P. 1
11111

11111

|Views: 1,119|Likes:
Published by Rizkita Cin

More info:

Published by: Rizkita Cin on Jun 01, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/03/2013

pdf

text

original

11111

Perbedaan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Preoperasi Sebelum Dan Sesudah Diberikan Terapi Musik Di Bangsal Bedah RS XX
Posted on 8 September 2011 by grahacendikia Kecemasan adalah keadaan yang tidak mengenakan dan tidak merasa nyaman yang terjadi di kehidupan sehari-hari yang juga dapat terjadi pada seseorang yang akan menjalani operasi. Dalam studi pendahuluan di Rumah Sakit Daerah XX pada bulan April 2011 didapatkan data bahwa, dari 10 orang pasien yang akan dilakukan operasi dengan General Anastesi, ternyata kurang lebih 60% mengalami kecemasan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan tingkat kecemasan pasien preoperasi sebelum dan sesudah diberikan terapi musik di Bangsal Bedah RS XX. Penelitian ini merupakan penelitian Quasi Eksperiment dengan pendekatan potong lintang (cross sectional). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasein preoperasi yang berada di bangsal bedah RS XX selama kurun waktu bulan Juli sampai Agustus 2011. Teknik sampel yang digunakan adalah convinience sampling dengan jumlah sampel yang diambil sebanyak 30 orang. Hasil penelitian ini diperoleh tingkat kecemasan pasien preoperasi sebelum dilakukan terapi musik di RS XX sebagian besar adalah tingkat kecemasan sedang yaitu sebanyak 21 orang (70%). Tingkat kecemasan pasien preoperasi sesudah dilakukan terapi musik di RSD sebagian besar adalah tingkat kecemasan ringan yaitu sebanyak 20 orang (66,7%). Berdasarkan uji Wilcoxon diketahui nilai p = 0,0005 (p<0,05) menunjukkan adanya perbedaan sangat signifikan antara tingkat kecemasan pasien preoperasi sebelum dan sesudah diberikan terapi musik di RS XX. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terapi musik dapat menurunkan tingkat kecemasan pada pasien yang akan menjalani operasi.
http://grahacendikia.wordpress.com/2011/09/08/perbedaan-tingkat-kecemasan-pada-pasienpreoperasi-sebelum-dan-sesudah-diberikan-terapi-musik-di-bangsal-bedah-rs-xx/ 222222222222

HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN KECEMASAN PADA PASIEN PRE OPERASI Undergraduate Theses from JIPTUMM / 2002-09-01 08:53:00 Oleh : FERLINA INDRA S.(99010074), Nursing Academy Dibuat : 2002-10-30, dengan 1 file Keyword : hubungan pasien Latar Belakang:Persiapan pra bedah penting sekali untuk memperkecil resiko operasi, karena hasil akhir suatu pembedahan sangat bergantung pada penilaian keadaan penderita dan persiapan pra bedah yang telah dilakukan, dari hasil penelitian didapatkan sekitar 80% dari semua pasien yang menjalani pembedahan,mengalami kecemasan.Tujuan Penelitian:Untuk mengetahui ada

atau tidaknya hubungan pengetahuan dengan kecemasan pada pasien pre operasi.Metode Penelitian:Metode yang digunakan adalah korelasional dengan sampel 20 orang.Pengambilan sampel dengan total populasi Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Pengumpulan data dimulaidaripersiapan, pelaksanaan dan pengambilan data. Dalam pengolahan data digunakan prosentase yang selanjutnya dianalisa dengan menggunakan chi-square.Dari hasil analisa data didapatkan hasil x2 tabel =1,82 dan x2 (0,05)(1) =1,sehingga didapatkan keputusan analisa x2 hitung < x2(0,05)(1) .Kesimpulan Ho diterima dan HI ditolak,ini berarti tidak ada hubungan pengetahuan pengetahuan dengan kecemasan pada pasien pre operasi.Hal ini bisa dipengaruhi banyak hal antara lain waktu penelitian,pemilihan sampel,dan lingkungan rumah sakit. Deskripsi Alternatif : Latar Belakang:Persiapan pra bedah penting sekali untuk memperkecil resiko operasi, karena hasil akhir suatu pembedahan sangat bergantung pada penilaian keadaan penderita dan persiapan pra bedah yang telah dilakukan, dari hasil penelitian didapatkan sekitar 80% dari semua pasien yang menjalani pembedahan,mengalami kecemasan.Tujuan Penelitian:Untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan pengetahuan dengan kecemasan pada pasien pre operasi.Metode Penelitian:Metode yang digunakan adalah korelasional dengan sampel 20 orang.Pengambilan sampel dengan total populasi Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Pengumpulan data dimulaidaripersiapan, pelaksanaan dan pengambilan data. Dalam pengolahan data digunakan prosentase yang selanjutnya dianalisa dengan menggunakan chi-square.Dari hasil analisa data didapatkan hasil x2 tabel =1,82 dan x2 (0,05)(1) =1,sehingga didapatkan keputusan analisa x2 hitung < x2(0,05)(1) .Kesimpulan Ho diterima dan HI ditolak,ini berarti tidak ada hubungan pengetahuan pengetahuan dengan kecemasan pada pasien pre operasi.Hal ini bisa dipengaruhi banyak hal antara lain waktu penelitian,pemilihan sampel,dan lingkungan rumah sakit.
http://digilib.itb.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jiptumm-gdl-s1-2002-ferlina-5477-2002 3333333333

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT KECEMASAN PADA PASIEN PRE OPERASI APENDIKTOMI DI BANGSAL BEDAH BRSD RAA SOEWONDO PATI
Posted: Maret 22, 2011 in Keperawatan (S1)

0

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perawat mempunyai kontak paling lama dalam menangani persoalan klien (pasien) dan peran perawat dalam upaya penyembuhan klien menjadi sangat penting. Seorang perawat dituntut bisa mengetahui kondisi dan kebutuhan pasien.Termasuk salah satunya dalam mengendalikan kebutuhan emosi diri pasien, terutama pada pasien pre operasi dan post operasi. Seperti yang dikemukakan oleh perkumpulan dokter spesialis indonesia, bahwa tindakan operasi dapat menaikkan tingkat kecemasan pasien dan meningkatkan hormon pemicu stress (Ibrahim, 2006). Perawat profesional sebagai tenaga kesehatan yang dalam tugas pokoknya adalah memenuhi kebutuhan dasar klien harus mampu merespon dan bersikap secara profesional dalam mengendalikan kebutuhan emosi pasien. Karena perawat merupakan tenaga profesional terbesar dalam struktur ketenagaan rumah sakit yang akan ikut mewarnai mutu pelayanan kesehatan (Gillies, 1995). Perawatan pre operasi yang efektif dapat mengurangi resiko post operasi, salah satu prioritas keperawatan pada periode ini adalah mengurangi kecemasan pasien. Cemas merupakan reaksi normal terhadap ancaman pembedahan. Orang yang sangat cemas dan mencoba menyesuaikan diri dengan kecemasan sebelum operasi sering kali menderita kesukaran pada pasca operasi. Mereka cenderung banyak marah, kesal, dan bingung (Ellis dan Nowlis,1994). Tindakan pembedahan seringkali menjadi ancaman potensial atau aktual bagi integritas seseorang. Hal ini disebabkan tindakan pembedahan dapat membangkitkan reaksi stress baik fisiologis maupun psikologis. Setiap klien berbeda pandangan dalam menanggapi tindakan bedah atau operasi sehingga responnya berbeda-beda pula. Pada respon fisiologis ada tindakan langsung dengan bedah, karena tindakan bedah merupakan stresor pada tubuh. Respon ini terdiri dari sistem saraf simpati dan respon hormonal yang bertugas melindungi tubuh dari ancaman cidera. Bila stress terhadap sistem cukup gawat atau kehilangan darah cukup banyak, tubuh akan terlalu banyak beban dan terjadi shock. Sedangkan respon psikologi secara umum berhubungan dengan adanya ketakutan terhadap anestesia, diagnosis yang belum pasti, keganasan, nyeri, ketidakmampuan dan cerita dari orang lain (Long,1996). Operasi apendiktomi termasuk salah satu tindakan pembedahan yang juga dapat membangkitkan reaksi stress pada pasien. Karena pasien yang mengalami proses peradangan apendiktomi harus dilakukan operasi ( Martius, 1990). Apendiktomi begitu sering dijumpai sehingga lebih dari 50 persen kasus dari operasi abdomen akut yang dirawat di rumah sakit adalah peradangan apendiks (Cope, 1991). Hal ini sesuai dengan data yang tercatat pada bagian rekam medis BRSD RAA Soewondo Pati dari tahun 20022006 ditemukan kasus apendiktomi sebanyak 498 kasus, sedangkan pada tahun 2006 sebanyak 172 kasus dan jumlah operasi yang mengalami kecemasan di BRSD RAA Soewondo Pati pada tahun 2001- 2005 ada 456 orang atau 80,4% (Medical Record BRSD RAA Soewondo Pati, 2006). Faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan pasien pre operasi dapat berasal dari faktor internal dan eksternal. Faktor internal antara lain berupa usia, jenis kelamin, pekerjaan, tingkat pendidikan, tingkat sosial ekonomi, dan tipe kepribadian. Sedangkan faktor eksternal berupa ancaman tarhadap integritas biologis dan ancaman terhadap konsep diri (Stuart dan Sundeen, 1998). Kecemasan yang terjadi pada pasien yang akan dilakukan tindakan pembedahan termasuk

2. Faktor apa saja yang mempengaruhi kecemasan pasien pre apendiktomi.com/2011/03/22/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-tingkat-kecemasanpada-pasien-pre-operasi-apendiktomi-di-bangsal-bedah-brsd-raa-soewondo-pati/ 444444444 . D. Pemberian informasi yang adekuat pada klien yang akan dilakukan tindakan pembedahan umumnya mampu mengurangi tingkat kecemasan yang dirasakan klien. Menggambarkan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kecemasan pasien pre operasi apendiktomi dibangsal bedah BRSD RAA Soewondo Pati. Tujuan Umum Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan pasien pre operasi apendiktomi dibangsal bedah BRSD RAA Soewondo Pati. d. Hal ini sesuai dengan pendapat Amran. Tujuan Penelitian 1. Bagaimanakah hubungan antara masing-masing faktor dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi apendiktomi. Menganalisis hubungan antara pendidikan dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi apendiktomi dibangsal bedah BRSD RAA Soewondo Pati. Sesuai dengan uraian diatas penulis ingin mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kecemasan pada pasien pre operasi apendiktomi di bangsal bedah BRSD RAA Soewondo Pati. b. http://bankjudul. bahwa penyampaian prosedur atau informasi merupakan salah satu tindakan yang digunakan dalam mengatasi atau mengurangi pada kecemasan sebelum operasi (Amran. Menganalisis hubungan antara jenis kelamin dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi apendiktomi dibangsal bedah BRSD RAA Soewondo Pati. c. Menganalisis hubungan antara sosial ekonomi dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi apendiktomi dibangsal bedah BRSD RAA Soewondo Pati. C. f. Tujuan Khusus a. 2. dapat diantisipasi baik dengan memahami bagaimana cara panyebab kecemasan secara tepat. e. Menganalisis hubungan antara pekerjaan dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi apendiktomi dibangsal bedah BRSD RAA Soewondo Pati. 2. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat: 1.wordpress. Menganalisis hubungan antara usia dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi apendiktomi dibangsal bedah BRSD RAA Soewondo Pati.operasi apendiktomi. 2007). Sebagai landasan dasar dalam membuat daftar tilik SOP (standard operational prosedur) bagi pasien sebelum dilakukan operasi. B. Sebagai bahan masukan di BRSD RAA Soewondo Pati terutama dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien pre apendiktomi. Perumusan Masalah 1.

Pembedahan merupakan tindakan pengobatan yang banyak menimbulkan kecemasan. Kecemasan merupakan perasaan yang paling umum di alami oleh pasien yang dirawat dirumah sakit. Reaksi cemas ini akan berlanjut bila pasien tidak pernah atau kurang mendapat informasi yang berhubungan dengan penyakit dan tindakan yang dilakukan terhadap dirinya. Berdasarkan data WHO (2007). 2002). Setiap pasien pernah mengalami periode cemas.922 pasien (25. dan identitas diri (Tjandra. untuk itu pasien yang akan menjalani operasi harus diberi pendidikan kesehatan untuk menurunkan atau mengurangi gejala kecemasan (Carbonel. 24 Mei 2011 HUBUNGAN PENDIDIKAN DAN PERAN PERAWAT DENGAN TINGKAT KECEMASAN PADA PASIEN PRE OPERASI DI RUANG SERUNI RSUD.539 pasien bedah dirawat di unit perawatan intensif antara 1 oktober 2003 dan 30 september 2006. . Dari. Bila kecemasan pada pasien pre operasi tidak segera diatasi maka dapat mengganggu proses penyembuhan. Amerika Serikat menganalisis data dari 35. 2006). Kecemasan terjadi ketika seseorang merasa terancam baik fisik maupun psikologisnya misalnya harga diri. kecemasan yang sering terjadi adalah apabila pasien yang dirawat di rumah sakit harus mengalami proses pembedahan.473 pasien (7%) mengalami kecemasan.Asip KU search: Selasa. 8. YUNUS BENGKULU TAHUN 2010 BAB I PENDAHULUAN 1. Sebagian besar pasien beranggapan bahwa operasi merupakan pengalaman yang menakutkan. Pembahasan tentang reaksi – reaksi pasien terhadap pembedahan sebagian besar berfokus pada persiapan pembedahan dan proses penyembuhan (Dewi wijayanti. Pelayanan yang ada di Rumah Sakit adalah pelayanan pengobatan baik yang bersifat bedah maupun non bedah. M. 2003). Kecemasan merupakan gejala klinis yang terlihat pada pasien dengan penatalaksanaan medis. sebuah institusi dan sebuah organisasi yang fungsi utamanya adalah memberikan pelayanan kepada pasien diagnostik dan terapeutik untuk berbagai penyakit dan masalah kesehatan. apalagi yang akan menjalani operasi.1%) mengalami kondisi kejiwaan dan 2. Latar Belakang Rumah sakit adalah sebuah fasilitas. gambaran diri.

Sikap dan tingkah laku perawat membantu menumbuhkan rasa kepercayaan pasien. Termasuk salah satunya dalam mengendalikan kebutuhan emosi diri pasien terutama pasien pre operasi dan post operasi.5%) dalam kategori ringan dan responden yang tidak merasa cemas sebanyak 2 orang (5%). terjadi penundaan proses operasi karena peningkatan kecemasan. R. 1998). Sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap perubahan-perubahan hidup sehat (Notoatmojo. (Ibrahim. 2002). dan faktor psikologis yang dapat terjadi akibat implusimplus bawah sadar yang masuk kealam sadar seperti tidak didampingi oleh orang tua. sosial. Hasil penelitian di Rumah Sakit Ortopedi Prof Dr. Peran perawat dalam upaya penyembuhan klien menjadi sangat penting. Makin tinggi pendidikan seseorang. 16 orang (40%) yang memilki tingkat kecemasan dalam kategori sedang. terutama dalam motivasi untuk berperan serta dalam pembangunan kesehatan. Soeharso tahun 2008 dari 3827 pasien yang mengalami pembedahan sekitar (2%) mengalami kecemasan (Makmur. 2007). Perawat mempunyai kontak paling lama dalam menangani persoalan pasien. didapatkan bahwa 10% dari pasien yang akan menjalani pembedahan. 15 orang (37. Peran perawat sangat penting untuk memberikan suport atau dukungan dan penyuluhan terhadap penurunan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi ( Kuntjoro. psikologis. 1999). 2007). 2006). Penelitian yang dilakukan oleh makmur et. mempunyai kewajiban membantu pasien mempersiapkan fisik dan mental untuk menghadapi operasi. dan spiritual.5%).Berdasarkan data dari RSUD Sragen Wijaya Kusuma. Salah satu cara melakukan hal ini ialah dengan mencurahkan perhatian sampai kepada hal yang sekecil-kecilnya dalam merawat pasien. Kecemasan pre operasi dapat dipengaruhi dari beberapa faktor antara lain adalah faktor biologis yang terjadi akibat dari reaksi saraf otonom yang berlebihan dengan naiknya system tonus saraf simpatis. . maka makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimilikinya. Perawat merupakan salah satu tenaga kesehatan yang paling sering berinteraksi dengan pasien. termasuk dalam pemberian pendidikan kesehatan. Kecemasan yang terjadi dapat berpengaruh terhadap peningkatan tekanan darah (RSUD Sragen. Selain itu faktor pendidikan pasien juga dapat mempengaruhi kecemasan yaitu tingkat pendidikan yang rendah serta kurangnya dukungan dari perawat (Sadock dan Kaplan. Pendidikan dapat mempengaruhi seorang termasuk juga prilaku seseorang akan kepatuhannya. 2002 ). Peran perawat sangat penting dalam penanggulangan kecemasan dan berupaya agar pasien tidak merasa cemas melalui asuhan keperawatan komprehensif secara biologis. anak ataupun keluarga yang lain. suami. maka memerlukan keterampilan komunikasi yang baik.al (2007) tentang tingkat kecemasan pre operasi bahwa dari 40 orang responden dalam tingkat kecemasan berat sebanyak 7 orang (17. Perawat harus mau mendengarkan semua keluhan pribadi pasien (Widodo. Seorang perawat dituntut bisa mengetahui kondisi dan kebutuhan pasien.

Yunus Bengkulu didapatkan data bahwa dari 15 pasien yang akan melakukan operasi 5 orang yang mengalami kecemasan berat dengan ciri-ciri muka merah. Dari 5 orang yang mengalami kecemasan berat tersebut mempunyai pendidikan SMA kebawah dan kurang mendapatkan penkes dari perawat.. dengan rincian sembuh 2259 dan 36 pasien meninggal (15%) dilakukan penundaan karena peningkatan kecemasan. pada tahun 2007 terdapat 4449 pasien yang mengalami pembedahan. 3. Tujuan umum Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada Hubungan antara pendidikan dan peran perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. Mengetahui gambaran tingkat pendidikan pada pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. masalah penelitian ini adalah masih tingginya tingkat kecemasan pasien pre operasi di RSUD M. yang dirawat 2154 pasien. Mengetahui gambaran peran perawat di ruang seruni RSUD. 2.Yunus Bengkulu. 2008). Rumusan masalah Berdasarkan uraian dalam latar belakang di atas. Yunus Bengkulu.Berdasarkan hasil pengumpulan data di RSUD M. Berdasarkan hasil observasi dengan teknik wawancara selama tiga hari di ruang seruni RSUD M. M. Yunus Bengkulu. Tujuan agar persiapan yang dilakukan dapat sebaik mungkin (RSUD M. Tujuan Khusus 1. gelisah. sering buang air kecil. nafas pendek. 2. maka penulis tertarik untuk meneliti hubungan pendidikan pasien dan peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. Untuk menurunkan tingkat kecemasan pasien tersebut keluarga dan perawat harus lebih banyak memberikan dukungan salah satunya yaitu selalu berada dekat pasien. gemetar sehingga dapat menghambat proses operasi. Kecemasan yang terjadi dapat berpengaruh terhadap peningkatan tekanan darah. susah tidur. Pasien yang akan menjalani operasi besar dianjurkan untuk minimal masuk rumah sakit 12 jam sebelum pre operasi dilaksanakan dan operasi kecil 6 jam sebelum dilaksanakan. M. Yunus Bengkulu didapatkan data 2008 sebanyak 1033 dan data 2009 dari januari sampai tanggal Desember sebanyak 786 orang yang melakukan operasi. sehingga tindakan anestesi atau pembedahan ditunda. 2. M. Tujuan penelitian 1. Sementara dari pengumpulan data awal diruang Seruni RSUD M. . memotivasi pasien untuk memberi keyakinan bahwa operasi dapat berjalan dengan lancar. M. Yunus Bengkulu". Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan di atas. Yunus Bengkulu. Yunus Bengkulu. Yunus Bengkulu. Yunus Bengkulu. Sedangkan rumusan masalah penelitian ini adalah "apakah ada hubungan pendidikan pasien dan peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD M.

Bagi Akademik Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi literatur bagi perpustakaan. 3. atau depresi dalam menghadapi pembedahan. Yunus Bengkulu. Manfaat penelitian 1. M.Adapun perbedaan antara karya tulis ini dengan karya tulis tersebut adalah pada variabel. M. 2. 4. 5. Yunus Bengkulu". . Menambah wawasan dan pengetahuan bagi mahasiswa dan masyarakat mengenai tingkat kecemasan pada pasien pre operasi. Mengetahui hubungan peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. Yunus Bengkulu. 5. 4. Mengetahui tingkat Kecemasan pasien pre operasi di Ruang Seruni RSUD Dr.3. M. Mengetahui hubungan pendidikan dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD.Yunus Bengkulu. Rinda Lesti Sentia dengan judul penelitian " Hubungan Tingkat Pendidikan dan Umur Kehamilan dengan Tingkat Kecemasan Ibu Hamil Primigravida di Rumah Bersalin YKWP Desa Kangkung Kabupaten Demak. rancangan dan waktu penelitian. Bagi Masyarakat Dapat memperoleh pelayanan yang lebih baik terutama yang mengalami ketakutan. Bagi Rumah sakit Hasil penelitaan ini diharapkan dapat memberi masukan bagi para tenaga kesehatan khususnya pada perawat di ruang seruni dan ruangan yang lain. M. Bagi Peneliti Lain Hasil penelitian ini dapat berguna sebagai masukan atau informasi bagi peneliti lain dalam mengembangkan penelitian dengan variabel-variabel yang lain. Keaslian penelitian Sebagai bahan perbandingan penelitian serupa pernah diteliti oleh : 1. Dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan di bidang kesehatan. 2. Agri Maha Tirani dengan judul penelitian "Perbedaan tingkat kecemasan sebelum dan sesudah pemberian pendidikan kesehatan pada pasien pre operasi di RSUD. 4. kecemasan.

kecemasan dapat muncul akibat implus-implus bawah sadar (misalnya : sex. gangguan phobik dan gangguan obsesifkompulsif (Dadang Hawari. Keadaan emosi ini tidak memiliki subyek yang spesifik. Kecemasan adalah Suatu kondisi yang menyangkut terminologi kesehatan jiwa dengan suatu kondisi was-was. rancangan dan waktu penelitian. Faktor-faktor Penyebab Kecemasan 1. 2005) Jadi. perut terasa kosong. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1. Mekanisme . Kecemasan adalah suatu keadaan yang menggoncangkan karena adanya ancaman terhadap kesehatan (Siti Sundari. Secara klinis gejala kecemasan dibagi dalam beberapa kelompok yaitu gangguan kecemasan. Elika dengan judul penelitian " Hubungan peran perawat dan dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD M. Faktor Biologis Kecemasan terjadi akibat dari reaksi saraf otonomi yang berlebihan dengan naiknya sistem tonus saraf simpatis. Yunus Bengkulu. Konsep Kecemasan 1. 1998). Pengertian Cemas adalah keadaan emosi individu yang berkaitan dengan perasaan yang tak pasti dan tidak berdaya. 2007). 2. nafas sesak dan dada terasa nyeri (Ayub Sani. 2. Kecemasan merupakan komponen utama bagi hampir semua gangguan kejiwaan (psychiatric disorder). Adapun perbedaan antara karya tulis ini dengan karya tulis di atas adalah pada variabel. gangguan panik. kondisi ini dialami secara subyektif (yang hanya dirasakan individu tersebut) dan dikomunikasikan dalam hubungan interpersonal (Stuard and Sundeen.3. ancaman) yang masuk kealam sadar. Kecemasan adalah suatu keadaan dimana psikologis seseorang berada pada ketakutan dalam menghadapi masalah yang ada pada dirinya. Psikologis Ditinjau dari aspek psikoanalisa. 2006). gangguan cemas menyeluruh (Generalized anxiety disorder/GAD).

Potensi stressor Suatu keadaan yang menyebabkan perubahan dalam individu. 3. 3. Sosial budaya Individu yang tidak bersosialisasi dengan masyarakat lebih mudah mengalami kecemasan. sehingga individu harus melakukan penyesuaian diri (adaptasi). lesu) lebih mudah megalami kecemasan. 3. letih. penyakit. Ekonomi Seseorang yang memiliki pendapatan rendah lebih mudah mengalami kecemasan. Kecemasan merupakan peringatan yang bersifat subyektif atas adanya bahaya yang tidak dikenali sumbernya. Tingkat pendidikan Status pendidikan yang rendah pada seseorang akan menyebabkan orang tersebut mudah mengalami kecemasan. Disamping itu kelelahan fisik (lemah. sakit. dimana lingkungan yang tidak kondusif berpotensial besar terhadap kecemasan yang dialami . lebih mudah mengalami kecemasan. Keadaan fisik Seseorang yang mengalami gangguan fisik seperti cacat badan.pembelaan ego yang tidak sepenuhnya berhasil juga dapat menimbulkan kecemasan yang mengambang. Reaksi pergeseran yang dapat mengakibatkan reaksi fobia. 4. 1998). Kecemasan bisa terjadi pada individu yang tingkat pendidikannya rendah disebabkan karena kurangnya informasi yang didapat individu tersebut. 2. 5. 6. Lingkungan Lingkungan sangat berpengaruh pada kecemasan seseorang. Selain itu faktor yang mempengaruhi tingkat kecemasan menurut Soewandi (1998) antara lain : 1. Sosial Kecemasan yang timbul akibat hubungan interpersonal dimana individu menerima suatu keadan yang menurutnya tidak disukai oleh orang lain yang berusaha memberikan penilaian atas opininya (Sadock dan Kaplan. dibandingkan dengan orang yang memiliki pendapatan tinggi. operasi.

Jenis kelamin Kecemasan lebih banyak dialami wanita. 1994). 5. dan banyak orang. gangguan pencernaan. Gangguan pola tidur. Ansietas Ringan (Tingkat I) 1. mengetuk jari-jari. kebingungan.hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada dan meningkatkan lahan persepsinya. begitu juga sebaliknya jika lingkungannya kondusif mempercepat penyembuhan seseorang. energi menurun. Reaksi fisik terhadap kecemasan pada masingmasing individu berbeda (Setyonegoro. nyeri pada gastro intestinal. gagap.seseorang. dibandingkan dengan pria. firasat buruk. Berhubungan dengan ketegangan yang dialami dalam kehidupan sehari. Gejala-gejala tersebut antara lain: Iritabilitas. 6. Gejala – gejala Kecemasan Keadaan cemas mempunyai gejala-gejala somatik atau fisik dan gejala psikologis atau mental. sulit tidur. khawatir. 8. berdebar-debar. gangguan muskulo skeletal. 5. 4. Ansietas dapat memotivasi belajar dan menghasilkan pertumbuhan. hiperaktifitas. 2. Merasa tegang. Umur Umur ikut menentukan kecemasan. Tingkat kecemasan 1. Takut sendiri. hiperventilasi. 2. mudah terkejut. gangguan kulit. sering buang air besar atau kecil. 4. mimpi yang menegangkan Gangguan konsentrasi dan daya ingat Keluhan somatik misalnya rasa sakit pada otot tulang. berkeringat. pendengaran berdenging (tinnitus). menyebutkan gejala klinis dari cemas antara lain : Cemas. sesak nafas. tidak tenang. nadi cepat. berhenti berbicara dan terjadi perubahan suara. takut pada keramaian. 3. mudah tersinggung. muntah-muntah. biasanya kecemasan sering dialami oleh usia muda. gangguan perkemihan. gelisah. Menurut Dadang Hawari (2006). sakit kepala dan lain sebagainya. Ansietas Sedang (Tingkat II) . takut akan fikirannya sendiri. 7. mulut kering.

1. Kemampuan untuk mengatasi 4. ketakutan dan terror-terror. Semua perilaku ditujukan untuk mengurangi ketegangan. menurunnya kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain. Sterssor dapat di kelompokkan dalam dua kategori. Percaya diri 2. 1997). 4.Memungkinkan seseorang untuk memusatkan pada hal yang penting dan mengesampingkan yang lain. Tingkat Panik Berhubungan dengan terperangah. Perasaan pengendalian 3. Orang tersebut banyak pengarahan untuk dapat memusatkan pada suatu area lain. Dialog Eksternal . Orang yang mengalami panik tidak mampu melakukan sesuatu walaupun dengan pengarahan. Perincian terpecah dari proporsinya karena mengalami kehilangan kendali. Ansietas terhadap sistem diri seseorang dapat membahayakan identitas. Optimisme 5. sehingga seseorang mengalami perhatian yang selektif namun dapat melakukan sesuatu yang lebih terarah. Panik melibatkan disorganisasi kepribadian. Dialog Internal Membantu pasien mengembangkan pesan dialog sendiri yang meningkatkan : 1. Stressor Pencetus Stressor pencetus berasal dari sumber internal atau eksternal. 7. 6. dengan panik terjadi peningkatan aktivitas motorik. Teknik Mengatasi ansietas Teknik kognitif dapat membantu pasien ansietas dan tidak tergantung pada wawasan atau pemahaman yang kompleks dari kondisi psikologi diri sendiri. 1997). Seseorang cenderung untuk memusatkan pada sesuatu yang terinci dan spesifik dan tidak berfikir tentang hal lain. 2. 3. Harapan 2. harga diri dan fungsi sosial (Brunner dan suddarth. yaitu: 1. Ansietas Berat (Tingkat III) Sangat mengurangi lahan persepsi seseorang. Ansietas terhadap integritas seorang meliputi ketidakmampuan fisiologis yang akan datang atau menurunnya kapasitas untuk melakukan aktivitas sehari-hari. persepsi yang menyimpang dan kehilangan pemikiran yang rasional tingkat ansietas ini tidak sejalan dengan kehidupan dan jika berlangsung terus dalam waktu yang lama dapat terjadi kelelahan yang sangat bahkan kematian (Hudak dan Gallo.

melakukan kegiatan fisik. takut tentang deformitas dan ancaman lain terhadap citra tubuh dapat menyebabkan ketidaktenangan atau ansietas (Brunner dan Suddarth. takut tentang ketidaktahuan. takut terhadap nyeri atau kematian. interview preoperatif. Lingkup kegiatan perawatan pre operasi termasuk dalam menetapkan batas pengkajian klien setting secara klinis atau dalam ruangan. tidur. merokok dan minum-minum (Brunner dan Suddarth. 3. 1997). 10. menyiapkan klien untuk diberikan anestesi dan pembedahan bagaimanapun kegiatan perawatan dibatasi oleh pengkajian pre operasi dalam ruangan atau selama operasi. Khayalan Mental dan Relaksasi Mendorong pasien untuk mengkhayalkan tempat yang indah atau menjadi bagian dari pengalaman yang menyenangkan sehingga dapat membantu pasien menurunkan ketegangan (Abraham dkk. Tipe . 1997). Tujuan Prosedur pembedahan . Alat ukur kecemasan untuk mengetahui sejauh mana derajat kecemasan apakah ringan atau berat dengan menggunakan alat ukur (instrument) yang dikenal denga nama Hamilton Rating Scale or Anxiaty (HRS-A) dengan skor ringan jika ≤ 28 dan berat jika ≥ 28. 9. Takut terhadap anestesi. Pengertian Pasien Pre operasi dapat mengalami berbagai ketakutan. Mekanisme Koping Mekanisme koping adalah suatu bentuk pertahanan yang di gunakan oleh seseorang yang sedang berada pada suatu bentuk kecemasan untuk menghindar atau mengurangi respon yang ditimbulkan oleh kecemasan tersebut.tipe tingkah laku seperti mennangis. 1997).Dengan dialog eksternal kebutuhan pasien untuk berbicara cara akurat tentang dirinya dengan orang lain. Perawatan pre operasi merupakan bagian dari perawat perioperatif yang di mulai dari kapan di putuskan tindakan operasi dibuat dan diakhiri dengan pemindahan klien ke meja ruang operasi. Hal ini menurunkan rasa ketidak berdayaan dan ansietas mereka. Pre Operasi 1. 8. Dimana mekanisme koping setiap orang berbeda-beda. tertawa. 2.

kurangnya dukungan keluarga terhadap pasien pre operasi. tetapi berusaha mengalihkan perhatiannya kepada buku atau sebaliknya ia bergerak terus-menerus dan tidak mau tidur (Kaplan. Pembedahan Mayor (pembedahan resiko tinggi ) 2. 2006). Perasaan gelisah dan takut kadang-kadang tidak tampak jelas. 1997). Khawatir meninggal di meja operasi dan meninggalkan anakanak ditinggalkan seandainya ia meninggal saat atau setelah operasi. 1997).Sebagai salah satu bentuk pengobatan dan penatalaksanaan berbagai macam penyakit untuk mempercepat proses penyembuhan (Perry Potter. . Mengetahui apa yang di perkirakan akan membantu pasien mengantisipasi reaksi-reaksi tersebut dan dengan demikian mencapai tingkat relaksasi yang lebih tinggi daripada yang di perkirakan sebaliknya (Brunner dan suddarth. di kelompokkan menjadi dua bagian yaitu : 1. 5. Jenis-jenis operasi Menurut derajat kepentingan Perry dan potter (2006). Persiapan psikologis pasien pre operasi Pasien yang akan di operasi biasanya akan mengalami kegelisahan dan rasa takut. Salah satu caranya yaitu dengan penyuluhan pada keluarga maupun pasien supaya mereka mengerti apa yang akan terjadi. Pembedahan Minor (pembedahan resiko kecil ) 4. 1994). Pengkajian psikologi pada pasien atau keluarga harus di lakukan supaya hal tersebut tidak menghambat rencana operasi. tapi kadang-kadang dapat terlihat dalam bentuk lain. obat-obatan dan perawatan tindakan. stressor tersebut merupakan faktor timbulnya kecemasan yang mengakibatkan terancamnya integritas seseorang meliputi ketidakmampuan fisiologis atau menurunkan kapasitas untuk melakukan hidup sehari-hari (Brunner dan suddarth. Pasien biasanya tidak mau bicara dan memperhatikan keadaan sekitarnya. memberitahu pasien hanya medikasi pre operasi yang akan membuatnya rileks sebelum operasi tidaklah selektif bila menyebutkan juga bahwa medikasi tersebut dapat mengakibatkan kepala terasa melayang dan mengantuk. perawatan menjelang operasi yang dianggap sebagai hal baru. Penyuluhan tersebut harus melebihi deskripsi tentang berbagai langkah prosedur dan harus mencakup tentang sensasi yang akan di alami. Kecemasan pada pasien pre operasi Kecemasan pada pasien pre operasi adalah kecemasan yang di akibatkan sterssor tindakan operasi. 3. Sebagai contoh. Pasien yang gelisah dan takut biasanya sering bertanya berulang-ulang walaupun pertanyaan tersebut telah dijawab.

akan tetapi juga bagi tujuan terakhir pembangunan seperti kualitas keluarga dan kehidupan masyarakat. Manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya. diselenggarakan di SLTA atau sederajat. serta memperkuat kemasyarakatan. D4.11. Pengertian Pendidikan adalah suatu usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia menyelenggarakan Tahun 1945 Pasal 31 ayat (1) menyebutkan bahwa setiap warga Negara berhak mendapat pendidikan. seluruh komponen bangsa wajib mencerdaskan kehidupan bangsa yang merupakan salah satu tujuan negara indonesia. masyarakat. (Diknas. Pendidikan Menengah : pendidikan menengah yang lamanya 3 tahun sesudah pendidikan dasar. Pendidikan Non-Formal : . bangsa dan negara. 3. menengah. tujuan yang akan dicapai. Pendidikan 1. 2. Jenjang Pendidikan Menurut Diknas (2003). dan S2. D3. dan kemampuan yang dikembangkan menjadi: 2. bukan saja bagi produktivitas. Pendidikan merupakan usaha agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran atau cara lain yang dikenal dan diakui oleh masyarakat. sekolah tinggi dan universitas yang termasuk perguruan tinggi D1. politeknik. pengendalian diri. S1. kecerdasan akhlak mulia. Untuk itu. pendidikan formal yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar. dan ayat (3) menegaskan bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan Undang-Undang. kepribadian. (1997) janis pendidikan terbagi atas 3 yaitu : 1. menyatakan bahwa jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik. D2. 2003). 5. Pendidikan Dasar : warga Negara yang berumur 6 atau 7 tahun berkewajiban mengikuti pendidikan dasar atau sederajat selama 9 tahun yaitu SD dan SLTP. 4. Sedangkan menurut Diknas (2003). Pendidikan Tinggi: satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi yang dapat berbentuk akademik. dan tinggi. 1. Menurut Ahmadi. Pendidikan formal : Pendidikan formal merupakan usaha-usaha dalam pendidikan dasar dapat memberikan sumbangan dalam jangka panjang.

Pendidikan non-Formal adalah pendidikan yang dilakukan secara teratur, dengan sadar dilakukan, tapi tidak terlalu ketat mengikuti peraturan-peraturan yang tepat, seperti pada pendidikan formal di sekolah. Karena pendidikan non-formal pada umumnya dilaksanakan tidak dalam lingkungan fisik sekolah maka sasaran pokok adalah anggota-anggota masyarakat. Diknas (2003), menyatakan pendidikan non-formal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang.
3. Pendidikan informal :

Pendidikan informal yakni pendidikan yang diperoleh seorang berdasarkan pengalaman dalam hidup sehari-hari dengan sadar atau tidak sadar, sejak seorang lahir sampai akhir hidupnya, di dalam lingkungan keluarga, masyarakat atau dalam lingkungan pekerjaan sehari-hari. Diknas (2003), menyatakan bahwa pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan. Pendidikan dapat mempengaruhi seorang termasuk juga prilaku seseorang akan kepatuhannya, terutama dalam motivasi untuk berperan serta dalam pembangunan kesehatan. Makin tinggi pendidikan seseorang, maka makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pngetahuan yang dimilikinya. Sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap perubahan-perubahan hidup sehat (Notoatmojo, 2002).

12. Hubungan pendidikan dengan kecemasan

Pendidikan merupakan salah satu faktor sosial dari kecemasan pada pasien pre operasi. Pada pasien yang pendidikannya hanya sebatas pendidikan dasar atau tidak pernah sekolah sangat susah dalam pemberian informasi. Setiap perawat yang menjelaskan pengetahuan tentang kesehatan pasien tidak mengerti. Berdasarkan penelitian yang lakukan di Kabupaten Demak menghasilkan informasi bahwa pendidikan masyarakat disana masih relatif rendah, sehingga tenaga kesehatan disana perlu melakukan konseling kepada ibu hamil primigravida sebagai upaya mengantisipasi terjadinya komplikasi dan kecemasan. Hasil penelitian Lesti, (2009). P < 0,05 menunjukkan bahwa hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara pendidikan pasien dengan tingkat kecemasan.

13. Peran Perawat 1. Definisi

Peran adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap seseorang sesuai kedudukannya dalam suatu system. Peran dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari dalam maupun dari luar dan bersifat stabil. Peran adalah bentuk dari perilaku yang diharapkan dari seesorang pada situasisosial tertentu. (Kozier Barbara, 1995:21). Peran Perawat (Ali Zaidin, 2001) meliputi : (a) Pelaksana pelayanan keperawatan, (b)Pengelola pelayanan keperawatan dan institusi Pendidikan, (c) Pendidik dalam keperawatan, (d)Peneliti dan pengembang keperawatan Perawat profesional baik dalam lingkungan perawatan kesehatan institusional maupun komunitas mengemban tiga peran : peran pelaksana, peran kepemimpinan dan peran peneliti. Meski tiap peran memiliki tanggung jawab khusus, peran-peran ini saling berhubungan satu dengan yang lain dan dapat ditemui pada semua posisi keperawatan. Peran ini dirancang untuk memenuhi perawatan kesehatan saat ini dan kebutuhan keperawatan dari konsumen yang merupakan penerima pelayanan keperawatan.
2. Peran Pelaksana

Peran pelaksana dari perawat mencakup tindakan-tindakan yang dilakukan oleh perawat ketiaka ia mengemban tanggung jawab yang ditujakan untuk memenuhi kebutuhan perawatan kesehatan dan kebutuhan keperawatan pasien secara individu, keluarga mereka dan orang terdekat pasien. Peran ini merupakan peran yang dominan dari perawat dalam lingkungan pelayanan kesehatan primer, sekunder, dan tersier dan dalam keperawatan kesehatan rumah dan komunitas. Peran ini merupakan peran yang hanya dapat dicapai melalui proses keperawatan, yang merupakan dasar untuk semua praktik keperawatan.
3. Peran Kepemimpinan

Peran Kepemimpinan dari perawat yang secara tradisional dikerap sebagai peran spesialisasi yang diembankannya oleh perawat yang mempunyai gelar yang menunjukkan kepemimpinan dan mereka yang memimpin sekelompok besar perawat atau profesional perawatan kesehatan yang berhubungan.Definisi kepemimpinan keperawatan yang dirumuskan oleh memberi cakupan yang luas pada konsep tersebut dan mengidentifikasi kepemimpinan sebagai peran yang melekat didalam semua posisi keperawatan. Peran kepemimpinan dari perawat mencakup tindakan-tindakan yang dilaksanakan oleh perawat saat ini ia mengemban tanggung jawab untuk mempengaruhi tindakan orang lain yang ditujukan untuk menentukan dan mencapai tujuan.
4. Peran Peneliti

Peran peneliti dari perawat pada mulanya dianggap hanya dilakukan oleh para akademikus, perawat ilmuwan dan mahasiswa keperawatan di tingkat sarjana. Kini, partisipasi dalam proses penelitian dianggap sebagai tanggung jawab dari perawat dalam praktik klinis. Tugas utama dari penelitian keperawatan adalah untuk memberikan konstribusi pada dasar ilmiah praktik keperawatan. Kajian dibutuhkan untuk menentukan keefektifan intervensi dan asuhan keperawatan. Melalui upaya penelitian semacam ini, ilmu keperawatan akan berkembang dan rasional yang didasarkan secara ilmiah untuk membuat perubahan dalam praktik keperawatan akan tercipta (Brunner dan Suddarth, 2001). Peran Perawat menurut Para Sosiolog
5. Peran terapeutik : kegiatan yang ditujukan langsung pada pencegahan dan pengobatan penyakit. 6. Expressive/mother substitute role, yaitu kegiatan yang bersifat langsung dalam menciptakan lingkungan dimana pasien merasa aman, diterima dilindungi, dirawat dan didukung oleh perawat. Menurut Johnson dan Martin, peran ini bertujuan untuk menghilangkan ketegangan dalam kelompok pelayanan (dokter, perawat, pasien, dan lain-lain)

Menurut konsorsium ilmu kesehatan (1989) dalam Ali Haidin (2001) peran perawat terdiri dari :
7. Sebagai pemberi asuhan keperawatan

Peran ini dapat dilakukan perawat dengan memperhatikan keadaan kebutuhan dasar manusia yang dibutuhkan melalui pemberian pelayanan keperawatan. Pemberian asuhan keperawatan ini dilakukan dari yang sederhana sampai dengan kompleks.
8. Sebagai advokat klien

Peran ini dilakukan perawat dalam membantu klien dan keluaga dalam menginterpretasikan berbagai informasi dari pemberi pelayanan khususnya dalam pengambilan persetujuan atas tindakan keperawatan. Perawat juga berperan dalam mempertahankan dan melindungi hak-hak pasien meliputi hak atas pelayanan sebaik-baiknya, hak atas informasi tentang penyakitnya, hak atas privasi, hak untuk menentukan nasibnya sendiri, hak menerima ganti rugi akibat kelalaian.
9. Sebagai edukator

Peran ini dilakukan dengan membantu klien dalam meningkatkan tingkat pengetahuan kesehatan, gejala penyakit bahkan tindakan yang diberikan sehingga terjadi perubahan perilaku dari klien setelah dilakukan pendidikan kesehatan.

Sebagai koordinator Peran ini dilaksanakan dengan mengarahkan. ahli gizi dan lain-lain dengan berupaya mengidentifikasi pelayanan keperawatan yang diperlukan. 15. Hubungan peran perawat dengan kecemasan Orang yang sakit sangat memerlukan seseorang yang bisa mengobati penyakitnya tersebut dan orang sehat memerlukan seseorang yang bisa mengarahkan agar bisa . menyusun. perubahan yang sistematis dan terarah sesuai dengan metode pemberian pelayanan keperawatan. perubahan yang sistematis dan terarah sesuai dengan metode pemberian pelayanan keperawatan 13. merencanakan serta mengorganisasi pelayanan kesehatan dari tim kesehatan sehingga pemberi pelayanan kesehatan dapat terarah serta sesuai dengan kebutuhan klien. (3) Memantau pasien. Tujuh Fungsi Perawat Kozier Barbara. (6) Melaksanakan prosedur dan teknik keperawatan. (2002) yaitu. (4) Supervisi semua pihak yang ikut terlibat dalam perawatan pasien. 11. dan memperbaiki rencana keperawatan secara terus menerus berdasarkan pada kondisi dan kemampuan pasien.10. Sebagai konsultan Perawat berperan sebagai tempat konsultasi dengan mengadakan perencanaan. Fungsi Perawat Fungsi adalah pekerjaan yang harus dilaksanakan sesuai dengan perannya. fisioterapi. Sebagai pembaharu Perawat mengadakan perencanaan. (5) Mencatat dan melaporkan keadaan pasien. (1) Melaksanakan instruksi dokter (fungsi dependen). 12. (2) Observasi gejala dan respons pasien yang berhubungan dengan penyakit dan penyebabnya. 14. kerjasama. kerjasama. (7) Memberikan pengarahan dan penyuluhan untuk meningkatkan kesehatan fisik dan mental. Sebagai kolaborator Peran ini dilakukan karena perawat bekerja melalui tim kesehatan yang terdiri dari dokter.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Makmur et. Hipotesa peneliti 1. Seseorang tersebut ialah perawat yang mempunyai banyak peran untuk melaksanakan praktek keperawatan. R. Secara unum perawat mempunyai peran terapeutik yaitu kegiatan yang ditujukan langsung pada pencegahan dan pengobatan penyakit. terdapat 37. Ada hubungan antara pendidikan pasien dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. al (2007) dan penelitian rumah Sakit Ortopedi Prof Dr. Desain penelitian . Perawat harus dapat mengkaji perasaan klien tentang pembedahan.M.Yunus Bengkulu Tahun 2010.mencegah dan terhindar dari berbagai penyakit.05 yang mengalami kecemasan ringan sehingga dapat disimpulkan ada hubungan peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi. Proses pembedahan sering menimbulkan stress psikologi yang tinggi. dengan nilai p < 0. Begitu pula dengan Pembedahan. Klien merasa cemas tentang pembedahan. sumber koping klien serta asuhan keperawatan yang terbaik (Perry Potter. 2006). Ada hubungan antara peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. Dan hasil penelitian yang dilakukan Elika tahun 2009. Soerharto tahun 2008. Klien merasa kurang dapat mengontrol situasi mereka sendiri untuk memahami dampak pembedahan pada kesehatan emosional klien tersebut.M. Karena masih kurangnya pengetahuan pasien tentang penyakit yang dideritanya. 16. BAB III METODE PENELITIAN 1. sehingga kekambuhan sering terjadi dan bahkan bertambah parah. 2.5% yang mengalami kecemasan ringan. citra diri.Yunus Bengkulu Tahun 2010. konsep diri.

Bagan 3. < 28 ≥ 28 Ordinal Skala Ukur .2 Variabel Penelitian C.1 Desain Penelitian B. maka Variabel Penelitian dapat digambarkan sebagai berikut : Variabel Variabel Dependen Independen Bagan 3. Variabel Penelitian Sesuai dengan desain penelitian di atas.Desain penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. dimana variabel independen dan variabel dependen di kumpulkan pada saat bersamaan (Notoadmodjo. 2010). Tingkat kecemasan (Dependen) Suatu kondisi yang menyangkut kekhawatiran seseorang pada masalah yang terjadi. Definisi Operasional Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Cara ukur Hasil Ukur 0=Cemas Berat jika. Kuisioner Wawancara (14 komponen pertanyaan HRS-A) dan observasi 1= Tidak Berat jika.

Populasi dalam penelitian ini adalah kelompok pasien pre operasi yang ingin menjalankan operasi di ruang Seruni dari bulan januari sampai bulan desember tahun 2010.786 orang. 0. (Noto atmojo. Dalam penelitian ini teknik yang digunakan adalah teknik Simple Random sampling n = Z²1-α/2. Kuisioner (15 pertanyaan) 1. Populasi dan Sampel 1. Sampel Sampel adalah objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi ( Notoatmojo.0=Rendah ≤ SMA Pendidikan (Independen) Pendidikan Formal yang ditempuh pasien Kuisioner Dengan cara mengisi (1 pertanyaan kuisioner ) 1= Tinggi >SMA 0= kurang baik jika skor ≤ 75% Dengan cara mengisi kuisioner 1= baik.0. jika skor ≥ 75% Ordinal Ordinal Peran Perawat (Independent) Tindakan yang dilakukan oleh perawat dalam proses penyembuhan.825 . 2010). 0.175.825 =3.P(1-P) = (1.175. 2.96)². berdasarkan data jumlah pasien pada tahun 2009 adalah 1. Populasi Populasi adalah Keseluruhan dari objek penelitian yang di teliti. 2010).84. 0.

untuk mengukur tingkat kecemasan. 2008) Keterangan : n = Sampel Z(1-α/2) = Nilai Z pada derajat kemaknaan (α 5%=1. Data primer yaitu data yang didapat langsung dari responden yaitu pasien dalam perawatan pre operasi di Ruang Seruni RSUD M. kuisioner pendidikan dan kuisioner peran perawat dengan skala selalu (SL). Pengumpulan.Yunus Bengkulu pada bulan Desember 2010 2. jarang (JR).= 55 responden (Aziz Alimul.96) P = Proporsi suatu kasus yaitu proporsi kecemasan 0. D. Tempat Penelitian Penelitian dilakukan di Ruang Seruni RSUD. dengan penilaian tidak berat jika skor < 28 dan berat jika skor ≥ 28. Yunus Bengkulu yang sudah diberi penjelasan tentang pengisian kuisoner. tidak pernah (TP). Yunus Bengkulu dengan cara wawancara dan observasi dengan skala HARS. Jumlah sampel yang didapat adalah 55 responden.5% D = Derajat akurasi (presisi) yang diinginkan 0. E.1. sering (SR). Tempat dan Waktu Penelitian 1. Pengolahan Dan Analisa Data 1.175 =17. Pengumpulan data Data dalam penelitian ini berupa data primer dan sekunder. Sedangkan data Sekunder adalah data yang didapatkan secara tidak langsung dari responden. tetapi didapat dengan metode pencarian data rumah sakit dalam bentuk . Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan Desember sampai dengan februari 2010. M. yang nantinya akan diisi oleh responden dan dibantu oleh satu orang perawat yang bertugas di ruang Seruni RSUD M. kadang (KD).

tanggal keluar rumah sakit dan lain-lain. tanggal masuk rumah sakit. pekerjaan. Coding (Pengkodean) Jawaban-jawaban atau hasil yang ada kemudian di klasifikasikan dalam bentuk yang lebih ringkas dengan menggunakan kode-kode. Editing Editing data adalah meneliti kembali apakah isian pada kuisioner yang dilakukan responden sudah cukup dan benar sesuai dengan petunjuk yang ada.. G. Entry Data (Pemasukan Data) Data yang telah ada dicoding dan hasil scoring kemudian diolah kedalam komputer dengan menggunakan program SPSS For Window. Kemudian dilakukan scoring terhadap pertanyaan yang berhubungan dengan masing-masing variabel dan diteruskan dengan pengujian kebenaran data dengan menggunakan uji Chi-Square dengan signifikan α = 5 %. yaitu : 1. Analisa Univariat .Rekam Medik misalnya: nama. 2. F. jumlah pasien yang melakukan operasi. 3. Selanjutnya dilakukan transformasi data untuk menggambarkan variabel bebas dan variabel terikat. alamat. umur. Pengolahan Data Data yang telah diperoleh atau terkumpul diolah dan dianalisis dengan program komputer melalui beberapa tahapan. Editing dilakukan langsung pada saat responden mengembalikan kuesioner yang sudah diisi dengan harapan apabila ada kekurangan data atau kesalahan dalam pengisian dapat segera diperbaiki. Analisa Data 1. 1. Cleaning (Pembersihan Data) Sebelum melakukan analisa data dengan dilakukan pengecekan kembali terhadap data yang sudah masuk apakah data yang dimasukkan sudah benar dan tidak ada lagi kesalahan.

Untuk melihat gambaran distribusi frekuensi dari masing-masing variabel penelitian baik independent maupun dependent. . Rumus yang digunakan, yaitu : Keterangan : P F = Persentase yang ingin dicapai = Jawaban dalam setiap kategori

N = Jumlah seluruh responden (Budiarto, 2001) 2. Analisa Bivariat Analisa bivariat adalah analisa yang digunakan untuk melihat hubungan antara variabel bebas (pendidikan pasien dan peran perawat) dengan variabel terikat (kecemasan pada pasien pre operasi). Untuk melihat hubungan antara dua variabel kategorik maka digunakan Uji X² (Chi-Square) Ha diterima jika nilai p ≤ 0,05 Ha ditolak jika nilai p > 0,05 (Budiarto, 2001)
http://yulnico.blogspot.com/2011/05/hubungan-pendidikan-dan-peran-perawat.html 555555555

HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN KELUARGA DENGAN TINGKAT KECEMASAN PASIEN PRE OPERASI DI BANGSAL MELATI RSD PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL YOGYAKARTA
3 Mei 2009

DEWI WIJAYANTI A. Latar Belakang Masalah

Rumah sakit adalah salah satu organisasi kesehatan yang dengan segala fasilitas kesehatannya diharapkan dapat membantu pasien dalam meningkatkan kesehatan dan mencapai kesembuhan baik fisik, psikis, maupun sosial. Tujuan kesehatan tidak hanya memulihkan kesehatan pasien secara fisik tetapi sedapat mungkin diupayakan menjaga kondisi emosi dan jasmani pasien menjadi nyaman, namun kemajuan yang pesat dalam teknologi medis belum diiringi dengan kemajuan yang sama pada aspek-aspek kemanusiaan dari perawatan pasien. Proses perawatan di rumah sakit seringkali mengabaikan aspek-aspek psikologis sehingga menimbulkan berbagai permasalahan pisikologis bagi pasien yang salah satunya adalah kecemasan. Kecemasan merupakan perasaan yang paling umum dialami oleh pasien yang dirawat di rumah sakit, kecemasan yang sering terjadi adalah apabila pasien yang dirawat di rumah sakit harus mengalami proses pembedahan. Pembahasan tentang reaksi-reaksi pasien terhadap pembedahan sebagian besar berfokus pada persiapan pembedahan dan proses penyembuhan. Pembedahan adalah tindakan pengobatan yang banyak menimbulkan kecemasan, sampai saat ini sebagian besar orang menganggap bahwa semua pembedahan yang dilakukan adalah pembedahan besar. Tindakan pembedahan merupakan ancaman potensial aktual terhadap integritas seseorang yang dapat membangkitkan reaksi stress fisiologis maupun psikologis (Barbara C.Long, 1989) Pandangan setiap orang dalam menghadapi pembedahan berbeda, sehingga respon pun berbeda. Setiap menghadapi pembedahan selalu menimbulkan ketakutan dan kecemasan pada pasien, kecemasan sering muncul pada usia sebelum 30 tahun (Stuard and Sundeen, 1998). Seseorang yang sangat cemas sehingga tidak bisa berbicara dan mencoba menyesuaikan diri dengan kecemasan sebelum operasi, seringkali menjadi hambatan pada paska operasi, pasien menjadi cepat marah, bingung, lebih mudah tersinggung akibat reaksi psikis, dibandingkan dengan orang yang cemas ringan (Barbara C. Long, 1996). Pasien pre operasi sangat membutuhkan dukungan keluarga, pasien dapat mengekspresikan ketakutan dan kecemasannya pada keluarga dengan mengurangi kecemasan dan ketakutan yang berlebihan dan tidak beralasan, akan mempersiapkan pasien secara emosional. Selain itu, mempersiapkan keluarga terhadap kejadian yang akan dialami pasien dan diharapkan keluarga banyak memberi dukungan pada pasien dalam menghadapi operasi (Anderson dan Masur 1989).
1. Dukungan keluarga sebagai salah satu sumber dukungan bagi anggota keluarga yang sedang sakit. Dari hasil observasi atau studi pendahuluan selama satu minggu, dengan teknik wawancara di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta, pada tanggal 15 Februari tahun 2008, didapatkan data bahwa dari 15 pasien yang mau melakukan operasi, 9 orang diantaranya merasa cemas, dengan data sebagai berikut:

1. Satu pasien mengatakan cemas dikarenakan tidak didampingi oleh kedua orang tua dan suami yang merupakan sumber dukungan, kedua orang tuanya berada diluar kota sedang suami sibuk mencari surat keringanan biaya operasi, tanda-tanda kecemasan yang dimiliki adalah pasien lebih banyak berdiam diri dan murung. 2. Tiga pasien mengatakan cemas karena saat di rumah sakit tidak didampingi oleh keluarga namun hanya didampingi oleh suami, dan tanda-tanda kecemasan yang dimiliki antara lain nafsu makan berkurang,sering bangun saat malam hari, muka terlihat puat dan murung. 3. Lima pasien mengatakan cemas dikarenakan tidak ada dukungan dari anak-anak dan sanak saudara, tanda-tanda kecemasan yang dimilliki adalah jarang berkomunikasi, sering menanyakan keluarga, dan sulit untuk memulai tidur. 4. Enam pasien mengatakan tidak cemas dikaranakan mendapatkan dukungan dari keluarga, yaitu anak, istri, orang tua yang selalu mendampingi dan sanak keluarga yang bergantian mengunjungi. B. Rumusan Masalah

Dari berbagai uraian latar belakang tersebut diatas maka akan timbul masalah sebagai berikut “Adakah Hubungan Antara Dukungan Keluarga Dengan Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi Di Bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta?”
C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta.
1. Tujuan Khusus

a Diketahuinya dukungan keluarga yang diberikan pada pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. b Diketahuinya tingkat kecemasan pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta.
D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Perawat Di RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta

Mengoptimalkan fungsi perawat dalam penatalaksanan asuhan keperawatan kepada pasien yang mengalami kecemasan, tanpa mengabaikan aspek-aspek psikologis, sehingga profesionalisme perawat dalam bekerja dapat ditingkatkan lagi dan operasi berjalan dengan lancar.
1. Bagi RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta

Dapat dipakai sebagai masukkan untuk meningkatkan pelayanan

Keaslian Penelitian Penelitian ini dititik beratkan pada hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta.1. Alat ukur untuk pengumpulan data adalah daftar pertanyaan dalam bentuk kuesioner. Waktu Penelitian ini dilakukan pada bulan April sampai dengan Mei tahun 2008. 1. Penelitian yang sama sepengetahuan peneliti belum pernah dilakukan oleh peneliti yang lain. Sampel adalah orang tua dari anak pra sekolah yang dirawat di bangsal Ibnu Sina RSU PKU Muhammadiyah. Menambah ilmu pengetahuan dan wawasan 2. Variabel Yang Diteliti 2. Bagi Pasien Dan Keluarga Di RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta 1. Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta.” Menggunakan metode penelitian non eksperimental. 1. Memberikan rasa nyaman pada pasien sehingga pasien tidak cemas pada proses operasi 2. Hasil penelitian adalah ada hubungan . pada bulan Januari sampai Maret 2004. Memberikan masukan bahwa dukungan keluarga sangat dibutuhkan oleh pasien 3. dengan uji validitas menggunakan product moment dari pearson. Penelitian yang dilakukan oleh Rondhianto (2004) dengan judul “Hubungan antara dukungan keluarga dengan kecemasan perpisahan akibat hospitalisasi pada pasien anak usia pra sekolah di bangsal anak RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Responden Pasien dewasa yang berumur 21– 40 tahun yang menjalani rawat inap dan akan melakukan operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. Tempat penelitian di bangsal Ibnu Sina RSU PKU Muhammadiyah. dengan pendekatan cross sectional. Tingkat kecemasan pada pasien pre operasi adalah variabel terikat 1. namun ada beberapa penelitian yang mirip dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti antara lain : 1. 1. E. Ruang Lingkup Masalah 1. Bagi Peneliti 1. Memberikan masukan bagi peneliti bahwasanya dukungan keluarga sangat diperlukan bagi pasien. Dukungan keluarga adalah variable bebas 3.

” yang merupakan penelitian non eksperimental dengan pendekatan cross sectional. Penelitian yang dilakukan oleh peneliti memiliki perbedaan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rondhianto (2004) diantaranya. Perbedaan dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah. Jenis penelitian non eksperimental dengan pendekatan cross sectional. Metode yang digunakan adalah quota sampel. sampel adalah pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. sampel yang diteliti adalah pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. 1. Menggunakan metode quota sampel.wordpress. Peneliti melakukan penelitian yang berjudul“ Hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. peneliti meneliti tentang “Hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta.” Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental dengan pendekatan cross sectional. Hasil penelitian yang dilakukan bahwa tidak ada hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kooperatif anak usia pra sekolah saat pelaksanaan pemasangan infus. pada bulan April sampai Mei tahun 2008. peneliti meneliti tentang “Hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. Yogyakarta”. alat ukur penelitian menggunakan kuesioner.” Instrumen penelitian menggunakan angket sedangkan uji validitas dan reabilitas mengunakan product moment dari pearson. dengan uji validitas menggunakan product moment dan reliabilitas menggunakan alpha dan kr 20. Sardjito. Tempat penelitian di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. http://skripsistikes. Penelitian yang dilakukan oleh Efrita Herliyati (2005) dengan judul “ Hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kooperatif anak usia pra sekolah saat pemasangan infus di INSKA RS Dr.com/2009/05/03/ikpiii18/ 6666666666 . alat ukur penelitian menggunakan kuesioner yang diuji validitas dan reabilitas menggunakan product moment dan alpha serta kr 20. untuk mengukur tingkat kecemasan dan rating-scale (skala bertingkat) untuk mengukur dukungan keluarga pada pasien pre operasi. Penelitian yang dilakukan oleh Liliyanti (2000) dengan judul “ Peran keluarga dalam proses hospitalisasi di lakukan di bangsal Bedah RS Dr. Jenis penelitian yang telah dilakukan tersebut bersifat penelitian deskriptif kualitatif dengan penggunaan wawancara mendalam pada responden dalam metode pengumpulan datanya. Menggunakan kuesioner sebagai alat ukur yang bersifat tertutup dan langsung dalam bentuk check list. 1. Sardjito Yogyakarta.dukungan keluarga dengan kecemasan pada anak akibat hospitalisasi pada pasien anak usia pra sekolah di bangsal Ibnu Sina RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Sampel yang dipakai adalah pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta.

Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Kecemasan Dan Pengetahuan Pada Pasien Preoperasi Fraktur Di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten
ABSTRAK Burhanuddin, S541002006. Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Kecemasan Dan Pengetahuan Pada Pasien Preoperasi Fraktur Di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten. Komisi Pembimbing I : Prof. Dr. Sri Yutmini, M. Pd. Pembimbing II : Dr. Nunuk Suryani, M.Pd. Tesis: Magister Kedokteran Keluarga. Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta. 2011. Latar Belakang: Kecemasan juga dapat terjadi pada pasien yang akan menjalani operasi patah tulang atau fraktur. Kecemasan pada masa preoperasi fraktur meliputi takut terhadap anestesi, takut terhadap nyeri atau kematian, takut tentang ketidaktahuan atau takut tentang deformitas atau ancaman lain terhadap citra tubuh. Pendidikan kesehatan adalah salah satu yang bertujuan untuk menurunkan tingkat kecemasan pasien preoperasi fraktur melalui pemenuhan kebutuhan informasi mengenai pembedahan. pendidikan kesehatan merupakan satu bentuk intervensi keperawatan yang mandiri untuk membantu klien, baik individu, kelompok, maupun masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatannya melalui kegiatan pembelajaran, yang didalamnya perawat berperan sebagai perawat pendidik yang bertugas untuk meningkatkan pengetahuan klien Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kecemasan dan pengetahuaan pada pasien preoperasi fraktur sebelum dan sesudah memperoleh pendidikan kesehatan. Metode: Desain dalam penelitian ini adalah Pre-eksperimental design (Pre-eksperimental one group pre test-post test design). Populasi sumber penelitian ini adalah penderita yang akan menjalani operasi fraktur di RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten dari tanggal 07 Juli s/d 07 Agustus 2011. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Penentuan jumlah sampel menggunakan metode exhaustive sampling. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner yang berisi pernyataan tentang kecemasan dan tes pengetahuan. Data dianalisis dengan menggunakan uji Paired Sample T-Test. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara kecemasan pada pasien preoperasi fraktur sebelum dan sesudah memperoleh pendidikan kesehatan (t = 92,697 dan p = 0,000). Ada perbedaan yang signifikan antara pengetahuan pada pasien preoperasi fraktur sebelum dan sesudah memperoleh pendidikan kesehatan (t = 16,683 dan p = 0,000). Simpulan: Pendidikan kesehatan dapat menurunkan tingkat kecemasan dan meningkatkat pengetahuan pada pasien preoperasi fraktur. Disarankan pada penyelenggara pelayanan kesehatan agar melakukan pendidikan kesehatan pada pasien preoperasi fraktur karena terbukti mampu menerunkan kecemasan dan meningkatkan pengetahuan pasien. Kata Kunci: Pendidikan Kesehatan, Kecemasan, Pengetahuan, Preoperasi fraktur. ABSTRACT

Burhannudin, S541002006. Effect of Health Education on Worry and Knowledge of Fracture Presurgery Patients in Dr. Soeradji Tirtonegoro General Hospital of Klaten. The first commission of supervision : Prof. Dr. Sri Yutmini, M. Pd. The second supervision is Dr. Nunuk Suryani, M.Pd. Thesis. Family Medical Magister. Postgraduate Program of Sebelas Maret University of Surakarta. Background: Worry may occur in a patient who will go through surgery for his/her fracture. Worry in fracture presurgery period includes worry of anesthesia, worry of pain or death, worry of ignorance or worry about deformity or other threats on body image. One of health education aims is to reduce worry level of patients of fracture presurgey through meeting information needs of the patient. Health education is one of independent nursing intervention in attempts of helping client, individually or collectively and people in overcoming health problems by conducting learning activities in which nurse has a role as educator nurse whose duty is to enhance client‟s knowledge. Purpose: The research aims to know difference of worry and knowledge of fracture presurgery patients before and after receiving health education. Method: Design of the research is pre-experimental one (pre-experimental one group pretest posttest design). Population of the research is patients who will go through fracture surgery in Dr. Soeradji Tirtonegoro General Hospital of Klaten during 07 July - 07 August 2011. Sample of the research is taken by using purposive sampling technique. Number of sample is determined by using exhaustive sampling method. Data is collected by using questionnaire asking about worry and test of knowledge. The data is, then, analyzed by using Paired Sample T-Test. Results: Results of the research indicated that there was a significant difference between worry of fracture presurgery patients before and after receiving health education (t=92.696 and p = 0.000). There was a significant difference between knowledge of fracture presurgey patients before and after receiving health education (t=16.683 and p = 0.000). Conclusion: Health education can reduce worry level of fracture presurgery patients and increase knowledge of the patients. It is suggested that health provider should perform health education for fracture presurgery patients because it is proved to be able to reduce worry and to improve knowledge of the patients.
http://pasca.uns.ac.id/?p=1891 7777777

Manfaat membaca al-Qur'an untuk kehidupan
Sebagai wahyu yang Allah turunkan kepada nabi-Nya, tentu al-Qur'an memiliki keutamaan dan keistimewaan tersendiri bagi para pembaca dan penggemarnya. Ayat-ayat al-qur'an yang kita baca sehari-sehari tidak lepas dari karunia Allah untuk setiap muslim yang demikian besar. Karena saking istimewanya al-Qur'an ini dari kitab-kitab samawi lainnya, Allah memberikan tempat istimewa bagi para pecintanya. Oleh karena bagi anda yang ingin memaksimalkan peran al-Qur'an dalam kehidupan, nampaknya harus lebih banyak lagi mengetahui manfaat dan perannya, terutama untuk kehidupan. Di antara

manfaat itu adalah: 1. Ayat-ayat al-Qur'an yang dibaca setiap hari akan memberikan motivasi dan penyemangat bagi si pembacanya. 2. Ketika membaca al-Qur'an, Allah akan menegur diri kita pada setiap ayat-ayat-Nya. 3. Bacaan al-Qur'an yang melibatkan emosi akan memberikan kedamaian dan ketenangan yang tidak bisa dilukiskan, seperti yang dialami dan dirasakan oleh Sayyid Quthb Rahimahullah. 4. Orang yang membaca al-Qur'an akan senantiasa ingat Allah dan kembali kepada-Nya. 5. Orang yang membaca al-Qur'an akan selalu berada dalam kecukupan dan nikmat Allah meski ia merasakan serba kurang di dunia. 6. Ayat-ayat Alloh akan menjadi penjaganya selama ia hidup di dunia, karena ia telah menjaga ayat-ayatNya. 7. Orang yang paham al-Qur'an adalah orang yang memiliki banyak ilmu. 8. Orang yang membaca al-Qur'an bagaikan orang yang sedang menyelami samudera kehidupan, dan mengambil manfaat darinya. 9. Orang yang selalu akrab dengan ayat-ayat akan diberikan jiwa yang sejuk, hati yang damai dan pikiran yang jernih, sehingga membuatnya ingin selalu beramal, kreatif, inovatif dan produktif. 10. Orang yang membaca al-Qur'an akan selalu berada dalam kegembiraan dan penuh harapan, di saat orang lain merasakan kesedihan, kecemasan dan rasa pesimis. Karena diri mereka selalu dipompa dengan siraman ayat-ayat-Nya yang lembut. 11. Orang yang rajin membaca al-Qur'an akan selalu diberikan jalan kemudahan dan petunjuk sehingga tidak mudah untuk menyimpang dan menyerah karena ayat-ayat Allah akan selalu mengingatkan dirinya ketika dirinya 'tersandung dosa dan maksiat.' 12. Orang yang membaca dan menjaga al-Qur'an selalu berada dalam lindungan dan penjagaan Allah. Ayat-ayat al-Qur'an mengajak pembacanya untuk senantiasa berpikir, merenung dan beramal sebanyakbanyaknya. Dan masih banyak manfaat-manfaat lainnya yang terus update dengan kondisi kehidupan kita...Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu belajar dan meningkatkan diri untuk lebih dekat lagi dengan alQur'an...Amiin wallahu a'lam http://baskomm.blogspot.com/2011/06/manfaat-membaca-al-quran-untuk.html 888888

Penawar Hati..., Katakanlah: “Al Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman”. QS. Fushilat: 44).
Wednesday, 16 March 2011 06:15 Lady Ukhtifillah Rahimakumullah

Al-Nahl: 97) . yang paling penting adalah bahwa semua cobaan hidup ini akan mengarahkan seorang yang beriman untuk kembali kepada Allah subhanahu wata‟ala. maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman. Selain itu. Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. Selain itu. (35)Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga) dari karunia -Nya. Amma Ba‟du: Terkadang. bersimpuh di hadapan -Nya. serta akan merasakan kebahagiaan dan merasa dekat dengan Allah Azza Wa Jalla. dia akan mendapat manfaat yang lain. Al-Nahl: 97) Segala puji hanya bagi Allah subhanahu wata‟ala. dan aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi -Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan -Nya. yaitu sebuah kebahagiaan yang tidak bisa terlukiskan.“As-salámu „alaikum wa Bismillah Ar Rahman Ar Raheem Penawar Kebingungan dan Kebimbangan rahmatul láhi wa barakátuh!” Barang siapa yang mengerjakan amal saleh. di dalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu”. didalam kehidupan seorang yang beriman tidak terlepas dari kebimbangan dan kesedihan yang mengeruhkan kebeningan kehidupannya dan mematahkan kenikmatannya. Fathir: 34-35) Alangkah agungnya manfaat yang didapatkan bagi orang yang mengetahui hikmah Allah yang terakandung di dalamnya. Perkara ini akan menghapuskan dosa-dosanya dan mengangkat derajatnya. sedih dan berencana bagi orang yang menggunakannya secara baik: Pertama: Beriman dan beramal shaleh. (QS. semua perkara yang mengeruhkan hidup akan menjadikan seorang mu‟min mengetahui kehinaan duniawi. (QS. maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. Allah subhanahu wata‟ala berfirman: Barang siapa yang mengerjakan amal saleh. dia akan mementingkan akherat dengan penuh keyakinan bahwa dia lebih baik dan lebih kekal abadi. baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman. Dan di bawah ini beberapa langkah yang bermanfaat untuk menghalau rasa bimbang. bingung. shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam. sehingga dengannya hati akan mendapatkan ketenangan dan ketentraman. bertdharru‟ kepada -Nya. (QS. sebab tidak ada kebimbangan di dalam surga dan tidak pula kesedihan sebagaimana ditegaskan di dalam firman Allah subhanahu wata‟ala: Dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami. Perasaan ini akan membawanya kepada zuhud dengan dunia dan tidak cendrung kepadanya.

Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Hurairah RA bahwa Nabi Muhammad shalallahu „alaihi wasallam bersabda: Dunia ini adalah penjara bagi orang yang beriman dan surga bagi orang kafir”. Ali Imron: 140). Allah subhanahu wata‟ala berfirman: Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu. gangguan. tidak pernah menjanjikan kecerahan bagi siapapun. Dunia juga sebagai ladang kelelahan. banyak bersedih. sesungguhnya segala perkara orang yang beriman itu baik. .Ini adalah janji Allah subhanahu wata‟ala kepada orang yang beriman dan beramal shaleh bahwa Dia akan menganugarahkan kepada mereka kehidupan yang baik. kebingungan bahkan duri yang menusuknya. gangguan. kecemasan maka seorang yang beriman akan merasa tenang setelah meninggalkannya. Ketiga: Mengetahui hakekat dunia. sebagai balasan atas kesabaran dan harapan pahala dari Allah subhanahu wata‟ala atas bencana-bencana yang menimpanya itu baik berupa kebimbangan duniawi dan segala bentuk musibahnya. jika dia seseorang gembira di dunia dalam waktu yang pendek maka dia juga membuat seseorang. kebingungan. upah yang besar. Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim dari Abi Hurairah RA bahwa Nabi Muhammad shalallahu „alaihi wasallam bersabda: Apa apa yang menimpa seorang muslim baik keletihan. baik kebimbangan dan kecemasan pada hakekatnya hal itu sebagai penghapus bagi kesalahankesalahannya dan tabungan bagi kebaikannya. di dalam riwayat yang lain disebutkan: Bahkan kecemasan kecuali Allah subhanahu wata‟ala akan menghapuskan dengannya segala keburukan-keburukannya”. kelezatannya bisa mendatangkan kekeruhan.. kesenangan yang ada padanya sangatlah sedikit. bahwa dia fana. kesedihan. di dalam riwayat yang lain disebutkan oleh Imam Muslim: Apapun yang menimpa seorang muslim baik duri atau yang lebih kecil darinya kecuali Allah akan mengangkat derajatnya dengan musibah tersebut atau dia akan dihapuskan kesalahannya”. dan apabila mendapat musibah dia bersabar dan itu lebih baik baginya”. kecuali Allah akan menghapuskan dengannnya kesalahan-kesalahannya”. Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Shuhaib RA berkata: Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam bersabda: Sungguh menakjubkan perkara seorang yang beriman. Maka hari-hari bergilir satu hari untuk kemenangan dan di hari yang lain penderitaan. Seorang ulama salaf berkata: Seandainya bukan karena musibah maka kita akan datang pada hari kiamat sebagai orang yang merugi. Bahkan salah seorang di antara mereka senang jika ditimpa musibah sebagaimana kesenangan mereka hidup dalam suasana sentosa. penyakit yang akut. maka orang itu menangis di dunia dalam waktu yang panjang. dan hal itu tidak terjadi kecuali bagi orang yang beriman. (QS. Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran). Kedua: Kegembiraan seorang muslim karena apa yang diperolehnya berupa pahala yang agung. Akhirnya seorang muslim menyadari bahwa apapun musibah yang menimpanya. kebimbangan. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Qotadah bahwa jenazah seseorang melewati Nabi Muhammad shalallahu „alaihi wasallam lalu bersabda: Tenang dan orang lain tenang darinya”. jika seseorang tertawa di dunia dalam sesaat. jika dia mendapatkan kebaikan maka dia bersyukur maka itu adalah lebih baik baginya.

Dan Nabi Muhammad shalallahu „alaihi wasallam meminta perlindungan kepada Allah subhanahu wata‟ala dari segala kebimbangan dan kesedihan. Langkah ini adalah penawar yang paling ampuh dalam menghilangkan kebimbangan dan kebingungan. (QS. Keempat: Kebimbangan dan kecemasan yang terjadi dunia ini akan membuat jiwa ini tercerai berai. Diriwayatkan oleh Al-Buhkari di dalam kitab shahihnya dari Anas bin Malik berkata : Aku menjadi pembantu Nabi Muhammad shalallahu „alaihi wasallam di dalam rumah tangganya dan apabila beliau memasuki rumah keluarganya maka beliau bersabda: “Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepada -Mu dari (hal yang) menyedihkan dan menyusahkan. maka (jawablah). bakhil dan penakut. Allah subhanahu wata‟ala berfirman: Dan apabila hamba-hamba -Ku bertanya kepadamu tentang Aku. pohon dan hewan akan tenang dengan kepergiannya”. oleh karena itu. memporak-porandakan kekuatannya. lapangkanlah untukku dadaku. lilitan hutang dan penindasan orang.” Diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam kitab sunannya dari hadits riwayat Abdurrahman bin Abi Bakroh bahwa Nabi Muhammad shalallahu „alaihi wasallam bersabda: Do‟a orang yang kesusahan adalah. Diriwayatkan oleh Al-Turmudzi di dalam kitab sunannya dari Anas bin Malik bahwa Nabi Muhammad shalallahu „alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa yang menjadikan negeri akherat sebagai orientasinya maka Allah akan menjadikan kekayaan di dalam hatinya dan Dia akan mengumpulkan segala kekuatannya sementara dunia ini akan datang mengejarnya dengan penuh ketundukan. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada -Ku. (QS. negeri. sebab dia menyadari bahwa itulah hakekat dunia. jangan Engkau biarkan . “Ya Allah! Aku mengharapkan (mendapat) rahmat -Mu. Maka beliau bersabda: Seorang hamba yang beriman akan tenang terlepas dari keletihan duniawi dan gangguannya menuju rahmat Allah sementara hamba yang bejat akan membuat manusia.Para shahabat bertanya: Wahai Rasulullah apa yang anda maksudkan dengan kata tenang dan orang lain tenang darinya?. Inilah makna tentang hakekat dunia yang disadari oleh orang yang beriman maka dengan kesadaran ini segala musibah dan kebimbangan akan menjadi enteng. Thaha: 25). Kelima: Berdo‟a. lemah dan malas. Al-Baqarah: 186). bahwasanya Aku adalah dekat. namun jika seseorang menjadikan orientasinya mengarah kepada akherat maka Allah subhanahu wata‟ala akan mengumpulkan kekuatannya dan tekadnya akan dimantapkan. dan barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai orientasinya maka Allah akan menjadikan kefakiran di hadapannya dan mencerai beraikan kekuatannya dan dunia tidak datang kepadanya kecuali apa yang telah ditetapkan baginya”. Allh subhanahu wata‟ala berfirman: Berkata Musa: “Ya Tuhanku.

diriku sekejap mata (tanpa pertolongan atau rahmat dari -Mu). tidak menyerah pada kecemasan.html . dan semua langkah ini akan bertumpu pada membaca Al-Qur‟an yang dibarengi dengan perenungan. Allah subhanahu wata‟ala berfirman: Dan Kami turunkan dari Al Qur‟an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman”. Al-Ra‟du: 28). (QS.” Apabila seorang hamba mendengungkan do‟a ini dengan hati yang sadar. penghilang segala kebimbangan dan kebingungan. hanya dengan mengingat Allah -lah hati menjadi tenteram. dan aku hanya menyebutkan beberapa langkah yang penting saja. Fushilat: 44). penghapus kesedihan. kelapangan dan kegembiraan yang tidak bisa terlukiskan…. Allah subhanahu wata‟ala berfirman: (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Dia berfirman: Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Ingatlah. tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. mengharap pada karunia -Nya. obat bagi segala macam penyakit baik penyakit badan atau hati. cahaya bagi dada. maka dia akan percaya kepada Allah.”. berserah diri kepada -Nya. shahabat serta seluruh pengikut beliau http://khutbahbank. Al-Isro‟: 82) Maka barangsiapa yang membaca Al-Qur‟an ini dengan penuh perenungan dan meresapi maknanya maka segala kecemasan dan kebimbangan akan hilang dari dirinya. (QS. tidak pula dikendalikan oleh hayalan-hayalan yang buruk. semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad dan kepada keluarga. serta akan terbebas dari banyak jenis penyakit hati dan jasad. Allah subhanahu wata‟ala berfirman: Katakanlah: “Al Qur‟an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman”.net/joomla-license/67-penawar-hati-katakanlah-al-quran-itu-adalah-petunjuk-danpenawar-bagi-orang-orang-yang-beriman-qs-fushilat-44. dia adalah pelipur hati. Keenam: Bertawakkal kepada Allah subhanahu wata‟ala. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. QS. Perbaikilah seluruh urusanku. niat yang benar dan dibarengi dengan usaha-usaha yang menyebabkan do‟a tersebut diterima maka Allah pasti memberikan apa-apa yang dimintanya dan dia berbuat untuk mewujudkan keinginannya serta kecemasan akan berbuah kesenangan dan kegembiraan. Syekh Abdurrahman As-Sa‟di berkata: Maka pada saat hati ini bergantung kepada Allah subhanahu wata‟ala. dengannya pula segala serpihan-serpihan kebimbangan dan kebingungan akan terusir. Hati akan merasakan kekuatan. Langakah-langkah untuk menggapai kebahgiaan itu ternyata sangat banyak bagi mereka yang menyadarinya. Al-Thalaq: 3) Artinya mencukupkan keperluannya baik dari perkara dunia atau akherat. (QS.

ketidaksabaran. Ketika seseorang dilanda setres atau frustasi dan tidak dapat berpikir jernih. Keadaan ini menunjukkan bahwa kondisi otak sedang berada . Itu justru memicu keingintahuan yang mendalam. Untuk mengingat dengan baik. Ketika seseorang tidur dan tidak bermimpi itu artinya ia tidak melakukan apa-apa. teori tentang kognitif-Behavioral. Tidak gampang menyerah. kisaran 7 atau 8. otak harus berada dalam keadaan alfa. Ada beberapa teori dalam psikologi yang menjelaskan tentang sebab-sebab kecemasan. Dimana rasa cemas itu disebabkan oleh proses-proses berpikir yang menyimpang. otak bekerja sedemikian rupa malalui gerakan-gerakan sel saraf dan melepas muatan sehingga di dalam otak ada gelombang listrik. Akan tetapi positifnya. Ketika seorang bermeditasi atau bertafakur.5-3. terapi membaca Al-Quran ini bisa dilaksanakan secara mandiri oleh peserta didik usia sekolah menengah. Kreativitas yang tidak dilatih akan lumpuh. tidur. Keadaan tidur ini disebut keadaan delta yang memiliki frekuensi 0. Kreativitas adalah sebuah hasil latihan. Suatu upaya terus menerus tak kenal lelah. Pertama teori psikoanalisis yang berpendapat bahwa sumber kecemasan adalah konflik yang tidak disadari antara ego (alam sadar) dan impuls-impuls id (alam bawah sadar). Kecemasan yang sering dihadapi oleh peserta didik di usia sekolah menengah pada saat menghadapi ujian semester. jernih. Ini adalah proses belajar yang dialami Thomas Alfa Edison. Ciri-ciri orang yang mengalami gangguan kecamasan antara lain kesulitan untuk berkonsentrasi. sangat mudah lelah. 2002: 166). PENGARUH BELAJAR DAN TERAPI MEMBACA AL QUR’AN SECARA RUTIN TERHADAP HILANGNYA RASA CEMAS PADA ANAK DIDIK SAAT MENGHADAPI UJIAN AKADEMIK. sekolah. dan bermimpi. keadaan ini adalah kondisi yang prima untuk penyembuhan penyakit. Tahap iluminasi dari proses kreatif menunjukkan gelombang alfa pada otak. Kedua. misalnya otot seorang binaraga yang tidak pernah dilatih (Taufiq Pasiak. dan nasional. 1. mudah tersinggung. Maka untuk mengurangi kecemasan tersebut anak didik harus belajar dan dibutuhkan terapi membaca Al-Quran secara rutin. Dia tidak gampang putus asa dengan ribuan kasus kegagalannya. atau bahkan membaca Al-Qur’an. Dan jika seseorang meninggalkan id maka orang tersebut tidak lagi hidup. berdzikir. ini merupakan salah satu kunci kesuksesan Thomas Alfa Edison. Keadaan teta adalah kondisi ketika pikiran atau otak bekerja secara baik.13 Hz. Ketika seseorang tidur dan bermimpi.999999999 PENGARUH BELAJAR DAN TERAPI MEMBACA AL QUR’AN SECARA RUTIN TERHADAP HILANGNYA RASA CEMAS PADA ANAK DIDIK SAAT MENGHADAPI UJIAN AKADEMIK.5 Hz. dan “bening”. Ada empat jenis gelombang otak yang merekam aktivitas manusia sepanjang waktu. Latar belakang Setiap orang pasti pernah mengalami kecemasan. dan mengalami keteganggang otot yang amat sangat. berati ia dalam keadaan teta. karena tidak ada cara untuk menghindari kecemasan.

Tapi dilihat dari fenomena yang ada banyak peserta didik dan guru yang melakukan doa bersama sehari sebelum ujian dan berkeyakinan dapat membuat mereka lulus dalam ujian. Hambatan yang kemungkinan dialami . Selain itu. Tujuan Program Program ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh membaca Al-Quran dan belajar secara rutin terhadap hilangnya rasa cemas pada anak didik saat menghadapi ujian semester. 3. sekolah. Namun seharusnya hal ini dilakukan secara rutin. Gelombang ini berkisar di atas 13 Hz yang menunjukkan kinerja logis otak. 5. Otak dalam kondisi ini adalah otak analitis (Taufiq Pasiak. Cara penyampaiannya dengan melakukan sosialisasi di sekolah dan masyarakat tentang pentingnya belajar dan membaca Al-Qur’an secara rutin. 4.dalam kondisi beta. 6. Manfaat program Perancang program berharap program ini bisa menambah wawasan mengenai manfaat membaca AlQuran secara rutin sebagi obat penghilang rasa cemas disertai dengan belajar rutin bagi setiap anak didik di sekolah menengah. maupun nasional. 2002). metode yang digunakan adalah observasi partisipan. Dimana observer juga melakukan belajar dan terapi membaca Al-Qur’an secara rutin dan mandiri. Banyak juga peserta didik yang melakukan belajar dengan sistem kebut semalam. Serta program ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi orang tua dan guru agar mengarahkan anak didiknya untuk membaca Al-Quran. Metode dan Cara Penyampaian Metode pengumpulan data ini dilakukan dengan mengumpulkan data yang berhubungan dengan manfaat belajar dan membaca Al-Qur’an. Sasaran program Sasaran dari program ini adalah anak didik di sekolah menengah. 2.

M. Hasil Pembuat program berharap dengan dilaksanakannya program ini dapat terlahir: 1. Anak didik diajari dan disuruh untuk membaca Al-Quran. baik melalui sms maupun dari oknum. Guru hanya menekankan segi kognitif dari pada psikis anak didiknya. dimana gelombang beta tersebut dapat menyebabkan pikiran tidak bisa fokus dan sulit berkonsentrasi serta tidak dapat berpikir jernih. baik dari segi mentalitas maupun kognitif. 2. http://arifindikromo. Tidak semua anak didik usia sekolah menengah beragama islam. 4. 4. YUNUS BENGKULU TAHUN 2010 BAB I . Anak didik menjadi lebih tenang saat menghadapi ujian semester. 24 Mei 2011 HUBUNGAN PENDIDIKAN DAN PERAN PERAWAT DENGAN TINGKAT KECEMASAN PADA PASIEN PRE OPERASI DI RUANG SERUNI RSUD. 3. 5.html Selasa.com/2011/05/pengaruh-belajar-dan-terapi-membaca-al. Guru tidak hanya mementingkan segi kognitif anak saja tetapi juga harus memikirkan segi psikis anak. 3. sekolah. Solusi 1. Remaja Indonesia yang tidak mudah terpengaruh oleh arus globalisasi dan tidak latah dengan fenomena yang dipropogandakan oleh media masa. 3. 7. baik muslim maupun non muslim karena intonasi dan bacaan Al-Quran itu dapat menghilangkan gelombang beta pada otak. misalnya anak diwajibkan mengikuti ekstrakulikuler sesuai dengan bakat dan minat anak. 4. Orang tua tidak peduli terhadap waktu belajar dan mengaji untuk anak usia sekolah menengah.blogspot. Guru dan orang tua yang peduli terhadap kemajuan anak. Selain itu juga orang tua tidak lupa untuk mengontrolnya. 2. Waktu menonton televisi dan bermain yang berlebihan bagi anak usia sekolah menengah. Anak didik yang disiplin. 2. 8. Orang tua memberikan tanggung jawab kepada anak untuk megatur waktu belajar mengajinya sendiri. maupun nasional.1. Anak didik lebih percaya diri dengan kemampuannya tanpa mengandalkan contekan dari teman dan bocoran jawaban soal ujian. Anak usia sekolah dibatasi waktu untuk menonton televisi dan bermain agar anak menjadi disiplin.

16 orang (40%) yang memilki tingkat kecemasan dalam kategori sedang. Pembahasan tentang reaksi – reaksi pasien terhadap pembedahan sebagian besar berfokus pada persiapan pembedahan dan proses penyembuhan (Dewi wijayanti. Setiap pasien pernah mengalami periode cemas.5%) dalam kategori ringan dan responden yang tidak merasa cemas sebanyak 2 orang (5%). . Kecemasan merupakan perasaan yang paling umum di alami oleh pasien yang dirawat dirumah sakit. Kecemasan yang terjadi dapat berpengaruh terhadap peningkatan tekanan darah (RSUD Sragen. 8. kecemasan yang sering terjadi adalah apabila pasien yang dirawat di rumah sakit harus mengalami proses pembedahan.PENDAHULUAN 1. Sebagian besar pasien beranggapan bahwa operasi merupakan pengalaman yang menakutkan. Pembedahan merupakan tindakan pengobatan yang banyak menimbulkan kecemasan.922 pasien (25. 2006). Penelitian yang dilakukan oleh makmur et. untuk itu pasien yang akan menjalani operasi harus diberi pendidikan kesehatan untuk menurunkan atau mengurangi gejala kecemasan (Carbonel. apalagi yang akan menjalani operasi.1%) mengalami kondisi kejiwaan dan 2. sebuah institusi dan sebuah organisasi yang fungsi utamanya adalah memberikan pelayanan kepada pasien diagnostik dan terapeutik untuk berbagai penyakit dan masalah kesehatan. Kecemasan terjadi ketika seseorang merasa terancam baik fisik maupun psikologisnya misalnya harga diri. Dari. R. 2007). Reaksi cemas ini akan berlanjut bila pasien tidak pernah atau kurang mendapat informasi yang berhubungan dengan penyakit dan tindakan yang dilakukan terhadap dirinya. Latar Belakang Rumah sakit adalah sebuah fasilitas.539 pasien bedah dirawat di unit perawatan intensif antara 1 oktober 2003 dan 30 september 2006. terjadi penundaan proses operasi karena peningkatan kecemasan.5%). didapatkan bahwa 10% dari pasien yang akan menjalani pembedahan. 2002). 2003).473 pasien (7%) mengalami kecemasan. dan identitas diri (Tjandra. gambaran diri. Bila kecemasan pada pasien pre operasi tidak segera diatasi maka dapat mengganggu proses penyembuhan. 15 orang (37. Hasil penelitian di Rumah Sakit Ortopedi Prof Dr. Amerika Serikat menganalisis data dari 35. Berdasarkan data dari RSUD Sragen Wijaya Kusuma. Pelayanan yang ada di Rumah Sakit adalah pelayanan pengobatan baik yang bersifat bedah maupun non bedah. Soeharso tahun 2008 dari 3827 pasien yang mengalami pembedahan sekitar (2%) mengalami kecemasan (Makmur. Kecemasan merupakan gejala klinis yang terlihat pada pasien dengan penatalaksanaan medis. 2007). Berdasarkan data WHO (2007).al (2007) tentang tingkat kecemasan pre operasi bahwa dari 40 orang responden dalam tingkat kecemasan berat sebanyak 7 orang (17.

Berdasarkan hasil pengumpulan data di RSUD M. sehingga tindakan anestesi atau pembedahan ditunda. Termasuk salah satunya dalam mengendalikan kebutuhan emosi diri pasien terutama pasien pre operasi dan post operasi. (Ibrahim. 2002 ). maka makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimilikinya. Makin tinggi pendidikan seseorang. . Kecemasan yang terjadi dapat berpengaruh terhadap peningkatan tekanan darah. Tujuan agar persiapan yang dilakukan dapat sebaik mungkin (RSUD M.Kecemasan pre operasi dapat dipengaruhi dari beberapa faktor antara lain adalah faktor biologis yang terjadi akibat dari reaksi saraf otonom yang berlebihan dengan naiknya system tonus saraf simpatis. Seorang perawat dituntut bisa mengetahui kondisi dan kebutuhan pasien. yang dirawat 2154 pasien. maka memerlukan keterampilan komunikasi yang baik. Sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap perubahan-perubahan hidup sehat (Notoatmojo. Perawat mempunyai kontak paling lama dalam menangani persoalan pasien. psikologis. 2002). Peran perawat dalam upaya penyembuhan klien menjadi sangat penting. Pasien yang akan menjalani operasi besar dianjurkan untuk minimal masuk rumah sakit 12 jam sebelum pre operasi dilaksanakan dan operasi kecil 6 jam sebelum dilaksanakan. 1999). Yunus Bengkulu. dan spiritual. Perawat harus mau mendengarkan semua keluhan pribadi pasien (Widodo. termasuk dalam pemberian pendidikan kesehatan. dengan rincian sembuh 2259 dan 36 pasien meninggal (15%) dilakukan penundaan karena peningkatan kecemasan. terutama dalam motivasi untuk berperan serta dalam pembangunan kesehatan. Salah satu cara melakukan hal ini ialah dengan mencurahkan perhatian sampai kepada hal yang sekecil-kecilnya dalam merawat pasien. 2006). pada tahun 2007 terdapat 4449 pasien yang mengalami pembedahan. Peran perawat sangat penting untuk memberikan suport atau dukungan dan penyuluhan terhadap penurunan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi ( Kuntjoro. Peran perawat sangat penting dalam penanggulangan kecemasan dan berupaya agar pasien tidak merasa cemas melalui asuhan keperawatan komprehensif secara biologis. Pendidikan dapat mempengaruhi seorang termasuk juga prilaku seseorang akan kepatuhannya. 1998).Yunus Bengkulu. dan faktor psikologis yang dapat terjadi akibat implusimplus bawah sadar yang masuk kealam sadar seperti tidak didampingi oleh orang tua. mempunyai kewajiban membantu pasien mempersiapkan fisik dan mental untuk menghadapi operasi. anak ataupun keluarga yang lain. Perawat merupakan salah satu tenaga kesehatan yang paling sering berinteraksi dengan pasien. 2008). Sikap dan tingkah laku perawat membantu menumbuhkan rasa kepercayaan pasien. Selain itu faktor pendidikan pasien juga dapat mempengaruhi kecemasan yaitu tingkat pendidikan yang rendah serta kurangnya dukungan dari perawat (Sadock dan Kaplan. suami. sosial.

gelisah.Sementara dari pengumpulan data awal diruang Seruni RSUD M. Tujuan umum Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada Hubungan antara pendidikan dan peran perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. 4. Mengetahui gambaran tingkat pendidikan pada pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. Yunus Bengkulu. Yunus Bengkulu didapatkan data bahwa dari 15 pasien yang akan melakukan operasi 5 orang yang mengalami kecemasan berat dengan ciri-ciri muka merah. Tujuan penelitian 1. 2. 5. 2. M. Yunus Bengkulu. sering buang air kecil. 3. Rumusan masalah Berdasarkan uraian dalam latar belakang di atas. gemetar sehingga dapat menghambat proses operasi. M. Mengetahui hubungan pendidikan dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. 3. masalah penelitian ini adalah masih tingginya tingkat kecemasan pasien pre operasi di RSUD M. Untuk menurunkan tingkat kecemasan pasien tersebut keluarga dan perawat harus lebih banyak memberikan dukungan salah satunya yaitu selalu berada dekat pasien. maka penulis tertarik untuk meneliti hubungan pendidikan pasien dan peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. M. 2.. memotivasi pasien untuk memberi keyakinan bahwa operasi dapat berjalan dengan lancar. Yunus Bengkulu. Yunus Bengkulu. Yunus Bengkulu didapatkan data 2008 sebanyak 1033 dan data 2009 dari januari sampai tanggal Desember sebanyak 786 orang yang melakukan operasi. M. Mengetahui gambaran peran perawat di ruang seruni RSUD. Mengetahui hubungan peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. Sedangkan rumusan masalah penelitian ini adalah "apakah ada hubungan pendidikan pasien dan peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD M.Yunus Bengkulu. M. Manfaat penelitian 1. M. susah tidur. Dari 5 orang yang mengalami kecemasan berat tersebut mempunyai pendidikan SMA kebawah dan kurang mendapatkan penkes dari perawat. Berdasarkan hasil observasi dengan teknik wawancara selama tiga hari di ruang seruni RSUD M. Yunus Bengkulu". Yunus Bengkulu. M. Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan di atas. Mengetahui tingkat Kecemasan pasien pre operasi di Ruang Seruni RSUD Dr. Yunus Bengkulu. Tujuan Khusus 1. nafas pendek. Yunus Bengkulu. Bagi Akademik . 4.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi literatur bagi perpustakaan. atau depresi dalam menghadapi pembedahan. Bagi Masyarakat Dapat memperoleh pelayanan yang lebih baik terutama yang mengalami ketakutan. Bagi Rumah sakit Hasil penelitaan ini diharapkan dapat memberi masukan bagi para tenaga kesehatan khususnya pada perawat di ruang seruni dan ruangan yang lain. 2.Adapun perbedaan antara karya tulis ini dengan karya tulis tersebut adalah pada variabel. rancangan dan waktu penelitian. kecemasan. 2. Elika dengan judul penelitian " Hubungan peran perawat dan dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD M. Keaslian penelitian Sebagai bahan perbandingan penelitian serupa pernah diteliti oleh : 1. Menambah wawasan dan pengetahuan bagi mahasiswa dan masyarakat mengenai tingkat kecemasan pada pasien pre operasi. rancangan dan waktu penelitian. Adapun perbedaan antara karya tulis ini dengan karya tulis di atas adalah pada variabel. BAB II TINJAUAN PUSTAKA . 3. Bagi Peneliti Lain Hasil penelitian ini dapat berguna sebagai masukan atau informasi bagi peneliti lain dalam mengembangkan penelitian dengan variabel-variabel yang lain. 3. Yunus Bengkulu". M. Yunus Bengkulu. Rinda Lesti Sentia dengan judul penelitian " Hubungan Tingkat Pendidikan dan Umur Kehamilan dengan Tingkat Kecemasan Ibu Hamil Primigravida di Rumah Bersalin YKWP Desa Kangkung Kabupaten Demak. 4. Agri Maha Tirani dengan judul penelitian "Perbedaan tingkat kecemasan sebelum dan sesudah pemberian pendidikan kesehatan pada pasien pre operasi di RSUD. 5. Dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan di bidang kesehatan.

perut terasa kosong. gangguan phobik dan gangguan obsesifkompulsif (Dadang Hawari. Kecemasan adalah suatu keadaan yang menggoncangkan karena adanya ancaman terhadap kesehatan (Siti Sundari. . gangguan panik. Psikologis Ditinjau dari aspek psikoanalisa. ancaman) yang masuk kealam sadar. Kecemasan merupakan peringatan yang bersifat subyektif atas adanya bahaya yang tidak dikenali sumbernya. Pengertian Cemas adalah keadaan emosi individu yang berkaitan dengan perasaan yang tak pasti dan tidak berdaya. Mekanisme pembelaan ego yang tidak sepenuhnya berhasil juga dapat menimbulkan kecemasan yang mengambang. Kecemasan adalah suatu keadaan dimana psikologis seseorang berada pada ketakutan dalam menghadapi masalah yang ada pada dirinya. kondisi ini dialami secara subyektif (yang hanya dirasakan individu tersebut) dan dikomunikasikan dalam hubungan interpersonal (Stuard and Sundeen. 2. 2. gangguan cemas menyeluruh (Generalized anxiety disorder/GAD). Faktor-faktor Penyebab Kecemasan 1. Keadaan emosi ini tidak memiliki subyek yang spesifik. nafas sesak dan dada terasa nyeri (Ayub Sani. Reaksi pergeseran yang dapat mengakibatkan reaksi fobia. 1998). 2005) Jadi. Konsep Kecemasan 1. 2006). Sosial Kecemasan yang timbul akibat hubungan interpersonal dimana individu menerima suatu keadan yang menurutnya tidak disukai oleh orang lain yang berusaha memberikan penilaian atas opininya (Sadock dan Kaplan. Kecemasan adalah Suatu kondisi yang menyangkut terminologi kesehatan jiwa dengan suatu kondisi was-was. Kecemasan merupakan komponen utama bagi hampir semua gangguan kejiwaan (psychiatric disorder). kecemasan dapat muncul akibat implus-implus bawah sadar (misalnya : sex. 1998). 2007). Faktor Biologis Kecemasan terjadi akibat dari reaksi saraf otonomi yang berlebihan dengan naiknya sistem tonus saraf simpatis. Secara klinis gejala kecemasan dibagi dalam beberapa kelompok yaitu gangguan kecemasan. 3.1.

7. lebih mudah mengalami kecemasan. begitu juga sebaliknya jika lingkungannya kondusif mempercepat penyembuhan seseorang. penyakit. Lingkungan Lingkungan sangat berpengaruh pada kecemasan seseorang. operasi. 4. letih. Tingkat pendidikan Status pendidikan yang rendah pada seseorang akan menyebabkan orang tersebut mudah mengalami kecemasan.3. lesu) lebih mudah megalami kecemasan. Disamping itu kelelahan fisik (lemah. 2. dimana lingkungan yang tidak kondusif berpotensial besar terhadap kecemasan yang dialami seseorang. Keadaan fisik Seseorang yang mengalami gangguan fisik seperti cacat badan. Umur . Sosial budaya Individu yang tidak bersosialisasi dengan masyarakat lebih mudah mengalami kecemasan. Ekonomi Seseorang yang memiliki pendapatan rendah lebih mudah mengalami kecemasan. Potensi stressor Suatu keadaan yang menyebabkan perubahan dalam individu. Kecemasan bisa terjadi pada individu yang tingkat pendidikannya rendah disebabkan karena kurangnya informasi yang didapat individu tersebut. Selain itu faktor yang mempengaruhi tingkat kecemasan menurut Soewandi (1998) antara lain : 1. 3. 5. sehingga individu harus melakukan penyesuaian diri (adaptasi). 6. dibandingkan dengan orang yang memiliki pendapatan tinggi. sakit.

3. 4. pendengaran berdenging (tinnitus). tidak tenang. Berhubungan dengan ketegangan yang dialami dalam kehidupan sehari. sulit tidur. hiperventilasi. Menurut Dadang Hawari (2006). menyebutkan gejala klinis dari cemas antara lain : Cemas. sakit kepala dan lain sebagainya. energi menurun. Gangguan pola tidur. 3. 2. sesak nafas. 5. Semua perilaku ditujukan untuk mengurangi ketegangan. mudah terkejut. dan banyak orang. gelisah. gangguan muskulo skeletal. khawatir. Tingkat kecemasan 1. mulut kering. Takut sendiri. Gejala – gejala Kecemasan Keadaan cemas mempunyai gejala-gejala somatik atau fisik dan gejala psikologis atau mental. . gangguan kulit. nadi cepat. takut akan fikirannya sendiri. Ansietas Berat (Tingkat III) Sangat mengurangi lahan persepsi seseorang. hiperaktifitas.Umur ikut menentukan kecemasan. Jenis kelamin Kecemasan lebih banyak dialami wanita. Seseorang cenderung untuk memusatkan pada sesuatu yang terinci dan spesifik dan tidak berfikir tentang hal lain. biasanya kecemasan sering dialami oleh usia muda. dibandingkan dengan pria. takut pada keramaian. Ansietas dapat memotivasi belajar dan menghasilkan pertumbuhan. Ansietas Sedang (Tingkat II) Memungkinkan seseorang untuk memusatkan pada hal yang penting dan mengesampingkan yang lain.hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada dan meningkatkan lahan persepsinya. berkeringat. Gejala-gejala tersebut antara lain: Iritabilitas. 2. Orang tersebut banyak pengarahan untuk dapat memusatkan pada suatu area lain. 5. 6. 1994). gangguan perkemihan. Reaksi fisik terhadap kecemasan pada masingmasing individu berbeda (Setyonegoro. mimpi yang menegangkan Gangguan konsentrasi dan daya ingat Keluhan somatik misalnya rasa sakit pada otot tulang. muntah-muntah. berdebar-debar. firasat buruk. mudah tersinggung. berhenti berbicara dan terjadi perubahan suara. kebingungan. gagap. Merasa tegang. Ansietas Ringan (Tingkat I) 1. sehingga seseorang mengalami perhatian yang selektif namun dapat melakukan sesuatu yang lebih terarah. nyeri pada gastro intestinal. 4. gangguan pencernaan. sering buang air besar atau kecil. mengetuk jari-jari. 8.

4. Hal ini menurunkan rasa ketidak berdayaan dan ansietas mereka. Dialog Internal Membantu pasien mengembangkan pesan dialog sendiri yang meningkatkan : 1. menurunnya kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain. ketakutan dan terror-terror. Stressor Pencetus Stressor pencetus berasal dari sumber internal atau eksternal. Ansietas terhadap integritas seorang meliputi ketidakmampuan fisiologis yang akan datang atau menurunnya kapasitas untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Tingkat Panik Berhubungan dengan terperangah. Khayalan Mental dan Relaksasi Mendorong pasien untuk mengkhayalkan tempat yang indah atau menjadi bagian dari pengalaman yang menyenangkan sehingga dapat membantu pasien menurunkan ketegangan (Abraham dkk. Optimisme 5. Dialog Eksternal Dengan dialog eksternal kebutuhan pasien untuk berbicara cara akurat tentang dirinya dengan orang lain. Ansietas terhadap sistem diri seseorang dapat membahayakan identitas. Teknik Mengatasi ansietas Teknik kognitif dapat membantu pasien ansietas dan tidak tergantung pada wawasan atau pemahaman yang kompleks dari kondisi psikologi diri sendiri. Percaya diri 2. Orang yang mengalami panik tidak mampu melakukan sesuatu walaupun dengan pengarahan. 1997). Panik melibatkan disorganisasi kepribadian. 1997). harga diri dan fungsi sosial (Brunner dan suddarth. 2. Kemampuan untuk mengatasi 4. 6. Perasaan pengendalian 3. Perincian terpecah dari proporsinya karena mengalami kehilangan kendali. 7. 1. . 3. yaitu: 1. Sterssor dapat di kelompokkan dalam dua kategori. 1997). dengan panik terjadi peningkatan aktivitas motorik. Harapan 2. persepsi yang menyimpang dan kehilangan pemikiran yang rasional tingkat ansietas ini tidak sejalan dengan kehidupan dan jika berlangsung terus dalam waktu yang lama dapat terjadi kelelahan yang sangat bahkan kematian (Hudak dan Gallo.

1997). 2006). Lingkup kegiatan perawatan pre operasi termasuk dalam menetapkan batas pengkajian klien setting secara klinis atau dalam ruangan. Takut terhadap anestesi. tidur. Pengertian Pasien Pre operasi dapat mengalami berbagai ketakutan.tipe tingkah laku seperti mennangis. Kecemasan pada pasien pre operasi . 2. Alat ukur kecemasan untuk mengetahui sejauh mana derajat kecemasan apakah ringan atau berat dengan menggunakan alat ukur (instrument) yang dikenal denga nama Hamilton Rating Scale or Anxiaty (HRS-A) dengan skor ringan jika ≤ 28 dan berat jika ≥ 28. 3. Perawatan pre operasi merupakan bagian dari perawat perioperatif yang di mulai dari kapan di putuskan tindakan operasi dibuat dan diakhiri dengan pemindahan klien ke meja ruang operasi. Mekanisme Koping Mekanisme koping adalah suatu bentuk pertahanan yang di gunakan oleh seseorang yang sedang berada pada suatu bentuk kecemasan untuk menghindar atau mengurangi respon yang ditimbulkan oleh kecemasan tersebut. 1997). Tujuan Prosedur pembedahan Sebagai salah satu bentuk pengobatan dan penatalaksanaan berbagai macam penyakit untuk mempercepat proses penyembuhan (Perry Potter. 9. takut tentang ketidaktahuan. di kelompokkan menjadi dua bagian yaitu : 1. melakukan kegiatan fisik. tertawa. Dimana mekanisme koping setiap orang berbeda-beda. Pembedahan Mayor (pembedahan resiko tinggi ) 2. menyiapkan klien untuk diberikan anestesi dan pembedahan bagaimanapun kegiatan perawatan dibatasi oleh pengkajian pre operasi dalam ruangan atau selama operasi. Jenis-jenis operasi Menurut derajat kepentingan Perry dan potter (2006).8. takut tentang deformitas dan ancaman lain terhadap citra tubuh dapat menyebabkan ketidaktenangan atau ansietas (Brunner dan Suddarth. Pre Operasi 1. merokok dan minum-minum (Brunner dan Suddarth. Pembedahan Minor (pembedahan resiko kecil ) 4. 10. takut terhadap nyeri atau kematian. Tipe . interview preoperatif.

kecerdasan akhlak mulia. Pasien biasanya tidak mau bicara dan memperhatikan keadaan sekitarnya. Persiapan psikologis pasien pre operasi Pasien yang akan di operasi biasanya akan mengalami kegelisahan dan rasa takut. kepribadian. 1994). memberitahu pasien hanya medikasi pre operasi yang akan membuatnya rileks sebelum operasi tidaklah selektif bila menyebutkan juga bahwa medikasi tersebut dapat mengakibatkan kepala terasa melayang dan mengantuk. tapi kadang-kadang dapat terlihat dalam bentuk lain. obat-obatan dan perawatan tindakan. pengendalian diri. 2003). Penyuluhan tersebut harus melebihi deskripsi tentang berbagai langkah prosedur dan harus mencakup tentang sensasi yang akan di alami. masyarakat. Pendidikan 1. Mengetahui apa yang di perkirakan akan membantu pasien mengantisipasi reaksi-reaksi tersebut dan dengan demikian mencapai tingkat relaksasi yang lebih tinggi daripada yang di perkirakan sebaliknya (Brunner dan suddarth. Pengertian Pendidikan adalah suatu usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. Salah satu caranya yaitu dengan penyuluhan pada keluarga maupun pasien supaya mereka mengerti apa yang akan terjadi. Sebagai contoh. 11.Kecemasan pada pasien pre operasi adalah kecemasan yang di akibatkan sterssor tindakan operasi. kurangnya dukungan keluarga terhadap pasien pre operasi. perawatan menjelang operasi yang dianggap sebagai hal baru. (Diknas. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. 1997). Manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya. Pasien yang gelisah dan takut biasanya sering bertanya berulang-ulang walaupun pertanyaan tersebut telah dijawab. Pengkajian psikologi pada pasien atau keluarga harus di lakukan supaya hal tersebut tidak menghambat rencana operasi. Khawatir meninggal di meja operasi dan meninggalkan anakanak ditinggalkan seandainya ia meninggal saat atau setelah operasi. tetapi berusaha mengalihkan perhatiannya kepada buku atau sebaliknya ia bergerak terus-menerus dan tidak mau tidur (Kaplan. Pendidikan merupakan usaha agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses . 5. stressor tersebut merupakan faktor timbulnya kecemasan yang mengakibatkan terancamnya integritas seseorang meliputi ketidakmampuan fisiologis atau menurunkan kapasitas untuk melakukan hidup sehari-hari (Brunner dan suddarth. bangsa dan negara. 1997). Perasaan gelisah dan takut kadang-kadang tidak tampak jelas.

Menurut Ahmadi. (1997) janis pendidikan terbagi atas 3 yaitu : 1. Pendidikan Menengah : pendidikan menengah yang lamanya 3 tahun sesudah pendidikan dasar. Diknas (2003). bukan saja bagi produktivitas. S1. menyatakan bahwa jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik. UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia menyelenggarakan Tahun 1945 Pasal 31 ayat (1) menyebutkan bahwa setiap warga Negara berhak mendapat pendidikan. Sedangkan menurut Diknas (2003). 3. D2. Pendidikan Non-Formal : Pendidikan non-Formal adalah pendidikan yang dilakukan secara teratur. D4. Untuk itu. Jenjang Pendidikan Menurut Diknas (2003). seperti pada pendidikan formal di sekolah. 5. menengah. dan S2. sekolah tinggi dan universitas yang termasuk perguruan tinggi D1. 4. 1. menyatakan pendidikan non-formal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. tapi tidak terlalu ketat mengikuti peraturan-peraturan yang tepat. akan tetapi juga bagi tujuan terakhir pembangunan seperti kualitas keluarga dan kehidupan masyarakat. seluruh komponen bangsa wajib mencerdaskan kehidupan bangsa yang merupakan salah satu tujuan negara indonesia. Pendidikan Tinggi: satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi yang dapat berbentuk akademik. dan tinggi. . D3. diselenggarakan di SLTA atau sederajat. pendidikan formal yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar. tujuan yang akan dicapai.pembelajaran atau cara lain yang dikenal dan diakui oleh masyarakat. dan ayat (3) menegaskan bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan Undang-Undang. 2. Pendidikan formal : Pendidikan formal merupakan usaha-usaha dalam pendidikan dasar dapat memberikan sumbangan dalam jangka panjang. Pendidikan Dasar : warga Negara yang berumur 6 atau 7 tahun berkewajiban mengikuti pendidikan dasar atau sederajat selama 9 tahun yaitu SD dan SLTP. dan kemampuan yang dikembangkan menjadi: 2. Karena pendidikan non-formal pada umumnya dilaksanakan tidak dalam lingkungan fisik sekolah maka sasaran pokok adalah anggota-anggota masyarakat. dengan sadar dilakukan. politeknik. serta memperkuat kemasyarakatan.

Peran dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari dalam maupun dari luar dan bersifat stabil. maka makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pngetahuan yang dimilikinya. (2009). 13. terutama dalam motivasi untuk berperan serta dalam pembangunan kesehatan. Peran adalah bentuk dari perilaku yang diharapkan dari seesorang pada situasisosial tertentu. Sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap perubahan-perubahan hidup sehat (Notoatmojo. Setiap perawat yang menjelaskan pengetahuan tentang kesehatan pasien tidak mengerti. Pada pasien yang pendidikannya hanya sebatas pendidikan dasar atau tidak pernah sekolah sangat susah dalam pemberian informasi. Peran Perawat 1. 1995:21). . Pendidikan informal : Pendidikan informal yakni pendidikan yang diperoleh seorang berdasarkan pengalaman dalam hidup sehari-hari dengan sadar atau tidak sadar. Hubungan pendidikan dengan kecemasan Pendidikan merupakan salah satu faktor sosial dari kecemasan pada pasien pre operasi. Diknas (2003). Definisi Peran adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap seseorang sesuai kedudukannya dalam suatu system. Hasil penelitian Lesti. Makin tinggi pendidikan seseorang. menyatakan bahwa pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan. 12.05 menunjukkan bahwa hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara pendidikan pasien dengan tingkat kecemasan. Pendidikan dapat mempengaruhi seorang termasuk juga prilaku seseorang akan kepatuhannya. P < 0. (Kozier Barbara. di dalam lingkungan keluarga. 2002). sehingga tenaga kesehatan disana perlu melakukan konseling kepada ibu hamil primigravida sebagai upaya mengantisipasi terjadinya komplikasi dan kecemasan.3. sejak seorang lahir sampai akhir hidupnya. masyarakat atau dalam lingkungan pekerjaan sehari-hari. Berdasarkan penelitian yang lakukan di Kabupaten Demak menghasilkan informasi bahwa pendidikan masyarakat disana masih relatif rendah.

Meski tiap peran memiliki tanggung jawab khusus. (b)Pengelola pelayanan keperawatan dan institusi Pendidikan. Peran ini merupakan peran yang dominan dari perawat dalam lingkungan pelayanan kesehatan primer. perawat ilmuwan dan mahasiswa keperawatan di tingkat sarjana. Peran Pelaksana Peran pelaksana dari perawat mencakup tindakan-tindakan yang dilakukan oleh perawat ketiaka ia mengemban tanggung jawab yang ditujakan untuk memenuhi kebutuhan perawatan kesehatan dan kebutuhan keperawatan pasien secara individu. Kini. Peran kepemimpinan dari perawat mencakup tindakan-tindakan yang dilaksanakan oleh perawat saat ini ia mengemban tanggung jawab untuk mempengaruhi tindakan orang lain yang ditujukan untuk menentukan dan mencapai tujuan. peran kepemimpinan dan peran peneliti. keluarga mereka dan orang terdekat pasien. 2. 3. partisipasi dalam proses penelitian dianggap sebagai tanggung jawab dari perawat dalam praktik klinis. Melalui upaya penelitian . Peran Kepemimpinan Peran Kepemimpinan dari perawat yang secara tradisional dikerap sebagai peran spesialisasi yang diembankannya oleh perawat yang mempunyai gelar yang menunjukkan kepemimpinan dan mereka yang memimpin sekelompok besar perawat atau profesional perawatan kesehatan yang berhubungan. peran-peran ini saling berhubungan satu dengan yang lain dan dapat ditemui pada semua posisi keperawatan. 4. Kajian dibutuhkan untuk menentukan keefektifan intervensi dan asuhan keperawatan. (d)Peneliti dan pengembang keperawatan Perawat profesional baik dalam lingkungan perawatan kesehatan institusional maupun komunitas mengemban tiga peran : peran pelaksana. Peran Peneliti Peran peneliti dari perawat pada mulanya dianggap hanya dilakukan oleh para akademikus. sekunder. yang merupakan dasar untuk semua praktik keperawatan. (c) Pendidik dalam keperawatan.Peran Perawat (Ali Zaidin.Definisi kepemimpinan keperawatan yang dirumuskan oleh memberi cakupan yang luas pada konsep tersebut dan mengidentifikasi kepemimpinan sebagai peran yang melekat didalam semua posisi keperawatan. Tugas utama dari penelitian keperawatan adalah untuk memberikan konstribusi pada dasar ilmiah praktik keperawatan. 2001) meliputi : (a) Pelaksana pelayanan keperawatan. Peran ini merupakan peran yang hanya dapat dicapai melalui proses keperawatan. Peran ini dirancang untuk memenuhi perawatan kesehatan saat ini dan kebutuhan keperawatan dari konsumen yang merupakan penerima pelayanan keperawatan. dan tersier dan dalam keperawatan kesehatan rumah dan komunitas.

Sebagai pemberi asuhan keperawatan Peran ini dapat dilakukan perawat dengan memperhatikan keadaan kebutuhan dasar manusia yang dibutuhkan melalui pemberian pelayanan keperawatan. Menurut Johnson dan Martin. Peran terapeutik : kegiatan yang ditujukan langsung pada pencegahan dan pengobatan penyakit. 2001). Perawat juga berperan dalam mempertahankan dan melindungi hak-hak pasien meliputi hak atas pelayanan sebaik-baiknya. 8. hak atas privasi. Pemberian asuhan keperawatan ini dilakukan dari yang sederhana sampai dengan kompleks. peran ini bertujuan untuk menghilangkan ketegangan dalam kelompok pelayanan (dokter. perawat. gejala penyakit bahkan tindakan yang diberikan sehingga terjadi perubahan perilaku dari klien setelah dilakukan pendidikan kesehatan. Expressive/mother substitute role. 11. 9. diterima dilindungi. pasien. hak menerima ganti rugi akibat kelalaian. Sebagai advokat klien Peran ini dilakukan perawat dalam membantu klien dan keluaga dalam menginterpretasikan berbagai informasi dari pemberi pelayanan khususnya dalam pengambilan persetujuan atas tindakan keperawatan. 10. hak atas informasi tentang penyakitnya. Peran Perawat menurut Para Sosiolog 5. ilmu keperawatan akan berkembang dan rasional yang didasarkan secara ilmiah untuk membuat perubahan dalam praktik keperawatan akan tercipta (Brunner dan Suddarth. yaitu kegiatan yang bersifat langsung dalam menciptakan lingkungan dimana pasien merasa aman. dirawat dan didukung oleh perawat.semacam ini. hak untuk menentukan nasibnya sendiri. 6. merencanakan serta mengorganisasi pelayanan kesehatan dari tim kesehatan sehingga pemberi pelayanan kesehatan dapat terarah serta sesuai dengan kebutuhan klien. Sebagai edukator Peran ini dilakukan dengan membantu klien dalam meningkatkan tingkat pengetahuan kesehatan. Sebagai kolaborator . dan lain-lain) Menurut konsorsium ilmu kesehatan (1989) dalam Ali Haidin (2001) peran perawat terdiri dari : 7. Sebagai koordinator Peran ini dilaksanakan dengan mengarahkan.

Sebagai pembaharu Perawat mengadakan perencanaan. Seseorang tersebut ialah perawat yang mempunyai banyak peran untuk melaksanakan praktek keperawatan. Secara unum perawat mempunyai peran terapeutik yaitu kegiatan yang ditujukan langsung pada pencegahan dan pengobatan penyakit. perubahan yang sistematis dan terarah sesuai dengan metode pemberian pelayanan keperawatan. 14. ahli gizi dan lain-lain dengan berupaya mengidentifikasi pelayanan keperawatan yang diperlukan. Tujuh Fungsi Perawat Kozier Barbara. menyusun. Sebagai konsultan Perawat berperan sebagai tempat konsultasi dengan mengadakan perencanaan.Peran ini dilakukan karena perawat bekerja melalui tim kesehatan yang terdiri dari dokter. (7) Memberikan pengarahan dan penyuluhan untuk meningkatkan kesehatan fisik dan mental. perubahan yang sistematis dan terarah sesuai dengan metode pemberian pelayanan keperawatan 13. (3) Memantau pasien. (2) Observasi gejala dan respons pasien yang berhubungan dengan penyakit dan penyebabnya. (5) Mencatat dan melaporkan keadaan pasien. Fungsi Perawat Fungsi adalah pekerjaan yang harus dilaksanakan sesuai dengan perannya. Karena masih kurangnya pengetahuan pasien tentang penyakit yang dideritanya. (4) Supervisi semua pihak yang ikut terlibat dalam perawatan pasien. Hubungan peran perawat dengan kecemasan Orang yang sakit sangat memerlukan seseorang yang bisa mengobati penyakitnya tersebut dan orang sehat memerlukan seseorang yang bisa mengarahkan agar bisa mencegah dan terhindar dari berbagai penyakit. dan memperbaiki rencana keperawatan secara terus menerus berdasarkan pada kondisi dan kemampuan pasien. fisioterapi. sehingga kekambuhan sering terjadi dan bahkan bertambah parah. (2002) yaitu. . (1) Melaksanakan instruksi dokter (fungsi dependen). Begitu pula dengan Pembedahan. (6) Melaksanakan prosedur dan teknik keperawatan. kerjasama. 12. 15. kerjasama.

Klien merasa cemas tentang pembedahan.M. Perawat harus dapat mengkaji perasaan klien tentang pembedahan. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Makmur et. Soerharto tahun 2008. terdapat 37. 2. 2010). BAB III METODE PENELITIAN 1.5% yang mengalami kecemasan ringan. 16. Bagan 3. Hipotesa peneliti 1.Proses pembedahan sering menimbulkan stress psikologi yang tinggi. dimana variabel independen dan variabel dependen di kumpulkan pada saat bersamaan (Notoadmodjo. Klien merasa kurang dapat mengontrol situasi mereka sendiri untuk memahami dampak pembedahan pada kesehatan emosional klien tersebut. R. sumber koping klien serta asuhan keperawatan yang terbaik (Perry Potter. 2006). citra diri.Yunus Bengkulu Tahun 2010. al (2007) dan penelitian rumah Sakit Ortopedi Prof Dr.1 Desain Penelitian . Ada hubungan antara pendidikan pasien dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD.05 yang mengalami kecemasan ringan sehingga dapat disimpulkan ada hubungan peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi. konsep diri. dengan nilai p < 0.Yunus Bengkulu Tahun 2010. Ada hubungan antara peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. Desain penelitian Desain penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional.M. Dan hasil penelitian yang dilakukan Elika tahun 2009.

Definisi Operasional Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Cara ukur Hasil Ukur 0=Cemas Berat jika. maka Variabel Penelitian dapat digambarkan sebagai berikut : Variabel Variabel Dependen Independen Bagan 3. Kuisioner (15 pertanyaan) Ordinal .2 Variabel Penelitian C.B. < 28 0=Rendah ≤ SMA Pendidikan (Independen) Pendidikan Formal yang ditempuh pasien Kuisioner Dengan cara mengisi (1 pertanyaan kuisioner ) 1= Tinggi >SMA 0= kurang Dengan cara baik jika skor ≤ 75% mengisi kuisioner Ordinal ≥ 28 Ordinal Skala Ukur Peran Perawat (Independent) Tindakan yang dilakukan oleh perawat dalam proses penyembuhan. Variabel Penelitian Sesuai dengan desain penelitian di atas. Tingkat kecemasan (Dependen) Suatu kondisi yang menyangkut kekhawatiran seseorang pada masalah yang terjadi. Kuisioner Wawancara (14 komponen pertanyaan HRS-A) dan observasi 1= Tidak Berat jika.

Dalam penelitian ini teknik yang digunakan adalah teknik Simple Random sampling n = Z²1-α/2. 2010). Populasi dalam penelitian ini adalah kelompok pasien pre operasi yang ingin menjalankan operasi di ruang Seruni dari bulan januari sampai bulan desember tahun 2010.5% . 2010). 0.96)².1= baik. Populasi dan Sampel 1.786 orang.P(1-P) = (1. 2008) Keterangan : n = Sampel Z(1-α/2) = Nilai Z pada derajat kemaknaan (α 5%=1. Populasi Populasi adalah Keseluruhan dari objek penelitian yang di teliti. 0. (Noto atmojo.175.825 =3.84.0.96) P = Proporsi suatu kasus yaitu proporsi kecemasan 0. Sampel Sampel adalah objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi ( Notoatmojo. berdasarkan data jumlah pasien pada tahun 2009 adalah 1.825 = 55 responden (Aziz Alimul. jika skor ≥ 75% 1.175. 2.175 =17. 0.

M. tetapi didapat dengan metode pencarian data rumah sakit dalam bentuk Rekam Medik misalnya: nama. Pengolahan Dan Analisa Data 1. jumlah pasien yang melakukan operasi.1. Pengumpulan data Data dalam penelitian ini berupa data primer dan sekunder.D = Derajat akurasi (presisi) yang diinginkan 0. yaitu : 1. alamat. jarang (JR). umur. Yunus Bengkulu yang sudah diberi penjelasan tentang pengisian kuisoner. yang nantinya akan diisi oleh responden dan dibantu oleh satu orang perawat yang bertugas di ruang Seruni RSUD M. Editing . E. Sedangkan data Sekunder adalah data yang didapatkan secara tidak langsung dari responden. dengan penilaian tidak berat jika skor < 28 dan berat jika skor ≥ 28. F. Pengolahan Data Data yang telah diperoleh atau terkumpul diolah dan dianalisis dengan program komputer melalui beberapa tahapan. Jumlah sampel yang didapat adalah 55 responden. Data primer yaitu data yang didapat langsung dari responden yaitu pasien dalam perawatan pre operasi di Ruang Seruni RSUD M. tidak pernah (TP). kuisioner pendidikan dan kuisioner peran perawat dengan skala selalu (SL). tanggal masuk rumah sakit. sering (SR). pekerjaan. D. untuk mengukur tingkat kecemasan. Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan Desember sampai dengan februari 2010. Yunus Bengkulu dengan cara wawancara dan observasi dengan skala HARS. Tempat Penelitian Penelitian dilakukan di Ruang Seruni RSUD.Yunus Bengkulu pada bulan Desember 2010 2. Tempat dan Waktu Penelitian 1. tanggal keluar rumah sakit dan lain-lain. kadang (KD). Pengumpulan.

G. Cleaning (Pembersihan Data) Sebelum melakukan analisa data dengan dilakukan pengecekan kembali terhadap data yang sudah masuk apakah data yang dimasukkan sudah benar dan tidak ada lagi kesalahan. 3. Kemudian dilakukan scoring terhadap pertanyaan yang berhubungan dengan masing-masing variabel dan diteruskan dengan pengujian kebenaran data dengan menggunakan uji Chi-Square dengan signifikan α = 5 %. Coding (Pengkodean) Jawaban-jawaban atau hasil yang ada kemudian di klasifikasikan dalam bentuk yang lebih ringkas dengan menggunakan kode-kode. Analisa Univariat Untuk melihat gambaran distribusi frekuensi dari masing-masing variabel penelitian baik independent maupun dependent. 2. Selanjutnya dilakukan transformasi data untuk menggambarkan variabel bebas dan variabel terikat.. Analisa Data 1. . Rumus yang digunakan. Editing dilakukan langsung pada saat responden mengembalikan kuesioner yang sudah diisi dengan harapan apabila ada kekurangan data atau kesalahan dalam pengisian dapat segera diperbaiki.Editing data adalah meneliti kembali apakah isian pada kuisioner yang dilakukan responden sudah cukup dan benar sesuai dengan petunjuk yang ada. 1. yaitu : Keterangan : P F = Persentase yang ingin dicapai = Jawaban dalam setiap kategori N = Jumlah seluruh responden . Entry Data (Pemasukan Data) Data yang telah ada dicoding dan hasil scoring kemudian diolah kedalam komputer dengan menggunakan program SPSS For Window.

Untuk melihat hubungan antara dua variabel kategorik maka digunakan Uji X² (Chi-Square) Ha diterima jika nilai p ≤ 0. Manajemen Administrasi Rumah sakit. EGC: Jakarta Carbonel (2002).Y.05 (Budiarto. (Diakses tanggal 26 oktober 2010) Ali. (1997). Metode Penelitian keperawatan dan Teknik Analisa Data.05 Ha ditolak jika nilai p > 0. 2001) 2.com. Salemba Medika: Jakarta Brunner.ums. Dasar-dasar Keperawatan Profesional.google. Universitas Indonesia: Jakarta Ahmadi. Z.A. Volume 1. http://etd.Sudarth Keperawatan Medikal Bedah. Widya Medika: Jakarta Alimul A. Analisa Bivariat Analisa bivariat adalah analisa yang digunakan untuk melihat hubungan antara variabel bebas (pendidikan pasien dan peran perawat) dengan variabel terikat (kecemasan pada pasien pre operasi). (2003). Definisi Pendidikan.2001. (1997). 2001) DAFTAR PUSTAKA Aditama. http://www.ac. (2008).(Budiarto. Edisi 8.eprints. .id.

(2007).ac. Metodologi Penelitian Kesehatan. Praktek Keperawatan Profesional : Konsep dan Perspektif. PT Rineka Cipta: Jakarta Nursalam (2003). Konsep & Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. http://etd. dkk. (2006). Medical Record.Hawari D. (2010).eprints.eprints. Penerbit Gaya Baru: Jakarta Ibrahim (2006).Volume 2.ums. http://etd. Dr. Manajemen Stress Cemas dan Depresi.ums. EGC : Jakarta . (2005). Fundamental Keperawatan. (2002). Kozier. EGC : Jakarta Patricia. Laporan Tahunan RSUD.ac. M. Salemba Medika: Jakarta Oswari E. Bengkulu Notoatmodjo S.id. Yunus Bengkulu.Potter dkk. (2009). (2006). Bedah Dan Perawatannya.id. Edisi 4: Jakarta Makmur.

id. PT. Konsep dan Penulisan Riset Keperawatan.Rineka Cipta: Jakarta Widodo.eprints. Buku Ajar Bedah.ac. (1999).. semua zat yang di. o ▼ Mei (12)  Gejala Anemia Pada Ibu Hamil  EKSTRAKSI VAKUM .ums. Kesehatan Mental Dalam Kehidupan.Volume I. Was-was dan Khawatir (Ansietas). (2007). Diposkan oleh FERYN di 09:38 0 komentar: Poskan Komentar Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda Langgan: Poskan Komentar (Atom) Blog Archive  ▼ 2011 (26) o ► Desember (1)  PENDAHULUAN Pada masa kehamilan.Sabiston (1995). http://etd. Graha Ilmu: Yogyakarta Sundari S. Takut mati Cemas. CV Ref Grafika: Jakarta Setiadi (2007). EGC : Jakarta Sani A... (2005).

...  Tips mempercepat koneksi dial-up modem Koneksi in..  Cara memrubah prosesor            ► 2010 (2) o ► Maret (1)  Download Game Gratis hide Google Search Result.  Tips Membuat Hotspot Menggunakan Laptop Di Windows..  Start Menu Windows XP Bergaya Windows VistaHello t. MAKALAH SEMINAR“ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN.  Membuat Daftar File dan FolderHello there! If you ........  CARA POSTING BLOGSPOT DENGAN MENGGUNAKAN MICROSOFT. Proposal KTI Keperawatan ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN HIV-AIDS ► April (13)  ASKEP ATRIUM SEPTAL DEFEK (ASD)  DFX on AIMP  BASALIOMA NASOLABIAL SINISTRA  ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN HIV-AIDS  Cara Mengatasi Browser Mozilla Firefox Yang Hang S.  Membongkar Password Office 2000Hello there! If you..  Melewatkan Serial Number Pada MS Office 2000Hello . ► 2009 (6) o ► Desember (6)  if (WIDGETBOX) WIDGETBOX...  Free Download Game : Worms 3D  free download Adobe Fireworks CS3 Portable  trik dan cara mempercepat koneksi modem semua mode.o Kumpulan Askep MAKALAHASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny.  Tips Adsense Tips -Tips Dalam Memasang Ikl.... S DENG........N Dengan FRAKTU..... HUBUNGAN PENDIDIKAN DAN PERAN PERAWAT DENGAN TINGK...renderWidget('54bcd528-3d. Arbosi HIV/AIDS Ultasonik Yuk Pasang Sendiri Per dan Kampas Kopling Racing !..  Total Tayangan Laman 4783 .. o ► Januari (1)  10 Cara Memperbaiki Windows XP Yang Tidak Bisa Boo..  Googling Dengan Google HacksHello there! If you ar...

13 Juni 2010 KARYA TULIS ILMIAH HUBUNGAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT DENGAN TINGKAT KECEMASAN PADA PASIEN PRE OPERASI SEKSIO CAESAR DIRUANG KEBIDANAN RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH PALEMBANG TAHUN 2010 Sebagai Salah Satu Syarat Dalam Menyelesaikan Program Pendidikan Diploma III Keperawatan Oleh : AGUSTUS 02 07 832 PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEPERAWATAN .blogspot.Blogroll Kura kura Template by : kendhin x-template.com Minggu.

Kep. Prodi D III Keperawatan Trilia WM.SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH PALEMBANG TAHUN AKADEMIK 2009/2010 HUBUNGAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT DENGAN TINGKAT KECEMASAN PADA PASIEN PRE OPERASI SEKSIO CAESAR DIRUANG KEBIDANAN RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH PELEMBANG TAHUN 2010 Nama : Agustus Nim : 02.Kep. Lailani Badrun SPd. Santi Mismeriyanti BIOGRAFI Nama : Agustus Jenis kelamin : Laki-laki Tempat tanggal lahir : Betung. SPd. M. S.832 Telah di pertahankan didepan dewan penguji karya tulis ilmiah pada Tanggal 01 Februari 2010 dan dinyatakan telah memenuhi syarat untuk diterima SUSUNAN DEWAN PENGUJI Pembimbing Penguji I Penguji II Suzanna. Kes Ketua STIKES Muhammadiyah Palembang dr. M. 16 Agustus 1989 Agama : Islam Status dalam keluarga : Anak ke 11 Dari 12 saudara .07. S. SMIP. Ns H. Ns Adi Santosa.Kes Program Studi D III Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiayah Palembang Ka.

SD : SD 06 NEGERI I Betung Tahun 1995 .2001 2. Kec.2009 • Tingkat III tahun : 2009 . SMA : SMA PGRI I Betung Tahun 2004 – 2007 4. • Sahabat terbaik ku yang tidak bisa diucapkan satu persatu • Teman2 PKLku Khusunya kelompok II • Almamater yang tercinta. dan adikku yang tercinta Kusmiati.2008 • Tingkat II tahun : 2008 .Alamat : Jalan Palembang – Jambi Lk II Rt 031 Rw 08 No 24 Betung Kel. dan ingatlah duniamu seakan-akan kau hidup 1000 tahun” Kupersembahkan : • Ayahanda (Lahmad. Alm) dan Ibuda yang ku cinta yang telah berjasa dan selalu mendo’akan keberhasilanku setiap saat. Ns sebagai pembimbing ku yang telah membantu dalam penyusunan KTI ku • Buat K’ Ali Hafis yang telah banyak memberi motivasi. SMP : SMP PGRI I Betung Tahun 2001 . • Suzanna. Skep.2004 3. DIII Keperawatan (STIKes) Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Palembang. . Rimbah Asam. ayuk Sumi K’ Sudarsono K’ Amran K’ Rudi. • Tingkat I tahun : 2007 . • Buat saudaraku ayuk Tuti. Betung Kab. K’ Dedi Yuk Anita. Banyuasin Riwayat Pendidikan : 1.2010 MOTTO DAN PERSEMBAHAN Motto : ”Ingatlah MATI seakan-akan kau mati besok.

AMKeb. 7. Maka dari itu. Maret 2010 . Selaku penguji II yang memberikan kritik dan saran dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini. 9. 2. Ibu dr. Selaku Kepala Program Studi DIII Keperawatan STIKes Muhammadiyah Palembang. pengalaman serta khilafan yang penulis miliki. atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah (KTI) ini dengan judul ”Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Diruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Pelembang Tahun 2010” Dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini penulis menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan dikarnakan keterbatasan ilmu pengetahuan. selaku Direktur Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang yang telah memberi kemudaan dalam pengurusan administrasi penelitian.Kep. Selaku penguji I yang memberikan kritik dan saran dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini.KATA PENGANTAR Syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadiran allah SWT. bimbingan serta saran dari berbagai pihak. 3.Kep Ns. Para dosen dan staf Program Studi DIII Keperawatan STIKes Muhammadiyah Palembang. SPd. Dan semua pihak yang telah memberikan bantuan. Untuk itulah pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih yang tak terhingga kepada : 1. Palembang. M. S. M. Kes. Bapak H. Ibu Eva Yulianti. Selaku Ketua (STIKes) Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Palembang. Ibu Trilia WM. Selaku pembimbing yang telah memberikan bimbingan serta pengarahan selama penulisan karya tulis ilmiah ini. SPd. Akhirnya semoga karya tulis ilmiah ini dapat bermanfaat bagi pembangunan ilmu pendidikan dan ilmu keperawatan serta bagi kita semua. amin. Yudi Fadila. 5. SKM selaku kepala ruangan Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang yang memberikan kemudaan dalam pengumpulan data. SMIP. 4. Semoga Allah SWT membalas selalu melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya atas bantuan yang telah diberikan kepada penulis dalam penulisan karya tulis ilmiah ini. 6. Lailani Badrun. Kes. dengan ikhlas penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat mendidik dan membangun dari semua pihak demi kesempurnaan karya tulis ilmiah dimasa yang akan datang. Penyusunan karya tulis ilmiah ini tidak akan terlaksana dengan baik tampa bantuan. Ns. Sehingga karya tulis ilmiah ini dapat penulis selesaikan. 8. Bapak dr. Santi Mismeriyanti. Bapak Adi Santosa. Ibu Suzanna S.

Penelitian ini merupakan penelitian survey analitik dengan pendekatan cross sectional. Dari hasil uji chisquare dengan pValue <0. Hasil analisis univariat didapatkan komunikasi terapeutik perawat dengan kategori baik sebesar 36% dan kategori cukup sebesar 64%. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan angket yang berupa kuesioner dan observasi yang berupa cheklis.05 menunjukan bahwa ada hubungan antara komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar. Saran kepada petugas kesehatan diharapkan lebih meningkatkan komunikasi terapeutik yang baik kepada pasien pre operasi seksio caesar ataupun pasien yang lainnya. JUNI 2010 AGUSTUS Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang 2010 ( xiii + 68 Halaman + 7 Tabel + 6 Lampiran) Komunikasi terapeutik merupakan komunikasi yang direncanakan secara sadar. sedangkan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi dengan tingkat kecemasan sedang sebesar 57% dan dengan tingkat kecemasan berat sebesar 43%. Pada dasarnya komunikasi terapeutik merupakan komunikasi profesional yang mengarah pada tujuan yaitu penyembuhan pasien. Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa komunikasi terapeutik perawat mempengaruhi tingkat kecemasan pasien pre operasi seksio caesar. Penelitian ini bertujuan mengetahui Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat dengan Tingkat Kecemasan pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang 2010. Daftar Bacaan : 15 (1996-2009) .Penulis. tujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien. ABSTRAK SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH PALEMBANG PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN KARYA TULIS ILMIAH. Populasi penelitian adalah semua pasien pre operasi seksio caesar dan perawat di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang dari tanggal 22 Februari – 6 Maret tahun 2010 dengan jumlah sampel penelitian sebanyak 14 respondenn yang dipilih secara non random dengan teknik accidental sampling.

This research is an analytical survey with cross sectional approach.ABSTRACT HEALTH SCIENCE HIGH SCHOOL MUHAMMADIYAH PALEMBANG STUDY PROGRAMMES DIPLOMA OF NURSING WRITING SCIENTIFIC. This study aimed to Therapeutic Communication Nurse Relations Anxiety Level in Patients with Pre Operation Caesar section Obstetric Hospital in Room 2010 of Muhammadiyah Palembang. Results Univariate analysis showed a nurse therapeutic communication with both categories by 36% and 64% adequate category.2009) DAFTAR ISI Hal HALAMAN JUDUL i . goals and activities focused on healing the patient. From the results of chi-square test with p value <0.05 indicates that there is a relationship between therapeutic communication nurse with the anxiety level in patients pre Caesar section operation. Advice to health workers is expected to further improve therapeutic communication both to the patient pre Caesar section operation or other patients. therapeutic communication is a professional communications that lead to the goal of healing the patient. JUNE 2010 AUGUST Relationps Communication Anxiety Therapeutic Nurse Level In Patients With Pre Caesar In Operating Room Midwifery Section Hospital Muhammadiyah Palembang 2010 ( xiii + 68 Pages + 7 Table + 6 Annex ) Therapeutic communication is consciously planned communication. The study population was all patients pre and caesar section operation room nurse at Muhammadiyah Palembang Obstetric Hospital of the date of 22 February to 6 March 2010 with the number of samples is 14 respondenn selected non random accidental sampling technique. Reading List : 15 (1996 . Basically. This research was conducted using a questionnaire in the form of questionnaires and observation in the form cheklis. From these results it is concluded that therapeutic communication nurse patient anxiety level welsh pre Caesar section operation. while the level of anxiety in patients with pre surgery anxiety level was at 57% and with severe anxiety level of 43%.

2 Klasifikasi Kecemasan 24 2.3 Manfaat Komunikasi Terapeutik 10 2.2.2 Rumusan Masalah 6 1.6 Ciri-Ciri Kecemasan 27 2.2.1 Definisi Kecemasan (Ansietas) 22 2.5 Bentuk-Bentuk Kecemasan 27 2.2.1.5 Prinsip-Prinsip Komunikasi Terapeutik 11 2.3 Klasifikasi Seksio Sesarea 35 2.2 Faktor-faktor yang Menyebabkan Seksio Sesarea 34 2.3 Tingkat Kecemasan 25 2.1.6 Manfaat Penelitian 8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.2 Kecemasan (Ansietas) 22 2.1 Pengertian Seksio Sesarea 34 2.2.1.7 Tehnik-Tehnik Komunikasi Terapeutik 14 2.1.1 Latar Belakang 1 1.3 Seksio Sesarea 34 2.2.3.2.2.2 Tujuan Komunikasi Terapeutik 10 2.9 Pengukuran Skala Kecemasan 29 2.6 Sikap Komunikasi Terapeutik 13 2.1.1.3.1.2.1 Komunikasi Terapeutik 9 2.3.8 Penyebab Kecemasan (Ansietas) 28 2.2.4 Syarat-Syarat Komunikasi Terapeurik 10 2.4 Penelitian Terkait 39 .1 Pengertian Komunikasi Terapeutik 9 2.HALAMAN PERSETUJUAN ii BIOGRAFI iii MOTTO DAN PERSEMBAHAN iv KATA PENGANTAR v ABSTRAK vi ABSTRACT vii DAFTAR ISI ix DAFTAR TABEL xii DAFTAR LAMPIRAN xiii BAB I PENDAHULUAN 1.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kecemasan 26 2.5 Ruang Lingkup Penelitian 7 1.3 Pertanyaan Penelitian 6 1.1.4 Tujuan 7 1.8 Fase – Fase Dalam Komunikasi Teraupetik 20 2.7 Tanda-Tanda Kecemasan 28 2.

2 Populasi dan Sampel Penelitian 45 4.3.4 Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data 46 4.1 Persalinan 59 5.BAB III KERANGKA KONSEP.4 Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi Seksio Caesar ` 65 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.3.4 Hipotesis 44 BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.2 Sampel Penelitian 45 4.3 Tingkat Kecemasan Pasien Seksio Caesar 63 5.2 Variabel 42 3.8 Analisa Data 48 4.3 Pembahasan 59 5.1 Hasil 51 5.1 Kesimpulan 67 6.2.2 Komunikasi Terapeutik Perawat 61 5.1 Populasi Penelitian 45 4.9 Etika Penelitian 48 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN 5.2 Saran 67 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN DAFTAR TABEL .1 Desain Penelitian 45 4.5 Tehnik Pengumpulan Data 46 4. DEFINISI OPERASIONAL DAN HIPOTESIS 3.3.1 Kerangka Konsep 41 3.3.2 Variabel Peneliti 54 5.3 Definisi Operasional 43 3.2.7 Pengolahan Data 47 4.6 Instrumen Pengumpulan Data 46 4.3 Lokasi dan Waktu Penelitian 46 4.

1 : Jumlah Tempat Tidur Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang Tabel 5.1 : Perencanaan Waktu Penelitian Tabel 5.1 : Bagan Kerangka Konsep Tabel 4.3 : Komunikasi Terapeutik Perawat Tabel 5.2 : Persalinan Seksio Caesar Dan Spontan Tabel 5.4 : Tingakat Kecemasan Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Tabel 5.Tabel 3.5 : Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 : Surat Penelitian Lampiran 2 : Lembar Persetujuan Menjadi Responden Lampiran 3 : Quisioner Penelitian Lampiran 4 : Cheklist Penelitian Lampiran 5 : Output SPSS Lampiran 6 : Lembar Konsultasi .

namun harus direncanakan. 1998). seringkali menjadi hambatan pada paska operasi. dan merupakan tindakan profesional. 2003). kecemasan sering muncul pada usia sebelum 30 tahun (Stuard and Sundeen. sehingga respon pun berbeda.1 Latar Belakang Komunikasi merupakan bagian integral dari kehidupan manusia tidak terkecuali seorang perawat. Komunikasi yang direncanakan secara sadar. yang dalam kegiatan sehari-harinya selalu berhubungan dengan orang lain. Komunikasi terapeutik juga merupakan kemampuan atau keterampilan perawat untuk membantu pasien beradaptasi terhadap stres. sehingga dapat dikategorikan ke dalam komunikasi pribadi di antara perawat dan pasien. dibandingkan dengan orang yang cemas ringan (Barbara C. Persoalan mendasar dan komunikasi ini adalah adanya saling membutukan antara perawat dan pasien. dan belajar bagaimana berhubungan dengan orang lain. Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang mendorong proses penyembuhan klien (Depkes RI. 1996). bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien disebut dengan komunikasi terapeutik. Seseorang yang sangat cemas sehingga tidak bisa berbicara dan mencoba menyesuaikan diri dengan kecemasan sebelum operasi. mengatasi gangguan psikologis. 2003). perawat membantu dan pasien menerima bantuan (Indrawati.BAB I PENDAHULUAN 1. disengaja. Dan juga Komunikasi terapeutik bukan pekerjaan yang bisa diabaikan. Komunikasi terapeutik juga termasuk komunikasi interpersonal dengan titik tolak saling memberikan pengertian antar perawat dengan klien. bingung. untuk mengurangi kecemasan itu maka perawat harus memberikan komunikasi terapeutik kepada pasien pre operasi seksio caesar. . Pandangan setiap orang dalam menghadapi operasi berbeda. 1997). Long. pasien menjadi cepat marah. Setiap menghadapi operasi selalu menimbulkan ketakutan dan kecemasan pada pasien. jangan sampai karena terlalu asyik bekerja. Akan tetapi. kemudian melupakan pasien sebagai manusia dengan beragam latar belakang dan masalahnya (Arwani. lebih mudah tersinggung akibat reaksi psikis. Hal ini juga terkait dengan komunikasi perawat yang sangat dibutuhkan pada pasien operasi seksio caesar karena pada kondisi ini pasien cemas.

5% adalah persalinan spontan. Ternyata diseluruh dunia angka operasi seksio caesarea meningkat dengan pesat. 1 diantara setiap 10 wanita yang melahirkan setiap tahunnya pernah menjalani seksio caesar.com ) Di Amerika Serikat. dan tuntutan malpraktik (Cunningham. Penyebab peningkatan ini adalah nulipara. (http://www. Sebagian besar peningkatan ini berlangsung pada tahun 1970-an sampai awal 1980-an dan terjadi di seluruh negara barat. maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah. 2005). Kecemasan merupakan perasaan yang paling umum dialami oleh pasien yang dirawat di rumah sakit. Pembahasan tentang reaksi-reaksi pasien terhadap pembedahan sebagian besar berfokus pada persiapan pembedahan dan proses penyembuhan. kemudian dari segumpal darah. sampai saat ini sebagian besar orang menganggap bahwa semua operasi yang dilakukan adalah operasi besar. Kecemasan merupakan sesuatu hal yang tidak jelas. Komunikasi terapeutik pada hakikatnya adalah suatu kegiatan atau usaha untuk menyampaikan pesan kesehatan kepada masyarakat. Hal ini perlu mendapat perhatian serius dari perawat karena perawat merupakan petugas kesehatan yang terdekat dan terlama dengan pasien. kecemasan yang sering terjadi adalah apabila pasien yang dirawat di rumah sakit harus mengalami proses operasi. Sedangkan data yang diperoleh dari Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang pada tahun 2009 menyebutkan dari jumlah persalinan sebanyak 2331 per tahun. apa yang Kami kehendaki sampai . Untuk dapat menurunkan kecemasan pada pasien pre operasi salah satunya diperlukan komunikasi yang efektif terutama komunikasi terapeutik. Lebih dari 825. Kelahiran manusia dimuka bumi ini sudah di jelaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Hajj Ayat : 5 yang berarti ”Hai manusia. kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna. sedangkan sisanya dengan bantuan alat seperti vakum dan forsep. kemudian dari setetes mani. Bila kecemasan pada pasien pre operasi tidak segera diatasi maka dapat mengganggu proses penyembuhan. Data dari RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta tahun 2000. adanya perasaan gelisah atau tidak tenang dengan sumber yang tidak spesifik dan tidak diketahui oleh seseorang. sedangkan sisanya dengan bantuan alat seperti vakum atau forsep (Kasdu. agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim. dan 37% di antaranya pernah menjalani seksio caesar sebelumnya. 2003). untuk itu pasien yang akan menjalani operasi harus diberi komunikasi terapeutik untuk menurunkan atau mengurangi gejala kecemasan serta dapat meningkatkan pengetahuan kesehatan pada pasien.000 wanita melahirkan dengan seksio caesar pada tahun 1998. pemantauan janin secara elektronik. jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur). Operasi merupakan tindakan pengobatan yang banyak menimbulkan kecemasan.Proses perawatan di rumah sakit seringkali mengabaikan aspek-aspek psikologis sehingga menimbulkan berbagai permasalahan pisikologis bagi pasien yang salah satunya adalah kecemasan. 48% merupakan persalinan caesar. wanita yang hamil berusia lebih tua. presentasi bokong. sedangkan angka di Indonesia belum diketahui secara pasti. 1989) Menurut World Heath Organization (WHO) angka persalinan dengan seksio caesarea yang wajar adalah 5-10 % dari seluruh kelahiran.Long. 52. 2009) Operasi adalah salah satu tindakan pengobatan yang banyak menimbulkan kecemasan. Tindakan operasi merupakan ancaman potensial aktual terhadap integritas seseorang yang dapat membangkitkan reaksi stress fisiologis maupun psikologis (Barbara C. 30% merupakan persalinan caesar. menyebutkan dari jumlah persalinan sebanyak 404 per bulan. 40% persalinan normal.drdidispog. (Dewi wijayanti. kelompok atau individu.

2 Tujuan Khusus a) Diketahuinya gambaran komunikasi terapeutik perawat pada pasien pre operasi seksio caesar. 1..angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan.5.5. Beberapa penelitian telah membuktikan adanya kemungkinan untuk menurunkan angka seksio caesar di Institusi kesehatan mengurangi peningkatan mordibitas (kelahiran) atau mortalitas (kematian) perinatal.4 Tujuan Penelitian 1. 1998). kemudian (dengan berangsur. Program-program yang ditujukan untuk mengurangi seksio caesar yang tidak diperlukan.4. Diamana pada tahap ini tingkat kecemasan pasien yang akan di operasi masih sangat tinggi.1 Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan Di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang. Karena komunikasi terapeutik salah satu tindakan perawat yang dapat mengurangi kecemasan.3 Pertanyaan Penelitian Bagaimana Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang? 1. .2 Waktu Penelitian ini dilakukan pada tanggal 22 Febuari sampai dengan tanggal 6 Maret tahun 2010. b) Diketahuinya gambaran tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar c) Diketahuinya gambaran hubungan antara komunikasi terapeutik perawat/bidan dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar. 1. membatasi seksio caesar atas indikasi distosia persalinan pada wanita yang memenuhi kriteria yang ditentukan dengan ketat (Cunningham. 1.1 Tujuan Umum Untuk mengetahui Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang..(Al-Quran Terjemah : Tohaputra Ahmad. mendorong percobaan persalinan pada wanita dengan riwayat seksio caesar transversal. kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi.waktu yang sudah ditentukan. 1.4.... umumnya difokuskan pada upaya pendidikan dan pengawasan. 2005) Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas bahwa komunikasi terapeutik sangat dibutuhkan bagi pasien yang akan menjalani operasi seksio caesar.5 Ruang Lingkup Masalah 1. supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun. maka penulis tertarik untuk meneliti ”Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi Seksio Caesar” 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan pada data diatas maka belum diketahui Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien pre Operasi Seksio Caesar Di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang 2010.

1.3 Manfaat Bagi Pasien Diharapkan dapat memberikan rasa nyaman dan aman pada semua pasien yang akan menjalankan operasi seksio caesar sehingga pasien yang menjalankan operasi tidak cemas dan operasi bisa berjalan dengan lancar.1 Pengertian Komunikasi Terapeutik Terapeutik merupakan kata sifat yang dihubungkan dengan seni dari penyembuhan (As Hornby Dalam Intan.1 Komunikasi Terapeutik 2.6.4 Manfaat Bagi Peneliti Diharapkan dapat menambah ilmu pengetahuan dan wawasan bagi peneliti mengenai hubungan komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar. Sehingga komunikasi terapeutik itu sendiri adalah komunikasi yang direncanakan dan dilakukan untuk membantu penyembuhan dan pemulihan pasien. Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar.1. tujuan dan kegiatannya .2 Manfaat Bagi Institusi Pendidikan Diharapkan dapat menambah informasi dan referensi yang berguna bagi mahasiswa sekolah tinggi ilmu kesehatan Muhammadiyah Palembang.6.6. ( Mukhripah Damaiyanti. Komunikasi terapeutik merupakan komunikasi profesional bagi perawat.1. 2008 ). BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. 1. 2005).1 Manfaat Bagi Rumah Sakit Diharapkan dapat dijadikan masukan dan motivasi bagi rumah sakit untuk lebih menerapkan komuniksi terapeutik perawat dalam mengurangi tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar.6 Manfaat Penelitian 1.6. 1. Maka disini dapat di artikan bahwa terapeutik adalah segala sesuatu yang memfasilitasi proses penyembuhan.

1994) adalah : a. Semua komunikasi terapeutik harus ditujukan untuk menjaga harga diri pemberi maupun penerima pesan. dkk. Bila perawat tidak memperhatikan hal ini.4 Syarat-Syarat Komunikasi Terapeutik Stuart dan Sundeen (dalam Christina. tingkah lakunya sehingga tumbuh mangkin matang dan dapat memecahkan masalahmasalah yang dihadapi. b. (Mukhripah Damaiyanti. Komunikasi terapeutik ini akan efektif bila melalui penggunaan dan latihan yang sering. Perawat harus menciptakan suasana yang memungkinkan pasien bebas berkembang tanpa rasa takut. perawat membantu dan pasien menerima bantuan. 2008 ). hubungan perawat-klien tersebut bukanlah hubungan yang memberikan dampak terapeutik yang mempercepat kesembuhan klien. d. Mengidentifikasi. mengungkap perasaan dan mengkaji masalah dan evaluasi tindakan yang dilakukan oleh perawat. e. Pada dasarnya komunikasi terapeutik merupakan komunikasi profesional yang mengarah pada tujuan yaitu penyembuhan pasien. Persoalan mendasar dan komunikasi ini adalah adanya saling membutuhan antara perawat dan pasien. Perawat harus mengenal dirinya sendiri yang berarti menghayati. ( Indrawati. Perawat harus menyadari pentingnya kebutuan pasien baik fisik maupun mental.2 Tujuan Komunikasi Terapeutik Membantu pasien untuk memperjelas dan mengurangi beban perasaan dan pikiran serta dapat mengambil tindakan yang efektif untuk pasien. 2003 ).5 Prinsip-Prinsip Komunikasi Terapeutik Prinsip-prinsip komunikasi terapeutik menurut Carl Rogers (dalam Perwanto. Komunikasi harus di tandai dengan sikap saling menerima.Persyaratan untuk komunikasi terapeutik ini dibutuhkan untuk membentuk hubungan antara perawat dengan pasien sehingga klien memungkinkan untuk mengimplementasikan proses keperawatan.1. .1.dipusatkan untuk kesembuhan pasien. c. Kualitas asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien sangat dipengaruhi oleh kualitas hubungan perawat-klien.3 Manfaat Komunikasi Terapeutik Manfaat komunikasi terapeutik adalah untuk mendorong dan menganjurkan kerja sama antara perawat dan pasien melalui hubungan perawat dan pasien. sehingga dapat dikategorikan ke dalam komunikasi pribadi di antara perawat dan pasien. informasi atau masukan. 2. lingkungan fisik dan diri sendiri.1. Christina. Persyaratan . Komunikasi yang menciptakan saling pengertian yang harus dilakukan terlebih dahulu sebelum memberikan sarana. saling pecaya dan saling menghargai. memahami dirinya sendiri serta nilai yang dianut. tetapi hubungan sosial biasa.1. Perawat harus menciptakan suasana yang memungkinkan pasien memiliki motivasi untuk mengubah dirinya baik sikap. membantu mempengaruhi orang lain. (Indrawati. 2. Komunikasi terapeutik termasuk komunikasi interpersonal dengan titik tolak saling memberikan pengertian antar perawat dengan pasien. 2. b. 2003) mengatakan ada dua persyaratan untuk komunikasi terapeutik efektif : a. dkk. 2003 ). 2.

Pertanyaan Fasilitatif Dan Nonfasilitatif Pertanyaan fasilitatif (Facilitative Question) terjadi jika pada saat bertanya perawat sensitif terhadap pikiran dan perasaan serta secara langsung berhubungan dengan masalah klien. Mampu menentukan batas waktu yang sesuai dan dapat mempertahankan konsistensinya. Altruisme untuk mendapatkan kepuasan dengan menolong orang lain secara manusiawi. l. meskipun dalam situasi yang kurang menyenangkan. 2. h. Mempertahankan sikap terbuka Tidak melipat kaki atau tangan menunjukan keterbukaan untuk berkomunikasi dan siap membantu. e. 2. spiritual dan gaya hidup. Disarankan untuk mengekspresikan perasaan bila dianggap menganggu. a. sedih marah. oleh karena itu perawat perlu mempertahan suatu keadaan sehat fisik mental. keberhasilan maupun frustasi g. Membungkuk kearah klien Posisi ini menunjukan keinginan untuk menyatakan atau mendengarkan sesuatu. Mempertahankan kontak mata Kontak mata pada level yang sama berarti menghargai klien dan menyatakan keinginan untuk tetap berkomunikasi.1 Bertanya Bertanya (Questioning) merupakan tehnik yang dapat mendorong klien untuk mengungkapkan perasaan dan pikirannya.1.7. Tehnik berikut sering digunakan pada tahap orientasi. mengindentifikasi lima sikap atau cara untuk menghadirkan diri secara fisik yang dapat memfasilitasi komunikasi terapeutik.6 Sikap Komunikasi Terapeutik Egan (dalam Keliat. n. Berpegang pada etika dengan cara berusaha sedapat mungkin mengambil keputusan berdasarkan prinsip kesejahteraan manusia. k.7 Tehnik-Tehnik Komunikasi Terapeutik 2. Tetap rileks Tetap dapat mengendalikan keseimbangan antara ketegangan dan relaksasi dalam memberikan respons kepada pasien. d.1. Bertanggung jawab dalam dua demensi yaitu tanggung jawab terhadap diri sendiri atas tindakan yang dilakukan dan bertanggung jawab dengan orang lain.1. c. yaitu : a. 1992).f. Memahami betul arti empati sebagai tindakan terapeutik dan sebaliknya sempati bukan tindakan terapeutik. m. i. Perawat harus mampu menguasai perasaan sendiri secara bertahap untuk mengetahui dan mengatasi perasaan gembira. Berhadapan Arti dari posisi ini adalah saya siap untuk anda b. Mampu berperan sebagai role model agar dapat menunjukan dan menyakinkan orang lain tentang kesehatan. Kejujuran dan komunikasi terbuka merupakan dasar dari hubungan terapeutik j. sedangkan pertanyaan nonfasilitatif (Nonfacilitative Question) adalah pertanyaan yang tidak efektif karena memberikan .

1992). D. bersifat mengancam. S dalam Suryani. 2005). Gunanya untuk menguatkan ungkapan klien dan memberi indikasi perawat mengikuti pembicaraan klien ( Keliat. Tunjukkan perhatian bahwa perawat mempunyai waktu untuk mendengarkan ( Purwanto Heri. D dalam Suryani. 2.6 Memfokuskan Memfokuskan (Focusing) bertujuan memberi kesempatan kepada klien untuk membahas masalah inti dan mengarahkan komunikasi klien pada pencapaian tujuan (Stuart. Dengan demikian akan terhindar dari pembicaraan tanpa arah dan penggantian topik pembicaraan. minat. pertanyaan. perawat tidak boleh menginterpretasikan apa yang dikatakan klien. dan penghargaan terhadap klien (Antai-Otong dalam Suryani.1. Selama mendengarkan.pertanyaan yang tidak fokus pada masalah atau pembicaraan. 2005) dan penerimaan informasi serta penelaahan reaksi seseorang terhadap pesan yang diterima (Hubson.1. dalam Suryani.7.W dalam Suryani. Pertanyaan Terbuka Dan Tertutup Pertanyaan terbuka (Open Question) digunakan apabila perawat membutuhkan jawaban yang banyak dari klien. D dalam Suryani.3 Mengulang Mengulang (Restarting) yaitu mengulang pokok pikiran yang diungkapkan klien. Hal yang .7. 2005). Fokus utama klarifikasi adalah pada perasaan. Mendengarkan adalah proses aktif (Gerald.1. perasaan. juga tidak boleh menambahkan informasi (Gerald. 2. G. Dengan pertanyaan terbuka.5 Refleksi Refleksi (Reflection) adalah mengarahkan kembali ide.7. 2. Budi Anna. perawat harus mengikuti apa yang dibacakan klien dengan penuh perhatian. Hal ini digunakan untuk memvalidasi pengertian perawat tentang apa yang diucapkan klien dan menekankan empati. karena pengertian terhadap perasaan klien sangat penting dalam memahami klien. dan isi pembicaraan kepada klien.1. 2005 ). 1992 ). Apabila perawat menginterpretasikan pembicaraan klien. maka penilaiannya akan berdasarkan pandangan dan perasaannya.7. D dalam Suryani. Pada saat klarifikasi. Pertanyaan tertutup (Closed Question) digunakan ketika perawat membutuhkan jawaban yang singkat. dan tampak kurang pengertian terhadap klien (Gerald. 1994 ).4 Klarifikasi Klarifikasi (Clarification) adalah menjelaskan kembali ide atau pikiran klien yang tidak jelas atau meminta klien untuk menjelaskan arti dari ungkapannya ( Gerald. 2005). 2005). 2. b. 2. 2005). Budi Anna. Restarting (pengulangan) merupakan suatu strategi yang mendukung listening ( Suryani.1. Perawat memberikan tanggapan dengan tepat dan tidak memotong pembicaraan klien. 2005).7. 2005). perawat mampu mendorong klien mengekspresikan dirinya (Antai-Otong dalam Suryani.2 Mendengarkan Mendengarkan (Listening) merupakan dasar utama dalam komunikasi terapeutik (Keliat.

memperlambat tempo interaksi.1. Seorang perawat kadang memberikan tanggapan yang kurang tepat ketika klien mengungkapkan masalah. Tehnik ini memberikan waktu pada klien untuk berfikir dan menghayati.W (1998) dalam Suryani (2005) menyatakan.7.1. 2005). 2005) sehingga memungkinkan klien untuk membuat perencanaan yang lebih baik dalam mengatasi masalah yang dihadapinya. 2005) supaya masalah tersebut bisa diatasi. sambil perawat menyampaikan dukungan. Tehnik ini digunakan ketika .8 Memberi Informasi Memberikan tambahan informasi (Informing) merupakan tindakan penyuluhan kesehatan klien. 2005). 2005). misalnya menyatakan : “sebenarnya apa yang anda pikirkan tidak seburuk itu kejadiannya”.1. atau memandang sesuatu dari sisi negatifnya.10 Mengubah Cara Pandang Tehnik mengubah cara pandang (refarming) ini digunakan untuk memberikan cara pandang lain sehingga klien tidak melihat sesuatu atau masalah dari aspek negatifnya saja (Gerald.12 Membagi Persepsi Stuart G.7. D dalam Suryani.1. 2. Tehnik ini membantu perawat dan klien untuk memiliki pikiran dan ide yang sama saat mengakhiri pertemuan. Tehnik ini sangat membantu dalam mengajarkan kesehatan atau pendidikan pada klien tentang aspek-aspek yang relevan dengan perawatan diri dan penyembuhan klien. Diam juga memungkinkan klien untuk berkomunikasi dengan dirinya sendiri dan berguna pada saat klien harus mengambil keputusan (Suryani. Poin utama dari menyimpulkan yaitu peninjauan kembali komunikasi yang telah dilakukan (Murray. Informasi yang diberikan pada klien harus dapat memberikan pengertian dan pemahaman tentang masalah yang dihadapi klien serta membantu dalam memberikan alternatif pemecahan masalah (Suryani. 2. 2005). Reframing akan membuat klien mampu melihat apa yang dialaminya dari sisi positif (Gerald.1.11 Eksplorasi Eksplorasi bertujuan untuk mencari atau menggali lebih jauh atau lebih dalam masalah yang dialami klien (Antai-Otong dalam Suryani. D dalam Suryani.9 Menyimpulkan Menyimpulkan (Summerizing) adalah tehnik komunikasi yang membantu klien mengeksplorasi poin penting dari interaksi perawat-klien.7. 2.perlu diperhatikan dalam menggunakan metode ini adalah usahakan untuk tidak memutus pembicaraan ketika klien menyampaikan masalah penting (Suryani.7 Diam Tehnik diam (Silence) digunakan untuk memberikan kesempatan pada klien sebelum menjawab pertanyaan perawat. membagi persepsi (Sharing Peception) adalah meminta pendapat klien tentang hal yang perawat rasakan atau pikirkan. B & Judith dalam Suryani. 2. pengertian. dan penerimaannya. 2. Tehnik ini bermanfaat pada tahap kerja untuk mendapatkan gambaran yang detail tentang masalah yang dialami klien.7. 2005).7.7.1. 2. Diam akan memberikan kesempatan kepada perawat dan klien untuk mengorganisasi pikiran masing-masing (Stuart & Sundeen dalam Suryani. 2005). Tehnik ini sangat bermanfaat terutama ketika klien berfikiran negatif terhadap sesuatu.

1. dkk. Florence Nightingale dalam Anonymous (1999) dalam Suryani (2005) pernah mengatakan suatu pengalaman pahit sangat baik ditangani dengan humor.8 Fase – Fase Dalam Komunikasi Terapeutik 2. G. serta menurunkan tekanan darah dan nadi. Reniforcement bisa diungkapkan dengan kata-kata ataupun melalui isyarat nonverbal.1. G.W dalam Suryani. Pada tahap ini perawat menggali perasaan dan mengidentifikasi kelebihan dan kekurangannya.13 Mengidentifikasi Tema Perawat harus tanggap terhadap cerita yang disampaikan klien dan harus mampu manangkap tema dari seluruh pembicaraan tersebut. perawat harus memperkenalkan dirinya terlebih dahulu kepada klien (Brammer dalam Suryani. 2005). dan meyakinkan dirinya bahwa dia siap untuk berinteraksi dengan klien (Suryani. mengatasi kecemasannya. Pada tahap kerja ini dituntut kemampuan perawat dalam mendorong klien mengungkap . 2002). 2005).2 Tahap Perkenalan Perkenalan merupakan kegiatan yang dilakukan saat pertama kali bertemu atau kontak dengan klien (Christina. 2.1. Dengan memperkenalkan dirinya berarti perawat telah bersikap terbuka pada klien dan ini diharapkan akan mendorong klien untuk membuka dirinya (Suryani.3 Tahap Kerja Tahap kerja ini merupakan tahap inti dari keseluruhan proses komunikasi terapeutik (Stuart.1. dkk.7. 2. Reinforcement berguna untuk meningkatkan harga diri dan menguatkan perilaku klien (Gerald. 2.7.8.15 Memberikan Pujian Memberikan Pujian (Reinforcement) merupakan keuntungan psikologis yang didapatkan klien ketika berinteraksi dengan perawat.8. 2005). Pada tahap ini perawat juga mencari informasi tentang klien.1 Tahap Persiapan (Preinteraksi) Tahap Persiapan atau prainteraksi sangat penting dilakukan sebelum berinteraksi dengan klien (Christina.1.perawat merasakan atau melihat ada perbedaan antara respos verbal dan respons nonverbal klien. 2. Humor dapat meningkatkan kesadaran mental dan kreativitas. Kemudian perawat merancang strategi untuk pertemuan pertama dengan klien. 2002).8. serta mengevaluasi hasil tindakan yang lalu (Stuart. Gunanya adalah untuk meningkatkan pengertian dan menggali masalah penting (Stuart & Sadeen dalam Suryani.14 Humor Humor bisa mempunyai beberapa fungsi dalam hubungan terapeutik. 2005). 2. Pada saat berkenalan. 2005). Tahap ini harus dilakukan oleh seorang perawat untuk memahami dirinya. Tehnik ini sangat bermanfaat pada tahap awal kerja untuk memfokuskan pembicaraan pada awal masalah yang benar-benar dirasakan klien. 2005). 2005).7. D dalam Suryani. Tujuan tahap ini adalah untuk memvalidasi keakuratan data dan rencana yang telah dibuat dengan keadaan klien saat ini.1.W dalam Suryani. 2.1. Pada tahap ini perawat dan klien bekerja bersama-sama untuk mengatasi masalah yang dihadapi klien.

bagaimana cara mengatasi masalahnya. .2 Kecemasan (Ansietas) 2. (www. Pada tahap ini perawat perlu melakukan active listening karena tugas perawat pada tahap kerja ini bertujuan untuk menyelesaikan masalah klien.4 Tahap Terminasi Terminasi merupakan akhir dari pertemuan perawat dengan klien (Christina. dengan kata lain kecemasan adalah reaksi atas situasi yang dianggap berbahaya. 2005). 2002). 1997) Ansietas adalah perasaan yang dialami terlalu mengkhwatirkan kemungkinan peristiwa yang menakutkan yang terjadi dimasa depan yang tidak bisa dikendalikan dan jika itu terjadi akan menilai mengerikan atau dapat diungkapkan sebagai orang yang benar-benar tidak mampu menata pikiran. setelah terminasi sementara. 2.1 Definisi Kecemasan (Ansietas) Ansietas atau kecemasan adalah : a. Tahap ini dibagi dua yaitu terminasi sementara dan terminasi akhir (Stuart. Freud (dalam Arndt. 1974) menggambarkan dan mendefinisikan kecemasan sebagai suatu perasaan yang tidak menyenangkan.silvalintar.W dalam Suryani. 1997) d. G. 2005). Tehnik menyimpulkan ini merupakan usaha untuk memadukan dan menegaskan hal-hal penting dalam percakapan.2. dan membantu perawat-klien memiliki pikiran dan ide yang sama (Murray. yang diikuti oleh reaksi fisiologis tertentu seperti perubahan detak jantung dan pernafasan. Melalui active listening.8. Menurut Freud. Keadaan dimana individu atau kelompok mengalami perasaan gelisah (penilaian atau opini) dan aktivitas sistem syaraf autonom dalam berespon terhadap ancaman yang tidak jelas. Perawat juga dituntut untuk mempunyai kepekaan dan tingkat analisis yang tinggi terhadap adanya perubahan dalam respons verbal maupun nonverbal klien. Terminasi akhir terjadi jika perawat telah menyelesaikan proses keperawatan secara keseluruhan. Perawat juga diharapkan mampu menyimpulkan percakapannya dengan klien. 2000) c. kecemasan adalah kondisi emosional yang tidak menyenangkan.2007. 2003) e. Terminasi sementara adalah akhir dari tiap pertemuan perawat-klien. kekhawatiran dan juga ditandai dengan aktifnya sistem syaraf pusat.1. yang memperingatkan adanya bahaya yang mengancam dan memungkinkan seseorang mengambil tindakan untuk mengatasi ancaman (Kaplan dan Sadock. a. Suatu sinyal yang menyadarkan.perasaan dan pikirannya. kecemasan melibatkan persepsi tentang perasaan yang tidak menyenangkan dan reaksi fisiologis. ketakutan. dkk. 1998) b. Suatu perasaan takut yang tidak menyenangkan dan tidak dapat dibenarkan yang sering disertai dengan gejala fisiologi (Tom. ninspesifik (Carpenito. B & Judth dalam Suryani. Suatu keadaan ketidakseimbangan atau tegangan yang cepat mengusahakan coping (Hudak dan Gallo. perawat membantu klien untuk mendefinisikan masalah yang dihadapi. 2. perawat akan bertemu kembali dengan klien pada waktu yang telah ditentukan. b.com ) Menurut Post (1978). dan mengevaluasi cara atau alternatif pemecahan masalah yang telah dipilih. Respon emosional terhadap penilaian intelektual terhadap sesuatu yang berbahaya (stuart dan sundeen. yang ditandai oleh perasaan-perasaan subjektif seperti ketegangan.

dan taraf kecemasannya sesuai dengan derajat ancaman yang ada. Mungkin penderita sadar. Hypertensi sifatnya sistolik. Pada pemeriksaan fisik . kecemasan normal. Diarrhee. Polyuri (sering kencing). Kecemasan Ringan Pada tingkat kecemasan yang terjadi pada kehidupan sehari-hari dan kondisi membantu individu menjadi waspada dan bagaimana mencegah berbagai kemungkinan. b. 2. Pernafasan kasa. Hyperhyrosis. sehingga fisik makin bertambah pula.2.Perasaan payah (lemah. b. kecemasan kemudian dapat menjadi bentuk pertahanan diri. Menurut Struat & Sunden (1998) mengidentifikasikan tingkat kecemasan dapat dibagi menjadi : a. (Corey Gerald. 2007) Adapun pendapat lain yang menyatakan bahwa kecemasan ada dua yaitu : a. Kecemasan moral adalah ketakutan terhadap hati nuraninya sendiri. yaitu pada saat individu masih menyadari konflik-konflik dalam diri yang menyebabkan cemas. kecemasan neurotik. dan takut bisa berjalan beberapa menit atau beberapa jam. Mungkin karena penderita tidak tahu sebab maka justru kecemasannya akanbertambah. Gejala-gejalanya : Perasaan takut.3 Tingkat Kecemasan Menurut Jersild (1963) menyatakan bahwa ada dua tingkatan kecemasan. Kedua. Kecemasan Akut Keadaan dimana perasaan sakit berat. c. ketika individu tidak menyadari adanya konflik dan tidak mengetahui penyebab cemas.2. Kecemasan realistik adalah ketakutan terhadap bahaya dari dunia eksternal.2. Hyperventilas. Tachy cardi. Keluhan-keluhan gastro intestinal. Gejalagejalanya: Sakit kepala. Pertama. Kelelahan.2 Klasifikasi Kecemasan Ada tiga macam kecemasan yaitu : a. Orang yang hati nuraninya berkembang baik cendrung merasa berdosa apabila dia melakukan sesuatu yang berlawanan dengan kode moral yang dimilikinya. Kecemasan Sedang Pada ringkat ini individu lebih menfokuskan hal penting saat ini dan mengesampingkan yang lain . lengkap tidak ditemukan kelainan apa-apa. Mudah berdebar-debar. Bila gejala kecemasan hanya sedikit (40-50%) b. sebelumnya punya pengalaman emosi (biasa terdapat pada Ibu yang akan bersalin). lesu). Kecemasan Kronis Kecemasan timbul untuk sebab yang tidak diketahui (tidak di sadari). Perasaan tersumbat di tenggorokan. Kecemasan neorotik adalah ketakutan rehadap tidak terkendalinya naluri-naluri yang menyebabkan seseorang melakukan sesuatu tindakan yang mendatangkan hukuman bagi dirinya.

b.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kecemasan a.2. b. Panik Keadaan ini mengancam pengendalian diri. seperti tegang. semua perilaku ditunjukan untuk mengurangi kecemasan. Kecemasan yang sudah mempengaruhi atau terwujud pada gejala-gejala fisik. bingung. 2. Bila gejala kecemasan ada sebagian (51-75%) c. individu tidak mampu untuk melakukan sesuatu walaupun dengan pengarahan. Nilai-nilai moral c. Tingkat Fisiologis. Tingkah laku panik ini tidak mendukung kehidupan individu tersebut. seringkali buang air. terutama pada fungsi sistem syaraf. kecemasan seseorang terwujud dalam gerakan tidak menentu seperti gemetar. Kecemasan yang berwujud sebagai gejala-gejala kejiwaan. diare. Bila semua gejala kecemasan ada (76100%) d. individu tersebut mencoba memusatkan perhatian pada lahan lain dan memerlukan banyak pengarahan.2. Kartono (1981) menyebutkan bahwa kecemasan ditandai dengan emosi yang tidak stabil. yaitu: a. denyut jantung yang bertambah keras. Manifestasi kognitif. Faktor-faktor kultural merupakan faktor yang tidak dapat di abaikan. sangat mudah tersinggung dan marah. misalnya tidak dapat tidur. distory persepsi dan kehilangan pikiran yang rasional.sehingga mempersempit lahan persepsinya. Ketentuan hukum. . Perilaku motorik. Ketentuan pendidikan dan agama d.2. jantung berdebar-debar.2. 2. 2. yang terwujud dalam pikiran seseorang.6 Ciri-Ciri Kecemasan Simptom-simptom somatis yang dapat menunjukkan ciri-ciri kecemasan menurut Stern (1964) adalah muntah-muntah.5 Bentuk-Bentuk Kecemasan Menurut Bucklew (1980). seringkali memikirkan tentang malapetaka atau kejadian buruk yang akan terjadi. dan sebagainya. Kecemasan Berat Pada tingkat ini lahan individu sangat menurun dan cendrung memusatkan perhatian pada hal-hal lain. 1995) menyebutkan bahwa manifestasi kecemasan terwujud dalam empat hal berikut ini : a. dkk (dalam Kartikasari. para ahli membagi bentuk kecemasan itu dalam dua tingkat. gemetar. nafas sesak disertai tremor pada otot. perut mual. Tingkat Psikologis. khawatir. menurunnya respon untuk berhubungan dengan orang lain. Panik melibatkan disorganisasi keperibadian yang ditandai dengan meningkatnya kegiatan motorik. b.7 Tanda-Tanda Kecemasan Menurut Sue. Tingkatkan individu tersebut dalam menanggapi batasan-batasan sosiokulturil tersebut 2. perasaan tidak menentu dan sebagainya. sering dalam keadaan excited atau gempar gelisah.

Yaitu mengukur aspek kognitif dan efektif yang meliputi (Hawari. bangun dini hari.8 Penyebab Kecemasan (Ansietas) Menurut Hudak dan Gallo (1997) penyebab yang paling umum dari ansietas di rumah sakit : a. f. d. Gejala sensorik ditandai oleh : tintus. b. Gangguan tidur ditandai oleh : sukar untuk tidur. rasa lemah seperti mau pingsan. Ancanman ketidakberdayaan b. d. Gangguan kecerdasan ditandai oleh: sukar konsentrasi. kaku. detak jantung hilang sekejap. gemetar. dan mudah tersenggung. perasaan tercekik. b. Penerimaan di unit perawatan kritis secara daramatid meyakinkan pasien dan keluarga bahwa keamanan meraka pada semua tingakat secara hebat terancam. ketegangan otot. Ansietas terjadi bila ada : a. c. Kegagalan membentuk pertahanan e. merasa lemah. Perasaan cemas. mimpi yan menakutkan. i. 2. suara tidak stabil. Ketakutan pada orang asing. perasaan di tusuk-tusuk. merasa nafas . takut akan pikiran sendiri. tangan dan kaki dingin. Ketegangan yang di tandai oleh : merasa tegang. Perasaan depresi di tandai oleh : kehilangan minat. j. daya ingat buruk. ketakutan pada kerumunan orang banyak. bangun dengan lesu. sedih. firasat buruk. diare. mudah terkejut.9 Pengukuran Skala Kecemasan Instrumen lain yang dapat digunakan untuk mengukur skala kecemasan adalah Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS). penglihatan kabur. gelisah. tidur tidak nyenyak.2. nyeri dada. muka merah dan pucat. perasaan berubah sepanjang hari. ditandai dengan : cemasan. terbangun malam hari. g. Penyebab ansietas adalah kejadian yang dapat menimbulkan ansietas. Afektif. tidak dapat istirahat tenang. ketakutan pada binatang besar. Timbunya stimulus ansietas termasuk hal yang mengancam keamanan individu. h. c. gelisah dan mudah terkejut. denyut nadi mengeras. Hampir semua penderita kecemasan menunjukkan peningkatan detak jantung. mimpi buruk. Gejala kardiovaskuler ditandai oleh : takikardia. Ketakutan ditandai oleh : Ketakutan pada gelap.c. Ketakutan ditinggal sendiri. lesu. sering kencing. daya ingat menurun. diwujudkan dalam perasaan gelisah. Perasaan terisolasi f.2. Kehilangan kendali c. Gejala pernafasan di tandai oleh : Rasa tertekan atau sempit didada. mimpi-mimpi. ketegangan otot dan tekanan darah. muncul dalam keadaaan mulut kering. peningkatan tekanan darah dan lain-lain. Perubahan somatik. gigi gemeretak. e. 2001) : a. kedutan otot. Perasaan terisolasi dapat dikurangi dengan mengajak pasien berbicara tentang pengobatan dan penyentuhannya saat keadaan yang menakutkan. ketakutan pada keramaian lalu lintas. kurangnya kesenangan pada hoby. Takut mati 2. dan perasaan tegang yang berlebihan. Perasaan kehilangan fungsi dan harga diri d. Gejala somatik ditandai oleh : nyeri pada otot. mudah menangis. Ansietas dialami saat terdapat suatu ancaman ketidak berdayaan atau kurang pengendalian. respirasi. berdebar-debar.

bulu-bulu berdiri. muntah. v. Menunggu membuat saya gelisah. Saya akui. sering menarik nafas panjang. kepala terasa berat. perut terasa kembung atau penuh. Saya sering merasa tegang pada waktu bekerja. Saya menginginkan kebahagiaan seperti orang yang saya lihat. Saya jarang mengalami sakit perut. Biasanya saya bersikap tenang dan tidak mudah marah. Saya mudah merasa malu. Pada waktu-waktu tertentu saya merasa gelisah. g. Kadangkadang saya merasa gembira sekali. b. berat badan menurun. c. dan kontipasi (sukar buang air besar) l. Seringkali saya bermimpi tentang sesuatu yang sulit untuk diceritakan pada orang lain. Saya jarang merasa sembelit. sehingga sukar untuk tidur x. muka tegang tonus otot meningkat. gangguan pencernaan. k.pendek/sesak. Gejala Otonom ditandai oleh : mulut kering. Saya mudah menangis. muka merah kering. Saya sering mengalami mimpi yang menakutkan pada waktu tidur malam hari. pusing. u. Gejala Urogenital ditandai oleh : sering kencing. n. Saya tidak cepat lelah. l. Saya merasa khawatir kalau-kalau muka saya menjadi merah karena malu. r. ditandai oleh : gelisah. d. sakit kepala. bahwa saya kadang-kadang merasa khawatir tanpa sesuatu alasan tertentu pada suatu hal . Saya jarang sakit kepala. masa haid berkepanjangan. ereksi hilang dan inpoten. ereksi melemah. sehingga saya tidak duduk terlalu lama. m. j. Kalau terjadi sesuatu pada diri saya. w. Saya mengalami mencret sekali atau lebih dalam 1 bulan. Saya lebih merasa sensitif (peka) daripada kebanyakan orang. Saya sering merasa bahwa saya dihadapkan pada banyak kesulitan yang tidak dapat saya selesaikan. frigiditas. kadang-kadang keringat saya bercucuran. q. Salah satu pengukuran kecemasan menurut : Taylor Manifest Anxiety Scale (TMAS). haid beberapa kali dalam sebulan. n. p. mengerutkan dahi atau kening. h. Kadang-kadang saya tidak dapat tidur karena mengkhawatirkan sesuatu. f. e. rasa panas di perut. amenorrhoe. k. Perilaku sewaktu wawancara. ejakuasi prekok. Tangan dan kaki saya biasanya cukup hangat. Saya sering merasa mual. Saya tidak pernah merasa tersipu-sipu bila sesuatu terjadi pada diri saya. Saya sering mengkhawatirkan diri saya terhadap sesuatu. i. amenorrhagia. saya tidak mudah tersipu-sipu seperti kebanyakan orang lain. Ketika saya merasa malu. Tangan saya sering terasa gemetar bila mencoba mengerjakan sesuatu. defekasi lembek. o. t. tidak dapat menahan kencing. Tidur saya sering terganggu dan tidak nyenyak. tidak tenang. s. nafas pendek dan cepat dan muka memerah. hal ini sangat menjengkelkan saya. Saya jarang berdebar-debar maupun bernafas tersengal-sengal. Saya selalu merasa gembira setiap saat. nyeri lambung sebelum atau sesudah makan. jari gemetar. Saya lebih tenang bila dibandingkan dengan orang lain. Saya merasa lapar hampir setiap saat. Saya khawatir akan terjadi kesulitan yang menimpa diri saya. Saya mengalami kesukaran untuk melakukan konsentrasi menanggapi suatu masalah. masa haid amat pendek. Pernyataanpernyataan adalah sebagai berikut : a. m. Gejala Gastrointestinal ditandai oleh : sulit menelan. Saya sering mencemaskan sesuatu maupun orang lain. Saya merasa risau bila memikirkan masalah-masalah keuangan dan pekerjaan. mual. mudah berkeringat. perut melilit.

3.2005). malposisi dan malpresentasi (presentasi bokong. 2) Pada dinding perut dibuat insisi mediana mulai dari atas simfisis sepanjang ±12 cm sampai dibawah umbilikus lapis demi lapis sehingga kavum peritoneal terbuka. faktor plasenta: solusio plasenta. . gawat janin atau fetal distress. 2. posisi dagu posterior. eritroblastosis. Faktor Janin Faktor janin yang menyebabkan seksio caesar adalah: janin dengan anomali (Meningokel. plasenta previa. ruptur uteri. y. ruptur uteri (Cunningham. faktor-faktor yang menyebabkan seksio sesarea adalah dari faktor ibu dan janin. presentasi dahi. presentasi bahu. 2008). dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding perut dan dinding rahim dengan sayatan rahim dalam keadaan utuh (Sarwono. bayi terlalu besar (Makrosomia (>4000 gram). Teknik Seksio Caesar Klasik 1) Mula-mula dilakukan desinfeksi pada dinding perut dan lapangan operasi dipersempit dengn kain suci hama.3. keadaan melemahkan lainnya (Benson. 2007). tulang panggul. Bila dibandingkan dengan teman-teman maka saya tidak seperti mereka. 2008). vasa previa. presentasi majemuk). 2005).2 Faktor-faktor yang Menyebabkan Seksio Sesarea a. 2008). b. letak lintang.1 Pengertian Seksio Caesar Seksio caesar adalah melahirkan janin yang sudah mampu hidup (beserta plasenta dan selaput ketuban) secara transabdominal melalui insisi uterus (Benson. defleksi kepala. Faktor Ibu Menurut Cunningham (2005) dan Benson (2008). Penyakit ibu yang dapat mempengaruhi seksio sesarea adalah: preeklampsi-eklampsi berat.3 Seksio Caesar 2. 2. faktor hambatan jalan lahir. persalinan sebelumnya dengan seksio caesar. Faktor Ibu yang menyebabkan seksio sesarea adalah: usia. 2. diabetes. bayi kembar (Multiple Pregnancy) (Benson.yang tidak berarti.3 Klasifikasi Seksio Caesar a. kelainan tali pusat (prolapsus tali pusat/tali pusat menumbung.3. penyakit jantung berat pada ibu. Seksio Caesar Klasik Sebuah pengirisan memanjang di bgian tengah yang memberikan satu ruang yang lebih besar (10-14 cm) untuk mengeluarkan bayi (Cunningham. Seksio caesar adalah suatu persalinan buatan. Hidrosefalus).

. Mula. b) Keluarnya janin lebih cepat. Kelebihan: a) Memerlukan sedikit pemisahan kandung kemih dari miometrium.mula dilakukan desinfeksi pada dinding perut dan lapangan operasi dipersempit dengan kain suci hama. 9) Rongga perut dibersihkan dari isa-sisa darah dan akhirnya luka dinding perut dijahit. kemudian dierlebar secara sagital dengan gunting. c. 2003). Janin dilahirkan dengan meluksir kepala dan mendorong fundusuteri. tali pusat dijepit dan dipotong diantara kedua penjepit. c) Tidak menyebabkan perlekatan usus atau omentum ke garis insisi. 2. Seksio Caesar Transperitoneal Profunda Dilakukan dengan membuat sayatan atau irisan horizontal di bagian bawah rahim (Kasdu. sayatan ini akan memerlukan waktu dan obat lebih banyak (Kasdu. b. Lapisan III : Perimetrium saja. c) Otot-otot rahimnya tebal dan lebaih banyak pembuluh darah sehingga sayatan ini lebih banyak mengeluarkan darah. d) Jika menggunakan anestesi lokal. atau adanya tumor-tumor di daerah segmen bawah rahim. 4) Di buat insisi secara tajam dengan pada segmen atas rahim (SAR). d) Lebih mudah diperbaiki. Pada dinding perut dibuat insisi mediana mulai dari atas simfisis sampai di bawah umbilikus lapis demi lapis sehingga peritonei terbuka. 6) Plasenta dilahirkan secara manual disuntikkan 10 U oksitosin ke dalam rahim secara intra mural. kedua adneksa dieksplorasi. 8) Setelah dinding rahim dijahit. Lapisan II : Hanya miometrium saja dijahit secara simpul. 2003). b) Memiliki risiko empat kali lebih besar terkena ruptur uteri pada kehamilan selanjutnya. 2) Janin besar dalam letak lintang. misalnya karena adanya perlekatan –perlekatan akibat pembedahan seksio caesar yang lalu. dijahitbsecara simpul dengan benang cutgut biasa. Setelah janin lahir seluruhnya. 5) Setelah kavum uteri terbuka. Kekurangan: a) Lebih berisiko terkena peritonitis (radang selaput perut). Indikasi Seksio Caesar Indikasi seksio Caesar klasik menurut Sarwono 2007 : 1) Bila terjadi kesukaran dalam memisahkan kandung kencing untuk mencapai segmen bawah rahim.3) Dalam rongga perut disekitar rahim dilingkari dengan kasa laparotomi. Teknik Seksio Caesar Transperitoneal Profunda 1. 3) Plasenta previa dengan insersi plasenta di dinding depan segmen bawah rahim. 7) Luka insisi SAR dijahit kembali. selaput ketuban dipecahkan. Lapisan I : Endometrium bersama miometrium dijahit secara jelujur dengan benang catgut khoromik.

Dibandingkan dengan cara klasik kemungkinan ruptur uteri spontan kurang atau lebih kecil.5% ) sedangkan kategori kurang yaitu sebanyak 5 orang ( 14. yaitu dengan menggunting peritoneum kandung kencing (plika vesikouterina) didepan segmen bawah rahim (SBR) secara melintang. kedua adneksa diejsplorasi 8.8% ). Setelah dinding rahim selesai dijahit. Dari hasil penelitian Rosalina 2008. Mohammad Hoesin Palembang terdapat 30 responden didapat data bahwa pengetahuan ibu bersalin dengan SC tentang perawatan bekas sayatan SC dengan kategori baik sebanyak 16 responden (53%). selaput ketuban dipecahkan.7% ). Plika vesikouterina ini disisihkan secara tumpul ke arah samping dan bawah. Tali pusat dijepit dan dipotong.38%. 2. Kelebihan : Penjahitan luka lebih mudah. Luka dinding rahim dijahit Lapisan I : Dijahit jelujur. plasenta dilahirkan secara manual. Badan janin dilahirkan dengan mengait kedua ketiaknya. yang dilakukan pada keseluruhan responden didapatkan bahwa dari 34 responden yang melakukan komunikasi terapeutik pada fase kerja dengan baik yaitu 20 orang ( 58.Keluhan kandung kemih. janin dilahirkan dengan meluksir kepalanya. Penutupan luka dan reperetonialisasi yang baik.7% masih dalam kategori kurang dimana responden tidak menjelaskan tindakan keperawatan yang dilakukan seharusnya perawat menjelaskan tindakan keperawatan yang dilakukan agar tidak menimbulkan kecemasan pada pasien dengan demikian komunikasi terapeutik pada fase kerja tidak ada lagi dalam katogori kurang. dan kandung kencing yang telah disisihkan ke arah bawah dan samping dilindungi dengan spekulum kandung kencing. Penelitian ini dapat digambarkan bahwa peran perawat pelaksana komunikasi terapeutik pada teknik menyimpulkan tergolong kurang. Mohammad Hoesin Palembang. Dalam rongga perut disekitar rahim dilingkari dengan kasa laparotomi. Kedalam otot rahim intra mural disuntikkan 10 U oksitosin. Dibuat bladder-flap. dari hasil penelitian di instalasi kebidanan dan penyakit kandungan Rumah Sakit Dr. Menurut penelitian Tri Setiani 2009. Kekurangan : Luka dapat melebar kekiri.Untuk kategori baik sebanyak 47. 4. Rongga perut dibersihkan dari sisa-sisa darah dan akhirnya luka dindina perut dijahit (Sarwono. Di buat insisi pada segmen bawah rahim 1 cm di bawah irisan plika vesikouterina tadi secara tajam dengan pisau bedah ±2 cm. Pada fase ini 14. 5. pada endometrium da miometrium Lapisan II : Dijahit jelujur hanya pada miometrium saja Lapisan III : Dijahit jelujur pada plika vesikouterina 7. Setelah kavum uteri terbuka. Kategori cukup 8 responden (27%) dan 6 responden (20%) dikategorikan . kemudian diperlebar melintang secara tumpul dengan kedua jari telunjuk perator. Uterin putus sehingga mengakibatkan perdarahan yang banyak. Ernaldi Bahar Propinsi Sumatra Selatan tahun 2008.62% dan kategori kurang sebanyak 52.4 Penelitian Terkait Menurut penelitian Eka Fitrianti 2008. 6. kanan bawah. Di peroleh data mengenai gambaran peran perawat pelaksana dalam menerapkan teknik komunikasi terapeutik pada teknik menyimpulkan pada pasien gangguan jiwa diruang rawat inap Rumah Sakit Dr. Arah insisi pada segmen bawah rahim dapat melintang (transversa) atau membujur (sagital). 2007). Kategori cukup 9 orang ( 26.3. Mengenai penerapan komunikasi terapeutik pada pasien DM Di Irna Non Bedah Rumah Sakit Dr.

maka konsep tersebut harus dijabarkan kedalam variabel-variabel. Berdasarkan hal tersebut maka kerangka konsep penelitian hubungan komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar adalah sebagai berikut: Variabel Dependen Variabel Independen . Tingkat kecemasan merupakan salah satu tolak ukur yang digunakan untuk mengukur kecemasan pada pasien pre operasi seksio sesarea.kurang. Komunikasi terapeutik merupakan suatu hubungan atau interaksi antara perawat dengan pasien. BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL 3.1 Kerangka Konsep Kerangka konsep penelitian adalah suatu hubungan atau kaitan antara konsep satu terhadap konsep yang lainnya dari masalah yang ingin diteliti. dari variabel itulah konsep dapat diamati dan diukur (Notoatmodjo. konsep adalah suatu abstraksi yang dibentuk dengan menggeneralisasikan suatu pengertian oleh karena itu konsep tidak dapat diamati dan dapat diukur. 2005).

kerja. Wawancara Kuiesioner 1. Kurang jika yang menjawab benar < 60 % dari pertayaan yang diajukan ( Arikunto. dan terminasi. Sedang jika nilainya (50-75 %) 3. Baik jika yang menjawab benar > 75 % dari pertayaan yang diajukan 2. Ringan jika nilainya ( < 50 %) 2. 1989) Ordinal 3. 2007) 3.2 Definisi Operasional No Variabel Definisi Operasional Cara Ukur Alat Ukur Hasil Ukur Skala 1 Operasi seksio caesar Merupakan salah satu cara melahirkan janin melalui insisi pada dinding perut dan dinding uterus Observasi Cheklist 1.3 Hipotesis Ada hubungan antara komunikasi terapeutik perawat/bidan dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar. 2006 ) Ordinal 3 Tingkat kecemasan pasien pre operasi seksio caesar Merupakan tingkat kecemasan yang dialami oleh pasien pre operasi SC yang diukur dengan cara Anxiety Scale Observasi Checklist 1. Persalinan SC 2. . Berat jika nilainya (> 75 %) (Struat & Sunden.Keterangan : : Yang diteliti : Tidak diteliti Sumber : Menurut teori Lawrence Green (Dalam Notoatmodjo Soekidjo. Persalinan normal / spontan Nominal 2 Komunikasi terapeutik perawat Komunikasi yang dilakukan oleh perawat dengan pasien yang meliputi dari fase prainteraksi. Cukup jika yang menjawab benar antara 60-75% dari pertayaan yang diajukan 3. orientasi.

2005).BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.2. Sampel dalam penelitian ini menggunakan metode accidental yaitu sampel yang diambil dari responden atau kasus yang kebetulan ada atau tersedia.1. Pembahasan bab I-IV √ √ 3.3. Populasi Penelitian Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti (Notoatmodjo. 4.2.2.2.1. Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan serangkaian kegiatan yang dilaksanakan dengan perencanaan waktu sebagai barikut : Tabel 4. 4.2. Sampel Penelitian Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmojo. Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien pre operasi seksio caesar dan perawat/bidan di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang. Seminar proposal √ .1 Perencanaan Waktu Penelitian Kegiatan Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Juni Juli 1. 4. Desain Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian yang bersifat hubungan analitik menggunakan tehnik cross sektional. 2005). Persiapan seminar proposal √ 4.1.3. Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan Diruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang 2010. Populasi dan Sampel Penelitian 4. Pengajuan judul √ 2. Penelitian yang dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang 2010. Tempat dan Waktu Penelitian 4. 4.3.

Tehnik Pengumpulan Data Pada penelitian ini data yang diperoleh adalah data primer yaitu Data primer berupa angket yang dibagikan kepada responden dengan cara menggunakan kuesioner yang dikembangkan sendiri oleh penulis (Notoatmojo. Entry Data ( Memasukan Data ) Memasukan hasil data penelitian ke dalam tabel sesuai dengan kriteria.1. 4.1.5. Pengumpulan data dilakukan sendiri oleh penulis dengan cara melakukan pengamatan (observasi) secara langsung kepada responden dengan menggunakan observasi atau cheklist yang dikembangkan sendiri oleh peneliti dan wawancara langsung dengan pasien dengan menggunakan kuesioner yang dikembangkan sendiri oleh peneliti. Rumus pengolahan data bila respon : .5.4. Cleaning Data ( Pembersihan Data ) Pemeriksaan kembali data yang telah dimasukan sehingga benar – benar bebas dari kesalahan kemudian diuji kebenarannya. Pembahasan bab V-VI √ √ 7. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data 4. data tersebut perlu diperiksa terlebih dahulu apakah telah sesuai dengan yang diharapkan atau tidak.2.5. 4. Penelitian langsung mengambil data pada subyek penelitian langsung pada nilai operasi. Persiapan komprehensif √ 8. Ujian √ 4. Instrumen Pengumpulan Data Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data adalah Wawancara (Kuesioner) dan observasi (Check List).2.5.4. 4. Pengolahan Data Menurut Hastono (2001) pengolahan data dapat jelaskan sebagai berikut : 4.4. Editing ( Pegolahan Data ) Klasifikasikan jawaban / hasil yang ada menurut macamnya ke bentuk yang lebih ringkas dengan menggunakan kode. Dan data sekunder diperoleh dari Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang yang berupa data yang diambil dari Medical Record.4. 2003). 4. 4. Coding ( Pengkodean ) Dalam melakukan pengolahan data dengan baik. Penelitian √ √ 6.3.5. Komprehensif √ 9.5.

jika responden menjawab ”Tidak ” nilainya 0. c.2.7. maka peneliti tidak boleh memaksa dan harus tetap menghormati hakhak subjek.1. Lembar informend consed harus dilengkapi dengan judul penelitian dan manfaat penelitian. tetapi pada lembar tersebut diberiakan kode.6. peneliti tidak akan mencantumkan nama responden. Anonimity (Tanpa Nama) Untuk menjaga kerahasiaan.6.6. Analisa Univariat Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah univariat terhadap tiap variabel dari hasil penelitian dalam hal ini hanya menghasilkan distribusi frekuensi dan persentase dari tiap variabel. Cukup jika yang menjawab benar antara 60 . Confidentiality (Kerahasiaan) Kerahasiaan informasi responden dijamin oleh peneliti. Informend Consent Lembar persetujuan ini diberikan pada responden yang akan diteliti.a. Dalam hal ini untuk melihat hubungan antara dua variabel independen dan dependen digunakan uji Chi square (SPSS). Etika Penelitian Dalam melakukan penelitian.75% dari pertayaan yang diajukan c. Baik jika yang menjawab benar > 75 % dari pertayaan yang diajukan b. b. Setelah mendapat persetujuan barulah penelitian menekankan masalah etika yang meliputi: a. Analisa Bivariat Analisa bivariat dilakukan untuk melihat hubungan antara dua variabel independen yang meliputi : Tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar dengan variabel dependen : Komunikasi terapeutik perawat. Kurang jika yang menjawab benar < 60 % dari pertayaan yang diajukan Jika responden menjawab ”Ya” nilainya 1. dan hanya kelompok data tertentu yang akan dilaporkan sebagai hasil penelitian. maka setiap kuisioner nilainya dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut : R = n x 100 % N Keterangan : R : Indeks kesesuaian prilaku n : Jumlah responden yang menjawab ”Ya” N : Jumlah pertayaan 4. peneliti perlu membawa rekomendasi dari Institusi dari pihak lain dengan cara mengajukan permohonan izin pada Instiusi/Lembaga penelitian yang dituju oleh peneliti. 4. Responden harus memenuhi kriteria inklusi. 4. Analisa Data 4. ¬¬ . Bila subjek menolak.

2. Insya Allah Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang akan selalu memupuk dan memelihara kepercayaan masyarakat melalui dipenuhinya dokterdokter spesialis. Mewujudkan citra sebagai Rumah Sakit islam kebanggaan Muhammadiyah yang berfungsi sebagai wahana ibadah dan berperan aktif sebagai media dakwah persyarikatan dalam bidang kesehatan. 5. Bidan) dan karyawan yang terampil dan berkemampuan dengan didukung oleh peralatan-peralatan canggih. Anak . Misi. Paru e. Paramedis (Perawat. ruangan yang bersih. ramah. Memberikan pelayanan kesehatan secara profesional.1 Gambaran Rumah Sakit Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang adalah Amal Usaha Persyarikatan Muhammadiyah yang diresmikan tanggal 10 Dzulhijjah 1417 H/ 18 April 1997 oleh Gubernur Propinsi Sumatera Selatan (Bapak H. 5. simpatik. modern. dokter umum. Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang telah berkembang cukup pesat dan berkat ridho Allah SWT dan dukungan masyarakat rumah sakit ini sudah sama dengan rumah sakit lainnya di kota Palembang. modern. Ramli Hasan Basri) bersama Ketua PP Muhammadiyah (Bapak Prof. peralatan non medis dan peralatan penunjang lainnya. baik pelayanan.1 Visi. b) Misi 1.1. terkemuka. dan Motto a) Visi Terwujudnya Rumah Sakit yang profesional. dan islami sehingga menjadi rahmatan lil’alamin bagi masyarakat. mengesankan dan bernuansa islami. peralatan medis. pelayanan yang cepat. dan islami kepada masyarakat.1. 3. Pada saat ini Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang lebih menggembirakan jika dilihat dari berbegai sektor.BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5. Kebidanan dan Kandungan b. Syaraf c. DR. c) Motto ” Pelayanan sebagai Ibadah dan Dakwah”. Amien Rais) merupakan satu satunya amal usaha dibawah langsung PWM SumSel. Menjadi pusat persemaian kader Muhammadiyah dalam bidang kesehatan.2 Fasilitas Pelayanan a. Penyakit Dalam d.

6 16 10 32 VIP Atas 1 6 .. IGD.. Bedah i. THT h.. ICCU /ICU.... 5..4 4 11 11 62 92 Kebidanan .3 Tempat Tidur Tabel 5...1.1 Analisa Univariat Analisa ini yang digambarkan dalam bentuk distribusi frekuensi dari variabel komunikasi terapeutik perawat dan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar. didapatkan dari 14 responden pada perawat dan pasien pre operasi seksio caesar yang dilakukan di ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang.. Echo e.14 ICU/ ICCU 10 . Ambulance 5. Mata.. 6 Konsultasi Gizi c.7 VIP Bawah 2 ... USG/ECG i...10 Total TT 3 6 2 14 12 33 35 112 227 5....1.2 Variabel Penelitian Dari hasil penelitian yang telah dilakukan pada tanggal 22 Februari sampai 8 Maret tahun 2010.. Laboratorium f. .6 8 16 30 Anak .. Treadmil g.. Jantung g. Fisioterapi j. Daftar ditampilkan dalam bentuk tabel dan teks..8 10 .4 Pelayanan Penunjang / Tindakan Medis a..1 Jumlah Tempat Tidur Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang 2010 RUANG Kelas TT Tidur VIP Khusus VIP Utama I A I B II A II B IIIA III B Bedah . Instalasi Farmasi b....24 42 P D L . Kamar Operasi d.2 10 .f..2. Radiologi h. 5.

cukup 60%-75%. b) Komunikasi Terapeutik Perawat Pada penelitian ini komunikasi terapeutik perawat dikelompokan menjadi 3 kategori komunikasi terapeutik baik > 75%. Desember seksio caesar 106 pasien (23%) spontan 89 (23%).2 Distribusi Frekuensi Persalinan Spontan Dan Seksio Caesar di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang Tahun 2010 No Bulan Persalinan Seksio Caesar % Spontan % 1 Nopember 116 25 76 19 2 Desember 106 23 89 23 3 Januari 85 19 67 17 4 Februari 73 16 65 17 5 Maret 75 16 92 24 Total 455 100 389 100 Dari data diatas bahwa dari 844 persalinan yang bulan Nopember seksio caesar 116 pasien (25%) spontan 76 (20%).2 Tabel 5. Januari seksio caesar 85 pasien (19%) spontan 67 (17%). Februari seksio caesar 73 pasien (16%) spontan 65 (17%).3 Tabel 5.a) Persalinan Pada penelitian ini persalinan dikelompokan menjadi 2 kategori persalianan spontan dan persalinan operasi seksio caesar berdasarkan medical record Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang dari bulan Nopember 2009 sampai dengan Maret 2010 untuk lebih jelas lihat tabel 5. dan kurang < 60% untuk lebih jelas lihat tabel 5. dan bulan Maret seksio caesar 75 pasien (16%) spontan 92 (24%).3 Distribusi Frekuensi Komunikasi Terapeutik Perawat di .

sedang 51% .4 Distribusi Frekuensi Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang Tahun 2010 No Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar N % 1 Ringan 8 57 2 Sedang 6 43 Jumlah 14 100 Dari data di atas bahwa dari 14 pasien seksio caesar yang tingkat kecemasan ringan sebanyak 8 pasien (57%). sedang sebanyak 6 pasien (43%).Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang Tahun 2010 No Komunikasi Terapeutik Perawat N % 1 Baik 5 36 2 Cukup 9 64 Jumlah 14 100 Dari data di atas bahwa dari 14 perawat yang komunikasi terapeutik baik 5 perawat (36 %). untuk lebih jelas lihat tabel 54.50%. Tabel 5. c) Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Pada penelitian ini tingkat kecemasan dikategorikan menjadi menjadi 3 yaitu ringan 40% . cukup 9 perawat (64%). dan berat 66% -100 %. .65%.

3. 5.3 Pembahasan Pembahasan ádalah suatu penelitian untuk membandingkan hasil penelitian di lapangan dengan teori yang mendukung.5 Distribusi Frekuensi Komunikasi Terapeutik Perawat dengan Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang Tahun 2010 No Komunikasi Terpeutik Perawat Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi SC Jumlah Value Ringan Sedang N%N%N% 1 Baik = 0.2. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan. Pada penelitian ini sampel di ambil secara accicidental sample. hasil uji Chi-Square lihat tabel 5. Maka akan diuraikan satu persatu oleh penulis di bawah ini : 5. Sehingga sampel yang didapatkan adalah pasien pre operasi seksio caesar yang ada di ruangan kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang. a) Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Komunikasi terapeutik dengan tingkat kecemasan pasien dikategorikan menjadi 2 dengan jumlah responden 14. Untuk variabel mempengaruhi seperti perawat yang merawat pasien operasi seksio caesar tersebut yang ada diruang tempat pasien dirawat.5 Tabel 5.031 setelah dibandingkan dengan α 0.0315 36 0 0 5 36 2 Cukup 3 21 6 43 9 64 Total 8 57 6 43 14 100 Dari data diatas dapat diketahui bahwa perawat dengan komunikasi terapeutik yang baik didapatkan tingkat kecemasan kategori ringan (36%) dari pada perawat dengan komunikasi terapeutik yang cukup didapatkan tingkat kecemasan kategori ringan (21%) dan sedang (43%).5.031 ≤ 0.05.2 Analisa Bivariat Analisa ini untuk mengetahui hubungan antara variabel independent (komunikasi terapeutik perawat) dengan variabel dependent (tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar) dengan uji statistik yang menggunakan uji Chi-Square. Dari uji statistik diperoleh pValue = 0. maka dapat diketahui bahwa ada hubungan antara komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar.1 Persalinan .05 dapat diketahui bahwa pValue = 0.

Penyakit ibu yang dapat mempengaruhi seksio sesarea adalah: preeklampsieklampsi berat. posisi dagu posterior. eritroblastosis. 2008 ). bayi terlalu besar (>4000 gram). Hasil penelitian yang di peroleh data mengenai gambaran peran perawat pelaksana dalam menerapkan . presentasi bokong. defleksi kepala. solusio plasenta. untuk itu pasien yang akan menjalani operasi harus diberi komunikasi terapeutik untuk menurunkan atau mengurangi gejala kecemasan serta dapat meningkatkan pengetahuan kesehatan pada pasien. vasa previa. kelainan tali pusat. gawat janin atau fetal distress. Dari hasil penelitian yang didapatkan dan dari teori yang mendukung. presentasi dahi. faktor hambatan jalan lahir.2 Komunikasi Terapeutik Perawat Dari hasil penelitian di rumah Sakit Muhammadiyah Palembang dapat dilihat bahwa dari 14 perawat komunikasi terapeutik kategori cukup (64%). Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan dan dilakukan untuk membantu penyembuhan dan pemulihan pasien. diabetes. presentasi bahu.Dari hasil penelitian di ruang kebidanan rumah Sakit Muhammadiyah Palembang dapat dilihat bahwa dari bulan Nopember sampai Maret yaitu persalinan SC sebanyak 455 pasien dan persalinan spontan sebanyak 389 pasien Maka angka persalinan SC meningkat dan persalinan spontan terjadi penurunan di ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammdiyah Palembang tahun 2010. Menurut Cunningham (2005) dan Benson (2008). ( Mukhripah Damaiyanti. Fase kerja pada tahap kerja ini dituntut kemampuan perawat dalam mendorong klien mengungkap perasaan dan pikirannya.3. Berarti komunikasi terapeutik perawat masih cukup di ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang. faktor-faktor yang menyebabkan seksio sesarea adalah dari faktor ibu dan janin. Bila kecemasan pada pasien pre operasi tidak segera diatasi maka dapat mengganggu proses penyembuhan. 2007). Didalam komunikasi terapeutik perawat ada empat fase yaitu fase preinteraksi (persiapan) Pada tahap ini perawat menggali perasaan dan mengidentifikasi kelebihan dan kekurangannya. bayi kembar (Multiple Pregnancy) (Benson. persalinan sebelumnya dengan seksio caesar. sehingga dilakukan operasi seksio caesar yang membantu persalinan bukan karena suatu Trens. penyakit jantung berat pada ibu. Komunikasi terapeutik merupakan komunikasi profesional bagi perawat bertujuan untuk kesembuhan pasien. keadaan melemahkan lainnya. ruptur uteri. dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding perut dan dinding rahim dengan sayatan rahim dalam keadaan utuh (Sarwono. 5. Operasi merupakan salah satu tindakan pengobatan yang banyak menimbulkan kecemasan.2005). Faktor Ibu yang menyebabkan seksio sesarea adalah: usia. Pada tahap ini perawat juga mencari informasi tentang klien fase orientasi (perkenalaan) Pada saat berkenalan. menunjukan bahwa kejadian persalinan seksio caesar mengalami peningkatan dikarnakan adanya faktor-faktor yang membahayakan ibu dan bayi. Perawat juga dituntut untuk mempunyai kepekaan dan tingkat analisis yang tinggi terhadap adanya perubahan dalam respons verbal maupun nonverbal klien. Seksio caesar adalah suatu persalinan buatan. letak lintang. Faktor janin yang menyebabkan seksio caesar adalah: janin dengan anomali. Dari hasil Tri Setiani dari 30 responden didapat data bahwa pengetahuan ibu bersalin dengan SC tentang perawatan bekas sayatan SC dengan kategori baik sebanyak 16 responden (53%). tulang panggul. plasenta previa. Fase terminasi akhir dari pertemuan perawat dengan klien. ruptur uteri (Cunningham. presentasi majemuk). perawat harus memperkenalkan dirinya terlebih dahulu kepada klien. 2008). Kategori cukup 8 responden (27%) dan 6 responden (20%) dikategorikan kurang.

Dan perawat mengatahui bahwa menurunkan suatu kecemasan pasien perlu suatu metode yang baik yaitu komunikasi yang terapeutik sehingga pasien dapat merasakan rasa nyaman dalam menghadapi operasi yang akan dilakukan oleh klien.3 Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Dari hasil penelitian di rumah Sakit Muhammadiyah Palembang dapat dilihat bahwa dari 14 pasien tingkat kecemasan yang kategori berat (43%). menunjukan bahwa tingkat kecemasan pasien pre operasi seksio caesar masih mengalami kecemasan dikarenakan lingkungan yang bising dan kurang nyaman. Dari hasil penelitian yang didapatkan dan dari teori yang mendukung. menunjukan bahwa komunikasi terapeutik perawat masih banyak yang belum berkomunikasi terapeutik yang baik. Karena dengan banyaknya pengetahuan dan penjelasan dalam suatu masalah dapat meringankan kecemasan terhadap pasien tersebut. Untuk perawat harus melakukan komunikasi terapeutik. Oleh sebab itu untuk mengurangi kecemasan pada pasien yang akan menjalankan operasi seksio caesar dibutuhkan komunikasi terapeutik yang baik. 2000). MASUKKAN PENELITIAN YANG TERKAIT TENTANG KECEMASAN ”? Dari hasil penelitian yang didapatkan dan dari teori yang mendukung. Kecemasan (ansietas) adalah keadaan dimana individu atau kelompok mengalami perasaan gelisah (penilaian atau opini) dan aktivitas sistem syaraf autonom dalam berespon terhadap ancaman yang tidak jelas.38%. Berarti tingkat kecemasan pasien pre operasi seksio caesar masih berat di ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang. karena perawat tidak mempunyai waktu yang lama. Respon emosional terhadap penilaian intelektual terhadap sesuatu yang berbahaya (Stuart Dan Sundeen. Untuk kategori baik sebanyak 47. Ernaldi Bahar Propinsi Sumatra Selatan tahun 2008.3. 5.teknik komunikasi terapeutik pada teknik menyimpulkan pada pasien gangguan jiwa diruang rawat inap Rumah Sakit Dr. Dikarenakan perawat kurang mencari informasi tentang klien dan perawat tidak memperkenalkan dirinya terlebih dahulu serta pada saat melakukan tindakan operasi perawat tidak menjelaskan prosedur tindakan operasi pada pasien yang akan menjalankan operasi.62% dan kategori kurang sebanyak 52. karena dengan komunikasi terapeutik dapat mengurangi kecemasan terhadap pasien tersebut dan membuat pasien merasa lebih baik dan operasi bisa berjalan dengan . ninspesifik (Carpenito. Penelitian ini dapat digambarkan bahwa peran perawat pelaksana komunikasi terapeutik pada teknik menyimpulkan tergolong kurang. Oleh sebab itu perawat dapat membagi waktu untuk memberikan informasi dan dapat meningkatkan pengetahuan pasien terutama untuk mengurangi kecemasan psien itu sendiri. 1998). kurangnya dukungan keluarga hal ini suami serta kurangnya pendekatan dan komunikasi terapeutik perawat.

Untuk dapat menurunkan kecemasan pada pasien pre operasi salah satunya diperlukan komunikasi yang efektif terutama komunikasi terapeutik. maka pasien yang akan menjalankan operasi akan timbul kecemasan dalam dirinya.016 ≤ 0. menunjukan bahwa komunikasi terapeutik perawat dapat mempengaruhi serta menurunkan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar karena salah satu untuk menurunkan kecemasan dengan cara komunikasi yang efeksif yaitu komunikasi terapeutik yang baik oleh perawat. (Dewi Wijayanti.lancar. Karena komunikasi tersebut sangat dibutuhkan oleh pasien yang akan menjalankan operasi.3. Karena perawat tenaga kesehatan yang . (Arwani. dan belajar bagaimana berhubungan dengan orang lain. 2003) Menurut Yadi (2001) kecemasan adalah suatu perasaan yang tidak nyaman yang disertai dengan rasa takut yang mengancam dan perasaan tidak nyaman terhadap sesuatu. adanya perasaan gelisah atau tidak tenang dengan sumber yang tidak spesifik dan tidak diketahui oleh seseorang.4 Komunikasi Terapeutik Perawat dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Dari hasil penelitian di rumah Sakit Muhammadiyah Palembang dapat dilihat bahwa komunikasi terapeutik perawat di ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang tergolong dalam kategori cukup dan pasien pre operasi seksio caesar mengalami kecemasan sedang sebanyak 8 pasien (56%) dari hasil uji statistik menunjukkan bahwa pValue 0. perawatlah yang berperan penting dalam meningkatkan pengetahuan pasien terutama menjelaskan tentang prosedur tindakan operasi maka perawatlah yang harus melakukan komunikasi terapeutik dengan pasien pre operasi seksio caesar. berarti ada hubungan komunikasi teraputik perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar di ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang. 2009) Hasil penelitian Supono (2005) mengatakan bahwa tingkat kecemasan pasien persalinan dapat berkurang dengan adanya komunikasi terapeutik perawat. Dari hasil penelitian yang didapatkan dan dari teori yang mendukung. mengatasi gangguan psikologis. 5. Hal ini perlu mendapat perhatian serius dari perawat karena perawat merupakan petugas kesehatan yang terdekat dan terlama dengan pasien. Menurut Northouse (1998) Komunikasi terapeutik adalah kemampuan atau keterampilan perawat untuk membantu pasien beradaptasi terhadap stres. Kecemasan juga merupakan sesuatu hal yang tidak jelas.05.

2 Saran 7. 7. 7. BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 7. Diposkan oleh agustus di 09:06 0 komentar . 7.2 Manfaat Bagi Institusi Pendidikan Dapat menambah informasi dan referensi yang berguna bagi mahasiswa sekolah tinggi ilmu kesehatan Muhammadiyah Palembang.2.1 Kesimpulan Setelah dilakukan penelitian terhadap 14 responden di ruangan Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang 22 Februari sampai 6 Maret tahun 2010 dapat disimpulkan bahwa : 7. 7.2 Tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar di ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang Tahun 2010 didapatkan sebagian besar dengan kategori ringan.2.1.dekat dengan pasien dan memberikan rasa nyaman pada pasien yang akan menjalankan operasi seksio caesar. didapatkan pValue = 0.1.2. 7. 7.2. 031.4 Manfaat Bagi Peneliti Dapat menambah ilmu pengetahuan maternitas serta riset penelitian dan wawasan bagi peneliti mengenai hubungan komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar. Dari hasil uji Chi-Square.1 Komunikasi terapeutik perawat dirumah Sakit Muhammadiyah Palembang Tahun 2010 didapatkan sebagian besar dengan kategori cukup.3 Manfaat Bagi Pasien Dapat memberikan rasa nyaman dan aman pada semua pasien yang akan menjalankan operasi seksio caesar sehingga pasien yang menjalankan operasi tidak cemas dan operasi bisa berjalan dengan lancar.1 Manfaat Bagi Rumah Sakit Dapat dijadikan masukan dan motivasi bagi rumah sakit untuk lebih meningkatkan komunikasi terapeutik perawat dalam mengurangi tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar.1.3 Ada hubungan antara komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar.

2002 : 375 ) Patent Ductus Arteriosus (PDA) atau Duktus Arteriosus Paten (DAP) adalah kelainan jantung kongenital ( bawaan ) dimana tidak terdapat penutupan ( patensi ) duktus arteriosus yang menghubungkan aorta dan pembuluh darah besar pulmonal setelah 2 bulan pasca kelahiran bayi ( www. • Ibu menderita penyakit Diabetes Mellitus (DM) yang memerlukan insulin. Faktor Genetik : Anak yang lahir sebelumnya menderita penyakit jantung bawaan. • Ibu meminum obat-obatan penenang atau jamu.com ) Patent Duktus Arteriosus adalah kegagalan menutupnya ductus arteriosus (arteri yang menghubungkan aorta dan arteri pulmonal) pada minggu pertama kehidupan. ± 2-10 mm distal dari percabangan arteri subklavia kiri. Lahir dengan kelainan bawaan yang lain. insidennya bertambah dengan berkurangnya masa gestasi ( Betz & Sowden. 3. Hubungan ini ( shunt ) ini diperlukan oleh karena sistem respirasi fetus yang belum bekerja di dalam masa kehamilan tersebut.Kamis. 235 ) 2. Sering dijumpai pada bayi prematur. Kelainan ini merupakan 7% dari seluruh penyakit jantung bawaan. Kelainan kromosom seperti Sindrom Down. Rita Yuliani. DEFINISI Patent Ductus Arteriosus (PDA) adalah duktus arteriosus yang tetap terbuka setelah bayi lahir. ETIOLOGI Penyebab terjadinya penyakit jantung bawaan belum dapat diketahui secara pasti. yang menyebabkan mengalirnya darah dari aorta yang bertekanan tinggi ke arteri pulmonal yang bertekanan rendah. Ayah / Ibu menderita penyakit jantung bawaan. Normalnya duktus arteriosus berasal dari arteri pulmonalis utama (arteri pulmonalis kiri) dan berakhir pada bagian superior dari aorta desendens.google. ( Suriadi. Faktor Prenatal : • Ibu menderita penyakit infeksi : Rubella. tetapi ada beberapa faktor yang diduga mempunyai pengaruh pada peningkatan angka kejadian penyakit jantung bawaan : 1. • Umur ibu lebih dari 40 tahun. Aliran darah balik fetus akan bercampur dengan aliran darah bersih dari ibu ( melalui vena umbilikalis ) kemudian masuk ke dalam atrium kanan dan kemudian dipompa oleh ventrikel kanan kembali ke aliran sistemik melalui duktus arteriosus. PATOFISIOLOGI Duktus arteriosus adalah pembuluh darah yang menghubungkan aliran darah pulmonal ke aliran darah sistemik dalam masa kehamilan ( fetus ). 2001. • Ibu alkoholisme. 10 Juni 2010 patens ductus PATENT DUCTUS ARTERIOSUS (PDA) 1. . 2.

pemberian antibiotik profilaktik untuk mencegah endokarditis bakterial. Sianosis yang terjadi pada PDA dengan PVOD dikenal sebagai sianosis diferensial oleh karena hanya ekstremitas bawah yang biru sedangkan ekstremitas atas tetap normal. Hiperkalemia (penurunan keluaran urin). i. Penutupan spontan PDA tidak akan terjadi pada bayi aterm. sirkulasi dan meningkatnya pO2 akan menyebabkan penutupan spontan duktus arteriosus dalam waktu 2 minggu. Hepatomegali (jarang terjadi pada bayi prematur) e. 4. Rumble apikal terdengar pada PDA besar. PENATALAKSANAAN MEDIS a. Penatalaksanaan Konservatif : Restriksi cairan dan Pemberian obat-obatan : Furosemid (lasix) diberikan bersama restriksi cairan untuk meningkatkan diuresis dan mengurangi efek kelebihan beban kardiovaskular.Dinding duktus arteriosus terutama terdiri dari lapisan otot polos ( tunika media ) yang tersusun spiral. Akan terjadi hipertensi pulmonal dan PVOD bila PDA dibiarkan tanpa tindakan penutupan. 2. Adanya perubahan tekanan. b. c. Gangguan paru yang terjadi bersamaan (misalnya sindrom gawat nafas atau displasia bronkkopulmoner) g. Gagal tumbuh 6. CHF ( gagal jantung kongestif ) d. KOMPLIKASI a. Aritmia j. Pembedahan : Pemotongan atau pengikatan duktus. 5. 7. Enterokolitis nekrosis f. 3. MANIFESTASI KLINIK 1. Setelah persalinan terjadi perubahan sirkulasi dan fisiologis yang dimulai segera setelah eliminasi plasenta dari neonatus. Endokarditis b. Pulsasi nadi perifer yang lemah dan lebar 4. . penurunan jumlah trombosit h. 5. CHF dan infeksi paru berulang seringkali terjadi pada PDA besar. Diantara sel-sel otot polos terdapat serat-serat elastin yang membentuk lapisan yang berfragmen. Obstruksi pembuluh darah pulmonal c. Tanda-tanda CHF muncul pada PDA besar. Perdarahan gastrointestinal (GI). Murmur kontinyu (machinery) derajat 1 sampai 4/6 terdengar dengan jelas pada ULSB atau daerah infraklavikula kiri yang merupakan petanda khas kelainan ini. 6. Duktus arteriosus yang persisten (PDA) akan mengakibatkan pirai (shunt) L-R yang kemudian dapat menyebabkan hipertensi pulmonal dan sianosis. Tidak menimbulkan gejala bila PDA kecil. panjang PDA serta tahanan vaskuler paru (PVR). berbeda dengan aorta yang memiliki lapisan elastin yang tebal dan tersusun rapat ( unfragmented ). Besarnya pirai (shunt) ditentukan oleh diameter. Non pembedahan : Penutupan dengan alat penutup dilakukan pada waktu kateterisasi jantung. Pemberian indomethacin (inhibitor prostaglandin) untuk mempermudah penutupan duktus. Selsel otot polos pada duktus arteriosus sensitif terhadap mediator vasodilator prostaglandin dan vasokonstriktor (pO2).

Atau RVH bila telah terjadi PVOD.3:1 pada bayi cukup bulan atau lebih dari 1. PDA sedangbesar terjadi kardiomegali dan peningkatan PVM.blogspot.0 pada bayi praterm (disebabkan oleh peningkatan volume atrium kiri sebagai akibat dari pirau kiri ke kanan) e. c. EKG serupa dengan kelainan VSD. Adanya PVOD akan mengakibatkan ukuran jantung normal dengan pembesaran MPA dan peningkatan corakan vaskulerisasi hilus. tanda-tanda vital di catat dan data dasar di tegakkan untuk perbandingan masa yang akan datang. melibatkan keluarga atau orang terdekat dalam wawancara. pada PDA kecil tidak ada abnormalitas. CVH bila PDA besar. A. mengkaji kebutuhan klien dalam rangka perawatan post operasi. d. hipertrofi ventrikel kiri pada PDA yang lebih besar.7. Foto toraks juga menyerupai kelainan VSD. dan berakhir ketika klien di pindahkan ke kamar operasi. pemeriksaan fisik dilakukan. bervariasi sesuai tingkat keparahan. Pada PDA kecil-sedang dapat terjadi LVH atau normal. Melalui pemeriksaan ekho 2-D dan Doppler dapat divisualisasi adanya PDA dan besarnya shunt. Pada PDA kecil bayangan jantung normal. b. Ekhokardiografi yaitu rasio atrium kiri tehadap pangkal aorta lebih dari 1. Dalam fase pre operasi ini dilakukan pengkajian pre operasi awal. Pengkajian Sebelum operasi dilaksanakan pengkajian menyangkut riwayat kesehatan dikumpulkan. merencanakan penyuluhan dengan metode yang sesuai dengan kebutuhan pasien. http://agustusstikes. Pemeriksaan angiografi biasanya tidak dibutuhkan kecuali bila terdapat kecurigaan PVOD. PEMERIKSAAN a. memastikan kelengkapan pemeriksaan praoperasi. Pemeriksaan diagnostik mungkin dilakukan seperti . Kateterisasi jantung yaitu hanya dilakukan untuk mengevaluasi lebih jauh hasil ECHO atau Doppler yang meragukan atau bila ada kecurigaan defek tambahan lainnya.com/ 99999999 KONSEP KEPERAWATAN PRE OPERASI 19 Januari 2009 oleh PRO-HEALTH Keperawatan pre operasi dimulai ketika keputusan tindakan pembedahan di ambil.

Demikian pula dengan kondisi obesitas. fungsi endokrin. C. keterampilan. klien obesitas akan mendapat masalah post operasi dikarenakan lapisan lemak yang tebal akan meningkatkan resiko infeksi luka. Dalam memberikan penyuluhan klien pre operasi perlu dipertimbangkan masalah waktu. jika penyuluhan diberikan terlalu lama sebelum pembedahan memungkinkan klien lupa.dan perubahan perilaku. Tuntutan klien akan bantuan keperawatan terletak pada area pengambilan keputusan. dan pemeriksaan feses dan urine. B. tambahan pengetahuan. rontgen. Pendidikan Pasien Pre operasi Penyuluhan pre operasi didefinisikan sebagai tindakan suportif dan pendidikan yang dilakukan perawat untuk membantu pasien bedah dalam meningkatkan kesehatannya sendiri sebelum dan sesudah pembedahan. . penyembuhan luka akan di pengaruhi status nutrisi klien.analisa darah. endoskopi. fungsi hepar dan ginjal. Perawat berperan memberikan penjelasan pentingnya pemeriksaan fisik diagnostik. dan fungsi imunologi. Informed Consent Tanggung jawab perawat dalam kaitan dengan Informed Consent adalah memastikan bahwa informed consent yang di berikan dokter di dapat dengan sukarela dari klien. endoskopi. juga terhadap kesulitan teknik dan mekanik selama dan setelah pembedahan. biopsi jaringan. Disamping pengkajian fisik secara umum perlu di periksa berbagai fungsi organ seperti pengkajian terhadap status pernapasan. sebelumnya diberikan penjelasan yang gamblang dan jelas mengenai pembedahan dan kemungkinan resiko. Status nutrisi klien pre operasi perlu dikaji guna perbaikan jaringan pos operasi.

com/2009/01/19/konsep-keperawatan-pre-operasi/ 100000000 sted on November 1. Selain meningkatkan pernafasan latihan ini membantu pasien untuk relaksasi. menciptakan hubungan dokter-pasien 3.demikian juga bila terlalu dekat dengan waktu pembedahan klien tidak dapat berkonsentrasi belajar karena adanya kecemasan atau adanya efek medikasi sebelum anastesi. indikasi / kontraindikasi 4. menghembuskan melalui mulut. ada/tidak kemungkinan terjadinya komplikasi. informed consent Penilaian catatan medik (chart review) 1. 2008 by kuliahbidan Tujuan 1.2 dan 2.3 ). 2. Jenis operasi yang direncanakan 3. nafas lambat (menahan inspirasi secara maksimal) dan bagaimana menghembuskan nafas dengan lambat pasien dalam posisi duduk untuk memberikan ekspansi paru maksimum. Membedakan masalah obstetri / ginekologi dengan masalah non-obstetri yang terjadi pada kehamilan. selama dan sesudah anestesi / operasi 4. mengenal pasien.wordpress. Beberapa penyuluhan atau instruksi pre operasi yang dapat meningkatkan adaptasi klien pasca operasi di antaranya : 1. mengetahui masalah saat ini. Hal ini dapat dicapai dengan memperagakan pada pasien bagaimana melakukan nafas dalam. Latihan Nafas Dalam. menyusun rencana penatalaksanaan sebelum. 2. mengetahui riwayat penyakit dahulu serta keadaan / masalah yang mungkin menyertai pada saat ini. Setelah melakukan latihan nafas dalam beberapa kali. Batuk dan Relaksasi salah satu tujuan dari keperawatan pre operasi adalah untuk mengajar pasien cara untuk meningkatkan ventilasi paru dan oksigenasi darah setelah anastesi umum. ambil nafas pendek. dan batukkan. http://forbetterhealth. (Gambar 2. faktor penyulit 5. pasien di instruksikan untuk bernafas dalam-dalam. obat-obatan yang pernah / sedang / akan diberikan untuk masalah saat ini yang kemungkinan .

dsb). kontraksi uterus / his menyebabkan terjadinya autotransfusi dari plasenta . peningkatan frekuensi denyut jantung sampai 15%. kebiasaan merokok / alkohol / obat-obatan. penyakit ginjal. cadangan oksigen juga berkurang. ANESTESIA / ANALGESIA UNTUK KASUS OBSTETRI Pertimbangan : Fisiologi Kehamilan / Persalinan (Maternal Physiology) Sistem pernapasan Perubahan pada fungsi pulmonal. persiapan (diet. tanda vital lengkap. Jika tidak segera dideteksi dan dikoreksi. kemungkinan risiko. kebutuhan oksigen (oxygen demand) meningkat sampai 100%. riwayat pengobatan. kepala / leher (perhatian KHUSUS pada mulut / gigi / THT / saluran napas atas. gangguan pembekuan darah. riwayat operasi / anestesi sebelumnya. Sistem kardiovaskular Peningkatan isi sekuncup / stroke volume sampai 30%. Ventilasi per menit meningkat sampai 50%. Meskipun terjadi peningkatan isi dan aktifitas sirkulasi. peningkatan curah jantung sampai 40%. analgesi. penyakit jantung. cara. dsb. dsb) Untuk detail nya. PENTING DIKETAHUI : FARMAKOLOGI OBAT-OBAT (uterotonik / tokolitik.dapat berinteraksi dengan obat / prosedur anestesi 6. jantung / paru / abdomen / ekstremitas. riwayat alergi. Konsultasi dengan dokter yang akan melakukan tindakan obstetrik. Pada kasus obstetri / kasus non-obstetri dalam kehamilan. baca sendiri yaaaaa !!!. menyebabkan penurunan PaO2 yang cepat pada waktu dilakukan induksi anestesi. anestesi. dapat terjadi penurunan vaskularisasi uterus sampai asfiksia janin. pemulihan. menyebabkan terjadinya dilutional anemia of pregnancy. pemantauan kesejahteraan janin (dengan fetal monitoring). Functional residual capacity menurun sampai 15-20%. hasil-hasil pemeriksaan penunjang / laboratorium yang diperlukan Pemeriksaan pasien Anamnesis : penting mengumpulkan data tambahan tentang riwayat penyakit yang dapat menjadi penyulit / faktor risiko tindakan anestesi (asma. puasa. . Menetapkan rencana anestesi 1. penekanan / kompresi vena cava inferior dan aorta oleh massa uterus gravid dapat menyebabkan terjadinya supine hypertension syndrome. musclerelaxant. Penjelasan kepada pasien : metode. ventilasi dan pertukaran gas. Menjelang / dalam persalinan dapat terjadi gangguan / sumbatan jalan napas pada 30% kasus. memungkinkan dilakukannya induksi anestesi yang cepat pada wanita hamil. meskupun dengan disertai denitrogenasi. vasopresor / vasodilator. Pada persalinan. 2. premedikasi). penting dilakukan : pemeriksaan obstetri (umumnya telah dilakukan oleh dokter obstetri). Volume plasma meningkat sampai 45% sementara jumlah eritrosit meningkat hanya sampai 25%. untuk airway maintenance selama anestesi / operasi). hipertensi. Pemeriksaan fisik : tinggi / berat badan. Pada saat persalinan.

dapat sampai 400-600 cc. Pada anestesi epidural atau intratekal (spinal). Sementara itu terjadi juga peningkatan sekresi asam lambung. penurunan tonus sfingter esophagus bawah serta perlambatan pengosongan lambung. curah jantung meningkat. konsentrasi obat inhalasi yang lebih rendah cukup untuk mencapai anestesia. Enzimenzim hati pada kehamilan normal sedikit meningkat. Hal itu karena selama kehamilan normal terjadi juga peningkatan faktor pembekuan VII. namun menurun sampai 60% di atas nonpregnant state pada saat kehamilan aterm. Lambung HARUS selalu dicurigai penuh berisi bahan yang berbahaya (asam lambung. sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya regurgitasi dan aspirasi pulmonal isi lambung. Sistem saraf pusat Akibat peningkatan endorphin dan progesteron pada wanita hamil.sebesar 300-500 cc selama kontraksi. makanan) tanpa memandang kapan waktu makan terakhir. Faktor yang menentukan yaitu peningkatan sensitifitas serabut saraf akibat meningkatnya kemampuan difusi zat-zat anestetik lokal pada lokasi membran reseptor (enhanced diffusion). VIII. Perdarahan yang terjadi pada partus pervaginam normal bervariasi. Pada sectio cesarea. kebutuhan halotan menurun sampai 25%. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh aktifitas hormon progesteron. Sistem gastrointestinal Uterus gravid menyebabkan peningkatan tekanan intragastrik dan perubahan sudut gastroesophageal junction. Pasien dengan preeklampsia mungkin berada dalam proses menuju kegagalan fungsi ginjal meskipun pemeriksaan laboratorium mungkin menunjukkan nilai “normal”. Meskipun demikian jarang diperlukan transfusi. X. (baca juga catatan special aspects of perinatal pharmacology) Tindakan Anestesi / Analgesi Regional . Beban jantung meningkat. mungkin akibat hemodilusi dan penurunan sintesis. metoksifluran 32%. sampai 80%. urea dan asam urat dalam darah mungkin menurun namun hal ini dianggap normal. karena obat-obatan anestesia yang umumnya merupakan depresan. Hal ini karena pelebaran vena-vena epidural pada kehamilan menyebabkan ruang subarakhnoid dan ruang epidural menjadi lebih sempit. dapat terjadi perdarahan sampai 1000 cc. Harus dianggap bahwa SEMUA obat dapat melintasi plasenta dan mencapai sirkulasi janin. dapat juga menyebabkan depresi pada janin. Kadar kreatinin. konsentrasi anestetik lokal yang diperlukan untuk mencapai anestesi juga lebih rendah. Kadar kolinesterase plasma menurun sampai sekitar 28%. Pada pemberian suksinilkolin dapat terjadi blokade neuromuskular untuk waktu yang lebih lama. isofluran 40%. Transfer obat dari ibu ke janin melalui sirkulasi plasenta Juga menjadi pertimbangan. XII dan fibrinogen sehingga darah berada dalam hypercoagulable state. Ginjal Aliran darah ginjal dan laju filtrasi glomerulus meningkat sampai 150% pada trimester pertama.

mencapai ruangan subaraknoid. 15-30 menit sebelum anestesi. Mengurangi pemakaian narkotik sistemik sehingga kejadian depresi janin dapat dicegah / dikurangi. 8. Spinal / subaraknoid : posisi lateral dekubitus atau duduk. Untuk persalinan per vaginam. Observasi tanda vital 4. Kelainan SSP tertentu 4. sehingga kemajuan persalinan dapat menjadi lebih lambat. Daerah punksi ditutup dengan kasa dan plester. 2. Insufisiensi utero-plasenta 6. Jika dipakai kateter untuk anestesi. Sepsis 2. Jika dalam perjalanannya diperlukan sectio cesarea. Kemudian obat anestetik diinjeksikan ke dalam ruang epidural / subaraknoid. Hipotensi akibat vasodilatasi (blok simpatis) 2. Kemudian posisi pasien diatur pada posisi operasi / tindakan selanjutnya. jalur obat anestesia regional sudah siap. 2. stimulus nyeri dan kontraksi dapat menurun. Syok hipovolemik 7. Keberhasilan anestesi diuji dengan tes sensorik pada daerah operasi. Keuntungan : 1.Analgesi / blok epidural (lumbal) : sering digunakan untuk persalinan per vaginam. berikan 500-1000 cc cairan kristaloid (RingerLaktat). Setelah menembus ligamentum flavum (hilang tahanan). dilakukan punksi antara vertebra L2-L5 (umumnya L3-L4) dengan jarum / trokard. Waktu mula kerja (time of onset) lebih lama 3. Obat anestetik yang digunakan : lidocain 1-5%. Kerugian : 1. dengan jarum / trokard.250. Infeksi / inflamasi / tumor pada lokasi injeksi Teknik : 1. tusukan diteruskan sampai menembus selaput duramater. dilakukan fiksasi. 3. menggunakan jarum halus atau kapas. berikan antasida 3. Identifikasi adalah dengan keluarnya cairan cerebrospinal. Dosis yang dipakai untuk anestesi epidural lebih tinggi daripada untuk anestesi spinal. Pasang line infus dengan diameter besar. 5. 4. Kontraindikasi : 1. Epidural : posisi pasien lateral dekubitus atau duduk membungkuk. jika stylet ditarik perlahan-lahan. Ibu tetap dalam keadaan sadar dan dapat berpartisipasi aktif dalam persalinan. chlorprocain 2-3% atau bupivacain 0. Anestesi epidural atau spinal : sering digunakan untuk persalinan per abdominam / sectio cesarea.75%. Gangguan pembekuan 3. Ruang epidural dicapai dengan perasaan “hilangnya tahanan” pada saat jarum menembus ligamentum flavum. Kemungkinan terjadi sakit kepala pasca punksi. Pasien menolak 5. 6. Risiko aspirasi pulmonal minimal (dibandingkan pada tindakan anestesi umum) 4. . dilakukan punksi antara L3-L4 (di daerah cauda equina medulla spinalis). 7. 9.

atau 0. Pasien harus diatur dalam posisi telentang / supine. Hiperventilasi pada ibu dapat menyebabkan terjadinya hipoksemia dan asidosis pada janin. 3. Setelah regio abdomen dibersihkan dan dipersiapkan. 4. Kesulitan melakukan intubasi tetap merupakan penyebab utama mortalitas dan morbiditas maternal. Indikasi : 1. Diperlukan keadaan relaksasi uterus. Induksi cepat. Pengendalian jalan napas dan pernapasan optimal. dan kehilangan kesadaran. Dialirkan ventilasi dengan tekanan positif. dilakukan ventilasi O2 100% dengan mask disertai penekanan tulang cricoid. Dapat terjadi depresi janin akibat pengaruh obat. observasi tanda vital. dan pengikat / korset perut (abdominal binder).0 – 1. karena dosis yang dipakai lebih tinggi. sampai . 3. Ada kontraindikasi atau keberatan terhadap anestesia regional. 0. dan operator siap. Teknik : 1.Komplikasi yang mungkin terjadi : 1. Risiko hipotensi dan instabilitas kardiovaskular lebih rendah. Terapi dengan istirahat baring total. O2-N2O 50%-50% diberikan melalui inhalasi. kemudian dilakukan intubasi. Kadang terjadi juga serangan kejang. 3. Pasang line infus dengan diameter besar. Kerugian : 1. 2. pasien diposisikan dengan uterus digeser / dimiringkan ke kiri. dilakukan intubasi. antasida diberikan 15-30 menit sebelum operasi. 2. Tindakan Anestesi Umum Tindakan anestesi umum digunakan untuk persalinan per abdominam / sectio cesarea. Gejala berupa nausea. 4. Hipotensi ditangani dengan memberikan cairan intravena dan ephedrine. Jika terjadi injeksi subarakhnoid yang tidak diketahui pada rencana anestesi epidural. dilakukan induksi dengan 4 mg/kgBB tiopental dan 1. Komplikasi neurologik yang sering adalah rasa sakit kepala setelah punksi dura. 5.0% enfluran. Gawat janin.5 mg/kgBB suksinilkolin. hidrasi (>3 L/hari). 2. dan suksinilkolin diinjeksikan melalui infus. dapat terjadi total spinal anesthesia. 3. Dilakukan preoksigenasi dengan O2 100% selama 3 menit. dengan uterus digeser ke kiri. dapat sampai disertai henti napas dan henti jantung. dan dilakukan hiperventilasi untuk mengatasi asidosis metabolik. analgesik. atau pasien diminta melakukan pernapasan dalam sebanyak 5 sampai 10 kali. 2. Injeksi intravaskular ditandai dengan gangguan penglihatan. tinitus. Risiko aspirasi pada ibu lebih besar.5% halotan. 3. menggunakan 1. Dapat juga ditambahkan inhalasi 1. Dilakukan penekanan krikoid. Harus dilakukan intubasi pada pasien. Keuntungan : 1. hipotensi dan kehilangan kesadaran. dan balon pipa endotrakeal dikembangkan.75% isofluran.5 mg/kgBB suksinilkolin. 2.

hipoksia. di mana semua perubahan fisiologis akibat kehamilan diharapkan telah kembali pada keadaan normal). 7. (catatan) Jika terjadi hipertonus uterus. diberikan antibiotika. CATATAN : Pada kasus-kasus obstetri patologi yang memerlukan obat-obatan / penanganan medik selain anestesi. dan sebagainya. Jika operasi dilakukan dalam masa kehamilan. untuk mencegah ibu bangun. karena obat-obat tersebut dapat menyebabkan atonia uteri. pada infeksi atau kemungkinan infeksi. yang memerlukan tindakan operasi (misalnya : trauma. Mortalitas / morbiditas maternal : tidak berbeda signifikan dengan tindakan anestesi / operasi pada wanita yang tidak hamil. 3. 2. cairan. berikan suplementasi asam folat (N2O dapat menghambat sintesis dan metabolisme asam folat). 3. 6. Teknik anestesia regional (terutama spinal) lebih dianjurkan. Untuk pasien yang direncanakan anestesia dengan N2O. Premedikasi minimal : barbirat lebih dianjurkan dibandingkan benzodiazepin. Pada kasus gawat darurat. ANESTESIA / ANALGESIA UNTUK OPERASI NON-OBSTETRI PADA MASA KEHAMILAN (NON-OBSTETRICAL SURGERY DURING PREGNANCY) Sekitar 1-5% wanita hamil mengalami masalah yang tidak berhubungan secara langsung dengan kehamilannya. Keselamatan ibu (prioritas utama) 2. pada keadaan umum / tanda vital yang buruk. sementara diperlukan relaksasi uterus yang optimal. magnesiumsulfat. 2. pada pre-eklampsia. lanjutkan pemeriksaan antenatal dengan . Operasi semi-urgent sebaiknya ditunda sampai trimester kedua atau ketiga. 5. narkotik dapat digunakan untuk analgesia. misalnya syok. karena paparan / exposure obatobatan terhadap janin relatif paling minimal. hal ini menjadi indikasi untuk induksi cepat dan penggunaan anestetik inhalasi. diberikan juga vasodilator. antara 5-35%. Obat inhalasi dihentikan setelah tali pusat dijepit. mortalitas maternal dan perinatal SANGAT TINGGI (lihat catatan management of injured pregnant patient). Usaha mempertahankan kehamilan 3. Ekstubasi dilakukan setelah pasien sadar. appendiksitis. Setelah itu. Pertimbangan tindakan anestesi untuk bedah non-obstetri pada masa kehamilan : 1. Mortalitas / morbiditas perinatal : LEBIH TINGGI signifikan. 6. Anjuran / pertimbangan : 1. Usaha mempertahankan fisiologi sirkulasi utero-plasenta yang optimal 4. 9. obat2an. untuk maintenance anestesi digunakan teknik balans (N2O/narkotik/relaksan). diberikan sebagaimana seharusnya. efek hambatan pertumbuhan atau efek teratogen terhadap janin. pemakaian obat-obatan yang memiliki efek depresi. Pencegahan sedapat mungkin. Contoh : 1. 8. ditatalaksana dengan oksigen.janin dilahirkan. 4. dsb dsb). anestetik inhalasi yang kuat juga dapat digunakan dengan konsentrasi rendah. Operasi elektif sebaiknya ditunda sedapat mungkin sampai 6 minggu pascapersalinan (setelah masa nifas. atau jika ada hipertensi.

5 kali di atas frekuensi basal. (baca juga modul “Safe Motherhood” tentang Penuntun Belajar Kuretase (POEK)) Laparotomi operasi ginekologi Untuk operasi ginekologi dengan laparotomi. 4.5 mg/ml) diberikan melalui infus intravena. Pengisian rongga abdomen dengan udara (pneumoperitoneum) 2. 3. Jika diperlukan. dapat sampai 30-40 cm H2O). seperti 0. ANESTESIA / ANALGESIA UNTUK KASUS GINEKOLOGI Kuretase Untuk tindakan kuretase. dan/atau tramadol 1-2 mg/kgbb) 2. untuk deteksi kemungkinan persalinan preterm pascaoperasi. Tujuan anestesi pada laparoskopi adalah : 1. digunakan anestesia umum. Kelebihan CO2 dapat diatasi dengan kendali frekuensi pernapasan 1. menciptakan relaksasi otot yang adekuat untuk membantu tindakan operasi Pengisian rongga peritoneum dengan CO2 dapat menyebabkan peningkatan PaCO2 jika pernapasan tidak dikendalikan. 2. serta peningkatan tekanan vena sentral dan curah jantung sekunder akibat redistribusi sentral volume darah. mencegah peningkatan tekanan parsial CO2 dalam darah (PaCO2) pada insuflasi abdomen dengan gas CO2.perhatian khusus pada fetal heart monitoring dan penilaian aktifitas uterus. Laparoskopi Untuk tindakan laparoskopi. sedativa (diazepam 10 mg) 3. 3. Untuk meningkatkan kontraksi uterus digunakan ergometrin maleat.25-0. Peningkatan tekanan intraabdominal akibat insuflasi gas dapat menyebabkan muntah dan aspirasi. anestesia . Metode yang dianjurkan adalah anestesi dengan N2O-O2 perbandingan 75%-25% inhalasi. Kadang diperlukan posisi Trendelenburg ekstrim.5-1. atropin sulfat (0. Kadang digunakan elektrokoagulasi. mengurangi potensial kejadian aritimia akibat hiperkarbia dan asidosis. diperlukan keadaan khusus : 1. dan/atau neuroleptika ketamin HCl 0.0% isofluran atau enfluran. analgetika (pethidin 1-2 mg/kgbb. digunakan : 1. mempertahankan stabilitas kardiovaskular pada keadaan peningkatan tekanan intraabdominal yang besar akibat insuflasi CO2 (umumnya tekanan naik sampai 20-25 cmH2O. dengan anestetik narkotik dan musclerelaxant. Tekanan intraabdominal sampai 30-40 cm H2O sebaliknya dapat menyebabkan penurunan tekanan vena sentral dan curah jantung dengan cara menurunkan pengisian jantung kanan. Dapat juga digunakan tambahan anestesi inhalasi dalam konsentrasi rendah.5 mg/kgbb.

takut anastesi biasanya dalam maut “ Tidur terus tidak bangun kembali”. kesal. mereka cenderung banyak marah. pembedahan adalah suatu metode pengobatan yang dilakukan dengan terencana atau mendadak terhadap sebagian sistem tubuh.lokal blok regio periumbilikal dapat dilakukan dengan 10-15 cc bupivacain 0.5%. Respon Fsiologis Operasi besar merupakan stressor kepada tubuh dan memicu respon neoro endecrine. B. Mereka lebih mudah tersinggug akibat psikis dibandingkan dengan orang yang cemasnya sedikit. Konsep Operasi/ Pembedahan 1. cukup gawat atau kehilangan darah cukup banyak maka akan menyebapkan shock intake protein yang tinggi. Pembedahan atau lebihdikenal dengan istilah operasi dapat dibedakan. Prosedur yang gawat juga dianggap punya keseriusan mayor misalnya. Sedangkan operasi mayor (operasi besar) dengan menggunakan anastesi umum yang dilakukan di unit pembedahan rawat inap. bingung atau depresi. Takut yang belum diketahui adalah umum. bila stress terhadap sistem. respon terjadi dari saraf simpati dan respon hormonal yang bertugas melindungi tubuh dari ancaman cedera. Sedasi ringan dapat diberikan. dimana dapat dilakukan di ruang praktek klinik untuk rawat jalan dengan anastesi lokal. pembedahan minor atau (operasi kecil). Jenis prosedur pembedahan atau operasi diklasifikasi berdasarkan tingkat keseriusan. 111111111 A. Konsep Seksio Sesarea . Respon Psikologis Sebagian ketakutan yang melatarbelakangi pra pembedahan adalah elusive atau keinginan mengelak dan orang tidak akan mengetahui penyebabnya. 2006). pembedahan adalah semua tindakan pengobatan yang menggunakan cara invasif dengan membuka atau menampilkan bagian tubuh yang akan ditangani yang umumnya dilakukan dengan membuka sayatan. 3. kegawatan dan tujuan pembedahan. yang melibatkan rekonstruksi atau perubahan yang luas pada bagian tubuh dan menimbulkan risiko yang tinggi bagi kesehatan. guna mengisi kebutuhan protein untuk keperluan penyembuhan dan mengisi kebutuhan untuk fungsi yang optimal. 2. Orang yang sangat cemas sehingga tidak bisa berbicara dan mencoba menyesuaikan diri dengan kecemasan sebelum operasi sering kali menderita banyak kesukaran pada pasca pembedahan. Sedangkan menurut Laksamana (2003). seksio sesarea yang dilakukan sebagai prosedur kedaruratan atau kegawatan untuk melahirkan janin (Poter dan Perry. Pengertian Menurut Depkes RI (1998).

kematian prenatal pasca seksio sesarea berkisar antara 4 sampai 7%. 2001). indikasi untuk seksio sesarea ialah a. Hipertensi . Pernah seksio sesaresa 3. Pada ibu komplikasi.. c. g. Kelainan letak. Suatu komplikasi yang baru yang kemudian tampak. b. Pendarahan Pendarahan banyak bisa timbul pada waktu pembedahan jika cabang. Komplikasi lainnya.paru. Komplikasi a. 4.1. sehingga pada kehamilan berikutnya bisa terjadi ruptura uteri. h. Infeksi puerperal Komplikasi ini bisa bersifat ringan seperti : kenaikan suhu tubuh selama beberapa hari dalam masa nifas. b. Kontra indikasi e. Pada anak Seperti halnya dengan ibunya. Preeklamsi. embolisme paru. Pesalinan seksio sesarea kelahiran bayi melalui abdomen dan insisi uterus (Mary. d.cabang ateri ulterina ikut terbuka.1995). kurang kuatnya perut pada dinding uterus. Incoordinate uteria action. Indikasi Menurut statistik tentang 3509 kasus seksio sesarea yang disusun oleh Peel dan Camberlain (dalam Hanifa 2006).komplikasi yang bisa timbul ialah sebagai berikut : 1). Plasenta prepea. 2. Gawat janin. f. Disproporsi janin panggul. 2). lika kandung kencing. Pengertian Seksio sesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding rahim (kafita selekta kedokteran. anak yang dilahirkan dengan seksio sesarea menurut data statistik di negara.negara dengan pengawasan antenatal dan intranatal yang baik.

atau apabila janin terbukti cacat seperti hidro sefalus. Freud (1998) memandang bahwa kecemasan timbul secara otomatis apabila kita menerima stimulus yang berlebihan yang melampaui kemampuan untuk menanganinya. Perasaan tidak nyaman sebagai respon terhadap rasa takut akan terjadinya perlukaan tubuh atau kehilangan sesuatu yang bernilai dari dirinya (DepKes.Mengenai komtra indikasi perlu diingat bahwa seksio sesarea dilakukan baik untuk kepentingan ibu maupun kepentingan anak.1990). 3. 2006). Jenis. Menurut Barbara (1996) kecemasan adalah respon psikologis perasaan takut atau tidak tenang yang sumbernya tidak dikenali dan terjadi ketika seseorang merasa terancam baik secara fisik maupun secara psikologis . Seksio sesarea transperitonealis klasik atau korforal. Konsep kecemasan 1. Seksio sesarea ekstraperitoneal. Rentang Respon Cemas . Pengertian Kecemasan Menurut Stuart & Sundeen (1998) kecemasan adalah kebingungan. 5.jenis seksio sesarea Dikenal beberapa secsio sesarea yaitu : 1. ia memperingatkan adanya bahaya yang mengancam dan memungkinkan seseorang mengambil tindakan untuk mengatasi ancaman (Kaplan & Sadock). dan sebagainya. Keadaan emosi ini dialami secara obyektif dan dikomunikasikan dalam hubungan interpersonal (Maramis. 2. ketakutan. 2. atau apabila janin terlalu kecil untuk hidup di luar kandungan. stimulus tersebut dapat berasal dari luar maupun dari dalam diri. (Hanifa. Seksio sesarea transperitonealis profunda. kecemasan sangat berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya. dkk. 1993). C. pada sesuatu yang akan terjadi dengan penyebab yang tidak jelas yang dihubungkan dengan perasaan tidak menentu dan tidak berdaya.Y. anensefalus. Oleh sebab itu seksio sesarea tidak dilakukan – kecuali dalam keadaan terpaksa – apabila misalnya janin sudah meninggal dalam uterus.2004). Stuart dan lararia (1998) mengatakan kecemasan dapat diekspresikan secara langsung melalui perubahan fisiologis dari perilaku maupun secara tidak langsung melalui timbulnya gejala atau mekanisme koping sebagai upaya untuk melawan kecemasan (Sofia. Kecemasan adalah suatu sinyal yang menyadarkan.

menolak) . Panik berhubungan dengan ketakutan dan teror yang melibatkan aktivitas motorik. 1995) menyebutkan bahwa pada orang cemas refleksi tingkah laku terbagi atas fisiologis. Cemas (menangis. tempat dan orang. perilaku diluar kesadaran (Sofia Y. Menurut Stuart & Sundeen (1995) rentang respon individu terhadap kecemasan berfluktuasi antara respon adaptif dan maladaptif seperti terlihat pada gambar berikut: Gambar 2. 1995). Manifestasinya adalah berdebar-debar. individu merasa tidak bisa memperhatikan lingkungan sehingga fokus terhadap lingkungan berkurang. persepsi yang menyempit dan kehilangan pemikiran yang rasional. 2004). nyeri dada. mual dan muntah. Manifestasinya adalah mulut kering. (3) kecemasan berat. anoreksia. persepsi wajah ketakutan. Cemas ringan dapat menyebabkan seseorang menjadi waspada dan meningkatkan area persepsi sehingga dapat memotivasi untuk belajar. pada tingkat ini lapang persepsi individu menyempit. Rentang respon cemas terbagi menjadi empat tingkat: (1) kecemasan ringan. tidak mampu rileks dan sukar tidur. (2) kecemasan sedang. takut. cemas ringan berhubungan dengan kehidupan sehari-hari.Peplu (dalam Stuart & Sundeen . Sementara menurut Dadang (2001) Gejala. lapang persepsi menyempit. otot merasa tegang. Cemas ringan berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada.1. kognitif dan afektif yang berbeda-beda. sedang. pusing atau sakit kepala. orang tersebut tidak mampu menyelesaikan masalah. Perasaan cemas 1. berat dan panik.gejala kecemasan tersebut adalah : a. bicara terus dan sukar dimengerti. Cemas berat mengurangi lapang persepsi seseorang sehingga cenderung untuk memusatkan pikiran untuk mengurangi ketegangan. Cemas sedang memungkinkan seseorang untuk memusatkan perhatian pada yang selektif. Manifestasinya adalah nafas pendek. banyak bicara dan bertanya-tanya. pada kecemasan sedang individu merasa lebih tegang. gelisah. badan gemetar. agitasi. sering buang air kecil. menurunnya kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain. : Rentang Respon individu terhadap kecemasan Respon adaptif Respon mal adaptif # Antisipasi # Ringan # Sedang # Berat # Panik Menurut Peplu (dalam Stuart & Sundeen. dan masih dapat mengenal waktu. banyak bicara dan volume keras. mengidentifikasikan kecemasan dalam empat tingkat yaitu : ringan.

Lesu 3. Ketakutan 1. Gangguan kecerdasan 1. Pandangan kosong . Daya ingat terganggu f. Perasaan defresi 1. Tidur tidak nyenyak e. Pada kerumunan orang banyak d. Hilandnya minat 2. Saat bangun kondisi lesu 3. Gangguaan tidur 1. Terbangun pada malam hari 2.2. Tidak bisa istirahat tenang/ gelisa 4. Banyak mimpi/ mengigau 4. Ketegangan 1. Ditinggal sendiri 4. Merasa tegang 2. Pada gelap 2. Pada orang asing 3. Mudah tersinggung b. Gemetar 5. Menarik diri c. Bicara cepat 6.

Gejala somatic (otot) 1. Takikardi (denyut jantung meningkat) 2. Gejala gastrointestinal 1. Rasa seperti mau pingsan j. Nyeri dada 3.3. Rasa tercekik 3. Muntah 4. Rasa tertekan dan sempit dada 2. Serimg buang air kecil 2. Bangun dini hari g. Gerakan lambat dan janggal h. Napas pendek k. Sering menarik napas dalam 4. Gejala somatic (sensorik) i. Denyut nadi kasar/ amat jelas terasa/ teraba 4. Tidak dapat menahan kencing . Perasaan terbakar diperut 3. Sulit menelan 2. Sukar buang air besar l. Gejala kardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah) 1. Gejala urogenital (perkemihan dan kelamin) 1. Sedih 4. Gejala respirator (pernapasan) 1.

Respon Fisik Dan Psikologi Cemas Cemas dapat diekspresikan secara langsung melalui perubahan fisik dan perilaku. menolak untuk makan. rasa tidak nyaman pada abdomen. wajah tegang. (2) pada sistem pernafasan akan terjadi nafas pendek dan cepat. Intensitas fisik dan perilaku dapat meningkat sejalan dengan tingkat cemas (Stuart & Sundeen. Kepala sering terasa pusing n. Mudah berkeringat 4. Respon fisik terhadap kecemasan meliputi berbagai sistem organ tubuh: (1) pada sistem kardiovaskuler akan muncul respon palpitasi. Muka merah 3. mual dan mungkin akan diare. tekanan darah meningkat. sensasi tercekik serta terlihat terengah-engah. Kecemasan ringan c. (5) respon sistem urinaria meliputi tidak dapat menahan kencing. rigiditas. Ekspresi wajah tegang Tingkat kecemasan tersebut dapat dikelompokkandengan nilai hasil total score dari masingmasing gejala kecemasan sebagai berikut : a. mata berkedip-kedip. gelisah. kaki goyah dan adanya gerakan yang janggal. Kecemasan berat e. jantung berdebar. (4) respon pada sistem gastrointestinal meliputi kehilangan nafsu makan. insomnia. Gejala autonom 1. Mulut kering 2. Kecemasan sedang d. Kecemasan berat sekali/ panik : jika nilai ≤ 7 : jika nilai 8 -13 : jika nilai 14 – 18 : jika nilai 19 – 29 : jika nilai 30 – 44 3. (3) pada sistem neuromuscular akan muncul respon peningkatan refleks. Gemetar 3.m. 1998). kelemahan umum. (6) pada sistem . Tingkah laku pada saat wawancara 1. Tidak ada kecemasan b. tekanan pada dada. tremor. Gelisah dan muka merah 2.

Respon cemas pada perilaku berupa gelisah. dingin pada kulit. ketakutan dan tremor (Sofia Y. kreatifitas dan produktifitas menurun dan kesadaran diri meningkat.2004). 1. Sedangkan dari segi afektif akan tampak keadaan mudah terganggu. pelupa. bicara cepat. rasa panas. kurang koordinasi. tremor gugup. wajah pucat. gatal. Menurit Notoadmodjo (2003) kematangan atau kesiapan pribadi menyangkut tiga pengalaman belajar pokok yaitu : a. serta berkeringat pada seluruh tubuh. 1997). Selanjutnya Panji Anoraga dan Sri Suryati (1999) menjelaskan bahwa pendidikan merupakan usaha sadar dan sistematis yang berlangsung seumur hidup dalam rangka mengalihkan pengetahuan oleh seseorang kepada orang lain. konsentrasi buruk. 4. lebih baik dan lebih matang pada individu atau kelompok (Notoatmodjo. tegang. Respon terhadap kognitif meliputi perhatian terganggu. sedangkan superego mencerminkan hati nurani seseorang dan dikendalikan oleh norma-norma budaya seseorang. Hal ini berhubungan dengan aktivitas neurotransmitter gamma aminobutyric acid (GABA) yang mengatur laju dan aktifitas neuron dalam otak untuk menurunkan kecemasan. Kajian keluarga menerangkan bahwa kecemasan merupakan hal yang biasa ditemui dalam keluarga berbagai tipe akibat konflik dalam keluarga (Sofia Y. Pengertian Pendidikan Pendidikan adalah dasar untuk menyiapkan peserta didik bimbingan. Kajian biologis menunjukkan bahwa otak mempunyai reseptor khusus untuk benzodiasepin. Pandangan perilaku menganggap kecemasan merupakan produk frustasi yaitu segala sesuatu yang mengganggu kemampuan seseorang untuk mencapai tujuan. gelisah. cenderung mendapat cidera. Faktor Predisposisi Pandangan psikoanalitik oleh Sigmund freud mengatakan bahwa faktor predisposisi kecemasan adalah adanya konflik antara dua elemen kepribadian yaitu id dan superego. Stuart & Sundeen menguraikan bahwa banyak teori telah dikembangkan mengenai faktor terhadap terjadi kecemasan. Atau pendidikan adalah suatu proses yang berarti di dalam pendidikan itu terjadi proses pertumbuhan perkembangan atau perubahan kearah yang lebih dewasa.integumen akan tampak wajah kemerahan. Pandangan interpersonal oleh Sulivan mengatakan bahwa kecemasan timbul dari adanya perasaan terhadap tidak adanya penerimaan interpersonal. 2004). Konsep pendidikan 1. lapang persepsi menurun. berkeringat setempat. Kecemasan juga berkaitan dengan trauma psikologis seperti perpisahan dan kehilangan. Id mewakili dorongan insting dan impuls primitif seseorang. ketegangan fisik. Reseptor ini mungkin membantu mengatur kecemasan. D. menarik diri dari hubungan interpersonal. Aspek pengetahuan (Kongnitif) .

juga berbagai program khusus dan lembaga untuk latihan. SLTA (Sekoah Menengah Atas) dan SMK. 1. Pendidikan Dasar yaitu suatu lembaga pendidikan yang diselenggarakan untuk mengembangkan sikap dan kemampuan serta memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar yang diperlukan untuk hidup dalam masyarakat serta mempersiapkan perserta didik yang memenuhi persyaratan untuk mengikuti pendidikan menengah. Pendidikan menengah yang lamanya 3 tahun sesudah pendidikan dasar diselenggarakan di .b. Pendidikan formal. SMP. yaitu suatu proses yang sesungguhya terjadi seumur hidup yang karena tiap-tiap individu merupakan sikap melalui keterampilan dan pengetahuan seharihari dan pengaruh lingkungan. Aspek yang berkaitan dengan keterampilan (Psikomotorik) 2. 2. sampai Universitas dan tercakup disamping studi akademi umum. pendidikan menengah dan pendidikan tinggi yang meliputi : 1. yaitu pendidikan yang berstruktur. mempunyai jenjang atau tingkat dalam periode waktu tertentu berlangsung dari SD. SMA. Tingkat Pendidikan Notoadmodjo (2003) menyatakan bahwa pendidikan umumnya merupakan pendidikan yang mengutamakan perluasan pengetahuan dan peningkatan keterampilan peserta didik. Jenis-jenis Pendidikan Pendidikan dasar dibedakan menjadi 3 jenis yaitu: 1. Pendidikan Menengah yaitu suatu lembaga pendidikan yang diselenggarakan untuk melanjutkan dan meluaskan pendidikan dasar serta menyiapkan peseta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial. Dengan demikian pendidikan umum atau pendidikan sekolah terdiri dari pendidikan dasar. 3. 3. Aspek sikap dan perilaku (Efektif) c. budaya dan alam sekitar serta dapat mengembangkan kemampuan lebuh lanjut dalam dunua kerja atau pendidikan tinggi. Pendidikan formal. contoh SD dan SLTP Warga Negara yang berumur 6-7 tahun berkewajiban mengikuti pendidikan dasar atau pendidikan yang setara sampai tamat SLTP (Sekolah Menegah Tingkat Pertama). Pendidikan non formal yaitu merupakan pendidikan (pada umumnya) di luar sekolah yang secara potensial dapat membantu dan mengartikan pendidikan formal dalam aspek tertentu.

Institut dan Universitas yang termasuk perguruan tinggi D2. Pengertian Pengetahuan adalah pemberian bukti oleh seseorang melalui proses pengingatan dan pengenalan informasi. 1. Pengetahuan pada dasarnya terdiri dari sejumlah fakta dan teori yang memungkinkan seseorang untuk dapat memecahkan masalah yang dihadapinya. S1. Namun sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.dan S3. S2. pengetahuan sebagai alat jaminan yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa prilaku didasarkan atas pengetahuan akan lebih langgeng dibanding dengan tampa didasari pengetahuan. Pengetahuan merupakan hasil tahu telah terjadi setelah seseorang melakukan pengindraan melalui panca indra yaitu penglihatan. dalam kaitannya dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi seksio sesarea sehingga dapat meminimalkan respon terhadap kecemasan. Tahu (Know) . Dari pengertian tentang pendidikan tersebut diatas kiranya dapat diharapkan bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin luas pengetahuan tentang suatu hal dan semakin luas pula wawasan berfikirnya. 3. Pendidikan Tinggi Satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi disebut perguruan tinggi yang dapat berbentuk Akademik. Sekolah Tinggi. sehingga akan lebih terbuka terhadap pembaharuan. D3. 1. E. ide atau fenomena yang diproses sebelumnya. Politeknik. 2. pengecapan (rasa) dan perabaan. Tingkat pengetahuan Menurut Notoatmodjo (2003). Kesadaran (jiwa) salah satu dari alam yang ada pada diri manusia. penciuman. Pengetahuan merupakan dasar untuk terbentuknya tindakan seseorang (Notoadmodjo. Selanjutnya Notoadmodjo (2002) menyatakan ada tiga unsur pengetahuan yaitu : 1. 2. 2002).1. Sasaran (objek) yaitu sesuatu yang menjadi bahan pengamatan. Konsep pengetahuan 1. pengetahuan dikatagorikan dalam enam bagian yaitu : 1. Pengamatan (menanamkan) yaitu penggunaan indra lahir dan indra batin untuk menangkap objek.

Kemampuan analisis dapat dilihat dari kemampuan menggambarkan. Khnowledge (pengetahuan)dalam masyarakat dipengaruhi beberapa faktor antara lain sosial ekonomi. 3.hukum. Aplikasi (Application) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada kondisi riil (sebenarnya) yang termasuk aplikasi adalah penggunaan hukum.Tahu diartikan sebagai mengingat sesuatu yang telah dipelajari sebelumnya. Analisis (Analysis) Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen tetapi dalam struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain. Orang yang telah tahu terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan. pendidikan dan pengelaman. menyebutkan contoh. Evaluasi Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan jasvikasi atau penelitian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian yang didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria yang ada misalnya dapat membandingkan antara anak-anak yang cukup gizi dengan anak-anak yang kurang gizi. 1. menyelesaikan dan sebagainya. kultur (budaya agama). 1. merencanakan. Termasuk dalam timgkat pengetahuan ini adalah mengingat kembali sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang diterima. 1. Misalnya dapat menggunakan rumus statistik dalam penghitungan-penghitungan siklus pemecahan masalah kesehatan dari kasus yang diberikan. 1. metode. Memahami (comprehension) Memahami diartikan sebagai kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat mengukur prestasi materi secara benar. meringkas. menyimpulkan dan sebagainya. prinsip dan sebagainya dalam kontek atau kondisi yang lain. . Faktor-Faktor yang mempengaruhi pengetahuan Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan menurut Nasution (2002). Sintesis (syntesis) Sintesis menunjukan suatu kemampuan untuk melekatkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru misalnya dapat menyusun. membedakan dan sebagainya. 1.

: Bila jawaban benar mencapai 56-74% dari seluruh pertanyaan.1. Pendidikan yaitu semakin tinggi tingkat pendidikan maka ia akan mudah menerima hal-hal baru dan mudah menyesuaikan dengan hal-hal yang baru tersebut. tingkat pengetahuan akan tinggi juga. 4. Pengetahuan ini berpengaruh terhadap sikap seseorang sesuai dengan pemikirannya. Kriteria Penilaian Menurut Arikunto (1998) kriteria penilaian pengetahua dikelompokkan dalam persentase yaitu : Baik Cukup : Bila jawaban benar mencapai 75-100% dari seliruh pertanyaan. sedangkan umur semakin tua umur seseorang maka pengalaman akan semakin banyak. karena informasi-informasi yang baru akan disaring kira-kira sesuai tidak dengan yang ada dan agama yang dianut. Kultur yaitu budaya sangat berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan seseorang. termasuk didalamnya tentang ilmu. 2. Pengalaman. kalau positif akan menimbulkan sikap positif demikian sebaliknya (Green dalam Notoadmodjo. 4. tingkat pendidikan tinggi. 3. Pada hakikatnya pengetahuan merupakan segenap apa yang diketahui manusia tentang objek tertentu. Kurang : Bila jawaban benar mencapai kurang dari 56% dari seluruh pertayaan. BAB III METODEOLOGI PENELITIAN . 2003). maksudnya pendidikan yang tinggi pengalaman akan lebih luas. Bila pengetahuan pasien kurang membuat pasien tidak mengerti tentang prosedur tindakan yang akan dilakukan sehingga membuat pasien merasa lebih cemas dalam menghadapi operasi seksio sesarea. pengalaman disini berkaitan dengan umur dan pendidikan individu. Sosial ekonomi yaitu lingkungan sosial akan mendukung tingginya pengetahuan seseorang sedangkan bila ekonomi baik.

A. Tingkat kecemasan Pasien Pre Operasi v Tingkat Pendidikan v Pengetahuan Variabel Indevenden Variabel Devenden . kurangnya informasi yang benar tentang seksio sesarea serta tehnik operasi yang akan dijalani akan menambah kecemasan pasien dalam menjalani operasi seksio sesarea sehingga dapat memperburuk proses tindakan dan pemulihan setelah menjalani operasi pembedahan. B. Rancangan Penelitian dan Jenis Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian secara Deskriptif dengan menggunakan desain penelitian cross sectional yang merupakan rancangan penelitian dengan menggunakan pengukuran atau pengamatan pada saat bersamaan (sekali waktu) yang bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat kecemasan pasien pre operasi seksio sesarea ditijau dari tingkat pendidikan dan pengetahuan di Ruang Mawar RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu Tahun 2008. Kerangka Konsep Operasi seksio sesarea merupakan suatu tindakan medis yang dilakukan pada ibu hamil trisemester akhir.1.

Populasi Populasi adalah keseluruhan subject penelitian yang akan diteliti (Notoatmodjo. 1997). Berat : nilai 1929 Hasil Ukur a. 3 Pengetahuan Segala sesuatu yang Mengajukan Questioner diketahui oleh pertanyaan pasien tentang operasi seksio sesarea Ordi nal D. Pendidikan terakhir Mengajukan Questioner yang pernah diraih pertanyaan responden Ordi nal 0= Dasar (SD.C. Populasi dan Sampel 1. Definisi Operasional No Variabel 1 Tingkat Kecemasan Definisi Cara Ukur Alat Ukur Skala Ukur Ordi nal b. 1. Yunus Bengkulu. Populasi dalam penelitian ini pasien yang akan menjalani operasi seksio sesarea di ruang mawar RSUD Dr. Sedang : nilai 14-18 2 Tingkat Pendidikan Kondisi yang Melihat Ceklis mengambarkan lang perasaan takut terhadap proses sung operasi/pembedahan yang ingin dijalani pasien. M. Sampel . SLTP) 1= Menengah (SMA) 2= Tinggi (PT) 0= Kurang (bila jawaban benar 05) 1= cukup (bila jawaban benar 67) 2= baik bila jawaban 8-10).

1. dikumpulkan melalui lembar kuesioner dan ceheck list. 1. Teknik Pengolahan. observasi. M. dan tingkat kecemasan pasien pre operasi seksio sesarea. pengetahuan. M. 2. 1. Yunus Bengkulu. 1998). Yunus Bengkulu dari tanggal 28 Juni sampai dengan 12 Juli 2008. 3. E. dimana sampel yang menjadi objek penelitian adalah pasien yang akan menjalani operasi secsio sesarea di Ruang Mawar Dr. Jenis data . F. palpasi dan menggunakan angket dengan cara menyebarkan kuesioner pada pasien yang akan mejalani operasi seksio sesarea untuk menentukan tingkat pendidikan. palfasi dan menggunakan lembar kuisioner yang digunakan untuk memperoleh data. observasi. 1. Teknik Pengumpulan Data 1. Analisa dan Penyajian Data. Instrumen pengumpulan data Dalam penelitian ini instrumen yang digunakan yaitu Wawancara. Pengolahan data .Sampel adalah sebagian yang diambil dari populasi (Arikunto. Tempat Penelitian ini dilakukan di Instalasi Rawat Inap Ruang Mawar RSUD Dr. Dalam penelitian ini sampel yang diambil menggunakan tekhnik pengambilan data dengan Accident Sampling. 1. Waktu dan Tempat Penelitian 1. data yang dikumpulkan dalam penelitian ini diperoleh melalui wawancara. pengetahuan terhadap tingkat kecemasan. G.Data Primer yaitu data yang langsung didapat dari responden yang berisikan tentang pendidikan. Waktu Waktu penelitian ini dilakukan sejak tanggal 28 Juni sampai dengan 12 Juli 2008. Cara pengumpulan data Dalam upaya untuk mendapatkan data-data atau informasi yang jelas dan akurat.

Tabulasi data (Tabulating) Setelah dilakukan coding data. pendidikan dasar 0. baik 2. pengetahuan kurang 0. 2.com/2011/12/16/gambaran-tingkat-kecemasan-ditinjau-dari-tingkatpendidikan-dan-pengetahuan-pasien-pre-operasi-seksio-sesarea-di-ruang-mawar-rsud-dr-m-yunusbengkulu/ 222222222 . b. Pengkodean data (Coding) Coding adalah mengalokasikan jawaban-jawaban yang ada menurut macamnya kedalam bentuk yang lebih ringkas yang menggunakan kode-kode agar lebih mudah dan sederhana. Pengeditan datan (Editing) Langkah ini dilakukan peneliti untuk memeriksa kembali kelengkapan data yang diperlikan untuk mencapai tujuan penelitian dilakukan pengelompokan dan penyusunan data. c. berat 2. maka dilakukan tabulasi data dengan memberi skore pada masing-masing sub variabel. sedang 1. Analisa univariat untuk melihat distribusi.wordpress. tingkat kecemasan ringan 0. Analisa univariat untuk melihat distribusi frekuensi dari masing-masing variabel indevenden dan devenden dengan menggunakan rumus : P= Keterangan : P : Jumlah persentase yang dicari F : Jumlah frekuensi untuk setiap katagori n : Jumlah sampel http://kutaukomputer.Data yang dikumpulkan selanjutnya diolah dengan beberapa tahapan yaitu : a. cukup 1. Analisa Univariat analisa univariat yaitu seluruh variabel yang akan digunakan dalam analisa ditampilkan dalam distribusi frekuensi. menengah 1. tinggi 2. a. Analisa Data Dalam penelitian ini digunakan analisa univariat dan analisa bivariat.

2%.date. Analisa data yang dc.contributor.uri dc.7%.description Value Language en_US Tarigan.Untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi digunakan uji Spearman. Hasil penelitian diperoleh bahwa dukungan keluarga yang terbesar adalah kategori baik 53.contributor. dimana didapat nilai r = 0.abstract digunakan adalah statistik univariat dan statistik bivariat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruangan RB2 Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan.date.author dc. Besar sampel adalah 62 orang dengan metode pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Ruspina Jenita 2011-05-19T03:34:25Z 2011-05-19T03:34:25Z 2011-05-19 Fredo Hasugian http://repository. Untuk tingkat kecemasan kategori tertinggi adalah ringan 46.ac.identifier.description.01.issued dc.ac.id/handle/123456789/24606 091121032 Dukungan keluarga adalah sikap.usu.8% dan yang paling sedikit adalah kategori berat 24.2% dan paling sedikit adalah kategori kurang 17.398 dan nilai p = 0.id/handle/123456789/24606?mode=full 3333333333 .other dc.accessioned dc.date.usu.available dc.identifier.advisor dc. http://repository.Full metadata record DC Field dc.contributor. Anggota keluarga memandang bahwa orang yang bersifat mendukung selalu siap memberikan pertolongan dan bantuan jika diperlukan.advisor dc. Mula Sitohang. Kecemasan merupakan bagian dari kehidupan manusia yang ditandai dengan perasaan ketakutan atau kekhawatiran yang mendalam dan berkelanjutan. Desain penelitian yang digunakan adalah desain studi korelasional. Untuk peneliti keperawatan selanjutnya disarankan agar dapat melakukan pendidikan kesehatan dan memberikan motivasi kepada keluarga dalam memberikan dukungan pada pasien pre operasi untuk mengurangi tingkat kecemasan pasien pre operasi. tindakan dan penerimaan keluarga terhadap penderita yang sakit. Nur Asnah Nadeak.

Skripsi thesis. Universitas Muhammadiyah Surakarta. TAMPILKAN FULLTEXT PDF 62Kb Preview PDF Restricted to Repository staff only 1108Kb Official URL Abstract . PARYANTO (2009) PERBEDAAN TINGKAT KECEMASAN PASIEN PRE OPERATIF SELAMA MENUNGGU JAM OPERASI ANTARA RUANG RAWAT INAP DENGAN RUANG PERSIAPAN OPERASI RUMAH SAKIT ORTOPEDI SURAKARTA.PERBEDAAN TINGKAT KECEMASAN PASIEN PRE OPERATIF SELAMA MENUNGGU JAM OPERASI ANTARA RUANG RAWAT INAP DENGAN RUANG PERSIAPAN OPERASI RUMAH SAKIT ORTOPEDI SURAKARTA PARYANTO.

ums. Tingkat kecemasan diruang rawat inap rata-rata ringan yaitu skor 12. pembekaman. Kesimpulan. Sementara banyak manusia yang tidak menyadari bahwa Allah tidak pernah menciptakan manusia dengan ditinggalkan begitu saja. oleh karena itu berbagai kemungkinan buruk bisa terjadi yang akan membahayakan pasien.99 termasuk kategori sedang. Keinginan untuk terlepas dari segala macam penyakit inilah yang mendorong manusia untuk membuat upaya menyingkap berbagai metode pengobatan. namun perkembangan jenis penyakit juga tidak kalah cepatnya ber-regenerasi. Ansietas adalah keadaan suasana perasaan (mood) yang ditandai oleh gejala-gejala jasmaniah seperti ketegangan fisik dan kekhawatiran tentang masa depan.ac.6 % ). tahun 2007 : 4143 ( 8. Kecemasan timbul pada pasien pre operasi ketika menunggu jam operasi diruang rawat inap dan kondisi ini meningkat ketika pasien berada di ruang persiapan operasi. Hanya ada manusia yang mengetahuinya dan ada juga yang tidak mengetahuinya. yang diyakini berkhasiat menyembuhkan jenis penyakit tertentu. mulai dari mengkonsumsi berbagai jenis obat-obatan. Semua dilakukan dengan trial dan error. atau sistim pemijatan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan alat ukur yang digunakan adalah kuesioner Hamilton Rating Scale for Anxiety (HRS-A). baik berupa tumbuh-tumbuhan secara tunggal maupun yang sudah terkomposisikan. pasti Allah juga menciptakan obatnya.Kecemasan (ansietas) adalah respon psikologik terhadap stres yang mengandung komponen fisiologik dan psikologik. tahun 2006 : 3827 pasien ( 6. Dengan pengobatan yang tepat (tentunya berdasarkan pengetahuan .Dzikir. Teknologi medis boleh saja semakin modern dan canggih. R. maka Islam mengenal istilah do‟a dan keyakinan.000 dan probability value (r-value) sebesar 0. Soeharso Surakarta. Disinilah kekuatan Do‟a . Tindakan operasi atau pembedahan merupakan pengalaman yang bisa menimbulkan kecemasan.02 dan tingkat kecemasan di ruang persiapan operasi mencapai skor 17.2 % ) pasien dan pada tahun 2008 : 3827 pasien ( turun 2 % dibanding tahun 2007 ). '07 12:12 AM para Todos Dunia pengobatan semenjak dahulu selalu berjalan seiring dengan kehidupan umat manusia.Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian survey dengan rancangan penelitian Discriptive Comparative dan pengambilan sampel mengunakan Quota Sampling untuk memperoleh 94 responden.id/4455/ 444444 Meditasi dengan Al Qur‟an Sep 5. Metode. Setiap kali penyakit muncul. Karena sebagai mahluk hidup. hingga operasi pembedahan. jumlah tindakan bedah di IBS Rumah Sakit Ortopedi Prof DR R Soeharso Surakarta tahun 2005 : 3589 pasien. Namun tentu semua jenis pengobatan dan obat-obatan tersebut hanya terasa khasiatnya bila disertai dengan sugesti dan keyakinan. DR. Tujuan. Analisis statistik menggunakan Mann Whiney U Test. Data dari laporan tahunan Instalasi Bedah Sentral (2008). Uji Mann Whiney U Test diperoleh nilai koefisien Mann-Whitney U sebesar 2505.000 pada tingkat signifikansi 5% berarti terbukti ada perbedaan tingkat kecemasan pasien pre operatif selama menunggu jam operasi antara ruang rawat inap dengan ruang persiapan operasi di Rumah Sakit Ortopedi Surakarta dengan signifikansi . http://etd. Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan tingkat kecemasan pasien pre operatif selama menunggu jam operasi diruang rawat inap dengan ruang persiapan operasi Instalasi Bedah Sentral di Rumah Sakit Ortopedi Prof. manusia amatlah akrab dengan berbagai macam penyakit ringan maupun berat.eprints.

esp. Kata „meditasi‟ [meditation] didefinisikan sebagai “praktek berpikir secara mendalam dalam keheningan. Dalam Alkitab bahasa Inggris perkataan tsb diterjemahkan sebagai Meditation. you give your attention to one thing. or the product of this activity. sehingga terjadi tumpang tindih dan tidak dapat dibedakan secara tegas antara „meditasi‟ dan „kontemplasi‟. terutama untuk alasan keagamaan atau untuk membuat batin tenang. tetapi kata meditasi itu lebih dikenal dengan nama samedi yang diserap dari bahasa Sansekerta. yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. „meditasi‟ adalah “pemusatan perhatian pada suatu obyek batin secara terusmenerus. tafakur (meditasi). dosis obat yang sesuai disertai doa dan keyakinan. Pada dasarnya. PENGERTIAN MEDITASI Perkataan Meditasi itu sendiri diserap dari bahasa Latin. seperti sholat. Tetapi kalau dikaji secara lebih mendalam dan dipraktekkan. . psikologis dan non medis. Untuk mengatasinya bisa dengan latihan meditasi. Jadi bermeditasi adalah memusatkan pikiran dan perasaan untuk mencapai sesuatu. Jadi jelas meditasi itu sebenarnya baik bagi kesehatan. akan ternyata bahwa di dalam „meditasi‟ justru proses berpikir berhenti untuk sementara. and do not think about anything else. dzikir.” (Oxford Advanced Learner‟s Dictionary). adalah pemusatan pikiran dan perasaan untuk mencapai sesuatu. seperti kanker. Meditation is serious thought or study. Sedangkan pengertian meditasi dalam kamus Cambridge International Dictionary of English. Ini hampir sama dengan „kontemplasi‟ yang didefinisikan secara persis sama. Meditasi adalah latihan konsentrasi yang dapat digunakan untuk mempertajam tehnik dan meningkatkan kepekaan terhadap suasana sekitar. Bahwa untuk mengatasi kekecewaan.” Memang ada obyek-obyek meditasi tertentu yang berupa pikiran atau ide/konsep. tidak ada penyakit yang tidak bisa disembuhkan terkecuali maut. either as a religious activity or as a way of becoming calm and relaxed: prayer and meditation. kita harus mencari sumbernya dulu yaitu pikiran.dan pengalaman puluhan tahun). praktik-praktik sufi. Dibalik praktik-praktik sufi tersebut. kerusakan kromosom/ DNA. strooke. adalah: Meditate is to think seriously (about something). ternyata tidak sekedar ritual-ritual tanpa makna. Meditasi. Belajar meditasi merupakan bagian dari latihan mengendalikan pikiran. tersimpan potensi-potensi penyembuhan bagi penyakit. Dalam bahasa Indonesia. for a long time · if you meditate. Dalam kamus yang bersifat umum ini. samadhi yang juga disebut dhyana atau pranayama. „meditasi‟ dianggap sebagai proses „berpikir‟. Merujuk pada praktek-praktek agung tasawuf praktis. Samedi itu artinya meditasi dalam bahasa Sangsekerta atau dalam bahasa Ibrani = hagah. usually as a religious activity or as way calming or relaxing your mind. meditatio yang berarti merenungkan dan juga berakar dari kata Mederi (kesehatan) dari kata ini pula diserap kata medisin. Meditation is also the act of giving your attention to only one thing.penyakit yang tidak bisa disembuhkan oleh kedokteran modern. dan jenis-jenis penyakit emosional.

Meditasi dapat didefinisikan sebagai suatu aktivitas yang mengakibatkan hubungan erat beberapa orang dengan Tuhan.Dengan demikian. oleh karena pemahaman itu melibatkan seluruh aspek diri (kognitif. Tidak dianjurkan bagi anda untuk berada dalam keadaan kosong seratus persen karena ini mungkin dapat membiarkan masuknya kekuatan dari luar yang dapat mengganggu. meditasi adalah cara lain untuk memahami diri. pemahaman melalui introspeksi kebanyakan hanya bersifat kognitif saja. tidak berbentuk. dan beristirahat/ berhenti pada pokok yang dipilih. Kita meditasi pada yang abstrak. Justru pemahaman yang diperoleh dari meditasi jauh lebih tepat dan sesuai dengan keadaan sebenarnya dibandingkan dengan pemahaman dari introspeksi yang dipengaruhi oleh kebiasaan-kebiasaan pikiran yang tidak disadari sehingga memberikan hasil yang bias. tidak juga mempunyai kwalitas atau lambang-lambang. tidak bernama. konsentrasi adalah sebuah upaya keras (baca: dipaksa) untuk memusatkan pada sesuatu. meskipun keduanya dalam pelaksanaannya berhubungan. Sebagaimana namanya pemusatan perhatian. Pengertian konsentrasi ialah untuk memahami dan menguasai pikiran-perasaan sehingga ia tidak lagi menanggapi dengan kacau terhadap suatu peristiwa. Dalam ajaran Budha terdapat sebuah tahapan meditasi. volisional. Jadi. tidaklah kosong sama sekali. dalam keadaan tenang. Karena Yang Tertinggi tidak mempunyai bentuk dan tidak mempunyai nama. Meditasi tingkat tinggi biasanya mengajarkan untuk memusatkan perhatian ke cakra mahkota untuk menerima lebih banyak kekuatan spiritual. Perbedaan Konsentrasi dan Meditasi Terdapat perbedaan jelas antara konsentrasi dan meditasi. Dan ada juga yang mengartikan bahwa meditasi adalah sebuah pelatihan yang menggunakan pikiran untuk tujuan mengatur pikiran dengan usaha kita. hal ini dianggap bukanlah bagian/tahapan meditasi. Latihan-latihan konsentrasi adalah suatu pendidikan kembali mengenai tekniknya pikiranrendah. Di samping itu. sehingga ia menurut perintahnya sang Pribadi. perhatian anda tertunjukkan pada sesuatu. Ada juga yang memberi pengertian bahwa meditasi yang sering kita dengar mempunyai pengertian yaitu: sikap menenangkan pikiran dengan cara-cara tertentu di mana pikiran kita sampai menemukan sensasi-sensasi sehingga menimbulkan rasa damai dalam hati untuk mencapai ketenangan jiwa (ruhani). Di lain pihak. atau ke antara alis mata untuk membangkitkan mata spiritual.pemahaman diri yang diperoleh dari meditasi bersifat transformatif (mengubah). MANFAAT MEDITASI . Pemusatan perhatian tidaklah berarti anda kosong. dan menghentikan sifatnya yang bergerak kian kemari dan tidak menentu. Sedangkan tujuan meditasi ialah melatih pikiran. afektif. ataupun ke cakra jantung untuk memberikan lebih banyak kekuatan kepada roh. sehingga pokok-caranya dapat membukakan kesadaran yang sedang bermeditasi akan arti makna yang lebih luas dan dalam. yaitu Dharana yang berarti pemusatan perhatian tanpa paksaan. lebih baik pada hal yang mengandung arti yang dalam dan rohaniah. sehingga biasanya tidak banyak perubahan yang terjadi. yang berbeda dengan introspeksi. dsb). Atau dengan kata lain.

Dalam latihan Meditasi Islam. Meditasi ada dua macam. AGAMA DAN MEDITASI Meditasi bukan hanya dikenal oleh agama yang berasal dari India & Tiongkok saja bahkan hampir disemua agama mereka mempraktekan meditasi. Juga daya fikir bertambah kuat dan tajam. Meditasi bisa mengurangi kecemasan telah diselidiki oleh tokoh-tokoh sarjana Barat.Menurut ajaran Buddhis. Meditasi dalam agama Yahudi dikenal dengan nama hitbonenut ini bisa dibaca di Kabbalah sedangkan bangsa Yunani kuno mengenal meditasi dengan nama “Gnothi se auton” = “mengenal diri sendiri”. Menurut kepercayaan orang India/Hindu. Tetapi kajian di barat juga telah membuktikan 33% hingga 50% mereka yang melakukan meditasi tanpa teknik yang betul akan mengalami peningkatan dalan tekanan darah. namun untuk peningkatan rohani. perkara yang harus diperhatikan ialah bagaimana mereka dapat menemukan makna dan tujuan hidup yang memberikan sense of direction. yaitu meditasi duduk dan meditasi gerak (Tai-Chi). pastikan anda dilatih oleh mereka benar-benar mahir dan berpengalaman serta mampu memberi penjelasan untuk setiap keadaan. keheningan dan kejernihan pikiran. maupun dengan alat-alat apapun. dan kemudian pada penyelidikan Transcendental Meditation. antara lain untuk penyembuhan penyakit. justeru dapat mengatasi pelbagai masalah serta meningkatkan produktivitas dan meningkatkan kesehatan. fikiran tetap terjaga dengan baik dan senantiasa terkontrol. stress. seperti pada penyelidikan Zen Meditation. Meditasi ini juga sering dipraktikkan oleh Nabi Muhammad SAW ketika . dan menganjurkan kepada para pelakunya agar tidak terlalu melakukan konsentrasi. Teknik seperti itu akan menyegarkan dan membuat orang relaks. dengan demikian membuahkan jasmani dan rohani yang selalu jernih dan segar. Unsur-unsur gaib itu berupa zat yang sangat halus sebagai inti dari segala zat yang menjadi roh dari alam. membawa pada kecerdasan otak. Cara mendapatkan zat gaib atau prana tadi ialah dengan jalan pernafasan yang diatur dengan irama tertentu. kemurungan serta mudah marah. bahwa di udara bebas ini terdapat unsu-unsur gaib yang bersatu dengan zat asam (oksigen). Zat ini mempunyai tenaga gaib yang amat berkuasa untuk berbagai macam kepentingan. Latihan meditasi dengan pemusatan fikiran pada pernafasan disebut Anaspanasati.yaitu usaha intensif untuk memfokuskan pikiran pada mantra. Zat inilah yang mereka beri nama Prana. Maka jika anda benar-benar ingin mendalami meditasi. konsentrasi tetaplah sangat perlu . yang menurut kepercayaan mereka sesuai dengan irama gerakan alam. Dengan metode ini. meditasi adalah suatu cara untuk mengembangkan bathin menuju taraf kesempurnaan yang selanjutnya menjadi dasar dari kebijaksanaan. Meditasi duduk ini sebenarnya sudah diperkenalkan oleh Islam jauh sebelum Sidharta Gauthama lahir melalui ajaran Budhi Dharma. Beberapa cara meditasi melibatkan pengulangan suara tertentu secara internal. Tujuan dari meditasi ini adalah kesunyian yang indah. Zat tersebut sedemikian halusnya hingga tak dapat ditanggapi dengan panca indera.

yang pada saat itu disebut dengan berkhalwat dan tahannuts. ketika menghadapi masalah yang menimpa diri dan umatnya. Beliau melakukan meditasi di Gua Hira. Ingatlah. Ar Ra’d/13: 28) Menurut para ahli tafsir bahwa nama lain dari Al Qur‟an yaitu “Asysyifâ” yang artinya secara Terminologi adalah Obat Penyembuh. Tetapi dijadikan tempat untuk mengoreksi ayat-ayat Alqur‟an yang telah diterimanya. Seperti halnya meditasi duduk.” (QS. Al Qur’an dan Kesehatan Arti Qur‟an menurut pendapat yang paling kuat seperti yang dikemukakan Dr. Kata Alqur‟an itu berbentuk masdar dengan arti isim maf‟ul yaitu maqru` (dibaca).sebelum dan sesudah diangkat menjadi Nabi dan Rasul. “Hai manusia. yang merupakan mu‟jizat yang diturunkan (diwahyukan) kepada nabi Muhammad saw. Maka.” (QS. Al Isra/17: 82) “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Gua Hira bukanlah tempat bertahannuts seperti yang dilakukan beliau sebelum diangkat menjadi Rasul. hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tentram. dan ditulis di mushaf dan diriwayatkan dengan mutawatir serta membacanya adalah ibadah. ia balik ke kota. mendakwahkan ajaran-ajaran.” (QS. meditasi gerak juga sudah ada dalam ajaran Islam yaitu dalam bentuk gerakan shalat. menikmati meditasi yang soliter. Adapun definisi Alqur‟an adalah: “Kalam Allah swt. Setelah nabi mendapat wahyu pada 610 M. asal kata qara`a. “Dan kami menurunkan Al Qur’an sebagai penawar dan Rahmat untuk orang-orang yang mu’min. dia tidak terus tinggal di sana. Pada saat selanjutnya. ISLAM DAN MEDITASI Salah satu fase penting yang secara simbolik sering disebut sebagai mencerminkan corak misi yang dibawa oleh Nabi Muhammad adalah saat dia bertahannuts atau melakukan meditasi di Hira. sebuah gua di luar kota Mekah. Yunus/10: 57) . sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. dan melakukan apa yang dalam istilah sekarang disebut sebagai transformasi sosial.” Banyak ayat Al Qur‟an yang mengisyaratkan tentang pengobatan karena AlQur‟an itu sendiri diturunkan sebagai penawar dan Rahmat bagi orang-orang yang mukmin. Subhi Al Salih berarti „bacaan‟. telah datang kepadamu kitab yang berisi pelajaran dari Tuhanmu dan sebagai obat penyembuh jiwa. Sebaliknya. menjauhkan diri dari masyarakat. Nabi saw pergi ke gua Hira hanya untuk bertemu dengan malaikat Jibril dengan tujuan tasmi? (memperdengarkan) hafalan Alqur‟an beliau dihadapan Jibril.

Dan keutamaannya Kalam Allah daripada seluruh kalam selain-Nya. CV. malaikat menaungi mereka dan Allah menyebut-nyebut mereka pada makhluk yang ada di sisi-Nya”. “Terdapat beberapa hal yang dapat menyebabkan seseorang kuat ingatan atau hafalannya. Jalaluddin. mereka diliputi dengan rahmat. . An-Nahl 16: 69) Berdasarkan keterangan tadi. Muslim) “Hendaklah kamu menggunakan kedua obat-obat: madu dan Alqur’an” (HR. Di antaranya. At Turmudzi) “Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah (masjid) Allah. Banyak pula hadits Nabi yang menerangkan tentang keutamaan membacanya dan menghafalnya atau bahkan mempelajarinya. (QS. terj. korma. serta tempuhlah jalan-jalan yang telah digariskan tuhanmu dengan lancar. dan memohon kepada-Ku. cet. anggur dan buahbuahan lain selengkapnya. dapat dipastikan bahwa orang yang membaca Alqur‟an akan merasakan ketenangan jiwa.Di samping Al Qur‟an mengisyaratkan tentang pengobatan juga menceritakan tentang keindahan alam semesta yang dapat kita jadikan sebagai sumber dari pembuat obat. “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Alqur’an dan mengajarkannya. Al Qur‟an sebagai Penyembuh (Alqur‟an asy Syâfî). Surya Angkasa Semarang. Walaupun tidak dibarengi dengan data ilmiah. dan membaca Alquran sambil melihat kepada mushaf”. sesungguhnya pada hal-hal yang demikian terdapat tanda-tanda Kekuasaan Allah bagi orang-orang yang mau memikirkan”. kecuali turun kepada mereka ketentraman. seperti zaitun. sebuah kitab yang mengupas tata krama mencari ilmu berkata. 1995). Ibnu Majah dan Ibnu Mas’ud) Dan masih banyak lagi dalil yang menerangkan bahwa berbagai penyakit dapat disembuhkan dengan membaca atau dibacakan ayat-ayat Alqur‟an (lihat Assuyuthi. Achmad Sunarto. Semarang. Di alamnya terdapat tandatanda Kekuasaan Allah bagi orang-orang yang mau memikirkan”. (QS. seperti keutamaan Allah atas makhluk-Nya. I.” (HR.obatan. menyedikitkan makan. An-Nahl 16:11) “Dan makanlah oleh kamu bermacam-macam sari buah-buahan. Selanjutnya ia berkata.” (HR Bukhori) “Siapa saja yang disibukkan oleh Alqur’an dalam rangka berdzikir kepada-Ku. membiasakan melaksanakan ibadah salat malam. mereka membaca Alqur’an dan mempelajarinya. “Dia menumbuhkan tanaman-tanaman untukmu. “Tak ada lagi bacaan yang dapat meningkatkan terhadap daya ingat dan memberikan ketenangan kepada seseorang kecuali membaca Alqur‟an”. (HR. Dari perut lebah itu keluar minuman madu yang bermacam-macam jenisnya dijadikan sebagai obat untuk manusia. Syaikh Ibrahim bin Ismail dalam karyanya Ta‟lim al Muta‟alim halaman 41. niscaya Aku akan berikan sesuatu yang lebih utama daripada apa yang telah Aku berikan kepada orang-orang yang telah meminta.

dapat merasakan perubahan fisiologis yang sangat besar. simaklah dengan baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat” (Q. Kesimpulan hasil uji coba tersebut diperkuat lagi oleh penelitian Muhammad Salim yang dipublikasikan Universitas Boston.S. bayi yang berusia 48 jam yang kepadanya diperdengarkan ayat-ayat Alquran dari tape recorder menunjukkan respons tersenyum dan menjadi lebih tenang. menangkal berbagai macam penyakit merupakan pengaruh umum yang dirasakan orang-orang yang menjadi objek penelitiannya. Kelima orang tersebut sama sekali tidak mengerti bahasa Arab dan mereka pun tidak diberi tahu bahwa yang akan diperdengarkannya adalah Alqur‟an. berhasil membuktikan hanya dengan mendengarkan bacaan ayat-ayat Alquran. kesedihan. Selain menjadi ibadah dalam membacanya. Nurhayati dari Malaysia dalam Seminar Konseling dan Psikoterapi Islam di Malaysia pada tahun 1997. suatu yang menjadi penawar (obat) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Alquran itu tidaklah menambah kepada orangorang yang zalim selain kerugian” (Q. Penelitian yang dilakukan sebanyak 210 kali ini terbagi dua sesi. bacaan Alquran lebih dari itu. melalui penelitiannya yang panjang dan serius di Klinik Besar Florida Amerika Serikat. Mahabenar Allah yang telah berfirman. . baik mereka yang berbahasa Arab maupun bukan. “Dan apabila dibacakan Alquran. Penurunan depresi. yakni membacakan Alquran dengan tartil dan membacakan bahasa Arab yang bukan dari Alqur‟an. kita memiliki Alquran. Al Qadhi. Sungguh suatu kebahagiaan dan merupakan kenikmatan yang besar. Penelitiannya ditunjang dengan bantuan peralatan elektronik terbaru untuk mendeteksi tekanan darah. Hal tersebut diungkapkan Dr. Alquran memberikan pengaruh besar jika diperdengarkan kepada bayi. “Dan Kami telah menurunkan dari Alquran.S. Dari hasil uji cobanya ia berkesimpulan. memperoleh ketenangan jiwa. Objek penelitiannya terhadap 5 orang sukarelawan yang terdiri dari 3 pria dan 2 wanita. responden mendapatkan ketenangan sampai 65% ketika mendengarkan bacaan Alquran dan mendapatkan ketenangan hanya 35% ketika mendengarkan bahasa Arab yang bukan dari Alqur‟an. bacaan Alquran memengaruhi kecerdasan spiritual (SQ). bacaan Alquran berpengaruh besar hingga 97% dalam melahirkan ketenangan jiwa dan penyembuhan penyakit.Dr. Kesimpulannya. disebutkan. Penemuan sang dokter ahli jiwa ini tidak serampangan. ketahanan otot. Penelitian Dr. dan ketahanan kulit terhadap aliran listrik. Atau juga.17:82). Alquran terbukti mampu mendatangkan ketenangan sampai 97% bagi mereka yang men dengarkannya. Al Qadhi ini diperkuat pula oleh penelitian lainnya yang dilakukan oleh dokter yang berbeda. Menurut penelitiannya. Selain memengaruhi IQ dan EQ. Jika mendengarkan musik klasik dapat memengaruhi kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosi (EQ) seseorang. seorang Muslim. Dalam laporan sebuah penelitian yang disampaikan dalam Konferensi Kedokteran Islam Amerika Utara pada tahun 1984. bacaannya memberikan pengaruh besar bagi kehidupan jasmani dan rohani kita. detak jantung. 7: 204).

ahsan alhadits. “Dan apabila dibacakan Alqur’an. memperhatikan dan berdekatan dengannya ialah bahwasanya Alqur‟an itu dibaca di sisi orang yang sedang menderita sakit sehingga akan turun rahmat kepada mereka. maka dengarkanlah baik-baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat. Allah saw menjelaskan. berita-berita kabar gembira bagi orang yang beriman dan beramal sholeh. Maka. dan mendengarkannya. dan berita-berita ancaman bagi mereka yang tidak beriman dan atau tidak beramal sholeh. salah satu unsur yang dapat dikatakan meditasi dalam Alquran adalah. Membaca Alqur‟an harus tanpa nafas .” (QS. 13: 28). Platonov telah membuktikan dalam eksperimennya bahwa kata-kata sebagai suatu Conditioned Stimulus (Premis dari Pavlov) memang benar-benar menimbulkan perubahan sesuai dengan arti atau makna kata-kata tersebut pada diri manusia. Relaksasi Aspek Waqof Alqur‟an adalah sebuah kitab suci yang mempunyai kode etik dalam membacanya. kata-kata yang digunakan adalah tidur. Zakiah Daradjat mengatakan bahwa sembahyang. namun Alqur‟an menyebut dirinya sebagai „penyembut penyakit‟. Kesembuhan menggunakan Alqur‟an dapat dilakukan dengan membaca. tidur dan memang individu tersebut akhirnya tertidur. Membaca Alqur‟an tidak seperti membaca bacaan-bacaan lainnya. berdekatan dengannya. Unsur Meditasi Al Qur’an Kitab ini. Pikiran dan tubuh dapat berinteraksi dengan cara yang amat beragam untuk menimbul kan kesehatan atau penyakit. do‟a-do‟a dan permohonan ampun kepada Allah. Membaca. psikologis. dan kedua. yang dalam istilah Alqur‟an sendiri. “Ingatlah. mendengar. semuanya merupakan cara-cara pelegaan batin yang akan mengembalikan ketenangan dan ketentraman jiwa kepada orang-orang yang melakukannya. tentu saja bukanlah sebuah buku sains ataupun buku kedokteran. Banyak sekali nasihat-nasihat. pertama. hanya dengan berdzikir kepada Allah-lah hati menjadi tentram” (Q. Kata-kata yang penuh kebaikan sering memberikan efek auto sugesti yang positif dan yang akan menimbulkan ketenangan. dan fisik. yang oleh kaum Muslim diartikan bahwa petunjuk yang dikandungnya akan membawa manusia pada kesehatan spiritual. alqur‟an berisikan ucapan-ucapan yang baik.Atau.S. Aspek Auto Sugesti Alqur‟an merupakan kitab suci umat Islam yang berisikan firman-firman Allah. adalah hukum.ukum bacaan yaitu waqaf. auto sugesti. Al A’raf: 204) Menurut hemat penulis. Pada eksperimen Plotonov.

Jadi bagaimanapun kemampuan mereka bernafas mereka boleh membaca Alqur‟an. 2. baik di akhir ayat maupun di tengah ayat dan disertai nafas. Mad Muttashil. bisa dikategorikan dalam bagian-bagian waqaf. 3. yaitu apabila terdapat mad bertemu dengan hamzah dalam satu kalimat. dalam ilmu tajwid. Waqof artinya berhenti di suatu kata ketika membaca Alqur‟an. Adapula beberapa penekanan nafas dalam membaca Alqur‟an. maka hukumnya haram. Indonesia adalah negara yang mayoritas umat Islam menerapkan hukum-hukum membaca Alqur‟an menurut Rowi. Cara membaca hukum ini adalah 4 harakat. Jika si pembaca berhenti pada tempat yang tidak semestinya maka dia harus membaca ulang kata atau kalimat sebelumnya. baik anak kecil. Cara membaca hukum ini adalah 2 harakat. Hafsh.dalam pengertian sang pembaca harus membaca dengan sekali nafas hingga kalimat-kalimat tertentu atau hingga tanda-tanda tertentu yang dalam istilah ilmu tajwid dinamakan waqaf. Mad Munfashil. Waqaf dalam Alquran > Tanda awal atau akhir ayat > Tanda awal atau akhir surat > Tanda-tanda waqaf Kemampuan nafas pembaca Siapa saja bisa boleh membaca Alqur?an. Mad Badal. Jadi cara membaca Alqur‟an itu bisa disesuaikan dengan tanda-tanda waqaf dalam Alqur‟an atau disesuaikan dengan kemampuan si pembaca dengan syarat bahwa bacaan yang dibacanya tidak berubah arti atau makna. muda maupun tua. kedudukannya tidak dihukumi wajib syar‟i bagi yang melanggarnya. yang telah berguru kepada imam „Ashim. Adapun hukumhukum bacaan mad dalam ilmu Tajwid menurut Rowi Hafsh adalah: 1. Walaupun jika berhenti dengan sengaja pada kalimat-kalimat tertentu yang dapat merusak arti dan makna yang dimaksud. Waktu Meditasi dengan Alqur’an . yaitu apabila terdapat mad bertemu dengan hamzah dalam kalimat yang terpisah. Berhenti berdasarkan kemampuan nafas pembaca. yaitu apabila terdapat hamzah yang berharakat bertemu dengan huruf mad yang sukun. Penekanan-penekanan tersebut dalam ilmu tajwid dinamakan mad. baik pria maupun wanita selagi mereka dalam keadaan suci atau berwudlu. Mengikuti tanda-tanda waqof yang ada dalam Alqur‟an. Cara baca hukum ini 4 harakat.

Allah telah memilih waktu-waktu malam dan siang.“ 2. „Waktu-waktu pilihan yang paling utama untuk membaca Alqur‟an ialah dalam sholat. Allah telah memilih zaman.multiply. maka negeri-negeri yang lebih dicintai Allah ialah negeri al Haram (Mekkah). Allah telah memilih kalam-kalam (perkataan). maka waktu yang lebih dicintai Allah ialah waktu-waktu sholat yang lima waktu.” (QS. ia berkata: “Allah telah memilih negeri-negeri. Waktu-waktu tersebut adalah: 1. cara membacanya maupun http://musiconlinecairo. Allah menegaskan. Ali Imron 3:113) Waktu malam ini pun dibagi menjadi 2: > antara waktu Maghrib dan Isya > bagian malam yang terakhir 3. Setelah Subuh Sebagai penutup mudah-mudahan ini merupakan langkah awal untuk bisa lebih membuktikan unsur-unsur kesehatan dari Alqur‟an.‟ Al Baihaqi meriwayatkan dalam asy Syu‟ab dari Ka‟ab r. maka zaman yang lebih dicintai Allah ialah bulan-bulan haram.a. maka kalam yang dicintai Allah adalah lafadz „La ilâha illallâh wallâhu akbar wa subhanallâhi wal hamdulillâh.Pada hakikatnya tidak ada waktu yang makruh untuk membaca/meditasi Alqur‟an. Dalam sholat An-Nawawi berkata. maka hari yang lebih dicintai Allah ialah hari Jum?at. Hari-hari bulan Dzulhijjah yang lebih dicintai Allah ialah sepuluh hari yang pertama. baik makna-maknanya. Dan bulan yang lebih dicintai Allah ialah bulan dzulhijjah. mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari. hanya saja memang ada beberapa dalil yang menerangkan bahwa ada waktu-waktu yang lebih utama dari waktu-waktu yang lainnya untuk membaca Alqur‟an. “Di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus.com/journal/item/34 55555 . Malam-malam yang lebih dicintai Allah ialah malam Qadar. Malam hari Waktu-waktu yang paling utama untuk membaca Alqur‟an selain waktu sholat adalah waktu malam. sedang mereka juga bersujud (sholat). Allah telah memilih hari-hari.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->