P. 1
makalah sejarah

makalah sejarah

|Views: 4,780|Likes:
sejarah
sejarah

More info:

Published by: Rona Taufiqul Rachmanita on May 31, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/29/2013

pdf

text

original

Asal Usul Dan Persebaran Manusia Di Kepulauan Indonesia Dan Periodisasi Perkembangan Budaya Pada Masyarakat Awal Indonesia

Nama : Zulkarnain Kelas : X – C SMA Negeri 1 Tarakan 2011/2012
BAB 4

Makalah Sejarah

Asal Usul Dan Persebaran Manusia Di Kepulauan Indonesia

I.

Sejarah Perkembangan Bumi Dan Kemunculan Mahluk Hidup Skema pembabakan waktu berdasarkan geologi

A. Zaman Arkeukum merupakan zaman tertua dan di perkirakan sekitar 2.500 juta tahun yang lalu. Keadaan bumi belum stabil, keadaan bumi dan udara sangat panas, kulit bumi masih dalam proses pembentukan sehingga belum ada tanda-tanda kehidupan. B. Zaman paleozoikum berusia sekitar 340 juta tahun yang lalu. Keadaan bumi masih berubah-ubah. Namun demikian, pada masa ini telah ada kehidupan, yaitu mahluk “bersel satu”. Mahluk lain yang hidup adalah sejenis ikan, reptile, dan lain-lain. Oleh karena itu, zaman ini sering di sebut zaman primer atau zaman pertama. C. Zaman mesozoikum berusia sekitar 140 juta tahun yang lalu. Pada zaman ini kehidupan berkembang dengan pesat terutama binatang-binatang yang sangat besar seperti dinosaurus, atlantosaurus, dan jenis-jenis burung yang besar. Zaman ini sering disebut dengan zaman reptile karena mahluk hidup sejenis reptile berkembang sangat pesat. Di samping itu, zaman mesozoikum juga disebut zaman sekunder atau zaman kedua. D. Zaman neozoikum atau kainozoikum berusia sekitar 60 juta tahun yang lalu. Keadaan bumi semakin membaik, perubahan cuaca tidak terlalu besar, dan kehidupan berkembang pesat. 2 SMA Negeri 1 Tarakan X–C

Makalah Sejarah 1. Zaman Tersier merupakan zaman dimana binatang-binatang besar mulai berkurang dan muncul binatang menyusui seperti kera dan monyet. 2. Zaman Kuarter yaitu zaman dimana muncul tanda-tanda kehidupan dari manusia purba. Zaman ini dibedakan menjadi 2 yaitu: a. Kala pleistosin atau zaman Dilluvium atau zaman es. Keadaan permukaan bumi mengalami perubahan secara tiba-tiba. Jika keadaan bumi panas, maka es di kutub utara mencair dan menutupi sebagian daratan begitupula sebaliknya. b. Kala holosin atau zaman alluvium, yaitu zaman di mana jenis homo sapiens mulai hidup. Homo sapiens merupakan jenis manusia seperti manusia sekarang.

II.

Beberapa hipotesis tentang asal-usul dan persebaran manusia dikepulauan Indonesia

A. Hipotesis yang berkaitan dengan asal usul manusia a. Hipotesa pertama menyatakan bahwa manusia purba awalnya berasal dari tempat, yang menyebar keberbaagai wilayah b. Hipotesa kedua, menyatakan bahwa manusia berasal dari banyak tempat B. Hipotesis yang berkaitan dengan urutan kronologi homo yang mendiami bumi Urutan kronologis dimulai dari homo habilis – homo erectus – homo sapiens. Sementara banyak pendapat yang menyatakan sebaliknya. C. Hipotesis yang berkaitan dengan tingkat perkembangan cirri fisik dan perilaku homo Tidak terdapat kepaduan dalam hal perkembangan manusia,yang berkaitan dengan anatomi. D. Hipotesis hominid ( manusia awal ) dikepulauan indonesia Tahun 1891 eugene dubbois (belanda) mengawali rangkaian penemuan fosil manusia diluar eropa. Suatu kegiatan yang berlangsung hingga kini sudah seabad lamanya. Meskipun demikian itu tidak sekaligus menjawab pertanyaan, dari mana asalusul manusia Indonesia. Banyak hipotesa yang dikemukakan oleh para sejarawan ataupun para arkeolog. Diantara pendapat-pendapat tersebut addalah sebagai mana dikemukakakan oleh H. kern. Menurutnya manusia iyang mendiami kepulauan Indonesia berasal dari daratan asia yang semuanya berakar dari rumpun bahasa Austronesia. Berdasarkan pendekatan yang sama, sejarawan Brandes berpendapat bahwa manusia memiliki kesamaan antara manusia yang ada di daerah kepulauan Formosa, madagaskar dan pantai barat amerika.

III.

Proses Migrasi Ras Proto Melayu dan Deutro ke Kawasan Asia Tenggara Menurut pendapat para ahli, pada periode 40.000 tahun yang lalu jenis manusia purba Meganthropus, Pithecanthropus dan jenis Homo telah mengalami kepunahan. 3 SMA Negeri 1 Tarakan X–C

Makalah Sejarah Proses migrasi awal menunjukkan bahwa populasi-populasi kepulauan Indonesia berasal dari bangsa Australo-Melanesia (Australoid) dan Mongoloid (atau lebih khusus lagi adalah Mongoloid Selatan). Setelah itu datang lagi gelombang migrasi kedua yaitu bangsa Austronesia (Melayu/Proto Melayu/Melayu Tua) yang berasal dari Yunan (wilayah di propinsi Cina bagian Selatan). Migrasi mereka sendiri ke kepulauan Indonesia berlangsung dalam dua gelombang. Periode gelombang pertama terjadi pada sekitar tahun 1500 SM, melalui dua jalur utama. Jalur pertama dari Yunan melewati Siam, Malaya dan Sumatera (jalur Barat dan Selatan). Jalur kedua dari Yunan, Vietnam, Filipina kemudian masuk ke Indonesia melalui wilayah Sulawesi (jalur Timur dan Utara). Dalam proses persebarannya mereka membawa kebudayaan neolitikum dari pusatnya di Basson-Hoabinh, yang diantaranya adalah kapak persegi dan kapak lonjong. Suku bangsa Indonesia sekarang yang termasuk keturunan bangsa Melayu Tua atau Proto Melayu misalnya suku Toraja dan Dayak. Migrasi periode kedua dari bangsa Malayu (Deutro Melayu/Melayu Muda) terjadi pada sekitar tahun 500 SM. Proses persebarannya melalui jalur daratan Asia kemudian Semenanjung Malaya dan masuk ke Indonesia melalui Sumatera. Kedatangan bangsa ini sambil membawa pengaruh budaya logam dari Dongson, seperti nekara, moko, dan kapak perunggu. Suku bangsa Indonesia sekarang yang termasuk keturunan bangsa Melayu Muda atau Deutero Melayu misalnya suku Jawa, Melayu, dan Bugis.

IV.

Manusia Purba, Peta Penemuan Manusia Purba, dan Hasil Kebudayaannya di Indonesia Perkembangan Biologis Manusia Purba Berdasarkan temuan-temuan fosil manusia prasejarah Indonesia, para arkeolog membedakan jenis manusia purba di Indonesia (sejauh yang ada sekarang) ke dalam beberapa jenis. a. Meganthropus Paleojavanicus Meganthropus paleojavanicus (manusia besar tertua dari Jawa) adalah jenis manusia purba yang paling tua (primitif) yang pernah ditemukan di Indonesia (Jawa). Fosil pertama kali ditemukan oleh arkeolog, von Koenigswald dan Weidenreich antara tahun 1936-1941 di situs Sangiran pada formasi Pucangan. ciri-ciri : • Hidup pada masa Pleistosen awal • Memiliki rahang bawah yang sangat tegap dan geraham yang besar • Memiliki bentuk gigi yang homonim • Memiliki otot-otot kunyah yang kuat • Bentuk mukanya masif dengan tulang pipi yang tebal, tonjolan kening yang mencolok dan tonjolan belakang kepala yang tajam serta tidak memiliki dagu. • Memakan jenis tumbuh-tumbuhan

4 SMA Negeri 1 Tarakan X–C

Makalah Sejarah b. Pithecanthropus Pithecanthropus (manusia kera) adalah jenis manusia purba yang fosil-fosilnya paling banyak ditemukan di Indonesia. pertama kali ditemukan oleh arkeolog dari Belanda, Eugene Dubois pada tahun 1891 di Trinil, Ngawi berupa atap tengkorak dan tulang paha. Ciri-ciri • hidup pada masa Pleistosen awal dan tengah (1 juta hingga 1,5 juta tahun silam) • Tinggi badan sekitar 168 – 180 cm dengan berat badan rata-rata 80 – 100 kg • Berjalan tegak • Volume otaknya sekitar 775 cc – 975 cc • Batang tulang lurus dengan tempat-tempat perlekatan otot yang sangat nyata • Bentuk tubuh dan anggota badan tegap • Alat pengunyah dan otot tengkuk sangat kuat • Bentuk geraham besar dengan rahang yang sangat kuat • Bentuk kening yang menonjol sangat tebal • Bentuk hidung tebal • Tidak memiliki dagu • Bagian belakang kepala tampak menonjol

c. Homo Sapiens Diantara fosil yang berhasil ditemukan di Indonesia adalah jenis Soloensis (dari Solo) dan Wajakensis (dari Wajak, Mojokerto). ciri-ciri : • Volume otak bervariasi antara 1000 – 1450 cc • Otak besar dan otak kecil sudah berkembang (terutama pada bagian kulit otaknya) • Tinggi badan sekitar 130 – 210 cm dengan berat badan rata-rata 30 – 150 kg. • Tulang dahi dan bagian belakang tengkorak sudah membulat dan tinggi • Otot tengkuk mengalami penyusutan • Alat kunyah dan gigi mengalami penyusutan • Berjalan dan berdiri tegak sudah lebih sempurna  Peta Penemuan Manusia Purba dan Hasil Kebudayaannya di Indonesia Berikut adalah data hasil penemuan fosil-fosil manusia purba di Indonesia yang ditemukan oleh para arkeolog di beberapa situs penting di Jawa. Wajak : Tengkorak, ruas tulang leher, tulang rahang, gigi, tulang paha, tulang kering Kedungbrubus : Fragmen rahang bawah kanan Trinil : Atap tengkorak, tulang paha kiri, fragmen tulang paha kanan dan kiri Ngandong : Atap tengkorak, tulang dahi, fragmen tulang pendinding kanan, tengkorak batang tulang kering kanan, tulang kering kanan 5 SMA Negeri 1 Tarakan X–C

Makalah Sejarah Sangiran : Fragmen rahang atas kiri, fragmen rahang bawah kanan, atap tengkorak, atap tengkorak rahang atas, batang rahang bawah kanan, fragmen rahang bawah, gigi. Sangiran : Rahang bawah, batang rahang bawah kanan, atap tengkorak, tulang pipi kiri, gigi, fragmen rahang atas kanan, fragmen rahang atas kanan dan kiri, fragmen rahang bawah dan atas, cetakan dalam tengkorak, fragmen tulang pelipis Ngandong : Tulang-tulang tengkorak, atap tengkorak, fragmen tulang pinggul Trinil : Batang tulang paha kanan dan kiri, gigi.

6 SMA Negeri 1 Tarakan X–C

Makalah Sejarah BAB 5 1. Periodisasi Perkembangan Budaya Pada Masyarakat Awal Indonesia A. Zaman Batu Sebagian besar alat atau sarana penunjang kehidupan manusia (terutama kehidupan ekonomi) prasejarah terbuat dari batu dalam berbagai bentuk, jenis dan ukurannyanya, yang disesuaikan dengan kegunaan dari masing-masing alat. mereka juga memanfatkan benda lain yang berasal dari kayu, bambu, tulang, atau tanduk hewan.. Zaman batu ini dibedakan menjadi: zaman batu tua (paleolitikum), zaman batu madya (mesolitikum), dan zaman batu muda (neolitikum). Pembagian dilakukan atas dasar tinggi rendahnya penggunaan teknologi dari benda-benda atau alat hasil budaya masyarakat. Zaman batu tua (paleolitikum) Kehidupan manusia prasejarah masih sangat sederhana. Peralatan penunjang kehidupan mereka umumnya terbuat dari batu kasar, yaitu batu alami yang belum dihaluskan. sekarang, sisa-sisa peninggalan zaman paleolitikum hanya ditemukan di pulau Jawa dan Sulawesi. Kebanyakan manusia prasejarah yang hidup pada mas ini diperkirakan hidup secara berkelompok dalam. Mereka hidup secara berpindah atau nomaden. Hal lain yang perlu diketahui dari periode ini adalah bahwa zaman paleolitikum memiliki hubungan yang erat dengan sejarah bumi. Oleh karena itu, zaman ini mencakup tiga lapisan bumi, yaitu: Pleistosin Bawah, Pleistosin Tengah, dan Pleistosin Atas. o Pleistosin Bawah Sebagian besar pleistosin bawah berupa batu pasir tufa dan tanah liat berwarna biru kehitam-hitaman. Pada lapisan ini telah ditemukan fosil tulang-tulang dan geraham-geraham dari binatang menyusui dan manusia yang tertua dari jenis palaeoanthropus. Fauna dari masa ini disebut Fauna Jetis, dengan binatangnya seperti gajah, kerbau, sapi, rusa, menjangan, dan kuda air yang masih primitif. Sedangkan dari sisa-sisa manusia yang ditemukan dapat ditentukan bahwa sekurang-kurangnya ada tiga jenis manusia yang pernah hidup pada masa itu. Pertama, Meganthropus Palaeojavanicus (manusia raksasa Jawa) meninggalkan fragmen rahang bawah yang sangat besar, masif, dan primitif bentuknya, serta beberapa geraham. Fosil ini menggambarkan ciri-ciri manusia, meskipun masih ada ciri-ciri yang memiliki kemiripan dengan kera. o Pleistosin Tengah Permulaan zaman Pleistosin Tengah diperkirakan bersamaan waktunya dengan zaman es kedua, di mana permukaan laut turun kira-kira mencapai 25 meter. Fauna dari masa ini disebut Fauna Trinil atau Fauna-Sino-Melayu karena jenis fauna yang ditemukan di daerah Trinil memiliki kesamaan dengan yang dijumpai di Tiongkok. Beberapa penemuan seperti tengkorak, fragmen kecil dari rahang bawah kanan, dan 7 SMA Negeri 1 Tarakan X–C

Makalah Sejarah tulang paha diperkirakan dari jenis manusia itu. Selama masa pleistosen tengah, jenis manusia ini tidak banyak mengalami perubahan secara fisik. Peralatan tertua yang terbuat dari batu berasal dari zaman ini. Alat itu tidak dapat dimasukan ke dalam kebudayaan batu-teras dan ke dalam golongan flake. Alat-alat itu dikenal sebagai kapak genggam, kapak perimbas monofacial, alat-alat serpih, dan beberapa kapak genggam yang telah dikerjakan dua sisinya. o Pleistosin Atas Permulaan Pleistosin Atas bersamaan waktunya dengan zaman glasial ketiga. Mahkluk baru yang muncul adalah Homo Soloensis (Manusia Solo). Manusia Solo memiliki ciri yang hampir sama dengan Pithecanthropus, hanya saja sedikit lebih besar dan lebih maju dalam hal volume otaknya. Tampaknya, mereka telah hidup berkumpul di sepanjang Sungai Solo. Beberapa jenis peralatan yang mereka gunakan di antaranya adalah peluru bulat dari batu yang diperkirakan sebagai alat pelempar untuk melumpuhkan binatang buruan, bermacam-macam alat berbentuk kapak perimbas dari tulang dan tanduk. Di samping Homo Soloensis, ditemukan juga dua tengkorak yang telah membantu di desa Campurdarat, sebelah selatan gunung Wilis. Tengkorak ini termasuk tipe Neoanthropus dan dikenal sebagai Homo Wajakensis. Zaman batu tengah (mesolitikum) Setelah zaman es berakhir, maka dataran Sunda terbagi menjadi beberapa pulau. Homo Soloensis lenyap dari muka bumi dan manusia-manusia baru dari jenis Sapien saja yang mampu mencapai pulau-pulau itu. Mereka itu adalah orang-orang Melanesia, Austroloida, dan Negrito. Binatang-binatang yang hidup pada zaman sebelumnya telah lenyap, kecuali gajah. Binatang yang hidup pada zaman mesolitikum hampir mirip dengan binatang yang hidup pada masa sekarang. Bedanya, tubuh binatang pada masa mesolitikum memiliki ukuran yang lebih besar. Pada masa mesolitikum terdapat tiga macam kebudayaan yang berbeda satu sama lain, yaitu: kebudayaan Bascon-Hoabin, kebudayaan Toale, dan kebudayaan Sampung.  Kebudayaan Bascon-Hoabin Hasil-hasil peninggalan budaya ini ditemukan dalam gua-gua dan bukit-bukit kerang di Indo Cina, Siam, Malaka, dan Sumatera Timur. Kebudayaan ini umumnya berupa alat dari batu kali yang bulat. Sering disebut sebagai “batu teras” karena hanya dikerjakan satu sisi, sedangkan sisi yang lain dibiarkan tetap licin. Kebudayaan Toale Umumnya hasil kebudayaan Toale adalah kebudayaan flake dan blade. Kebudayaan ini mendapat pengaruh kuat dari unsur microlith sehingga menghasilkan alat-alat yang berukuran kecil dan terbuat dari batu. Kebudayaan Sampung 8 SMA Negeri 1 Tarakan X–C

Makalah Sejarah Merupakan kebudayaan tulang dan tanduk yang ditemukan di desa Sampung, Ponorogo. Barang yang ditemukan berupa jarum, dan pisau. Pada lapisan yang lain telah ditemukan mata panah. Di samping itu ditemukan juga beberapa kerangka manusia dan tulang binatang buas yang dibor. Zaman batu muda (neolitikum) Kira-kira 1000 tahun SM, telah datang bangsa-bangsa baru yang memiliki kebudayaan lebih maju dan tinggi derajatnya. Mereka dikenal sebagai bangsa Indonesia Purba. Beberapa kebudayaan mereka yang terpenting adalah sudah mengenal pertanian (food producing), berburu, menangkap ikan, memelihara ternak jinak (anjing, babi, dan ayam). Mereka telah membangun pondok-pondok yang berbentuk persegi empat, didirikan di atas tiang-tiang kayu, diding-dindingnya diberi hiasan dekoratif yang indah. A. Zaman Logam Disebut zaman logam karena sebagian besar alat penunjang kehidupan manusia pada masa itu terbuat dari logam. Artinya juga mereka telah memiliki kemampuan dalam hal pengolahan logam untuk dibuat alat-alat tertentu sesuai dengan keinginan dan keperluan mereka. Zaman logam sendiri dibedakan atas beberapa zaman, yaitu: zaman Tembaga, zaman Perunggu, dan zaman Besi. Namun demikian, zaman Tembaga tidak pernah berkembang di Indonesia.  Zaman Perunggu manusia sudah memiliki kemampuan mengolah logam perunggu (campuran timah dan tembaga) yang disesuaikan dengan bentuk peralatan yang diperlukan. Jenis alat-alat yang paling banyak ditemukan adalah kapak perunggu. Disamping itu juga tombak.  Zaman Besi manusia sudah memiliki kemampuan melebur bijih-bijih besi dalam bentuk alat-alat yang dibentuk sesuai keinginan dan fungsinya. Diantara benda-benda besi yang berhasil ditemukan adalah mata pisau, mata kapak, dan tombak. Disamping itu juga ditemukan gelang besi. B. Ciri-Ciri Sosial, Budaya, Ekonomi, dan Kepercayaan Masyarakat Pada Masa Berburu (Food Gathering) dan Masyarakat Pertanian (Food Producing) a. Masyarakat Masa Berburu (Food Gathering) Disebut sebagai masyarakat masa berburu karena aktivitas kehidupan masyarakatnya dalam upaya mendapatkan makanan tergantung pada apa yang disediakan oleh alam, berburu dari apa yang ada di sekitarnya. Mereka hanya melakukan aktivitas mengumpulkan makanan yang ada (food gathering).  Sosial Ciri-ciri kehidupan sosial masyarakatnya ditandai dengan: • hidup berkelompok • Tidak memiliki tempat tinggal tetap 9 SMA Negeri 1 Tarakan X–C

Makalah Sejarah • Tempat tinggal sementara mereka adalah gua-gua, baik di pedalaman maupun di pinggir aliran sungai, daerah lembah, atau pantai untuk menghindarkan diri dari serangan binatang buas dan yang dekat dengan sumber makanan. • Hubungan antara sesama anggota kelompok sangat erat • kehidupan masih sederhana. • Masing-masing kelompok masyarakat dipimpin oleh seseorang yang sangat dihormati.  Budaya • Budaya hidup (non-materi) Dalam hal pemilihan tempat tinggal sementara (tempat berlindung) ada kelompok yang memilih daerah pedalaman dan sebaliknya ada yang lebih memilih daerah dekat pantai. Untuk dapat bertahan hidup dalam lingkungannya tersebut, mereka mulai mengembangkan berbagai bentuk peralatan yang berfungsi sebagai alat untuk menangkap ikan. • Budaya benda atau alat Pada awalnya benda-benda hasil budaya mereka sangat sederhana sekali. Benda-benda itu dibuat dan terkait erat dengan aktivitas untuk mendapatkan makanan dan mengolah makanan. Dalam perkembangannya kemudian disebut dengan budaya Pacitan. Alat yang ia temukan adalah berupa kapak perimbas. Pada tahun-tahun setelah penemuan tersebut H.R. van Heekeren, Basuki dan R.P. Soejono melakukan penggalian di daerah yang sama dengan lokasi penggalian Koenigswald dan menemukan alat-alat yang memiliki bentuk seperti kapak perimbas, alat-alat serpih dan alat-alat dari tulang.        Alat- alat pada budaya ini Kapak perimbas Kapak genggam Pahat genggam Alat-alat dari tulang Blade, Flake, dan Microlith Alat-alat serpih

 Ekonomi Ciri-ciri kehidupan ekonomi masyarakatnya ditandai dengan: • Kehidupan ekonomi bergantung pada alam (food gathering) • Mereka belum mengenal sistem pertanian (bercocok tanam) • Aktivitas berburu dilakukan secara berkelompok • Lingkungan ekonomi mereka ada yang di daerah pedalaman (hutan), pinggir aliran sungai atau daerah tepi pantai  Kepercayaan Sistem kepercayaan telah muncul sejak masa kehidupan berburu dan mengumpulkan makanan. Kuburan pra-sejarah merupakan bukti bahwa masyarakat telah memiliki anggapan tertentu dan memberikan penghormatan kepada orang yang telah meninggal. b. Masyarakat Pertanian atau Bercocok Tanam Seiring dengan makin berkembangnya pola pikir dan kecerdasan manusia terutama dikaitkan dengan upaya mempertahankan kehidupan mereka, menyebabkan munculnya kelompok-kelompok masyarakat yang tinggal dalam dalam suatu area 10 SMA Negeri 1 Tarakan X–C

Makalah Sejarah wilayah tertentu. Pola hidup lama dari para pendahalu mereka yang nomaden mulai ditinggalkan. Hasil dari penemuan bukti-bukti arkeologis juga menunjukkan bahwa pada masa ini masyarakat telah memiliki tingkat kompleksitas yang tinggi. a. Sosial • Terbentuknya komunitas manusia yang menetap menunjukkan bahwa masyarakatnya mulai mengenal adanya pranata sosial, meskipun dalam taraf yang masih sederhana • Pembagian kerja dan tugas dalam keluarga maupun dalam masyarakat juga semakin tegas b. Budaya • Budaya Hidup Karena merupakan masyarakat dengan pola hidup menetap dan bercocok tanam, maka budaya hidup mereka adalah tradisi mengolah tanah untuk kemudian ditanami dengan aneka tanaman untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. • Budaya Berupa Hasil Benda atau Alat Memiliki kemampuan membuat alat-alat penunjang kehidupan sehari-hari yang umumnya terbuat dari batu atau tulang dengan teknik dan seni pembuatan yang lebih halus (sudah diupam). Diantara alat-alat yang menurut para ahli sejarah sebagai hasil budaya masyarakat bercocok tanam antara lain: - Beliung persegi. Memiliki fungsi yang berkaitan dengan dimensi kepercayaan. - Kapak Lonjong. Memiliki fungsi sebagai alat ekonomi: memotong makanan. - Mata Panah. Memiliki fungsi ekonomi: antara lain sebagai alat untuk menangkap ikan. - Aneka benda gerabah (terbuat dari tanah liat). Memiliki fungsi sebagai wadah atau tempat untuk menyimpan. - Benda-benda megalitik, seperti menhir, dolmen, sarkofagus, punden batu berundak, kubur batu dan waruga. Semua benda tersebut memiliki fungsi yang berkaitan dengan tradisi kepercayaan. c. Ekonomi • besar upaya pemenuhan kebutuhan hidup manusia masa ini bertumpu pada aktivitas pertanian atau budidaya tanaman • Mereka menanam jenis tanaman yang pada awalnya tumbuh liar • Disamping aktivitas pertanian, mereka diperkirakan juga telah menjinakkan hewan (aktivitas pertenakan) seperti anjing, kerbau, sapi, kuda, babi dan lainnya. • Kehidupan berladang dengan sistem huma telah mereka lakukan d. Kepercayaan Penghormatan dan pemujaan kepada roh nenek moyang merupakan unsur utama dalam tradisi kepercayaan masyarakat pada periode ini. Khusus di Indonesia, pemujaan kepada orang yang telah meninggal diwujudkan dalam bentuk pembuatan benda-benda megalitik baik itu sebagai simbol maupun sarana pemujaan. Benda-benda megalitik tersebut diantaranya adalah menhir, dolmen, sarkofagus, punden batu berundak, kubur batu dan waruga. C. Perkembangan teknologi dan sistm kepercayaan masyarakat Indonesia pada zaman batu muda

11 SMA Negeri 1 Tarakan X–C

Makalah Sejarah  Perkembangan teknologi Peralatan hidup manusia pra sejarah zaman batu muda menunjukkan perkembangan teknologi pembuatan yang sudah mengalami kemajuan disbanding dengan masa sebelumnya. Alat yang telah dibuat dengan teknik pengasahan yang sempurna.dikerjakan teknik pengerjaan yang diperhalus. Benda hasil teknologi lainnya yaitu perhiasan gelang-gelang dan dan biji-biji kalung yang terbuat dari batu.  System kepercayaan masyarakat Berkaitan dengan kematian dan kehidupan setelah mati. Pada masa ini mereka mempercayai manusia yang meninggal roh mereka tidaklah lenyap atau hilang begitu saja. Orang yang meninggal biasanya dibekali macam-macam barang yang biasanya disebut dengan bekal kubur. Kepercayaan lain yaitu kematian tidak membawa perubahan dalam derajat atau kedudukan seseorang nantinya di alam baru atau roh alam. D. Perkembangan teknologi dan sistm kepercayaan masyarakat Indonesia pada zaman batu besar  Perkembangan teknologi Pembuataan berbagai alat dan bangunan yang terbuat dari batu dalam ukuran besar lebih berfungsi sebagai sarana pemujaan. Sulit untuk mengidentifikasi perkembangan teknologi yang terkait dengan pembuatan bangunan-bangunan dari batu besar ini.  System kepercayaan masyarakat Perkembangn lebih lanjut dari kepercayaan masyarakat pada masa sebelumnya.dengan perkembangan pola piker dan budaya masyarakat itu sendiri. Sebagai bentuk penghormatan kepada orang meninggal dengan membuat baangunan baangunan dari batu besar. E. Pengaruh Budaya Hoa-Bihn / Bacson, dan Dongson Terhadap Perkembangan Budaya Masyarakat Awal Kepulauan Indonesia  Pengaruh Budaya Hoa-Bihn Terhadap Perkembangan Budaya Masyarakat Awal Kepulauan Indonesia Budaya Hoabihn merupakan diantara budaya besar yang memiliki situs-situs temuan di seluruh daratan Asia Tenggara, termasuk Indonesia . Manusia pemilik budaya Hoabihn diperkirakan hidup pada kala Holosen. Beberapa ciri pokok budaya Hoabihn ini antara lain: • Pembuatan alat kelengkapan hidup manusia yang terbuat dari batu • Batu yang dipakai untuk alat umumnya berasal dari batu kerakal sungai. • Alat batu ini telah dikerjakan dengan teknik penyerpihan menyeluruh pada satu atau dua sisi batu. • Hasil penyerpihan menunjukkan adanya keragaman bentuk. Ada yang berbentuk lonjong, segi empat, segi tiga dan beberapa diantaranya ada yang berbentuk berpinggang.  Budaya logam di Indonesia Dalam hal pembuatan barang logam, terutama adalah perunggu. Jenis-jenis barang perunggu yang mereka hasilkan antara lain kapak corong, ujung tombak, sabit, mata panah, dan benda-benda kecil lainnya. Banyak ditemukan di daerah-daerah Indonesia yang bendanya mirip kebudayaan dongson. Seperti nekara heger tipe I.tentang cara 12 SMA Negeri 1 Tarakan X–C

Makalah Sejarah pembuatan nekara, sejarawan bernet kempers member gambaran tentang penggunaan teknik cetaknya. Dengan menggunakan lembaran lilin yang ditempelkan pada inti tanah liat. Orang-orang dongson banya mengirim barang ke Indonesia sebagai barang hadiah. Akibatnya terjadi pengenalan benda dan teknolofi perunggu dari dongson ke wilayah Indonesia menyebabkan dibeberapa daerah muncul pusat-pusat pembuatan logam.

13 SMA Negeri 1 Tarakan X–C

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->