11111

Perbedaan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Preoperasi Sebelum Dan Sesudah Diberikan Terapi Musik Di Bangsal Bedah RS XX
Posted on 8 September 2011 by grahacendikia Kecemasan adalah keadaan yang tidak mengenakan dan tidak merasa nyaman yang terjadi di kehidupan sehari-hari yang juga dapat terjadi pada seseorang yang akan menjalani operasi. Dalam studi pendahuluan di Rumah Sakit Daerah XX pada bulan April 2011 didapatkan data bahwa, dari 10 orang pasien yang akan dilakukan operasi dengan General Anastesi, ternyata kurang lebih 60% mengalami kecemasan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan tingkat kecemasan pasien preoperasi sebelum dan sesudah diberikan terapi musik di Bangsal Bedah RS XX. Penelitian ini merupakan penelitian Quasi Eksperiment dengan pendekatan potong lintang (cross sectional). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasein preoperasi yang berada di bangsal bedah RS XX selama kurun waktu bulan Juli sampai Agustus 2011. Teknik sampel yang digunakan adalah convinience sampling dengan jumlah sampel yang diambil sebanyak 30 orang. Hasil penelitian ini diperoleh tingkat kecemasan pasien preoperasi sebelum dilakukan terapi musik di RS XX sebagian besar adalah tingkat kecemasan sedang yaitu sebanyak 21 orang (70%). Tingkat kecemasan pasien preoperasi sesudah dilakukan terapi musik di RSD sebagian besar adalah tingkat kecemasan ringan yaitu sebanyak 20 orang (66,7%). Berdasarkan uji Wilcoxon diketahui nilai p = 0,0005 (p<0,05) menunjukkan adanya perbedaan sangat signifikan antara tingkat kecemasan pasien preoperasi sebelum dan sesudah diberikan terapi musik di RS XX. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terapi musik dapat menurunkan tingkat kecemasan pada pasien yang akan menjalani operasi.
http://grahacendikia.wordpress.com/2011/09/08/perbedaan-tingkat-kecemasan-pada-pasienpreoperasi-sebelum-dan-sesudah-diberikan-terapi-musik-di-bangsal-bedah-rs-xx/ 222222222222

HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN KECEMASAN PADA PASIEN PRE OPERASI Undergraduate Theses from JIPTUMM / 2002-09-01 08:53:00 Oleh : FERLINA INDRA S.(99010074), Nursing Academy Dibuat : 2002-10-30, dengan 1 file Keyword : hubungan pasien Latar Belakang:Persiapan pra bedah penting sekali untuk memperkecil resiko operasi, karena hasil akhir suatu pembedahan sangat bergantung pada penilaian keadaan penderita dan persiapan pra bedah yang telah dilakukan, dari hasil penelitian didapatkan sekitar 80% dari semua pasien yang menjalani pembedahan,mengalami kecemasan.Tujuan Penelitian:Untuk mengetahui ada

atau tidaknya hubungan pengetahuan dengan kecemasan pada pasien pre operasi.Metode Penelitian:Metode yang digunakan adalah korelasional dengan sampel 20 orang.Pengambilan sampel dengan total populasi Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Pengumpulan data dimulaidaripersiapan, pelaksanaan dan pengambilan data. Dalam pengolahan data digunakan prosentase yang selanjutnya dianalisa dengan menggunakan chi-square.Dari hasil analisa data didapatkan hasil x2 tabel =1,82 dan x2 (0,05)(1) =1,sehingga didapatkan keputusan analisa x2 hitung < x2(0,05)(1) .Kesimpulan Ho diterima dan HI ditolak,ini berarti tidak ada hubungan pengetahuan pengetahuan dengan kecemasan pada pasien pre operasi.Hal ini bisa dipengaruhi banyak hal antara lain waktu penelitian,pemilihan sampel,dan lingkungan rumah sakit. Deskripsi Alternatif : Latar Belakang:Persiapan pra bedah penting sekali untuk memperkecil resiko operasi, karena hasil akhir suatu pembedahan sangat bergantung pada penilaian keadaan penderita dan persiapan pra bedah yang telah dilakukan, dari hasil penelitian didapatkan sekitar 80% dari semua pasien yang menjalani pembedahan,mengalami kecemasan.Tujuan Penelitian:Untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan pengetahuan dengan kecemasan pada pasien pre operasi.Metode Penelitian:Metode yang digunakan adalah korelasional dengan sampel 20 orang.Pengambilan sampel dengan total populasi Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Pengumpulan data dimulaidaripersiapan, pelaksanaan dan pengambilan data. Dalam pengolahan data digunakan prosentase yang selanjutnya dianalisa dengan menggunakan chi-square.Dari hasil analisa data didapatkan hasil x2 tabel =1,82 dan x2 (0,05)(1) =1,sehingga didapatkan keputusan analisa x2 hitung < x2(0,05)(1) .Kesimpulan Ho diterima dan HI ditolak,ini berarti tidak ada hubungan pengetahuan pengetahuan dengan kecemasan pada pasien pre operasi.Hal ini bisa dipengaruhi banyak hal antara lain waktu penelitian,pemilihan sampel,dan lingkungan rumah sakit.
http://digilib.itb.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jiptumm-gdl-s1-2002-ferlina-5477-2002 3333333333

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT KECEMASAN PADA PASIEN PRE OPERASI APENDIKTOMI DI BANGSAL BEDAH BRSD RAA SOEWONDO PATI
Posted: Maret 22, 2011 in Keperawatan (S1)

0

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perawat mempunyai kontak paling lama dalam menangani persoalan klien (pasien) dan peran perawat dalam upaya penyembuhan klien menjadi sangat penting. Seorang perawat dituntut bisa mengetahui kondisi dan kebutuhan pasien.Termasuk salah satunya dalam mengendalikan kebutuhan emosi diri pasien, terutama pada pasien pre operasi dan post operasi. Seperti yang dikemukakan oleh perkumpulan dokter spesialis indonesia, bahwa tindakan operasi dapat menaikkan tingkat kecemasan pasien dan meningkatkan hormon pemicu stress (Ibrahim, 2006). Perawat profesional sebagai tenaga kesehatan yang dalam tugas pokoknya adalah memenuhi kebutuhan dasar klien harus mampu merespon dan bersikap secara profesional dalam mengendalikan kebutuhan emosi pasien. Karena perawat merupakan tenaga profesional terbesar dalam struktur ketenagaan rumah sakit yang akan ikut mewarnai mutu pelayanan kesehatan (Gillies, 1995). Perawatan pre operasi yang efektif dapat mengurangi resiko post operasi, salah satu prioritas keperawatan pada periode ini adalah mengurangi kecemasan pasien. Cemas merupakan reaksi normal terhadap ancaman pembedahan. Orang yang sangat cemas dan mencoba menyesuaikan diri dengan kecemasan sebelum operasi sering kali menderita kesukaran pada pasca operasi. Mereka cenderung banyak marah, kesal, dan bingung (Ellis dan Nowlis,1994). Tindakan pembedahan seringkali menjadi ancaman potensial atau aktual bagi integritas seseorang. Hal ini disebabkan tindakan pembedahan dapat membangkitkan reaksi stress baik fisiologis maupun psikologis. Setiap klien berbeda pandangan dalam menanggapi tindakan bedah atau operasi sehingga responnya berbeda-beda pula. Pada respon fisiologis ada tindakan langsung dengan bedah, karena tindakan bedah merupakan stresor pada tubuh. Respon ini terdiri dari sistem saraf simpati dan respon hormonal yang bertugas melindungi tubuh dari ancaman cidera. Bila stress terhadap sistem cukup gawat atau kehilangan darah cukup banyak, tubuh akan terlalu banyak beban dan terjadi shock. Sedangkan respon psikologi secara umum berhubungan dengan adanya ketakutan terhadap anestesia, diagnosis yang belum pasti, keganasan, nyeri, ketidakmampuan dan cerita dari orang lain (Long,1996). Operasi apendiktomi termasuk salah satu tindakan pembedahan yang juga dapat membangkitkan reaksi stress pada pasien. Karena pasien yang mengalami proses peradangan apendiktomi harus dilakukan operasi ( Martius, 1990). Apendiktomi begitu sering dijumpai sehingga lebih dari 50 persen kasus dari operasi abdomen akut yang dirawat di rumah sakit adalah peradangan apendiks (Cope, 1991). Hal ini sesuai dengan data yang tercatat pada bagian rekam medis BRSD RAA Soewondo Pati dari tahun 20022006 ditemukan kasus apendiktomi sebanyak 498 kasus, sedangkan pada tahun 2006 sebanyak 172 kasus dan jumlah operasi yang mengalami kecemasan di BRSD RAA Soewondo Pati pada tahun 2001- 2005 ada 456 orang atau 80,4% (Medical Record BRSD RAA Soewondo Pati, 2006). Faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan pasien pre operasi dapat berasal dari faktor internal dan eksternal. Faktor internal antara lain berupa usia, jenis kelamin, pekerjaan, tingkat pendidikan, tingkat sosial ekonomi, dan tipe kepribadian. Sedangkan faktor eksternal berupa ancaman tarhadap integritas biologis dan ancaman terhadap konsep diri (Stuart dan Sundeen, 1998). Kecemasan yang terjadi pada pasien yang akan dilakukan tindakan pembedahan termasuk

2007). Hal ini sesuai dengan pendapat Amran. Perumusan Masalah 1. bahwa penyampaian prosedur atau informasi merupakan salah satu tindakan yang digunakan dalam mengatasi atau mengurangi pada kecemasan sebelum operasi (Amran. http://bankjudul. D. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan pasien pre operasi apendiktomi dibangsal bedah BRSD RAA Soewondo Pati. b. c. Tujuan Khusus a.wordpress. B. C. Sesuai dengan uraian diatas penulis ingin mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kecemasan pada pasien pre operasi apendiktomi di bangsal bedah BRSD RAA Soewondo Pati. dapat diantisipasi baik dengan memahami bagaimana cara panyebab kecemasan secara tepat. Menggambarkan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kecemasan pasien pre operasi apendiktomi dibangsal bedah BRSD RAA Soewondo Pati. Menganalisis hubungan antara pekerjaan dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi apendiktomi dibangsal bedah BRSD RAA Soewondo Pati. Menganalisis hubungan antara usia dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi apendiktomi dibangsal bedah BRSD RAA Soewondo Pati. 2. Bagaimanakah hubungan antara masing-masing faktor dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi apendiktomi. Faktor apa saja yang mempengaruhi kecemasan pasien pre apendiktomi. d. Menganalisis hubungan antara jenis kelamin dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi apendiktomi dibangsal bedah BRSD RAA Soewondo Pati. 2.operasi apendiktomi. f. Menganalisis hubungan antara sosial ekonomi dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi apendiktomi dibangsal bedah BRSD RAA Soewondo Pati. Menganalisis hubungan antara pendidikan dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi apendiktomi dibangsal bedah BRSD RAA Soewondo Pati. Sebagai landasan dasar dalam membuat daftar tilik SOP (standard operational prosedur) bagi pasien sebelum dilakukan operasi.com/2011/03/22/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-tingkat-kecemasanpada-pasien-pre-operasi-apendiktomi-di-bangsal-bedah-brsd-raa-soewondo-pati/ 444444444 . Pemberian informasi yang adekuat pada klien yang akan dilakukan tindakan pembedahan umumnya mampu mengurangi tingkat kecemasan yang dirasakan klien. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat: 1. Sebagai bahan masukan di BRSD RAA Soewondo Pati terutama dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien pre apendiktomi. e. 2.

. Kecemasan merupakan perasaan yang paling umum di alami oleh pasien yang dirawat dirumah sakit. Amerika Serikat menganalisis data dari 35. kecemasan yang sering terjadi adalah apabila pasien yang dirawat di rumah sakit harus mengalami proses pembedahan. untuk itu pasien yang akan menjalani operasi harus diberi pendidikan kesehatan untuk menurunkan atau mengurangi gejala kecemasan (Carbonel. 8.539 pasien bedah dirawat di unit perawatan intensif antara 1 oktober 2003 dan 30 september 2006. Latar Belakang Rumah sakit adalah sebuah fasilitas. gambaran diri.Asip KU search: Selasa. 2006).922 pasien (25. dan identitas diri (Tjandra. Kecemasan merupakan gejala klinis yang terlihat pada pasien dengan penatalaksanaan medis. 2002). M. Dari. Pelayanan yang ada di Rumah Sakit adalah pelayanan pengobatan baik yang bersifat bedah maupun non bedah. Berdasarkan data WHO (2007). YUNUS BENGKULU TAHUN 2010 BAB I PENDAHULUAN 1. Sebagian besar pasien beranggapan bahwa operasi merupakan pengalaman yang menakutkan. Reaksi cemas ini akan berlanjut bila pasien tidak pernah atau kurang mendapat informasi yang berhubungan dengan penyakit dan tindakan yang dilakukan terhadap dirinya. Setiap pasien pernah mengalami periode cemas. 24 Mei 2011 HUBUNGAN PENDIDIKAN DAN PERAN PERAWAT DENGAN TINGKAT KECEMASAN PADA PASIEN PRE OPERASI DI RUANG SERUNI RSUD. sebuah institusi dan sebuah organisasi yang fungsi utamanya adalah memberikan pelayanan kepada pasien diagnostik dan terapeutik untuk berbagai penyakit dan masalah kesehatan. Pembahasan tentang reaksi – reaksi pasien terhadap pembedahan sebagian besar berfokus pada persiapan pembedahan dan proses penyembuhan (Dewi wijayanti.473 pasien (7%) mengalami kecemasan. Pembedahan merupakan tindakan pengobatan yang banyak menimbulkan kecemasan. apalagi yang akan menjalani operasi. Kecemasan terjadi ketika seseorang merasa terancam baik fisik maupun psikologisnya misalnya harga diri.1%) mengalami kondisi kejiwaan dan 2. 2003). Bila kecemasan pada pasien pre operasi tidak segera diatasi maka dapat mengganggu proses penyembuhan.

terjadi penundaan proses operasi karena peningkatan kecemasan. Perawat merupakan salah satu tenaga kesehatan yang paling sering berinteraksi dengan pasien. psikologis. Peran perawat dalam upaya penyembuhan klien menjadi sangat penting. dan spiritual.5%) dalam kategori ringan dan responden yang tidak merasa cemas sebanyak 2 orang (5%). sosial. Selain itu faktor pendidikan pasien juga dapat mempengaruhi kecemasan yaitu tingkat pendidikan yang rendah serta kurangnya dukungan dari perawat (Sadock dan Kaplan. Perawat mempunyai kontak paling lama dalam menangani persoalan pasien. Pendidikan dapat mempengaruhi seorang termasuk juga prilaku seseorang akan kepatuhannya. Seorang perawat dituntut bisa mengetahui kondisi dan kebutuhan pasien. mempunyai kewajiban membantu pasien mempersiapkan fisik dan mental untuk menghadapi operasi. didapatkan bahwa 10% dari pasien yang akan menjalani pembedahan. termasuk dalam pemberian pendidikan kesehatan.5%). dan faktor psikologis yang dapat terjadi akibat implusimplus bawah sadar yang masuk kealam sadar seperti tidak didampingi oleh orang tua. Kecemasan pre operasi dapat dipengaruhi dari beberapa faktor antara lain adalah faktor biologis yang terjadi akibat dari reaksi saraf otonom yang berlebihan dengan naiknya system tonus saraf simpatis. Kecemasan yang terjadi dapat berpengaruh terhadap peningkatan tekanan darah (RSUD Sragen. Sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap perubahan-perubahan hidup sehat (Notoatmojo. 2007). 1999). Salah satu cara melakukan hal ini ialah dengan mencurahkan perhatian sampai kepada hal yang sekecil-kecilnya dalam merawat pasien. Hasil penelitian di Rumah Sakit Ortopedi Prof Dr. terutama dalam motivasi untuk berperan serta dalam pembangunan kesehatan. 2002 ).Berdasarkan data dari RSUD Sragen Wijaya Kusuma. Makin tinggi pendidikan seseorang. 15 orang (37. Perawat harus mau mendengarkan semua keluhan pribadi pasien (Widodo. Soeharso tahun 2008 dari 3827 pasien yang mengalami pembedahan sekitar (2%) mengalami kecemasan (Makmur. 16 orang (40%) yang memilki tingkat kecemasan dalam kategori sedang. anak ataupun keluarga yang lain. 2006). Peran perawat sangat penting dalam penanggulangan kecemasan dan berupaya agar pasien tidak merasa cemas melalui asuhan keperawatan komprehensif secara biologis. maka memerlukan keterampilan komunikasi yang baik.al (2007) tentang tingkat kecemasan pre operasi bahwa dari 40 orang responden dalam tingkat kecemasan berat sebanyak 7 orang (17. R. Penelitian yang dilakukan oleh makmur et. 1998). Peran perawat sangat penting untuk memberikan suport atau dukungan dan penyuluhan terhadap penurunan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi ( Kuntjoro. 2002). maka makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimilikinya. (Ibrahim. suami. Termasuk salah satunya dalam mengendalikan kebutuhan emosi diri pasien terutama pasien pre operasi dan post operasi. . Sikap dan tingkah laku perawat membantu menumbuhkan rasa kepercayaan pasien. 2007).

M. Berdasarkan hasil observasi dengan teknik wawancara selama tiga hari di ruang seruni RSUD M. memotivasi pasien untuk memberi keyakinan bahwa operasi dapat berjalan dengan lancar. dengan rincian sembuh 2259 dan 36 pasien meninggal (15%) dilakukan penundaan karena peningkatan kecemasan. Mengetahui gambaran tingkat pendidikan pada pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. M. Yunus Bengkulu. gelisah. Tujuan penelitian 1. sehingga tindakan anestesi atau pembedahan ditunda. Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan di atas. Tujuan agar persiapan yang dilakukan dapat sebaik mungkin (RSUD M. masalah penelitian ini adalah masih tingginya tingkat kecemasan pasien pre operasi di RSUD M. yang dirawat 2154 pasien. gemetar sehingga dapat menghambat proses operasi. Yunus Bengkulu. Yunus Bengkulu". Pasien yang akan menjalani operasi besar dianjurkan untuk minimal masuk rumah sakit 12 jam sebelum pre operasi dilaksanakan dan operasi kecil 6 jam sebelum dilaksanakan. maka penulis tertarik untuk meneliti hubungan pendidikan pasien dan peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD.Berdasarkan hasil pengumpulan data di RSUD M. 3. Yunus Bengkulu. sering buang air kecil. Yunus Bengkulu. Dari 5 orang yang mengalami kecemasan berat tersebut mempunyai pendidikan SMA kebawah dan kurang mendapatkan penkes dari perawat. . nafas pendek. susah tidur. Tujuan umum Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada Hubungan antara pendidikan dan peran perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. M. Sementara dari pengumpulan data awal diruang Seruni RSUD M.. 2. Sedangkan rumusan masalah penelitian ini adalah "apakah ada hubungan pendidikan pasien dan peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD M. Yunus Bengkulu. M. Untuk menurunkan tingkat kecemasan pasien tersebut keluarga dan perawat harus lebih banyak memberikan dukungan salah satunya yaitu selalu berada dekat pasien. 2008). Yunus Bengkulu didapatkan data 2008 sebanyak 1033 dan data 2009 dari januari sampai tanggal Desember sebanyak 786 orang yang melakukan operasi. 2. Mengetahui gambaran peran perawat di ruang seruni RSUD. pada tahun 2007 terdapat 4449 pasien yang mengalami pembedahan. Yunus Bengkulu.Yunus Bengkulu. Rumusan masalah Berdasarkan uraian dalam latar belakang di atas. Tujuan Khusus 1. Yunus Bengkulu didapatkan data bahwa dari 15 pasien yang akan melakukan operasi 5 orang yang mengalami kecemasan berat dengan ciri-ciri muka merah. 2. Kecemasan yang terjadi dapat berpengaruh terhadap peningkatan tekanan darah.

rancangan dan waktu penelitian.Adapun perbedaan antara karya tulis ini dengan karya tulis tersebut adalah pada variabel.3. Yunus Bengkulu. 4. Yunus Bengkulu. 4. M. Bagi Peneliti Lain Hasil penelitian ini dapat berguna sebagai masukan atau informasi bagi peneliti lain dalam mengembangkan penelitian dengan variabel-variabel yang lain. 2. Mengetahui tingkat Kecemasan pasien pre operasi di Ruang Seruni RSUD Dr. Bagi Masyarakat Dapat memperoleh pelayanan yang lebih baik terutama yang mengalami ketakutan. 3. Manfaat penelitian 1. Keaslian penelitian Sebagai bahan perbandingan penelitian serupa pernah diteliti oleh : 1. 4. Dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan di bidang kesehatan. Menambah wawasan dan pengetahuan bagi mahasiswa dan masyarakat mengenai tingkat kecemasan pada pasien pre operasi. 5. M. kecemasan. 5. Mengetahui hubungan peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. Agri Maha Tirani dengan judul penelitian "Perbedaan tingkat kecemasan sebelum dan sesudah pemberian pendidikan kesehatan pada pasien pre operasi di RSUD. M. M. 2.Yunus Bengkulu. Bagi Akademik Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi literatur bagi perpustakaan. Yunus Bengkulu". atau depresi dalam menghadapi pembedahan. Rinda Lesti Sentia dengan judul penelitian " Hubungan Tingkat Pendidikan dan Umur Kehamilan dengan Tingkat Kecemasan Ibu Hamil Primigravida di Rumah Bersalin YKWP Desa Kangkung Kabupaten Demak. . Bagi Rumah sakit Hasil penelitaan ini diharapkan dapat memberi masukan bagi para tenaga kesehatan khususnya pada perawat di ruang seruni dan ruangan yang lain. Mengetahui hubungan pendidikan dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD.

Kecemasan merupakan komponen utama bagi hampir semua gangguan kejiwaan (psychiatric disorder). 1998). nafas sesak dan dada terasa nyeri (Ayub Sani. 2005) Jadi. Pengertian Cemas adalah keadaan emosi individu yang berkaitan dengan perasaan yang tak pasti dan tidak berdaya. Psikologis Ditinjau dari aspek psikoanalisa. gangguan phobik dan gangguan obsesifkompulsif (Dadang Hawari. Elika dengan judul penelitian " Hubungan peran perawat dan dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD M. rancangan dan waktu penelitian. Yunus Bengkulu. ancaman) yang masuk kealam sadar. Kecemasan adalah suatu keadaan yang menggoncangkan karena adanya ancaman terhadap kesehatan (Siti Sundari. Kecemasan adalah Suatu kondisi yang menyangkut terminologi kesehatan jiwa dengan suatu kondisi was-was. Secara klinis gejala kecemasan dibagi dalam beberapa kelompok yaitu gangguan kecemasan. Konsep Kecemasan 1.3. Faktor Biologis Kecemasan terjadi akibat dari reaksi saraf otonomi yang berlebihan dengan naiknya sistem tonus saraf simpatis. Keadaan emosi ini tidak memiliki subyek yang spesifik. 2006). 2007). Mekanisme . kondisi ini dialami secara subyektif (yang hanya dirasakan individu tersebut) dan dikomunikasikan dalam hubungan interpersonal (Stuard and Sundeen. kecemasan dapat muncul akibat implus-implus bawah sadar (misalnya : sex. perut terasa kosong. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1. Adapun perbedaan antara karya tulis ini dengan karya tulis di atas adalah pada variabel. gangguan cemas menyeluruh (Generalized anxiety disorder/GAD). Faktor-faktor Penyebab Kecemasan 1. 2. gangguan panik. Kecemasan adalah suatu keadaan dimana psikologis seseorang berada pada ketakutan dalam menghadapi masalah yang ada pada dirinya. 2.

Disamping itu kelelahan fisik (lemah. sehingga individu harus melakukan penyesuaian diri (adaptasi). Potensi stressor Suatu keadaan yang menyebabkan perubahan dalam individu. Tingkat pendidikan Status pendidikan yang rendah pada seseorang akan menyebabkan orang tersebut mudah mengalami kecemasan. Lingkungan Lingkungan sangat berpengaruh pada kecemasan seseorang. Kecemasan merupakan peringatan yang bersifat subyektif atas adanya bahaya yang tidak dikenali sumbernya.pembelaan ego yang tidak sepenuhnya berhasil juga dapat menimbulkan kecemasan yang mengambang. Selain itu faktor yang mempengaruhi tingkat kecemasan menurut Soewandi (1998) antara lain : 1. 1998). operasi. lesu) lebih mudah megalami kecemasan. 6. 3. Ekonomi Seseorang yang memiliki pendapatan rendah lebih mudah mengalami kecemasan. 5. lebih mudah mengalami kecemasan. Sosial budaya Individu yang tidak bersosialisasi dengan masyarakat lebih mudah mengalami kecemasan. penyakit. letih. 3. Keadaan fisik Seseorang yang mengalami gangguan fisik seperti cacat badan. dimana lingkungan yang tidak kondusif berpotensial besar terhadap kecemasan yang dialami . dibandingkan dengan orang yang memiliki pendapatan tinggi. Kecemasan bisa terjadi pada individu yang tingkat pendidikannya rendah disebabkan karena kurangnya informasi yang didapat individu tersebut. sakit. 3. 2. 4. Sosial Kecemasan yang timbul akibat hubungan interpersonal dimana individu menerima suatu keadan yang menurutnya tidak disukai oleh orang lain yang berusaha memberikan penilaian atas opininya (Sadock dan Kaplan. Reaksi pergeseran yang dapat mengakibatkan reaksi fobia.

Takut sendiri. mudah tersinggung. berdebar-debar. dan banyak orang. Menurut Dadang Hawari (2006). gangguan perkemihan. gangguan pencernaan. kebingungan. takut akan fikirannya sendiri. tidak tenang. biasanya kecemasan sering dialami oleh usia muda. Reaksi fisik terhadap kecemasan pada masingmasing individu berbeda (Setyonegoro. pendengaran berdenging (tinnitus). muntah-muntah. Gejala-gejala tersebut antara lain: Iritabilitas. 4. gangguan muskulo skeletal. 1994). menyebutkan gejala klinis dari cemas antara lain : Cemas. sulit tidur. nyeri pada gastro intestinal. sakit kepala dan lain sebagainya. Ansietas Ringan (Tingkat I) 1. 6. 3. 5. takut pada keramaian. 7. sesak nafas. 2. Berhubungan dengan ketegangan yang dialami dalam kehidupan sehari. Merasa tegang. gelisah. khawatir. sering buang air besar atau kecil. Gangguan pola tidur. berkeringat. berhenti berbicara dan terjadi perubahan suara. hiperventilasi. Gejala – gejala Kecemasan Keadaan cemas mempunyai gejala-gejala somatik atau fisik dan gejala psikologis atau mental. Tingkat kecemasan 1. gangguan kulit. dibandingkan dengan pria.seseorang. energi menurun. Ansietas dapat memotivasi belajar dan menghasilkan pertumbuhan. begitu juga sebaliknya jika lingkungannya kondusif mempercepat penyembuhan seseorang. Jenis kelamin Kecemasan lebih banyak dialami wanita. mulut kering. nadi cepat. 5. mimpi yang menegangkan Gangguan konsentrasi dan daya ingat Keluhan somatik misalnya rasa sakit pada otot tulang. 8. 4. gagap. Umur Umur ikut menentukan kecemasan. mengetuk jari-jari.hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada dan meningkatkan lahan persepsinya. hiperaktifitas. firasat buruk. 2. mudah terkejut. Ansietas Sedang (Tingkat II) .

Dialog Internal Membantu pasien mengembangkan pesan dialog sendiri yang meningkatkan : 1. Percaya diri 2. Panik melibatkan disorganisasi kepribadian. Sterssor dapat di kelompokkan dalam dua kategori. Perincian terpecah dari proporsinya karena mengalami kehilangan kendali. Orang tersebut banyak pengarahan untuk dapat memusatkan pada suatu area lain. persepsi yang menyimpang dan kehilangan pemikiran yang rasional tingkat ansietas ini tidak sejalan dengan kehidupan dan jika berlangsung terus dalam waktu yang lama dapat terjadi kelelahan yang sangat bahkan kematian (Hudak dan Gallo. ketakutan dan terror-terror. 7. Orang yang mengalami panik tidak mampu melakukan sesuatu walaupun dengan pengarahan. Perasaan pengendalian 3. Ansietas terhadap integritas seorang meliputi ketidakmampuan fisiologis yang akan datang atau menurunnya kapasitas untuk melakukan aktivitas sehari-hari. sehingga seseorang mengalami perhatian yang selektif namun dapat melakukan sesuatu yang lebih terarah. Optimisme 5. Harapan 2. 1997). menurunnya kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain. Dialog Eksternal . 1997). 3. Semua perilaku ditujukan untuk mengurangi ketegangan. yaitu: 1. Kemampuan untuk mengatasi 4.Memungkinkan seseorang untuk memusatkan pada hal yang penting dan mengesampingkan yang lain. Tingkat Panik Berhubungan dengan terperangah. Ansietas terhadap sistem diri seseorang dapat membahayakan identitas. 4. 6. Seseorang cenderung untuk memusatkan pada sesuatu yang terinci dan spesifik dan tidak berfikir tentang hal lain. 2. dengan panik terjadi peningkatan aktivitas motorik. Ansietas Berat (Tingkat III) Sangat mengurangi lahan persepsi seseorang. Teknik Mengatasi ansietas Teknik kognitif dapat membantu pasien ansietas dan tidak tergantung pada wawasan atau pemahaman yang kompleks dari kondisi psikologi diri sendiri. 1. harga diri dan fungsi sosial (Brunner dan suddarth. Stressor Pencetus Stressor pencetus berasal dari sumber internal atau eksternal.

Alat ukur kecemasan untuk mengetahui sejauh mana derajat kecemasan apakah ringan atau berat dengan menggunakan alat ukur (instrument) yang dikenal denga nama Hamilton Rating Scale or Anxiaty (HRS-A) dengan skor ringan jika ≤ 28 dan berat jika ≥ 28. Mekanisme Koping Mekanisme koping adalah suatu bentuk pertahanan yang di gunakan oleh seseorang yang sedang berada pada suatu bentuk kecemasan untuk menghindar atau mengurangi respon yang ditimbulkan oleh kecemasan tersebut. Takut terhadap anestesi. takut tentang ketidaktahuan. tertawa. Khayalan Mental dan Relaksasi Mendorong pasien untuk mengkhayalkan tempat yang indah atau menjadi bagian dari pengalaman yang menyenangkan sehingga dapat membantu pasien menurunkan ketegangan (Abraham dkk. 1997). 1997). Tujuan Prosedur pembedahan . 2. takut terhadap nyeri atau kematian. merokok dan minum-minum (Brunner dan Suddarth. Lingkup kegiatan perawatan pre operasi termasuk dalam menetapkan batas pengkajian klien setting secara klinis atau dalam ruangan. 3. 1997). melakukan kegiatan fisik.Dengan dialog eksternal kebutuhan pasien untuk berbicara cara akurat tentang dirinya dengan orang lain. Perawatan pre operasi merupakan bagian dari perawat perioperatif yang di mulai dari kapan di putuskan tindakan operasi dibuat dan diakhiri dengan pemindahan klien ke meja ruang operasi. Pre Operasi 1. 10. interview preoperatif.tipe tingkah laku seperti mennangis. Dimana mekanisme koping setiap orang berbeda-beda. Pengertian Pasien Pre operasi dapat mengalami berbagai ketakutan. Tipe . menyiapkan klien untuk diberikan anestesi dan pembedahan bagaimanapun kegiatan perawatan dibatasi oleh pengkajian pre operasi dalam ruangan atau selama operasi. 8. takut tentang deformitas dan ancaman lain terhadap citra tubuh dapat menyebabkan ketidaktenangan atau ansietas (Brunner dan Suddarth. 9. tidur. Hal ini menurunkan rasa ketidak berdayaan dan ansietas mereka.

Mengetahui apa yang di perkirakan akan membantu pasien mengantisipasi reaksi-reaksi tersebut dan dengan demikian mencapai tingkat relaksasi yang lebih tinggi daripada yang di perkirakan sebaliknya (Brunner dan suddarth. Pengkajian psikologi pada pasien atau keluarga harus di lakukan supaya hal tersebut tidak menghambat rencana operasi. Pasien biasanya tidak mau bicara dan memperhatikan keadaan sekitarnya. 2006). 1997). Pembedahan Minor (pembedahan resiko kecil ) 4. kurangnya dukungan keluarga terhadap pasien pre operasi. obat-obatan dan perawatan tindakan. 1997). tapi kadang-kadang dapat terlihat dalam bentuk lain. Kecemasan pada pasien pre operasi Kecemasan pada pasien pre operasi adalah kecemasan yang di akibatkan sterssor tindakan operasi. di kelompokkan menjadi dua bagian yaitu : 1. Jenis-jenis operasi Menurut derajat kepentingan Perry dan potter (2006). Pasien yang gelisah dan takut biasanya sering bertanya berulang-ulang walaupun pertanyaan tersebut telah dijawab. 1994). Pembedahan Mayor (pembedahan resiko tinggi ) 2. stressor tersebut merupakan faktor timbulnya kecemasan yang mengakibatkan terancamnya integritas seseorang meliputi ketidakmampuan fisiologis atau menurunkan kapasitas untuk melakukan hidup sehari-hari (Brunner dan suddarth.Sebagai salah satu bentuk pengobatan dan penatalaksanaan berbagai macam penyakit untuk mempercepat proses penyembuhan (Perry Potter. Penyuluhan tersebut harus melebihi deskripsi tentang berbagai langkah prosedur dan harus mencakup tentang sensasi yang akan di alami. tetapi berusaha mengalihkan perhatiannya kepada buku atau sebaliknya ia bergerak terus-menerus dan tidak mau tidur (Kaplan. . perawatan menjelang operasi yang dianggap sebagai hal baru. Persiapan psikologis pasien pre operasi Pasien yang akan di operasi biasanya akan mengalami kegelisahan dan rasa takut. 3. Salah satu caranya yaitu dengan penyuluhan pada keluarga maupun pasien supaya mereka mengerti apa yang akan terjadi. Perasaan gelisah dan takut kadang-kadang tidak tampak jelas. 5. memberitahu pasien hanya medikasi pre operasi yang akan membuatnya rileks sebelum operasi tidaklah selektif bila menyebutkan juga bahwa medikasi tersebut dapat mengakibatkan kepala terasa melayang dan mengantuk. Khawatir meninggal di meja operasi dan meninggalkan anakanak ditinggalkan seandainya ia meninggal saat atau setelah operasi. Sebagai contoh.

serta memperkuat kemasyarakatan. 4. 3. Jenjang Pendidikan Menurut Diknas (2003). pengendalian diri. akan tetapi juga bagi tujuan terakhir pembangunan seperti kualitas keluarga dan kehidupan masyarakat.11. tujuan yang akan dicapai. politeknik. Pendidikan Non-Formal : . diselenggarakan di SLTA atau sederajat. S1. dan S2. seluruh komponen bangsa wajib mencerdaskan kehidupan bangsa yang merupakan salah satu tujuan negara indonesia. 2003). Menurut Ahmadi. (1997) janis pendidikan terbagi atas 3 yaitu : 1. kecerdasan akhlak mulia. menengah. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. Pengertian Pendidikan adalah suatu usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. Pendidikan formal : Pendidikan formal merupakan usaha-usaha dalam pendidikan dasar dapat memberikan sumbangan dalam jangka panjang. 5. Pendidikan 1. Sedangkan menurut Diknas (2003). Untuk itu. D4. dan kemampuan yang dikembangkan menjadi: 2. bangsa dan negara. 1. dan ayat (3) menegaskan bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan Undang-Undang. menyatakan bahwa jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik. masyarakat. dan tinggi. kepribadian. sekolah tinggi dan universitas yang termasuk perguruan tinggi D1. 2. D2. Pendidikan Tinggi: satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi yang dapat berbentuk akademik. UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia menyelenggarakan Tahun 1945 Pasal 31 ayat (1) menyebutkan bahwa setiap warga Negara berhak mendapat pendidikan. Manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya. (Diknas. Pendidikan merupakan usaha agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran atau cara lain yang dikenal dan diakui oleh masyarakat. D3. pendidikan formal yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar. Pendidikan Dasar : warga Negara yang berumur 6 atau 7 tahun berkewajiban mengikuti pendidikan dasar atau sederajat selama 9 tahun yaitu SD dan SLTP. Pendidikan Menengah : pendidikan menengah yang lamanya 3 tahun sesudah pendidikan dasar. bukan saja bagi produktivitas.

Pendidikan non-Formal adalah pendidikan yang dilakukan secara teratur, dengan sadar dilakukan, tapi tidak terlalu ketat mengikuti peraturan-peraturan yang tepat, seperti pada pendidikan formal di sekolah. Karena pendidikan non-formal pada umumnya dilaksanakan tidak dalam lingkungan fisik sekolah maka sasaran pokok adalah anggota-anggota masyarakat. Diknas (2003), menyatakan pendidikan non-formal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang.
3. Pendidikan informal :

Pendidikan informal yakni pendidikan yang diperoleh seorang berdasarkan pengalaman dalam hidup sehari-hari dengan sadar atau tidak sadar, sejak seorang lahir sampai akhir hidupnya, di dalam lingkungan keluarga, masyarakat atau dalam lingkungan pekerjaan sehari-hari. Diknas (2003), menyatakan bahwa pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan. Pendidikan dapat mempengaruhi seorang termasuk juga prilaku seseorang akan kepatuhannya, terutama dalam motivasi untuk berperan serta dalam pembangunan kesehatan. Makin tinggi pendidikan seseorang, maka makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pngetahuan yang dimilikinya. Sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap perubahan-perubahan hidup sehat (Notoatmojo, 2002).

12. Hubungan pendidikan dengan kecemasan

Pendidikan merupakan salah satu faktor sosial dari kecemasan pada pasien pre operasi. Pada pasien yang pendidikannya hanya sebatas pendidikan dasar atau tidak pernah sekolah sangat susah dalam pemberian informasi. Setiap perawat yang menjelaskan pengetahuan tentang kesehatan pasien tidak mengerti. Berdasarkan penelitian yang lakukan di Kabupaten Demak menghasilkan informasi bahwa pendidikan masyarakat disana masih relatif rendah, sehingga tenaga kesehatan disana perlu melakukan konseling kepada ibu hamil primigravida sebagai upaya mengantisipasi terjadinya komplikasi dan kecemasan. Hasil penelitian Lesti, (2009). P < 0,05 menunjukkan bahwa hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara pendidikan pasien dengan tingkat kecemasan.

13. Peran Perawat 1. Definisi

Peran adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap seseorang sesuai kedudukannya dalam suatu system. Peran dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari dalam maupun dari luar dan bersifat stabil. Peran adalah bentuk dari perilaku yang diharapkan dari seesorang pada situasisosial tertentu. (Kozier Barbara, 1995:21). Peran Perawat (Ali Zaidin, 2001) meliputi : (a) Pelaksana pelayanan keperawatan, (b)Pengelola pelayanan keperawatan dan institusi Pendidikan, (c) Pendidik dalam keperawatan, (d)Peneliti dan pengembang keperawatan Perawat profesional baik dalam lingkungan perawatan kesehatan institusional maupun komunitas mengemban tiga peran : peran pelaksana, peran kepemimpinan dan peran peneliti. Meski tiap peran memiliki tanggung jawab khusus, peran-peran ini saling berhubungan satu dengan yang lain dan dapat ditemui pada semua posisi keperawatan. Peran ini dirancang untuk memenuhi perawatan kesehatan saat ini dan kebutuhan keperawatan dari konsumen yang merupakan penerima pelayanan keperawatan.
2. Peran Pelaksana

Peran pelaksana dari perawat mencakup tindakan-tindakan yang dilakukan oleh perawat ketiaka ia mengemban tanggung jawab yang ditujakan untuk memenuhi kebutuhan perawatan kesehatan dan kebutuhan keperawatan pasien secara individu, keluarga mereka dan orang terdekat pasien. Peran ini merupakan peran yang dominan dari perawat dalam lingkungan pelayanan kesehatan primer, sekunder, dan tersier dan dalam keperawatan kesehatan rumah dan komunitas. Peran ini merupakan peran yang hanya dapat dicapai melalui proses keperawatan, yang merupakan dasar untuk semua praktik keperawatan.
3. Peran Kepemimpinan

Peran Kepemimpinan dari perawat yang secara tradisional dikerap sebagai peran spesialisasi yang diembankannya oleh perawat yang mempunyai gelar yang menunjukkan kepemimpinan dan mereka yang memimpin sekelompok besar perawat atau profesional perawatan kesehatan yang berhubungan.Definisi kepemimpinan keperawatan yang dirumuskan oleh memberi cakupan yang luas pada konsep tersebut dan mengidentifikasi kepemimpinan sebagai peran yang melekat didalam semua posisi keperawatan. Peran kepemimpinan dari perawat mencakup tindakan-tindakan yang dilaksanakan oleh perawat saat ini ia mengemban tanggung jawab untuk mempengaruhi tindakan orang lain yang ditujukan untuk menentukan dan mencapai tujuan.
4. Peran Peneliti

Peran peneliti dari perawat pada mulanya dianggap hanya dilakukan oleh para akademikus, perawat ilmuwan dan mahasiswa keperawatan di tingkat sarjana. Kini, partisipasi dalam proses penelitian dianggap sebagai tanggung jawab dari perawat dalam praktik klinis. Tugas utama dari penelitian keperawatan adalah untuk memberikan konstribusi pada dasar ilmiah praktik keperawatan. Kajian dibutuhkan untuk menentukan keefektifan intervensi dan asuhan keperawatan. Melalui upaya penelitian semacam ini, ilmu keperawatan akan berkembang dan rasional yang didasarkan secara ilmiah untuk membuat perubahan dalam praktik keperawatan akan tercipta (Brunner dan Suddarth, 2001). Peran Perawat menurut Para Sosiolog
5. Peran terapeutik : kegiatan yang ditujukan langsung pada pencegahan dan pengobatan penyakit. 6. Expressive/mother substitute role, yaitu kegiatan yang bersifat langsung dalam menciptakan lingkungan dimana pasien merasa aman, diterima dilindungi, dirawat dan didukung oleh perawat. Menurut Johnson dan Martin, peran ini bertujuan untuk menghilangkan ketegangan dalam kelompok pelayanan (dokter, perawat, pasien, dan lain-lain)

Menurut konsorsium ilmu kesehatan (1989) dalam Ali Haidin (2001) peran perawat terdiri dari :
7. Sebagai pemberi asuhan keperawatan

Peran ini dapat dilakukan perawat dengan memperhatikan keadaan kebutuhan dasar manusia yang dibutuhkan melalui pemberian pelayanan keperawatan. Pemberian asuhan keperawatan ini dilakukan dari yang sederhana sampai dengan kompleks.
8. Sebagai advokat klien

Peran ini dilakukan perawat dalam membantu klien dan keluaga dalam menginterpretasikan berbagai informasi dari pemberi pelayanan khususnya dalam pengambilan persetujuan atas tindakan keperawatan. Perawat juga berperan dalam mempertahankan dan melindungi hak-hak pasien meliputi hak atas pelayanan sebaik-baiknya, hak atas informasi tentang penyakitnya, hak atas privasi, hak untuk menentukan nasibnya sendiri, hak menerima ganti rugi akibat kelalaian.
9. Sebagai edukator

Peran ini dilakukan dengan membantu klien dalam meningkatkan tingkat pengetahuan kesehatan, gejala penyakit bahkan tindakan yang diberikan sehingga terjadi perubahan perilaku dari klien setelah dilakukan pendidikan kesehatan.

(3) Memantau pasien. Sebagai koordinator Peran ini dilaksanakan dengan mengarahkan. kerjasama. (1) Melaksanakan instruksi dokter (fungsi dependen). (4) Supervisi semua pihak yang ikut terlibat dalam perawatan pasien. Sebagai konsultan Perawat berperan sebagai tempat konsultasi dengan mengadakan perencanaan. perubahan yang sistematis dan terarah sesuai dengan metode pemberian pelayanan keperawatan. (2) Observasi gejala dan respons pasien yang berhubungan dengan penyakit dan penyebabnya. Sebagai kolaborator Peran ini dilakukan karena perawat bekerja melalui tim kesehatan yang terdiri dari dokter. (2002) yaitu. fisioterapi. Hubungan peran perawat dengan kecemasan Orang yang sakit sangat memerlukan seseorang yang bisa mengobati penyakitnya tersebut dan orang sehat memerlukan seseorang yang bisa mengarahkan agar bisa . (7) Memberikan pengarahan dan penyuluhan untuk meningkatkan kesehatan fisik dan mental.10. merencanakan serta mengorganisasi pelayanan kesehatan dari tim kesehatan sehingga pemberi pelayanan kesehatan dapat terarah serta sesuai dengan kebutuhan klien. perubahan yang sistematis dan terarah sesuai dengan metode pemberian pelayanan keperawatan 13. Sebagai pembaharu Perawat mengadakan perencanaan. menyusun. Fungsi Perawat Fungsi adalah pekerjaan yang harus dilaksanakan sesuai dengan perannya. Tujuh Fungsi Perawat Kozier Barbara. 15. ahli gizi dan lain-lain dengan berupaya mengidentifikasi pelayanan keperawatan yang diperlukan. 11. kerjasama. 12. dan memperbaiki rencana keperawatan secara terus menerus berdasarkan pada kondisi dan kemampuan pasien. 14. (6) Melaksanakan prosedur dan teknik keperawatan. (5) Mencatat dan melaporkan keadaan pasien.

Perawat harus dapat mengkaji perasaan klien tentang pembedahan. Klien merasa kurang dapat mengontrol situasi mereka sendiri untuk memahami dampak pembedahan pada kesehatan emosional klien tersebut. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Makmur et.05 yang mengalami kecemasan ringan sehingga dapat disimpulkan ada hubungan peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi. Klien merasa cemas tentang pembedahan. citra diri. sumber koping klien serta asuhan keperawatan yang terbaik (Perry Potter.5% yang mengalami kecemasan ringan. Dan hasil penelitian yang dilakukan Elika tahun 2009.M. terdapat 37. sehingga kekambuhan sering terjadi dan bahkan bertambah parah. dengan nilai p < 0. Karena masih kurangnya pengetahuan pasien tentang penyakit yang dideritanya. al (2007) dan penelitian rumah Sakit Ortopedi Prof Dr. R. 2006). Proses pembedahan sering menimbulkan stress psikologi yang tinggi. Ada hubungan antara pendidikan pasien dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD.Yunus Bengkulu Tahun 2010. Ada hubungan antara peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. Desain penelitian . Soerharto tahun 2008.Yunus Bengkulu Tahun 2010. konsep diri.mencegah dan terhindar dari berbagai penyakit. BAB III METODE PENELITIAN 1. 2.M. 16. Begitu pula dengan Pembedahan. Secara unum perawat mempunyai peran terapeutik yaitu kegiatan yang ditujukan langsung pada pencegahan dan pengobatan penyakit. Hipotesa peneliti 1. Seseorang tersebut ialah perawat yang mempunyai banyak peran untuk melaksanakan praktek keperawatan.

2010). Variabel Penelitian Sesuai dengan desain penelitian di atas. < 28 ≥ 28 Ordinal Skala Ukur .Desain penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. dimana variabel independen dan variabel dependen di kumpulkan pada saat bersamaan (Notoadmodjo. Bagan 3. Kuisioner Wawancara (14 komponen pertanyaan HRS-A) dan observasi 1= Tidak Berat jika.2 Variabel Penelitian C. Definisi Operasional Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Cara ukur Hasil Ukur 0=Cemas Berat jika. maka Variabel Penelitian dapat digambarkan sebagai berikut : Variabel Variabel Dependen Independen Bagan 3.1 Desain Penelitian B. Tingkat kecemasan (Dependen) Suatu kondisi yang menyangkut kekhawatiran seseorang pada masalah yang terjadi.

0.786 orang. Sampel Sampel adalah objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi ( Notoatmojo.0. Populasi dalam penelitian ini adalah kelompok pasien pre operasi yang ingin menjalankan operasi di ruang Seruni dari bulan januari sampai bulan desember tahun 2010. Dalam penelitian ini teknik yang digunakan adalah teknik Simple Random sampling n = Z²1-α/2.84. 0. 0. 2. Kuisioner (15 pertanyaan) 1. (Noto atmojo. Populasi Populasi adalah Keseluruhan dari objek penelitian yang di teliti.0=Rendah ≤ SMA Pendidikan (Independen) Pendidikan Formal yang ditempuh pasien Kuisioner Dengan cara mengisi (1 pertanyaan kuisioner ) 1= Tinggi >SMA 0= kurang baik jika skor ≤ 75% Dengan cara mengisi kuisioner 1= baik.P(1-P) = (1.825 .825 =3. 2010). 2010). berdasarkan data jumlah pasien pada tahun 2009 adalah 1.175.175.96)². jika skor ≥ 75% Ordinal Ordinal Peran Perawat (Independent) Tindakan yang dilakukan oleh perawat dalam proses penyembuhan. Populasi dan Sampel 1.

Pengumpulan. E. kuisioner pendidikan dan kuisioner peran perawat dengan skala selalu (SL). Yunus Bengkulu dengan cara wawancara dan observasi dengan skala HARS. Tempat Penelitian Penelitian dilakukan di Ruang Seruni RSUD. kadang (KD). sering (SR). Sedangkan data Sekunder adalah data yang didapatkan secara tidak langsung dari responden. yang nantinya akan diisi oleh responden dan dibantu oleh satu orang perawat yang bertugas di ruang Seruni RSUD M. tetapi didapat dengan metode pencarian data rumah sakit dalam bentuk . Jumlah sampel yang didapat adalah 55 responden.1. dengan penilaian tidak berat jika skor < 28 dan berat jika skor ≥ 28. Pengumpulan data Data dalam penelitian ini berupa data primer dan sekunder. tidak pernah (TP). jarang (JR). Pengolahan Dan Analisa Data 1.5% D = Derajat akurasi (presisi) yang diinginkan 0.Yunus Bengkulu pada bulan Desember 2010 2. Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan Desember sampai dengan februari 2010. Yunus Bengkulu yang sudah diberi penjelasan tentang pengisian kuisoner.175 =17. 2008) Keterangan : n = Sampel Z(1-α/2) = Nilai Z pada derajat kemaknaan (α 5%=1.= 55 responden (Aziz Alimul. Tempat dan Waktu Penelitian 1. untuk mengukur tingkat kecemasan. M. Data primer yaitu data yang didapat langsung dari responden yaitu pasien dalam perawatan pre operasi di Ruang Seruni RSUD M.96) P = Proporsi suatu kasus yaitu proporsi kecemasan 0. D.

2. Selanjutnya dilakukan transformasi data untuk menggambarkan variabel bebas dan variabel terikat. alamat. jumlah pasien yang melakukan operasi. Coding (Pengkodean) Jawaban-jawaban atau hasil yang ada kemudian di klasifikasikan dalam bentuk yang lebih ringkas dengan menggunakan kode-kode. Analisa Data 1. umur. Editing dilakukan langsung pada saat responden mengembalikan kuesioner yang sudah diisi dengan harapan apabila ada kekurangan data atau kesalahan dalam pengisian dapat segera diperbaiki. G. 1. tanggal masuk rumah sakit. Pengolahan Data Data yang telah diperoleh atau terkumpul diolah dan dianalisis dengan program komputer melalui beberapa tahapan. 3.Rekam Medik misalnya: nama. Kemudian dilakukan scoring terhadap pertanyaan yang berhubungan dengan masing-masing variabel dan diteruskan dengan pengujian kebenaran data dengan menggunakan uji Chi-Square dengan signifikan α = 5 %.. Cleaning (Pembersihan Data) Sebelum melakukan analisa data dengan dilakukan pengecekan kembali terhadap data yang sudah masuk apakah data yang dimasukkan sudah benar dan tidak ada lagi kesalahan. F. pekerjaan. Entry Data (Pemasukan Data) Data yang telah ada dicoding dan hasil scoring kemudian diolah kedalam komputer dengan menggunakan program SPSS For Window. Editing Editing data adalah meneliti kembali apakah isian pada kuisioner yang dilakukan responden sudah cukup dan benar sesuai dengan petunjuk yang ada. tanggal keluar rumah sakit dan lain-lain. yaitu : 1. Analisa Univariat .

Untuk melihat gambaran distribusi frekuensi dari masing-masing variabel penelitian baik independent maupun dependent. . Rumus yang digunakan, yaitu : Keterangan : P F = Persentase yang ingin dicapai = Jawaban dalam setiap kategori

N = Jumlah seluruh responden (Budiarto, 2001) 2. Analisa Bivariat Analisa bivariat adalah analisa yang digunakan untuk melihat hubungan antara variabel bebas (pendidikan pasien dan peran perawat) dengan variabel terikat (kecemasan pada pasien pre operasi). Untuk melihat hubungan antara dua variabel kategorik maka digunakan Uji X² (Chi-Square) Ha diterima jika nilai p ≤ 0,05 Ha ditolak jika nilai p > 0,05 (Budiarto, 2001)
http://yulnico.blogspot.com/2011/05/hubungan-pendidikan-dan-peran-perawat.html 555555555

HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN KELUARGA DENGAN TINGKAT KECEMASAN PASIEN PRE OPERASI DI BANGSAL MELATI RSD PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL YOGYAKARTA
3 Mei 2009

DEWI WIJAYANTI A. Latar Belakang Masalah

Rumah sakit adalah salah satu organisasi kesehatan yang dengan segala fasilitas kesehatannya diharapkan dapat membantu pasien dalam meningkatkan kesehatan dan mencapai kesembuhan baik fisik, psikis, maupun sosial. Tujuan kesehatan tidak hanya memulihkan kesehatan pasien secara fisik tetapi sedapat mungkin diupayakan menjaga kondisi emosi dan jasmani pasien menjadi nyaman, namun kemajuan yang pesat dalam teknologi medis belum diiringi dengan kemajuan yang sama pada aspek-aspek kemanusiaan dari perawatan pasien. Proses perawatan di rumah sakit seringkali mengabaikan aspek-aspek psikologis sehingga menimbulkan berbagai permasalahan pisikologis bagi pasien yang salah satunya adalah kecemasan. Kecemasan merupakan perasaan yang paling umum dialami oleh pasien yang dirawat di rumah sakit, kecemasan yang sering terjadi adalah apabila pasien yang dirawat di rumah sakit harus mengalami proses pembedahan. Pembahasan tentang reaksi-reaksi pasien terhadap pembedahan sebagian besar berfokus pada persiapan pembedahan dan proses penyembuhan. Pembedahan adalah tindakan pengobatan yang banyak menimbulkan kecemasan, sampai saat ini sebagian besar orang menganggap bahwa semua pembedahan yang dilakukan adalah pembedahan besar. Tindakan pembedahan merupakan ancaman potensial aktual terhadap integritas seseorang yang dapat membangkitkan reaksi stress fisiologis maupun psikologis (Barbara C.Long, 1989) Pandangan setiap orang dalam menghadapi pembedahan berbeda, sehingga respon pun berbeda. Setiap menghadapi pembedahan selalu menimbulkan ketakutan dan kecemasan pada pasien, kecemasan sering muncul pada usia sebelum 30 tahun (Stuard and Sundeen, 1998). Seseorang yang sangat cemas sehingga tidak bisa berbicara dan mencoba menyesuaikan diri dengan kecemasan sebelum operasi, seringkali menjadi hambatan pada paska operasi, pasien menjadi cepat marah, bingung, lebih mudah tersinggung akibat reaksi psikis, dibandingkan dengan orang yang cemas ringan (Barbara C. Long, 1996). Pasien pre operasi sangat membutuhkan dukungan keluarga, pasien dapat mengekspresikan ketakutan dan kecemasannya pada keluarga dengan mengurangi kecemasan dan ketakutan yang berlebihan dan tidak beralasan, akan mempersiapkan pasien secara emosional. Selain itu, mempersiapkan keluarga terhadap kejadian yang akan dialami pasien dan diharapkan keluarga banyak memberi dukungan pada pasien dalam menghadapi operasi (Anderson dan Masur 1989).
1. Dukungan keluarga sebagai salah satu sumber dukungan bagi anggota keluarga yang sedang sakit. Dari hasil observasi atau studi pendahuluan selama satu minggu, dengan teknik wawancara di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta, pada tanggal 15 Februari tahun 2008, didapatkan data bahwa dari 15 pasien yang mau melakukan operasi, 9 orang diantaranya merasa cemas, dengan data sebagai berikut:

1. Satu pasien mengatakan cemas dikarenakan tidak didampingi oleh kedua orang tua dan suami yang merupakan sumber dukungan, kedua orang tuanya berada diluar kota sedang suami sibuk mencari surat keringanan biaya operasi, tanda-tanda kecemasan yang dimiliki adalah pasien lebih banyak berdiam diri dan murung. 2. Tiga pasien mengatakan cemas karena saat di rumah sakit tidak didampingi oleh keluarga namun hanya didampingi oleh suami, dan tanda-tanda kecemasan yang dimiliki antara lain nafsu makan berkurang,sering bangun saat malam hari, muka terlihat puat dan murung. 3. Lima pasien mengatakan cemas dikarenakan tidak ada dukungan dari anak-anak dan sanak saudara, tanda-tanda kecemasan yang dimilliki adalah jarang berkomunikasi, sering menanyakan keluarga, dan sulit untuk memulai tidur. 4. Enam pasien mengatakan tidak cemas dikaranakan mendapatkan dukungan dari keluarga, yaitu anak, istri, orang tua yang selalu mendampingi dan sanak keluarga yang bergantian mengunjungi. B. Rumusan Masalah

Dari berbagai uraian latar belakang tersebut diatas maka akan timbul masalah sebagai berikut “Adakah Hubungan Antara Dukungan Keluarga Dengan Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi Di Bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta?”
C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta.
1. Tujuan Khusus

a Diketahuinya dukungan keluarga yang diberikan pada pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. b Diketahuinya tingkat kecemasan pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta.
D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Perawat Di RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta

Mengoptimalkan fungsi perawat dalam penatalaksanan asuhan keperawatan kepada pasien yang mengalami kecemasan, tanpa mengabaikan aspek-aspek psikologis, sehingga profesionalisme perawat dalam bekerja dapat ditingkatkan lagi dan operasi berjalan dengan lancar.
1. Bagi RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta

Dapat dipakai sebagai masukkan untuk meningkatkan pelayanan

Bagi Peneliti 1. pada bulan Januari sampai Maret 2004. Memberikan masukan bahwa dukungan keluarga sangat dibutuhkan oleh pasien 3. E. Responden Pasien dewasa yang berumur 21– 40 tahun yang menjalani rawat inap dan akan melakukan operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. Tempat penelitian di bangsal Ibnu Sina RSU PKU Muhammadiyah. Variabel Yang Diteliti 2. Hasil penelitian adalah ada hubungan . Menambah ilmu pengetahuan dan wawasan 2. Penelitian yang dilakukan oleh Rondhianto (2004) dengan judul “Hubungan antara dukungan keluarga dengan kecemasan perpisahan akibat hospitalisasi pada pasien anak usia pra sekolah di bangsal anak RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta. 1. 1. Sampel adalah orang tua dari anak pra sekolah yang dirawat di bangsal Ibnu Sina RSU PKU Muhammadiyah. Penelitian yang sama sepengetahuan peneliti belum pernah dilakukan oleh peneliti yang lain. Bagi Pasien Dan Keluarga Di RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta 1. Memberikan masukan bagi peneliti bahwasanya dukungan keluarga sangat diperlukan bagi pasien. namun ada beberapa penelitian yang mirip dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti antara lain : 1. Ruang Lingkup Masalah 1. Memberikan rasa nyaman pada pasien sehingga pasien tidak cemas pada proses operasi 2. Tingkat kecemasan pada pasien pre operasi adalah variabel terikat 1. dengan pendekatan cross sectional. Dukungan keluarga adalah variable bebas 3. Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. 1.1. dengan uji validitas menggunakan product moment dari pearson. Alat ukur untuk pengumpulan data adalah daftar pertanyaan dalam bentuk kuesioner.” Menggunakan metode penelitian non eksperimental. Waktu Penelitian ini dilakukan pada bulan April sampai dengan Mei tahun 2008. Keaslian Penelitian Penelitian ini dititik beratkan pada hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta.

Jenis penelitian yang telah dilakukan tersebut bersifat penelitian deskriptif kualitatif dengan penggunaan wawancara mendalam pada responden dalam metode pengumpulan datanya. dengan uji validitas menggunakan product moment dan reliabilitas menggunakan alpha dan kr 20. 1. Sampel yang dipakai adalah pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. peneliti meneliti tentang “Hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. Yogyakarta”. Penelitian yang dilakukan oleh peneliti memiliki perbedaan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rondhianto (2004) diantaranya.” yang merupakan penelitian non eksperimental dengan pendekatan cross sectional. Penelitian yang dilakukan oleh Liliyanti (2000) dengan judul “ Peran keluarga dalam proses hospitalisasi di lakukan di bangsal Bedah RS Dr. Tempat penelitian di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. untuk mengukur tingkat kecemasan dan rating-scale (skala bertingkat) untuk mengukur dukungan keluarga pada pasien pre operasi. Sardjito.” Instrumen penelitian menggunakan angket sedangkan uji validitas dan reabilitas mengunakan product moment dari pearson. Jenis penelitian non eksperimental dengan pendekatan cross sectional. Peneliti melakukan penelitian yang berjudul“ Hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. sampel adalah pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta.wordpress.dukungan keluarga dengan kecemasan pada anak akibat hospitalisasi pada pasien anak usia pra sekolah di bangsal Ibnu Sina RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Sardjito Yogyakarta. http://skripsistikes. 1. alat ukur penelitian menggunakan kuesioner yang diuji validitas dan reabilitas menggunakan product moment dan alpha serta kr 20. Menggunakan metode quota sampel. alat ukur penelitian menggunakan kuesioner. Perbedaan dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah. Penelitian yang dilakukan oleh Efrita Herliyati (2005) dengan judul “ Hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kooperatif anak usia pra sekolah saat pemasangan infus di INSKA RS Dr. Hasil penelitian yang dilakukan bahwa tidak ada hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kooperatif anak usia pra sekolah saat pelaksanaan pemasangan infus.com/2009/05/03/ikpiii18/ 6666666666 . peneliti meneliti tentang “Hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. pada bulan April sampai Mei tahun 2008. Menggunakan kuesioner sebagai alat ukur yang bersifat tertutup dan langsung dalam bentuk check list.” Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental dengan pendekatan cross sectional. sampel yang diteliti adalah pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. Metode yang digunakan adalah quota sampel.

Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Kecemasan Dan Pengetahuan Pada Pasien Preoperasi Fraktur Di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten
ABSTRAK Burhanuddin, S541002006. Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Kecemasan Dan Pengetahuan Pada Pasien Preoperasi Fraktur Di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten. Komisi Pembimbing I : Prof. Dr. Sri Yutmini, M. Pd. Pembimbing II : Dr. Nunuk Suryani, M.Pd. Tesis: Magister Kedokteran Keluarga. Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta. 2011. Latar Belakang: Kecemasan juga dapat terjadi pada pasien yang akan menjalani operasi patah tulang atau fraktur. Kecemasan pada masa preoperasi fraktur meliputi takut terhadap anestesi, takut terhadap nyeri atau kematian, takut tentang ketidaktahuan atau takut tentang deformitas atau ancaman lain terhadap citra tubuh. Pendidikan kesehatan adalah salah satu yang bertujuan untuk menurunkan tingkat kecemasan pasien preoperasi fraktur melalui pemenuhan kebutuhan informasi mengenai pembedahan. pendidikan kesehatan merupakan satu bentuk intervensi keperawatan yang mandiri untuk membantu klien, baik individu, kelompok, maupun masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatannya melalui kegiatan pembelajaran, yang didalamnya perawat berperan sebagai perawat pendidik yang bertugas untuk meningkatkan pengetahuan klien Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kecemasan dan pengetahuaan pada pasien preoperasi fraktur sebelum dan sesudah memperoleh pendidikan kesehatan. Metode: Desain dalam penelitian ini adalah Pre-eksperimental design (Pre-eksperimental one group pre test-post test design). Populasi sumber penelitian ini adalah penderita yang akan menjalani operasi fraktur di RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten dari tanggal 07 Juli s/d 07 Agustus 2011. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Penentuan jumlah sampel menggunakan metode exhaustive sampling. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner yang berisi pernyataan tentang kecemasan dan tes pengetahuan. Data dianalisis dengan menggunakan uji Paired Sample T-Test. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara kecemasan pada pasien preoperasi fraktur sebelum dan sesudah memperoleh pendidikan kesehatan (t = 92,697 dan p = 0,000). Ada perbedaan yang signifikan antara pengetahuan pada pasien preoperasi fraktur sebelum dan sesudah memperoleh pendidikan kesehatan (t = 16,683 dan p = 0,000). Simpulan: Pendidikan kesehatan dapat menurunkan tingkat kecemasan dan meningkatkat pengetahuan pada pasien preoperasi fraktur. Disarankan pada penyelenggara pelayanan kesehatan agar melakukan pendidikan kesehatan pada pasien preoperasi fraktur karena terbukti mampu menerunkan kecemasan dan meningkatkan pengetahuan pasien. Kata Kunci: Pendidikan Kesehatan, Kecemasan, Pengetahuan, Preoperasi fraktur. ABSTRACT

Burhannudin, S541002006. Effect of Health Education on Worry and Knowledge of Fracture Presurgery Patients in Dr. Soeradji Tirtonegoro General Hospital of Klaten. The first commission of supervision : Prof. Dr. Sri Yutmini, M. Pd. The second supervision is Dr. Nunuk Suryani, M.Pd. Thesis. Family Medical Magister. Postgraduate Program of Sebelas Maret University of Surakarta. Background: Worry may occur in a patient who will go through surgery for his/her fracture. Worry in fracture presurgery period includes worry of anesthesia, worry of pain or death, worry of ignorance or worry about deformity or other threats on body image. One of health education aims is to reduce worry level of patients of fracture presurgey through meeting information needs of the patient. Health education is one of independent nursing intervention in attempts of helping client, individually or collectively and people in overcoming health problems by conducting learning activities in which nurse has a role as educator nurse whose duty is to enhance client‟s knowledge. Purpose: The research aims to know difference of worry and knowledge of fracture presurgery patients before and after receiving health education. Method: Design of the research is pre-experimental one (pre-experimental one group pretest posttest design). Population of the research is patients who will go through fracture surgery in Dr. Soeradji Tirtonegoro General Hospital of Klaten during 07 July - 07 August 2011. Sample of the research is taken by using purposive sampling technique. Number of sample is determined by using exhaustive sampling method. Data is collected by using questionnaire asking about worry and test of knowledge. The data is, then, analyzed by using Paired Sample T-Test. Results: Results of the research indicated that there was a significant difference between worry of fracture presurgery patients before and after receiving health education (t=92.696 and p = 0.000). There was a significant difference between knowledge of fracture presurgey patients before and after receiving health education (t=16.683 and p = 0.000). Conclusion: Health education can reduce worry level of fracture presurgery patients and increase knowledge of the patients. It is suggested that health provider should perform health education for fracture presurgery patients because it is proved to be able to reduce worry and to improve knowledge of the patients.
http://pasca.uns.ac.id/?p=1891 7777777

Manfaat membaca al-Qur'an untuk kehidupan
Sebagai wahyu yang Allah turunkan kepada nabi-Nya, tentu al-Qur'an memiliki keutamaan dan keistimewaan tersendiri bagi para pembaca dan penggemarnya. Ayat-ayat al-qur'an yang kita baca sehari-sehari tidak lepas dari karunia Allah untuk setiap muslim yang demikian besar. Karena saking istimewanya al-Qur'an ini dari kitab-kitab samawi lainnya, Allah memberikan tempat istimewa bagi para pecintanya. Oleh karena bagi anda yang ingin memaksimalkan peran al-Qur'an dalam kehidupan, nampaknya harus lebih banyak lagi mengetahui manfaat dan perannya, terutama untuk kehidupan. Di antara

manfaat itu adalah: 1. Ayat-ayat al-Qur'an yang dibaca setiap hari akan memberikan motivasi dan penyemangat bagi si pembacanya. 2. Ketika membaca al-Qur'an, Allah akan menegur diri kita pada setiap ayat-ayat-Nya. 3. Bacaan al-Qur'an yang melibatkan emosi akan memberikan kedamaian dan ketenangan yang tidak bisa dilukiskan, seperti yang dialami dan dirasakan oleh Sayyid Quthb Rahimahullah. 4. Orang yang membaca al-Qur'an akan senantiasa ingat Allah dan kembali kepada-Nya. 5. Orang yang membaca al-Qur'an akan selalu berada dalam kecukupan dan nikmat Allah meski ia merasakan serba kurang di dunia. 6. Ayat-ayat Alloh akan menjadi penjaganya selama ia hidup di dunia, karena ia telah menjaga ayat-ayatNya. 7. Orang yang paham al-Qur'an adalah orang yang memiliki banyak ilmu. 8. Orang yang membaca al-Qur'an bagaikan orang yang sedang menyelami samudera kehidupan, dan mengambil manfaat darinya. 9. Orang yang selalu akrab dengan ayat-ayat akan diberikan jiwa yang sejuk, hati yang damai dan pikiran yang jernih, sehingga membuatnya ingin selalu beramal, kreatif, inovatif dan produktif. 10. Orang yang membaca al-Qur'an akan selalu berada dalam kegembiraan dan penuh harapan, di saat orang lain merasakan kesedihan, kecemasan dan rasa pesimis. Karena diri mereka selalu dipompa dengan siraman ayat-ayat-Nya yang lembut. 11. Orang yang rajin membaca al-Qur'an akan selalu diberikan jalan kemudahan dan petunjuk sehingga tidak mudah untuk menyimpang dan menyerah karena ayat-ayat Allah akan selalu mengingatkan dirinya ketika dirinya 'tersandung dosa dan maksiat.' 12. Orang yang membaca dan menjaga al-Qur'an selalu berada dalam lindungan dan penjagaan Allah. Ayat-ayat al-Qur'an mengajak pembacanya untuk senantiasa berpikir, merenung dan beramal sebanyakbanyaknya. Dan masih banyak manfaat-manfaat lainnya yang terus update dengan kondisi kehidupan kita...Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu belajar dan meningkatkan diri untuk lebih dekat lagi dengan alQur'an...Amiin wallahu a'lam http://baskomm.blogspot.com/2011/06/manfaat-membaca-al-quran-untuk.html 888888

Penawar Hati..., Katakanlah: “Al Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman”. QS. Fushilat: 44).
Wednesday, 16 March 2011 06:15 Lady Ukhtifillah Rahimakumullah

(QS. yang paling penting adalah bahwa semua cobaan hidup ini akan mengarahkan seorang yang beriman untuk kembali kepada Allah subhanahu wata‟ala. dia akan mendapat manfaat yang lain. serta akan merasakan kebahagiaan dan merasa dekat dengan Allah Azza Wa Jalla. maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman.“As-salámu „alaikum wa Bismillah Ar Rahman Ar Raheem Penawar Kebingungan dan Kebimbangan rahmatul láhi wa barakátuh!” Barang siapa yang mengerjakan amal saleh. dia akan mementingkan akherat dengan penuh keyakinan bahwa dia lebih baik dan lebih kekal abadi. semua perkara yang mengeruhkan hidup akan menjadikan seorang mu‟min mengetahui kehinaan duniawi. sedih dan berencana bagi orang yang menggunakannya secara baik: Pertama: Beriman dan beramal shaleh. yaitu sebuah kebahagiaan yang tidak bisa terlukiskan. bingung. Selain itu. Al-Nahl: 97) . Fathir: 34-35) Alangkah agungnya manfaat yang didapatkan bagi orang yang mengetahui hikmah Allah yang terakandung di dalamnya. Perasaan ini akan membawanya kepada zuhud dengan dunia dan tidak cendrung kepadanya. Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. (QS. (35)Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga) dari karunia -Nya. Dan di bawah ini beberapa langkah yang bermanfaat untuk menghalau rasa bimbang. sehingga dengannya hati akan mendapatkan ketenangan dan ketentraman. didalam kehidupan seorang yang beriman tidak terlepas dari kebimbangan dan kesedihan yang mengeruhkan kebeningan kehidupannya dan mematahkan kenikmatannya. maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. bertdharru‟ kepada -Nya. Selain itu. shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam. (QS. sebab tidak ada kebimbangan di dalam surga dan tidak pula kesedihan sebagaimana ditegaskan di dalam firman Allah subhanahu wata‟ala: Dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami. baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman. Perkara ini akan menghapuskan dosa-dosanya dan mengangkat derajatnya. Al-Nahl: 97) Segala puji hanya bagi Allah subhanahu wata‟ala. bersimpuh di hadapan -Nya. Amma Ba‟du: Terkadang. di dalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu”. dan aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi -Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan -Nya. Allah subhanahu wata‟ala berfirman: Barang siapa yang mengerjakan amal saleh.

gangguan. dan hal itu tidak terjadi kecuali bagi orang yang beriman. Kedua: Kegembiraan seorang muslim karena apa yang diperolehnya berupa pahala yang agung. kebimbangan. Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim dari Abi Hurairah RA bahwa Nabi Muhammad shalallahu „alaihi wasallam bersabda: Apa apa yang menimpa seorang muslim baik keletihan. di dalam riwayat yang lain disebutkan: Bahkan kecemasan kecuali Allah subhanahu wata‟ala akan menghapuskan dengannya segala keburukan-keburukannya”. upah yang besar. baik kebimbangan dan kecemasan pada hakekatnya hal itu sebagai penghapus bagi kesalahankesalahannya dan tabungan bagi kebaikannya. bahwa dia fana. kesenangan yang ada padanya sangatlah sedikit. kebingungan bahkan duri yang menusuknya. Allah subhanahu wata‟ala berfirman: Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu. kecemasan maka seorang yang beriman akan merasa tenang setelah meninggalkannya. kelezatannya bisa mendatangkan kekeruhan. Ketiga: Mengetahui hakekat dunia. kebingungan. . kecuali Allah akan menghapuskan dengannnya kesalahan-kesalahannya”. Maka hari-hari bergilir satu hari untuk kemenangan dan di hari yang lain penderitaan. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Qotadah bahwa jenazah seseorang melewati Nabi Muhammad shalallahu „alaihi wasallam lalu bersabda: Tenang dan orang lain tenang darinya”.. Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Shuhaib RA berkata: Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam bersabda: Sungguh menakjubkan perkara seorang yang beriman. jika dia seseorang gembira di dunia dalam waktu yang pendek maka dia juga membuat seseorang. Dunia juga sebagai ladang kelelahan. sesungguhnya segala perkara orang yang beriman itu baik. gangguan. jika dia mendapatkan kebaikan maka dia bersyukur maka itu adalah lebih baik baginya. maka orang itu menangis di dunia dalam waktu yang panjang. dan apabila mendapat musibah dia bersabar dan itu lebih baik baginya”. Bahkan salah seorang di antara mereka senang jika ditimpa musibah sebagaimana kesenangan mereka hidup dalam suasana sentosa.Ini adalah janji Allah subhanahu wata‟ala kepada orang yang beriman dan beramal shaleh bahwa Dia akan menganugarahkan kepada mereka kehidupan yang baik. tidak pernah menjanjikan kecerahan bagi siapapun. Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran). Ali Imron: 140). Seorang ulama salaf berkata: Seandainya bukan karena musibah maka kita akan datang pada hari kiamat sebagai orang yang merugi. sebagai balasan atas kesabaran dan harapan pahala dari Allah subhanahu wata‟ala atas bencana-bencana yang menimpanya itu baik berupa kebimbangan duniawi dan segala bentuk musibahnya. Akhirnya seorang muslim menyadari bahwa apapun musibah yang menimpanya. (QS. kesedihan. di dalam riwayat yang lain disebutkan oleh Imam Muslim: Apapun yang menimpa seorang muslim baik duri atau yang lebih kecil darinya kecuali Allah akan mengangkat derajatnya dengan musibah tersebut atau dia akan dihapuskan kesalahannya”. jika seseorang tertawa di dunia dalam sesaat. Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Hurairah RA bahwa Nabi Muhammad shalallahu „alaihi wasallam bersabda: Dunia ini adalah penjara bagi orang yang beriman dan surga bagi orang kafir”. banyak bersedih. penyakit yang akut.

lilitan hutang dan penindasan orang. jangan Engkau biarkan .” Diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam kitab sunannya dari hadits riwayat Abdurrahman bin Abi Bakroh bahwa Nabi Muhammad shalallahu „alaihi wasallam bersabda: Do‟a orang yang kesusahan adalah. Diriwayatkan oleh Al-Turmudzi di dalam kitab sunannya dari Anas bin Malik bahwa Nabi Muhammad shalallahu „alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa yang menjadikan negeri akherat sebagai orientasinya maka Allah akan menjadikan kekayaan di dalam hatinya dan Dia akan mengumpulkan segala kekuatannya sementara dunia ini akan datang mengejarnya dengan penuh ketundukan. Kelima: Berdo‟a. Maka beliau bersabda: Seorang hamba yang beriman akan tenang terlepas dari keletihan duniawi dan gangguannya menuju rahmat Allah sementara hamba yang bejat akan membuat manusia. namun jika seseorang menjadikan orientasinya mengarah kepada akherat maka Allah subhanahu wata‟ala akan mengumpulkan kekuatannya dan tekadnya akan dimantapkan. Diriwayatkan oleh Al-Buhkari di dalam kitab shahihnya dari Anas bin Malik berkata : Aku menjadi pembantu Nabi Muhammad shalallahu „alaihi wasallam di dalam rumah tangganya dan apabila beliau memasuki rumah keluarganya maka beliau bersabda: “Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepada -Mu dari (hal yang) menyedihkan dan menyusahkan. bahwasanya Aku adalah dekat. bakhil dan penakut. Keempat: Kebimbangan dan kecemasan yang terjadi dunia ini akan membuat jiwa ini tercerai berai. lemah dan malas. oleh karena itu. dan barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai orientasinya maka Allah akan menjadikan kefakiran di hadapannya dan mencerai beraikan kekuatannya dan dunia tidak datang kepadanya kecuali apa yang telah ditetapkan baginya”. pohon dan hewan akan tenang dengan kepergiannya”. Langkah ini adalah penawar yang paling ampuh dalam menghilangkan kebimbangan dan kebingungan. maka (jawablah). negeri. (QS. lapangkanlah untukku dadaku. memporak-porandakan kekuatannya. Al-Baqarah: 186). “Ya Allah! Aku mengharapkan (mendapat) rahmat -Mu. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada -Ku.Para shahabat bertanya: Wahai Rasulullah apa yang anda maksudkan dengan kata tenang dan orang lain tenang darinya?. Dan Nabi Muhammad shalallahu „alaihi wasallam meminta perlindungan kepada Allah subhanahu wata‟ala dari segala kebimbangan dan kesedihan. Inilah makna tentang hakekat dunia yang disadari oleh orang yang beriman maka dengan kesadaran ini segala musibah dan kebimbangan akan menjadi enteng. (QS. sebab dia menyadari bahwa itulah hakekat dunia. Allah subhanahu wata‟ala berfirman: Dan apabila hamba-hamba -Ku bertanya kepadamu tentang Aku. Thaha: 25). Allh subhanahu wata‟ala berfirman: Berkata Musa: “Ya Tuhanku.

diriku sekejap mata (tanpa pertolongan atau rahmat dari -Mu). mengharap pada karunia -Nya. dan semua langkah ini akan bertumpu pada membaca Al-Qur‟an yang dibarengi dengan perenungan. Allah subhanahu wata‟ala berfirman: Dan Kami turunkan dari Al Qur‟an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman”. hanya dengan mengingat Allah -lah hati menjadi tenteram.net/joomla-license/67-penawar-hati-katakanlah-al-quran-itu-adalah-petunjuk-danpenawar-bagi-orang-orang-yang-beriman-qs-fushilat-44.html . dan aku hanya menyebutkan beberapa langkah yang penting saja. cahaya bagi dada. berserah diri kepada -Nya. maka dia akan percaya kepada Allah. Al-Thalaq: 3) Artinya mencukupkan keperluannya baik dari perkara dunia atau akherat. penghilang segala kebimbangan dan kebingungan. tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. shahabat serta seluruh pengikut beliau http://khutbahbank. (QS. kelapangan dan kegembiraan yang tidak bisa terlukiskan…. QS. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. serta akan terbebas dari banyak jenis penyakit hati dan jasad. Hati akan merasakan kekuatan. Syekh Abdurrahman As-Sa‟di berkata: Maka pada saat hati ini bergantung kepada Allah subhanahu wata‟ala. penghapus kesedihan. Al-Ra‟du: 28). Langakah-langkah untuk menggapai kebahgiaan itu ternyata sangat banyak bagi mereka yang menyadarinya. Keenam: Bertawakkal kepada Allah subhanahu wata‟ala. Perbaikilah seluruh urusanku. Allah subhanahu wata‟ala berfirman: Katakanlah: “Al Qur‟an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman”. tidak menyerah pada kecemasan. niat yang benar dan dibarengi dengan usaha-usaha yang menyebabkan do‟a tersebut diterima maka Allah pasti memberikan apa-apa yang dimintanya dan dia berbuat untuk mewujudkan keinginannya serta kecemasan akan berbuah kesenangan dan kegembiraan. tidak pula dikendalikan oleh hayalan-hayalan yang buruk. semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad dan kepada keluarga. obat bagi segala macam penyakit baik penyakit badan atau hati. Dia berfirman: Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.”. Ingatlah. dengannya pula segala serpihan-serpihan kebimbangan dan kebingungan akan terusir. Al-Isro‟: 82) Maka barangsiapa yang membaca Al-Qur‟an ini dengan penuh perenungan dan meresapi maknanya maka segala kecemasan dan kebimbangan akan hilang dari dirinya.” Apabila seorang hamba mendengungkan do‟a ini dengan hati yang sadar. dia adalah pelipur hati. Fushilat: 44). (QS. Allah subhanahu wata‟ala berfirman: (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. (QS.

dan bermimpi. 2002: 166).999999999 PENGARUH BELAJAR DAN TERAPI MEMBACA AL QUR’AN SECARA RUTIN TERHADAP HILANGNYA RASA CEMAS PADA ANAK DIDIK SAAT MENGHADAPI UJIAN AKADEMIK. Ketika seseorang tidur dan tidak bermimpi itu artinya ia tidak melakukan apa-apa. Maka untuk mengurangi kecemasan tersebut anak didik harus belajar dan dibutuhkan terapi membaca Al-Quran secara rutin. Ketika seseorang dilanda setres atau frustasi dan tidak dapat berpikir jernih. ini merupakan salah satu kunci kesuksesan Thomas Alfa Edison. sekolah. Dimana rasa cemas itu disebabkan oleh proses-proses berpikir yang menyimpang. Keadaan tidur ini disebut keadaan delta yang memiliki frekuensi 0. dan “bening”. Ada empat jenis gelombang otak yang merekam aktivitas manusia sepanjang waktu. Itu justru memicu keingintahuan yang mendalam. Latar belakang Setiap orang pasti pernah mengalami kecemasan. mudah tersinggung. kisaran 7 atau 8. Ini adalah proses belajar yang dialami Thomas Alfa Edison. dan nasional. Keadaan teta adalah kondisi ketika pikiran atau otak bekerja secara baik. Kreativitas adalah sebuah hasil latihan. berdzikir. ketidaksabaran. Tahap iluminasi dari proses kreatif menunjukkan gelombang alfa pada otak.5 Hz.13 Hz. Kreativitas yang tidak dilatih akan lumpuh. berati ia dalam keadaan teta. Pertama teori psikoanalisis yang berpendapat bahwa sumber kecemasan adalah konflik yang tidak disadari antara ego (alam sadar) dan impuls-impuls id (alam bawah sadar). keadaan ini adalah kondisi yang prima untuk penyembuhan penyakit. Tidak gampang menyerah. otak bekerja sedemikian rupa malalui gerakan-gerakan sel saraf dan melepas muatan sehingga di dalam otak ada gelombang listrik. misalnya otot seorang binaraga yang tidak pernah dilatih (Taufiq Pasiak. sangat mudah lelah. 1.5-3. karena tidak ada cara untuk menghindari kecemasan. otak harus berada dalam keadaan alfa. Dan jika seseorang meninggalkan id maka orang tersebut tidak lagi hidup. Ada beberapa teori dalam psikologi yang menjelaskan tentang sebab-sebab kecemasan. Ciri-ciri orang yang mengalami gangguan kecamasan antara lain kesulitan untuk berkonsentrasi. Untuk mengingat dengan baik. Kecemasan yang sering dihadapi oleh peserta didik di usia sekolah menengah pada saat menghadapi ujian semester. Akan tetapi positifnya. terapi membaca Al-Quran ini bisa dilaksanakan secara mandiri oleh peserta didik usia sekolah menengah. jernih. atau bahkan membaca Al-Qur’an. tidur. Kedua. Dia tidak gampang putus asa dengan ribuan kasus kegagalannya. Ketika seorang bermeditasi atau bertafakur. Suatu upaya terus menerus tak kenal lelah. PENGARUH BELAJAR DAN TERAPI MEMBACA AL QUR’AN SECARA RUTIN TERHADAP HILANGNYA RASA CEMAS PADA ANAK DIDIK SAAT MENGHADAPI UJIAN AKADEMIK. Keadaan ini menunjukkan bahwa kondisi otak sedang berada . dan mengalami keteganggang otot yang amat sangat. teori tentang kognitif-Behavioral. Ketika seseorang tidur dan bermimpi.

Tapi dilihat dari fenomena yang ada banyak peserta didik dan guru yang melakukan doa bersama sehari sebelum ujian dan berkeyakinan dapat membuat mereka lulus dalam ujian.dalam kondisi beta. 5. Selain itu. Sasaran program Sasaran dari program ini adalah anak didik di sekolah menengah. Cara penyampaiannya dengan melakukan sosialisasi di sekolah dan masyarakat tentang pentingnya belajar dan membaca Al-Qur’an secara rutin. Dimana observer juga melakukan belajar dan terapi membaca Al-Qur’an secara rutin dan mandiri. 6. Banyak juga peserta didik yang melakukan belajar dengan sistem kebut semalam. 3. metode yang digunakan adalah observasi partisipan. Metode dan Cara Penyampaian Metode pengumpulan data ini dilakukan dengan mengumpulkan data yang berhubungan dengan manfaat belajar dan membaca Al-Qur’an. Namun seharusnya hal ini dilakukan secara rutin. 4. Otak dalam kondisi ini adalah otak analitis (Taufiq Pasiak. Manfaat program Perancang program berharap program ini bisa menambah wawasan mengenai manfaat membaca AlQuran secara rutin sebagi obat penghilang rasa cemas disertai dengan belajar rutin bagi setiap anak didik di sekolah menengah. sekolah. Hambatan yang kemungkinan dialami . Tujuan Program Program ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh membaca Al-Quran dan belajar secara rutin terhadap hilangnya rasa cemas pada anak didik saat menghadapi ujian semester. maupun nasional. Serta program ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi orang tua dan guru agar mengarahkan anak didiknya untuk membaca Al-Quran. 2002). Gelombang ini berkisar di atas 13 Hz yang menunjukkan kinerja logis otak. 2.

Orang tua memberikan tanggung jawab kepada anak untuk megatur waktu belajar mengajinya sendiri. 3. baik muslim maupun non muslim karena intonasi dan bacaan Al-Quran itu dapat menghilangkan gelombang beta pada otak. Guru tidak hanya mementingkan segi kognitif anak saja tetapi juga harus memikirkan segi psikis anak. Solusi 1. 7. M. Remaja Indonesia yang tidak mudah terpengaruh oleh arus globalisasi dan tidak latah dengan fenomena yang dipropogandakan oleh media masa. Hasil Pembuat program berharap dengan dilaksanakannya program ini dapat terlahir: 1. 4. Tidak semua anak didik usia sekolah menengah beragama islam. 8. Anak usia sekolah dibatasi waktu untuk menonton televisi dan bermain agar anak menjadi disiplin. maupun nasional. 2. 3.1. http://arifindikromo. 2. dimana gelombang beta tersebut dapat menyebabkan pikiran tidak bisa fokus dan sulit berkonsentrasi serta tidak dapat berpikir jernih. sekolah. 24 Mei 2011 HUBUNGAN PENDIDIKAN DAN PERAN PERAWAT DENGAN TINGKAT KECEMASAN PADA PASIEN PRE OPERASI DI RUANG SERUNI RSUD.com/2011/05/pengaruh-belajar-dan-terapi-membaca-al. Guru hanya menekankan segi kognitif dari pada psikis anak didiknya. Anak didik lebih percaya diri dengan kemampuannya tanpa mengandalkan contekan dari teman dan bocoran jawaban soal ujian.html Selasa. Anak didik diajari dan disuruh untuk membaca Al-Quran. 2. 4. YUNUS BENGKULU TAHUN 2010 BAB I . Orang tua tidak peduli terhadap waktu belajar dan mengaji untuk anak usia sekolah menengah. 5. Guru dan orang tua yang peduli terhadap kemajuan anak. Selain itu juga orang tua tidak lupa untuk mengontrolnya. baik melalui sms maupun dari oknum. Waktu menonton televisi dan bermain yang berlebihan bagi anak usia sekolah menengah. Anak didik yang disiplin. 4. misalnya anak diwajibkan mengikuti ekstrakulikuler sesuai dengan bakat dan minat anak.blogspot. 3. Anak didik menjadi lebih tenang saat menghadapi ujian semester. baik dari segi mentalitas maupun kognitif.

922 pasien (25. 15 orang (37. Pembedahan merupakan tindakan pengobatan yang banyak menimbulkan kecemasan. Kecemasan yang terjadi dapat berpengaruh terhadap peningkatan tekanan darah (RSUD Sragen. Kecemasan merupakan gejala klinis yang terlihat pada pasien dengan penatalaksanaan medis. Kecemasan merupakan perasaan yang paling umum di alami oleh pasien yang dirawat dirumah sakit. Pelayanan yang ada di Rumah Sakit adalah pelayanan pengobatan baik yang bersifat bedah maupun non bedah. 2006). . Setiap pasien pernah mengalami periode cemas. 2003). terjadi penundaan proses operasi karena peningkatan kecemasan. 16 orang (40%) yang memilki tingkat kecemasan dalam kategori sedang. sebuah institusi dan sebuah organisasi yang fungsi utamanya adalah memberikan pelayanan kepada pasien diagnostik dan terapeutik untuk berbagai penyakit dan masalah kesehatan. Amerika Serikat menganalisis data dari 35. Berdasarkan data WHO (2007). Kecemasan terjadi ketika seseorang merasa terancam baik fisik maupun psikologisnya misalnya harga diri. Latar Belakang Rumah sakit adalah sebuah fasilitas. Pembahasan tentang reaksi – reaksi pasien terhadap pembedahan sebagian besar berfokus pada persiapan pembedahan dan proses penyembuhan (Dewi wijayanti. dan identitas diri (Tjandra. gambaran diri. Reaksi cemas ini akan berlanjut bila pasien tidak pernah atau kurang mendapat informasi yang berhubungan dengan penyakit dan tindakan yang dilakukan terhadap dirinya. Penelitian yang dilakukan oleh makmur et. Dari.1%) mengalami kondisi kejiwaan dan 2. kecemasan yang sering terjadi adalah apabila pasien yang dirawat di rumah sakit harus mengalami proses pembedahan.al (2007) tentang tingkat kecemasan pre operasi bahwa dari 40 orang responden dalam tingkat kecemasan berat sebanyak 7 orang (17. Sebagian besar pasien beranggapan bahwa operasi merupakan pengalaman yang menakutkan. apalagi yang akan menjalani operasi. Soeharso tahun 2008 dari 3827 pasien yang mengalami pembedahan sekitar (2%) mengalami kecemasan (Makmur.5%) dalam kategori ringan dan responden yang tidak merasa cemas sebanyak 2 orang (5%).473 pasien (7%) mengalami kecemasan. Berdasarkan data dari RSUD Sragen Wijaya Kusuma.PENDAHULUAN 1.539 pasien bedah dirawat di unit perawatan intensif antara 1 oktober 2003 dan 30 september 2006. didapatkan bahwa 10% dari pasien yang akan menjalani pembedahan. 2002). R. Hasil penelitian di Rumah Sakit Ortopedi Prof Dr. untuk itu pasien yang akan menjalani operasi harus diberi pendidikan kesehatan untuk menurunkan atau mengurangi gejala kecemasan (Carbonel. 8. Bila kecemasan pada pasien pre operasi tidak segera diatasi maka dapat mengganggu proses penyembuhan. 2007). 2007).5%).

(Ibrahim. sehingga tindakan anestesi atau pembedahan ditunda. Berdasarkan hasil pengumpulan data di RSUD M. Sikap dan tingkah laku perawat membantu menumbuhkan rasa kepercayaan pasien. Selain itu faktor pendidikan pasien juga dapat mempengaruhi kecemasan yaitu tingkat pendidikan yang rendah serta kurangnya dukungan dari perawat (Sadock dan Kaplan. Seorang perawat dituntut bisa mengetahui kondisi dan kebutuhan pasien. maka makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimilikinya. suami. .Yunus Bengkulu. termasuk dalam pemberian pendidikan kesehatan. Perawat harus mau mendengarkan semua keluhan pribadi pasien (Widodo. 2002). yang dirawat 2154 pasien. 1998). sosial. Peran perawat sangat penting dalam penanggulangan kecemasan dan berupaya agar pasien tidak merasa cemas melalui asuhan keperawatan komprehensif secara biologis. Pasien yang akan menjalani operasi besar dianjurkan untuk minimal masuk rumah sakit 12 jam sebelum pre operasi dilaksanakan dan operasi kecil 6 jam sebelum dilaksanakan. maka memerlukan keterampilan komunikasi yang baik. 2006). 1999). dengan rincian sembuh 2259 dan 36 pasien meninggal (15%) dilakukan penundaan karena peningkatan kecemasan. 2002 ). Perawat merupakan salah satu tenaga kesehatan yang paling sering berinteraksi dengan pasien. Perawat mempunyai kontak paling lama dalam menangani persoalan pasien. Peran perawat sangat penting untuk memberikan suport atau dukungan dan penyuluhan terhadap penurunan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi ( Kuntjoro. Termasuk salah satunya dalam mengendalikan kebutuhan emosi diri pasien terutama pasien pre operasi dan post operasi. Sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap perubahan-perubahan hidup sehat (Notoatmojo. dan faktor psikologis yang dapat terjadi akibat implusimplus bawah sadar yang masuk kealam sadar seperti tidak didampingi oleh orang tua. psikologis. Makin tinggi pendidikan seseorang. Peran perawat dalam upaya penyembuhan klien menjadi sangat penting. dan spiritual. anak ataupun keluarga yang lain. terutama dalam motivasi untuk berperan serta dalam pembangunan kesehatan. Kecemasan yang terjadi dapat berpengaruh terhadap peningkatan tekanan darah. Yunus Bengkulu. Salah satu cara melakukan hal ini ialah dengan mencurahkan perhatian sampai kepada hal yang sekecil-kecilnya dalam merawat pasien. Tujuan agar persiapan yang dilakukan dapat sebaik mungkin (RSUD M. mempunyai kewajiban membantu pasien mempersiapkan fisik dan mental untuk menghadapi operasi. Pendidikan dapat mempengaruhi seorang termasuk juga prilaku seseorang akan kepatuhannya. pada tahun 2007 terdapat 4449 pasien yang mengalami pembedahan. 2008).Kecemasan pre operasi dapat dipengaruhi dari beberapa faktor antara lain adalah faktor biologis yang terjadi akibat dari reaksi saraf otonom yang berlebihan dengan naiknya system tonus saraf simpatis.

Tujuan Khusus 1. Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan di atas. Dari 5 orang yang mengalami kecemasan berat tersebut mempunyai pendidikan SMA kebawah dan kurang mendapatkan penkes dari perawat. Mengetahui tingkat Kecemasan pasien pre operasi di Ruang Seruni RSUD Dr. Sedangkan rumusan masalah penelitian ini adalah "apakah ada hubungan pendidikan pasien dan peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD M. 2.Sementara dari pengumpulan data awal diruang Seruni RSUD M. Yunus Bengkulu. Yunus Bengkulu. Yunus Bengkulu. 4. Untuk menurunkan tingkat kecemasan pasien tersebut keluarga dan perawat harus lebih banyak memberikan dukungan salah satunya yaitu selalu berada dekat pasien. susah tidur. Mengetahui gambaran tingkat pendidikan pada pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. Yunus Bengkulu.. Rumusan masalah Berdasarkan uraian dalam latar belakang di atas. 5. Yunus Bengkulu". nafas pendek. 2. M. M. sering buang air kecil. Yunus Bengkulu. Manfaat penelitian 1. Yunus Bengkulu didapatkan data 2008 sebanyak 1033 dan data 2009 dari januari sampai tanggal Desember sebanyak 786 orang yang melakukan operasi. M. 2. gemetar sehingga dapat menghambat proses operasi. M. memotivasi pasien untuk memberi keyakinan bahwa operasi dapat berjalan dengan lancar.Yunus Bengkulu. masalah penelitian ini adalah masih tingginya tingkat kecemasan pasien pre operasi di RSUD M. M. Mengetahui hubungan pendidikan dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. Mengetahui gambaran peran perawat di ruang seruni RSUD. Bagi Akademik . Yunus Bengkulu didapatkan data bahwa dari 15 pasien yang akan melakukan operasi 5 orang yang mengalami kecemasan berat dengan ciri-ciri muka merah. M. M. maka penulis tertarik untuk meneliti hubungan pendidikan pasien dan peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. Berdasarkan hasil observasi dengan teknik wawancara selama tiga hari di ruang seruni RSUD M. 3. Yunus Bengkulu. 3. Tujuan penelitian 1. Tujuan umum Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada Hubungan antara pendidikan dan peran perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. Mengetahui hubungan peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. gelisah. Yunus Bengkulu. 4.

Keaslian penelitian Sebagai bahan perbandingan penelitian serupa pernah diteliti oleh : 1. rancangan dan waktu penelitian. Yunus Bengkulu". BAB II TINJAUAN PUSTAKA . kecemasan. Bagi Masyarakat Dapat memperoleh pelayanan yang lebih baik terutama yang mengalami ketakutan.Adapun perbedaan antara karya tulis ini dengan karya tulis tersebut adalah pada variabel. 2. Adapun perbedaan antara karya tulis ini dengan karya tulis di atas adalah pada variabel. Bagi Rumah sakit Hasil penelitaan ini diharapkan dapat memberi masukan bagi para tenaga kesehatan khususnya pada perawat di ruang seruni dan ruangan yang lain. 3. atau depresi dalam menghadapi pembedahan. 3. 2. M. 5. Dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan di bidang kesehatan. Menambah wawasan dan pengetahuan bagi mahasiswa dan masyarakat mengenai tingkat kecemasan pada pasien pre operasi. Rinda Lesti Sentia dengan judul penelitian " Hubungan Tingkat Pendidikan dan Umur Kehamilan dengan Tingkat Kecemasan Ibu Hamil Primigravida di Rumah Bersalin YKWP Desa Kangkung Kabupaten Demak. rancangan dan waktu penelitian. Agri Maha Tirani dengan judul penelitian "Perbedaan tingkat kecemasan sebelum dan sesudah pemberian pendidikan kesehatan pada pasien pre operasi di RSUD. 4. Yunus Bengkulu.Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi literatur bagi perpustakaan. Elika dengan judul penelitian " Hubungan peran perawat dan dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD M. Bagi Peneliti Lain Hasil penelitian ini dapat berguna sebagai masukan atau informasi bagi peneliti lain dalam mengembangkan penelitian dengan variabel-variabel yang lain.

Kecemasan merupakan peringatan yang bersifat subyektif atas adanya bahaya yang tidak dikenali sumbernya. Pengertian Cemas adalah keadaan emosi individu yang berkaitan dengan perasaan yang tak pasti dan tidak berdaya. 2. 1998). Secara klinis gejala kecemasan dibagi dalam beberapa kelompok yaitu gangguan kecemasan. 3. Reaksi pergeseran yang dapat mengakibatkan reaksi fobia. nafas sesak dan dada terasa nyeri (Ayub Sani. Kecemasan adalah suatu keadaan dimana psikologis seseorang berada pada ketakutan dalam menghadapi masalah yang ada pada dirinya. gangguan panik. Kecemasan merupakan komponen utama bagi hampir semua gangguan kejiwaan (psychiatric disorder). ancaman) yang masuk kealam sadar. Sosial Kecemasan yang timbul akibat hubungan interpersonal dimana individu menerima suatu keadan yang menurutnya tidak disukai oleh orang lain yang berusaha memberikan penilaian atas opininya (Sadock dan Kaplan. 2007). gangguan cemas menyeluruh (Generalized anxiety disorder/GAD). kondisi ini dialami secara subyektif (yang hanya dirasakan individu tersebut) dan dikomunikasikan dalam hubungan interpersonal (Stuard and Sundeen. Psikologis Ditinjau dari aspek psikoanalisa. gangguan phobik dan gangguan obsesifkompulsif (Dadang Hawari. Mekanisme pembelaan ego yang tidak sepenuhnya berhasil juga dapat menimbulkan kecemasan yang mengambang. Faktor-faktor Penyebab Kecemasan 1. Faktor Biologis Kecemasan terjadi akibat dari reaksi saraf otonomi yang berlebihan dengan naiknya sistem tonus saraf simpatis.1. . Keadaan emosi ini tidak memiliki subyek yang spesifik. Konsep Kecemasan 1. Kecemasan adalah Suatu kondisi yang menyangkut terminologi kesehatan jiwa dengan suatu kondisi was-was. 2. kecemasan dapat muncul akibat implus-implus bawah sadar (misalnya : sex. 1998). 2006). 2005) Jadi. perut terasa kosong. Kecemasan adalah suatu keadaan yang menggoncangkan karena adanya ancaman terhadap kesehatan (Siti Sundari.

Tingkat pendidikan Status pendidikan yang rendah pada seseorang akan menyebabkan orang tersebut mudah mengalami kecemasan. penyakit. Sosial budaya Individu yang tidak bersosialisasi dengan masyarakat lebih mudah mengalami kecemasan. Kecemasan bisa terjadi pada individu yang tingkat pendidikannya rendah disebabkan karena kurangnya informasi yang didapat individu tersebut. Lingkungan Lingkungan sangat berpengaruh pada kecemasan seseorang. dibandingkan dengan orang yang memiliki pendapatan tinggi. 7. Selain itu faktor yang mempengaruhi tingkat kecemasan menurut Soewandi (1998) antara lain : 1. Keadaan fisik Seseorang yang mengalami gangguan fisik seperti cacat badan. Umur . Potensi stressor Suatu keadaan yang menyebabkan perubahan dalam individu. lebih mudah mengalami kecemasan. operasi. 4. sakit. begitu juga sebaliknya jika lingkungannya kondusif mempercepat penyembuhan seseorang. dimana lingkungan yang tidak kondusif berpotensial besar terhadap kecemasan yang dialami seseorang. 5. 6. sehingga individu harus melakukan penyesuaian diri (adaptasi). lesu) lebih mudah megalami kecemasan. 2. 3. Ekonomi Seseorang yang memiliki pendapatan rendah lebih mudah mengalami kecemasan. Disamping itu kelelahan fisik (lemah. letih.3.

2. . Ansietas dapat memotivasi belajar dan menghasilkan pertumbuhan. mudah terkejut. takut akan fikirannya sendiri. gangguan perkemihan. gangguan pencernaan. biasanya kecemasan sering dialami oleh usia muda. Seseorang cenderung untuk memusatkan pada sesuatu yang terinci dan spesifik dan tidak berfikir tentang hal lain. 2. berdebar-debar. 5. energi menurun. Ansietas Ringan (Tingkat I) 1. Merasa tegang. gangguan muskulo skeletal. gangguan kulit. 8. menyebutkan gejala klinis dari cemas antara lain : Cemas. mengetuk jari-jari. 4. Gejala – gejala Kecemasan Keadaan cemas mempunyai gejala-gejala somatik atau fisik dan gejala psikologis atau mental. hiperaktifitas. mimpi yang menegangkan Gangguan konsentrasi dan daya ingat Keluhan somatik misalnya rasa sakit pada otot tulang. gelisah. Berhubungan dengan ketegangan yang dialami dalam kehidupan sehari. hiperventilasi. sakit kepala dan lain sebagainya. sehingga seseorang mengalami perhatian yang selektif namun dapat melakukan sesuatu yang lebih terarah. 6.Umur ikut menentukan kecemasan. Ansietas Berat (Tingkat III) Sangat mengurangi lahan persepsi seseorang. pendengaran berdenging (tinnitus). nyeri pada gastro intestinal.hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada dan meningkatkan lahan persepsinya. gagap. khawatir. 4. sering buang air besar atau kecil. Jenis kelamin Kecemasan lebih banyak dialami wanita. nadi cepat. takut pada keramaian. mudah tersinggung. 5. mulut kering. muntah-muntah. berhenti berbicara dan terjadi perubahan suara. Reaksi fisik terhadap kecemasan pada masingmasing individu berbeda (Setyonegoro. sulit tidur. Semua perilaku ditujukan untuk mengurangi ketegangan. 1994). kebingungan. firasat buruk. Menurut Dadang Hawari (2006). Gangguan pola tidur. Ansietas Sedang (Tingkat II) Memungkinkan seseorang untuk memusatkan pada hal yang penting dan mengesampingkan yang lain. sesak nafas. dibandingkan dengan pria. dan banyak orang. 3. Gejala-gejala tersebut antara lain: Iritabilitas. Takut sendiri. Orang tersebut banyak pengarahan untuk dapat memusatkan pada suatu area lain. 3. berkeringat. tidak tenang. Tingkat kecemasan 1.

Panik melibatkan disorganisasi kepribadian. persepsi yang menyimpang dan kehilangan pemikiran yang rasional tingkat ansietas ini tidak sejalan dengan kehidupan dan jika berlangsung terus dalam waktu yang lama dapat terjadi kelelahan yang sangat bahkan kematian (Hudak dan Gallo. Teknik Mengatasi ansietas Teknik kognitif dapat membantu pasien ansietas dan tidak tergantung pada wawasan atau pemahaman yang kompleks dari kondisi psikologi diri sendiri. . Ansietas terhadap integritas seorang meliputi ketidakmampuan fisiologis yang akan datang atau menurunnya kapasitas untuk melakukan aktivitas sehari-hari. ketakutan dan terror-terror. Stressor Pencetus Stressor pencetus berasal dari sumber internal atau eksternal. 1997). 3. Percaya diri 2. 6. Hal ini menurunkan rasa ketidak berdayaan dan ansietas mereka. Tingkat Panik Berhubungan dengan terperangah. Perasaan pengendalian 3. Perincian terpecah dari proporsinya karena mengalami kehilangan kendali. menurunnya kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain. Khayalan Mental dan Relaksasi Mendorong pasien untuk mengkhayalkan tempat yang indah atau menjadi bagian dari pengalaman yang menyenangkan sehingga dapat membantu pasien menurunkan ketegangan (Abraham dkk. 1997). 7.4. Ansietas terhadap sistem diri seseorang dapat membahayakan identitas. 2. 1997). yaitu: 1. Sterssor dapat di kelompokkan dalam dua kategori. Dialog Eksternal Dengan dialog eksternal kebutuhan pasien untuk berbicara cara akurat tentang dirinya dengan orang lain. dengan panik terjadi peningkatan aktivitas motorik. Orang yang mengalami panik tidak mampu melakukan sesuatu walaupun dengan pengarahan. Harapan 2. Optimisme 5. harga diri dan fungsi sosial (Brunner dan suddarth. Kemampuan untuk mengatasi 4. Dialog Internal Membantu pasien mengembangkan pesan dialog sendiri yang meningkatkan : 1. 1.

9. Pembedahan Minor (pembedahan resiko kecil ) 4. merokok dan minum-minum (Brunner dan Suddarth. Takut terhadap anestesi. 1997). 10.8. tertawa. Pembedahan Mayor (pembedahan resiko tinggi ) 2. 2006). Tujuan Prosedur pembedahan Sebagai salah satu bentuk pengobatan dan penatalaksanaan berbagai macam penyakit untuk mempercepat proses penyembuhan (Perry Potter. Pengertian Pasien Pre operasi dapat mengalami berbagai ketakutan. Jenis-jenis operasi Menurut derajat kepentingan Perry dan potter (2006). 3. di kelompokkan menjadi dua bagian yaitu : 1. Kecemasan pada pasien pre operasi . Lingkup kegiatan perawatan pre operasi termasuk dalam menetapkan batas pengkajian klien setting secara klinis atau dalam ruangan. Alat ukur kecemasan untuk mengetahui sejauh mana derajat kecemasan apakah ringan atau berat dengan menggunakan alat ukur (instrument) yang dikenal denga nama Hamilton Rating Scale or Anxiaty (HRS-A) dengan skor ringan jika ≤ 28 dan berat jika ≥ 28. 1997). takut tentang deformitas dan ancaman lain terhadap citra tubuh dapat menyebabkan ketidaktenangan atau ansietas (Brunner dan Suddarth. Tipe .tipe tingkah laku seperti mennangis. menyiapkan klien untuk diberikan anestesi dan pembedahan bagaimanapun kegiatan perawatan dibatasi oleh pengkajian pre operasi dalam ruangan atau selama operasi. Pre Operasi 1. Dimana mekanisme koping setiap orang berbeda-beda. Perawatan pre operasi merupakan bagian dari perawat perioperatif yang di mulai dari kapan di putuskan tindakan operasi dibuat dan diakhiri dengan pemindahan klien ke meja ruang operasi. 2. Mekanisme Koping Mekanisme koping adalah suatu bentuk pertahanan yang di gunakan oleh seseorang yang sedang berada pada suatu bentuk kecemasan untuk menghindar atau mengurangi respon yang ditimbulkan oleh kecemasan tersebut. tidur. melakukan kegiatan fisik. takut tentang ketidaktahuan. interview preoperatif. takut terhadap nyeri atau kematian.

bangsa dan negara.Kecemasan pada pasien pre operasi adalah kecemasan yang di akibatkan sterssor tindakan operasi. obat-obatan dan perawatan tindakan. Pendidikan merupakan usaha agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses . Pengertian Pendidikan adalah suatu usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. Sebagai contoh. Penyuluhan tersebut harus melebihi deskripsi tentang berbagai langkah prosedur dan harus mencakup tentang sensasi yang akan di alami. perawatan menjelang operasi yang dianggap sebagai hal baru. kurangnya dukungan keluarga terhadap pasien pre operasi. Perasaan gelisah dan takut kadang-kadang tidak tampak jelas. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. kecerdasan akhlak mulia. tapi kadang-kadang dapat terlihat dalam bentuk lain. (Diknas. Pendidikan 1. Mengetahui apa yang di perkirakan akan membantu pasien mengantisipasi reaksi-reaksi tersebut dan dengan demikian mencapai tingkat relaksasi yang lebih tinggi daripada yang di perkirakan sebaliknya (Brunner dan suddarth. 1997). 11. 1994). 1997). Persiapan psikologis pasien pre operasi Pasien yang akan di operasi biasanya akan mengalami kegelisahan dan rasa takut. Pengkajian psikologi pada pasien atau keluarga harus di lakukan supaya hal tersebut tidak menghambat rencana operasi. 2003). Salah satu caranya yaitu dengan penyuluhan pada keluarga maupun pasien supaya mereka mengerti apa yang akan terjadi. 5. Pasien biasanya tidak mau bicara dan memperhatikan keadaan sekitarnya. pengendalian diri. Khawatir meninggal di meja operasi dan meninggalkan anakanak ditinggalkan seandainya ia meninggal saat atau setelah operasi. masyarakat. kepribadian. Manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya. Pasien yang gelisah dan takut biasanya sering bertanya berulang-ulang walaupun pertanyaan tersebut telah dijawab. memberitahu pasien hanya medikasi pre operasi yang akan membuatnya rileks sebelum operasi tidaklah selektif bila menyebutkan juga bahwa medikasi tersebut dapat mengakibatkan kepala terasa melayang dan mengantuk. tetapi berusaha mengalihkan perhatiannya kepada buku atau sebaliknya ia bergerak terus-menerus dan tidak mau tidur (Kaplan. stressor tersebut merupakan faktor timbulnya kecemasan yang mengakibatkan terancamnya integritas seseorang meliputi ketidakmampuan fisiologis atau menurunkan kapasitas untuk melakukan hidup sehari-hari (Brunner dan suddarth.

akan tetapi juga bagi tujuan terakhir pembangunan seperti kualitas keluarga dan kehidupan masyarakat. Pendidikan Tinggi: satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi yang dapat berbentuk akademik. politeknik. Menurut Ahmadi. dan ayat (3) menegaskan bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan Undang-Undang. Untuk itu. Diknas (2003). sekolah tinggi dan universitas yang termasuk perguruan tinggi D1. 5. UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia menyelenggarakan Tahun 1945 Pasal 31 ayat (1) menyebutkan bahwa setiap warga Negara berhak mendapat pendidikan. dan tinggi. tapi tidak terlalu ketat mengikuti peraturan-peraturan yang tepat. 1. dan kemampuan yang dikembangkan menjadi: 2. . dengan sadar dilakukan. seluruh komponen bangsa wajib mencerdaskan kehidupan bangsa yang merupakan salah satu tujuan negara indonesia. menyatakan bahwa jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik. menyatakan pendidikan non-formal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. menengah. D4. serta memperkuat kemasyarakatan. tujuan yang akan dicapai. 2. D3. Pendidikan formal : Pendidikan formal merupakan usaha-usaha dalam pendidikan dasar dapat memberikan sumbangan dalam jangka panjang. (1997) janis pendidikan terbagi atas 3 yaitu : 1. Pendidikan Dasar : warga Negara yang berumur 6 atau 7 tahun berkewajiban mengikuti pendidikan dasar atau sederajat selama 9 tahun yaitu SD dan SLTP. D2. Sedangkan menurut Diknas (2003). 3. pendidikan formal yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar. 4. Karena pendidikan non-formal pada umumnya dilaksanakan tidak dalam lingkungan fisik sekolah maka sasaran pokok adalah anggota-anggota masyarakat. Pendidikan Menengah : pendidikan menengah yang lamanya 3 tahun sesudah pendidikan dasar. Pendidikan Non-Formal : Pendidikan non-Formal adalah pendidikan yang dilakukan secara teratur. S1.pembelajaran atau cara lain yang dikenal dan diakui oleh masyarakat. diselenggarakan di SLTA atau sederajat. bukan saja bagi produktivitas. Jenjang Pendidikan Menurut Diknas (2003). dan S2. seperti pada pendidikan formal di sekolah.

Peran dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari dalam maupun dari luar dan bersifat stabil. Sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap perubahan-perubahan hidup sehat (Notoatmojo. Berdasarkan penelitian yang lakukan di Kabupaten Demak menghasilkan informasi bahwa pendidikan masyarakat disana masih relatif rendah. 12. menyatakan bahwa pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan. Peran adalah bentuk dari perilaku yang diharapkan dari seesorang pada situasisosial tertentu. . 13. (2009). Pada pasien yang pendidikannya hanya sebatas pendidikan dasar atau tidak pernah sekolah sangat susah dalam pemberian informasi. Pendidikan informal : Pendidikan informal yakni pendidikan yang diperoleh seorang berdasarkan pengalaman dalam hidup sehari-hari dengan sadar atau tidak sadar. Hubungan pendidikan dengan kecemasan Pendidikan merupakan salah satu faktor sosial dari kecemasan pada pasien pre operasi. P < 0. Setiap perawat yang menjelaskan pengetahuan tentang kesehatan pasien tidak mengerti. (Kozier Barbara. masyarakat atau dalam lingkungan pekerjaan sehari-hari.05 menunjukkan bahwa hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara pendidikan pasien dengan tingkat kecemasan. maka makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pngetahuan yang dimilikinya. di dalam lingkungan keluarga. 1995:21). terutama dalam motivasi untuk berperan serta dalam pembangunan kesehatan. sehingga tenaga kesehatan disana perlu melakukan konseling kepada ibu hamil primigravida sebagai upaya mengantisipasi terjadinya komplikasi dan kecemasan. Pendidikan dapat mempengaruhi seorang termasuk juga prilaku seseorang akan kepatuhannya. sejak seorang lahir sampai akhir hidupnya. Definisi Peran adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap seseorang sesuai kedudukannya dalam suatu system. Makin tinggi pendidikan seseorang. Peran Perawat 1. 2002).3. Hasil penelitian Lesti. Diknas (2003).

Peran Peneliti Peran peneliti dari perawat pada mulanya dianggap hanya dilakukan oleh para akademikus. 2001) meliputi : (a) Pelaksana pelayanan keperawatan. dan tersier dan dalam keperawatan kesehatan rumah dan komunitas. partisipasi dalam proses penelitian dianggap sebagai tanggung jawab dari perawat dalam praktik klinis. Peran Pelaksana Peran pelaksana dari perawat mencakup tindakan-tindakan yang dilakukan oleh perawat ketiaka ia mengemban tanggung jawab yang ditujakan untuk memenuhi kebutuhan perawatan kesehatan dan kebutuhan keperawatan pasien secara individu. yang merupakan dasar untuk semua praktik keperawatan. Peran ini dirancang untuk memenuhi perawatan kesehatan saat ini dan kebutuhan keperawatan dari konsumen yang merupakan penerima pelayanan keperawatan. (b)Pengelola pelayanan keperawatan dan institusi Pendidikan. Kajian dibutuhkan untuk menentukan keefektifan intervensi dan asuhan keperawatan. perawat ilmuwan dan mahasiswa keperawatan di tingkat sarjana. peran-peran ini saling berhubungan satu dengan yang lain dan dapat ditemui pada semua posisi keperawatan.Definisi kepemimpinan keperawatan yang dirumuskan oleh memberi cakupan yang luas pada konsep tersebut dan mengidentifikasi kepemimpinan sebagai peran yang melekat didalam semua posisi keperawatan. (d)Peneliti dan pengembang keperawatan Perawat profesional baik dalam lingkungan perawatan kesehatan institusional maupun komunitas mengemban tiga peran : peran pelaksana. Peran ini merupakan peran yang dominan dari perawat dalam lingkungan pelayanan kesehatan primer. Peran kepemimpinan dari perawat mencakup tindakan-tindakan yang dilaksanakan oleh perawat saat ini ia mengemban tanggung jawab untuk mempengaruhi tindakan orang lain yang ditujukan untuk menentukan dan mencapai tujuan. Peran ini merupakan peran yang hanya dapat dicapai melalui proses keperawatan. Meski tiap peran memiliki tanggung jawab khusus. sekunder. 4. 3.Peran Perawat (Ali Zaidin. (c) Pendidik dalam keperawatan. Melalui upaya penelitian . keluarga mereka dan orang terdekat pasien. Peran Kepemimpinan Peran Kepemimpinan dari perawat yang secara tradisional dikerap sebagai peran spesialisasi yang diembankannya oleh perawat yang mempunyai gelar yang menunjukkan kepemimpinan dan mereka yang memimpin sekelompok besar perawat atau profesional perawatan kesehatan yang berhubungan. peran kepemimpinan dan peran peneliti. Tugas utama dari penelitian keperawatan adalah untuk memberikan konstribusi pada dasar ilmiah praktik keperawatan. 2. Kini.

Sebagai pemberi asuhan keperawatan Peran ini dapat dilakukan perawat dengan memperhatikan keadaan kebutuhan dasar manusia yang dibutuhkan melalui pemberian pelayanan keperawatan. perawat. Sebagai koordinator Peran ini dilaksanakan dengan mengarahkan. merencanakan serta mengorganisasi pelayanan kesehatan dari tim kesehatan sehingga pemberi pelayanan kesehatan dapat terarah serta sesuai dengan kebutuhan klien. ilmu keperawatan akan berkembang dan rasional yang didasarkan secara ilmiah untuk membuat perubahan dalam praktik keperawatan akan tercipta (Brunner dan Suddarth. dan lain-lain) Menurut konsorsium ilmu kesehatan (1989) dalam Ali Haidin (2001) peran perawat terdiri dari : 7. 8. 9. hak atas privasi. Sebagai advokat klien Peran ini dilakukan perawat dalam membantu klien dan keluaga dalam menginterpretasikan berbagai informasi dari pemberi pelayanan khususnya dalam pengambilan persetujuan atas tindakan keperawatan. Pemberian asuhan keperawatan ini dilakukan dari yang sederhana sampai dengan kompleks. 11. hak atas informasi tentang penyakitnya. Menurut Johnson dan Martin.semacam ini. Expressive/mother substitute role. Perawat juga berperan dalam mempertahankan dan melindungi hak-hak pasien meliputi hak atas pelayanan sebaik-baiknya. 10. yaitu kegiatan yang bersifat langsung dalam menciptakan lingkungan dimana pasien merasa aman. Peran Perawat menurut Para Sosiolog 5. peran ini bertujuan untuk menghilangkan ketegangan dalam kelompok pelayanan (dokter. gejala penyakit bahkan tindakan yang diberikan sehingga terjadi perubahan perilaku dari klien setelah dilakukan pendidikan kesehatan. Peran terapeutik : kegiatan yang ditujukan langsung pada pencegahan dan pengobatan penyakit. Sebagai kolaborator . 2001). 6. hak menerima ganti rugi akibat kelalaian. dirawat dan didukung oleh perawat. pasien. hak untuk menentukan nasibnya sendiri. diterima dilindungi. Sebagai edukator Peran ini dilakukan dengan membantu klien dalam meningkatkan tingkat pengetahuan kesehatan.

fisioterapi. (1) Melaksanakan instruksi dokter (fungsi dependen). menyusun. (3) Memantau pasien. Sebagai pembaharu Perawat mengadakan perencanaan. (4) Supervisi semua pihak yang ikut terlibat dalam perawatan pasien. (2002) yaitu. ahli gizi dan lain-lain dengan berupaya mengidentifikasi pelayanan keperawatan yang diperlukan. kerjasama. Secara unum perawat mempunyai peran terapeutik yaitu kegiatan yang ditujukan langsung pada pencegahan dan pengobatan penyakit. 14. Begitu pula dengan Pembedahan. sehingga kekambuhan sering terjadi dan bahkan bertambah parah. kerjasama. perubahan yang sistematis dan terarah sesuai dengan metode pemberian pelayanan keperawatan 13. perubahan yang sistematis dan terarah sesuai dengan metode pemberian pelayanan keperawatan. (2) Observasi gejala dan respons pasien yang berhubungan dengan penyakit dan penyebabnya. (7) Memberikan pengarahan dan penyuluhan untuk meningkatkan kesehatan fisik dan mental. Seseorang tersebut ialah perawat yang mempunyai banyak peran untuk melaksanakan praktek keperawatan. Tujuh Fungsi Perawat Kozier Barbara. Hubungan peran perawat dengan kecemasan Orang yang sakit sangat memerlukan seseorang yang bisa mengobati penyakitnya tersebut dan orang sehat memerlukan seseorang yang bisa mengarahkan agar bisa mencegah dan terhindar dari berbagai penyakit. 15. Karena masih kurangnya pengetahuan pasien tentang penyakit yang dideritanya.Peran ini dilakukan karena perawat bekerja melalui tim kesehatan yang terdiri dari dokter. (5) Mencatat dan melaporkan keadaan pasien. Sebagai konsultan Perawat berperan sebagai tempat konsultasi dengan mengadakan perencanaan. Fungsi Perawat Fungsi adalah pekerjaan yang harus dilaksanakan sesuai dengan perannya. 12. dan memperbaiki rencana keperawatan secara terus menerus berdasarkan pada kondisi dan kemampuan pasien. (6) Melaksanakan prosedur dan teknik keperawatan. .

Soerharto tahun 2008. 2010). BAB III METODE PENELITIAN 1. Bagan 3. terdapat 37. Hipotesa peneliti 1. dimana variabel independen dan variabel dependen di kumpulkan pada saat bersamaan (Notoadmodjo. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Makmur et.1 Desain Penelitian . Ada hubungan antara pendidikan pasien dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. R. sumber koping klien serta asuhan keperawatan yang terbaik (Perry Potter.M.M. konsep diri.Yunus Bengkulu Tahun 2010. 2006).Yunus Bengkulu Tahun 2010. 16. Perawat harus dapat mengkaji perasaan klien tentang pembedahan. Ada hubungan antara peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. Desain penelitian Desain penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional.05 yang mengalami kecemasan ringan sehingga dapat disimpulkan ada hubungan peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi.Proses pembedahan sering menimbulkan stress psikologi yang tinggi. Dan hasil penelitian yang dilakukan Elika tahun 2009. Klien merasa kurang dapat mengontrol situasi mereka sendiri untuk memahami dampak pembedahan pada kesehatan emosional klien tersebut. Klien merasa cemas tentang pembedahan.5% yang mengalami kecemasan ringan. citra diri. al (2007) dan penelitian rumah Sakit Ortopedi Prof Dr. 2. dengan nilai p < 0.

< 28 0=Rendah ≤ SMA Pendidikan (Independen) Pendidikan Formal yang ditempuh pasien Kuisioner Dengan cara mengisi (1 pertanyaan kuisioner ) 1= Tinggi >SMA 0= kurang Dengan cara baik jika skor ≤ 75% mengisi kuisioner Ordinal ≥ 28 Ordinal Skala Ukur Peran Perawat (Independent) Tindakan yang dilakukan oleh perawat dalam proses penyembuhan. Tingkat kecemasan (Dependen) Suatu kondisi yang menyangkut kekhawatiran seseorang pada masalah yang terjadi.2 Variabel Penelitian C.B. maka Variabel Penelitian dapat digambarkan sebagai berikut : Variabel Variabel Dependen Independen Bagan 3. Definisi Operasional Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Cara ukur Hasil Ukur 0=Cemas Berat jika. Kuisioner Wawancara (14 komponen pertanyaan HRS-A) dan observasi 1= Tidak Berat jika. Variabel Penelitian Sesuai dengan desain penelitian di atas. Kuisioner (15 pertanyaan) Ordinal .

0. 2. Dalam penelitian ini teknik yang digunakan adalah teknik Simple Random sampling n = Z²1-α/2. 0. Populasi dalam penelitian ini adalah kelompok pasien pre operasi yang ingin menjalankan operasi di ruang Seruni dari bulan januari sampai bulan desember tahun 2010.786 orang.175.175.5% .825 = 55 responden (Aziz Alimul. jika skor ≥ 75% 1. (Noto atmojo. 0. Sampel Sampel adalah objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi ( Notoatmojo. 0.96) P = Proporsi suatu kasus yaitu proporsi kecemasan 0.825 =3.P(1-P) = (1. berdasarkan data jumlah pasien pada tahun 2009 adalah 1. Populasi dan Sampel 1. 2008) Keterangan : n = Sampel Z(1-α/2) = Nilai Z pada derajat kemaknaan (α 5%=1.175 =17. 2010). Populasi Populasi adalah Keseluruhan dari objek penelitian yang di teliti.1= baik. 2010).96)².84.

sering (SR). E. M. Sedangkan data Sekunder adalah data yang didapatkan secara tidak langsung dari responden. dengan penilaian tidak berat jika skor < 28 dan berat jika skor ≥ 28. Data primer yaitu data yang didapat langsung dari responden yaitu pasien dalam perawatan pre operasi di Ruang Seruni RSUD M. Tempat Penelitian Penelitian dilakukan di Ruang Seruni RSUD. pekerjaan. tidak pernah (TP). Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan Desember sampai dengan februari 2010.D = Derajat akurasi (presisi) yang diinginkan 0.Yunus Bengkulu pada bulan Desember 2010 2. Pengolahan Dan Analisa Data 1.1. umur. Pengumpulan. yaitu : 1. yang nantinya akan diisi oleh responden dan dibantu oleh satu orang perawat yang bertugas di ruang Seruni RSUD M. F. tetapi didapat dengan metode pencarian data rumah sakit dalam bentuk Rekam Medik misalnya: nama. Pengumpulan data Data dalam penelitian ini berupa data primer dan sekunder. Pengolahan Data Data yang telah diperoleh atau terkumpul diolah dan dianalisis dengan program komputer melalui beberapa tahapan. jarang (JR). Jumlah sampel yang didapat adalah 55 responden. tanggal masuk rumah sakit. Tempat dan Waktu Penelitian 1. D. Editing . jumlah pasien yang melakukan operasi. kadang (KD). tanggal keluar rumah sakit dan lain-lain. untuk mengukur tingkat kecemasan. Yunus Bengkulu dengan cara wawancara dan observasi dengan skala HARS. alamat. Yunus Bengkulu yang sudah diberi penjelasan tentang pengisian kuisoner. kuisioner pendidikan dan kuisioner peran perawat dengan skala selalu (SL).

yaitu : Keterangan : P F = Persentase yang ingin dicapai = Jawaban dalam setiap kategori N = Jumlah seluruh responden .Editing data adalah meneliti kembali apakah isian pada kuisioner yang dilakukan responden sudah cukup dan benar sesuai dengan petunjuk yang ada. Selanjutnya dilakukan transformasi data untuk menggambarkan variabel bebas dan variabel terikat. Editing dilakukan langsung pada saat responden mengembalikan kuesioner yang sudah diisi dengan harapan apabila ada kekurangan data atau kesalahan dalam pengisian dapat segera diperbaiki. Kemudian dilakukan scoring terhadap pertanyaan yang berhubungan dengan masing-masing variabel dan diteruskan dengan pengujian kebenaran data dengan menggunakan uji Chi-Square dengan signifikan α = 5 %.. G. Rumus yang digunakan. Cleaning (Pembersihan Data) Sebelum melakukan analisa data dengan dilakukan pengecekan kembali terhadap data yang sudah masuk apakah data yang dimasukkan sudah benar dan tidak ada lagi kesalahan. Analisa Univariat Untuk melihat gambaran distribusi frekuensi dari masing-masing variabel penelitian baik independent maupun dependent. . Coding (Pengkodean) Jawaban-jawaban atau hasil yang ada kemudian di klasifikasikan dalam bentuk yang lebih ringkas dengan menggunakan kode-kode. Entry Data (Pemasukan Data) Data yang telah ada dicoding dan hasil scoring kemudian diolah kedalam komputer dengan menggunakan program SPSS For Window. 1. Analisa Data 1. 3. 2.

google. Manajemen Administrasi Rumah sakit. Z. Definisi Pendidikan.eprints.05 (Budiarto. http://etd. . Untuk melihat hubungan antara dua variabel kategorik maka digunakan Uji X² (Chi-Square) Ha diterima jika nilai p ≤ 0. Volume 1. Universitas Indonesia: Jakarta Ahmadi.A. Analisa Bivariat Analisa bivariat adalah analisa yang digunakan untuk melihat hubungan antara variabel bebas (pendidikan pasien dan peran perawat) dengan variabel terikat (kecemasan pada pasien pre operasi). (2003). 2001) DAFTAR PUSTAKA Aditama. (Diakses tanggal 26 oktober 2010) Ali.05 Ha ditolak jika nilai p > 0.2001. (1997). EGC: Jakarta Carbonel (2002). Salemba Medika: Jakarta Brunner. Edisi 8.Sudarth Keperawatan Medikal Bedah.ums. Widya Medika: Jakarta Alimul A. http://www.id.(Budiarto. 2001) 2. Dasar-dasar Keperawatan Profesional. (2008).Y.com. Metode Penelitian keperawatan dan Teknik Analisa Data. (1997).ac.

http://etd. Medical Record. (2002).ac. Yunus Bengkulu. EGC : Jakarta .ac. PT Rineka Cipta: Jakarta Nursalam (2003). (2007). Laporan Tahunan RSUD. Penerbit Gaya Baru: Jakarta Ibrahim (2006). Salemba Medika: Jakarta Oswari E.eprints.id. Fundamental Keperawatan. EGC : Jakarta Patricia.ums. Bengkulu Notoatmodjo S.ums.eprints.id. (2006). Metodologi Penelitian Kesehatan.Hawari D. Manajemen Stress Cemas dan Depresi. Konsep & Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Edisi 4: Jakarta Makmur. M. (2009).Volume 2.Potter dkk. Bedah Dan Perawatannya. (2005). Dr. http://etd. dkk. (2006). Praktek Keperawatan Profesional : Konsep dan Perspektif. Kozier. (2010).

. http://etd. Graha Ilmu: Yogyakarta Sundari S.. PT.ac. Was-was dan Khawatir (Ansietas). o ▼ Mei (12)  Gejala Anemia Pada Ibu Hamil  EKSTRAKSI VAKUM .ums. semua zat yang di..id. CV Ref Grafika: Jakarta Setiadi (2007). Konsep dan Penulisan Riset Keperawatan. EGC : Jakarta Sani A.Rineka Cipta: Jakarta Widodo. Takut mati Cemas. Kesehatan Mental Dalam Kehidupan. (1999). (2007).Sabiston (1995). Buku Ajar Bedah.Volume I.eprints. (2005). Diposkan oleh FERYN di 09:38 0 komentar: Poskan Komentar Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda Langgan: Poskan Komentar (Atom) Blog Archive  ▼ 2011 (26) o ► Desember (1)  PENDAHULUAN Pada masa kehamilan.

. o ► Januari (1)  10 Cara Memperbaiki Windows XP Yang Tidak Bisa Boo.  Start Menu Windows XP Bergaya Windows VistaHello t... HUBUNGAN PENDIDIKAN DAN PERAN PERAWAT DENGAN TINGK...o Kumpulan Askep MAKALAHASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny...  Googling Dengan Google HacksHello there! If you ar...renderWidget('54bcd528-3d.  Free Download Game : Worms 3D  free download Adobe Fireworks CS3 Portable  trik dan cara mempercepat koneksi modem semua mode.......... S DENG. Proposal KTI Keperawatan ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN HIV-AIDS ► April (13)  ASKEP ATRIUM SEPTAL DEFEK (ASD)  DFX on AIMP  BASALIOMA NASOLABIAL SINISTRA  ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN HIV-AIDS  Cara Mengatasi Browser Mozilla Firefox Yang Hang S. Arbosi HIV/AIDS Ultasonik Yuk Pasang Sendiri Per dan Kampas Kopling Racing !..  Tips Membuat Hotspot Menggunakan Laptop Di Windows.  Tips Adsense Tips -Tips Dalam Memasang Ikl...N Dengan FRAKTU...  CARA POSTING BLOGSPOT DENGAN MENGGUNAKAN MICROSOFT.  Membuat Daftar File dan FolderHello there! If you ..  Melewatkan Serial Number Pada MS Office 2000Hello .  Tips mempercepat koneksi dial-up modem Koneksi in.  Cara memrubah prosesor            ► 2010 (2) o ► Maret (1)  Download Game Gratis hide Google Search Result.... MAKALAH SEMINAR“ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN.  Total Tayangan Laman 4783 ....... ► 2009 (6) o ► Desember (6)  if (WIDGETBOX) WIDGETBOX..  Membongkar Password Office 2000Hello there! If you...

Blogroll Kura kura Template by : kendhin x-template.com Minggu. 13 Juni 2010 KARYA TULIS ILMIAH HUBUNGAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT DENGAN TINGKAT KECEMASAN PADA PASIEN PRE OPERASI SEKSIO CAESAR DIRUANG KEBIDANAN RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH PALEMBANG TAHUN 2010 Sebagai Salah Satu Syarat Dalam Menyelesaikan Program Pendidikan Diploma III Keperawatan Oleh : AGUSTUS 02 07 832 PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEPERAWATAN .blogspot.

M. 16 Agustus 1989 Agama : Islam Status dalam keluarga : Anak ke 11 Dari 12 saudara . S. S.832 Telah di pertahankan didepan dewan penguji karya tulis ilmiah pada Tanggal 01 Februari 2010 dan dinyatakan telah memenuhi syarat untuk diterima SUSUNAN DEWAN PENGUJI Pembimbing Penguji I Penguji II Suzanna.Kep.SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH PALEMBANG TAHUN AKADEMIK 2009/2010 HUBUNGAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT DENGAN TINGKAT KECEMASAN PADA PASIEN PRE OPERASI SEKSIO CAESAR DIRUANG KEBIDANAN RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH PELEMBANG TAHUN 2010 Nama : Agustus Nim : 02. Santi Mismeriyanti BIOGRAFI Nama : Agustus Jenis kelamin : Laki-laki Tempat tanggal lahir : Betung. M. Ns Adi Santosa.07. Prodi D III Keperawatan Trilia WM.Kep. SPd. SMIP. Ns H. Kes Ketua STIKES Muhammadiyah Palembang dr.Kes Program Studi D III Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiayah Palembang Ka. Lailani Badrun SPd.

DIII Keperawatan (STIKes) Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Palembang.2004 3. Betung Kab. • Sahabat terbaik ku yang tidak bisa diucapkan satu persatu • Teman2 PKLku Khusunya kelompok II • Almamater yang tercinta. dan adikku yang tercinta Kusmiati. SD : SD 06 NEGERI I Betung Tahun 1995 .2001 2. Kec. Alm) dan Ibuda yang ku cinta yang telah berjasa dan selalu mendo’akan keberhasilanku setiap saat.2008 • Tingkat II tahun : 2008 . SMA : SMA PGRI I Betung Tahun 2004 – 2007 4. K’ Dedi Yuk Anita. • Tingkat I tahun : 2007 . Banyuasin Riwayat Pendidikan : 1.2010 MOTTO DAN PERSEMBAHAN Motto : ”Ingatlah MATI seakan-akan kau mati besok. • Buat saudaraku ayuk Tuti.2009 • Tingkat III tahun : 2009 . Rimbah Asam. Skep. .Alamat : Jalan Palembang – Jambi Lk II Rt 031 Rw 08 No 24 Betung Kel. dan ingatlah duniamu seakan-akan kau hidup 1000 tahun” Kupersembahkan : • Ayahanda (Lahmad. • Suzanna. SMP : SMP PGRI I Betung Tahun 2001 . ayuk Sumi K’ Sudarsono K’ Amran K’ Rudi. Ns sebagai pembimbing ku yang telah membantu dalam penyusunan KTI ku • Buat K’ Ali Hafis yang telah banyak memberi motivasi.

Kes. Para dosen dan staf Program Studi DIII Keperawatan STIKes Muhammadiyah Palembang. Yudi Fadila. Bapak Adi Santosa. Bapak dr. Bapak H.KATA PENGANTAR Syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadiran allah SWT. Penyusunan karya tulis ilmiah ini tidak akan terlaksana dengan baik tampa bantuan. 9. Sehingga karya tulis ilmiah ini dapat penulis selesaikan.Kep Ns. 7. atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah (KTI) ini dengan judul ”Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Diruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Pelembang Tahun 2010” Dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini penulis menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan dikarnakan keterbatasan ilmu pengetahuan. 5. Ibu dr. Selaku penguji I yang memberikan kritik dan saran dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini. Semoga Allah SWT membalas selalu melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya atas bantuan yang telah diberikan kepada penulis dalam penulisan karya tulis ilmiah ini. 2. pengalaman serta khilafan yang penulis miliki. M. 6. Ibu Suzanna S. amin. Untuk itulah pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih yang tak terhingga kepada : 1. Dan semua pihak yang telah memberikan bantuan.Kep. SPd. selaku Direktur Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang yang telah memberi kemudaan dalam pengurusan administrasi penelitian. Kes. S. Ns. SKM selaku kepala ruangan Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang yang memberikan kemudaan dalam pengumpulan data. Selaku penguji II yang memberikan kritik dan saran dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini. Ibu Eva Yulianti. SMIP. Akhirnya semoga karya tulis ilmiah ini dapat bermanfaat bagi pembangunan ilmu pendidikan dan ilmu keperawatan serta bagi kita semua. Lailani Badrun. Selaku pembimbing yang telah memberikan bimbingan serta pengarahan selama penulisan karya tulis ilmiah ini. Maret 2010 . Ibu Trilia WM. Selaku Kepala Program Studi DIII Keperawatan STIKes Muhammadiyah Palembang. SPd. 3. dengan ikhlas penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat mendidik dan membangun dari semua pihak demi kesempurnaan karya tulis ilmiah dimasa yang akan datang. Palembang. AMKeb. Selaku Ketua (STIKes) Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Palembang. Maka dari itu. Santi Mismeriyanti. 4. bimbingan serta saran dari berbagai pihak. M. 8.

Dari hasil uji chisquare dengan pValue <0. Pada dasarnya komunikasi terapeutik merupakan komunikasi profesional yang mengarah pada tujuan yaitu penyembuhan pasien. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan angket yang berupa kuesioner dan observasi yang berupa cheklis. Populasi penelitian adalah semua pasien pre operasi seksio caesar dan perawat di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang dari tanggal 22 Februari – 6 Maret tahun 2010 dengan jumlah sampel penelitian sebanyak 14 respondenn yang dipilih secara non random dengan teknik accidental sampling. Hasil analisis univariat didapatkan komunikasi terapeutik perawat dengan kategori baik sebesar 36% dan kategori cukup sebesar 64%. Penelitian ini bertujuan mengetahui Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat dengan Tingkat Kecemasan pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang 2010.Penulis. Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa komunikasi terapeutik perawat mempengaruhi tingkat kecemasan pasien pre operasi seksio caesar. Saran kepada petugas kesehatan diharapkan lebih meningkatkan komunikasi terapeutik yang baik kepada pasien pre operasi seksio caesar ataupun pasien yang lainnya. Penelitian ini merupakan penelitian survey analitik dengan pendekatan cross sectional.05 menunjukan bahwa ada hubungan antara komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar. Daftar Bacaan : 15 (1996-2009) . JUNI 2010 AGUSTUS Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang 2010 ( xiii + 68 Halaman + 7 Tabel + 6 Lampiran) Komunikasi terapeutik merupakan komunikasi yang direncanakan secara sadar. ABSTRAK SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH PALEMBANG PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN KARYA TULIS ILMIAH. sedangkan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi dengan tingkat kecemasan sedang sebesar 57% dan dengan tingkat kecemasan berat sebesar 43%. tujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien.

while the level of anxiety in patients with pre surgery anxiety level was at 57% and with severe anxiety level of 43%. Basically. The study population was all patients pre and caesar section operation room nurse at Muhammadiyah Palembang Obstetric Hospital of the date of 22 February to 6 March 2010 with the number of samples is 14 respondenn selected non random accidental sampling technique. Reading List : 15 (1996 . From these results it is concluded that therapeutic communication nurse patient anxiety level welsh pre Caesar section operation.05 indicates that there is a relationship between therapeutic communication nurse with the anxiety level in patients pre Caesar section operation. This research is an analytical survey with cross sectional approach.2009) DAFTAR ISI Hal HALAMAN JUDUL i . From the results of chi-square test with p value <0. Results Univariate analysis showed a nurse therapeutic communication with both categories by 36% and 64% adequate category. This research was conducted using a questionnaire in the form of questionnaires and observation in the form cheklis. JUNE 2010 AUGUST Relationps Communication Anxiety Therapeutic Nurse Level In Patients With Pre Caesar In Operating Room Midwifery Section Hospital Muhammadiyah Palembang 2010 ( xiii + 68 Pages + 7 Table + 6 Annex ) Therapeutic communication is consciously planned communication.ABSTRACT HEALTH SCIENCE HIGH SCHOOL MUHAMMADIYAH PALEMBANG STUDY PROGRAMMES DIPLOMA OF NURSING WRITING SCIENTIFIC. Advice to health workers is expected to further improve therapeutic communication both to the patient pre Caesar section operation or other patients. therapeutic communication is a professional communications that lead to the goal of healing the patient. goals and activities focused on healing the patient. This study aimed to Therapeutic Communication Nurse Relations Anxiety Level in Patients with Pre Operation Caesar section Obstetric Hospital in Room 2010 of Muhammadiyah Palembang.

2.1.4 Tujuan 7 1.2 Kecemasan (Ansietas) 22 2.1.2.5 Prinsip-Prinsip Komunikasi Terapeutik 11 2.1.4 Penelitian Terkait 39 .3 Pertanyaan Penelitian 6 1.3 Manfaat Komunikasi Terapeutik 10 2.6 Sikap Komunikasi Terapeutik 13 2.1.2.1.2.3 Seksio Sesarea 34 2.1.3 Tingkat Kecemasan 25 2.2 Faktor-faktor yang Menyebabkan Seksio Sesarea 34 2.2.8 Fase – Fase Dalam Komunikasi Teraupetik 20 2.1.1 Pengertian Seksio Sesarea 34 2.2.1 Definisi Kecemasan (Ansietas) 22 2.2.2.1 Latar Belakang 1 1.6 Manfaat Penelitian 8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.2 Klasifikasi Kecemasan 24 2.2 Rumusan Masalah 6 1.1 Komunikasi Terapeutik 9 2.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kecemasan 26 2.8 Penyebab Kecemasan (Ansietas) 28 2.HALAMAN PERSETUJUAN ii BIOGRAFI iii MOTTO DAN PERSEMBAHAN iv KATA PENGANTAR v ABSTRAK vi ABSTRACT vii DAFTAR ISI ix DAFTAR TABEL xii DAFTAR LAMPIRAN xiii BAB I PENDAHULUAN 1.3.5 Ruang Lingkup Penelitian 7 1.1.3.9 Pengukuran Skala Kecemasan 29 2.7 Tanda-Tanda Kecemasan 28 2.2.3.1 Pengertian Komunikasi Terapeutik 9 2.6 Ciri-Ciri Kecemasan 27 2.7 Tehnik-Tehnik Komunikasi Terapeutik 14 2.3 Klasifikasi Seksio Sesarea 35 2.2 Tujuan Komunikasi Terapeutik 10 2.5 Bentuk-Bentuk Kecemasan 27 2.4 Syarat-Syarat Komunikasi Terapeurik 10 2.

4 Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data 46 4.3 Tingkat Kecemasan Pasien Seksio Caesar 63 5.3 Lokasi dan Waktu Penelitian 46 4.2 Populasi dan Sampel Penelitian 45 4.2 Komunikasi Terapeutik Perawat 61 5.3 Definisi Operasional 43 3.2 Sampel Penelitian 45 4.1 Populasi Penelitian 45 4.1 Kesimpulan 67 6.7 Pengolahan Data 47 4.6 Instrumen Pengumpulan Data 46 4. DEFINISI OPERASIONAL DAN HIPOTESIS 3.1 Persalinan 59 5.3.8 Analisa Data 48 4.1 Hasil 51 5.1 Kerangka Konsep 41 3.2 Saran 67 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN DAFTAR TABEL .4 Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi Seksio Caesar ` 65 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.9 Etika Penelitian 48 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN 5.3.3.4 Hipotesis 44 BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.3 Pembahasan 59 5.3.2.1 Desain Penelitian 45 4.2 Variabel 42 3.BAB III KERANGKA KONSEP.2.5 Tehnik Pengumpulan Data 46 4.2 Variabel Peneliti 54 5.

1 : Bagan Kerangka Konsep Tabel 4.1 : Perencanaan Waktu Penelitian Tabel 5.2 : Persalinan Seksio Caesar Dan Spontan Tabel 5.4 : Tingakat Kecemasan Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Tabel 5.Tabel 3.1 : Jumlah Tempat Tidur Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang Tabel 5.5 : Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 : Surat Penelitian Lampiran 2 : Lembar Persetujuan Menjadi Responden Lampiran 3 : Quisioner Penelitian Lampiran 4 : Cheklist Penelitian Lampiran 5 : Output SPSS Lampiran 6 : Lembar Konsultasi .3 : Komunikasi Terapeutik Perawat Tabel 5.

1996). kemudian melupakan pasien sebagai manusia dengan beragam latar belakang dan masalahnya (Arwani.1 Latar Belakang Komunikasi merupakan bagian integral dari kehidupan manusia tidak terkecuali seorang perawat. seringkali menjadi hambatan pada paska operasi. 2003). namun harus direncanakan. lebih mudah tersinggung akibat reaksi psikis. jangan sampai karena terlalu asyik bekerja. disengaja. Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang mendorong proses penyembuhan klien (Depkes RI.BAB I PENDAHULUAN 1. Hal ini juga terkait dengan komunikasi perawat yang sangat dibutuhkan pada pasien operasi seksio caesar karena pada kondisi ini pasien cemas. mengatasi gangguan psikologis. 1998). Seseorang yang sangat cemas sehingga tidak bisa berbicara dan mencoba menyesuaikan diri dengan kecemasan sebelum operasi. dan belajar bagaimana berhubungan dengan orang lain. Dan juga Komunikasi terapeutik bukan pekerjaan yang bisa diabaikan. 1997). sehingga respon pun berbeda. dibandingkan dengan orang yang cemas ringan (Barbara C. Akan tetapi. sehingga dapat dikategorikan ke dalam komunikasi pribadi di antara perawat dan pasien. kecemasan sering muncul pada usia sebelum 30 tahun (Stuard and Sundeen. bingung. bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien disebut dengan komunikasi terapeutik. 2003). dan merupakan tindakan profesional. Komunikasi terapeutik juga merupakan kemampuan atau keterampilan perawat untuk membantu pasien beradaptasi terhadap stres. untuk mengurangi kecemasan itu maka perawat harus memberikan komunikasi terapeutik kepada pasien pre operasi seksio caesar. pasien menjadi cepat marah. Komunikasi terapeutik juga termasuk komunikasi interpersonal dengan titik tolak saling memberikan pengertian antar perawat dengan klien. Komunikasi yang direncanakan secara sadar. perawat membantu dan pasien menerima bantuan (Indrawati. Persoalan mendasar dan komunikasi ini adalah adanya saling membutukan antara perawat dan pasien. Setiap menghadapi operasi selalu menimbulkan ketakutan dan kecemasan pada pasien. . yang dalam kegiatan sehari-harinya selalu berhubungan dengan orang lain. Long. Pandangan setiap orang dalam menghadapi operasi berbeda.

kemudian dari setetes mani. dan tuntutan malpraktik (Cunningham. Tindakan operasi merupakan ancaman potensial aktual terhadap integritas seseorang yang dapat membangkitkan reaksi stress fisiologis maupun psikologis (Barbara C. agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim. Lebih dari 825. 52. Kelahiran manusia dimuka bumi ini sudah di jelaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Hajj Ayat : 5 yang berarti ”Hai manusia. 2003). Komunikasi terapeutik pada hakikatnya adalah suatu kegiatan atau usaha untuk menyampaikan pesan kesehatan kepada masyarakat. Hal ini perlu mendapat perhatian serius dari perawat karena perawat merupakan petugas kesehatan yang terdekat dan terlama dengan pasien. untuk itu pasien yang akan menjalani operasi harus diberi komunikasi terapeutik untuk menurunkan atau mengurangi gejala kecemasan serta dapat meningkatkan pengetahuan kesehatan pada pasien.Proses perawatan di rumah sakit seringkali mengabaikan aspek-aspek psikologis sehingga menimbulkan berbagai permasalahan pisikologis bagi pasien yang salah satunya adalah kecemasan. Penyebab peningkatan ini adalah nulipara. Data dari RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta tahun 2000. Bila kecemasan pada pasien pre operasi tidak segera diatasi maka dapat mengganggu proses penyembuhan. sampai saat ini sebagian besar orang menganggap bahwa semua operasi yang dilakukan adalah operasi besar. adanya perasaan gelisah atau tidak tenang dengan sumber yang tidak spesifik dan tidak diketahui oleh seseorang. sedangkan sisanya dengan bantuan alat seperti vakum dan forsep. pemantauan janin secara elektronik. wanita yang hamil berusia lebih tua. 1 diantara setiap 10 wanita yang melahirkan setiap tahunnya pernah menjalani seksio caesar. Kecemasan merupakan sesuatu hal yang tidak jelas. Untuk dapat menurunkan kecemasan pada pasien pre operasi salah satunya diperlukan komunikasi yang efektif terutama komunikasi terapeutik.5% adalah persalinan spontan. kemudian dari segumpal darah. kelompok atau individu. (Dewi wijayanti. Sedangkan data yang diperoleh dari Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang pada tahun 2009 menyebutkan dari jumlah persalinan sebanyak 2331 per tahun. presentasi bokong.com ) Di Amerika Serikat. dan 37% di antaranya pernah menjalani seksio caesar sebelumnya. 1989) Menurut World Heath Organization (WHO) angka persalinan dengan seksio caesarea yang wajar adalah 5-10 % dari seluruh kelahiran. 2005). sedangkan sisanya dengan bantuan alat seperti vakum atau forsep (Kasdu. Sebagian besar peningkatan ini berlangsung pada tahun 1970-an sampai awal 1980-an dan terjadi di seluruh negara barat. 30% merupakan persalinan caesar. menyebutkan dari jumlah persalinan sebanyak 404 per bulan.drdidispog. kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna. apa yang Kami kehendaki sampai .Long. Operasi merupakan tindakan pengobatan yang banyak menimbulkan kecemasan. (http://www. jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur). kecemasan yang sering terjadi adalah apabila pasien yang dirawat di rumah sakit harus mengalami proses operasi.000 wanita melahirkan dengan seksio caesar pada tahun 1998. Pembahasan tentang reaksi-reaksi pasien terhadap pembedahan sebagian besar berfokus pada persiapan pembedahan dan proses penyembuhan. maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah. 40% persalinan normal. 2009) Operasi adalah salah satu tindakan pengobatan yang banyak menimbulkan kecemasan. Kecemasan merupakan perasaan yang paling umum dialami oleh pasien yang dirawat di rumah sakit. 48% merupakan persalinan caesar. Ternyata diseluruh dunia angka operasi seksio caesarea meningkat dengan pesat. sedangkan angka di Indonesia belum diketahui secara pasti.

waktu yang sudah ditentukan. 1. dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun.(Al-Quran Terjemah : Tohaputra Ahmad. . membatasi seksio caesar atas indikasi distosia persalinan pada wanita yang memenuhi kriteria yang ditentukan dengan ketat (Cunningham. 1.5. maka penulis tertarik untuk meneliti ”Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi Seksio Caesar” 1. b) Diketahuinya gambaran tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar c) Diketahuinya gambaran hubungan antara komunikasi terapeutik perawat/bidan dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar.3 Pertanyaan Penelitian Bagaimana Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang? 1. umumnya difokuskan pada upaya pendidikan dan pengawasan..angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan. 1. Diamana pada tahap ini tingkat kecemasan pasien yang akan di operasi masih sangat tinggi. kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi.2 Tujuan Khusus a) Diketahuinya gambaran komunikasi terapeutik perawat pada pasien pre operasi seksio caesar.. kemudian (dengan berangsur. Karena komunikasi terapeutik salah satu tindakan perawat yang dapat mengurangi kecemasan.1 Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan Di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang. Beberapa penelitian telah membuktikan adanya kemungkinan untuk menurunkan angka seksio caesar di Institusi kesehatan mengurangi peningkatan mordibitas (kelahiran) atau mortalitas (kematian) perinatal. 1. 2005) Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas bahwa komunikasi terapeutik sangat dibutuhkan bagi pasien yang akan menjalani operasi seksio caesar.2 Rumusan Masalah Berdasarkan pada data diatas maka belum diketahui Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien pre Operasi Seksio Caesar Di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang 2010.1 Tujuan Umum Untuk mengetahui Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang.5.4.2 Waktu Penelitian ini dilakukan pada tanggal 22 Febuari sampai dengan tanggal 6 Maret tahun 2010.. supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Program-program yang ditujukan untuk mengurangi seksio caesar yang tidak diperlukan.4.4 Tujuan Penelitian 1.. mendorong percobaan persalinan pada wanita dengan riwayat seksio caesar transversal.. 1998).5 Ruang Lingkup Masalah 1.

1. Maka disini dapat di artikan bahwa terapeutik adalah segala sesuatu yang memfasilitasi proses penyembuhan. 2008 ).2 Manfaat Bagi Institusi Pendidikan Diharapkan dapat menambah informasi dan referensi yang berguna bagi mahasiswa sekolah tinggi ilmu kesehatan Muhammadiyah Palembang.1 Pengertian Komunikasi Terapeutik Terapeutik merupakan kata sifat yang dihubungkan dengan seni dari penyembuhan (As Hornby Dalam Intan.1 Komunikasi Terapeutik 2. Sehingga komunikasi terapeutik itu sendiri adalah komunikasi yang direncanakan dan dilakukan untuk membantu penyembuhan dan pemulihan pasien. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. 2005). 1. Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar. Komunikasi terapeutik merupakan komunikasi profesional bagi perawat. ( Mukhripah Damaiyanti.6 Manfaat Penelitian 1.4 Manfaat Bagi Peneliti Diharapkan dapat menambah ilmu pengetahuan dan wawasan bagi peneliti mengenai hubungan komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar. 1.1 Manfaat Bagi Rumah Sakit Diharapkan dapat dijadikan masukan dan motivasi bagi rumah sakit untuk lebih menerapkan komuniksi terapeutik perawat dalam mengurangi tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar.6.6.1.6. tujuan dan kegiatannya .3 Manfaat Bagi Pasien Diharapkan dapat memberikan rasa nyaman dan aman pada semua pasien yang akan menjalankan operasi seksio caesar sehingga pasien yang menjalankan operasi tidak cemas dan operasi bisa berjalan dengan lancar.6.

Bila perawat tidak memperhatikan hal ini. 2003) mengatakan ada dua persyaratan untuk komunikasi terapeutik efektif : a. lingkungan fisik dan diri sendiri.3 Manfaat Komunikasi Terapeutik Manfaat komunikasi terapeutik adalah untuk mendorong dan menganjurkan kerja sama antara perawat dan pasien melalui hubungan perawat dan pasien. dkk. Komunikasi terapeutik ini akan efektif bila melalui penggunaan dan latihan yang sering. e. Persyaratan . 2. dkk. Perawat harus menciptakan suasana yang memungkinkan pasien bebas berkembang tanpa rasa takut. (Mukhripah Damaiyanti. d. 2003 ). . Christina. Perawat harus menciptakan suasana yang memungkinkan pasien memiliki motivasi untuk mengubah dirinya baik sikap. informasi atau masukan.5 Prinsip-Prinsip Komunikasi Terapeutik Prinsip-prinsip komunikasi terapeutik menurut Carl Rogers (dalam Perwanto. mengungkap perasaan dan mengkaji masalah dan evaluasi tindakan yang dilakukan oleh perawat. Perawat harus menyadari pentingnya kebutuan pasien baik fisik maupun mental.1.2 Tujuan Komunikasi Terapeutik Membantu pasien untuk memperjelas dan mengurangi beban perasaan dan pikiran serta dapat mengambil tindakan yang efektif untuk pasien. tingkah lakunya sehingga tumbuh mangkin matang dan dapat memecahkan masalahmasalah yang dihadapi. (Indrawati. hubungan perawat-klien tersebut bukanlah hubungan yang memberikan dampak terapeutik yang mempercepat kesembuhan klien. Komunikasi terapeutik termasuk komunikasi interpersonal dengan titik tolak saling memberikan pengertian antar perawat dengan pasien.Persyaratan untuk komunikasi terapeutik ini dibutuhkan untuk membentuk hubungan antara perawat dengan pasien sehingga klien memungkinkan untuk mengimplementasikan proses keperawatan. Mengidentifikasi. memahami dirinya sendiri serta nilai yang dianut. saling pecaya dan saling menghargai.4 Syarat-Syarat Komunikasi Terapeutik Stuart dan Sundeen (dalam Christina.1. ( Indrawati.1.dipusatkan untuk kesembuhan pasien. perawat membantu dan pasien menerima bantuan. tetapi hubungan sosial biasa. 2. Perawat harus mengenal dirinya sendiri yang berarti menghayati. 2003 ). Pada dasarnya komunikasi terapeutik merupakan komunikasi profesional yang mengarah pada tujuan yaitu penyembuhan pasien. b. 2. 2008 ). Komunikasi yang menciptakan saling pengertian yang harus dilakukan terlebih dahulu sebelum memberikan sarana.1. Semua komunikasi terapeutik harus ditujukan untuk menjaga harga diri pemberi maupun penerima pesan. 1994) adalah : a. sehingga dapat dikategorikan ke dalam komunikasi pribadi di antara perawat dan pasien. b. Persoalan mendasar dan komunikasi ini adalah adanya saling membutuhan antara perawat dan pasien. 2. Kualitas asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien sangat dipengaruhi oleh kualitas hubungan perawat-klien. membantu mempengaruhi orang lain. c. Komunikasi harus di tandai dengan sikap saling menerima.

k. 1992). spiritual dan gaya hidup. Mampu menentukan batas waktu yang sesuai dan dapat mempertahankan konsistensinya. Tetap rileks Tetap dapat mengendalikan keseimbangan antara ketegangan dan relaksasi dalam memberikan respons kepada pasien. oleh karena itu perawat perlu mempertahan suatu keadaan sehat fisik mental. keberhasilan maupun frustasi g.6 Sikap Komunikasi Terapeutik Egan (dalam Keliat. a. yaitu : a. i.1 Bertanya Bertanya (Questioning) merupakan tehnik yang dapat mendorong klien untuk mengungkapkan perasaan dan pikirannya. Kejujuran dan komunikasi terbuka merupakan dasar dari hubungan terapeutik j. Memahami betul arti empati sebagai tindakan terapeutik dan sebaliknya sempati bukan tindakan terapeutik.1. Mempertahankan kontak mata Kontak mata pada level yang sama berarti menghargai klien dan menyatakan keinginan untuk tetap berkomunikasi. e. Membungkuk kearah klien Posisi ini menunjukan keinginan untuk menyatakan atau mendengarkan sesuatu. Berhadapan Arti dari posisi ini adalah saya siap untuk anda b.1. Mempertahankan sikap terbuka Tidak melipat kaki atau tangan menunjukan keterbukaan untuk berkomunikasi dan siap membantu.7 Tehnik-Tehnik Komunikasi Terapeutik 2. 2. c.f. h. Altruisme untuk mendapatkan kepuasan dengan menolong orang lain secara manusiawi. meskipun dalam situasi yang kurang menyenangkan. Berpegang pada etika dengan cara berusaha sedapat mungkin mengambil keputusan berdasarkan prinsip kesejahteraan manusia. Pertanyaan Fasilitatif Dan Nonfasilitatif Pertanyaan fasilitatif (Facilitative Question) terjadi jika pada saat bertanya perawat sensitif terhadap pikiran dan perasaan serta secara langsung berhubungan dengan masalah klien. Disarankan untuk mengekspresikan perasaan bila dianggap menganggu. Perawat harus mampu menguasai perasaan sendiri secara bertahap untuk mengetahui dan mengatasi perasaan gembira. Tehnik berikut sering digunakan pada tahap orientasi.1.7. d. Mampu berperan sebagai role model agar dapat menunjukan dan menyakinkan orang lain tentang kesehatan. l. sedangkan pertanyaan nonfasilitatif (Nonfacilitative Question) adalah pertanyaan yang tidak efektif karena memberikan . mengindentifikasi lima sikap atau cara untuk menghadirkan diri secara fisik yang dapat memfasilitasi komunikasi terapeutik. Bertanggung jawab dalam dua demensi yaitu tanggung jawab terhadap diri sendiri atas tindakan yang dilakukan dan bertanggung jawab dengan orang lain. 2. sedih marah. n. m.

Budi Anna. Tunjukkan perhatian bahwa perawat mempunyai waktu untuk mendengarkan ( Purwanto Heri. S dalam Suryani. 2005). perawat harus mengikuti apa yang dibacakan klien dengan penuh perhatian. b. 2005).6 Memfokuskan Memfokuskan (Focusing) bertujuan memberi kesempatan kepada klien untuk membahas masalah inti dan mengarahkan komunikasi klien pada pencapaian tujuan (Stuart. perasaan. perawat mampu mendorong klien mengekspresikan dirinya (Antai-Otong dalam Suryani. Budi Anna. D.W dalam Suryani. Hal yang .7.1. 2. pertanyaan. bersifat mengancam. 2005 ). Apabila perawat menginterpretasikan pembicaraan klien. 2005).4 Klarifikasi Klarifikasi (Clarification) adalah menjelaskan kembali ide atau pikiran klien yang tidak jelas atau meminta klien untuk menjelaskan arti dari ungkapannya ( Gerald. dan penghargaan terhadap klien (Antai-Otong dalam Suryani.2 Mendengarkan Mendengarkan (Listening) merupakan dasar utama dalam komunikasi terapeutik (Keliat.1. dan tampak kurang pengertian terhadap klien (Gerald. 1992). 1992 ).1. dan isi pembicaraan kepada klien.7. Fokus utama klarifikasi adalah pada perasaan. Mendengarkan adalah proses aktif (Gerald. D dalam Suryani.7. maka penilaiannya akan berdasarkan pandangan dan perasaannya. Selama mendengarkan. dalam Suryani. Pertanyaan Terbuka Dan Tertutup Pertanyaan terbuka (Open Question) digunakan apabila perawat membutuhkan jawaban yang banyak dari klien.7. karena pengertian terhadap perasaan klien sangat penting dalam memahami klien. 2005). Perawat memberikan tanggapan dengan tepat dan tidak memotong pembicaraan klien. 2005). 2005).1. D dalam Suryani. 1994 ). 2. Dengan demikian akan terhindar dari pembicaraan tanpa arah dan penggantian topik pembicaraan. minat. perawat tidak boleh menginterpretasikan apa yang dikatakan klien.5 Refleksi Refleksi (Reflection) adalah mengarahkan kembali ide.pertanyaan yang tidak fokus pada masalah atau pembicaraan. Restarting (pengulangan) merupakan suatu strategi yang mendukung listening ( Suryani. Pertanyaan tertutup (Closed Question) digunakan ketika perawat membutuhkan jawaban yang singkat. 2.7. Dengan pertanyaan terbuka.3 Mengulang Mengulang (Restarting) yaitu mengulang pokok pikiran yang diungkapkan klien. Gunanya untuk menguatkan ungkapan klien dan memberi indikasi perawat mengikuti pembicaraan klien ( Keliat. 2005).1. 2. 2005) dan penerimaan informasi serta penelaahan reaksi seseorang terhadap pesan yang diterima (Hubson. Hal ini digunakan untuk memvalidasi pengertian perawat tentang apa yang diucapkan klien dan menekankan empati. 2. juga tidak boleh menambahkan informasi (Gerald. D dalam Suryani. G. Pada saat klarifikasi.

misalnya menyatakan : “sebenarnya apa yang anda pikirkan tidak seburuk itu kejadiannya”. Diam juga memungkinkan klien untuk berkomunikasi dengan dirinya sendiri dan berguna pada saat klien harus mengambil keputusan (Suryani.7. Informasi yang diberikan pada klien harus dapat memberikan pengertian dan pemahaman tentang masalah yang dihadapi klien serta membantu dalam memberikan alternatif pemecahan masalah (Suryani. 2005). Tehnik ini digunakan ketika . 2. Diam akan memberikan kesempatan kepada perawat dan klien untuk mengorganisasi pikiran masing-masing (Stuart & Sundeen dalam Suryani.1.9 Menyimpulkan Menyimpulkan (Summerizing) adalah tehnik komunikasi yang membantu klien mengeksplorasi poin penting dari interaksi perawat-klien.1. Tehnik ini sangat bermanfaat terutama ketika klien berfikiran negatif terhadap sesuatu.7. Poin utama dari menyimpulkan yaitu peninjauan kembali komunikasi yang telah dilakukan (Murray.1. 2005).1. Tehnik ini membantu perawat dan klien untuk memiliki pikiran dan ide yang sama saat mengakhiri pertemuan. sambil perawat menyampaikan dukungan.7. D dalam Suryani. memperlambat tempo interaksi. 2005). 2. 2005). dan penerimaannya. Tehnik ini sangat membantu dalam mengajarkan kesehatan atau pendidikan pada klien tentang aspek-aspek yang relevan dengan perawatan diri dan penyembuhan klien. B & Judith dalam Suryani.8 Memberi Informasi Memberikan tambahan informasi (Informing) merupakan tindakan penyuluhan kesehatan klien.7.12 Membagi Persepsi Stuart G. 2. 2005) supaya masalah tersebut bisa diatasi. 2005) sehingga memungkinkan klien untuk membuat perencanaan yang lebih baik dalam mengatasi masalah yang dihadapinya. 2005). D dalam Suryani.1. Tehnik ini memberikan waktu pada klien untuk berfikir dan menghayati. Seorang perawat kadang memberikan tanggapan yang kurang tepat ketika klien mengungkapkan masalah.W (1998) dalam Suryani (2005) menyatakan. pengertian. Tehnik ini bermanfaat pada tahap kerja untuk mendapatkan gambaran yang detail tentang masalah yang dialami klien.1. Reframing akan membuat klien mampu melihat apa yang dialaminya dari sisi positif (Gerald.7. atau memandang sesuatu dari sisi negatifnya.7 Diam Tehnik diam (Silence) digunakan untuk memberikan kesempatan pada klien sebelum menjawab pertanyaan perawat. 2. membagi persepsi (Sharing Peception) adalah meminta pendapat klien tentang hal yang perawat rasakan atau pikirkan.10 Mengubah Cara Pandang Tehnik mengubah cara pandang (refarming) ini digunakan untuk memberikan cara pandang lain sehingga klien tidak melihat sesuatu atau masalah dari aspek negatifnya saja (Gerald.perlu diperhatikan dalam menggunakan metode ini adalah usahakan untuk tidak memutus pembicaraan ketika klien menyampaikan masalah penting (Suryani.11 Eksplorasi Eksplorasi bertujuan untuk mencari atau menggali lebih jauh atau lebih dalam masalah yang dialami klien (Antai-Otong dalam Suryani. 2005). 2. 2.7.

perawat harus memperkenalkan dirinya terlebih dahulu kepada klien (Brammer dalam Suryani. 2. D dalam Suryani.1.8.1. Florence Nightingale dalam Anonymous (1999) dalam Suryani (2005) pernah mengatakan suatu pengalaman pahit sangat baik ditangani dengan humor. 2.2 Tahap Perkenalan Perkenalan merupakan kegiatan yang dilakukan saat pertama kali bertemu atau kontak dengan klien (Christina. 2002). 2. G. Tujuan tahap ini adalah untuk memvalidasi keakuratan data dan rencana yang telah dibuat dengan keadaan klien saat ini. Pada saat berkenalan. serta mengevaluasi hasil tindakan yang lalu (Stuart. Kemudian perawat merancang strategi untuk pertemuan pertama dengan klien.8. Reniforcement bisa diungkapkan dengan kata-kata ataupun melalui isyarat nonverbal. Pada tahap kerja ini dituntut kemampuan perawat dalam mendorong klien mengungkap .1. Tahap ini harus dilakukan oleh seorang perawat untuk memahami dirinya. 2.7. mengatasi kecemasannya.15 Memberikan Pujian Memberikan Pujian (Reinforcement) merupakan keuntungan psikologis yang didapatkan klien ketika berinteraksi dengan perawat. Pada tahap ini perawat dan klien bekerja bersama-sama untuk mengatasi masalah yang dihadapi klien. dkk.1 Tahap Persiapan (Preinteraksi) Tahap Persiapan atau prainteraksi sangat penting dilakukan sebelum berinteraksi dengan klien (Christina. 2.7.W dalam Suryani. 2005). dan meyakinkan dirinya bahwa dia siap untuk berinteraksi dengan klien (Suryani. Dengan memperkenalkan dirinya berarti perawat telah bersikap terbuka pada klien dan ini diharapkan akan mendorong klien untuk membuka dirinya (Suryani. Pada tahap ini perawat menggali perasaan dan mengidentifikasi kelebihan dan kekurangannya. Gunanya adalah untuk meningkatkan pengertian dan menggali masalah penting (Stuart & Sadeen dalam Suryani. 2005). 2005). dkk.1. Reinforcement berguna untuk meningkatkan harga diri dan menguatkan perilaku klien (Gerald.13 Mengidentifikasi Tema Perawat harus tanggap terhadap cerita yang disampaikan klien dan harus mampu manangkap tema dari seluruh pembicaraan tersebut.14 Humor Humor bisa mempunyai beberapa fungsi dalam hubungan terapeutik.3 Tahap Kerja Tahap kerja ini merupakan tahap inti dari keseluruhan proses komunikasi terapeutik (Stuart. Pada tahap ini perawat juga mencari informasi tentang klien. G.7. 2. 2002).8 Fase – Fase Dalam Komunikasi Terapeutik 2. Humor dapat meningkatkan kesadaran mental dan kreativitas. 2005). 2005).1.8.W dalam Suryani. 2005). 2005).1.1.perawat merasakan atau melihat ada perbedaan antara respos verbal dan respons nonverbal klien. serta menurunkan tekanan darah dan nadi. Tehnik ini sangat bermanfaat pada tahap awal kerja untuk memfokuskan pembicaraan pada awal masalah yang benar-benar dirasakan klien.

2005). Menurut Freud. setelah terminasi sementara. Tehnik menyimpulkan ini merupakan usaha untuk memadukan dan menegaskan hal-hal penting dalam percakapan.perasaan dan pikirannya. Keadaan dimana individu atau kelompok mengalami perasaan gelisah (penilaian atau opini) dan aktivitas sistem syaraf autonom dalam berespon terhadap ancaman yang tidak jelas. kekhawatiran dan juga ditandai dengan aktifnya sistem syaraf pusat. ninspesifik (Carpenito. b. Perawat juga dituntut untuk mempunyai kepekaan dan tingkat analisis yang tinggi terhadap adanya perubahan dalam respons verbal maupun nonverbal klien. 2000) c. 1997) Ansietas adalah perasaan yang dialami terlalu mengkhwatirkan kemungkinan peristiwa yang menakutkan yang terjadi dimasa depan yang tidak bisa dikendalikan dan jika itu terjadi akan menilai mengerikan atau dapat diungkapkan sebagai orang yang benar-benar tidak mampu menata pikiran. (www. B & Judth dalam Suryani. yang ditandai oleh perasaan-perasaan subjektif seperti ketegangan. . Perawat juga diharapkan mampu menyimpulkan percakapannya dengan klien. Suatu perasaan takut yang tidak menyenangkan dan tidak dapat dibenarkan yang sering disertai dengan gejala fisiologi (Tom. yang memperingatkan adanya bahaya yang mengancam dan memungkinkan seseorang mengambil tindakan untuk mengatasi ancaman (Kaplan dan Sadock. yang diikuti oleh reaksi fisiologis tertentu seperti perubahan detak jantung dan pernafasan. Suatu sinyal yang menyadarkan.2 Kecemasan (Ansietas) 2. Respon emosional terhadap penilaian intelektual terhadap sesuatu yang berbahaya (stuart dan sundeen.1 Definisi Kecemasan (Ansietas) Ansietas atau kecemasan adalah : a. Suatu keadaan ketidakseimbangan atau tegangan yang cepat mengusahakan coping (Hudak dan Gallo. 2005). G. 2. kecemasan melibatkan persepsi tentang perasaan yang tidak menyenangkan dan reaksi fisiologis.4 Tahap Terminasi Terminasi merupakan akhir dari pertemuan perawat dengan klien (Christina. Pada tahap ini perawat perlu melakukan active listening karena tugas perawat pada tahap kerja ini bertujuan untuk menyelesaikan masalah klien. dan mengevaluasi cara atau alternatif pemecahan masalah yang telah dipilih. Melalui active listening.2007.2. 2003) e. Terminasi akhir terjadi jika perawat telah menyelesaikan proses keperawatan secara keseluruhan. dan membantu perawat-klien memiliki pikiran dan ide yang sama (Murray. 1998) b.8. perawat membantu klien untuk mendefinisikan masalah yang dihadapi. a. dengan kata lain kecemasan adalah reaksi atas situasi yang dianggap berbahaya. 1974) menggambarkan dan mendefinisikan kecemasan sebagai suatu perasaan yang tidak menyenangkan. Tahap ini dibagi dua yaitu terminasi sementara dan terminasi akhir (Stuart.1.com ) Menurut Post (1978). Terminasi sementara adalah akhir dari tiap pertemuan perawat-klien. 2. perawat akan bertemu kembali dengan klien pada waktu yang telah ditentukan. 2002). 1997) d. dkk.silvalintar. bagaimana cara mengatasi masalahnya. Freud (dalam Arndt. kecemasan adalah kondisi emosional yang tidak menyenangkan. ketakutan.W dalam Suryani.

lesu).2. Hyperhyrosis. Hypertensi sifatnya sistolik.2. sehingga fisik makin bertambah pula. Kecemasan realistik adalah ketakutan terhadap bahaya dari dunia eksternal. Kedua. lengkap tidak ditemukan kelainan apa-apa.2 Klasifikasi Kecemasan Ada tiga macam kecemasan yaitu : a. Kecemasan neorotik adalah ketakutan rehadap tidak terkendalinya naluri-naluri yang menyebabkan seseorang melakukan sesuatu tindakan yang mendatangkan hukuman bagi dirinya. Keluhan-keluhan gastro intestinal. Mudah berdebar-debar. b. Kecemasan Akut Keadaan dimana perasaan sakit berat. Pada pemeriksaan fisik . Mungkin karena penderita tidak tahu sebab maka justru kecemasannya akanbertambah. Diarrhee. Hyperventilas. Kecemasan Ringan Pada tingkat kecemasan yang terjadi pada kehidupan sehari-hari dan kondisi membantu individu menjadi waspada dan bagaimana mencegah berbagai kemungkinan. b. ketika individu tidak menyadari adanya konflik dan tidak mengetahui penyebab cemas.Perasaan payah (lemah. Mungkin penderita sadar. Pertama. dan taraf kecemasannya sesuai dengan derajat ancaman yang ada. Pernafasan kasa.2. c. Kecemasan Kronis Kecemasan timbul untuk sebab yang tidak diketahui (tidak di sadari). 2. sebelumnya punya pengalaman emosi (biasa terdapat pada Ibu yang akan bersalin). Menurut Struat & Sunden (1998) mengidentifikasikan tingkat kecemasan dapat dibagi menjadi : a. Perasaan tersumbat di tenggorokan.3 Tingkat Kecemasan Menurut Jersild (1963) menyatakan bahwa ada dua tingkatan kecemasan. (Corey Gerald. kecemasan kemudian dapat menjadi bentuk pertahanan diri. Tachy cardi. Kelelahan. Orang yang hati nuraninya berkembang baik cendrung merasa berdosa apabila dia melakukan sesuatu yang berlawanan dengan kode moral yang dimilikinya. kecemasan normal. yaitu pada saat individu masih menyadari konflik-konflik dalam diri yang menyebabkan cemas. Kecemasan Sedang Pada ringkat ini individu lebih menfokuskan hal penting saat ini dan mengesampingkan yang lain . Polyuri (sering kencing). Kecemasan moral adalah ketakutan terhadap hati nuraninya sendiri. 2007) Adapun pendapat lain yang menyatakan bahwa kecemasan ada dua yaitu : a. kecemasan neurotik. Bila gejala kecemasan hanya sedikit (40-50%) b. dan takut bisa berjalan beberapa menit atau beberapa jam. Gejalagejalanya: Sakit kepala. Gejala-gejalanya : Perasaan takut.

distory persepsi dan kehilangan pikiran yang rasional. yang terwujud dalam pikiran seseorang. Panik Keadaan ini mengancam pengendalian diri. Nilai-nilai moral c. 2. seringkali buang air. 2.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kecemasan a. bingung. khawatir. dkk (dalam Kartikasari.2. dan sebagainya. diare. gemetar. terutama pada fungsi sistem syaraf. b. Bila gejala kecemasan ada sebagian (51-75%) c.5 Bentuk-Bentuk Kecemasan Menurut Bucklew (1980). Ketentuan hukum. Kecemasan yang berwujud sebagai gejala-gejala kejiwaan. perut mual. Perilaku motorik. Tingkat Fisiologis. Panik melibatkan disorganisasi keperibadian yang ditandai dengan meningkatnya kegiatan motorik.sehingga mempersempit lahan persepsinya. denyut jantung yang bertambah keras. 1995) menyebutkan bahwa manifestasi kecemasan terwujud dalam empat hal berikut ini : a. semua perilaku ditunjukan untuk mengurangi kecemasan. seringkali memikirkan tentang malapetaka atau kejadian buruk yang akan terjadi. Kecemasan yang sudah mempengaruhi atau terwujud pada gejala-gejala fisik.2. Manifestasi kognitif. yaitu: a. misalnya tidak dapat tidur. menurunnya respon untuk berhubungan dengan orang lain.6 Ciri-Ciri Kecemasan Simptom-simptom somatis yang dapat menunjukkan ciri-ciri kecemasan menurut Stern (1964) adalah muntah-muntah. b. Bila semua gejala kecemasan ada (76100%) d. perasaan tidak menentu dan sebagainya. Faktor-faktor kultural merupakan faktor yang tidak dapat di abaikan. b. seperti tegang. 2. Kecemasan Berat Pada tingkat ini lahan individu sangat menurun dan cendrung memusatkan perhatian pada hal-hal lain.2. Tingkat Psikologis. jantung berdebar-debar. kecemasan seseorang terwujud dalam gerakan tidak menentu seperti gemetar. Tingkatkan individu tersebut dalam menanggapi batasan-batasan sosiokulturil tersebut 2. individu tersebut mencoba memusatkan perhatian pada lahan lain dan memerlukan banyak pengarahan. sangat mudah tersinggung dan marah. Tingkah laku panik ini tidak mendukung kehidupan individu tersebut. individu tidak mampu untuk melakukan sesuatu walaupun dengan pengarahan.7 Tanda-Tanda Kecemasan Menurut Sue. Kartono (1981) menyebutkan bahwa kecemasan ditandai dengan emosi yang tidak stabil. sering dalam keadaan excited atau gempar gelisah. Ketentuan pendidikan dan agama d. nafas sesak disertai tremor pada otot.2. para ahli membagi bentuk kecemasan itu dalam dua tingkat. .

lesu. Penyebab ansietas adalah kejadian yang dapat menimbulkan ansietas. takut akan pikiran sendiri. terbangun malam hari. ketegangan otot dan tekanan darah. Kehilangan kendali c.2. Kegagalan membentuk pertahanan e. penglihatan kabur. c. rasa lemah seperti mau pingsan. Ketakutan ditinggal sendiri. tidur tidak nyenyak. Gangguan tidur ditandai oleh : sukar untuk tidur. sedih. tidak dapat istirahat tenang. dan mudah tersenggung. ketakutan pada binatang besar. f. Ansietas dialami saat terdapat suatu ancaman ketidak berdayaan atau kurang pengendalian. Perasaan depresi di tandai oleh : kehilangan minat. Perasaan terisolasi f.8 Penyebab Kecemasan (Ansietas) Menurut Hudak dan Gallo (1997) penyebab yang paling umum dari ansietas di rumah sakit : a. ditandai dengan : cemasan. diare. dan perasaan tegang yang berlebihan. mimpi yan menakutkan. mudah menangis. merasa lemah. Takut mati 2. daya ingat menurun. Perasaan cemas. denyut nadi mengeras. Perubahan somatik. merasa nafas . Penerimaan di unit perawatan kritis secara daramatid meyakinkan pasien dan keluarga bahwa keamanan meraka pada semua tingakat secara hebat terancam. respirasi. d. Gejala sensorik ditandai oleh : tintus. Ketegangan yang di tandai oleh : merasa tegang. muncul dalam keadaaan mulut kering. daya ingat buruk. Gejala pernafasan di tandai oleh : Rasa tertekan atau sempit didada. Ketakutan ditandai oleh : Ketakutan pada gelap. mudah terkejut. Gangguan kecerdasan ditandai oleh: sukar konsentrasi. gelisah dan mudah terkejut. Perasaan terisolasi dapat dikurangi dengan mengajak pasien berbicara tentang pengobatan dan penyentuhannya saat keadaan yang menakutkan. b. Ancanman ketidakberdayaan b. Hampir semua penderita kecemasan menunjukkan peningkatan detak jantung. g.c. perasaan di tusuk-tusuk. c. sering kencing. Timbunya stimulus ansietas termasuk hal yang mengancam keamanan individu. diwujudkan dalam perasaan gelisah. kedutan otot. gemetar. bangun dengan lesu. ketakutan pada kerumunan orang banyak. gigi gemeretak. tangan dan kaki dingin. muka merah dan pucat. bangun dini hari. kaku. d. perasaan tercekik. Ketakutan pada orang asing. Yaitu mengukur aspek kognitif dan efektif yang meliputi (Hawari. Perasaan kehilangan fungsi dan harga diri d. ketegangan otot. mimpi-mimpi. Afektif. kurangnya kesenangan pada hoby. mimpi buruk. Ansietas terjadi bila ada : a. suara tidak stabil. Gejala kardiovaskuler ditandai oleh : takikardia. 2001) : a.9 Pengukuran Skala Kecemasan Instrumen lain yang dapat digunakan untuk mengukur skala kecemasan adalah Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS).2. Gejala somatik ditandai oleh : nyeri pada otot. perasaan berubah sepanjang hari. ketakutan pada keramaian lalu lintas. detak jantung hilang sekejap. 2. nyeri dada. gelisah. i. berdebar-debar. j. peningkatan tekanan darah dan lain-lain. h. e. b. firasat buruk.

mual. s. Gejala Otonom ditandai oleh : mulut kering. Saya jarang berdebar-debar maupun bernafas tersengal-sengal. haid beberapa kali dalam sebulan. sehingga sukar untuk tidur x. Perilaku sewaktu wawancara. w. Saya sering mengalami mimpi yang menakutkan pada waktu tidur malam hari. o. Saya jarang mengalami sakit perut. q. Saya merasa khawatir kalau-kalau muka saya menjadi merah karena malu. mudah berkeringat. i. ejakuasi prekok. muka merah kering. Pada waktu-waktu tertentu saya merasa gelisah. Saya mengalami mencret sekali atau lebih dalam 1 bulan. Saya merasa lapar hampir setiap saat. Pernyataanpernyataan adalah sebagai berikut : a. n. Saya sering merasa tegang pada waktu bekerja. ereksi melemah. amenorrhoe. tidak dapat menahan kencing. n. c. Ketika saya merasa malu. Saya mengalami kesukaran untuk melakukan konsentrasi menanggapi suatu masalah. kepala terasa berat. sakit kepala. sering menarik nafas panjang. nafas pendek dan cepat dan muka memerah. rasa panas di perut. perut terasa kembung atau penuh. h. muntah. defekasi lembek. ditandai oleh : gelisah. amenorrhagia. ereksi hilang dan inpoten. p. mengerutkan dahi atau kening. Saya khawatir akan terjadi kesulitan yang menimpa diri saya. dan kontipasi (sukar buang air besar) l. Saya mudah merasa malu. jari gemetar. hal ini sangat menjengkelkan saya. r. Saya sering mengkhawatirkan diri saya terhadap sesuatu. Kadang-kadang saya tidak dapat tidur karena mengkhawatirkan sesuatu. pusing. Tangan saya sering terasa gemetar bila mencoba mengerjakan sesuatu. Saya tidak cepat lelah. masa haid berkepanjangan. Saya selalu merasa gembira setiap saat. b. v. Saya merasa risau bila memikirkan masalah-masalah keuangan dan pekerjaan. Biasanya saya bersikap tenang dan tidak mudah marah. g. Saya sering mencemaskan sesuatu maupun orang lain. Tidur saya sering terganggu dan tidak nyenyak. Saya mudah menangis. Menunggu membuat saya gelisah. Saya jarang merasa sembelit. Saya jarang sakit kepala.pendek/sesak. Seringkali saya bermimpi tentang sesuatu yang sulit untuk diceritakan pada orang lain. t. Tangan dan kaki saya biasanya cukup hangat. muka tegang tonus otot meningkat. berat badan menurun. Saya lebih tenang bila dibandingkan dengan orang lain. Saya menginginkan kebahagiaan seperti orang yang saya lihat. tidak tenang. Kalau terjadi sesuatu pada diri saya. k. kadang-kadang keringat saya bercucuran. sehingga saya tidak duduk terlalu lama. d. m. bahwa saya kadang-kadang merasa khawatir tanpa sesuatu alasan tertentu pada suatu hal . k. Gejala Gastrointestinal ditandai oleh : sulit menelan. Saya lebih merasa sensitif (peka) daripada kebanyakan orang. saya tidak mudah tersipu-sipu seperti kebanyakan orang lain. gangguan pencernaan. e. u. Saya akui. Salah satu pengukuran kecemasan menurut : Taylor Manifest Anxiety Scale (TMAS). bulu-bulu berdiri. f. Saya sering merasa bahwa saya dihadapkan pada banyak kesulitan yang tidak dapat saya selesaikan. masa haid amat pendek. frigiditas. Gejala Urogenital ditandai oleh : sering kencing. l. m. Saya tidak pernah merasa tersipu-sipu bila sesuatu terjadi pada diri saya. Saya sering merasa mual. nyeri lambung sebelum atau sesudah makan. perut melilit. j. Kadangkadang saya merasa gembira sekali.

2007). 2008). 2008). ruptur uteri. Faktor Janin Faktor janin yang menyebabkan seksio caesar adalah: janin dengan anomali (Meningokel. persalinan sebelumnya dengan seksio caesar. posisi dagu posterior. vasa previa. plasenta previa. faktor hambatan jalan lahir. Faktor Ibu yang menyebabkan seksio sesarea adalah: usia. 2. penyakit jantung berat pada ibu. malposisi dan malpresentasi (presentasi bokong. Seksio caesar adalah suatu persalinan buatan. 2008). presentasi bahu. ruptur uteri (Cunningham. kelainan tali pusat (prolapsus tali pusat/tali pusat menumbung. letak lintang. y. tulang panggul. Bila dibandingkan dengan teman-teman maka saya tidak seperti mereka. 2005). Hidrosefalus). dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding perut dan dinding rahim dengan sayatan rahim dalam keadaan utuh (Sarwono.3 Klasifikasi Seksio Caesar a. faktor plasenta: solusio plasenta. faktor-faktor yang menyebabkan seksio sesarea adalah dari faktor ibu dan janin. 2. eritroblastosis. Seksio Caesar Klasik Sebuah pengirisan memanjang di bgian tengah yang memberikan satu ruang yang lebih besar (10-14 cm) untuk mengeluarkan bayi (Cunningham.3. Teknik Seksio Caesar Klasik 1) Mula-mula dilakukan desinfeksi pada dinding perut dan lapangan operasi dipersempit dengn kain suci hama. presentasi majemuk). diabetes. defleksi kepala.3.1 Pengertian Seksio Caesar Seksio caesar adalah melahirkan janin yang sudah mampu hidup (beserta plasenta dan selaput ketuban) secara transabdominal melalui insisi uterus (Benson.2005).3 Seksio Caesar 2. keadaan melemahkan lainnya (Benson.2 Faktor-faktor yang Menyebabkan Seksio Sesarea a. bayi terlalu besar (Makrosomia (>4000 gram). . gawat janin atau fetal distress. 2) Pada dinding perut dibuat insisi mediana mulai dari atas simfisis sepanjang ±12 cm sampai dibawah umbilikus lapis demi lapis sehingga kavum peritoneal terbuka. Penyakit ibu yang dapat mempengaruhi seksio sesarea adalah: preeklampsi-eklampsi berat.yang tidak berarti. bayi kembar (Multiple Pregnancy) (Benson. presentasi dahi. 2. b.3. Faktor Ibu Menurut Cunningham (2005) dan Benson (2008).

Mula. b) Keluarnya janin lebih cepat.3) Dalam rongga perut disekitar rahim dilingkari dengan kasa laparotomi. 3) Plasenta previa dengan insersi plasenta di dinding depan segmen bawah rahim. 7) Luka insisi SAR dijahit kembali. Indikasi Seksio Caesar Indikasi seksio Caesar klasik menurut Sarwono 2007 : 1) Bila terjadi kesukaran dalam memisahkan kandung kencing untuk mencapai segmen bawah rahim. tali pusat dijepit dan dipotong diantara kedua penjepit. Kekurangan: a) Lebih berisiko terkena peritonitis (radang selaput perut). Teknik Seksio Caesar Transperitoneal Profunda 1. Kelebihan: a) Memerlukan sedikit pemisahan kandung kemih dari miometrium. atau adanya tumor-tumor di daerah segmen bawah rahim. 4) Di buat insisi secara tajam dengan pada segmen atas rahim (SAR). . c) Tidak menyebabkan perlekatan usus atau omentum ke garis insisi. 2003). 2. misalnya karena adanya perlekatan –perlekatan akibat pembedahan seksio caesar yang lalu. Setelah janin lahir seluruhnya. 2003). 9) Rongga perut dibersihkan dari isa-sisa darah dan akhirnya luka dinding perut dijahit. b. Lapisan II : Hanya miometrium saja dijahit secara simpul. kedua adneksa dieksplorasi. sayatan ini akan memerlukan waktu dan obat lebih banyak (Kasdu. c) Otot-otot rahimnya tebal dan lebaih banyak pembuluh darah sehingga sayatan ini lebih banyak mengeluarkan darah. Pada dinding perut dibuat insisi mediana mulai dari atas simfisis sampai di bawah umbilikus lapis demi lapis sehingga peritonei terbuka. Lapisan I : Endometrium bersama miometrium dijahit secara jelujur dengan benang catgut khoromik. c. selaput ketuban dipecahkan. 8) Setelah dinding rahim dijahit.mula dilakukan desinfeksi pada dinding perut dan lapangan operasi dipersempit dengan kain suci hama. 2) Janin besar dalam letak lintang. Janin dilahirkan dengan meluksir kepala dan mendorong fundusuteri. 6) Plasenta dilahirkan secara manual disuntikkan 10 U oksitosin ke dalam rahim secara intra mural. b) Memiliki risiko empat kali lebih besar terkena ruptur uteri pada kehamilan selanjutnya. Lapisan III : Perimetrium saja. d) Jika menggunakan anestesi lokal. d) Lebih mudah diperbaiki. kemudian dierlebar secara sagital dengan gunting. dijahitbsecara simpul dengan benang cutgut biasa. 5) Setelah kavum uteri terbuka. Seksio Caesar Transperitoneal Profunda Dilakukan dengan membuat sayatan atau irisan horizontal di bagian bawah rahim (Kasdu.

yang dilakukan pada keseluruhan responden didapatkan bahwa dari 34 responden yang melakukan komunikasi terapeutik pada fase kerja dengan baik yaitu 20 orang ( 58. dan kandung kencing yang telah disisihkan ke arah bawah dan samping dilindungi dengan spekulum kandung kencing.Keluhan kandung kemih. plasenta dilahirkan secara manual. 4. 6. Penutupan luka dan reperetonialisasi yang baik. pada endometrium da miometrium Lapisan II : Dijahit jelujur hanya pada miometrium saja Lapisan III : Dijahit jelujur pada plika vesikouterina 7. Kategori cukup 9 orang ( 26. Penelitian ini dapat digambarkan bahwa peran perawat pelaksana komunikasi terapeutik pada teknik menyimpulkan tergolong kurang. Dalam rongga perut disekitar rahim dilingkari dengan kasa laparotomi. Menurut penelitian Tri Setiani 2009. kanan bawah.7% ).3.4 Penelitian Terkait Menurut penelitian Eka Fitrianti 2008.38%. Ernaldi Bahar Propinsi Sumatra Selatan tahun 2008.5% ) sedangkan kategori kurang yaitu sebanyak 5 orang ( 14. dari hasil penelitian di instalasi kebidanan dan penyakit kandungan Rumah Sakit Dr. Kategori cukup 8 responden (27%) dan 6 responden (20%) dikategorikan . Dari hasil penelitian Rosalina 2008. Dibuat bladder-flap. Kekurangan : Luka dapat melebar kekiri. kedua adneksa diejsplorasi 8. Mohammad Hoesin Palembang. Rongga perut dibersihkan dari sisa-sisa darah dan akhirnya luka dindina perut dijahit (Sarwono.62% dan kategori kurang sebanyak 52. Arah insisi pada segmen bawah rahim dapat melintang (transversa) atau membujur (sagital). Setelah kavum uteri terbuka.8% ). Uterin putus sehingga mengakibatkan perdarahan yang banyak. Luka dinding rahim dijahit Lapisan I : Dijahit jelujur. Di buat insisi pada segmen bawah rahim 1 cm di bawah irisan plika vesikouterina tadi secara tajam dengan pisau bedah ±2 cm. Dibandingkan dengan cara klasik kemungkinan ruptur uteri spontan kurang atau lebih kecil. Mengenai penerapan komunikasi terapeutik pada pasien DM Di Irna Non Bedah Rumah Sakit Dr. 2. janin dilahirkan dengan meluksir kepalanya. selaput ketuban dipecahkan. Badan janin dilahirkan dengan mengait kedua ketiaknya. Pada fase ini 14. Kedalam otot rahim intra mural disuntikkan 10 U oksitosin. Plika vesikouterina ini disisihkan secara tumpul ke arah samping dan bawah. Setelah dinding rahim selesai dijahit. 5. Kelebihan : Penjahitan luka lebih mudah. kemudian diperlebar melintang secara tumpul dengan kedua jari telunjuk perator.Untuk kategori baik sebanyak 47. Di peroleh data mengenai gambaran peran perawat pelaksana dalam menerapkan teknik komunikasi terapeutik pada teknik menyimpulkan pada pasien gangguan jiwa diruang rawat inap Rumah Sakit Dr. 2007). yaitu dengan menggunting peritoneum kandung kencing (plika vesikouterina) didepan segmen bawah rahim (SBR) secara melintang.7% masih dalam kategori kurang dimana responden tidak menjelaskan tindakan keperawatan yang dilakukan seharusnya perawat menjelaskan tindakan keperawatan yang dilakukan agar tidak menimbulkan kecemasan pada pasien dengan demikian komunikasi terapeutik pada fase kerja tidak ada lagi dalam katogori kurang. Mohammad Hoesin Palembang terdapat 30 responden didapat data bahwa pengetahuan ibu bersalin dengan SC tentang perawatan bekas sayatan SC dengan kategori baik sebanyak 16 responden (53%). Tali pusat dijepit dan dipotong.

BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL 3.1 Kerangka Konsep Kerangka konsep penelitian adalah suatu hubungan atau kaitan antara konsep satu terhadap konsep yang lainnya dari masalah yang ingin diteliti. Komunikasi terapeutik merupakan suatu hubungan atau interaksi antara perawat dengan pasien. 2005). maka konsep tersebut harus dijabarkan kedalam variabel-variabel. dari variabel itulah konsep dapat diamati dan diukur (Notoatmodjo. konsep adalah suatu abstraksi yang dibentuk dengan menggeneralisasikan suatu pengertian oleh karena itu konsep tidak dapat diamati dan dapat diukur.kurang. Berdasarkan hal tersebut maka kerangka konsep penelitian hubungan komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar adalah sebagai berikut: Variabel Dependen Variabel Independen . Tingkat kecemasan merupakan salah satu tolak ukur yang digunakan untuk mengukur kecemasan pada pasien pre operasi seksio sesarea.

Keterangan : : Yang diteliti : Tidak diteliti Sumber : Menurut teori Lawrence Green (Dalam Notoatmodjo Soekidjo. orientasi. Ringan jika nilainya ( < 50 %) 2. 2007) 3. Sedang jika nilainya (50-75 %) 3. Baik jika yang menjawab benar > 75 % dari pertayaan yang diajukan 2. Cukup jika yang menjawab benar antara 60-75% dari pertayaan yang diajukan 3. 1989) Ordinal 3. Persalinan SC 2. Kurang jika yang menjawab benar < 60 % dari pertayaan yang diajukan ( Arikunto. Persalinan normal / spontan Nominal 2 Komunikasi terapeutik perawat Komunikasi yang dilakukan oleh perawat dengan pasien yang meliputi dari fase prainteraksi.3 Hipotesis Ada hubungan antara komunikasi terapeutik perawat/bidan dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar. 2006 ) Ordinal 3 Tingkat kecemasan pasien pre operasi seksio caesar Merupakan tingkat kecemasan yang dialami oleh pasien pre operasi SC yang diukur dengan cara Anxiety Scale Observasi Checklist 1. kerja. Wawancara Kuiesioner 1. . dan terminasi.2 Definisi Operasional No Variabel Definisi Operasional Cara Ukur Alat Ukur Hasil Ukur Skala 1 Operasi seksio caesar Merupakan salah satu cara melahirkan janin melalui insisi pada dinding perut dan dinding uterus Observasi Cheklist 1. Berat jika nilainya (> 75 %) (Struat & Sunden.

4. Pembahasan bab I-IV √ √ 3. 2005).1. Populasi dan Sampel Penelitian 4.2.3.2.2. Tempat dan Waktu Penelitian 4.2. Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien pre operasi seksio caesar dan perawat/bidan di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang.1 Perencanaan Waktu Penelitian Kegiatan Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Juni Juli 1. Desain Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian yang bersifat hubungan analitik menggunakan tehnik cross sektional. Penelitian yang dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang 2010.BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4. Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan Diruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang 2010. Populasi Penelitian Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti (Notoatmodjo. Sampel Penelitian Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmojo. 4.3. 4. Sampel dalam penelitian ini menggunakan metode accidental yaitu sampel yang diambil dari responden atau kasus yang kebetulan ada atau tersedia.1. Seminar proposal √ . 2005).2.3. Pengajuan judul √ 2.1. 4. Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan serangkaian kegiatan yang dilaksanakan dengan perencanaan waktu sebagai barikut : Tabel 4. Persiapan seminar proposal √ 4.

4. Ujian √ 4. Instrumen Pengumpulan Data Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data adalah Wawancara (Kuesioner) dan observasi (Check List). Entry Data ( Memasukan Data ) Memasukan hasil data penelitian ke dalam tabel sesuai dengan kriteria.5. data tersebut perlu diperiksa terlebih dahulu apakah telah sesuai dengan yang diharapkan atau tidak. 4. Komprehensif √ 9. 4.5. 4. 4.4. Pengumpulan data dilakukan sendiri oleh penulis dengan cara melakukan pengamatan (observasi) secara langsung kepada responden dengan menggunakan observasi atau cheklist yang dikembangkan sendiri oleh peneliti dan wawancara langsung dengan pasien dengan menggunakan kuesioner yang dikembangkan sendiri oleh peneliti. Penelitian √ √ 6.5. Editing ( Pegolahan Data ) Klasifikasikan jawaban / hasil yang ada menurut macamnya ke bentuk yang lebih ringkas dengan menggunakan kode. 2003).5. Persiapan komprehensif √ 8.4.4.1. Rumus pengolahan data bila respon : . Coding ( Pengkodean ) Dalam melakukan pengolahan data dengan baik.1. Dan data sekunder diperoleh dari Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang yang berupa data yang diambil dari Medical Record. Tehnik Pengumpulan Data Pada penelitian ini data yang diperoleh adalah data primer yaitu Data primer berupa angket yang dibagikan kepada responden dengan cara menggunakan kuesioner yang dikembangkan sendiri oleh penulis (Notoatmojo. Penelitian langsung mengambil data pada subyek penelitian langsung pada nilai operasi. Cleaning Data ( Pembersihan Data ) Pemeriksaan kembali data yang telah dimasukan sehingga benar – benar bebas dari kesalahan kemudian diuji kebenarannya. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data 4. Pembahasan bab V-VI √ √ 7.5.5. 4.2.3. Pengolahan Data Menurut Hastono (2001) pengolahan data dapat jelaskan sebagai berikut : 4.2.

6. jika responden menjawab ”Tidak ” nilainya 0. Lembar informend consed harus dilengkapi dengan judul penelitian dan manfaat penelitian. Etika Penelitian Dalam melakukan penelitian. Baik jika yang menjawab benar > 75 % dari pertayaan yang diajukan b. c. Analisa Data 4. Analisa Bivariat Analisa bivariat dilakukan untuk melihat hubungan antara dua variabel independen yang meliputi : Tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar dengan variabel dependen : Komunikasi terapeutik perawat.7. Anonimity (Tanpa Nama) Untuk menjaga kerahasiaan.6. Confidentiality (Kerahasiaan) Kerahasiaan informasi responden dijamin oleh peneliti.2. Responden harus memenuhi kriteria inklusi. Analisa Univariat Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah univariat terhadap tiap variabel dari hasil penelitian dalam hal ini hanya menghasilkan distribusi frekuensi dan persentase dari tiap variabel. dan hanya kelompok data tertentu yang akan dilaporkan sebagai hasil penelitian. 4.a. b. Dalam hal ini untuk melihat hubungan antara dua variabel independen dan dependen digunakan uji Chi square (SPSS). tetapi pada lembar tersebut diberiakan kode. Informend Consent Lembar persetujuan ini diberikan pada responden yang akan diteliti. Setelah mendapat persetujuan barulah penelitian menekankan masalah etika yang meliputi: a.6.75% dari pertayaan yang diajukan c. Bila subjek menolak. peneliti tidak akan mencantumkan nama responden. peneliti perlu membawa rekomendasi dari Institusi dari pihak lain dengan cara mengajukan permohonan izin pada Instiusi/Lembaga penelitian yang dituju oleh peneliti. Kurang jika yang menjawab benar < 60 % dari pertayaan yang diajukan Jika responden menjawab ”Ya” nilainya 1. maka setiap kuisioner nilainya dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut : R = n x 100 % N Keterangan : R : Indeks kesesuaian prilaku n : Jumlah responden yang menjawab ”Ya” N : Jumlah pertayaan 4. Cukup jika yang menjawab benar antara 60 .1. ¬¬ . maka peneliti tidak boleh memaksa dan harus tetap menghormati hakhak subjek. 4.

dan islami sehingga menjadi rahmatan lil’alamin bagi masyarakat. terkemuka. Memberikan pelayanan kesehatan secara profesional. 2. Insya Allah Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang akan selalu memupuk dan memelihara kepercayaan masyarakat melalui dipenuhinya dokterdokter spesialis. Menjadi pusat persemaian kader Muhammadiyah dalam bidang kesehatan. Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang telah berkembang cukup pesat dan berkat ridho Allah SWT dan dukungan masyarakat rumah sakit ini sudah sama dengan rumah sakit lainnya di kota Palembang. dan islami kepada masyarakat. Paru e. Mewujudkan citra sebagai Rumah Sakit islam kebanggaan Muhammadiyah yang berfungsi sebagai wahana ibadah dan berperan aktif sebagai media dakwah persyarikatan dalam bidang kesehatan. b) Misi 1. modern. Paramedis (Perawat. Kebidanan dan Kandungan b. mengesankan dan bernuansa islami.1.1 Gambaran Rumah Sakit Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang adalah Amal Usaha Persyarikatan Muhammadiyah yang diresmikan tanggal 10 Dzulhijjah 1417 H/ 18 April 1997 oleh Gubernur Propinsi Sumatera Selatan (Bapak H. ramah. peralatan medis. baik pelayanan. 5. 3. modern. ruangan yang bersih.BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5. dan Motto a) Visi Terwujudnya Rumah Sakit yang profesional. Amien Rais) merupakan satu satunya amal usaha dibawah langsung PWM SumSel. Anak . peralatan non medis dan peralatan penunjang lainnya. pelayanan yang cepat. simpatik. Misi. Bidan) dan karyawan yang terampil dan berkemampuan dengan didukung oleh peralatan-peralatan canggih. Ramli Hasan Basri) bersama Ketua PP Muhammadiyah (Bapak Prof. Pada saat ini Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang lebih menggembirakan jika dilihat dari berbegai sektor. Penyakit Dalam d. DR.1 Visi. dokter umum.2 Fasilitas Pelayanan a. Syaraf c. c) Motto ” Pelayanan sebagai Ibadah dan Dakwah”.1. 5.

. ICCU /ICU.2 10 . USG/ECG i. 6 Konsultasi Gizi c.1.7 VIP Bawah 2 ... IGD.. Treadmil g.....4 4 11 11 62 92 Kebidanan ..1 Analisa Univariat Analisa ini yang digambarkan dalam bentuk distribusi frekuensi dari variabel komunikasi terapeutik perawat dan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar. .6 8 16 30 Anak .10 Total TT 3 6 2 14 12 33 35 112 227 5. Ambulance 5.2 Variabel Penelitian Dari hasil penelitian yang telah dilakukan pada tanggal 22 Februari sampai 8 Maret tahun 2010.24 42 P D L .. Instalasi Farmasi b. Laboratorium f.4 Pelayanan Penunjang / Tindakan Medis a. Bedah i..6 16 10 32 VIP Atas 1 6 . Jantung g......3 Tempat Tidur Tabel 5. Fisioterapi j.. didapatkan dari 14 responden pada perawat dan pasien pre operasi seksio caesar yang dilakukan di ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang. THT h.....8 10 .. Radiologi h... 5. Daftar ditampilkan dalam bentuk tabel dan teks.14 ICU/ ICCU 10 . Echo e. Mata.1 Jumlah Tempat Tidur Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang 2010 RUANG Kelas TT Tidur VIP Khusus VIP Utama I A I B II A II B IIIA III B Bedah ... Kamar Operasi d.f.1.2. 5..

cukup 60%-75%. dan bulan Maret seksio caesar 75 pasien (16%) spontan 92 (24%).2 Distribusi Frekuensi Persalinan Spontan Dan Seksio Caesar di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang Tahun 2010 No Bulan Persalinan Seksio Caesar % Spontan % 1 Nopember 116 25 76 19 2 Desember 106 23 89 23 3 Januari 85 19 67 17 4 Februari 73 16 65 17 5 Maret 75 16 92 24 Total 455 100 389 100 Dari data diatas bahwa dari 844 persalinan yang bulan Nopember seksio caesar 116 pasien (25%) spontan 76 (20%). b) Komunikasi Terapeutik Perawat Pada penelitian ini komunikasi terapeutik perawat dikelompokan menjadi 3 kategori komunikasi terapeutik baik > 75%. Desember seksio caesar 106 pasien (23%) spontan 89 (23%). Januari seksio caesar 85 pasien (19%) spontan 67 (17%).3 Distribusi Frekuensi Komunikasi Terapeutik Perawat di .3 Tabel 5.2 Tabel 5. Februari seksio caesar 73 pasien (16%) spontan 65 (17%).a) Persalinan Pada penelitian ini persalinan dikelompokan menjadi 2 kategori persalianan spontan dan persalinan operasi seksio caesar berdasarkan medical record Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang dari bulan Nopember 2009 sampai dengan Maret 2010 untuk lebih jelas lihat tabel 5. dan kurang < 60% untuk lebih jelas lihat tabel 5.

Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang Tahun 2010 No Komunikasi Terapeutik Perawat N % 1 Baik 5 36 2 Cukup 9 64 Jumlah 14 100 Dari data di atas bahwa dari 14 perawat yang komunikasi terapeutik baik 5 perawat (36 %). Tabel 5. dan berat 66% -100 %.50%. sedang sebanyak 6 pasien (43%). c) Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Pada penelitian ini tingkat kecemasan dikategorikan menjadi menjadi 3 yaitu ringan 40% . sedang 51% .65%. . untuk lebih jelas lihat tabel 54. cukup 9 perawat (64%).4 Distribusi Frekuensi Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang Tahun 2010 No Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar N % 1 Ringan 8 57 2 Sedang 6 43 Jumlah 14 100 Dari data di atas bahwa dari 14 pasien seksio caesar yang tingkat kecemasan ringan sebanyak 8 pasien (57%).

3.031 ≤ 0.5.2 Analisa Bivariat Analisa ini untuk mengetahui hubungan antara variabel independent (komunikasi terapeutik perawat) dengan variabel dependent (tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar) dengan uji statistik yang menggunakan uji Chi-Square. Sehingga sampel yang didapatkan adalah pasien pre operasi seksio caesar yang ada di ruangan kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan.05 dapat diketahui bahwa pValue = 0. Dari uji statistik diperoleh pValue = 0. Maka akan diuraikan satu persatu oleh penulis di bawah ini : 5.5 Distribusi Frekuensi Komunikasi Terapeutik Perawat dengan Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang Tahun 2010 No Komunikasi Terpeutik Perawat Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi SC Jumlah Value Ringan Sedang N%N%N% 1 Baik = 0. Pada penelitian ini sampel di ambil secara accicidental sample. maka dapat diketahui bahwa ada hubungan antara komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar.5 Tabel 5.1 Persalinan . a) Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Komunikasi terapeutik dengan tingkat kecemasan pasien dikategorikan menjadi 2 dengan jumlah responden 14.3 Pembahasan Pembahasan ádalah suatu penelitian untuk membandingkan hasil penelitian di lapangan dengan teori yang mendukung. Untuk variabel mempengaruhi seperti perawat yang merawat pasien operasi seksio caesar tersebut yang ada diruang tempat pasien dirawat.2. hasil uji Chi-Square lihat tabel 5.031 setelah dibandingkan dengan α 0.05. 5.0315 36 0 0 5 36 2 Cukup 3 21 6 43 9 64 Total 8 57 6 43 14 100 Dari data diatas dapat diketahui bahwa perawat dengan komunikasi terapeutik yang baik didapatkan tingkat kecemasan kategori ringan (36%) dari pada perawat dengan komunikasi terapeutik yang cukup didapatkan tingkat kecemasan kategori ringan (21%) dan sedang (43%).

Fase terminasi akhir dari pertemuan perawat dengan klien. presentasi bokong. keadaan melemahkan lainnya. Didalam komunikasi terapeutik perawat ada empat fase yaitu fase preinteraksi (persiapan) Pada tahap ini perawat menggali perasaan dan mengidentifikasi kelebihan dan kekurangannya. Seksio caesar adalah suatu persalinan buatan. penyakit jantung berat pada ibu. faktor-faktor yang menyebabkan seksio sesarea adalah dari faktor ibu dan janin. Komunikasi terapeutik merupakan komunikasi profesional bagi perawat bertujuan untuk kesembuhan pasien. diabetes. ruptur uteri (Cunningham. Operasi merupakan salah satu tindakan pengobatan yang banyak menimbulkan kecemasan. Bila kecemasan pada pasien pre operasi tidak segera diatasi maka dapat mengganggu proses penyembuhan. ruptur uteri. faktor hambatan jalan lahir. 5. 2008 ). bayi terlalu besar (>4000 gram). sehingga dilakukan operasi seksio caesar yang membantu persalinan bukan karena suatu Trens. Menurut Cunningham (2005) dan Benson (2008). Perawat juga dituntut untuk mempunyai kepekaan dan tingkat analisis yang tinggi terhadap adanya perubahan dalam respons verbal maupun nonverbal klien.2005). Pada tahap ini perawat juga mencari informasi tentang klien fase orientasi (perkenalaan) Pada saat berkenalan. menunjukan bahwa kejadian persalinan seksio caesar mengalami peningkatan dikarnakan adanya faktor-faktor yang membahayakan ibu dan bayi.2 Komunikasi Terapeutik Perawat Dari hasil penelitian di rumah Sakit Muhammadiyah Palembang dapat dilihat bahwa dari 14 perawat komunikasi terapeutik kategori cukup (64%). plasenta previa. Penyakit ibu yang dapat mempengaruhi seksio sesarea adalah: preeklampsieklampsi berat. dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding perut dan dinding rahim dengan sayatan rahim dalam keadaan utuh (Sarwono. Dari hasil penelitian yang didapatkan dan dari teori yang mendukung. Fase kerja pada tahap kerja ini dituntut kemampuan perawat dalam mendorong klien mengungkap perasaan dan pikirannya. defleksi kepala. presentasi dahi.Dari hasil penelitian di ruang kebidanan rumah Sakit Muhammadiyah Palembang dapat dilihat bahwa dari bulan Nopember sampai Maret yaitu persalinan SC sebanyak 455 pasien dan persalinan spontan sebanyak 389 pasien Maka angka persalinan SC meningkat dan persalinan spontan terjadi penurunan di ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammdiyah Palembang tahun 2010. perawat harus memperkenalkan dirinya terlebih dahulu kepada klien. presentasi bahu. presentasi majemuk). gawat janin atau fetal distress. letak lintang. Hasil penelitian yang di peroleh data mengenai gambaran peran perawat pelaksana dalam menerapkan . ( Mukhripah Damaiyanti. Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan dan dilakukan untuk membantu penyembuhan dan pemulihan pasien. bayi kembar (Multiple Pregnancy) (Benson. posisi dagu posterior. Faktor Ibu yang menyebabkan seksio sesarea adalah: usia. Berarti komunikasi terapeutik perawat masih cukup di ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang. eritroblastosis. Kategori cukup 8 responden (27%) dan 6 responden (20%) dikategorikan kurang. persalinan sebelumnya dengan seksio caesar. 2007). tulang panggul. solusio plasenta.3. kelainan tali pusat. 2008). Faktor janin yang menyebabkan seksio caesar adalah: janin dengan anomali. Dari hasil Tri Setiani dari 30 responden didapat data bahwa pengetahuan ibu bersalin dengan SC tentang perawatan bekas sayatan SC dengan kategori baik sebanyak 16 responden (53%). vasa previa. untuk itu pasien yang akan menjalani operasi harus diberi komunikasi terapeutik untuk menurunkan atau mengurangi gejala kecemasan serta dapat meningkatkan pengetahuan kesehatan pada pasien.

menunjukan bahwa tingkat kecemasan pasien pre operasi seksio caesar masih mengalami kecemasan dikarenakan lingkungan yang bising dan kurang nyaman. Dikarenakan perawat kurang mencari informasi tentang klien dan perawat tidak memperkenalkan dirinya terlebih dahulu serta pada saat melakukan tindakan operasi perawat tidak menjelaskan prosedur tindakan operasi pada pasien yang akan menjalankan operasi. karena dengan komunikasi terapeutik dapat mengurangi kecemasan terhadap pasien tersebut dan membuat pasien merasa lebih baik dan operasi bisa berjalan dengan .3 Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Dari hasil penelitian di rumah Sakit Muhammadiyah Palembang dapat dilihat bahwa dari 14 pasien tingkat kecemasan yang kategori berat (43%). Untuk perawat harus melakukan komunikasi terapeutik. kurangnya dukungan keluarga hal ini suami serta kurangnya pendekatan dan komunikasi terapeutik perawat.3. Dan perawat mengatahui bahwa menurunkan suatu kecemasan pasien perlu suatu metode yang baik yaitu komunikasi yang terapeutik sehingga pasien dapat merasakan rasa nyaman dalam menghadapi operasi yang akan dilakukan oleh klien. karena perawat tidak mempunyai waktu yang lama.teknik komunikasi terapeutik pada teknik menyimpulkan pada pasien gangguan jiwa diruang rawat inap Rumah Sakit Dr. Oleh sebab itu perawat dapat membagi waktu untuk memberikan informasi dan dapat meningkatkan pengetahuan pasien terutama untuk mengurangi kecemasan psien itu sendiri.62% dan kategori kurang sebanyak 52. MASUKKAN PENELITIAN YANG TERKAIT TENTANG KECEMASAN ”? Dari hasil penelitian yang didapatkan dan dari teori yang mendukung. Dari hasil penelitian yang didapatkan dan dari teori yang mendukung. Kecemasan (ansietas) adalah keadaan dimana individu atau kelompok mengalami perasaan gelisah (penilaian atau opini) dan aktivitas sistem syaraf autonom dalam berespon terhadap ancaman yang tidak jelas. Berarti tingkat kecemasan pasien pre operasi seksio caesar masih berat di ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang. ninspesifik (Carpenito. menunjukan bahwa komunikasi terapeutik perawat masih banyak yang belum berkomunikasi terapeutik yang baik. Respon emosional terhadap penilaian intelektual terhadap sesuatu yang berbahaya (Stuart Dan Sundeen. 5.38%. Karena dengan banyaknya pengetahuan dan penjelasan dalam suatu masalah dapat meringankan kecemasan terhadap pasien tersebut. Ernaldi Bahar Propinsi Sumatra Selatan tahun 2008. Oleh sebab itu untuk mengurangi kecemasan pada pasien yang akan menjalankan operasi seksio caesar dibutuhkan komunikasi terapeutik yang baik. Untuk kategori baik sebanyak 47. 1998). 2000). Penelitian ini dapat digambarkan bahwa peran perawat pelaksana komunikasi terapeutik pada teknik menyimpulkan tergolong kurang.

berarti ada hubungan komunikasi teraputik perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar di ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang. maka pasien yang akan menjalankan operasi akan timbul kecemasan dalam dirinya. adanya perasaan gelisah atau tidak tenang dengan sumber yang tidak spesifik dan tidak diketahui oleh seseorang. Menurut Northouse (1998) Komunikasi terapeutik adalah kemampuan atau keterampilan perawat untuk membantu pasien beradaptasi terhadap stres. (Dewi Wijayanti. Untuk dapat menurunkan kecemasan pada pasien pre operasi salah satunya diperlukan komunikasi yang efektif terutama komunikasi terapeutik.3.lancar. Dari hasil penelitian yang didapatkan dan dari teori yang mendukung. perawatlah yang berperan penting dalam meningkatkan pengetahuan pasien terutama menjelaskan tentang prosedur tindakan operasi maka perawatlah yang harus melakukan komunikasi terapeutik dengan pasien pre operasi seksio caesar. menunjukan bahwa komunikasi terapeutik perawat dapat mempengaruhi serta menurunkan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar karena salah satu untuk menurunkan kecemasan dengan cara komunikasi yang efeksif yaitu komunikasi terapeutik yang baik oleh perawat. dan belajar bagaimana berhubungan dengan orang lain. 5.016 ≤ 0.4 Komunikasi Terapeutik Perawat dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Dari hasil penelitian di rumah Sakit Muhammadiyah Palembang dapat dilihat bahwa komunikasi terapeutik perawat di ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang tergolong dalam kategori cukup dan pasien pre operasi seksio caesar mengalami kecemasan sedang sebanyak 8 pasien (56%) dari hasil uji statistik menunjukkan bahwa pValue 0. Hal ini perlu mendapat perhatian serius dari perawat karena perawat merupakan petugas kesehatan yang terdekat dan terlama dengan pasien. 2009) Hasil penelitian Supono (2005) mengatakan bahwa tingkat kecemasan pasien persalinan dapat berkurang dengan adanya komunikasi terapeutik perawat.05. mengatasi gangguan psikologis. Karena perawat tenaga kesehatan yang . (Arwani. 2003) Menurut Yadi (2001) kecemasan adalah suatu perasaan yang tidak nyaman yang disertai dengan rasa takut yang mengancam dan perasaan tidak nyaman terhadap sesuatu. Kecemasan juga merupakan sesuatu hal yang tidak jelas. Karena komunikasi tersebut sangat dibutuhkan oleh pasien yang akan menjalankan operasi.

2.2 Tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar di ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang Tahun 2010 didapatkan sebagian besar dengan kategori ringan.4 Manfaat Bagi Peneliti Dapat menambah ilmu pengetahuan maternitas serta riset penelitian dan wawasan bagi peneliti mengenai hubungan komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar. Diposkan oleh agustus di 09:06 0 komentar .1.2. 7.1.dekat dengan pasien dan memberikan rasa nyaman pada pasien yang akan menjalankan operasi seksio caesar.2. 031.3 Ada hubungan antara komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar. BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 7. 7.1 Komunikasi terapeutik perawat dirumah Sakit Muhammadiyah Palembang Tahun 2010 didapatkan sebagian besar dengan kategori cukup.1. didapatkan pValue = 0. 7. 7.1 Manfaat Bagi Rumah Sakit Dapat dijadikan masukan dan motivasi bagi rumah sakit untuk lebih meningkatkan komunikasi terapeutik perawat dalam mengurangi tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar. 7.2. Dari hasil uji Chi-Square.2 Manfaat Bagi Institusi Pendidikan Dapat menambah informasi dan referensi yang berguna bagi mahasiswa sekolah tinggi ilmu kesehatan Muhammadiyah Palembang.3 Manfaat Bagi Pasien Dapat memberikan rasa nyaman dan aman pada semua pasien yang akan menjalankan operasi seksio caesar sehingga pasien yang menjalankan operasi tidak cemas dan operasi bisa berjalan dengan lancar. 7.1 Kesimpulan Setelah dilakukan penelitian terhadap 14 responden di ruangan Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang 22 Februari sampai 6 Maret tahun 2010 dapat disimpulkan bahwa : 7.2 Saran 7.

com ) Patent Duktus Arteriosus adalah kegagalan menutupnya ductus arteriosus (arteri yang menghubungkan aorta dan arteri pulmonal) pada minggu pertama kehidupan. • Ibu menderita penyakit Diabetes Mellitus (DM) yang memerlukan insulin. Faktor Prenatal : • Ibu menderita penyakit infeksi : Rubella. 10 Juni 2010 patens ductus PATENT DUCTUS ARTERIOSUS (PDA) 1. Hubungan ini ( shunt ) ini diperlukan oleh karena sistem respirasi fetus yang belum bekerja di dalam masa kehamilan tersebut. Lahir dengan kelainan bawaan yang lain. Rita Yuliani. PATOFISIOLOGI Duktus arteriosus adalah pembuluh darah yang menghubungkan aliran darah pulmonal ke aliran darah sistemik dalam masa kehamilan ( fetus ). Sering dijumpai pada bayi prematur. ETIOLOGI Penyebab terjadinya penyakit jantung bawaan belum dapat diketahui secara pasti. Kelainan kromosom seperti Sindrom Down.Kamis. insidennya bertambah dengan berkurangnya masa gestasi ( Betz & Sowden. . Ayah / Ibu menderita penyakit jantung bawaan. • Ibu alkoholisme. 2001.google. 2002 : 375 ) Patent Ductus Arteriosus (PDA) atau Duktus Arteriosus Paten (DAP) adalah kelainan jantung kongenital ( bawaan ) dimana tidak terdapat penutupan ( patensi ) duktus arteriosus yang menghubungkan aorta dan pembuluh darah besar pulmonal setelah 2 bulan pasca kelahiran bayi ( www. ± 2-10 mm distal dari percabangan arteri subklavia kiri. DEFINISI Patent Ductus Arteriosus (PDA) adalah duktus arteriosus yang tetap terbuka setelah bayi lahir. Aliran darah balik fetus akan bercampur dengan aliran darah bersih dari ibu ( melalui vena umbilikalis ) kemudian masuk ke dalam atrium kanan dan kemudian dipompa oleh ventrikel kanan kembali ke aliran sistemik melalui duktus arteriosus. Faktor Genetik : Anak yang lahir sebelumnya menderita penyakit jantung bawaan. yang menyebabkan mengalirnya darah dari aorta yang bertekanan tinggi ke arteri pulmonal yang bertekanan rendah. 2. Normalnya duktus arteriosus berasal dari arteri pulmonalis utama (arteri pulmonalis kiri) dan berakhir pada bagian superior dari aorta desendens. • Umur ibu lebih dari 40 tahun. • Ibu meminum obat-obatan penenang atau jamu. 3. 235 ) 2. ( Suriadi. Kelainan ini merupakan 7% dari seluruh penyakit jantung bawaan. tetapi ada beberapa faktor yang diduga mempunyai pengaruh pada peningkatan angka kejadian penyakit jantung bawaan : 1.

KOMPLIKASI a. sirkulasi dan meningkatnya pO2 akan menyebabkan penutupan spontan duktus arteriosus dalam waktu 2 minggu.Dinding duktus arteriosus terutama terdiri dari lapisan otot polos ( tunika media ) yang tersusun spiral. Pulsasi nadi perifer yang lemah dan lebar 4. Aritmia j. PENATALAKSANAAN MEDIS a. Adanya perubahan tekanan. berbeda dengan aorta yang memiliki lapisan elastin yang tebal dan tersusun rapat ( unfragmented ). Obstruksi pembuluh darah pulmonal c. Gangguan paru yang terjadi bersamaan (misalnya sindrom gawat nafas atau displasia bronkkopulmoner) g. CHF dan infeksi paru berulang seringkali terjadi pada PDA besar. Non pembedahan : Penutupan dengan alat penutup dilakukan pada waktu kateterisasi jantung. 7. Perdarahan gastrointestinal (GI). 3. 5. Pembedahan : Pemotongan atau pengikatan duktus. c. CHF ( gagal jantung kongestif ) d. Diantara sel-sel otot polos terdapat serat-serat elastin yang membentuk lapisan yang berfragmen. Besarnya pirai (shunt) ditentukan oleh diameter. 6. 4. Rumble apikal terdengar pada PDA besar. Hepatomegali (jarang terjadi pada bayi prematur) e. 5. Penatalaksanaan Konservatif : Restriksi cairan dan Pemberian obat-obatan : Furosemid (lasix) diberikan bersama restriksi cairan untuk meningkatkan diuresis dan mengurangi efek kelebihan beban kardiovaskular. Duktus arteriosus yang persisten (PDA) akan mengakibatkan pirai (shunt) L-R yang kemudian dapat menyebabkan hipertensi pulmonal dan sianosis. Gagal tumbuh 6. i. Pemberian indomethacin (inhibitor prostaglandin) untuk mempermudah penutupan duktus. 2. Hiperkalemia (penurunan keluaran urin). Tanda-tanda CHF muncul pada PDA besar. panjang PDA serta tahanan vaskuler paru (PVR). Endokarditis b. . Sianosis yang terjadi pada PDA dengan PVOD dikenal sebagai sianosis diferensial oleh karena hanya ekstremitas bawah yang biru sedangkan ekstremitas atas tetap normal. pemberian antibiotik profilaktik untuk mencegah endokarditis bakterial. penurunan jumlah trombosit h. Tidak menimbulkan gejala bila PDA kecil. Selsel otot polos pada duktus arteriosus sensitif terhadap mediator vasodilator prostaglandin dan vasokonstriktor (pO2). Setelah persalinan terjadi perubahan sirkulasi dan fisiologis yang dimulai segera setelah eliminasi plasenta dari neonatus. MANIFESTASI KLINIK 1. b. Murmur kontinyu (machinery) derajat 1 sampai 4/6 terdengar dengan jelas pada ULSB atau daerah infraklavikula kiri yang merupakan petanda khas kelainan ini. Penutupan spontan PDA tidak akan terjadi pada bayi aterm. Akan terjadi hipertensi pulmonal dan PVOD bila PDA dibiarkan tanpa tindakan penutupan. Enterokolitis nekrosis f.

EKG serupa dengan kelainan VSD. b. Pada PDA kecil-sedang dapat terjadi LVH atau normal. CVH bila PDA besar. melibatkan keluarga atau orang terdekat dalam wawancara. Foto toraks juga menyerupai kelainan VSD. PEMERIKSAAN a. PDA sedangbesar terjadi kardiomegali dan peningkatan PVM. Ekhokardiografi yaitu rasio atrium kiri tehadap pangkal aorta lebih dari 1.0 pada bayi praterm (disebabkan oleh peningkatan volume atrium kiri sebagai akibat dari pirau kiri ke kanan) e. Melalui pemeriksaan ekho 2-D dan Doppler dapat divisualisasi adanya PDA dan besarnya shunt. A. d. Pengkajian Sebelum operasi dilaksanakan pengkajian menyangkut riwayat kesehatan dikumpulkan. Dalam fase pre operasi ini dilakukan pengkajian pre operasi awal. Atau RVH bila telah terjadi PVOD. Pada PDA kecil bayangan jantung normal. pemeriksaan fisik dilakukan. Kateterisasi jantung yaitu hanya dilakukan untuk mengevaluasi lebih jauh hasil ECHO atau Doppler yang meragukan atau bila ada kecurigaan defek tambahan lainnya. Pemeriksaan diagnostik mungkin dilakukan seperti . merencanakan penyuluhan dengan metode yang sesuai dengan kebutuhan pasien. pada PDA kecil tidak ada abnormalitas. dan berakhir ketika klien di pindahkan ke kamar operasi. hipertrofi ventrikel kiri pada PDA yang lebih besar.blogspot. c. tanda-tanda vital di catat dan data dasar di tegakkan untuk perbandingan masa yang akan datang. Pemeriksaan angiografi biasanya tidak dibutuhkan kecuali bila terdapat kecurigaan PVOD. memastikan kelengkapan pemeriksaan praoperasi. mengkaji kebutuhan klien dalam rangka perawatan post operasi.3:1 pada bayi cukup bulan atau lebih dari 1. Adanya PVOD akan mengakibatkan ukuran jantung normal dengan pembesaran MPA dan peningkatan corakan vaskulerisasi hilus.com/ 99999999 KONSEP KEPERAWATAN PRE OPERASI 19 Januari 2009 oleh PRO-HEALTH Keperawatan pre operasi dimulai ketika keputusan tindakan pembedahan di ambil. bervariasi sesuai tingkat keparahan.7. http://agustusstikes.

dan perubahan perilaku. Perawat berperan memberikan penjelasan pentingnya pemeriksaan fisik diagnostik. Dalam memberikan penyuluhan klien pre operasi perlu dipertimbangkan masalah waktu. keterampilan. fungsi endokrin. endoskopi. juga terhadap kesulitan teknik dan mekanik selama dan setelah pembedahan. biopsi jaringan. Disamping pengkajian fisik secara umum perlu di periksa berbagai fungsi organ seperti pengkajian terhadap status pernapasan. klien obesitas akan mendapat masalah post operasi dikarenakan lapisan lemak yang tebal akan meningkatkan resiko infeksi luka. Tuntutan klien akan bantuan keperawatan terletak pada area pengambilan keputusan. jika penyuluhan diberikan terlalu lama sebelum pembedahan memungkinkan klien lupa. Informed Consent Tanggung jawab perawat dalam kaitan dengan Informed Consent adalah memastikan bahwa informed consent yang di berikan dokter di dapat dengan sukarela dari klien. B. tambahan pengetahuan. dan fungsi imunologi. Status nutrisi klien pre operasi perlu dikaji guna perbaikan jaringan pos operasi.analisa darah. endoskopi. C. Pendidikan Pasien Pre operasi Penyuluhan pre operasi didefinisikan sebagai tindakan suportif dan pendidikan yang dilakukan perawat untuk membantu pasien bedah dalam meningkatkan kesehatannya sendiri sebelum dan sesudah pembedahan. sebelumnya diberikan penjelasan yang gamblang dan jelas mengenai pembedahan dan kemungkinan resiko. penyembuhan luka akan di pengaruhi status nutrisi klien. Demikian pula dengan kondisi obesitas. dan pemeriksaan feses dan urine. . rontgen. fungsi hepar dan ginjal.

ada/tidak kemungkinan terjadinya komplikasi. menyusun rencana penatalaksanaan sebelum. Membedakan masalah obstetri / ginekologi dengan masalah non-obstetri yang terjadi pada kehamilan. faktor penyulit 5. mengetahui riwayat penyakit dahulu serta keadaan / masalah yang mungkin menyertai pada saat ini. informed consent Penilaian catatan medik (chart review) 1. menghembuskan melalui mulut. Hal ini dapat dicapai dengan memperagakan pada pasien bagaimana melakukan nafas dalam. http://forbetterhealth. 2. 2. menciptakan hubungan dokter-pasien 3. Batuk dan Relaksasi salah satu tujuan dari keperawatan pre operasi adalah untuk mengajar pasien cara untuk meningkatkan ventilasi paru dan oksigenasi darah setelah anastesi umum.wordpress. indikasi / kontraindikasi 4. Selain meningkatkan pernafasan latihan ini membantu pasien untuk relaksasi.3 ). nafas lambat (menahan inspirasi secara maksimal) dan bagaimana menghembuskan nafas dengan lambat pasien dalam posisi duduk untuk memberikan ekspansi paru maksimum. Setelah melakukan latihan nafas dalam beberapa kali.2 dan 2. mengetahui masalah saat ini. Beberapa penyuluhan atau instruksi pre operasi yang dapat meningkatkan adaptasi klien pasca operasi di antaranya : 1. ambil nafas pendek. Jenis operasi yang direncanakan 3. pasien di instruksikan untuk bernafas dalam-dalam.com/2009/01/19/konsep-keperawatan-pre-operasi/ 100000000 sted on November 1. dan batukkan. 2008 by kuliahbidan Tujuan 1. Latihan Nafas Dalam.demikian juga bila terlalu dekat dengan waktu pembedahan klien tidak dapat berkonsentrasi belajar karena adanya kecemasan atau adanya efek medikasi sebelum anastesi. (Gambar 2. selama dan sesudah anestesi / operasi 4. mengenal pasien. obat-obatan yang pernah / sedang / akan diberikan untuk masalah saat ini yang kemungkinan .

penekanan / kompresi vena cava inferior dan aorta oleh massa uterus gravid dapat menyebabkan terjadinya supine hypertension syndrome. . Sistem kardiovaskular Peningkatan isi sekuncup / stroke volume sampai 30%. penyakit ginjal. puasa. riwayat pengobatan. Ventilasi per menit meningkat sampai 50%. Pada kasus obstetri / kasus non-obstetri dalam kehamilan. anestesi. Pemeriksaan fisik : tinggi / berat badan. meskupun dengan disertai denitrogenasi. kebiasaan merokok / alkohol / obat-obatan. riwayat alergi. premedikasi). cadangan oksigen juga berkurang. kemungkinan risiko. Jika tidak segera dideteksi dan dikoreksi. PENTING DIKETAHUI : FARMAKOLOGI OBAT-OBAT (uterotonik / tokolitik. menyebabkan terjadinya dilutional anemia of pregnancy. dsb) Untuk detail nya. pemulihan. kepala / leher (perhatian KHUSUS pada mulut / gigi / THT / saluran napas atas. ANESTESIA / ANALGESIA UNTUK KASUS OBSTETRI Pertimbangan : Fisiologi Kehamilan / Persalinan (Maternal Physiology) Sistem pernapasan Perubahan pada fungsi pulmonal. kontraksi uterus / his menyebabkan terjadinya autotransfusi dari plasenta . jantung / paru / abdomen / ekstremitas. analgesi. dapat terjadi penurunan vaskularisasi uterus sampai asfiksia janin. Konsultasi dengan dokter yang akan melakukan tindakan obstetrik. cara. pemantauan kesejahteraan janin (dengan fetal monitoring). peningkatan curah jantung sampai 40%. tanda vital lengkap. Menjelang / dalam persalinan dapat terjadi gangguan / sumbatan jalan napas pada 30% kasus. baca sendiri yaaaaa !!!. Menetapkan rencana anestesi 1. dsb). ventilasi dan pertukaran gas. kebutuhan oksigen (oxygen demand) meningkat sampai 100%. Meskipun terjadi peningkatan isi dan aktifitas sirkulasi. untuk airway maintenance selama anestesi / operasi). peningkatan frekuensi denyut jantung sampai 15%.dapat berinteraksi dengan obat / prosedur anestesi 6. Functional residual capacity menurun sampai 15-20%. persiapan (diet. penting dilakukan : pemeriksaan obstetri (umumnya telah dilakukan oleh dokter obstetri). musclerelaxant. Pada saat persalinan. Volume plasma meningkat sampai 45% sementara jumlah eritrosit meningkat hanya sampai 25%. riwayat operasi / anestesi sebelumnya. memungkinkan dilakukannya induksi anestesi yang cepat pada wanita hamil. 2. gangguan pembekuan darah. hipertensi. hasil-hasil pemeriksaan penunjang / laboratorium yang diperlukan Pemeriksaan pasien Anamnesis : penting mengumpulkan data tambahan tentang riwayat penyakit yang dapat menjadi penyulit / faktor risiko tindakan anestesi (asma. penyakit jantung. dsb. menyebabkan penurunan PaO2 yang cepat pada waktu dilakukan induksi anestesi. vasopresor / vasodilator. Pada persalinan. Penjelasan kepada pasien : metode.

Pada pemberian suksinilkolin dapat terjadi blokade neuromuskular untuk waktu yang lebih lama. konsentrasi obat inhalasi yang lebih rendah cukup untuk mencapai anestesia. Kadar kreatinin. Enzimenzim hati pada kehamilan normal sedikit meningkat. makanan) tanpa memandang kapan waktu makan terakhir. Pada sectio cesarea. karena obat-obatan anestesia yang umumnya merupakan depresan.sebesar 300-500 cc selama kontraksi. Transfer obat dari ibu ke janin melalui sirkulasi plasenta Juga menjadi pertimbangan. Ginjal Aliran darah ginjal dan laju filtrasi glomerulus meningkat sampai 150% pada trimester pertama. Perdarahan yang terjadi pada partus pervaginam normal bervariasi. Beban jantung meningkat. Kadar kolinesterase plasma menurun sampai sekitar 28%. Pada anestesi epidural atau intratekal (spinal). Hal itu karena selama kehamilan normal terjadi juga peningkatan faktor pembekuan VII. dapat terjadi perdarahan sampai 1000 cc. Meskipun demikian jarang diperlukan transfusi. kebutuhan halotan menurun sampai 25%. Harus dianggap bahwa SEMUA obat dapat melintasi plasenta dan mencapai sirkulasi janin. urea dan asam urat dalam darah mungkin menurun namun hal ini dianggap normal. Sementara itu terjadi juga peningkatan sekresi asam lambung. curah jantung meningkat. isofluran 40%. Sistem gastrointestinal Uterus gravid menyebabkan peningkatan tekanan intragastrik dan perubahan sudut gastroesophageal junction. VIII. sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya regurgitasi dan aspirasi pulmonal isi lambung. Hal ini karena pelebaran vena-vena epidural pada kehamilan menyebabkan ruang subarakhnoid dan ruang epidural menjadi lebih sempit. mungkin akibat hemodilusi dan penurunan sintesis. Pasien dengan preeklampsia mungkin berada dalam proses menuju kegagalan fungsi ginjal meskipun pemeriksaan laboratorium mungkin menunjukkan nilai “normal”. Sistem saraf pusat Akibat peningkatan endorphin dan progesteron pada wanita hamil. X. metoksifluran 32%. namun menurun sampai 60% di atas nonpregnant state pada saat kehamilan aterm. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh aktifitas hormon progesteron. dapat juga menyebabkan depresi pada janin. (baca juga catatan special aspects of perinatal pharmacology) Tindakan Anestesi / Analgesi Regional . konsentrasi anestetik lokal yang diperlukan untuk mencapai anestesi juga lebih rendah. Faktor yang menentukan yaitu peningkatan sensitifitas serabut saraf akibat meningkatnya kemampuan difusi zat-zat anestetik lokal pada lokasi membran reseptor (enhanced diffusion). penurunan tonus sfingter esophagus bawah serta perlambatan pengosongan lambung. XII dan fibrinogen sehingga darah berada dalam hypercoagulable state. sampai 80%. Lambung HARUS selalu dicurigai penuh berisi bahan yang berbahaya (asam lambung. dapat sampai 400-600 cc.

Kelainan SSP tertentu 4. sehingga kemajuan persalinan dapat menjadi lebih lambat. Dosis yang dipakai untuk anestesi epidural lebih tinggi daripada untuk anestesi spinal. . Identifikasi adalah dengan keluarnya cairan cerebrospinal. Pasien menolak 5. Kontraindikasi : 1. Untuk persalinan per vaginam. mencapai ruangan subaraknoid. Spinal / subaraknoid : posisi lateral dekubitus atau duduk. Observasi tanda vital 4. dengan jarum / trokard. Gangguan pembekuan 3. dilakukan punksi antara vertebra L2-L5 (umumnya L3-L4) dengan jarum / trokard. Anestesi epidural atau spinal : sering digunakan untuk persalinan per abdominam / sectio cesarea. menggunakan jarum halus atau kapas. Mengurangi pemakaian narkotik sistemik sehingga kejadian depresi janin dapat dicegah / dikurangi. stimulus nyeri dan kontraksi dapat menurun.250. Keberhasilan anestesi diuji dengan tes sensorik pada daerah operasi.Analgesi / blok epidural (lumbal) : sering digunakan untuk persalinan per vaginam. Jika dipakai kateter untuk anestesi. jalur obat anestesia regional sudah siap. 15-30 menit sebelum anestesi. Epidural : posisi pasien lateral dekubitus atau duduk membungkuk. 4. Kemungkinan terjadi sakit kepala pasca punksi. 8. Daerah punksi ditutup dengan kasa dan plester. Risiko aspirasi pulmonal minimal (dibandingkan pada tindakan anestesi umum) 4.75%. Jika dalam perjalanannya diperlukan sectio cesarea. Kemudian obat anestetik diinjeksikan ke dalam ruang epidural / subaraknoid. Insufisiensi utero-plasenta 6. 6. Infeksi / inflamasi / tumor pada lokasi injeksi Teknik : 1. Pasang line infus dengan diameter besar. Keuntungan : 1. tusukan diteruskan sampai menembus selaput duramater. Hipotensi akibat vasodilatasi (blok simpatis) 2. berikan antasida 3. Obat anestetik yang digunakan : lidocain 1-5%. Syok hipovolemik 7. Ruang epidural dicapai dengan perasaan “hilangnya tahanan” pada saat jarum menembus ligamentum flavum. Setelah menembus ligamentum flavum (hilang tahanan). Kemudian posisi pasien diatur pada posisi operasi / tindakan selanjutnya. jika stylet ditarik perlahan-lahan. 5. 9. Kerugian : 1. dilakukan fiksasi. Waktu mula kerja (time of onset) lebih lama 3. Sepsis 2. dilakukan punksi antara L3-L4 (di daerah cauda equina medulla spinalis). 2. 3. Ibu tetap dalam keadaan sadar dan dapat berpartisipasi aktif dalam persalinan. 7. chlorprocain 2-3% atau bupivacain 0. berikan 500-1000 cc cairan kristaloid (RingerLaktat). 2.

2. dengan uterus digeser ke kiri. 3. karena dosis yang dipakai lebih tinggi. Indikasi : 1. Hipotensi ditangani dengan memberikan cairan intravena dan ephedrine. kemudian dilakukan intubasi. analgesik. hipotensi dan kehilangan kesadaran.5 mg/kgBB suksinilkolin. Risiko aspirasi pada ibu lebih besar. dan pengikat / korset perut (abdominal binder).75% isofluran. Setelah regio abdomen dibersihkan dan dipersiapkan. 2. antasida diberikan 15-30 menit sebelum operasi. Ada kontraindikasi atau keberatan terhadap anestesia regional. 3. Pasien harus diatur dalam posisi telentang / supine. Diperlukan keadaan relaksasi uterus. dilakukan intubasi. Terapi dengan istirahat baring total.0 – 1.5 mg/kgBB suksinilkolin. O2-N2O 50%-50% diberikan melalui inhalasi. Teknik : 1. dapat sampai disertai henti napas dan henti jantung. dan kehilangan kesadaran. Injeksi intravaskular ditandai dengan gangguan penglihatan. Dilakukan penekanan krikoid. Harus dilakukan intubasi pada pasien. pasien diposisikan dengan uterus digeser / dimiringkan ke kiri. atau 0. Keuntungan : 1. dan suksinilkolin diinjeksikan melalui infus. hidrasi (>3 L/hari). Dialirkan ventilasi dengan tekanan positif. Komplikasi neurologik yang sering adalah rasa sakit kepala setelah punksi dura. 2. 2. 3. tinitus.Komplikasi yang mungkin terjadi : 1. sampai . menggunakan 1. Kadang terjadi juga serangan kejang. atau pasien diminta melakukan pernapasan dalam sebanyak 5 sampai 10 kali. 3. Dapat juga ditambahkan inhalasi 1.0% enfluran. 5. dan dilakukan hiperventilasi untuk mengatasi asidosis metabolik. Gejala berupa nausea. Induksi cepat. Dapat terjadi depresi janin akibat pengaruh obat. Risiko hipotensi dan instabilitas kardiovaskular lebih rendah. 3. Kerugian : 1. 2. dilakukan induksi dengan 4 mg/kgBB tiopental dan 1. Jika terjadi injeksi subarakhnoid yang tidak diketahui pada rencana anestesi epidural. Kesulitan melakukan intubasi tetap merupakan penyebab utama mortalitas dan morbiditas maternal. Pengendalian jalan napas dan pernapasan optimal. dilakukan ventilasi O2 100% dengan mask disertai penekanan tulang cricoid. Hiperventilasi pada ibu dapat menyebabkan terjadinya hipoksemia dan asidosis pada janin. Pasang line infus dengan diameter besar. Gawat janin. 0. dan balon pipa endotrakeal dikembangkan. observasi tanda vital. 4.5% halotan. dan operator siap. Dilakukan preoksigenasi dengan O2 100% selama 3 menit. 4. dapat terjadi total spinal anesthesia. Tindakan Anestesi Umum Tindakan anestesi umum digunakan untuk persalinan per abdominam / sectio cesarea.

karena paparan / exposure obatobatan terhadap janin relatif paling minimal. diberikan juga vasodilator. cairan. mortalitas maternal dan perinatal SANGAT TINGGI (lihat catatan management of injured pregnant patient). untuk maintenance anestesi digunakan teknik balans (N2O/narkotik/relaksan). appendiksitis.janin dilahirkan. narkotik dapat digunakan untuk analgesia. misalnya syok. 6. Pertimbangan tindakan anestesi untuk bedah non-obstetri pada masa kehamilan : 1. antara 5-35%. sementara diperlukan relaksasi uterus yang optimal. Ekstubasi dilakukan setelah pasien sadar. untuk mencegah ibu bangun. CATATAN : Pada kasus-kasus obstetri patologi yang memerlukan obat-obatan / penanganan medik selain anestesi. Premedikasi minimal : barbirat lebih dianjurkan dibandingkan benzodiazepin. 2. Operasi elektif sebaiknya ditunda sedapat mungkin sampai 6 minggu pascapersalinan (setelah masa nifas. efek hambatan pertumbuhan atau efek teratogen terhadap janin. 8. Contoh : 1. obat2an. Usaha mempertahankan fisiologi sirkulasi utero-plasenta yang optimal 4. diberikan sebagaimana seharusnya. hipoksia. Keselamatan ibu (prioritas utama) 2. lanjutkan pemeriksaan antenatal dengan . 5. 3. hal ini menjadi indikasi untuk induksi cepat dan penggunaan anestetik inhalasi. 6. Setelah itu. pada keadaan umum / tanda vital yang buruk. Mortalitas / morbiditas perinatal : LEBIH TINGGI signifikan. di mana semua perubahan fisiologis akibat kehamilan diharapkan telah kembali pada keadaan normal). 3. Teknik anestesia regional (terutama spinal) lebih dianjurkan. Operasi semi-urgent sebaiknya ditunda sampai trimester kedua atau ketiga. Usaha mempertahankan kehamilan 3. Pencegahan sedapat mungkin. karena obat-obat tersebut dapat menyebabkan atonia uteri. pada infeksi atau kemungkinan infeksi. dsb dsb). dan sebagainya. magnesiumsulfat. 9. yang memerlukan tindakan operasi (misalnya : trauma. atau jika ada hipertensi. pemakaian obat-obatan yang memiliki efek depresi. Obat inhalasi dihentikan setelah tali pusat dijepit. 4. ANESTESIA / ANALGESIA UNTUK OPERASI NON-OBSTETRI PADA MASA KEHAMILAN (NON-OBSTETRICAL SURGERY DURING PREGNANCY) Sekitar 1-5% wanita hamil mengalami masalah yang tidak berhubungan secara langsung dengan kehamilannya. Jika operasi dilakukan dalam masa kehamilan. Mortalitas / morbiditas maternal : tidak berbeda signifikan dengan tindakan anestesi / operasi pada wanita yang tidak hamil. pada pre-eklampsia. ditatalaksana dengan oksigen. 2. berikan suplementasi asam folat (N2O dapat menghambat sintesis dan metabolisme asam folat). (catatan) Jika terjadi hipertonus uterus. anestetik inhalasi yang kuat juga dapat digunakan dengan konsentrasi rendah. Anjuran / pertimbangan : 1. diberikan antibiotika. Untuk pasien yang direncanakan anestesia dengan N2O. Pada kasus gawat darurat. 7.

25-0. 3. Kadang digunakan elektrokoagulasi. digunakan : 1. dan/atau neuroleptika ketamin HCl 0. 3. Laparoskopi Untuk tindakan laparoskopi. dengan anestetik narkotik dan musclerelaxant. ANESTESIA / ANALGESIA UNTUK KASUS GINEKOLOGI Kuretase Untuk tindakan kuretase. dapat sampai 30-40 cm H2O). Peningkatan tekanan intraabdominal akibat insuflasi gas dapat menyebabkan muntah dan aspirasi. Kadang diperlukan posisi Trendelenburg ekstrim. 4.5 mg/ml) diberikan melalui infus intravena. Kelebihan CO2 dapat diatasi dengan kendali frekuensi pernapasan 1. Untuk meningkatkan kontraksi uterus digunakan ergometrin maleat. Pengisian rongga abdomen dengan udara (pneumoperitoneum) 2. Tekanan intraabdominal sampai 30-40 cm H2O sebaliknya dapat menyebabkan penurunan tekanan vena sentral dan curah jantung dengan cara menurunkan pengisian jantung kanan. dan/atau tramadol 1-2 mg/kgbb) 2. mencegah peningkatan tekanan parsial CO2 dalam darah (PaCO2) pada insuflasi abdomen dengan gas CO2. untuk deteksi kemungkinan persalinan preterm pascaoperasi.5 kali di atas frekuensi basal. digunakan anestesia umum.5 mg/kgbb. Tujuan anestesi pada laparoskopi adalah : 1.5-1.0% isofluran atau enfluran.perhatian khusus pada fetal heart monitoring dan penilaian aktifitas uterus. Jika diperlukan. atropin sulfat (0. diperlukan keadaan khusus : 1. menciptakan relaksasi otot yang adekuat untuk membantu tindakan operasi Pengisian rongga peritoneum dengan CO2 dapat menyebabkan peningkatan PaCO2 jika pernapasan tidak dikendalikan. Dapat juga digunakan tambahan anestesi inhalasi dalam konsentrasi rendah. analgetika (pethidin 1-2 mg/kgbb. mempertahankan stabilitas kardiovaskular pada keadaan peningkatan tekanan intraabdominal yang besar akibat insuflasi CO2 (umumnya tekanan naik sampai 20-25 cmH2O. (baca juga modul “Safe Motherhood” tentang Penuntun Belajar Kuretase (POEK)) Laparotomi operasi ginekologi Untuk operasi ginekologi dengan laparotomi. anestesia . mengurangi potensial kejadian aritimia akibat hiperkarbia dan asidosis. 2. seperti 0. Metode yang dianjurkan adalah anestesi dengan N2O-O2 perbandingan 75%-25% inhalasi. sedativa (diazepam 10 mg) 3. serta peningkatan tekanan vena sentral dan curah jantung sekunder akibat redistribusi sentral volume darah.

Jenis prosedur pembedahan atau operasi diklasifikasi berdasarkan tingkat keseriusan. kegawatan dan tujuan pembedahan. Orang yang sangat cemas sehingga tidak bisa berbicara dan mencoba menyesuaikan diri dengan kecemasan sebelum operasi sering kali menderita banyak kesukaran pada pasca pembedahan. B. pembedahan adalah suatu metode pengobatan yang dilakukan dengan terencana atau mendadak terhadap sebagian sistem tubuh. 2. Respon Psikologis Sebagian ketakutan yang melatarbelakangi pra pembedahan adalah elusive atau keinginan mengelak dan orang tidak akan mengetahui penyebabnya. kesal. seksio sesarea yang dilakukan sebagai prosedur kedaruratan atau kegawatan untuk melahirkan janin (Poter dan Perry. Mereka lebih mudah tersinggug akibat psikis dibandingkan dengan orang yang cemasnya sedikit. takut anastesi biasanya dalam maut “ Tidur terus tidak bangun kembali”. Konsep Operasi/ Pembedahan 1. Pembedahan atau lebihdikenal dengan istilah operasi dapat dibedakan. Respon Fsiologis Operasi besar merupakan stressor kepada tubuh dan memicu respon neoro endecrine. 111111111 A. bingung atau depresi. Konsep Seksio Sesarea . Prosedur yang gawat juga dianggap punya keseriusan mayor misalnya. dimana dapat dilakukan di ruang praktek klinik untuk rawat jalan dengan anastesi lokal. yang melibatkan rekonstruksi atau perubahan yang luas pada bagian tubuh dan menimbulkan risiko yang tinggi bagi kesehatan. Takut yang belum diketahui adalah umum. Pengertian Menurut Depkes RI (1998). 3. bila stress terhadap sistem. pembedahan adalah semua tindakan pengobatan yang menggunakan cara invasif dengan membuka atau menampilkan bagian tubuh yang akan ditangani yang umumnya dilakukan dengan membuka sayatan. Sedasi ringan dapat diberikan. mereka cenderung banyak marah. guna mengisi kebutuhan protein untuk keperluan penyembuhan dan mengisi kebutuhan untuk fungsi yang optimal.5%. cukup gawat atau kehilangan darah cukup banyak maka akan menyebapkan shock intake protein yang tinggi. Sedangkan menurut Laksamana (2003).lokal blok regio periumbilikal dapat dilakukan dengan 10-15 cc bupivacain 0. 2006). Sedangkan operasi mayor (operasi besar) dengan menggunakan anastesi umum yang dilakukan di unit pembedahan rawat inap. pembedahan minor atau (operasi kecil). respon terjadi dari saraf simpati dan respon hormonal yang bertugas melindungi tubuh dari ancaman cedera.

2. Indikasi Menurut statistik tentang 3509 kasus seksio sesarea yang disusun oleh Peel dan Camberlain (dalam Hanifa 2006). Komplikasi a. embolisme paru. b. Pengertian Seksio sesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding rahim (kafita selekta kedokteran. lika kandung kencing. anak yang dilahirkan dengan seksio sesarea menurut data statistik di negara. Kelainan letak. c. Preeklamsi. Suatu komplikasi yang baru yang kemudian tampak. Incoordinate uteria action. Pernah seksio sesaresa 3.1995).paru. Gawat janin. b. Plasenta prepea. Infeksi puerperal Komplikasi ini bisa bersifat ringan seperti : kenaikan suhu tubuh selama beberapa hari dalam masa nifas. Pesalinan seksio sesarea kelahiran bayi melalui abdomen dan insisi uterus (Mary. Hipertensi . Disproporsi janin panggul. Komplikasi lainnya. h.cabang ateri ulterina ikut terbuka.1. 2). f. d.komplikasi yang bisa timbul ialah sebagai berikut : 1). 4. g. 2001). Pada ibu komplikasi.negara dengan pengawasan antenatal dan intranatal yang baik. sehingga pada kehamilan berikutnya bisa terjadi ruptura uteri. kurang kuatnya perut pada dinding uterus. indikasi untuk seksio sesarea ialah a. Pada anak Seperti halnya dengan ibunya.. Kontra indikasi e. Pendarahan Pendarahan banyak bisa timbul pada waktu pembedahan jika cabang. kematian prenatal pasca seksio sesarea berkisar antara 4 sampai 7%.

2.Y. Kecemasan adalah suatu sinyal yang menyadarkan. atau apabila janin terbukti cacat seperti hidro sefalus. ia memperingatkan adanya bahaya yang mengancam dan memungkinkan seseorang mengambil tindakan untuk mengatasi ancaman (Kaplan & Sadock). anensefalus. 2006). (Hanifa. Konsep kecemasan 1. Jenis. C. Keadaan emosi ini dialami secara obyektif dan dikomunikasikan dalam hubungan interpersonal (Maramis. Seksio sesarea transperitonealis profunda. 5. kecemasan sangat berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya. Pengertian Kecemasan Menurut Stuart & Sundeen (1998) kecemasan adalah kebingungan.jenis seksio sesarea Dikenal beberapa secsio sesarea yaitu : 1. Seksio sesarea transperitonealis klasik atau korforal. pada sesuatu yang akan terjadi dengan penyebab yang tidak jelas yang dihubungkan dengan perasaan tidak menentu dan tidak berdaya. Rentang Respon Cemas . dan sebagainya.1990). Oleh sebab itu seksio sesarea tidak dilakukan – kecuali dalam keadaan terpaksa – apabila misalnya janin sudah meninggal dalam uterus. Perasaan tidak nyaman sebagai respon terhadap rasa takut akan terjadinya perlukaan tubuh atau kehilangan sesuatu yang bernilai dari dirinya (DepKes. atau apabila janin terlalu kecil untuk hidup di luar kandungan.Mengenai komtra indikasi perlu diingat bahwa seksio sesarea dilakukan baik untuk kepentingan ibu maupun kepentingan anak. Stuart dan lararia (1998) mengatakan kecemasan dapat diekspresikan secara langsung melalui perubahan fisiologis dari perilaku maupun secara tidak langsung melalui timbulnya gejala atau mekanisme koping sebagai upaya untuk melawan kecemasan (Sofia. dkk. stimulus tersebut dapat berasal dari luar maupun dari dalam diri. 3. Freud (1998) memandang bahwa kecemasan timbul secara otomatis apabila kita menerima stimulus yang berlebihan yang melampaui kemampuan untuk menanganinya.2004). Menurut Barbara (1996) kecemasan adalah respon psikologis perasaan takut atau tidak tenang yang sumbernya tidak dikenali dan terjadi ketika seseorang merasa terancam baik secara fisik maupun secara psikologis . 1993). Seksio sesarea ekstraperitoneal. ketakutan. 2.

menurunnya kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain. Menurut Stuart & Sundeen (1995) rentang respon individu terhadap kecemasan berfluktuasi antara respon adaptif dan maladaptif seperti terlihat pada gambar berikut: Gambar 2. pada kecemasan sedang individu merasa lebih tegang. individu merasa tidak bisa memperhatikan lingkungan sehingga fokus terhadap lingkungan berkurang.gejala kecemasan tersebut adalah : a. gelisah. Manifestasinya adalah berdebar-debar. 1995) menyebutkan bahwa pada orang cemas refleksi tingkah laku terbagi atas fisiologis. : Rentang Respon individu terhadap kecemasan Respon adaptif Respon mal adaptif # Antisipasi # Ringan # Sedang # Berat # Panik Menurut Peplu (dalam Stuart & Sundeen. sering buang air kecil. mengidentifikasikan kecemasan dalam empat tingkat yaitu : ringan. Manifestasinya adalah nafas pendek. lapang persepsi menyempit. kognitif dan afektif yang berbeda-beda. Cemas berat mengurangi lapang persepsi seseorang sehingga cenderung untuk memusatkan pikiran untuk mengurangi ketegangan. nyeri dada. berat dan panik. otot merasa tegang. banyak bicara dan volume keras. bicara terus dan sukar dimengerti. (2) kecemasan sedang. Sementara menurut Dadang (2001) Gejala.Peplu (dalam Stuart & Sundeen . persepsi yang menyempit dan kehilangan pemikiran yang rasional. orang tersebut tidak mampu menyelesaikan masalah. anoreksia. Cemas ringan berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada. pusing atau sakit kepala. Rentang respon cemas terbagi menjadi empat tingkat: (1) kecemasan ringan. agitasi. mual dan muntah. Panik berhubungan dengan ketakutan dan teror yang melibatkan aktivitas motorik. menolak) . Cemas (menangis. badan gemetar. tidak mampu rileks dan sukar tidur. Manifestasinya adalah mulut kering. Cemas ringan dapat menyebabkan seseorang menjadi waspada dan meningkatkan area persepsi sehingga dapat memotivasi untuk belajar. (3) kecemasan berat. tempat dan orang. 2004). pada tingkat ini lapang persepsi individu menyempit. banyak bicara dan bertanya-tanya. Perasaan cemas 1. cemas ringan berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. dan masih dapat mengenal waktu. persepsi wajah ketakutan. 1995).1. Cemas sedang memungkinkan seseorang untuk memusatkan perhatian pada yang selektif. sedang. takut. perilaku diluar kesadaran (Sofia Y.

2. Saat bangun kondisi lesu 3. Mudah tersinggung b. Ketakutan 1. Bicara cepat 6. Tidur tidak nyenyak e. Gangguan kecerdasan 1. Terbangun pada malam hari 2. Pandangan kosong . Menarik diri c. Lesu 3. Pada gelap 2. Pada orang asing 3. Gangguaan tidur 1. Merasa tegang 2. Perasaan defresi 1. Ketegangan 1. Daya ingat terganggu f. Hilandnya minat 2. Banyak mimpi/ mengigau 4. Pada kerumunan orang banyak d. Ditinggal sendiri 4. Tidak bisa istirahat tenang/ gelisa 4. Gemetar 5.

Gejala kardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah) 1. Denyut nadi kasar/ amat jelas terasa/ teraba 4. Perasaan terbakar diperut 3. Gejala urogenital (perkemihan dan kelamin) 1. Tidak dapat menahan kencing . Serimg buang air kecil 2. Rasa tercekik 3. Takikardi (denyut jantung meningkat) 2. Gejala somatic (otot) 1. Nyeri dada 3. Sering menarik napas dalam 4. Gerakan lambat dan janggal h. Gejala gastrointestinal 1. Sulit menelan 2. Gejala somatic (sensorik) i. Napas pendek k. Sukar buang air besar l. Muntah 4.3. Gejala respirator (pernapasan) 1. Sedih 4. Rasa seperti mau pingsan j. Bangun dini hari g. Rasa tertekan dan sempit dada 2.

Intensitas fisik dan perilaku dapat meningkat sejalan dengan tingkat cemas (Stuart & Sundeen. kaki goyah dan adanya gerakan yang janggal. kelemahan umum. (6) pada sistem . Ekspresi wajah tegang Tingkat kecemasan tersebut dapat dikelompokkandengan nilai hasil total score dari masingmasing gejala kecemasan sebagai berikut : a. Respon fisik terhadap kecemasan meliputi berbagai sistem organ tubuh: (1) pada sistem kardiovaskuler akan muncul respon palpitasi. Kecemasan berat e. Kecemasan ringan c. Gemetar 3. tremor. (5) respon sistem urinaria meliputi tidak dapat menahan kencing. mata berkedip-kedip. sensasi tercekik serta terlihat terengah-engah. menolak untuk makan. wajah tegang. tekanan pada dada. (3) pada sistem neuromuscular akan muncul respon peningkatan refleks. jantung berdebar. gelisah. Gelisah dan muka merah 2. (4) respon pada sistem gastrointestinal meliputi kehilangan nafsu makan. Muka merah 3. Kecemasan berat sekali/ panik : jika nilai ≤ 7 : jika nilai 8 -13 : jika nilai 14 – 18 : jika nilai 19 – 29 : jika nilai 30 – 44 3. rasa tidak nyaman pada abdomen. Mulut kering 2. 1998). tekanan darah meningkat. Kecemasan sedang d. Respon Fisik Dan Psikologi Cemas Cemas dapat diekspresikan secara langsung melalui perubahan fisik dan perilaku. rigiditas. Tingkah laku pada saat wawancara 1. Tidak ada kecemasan b. Kepala sering terasa pusing n. insomnia. Mudah berkeringat 4. (2) pada sistem pernafasan akan terjadi nafas pendek dan cepat. Gejala autonom 1.m. mual dan mungkin akan diare.

Pandangan perilaku menganggap kecemasan merupakan produk frustasi yaitu segala sesuatu yang mengganggu kemampuan seseorang untuk mencapai tujuan. Respon terhadap kognitif meliputi perhatian terganggu. 4. gatal. Atau pendidikan adalah suatu proses yang berarti di dalam pendidikan itu terjadi proses pertumbuhan perkembangan atau perubahan kearah yang lebih dewasa. Kajian keluarga menerangkan bahwa kecemasan merupakan hal yang biasa ditemui dalam keluarga berbagai tipe akibat konflik dalam keluarga (Sofia Y. menarik diri dari hubungan interpersonal. Pandangan interpersonal oleh Sulivan mengatakan bahwa kecemasan timbul dari adanya perasaan terhadap tidak adanya penerimaan interpersonal. wajah pucat. bicara cepat.integumen akan tampak wajah kemerahan. Id mewakili dorongan insting dan impuls primitif seseorang. Aspek pengetahuan (Kongnitif) . 1. tremor gugup.2004). dingin pada kulit. 2004). tegang. ketakutan dan tremor (Sofia Y. kreatifitas dan produktifitas menurun dan kesadaran diri meningkat. Faktor Predisposisi Pandangan psikoanalitik oleh Sigmund freud mengatakan bahwa faktor predisposisi kecemasan adalah adanya konflik antara dua elemen kepribadian yaitu id dan superego. ketegangan fisik. pelupa. Menurit Notoadmodjo (2003) kematangan atau kesiapan pribadi menyangkut tiga pengalaman belajar pokok yaitu : a. Reseptor ini mungkin membantu mengatur kecemasan. Respon cemas pada perilaku berupa gelisah. Stuart & Sundeen menguraikan bahwa banyak teori telah dikembangkan mengenai faktor terhadap terjadi kecemasan. berkeringat setempat. konsentrasi buruk. serta berkeringat pada seluruh tubuh. Selanjutnya Panji Anoraga dan Sri Suryati (1999) menjelaskan bahwa pendidikan merupakan usaha sadar dan sistematis yang berlangsung seumur hidup dalam rangka mengalihkan pengetahuan oleh seseorang kepada orang lain. gelisah. Kajian biologis menunjukkan bahwa otak mempunyai reseptor khusus untuk benzodiasepin. rasa panas. Sedangkan dari segi afektif akan tampak keadaan mudah terganggu. sedangkan superego mencerminkan hati nurani seseorang dan dikendalikan oleh norma-norma budaya seseorang. Kecemasan juga berkaitan dengan trauma psikologis seperti perpisahan dan kehilangan. Pengertian Pendidikan Pendidikan adalah dasar untuk menyiapkan peserta didik bimbingan. D. 1997). kurang koordinasi. Konsep pendidikan 1. lapang persepsi menurun. lebih baik dan lebih matang pada individu atau kelompok (Notoatmodjo. cenderung mendapat cidera. Hal ini berhubungan dengan aktivitas neurotransmitter gamma aminobutyric acid (GABA) yang mengatur laju dan aktifitas neuron dalam otak untuk menurunkan kecemasan.

SMA. budaya dan alam sekitar serta dapat mengembangkan kemampuan lebuh lanjut dalam dunua kerja atau pendidikan tinggi. SLTA (Sekoah Menengah Atas) dan SMK. 3. Tingkat Pendidikan Notoadmodjo (2003) menyatakan bahwa pendidikan umumnya merupakan pendidikan yang mengutamakan perluasan pengetahuan dan peningkatan keterampilan peserta didik. 3. Aspek sikap dan perilaku (Efektif) c. sampai Universitas dan tercakup disamping studi akademi umum. Pendidikan formal. SMP. Jenis-jenis Pendidikan Pendidikan dasar dibedakan menjadi 3 jenis yaitu: 1. Pendidikan menengah yang lamanya 3 tahun sesudah pendidikan dasar diselenggarakan di . yaitu pendidikan yang berstruktur. Pendidikan Menengah yaitu suatu lembaga pendidikan yang diselenggarakan untuk melanjutkan dan meluaskan pendidikan dasar serta menyiapkan peseta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial. Pendidikan non formal yaitu merupakan pendidikan (pada umumnya) di luar sekolah yang secara potensial dapat membantu dan mengartikan pendidikan formal dalam aspek tertentu. Aspek yang berkaitan dengan keterampilan (Psikomotorik) 2. 1. contoh SD dan SLTP Warga Negara yang berumur 6-7 tahun berkewajiban mengikuti pendidikan dasar atau pendidikan yang setara sampai tamat SLTP (Sekolah Menegah Tingkat Pertama). mempunyai jenjang atau tingkat dalam periode waktu tertentu berlangsung dari SD. juga berbagai program khusus dan lembaga untuk latihan. pendidikan menengah dan pendidikan tinggi yang meliputi : 1.b. Dengan demikian pendidikan umum atau pendidikan sekolah terdiri dari pendidikan dasar. Pendidikan Dasar yaitu suatu lembaga pendidikan yang diselenggarakan untuk mengembangkan sikap dan kemampuan serta memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar yang diperlukan untuk hidup dalam masyarakat serta mempersiapkan perserta didik yang memenuhi persyaratan untuk mengikuti pendidikan menengah. 2. Pendidikan formal. yaitu suatu proses yang sesungguhya terjadi seumur hidup yang karena tiap-tiap individu merupakan sikap melalui keterampilan dan pengetahuan seharihari dan pengaruh lingkungan.

Tahu (Know) . Kesadaran (jiwa) salah satu dari alam yang ada pada diri manusia.dan S3. Pendidikan Tinggi Satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi disebut perguruan tinggi yang dapat berbentuk Akademik. dalam kaitannya dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi seksio sesarea sehingga dapat meminimalkan respon terhadap kecemasan. S2. Namun sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. D3. E. Konsep pengetahuan 1. 2002). Institut dan Universitas yang termasuk perguruan tinggi D2. pengecapan (rasa) dan perabaan. Pengamatan (menanamkan) yaitu penggunaan indra lahir dan indra batin untuk menangkap objek. Sekolah Tinggi. Tingkat pengetahuan Menurut Notoatmodjo (2003). pengetahuan dikatagorikan dalam enam bagian yaitu : 1. 2. Dari pengertian tentang pendidikan tersebut diatas kiranya dapat diharapkan bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin luas pengetahuan tentang suatu hal dan semakin luas pula wawasan berfikirnya.1. pengetahuan sebagai alat jaminan yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa prilaku didasarkan atas pengetahuan akan lebih langgeng dibanding dengan tampa didasari pengetahuan. 1. 2. Pengetahuan merupakan dasar untuk terbentuknya tindakan seseorang (Notoadmodjo. Sasaran (objek) yaitu sesuatu yang menjadi bahan pengamatan. 3. Selanjutnya Notoadmodjo (2002) menyatakan ada tiga unsur pengetahuan yaitu : 1. Pengertian Pengetahuan adalah pemberian bukti oleh seseorang melalui proses pengingatan dan pengenalan informasi. Pengetahuan merupakan hasil tahu telah terjadi setelah seseorang melakukan pengindraan melalui panca indra yaitu penglihatan. ide atau fenomena yang diproses sebelumnya. S1. 1. Pengetahuan pada dasarnya terdiri dari sejumlah fakta dan teori yang memungkinkan seseorang untuk dapat memecahkan masalah yang dihadapinya. Politeknik. penciuman. sehingga akan lebih terbuka terhadap pembaharuan.

Orang yang telah tahu terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan. Aplikasi (Application) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada kondisi riil (sebenarnya) yang termasuk aplikasi adalah penggunaan hukum. Kemampuan analisis dapat dilihat dari kemampuan menggambarkan. 1. menyebutkan contoh. menyelesaikan dan sebagainya. merencanakan. Khnowledge (pengetahuan)dalam masyarakat dipengaruhi beberapa faktor antara lain sosial ekonomi. Evaluasi Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan jasvikasi atau penelitian terhadap suatu materi atau objek. prinsip dan sebagainya dalam kontek atau kondisi yang lain. meringkas. 1. Misalnya dapat menggunakan rumus statistik dalam penghitungan-penghitungan siklus pemecahan masalah kesehatan dari kasus yang diberikan. Termasuk dalam timgkat pengetahuan ini adalah mengingat kembali sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang diterima. Penilaian-penilaian yang didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria yang ada misalnya dapat membandingkan antara anak-anak yang cukup gizi dengan anak-anak yang kurang gizi. kultur (budaya agama). membedakan dan sebagainya. 1. pendidikan dan pengelaman. Faktor-Faktor yang mempengaruhi pengetahuan Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan menurut Nasution (2002).Tahu diartikan sebagai mengingat sesuatu yang telah dipelajari sebelumnya. Sintesis (syntesis) Sintesis menunjukan suatu kemampuan untuk melekatkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru misalnya dapat menyusun. metode. 1. 1. Memahami (comprehension) Memahami diartikan sebagai kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat mengukur prestasi materi secara benar. menyimpulkan dan sebagainya.hukum. . Analisis (Analysis) Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen tetapi dalam struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain. 3.

Pada hakikatnya pengetahuan merupakan segenap apa yang diketahui manusia tentang objek tertentu. 2. Pengalaman.1. Sosial ekonomi yaitu lingkungan sosial akan mendukung tingginya pengetahuan seseorang sedangkan bila ekonomi baik. Pengetahuan ini berpengaruh terhadap sikap seseorang sesuai dengan pemikirannya. : Bila jawaban benar mencapai 56-74% dari seluruh pertanyaan. tingkat pendidikan tinggi. termasuk didalamnya tentang ilmu. maksudnya pendidikan yang tinggi pengalaman akan lebih luas. kalau positif akan menimbulkan sikap positif demikian sebaliknya (Green dalam Notoadmodjo. 4. Kurang : Bila jawaban benar mencapai kurang dari 56% dari seluruh pertayaan. 3. Kultur yaitu budaya sangat berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan seseorang. 4. BAB III METODEOLOGI PENELITIAN . tingkat pengetahuan akan tinggi juga. Pendidikan yaitu semakin tinggi tingkat pendidikan maka ia akan mudah menerima hal-hal baru dan mudah menyesuaikan dengan hal-hal yang baru tersebut. karena informasi-informasi yang baru akan disaring kira-kira sesuai tidak dengan yang ada dan agama yang dianut. Bila pengetahuan pasien kurang membuat pasien tidak mengerti tentang prosedur tindakan yang akan dilakukan sehingga membuat pasien merasa lebih cemas dalam menghadapi operasi seksio sesarea. pengalaman disini berkaitan dengan umur dan pendidikan individu. sedangkan umur semakin tua umur seseorang maka pengalaman akan semakin banyak. 2003). Kriteria Penilaian Menurut Arikunto (1998) kriteria penilaian pengetahua dikelompokkan dalam persentase yaitu : Baik Cukup : Bila jawaban benar mencapai 75-100% dari seliruh pertanyaan.

B. M. Rancangan Penelitian dan Jenis Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian secara Deskriptif dengan menggunakan desain penelitian cross sectional yang merupakan rancangan penelitian dengan menggunakan pengukuran atau pengamatan pada saat bersamaan (sekali waktu) yang bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat kecemasan pasien pre operasi seksio sesarea ditijau dari tingkat pendidikan dan pengetahuan di Ruang Mawar RSUD Dr. Yunus Bengkulu Tahun 2008. Kerangka Konsep Operasi seksio sesarea merupakan suatu tindakan medis yang dilakukan pada ibu hamil trisemester akhir. Tingkat kecemasan Pasien Pre Operasi v Tingkat Pendidikan v Pengetahuan Variabel Indevenden Variabel Devenden . kurangnya informasi yang benar tentang seksio sesarea serta tehnik operasi yang akan dijalani akan menambah kecemasan pasien dalam menjalani operasi seksio sesarea sehingga dapat memperburuk proses tindakan dan pemulihan setelah menjalani operasi pembedahan.1. A.

Populasi Populasi adalah keseluruhan subject penelitian yang akan diteliti (Notoatmodjo. Definisi Operasional No Variabel 1 Tingkat Kecemasan Definisi Cara Ukur Alat Ukur Skala Ukur Ordi nal b. 1. Populasi dan Sampel 1. Populasi dalam penelitian ini pasien yang akan menjalani operasi seksio sesarea di ruang mawar RSUD Dr.C. 1997). Pendidikan terakhir Mengajukan Questioner yang pernah diraih pertanyaan responden Ordi nal 0= Dasar (SD. Sedang : nilai 14-18 2 Tingkat Pendidikan Kondisi yang Melihat Ceklis mengambarkan lang perasaan takut terhadap proses sung operasi/pembedahan yang ingin dijalani pasien. M. Berat : nilai 1929 Hasil Ukur a. SLTP) 1= Menengah (SMA) 2= Tinggi (PT) 0= Kurang (bila jawaban benar 05) 1= cukup (bila jawaban benar 67) 2= baik bila jawaban 8-10). 3 Pengetahuan Segala sesuatu yang Mengajukan Questioner diketahui oleh pertanyaan pasien tentang operasi seksio sesarea Ordi nal D. Yunus Bengkulu. Sampel .

Analisa dan Penyajian Data. Waktu dan Tempat Penelitian 1. Pengolahan data . 2. Jenis data .Data Primer yaitu data yang langsung didapat dari responden yang berisikan tentang pendidikan. dimana sampel yang menjadi objek penelitian adalah pasien yang akan menjalani operasi secsio sesarea di Ruang Mawar Dr. Instrumen pengumpulan data Dalam penelitian ini instrumen yang digunakan yaitu Wawancara. Yunus Bengkulu dari tanggal 28 Juni sampai dengan 12 Juli 2008. dan tingkat kecemasan pasien pre operasi seksio sesarea. 3. Teknik Pengumpulan Data 1. observasi. 1. pengetahuan terhadap tingkat kecemasan. Waktu Waktu penelitian ini dilakukan sejak tanggal 28 Juni sampai dengan 12 Juli 2008. 1. F. dikumpulkan melalui lembar kuesioner dan ceheck list. Teknik Pengolahan. palfasi dan menggunakan lembar kuisioner yang digunakan untuk memperoleh data. pengetahuan. M. Yunus Bengkulu. Dalam penelitian ini sampel yang diambil menggunakan tekhnik pengambilan data dengan Accident Sampling.Sampel adalah sebagian yang diambil dari populasi (Arikunto. observasi. E. 1998). G. Tempat Penelitian ini dilakukan di Instalasi Rawat Inap Ruang Mawar RSUD Dr. M. 1. Cara pengumpulan data Dalam upaya untuk mendapatkan data-data atau informasi yang jelas dan akurat. palpasi dan menggunakan angket dengan cara menyebarkan kuesioner pada pasien yang akan mejalani operasi seksio sesarea untuk menentukan tingkat pendidikan. data yang dikumpulkan dalam penelitian ini diperoleh melalui wawancara. 1. 1.

Analisa univariat untuk melihat distribusi. c. Analisa Data Dalam penelitian ini digunakan analisa univariat dan analisa bivariat. sedang 1. pengetahuan kurang 0. cukup 1. baik 2. menengah 1. berat 2.wordpress. 2. Tabulasi data (Tabulating) Setelah dilakukan coding data. tinggi 2. Analisa Univariat analisa univariat yaitu seluruh variabel yang akan digunakan dalam analisa ditampilkan dalam distribusi frekuensi. tingkat kecemasan ringan 0.com/2011/12/16/gambaran-tingkat-kecemasan-ditinjau-dari-tingkatpendidikan-dan-pengetahuan-pasien-pre-operasi-seksio-sesarea-di-ruang-mawar-rsud-dr-m-yunusbengkulu/ 222222222 . a. Analisa univariat untuk melihat distribusi frekuensi dari masing-masing variabel indevenden dan devenden dengan menggunakan rumus : P= Keterangan : P : Jumlah persentase yang dicari F : Jumlah frekuensi untuk setiap katagori n : Jumlah sampel http://kutaukomputer. maka dilakukan tabulasi data dengan memberi skore pada masing-masing sub variabel.Data yang dikumpulkan selanjutnya diolah dengan beberapa tahapan yaitu : a. b. pendidikan dasar 0. Pengeditan datan (Editing) Langkah ini dilakukan peneliti untuk memeriksa kembali kelengkapan data yang diperlikan untuk mencapai tujuan penelitian dilakukan pengelompokan dan penyusunan data. Pengkodean data (Coding) Coding adalah mengalokasikan jawaban-jawaban yang ada menurut macamnya kedalam bentuk yang lebih ringkas yang menggunakan kode-kode agar lebih mudah dan sederhana.

Nur Asnah Nadeak.advisor dc. Hasil penelitian diperoleh bahwa dukungan keluarga yang terbesar adalah kategori baik 53. Analisa data yang dc. Anggota keluarga memandang bahwa orang yang bersifat mendukung selalu siap memberikan pertolongan dan bantuan jika diperlukan.usu. Besar sampel adalah 62 orang dengan metode pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling.ac.available dc.8% dan yang paling sedikit adalah kategori berat 24.contributor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruangan RB2 Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan.usu.2%.01.id/handle/123456789/24606?mode=full 3333333333 .description Value Language en_US Tarigan.date.description.date. Untuk peneliti keperawatan selanjutnya disarankan agar dapat melakukan pendidikan kesehatan dan memberikan motivasi kepada keluarga dalam memberikan dukungan pada pasien pre operasi untuk mengurangi tingkat kecemasan pasien pre operasi.abstract digunakan adalah statistik univariat dan statistik bivariat. tindakan dan penerimaan keluarga terhadap penderita yang sakit. Ruspina Jenita 2011-05-19T03:34:25Z 2011-05-19T03:34:25Z 2011-05-19 Fredo Hasugian http://repository.id/handle/123456789/24606 091121032 Dukungan keluarga adalah sikap. Mula Sitohang.Full metadata record DC Field dc.uri dc. Desain penelitian yang digunakan adalah desain studi korelasional.7%.ac. dimana didapat nilai r = 0.issued dc.accessioned dc.contributor. Kecemasan merupakan bagian dari kehidupan manusia yang ditandai dengan perasaan ketakutan atau kekhawatiran yang mendalam dan berkelanjutan.identifier.contributor. http://repository. Untuk tingkat kecemasan kategori tertinggi adalah ringan 46.2% dan paling sedikit adalah kategori kurang 17.398 dan nilai p = 0.Untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi digunakan uji Spearman.date.author dc.other dc.advisor dc.identifier.

Skripsi thesis. PARYANTO (2009) PERBEDAAN TINGKAT KECEMASAN PASIEN PRE OPERATIF SELAMA MENUNGGU JAM OPERASI ANTARA RUANG RAWAT INAP DENGAN RUANG PERSIAPAN OPERASI RUMAH SAKIT ORTOPEDI SURAKARTA. Universitas Muhammadiyah Surakarta. TAMPILKAN FULLTEXT PDF 62Kb Preview PDF Restricted to Repository staff only 1108Kb Official URL Abstract .PERBEDAAN TINGKAT KECEMASAN PASIEN PRE OPERATIF SELAMA MENUNGGU JAM OPERASI ANTARA RUANG RAWAT INAP DENGAN RUANG PERSIAPAN OPERASI RUMAH SAKIT ORTOPEDI SURAKARTA PARYANTO.

Analisis statistik menggunakan Mann Whiney U Test.000 pada tingkat signifikansi 5% berarti terbukti ada perbedaan tingkat kecemasan pasien pre operatif selama menunggu jam operasi antara ruang rawat inap dengan ruang persiapan operasi di Rumah Sakit Ortopedi Surakarta dengan signifikansi . Hanya ada manusia yang mengetahuinya dan ada juga yang tidak mengetahuinya. Keinginan untuk terlepas dari segala macam penyakit inilah yang mendorong manusia untuk membuat upaya menyingkap berbagai metode pengobatan. pasti Allah juga menciptakan obatnya. Teknologi medis boleh saja semakin modern dan canggih. baik berupa tumbuh-tumbuhan secara tunggal maupun yang sudah terkomposisikan. Setiap kali penyakit muncul. pembekaman. Semua dilakukan dengan trial dan error. Tindakan operasi atau pembedahan merupakan pengalaman yang bisa menimbulkan kecemasan.Dzikir. Ansietas adalah keadaan suasana perasaan (mood) yang ditandai oleh gejala-gejala jasmaniah seperti ketegangan fisik dan kekhawatiran tentang masa depan.id/4455/ 444444 Meditasi dengan Al Qur‟an Sep 5.Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian survey dengan rancangan penelitian Discriptive Comparative dan pengambilan sampel mengunakan Quota Sampling untuk memperoleh 94 responden.Kecemasan (ansietas) adalah respon psikologik terhadap stres yang mengandung komponen fisiologik dan psikologik.eprints.2 % ) pasien dan pada tahun 2008 : 3827 pasien ( turun 2 % dibanding tahun 2007 ). Metode.99 termasuk kategori sedang. Namun tentu semua jenis pengobatan dan obat-obatan tersebut hanya terasa khasiatnya bila disertai dengan sugesti dan keyakinan. http://etd. Soeharso Surakarta. Kesimpulan. Sementara banyak manusia yang tidak menyadari bahwa Allah tidak pernah menciptakan manusia dengan ditinggalkan begitu saja.000 dan probability value (r-value) sebesar 0. R.02 dan tingkat kecemasan di ruang persiapan operasi mencapai skor 17.6 % ). Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan alat ukur yang digunakan adalah kuesioner Hamilton Rating Scale for Anxiety (HRS-A). namun perkembangan jenis penyakit juga tidak kalah cepatnya ber-regenerasi. '07 12:12 AM para Todos Dunia pengobatan semenjak dahulu selalu berjalan seiring dengan kehidupan umat manusia. tahun 2006 : 3827 pasien ( 6. Karena sebagai mahluk hidup. mulai dari mengkonsumsi berbagai jenis obat-obatan. yang diyakini berkhasiat menyembuhkan jenis penyakit tertentu. Dengan pengobatan yang tepat (tentunya berdasarkan pengetahuan . jumlah tindakan bedah di IBS Rumah Sakit Ortopedi Prof DR R Soeharso Surakarta tahun 2005 : 3589 pasien. Data dari laporan tahunan Instalasi Bedah Sentral (2008). oleh karena itu berbagai kemungkinan buruk bisa terjadi yang akan membahayakan pasien. manusia amatlah akrab dengan berbagai macam penyakit ringan maupun berat. atau sistim pemijatan. DR. Kecemasan timbul pada pasien pre operasi ketika menunggu jam operasi diruang rawat inap dan kondisi ini meningkat ketika pasien berada di ruang persiapan operasi. Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan tingkat kecemasan pasien pre operatif selama menunggu jam operasi diruang rawat inap dengan ruang persiapan operasi Instalasi Bedah Sentral di Rumah Sakit Ortopedi Prof.ums. Uji Mann Whiney U Test diperoleh nilai koefisien Mann-Whitney U sebesar 2505. maka Islam mengenal istilah do‟a dan keyakinan. Tingkat kecemasan diruang rawat inap rata-rata ringan yaitu skor 12.ac. hingga operasi pembedahan. Tujuan. tahun 2007 : 4143 ( 8. Disinilah kekuatan Do‟a .

Jadi bermeditasi adalah memusatkan pikiran dan perasaan untuk mencapai sesuatu. and do not think about anything else. „meditasi‟ adalah “pemusatan perhatian pada suatu obyek batin secara terusmenerus. Meditasi adalah latihan konsentrasi yang dapat digunakan untuk mempertajam tehnik dan meningkatkan kepekaan terhadap suasana sekitar. praktik-praktik sufi. . adalah pemusatan pikiran dan perasaan untuk mencapai sesuatu. dzikir.” (Oxford Advanced Learner‟s Dictionary). Dalam bahasa Indonesia.” Memang ada obyek-obyek meditasi tertentu yang berupa pikiran atau ide/konsep. PENGERTIAN MEDITASI Perkataan Meditasi itu sendiri diserap dari bahasa Latin. Meditasi. seperti sholat. akan ternyata bahwa di dalam „meditasi‟ justru proses berpikir berhenti untuk sementara. tidak ada penyakit yang tidak bisa disembuhkan terkecuali maut. Dibalik praktik-praktik sufi tersebut. samadhi yang juga disebut dhyana atau pranayama. adalah: Meditate is to think seriously (about something). tafakur (meditasi). Belajar meditasi merupakan bagian dari latihan mengendalikan pikiran. kita harus mencari sumbernya dulu yaitu pikiran. tetapi kata meditasi itu lebih dikenal dengan nama samedi yang diserap dari bahasa Sansekerta. seperti kanker. you give your attention to one thing. either as a religious activity or as a way of becoming calm and relaxed: prayer and meditation. kerusakan kromosom/ DNA. Samedi itu artinya meditasi dalam bahasa Sangsekerta atau dalam bahasa Ibrani = hagah. usually as a religious activity or as way calming or relaxing your mind. sehingga terjadi tumpang tindih dan tidak dapat dibedakan secara tegas antara „meditasi‟ dan „kontemplasi‟. meditatio yang berarti merenungkan dan juga berakar dari kata Mederi (kesehatan) dari kata ini pula diserap kata medisin. or the product of this activity. tersimpan potensi-potensi penyembuhan bagi penyakit. Untuk mengatasinya bisa dengan latihan meditasi. dan jenis-jenis penyakit emosional. Pada dasarnya. Dalam Alkitab bahasa Inggris perkataan tsb diterjemahkan sebagai Meditation. Jadi jelas meditasi itu sebenarnya baik bagi kesehatan. strooke. terutama untuk alasan keagamaan atau untuk membuat batin tenang. Bahwa untuk mengatasi kekecewaan. Sedangkan pengertian meditasi dalam kamus Cambridge International Dictionary of English.penyakit yang tidak bisa disembuhkan oleh kedokteran modern. psikologis dan non medis. Meditation is serious thought or study. Kata „meditasi‟ [meditation] didefinisikan sebagai “praktek berpikir secara mendalam dalam keheningan. dosis obat yang sesuai disertai doa dan keyakinan. Meditation is also the act of giving your attention to only one thing. „meditasi‟ dianggap sebagai proses „berpikir‟. Dalam kamus yang bersifat umum ini. Tetapi kalau dikaji secara lebih mendalam dan dipraktekkan. ternyata tidak sekedar ritual-ritual tanpa makna. Ini hampir sama dengan „kontemplasi‟ yang didefinisikan secara persis sama.dan pengalaman puluhan tahun). yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. esp. Merujuk pada praktek-praktek agung tasawuf praktis. for a long time · if you meditate.

Pemusatan perhatian tidaklah berarti anda kosong. Di samping itu. Meditasi tingkat tinggi biasanya mengajarkan untuk memusatkan perhatian ke cakra mahkota untuk menerima lebih banyak kekuatan spiritual. hal ini dianggap bukanlah bagian/tahapan meditasi. Kita meditasi pada yang abstrak. dan menghentikan sifatnya yang bergerak kian kemari dan tidak menentu. perhatian anda tertunjukkan pada sesuatu. Di lain pihak. Perbedaan Konsentrasi dan Meditasi Terdapat perbedaan jelas antara konsentrasi dan meditasi. Pengertian konsentrasi ialah untuk memahami dan menguasai pikiran-perasaan sehingga ia tidak lagi menanggapi dengan kacau terhadap suatu peristiwa. tidak berbentuk.pemahaman diri yang diperoleh dari meditasi bersifat transformatif (mengubah). dsb). MANFAAT MEDITASI . tidak bernama. volisional. Justru pemahaman yang diperoleh dari meditasi jauh lebih tepat dan sesuai dengan keadaan sebenarnya dibandingkan dengan pemahaman dari introspeksi yang dipengaruhi oleh kebiasaan-kebiasaan pikiran yang tidak disadari sehingga memberikan hasil yang bias. atau ke antara alis mata untuk membangkitkan mata spiritual. sehingga pokok-caranya dapat membukakan kesadaran yang sedang bermeditasi akan arti makna yang lebih luas dan dalam. Atau dengan kata lain. konsentrasi adalah sebuah upaya keras (baca: dipaksa) untuk memusatkan pada sesuatu. Tidak dianjurkan bagi anda untuk berada dalam keadaan kosong seratus persen karena ini mungkin dapat membiarkan masuknya kekuatan dari luar yang dapat mengganggu. tidak juga mempunyai kwalitas atau lambang-lambang. Sedangkan tujuan meditasi ialah melatih pikiran. lebih baik pada hal yang mengandung arti yang dalam dan rohaniah. Dan ada juga yang mengartikan bahwa meditasi adalah sebuah pelatihan yang menggunakan pikiran untuk tujuan mengatur pikiran dengan usaha kita. afektif. meditasi adalah cara lain untuk memahami diri. dan beristirahat/ berhenti pada pokok yang dipilih. Meditasi dapat didefinisikan sebagai suatu aktivitas yang mengakibatkan hubungan erat beberapa orang dengan Tuhan. Sebagaimana namanya pemusatan perhatian. ataupun ke cakra jantung untuk memberikan lebih banyak kekuatan kepada roh. meskipun keduanya dalam pelaksanaannya berhubungan. dalam keadaan tenang. yaitu Dharana yang berarti pemusatan perhatian tanpa paksaan. yang berbeda dengan introspeksi. Latihan-latihan konsentrasi adalah suatu pendidikan kembali mengenai tekniknya pikiranrendah. Ada juga yang memberi pengertian bahwa meditasi yang sering kita dengar mempunyai pengertian yaitu: sikap menenangkan pikiran dengan cara-cara tertentu di mana pikiran kita sampai menemukan sensasi-sensasi sehingga menimbulkan rasa damai dalam hati untuk mencapai ketenangan jiwa (ruhani). Dalam ajaran Budha terdapat sebuah tahapan meditasi. pemahaman melalui introspeksi kebanyakan hanya bersifat kognitif saja. tidaklah kosong sama sekali. Karena Yang Tertinggi tidak mempunyai bentuk dan tidak mempunyai nama. sehingga ia menurut perintahnya sang Pribadi.Dengan demikian. oleh karena pemahaman itu melibatkan seluruh aspek diri (kognitif. Jadi. sehingga biasanya tidak banyak perubahan yang terjadi.

Zat ini mempunyai tenaga gaib yang amat berkuasa untuk berbagai macam kepentingan. dan menganjurkan kepada para pelakunya agar tidak terlalu melakukan konsentrasi. Meditasi ada dua macam. Meditasi dalam agama Yahudi dikenal dengan nama hitbonenut ini bisa dibaca di Kabbalah sedangkan bangsa Yunani kuno mengenal meditasi dengan nama “Gnothi se auton” = “mengenal diri sendiri”. membawa pada kecerdasan otak. Maka jika anda benar-benar ingin mendalami meditasi. Beberapa cara meditasi melibatkan pengulangan suara tertentu secara internal. keheningan dan kejernihan pikiran. Unsur-unsur gaib itu berupa zat yang sangat halus sebagai inti dari segala zat yang menjadi roh dari alam. maupun dengan alat-alat apapun. Dalam latihan Meditasi Islam. Dengan metode ini. dan kemudian pada penyelidikan Transcendental Meditation. Juga daya fikir bertambah kuat dan tajam. stress. Tetapi kajian di barat juga telah membuktikan 33% hingga 50% mereka yang melakukan meditasi tanpa teknik yang betul akan mengalami peningkatan dalan tekanan darah. justeru dapat mengatasi pelbagai masalah serta meningkatkan produktivitas dan meningkatkan kesehatan. AGAMA DAN MEDITASI Meditasi bukan hanya dikenal oleh agama yang berasal dari India & Tiongkok saja bahkan hampir disemua agama mereka mempraktekan meditasi. kemurungan serta mudah marah.yaitu usaha intensif untuk memfokuskan pikiran pada mantra. pastikan anda dilatih oleh mereka benar-benar mahir dan berpengalaman serta mampu memberi penjelasan untuk setiap keadaan. yaitu meditasi duduk dan meditasi gerak (Tai-Chi). Teknik seperti itu akan menyegarkan dan membuat orang relaks. fikiran tetap terjaga dengan baik dan senantiasa terkontrol. Latihan meditasi dengan pemusatan fikiran pada pernafasan disebut Anaspanasati. seperti pada penyelidikan Zen Meditation. yang menurut kepercayaan mereka sesuai dengan irama gerakan alam. meditasi adalah suatu cara untuk mengembangkan bathin menuju taraf kesempurnaan yang selanjutnya menjadi dasar dari kebijaksanaan. Meditasi bisa mengurangi kecemasan telah diselidiki oleh tokoh-tokoh sarjana Barat. perkara yang harus diperhatikan ialah bagaimana mereka dapat menemukan makna dan tujuan hidup yang memberikan sense of direction. bahwa di udara bebas ini terdapat unsu-unsur gaib yang bersatu dengan zat asam (oksigen). Zat inilah yang mereka beri nama Prana. Cara mendapatkan zat gaib atau prana tadi ialah dengan jalan pernafasan yang diatur dengan irama tertentu. Zat tersebut sedemikian halusnya hingga tak dapat ditanggapi dengan panca indera. Meditasi duduk ini sebenarnya sudah diperkenalkan oleh Islam jauh sebelum Sidharta Gauthama lahir melalui ajaran Budhi Dharma. konsentrasi tetaplah sangat perlu . antara lain untuk penyembuhan penyakit. namun untuk peningkatan rohani. Tujuan dari meditasi ini adalah kesunyian yang indah. Menurut kepercayaan orang India/Hindu. Meditasi ini juga sering dipraktikkan oleh Nabi Muhammad SAW ketika . dengan demikian membuahkan jasmani dan rohani yang selalu jernih dan segar.Menurut ajaran Buddhis.

hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tentram. yang merupakan mu‟jizat yang diturunkan (diwahyukan) kepada nabi Muhammad saw.” (QS. Sebaliknya. “Dan kami menurunkan Al Qur’an sebagai penawar dan Rahmat untuk orang-orang yang mu’min. ketika menghadapi masalah yang menimpa diri dan umatnya. Seperti halnya meditasi duduk. dia tidak terus tinggal di sana. dan ditulis di mushaf dan diriwayatkan dengan mutawatir serta membacanya adalah ibadah. asal kata qara`a. Kata Alqur‟an itu berbentuk masdar dengan arti isim maf‟ul yaitu maqru` (dibaca). menikmati meditasi yang soliter. Beliau melakukan meditasi di Gua Hira. Tetapi dijadikan tempat untuk mengoreksi ayat-ayat Alqur‟an yang telah diterimanya. Gua Hira bukanlah tempat bertahannuts seperti yang dilakukan beliau sebelum diangkat menjadi Rasul. telah datang kepadamu kitab yang berisi pelajaran dari Tuhanmu dan sebagai obat penyembuh jiwa. meditasi gerak juga sudah ada dalam ajaran Islam yaitu dalam bentuk gerakan shalat. menjauhkan diri dari masyarakat. ISLAM DAN MEDITASI Salah satu fase penting yang secara simbolik sering disebut sebagai mencerminkan corak misi yang dibawa oleh Nabi Muhammad adalah saat dia bertahannuts atau melakukan meditasi di Hira. Al Qur’an dan Kesehatan Arti Qur‟an menurut pendapat yang paling kuat seperti yang dikemukakan Dr.sebelum dan sesudah diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Ar Ra’d/13: 28) Menurut para ahli tafsir bahwa nama lain dari Al Qur‟an yaitu “Asysyifâ” yang artinya secara Terminologi adalah Obat Penyembuh. Yunus/10: 57) . yang pada saat itu disebut dengan berkhalwat dan tahannuts. Setelah nabi mendapat wahyu pada 610 M. sebuah gua di luar kota Mekah.” (QS. dan melakukan apa yang dalam istilah sekarang disebut sebagai transformasi sosial. sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Adapun definisi Alqur‟an adalah: “Kalam Allah swt.” Banyak ayat Al Qur‟an yang mengisyaratkan tentang pengobatan karena AlQur‟an itu sendiri diturunkan sebagai penawar dan Rahmat bagi orang-orang yang mukmin. ia balik ke kota. Nabi saw pergi ke gua Hira hanya untuk bertemu dengan malaikat Jibril dengan tujuan tasmi? (memperdengarkan) hafalan Alqur‟an beliau dihadapan Jibril. Subhi Al Salih berarti „bacaan‟. Maka. mendakwahkan ajaran-ajaran. “Hai manusia. Pada saat selanjutnya.” (QS. Ingatlah. Al Isra/17: 82) “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah.

Banyak pula hadits Nabi yang menerangkan tentang keutamaan membacanya dan menghafalnya atau bahkan mempelajarinya. Al Qur‟an sebagai Penyembuh (Alqur‟an asy Syâfî). I. Selanjutnya ia berkata. kecuali turun kepada mereka ketentraman. dan memohon kepada-Ku. (QS. membiasakan melaksanakan ibadah salat malam. mereka membaca Alqur’an dan mempelajarinya. “Dia menumbuhkan tanaman-tanaman untukmu.Di samping Al Qur‟an mengisyaratkan tentang pengobatan juga menceritakan tentang keindahan alam semesta yang dapat kita jadikan sebagai sumber dari pembuat obat. . An-Nahl 16:11) “Dan makanlah oleh kamu bermacam-macam sari buah-buahan. Dari perut lebah itu keluar minuman madu yang bermacam-macam jenisnya dijadikan sebagai obat untuk manusia. malaikat menaungi mereka dan Allah menyebut-nyebut mereka pada makhluk yang ada di sisi-Nya”. Surya Angkasa Semarang. “Tak ada lagi bacaan yang dapat meningkatkan terhadap daya ingat dan memberikan ketenangan kepada seseorang kecuali membaca Alqur‟an”. “Terdapat beberapa hal yang dapat menyebabkan seseorang kuat ingatan atau hafalannya. “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Alqur’an dan mengajarkannya. terj. dapat dipastikan bahwa orang yang membaca Alqur‟an akan merasakan ketenangan jiwa. seperti keutamaan Allah atas makhluk-Nya. (HR. Ibnu Majah dan Ibnu Mas’ud) Dan masih banyak lagi dalil yang menerangkan bahwa berbagai penyakit dapat disembuhkan dengan membaca atau dibacakan ayat-ayat Alqur‟an (lihat Assuyuthi. mereka diliputi dengan rahmat. anggur dan buahbuahan lain selengkapnya. Dan keutamaannya Kalam Allah daripada seluruh kalam selain-Nya. dan membaca Alquran sambil melihat kepada mushaf”. niscaya Aku akan berikan sesuatu yang lebih utama daripada apa yang telah Aku berikan kepada orang-orang yang telah meminta. Jalaluddin. Muslim) “Hendaklah kamu menggunakan kedua obat-obat: madu dan Alqur’an” (HR. 1995). Achmad Sunarto. Di alamnya terdapat tandatanda Kekuasaan Allah bagi orang-orang yang mau memikirkan”.” (HR Bukhori) “Siapa saja yang disibukkan oleh Alqur’an dalam rangka berdzikir kepada-Ku. seperti zaitun.obatan. Syaikh Ibrahim bin Ismail dalam karyanya Ta‟lim al Muta‟alim halaman 41. Di antaranya. CV. (QS. menyedikitkan makan. sebuah kitab yang mengupas tata krama mencari ilmu berkata.” (HR. cet. korma. serta tempuhlah jalan-jalan yang telah digariskan tuhanmu dengan lancar. An-Nahl 16: 69) Berdasarkan keterangan tadi. At Turmudzi) “Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah (masjid) Allah. Walaupun tidak dibarengi dengan data ilmiah. sesungguhnya pada hal-hal yang demikian terdapat tanda-tanda Kekuasaan Allah bagi orang-orang yang mau memikirkan”. Semarang.

Dalam laporan sebuah penelitian yang disampaikan dalam Konferensi Kedokteran Islam Amerika Utara pada tahun 1984. Alquran terbukti mampu mendatangkan ketenangan sampai 97% bagi mereka yang men dengarkannya. Al Qadhi ini diperkuat pula oleh penelitian lainnya yang dilakukan oleh dokter yang berbeda.Dr. bacaan Alquran lebih dari itu. Kelima orang tersebut sama sekali tidak mengerti bahasa Arab dan mereka pun tidak diberi tahu bahwa yang akan diperdengarkannya adalah Alqur‟an. baik mereka yang berbahasa Arab maupun bukan. Jika mendengarkan musik klasik dapat memengaruhi kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosi (EQ) seseorang. kita memiliki Alquran. disebutkan. Alquran memberikan pengaruh besar jika diperdengarkan kepada bayi. bacaan Alquran berpengaruh besar hingga 97% dalam melahirkan ketenangan jiwa dan penyembuhan penyakit. bacaannya memberikan pengaruh besar bagi kehidupan jasmani dan rohani kita. bayi yang berusia 48 jam yang kepadanya diperdengarkan ayat-ayat Alquran dari tape recorder menunjukkan respons tersenyum dan menjadi lebih tenang.S. Penelitian yang dilakukan sebanyak 210 kali ini terbagi dua sesi. Penelitian Dr. kesedihan. Al Qadhi. Penelitiannya ditunjang dengan bantuan peralatan elektronik terbaru untuk mendeteksi tekanan darah. Sungguh suatu kebahagiaan dan merupakan kenikmatan yang besar. melalui penelitiannya yang panjang dan serius di Klinik Besar Florida Amerika Serikat. dapat merasakan perubahan fisiologis yang sangat besar. Hal tersebut diungkapkan Dr. Penurunan depresi. Objek penelitiannya terhadap 5 orang sukarelawan yang terdiri dari 3 pria dan 2 wanita. dan ketahanan kulit terhadap aliran listrik. Penemuan sang dokter ahli jiwa ini tidak serampangan. simaklah dengan baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat” (Q. 7: 204). Kesimpulannya. seorang Muslim. “Dan apabila dibacakan Alquran. Kesimpulan hasil uji coba tersebut diperkuat lagi oleh penelitian Muhammad Salim yang dipublikasikan Universitas Boston. ketahanan otot. Dari hasil uji cobanya ia berkesimpulan. Menurut penelitiannya. Mahabenar Allah yang telah berfirman. “Dan Kami telah menurunkan dari Alquran. Selain menjadi ibadah dalam membacanya. menangkal berbagai macam penyakit merupakan pengaruh umum yang dirasakan orang-orang yang menjadi objek penelitiannya. Selain memengaruhi IQ dan EQ. yakni membacakan Alquran dengan tartil dan membacakan bahasa Arab yang bukan dari Alqur‟an.17:82). detak jantung. Atau juga. Nurhayati dari Malaysia dalam Seminar Konseling dan Psikoterapi Islam di Malaysia pada tahun 1997. bacaan Alquran memengaruhi kecerdasan spiritual (SQ). responden mendapatkan ketenangan sampai 65% ketika mendengarkan bacaan Alquran dan mendapatkan ketenangan hanya 35% ketika mendengarkan bahasa Arab yang bukan dari Alqur‟an. suatu yang menjadi penawar (obat) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Alquran itu tidaklah menambah kepada orangorang yang zalim selain kerugian” (Q. memperoleh ketenangan jiwa. berhasil membuktikan hanya dengan mendengarkan bacaan ayat-ayat Alquran.S. .

13: 28). psikologis. “Dan apabila dibacakan Alqur’an. pertama. dan kedua. auto sugesti. Membaca Alqur‟an harus tanpa nafas . Kata-kata yang penuh kebaikan sering memberikan efek auto sugesti yang positif dan yang akan menimbulkan ketenangan.ukum bacaan yaitu waqaf. hanya dengan berdzikir kepada Allah-lah hati menjadi tentram” (Q. “Ingatlah. Aspek Auto Sugesti Alqur‟an merupakan kitab suci umat Islam yang berisikan firman-firman Allah. Membaca. Relaksasi Aspek Waqof Alqur‟an adalah sebuah kitab suci yang mempunyai kode etik dalam membacanya.Atau. ahsan alhadits. yang dalam istilah Alqur‟an sendiri. salah satu unsur yang dapat dikatakan meditasi dalam Alquran adalah. Maka.” (QS. Unsur Meditasi Al Qur’an Kitab ini. Allah saw menjelaskan. dan berita-berita ancaman bagi mereka yang tidak beriman dan atau tidak beramal sholeh. Al A’raf: 204) Menurut hemat penulis. Pikiran dan tubuh dapat berinteraksi dengan cara yang amat beragam untuk menimbul kan kesehatan atau penyakit. yang oleh kaum Muslim diartikan bahwa petunjuk yang dikandungnya akan membawa manusia pada kesehatan spiritual.S. dan fisik. Zakiah Daradjat mengatakan bahwa sembahyang. adalah hukum. Pada eksperimen Plotonov. Membaca Alqur‟an tidak seperti membaca bacaan-bacaan lainnya. semuanya merupakan cara-cara pelegaan batin yang akan mengembalikan ketenangan dan ketentraman jiwa kepada orang-orang yang melakukannya. Platonov telah membuktikan dalam eksperimennya bahwa kata-kata sebagai suatu Conditioned Stimulus (Premis dari Pavlov) memang benar-benar menimbulkan perubahan sesuai dengan arti atau makna kata-kata tersebut pada diri manusia. tentu saja bukanlah sebuah buku sains ataupun buku kedokteran. maka dengarkanlah baik-baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat. Banyak sekali nasihat-nasihat. do‟a-do‟a dan permohonan ampun kepada Allah. memperhatikan dan berdekatan dengannya ialah bahwasanya Alqur‟an itu dibaca di sisi orang yang sedang menderita sakit sehingga akan turun rahmat kepada mereka. berita-berita kabar gembira bagi orang yang beriman dan beramal sholeh. tidur dan memang individu tersebut akhirnya tertidur. mendengar. Kesembuhan menggunakan Alqur‟an dapat dilakukan dengan membaca. berdekatan dengannya. dan mendengarkannya. kata-kata yang digunakan adalah tidur. namun Alqur‟an menyebut dirinya sebagai „penyembut penyakit‟. alqur‟an berisikan ucapan-ucapan yang baik.

Jika si pembaca berhenti pada tempat yang tidak semestinya maka dia harus membaca ulang kata atau kalimat sebelumnya. yaitu apabila terdapat mad bertemu dengan hamzah dalam kalimat yang terpisah. bisa dikategorikan dalam bagian-bagian waqaf. Berhenti berdasarkan kemampuan nafas pembaca. Hafsh. yaitu apabila terdapat hamzah yang berharakat bertemu dengan huruf mad yang sukun. Walaupun jika berhenti dengan sengaja pada kalimat-kalimat tertentu yang dapat merusak arti dan makna yang dimaksud. Mengikuti tanda-tanda waqof yang ada dalam Alqur‟an. Waqof artinya berhenti di suatu kata ketika membaca Alqur‟an. maka hukumnya haram. muda maupun tua. 3. 2. yaitu apabila terdapat mad bertemu dengan hamzah dalam satu kalimat. Indonesia adalah negara yang mayoritas umat Islam menerapkan hukum-hukum membaca Alqur‟an menurut Rowi. baik pria maupun wanita selagi mereka dalam keadaan suci atau berwudlu. Jadi cara membaca Alqur‟an itu bisa disesuaikan dengan tanda-tanda waqaf dalam Alqur‟an atau disesuaikan dengan kemampuan si pembaca dengan syarat bahwa bacaan yang dibacanya tidak berubah arti atau makna. Penekanan-penekanan tersebut dalam ilmu tajwid dinamakan mad. Waktu Meditasi dengan Alqur’an . Jadi bagaimanapun kemampuan mereka bernafas mereka boleh membaca Alqur‟an. baik di akhir ayat maupun di tengah ayat dan disertai nafas. baik anak kecil. Waqaf dalam Alquran > Tanda awal atau akhir ayat > Tanda awal atau akhir surat > Tanda-tanda waqaf Kemampuan nafas pembaca Siapa saja bisa boleh membaca Alqur?an. Adapun hukumhukum bacaan mad dalam ilmu Tajwid menurut Rowi Hafsh adalah: 1. Mad Muttashil. Cara membaca hukum ini adalah 2 harakat. Mad Badal. Cara membaca hukum ini adalah 4 harakat.dalam pengertian sang pembaca harus membaca dengan sekali nafas hingga kalimat-kalimat tertentu atau hingga tanda-tanda tertentu yang dalam istilah ilmu tajwid dinamakan waqaf. Cara baca hukum ini 4 harakat. dalam ilmu tajwid. kedudukannya tidak dihukumi wajib syar‟i bagi yang melanggarnya. Adapula beberapa penekanan nafas dalam membaca Alqur‟an. Mad Munfashil. yang telah berguru kepada imam „Ashim.

Pada hakikatnya tidak ada waktu yang makruh untuk membaca/meditasi Alqur‟an. Dan bulan yang lebih dicintai Allah ialah bulan dzulhijjah. Allah telah memilih zaman. Setelah Subuh Sebagai penutup mudah-mudahan ini merupakan langkah awal untuk bisa lebih membuktikan unsur-unsur kesehatan dari Alqur‟an. maka negeri-negeri yang lebih dicintai Allah ialah negeri al Haram (Mekkah). maka zaman yang lebih dicintai Allah ialah bulan-bulan haram. Allah telah memilih hari-hari.com/journal/item/34 55555 . cara membacanya maupun http://musiconlinecairo.a. Ali Imron 3:113) Waktu malam ini pun dibagi menjadi 2: > antara waktu Maghrib dan Isya > bagian malam yang terakhir 3. hanya saja memang ada beberapa dalil yang menerangkan bahwa ada waktu-waktu yang lebih utama dari waktu-waktu yang lainnya untuk membaca Alqur‟an. Dalam sholat An-Nawawi berkata.multiply. Waktu-waktu tersebut adalah: 1. Allah menegaskan.” (QS. maka waktu yang lebih dicintai Allah ialah waktu-waktu sholat yang lima waktu. Allah telah memilih waktu-waktu malam dan siang. Allah telah memilih kalam-kalam (perkataan). Hari-hari bulan Dzulhijjah yang lebih dicintai Allah ialah sepuluh hari yang pertama. baik makna-maknanya. sedang mereka juga bersujud (sholat). “Di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus. „Waktu-waktu pilihan yang paling utama untuk membaca Alqur‟an ialah dalam sholat. Malam hari Waktu-waktu yang paling utama untuk membaca Alqur‟an selain waktu sholat adalah waktu malam. Malam-malam yang lebih dicintai Allah ialah malam Qadar. ia berkata: “Allah telah memilih negeri-negeri. maka kalam yang dicintai Allah adalah lafadz „La ilâha illallâh wallâhu akbar wa subhanallâhi wal hamdulillâh.“ 2. maka hari yang lebih dicintai Allah ialah hari Jum?at. mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari.‟ Al Baihaqi meriwayatkan dalam asy Syu‟ab dari Ka‟ab r.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful