KEBENARAN ILMIAH

Makalah Dipresentasikan pada Diskusi Mata Kuliah Filsafat Ilmu Oleh Moh Nizar Hamdani NIRM 011.04.12.1633 Semester II Kelas A Dosen Pengampu Dr. Phil. Khoirun Niam

INSTITUT AGAMA ISLAM TRIBAKTI KEDIRI PROGRAM PASCA SARJANA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ISLAM
2011-2012

1 Ilustrasi tersebut jika diuji materil kebenaran dengan pendekatan matematika semua yang disampaikan guru matematika tersebut benar. Ketika ditelusuri alasan anak tersebut mogok belajar karena ibu guru di sekolahnya dianggap sebagai pembohong. Suriasumantri. akan tetapi keterbatasan seorang peserta didik menganggap itu salah. menggambarkan seorang anak kecil yang baru . Proses pencarian kebenaran tentu bukan hal yang mudah dan dapat dikatakan merupakan proses yang sangat melelahkan. Pada suatu hari guru tersebut mengatakan bahwa 3+ 4 = 7. hlm. (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. bahkan apakah kebenaran bersifat tentatif atau sepanjang masa? Untuk mengetahui hal itu. Filsafat Ilmu sebuah Pengantar Populer. pemakalah akan membahas seputar kriteria kebenaran ilmiah beserta dengan teori-teori yang digunakan untuk menguji kebenaran ilmiah. Latar Belakang Manusia selalu berusaha menemukan kebenaran. dan bersifat netral atau tidak netral. Sering kali dengan dalih sebuah kebenaran seseorang atau kelompok akan menghalalkan tindakan terhadap orang lain karena dianggap sudah melakukan tindakan yang benar. guru matematika yang mengajarnya tidak konsisten dengan apa yang dikatakan sebelumnya. kemudian pada hari lainnya 6+1 =7 dan seterusnya. Jujun S. sehingga dianggap sebagai pembohong. keterkaitan. bahkan bukan tidak mungkin akan mendatangkan keputusasaan. Oleh karena itu bagaimana sesuatu dianggap benar. Kebenaran tidak mungkin berdiri sendiri jika tidak ditopang dengan dasar-dasar penunjangnya.55. 2010). pada hari berikutnya 5+2 = 7. bahkan hukuman fisik agar anaknya mau belajar matematika.Pengalaman-pengalaman yang diperoleh manusia membuahkan prinsip-prinsip yang lewat penalaran rasional agar kejadiankejadian yang berlaku dialam itu dapat dimengerti. Suriasumantri. dan apa yang menjadi kriteria kebenarannya. 1 Jujun S. memberikan iming-iming hadiah. teori. Sehingga menimbulkan dampak-dampak negatif maupun positif dalam kehidupan.BAB I PENDAHULUAN A. dapat dibuktikan. konsistensi. baik pernyataan.masuk sekolah mogok tidak mau belajar walaupun orang tuanya sudah merayunya. berfungsi. beberapa cara ditempuh untuk memperoleh kebenaran antara lain dengan menggunakan rasio seperti para rasionalis dan melalui pengalaman atau secara empiris . keterukuran . Menurut pemikiran anak tersebut dengan keterbatasan pikirannya. 2 .

Apa saja teori-teori kebenaran? 3. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah tersebut diatas. Apa pengertian kebenaran? 2. Tujuan Pembahasan Adapun tujuan penyusunan makalah ini adalah untuk mengetahui tentang : 1. Bagaimana sifat kebenaran ilmiah? C.B. Teori-teori kebenaran 3. permasalahan pokok yang akan dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut: 1. Pengertian kebenaran 2. Sifat kebenaran ilmiah 3 .

Kebenaran merupakan ciri asli dari ilmu itu sendiri. Jadi pengetahuan benar adalah pengetahuan obyektif. Selaras dengan Poedjawiyatna yang mengatakan bahwa persesuaian antara pengatahuan dan obyeknya itulah yang disebut kebenaran.BAB II PEMBAHASAN A. bahkan jauh belakangan Bradley menjawab. makna “kebenaran” dibatasi pada kekhususan makna “kebenaran keilmuan (ilmiah)”. dan kebenaran dalam arti lawan dari keburukan (ketidakbenaran). Kebenaran ini mutlak dan tidak sama atau pun langgeng. Pengantar ke IImu dan Filsafat. Jadi ada dua pengertian kebenaran. 1987). Tentang kebenaran ini. yaitu kebenaran yang berarti nyata-nyata terjadi di satu pihak. 1995) I.2 Dalam bahasan ini. (Jakarta: Bina Aksara. Kenyataan yang terjadi bisa saja berbentuk ketidak benaran (keburukan). (Jakarta: Bumi Aksara. tetapi bukanlah kenyataan (dos sollen) itu tidak selalu yang seharusnya (dos sein) terjadi. Uraian keilmuan tentang masyarakat sudah semestinya harus diperkuat oleh kesadaran terhadap berakarnya kebenaran. Kebenaran intelektual yang ada pada ilmu bukanlah suatu efek dari keterlibatan ilmu dengan bidang-bidang kehidupan.R. tak bermuara. Tahu dan Pengetahuan. sementara (tentatif) dan hanya merupakan pendekatan. hlm. “Kebenaran itu adalah kenyataan”.3 2 3 Inu kencana Syafi’i. Filsafat kehidupan (Prakata). 4 . Poedjawijatna. Dengan demikian maka pengabdian ilmu secara netral. Artinya pengetahuan itu harus yang dengan aspek obyek yang diketahui. dapat melunturkan pengertian kebenaran sehingga ilmu terpaksa menjadi steril. 16. melainkan bersifat nisbi (relatif). Pengertian Kebenaran Maksud dari hidup ini adalah untuk mencari kebenaran. Plato pernah berkata: “Apakah kebenaran itu? lalu pada waktu yang tak bersamaan.

keresahan ilmu bertalian dengan hasrat yang terdapat dalam diri manusia. dan pragmatis 1. Misalnya. hlm. Hal ini tidak bisa dilepaskan dengan keberadaan manusia yang transenden. bila kita menganggap bahwa “semua manusia pasti akan mati” adalah suatu pernyataan yang benar. Teori Koherensi Berdasarkan teori ini suatu pernyataan dianggap benar bila pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap benar. artinya tidak henti dari kebenaran itu terdapat diluar jangkauan manusia. korespondensi. Teori Kebenaran Ilmiah Kebenaran ilmiah dapat ditemukan dan diuji dengan pendekatan teori koherensi. 55 5 . dengan kata lain. yaitu yang koheren menurut logika. maka pernyataan bahwa “si Ahmad seorang manusia dan si Ahmad pasti akan mati” adalah benar pula. Kebenaran ilmiah adalah kebenaran yang sesuai dengan fakta dan mengandung isi pengetahuan. apa yang dewasa ini kita pegang sebagai kebenaran mungkin suatu saat akan hanya pendekatan kasar saja dari suatu kebenaran yang lebih jati lagi dan demikian seterusnya. Hal yang penting dan perlu mendapat perhatian dalam hal kebenaran ilmiah yaitu bahwa kebenaran dalam ilmu harus selalu merupakan hasil persetujuan atau konvensi dari para ilmuwan pada bidangnya masing-masing.Meskipun demikian. Pada saat pembuktiannya kebenaran ilmiah harus kembali pada status ontologis objek dan sikap epistemologis (dengan cara dan sikap bagaimana pengetahuan tejadi) yang disesuaikan dengan metodologisnya. Filsafat Ilmu.4 Artinya pertimbangan adalah benar jika pertimbangan itu bersifat konsisten dengan pertimbangan lain yang telah diterima kebenarannya. sebab pernyataan kedua adalah konsisten dengan pernyataan yang pertama. B. Dari sini terdapat petunjuk mengenai kebenaran yang trasenden. 4 Suriasumantri.

yakni persetujuan antara suatu perkembangan dan suatu situasi lingkungan tertentu. dengan begitu maka tiap-tiap pertimbangan yang benar dan tiap-tiap sistem kebenaran yang parsial bersifat terus menerus dengan keseluruhan realitas dan memperolah arti dari keseluruhan tersebut. hlm.5 Misalnya jika seseorang mengatakan “kota Kediri terletak di Jawa Timur” maka pernyataan itu adalah benar sebab pernyataan itu dengan obyek yang bersifat faktual. namun ada kemungkinan salah jika dihubungkan dengan pernyataan lain di luar sistemnya. Suatu pernyataan dapat benar dalam dirinya sendiri. Teori kebenaran ini termasuk teori kebenaran tradisional. oleh karena atau kekeliruan itu tergantung kepada kondisi yag sudah 5 Suriasumantri.Kelompok idealis. Teori Korespondensi Ujian kebenaran yang dinamakan teori korespondensi adalah paling diterima secara luas oleh kelompok realis. Jadi. Bradley dan Royce memperluas prinsip koherensi sehingga meliputi dunia. karena kebenaran mempunyai hubungan erat dengan pernyataan atau pemberitaan yang kita lakukan tentang sesuatu. kebenaran adalah kesetiaan kepada realita obyektif (fidelity to objective reality). Menurut teori korespondensi yang dipelopori Bertrand Russel (1872-1970) ini. yakni kota Kediri memang benar-benar berada di Jawa Timur. Sekiranya orang lain yang mengatakan bahwa “kota Kediri berada di Jawa Barat” maka pernnyataan itu adalah tidak benar sebab tidak terdapat obyek yang sesuai dengan pernyataan tersebut. Filsafat Ilmu. Dalam hal ini maka secara faktual “kota Kediri bukan berada di Jawa Barat melainkan di Jawa Timur”. di mana teorinya dijaga agar selalu ada koherensi internal. Meskipun demikian perlu lebih dinyatakan dengan referensi kepada konsistensi faktual. secara sederhana dapat disimpulkan bahwa berdasarkan teori korespondensi suatu pernyataan adalah benar jika materi pengetahuan yang dikandung pernyataan itu berkorespondensi (berhubungan) dengan obyek yang dituju oleh pernyataan tersebut. Menurut teori ini. Kebenaran adalah persesuaian antara pernyataan tentang fakta dan fakta itu sendiri. 57 6 . seperti Plato juga filosof-filosof modern seperti Hegel. atau antara pertimbangan (judgement) dan situasi yang pertimbangan itu berusaha untuk melukiskan. 2. ada atau tidaknya keyakinan tidak mempunyai hubungan langsung terhadap kebenaran atau kekeliruan. Kelemahan dari teori koherensi ini terjebak dalam validitas. Hal ini dapat mengarah kepada relativisme kebenaran.

Teori pragmatis menurut Jujun S. 59 6 7 . 3. kemungkinan dikerjakan (workability) atau akibat yang memuaskan Kriteria kebenaran pragmatisme ini dipergunakan para ilmuwan dalam menentukan kebenaran ilmiah dalam persepekstif waktu. Teori korespondensi ini menurut Abbas merupakan teori kebenaran yang paling awal. dan sekiranya pernyataan itu tidak lagi bersifat demikian disebabkan perkembangan ilmu H. karena Aristoteles sejak awal (sebelum abad modern) mensyaratkan kebenaran pengetahuan harus sesuai dengan kenyataan yang diketahuinya. intelektualisme dan rasionalisme.7 Pragmatisme menentang segala otoritanianisme. 7 Suriasumantri. Secara historis pernyataan yang sekarang dianggap benar suatu waktu mungkin tidak lagi demikian. Filsafat Ilmu. maka dibutuhkan penginderaan yang akurat.6 Akan tetapi teori korespondensi juga mempunyai kelemahan. Abbas. maka pertimbangan ini benar. Teori Pragmatis Teori ini dikembangkan oleh Charles Sanders Peirce (1839-1914). dan C. Jhon Dewey (1859-1952). Bagi mereka ujian kebenaran adalah manfaat (utility). “Kebenaran Ilmiah” dalam: Filsafat Ilmu Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu Pengetahuan. sehingga dapat digolongkan kepada teori kebenaran tradisional. Suriasumantri bukan merupakan aliran filsafat yang mempunyai doktrin-doktrin filsafati melainkan teori dalam penentuan kebenaran. Jika sesuatu pertimbangan sesuai dengan fakta. nah bagaimana dengan penginderan yang kurang cermat atau bahkan indra tidak normal lagi? Disamping itu juga bagaimana dengan objek yang tidak dapat diindra atau non empiris? Maka dengan teori korespondensi objek non empiris tidak dapat dikaji kebenarannya. jika pernyataan itu atau konsekuensi dari pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis dalam kehidupan manusia. 87.I. Dihadapkan dengan permasalahan ini maka ilmuwan bersifat pragmatis. selama pernyataan itu fungsional dan mempunyai kegunaan maka pernyataan itu dianggap benar. karena dengan mensyarakatkan kebenaran harus sesuai dengan kenyataan. Lewis. Dimana kebenaran suatu pernyataan diukur dengan apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan praktis. hlm. 1997). maka pertimbangan itu salah. kemudian dikembangkan oleh ahli filsafat yang berkebangsaan Amerika seperti William James (1842-1910). George Herbert Mead (1863-1931). hlm. (Yogyakarta: Intan Pariwara.M. Artinya suatu penyataan adalah benar.ditetapkan atau diingkari. jika tidak.

koherensi. Living Issues in Philasophy. maka pernyataan itu ditinggalkan. atau kita uji dengan faidahnya dan akibat-akibatnya yang praktis. Sifat Kebenaran Ilmiah Kebenaran ilmiah menurut Konrad Kebung paling tidak memiliki tiga sifat dasar. 245.9 1. 9 Konrad Kebung. (Jakarta: PT. kebenaran adalah persesuaian yang setia dari pertimbangan dan ide kita kepada fakta pengalaman atau kepada alam seperti adanya.. Prestasi Pustaka. Akan tetapi karena kita dengan situasi yang sebenarnya. Filsafat Ilmu Pengetahuan. yakni: Struktur kebenaran ilmiah bersifat rasional-logis. (2) yang benar adalah yang dapat dibuktikan dengan eksperimen. maka semua orang yang rasional (yaitu yang dapat menggunakan akal budinya secara baik). 2011). Kebenaran ilmiah perlu diuji dengan kenyataan yang ada. dapat memahami kebenaran ilmiah. hlm.pengetahuan itu sendiri yang menghasilkan pernyataan baru. sedangkan masuk akal biasanya berlaku bagi kebenaran tertentu di luar lingkup pengetahuan. spekulasi tetap ada namun sampai tingkat tertentu spekulasi itu bisa dibayangkan sebagai nyata atau tidak karena Harold H Titus. maka teori tersebut dapat digabungkan dalam suatu definisi tentang kebenaran. Kebenaran dapat dicapai berdasarkan kesimpulan logis atau rasional dari proposisi atau premis tertentu. Persoalan-Persoalan Filsafat. 2. (Jakarta: Bulan Bintang. M. Hal ini tidak berarti bahwa dalam kebenaran ilmiah. Rasyidi. Kriteria kebenaran cenderung menekankan satu atu lebih dati tiga pendekatan (1) yang benar adalah yang memuaskan keinginan kita. Struktur yang rasional-logis. 152. h. dan sifat pragmatis. Sifat rasional (rationality) harus dibedakan dengan sifat masuk akal (reasonable). dkk. Terj. Oleh sebab itu kebenaran ilmiah kemudian dianggap sebagai kebenaran universal. Isi empiris. bahkan sebagian besar pengetahuan dan kebenaran ilmiah. H.8 C. Karena kebenaran ilmiah bersifat rasional. 1987). berkaitan dengan kenyataan empiris di alam ini. Sifat rasional terutama berlaku untuk kebenaran ilmiah. dapat dikatakan masuk akal sekalipun tindakan tersebut mungkin tidak rasional. isi empiris. maka dapat diujilah pertimbangan tersebut dengan konsistensinya dengan pertimbangan-pertimbangan lain yang kita anggap sah dan benar. (3) yang benar adalah yang membantu dalam perjuangan hidup biologis. 8 8 . Sebagai contoh: tindakan marah dan menangis atau semacamnya. Oleh karena teori-teori kebenaran (koresponden. dan pragmatisme) itu lebih bersifat saling menyempurnakan daripada saling bertentangan.

Maksudnya. berusaha menggabungkan kedua sifat kebenaran sebelumnya (logis dan empiris).sekalipun suatu pernyataan dianggap benar secara logis. Isi pragmatis (dapat diterapkan). perlu dicek apakah pernyataan tersebut juga benar secara empiris. Pada akhirnya yang menjadi pertanyaan adalah apakah kebenaran ilmiah bersifat pasti atau sementara? Jawaban atas pertanyaaan ini memunculkan dua pandangan yang berbeda. jika suatu “pernyataan benar” dinyatakan “benar” secara logis dan empiris. yaitu kaum rasionalis yang menekankan kebenaran logis-rasional dan pandangan kaum empiris yang menekankan kebenaran empiris. berarti dapat untuk membantu manusia memecahkan berbagai persoalan dalam hidupnya. maka pernyataan tersebut juga harus berguna bagi kehidupan manusia. Berguna. 9 . Sifat pragmatis. 3.

10 . Ketiga teori dalam menemukan kebenaran ilmiah tersebut saling menguatkan dan dapat dijadikan suatu definisi tentang kebenaran. Untuk menentukan kepercayaan dari sesuatu yang dianggap benar. Artinya pengetahuan itu harus yang dengan aspek obyek yang diketahui. dan teori pragmatis. para filosof bersandar kepada tiga cara untuk menguji kebenaran. dan sifat pragmatis (dapat diterapkan). Kebenaran ilmiah paling tidak memiliki tiga sifat dasar. Jadi pengetahuan benar adalah pengetahuan obyektif. Sedangkan yang dimaksud kebenaran ilmiah adalah kebenaran yang sesuai dengan fakta dan mengandung isi pengetahuan.BAB III PENUTUP Kebenaran adalah persesuaian antara pengetahuan dan obyeknya. yakni: struktur kebenaran ilmiah bersifat rasional-logis. yaitu koresponden (yakni persamaan dengan fakta). teori koherensi atau konsistensi. isi empiris.

H. Pengantar ke IImu dan Filsafat. 1997. Bertrand. Rasyidi. 2011. Russel. Jakarta: Bulan Bintang.DAFTAR KEPUSTAKAAN Abbas. 1987 11 . 2007 Suriasumantri. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. M.M. Jakarta: Bina Aksara. I. dkk. H. Inu Kencana. Jakarta: Bumi Aksara. 2010 Syafi’i. Prestasi Pustaka. Titus. Poedjawijatna.. Terj. Filsafat Ilmu sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Filsafat Ilmu Pengetahuan. 1995. Kebung. “Kebenaran Ilmiah” dalam: Filsafat Ilmu Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu Pengetahuan. 1987. Sejarah Filsafat Barat. Filsafat kehidupan (Prakata). Living Issues in Philasophy. Harold H.R. Yogyakarta: Intan Pariwara. Jakarta: PT. PersoalanPersoalan Filsafat. Konrad. Tahu dan Pengetahuan. Jujun S.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful