Penanggulangan Bencana Gunung Berapi

Penanggulangan Bencana Gunung Berapi

Indonesia merupakan Negara dengan jumlah gunung berapi yang banyak. Sekitar 13%-17% dari gunung berapi aktif yang ada di dunia, terdapat di Indonesia. Mengingat banyaknya gunung berapi yang terdapat di Indonesia, maka Indonesia sangat rawan dengan letusan gunung berapi. Yang masih sangat melekat dalam ingatan kita tentunya letusan gunung Merapi di Yogyakarta yang mengeluarkan material vulkanik yang dahsyat hingga memakan korban yang tidak sedikit. Sebenarnya letusan gunung berapi tidak hanya membawa bencana, Selain itu gunung berapi juga membawa sumber kemakmuran bagi kawasan disekitarnya. Material vulkanik yang dikeluarkan oleh gunung berapi dapat dimanfaatkan untuk kelangsungan hidup pascabencana. Penanggulangan bencana gunung berapi tidak hanya terpusat di kawasan gunung berapi, tetapi juga masyarakat yang ada di sekitar kawasan gunung berapi yang kadang sulit untuk dievakuasi. Alasannya selain keterikatan dengan tempat tinggal dan lahan pertanian, juga karena adanya kepercayaan terhadap gunung berapi. Penanganan bencana letusan gunung berapi dibagi menjadi tiga bagian, yaitu persiapan sebelum terjadi letusan, saat terjadi letusan dan setelah terjadi letusan. a. Penanganan sebelum terjadi letusan • Pemantauan dan pengamatan kegiatan pada semua gunung berapi yang aktif • Pembuatan dan penyediaan Peta Kawasan Rawan Bencana dan Peta Zona Resiko Bahaya Gunung Berapi yang didukung dengan Peta Geologi gunung berapi • Melaksanakan prosedur tetap penanggulangan bencana letusan gunung berapi • Melakukan pembimbingan dan pemberian informasi gunung berapi • Melakukan penyelidikan dan penelitian geologi, geofisika dan geokimia di gunung berapi • Melakukan peningkatan sumberdaya manusia (SDM) dan pendukungnya seperti peningkatan sarana san prasarana b. Penanganan saat terjadi letusan • Memebentuk tim gerak cepat

dan Jakarta justru tenggelam dalam banjir.• Meningkatkan pemantauan dan pengamatan dengan didukung oleh penambahan peralatan yang memadai • Meningkatkan pelaporan tingkat kegiatan alur dan frekuensi pelaporan sesuai dengan kebutuhan • Memberikan rekomendasi kepada pemerintah setempat sesuai prosedur c.Sebenarnya bencana (hazard) tidak harus menjadi malapetaka (disaster) selama kapasitas teknis maupun manusia didalamnya cukup untuk mengantisipasinya.Pemerintah juga memiliki APBN dalam orde triliun.Ini semua jauh diatas seluruh LSM bersama-sama.Longsor dan gunung meletus dapat dihindari dengan mengevakuasi atau memindahkan permukiman secara permanen ke daerah aman. Tetapi meski telah memiliki UU no 24/2007 tentang penanggulangan bencana dan telah dibentuk Badan Nasional Penanggulangan bencana (BNPB).Curah hujan yang tinggi tidak akan menjadi malapetaka bila system drainase bagus.Memang upaya penanggulangan bencana adalah juga tanggung jawab masyarakat – dalam bentuk edukasi dan gotong royong . bila keadaan sudah menurun • Melanjutkan pemantauan secara berkesinambungan.Gempa bisa dihadapi dengan bangunan tanpa gempa. tapi kapasitas bangsa ini dalam menanggulangi bencana nyaris belum banyak berubah. mencakup sebaran dan volume hasil letusan • Mengidentifikasi daerah yang terancam bencana • Mmemberikan saran penanggulangan bencana • Memberikan penataan kawasan jangka pendek dan jangka panjang • Memperbaiki fasilitas pemantauan yang rusak • Menurunkan status kegiatan.Belum selesai longsor di Wasior Papua teratasi. Penanganan setelah terjadi letusan • menginventarisir data. . Akibatnya upaya-upaya mengatasi bencana ini dikeluhkan banyak pihak masih jauh dari optimal . Analisis Penanggulangan Bencana Indonesia adalah super market bencana.Pemerintah memiliki organisasi yang paling besar . Tsunami bias diantisipasi dengan system peringatan diri dan pelatihan (Tsunami drill) yang teratur.Ada empat juta PNS dan setengah juta leih anggota TNI dan Polri.gempa dan Tsunami terjadi di Mentawai.Kemudian segera disusul Gunung Merapi meletus. namun tidak disangsikan bahwa pemerintah memiliki kemampuan yang paling besar.

Mereka lebih mengandalkan pada personal yang dipinjam dari instansi lain seperti dari kementerian PU.Personal PNS limpahan dari instansi lain masih ada yang ‘personal sisa’ bukan personal terbaik yang tahan banting. Pertama masalah focus.Organisasi yang kurang focus ini juga menyebabkan rekruitmen personal BNPB atau BPBD belum berdasarkan kompetensi-atau bahkan sertifikasi .Ini menjadi lebih rumit ketika masih ada egoisme sektoral.Tidak pelak lagi. korban bencana dapat lebih cepat ditolong dan masyarakat secara umum dapat ditingkatkan kapasitasnya menghadapi bencana. bahkan hingga BPPT atau Bakosortanal dalam bentuk Tim Satuan Respon Cepat (SRC) atau taruna siaga bencana (tagana) .Misalnya ada aturan kementerian keuangan yang mengharuskan tgl 15 desember sudah ‘Saldo besi’ . kementerian kesehatan.Fokus ini nanti akan mempengaruhi pola organisasi dan anggaran. yang tentu saja hanya akan menilai kinerja berdasarkan tupoksi tiap instansi.Selama tidak ada kejadian yang memerlukan tanggap darurat . adalah contoh-contoh upaya pencegahan. dimana tugas-tugas menumpuk dan harus ada laporan akhir yang dapat dipertanggungjawabkan di depan auditor.Teorinya.Kadang-kadang anggota SRC ataupun Tagana sedang menghadapi tugas pokok sehariharinya di instansinya.Kenyataan di lapangan tidak semudah itu. dapat melihat persoalan ini secara jernih. Ketiga masalah anggaran.Penulis melihat ada tiga hal yang perlu lebih diperhatikan secara serius oleh pemerintah agar upaya-upaya penanggulangan bencana ini kedepan lebih optimal. kementerian social. Mudah-mudahan pemerintah.Oleh sebab itu banyak pihak tidak sabar. dan egoisme sektoral dapat diurai. sehingga kendala focus . seperti Tsunami aceh 26 Desember 2004 lalu? Aturan umum dalam penyerapan anggaran yang linear membuat institusi yang meyiapkan SRC dan tagana tak bisa berbuat banyak ketika bencana terjadi di penghujung tahun.(Prof. personel pinjaman ini sudah sepakat siap dikerahkan sewaktu-waktu ada bencana. KR sabtu legi 30 oktober 2010 ) .Dan tidak selalu mudah untuk setiap saat meninggalkan tugas pokoknya tersebut dan dikerahkan ke daerah bencana. dan akhirnya hanya focus dalam tanggap darurat saja . anggaran. seharusnya ada upayaupaya permanen untuk pencegahan. pelajar dan mahasiswa secara teratur dan sistemik untuk tanggap darurat-sesuai tipe bencana yang mungkin dihadapi di daerah itu.Apalagi kalau sudah menjelang akhir tahun . tak heran bahwa organisasi BNPB ataupun badan penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) hanya diisi dengan personel dan peralatan ala kadarnya. hingga melatih semua PNS. sehingga banyak kantor BNPB /BPBD yang hingga kini masih numpang dan juga di lokasi yang kurang nyaman untuk didatangi.Memeriksa secara teratur system drainase.Serapan anggaran untuk penanggulangan bencana tidak dapat linear seperti proyek-proyek normal. organisasi.Karena focus penanggulangan bencana hanya pada tanggap darurat.Dr Ing Fahmi Ambar.Padahal penanggulangan bencana memiliki setidaknya tiga siklus: pencegahan-tanggap darurat-p mulihan. menguji kehandalan pencatat pasang surut. Kedua masalah organisasi.Bencana terjadi tidak mengikuti tahun anggaran . yang namanya bencana tidak bisa direncanakan seperti acara pernikahan.Bagaimana bila bencana terjadi setelah tanggal itu .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful