11111

Perbedaan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Preoperasi Sebelum Dan Sesudah Diberikan Terapi Musik Di Bangsal Bedah RS XX
Posted on 8 September 2011 by grahacendikia Kecemasan adalah keadaan yang tidak mengenakan dan tidak merasa nyaman yang terjadi di kehidupan sehari-hari yang juga dapat terjadi pada seseorang yang akan menjalani operasi. Dalam studi pendahuluan di Rumah Sakit Daerah XX pada bulan April 2011 didapatkan data bahwa, dari 10 orang pasien yang akan dilakukan operasi dengan General Anastesi, ternyata kurang lebih 60% mengalami kecemasan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan tingkat kecemasan pasien preoperasi sebelum dan sesudah diberikan terapi musik di Bangsal Bedah RS XX. Penelitian ini merupakan penelitian Quasi Eksperiment dengan pendekatan potong lintang (cross sectional). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasein preoperasi yang berada di bangsal bedah RS XX selama kurun waktu bulan Juli sampai Agustus 2011. Teknik sampel yang digunakan adalah convinience sampling dengan jumlah sampel yang diambil sebanyak 30 orang. Hasil penelitian ini diperoleh tingkat kecemasan pasien preoperasi sebelum dilakukan terapi musik di RS XX sebagian besar adalah tingkat kecemasan sedang yaitu sebanyak 21 orang (70%). Tingkat kecemasan pasien preoperasi sesudah dilakukan terapi musik di RSD sebagian besar adalah tingkat kecemasan ringan yaitu sebanyak 20 orang (66,7%). Berdasarkan uji Wilcoxon diketahui nilai p = 0,0005 (p<0,05) menunjukkan adanya perbedaan sangat signifikan antara tingkat kecemasan pasien preoperasi sebelum dan sesudah diberikan terapi musik di RS XX. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terapi musik dapat menurunkan tingkat kecemasan pada pasien yang akan menjalani operasi.
http://grahacendikia.wordpress.com/2011/09/08/perbedaan-tingkat-kecemasan-pada-pasienpreoperasi-sebelum-dan-sesudah-diberikan-terapi-musik-di-bangsal-bedah-rs-xx/ 222222222222

HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN KECEMASAN PADA PASIEN PRE OPERASI Undergraduate Theses from JIPTUMM / 2002-09-01 08:53:00 Oleh : FERLINA INDRA S.(99010074), Nursing Academy Dibuat : 2002-10-30, dengan 1 file Keyword : hubungan pasien Latar Belakang:Persiapan pra bedah penting sekali untuk memperkecil resiko operasi, karena hasil akhir suatu pembedahan sangat bergantung pada penilaian keadaan penderita dan persiapan pra bedah yang telah dilakukan, dari hasil penelitian didapatkan sekitar 80% dari semua pasien yang menjalani pembedahan,mengalami kecemasan.Tujuan Penelitian:Untuk mengetahui ada

atau tidaknya hubungan pengetahuan dengan kecemasan pada pasien pre operasi.Metode Penelitian:Metode yang digunakan adalah korelasional dengan sampel 20 orang.Pengambilan sampel dengan total populasi Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Pengumpulan data dimulaidaripersiapan, pelaksanaan dan pengambilan data. Dalam pengolahan data digunakan prosentase yang selanjutnya dianalisa dengan menggunakan chi-square.Dari hasil analisa data didapatkan hasil x2 tabel =1,82 dan x2 (0,05)(1) =1,sehingga didapatkan keputusan analisa x2 hitung < x2(0,05)(1) .Kesimpulan Ho diterima dan HI ditolak,ini berarti tidak ada hubungan pengetahuan pengetahuan dengan kecemasan pada pasien pre operasi.Hal ini bisa dipengaruhi banyak hal antara lain waktu penelitian,pemilihan sampel,dan lingkungan rumah sakit. Deskripsi Alternatif : Latar Belakang:Persiapan pra bedah penting sekali untuk memperkecil resiko operasi, karena hasil akhir suatu pembedahan sangat bergantung pada penilaian keadaan penderita dan persiapan pra bedah yang telah dilakukan, dari hasil penelitian didapatkan sekitar 80% dari semua pasien yang menjalani pembedahan,mengalami kecemasan.Tujuan Penelitian:Untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan pengetahuan dengan kecemasan pada pasien pre operasi.Metode Penelitian:Metode yang digunakan adalah korelasional dengan sampel 20 orang.Pengambilan sampel dengan total populasi Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Pengumpulan data dimulaidaripersiapan, pelaksanaan dan pengambilan data. Dalam pengolahan data digunakan prosentase yang selanjutnya dianalisa dengan menggunakan chi-square.Dari hasil analisa data didapatkan hasil x2 tabel =1,82 dan x2 (0,05)(1) =1,sehingga didapatkan keputusan analisa x2 hitung < x2(0,05)(1) .Kesimpulan Ho diterima dan HI ditolak,ini berarti tidak ada hubungan pengetahuan pengetahuan dengan kecemasan pada pasien pre operasi.Hal ini bisa dipengaruhi banyak hal antara lain waktu penelitian,pemilihan sampel,dan lingkungan rumah sakit.
http://digilib.itb.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jiptumm-gdl-s1-2002-ferlina-5477-2002 3333333333

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT KECEMASAN PADA PASIEN PRE OPERASI APENDIKTOMI DI BANGSAL BEDAH BRSD RAA SOEWONDO PATI
Posted: Maret 22, 2011 in Keperawatan (S1)

0

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perawat mempunyai kontak paling lama dalam menangani persoalan klien (pasien) dan peran perawat dalam upaya penyembuhan klien menjadi sangat penting. Seorang perawat dituntut bisa mengetahui kondisi dan kebutuhan pasien.Termasuk salah satunya dalam mengendalikan kebutuhan emosi diri pasien, terutama pada pasien pre operasi dan post operasi. Seperti yang dikemukakan oleh perkumpulan dokter spesialis indonesia, bahwa tindakan operasi dapat menaikkan tingkat kecemasan pasien dan meningkatkan hormon pemicu stress (Ibrahim, 2006). Perawat profesional sebagai tenaga kesehatan yang dalam tugas pokoknya adalah memenuhi kebutuhan dasar klien harus mampu merespon dan bersikap secara profesional dalam mengendalikan kebutuhan emosi pasien. Karena perawat merupakan tenaga profesional terbesar dalam struktur ketenagaan rumah sakit yang akan ikut mewarnai mutu pelayanan kesehatan (Gillies, 1995). Perawatan pre operasi yang efektif dapat mengurangi resiko post operasi, salah satu prioritas keperawatan pada periode ini adalah mengurangi kecemasan pasien. Cemas merupakan reaksi normal terhadap ancaman pembedahan. Orang yang sangat cemas dan mencoba menyesuaikan diri dengan kecemasan sebelum operasi sering kali menderita kesukaran pada pasca operasi. Mereka cenderung banyak marah, kesal, dan bingung (Ellis dan Nowlis,1994). Tindakan pembedahan seringkali menjadi ancaman potensial atau aktual bagi integritas seseorang. Hal ini disebabkan tindakan pembedahan dapat membangkitkan reaksi stress baik fisiologis maupun psikologis. Setiap klien berbeda pandangan dalam menanggapi tindakan bedah atau operasi sehingga responnya berbeda-beda pula. Pada respon fisiologis ada tindakan langsung dengan bedah, karena tindakan bedah merupakan stresor pada tubuh. Respon ini terdiri dari sistem saraf simpati dan respon hormonal yang bertugas melindungi tubuh dari ancaman cidera. Bila stress terhadap sistem cukup gawat atau kehilangan darah cukup banyak, tubuh akan terlalu banyak beban dan terjadi shock. Sedangkan respon psikologi secara umum berhubungan dengan adanya ketakutan terhadap anestesia, diagnosis yang belum pasti, keganasan, nyeri, ketidakmampuan dan cerita dari orang lain (Long,1996). Operasi apendiktomi termasuk salah satu tindakan pembedahan yang juga dapat membangkitkan reaksi stress pada pasien. Karena pasien yang mengalami proses peradangan apendiktomi harus dilakukan operasi ( Martius, 1990). Apendiktomi begitu sering dijumpai sehingga lebih dari 50 persen kasus dari operasi abdomen akut yang dirawat di rumah sakit adalah peradangan apendiks (Cope, 1991). Hal ini sesuai dengan data yang tercatat pada bagian rekam medis BRSD RAA Soewondo Pati dari tahun 20022006 ditemukan kasus apendiktomi sebanyak 498 kasus, sedangkan pada tahun 2006 sebanyak 172 kasus dan jumlah operasi yang mengalami kecemasan di BRSD RAA Soewondo Pati pada tahun 2001- 2005 ada 456 orang atau 80,4% (Medical Record BRSD RAA Soewondo Pati, 2006). Faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan pasien pre operasi dapat berasal dari faktor internal dan eksternal. Faktor internal antara lain berupa usia, jenis kelamin, pekerjaan, tingkat pendidikan, tingkat sosial ekonomi, dan tipe kepribadian. Sedangkan faktor eksternal berupa ancaman tarhadap integritas biologis dan ancaman terhadap konsep diri (Stuart dan Sundeen, 1998). Kecemasan yang terjadi pada pasien yang akan dilakukan tindakan pembedahan termasuk

D. Menganalisis hubungan antara pendidikan dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi apendiktomi dibangsal bedah BRSD RAA Soewondo Pati. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat: 1. Sesuai dengan uraian diatas penulis ingin mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kecemasan pada pasien pre operasi apendiktomi di bangsal bedah BRSD RAA Soewondo Pati. Tujuan Umum Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan pasien pre operasi apendiktomi dibangsal bedah BRSD RAA Soewondo Pati. Bagaimanakah hubungan antara masing-masing faktor dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi apendiktomi. c. Tujuan Khusus a.wordpress. Menggambarkan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kecemasan pasien pre operasi apendiktomi dibangsal bedah BRSD RAA Soewondo Pati. Tujuan Penelitian 1. Menganalisis hubungan antara usia dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi apendiktomi dibangsal bedah BRSD RAA Soewondo Pati.operasi apendiktomi. Sebagai landasan dasar dalam membuat daftar tilik SOP (standard operational prosedur) bagi pasien sebelum dilakukan operasi. d. Perumusan Masalah 1. Sebagai bahan masukan di BRSD RAA Soewondo Pati terutama dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien pre apendiktomi. bahwa penyampaian prosedur atau informasi merupakan salah satu tindakan yang digunakan dalam mengatasi atau mengurangi pada kecemasan sebelum operasi (Amran. Faktor apa saja yang mempengaruhi kecemasan pasien pre apendiktomi. http://bankjudul. 2. Menganalisis hubungan antara sosial ekonomi dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi apendiktomi dibangsal bedah BRSD RAA Soewondo Pati. 2007). 2. dapat diantisipasi baik dengan memahami bagaimana cara panyebab kecemasan secara tepat. B. f. Menganalisis hubungan antara jenis kelamin dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi apendiktomi dibangsal bedah BRSD RAA Soewondo Pati.com/2011/03/22/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-tingkat-kecemasanpada-pasien-pre-operasi-apendiktomi-di-bangsal-bedah-brsd-raa-soewondo-pati/ 444444444 . Hal ini sesuai dengan pendapat Amran. e. C. Menganalisis hubungan antara pekerjaan dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi apendiktomi dibangsal bedah BRSD RAA Soewondo Pati. 2. Pemberian informasi yang adekuat pada klien yang akan dilakukan tindakan pembedahan umumnya mampu mengurangi tingkat kecemasan yang dirasakan klien. b.

Kecemasan merupakan gejala klinis yang terlihat pada pasien dengan penatalaksanaan medis.922 pasien (25. Setiap pasien pernah mengalami periode cemas. 2006). YUNUS BENGKULU TAHUN 2010 BAB I PENDAHULUAN 1. Berdasarkan data WHO (2007).473 pasien (7%) mengalami kecemasan. Bila kecemasan pada pasien pre operasi tidak segera diatasi maka dapat mengganggu proses penyembuhan. 24 Mei 2011 HUBUNGAN PENDIDIKAN DAN PERAN PERAWAT DENGAN TINGKAT KECEMASAN PADA PASIEN PRE OPERASI DI RUANG SERUNI RSUD. 2003). Kecemasan terjadi ketika seseorang merasa terancam baik fisik maupun psikologisnya misalnya harga diri. 2002). Reaksi cemas ini akan berlanjut bila pasien tidak pernah atau kurang mendapat informasi yang berhubungan dengan penyakit dan tindakan yang dilakukan terhadap dirinya. Amerika Serikat menganalisis data dari 35. gambaran diri. Latar Belakang Rumah sakit adalah sebuah fasilitas.Asip KU search: Selasa. 8. Pembedahan merupakan tindakan pengobatan yang banyak menimbulkan kecemasan. . kecemasan yang sering terjadi adalah apabila pasien yang dirawat di rumah sakit harus mengalami proses pembedahan.539 pasien bedah dirawat di unit perawatan intensif antara 1 oktober 2003 dan 30 september 2006. Kecemasan merupakan perasaan yang paling umum di alami oleh pasien yang dirawat dirumah sakit. sebuah institusi dan sebuah organisasi yang fungsi utamanya adalah memberikan pelayanan kepada pasien diagnostik dan terapeutik untuk berbagai penyakit dan masalah kesehatan. Pembahasan tentang reaksi – reaksi pasien terhadap pembedahan sebagian besar berfokus pada persiapan pembedahan dan proses penyembuhan (Dewi wijayanti. Pelayanan yang ada di Rumah Sakit adalah pelayanan pengobatan baik yang bersifat bedah maupun non bedah. dan identitas diri (Tjandra. untuk itu pasien yang akan menjalani operasi harus diberi pendidikan kesehatan untuk menurunkan atau mengurangi gejala kecemasan (Carbonel.1%) mengalami kondisi kejiwaan dan 2. Sebagian besar pasien beranggapan bahwa operasi merupakan pengalaman yang menakutkan. M. apalagi yang akan menjalani operasi. Dari.

Kecemasan yang terjadi dapat berpengaruh terhadap peningkatan tekanan darah (RSUD Sragen. Hasil penelitian di Rumah Sakit Ortopedi Prof Dr. suami. Sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap perubahan-perubahan hidup sehat (Notoatmojo.5%) dalam kategori ringan dan responden yang tidak merasa cemas sebanyak 2 orang (5%). Kecemasan pre operasi dapat dipengaruhi dari beberapa faktor antara lain adalah faktor biologis yang terjadi akibat dari reaksi saraf otonom yang berlebihan dengan naiknya system tonus saraf simpatis. Penelitian yang dilakukan oleh makmur et.5%). Selain itu faktor pendidikan pasien juga dapat mempengaruhi kecemasan yaitu tingkat pendidikan yang rendah serta kurangnya dukungan dari perawat (Sadock dan Kaplan. Seorang perawat dituntut bisa mengetahui kondisi dan kebutuhan pasien. 2006). 1998). 2002). Perawat harus mau mendengarkan semua keluhan pribadi pasien (Widodo. psikologis. (Ibrahim. Salah satu cara melakukan hal ini ialah dengan mencurahkan perhatian sampai kepada hal yang sekecil-kecilnya dalam merawat pasien. . dan spiritual. 1999). Peran perawat sangat penting untuk memberikan suport atau dukungan dan penyuluhan terhadap penurunan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi ( Kuntjoro. maka makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimilikinya. 2002 ). 2007). terjadi penundaan proses operasi karena peningkatan kecemasan. Termasuk salah satunya dalam mengendalikan kebutuhan emosi diri pasien terutama pasien pre operasi dan post operasi. R. 15 orang (37. terutama dalam motivasi untuk berperan serta dalam pembangunan kesehatan. Soeharso tahun 2008 dari 3827 pasien yang mengalami pembedahan sekitar (2%) mengalami kecemasan (Makmur. didapatkan bahwa 10% dari pasien yang akan menjalani pembedahan. maka memerlukan keterampilan komunikasi yang baik. Perawat mempunyai kontak paling lama dalam menangani persoalan pasien. Sikap dan tingkah laku perawat membantu menumbuhkan rasa kepercayaan pasien. 16 orang (40%) yang memilki tingkat kecemasan dalam kategori sedang. sosial. termasuk dalam pemberian pendidikan kesehatan. Peran perawat sangat penting dalam penanggulangan kecemasan dan berupaya agar pasien tidak merasa cemas melalui asuhan keperawatan komprehensif secara biologis.Berdasarkan data dari RSUD Sragen Wijaya Kusuma. 2007). Pendidikan dapat mempengaruhi seorang termasuk juga prilaku seseorang akan kepatuhannya. Makin tinggi pendidikan seseorang.al (2007) tentang tingkat kecemasan pre operasi bahwa dari 40 orang responden dalam tingkat kecemasan berat sebanyak 7 orang (17. Perawat merupakan salah satu tenaga kesehatan yang paling sering berinteraksi dengan pasien. anak ataupun keluarga yang lain. Peran perawat dalam upaya penyembuhan klien menjadi sangat penting. mempunyai kewajiban membantu pasien mempersiapkan fisik dan mental untuk menghadapi operasi. dan faktor psikologis yang dapat terjadi akibat implusimplus bawah sadar yang masuk kealam sadar seperti tidak didampingi oleh orang tua.

Berdasarkan hasil observasi dengan teknik wawancara selama tiga hari di ruang seruni RSUD M. M.. Sedangkan rumusan masalah penelitian ini adalah "apakah ada hubungan pendidikan pasien dan peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD M. memotivasi pasien untuk memberi keyakinan bahwa operasi dapat berjalan dengan lancar. Kecemasan yang terjadi dapat berpengaruh terhadap peningkatan tekanan darah. sering buang air kecil. Pasien yang akan menjalani operasi besar dianjurkan untuk minimal masuk rumah sakit 12 jam sebelum pre operasi dilaksanakan dan operasi kecil 6 jam sebelum dilaksanakan. Yunus Bengkulu. nafas pendek. M. gemetar sehingga dapat menghambat proses operasi. Tujuan umum Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada Hubungan antara pendidikan dan peran perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. Rumusan masalah Berdasarkan uraian dalam latar belakang di atas. susah tidur. Yunus Bengkulu". gelisah. Sementara dari pengumpulan data awal diruang Seruni RSUD M. Yunus Bengkulu. 2. 2008). Yunus Bengkulu didapatkan data bahwa dari 15 pasien yang akan melakukan operasi 5 orang yang mengalami kecemasan berat dengan ciri-ciri muka merah. yang dirawat 2154 pasien. Yunus Bengkulu. maka penulis tertarik untuk meneliti hubungan pendidikan pasien dan peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. Tujuan agar persiapan yang dilakukan dapat sebaik mungkin (RSUD M. Dari 5 orang yang mengalami kecemasan berat tersebut mempunyai pendidikan SMA kebawah dan kurang mendapatkan penkes dari perawat. Tujuan penelitian 1. Yunus Bengkulu. Yunus Bengkulu. sehingga tindakan anestesi atau pembedahan ditunda.Berdasarkan hasil pengumpulan data di RSUD M. dengan rincian sembuh 2259 dan 36 pasien meninggal (15%) dilakukan penundaan karena peningkatan kecemasan. Mengetahui gambaran peran perawat di ruang seruni RSUD. Untuk menurunkan tingkat kecemasan pasien tersebut keluarga dan perawat harus lebih banyak memberikan dukungan salah satunya yaitu selalu berada dekat pasien. Tujuan Khusus 1. masalah penelitian ini adalah masih tingginya tingkat kecemasan pasien pre operasi di RSUD M. 2. M.Yunus Bengkulu. 2. . pada tahun 2007 terdapat 4449 pasien yang mengalami pembedahan. Yunus Bengkulu didapatkan data 2008 sebanyak 1033 dan data 2009 dari januari sampai tanggal Desember sebanyak 786 orang yang melakukan operasi. 3. Mengetahui gambaran tingkat pendidikan pada pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan di atas. M. Yunus Bengkulu.

Bagi Masyarakat Dapat memperoleh pelayanan yang lebih baik terutama yang mengalami ketakutan. 5. M. rancangan dan waktu penelitian. . Dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan di bidang kesehatan.Yunus Bengkulu. Bagi Rumah sakit Hasil penelitaan ini diharapkan dapat memberi masukan bagi para tenaga kesehatan khususnya pada perawat di ruang seruni dan ruangan yang lain. Mengetahui hubungan peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. M. Rinda Lesti Sentia dengan judul penelitian " Hubungan Tingkat Pendidikan dan Umur Kehamilan dengan Tingkat Kecemasan Ibu Hamil Primigravida di Rumah Bersalin YKWP Desa Kangkung Kabupaten Demak. Yunus Bengkulu.3. 2. Keaslian penelitian Sebagai bahan perbandingan penelitian serupa pernah diteliti oleh : 1. 2.Adapun perbedaan antara karya tulis ini dengan karya tulis tersebut adalah pada variabel. Yunus Bengkulu. Bagi Akademik Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi literatur bagi perpustakaan. M. M. 4. 4. Mengetahui hubungan pendidikan dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. kecemasan. atau depresi dalam menghadapi pembedahan. Yunus Bengkulu". 3. Manfaat penelitian 1. Menambah wawasan dan pengetahuan bagi mahasiswa dan masyarakat mengenai tingkat kecemasan pada pasien pre operasi. Bagi Peneliti Lain Hasil penelitian ini dapat berguna sebagai masukan atau informasi bagi peneliti lain dalam mengembangkan penelitian dengan variabel-variabel yang lain. Agri Maha Tirani dengan judul penelitian "Perbedaan tingkat kecemasan sebelum dan sesudah pemberian pendidikan kesehatan pada pasien pre operasi di RSUD. 4. Mengetahui tingkat Kecemasan pasien pre operasi di Ruang Seruni RSUD Dr. 5.

gangguan panik. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1. Psikologis Ditinjau dari aspek psikoanalisa. Konsep Kecemasan 1. Kecemasan adalah Suatu kondisi yang menyangkut terminologi kesehatan jiwa dengan suatu kondisi was-was. 2005) Jadi. Adapun perbedaan antara karya tulis ini dengan karya tulis di atas adalah pada variabel. Yunus Bengkulu. Secara klinis gejala kecemasan dibagi dalam beberapa kelompok yaitu gangguan kecemasan. kecemasan dapat muncul akibat implus-implus bawah sadar (misalnya : sex. nafas sesak dan dada terasa nyeri (Ayub Sani. Kecemasan adalah suatu keadaan yang menggoncangkan karena adanya ancaman terhadap kesehatan (Siti Sundari. Faktor-faktor Penyebab Kecemasan 1. Mekanisme . 2. Pengertian Cemas adalah keadaan emosi individu yang berkaitan dengan perasaan yang tak pasti dan tidak berdaya.3. Faktor Biologis Kecemasan terjadi akibat dari reaksi saraf otonomi yang berlebihan dengan naiknya sistem tonus saraf simpatis. Keadaan emosi ini tidak memiliki subyek yang spesifik. ancaman) yang masuk kealam sadar. Kecemasan adalah suatu keadaan dimana psikologis seseorang berada pada ketakutan dalam menghadapi masalah yang ada pada dirinya. 2007). 1998). perut terasa kosong. gangguan phobik dan gangguan obsesifkompulsif (Dadang Hawari. 2. kondisi ini dialami secara subyektif (yang hanya dirasakan individu tersebut) dan dikomunikasikan dalam hubungan interpersonal (Stuard and Sundeen. rancangan dan waktu penelitian. gangguan cemas menyeluruh (Generalized anxiety disorder/GAD). 2006). Kecemasan merupakan komponen utama bagi hampir semua gangguan kejiwaan (psychiatric disorder). Elika dengan judul penelitian " Hubungan peran perawat dan dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD M.

letih. Sosial Kecemasan yang timbul akibat hubungan interpersonal dimana individu menerima suatu keadan yang menurutnya tidak disukai oleh orang lain yang berusaha memberikan penilaian atas opininya (Sadock dan Kaplan. Reaksi pergeseran yang dapat mengakibatkan reaksi fobia. 6. Tingkat pendidikan Status pendidikan yang rendah pada seseorang akan menyebabkan orang tersebut mudah mengalami kecemasan. Selain itu faktor yang mempengaruhi tingkat kecemasan menurut Soewandi (1998) antara lain : 1. 4. 3. lesu) lebih mudah megalami kecemasan. Lingkungan Lingkungan sangat berpengaruh pada kecemasan seseorang. 5. Potensi stressor Suatu keadaan yang menyebabkan perubahan dalam individu. Sosial budaya Individu yang tidak bersosialisasi dengan masyarakat lebih mudah mengalami kecemasan. dimana lingkungan yang tidak kondusif berpotensial besar terhadap kecemasan yang dialami . 3. Kecemasan bisa terjadi pada individu yang tingkat pendidikannya rendah disebabkan karena kurangnya informasi yang didapat individu tersebut. lebih mudah mengalami kecemasan. Ekonomi Seseorang yang memiliki pendapatan rendah lebih mudah mengalami kecemasan. dibandingkan dengan orang yang memiliki pendapatan tinggi. 3.pembelaan ego yang tidak sepenuhnya berhasil juga dapat menimbulkan kecemasan yang mengambang. 1998). Kecemasan merupakan peringatan yang bersifat subyektif atas adanya bahaya yang tidak dikenali sumbernya. penyakit. 2. sakit. operasi. Disamping itu kelelahan fisik (lemah. sehingga individu harus melakukan penyesuaian diri (adaptasi). Keadaan fisik Seseorang yang mengalami gangguan fisik seperti cacat badan.

mengetuk jari-jari. Tingkat kecemasan 1. menyebutkan gejala klinis dari cemas antara lain : Cemas. Menurut Dadang Hawari (2006). mudah tersinggung. 4.hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada dan meningkatkan lahan persepsinya. 8. dan banyak orang. tidak tenang. 2. nyeri pada gastro intestinal. Reaksi fisik terhadap kecemasan pada masingmasing individu berbeda (Setyonegoro. gangguan muskulo skeletal. Gejala – gejala Kecemasan Keadaan cemas mempunyai gejala-gejala somatik atau fisik dan gejala psikologis atau mental. sulit tidur. gangguan perkemihan. khawatir. Ansietas dapat memotivasi belajar dan menghasilkan pertumbuhan. nadi cepat. firasat buruk. 5. gelisah. gangguan kulit. hiperventilasi. berhenti berbicara dan terjadi perubahan suara. muntah-muntah. 2. 7. Gejala-gejala tersebut antara lain: Iritabilitas. hiperaktifitas. sering buang air besar atau kecil. 6. energi menurun. Ansietas Sedang (Tingkat II) . Jenis kelamin Kecemasan lebih banyak dialami wanita. takut akan fikirannya sendiri. Berhubungan dengan ketegangan yang dialami dalam kehidupan sehari. 4. Ansietas Ringan (Tingkat I) 1. gagap. 3. berkeringat. mimpi yang menegangkan Gangguan konsentrasi dan daya ingat Keluhan somatik misalnya rasa sakit pada otot tulang. gangguan pencernaan. mulut kering. 1994). biasanya kecemasan sering dialami oleh usia muda. takut pada keramaian. kebingungan. Umur Umur ikut menentukan kecemasan. mudah terkejut. Takut sendiri. Merasa tegang. 5. sakit kepala dan lain sebagainya. sesak nafas. berdebar-debar. begitu juga sebaliknya jika lingkungannya kondusif mempercepat penyembuhan seseorang. Gangguan pola tidur. dibandingkan dengan pria. pendengaran berdenging (tinnitus).seseorang.

Teknik Mengatasi ansietas Teknik kognitif dapat membantu pasien ansietas dan tidak tergantung pada wawasan atau pemahaman yang kompleks dari kondisi psikologi diri sendiri. Ansietas terhadap sistem diri seseorang dapat membahayakan identitas. Percaya diri 2. Ansietas Berat (Tingkat III) Sangat mengurangi lahan persepsi seseorang. sehingga seseorang mengalami perhatian yang selektif namun dapat melakukan sesuatu yang lebih terarah. Orang tersebut banyak pengarahan untuk dapat memusatkan pada suatu area lain. harga diri dan fungsi sosial (Brunner dan suddarth. yaitu: 1. Semua perilaku ditujukan untuk mengurangi ketegangan. 3. Dialog Eksternal . menurunnya kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain. Stressor Pencetus Stressor pencetus berasal dari sumber internal atau eksternal. Sterssor dapat di kelompokkan dalam dua kategori. 4. Ansietas terhadap integritas seorang meliputi ketidakmampuan fisiologis yang akan datang atau menurunnya kapasitas untuk melakukan aktivitas sehari-hari. 1. Dialog Internal Membantu pasien mengembangkan pesan dialog sendiri yang meningkatkan : 1. Kemampuan untuk mengatasi 4. 2. 7. 1997). Panik melibatkan disorganisasi kepribadian. Seseorang cenderung untuk memusatkan pada sesuatu yang terinci dan spesifik dan tidak berfikir tentang hal lain. 6. 1997). Optimisme 5.Memungkinkan seseorang untuk memusatkan pada hal yang penting dan mengesampingkan yang lain. persepsi yang menyimpang dan kehilangan pemikiran yang rasional tingkat ansietas ini tidak sejalan dengan kehidupan dan jika berlangsung terus dalam waktu yang lama dapat terjadi kelelahan yang sangat bahkan kematian (Hudak dan Gallo. Orang yang mengalami panik tidak mampu melakukan sesuatu walaupun dengan pengarahan. Perasaan pengendalian 3. Tingkat Panik Berhubungan dengan terperangah. ketakutan dan terror-terror. dengan panik terjadi peningkatan aktivitas motorik. Perincian terpecah dari proporsinya karena mengalami kehilangan kendali. Harapan 2.

Tipe . 1997). Dimana mekanisme koping setiap orang berbeda-beda. merokok dan minum-minum (Brunner dan Suddarth. Takut terhadap anestesi. 3. 1997). Perawatan pre operasi merupakan bagian dari perawat perioperatif yang di mulai dari kapan di putuskan tindakan operasi dibuat dan diakhiri dengan pemindahan klien ke meja ruang operasi. Khayalan Mental dan Relaksasi Mendorong pasien untuk mengkhayalkan tempat yang indah atau menjadi bagian dari pengalaman yang menyenangkan sehingga dapat membantu pasien menurunkan ketegangan (Abraham dkk. menyiapkan klien untuk diberikan anestesi dan pembedahan bagaimanapun kegiatan perawatan dibatasi oleh pengkajian pre operasi dalam ruangan atau selama operasi. Hal ini menurunkan rasa ketidak berdayaan dan ansietas mereka. Pengertian Pasien Pre operasi dapat mengalami berbagai ketakutan. melakukan kegiatan fisik. Tujuan Prosedur pembedahan .tipe tingkah laku seperti mennangis. 8. Alat ukur kecemasan untuk mengetahui sejauh mana derajat kecemasan apakah ringan atau berat dengan menggunakan alat ukur (instrument) yang dikenal denga nama Hamilton Rating Scale or Anxiaty (HRS-A) dengan skor ringan jika ≤ 28 dan berat jika ≥ 28. tertawa. Pre Operasi 1. takut terhadap nyeri atau kematian. interview preoperatif. tidur. takut tentang deformitas dan ancaman lain terhadap citra tubuh dapat menyebabkan ketidaktenangan atau ansietas (Brunner dan Suddarth.Dengan dialog eksternal kebutuhan pasien untuk berbicara cara akurat tentang dirinya dengan orang lain. 9. 1997). 10. takut tentang ketidaktahuan. Mekanisme Koping Mekanisme koping adalah suatu bentuk pertahanan yang di gunakan oleh seseorang yang sedang berada pada suatu bentuk kecemasan untuk menghindar atau mengurangi respon yang ditimbulkan oleh kecemasan tersebut. Lingkup kegiatan perawatan pre operasi termasuk dalam menetapkan batas pengkajian klien setting secara klinis atau dalam ruangan. 2.

Salah satu caranya yaitu dengan penyuluhan pada keluarga maupun pasien supaya mereka mengerti apa yang akan terjadi. perawatan menjelang operasi yang dianggap sebagai hal baru. 2006). di kelompokkan menjadi dua bagian yaitu : 1. Pembedahan Mayor (pembedahan resiko tinggi ) 2. tapi kadang-kadang dapat terlihat dalam bentuk lain. obat-obatan dan perawatan tindakan. Pasien yang gelisah dan takut biasanya sering bertanya berulang-ulang walaupun pertanyaan tersebut telah dijawab. Pembedahan Minor (pembedahan resiko kecil ) 4. Pengkajian psikologi pada pasien atau keluarga harus di lakukan supaya hal tersebut tidak menghambat rencana operasi. tetapi berusaha mengalihkan perhatiannya kepada buku atau sebaliknya ia bergerak terus-menerus dan tidak mau tidur (Kaplan. 1997). Pasien biasanya tidak mau bicara dan memperhatikan keadaan sekitarnya.Sebagai salah satu bentuk pengobatan dan penatalaksanaan berbagai macam penyakit untuk mempercepat proses penyembuhan (Perry Potter. stressor tersebut merupakan faktor timbulnya kecemasan yang mengakibatkan terancamnya integritas seseorang meliputi ketidakmampuan fisiologis atau menurunkan kapasitas untuk melakukan hidup sehari-hari (Brunner dan suddarth. Mengetahui apa yang di perkirakan akan membantu pasien mengantisipasi reaksi-reaksi tersebut dan dengan demikian mencapai tingkat relaksasi yang lebih tinggi daripada yang di perkirakan sebaliknya (Brunner dan suddarth. Jenis-jenis operasi Menurut derajat kepentingan Perry dan potter (2006). Persiapan psikologis pasien pre operasi Pasien yang akan di operasi biasanya akan mengalami kegelisahan dan rasa takut. Perasaan gelisah dan takut kadang-kadang tidak tampak jelas. 3. Khawatir meninggal di meja operasi dan meninggalkan anakanak ditinggalkan seandainya ia meninggal saat atau setelah operasi. kurangnya dukungan keluarga terhadap pasien pre operasi. . 1997). Penyuluhan tersebut harus melebihi deskripsi tentang berbagai langkah prosedur dan harus mencakup tentang sensasi yang akan di alami. Kecemasan pada pasien pre operasi Kecemasan pada pasien pre operasi adalah kecemasan yang di akibatkan sterssor tindakan operasi. 1994). 5. Sebagai contoh. memberitahu pasien hanya medikasi pre operasi yang akan membuatnya rileks sebelum operasi tidaklah selektif bila menyebutkan juga bahwa medikasi tersebut dapat mengakibatkan kepala terasa melayang dan mengantuk.

Pendidikan formal : Pendidikan formal merupakan usaha-usaha dalam pendidikan dasar dapat memberikan sumbangan dalam jangka panjang. dan kemampuan yang dikembangkan menjadi: 2. sekolah tinggi dan universitas yang termasuk perguruan tinggi D1. dan tinggi. pengendalian diri. Menurut Ahmadi. menengah. seluruh komponen bangsa wajib mencerdaskan kehidupan bangsa yang merupakan salah satu tujuan negara indonesia.11. bukan saja bagi produktivitas. Pendidikan 1. Pendidikan Tinggi: satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi yang dapat berbentuk akademik. tujuan yang akan dicapai. Pengertian Pendidikan adalah suatu usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. 1. Sedangkan menurut Diknas (2003). Pendidikan Non-Formal : . menyatakan bahwa jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik. 3. 4. diselenggarakan di SLTA atau sederajat. kepribadian. Pendidikan merupakan usaha agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran atau cara lain yang dikenal dan diakui oleh masyarakat. masyarakat. D2. Untuk itu. S1. kecerdasan akhlak mulia. dan S2. Pendidikan Dasar : warga Negara yang berumur 6 atau 7 tahun berkewajiban mengikuti pendidikan dasar atau sederajat selama 9 tahun yaitu SD dan SLTP. politeknik. bangsa dan negara. 2. (Diknas. Manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya. (1997) janis pendidikan terbagi atas 3 yaitu : 1. akan tetapi juga bagi tujuan terakhir pembangunan seperti kualitas keluarga dan kehidupan masyarakat. Jenjang Pendidikan Menurut Diknas (2003). serta memperkuat kemasyarakatan. D4. pendidikan formal yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar. dan ayat (3) menegaskan bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan Undang-Undang. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. Pendidikan Menengah : pendidikan menengah yang lamanya 3 tahun sesudah pendidikan dasar. D3. 2003). 5. UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia menyelenggarakan Tahun 1945 Pasal 31 ayat (1) menyebutkan bahwa setiap warga Negara berhak mendapat pendidikan.

Pendidikan non-Formal adalah pendidikan yang dilakukan secara teratur, dengan sadar dilakukan, tapi tidak terlalu ketat mengikuti peraturan-peraturan yang tepat, seperti pada pendidikan formal di sekolah. Karena pendidikan non-formal pada umumnya dilaksanakan tidak dalam lingkungan fisik sekolah maka sasaran pokok adalah anggota-anggota masyarakat. Diknas (2003), menyatakan pendidikan non-formal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang.
3. Pendidikan informal :

Pendidikan informal yakni pendidikan yang diperoleh seorang berdasarkan pengalaman dalam hidup sehari-hari dengan sadar atau tidak sadar, sejak seorang lahir sampai akhir hidupnya, di dalam lingkungan keluarga, masyarakat atau dalam lingkungan pekerjaan sehari-hari. Diknas (2003), menyatakan bahwa pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan. Pendidikan dapat mempengaruhi seorang termasuk juga prilaku seseorang akan kepatuhannya, terutama dalam motivasi untuk berperan serta dalam pembangunan kesehatan. Makin tinggi pendidikan seseorang, maka makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pngetahuan yang dimilikinya. Sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap perubahan-perubahan hidup sehat (Notoatmojo, 2002).

12. Hubungan pendidikan dengan kecemasan

Pendidikan merupakan salah satu faktor sosial dari kecemasan pada pasien pre operasi. Pada pasien yang pendidikannya hanya sebatas pendidikan dasar atau tidak pernah sekolah sangat susah dalam pemberian informasi. Setiap perawat yang menjelaskan pengetahuan tentang kesehatan pasien tidak mengerti. Berdasarkan penelitian yang lakukan di Kabupaten Demak menghasilkan informasi bahwa pendidikan masyarakat disana masih relatif rendah, sehingga tenaga kesehatan disana perlu melakukan konseling kepada ibu hamil primigravida sebagai upaya mengantisipasi terjadinya komplikasi dan kecemasan. Hasil penelitian Lesti, (2009). P < 0,05 menunjukkan bahwa hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara pendidikan pasien dengan tingkat kecemasan.

13. Peran Perawat 1. Definisi

Peran adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap seseorang sesuai kedudukannya dalam suatu system. Peran dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari dalam maupun dari luar dan bersifat stabil. Peran adalah bentuk dari perilaku yang diharapkan dari seesorang pada situasisosial tertentu. (Kozier Barbara, 1995:21). Peran Perawat (Ali Zaidin, 2001) meliputi : (a) Pelaksana pelayanan keperawatan, (b)Pengelola pelayanan keperawatan dan institusi Pendidikan, (c) Pendidik dalam keperawatan, (d)Peneliti dan pengembang keperawatan Perawat profesional baik dalam lingkungan perawatan kesehatan institusional maupun komunitas mengemban tiga peran : peran pelaksana, peran kepemimpinan dan peran peneliti. Meski tiap peran memiliki tanggung jawab khusus, peran-peran ini saling berhubungan satu dengan yang lain dan dapat ditemui pada semua posisi keperawatan. Peran ini dirancang untuk memenuhi perawatan kesehatan saat ini dan kebutuhan keperawatan dari konsumen yang merupakan penerima pelayanan keperawatan.
2. Peran Pelaksana

Peran pelaksana dari perawat mencakup tindakan-tindakan yang dilakukan oleh perawat ketiaka ia mengemban tanggung jawab yang ditujakan untuk memenuhi kebutuhan perawatan kesehatan dan kebutuhan keperawatan pasien secara individu, keluarga mereka dan orang terdekat pasien. Peran ini merupakan peran yang dominan dari perawat dalam lingkungan pelayanan kesehatan primer, sekunder, dan tersier dan dalam keperawatan kesehatan rumah dan komunitas. Peran ini merupakan peran yang hanya dapat dicapai melalui proses keperawatan, yang merupakan dasar untuk semua praktik keperawatan.
3. Peran Kepemimpinan

Peran Kepemimpinan dari perawat yang secara tradisional dikerap sebagai peran spesialisasi yang diembankannya oleh perawat yang mempunyai gelar yang menunjukkan kepemimpinan dan mereka yang memimpin sekelompok besar perawat atau profesional perawatan kesehatan yang berhubungan.Definisi kepemimpinan keperawatan yang dirumuskan oleh memberi cakupan yang luas pada konsep tersebut dan mengidentifikasi kepemimpinan sebagai peran yang melekat didalam semua posisi keperawatan. Peran kepemimpinan dari perawat mencakup tindakan-tindakan yang dilaksanakan oleh perawat saat ini ia mengemban tanggung jawab untuk mempengaruhi tindakan orang lain yang ditujukan untuk menentukan dan mencapai tujuan.
4. Peran Peneliti

Peran peneliti dari perawat pada mulanya dianggap hanya dilakukan oleh para akademikus, perawat ilmuwan dan mahasiswa keperawatan di tingkat sarjana. Kini, partisipasi dalam proses penelitian dianggap sebagai tanggung jawab dari perawat dalam praktik klinis. Tugas utama dari penelitian keperawatan adalah untuk memberikan konstribusi pada dasar ilmiah praktik keperawatan. Kajian dibutuhkan untuk menentukan keefektifan intervensi dan asuhan keperawatan. Melalui upaya penelitian semacam ini, ilmu keperawatan akan berkembang dan rasional yang didasarkan secara ilmiah untuk membuat perubahan dalam praktik keperawatan akan tercipta (Brunner dan Suddarth, 2001). Peran Perawat menurut Para Sosiolog
5. Peran terapeutik : kegiatan yang ditujukan langsung pada pencegahan dan pengobatan penyakit. 6. Expressive/mother substitute role, yaitu kegiatan yang bersifat langsung dalam menciptakan lingkungan dimana pasien merasa aman, diterima dilindungi, dirawat dan didukung oleh perawat. Menurut Johnson dan Martin, peran ini bertujuan untuk menghilangkan ketegangan dalam kelompok pelayanan (dokter, perawat, pasien, dan lain-lain)

Menurut konsorsium ilmu kesehatan (1989) dalam Ali Haidin (2001) peran perawat terdiri dari :
7. Sebagai pemberi asuhan keperawatan

Peran ini dapat dilakukan perawat dengan memperhatikan keadaan kebutuhan dasar manusia yang dibutuhkan melalui pemberian pelayanan keperawatan. Pemberian asuhan keperawatan ini dilakukan dari yang sederhana sampai dengan kompleks.
8. Sebagai advokat klien

Peran ini dilakukan perawat dalam membantu klien dan keluaga dalam menginterpretasikan berbagai informasi dari pemberi pelayanan khususnya dalam pengambilan persetujuan atas tindakan keperawatan. Perawat juga berperan dalam mempertahankan dan melindungi hak-hak pasien meliputi hak atas pelayanan sebaik-baiknya, hak atas informasi tentang penyakitnya, hak atas privasi, hak untuk menentukan nasibnya sendiri, hak menerima ganti rugi akibat kelalaian.
9. Sebagai edukator

Peran ini dilakukan dengan membantu klien dalam meningkatkan tingkat pengetahuan kesehatan, gejala penyakit bahkan tindakan yang diberikan sehingga terjadi perubahan perilaku dari klien setelah dilakukan pendidikan kesehatan.

menyusun. (7) Memberikan pengarahan dan penyuluhan untuk meningkatkan kesehatan fisik dan mental. kerjasama. kerjasama. 15. merencanakan serta mengorganisasi pelayanan kesehatan dari tim kesehatan sehingga pemberi pelayanan kesehatan dapat terarah serta sesuai dengan kebutuhan klien.10. perubahan yang sistematis dan terarah sesuai dengan metode pemberian pelayanan keperawatan. perubahan yang sistematis dan terarah sesuai dengan metode pemberian pelayanan keperawatan 13. (2) Observasi gejala dan respons pasien yang berhubungan dengan penyakit dan penyebabnya. 11. dan memperbaiki rencana keperawatan secara terus menerus berdasarkan pada kondisi dan kemampuan pasien. Sebagai pembaharu Perawat mengadakan perencanaan. Sebagai konsultan Perawat berperan sebagai tempat konsultasi dengan mengadakan perencanaan. 12. Tujuh Fungsi Perawat Kozier Barbara. fisioterapi. 14. ahli gizi dan lain-lain dengan berupaya mengidentifikasi pelayanan keperawatan yang diperlukan. (4) Supervisi semua pihak yang ikut terlibat dalam perawatan pasien. Fungsi Perawat Fungsi adalah pekerjaan yang harus dilaksanakan sesuai dengan perannya. (2002) yaitu. (3) Memantau pasien. (6) Melaksanakan prosedur dan teknik keperawatan. (5) Mencatat dan melaporkan keadaan pasien. Hubungan peran perawat dengan kecemasan Orang yang sakit sangat memerlukan seseorang yang bisa mengobati penyakitnya tersebut dan orang sehat memerlukan seseorang yang bisa mengarahkan agar bisa . (1) Melaksanakan instruksi dokter (fungsi dependen). Sebagai koordinator Peran ini dilaksanakan dengan mengarahkan. Sebagai kolaborator Peran ini dilakukan karena perawat bekerja melalui tim kesehatan yang terdiri dari dokter.

Secara unum perawat mempunyai peran terapeutik yaitu kegiatan yang ditujukan langsung pada pencegahan dan pengobatan penyakit. Seseorang tersebut ialah perawat yang mempunyai banyak peran untuk melaksanakan praktek keperawatan. citra diri.Yunus Bengkulu Tahun 2010.M. BAB III METODE PENELITIAN 1. Dan hasil penelitian yang dilakukan Elika tahun 2009. 2. Proses pembedahan sering menimbulkan stress psikologi yang tinggi.mencegah dan terhindar dari berbagai penyakit. terdapat 37.M. Ada hubungan antara pendidikan pasien dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. R. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Makmur et. dengan nilai p < 0. Soerharto tahun 2008. Klien merasa kurang dapat mengontrol situasi mereka sendiri untuk memahami dampak pembedahan pada kesehatan emosional klien tersebut. konsep diri. Karena masih kurangnya pengetahuan pasien tentang penyakit yang dideritanya.Yunus Bengkulu Tahun 2010. Hipotesa peneliti 1. al (2007) dan penelitian rumah Sakit Ortopedi Prof Dr.5% yang mengalami kecemasan ringan. Perawat harus dapat mengkaji perasaan klien tentang pembedahan. 2006). Begitu pula dengan Pembedahan.05 yang mengalami kecemasan ringan sehingga dapat disimpulkan ada hubungan peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi. sehingga kekambuhan sering terjadi dan bahkan bertambah parah. Ada hubungan antara peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. Klien merasa cemas tentang pembedahan. sumber koping klien serta asuhan keperawatan yang terbaik (Perry Potter. Desain penelitian . 16.

Desain penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. 2010).1 Desain Penelitian B. dimana variabel independen dan variabel dependen di kumpulkan pada saat bersamaan (Notoadmodjo. maka Variabel Penelitian dapat digambarkan sebagai berikut : Variabel Variabel Dependen Independen Bagan 3. Tingkat kecemasan (Dependen) Suatu kondisi yang menyangkut kekhawatiran seseorang pada masalah yang terjadi. Kuisioner Wawancara (14 komponen pertanyaan HRS-A) dan observasi 1= Tidak Berat jika.2 Variabel Penelitian C. Variabel Penelitian Sesuai dengan desain penelitian di atas. Bagan 3. < 28 ≥ 28 Ordinal Skala Ukur . Definisi Operasional Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Cara ukur Hasil Ukur 0=Cemas Berat jika.

Sampel Sampel adalah objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi ( Notoatmojo. 2010). Populasi dan Sampel 1.825 =3. 2010).96)².0=Rendah ≤ SMA Pendidikan (Independen) Pendidikan Formal yang ditempuh pasien Kuisioner Dengan cara mengisi (1 pertanyaan kuisioner ) 1= Tinggi >SMA 0= kurang baik jika skor ≤ 75% Dengan cara mengisi kuisioner 1= baik. Kuisioner (15 pertanyaan) 1.P(1-P) = (1.786 orang. berdasarkan data jumlah pasien pada tahun 2009 adalah 1. 0. 0. (Noto atmojo. Dalam penelitian ini teknik yang digunakan adalah teknik Simple Random sampling n = Z²1-α/2.825 . Populasi Populasi adalah Keseluruhan dari objek penelitian yang di teliti.0.175. Populasi dalam penelitian ini adalah kelompok pasien pre operasi yang ingin menjalankan operasi di ruang Seruni dari bulan januari sampai bulan desember tahun 2010. 2.84.175. 0. jika skor ≥ 75% Ordinal Ordinal Peran Perawat (Independent) Tindakan yang dilakukan oleh perawat dalam proses penyembuhan.

kadang (KD). Pengumpulan. kuisioner pendidikan dan kuisioner peran perawat dengan skala selalu (SL). D. dengan penilaian tidak berat jika skor < 28 dan berat jika skor ≥ 28.5% D = Derajat akurasi (presisi) yang diinginkan 0.Yunus Bengkulu pada bulan Desember 2010 2. Data primer yaitu data yang didapat langsung dari responden yaitu pasien dalam perawatan pre operasi di Ruang Seruni RSUD M. 2008) Keterangan : n = Sampel Z(1-α/2) = Nilai Z pada derajat kemaknaan (α 5%=1. Tempat Penelitian Penelitian dilakukan di Ruang Seruni RSUD. Sedangkan data Sekunder adalah data yang didapatkan secara tidak langsung dari responden. E. Pengumpulan data Data dalam penelitian ini berupa data primer dan sekunder. Yunus Bengkulu dengan cara wawancara dan observasi dengan skala HARS. Pengolahan Dan Analisa Data 1. jarang (JR).96) P = Proporsi suatu kasus yaitu proporsi kecemasan 0. sering (SR).175 =17. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Yunus Bengkulu yang sudah diberi penjelasan tentang pengisian kuisoner. Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan Desember sampai dengan februari 2010. yang nantinya akan diisi oleh responden dan dibantu oleh satu orang perawat yang bertugas di ruang Seruni RSUD M.1.= 55 responden (Aziz Alimul. Jumlah sampel yang didapat adalah 55 responden. tidak pernah (TP). untuk mengukur tingkat kecemasan. M. tetapi didapat dengan metode pencarian data rumah sakit dalam bentuk .

F.Rekam Medik misalnya: nama. 1. Selanjutnya dilakukan transformasi data untuk menggambarkan variabel bebas dan variabel terikat. Coding (Pengkodean) Jawaban-jawaban atau hasil yang ada kemudian di klasifikasikan dalam bentuk yang lebih ringkas dengan menggunakan kode-kode. tanggal keluar rumah sakit dan lain-lain. Analisa Data 1. Entry Data (Pemasukan Data) Data yang telah ada dicoding dan hasil scoring kemudian diolah kedalam komputer dengan menggunakan program SPSS For Window. 2. Analisa Univariat . umur. Cleaning (Pembersihan Data) Sebelum melakukan analisa data dengan dilakukan pengecekan kembali terhadap data yang sudah masuk apakah data yang dimasukkan sudah benar dan tidak ada lagi kesalahan.. tanggal masuk rumah sakit. Editing dilakukan langsung pada saat responden mengembalikan kuesioner yang sudah diisi dengan harapan apabila ada kekurangan data atau kesalahan dalam pengisian dapat segera diperbaiki. yaitu : 1. Kemudian dilakukan scoring terhadap pertanyaan yang berhubungan dengan masing-masing variabel dan diteruskan dengan pengujian kebenaran data dengan menggunakan uji Chi-Square dengan signifikan α = 5 %. pekerjaan. alamat. G. Editing Editing data adalah meneliti kembali apakah isian pada kuisioner yang dilakukan responden sudah cukup dan benar sesuai dengan petunjuk yang ada. Pengolahan Data Data yang telah diperoleh atau terkumpul diolah dan dianalisis dengan program komputer melalui beberapa tahapan. jumlah pasien yang melakukan operasi. 3.

Untuk melihat gambaran distribusi frekuensi dari masing-masing variabel penelitian baik independent maupun dependent. . Rumus yang digunakan, yaitu : Keterangan : P F = Persentase yang ingin dicapai = Jawaban dalam setiap kategori

N = Jumlah seluruh responden (Budiarto, 2001) 2. Analisa Bivariat Analisa bivariat adalah analisa yang digunakan untuk melihat hubungan antara variabel bebas (pendidikan pasien dan peran perawat) dengan variabel terikat (kecemasan pada pasien pre operasi). Untuk melihat hubungan antara dua variabel kategorik maka digunakan Uji X² (Chi-Square) Ha diterima jika nilai p ≤ 0,05 Ha ditolak jika nilai p > 0,05 (Budiarto, 2001)
http://yulnico.blogspot.com/2011/05/hubungan-pendidikan-dan-peran-perawat.html 555555555

HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN KELUARGA DENGAN TINGKAT KECEMASAN PASIEN PRE OPERASI DI BANGSAL MELATI RSD PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL YOGYAKARTA
3 Mei 2009

DEWI WIJAYANTI A. Latar Belakang Masalah

Rumah sakit adalah salah satu organisasi kesehatan yang dengan segala fasilitas kesehatannya diharapkan dapat membantu pasien dalam meningkatkan kesehatan dan mencapai kesembuhan baik fisik, psikis, maupun sosial. Tujuan kesehatan tidak hanya memulihkan kesehatan pasien secara fisik tetapi sedapat mungkin diupayakan menjaga kondisi emosi dan jasmani pasien menjadi nyaman, namun kemajuan yang pesat dalam teknologi medis belum diiringi dengan kemajuan yang sama pada aspek-aspek kemanusiaan dari perawatan pasien. Proses perawatan di rumah sakit seringkali mengabaikan aspek-aspek psikologis sehingga menimbulkan berbagai permasalahan pisikologis bagi pasien yang salah satunya adalah kecemasan. Kecemasan merupakan perasaan yang paling umum dialami oleh pasien yang dirawat di rumah sakit, kecemasan yang sering terjadi adalah apabila pasien yang dirawat di rumah sakit harus mengalami proses pembedahan. Pembahasan tentang reaksi-reaksi pasien terhadap pembedahan sebagian besar berfokus pada persiapan pembedahan dan proses penyembuhan. Pembedahan adalah tindakan pengobatan yang banyak menimbulkan kecemasan, sampai saat ini sebagian besar orang menganggap bahwa semua pembedahan yang dilakukan adalah pembedahan besar. Tindakan pembedahan merupakan ancaman potensial aktual terhadap integritas seseorang yang dapat membangkitkan reaksi stress fisiologis maupun psikologis (Barbara C.Long, 1989) Pandangan setiap orang dalam menghadapi pembedahan berbeda, sehingga respon pun berbeda. Setiap menghadapi pembedahan selalu menimbulkan ketakutan dan kecemasan pada pasien, kecemasan sering muncul pada usia sebelum 30 tahun (Stuard and Sundeen, 1998). Seseorang yang sangat cemas sehingga tidak bisa berbicara dan mencoba menyesuaikan diri dengan kecemasan sebelum operasi, seringkali menjadi hambatan pada paska operasi, pasien menjadi cepat marah, bingung, lebih mudah tersinggung akibat reaksi psikis, dibandingkan dengan orang yang cemas ringan (Barbara C. Long, 1996). Pasien pre operasi sangat membutuhkan dukungan keluarga, pasien dapat mengekspresikan ketakutan dan kecemasannya pada keluarga dengan mengurangi kecemasan dan ketakutan yang berlebihan dan tidak beralasan, akan mempersiapkan pasien secara emosional. Selain itu, mempersiapkan keluarga terhadap kejadian yang akan dialami pasien dan diharapkan keluarga banyak memberi dukungan pada pasien dalam menghadapi operasi (Anderson dan Masur 1989).
1. Dukungan keluarga sebagai salah satu sumber dukungan bagi anggota keluarga yang sedang sakit. Dari hasil observasi atau studi pendahuluan selama satu minggu, dengan teknik wawancara di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta, pada tanggal 15 Februari tahun 2008, didapatkan data bahwa dari 15 pasien yang mau melakukan operasi, 9 orang diantaranya merasa cemas, dengan data sebagai berikut:

1. Satu pasien mengatakan cemas dikarenakan tidak didampingi oleh kedua orang tua dan suami yang merupakan sumber dukungan, kedua orang tuanya berada diluar kota sedang suami sibuk mencari surat keringanan biaya operasi, tanda-tanda kecemasan yang dimiliki adalah pasien lebih banyak berdiam diri dan murung. 2. Tiga pasien mengatakan cemas karena saat di rumah sakit tidak didampingi oleh keluarga namun hanya didampingi oleh suami, dan tanda-tanda kecemasan yang dimiliki antara lain nafsu makan berkurang,sering bangun saat malam hari, muka terlihat puat dan murung. 3. Lima pasien mengatakan cemas dikarenakan tidak ada dukungan dari anak-anak dan sanak saudara, tanda-tanda kecemasan yang dimilliki adalah jarang berkomunikasi, sering menanyakan keluarga, dan sulit untuk memulai tidur. 4. Enam pasien mengatakan tidak cemas dikaranakan mendapatkan dukungan dari keluarga, yaitu anak, istri, orang tua yang selalu mendampingi dan sanak keluarga yang bergantian mengunjungi. B. Rumusan Masalah

Dari berbagai uraian latar belakang tersebut diatas maka akan timbul masalah sebagai berikut “Adakah Hubungan Antara Dukungan Keluarga Dengan Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi Di Bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta?”
C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta.
1. Tujuan Khusus

a Diketahuinya dukungan keluarga yang diberikan pada pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. b Diketahuinya tingkat kecemasan pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta.
D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Perawat Di RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta

Mengoptimalkan fungsi perawat dalam penatalaksanan asuhan keperawatan kepada pasien yang mengalami kecemasan, tanpa mengabaikan aspek-aspek psikologis, sehingga profesionalisme perawat dalam bekerja dapat ditingkatkan lagi dan operasi berjalan dengan lancar.
1. Bagi RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta

Dapat dipakai sebagai masukkan untuk meningkatkan pelayanan

E. dengan uji validitas menggunakan product moment dari pearson. Penelitian yang sama sepengetahuan peneliti belum pernah dilakukan oleh peneliti yang lain. Dukungan keluarga adalah variable bebas 3. Bagi Peneliti 1.1. pada bulan Januari sampai Maret 2004. Tempat penelitian di bangsal Ibnu Sina RSU PKU Muhammadiyah. Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. Memberikan masukan bahwa dukungan keluarga sangat dibutuhkan oleh pasien 3. Penelitian yang dilakukan oleh Rondhianto (2004) dengan judul “Hubungan antara dukungan keluarga dengan kecemasan perpisahan akibat hospitalisasi pada pasien anak usia pra sekolah di bangsal anak RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Memberikan masukan bagi peneliti bahwasanya dukungan keluarga sangat diperlukan bagi pasien. namun ada beberapa penelitian yang mirip dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti antara lain : 1. Tingkat kecemasan pada pasien pre operasi adalah variabel terikat 1. Responden Pasien dewasa yang berumur 21– 40 tahun yang menjalani rawat inap dan akan melakukan operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. dengan pendekatan cross sectional. 1. 1. Menambah ilmu pengetahuan dan wawasan 2. Memberikan rasa nyaman pada pasien sehingga pasien tidak cemas pada proses operasi 2. Sampel adalah orang tua dari anak pra sekolah yang dirawat di bangsal Ibnu Sina RSU PKU Muhammadiyah. Alat ukur untuk pengumpulan data adalah daftar pertanyaan dalam bentuk kuesioner.” Menggunakan metode penelitian non eksperimental. Ruang Lingkup Masalah 1. Variabel Yang Diteliti 2. Waktu Penelitian ini dilakukan pada bulan April sampai dengan Mei tahun 2008. Bagi Pasien Dan Keluarga Di RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta 1. Keaslian Penelitian Penelitian ini dititik beratkan pada hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. 1. Hasil penelitian adalah ada hubungan .

peneliti meneliti tentang “Hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. http://skripsistikes. Penelitian yang dilakukan oleh Efrita Herliyati (2005) dengan judul “ Hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kooperatif anak usia pra sekolah saat pemasangan infus di INSKA RS Dr. Sardjito. Penelitian yang dilakukan oleh peneliti memiliki perbedaan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rondhianto (2004) diantaranya. Menggunakan kuesioner sebagai alat ukur yang bersifat tertutup dan langsung dalam bentuk check list.” Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental dengan pendekatan cross sectional.wordpress. Sampel yang dipakai adalah pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. peneliti meneliti tentang “Hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. Peneliti melakukan penelitian yang berjudul“ Hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. untuk mengukur tingkat kecemasan dan rating-scale (skala bertingkat) untuk mengukur dukungan keluarga pada pasien pre operasi. Tempat penelitian di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. 1. Jenis penelitian yang telah dilakukan tersebut bersifat penelitian deskriptif kualitatif dengan penggunaan wawancara mendalam pada responden dalam metode pengumpulan datanya.” Instrumen penelitian menggunakan angket sedangkan uji validitas dan reabilitas mengunakan product moment dari pearson. Metode yang digunakan adalah quota sampel. Sardjito Yogyakarta.dukungan keluarga dengan kecemasan pada anak akibat hospitalisasi pada pasien anak usia pra sekolah di bangsal Ibnu Sina RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta. pada bulan April sampai Mei tahun 2008. Hasil penelitian yang dilakukan bahwa tidak ada hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kooperatif anak usia pra sekolah saat pelaksanaan pemasangan infus. sampel yang diteliti adalah pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. Menggunakan metode quota sampel. Penelitian yang dilakukan oleh Liliyanti (2000) dengan judul “ Peran keluarga dalam proses hospitalisasi di lakukan di bangsal Bedah RS Dr. Yogyakarta”. sampel adalah pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. alat ukur penelitian menggunakan kuesioner yang diuji validitas dan reabilitas menggunakan product moment dan alpha serta kr 20. dengan uji validitas menggunakan product moment dan reliabilitas menggunakan alpha dan kr 20. Perbedaan dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah. 1. alat ukur penelitian menggunakan kuesioner. Jenis penelitian non eksperimental dengan pendekatan cross sectional.com/2009/05/03/ikpiii18/ 6666666666 .” yang merupakan penelitian non eksperimental dengan pendekatan cross sectional.

Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Kecemasan Dan Pengetahuan Pada Pasien Preoperasi Fraktur Di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten
ABSTRAK Burhanuddin, S541002006. Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Kecemasan Dan Pengetahuan Pada Pasien Preoperasi Fraktur Di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten. Komisi Pembimbing I : Prof. Dr. Sri Yutmini, M. Pd. Pembimbing II : Dr. Nunuk Suryani, M.Pd. Tesis: Magister Kedokteran Keluarga. Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta. 2011. Latar Belakang: Kecemasan juga dapat terjadi pada pasien yang akan menjalani operasi patah tulang atau fraktur. Kecemasan pada masa preoperasi fraktur meliputi takut terhadap anestesi, takut terhadap nyeri atau kematian, takut tentang ketidaktahuan atau takut tentang deformitas atau ancaman lain terhadap citra tubuh. Pendidikan kesehatan adalah salah satu yang bertujuan untuk menurunkan tingkat kecemasan pasien preoperasi fraktur melalui pemenuhan kebutuhan informasi mengenai pembedahan. pendidikan kesehatan merupakan satu bentuk intervensi keperawatan yang mandiri untuk membantu klien, baik individu, kelompok, maupun masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatannya melalui kegiatan pembelajaran, yang didalamnya perawat berperan sebagai perawat pendidik yang bertugas untuk meningkatkan pengetahuan klien Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kecemasan dan pengetahuaan pada pasien preoperasi fraktur sebelum dan sesudah memperoleh pendidikan kesehatan. Metode: Desain dalam penelitian ini adalah Pre-eksperimental design (Pre-eksperimental one group pre test-post test design). Populasi sumber penelitian ini adalah penderita yang akan menjalani operasi fraktur di RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten dari tanggal 07 Juli s/d 07 Agustus 2011. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Penentuan jumlah sampel menggunakan metode exhaustive sampling. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner yang berisi pernyataan tentang kecemasan dan tes pengetahuan. Data dianalisis dengan menggunakan uji Paired Sample T-Test. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara kecemasan pada pasien preoperasi fraktur sebelum dan sesudah memperoleh pendidikan kesehatan (t = 92,697 dan p = 0,000). Ada perbedaan yang signifikan antara pengetahuan pada pasien preoperasi fraktur sebelum dan sesudah memperoleh pendidikan kesehatan (t = 16,683 dan p = 0,000). Simpulan: Pendidikan kesehatan dapat menurunkan tingkat kecemasan dan meningkatkat pengetahuan pada pasien preoperasi fraktur. Disarankan pada penyelenggara pelayanan kesehatan agar melakukan pendidikan kesehatan pada pasien preoperasi fraktur karena terbukti mampu menerunkan kecemasan dan meningkatkan pengetahuan pasien. Kata Kunci: Pendidikan Kesehatan, Kecemasan, Pengetahuan, Preoperasi fraktur. ABSTRACT

Burhannudin, S541002006. Effect of Health Education on Worry and Knowledge of Fracture Presurgery Patients in Dr. Soeradji Tirtonegoro General Hospital of Klaten. The first commission of supervision : Prof. Dr. Sri Yutmini, M. Pd. The second supervision is Dr. Nunuk Suryani, M.Pd. Thesis. Family Medical Magister. Postgraduate Program of Sebelas Maret University of Surakarta. Background: Worry may occur in a patient who will go through surgery for his/her fracture. Worry in fracture presurgery period includes worry of anesthesia, worry of pain or death, worry of ignorance or worry about deformity or other threats on body image. One of health education aims is to reduce worry level of patients of fracture presurgey through meeting information needs of the patient. Health education is one of independent nursing intervention in attempts of helping client, individually or collectively and people in overcoming health problems by conducting learning activities in which nurse has a role as educator nurse whose duty is to enhance client‟s knowledge. Purpose: The research aims to know difference of worry and knowledge of fracture presurgery patients before and after receiving health education. Method: Design of the research is pre-experimental one (pre-experimental one group pretest posttest design). Population of the research is patients who will go through fracture surgery in Dr. Soeradji Tirtonegoro General Hospital of Klaten during 07 July - 07 August 2011. Sample of the research is taken by using purposive sampling technique. Number of sample is determined by using exhaustive sampling method. Data is collected by using questionnaire asking about worry and test of knowledge. The data is, then, analyzed by using Paired Sample T-Test. Results: Results of the research indicated that there was a significant difference between worry of fracture presurgery patients before and after receiving health education (t=92.696 and p = 0.000). There was a significant difference between knowledge of fracture presurgey patients before and after receiving health education (t=16.683 and p = 0.000). Conclusion: Health education can reduce worry level of fracture presurgery patients and increase knowledge of the patients. It is suggested that health provider should perform health education for fracture presurgery patients because it is proved to be able to reduce worry and to improve knowledge of the patients.
http://pasca.uns.ac.id/?p=1891 7777777

Manfaat membaca al-Qur'an untuk kehidupan
Sebagai wahyu yang Allah turunkan kepada nabi-Nya, tentu al-Qur'an memiliki keutamaan dan keistimewaan tersendiri bagi para pembaca dan penggemarnya. Ayat-ayat al-qur'an yang kita baca sehari-sehari tidak lepas dari karunia Allah untuk setiap muslim yang demikian besar. Karena saking istimewanya al-Qur'an ini dari kitab-kitab samawi lainnya, Allah memberikan tempat istimewa bagi para pecintanya. Oleh karena bagi anda yang ingin memaksimalkan peran al-Qur'an dalam kehidupan, nampaknya harus lebih banyak lagi mengetahui manfaat dan perannya, terutama untuk kehidupan. Di antara

manfaat itu adalah: 1. Ayat-ayat al-Qur'an yang dibaca setiap hari akan memberikan motivasi dan penyemangat bagi si pembacanya. 2. Ketika membaca al-Qur'an, Allah akan menegur diri kita pada setiap ayat-ayat-Nya. 3. Bacaan al-Qur'an yang melibatkan emosi akan memberikan kedamaian dan ketenangan yang tidak bisa dilukiskan, seperti yang dialami dan dirasakan oleh Sayyid Quthb Rahimahullah. 4. Orang yang membaca al-Qur'an akan senantiasa ingat Allah dan kembali kepada-Nya. 5. Orang yang membaca al-Qur'an akan selalu berada dalam kecukupan dan nikmat Allah meski ia merasakan serba kurang di dunia. 6. Ayat-ayat Alloh akan menjadi penjaganya selama ia hidup di dunia, karena ia telah menjaga ayat-ayatNya. 7. Orang yang paham al-Qur'an adalah orang yang memiliki banyak ilmu. 8. Orang yang membaca al-Qur'an bagaikan orang yang sedang menyelami samudera kehidupan, dan mengambil manfaat darinya. 9. Orang yang selalu akrab dengan ayat-ayat akan diberikan jiwa yang sejuk, hati yang damai dan pikiran yang jernih, sehingga membuatnya ingin selalu beramal, kreatif, inovatif dan produktif. 10. Orang yang membaca al-Qur'an akan selalu berada dalam kegembiraan dan penuh harapan, di saat orang lain merasakan kesedihan, kecemasan dan rasa pesimis. Karena diri mereka selalu dipompa dengan siraman ayat-ayat-Nya yang lembut. 11. Orang yang rajin membaca al-Qur'an akan selalu diberikan jalan kemudahan dan petunjuk sehingga tidak mudah untuk menyimpang dan menyerah karena ayat-ayat Allah akan selalu mengingatkan dirinya ketika dirinya 'tersandung dosa dan maksiat.' 12. Orang yang membaca dan menjaga al-Qur'an selalu berada dalam lindungan dan penjagaan Allah. Ayat-ayat al-Qur'an mengajak pembacanya untuk senantiasa berpikir, merenung dan beramal sebanyakbanyaknya. Dan masih banyak manfaat-manfaat lainnya yang terus update dengan kondisi kehidupan kita...Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu belajar dan meningkatkan diri untuk lebih dekat lagi dengan alQur'an...Amiin wallahu a'lam http://baskomm.blogspot.com/2011/06/manfaat-membaca-al-quran-untuk.html 888888

Penawar Hati..., Katakanlah: “Al Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman”. QS. Fushilat: 44).
Wednesday, 16 March 2011 06:15 Lady Ukhtifillah Rahimakumullah

serta akan merasakan kebahagiaan dan merasa dekat dengan Allah Azza Wa Jalla. maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. Dan di bawah ini beberapa langkah yang bermanfaat untuk menghalau rasa bimbang. (QS. baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman. yaitu sebuah kebahagiaan yang tidak bisa terlukiskan.“As-salámu „alaikum wa Bismillah Ar Rahman Ar Raheem Penawar Kebingungan dan Kebimbangan rahmatul láhi wa barakátuh!” Barang siapa yang mengerjakan amal saleh. maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. Perasaan ini akan membawanya kepada zuhud dengan dunia dan tidak cendrung kepadanya. Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. dia akan mementingkan akherat dengan penuh keyakinan bahwa dia lebih baik dan lebih kekal abadi. bersimpuh di hadapan -Nya. sebab tidak ada kebimbangan di dalam surga dan tidak pula kesedihan sebagaimana ditegaskan di dalam firman Allah subhanahu wata‟ala: Dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami. Allah subhanahu wata‟ala berfirman: Barang siapa yang mengerjakan amal saleh. bingung. (35)Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga) dari karunia -Nya. Amma Ba‟du: Terkadang. Al-Nahl: 97) Segala puji hanya bagi Allah subhanahu wata‟ala. yang paling penting adalah bahwa semua cobaan hidup ini akan mengarahkan seorang yang beriman untuk kembali kepada Allah subhanahu wata‟ala. Selain itu. Selain itu. dan aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi -Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan -Nya. sedih dan berencana bagi orang yang menggunakannya secara baik: Pertama: Beriman dan beramal shaleh. didalam kehidupan seorang yang beriman tidak terlepas dari kebimbangan dan kesedihan yang mengeruhkan kebeningan kehidupannya dan mematahkan kenikmatannya. (QS. dia akan mendapat manfaat yang lain. semua perkara yang mengeruhkan hidup akan menjadikan seorang mu‟min mengetahui kehinaan duniawi. shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam. Perkara ini akan menghapuskan dosa-dosanya dan mengangkat derajatnya. bertdharru‟ kepada -Nya. (QS. Fathir: 34-35) Alangkah agungnya manfaat yang didapatkan bagi orang yang mengetahui hikmah Allah yang terakandung di dalamnya. baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman. sehingga dengannya hati akan mendapatkan ketenangan dan ketentraman. Al-Nahl: 97) . di dalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu”.

Akhirnya seorang muslim menyadari bahwa apapun musibah yang menimpanya. gangguan. upah yang besar. Ali Imron: 140). Bahkan salah seorang di antara mereka senang jika ditimpa musibah sebagaimana kesenangan mereka hidup dalam suasana sentosa. Maka hari-hari bergilir satu hari untuk kemenangan dan di hari yang lain penderitaan. bahwa dia fana. Seorang ulama salaf berkata: Seandainya bukan karena musibah maka kita akan datang pada hari kiamat sebagai orang yang merugi. penyakit yang akut. dan hal itu tidak terjadi kecuali bagi orang yang beriman. Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Hurairah RA bahwa Nabi Muhammad shalallahu „alaihi wasallam bersabda: Dunia ini adalah penjara bagi orang yang beriman dan surga bagi orang kafir”. Allah subhanahu wata‟ala berfirman: Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu. kebingungan bahkan duri yang menusuknya. jika seseorang tertawa di dunia dalam sesaat. . kebingungan. Dunia juga sebagai ladang kelelahan. kelezatannya bisa mendatangkan kekeruhan. baik kebimbangan dan kecemasan pada hakekatnya hal itu sebagai penghapus bagi kesalahankesalahannya dan tabungan bagi kebaikannya. Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran). (QS. Ketiga: Mengetahui hakekat dunia.Ini adalah janji Allah subhanahu wata‟ala kepada orang yang beriman dan beramal shaleh bahwa Dia akan menganugarahkan kepada mereka kehidupan yang baik. dan apabila mendapat musibah dia bersabar dan itu lebih baik baginya”. maka orang itu menangis di dunia dalam waktu yang panjang. banyak bersedih. jika dia seseorang gembira di dunia dalam waktu yang pendek maka dia juga membuat seseorang. di dalam riwayat yang lain disebutkan: Bahkan kecemasan kecuali Allah subhanahu wata‟ala akan menghapuskan dengannya segala keburukan-keburukannya”. kesedihan. jika dia mendapatkan kebaikan maka dia bersyukur maka itu adalah lebih baik baginya. Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Shuhaib RA berkata: Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam bersabda: Sungguh menakjubkan perkara seorang yang beriman. kebimbangan. kecuali Allah akan menghapuskan dengannnya kesalahan-kesalahannya”. sebagai balasan atas kesabaran dan harapan pahala dari Allah subhanahu wata‟ala atas bencana-bencana yang menimpanya itu baik berupa kebimbangan duniawi dan segala bentuk musibahnya. kecemasan maka seorang yang beriman akan merasa tenang setelah meninggalkannya. sesungguhnya segala perkara orang yang beriman itu baik. Kedua: Kegembiraan seorang muslim karena apa yang diperolehnya berupa pahala yang agung. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Qotadah bahwa jenazah seseorang melewati Nabi Muhammad shalallahu „alaihi wasallam lalu bersabda: Tenang dan orang lain tenang darinya”. kesenangan yang ada padanya sangatlah sedikit. di dalam riwayat yang lain disebutkan oleh Imam Muslim: Apapun yang menimpa seorang muslim baik duri atau yang lebih kecil darinya kecuali Allah akan mengangkat derajatnya dengan musibah tersebut atau dia akan dihapuskan kesalahannya”. tidak pernah menjanjikan kecerahan bagi siapapun. Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim dari Abi Hurairah RA bahwa Nabi Muhammad shalallahu „alaihi wasallam bersabda: Apa apa yang menimpa seorang muslim baik keletihan.. gangguan.

maka (jawablah). negeri. oleh karena itu.” Diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam kitab sunannya dari hadits riwayat Abdurrahman bin Abi Bakroh bahwa Nabi Muhammad shalallahu „alaihi wasallam bersabda: Do‟a orang yang kesusahan adalah. namun jika seseorang menjadikan orientasinya mengarah kepada akherat maka Allah subhanahu wata‟ala akan mengumpulkan kekuatannya dan tekadnya akan dimantapkan. lilitan hutang dan penindasan orang. pohon dan hewan akan tenang dengan kepergiannya”. Diriwayatkan oleh Al-Turmudzi di dalam kitab sunannya dari Anas bin Malik bahwa Nabi Muhammad shalallahu „alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa yang menjadikan negeri akherat sebagai orientasinya maka Allah akan menjadikan kekayaan di dalam hatinya dan Dia akan mengumpulkan segala kekuatannya sementara dunia ini akan datang mengejarnya dengan penuh ketundukan. Inilah makna tentang hakekat dunia yang disadari oleh orang yang beriman maka dengan kesadaran ini segala musibah dan kebimbangan akan menjadi enteng.Para shahabat bertanya: Wahai Rasulullah apa yang anda maksudkan dengan kata tenang dan orang lain tenang darinya?. lapangkanlah untukku dadaku. Langkah ini adalah penawar yang paling ampuh dalam menghilangkan kebimbangan dan kebingungan. Thaha: 25). Allah subhanahu wata‟ala berfirman: Dan apabila hamba-hamba -Ku bertanya kepadamu tentang Aku. Diriwayatkan oleh Al-Buhkari di dalam kitab shahihnya dari Anas bin Malik berkata : Aku menjadi pembantu Nabi Muhammad shalallahu „alaihi wasallam di dalam rumah tangganya dan apabila beliau memasuki rumah keluarganya maka beliau bersabda: “Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepada -Mu dari (hal yang) menyedihkan dan menyusahkan. (QS. dan barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai orientasinya maka Allah akan menjadikan kefakiran di hadapannya dan mencerai beraikan kekuatannya dan dunia tidak datang kepadanya kecuali apa yang telah ditetapkan baginya”. memporak-porandakan kekuatannya. sebab dia menyadari bahwa itulah hakekat dunia. Dan Nabi Muhammad shalallahu „alaihi wasallam meminta perlindungan kepada Allah subhanahu wata‟ala dari segala kebimbangan dan kesedihan. Keempat: Kebimbangan dan kecemasan yang terjadi dunia ini akan membuat jiwa ini tercerai berai. (QS. lemah dan malas. bahwasanya Aku adalah dekat. Maka beliau bersabda: Seorang hamba yang beriman akan tenang terlepas dari keletihan duniawi dan gangguannya menuju rahmat Allah sementara hamba yang bejat akan membuat manusia. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada -Ku. bakhil dan penakut. jangan Engkau biarkan . Al-Baqarah: 186). Kelima: Berdo‟a. Allh subhanahu wata‟ala berfirman: Berkata Musa: “Ya Tuhanku. “Ya Allah! Aku mengharapkan (mendapat) rahmat -Mu.

dan aku hanya menyebutkan beberapa langkah yang penting saja. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. dia adalah pelipur hati.net/joomla-license/67-penawar-hati-katakanlah-al-quran-itu-adalah-petunjuk-danpenawar-bagi-orang-orang-yang-beriman-qs-fushilat-44. Al-Thalaq: 3) Artinya mencukupkan keperluannya baik dari perkara dunia atau akherat. Dia berfirman: Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.”. hanya dengan mengingat Allah -lah hati menjadi tenteram. Allah subhanahu wata‟ala berfirman: Dan Kami turunkan dari Al Qur‟an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman”. niat yang benar dan dibarengi dengan usaha-usaha yang menyebabkan do‟a tersebut diterima maka Allah pasti memberikan apa-apa yang dimintanya dan dia berbuat untuk mewujudkan keinginannya serta kecemasan akan berbuah kesenangan dan kegembiraan. QS. Hati akan merasakan kekuatan. Keenam: Bertawakkal kepada Allah subhanahu wata‟ala. Langakah-langkah untuk menggapai kebahgiaan itu ternyata sangat banyak bagi mereka yang menyadarinya. Ingatlah. Allah subhanahu wata‟ala berfirman: Katakanlah: “Al Qur‟an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman”. semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad dan kepada keluarga. Al-Ra‟du: 28). penghapus kesedihan. tidak menyerah pada kecemasan. Allah subhanahu wata‟ala berfirman: (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. dengannya pula segala serpihan-serpihan kebimbangan dan kebingungan akan terusir. dan semua langkah ini akan bertumpu pada membaca Al-Qur‟an yang dibarengi dengan perenungan. shahabat serta seluruh pengikut beliau http://khutbahbank. Syekh Abdurrahman As-Sa‟di berkata: Maka pada saat hati ini bergantung kepada Allah subhanahu wata‟ala. tidak pula dikendalikan oleh hayalan-hayalan yang buruk. mengharap pada karunia -Nya. Fushilat: 44). penghilang segala kebimbangan dan kebingungan. serta akan terbebas dari banyak jenis penyakit hati dan jasad.html . maka dia akan percaya kepada Allah. (QS. kelapangan dan kegembiraan yang tidak bisa terlukiskan…. obat bagi segala macam penyakit baik penyakit badan atau hati.diriku sekejap mata (tanpa pertolongan atau rahmat dari -Mu). cahaya bagi dada.” Apabila seorang hamba mendengungkan do‟a ini dengan hati yang sadar. Al-Isro‟: 82) Maka barangsiapa yang membaca Al-Qur‟an ini dengan penuh perenungan dan meresapi maknanya maka segala kecemasan dan kebimbangan akan hilang dari dirinya. (QS. Perbaikilah seluruh urusanku. (QS. tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. berserah diri kepada -Nya.

misalnya otot seorang binaraga yang tidak pernah dilatih (Taufiq Pasiak. Tahap iluminasi dari proses kreatif menunjukkan gelombang alfa pada otak. ini merupakan salah satu kunci kesuksesan Thomas Alfa Edison. sangat mudah lelah. Suatu upaya terus menerus tak kenal lelah. Kreativitas adalah sebuah hasil latihan. Untuk mengingat dengan baik. Ketika seseorang tidur dan bermimpi. dan mengalami keteganggang otot yang amat sangat.999999999 PENGARUH BELAJAR DAN TERAPI MEMBACA AL QUR’AN SECARA RUTIN TERHADAP HILANGNYA RASA CEMAS PADA ANAK DIDIK SAAT MENGHADAPI UJIAN AKADEMIK. Latar belakang Setiap orang pasti pernah mengalami kecemasan. Akan tetapi positifnya. karena tidak ada cara untuk menghindari kecemasan. berati ia dalam keadaan teta. dan “bening”. Keadaan ini menunjukkan bahwa kondisi otak sedang berada .5 Hz. Pertama teori psikoanalisis yang berpendapat bahwa sumber kecemasan adalah konflik yang tidak disadari antara ego (alam sadar) dan impuls-impuls id (alam bawah sadar). keadaan ini adalah kondisi yang prima untuk penyembuhan penyakit. Itu justru memicu keingintahuan yang mendalam. Ketika seorang bermeditasi atau bertafakur. tidur. Kreativitas yang tidak dilatih akan lumpuh. Dia tidak gampang putus asa dengan ribuan kasus kegagalannya. terapi membaca Al-Quran ini bisa dilaksanakan secara mandiri oleh peserta didik usia sekolah menengah. kisaran 7 atau 8. atau bahkan membaca Al-Qur’an. PENGARUH BELAJAR DAN TERAPI MEMBACA AL QUR’AN SECARA RUTIN TERHADAP HILANGNYA RASA CEMAS PADA ANAK DIDIK SAAT MENGHADAPI UJIAN AKADEMIK. ketidaksabaran.5-3. Ini adalah proses belajar yang dialami Thomas Alfa Edison. Keadaan tidur ini disebut keadaan delta yang memiliki frekuensi 0. dan nasional. Keadaan teta adalah kondisi ketika pikiran atau otak bekerja secara baik. Ada beberapa teori dalam psikologi yang menjelaskan tentang sebab-sebab kecemasan. Dimana rasa cemas itu disebabkan oleh proses-proses berpikir yang menyimpang. mudah tersinggung. otak harus berada dalam keadaan alfa. Kecemasan yang sering dihadapi oleh peserta didik di usia sekolah menengah pada saat menghadapi ujian semester. Ketika seseorang tidur dan tidak bermimpi itu artinya ia tidak melakukan apa-apa. Ketika seseorang dilanda setres atau frustasi dan tidak dapat berpikir jernih. sekolah. Maka untuk mengurangi kecemasan tersebut anak didik harus belajar dan dibutuhkan terapi membaca Al-Quran secara rutin.13 Hz. Ciri-ciri orang yang mengalami gangguan kecamasan antara lain kesulitan untuk berkonsentrasi. Kedua. Ada empat jenis gelombang otak yang merekam aktivitas manusia sepanjang waktu. jernih. dan bermimpi. otak bekerja sedemikian rupa malalui gerakan-gerakan sel saraf dan melepas muatan sehingga di dalam otak ada gelombang listrik. 2002: 166). Tidak gampang menyerah. 1. berdzikir. teori tentang kognitif-Behavioral. Dan jika seseorang meninggalkan id maka orang tersebut tidak lagi hidup.

sekolah. Tujuan Program Program ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh membaca Al-Quran dan belajar secara rutin terhadap hilangnya rasa cemas pada anak didik saat menghadapi ujian semester. 3. Sasaran program Sasaran dari program ini adalah anak didik di sekolah menengah. 6. Dimana observer juga melakukan belajar dan terapi membaca Al-Qur’an secara rutin dan mandiri.dalam kondisi beta. Gelombang ini berkisar di atas 13 Hz yang menunjukkan kinerja logis otak. Selain itu. metode yang digunakan adalah observasi partisipan. Metode dan Cara Penyampaian Metode pengumpulan data ini dilakukan dengan mengumpulkan data yang berhubungan dengan manfaat belajar dan membaca Al-Qur’an. Serta program ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi orang tua dan guru agar mengarahkan anak didiknya untuk membaca Al-Quran. 4. 5. Manfaat program Perancang program berharap program ini bisa menambah wawasan mengenai manfaat membaca AlQuran secara rutin sebagi obat penghilang rasa cemas disertai dengan belajar rutin bagi setiap anak didik di sekolah menengah. maupun nasional. Hambatan yang kemungkinan dialami . Banyak juga peserta didik yang melakukan belajar dengan sistem kebut semalam. Otak dalam kondisi ini adalah otak analitis (Taufiq Pasiak. 2. Namun seharusnya hal ini dilakukan secara rutin. Cara penyampaiannya dengan melakukan sosialisasi di sekolah dan masyarakat tentang pentingnya belajar dan membaca Al-Qur’an secara rutin. Tapi dilihat dari fenomena yang ada banyak peserta didik dan guru yang melakukan doa bersama sehari sebelum ujian dan berkeyakinan dapat membuat mereka lulus dalam ujian. 2002).

com/2011/05/pengaruh-belajar-dan-terapi-membaca-al. 4. 24 Mei 2011 HUBUNGAN PENDIDIKAN DAN PERAN PERAWAT DENGAN TINGKAT KECEMASAN PADA PASIEN PRE OPERASI DI RUANG SERUNI RSUD. 8. baik melalui sms maupun dari oknum. 4. 5. 2. Selain itu juga orang tua tidak lupa untuk mengontrolnya. Solusi 1.1. maupun nasional. baik muslim maupun non muslim karena intonasi dan bacaan Al-Quran itu dapat menghilangkan gelombang beta pada otak. Hasil Pembuat program berharap dengan dilaksanakannya program ini dapat terlahir: 1. 2. Waktu menonton televisi dan bermain yang berlebihan bagi anak usia sekolah menengah. dimana gelombang beta tersebut dapat menyebabkan pikiran tidak bisa fokus dan sulit berkonsentrasi serta tidak dapat berpikir jernih. Guru tidak hanya mementingkan segi kognitif anak saja tetapi juga harus memikirkan segi psikis anak. YUNUS BENGKULU TAHUN 2010 BAB I . 3. Anak didik menjadi lebih tenang saat menghadapi ujian semester. Anak didik lebih percaya diri dengan kemampuannya tanpa mengandalkan contekan dari teman dan bocoran jawaban soal ujian. Anak usia sekolah dibatasi waktu untuk menonton televisi dan bermain agar anak menjadi disiplin. Guru dan orang tua yang peduli terhadap kemajuan anak. Orang tua tidak peduli terhadap waktu belajar dan mengaji untuk anak usia sekolah menengah. Anak didik yang disiplin. Anak didik diajari dan disuruh untuk membaca Al-Quran. misalnya anak diwajibkan mengikuti ekstrakulikuler sesuai dengan bakat dan minat anak. http://arifindikromo. sekolah. 7. 4. 3. M. Guru hanya menekankan segi kognitif dari pada psikis anak didiknya. baik dari segi mentalitas maupun kognitif. 3.blogspot. Orang tua memberikan tanggung jawab kepada anak untuk megatur waktu belajar mengajinya sendiri. 2.html Selasa. Remaja Indonesia yang tidak mudah terpengaruh oleh arus globalisasi dan tidak latah dengan fenomena yang dipropogandakan oleh media masa. Tidak semua anak didik usia sekolah menengah beragama islam.

1%) mengalami kondisi kejiwaan dan 2. dan identitas diri (Tjandra. Pembahasan tentang reaksi – reaksi pasien terhadap pembedahan sebagian besar berfokus pada persiapan pembedahan dan proses penyembuhan (Dewi wijayanti. 2007). 8. Berdasarkan data WHO (2007).539 pasien bedah dirawat di unit perawatan intensif antara 1 oktober 2003 dan 30 september 2006. Sebagian besar pasien beranggapan bahwa operasi merupakan pengalaman yang menakutkan. kecemasan yang sering terjadi adalah apabila pasien yang dirawat di rumah sakit harus mengalami proses pembedahan. 15 orang (37. Penelitian yang dilakukan oleh makmur et.PENDAHULUAN 1. Amerika Serikat menganalisis data dari 35. Dari. Kecemasan merupakan gejala klinis yang terlihat pada pasien dengan penatalaksanaan medis. sebuah institusi dan sebuah organisasi yang fungsi utamanya adalah memberikan pelayanan kepada pasien diagnostik dan terapeutik untuk berbagai penyakit dan masalah kesehatan.5%). 16 orang (40%) yang memilki tingkat kecemasan dalam kategori sedang. 2007). Pelayanan yang ada di Rumah Sakit adalah pelayanan pengobatan baik yang bersifat bedah maupun non bedah. Latar Belakang Rumah sakit adalah sebuah fasilitas. Kecemasan yang terjadi dapat berpengaruh terhadap peningkatan tekanan darah (RSUD Sragen. apalagi yang akan menjalani operasi. 2003). didapatkan bahwa 10% dari pasien yang akan menjalani pembedahan.922 pasien (25. Setiap pasien pernah mengalami periode cemas. R. Kecemasan merupakan perasaan yang paling umum di alami oleh pasien yang dirawat dirumah sakit. Bila kecemasan pada pasien pre operasi tidak segera diatasi maka dapat mengganggu proses penyembuhan.473 pasien (7%) mengalami kecemasan.al (2007) tentang tingkat kecemasan pre operasi bahwa dari 40 orang responden dalam tingkat kecemasan berat sebanyak 7 orang (17. terjadi penundaan proses operasi karena peningkatan kecemasan. gambaran diri. 2006). .5%) dalam kategori ringan dan responden yang tidak merasa cemas sebanyak 2 orang (5%). Kecemasan terjadi ketika seseorang merasa terancam baik fisik maupun psikologisnya misalnya harga diri. untuk itu pasien yang akan menjalani operasi harus diberi pendidikan kesehatan untuk menurunkan atau mengurangi gejala kecemasan (Carbonel. Berdasarkan data dari RSUD Sragen Wijaya Kusuma. Hasil penelitian di Rumah Sakit Ortopedi Prof Dr. Reaksi cemas ini akan berlanjut bila pasien tidak pernah atau kurang mendapat informasi yang berhubungan dengan penyakit dan tindakan yang dilakukan terhadap dirinya. Soeharso tahun 2008 dari 3827 pasien yang mengalami pembedahan sekitar (2%) mengalami kecemasan (Makmur. Pembedahan merupakan tindakan pengobatan yang banyak menimbulkan kecemasan. 2002).

Seorang perawat dituntut bisa mengetahui kondisi dan kebutuhan pasien. Selain itu faktor pendidikan pasien juga dapat mempengaruhi kecemasan yaitu tingkat pendidikan yang rendah serta kurangnya dukungan dari perawat (Sadock dan Kaplan. (Ibrahim. 1998). anak ataupun keluarga yang lain. Salah satu cara melakukan hal ini ialah dengan mencurahkan perhatian sampai kepada hal yang sekecil-kecilnya dalam merawat pasien. 2008). Makin tinggi pendidikan seseorang. Yunus Bengkulu. suami. termasuk dalam pemberian pendidikan kesehatan. psikologis. Peran perawat dalam upaya penyembuhan klien menjadi sangat penting. Perawat mempunyai kontak paling lama dalam menangani persoalan pasien. maka memerlukan keterampilan komunikasi yang baik. Tujuan agar persiapan yang dilakukan dapat sebaik mungkin (RSUD M. Perawat harus mau mendengarkan semua keluhan pribadi pasien (Widodo. Peran perawat sangat penting untuk memberikan suport atau dukungan dan penyuluhan terhadap penurunan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi ( Kuntjoro. 1999). Berdasarkan hasil pengumpulan data di RSUD M. Pasien yang akan menjalani operasi besar dianjurkan untuk minimal masuk rumah sakit 12 jam sebelum pre operasi dilaksanakan dan operasi kecil 6 jam sebelum dilaksanakan. Pendidikan dapat mempengaruhi seorang termasuk juga prilaku seseorang akan kepatuhannya. . Perawat merupakan salah satu tenaga kesehatan yang paling sering berinteraksi dengan pasien. Termasuk salah satunya dalam mengendalikan kebutuhan emosi diri pasien terutama pasien pre operasi dan post operasi. mempunyai kewajiban membantu pasien mempersiapkan fisik dan mental untuk menghadapi operasi. Sikap dan tingkah laku perawat membantu menumbuhkan rasa kepercayaan pasien. dan faktor psikologis yang dapat terjadi akibat implusimplus bawah sadar yang masuk kealam sadar seperti tidak didampingi oleh orang tua. sosial.Kecemasan pre operasi dapat dipengaruhi dari beberapa faktor antara lain adalah faktor biologis yang terjadi akibat dari reaksi saraf otonom yang berlebihan dengan naiknya system tonus saraf simpatis. maka makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimilikinya. 2002). 2006). dan spiritual. Kecemasan yang terjadi dapat berpengaruh terhadap peningkatan tekanan darah. pada tahun 2007 terdapat 4449 pasien yang mengalami pembedahan. sehingga tindakan anestesi atau pembedahan ditunda. terutama dalam motivasi untuk berperan serta dalam pembangunan kesehatan. dengan rincian sembuh 2259 dan 36 pasien meninggal (15%) dilakukan penundaan karena peningkatan kecemasan. Sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap perubahan-perubahan hidup sehat (Notoatmojo. 2002 ). Peran perawat sangat penting dalam penanggulangan kecemasan dan berupaya agar pasien tidak merasa cemas melalui asuhan keperawatan komprehensif secara biologis.Yunus Bengkulu. yang dirawat 2154 pasien.

masalah penelitian ini adalah masih tingginya tingkat kecemasan pasien pre operasi di RSUD M. Mengetahui tingkat Kecemasan pasien pre operasi di Ruang Seruni RSUD Dr.Yunus Bengkulu. M. 2. Bagi Akademik . M. Yunus Bengkulu. Yunus Bengkulu. M. nafas pendek. Yunus Bengkulu". Sedangkan rumusan masalah penelitian ini adalah "apakah ada hubungan pendidikan pasien dan peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD M. M. Tujuan umum Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada Hubungan antara pendidikan dan peran perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. Yunus Bengkulu didapatkan data 2008 sebanyak 1033 dan data 2009 dari januari sampai tanggal Desember sebanyak 786 orang yang melakukan operasi. 2. Untuk menurunkan tingkat kecemasan pasien tersebut keluarga dan perawat harus lebih banyak memberikan dukungan salah satunya yaitu selalu berada dekat pasien. Yunus Bengkulu didapatkan data bahwa dari 15 pasien yang akan melakukan operasi 5 orang yang mengalami kecemasan berat dengan ciri-ciri muka merah. Mengetahui hubungan peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan di atas. Mengetahui gambaran tingkat pendidikan pada pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. Yunus Bengkulu. Yunus Bengkulu. Tujuan penelitian 1. Yunus Bengkulu. Yunus Bengkulu. Mengetahui hubungan pendidikan dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. gemetar sehingga dapat menghambat proses operasi. susah tidur.Sementara dari pengumpulan data awal diruang Seruni RSUD M. Manfaat penelitian 1. Dari 5 orang yang mengalami kecemasan berat tersebut mempunyai pendidikan SMA kebawah dan kurang mendapatkan penkes dari perawat. 5. memotivasi pasien untuk memberi keyakinan bahwa operasi dapat berjalan dengan lancar. 4. 4. M. 2.. M. sering buang air kecil. gelisah. Rumusan masalah Berdasarkan uraian dalam latar belakang di atas. 3. Mengetahui gambaran peran perawat di ruang seruni RSUD. Berdasarkan hasil observasi dengan teknik wawancara selama tiga hari di ruang seruni RSUD M. maka penulis tertarik untuk meneliti hubungan pendidikan pasien dan peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. M. Tujuan Khusus 1. 3. Yunus Bengkulu.

Bagi Peneliti Lain Hasil penelitian ini dapat berguna sebagai masukan atau informasi bagi peneliti lain dalam mengembangkan penelitian dengan variabel-variabel yang lain. M. Bagi Masyarakat Dapat memperoleh pelayanan yang lebih baik terutama yang mengalami ketakutan. Agri Maha Tirani dengan judul penelitian "Perbedaan tingkat kecemasan sebelum dan sesudah pemberian pendidikan kesehatan pada pasien pre operasi di RSUD. 4. kecemasan. Yunus Bengkulu". atau depresi dalam menghadapi pembedahan. 3. rancangan dan waktu penelitian. 2. Yunus Bengkulu. 3.Adapun perbedaan antara karya tulis ini dengan karya tulis tersebut adalah pada variabel. Elika dengan judul penelitian " Hubungan peran perawat dan dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD M. Dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan di bidang kesehatan. rancangan dan waktu penelitian. Rinda Lesti Sentia dengan judul penelitian " Hubungan Tingkat Pendidikan dan Umur Kehamilan dengan Tingkat Kecemasan Ibu Hamil Primigravida di Rumah Bersalin YKWP Desa Kangkung Kabupaten Demak.Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi literatur bagi perpustakaan. Adapun perbedaan antara karya tulis ini dengan karya tulis di atas adalah pada variabel. BAB II TINJAUAN PUSTAKA . Bagi Rumah sakit Hasil penelitaan ini diharapkan dapat memberi masukan bagi para tenaga kesehatan khususnya pada perawat di ruang seruni dan ruangan yang lain. 5. Menambah wawasan dan pengetahuan bagi mahasiswa dan masyarakat mengenai tingkat kecemasan pada pasien pre operasi. 2. Keaslian penelitian Sebagai bahan perbandingan penelitian serupa pernah diteliti oleh : 1.

Pengertian Cemas adalah keadaan emosi individu yang berkaitan dengan perasaan yang tak pasti dan tidak berdaya. 2. 3. gangguan phobik dan gangguan obsesifkompulsif (Dadang Hawari. Kecemasan adalah Suatu kondisi yang menyangkut terminologi kesehatan jiwa dengan suatu kondisi was-was. Sosial Kecemasan yang timbul akibat hubungan interpersonal dimana individu menerima suatu keadan yang menurutnya tidak disukai oleh orang lain yang berusaha memberikan penilaian atas opininya (Sadock dan Kaplan. . gangguan panik. 1998). Kecemasan adalah suatu keadaan dimana psikologis seseorang berada pada ketakutan dalam menghadapi masalah yang ada pada dirinya. Secara klinis gejala kecemasan dibagi dalam beberapa kelompok yaitu gangguan kecemasan. Reaksi pergeseran yang dapat mengakibatkan reaksi fobia. gangguan cemas menyeluruh (Generalized anxiety disorder/GAD). Kecemasan merupakan peringatan yang bersifat subyektif atas adanya bahaya yang tidak dikenali sumbernya. Faktor-faktor Penyebab Kecemasan 1. 2007). kondisi ini dialami secara subyektif (yang hanya dirasakan individu tersebut) dan dikomunikasikan dalam hubungan interpersonal (Stuard and Sundeen.1. 1998). Kecemasan adalah suatu keadaan yang menggoncangkan karena adanya ancaman terhadap kesehatan (Siti Sundari. Konsep Kecemasan 1. 2005) Jadi. perut terasa kosong. ancaman) yang masuk kealam sadar. 2006). Keadaan emosi ini tidak memiliki subyek yang spesifik. Kecemasan merupakan komponen utama bagi hampir semua gangguan kejiwaan (psychiatric disorder). Faktor Biologis Kecemasan terjadi akibat dari reaksi saraf otonomi yang berlebihan dengan naiknya sistem tonus saraf simpatis. Mekanisme pembelaan ego yang tidak sepenuhnya berhasil juga dapat menimbulkan kecemasan yang mengambang. kecemasan dapat muncul akibat implus-implus bawah sadar (misalnya : sex. Psikologis Ditinjau dari aspek psikoanalisa. nafas sesak dan dada terasa nyeri (Ayub Sani. 2.

Kecemasan bisa terjadi pada individu yang tingkat pendidikannya rendah disebabkan karena kurangnya informasi yang didapat individu tersebut. Sosial budaya Individu yang tidak bersosialisasi dengan masyarakat lebih mudah mengalami kecemasan.3. 7. Selain itu faktor yang mempengaruhi tingkat kecemasan menurut Soewandi (1998) antara lain : 1. letih. Lingkungan Lingkungan sangat berpengaruh pada kecemasan seseorang. penyakit. sehingga individu harus melakukan penyesuaian diri (adaptasi). 3. Keadaan fisik Seseorang yang mengalami gangguan fisik seperti cacat badan. 4. 2. dimana lingkungan yang tidak kondusif berpotensial besar terhadap kecemasan yang dialami seseorang. operasi. dibandingkan dengan orang yang memiliki pendapatan tinggi. 5. 6. Disamping itu kelelahan fisik (lemah. sakit. Ekonomi Seseorang yang memiliki pendapatan rendah lebih mudah mengalami kecemasan. lesu) lebih mudah megalami kecemasan. Tingkat pendidikan Status pendidikan yang rendah pada seseorang akan menyebabkan orang tersebut mudah mengalami kecemasan. begitu juga sebaliknya jika lingkungannya kondusif mempercepat penyembuhan seseorang. Potensi stressor Suatu keadaan yang menyebabkan perubahan dalam individu. lebih mudah mengalami kecemasan. Umur .

kebingungan. tidak tenang. 3.Umur ikut menentukan kecemasan. Ansietas Ringan (Tingkat I) 1. Tingkat kecemasan 1. mengetuk jari-jari. mulut kering. berdebar-debar. muntah-muntah. Orang tersebut banyak pengarahan untuk dapat memusatkan pada suatu area lain. sesak nafas. dibandingkan dengan pria. 3. mudah tersinggung. 6. Ansietas Sedang (Tingkat II) Memungkinkan seseorang untuk memusatkan pada hal yang penting dan mengesampingkan yang lain. Gejala – gejala Kecemasan Keadaan cemas mempunyai gejala-gejala somatik atau fisik dan gejala psikologis atau mental. gagap. 8. Seseorang cenderung untuk memusatkan pada sesuatu yang terinci dan spesifik dan tidak berfikir tentang hal lain. Berhubungan dengan ketegangan yang dialami dalam kehidupan sehari. nadi cepat. mimpi yang menegangkan Gangguan konsentrasi dan daya ingat Keluhan somatik misalnya rasa sakit pada otot tulang. Reaksi fisik terhadap kecemasan pada masingmasing individu berbeda (Setyonegoro. Menurut Dadang Hawari (2006). Jenis kelamin Kecemasan lebih banyak dialami wanita. sehingga seseorang mengalami perhatian yang selektif namun dapat melakukan sesuatu yang lebih terarah. nyeri pada gastro intestinal. dan banyak orang. 5. Gangguan pola tidur. Takut sendiri. gangguan muskulo skeletal. 2. mudah terkejut. sulit tidur. sering buang air besar atau kecil. takut pada keramaian. Gejala-gejala tersebut antara lain: Iritabilitas. gangguan perkemihan. 4. pendengaran berdenging (tinnitus). 1994). firasat buruk. hiperventilasi. sakit kepala dan lain sebagainya. gelisah. 5. takut akan fikirannya sendiri. Ansietas dapat memotivasi belajar dan menghasilkan pertumbuhan. Merasa tegang. Ansietas Berat (Tingkat III) Sangat mengurangi lahan persepsi seseorang. 2. biasanya kecemasan sering dialami oleh usia muda. khawatir. gangguan kulit. berkeringat. energi menurun.hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada dan meningkatkan lahan persepsinya. menyebutkan gejala klinis dari cemas antara lain : Cemas. gangguan pencernaan. . berhenti berbicara dan terjadi perubahan suara. Semua perilaku ditujukan untuk mengurangi ketegangan. 4. hiperaktifitas.

Kemampuan untuk mengatasi 4. 1997). 1997). dengan panik terjadi peningkatan aktivitas motorik. persepsi yang menyimpang dan kehilangan pemikiran yang rasional tingkat ansietas ini tidak sejalan dengan kehidupan dan jika berlangsung terus dalam waktu yang lama dapat terjadi kelelahan yang sangat bahkan kematian (Hudak dan Gallo. Hal ini menurunkan rasa ketidak berdayaan dan ansietas mereka. . 2. Ansietas terhadap sistem diri seseorang dapat membahayakan identitas. ketakutan dan terror-terror. Stressor Pencetus Stressor pencetus berasal dari sumber internal atau eksternal. menurunnya kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain. 3.4. Tingkat Panik Berhubungan dengan terperangah. Sterssor dapat di kelompokkan dalam dua kategori. Ansietas terhadap integritas seorang meliputi ketidakmampuan fisiologis yang akan datang atau menurunnya kapasitas untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Khayalan Mental dan Relaksasi Mendorong pasien untuk mengkhayalkan tempat yang indah atau menjadi bagian dari pengalaman yang menyenangkan sehingga dapat membantu pasien menurunkan ketegangan (Abraham dkk. Optimisme 5. Dialog Eksternal Dengan dialog eksternal kebutuhan pasien untuk berbicara cara akurat tentang dirinya dengan orang lain. Dialog Internal Membantu pasien mengembangkan pesan dialog sendiri yang meningkatkan : 1. Teknik Mengatasi ansietas Teknik kognitif dapat membantu pasien ansietas dan tidak tergantung pada wawasan atau pemahaman yang kompleks dari kondisi psikologi diri sendiri. Percaya diri 2. Perasaan pengendalian 3. 6. 1997). 7. Perincian terpecah dari proporsinya karena mengalami kehilangan kendali. Harapan 2. Orang yang mengalami panik tidak mampu melakukan sesuatu walaupun dengan pengarahan. 1. harga diri dan fungsi sosial (Brunner dan suddarth. Panik melibatkan disorganisasi kepribadian. yaitu: 1.

Tujuan Prosedur pembedahan Sebagai salah satu bentuk pengobatan dan penatalaksanaan berbagai macam penyakit untuk mempercepat proses penyembuhan (Perry Potter. Lingkup kegiatan perawatan pre operasi termasuk dalam menetapkan batas pengkajian klien setting secara klinis atau dalam ruangan. merokok dan minum-minum (Brunner dan Suddarth. Takut terhadap anestesi. Pembedahan Mayor (pembedahan resiko tinggi ) 2.tipe tingkah laku seperti mennangis. interview preoperatif. 10. Pre Operasi 1. tidur. menyiapkan klien untuk diberikan anestesi dan pembedahan bagaimanapun kegiatan perawatan dibatasi oleh pengkajian pre operasi dalam ruangan atau selama operasi. Jenis-jenis operasi Menurut derajat kepentingan Perry dan potter (2006). takut tentang ketidaktahuan. Dimana mekanisme koping setiap orang berbeda-beda. Pembedahan Minor (pembedahan resiko kecil ) 4. Tipe . Mekanisme Koping Mekanisme koping adalah suatu bentuk pertahanan yang di gunakan oleh seseorang yang sedang berada pada suatu bentuk kecemasan untuk menghindar atau mengurangi respon yang ditimbulkan oleh kecemasan tersebut. Perawatan pre operasi merupakan bagian dari perawat perioperatif yang di mulai dari kapan di putuskan tindakan operasi dibuat dan diakhiri dengan pemindahan klien ke meja ruang operasi. Kecemasan pada pasien pre operasi . Alat ukur kecemasan untuk mengetahui sejauh mana derajat kecemasan apakah ringan atau berat dengan menggunakan alat ukur (instrument) yang dikenal denga nama Hamilton Rating Scale or Anxiaty (HRS-A) dengan skor ringan jika ≤ 28 dan berat jika ≥ 28. Pengertian Pasien Pre operasi dapat mengalami berbagai ketakutan. melakukan kegiatan fisik. 3. 1997). 2. tertawa.8. takut terhadap nyeri atau kematian. 9. takut tentang deformitas dan ancaman lain terhadap citra tubuh dapat menyebabkan ketidaktenangan atau ansietas (Brunner dan Suddarth. 1997). di kelompokkan menjadi dua bagian yaitu : 1. 2006).

Persiapan psikologis pasien pre operasi Pasien yang akan di operasi biasanya akan mengalami kegelisahan dan rasa takut. kepribadian.Kecemasan pada pasien pre operasi adalah kecemasan yang di akibatkan sterssor tindakan operasi. perawatan menjelang operasi yang dianggap sebagai hal baru. tetapi berusaha mengalihkan perhatiannya kepada buku atau sebaliknya ia bergerak terus-menerus dan tidak mau tidur (Kaplan. bangsa dan negara. 1997). masyarakat. 1997). tapi kadang-kadang dapat terlihat dalam bentuk lain. kurangnya dukungan keluarga terhadap pasien pre operasi. 1994). memberitahu pasien hanya medikasi pre operasi yang akan membuatnya rileks sebelum operasi tidaklah selektif bila menyebutkan juga bahwa medikasi tersebut dapat mengakibatkan kepala terasa melayang dan mengantuk. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. Khawatir meninggal di meja operasi dan meninggalkan anakanak ditinggalkan seandainya ia meninggal saat atau setelah operasi. 11. Pendidikan 1. stressor tersebut merupakan faktor timbulnya kecemasan yang mengakibatkan terancamnya integritas seseorang meliputi ketidakmampuan fisiologis atau menurunkan kapasitas untuk melakukan hidup sehari-hari (Brunner dan suddarth. Pasien yang gelisah dan takut biasanya sering bertanya berulang-ulang walaupun pertanyaan tersebut telah dijawab. obat-obatan dan perawatan tindakan. Pendidikan merupakan usaha agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses . (Diknas. Mengetahui apa yang di perkirakan akan membantu pasien mengantisipasi reaksi-reaksi tersebut dan dengan demikian mencapai tingkat relaksasi yang lebih tinggi daripada yang di perkirakan sebaliknya (Brunner dan suddarth. Pengkajian psikologi pada pasien atau keluarga harus di lakukan supaya hal tersebut tidak menghambat rencana operasi. Penyuluhan tersebut harus melebihi deskripsi tentang berbagai langkah prosedur dan harus mencakup tentang sensasi yang akan di alami. 5. Perasaan gelisah dan takut kadang-kadang tidak tampak jelas. Pengertian Pendidikan adalah suatu usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. 2003). Manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya. kecerdasan akhlak mulia. Sebagai contoh. Pasien biasanya tidak mau bicara dan memperhatikan keadaan sekitarnya. pengendalian diri. Salah satu caranya yaitu dengan penyuluhan pada keluarga maupun pasien supaya mereka mengerti apa yang akan terjadi.

bukan saja bagi produktivitas. akan tetapi juga bagi tujuan terakhir pembangunan seperti kualitas keluarga dan kehidupan masyarakat. seperti pada pendidikan formal di sekolah. (1997) janis pendidikan terbagi atas 3 yaitu : 1. menyatakan pendidikan non-formal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. dan S2. 2. Pendidikan Non-Formal : Pendidikan non-Formal adalah pendidikan yang dilakukan secara teratur. Pendidikan Tinggi: satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi yang dapat berbentuk akademik. Pendidikan Dasar : warga Negara yang berumur 6 atau 7 tahun berkewajiban mengikuti pendidikan dasar atau sederajat selama 9 tahun yaitu SD dan SLTP. politeknik. 1. Pendidikan Menengah : pendidikan menengah yang lamanya 3 tahun sesudah pendidikan dasar. Jenjang Pendidikan Menurut Diknas (2003). dan kemampuan yang dikembangkan menjadi: 2. 5. D3. sekolah tinggi dan universitas yang termasuk perguruan tinggi D1. tapi tidak terlalu ketat mengikuti peraturan-peraturan yang tepat. Karena pendidikan non-formal pada umumnya dilaksanakan tidak dalam lingkungan fisik sekolah maka sasaran pokok adalah anggota-anggota masyarakat. Menurut Ahmadi. S1. dan tinggi. menengah. 3. Untuk itu. 4. dengan sadar dilakukan. Sedangkan menurut Diknas (2003). serta memperkuat kemasyarakatan.pembelajaran atau cara lain yang dikenal dan diakui oleh masyarakat. diselenggarakan di SLTA atau sederajat. Diknas (2003). Pendidikan formal : Pendidikan formal merupakan usaha-usaha dalam pendidikan dasar dapat memberikan sumbangan dalam jangka panjang. menyatakan bahwa jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik. UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia menyelenggarakan Tahun 1945 Pasal 31 ayat (1) menyebutkan bahwa setiap warga Negara berhak mendapat pendidikan. pendidikan formal yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar. . D4. tujuan yang akan dicapai. dan ayat (3) menegaskan bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan Undang-Undang. D2. seluruh komponen bangsa wajib mencerdaskan kehidupan bangsa yang merupakan salah satu tujuan negara indonesia.

Hubungan pendidikan dengan kecemasan Pendidikan merupakan salah satu faktor sosial dari kecemasan pada pasien pre operasi. Pada pasien yang pendidikannya hanya sebatas pendidikan dasar atau tidak pernah sekolah sangat susah dalam pemberian informasi. P < 0.3. Pendidikan dapat mempengaruhi seorang termasuk juga prilaku seseorang akan kepatuhannya. Peran dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari dalam maupun dari luar dan bersifat stabil. 12. Peran adalah bentuk dari perilaku yang diharapkan dari seesorang pada situasisosial tertentu. (2009). Diknas (2003). masyarakat atau dalam lingkungan pekerjaan sehari-hari. 13. 2002). Makin tinggi pendidikan seseorang.05 menunjukkan bahwa hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara pendidikan pasien dengan tingkat kecemasan. sejak seorang lahir sampai akhir hidupnya. sehingga tenaga kesehatan disana perlu melakukan konseling kepada ibu hamil primigravida sebagai upaya mengantisipasi terjadinya komplikasi dan kecemasan. Pendidikan informal : Pendidikan informal yakni pendidikan yang diperoleh seorang berdasarkan pengalaman dalam hidup sehari-hari dengan sadar atau tidak sadar. . Peran Perawat 1. Hasil penelitian Lesti. menyatakan bahwa pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan. maka makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pngetahuan yang dimilikinya. Sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap perubahan-perubahan hidup sehat (Notoatmojo. Setiap perawat yang menjelaskan pengetahuan tentang kesehatan pasien tidak mengerti. Definisi Peran adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap seseorang sesuai kedudukannya dalam suatu system. 1995:21). Berdasarkan penelitian yang lakukan di Kabupaten Demak menghasilkan informasi bahwa pendidikan masyarakat disana masih relatif rendah. di dalam lingkungan keluarga. (Kozier Barbara. terutama dalam motivasi untuk berperan serta dalam pembangunan kesehatan.

dan tersier dan dalam keperawatan kesehatan rumah dan komunitas.Definisi kepemimpinan keperawatan yang dirumuskan oleh memberi cakupan yang luas pada konsep tersebut dan mengidentifikasi kepemimpinan sebagai peran yang melekat didalam semua posisi keperawatan. Peran Kepemimpinan Peran Kepemimpinan dari perawat yang secara tradisional dikerap sebagai peran spesialisasi yang diembankannya oleh perawat yang mempunyai gelar yang menunjukkan kepemimpinan dan mereka yang memimpin sekelompok besar perawat atau profesional perawatan kesehatan yang berhubungan. Peran Pelaksana Peran pelaksana dari perawat mencakup tindakan-tindakan yang dilakukan oleh perawat ketiaka ia mengemban tanggung jawab yang ditujakan untuk memenuhi kebutuhan perawatan kesehatan dan kebutuhan keperawatan pasien secara individu. yang merupakan dasar untuk semua praktik keperawatan. 2001) meliputi : (a) Pelaksana pelayanan keperawatan. Meski tiap peran memiliki tanggung jawab khusus. Kajian dibutuhkan untuk menentukan keefektifan intervensi dan asuhan keperawatan. Peran ini merupakan peran yang hanya dapat dicapai melalui proses keperawatan. Peran kepemimpinan dari perawat mencakup tindakan-tindakan yang dilaksanakan oleh perawat saat ini ia mengemban tanggung jawab untuk mempengaruhi tindakan orang lain yang ditujukan untuk menentukan dan mencapai tujuan. keluarga mereka dan orang terdekat pasien.Peran Perawat (Ali Zaidin. (d)Peneliti dan pengembang keperawatan Perawat profesional baik dalam lingkungan perawatan kesehatan institusional maupun komunitas mengemban tiga peran : peran pelaksana. 2. sekunder. Kini. partisipasi dalam proses penelitian dianggap sebagai tanggung jawab dari perawat dalam praktik klinis. Tugas utama dari penelitian keperawatan adalah untuk memberikan konstribusi pada dasar ilmiah praktik keperawatan. 3. Melalui upaya penelitian . (c) Pendidik dalam keperawatan. Peran Peneliti Peran peneliti dari perawat pada mulanya dianggap hanya dilakukan oleh para akademikus. Peran ini dirancang untuk memenuhi perawatan kesehatan saat ini dan kebutuhan keperawatan dari konsumen yang merupakan penerima pelayanan keperawatan. Peran ini merupakan peran yang dominan dari perawat dalam lingkungan pelayanan kesehatan primer. (b)Pengelola pelayanan keperawatan dan institusi Pendidikan. 4. perawat ilmuwan dan mahasiswa keperawatan di tingkat sarjana. peran-peran ini saling berhubungan satu dengan yang lain dan dapat ditemui pada semua posisi keperawatan. peran kepemimpinan dan peran peneliti.

hak menerima ganti rugi akibat kelalaian. dirawat dan didukung oleh perawat. 2001). diterima dilindungi. Sebagai koordinator Peran ini dilaksanakan dengan mengarahkan.semacam ini. ilmu keperawatan akan berkembang dan rasional yang didasarkan secara ilmiah untuk membuat perubahan dalam praktik keperawatan akan tercipta (Brunner dan Suddarth. 9. peran ini bertujuan untuk menghilangkan ketegangan dalam kelompok pelayanan (dokter. Menurut Johnson dan Martin. Sebagai edukator Peran ini dilakukan dengan membantu klien dalam meningkatkan tingkat pengetahuan kesehatan. 11. hak untuk menentukan nasibnya sendiri. dan lain-lain) Menurut konsorsium ilmu kesehatan (1989) dalam Ali Haidin (2001) peran perawat terdiri dari : 7. 6. Expressive/mother substitute role. merencanakan serta mengorganisasi pelayanan kesehatan dari tim kesehatan sehingga pemberi pelayanan kesehatan dapat terarah serta sesuai dengan kebutuhan klien. gejala penyakit bahkan tindakan yang diberikan sehingga terjadi perubahan perilaku dari klien setelah dilakukan pendidikan kesehatan. pasien. Perawat juga berperan dalam mempertahankan dan melindungi hak-hak pasien meliputi hak atas pelayanan sebaik-baiknya. perawat. Sebagai advokat klien Peran ini dilakukan perawat dalam membantu klien dan keluaga dalam menginterpretasikan berbagai informasi dari pemberi pelayanan khususnya dalam pengambilan persetujuan atas tindakan keperawatan. 8. hak atas privasi. hak atas informasi tentang penyakitnya. Peran terapeutik : kegiatan yang ditujukan langsung pada pencegahan dan pengobatan penyakit. Pemberian asuhan keperawatan ini dilakukan dari yang sederhana sampai dengan kompleks. Sebagai pemberi asuhan keperawatan Peran ini dapat dilakukan perawat dengan memperhatikan keadaan kebutuhan dasar manusia yang dibutuhkan melalui pemberian pelayanan keperawatan. yaitu kegiatan yang bersifat langsung dalam menciptakan lingkungan dimana pasien merasa aman. Sebagai kolaborator . Peran Perawat menurut Para Sosiolog 5. 10.

(2002) yaitu. Tujuh Fungsi Perawat Kozier Barbara. 14. fisioterapi. Sebagai pembaharu Perawat mengadakan perencanaan. Secara unum perawat mempunyai peran terapeutik yaitu kegiatan yang ditujukan langsung pada pencegahan dan pengobatan penyakit. Fungsi Perawat Fungsi adalah pekerjaan yang harus dilaksanakan sesuai dengan perannya. perubahan yang sistematis dan terarah sesuai dengan metode pemberian pelayanan keperawatan 13. kerjasama. Karena masih kurangnya pengetahuan pasien tentang penyakit yang dideritanya. (1) Melaksanakan instruksi dokter (fungsi dependen). menyusun. ahli gizi dan lain-lain dengan berupaya mengidentifikasi pelayanan keperawatan yang diperlukan. (2) Observasi gejala dan respons pasien yang berhubungan dengan penyakit dan penyebabnya. . (3) Memantau pasien. Sebagai konsultan Perawat berperan sebagai tempat konsultasi dengan mengadakan perencanaan. kerjasama. 15. (7) Memberikan pengarahan dan penyuluhan untuk meningkatkan kesehatan fisik dan mental. sehingga kekambuhan sering terjadi dan bahkan bertambah parah. (5) Mencatat dan melaporkan keadaan pasien. (6) Melaksanakan prosedur dan teknik keperawatan. Begitu pula dengan Pembedahan. perubahan yang sistematis dan terarah sesuai dengan metode pemberian pelayanan keperawatan. Hubungan peran perawat dengan kecemasan Orang yang sakit sangat memerlukan seseorang yang bisa mengobati penyakitnya tersebut dan orang sehat memerlukan seseorang yang bisa mengarahkan agar bisa mencegah dan terhindar dari berbagai penyakit. (4) Supervisi semua pihak yang ikut terlibat dalam perawatan pasien. dan memperbaiki rencana keperawatan secara terus menerus berdasarkan pada kondisi dan kemampuan pasien. Seseorang tersebut ialah perawat yang mempunyai banyak peran untuk melaksanakan praktek keperawatan.Peran ini dilakukan karena perawat bekerja melalui tim kesehatan yang terdiri dari dokter. 12.

2.05 yang mengalami kecemasan ringan sehingga dapat disimpulkan ada hubungan peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi. dengan nilai p < 0. Desain penelitian Desain penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Bagan 3. dimana variabel independen dan variabel dependen di kumpulkan pada saat bersamaan (Notoadmodjo. 2010).Proses pembedahan sering menimbulkan stress psikologi yang tinggi. 16. citra diri. sumber koping klien serta asuhan keperawatan yang terbaik (Perry Potter. Perawat harus dapat mengkaji perasaan klien tentang pembedahan. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Makmur et. 2006). Soerharto tahun 2008.M.M.1 Desain Penelitian . Hipotesa peneliti 1. BAB III METODE PENELITIAN 1.5% yang mengalami kecemasan ringan. konsep diri. R. Dan hasil penelitian yang dilakukan Elika tahun 2009. terdapat 37. Ada hubungan antara pendidikan pasien dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD.Yunus Bengkulu Tahun 2010. Ada hubungan antara peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. Klien merasa kurang dapat mengontrol situasi mereka sendiri untuk memahami dampak pembedahan pada kesehatan emosional klien tersebut. al (2007) dan penelitian rumah Sakit Ortopedi Prof Dr. Klien merasa cemas tentang pembedahan.Yunus Bengkulu Tahun 2010.

Tingkat kecemasan (Dependen) Suatu kondisi yang menyangkut kekhawatiran seseorang pada masalah yang terjadi. maka Variabel Penelitian dapat digambarkan sebagai berikut : Variabel Variabel Dependen Independen Bagan 3.2 Variabel Penelitian C. < 28 0=Rendah ≤ SMA Pendidikan (Independen) Pendidikan Formal yang ditempuh pasien Kuisioner Dengan cara mengisi (1 pertanyaan kuisioner ) 1= Tinggi >SMA 0= kurang Dengan cara baik jika skor ≤ 75% mengisi kuisioner Ordinal ≥ 28 Ordinal Skala Ukur Peran Perawat (Independent) Tindakan yang dilakukan oleh perawat dalam proses penyembuhan. Kuisioner Wawancara (14 komponen pertanyaan HRS-A) dan observasi 1= Tidak Berat jika. Kuisioner (15 pertanyaan) Ordinal . Definisi Operasional Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Cara ukur Hasil Ukur 0=Cemas Berat jika.B. Variabel Penelitian Sesuai dengan desain penelitian di atas.

Sampel Sampel adalah objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi ( Notoatmojo. Populasi Populasi adalah Keseluruhan dari objek penelitian yang di teliti. 2.1= baik.5% .175 =17.786 orang.96)². (Noto atmojo. 0.0. 2010). 2008) Keterangan : n = Sampel Z(1-α/2) = Nilai Z pada derajat kemaknaan (α 5%=1.175.96) P = Proporsi suatu kasus yaitu proporsi kecemasan 0.84. Populasi dan Sampel 1. 2010). Populasi dalam penelitian ini adalah kelompok pasien pre operasi yang ingin menjalankan operasi di ruang Seruni dari bulan januari sampai bulan desember tahun 2010. Dalam penelitian ini teknik yang digunakan adalah teknik Simple Random sampling n = Z²1-α/2. jika skor ≥ 75% 1. 0. 0.P(1-P) = (1.825 =3.825 = 55 responden (Aziz Alimul.175. berdasarkan data jumlah pasien pada tahun 2009 adalah 1.

Tempat Penelitian Penelitian dilakukan di Ruang Seruni RSUD. Editing . sering (SR). Pengumpulan data Data dalam penelitian ini berupa data primer dan sekunder. umur. untuk mengukur tingkat kecemasan. Pengolahan Dan Analisa Data 1. yaitu : 1. tidak pernah (TP). Sedangkan data Sekunder adalah data yang didapatkan secara tidak langsung dari responden. Jumlah sampel yang didapat adalah 55 responden. D.1. E. kuisioner pendidikan dan kuisioner peran perawat dengan skala selalu (SL). yang nantinya akan diisi oleh responden dan dibantu oleh satu orang perawat yang bertugas di ruang Seruni RSUD M. F. M. tanggal keluar rumah sakit dan lain-lain. Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan Desember sampai dengan februari 2010. Data primer yaitu data yang didapat langsung dari responden yaitu pasien dalam perawatan pre operasi di Ruang Seruni RSUD M. Pengolahan Data Data yang telah diperoleh atau terkumpul diolah dan dianalisis dengan program komputer melalui beberapa tahapan. pekerjaan. Tempat dan Waktu Penelitian 1. dengan penilaian tidak berat jika skor < 28 dan berat jika skor ≥ 28. alamat. tanggal masuk rumah sakit.D = Derajat akurasi (presisi) yang diinginkan 0.Yunus Bengkulu pada bulan Desember 2010 2. jarang (JR). Pengumpulan. Yunus Bengkulu dengan cara wawancara dan observasi dengan skala HARS. jumlah pasien yang melakukan operasi. tetapi didapat dengan metode pencarian data rumah sakit dalam bentuk Rekam Medik misalnya: nama. Yunus Bengkulu yang sudah diberi penjelasan tentang pengisian kuisoner. kadang (KD).

Kemudian dilakukan scoring terhadap pertanyaan yang berhubungan dengan masing-masing variabel dan diteruskan dengan pengujian kebenaran data dengan menggunakan uji Chi-Square dengan signifikan α = 5 %. 1. Analisa Univariat Untuk melihat gambaran distribusi frekuensi dari masing-masing variabel penelitian baik independent maupun dependent. Rumus yang digunakan.Editing data adalah meneliti kembali apakah isian pada kuisioner yang dilakukan responden sudah cukup dan benar sesuai dengan petunjuk yang ada. Selanjutnya dilakukan transformasi data untuk menggambarkan variabel bebas dan variabel terikat. 3. yaitu : Keterangan : P F = Persentase yang ingin dicapai = Jawaban dalam setiap kategori N = Jumlah seluruh responden .. Coding (Pengkodean) Jawaban-jawaban atau hasil yang ada kemudian di klasifikasikan dalam bentuk yang lebih ringkas dengan menggunakan kode-kode. Analisa Data 1. 2. . G. Editing dilakukan langsung pada saat responden mengembalikan kuesioner yang sudah diisi dengan harapan apabila ada kekurangan data atau kesalahan dalam pengisian dapat segera diperbaiki. Cleaning (Pembersihan Data) Sebelum melakukan analisa data dengan dilakukan pengecekan kembali terhadap data yang sudah masuk apakah data yang dimasukkan sudah benar dan tidak ada lagi kesalahan. Entry Data (Pemasukan Data) Data yang telah ada dicoding dan hasil scoring kemudian diolah kedalam komputer dengan menggunakan program SPSS For Window.

05 (Budiarto.05 Ha ditolak jika nilai p > 0. Volume 1. (1997). Definisi Pendidikan.id. Dasar-dasar Keperawatan Profesional.google. Z. Edisi 8. Universitas Indonesia: Jakarta Ahmadi. Widya Medika: Jakarta Alimul A.ac. Metode Penelitian keperawatan dan Teknik Analisa Data. 2001) 2. (2003).eprints. .ums.A. (Diakses tanggal 26 oktober 2010) Ali. 2001) DAFTAR PUSTAKA Aditama. Untuk melihat hubungan antara dua variabel kategorik maka digunakan Uji X² (Chi-Square) Ha diterima jika nilai p ≤ 0. (1997).(Budiarto.Y.Sudarth Keperawatan Medikal Bedah.2001. EGC: Jakarta Carbonel (2002).com. Analisa Bivariat Analisa bivariat adalah analisa yang digunakan untuk melihat hubungan antara variabel bebas (pendidikan pasien dan peran perawat) dengan variabel terikat (kecemasan pada pasien pre operasi). (2008). http://etd. Salemba Medika: Jakarta Brunner. Manajemen Administrasi Rumah sakit. http://www.

(2006).eprints. http://etd. (2010). Salemba Medika: Jakarta Oswari E. EGC : Jakarta Patricia. Manajemen Stress Cemas dan Depresi. (2009).ums. http://etd. Laporan Tahunan RSUD.eprints. Praktek Keperawatan Profesional : Konsep dan Perspektif.id. Fundamental Keperawatan.Hawari D.ac. Penerbit Gaya Baru: Jakarta Ibrahim (2006).ac. Dr. (2006). Konsep & Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Kozier. (2002). M.Potter dkk.ums. Bengkulu Notoatmodjo S. Medical Record. (2005). dkk. Edisi 4: Jakarta Makmur.id. Metodologi Penelitian Kesehatan. (2007).Volume 2. Yunus Bengkulu. EGC : Jakarta . PT Rineka Cipta: Jakarta Nursalam (2003). Bedah Dan Perawatannya.

CV Ref Grafika: Jakarta Setiadi (2007). semua zat yang di. Buku Ajar Bedah.Rineka Cipta: Jakarta Widodo. (2005). Diposkan oleh FERYN di 09:38 0 komentar: Poskan Komentar Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda Langgan: Poskan Komentar (Atom) Blog Archive  ▼ 2011 (26) o ► Desember (1)  PENDAHULUAN Pada masa kehamilan.eprints.. http://etd..id. EGC : Jakarta Sani A.Sabiston (1995).. PT. Was-was dan Khawatir (Ansietas). Graha Ilmu: Yogyakarta Sundari S.Volume I. Kesehatan Mental Dalam Kehidupan. (2007). Konsep dan Penulisan Riset Keperawatan. o ▼ Mei (12)  Gejala Anemia Pada Ibu Hamil  EKSTRAKSI VAKUM .ac. (1999).ums. Takut mati Cemas.

.N Dengan FRAKTU. Arbosi HIV/AIDS Ultasonik Yuk Pasang Sendiri Per dan Kampas Kopling Racing !...  Googling Dengan Google HacksHello there! If you ar. HUBUNGAN PENDIDIKAN DAN PERAN PERAWAT DENGAN TINGK.....o Kumpulan Askep MAKALAHASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny... MAKALAH SEMINAR“ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN...  Tips Adsense Tips -Tips Dalam Memasang Ikl.....  Membongkar Password Office 2000Hello there! If you....  Tips Membuat Hotspot Menggunakan Laptop Di Windows.. ► 2009 (6) o ► Desember (6)  if (WIDGETBOX) WIDGETBOX.. Proposal KTI Keperawatan ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN HIV-AIDS ► April (13)  ASKEP ATRIUM SEPTAL DEFEK (ASD)  DFX on AIMP  BASALIOMA NASOLABIAL SINISTRA  ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN HIV-AIDS  Cara Mengatasi Browser Mozilla Firefox Yang Hang S...  Melewatkan Serial Number Pada MS Office 2000Hello .  CARA POSTING BLOGSPOT DENGAN MENGGUNAKAN MICROSOFT.  Start Menu Windows XP Bergaya Windows VistaHello t. o ► Januari (1)  10 Cara Memperbaiki Windows XP Yang Tidak Bisa Boo..renderWidget('54bcd528-3d.  Tips mempercepat koneksi dial-up modem Koneksi in.. S DENG..  Cara memrubah prosesor            ► 2010 (2) o ► Maret (1)  Download Game Gratis hide Google Search Result....  Free Download Game : Worms 3D  free download Adobe Fireworks CS3 Portable  trik dan cara mempercepat koneksi modem semua mode.....  Total Tayangan Laman 4783 .....  Membuat Daftar File dan FolderHello there! If you .

Blogroll Kura kura Template by : kendhin x-template.blogspot.com Minggu. 13 Juni 2010 KARYA TULIS ILMIAH HUBUNGAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT DENGAN TINGKAT KECEMASAN PADA PASIEN PRE OPERASI SEKSIO CAESAR DIRUANG KEBIDANAN RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH PALEMBANG TAHUN 2010 Sebagai Salah Satu Syarat Dalam Menyelesaikan Program Pendidikan Diploma III Keperawatan Oleh : AGUSTUS 02 07 832 PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEPERAWATAN .

Ns H. Prodi D III Keperawatan Trilia WM. Santi Mismeriyanti BIOGRAFI Nama : Agustus Jenis kelamin : Laki-laki Tempat tanggal lahir : Betung. SPd.832 Telah di pertahankan didepan dewan penguji karya tulis ilmiah pada Tanggal 01 Februari 2010 dan dinyatakan telah memenuhi syarat untuk diterima SUSUNAN DEWAN PENGUJI Pembimbing Penguji I Penguji II Suzanna.SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH PALEMBANG TAHUN AKADEMIK 2009/2010 HUBUNGAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT DENGAN TINGKAT KECEMASAN PADA PASIEN PRE OPERASI SEKSIO CAESAR DIRUANG KEBIDANAN RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH PELEMBANG TAHUN 2010 Nama : Agustus Nim : 02. M. S. S. SMIP.Kep. 16 Agustus 1989 Agama : Islam Status dalam keluarga : Anak ke 11 Dari 12 saudara .Kep.07. M. Ns Adi Santosa. Lailani Badrun SPd. Kes Ketua STIKES Muhammadiyah Palembang dr.Kes Program Studi D III Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiayah Palembang Ka.

ayuk Sumi K’ Sudarsono K’ Amran K’ Rudi. .2008 • Tingkat II tahun : 2008 . SD : SD 06 NEGERI I Betung Tahun 1995 .2010 MOTTO DAN PERSEMBAHAN Motto : ”Ingatlah MATI seakan-akan kau mati besok.2001 2. DIII Keperawatan (STIKes) Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Palembang. • Buat saudaraku ayuk Tuti. K’ Dedi Yuk Anita.2009 • Tingkat III tahun : 2009 . dan ingatlah duniamu seakan-akan kau hidup 1000 tahun” Kupersembahkan : • Ayahanda (Lahmad. • Suzanna. • Sahabat terbaik ku yang tidak bisa diucapkan satu persatu • Teman2 PKLku Khusunya kelompok II • Almamater yang tercinta. SMA : SMA PGRI I Betung Tahun 2004 – 2007 4. Rimbah Asam. Ns sebagai pembimbing ku yang telah membantu dalam penyusunan KTI ku • Buat K’ Ali Hafis yang telah banyak memberi motivasi.Alamat : Jalan Palembang – Jambi Lk II Rt 031 Rw 08 No 24 Betung Kel. SMP : SMP PGRI I Betung Tahun 2001 . Betung Kab. Skep.2004 3. • Tingkat I tahun : 2007 . Banyuasin Riwayat Pendidikan : 1. dan adikku yang tercinta Kusmiati. Kec. Alm) dan Ibuda yang ku cinta yang telah berjasa dan selalu mendo’akan keberhasilanku setiap saat.

Kep.Kep Ns. SPd. Bapak Adi Santosa. Sehingga karya tulis ilmiah ini dapat penulis selesaikan. bimbingan serta saran dari berbagai pihak. Ibu dr. selaku Direktur Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang yang telah memberi kemudaan dalam pengurusan administrasi penelitian. Selaku penguji II yang memberikan kritik dan saran dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini. 5. SMIP. Lailani Badrun. Maka dari itu. Bapak H. Selaku pembimbing yang telah memberikan bimbingan serta pengarahan selama penulisan karya tulis ilmiah ini. 2. 4. S. pengalaman serta khilafan yang penulis miliki. AMKeb.KATA PENGANTAR Syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadiran allah SWT. M. Penyusunan karya tulis ilmiah ini tidak akan terlaksana dengan baik tampa bantuan. dengan ikhlas penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat mendidik dan membangun dari semua pihak demi kesempurnaan karya tulis ilmiah dimasa yang akan datang. Para dosen dan staf Program Studi DIII Keperawatan STIKes Muhammadiyah Palembang. Kes. amin. atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah (KTI) ini dengan judul ”Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Diruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Pelembang Tahun 2010” Dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini penulis menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan dikarnakan keterbatasan ilmu pengetahuan. 7. Selaku Ketua (STIKes) Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Palembang. Bapak dr. SKM selaku kepala ruangan Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang yang memberikan kemudaan dalam pengumpulan data. Ibu Suzanna S. Ns. M. 6. 9. Maret 2010 . Ibu Trilia WM. 3. Semoga Allah SWT membalas selalu melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya atas bantuan yang telah diberikan kepada penulis dalam penulisan karya tulis ilmiah ini. Ibu Eva Yulianti. Akhirnya semoga karya tulis ilmiah ini dapat bermanfaat bagi pembangunan ilmu pendidikan dan ilmu keperawatan serta bagi kita semua. SPd. Selaku Kepala Program Studi DIII Keperawatan STIKes Muhammadiyah Palembang. 8. Selaku penguji I yang memberikan kritik dan saran dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini. Yudi Fadila. Dan semua pihak yang telah memberikan bantuan. Santi Mismeriyanti. Untuk itulah pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih yang tak terhingga kepada : 1. Kes. Palembang.

sedangkan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi dengan tingkat kecemasan sedang sebesar 57% dan dengan tingkat kecemasan berat sebesar 43%. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan angket yang berupa kuesioner dan observasi yang berupa cheklis. JUNI 2010 AGUSTUS Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang 2010 ( xiii + 68 Halaman + 7 Tabel + 6 Lampiran) Komunikasi terapeutik merupakan komunikasi yang direncanakan secara sadar. Saran kepada petugas kesehatan diharapkan lebih meningkatkan komunikasi terapeutik yang baik kepada pasien pre operasi seksio caesar ataupun pasien yang lainnya. Dari hasil uji chisquare dengan pValue <0. Pada dasarnya komunikasi terapeutik merupakan komunikasi profesional yang mengarah pada tujuan yaitu penyembuhan pasien. Populasi penelitian adalah semua pasien pre operasi seksio caesar dan perawat di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang dari tanggal 22 Februari – 6 Maret tahun 2010 dengan jumlah sampel penelitian sebanyak 14 respondenn yang dipilih secara non random dengan teknik accidental sampling.Penulis. Daftar Bacaan : 15 (1996-2009) .05 menunjukan bahwa ada hubungan antara komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar. Penelitian ini bertujuan mengetahui Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat dengan Tingkat Kecemasan pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang 2010. Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa komunikasi terapeutik perawat mempengaruhi tingkat kecemasan pasien pre operasi seksio caesar. tujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien. ABSTRAK SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH PALEMBANG PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN KARYA TULIS ILMIAH. Hasil analisis univariat didapatkan komunikasi terapeutik perawat dengan kategori baik sebesar 36% dan kategori cukup sebesar 64%. Penelitian ini merupakan penelitian survey analitik dengan pendekatan cross sectional.

05 indicates that there is a relationship between therapeutic communication nurse with the anxiety level in patients pre Caesar section operation. This research is an analytical survey with cross sectional approach. Advice to health workers is expected to further improve therapeutic communication both to the patient pre Caesar section operation or other patients. while the level of anxiety in patients with pre surgery anxiety level was at 57% and with severe anxiety level of 43%.ABSTRACT HEALTH SCIENCE HIGH SCHOOL MUHAMMADIYAH PALEMBANG STUDY PROGRAMMES DIPLOMA OF NURSING WRITING SCIENTIFIC. From these results it is concluded that therapeutic communication nurse patient anxiety level welsh pre Caesar section operation. The study population was all patients pre and caesar section operation room nurse at Muhammadiyah Palembang Obstetric Hospital of the date of 22 February to 6 March 2010 with the number of samples is 14 respondenn selected non random accidental sampling technique. This research was conducted using a questionnaire in the form of questionnaires and observation in the form cheklis. Basically. Results Univariate analysis showed a nurse therapeutic communication with both categories by 36% and 64% adequate category. therapeutic communication is a professional communications that lead to the goal of healing the patient. JUNE 2010 AUGUST Relationps Communication Anxiety Therapeutic Nurse Level In Patients With Pre Caesar In Operating Room Midwifery Section Hospital Muhammadiyah Palembang 2010 ( xiii + 68 Pages + 7 Table + 6 Annex ) Therapeutic communication is consciously planned communication.2009) DAFTAR ISI Hal HALAMAN JUDUL i . Reading List : 15 (1996 . goals and activities focused on healing the patient. This study aimed to Therapeutic Communication Nurse Relations Anxiety Level in Patients with Pre Operation Caesar section Obstetric Hospital in Room 2010 of Muhammadiyah Palembang. From the results of chi-square test with p value <0.

8 Fase – Fase Dalam Komunikasi Teraupetik 20 2.1.1.2.5 Ruang Lingkup Penelitian 7 1.3 Pertanyaan Penelitian 6 1.7 Tehnik-Tehnik Komunikasi Terapeutik 14 2.2.2.3.2.1 Komunikasi Terapeutik 9 2.1.2.3.2.2.1.4 Penelitian Terkait 39 .1 Pengertian Seksio Sesarea 34 2.9 Pengukuran Skala Kecemasan 29 2.8 Penyebab Kecemasan (Ansietas) 28 2.2 Rumusan Masalah 6 1.1.4 Syarat-Syarat Komunikasi Terapeurik 10 2.5 Prinsip-Prinsip Komunikasi Terapeutik 11 2.1.5 Bentuk-Bentuk Kecemasan 27 2.3 Klasifikasi Seksio Sesarea 35 2.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kecemasan 26 2.3 Tingkat Kecemasan 25 2.1 Definisi Kecemasan (Ansietas) 22 2.1 Latar Belakang 1 1.6 Ciri-Ciri Kecemasan 27 2.4 Tujuan 7 1.1 Pengertian Komunikasi Terapeutik 9 2.2.3 Seksio Sesarea 34 2.HALAMAN PERSETUJUAN ii BIOGRAFI iii MOTTO DAN PERSEMBAHAN iv KATA PENGANTAR v ABSTRAK vi ABSTRACT vii DAFTAR ISI ix DAFTAR TABEL xii DAFTAR LAMPIRAN xiii BAB I PENDAHULUAN 1.2 Tujuan Komunikasi Terapeutik 10 2.2 Faktor-faktor yang Menyebabkan Seksio Sesarea 34 2.2 Kecemasan (Ansietas) 22 2.6 Sikap Komunikasi Terapeutik 13 2.1.2.3.6 Manfaat Penelitian 8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.2 Klasifikasi Kecemasan 24 2.3 Manfaat Komunikasi Terapeutik 10 2.7 Tanda-Tanda Kecemasan 28 2.1.

3 Tingkat Kecemasan Pasien Seksio Caesar 63 5. DEFINISI OPERASIONAL DAN HIPOTESIS 3.3.3 Lokasi dan Waktu Penelitian 46 4.3.1 Kerangka Konsep 41 3.3 Pembahasan 59 5.6 Instrumen Pengumpulan Data 46 4.2 Populasi dan Sampel Penelitian 45 4.2 Variabel 42 3.2 Variabel Peneliti 54 5.2 Sampel Penelitian 45 4.1 Persalinan 59 5.3.2.1 Kesimpulan 67 6.3 Definisi Operasional 43 3.3.9 Etika Penelitian 48 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN 5.2.4 Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data 46 4.2 Saran 67 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN DAFTAR TABEL .7 Pengolahan Data 47 4.1 Populasi Penelitian 45 4.BAB III KERANGKA KONSEP.1 Hasil 51 5.8 Analisa Data 48 4.5 Tehnik Pengumpulan Data 46 4.1 Desain Penelitian 45 4.4 Hipotesis 44 BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.2 Komunikasi Terapeutik Perawat 61 5.4 Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi Seksio Caesar ` 65 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.

2 : Persalinan Seksio Caesar Dan Spontan Tabel 5.5 : Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 : Surat Penelitian Lampiran 2 : Lembar Persetujuan Menjadi Responden Lampiran 3 : Quisioner Penelitian Lampiran 4 : Cheklist Penelitian Lampiran 5 : Output SPSS Lampiran 6 : Lembar Konsultasi .3 : Komunikasi Terapeutik Perawat Tabel 5.1 : Perencanaan Waktu Penelitian Tabel 5.1 : Jumlah Tempat Tidur Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang Tabel 5.4 : Tingakat Kecemasan Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Tabel 5.1 : Bagan Kerangka Konsep Tabel 4.Tabel 3.

1997). namun harus direncanakan. Pandangan setiap orang dalam menghadapi operasi berbeda. 2003). seringkali menjadi hambatan pada paska operasi. . Dan juga Komunikasi terapeutik bukan pekerjaan yang bisa diabaikan. dibandingkan dengan orang yang cemas ringan (Barbara C. untuk mengurangi kecemasan itu maka perawat harus memberikan komunikasi terapeutik kepada pasien pre operasi seksio caesar.1 Latar Belakang Komunikasi merupakan bagian integral dari kehidupan manusia tidak terkecuali seorang perawat. perawat membantu dan pasien menerima bantuan (Indrawati. sehingga dapat dikategorikan ke dalam komunikasi pribadi di antara perawat dan pasien. 2003). Komunikasi terapeutik juga merupakan kemampuan atau keterampilan perawat untuk membantu pasien beradaptasi terhadap stres. bingung. kecemasan sering muncul pada usia sebelum 30 tahun (Stuard and Sundeen. dan merupakan tindakan profesional. pasien menjadi cepat marah. Seseorang yang sangat cemas sehingga tidak bisa berbicara dan mencoba menyesuaikan diri dengan kecemasan sebelum operasi. Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang mendorong proses penyembuhan klien (Depkes RI. Setiap menghadapi operasi selalu menimbulkan ketakutan dan kecemasan pada pasien. 1996). Akan tetapi. dan belajar bagaimana berhubungan dengan orang lain. lebih mudah tersinggung akibat reaksi psikis. Komunikasi yang direncanakan secara sadar. mengatasi gangguan psikologis. bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien disebut dengan komunikasi terapeutik. jangan sampai karena terlalu asyik bekerja. kemudian melupakan pasien sebagai manusia dengan beragam latar belakang dan masalahnya (Arwani. disengaja. Persoalan mendasar dan komunikasi ini adalah adanya saling membutukan antara perawat dan pasien. 1998). Long. sehingga respon pun berbeda. Komunikasi terapeutik juga termasuk komunikasi interpersonal dengan titik tolak saling memberikan pengertian antar perawat dengan klien. Hal ini juga terkait dengan komunikasi perawat yang sangat dibutuhkan pada pasien operasi seksio caesar karena pada kondisi ini pasien cemas. yang dalam kegiatan sehari-harinya selalu berhubungan dengan orang lain.BAB I PENDAHULUAN 1.

Sebagian besar peningkatan ini berlangsung pada tahun 1970-an sampai awal 1980-an dan terjadi di seluruh negara barat. apa yang Kami kehendaki sampai . maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah. kecemasan yang sering terjadi adalah apabila pasien yang dirawat di rumah sakit harus mengalami proses operasi. 2009) Operasi adalah salah satu tindakan pengobatan yang banyak menimbulkan kecemasan. Tindakan operasi merupakan ancaman potensial aktual terhadap integritas seseorang yang dapat membangkitkan reaksi stress fisiologis maupun psikologis (Barbara C. 1989) Menurut World Heath Organization (WHO) angka persalinan dengan seksio caesarea yang wajar adalah 5-10 % dari seluruh kelahiran. 48% merupakan persalinan caesar. sedangkan sisanya dengan bantuan alat seperti vakum atau forsep (Kasdu. 1 diantara setiap 10 wanita yang melahirkan setiap tahunnya pernah menjalani seksio caesar. Ternyata diseluruh dunia angka operasi seksio caesarea meningkat dengan pesat. Sedangkan data yang diperoleh dari Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang pada tahun 2009 menyebutkan dari jumlah persalinan sebanyak 2331 per tahun. kemudian dari setetes mani. 2005). Kelahiran manusia dimuka bumi ini sudah di jelaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Hajj Ayat : 5 yang berarti ”Hai manusia. jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur). dan tuntutan malpraktik (Cunningham. agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim.5% adalah persalinan spontan. wanita yang hamil berusia lebih tua. kelompok atau individu. menyebutkan dari jumlah persalinan sebanyak 404 per bulan. kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna. Pembahasan tentang reaksi-reaksi pasien terhadap pembedahan sebagian besar berfokus pada persiapan pembedahan dan proses penyembuhan. Kecemasan merupakan sesuatu hal yang tidak jelas. 30% merupakan persalinan caesar. Untuk dapat menurunkan kecemasan pada pasien pre operasi salah satunya diperlukan komunikasi yang efektif terutama komunikasi terapeutik.Long. 2003). Bila kecemasan pada pasien pre operasi tidak segera diatasi maka dapat mengganggu proses penyembuhan.com ) Di Amerika Serikat. untuk itu pasien yang akan menjalani operasi harus diberi komunikasi terapeutik untuk menurunkan atau mengurangi gejala kecemasan serta dapat meningkatkan pengetahuan kesehatan pada pasien. Kecemasan merupakan perasaan yang paling umum dialami oleh pasien yang dirawat di rumah sakit.drdidispog. presentasi bokong. 40% persalinan normal. (http://www.000 wanita melahirkan dengan seksio caesar pada tahun 1998. Lebih dari 825. Operasi merupakan tindakan pengobatan yang banyak menimbulkan kecemasan. (Dewi wijayanti. kemudian dari segumpal darah. 52.Proses perawatan di rumah sakit seringkali mengabaikan aspek-aspek psikologis sehingga menimbulkan berbagai permasalahan pisikologis bagi pasien yang salah satunya adalah kecemasan. Komunikasi terapeutik pada hakikatnya adalah suatu kegiatan atau usaha untuk menyampaikan pesan kesehatan kepada masyarakat. Penyebab peningkatan ini adalah nulipara. Data dari RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta tahun 2000. sampai saat ini sebagian besar orang menganggap bahwa semua operasi yang dilakukan adalah operasi besar. dan 37% di antaranya pernah menjalani seksio caesar sebelumnya. pemantauan janin secara elektronik. Hal ini perlu mendapat perhatian serius dari perawat karena perawat merupakan petugas kesehatan yang terdekat dan terlama dengan pasien. sedangkan angka di Indonesia belum diketahui secara pasti. sedangkan sisanya dengan bantuan alat seperti vakum dan forsep. adanya perasaan gelisah atau tidak tenang dengan sumber yang tidak spesifik dan tidak diketahui oleh seseorang.

5 Ruang Lingkup Masalah 1.5..2 Waktu Penelitian ini dilakukan pada tanggal 22 Febuari sampai dengan tanggal 6 Maret tahun 2010. Beberapa penelitian telah membuktikan adanya kemungkinan untuk menurunkan angka seksio caesar di Institusi kesehatan mengurangi peningkatan mordibitas (kelahiran) atau mortalitas (kematian) perinatal. membatasi seksio caesar atas indikasi distosia persalinan pada wanita yang memenuhi kriteria yang ditentukan dengan ketat (Cunningham.4..2 Tujuan Khusus a) Diketahuinya gambaran komunikasi terapeutik perawat pada pasien pre operasi seksio caesar. Diamana pada tahap ini tingkat kecemasan pasien yang akan di operasi masih sangat tinggi.5.(Al-Quran Terjemah : Tohaputra Ahmad.. 1. 1. kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi.2 Rumusan Masalah Berdasarkan pada data diatas maka belum diketahui Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien pre Operasi Seksio Caesar Di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang 2010. b) Diketahuinya gambaran tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar c) Diketahuinya gambaran hubungan antara komunikasi terapeutik perawat/bidan dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar. . Karena komunikasi terapeutik salah satu tindakan perawat yang dapat mengurangi kecemasan. maka penulis tertarik untuk meneliti ”Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi Seksio Caesar” 1. mendorong percobaan persalinan pada wanita dengan riwayat seksio caesar transversal.1 Tujuan Umum Untuk mengetahui Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang.waktu yang sudah ditentukan. dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun.. kemudian (dengan berangsur.3 Pertanyaan Penelitian Bagaimana Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang? 1. 1. umumnya difokuskan pada upaya pendidikan dan pengawasan. Program-program yang ditujukan untuk mengurangi seksio caesar yang tidak diperlukan. 2005) Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas bahwa komunikasi terapeutik sangat dibutuhkan bagi pasien yang akan menjalani operasi seksio caesar. 1998).angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan.. supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya.1 Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan Di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang.4 Tujuan Penelitian 1. 1.4.

1 Manfaat Bagi Rumah Sakit Diharapkan dapat dijadikan masukan dan motivasi bagi rumah sakit untuk lebih menerapkan komuniksi terapeutik perawat dalam mengurangi tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar.6. Sehingga komunikasi terapeutik itu sendiri adalah komunikasi yang direncanakan dan dilakukan untuk membantu penyembuhan dan pemulihan pasien.2 Manfaat Bagi Institusi Pendidikan Diharapkan dapat menambah informasi dan referensi yang berguna bagi mahasiswa sekolah tinggi ilmu kesehatan Muhammadiyah Palembang. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. 2005).6. 1. Komunikasi terapeutik merupakan komunikasi profesional bagi perawat.1 Komunikasi Terapeutik 2.6. Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar. 1.6. ( Mukhripah Damaiyanti.6 Manfaat Penelitian 1.3 Manfaat Bagi Pasien Diharapkan dapat memberikan rasa nyaman dan aman pada semua pasien yang akan menjalankan operasi seksio caesar sehingga pasien yang menjalankan operasi tidak cemas dan operasi bisa berjalan dengan lancar.1. 1. Maka disini dapat di artikan bahwa terapeutik adalah segala sesuatu yang memfasilitasi proses penyembuhan.1 Pengertian Komunikasi Terapeutik Terapeutik merupakan kata sifat yang dihubungkan dengan seni dari penyembuhan (As Hornby Dalam Intan.4 Manfaat Bagi Peneliti Diharapkan dapat menambah ilmu pengetahuan dan wawasan bagi peneliti mengenai hubungan komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar. tujuan dan kegiatannya . 2008 ).

Komunikasi terapeutik termasuk komunikasi interpersonal dengan titik tolak saling memberikan pengertian antar perawat dengan pasien. Christina. mengungkap perasaan dan mengkaji masalah dan evaluasi tindakan yang dilakukan oleh perawat. 2. e.1. 2003) mengatakan ada dua persyaratan untuk komunikasi terapeutik efektif : a. 2003 ). 2. c. Perawat harus menciptakan suasana yang memungkinkan pasien memiliki motivasi untuk mengubah dirinya baik sikap. Pada dasarnya komunikasi terapeutik merupakan komunikasi profesional yang mengarah pada tujuan yaitu penyembuhan pasien. saling pecaya dan saling menghargai. Mengidentifikasi. 2. Bila perawat tidak memperhatikan hal ini. tingkah lakunya sehingga tumbuh mangkin matang dan dapat memecahkan masalahmasalah yang dihadapi. Perawat harus menciptakan suasana yang memungkinkan pasien bebas berkembang tanpa rasa takut. ( Indrawati. hubungan perawat-klien tersebut bukanlah hubungan yang memberikan dampak terapeutik yang mempercepat kesembuhan klien. Persoalan mendasar dan komunikasi ini adalah adanya saling membutuhan antara perawat dan pasien.3 Manfaat Komunikasi Terapeutik Manfaat komunikasi terapeutik adalah untuk mendorong dan menganjurkan kerja sama antara perawat dan pasien melalui hubungan perawat dan pasien.1. memahami dirinya sendiri serta nilai yang dianut. Persyaratan . 2. informasi atau masukan. dkk. (Indrawati. perawat membantu dan pasien menerima bantuan. (Mukhripah Damaiyanti.5 Prinsip-Prinsip Komunikasi Terapeutik Prinsip-prinsip komunikasi terapeutik menurut Carl Rogers (dalam Perwanto. d. .2 Tujuan Komunikasi Terapeutik Membantu pasien untuk memperjelas dan mengurangi beban perasaan dan pikiran serta dapat mengambil tindakan yang efektif untuk pasien.4 Syarat-Syarat Komunikasi Terapeutik Stuart dan Sundeen (dalam Christina. dkk. 2008 ). Komunikasi harus di tandai dengan sikap saling menerima. membantu mempengaruhi orang lain. Semua komunikasi terapeutik harus ditujukan untuk menjaga harga diri pemberi maupun penerima pesan. 2003 ).1. Perawat harus menyadari pentingnya kebutuan pasien baik fisik maupun mental. Kualitas asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien sangat dipengaruhi oleh kualitas hubungan perawat-klien. b.1. tetapi hubungan sosial biasa. 1994) adalah : a.Persyaratan untuk komunikasi terapeutik ini dibutuhkan untuk membentuk hubungan antara perawat dengan pasien sehingga klien memungkinkan untuk mengimplementasikan proses keperawatan. b. Komunikasi yang menciptakan saling pengertian yang harus dilakukan terlebih dahulu sebelum memberikan sarana. Komunikasi terapeutik ini akan efektif bila melalui penggunaan dan latihan yang sering. sehingga dapat dikategorikan ke dalam komunikasi pribadi di antara perawat dan pasien.dipusatkan untuk kesembuhan pasien. lingkungan fisik dan diri sendiri. Perawat harus mengenal dirinya sendiri yang berarti menghayati.

6 Sikap Komunikasi Terapeutik Egan (dalam Keliat. i. Kejujuran dan komunikasi terbuka merupakan dasar dari hubungan terapeutik j.f.7. Mampu berperan sebagai role model agar dapat menunjukan dan menyakinkan orang lain tentang kesehatan. a. 2. Memahami betul arti empati sebagai tindakan terapeutik dan sebaliknya sempati bukan tindakan terapeutik. k.1. Pertanyaan Fasilitatif Dan Nonfasilitatif Pertanyaan fasilitatif (Facilitative Question) terjadi jika pada saat bertanya perawat sensitif terhadap pikiran dan perasaan serta secara langsung berhubungan dengan masalah klien.1 Bertanya Bertanya (Questioning) merupakan tehnik yang dapat mendorong klien untuk mengungkapkan perasaan dan pikirannya. d. n. c. meskipun dalam situasi yang kurang menyenangkan.7 Tehnik-Tehnik Komunikasi Terapeutik 2. Tehnik berikut sering digunakan pada tahap orientasi. spiritual dan gaya hidup.1. 2. Mempertahankan sikap terbuka Tidak melipat kaki atau tangan menunjukan keterbukaan untuk berkomunikasi dan siap membantu. 1992). sedih marah. Membungkuk kearah klien Posisi ini menunjukan keinginan untuk menyatakan atau mendengarkan sesuatu. oleh karena itu perawat perlu mempertahan suatu keadaan sehat fisik mental. Bertanggung jawab dalam dua demensi yaitu tanggung jawab terhadap diri sendiri atas tindakan yang dilakukan dan bertanggung jawab dengan orang lain. mengindentifikasi lima sikap atau cara untuk menghadirkan diri secara fisik yang dapat memfasilitasi komunikasi terapeutik. Mempertahankan kontak mata Kontak mata pada level yang sama berarti menghargai klien dan menyatakan keinginan untuk tetap berkomunikasi. Perawat harus mampu menguasai perasaan sendiri secara bertahap untuk mengetahui dan mengatasi perasaan gembira. Berhadapan Arti dari posisi ini adalah saya siap untuk anda b. yaitu : a. Tetap rileks Tetap dapat mengendalikan keseimbangan antara ketegangan dan relaksasi dalam memberikan respons kepada pasien. sedangkan pertanyaan nonfasilitatif (Nonfacilitative Question) adalah pertanyaan yang tidak efektif karena memberikan . Altruisme untuk mendapatkan kepuasan dengan menolong orang lain secara manusiawi. m. Berpegang pada etika dengan cara berusaha sedapat mungkin mengambil keputusan berdasarkan prinsip kesejahteraan manusia. h. Mampu menentukan batas waktu yang sesuai dan dapat mempertahankan konsistensinya. Disarankan untuk mengekspresikan perasaan bila dianggap menganggu.1. l. e. keberhasilan maupun frustasi g.

D dalam Suryani. maka penilaiannya akan berdasarkan pandangan dan perasaannya. Selama mendengarkan. 1992 ). Pertanyaan Terbuka Dan Tertutup Pertanyaan terbuka (Open Question) digunakan apabila perawat membutuhkan jawaban yang banyak dari klien. 2.1. perasaan. Apabila perawat menginterpretasikan pembicaraan klien. 2005). Dengan demikian akan terhindar dari pembicaraan tanpa arah dan penggantian topik pembicaraan.7. Pada saat klarifikasi. 2005). Fokus utama klarifikasi adalah pada perasaan. 2005). S dalam Suryani.3 Mengulang Mengulang (Restarting) yaitu mengulang pokok pikiran yang diungkapkan klien. Gunanya untuk menguatkan ungkapan klien dan memberi indikasi perawat mengikuti pembicaraan klien ( Keliat.1. Dengan pertanyaan terbuka.6 Memfokuskan Memfokuskan (Focusing) bertujuan memberi kesempatan kepada klien untuk membahas masalah inti dan mengarahkan komunikasi klien pada pencapaian tujuan (Stuart.2 Mendengarkan Mendengarkan (Listening) merupakan dasar utama dalam komunikasi terapeutik (Keliat. 1994 ). Restarting (pengulangan) merupakan suatu strategi yang mendukung listening ( Suryani.1. 2.7.7. perawat harus mengikuti apa yang dibacakan klien dengan penuh perhatian. 2005 ). 2005). perawat mampu mendorong klien mengekspresikan dirinya (Antai-Otong dalam Suryani. dan isi pembicaraan kepada klien. 2005).pertanyaan yang tidak fokus pada masalah atau pembicaraan. Pertanyaan tertutup (Closed Question) digunakan ketika perawat membutuhkan jawaban yang singkat. Mendengarkan adalah proses aktif (Gerald. bersifat mengancam. Perawat memberikan tanggapan dengan tepat dan tidak memotong pembicaraan klien. 2005). minat. D. D dalam Suryani. Budi Anna. 2005). Hal ini digunakan untuk memvalidasi pengertian perawat tentang apa yang diucapkan klien dan menekankan empati. 2. dan penghargaan terhadap klien (Antai-Otong dalam Suryani. 2. D dalam Suryani.5 Refleksi Refleksi (Reflection) adalah mengarahkan kembali ide.4 Klarifikasi Klarifikasi (Clarification) adalah menjelaskan kembali ide atau pikiran klien yang tidak jelas atau meminta klien untuk menjelaskan arti dari ungkapannya ( Gerald. karena pengertian terhadap perasaan klien sangat penting dalam memahami klien. 2.1. dan tampak kurang pengertian terhadap klien (Gerald. 2005) dan penerimaan informasi serta penelaahan reaksi seseorang terhadap pesan yang diterima (Hubson. G. 1992). dalam Suryani.1. Budi Anna. b.W dalam Suryani. perawat tidak boleh menginterpretasikan apa yang dikatakan klien.7. pertanyaan.7. Hal yang . juga tidak boleh menambahkan informasi (Gerald. Tunjukkan perhatian bahwa perawat mempunyai waktu untuk mendengarkan ( Purwanto Heri.

Tehnik ini memberikan waktu pada klien untuk berfikir dan menghayati. memperlambat tempo interaksi. Tehnik ini membantu perawat dan klien untuk memiliki pikiran dan ide yang sama saat mengakhiri pertemuan.perlu diperhatikan dalam menggunakan metode ini adalah usahakan untuk tidak memutus pembicaraan ketika klien menyampaikan masalah penting (Suryani.1.1.11 Eksplorasi Eksplorasi bertujuan untuk mencari atau menggali lebih jauh atau lebih dalam masalah yang dialami klien (Antai-Otong dalam Suryani.1. 2005).7. 2005). Tehnik ini digunakan ketika . Poin utama dari menyimpulkan yaitu peninjauan kembali komunikasi yang telah dilakukan (Murray. atau memandang sesuatu dari sisi negatifnya.9 Menyimpulkan Menyimpulkan (Summerizing) adalah tehnik komunikasi yang membantu klien mengeksplorasi poin penting dari interaksi perawat-klien.1.W (1998) dalam Suryani (2005) menyatakan. Seorang perawat kadang memberikan tanggapan yang kurang tepat ketika klien mengungkapkan masalah.7 Diam Tehnik diam (Silence) digunakan untuk memberikan kesempatan pada klien sebelum menjawab pertanyaan perawat. 2.7. Diam akan memberikan kesempatan kepada perawat dan klien untuk mengorganisasi pikiran masing-masing (Stuart & Sundeen dalam Suryani. misalnya menyatakan : “sebenarnya apa yang anda pikirkan tidak seburuk itu kejadiannya”. 2005). Tehnik ini sangat membantu dalam mengajarkan kesehatan atau pendidikan pada klien tentang aspek-aspek yang relevan dengan perawatan diri dan penyembuhan klien. 2005) sehingga memungkinkan klien untuk membuat perencanaan yang lebih baik dalam mengatasi masalah yang dihadapinya.1.7. Diam juga memungkinkan klien untuk berkomunikasi dengan dirinya sendiri dan berguna pada saat klien harus mengambil keputusan (Suryani. D dalam Suryani.7. Tehnik ini sangat bermanfaat terutama ketika klien berfikiran negatif terhadap sesuatu. sambil perawat menyampaikan dukungan. B & Judith dalam Suryani.10 Mengubah Cara Pandang Tehnik mengubah cara pandang (refarming) ini digunakan untuk memberikan cara pandang lain sehingga klien tidak melihat sesuatu atau masalah dari aspek negatifnya saja (Gerald. 2005). 2005) supaya masalah tersebut bisa diatasi.12 Membagi Persepsi Stuart G. 2. 2. 2.1. pengertian. D dalam Suryani. membagi persepsi (Sharing Peception) adalah meminta pendapat klien tentang hal yang perawat rasakan atau pikirkan.7. dan penerimaannya.8 Memberi Informasi Memberikan tambahan informasi (Informing) merupakan tindakan penyuluhan kesehatan klien. Tehnik ini bermanfaat pada tahap kerja untuk mendapatkan gambaran yang detail tentang masalah yang dialami klien. 2. 2005). Informasi yang diberikan pada klien harus dapat memberikan pengertian dan pemahaman tentang masalah yang dihadapi klien serta membantu dalam memberikan alternatif pemecahan masalah (Suryani. 2005). Reframing akan membuat klien mampu melihat apa yang dialaminya dari sisi positif (Gerald.7. 2.

Tujuan tahap ini adalah untuk memvalidasi keakuratan data dan rencana yang telah dibuat dengan keadaan klien saat ini. Pada tahap kerja ini dituntut kemampuan perawat dalam mendorong klien mengungkap .1. 2002). 2. 2. 2.1 Tahap Persiapan (Preinteraksi) Tahap Persiapan atau prainteraksi sangat penting dilakukan sebelum berinteraksi dengan klien (Christina.8 Fase – Fase Dalam Komunikasi Terapeutik 2. Reinforcement berguna untuk meningkatkan harga diri dan menguatkan perilaku klien (Gerald.7.8.15 Memberikan Pujian Memberikan Pujian (Reinforcement) merupakan keuntungan psikologis yang didapatkan klien ketika berinteraksi dengan perawat. dkk. Pada tahap ini perawat dan klien bekerja bersama-sama untuk mengatasi masalah yang dihadapi klien. serta menurunkan tekanan darah dan nadi. Dengan memperkenalkan dirinya berarti perawat telah bersikap terbuka pada klien dan ini diharapkan akan mendorong klien untuk membuka dirinya (Suryani. dan meyakinkan dirinya bahwa dia siap untuk berinteraksi dengan klien (Suryani. dkk.7. 2005).1. 2. Pada tahap ini perawat juga mencari informasi tentang klien.W dalam Suryani. D dalam Suryani. Florence Nightingale dalam Anonymous (1999) dalam Suryani (2005) pernah mengatakan suatu pengalaman pahit sangat baik ditangani dengan humor.1.14 Humor Humor bisa mempunyai beberapa fungsi dalam hubungan terapeutik. 2005).1.8. 2005). serta mengevaluasi hasil tindakan yang lalu (Stuart.1. 2005). 2005).3 Tahap Kerja Tahap kerja ini merupakan tahap inti dari keseluruhan proses komunikasi terapeutik (Stuart.8. Gunanya adalah untuk meningkatkan pengertian dan menggali masalah penting (Stuart & Sadeen dalam Suryani. 2005). G. 2. Reniforcement bisa diungkapkan dengan kata-kata ataupun melalui isyarat nonverbal.2 Tahap Perkenalan Perkenalan merupakan kegiatan yang dilakukan saat pertama kali bertemu atau kontak dengan klien (Christina. Humor dapat meningkatkan kesadaran mental dan kreativitas.1. Pada tahap ini perawat menggali perasaan dan mengidentifikasi kelebihan dan kekurangannya.W dalam Suryani. 2002). G. Pada saat berkenalan.perawat merasakan atau melihat ada perbedaan antara respos verbal dan respons nonverbal klien. perawat harus memperkenalkan dirinya terlebih dahulu kepada klien (Brammer dalam Suryani. Kemudian perawat merancang strategi untuk pertemuan pertama dengan klien. 2005).1.13 Mengidentifikasi Tema Perawat harus tanggap terhadap cerita yang disampaikan klien dan harus mampu manangkap tema dari seluruh pembicaraan tersebut. 2.7. Tahap ini harus dilakukan oleh seorang perawat untuk memahami dirinya. mengatasi kecemasannya. Tehnik ini sangat bermanfaat pada tahap awal kerja untuk memfokuskan pembicaraan pada awal masalah yang benar-benar dirasakan klien.

W dalam Suryani. G.1. Perawat juga dituntut untuk mempunyai kepekaan dan tingkat analisis yang tinggi terhadap adanya perubahan dalam respons verbal maupun nonverbal klien.4 Tahap Terminasi Terminasi merupakan akhir dari pertemuan perawat dengan klien (Christina. Suatu sinyal yang menyadarkan. 2.2 Kecemasan (Ansietas) 2. perawat akan bertemu kembali dengan klien pada waktu yang telah ditentukan. 2003) e. a. Pada tahap ini perawat perlu melakukan active listening karena tugas perawat pada tahap kerja ini bertujuan untuk menyelesaikan masalah klien.2007. dan mengevaluasi cara atau alternatif pemecahan masalah yang telah dipilih. 1997) d. b. B & Judth dalam Suryani. Terminasi sementara adalah akhir dari tiap pertemuan perawat-klien. Melalui active listening.1 Definisi Kecemasan (Ansietas) Ansietas atau kecemasan adalah : a. Suatu keadaan ketidakseimbangan atau tegangan yang cepat mengusahakan coping (Hudak dan Gallo. 1998) b. kekhawatiran dan juga ditandai dengan aktifnya sistem syaraf pusat. Menurut Freud. . dengan kata lain kecemasan adalah reaksi atas situasi yang dianggap berbahaya. ninspesifik (Carpenito. Tahap ini dibagi dua yaitu terminasi sementara dan terminasi akhir (Stuart. kecemasan melibatkan persepsi tentang perasaan yang tidak menyenangkan dan reaksi fisiologis. kecemasan adalah kondisi emosional yang tidak menyenangkan.silvalintar. Respon emosional terhadap penilaian intelektual terhadap sesuatu yang berbahaya (stuart dan sundeen.8. dan membantu perawat-klien memiliki pikiran dan ide yang sama (Murray. 2005). yang ditandai oleh perasaan-perasaan subjektif seperti ketegangan. Suatu perasaan takut yang tidak menyenangkan dan tidak dapat dibenarkan yang sering disertai dengan gejala fisiologi (Tom. (www. Keadaan dimana individu atau kelompok mengalami perasaan gelisah (penilaian atau opini) dan aktivitas sistem syaraf autonom dalam berespon terhadap ancaman yang tidak jelas. Freud (dalam Arndt. perawat membantu klien untuk mendefinisikan masalah yang dihadapi. setelah terminasi sementara. 2.2. Terminasi akhir terjadi jika perawat telah menyelesaikan proses keperawatan secara keseluruhan. yang diikuti oleh reaksi fisiologis tertentu seperti perubahan detak jantung dan pernafasan. ketakutan.perasaan dan pikirannya. bagaimana cara mengatasi masalahnya. yang memperingatkan adanya bahaya yang mengancam dan memungkinkan seseorang mengambil tindakan untuk mengatasi ancaman (Kaplan dan Sadock.com ) Menurut Post (1978). 1974) menggambarkan dan mendefinisikan kecemasan sebagai suatu perasaan yang tidak menyenangkan. 2005). Tehnik menyimpulkan ini merupakan usaha untuk memadukan dan menegaskan hal-hal penting dalam percakapan. Perawat juga diharapkan mampu menyimpulkan percakapannya dengan klien. 2000) c. dkk. 2002). 1997) Ansietas adalah perasaan yang dialami terlalu mengkhwatirkan kemungkinan peristiwa yang menakutkan yang terjadi dimasa depan yang tidak bisa dikendalikan dan jika itu terjadi akan menilai mengerikan atau dapat diungkapkan sebagai orang yang benar-benar tidak mampu menata pikiran.

Hyperhyrosis. Kecemasan neorotik adalah ketakutan rehadap tidak terkendalinya naluri-naluri yang menyebabkan seseorang melakukan sesuatu tindakan yang mendatangkan hukuman bagi dirinya. b. yaitu pada saat individu masih menyadari konflik-konflik dalam diri yang menyebabkan cemas. Mudah berdebar-debar.Perasaan payah (lemah. Menurut Struat & Sunden (1998) mengidentifikasikan tingkat kecemasan dapat dibagi menjadi : a. b. Kecemasan moral adalah ketakutan terhadap hati nuraninya sendiri. Hypertensi sifatnya sistolik.2. Gejala-gejalanya : Perasaan takut. 2007) Adapun pendapat lain yang menyatakan bahwa kecemasan ada dua yaitu : a. Orang yang hati nuraninya berkembang baik cendrung merasa berdosa apabila dia melakukan sesuatu yang berlawanan dengan kode moral yang dimilikinya. kecemasan normal. Kecemasan Kronis Kecemasan timbul untuk sebab yang tidak diketahui (tidak di sadari). Pertama. Mungkin karena penderita tidak tahu sebab maka justru kecemasannya akanbertambah. Kedua. sehingga fisik makin bertambah pula.2. dan takut bisa berjalan beberapa menit atau beberapa jam. Hyperventilas. Perasaan tersumbat di tenggorokan. dan taraf kecemasannya sesuai dengan derajat ancaman yang ada. Mungkin penderita sadar. (Corey Gerald. Polyuri (sering kencing).2.2 Klasifikasi Kecemasan Ada tiga macam kecemasan yaitu : a. Bila gejala kecemasan hanya sedikit (40-50%) b. Kecemasan Ringan Pada tingkat kecemasan yang terjadi pada kehidupan sehari-hari dan kondisi membantu individu menjadi waspada dan bagaimana mencegah berbagai kemungkinan. Kecemasan Sedang Pada ringkat ini individu lebih menfokuskan hal penting saat ini dan mengesampingkan yang lain . lesu).3 Tingkat Kecemasan Menurut Jersild (1963) menyatakan bahwa ada dua tingkatan kecemasan. sebelumnya punya pengalaman emosi (biasa terdapat pada Ibu yang akan bersalin). lengkap tidak ditemukan kelainan apa-apa. Kecemasan Akut Keadaan dimana perasaan sakit berat. Keluhan-keluhan gastro intestinal. Pernafasan kasa. Kelelahan. Diarrhee. c. kecemasan neurotik. Kecemasan realistik adalah ketakutan terhadap bahaya dari dunia eksternal. Tachy cardi. ketika individu tidak menyadari adanya konflik dan tidak mengetahui penyebab cemas. 2. Gejalagejalanya: Sakit kepala. kecemasan kemudian dapat menjadi bentuk pertahanan diri. Pada pemeriksaan fisik .

terutama pada fungsi sistem syaraf.2. Panik Keadaan ini mengancam pengendalian diri. menurunnya respon untuk berhubungan dengan orang lain.2. denyut jantung yang bertambah keras. Manifestasi kognitif. Kartono (1981) menyebutkan bahwa kecemasan ditandai dengan emosi yang tidak stabil. yaitu: a.7 Tanda-Tanda Kecemasan Menurut Sue. diare. perasaan tidak menentu dan sebagainya.2. nafas sesak disertai tremor pada otot. sering dalam keadaan excited atau gempar gelisah. dan sebagainya. 2. Tingkat Psikologis. individu tidak mampu untuk melakukan sesuatu walaupun dengan pengarahan. jantung berdebar-debar. Perilaku motorik. Kecemasan yang sudah mempengaruhi atau terwujud pada gejala-gejala fisik.6 Ciri-Ciri Kecemasan Simptom-simptom somatis yang dapat menunjukkan ciri-ciri kecemasan menurut Stern (1964) adalah muntah-muntah. Nilai-nilai moral c. Faktor-faktor kultural merupakan faktor yang tidak dapat di abaikan. 2. 2. 1995) menyebutkan bahwa manifestasi kecemasan terwujud dalam empat hal berikut ini : a. para ahli membagi bentuk kecemasan itu dalam dua tingkat. Tingkat Fisiologis. sangat mudah tersinggung dan marah. Panik melibatkan disorganisasi keperibadian yang ditandai dengan meningkatnya kegiatan motorik. Bila gejala kecemasan ada sebagian (51-75%) c. Ketentuan pendidikan dan agama d. misalnya tidak dapat tidur. Bila semua gejala kecemasan ada (76100%) d. seringkali memikirkan tentang malapetaka atau kejadian buruk yang akan terjadi. bingung.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kecemasan a. kecemasan seseorang terwujud dalam gerakan tidak menentu seperti gemetar. semua perilaku ditunjukan untuk mengurangi kecemasan. perut mual. b.2. individu tersebut mencoba memusatkan perhatian pada lahan lain dan memerlukan banyak pengarahan. Tingkatkan individu tersebut dalam menanggapi batasan-batasan sosiokulturil tersebut 2.sehingga mempersempit lahan persepsinya. . yang terwujud dalam pikiran seseorang.5 Bentuk-Bentuk Kecemasan Menurut Bucklew (1980). khawatir. b. b. Kecemasan Berat Pada tingkat ini lahan individu sangat menurun dan cendrung memusatkan perhatian pada hal-hal lain. seringkali buang air. Tingkah laku panik ini tidak mendukung kehidupan individu tersebut. Kecemasan yang berwujud sebagai gejala-gejala kejiwaan. seperti tegang. gemetar. Ketentuan hukum. dkk (dalam Kartikasari. distory persepsi dan kehilangan pikiran yang rasional.

rasa lemah seperti mau pingsan. Gejala sensorik ditandai oleh : tintus. Gejala somatik ditandai oleh : nyeri pada otot. ketakutan pada keramaian lalu lintas.2. ketegangan otot. Perasaan terisolasi f. i. mudah menangis. Kehilangan kendali c. Timbunya stimulus ansietas termasuk hal yang mengancam keamanan individu. bangun dini hari. nyeri dada. Ancanman ketidakberdayaan b. Takut mati 2. gigi gemeretak.8 Penyebab Kecemasan (Ansietas) Menurut Hudak dan Gallo (1997) penyebab yang paling umum dari ansietas di rumah sakit : a. perasaan di tusuk-tusuk. muncul dalam keadaaan mulut kering. terbangun malam hari. dan perasaan tegang yang berlebihan. Perasaan depresi di tandai oleh : kehilangan minat. merasa nafas . Penyebab ansietas adalah kejadian yang dapat menimbulkan ansietas. Gejala kardiovaskuler ditandai oleh : takikardia. g. Perubahan somatik. daya ingat buruk. firasat buruk. lesu. peningkatan tekanan darah dan lain-lain. perasaan tercekik. tidak dapat istirahat tenang. sering kencing. merasa lemah. diare. mimpi yan menakutkan. Yaitu mengukur aspek kognitif dan efektif yang meliputi (Hawari. b. Perasaan cemas. kaku. Ansietas terjadi bila ada : a. Kegagalan membentuk pertahanan e. takut akan pikiran sendiri. 2001) : a. d.2. Ansietas dialami saat terdapat suatu ancaman ketidak berdayaan atau kurang pengendalian. f. gelisah. Ketegangan yang di tandai oleh : merasa tegang. Gangguan tidur ditandai oleh : sukar untuk tidur. mimpi-mimpi. kedutan otot. c. Perasaan terisolasi dapat dikurangi dengan mengajak pasien berbicara tentang pengobatan dan penyentuhannya saat keadaan yang menakutkan. Gangguan kecerdasan ditandai oleh: sukar konsentrasi. j. mimpi buruk. Ketakutan ditandai oleh : Ketakutan pada gelap.9 Pengukuran Skala Kecemasan Instrumen lain yang dapat digunakan untuk mengukur skala kecemasan adalah Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS). diwujudkan dalam perasaan gelisah. 2. Ketakutan ditinggal sendiri. Gejala pernafasan di tandai oleh : Rasa tertekan atau sempit didada. gemetar. berdebar-debar. h. b. mudah terkejut. penglihatan kabur. Hampir semua penderita kecemasan menunjukkan peningkatan detak jantung. e. daya ingat menurun. perasaan berubah sepanjang hari. c. tangan dan kaki dingin. suara tidak stabil. denyut nadi mengeras. sedih. ketegangan otot dan tekanan darah. d. ditandai dengan : cemasan. muka merah dan pucat. detak jantung hilang sekejap. gelisah dan mudah terkejut. kurangnya kesenangan pada hoby.c. Afektif. dan mudah tersenggung. bangun dengan lesu. Perasaan kehilangan fungsi dan harga diri d. Penerimaan di unit perawatan kritis secara daramatid meyakinkan pasien dan keluarga bahwa keamanan meraka pada semua tingakat secara hebat terancam. tidur tidak nyenyak. respirasi. ketakutan pada kerumunan orang banyak. Ketakutan pada orang asing. ketakutan pada binatang besar.

ditandai oleh : gelisah. Gejala Urogenital ditandai oleh : sering kencing. p. e. hal ini sangat menjengkelkan saya. Saya menginginkan kebahagiaan seperti orang yang saya lihat. sehingga saya tidak duduk terlalu lama. Saya jarang berdebar-debar maupun bernafas tersengal-sengal. rasa panas di perut. sakit kepala. Saya jarang sakit kepala. Perilaku sewaktu wawancara. mudah berkeringat. frigiditas.pendek/sesak. t. dan kontipasi (sukar buang air besar) l. mengerutkan dahi atau kening. ereksi melemah. Seringkali saya bermimpi tentang sesuatu yang sulit untuk diceritakan pada orang lain. Menunggu membuat saya gelisah. Gejala Gastrointestinal ditandai oleh : sulit menelan. Saya sering mencemaskan sesuatu maupun orang lain. c. saya tidak mudah tersipu-sipu seperti kebanyakan orang lain. pusing. n. Tidur saya sering terganggu dan tidak nyenyak. Saya jarang mengalami sakit perut. Salah satu pengukuran kecemasan menurut : Taylor Manifest Anxiety Scale (TMAS). Saya tidak pernah merasa tersipu-sipu bila sesuatu terjadi pada diri saya. b. bahwa saya kadang-kadang merasa khawatir tanpa sesuatu alasan tertentu pada suatu hal . Pada waktu-waktu tertentu saya merasa gelisah. Saya merasa lapar hampir setiap saat. sehingga sukar untuk tidur x. Saya lebih merasa sensitif (peka) daripada kebanyakan orang. n. h. Tangan dan kaki saya biasanya cukup hangat. Saya sering merasa tegang pada waktu bekerja. Saya mudah menangis. Pernyataanpernyataan adalah sebagai berikut : a. Saya akui. berat badan menurun. Saya selalu merasa gembira setiap saat. muka merah kering. Tangan saya sering terasa gemetar bila mencoba mengerjakan sesuatu. v. o. perut melilit. Saya jarang merasa sembelit. sering menarik nafas panjang. Saya mudah merasa malu. Saya mengalami mencret sekali atau lebih dalam 1 bulan. Saya lebih tenang bila dibandingkan dengan orang lain. amenorrhagia. Kadang-kadang saya tidak dapat tidur karena mengkhawatirkan sesuatu. bulu-bulu berdiri. Saya sering merasa bahwa saya dihadapkan pada banyak kesulitan yang tidak dapat saya selesaikan. masa haid berkepanjangan. jari gemetar. tidak tenang. Saya mengalami kesukaran untuk melakukan konsentrasi menanggapi suatu masalah. Saya merasa risau bila memikirkan masalah-masalah keuangan dan pekerjaan. r. w. ejakuasi prekok. i. perut terasa kembung atau penuh. Gejala Otonom ditandai oleh : mulut kering. masa haid amat pendek. g. muntah. q. nyeri lambung sebelum atau sesudah makan. Ketika saya merasa malu. tidak dapat menahan kencing. k. mual. muka tegang tonus otot meningkat. Kadangkadang saya merasa gembira sekali. Saya sering mengalami mimpi yang menakutkan pada waktu tidur malam hari. u. l. defekasi lembek. Saya merasa khawatir kalau-kalau muka saya menjadi merah karena malu. Saya sering merasa mual. Saya tidak cepat lelah. haid beberapa kali dalam sebulan. s. gangguan pencernaan. Saya sering mengkhawatirkan diri saya terhadap sesuatu. kepala terasa berat. f. m. kadang-kadang keringat saya bercucuran. d. amenorrhoe. k. m. Biasanya saya bersikap tenang dan tidak mudah marah. j. nafas pendek dan cepat dan muka memerah. Kalau terjadi sesuatu pada diri saya. Saya khawatir akan terjadi kesulitan yang menimpa diri saya. ereksi hilang dan inpoten.

3. 2. 2005).3. presentasi bahu. dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding perut dan dinding rahim dengan sayatan rahim dalam keadaan utuh (Sarwono. letak lintang. 2) Pada dinding perut dibuat insisi mediana mulai dari atas simfisis sepanjang ±12 cm sampai dibawah umbilikus lapis demi lapis sehingga kavum peritoneal terbuka. Penyakit ibu yang dapat mempengaruhi seksio sesarea adalah: preeklampsi-eklampsi berat. 2. ruptur uteri.3. vasa previa. bayi kembar (Multiple Pregnancy) (Benson. kelainan tali pusat (prolapsus tali pusat/tali pusat menumbung. 2008).2005). 2. faktor plasenta: solusio plasenta. penyakit jantung berat pada ibu. gawat janin atau fetal distress. Bila dibandingkan dengan teman-teman maka saya tidak seperti mereka. presentasi dahi.1 Pengertian Seksio Caesar Seksio caesar adalah melahirkan janin yang sudah mampu hidup (beserta plasenta dan selaput ketuban) secara transabdominal melalui insisi uterus (Benson. . presentasi majemuk). Faktor Janin Faktor janin yang menyebabkan seksio caesar adalah: janin dengan anomali (Meningokel. keadaan melemahkan lainnya (Benson. faktor-faktor yang menyebabkan seksio sesarea adalah dari faktor ibu dan janin. tulang panggul. malposisi dan malpresentasi (presentasi bokong. faktor hambatan jalan lahir. bayi terlalu besar (Makrosomia (>4000 gram). 2008). diabetes. eritroblastosis.yang tidak berarti. Faktor Ibu yang menyebabkan seksio sesarea adalah: usia.3 Klasifikasi Seksio Caesar a. posisi dagu posterior. Seksio caesar adalah suatu persalinan buatan. y. 2007).3 Seksio Caesar 2. Hidrosefalus). b. ruptur uteri (Cunningham. Faktor Ibu Menurut Cunningham (2005) dan Benson (2008). Teknik Seksio Caesar Klasik 1) Mula-mula dilakukan desinfeksi pada dinding perut dan lapangan operasi dipersempit dengn kain suci hama.2 Faktor-faktor yang Menyebabkan Seksio Sesarea a. 2008). plasenta previa. Seksio Caesar Klasik Sebuah pengirisan memanjang di bgian tengah yang memberikan satu ruang yang lebih besar (10-14 cm) untuk mengeluarkan bayi (Cunningham. persalinan sebelumnya dengan seksio caesar. defleksi kepala.

d) Jika menggunakan anestesi lokal. 8) Setelah dinding rahim dijahit. atau adanya tumor-tumor di daerah segmen bawah rahim. Janin dilahirkan dengan meluksir kepala dan mendorong fundusuteri. Lapisan II : Hanya miometrium saja dijahit secara simpul. dijahitbsecara simpul dengan benang cutgut biasa. Indikasi Seksio Caesar Indikasi seksio Caesar klasik menurut Sarwono 2007 : 1) Bila terjadi kesukaran dalam memisahkan kandung kencing untuk mencapai segmen bawah rahim. d) Lebih mudah diperbaiki. Lapisan I : Endometrium bersama miometrium dijahit secara jelujur dengan benang catgut khoromik. kemudian dierlebar secara sagital dengan gunting. 5) Setelah kavum uteri terbuka. b) Keluarnya janin lebih cepat. 6) Plasenta dilahirkan secara manual disuntikkan 10 U oksitosin ke dalam rahim secara intra mural. c. 2) Janin besar dalam letak lintang. Teknik Seksio Caesar Transperitoneal Profunda 1.mula dilakukan desinfeksi pada dinding perut dan lapangan operasi dipersempit dengan kain suci hama. Setelah janin lahir seluruhnya. Seksio Caesar Transperitoneal Profunda Dilakukan dengan membuat sayatan atau irisan horizontal di bagian bawah rahim (Kasdu. Mula. tali pusat dijepit dan dipotong diantara kedua penjepit. Lapisan III : Perimetrium saja. Kekurangan: a) Lebih berisiko terkena peritonitis (radang selaput perut). . b. 9) Rongga perut dibersihkan dari isa-sisa darah dan akhirnya luka dinding perut dijahit. b) Memiliki risiko empat kali lebih besar terkena ruptur uteri pada kehamilan selanjutnya. c) Tidak menyebabkan perlekatan usus atau omentum ke garis insisi. 4) Di buat insisi secara tajam dengan pada segmen atas rahim (SAR). 7) Luka insisi SAR dijahit kembali. selaput ketuban dipecahkan. 2003). c) Otot-otot rahimnya tebal dan lebaih banyak pembuluh darah sehingga sayatan ini lebih banyak mengeluarkan darah. 3) Plasenta previa dengan insersi plasenta di dinding depan segmen bawah rahim.3) Dalam rongga perut disekitar rahim dilingkari dengan kasa laparotomi. sayatan ini akan memerlukan waktu dan obat lebih banyak (Kasdu. kedua adneksa dieksplorasi. 2003). misalnya karena adanya perlekatan –perlekatan akibat pembedahan seksio caesar yang lalu. Kelebihan: a) Memerlukan sedikit pemisahan kandung kemih dari miometrium. Pada dinding perut dibuat insisi mediana mulai dari atas simfisis sampai di bawah umbilikus lapis demi lapis sehingga peritonei terbuka. 2.

6. Kelebihan : Penjahitan luka lebih mudah. janin dilahirkan dengan meluksir kepalanya. Kedalam otot rahim intra mural disuntikkan 10 U oksitosin. Plika vesikouterina ini disisihkan secara tumpul ke arah samping dan bawah. Kategori cukup 9 orang ( 26. Rongga perut dibersihkan dari sisa-sisa darah dan akhirnya luka dindina perut dijahit (Sarwono. kedua adneksa diejsplorasi 8. 5. Setelah dinding rahim selesai dijahit. Di buat insisi pada segmen bawah rahim 1 cm di bawah irisan plika vesikouterina tadi secara tajam dengan pisau bedah ±2 cm. Menurut penelitian Tri Setiani 2009.Untuk kategori baik sebanyak 47. dan kandung kencing yang telah disisihkan ke arah bawah dan samping dilindungi dengan spekulum kandung kencing. Pada fase ini 14. Tali pusat dijepit dan dipotong. Luka dinding rahim dijahit Lapisan I : Dijahit jelujur. Setelah kavum uteri terbuka. Penutupan luka dan reperetonialisasi yang baik. Badan janin dilahirkan dengan mengait kedua ketiaknya. selaput ketuban dipecahkan. Dibuat bladder-flap. Dibandingkan dengan cara klasik kemungkinan ruptur uteri spontan kurang atau lebih kecil.5% ) sedangkan kategori kurang yaitu sebanyak 5 orang ( 14. 4. Kekurangan : Luka dapat melebar kekiri. Ernaldi Bahar Propinsi Sumatra Selatan tahun 2008.4 Penelitian Terkait Menurut penelitian Eka Fitrianti 2008.7% masih dalam kategori kurang dimana responden tidak menjelaskan tindakan keperawatan yang dilakukan seharusnya perawat menjelaskan tindakan keperawatan yang dilakukan agar tidak menimbulkan kecemasan pada pasien dengan demikian komunikasi terapeutik pada fase kerja tidak ada lagi dalam katogori kurang. Di peroleh data mengenai gambaran peran perawat pelaksana dalam menerapkan teknik komunikasi terapeutik pada teknik menyimpulkan pada pasien gangguan jiwa diruang rawat inap Rumah Sakit Dr. Uterin putus sehingga mengakibatkan perdarahan yang banyak. Mohammad Hoesin Palembang. plasenta dilahirkan secara manual.7% ). Dalam rongga perut disekitar rahim dilingkari dengan kasa laparotomi. kemudian diperlebar melintang secara tumpul dengan kedua jari telunjuk perator. yang dilakukan pada keseluruhan responden didapatkan bahwa dari 34 responden yang melakukan komunikasi terapeutik pada fase kerja dengan baik yaitu 20 orang ( 58. dari hasil penelitian di instalasi kebidanan dan penyakit kandungan Rumah Sakit Dr. Arah insisi pada segmen bawah rahim dapat melintang (transversa) atau membujur (sagital). yaitu dengan menggunting peritoneum kandung kencing (plika vesikouterina) didepan segmen bawah rahim (SBR) secara melintang. Penelitian ini dapat digambarkan bahwa peran perawat pelaksana komunikasi terapeutik pada teknik menyimpulkan tergolong kurang. Kategori cukup 8 responden (27%) dan 6 responden (20%) dikategorikan . Mohammad Hoesin Palembang terdapat 30 responden didapat data bahwa pengetahuan ibu bersalin dengan SC tentang perawatan bekas sayatan SC dengan kategori baik sebanyak 16 responden (53%).38%.62% dan kategori kurang sebanyak 52.3. Dari hasil penelitian Rosalina 2008. pada endometrium da miometrium Lapisan II : Dijahit jelujur hanya pada miometrium saja Lapisan III : Dijahit jelujur pada plika vesikouterina 7. 2007). kanan bawah.8% ). 2. Mengenai penerapan komunikasi terapeutik pada pasien DM Di Irna Non Bedah Rumah Sakit Dr.Keluhan kandung kemih.

BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL 3.kurang.1 Kerangka Konsep Kerangka konsep penelitian adalah suatu hubungan atau kaitan antara konsep satu terhadap konsep yang lainnya dari masalah yang ingin diteliti. dari variabel itulah konsep dapat diamati dan diukur (Notoatmodjo. Berdasarkan hal tersebut maka kerangka konsep penelitian hubungan komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar adalah sebagai berikut: Variabel Dependen Variabel Independen . Tingkat kecemasan merupakan salah satu tolak ukur yang digunakan untuk mengukur kecemasan pada pasien pre operasi seksio sesarea. Komunikasi terapeutik merupakan suatu hubungan atau interaksi antara perawat dengan pasien. konsep adalah suatu abstraksi yang dibentuk dengan menggeneralisasikan suatu pengertian oleh karena itu konsep tidak dapat diamati dan dapat diukur. maka konsep tersebut harus dijabarkan kedalam variabel-variabel. 2005).

1989) Ordinal 3. Persalinan normal / spontan Nominal 2 Komunikasi terapeutik perawat Komunikasi yang dilakukan oleh perawat dengan pasien yang meliputi dari fase prainteraksi. Persalinan SC 2. kerja. Kurang jika yang menjawab benar < 60 % dari pertayaan yang diajukan ( Arikunto. 2006 ) Ordinal 3 Tingkat kecemasan pasien pre operasi seksio caesar Merupakan tingkat kecemasan yang dialami oleh pasien pre operasi SC yang diukur dengan cara Anxiety Scale Observasi Checklist 1. orientasi. Cukup jika yang menjawab benar antara 60-75% dari pertayaan yang diajukan 3.2 Definisi Operasional No Variabel Definisi Operasional Cara Ukur Alat Ukur Hasil Ukur Skala 1 Operasi seksio caesar Merupakan salah satu cara melahirkan janin melalui insisi pada dinding perut dan dinding uterus Observasi Cheklist 1. Ringan jika nilainya ( < 50 %) 2.Keterangan : : Yang diteliti : Tidak diteliti Sumber : Menurut teori Lawrence Green (Dalam Notoatmodjo Soekidjo. Sedang jika nilainya (50-75 %) 3.3 Hipotesis Ada hubungan antara komunikasi terapeutik perawat/bidan dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar. Wawancara Kuiesioner 1. 2007) 3. Berat jika nilainya (> 75 %) (Struat & Sunden. . dan terminasi. Baik jika yang menjawab benar > 75 % dari pertayaan yang diajukan 2.

Populasi Penelitian Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti (Notoatmodjo.1. 2005). Populasi dan Sampel Penelitian 4.BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4. 4.2.2. Persiapan seminar proposal √ 4.1 Perencanaan Waktu Penelitian Kegiatan Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Juni Juli 1. Desain Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian yang bersifat hubungan analitik menggunakan tehnik cross sektional. Penelitian yang dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang 2010. Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien pre operasi seksio caesar dan perawat/bidan di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang.1. Tempat dan Waktu Penelitian 4. Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan serangkaian kegiatan yang dilaksanakan dengan perencanaan waktu sebagai barikut : Tabel 4. Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan Diruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang 2010.2. Pembahasan bab I-IV √ √ 3. 4.3. Sampel Penelitian Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmojo.2. 4. Sampel dalam penelitian ini menggunakan metode accidental yaitu sampel yang diambil dari responden atau kasus yang kebetulan ada atau tersedia. 2005).2.3.1. Pengajuan judul √ 2. 4. Seminar proposal √ .3.

4. Penelitian langsung mengambil data pada subyek penelitian langsung pada nilai operasi. Persiapan komprehensif √ 8.4. Tehnik Pengumpulan Data Pada penelitian ini data yang diperoleh adalah data primer yaitu Data primer berupa angket yang dibagikan kepada responden dengan cara menggunakan kuesioner yang dikembangkan sendiri oleh penulis (Notoatmojo.5.5. Pengolahan Data Menurut Hastono (2001) pengolahan data dapat jelaskan sebagai berikut : 4. Pengumpulan data dilakukan sendiri oleh penulis dengan cara melakukan pengamatan (observasi) secara langsung kepada responden dengan menggunakan observasi atau cheklist yang dikembangkan sendiri oleh peneliti dan wawancara langsung dengan pasien dengan menggunakan kuesioner yang dikembangkan sendiri oleh peneliti.3.4.5.4. Rumus pengolahan data bila respon : . Ujian √ 4.1. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data 4. data tersebut perlu diperiksa terlebih dahulu apakah telah sesuai dengan yang diharapkan atau tidak. Coding ( Pengkodean ) Dalam melakukan pengolahan data dengan baik. Dan data sekunder diperoleh dari Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang yang berupa data yang diambil dari Medical Record. 4.5.2. Editing ( Pegolahan Data ) Klasifikasikan jawaban / hasil yang ada menurut macamnya ke bentuk yang lebih ringkas dengan menggunakan kode.5. Instrumen Pengumpulan Data Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data adalah Wawancara (Kuesioner) dan observasi (Check List). 4. Entry Data ( Memasukan Data ) Memasukan hasil data penelitian ke dalam tabel sesuai dengan kriteria. 4. 4. Penelitian √ √ 6.2.1. 4. Cleaning Data ( Pembersihan Data ) Pemeriksaan kembali data yang telah dimasukan sehingga benar – benar bebas dari kesalahan kemudian diuji kebenarannya. Komprehensif √ 9.5. 2003). Pembahasan bab V-VI √ √ 7.

4.6.6. Bila subjek menolak.1.6. Analisa Data 4. maka peneliti tidak boleh memaksa dan harus tetap menghormati hakhak subjek. c. jika responden menjawab ”Tidak ” nilainya 0. maka setiap kuisioner nilainya dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut : R = n x 100 % N Keterangan : R : Indeks kesesuaian prilaku n : Jumlah responden yang menjawab ”Ya” N : Jumlah pertayaan 4.75% dari pertayaan yang diajukan c. ¬¬ . Analisa Bivariat Analisa bivariat dilakukan untuk melihat hubungan antara dua variabel independen yang meliputi : Tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar dengan variabel dependen : Komunikasi terapeutik perawat.a.7. Etika Penelitian Dalam melakukan penelitian. tetapi pada lembar tersebut diberiakan kode. 4. Analisa Univariat Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah univariat terhadap tiap variabel dari hasil penelitian dalam hal ini hanya menghasilkan distribusi frekuensi dan persentase dari tiap variabel. Confidentiality (Kerahasiaan) Kerahasiaan informasi responden dijamin oleh peneliti. Kurang jika yang menjawab benar < 60 % dari pertayaan yang diajukan Jika responden menjawab ”Ya” nilainya 1. Cukup jika yang menjawab benar antara 60 . Baik jika yang menjawab benar > 75 % dari pertayaan yang diajukan b. Dalam hal ini untuk melihat hubungan antara dua variabel independen dan dependen digunakan uji Chi square (SPSS). Anonimity (Tanpa Nama) Untuk menjaga kerahasiaan. Setelah mendapat persetujuan barulah penelitian menekankan masalah etika yang meliputi: a.2. Lembar informend consed harus dilengkapi dengan judul penelitian dan manfaat penelitian. dan hanya kelompok data tertentu yang akan dilaporkan sebagai hasil penelitian. Responden harus memenuhi kriteria inklusi. peneliti tidak akan mencantumkan nama responden. peneliti perlu membawa rekomendasi dari Institusi dari pihak lain dengan cara mengajukan permohonan izin pada Instiusi/Lembaga penelitian yang dituju oleh peneliti. Informend Consent Lembar persetujuan ini diberikan pada responden yang akan diteliti. b.

baik pelayanan. peralatan non medis dan peralatan penunjang lainnya. Pada saat ini Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang lebih menggembirakan jika dilihat dari berbegai sektor. Syaraf c.1 Visi.1 Gambaran Rumah Sakit Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang adalah Amal Usaha Persyarikatan Muhammadiyah yang diresmikan tanggal 10 Dzulhijjah 1417 H/ 18 April 1997 oleh Gubernur Propinsi Sumatera Selatan (Bapak H.2 Fasilitas Pelayanan a.1. Paru e. Amien Rais) merupakan satu satunya amal usaha dibawah langsung PWM SumSel. Anak . 2. Paramedis (Perawat. ramah. b) Misi 1. 3. modern. Kebidanan dan Kandungan b. c) Motto ” Pelayanan sebagai Ibadah dan Dakwah”. terkemuka. Bidan) dan karyawan yang terampil dan berkemampuan dengan didukung oleh peralatan-peralatan canggih. Memberikan pelayanan kesehatan secara profesional. Insya Allah Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang akan selalu memupuk dan memelihara kepercayaan masyarakat melalui dipenuhinya dokterdokter spesialis. 5. Penyakit Dalam d. dan Motto a) Visi Terwujudnya Rumah Sakit yang profesional. 5.BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5. pelayanan yang cepat. dan islami sehingga menjadi rahmatan lil’alamin bagi masyarakat.1. mengesankan dan bernuansa islami. DR. Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang telah berkembang cukup pesat dan berkat ridho Allah SWT dan dukungan masyarakat rumah sakit ini sudah sama dengan rumah sakit lainnya di kota Palembang. dokter umum. peralatan medis. dan islami kepada masyarakat. Misi. Mewujudkan citra sebagai Rumah Sakit islam kebanggaan Muhammadiyah yang berfungsi sebagai wahana ibadah dan berperan aktif sebagai media dakwah persyarikatan dalam bidang kesehatan. Ramli Hasan Basri) bersama Ketua PP Muhammadiyah (Bapak Prof. simpatik. modern. Menjadi pusat persemaian kader Muhammadiyah dalam bidang kesehatan. ruangan yang bersih.

..1 Jumlah Tempat Tidur Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang 2010 RUANG Kelas TT Tidur VIP Khusus VIP Utama I A I B II A II B IIIA III B Bedah . Bedah i.....f..... Ambulance 5..3 Tempat Tidur Tabel 5. ICCU /ICU.... IGD. didapatkan dari 14 responden pada perawat dan pasien pre operasi seksio caesar yang dilakukan di ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang. .8 10 ... THT h. USG/ECG i.1. Mata...14 ICU/ ICCU 10 .1 Analisa Univariat Analisa ini yang digambarkan dalam bentuk distribusi frekuensi dari variabel komunikasi terapeutik perawat dan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar..4 Pelayanan Penunjang / Tindakan Medis a. Echo e..... Treadmil g.10 Total TT 3 6 2 14 12 33 35 112 227 5. 6 Konsultasi Gizi c.6 8 16 30 Anak .. Fisioterapi j.6 16 10 32 VIP Atas 1 6 .7 VIP Bawah 2 .4 4 11 11 62 92 Kebidanan . 5..2 Variabel Penelitian Dari hasil penelitian yang telah dilakukan pada tanggal 22 Februari sampai 8 Maret tahun 2010.. Daftar ditampilkan dalam bentuk tabel dan teks.2. Kamar Operasi d.2 10 .1. Instalasi Farmasi b. 5. Jantung g.24 42 P D L . Laboratorium f. Radiologi h..

Desember seksio caesar 106 pasien (23%) spontan 89 (23%).2 Tabel 5. dan kurang < 60% untuk lebih jelas lihat tabel 5. cukup 60%-75%. Januari seksio caesar 85 pasien (19%) spontan 67 (17%).3 Distribusi Frekuensi Komunikasi Terapeutik Perawat di . Februari seksio caesar 73 pasien (16%) spontan 65 (17%).3 Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Persalinan Spontan Dan Seksio Caesar di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang Tahun 2010 No Bulan Persalinan Seksio Caesar % Spontan % 1 Nopember 116 25 76 19 2 Desember 106 23 89 23 3 Januari 85 19 67 17 4 Februari 73 16 65 17 5 Maret 75 16 92 24 Total 455 100 389 100 Dari data diatas bahwa dari 844 persalinan yang bulan Nopember seksio caesar 116 pasien (25%) spontan 76 (20%). b) Komunikasi Terapeutik Perawat Pada penelitian ini komunikasi terapeutik perawat dikelompokan menjadi 3 kategori komunikasi terapeutik baik > 75%.a) Persalinan Pada penelitian ini persalinan dikelompokan menjadi 2 kategori persalianan spontan dan persalinan operasi seksio caesar berdasarkan medical record Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang dari bulan Nopember 2009 sampai dengan Maret 2010 untuk lebih jelas lihat tabel 5. dan bulan Maret seksio caesar 75 pasien (16%) spontan 92 (24%).

sedang 51% .50%. dan berat 66% -100 %. cukup 9 perawat (64%).Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang Tahun 2010 No Komunikasi Terapeutik Perawat N % 1 Baik 5 36 2 Cukup 9 64 Jumlah 14 100 Dari data di atas bahwa dari 14 perawat yang komunikasi terapeutik baik 5 perawat (36 %).4 Distribusi Frekuensi Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang Tahun 2010 No Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar N % 1 Ringan 8 57 2 Sedang 6 43 Jumlah 14 100 Dari data di atas bahwa dari 14 pasien seksio caesar yang tingkat kecemasan ringan sebanyak 8 pasien (57%). . sedang sebanyak 6 pasien (43%). c) Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Pada penelitian ini tingkat kecemasan dikategorikan menjadi menjadi 3 yaitu ringan 40% . Tabel 5. untuk lebih jelas lihat tabel 54.65%.

2 Analisa Bivariat Analisa ini untuk mengetahui hubungan antara variabel independent (komunikasi terapeutik perawat) dengan variabel dependent (tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar) dengan uji statistik yang menggunakan uji Chi-Square.1 Persalinan . Dari hasil penelitian yang telah dilakukan. 5.5 Tabel 5. maka dapat diketahui bahwa ada hubungan antara komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar. Untuk variabel mempengaruhi seperti perawat yang merawat pasien operasi seksio caesar tersebut yang ada diruang tempat pasien dirawat.031 setelah dibandingkan dengan α 0. Dari uji statistik diperoleh pValue = 0.05 dapat diketahui bahwa pValue = 0.3 Pembahasan Pembahasan ádalah suatu penelitian untuk membandingkan hasil penelitian di lapangan dengan teori yang mendukung.5.3. a) Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Komunikasi terapeutik dengan tingkat kecemasan pasien dikategorikan menjadi 2 dengan jumlah responden 14.05.2.0315 36 0 0 5 36 2 Cukup 3 21 6 43 9 64 Total 8 57 6 43 14 100 Dari data diatas dapat diketahui bahwa perawat dengan komunikasi terapeutik yang baik didapatkan tingkat kecemasan kategori ringan (36%) dari pada perawat dengan komunikasi terapeutik yang cukup didapatkan tingkat kecemasan kategori ringan (21%) dan sedang (43%). Pada penelitian ini sampel di ambil secara accicidental sample. hasil uji Chi-Square lihat tabel 5. Maka akan diuraikan satu persatu oleh penulis di bawah ini : 5.5 Distribusi Frekuensi Komunikasi Terapeutik Perawat dengan Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang Tahun 2010 No Komunikasi Terpeutik Perawat Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi SC Jumlah Value Ringan Sedang N%N%N% 1 Baik = 0. Sehingga sampel yang didapatkan adalah pasien pre operasi seksio caesar yang ada di ruangan kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang.031 ≤ 0.

Faktor janin yang menyebabkan seksio caesar adalah: janin dengan anomali. ( Mukhripah Damaiyanti. Fase kerja pada tahap kerja ini dituntut kemampuan perawat dalam mendorong klien mengungkap perasaan dan pikirannya. solusio plasenta. vasa previa. Bila kecemasan pada pasien pre operasi tidak segera diatasi maka dapat mengganggu proses penyembuhan. Dari hasil Tri Setiani dari 30 responden didapat data bahwa pengetahuan ibu bersalin dengan SC tentang perawatan bekas sayatan SC dengan kategori baik sebanyak 16 responden (53%). plasenta previa. diabetes. 2008 ). perawat harus memperkenalkan dirinya terlebih dahulu kepada klien. kelainan tali pusat. faktor hambatan jalan lahir. 2007). gawat janin atau fetal distress.2 Komunikasi Terapeutik Perawat Dari hasil penelitian di rumah Sakit Muhammadiyah Palembang dapat dilihat bahwa dari 14 perawat komunikasi terapeutik kategori cukup (64%). Penyakit ibu yang dapat mempengaruhi seksio sesarea adalah: preeklampsieklampsi berat. Pada tahap ini perawat juga mencari informasi tentang klien fase orientasi (perkenalaan) Pada saat berkenalan. ruptur uteri (Cunningham. letak lintang. Operasi merupakan salah satu tindakan pengobatan yang banyak menimbulkan kecemasan. bayi kembar (Multiple Pregnancy) (Benson. menunjukan bahwa kejadian persalinan seksio caesar mengalami peningkatan dikarnakan adanya faktor-faktor yang membahayakan ibu dan bayi. Seksio caesar adalah suatu persalinan buatan. presentasi bokong. presentasi majemuk). 5. defleksi kepala. penyakit jantung berat pada ibu. tulang panggul.2005). Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan dan dilakukan untuk membantu penyembuhan dan pemulihan pasien. Faktor Ibu yang menyebabkan seksio sesarea adalah: usia. keadaan melemahkan lainnya.3. posisi dagu posterior. Komunikasi terapeutik merupakan komunikasi profesional bagi perawat bertujuan untuk kesembuhan pasien. dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding perut dan dinding rahim dengan sayatan rahim dalam keadaan utuh (Sarwono. 2008). Berarti komunikasi terapeutik perawat masih cukup di ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang.Dari hasil penelitian di ruang kebidanan rumah Sakit Muhammadiyah Palembang dapat dilihat bahwa dari bulan Nopember sampai Maret yaitu persalinan SC sebanyak 455 pasien dan persalinan spontan sebanyak 389 pasien Maka angka persalinan SC meningkat dan persalinan spontan terjadi penurunan di ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammdiyah Palembang tahun 2010. ruptur uteri. Didalam komunikasi terapeutik perawat ada empat fase yaitu fase preinteraksi (persiapan) Pada tahap ini perawat menggali perasaan dan mengidentifikasi kelebihan dan kekurangannya. Fase terminasi akhir dari pertemuan perawat dengan klien. sehingga dilakukan operasi seksio caesar yang membantu persalinan bukan karena suatu Trens. eritroblastosis. untuk itu pasien yang akan menjalani operasi harus diberi komunikasi terapeutik untuk menurunkan atau mengurangi gejala kecemasan serta dapat meningkatkan pengetahuan kesehatan pada pasien. Dari hasil penelitian yang didapatkan dan dari teori yang mendukung. bayi terlalu besar (>4000 gram). Perawat juga dituntut untuk mempunyai kepekaan dan tingkat analisis yang tinggi terhadap adanya perubahan dalam respons verbal maupun nonverbal klien. faktor-faktor yang menyebabkan seksio sesarea adalah dari faktor ibu dan janin. persalinan sebelumnya dengan seksio caesar. Hasil penelitian yang di peroleh data mengenai gambaran peran perawat pelaksana dalam menerapkan . Menurut Cunningham (2005) dan Benson (2008). presentasi bahu. presentasi dahi. Kategori cukup 8 responden (27%) dan 6 responden (20%) dikategorikan kurang.

Berarti tingkat kecemasan pasien pre operasi seksio caesar masih berat di ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang. 5. kurangnya dukungan keluarga hal ini suami serta kurangnya pendekatan dan komunikasi terapeutik perawat. ninspesifik (Carpenito. Untuk perawat harus melakukan komunikasi terapeutik. menunjukan bahwa tingkat kecemasan pasien pre operasi seksio caesar masih mengalami kecemasan dikarenakan lingkungan yang bising dan kurang nyaman. Penelitian ini dapat digambarkan bahwa peran perawat pelaksana komunikasi terapeutik pada teknik menyimpulkan tergolong kurang. 2000).38%. Untuk kategori baik sebanyak 47.3 Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Dari hasil penelitian di rumah Sakit Muhammadiyah Palembang dapat dilihat bahwa dari 14 pasien tingkat kecemasan yang kategori berat (43%). MASUKKAN PENELITIAN YANG TERKAIT TENTANG KECEMASAN ”? Dari hasil penelitian yang didapatkan dan dari teori yang mendukung.teknik komunikasi terapeutik pada teknik menyimpulkan pada pasien gangguan jiwa diruang rawat inap Rumah Sakit Dr. Oleh sebab itu perawat dapat membagi waktu untuk memberikan informasi dan dapat meningkatkan pengetahuan pasien terutama untuk mengurangi kecemasan psien itu sendiri. 1998). Respon emosional terhadap penilaian intelektual terhadap sesuatu yang berbahaya (Stuart Dan Sundeen. Karena dengan banyaknya pengetahuan dan penjelasan dalam suatu masalah dapat meringankan kecemasan terhadap pasien tersebut.62% dan kategori kurang sebanyak 52. karena dengan komunikasi terapeutik dapat mengurangi kecemasan terhadap pasien tersebut dan membuat pasien merasa lebih baik dan operasi bisa berjalan dengan . Dan perawat mengatahui bahwa menurunkan suatu kecemasan pasien perlu suatu metode yang baik yaitu komunikasi yang terapeutik sehingga pasien dapat merasakan rasa nyaman dalam menghadapi operasi yang akan dilakukan oleh klien. Ernaldi Bahar Propinsi Sumatra Selatan tahun 2008. Dikarenakan perawat kurang mencari informasi tentang klien dan perawat tidak memperkenalkan dirinya terlebih dahulu serta pada saat melakukan tindakan operasi perawat tidak menjelaskan prosedur tindakan operasi pada pasien yang akan menjalankan operasi. Oleh sebab itu untuk mengurangi kecemasan pada pasien yang akan menjalankan operasi seksio caesar dibutuhkan komunikasi terapeutik yang baik. menunjukan bahwa komunikasi terapeutik perawat masih banyak yang belum berkomunikasi terapeutik yang baik.3. Kecemasan (ansietas) adalah keadaan dimana individu atau kelompok mengalami perasaan gelisah (penilaian atau opini) dan aktivitas sistem syaraf autonom dalam berespon terhadap ancaman yang tidak jelas. Dari hasil penelitian yang didapatkan dan dari teori yang mendukung. karena perawat tidak mempunyai waktu yang lama.

(Arwani. perawatlah yang berperan penting dalam meningkatkan pengetahuan pasien terutama menjelaskan tentang prosedur tindakan operasi maka perawatlah yang harus melakukan komunikasi terapeutik dengan pasien pre operasi seksio caesar. Dari hasil penelitian yang didapatkan dan dari teori yang mendukung. Kecemasan juga merupakan sesuatu hal yang tidak jelas. Karena perawat tenaga kesehatan yang . dan belajar bagaimana berhubungan dengan orang lain. adanya perasaan gelisah atau tidak tenang dengan sumber yang tidak spesifik dan tidak diketahui oleh seseorang.016 ≤ 0.3. Menurut Northouse (1998) Komunikasi terapeutik adalah kemampuan atau keterampilan perawat untuk membantu pasien beradaptasi terhadap stres.05. Karena komunikasi tersebut sangat dibutuhkan oleh pasien yang akan menjalankan operasi. maka pasien yang akan menjalankan operasi akan timbul kecemasan dalam dirinya. Untuk dapat menurunkan kecemasan pada pasien pre operasi salah satunya diperlukan komunikasi yang efektif terutama komunikasi terapeutik. mengatasi gangguan psikologis.4 Komunikasi Terapeutik Perawat dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Dari hasil penelitian di rumah Sakit Muhammadiyah Palembang dapat dilihat bahwa komunikasi terapeutik perawat di ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang tergolong dalam kategori cukup dan pasien pre operasi seksio caesar mengalami kecemasan sedang sebanyak 8 pasien (56%) dari hasil uji statistik menunjukkan bahwa pValue 0. 2009) Hasil penelitian Supono (2005) mengatakan bahwa tingkat kecemasan pasien persalinan dapat berkurang dengan adanya komunikasi terapeutik perawat. Hal ini perlu mendapat perhatian serius dari perawat karena perawat merupakan petugas kesehatan yang terdekat dan terlama dengan pasien. menunjukan bahwa komunikasi terapeutik perawat dapat mempengaruhi serta menurunkan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar karena salah satu untuk menurunkan kecemasan dengan cara komunikasi yang efeksif yaitu komunikasi terapeutik yang baik oleh perawat. (Dewi Wijayanti. 5. 2003) Menurut Yadi (2001) kecemasan adalah suatu perasaan yang tidak nyaman yang disertai dengan rasa takut yang mengancam dan perasaan tidak nyaman terhadap sesuatu.lancar. berarti ada hubungan komunikasi teraputik perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar di ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang.

1. Dari hasil uji Chi-Square.2. BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 7.dekat dengan pasien dan memberikan rasa nyaman pada pasien yang akan menjalankan operasi seksio caesar. 7.2. 031.2 Manfaat Bagi Institusi Pendidikan Dapat menambah informasi dan referensi yang berguna bagi mahasiswa sekolah tinggi ilmu kesehatan Muhammadiyah Palembang.3 Ada hubungan antara komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar.1 Kesimpulan Setelah dilakukan penelitian terhadap 14 responden di ruangan Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang 22 Februari sampai 6 Maret tahun 2010 dapat disimpulkan bahwa : 7.1 Komunikasi terapeutik perawat dirumah Sakit Muhammadiyah Palembang Tahun 2010 didapatkan sebagian besar dengan kategori cukup.4 Manfaat Bagi Peneliti Dapat menambah ilmu pengetahuan maternitas serta riset penelitian dan wawasan bagi peneliti mengenai hubungan komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar.2 Tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar di ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang Tahun 2010 didapatkan sebagian besar dengan kategori ringan.3 Manfaat Bagi Pasien Dapat memberikan rasa nyaman dan aman pada semua pasien yang akan menjalankan operasi seksio caesar sehingga pasien yang menjalankan operasi tidak cemas dan operasi bisa berjalan dengan lancar.2.2.2 Saran 7. 7. 7. 7. didapatkan pValue = 0.1. Diposkan oleh agustus di 09:06 0 komentar .1 Manfaat Bagi Rumah Sakit Dapat dijadikan masukan dan motivasi bagi rumah sakit untuk lebih meningkatkan komunikasi terapeutik perawat dalam mengurangi tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar. 7.1. 7.

Kelainan ini merupakan 7% dari seluruh penyakit jantung bawaan.Kamis. Ayah / Ibu menderita penyakit jantung bawaan. tetapi ada beberapa faktor yang diduga mempunyai pengaruh pada peningkatan angka kejadian penyakit jantung bawaan : 1. Kelainan kromosom seperti Sindrom Down. Rita Yuliani. • Ibu meminum obat-obatan penenang atau jamu. Normalnya duktus arteriosus berasal dari arteri pulmonalis utama (arteri pulmonalis kiri) dan berakhir pada bagian superior dari aorta desendens. ± 2-10 mm distal dari percabangan arteri subklavia kiri. Faktor Genetik : Anak yang lahir sebelumnya menderita penyakit jantung bawaan. 2. ETIOLOGI Penyebab terjadinya penyakit jantung bawaan belum dapat diketahui secara pasti. insidennya bertambah dengan berkurangnya masa gestasi ( Betz & Sowden. yang menyebabkan mengalirnya darah dari aorta yang bertekanan tinggi ke arteri pulmonal yang bertekanan rendah. PATOFISIOLOGI Duktus arteriosus adalah pembuluh darah yang menghubungkan aliran darah pulmonal ke aliran darah sistemik dalam masa kehamilan ( fetus ). 2002 : 375 ) Patent Ductus Arteriosus (PDA) atau Duktus Arteriosus Paten (DAP) adalah kelainan jantung kongenital ( bawaan ) dimana tidak terdapat penutupan ( patensi ) duktus arteriosus yang menghubungkan aorta dan pembuluh darah besar pulmonal setelah 2 bulan pasca kelahiran bayi ( www. 3. . 10 Juni 2010 patens ductus PATENT DUCTUS ARTERIOSUS (PDA) 1. • Ibu alkoholisme. 235 ) 2. DEFINISI Patent Ductus Arteriosus (PDA) adalah duktus arteriosus yang tetap terbuka setelah bayi lahir. Sering dijumpai pada bayi prematur. • Umur ibu lebih dari 40 tahun.com ) Patent Duktus Arteriosus adalah kegagalan menutupnya ductus arteriosus (arteri yang menghubungkan aorta dan arteri pulmonal) pada minggu pertama kehidupan. Aliran darah balik fetus akan bercampur dengan aliran darah bersih dari ibu ( melalui vena umbilikalis ) kemudian masuk ke dalam atrium kanan dan kemudian dipompa oleh ventrikel kanan kembali ke aliran sistemik melalui duktus arteriosus. 2001. Faktor Prenatal : • Ibu menderita penyakit infeksi : Rubella. Lahir dengan kelainan bawaan yang lain.google. • Ibu menderita penyakit Diabetes Mellitus (DM) yang memerlukan insulin. ( Suriadi. Hubungan ini ( shunt ) ini diperlukan oleh karena sistem respirasi fetus yang belum bekerja di dalam masa kehamilan tersebut.

Perdarahan gastrointestinal (GI). Gagal tumbuh 6. c. Penatalaksanaan Konservatif : Restriksi cairan dan Pemberian obat-obatan : Furosemid (lasix) diberikan bersama restriksi cairan untuk meningkatkan diuresis dan mengurangi efek kelebihan beban kardiovaskular. Rumble apikal terdengar pada PDA besar. CHF ( gagal jantung kongestif ) d. panjang PDA serta tahanan vaskuler paru (PVR). KOMPLIKASI a. Hepatomegali (jarang terjadi pada bayi prematur) e. Obstruksi pembuluh darah pulmonal c. Tidak menimbulkan gejala bila PDA kecil. Aritmia j.Dinding duktus arteriosus terutama terdiri dari lapisan otot polos ( tunika media ) yang tersusun spiral. Akan terjadi hipertensi pulmonal dan PVOD bila PDA dibiarkan tanpa tindakan penutupan. 3. Gangguan paru yang terjadi bersamaan (misalnya sindrom gawat nafas atau displasia bronkkopulmoner) g. b. penurunan jumlah trombosit h. 6. Non pembedahan : Penutupan dengan alat penutup dilakukan pada waktu kateterisasi jantung. Enterokolitis nekrosis f. 5. Pemberian indomethacin (inhibitor prostaglandin) untuk mempermudah penutupan duktus. PENATALAKSANAAN MEDIS a. Murmur kontinyu (machinery) derajat 1 sampai 4/6 terdengar dengan jelas pada ULSB atau daerah infraklavikula kiri yang merupakan petanda khas kelainan ini. Tanda-tanda CHF muncul pada PDA besar. Sianosis yang terjadi pada PDA dengan PVOD dikenal sebagai sianosis diferensial oleh karena hanya ekstremitas bawah yang biru sedangkan ekstremitas atas tetap normal. Besarnya pirai (shunt) ditentukan oleh diameter. Pembedahan : Pemotongan atau pengikatan duktus. Setelah persalinan terjadi perubahan sirkulasi dan fisiologis yang dimulai segera setelah eliminasi plasenta dari neonatus. Adanya perubahan tekanan. 5. pemberian antibiotik profilaktik untuk mencegah endokarditis bakterial. CHF dan infeksi paru berulang seringkali terjadi pada PDA besar. Hiperkalemia (penurunan keluaran urin). Pulsasi nadi perifer yang lemah dan lebar 4. . Penutupan spontan PDA tidak akan terjadi pada bayi aterm. sirkulasi dan meningkatnya pO2 akan menyebabkan penutupan spontan duktus arteriosus dalam waktu 2 minggu. i. 7. Diantara sel-sel otot polos terdapat serat-serat elastin yang membentuk lapisan yang berfragmen. Selsel otot polos pada duktus arteriosus sensitif terhadap mediator vasodilator prostaglandin dan vasokonstriktor (pO2). 2. MANIFESTASI KLINIK 1. 4. Duktus arteriosus yang persisten (PDA) akan mengakibatkan pirai (shunt) L-R yang kemudian dapat menyebabkan hipertensi pulmonal dan sianosis. berbeda dengan aorta yang memiliki lapisan elastin yang tebal dan tersusun rapat ( unfragmented ). Endokarditis b.

Adanya PVOD akan mengakibatkan ukuran jantung normal dengan pembesaran MPA dan peningkatan corakan vaskulerisasi hilus. Melalui pemeriksaan ekho 2-D dan Doppler dapat divisualisasi adanya PDA dan besarnya shunt. pemeriksaan fisik dilakukan. CVH bila PDA besar.3:1 pada bayi cukup bulan atau lebih dari 1. memastikan kelengkapan pemeriksaan praoperasi. dan berakhir ketika klien di pindahkan ke kamar operasi. d. bervariasi sesuai tingkat keparahan. hipertrofi ventrikel kiri pada PDA yang lebih besar.7. melibatkan keluarga atau orang terdekat dalam wawancara. A. Ekhokardiografi yaitu rasio atrium kiri tehadap pangkal aorta lebih dari 1.blogspot. Pengkajian Sebelum operasi dilaksanakan pengkajian menyangkut riwayat kesehatan dikumpulkan. Pemeriksaan diagnostik mungkin dilakukan seperti . Kateterisasi jantung yaitu hanya dilakukan untuk mengevaluasi lebih jauh hasil ECHO atau Doppler yang meragukan atau bila ada kecurigaan defek tambahan lainnya. Dalam fase pre operasi ini dilakukan pengkajian pre operasi awal. Pemeriksaan angiografi biasanya tidak dibutuhkan kecuali bila terdapat kecurigaan PVOD. tanda-tanda vital di catat dan data dasar di tegakkan untuk perbandingan masa yang akan datang. Foto toraks juga menyerupai kelainan VSD.0 pada bayi praterm (disebabkan oleh peningkatan volume atrium kiri sebagai akibat dari pirau kiri ke kanan) e. EKG serupa dengan kelainan VSD. Pada PDA kecil-sedang dapat terjadi LVH atau normal. merencanakan penyuluhan dengan metode yang sesuai dengan kebutuhan pasien. PEMERIKSAAN a. pada PDA kecil tidak ada abnormalitas. Pada PDA kecil bayangan jantung normal. Atau RVH bila telah terjadi PVOD. b. mengkaji kebutuhan klien dalam rangka perawatan post operasi. c.com/ 99999999 KONSEP KEPERAWATAN PRE OPERASI 19 Januari 2009 oleh PRO-HEALTH Keperawatan pre operasi dimulai ketika keputusan tindakan pembedahan di ambil. PDA sedangbesar terjadi kardiomegali dan peningkatan PVM. http://agustusstikes.

endoskopi. jika penyuluhan diberikan terlalu lama sebelum pembedahan memungkinkan klien lupa. penyembuhan luka akan di pengaruhi status nutrisi klien. sebelumnya diberikan penjelasan yang gamblang dan jelas mengenai pembedahan dan kemungkinan resiko. Perawat berperan memberikan penjelasan pentingnya pemeriksaan fisik diagnostik. fungsi hepar dan ginjal. endoskopi. juga terhadap kesulitan teknik dan mekanik selama dan setelah pembedahan. klien obesitas akan mendapat masalah post operasi dikarenakan lapisan lemak yang tebal akan meningkatkan resiko infeksi luka. C. Tuntutan klien akan bantuan keperawatan terletak pada area pengambilan keputusan. B.dan perubahan perilaku. Disamping pengkajian fisik secara umum perlu di periksa berbagai fungsi organ seperti pengkajian terhadap status pernapasan. Demikian pula dengan kondisi obesitas. fungsi endokrin.analisa darah. rontgen. tambahan pengetahuan. . Pendidikan Pasien Pre operasi Penyuluhan pre operasi didefinisikan sebagai tindakan suportif dan pendidikan yang dilakukan perawat untuk membantu pasien bedah dalam meningkatkan kesehatannya sendiri sebelum dan sesudah pembedahan. Informed Consent Tanggung jawab perawat dalam kaitan dengan Informed Consent adalah memastikan bahwa informed consent yang di berikan dokter di dapat dengan sukarela dari klien. dan pemeriksaan feses dan urine. biopsi jaringan. Status nutrisi klien pre operasi perlu dikaji guna perbaikan jaringan pos operasi. keterampilan. Dalam memberikan penyuluhan klien pre operasi perlu dipertimbangkan masalah waktu. dan fungsi imunologi.

2. mengetahui masalah saat ini.3 ).2 dan 2. http://forbetterhealth. 2. informed consent Penilaian catatan medik (chart review) 1. menciptakan hubungan dokter-pasien 3.wordpress. menghembuskan melalui mulut.demikian juga bila terlalu dekat dengan waktu pembedahan klien tidak dapat berkonsentrasi belajar karena adanya kecemasan atau adanya efek medikasi sebelum anastesi. mengetahui riwayat penyakit dahulu serta keadaan / masalah yang mungkin menyertai pada saat ini. mengenal pasien. dan batukkan. ambil nafas pendek. ada/tidak kemungkinan terjadinya komplikasi. Selain meningkatkan pernafasan latihan ini membantu pasien untuk relaksasi. selama dan sesudah anestesi / operasi 4. Setelah melakukan latihan nafas dalam beberapa kali. 2008 by kuliahbidan Tujuan 1. Batuk dan Relaksasi salah satu tujuan dari keperawatan pre operasi adalah untuk mengajar pasien cara untuk meningkatkan ventilasi paru dan oksigenasi darah setelah anastesi umum. Beberapa penyuluhan atau instruksi pre operasi yang dapat meningkatkan adaptasi klien pasca operasi di antaranya : 1. Membedakan masalah obstetri / ginekologi dengan masalah non-obstetri yang terjadi pada kehamilan. Jenis operasi yang direncanakan 3. (Gambar 2.com/2009/01/19/konsep-keperawatan-pre-operasi/ 100000000 sted on November 1. Latihan Nafas Dalam. menyusun rencana penatalaksanaan sebelum. faktor penyulit 5. indikasi / kontraindikasi 4. nafas lambat (menahan inspirasi secara maksimal) dan bagaimana menghembuskan nafas dengan lambat pasien dalam posisi duduk untuk memberikan ekspansi paru maksimum. pasien di instruksikan untuk bernafas dalam-dalam. Hal ini dapat dicapai dengan memperagakan pada pasien bagaimana melakukan nafas dalam. obat-obatan yang pernah / sedang / akan diberikan untuk masalah saat ini yang kemungkinan .

tanda vital lengkap. Sistem kardiovaskular Peningkatan isi sekuncup / stroke volume sampai 30%. Pada persalinan. kepala / leher (perhatian KHUSUS pada mulut / gigi / THT / saluran napas atas. Konsultasi dengan dokter yang akan melakukan tindakan obstetrik. penyakit jantung. premedikasi). peningkatan curah jantung sampai 40%. menyebabkan terjadinya dilutional anemia of pregnancy. Menetapkan rencana anestesi 1. dsb) Untuk detail nya. riwayat operasi / anestesi sebelumnya. Functional residual capacity menurun sampai 15-20%. Meskipun terjadi peningkatan isi dan aktifitas sirkulasi. Jika tidak segera dideteksi dan dikoreksi. 2. Volume plasma meningkat sampai 45% sementara jumlah eritrosit meningkat hanya sampai 25%. dsb. analgesi. Pada kasus obstetri / kasus non-obstetri dalam kehamilan. musclerelaxant. ANESTESIA / ANALGESIA UNTUK KASUS OBSTETRI Pertimbangan : Fisiologi Kehamilan / Persalinan (Maternal Physiology) Sistem pernapasan Perubahan pada fungsi pulmonal. cara. pemantauan kesejahteraan janin (dengan fetal monitoring). untuk airway maintenance selama anestesi / operasi). hasil-hasil pemeriksaan penunjang / laboratorium yang diperlukan Pemeriksaan pasien Anamnesis : penting mengumpulkan data tambahan tentang riwayat penyakit yang dapat menjadi penyulit / faktor risiko tindakan anestesi (asma. menyebabkan penurunan PaO2 yang cepat pada waktu dilakukan induksi anestesi. memungkinkan dilakukannya induksi anestesi yang cepat pada wanita hamil. kemungkinan risiko. ventilasi dan pertukaran gas.dapat berinteraksi dengan obat / prosedur anestesi 6. meskupun dengan disertai denitrogenasi. vasopresor / vasodilator. dsb). dapat terjadi penurunan vaskularisasi uterus sampai asfiksia janin. riwayat pengobatan. penekanan / kompresi vena cava inferior dan aorta oleh massa uterus gravid dapat menyebabkan terjadinya supine hypertension syndrome. kontraksi uterus / his menyebabkan terjadinya autotransfusi dari plasenta . Menjelang / dalam persalinan dapat terjadi gangguan / sumbatan jalan napas pada 30% kasus. Ventilasi per menit meningkat sampai 50%. persiapan (diet. hipertensi. penyakit ginjal. kebiasaan merokok / alkohol / obat-obatan. baca sendiri yaaaaa !!!. anestesi. penting dilakukan : pemeriksaan obstetri (umumnya telah dilakukan oleh dokter obstetri). Pada saat persalinan. jantung / paru / abdomen / ekstremitas. kebutuhan oksigen (oxygen demand) meningkat sampai 100%. cadangan oksigen juga berkurang. Pemeriksaan fisik : tinggi / berat badan. PENTING DIKETAHUI : FARMAKOLOGI OBAT-OBAT (uterotonik / tokolitik. peningkatan frekuensi denyut jantung sampai 15%. pemulihan. puasa. gangguan pembekuan darah. Penjelasan kepada pasien : metode. riwayat alergi. .

isofluran 40%. Kadar kreatinin. X. Perdarahan yang terjadi pada partus pervaginam normal bervariasi. Sementara itu terjadi juga peningkatan sekresi asam lambung. Faktor yang menentukan yaitu peningkatan sensitifitas serabut saraf akibat meningkatnya kemampuan difusi zat-zat anestetik lokal pada lokasi membran reseptor (enhanced diffusion). Hal itu karena selama kehamilan normal terjadi juga peningkatan faktor pembekuan VII. urea dan asam urat dalam darah mungkin menurun namun hal ini dianggap normal. Meskipun demikian jarang diperlukan transfusi. kebutuhan halotan menurun sampai 25%. metoksifluran 32%. XII dan fibrinogen sehingga darah berada dalam hypercoagulable state. Sistem gastrointestinal Uterus gravid menyebabkan peningkatan tekanan intragastrik dan perubahan sudut gastroesophageal junction. konsentrasi anestetik lokal yang diperlukan untuk mencapai anestesi juga lebih rendah. Beban jantung meningkat. Enzimenzim hati pada kehamilan normal sedikit meningkat. Hal ini karena pelebaran vena-vena epidural pada kehamilan menyebabkan ruang subarakhnoid dan ruang epidural menjadi lebih sempit. VIII. penurunan tonus sfingter esophagus bawah serta perlambatan pengosongan lambung. Kadar kolinesterase plasma menurun sampai sekitar 28%. Lambung HARUS selalu dicurigai penuh berisi bahan yang berbahaya (asam lambung. Pada anestesi epidural atau intratekal (spinal). makanan) tanpa memandang kapan waktu makan terakhir. Harus dianggap bahwa SEMUA obat dapat melintasi plasenta dan mencapai sirkulasi janin. (baca juga catatan special aspects of perinatal pharmacology) Tindakan Anestesi / Analgesi Regional . sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya regurgitasi dan aspirasi pulmonal isi lambung. mungkin akibat hemodilusi dan penurunan sintesis. dapat juga menyebabkan depresi pada janin. Pada sectio cesarea. konsentrasi obat inhalasi yang lebih rendah cukup untuk mencapai anestesia. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh aktifitas hormon progesteron. dapat terjadi perdarahan sampai 1000 cc. Sistem saraf pusat Akibat peningkatan endorphin dan progesteron pada wanita hamil. namun menurun sampai 60% di atas nonpregnant state pada saat kehamilan aterm. dapat sampai 400-600 cc. Pasien dengan preeklampsia mungkin berada dalam proses menuju kegagalan fungsi ginjal meskipun pemeriksaan laboratorium mungkin menunjukkan nilai “normal”. Pada pemberian suksinilkolin dapat terjadi blokade neuromuskular untuk waktu yang lebih lama. karena obat-obatan anestesia yang umumnya merupakan depresan. Transfer obat dari ibu ke janin melalui sirkulasi plasenta Juga menjadi pertimbangan. Ginjal Aliran darah ginjal dan laju filtrasi glomerulus meningkat sampai 150% pada trimester pertama.sebesar 300-500 cc selama kontraksi. curah jantung meningkat. sampai 80%.

Untuk persalinan per vaginam. Jika dipakai kateter untuk anestesi. stimulus nyeri dan kontraksi dapat menurun. Spinal / subaraknoid : posisi lateral dekubitus atau duduk. Ibu tetap dalam keadaan sadar dan dapat berpartisipasi aktif dalam persalinan. Hipotensi akibat vasodilatasi (blok simpatis) 2. 2. Waktu mula kerja (time of onset) lebih lama 3. 3.Analgesi / blok epidural (lumbal) : sering digunakan untuk persalinan per vaginam. 9. Ruang epidural dicapai dengan perasaan “hilangnya tahanan” pada saat jarum menembus ligamentum flavum. 4. Kelainan SSP tertentu 4. dilakukan punksi antara L3-L4 (di daerah cauda equina medulla spinalis). mencapai ruangan subaraknoid. Infeksi / inflamasi / tumor pada lokasi injeksi Teknik : 1. dengan jarum / trokard. berikan 500-1000 cc cairan kristaloid (RingerLaktat). Insufisiensi utero-plasenta 6. sehingga kemajuan persalinan dapat menjadi lebih lambat. Risiko aspirasi pulmonal minimal (dibandingkan pada tindakan anestesi umum) 4. 6. Anestesi epidural atau spinal : sering digunakan untuk persalinan per abdominam / sectio cesarea. Syok hipovolemik 7. Kemungkinan terjadi sakit kepala pasca punksi. 15-30 menit sebelum anestesi. chlorprocain 2-3% atau bupivacain 0. Epidural : posisi pasien lateral dekubitus atau duduk membungkuk. dilakukan punksi antara vertebra L2-L5 (umumnya L3-L4) dengan jarum / trokard. Jika dalam perjalanannya diperlukan sectio cesarea. . menggunakan jarum halus atau kapas. Observasi tanda vital 4. Dosis yang dipakai untuk anestesi epidural lebih tinggi daripada untuk anestesi spinal. Pasien menolak 5.75%. 7. Mengurangi pemakaian narkotik sistemik sehingga kejadian depresi janin dapat dicegah / dikurangi. berikan antasida 3. 8. Kerugian : 1. Keuntungan : 1. Identifikasi adalah dengan keluarnya cairan cerebrospinal. tusukan diteruskan sampai menembus selaput duramater. Gangguan pembekuan 3. 5. Pasang line infus dengan diameter besar. Kontraindikasi : 1. Keberhasilan anestesi diuji dengan tes sensorik pada daerah operasi.250. jika stylet ditarik perlahan-lahan. Setelah menembus ligamentum flavum (hilang tahanan). Kemudian posisi pasien diatur pada posisi operasi / tindakan selanjutnya. Sepsis 2. dilakukan fiksasi. Kemudian obat anestetik diinjeksikan ke dalam ruang epidural / subaraknoid. jalur obat anestesia regional sudah siap. 2. Obat anestetik yang digunakan : lidocain 1-5%. Daerah punksi ditutup dengan kasa dan plester.

hipotensi dan kehilangan kesadaran. O2-N2O 50%-50% diberikan melalui inhalasi. Kadang terjadi juga serangan kejang. observasi tanda vital. Injeksi intravaskular ditandai dengan gangguan penglihatan. Ada kontraindikasi atau keberatan terhadap anestesia regional. Pasien harus diatur dalam posisi telentang / supine. dan pengikat / korset perut (abdominal binder). 2. 2. dengan uterus digeser ke kiri.75% isofluran. Gejala berupa nausea. 4. dilakukan ventilasi O2 100% dengan mask disertai penekanan tulang cricoid. 0. Keuntungan : 1. Pasang line infus dengan diameter besar. 3. Kerugian : 1. Pengendalian jalan napas dan pernapasan optimal. Diperlukan keadaan relaksasi uterus. karena dosis yang dipakai lebih tinggi. antasida diberikan 15-30 menit sebelum operasi. analgesik. 5. dilakukan induksi dengan 4 mg/kgBB tiopental dan 1. Gawat janin. menggunakan 1. Tindakan Anestesi Umum Tindakan anestesi umum digunakan untuk persalinan per abdominam / sectio cesarea. dan operator siap. Dilakukan penekanan krikoid.5 mg/kgBB suksinilkolin. dan suksinilkolin diinjeksikan melalui infus. 2. Terapi dengan istirahat baring total.0 – 1. hidrasi (>3 L/hari). Induksi cepat. Jika terjadi injeksi subarakhnoid yang tidak diketahui pada rencana anestesi epidural. 3.5% halotan. Kesulitan melakukan intubasi tetap merupakan penyebab utama mortalitas dan morbiditas maternal.0% enfluran. 3.Komplikasi yang mungkin terjadi : 1. pasien diposisikan dengan uterus digeser / dimiringkan ke kiri. Risiko aspirasi pada ibu lebih besar. Dialirkan ventilasi dengan tekanan positif. tinitus. Dilakukan preoksigenasi dengan O2 100% selama 3 menit. 2. Dapat terjadi depresi janin akibat pengaruh obat. Harus dilakukan intubasi pada pasien.5 mg/kgBB suksinilkolin. Risiko hipotensi dan instabilitas kardiovaskular lebih rendah. kemudian dilakukan intubasi. 4. dapat terjadi total spinal anesthesia. Teknik : 1. atau 0. Setelah regio abdomen dibersihkan dan dipersiapkan. dilakukan intubasi. dapat sampai disertai henti napas dan henti jantung. Indikasi : 1. 3. dan kehilangan kesadaran. atau pasien diminta melakukan pernapasan dalam sebanyak 5 sampai 10 kali. Komplikasi neurologik yang sering adalah rasa sakit kepala setelah punksi dura. 3. dan dilakukan hiperventilasi untuk mengatasi asidosis metabolik. Hipotensi ditangani dengan memberikan cairan intravena dan ephedrine. dan balon pipa endotrakeal dikembangkan. sampai . Hiperventilasi pada ibu dapat menyebabkan terjadinya hipoksemia dan asidosis pada janin. 2. Dapat juga ditambahkan inhalasi 1.

diberikan sebagaimana seharusnya. 6. sementara diperlukan relaksasi uterus yang optimal. 3. Keselamatan ibu (prioritas utama) 2. 6. Mortalitas / morbiditas maternal : tidak berbeda signifikan dengan tindakan anestesi / operasi pada wanita yang tidak hamil. pada keadaan umum / tanda vital yang buruk. pada pre-eklampsia. Teknik anestesia regional (terutama spinal) lebih dianjurkan. di mana semua perubahan fisiologis akibat kehamilan diharapkan telah kembali pada keadaan normal). (catatan) Jika terjadi hipertonus uterus. pada infeksi atau kemungkinan infeksi. magnesiumsulfat. Ekstubasi dilakukan setelah pasien sadar. Obat inhalasi dihentikan setelah tali pusat dijepit. Usaha mempertahankan kehamilan 3. atau jika ada hipertensi. pemakaian obat-obatan yang memiliki efek depresi. Setelah itu. 2. dsb dsb). ANESTESIA / ANALGESIA UNTUK OPERASI NON-OBSTETRI PADA MASA KEHAMILAN (NON-OBSTETRICAL SURGERY DURING PREGNANCY) Sekitar 1-5% wanita hamil mengalami masalah yang tidak berhubungan secara langsung dengan kehamilannya. Pencegahan sedapat mungkin. hipoksia. karena paparan / exposure obatobatan terhadap janin relatif paling minimal. misalnya syok. berikan suplementasi asam folat (N2O dapat menghambat sintesis dan metabolisme asam folat). 7. Operasi semi-urgent sebaiknya ditunda sampai trimester kedua atau ketiga. Operasi elektif sebaiknya ditunda sedapat mungkin sampai 6 minggu pascapersalinan (setelah masa nifas. karena obat-obat tersebut dapat menyebabkan atonia uteri. Premedikasi minimal : barbirat lebih dianjurkan dibandingkan benzodiazepin. untuk mencegah ibu bangun. hal ini menjadi indikasi untuk induksi cepat dan penggunaan anestetik inhalasi. Jika operasi dilakukan dalam masa kehamilan. dan sebagainya. diberikan antibiotika. Anjuran / pertimbangan : 1. appendiksitis. 4. Pada kasus gawat darurat. CATATAN : Pada kasus-kasus obstetri patologi yang memerlukan obat-obatan / penanganan medik selain anestesi. diberikan juga vasodilator. Usaha mempertahankan fisiologi sirkulasi utero-plasenta yang optimal 4. yang memerlukan tindakan operasi (misalnya : trauma. cairan.janin dilahirkan. Untuk pasien yang direncanakan anestesia dengan N2O. 5. mortalitas maternal dan perinatal SANGAT TINGGI (lihat catatan management of injured pregnant patient). narkotik dapat digunakan untuk analgesia. antara 5-35%. Contoh : 1. Pertimbangan tindakan anestesi untuk bedah non-obstetri pada masa kehamilan : 1. 3. 8. anestetik inhalasi yang kuat juga dapat digunakan dengan konsentrasi rendah. untuk maintenance anestesi digunakan teknik balans (N2O/narkotik/relaksan). Mortalitas / morbiditas perinatal : LEBIH TINGGI signifikan. ditatalaksana dengan oksigen. obat2an. lanjutkan pemeriksaan antenatal dengan . 9. 2. efek hambatan pertumbuhan atau efek teratogen terhadap janin.

5 mg/kgbb. anestesia . mengurangi potensial kejadian aritimia akibat hiperkarbia dan asidosis. Jika diperlukan. serta peningkatan tekanan vena sentral dan curah jantung sekunder akibat redistribusi sentral volume darah. 2. 4. dan/atau tramadol 1-2 mg/kgbb) 2.5 kali di atas frekuensi basal. mencegah peningkatan tekanan parsial CO2 dalam darah (PaCO2) pada insuflasi abdomen dengan gas CO2. menciptakan relaksasi otot yang adekuat untuk membantu tindakan operasi Pengisian rongga peritoneum dengan CO2 dapat menyebabkan peningkatan PaCO2 jika pernapasan tidak dikendalikan.25-0. untuk deteksi kemungkinan persalinan preterm pascaoperasi. Laparoskopi Untuk tindakan laparoskopi. dengan anestetik narkotik dan musclerelaxant. mempertahankan stabilitas kardiovaskular pada keadaan peningkatan tekanan intraabdominal yang besar akibat insuflasi CO2 (umumnya tekanan naik sampai 20-25 cmH2O. digunakan : 1. dapat sampai 30-40 cm H2O).5-1. digunakan anestesia umum. sedativa (diazepam 10 mg) 3. (baca juga modul “Safe Motherhood” tentang Penuntun Belajar Kuretase (POEK)) Laparotomi operasi ginekologi Untuk operasi ginekologi dengan laparotomi. ANESTESIA / ANALGESIA UNTUK KASUS GINEKOLOGI Kuretase Untuk tindakan kuretase. Kelebihan CO2 dapat diatasi dengan kendali frekuensi pernapasan 1. Kadang digunakan elektrokoagulasi. Pengisian rongga abdomen dengan udara (pneumoperitoneum) 2. analgetika (pethidin 1-2 mg/kgbb. dan/atau neuroleptika ketamin HCl 0.5 mg/ml) diberikan melalui infus intravena. Metode yang dianjurkan adalah anestesi dengan N2O-O2 perbandingan 75%-25% inhalasi. Untuk meningkatkan kontraksi uterus digunakan ergometrin maleat. diperlukan keadaan khusus : 1. Tekanan intraabdominal sampai 30-40 cm H2O sebaliknya dapat menyebabkan penurunan tekanan vena sentral dan curah jantung dengan cara menurunkan pengisian jantung kanan. atropin sulfat (0. Kadang diperlukan posisi Trendelenburg ekstrim. seperti 0.0% isofluran atau enfluran. Dapat juga digunakan tambahan anestesi inhalasi dalam konsentrasi rendah. 3. Tujuan anestesi pada laparoskopi adalah : 1. 3. Peningkatan tekanan intraabdominal akibat insuflasi gas dapat menyebabkan muntah dan aspirasi.perhatian khusus pada fetal heart monitoring dan penilaian aktifitas uterus.

bingung atau depresi. cukup gawat atau kehilangan darah cukup banyak maka akan menyebapkan shock intake protein yang tinggi. Sedasi ringan dapat diberikan. 2.lokal blok regio periumbilikal dapat dilakukan dengan 10-15 cc bupivacain 0. pembedahan minor atau (operasi kecil). yang melibatkan rekonstruksi atau perubahan yang luas pada bagian tubuh dan menimbulkan risiko yang tinggi bagi kesehatan. kegawatan dan tujuan pembedahan. pembedahan adalah semua tindakan pengobatan yang menggunakan cara invasif dengan membuka atau menampilkan bagian tubuh yang akan ditangani yang umumnya dilakukan dengan membuka sayatan. Takut yang belum diketahui adalah umum. bila stress terhadap sistem. Mereka lebih mudah tersinggug akibat psikis dibandingkan dengan orang yang cemasnya sedikit. respon terjadi dari saraf simpati dan respon hormonal yang bertugas melindungi tubuh dari ancaman cedera. Sedangkan menurut Laksamana (2003). Respon Psikologis Sebagian ketakutan yang melatarbelakangi pra pembedahan adalah elusive atau keinginan mengelak dan orang tidak akan mengetahui penyebabnya. dimana dapat dilakukan di ruang praktek klinik untuk rawat jalan dengan anastesi lokal. takut anastesi biasanya dalam maut “ Tidur terus tidak bangun kembali”. Konsep Operasi/ Pembedahan 1. 2006). Jenis prosedur pembedahan atau operasi diklasifikasi berdasarkan tingkat keseriusan.5%. Pengertian Menurut Depkes RI (1998). 111111111 A. pembedahan adalah suatu metode pengobatan yang dilakukan dengan terencana atau mendadak terhadap sebagian sistem tubuh. Sedangkan operasi mayor (operasi besar) dengan menggunakan anastesi umum yang dilakukan di unit pembedahan rawat inap. guna mengisi kebutuhan protein untuk keperluan penyembuhan dan mengisi kebutuhan untuk fungsi yang optimal. 3. B. seksio sesarea yang dilakukan sebagai prosedur kedaruratan atau kegawatan untuk melahirkan janin (Poter dan Perry. Orang yang sangat cemas sehingga tidak bisa berbicara dan mencoba menyesuaikan diri dengan kecemasan sebelum operasi sering kali menderita banyak kesukaran pada pasca pembedahan. Konsep Seksio Sesarea . Pembedahan atau lebihdikenal dengan istilah operasi dapat dibedakan. mereka cenderung banyak marah. Respon Fsiologis Operasi besar merupakan stressor kepada tubuh dan memicu respon neoro endecrine. Prosedur yang gawat juga dianggap punya keseriusan mayor misalnya. kesal.

Pendarahan Pendarahan banyak bisa timbul pada waktu pembedahan jika cabang. b. b. Hipertensi . Gawat janin. Suatu komplikasi yang baru yang kemudian tampak. Pengertian Seksio sesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding rahim (kafita selekta kedokteran. 2. Pesalinan seksio sesarea kelahiran bayi melalui abdomen dan insisi uterus (Mary. Infeksi puerperal Komplikasi ini bisa bersifat ringan seperti : kenaikan suhu tubuh selama beberapa hari dalam masa nifas. lika kandung kencing. Indikasi Menurut statistik tentang 3509 kasus seksio sesarea yang disusun oleh Peel dan Camberlain (dalam Hanifa 2006). h. f. indikasi untuk seksio sesarea ialah a. Incoordinate uteria action. kematian prenatal pasca seksio sesarea berkisar antara 4 sampai 7%. Komplikasi a. 4.1. c. Kelainan letak. Pada anak Seperti halnya dengan ibunya. Disproporsi janin panggul. embolisme paru. Preeklamsi. 2).komplikasi yang bisa timbul ialah sebagai berikut : 1). Kontra indikasi e. sehingga pada kehamilan berikutnya bisa terjadi ruptura uteri. Pada ibu komplikasi.paru.cabang ateri ulterina ikut terbuka. g. anak yang dilahirkan dengan seksio sesarea menurut data statistik di negara.negara dengan pengawasan antenatal dan intranatal yang baik. Komplikasi lainnya. kurang kuatnya perut pada dinding uterus. Plasenta prepea.1995).. d. 2001). Pernah seksio sesaresa 3.

dan sebagainya.Mengenai komtra indikasi perlu diingat bahwa seksio sesarea dilakukan baik untuk kepentingan ibu maupun kepentingan anak. ketakutan. Freud (1998) memandang bahwa kecemasan timbul secara otomatis apabila kita menerima stimulus yang berlebihan yang melampaui kemampuan untuk menanganinya. Menurut Barbara (1996) kecemasan adalah respon psikologis perasaan takut atau tidak tenang yang sumbernya tidak dikenali dan terjadi ketika seseorang merasa terancam baik secara fisik maupun secara psikologis . stimulus tersebut dapat berasal dari luar maupun dari dalam diri.2004). 2006). 3. atau apabila janin terlalu kecil untuk hidup di luar kandungan. 2. Keadaan emosi ini dialami secara obyektif dan dikomunikasikan dalam hubungan interpersonal (Maramis. 5. Kecemasan adalah suatu sinyal yang menyadarkan. Seksio sesarea transperitonealis profunda. atau apabila janin terbukti cacat seperti hidro sefalus.1990). Oleh sebab itu seksio sesarea tidak dilakukan – kecuali dalam keadaan terpaksa – apabila misalnya janin sudah meninggal dalam uterus. 2. kecemasan sangat berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya. Stuart dan lararia (1998) mengatakan kecemasan dapat diekspresikan secara langsung melalui perubahan fisiologis dari perilaku maupun secara tidak langsung melalui timbulnya gejala atau mekanisme koping sebagai upaya untuk melawan kecemasan (Sofia.jenis seksio sesarea Dikenal beberapa secsio sesarea yaitu : 1. Rentang Respon Cemas .Y. anensefalus. Perasaan tidak nyaman sebagai respon terhadap rasa takut akan terjadinya perlukaan tubuh atau kehilangan sesuatu yang bernilai dari dirinya (DepKes. Pengertian Kecemasan Menurut Stuart & Sundeen (1998) kecemasan adalah kebingungan. C. Konsep kecemasan 1. (Hanifa. dkk. ia memperingatkan adanya bahaya yang mengancam dan memungkinkan seseorang mengambil tindakan untuk mengatasi ancaman (Kaplan & Sadock). Seksio sesarea ekstraperitoneal. Seksio sesarea transperitonealis klasik atau korforal. Jenis. 1993). pada sesuatu yang akan terjadi dengan penyebab yang tidak jelas yang dihubungkan dengan perasaan tidak menentu dan tidak berdaya.

anoreksia. otot merasa tegang. 2004). mengidentifikasikan kecemasan dalam empat tingkat yaitu : ringan. bicara terus dan sukar dimengerti. menurunnya kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain. individu merasa tidak bisa memperhatikan lingkungan sehingga fokus terhadap lingkungan berkurang. tidak mampu rileks dan sukar tidur. berat dan panik. sering buang air kecil. lapang persepsi menyempit. tempat dan orang. Cemas berat mengurangi lapang persepsi seseorang sehingga cenderung untuk memusatkan pikiran untuk mengurangi ketegangan. Perasaan cemas 1. agitasi. mual dan muntah. perilaku diluar kesadaran (Sofia Y. : Rentang Respon individu terhadap kecemasan Respon adaptif Respon mal adaptif # Antisipasi # Ringan # Sedang # Berat # Panik Menurut Peplu (dalam Stuart & Sundeen.gejala kecemasan tersebut adalah : a. gelisah. pada kecemasan sedang individu merasa lebih tegang. Cemas (menangis. Panik berhubungan dengan ketakutan dan teror yang melibatkan aktivitas motorik. orang tersebut tidak mampu menyelesaikan masalah. kognitif dan afektif yang berbeda-beda. Rentang respon cemas terbagi menjadi empat tingkat: (1) kecemasan ringan. menolak) . 1995). Cemas ringan dapat menyebabkan seseorang menjadi waspada dan meningkatkan area persepsi sehingga dapat memotivasi untuk belajar. 1995) menyebutkan bahwa pada orang cemas refleksi tingkah laku terbagi atas fisiologis. persepsi wajah ketakutan. banyak bicara dan volume keras. Cemas ringan berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada. pusing atau sakit kepala. (3) kecemasan berat. cemas ringan berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. persepsi yang menyempit dan kehilangan pemikiran yang rasional. pada tingkat ini lapang persepsi individu menyempit. banyak bicara dan bertanya-tanya. Manifestasinya adalah mulut kering. Menurut Stuart & Sundeen (1995) rentang respon individu terhadap kecemasan berfluktuasi antara respon adaptif dan maladaptif seperti terlihat pada gambar berikut: Gambar 2. takut. Sementara menurut Dadang (2001) Gejala.Peplu (dalam Stuart & Sundeen . Cemas sedang memungkinkan seseorang untuk memusatkan perhatian pada yang selektif. Manifestasinya adalah berdebar-debar. sedang. badan gemetar. nyeri dada.1. (2) kecemasan sedang. dan masih dapat mengenal waktu. Manifestasinya adalah nafas pendek.

Daya ingat terganggu f. Mudah tersinggung b. Lesu 3. Tidur tidak nyenyak e. Gemetar 5. Gangguan kecerdasan 1. Perasaan defresi 1. Menarik diri c. Saat bangun kondisi lesu 3. Pada orang asing 3. Hilandnya minat 2. Gangguaan tidur 1. Pada gelap 2. Tidak bisa istirahat tenang/ gelisa 4. Terbangun pada malam hari 2. Ditinggal sendiri 4.2. Pada kerumunan orang banyak d. Banyak mimpi/ mengigau 4. Ketegangan 1. Ketakutan 1. Pandangan kosong . Merasa tegang 2. Bicara cepat 6.

Sering menarik napas dalam 4. Tidak dapat menahan kencing . Gejala somatic (otot) 1. Gejala respirator (pernapasan) 1. Gejala somatic (sensorik) i. Muntah 4. Napas pendek k. Bangun dini hari g. Perasaan terbakar diperut 3. Gerakan lambat dan janggal h. Rasa tercekik 3. Nyeri dada 3.3. Gejala gastrointestinal 1. Rasa tertekan dan sempit dada 2. Sedih 4. Sulit menelan 2. Takikardi (denyut jantung meningkat) 2. Gejala urogenital (perkemihan dan kelamin) 1. Sukar buang air besar l. Serimg buang air kecil 2. Denyut nadi kasar/ amat jelas terasa/ teraba 4. Rasa seperti mau pingsan j. Gejala kardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah) 1.

Gejala autonom 1. (6) pada sistem . (5) respon sistem urinaria meliputi tidak dapat menahan kencing. Muka merah 3. (4) respon pada sistem gastrointestinal meliputi kehilangan nafsu makan. Intensitas fisik dan perilaku dapat meningkat sejalan dengan tingkat cemas (Stuart & Sundeen. kaki goyah dan adanya gerakan yang janggal. Kepala sering terasa pusing n. Mudah berkeringat 4. insomnia. gelisah. mual dan mungkin akan diare. Kecemasan sedang d. tekanan darah meningkat. Kecemasan berat e. (3) pada sistem neuromuscular akan muncul respon peningkatan refleks. Mulut kering 2. rigiditas. Gelisah dan muka merah 2. jantung berdebar. Tingkah laku pada saat wawancara 1. 1998). tremor. Respon fisik terhadap kecemasan meliputi berbagai sistem organ tubuh: (1) pada sistem kardiovaskuler akan muncul respon palpitasi. tekanan pada dada. Ekspresi wajah tegang Tingkat kecemasan tersebut dapat dikelompokkandengan nilai hasil total score dari masingmasing gejala kecemasan sebagai berikut : a. Respon Fisik Dan Psikologi Cemas Cemas dapat diekspresikan secara langsung melalui perubahan fisik dan perilaku.m. Tidak ada kecemasan b. rasa tidak nyaman pada abdomen. Kecemasan berat sekali/ panik : jika nilai ≤ 7 : jika nilai 8 -13 : jika nilai 14 – 18 : jika nilai 19 – 29 : jika nilai 30 – 44 3. mata berkedip-kedip. kelemahan umum. wajah tegang. (2) pada sistem pernafasan akan terjadi nafas pendek dan cepat. Kecemasan ringan c. sensasi tercekik serta terlihat terengah-engah. menolak untuk makan. Gemetar 3.

Id mewakili dorongan insting dan impuls primitif seseorang. dingin pada kulit. Respon cemas pada perilaku berupa gelisah. kreatifitas dan produktifitas menurun dan kesadaran diri meningkat. tremor gugup. Reseptor ini mungkin membantu mengatur kecemasan.integumen akan tampak wajah kemerahan. lebih baik dan lebih matang pada individu atau kelompok (Notoatmodjo. Aspek pengetahuan (Kongnitif) . lapang persepsi menurun. berkeringat setempat. D. menarik diri dari hubungan interpersonal. ketakutan dan tremor (Sofia Y. tegang. rasa panas.2004). Selanjutnya Panji Anoraga dan Sri Suryati (1999) menjelaskan bahwa pendidikan merupakan usaha sadar dan sistematis yang berlangsung seumur hidup dalam rangka mengalihkan pengetahuan oleh seseorang kepada orang lain. Kecemasan juga berkaitan dengan trauma psikologis seperti perpisahan dan kehilangan. kurang koordinasi. Kajian biologis menunjukkan bahwa otak mempunyai reseptor khusus untuk benzodiasepin. serta berkeringat pada seluruh tubuh. Faktor Predisposisi Pandangan psikoanalitik oleh Sigmund freud mengatakan bahwa faktor predisposisi kecemasan adalah adanya konflik antara dua elemen kepribadian yaitu id dan superego. ketegangan fisik. 1. Konsep pendidikan 1. Stuart & Sundeen menguraikan bahwa banyak teori telah dikembangkan mengenai faktor terhadap terjadi kecemasan. Hal ini berhubungan dengan aktivitas neurotransmitter gamma aminobutyric acid (GABA) yang mengatur laju dan aktifitas neuron dalam otak untuk menurunkan kecemasan. cenderung mendapat cidera. wajah pucat. Menurit Notoadmodjo (2003) kematangan atau kesiapan pribadi menyangkut tiga pengalaman belajar pokok yaitu : a. 4. gatal. Kajian keluarga menerangkan bahwa kecemasan merupakan hal yang biasa ditemui dalam keluarga berbagai tipe akibat konflik dalam keluarga (Sofia Y. gelisah. 1997). bicara cepat. Pandangan interpersonal oleh Sulivan mengatakan bahwa kecemasan timbul dari adanya perasaan terhadap tidak adanya penerimaan interpersonal. Pandangan perilaku menganggap kecemasan merupakan produk frustasi yaitu segala sesuatu yang mengganggu kemampuan seseorang untuk mencapai tujuan. konsentrasi buruk. Respon terhadap kognitif meliputi perhatian terganggu. sedangkan superego mencerminkan hati nurani seseorang dan dikendalikan oleh norma-norma budaya seseorang. Sedangkan dari segi afektif akan tampak keadaan mudah terganggu. pelupa. Atau pendidikan adalah suatu proses yang berarti di dalam pendidikan itu terjadi proses pertumbuhan perkembangan atau perubahan kearah yang lebih dewasa. Pengertian Pendidikan Pendidikan adalah dasar untuk menyiapkan peserta didik bimbingan. 2004).

SMA. SMP. Pendidikan Menengah yaitu suatu lembaga pendidikan yang diselenggarakan untuk melanjutkan dan meluaskan pendidikan dasar serta menyiapkan peseta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial. Tingkat Pendidikan Notoadmodjo (2003) menyatakan bahwa pendidikan umumnya merupakan pendidikan yang mengutamakan perluasan pengetahuan dan peningkatan keterampilan peserta didik. contoh SD dan SLTP Warga Negara yang berumur 6-7 tahun berkewajiban mengikuti pendidikan dasar atau pendidikan yang setara sampai tamat SLTP (Sekolah Menegah Tingkat Pertama). 2. yaitu suatu proses yang sesungguhya terjadi seumur hidup yang karena tiap-tiap individu merupakan sikap melalui keterampilan dan pengetahuan seharihari dan pengaruh lingkungan. SLTA (Sekoah Menengah Atas) dan SMK. 3. Dengan demikian pendidikan umum atau pendidikan sekolah terdiri dari pendidikan dasar. juga berbagai program khusus dan lembaga untuk latihan. sampai Universitas dan tercakup disamping studi akademi umum. Pendidikan non formal yaitu merupakan pendidikan (pada umumnya) di luar sekolah yang secara potensial dapat membantu dan mengartikan pendidikan formal dalam aspek tertentu. Aspek sikap dan perilaku (Efektif) c. budaya dan alam sekitar serta dapat mengembangkan kemampuan lebuh lanjut dalam dunua kerja atau pendidikan tinggi. mempunyai jenjang atau tingkat dalam periode waktu tertentu berlangsung dari SD. Jenis-jenis Pendidikan Pendidikan dasar dibedakan menjadi 3 jenis yaitu: 1. Pendidikan Dasar yaitu suatu lembaga pendidikan yang diselenggarakan untuk mengembangkan sikap dan kemampuan serta memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar yang diperlukan untuk hidup dalam masyarakat serta mempersiapkan perserta didik yang memenuhi persyaratan untuk mengikuti pendidikan menengah. pendidikan menengah dan pendidikan tinggi yang meliputi : 1. Pendidikan menengah yang lamanya 3 tahun sesudah pendidikan dasar diselenggarakan di . Aspek yang berkaitan dengan keterampilan (Psikomotorik) 2. yaitu pendidikan yang berstruktur. Pendidikan formal. Pendidikan formal. 1.b. 3.

Konsep pengetahuan 1. dalam kaitannya dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi seksio sesarea sehingga dapat meminimalkan respon terhadap kecemasan. Pengamatan (menanamkan) yaitu penggunaan indra lahir dan indra batin untuk menangkap objek. Kesadaran (jiwa) salah satu dari alam yang ada pada diri manusia. Sekolah Tinggi. Pengertian Pengetahuan adalah pemberian bukti oleh seseorang melalui proses pengingatan dan pengenalan informasi. D3. 1. Namun sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. pengetahuan dikatagorikan dalam enam bagian yaitu : 1. Pengetahuan pada dasarnya terdiri dari sejumlah fakta dan teori yang memungkinkan seseorang untuk dapat memecahkan masalah yang dihadapinya. Politeknik. Institut dan Universitas yang termasuk perguruan tinggi D2. 2002). Pendidikan Tinggi Satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi disebut perguruan tinggi yang dapat berbentuk Akademik.dan S3. Sasaran (objek) yaitu sesuatu yang menjadi bahan pengamatan. S2. Tingkat pengetahuan Menurut Notoatmodjo (2003). pengetahuan sebagai alat jaminan yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa prilaku didasarkan atas pengetahuan akan lebih langgeng dibanding dengan tampa didasari pengetahuan. Selanjutnya Notoadmodjo (2002) menyatakan ada tiga unsur pengetahuan yaitu : 1. 2. 3. Tahu (Know) .1. penciuman. Pengetahuan merupakan hasil tahu telah terjadi setelah seseorang melakukan pengindraan melalui panca indra yaitu penglihatan. ide atau fenomena yang diproses sebelumnya. sehingga akan lebih terbuka terhadap pembaharuan. Dari pengertian tentang pendidikan tersebut diatas kiranya dapat diharapkan bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin luas pengetahuan tentang suatu hal dan semakin luas pula wawasan berfikirnya. pengecapan (rasa) dan perabaan. Pengetahuan merupakan dasar untuk terbentuknya tindakan seseorang (Notoadmodjo. S1. 2. E. 1.

Khnowledge (pengetahuan)dalam masyarakat dipengaruhi beberapa faktor antara lain sosial ekonomi. Analisis (Analysis) Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen tetapi dalam struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain. 1. Kemampuan analisis dapat dilihat dari kemampuan menggambarkan.hukum. 3. menyebutkan contoh. merencanakan. 1. Penilaian-penilaian yang didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria yang ada misalnya dapat membandingkan antara anak-anak yang cukup gizi dengan anak-anak yang kurang gizi. kultur (budaya agama).Tahu diartikan sebagai mengingat sesuatu yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk dalam timgkat pengetahuan ini adalah mengingat kembali sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang diterima. menyelesaikan dan sebagainya. metode. . menyimpulkan dan sebagainya. Misalnya dapat menggunakan rumus statistik dalam penghitungan-penghitungan siklus pemecahan masalah kesehatan dari kasus yang diberikan. pendidikan dan pengelaman. Evaluasi Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan jasvikasi atau penelitian terhadap suatu materi atau objek. Orang yang telah tahu terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan. 1. Faktor-Faktor yang mempengaruhi pengetahuan Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan menurut Nasution (2002). 1. membedakan dan sebagainya. Memahami (comprehension) Memahami diartikan sebagai kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat mengukur prestasi materi secara benar. 1. meringkas. Aplikasi (Application) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada kondisi riil (sebenarnya) yang termasuk aplikasi adalah penggunaan hukum. Sintesis (syntesis) Sintesis menunjukan suatu kemampuan untuk melekatkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru misalnya dapat menyusun. prinsip dan sebagainya dalam kontek atau kondisi yang lain.

sedangkan umur semakin tua umur seseorang maka pengalaman akan semakin banyak.1. kalau positif akan menimbulkan sikap positif demikian sebaliknya (Green dalam Notoadmodjo. BAB III METODEOLOGI PENELITIAN . Pendidikan yaitu semakin tinggi tingkat pendidikan maka ia akan mudah menerima hal-hal baru dan mudah menyesuaikan dengan hal-hal yang baru tersebut. Bila pengetahuan pasien kurang membuat pasien tidak mengerti tentang prosedur tindakan yang akan dilakukan sehingga membuat pasien merasa lebih cemas dalam menghadapi operasi seksio sesarea. 4. Kurang : Bila jawaban benar mencapai kurang dari 56% dari seluruh pertayaan. 3. Pada hakikatnya pengetahuan merupakan segenap apa yang diketahui manusia tentang objek tertentu. maksudnya pendidikan yang tinggi pengalaman akan lebih luas. tingkat pengetahuan akan tinggi juga. tingkat pendidikan tinggi. : Bila jawaban benar mencapai 56-74% dari seluruh pertanyaan. 2003). Pengetahuan ini berpengaruh terhadap sikap seseorang sesuai dengan pemikirannya. termasuk didalamnya tentang ilmu. 4. 2. Kultur yaitu budaya sangat berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan seseorang. pengalaman disini berkaitan dengan umur dan pendidikan individu. Sosial ekonomi yaitu lingkungan sosial akan mendukung tingginya pengetahuan seseorang sedangkan bila ekonomi baik. karena informasi-informasi yang baru akan disaring kira-kira sesuai tidak dengan yang ada dan agama yang dianut. Pengalaman. Kriteria Penilaian Menurut Arikunto (1998) kriteria penilaian pengetahua dikelompokkan dalam persentase yaitu : Baik Cukup : Bila jawaban benar mencapai 75-100% dari seliruh pertanyaan.

M. B. Rancangan Penelitian dan Jenis Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian secara Deskriptif dengan menggunakan desain penelitian cross sectional yang merupakan rancangan penelitian dengan menggunakan pengukuran atau pengamatan pada saat bersamaan (sekali waktu) yang bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat kecemasan pasien pre operasi seksio sesarea ditijau dari tingkat pendidikan dan pengetahuan di Ruang Mawar RSUD Dr.1. kurangnya informasi yang benar tentang seksio sesarea serta tehnik operasi yang akan dijalani akan menambah kecemasan pasien dalam menjalani operasi seksio sesarea sehingga dapat memperburuk proses tindakan dan pemulihan setelah menjalani operasi pembedahan. A. Kerangka Konsep Operasi seksio sesarea merupakan suatu tindakan medis yang dilakukan pada ibu hamil trisemester akhir. Yunus Bengkulu Tahun 2008. Tingkat kecemasan Pasien Pre Operasi v Tingkat Pendidikan v Pengetahuan Variabel Indevenden Variabel Devenden .

1997). 1. Pendidikan terakhir Mengajukan Questioner yang pernah diraih pertanyaan responden Ordi nal 0= Dasar (SD. Populasi dalam penelitian ini pasien yang akan menjalani operasi seksio sesarea di ruang mawar RSUD Dr. Sedang : nilai 14-18 2 Tingkat Pendidikan Kondisi yang Melihat Ceklis mengambarkan lang perasaan takut terhadap proses sung operasi/pembedahan yang ingin dijalani pasien. SLTP) 1= Menengah (SMA) 2= Tinggi (PT) 0= Kurang (bila jawaban benar 05) 1= cukup (bila jawaban benar 67) 2= baik bila jawaban 8-10). 3 Pengetahuan Segala sesuatu yang Mengajukan Questioner diketahui oleh pertanyaan pasien tentang operasi seksio sesarea Ordi nal D. M. Berat : nilai 1929 Hasil Ukur a.C. Populasi dan Sampel 1. Sampel . Populasi Populasi adalah keseluruhan subject penelitian yang akan diteliti (Notoatmodjo. Yunus Bengkulu. Definisi Operasional No Variabel 1 Tingkat Kecemasan Definisi Cara Ukur Alat Ukur Skala Ukur Ordi nal b.

Tempat Penelitian ini dilakukan di Instalasi Rawat Inap Ruang Mawar RSUD Dr. 1. palfasi dan menggunakan lembar kuisioner yang digunakan untuk memperoleh data. Pengolahan data . Teknik Pengolahan. Yunus Bengkulu. observasi. Analisa dan Penyajian Data. pengetahuan. Waktu Waktu penelitian ini dilakukan sejak tanggal 28 Juni sampai dengan 12 Juli 2008. dan tingkat kecemasan pasien pre operasi seksio sesarea. M. data yang dikumpulkan dalam penelitian ini diperoleh melalui wawancara. Cara pengumpulan data Dalam upaya untuk mendapatkan data-data atau informasi yang jelas dan akurat. G. Jenis data . F. Dalam penelitian ini sampel yang diambil menggunakan tekhnik pengambilan data dengan Accident Sampling.Sampel adalah sebagian yang diambil dari populasi (Arikunto. 2. Instrumen pengumpulan data Dalam penelitian ini instrumen yang digunakan yaitu Wawancara. 1. M. Waktu dan Tempat Penelitian 1. 1. pengetahuan terhadap tingkat kecemasan. 1. palpasi dan menggunakan angket dengan cara menyebarkan kuesioner pada pasien yang akan mejalani operasi seksio sesarea untuk menentukan tingkat pendidikan. dikumpulkan melalui lembar kuesioner dan ceheck list. E. dimana sampel yang menjadi objek penelitian adalah pasien yang akan menjalani operasi secsio sesarea di Ruang Mawar Dr. 1998). observasi. 3.Data Primer yaitu data yang langsung didapat dari responden yang berisikan tentang pendidikan. 1. Teknik Pengumpulan Data 1. Yunus Bengkulu dari tanggal 28 Juni sampai dengan 12 Juli 2008.

c. baik 2. 2. berat 2. Analisa Univariat analisa univariat yaitu seluruh variabel yang akan digunakan dalam analisa ditampilkan dalam distribusi frekuensi. Analisa univariat untuk melihat distribusi.Data yang dikumpulkan selanjutnya diolah dengan beberapa tahapan yaitu : a. b. maka dilakukan tabulasi data dengan memberi skore pada masing-masing sub variabel.com/2011/12/16/gambaran-tingkat-kecemasan-ditinjau-dari-tingkatpendidikan-dan-pengetahuan-pasien-pre-operasi-seksio-sesarea-di-ruang-mawar-rsud-dr-m-yunusbengkulu/ 222222222 . tinggi 2.wordpress. a. Tabulasi data (Tabulating) Setelah dilakukan coding data. tingkat kecemasan ringan 0. Analisa univariat untuk melihat distribusi frekuensi dari masing-masing variabel indevenden dan devenden dengan menggunakan rumus : P= Keterangan : P : Jumlah persentase yang dicari F : Jumlah frekuensi untuk setiap katagori n : Jumlah sampel http://kutaukomputer. Pengkodean data (Coding) Coding adalah mengalokasikan jawaban-jawaban yang ada menurut macamnya kedalam bentuk yang lebih ringkas yang menggunakan kode-kode agar lebih mudah dan sederhana. sedang 1. cukup 1. Pengeditan datan (Editing) Langkah ini dilakukan peneliti untuk memeriksa kembali kelengkapan data yang diperlikan untuk mencapai tujuan penelitian dilakukan pengelompokan dan penyusunan data. Analisa Data Dalam penelitian ini digunakan analisa univariat dan analisa bivariat. pendidikan dasar 0. pengetahuan kurang 0. menengah 1.

date. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruangan RB2 Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan. Untuk tingkat kecemasan kategori tertinggi adalah ringan 46.issued dc. Analisa data yang dc.abstract digunakan adalah statistik univariat dan statistik bivariat. Nur Asnah Nadeak.uri dc.contributor.date.date.other dc. Ruspina Jenita 2011-05-19T03:34:25Z 2011-05-19T03:34:25Z 2011-05-19 Fredo Hasugian http://repository.description.id/handle/123456789/24606 091121032 Dukungan keluarga adalah sikap.8% dan yang paling sedikit adalah kategori berat 24. tindakan dan penerimaan keluarga terhadap penderita yang sakit.contributor.ac.usu.identifier. Anggota keluarga memandang bahwa orang yang bersifat mendukung selalu siap memberikan pertolongan dan bantuan jika diperlukan.available dc.usu. Kecemasan merupakan bagian dari kehidupan manusia yang ditandai dengan perasaan ketakutan atau kekhawatiran yang mendalam dan berkelanjutan. dimana didapat nilai r = 0.398 dan nilai p = 0. Untuk peneliti keperawatan selanjutnya disarankan agar dapat melakukan pendidikan kesehatan dan memberikan motivasi kepada keluarga dalam memberikan dukungan pada pasien pre operasi untuk mengurangi tingkat kecemasan pasien pre operasi.2% dan paling sedikit adalah kategori kurang 17.2%.identifier. Mula Sitohang.author dc. Desain penelitian yang digunakan adalah desain studi korelasional.accessioned dc.contributor.Untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi digunakan uji Spearman.ac. Besar sampel adalah 62 orang dengan metode pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling.id/handle/123456789/24606?mode=full 3333333333 .Full metadata record DC Field dc.advisor dc.7%.description Value Language en_US Tarigan. http://repository.advisor dc. Hasil penelitian diperoleh bahwa dukungan keluarga yang terbesar adalah kategori baik 53.01.

TAMPILKAN FULLTEXT PDF 62Kb Preview PDF Restricted to Repository staff only 1108Kb Official URL Abstract .PERBEDAAN TINGKAT KECEMASAN PASIEN PRE OPERATIF SELAMA MENUNGGU JAM OPERASI ANTARA RUANG RAWAT INAP DENGAN RUANG PERSIAPAN OPERASI RUMAH SAKIT ORTOPEDI SURAKARTA PARYANTO. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Skripsi thesis. PARYANTO (2009) PERBEDAAN TINGKAT KECEMASAN PASIEN PRE OPERATIF SELAMA MENUNGGU JAM OPERASI ANTARA RUANG RAWAT INAP DENGAN RUANG PERSIAPAN OPERASI RUMAH SAKIT ORTOPEDI SURAKARTA.

Dengan pengobatan yang tepat (tentunya berdasarkan pengetahuan . oleh karena itu berbagai kemungkinan buruk bisa terjadi yang akan membahayakan pasien. Semua dilakukan dengan trial dan error. tahun 2006 : 3827 pasien ( 6.eprints. Tingkat kecemasan diruang rawat inap rata-rata ringan yaitu skor 12.Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian survey dengan rancangan penelitian Discriptive Comparative dan pengambilan sampel mengunakan Quota Sampling untuk memperoleh 94 responden. DR. Kesimpulan.ums. hingga operasi pembedahan.Kecemasan (ansietas) adalah respon psikologik terhadap stres yang mengandung komponen fisiologik dan psikologik. tahun 2007 : 4143 ( 8.6 % ). Metode.99 termasuk kategori sedang.000 pada tingkat signifikansi 5% berarti terbukti ada perbedaan tingkat kecemasan pasien pre operatif selama menunggu jam operasi antara ruang rawat inap dengan ruang persiapan operasi di Rumah Sakit Ortopedi Surakarta dengan signifikansi . Kecemasan timbul pada pasien pre operasi ketika menunggu jam operasi diruang rawat inap dan kondisi ini meningkat ketika pasien berada di ruang persiapan operasi. Disinilah kekuatan Do‟a . Namun tentu semua jenis pengobatan dan obat-obatan tersebut hanya terasa khasiatnya bila disertai dengan sugesti dan keyakinan. Tujuan. Sementara banyak manusia yang tidak menyadari bahwa Allah tidak pernah menciptakan manusia dengan ditinggalkan begitu saja. http://etd. baik berupa tumbuh-tumbuhan secara tunggal maupun yang sudah terkomposisikan. '07 12:12 AM para Todos Dunia pengobatan semenjak dahulu selalu berjalan seiring dengan kehidupan umat manusia. Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan tingkat kecemasan pasien pre operatif selama menunggu jam operasi diruang rawat inap dengan ruang persiapan operasi Instalasi Bedah Sentral di Rumah Sakit Ortopedi Prof. Hanya ada manusia yang mengetahuinya dan ada juga yang tidak mengetahuinya. Data dari laporan tahunan Instalasi Bedah Sentral (2008). mulai dari mengkonsumsi berbagai jenis obat-obatan. Tindakan operasi atau pembedahan merupakan pengalaman yang bisa menimbulkan kecemasan. Setiap kali penyakit muncul. maka Islam mengenal istilah do‟a dan keyakinan. Keinginan untuk terlepas dari segala macam penyakit inilah yang mendorong manusia untuk membuat upaya menyingkap berbagai metode pengobatan. atau sistim pemijatan. Uji Mann Whiney U Test diperoleh nilai koefisien Mann-Whitney U sebesar 2505. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan alat ukur yang digunakan adalah kuesioner Hamilton Rating Scale for Anxiety (HRS-A). namun perkembangan jenis penyakit juga tidak kalah cepatnya ber-regenerasi.Dzikir.id/4455/ 444444 Meditasi dengan Al Qur‟an Sep 5. pasti Allah juga menciptakan obatnya. manusia amatlah akrab dengan berbagai macam penyakit ringan maupun berat.02 dan tingkat kecemasan di ruang persiapan operasi mencapai skor 17. Ansietas adalah keadaan suasana perasaan (mood) yang ditandai oleh gejala-gejala jasmaniah seperti ketegangan fisik dan kekhawatiran tentang masa depan. yang diyakini berkhasiat menyembuhkan jenis penyakit tertentu.2 % ) pasien dan pada tahun 2008 : 3827 pasien ( turun 2 % dibanding tahun 2007 ).ac. Soeharso Surakarta. Analisis statistik menggunakan Mann Whiney U Test. R.000 dan probability value (r-value) sebesar 0. Karena sebagai mahluk hidup. Teknologi medis boleh saja semakin modern dan canggih. jumlah tindakan bedah di IBS Rumah Sakit Ortopedi Prof DR R Soeharso Surakarta tahun 2005 : 3589 pasien. pembekaman.

strooke. tafakur (meditasi). tetapi kata meditasi itu lebih dikenal dengan nama samedi yang diserap dari bahasa Sansekerta. Dalam bahasa Indonesia. Bahwa untuk mengatasi kekecewaan. kita harus mencari sumbernya dulu yaitu pikiran. Belajar meditasi merupakan bagian dari latihan mengendalikan pikiran. Untuk mengatasinya bisa dengan latihan meditasi. seperti kanker. seperti sholat. dosis obat yang sesuai disertai doa dan keyakinan. Ini hampir sama dengan „kontemplasi‟ yang didefinisikan secara persis sama. Meditasi adalah latihan konsentrasi yang dapat digunakan untuk mempertajam tehnik dan meningkatkan kepekaan terhadap suasana sekitar. dzikir. PENGERTIAN MEDITASI Perkataan Meditasi itu sendiri diserap dari bahasa Latin. yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. adalah: Meditate is to think seriously (about something). Meditation is serious thought or study. Dalam Alkitab bahasa Inggris perkataan tsb diterjemahkan sebagai Meditation.” (Oxford Advanced Learner‟s Dictionary). tersimpan potensi-potensi penyembuhan bagi penyakit. Tetapi kalau dikaji secara lebih mendalam dan dipraktekkan. or the product of this activity. Meditasi. for a long time · if you meditate. psikologis dan non medis. Dalam kamus yang bersifat umum ini. Merujuk pada praktek-praktek agung tasawuf praktis. tidak ada penyakit yang tidak bisa disembuhkan terkecuali maut. Jadi bermeditasi adalah memusatkan pikiran dan perasaan untuk mencapai sesuatu. praktik-praktik sufi. Samedi itu artinya meditasi dalam bahasa Sangsekerta atau dalam bahasa Ibrani = hagah. and do not think about anything else. Dibalik praktik-praktik sufi tersebut. usually as a religious activity or as way calming or relaxing your mind. adalah pemusatan pikiran dan perasaan untuk mencapai sesuatu. esp. sehingga terjadi tumpang tindih dan tidak dapat dibedakan secara tegas antara „meditasi‟ dan „kontemplasi‟. Sedangkan pengertian meditasi dalam kamus Cambridge International Dictionary of English. samadhi yang juga disebut dhyana atau pranayama. „meditasi‟ dianggap sebagai proses „berpikir‟. Pada dasarnya. „meditasi‟ adalah “pemusatan perhatian pada suatu obyek batin secara terusmenerus. you give your attention to one thing. . either as a religious activity or as a way of becoming calm and relaxed: prayer and meditation. ternyata tidak sekedar ritual-ritual tanpa makna. kerusakan kromosom/ DNA. Kata „meditasi‟ [meditation] didefinisikan sebagai “praktek berpikir secara mendalam dalam keheningan.” Memang ada obyek-obyek meditasi tertentu yang berupa pikiran atau ide/konsep. terutama untuk alasan keagamaan atau untuk membuat batin tenang.dan pengalaman puluhan tahun). meditatio yang berarti merenungkan dan juga berakar dari kata Mederi (kesehatan) dari kata ini pula diserap kata medisin. Jadi jelas meditasi itu sebenarnya baik bagi kesehatan. akan ternyata bahwa di dalam „meditasi‟ justru proses berpikir berhenti untuk sementara.penyakit yang tidak bisa disembuhkan oleh kedokteran modern. dan jenis-jenis penyakit emosional. Meditation is also the act of giving your attention to only one thing.

sehingga ia menurut perintahnya sang Pribadi. Pengertian konsentrasi ialah untuk memahami dan menguasai pikiran-perasaan sehingga ia tidak lagi menanggapi dengan kacau terhadap suatu peristiwa. ataupun ke cakra jantung untuk memberikan lebih banyak kekuatan kepada roh. meskipun keduanya dalam pelaksanaannya berhubungan. Latihan-latihan konsentrasi adalah suatu pendidikan kembali mengenai tekniknya pikiranrendah. Perbedaan Konsentrasi dan Meditasi Terdapat perbedaan jelas antara konsentrasi dan meditasi. Sedangkan tujuan meditasi ialah melatih pikiran. pemahaman melalui introspeksi kebanyakan hanya bersifat kognitif saja. tidaklah kosong sama sekali. Jadi. dsb). sehingga biasanya tidak banyak perubahan yang terjadi. Kita meditasi pada yang abstrak. meditasi adalah cara lain untuk memahami diri. Meditasi tingkat tinggi biasanya mengajarkan untuk memusatkan perhatian ke cakra mahkota untuk menerima lebih banyak kekuatan spiritual. atau ke antara alis mata untuk membangkitkan mata spiritual. Dalam ajaran Budha terdapat sebuah tahapan meditasi. yang berbeda dengan introspeksi.pemahaman diri yang diperoleh dari meditasi bersifat transformatif (mengubah). Tidak dianjurkan bagi anda untuk berada dalam keadaan kosong seratus persen karena ini mungkin dapat membiarkan masuknya kekuatan dari luar yang dapat mengganggu. tidak juga mempunyai kwalitas atau lambang-lambang. dan beristirahat/ berhenti pada pokok yang dipilih. oleh karena pemahaman itu melibatkan seluruh aspek diri (kognitif. Meditasi dapat didefinisikan sebagai suatu aktivitas yang mengakibatkan hubungan erat beberapa orang dengan Tuhan. volisional. sehingga pokok-caranya dapat membukakan kesadaran yang sedang bermeditasi akan arti makna yang lebih luas dan dalam. yaitu Dharana yang berarti pemusatan perhatian tanpa paksaan. MANFAAT MEDITASI . Justru pemahaman yang diperoleh dari meditasi jauh lebih tepat dan sesuai dengan keadaan sebenarnya dibandingkan dengan pemahaman dari introspeksi yang dipengaruhi oleh kebiasaan-kebiasaan pikiran yang tidak disadari sehingga memberikan hasil yang bias. Dan ada juga yang mengartikan bahwa meditasi adalah sebuah pelatihan yang menggunakan pikiran untuk tujuan mengatur pikiran dengan usaha kita. Karena Yang Tertinggi tidak mempunyai bentuk dan tidak mempunyai nama. afektif. tidak bernama. hal ini dianggap bukanlah bagian/tahapan meditasi. Di lain pihak. dalam keadaan tenang. Ada juga yang memberi pengertian bahwa meditasi yang sering kita dengar mempunyai pengertian yaitu: sikap menenangkan pikiran dengan cara-cara tertentu di mana pikiran kita sampai menemukan sensasi-sensasi sehingga menimbulkan rasa damai dalam hati untuk mencapai ketenangan jiwa (ruhani). lebih baik pada hal yang mengandung arti yang dalam dan rohaniah. Pemusatan perhatian tidaklah berarti anda kosong.Dengan demikian. tidak berbentuk. Di samping itu. perhatian anda tertunjukkan pada sesuatu. Sebagaimana namanya pemusatan perhatian. konsentrasi adalah sebuah upaya keras (baca: dipaksa) untuk memusatkan pada sesuatu. dan menghentikan sifatnya yang bergerak kian kemari dan tidak menentu. Atau dengan kata lain.

Maka jika anda benar-benar ingin mendalami meditasi. Unsur-unsur gaib itu berupa zat yang sangat halus sebagai inti dari segala zat yang menjadi roh dari alam. Meditasi duduk ini sebenarnya sudah diperkenalkan oleh Islam jauh sebelum Sidharta Gauthama lahir melalui ajaran Budhi Dharma. Teknik seperti itu akan menyegarkan dan membuat orang relaks. Zat ini mempunyai tenaga gaib yang amat berkuasa untuk berbagai macam kepentingan. yaitu meditasi duduk dan meditasi gerak (Tai-Chi). Juga daya fikir bertambah kuat dan tajam. Dalam latihan Meditasi Islam. membawa pada kecerdasan otak. Tujuan dari meditasi ini adalah kesunyian yang indah. meditasi adalah suatu cara untuk mengembangkan bathin menuju taraf kesempurnaan yang selanjutnya menjadi dasar dari kebijaksanaan. Zat inilah yang mereka beri nama Prana. dan menganjurkan kepada para pelakunya agar tidak terlalu melakukan konsentrasi. Meditasi dalam agama Yahudi dikenal dengan nama hitbonenut ini bisa dibaca di Kabbalah sedangkan bangsa Yunani kuno mengenal meditasi dengan nama “Gnothi se auton” = “mengenal diri sendiri”. dan kemudian pada penyelidikan Transcendental Meditation. konsentrasi tetaplah sangat perlu . Tetapi kajian di barat juga telah membuktikan 33% hingga 50% mereka yang melakukan meditasi tanpa teknik yang betul akan mengalami peningkatan dalan tekanan darah.Menurut ajaran Buddhis. namun untuk peningkatan rohani. Latihan meditasi dengan pemusatan fikiran pada pernafasan disebut Anaspanasati. Meditasi bisa mengurangi kecemasan telah diselidiki oleh tokoh-tokoh sarjana Barat. justeru dapat mengatasi pelbagai masalah serta meningkatkan produktivitas dan meningkatkan kesehatan. keheningan dan kejernihan pikiran. antara lain untuk penyembuhan penyakit. yang menurut kepercayaan mereka sesuai dengan irama gerakan alam. Beberapa cara meditasi melibatkan pengulangan suara tertentu secara internal. stress. kemurungan serta mudah marah. maupun dengan alat-alat apapun. pastikan anda dilatih oleh mereka benar-benar mahir dan berpengalaman serta mampu memberi penjelasan untuk setiap keadaan. AGAMA DAN MEDITASI Meditasi bukan hanya dikenal oleh agama yang berasal dari India & Tiongkok saja bahkan hampir disemua agama mereka mempraktekan meditasi. perkara yang harus diperhatikan ialah bagaimana mereka dapat menemukan makna dan tujuan hidup yang memberikan sense of direction. bahwa di udara bebas ini terdapat unsu-unsur gaib yang bersatu dengan zat asam (oksigen). Meditasi ada dua macam. Dengan metode ini. Meditasi ini juga sering dipraktikkan oleh Nabi Muhammad SAW ketika .yaitu usaha intensif untuk memfokuskan pikiran pada mantra. Cara mendapatkan zat gaib atau prana tadi ialah dengan jalan pernafasan yang diatur dengan irama tertentu. dengan demikian membuahkan jasmani dan rohani yang selalu jernih dan segar. seperti pada penyelidikan Zen Meditation. Zat tersebut sedemikian halusnya hingga tak dapat ditanggapi dengan panca indera. fikiran tetap terjaga dengan baik dan senantiasa terkontrol. Menurut kepercayaan orang India/Hindu.

Adapun definisi Alqur‟an adalah: “Kalam Allah swt. Setelah nabi mendapat wahyu pada 610 M.” Banyak ayat Al Qur‟an yang mengisyaratkan tentang pengobatan karena AlQur‟an itu sendiri diturunkan sebagai penawar dan Rahmat bagi orang-orang yang mukmin. mendakwahkan ajaran-ajaran. menikmati meditasi yang soliter. dan melakukan apa yang dalam istilah sekarang disebut sebagai transformasi sosial.” (QS. dia tidak terus tinggal di sana. Beliau melakukan meditasi di Gua Hira. sebuah gua di luar kota Mekah. Yunus/10: 57) .sebelum dan sesudah diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Al Qur’an dan Kesehatan Arti Qur‟an menurut pendapat yang paling kuat seperti yang dikemukakan Dr. hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tentram. yang merupakan mu‟jizat yang diturunkan (diwahyukan) kepada nabi Muhammad saw. ia balik ke kota. Kata Alqur‟an itu berbentuk masdar dengan arti isim maf‟ul yaitu maqru` (dibaca). Ingatlah. meditasi gerak juga sudah ada dalam ajaran Islam yaitu dalam bentuk gerakan shalat. Sebaliknya. Al Isra/17: 82) “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Maka. Gua Hira bukanlah tempat bertahannuts seperti yang dilakukan beliau sebelum diangkat menjadi Rasul. sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. menjauhkan diri dari masyarakat. ISLAM DAN MEDITASI Salah satu fase penting yang secara simbolik sering disebut sebagai mencerminkan corak misi yang dibawa oleh Nabi Muhammad adalah saat dia bertahannuts atau melakukan meditasi di Hira.” (QS. asal kata qara`a. Ar Ra’d/13: 28) Menurut para ahli tafsir bahwa nama lain dari Al Qur‟an yaitu “Asysyifâ” yang artinya secara Terminologi adalah Obat Penyembuh. Pada saat selanjutnya. Tetapi dijadikan tempat untuk mengoreksi ayat-ayat Alqur‟an yang telah diterimanya. Nabi saw pergi ke gua Hira hanya untuk bertemu dengan malaikat Jibril dengan tujuan tasmi? (memperdengarkan) hafalan Alqur‟an beliau dihadapan Jibril. “Dan kami menurunkan Al Qur’an sebagai penawar dan Rahmat untuk orang-orang yang mu’min. Subhi Al Salih berarti „bacaan‟. telah datang kepadamu kitab yang berisi pelajaran dari Tuhanmu dan sebagai obat penyembuh jiwa. ketika menghadapi masalah yang menimpa diri dan umatnya. “Hai manusia. dan ditulis di mushaf dan diriwayatkan dengan mutawatir serta membacanya adalah ibadah. yang pada saat itu disebut dengan berkhalwat dan tahannuts.” (QS. Seperti halnya meditasi duduk.

korma. seperti keutamaan Allah atas makhluk-Nya. Selanjutnya ia berkata. malaikat menaungi mereka dan Allah menyebut-nyebut mereka pada makhluk yang ada di sisi-Nya”. sebuah kitab yang mengupas tata krama mencari ilmu berkata. dan membaca Alquran sambil melihat kepada mushaf”. “Dia menumbuhkan tanaman-tanaman untukmu. membiasakan melaksanakan ibadah salat malam. 1995). “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Alqur’an dan mengajarkannya. terj.” (HR. (QS. Muslim) “Hendaklah kamu menggunakan kedua obat-obat: madu dan Alqur’an” (HR. Di antaranya. Surya Angkasa Semarang. dan memohon kepada-Ku. mereka membaca Alqur’an dan mempelajarinya. “Tak ada lagi bacaan yang dapat meningkatkan terhadap daya ingat dan memberikan ketenangan kepada seseorang kecuali membaca Alqur‟an”. Jalaluddin. Achmad Sunarto. menyedikitkan makan. seperti zaitun. “Terdapat beberapa hal yang dapat menyebabkan seseorang kuat ingatan atau hafalannya. (HR. Banyak pula hadits Nabi yang menerangkan tentang keutamaan membacanya dan menghafalnya atau bahkan mempelajarinya. (QS.Di samping Al Qur‟an mengisyaratkan tentang pengobatan juga menceritakan tentang keindahan alam semesta yang dapat kita jadikan sebagai sumber dari pembuat obat. At Turmudzi) “Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah (masjid) Allah. Syaikh Ibrahim bin Ismail dalam karyanya Ta‟lim al Muta‟alim halaman 41. Al Qur‟an sebagai Penyembuh (Alqur‟an asy Syâfî). niscaya Aku akan berikan sesuatu yang lebih utama daripada apa yang telah Aku berikan kepada orang-orang yang telah meminta. An-Nahl 16: 69) Berdasarkan keterangan tadi. cet. CV. dapat dipastikan bahwa orang yang membaca Alqur‟an akan merasakan ketenangan jiwa. Walaupun tidak dibarengi dengan data ilmiah. kecuali turun kepada mereka ketentraman. serta tempuhlah jalan-jalan yang telah digariskan tuhanmu dengan lancar.” (HR Bukhori) “Siapa saja yang disibukkan oleh Alqur’an dalam rangka berdzikir kepada-Ku.obatan. Dan keutamaannya Kalam Allah daripada seluruh kalam selain-Nya. An-Nahl 16:11) “Dan makanlah oleh kamu bermacam-macam sari buah-buahan. Ibnu Majah dan Ibnu Mas’ud) Dan masih banyak lagi dalil yang menerangkan bahwa berbagai penyakit dapat disembuhkan dengan membaca atau dibacakan ayat-ayat Alqur‟an (lihat Assuyuthi. I. Semarang. Dari perut lebah itu keluar minuman madu yang bermacam-macam jenisnya dijadikan sebagai obat untuk manusia. anggur dan buahbuahan lain selengkapnya. sesungguhnya pada hal-hal yang demikian terdapat tanda-tanda Kekuasaan Allah bagi orang-orang yang mau memikirkan”. mereka diliputi dengan rahmat. . Di alamnya terdapat tandatanda Kekuasaan Allah bagi orang-orang yang mau memikirkan”.

yakni membacakan Alquran dengan tartil dan membacakan bahasa Arab yang bukan dari Alqur‟an. “Dan apabila dibacakan Alquran. bayi yang berusia 48 jam yang kepadanya diperdengarkan ayat-ayat Alquran dari tape recorder menunjukkan respons tersenyum dan menjadi lebih tenang. Penurunan depresi. Jika mendengarkan musik klasik dapat memengaruhi kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosi (EQ) seseorang. “Dan Kami telah menurunkan dari Alquran. Kesimpulannya. bacaan Alquran lebih dari itu. Al Qadhi ini diperkuat pula oleh penelitian lainnya yang dilakukan oleh dokter yang berbeda. dan ketahanan kulit terhadap aliran listrik. responden mendapatkan ketenangan sampai 65% ketika mendengarkan bacaan Alquran dan mendapatkan ketenangan hanya 35% ketika mendengarkan bahasa Arab yang bukan dari Alqur‟an. . Kelima orang tersebut sama sekali tidak mengerti bahasa Arab dan mereka pun tidak diberi tahu bahwa yang akan diperdengarkannya adalah Alqur‟an. dapat merasakan perubahan fisiologis yang sangat besar. Kesimpulan hasil uji coba tersebut diperkuat lagi oleh penelitian Muhammad Salim yang dipublikasikan Universitas Boston. Dari hasil uji cobanya ia berkesimpulan. Menurut penelitiannya. Penemuan sang dokter ahli jiwa ini tidak serampangan. detak jantung. baik mereka yang berbahasa Arab maupun bukan.17:82). bacaan Alquran memengaruhi kecerdasan spiritual (SQ). 7: 204). melalui penelitiannya yang panjang dan serius di Klinik Besar Florida Amerika Serikat. Mahabenar Allah yang telah berfirman. Penelitian yang dilakukan sebanyak 210 kali ini terbagi dua sesi. ketahanan otot. Penelitiannya ditunjang dengan bantuan peralatan elektronik terbaru untuk mendeteksi tekanan darah. disebutkan. Sungguh suatu kebahagiaan dan merupakan kenikmatan yang besar. seorang Muslim. kesedihan. menangkal berbagai macam penyakit merupakan pengaruh umum yang dirasakan orang-orang yang menjadi objek penelitiannya. Selain memengaruhi IQ dan EQ. Selain menjadi ibadah dalam membacanya. Alquran memberikan pengaruh besar jika diperdengarkan kepada bayi. berhasil membuktikan hanya dengan mendengarkan bacaan ayat-ayat Alquran. Atau juga. suatu yang menjadi penawar (obat) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Alquran itu tidaklah menambah kepada orangorang yang zalim selain kerugian” (Q. simaklah dengan baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat” (Q.S. Nurhayati dari Malaysia dalam Seminar Konseling dan Psikoterapi Islam di Malaysia pada tahun 1997. bacaan Alquran berpengaruh besar hingga 97% dalam melahirkan ketenangan jiwa dan penyembuhan penyakit.Dr. Objek penelitiannya terhadap 5 orang sukarelawan yang terdiri dari 3 pria dan 2 wanita. bacaannya memberikan pengaruh besar bagi kehidupan jasmani dan rohani kita. Hal tersebut diungkapkan Dr.S. kita memiliki Alquran. Al Qadhi. memperoleh ketenangan jiwa. Alquran terbukti mampu mendatangkan ketenangan sampai 97% bagi mereka yang men dengarkannya. Penelitian Dr. Dalam laporan sebuah penelitian yang disampaikan dalam Konferensi Kedokteran Islam Amerika Utara pada tahun 1984.

” (QS. dan mendengarkannya. Banyak sekali nasihat-nasihat. salah satu unsur yang dapat dikatakan meditasi dalam Alquran adalah. Pada eksperimen Plotonov. Kesembuhan menggunakan Alqur‟an dapat dilakukan dengan membaca. “Ingatlah. Relaksasi Aspek Waqof Alqur‟an adalah sebuah kitab suci yang mempunyai kode etik dalam membacanya. tentu saja bukanlah sebuah buku sains ataupun buku kedokteran. ahsan alhadits. dan kedua. Allah saw menjelaskan. Membaca Alqur‟an harus tanpa nafas . kata-kata yang digunakan adalah tidur. psikologis. Membaca Alqur‟an tidak seperti membaca bacaan-bacaan lainnya. semuanya merupakan cara-cara pelegaan batin yang akan mengembalikan ketenangan dan ketentraman jiwa kepada orang-orang yang melakukannya. memperhatikan dan berdekatan dengannya ialah bahwasanya Alqur‟an itu dibaca di sisi orang yang sedang menderita sakit sehingga akan turun rahmat kepada mereka. dan fisik. Kata-kata yang penuh kebaikan sering memberikan efek auto sugesti yang positif dan yang akan menimbulkan ketenangan. “Dan apabila dibacakan Alqur’an. yang oleh kaum Muslim diartikan bahwa petunjuk yang dikandungnya akan membawa manusia pada kesehatan spiritual. Unsur Meditasi Al Qur’an Kitab ini. Maka. berita-berita kabar gembira bagi orang yang beriman dan beramal sholeh.Atau. berdekatan dengannya. 13: 28). maka dengarkanlah baik-baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat. namun Alqur‟an menyebut dirinya sebagai „penyembut penyakit‟. auto sugesti. Al A’raf: 204) Menurut hemat penulis. mendengar.ukum bacaan yaitu waqaf. Platonov telah membuktikan dalam eksperimennya bahwa kata-kata sebagai suatu Conditioned Stimulus (Premis dari Pavlov) memang benar-benar menimbulkan perubahan sesuai dengan arti atau makna kata-kata tersebut pada diri manusia. Aspek Auto Sugesti Alqur‟an merupakan kitab suci umat Islam yang berisikan firman-firman Allah. hanya dengan berdzikir kepada Allah-lah hati menjadi tentram” (Q. Zakiah Daradjat mengatakan bahwa sembahyang. tidur dan memang individu tersebut akhirnya tertidur. pertama. Pikiran dan tubuh dapat berinteraksi dengan cara yang amat beragam untuk menimbul kan kesehatan atau penyakit. do‟a-do‟a dan permohonan ampun kepada Allah.S. adalah hukum. alqur‟an berisikan ucapan-ucapan yang baik. yang dalam istilah Alqur‟an sendiri. dan berita-berita ancaman bagi mereka yang tidak beriman dan atau tidak beramal sholeh. Membaca.

baik anak kecil. Walaupun jika berhenti dengan sengaja pada kalimat-kalimat tertentu yang dapat merusak arti dan makna yang dimaksud. kedudukannya tidak dihukumi wajib syar‟i bagi yang melanggarnya. Cara membaca hukum ini adalah 2 harakat. muda maupun tua. Waktu Meditasi dengan Alqur’an . yaitu apabila terdapat mad bertemu dengan hamzah dalam kalimat yang terpisah. Indonesia adalah negara yang mayoritas umat Islam menerapkan hukum-hukum membaca Alqur‟an menurut Rowi. Jika si pembaca berhenti pada tempat yang tidak semestinya maka dia harus membaca ulang kata atau kalimat sebelumnya. maka hukumnya haram. Berhenti berdasarkan kemampuan nafas pembaca. 2. Penekanan-penekanan tersebut dalam ilmu tajwid dinamakan mad. Mad Munfashil. yang telah berguru kepada imam „Ashim.dalam pengertian sang pembaca harus membaca dengan sekali nafas hingga kalimat-kalimat tertentu atau hingga tanda-tanda tertentu yang dalam istilah ilmu tajwid dinamakan waqaf. Mad Badal. yaitu apabila terdapat hamzah yang berharakat bertemu dengan huruf mad yang sukun. Adapula beberapa penekanan nafas dalam membaca Alqur‟an. dalam ilmu tajwid. 3. Mengikuti tanda-tanda waqof yang ada dalam Alqur‟an. baik pria maupun wanita selagi mereka dalam keadaan suci atau berwudlu. Cara baca hukum ini 4 harakat. bisa dikategorikan dalam bagian-bagian waqaf. Waqaf dalam Alquran > Tanda awal atau akhir ayat > Tanda awal atau akhir surat > Tanda-tanda waqaf Kemampuan nafas pembaca Siapa saja bisa boleh membaca Alqur?an. Jadi bagaimanapun kemampuan mereka bernafas mereka boleh membaca Alqur‟an. Mad Muttashil. yaitu apabila terdapat mad bertemu dengan hamzah dalam satu kalimat. Jadi cara membaca Alqur‟an itu bisa disesuaikan dengan tanda-tanda waqaf dalam Alqur‟an atau disesuaikan dengan kemampuan si pembaca dengan syarat bahwa bacaan yang dibacanya tidak berubah arti atau makna. Waqof artinya berhenti di suatu kata ketika membaca Alqur‟an. baik di akhir ayat maupun di tengah ayat dan disertai nafas. Hafsh. Adapun hukumhukum bacaan mad dalam ilmu Tajwid menurut Rowi Hafsh adalah: 1. Cara membaca hukum ini adalah 4 harakat.

Allah menegaskan. maka zaman yang lebih dicintai Allah ialah bulan-bulan haram. Malam hari Waktu-waktu yang paling utama untuk membaca Alqur‟an selain waktu sholat adalah waktu malam.“ 2. Allah telah memilih waktu-waktu malam dan siang. Dalam sholat An-Nawawi berkata. „Waktu-waktu pilihan yang paling utama untuk membaca Alqur‟an ialah dalam sholat. Dan bulan yang lebih dicintai Allah ialah bulan dzulhijjah. Setelah Subuh Sebagai penutup mudah-mudahan ini merupakan langkah awal untuk bisa lebih membuktikan unsur-unsur kesehatan dari Alqur‟an.multiply. ia berkata: “Allah telah memilih negeri-negeri.com/journal/item/34 55555 . Allah telah memilih kalam-kalam (perkataan).a.Pada hakikatnya tidak ada waktu yang makruh untuk membaca/meditasi Alqur‟an. maka kalam yang dicintai Allah adalah lafadz „La ilâha illallâh wallâhu akbar wa subhanallâhi wal hamdulillâh. maka waktu yang lebih dicintai Allah ialah waktu-waktu sholat yang lima waktu. maka hari yang lebih dicintai Allah ialah hari Jum?at. Ali Imron 3:113) Waktu malam ini pun dibagi menjadi 2: > antara waktu Maghrib dan Isya > bagian malam yang terakhir 3.‟ Al Baihaqi meriwayatkan dalam asy Syu‟ab dari Ka‟ab r. cara membacanya maupun http://musiconlinecairo. Allah telah memilih hari-hari. Waktu-waktu tersebut adalah: 1. sedang mereka juga bersujud (sholat). “Di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus. hanya saja memang ada beberapa dalil yang menerangkan bahwa ada waktu-waktu yang lebih utama dari waktu-waktu yang lainnya untuk membaca Alqur‟an. baik makna-maknanya. Allah telah memilih zaman. Hari-hari bulan Dzulhijjah yang lebih dicintai Allah ialah sepuluh hari yang pertama. Malam-malam yang lebih dicintai Allah ialah malam Qadar. maka negeri-negeri yang lebih dicintai Allah ialah negeri al Haram (Mekkah). mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari.” (QS.