah sekitar penambangan khususnya dan daerah Tanoyan Selatan, Kecamatan Lolayan sebagai akibat adanya pertambangan bijih emas dengan sebagian besar hasil pengolahan limbahnya dibuang ke anak sungai Onggak. Hasil analisis laboratorium conto air dapat dilihat pada tabel dibawah ini. Menurut data kualitas air yang diperoleh, diketahui kadar merkuri (Hg) di semua lokasi percontoan

Tabel 2. Parameter fisik contoh air di lokasi pengolahan dan sungai di sekitarnya No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Lokasi Air bor dapur Kolam pengolahan 1 Kolam pengolahan 2 Kolam pengolahan 3 Kolam pengolahan 4 Outlet pengolahan bijih Hulu Sungai Tanoyan Outlet pengolahan keseluruhan Hilir pH 8,34 8,37 6,35 8,56 2,85 8,2 8,34 8,12 8,37 TDS 160 500 390 250 670 210 160 190 180 Suhu [°C] 30,2 29,3 31,4 31,1 27,2 24,8 27,3 28,3 DHL [µmhos] 852 648 391,4 989 312 245,7 337 267,8 TSS [mg/L] 4.8 88 208 743 108.8 18 42 4.8

Tabel 3. Hasil analisis sianida dan logam-logam berat dalam contoh air di lokasi pengolahan dan sungai di sekitarnya No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Lokasi Air bor dapur* Kolam pengolahan 1 Kolam pengolahan 2 Kolam pengolahan 3 Kolam pengolahan 4 Outlet pengolahan bijih Hulu S. Tanoyan** Outlet pengolahan keseluruhan*** Hilir S. Tanoyan (Hulu S. Onggak)** Baku Mutu* Baku Mutu** Baku Mutu *** CN Total [mg/L] 0,058 86,400 3,920 21,700 2,170 16,700 0,066 7,960 0,019 0,1 0,02 0,5 Hg [mg/L] 0,055 0,17 0,16 0,17 0,15 0,20 0,024 0,010 0,034 0,001 0,002 0,005 Pb [mg/L] 0,110 0,068 0,073 0,110 0,170 0,097 0,089 0,083 0,110 0,05 0,03 1 Cu [mg/L] 0,002 8,110 26,200 4,790 1,490 3,230 0,150 0,042 0,0160 1 0,02 2 Zn [mg/L] 0,073 0,550 0,055 0,033 0,080 0,068 0,048 0,030 0,023 5 0,05 5

Catatan: * Peraturan Menteri Kesehatan RI No.: 416/MENKES/PER/IX/1990 tentang Daftar Persyaratan Kualitas Air Minum ** Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air Kelas II *** KEP-202/MENLH/2004 tentang Baku Mutu Limbah Bagi Kegiatan Pengolahan Bijih Emas dan/atau Tembaga

110

PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009

(hulu dan hilir sungai Tanoyan serta outlet pengolahan keseluruhan) sudah melebihi baku mutu yang ditentukan. Bahkan pada daerah hulu, dimana badan air belum mendapatkan masukan dari proses pengolahan maupun proses penambangan, kadar merkuri pun sudah diatas baku mutu. Hal ini dapat terjadi karena adanya proses amalgamasi oleh penambang-penambang lain di luar KUD yang menggunakan merkuri di daerah sungai yang lebih tinggi dan/atau adanya susunan batuan yang mengandung merkuri (Tabel 4 hasil analisis batuan asal) di daerah penelitian.

sebelum masuk kolam pengolahan (outlet pengolahan bijih) adalah 0,2 mg/L, dan setelah melewati 4 kolam pengolahan turun hingga 0,01 mg/L atau turun sebanyak 0,19 mg/L. Kadar merkuri di daerah hilir lebih tinggi dibandingkan dengan daerah outlet pengolahan menandakan adanya penambahan merkuri yang mungkin berasal dari kegiatan di sekitar sungai tersebut meskipun pemerintah daerah sudah melakukan berbagai pembatasan. Kadar sianida yang berada diatas baku mutu terdapat di daerah/area pengolahan, hal ini

Tabel 4. Hasil analisis sedimen pada kedalaman 0 – 10 cm dan batuan No. 1 2 3 4 5 6 7 8 Lokasi Kolam pengolahan 1 Kolam pengolahan 2 Kolam pengolahan 3 Kolam pengolahan 4 5 meter dari pengolahan bijih Hulu S. Tanoyan* Hilir S. Tanoyan (Hulu S. Onggak)* Lubang tambang (batuan asal) Baku Mutu*
Catatan: * Washington state Sediment, WAC 172 – 204 – 320

Hg Pb [ppm] [ppm] 0,70 0,37 0,36 3,01 2,66 0,17 0,20 0,16 0,41 tt 14,14 65,40 33,90 17,27 tt tt 6,88 450

Cu [ppm] 17,86 47,10 162,00 60,7 130,00 56,70 87,90 34,70 390

Zn [ppm]

As [ppm]

Cr [ppm] 45,6 56,5 86,0 79,3 158,4 42,0 47,5 38,5 250

Ni [ppm] 8,31 4,27 8,98 0,88 2,35 3,87 4,06 10,47 -

54,3 74,70 136,0 51,00 367,0 39,00 136,0 105,00 74,9 74,20 100,0 0,97 97,8 1,29 428,0 1,74 410 57

Hasil penelitian terdahulu (Selinawati dan Ngurah Ardha, 2003) pada pertambangan emas di KUD Perintis data kualitas air yang mengandung kadar merkuri di kolam pengolahan 1 adalah 0.0814 ppm, kolam pengolahan 2 adalah 0.0539 ppm, sedangkan pada S. Onggak (hilir S. Tanoyan) mencapai 0.0011. Pada saat itu, KUD Perintis melakukan pengolahan dengan proses amalgamasi saja dari bijih emas dan menggunakan hanya 2 kolam pengolahan. Data menunjukkan bahwa konsentrasi Hg dalam air sangat kecil, hal ini kemungkinan disebabkan karena kelarutan Hg dalam air sangat kecil. Pada penelitian ini (2008) nilai konsentrasi Hg di daerah pengolahan berkisar antara 0,15 – 0,20 ppm. Peningkatan ini dimungkinakn oleh adanya ion CN dalam pengolahan tailing amalgamasi yang dapat melarutkan Hg. Berdasarkan hasil pemeriksaan kandungan logam, kolam pengolahan efektif dalam menurunkan kadar merkuri pada air buangan, dimana kadar merkuri

dikarenakan proses pengolahan tailing amalgamasi menggunakan proses sianidasi. Pada proses sianidasi ini ditambahkan unsur Zn untuk mengendapkan logam emas dan peraknya. Tetapi rendahnya konsentrasi Zn di dalam air (tabel 2) dibandingkan konsentrasi awal/alami Zn pada batuan bijih (tabel 3) disebabkan terjadinya pengendapan unsur Zn selama aliran pengolahan. Proses yang biasanya terjadi adalah: 2Zn + 2NaAu(CN)2 + 4NaCN + 2H2O = 2Au + 2NaOH + 2Na2Zn(CN)4 + H2 3.2. Kualitas Sedimen Sedimen merupakan tempat logam berat mengendap secara gravitasi di badan perairan. Kualitas sedimen badan perairan harus lebih serius diperhatikan karena sifatnya sebagai tempat akhir logam berat di alam. Dan pada akhirnya logam berat yang ada di sedimen dapat kembali ke badan

Karakteristik Merkuri dalam Sedimen dan Air pada Pengolahan ... M. Lutfi dan Retno Damayanti

111

air karena berbagai hal, misalnya karena arus sungai, hujan, atau jalur transportasi (DPE. Pedoman Teknis Penyusunan AMDAL untuk kegiatan Pertambangan dan Energi, 1996). Kontaminasi merkuri (Hg) dalam sedimen sungai terjadi karena proses alamiah (pelapukan batuan termineralisasi), proses pengolahan emas secara tradisional (amalgamasi), maupun proses industri yang menggunakan bahan baku yang mengandung merkuri. Untuk mengetahui sumber kontaminasi Hg ini perlu diperhatikan dengan cermat. Untuk mengetahui adanya kontaminasi logam berat dalam sedimen maka dilakukan pemeriksaan sedimen di lokasi yang diperkirakan terkena dampak proses pengolahan tailing. Pengambilan conto sedimen dilakukan pada kolam pengendap, hulu sungai, hilir sungai. Selanjutnya conto sedimen, batuan bijih, dan tanah dianalisis di laboratorium menggunakan metode AAS. Dari hasil analisis conto tersebut di atas, kemudian dilakukan perbandingan dengan peraturan dan standar yang dapat dianggap sebagai tolok ukur

kualitas konsentrasi unsur di alam. Oleh karena itu sumber acuan yang dijadikan sebagai pembanding pada laporan ini adalah Washington state Sediment, WAC 172 – 204 – 320. Data kualitas sedimen dapat dilihat pada tabel 4. Adapun hasil penelitian kandungan merkuri dalam sedimen apabila dibandingkan dengan data tahun 2003 menunjukkan penurunan. Namun demikian nilai tersebut masih dibawah ambang batas aman. Untuk mengetahui lebih jelasnya mengenai kualitas air dan sedimen pada tahun 2003 sebagai pembanding dapat dilihat pada Tabel 4. Berdasarkan hasil diatas, terlihat bahwa kandungan merkuri pada sedimen di daerah yang memiliki dampak terhadap kehidupan masyarakat sekitar (daerah hulu dan hilir sungai Tanoyan) berada dibawah ambang batas aman yang dikeluarkan Washington state Sediment, WAC 172 – 204 – 320. Tetapi tetap perlu diperhatikan adanya keterkaitan antara kadar merkuri di air dan sedimen dengan beberapa faktor lingkungan, yaitu hujan, arus sungai, dan jalur transportasi masyarakat.

Tabel 5. Conto data kualitas air dan sedimen di KUD Perintis tahun 2003 No 1 2 3 4 5 6 Lokasi Kolam Pengolahan 1 Kolam Pengolahan 2 S. Tanoyan 1 (Hulu S. Tanoyan) S. Tanoyan 2 S. Tanoyan 3 S. Onggak Konsentrasi Hg [ppm] Air 0,0814 0,0539 0,001 0,0739 0,0179 0,0011 Sedimen 0,67 3,12 0,42 1,49 5,97 0,92

Sumber : Selinawati dan Ngurah Ardha, 2003

Gambar 4. Hubungan keterkaitan antara konsentrasi merkuri di sedimen dan air

112

PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009

4.20 ppm) pada semua lokasi penelitian belum melewati ambang batas aman terhadap racun yang ada (sesuai UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Selinawati TD dan Bapak Harry Tetra Antono atas saran serta sumbang wawasan terhadap tulisan ini. Diperlukan adanya pengawasan yang lebih ketat dari pemerintah baik pusat maupun daerah berkaitan dengan kegiatan penambangan dan pengolahan emas yang memiliki dampak besar terhadap lingkungan. Kesimpulan Berdasarkan hasil kajian pengolahan tailing dengan proses sianidasi dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: Berdasarkan informasi dari penambang karakterisasi pada kegiatan pengolahan tailing amalgamasi dengan proses sianidasi dipertambangan emas rakyat dapat meningkatkan efisiensi perolehan bulion emas dari bijihnya. Lutfi dan Retno Damayanti 113 . Protocol for Environment and Health Assessment. outlet pengolahan. KESIMPULAN DAN SARAN 4.fathom. Konsentrasi Hg pada sedimen (0. Kadar merkuri di air pada daerah pengolahan relatif rendah dibandingkan pada sedimen. Saran Dari kegiatan penelitian merkuri dalam sedimen dan air pada pengolhan tailing amalgamasi di pertambangan emas rakyat secara sianidasi. Sediment Quality Standards (WAC 172204-320). maka diperlukan: Pembinaan terhadap para penambang dan pengusaha pengolahan tailing agar lebih memeperhatikan aspek lingkungan dalam setiap kegiatannya. dari +40% secara amalgamasi sendiri menjadi +90% secara kombinasi amalgamasi dan sianidasi. dan hilir) melewati baku mutu yang diperbolehkan (sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air Kelas II dan KEP-202/MENLH/2004 tentang Baku Mutu Limbah Bagi Kegiatan Pengolahan Bijih Emas dan/atau Tembaga). Washington NEL. ataupun lintasan transportasi dari masyarakat sekitar. 1996.1. 2004. Perlu dibentuk wilayah pertambangan rakyat (WPR) untuk lebih memudahkan pemerintah dalam hal koordinasi dan pengawasan kegiatan penambangan dan pengolahan emas rakyat. http://www. Departemen Pertambangan dan Energi. Tetapi kadar merkuri di sedimen itu dapat meningkat seiring mengendapnya merkuri ke dasar sungai.034 mg/L) pada semua lokasi penelitian (hulu. Draft. di mana semakin ke hilir badan air. Washington state Sediment. dimana keberadaan merkuri di air merupakan tempat singgah sementara sebelum sampai di dasar (berkaitan dengan berat jenisnya) dan juga merupakan pelepasan merkuri dari sedimen yang diakibatkan beberapa faktor.Ucapan terima kasih juga ditujukan kepada Bapak Marsen Alimano dan Ibu Wulandari Surono yang telah membantu selama percobaan dan penelitian ini berlangsung.. Konsentrasi Hg di air (0. Proses kombinasi ini diterapkan karena keberadaan bijih emas dengan bentuk kasar semakin sedikit. antara lain arus sungai (karena merupakan sungai dangkal). Kegiatan pengolahan tailing amalgamasi dengan proses sianidasi memberikan dampak negatif terhadap kualitas air dan sedimen disekitar lokasi pengolahannya. WAC 172 – 204 – 320) yaitu sebesar 1 ppm. hal ini disebabkan oleh adanya ikatan kompleks sebagai senyawa merkuri-sianid (HgCN) yang mengendap. Pedoman Teknis Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Untuk Kegiatan Pertambangan dan Energi..Pada Gambar 4 ditunjukkan hubungan antara konsentrasimerkuri di sedimen dan air. 4.01 .2. hujan. DAFTAR PUSTAKA Anonim.0.0.. Global Mercury Project.com/course/seasion2 Karakteristik Merkuri dalam Sedimen dan Air pada Pengolahan . Sedangkan jumlah merkuri di air dan sedimen sangat berkaitan.17 . M. sehingga meningkatkan pendapatan para penambang.

World Commision on Enviroment & Development (WCED). Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. Penambangan dan Pengolahan Emas di Indonesia. Research and Development Center for Mineral and Coal Technology. Selinawati.T. 2004. 2000. Penanggulangan Masalah Pertambangan Tanpa Izin (PETI) (Implementasi Inpres No.Tim Terpadu Pusat Penanggulangan Masalah Pertambangan Tanpa Ijin (PETI. Rachmat. 3 Tahun 2000). Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara. and Ngurah Ardha. 2003.D. Study On Mercury Lost and Its Concentration from Artisanal Gold Minings in Indonesia. Yusuf. 1987 114 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Amalgamasi.

38 % ZrO2 sehingga belum memenuhi persyaratan untuk dijual ataupun diekspor. Zircon done by concentration is concentrate from wet magnetic separator.id.esdm. 022 .6030483 Fax. 1. 20.go. Yuhelda1 dan Fitriza Yuliana2 1 Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl.PENGARUH PENGGUNAAN ULTRASONIK TERHADAP HASIL PEMISAHAN PASIR ZIRKON KALIMANTAN TENGAH DENGAN ELECTROSTATIC SEPARATOR Pramusanto1. Concentration is done based on different of electrical conductivity property applies electrostatic separator where zircon mineral (ZrSiO4) as non conductor mineral will separated from its the gangue mineral as conductor mineral for example ilmenite (FeTiO3) and rutile (TiO2). ultrasonic. nuryadi@tekmira. Upgrading of zircon grade is done with a few processing method.5 Variabel optimum pada ultrasonik yaitu selama 30 menit dimana umpan yang mendapat perlakuan ultrasonik dapat membersihkan pasir zirkon dari unsur –unsur minor yang tidak diinginkan.go.id 2 Jurusan Teknik Pertambangan. Zirkon yang dilakukan pemisahan merupakan konsentrat dari magnetik separator basah.esdm. Pramusanto. 26 Bandung 40116 SARI Zirkon sebagai hasil tailing dari pengolahan emas aluvial di Kalimantan Tengah memiliki kadar yang rendah yaitu 36. 24. Sebelum umpan dipisahkan menggunakan variabel – variabel optimum pada electrostatic separator terlebih dahulu umpan mendapat perlakuan ultrasonik (sonikfikasi). Pengaruh Penggunaan Ultrasonik terhadap Hasil Pemisahan Pasir Zirkon . Pemisahan dilakukan berdasarkan perbedaan sifat konduktifitas listrik menggunakan electrostatic separator dimana mineral zirkon (ZrSiO4) sebagai mineral non konduktor akan terpisah dari mineral pengotornya sebagai mineral konduktor seperti ilmenit (FeTiO3) dan rutil (TiO2). 115 . yuhelda@tekmira.6003373 e-mail : pramusanto@tekmira. Before feeder concentration using optimum variables at electrostatic separator beforehand feed got treatment of ultrasonic (sonicfication). Variabel – variabel optimum pada electrostatic separator : Variabel tegangan listrik 30 KV Variabel posisi splitter 30° Variabel skala kecepatan umpan 7. electrostatic separator ABSTRACT Zircon as tailing product of alluvial gold processing in Central Kalimantan has low grade that is 36. 022 . dkk.38 % ZrO2 so that has not fulfilled clauses to be sold and or is exported.id. Sudirman 623 Bandung 40211 Telp. Kata kunci: zirkon. Peningkatan kadar zirkon dilakukan dengan beberapa metoda pengolahan. Universitas Islam Bandung (UNISBA) Jl.. Jend. 22.go. Taman Sari No..esdm. Nuryadi Saleh1.

2.sifat fisik mineral seperti konduktifitas listrik. 2007). electrostatic separator 1. 1980). Kalimantan Timur) [Suhala dan Arifin. Analisis terhadap nisbah konsentrasi (NK) bertujuan untuk mengetahui perbandingan antara berat umpan yang akan dipisahkan dengan berat konsentrat yang diperoleh pada proses pemisahan yang dilakukan dan kemudian akan korelasikan dengan kadar zirkon (ZrO2). 2. Berdasarkan hasil analisis kimia terhadap konsentrat magnetik separator basah ternyata masih terdapat unsur-unsur mineral pengotor seperti rutil (TiO2) dan ilmenit (FeTiO3). Pulau Bangka. METODOLOGI Metodologi peningkatan kadar pasir zirkon Kalimantan Tengah yang telah dilakukan studi bahan baku oleh pihak laboratorium pengolahan tekMIRA. xenotim (YPO4) dan kuarsa (SiO2) [www. Zirkon yang terdapat di Pulau Bangka adalah mineral ikutan bijih timah (kasiterit) yang merupakan tailing dari pengolahan timah sedangkan zirkon yang terdapat di Kalimantan Tengah adalah mineral ikutan bijih emas aluvial yang merupakan tailing dari pengolahan bijih emas dengan alat sederhana sluice box. rutil (TiO2).bgl. Th)PO4). Hasil penelitian pengolahan terdahulu yang telah dilakukan (Saleh dan Pramusanto. Zirkon yang ditemukan di Kalimantan Tengah kemungkinan berasosiasi dengan mineral – mineral pengotor seperti ilmenit (FeTiO3). Karakteristik mineral .esdm. Perlakuan ultrasonik (sonikasi) dilaporkan dapat membersihkan lebih lanjut terhadap produk pasir zirkon dari unsur – unsur minor yang tidak diinginkan (Farmer. Untuk membersihkan partikel – partikel halus yang menempel pada permukaan zirkon. 2007). Y. sehingga umpan perlu mendapat perlakuan ultrasonik sebelum dipisahkan menggunakan variabel – variabel optimum pada electrostatic separator. Sebagian besar mineral – mineral pengotor di atas merupakan mineral berat sehingga perlu dilakukan pengolahan dan peningkatan nilai tambahnya. proses mana yang lebih baik itu umumnya tergantung pada karakteristik zirkon yang akan diolah maupun pemanfaatan dari produk yang akan dihasilkan (Pramusanto dkk. Dahlan dan Saleh. monasit ((Ce.mineral pengotor pada zirkon sangat tergantung dari ganesa mineral sehingga setiap tempat memiliki karakteristik mineral yang berbeda (Pramusanto. Kepulauan Riau. yaitu dengan melakukan percobaan menggunakan ultrasonik sebelum umpan dipisahkan menggunakan variabel – variabel optimum pada electrostatic separator. Pendekatan proses pengolahan mineral zirkon. Keyword: zircon.mineral berat yang terdapat dalam konsentrat menggunakan berbagai macam pemisahan berdasarkan sifat .Optimum variables at electrostatic separator : Voltage variable 30 KV Variable position of splitter 30° Feed speed scale variable 7.5 Optimum variable at ultrasonic that is during 30 minutes where feeder getting treatment of ultrasonic can clean zircon sand from minor elements undesirable. 2007) yaitu pemisahan berdasarkan berat jenis menggunakan meja goyang dan berdasarkan sifat kemagnetan menggunakan magnetik separator kering dilanjutkan dengan magnetik separator basah. La. Pulau Belitung) dan di Kalimantan (Kalimantan Tengah. 1997).id]. ultrasonic. kemagnetan dan gaya berat (Woodcock. 1997]. Persiapan dan Analisis Umpan Preparasi umpan yang akan dipisahkan berdasarkan perbedaan sifat konduktifitas listrik 116 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Mineral rutil dan zirkon bersifat non magnet sehingga proses pengolahan yang dilakukan sebatas pemisahan berdasarkan sifat kemagnetan masih belum memadai.1.go. PENDAHULUAN Indonesia sebagai salah satu negara penghasil zirkon memiliki penyebaran zirkon di Sumatera (Sumatera Utara. Pemisahan secara kering yang dilakukan pada mineral .

45 menit dan 60 menit. Sampel hasil pemisahan setelah perlakuan ultrasonik kemudian dijadikan umpan pada pemisahan dengan electrostatic separator setelah dikeringkan terlebih dahulu dalam oven pengering selama satu hari. Getaran yang terjadi pada alat ultrasonik membawa mineral ringan terangkat ke atas sehingga berdasarkan masing–masing waktu yang di variabelkan.mineral konduktor sebagai mineral pengotor seperti. 117 . terdapat perbedaan warna mineral yang berada di dalam gelas ukur yang telah bercampur dengan air. Setelah perlakuan ultrasonik dilakukan. TiO2.. Kemudian gelas ukur tersebut diletakkan di atas jaring atau kawat yang berada di dalam alat ultrasonik. kemudian dilakukan pemisahan basah secara manual antara partikel mineral berat yang berada pada bagian bawah gelas ukur dengan partikel mineral ringan yang berada pada bagian atas. Peningkatan Kadar Pasir Zirkon dengan Electrostatic Separator Peningkatan kadar pasir zirkon dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan electrostatic separator yang digunakan dalam peningkatan kadar.yang berasal dari konsentrat magnetik separator basah dilakukan bertujuan untuk mendapatkan contoh yang representatif. Gambar 2. Selama percobaan ini juga terlihat air yang sebelumnya jernih berubah menjadi keruh. dkk. Percobaan Menggunakan Ultrasonik Percobaan menggunakan alat ultrasonik yang biasa digunakan untuk membersihkan ayakan berukuran halus.3. Peningkatan kadar dapat dilakukan dengan cara memisahkan mineral non konduktor sebagai mineral berharga yaitu ZrSiO4 dengan mineral . 30 menit. Ukuran partikel mineral sebagai hasil saringan terlihat sangat halus dibandingkan dengan ukuran butiran partikel yang mengendap.2. Electrostatic Separator dari Reichert Equipment tipe MK III Bench seri 063 2. Alat electrostatic separator yang digunakan dalam percobaan dapat dilihat pada Gambar 1. seperti pada Gambar 2. Pengaruh Penggunaan Ultrasonik terhadap Hasil Pemisahan Pasir Zirkon .. Pramusanto. mineral yang berada pada posisi atas dipisahkan dan terlihat lebih berwarna hitam sedangkan pada posisi bawah sebagai konsentrat berwarna coklat kemerah – merahan. 2. dalam penelitian ini dilakukan untuk membersihkan partikel–partikel halus yang mungkin masih menempel pada permukaan butiran umpan sebelum dipisahkan dengan electrostatic separator. sedangkan sisanya yang melayang diambil dengan cara disaring menggunakan kertas penyaring. Setelah digetarkan menggunakan alat ini. Alat ultrasonik Percobaan dilakukan dengan variabel waktu getar selama 15 menit. Partikel yang berada pada bagian atas diambil menggunakan sendok tipis secara perlahan. FeTiO3 dan lain-lain menggunakan electrostatic separator. Kemudian pemisahan dilakukan Gambar 1. Pertama sampel dimasukkan ke dalam gelas ukur yang berukuran 250 ml dan ditambahkan air sebanyak 150 ml atau 60 % dari kapasitas tempat penampungannya.

hematit (Fe2O3).5.5.2. Nisbah konsentrasi yang diperoleh pada skala kecepatan umpan 2.1 Pengaruh tegangan listrik terhadap nisbah konsentrasi dan kadar ZrO2 Percobaan dilakukan dengan variabel berubah yaitu tegangan listrik sedangkan variabel tetapnya pada posisi splitter 40° dan pada skala kecepatan umpan 5. ilmenit (FeTiO3).96 %. Hal ini berbeda dengan hasil percobaan yang dilakukan yang kemungkinan disebabkan oleh pengaruh perbedaan sifat kelistrikan atau konduktifitas mineral-mineral yang terdapat dalam umpan seperti mineral zirkon (ZrSiO4). Kemungkinan lain dapat disebabkan oleh jarak elektroda yang tidak sesuai.4 gram/menit) dan 10 (5 gram/menit) secara berturut – turut 118 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Hasil percobaan dengan memvariabelkan tegangan listrik 15 KV. tetapi jarak elektroda tidak divariasikan di dalam percobaan ini.47 gram/menit. Kecepatan umpan yang digunakan pada masing – masing skala kecepatan umpan 2. 3.38 gram/menit).2.2 Pengaruh skala kecepatan umpan terhadap nisbah konsentrasi dan kadar ZrO2 Percobaan dilakukan dengan variabel berubah yaitu skala kecepatan umpan sedangkan variabel tetapnya pada tegangan listrik 30 KV dan posisi splitter 300.   100 10 K da (% a r ) terhadap nisbah konsentrasi dan kadar ZrO2 pada Gambar 4 yaitu semakin besar tegangan listrik yang digunakan maka nisbah konsentrasinya semakin kecil dan kadar ZrO2 yang dihasilkanpun semakin besar. Pengaruh tegangan listrik terhadap nisbah konsentrasi dan kadar ZrO2 pada posisi splitter 40° dan skala kecepatan umpan 5 3.38 gram/menit. Pengaruh tegangan listrik 3.5 (3. 1 0. 3. 10 secara berurutan sebesar 0.67 % dan 61. 59. Pemisahan yang baik seharusnya menghasilkan nisbah konsentrasi yang besar dan kadar ZrO2 yang besar pula. 4. menjabarkan grafik persentase semua unsur yang terdeteksi dalam skala logaritma.46 %. 2. rutil (TiO2) dan lain-lain.11.1. HASIL DAN PEMBAHASAN 3. 3. (0.pada kondisi variabel optimum dengan electrostatic separator yang telah dilakukan pada percobaan sebelumnya.01 ZrO 2 N O a2 P 5 2O Y 3 2O C 3 r2O Fe 3 2O N 2O b 5 A 3 l2O C 2 eO T 2 hO SiO 2 H 2 fO MO n MO g TiO 2 K2 O CO a S Unsur Hasil Analisis Umpan Gambar 3. Dimana dengan jarak elektroda yang terlalu dekat dan tegangan yang besar akan menyebabkan tertariknya semua mineral. Hasil analisis umpan Gambar 4. 3.81. 5. 7.68 dengan kadar ZrO2 yang diperoleh sebesar 56. 7.5. baik yang bersifat konduktor kuat maupun konduktor lemah.51 %.2.39.4 gram/menit dan 5 gram/menit. 5 (2.1 0. 20 KV. Analisis Umpan Hasil analisis kimia secara XRF (Fluoresen Sinar X) terhadap umpan sebelum dipisahkan menggunakan electrostatic separator dapat dilihat pada Gambar 3. Peningkatan Kadar Pasir Zirkon dengan Electrostatic Separator Di dalam percobaan electrostatic separator ini dilakukan analisis kimia secara XRF (Fluoresen Sinar X) untuk meninjau perubahan unsur-unsur terhadap konsentrat akibat pengaruh dari variabelvariabel percobaan terhadap nisbah konsentrasi dan peningkatkan kadar. 57. 1.47 gram/ menit). 25 KV dan 30 KV menghasilkan nisbah konsentrasi secara berturutturut sebesar 6.

Pengaruh skala kecepatan umpan terhadap nisbah konsentrasi dan kadar ZrO2 pada tegangan listrik 30 KV dan posisi splitter 30° Kadar ZrO2 (%)   Nisbah Konsentrasi 1. Pada waktu getar selama 30 menit perolehan yang didapatkan lebih dari 90 % dan kadar 60.8 60.09 1.14 dengan kadar ZrO2 yang diperoleh sebesar 61. pengaruh kecepatan umpan terhadap nisbah konsentrasi dan kadar ZrO2 yaitu semakin cepat umpan yang diberikan maka nisbah konsentrasinya semakin kecil dan kadar ZrO2 yang dihasilkanpun semakin besar.sebesar 1.92 %.2 1. 1. Nisbah konsentrasi yang diperoleh setelah dipisahkan menggunakan electrostatic separator dengan variabel waktu 15. 1.08 15 30 45 60 Waktu (Menit) NK Kadar 61 Kadar ZrO2 (%) 60.92 % ZrO2.12 dengan kadar ZrO2 yang diperoleh sebesar 60.00 63.14 1. 60. posisi splitter 30 0 dan skala Gambar 6.47 2. Kecepatan yang tinggi akan mengakibatkan mineral – mineral non konduktor kasar akan terlempar ke konduktor sehingga kadar zirkon akan rendah.09. Percobaan pada alat ultrasonik dilakukan dengan memvariabelkan waktu getar selama 15.69 %.70 %.38 3. Pramusanto.18.52 %. 1.6 60. Pengaruh penggunaan ultrasonik terhadap nisbah konsentrasi dan kadar ZrO2 pada tegangan listrik 30 KV.5 62 61. kecepatan umpan 7. 119 .13 0.17 1. 45 dan 60 menit.42 % dan 62..19 1.12 1. Konsentrat kering dari ultrasonik kemudian dipisahkan menggunakan electrostatic separator dengan variabel optimum pada percobaan sebelumnya yaitu pada tegangan listrik 30 KV.4 Pengaruh penggunaan ultrasonik terhadap perolehan dan kadar ZrO2 Berdasarkan grafik yang terdapat pada Gambar 7 dapat ditarik garis rata – rata sehingga diperoleh grafik yang menunjukkan kecenderungan perubahan perolehan dan kadar ZrO2 terhadap penggunaan ultrasonik. 60 menit pada ultrasonik secara berturut – turut sebesar 1. 1. Dengan kecepatan yang tinggi.16 1.2.5.15. Berdasarkan waktu getar selama 15 menit pada alat ultrasonik perolehan yang didapatkan lebih dari 90 % dan kadar 60.11 1. 63.18 1. 62. posisi splitter 300 dan skala kecepatan umpan 7.9 60. 45. Hal ini disebabkan karena lamanya waktu getar akan mempengaruhi hasil kerja gelombang ultrasonik sehingga juga akan berpengaruh terhadap hasil umpan yang akan dipisahkan menggunakan electrostatic separator. 3.40 Kecepatan (gram/menit) NK Kadar 5.5 3. 1..58 %.   Nisbah Konsentrasi 1. 30.10.68 % ZrO2 sedangkan pada waktu getar Pengaruh Penggunaan Ultrasonik terhadap Hasil Pemisahan Pasir Zirkon .1 1.19. Pengaruh penggunaan ultrasonik dengan variabel waktu terhadap nisbah konsentrasi dan kadar ZrO2 berdasarkan Gambar 6 di atas adalah semakin lama waktu getar yang diberikan oleh ultrasonik terhadap umpan.5 63 62.45 %. 30.5 61 Gambar 5.13 1. Pada waktu getar selama 45 menit perolehan yang didapatkan hampir 90 % dan kadar 60.2. umpan yang berukuran kasar cenderung mengalami lifting effect meskipun tidak bersifat sebagai konduktor dan umpan yang berukuran halus cenderung mengalami pinning effect. maka nisbah konsentrasi dan kadar ZrO2 yang dihasilkan akan semakin besar.68 % dan 60. Kecepatan umpan (gram/menit) pada percobaan ini tergantung skala kecepatan umpan yang dipakai dan berat masing – masing umpan yang digunakan dalam percobaan.14 1. 60. dkk.14 dan 1.3 Pengaruh penggunaan ultrasonik terhadap nisbah konsentrasi dan kadar ZrO2 Ultrasonik bekerja dengan getarannya untuk melepaskan ikatan – ikatan mineral pengotor lainnya pada mineral zirkon sebagai mineral utama.58 % ZrO2.15 1.15 1.5 Berdasarkan grafik pada Gambar 5.7 60.

HfO2 dan Y2O3. Sedangkan unsur . Na2O. Perbedaan perolehan dan kadar ZrO2 yang didapatkan pada percobaan tidak begitu jauh dimana perolehan rata – rata zirkon hampir 90 % dengan kadar 60 % ZrO2. frekuensi yang ada pada ultrasonik kemungkinan akan mempengaruhi terjadinya efek mekanik seperti gerakan – gerakan partikel pada umpan yang berada di dalam gelas ukur sehingga dapat menimbulkan gaya gesek. Pada percobaan pengaruh tegangan listrik. MgO. Hasil perbandingan dapat dilihat pada Gambar 8. beberapa unsur yang hilang setelah mendapat perlakuan ultrasonik antara lain MnO. ZrO2. Pengaruh penggunaan ultrasonik terhadap perolehan dan kadar ZrO2 pada tegangan listrik 30KV.2 60 K adar (% ) unsur . 3. setelah umpan mendapat perlakuan ultrasonik terlihat adanya beberapa 120 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Perbandingan kandungan unsurunsur sebelum dan setelah mendapatkan perlakuan ultrasonik Berdasarkan Gambar 8.   100 10 Kadar (%) 1 0. Unsur unsur yang kadarnya naik antara lain Al2O3.09 dan perolehan lebih dari 90 %. Cr2O3 dan ThO2. kadar ZrO2 optimum sebesar 63. Hal ini terjadi karena adanya pengaruh getaran yang diberikan pada umpan dengan waktu getar tertentu sehingga dapat melepaskan partikel halus dari mineral pengotor yang melekat pada permukaaan umpan yang akan dipisahkan.42 % yaitu pada skala 7.5 diperbandingkan antara umpan yang tidak dan yang mendapat perlakuan ultrasonik. posisi splitter 300 dan skala kecepatan umpan 7. Nb2O5.68.4 gram/menit) dengan nisbah konsentrasi 1. Adanya beberapa unsur yang hilang setelah mendapat perlakuan ultrasonik (sonikasi) diantaranya MnO. Pengaruh gelombang ultrasonik ini cukup kuat dan efektif untuk melepaskan partikel halus berupa mirel pengotor yang melekat pada permukaan sampel bijih zirkon.18. Pada percobaan pengaruh skala kecepatan umpan.5 Selain itu.   Perolehan (% ) 93 92 91 90 89 88 87 15 30 45 60 Waktu (Menit) Perolehan ZrO2 Kadar ZrO2 61 60. Fe2O3.selama 60 menit perolehan yang didapatkan 90 % dan kadar 60. didapat beberapa kesimpulan : 1. Selain itu. Nb2O5. hasil analisis pada percobaan dengan variabel optimum yaitu pada tegangan listrik 30 KV. P2O5. K2O. kadar ZrO2 optimum sebesar 60.5 (3. 2. Gambar 7.6 60.unsur yang kadarnya naik dan turun bahkan ada beberapa unsur yang hilang.96 % yaitu pada tegangan listrik 30 KV dengan nisbah konsentrasi 1.unsur yang kadarnya turun antara lain SiO2. Cr2O3 dan ThO2. Kondisi optimum penggunaan ultrasonik yaitu pada waktu getar selama 30 menit. Dari hasil percobaan yang dilakukan bahwa ada beberapa unsur yang tidak diinginkan hilang setelah mendapatkan perlakuan ultrasonik. Pada percobaan umpan yang mendapat perlakuan ultrasonik.1 0.4 60. KESIMPULAN Berdasarkan hasil percobaan terhadap pengaruh penggunaan ultrasonik terhadap pasir zirkon Kalimantan Tengah hasil pemisahan dengan electrostatic separator. Selain itu. kadar ZrO2 optimum sebesar 61.8 60. 4. 4. tekanan dan getaran pada butiran umpan. posisi splitter 40° dan skala kecepatan umpan 7. TiO2 dan S.92 % yaitu pada waktu getar 30 menit dengan nisbah konsentrasi 1.01 Fe2O3 Nb2O5 Cr2O3 Na2O Al2O3 Y2O3 ThO2 P2O5 TiO2 MnO MgO CaO ZrO2 HfO2 SiO2 K2O S Unsur Sebelum M endapat P erlakuan Ultraso nik Setelah M endapat P erlakuan Ultraso nik Gambar 8.69 % ZrO2. CaO.

Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara-tekMIRA. Errol G. Farmer. Chatswood NSW 2067. 2007..C. Kelly. The Australian Institute of Mining and Metallurgy.. “Mining and Metallurgical Practices in Australia”. Suhala. Yuhelda. Bandung. “Peningkatan Nilai Tambah Pasir Zirkon Kalimantan Tengah”. A.. Woodcock.. David J. Pramusanto. N. Andrew L.. Saleh. Victoria. Y. S. Pusat Pengembangan Teknologi Mineral. Puslitbang tekMIRA.. Agricola Consulting Services Pty Ltd. dkk. 2000. Nuryadi dan Pramusanto.. T. New York Mular. Ardha. 1982 “Introduction to Mineral Processing”.. J... “Bahan Galian Industri”. “Pembuatan Zirconia dari Pasir Zircon Kalimantan dan Bangka”. 2008. “Elements Of Mineral Process Engineering”. 2007. “Pengembangan Produk dan Peningkatan Mutu Bahan Galian”. “Heavy Mineral Sands Separation of Waringin. Pramusanto. Australia. B. Puslitbang tekMIRA. John Willey & Sons. 1997. Central Kalimantan”.. N.. Pramusanto. 1980. dan Arifin M. 2007. Spottiswood.. Department of Mining and Mineral Process Engineering University of British Columbia Vancouver.. Australia. Saleh.. 121 . Rochani. Supriatna. Muta’alim. Pengaruh Penggunaan Ultrasonik terhadap Hasil Pemisahan Pasir Zirkon . Dahlan. Puslitbang Teknologi Mineral Bidang Litbang Teknologi Pengolahan Mineral.DAFTAR PUSTAKA Dahlan. 1997. D. Kolokium Pertambangan 2007.. dkk. Canada. Komunikasi Langsung.

Gas produk dimurnikan dan didinginkan melalui siklon. and gasifying reaction happened. 022 . percontoh batubara dan oksigen di-input-kan ke dalam reaktor.id SARI Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penggunaan pasir sungai sebagai bed material terhadap konversi karbon. Result was shown river sand use as bed material functioned well based on syngas composition. efisiensi gasifikasi dan rasio gas hidrogen terhadap gas karbon monoksida pada proses gasifikasi batubara tipe fluidized bed. komposisi gas produk. Keywords: gasification. 022 . bed material .esdm. pasir sungai ABSTRACT This research was conducted to know the influence of river sand use as bed material to carbon conversion. product gas composition. Jend. Hasil percobaan menunjukkan bahwa penggunaan pasir sungai sebagai bed material dapat berfungsi baik sebagai dalam proses pembuatan gas sintesis dari batubara dilihat dari komposisi syngas. gasification efficiency and ratio of hydrogen to carbon monoxide in fluidized bed coal gasification. Finally. carbon conversion and gasification efficiency. coal sample and oxygen were inputted into reactor. bed material. Percobaan dilakukan dengan memanaskan bed material dalam gasifier menggunakan media fluidisasi gas nitrogen. syngas composition was analyzed by gas chromatography.PENGGUNAAN PASIR SUNGAI SEBAGAI BED MATERIAL PADA GASIFIKASI BATUBARA SISTEM FLUIDIZED BED Nurhadi dan Slamet Suprapto Pussat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. Setelah suhu gasifier mencapai 900°C. coal. Gas product (syngas) was purified and cooled through cyclone. heat exchanger.go.6030483 Fax. konversi karbon dan efisiensi gasifikasi. Kata kunci: gasifikasi. batubara. heat exchanger dan scrubber untuk selanjutnya dianalisa komposisinya menggunakan gas kromatografi. and scrubber. After gasifier temperature reaching 900°C. 623 Bandung 40211 Telp. river sand 122 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Sudirman no. Experiment was conducted by heated bed material in gasifier used nitrogen gas as fluidization media. Variabel yang digunakan adalah jumlah bed material dan jenis bed material.6003373 e-mail: Nurhadi@tekmira. sehingga terjadi reaksi gasifikasi.

. yaitu menggunakan pasir silika dan pasir sungai. Pasir sungai cukup melimpah keberadaannya di Indonesia dan harganya cukup murah. Nurhadi dan Slamet Suprapto 123 . Gasifikasi batubara adalah reaksi antara batubara dengan pereaksi udara. Gas produk ini dapat langsung dimanfaatkan sebagai bahan bakar gas atau dikonversi menjadi berbagai macam sumber energi dan bahan baku industri kimia (Penner. uap air. Gasifikasi batubara tipe fluidized bed menggunakan bed material berupa pasir.4 milyar ton merupakan aset ekonomi dan aset energi yang sampai saat ini belum dapat dimanfaatkan secara optimal (Setiawan. nitrogen dan hidrokarbon rantai ringan (Kubota. karbon dioksida atau campuran dari zat tersebut dan menghasilkan campuran gas yang dapat dibakar. Batubara yang digunakan adalah batubara peringkat lignit dengan variabel jenis bed material. sehingga suhu dalam gasifier menjadi homogen. sehingga sangat cocok dikembangkan sebagai bed material untuk gasifikasi batubara menggunakan gasifier tipe fluidized bed. Gambar 1. 1987).1. oksigen dan nitrogen sebagai bahan baku. 2006). Gas pereaksi masuk dari bagian bawah gasifier melalui plat distributor untuk mengangkat bed material. Bagan alir proses penelitian pembutan gas sintesis dapat dilihat pada Gambar 1. 2008). Bed material digunakan sebagai transfer panas. dkk. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penggunaan pasir sungai sebagai bed material terhadap konversi karbon. Batubara dimasukkan ke dalam gasifier dari bagian samping gasifier 2. 2006) Penggunaan Pasir Sungai sebagai Bed Material pada Gasifikasi Batubara . Sebagai bed material digunakan pasir silika dan pasir sungai. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian pembuatan gas sintesis dilakukan terhadap percontoh batubara Indonesia. komposisi gas produk dan efesiensi gasifikasi pada proses gasifikasi batubara tipe fluidized bed. PENDAHULUAN menggunakan screw feeder (Kunii dan Levenspiel. sehingga diperoleh karakteristik proses pembuatan gas sintesis menggunakan batubara Indonesia. Gas produk gasifikasi berupa campuran gas hidrogen.. karbon monoksida. Sumber daya batubara Indonesia yang berjumlah 107. Fluidized bed merupakan sistem yang efisien untuk kontak fase gas-padat. Bahan-bahan yang digunakan untuk percobaan ini adalah batubara. sehingga menjadi unggun terfluidisasi. Pemanfaatan batubara peringkat rendah dengan teknologi gasifikasi menghasilkan produk yang mudah dikonversi menjadi beberapa macam sumber energi dan bahan baku industri kimia. karbon dioksida. Diagram alir penelitian pembuatan gas sintesis (Nurhadi.. Peralatan yang digunakan untuk kegiatan ini terdiri atas 1 unit peralatan pembuatan gas sintesis skala laboratorium. 1991).

26 16.58 1.36 2.85 42. nilai kalor. Hidrogen.05 total 100 100 100 100 100 100 H2/CO 0.80 32.685 0.7437 21.01 43. HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 2.89 2. % adb.7938 21.24 8.32 2.03 16.8542 22.36 1. Sifat kimia pasir silika Parameter SiO2.02 32. % adb Nitrogen. % adb. %.758 0.01 TT Bed material berupa pasir silika dan pasir sungai juga sudah dianalisis seperti terlihat pada Tabel 2 dan Tabel 3. konversi karbon dan efisiensi gasifikasi.31 2. Tabel 4. % adb. Nilai Parameter 53. Hasil percobaan yang dibahas dalam makalah ini meliputi pengaruh jenis bed material pasir silika dan pasir sungai terhadap komposisi gas terutama kadar CO dan H2. kal/g adb.687 0. % adb.23 30.6278 22. a.3. Nilai Kalor. yaitu pasir silika dan pasir sungai.83 2. sehingga diperoleh ukuran partikel – 48 + 60 mesh.86 32. Sifat kimia pasir sungai Parameter Analisis Proksimat Air Total.83 0.52 2.34 44. 20 gram (P Silika 20 dan P Sungai 20) dan 25 gram (P Silika 25 dan P Sungai 25). nilai kalor. Analisis Ultimat Abu.26 TT TT Tabel 1.20 0. % Al2O3.55 0. konversi karbon dan efisiensi gasifikasi pada berbagai variabel dapat dilihat pada Tabel 4 sampai dengan Tabel 6. Abu. % adb.23 4.975 1.32 30.95 2. % CaO. Oksigen.54 2. Penelitian dilakukan terhadap dua jenis bed material.66 17. Untuk percobaan gasifikasi percontoh batubara dipreparasi.36 44.19 15. % adb.3932 22. Nilai 97. Karbon Padat.03 6. Belerang.05 O2 5. % adb.16 54.57 3. Untuk percobaan masing-masing bed material dipreparasi sehingga diperoleh ukuran partikel – 48 + 60 mesh. Hasil analisis percontoh batubara dapat dilihat pada Tabel 1. % Fe2O3.73 C2H4 3. % MgO. % TT = tidak terdeteksi Percontoh batubara yang digunakan untuk percobaan adalah batubara lignit yang berasal dari Sumatera Selatan.51 3.90 19.55 2.36 37.52 3. % adb. Setiap bed material kemudian digunakan dalam percobaan dengan variasi 15 gram (P Silika 15 dan P Sungai 15). neraca massa. % CaO. % Al2O3. neraca massa.58 CH4 3. % Fe2O3.716 0.90 15.83 5.r.14 0.91 43.94 2.764 0.48 31. % TT = tidak terdeteksi Nilai 46.56 CO2 15. Hasil percobaan penelitian skala laboratorium pembuatan gas sintesis dari batubara berupa komposisi produk syngas. Air Lembab. Karbon. Zat Terbang. % adb.37 21.24 SiO2. Komposisi produk syngas Kode Percontoh P Silika 15 P Silika 20 P Silika 25 P Sungai 15 P Sungai 20 P Sungai 25 H2 30.719 BM 22.48 3.18 Komposisi Rata-rata Tanpa Nitrogen (% mol) CO 42. % MgO.83 39. Hasil analisis percontoh batubara Tabel 3.3170 124 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .

52 CO2 15..685 BM 22.95 2.577 0.411 By Produk Ter (mg/s) 0. neraca massa.287 1.32 2.85 CH4 3.66 17.465 0.449 1.55 Komposisi Rata-rata Tanpa Nitrogen (% mol) CO 42.117 Penggunaan Pasir Sungai sebagai Bed Material pada Gasifikasi Batubara . konversi karbon dan efisiensi gasifikasi dapat dilihat pada Tabel 7 sampai dengan Tabel 9.7437 Tabel 8.067 1. nilai kalor.067 O2 0.411 1.579 By Produk Char (mg/s) 0.02 O2 5.108 0.354 1.32 30.982 0.1. konversi karbon dan efisiensi gasifikasi Kode Percontoh P Silika 15 P Silika 20 P Silika 25 P Sungai 15 P Sungai 20 P Sungai 25 Konversi C (%) 67 77 75 71 73 74 Efisiensi Gasifikasi (%) 74 80 77 77 81 78 Nilai Kalor (kkal/Nm3) 3.982 0.067 1.976 3.577 0.52 3. Komposisi gas cenderung sedikit berpengaruh terhadap perubahan jumlah pasir silika sebagai bed material dalam reaktor.899 2.54 total 100 100 100 H2/CO 0.067 O2 0. Neraca massa bahan baku dan produk Kode Percontoh P Silika 15 P Silika 20 P Silika 25 P Sungai 15 P Sungai 20 P Sungai 25 Bahan Baku (mg/s) Batubara 1.975 3.384 (mL/s) 1. Nilai kalor.135 0.377 1.19 C2H4 3.716 0.586 0.389 By Produk Ter (mg/s) 0.135 0.Tabel 5.31 2.982 0. Tabel 7.067 1.433 1.23 30. maka rasio gas hidrogen terhadap karbon monoksida berkurang.433 (mL/s) 1.982 0. Sebaliknya.959 2.434 1.185 0.067 1. Semakin banyak jumlah pasir silika sebagai bed material dalam reaktor.587 0.36 2.434 1.287 1.982 0.465 0.57 3..982 Produk Syngas (mg/s) 1.070 2.115 2.117 0.982 Produk Syngas (mg/s) 1. Penggunaan Pasir Silika sebagai Bed Material Pengaruh jumlah pasir silika sebagai bed material terhadap komposisi gas.687 0.6278 22.086 Tabel 6.287 1.122 0.982 0.01 43.03 16.499 0.982 0.287 1.340 1.499 By Produk Char (mg/s) 0.067 1.36 44. Pengaruh jumlah pasir silika terhadap komposisi produk syngas Kode Percontoh P Silika 15 P Silika 20 P Silika 25 H2 30.185 0. Pengaruh jumlah pasir silika terhadap neraca massa bahan baku dan produk Kode Percontoh P Silika 15 P Silika 20 P Silika 25 Bahan Baku (mg/s) Batubara 1.388 1.067 1. sehingga menyebabkan nilai kalor gas juga berkurang. Nurhadi dan Slamet Suprapto 125 .067 1.449 1.3932 22.

kemudian akan menurun kembali jika pasir silika sebagai bed material ditambahkan lagi menjadi 25 gram.05 O2 2.982 0.758 0. Hal ini menyebabkan syngas memiliki rasio gas hidrogen terhadap gas karbon monoksida lebih tinggi.91 43. Jika bed material ditambahkan lagi menjadi 25 gram. karena sebagian besar syngas berasal zat terbang yang lebih banyak mengandung unsur hidrogen dibandingkan char. sehingga meningkatkan nilai kalor syngas dan efisiensi gasifikasi.8542 22. Pengaruh jumlah pasir sungai terhadap neraca massa bahan baku dan produk Kode Percontoh P Sungai 15 P Sungai 20 P Sungai 25 Bahan Baku (mg/s) Batubara 1. Pengaruh jumlah pasir sungai terhadap komposisi produk syngas Kode Percontoh P Sungai 15 P Sungai 20 P Sungai 25 H2 32. maka selain terjadi konversi batubara. Penggunaan Pasir Sungai sebagai Bed Material Pengaruh jumlah pasir sungai sebagai bed material terhadap komposisi gas.86 32. Sebaliknya.959 2.067 O2 0.48 3. jika jumlah bed material sedikit menyebabkan reaksi kurang sempurna.108 0. maka nilai kalor syngas dan efisiensi gasifikasi akan menurun.3170 Tabel 11. konversi karbon dan efisiensi gasifikasi dapat dilihat pada Tabel 10 sampai dengan Tabel 12.73 C2H4 2. nilai kalor.384 (mL/s) 1.26 16.56 CO2 15. 3.764 0. char dan ter menjadi syngas terutama gas hidrogen dan karbon monoksida. Dengan bertambahnya gas CO2 yang sudah tidak memiliki nilai kalor.377 1.122 0.388 1.982 0. Dalam reaktor fluidized bed. Hal ini disebabkan karena pada penambahan bed material sebanyak 15 gram dan 20 gram akan terjadi peningkatan konversi batubara. bed material berfungsi sebagai media transfer panas (Kunii dan Levenspiel.36 1.086 126 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . konversi karbon dan efisiensi gasifikasi Kode Percontoh P Silika 15 P Silika 20 P Silika 25 Konversi C (%) 67 77 75 Efisiensi Gasifikasi (%) 74 80 77 Nilai Kalor (kkal/Nm3) 3.899 semakin bertambah jumlah pasir silika sebagai bed material dalam reaktor maka jumlah produksi syngas secara kuantitatif meningkat. Tabel 10.982 Produk Syngas (mg/s) 1. char dan ter juga akan terjadi konversi gas CO menjadi gas CO2.579 By Produk Char (mg/s) 0.719 BM 21.070 2.94 2.7938 21.2.389 By Produk Ter (mg/s) 0.34 44. Pengaruh jumlah pasir silika terhadap nilai kalor.80 32.05 total 100 100 100 H2/CO 0. sehingga meningkatkan konversi karbon.18 Komposisi Rata-rata Tanpa Nitrogen (% mol) CO 42.90 15.83 2. 1991). Sedangkan nilai kalor syngas dan efisiensi gasifikasi akan naik pada penambahan pasir silika sebagai bed material sebanyak 15 gram dan 20 gram.51 3.58 CH4 2.067 1.340 1. Semakin banyak jumlah bed material dalam reaktor menyebabkan lebih banyak batubara yang bereaksi menjadi syngas sehingga meningkatkan konversi karbon.354 1.067 1.Tabel 9.89 2. sehingga masih banyak char yang tidak bereaksi.587 0.586 0. neraca massa.

Tabel 12. Pengaruh jumlah pasir sungai terhadap nilai kalor, konversi karbon dan efisiensi gasifikasi Kode Percontoh P Sungai 15 P Sungai 20 P Sungai 25 Konversi C (%) 71 73 74 Efisiensi Gasifikasi (%) 77 81 78 Nilai Kalor (kkal/Nm3) 2,976 3,115 2,975

Komposisi gas cenderung sedikit berpengaruh terhadap perubahan jumlah pasir sungai sebagai bed material dalam reaktor. Semakin banyak jumlah pasir sungai sebagai bed material dalam reaktor maka rasio gas hidrogen terhadap karbon monoksida berkurang sehingga menyebabkan nilai kalor gas juga berkurang. Sebaliknya semakin bertambah jumlah pasir sungai sebagai bed material dalam reaktor maka jumlah produksi syngas secara kuantitatif meningkat, sehingga meningkatkan konversi karbon. Nilai kalor syngas dan efisiensi gasifikasi menunjukkan kenaikan pada penambahan pasir sungai sebagai bed material sebanyak 15 gram dan 20 gram, kemudian akan menurun kembali jika pasir sungai sebagai bed material ditambahkan lagi menjadi 25 gram. Fenomena ini sama seperti pada penggunaan pasir silika sebagai bed material. Hal ini menunjukkan bahwa pasir sungai yang digunakan dalam percobaan ini dapat berfungsi dengan baik. Hasil ini juga menunjukkan jumlah pasir sungai sebagai bed material yang optimum untuk laju alir batubara 1,067 adalah 15 gram.

ke dalam gasifier. Batubara kemudian berreaksi dengan gas oksigen menjadi syngas. Syngas kemudian dimurnikan dan didinginkan melalui siklon, heat exchanger dan scrubber. Syngas kemudian dianalisis menggunakan gas kromatografi. Hasil percobaan menunjukkan pasir sungai dapat berfungsi baik sebagai bed material dalam proses pembuatan gas sintesis dari batubara dilihat dari komposisi syngas, konversi karbon dan efisiensi gasifikasi.

DAFTAR PUSTAKA Kubota, N., 2006. Development of Novel Low Rank Coal Gasifier “TIGAR”, dipresentasikan pada Seminar on Low Rank Coal Gasification, Badan Litbang Energi dan Sumber Daya Mineral, Jakarta, 16 Mei 2006. Kunii, D., dan Levenspiel, O., 1991. Engeneering Fluidization, second edition, ButterworthHeinemann Publishing, Stoneham, M.A. Nurhadi, dkk., 2006. Pembuatan Gas Sintesis dari Batubara dengan Teknologi Gasifikasi Unggun Terfluidakan, Puslitbang tekMIRA. Setiawan, B., 2008. Indonesia Coal Policy, APEC Clean Fossil Energy Technical and Policy Seminar in conjunction with 7th Coaltech, Jakarta 17 November 2008. Penner, S.S., 1987. Coal Gasification: Direct Application and Syntheses of Chemicals and Fuels, U.S. Department of Energy, Office of Energy Research, Washington.

4.

KESIMPULAN

Percobaan ini dimaksudkan untuk mengetahui unjuk kerja penggunaan pasir sungai sebagai bed material pada gasifikasi batubara sistem fluidized bed. Sebagai pembanding, dilakukan juga percobaan penggunaan pasir silika sebagai bed material. Percobaan dimulai dengan pemanasan bed material dalam gasifier menggunakan pemanas listrik. Sebagai media fluidisasi digunakan gas nitrogen. Setelah suhu gasifier mencapai 900°C, percontoh batubara dan gas oksigen dimasukkan

Penggunaan Pasir Sungai sebagai Bed Material pada Gasifikasi Batubara ... Nurhadi dan Slamet Suprapto

127

METODE PENGURANGAN EMISI MERKURI PADA PEMBAKARAN BATUBARA

Dra. Roza Adriany M.Si Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi Jl. Ciledug Raya Cipulir Kebayoran Lama Jakarta Selatan Telp. 021 - 7394422 ext 1552

SARI Pengurangan emisi Merkuri yang maksimal pada pembakaran batubara seperti pada boiler bergantung pada beberapa faktor yaitu jenis batubara, konfigurasi alat pengontrol emisi dan proses tambahan lain seperti penambahan senyawa Halogen, pencampuran 2 jenis batubara, serta penggunaan teknologi ACI (Activated Carbon Injection). Dalam tulisan ini akan ditinjau masing-masing faktor yang mempengaruhi jumlah emisi Merkuri, dan jenis senyawa Merkuri yang diemisikan (Merkuri dalam wujud uap logam, oksida Hg dan Partikulat) serta pengaruh lain seperti UBC (Unburn Carbon) dan SO2. Kata kunci : emisi merkuri, batubara, pengontrol emisi, senyawa halogen

1.

PENDAHULUAN

Emisi Merkuri yang dihasilkan dari pembakaran batubara seperti pada unit Boiler mendapat perhatian yang besar dari pemerhati lingkungan karena berpotensi merusak lingkungan dan menjadi ancaman bagi kesehatan makhluk hidup. Menurut data EPA (Environmental Protection Agency), di Amerika Serikat diperkirakan sekitar 51 ton Merkuri pertahun telah diemisikan ke udara oleh Pabrik yang menggunakan batubara sebagai sumber energi pembakaran. Jenis Merkuri yang diemisikan ke udara pun bervariasi yaitu dalam bentuk uap Merkuri (Hg°), Oksida Merkuri dan Partikulat. Uap Merkuri (Hg°) mempunyai waktu tinggal yang lama di udara yaitu bisa mencapai satu tahun, sehingga dapat menyebar pada jarak yang sangat jauh dari sumbernya. Ketika Hg° terdeposit di tanah atau air , maka dia dapat mengalami transformasi menjadi merkuri organik yaitu metil merkuri yang dapat memasuki rantai makanan seperti ikan. Merkuri yang berbentuk oksida (Hg2+), mempunyai waktu tinggal di udara hanya beberapa hari saja, disebabkan karena tingkat kelarutan yang tinggi dari Hg2+ di dalam uap air yang ada di udara (Senior 2001).

Berbagai teknologi untuk mengurangi emisi merkuri maupun polutan lain yang berasal dari pembakaran Batubara seperti pada unit Boiler telah banyak dikembangkan dan sampai saat ini penelitianpenelitian mengenai hal ini masih terus dilakukan. Walaupun konfigurasi metode atau alat pengontrol emisi telah digunakan, pada kenyataannya jumlah merkuri yang diemisikan masih cukup tinggi dan akan berbeda-beda dari satu Pabrik dengan Pabrik lainnya. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi jumlah emisi Merkuri antara lain adalah jenis batubara, konfigurasi alat pengontrol emisi dan proses tambahan lain seperti penambahan senyawa Halogen, pencampuran 2 jenis batubara, penggunaan teknologi ACI (Activated Carbon Injection) serta pengaruh lain seperti UBC (Unburn Carbon) dan SO2 (Institute of Clean Air Companies, 2006 dan Durham, 2005). Dalam tulisan ini akan ditinjau masing-masing faktor yang mempengaruhi jumlah emisi Merkuri, serta jenis senyawa Merkuri yang diemisikan (Merkuri dalam wujud uap logam, oksida Hg dan Partikulat).

128

PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009

2.

METODOLOGI

Tulisan ini dibuat berdasarkan data atau informasi yang diperoleh dari penelitian-penelitian yang telah dilakukan terutama oleh EPA (Environmental Protection Agency) 3. HASIL DAN PEMBAHASAN

jection) yaitu penginjeksian karbon aktif kering berbentuk bubuk ke dalam flue gas. ACI biasanya ditempatkan antara pemanas udara (air preheater) dan ESP (Electrostatic Precipitator) atau FF (Fabric Filter). 3.1.1 Teknologi “Co Benefits” Hasil penelitian pada Tabel 1, Tabel 2 dan Tabel 3 berikut menunjukkan bagaimana pengaruh konfigurasi alat pengontrol polutan terhadap jumlah Merkuri yang dibuang ke udara, untuk jenis batubara yang sama. Data diperoleh dari ICR (Information Collection Request) EPA (U.S Environmental Protection Agency, 2000). Dari Tabel 1 terlihat bahwa konfigurasi alat pengontrol polutan yang paling efisien untuk Batubara Bituminous adalah SDA/FF dengan jumlah Merkuri yang dibuang 1,78 %. Dari Tabel 2 terlihat bahwa konfigurasi alat pengontrol polutan yang paling efisien untuk Batubara Sub-Bituminous adalah CS/FF dengan jumlah Merkuri yang dibuang 27,57 %. Dari Tabel 3 terlihat bahwa konfigurasi alat pengontrol polutan yang paling efisien untuk Batubara Lignit adalah CS-ESP dan wet FGD Scrubber dengan jumlah Merkuri yang dibuang 62,52 %. Untuk jenis alat pengontrol polutan yang sama misalnya menggunakan CS-ESP, terlihat bahwa % jumlah emisi dari Batubara Lignit adalah yang paling tinggi yaitu 98,53% diikuti oleh SubBituminous 85,52% dan yang terendah adalah Bituminous yaitu 53,52%. 3.1.2 Teknologi ACI (Activated Carbon Injection) ACI (Activated Carbon Injection) adalah penginjeksian karbon aktif kering berbentuk bubuk ke dalam flue gas. ACI biasanya ditempatkan antara pemanas udara dan ESP atau FF (Durham, 2005 dan Praven, 2003). Hasil penelitian dari: Durham,M. “Tools for Planning and Implementing Mercury Control Technology”, menunjukkan bagaimana pengaruh kecepatan injeksi karbon aktif terhadap % Merkuri yang dapat dikontrol (distabilkan) dengan menggunakan 2 alat pengontrol polutan yaitu ESP dan FF untuk Batubara Bituminous dan Sub Bituminous, seperti tampak pada Gambar 1.

Faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah emisi merkuri Seperti telah dijelaskan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi jumlah emisi Merkuri pada pembakaran Batubara yaitu jenis Batubara, konfigurasi alat pengontrol emisi dan proses tambahan lain seperti penambahan senyawa Halogen, pencampuran 2 jenis batubara, penggunaan teknologi ACI (Activated Carbon Injection) serta pengaruh lain seperti UBC (Unburn Carbon) dan SO2. 3.1. Jenis Batubara dan Konfigurasi Alat Pengontrol Merkuri Teknologi pengontrol Merkuri pada dasarnya dibagi dalam 2 bagian: Pertama adalah teknologi yang di sebut “Co Benefits” yaitu teknologi yang sebenarnya didesain untuk mengontrol polutan lain selain Merkuri , seperti NOx , SOx dan bahan partikulat (PM) tetapi dalam hal ini dapat juga digunakan sebagai alat pengontrol Merkuri (Praven, 2003). NOx dapat dikontrol menggunakan SCR (Selective Catalytic Reduction). Selain berfungsi sebagai pengontrol NOx , SCR dapat juga digunakan sebagai pengontrol emisi Merkuri dengan cara mengoksidasi uap Merkuri menggunakan katalis SCR. SOx adalah polutan yang dikontrol menggunakan FGD (Flue Gas Desulfurization). Selain berfungsi sebagai pengontrol SOx, FGD dapat juga digunakan sebagai pengontrol emisi Merkuri dengan cara melarutkan oksida Merkuri di dalam air (U.S Environmental Protection 2003 dan Praveen, 2003). Bahan Partikulat (PM), baik yang berasal dari Partikulat Merkuri atau Partikulat lainnya dapat dikontrol dengan alat seperti CS-ESP, HS-ESP, FF dan PM Scrubber (U.S Environmental Protection Agency, 2000). Teknologi kedua adalah teknologi yang spesifik untuk Merkuri seperti ACI (Activated Carbon In-

Metode Pengurangan Emisi Merkuri pada Pembakaran Batubara ... Rosa Adriany

129

Tabel 1. Pengaruh konfigurasi alat pengontrol polutan terhadap jumlah merkuri yang dibuang ke udara untuk batubara bituminous. Jenis Batubara Bituminous Jenis Boiler PC Boiler Alat Pengontrol Polutan SDA/FF SCR dan SDA/FF CS-FF dan wet FGD Scrubber SNCR dan CS-ESP FF Wet FGD Scrubber HS-ESP-Wet FGD Scrubber CS-ESP DSI dan CS-ESP HS-ESP % Merkuri yang Dibuang ke Udara 1,78 2,44 3,59 9,1 16,90 18,77 44,95 53,52 55,11 87,98

Tabel 2. Pengaruh konfigurasi alat pengontrol polutan terhadap jumlah merkuri yang dibuang ke udara untuk batubara sub bituminous Jenis Batubara Jenis Boiler Alat Pengontrol Polutan CS-FF CS-ESP / SDA CS-ESP dan Wet FGD Scrubber HS-ESP dan Wet FGD Scrubber SDA/FF CS/ESP HS-ESP PM/Scrubber % Merkuri yang Dibuang ke Udara 27,57 62,06 64,88 67,38 74,60 85,52 86,54 85,57

Sub Bituminous PC Boiler

Tabel 3. Pengaruh konfigurasi alat pengontrol polutan terhadap jumlah merkuri yang dibuang ke udara untuk batubara lignit Jenis Batubara Lignit Jenis Boiler PC Boiler Alat Pengontrol Polutan CS-ESP dan wet FGD Scrubber PM-Scrubber SDA-FF CS-ESP dan FF CS-ESP
SDA DSI SCR FGD SNCR

% Merkuri yang Dibuang ke Udara 62,52 67,23 82,62 95,07 98,53
Particulate Collector) : Spray Dryer Absorber (Dry Scrubber) : Duct Sorbent Injection : Selective Catalytic Reduction : Flue Gas Desulfurization : Selective Non-Catalytic Reduction

PC FBC CS-ESP HS-ESP FF PM FF (COHPAC)

: Pulverized Coal : Fluidized Bed Combustor : Cold-Side Electrostatic Precipitator : Hot-Side Electrostatic Precipitator : Fabric Filter : Particulate Matter : Fabric Filter pilot unit (Compact Hybrid

130

PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009

Metode Pengurangan Emisi Merkuri pada Pembakaran Batubara . Pada studi lainnya ditemukan bahwa pada suhu di bawah 500 ºC reaksi oksidasi merkuri yang utama dilakukan oleh Cl2 bukan oleh atom Cl. pemisahan merkuri sampai dengan 90% dapat tercapai pada kecepatan injeksi 4 lb/Macf (Praven. Kandungan Klorin yang tinggi di dalam Batubara. Pengaruh Penambahan Halogen Adanya senyawa Halogen seperti Klorin baik yang berasal dari Batubara maupun yang ditambahkan sebagai aditif dapat mempengaruhi oksidasi Merkuri (perubahan dari Hgº menjadi Hg+2 ) dan juga mempengaruhi perubahan Merkuri dari Hgº ke bentuk partikulat Merkuri (Hgp). kemungkinan hal ini disebabkan karena sensitifitas Cl2 yang lebih rendah dibanding Cl pada suhu tersebut. diperlukan 5 kali lebih banyak penyerap karbon aktif bila menggunakan ESP dari pada FF. Hal ini kemungkinan disebabkan karena terbentuknya lapisan Karbon pada bagfilter sehingga penyerapan lebih maksimal (Praven. molekul Cl2 dan sebagai HCl.Gambar 1.. 2003). 2006). umumnya menghasilkan Hg+2 dan Hgp yang lebih banyak di dalam flue gas dibandingkan dengan merkuri dalam bentuk Hgº (Zhuang. Reaksi Heterogen adalah reaksi yang terjadi antara Klorin. Dengan kata lain untuk mencapai 90% pengurangan Merkuri. Pada penggunaan alat pengontrol polutan ESP untuk jenis Batubara Sub Bituminous diperoleh hasil bahwa pengurangan emisi maksimum adalah sekitar 60% dan terjadi mulai dari kecepatan injeksi sekitar 7 lb/Macf. dapat berada dalam bentuk 3 senyawa yaitu sebagai atom Cl. Rosa Adriany 131 . Diantara berbagai jenis Klorin tersebut. UBC (Unburn Carbon) yang ada dalam abu terbang dengan Merkuri yang ada dalam flue gas. atom Cl diperkirakan sebagai jenis Klorin yang paling dominan berperan dalam mengoksidasi merkuri secara Homogen (Zhuang. Klorin di dalam flue gas. tetapi HCl merupakan jenis klorin yang utama di dalam flue gas yang dapat melakukan reaksi oksidasi melalui reaksi Heterogen dengan cara mempromosikan oksidasi Merkuri pada permukaan padatan (Zhuang. Pengaruh kecepatan injeksi karbon aktif terhadap % pengurangan merkuri Pada Gambar 1 terlihat bahwa untuk alat pengontrol ESP pada Batubara Bituminous. 3. 2006). Kenaikan kecepatan injeksi karbon aktif selanjutnya ternyata tidak dapat menaikkan persentase pengurangan Merkuri. pengurangan merkuri sampai dengan 90% dapat tercapai pada kecepatan injeksi karbon aktif sekitar 20 lb/Macf (million actual cubic feet) sedangkan untuk alat pengontrol baghouse (FF) untuk Batubara yang sama .2.. HCl tidak dapat mengoksidasi Hgº secara langsung melalui reaksi fasa gas yang Homogen . Reaksi klorinasi ini dapat terjadi pada fasa yang sama (Homogen) maupun pada fasa yang berbeda (Heterogen). FF mempunyai tingkat penangkapan Merkuri yang lebih tinggi dibandingkan ESP. 2003). 2006).

2006).3. Hasil penelitian Durham (2005) seperti tampak pada Gambar 2 berikut memperlihatkan pengaruh pencampuran batubara bituminous berkadar klorin tinggi (106 µg/g) dengan batubara sub bituminous berkadar klorin rendah (9 µg/g). Pengurangan emisi NOx umumnya dilakukan dengan berbagai strategi misalnya dengan memasang low-NOx burners. Dalam beberapa kasus dapat mencapai kenaikan hingga 20 % berat. Bagaimanapun. Peningkatan kandungan UBC ini dikarenakan kondisi pembakaran yang kekurangan oksigen dan atau rendahnya suhu pembakaran (Zhuang. Hal ini memperlihatkan bahwa konfigurasi SDA FF lebih baik dibanding SDA-ESF (Durham. 2005). tetapi dengan konfigurasi alat pengontrol Merkuri diganti menjadi SDA-ESP maka diperoleh hasil dimana efek pencampuran kedua Batubara tidak signifikan dalam meningkatkan efisiensi penangkapan Merkuri.Penelitian lain menunjukkan bahwa UBC dapat memfasilitasi perubahan HCl di dalam flue gas untuk membentuk pusat karbon terklorinasi. untuk komposisi pencampuran yang sama dari Batubara yang sama. Pengaruh Pencampuran 2 Jenis Batubara Salah satu metode alternatif dalam meningkatkan kemampuan penangkapan Merkuri adalah dengan mencampurkan 2 jenis Batubara yaitu Batubara yang mengandung Klorin atau Bromin yang tinggi dengan Batubara yang mengandung Klorin atau Bromin rendah. Dari Gambar 2 terlihat bahwa semakin bertambahnya komposisi batubara bituminous dalam campuran maka semakin besar persentase Hg yang dapat dipindahkan. dengan penambahan SCR atau dengan melakukan pemanasan bertingkat. Pengaruh pencampuran bituminous dengan sub bituminous terhadap persentase pengurangan emisi Hg 132 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Pada penelitian selanjutnya. Alat pengontrol merkuri yang digunakan adalah SDA-FF. melalui reaksi Heterogen dan yang ketiga melalui pembentukan pusat Heterogen yang dapat berupa permukaan padatan dengan kondisi yang sesuai seperti partikel UBC. Dengan demikian. katalis SCR atau partikel yang diinjeksikan (Zhuang. 3.4. klorinasi merkuri pada flue gas dapat berlangsung melalui tiga cara yaitu pertama. Dampak dari penggunaan teknologi ini adalah meningkatnya kandungan UBC yang ada di dalam abu terbang. pengetahuan mengenai interaksi Fisika dan Kimia antara partikel Gambar 2. 2006). 3. melalui reaksi fasa gas yang Homogen. kedua. Jumlah UBC yang ada di dalam abu terbang dipengaruhi oleh penggunaan alat pengontrol polutan NOx yang digunakan. Pengaruh dari UBC (Unburn Carbon) Pada umumnya kandungan karbon di dalam abu terbang berkisar antara 2-12%. Penelitian dari Hasset dan Eylands membuktikan bahwa kenaikan kandungan UBC (Unburned Carbon) dan adanya penurunan suhu pembakaran akan menaikkan efisiensi penangkapan Merkuri di dalam abu terbang.

4. Mercury Transformations in Coal Combustion Flue Gas”.com.UBC dengan Merkuri.L. Pengaruh SO2 terhadap Karbon Aktif Karbon aktif dapat mengkatalisis SO2 menjadi H2SO4 di dalam Flue gas. EPA/600/ R-03/110. “Mercury Emissions From Coal – Fired Power Plants”.org.”Behaviour of Mercury in Air Pollution Control Devices on Coal-Fired Utility Boilers”. Dalam hal ini adanya senyawa Halogen dalam jumlah yang cukup akan sangat membantu meningkatkan efisiensi penangkapan Merkuri (Zhuang. pemisahan merkuri sampai dengan 90% dapat tercapai pada kecepatan injeksi 4 lb/Macf. “Electric Utility Steam Generating Units Hazardous Air Pollutant Emission Study (Mercury ICR).. KESIMPULAN DAFTAR PUSTAKA Durham.nescaum. Pencampuran 2 jenis Batubara yang mengandung Klorin atau Bromin tinggi dengan Batubara yang mengandung Klorin atau Bromin rendah dapat meningkatkan efisiensi penangkapan Merkuri. Tabel 2 dan Tabel 3 memperlihatkan bahwa pada Bituminous diperoleh konfigurasi alat pengontrol Polutan yang paling efisien adalah SDA/FF. www. Metode Pengurangan Emisi Merkuri pada Pembakaran Batubara .S Environmental Protection Agency. www. www. www. Senior. Hasil studi Durham menunjukkan bahwa untuk alat pengontrol ESP pada Batubara Bituminous. “Enhancing Mercury Control on Coal-Fired Boilers with SCR.gov. 4. Praveen. U. Hasil studi EPA seperti pada Tabel 1.D. 2000. “Mercury Control for PRB and PRB/Bituminous Blends” www. Oxidation Catalyst.. Efisiensi penangkapan merkuri pada teknologi ACI bergantung pada kecepatan injeksi karbon aktif dan konfigurasi alat pengontrol polutan yang digunakan.com. Dengan demikian kapasitas Karbon aktif dalam mengadsorpsi Merkuri akan lebih tinggi pada saat kadar SO2 di dalam Flue gas lebih rendah. Zhuang. masih kurang memadai (Zhuang..epa. 2.undeerc. www. Dikarenakan konsentrasi SO2 di dalam Flue gas jauh lebih besar dibanding Merkuri maka kapasitas adsorpsi Karbon aktif bergantung pada konsentrasi SO2 yang dapat membentuk H2SO4 pada permukaan Karbon. C. “Performance and Cost of Mercury and Multipollutant Emission Control Technology Aplication on Electric Utility Boilers”. M. SO2 terhadap Karbon Aktif Kapasitas Karbon aktif dalam mengadsorpsi Merkuri akan lebih tinggi pada saat kadar SO2 di dalam Flue gas lebih rendah. Asam Sulfat ini akan terakumulasi pada permukaan Karbon dan kemungkinan dapat menghambat adsorpsi Merkuri. and FGD” .reaction_eng. 2001. Snowbird.com. pada Sub Bituminous adalah CS-FF dan pada Lignit adalah CSESP dan wet FGD Scrubber. Jenis Batubara dan Konfigurasi Alat Pengontrol Merkuri Jenis batubara yang berbeda dan konfigurasi alat pengontrol Polutan yang berbeda dapat menghasilkan efisiensi penangkapan Merkuri yang berbeda. 2006. 3.S Environmental Protection Agency.epa. 2003. Rosa Adriany 133 .. pengurangan merkuri sampai dengan 90% dapat tercapai pada kecepatan injeksi karbon aktif sekitar 20 lb/Macf (million actual cubic feet) sedangkan untuk alat pengontrol baghouse (FF) untuk Batubara yang sama . 2006). Pencampuran dua jenis Batubara.org. 2003. UT. Institute of Clean Air Companies. 2006). A.gov. Y. Century: Impacts of Fuel Quality and Operations Engineering Foundation Conference. U.. 2006. www.icac.. Penambahan Halogen Adanya senyawa Halogen seperti Klorin baik yang berasal dari Batubara maupun yang ditambahkan sebagai aditif dapat meningkatkan oksidasi Merkuri (perubahan dari Hgº menjadi Hg+2 ) dan juga mempengaruhi perubahan Merkuri dari Hgº ke bentuk partikulat Merkuri (Hgp) 3.icac. Metode pengurangan emisi Merkuri yang maksimal pada pembakaran batubara seperti pada boiler bergantung pada beberapa faktor antara lain: 1.5. 2005.

SARI Pada kegiatan eksplorasi konsentrat timah di laut.050. Balitbang ESDM.000. Jl. mengandung rata-rata 3 kg konsentrat timah. memperlihatkan makin menebalnya sedimen ke arah utara (offshore) dengan ketebalan antara 10 .050. lembah-lembah purba ditunjukkan oleh bentuk morfologi cekungan pada permukaan granit yang terisi oleh sedimen dan konsentrat timah. jenis dan ketebalan sedimen. Ganesa No. Subandrio2) 1) Pusat Eksplorasi dan Pengembangan Geologi Kelautan.30 meter dan kedalaman batuan dasar adalah 65 meter sebagai pusat lembah. Prinsip kerja metode seismik refleksi ini adalah pantulan gelombang suara yang dapat membedakan antara granit. lembah purba.000 m3. Sejalan dengan bertambahnya kedalaman laut.000 kg (1. 236 Bandung 40174 e-mail: ediar. Hasil eksplorasi konsentrat timah menggunakan data seismik refleksi ini dapat menjadi acuan dalam kegiatan studi kelayakan.com 2) Departemen Teknik Geologi.usman@gmail. dan konsentrat timah.24 meter. Ketebalan terbesar terdapat di bagian tengah daerah eksplorasi berkisar antara 16 . dan luas daerah eksplorasi sekitar 5. Pada penampang seismik.EKSPLORASI POTENSI KONSENTRAT TIMAH BERDASARKAN DATA SEISMIK REFLEKSI (STUDI KASUS PERAIRAN BANGKA UTARA) Ediar Usman1) dan Andri S. Kata kunci: data seismik. bahkan di beberapa tempat membentuk bidang yang tipis dengan ketebalan kurang dari 2 meter. Junjunan No.000 ha.30 meter. Sedimen dan timah tersebut berasal dari darat dan dari tubuh granit di laut melalui sungai-sungai purba (paleochannels). Di bagian selatan. potensi konsentrat timah. data penting yang diperlukan untuk mengetahui keberadaan dan perhitungan volume sedimen mengandung potensi konsentrat timah adalah data seismik refleksi. 10 Bandung. Dr. maka diperkirakan kandungan timah di daerah eksplorasi sekitar 1. Daerah pengendapan sedimen dan timah yang dapat diidentifikasi melalui data seismik adalah lembah-lembah purba (paleovalleys) yang terisi sedimen (channel fill) berbutir kuarsa berukuran sedang-kasar. Jumlah kandungan konsentrat timah tersebut merupakan potensi ekonomis untuk ekploitasi konsentrat timah di daerah eksplorasi. ketebalan kurang dari 4 meter.000 ton). Jika dalam volume 1 m3 sedimen.000. perairan utara Bangka 134 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Hasil perhitungan ketebalan rata-rata adalah 7 meter. eksplorasi lebih rinci dan peningkatan investasi pertambangan di perairan Bangka Utara. Hasil interpretasi penampang seismik refleksi di perairan Bangka Utara menunjukkan ketebalan sedimen mengandung timah antara 2 . sehingga diperoleh volume sedimen seluruhnya adalah 350. Institut Teknologi Bandung Jl.

the deeper sea tends to northwards and also correlated with thicker sediment. perlu dilakukan eksplorasi geologi dan geofisika kelautan dengan menggunakan metode seismik pantul beresolusi tinggi (high resolution) (Usman.000 ha. Daerah sungai purba (paleochannel) dan lembah purba (paleovalley) bawah laut. type and sediment thickness. the thickness is less than 4 meters. Keywords: seismic data. Sebagai langkah awal untuk mengetahui keberadaan sedimen mengandung timah tersebut. the paleovalleys is shown by basin morphology form at surface of granite that are loaded by sediment and tin concentrate. Sebagai daerah jalur timah. medium sand – very fine sand of quartz grain. The area of depositional of sediments and tin concentrate identified through seismic data is paleovalleys which filled by sediment. Keberadaan dan keterdapan konsentrat timah di laut memerlukan alat bantu yang memberikan keyakinan tentang volume dan potensinya. Sedimen berbutir kasar (coarse fluvial depos- Eksplorasi Potensi Konsentrat Timah Berdasarkan Data .ABSTRACT At activity of tin concentrate exploration in the sea. On seismic profile. The sediment thickness in this area is estimated between 10 to 24 meters.000. yang merupakan tempat akumulasi mineral berat. paleovalleys. In southern part of area. The thickest area lies in the center of survey area with depth ranges from 16 to 30 meters and depth of bedrock is 65 meters as central of paleovalley. the average of thickness approximately is 7 meters. secara regional merupakan daerah jalur timah (tin belt) yang kaya dengan konsentrat timah. the content estimation of tin concentrate in the exploration area around 1. termasuk konsentrat timah. The principal of this reflection seismic method is sound wave reflection can differentiate between granite.000 kg (1. Result of interpretation on reflection seismic profiles in the territorial waters of North Bangka shows that the sediment thickness with ranges from 2 to 30 meters. dan Subandrio.000. and tin concentrate.050. 2008). 2. Survei seismik akan dapat memberikan gambaran tentang daerah akumulasi sedimen.. territorial waters of North Bangka 1. ketebalan dan jenis sedimen. tin concentrate potency. dapat ditetapkan target kegiatan eksplorasi dalam mengidentifikasi sedimen mengandung konsentrat timah. Result of tin concentrate exploration by using the reflection seismic data can become reference on the activities of feasibility study. If on 1 m3 volume of sediment with content 3 kg of tin concentrate. penyebaran sedimen dan morfologi granit. The tranportation of sediment and tin from land and granite body in sea through paleochannel. Melalui pemahaman karakter pantulan seismik pada penampang seismik akan dapat diinterpretasi ketebalan sedimen dan morfologi granit. Berdasarkan metode seismik. On the contrary. Prinsip dasar seismik pantul beresolusi tinggi tersebut merupakan satu keterpaduan untuk mengetahui ketebalan. sehingga dapat diketahui ketebalan dan lembah-lembah purba yang mengandung konsentrat timah. dipantulkan oleh bidang batas batuan dan selanjutnya diterima oleh seperangkat peralatan seismik (receiver).. Eksplorasi seismik dalam pelaksanaannya menggunakan seperangkat peralatan dengan menggunakan prinsip-prinsip gelombang suara yang dilepaskan ke dasar laut. more detail tin exploration and also increasing the mines investment in the territorial waters of North Bangka. PENDAHULUAN Perairan Kepulauan Bangka Utara.050. melalui penjalaran gelombang suara dalam media air dan batuan. Amount of the tin concentrate content represent the economic potency for the exploitation of tin concentrate in exploration area and its surrounding. Result of seismic profile calculation. Subandrio 135 . Ediar Usman dan Andri S. so that the sediment volume entirely is 350. yaitu: 1. diperkirakan di daerah ini terdapat lembah (paleo-channel) sebagai daerah sedimentasi pasir asal darat dan laut yang mengandung konsentrat timah. and in some places it even forms thin layer of less than 2 meters.000 ton). the important data that are needed to know existence and calculation of sediment volume of tin concentrate reserve is reflection seismic data.000 m3. wide of exploration area around 5.

GEOLOGI REGIONAL Kerangka geologi regional Kepulauan Bangka dan pulau-pulau di sekitarnya termasuk dalam Punggungan Bangka Belitung (Bangka-Biliton Ridge). termasuk dalam wilayah perairan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung atau sekitar 7 km ke lepas pantai pada kedalaman laut 10 – 15 meter. 1980. Kepulauan Riau. Peta lokasi eksplorasi 136 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . 4. Bangka-Belitung hingga Kalimantan Barat (Katili. batuan alas adalah granit yang kaya dengan butiran kuarsa dan mineral timah (Sn). Semenanjung Malaysia. 1983). 2. yaitu sedimen yang prospek mengandung timah. Punggungan ini merupakan bagian dari jalur timah batuan granit (Tin Belt Granite) dari Kraton Sunda yang memanjang dari daratan Thailand. Daerah ini merupakan tinggian batuan dasar berada di sebelah timur Cekungan Sumatera Selatan dan di sebelah utara Cekungan Sunda (Katili. Batchelor. Di perairan Bangka Utara dan sekitarnya. 1980). Morfologi batuan alas (bedrock) sebagai batuan sumber mineral timah. Batuan dasar granit ini muncul di sepanjang jalur timah yang mempunyai jenis berbeda-beda. Secara umum lokasi survei termasuk dalam perairan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung kerana letaknya di luar perairan kabupaten/kota yang berjarak di luar daerah 4 mil laut. Akumulasi mineral timah tidak jauh dari batuan sumber. Sebagai dasar dalam penentuan titik pemboran inti untuk mengetahui kualitas dan kuantitas timah secara vertikal dan horizontal. Perkembangan zona vulkanik Sumatera memperlihatkan bahwa granit Belitung berumur lebih tua (berumur Perem hingga Jura) (Lehmann Gambar 1.its). 3. Daerah survei terletak di lepas pantai bagian utara Pulau Bangka. Pulau Bangka yang dimasukkan pada Main Tin Belt Granite dan di Pulau Belitung termasuk pada Western Tin Belt Granite (Gambar 2).

1970). yaitu Depresi Bangka yang memanjang dengan arah barat laut – tenggara (sejajar dengan pantai Eksplorasi Potensi Konsentrat Timah Berdasarkan Data . Platform Singapura merupakan pemisah antara Paparan Sunda bagian utara dan Paparan Sunda bagian selatan. juga dicirikan oleh tubuh-tubuh batuan dasar kecil yang memiliki kecepatan seismik tinggi. Ediar Usman dan Andri S. Cakupan platform ini mulai dari Laut Natuna di bagian Utara dan batas bagian selatan dari platform ini adalah Punggungan Bangka-Belitung (Bangka-Biliton Ridge). Pada platform ini terdapat dua depresi cekungan sedimen yang memiliki ketebalan sedimen lebih dari 800 meter. perairan Bangka Utara terletak di Paparan Sunda (Sunda Shelf) yang secara tektonik telah stabil sejak awal Miosen. Berdasarkan kerangka tektonik. dibandingkan granit di Bangka dan di daratan pulau Sumatera yang berumur Trias. Paparan Sunda dapat dibedakan menjadi tiga bagian (Tjia. 1983) and Harmanto. Secara fisiografis. Peta jalur granit regional Asia Tenggara (Batchelor. Platform Singapura dan Paparan Sunda Bagian Selatan (Laut Jawa).Gambar 2. Subandrio 137 .. sehingga hasilnya berupa endapan aluvial dalam bentuk endapan pantai dan laut telah berjalan lebih intensif. Berdasarkan peta struktur pada top dari morfologi batuan dasar. 1990).. Platform tersebut dicirikan oleh morfologi batuan dasar yang dangkal dan ditutupi oleh sedimen yang tipis. 1977). Sedimen Kenozoik di platform ini hanya sampai ketebalan 500 meter. yaitu: Paparan Sunda Bagian Utara. daerah survei termasuk bagian dari Platform Singapura. Hal ini memberi informasi bahwa proses erosi pada tinggian-tinggian granit di daerah Bangka Belitung juga telah berjalan cukup lama. andesit dan granit) berumur mesozoik hingga akhir Kapur yang kemudian pada awal Miosen diintrusi oleh granit dari berbagai jenis (Ishihara. dicirikan oleh grafik anomali magnetik yang tajam dan oleh grafik gravitasi yang agak halus (smooth). Basement dari platform ini sebagian besar terdiri atas batuan beku (gabro. diabas.

Sumatera) dan Depresi Belitung yang memanjang berarah utara-selatan (sejajar dengan pantai barat Kalimantan). Di daerah survei, Punggungan Bangka-Belitung terdapat di bagian barat daya dan Depresi Bangka memotong bagian tengah daerah eksplorasi dengan arah barat laut - tenggara. Pulau Bangka merupakan bagian ujung selatan dari Platform Singapura dan terletak paling dekat dengan daerah eksplorasi. Pulau ini umumnya merupakan daerah yang hampir rata dan secara geologis dapat mewakili tataan geologi Platform Singapura, khususnya geologi Punggungan Bangka-Balitung dan umumnya untuk tataan geologi daerah eksplorasi. Secara geologis, Pulau Bangka berbeda dengan Pulau Sumatera, karena batuan tertua yang tersingkap di Pulau Bangka adalah Kompleks Pemali dari batuan metamorfik yang berumur Permo-Karbon. Kompleks ini diterobos oleh diabas Penyabung berumur Permo – Triasik. Geologi lepas pantai sekitar perairan Bangka Utara merupakan kelanjutan dari kondisi geologis Kepulauan Bangka Belitung. Batuan dasar berupa batuan magmatis granit maupun batuan beku lainnya, terbentang di atasnya sedimen PraTersier, dan tertutup oleh endapan marin yang merupakan sedimen permukaan dasar laut. Geologi lepas pantai dari hasil rekaman seismik pantul dangkal dan pemboran di Selat Gaspar di Tanjung Beriga, menunjukkan empat kelompok batuan sedimen yang diendapkan sampai umur Miosen (Batchelor, 1983), yaitu: a. Aluvium muda teridiri dari, sedimen penutup muda berumur Holosen dan Kompleks Aluvium berumur Plistosen Akhir. b. Unit Transisi terdiri atas sedimen laut, berumur Plistosen Akhir dan Unit Transisi berumur Plistosen Tengah. c. Sedimen penutup purba, berumur Plistosen Awal sampai Akhir terdiri atas fasies dataran aluvium purba dan menjemari dengan fasies kipas (sedimen bongkah granit). d. Regolit Daratan Sunda terdiri atas endapan koluvial dan materi kipas, berumur Pliosen dan latosol, laterit serta bauksit berasal dari pelapukan batuan dasar (granit dan batuan sedimen), berumur Miosen Akhir. Kepulauan Singkep Tujuh hingga Belitung berpotensi akan endapan kasiterit letakan. Secara

geologis, genesisnya merupakan sistem letakan lembah (placer valley systems). Sistem ini erat kaitannya dengan perubahan muka air laut (sea level changes) yang terjadi selama Plio-Plistosen (Yoo and Park, 2000), dan memengaruhi kondisi geologis saat ini, baik yang berada di daerah daratan maupun di daerah lepas pantai, khususnya daerah granit Sengkeli, Pering dan Lenggang. Perubahanperubahan muka air laut di masa lampau yang mencapai ± 100 meter ini setidaknya menyebabkan terjadinya tiga kali proses erosional (erosional events), yakni proses erosi, akumulasi sedimen rombakan dan tertutup oleh lapisan sedimen Resen. Perubahan muka air laut ini juga memengaruhi Paparan Sunda, khususnya Laut Jawa dan Selat Karimata saat ini, yakni membentuk alur-alur sungai purba, seperti yang teridentifikasi oleh Emery dan Aubrey (1972) (Gambar 3). Pada aluralur sungai purba ini dipercayai mengandung potensi sumber daya mineral yang merupakan endapan plaser. Berdasarkan kondisi regional, potensi konsentrat timah di perairan Bangka Utara sampai saat ini belum diketahui secara pasti karena keterbatasan data eksplorasi secara rinci dan publikasi terdahulu. Data yang ada masih bersifat regional, dan masih memerlukan kajian-kajian yang lebih terpadu dari berbagai publikasi dan eksplorasi timah terdahulu. Kajian potensi saat ini mengacu pada data geologi dan sungai-sungai purba regional di daerah eksplorasi, khususnya di utara Pulau Bangka (Gambar 3). Kegiatan eksplorasi dan penambangan timah saat ini mengacu pada sistem penyebaran sungai dan lembah purba. Kegiatan survei seismik dilakukan untuk mengidentifikasi keberadaan lembah dan sungai purba serta cabang-cabangnya yang berukuran lebih kecil, tetapi diyakini sebagai pembawa konsentrat timah. Berdasarkan geologi regional dan distribusi sungaisungai purba tersebut dapat diperikirakan penyebaran sedimen mengandung timah di perairan Bangka Utara. Secara umum, sedimen akan mengalami proses transportasi dari darat ke laut melalui sungai-sungai purba dan menyebar dalam bentuk limpahan secara lateral dan vertikal (progradation) ke morfologi cekungan di laut. Pada umumnya, sungai-sungai purba tersebut tertutup oleh sedimen Resen yang lebih muda. Untuk itu, eksplorasi timah berdasarkan metode seismik di

138

PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009

Gambar 3. Peta distribusi sungai-sungai purba (paleo-channel) di perairan Bangka sebagai daerah aliran sedimen mengandung konsentra timah (disederhanakan dari Emery, 1972)

perairan Bangka Utara diharapkan dapat menemukan lembah dan sungai purba sebagai indikasi awal keberadaan timah.

3.

METODE EKSPLORASI

Geologi bawah permukaan dasar laut (struktur dan batuan) disusun berdasarkan penafsiran data seismik pantul dengan menggunakan prinsipprinsip Seismik Stratigrafi, yaitu pengenalan terhadap ciri-ciri reflektor batas atas, batas bawah dan bagian dalam (internal reflector) setiap unit seismik (Sangree & Wiedmier, 1979; Sherif, 1980). Interpretasi lapisan sedimen mengandung konsentrat timah adalah daerah yang dekat dengan batuan sumber (bedrock), membentuk lembah sebagai akumulasi daerah dengan berat jenis tinggi dan litologinya adalah coarse fluvial deposits (sedimen fluvial berbutir kasar) atau disebut sedimen Kuarter. Selanjutnya, guna memastikan sedimen mengandung konsentrat timah, data seismik dikorelasi dengan data pemboran sehingga

diperoleh gambaran menyeluruh tentang potensi konsentrat timah di daerah eksplorasi. Data tersebut kemudian diolah secara digital untuk mendapatkan volume endapan dan selanjutnya dapat diperhitungkan potensi konsentrat timah. Pengambilan data seismik di perairan Bangka Utara gunanya untuk mengetahui ketebalan lapisan sedimen Kuarter, lembah dan saluran (channels) pada batuan dasar. Lembah dan saluran di bawah dasar laut atau pada batuan dasar akan terlihat dari pola kontur kedalaman batuan dasar tersebut. Perhitungan ketebalan sedimen dan kedalaman granit berdasarkan atas perhitungan dengan persamaan: S = V x t, di mana S adalah jarak, V kecepatan gelombang dalam sedimen V.sed) dan t adalah waktu. Kecepatan gelombang dalam sedimen dengan V.sed = 1600 meter/Sec. (Hubrol et al., 1980; Khesin et al., 1995). Pada eksplorasi ini dipergunakan sapuan (sweep) adalah 0,25 Sec. dan firing rate adalah 1 Sec. Total sapuan seismik adalah 250 milli Sec. dalam Two Way Traveltime (TWT) atau 125 milli Sec. dalam One Way

Eksplorasi Potensi Konsentrat Timah Berdasarkan Data ... Ediar Usman dan Andri S. Subandrio

139

Traveltime (OWT). Selanjutnya setelah diperoleh ketebalan sedimen, dan luas daerah eksplorasi 5000 ha dapat dihitung volumen sedimen berdasarkan metode Trapezoidal dan Simpson’s Role dengan rumus luas kali tebal secara digital. Volume juga dapat dihitung berdasarkan luas dan tebal rata-rata.

Hasil interpretasi rekaman seismik di daerah survei diperoleh pola reflektor yang menunjukkan batuan sedimen dengan ciri-ciri di bagian atas adalah selaras (concordance), laminasi sejajar, bergelombang terputus-putus, perlapisan terpotong-potong. Bagian bawah membentuk pengisian, longsoran, dan bidang ketidakselarasan. Pada penampang seismik Lintasan 36 (LINE 36) berarah barat – timur menunjukkan batas yang tegas antara batuan sedimen di bagian atas dan granit di bagian bawah. Pada penampang tersebut juga menunjukkan adanya daerah lembah purba yang berbentuk cekungan pada permukaan granit dan terisi oleh sedimen. Pada cekungan tersebut pengisian oleh sedimen hasil transportasi dari darat dan dari tubuh granit di laut. Pada penampang Lintasan 36 (LINE 36) (Gambar 4) dengan arah lintasan barat – timur dan hasil interpretasinya (Gambar 5) memperlihatkan keberadaan lembah berada di bagian timur daerah survei makin dalam ke arah utara. Di bagian barat tersebut, keberadaan lembah lebih dangkal dan tipis, tetapi berdasarkan bentuk reflektor yang masih menunjukkan ciri-ciri bergelombang terputus-putus, perlapisan terpotong-potong, longsoran dan pengisian diperkirakan di bagian barat lebih kasar dibandingkan dengan bagian timur. Di bagian timur ditandai oleh hilangnya pantulan di bagian lembah, sebagai akibat gelombang seismik melalui madium yang halus (kaolin) atau medium yang kasar (kerikil) yang berongga dengan kandungan air yang tinggi. Antara batuan dasar sebagai batuan alas dengan sedimen Kuarter di bagian atas dipisahkan oleh suatu bidang pepat erosi. Bidang tersebut mengalasi sedimen yang dibedakan dari perbedaan ciri-ciri reflektor. Secara umum ciri-ciri reflektor pada penampang barat – timur seperti contoh pada L-36 mempunyai kesamaan dengan ciri-ciri pada penampang lainnya yang menggambarkan batuan alas di bagian bawah dan sedimen Kuarter di bagian atas sebagaimana yang dikemukakan oleh Ringis (1993). Bila dikaitkan dengan kondisi geologis dasar laut regional, sumber sedimen-sedimen tersebut adalah granit terdekat yang mengalami erosi yang intensif. Setelah seluruh lintasan seismik diinterpretasi, dan dilakukan perhitungan ketebalan berdasarkan kecepatan gelombang dalam sedimen (V.sed = 1600 m/det) dan waktu penjalaran gelombang to-

4.

HASIL EKSPLORASI

Ketebalan Sedimen dan Kedalaman Lembah Purba Ketebalan sedimen diperoleh dari hasil interpretasi rekaman seismik yang dilakukan berdasarkan pengenalan terhadap ciri-ciri reflektor. Pengenalan lainnya adalah kenampakan batas antara sedimen dan batuan dasar yang ditandai oleh penguatan reflektor sebagai bidang batas (Sukmono, 1999; Priyono, 2000). Batuan sedimen umumnya berukuran lempung, lanau, pasir dan kerikil dengan ciri-ciri reflektor adalah selaras (concordance), laminasi sejajar, bergelombang terputus-putus (wavy), perlapisan terpotong-potong (hummocky), longsoran (slump) dan pengisian (channel fill). Batas antara granit dengan sedimen Kuarter membentuk bidang ketidakselarasan atau pepat erosi (erosional truncation) atau kontak onlap (Sangree and Wiedmier, 1979; Sherif, 1980). Sedangkan ciriciri reflektor granit sebagai batuan alas/dasar pada penampang seismik adalah berbukit-bukit (mounded), berbintik-bintik kacau tidak beraturan (chaotic), kadang-kadang muncul perulangan bidang pantulan (multiple) dan makin ke bawah bebas pantulan (free reflektor) (Ringis, 1993). Adanya pola choatic dan multiple menunjukkan gelombang melalui medium yang keras dan padat berupa batuan tanpa bidang perlapisan. Ciri-ciri seperti ini dapat diinterpretasikan sebagai batuan alas dan antara keduanya dipisahkan oleh bidang ketidakselarasan (erosional truncation). Bagian paling bawah sering disebut sebagai Acoustic Basement dan sekaligus juga merupakan batuan dasar. Di perairan Bangka-Belitung, batuan alas adalah granit (Batchelor, 1983); sedangkan hilangnya pantulan gelombang (free reflektor) dapat juga disebabkan oleh adanya medium yang halus (ada organik), porous dan berongga. Pada batuan beku tidak memberikan respon seismik, karena batuan tidak berlapis dan bersifat homogen (Boggs, 2006).

140

PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009

tal pada total penampang seismik adalah 0,125 Sec, diperoleh ketebalan sedimen. Selanjutnya, setelah seluruh lintasan diinterpretasi dan dihitung ketebalannya, dan data ketebalan tersebut diplot

pada peta kerja dengan menarik kontur yang mempunyai angka ketebalan yang sama, maka akan menghasilkan peta ketebalan sedimen (isopach) (Gambar 6).

Gambar 4. Penampang seismik pantul Lintasan 36 (LINE 36) dengan arah Timur - Barat

Gambar 5. Hasil interpretasi rekaman seismik pantul Lintasan 36 (LINE 36) dengan arah Timur – Barat

Eksplorasi Potensi Konsentrat Timah Berdasarkan Data ... Ediar Usman dan Andri S. Subandrio

141

lembah purba pada penampang seismik dikenal sebagai pengisian lembah. Hasil pengukuran ketebalan sedimen diperoleh ketebalan berkisar antara 2 . berarti penebalan ke bagian atas membentuk gosong pasir.Gambar 6. memperlihatkan makin menebalnya sedimen ke arah utara dengan ketebalan antara 10 . Bagian paling tebal terdapat di bagian tengah daerah eksplorasi berkisar antara 16 . peta ketebalan sedimen tersebut ditumpangtindihkan dengan peta morfologi batuan dasar. Selanjutnya. menunjukkan adanya sedimen Resen dengan proses sedimentasi ke bagian atas dan tidak berhimpitan dengan lembah atau sungai purba. Pada daerah morfologi lembah pada batuan dasar tersebut merupakan daerah yang mempunyai volume sedimen yang besar dan prospektif konsentrat timah yang besar. maka kondisi ini menujukkan bahwa sedimen tersebut menebal ke arah bawah.30 meter. bahkan di beberapa tempat membentuk bidang yang tipis dengan ketebalan kurang dari 2 meter. Tetapi bila ketebalan sedimen dengan kontur yang rapat tidak berhimpitan dengan morfologi lembah. Sejalan dengan bertambahnya kedalaman laut. ketebalan kurang dari 4 meter. Di bagian selatan. Selanjutnya. Bila ketebalan tersebut tepat pada morfologi lembah pada batuan dasar.25 meter. morfologi granit dan kedalaman lembah purba digambarkan oleh garis kontur kedalaman batuan dasar. Peta ketebalan sedimen (isopach) perairan utara Bangka Pada bagian kontur yang rapat menunjukkan ketebalan sedimen lebih besar. Secara genesis.30 meter. Pada penampang seismik. 142 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Penebalan ke bagian atas. Makin menipisnya sedimen di bagian selatan disebabkan makin mendekat ke arah pantai dengan batuan dasar yang lebih dangkal. sehingga dapat dikembangkan lebih lanjut untuk eksplorasi lebih rinci.

40 meter. Di bagian utara kedalaman batuan dasar bervariasi dan bersifat setempat-setempat.65 Secara umum.79397 m3. pada umumnya kedalaman lembah purba antara 20 . Metode lainnya sebagai koreksi dilakukan secara Eksplorasi Potensi Konsentrat Timah Berdasarkan Data .982. dasar akustik tersebut diinterpretasikan sebagai batuan dasar (bedrock). Lembah-lembah purba ditunjukkan oleh kontur yang rapat dan bulat mamanjang relatif barat – timur. Kondisi ini disebabkan karena di bagian selatan makin menuju ke arah perairan pantai Pulau Bangka sebagai pusat granit.60 meter. Metode yang dipergunakan dalam penghitungan volume/potensi adalah Trapezoidal dan Simpson’s Role diperoleh volume sedimen perairan utara Bangka adalah antara 353. berkisar antara 60 . morfologi batuan dasar relatif datar dengan kedalaman antara 20 .795. Ediar Usman dan Andri S. yaitu granit (Gambar 7). Bagian terdalam lembah purba tersebut terletak di bagian tengah. untuk mendapatkan kandungan sedimen di daerah eksplorasi adalah Vol = luas x Gambar 7. Estimasi Volume Sedimen dan Potensi Konsentrat Timah Selanjutnya.24723 – 354. Sedangkan di bagian selatan. Peta morfologi batuan dasar (granit) di perairan Bangka Utara meter. Subandrio 143 . terdapat kedalaman lembah purba antara 50 .412. Di bagian barat laut.688... tebal. kedalaman batuan dasar di bagian selatan makin dangkal dibandingkan bagian utara. Berdasarkan pemahaman geologi regional.35 meter.kedalaman batuan dasar merupakan bagian permukaan dari dasar akustik gelombang seismik (basement accoustic). disebut sebagai basement top.

dan diperkirakan keduanya sebagai pusat atau muara dari aliran sungai purba yang juga merupakan pusat pengendapan sedimen mengandung konsentrat timah.000 m3. Di bagian tengah kedalaman lembah berkisar antara 60 .050. Hasil perhitungan secara digital dan manual tersebut tidak menunjukkan perbedaan yang terlalu besar.sederhana dengan menghitung ketebalan rata-rata pada penampang seismik dan luas daerah eksplorasi.000 kg (1. Dua lembah purba tersebut terletak di bagian tengah dan bagian barat laut. Berdasarkan posisinya terhadap sungai purba regional.60 meter. Alur sungai purba di bagian tengah tersebut berarah dari barat ke timur. dan di bagian barat laut dari arah timur ke barat. Jika setiap 1 m3 mengandung rata-rata 3 kg timah (Usman and Subandrio. maka total kandungan timah adalah 1.000. Sedangkan alur-alur yang berukuran lebih kecil di bagian tengah. dan di bagian barat laut berkisar antara 50 .050. dan dua di antaranya merupakan lembah purba terdalam dan terbesar di daerah survei. selatan dan timur mempunyai arah yang bervariasi (Gambar 8).000.000 ton). 2008). PEMBAHASAN survei. Sungai-sungai purba tersebut melewati beberapa lembah-lembah purba. Alur sungai purba hasil interpretasi seismik sebagai daerah aliran dan pengendapan sedimen mengandung konsentrat timah di daerah survei 144 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . alur sungai purba di daerah survei tersebut merupakan cabang dari sistem alur purba regional Hasil interpretasi seismik dan kedalaman batuan dasar dapat dilakukan proses rekonstruksi lokasi dan penyebaran sungai-sungai purba di daerah Gambar 8.65 meter. maka diperoleh volume sedimen 350. Jika luas daerah eksplorasi adalah 5000 ha (dihitung pada program MapInfo) dan ketebalan rata-rata berdasarkan hasil perhitungan pada penampang seismik sekitar 7 meter. 5.

Sejalan dengan bertambahnya kedalaman laut.8 juta tahun. berkisar antara 60 . Di bagian utara kedalaman batuan dasar bervariasi antara 20 . S. dan adanya jejak lembah-lembah purba yang terbentuk sejak awal Plistosen di daerah survei dapat diamati secara langsung melalui rekaman seismik pantul. sejak sekitar 1. K. Springer- 6. KESIMPULAN Ketebalan sedimen berkisar antara 2 . sehingga memungkinkan proses pengendapan terjadi yang membentuk lapisan sedimen yang cukup tebal mencapai 30 meter. 2000) dan Laut Jawa. kedalaman batuan dasar di bagian selatan makin rendah dibandingkan bagian utara karena di bagian selatan makin menuju ke arah daratan Pulau Bangka sebagai pusat granit. Pada eksplorasi yang menggunakan metode seismik pantul. memperlihatkan makin menebalnya sedimen ke arah utara dengan ketebalan antara 10 .1. studi kelayakan. suluruh wilayah laut di Paparan Sunda termasuk di Selat Malaka dan Laut Jawa mengalami proses kekeringan.40 meter. sehingga sungai-sungai purba tertutup oleh sedimen (Zaim.60 meter. 1972. Hasil perhitungan antara Computations dan manual menunjukkan volume yang hampir sama dan perbedaan yang tidak terlalu besar. Late Cenozoic Coastal and Offshore Stratigraphy in Western Malaysia and Indonesia.G. Land Levels..30 meter. dan batuan di daratan Paparan Sunda mengalami proses pelapukan dan erosi (Zaim. Of Geology. Makin menipisnya sedimen Eksplorasi Potensi Konsentrat Timah Berdasarkan Data . Secara umum. 2006. 1983. Jr. Thesis Ph. mempercepat waktu dan menghemat biaya dalam survei-survei berikutnya..C. Pearson Prentice Hall. 1996). 1972). Volume sedimen berdasarkan perhitungan Grid Volume Computations adalah antara 353. 2000). sehingga akan menambah akurasi keberhasilan dalam survei-survei berikutnya. dan di bagian selatan. Subandrio 145 .79397 m3.24723 – 354.D. D. Data ini juga akan menjadi arahan dalam menentukan daerah akumulasi sedimen mengandung konsentrat timah.O. Principles of Sedimentology and Stratigraphy. Periode ini merupakan masa iklim dingin global yang ditandai terjadinya peningkatan pembentukan es di kutub. DAFTAR PUSTAKA Boggs.yang bermuara di Laut China Selatan.688.412. Di samping itu. Di bagian selatan.. B. Sejak dimulainya pencairan es di kutub pada awal Plistosen tersebut.65 meter dan di bagian barat laut kedalamannya antara 50 . bagian paling tebal terdapat di bagian tengah daerah antara 16 . di beberapa tempat kurang dari 2 meter.24 meter. hasil data seismik dapat menggambarkan kondisi vertikal dan lateral granit sebagai batuan sumber sedimen dan konsentrat timah. Kuala Lumpur. Kedalaman lembah purba menunjukkan bagian terdalam terletak di bagian tengah.35 meter. Ediar Usman dan Andri S. diikuti oleh pembentukan alur-alur purba yang mengerosi batuan dasar berupa granit membentuk sedimen yang kaya mineral kuarsa dan konsentrat timah (Batchelor.000. Sea Levels. Ketebalan sedimen dan lembah purba merupakan bagian terpenting dari kegiatan eksplorasi konsentrat timah. Akibatnya.795. terdapat di perairan Laut Jawa. Kondisi ini juga akan mempermudah.. and Aubrey. 1996). Pada saat penurunan permukaan laut. Hasil eksplorasi ini telah dapat menggambarkan kondisi yang dimaksud dan menjadi dasar dalam eksplorasi berikutnya. and Tide Gauges. University Malaya. seperti eksplorasi lanjut. Sedimen yang menutupi sungai-sungai purba.8 juta tahun lalu (Yoo and Park. Data ini akan menjadi dasar dalam eksplorasi yang lebih rinci. dan di utara perairan Bangka Belitung yang bermuara ke Laut China Selatan (Emery and Aubrey. estimasi volume sedimen dan potensi konsentrat timah. Alur purba terbesar di Paparan Sunda. identifikasi sungai dan lembah purba akan mempermudah dalam perencanaan kegiatan eksplorasi rinci dan studi kelayakan. kedalaman antara 20 .. Sedangkan berdasarkan perhitungan manual diperoleh sebesar 350. New Jersey: 618 pp.000 m 3 . di bagian selatan disebabkan makin mendekat ke arah pantai dengan batuan dasar yang lebih dangkal. Batchelor. merupakan periode awal proses sedimentasi di Paparan Sunda (Yoo and Park. 1983). ketebalan kurang dari 4 meter. Proses pengendapan sedimen tersebut telah berlangsung cukup lama.. Emery. Dept. Sistem ini erat kaitannya dengan penurunan permukaan laut yang terjadi di Paparan Sunda selama periode PlioPlistosen atau sekitar 2 .30 meter.982.

Yoo. Lehmann.. Jurusan Geofisika Institut Teknologi Bandung. Interpretasi Seismik Refleksi. P.. Large Scale Tin Depletion in the Tanjung Pandan Tin Granite. and Park. and Wiedmier. S.. S. International Human Resources Development Corporation.A. 1970. Interval Velocities from Seismic Reflection Time Measurements. Jour.D.. T.. Texas USA: 203 pp. A Modern View. H. Ringis. and Harmanto. Sangree. 1977.. 146 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Sukmono. Journal of Sedimentary Research. Belitung Island. Deposit Models for Detrital Heavy Minerals on East Asian Shelf Areas and the Use of High Resolution Seismic Profiling Techniques in Their Exploration. Bandung: 269 hal. Boston: 222 pp. Western Geophysical Company. Shallow Seismic Imaging for Paleo-Channel Mapping Related To Tin Prospecting On Tanjung Penyusuk Offshore. and Krey. 27: 293-305. Geol. R. 70(2): 296-309. 2000.. Mijnbouw. Geol. J.G. 255 hal. 1993.. Ishihara. V. B. 2000. and Subandrio. 1999. CCOP Publication. Usman. 1990. D. Interpretasi Geologi Seismik. 1979... Kluwer Academic Publishers. Geotectonics of Indonesia. Khesin.B. Penerbit ITB. Jakarta: 271 pp.E. Interpretation Facies from Seismic Data. 1980. Interpretation of Geophysical Fields in Complicated Environments. 85: 99-111. The Magnetite Series and Ilmenite Series Granitic Rocks.M. 1980. Northern Bangka. Joint Exploration of MGI – APMR/APRI. Sherif. J. Stratigrafi Kuarter di Indonesia: Pengaruh Perubahan Muka Laut Global Kala Plistosen Terhadap Penyebaran dan Lingkungan Hidup Manusia Purba di Jawa. E. Intern Report: 90 pp.. Directorate General of Mines. 49(2): p. A. B. J. Cipanas. A.S.E. Geophysic 44(2): 131 pp. Tjia. of Mining Geol. Diktat Kuliah Program Pasca Sarjana Geologi dan Geofisika Institut Teknologi Bandung.. 1995. Seismic Stratigraphy. Alexeyen.Verlag Pub.. Katili. Priyono.: 237pp. Quaternary Shorelines of the Sunda Land.C. 2008.. 1996. 1980. South East Asia. Indonesia. S.. Zaim. Y. London: 352 pp. Eppelbaum. J. Makalah PIT Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (PIT IAAI) ke-VII.V. Hubrol. Econ. High Resolution Seismic Study as a Tool for Sequence Stratigraphic Evidence of High Frequency Sea Level Changes: Latest Pleistocene-Holocene Example from Korea Strait..35-144.

id. sulfur. Rochman Saefudin. namun dari jumlah batubara tersebut sebagian besar merupakan batubara bermutu menengah dan bermutu rendah yang kurang ekonomis bila diusahakan. 147 .go.id SARI Energi mempunyai peranan yang sangat penting dalam pembangunan nasional yang berkelanjutan. bukin@tekmira. baik dilihat dari jenis (komposisi kimia. nilai bagi hasil Penetapan Nilai Bagi Hasil atas Produksi Batubara Mutu Rendah.0 % Empat parameter atau lebih : 8.0% NK d” 4. tiga atau empat parameter : 9. 40211 Telp.esdm.id. yaitu 104.go. baik di dalam usaha penambangan.go.5% Kata kunci : batubara mutu rendah.5 % Parameter Lignit : 7. Jenderal Sudirman No. 022 . maseral dan sifat fisik) maupun peringkatnya yaitu rendah (lignit). maka diusulkan 3 (tiga) alternatif nilai bagi hasil untuk batubara mutu rendah sebagai berikut : a) Alternatif I : Dua atau tiga parameter : 10.0 % Parameter Lignit : 7. Bukin Daulay Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl.Umar.8 miliar ton dengan mutu yang sangat bervariasi. yaitu : 5. abu.600 kkal/kg : 9. datin@tekmira. dan kandungan sulfur >2% dalam air dried basis (adb).100 kkal/kg < NK > 4. Batubara sebagai salah satu sumber energi jumlahnya sangat besar. maupun pemanfaatannya sebagai bahan bakar atau bahan baku. 022 . kandungan abu >17%. ijang@tekmira. dan natrium.623.esdm. Bandung. Agar pengusahaan batubara mutu rendah bisa ekonomis.5 % d) Alternatif IV : Membagi nilai bagi hasil batubara mutu rendah berdasarkan nilai kalornya (NK). dkk. terutama untuk mendukung proses industrialisasi.0 % Empat parameter atau lebih : 8.600 kkal/kg : 7.id.100 kkal/kg. Ijang Suherman. perlu ditetapkan nilai bagian pemerintah atas produksi batubara mutu rendah dari pengusahaan(PKP2B) supaya bisa bersaing dengan batubara mutu baik. yaitu nilai kalor.6038027 e-mail : rochman@tekmira.esdm. Datin F. Dari hasil kajian yang telah dilakukan melalui model simulasi dengan menggunakan 4 (empat) parameter.esdm. Batubara mutu rendah adalah batubara yang memiliki nilai kalor < 5. Batubara sebagai salah satu sumber energi dapat berfungsi sebagai bahan bakar dan bahan baku. menengah (subbituminus) dan tinggi (bituminus-antrasit).6030483 Fax.5 % b) Alternatif II : Dua atau tiga parameter : 10.PENETAPAN NILAI BAGI HASIL ATAS PRODUKSI BATUBARA MUTU RENDAH Rochman Saefudin.0 % c) Alternatif III : Dua.go.

bituminous and anthracite).100 kcal/kg < CV > 4. The LRC has a calorific value of <5. Its quality is various according to the type (chemical composition. Coal.2 juta ton pada 1997 menjadi 52.545 juta ton pada 2008. most of the coals is low-rank coal (LRC) and is not economical for the utilization. yakni pemakaian batubara diharapkan mencapai 34. Di sisi lain.4%. dari jumlah cadangan batubara Indonesia sebesar 104.0 % c) Alternative III 2. maceral and physical property) and the rank (lignite. Untuk mencapai sasaran bauran energi nasional 2025. yakni dari 13. it is suggested 3 alternatives of the production sharing for the LRC as follows: a) Alternative I 2 or 3 parameters : 10. it needs to determine a value of the government side for the LRC production from Coal Contract of Work. Tidak mengherankan apabila sejalan dengan itu jumlah perusahaan pertambangan batubara di Indonesia pun tumbuh pesat khususnya dalam beberapa tahun terakhir.5 % b) Alternative II 2 or 3 parameters : 10. ash. ash content of >17% and sulphur content of >2% in air-dried basis (adb). baik di dalam negeri maupun di negara-negara importir. value of production sharing 1. 2008). one of the energy sources. which is 104.5% Keywords: low-rank coal (LRC). In order to improve the business of the LRC economically. sulphur and sodium.0% CV d” 4. Coal has a huge potential in Indonesia.5 % Lignite parameter : 7. maka salah satu langkah yang perlu dilakukan untuk menunjang ketahanan energi nasional tersebut adalah menetapkan tarif nilai bagi hasil untuk pengusahaan batubara mutu rendah yang akan menjadi pemasok batubara 148 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . can function as fuel and raw material. However.600 kcal/kg : 9. Peningkatan jumlah konsumsi yang sangat tajam tersebut disebabkan meningkat tajamnya permintaan batubara sebagai sumber energi terutama untuk pembangkit listrik. 3 or 4 parameters : 9.8 billion tons.100 kcal/kg.0 % 4 parameters or more : 8.8 miliar ton sebagian besar termasuk ke dalam katagori batubara peringkat rendah (Low Rank Coal) (Pusat Sumber daya Geologi.0 % Lignite parameter : 7. atau meningkat 4 kali lipat (392%).0 % 4 parameters or more : 8. so that it can compete with high-rank coals. PENDAHULUAN Meningkatnya peran batubara sebagai pemasok energi di masa mendatang membuat industri ini memiliki daya tarik yang sangat besar bagi para investor tak terkecuali di Indonesia. subbituminous. either the mining operation or the utilization as fuel or raw material.600 kcal/kg : 7. According to the assessment that has been carried out through a simulation model by applying 4 parameters that are calorific value. Indonesia sendiri mengalami pertumbuhan konsumsi batubara yang cukup pesat dalam beberapa tahun terakhir.ABSTRACT Energy has a main role in the sustainable national development to particularly support the industrialization process.5 % e) Alternative IV Dividing the value of production sharing of LRC based on its calorific value (CV): 5.

50 1. Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral adalah sebesar 104. muai bebas.61 422. 149 .815.16 10. 2. batubara mutu sedang. kuantitas. 2008 Kualitas Kalori Rendah Kalori Sedang Kalori Tinggi Kalori Sangat Tinggi Total Sumberdaya (Juta Ton) Hipotetik 5. dan secara ekonomi memenuhi kriteria layak tambang.8 miliar ton.19 4. dkk.057.056.18 90.6.75 Tahun 1996 tentang Ketentuan Pokok Perjanjian Kontrak Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara Pasal 3 ayat 2 yang berbunyi : “Dalam hal pengusahaan pertambangan dilakukan dengan cara bawah tanah dan atau batubara yang diproduksi ternyata bermutu rendah. abu.96 100.187. Potensi dan Cadangan Wilayah Indonesia diketahui memiliki potensi endapan batubara sangat luas.2 miliar ton (Tabel 1).941. pada umumnya didasarkan pada: Peringkat Batubara (Coal Rank) Nilai Kalori (Calorivic Value) Kandungan bahan/unsur dalam batubara (kadar air. Kriteria kualitas batubara dapat dibedakan atas beberapa macam.021.05 69. Hal tersebut perlu dilakukan karena sampai saat ini belum ada ketetapan tarif yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk pengusahaan batubara mutu rendah. yaitu : 1) Batubara Kalori Rendah < 5.588. cadangan dan produksi batubara Indonesia.1. dan delta yang kadang-kadang dipengaruhi oleh pasang surut air laut.956. TINJAUAN PUSTAKA 2.721.756.00 Sumber : Pusat Sumbe Daya geologi. sumberdaya.82 1.64 104. laguna. Endapan batubara di Indonesia terbentuk pada lingkungan pengendapan yang bervariasi mulai lingkungan rawa-rawa. Penggolongan kualitas batubara mutu rendah.251.29 5. Kualitas. darat. zat terbang.001.888.83 Jumlah % 20. dll) Sifat fisik batubara (kekerasan.68 27.81 22. 2) Batubara Kalori Sedang 5. yang dihimpun oleh Pusat Sumber Daya Geologi tahun 2008 dari laporan perusahaanperusahaam PKP2B di Indonesia adalah sebesar 22.069.100 kal/gr. bentuk.183.57 Total 21. namun batubara yang bernilai ekonomis untuk dikembangkan hanya terkonsentrasi pada cekungan-cekungan Tersier di Indonesia bagian barat yaitu di pulau Sumatera dan pulau Kalimantan.43 0. sebaran. karbon tertambat.5% dari produksi batubara yang terjual.08 Terukur 5.21 6.100 kal/gr.100 kal/gr.100 . khususnya untuk PKP2B.41 482. Keadaan lingkungan pengendapan yang berbeda-beda tersebut Tabel 1. 3) Batubara Kalori Tinggi 6. Rochman Saefudin. dan batubara mutu tinggi seringkali dikaitkan dengan tujuan pemanfaatan batubara itu sendiri yang tergambarkan dengan permintaan pada spesifikasi batubara yang diinginkan.11 34.100 kal/gr. dengan jumlah cadangan batubara Indonesia dihitung terhadap endapan bahan batubara yang telah diketahui ukuran.146.24 18.708.620.39 12. dan ketentuan tambahan yang tertuang di dalam Keppres No.100 . besarnya hasil produksi batubara yang harus diserahkan kepada Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dapat dipertimbangkan kembali berdasarkan hasil kajian yang diajukan oleh perusahaan Kontraktor Swasta” menghasilkan jenis batubara yang bervariasi dalam bentuk dan ketebalan (kuantitas) maupun kualitas batubara. danau.93 32. kualitas.7.738. belerang.550. Yang ada adalah ketentuan bagian pemerintah untuk batubara mutu baik sebesar 13.43 1.79 Tertunjuk 3.96 11. 2008 Penetapan Nilai Bagi Hasil atas Produksi Batubara Mutu Rendah.22 66. Jumlah sumber daya batubara Indonesia tahun 2008 berdasarkan perhitungan Pusat Sumber Daya Geologi.untuk PLTU sehingga harganya bisa kompetitif dengan batubara mutu baik.764. titik leleh abu).80 25.40 Tereka 6. 4) Batubara Kalori Sangat Tinggi > 7. Berdasarkan tingkat kalorinya batubara Indonesia dibagi menjadi 4 (empat) bagian .65 13.

inertinit dan liptinit) dan mineral pembentuk seperti lempung. lignit. microlithotype dapat dibagi menjadi 3 kelompok utama yaitu monomaseral (1-maseral). sulfida. kimia. Dalam perkembangannya. nilai muai bebas (free swelling index). sehingga perlu tidaknya migitasi gas-gas NOx dan SOx dapat diketahui sebelumnya. yaitu jenis (type) dan peringkat (rank) batubara tersebut. zat terbang (volatile matter). oksigen (O) dan sulfur/ belerang (S). Dari hasil analisis tersebut. 3) Analisis Sifat-Sifat Lain Analisis sifat-sifat lainnya termasuk penentuan nilai kalor (calorific value). yaitu untuk mengetahui kandungan air lembab. berlangsung proses Tabel 2.3. subbituminus. Vitrinit juga merupakan maseral utama pada batubara. pengguna batubara khususnya pembangkit listrik dan pabrik semen sudah dapat memprediksi perilaku unsur-unsur tersebut baik pada saat berlangsungnya proses pembakaran maupun setelah pembakaran. 2. Hidrogen dan oksigen juga merupakan komponen yang penting dalam analisis penentuan kandungan air total batubara. analisis komposisi abu. termasuk ASTM (1977) seperti pada Tabel 3. berat jenis. abu dan karbon tertambat (fixed carbon). 2) Analisis Ultimat Analisis ultimat merupakan analisis kimia untuk mengetahui persentase dari senyawa kimia yang terbentuk dari hasil ikatan antara karbon. Jenis batubara ditentukan dari komponen/komposisi batubara yang terdiri dari maseral (vitrinit. komposisi maseral (maceral composition) dan reflektansi vitrinit (vitrinite reflectance). bi-maseral (2-maseral) dan trimaseral (3-maseral) seperti terlihat pada Table 2. sulfida. nitrogen (N). Batubara Mutu Rendah Secara umum ada tiga jenis analisis dan pengujian yang dilakukan untuk menenetukan mutu batubara. dan mekanik. Sedangkan peringkat batubara berhubungan erat dengan tingkat pematangan batubara (pembatubaraan/ coalification). sulfat dan mineral lempung. semiantrasit sampai antrasit seperti diilustrasikan pada Gambar 1. Jenis atau tipe batubara sangat dipengaruhi oleh jenis tumbuhan pembentuk dan lingkungan pengendapan dimana batubara tersebut terdapat.2. tidak terpengaruh oleh pelapukan dan nilai yang diperoleh dapat dikorelasikan dengan standar peringkat batubara yang ada. Klasifikasi microlithotype batubara Grup Mono-Maseral* Microlithotype Vitrit Inertit Liptit KlaritVitrinertitDurit Komposisi Maseral Vitrinit >95% Inertinit >95% Liptinit >95% Vitrinit + Liptinit >95% Vitrinit + inertinit >95% Liptinit + inertinit >95% Vitrinit > Liptinit > Inertinit Inertinit > Vitrinit > Liptinit Liptinit > Vitrinit > Inertinit Bi-Maseral* Tri-Maseral* Duroklarit Klarodurit Vitrinertoliptit * Setiap maseral >5% 150 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . nilai ketergerusan (hardgrove grindability index). mutu atau kualitas ditentukan dari dua faktor utama. Terminologi Batubara Mutu Rendah Mutu (grade) adalah nilai keadaan sesuatu berdasarkan sifat fisik. senyawasenyawa tersebut juga terdapat pada komponen mineral seperti karbonat. titik leleh abu (ash fusion temperature). yang dimulai dari gambut. yaitu : 1) Analisis Proksimat Analisis proksimat merupakan analisis mendasar dalam penentuan mutu batubara. silikat dan karbonat. Berdasarkan gabungan maseralnya. Kecuali nitrogen. Khusus untuk batubara.2. bituminus.

sehingga definisi Batubara Mutu Rendah adalah Tabel 4.06 – 3. khusus untuk kajian ini faktor pengotor yang digunakan baru dua.00 >3. karbon total dan reflektansi vitrinit. Rf < 0.0 Tipe Fouling Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi Penetapan Nilai Bagi Hasil atas Produksi Batubara Mutu Rendah. Parameter dan batasan nilai untuk penentuan batubara mutu rendah No. dkk.37 0. Dalam tulisan ini parameter peringkat yang dipergunakan adalah nilai kalor.2 – 0. Rs < 0. faktor slagging dan faktor fouling. % (adb) Sulfur. HGI.6 > 2. dan Tabel 6 yang berdampak negatif terhadap nilai jual dan pemanfaatan dari batubara tersebut. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Parameter Nilai Kalor. Faktor slagging dan fouling abu batubara bituminus (Wall.58 – 0.0 2.5 0. % Faktor Slagging Faktor Fouling Batasan Nilai < 5.05 2. % dalam Abu Nitrogen. tekanan dan waktu. ºC Sodium (Na2O). dan jenisnya (umumnya pengotor).2 0. seperti pada Tabel 4.6 Tipe Slagging Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi Faktor Fouling. Rochman Saefudin. sulfur.00 Peringkat Lignite Subbituminous High Volatile Bituminous C High Volatile Bituminous B High Volatile Bituminous A Medium Volatile Bituminous Low Volatile Bituminous Semi Anthracite Anthracite sodium. Dengan demikian besaran nilai setiap parameter yang disajikan disini adalah nilai yang sangat menonjol (significant). nitrogen.72 – 1.48 – 0. hanya terjadi proses fisika berupa pemadatan. Tabel 5.0 > 1. maka dalam menilai mutu batubara harus ditinjau dari peringkat (nilai kalor).50 1. % < 0.6 – 2. Sedangkan parameter pengotor antara lain adalah kandungan abu. yaitu abu.51 – 2. Secara umum parameter yang sering dipergunakan untuk menentukan mutu batubara adalah peringkat dan pengotor.10 1. Selama perkembangannya.47 0. 151 . Namun demikian. Tabel 5. Besaran nilai setiap parameter tersebut di atas yang dipergunakan oleh konsumen tidaklah sama karena sangat tergantung kepada teknis operasional (rancangan peralatan).0 – 2. regulasi yang ada setempat dan keekonomian masing-masing penggunaaan batubara.57 0.6 0. kkal/kg (adb) Abu.5 – 1. Dari uraian di atas. 1990) Faktor Slagging. dan sulfur.37 – 0.11 – 1.Tabel 3. kandungan air. Hubungan antara reflektansi vitrinit dan peringkat batubara menurut klasifikasi ASTM (1977) Reflektansi Vitrinit. % (adb) HGI Titik Leleh Abu.5 Sangat Tinggi Sangat Tinggi Gambar 1.71 0. titik leleh abu (AFT). Parameter yang umum dipergunakan untuk menentukan peringkat batubara antara lain adalah nilai kalor. Sedangakan peringkat batubara dipengaruhi oleh salah satu atau gabungan dari temperatur.100 >17 >2 <35 <1150 >4 >1. Pengertian mutu batubara kimia dan biokimia.

Dengan perkataan lain persentase bagi hasil bagian pemerintah dari pengusahaan batubara mutu rendah sebagai fungsi dari faktor koreksi atau faktor bobot dikalikan dengan konstanta persentase bagi hasil dari batubara mutu tinggi (13.1.0 – 3. yang masih diberlakukan secara umum.5 % x F dengan : G(l) = Persentase bagi hasil bagian pemerintah dari pengusahaan batubara mutu rendah 13. Penyusunan Model Bagi Hasil Faktor substansial yang perlu dicermati dalam menetapkan besaran persentasi bagi hasil adalah menentukan atau menghitung bagi hasil bagian pemerintah dari produksi batubara mutu rendah dengan mengacu kepada pembagian hasil keuntungan yang wajar (reasonable) antara pengusaha batubara (kontraktor) dan pemerintah. abu > 17%. Rs > 1340°C 1340 . dan sulfur >2% dalam air dried basis (adb).0 2.Tabel 6. MODEL PENENTUAN TARIF BAGI HASIL UNTUK BATUBARA MUTU RENDAH 3. yaitu sebesar 13.0 – 6.1250°C 1250 . yang secara matematis dirumuskan cukup sederhana. seperti yang ditunjukkan pada persamaan berikut : N = G (h) x Q x P 3. 1990) Faktor Slagging. yaitu : G (l) = 13. dan menjadikan batubara mutu rendah mempunyai nilai kompetitif dengan batubara mutu tinggi.4.0 3. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya swa bakar adalah sebagai berikut: Peringkat batubara Kadar air dalam batubara Komposisi petrografi batubara Ukuran butir Temperatur timbunan Konsentrasi oksigen yang kontak dengan batubara Kelembaban udara Peredaran/kecepatan aliran udara batubara oleh kontraktor yang berlaku saat ini. Penanganan Batubara Peringkat Rendah Batubara peringkat rendah (lignit dan Subbituminus B dan C) mempunyai kecenderungan terhadap terjadinya swabakar (self combustion). 2.5% = Persentase bagi hasil bagian pemerintah dari pengusahaan batubara (PKP2B) yang berlaku saat 152 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . besarnya persentase bagian Pemerintah telah ditetapkan sebagai berikut : G (h) = 13.5%). Oleh karena itu model pemecahannya akan mengacu pada konsep ekonomi pemanfaatan sumber daya batubara yang telah diuraikan di atas. Rf < 2.5% dari jumlah produksi.0 > 6. Disamping itu. Model Bagi Hasil Sesuai dengan isi perjanjian kontrak kerja antara Pemerintah dengan perusahaan kontraktor dengan menggunakan pola Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B).100 kkal/ kg. a. Faktor slagging dan fouling abu batubara lignitik (Wall.0 Tipe Fouling Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi batubara yang memiliki nilai kalor < 5.5 % Besar pendapatan bagian Pemerintah (N) merupakan hasil perkalian persentasi bagian pemerintah (G(h)) dengan jumlah produksi (Q) dan harga batubara (P). sebagai sandaran perumusan adalah bagian pemerintah dari hasil pengusahaan Selanjutnya untuk menentukan atau menghitung bagi hasil bagian pemerintah dari produksi batubara mutu rendah dengan mengacu kepada persentase bagi hasil dari pengusahaan batubara yang berlaku saat ini.1150°C < 1150°C Tipe Slagging Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi Faktor Fouling.

Penyederhanaan penilaian pada proses pemanfaatan sumber daya dilakukan dari faktorfaktor alam dan parameter ekonomi yang sangat kompleks. Berdasarkan pengertian tersebut. Rochman Saefudin. perumusan dalam tanda kurung besar merupakan koefisien elastisitas. langkah selanjutnya di dalam penghitungan untuk penetapan nilai bagi hasil bagian pemerintah dari PKP2B untuk batubara mutu rendah adalah merumuskan faktor bobot tersebut.F ini. maka model persamaan koreksi harga dari unsur peringkat dan pengotor adalah sebagai berikut : Pengaruh Peringkat : CCV = c x [{CV(h) . Dalam permodelan koreksi tersebut. Sedangkan pada persamaan koreksi harga dari pengaruh pengotor. yakni selisih nilai pengotor (abu. Dalam kajian ini. Oleh karena itu. 153 . sulfur. HGI. karena ada korelasi kuat diantara kedua parameter tersebut. akan dipengaruhi oleh biaya produksi dan harga. perumusan dalam tanda kurung kurawal merupakan koefisien elastisitas. yang menunjukkan perbedaan efisiensi energi antara batubara mutu tinggi dan batubara mutu rendah. Model Faktor Bobot Faktor bobot merupakan faktor/ variabel koreksi terhadap persentase bagi hasil bagian pemerintah yang berlaku saat ini (13. Secara matematik. yaitu parameter peringkat dan parameter pengotor. c. Dengan demikian.5%) untuk menghitung persentasi bagi hasil bagian pemerintah dari pengusahaan batubara mutu rendah. simulasi koefisien elastisitas dari pengaruh perubahan nilai kalor dan perubahan tingkat pengotor merupakan Oleh karena itu. Model Koreksi Pengaruh Peringkat dan Pengotor Pada prinsipnya tingkat harga batubara di pasaran ditentukan oleh karakteristik atau mutu batubara. faktor bobot diformulasikan sebagai berikut : F=k Pcor(l) P(h) dengan : Pcor (l) = Harga batubara mutu rendah berdasarkan harga batubara mutu tinggi yang terkoreksi P(h) = Harga batubara mutu tinggi k = konstanta Yang menjadi permasalahan dari model faktor bobot tersebut adalah belum diketahuinya harga batubara mutu rendah yang sesuai keekonomiannya. untuk penyusunan model harga batubara mutu rendah akan ditentukan melalui simulasi pemodelan berdasarkan konsep ekonomi pemanfaatan sumber daya batubara. Faktor-faktor alam dimaksudkan adalah parameter karakteristik (mutu) batubara. yaitu proporsi relatif dari perbedaaan nilai kalor. sebagaimana komoditas lain. Adapun kandungan air dan reflektansi vitrinit sudah terwakili oleh nilai kalor. dkk. dan sodium) dari kedua jenis batubara tersebut. b. Sedangkan Penetapan Nilai Bagi Hasil atas Produksi Batubara Mutu Rendah. ki = konstanta Pada model persamaan koreksi harga dari pengaruh peringkat.li(h)} x P(h) dengan : CCV = Koreksi harga dari penurunan nilai kalor CIi = Koreksi harga dari perubahan kenaikan tingkat pengotor unsur i P = Harga batubara mutu tinggi CV(h) = Nilai kalor batubara mutu tinggi CV(l) = Nilai kalor batubara mutu rendah Ii(h) = Nilai unsur pengotor i pada batubara mutu tinggi Ii(l) = Nilai unsur pengotor i pada batubara mutu rendah c. = Faktor bobot atau faktor koreksi atau faktor insentif parameter ekonomi terdiri dari biaya penanganan (handling cost).CV(l)} / CV(l)] x P(h) Pengaruh Pengotor : Cli = Ki x {li(l) . sulfur. Pemanfaatan sumber daya batubara sebagai komoditas energi dipengaruhi oleh mutunya dan pada proses pengalihannya menjadi komoditas. faktor slagging. baik dari nilai kalor maupun tingkat pengotornya. sodium (Na2O). titik leleh abu. harga akan terkoreksi oleh perbedaan nilai kalor (peringkat) dan oleh perbedaan tingkat pengotor. yang meliputi abu. perumusan faktor bobot didefinisikan sebagai fungsi dari perbandingan (proporsi) relatif harga batubara mutu rendah dan batubara mutu tinggi. dan faktor fouling. natrium. karena pangsa pasarnya yang belum ada.

P(h) = Harga batubara mutu tinggi MC(l) = Biaya penanganan batubara mutu rendah MC(h) = Biaya penanganan batubara mutu tinggi η = Persentase profit margin 3. dan marginal profit.2.HC(h)} .dua dari empat parameter yang dipertimbangkan dalam optimalisasi perberbedaan atau “delta” harga batubara mutu tinggi dan mutu rendah. harga batubara mutu rendah dihitung berdasarkan penurunan harga mutu tinggi karena terkoreksi atau disesuaikan karena adanya penurunan peringkat dan gangguan tingkat pengotor termasuk handling cost relatif. sebagai kovensasi dari adanya perbedaan volume untuk energi yang sama. Model Harga Tingkat harga batubara secara ekonomi ditentukan dengan mempertimbangkan kriteria dari sisi produsen dan konsumen atau ditentukan dengan mempertimbangkan manfaat yang diterima 154 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . e. Aplikasi Model untuk Penetapan Bagi Hasil Permodelan bagi hasil bagian pemerintah dari pengusahaan batubara mutu rendah dalam pola Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) yang telah dirumuskan di atas. Model Handling Cost Pekerjaan eksploitasi pada pengusahaan batubara dapat dikelompokkan menjadi pekerjaan penambangan/penggalian dan pekerjaan penanganan (handling cost). karena menggunakan jenis peralatan yang sama. d. Sebagai pembanding dihitung pula harga minimum sebagai fungsi dari biaya produksi (mining cost dan handling cost). natrium dan Hubungan fungsional antara biaya penangan batubara mutu rendah dengan mutu tinggi dihubungkan dengan koefisien elastisitas dari simulasi perbandingan densitas dan nilai kalor. Biaya pekerjaan penambangan (mining cost) pada pengusahaan batubara mutu tinggi dan mutu rendah akan sama. dimaksudkan untuk menentukan besaran persentase bagi hasil bagian pemerintah berdasarkan pengaruh perbedaan peringkat (nilai kalor).{HC(l) . Secara matematis model persamaan harga batubara mutu rendah tersebut adalah : Harga Koreksi/Penyesuaian : Pcor(l) = P(h) . abu. Sedangkan biaya penanganan (handling cost) untuk mutu rendah relatif lebih besar dari pada batubara mutu tinggi. Pertama. dan pengotor (sulfur. Secara matematis. bagi hasil. maka akan semakin signifikan kenaikan biaya handling cost batubara mutu rendah dibanding handling cost batubara tinggi. CV(h) ⎫ ⎧ d(h) HC(l) = ⎨ × ⎬ × HC(h) d(l) CV(l) ⎭ ⎩ produsen dan konsumen.Σ iCCli dengan : Pcor (l) = Harga batubara mutu rendah berdasarkan harga batubara mutu tinggi yang terkoreksi P(h) = Harga batubara mutu tinggi HC(l) = Biaya penanganan batubara mutu rendah HC(h) = Biaya penanganan batubara mutu tinggi = Koreksi harga dari peringkat atau CCIi pengotor Harga Minimum : Pmin(l) = (1+η )[{1 + B(l)} x {MC(l) + HC(h)}] dengan : Pmin (l) = Harga minimum batubara mutu rendah B(l) = Persentase bagi hasil bagian pemerintah dari batubara mutu rendah. antara lain karena perbedaan densitas dan perbedaan nilai kalor. model persamaannya adalah: dengan : HC (l ) = Biaya penanganan (handling cost) batubara mutu rendah HC (h) = Biaya penanganan (handling cost) batubara mutu tinggi d (l ) d (h ) = Densitas batubara mutu rendah = Densitas batubara mutu tinggi CV (l ) = Nilai kalor batubara mutu rendah CV (h ) = Nilai kalor batubara mutu tinggi Semakin besar perbedaan densitas demikian pula perbedaan nilai kalor. Ada dua pendekatan dalam menentukan atau menghitung tingkat harga.

100 kkal/kg abu (ash) sulfur sodium (Na2O) Mining Cost Handling Cost Harga = 4% = 1% = 1. yaitu nilai kalor dan salah satu paramater pengotor. Simulasi dengan menggunakan dua variasi parameter. Perhitungan bagi hasil batubara mutu rendah dibatasi oleh harga batubara mutu rendah yang minimum. Parameter batubara mutu tinggi yang dijadikan sebagai standar penimbang adalah : nilai kalor (caloric value) = 6. dengan memasukkan terhadap aliran kas (cah flow) dari laporan studi kelayakan penambangan batubara.07 % – 10. Setiap kenaikan satu satuan (1%) nilai natrium diasumsikan harga terkoreksi sebesar 0.6 USD. f.005 x P(t). b) Simulasi Variasi : a. c. Karena data yang akan digunakan di dalam perhitungan ini merupakan data keuangan perusahaan yang akan dijadikan contoh di dalam proses penghitungan. masing masing rata-rata besaran bagi hasil bagian pemerintah adalah 9. e. Dari hasil simulasi tersebut dapat diulas sebagai berikut : a. Untuk variasi dua parameter batubara mutu rendah. dkk. natrium. d. h.52 %. sulpur. Adapun dari variasi naik-turunnya harga batubara tersebut berdampak tidak signifikan terhadap besaran perhitungan bagi hasil bagian pemerintah. atau sodium = 4 %.4 USD atau delta harga dengan batubara mutu tinggi minimum 8.100 kkal/kg dan salah satu parameter pengotor yang diwakili oleh abu = 17 %. dan rata-rata harga batubara mutu rendah yang masih kompetitif 26. c. sulfur = 2 %. Perbandingan densitas batubara mutu tingggi dan mutu rendah 1. g. dan 7.025 x P(t). maka untuk menjaga kerahasiaan. Adapun untuk variasi tiga dan empat parameter batubara mutu rendah serta untuk batubara lignit. Setiap penurunan nilai kalor dari CV(h) ke CV(l) diasumsikan harga terkoreksi sebesar [{CV(h)-CV(l)}/CV(h)] x P(h). 155 . b. Perusahaan yang akan dijadikan contoh di dalam proses simulasi ada 2 perusahaan yang berlokasi di Kalimantan yang berencana mengembangkan ke penambangan batubara mutu rendah. Penetapan Nilai Bagi Hasil atas Produksi Batubara Mutu Rendah. b. b. c. Rochman Saefudin. 8. Persentase profit margin dari pengusahaan batubara mutu rendah diasumsikan 10%. diperoleh handling cost 2.05 x P(t). Untuk mengaplikasikan model dalam rangka menentukan besaran bagi hasil bagian pemerintah dari pengusahaan batubara mutu rendah diperlukan batasan-batasan (asumsi) dan simulasi variasi parameter peringkat (nilai kalor) dan parameter pengotor (abu.2 % = 25 USD /ton = 2. yaitu nilai kalor dan tiga parameter pengotor. Hal ini dapat dilihat dari grafik sensitifitas harga seperti contoh untuk batubara lignit pada Gambar 3. nama perusahaan tidak dicantumkan atau diganti dengan nama perusahaan A.18 %.7 USD. d. Setiap kenaikan satu satuan (1%) nilai sulfur diasumsikan harga terkoreksi sebesar 0. namun perbedaannya (delta) semakin besar secara proporsional (agar dapat kompetitif). dan perusahaan B.15. Simulasi dengan menggunakan parameter batubara lignit.33 %.3 : 1. Setiap kenaikan satu satuan (1%) nilai ash (abu) diasumsikan harga terkoreksi sebesar 0. Selanjutnya untuk mengetahui pengaruh besaran nilai bagi hasil yang diperoleh terhadap kelayakan usaha penambangan batubara mutu rendah. Simulasi dengan menggunakan empat variasi parameter. yaitu nilai kalor dan dua parameter pengotor. dan lainnya) sebagai berikut : a) Batasan : a. Simulasi dengan menggunakan tiga variasi parameter. Adapun besaran bagi hasil bagian pemerintah berkisar antara 10. Semakin besar (tinggi) harga batubara mutu tinggi maka semakin besar pula harga batubara mutu rendah. Hal ini dapat dilihat pada gambar 2.34 % atau rata-rata 10. Batubara mutu rendah sebagai obyek yang akan ditimbang.sebagainya) serta biaya produksi (handling cost) antara batubara mutu rendah dan mutu tinggi.35 %. sedangkan batubara mutu tinggi sebagai obyek penimbangnya. yaitu parameter nilai kalor = 5.00 USD /ton = 40 USD /ton. Hasil dari proses aplikasi model dapat dilihat pada Tabel 7. maka akan dicoba digunakan di dalam perhitungan kelayakan pengusahaan batubara mutu rendah.

25 7.15 12 14 16 18 20 HARGA (USD) 22 24 26 28 30 Gambar 3.45 7.00 5.40. Grafik sensitivitas harga terhadap persentase bagi hasil untuk batubara lignit 156 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .00 Dua Parameter Tiga Parameter Empat Parameter 20.00 Lignit 15.50 7.00 35.00 10.30 7.40 BAG I HS I L (% ) 7. Hubungan harga batubara mutu rendah dan mutu tinggi 7.00 20 25 30 35 40 45 50 55 HARGA BATUBARA MUTU TINGGI (USD) Gambar 2.35 (%) 7.20 7.00 25.00 HARGA BATUBARA MUTU RENDAH (USD) 30.

36 10.00 12.00 1.70 9.58 2.58 2.00 17.51 0.53 10.00 16.39 0.00 5100.64 18.75 10.19 18.58 2.58 2.00 12.14 18.70 9.89 5100.01 19.33 7.77 9.70 12.70 8.00 1.00 12.70 8. S = Sulfur.58 2.07 18.00 35.75 10.00 1.58 12. Simulasi bagi hasil bagian pemerintah dari batubara mutu rendah Variasi Peringkat dan Pengotor Dua Parameter CV+Ash CV+S CV+Na2O CV+Ash+S CV+Ash+Na2O CV+S+Na2O Tiga Parameter Empat Parameter CV+Ash+S+Na2O Lignit Uraian Mutu Tinggi (Penimbang) Nilai Kalor (Kkal/kg) Abu (%) Sulfur (%) Sodium (Na2O) (%) Mining Cost (US$) Handling Cost (US$) Harga (A) (US$) 5100.18 18.34 10.83 11.52 8.52 0.99 15.00 17. Ash = Abu.24 0.28 26.19 9.00 4.81 8.92 Keterangan : CV = Nilai Kalor (Caloric Value).00 2.00 18.00 4.40 6100.40 0.76 24.38 0.00 2.01 7.00 17.46 9.35 5100.00 1. dkk.47 5100.55 0.00 1.00 4.00 2.00 1.33 7.77 10. Na2O = Sodium 157 .00 12.00 2.72 8.21 22.14 18. Mutu Rendah (Ditimbang) Nilai Kalor (Kkal/kg) Ash (%) Sulfur (%) Sodium (Na2O) (%) Mining Cost (US$) Handling Cost (US$) Koreksi Harga (US$) Harga Terkoreksi (US$) Selisih (delta) harga (US$) Harga Minimum (B) (US$) Faktor Insentif (Bobot) Bagian Pemerintah (%) RATA-RATA 18.52 8.00 17.00 12.49 26.Gambar 7.19 26.94 24.00 4.54 7.08 12.20 12.68 9.77 9.00 2.70 10.00 17.70 2.33 7.46 23.00 4.52 7.17 5100.70 9.20 12.20 1.00 4.20 12.63 8.70 9.00 4.00 5100.33 Penetapan Nilai Bagi Hasil atas Produksi Batubara Mutu Rendah.58 2.58 2. Rochman Saefudin.00 4.36 0.00 1.00 4.11 8.92 4612.58 2.

4.58 13.7 24. Data perusahaan dan nilai indikator keuntungan penambangan batubara mutu rendah No. 3. Na2O) diperoleh nilai bagi hasil untuk batubara mutu rendah sebagai berikut : a) Untuk dua parameter : kalori – abu : 10.0 9. 2.82 26. maka dirumuskan melalui simulasi pemodelan berdasarkan konsep ekonomi pemanfaatan sumber daya batubara. sulfur.4 18 48.83 <0 9. maka diperoleh nilai indikator keuntungan untuk perusahaan A dan B sebagai berikut : dikalikan persentase bagi hasil yang secara matematis ditulis G (l) = 13.61 10. Model bagi hasil bagian pemerintah dari pengusahaan batubara (PKP2B) mutu rendah .Tabel 8.7 39.2 100.5 1 : 7. yang termasuk di dalam biaya operasi/produksi yang ditetapkan sebagai patokan dasar.0 2. yaitu sebesar 13.02 .47 21.14% kalori – sulfur : 10.7 1.34% kalori – natrium : 10.5 15.1 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Dari hasil simulasi model yang dibuat berdasarkan kombinasi nilai kalor dan pengotor (abu. Dengan nilai MARR (Minimal Atractive Rate of Return) yang digunakan 10%. Net Present Value (NPV).5% dan nilai bagi hasil berdasarkan perhitungan yang baru. Internal Rate of Return (IRR).9) 47. Untuk selanjutnya akan dihitung nilai indikator keuntungan dari kelayakan finansial penambangan batubara mutu rendah masing-masing perusahaan Indikator keuntungan yang dihitung di dalam proses simulasi ini adalah : a.40% c) Untuk empat parameter (kalori – abu – sulfur – natrium) : 8. termasuk batubara peringkat rendah (lignit).14 13.5 6.62 9.87 16. dirumuskan sebagai fungsi dari faktor bobot 158 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .800 51.14 13.33%.00 C 4.66 13. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Uraian Nilai Kalori Jumlah Cadangan Jarak Tambang ke Terminal Kapasitas Produksi Stripping Ratio Umur Tambang Biaya Investasi Biaya Produksi Harga Jual Nilai Bagi Hasil Net Present Value (NPV) Internal Rate of Return (IRR) Satuan A Kkal/kg Juta ton Km Juta ton/thn tahun Juta US$ US$/ton US$/ton % Juta US$ % 5.07% b) Untuk tiga parameter : kalori – abu – sulfur : 9. Karena harga batubara mutu rendah belum ada.46% kalori – abu – natrium : 9. 4.52% d) Untuk Lignit nilai bagi hasil : 7.5 29.84 Bagi hasil untuk Pemerintah dalam penghitungan ini sesuai dengan perjanjian kontrak antara Pemerintah dan perusahaan untuk batubara secara umum.2 17 4.19% Kalori – sulfur – natrium : 9.14 15.8. Batubara Mutu Rendah adalah batubara yang memiliki peringkat menengah dan tinggi dengan kandungan pengotor tinggi.838 48.66 Perusahaan B 4.000 42.5 1 : 2. b.31 (647.5 % x F.0 1:5 17 44.30 20.86 10.0 100 2. Faktor bobot (F) didefinisikan sebagai fungsi dari perbandingan (proporsi) harga batubara mutu rendah dan batubara mutu tinggi. yaitu sebagai fungsi dari parameter batubara (peringkat dan pengotor) dan parameter ekonomi termasuk biaya penanganan (handling cost).47 18.

2008. Direktorat Pengusahaan Mineral. Penetapan Nilai Bagi Hasil atas Produksi Batubara Mutu Rendah. Rochman Saefudin. 1979. Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. Saran 1. Matematika Terapan untuk Bisnis dan Ekonomi. 2009.5% DAFTAR PUSTAKA American Society For Testing and Material (ASTM). Indonesia Mineral and Coal Statistic. 2004.0% 4 parameter nilai bagi hasil : 8.2. And Cambridge University Press. Blue Print Pengelolaan Energi Nasional 2010 . maka berdasarkan nilai kalor dan jumlah pengotornya disarankan untuk membaginya menjadi : a) Tiga nilai bagi hasil. dkk. Bandung. Standard classification of coals by rank D 388 – 92a. Directorate of Mineral Resources Inventory. BPFE.2025.M. P. Batubara dan Panas Bumi. Untuk mempermudah penerapan nilai bagi hasil untuk produksi batubara mutu rendah. yaitu : d” 3 parameter nilai bagi hasil : 10. dan Heal.5% Lignit : 7. G. khususnya untuk memasok PLTU yang akan dibangun. maka perlu ditetapkan tarif nilai bagi hasil untuk pengusahaan (PKP2B) batubara mutu rendah agar harganya bisa kompetitif dengan batubara mutu baik. reserves and calorific value. 2008. Yogyakarta. Jakarta. maka untuk mengoptimalkan pengusahaan dan pemanfaatan batubara mutu rendah sebagai sumber energi.5% 4 parameter dan lignit : 7.4. Directorate of Mineral Resources Inventory.5% b) Dua nilai bagi hasil. Ltd. 159 . yaitu : d” 3 parameter nilai bagi hasil : 9. Indonesia Coal : Resources. 1993. Du Mairy. American Society For Testing and Material. Directorate General of Geology and Mineral Resources.S. Economic Theory and Exhaustible Resources. sedangkan potensi cadangan batubara sebagian besar bermutu menengah ke bawah. 2. Jakarta. Dasgupta. James Nisbet & Co. 2008. 2004. Karena nilai bagi hasil untuk memproduksi batubara mutu rendah belum ada ketetapannya. 2009.

MAKALAH DIPOSTERKAN .

paper industry is 8. textile industry is the most used coal is 75. 022 .59%. Banten 52 perusahaan. Terdapat sekitar 226 perusahaan di Provinsi Jawa Barat yang telah menggunakan batubara. Jend.99 juta ton selama satu tahun.go. Jawa Timur 1.ANALISIS POTENSI LIMBAH HASIL PEMBAKARAN BATUBARA PADA INDUSTRI KECIL DAN MENENGAH DI PULAU JAWA Triswan Suseno dan Tuti Hernawati Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl.47 juta ton. abu terbang ABSTRACT Amount middle and small industry in Java have to use coal year 2007 is 417 company. 115 companies at Central Java. To be found out amount of produced wasted by companies in Java.6003373 e-mail : triswan@tekmira. ternyata telah dihasilkan limbah abu dasar sebanyak 251. Industri tekstil merupakan industri yang paling banyak menggunakan batubara.. Sudirman 623 Bandung 40211 Telp.07 million Analisis Potensi Limbah Hasil Pembakaran Batubara pada Industri .esdm. Kata kunci : limbah. diikuti Jawa Tengah 115 perusahaan. masing-masing digunakan oleh Jawa Barat 3. each consumpted by West Java amount 3. Semakin banyak batubara yang dibakar. diambil contoh untuk diamati sebanyak 94 perusahaan pemakai batubara di Kabupaten Bandung. have to sampling as much as 94 companies are coal user in Regency of Bandung.877 ton.id SARI Jumlah industri kecil dan menengah di Pulau Jawa yang menggunakan batubara pada tahun 2007 tercatat sudah mencapai 417 perusahaan.6030483 Fax. dan Jawa Timur 24 perusahaan. Proses pembakaran batubara pada industri ternyata menghasilkan limbah yang disebut dengan abu dasar dan abu terbang.36 juta ton.63%. Amount of wasted produced by companies influenced by amount of coal to used. ke 417 perusahaan tersebut telah menggunakan batubara sebanyak 5. dan Jawa Tengah sebesar 0.63% and others is 15.99 juta ton. semakin banyak pula limbah yang akan dihasilkan. There are about 226 companies at West Java Province is used coal. yaitu 75. To estimated of wasted is regression analysis method. abu dasar. Coal burning processing at industry to produced wasted there are bottom ash and fly ash. Untuk mengetahui jumlah limbah yang dihasilkan oleh perusahaan-perusahaan di Pulau Jawa ini.59%.336 ton dan abu terbang 82.78%. In 2007. Selama tahun 2007.99 million ton. Metode yang digunakan untuk memperkirakan jumlah limbah yang dihasilkan adalah metode analisis regresi. Dari pembakaran batubara sebanyak 5.09 juta ton. disusul kemudian industri kertas sebesar 8. dan industri lainnya 15.78%. Triswan Suseno dan Tuti Hernawati 161 . Besarnya limbah yang dihasilkan dari pembakaran ini sangat dipengaruhi oleh jumlah batubara yang digunakan oleh setiap perusahaan. 022 . Banten 1. 417 companies consumption of coal amount 5.07 juta ton. 52 companie at Banten and 24 companies at East Java..

(1) . fly ash 1... Salah satu kemungkinan yang timbul adalah masalah sosial akibat adanya isu lingkungan yang mengklasifikasikan batubara sebagai limbah bahan berbau........ Data sekunder adalah data yang diperoleh dari berbagai instansi terkait.. Peningkatan konsumsi batubara ini cenderung akan mempengaruhi peningkatan jumlah limbah batubara. Banten 1..1. Dalam jangka panjang... Seiring dengan sudah semakin banyaknya industri tekstil yang menggunakan batubara sebagai bahan bakar dalam kegiatan produksinya.47 million ton....... maka memahami perubahan pola konsumsi energi yang dilakukan oleh masyarakat industri adalah suatu keharusan dan menjadi hal penting bagi pemerintah sebagai pembuat dan pengendali kebijakan dalam mendukung kelancaran roda perekonomian.....2. jelas masalah ini sangat mengkhawatirkan mengingat limbah batubara ini akan terus mengalami peningkatan sehingga harus ada penanganan khusus terhadap masalah ini. untuk sementara waktu mungkin hal ini dapat diatasi........ Sedangkan data primer adalah data yang diperoleh dari hasil wawancara langsung ke beberapa perusahaan IKM secara acak.... Keywords : wasted....... sehingga ada korelasi yang sangat 162 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 ... Dalam situasi seperti ini.. 2...... a = koefisien perpotongan b = koefisien regresi y = variabel limbah hasil pembakaran batubara x = variabel jumlah pemakaian batubara setiap IKM Tampak jelas bahwa perkembangan kebutuhan batubara tidak terlepas dari perkembangan industri di suatu daerah. (2) .................. Akibat adanya pola perubahan konsumsi energi tersebut.877 ton... dan beracun (B3) sehingga masyarakat akan memprotes keberadaan industri pengguna batubara yang akhirnya dapat mengganggu kegiatan produksi dan perekonomian nasional.... (3) Dalam hal ini. Asosiasi Pertekstilan Indonesia....... Selain menyediakan lokasi tempat penyimpanan batubara untuk beberapa hari ke depan...From coal burning amount 5.. dan Dinas Lingkungan Hidup..ton. namun bagi perusahaan yang memiliki lahan terbatas masalah tempat pembuangan limbah batubara menjadi salah satu kendala... 1990) sebagai berikut: .......... Imbauan pemerintah agar masyarakat industri menggunakan energi alternatif seperti batubara ternyata berdampak posistif terhadap kelangsungan aktifitas industri dalam negeri apalagi dengan berkurangnya subsidi bahan bakar minyak untuk industri... Sebagian perusahaan yang masih memiliki lahan.... Data Data yang digunakan untuk mendukung analisis ini terdiri atas data primer dan data sekunder.366 ton and 82... sehingga hubungan ini dapat dinyatakan dalam bentuk model regresi sederhana (Gaspersz...99 million ton in a year..... East Java 1. bottom ash. Model Analisis Tingkat produksi limbah hasil pembakaran batubara sangat dipengaruhi oleh pemakaian batubara yang digunakan oleh IKM.... METODOLOGI 2... antara lain Dinas Tenaga Kerja... mengakibatkan produk limbah batubara dari setiap perusahaan pun semakin meningkat. produced of bottom ash and fly ash each are 251. berbahaya.. akan terjadi peningkatan penggunaan batubara pada industri kecil dan menengah (IKM) sekaligus akan menimbulkan permasalahan baru.. perusahaan juga harus mencari tempat pembuangan limbah batubara.. PENDAHULUAN ash) dan abu dasar (bottom ash). khususnya dalam bidang energi. sehingga banyak industri yang beralih penggunaan bahan bakar minyaknya ke batubara.09 million ton and Cenral Java 0. More and more coal is burned is more and more produce wasted.. yaitu limbah batubara yang disebut sebagai abu terbang (fly 2...36 million ton.......... Untuk mengetahui sejauhmana pemakaian batubara tersebut mempengaruhi besarnya limbah yang dihasilkan tersebut digunakan metode analisis regresi..

industri tekstil ini pulalah yang paling banyak menggunakan batubara sebagai bahan bakar. Konsumsi batubara di daerah ini pada tahun 2007 diperkirakan mencapai 3. disusul kemudian oleh Kota Cimahi. Kabupaten Bandung merupakan konsumen batubara terbesar dengan jumlah pemakaian mencapai 44. penggunaan batubara oleh IKM di beberapa wilayah seperti Banten.. Klaten.71%. 2007. minyak sawit.362.23%. briket batubara. seperti Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi.980 ton). berdasarkan hasil penelitian ternyata bahwa IKM yang telah beralih menggunakan batubara sudah mencapai 226 perusahaan. Dinas Lingkungan Hidup.000 ton). berarti dalam kurun waktu tersebut sudah mengalami kenaikan sekitar 250%. memaksa pemerintah untuk memacu penggunaan batubara oleh industri sehingga kontribusinya mencapai 32. Sragen. Informasi ini diperoleh dari berbagai sumber. dari 193 perusahaan pada tahun 2006 (Ijang Suherman. berarti hampir 69. 98 di antaranya adalah perusahaan tekstil. Ungaran. kapur. BPLH Jawa Barat.730 ton. makanan.06%.500 ton). Kota Tangerang (191.83% dari jumlah keseluruhan penggunaan batubara di Jawa Tengah (465. Sukoharjo. sisanya adalah industri kertas. Puslitbang Tekmira.396 ton). Jawa Tengah. Kajian Batubara Nasional.80%). Target pemerintah sampai dengan tahun 2025 mengurangi penggunaan BBM hingga dua puluh persen. sedangkan sisanya tersebar di Batang.069.008 ton. Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jawa Barat. Disnaker. makanan. Di Provinsi Banten saja jumlah IKM yang sudah mengunakan bahan bakar batubara sudah mencapai 52 perusahaan. Perusahaan yang paling banyak menggunakan batubara adalah industri tekstil. Kudus. karet. dan Kota Tangerang (3 perusahaan). Konsentrasi perusahaan pemakai batubara paling banyak terletak di Kabupaten Pekalongan (21 perusahaan) dan Karanganyar (16 perusahaan). Triswan Suseno dan Tuti Hernawati 163 .. Jumlah pemakaian batubara sampai tahun 2008 diperkirakan sudah mencapai 1. Kabupaten Serang (11 perusahaan). dan lainlain.erat antara tren perkembangan industri dengan perubahan kebutuhan batubara dan limbahnya. Surakarta.57 juta ton untuk 199 perusahaan tekstil. Di antara jumlah IKM pemakai batubara. Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah. Semarang. 2008).250 ton. dan kota Cilegon (115. briket. Di Provinsi Jawa Barat. KONSUMSI BATUBARA DAN POTENSI LIMBAH BATUBARA DI PULAU JAWA Rencana pemerintah mengurangi pasokan dan penghapusan subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang selama ini menjadi beban yang sangat berat ditanggung oleh pemerintah memaksa pelaku industri untuk mengubah pola penggunaan bahan bakar. Di Provinsi Jawa Tengah. khususnya di Pulau Jawa. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh tim dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Bandung tahun 2008.50%. Jumlah IKM pemakai batubara di Provinsi Jawa Barat selalu mengalami kenaikan.040 ton. jumlahnya mencapai 2. Purwakarta dan Karawang masing-masing 16.21%) di antaranya berada di Kabupaten Bandung. tercatat ada 115 perusahaan. disusul Kota Cimahi sebanyak 47 perusahaan (20. Himbauan pemerintah kepada masyarakat industri untuk mengalihkan penggunaan bahan bakar minyak ke batubara dan adanya larangan pemerintah agar industri baru menggunakan batubara ternyata berdampak sangat signifikan terhadap kenaikan konsumsi batubara di Indonesia. Jenis tekstil dan produk tekstil merupakan perusahaan yang paling banyak menggunakan batubara (85. dan obat-obatan. Jawa Barat. Padahal pada tahun 2005 baru tercatat sebanyak 15 perusahaan saja. Kabupaten Tangerang (29 perusahaan). Bandung) menjadi 226 pada tahun 2007 perusahaan (API. Kendal. Pada tahun 2007 saja penggunaannya mencapai 325.7% terhadap pemanfaatan bauran energi nasional mengingat cadangan batubara di Indonesia cukup besar. Sebanyak 118 perusahaan (atau 52. Analisis Potensi Limbah Hasil Pembakaran Batubara pada Industri . stereofoam. disusul oleh Kabupaten Tangerang (416. ban. lainnya adalah perusahaan sepatu.84%). minuman. berarti naik sebesar 9. Pati.21% dan 12. pengecoran logam. 14. 3. Kabupaten Serang merupakan pemakai batubara batubara terbanyak yaitu 639. percetakan. Industri pemakai batubara tersebut tersebar di Kota Cilegon (9 perusahaan). dan Jawa Timur ternyata pesat sekali. sisanya digunakan oleh IKM di daerah lainnya. dan Grobogan. dan bijih plastik. sedangkan sisanya tersebar di berbagai lokasi di Jawa Barat.

58% dari jumlah 164 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Jumlah batubara yang digunakan IKM di Pulau Jawa sebesar 5. Perusahaan kertas yang paling banyak menggunakan batubara adalah PT. Diketahui bahwa setiap hari ke 94 perusahaan tersebut menggunakan batubara tidak kurang dari 2.100 ton (atau 55.45% di antaranya digunakan oleh perusahaan kertas. Provinsi Jawa Barat merupakan daerah yang memberikan kontribusi limbah terbesar. Jumlah pemakaian batubara pada tahun 2007 tercatat 1. sehingga variabel ini merupakan parameter potensial yang sangat mempengaruhi produksi abu dasar dan abu terbang. yaitu 51. bahwa jumlah limbah hasil pembakaran batubara sangat dipengaruhi oleh variabel pemakaian batubara di setiap IKM. 2006 dan 2007). Selain kesulitan dalam menyediakan tempat penyimpanan batubara. hasilnya dapat dilihat dalam Tabel 2. Dari sisi jenis industri.000 ton. limbah abu dasar dan abu terbang dari 94 perusahaan tersebut. Perusahaan kertas (18 perusahaan) adalah pemakai batubara terbesar di wilayah ini. analisis komposisi sulfur (pyritic sulfur. Fe2O3. dan Jawa Tengah (7. sehingga pemerintah daerah pun mengalami kesulitan dalam mengawasinya. kadar sulfur. 95.82%).77%).75 + 41.98 x 2) Model regresi abu terbang : y = 173.430 kg abu terbang (Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung. 2006). di 4.68%) disusul oleh industri kertas 35. perusahaan tekstil sebesar 4.19%. mereka mengalami kesulitan pula dalam membuang limbah batubara sehingga mereka membuangnya di sembarang tempat dengan tidak memperhatikan dampak dari pembuangan tersebut. jumlahnya mencapai 186. konsumsi. 75. dan sisanya oleh perusahaan briket.985. limbah yang dihasilkan dari pembakaran batubara tersebut sekitar 103. Biasanya parameter yang digunakan dalam memilih batubara adalah kalori. karena karakteristik mesin atau peralatan yang digunakan dalam kegiatan produksi berbeda satu dengan yang lainnya. Berdasarkan data jumlah pamakaian batubara. dan titik leleh abu (ash fusion temperature) (Raharjo.213 ton atau 5.20%). Dari jumlah IKM sebanyak 417 perusahaan.419 ton. sulfate sulfur. penggunaan batubara merupakan salah satu alternatif yang sangat membantu dalam menekan biaya penggunaan bahan bakar yang memang jauh lebih efisien dan ekonomis. kandungan zat terbang. disusul kemudian oleh perusahaan tekstil (5 perusahaan) dan briket(1 perusahaan). ukuran.72 x Kedua model di atas digunakan untuk mengestimasi potensi limbah yang dihasilkan dari proses pembakaran batubara oleh IKM di Pulau Jawa.297 kg abu dasar dan 53. P2O5. diperoleh informasi bahwa tercatat sebanyak 24 perusahaan yang telah menggunakan bahan bakar batubara. POTENSI LIMBAH HASIL PEMBAKARAN BATUBARA OLEH IKM DI PULAU JAWA Sebagaimana dijelaskan sebelumnya. dan tingkat ketergerusan. Banyak produk limbah batubara dari beberapa perusahaan tidak bisa digunakan sebagai bahan batako. Jawa Timur (18. Tjiwi Kimia yang berlokasi di pinggir jalan raya Mojokerto.100 ton. ternyata menghasilkan model regresi sebagai berikut : 1) Model regresi abu dasar : y = 23.14%. Sehingga pemilihan kualitas batubara yang sesuai akhirnya akan sangat berpengaruh terhadap daya tahan mesin agar mesin berfungsi secara optimal. Pembuangan dilakukan secara diamdiam tanpa melakukan koordinasi dengan pihak pemerintah daerah.39 + 13.20% dari limbah tersebut adalah abu dasar sedangkan sisanya berupa abu terbang. Di tengah harga BBM yang semakin melambung. organic sulfur).Berdasarkan hasil survei di Jawa Timur.266 ton (2007). semakin maraknya penggunaan batubara pada IKM memunculkan persoalan baru.21%. Apabila hal ini terjadi terus menerus dikhawatirkan akan menimbulkan masalah baru khususnya yang berkaitan dengan masalah pencemaran lingkungan sehingga dapat menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat. Al2O3. Kualitas limbah batubara pasca pembakaran sangat dipengaruhi oleh jenis batubara dan sistem pembakarannya. yaitu limbah hasil pembakaran batubara. kadar kelembaban. disusul kemudian oleh Banten (22. Hal ini sangat penting. di samping parameter lain seperti analisis unsur yang terdapat dalam abu (SiO2. dengan pemakaian pertahun mencapai 720.13% dan industri lainnya 9. ternyata menghasilkan limbah hasil pembakaran batubara sebanyak 334. dan lain lain). perusahaan tekstil menjadi penyumbang terbesar limbah hasil pembakaran batubara. Di sisi lain. kadar abu. 94 perusahaan di antaranya menjadi contoh (sample) untuk dicatat jumlah abu dasar dan abu terbang yang dihasilkan dari pembakaran batubara di setiap perusahaan tersebut.088. kadar karbon.

.575 15.227 128.141 1. Jawa Tengah.313 29.362.088.500 52 226 115 24 417 Banyaknya Perusahaan Konsumsi Batubara Banyaknya Perusahaan Konsumsi Batubara Banyaknya Perusahaan Lainnya Jumlah Konsumsi Batubara 1.985.800 65 546.699 251.067 465. Triswan Suseno dan Tuti Hernawati Banten Jabar Jateng Jatim 16.543 3.898 Jumlah 140.39+13.775 107.026 Tekstil Abu Dasar Abu Terbang Analisis Potensi Limbah Hasil Pembakaran Batubara pada Industri .069. y(at) =173.962 Abu Terbang 4.750 13.768 3.297 6.101 43.080 73.440 370.336. koefisien korelasi (r) = 48. Estimasi jumlah abu dasar (ad) dan abu terbang (at)hasil pembakaran batubara di Pulau Jawa menurut jenis ikm (ton) Kertas Abu Dasar 26.280 4.4%.102.440 2.218 5 8 5 18 620.074 14.800 325.850 132.119 5.604 88.651 1.400 5. Puslitbang Tekmira Bandung Tabel 2.809 198 22.052 15.074 Berdasarkan model regresi : y(ad) =23.561 45..767 1.877 Provinsi 5.544 35.000 3.413 1.008 45.566.104 Abu Terbang Lainnya Abu Dasar 14.522 681 46.248 36 2.Tabel 1.300 8.0%.708 4.600 33 19 12 1 342. Jumlah perusahaan pemakai dan konsumsi batubara oleh ikm di Pulau Jawa tahun 2007 Jumlah Perusahaan (Buah) Dan Konsumsi Batubara (Ton) Kertas Konsumsi Batubara 399.97 X .556 2.038.119 82.680 1.849 19.877 979 125 7.336 Abu Terbang 18. Jawa Timur (2008) Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung ( 2007) Asosiasi Pertekstilan Indonesia Jawa Barat (2007) Hasil survei Tim Pola Distribusi Batubara Tahun 2008. koefisien korelasi (r) = 93. Jawa Barat. 165 .887 42.72 X.367 Tekstil Provinsi Banyaknya Perusahaan Banten Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Timur 14 199 98 5 Jumlah 316 Sumber : - Dinas Tenaga Kerja Provinsi Banten.747 Jumlah Abu Dasar 57.160 66.7477+41.576 5.

18 Tahun 1999 jo PP 85 Tahun 1999 yang menyatakan limbah tersebut termasuk kategori limbah bahan berbahaya dan beracun (B3). Namun tidak semua perusahaan memiliki lahan yang luas. Berdasarkan informasi yang diperoleh. Sehingga di dalam limbah hasil pembakaran batubara masih banyak mengandung batubara walaupun kalorinya rendah. 166 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . tergantung pada kondisi dan kemampuan masing-masing perusahaan.04% memiliki TPS tapi tak berizin dan 40. sehingga tidak diketahui kemana limbah tersebut dibuang. harus ada suatu bimbingan teknis yang dilakukan oleh para aparat kepada para pekerja di pabrik yang menggunakan batubara. 4) Kualitas batubara dari pemasok dan teknik pembakaran batubara yang tidak sempurna menjadikan limbah ini dinyatakan sebagai limbah B3. Padahal berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh berbagai instansi termasuk Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral di Bandung. KESIMPULAN DAN SARAN 5. dari 94 perusahaan pemakai batubara hanya 26. maka diprediksi akan semakin banyak IKM yang akan menggunakan batubara sebagai bahan bakar untuk kegiatan produksinya. Oleh karena itu. mereka memanfaatkan pihak ketiga atau pemasok batubara untuk mengangkutnya. Bagi sebagian perusahaan yang masih memiliki lahan luas. Pihak KLH sendiri dalam mengeluarkan izin pengolahan dan penggunaan produk limbah batubara sangat selektif dan berhati-hati sekali mengingat tidak semua perusahaan mampu mengelola limbah batubara dengan baik dan benar karena ada dugaan yang menyatakan bahwa sebagian besar perusahaan dalam melakukan pembakaran batubara dilakukan tidak secara sempurna. tidak atau belum boleh dijual ke masyarakat umum. untuk sementara limbahnya ditimbun di tempat pembuangan sementara (TPS) di sekitar lahan milik perusahaan tersebut.81% tidak/belum memiliki TPS sama sekali (Dinas Lingkungan Hidup. Namun pemanfaatan produk dari limbah tersebut ternyata masih terkendala oleh Peraturan Pemerintah No. perusahaan kecil biasanya menggunakan jasa pemasok batubara atau pihak ketiga untuk mengangkut limbah tersebut.04% saja IKM yang memiliki TPS berizin. 5.1.antaranya banyak ditemukan pada mesin boiler pembakar batubara di sejumlah perusahaan tekstil di wilayah Kabupaten Bandung. Kesimpulan Berdasarkan hasil kajian di atas dapat disimpulkan bahwa: 1) Selama batubara masih menjadi pilihan utama sebagai pengganti BBM. 2) Terdapat korelasi yang sangat signifikan antara penggunaan batubara dengan limbahnya. Timbul kekhawatiran limbah tersebut dibuang di sembarang tempat. Perusahaan lain yang telah melakukan pemanfaatan dan pengelolaan limbah dengan baik sesuai dengan prosedur yang berlaku adalah perusahaan tekstil PT. akibat keterbatasan lahan untuk menyimpan sementara hasil pembakaran batubara. Sudah banyak lembaga/instansi yang peduli terhadap limbah ini dan telah mencoba berbagai teknik untuk mengolah limbah ini menjadi bermanfaat. penggunaan batubara terus mengalami peningkatan sehingga berkorelasi erat dengan bertambahnya limbah. sehingga produknya tidak dapat digunakan secara bebas sebelum produk tersebut benar-benar dinyatakan bebas dari limbah B3 atas izin Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).04% saja telah memiliki TPS yang berizin. kualitas batubara yang selalu berubah dan tidak sesuai dengan spesifikasi boiler. harus ada solusi untuk menangani limbah tersebut. Dengan kata lain. ternyata limbah hasil pembakaran batubara dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan paving blok atau batubata. 2007). 3) Hanya 26. sementara TPS yang ada sudah tidak mampu untuk menampungnya. Namun produknya hanya boleh digunakan untuk memenuhi kebutuhan intern. Dalam menangani limbah hasil pembakaran batubara setiap perusahaan melakukannya dengan cara yang berbeda. semakin banyak batubara yang digunakan akan semakin banyak pula abu dasar dan abu terbang yang dihasilkan dari pembakaran batubara setiap IKM. Daliatex di Kabupaten Bandung yang telah mengolah limbah batubara menjadi batako. Seiring dengan berjalannya waktu. Faktor penyebabnya antara lain karena pembakaran yang tidak sempurna. 26. Oleh karena itu.

Surabaya.2. Ijang. 2008. Dinas Tenaga Kerja Provinsi Jawa Barat. Izin pengolahan limbah batubara ini diharapkan harus benar-benar digunakan agar tidak terjadi seperti IPAL yang saat ini mereka miliki ternyata tidak berfungsi sepenuhnya. Setiap perusahaan pengguna batubara harus mampu melakukan pembakaran batubara secara benar (sempurna) sehingga tidak ada batubara ke dalam limbahnya.. Analisis Kuantitatif Untuk Perencanaan. Triswan Suseno dan Tuti Hernawati 167 . Daftar Perusahaan Yang Menggunakan Batubara di Provinsi Banten. Saran Solusi permasalahan limbah batubara : Mencari dan menentukan lokasi tempat pembuangan limbah batubara yang benar-benar memenuhi persyaratan teknis dan nonteknis. Soreang. Pemerintah dapat memberikan izin kepada perusahaan yang benar-benar mampu mengelola (mengumpulkan dan mengolah. dan memanfaatkan) limbah batubara secara baik dan benar. Artikel Iptek . mengolah (dengan rekomendasi KLH). 2008. mulai dari menampung. Laporan Kegiatan Seksi Pengendalian Pencemaran Limbah Padat dan B3. Bandung. 2009. Imam Budi. DAFTAR PUSTAKA Asosiasi Pertekstilan Indonesia Jawa Barat. 2006. Untuk memudahkan pemantauan sebaiknya pemerintah atau swasta dapat membuat IPLB secara terpadu yang dapat menampung semua limbah batubara dari setiap industri pengguna batubara untuk memudahkan pengawasan. Puslitbang Tekmira. Dinas Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah. Rabu. 2007. Dinas Tenaga Kerja Provinsi Banten.Bidang Energi dan Sumber Daya Alam.5. Konsumsi Batubara Oleh Perusahaan Anggota API Jawa Barat. 1990. 2006 dan 2007. Dinas Lingkungan Hidup. 2007. www. Dinas Tenaga Kerja Provinsi Jawa Timur. Semarang. Bandung. Melakukan pengawasan yang ketat dan berkesinambungan kepada perusahaan yang diberi kewenangan mengelola dan memanfaatkan limbah batubara. letak. seperti luas. Mengenal Batubara (2). dan memasarkannya. 2008. Setiap perusahaan diwajibkan memiliki instalasi pengolahan limbah batubara (IPLB) seperti halnya mereka diwajibkan memiliki instalasi pengolahan limbah (IPAL) dan memanfaatkannya secara optimal. Daftar Perusahaan Yang Menggunakan Batubara. Daftar Perusahaan Yang Menggunakan Batubara. keamanan. 08:40:21. Memberikan izin memasarkan/menggunakan barang yang dibuat dari hasil pengolahan dan pemanfaatan limbah batubara. Bandung. Bandung. 2008. Gaspersz. Kajian Batubara Nasional. Pemerintah harus mampu meyakinkan masyarakat bahwa limbah dan produk limbah batubara tidak berbahaya karena sudah melalui prosedur pengolahan yang benar. Analisis Potensi Limbah Hasil Pembakaran Batubara pada Industri . dan lain-lain. Daftar Perusahaan Yang Menggunakan Batubara. memanfaatkan dalam bentuk barang (rekomendasi KLH). Suherman. Pengawas harus memberikan laporan secara benar tentang perusahaan pengguna batubara yang diawasinya kepada (Daerah/Pusat/KLH). Penerbit “Tarsito”. Harus ada satu atau dua perusahaan yang diberi kewenangan khusus menangani limbah batubara.com.. Vincent. Raharjo. Membentuk lembaga/perusahaan yang khusus mengawasi dan mengelola limbah batubara secara profesional serta harus bertanggung jawab kepada pemerintah (Daerah/Pusat/KLH).beritaiptek. Serang.

Kajian dilakukan dengan membandingkan kondisi proses UBC terhadap kondisi pembatubaraan dan mengumpulkan serta mengolah data analisis kimia dan analisis petrografi batubara raw dan produk UBC. The result shows that there UBC process does not increase the rank of coal. Kata kunci: proses UBC. reflektan vitrinit. There is an increase of vitrinite reflectance. vitrinite reflectance. peringkat batubara. Terdapat kenaikan reflektan vitrinit. Fax. Keywords: UBC process. klasifikasi batubara ABSTRACT To overcome misunderstanding about the rank of coal produced by Upgraded Brown Coal (UBC) process. 623. but not so significant and still similar with oven dried of raw coal. Bandung 40211 Telp. (022) 6030483.PENGARUH PROSES UPGRADED BROWN COAL (UBC) TERHADAP PERINGKAT BATUBARA Slamet Suprapto Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. (022) 6003373 e-mail: SARI Untuk mengatasi salah pengertian tentang peringkat batubara hasil proses Upgraded Brown Coal (UBC). perlu dilakukan kajian tentang pengaruh proses UBC terhadap peringkat batubara. Hasil kajian menunjukkan bahwa proses UBC tidak menyebabkan kenaikan peringkat batubara. coal rank. study on the effect of UBC process on coal rank needs to be carried out. tetapi tidak signifikan dan mirip dengan kenaikan yang dialami oleh batubara raw yang dikeringkan dalam oven. The study is carried out by comparing the condition of UBC process with the condition of coalification and collecting and calculating chemical and petrographical analysis of raw coal and UBC product. coal classification 168 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Jenderal Sudirman No.

Hal ini didasarkan kenyataan bahwa produk UBC mempunyai nilai kalor yang mirip dengan nilai kalor batubara peringkat bituminous. 2005). batubara peringkat rendah disebut juga batubara kualitas rendah (low grade coal) karena tingginya kadar air dan rendahnya nilai kalor. Campuran tersebut kemudian dipanaskan pada temperatur 150-160ºC dengan tekanan 250-350 kPa. Namun sebagian besar batubara Indonesia termasuk peringkat rendah (lignit – sub bituminus). Pilot plant kapasitas 5 ton/jam telah dibangun di Palimanan dan hasil ujicobanya membuktikan bahwa kadar air batubara peringkat rendah dapat dikurangi dan nilai kalornya meningkat. Mengingat kebutuhan semakin meningkat. Salah satu teknologi peningkatan kualitas batubara lignit yang saat ini dikembangkan oleh Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara bekerjasama dengan JCOAL. ekspoitasi terhadap batubara lignit juga mulai dikembangkan. penentuan peringkat batubara tidak bisa ditentukan dari nilai kalor batubara kering udara. Prinsip proses UBC adalah dengan mencampurkan batubara. maka nilai kalor batubara dapat meningkat.6 miliar ton tersebar terutama di Sumatera dan Kalimantan. Namun. Jepang adalah proses Upgraded Brown Coal. Jepang. Penelitian skala laboratorium dan skala bench dilakukan di Jepang. yakni dengan kadar abu dan kadar belerang rendah.1. produk UBC lebih baik dibanding batubara bituminous yang mempunyai kadar abu dan belerang tinggi Pengaruh Proses Upgraded Brown Coal (UBC) terhadap Peringkat Batubara. Dengan mengurangi kadar air. Tetapi tingginya kadar air pada batubara peringkat rendah terutama lignit menyebabkan tingginya biaya pengangkutan. teknologi-teknologi peningkatan kualitas batubara telah banyak berkembang.300 kal/g (adb) dan kadar air ± 7%. Kedua hal tersebut menyebabkan lignit lebih sulit dipasarkan dibanding batubara bituminous dan sub bituminous. Oleh karena itu perlu dilakukan kajian untuk mempelajari pengaruh proses UBC terhadap peringkat batubara. Untuk mengatasi permasalahan batubara lignit. TINJAUAN PUSTAKA Indonesia memiliki sumber daya batubara yang cukup besar. mencapai 104. air bebas (surface moisture) dan juga air lembab (inherent moisture) yang terdapat dalam pori-pori batubara akan diuapkan. Pada saat ini sebagian besar batubara yang ditambang adalah peringat bituminous dan sub bituminous. yakni dengan kadar air tinggi dan nilai kalor rendah. tingginya kadar air juga menyebabkan rendahnya nilai kalor. Gambar 1. Sedangkan minyak tanah diperlukan sebagai media dalam proses. sampai saat ini banyak yang menganggap bahwa teknologi UBC juga meningkatkan peringkat batubara. Padahal batubara peringkat rendah di Indonesia umumnya termasuk bersih. Padahal. Dengan temperatur dan tekanan tersebut. Proses pengering pada Upgraded Brown Coal Ujicoba pilot plant dengan menggunakan batubara peringkat rendah yang berasal dari beberapa daerah di Indonesia telah beberapa kali dilakukan dan berhasil dengan baik. Slamet Suprapto 169 . Produk UBC yang dihasilkan mempunyai nilai kalor >6. Produk UBC bisa berupa serbuk apabila langsung dimanfaatkan atau berbentuk briket apabila akan ditransportasi pada jarak jauh (Umar.1. 2. Penambahan minyak residu diperlukan untuk menutup pori-pori batubara sehingga kestabilan kadar air bawaan pasca proses dapat terjaga (Gambar 1). Disamping itu. PENDAHULUAN 2. minyak residu dan minyak tanah. Dengan nilai kalor yang tinggi dan kadar abu serta belerang rendah. Teknologi yang saat ini berkembang umumnya didasarkan atas proses pengurangan kadar air atau pengeringan. Proses UBC Teknologi UBC adalah salah proses coal upgrading yang meningkatkan nilai kalor melalui proses pengeringan (evaporative drying) yang pertama kali dikembangkan oleh Kobe Steel. Keberhasilan tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan pembangunan demonstration plant kapasitas 1000 ton/jam di Kalimantan Selatan. Namun demikian. kemudian untuk pilot plant dan demonstration plant dikembangkan di Indonesia.

Pada tahap pembatubaraan. Data analisis kimia yang digunakan diantaranya analisis proksimat (kadar karbon padat. Normalnya. 170 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Proses pematangan juga dapat dipercepat oleh pengaruh dari luar seperti intrusi batuan beku. 1965. Proses Pembatubaraan Batubara terbentuk dari pembusukan sisa tanaman purba yang terpadatkan setelah tertimbun oleh lapisan penutup di atasnya. dmmf). Stach. Sedangkan untuk analisis petrografi digunakan data reflektan vitrinit (Rv). 1982. Temperatur pada proses pembatubaraan normal tidak lebih dari 300ºC. Waktu juga berpengaruh terhadap pematangan bahan organik. Menurut H. sirkulasi hidrotermal. makin tinggi rasio bahan bakar. N dan S dan naiknya kadar C. Hubungan tipikal antara peringkat batubara dengan rasio bahan bakar Peringkat Batubara Lignit High volatile bituminous Medium volatile bituminous Low volatile bituminous Semi antrasit Antrasit Rasio Bahan Bakar 0.2. Tekanan berfungsi memadatkan sisa tanaman dan mengurangi kadar air. Besarnya tekanan tergantung dalamnya endapan batubara atau tebalnya lapisan tanah penutup. analisis ultimat (kadar karbon) dan nilai kalor.3. Oleh karena itu. Hubungan tipikal antara peringkat batubara dengan rasio bahan bakar dapat dilihat pada Tabel 1. Tingkat pembatubaraan atau posisi batubara dalam seri lignit – antrasit ini disebut peringkat (rank) (Stach. Temperatur berfungsi mempercepat pematangan bahan organik. waktu yang dibutuhkan dalam proses pembatubaraan berkisar antara puluhan sampai ratusan juta tahun. dan naiknya reflektan vitrinit. Kenaikan peringkat batubara juga diikuti oleh perubahan kimia dan sifat fisik batubara sebagai berikut (Francis. Stach. sisa tanaman sudah tertutup oleh lapisan tanah penutup sehingga terjadi proses geokimia. Proses pembentukan batubara pada dasarnya dapat dibagi menjadi 2 tahap. Falcon. Penentuan Peringkat Batubara Peringkat batubara dapat ditentukan melalui data analisis kimia atau analisis petrografi. Proses pembatubaan dipengaruhi oleh 3 faktor.6 24 Menurut Francis (1965) terdapat hubungan antara peringkat dengan kadar karbon pada batubara murni (dry mineral matter free. Hubungan antara peringkat dengan kadar karbon dapat dilihat pada Tabel 2.9 2. Kualitas tersebut mirip dengan kualitas batubara peringkat menengah. yakni tekanan. Rance (1975). Pada tahap ini sisa tanaman masih dalam keadaan terbuka dan belum tertutup oleh tanah penutup. turunnya kadar zat terbang. terdapat hubungan antara rasio bahan bakar (fuel ratio) dengan peringkat batubara. panas gesekan dan kompilasi tektonik. 1965. temperatur dan waktu. 2. yakni perubahan dari gambut menjadi batubara lignit dan seterusnya menjadi batubara-batubara sub bituminous. Pada tahap penggambutan terjadi proses biokimia sehingga sisa-sisa tanaman mengalami proses pembusukan. bituminous dan antrasit. kadar zat terbang). Makin tinggi tinggi peringkat batubara. Rasio bahan bakar adalah perbandingan antara karbon padat dengan kadar zat terbang. 1982): turunnya kadar air (bed moisture). 1986). dan naiknya nilai kalor. 1982).150ºC (Francis. makin tinggi kadar karbon (dmmf). Pada tahap ini sebetulnya terjadi proses pematangan. 2. yakni tahap penggambutan (peatification) dan tahap pembatubaraan (coalification).3 1. makin dalam endapannya makin lanjut proses pematangan.8 8. turunnya kadar H.9 1.sehingga sangat cocok untuk keperluan dalam negeri maupun ekspor.C. makin dalam endapannya. yakni makin tinggi peringkat batubara. makin tinggi peringkat batubara karena makin dekat dengan sumber panas dalam bumi. yakni berkisar antara beberapa kilogram sampai ratusan kilogram. Tabel 1. Untuk membentuk antrasit diperlukan temperatur 300ºC. sedangkan untuk batubara bituminous diperlukan temperatur 100 . O. Pemanasan yang lebih lama akan menghasilkan pematangan yang lebih tinggi sehingga endapan batubara yang berumur lebih tua mempunyai tingkat pembatubaraan yang lebih tinggi.

0 2.A) dengan Rv 2.5 – 2. % dimana. peringkat menengah (bituminous D . % M = kadar air bawaan (adb). Peringkat batubara dibagi menjadi tiga.3 .0%.5 2. Klasifikasi batubara berdasarkan peringkat menurut ASTM dapat dilihat pada Lampiran 1. 2005) kemudian membuat klasifikasi batubara berdasarkan peringkat dengan menggunakan data reflektan vitrinit (Rv).2.5 – 1.5 0.5. Pengumpulan Data Data sekunder berupa hasil analisis kmia dan petrografi batubara raw dan produk UBC diperoleh dari laporan kegiatan pilot plant UBC di Palimanan Cirebon yang beroperasi menggunakan batubara Binungan.6 0.0 – 2. % C = kadar karbon (adb). yakni kering bebas bahan mineral (dmmf) atau basah dan bebas bahan mineral (moist mineral matter free . 2005) sebagai berikut: Karbon padat = (dmmf).3 American Society for Testing Materials (Anonymous.55 S) Zat terbang = 100 – kadar karbon padat (dmmf) (dmmf). sedangkan batubara peringkat tertinggi (meta antrasit) mempunyai Rv 2.55 S) Karbon = (dmmf). 2005) membuat klasifikasi batubara berdasarkan peringkat dengan menggunakan data analisisi kimia.4%. tetapi dengan memasukkan data kadar air lapisan.0% dan peringkat tinggi (antrasit C . zat terbang dan nilai kalor dari batubara murni. Apabila penentuan peringkat menggunakan nilai kalor (mmf). METODOLOGI 3.1 0. Slamet Suprapto 171 . 3. % KP – 0.5 – 3.6 – 2. % Pengaruh Proses Upgraded Brown Coal (UBC) terhadap Peringkat Batubara. peringkat batubara ditentukan berdasarkan nilai kalor (mmf) batubara yang masih mengandung air lapisan (bed moisture).15 S x 100 100 – (M + 1. International Standard (Anonymous. Taban dan Samaranggau. peringkat batubara ditentukan berdasarkan kadar karbon padat dan zat terbang. Sedangkan untuk batubara yang mempunyai kadar karbon padat (dmmf) <31% atau kadar zat terbang (dmmf) >69%.3 – 0. % C x 100 100 – (M + 1.0%.0.mmf).5 1.A) dengan Rv 0. Hubungan antara peringkat dengan kadar karbon (dmmf) Peringkat Antrasit Carbonaceous Bituminous Sub bituminous Lignit Kadar karbon.Tabel 2.08 A + 0. % S = kadar belerang (adb). 1986) membuat hubungan antara refelektan vitrinit dengan gambut dan peringkat batubara menurut ASTM (Tabel 3).0 – 6. Peringkat rendah (lignit dan sub bituminous) dengan Rv <0.08 A + 0. 3. yakni kadar karbon padat.% dmmf 93 – 95 91 – 93 80 – 91 75 – 80 60 – 75 Tabel 3. Teichmuller dan Barntenstein (Falcon.1.0 – 6. % A = kadar abu (adb).5 – 6. KP = kadar karbon padat (adb). Untuk batubara yang mempunyai kadar karbon padat (dmmf) e”69% atau kadar zat terbang (dmmf) <31%. peringkat menengah dan peringkat tinggi. Batubara peringkat paling rendah (lignit) mempunyai Rv 0. Hubungan antara peringkat batubara dengan reflektan vitrinit Peringkat batubara (ASTM) Meta antrasit Antrasit Semi antrasit Low volatile bituminous Medium volatile bitumious High volatile bituminous Sub bituminous Lignit Gambut Reflektan vitrinit 3.0 1. Pengolahan Data Data hasil analisis batubara raw dan produk UBC pada kondisi kering udara diolah menjadi kondisi kering dan bebas bahan mineral (dmmf) menggunakan rumus Par (Anonymus. yakni peringkat rendah.1 – 1.4 <0. Klasifikasi batubara berdasarkan peringkat menurut International Standard (ISO) dapat dilihat pada Lampiran 2. diperlukan contoh batubara yang masih segar (fresh) dan langsung diambil dari tambang.4 – 0.

34% dan karbon padat 42. Air total. 1.90 5.80 4.59 Produk. mirip dengan kualitas produk UBC.628 172 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .805 kal/g.80 30.431 57.81 46.20 28.56 16.55 Taban Produk.52 6. % adb Karbon Padat.48% dan nilai kalor 6.11 22. 1981).75 15. 5.50 45. Batubara lignit mempunyai kadar air 34.894 Lignit 34.55 5.68 39.98 menyatakan bahwa peringkat batubara produk masih tetap rendah.00 47. % ar Abu.324 57.00 44.90 32.47 5.5 12.805 65.60 4.19 3.33 2.278 High volatile B bituminous 12. Rasio bahan bakar batubara produk UBC (Tabel 6) yang berkisar antara 0.4.07%.78 – 48. zat terbang 46.50 – 12.36 37. 4. sedangkan kadar karbon (dmmf) produk UBC berkisar antara 69. Peringkat batubara raw dan produk UBC masih tetap termasuk lignit.07 6.50 2. Dari Tabel 7 juga dapat dilihat bahwa seluruh batubara raw maupun produk UBC mempunyai kadar karbon padat (dmmf) <69% dan kadar zat Tabel 4.42 40. HASIL DAN PEMBAHASAN Data analisis batubara raw dan produk UBC pada kondisi kering udara dapat dilihat pada Tabel 4. Hal ini berarti tidak terjadi kenaikan peringkat batubara akibat proses UBC.61 47.625 66. Sedangkan batubara peringkat bituminous mempunyai kadar air 5. 33. Data analisis contoh batubara peringkat rendah – menengah Peringkat Rendah Parameter Air.00 30. Hal ini terbukti bahwa kadar zat terbang (dmmf) batubara produk UBC lebih tinggi dari yang terdapat pada batubara raw (Tabel 7). Tabel 5 menyatakan komposisi kimia contoh-contoh batubara peringkat rendah – menengah pada kondisi as received (ar contoh asal) (Singer.31 5. % ar Zat terbang. Bahkan terdapat kecenderungan penurunan rasio bahan bakar produk UBC dibanding batubara raw. 2004 Binungan Produk.006 Sub bituminous 19. kal/g ar Sumber: Singer. % adb Abu. Penurunan rasio bahan bakar tersebut dikarenakan oleh naiknya kadar zat terbang yang kemungkinan akibat penambahan atau sisa residu (LSWR) yang ditambahkan selama proses UBC (lihat Gambar 1).54 – 45. Sebagai pembanding. Kadar karbon (dmmf) batubara raw berkisar antara 71.35 4.15 38. 1981 Peringkat Menengah High volatile C bituminous 10.20 40. Hasil analisis tersebut mirip dengan kualitas batubara peringkat high volatile bituminous.19 Raw.310 – 6.08 – 8.93 48.40% dan nilai kalor 6.54 6.894 kal/g. yakni lignit.006 kal/g.80 6.13 6.048 53.88 Samaranggau Raw 32. Hasil analisis batubara raw dan produk UBC Paramater Raw. Produk UBC mempunyai kadar air lembab 5.20 30.76%. kal/g adb Karbon.00 6.589 High volatile A bituminous 5. mirip dengan kualitas batubara umpan (raw coal) untuk proses UBC.310 64.80 60.278 – 7.67 45. % ar Nilai kalor. Tabel 8 menunjukkan bahwa tidak terdapat perubahan kadar karbon (dmmf) yang siginifikan dari produk UBC dibanding batubara raw.60 35.34 42.78 44.05 37.89 6.70 – 71.74%.96-0.43 17. % ar Karbon padat.60 6.40 5. % ar Air lembab.90 7.65 2. % adb Sumber: Umar. % adb Nilai kalor. % adb Zat terbang.80% dan nilai kalor 4.01 Tabel 5.

88 0. namun waktu (durasi) proses sangat berbeda.54 51. Pembahasan tersebut di atas menyatakan bahwa peringkat batubara produk UBC cenderung sama dengan peringkat batubara raw.% dmmf 51.18 69.053 0.46 48.60 0.57 terbang (dmmf) >31%. sedangkan proses pembatubaraan yang merubah batubara lignit menjadi batubara high votaltile bituminous terjadi dalam waktu puluhan juta tahun.38% menjadi 0.29-0.02 46. Mengingat nilai kalor (mmf) harus ditentukan dari batubara yang masih mengandung air lapisan.12 73.039 0.35-0. peringkat batubara produk UBC tidak mengalami kenaikan yang berarti. Tabel 9. Reflektan vitrinit batubara raw. Rasio bahan bakar batubara raw dan produk UBC Contoh Batubara Binungan Taban Samaranggau Raw Produk Raw Produk Raw Produk Rasio Bahan Bakar 1. maka peringkat batubara produk UBC tidak bisa ditentukan menurut kalsifikasi ASTM.43 50.57 49.97 0.08 0.35 – 0. dmmf 48.45.51 Pengaruh Proses Upgraded Brown Coal (UBC) terhadap Peringkat Batubara.44 0. produk UBC dan batubara kering oven Contoh Kisaran Batubara raw Produk UBC Batubara kering oven Sumber: Daulay.50 51. 2008 Reflektan Vitrinit.70 Tabel 7. Tetapi.45 0. Slamet Suprapto 173 . % Rata-rata 0.44% atau ratarata 0. Waktu tinggal batubara pada proses UBC tidak lebih dari 1 hari.98 0.76 72.98 53.50 49.50 50. Dengan demikian maka peringkat batubara harus ditentukan dari nilai kalor (mmf).34 71.Tabel 6.60 71.29 – 0.60% atau rata-rata 0.95 Tabel 8. Tabel 9 menunjukkan terjadinya kenaikan reflektan vitrinit akibat proses UBC. Apalagi refelektan vitrinit batubara kering oven yang juga mengalami kenaikan dibandingkan batubara raw.38 0.43 Deviasi 0.038 0. Kadar karbon padat dan zat terbang batubara raw dan produk UBC Contoh Batubara Binungan Taban Samaranggau Raw Produk Raw Produk Raw Produk Karbon padat. Temperatur yang digunakan untuk proses UBC memang mirip dengan temperatur proses pembatubaraan.32 – 0.96 0. Reflektan vitrinit batubara raw berkisar antara 0.10 48.43 Zat terbang%. Kadar karbon batubara raw dan produk UBC Contoh Batubara Binungan Taban Samaranggau Raw Produk Raw Produk Raw Produk Kadar Karbon% dmmf 74.

tetapi mirip dengan kenaikan pada batubara kering oven. 1982. C.P.. International Standard. Fossil Power. Pergamon Press. B..F. Combustion Engineering. I.. Daulay. 1991.. E. rasio bahan bakar. Bandung. vol. 1986. An Introduction to Coal Petrography: Atlas of Pet- 174 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . 25. Coal Quality Parameters and their Influence in Coal Utilization. Characterization of upgraded brown coal (UBC). 31-45. Pengujian Peningkatan Kualitas Batubara Peringkat Rendah dengan Proses UBC (Upgraded Brown Coal) Skala Pilot. KESIMPULAN Kualitas batubara produk UBC mirip dengan batubara peringkat high volatile bituminous. Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara. Rance. D 388 – 99(2004). Classification of coal. Bandung. Petrografphy of Raw Coal and its UBC Product. TH. T. ISO 11760:2005(E).. Annual Book of ASTM Standard. Coal preparation. Gebruder Borntraeger. H. pp. B. Deguchi. 1975. (Ed.. Umar. Stach. 2005.. Review Paper No.. Daulay. J. 2005. W.). R. no..C. 2004. DAFTAR PUSTAKA Anonymous..G. Singer.S.. Chandra.M. G. M. Fuels and Fuel Technology.5. Stach’s Textbook of Coal Petrology. rographic Constituents in the Bituminous Coals of South Africa. Daulay. Combustion. R & D Centre for Mineral and Coal Technology. Usui. H. Berlin. kadar karbon dmmf tetap dan tidak mengalami perubahan yang berarti. Shell International Petroleum Co. Connecticut. Taylor. Teichmuller. Windsor. & Teichmuller.. and Snyman. Anonymous. Proses UBC tidak berpengaruh terhadap peringkat batubara. R. The Geological Society of South Africa. 1965. Suganal & Rijwan. Mackowsky.... D.. M. 2008. S. Francis.F. D. 2005.. Falcon. Ltd.. B. and Sugita. Umar. Oxford. Classification of Coal by Rank. tetapi peringkatnya relatifsama dengan batubara raw.1. D. Terdapat sedikit kenaikan reflektan vitrinit.H. Inc. 2.

FREEPORT INDONESIA SEBAGAI KATALIS PENCAIRAN BATUBARA Nining Sudini Ningrum dan Hermanu Prijono Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jln.go.go. hal ini dibuktikan dari kereaktifannya yakni perolehan produk minyak serta hasil konversi pencairan batubara yang lebih besar pada kondisi proses yang sama. Dalam rangka menambah sumber katalis pencairan batubara yang ada di Indonesia.esdm.6030483 Fax. sulfidasi.. perubahan suhu dari 350-450°C cenderung tidak berpengaruh terhadap ukuran kristal pirhotit yang terbentuk dari katalis tailing PT. the research of iron ore from South Kalimantan as coal liquefaction catalyst has been carried out. 022 .UJI SULFIDASI BIJIH BESI KALIMANTAN SELATAN DAN TAILING PT. Freeport Indonesia (PT. 623 Bandung 40211 Telp. maka telah dicoba bijih besi dari Kalimantan Selatan untuk digunakan sebagai katalis. semakin tinggi suhu maka kristal pirhotit yang terbentuk semakin besar.Freeport. Tujuannya adalah untuk mengetahui reaktifitas/aktifitas/efektifitas penggunaan bahan katalis berbasis besi dari bijih besi Kalimantan Selatan. ukuran kristal pirhotit yang terbentuk dari katalis bijih besi Kalsel lebih kecil daripada katalis tailing PT. tailing.id. Sudirman No. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu berpengaruh terhadap terbentuknya ukuran kristal pirhotit dari katalis bijih besi Kalsel. The result of the research will be compared to that of the research using tailing from PT. Katalis yang banyak digunakan dalam pencairan batubara adalah katalis yang berbasis besi. mineral yang terkandung dalam bahan katalis bijih besi berpengaruh terhadap terbentuknya kristal pirhotit..id ABSTRAK Katalis dalam pencairan batubara berperan sangat penting untuk dapat meningkatkan konversi batubara menjadi minyak.FI). hermanu@tekmira. 022 . tailing.6003373 e-mail : ninings@tekmira. ukuran kristal pirhotit ABSTRACT Catalyst in coal liquefaction is very important to increase percentage of coal conversion. In order to develop Indonesian catalyst sources for coal liquefaction. Hasil percobaan dibandingkan dengan hasil yang diperoleh dengan menggunakan katalis tailing dari PT. sulfidation. Nining Sudini Ningrum dan Hermanu Prijono 175 .. The methodology of the research is sulfidation to observe the crystal growth of pyrrhotite and percentage of coal yield and coal conversion. The size of crystal pyrrhotite formed from iron ore catalyst is smaller than that from tailing catalyst.Freeport Indonesia. Kunci: bijih besi. The oil yield and percentage of coal conversion increased as compare to that of tailing catalyst. It is generally recognized that the iron based catalyst is an active phase in coal liquefaction. Freeport Indonesia. Keywords: iron ore. The result show that the temperature and mineral mater in iron ore is influential to the size of crystal pyrrhotite but temperature and mineral mater in tailing is not influential to the size of crystal pyrrhotite. The aim of this research is to identify of reactivity and activity of iron ore as catalyst on coal liquefaction. crystal pyrrhotite size Uji Sulfidasi Bijih Besi Kalimantan Selatan dan Tailing . Metoda yang digunakan adalah dengan melakukan uji sulfidasi untuk mengamati pertumbuhan kristal pirhotit dan mengetahui persentasi produk dan konversi pencairan batubara.esdm.

1998). yakni katalis tidak mengubah kesetimbangan dan katalis hanya berpengaruh pada sifat kinetik seperti mekanisme reaksi. dari Kalimantan Selatan. Hasil dari uji sulfidasi dicuci dengan tetrahidrofuran sehingga kristal pirhotit bersih dari pengotor yang kemudian dipisahkan dari pelarut dengan pompa vacuum untuk selanjutnya diuji dengan XRD guna mengetahui kristal pirhotit yang terbentuk. ratio atom S/Fe 2 pada suhu 350°C ii) Pelarut + Bijih Besi Kalsel (ukuran -325#) + Sulfur. ratio atom S/Fe 2 pada suhu 400°C iv) Pelarut + Bijih Besi Kalsel (ukuran -325#) + 176 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . karena pada kondisi reaksi pencairan berlangsung unsur besi dalam katalis bereaksi dengan sulfur membentuk senyawa pirhotit. Suatu bahan katalis memiliki kinerja yang baik untuk pencairan batubara bila ukuran kristal fasa aktif pirhotit tidak lebih dari 40 nm (Kaneko. Keberadaan katalis juga dapat meningkatkan jumlah tumbukan antar molekul reaktan. dan terpenuhi energi aktivasinya. 1986). Beberapa jenis katalis telah dicoba untuk pencairan batubara tetapi sampai saat ini. PENDAHULUAN 2. ukuran partikel dan ukuran kristal katalis. tekanan dan waktu reaksi. PERCOBAAN 3. besi sulfida seperti Pyrite. Dalam proses pencairan batubara. International Nikel Indonesia. persentasi produk dan konversi pencairan batubara secara langsung. katalis berbasis besi ditambahkan sulfur. Disamping itu katalis juga dapat membuat kondisi reaksi menjadi lebih moderat seperti menurunkan suhu. tapi dilakukan tanpa batubara. Penggunaan bijih besi yang relatif murah diharapkan dapat menekan ongkos yang diperlukan untuk pembelian katalis. Pyrrhotite dan Troilite dianggap sesuai sebagai katalis pencairan batubara karena cukup aktif dan berharga murah (Yokoyama. dkk. FI). Freeport Indonesia (PT. Katalis dapat mengantarkan reaktan melalui jalan baru yang lebih mudah untuk berubah menjadi produk. Ukuran kristal dapat membesar karena adanya aglomerasi antar partikel pirhotit. Bijih Besi dari Kalimantan Selatan mudah diperoleh dan cadangannya banyak mempunyai kandungan oksida besi yang tinggi. Mineral-mineral yang mengandung oksida besi antara lain laterit dari Pulau Sebuku dan limonit dari Soroako berasal dari PT.1.. satu katalis hanya sesuai untuk satu jenis reaksi saja. KAJIAN PUSTAKA Suatu reaksi dapat berlangsung bila terjadi kontak yang efektif antar molekul reaktan. Katalis memiliki sifat tertentu. Pengujian sulfidasi hampir mirip dengan pengujian pencairan batubara. Semakin besar ukuran kristal pirhotit semakin rendah kereaktifannya yang berakibat rendahnya jumlah batubara yang dapat dicairkan. Katalis juga bersifat spesifik. Pengujian ini dilakukan untuk melihat kinerja pirhotit yang terbentuk dari katalis. Uji Sulfidasi Katalis Percobaan uji sulfidasi katalis dilakukan dengan menggunakan beberapa variabel: i) Pelarut + Bijih Besi Kalsel (ukuran -325#) + Sulfur. terhadap: pertumbuhan pembentukan kristal pirhotit dengan melakukan proses sulfidasi pada suhu 350-425°C. Dengan demikian konversi yang dihasilkan tidak akan melebihi konversi kesetimbangan. Kedua syarat di atas dapat terakomodasi dengan baik apabila ada katalis. Tujuan penelitian untuk mengetahui (reaktifitas/ aktifitas/efektifitas) penggunaan bahan katalis berbasis besi dari bijih besi Kalimantan Selatan dan tailing dari PT. Seperti disebutkan sebelumnya bahwa semakin besar ukuran kristal pirhotit semakin rendah kereaktifannya yang berakibat rendahnya jumlah batubara yang dapat dicairkan. Jalan baru yang dimaksud yaitu jalan yang mempunyai energi aktivasi yang lebih rendah. Untuk mengetahui kinerja dari pirhotit ini salah satunya dengan melihat ukuran kristal yang terbentuk. dkk. 3. Ukuran kristal pirhotit dapat dihitung dengan formula dari Scherer yang datanya diambil dari uji XRD hasil uji sulfidasi.. Fe(1-x)S yang merupakan fasa aktif yang sangat berperan dalam proses pencairan batubara. Pada pencairan batubara. ratio atom S/Fe 2 pada suhu 375°C iii) Pelarut + Bijih Besi Kalsel (ukuran -325#) + Sulfur. katalis mempunyai peran yang sangat penting yakni dapat meningkatkan konversi batubara menjadi minyak. Pada penelitian ini telah dilakukan pengujian katalis berbasis besi berupa bijih besi.1. Aktifitas katalis sangat dipengaruhi oleh dispersi katalis yang tergantung pada luas permukaan.

PT. Penambahan Sulfurdg rasio Cuci dengan tetrahidrofuran.  Kat sbg Fe 3% dari BB 1. -325 # Uji Sulfidasi pada   = 0 menit. dan 425°C). soltv =  15 g. ratio atom S/Fe 2 pada suhu 350°C vi) Pelarut + Tailing PT. Uji Katalis untuk Pencairan Batubara 4. Heksana c. PH2 = 10 MPa. Kat sbg  Fe = 3%.Sulfur.1. 425OC Kondisis pencairan : T = 400 °C. Analisis Kimia Penggerusan Analisis Ayak 1.2. ratio atom S/Fe 2 pada suhu 400°C viii) Pelarut + Tailing PT. Bahan baku katalis berbasis besi Peremukan Uji : 1. 375°C. mesh Variasi suhu= 350.FI (ukuran -325#) + Sulfur. dan 425°C) ii) Katalis Tailing PT. Tetrahidrofuran % Produk dan % konversi filtrat Kristal pirhotit Uji XRD Uji Sulfidasi Bijih Besi Kalimantan Selatan dan Tailing . 400°C. 375°C. PH2 =  t 10 MPa. XRD 2. Nining Sudini Ningrum dan Hermanu Prijono 177 . Uji Sulfidasi Variasi percobaan adalah sebagai berikut: i) Katalis Bijih Besi Kalimantan Selatan (suhu 350°C. Freeport Indonesia. .. Toluena b.. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil analisis kimia dan XRD bahan baku katalis 4. 400.FI (suhu 350°C. soltv = 15 g .ukuran ‐325.FI (ukuran -325#) + Sulfur.FI (ukuran -325#) + Sulfur. ratio atom S/Fe 2 pada suhu 425°C Pelarut + Tailing PT.  S/F = 2. ratio atom S/Fe 2 pada suhu 425°C v) 3. t =  60 menit. ratio atom S/Fe 2 pada suhu 375°C vii) Pelarut + Tailing PT. 375.FI (ukuran -325#) + Sulfur.   saring dengan pompa vacum Ektraksi dengan a. 400°C.

88 29.90 29. Secara umum ukuran kristal pirhotit bertambah dengan meningkatnya suhu. Pengamatan dilakukan untuk mengetahui pengaruh suhu terhadap ukuran kristal fasa aktif pirhotit. Kalsel. Pada Tabel 1 di atas terlihat bahwa perubahan suhu berpengaruh pada ukuran kristal pirhotit yang terbentuk. Kalsel dengan melihat ukuran kristal yang terbentuk.2 Sulfidisasi katalis tailing PT. 3750C. FI dilakukan pada autoclave dengan kondisi operasi sama dengan katalis bijih besi. (1998) dan Ningrum dan Prijono (2009) dengan ukuran partikel katalis adalah -325 #. Hasil analisis XRD untuk hasil uji sulfida katalis Tailing PT.5406 Pos.FI mengandung sulfur yang berasosiasi dengan besi dalam bentuk pirit. ukuran kristal pirhotit katalis bijih besi Kalsel lebih besar dibanding ukuran kristal yang terbentuk pada suhu 375ºC. Katalis dari tailing PT. ukuran partikel katalis -325#.4. dan ukurannya meningkat dengan semakin tingginya suhu. Pengamatan pada percobaan ini dilakukan pada suhu 3500C. Percobaan sulfidasi ini dilakukan menggunakan autoclave dengan laju pemanasan 5°C/menit pada tekanan awal dari H2 10 MPa dengan penambahan sulfur.90 29.19 178 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . sehingga didapat suhu optimal dimana katalis memiliki aktifitas maksimal.1.19 16. dan 4250C.87 FWHM [°2Th.15 25.] 0.33 Ukuran Kristal (nm) 25. Tabel 1. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Ningrum dan Prijono (2009) menunjukkan bahwa penambahan katalis berbasis besi berpengaruh terhadap perolehan produk dan persen konversi pencairan batubara. Dari data yang didapat maka suhu 375ºC merupakan suhu dimana kristal pirhotit memiliki ukuran terkecil sehingga katalis memiliki kereaktifan yang terbaik dalam meningkatkan jumlah batubara yang dicairkan seperti terlihat pula pada Gambar 1.5406 1. FI Pada penelitian Ningrum dan Prijono (2009) telah dibahas bahwa penambahan katalis dari tailing PT. [°2Th.33 0. 3750C. Pengamatan dilakukan untuk mengetahui pengaruh suhu terhadap ukuran kristal fasa aktif pirhotit.41 0. Grafik hubungan ukuran kristal pirhotit katalis bijih besi terhadap suhu 4. dan proses sulfidasi dilakukan mendekati kondisi proses pencairan. merupakan acuan kondisi operasi yang diambil dari Kaneko.FI berpengaruh terhadap perolehan produk dan persen konversi pencairan batubara. dan 4250C. Pengaruh suhu terhadap ukuran pirhotit katalis bijih besi. Pada suhu sulfidasi 350ºC. Pengamatan dilakukan pada suhu 3500C. Hasil analisis XRD untuk hasil uji sulfidasi.1. Kalsel Suhu Sulfidasi (°C) 350 375 400 425 λ (A) 1. konversi komponen besi dari katalis tailing PT.hkl 200 29. Hal ini disebabkan terjadinya aglomerisasi antar partikel pirihotit pada suhu yang semakin tinggi. sehingga diperoleh suhu optimal dan memiliki aktifitas maksimal. Kalsel terjadi pada suhu sulfidasi 375ºC. rasio atom S/Fe – katalis = 2. Kristal pirhotit terkecil yang terbentuk dari katalis bijih besi. 4000C. Pada percobaan sulfidasi ini.49 0. Percobaan sulfidasi ini dilakukan untuk mengetahui kinerja katalis bijih besi.1 Sulfidisasi katalis bijih besi Kalimantan Selatan Kondisi operasi sulfidasi katalis dilakukan tanpa batubara pada tekanan 100 MPa dan waktu tinggal operasi mendekati 0 menit (t = 0 menit).. 4000C. dkk. Gambar 1.] Bid.79 20.5406 1. Hal ini diperkirakan karena struktur kristal yang masih amorf sehingga bidang kristal pirhotit belum terbentuk dengan sempurna. Suatu bahan katalis memiliki kinerja yang baik untuk pencairan batubara bila ukuran kristal fasa aktif pirhotit kecil. FI.5406 1.

87 FWHM [°2Th. [°2Th. Freeport terhadap suhu Uji Sulfidasi Bijih Besi Kalimantan Selatan dan Tailing . Kalsel yang memiliki ukuran kristal pirhotit kecil hasilnya lebih Gambar 2.. Hasil percobaan menunjukkan bahwa konversi dengan n. ukuran partikel katalis -325#.33 Ukuran Kristal (nm) 25.20 71. Hal ini diperkirakan karena adanya unsur Si yang menghambat kereaktifan katalis sehingga ukuran katalis cenderung sama.] 0. Data pada Tabel 2 menunjukkan bahwa suhu 3750C merupakan suhu dimana kristal pirhotit yang terbentuk memiliki ukuran terkecil sehingga memiliki kereaktifan terbaik dan dapat meningkatkan jumlah batubara yang dicairkan.FI cenderung tidak terlalu berpengaruh pada ukuran kristal pirhotit yang terbentuk.5406 1. Kalsel dengan ukuran kristal pirhotit yang lebih kecil menghasilkan produk minyak berat yang lebih besar daripada yang menggunakan katalis tailing PT. et.06 44.FI. FI pada Produk dan Konversi Pengaruh jenis bahan katalis berbasis besi dan ukuran kristal pirhotit yang terbentuk terhadap produk pencairan batubara dapat dilihat pada Tabel 3.5406 Pos.72 Aspalten 19.06 44.99 29. yang dilakukan pada kondisi tekanan awal H210 Mpa perbandingan atom S/Fe = 2. Ukuran kristal pirhotit katalis yang terbentuk cenderung sama dengan ukuran terkecil kristal pirhotit pada suhu sulfidasi 375 0 C.15 28. dan suhu 4000C.33 0.2.14 26.79 Produk (%) Minyak Berat 65. 4.19 Tabel 3.FI lebih banyak daripada pencairan dengan katalis bijih besi. Tabel 2.hkl 200 29. Dalam Tabel 3 ini diperlihatkan perbandingan produk dan persen konversi hasil pencairan batubara menggunakan katalis bijih besi Kalimantan Selatan dan katalis tailing PT. Grafik hubungan ukuran kristal pirhotit katalis tailing PT. Produk aspalten pencairan batubara yang menggunakan katalis tailing PT. Pengaruh Ukuran Kristal Pirhotit Katalis Bijih Besi Kalsel dan Tailing PT.02 Jenis Katalis Bijih Besi Kalsel Tailing PT. Kristal pirhotit yang terbentuk dari pirit lebih besar dari kristal pirhotit yang terbentuk dari katalis besi oksida.. heksan 65.5406 1.86 29.86 29.79 25. sedangkan ukuran kristal pirhotit terbesar pada suhu 4000C.] Bid.FI yang memiliki kristal pirhotit yang besar.29 0.30 % Konversi Ekstraksi n. hexan maupun toluen pada pencairan batubara dengan katalis bijih besi.19 28. Penelitian yang dilakukan oleh Kaneko.5406 1.20 25.72 Ekstraksi toluen 84. Freeport Dari Tabel 3 terlihat bahwa pencairan batubara yang menggunakan katalis bijih besi.FI Suhu Sulfidasi (0C) 350 375 400 425 λ (A) 1.33 0. Nining Sudini Ningrum dan Hermanu Prijono 179 .Pada Tabel 2 di atas terlihat bahwa perubahan suhu pada katalis tailing PT. Pengaruh suhu terhadap ukuran kristal pirhotit katalis tailing PT.al (1998) juga menunjukkan bahwa kristal pirhotit yang terbentuk dari pirit lebih besar daripada limonit dan goetit. Pengaruh jenis katalis dan ukuran kristal pihotit terhadap jumlah produk dan persen konversi pencairan batubara Ukuran Kristal Pirhotit (nm) 20.

and Y. katalis dari bijih besi Kalsel yang terdiri atas hematit ukuran kristal pirhotit yang terbentuk lebih kecil dibandingkan yang berasal dari tailing PT. Semakin tinggi suhu maka kristal pirhotit yang terbentuk semakin besar. Satou. 65. Energy & Fuels. Vol. 1998. K. Yoshida. 180 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Fuel. pp. Freeport Indonesia dan Waktu Tinggal Reaksi pada Pencairan Batubara. Grafik hubungan ukuran kristal pirhotit dan jenis bahan katalis berbasis besi terhadap jumlah produk hasil pencairan batubara DAFTAR PUSTAKA Kaneko. Prosiding Seminar Energi Baru Terbarukan: Peranan Energi Baru Terbarukan Dalam Mengatasi Krisis Energi dan Menghambat Laju Pemanasan Global.Freeport hal ini dibuktikan dari kereaktifannya. KESIMPULAN Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: suhu berpengaruh terhadap terbentuknya ukuran kristal pirhotit dari katalis berbasis besi yang merupakan fasa aktif pencairan batubara. T.. ukuran kristal pirhotit yang terbentuk dari katalis bijih besi Kalsel lebih kecil daripada katalis tailing PT. 164-170. K. FI yang mengandung unsur sulfur dalam bentuk pirit. Kageyama. Catalytic Activity of Various Iron Sulphides in Coal Liquefaction. 2009. luas permukaan kontak kristal pirhotit semakin besar.S dan Prijono. 12. 82-96. H. 5. sehingga peran katalis lebih efektif. K. perolehan produk minyak serta hasil konversi pencairan batubara yang lebih besar pada kondisi proses yang sama.. mineral yang terkandung dalam bahan katalis berpengaruh terhadap terbentuknya kristal pirhotit. Freeport Indonesia (PT. 1986. H. N. Indonesia.FI). FMIPA UNS Surakarta. S. pp. Gambar 3. Tazawa. Koyama. FI (Gambar 3 dan 4). 897-904. R. Hal ini disebabkan semakin kecil ukuran kristal pirhotit yang terbentuk.baik dibanding katalis dari tailing PT. Narita.FI yang memiliki kristal pirhotit lebih besar. Transformation of Iron Catalyst to the Active Phase in Coal Liquefaction. pp. selama proses pencairan ukuran kristal pirhotit akan membesar seiring dengan meningkatnya suhu operasi. perubahan suhu dari 350-450°C cenderung tidak berpengaruh terhadap ukuran kristal pirhotit yang terbentuk dari katalis tailing PT. K. Kodaira and Y. Shimasaki. Dilihat dari jumlah hasil produk dan persen konversi secara keseluruhan. Maekawa. Gambar 4. maka bijih besi Kalsel lebih baik sebagai katalis pencairan batubara daripada tailing PT. Yokoyama. Pengaruh Fraksi Ukuran Katalis Tailing PT. Grafik hubungan ukuran kristal pirhotit dan jenis bahan katalis besi terhadap persen konversi N Heksan dan Toluen Ningrum. T.

Ikin Sodikin dan Datin Fatia Umar 181 . 000 kal/g dapat ditingkatkan menjadi >6. belerang. proses UBC. Fax. Dari 7 contoh batubara peringkat rendah yang berasal dari beberapa daerah di Indonesia. zat terbang. From 7 Indonesian low rank coal samples. dapat ditingkatkan menjadi >7. densitas 1.esdm. dimulai dengan pembangunan UBC skala pilot kapasitas 5 ton/hari di Palimanan.id SARI Penelitian peningkatan kualitas batubara peringkat rendah dengan teknologi Upgraded Brown Coal (UBC) telah dilakukan sejak tahun 2002. sedangkan kadar hidrogen dan oksigen turun.id dan Datin@tekmira. started with UBC pilot plant construction with a capacity of 5 ton/day in Palimanan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan karakteristik batubara Mulia yang berasal dari daerah Satui. pembriketan.110°C. Bahkan batubara yang berasal dari Banko dengan nilai kalori <5. batubara dengan nilai kalori <5.000 kal/g. the coal with calorific value of <5. South Kalimantan after process and the optimum conditions of briquetting to coal after process in UBC pilot plant Palimanan.77 kg/cm2.. Kondisi optimum pembriketan didapat pada kondisi putaran roll 8 rpm dan temperatur 80 . karbon padat. Karakterisasi dan Optimalisasi Pembriketan pada Batubara .015 – 1.6%.200 cal/gr.5%.000 cal/gr.go. ext.. Kata kunci : karakterisasi. Jenderal Sudirman No.200 cal/gr increased to be >7.200 kal/g. Hasil proses UBC yang dilakukan dapat menurunkan kadar air bawaan (inherent moisture) batubara Mulia sebesar 71. : (022) 6030483. Kalimantan Selatan. : (022) 6038027. meanwhile low rank coal from Banko with calorific value of <5. Pada kondisi ini briket UBC yang dihasilkan mempunyai kuat tekan 73 . Cirebon. sehingga nilai kalor naik sebesar 26.esdm. 227. West Java.04 g/cm3 dan kecepatan produk briket UBC yang dihasilkan sebanyak 1. Sementara kadar abu.KARAKTERISASI DAN OPTIMALISASI PEMBRIKETAN PADA BATUBARA HASIL PROSES UPGRADED BROWN COAL SKALA PILOT Ikin Sodikin dan Datin Fatia Umar Pusat Penelitian dan Pegembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl.104 kg/ jam. Cirebon. 623.go. Cirebon. setelah dilakukan proses dan mengetahui kondisi optimum pembriketan pada batubara hasil proses pada UBC skala pilot di Palimanan. e-mail : ikin@tekmira. karbon dan nitrogen mengalami kenaikan.200 kal/g. Cirebon. The aim of this research is to know the changes of Mulia coal characteristics from Satui. Bandung – 40211 Telp. skala pilot ABSTRACT Research on low rank coal upgrading with Upgraded Brown Coal (UBC) technology has been developed since 2002. Jawa Barat.000 cal/gr can be increased to be >6.

Australia.. volatile matter.200 kal/g dapat ditingkatkan menjadi >7. dengan dimulainya pembangunan UBC skala pilot dengan kapasitas 5 ton/hari di Palimanan. pilot plant 1.000 kal/g. UBC process. Pilot plant tersebut telah berhasil dioperasikan dengan baik. In this condition. Kadar air bebas dapat dikurangi secara efektif dengan cara mekanik. setelah dilakukan proses UBC dan mengetahui kondisi optimum pembriketan pada batubara hasil proses UBC skala pilot yang berlokasi di Palimanan.. Proses UBC Penurunan kadar air dalam batubara dapat dilakukan dengan cara mekanik atau perlakuan panas. Cirebon. KAJIAN TEORITIS 2. Kandungan air dalam batubara baik air bebas maupun air lembab merupakan faktor yang merugikan. maka dalam proses ditambahkan minyak residu untuk melapisi pori-pori pada partikel batubara. Dengan demikian diperlukan teknologi khusus untuk menurunkan kadar air. Salah satu teknologi untuk menurunkan kadar air lembab adalah proses UBC yang merupakan teknologi peningkatan kualitas (upgrading) batubara peringkat rendah 182 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Air lembab adalah air yang terikat secara fisik pada struktur pori-pori bagian dalam batubara dan mempunyai tekanan uap yang lebih rendah daripada tekanan uap normal. Beberapa penelitian dengan maksud tersebut telah banyak dilakukan sejak tahun 1920-an di Amerika Serikat.200 kal/g.5%. Jepang (Shigehisa et al. UBC briquettes resulted have a pressure strength of 73-77 kg cm2. carbon and nitrogen contents were increased.04 g/cm3 and briquet production capacity of about 1. sulfur. karena memberikan pengaruh yang negatif terhadap biaya transportasi dan proses pembakarannya. fixed carbon. Air bebas adalah air yang terikat secara mekanik dengan batubara pada permukaan dalam rekahan atau kapiler yang mempunyai tekanan uap normal.1. LATAR BELAKANG Kualitas batubara Indonesia pada umumnya didominasi oleh batubara peringkat rendah (lignit dan subbituminus). Kegiatan penelitian peningkatan kualitas batubara peringkat rendah dengan teknologi UBC ini telah dimulai sejak tahun 2002 oleh Puslitbang tekMIRA bekerjasama dengan Kobe Steel Ltd. inherent moisture of Mulia coal can be decreased about 71. Keuntungan teknologi ini. Jepang dan lain-lain (Suwono. 2007). yang akan dipakai sebagai acuan untuk pengoperasian proses UBC demonstration plant di Satui. Dari 7 contoh batubara peringkat rendah yang berasal dari beberapa daerah di Indonesia. batubara peringkat rendah mempunyai kandungan air total cukup tinggi yang menyebabkan nilai kalor menjadi rendah. Jawa Barat. Seperti diketahui. 2000).104 kg/hour.6%. Keywords : Characteristics. 2.. Jepang. the calorific value increased about 26.The result of UBC process. Batubara peringkat rendah ini belum banyak dieksploitasi karena masih mengalami kendala dalam masalah transportasi dan pemanfaatannya. hydrogen.000 kal/g dapat ditingkatkan menjadi >6. Kalimantan Selatan. batubara dengan nilai kalori <5. Jawa Barat. Whilst ash. and oxygen were deacreased. 2. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan karakteristik batubara Mulia yang berasal dari daerah Satui. dkk. sehingga nilai kalori batubara tersebut menjadi lebih tinggi. The optimum condition of briquetting was reached at roll rotation of 8 rpm and temperature of 80-110 °C.015 –1. sedangkan penurunan kadar air lembab harus dilakukan dengan cara pemanasan. density 1. Kalimantan Selatan.2. Hasil kegiatan proses UBC ini digunakan sebagai acuan dalam pembangunan UBC demonstration plant (Umar. therefore. yaitu sekitar 60% dari total sumber daya yang jumlahnya 104. di antaranya adalah karena proses berlangsung pada temperatur dan tekanan rendah. briquetting. 2009). Salah satu di antaranya adalah teknologi Upgraded Brown Coal (UBC) yang merupakan teknologi peningkatan nilai kalor (upgrading) batubara peringkat rendah melalui penurunan kadar air total yang dikembangkan oleh Kobe Steel Ltd. Untuk mencegah masuknya kembali air ke dalam batubara. Bahkan batubara yang berasal dari Banko dengan nilai kalori <5. Kandungan Air Dalam batubara Air yang terkandung dalam batubara terdiri atas air bebas (free moisture) dan air lembab (inherent moisture). 2000).7 milyar ton (Sukhyar.

Secara termodinamika. pada temperatur 100 . dengan temperatur sekitar 150°C.8T J/mol G = -223400 . 2. metana dan zat lain yang mudah menguap dari batubara selama terjadi pemanasan. 2002).. maka terjadi reaksi kimia yang menghasilkan produk gas atau cairan yang banyak berhubungan dengan sistem pori-pori batubara. pengeluaran tar dari batubara belum sempurna.4. menyebabkan terjadinya penguapan air bebas.0. Porositas batubara tersebut menyangkut sistem pori-pori yang dimiliki.120°C terjadi reaksi endotermis. Untuk proses UBC sebagai aditif digunakan minyak residu yang merupakan suatu senyawa organik yang beberapa sifat kimianya mempunyai kesamaan dengan batubara. dekomposisi gugus karboksil. Komposisi dan sifat produk akhir akan bermacam-macam tergantung pada temperatur pemanasan. Dengan minyak residu tersebut.5 atm. sedangkan penguapan air bawaan dianalogikan dengan air kristal atau hidroksida dengan reaksi sebagai berikut : M(OH)2 MOn + nH2O Secara termodinamika. karena prosesnya dilakukan pada temperatur dan tekanan relatif rendah.175. Porositas batubara dapat menyebabkan terjadinya difusi keluar uap air. penyusutan gas-gas hidrogen dan oksigen kompleks serta aromatisasi. oleh karena itu diperlukan suatu kondisi pemanasan yang inert. Perbandingan beberapa teknologi upgrading terhadap UBC dapat dilihat pada Tabel 1. Oleh karena itu perlu ditambahkan zat aditif sebagai penutup permukaan batubara seperti kanji. sehingga batubara dapat disimpan di tempat terbuka untuk jangka waktu yang cukup lama (Shigehisa et al. Dalam proses UBC.. minyak residu yang masuk ke dalam pori-pori batubara akan kering kemudian bersatu dengan batubara. Lapisan minyak ini cukup kuat dan dapat menempel pada waktu yang cukup lama. Proses UBC. Menurut Tsai (1982). 2000). reaksi antara batubara dengan oksigen adalah: C + O2 2C + O2 CO2 2CO G = -394100 . Dengan kesamaan sifat kimia tersebut. Dengan memanaskan batubara. Kehilangan sejumlah massa bahanbahan penyusun batubara melalui pori-pori. 2. sehingga air yang telah keluar tidak akan terserap kembali. hidrogen. air yang menguap berupa air bebas.3.melalui penurunan kadar air total. Dekomposisi aktif adalah terdekomposisinya mineral organik penyusun batubara menjadi tar dan penguapan air. proses UBC mempunyai keuntungan. daerah dekomposisi aktif dan pemanasan di atas temperatur dekomposisi. air terikat secara fisik dan air yang terjebak dalam struktur pori-pori batubara. Pengaruh Penambahan Aditif Dalam melakukan pemanasan pada batubara ada 3 daerah pemanasan yang berpengaruh terhadap terjadinya dekomposisi. tetes tebu (mollase). air bawaan/terikat secara kimia. Penguapan air bebas akan berperilaku sama dengan pengeringan secara umum. Dibandingkan dengan proses upgrading lainnya. slope pekat (fuse oil) dan minyak residu. Karena proses pemanasan. sifat fisik yang memegang peranan penting pada proses pemanasan adalah sifat porositas. CO dan hidrokarbon. Pemanasan Proses pemanasan batubara sampai temperatur tertentu menyebabkan terjadinya perubahan komposisi struktur batubara. dikeringkan dan dibuat briket. Dalam proses UBC. maka pori-pori batubara yang terbuka akan diisi oleh residu dan menutup permukaan batubara sehingga air yang telah keluar tidak akan terserap kembali (Deguchi et al. yaitu pemanasan di bawah temperatur dekomposisi. maka reaksi berlangsung harus pada temperatur di atas 120°C. reaksi ini berlangsung pada berbagai temperatur. batubara dibuat slurry dengan menggunakan minyak tanah yang dicampur dengan minyak residu kemudian dipanaskan pada temperatur 150°C dan tekanan sekitar 3. Ikin Sodikin dan Datin Fatia Umar 183 . Pada reaksi ini terjadi penguapan air. Pemanasan batubara pada temperatur dekomposisi aktif. yaitu >200°C. Karakterisasi dan Optimalisasi Pembriketan pada Batubara . tetapi perlu aktivasi yang cukup besar. Penambahan minyak residu diperlukan untuk menutup pori-pori batubara yang terbuka. CO2. sedangkan campuran minyak tanah dan residu digunakan kembali untuk proses selanjutnya. batubara dicampur dengan minyak residu kemudian dipanaskan pada tekanan dan temperatur yang relatif rendah. menyebabkan terjadi kekosongan pori-pori tersebut.3T J/mol Adanya reaksi seperti di atas pada proses pengeringan batubara tidak dikehendaki. Oleh sebab itu. Batubara hasil proses dipisahkan. terjadi perubahan kimia karena menguapnya air bawaan. tar.

Perkembangan Teknologi Upgrading Batubara di Dunia Teknologi Lokasi Pengembang UBC Palimanan INDONESIA Kobe Steel.000 -9. JAPAN & tekMIRA INDONESIA K-FUEL Wyoming USA KFx Inc.000 . wikipedia.200 -9.000 Btu/lb 350-450°C 8.7 ton/hari Padatan Menurunkan Na 12.500 Btu/lb 11. of La PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 Sumber: http// www.000 -8. emisi SO2 Menurunkan Na.500 Btu/lb Demonstration 1.9.000 ton/hari plant Padatan Mengurangi masalah slagging dan fouling Slurry - Tabel 1.000 ton/hari plant 3-8 juta ton/th Nilai Kalor Batubara Produk Produk Keterangan Padatan Menurunkan kandungan air Padatan Padatan Komersial sejak 2005 Komersial sejak 1927 di Dalam tahap rencana ke komersial Mengurangi Hg.600 Btu/lb 12..000 ton/hari plant 2-3 MPa Demonstration 1. USA FLEISSNER Voest-Alpnie AG HWD/SD AUSTRIA YUGOSLAVIA Grand Forks (USA).200 Btu/lb 475-550°C 2-3 MPa Demonstration 1. Melbourne (Australia) The University 8.500-11.000-12.800 Btu/lb 450-550°C 230-280°C 3-6 MPa 4-6 MPa 8.000 of North Dakota Btu/lb SYNCOAL Montana (USA) Rosebud SynCoal Partnership ENCOAL Wyoming (USA) SMC mining SGI Int.000 Btu/lb 10.000 Btu/lb 270-300°C 8-12 MPa 5.3 MPa 8.2-0.184 Nilai Kalor Batubara Asal Temperatur Tekanan Status Kapasitas 5.500 -8.000 Btu/lb 150-160°C 0. com (2008) . S dan Cl 7.000 Btu/lb 12.

Dari Tabel 2 dapat dilihat bahwa kadar air total dan air bawaan batubara asal cukup tinggi.05 g/cm3 dan kecepatan produk briket UBC sebanyak 840 kg/jam. belerang dan nitrogen mengalami sedikit kenaikan. 13. Dengan terlapisinya pori-pori batubara tersebut. Kalimantan Selatan yang akan dipakai umpan pada UBC demontration plant.98%. adalah : Ukuran batubara umpan < 3mm dengan kecepatan pengumpanan 100 kg/jam. yaitu 0. adalah : Ukuran batubara umpan < 3mm dengan kecepatan pengumpanan 100 kg/jam Konsentrasi batubara dalam slurry 30% (30 % batubara. KEGIATAN PERCOBAAN 3. 70% minyak tanah yang mengandung 0. 10. Kecepatan pengumapan slurry ke dalam decanter 350 l/jam. Percobaan proses UBC 4. Selanjutnya. Briket UBC mempunyai kuat tekan 98 kg/cm2.28% dengan kadar abu yang sangat rendah. Variabel percobaan terdiri atas : Kecepatan roll: 8.3. densitas 1.4 dan 71.5% residu). 4. 2..6%. Optimalisasi Pembriketan Setelah dilakukan modifikasi di seksi 500 dengan jalan mengganti roll pada mesin briket dengan ukuran cetakan yang lebih kecil (ukuran ini sesuai dengan ukuran cetakan pada mesin briket yang akan digunakan pada UBC demontration plant). air bawaan pada run 1 turun menjadi 8. Sementara kadar abu. sedangkan kadar hidrogen dan oksigen turun karena turunnya kadar air (H2O). zat terbang. Dari hasil ini dapat diketahui bahwa proses UBC efektif menurunkan kadar air total dengan persen penurunan antara 71. Pada kondisi tersebut di atas.17 dan 20 Temperatur pembriketan: antara 70ºC dan 115°C Kegiatan proses UBC pada skala pilot dimaksudkan untuk mendapatkan data sebagai pendukung operasional UBC demonstration plant.5%. sehingga air yang terkandung di dalam pori-pori batubara teruapkan dan diganti dengan residu melapisi pori-pori tersebut. Optimasi proses pembriketan terhadap batubara hasil proses UBC. yaitu masing-masing 32. di mana batubara dicampur dengan minyak tanah dan residu dipanaskan pada temperatur tertentu dan tekanan tertentu. Karakteristik Batubara Karakteristik batubara sebelum dan setelah proses UBC skala pilot untuk run 1 dan 2 dapat dilihat pada Tabel 2. Konsentrasi batubara dalam slurry 30% (30 % batubara. jumlah batubara yang harus dibakar akan menjadi lebih besar. 3. Pengoperasian pilot plant UBC dilakukan dengan menggunakan batubara dari Satui. sehingga gas CO2 yang dihasilkannya pun akan menjadi besar.1. maka akan membuat batubara tersebut lebih stabil dan kecenderungan untuk terbakar dengan sendirinya (self combustion) akan berkurang.2. 70% minyak tanah yang mengandung 0. Kecepatan pengumpanan cake ke dalam rotary tube dryer 15 Hz. Pelaksanaan proses UBC : 1. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. Optimalisasi Proses UBC Skala Pilot Dengan kondisi proses UBC yang dianggap optimum pada pilot plant Palimanan Cirebon. karbon padat. 15. Percobaan dilaksanakan 2 kali dengan tujuan untuk mengetahui : Perubahan karakteristik batubara hasil proses pada kondisi optimum.1.8%. Proses slurry dewatering merupakan salah satu proses utama dari rangkaian proses UBC. efisiensi pembakaran akan menjadi kecil sehingga untuk mendapatkan jumlah kalor tertentu. Karakterisasi dan Optimalisasi Pembriketan pada Batubara .2. Ikin Sodikin dan Datin Fatia Umar 185 . Proses pembriketan pada percobaan ini mempunyai unjuk kerja yang sangat baik dibandingkan dengan pembriketan pada percobaan sebelumnya. Kondisi proses UBC yang dianggap optimum pada pilot plant Palimanan Cirebon. proses UBC menurunkan kadar air bawaan (inherent moisture) batubara Satui sebesar 71.42%. Setelah proses UBC. sehingga air yang telah keluar dari batubara tidak dapat masuk kembali. karbon. sehingga nilai kalor naik sebesar 26.5% residu) Kecepatan pengumapan slurry ke dalam decanter 350 l/jam Kecepatan pengumpanan cake ke dalam rotary tube dryer 15 Hz. Dengan kadar air bawaan yang tinggi dapat mengakibatkan rendahnya nilai kalor.32% dan pada run 2 turun menjadi 8..

Karakteristik Batubara Mulia Sebelum dan Setelah Proses UBC ANALISIS AIR TOTAL PROKSIMAT : AIR BAWAAN ABU ZAT TERBANG KARBON PADAT NILAI KALOR ULTIMAT : KARBON HIDROGEN NITROGEN OKSIGEN SULFUR SATUAN % ar % adb % adb % adb % adb Kal/gr % adb % adb % adb % adb % adb BATUBARAASAL 32.49 41.196 kal/gr pada run 1 dan menjadi 6.28 29. Kenaikan zat terbang ini disebabkan karena masih adanya minyak pada batubara hasil proses UBC yang ikut teruapkan saat pemanasan dan terdeteksi sebagai zat terbang.17% pada run 2. adb RUN 1 RUN 2 BATUBARA ASAL RUN 1 RUN 2 Gambar 1.44 40.196 62.58 46. karena masih <5%.80% menjadi 47. Hal ini dilakukan agar mendekati keadaan sebenarnya.59 26. yaitu dari 31.69% menjadi 62. Analisis proksimat dan ultimat batubara hasil proses UBC dilakukan setelah disimpan sekian lama sampai mencapai kesetimbangan. karena pada umumnya batubara hasil proses UBC tidak langsung digunakan konsumen tapi disimpan terlebih dahulu sebagai persediaan.47 0.     50 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 AIR BAWAAN ABU ZAT TERBANG KARBON PADAT 8. Kandungan zat terbang naik secara signifikan dari 37.000 kal/gr 4.69 47.60 0.16 RUN2 8. nilai kalor naik dari 4.42 3.17 6. Kadar nitrogen dan sulfur batubara setelah proses UBC tidak mengalami perubahan yang cukup berarti.07 0.2%. Dari hasil analisis proksimat seperti pada Gambar 2 memperlihatkan bahwa kenaikan kadar abu kemungkinan besar terjadi karena adanya sisasisa minyak residu yang menempel pada batubara.69 6.51% pada run 2.55% pada run 1 dan menjadi 41. Kandungan hidrogen dan oksigen turun sebagai akibat turunnya kadar air (H 2 O).000 4.58 26.17 RUN1 8.15 Dari Gambar 1 dapat dilihat bahwa dengan turunnya air bawaan.48% pada run 1 dan menjadi 63.73 0.48 6.135kal/g pada run 2 atau terjadi kenaikan yang cukup signifikan antara 25.873 50.80 31.98 37.873 6. Sementara kandungan karbon padat naik karena turunnya kandungan air lembab.44 0.000 2.32 3. Namun demikian.75 4.36 0. Penurunan oksigen lebih signifikan dibandingkan dengan penurunan kandungan hidrogen. Pengaruh Proses Terhadap Kenaikan Nilai Kalori Gambar 2. kenaikan kadar abu ini tidak akan menjadi masalah.873 kal/g menjadi 6.75% menjadi 40. Hasil analisis proksimat sebelum dan sesudah proses UBC 186 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . menjadi abu sisa pembakaran batubara.135 63.83 41.73 0. Hasil analisis ultimat seperti pada Gambar 3 memperlihatkan bahwa kadar karbon naik dari 50.55 6.196 6.51 5.000 0 BATUBARA ASAL 6.9 dan 27.83% pada run 2.135 %.Tabel 2.44% pada run 1 dan menjadi 46.

Temperatur optimum dicapai pada temperatur 80ºC dengan kuat tekan 73 kg/cm2 pada run 1 dengan kuat tekan 98 kg/cm2 pada run 2 pada temperatur yang sama. Hasil analisis ultimat sebelum dan sesudah proses UBC 4..015 – 1. sedangkan pada run 2 dicapai pada kecepatan roll 8 dengan kuat tekan 98 kg/cm2. sehingga kuat tekan briket yang dihasilkan lebih tinggi.80 kg/cm2. 10. sehingga data yang dihasilkan akan Gambar 4.3.104 kg/jam. Gambar 4 menunjukkan bahwa kecepatan roll pada temperatur yang sama sangat berpengaruh terhadap kuat tekan briket UBC yang dihasilkan. Hasil ini hampir sama dengan hasil pembriketan dengan kondisi yang sama pada percobaan sebelumnya yang dapat menghasilkan briket dengan kuat tekan rata-rata 70 . densitas 1.. Proses pembriketan pada percobaan ini mempunyai unjuk kerja yang sangat baik dibandingkan dengan pembriketan pada percobaan sebelumnya. Pengaruh temperatur pembriketan terhadap kuat tekan dan densitas briket UBC pda kecepatan roll yang sama dapat dilihat pada Gambar 5.04 g/cm3 dan kecepatan produk briket UBC yang dihasilkan sebanyak 1. Pengaruh kecepatan roll terhadap kuat tekan dan densitas briket Karakterisasi dan Optimalisasi Pembriketan pada Batubara . Variabel percobaan terdiri atas: Kecepatan roll: 8.  70 60 50 40 30 20 10 0 KARBON HIDROGEN NITROGEN OKSIGEN SULFUR tekan briket yang dihasilkan. Hasil unjuk kerja pembriketan pada percobaan ini sangat memuaskan. adb BATUBARA ASAL RUN 1 RUN 2 Gambar 3. Proses pembriketan yang paling baik pada percobaan ini adalah pembriketan dengan kondisi kecepatan roll 8 rpm dan temperatur 80 .1100C. kuat tekan briket mengalami penurunan baik pada run 1 maupun pada run 2. %. Ketika temperatur dinaikkan.77 kg/cm2. 13. Pada kondisi ini briket UBC yang dihasilkan mempunyai kuat tekan 73 . 15. Ikin Sodikin dan Datin Fatia Umar 187 . makin rendah kuat Gambar 5. Pada run 1. Pengaruh temperatur terhadap kuat tekan dan densitas briket Dari Gambar 5 dapat dilihat bahwa temperatur berpengaruh terhadap kuat tekan dan densitas briket UBC yang dihasilkan pada kecepatan roll yang sama. Makin tinggi kecepatan roll. Hal ini dapat terjadi karena ukuran cetakan briket batubara lebih kecil dibandingkan dengan ukuran cetakan briket pada percobaan sebelumnya. kecepatan roll optimum adalah pada 10 rpm dengan kuat tekan 73 kg/cm2. Optimalisasi Pembriketan Setelah dilakukan modifikasi di seksi 500 dengan jalan mengganti roll pada mesin briket dengan ukuran cetakan yang lebih kecil (ukuran ini sesuai dengan ukuran cetakan pada mesin briket yang akan digunakan pada UBC demontration plant).17 dan 20 Temperatur pembriketan: antara 70°C dan 115°C Hasil percobaan pengaruh kecepatan roll terhadap kuat tekan dapat dilihat pada Gambar 4. Sedangkan densitas berfluktuasi tapi tidak cukup berarti.

kuat tekan 73 . I. 2000. zat terbang. KESIMPULAN DAN SARAN UBC. T. Kalimantan Selatan. Tsai. Coal Science and Technology 2. 2009. sehingga nilai kalor naik sebesar 26. Sumberdaya dan Cadangan Batubara Indonesia. A.5%... karbon. Deguchi.1. Saran Kondisi proses yang dianggap optimum pada pilot plant UBC.77 kg/cm2. T. Hudaya. Sukhiyar. 2000. karbon padat. Karena itu. proses UBC menurunkan kadar air bawaan (inherent moisture) batubara Mulia sebesar 71. Kunrat S. Cirebon yang dilakukan pada kajian ini.. Rijwan. 6. Study on Upgraded Brown Coal Process for Indonesian Low Rank Coals.. com (2008). Cirebon hendaknya tetap digunakan sebagai sarana penelitian untuk pengembangan proses UBC terhadap batubara lainnya di Indonesia guna mendapatkan teknologi proses yang secara teknis dan ekonomis lebih menguntungkan.. belerang dan nitrogen mengalami sedikit kenaikan.2. Coal Preparation. 2002. K. temperatur 80 . berlaku untuk batubara Mulia yang berasal dari daerah Satui. adalah pada kondisi : Ukuran batubara umpan < 3mm dengan kecepatan pengumpanan 100 kg/jam Konsentrasi batubara dalam slurry 30% (30% batubara.. F. Palimanan. 70% minyak tanah yang mengandung 0. Shimasaki. Sedangkan untuk proses pembriketan yang paling baik pada percobaan ini adalah pembriketan dengan kondisi. and Makino.C. Vol 21. Indonesia. Coal-Tech 2002.04 g/cm3 dan kecepatan produk briket UBC yang dihasilkan sebanyak 1. Kalimantan Selatan. densitas 1. Pada kondisi tersebut di atas.104 kg/jam. Palimanan. sedangkan kadar hidrogen dan oksigen turun karena turunnya kadar air (H2O).6%. Fundamental of Coal Beneficiation and Utilization. and Otaka. Indonesia. www. E. dan Sodikin. pilot plant Umar D. Makino. 1982. T. International Conference and Exhibition on Clean and Efficient Coal Technology in Power Generation.1100C. Laporan Intern Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara. Shigehisa. Kesimpulan DAFTAR PUSTAKA Kondisi proses UBC yang dianggap optimum pada pilot plant Palimanan Cirebon. 6.sangat mendukung untuk kepentingan uji coba pada UBC demontration plant di Kecamatan Satui. G. 188 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Persiapan Pembangunan UBC Demonstration Plant. Upgrading The Indonesian’s Low Rank Coal by Superheated Steam Drying with Tar Coating Process and its Application for Preparation of CWM. I. S. Elsevier Publishing Company. Development of UBC Process Paper presented at the International Conference on Fluid and Thermal Energy Conversion.5% residu) Kecepatan pengumapan slurry ke dalam decanter 350 l/jam Kecepatan pengumpanan cake ke dalam rotary tube dryer 15 Hz. Proc. dan Hamdani. Deguchi.. K... Shigehisa. Sedangkan untuk batubara dari daerah lain kondisinya akan berbeda. Sementara kadar abu. pp. Seminar dan Workshop “Indonesian Coal Conference” Jakarta. 149-159. T. Y. K.. 2007. 6. kecepatan roll 8 rpm.. R. Suwono. Setiawan L.. E..015 – 1. wikipedia.

Gandhi Kurnia Hudaya 189 . creat 1. Kata kunci : batubara peringkat rendah. dampak ekonomi ABSTRACT The needs of coal in the world has been increasing mainly as a fuel of power. Results indicate that the economic impact are: increase the utilization of low rank coal.id SARI Kebutuhan batubara di dunia semakin meningkat terutama sebagai bahan bakar pembangkit listrik.go. Indonesia coal reserve is dominated by low-rank coal as much as 59%.. Indonesia is one of the largest exporter country in the world. BCB.000 orang. BCB. menciptakan multiplier effect bagi perekonomian daerah dan menciptakan iklim investasi yang baik bagi industri pertambangan dan pengolahannya. menambah devisa negara sebesar US$ 140-210 juta pertahun.6030483.e-mail : gandhi@tekmira.000 jobs. Teknologi itu adalah UBC (Upgraded Brown Coal) dan BCB (Binderless Coal Briquetting). 022 .esdm. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui dampak ekonomi dari pengembangan teknologi UBC dan BCB serta penerapan teknologi tersebut dengan membangun pabrik komersialnya di Indonesia. Indonesia adalah salah satu negara pengekspor terbesar di dunia. UBC. menciptakan lapangan kerja 1. menambah pendapatan pajak pemerintah sebesar Rp 130-200 milyar pertahun. Fax.ANALISIS DAMPAK EKONOMI TEKNOLOGI PENINGKATAN KUALITAS BATUBARA PERINGKAT RENDAH DI INDONESIA Gandhi Kurnia Hudaya Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jalan Jenderal Sudirman 623 Bandung 40211 Telp. The technologies are UBC (Upgraded Brown Coal) and BCB (Binder less Coal Briquetting). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dampak ekonominya adalah : pemanfaatan batubara peringkat rendah yang meningkat. economic impact Analisis Dampak Ekonomi Teknologi Peningkatan Kualitas Batubara .6003373 . Teknologi yang dikembangkan oleh perusahaan Jepang dan Australia adalah teknologi peningkatan kualitas batubara peringkat rendah melalui upaya menghilangkan kandungan air di dalam batubara tersebut untuk meningkatkan nilai kalorinya sehingga pemasarannya akan mudah dan harga jualnya meningkat. increase the state income of US$ 140-210 million per year. 022 . This study is aimed to understand the economic impact of developing UBC and BCB technologies and the implementation of these technologies includes building commercial plant in Indonesia. Cadangan batubara Indonesia didominasi oleh batubara peringkat rendah sebesar 59%. creating a multiplier effect for regional economic and create a better investment climate for mining and processing industries. Keywords : low rank coal. UBC.. increase government tax revenue of Rp 130-200 billion per year. The technology developed by companies in Japan and Australia is technology to improve the quality of low rank coal through the reducing of water contained in coal so that the caloriefic value of coal increased then the marketing will be easier and selling price will also increase.

2008).98 (asumsi harga batubara US$ 90/ton) lebih kecil bila dibandingkan dengan minyak yang sebesar US$ 30 (asumsi harga minyak US$ 54/ barrel) dan LNG yang sebesar US$ 20. Batubara lebih disukai karena untuk menghasilkan listrik sebesar 1 MGW/h dibutuhkan biaya US$ 12. 2.1. 2008). Produk UBC berupa serbuk dan briket (Gambar 1).id). Teknologi peningkatan kualitas batubara kalori rendah merupakan teknologi yang diharapkan dapat menjaga kesinambungan pasokan batubara serta untuk meningkatkan pemanfaatan batubara kalori rendah dengan maksimal. Namun. baik untuk calon investor maupun untuk pemerintah dalam mengambil kebijakan terhadap teknologi yang tergolong teknologi baru. Proses ini dilakukan dengan mencampurkan batubara. Harganya yang relatif rendah serta ketersediaannya yang masih melimpah merupakan daya tarik bagi industri-industri di dunia yang saat ini banyak sekali dibutuhkan untuk menghasilkan listrik. A. minyak residu dan minyak tanah. Teknologi UBC merupakan proses penurunan kadar air bawaan batubara peringkat rendah menjadi menyerupai batubara peringkat tinggi (bituminus) sehingga nilai kalori batubara tersebut meningkat. Indonesia adalah salah satu negara pengekspor batubara terbesar di dunia dan memiliki cadangan yang cukup besar. sekitar 59% dari cadangan tersebut termasuk batubara peringkat rendah (Ermina Miranti. Hingga saat ini. Diharapkan hasil analisis ini dapat menjadi salah satu bahan. sebuah perusahaan baja di Jepang. Pada akhir tahun 2008. Gambar 1. kemudian dipanaskan pada temperatur 1500C – 1600C dengan tekanan 250 kPa – 350 kPa.47 (asumsi harga LNG $6/Mmbtu) (Ermina Miranti. yaitu memiliki kadar abu dan sulfur yang rendah sehingga dijadikan target utama untuk pengembangan teknologi tersebut. Batubara kalori rendah Indonesia memiliki keunggulan dibandingkan dengan batubara dari negara lain. Diagram proses teknologi UBC (sumber : brosur UBC) 190 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Kedua pabrik tersebut berlokasi di Kalimantan. Batubara peringkat rendah Indonesia pada umumnya mengandung kadar air yang tinggi (20-40%). Kadar air yang tinggi menyebabkan tingginya biaya penanganan dan transportasi yang tinggi serta nilai kalori yang rendah sehingga hingga saat ini penggunaan batubara kalori rendah masih terbatas. telah berdiri dua pabrik teknologi peningkatan kualitas batubara kalori rendah di Indonesia yaitu pabrik percontohan UBC (Upgraded Brown Coal) dan pabrik komersial BCB (Binderless Coal Briquetting). PENDAHULUAN Batubara adalah salah satu sumber energi yang saat ini menjadi primadona di dunia. TEKNOLOGI UBC DAN BCB Teknologi UBC Teknologi UBC dikembangkan oleh Kobe Steel Ltd.esdm. umumnya hanya digunakan untuk pencampuran atau digunakan pada pembangkit listrik mulut tambang.go. Penelitian ini bermaksud menganalisis dampak ekonomi bagi pengembangan teknologi UBC dan BCB serta penerapannya melalui pembangunan pabriknya di Indonesia. potensi batubara Indonesia mencapai ±105 milyar ton dimana ±22 milyar ton diantaranya berupa cadangan (www.

Nilai investasi pabrik ini mencapai US$ 68 juta (Koran Investor Daily.200-6..800 kal/g. Proses utamanya adalah menggerus batubara dan kemudian memanaskannya untuk menghilangkan kadar air dalam batubara. Indonesia (Gambar 2). Teknologi BCB Teknologi BCB dikembangkan oleh White Energy Company. Pabrik ini telah diresmikan pada bulan April 2009 dan direncanakan akan mulai berproduksi pada akhir semester kedua 2009. Gambar 3. Nilai kalori batubara dari < 5. Biaya konstruksi dan pengoperasian pabrik UBC skala percontohan dari tahun 2007-2010 diperkirakan memakan biaya sebesar US$ 70 juta (Kobelco. Pabrik UBC komersial direncanakan berkapasitas sebesar minimal 5000 ton produk per hari atau 1. batubara dimampatkan melalui proses pembriketan (Gambar 3). Diagram proses teknologi BCB (sumber : ww. telah berhasil dikembangkan dan dioperasikan. 2006). Gambar 2. Pabrik UBC skala pilot di Palimanan. Jepang dan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral.whiteenergyco. Gandhi Kurnia Hudaya 191 . Jawa Barat dengan kapasitas 5 ton/hari.200 kcal/kg gross as received (GAR) menjadi 6.com) PT Bayan Resources Tbk (BAYAN) menggandeng White Energy Company membentuk perusahaan patungan PT Kaltim Supacoal (KSC) untuk membangun pabrik modular peningkatan mutu batubara bersih berkapasitas satu juta ton/tahun di tambang Tabang. Kalimantan Timur (Gambar 4). Setelah dipanaskan.7 juta ton pertahun.bayan.100 kcal/kg GAR. Pabrik modular peningkatan mutu batubara bersih (sumber : www. Gambar 4.. sebuah perusahaan teknologi coal upgrading yang berpusat di Australia.com. Kalimantan Selatan di lokasi tambang batubara PT Arutmin berdasarkan perjanjian kerjasama antara Japan Coal Energy Center (JCOAL).000 kal/g dapat ditingkatkan menjadi 6. Teknologi BCB mampu membuat batubara dari kalori rendah 4.000 ton/hari umpan atau ± 600 ton/hari produk dibangun di Satui. Pabrik percontohan UBC (sumber : brosur UBC) B.Pabrik UBC skala percontohan dengan kapasitas 1. Teknologi BCB merupakan proses peningkatan mutu batubara dengan cara menghilangkan kadar air dalam batubara sehingga nilai kalorinya akan meningkat. 27 April 2009).sg) Analisis Dampak Ekonomi Teknologi Peningkatan Kualitas Batubara .

Menciptakan lapangan pekerjaan Pembangunan pabrik peningkatan kualitas batubara baik teknologi UBC maupun BCB. Dampak ekonomi penerapan teknologi peningkatan kualitas batubara kalori rendah di Indonesia antara lain adalah sebagai berikut : 1. Untuk setiap pabrik UBC dan BCB yang dibangun. Dengan asumsi harga batubara tahun 2009 sebesar US$ 70 per ton. akan memberikan lowongan pekerjaan yang cukup besar bagi masyarakat Indonesia umumnya dan bagi masyarakat sekitar pabrik pada khususnya. Selain untuk karyawan pabrik. selain pajak juga ada royalti untuk setiap ton batubara yang diproduksi. Pengolahan data Pengolahan data dilakukan dengan analisis deskripsi dan analisa kuantitatif. Untuk perusahaan tambang. yaitu mencari referensi dan literatur untuk memperoleh data sekunder mengenai teknologi peningkatan kualitas batubara kalori rendah di Indonesia. dapat menambah produksi batubara sebesar 2-3 juta ton per tahun. Sebagai perbandingan. Analisa kuantitatif dilakukan terhadap data-data ekonomi yang telah dikumpulkan untuk memberikan gambaran dampak ekonomi dari aplikasi teknologi peningkatan kualitas batubara kalori rendah di Indonesia. Lowongan pekerjaan ini akan terbuka sejak pekerjaan konstruksi pabrik dimulai hingga kemudian beroperasinya pabrikpabrik tersebut. Pemanfaatan sumber daya alam Potensi batubara kalori rendah Indonesia sebesar 60 milyar ton (60% dari cadangan total 104 milyar ton) termasuk besar dan dapat lebih ditingkatkan pemanfaatannya. Perusahaan Kobe Steel dan White Energy berinvestasi dalam riset teknologi peningkatan kualitas batubara kalori rendah agar dapat memiliki patent teknologi yang menguntungkan perusahaan. pada tahun 2008 menjual batubara sebanyak 12. lowongan kerja juga akan terbuka bagi 4. dimana salah satunya adalah pajak perusahaan. METODE PENELITIAN Pengumpulan data Pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka. Dengan adanya 192 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . 2009). Dari perbandingan jumlah penjualan maka dapat diperkirakan bahwa setiap pabrik UBC dan BCB yang dibangun dapat menambah penghasilan negara melalui pajak sekitar Rp 130-Rp 200 milyar per tahun.8 juta ton dan memberikan kontribusi kepada pemerintah dalam bentuk pajak sebesar Rp 844 milyar (Rania Rahmundita. Analisis deskripsi dilakukan terhadap data-data yang telah dikumpulkan yang berhubungan dengan teknologi peningkatan kualitas batubara kalori rendah di Indonesia serta data-data lain yang berhubungan. maka devisa negara yang dapat dihasilkan adalah US$ 140210 juta. akan diekspor sebanyak 160 juta ton dan sisanya digunakan untuk kebutuhan dalam negeri. Setiap pendirian 1 buah pabrik komersial UBC dan BCB. 2. akan dihasilkan produk upgraded coal sebanyak 2-3 juta ton pertahun. HASIL DAN PEMBAHASAN Tren pemanfaatan batubara terutama untuk sektor listrik di dunia mendorong banyak pihak untuk dapat terlibat di dalamnya. 3. 4. Pada tahun 2009. Setiap pembangunan pabrik UBC dan BCB membutuhkan pasokan batubara wantah diluar produksi batubara saat ini. Menambah devisa negara Indonesia adalah salah satu eksportir batubara terbesar di dunia. batubara kalori rendah kurang dimanfaatkan atau bila diekspor hanya sebagai pencampur (blending) batubara kalori tinggi. Meningkatkan penghasilan negara dari pajak perusahaan Pendapatan negara Indonesia didominasi oleh sektor pajak. Sebelumnya. dari produksi batubara sebanyak 190 juta ton. Indonesia adalah negara sasaran utama untuk ujicoba dan pengembangan teknologi tersebut karena keunggulan kualitas dan jumlah batubara peringkat rendahnya. teknologi ini maka keluaran pabrik yang berupa batubara berkalori tinggi akan mudah untuk dijual baik di dalam negeri maupun di luar negeri sehingga memberikan nilai tambah yang lebih besar. Untuk mengetahui dampaknya bagi Indonesia maka salah satu dampak yang mudah dihitung atau dianalisis secara kuantitatif adalah dampak ekonomi.3. perusahaan tambang batubara PT Bukit Asam (PTBA).

Prospek Industri Batubara di Indonesia. Hal ini akan membantu program pemerintah dalam mengurangi kemiskinan dan mengurangi pengangguran.bayan. CIMB-GK Research. PTBA saat ini mempekerjakan sekitar 3. 214. Investor Daily.go.kobelco.esdm. maka dapat diperkirakan bahwa lowongan kerja baru yang akan tersedia adalah sekitar 1.com. Sebagai perbandingan. Januari 2009. DAFTAR PUSTAKA Brosur UBC.346 pegawai.sg. http:// www.000 orang.id Website PT Bayan www.co. Diharapkan para investor tersebut akan ikut juga berinvestasi di indonesia. Juni 2009. f) Menciptakan iklim investasi yang baik bagi investor. c) Menambah pendapatan dari pajak sebesar Rp 130-200 milyar per tahun. 5 July 2006. Website White Energy www. Perusahaan tambang yang selama ini belum menggarap cadangan batubara peringkat rendah di wilayah kerjanya. www. Analisis Dampak Ekonomi Teknologi Peningkatan Kualitas Batubara . http://www. http:// Investorindonesia.. Resources (Tbk). Website PT Tambang Batubara Bukit Asam (Tbk)..co. Coal Mining. maka pabrik itu akan membutuhkan 4-5 juta ton batubara per tahun. Website Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral. e) Menciptakan multiplier effect yang bermanfaat.000 orang. Economic Review No.whiteenergyco. 27 April 2009. KESIMPULAN Dampak ekonomi dari pembangunan pabrik teknologi peningkatan kualitas batubara peringkat rendah dengan teknologi UBC dan BCB adalah : a) Pemanfaatan batubara peringkat rendah sebagai sumber daya alam. transportasi dan perusahaan pendukung lainnya. Selain itu perekonomian di daerah tersebut akan tumbuh untuk memenuhi kebutuhan pabrik-pabrik yang baru seperti perusahaan katering.com Kobelco Online. Menciptakan iklim investasi yang baik bagi investor Keberhasilan proyek peningkatan kualitas batubara dimana proyek ini termasuk proyek besar. Desember 2008.com. 6. d) Menciptakan lapangan kerja sebanyak 1. terutama di sektor pertambangan dan pengolahannya.jp. 2008. Rania Rahmundita. akan memberikan kesan baik kepada investor lokal maupun luar negeri akan aman dan ramahnya iklim investasi di Indonesia. 5. Gandhi Kurnia Hudaya 193 .peningkatan kapasitas produksi ataupun pembangunan infrastruktur tambang yang baru untuk memasok kebutuhan pabrik tersebut.ptba. Ermina Miranti. terutama bagi perekonomian daerah. Jika dibandingkan berdasarkan jumlah penjualan batubara pertahun. Peresmian Pabrik Percontohan UBC di Satui. Company.id. b) Menambah devisa negara sebesar US$ 140210 juta per tahun. akan mulai memproduksinya untuk memenuhi kebutuhan pabrik peningkatan kualitas batubara tersebut. 5. Menciptakan multiplier effect dari proyek Seandainya pabrik peningkatan kualitas batubara beroperasi dengan kapasitas 2-3 juta ton.

Manfaat dari kegiatan penambangan. maka perbandingan manfaat dan biaya eksternalitas adalah 1.08% dapat terserap di kegiatan penambangan bijih besi.000.per bulan/orang.6030483 Fax.000 ton per year..go.esdm. lutfi@tekmira. So benefit and externalities cost comparative are 1:2. kegiatan penambangan bijih besi.290.08%.000. Yang berarti manfaat lebih besar dari pada biaya eksternalitas.000.-.000.id. 1.000.per month. Lutfi Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. hal ini dapat dilihat dari penyerapan tenaga kerja lokal sebesar 35. 022 .500. 022 . yaitu adanya peluang kerja untuk masyarakat lokal. Untuk menghitung manfaat dan biaya dipergunakan Metode Valuasi Kontingensi (Contingent Valuation Method). Iron ore mine activity is positive impact to arouse for region economic growth.000 sampai dengan 400.-. PROPINSI JAMBI Endang Suryati dan M.290.-. Apabila dibandingkan dengan biaya eksternalitas sebesar Rp 403.go.6003373 e-mail : endangs@tekmira.000. Kata kunci : manfaat dan biaya.-. berasal dari pajak dan retribusi sebesar Rp jadi total manfaat sebesar Rp 420.04.-/month.id SARI Produksi penambangan bijih besi di Kabupaten Merangin.000. tax and retribution are Rp 420.0000 until 400. Jend. direncanakan antara 60. menimbulkan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi daerah. maka jumlah penghasilan seluruh tenaga kerja lokal per bulan Rp 60. Mine activities for benefit are local labor 35. Keywords: benefit and cost.000.000.000. metode valuasi kontingesi ABSTRACT Iron ore production is mine at Merangin regency to plan 60.KAJIAN MANFAAT DAN BIAYA PENAMBANGAN BIJIH BESI DI KABUPATEN MERANGIN.000. income person Rp. iron ore mine activity. Local labor are total income Rp 60.—.esdm. dari kegiatan penambangan tersebut. Contingent Valuation Method use for calculation of benefit and cost.. Sudirman 623 Bandung 40211 Telp.000.500. Kegiatan penambangan bijih besi. Disamping itu manfaat yang diperoleh daerah.000 ton per tahun. contingent valuation method 194 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . dengan penghasilan rata-rata Rp 1.Externalities cost are Rp 403.

secara kuantitatif yang mempunyai angkatan kerja produktif terbesar adalah di desa Pulau Layang yaitu 1. lokasi rencana kegiatan juga termasuk dalam Kecamatan Karangan dan Kaubun yang merupakan wilayah pemekaran Kecamatan Sangkulirag. Pada saat yang sama. produksi bijih besi direncanakan mencapai 60.. Berdasarkan perhitungan cadangan. di pasar internasional. merupakan pemekaran dan Kecamatan. Desa Pulau Layang dan Kecamatan Batang Mesumai merupakan desa dan kecamatan yang relative baru sebagai kecamatan definitif. Oleh karena itu. lingkungan wilayah secara langsung menyediakan jasa yang menyumbang pada peningkatan kesejahteraan seperti tersirat pada pembangunan ekonomi.. PENDAHULUAN lingkungan akibat penambangan bijih besi. Dixon & Maynard M. Mengingat dampak positif dan negatif yang ditimbulkan cukup penting. tentang nilai manfaat SDA dan lingkungan yang mereka rasakan. Propinsi Jambi. Kependudukan Jumlah penduduk di lokasi studi pada tahun 2007 adalah 3. Hufschmidt. Kabupaten Merangin. operasional tambang diperkirakan akan berlangsung sampai 2. Jumlah penduduk desa Pulau Layang relatif lebih tinggi yaitu 1. yang produksinya sering memerlukan sumber daya alam dan sistem alami yang produktif. Berdasarkan pengamatan lapangan. PEMBAHASAN Lokasi Rencana Kegiatan Secara administrasi pemerintah daerah.714 jiwa yang terdiri atas 874 jiwa laki-laki dan 840 jiwa perempuan sedangkan yang terkecil terdapat di desa Rantau Alay yaitu sebesar 621 jiwa yang terdiri atas 300 jiwa laki-laki dan 321 jiwa perempuan (Gambar 2). METODOLOGI Untuk menghitung kajian manfaat dan biaya. maka diperlukan analisis manfaat dan biaya yang diakibatkan oleh kegiatan penambangan bijih besi. kegiatan pertambangan bijih besi termasuk dalam wilayah Kecamatan Bengalon dan Kecamatan Sangkulirang Bangko. Metode inii merupakan metode valuasi Sumber Daya Alam (SDA) dan lingkungan dengan cara menanyakan langsung kepada masyarakat sekitar. Lutfi 195 .1. tidak terlepas dari tingginya permintaan akan komuditas bijih besi.3 tahun. Lokasi studi berada di 3 (tiga) desa yaitu desa Pulau Layang dan desa Rantau Alai di wilayah kecamatan Batang Mesumai.( Kumpulan Materi Ekonomi Lingkungan PSLH UGM Yogyakarta).090 jiwa Kajian Manfaat dan Biaya Penambangan Bijih Besi . 3. Kabupaten Merangin. Kecamatan Batang Mesumai. Pembangunan ekonomi mengandung arti peningkatan yang berkelanjutan bagi kesejahteraan masyarakat yang diperoleh dari barang-barang dan jasa-jasa konvensional.000 ton per tahun.0000 – 400. Kegiatan eksplorasi bijih besi mendapat dukungan dari pemerintah dalam upaya melakukan diversifikasi produk ekspor guna meningkatkan devisa bagi negara. Propinsi Jambi).690 jiwa (Badan Pusat Statistik Kabupaten Merangin. pertumbuhan ekonomi sering diikuti dengan tekanan yang makin berat pada sistem alami dan dampak negatif kualitas lingkungan. Salah satu lokasi cadangan bijih besi di Indonesia terdapat di desa Pulau Layang. Propinsi Jambi. Jumlah angkatan kerja produktif di desa-desa lokasi studi relatif seimbang.(John A. Dampak positif yang timbul biasanya berhubungan dengan pertumbuhan perekonomian daerah. masalah yang penting adalah melaksanakan kegiatan pembangunan sedemikian rupa agar dapat melestarikan produktivitas jangka panjang sistem alami agar pembangunan berkelanjutan dan dapat minimumkan kerusakan kualitas lingkungan. Kabupaten Merangin. 1986) Rencana Kegiatan penambangan pasir besi di Kabupaten Merangin. Lagi pula. Pembangunan ekonomi baik di negara industri maupun di negara berkembang berdasarkan pada sumber daya alam dan produktivitas sistem alami. Berdasarkan studi kelayakan.Batang Mesumai. serta desa Mentawak Kecamatan Nalo Tantan. Endang Suryati dan M. dipergunakan Metode Valuasi Kontingensi ( Contingent Valuation Method). sedang dampak negatifnya adalah biaya kerusakan 2.

3%). Desa Mentawak (63.6%) dari total penduduk. Pada umumnya penduduk di lokasi studi memiliki tingkat pendidikan tertinggi setingkat SD. Jumlah penduduk di desa-desa sekitar kegiatan penambangan bijih besi (63. sedangkan di desa Rantau Alai 53. Persentase terbanyak diantara desa-desa lokasi studi yang penduduknya menamatkan pendidikan tertinggi sampai SLTA adalah di Desa Rantau Alai sebesar 19. Gambaran ini menunjukan bahwa penduduk di wilayah penelitian terdorong untuk membekali Gambar 2.3%. yaitu Desa Pulau Layang (79.21%.7%) dan Rantau Alay (46. 196 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . seperti terlihat pada Gambar 3.41% dan desa Mentawak 57.Gambar 1. walaupun jarak dari desa-desa ke lokasi sekolah cukup jauh dan angkutan umum terbatas. Peta lokasi Tingkat Pendidikan Kualitas sumberdaya manusia masyarakat di sekitar lokasi rencana kegiatan relatif rendah. Hal ini terlihat dari banyaknya anak-anak responden yang mempunyai pendidikan setingkat SLTP dan SLTA.2% dan Desa Mentawak sebanyak 12.2%).. Dari uraian terlihat bahwa motivasi orang tua untuk menyekolahkan anak-anaknya ketingkat yang lebih tinggi di wilayah penelitian cukup tinggi.

Selain itu juga ada yang menjadi buruh bangunan musiman di kota. mengenai rencana pembangunan pertambangan bijih besi. Pekerjaan tambahan mereka. Kajian Manfaat dan Biaya Penambangan Bijih Besi .pendidikan tinggi kepada anak-anaknya agar dapat memasuki peluang kerja yang lebih baik dibandingkan orang tua mereka. terutama masih di sektor pertanian seperti buruh tani dan menggarap lahan orang lain yang terdapat di desa mereka. pada satu sisi dianggap akan memberikan keuntungan kepada masyarakat sekitarnya. serta proyek tersebut tidak akan merugikan masyarakat. Lutfi 197 . Gambar 4. desa jadi lebih ramai serta dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat di desa tersebut. Pada umumnya alasan tidak keberatan adalah karena pertambangan tersebut merupakan program pemerintahan dan untuk kepentingan umum. pembangunan pertambangan bijih besi dianggap oleh penduduk akan memberikan keuntungan kepada mereka. Sedangkan penduduk Mentawak relatif lebih kecil yang sudah mengetahui rencana tersebut.. Di desa-desa sekitar lokasi penambangan sebagian besar mengandalkan kehidupannya dari pertanian (petani) yang digeluti oleh 80% penduduk. Berdasarkan kriteria responden di atas.2%) dan buruh tani (5. disisi lain pembangunan ini juga menimbulkan kekhawatiran di kalangan penduduk. Hasil wawancara dengan responden di lokasi studi memperlihatkan bahwa seluruh responden di Desa Pulau Layang dan Rantau Alai sebanyak 100% sudah mengetahui rencana dari pembanguna pertambangan bijih besi. Pendapat Masyarakat Untuk mengetahui pendapat masyarakat. serta berdagang. Berdasarkan tiga kriteria responden yang telah disebutkan diatas. Namun.10%) menyatakan tidak keberatan terhadap rencana pembangunan pertambangan bijih besi yang akan melewati rumah pemukiman mereka. yaitu sebanyak 10% saja. Hadirnya kegiatan pertambangan bijih besi. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 4. Di desadesa lokasi studi. Endang Suryati dan M.7% pada umumnya penduduk menghubungkan keuntungan tersebut dengan akan bertambahnya peluang kesempatan kerja. Gambar 3. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 1 dan 2. masyarakat diberi pertanyaan/kuesioner mengenai manfaat dan resiko dari kegiatan pertambangan ini.5%). hanya sebagian kecil Kepala Keluarga yang memiliki pekerjaan tambahan. mendorong penduduk untuk mendapatkan pendidikan formal yang lebih baik agar dapat memasuki lapangan pekerjaan tersebut. Dan yang menyatakan memberikan keuntungan dengan adanya penambangan bijih besi ini sebanyak 78. pedagang (7. Sedangkan responden yang menyatakan keberatan terhadap rencana pertambangan hanya 5%. Mata pencaharian di desa-desa sekitar kegiatan penambangan bijih besi Mata Pencaharian Penduduk Mata pencaharian utama kepala keluarga di desadesa lokasi studi adalah di sektor pertanian bidang perkebunan karet dan kelapa sawit. Mata pencaharian di desa-desa sekitar kegiatan penambangan bijih besi Selain itu dengan semakin ramainya kawasan Kota Bangka dan sekitarnya. Pada tabel 3 memperlihatkan sebagian besar responden di lokasi studi (80..

Sumber informasi tentang rencana pembangunan pertambangan bijih besi Sumber Informasi tentang rencana pembangunan Desa Pemilik lahan Jml Pulau Layang Rantai Alai Mentawak Sumber : Data Primer.5 2.desa jadi rencana penambangan Tidak keberatan.5 1. Sikap responden terhadap rencana pertambangan bijih besi Desa Sikap terhadap rencana pembangunan Pulau Layang Jml % 72 8 0 4 0 4 0 4 4 Rantau Alai Jml 16 0 0 0 1 0 0 1 2 20 % 80 0 0 0 5 0 0 5 10 100 Mentawak Jml 3 0 2 0 0 0 1 1 3 10 % 30 0 20 0 0 0 10 10 30 100 Jumlah Jml 55 4 2 2 1 2 1 4 9 80 % 68.3 5 11. tdk keberatan. rencana penambangan Keberatan/tidak setuju Tidak menjawab Total Sumber . asal perhatikan warga Tidak keberatan. pengetahuan responden terhadap rencana pembangunan pertambangan bijih besi Pengetahuan tentang rencana pembangunan Tahu Jml Pulau Layang Rantai Alai Mentawak Sumber : Data Primer.3 2.krn unt kepentingan umum.5 5 2. Terserah warga lain Tidak keberatan. tidak keberatan Ya. diolah Tidak tahu % 100 100 10 Jml 0 0 8 % 0 0 80 Tidak menjawab Jml 0 0 1 % 0 0 10 Jml 50 20 10 Jumlah % 100 100 100 50 20 1 Tabel 2. diolah 36 4 0 2 0 2 0 2 8 50 100 198 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . ada peluang usaha Terserah/tidak peduli.5 1.3 100 Ya.Tabel 1. diolah Aparat Desa Jml 4 0 0 % 8 0 0 Tim survey Jml 6 2 1 % 12 10 10 Tidak menjawab Jml 38 18 9 % 76 90 10 Total Jml 98 20 10 % 100 100 100 % 4 0 0 50 0 0 Tabel 3. Data Primer.

diolah Rantau Alai Jml 1 6 1 0 1 1 4 1 1 4 20 % 5 30 5 0 5 5 20 5 5 20 100 Mentawak Jml 1 6 0 1 0 0 0 0 0 2 10 % 10 60 0 10 0 0 0 0 0 20 100 Jumlah Jml 8 32 1 2 1 2 11 5 1 17 80 % 10 40 1. Pada umumnya masyarakat menginginkan bahwa pembangunan dan pengoperasian penambangan bijih besi dapat memberikan peluang usaha baru bagi mereka.8 1. (Tabel 5).3 1. Endang Suryati dan M. Sarana dan Prasarana Fasilitas yang diperlukan dalam pengangkutan bijih besi dari lokasi penambangan ke lokasi stockpile sementara dan selanjutnya ke lokasi pengolahan di pelabuhan antara lain .8 8.5 12..3 21.3 2. Kekhawatiran responden terhadap rencana penambangan bijih besi Desa Keterangan Pulau Layang Jml Lahan tani berkurang % Polusi udara Jml kebisingan Sedikit terima tenaga ocal Air sungai terganggu % Pembayaran ganti Jml rugi lambat Jalan jadi rusak Tidak ada kerugian Tidak tahu Total Sumber : Data Primer.5 13.3 20 100 % 34 2 6 20 2 12 2 22 17 1 3 10 1 6 1 11 50 100 Kajian Manfaat dan Biaya Penambangan Bijih Besi .3 2.5 1. Keuntungan dari rencana penambangan bijih besi Desa Keterangan Pulau Layang Jml Memberi sumbangan Jml pada kegiatan desa Peluang kerja proyek Jml Desa jadi ramai Peluang kerja & desa jadi ramai Harga tanah & desa jadi ramai Desa jadi ramai transport lancar Ekonomi meningkat Peluang kerja transport lancar Ganti rugi tinggi Tidak tahu Total Sumber : Data Primer. diolah Rantau Alai Jml 4 4 1 6 2 1 0 2 20 % 20 20 5 30 10 5 0 10 100 Mentawak Jml 1 5 0 1 0 0 0 3 10 % 10 50 0 10 0 0 0 30 100 Jumlah Jml 22 10 4 17 3 7 1 16 80 % 27. Sebanyak 78. seperti ditunjuka pada Tabel 6 dibawah ini.3 100 % 12 40 0 2 0 2 14 4 0 22 6 20 0 1 0 1 7 8 0 11 50 100 pembangunan pertambangan bijih besi dianggap oleh penduduk akan menimbulkan kekhawatiran kepada mereka. Fasilitas jalan dan jembatan Fasilitas pelabuhan untuk pemuatan bijih besi dalam tongkang Fasilitas pembangkit tenaga listrik Tabel 5.Tabel 4. Dengan adanya pembangunan penanbangan bijih besi di daerah inidiharapkan tidak menimbulkan kerugian bagi penduduk.8 6.5 3.5 5 21.. Lutfi 199 .7% responden memberikan rasa kekhawatiran dengan adanya rencana penambangan ini.

Lebar jalan adalah 12 m.Tabel 6.5 7. Debit dan Sumber Air Kebutuhan air dalam kegiatan penambangan terutama digunakan untuk penyemprotan daerah berdebu. pencucian peralatan angkut dan muat bijih besi. km dari blok penambangan Area 1 dan Area 2.5 8.3 5 7. Harapan responden berdasarkan posisi rumah/lahan terhadap rencana penambangan bijih besi Desa Keterangan Pulau Layang Jml Kampung TK lokal Jml lebih banyak Bantuan fas. Jalan kabupaten dan provinsi sudah dilapisi aspal. Bijih besi dari stockpile tambang diangkut dengan dump truck menuju ke tempat pengolahan (coal processing plant/CPP) di lokasi pelabuhan Jambi melewati jalan yang sudah diperkeras berjarak + 15. Luas lokasi penimbunan bijih besi di dekat areal penambangan lebih kurang 12 ha. Jenis Sumber Energi/Bahan Bakar Sumber energi berasal dari pembangkit listrik utama dengan daya 2 x 65 MW/jam ditambah dengan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) dan genset prime mover berbahan bakar solar sebesar 2 x 250 KVA. Jalur jalan pengangkutan darat dari lokasi tambang ke pelabuhan menggunakan jalan desa. Rapak yang mengalir di daerah penambangan dengan debit 600 lt/detik pada saat peralihan musim kemarau ke musim hujan. Air sungai tersebut cocok dipakai untuk kegiatan konstruksi dan 200 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .8 7. Rapak dan anak S.5 7. dengan saluran air akan dibuat di kedua sisinya. Jalan dari tambang ke desa ini masih merupakan jalan tanah yang sebagian kecil sudah dilakukan perkerasan dengan kemiringan maksimum 15°. agar dapat menampung sampai dengan 100. Listrik Ekonomi meningkat Lebih perhatikan Jml lingkungan Ganti rugi lancar Sungai tidak tercemar Jalan desa diperbaiki Setelah ditambang Jml dijadikan pertanian Tidak tahu Total Sumber : Data Primer.5 100 % 48 8 4 4 4 16 0 6 10 24 4 2 2 2 8 0 3 5 50 100 Fasilitas pasokan air bersih Bangunan pendukung operasi tambang Bangunan khusus bahan peledak Fasilitas penanganan dan penyimpanan bahan bakar Fasilitas penanganan limbah Bijih besi hasil penambangan (ROM) diangkut dengan dump truck menuju lokasi mesin pemecah bijih besi (crushing plant) di stockpile tambang yang lokasinya berjarak 37 km.000 ton bijih besi hasil penambangan (ROM). diolah Rantau Alai Jml 6 2 4 1 5 1 1 0 0 20 % 30 10 20 5 25 5 5 0 0 100 Mentawak Jml 5 0 0 3 0 0 0 1 1 10 % 50 0 0 30 0 0 0 10 10 100 Jumlah Jml 35 6 6 6 7 9 1 4 6 80 % 43.3 1. Kapasitas tampung stockpile di pelabuhan adalah 100 ton bijih besi ROM. bengkel dan MCK bagi perumahan/ mess. Pada saat kemarau panjang debit aliran agak menyusut sampai 200 liter/detik dan bisa mencapai 2000 liter/detik di musim penghujan. jalan kabupaten dan jalan provinsi yang juga dimanfaatkan oleh penduduk setempat sebagai akses transportasi darat. dengan tinggi penimbunan maksimal 5 (lima) meter sehingga dibutuhkan areal penimbunan seluas + 104 Ha. merupakan tempat penimbunan (stockpile) sementara yang dibuat berdampingan dengan tempat penambangan.8 11. Air yang diperlukan dapat dicukupi dari S. dan coal preparation plant. selain dipakai oleh beberapa perusahaan perkebunan yang saat ini beroperasi di daerah sekitar rencana kegiatan.

c. Telen. Perencanaan Supervisor Perencanaan Tambang Lanjutan Supervisor pengembangan Staff ( Mining eng ) Staf ( Geologist ) Staff ( surveyor) Staff ( operator komputer) Staf ( juru gambar) Helper Sub-Total Kadiv. PT. Lutfi 201 . PT. SP VI Mata Air dan SP VII Bukit Permata. Sangkulirang. dapat dilihat pada tabel 7. Rashua Indochem. sedangkan di sebelah timur HPH milik PT.. Gempu dan PT. Georgia Pacific. diendapkan dan disterilisasi dapat dipakai sebagai bahan air minum. Tabel 7. Meranti Mitra Persada. bahkan bila disaring. Lahan Hutan Tanaman Industri Di sebelah selatan rencana kegiatan penambangan bijih besi terdapat hutan produksi kayu milik perusahaan pemegang HPH PT. Operasional Tambang Supervisor penambangan Supervisor pengangkutan Supervisor Pemetaan Supervisor Perawatan Staf (Pengawasan Tambang) Staf Pengawas Transportasi Staff (Surveyor) Staff perawatan S1 Tambang S1 Tambang S1 Tambang D3 Geodesi STM /D3 dan Training S1 Tambang STM Tambang /teknik STM Tambang/ geodesi STM /SLTA dan Training >8 th >3 th >8 th >3 th >3 th >3 th >3 th >3 th >3 th Pendidikan Sarjana Tambang Sarjana Tambang D-3 Sekretaris S1 Tambang S1 Tambang S1 Geologi S1 Tambang S1 Geologi D3 Geodesi SLTA + Kursus STM + Training Pengalaman >15 th >10 th >3 th >8 th >5 th >8th > 3 th >3 th >3 th >3 th >2 th Jumlah 1 1 1 3 1 1 1 1 1 1 1 2 8 17 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Kajian Manfaat dan Biaya Penambangan Bijih Besi . di sebelah utara juga terdapat lahan perkebunan kelapa sawit milik PT. Segara Timber. Perkebunan kelapa sawit Di sebelah timur terdapat perkebunan kelapa sawit PT.industri. Kegiatan Lain di Sekitar Lokasi Rencana Kegiatan Daerah rencana tambang semula merupakan areal HPH dari beberapa perusahaan kayu yaitu PT. Permukiman penduduk Di sebelah timur terdapat permukiman SP I Bumi Etam. Endang Suryati dan M. Klasifikasi dan jumlah tenaga kerja Pekerjaan General Manager Manajer Tambang Sekretaris Sub-Total Kadiv. b. Gawi Mulya. Kegiatan lain di sekitar daerah rencana penambangan bijih besi adalah : a. Telen dan PT. Peluang Kerja Pada tahap operasi klasifikasi tenaga kerja yang dibutuhkan. PT. SP II Bumi Rapak. Manfaat yang diperoleh bagi Daerah dan Masyarakat Kesempatan Kerja Pendapatan Daerah Peluang Usaha Kerusakan/kerugian : Gangguan kesehatan karena debu dari transportasi pengangkut bijih besi Menurunnya sumber air Manfaat kegiatan pertambangan bijih besi 1. Di lokasi rencana kegiatan pertambangan bijih besi tidak terdapat kegiatan sejenis yang berbatasan langsung dengan daerah rencana penambangan bijih besi. Bunta Samba. Sawit Prima Nusantara dan PT..

000. Lingkungan – K3 Kepala Lingkungan Kepala K3 Staff lingkungan Staff K-3 Staff Comdev Helper Sub-Total Total S1 S1 S1 SLTA/D3 SLTA/D3 SLTA/D3 >5th >3th >3th >3th >3th >3th S1 Ekonomi/Manajemen S1 Hukum D3 Akuntansi S1 Ekonomi/Manajemen D-3 Purnawirawan TNI D-3 Ekonomi/Manajemen SLTA D3 SLTA SLTA +Training SLTA SLTA SLTP Keatas SD Keatas SLTA >5 th >3 th >3 th >3 th >3 th >3 th >5 th >3th >3 th >3 th >3 th >3 th >3 th >3 th >3 th S1 Mesin S1/D3 teknik S1/D3 kimia STM /SLTA/D3 STM Listrik + Training STM Mesin + Training >8 th >5 th >5 th >5 th >3 th >3 th Pendidikan STM /SLTA SLTA + Training Pengalaman >3 th >3 th Jumlah 1 2 9 21 1 1 1 2 2 2 5 14 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 4 3 4 9 33 1 1 1 2 3 2 5 15 103 Jika dilihat dari tabel diatas. Lanjutan .500. dan semuanya dapat diambil dari penduduk setempat..juta = Rp 60.500.. Pekerjaan Staff ( pengawas O/B) Operator Pompa Helper Sub-Total Kadiv. maka penduduk sekitar yang dapat direkrut adalah lulusan sekolah menengah atas atau sekolah kejuruan.- 202 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . maka total pendapatan yang diterima masyarakat sekitar sebesar 40 orang x Rp 1. Jumlah yg diperlukan 40 orang.. Dengan gaji sebesar Rp 1.000.000. CPP Supervisor processing Supervisor quality control Staf CPP Operator genset Opertor cpp Helper Sub-Total Kadiv Admini.. & Keuangan Kepala Personalia dan Umum Kepala Keuangan Kepala pemasaran Kepala Keamanan Kepala Logistik/Gudang Pengawas Camp Kepala Humas Staf/Pembantu Umum Staf/Pembantu LogistikLanjutan Staf Pembantu Keuangan Operator Komputer/Juru tik Petugas Satpam Juru Masak Supir Helper Sub-Total Kadiv.Tabel 7.000. dan jumlah penduduk menurut pendidikannya..

000.290.100.177.403.- Dari hasil perhitungan diatas.000 x 185 Persediaan air bersih 300 hr x 738 x Rp 800.2. Komponen Peluang kerja Retribusi Pajak dll Total manfaat Biaya eksternalitas no 1 2 3 Total Komponen Biaya Jumlah (Rp) 11. Sedangkan untuk meminimalkan dampak negatif. Endang Suryati dan M.300. Penterjemah.500.000.- Kesehatan 12 x Rp 5. 4. Lutfi 203 . bila dibandingkan dengan biaya eksternalitas. Dixon. dengan demikian kegiatan penambangan bijih besi sangat berperan dalam meningkatkan pendapatan penduduk sekitar. terutama dalam peningkatan pendapatan masyarakat dan daerah.1.000.000. Dr.120.000. Jumlah penduduk usia produktif setempat yang dapat direkrut di kegiatan penambangan bijih besi sekitar 35.000.000.Manfaat kegiatan pertambangan bijih besi no 1 2 3. KESIMPULAN DAN SARAN 4.420. perlu di lakukan upaya pengelolaan.000. 2. Kumpulan Materi Ekonomi Lingkungan. Sukanto Reksohadiprojo.Hilangnya pohon 1434 ph x Rp 150.000.070.Com.08 %.. 2007.000. dapat disimpulkan manfaat lebih besar dari biaya eksternalitas. Kajian Manfaat dan Biaya Penambangan Bijih Besi . perlu dilakukan upaya pengelolaan.000 x 50 Jumlah (Rp) 60. Prof. Adanya peningkatan pendapatan masyarakat dan peningkatan pendapatan daerah yang berasal dari pajak-pajak. DAFTAR PUSTAKA Badan Pusat Statistik. 2008 John A..000. Teknik Penilaian Ekonomi Terhadap Lingkungan. dapat disimpulkan sebagai berikut : 1.710.000.000.000.penerimaan 40 org a Rp 1.1993. M. dengan selisih Rp 16.215.- 4. Gajah Mada University Press.000. 3. Saran Untuk memaksimalkan dampak positif. maka dampak dari kegiatan penambangan batubara untuk pertumbuhan perekonomian daerah bersifat positif.60. terutama yang menyangkut masalah hajat masyarakat pada umumnya seperti keperluan air bersih. Kabupaten Merangin Dalam Angka 2007 Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gajah Mada. Kesimpulan Dari pembahasan diatas. Manfaat dari kegiatan penambangan bijih besi bagi penduduk sekitar lebih besar.240 hr x Rp 5.

Jakarta Selatan 12230 Telp. Produk hidrotreating fraksi solar minyak sintetik tersebut mempunyai rasio hidrogen/karbon yang diperoleh tersebut masih belum mendekati rasio hidrogen/karbon solar dari minyak bumi yaitu sebesar 1. Minyak sintetik merupakan minyak yang berat dan termasuk klasifikasi aromatik menurut kriteria UOP (Nelson.go.6003373 e-mail : ninings@tekmira. Novie Ardhyarini1. Leni Herlina1. Batubara cair (synthetic crude) yang dihasilkan tersebut mirip dengan minyak bumi yang masih perlu diolah dan ditingkatkan mutunya agar memenuhi syarat sebagai bahan bakar minyak. Cipulir-Kebayoran Lama.MINYAK SINTETIK DARI PENCAIRAN BATUBARA DAN PENINGKATAN MUTUNYA SEBAGAI BAHAN BAKAR Muh Kurniawan1.2675mL/g.9247.6030483 Fax. Perolehan distilasi menunjukkan minyak sintetik ini lebih tepat diarahkan untuk menjadi solar berkadar sekitar 65 % berat.esdm. sulfur (S) dari 0. Ciledug Raya Kav 109.42. Watson dan Murphy). serta tergolong sebagai naftenik-naftenik menurut klasifikasi US Bureau of Mines. Untuk itu penelitian ini akan dilanjutkan dengan mengoptimalkan kondisi operasi hidrotreating dan komposisi katalisnya. dan kadar sulfur setelah presulfiding 6 %-wt. 021 .75. Jend.17 %. volume pori 0.82 %. kadar nitrogen dari 0. serta kenaikan rasio molar hidrogen/karbon (H/C) dari 1. Hidrotreating dilakukan terhadap fraksi solar ringan 180-300°C dengan katalis NiMo/Al2O3 tersebut pada alat autoclave pada tiga kondisi perbandingan hidrogen dan umpan. hidrotreating 204 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . kadar karbon dari 87.016 %.7226011 2) Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. Tujuan penelitian ini adalah adalah mengkarakterisasi minyak hasil pencairan batubara.079 % menjadi 0.3 % menjadi 80. Kata kunci : minyak sintetik.9664 menjadi 0.id SARI Teknologi pencairan batubara telah dikembangkan oleh Puslitbang Tekmira. peningkatan mutu. Sudirman 623 Bandung 40211 Telp. Nining Sudini Ningrum2 1) Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi (LEMIGAS) Jl. luas permukaan 109. Kondisi HDT-3 yang perbandingan hidrogen terhadap umpan paling besar memberikan hasil yang paling baik yaitu penurunan spesific gravity dari 0. serta meningkatkan mutunya agar dapat memenuhi kriteria sebagai bahan bakar setara dengan bahan bakar dari minyak bumi.58 % menjadi 0.35 m2/ g.7222583 Fax. 022 . 021 .30 menjadi 1. 022 . Dalam penelitian ini telah dipreparasi katalis monofungsional Ni-Mo/Al2O3 dengan konsentrasi Ni dan Mo masing-masing 3 dan 12%.

. Karakterisasi fraksi batubara cair.079 % to 0. Sehubungan dengan cadangan batubara nasional cukup besar maka pencairan batubara secara langsung merupakan salah satu peluang yang dapat menggantikan peranan minyak bumi sebagai bahan bakar cair untuk mesin transportasi dan industri. and classified as naphthenic-naphthenic according to US Bureau of Mines (Lane-Garton). pore volume of 0. untuk viskositas kinematis digunakan metode ASTM D-445. classified as aromatic oil according to UOP ((Nelson. PENDAHULUAN Keterbatasan cadangan minyak bumi mendorong berbagai upaya untuk menemukan energi alternatif. Keywords: synthetic crude oil. Proses pencairan dinilai sesuai untuk meningkatkan nilai tambah batubara Indonesia yang sebagian besar bermutu rendah.The experiment is conducted in three different conditions of hydrogen to feed ratio. 2. The purpose of this work is charaterizing synthetic crude and upgrading its quality to meet fuel criteria equivalent to conventional petroleum fuel. dan pengujian Reid Vapor Pressure (RVP) dengan ASTM D-323(ASTM. HDT-3 condition with largest H2/feed ratio gave the best result. Muh Kurniawan. this synthetic crude is suitable to produce gasoil. 2005). which is 1. Peningkatan mutu batubara cair tersebut dengan proses hidrotreating diteliti oleh PPPTMGB ”Lemigas”. Tujuan penelitian ini adalah mengkarakterisasi cairan hasil pencairan batubara. The synthetic crude is a heavy oil. The hydrogen/carbon (H/C) ratio of this hydro-treated gasoil is still lower than that of petroleum gasoil.016 %. Untuk pengujian spesific gravity dilakukan dengan metode IP 189-190. PERCOBAAN Karakterisasi sifat-sifat fisika batubara cair (synthetic crude) dilakukan menurut metode yang lazim dilakukan untuk minyak bumi.. resulting a liquefied coal or synthetic crude oil. carbon content from 87.42. nitrogen content from 0.35 m2/g. The synthetic crude is similar to petroleum crude oil.9664 to 0. untuk pengujian titik nyala digunakan metode PMCC ASTM D-93. Pada distilasi ini juga dilakukan pemotongan fraksi pada rentang temperatur 250-275°C dan 391419°C. Batubara cair (synthetic crude) yang dihasilkan identik dengan minyak bumi sehingga masih perlu diolah dan ditingkatkan mutunya agar memenuhi persyaratan sebagai bahan bakar minyak. preparasi katalis Ni-Mo/Al2O3 dan penelitian hidrotreating terhadap fraksi solar dari batubara cair tersebut. hydro-treating 1. It is observed from the decreasing of spesific gravity from 0. dkk. Penelitian pencairan batubara telah dikembangkan oleh PPP-Tekmira Bandung.82 %.30 to 1. For this reason. Untuk itu.9247.75. Proses fraksinasi dilakukan dengan distilasi True Boiling Point (TBP) menurut metode ASTM D2892. Watson dan Murphy). this experiment will be followed up by optimizing the operating conditions of hydro-treating and the catalyst composition.3 % to 80. surface area of 109.58 % to 0. serta meningkatkan mutunya agar dapat memenuhi kriteria sebagai bahan bakar setara dengan bahan bakar cair dari minyak bumi. sulphur content from 0. Hydro-treating experiment is conducted on light gasoil fraction (180-300°C) by using autoclave reactor and Ni-Mo/Al2O3 catalyst. dalam penelitian ini dilakukan karakterisasi batubara cair. quality upgraded.2675mL/g. and increasing of hidrogen/karbon (H/C) molar ratio from 1. Minyak Sintetik dari Pencairan Batubara dan Peningkatan Mutunya .2005). Temperatur ini setara dengan rentang temperatur pada distilasi hempel yang digunakan untuk pengklasifikasian hidrokarbon menurut LaneGarton(Riazi. and sulfur content of 6 %-wt (after presulfiding). Having 65%wt of distillation yield at 180-350°C.17 %. preparasi katalis Ni-Mo/Al2O3 dan penelitian hidrotreating fraksi batubara cair akan disajikan pada makalah ini. 205 . The catalyst is a mono-functional Ni-Mo/Al2O3 catalyst having Ni and Mo concentration of 3 and 12%wt respectively. that is necessary to be refined and upgraded to meet fuel specification. proses fraksinasi.ABSTRACT Coal liquefaction technology have been developed by Puslitbang Tekmira.

Nilai K-UOP sebasar 9. 2005). H2 Satuan mL gr Bar oC Menit mL HDT-1 HDT-2 HDT-3 250 25 40 390 80 250 100 10 40 390 80 400 50 5 40 390 80 450 3. Dua sifat penguapan yaitu Reid Vapor Pressure (RVP) sebesar 0 psi dan flash point di atas 100°C menunjukkan bahwa kadar fraksi ringan dalam batubara cair ini sedikit. ketiga kondisi operasi 206 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Komposisi kimia ditentukan dengan alat CHNS-O Analyzer (Carbon. Secara keseluruhan. Suhu operasi presulfiding adalah 300°C selama 200 menit dengan tekanan awal gas hidrogen 40 bar. Reaktor yang digunakan adalah autoclave bervolume 500mL yang juga akan dipakai untuk penelitian hidrotreating. Karakteristik Batubara cair Hasil karakterisasi batubara cair dapat dilihat pada Tabel 2. Adapun perbandingan katalis terhadap umpan dibuat tetap sebesar 10% berat.5 gram dimetil disulfida dengan pelarut solar komersial sebanyak 200mL. Reaktor yang digunakan adalah autoclave dengan kapasitas 500 mL. termasuk kategori minyak berat dalam klasifikasi yang lazim diterapkan dalam minyak bumi konvensional. Sebanyak 40 gram katalis disulfurisasi dengan 18. serta kadar sulfur 6 % berat dari presulfiding(Kokayeff. Gambar 1. 2005).1. Tabel 1. hasil pengukuran °API pada fraksi distilat 250-275°C dan 391-419C menggolongkan karakteristik minyak sintetik ini sebagai NaftenikNaftenik menurut Lane-Garton. Viskositas kinematik minyak sintetik ini berkisar pada 5 cSt dan pour point-nya di bawah nol celsius sehingga tidak memerlukan perlakuan khusus pada suhu ruang. dan tekanan awal juga tetap untuk ketiga kondisi. Proses hidrotreating dilakukan terhadap fraksi 180300°C dari minyak sintetik dengan katalis monofungsional Ni-Mo/Al 2 O 3 yang telah dipresulfiding. waktu reaksi. Produk reaksi hidrotreating fraksi (180-3000C) minyak sintetik kemudian dikarakterisasi sifat fisikanya antara lain spesific gravity dan viskositas kinematik. Hasil ini terlihat juga pada kurva distilasi TBP dalam Gambar 2.04 dan °API 4. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa minyak hasil pencairan batubara ini mengandung banyak senyawa aromatik (Riazi. HASIL DAN DISKUSI 3. Suhu. Sulfur-Oxygen Analyzer) (Bhattacharryya. Sementara itu. Komposisi katalis hidrotreating adalah kadar nikel dan molibdenum masing-masing sebesar 3 dan 12 % berat. Kondisi operasi hidrotreating Parameter Umpan Katalis Tekanan Suhu Waktu Vol. 2004). Sistem pengadukan adalah horizontal shaking dengan kecepatan 37-150 rpm dan jarak pengadukan 100mm. Setelah impregnasi dilanjutkan dengan kalsinasi pada suhu 400°C selama 4 jam. Autoclave Pada penelitian ini dilakukan tiga kondisi operasi hidrotreating dengan memvariasikan perbandingan jumlah umpan dengan gas hidrogen. Minyak sintetik ini mempunyai spesific gravity (SG) 1. disajikan pada Tabel 1.6.4 menempatkan minyak sintetik ke dalam klasifikasi aromatik menurut kriteria UOP (Nelson. Nitrogen. (Gambar 1).Katalis hidrotreating monofungsional Ni-Mo/Al2O3 dipreparasi dengan mengimpregnasi support alumina (Al2O3) dengan inti logam nikel dari garam nitrat dan logam molibdenum dari amonium molibdat. Hydrogen. Watson dan Murphy).

6 5. Muh Kurniawan. Secara visual.040 4.2.268 5. dengan perolehan sekitar 65% dari total minyak sintetik. dkk. Umpan HDT-1 HDT-2 HDT-3 Gambar 3. hasil percobaan hidrotreating dengan ketiga kondisi dapat dilihat pada Gambar 3. HDT-2 dan HDT-3 berturut-turut memiliki rasio H2 terhadap umpan semakin besar.1982). volume pori. dan kadar sulfur katalis mendekati karakteristik katalis hidrotreating komersial (Tabel 3) (Bhattacharryya. yang menunjukkan perolehan fraksi solar yang paling besar yaitu sekitar 65% berat.Tabel 2. yaitu warna produk menjadi lebih terang. Kurva kemudian terlihat mendatar pada rentang 250 sampai 350°C. Sampai dengan suhu 180°C. Umpan dan produk percobaan hidrtrotreating dengan kondisi HDT-1. di mana kondisi HDT-3 memberikan hasil yang paling baik (Tabel 4) (Armstrong. Dari ketiga kondisi tersebut. Berdasarkan kurva distilasi TBP. yaitu konsentrasi Ni-Mo. maka dilakukan penelitian untuk peningkatan mutunyadengan proses hidrotreating.0 9. 2005). Karakteristik batubara cair Parameter Spesific Gravity 60/60°F °API Viskositas Kinematik @ 100°F @ 140°F Titik Tuang Flash Point PMCC Reid Vapor Pressure K-UOP Karakteristik Lane-Garton Satuan — — cSt °C °C Psi — — Nilai 1. Sehubungan dengan fraksi solar (180-300°C) yang diperoleh ini berkadar aromatik tinggi. dengan menyisakan residu sekitar 4% berat. dan HDT-3 Ketiga produk hidrotreating tersebut menunjukkan perubahan warna dibandingkan dengan umpannya. fraksi yang diperoleh hanya sekitar 0.Ni . Gambar 2. luas permukaan. Tabel 3..0 109. Karakteristik Katalis Hidrotreating Parameter Konsentrasi : .Mo Luas Permukaan Volume Pori Kadar Sulfur Satuan %-wt %-wt m2/g mL/g %-wt Nilai 3.0 12.513 4.796 3. yaitu HDT-1. Proses Hidrotreating Proses hidrotreating dilakukan pada tiga kondisi sebagaimana ditampilkan pada Tabel 1.3 0. minyak sintetik tersebut cukup baik diarahkan untuk pembuatan gasoil. 207 . Kurva distilasi TBP batubara Cair Kurva ini memberikan gambaran titik didih awal (IBP) yang relatif tinggi yaitu di atas 150°C. Fraksi berat di atas 350°C hingga titik didih akhir pada 520°C diperoleh sekitar 30% berat.354 -20 105 0. Minyak Sintetik dari Pencairan Batubara dan Peningkatan Mutunya . HDT-2..5% berat.4 NaftenikNaftenik Karakteristik katalis hidrotreating yang telah dipreparasi secara laboratorium.

Bhattacharryya K.30 9.58 %berat menjadi 0.42 1.41 0.42. KESIMPULAN Batubara cair ini tergolong minyak berat dengan klasifikasi aromatik menurut kriteria UOP (Nelson. vol. Butrill Jr. 1982. Hasil percobaan hidrotreating terhadap fraksi solar ringan 180-300C menunjukkan perbaikan karakteristik produk solar tersebut.3 UOP Uniofining Technology”. Untuk memperoleh rasio hidrogen/karbon (H/C) setara solar dari minyak bumi yaitu H/C = 1.32 HDT-2 3. 2005 Whitehurst D. Malvina Farcasiu. kadar nitrogen dari 0.75. (2004). M.82 9.17 0.17 %berat sulfur (S) dari 0. Talukdar. 1982) %. by diff.016 %. maka proses hidrotreating fraksi 180-300°C tersebut masih perlu ditingkatkan kondisi operasinya dengan pengoptimalan komposisi katalis.75.9664 87. serta tergolong sebagai Naftenik-Naftenik menurut klasifikasi Lane-Garton..53 9.17 %.16 %berat.30 menjadi 1. DAFTAR PUSTAKA Annual Book of ASTM Standards.Tabel 4. Vol 05. dengan penurunan spesific gravity dari 0. Fuel. 4. kadar karbon (C) dari 87.82 208 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . 2005 Armstrong P. di mana HDT3 memberikan hasil yang paling baik. 1032-1037 Kokayeff.03 1. Fuel. New characterization techniques for coal-derived liquids. Rasio H/C Umpan 5. 61. P.58 0. Odoerfer and Leslie R.027 5. sulfur (S) dari 0. (40oC) SG 60/60 Carbon (%-wt) Hidrogen (%-wt) Nitrogen (%-wt) Sulfur (%-wt) Oksigen.97 0. 1982 dan Jankowski.56 1.67 9. Anup K. ASTM. Werner Doehler and Ulrich Graeser.9247..57 0. Sidney E. serta kenaikan rasio hidrogen/karbon (H/C) dari 1. nitrogen (N) dari 0. 1982.41 Riazi. 1.. 1051-1057. Hydro-treating coal-derived liquid distillation fractions. Study of single-stage treated products for transport fuel use. Francis J. Watson dan Murphy).. vol 61.0 % berat pada tiga jenis kondisi operasi menunjukkan peningkatan mutu fraksi 180-300oC tersebut dengan diamatinya penurunan karakteristik produk hidrotreating yaitu antara lain: spesific gravity dari 0. India. 2005. Characterzation and Properties of Petroleum Fractions.G..9247. 1982.079 % menjadi 0.079 %berat menjadi 0.9365 86.026 3.320 0.47 0.58 % menjadi 0.42 Hasil penelitian proses penghidromurnian fraksi 180 – 300oC dari minyak sintetik dengan bantuan katalis Ni-Mo/Al2O3 dengan kadar sulfur 6. 8..079 2.016 9.82 %berat. Karakterisasi produk hidrotreating Parameter Kinematik Visc. Fuel.42.31-8.71 1. Derbyshire. kadar karbon (C) dari 87.725 0. 61.38 HDT-3 2. dan adanya kenaikan rasio hidrogen/karbon (H/C) dari 1. Untuk memperoleh rasio hidrogen/karbon setara solar dari minyak bumi yaitu sebesar 1.30 menjadi 1.3 %berat menjadi 80.9574 84. maka proses penghidromurnian fraksi 180-300oC berkadar aromatik besar tersebut masih perlu ditingkatkan kondisi operasinya dengan pengoptimalan komposisi katalis (Whitehurst. Catalysis in Petroleum and Petrochemical Industries. Narosa Publishing House. George A.30 0. Jankowski A.961 0.32 0. Rudnick. R. Upgrading of syncrude from coal. “ Chapter 8.3 % menjadi 80.9664 menjadi 0.316 0. Handbook Of Petroleum Refining Processes 3rd Ed.02. Duayne. Minyak sintetik ini mengandung fraksi solar (180300°C) sebesar 30% berkadar aromatik tinggi.9664 menjadi 0.30 HDT-1 3. vol.9247 80.

ninings@tekmira.S.S. pencairan batubara dan proses Fischer-Tropcsh ABTSRACT Indonesia’s petroleum refinery processes is about 1. Key words: synthetic fuel oil. Sudirman 623 Bandung 40211 Telp. Cipulir-Kebayoran Lama. Minyak sintetik tersebut dapat diolah menjadi bahan bakar minyak sintetik dengan proses katalitik pada kilang minyak bumi. coal liquefaction and Fischer-Tropcsh processes. teknologi dari Jepang atau secara tidak langsung (indirect coal liquefaction) yaitu coal to liquid technology (CTL) teknologi CTL-SASOL. Kata kunci: minyak sintetik. This synthetic crude can be converted into the synthetic fuel oil by catalytic process of the petroleum refinery. such as brown coal liquefaction (BCL) and NEDOL aJapan’s technology.75 million barrels/day and plus the imported crude oil.esdm. melalui proses Ficsher-Tropsch gas sintes (CO + H2) dari produk gasifikasi batubara (bituminous coal). Nasution. Nasution*.go. 021 . Jakarta Selatan 12230 Telp.7222583 Fax. supplied by national production of about 0. will be discussed briefly in this paper. Pencairan batubara menjadi minyak sintetik dapat dilakukan secara langsung (direct coal liquefaction) yaitu Brown Coal Liquefaction (BCL) dan NEDOL.75 juta barel/hari dan kekuranganya masih diimport.6030483 Fax. 022 . Bahan Bakar Minyak Sintetik dari Pencairan Batubara.esdm.id SARI Indonesia mengolah minyak mentah adalah sebesar 1. Ciledug Raya Kav 109. The synthetic crude of this coal liquefaction can be increased by the catalyst developments and the optimum of the operating conditions of the coal liquefaction processes. Miftahul Huda**.6003373 e-mail : huda@tekmira.075 million barrels/day of the crude oils. A. or indirect coal liquefaction or coal to liquid technology (CTL) such as CTL technology of SASOL in South Africa over Fischer Tropsch processes of syn-gas (CO+H2) from gasification of bituminous coal. Coal liquefaction by BCL and Ficher-Tropsch processes into the synthetic crudes and their conversion into the synthetic fuel oil.075 juta barel/hari sedangkan produksi nasional hanya sekitar 0. Proses pencairan batubara menjadi minyak sintetik dengan proses BCL dan Ficsher-Tropsch serta pengolahan minyak sintetik tersebut menjadi bahan bakar minyak sintetik akan dibahas dalam makalah ini. Abdul Haris*. Afrika Selatan. Coal liquefaction into the synthetic crude can be direct coal liquefaction. 209 . National coal reserves are about of 104.7226011 ** Pusat Teknologi Penelitian dan Pengembangan Mineral dan Batubara Jl.id.756 milliar ton yang sebagian dapat dikonversi menjadi minyak sintetik untuk mensubtitusi minyak mentah import tersebut.756 billions ton in the 2008 and the part of this coal can be converted into synthetic crude to substituted the imported crude oil. 021 . Produk minyak sintetik dari proses pencairan batubara dapat ditingkatkan dengan pengembangan katalis dan optimalisasi kondisi operasi. 022 . dkk. Leni Herlina* dan Nining Sudini Ningrum** * Pusat Teknologi Penelitian dan Pengembangan Minyak dan Gas Bumi (LEMIGAS) Jl. Cadangan batubara Nasional pada tahun 2008 adalah sebesar 104.BAHAN BAKAR MINYAK SINTETIK DARI PENCAIRAN BATUBARA A. Jend.go.

katalis. PENDAHULUAN Indonesia mengolah minyak mentah sebesar 1. yaitu brown coal liquefaction (BCL) dan NEDOL yang merupakan teknologi Jepang melalui proses hidrogenasi batubara yang hidrogennya dari produk gasifikasi batubara. Umpan proses hidrogenasi batubara adalah suatu suspensi dari campuran: batubara. Sedang pencairan batubara secara tak langsung (indirect coal liquefaction) atau coal to liquid technology (CTL) merupakan teknologi CTL SASOL telah dioperasikan sejak tahun 1950 di Afrika Selatan. hidrogen. 2006). Fischer-Tropsch) dengan berbagai jenis katalis dan pengolahan minyak sintetik tersebut menjadi bahan bakar minyak sintentik akan disajikan dalam makalah ini. 2.1. tanpa tahun).075 juta barel/hari di mana produksi nasional hanya sekitar 0. hydrogen donating.2006). N. tanpa tahun) Pembentukan produk minyak sintetik dari proses pencairan batubara (proses BCL dan proses   Pencairan Batubara dan Rantai Pasokan BBM  Impor Crude Oil  Impor BBM  Crude Oil  CSO  Batubara Indonesia  pada berbagai lokasi  Kilang Minyak  BBM  Untuk domestik  Pencairan Batubara  BBM  Untuk Ekspor  Masuknya CSO dalam rantai pasokan BBM terutama akan berdampak positif  dalam penyediaan BBM domestic dan mengurangi impor  Gambar 1. Cadangan batubara nasional cukup besar yaitu sekitar 104. Jeffey Mulyono.756 milliar ton pada tahun 2008 dengan jenis low rank coal sekitar 60 % dari total cadangan. melalui proses Fischer Tropsch gas sistesis ( CO + H2) dari produk gasifikasi batubara (bituminous coal) (Supriyadi. seperti terlihat pada Gambar 1 (Sukardjo. yang dimasukan ke dalam slurry reactor di mana molekul batubara direngkah menjadi produk minyak sintentik. yaitu antara lain brown coal liquefaction (BCL) oleh Teknologi Jepang 210 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Pencairan Batubara Pencairan batubara menjadi minyak sintetik dapat dilakukan secara langsung ( direct coal liquefaction) yang masih dalam taraf demonstration plant.Satterfield. yang sebagian batubara tersebut dapat dicairkan menjadi minyak sitentik untuk mensubtitusi minyak mentah impor tersebut. PENCAIRAN BATUBARA MENJADI MINYAK SINTETIK Pencairan batubara menjadi minyak sintetik terdiri atas dua jenis proses berikut : Proses pencairan batubara secara langsung ( direct coal liquefaction). vehicle solvent.2006. Proses Fischer-Tropsch adalah suatu reductive polymerization reaction yang mengkonversi gas sintesis (CO + H2) menjadi produk utama hidrokarbon normal parafin dan normal olefin dengan bantuan katalis (Charles.75 juta barel/hari dan kekuranganya masih diimport (Dirjen Migas.

dan oil (minyak sintetik) seperti terlihat pada Gambar 3 (Charles N.V. dkk. Satterfield. preasphaltene. N.1.. N. serta mengandung grup aromatik dengan berat molekul relatif rendah. K. Konversi Batubara Stabilisasi radikal-radikal tersebut dengan beberapa reaksi radikal adalah berikut (Charles N. R* + H* RH Perengkahan lanjut dari radikal-radikal besar seperti asphaltene. Proses pencairan batubara dengan memakai katalis monofungsional berinti aktif logam. Pemutusan ikatan karbon di antara dua cincin aromatik dengan radikal hidrogen baik yang berasal dari hydrogen donating maupun yang berasal dari gas hidrogen dengan bantuan katalis Gambar 2. seperti FeS2 dapat mengaktifkan kembali hydrogen donating yang telah melepaskan radikal hydrogennya dengan reaksi hidrogenasi. tanpa tahun. Staker. R*1 + R*2 R1 R2 Produk minyak sintetik dari proses pencairan batubara dengan hydrogen donating saja tanpa katalis diamati menurun secara cepat dengan waktu reaksi. 2. Peter A. dkk. Kelvin. 2002. hydrogen donating. preasphaltene menjadi radikal kecil yang lebih stabil seperti minyak sintetik dan olefin. A. Gambar 3. Proses pencairan batubara secara tak langsung (indirect coal liquefaction) melalui proses Fischer Tropsch gas sintes ( CO+ H2) dari produk gasifikasi batubara (bitumineous coal) atau Coal to Liguid Technology. dkk. 2002). Model Molekul Zat Organik Batubara Umpan batubara pada proses hidrogenasi batubara muda ini dalam bentuk suspensi yaitu suatu campuran dari : bubuk batubara < 60 mesh. atau dapat juga terbentuk dari gas hidrogen dengan bantuan katalis. Staker. Satterfield.P.. Hertan. Kelvin. A. dkk. Nasution. 1994). Nasution.melalui proses hidrogenasi batubara yang masih dalam taraf demonstration plant. dan juga dapat mempercepat terbentuknya radikal hidrogen dari gas hidrogen (Takau.. 211 . 1994. 1985). Proses Hidrogenasi Batubara Batubara muda (low-rank coal) mengandung kadar oksigen tinggi dengan banyak grup fungsional berantai yang sangat reaktif mudah pecah oleh panas. Gas hidrogen yang dipakai pada proses pencairan batubara ini diperoleh dari produk gasifikasi batubara seperti terlihat pada Gambar 2 (Takao. R.S. K. 2002). Bahan Bakar Minyak Sintetik dari Pencairan Batubara.P.V. hidrogen dan vehicle solvent dimasukan ke dalam suatu slurry reactor. sehingga proses pencairannya dapat menghasilkan perolehan minyak sintetik tinggi. C*n H2n + 1 C*x H2x + 1 + CYH2Y di mana n = x + y Pengabungan radikal-radikal besar menjadi molekul yang kompleks (kokas). oleh teknologi CTL-SASOL di Afrika Selatan yang telah beroprasi sejak tahun 1955.. hal ini diperkirakan karena keterbatasannya dalam pelepasan radikal hydrogen tersebut (R. tanpa tahun): Radikal bergabung dengan radikal hidrogen ( H*) yang dihasilakan dari hidrogen donating tanpa atau dengan bantuan katalis.. dkk. Mula-mula molekul batubara akan pecah secara termal menjadi beberapa jenis molekul radikal ( R*=C* n H2n + 1) seperti asphaltene.S. katalis sub-micron.

. sehingga kadar hidrokarbon poliaromatik (rasio atom C/H) dari produk minyak sintetik tersebut diamati relatif lebih tinggi dari pada fraksi yang di kandung oleh minyak bumi (Takau. akan mengkonversi gas sintes melalui suatu reductive polymerijation reaction menjadi produk utama normal hidrokarbon parafin dan normal olefin dengan sedikit produk samping senyawa organik oksigen seperti alkohol (Charles N.2. Minyak sintetik.V. Pengaruh chain probability factor (α) adalah (α) : rp / rp + rt (rp dan rt = laju propogasi dan terminasi) pada distribusi produk utama hidrokarbon (minyak sintetik) tersebut disajikan pada Gambar 6 (Charles N. kat . 1994. Keasaman katalis.Tropsch yaitu katalis bifungsional berinti dua jenis aktif (logam dan asam) yaitu antara lain Fe/Ziolit dan Co/Al2O3 SiO2 akan mengkonversi senyawa olefin-1 menjadi olefin-2 melalui senyawa antara molekul ion karbonium (R+) yang lebih sulit berpolimerisasi menjadi produk normal hidrokarbon panjang +H+ C=C–C–C +C Vehicle solvent dapat menaikan kelarutan dan pendispersian bubuk batubara di dalam suspensi umpan. K. N. tanpa tahun). Satterfield. 1985). J.F Lepage. dkk. yang akan 212 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . Hertan. sehingga percampuran antara molekul batubara dengan katalis akan meningkat. Ronald H. m mol/g. 1987). Proses Fischer-Tropsch Gas Sintes (CO + H2) Proses Fischer-Tropsch dengan memakai katalis konvensional monofungsional Fe atau Co berinti aktif logam saja. Kelvin. -H+ –C–C–C C–C=C–C Ion karbonium beratom karbon C ³ 6 dapat membentuk ion karbonium siklis. Pengaruh Keasaman Katalis Pada Minyak Sintetik 2. Reaksi hidrokonversi Modifikasi katalis Fischer .. dan juga solvent tersebut dapat menghambat terjadinya pengabungan (repolymerization) antara radikalradikal besar menjadi molekul besar (kokas). 102 Gambar 5. 1979). Gambar 4. 2002. tanpa tahun). Wolk. Pengaruh vehicle solvent pada perolehan produk minyak sintetik disajikan pada Gambar 5 (Peter A. Staker.Katalis bifungsional berinti aktif logam dan asam. dkk.. seperti Ni-Mo/Al2O3-SiO2 dapat memecah cincin poliaromatik dari produk minyak sintetik tersebut melalui pembentukan senyawa antara ion karbonium ( R+) dengan bantuan inti aktif asam katalis baik Lewis maupun Bronsted seperti halnya pada proses hidrorengkah fraksi minyak bumi seperti terlihat pada Gambar 4 (R.P. Satterfield. maf monofungsional tersebut cukup sulit.

Richard E. Kelvin. Bensin dan solar diperoleh dari masing-masing fraksi ringan dan fraksi berat dari fraksi minyak sintetik tersebut dengan bantuan proses – proses katalitik seperti terlihat pada Tabel 2 (Charles N. 1994. 213 ..Gambar 6. Nasution. tanpa tahun. Minyak sintetik dari pencairan batubara secara langsung mengandung banyak hidrokarbon aromatik sehingga pengolahan fraksi berat minyak sintetiknya menjadi produk solar memerlukan proses hidropemurnian tinggi atau proses hidrorengkah. Hildebrand.S. Co/silica b. Co(1)/alumina silica dan c. Satterfield. Ronald H. Pengaruh Alfa Pada Prosentase Produk terkonversi menjadi hidrokarbon aromatik yaitu : +H+ +H+ 3. Staker. N. 1979). Co (2)/alumina silica Gambar 7. J. Proses-proses katalitik yang dioperasikan Fraksi mol realtif Jumlah atom karbon Catatan : a. Hubungan antara jumlah atom karbon pada fraksi mol relatif Bahan Bakar Minyak Sintetik dari Pencairan Batubara. A.F Lepage. 1987). BAHAN BAKAR MINYAK SINTETIK C6H12 C6H13 + Proses Fischer-Tropsch gas sintesa dengan katalis bifungsional dapat menghasilkan produk utama berkadar banyak iso-olefin rendah (C 4 – C 7) dengan sedikit produk samping metana seperti terlihat pada Gambar 7 dan Tabel 1(R.P.V. Fisher. dkk.

yaitu: bergabung Tabel 2.350 °C Fraksi Berat > 350 °C 214 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 . HF Bifungsional Pt pada Al2O2-Cl atau zeolit Bifungsional Pt/Rh atau Pt/Sn pada Al2O2-Cl Monofungsional Ni/Mo atau Ni/W pada Al2O2 Bifungsional Ni/Mo atau Ni/W pada Al2O2-SiO2 atau zeolit Katalis Fraksi Gas Olefin C2/C4 Fraksi Nafta Ringan C5/C6 Fraksi Nafta Berat C7 .180 °C Fraksi Sedang 180 .Tabel 1. Pembuatan Bahan Bakar Minyak Sintetik Umpan Proses Katalistik/Produk Dimerisasi/Dimer Isomerisasi/Isomerat Reforming/Reformat Hidrotreating/Kerosin + Solar Hidrorengkah/Kerosin + Solar H2SO4. Produk Minyak Sintetik Dengan Katalis Fe/Zeolit Pengaruh Kadar MnO Pada Katalis Fe-MnO/Zeolit pada kilang minyak yaitu: Dimerisasi fraksi gas (C3 / C4) Isomerisasi fraksi nafta ringan (C5 / C6 ) Reformasi fraksi nafta berat (C7 – 180o ) Hidrotreating fraksi berat (180o – 350o C ) Hidrorengkah fraksi berat (>350o C) Mekanisme reaksi dari proses katalitik tersebut (kecuali proses hydrotreating) membentuk senyawa antara ion karbonium (R +) dengan bantuan inti aktif asam dari katalis bifungsional (kecuali proses dimerisasi) yang kemudian masing-masing bereaksi.

dkk. dan pecah (hidrorengkah) menjadi produk – produk utamanya seperti terlihat pada Gambar 8. 215 . 1987).dan Gambar 9 (J. Mekanisme Reaksi Dengan Katalis Bifungsional (dimerisasi). 4. Reaksi Hidrokonversi Parafin Bahan Bakar Minyak Sintetik dari Pencairan Batubara.S. A. isomerisasi. Gambar 9. Proses katalitik memegang peranan penting pada pencairan batubara dan konversi minyak sintetik tersebut menjadi bahan bakar minyak sintetik. PENUTUP Minyak sintetik dari proses pencairan batubara secara langsung ( direct coal liquefaction) atau secara tak langsung (indirect coal liquefaction) dapat dikonversi menjadi bahan bakar minyak sintetik setara bensin. Nasution. Minyak sintetik dari proses pencairan batubara dapat meningkatkan pemanfaatan potensi batubara dan juga mensubtitusi sebagian impor minyak mentah dan bahan bakar minyak.F Lepage.Gambar 8. kerosin dan solar dengan memakai proses – proses katalitik yang dioperasikan di kilang minyak bumi. siklisasi (reforming).

(331343) Symposium Paper. Supriyadi. Jakarta 13 Januari 2006. Indonesian Japan Coal Liguefaction Seminar. Sukardjo. pp. Edition Technip. (b3). Ronald H. Fuel.335. Advances in Coal Utilization Technology. Jakarta 22 Februari 2002. pp 287. 1979. W. hydrogenation of brown coal. Pusat Sumber Daya Geologi. Jakarta 13 Januari 2006.DAFAR PUSTAKA Direktorat Jenderal Minyak Dan Gas Bumi Kebijakan Dan Kebutuhan Bahan Bakar.F Lepage. Jeffey Mulyono. Jakarta 12 Desember 2002. 1979. Kentucky.S. Seminar Pencairan Batu Bara Banko Indonesia 2002. Mc GrawHill I Nc. Overview of Liquefaction Process Technology. Ass. Penyedian dan Kebutuhan Batubara untuk Bahan Baku Pencairan Batubara. hydrogenation Characteristics Of Australian Coals. Jakarta 13 Januari 2006. Transportation Fuels Synthetic Gas. Satterfield. Vol 64. Synthetic Gas And Associated Processes Pp 419-470. 1994 Elservier Science B. September 1985. A. Hildebrand. Okuyama And Masaaki Tamura. Lorkins. pp 435-466 Applied Heterogeneous Catalysis. Staker and N. Kelvin. Nasution. Roy Jackson and Frank B. Liquefaction Of Banko Coal With Limonite Catalyst. Noriyuki.Respons Of Oil Yields To Process Conditions. Wolk. Seminar Nasional Penciran Batubara Ladang Minyak Masa Depan. Deputi Menko Perekonomian Kebijakan Pemerintah Dalam Program Aksi Pencairan Batubara. Charles N. Hertan. pp 16-19 Gas Conversion.P. Fisher and Richard E. Takau kaneko And Eiichiro Makito. 216 PROSIDING KOLOKIUM PERTAMBANGAN 2009 .V. Symposium Paper. Kentucky. PP 1251-1254 Ronald H. Seminar Nasional Pencairan Batubara “Ladang Minyak Masa Depan”. R. Production Of Lube-Oil Blending Stock Through Hydrotreating. Peter A.V. Advances in Coal Utilization Technology. J. Nining Sudiningrum Dan Chairil Anwar. Katalis Limonite Soroako Pada Prosese Pencairan Batubara Banko. Seminar Nasional Penciran Batubara Ladang Minyak Masa Depan. Oberlin Sidjabat. Sumber Daya Batubara Indonesia. (273-290). Paris 1987. Satoru Sugita. New York. 2th Heterogeneous Catalysis Industrial Practice.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->