BAB I PENDAHULUAN

1.1 latar Belakang Setelah mengalami penjajahan dan pendudukan akhirnya waktu jua lah yang menjawab kemerdekaan Indonesia. Adanya upacara proklamasi 1945 yang dirayakan oleh semua rakyat Indonesia dengan penuh khidmad dan rasa haru belum mampu untuk membuat Belanda melepaskan Indonesia. (Yulianti, 2007: 221). Pasca Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia 1945, Belanda tetap memperteguh pendirian dengan menganggap kemerdekaan itu tidak pernah ada. Akan tetapi, setidak-tidaknya dalam pengertian hukum internasional status itu diakui dan memperoleh tempat. Dengan adanya kemerdekaan, maka Indonesia tentunya akan menghadapi babak baru pada prospek untuk menentukan masa depan bangsa. (Ricklefs, 1998:355). Kemerdekaan yang saat itu baru direngkuh Indonesia tentunya membutuhkan berbagai pembenahan. Ketika itu, Indonesia menunjukan adanya kemiskinan ditengah taraf pendidikan yang rendah. Adanya tradisi otoriter ditengah kehidupan bangsa menuntut negeri ini untuk bergantung nasib pada kearifan suatu pemimpin yang baik di negeri itu. (Ricklefs, 2005:471). Telah diketahui bahwa Soekarno merupakan “Pahlawan Proklamator”. Ia merupakan pemimpin proklamasi sekaligus pemimpin bangsa Indonesia. Kemerdekaan Indonesia tidaklah cukup dengan pertahanan kedaulatan yang hanya dilakukan oleh Soekarno. Akan tetapi, kepemimpinan tersebut membutuhkan adanya unsur-unsur yang dapat mendukung roda pemerintahan. Langkah awal yang ditempuh oleh Indonesia dalam menata rumah tangga negaranya ialah dengan menghasilkan keputusan; untuk menetapkan Undang-undang 1945 sebagai Dasar Negara Republik Indonesia, menetapkan pemimpin bangsa, serta membentuk komite yang akan berperan dalam membantu tugas kepala Negara. Selain aspek diatas, maka dalam pembangunan pemerintahan ini, Indonesia juga mulai membagi wilayah RI dengan pemimpin tiap daerah masing-masing, membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR), dan kemudian menetapkan PNI sebagai satu-satunya partai politik di Indonesia. (Yulianti, 2007: 225). Hal ini karena basis utama Partai Nasional ini berada dalam birokrasi dan kalangan pegawai kantor. (Ricklefs, 2005:361). Dari adanya pembenahan pada awal kemerdekaan, maka pada 19 Agustus dihasilkan suatu keputusan untuk menetapkan 12 kementerian yang akan membantu tugas presiden. (Yulianti, 2007: 225). Apalagi pada permulaan kemerdekaan keadaan Indonesia sedang tidak menentu ditengah berbagai gejolak, baik itu masalah ekonomi, maupun ketidakstabilan keamanan. Pendudukan Jepang dan imperialisme Belanda telah mewariskan hal-hal yang menyulitkan Indonesia untuk membenahi bangsanya. Akan tetapi semangat revolusi merupakan komitmen yang harus dipenuhi. Sehingga dampak dari adanya keputusan diatas mendorong dibentuknya susunan Kabinet Indonesia yang pertama. (Yulianti, 2007:226). Dengan adanya pembentukan kabinet yang pertama, maka sejarah Indonesia akan memaparkan berbagai peralihan mengenai kabinet-kabinet yang selanjutnya akan memimpin Indonesia dalam mengisi kemerdekaan. Sehingga wujud sistem parlementer yang kemudian diterapkan Indonesia dalam susunan organisasinya. Adapun cara ini merupakan pengetahuan yang dimiliki Indonesia dan diperoleh dari Penjajahan Belanda. Dengan demikian, maka pada penetapannya, kabinet bertanggung jawab terhadap parlemen suatu majelis (Dewan Perwakilan Rakyat) yang saat itu jumlah anggotanya 232. Jumlah ini merupakan cerminan basis kekuatan –kekuatan partai. Dalam hal ini partai-partai yang dimaksud ialah, Masyumi dengan 49 kursi (21%), PNI 36 kursi (16%), PSI 17 kursi (7,3%), PKI 13 kursi (5,6%), Partai Katolik 9 kursi (3,9%), Partai Kristen 5 kursi (2,2%), dan Murba 4 kursi (1,7%). Dengan hasil tersebut, maka 42 kursi terbagi atas partai-partai atau peorangan lainnya, dan dari seluruhnya tidak satu pun mendapat lebih dari 17 kursi (Ricklefs: 1998, 363). Adanya roda pemerintahan yang dijalankan oleh kebanyak politisi dari Jakarta membuat unsur yang ada menekankan pada pola parlementer. Sehingga kekuatan parlementer saat itu melebihi dari kabinet yang ada. Pada percobaan demokrasi di Indonesia, maka kabinet yang memimpin saat itu

1

dan Kabinet Djuanda (April 1957. Sukiman yang memuat koalisi Masyumi-PNI. 485. (Ricklefs: 1998.Juli 1959).Juni 1953). Hal ini menimbulkan ketidakharmonisan antara koalisi yang sebelumnya terjalin itu. 485.Maret 1956). dimana koalisi antara kedua partai ini masih dilanjutkan oleh kabinet yang kemudian menggantikan Kabinet Sukiman. Kabinet Wilopo. Kabinet Wilopo (April 1952. begitu pula dengan kabinet selanjutnya. dan tidak lupa penulis menjelaskan mengenai penyebab pengembalian mandat yang dilakukan oleh Ali pada akhir Kabinet Ali 1 ini. 1993: 516). Kabinet Ali Sastroamidjojo II (Maret 1956. Marwati Djoened dan Notosusanto.Juli 1955). serta pencapaian yang dihasilkan. maka penulis akan memaparkan sekaligus menguraikan mengenai aspek yang terdapat Ali Satroamidjojo 1 (Juli 1953. Dari reruntuhan kabinet diatas. 376) Pada proses Indonesia menuju pemerintahan. (Ricklefs: 2005. penulis ingin menguraikan komparatif dari hasil koalisi antara PNI-PKI terhadap kabinet sebelumnya. maka PKI dan PNI selanjutnya mengadakan koalisi untuk mengembalikan mosi percaya dari pihak DPR. maka pada laporan bacaan ini penulis akan membahas mengenai Ali Satroamidjojo 1 (Juli 1953. maka kabinet-kabinet diatas mempunyai cerita tersendiri dalam menempati posisinya. (Poesponegoro. Pada koalisi ini.489).Juli 1955).mengalami pergantian seperti : Kabinet Natsir (September 1950-Maret 1953).489). Koalisi ini kemudian membentuk kabinet yang langsung mengambil mandatnya kepada Soekarno. Kabinet Sukiman (April 1951-Februari 1953). Bahkan parlemen menyatakan mosi tidak percaya. 2 . Untuk menjawab pembuktian dari kabinet ini. Adanya pertahanan kabinet yang tidak utuh membuat pertanggungjawaban yang diajukan kepada parlemen sering ditolak. Diantara kabinet-kabinet diatas.Maret 1957). Dalam hal ini. Kabinet Burhanudin (Agustus 1955. Kabinet Natsir ialah kabinet awal yang inti didalamnya adaalah koalisi antara Masyumi dan PSI. maka orang PNI yang ambil peran sebagai perdana menteri. (Ricklefs: 2005. Kabinet Ali Satroamidjojo 1 (Juli 1953Juli 1955).

perselisihan yang terjadi dikalangan militer. 371). selain itu juga terdapat berbagai pemberontakan di daerah-daerah. Hal ini karena Kabinet Ali berani mengambil alih pemerintahan setelah kabinet sebelumnya runtuh. 1993: 526). Hal ini karena ekspor karet nasional Indonesia menjadi turun 71%. Marwati Djoened dan Notosusanto. 2. (Ricklefs: 1998.Maret 1952 memberikan dampak malasnya perekonomian Indonesia. Apalagi solusi ekonomi yang dilakukan pemerintahan sebelumnya justru berdampak memperkeruh 3 . 369-370). 371). Menjaga keamanan merupakan bagian dari program kerja Kabinet Ali 1. Mr. Politik kebijakan yang diterapkan tersebut terlihat lebih mengutamakan mengenai pertahanan kekuasaan serta membagi hasil hasilnya atas penguasaan. Ia menganggap tindakan tersebut sangat penting bagi pemilihan yang akan datang (Ricklefs: 1998. 2.Juli 1955) 2. Dalam Kabinet Ali.2 Program Kerja Dalam menjalankan roda pemerintahan. Saat itu Kabinet Ali mengerahkan pasukan untuk meredam pemberontakan dari kota kota yang penting. Setelah melakukan perundingan selama enam minggu dan melakukan berbagai upaya pembentukan partai. 371). Adanya tanggungjawab kabinet ini yang kemudian akan dilaporkan terhadap DPR tentunya akan memuat suatu solusi untuk meredam ketidakstabilan Negara saat itu. Misalnya saja perpecahan yang terjadi di Jawa Tengah dan Jawa Timur.BAB II PEMBAHASAN KABINET ALI SASTROAMIDJOJO I (Juli 1953. 1993: 526). Ali Sastroamidjojo dari PNI merupakan perdana menteri dalam kabinet ini. (Poesponegoro. Adapun Kabinet Ali merupakan kabinet yang terakhir sebelum Pemilihan Umum I. Selain itu terdapat tokoh yang bersimpati kepada PKI dimasukkan dalam kabinet ini dan Muh Yamin yang dianggap sayap kiri dijadikan sebagai Menteri Pendidikan. Sehingga pada Kabinet Ali 1 ini. Pada masa kabinet sebelumnya telah terjadi berbagai goncangan keamanan. Kabinet Ali memiliki program kerja sebagai berikut : 1. pemerintah berupaya untuk menjaga keamanan dan memulihkan. Dimana dalam upaya menjalankan roda pemerintahanannya. (Poesponegoro. Menciptakan Kemakmuran & Kesejahteraan Rakyat. Masyumi merupakan partai terbesar kedua dalam parlemen tidak turut serta. Marwati Djoened dan Notosusanto. Hal ini yang kemudian mendorong terbentuknya Kabinet Ali untuk mengisi krisis pemerintahan di Indonesia pasca kekosongan selama 58 hari (sepeninggalan Kabinet Wilopo).(Ricklefs: 1998.1 Pembentukan Krisis pemerintahan di Indonesia membuat negara yang baru terbentuk ini mengalami ketidakstabilan. 367-368. Bahkan pembunuhan yang dilakukan kepolisian terhadap lima petani di dekat Medan (Ricklefs: 1998. 1993: 526). (Poesponegoro. Adanya Perang Korea antara Februari 1952. (Ricklefs: 1998. Marwati Djoened dan Notosusanto. Menjaga Keamanan. Ali Sastroamidjojo melakukan perluasan birokrasinya dalam tubuh PNI. Maka pada tanggal 31 Juli 1953 ” Kabinet Ali I” ini diresmikan dan dikenal dengan nama Kabinet Ali-Wongso. Adapun struktur yang mengisi kabinet Ali. 371). Adanya upaya untuk memperbaiki neraca perdagangan pada kabinet sebelum Kabinet Ali tidak berhasil. Adapun keadaan ini membuat stabilitas yang dijalankan pemerintahan terganggu. Indonesia mengalami jatuh bangun. terdiri atas ini unsur-unsur dari PNI. dalam hal ini NU (Nahdatul Ulama) kemudian mengambil alih sebagai kekuatan politik baru.

371). (Poesponegoro. (Ricklefs: 1998. (Ricklefs: 1998. Maka dari itu pada masa Kabinet Ali program kerjanya juga berupaya untuk menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan. 368). Pada tanggal 31 Mei 1954 Kabinet Ali membentuk Panitia Pemilu Pusat yang diketuai oleh Hadikusumo (PNI). Melaksanaan politik bebas-aktif Adanya bipolarisasi dan politik konstelasi dunia membuat Indonesia tidak ingin terlibat didalamnya.6 %. Misalnya pada ketegangan antara Amerika dan RRC saat itu. pada tanggal Agustus 1954 Kabinet Ali memuat usul mengenai penghapusan Uni Belanda. Sehingga nilai tukar rupiah turun menjadi 44. 1995: 43). Program ini sangat didukung Soekarno. Marwati Djoened dan Notosusanto. Hal ini yang kemudian akan diwujudkan dengan pelaksanaan KAA 1955 yang mengikutsertakan Indonesia dalam menggalang perdamaian Asia-Afro. 3. 367-368). (Turnan. namun hal ini tidak mencapai kemajuan. Sedangkan aktif disini ditujukan pada perjuangan untuk membebaskan Irian dari Belanda. (Ricklefs: 1998. (Ricklefs: 1998. bahkan dalam menata negaranya. maka sistem Pemerintahan Indonesia menjalani sistem yang sebelumnya diterapkan oleh Belanda. Selain itu ketidakharmonisan juga terlihat dalam hubungan PNI dan PSI. Adapun pemilu merupakan program kerja yang utama dalam kabinet ini.ketidakstabilan politik dan keamanan. Adapun bebas disini terwujud dengan sifat tidak memihak Indonesia terhadap pertikaian dunia.Indonesia (sesuatu yang kecil) dan beberapa penyesuaian atas hasil KMB . Hal ini akhirnya menyebabkan eksportir diluar Pulau Jawa yang terdiri atas orang-orang Masyumi terkena imbas dan mengalami dampak buruk pada kegiatan ekonominya (kerugian). Adanya masalah pembebasan Irian yang tidak memuat hasil membuat Kabinet Ali saat itu mengajukan masalah ini ke PBB. Maka dari itu. (Turnan. 371). Keadaan ini semakin menambah kemiskinan bangsa Indonesia. Perpecahan terjadi dikalangan elite politik. dan dalam bulan yang sama pengaduan tersebut tidak diterima. jabatan. 5. Menyelesaikan Pertikaian politik Telah diketahui bahwa keadaan politik di Indonesia sangat tidak stabil pada masa itu. dan kekuasaan membuat Indonesia semakin terpuruk dalam kehidupan bernegara. Indonesia ingin berperan aktif dalam menyuarakan anspirasinya pada dunia. menuntut kabinet ini untuk tidak menyetujui adanya RIS. Apalagi Indonesia sendiri merupakan Negara yang baru merdeka. 1993: 526). Rakyat saat itu hidup dalam kelaparan dan jauh dari kesejahteraan. Sebagai kabinet yang memimpin pemerintahan. Dimana imperialism kemudian mengenalkan Indonesia pada struktur atau susunan pemerintahan yang masuk ke dalam jenis parlementer. Pada tahun 1952-1953 terjadi inflasi di Indonesia. 371). 4. 4 . Hal ini karena pemerintahan yang ada saat itu ingin berdaulat dalam menjalankan kehidupan bernegara. maka Kabinet Ali menyanggupi inti dari pemerintahan Indonesia yang bersifat parlementer tersebut. 1995: 208). (Ricklefs: 1998. Adapun kampanye diadakan sampai pelosok desa. (Kahin. Tahta. adanya aksi tuding menuding semakin gencar diarahkan satu sama lain. Dengan memasuki babak demokrasi liberal. tapi juga tentara-tentara). Pada masa Kabinet ini persediaan uang meningkat 75%. Salah satu perpecahan yang ada terlihat dengan keluarnya NU dari Masyumi. Dari adanya situasi ini menyebabkan penyelundupan semakin meningkat (tidak hanya orang miskin yang terlibat penyelundupan. Apalagi kemerdekaan Indonesia masih belum diakui oleh Belanda. (Turnan.7 % dari nilai resmi menjadi 24. 2005:212). Menyelenggarakan Pemilu. Hal ini lah kemudian membuat berbagai kampanye yang diadakan menjadi meningkat. Adapu hal ini dikarenakan adanya kesenjangan dalam perebutan jabatan Menteri Agama. Adapun wujud dari upaya tersebut dengan Menekankan pengindonesiasian terhadap perekonomian dan memberi dorongan kepada pengusaha pribumi. 1995: 221). Pembebasan Irian Barat secepatnya. Kemerdekaan Indonesia. 6. Kabinet Ali mengupayakan penyelenggaraan Pemilu. Adanya ancaman kedatangan Belanda maupun Jepang bisa kapan saja menghampiri Indonesia. Maka dari itu pada masa Kabinet Ali ini menetapkan Indonesia untuk menjalankan Politik Bebas-Aktif. Dalam hal ini. Indonesia masih belum tentu arah. Selanjutnya Pada 16 April 1955 Hadikusumo mengumumkan bahwa pemilu akan diadakan pada tanggal 29 September 1955.

Konflik dengan TNI-AD dalam persoalan pengangkatan seorang kepala staf . (Ricklefs: 1998. (Yulianti. 71). 2. Tindak lanjut dari hal tersebut ialah pengangkatan Kolonel Bambang Utoyo oleh Mentri Pertahanan . Kemudian pada tanggal 19 September 1953 Daud dan PUSA terangan-terangan melakukan pemberontakan terhadap Jakarta. Kabinet yang ada saat itu dipersalahkan. Marwati Djoened dan Notosusanto. Adapun pemimpinnya adalah Kartosuwirjo. c. Pada tahun 1954 pemberontakan ini berhasil ditundukan oleh TNI.(Ricklefs: 1998. (Ricklefs: 1998. Ini mendapat dukungan orang-orang Aceh yang menjadi pegawai dan tentara. (Poesponegoro. Kabinet Ali menghadapi beberapa masalah seperti : 1. (Ricklefs: 1998. d. bahkan dalam Upacara Pelantikan dan Serah Terima Panglima tinggi TNI-AD tidak ada yang hadir.selanjutnya pada tahun 1950 Aceh digabungkan dengan Propinsi Sumatera Utara. dan Sulawesi. DI/TII di Jawa Tengah Pemberontakan ini dipimpin oleh Amir Fatah dan Mahfud Abdur Rahman. Namun pada akhirnya Kahar Muzakar ini berhasil ditembak oleh Tentara dari Divisi Siliwangi. bahkan aktivitas yang dilakukan meningkat. Adapun peristiwa disebabkan Kepala Staf TNI-AD “Bambang Sugeng” mengajukan permohonan. Daud Beureu’eh. Jawa Barat . menurut Panglima TNI-AD hal tersebut sangat tidak menghormati norma-norma yang ada di dalam lingkungan TNI-AD. sebagai orang kuat Aceh dan benteng Republik Revolusi menolak untuk menerima pekerjaan di Jakarta dan lebih memilih untuk bermukim di Aceh dan memperhatikan perkembangan-perkembangannya. 2007:249). Ketika Kabinet Ali gerakan ini dianggap sebagai hambatan yang berpengaruh terhadap ketidakstabilan Negara. (Yulianti. g. Pada waktu itu keamanan dibeberapa daerah tidak stabil a. DI/TII Kartosuwirjo di Jawa Barat Di Jawa Barat kegiatan Darul Islam semakin memuncak. tapi juga dikalangan militer dan sebagainya terjadi kesenjagan yang tidak layak. 2007:249) b. f. Pada Mei 1953. 369). Adapun hal ini karena adanya isi kabinet terdiri atas tokoh-tokoh Masyumi (Ricklefs: 1998. Saat itu Daud menyatakan bahwa Aceh merupakan bagian dari Darul Islam bukan Pemerintah Pancasila. Dan pada bulan Januari Hamengkubuwana IX mengundurkan diri dari Jabatan Menteri Pertahanan. 5 . 369). Pada masa Kabinet Ali. (Ricklefs: 1998. (Ricklefs: 1998. e. Sampai tahun 1959 Daud mundur keatas bukit. 369). Dalam hal ini keinginan tersebut disetujui oleh kabinet. Apalagi Hal ini merupakan tantangan bagi pemerintahan Kabinet Ali dan menjadi penguras utama dana. 1993: 526). Pada tahun 1949 Aceh menjadi Propinsi Republik yang otonom. DI/TII Kahar Muzakar di Sulawesi Selatan Pada Januari 1952 Kahar Muzakar menyatakan Sulawesi Selatan merupakan wilayah dari kepemimpinan Kartosuwirjo. Daud Beureh di Aceh Kaum muslim di Aceh mulai merasakan politik Jakarta hidup dalam keadaan. Pada masa Kabinet Ali. dan tidak cakap. Bahkan Darul Islam berhasil memperluas wilayahnya dengan meliputi Aceh.3 Masalah Yang Dihadapi Dalam menjalankan pemerintahannya. masalah demikian merupakan bagian dari kegiatan kerja kabinet. Ketegangan yang terjadi dilingkungan TNI-AD sejak peristiwa 17 Oktober 1952 (Pada waktu itu Nasution mendapat skors atau dinonaktifkan selama tiga tahun) kemudian berlanjut. Persoalan dalam negeri dan luar negeri misalnya persiapan pemilihan umum yang saat itu direncanakan pada pertengahan Mei 1955 mengalami kegagalan. Selain itu Darul Islam/Tentara Islam Indonesia di (DI/TII) ini disebut berasal dari Jawa Barat dan kemudian menyebar ke daerah lain. tidak beriman. 369). 369). terdapat bukti bahwa ia menjalin hubungan dengan Kartosuwirjo dari Darul Islam. (Yulianti. 2007:249). Hal ini adalah wujud dari adanya pertikaian politik. Tidak hanya pada dunia politii. Daud merasa keberadaan Kabinet Ali bermaksud menangkapi orang-orang Aceh yang terkemuka. 37).

Asia hanya kedua Korea. (Kunto. tapi tidak semua hasil diperoleh secara maksimal. Nehru 3. Pada tahun 1955 terdapat persetujuan ganda yang mengharuskan orang-orang Cina Indonesia untuk memilih kewarganegaran Cina atau Indonesia. 371).4 Hasil Yang Di Capai Kabinet Ali Sastroamidjojo ini tidak mampu mencapai semua program kerjanya. Zhou Enlai (Cou En-Lai)] 2. 1996: 128). Israel. 1998:371). 1998:371). Serta menilai kembali arti penting Konferensi Bandung serta 6 . Akan tetapi. netral. Pakistan. Saat itu Indonesia dengan tujuan mempromosikan kerjasama ekonomi dan kebudayaan Asia-Afrika. dan Indonesia (diselenggarakan di Colombo). kabinet ini telah berhasil memberi sumbangan bagi Indonesia . pergolakan ditanah air yang menguras dana semakin membuat kemiskinan (Ricklefs . 1996:131). Apalagi pada 1955 PSI melakukan pemogokan dan untuknya diredam oleh SOBSI. hal ini didukung Negara lain. Adapun KAA telah menunjukan kemenangan bagi pemerintahan Ali. maupun benua AsiaAfrika. Afrika Selatan. Bandung. hambatan pada kabinet ini juga meliputi masalah ekonomi. Pada program kerjanya Kabinet Ali menekankan pengindonesiasian terhadap perekonomian dan memberi dorongan kepada pengusaha pribumi. 371). Pelaksanaan konferensi ini merupakan wujud perjuangan RI untuk mempromosikan hak Indonesia dalam pertentangan dengan Belanda mengenai Irian Barat. Mohammad Ali 7. Nasser 8. Pham Va Dong 5. Sri Lanka. Unu 6. Uni Soviet. 1998:373).Selain dari masalah diatas. 2. ketika itu terdapat 29 negara yang hadir (Negara-negara besar Afrika. Walaupun digolongkan sebagai kabinet yang bertahan lama. Adanya KAA membuat hubungan antara Amerika dan RRC menjadi. tapi keadaannya tidak demikian. Adapun hasil dari konfrensi ini mendukung tuntutan Indonesia atas Irian Jaya. sebagai upaya untuk mengubah dominasi dua negara adikuasa terhadap hubungan internasional pasca Perang Dunia II. Maka dari itu Kabinet ini dikenal juga dengan Kabinet Ali Baba. karena banyak perusahaan-perusahaan baru yang berkedok palsu bagi persetujuan antara pendukung pemerintah dan orang-orang Cina/Perusahaan Ali Baba. Dari sini kemungkinan bagi Indonesia untu memainkan peranan penting dunia. Dimana pada Desember Ali menandatangani persetujuan perdagangan antara Cina dan Indonesia yang pertama. hal ini dijadikan soekarno sebagai tanggung jawabnya pribadi. Sihanouk 4. atau negara imperialis lainnya. (Kunto. (Ricklefs: 1998. Birma. Merangkul saudara Asia-Afrika untuk melawan kolonialisme atau neokolonialisme Amerika Serikat. Pada April-Mei-1954 terdapat pertemuan antara Perdana Menteri India. yaitu : 1. (Ricklefs . Sukarno (Ricklefs . Adapun Pemimpin Asia yang hadir. 1998:372). (hal ini dianggap orang-orang Cina menyulitkan karena sebelumnya tidak pernah dipermasalahkan). Sedangkan pada saat itu Indonesia sedang mengalami krisis ekonomi. 1996: 288). Adanya peristiwa diplomari pada 18 April-24 April 1955 itu disaksikan oleh Gedung Merdeka. Sementara itu. (Kunto. Disana Ali mengusulkan KAA. Pada tahun 1953 Republik Indonesia mengirim 2 duta besarnya ke Cina. Sebenarnya situai politik yang tidak stabil di Indonesia dialihkan ali pada suatu peristiwa yang bisa dikatakan mampu mengangkat nama Indonesia. Namun pada kenyataannya tidak demikian. (Ricklefs . Ali Sastroamidjojo sangat puas karena dipandang sebagai pemimpin Asia-Afrika. dan Mongolia luar yang tidak diundang). Ketika itu Ali mengatakan dan meluluskan Dasasila atau Sepuluh Prinsip Bandung. RRC melupakan permusuhan dengan Negara-negara Asia yang nonkomunis. (Ricklefs: 1998. Dalam praktiknya duta besar Cina akan menekan orang-orang Cina untuk bekerja sama dengan pribumi. Ali Baba artinya seorang pengusaha pribumi yang mewakili pengusaha Cina yang memiliki perusahaan.

membahas perubahan baru dalam hubungan internasional dan tantangan baru yang dihadapi dunia mempunyai arti penting. 1996: 121). (Kunto. 7 .

Bahkan warisan demikian mash terasa saat ini. Sejarah pemerintahan Indonesia tidak pernah lepas dari perebutan kekuasaan dan persaingan yang tidak sehat tanpa memperdulikan nasib rakyat dan tanpa menyadari Negara kita “Indonesia” sudah jauh tertinggal dari Negara lain. 8 . Adapun kisah politik. Laporan mengenai Kabinet Ali (1953-1955) ini merupakan bagian dari sejarah pemerintahan Indonesia dalam mencoba masa demokrasi.1 SIMPULAN Kemerdekaan yang sudah diraih dengan susah payah ternyata harus dipertahankan pula dengan lebih susah.BAB III PENUTUP 3. Dari sini kita akan memperoleh sudut pandang tentang sulitnya membangun sebuah pemerintahan dalam suatu Negara. den ekonomi adalah masalah besar yang tidak pernah pergi dari kehidupan Indonesia dalam berbangsa dan bernegara. Indonesia ketika itu memiliki berbagai masalah disemua aspek kehidupan. radikal.

Jakarta Kunto. Balai Agung di Kota Bandung. Dari Pemberontakan ke Integrasi (Sumatera Barat dan Politik diIndonesia) 1926-1998. 1998. 9 . Ricklefs. 1995. Jakarta : Balai Pustaka. George Mc. Nasionalisme dan Revolusi di Indonesia. Haryoto. UNS : Pustaka sinar harapan. Audrey. Sejarah Indonesia Modern. Sejarah Nasional Indonesia VI. Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto. 1996.: Granesia Turnan. Poesponegoro. Bandung . Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. 2005. 1993.Yayasan Obor.DAFTAR PUSTAKA Kahin.