BAB I PENDAHULUAN

1.1 latar Belakang Setelah mengalami penjajahan dan pendudukan akhirnya waktu jua lah yang menjawab kemerdekaan Indonesia. Adanya upacara proklamasi 1945 yang dirayakan oleh semua rakyat Indonesia dengan penuh khidmad dan rasa haru belum mampu untuk membuat Belanda melepaskan Indonesia. (Yulianti, 2007: 221). Pasca Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia 1945, Belanda tetap memperteguh pendirian dengan menganggap kemerdekaan itu tidak pernah ada. Akan tetapi, setidak-tidaknya dalam pengertian hukum internasional status itu diakui dan memperoleh tempat. Dengan adanya kemerdekaan, maka Indonesia tentunya akan menghadapi babak baru pada prospek untuk menentukan masa depan bangsa. (Ricklefs, 1998:355). Kemerdekaan yang saat itu baru direngkuh Indonesia tentunya membutuhkan berbagai pembenahan. Ketika itu, Indonesia menunjukan adanya kemiskinan ditengah taraf pendidikan yang rendah. Adanya tradisi otoriter ditengah kehidupan bangsa menuntut negeri ini untuk bergantung nasib pada kearifan suatu pemimpin yang baik di negeri itu. (Ricklefs, 2005:471). Telah diketahui bahwa Soekarno merupakan “Pahlawan Proklamator”. Ia merupakan pemimpin proklamasi sekaligus pemimpin bangsa Indonesia. Kemerdekaan Indonesia tidaklah cukup dengan pertahanan kedaulatan yang hanya dilakukan oleh Soekarno. Akan tetapi, kepemimpinan tersebut membutuhkan adanya unsur-unsur yang dapat mendukung roda pemerintahan. Langkah awal yang ditempuh oleh Indonesia dalam menata rumah tangga negaranya ialah dengan menghasilkan keputusan; untuk menetapkan Undang-undang 1945 sebagai Dasar Negara Republik Indonesia, menetapkan pemimpin bangsa, serta membentuk komite yang akan berperan dalam membantu tugas kepala Negara. Selain aspek diatas, maka dalam pembangunan pemerintahan ini, Indonesia juga mulai membagi wilayah RI dengan pemimpin tiap daerah masing-masing, membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR), dan kemudian menetapkan PNI sebagai satu-satunya partai politik di Indonesia. (Yulianti, 2007: 225). Hal ini karena basis utama Partai Nasional ini berada dalam birokrasi dan kalangan pegawai kantor. (Ricklefs, 2005:361). Dari adanya pembenahan pada awal kemerdekaan, maka pada 19 Agustus dihasilkan suatu keputusan untuk menetapkan 12 kementerian yang akan membantu tugas presiden. (Yulianti, 2007: 225). Apalagi pada permulaan kemerdekaan keadaan Indonesia sedang tidak menentu ditengah berbagai gejolak, baik itu masalah ekonomi, maupun ketidakstabilan keamanan. Pendudukan Jepang dan imperialisme Belanda telah mewariskan hal-hal yang menyulitkan Indonesia untuk membenahi bangsanya. Akan tetapi semangat revolusi merupakan komitmen yang harus dipenuhi. Sehingga dampak dari adanya keputusan diatas mendorong dibentuknya susunan Kabinet Indonesia yang pertama. (Yulianti, 2007:226). Dengan adanya pembentukan kabinet yang pertama, maka sejarah Indonesia akan memaparkan berbagai peralihan mengenai kabinet-kabinet yang selanjutnya akan memimpin Indonesia dalam mengisi kemerdekaan. Sehingga wujud sistem parlementer yang kemudian diterapkan Indonesia dalam susunan organisasinya. Adapun cara ini merupakan pengetahuan yang dimiliki Indonesia dan diperoleh dari Penjajahan Belanda. Dengan demikian, maka pada penetapannya, kabinet bertanggung jawab terhadap parlemen suatu majelis (Dewan Perwakilan Rakyat) yang saat itu jumlah anggotanya 232. Jumlah ini merupakan cerminan basis kekuatan –kekuatan partai. Dalam hal ini partai-partai yang dimaksud ialah, Masyumi dengan 49 kursi (21%), PNI 36 kursi (16%), PSI 17 kursi (7,3%), PKI 13 kursi (5,6%), Partai Katolik 9 kursi (3,9%), Partai Kristen 5 kursi (2,2%), dan Murba 4 kursi (1,7%). Dengan hasil tersebut, maka 42 kursi terbagi atas partai-partai atau peorangan lainnya, dan dari seluruhnya tidak satu pun mendapat lebih dari 17 kursi (Ricklefs: 1998, 363). Adanya roda pemerintahan yang dijalankan oleh kebanyak politisi dari Jakarta membuat unsur yang ada menekankan pada pola parlementer. Sehingga kekuatan parlementer saat itu melebihi dari kabinet yang ada. Pada percobaan demokrasi di Indonesia, maka kabinet yang memimpin saat itu

1

485. maka PKI dan PNI selanjutnya mengadakan koalisi untuk mengembalikan mosi percaya dari pihak DPR. maka penulis akan memaparkan sekaligus menguraikan mengenai aspek yang terdapat Ali Satroamidjojo 1 (Juli 1953. (Ricklefs: 2005.489). 1993: 516). Bahkan parlemen menyatakan mosi tidak percaya.Maret 1957). Kabinet Wilopo (April 1952. 2 . maka pada laporan bacaan ini penulis akan membahas mengenai Ali Satroamidjojo 1 (Juli 1953. begitu pula dengan kabinet selanjutnya.Juli 1955).Juli 1959). Marwati Djoened dan Notosusanto. Pada koalisi ini. Sukiman yang memuat koalisi Masyumi-PNI. Kabinet Ali Sastroamidjojo II (Maret 1956. 485. Kabinet Wilopo. Koalisi ini kemudian membentuk kabinet yang langsung mengambil mandatnya kepada Soekarno. dan Kabinet Djuanda (April 1957.mengalami pergantian seperti : Kabinet Natsir (September 1950-Maret 1953). Kabinet Sukiman (April 1951-Februari 1953).Maret 1956). 376) Pada proses Indonesia menuju pemerintahan. (Ricklefs: 2005. penulis ingin menguraikan komparatif dari hasil koalisi antara PNI-PKI terhadap kabinet sebelumnya. (Ricklefs: 1998. Untuk menjawab pembuktian dari kabinet ini. Dalam hal ini.489). maka kabinet-kabinet diatas mempunyai cerita tersendiri dalam menempati posisinya. Kabinet Natsir ialah kabinet awal yang inti didalamnya adaalah koalisi antara Masyumi dan PSI. dimana koalisi antara kedua partai ini masih dilanjutkan oleh kabinet yang kemudian menggantikan Kabinet Sukiman. Adanya pertahanan kabinet yang tidak utuh membuat pertanggungjawaban yang diajukan kepada parlemen sering ditolak.Juli 1955). (Poesponegoro. serta pencapaian yang dihasilkan. dan tidak lupa penulis menjelaskan mengenai penyebab pengembalian mandat yang dilakukan oleh Ali pada akhir Kabinet Ali 1 ini.Juni 1953). Hal ini menimbulkan ketidakharmonisan antara koalisi yang sebelumnya terjalin itu. Diantara kabinet-kabinet diatas. Kabinet Ali Satroamidjojo 1 (Juli 1953Juli 1955). Dari reruntuhan kabinet diatas. Kabinet Burhanudin (Agustus 1955. maka orang PNI yang ambil peran sebagai perdana menteri.

Bahkan pembunuhan yang dilakukan kepolisian terhadap lima petani di dekat Medan (Ricklefs: 1998. Adapun Kabinet Ali merupakan kabinet yang terakhir sebelum Pemilihan Umum I. perselisihan yang terjadi dikalangan militer. dalam hal ini NU (Nahdatul Ulama) kemudian mengambil alih sebagai kekuatan politik baru. Dimana dalam upaya menjalankan roda pemerintahanannya. Apalagi solusi ekonomi yang dilakukan pemerintahan sebelumnya justru berdampak memperkeruh 3 . Adanya Perang Korea antara Februari 1952. 2.1 Pembentukan Krisis pemerintahan di Indonesia membuat negara yang baru terbentuk ini mengalami ketidakstabilan. Pada masa kabinet sebelumnya telah terjadi berbagai goncangan keamanan. Hal ini karena Kabinet Ali berani mengambil alih pemerintahan setelah kabinet sebelumnya runtuh. Hal ini yang kemudian mendorong terbentuknya Kabinet Ali untuk mengisi krisis pemerintahan di Indonesia pasca kekosongan selama 58 hari (sepeninggalan Kabinet Wilopo). Menjaga keamanan merupakan bagian dari program kerja Kabinet Ali 1. (Ricklefs: 1998. Adapun keadaan ini membuat stabilitas yang dijalankan pemerintahan terganggu.(Ricklefs: 1998.Juli 1955) 2.Maret 1952 memberikan dampak malasnya perekonomian Indonesia. Ali Sastroamidjojo melakukan perluasan birokrasinya dalam tubuh PNI. Adanya tanggungjawab kabinet ini yang kemudian akan dilaporkan terhadap DPR tentunya akan memuat suatu solusi untuk meredam ketidakstabilan Negara saat itu. 1993: 526). Marwati Djoened dan Notosusanto. selain itu juga terdapat berbagai pemberontakan di daerah-daerah. Marwati Djoened dan Notosusanto. Selain itu terdapat tokoh yang bersimpati kepada PKI dimasukkan dalam kabinet ini dan Muh Yamin yang dianggap sayap kiri dijadikan sebagai Menteri Pendidikan. (Poesponegoro. Politik kebijakan yang diterapkan tersebut terlihat lebih mengutamakan mengenai pertahanan kekuasaan serta membagi hasil hasilnya atas penguasaan. Adapun struktur yang mengisi kabinet Ali. Masyumi merupakan partai terbesar kedua dalam parlemen tidak turut serta. 1993: 526). Dalam Kabinet Ali. 2.2 Program Kerja Dalam menjalankan roda pemerintahan. Maka pada tanggal 31 Juli 1953 ” Kabinet Ali I” ini diresmikan dan dikenal dengan nama Kabinet Ali-Wongso. Marwati Djoened dan Notosusanto. Saat itu Kabinet Ali mengerahkan pasukan untuk meredam pemberontakan dari kota kota yang penting. Sehingga pada Kabinet Ali 1 ini. Adanya upaya untuk memperbaiki neraca perdagangan pada kabinet sebelum Kabinet Ali tidak berhasil. 367-368. (Poesponegoro. 371). Hal ini karena ekspor karet nasional Indonesia menjadi turun 71%. (Ricklefs: 1998.BAB II PEMBAHASAN KABINET ALI SASTROAMIDJOJO I (Juli 1953. Ia menganggap tindakan tersebut sangat penting bagi pemilihan yang akan datang (Ricklefs: 1998. 371). pemerintah berupaya untuk menjaga keamanan dan memulihkan. Kabinet Ali memiliki program kerja sebagai berikut : 1. Misalnya saja perpecahan yang terjadi di Jawa Tengah dan Jawa Timur. 371). Mr. Setelah melakukan perundingan selama enam minggu dan melakukan berbagai upaya pembentukan partai. Indonesia mengalami jatuh bangun. terdiri atas ini unsur-unsur dari PNI. 1993: 526). (Poesponegoro. Ali Sastroamidjojo dari PNI merupakan perdana menteri dalam kabinet ini. 371). Menjaga Keamanan. Menciptakan Kemakmuran & Kesejahteraan Rakyat. 369-370).

Dalam hal ini. dan kekuasaan membuat Indonesia semakin terpuruk dalam kehidupan bernegara.6 %. (Ricklefs: 1998. Dengan memasuki babak demokrasi liberal. 368). 371). 371). Pada tanggal 31 Mei 1954 Kabinet Ali membentuk Panitia Pemilu Pusat yang diketuai oleh Hadikusumo (PNI). Apalagi kemerdekaan Indonesia masih belum diakui oleh Belanda. (Turnan. Sedangkan aktif disini ditujukan pada perjuangan untuk membebaskan Irian dari Belanda. (Ricklefs: 1998. 6. (Ricklefs: 1998. pada tanggal Agustus 1954 Kabinet Ali memuat usul mengenai penghapusan Uni Belanda. Selain itu ketidakharmonisan juga terlihat dalam hubungan PNI dan PSI. 1993: 526). Tahta. Kabinet Ali mengupayakan penyelenggaraan Pemilu. 5. Adapun wujud dari upaya tersebut dengan Menekankan pengindonesiasian terhadap perekonomian dan memberi dorongan kepada pengusaha pribumi. 3. Pembebasan Irian Barat secepatnya. Adanya ancaman kedatangan Belanda maupun Jepang bisa kapan saja menghampiri Indonesia. menuntut kabinet ini untuk tidak menyetujui adanya RIS. jabatan. Adanya masalah pembebasan Irian yang tidak memuat hasil membuat Kabinet Ali saat itu mengajukan masalah ini ke PBB. (Ricklefs: 1998. Perpecahan terjadi dikalangan elite politik. Keadaan ini semakin menambah kemiskinan bangsa Indonesia. Maka dari itu pada masa Kabinet Ali program kerjanya juga berupaya untuk menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan. 1995: 43). Dari adanya situasi ini menyebabkan penyelundupan semakin meningkat (tidak hanya orang miskin yang terlibat penyelundupan. (Turnan. maka Kabinet Ali menyanggupi inti dari pemerintahan Indonesia yang bersifat parlementer tersebut. Hal ini lah kemudian membuat berbagai kampanye yang diadakan menjadi meningkat. Menyelesaikan Pertikaian politik Telah diketahui bahwa keadaan politik di Indonesia sangat tidak stabil pada masa itu. Adapu hal ini dikarenakan adanya kesenjangan dalam perebutan jabatan Menteri Agama. namun hal ini tidak mencapai kemajuan. Maka dari itu pada masa Kabinet Ali ini menetapkan Indonesia untuk menjalankan Politik Bebas-Aktif. Adapun kampanye diadakan sampai pelosok desa. Sebagai kabinet yang memimpin pemerintahan. tapi juga tentara-tentara). 4. 367-368). 1995: 208). Apalagi Indonesia sendiri merupakan Negara yang baru merdeka. Indonesia ingin berperan aktif dalam menyuarakan anspirasinya pada dunia. Misalnya pada ketegangan antara Amerika dan RRC saat itu. Marwati Djoened dan Notosusanto. Adapun pemilu merupakan program kerja yang utama dalam kabinet ini. Menyelenggarakan Pemilu. Indonesia masih belum tentu arah.7 % dari nilai resmi menjadi 24. Rakyat saat itu hidup dalam kelaparan dan jauh dari kesejahteraan. Salah satu perpecahan yang ada terlihat dengan keluarnya NU dari Masyumi. 1995: 221). Kemerdekaan Indonesia. (Turnan. maka sistem Pemerintahan Indonesia menjalani sistem yang sebelumnya diterapkan oleh Belanda. (Poesponegoro. Pada masa Kabinet ini persediaan uang meningkat 75%. Hal ini karena pemerintahan yang ada saat itu ingin berdaulat dalam menjalankan kehidupan bernegara. Program ini sangat didukung Soekarno. dan dalam bulan yang sama pengaduan tersebut tidak diterima. Pada tahun 1952-1953 terjadi inflasi di Indonesia. Dimana imperialism kemudian mengenalkan Indonesia pada struktur atau susunan pemerintahan yang masuk ke dalam jenis parlementer. 4 . (Ricklefs: 1998. Sehingga nilai tukar rupiah turun menjadi 44.Indonesia (sesuatu yang kecil) dan beberapa penyesuaian atas hasil KMB . (Kahin. Melaksanaan politik bebas-aktif Adanya bipolarisasi dan politik konstelasi dunia membuat Indonesia tidak ingin terlibat didalamnya. bahkan dalam menata negaranya. Adapun bebas disini terwujud dengan sifat tidak memihak Indonesia terhadap pertikaian dunia.ketidakstabilan politik dan keamanan. 371). Maka dari itu. adanya aksi tuding menuding semakin gencar diarahkan satu sama lain. Selanjutnya Pada 16 April 1955 Hadikusumo mengumumkan bahwa pemilu akan diadakan pada tanggal 29 September 1955. Hal ini yang kemudian akan diwujudkan dengan pelaksanaan KAA 1955 yang mengikutsertakan Indonesia dalam menggalang perdamaian Asia-Afro. Hal ini akhirnya menyebabkan eksportir diluar Pulau Jawa yang terdiri atas orang-orang Masyumi terkena imbas dan mengalami dampak buruk pada kegiatan ekonominya (kerugian). 2005:212).

Ini mendapat dukungan orang-orang Aceh yang menjadi pegawai dan tentara. 369). tapi juga dikalangan militer dan sebagainya terjadi kesenjagan yang tidak layak. Apalagi Hal ini merupakan tantangan bagi pemerintahan Kabinet Ali dan menjadi penguras utama dana. Hal ini adalah wujud dari adanya pertikaian politik. c. Pada tahun 1949 Aceh menjadi Propinsi Republik yang otonom. 2007:249). Pada waktu itu keamanan dibeberapa daerah tidak stabil a. Pada tahun 1954 pemberontakan ini berhasil ditundukan oleh TNI. Persoalan dalam negeri dan luar negeri misalnya persiapan pemilihan umum yang saat itu direncanakan pada pertengahan Mei 1955 mengalami kegagalan. Bahkan Darul Islam berhasil memperluas wilayahnya dengan meliputi Aceh. Dalam hal ini keinginan tersebut disetujui oleh kabinet. dan tidak cakap. Daud merasa keberadaan Kabinet Ali bermaksud menangkapi orang-orang Aceh yang terkemuka. 2. masalah demikian merupakan bagian dari kegiatan kerja kabinet. 369).3 Masalah Yang Dihadapi Dalam menjalankan pemerintahannya. e. 5 . (Ricklefs: 1998. Pada masa Kabinet Ali. Adapun pemimpinnya adalah Kartosuwirjo. DI/TII Kahar Muzakar di Sulawesi Selatan Pada Januari 1952 Kahar Muzakar menyatakan Sulawesi Selatan merupakan wilayah dari kepemimpinan Kartosuwirjo. Selain itu Darul Islam/Tentara Islam Indonesia di (DI/TII) ini disebut berasal dari Jawa Barat dan kemudian menyebar ke daerah lain. Adapun hal ini karena adanya isi kabinet terdiri atas tokoh-tokoh Masyumi (Ricklefs: 1998. 2007:249) b. Daud Beureh di Aceh Kaum muslim di Aceh mulai merasakan politik Jakarta hidup dalam keadaan. menurut Panglima TNI-AD hal tersebut sangat tidak menghormati norma-norma yang ada di dalam lingkungan TNI-AD. Konflik dengan TNI-AD dalam persoalan pengangkatan seorang kepala staf . Kabinet Ali menghadapi beberapa masalah seperti : 1. (Ricklefs: 1998. (Poesponegoro. (Yulianti. bahkan aktivitas yang dilakukan meningkat. (Ricklefs: 1998. Tindak lanjut dari hal tersebut ialah pengangkatan Kolonel Bambang Utoyo oleh Mentri Pertahanan . Adapun peristiwa disebabkan Kepala Staf TNI-AD “Bambang Sugeng” mengajukan permohonan. Saat itu Daud menyatakan bahwa Aceh merupakan bagian dari Darul Islam bukan Pemerintah Pancasila. DI/TII di Jawa Tengah Pemberontakan ini dipimpin oleh Amir Fatah dan Mahfud Abdur Rahman. Pada Mei 1953. sebagai orang kuat Aceh dan benteng Republik Revolusi menolak untuk menerima pekerjaan di Jakarta dan lebih memilih untuk bermukim di Aceh dan memperhatikan perkembangan-perkembangannya. bahkan dalam Upacara Pelantikan dan Serah Terima Panglima tinggi TNI-AD tidak ada yang hadir. tidak beriman. Ketegangan yang terjadi dilingkungan TNI-AD sejak peristiwa 17 Oktober 1952 (Pada waktu itu Nasution mendapat skors atau dinonaktifkan selama tiga tahun) kemudian berlanjut. Kabinet yang ada saat itu dipersalahkan. Kemudian pada tanggal 19 September 1953 Daud dan PUSA terangan-terangan melakukan pemberontakan terhadap Jakarta. terdapat bukti bahwa ia menjalin hubungan dengan Kartosuwirjo dari Darul Islam. Dan pada bulan Januari Hamengkubuwana IX mengundurkan diri dari Jabatan Menteri Pertahanan. 369). g. DI/TII Kartosuwirjo di Jawa Barat Di Jawa Barat kegiatan Darul Islam semakin memuncak. Namun pada akhirnya Kahar Muzakar ini berhasil ditembak oleh Tentara dari Divisi Siliwangi.(Ricklefs: 1998. 2007:249). 369).selanjutnya pada tahun 1950 Aceh digabungkan dengan Propinsi Sumatera Utara. (Yulianti. 71). 37). (Ricklefs: 1998. Marwati Djoened dan Notosusanto. (Ricklefs: 1998. Pada masa Kabinet Ali. f. Jawa Barat . Sampai tahun 1959 Daud mundur keatas bukit. dan Sulawesi. (Yulianti. Daud Beureu’eh. 1993: 526). 369). Tidak hanya pada dunia politii. d. Ketika Kabinet Ali gerakan ini dianggap sebagai hambatan yang berpengaruh terhadap ketidakstabilan Negara.

2. Adanya peristiwa diplomari pada 18 April-24 April 1955 itu disaksikan oleh Gedung Merdeka. Pada program kerjanya Kabinet Ali menekankan pengindonesiasian terhadap perekonomian dan memberi dorongan kepada pengusaha pribumi. Afrika Selatan. Nasser 8. 1998:372). Mohammad Ali 7. Dari sini kemungkinan bagi Indonesia untu memainkan peranan penting dunia. Asia hanya kedua Korea. hal ini dijadikan soekarno sebagai tanggung jawabnya pribadi. Nehru 3. Dalam praktiknya duta besar Cina akan menekan orang-orang Cina untuk bekerja sama dengan pribumi. Uni Soviet. 1996:131). Pakistan. Apalagi pada 1955 PSI melakukan pemogokan dan untuknya diredam oleh SOBSI. dan Mongolia luar yang tidak diundang). pergolakan ditanah air yang menguras dana semakin membuat kemiskinan (Ricklefs . Zhou Enlai (Cou En-Lai)] 2. (Ricklefs: 1998. (Kunto. Ali Sastroamidjojo sangat puas karena dipandang sebagai pemimpin Asia-Afrika. 1998:371). Ali Baba artinya seorang pengusaha pribumi yang mewakili pengusaha Cina yang memiliki perusahaan. Sedangkan pada saat itu Indonesia sedang mengalami krisis ekonomi.Selain dari masalah diatas. (Kunto. hal ini didukung Negara lain. Namun pada kenyataannya tidak demikian. Pelaksanaan konferensi ini merupakan wujud perjuangan RI untuk mempromosikan hak Indonesia dalam pertentangan dengan Belanda mengenai Irian Barat. netral. 1996: 128). RRC melupakan permusuhan dengan Negara-negara Asia yang nonkomunis. Ketika itu Ali mengatakan dan meluluskan Dasasila atau Sepuluh Prinsip Bandung. Pada April-Mei-1954 terdapat pertemuan antara Perdana Menteri India. tapi tidak semua hasil diperoleh secara maksimal. Merangkul saudara Asia-Afrika untuk melawan kolonialisme atau neokolonialisme Amerika Serikat. Akan tetapi. dan Indonesia (diselenggarakan di Colombo). Adapun KAA telah menunjukan kemenangan bagi pemerintahan Ali. 371). atau negara imperialis lainnya. Sri Lanka. Serta menilai kembali arti penting Konferensi Bandung serta 6 . kabinet ini telah berhasil memberi sumbangan bagi Indonesia . Sementara itu. 1998:371). Disana Ali mengusulkan KAA. Adapun hasil dari konfrensi ini mendukung tuntutan Indonesia atas Irian Jaya. Adapun Pemimpin Asia yang hadir. hambatan pada kabinet ini juga meliputi masalah ekonomi. sebagai upaya untuk mengubah dominasi dua negara adikuasa terhadap hubungan internasional pasca Perang Dunia II. Sukarno (Ricklefs . 1996: 288). (Ricklefs . (hal ini dianggap orang-orang Cina menyulitkan karena sebelumnya tidak pernah dipermasalahkan). 1998:373). maupun benua AsiaAfrika. yaitu : 1. (Kunto. (Ricklefs . Pada tahun 1955 terdapat persetujuan ganda yang mengharuskan orang-orang Cina Indonesia untuk memilih kewarganegaran Cina atau Indonesia. Unu 6. tapi keadaannya tidak demikian. karena banyak perusahaan-perusahaan baru yang berkedok palsu bagi persetujuan antara pendukung pemerintah dan orang-orang Cina/Perusahaan Ali Baba. Adanya KAA membuat hubungan antara Amerika dan RRC menjadi. ketika itu terdapat 29 negara yang hadir (Negara-negara besar Afrika. Walaupun digolongkan sebagai kabinet yang bertahan lama. Sihanouk 4. Maka dari itu Kabinet ini dikenal juga dengan Kabinet Ali Baba. Sebenarnya situai politik yang tidak stabil di Indonesia dialihkan ali pada suatu peristiwa yang bisa dikatakan mampu mengangkat nama Indonesia. Pham Va Dong 5. Saat itu Indonesia dengan tujuan mempromosikan kerjasama ekonomi dan kebudayaan Asia-Afrika. 371). Bandung. Pada tahun 1953 Republik Indonesia mengirim 2 duta besarnya ke Cina. (Ricklefs: 1998. Israel. Birma. Dimana pada Desember Ali menandatangani persetujuan perdagangan antara Cina dan Indonesia yang pertama.4 Hasil Yang Di Capai Kabinet Ali Sastroamidjojo ini tidak mampu mencapai semua program kerjanya.

1996: 121). (Kunto.membahas perubahan baru dalam hubungan internasional dan tantangan baru yang dihadapi dunia mempunyai arti penting. 7 .

den ekonomi adalah masalah besar yang tidak pernah pergi dari kehidupan Indonesia dalam berbangsa dan bernegara. Dari sini kita akan memperoleh sudut pandang tentang sulitnya membangun sebuah pemerintahan dalam suatu Negara.BAB III PENUTUP 3. Adapun kisah politik.1 SIMPULAN Kemerdekaan yang sudah diraih dengan susah payah ternyata harus dipertahankan pula dengan lebih susah. Sejarah pemerintahan Indonesia tidak pernah lepas dari perebutan kekuasaan dan persaingan yang tidak sehat tanpa memperdulikan nasib rakyat dan tanpa menyadari Negara kita “Indonesia” sudah jauh tertinggal dari Negara lain. radikal. 8 . Bahkan warisan demikian mash terasa saat ini. Laporan mengenai Kabinet Ali (1953-1955) ini merupakan bagian dari sejarah pemerintahan Indonesia dalam mencoba masa demokrasi. Indonesia ketika itu memiliki berbagai masalah disemua aspek kehidupan.

2005.: Granesia Turnan. Nasionalisme dan Revolusi di Indonesia. 1996. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.Yayasan Obor. 9 . 1993. Poesponegoro. Jakarta : Balai Pustaka. Sejarah Indonesia Modern. Audrey.Jakarta Kunto. Balai Agung di Kota Bandung. George Mc. Haryoto. Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto. Bandung .DAFTAR PUSTAKA Kahin. Ricklefs. Sejarah Nasional Indonesia VI. 1998. Dari Pemberontakan ke Integrasi (Sumatera Barat dan Politik diIndonesia) 1926-1998. 1995. UNS : Pustaka sinar harapan.