11111

Perbedaan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Preoperasi Sebelum Dan Sesudah Diberikan Terapi Musik Di Bangsal Bedah RS XX
Posted on 8 September 2011 by grahacendikia Kecemasan adalah keadaan yang tidak mengenakan dan tidak merasa nyaman yang terjadi di kehidupan sehari-hari yang juga dapat terjadi pada seseorang yang akan menjalani operasi. Dalam studi pendahuluan di Rumah Sakit Daerah XX pada bulan April 2011 didapatkan data bahwa, dari 10 orang pasien yang akan dilakukan operasi dengan General Anastesi, ternyata kurang lebih 60% mengalami kecemasan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan tingkat kecemasan pasien preoperasi sebelum dan sesudah diberikan terapi musik di Bangsal Bedah RS XX. Penelitian ini merupakan penelitian Quasi Eksperiment dengan pendekatan potong lintang (cross sectional). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasein preoperasi yang berada di bangsal bedah RS XX selama kurun waktu bulan Juli sampai Agustus 2011. Teknik sampel yang digunakan adalah convinience sampling dengan jumlah sampel yang diambil sebanyak 30 orang. Hasil penelitian ini diperoleh tingkat kecemasan pasien preoperasi sebelum dilakukan terapi musik di RS XX sebagian besar adalah tingkat kecemasan sedang yaitu sebanyak 21 orang (70%). Tingkat kecemasan pasien preoperasi sesudah dilakukan terapi musik di RSD sebagian besar adalah tingkat kecemasan ringan yaitu sebanyak 20 orang (66,7%). Berdasarkan uji Wilcoxon diketahui nilai p = 0,0005 (p<0,05) menunjukkan adanya perbedaan sangat signifikan antara tingkat kecemasan pasien preoperasi sebelum dan sesudah diberikan terapi musik di RS XX. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terapi musik dapat menurunkan tingkat kecemasan pada pasien yang akan menjalani operasi.
http://grahacendikia.wordpress.com/2011/09/08/perbedaan-tingkat-kecemasan-pada-pasienpreoperasi-sebelum-dan-sesudah-diberikan-terapi-musik-di-bangsal-bedah-rs-xx/ 222222222222

HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN KECEMASAN PADA PASIEN PRE OPERASI Undergraduate Theses from JIPTUMM / 2002-09-01 08:53:00 Oleh : FERLINA INDRA S.(99010074), Nursing Academy Dibuat : 2002-10-30, dengan 1 file Keyword : hubungan pasien Latar Belakang:Persiapan pra bedah penting sekali untuk memperkecil resiko operasi, karena hasil akhir suatu pembedahan sangat bergantung pada penilaian keadaan penderita dan persiapan pra bedah yang telah dilakukan, dari hasil penelitian didapatkan sekitar 80% dari semua pasien yang menjalani pembedahan,mengalami kecemasan.Tujuan Penelitian:Untuk mengetahui ada

atau tidaknya hubungan pengetahuan dengan kecemasan pada pasien pre operasi.Metode Penelitian:Metode yang digunakan adalah korelasional dengan sampel 20 orang.Pengambilan sampel dengan total populasi Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Pengumpulan data dimulaidaripersiapan, pelaksanaan dan pengambilan data. Dalam pengolahan data digunakan prosentase yang selanjutnya dianalisa dengan menggunakan chi-square.Dari hasil analisa data didapatkan hasil x2 tabel =1,82 dan x2 (0,05)(1) =1,sehingga didapatkan keputusan analisa x2 hitung < x2(0,05)(1) .Kesimpulan Ho diterima dan HI ditolak,ini berarti tidak ada hubungan pengetahuan pengetahuan dengan kecemasan pada pasien pre operasi.Hal ini bisa dipengaruhi banyak hal antara lain waktu penelitian,pemilihan sampel,dan lingkungan rumah sakit. Deskripsi Alternatif : Latar Belakang:Persiapan pra bedah penting sekali untuk memperkecil resiko operasi, karena hasil akhir suatu pembedahan sangat bergantung pada penilaian keadaan penderita dan persiapan pra bedah yang telah dilakukan, dari hasil penelitian didapatkan sekitar 80% dari semua pasien yang menjalani pembedahan,mengalami kecemasan.Tujuan Penelitian:Untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan pengetahuan dengan kecemasan pada pasien pre operasi.Metode Penelitian:Metode yang digunakan adalah korelasional dengan sampel 20 orang.Pengambilan sampel dengan total populasi Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Pengumpulan data dimulaidaripersiapan, pelaksanaan dan pengambilan data. Dalam pengolahan data digunakan prosentase yang selanjutnya dianalisa dengan menggunakan chi-square.Dari hasil analisa data didapatkan hasil x2 tabel =1,82 dan x2 (0,05)(1) =1,sehingga didapatkan keputusan analisa x2 hitung < x2(0,05)(1) .Kesimpulan Ho diterima dan HI ditolak,ini berarti tidak ada hubungan pengetahuan pengetahuan dengan kecemasan pada pasien pre operasi.Hal ini bisa dipengaruhi banyak hal antara lain waktu penelitian,pemilihan sampel,dan lingkungan rumah sakit.
http://digilib.itb.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jiptumm-gdl-s1-2002-ferlina-5477-2002 3333333333

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT KECEMASAN PADA PASIEN PRE OPERASI APENDIKTOMI DI BANGSAL BEDAH BRSD RAA SOEWONDO PATI
Posted: Maret 22, 2011 in Keperawatan (S1)

0

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perawat mempunyai kontak paling lama dalam menangani persoalan klien (pasien) dan peran perawat dalam upaya penyembuhan klien menjadi sangat penting. Seorang perawat dituntut bisa mengetahui kondisi dan kebutuhan pasien.Termasuk salah satunya dalam mengendalikan kebutuhan emosi diri pasien, terutama pada pasien pre operasi dan post operasi. Seperti yang dikemukakan oleh perkumpulan dokter spesialis indonesia, bahwa tindakan operasi dapat menaikkan tingkat kecemasan pasien dan meningkatkan hormon pemicu stress (Ibrahim, 2006). Perawat profesional sebagai tenaga kesehatan yang dalam tugas pokoknya adalah memenuhi kebutuhan dasar klien harus mampu merespon dan bersikap secara profesional dalam mengendalikan kebutuhan emosi pasien. Karena perawat merupakan tenaga profesional terbesar dalam struktur ketenagaan rumah sakit yang akan ikut mewarnai mutu pelayanan kesehatan (Gillies, 1995). Perawatan pre operasi yang efektif dapat mengurangi resiko post operasi, salah satu prioritas keperawatan pada periode ini adalah mengurangi kecemasan pasien. Cemas merupakan reaksi normal terhadap ancaman pembedahan. Orang yang sangat cemas dan mencoba menyesuaikan diri dengan kecemasan sebelum operasi sering kali menderita kesukaran pada pasca operasi. Mereka cenderung banyak marah, kesal, dan bingung (Ellis dan Nowlis,1994). Tindakan pembedahan seringkali menjadi ancaman potensial atau aktual bagi integritas seseorang. Hal ini disebabkan tindakan pembedahan dapat membangkitkan reaksi stress baik fisiologis maupun psikologis. Setiap klien berbeda pandangan dalam menanggapi tindakan bedah atau operasi sehingga responnya berbeda-beda pula. Pada respon fisiologis ada tindakan langsung dengan bedah, karena tindakan bedah merupakan stresor pada tubuh. Respon ini terdiri dari sistem saraf simpati dan respon hormonal yang bertugas melindungi tubuh dari ancaman cidera. Bila stress terhadap sistem cukup gawat atau kehilangan darah cukup banyak, tubuh akan terlalu banyak beban dan terjadi shock. Sedangkan respon psikologi secara umum berhubungan dengan adanya ketakutan terhadap anestesia, diagnosis yang belum pasti, keganasan, nyeri, ketidakmampuan dan cerita dari orang lain (Long,1996). Operasi apendiktomi termasuk salah satu tindakan pembedahan yang juga dapat membangkitkan reaksi stress pada pasien. Karena pasien yang mengalami proses peradangan apendiktomi harus dilakukan operasi ( Martius, 1990). Apendiktomi begitu sering dijumpai sehingga lebih dari 50 persen kasus dari operasi abdomen akut yang dirawat di rumah sakit adalah peradangan apendiks (Cope, 1991). Hal ini sesuai dengan data yang tercatat pada bagian rekam medis BRSD RAA Soewondo Pati dari tahun 20022006 ditemukan kasus apendiktomi sebanyak 498 kasus, sedangkan pada tahun 2006 sebanyak 172 kasus dan jumlah operasi yang mengalami kecemasan di BRSD RAA Soewondo Pati pada tahun 2001- 2005 ada 456 orang atau 80,4% (Medical Record BRSD RAA Soewondo Pati, 2006). Faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan pasien pre operasi dapat berasal dari faktor internal dan eksternal. Faktor internal antara lain berupa usia, jenis kelamin, pekerjaan, tingkat pendidikan, tingkat sosial ekonomi, dan tipe kepribadian. Sedangkan faktor eksternal berupa ancaman tarhadap integritas biologis dan ancaman terhadap konsep diri (Stuart dan Sundeen, 1998). Kecemasan yang terjadi pada pasien yang akan dilakukan tindakan pembedahan termasuk

Tujuan Khusus a.operasi apendiktomi. e. dapat diantisipasi baik dengan memahami bagaimana cara panyebab kecemasan secara tepat. C. 2. D. Menganalisis hubungan antara pekerjaan dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi apendiktomi dibangsal bedah BRSD RAA Soewondo Pati. B.wordpress. Pemberian informasi yang adekuat pada klien yang akan dilakukan tindakan pembedahan umumnya mampu mengurangi tingkat kecemasan yang dirasakan klien. b.com/2011/03/22/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-tingkat-kecemasanpada-pasien-pre-operasi-apendiktomi-di-bangsal-bedah-brsd-raa-soewondo-pati/ 444444444 . Menganalisis hubungan antara sosial ekonomi dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi apendiktomi dibangsal bedah BRSD RAA Soewondo Pati. d. Perumusan Masalah 1. Sebagai bahan masukan di BRSD RAA Soewondo Pati terutama dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien pre apendiktomi. 2. Menganalisis hubungan antara jenis kelamin dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi apendiktomi dibangsal bedah BRSD RAA Soewondo Pati. Bagaimanakah hubungan antara masing-masing faktor dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi apendiktomi. 2. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat: 1. Sebagai landasan dasar dalam membuat daftar tilik SOP (standard operational prosedur) bagi pasien sebelum dilakukan operasi. Menggambarkan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kecemasan pasien pre operasi apendiktomi dibangsal bedah BRSD RAA Soewondo Pati. bahwa penyampaian prosedur atau informasi merupakan salah satu tindakan yang digunakan dalam mengatasi atau mengurangi pada kecemasan sebelum operasi (Amran. c. Faktor apa saja yang mempengaruhi kecemasan pasien pre apendiktomi. Hal ini sesuai dengan pendapat Amran. Menganalisis hubungan antara usia dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi apendiktomi dibangsal bedah BRSD RAA Soewondo Pati. Tujuan Umum Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan pasien pre operasi apendiktomi dibangsal bedah BRSD RAA Soewondo Pati. 2007). http://bankjudul. Menganalisis hubungan antara pendidikan dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi apendiktomi dibangsal bedah BRSD RAA Soewondo Pati. f. Tujuan Penelitian 1. Sesuai dengan uraian diatas penulis ingin mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kecemasan pada pasien pre operasi apendiktomi di bangsal bedah BRSD RAA Soewondo Pati.

Reaksi cemas ini akan berlanjut bila pasien tidak pernah atau kurang mendapat informasi yang berhubungan dengan penyakit dan tindakan yang dilakukan terhadap dirinya. Sebagian besar pasien beranggapan bahwa operasi merupakan pengalaman yang menakutkan. gambaran diri. 2006). Setiap pasien pernah mengalami periode cemas. YUNUS BENGKULU TAHUN 2010 BAB I PENDAHULUAN 1. 2003).922 pasien (25. M. Pelayanan yang ada di Rumah Sakit adalah pelayanan pengobatan baik yang bersifat bedah maupun non bedah. Kecemasan merupakan gejala klinis yang terlihat pada pasien dengan penatalaksanaan medis. . Bila kecemasan pada pasien pre operasi tidak segera diatasi maka dapat mengganggu proses penyembuhan. dan identitas diri (Tjandra. untuk itu pasien yang akan menjalani operasi harus diberi pendidikan kesehatan untuk menurunkan atau mengurangi gejala kecemasan (Carbonel. apalagi yang akan menjalani operasi. 24 Mei 2011 HUBUNGAN PENDIDIKAN DAN PERAN PERAWAT DENGAN TINGKAT KECEMASAN PADA PASIEN PRE OPERASI DI RUANG SERUNI RSUD. kecemasan yang sering terjadi adalah apabila pasien yang dirawat di rumah sakit harus mengalami proses pembedahan. Latar Belakang Rumah sakit adalah sebuah fasilitas. 8.1%) mengalami kondisi kejiwaan dan 2. Dari. 2002). Berdasarkan data WHO (2007).Asip KU search: Selasa.473 pasien (7%) mengalami kecemasan.539 pasien bedah dirawat di unit perawatan intensif antara 1 oktober 2003 dan 30 september 2006. Pembedahan merupakan tindakan pengobatan yang banyak menimbulkan kecemasan. Kecemasan terjadi ketika seseorang merasa terancam baik fisik maupun psikologisnya misalnya harga diri. Amerika Serikat menganalisis data dari 35. Pembahasan tentang reaksi – reaksi pasien terhadap pembedahan sebagian besar berfokus pada persiapan pembedahan dan proses penyembuhan (Dewi wijayanti. sebuah institusi dan sebuah organisasi yang fungsi utamanya adalah memberikan pelayanan kepada pasien diagnostik dan terapeutik untuk berbagai penyakit dan masalah kesehatan. Kecemasan merupakan perasaan yang paling umum di alami oleh pasien yang dirawat dirumah sakit.

anak ataupun keluarga yang lain. 2002). didapatkan bahwa 10% dari pasien yang akan menjalani pembedahan. Termasuk salah satunya dalam mengendalikan kebutuhan emosi diri pasien terutama pasien pre operasi dan post operasi. Hasil penelitian di Rumah Sakit Ortopedi Prof Dr.Berdasarkan data dari RSUD Sragen Wijaya Kusuma. 15 orang (37. Soeharso tahun 2008 dari 3827 pasien yang mengalami pembedahan sekitar (2%) mengalami kecemasan (Makmur. Peran perawat sangat penting untuk memberikan suport atau dukungan dan penyuluhan terhadap penurunan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi ( Kuntjoro. terjadi penundaan proses operasi karena peningkatan kecemasan. termasuk dalam pemberian pendidikan kesehatan.al (2007) tentang tingkat kecemasan pre operasi bahwa dari 40 orang responden dalam tingkat kecemasan berat sebanyak 7 orang (17. 2007). maka makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimilikinya. Seorang perawat dituntut bisa mengetahui kondisi dan kebutuhan pasien. 1998). 2006).5%) dalam kategori ringan dan responden yang tidak merasa cemas sebanyak 2 orang (5%). (Ibrahim. psikologis. Peran perawat dalam upaya penyembuhan klien menjadi sangat penting. Peran perawat sangat penting dalam penanggulangan kecemasan dan berupaya agar pasien tidak merasa cemas melalui asuhan keperawatan komprehensif secara biologis. Kecemasan pre operasi dapat dipengaruhi dari beberapa faktor antara lain adalah faktor biologis yang terjadi akibat dari reaksi saraf otonom yang berlebihan dengan naiknya system tonus saraf simpatis. R. Perawat merupakan salah satu tenaga kesehatan yang paling sering berinteraksi dengan pasien. Salah satu cara melakukan hal ini ialah dengan mencurahkan perhatian sampai kepada hal yang sekecil-kecilnya dalam merawat pasien. Makin tinggi pendidikan seseorang. suami. Perawat harus mau mendengarkan semua keluhan pribadi pasien (Widodo. Pendidikan dapat mempengaruhi seorang termasuk juga prilaku seseorang akan kepatuhannya. Selain itu faktor pendidikan pasien juga dapat mempengaruhi kecemasan yaitu tingkat pendidikan yang rendah serta kurangnya dukungan dari perawat (Sadock dan Kaplan. dan faktor psikologis yang dapat terjadi akibat implusimplus bawah sadar yang masuk kealam sadar seperti tidak didampingi oleh orang tua. . 1999). dan spiritual. sosial. Kecemasan yang terjadi dapat berpengaruh terhadap peningkatan tekanan darah (RSUD Sragen. Sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap perubahan-perubahan hidup sehat (Notoatmojo. mempunyai kewajiban membantu pasien mempersiapkan fisik dan mental untuk menghadapi operasi. Sikap dan tingkah laku perawat membantu menumbuhkan rasa kepercayaan pasien. 2007). 2002 ).5%). terutama dalam motivasi untuk berperan serta dalam pembangunan kesehatan. 16 orang (40%) yang memilki tingkat kecemasan dalam kategori sedang. maka memerlukan keterampilan komunikasi yang baik. Perawat mempunyai kontak paling lama dalam menangani persoalan pasien. Penelitian yang dilakukan oleh makmur et.

Pasien yang akan menjalani operasi besar dianjurkan untuk minimal masuk rumah sakit 12 jam sebelum pre operasi dilaksanakan dan operasi kecil 6 jam sebelum dilaksanakan. gemetar sehingga dapat menghambat proses operasi. Yunus Bengkulu. . Yunus Bengkulu didapatkan data 2008 sebanyak 1033 dan data 2009 dari januari sampai tanggal Desember sebanyak 786 orang yang melakukan operasi. M. maka penulis tertarik untuk meneliti hubungan pendidikan pasien dan peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. pada tahun 2007 terdapat 4449 pasien yang mengalami pembedahan. memotivasi pasien untuk memberi keyakinan bahwa operasi dapat berjalan dengan lancar. susah tidur. Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan di atas. sehingga tindakan anestesi atau pembedahan ditunda. Kecemasan yang terjadi dapat berpengaruh terhadap peningkatan tekanan darah. Berdasarkan hasil observasi dengan teknik wawancara selama tiga hari di ruang seruni RSUD M. Yunus Bengkulu. Yunus Bengkulu". 2. dengan rincian sembuh 2259 dan 36 pasien meninggal (15%) dilakukan penundaan karena peningkatan kecemasan. M. Yunus Bengkulu. M. 2008). Sementara dari pengumpulan data awal diruang Seruni RSUD M.Yunus Bengkulu. Yunus Bengkulu didapatkan data bahwa dari 15 pasien yang akan melakukan operasi 5 orang yang mengalami kecemasan berat dengan ciri-ciri muka merah. Yunus Bengkulu. Tujuan umum Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada Hubungan antara pendidikan dan peran perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. sering buang air kecil. Dari 5 orang yang mengalami kecemasan berat tersebut mempunyai pendidikan SMA kebawah dan kurang mendapatkan penkes dari perawat. Tujuan agar persiapan yang dilakukan dapat sebaik mungkin (RSUD M. Untuk menurunkan tingkat kecemasan pasien tersebut keluarga dan perawat harus lebih banyak memberikan dukungan salah satunya yaitu selalu berada dekat pasien. Rumusan masalah Berdasarkan uraian dalam latar belakang di atas. M. Tujuan Khusus 1. Yunus Bengkulu.Berdasarkan hasil pengumpulan data di RSUD M. 2. Tujuan penelitian 1. masalah penelitian ini adalah masih tingginya tingkat kecemasan pasien pre operasi di RSUD M. Mengetahui gambaran tingkat pendidikan pada pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. 2. gelisah. nafas pendek. Yunus Bengkulu. yang dirawat 2154 pasien. 3.. Sedangkan rumusan masalah penelitian ini adalah "apakah ada hubungan pendidikan pasien dan peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD M. Mengetahui gambaran peran perawat di ruang seruni RSUD.

atau depresi dalam menghadapi pembedahan. Mengetahui tingkat Kecemasan pasien pre operasi di Ruang Seruni RSUD Dr.Adapun perbedaan antara karya tulis ini dengan karya tulis tersebut adalah pada variabel. . Bagi Masyarakat Dapat memperoleh pelayanan yang lebih baik terutama yang mengalami ketakutan. 5. kecemasan. Rinda Lesti Sentia dengan judul penelitian " Hubungan Tingkat Pendidikan dan Umur Kehamilan dengan Tingkat Kecemasan Ibu Hamil Primigravida di Rumah Bersalin YKWP Desa Kangkung Kabupaten Demak. Bagi Akademik Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi literatur bagi perpustakaan. Bagi Rumah sakit Hasil penelitaan ini diharapkan dapat memberi masukan bagi para tenaga kesehatan khususnya pada perawat di ruang seruni dan ruangan yang lain. Keaslian penelitian Sebagai bahan perbandingan penelitian serupa pernah diteliti oleh : 1. Mengetahui hubungan peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. Yunus Bengkulu". rancangan dan waktu penelitian. 4. M. 4. 2. M. 4.3. Yunus Bengkulu. Menambah wawasan dan pengetahuan bagi mahasiswa dan masyarakat mengenai tingkat kecemasan pada pasien pre operasi. M. Dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan di bidang kesehatan. 3.Yunus Bengkulu. 5. Manfaat penelitian 1. Agri Maha Tirani dengan judul penelitian "Perbedaan tingkat kecemasan sebelum dan sesudah pemberian pendidikan kesehatan pada pasien pre operasi di RSUD. Mengetahui hubungan pendidikan dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. 2. Yunus Bengkulu. Bagi Peneliti Lain Hasil penelitian ini dapat berguna sebagai masukan atau informasi bagi peneliti lain dalam mengembangkan penelitian dengan variabel-variabel yang lain. M.

Kecemasan adalah suatu keadaan yang menggoncangkan karena adanya ancaman terhadap kesehatan (Siti Sundari. ancaman) yang masuk kealam sadar. 1998). Faktor Biologis Kecemasan terjadi akibat dari reaksi saraf otonomi yang berlebihan dengan naiknya sistem tonus saraf simpatis. Psikologis Ditinjau dari aspek psikoanalisa. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1.3. Kecemasan adalah suatu keadaan dimana psikologis seseorang berada pada ketakutan dalam menghadapi masalah yang ada pada dirinya. Pengertian Cemas adalah keadaan emosi individu yang berkaitan dengan perasaan yang tak pasti dan tidak berdaya. Secara klinis gejala kecemasan dibagi dalam beberapa kelompok yaitu gangguan kecemasan. 2007). Konsep Kecemasan 1. gangguan cemas menyeluruh (Generalized anxiety disorder/GAD). 2005) Jadi. Kecemasan adalah Suatu kondisi yang menyangkut terminologi kesehatan jiwa dengan suatu kondisi was-was. Adapun perbedaan antara karya tulis ini dengan karya tulis di atas adalah pada variabel. Yunus Bengkulu. kondisi ini dialami secara subyektif (yang hanya dirasakan individu tersebut) dan dikomunikasikan dalam hubungan interpersonal (Stuard and Sundeen. 2. Mekanisme . Keadaan emosi ini tidak memiliki subyek yang spesifik. perut terasa kosong. kecemasan dapat muncul akibat implus-implus bawah sadar (misalnya : sex. gangguan phobik dan gangguan obsesifkompulsif (Dadang Hawari. rancangan dan waktu penelitian. 2006). Faktor-faktor Penyebab Kecemasan 1. 2. Kecemasan merupakan komponen utama bagi hampir semua gangguan kejiwaan (psychiatric disorder). gangguan panik. Elika dengan judul penelitian " Hubungan peran perawat dan dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD M. nafas sesak dan dada terasa nyeri (Ayub Sani.

Sosial Kecemasan yang timbul akibat hubungan interpersonal dimana individu menerima suatu keadan yang menurutnya tidak disukai oleh orang lain yang berusaha memberikan penilaian atas opininya (Sadock dan Kaplan.pembelaan ego yang tidak sepenuhnya berhasil juga dapat menimbulkan kecemasan yang mengambang. lebih mudah mengalami kecemasan. Keadaan fisik Seseorang yang mengalami gangguan fisik seperti cacat badan. letih. 2. 4. 3. Ekonomi Seseorang yang memiliki pendapatan rendah lebih mudah mengalami kecemasan. Selain itu faktor yang mempengaruhi tingkat kecemasan menurut Soewandi (1998) antara lain : 1. penyakit. sakit. Lingkungan Lingkungan sangat berpengaruh pada kecemasan seseorang. operasi. 5. Tingkat pendidikan Status pendidikan yang rendah pada seseorang akan menyebabkan orang tersebut mudah mengalami kecemasan. Reaksi pergeseran yang dapat mengakibatkan reaksi fobia. Potensi stressor Suatu keadaan yang menyebabkan perubahan dalam individu. dibandingkan dengan orang yang memiliki pendapatan tinggi. lesu) lebih mudah megalami kecemasan. sehingga individu harus melakukan penyesuaian diri (adaptasi). Kecemasan bisa terjadi pada individu yang tingkat pendidikannya rendah disebabkan karena kurangnya informasi yang didapat individu tersebut. 3. 3. 6. dimana lingkungan yang tidak kondusif berpotensial besar terhadap kecemasan yang dialami . 1998). Disamping itu kelelahan fisik (lemah. Sosial budaya Individu yang tidak bersosialisasi dengan masyarakat lebih mudah mengalami kecemasan. Kecemasan merupakan peringatan yang bersifat subyektif atas adanya bahaya yang tidak dikenali sumbernya.

3. sering buang air besar atau kecil. 1994). menyebutkan gejala klinis dari cemas antara lain : Cemas.hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada dan meningkatkan lahan persepsinya. gangguan kulit. 4. Merasa tegang. 6. 7. berdebar-debar. sesak nafas. Berhubungan dengan ketegangan yang dialami dalam kehidupan sehari. gangguan muskulo skeletal. hiperaktifitas. 2. berhenti berbicara dan terjadi perubahan suara. mudah tersinggung. khawatir. Jenis kelamin Kecemasan lebih banyak dialami wanita. Ansietas Sedang (Tingkat II) . takut pada keramaian. muntah-muntah. mimpi yang menegangkan Gangguan konsentrasi dan daya ingat Keluhan somatik misalnya rasa sakit pada otot tulang. Umur Umur ikut menentukan kecemasan. 2. kebingungan. dan banyak orang. Gejala-gejala tersebut antara lain: Iritabilitas.seseorang. 5. Ansietas Ringan (Tingkat I) 1. Menurut Dadang Hawari (2006). Tingkat kecemasan 1. mengetuk jari-jari. Reaksi fisik terhadap kecemasan pada masingmasing individu berbeda (Setyonegoro. berkeringat. pendengaran berdenging (tinnitus). 5. firasat buruk. gagap. gelisah. gangguan perkemihan. nyeri pada gastro intestinal. Ansietas dapat memotivasi belajar dan menghasilkan pertumbuhan. begitu juga sebaliknya jika lingkungannya kondusif mempercepat penyembuhan seseorang. tidak tenang. 8. nadi cepat. Gangguan pola tidur. mudah terkejut. 4. dibandingkan dengan pria. sakit kepala dan lain sebagainya. hiperventilasi. mulut kering. Takut sendiri. sulit tidur. gangguan pencernaan. Gejala – gejala Kecemasan Keadaan cemas mempunyai gejala-gejala somatik atau fisik dan gejala psikologis atau mental. biasanya kecemasan sering dialami oleh usia muda. takut akan fikirannya sendiri. energi menurun.

Tingkat Panik Berhubungan dengan terperangah. Optimisme 5. Orang yang mengalami panik tidak mampu melakukan sesuatu walaupun dengan pengarahan. Perasaan pengendalian 3. 1997). Orang tersebut banyak pengarahan untuk dapat memusatkan pada suatu area lain. Kemampuan untuk mengatasi 4. yaitu: 1. Panik melibatkan disorganisasi kepribadian. persepsi yang menyimpang dan kehilangan pemikiran yang rasional tingkat ansietas ini tidak sejalan dengan kehidupan dan jika berlangsung terus dalam waktu yang lama dapat terjadi kelelahan yang sangat bahkan kematian (Hudak dan Gallo. Ansietas terhadap sistem diri seseorang dapat membahayakan identitas. dengan panik terjadi peningkatan aktivitas motorik. Semua perilaku ditujukan untuk mengurangi ketegangan. Teknik Mengatasi ansietas Teknik kognitif dapat membantu pasien ansietas dan tidak tergantung pada wawasan atau pemahaman yang kompleks dari kondisi psikologi diri sendiri. Sterssor dapat di kelompokkan dalam dua kategori. Percaya diri 2. 3. Stressor Pencetus Stressor pencetus berasal dari sumber internal atau eksternal. Ansietas terhadap integritas seorang meliputi ketidakmampuan fisiologis yang akan datang atau menurunnya kapasitas untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Seseorang cenderung untuk memusatkan pada sesuatu yang terinci dan spesifik dan tidak berfikir tentang hal lain. 4.Memungkinkan seseorang untuk memusatkan pada hal yang penting dan mengesampingkan yang lain. Perincian terpecah dari proporsinya karena mengalami kehilangan kendali. ketakutan dan terror-terror. Harapan 2. sehingga seseorang mengalami perhatian yang selektif namun dapat melakukan sesuatu yang lebih terarah. menurunnya kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain. Dialog Eksternal . 7. 1. Dialog Internal Membantu pasien mengembangkan pesan dialog sendiri yang meningkatkan : 1. 1997). Ansietas Berat (Tingkat III) Sangat mengurangi lahan persepsi seseorang. 2. 6. harga diri dan fungsi sosial (Brunner dan suddarth.

10.Dengan dialog eksternal kebutuhan pasien untuk berbicara cara akurat tentang dirinya dengan orang lain. Khayalan Mental dan Relaksasi Mendorong pasien untuk mengkhayalkan tempat yang indah atau menjadi bagian dari pengalaman yang menyenangkan sehingga dapat membantu pasien menurunkan ketegangan (Abraham dkk. menyiapkan klien untuk diberikan anestesi dan pembedahan bagaimanapun kegiatan perawatan dibatasi oleh pengkajian pre operasi dalam ruangan atau selama operasi. 8. 9. Perawatan pre operasi merupakan bagian dari perawat perioperatif yang di mulai dari kapan di putuskan tindakan operasi dibuat dan diakhiri dengan pemindahan klien ke meja ruang operasi. Tujuan Prosedur pembedahan . tidur. merokok dan minum-minum (Brunner dan Suddarth. Takut terhadap anestesi. takut terhadap nyeri atau kematian. 3. takut tentang deformitas dan ancaman lain terhadap citra tubuh dapat menyebabkan ketidaktenangan atau ansietas (Brunner dan Suddarth. Alat ukur kecemasan untuk mengetahui sejauh mana derajat kecemasan apakah ringan atau berat dengan menggunakan alat ukur (instrument) yang dikenal denga nama Hamilton Rating Scale or Anxiaty (HRS-A) dengan skor ringan jika ≤ 28 dan berat jika ≥ 28. takut tentang ketidaktahuan. 1997). Dimana mekanisme koping setiap orang berbeda-beda. 2. Lingkup kegiatan perawatan pre operasi termasuk dalam menetapkan batas pengkajian klien setting secara klinis atau dalam ruangan. Pre Operasi 1. Mekanisme Koping Mekanisme koping adalah suatu bentuk pertahanan yang di gunakan oleh seseorang yang sedang berada pada suatu bentuk kecemasan untuk menghindar atau mengurangi respon yang ditimbulkan oleh kecemasan tersebut. Pengertian Pasien Pre operasi dapat mengalami berbagai ketakutan. melakukan kegiatan fisik. tertawa. interview preoperatif. Tipe . Hal ini menurunkan rasa ketidak berdayaan dan ansietas mereka.tipe tingkah laku seperti mennangis. 1997). 1997).

Sebagai salah satu bentuk pengobatan dan penatalaksanaan berbagai macam penyakit untuk mempercepat proses penyembuhan (Perry Potter. kurangnya dukungan keluarga terhadap pasien pre operasi. 5. tapi kadang-kadang dapat terlihat dalam bentuk lain. Jenis-jenis operasi Menurut derajat kepentingan Perry dan potter (2006). Pengkajian psikologi pada pasien atau keluarga harus di lakukan supaya hal tersebut tidak menghambat rencana operasi. 3. 1997). Kecemasan pada pasien pre operasi Kecemasan pada pasien pre operasi adalah kecemasan yang di akibatkan sterssor tindakan operasi. Mengetahui apa yang di perkirakan akan membantu pasien mengantisipasi reaksi-reaksi tersebut dan dengan demikian mencapai tingkat relaksasi yang lebih tinggi daripada yang di perkirakan sebaliknya (Brunner dan suddarth. di kelompokkan menjadi dua bagian yaitu : 1. obat-obatan dan perawatan tindakan. . tetapi berusaha mengalihkan perhatiannya kepada buku atau sebaliknya ia bergerak terus-menerus dan tidak mau tidur (Kaplan. perawatan menjelang operasi yang dianggap sebagai hal baru. Pembedahan Minor (pembedahan resiko kecil ) 4. 2006). Pasien yang gelisah dan takut biasanya sering bertanya berulang-ulang walaupun pertanyaan tersebut telah dijawab. Pasien biasanya tidak mau bicara dan memperhatikan keadaan sekitarnya. Perasaan gelisah dan takut kadang-kadang tidak tampak jelas. Khawatir meninggal di meja operasi dan meninggalkan anakanak ditinggalkan seandainya ia meninggal saat atau setelah operasi. Sebagai contoh. 1994). Persiapan psikologis pasien pre operasi Pasien yang akan di operasi biasanya akan mengalami kegelisahan dan rasa takut. Penyuluhan tersebut harus melebihi deskripsi tentang berbagai langkah prosedur dan harus mencakup tentang sensasi yang akan di alami. stressor tersebut merupakan faktor timbulnya kecemasan yang mengakibatkan terancamnya integritas seseorang meliputi ketidakmampuan fisiologis atau menurunkan kapasitas untuk melakukan hidup sehari-hari (Brunner dan suddarth. Salah satu caranya yaitu dengan penyuluhan pada keluarga maupun pasien supaya mereka mengerti apa yang akan terjadi. 1997). memberitahu pasien hanya medikasi pre operasi yang akan membuatnya rileks sebelum operasi tidaklah selektif bila menyebutkan juga bahwa medikasi tersebut dapat mengakibatkan kepala terasa melayang dan mengantuk. Pembedahan Mayor (pembedahan resiko tinggi ) 2.

Pendidikan Tinggi: satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi yang dapat berbentuk akademik. pendidikan formal yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar. dan tinggi. 2003). Untuk itu. serta memperkuat kemasyarakatan. Pendidikan Non-Formal : . (1997) janis pendidikan terbagi atas 3 yaitu : 1. Pengertian Pendidikan adalah suatu usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. akan tetapi juga bagi tujuan terakhir pembangunan seperti kualitas keluarga dan kehidupan masyarakat. masyarakat. dan S2. Pendidikan 1. D2. kecerdasan akhlak mulia. Manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya. Sedangkan menurut Diknas (2003). Pendidikan merupakan usaha agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran atau cara lain yang dikenal dan diakui oleh masyarakat.11. Pendidikan Menengah : pendidikan menengah yang lamanya 3 tahun sesudah pendidikan dasar. 4. dan kemampuan yang dikembangkan menjadi: 2. tujuan yang akan dicapai. Pendidikan formal : Pendidikan formal merupakan usaha-usaha dalam pendidikan dasar dapat memberikan sumbangan dalam jangka panjang. menengah. S1. 3. UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia menyelenggarakan Tahun 1945 Pasal 31 ayat (1) menyebutkan bahwa setiap warga Negara berhak mendapat pendidikan. politeknik. Jenjang Pendidikan Menurut Diknas (2003). bangsa dan negara. 5. kepribadian. (Diknas. 1. seluruh komponen bangsa wajib mencerdaskan kehidupan bangsa yang merupakan salah satu tujuan negara indonesia. menyatakan bahwa jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik. bukan saja bagi produktivitas. diselenggarakan di SLTA atau sederajat. D4. pengendalian diri. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. Menurut Ahmadi. 2. D3. Pendidikan Dasar : warga Negara yang berumur 6 atau 7 tahun berkewajiban mengikuti pendidikan dasar atau sederajat selama 9 tahun yaitu SD dan SLTP. sekolah tinggi dan universitas yang termasuk perguruan tinggi D1. dan ayat (3) menegaskan bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan Undang-Undang.

Pendidikan non-Formal adalah pendidikan yang dilakukan secara teratur, dengan sadar dilakukan, tapi tidak terlalu ketat mengikuti peraturan-peraturan yang tepat, seperti pada pendidikan formal di sekolah. Karena pendidikan non-formal pada umumnya dilaksanakan tidak dalam lingkungan fisik sekolah maka sasaran pokok adalah anggota-anggota masyarakat. Diknas (2003), menyatakan pendidikan non-formal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang.
3. Pendidikan informal :

Pendidikan informal yakni pendidikan yang diperoleh seorang berdasarkan pengalaman dalam hidup sehari-hari dengan sadar atau tidak sadar, sejak seorang lahir sampai akhir hidupnya, di dalam lingkungan keluarga, masyarakat atau dalam lingkungan pekerjaan sehari-hari. Diknas (2003), menyatakan bahwa pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan. Pendidikan dapat mempengaruhi seorang termasuk juga prilaku seseorang akan kepatuhannya, terutama dalam motivasi untuk berperan serta dalam pembangunan kesehatan. Makin tinggi pendidikan seseorang, maka makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pngetahuan yang dimilikinya. Sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap perubahan-perubahan hidup sehat (Notoatmojo, 2002).

12. Hubungan pendidikan dengan kecemasan

Pendidikan merupakan salah satu faktor sosial dari kecemasan pada pasien pre operasi. Pada pasien yang pendidikannya hanya sebatas pendidikan dasar atau tidak pernah sekolah sangat susah dalam pemberian informasi. Setiap perawat yang menjelaskan pengetahuan tentang kesehatan pasien tidak mengerti. Berdasarkan penelitian yang lakukan di Kabupaten Demak menghasilkan informasi bahwa pendidikan masyarakat disana masih relatif rendah, sehingga tenaga kesehatan disana perlu melakukan konseling kepada ibu hamil primigravida sebagai upaya mengantisipasi terjadinya komplikasi dan kecemasan. Hasil penelitian Lesti, (2009). P < 0,05 menunjukkan bahwa hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara pendidikan pasien dengan tingkat kecemasan.

13. Peran Perawat 1. Definisi

Peran adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap seseorang sesuai kedudukannya dalam suatu system. Peran dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari dalam maupun dari luar dan bersifat stabil. Peran adalah bentuk dari perilaku yang diharapkan dari seesorang pada situasisosial tertentu. (Kozier Barbara, 1995:21). Peran Perawat (Ali Zaidin, 2001) meliputi : (a) Pelaksana pelayanan keperawatan, (b)Pengelola pelayanan keperawatan dan institusi Pendidikan, (c) Pendidik dalam keperawatan, (d)Peneliti dan pengembang keperawatan Perawat profesional baik dalam lingkungan perawatan kesehatan institusional maupun komunitas mengemban tiga peran : peran pelaksana, peran kepemimpinan dan peran peneliti. Meski tiap peran memiliki tanggung jawab khusus, peran-peran ini saling berhubungan satu dengan yang lain dan dapat ditemui pada semua posisi keperawatan. Peran ini dirancang untuk memenuhi perawatan kesehatan saat ini dan kebutuhan keperawatan dari konsumen yang merupakan penerima pelayanan keperawatan.
2. Peran Pelaksana

Peran pelaksana dari perawat mencakup tindakan-tindakan yang dilakukan oleh perawat ketiaka ia mengemban tanggung jawab yang ditujakan untuk memenuhi kebutuhan perawatan kesehatan dan kebutuhan keperawatan pasien secara individu, keluarga mereka dan orang terdekat pasien. Peran ini merupakan peran yang dominan dari perawat dalam lingkungan pelayanan kesehatan primer, sekunder, dan tersier dan dalam keperawatan kesehatan rumah dan komunitas. Peran ini merupakan peran yang hanya dapat dicapai melalui proses keperawatan, yang merupakan dasar untuk semua praktik keperawatan.
3. Peran Kepemimpinan

Peran Kepemimpinan dari perawat yang secara tradisional dikerap sebagai peran spesialisasi yang diembankannya oleh perawat yang mempunyai gelar yang menunjukkan kepemimpinan dan mereka yang memimpin sekelompok besar perawat atau profesional perawatan kesehatan yang berhubungan.Definisi kepemimpinan keperawatan yang dirumuskan oleh memberi cakupan yang luas pada konsep tersebut dan mengidentifikasi kepemimpinan sebagai peran yang melekat didalam semua posisi keperawatan. Peran kepemimpinan dari perawat mencakup tindakan-tindakan yang dilaksanakan oleh perawat saat ini ia mengemban tanggung jawab untuk mempengaruhi tindakan orang lain yang ditujukan untuk menentukan dan mencapai tujuan.
4. Peran Peneliti

Peran peneliti dari perawat pada mulanya dianggap hanya dilakukan oleh para akademikus, perawat ilmuwan dan mahasiswa keperawatan di tingkat sarjana. Kini, partisipasi dalam proses penelitian dianggap sebagai tanggung jawab dari perawat dalam praktik klinis. Tugas utama dari penelitian keperawatan adalah untuk memberikan konstribusi pada dasar ilmiah praktik keperawatan. Kajian dibutuhkan untuk menentukan keefektifan intervensi dan asuhan keperawatan. Melalui upaya penelitian semacam ini, ilmu keperawatan akan berkembang dan rasional yang didasarkan secara ilmiah untuk membuat perubahan dalam praktik keperawatan akan tercipta (Brunner dan Suddarth, 2001). Peran Perawat menurut Para Sosiolog
5. Peran terapeutik : kegiatan yang ditujukan langsung pada pencegahan dan pengobatan penyakit. 6. Expressive/mother substitute role, yaitu kegiatan yang bersifat langsung dalam menciptakan lingkungan dimana pasien merasa aman, diterima dilindungi, dirawat dan didukung oleh perawat. Menurut Johnson dan Martin, peran ini bertujuan untuk menghilangkan ketegangan dalam kelompok pelayanan (dokter, perawat, pasien, dan lain-lain)

Menurut konsorsium ilmu kesehatan (1989) dalam Ali Haidin (2001) peran perawat terdiri dari :
7. Sebagai pemberi asuhan keperawatan

Peran ini dapat dilakukan perawat dengan memperhatikan keadaan kebutuhan dasar manusia yang dibutuhkan melalui pemberian pelayanan keperawatan. Pemberian asuhan keperawatan ini dilakukan dari yang sederhana sampai dengan kompleks.
8. Sebagai advokat klien

Peran ini dilakukan perawat dalam membantu klien dan keluaga dalam menginterpretasikan berbagai informasi dari pemberi pelayanan khususnya dalam pengambilan persetujuan atas tindakan keperawatan. Perawat juga berperan dalam mempertahankan dan melindungi hak-hak pasien meliputi hak atas pelayanan sebaik-baiknya, hak atas informasi tentang penyakitnya, hak atas privasi, hak untuk menentukan nasibnya sendiri, hak menerima ganti rugi akibat kelalaian.
9. Sebagai edukator

Peran ini dilakukan dengan membantu klien dalam meningkatkan tingkat pengetahuan kesehatan, gejala penyakit bahkan tindakan yang diberikan sehingga terjadi perubahan perilaku dari klien setelah dilakukan pendidikan kesehatan.

15. (7) Memberikan pengarahan dan penyuluhan untuk meningkatkan kesehatan fisik dan mental. Tujuh Fungsi Perawat Kozier Barbara. Sebagai koordinator Peran ini dilaksanakan dengan mengarahkan. Fungsi Perawat Fungsi adalah pekerjaan yang harus dilaksanakan sesuai dengan perannya. merencanakan serta mengorganisasi pelayanan kesehatan dari tim kesehatan sehingga pemberi pelayanan kesehatan dapat terarah serta sesuai dengan kebutuhan klien. menyusun. kerjasama. 12. 14. perubahan yang sistematis dan terarah sesuai dengan metode pemberian pelayanan keperawatan. fisioterapi. 11. Hubungan peran perawat dengan kecemasan Orang yang sakit sangat memerlukan seseorang yang bisa mengobati penyakitnya tersebut dan orang sehat memerlukan seseorang yang bisa mengarahkan agar bisa . (5) Mencatat dan melaporkan keadaan pasien. (3) Memantau pasien. perubahan yang sistematis dan terarah sesuai dengan metode pemberian pelayanan keperawatan 13. (2002) yaitu. dan memperbaiki rencana keperawatan secara terus menerus berdasarkan pada kondisi dan kemampuan pasien. (2) Observasi gejala dan respons pasien yang berhubungan dengan penyakit dan penyebabnya. (4) Supervisi semua pihak yang ikut terlibat dalam perawatan pasien. Sebagai pembaharu Perawat mengadakan perencanaan. Sebagai konsultan Perawat berperan sebagai tempat konsultasi dengan mengadakan perencanaan. ahli gizi dan lain-lain dengan berupaya mengidentifikasi pelayanan keperawatan yang diperlukan. Sebagai kolaborator Peran ini dilakukan karena perawat bekerja melalui tim kesehatan yang terdiri dari dokter. (6) Melaksanakan prosedur dan teknik keperawatan. (1) Melaksanakan instruksi dokter (fungsi dependen).10. kerjasama.

16. BAB III METODE PENELITIAN 1. 2. Karena masih kurangnya pengetahuan pasien tentang penyakit yang dideritanya. Proses pembedahan sering menimbulkan stress psikologi yang tinggi. 2006). R. al (2007) dan penelitian rumah Sakit Ortopedi Prof Dr. konsep diri. sumber koping klien serta asuhan keperawatan yang terbaik (Perry Potter. Ada hubungan antara peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD.mencegah dan terhindar dari berbagai penyakit. Perawat harus dapat mengkaji perasaan klien tentang pembedahan.5% yang mengalami kecemasan ringan. Ada hubungan antara pendidikan pasien dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Makmur et. Klien merasa cemas tentang pembedahan. Hipotesa peneliti 1.Yunus Bengkulu Tahun 2010. Desain penelitian .M. Seseorang tersebut ialah perawat yang mempunyai banyak peran untuk melaksanakan praktek keperawatan. sehingga kekambuhan sering terjadi dan bahkan bertambah parah.M. Begitu pula dengan Pembedahan. Secara unum perawat mempunyai peran terapeutik yaitu kegiatan yang ditujukan langsung pada pencegahan dan pengobatan penyakit. Klien merasa kurang dapat mengontrol situasi mereka sendiri untuk memahami dampak pembedahan pada kesehatan emosional klien tersebut. terdapat 37.05 yang mengalami kecemasan ringan sehingga dapat disimpulkan ada hubungan peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi.Yunus Bengkulu Tahun 2010. Dan hasil penelitian yang dilakukan Elika tahun 2009. dengan nilai p < 0. Soerharto tahun 2008. citra diri.

dimana variabel independen dan variabel dependen di kumpulkan pada saat bersamaan (Notoadmodjo. Bagan 3. Variabel Penelitian Sesuai dengan desain penelitian di atas. Kuisioner Wawancara (14 komponen pertanyaan HRS-A) dan observasi 1= Tidak Berat jika. Tingkat kecemasan (Dependen) Suatu kondisi yang menyangkut kekhawatiran seseorang pada masalah yang terjadi. < 28 ≥ 28 Ordinal Skala Ukur .2 Variabel Penelitian C.Desain penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional.1 Desain Penelitian B. 2010). maka Variabel Penelitian dapat digambarkan sebagai berikut : Variabel Variabel Dependen Independen Bagan 3. Definisi Operasional Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Cara ukur Hasil Ukur 0=Cemas Berat jika.

2. 0. Dalam penelitian ini teknik yang digunakan adalah teknik Simple Random sampling n = Z²1-α/2. Sampel Sampel adalah objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi ( Notoatmojo.P(1-P) = (1. (Noto atmojo.84.175. berdasarkan data jumlah pasien pada tahun 2009 adalah 1. 2010).0=Rendah ≤ SMA Pendidikan (Independen) Pendidikan Formal yang ditempuh pasien Kuisioner Dengan cara mengisi (1 pertanyaan kuisioner ) 1= Tinggi >SMA 0= kurang baik jika skor ≤ 75% Dengan cara mengisi kuisioner 1= baik. 2010).825 =3. jika skor ≥ 75% Ordinal Ordinal Peran Perawat (Independent) Tindakan yang dilakukan oleh perawat dalam proses penyembuhan. Populasi dalam penelitian ini adalah kelompok pasien pre operasi yang ingin menjalankan operasi di ruang Seruni dari bulan januari sampai bulan desember tahun 2010. Kuisioner (15 pertanyaan) 1.96)².825 . 0. Populasi dan Sampel 1.786 orang.175.0. 0. Populasi Populasi adalah Keseluruhan dari objek penelitian yang di teliti.

5% D = Derajat akurasi (presisi) yang diinginkan 0. kadang (KD). sering (SR). Data primer yaitu data yang didapat langsung dari responden yaitu pasien dalam perawatan pre operasi di Ruang Seruni RSUD M. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Sedangkan data Sekunder adalah data yang didapatkan secara tidak langsung dari responden. Tempat Penelitian Penelitian dilakukan di Ruang Seruni RSUD. untuk mengukur tingkat kecemasan. M.96) P = Proporsi suatu kasus yaitu proporsi kecemasan 0. Yunus Bengkulu dengan cara wawancara dan observasi dengan skala HARS. 2008) Keterangan : n = Sampel Z(1-α/2) = Nilai Z pada derajat kemaknaan (α 5%=1. kuisioner pendidikan dan kuisioner peran perawat dengan skala selalu (SL). yang nantinya akan diisi oleh responden dan dibantu oleh satu orang perawat yang bertugas di ruang Seruni RSUD M. jarang (JR). Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan Desember sampai dengan februari 2010. dengan penilaian tidak berat jika skor < 28 dan berat jika skor ≥ 28. Pengumpulan. tidak pernah (TP). Pengumpulan data Data dalam penelitian ini berupa data primer dan sekunder. Pengolahan Dan Analisa Data 1. D.1. Yunus Bengkulu yang sudah diberi penjelasan tentang pengisian kuisoner. E.= 55 responden (Aziz Alimul.Yunus Bengkulu pada bulan Desember 2010 2.175 =17. Jumlah sampel yang didapat adalah 55 responden. tetapi didapat dengan metode pencarian data rumah sakit dalam bentuk .

2. jumlah pasien yang melakukan operasi. Editing Editing data adalah meneliti kembali apakah isian pada kuisioner yang dilakukan responden sudah cukup dan benar sesuai dengan petunjuk yang ada.. Pengolahan Data Data yang telah diperoleh atau terkumpul diolah dan dianalisis dengan program komputer melalui beberapa tahapan. Analisa Univariat . F. G. tanggal keluar rumah sakit dan lain-lain. pekerjaan. yaitu : 1. Entry Data (Pemasukan Data) Data yang telah ada dicoding dan hasil scoring kemudian diolah kedalam komputer dengan menggunakan program SPSS For Window. Analisa Data 1. Editing dilakukan langsung pada saat responden mengembalikan kuesioner yang sudah diisi dengan harapan apabila ada kekurangan data atau kesalahan dalam pengisian dapat segera diperbaiki. Selanjutnya dilakukan transformasi data untuk menggambarkan variabel bebas dan variabel terikat. Coding (Pengkodean) Jawaban-jawaban atau hasil yang ada kemudian di klasifikasikan dalam bentuk yang lebih ringkas dengan menggunakan kode-kode. 3. Cleaning (Pembersihan Data) Sebelum melakukan analisa data dengan dilakukan pengecekan kembali terhadap data yang sudah masuk apakah data yang dimasukkan sudah benar dan tidak ada lagi kesalahan. alamat.Rekam Medik misalnya: nama. Kemudian dilakukan scoring terhadap pertanyaan yang berhubungan dengan masing-masing variabel dan diteruskan dengan pengujian kebenaran data dengan menggunakan uji Chi-Square dengan signifikan α = 5 %. umur. tanggal masuk rumah sakit. 1.

Untuk melihat gambaran distribusi frekuensi dari masing-masing variabel penelitian baik independent maupun dependent. . Rumus yang digunakan, yaitu : Keterangan : P F = Persentase yang ingin dicapai = Jawaban dalam setiap kategori

N = Jumlah seluruh responden (Budiarto, 2001) 2. Analisa Bivariat Analisa bivariat adalah analisa yang digunakan untuk melihat hubungan antara variabel bebas (pendidikan pasien dan peran perawat) dengan variabel terikat (kecemasan pada pasien pre operasi). Untuk melihat hubungan antara dua variabel kategorik maka digunakan Uji X² (Chi-Square) Ha diterima jika nilai p ≤ 0,05 Ha ditolak jika nilai p > 0,05 (Budiarto, 2001)
http://yulnico.blogspot.com/2011/05/hubungan-pendidikan-dan-peran-perawat.html 555555555

HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN KELUARGA DENGAN TINGKAT KECEMASAN PASIEN PRE OPERASI DI BANGSAL MELATI RSD PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL YOGYAKARTA
3 Mei 2009

DEWI WIJAYANTI A. Latar Belakang Masalah

Rumah sakit adalah salah satu organisasi kesehatan yang dengan segala fasilitas kesehatannya diharapkan dapat membantu pasien dalam meningkatkan kesehatan dan mencapai kesembuhan baik fisik, psikis, maupun sosial. Tujuan kesehatan tidak hanya memulihkan kesehatan pasien secara fisik tetapi sedapat mungkin diupayakan menjaga kondisi emosi dan jasmani pasien menjadi nyaman, namun kemajuan yang pesat dalam teknologi medis belum diiringi dengan kemajuan yang sama pada aspek-aspek kemanusiaan dari perawatan pasien. Proses perawatan di rumah sakit seringkali mengabaikan aspek-aspek psikologis sehingga menimbulkan berbagai permasalahan pisikologis bagi pasien yang salah satunya adalah kecemasan. Kecemasan merupakan perasaan yang paling umum dialami oleh pasien yang dirawat di rumah sakit, kecemasan yang sering terjadi adalah apabila pasien yang dirawat di rumah sakit harus mengalami proses pembedahan. Pembahasan tentang reaksi-reaksi pasien terhadap pembedahan sebagian besar berfokus pada persiapan pembedahan dan proses penyembuhan. Pembedahan adalah tindakan pengobatan yang banyak menimbulkan kecemasan, sampai saat ini sebagian besar orang menganggap bahwa semua pembedahan yang dilakukan adalah pembedahan besar. Tindakan pembedahan merupakan ancaman potensial aktual terhadap integritas seseorang yang dapat membangkitkan reaksi stress fisiologis maupun psikologis (Barbara C.Long, 1989) Pandangan setiap orang dalam menghadapi pembedahan berbeda, sehingga respon pun berbeda. Setiap menghadapi pembedahan selalu menimbulkan ketakutan dan kecemasan pada pasien, kecemasan sering muncul pada usia sebelum 30 tahun (Stuard and Sundeen, 1998). Seseorang yang sangat cemas sehingga tidak bisa berbicara dan mencoba menyesuaikan diri dengan kecemasan sebelum operasi, seringkali menjadi hambatan pada paska operasi, pasien menjadi cepat marah, bingung, lebih mudah tersinggung akibat reaksi psikis, dibandingkan dengan orang yang cemas ringan (Barbara C. Long, 1996). Pasien pre operasi sangat membutuhkan dukungan keluarga, pasien dapat mengekspresikan ketakutan dan kecemasannya pada keluarga dengan mengurangi kecemasan dan ketakutan yang berlebihan dan tidak beralasan, akan mempersiapkan pasien secara emosional. Selain itu, mempersiapkan keluarga terhadap kejadian yang akan dialami pasien dan diharapkan keluarga banyak memberi dukungan pada pasien dalam menghadapi operasi (Anderson dan Masur 1989).
1. Dukungan keluarga sebagai salah satu sumber dukungan bagi anggota keluarga yang sedang sakit. Dari hasil observasi atau studi pendahuluan selama satu minggu, dengan teknik wawancara di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta, pada tanggal 15 Februari tahun 2008, didapatkan data bahwa dari 15 pasien yang mau melakukan operasi, 9 orang diantaranya merasa cemas, dengan data sebagai berikut:

1. Satu pasien mengatakan cemas dikarenakan tidak didampingi oleh kedua orang tua dan suami yang merupakan sumber dukungan, kedua orang tuanya berada diluar kota sedang suami sibuk mencari surat keringanan biaya operasi, tanda-tanda kecemasan yang dimiliki adalah pasien lebih banyak berdiam diri dan murung. 2. Tiga pasien mengatakan cemas karena saat di rumah sakit tidak didampingi oleh keluarga namun hanya didampingi oleh suami, dan tanda-tanda kecemasan yang dimiliki antara lain nafsu makan berkurang,sering bangun saat malam hari, muka terlihat puat dan murung. 3. Lima pasien mengatakan cemas dikarenakan tidak ada dukungan dari anak-anak dan sanak saudara, tanda-tanda kecemasan yang dimilliki adalah jarang berkomunikasi, sering menanyakan keluarga, dan sulit untuk memulai tidur. 4. Enam pasien mengatakan tidak cemas dikaranakan mendapatkan dukungan dari keluarga, yaitu anak, istri, orang tua yang selalu mendampingi dan sanak keluarga yang bergantian mengunjungi. B. Rumusan Masalah

Dari berbagai uraian latar belakang tersebut diatas maka akan timbul masalah sebagai berikut “Adakah Hubungan Antara Dukungan Keluarga Dengan Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi Di Bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta?”
C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta.
1. Tujuan Khusus

a Diketahuinya dukungan keluarga yang diberikan pada pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. b Diketahuinya tingkat kecemasan pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta.
D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Perawat Di RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta

Mengoptimalkan fungsi perawat dalam penatalaksanan asuhan keperawatan kepada pasien yang mengalami kecemasan, tanpa mengabaikan aspek-aspek psikologis, sehingga profesionalisme perawat dalam bekerja dapat ditingkatkan lagi dan operasi berjalan dengan lancar.
1. Bagi RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta

Dapat dipakai sebagai masukkan untuk meningkatkan pelayanan

Hasil penelitian adalah ada hubungan . 1. Dukungan keluarga adalah variable bebas 3.1. Penelitian yang sama sepengetahuan peneliti belum pernah dilakukan oleh peneliti yang lain. Bagi Pasien Dan Keluarga Di RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta 1. Tingkat kecemasan pada pasien pre operasi adalah variabel terikat 1. pada bulan Januari sampai Maret 2004. namun ada beberapa penelitian yang mirip dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti antara lain : 1. Alat ukur untuk pengumpulan data adalah daftar pertanyaan dalam bentuk kuesioner. Penelitian yang dilakukan oleh Rondhianto (2004) dengan judul “Hubungan antara dukungan keluarga dengan kecemasan perpisahan akibat hospitalisasi pada pasien anak usia pra sekolah di bangsal anak RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Waktu Penelitian ini dilakukan pada bulan April sampai dengan Mei tahun 2008. Variabel Yang Diteliti 2. dengan uji validitas menggunakan product moment dari pearson. Ruang Lingkup Masalah 1. Menambah ilmu pengetahuan dan wawasan 2. Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. Responden Pasien dewasa yang berumur 21– 40 tahun yang menjalani rawat inap dan akan melakukan operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. Bagi Peneliti 1. 1. Memberikan masukan bagi peneliti bahwasanya dukungan keluarga sangat diperlukan bagi pasien.” Menggunakan metode penelitian non eksperimental. E. Memberikan masukan bahwa dukungan keluarga sangat dibutuhkan oleh pasien 3. Memberikan rasa nyaman pada pasien sehingga pasien tidak cemas pada proses operasi 2. Keaslian Penelitian Penelitian ini dititik beratkan pada hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. dengan pendekatan cross sectional. 1. Sampel adalah orang tua dari anak pra sekolah yang dirawat di bangsal Ibnu Sina RSU PKU Muhammadiyah. Tempat penelitian di bangsal Ibnu Sina RSU PKU Muhammadiyah.

Metode yang digunakan adalah quota sampel. Tempat penelitian di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta.” Instrumen penelitian menggunakan angket sedangkan uji validitas dan reabilitas mengunakan product moment dari pearson. Menggunakan kuesioner sebagai alat ukur yang bersifat tertutup dan langsung dalam bentuk check list. untuk mengukur tingkat kecemasan dan rating-scale (skala bertingkat) untuk mengukur dukungan keluarga pada pasien pre operasi. Jenis penelitian yang telah dilakukan tersebut bersifat penelitian deskriptif kualitatif dengan penggunaan wawancara mendalam pada responden dalam metode pengumpulan datanya. peneliti meneliti tentang “Hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta.dukungan keluarga dengan kecemasan pada anak akibat hospitalisasi pada pasien anak usia pra sekolah di bangsal Ibnu Sina RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Jenis penelitian non eksperimental dengan pendekatan cross sectional. Sampel yang dipakai adalah pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta.wordpress. Peneliti melakukan penelitian yang berjudul“ Hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. Menggunakan metode quota sampel. Sardjito Yogyakarta. alat ukur penelitian menggunakan kuesioner. Perbedaan dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah. Yogyakarta”. http://skripsistikes.” Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental dengan pendekatan cross sectional. pada bulan April sampai Mei tahun 2008.com/2009/05/03/ikpiii18/ 6666666666 . alat ukur penelitian menggunakan kuesioner yang diuji validitas dan reabilitas menggunakan product moment dan alpha serta kr 20. 1. dengan uji validitas menggunakan product moment dan reliabilitas menggunakan alpha dan kr 20. sampel yang diteliti adalah pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. 1. peneliti meneliti tentang “Hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. Penelitian yang dilakukan oleh Efrita Herliyati (2005) dengan judul “ Hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kooperatif anak usia pra sekolah saat pemasangan infus di INSKA RS Dr. Hasil penelitian yang dilakukan bahwa tidak ada hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kooperatif anak usia pra sekolah saat pelaksanaan pemasangan infus. Penelitian yang dilakukan oleh Liliyanti (2000) dengan judul “ Peran keluarga dalam proses hospitalisasi di lakukan di bangsal Bedah RS Dr. Penelitian yang dilakukan oleh peneliti memiliki perbedaan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rondhianto (2004) diantaranya. Sardjito.” yang merupakan penelitian non eksperimental dengan pendekatan cross sectional. sampel adalah pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta.

Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Kecemasan Dan Pengetahuan Pada Pasien Preoperasi Fraktur Di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten
ABSTRAK Burhanuddin, S541002006. Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Kecemasan Dan Pengetahuan Pada Pasien Preoperasi Fraktur Di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten. Komisi Pembimbing I : Prof. Dr. Sri Yutmini, M. Pd. Pembimbing II : Dr. Nunuk Suryani, M.Pd. Tesis: Magister Kedokteran Keluarga. Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta. 2011. Latar Belakang: Kecemasan juga dapat terjadi pada pasien yang akan menjalani operasi patah tulang atau fraktur. Kecemasan pada masa preoperasi fraktur meliputi takut terhadap anestesi, takut terhadap nyeri atau kematian, takut tentang ketidaktahuan atau takut tentang deformitas atau ancaman lain terhadap citra tubuh. Pendidikan kesehatan adalah salah satu yang bertujuan untuk menurunkan tingkat kecemasan pasien preoperasi fraktur melalui pemenuhan kebutuhan informasi mengenai pembedahan. pendidikan kesehatan merupakan satu bentuk intervensi keperawatan yang mandiri untuk membantu klien, baik individu, kelompok, maupun masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatannya melalui kegiatan pembelajaran, yang didalamnya perawat berperan sebagai perawat pendidik yang bertugas untuk meningkatkan pengetahuan klien Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kecemasan dan pengetahuaan pada pasien preoperasi fraktur sebelum dan sesudah memperoleh pendidikan kesehatan. Metode: Desain dalam penelitian ini adalah Pre-eksperimental design (Pre-eksperimental one group pre test-post test design). Populasi sumber penelitian ini adalah penderita yang akan menjalani operasi fraktur di RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten dari tanggal 07 Juli s/d 07 Agustus 2011. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Penentuan jumlah sampel menggunakan metode exhaustive sampling. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner yang berisi pernyataan tentang kecemasan dan tes pengetahuan. Data dianalisis dengan menggunakan uji Paired Sample T-Test. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara kecemasan pada pasien preoperasi fraktur sebelum dan sesudah memperoleh pendidikan kesehatan (t = 92,697 dan p = 0,000). Ada perbedaan yang signifikan antara pengetahuan pada pasien preoperasi fraktur sebelum dan sesudah memperoleh pendidikan kesehatan (t = 16,683 dan p = 0,000). Simpulan: Pendidikan kesehatan dapat menurunkan tingkat kecemasan dan meningkatkat pengetahuan pada pasien preoperasi fraktur. Disarankan pada penyelenggara pelayanan kesehatan agar melakukan pendidikan kesehatan pada pasien preoperasi fraktur karena terbukti mampu menerunkan kecemasan dan meningkatkan pengetahuan pasien. Kata Kunci: Pendidikan Kesehatan, Kecemasan, Pengetahuan, Preoperasi fraktur. ABSTRACT

Burhannudin, S541002006. Effect of Health Education on Worry and Knowledge of Fracture Presurgery Patients in Dr. Soeradji Tirtonegoro General Hospital of Klaten. The first commission of supervision : Prof. Dr. Sri Yutmini, M. Pd. The second supervision is Dr. Nunuk Suryani, M.Pd. Thesis. Family Medical Magister. Postgraduate Program of Sebelas Maret University of Surakarta. Background: Worry may occur in a patient who will go through surgery for his/her fracture. Worry in fracture presurgery period includes worry of anesthesia, worry of pain or death, worry of ignorance or worry about deformity or other threats on body image. One of health education aims is to reduce worry level of patients of fracture presurgey through meeting information needs of the patient. Health education is one of independent nursing intervention in attempts of helping client, individually or collectively and people in overcoming health problems by conducting learning activities in which nurse has a role as educator nurse whose duty is to enhance client‟s knowledge. Purpose: The research aims to know difference of worry and knowledge of fracture presurgery patients before and after receiving health education. Method: Design of the research is pre-experimental one (pre-experimental one group pretest posttest design). Population of the research is patients who will go through fracture surgery in Dr. Soeradji Tirtonegoro General Hospital of Klaten during 07 July - 07 August 2011. Sample of the research is taken by using purposive sampling technique. Number of sample is determined by using exhaustive sampling method. Data is collected by using questionnaire asking about worry and test of knowledge. The data is, then, analyzed by using Paired Sample T-Test. Results: Results of the research indicated that there was a significant difference between worry of fracture presurgery patients before and after receiving health education (t=92.696 and p = 0.000). There was a significant difference between knowledge of fracture presurgey patients before and after receiving health education (t=16.683 and p = 0.000). Conclusion: Health education can reduce worry level of fracture presurgery patients and increase knowledge of the patients. It is suggested that health provider should perform health education for fracture presurgery patients because it is proved to be able to reduce worry and to improve knowledge of the patients.
http://pasca.uns.ac.id/?p=1891 7777777

Manfaat membaca al-Qur'an untuk kehidupan
Sebagai wahyu yang Allah turunkan kepada nabi-Nya, tentu al-Qur'an memiliki keutamaan dan keistimewaan tersendiri bagi para pembaca dan penggemarnya. Ayat-ayat al-qur'an yang kita baca sehari-sehari tidak lepas dari karunia Allah untuk setiap muslim yang demikian besar. Karena saking istimewanya al-Qur'an ini dari kitab-kitab samawi lainnya, Allah memberikan tempat istimewa bagi para pecintanya. Oleh karena bagi anda yang ingin memaksimalkan peran al-Qur'an dalam kehidupan, nampaknya harus lebih banyak lagi mengetahui manfaat dan perannya, terutama untuk kehidupan. Di antara

manfaat itu adalah: 1. Ayat-ayat al-Qur'an yang dibaca setiap hari akan memberikan motivasi dan penyemangat bagi si pembacanya. 2. Ketika membaca al-Qur'an, Allah akan menegur diri kita pada setiap ayat-ayat-Nya. 3. Bacaan al-Qur'an yang melibatkan emosi akan memberikan kedamaian dan ketenangan yang tidak bisa dilukiskan, seperti yang dialami dan dirasakan oleh Sayyid Quthb Rahimahullah. 4. Orang yang membaca al-Qur'an akan senantiasa ingat Allah dan kembali kepada-Nya. 5. Orang yang membaca al-Qur'an akan selalu berada dalam kecukupan dan nikmat Allah meski ia merasakan serba kurang di dunia. 6. Ayat-ayat Alloh akan menjadi penjaganya selama ia hidup di dunia, karena ia telah menjaga ayat-ayatNya. 7. Orang yang paham al-Qur'an adalah orang yang memiliki banyak ilmu. 8. Orang yang membaca al-Qur'an bagaikan orang yang sedang menyelami samudera kehidupan, dan mengambil manfaat darinya. 9. Orang yang selalu akrab dengan ayat-ayat akan diberikan jiwa yang sejuk, hati yang damai dan pikiran yang jernih, sehingga membuatnya ingin selalu beramal, kreatif, inovatif dan produktif. 10. Orang yang membaca al-Qur'an akan selalu berada dalam kegembiraan dan penuh harapan, di saat orang lain merasakan kesedihan, kecemasan dan rasa pesimis. Karena diri mereka selalu dipompa dengan siraman ayat-ayat-Nya yang lembut. 11. Orang yang rajin membaca al-Qur'an akan selalu diberikan jalan kemudahan dan petunjuk sehingga tidak mudah untuk menyimpang dan menyerah karena ayat-ayat Allah akan selalu mengingatkan dirinya ketika dirinya 'tersandung dosa dan maksiat.' 12. Orang yang membaca dan menjaga al-Qur'an selalu berada dalam lindungan dan penjagaan Allah. Ayat-ayat al-Qur'an mengajak pembacanya untuk senantiasa berpikir, merenung dan beramal sebanyakbanyaknya. Dan masih banyak manfaat-manfaat lainnya yang terus update dengan kondisi kehidupan kita...Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu belajar dan meningkatkan diri untuk lebih dekat lagi dengan alQur'an...Amiin wallahu a'lam http://baskomm.blogspot.com/2011/06/manfaat-membaca-al-quran-untuk.html 888888

Penawar Hati..., Katakanlah: “Al Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman”. QS. Fushilat: 44).
Wednesday, 16 March 2011 06:15 Lady Ukhtifillah Rahimakumullah

(QS. baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman. didalam kehidupan seorang yang beriman tidak terlepas dari kebimbangan dan kesedihan yang mengeruhkan kebeningan kehidupannya dan mematahkan kenikmatannya. semua perkara yang mengeruhkan hidup akan menjadikan seorang mu‟min mengetahui kehinaan duniawi. dan aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi -Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan -Nya. bingung. Perkara ini akan menghapuskan dosa-dosanya dan mengangkat derajatnya. maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. bertdharru‟ kepada -Nya. Allah subhanahu wata‟ala berfirman: Barang siapa yang mengerjakan amal saleh. Al-Nahl: 97) Segala puji hanya bagi Allah subhanahu wata‟ala. yang paling penting adalah bahwa semua cobaan hidup ini akan mengarahkan seorang yang beriman untuk kembali kepada Allah subhanahu wata‟ala. (QS. serta akan merasakan kebahagiaan dan merasa dekat dengan Allah Azza Wa Jalla. Fathir: 34-35) Alangkah agungnya manfaat yang didapatkan bagi orang yang mengetahui hikmah Allah yang terakandung di dalamnya. baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman. Amma Ba‟du: Terkadang. dia akan mendapat manfaat yang lain. (35)Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga) dari karunia -Nya. Selain itu. dia akan mementingkan akherat dengan penuh keyakinan bahwa dia lebih baik dan lebih kekal abadi. yaitu sebuah kebahagiaan yang tidak bisa terlukiskan. Dan di bawah ini beberapa langkah yang bermanfaat untuk menghalau rasa bimbang. maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. sebab tidak ada kebimbangan di dalam surga dan tidak pula kesedihan sebagaimana ditegaskan di dalam firman Allah subhanahu wata‟ala: Dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami. Al-Nahl: 97) .“As-salámu „alaikum wa Bismillah Ar Rahman Ar Raheem Penawar Kebingungan dan Kebimbangan rahmatul láhi wa barakátuh!” Barang siapa yang mengerjakan amal saleh. Selain itu. shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam. di dalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu”. sedih dan berencana bagi orang yang menggunakannya secara baik: Pertama: Beriman dan beramal shaleh. bersimpuh di hadapan -Nya. Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. (QS. sehingga dengannya hati akan mendapatkan ketenangan dan ketentraman. Perasaan ini akan membawanya kepada zuhud dengan dunia dan tidak cendrung kepadanya.

kecuali Allah akan menghapuskan dengannnya kesalahan-kesalahannya”. kebimbangan. (QS. dan apabila mendapat musibah dia bersabar dan itu lebih baik baginya”. baik kebimbangan dan kecemasan pada hakekatnya hal itu sebagai penghapus bagi kesalahankesalahannya dan tabungan bagi kebaikannya. jika dia mendapatkan kebaikan maka dia bersyukur maka itu adalah lebih baik baginya. Akhirnya seorang muslim menyadari bahwa apapun musibah yang menimpanya. Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran). bahwa dia fana. Kedua: Kegembiraan seorang muslim karena apa yang diperolehnya berupa pahala yang agung. banyak bersedih. kebingungan bahkan duri yang menusuknya.. tidak pernah menjanjikan kecerahan bagi siapapun. Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim dari Abi Hurairah RA bahwa Nabi Muhammad shalallahu „alaihi wasallam bersabda: Apa apa yang menimpa seorang muslim baik keletihan. Bahkan salah seorang di antara mereka senang jika ditimpa musibah sebagaimana kesenangan mereka hidup dalam suasana sentosa. upah yang besar. Ali Imron: 140). kesedihan. jika dia seseorang gembira di dunia dalam waktu yang pendek maka dia juga membuat seseorang. kebingungan. sebagai balasan atas kesabaran dan harapan pahala dari Allah subhanahu wata‟ala atas bencana-bencana yang menimpanya itu baik berupa kebimbangan duniawi dan segala bentuk musibahnya. kesenangan yang ada padanya sangatlah sedikit. Ketiga: Mengetahui hakekat dunia. kecemasan maka seorang yang beriman akan merasa tenang setelah meninggalkannya. maka orang itu menangis di dunia dalam waktu yang panjang. Allah subhanahu wata‟ala berfirman: Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu. di dalam riwayat yang lain disebutkan oleh Imam Muslim: Apapun yang menimpa seorang muslim baik duri atau yang lebih kecil darinya kecuali Allah akan mengangkat derajatnya dengan musibah tersebut atau dia akan dihapuskan kesalahannya”. Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Hurairah RA bahwa Nabi Muhammad shalallahu „alaihi wasallam bersabda: Dunia ini adalah penjara bagi orang yang beriman dan surga bagi orang kafir”. jika seseorang tertawa di dunia dalam sesaat. Dunia juga sebagai ladang kelelahan. di dalam riwayat yang lain disebutkan: Bahkan kecemasan kecuali Allah subhanahu wata‟ala akan menghapuskan dengannya segala keburukan-keburukannya”. gangguan. Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Shuhaib RA berkata: Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam bersabda: Sungguh menakjubkan perkara seorang yang beriman. dan hal itu tidak terjadi kecuali bagi orang yang beriman. Maka hari-hari bergilir satu hari untuk kemenangan dan di hari yang lain penderitaan. gangguan. penyakit yang akut. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Qotadah bahwa jenazah seseorang melewati Nabi Muhammad shalallahu „alaihi wasallam lalu bersabda: Tenang dan orang lain tenang darinya”.Ini adalah janji Allah subhanahu wata‟ala kepada orang yang beriman dan beramal shaleh bahwa Dia akan menganugarahkan kepada mereka kehidupan yang baik. Seorang ulama salaf berkata: Seandainya bukan karena musibah maka kita akan datang pada hari kiamat sebagai orang yang merugi. . kelezatannya bisa mendatangkan kekeruhan. sesungguhnya segala perkara orang yang beriman itu baik.

lemah dan malas. Allh subhanahu wata‟ala berfirman: Berkata Musa: “Ya Tuhanku. sebab dia menyadari bahwa itulah hakekat dunia. lilitan hutang dan penindasan orang. Allah subhanahu wata‟ala berfirman: Dan apabila hamba-hamba -Ku bertanya kepadamu tentang Aku. pohon dan hewan akan tenang dengan kepergiannya”. Kelima: Berdo‟a. Dan Nabi Muhammad shalallahu „alaihi wasallam meminta perlindungan kepada Allah subhanahu wata‟ala dari segala kebimbangan dan kesedihan. lapangkanlah untukku dadaku. namun jika seseorang menjadikan orientasinya mengarah kepada akherat maka Allah subhanahu wata‟ala akan mengumpulkan kekuatannya dan tekadnya akan dimantapkan. Al-Baqarah: 186).Para shahabat bertanya: Wahai Rasulullah apa yang anda maksudkan dengan kata tenang dan orang lain tenang darinya?. Thaha: 25).” Diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam kitab sunannya dari hadits riwayat Abdurrahman bin Abi Bakroh bahwa Nabi Muhammad shalallahu „alaihi wasallam bersabda: Do‟a orang yang kesusahan adalah. (QS. maka (jawablah). dan barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai orientasinya maka Allah akan menjadikan kefakiran di hadapannya dan mencerai beraikan kekuatannya dan dunia tidak datang kepadanya kecuali apa yang telah ditetapkan baginya”. Diriwayatkan oleh Al-Buhkari di dalam kitab shahihnya dari Anas bin Malik berkata : Aku menjadi pembantu Nabi Muhammad shalallahu „alaihi wasallam di dalam rumah tangganya dan apabila beliau memasuki rumah keluarganya maka beliau bersabda: “Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepada -Mu dari (hal yang) menyedihkan dan menyusahkan. “Ya Allah! Aku mengharapkan (mendapat) rahmat -Mu. Maka beliau bersabda: Seorang hamba yang beriman akan tenang terlepas dari keletihan duniawi dan gangguannya menuju rahmat Allah sementara hamba yang bejat akan membuat manusia. memporak-porandakan kekuatannya. Langkah ini adalah penawar yang paling ampuh dalam menghilangkan kebimbangan dan kebingungan. Diriwayatkan oleh Al-Turmudzi di dalam kitab sunannya dari Anas bin Malik bahwa Nabi Muhammad shalallahu „alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa yang menjadikan negeri akherat sebagai orientasinya maka Allah akan menjadikan kekayaan di dalam hatinya dan Dia akan mengumpulkan segala kekuatannya sementara dunia ini akan datang mengejarnya dengan penuh ketundukan. bahwasanya Aku adalah dekat. negeri. oleh karena itu. jangan Engkau biarkan . (QS. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada -Ku. Keempat: Kebimbangan dan kecemasan yang terjadi dunia ini akan membuat jiwa ini tercerai berai. bakhil dan penakut. Inilah makna tentang hakekat dunia yang disadari oleh orang yang beriman maka dengan kesadaran ini segala musibah dan kebimbangan akan menjadi enteng.

QS. Langakah-langkah untuk menggapai kebahgiaan itu ternyata sangat banyak bagi mereka yang menyadarinya. Allah subhanahu wata‟ala berfirman: Katakanlah: “Al Qur‟an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman”. (QS. dan aku hanya menyebutkan beberapa langkah yang penting saja. dan semua langkah ini akan bertumpu pada membaca Al-Qur‟an yang dibarengi dengan perenungan. Keenam: Bertawakkal kepada Allah subhanahu wata‟ala.diriku sekejap mata (tanpa pertolongan atau rahmat dari -Mu). maka dia akan percaya kepada Allah. (QS.”. Hati akan merasakan kekuatan.html . semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad dan kepada keluarga. Ingatlah. Perbaikilah seluruh urusanku. dia adalah pelipur hati. Al-Ra‟du: 28). mengharap pada karunia -Nya. tidak menyerah pada kecemasan. Al-Isro‟: 82) Maka barangsiapa yang membaca Al-Qur‟an ini dengan penuh perenungan dan meresapi maknanya maka segala kecemasan dan kebimbangan akan hilang dari dirinya. (QS. kelapangan dan kegembiraan yang tidak bisa terlukiskan…. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. serta akan terbebas dari banyak jenis penyakit hati dan jasad. berserah diri kepada -Nya. Dia berfirman: Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Fushilat: 44).net/joomla-license/67-penawar-hati-katakanlah-al-quran-itu-adalah-petunjuk-danpenawar-bagi-orang-orang-yang-beriman-qs-fushilat-44. niat yang benar dan dibarengi dengan usaha-usaha yang menyebabkan do‟a tersebut diterima maka Allah pasti memberikan apa-apa yang dimintanya dan dia berbuat untuk mewujudkan keinginannya serta kecemasan akan berbuah kesenangan dan kegembiraan. Syekh Abdurrahman As-Sa‟di berkata: Maka pada saat hati ini bergantung kepada Allah subhanahu wata‟ala. dengannya pula segala serpihan-serpihan kebimbangan dan kebingungan akan terusir. tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. penghapus kesedihan. cahaya bagi dada. shahabat serta seluruh pengikut beliau http://khutbahbank. obat bagi segala macam penyakit baik penyakit badan atau hati. Al-Thalaq: 3) Artinya mencukupkan keperluannya baik dari perkara dunia atau akherat. Allah subhanahu wata‟ala berfirman: Dan Kami turunkan dari Al Qur‟an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman”. tidak pula dikendalikan oleh hayalan-hayalan yang buruk. hanya dengan mengingat Allah -lah hati menjadi tenteram. Allah subhanahu wata‟ala berfirman: (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. penghilang segala kebimbangan dan kebingungan.” Apabila seorang hamba mendengungkan do‟a ini dengan hati yang sadar.

Kreativitas adalah sebuah hasil latihan. Akan tetapi positifnya. PENGARUH BELAJAR DAN TERAPI MEMBACA AL QUR’AN SECARA RUTIN TERHADAP HILANGNYA RASA CEMAS PADA ANAK DIDIK SAAT MENGHADAPI UJIAN AKADEMIK. teori tentang kognitif-Behavioral. atau bahkan membaca Al-Qur’an. Keadaan teta adalah kondisi ketika pikiran atau otak bekerja secara baik. Dia tidak gampang putus asa dengan ribuan kasus kegagalannya. Ketika seseorang tidur dan bermimpi. terapi membaca Al-Quran ini bisa dilaksanakan secara mandiri oleh peserta didik usia sekolah menengah. 1. Kreativitas yang tidak dilatih akan lumpuh. Suatu upaya terus menerus tak kenal lelah. Dimana rasa cemas itu disebabkan oleh proses-proses berpikir yang menyimpang. otak harus berada dalam keadaan alfa. dan mengalami keteganggang otot yang amat sangat. Ketika seseorang tidur dan tidak bermimpi itu artinya ia tidak melakukan apa-apa. Untuk mengingat dengan baik.13 Hz. Tahap iluminasi dari proses kreatif menunjukkan gelombang alfa pada otak.5 Hz. Latar belakang Setiap orang pasti pernah mengalami kecemasan. Kedua. ketidaksabaran. karena tidak ada cara untuk menghindari kecemasan. ini merupakan salah satu kunci kesuksesan Thomas Alfa Edison. dan nasional. mudah tersinggung. Ketika seorang bermeditasi atau bertafakur. Ini adalah proses belajar yang dialami Thomas Alfa Edison. 2002: 166). sekolah. keadaan ini adalah kondisi yang prima untuk penyembuhan penyakit. Itu justru memicu keingintahuan yang mendalam. Ada beberapa teori dalam psikologi yang menjelaskan tentang sebab-sebab kecemasan. Kecemasan yang sering dihadapi oleh peserta didik di usia sekolah menengah pada saat menghadapi ujian semester. Ketika seseorang dilanda setres atau frustasi dan tidak dapat berpikir jernih. dan “bening”. dan bermimpi. berati ia dalam keadaan teta. otak bekerja sedemikian rupa malalui gerakan-gerakan sel saraf dan melepas muatan sehingga di dalam otak ada gelombang listrik. kisaran 7 atau 8. sangat mudah lelah. jernih. Pertama teori psikoanalisis yang berpendapat bahwa sumber kecemasan adalah konflik yang tidak disadari antara ego (alam sadar) dan impuls-impuls id (alam bawah sadar). Keadaan tidur ini disebut keadaan delta yang memiliki frekuensi 0. Dan jika seseorang meninggalkan id maka orang tersebut tidak lagi hidup.5-3. Maka untuk mengurangi kecemasan tersebut anak didik harus belajar dan dibutuhkan terapi membaca Al-Quran secara rutin. tidur. Tidak gampang menyerah. Ciri-ciri orang yang mengalami gangguan kecamasan antara lain kesulitan untuk berkonsentrasi. berdzikir. Ada empat jenis gelombang otak yang merekam aktivitas manusia sepanjang waktu. Keadaan ini menunjukkan bahwa kondisi otak sedang berada .999999999 PENGARUH BELAJAR DAN TERAPI MEMBACA AL QUR’AN SECARA RUTIN TERHADAP HILANGNYA RASA CEMAS PADA ANAK DIDIK SAAT MENGHADAPI UJIAN AKADEMIK. misalnya otot seorang binaraga yang tidak pernah dilatih (Taufiq Pasiak.

Serta program ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi orang tua dan guru agar mengarahkan anak didiknya untuk membaca Al-Quran. Hambatan yang kemungkinan dialami . 2. sekolah. Manfaat program Perancang program berharap program ini bisa menambah wawasan mengenai manfaat membaca AlQuran secara rutin sebagi obat penghilang rasa cemas disertai dengan belajar rutin bagi setiap anak didik di sekolah menengah. Tujuan Program Program ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh membaca Al-Quran dan belajar secara rutin terhadap hilangnya rasa cemas pada anak didik saat menghadapi ujian semester. Banyak juga peserta didik yang melakukan belajar dengan sistem kebut semalam. metode yang digunakan adalah observasi partisipan. Metode dan Cara Penyampaian Metode pengumpulan data ini dilakukan dengan mengumpulkan data yang berhubungan dengan manfaat belajar dan membaca Al-Qur’an. Selain itu. Cara penyampaiannya dengan melakukan sosialisasi di sekolah dan masyarakat tentang pentingnya belajar dan membaca Al-Qur’an secara rutin. 5.dalam kondisi beta. maupun nasional. Tapi dilihat dari fenomena yang ada banyak peserta didik dan guru yang melakukan doa bersama sehari sebelum ujian dan berkeyakinan dapat membuat mereka lulus dalam ujian. Gelombang ini berkisar di atas 13 Hz yang menunjukkan kinerja logis otak. Dimana observer juga melakukan belajar dan terapi membaca Al-Qur’an secara rutin dan mandiri. 6. Namun seharusnya hal ini dilakukan secara rutin. 2002). Sasaran program Sasaran dari program ini adalah anak didik di sekolah menengah. 3. 4. Otak dalam kondisi ini adalah otak analitis (Taufiq Pasiak.

baik dari segi mentalitas maupun kognitif. Guru dan orang tua yang peduli terhadap kemajuan anak. maupun nasional. Selain itu juga orang tua tidak lupa untuk mengontrolnya. 8. 4. 2. 4. Solusi 1. Orang tua memberikan tanggung jawab kepada anak untuk megatur waktu belajar mengajinya sendiri. 3. 2. baik muslim maupun non muslim karena intonasi dan bacaan Al-Quran itu dapat menghilangkan gelombang beta pada otak. 5.com/2011/05/pengaruh-belajar-dan-terapi-membaca-al. 2.blogspot. 3. 4. Guru hanya menekankan segi kognitif dari pada psikis anak didiknya. Waktu menonton televisi dan bermain yang berlebihan bagi anak usia sekolah menengah.1. Tidak semua anak didik usia sekolah menengah beragama islam. Anak didik diajari dan disuruh untuk membaca Al-Quran. baik melalui sms maupun dari oknum. 7. Remaja Indonesia yang tidak mudah terpengaruh oleh arus globalisasi dan tidak latah dengan fenomena yang dipropogandakan oleh media masa. Guru tidak hanya mementingkan segi kognitif anak saja tetapi juga harus memikirkan segi psikis anak.html Selasa. misalnya anak diwajibkan mengikuti ekstrakulikuler sesuai dengan bakat dan minat anak. dimana gelombang beta tersebut dapat menyebabkan pikiran tidak bisa fokus dan sulit berkonsentrasi serta tidak dapat berpikir jernih. Anak didik lebih percaya diri dengan kemampuannya tanpa mengandalkan contekan dari teman dan bocoran jawaban soal ujian. YUNUS BENGKULU TAHUN 2010 BAB I . 24 Mei 2011 HUBUNGAN PENDIDIKAN DAN PERAN PERAWAT DENGAN TINGKAT KECEMASAN PADA PASIEN PRE OPERASI DI RUANG SERUNI RSUD. Anak didik yang disiplin. 3. Hasil Pembuat program berharap dengan dilaksanakannya program ini dapat terlahir: 1. M. Orang tua tidak peduli terhadap waktu belajar dan mengaji untuk anak usia sekolah menengah. sekolah. Anak usia sekolah dibatasi waktu untuk menonton televisi dan bermain agar anak menjadi disiplin. Anak didik menjadi lebih tenang saat menghadapi ujian semester. http://arifindikromo.

8. 2007). Setiap pasien pernah mengalami periode cemas. didapatkan bahwa 10% dari pasien yang akan menjalani pembedahan. gambaran diri. Kecemasan terjadi ketika seseorang merasa terancam baik fisik maupun psikologisnya misalnya harga diri. R.5%) dalam kategori ringan dan responden yang tidak merasa cemas sebanyak 2 orang (5%).922 pasien (25. sebuah institusi dan sebuah organisasi yang fungsi utamanya adalah memberikan pelayanan kepada pasien diagnostik dan terapeutik untuk berbagai penyakit dan masalah kesehatan. Pelayanan yang ada di Rumah Sakit adalah pelayanan pengobatan baik yang bersifat bedah maupun non bedah. Berdasarkan data dari RSUD Sragen Wijaya Kusuma. Hasil penelitian di Rumah Sakit Ortopedi Prof Dr. Dari. 2006). Bila kecemasan pada pasien pre operasi tidak segera diatasi maka dapat mengganggu proses penyembuhan.al (2007) tentang tingkat kecemasan pre operasi bahwa dari 40 orang responden dalam tingkat kecemasan berat sebanyak 7 orang (17. 2003). Kecemasan merupakan perasaan yang paling umum di alami oleh pasien yang dirawat dirumah sakit. Soeharso tahun 2008 dari 3827 pasien yang mengalami pembedahan sekitar (2%) mengalami kecemasan (Makmur. Amerika Serikat menganalisis data dari 35. Penelitian yang dilakukan oleh makmur et. Kecemasan yang terjadi dapat berpengaruh terhadap peningkatan tekanan darah (RSUD Sragen. kecemasan yang sering terjadi adalah apabila pasien yang dirawat di rumah sakit harus mengalami proses pembedahan. Reaksi cemas ini akan berlanjut bila pasien tidak pernah atau kurang mendapat informasi yang berhubungan dengan penyakit dan tindakan yang dilakukan terhadap dirinya. Sebagian besar pasien beranggapan bahwa operasi merupakan pengalaman yang menakutkan. Berdasarkan data WHO (2007).5%). 2007). Pembedahan merupakan tindakan pengobatan yang banyak menimbulkan kecemasan. 16 orang (40%) yang memilki tingkat kecemasan dalam kategori sedang. terjadi penundaan proses operasi karena peningkatan kecemasan. Pembahasan tentang reaksi – reaksi pasien terhadap pembedahan sebagian besar berfokus pada persiapan pembedahan dan proses penyembuhan (Dewi wijayanti. untuk itu pasien yang akan menjalani operasi harus diberi pendidikan kesehatan untuk menurunkan atau mengurangi gejala kecemasan (Carbonel. 15 orang (37.539 pasien bedah dirawat di unit perawatan intensif antara 1 oktober 2003 dan 30 september 2006.473 pasien (7%) mengalami kecemasan. 2002). dan identitas diri (Tjandra.1%) mengalami kondisi kejiwaan dan 2. Latar Belakang Rumah sakit adalah sebuah fasilitas. . Kecemasan merupakan gejala klinis yang terlihat pada pasien dengan penatalaksanaan medis.PENDAHULUAN 1. apalagi yang akan menjalani operasi.

Termasuk salah satunya dalam mengendalikan kebutuhan emosi diri pasien terutama pasien pre operasi dan post operasi. 2002). mempunyai kewajiban membantu pasien mempersiapkan fisik dan mental untuk menghadapi operasi. anak ataupun keluarga yang lain. Perawat merupakan salah satu tenaga kesehatan yang paling sering berinteraksi dengan pasien. sosial. Sikap dan tingkah laku perawat membantu menumbuhkan rasa kepercayaan pasien. termasuk dalam pemberian pendidikan kesehatan. Peran perawat dalam upaya penyembuhan klien menjadi sangat penting. pada tahun 2007 terdapat 4449 pasien yang mengalami pembedahan. dan spiritual. Yunus Bengkulu. Peran perawat sangat penting untuk memberikan suport atau dukungan dan penyuluhan terhadap penurunan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi ( Kuntjoro. dan faktor psikologis yang dapat terjadi akibat implusimplus bawah sadar yang masuk kealam sadar seperti tidak didampingi oleh orang tua. Sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap perubahan-perubahan hidup sehat (Notoatmojo. Berdasarkan hasil pengumpulan data di RSUD M. terutama dalam motivasi untuk berperan serta dalam pembangunan kesehatan. Makin tinggi pendidikan seseorang. 2006). Kecemasan yang terjadi dapat berpengaruh terhadap peningkatan tekanan darah. maka makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimilikinya. Tujuan agar persiapan yang dilakukan dapat sebaik mungkin (RSUD M. Pasien yang akan menjalani operasi besar dianjurkan untuk minimal masuk rumah sakit 12 jam sebelum pre operasi dilaksanakan dan operasi kecil 6 jam sebelum dilaksanakan. suami. psikologis. Pendidikan dapat mempengaruhi seorang termasuk juga prilaku seseorang akan kepatuhannya. Peran perawat sangat penting dalam penanggulangan kecemasan dan berupaya agar pasien tidak merasa cemas melalui asuhan keperawatan komprehensif secara biologis. Perawat harus mau mendengarkan semua keluhan pribadi pasien (Widodo.Yunus Bengkulu. (Ibrahim. Seorang perawat dituntut bisa mengetahui kondisi dan kebutuhan pasien. Salah satu cara melakukan hal ini ialah dengan mencurahkan perhatian sampai kepada hal yang sekecil-kecilnya dalam merawat pasien. Perawat mempunyai kontak paling lama dalam menangani persoalan pasien. maka memerlukan keterampilan komunikasi yang baik. sehingga tindakan anestesi atau pembedahan ditunda. 2008). dengan rincian sembuh 2259 dan 36 pasien meninggal (15%) dilakukan penundaan karena peningkatan kecemasan. 1998). 1999). yang dirawat 2154 pasien. 2002 ). Selain itu faktor pendidikan pasien juga dapat mempengaruhi kecemasan yaitu tingkat pendidikan yang rendah serta kurangnya dukungan dari perawat (Sadock dan Kaplan. .Kecemasan pre operasi dapat dipengaruhi dari beberapa faktor antara lain adalah faktor biologis yang terjadi akibat dari reaksi saraf otonom yang berlebihan dengan naiknya system tonus saraf simpatis.

Yunus Bengkulu". M. 2. Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan di atas. susah tidur. Mengetahui gambaran peran perawat di ruang seruni RSUD. Mengetahui hubungan peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. Yunus Bengkulu didapatkan data bahwa dari 15 pasien yang akan melakukan operasi 5 orang yang mengalami kecemasan berat dengan ciri-ciri muka merah. M. Rumusan masalah Berdasarkan uraian dalam latar belakang di atas. M. Yunus Bengkulu. 4.. Untuk menurunkan tingkat kecemasan pasien tersebut keluarga dan perawat harus lebih banyak memberikan dukungan salah satunya yaitu selalu berada dekat pasien. Yunus Bengkulu didapatkan data 2008 sebanyak 1033 dan data 2009 dari januari sampai tanggal Desember sebanyak 786 orang yang melakukan operasi.Yunus Bengkulu. M. Mengetahui gambaran tingkat pendidikan pada pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. gelisah. masalah penelitian ini adalah masih tingginya tingkat kecemasan pasien pre operasi di RSUD M. nafas pendek. Mengetahui hubungan pendidikan dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. M. M. Manfaat penelitian 1. Mengetahui tingkat Kecemasan pasien pre operasi di Ruang Seruni RSUD Dr. Yunus Bengkulu. memotivasi pasien untuk memberi keyakinan bahwa operasi dapat berjalan dengan lancar. Yunus Bengkulu. M.Sementara dari pengumpulan data awal diruang Seruni RSUD M. 3. Yunus Bengkulu. Dari 5 orang yang mengalami kecemasan berat tersebut mempunyai pendidikan SMA kebawah dan kurang mendapatkan penkes dari perawat. 2. Yunus Bengkulu. Berdasarkan hasil observasi dengan teknik wawancara selama tiga hari di ruang seruni RSUD M. 4. Tujuan umum Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada Hubungan antara pendidikan dan peran perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. gemetar sehingga dapat menghambat proses operasi. Yunus Bengkulu. sering buang air kecil. 5. maka penulis tertarik untuk meneliti hubungan pendidikan pasien dan peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. Tujuan penelitian 1. Sedangkan rumusan masalah penelitian ini adalah "apakah ada hubungan pendidikan pasien dan peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD M. Bagi Akademik . 3. 2. Yunus Bengkulu. Tujuan Khusus 1.

5. 2. Yunus Bengkulu". Adapun perbedaan antara karya tulis ini dengan karya tulis di atas adalah pada variabel. 4. atau depresi dalam menghadapi pembedahan. Agri Maha Tirani dengan judul penelitian "Perbedaan tingkat kecemasan sebelum dan sesudah pemberian pendidikan kesehatan pada pasien pre operasi di RSUD. rancangan dan waktu penelitian. Elika dengan judul penelitian " Hubungan peran perawat dan dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD M. 3.Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi literatur bagi perpustakaan. Rinda Lesti Sentia dengan judul penelitian " Hubungan Tingkat Pendidikan dan Umur Kehamilan dengan Tingkat Kecemasan Ibu Hamil Primigravida di Rumah Bersalin YKWP Desa Kangkung Kabupaten Demak. Dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan di bidang kesehatan. Menambah wawasan dan pengetahuan bagi mahasiswa dan masyarakat mengenai tingkat kecemasan pada pasien pre operasi. Bagi Masyarakat Dapat memperoleh pelayanan yang lebih baik terutama yang mengalami ketakutan. BAB II TINJAUAN PUSTAKA . Bagi Peneliti Lain Hasil penelitian ini dapat berguna sebagai masukan atau informasi bagi peneliti lain dalam mengembangkan penelitian dengan variabel-variabel yang lain. 3. Bagi Rumah sakit Hasil penelitaan ini diharapkan dapat memberi masukan bagi para tenaga kesehatan khususnya pada perawat di ruang seruni dan ruangan yang lain.Adapun perbedaan antara karya tulis ini dengan karya tulis tersebut adalah pada variabel. M. kecemasan. rancangan dan waktu penelitian. 2. Keaslian penelitian Sebagai bahan perbandingan penelitian serupa pernah diteliti oleh : 1. Yunus Bengkulu.

nafas sesak dan dada terasa nyeri (Ayub Sani. Konsep Kecemasan 1. perut terasa kosong. Faktor Biologis Kecemasan terjadi akibat dari reaksi saraf otonomi yang berlebihan dengan naiknya sistem tonus saraf simpatis. 1998). Secara klinis gejala kecemasan dibagi dalam beberapa kelompok yaitu gangguan kecemasan. Pengertian Cemas adalah keadaan emosi individu yang berkaitan dengan perasaan yang tak pasti dan tidak berdaya. kondisi ini dialami secara subyektif (yang hanya dirasakan individu tersebut) dan dikomunikasikan dalam hubungan interpersonal (Stuard and Sundeen. . Kecemasan adalah suatu keadaan yang menggoncangkan karena adanya ancaman terhadap kesehatan (Siti Sundari. 1998). Reaksi pergeseran yang dapat mengakibatkan reaksi fobia. 2006). 2007). 2. gangguan panik. ancaman) yang masuk kealam sadar. gangguan cemas menyeluruh (Generalized anxiety disorder/GAD). Kecemasan adalah suatu keadaan dimana psikologis seseorang berada pada ketakutan dalam menghadapi masalah yang ada pada dirinya. Mekanisme pembelaan ego yang tidak sepenuhnya berhasil juga dapat menimbulkan kecemasan yang mengambang. kecemasan dapat muncul akibat implus-implus bawah sadar (misalnya : sex. Faktor-faktor Penyebab Kecemasan 1. Kecemasan adalah Suatu kondisi yang menyangkut terminologi kesehatan jiwa dengan suatu kondisi was-was. 3. Kecemasan merupakan komponen utama bagi hampir semua gangguan kejiwaan (psychiatric disorder). gangguan phobik dan gangguan obsesifkompulsif (Dadang Hawari. 2005) Jadi. Psikologis Ditinjau dari aspek psikoanalisa. Keadaan emosi ini tidak memiliki subyek yang spesifik. 2.1. Kecemasan merupakan peringatan yang bersifat subyektif atas adanya bahaya yang tidak dikenali sumbernya. Sosial Kecemasan yang timbul akibat hubungan interpersonal dimana individu menerima suatu keadan yang menurutnya tidak disukai oleh orang lain yang berusaha memberikan penilaian atas opininya (Sadock dan Kaplan.

2. 5. Potensi stressor Suatu keadaan yang menyebabkan perubahan dalam individu. 3. 4. 7. lesu) lebih mudah megalami kecemasan.3. Keadaan fisik Seseorang yang mengalami gangguan fisik seperti cacat badan. dibandingkan dengan orang yang memiliki pendapatan tinggi. Kecemasan bisa terjadi pada individu yang tingkat pendidikannya rendah disebabkan karena kurangnya informasi yang didapat individu tersebut. letih. sakit. sehingga individu harus melakukan penyesuaian diri (adaptasi). dimana lingkungan yang tidak kondusif berpotensial besar terhadap kecemasan yang dialami seseorang. Selain itu faktor yang mempengaruhi tingkat kecemasan menurut Soewandi (1998) antara lain : 1. Disamping itu kelelahan fisik (lemah. Sosial budaya Individu yang tidak bersosialisasi dengan masyarakat lebih mudah mengalami kecemasan. operasi. begitu juga sebaliknya jika lingkungannya kondusif mempercepat penyembuhan seseorang. Tingkat pendidikan Status pendidikan yang rendah pada seseorang akan menyebabkan orang tersebut mudah mengalami kecemasan. penyakit. 6. Ekonomi Seseorang yang memiliki pendapatan rendah lebih mudah mengalami kecemasan. Umur . Lingkungan Lingkungan sangat berpengaruh pada kecemasan seseorang. lebih mudah mengalami kecemasan.

Reaksi fisik terhadap kecemasan pada masingmasing individu berbeda (Setyonegoro. berdebar-debar. 4. Ansietas Berat (Tingkat III) Sangat mengurangi lahan persepsi seseorang. hiperventilasi. berhenti berbicara dan terjadi perubahan suara. Ansietas Sedang (Tingkat II) Memungkinkan seseorang untuk memusatkan pada hal yang penting dan mengesampingkan yang lain. Takut sendiri. biasanya kecemasan sering dialami oleh usia muda. Menurut Dadang Hawari (2006). takut pada keramaian. menyebutkan gejala klinis dari cemas antara lain : Cemas. sulit tidur. pendengaran berdenging (tinnitus). Tingkat kecemasan 1. dan banyak orang. nadi cepat. Semua perilaku ditujukan untuk mengurangi ketegangan. takut akan fikirannya sendiri. 4. Berhubungan dengan ketegangan yang dialami dalam kehidupan sehari. mengetuk jari-jari. mudah terkejut. sering buang air besar atau kecil. mimpi yang menegangkan Gangguan konsentrasi dan daya ingat Keluhan somatik misalnya rasa sakit pada otot tulang. 2.Umur ikut menentukan kecemasan. hiperaktifitas. Gejala-gejala tersebut antara lain: Iritabilitas. Gejala – gejala Kecemasan Keadaan cemas mempunyai gejala-gejala somatik atau fisik dan gejala psikologis atau mental. 3. muntah-muntah. khawatir. gelisah. Merasa tegang. kebingungan. dibandingkan dengan pria. Jenis kelamin Kecemasan lebih banyak dialami wanita. sesak nafas. Ansietas Ringan (Tingkat I) 1. 8. energi menurun. Orang tersebut banyak pengarahan untuk dapat memusatkan pada suatu area lain. gangguan kulit. berkeringat. firasat buruk. 6. Gangguan pola tidur. sehingga seseorang mengalami perhatian yang selektif namun dapat melakukan sesuatu yang lebih terarah. 2. Seseorang cenderung untuk memusatkan pada sesuatu yang terinci dan spesifik dan tidak berfikir tentang hal lain. 5. sakit kepala dan lain sebagainya. gagap. nyeri pada gastro intestinal. gangguan pencernaan. 3. gangguan perkemihan. 1994). Ansietas dapat memotivasi belajar dan menghasilkan pertumbuhan.hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada dan meningkatkan lahan persepsinya. 5. gangguan muskulo skeletal. mudah tersinggung. tidak tenang. . mulut kering.

. Kemampuan untuk mengatasi 4. Percaya diri 2. Teknik Mengatasi ansietas Teknik kognitif dapat membantu pasien ansietas dan tidak tergantung pada wawasan atau pemahaman yang kompleks dari kondisi psikologi diri sendiri. 3.4. 7. Khayalan Mental dan Relaksasi Mendorong pasien untuk mengkhayalkan tempat yang indah atau menjadi bagian dari pengalaman yang menyenangkan sehingga dapat membantu pasien menurunkan ketegangan (Abraham dkk. Panik melibatkan disorganisasi kepribadian. Sterssor dapat di kelompokkan dalam dua kategori. Ansietas terhadap integritas seorang meliputi ketidakmampuan fisiologis yang akan datang atau menurunnya kapasitas untuk melakukan aktivitas sehari-hari. harga diri dan fungsi sosial (Brunner dan suddarth. 2. Harapan 2. ketakutan dan terror-terror. Dialog Eksternal Dengan dialog eksternal kebutuhan pasien untuk berbicara cara akurat tentang dirinya dengan orang lain. Ansietas terhadap sistem diri seseorang dapat membahayakan identitas. Optimisme 5. yaitu: 1. dengan panik terjadi peningkatan aktivitas motorik. 1997). Tingkat Panik Berhubungan dengan terperangah. Perincian terpecah dari proporsinya karena mengalami kehilangan kendali. Hal ini menurunkan rasa ketidak berdayaan dan ansietas mereka. Stressor Pencetus Stressor pencetus berasal dari sumber internal atau eksternal. 1997). Orang yang mengalami panik tidak mampu melakukan sesuatu walaupun dengan pengarahan. Perasaan pengendalian 3. Dialog Internal Membantu pasien mengembangkan pesan dialog sendiri yang meningkatkan : 1. 1997). 1. 6. menurunnya kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain. persepsi yang menyimpang dan kehilangan pemikiran yang rasional tingkat ansietas ini tidak sejalan dengan kehidupan dan jika berlangsung terus dalam waktu yang lama dapat terjadi kelelahan yang sangat bahkan kematian (Hudak dan Gallo.

Pembedahan Minor (pembedahan resiko kecil ) 4. 3. Pembedahan Mayor (pembedahan resiko tinggi ) 2. Takut terhadap anestesi. Dimana mekanisme koping setiap orang berbeda-beda. 1997). Pengertian Pasien Pre operasi dapat mengalami berbagai ketakutan. 9. Jenis-jenis operasi Menurut derajat kepentingan Perry dan potter (2006). takut tentang ketidaktahuan.8. tidur. 1997). di kelompokkan menjadi dua bagian yaitu : 1. menyiapkan klien untuk diberikan anestesi dan pembedahan bagaimanapun kegiatan perawatan dibatasi oleh pengkajian pre operasi dalam ruangan atau selama operasi. 10. Alat ukur kecemasan untuk mengetahui sejauh mana derajat kecemasan apakah ringan atau berat dengan menggunakan alat ukur (instrument) yang dikenal denga nama Hamilton Rating Scale or Anxiaty (HRS-A) dengan skor ringan jika ≤ 28 dan berat jika ≥ 28. interview preoperatif. Lingkup kegiatan perawatan pre operasi termasuk dalam menetapkan batas pengkajian klien setting secara klinis atau dalam ruangan. Mekanisme Koping Mekanisme koping adalah suatu bentuk pertahanan yang di gunakan oleh seseorang yang sedang berada pada suatu bentuk kecemasan untuk menghindar atau mengurangi respon yang ditimbulkan oleh kecemasan tersebut.tipe tingkah laku seperti mennangis. takut terhadap nyeri atau kematian. melakukan kegiatan fisik. Tipe . Pre Operasi 1. takut tentang deformitas dan ancaman lain terhadap citra tubuh dapat menyebabkan ketidaktenangan atau ansietas (Brunner dan Suddarth. Perawatan pre operasi merupakan bagian dari perawat perioperatif yang di mulai dari kapan di putuskan tindakan operasi dibuat dan diakhiri dengan pemindahan klien ke meja ruang operasi. Tujuan Prosedur pembedahan Sebagai salah satu bentuk pengobatan dan penatalaksanaan berbagai macam penyakit untuk mempercepat proses penyembuhan (Perry Potter. Kecemasan pada pasien pre operasi . tertawa. 2. 2006). merokok dan minum-minum (Brunner dan Suddarth.

memberitahu pasien hanya medikasi pre operasi yang akan membuatnya rileks sebelum operasi tidaklah selektif bila menyebutkan juga bahwa medikasi tersebut dapat mengakibatkan kepala terasa melayang dan mengantuk. pengendalian diri. Salah satu caranya yaitu dengan penyuluhan pada keluarga maupun pasien supaya mereka mengerti apa yang akan terjadi. Pengkajian psikologi pada pasien atau keluarga harus di lakukan supaya hal tersebut tidak menghambat rencana operasi. obat-obatan dan perawatan tindakan. Persiapan psikologis pasien pre operasi Pasien yang akan di operasi biasanya akan mengalami kegelisahan dan rasa takut. 1997). kecerdasan akhlak mulia. tapi kadang-kadang dapat terlihat dalam bentuk lain. Khawatir meninggal di meja operasi dan meninggalkan anakanak ditinggalkan seandainya ia meninggal saat atau setelah operasi. 5. bangsa dan negara. stressor tersebut merupakan faktor timbulnya kecemasan yang mengakibatkan terancamnya integritas seseorang meliputi ketidakmampuan fisiologis atau menurunkan kapasitas untuk melakukan hidup sehari-hari (Brunner dan suddarth. kurangnya dukungan keluarga terhadap pasien pre operasi. 11. Manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya. Pengertian Pendidikan adalah suatu usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. Pendidikan 1. Penyuluhan tersebut harus melebihi deskripsi tentang berbagai langkah prosedur dan harus mencakup tentang sensasi yang akan di alami. Pendidikan merupakan usaha agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses . 2003). tetapi berusaha mengalihkan perhatiannya kepada buku atau sebaliknya ia bergerak terus-menerus dan tidak mau tidur (Kaplan.Kecemasan pada pasien pre operasi adalah kecemasan yang di akibatkan sterssor tindakan operasi. Perasaan gelisah dan takut kadang-kadang tidak tampak jelas. Pasien biasanya tidak mau bicara dan memperhatikan keadaan sekitarnya. Mengetahui apa yang di perkirakan akan membantu pasien mengantisipasi reaksi-reaksi tersebut dan dengan demikian mencapai tingkat relaksasi yang lebih tinggi daripada yang di perkirakan sebaliknya (Brunner dan suddarth. Pasien yang gelisah dan takut biasanya sering bertanya berulang-ulang walaupun pertanyaan tersebut telah dijawab. perawatan menjelang operasi yang dianggap sebagai hal baru. 1997). Sebagai contoh. (Diknas. kepribadian. 1994). serta keterampilan yang diperlukan dirinya. masyarakat.

Menurut Ahmadi. Diknas (2003). Pendidikan Tinggi: satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi yang dapat berbentuk akademik. 4. tapi tidak terlalu ketat mengikuti peraturan-peraturan yang tepat. seperti pada pendidikan formal di sekolah. 2. dan ayat (3) menegaskan bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan Undang-Undang. 1. dan kemampuan yang dikembangkan menjadi: 2. D3. D2. sekolah tinggi dan universitas yang termasuk perguruan tinggi D1. tujuan yang akan dicapai. menyatakan bahwa jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik. Sedangkan menurut Diknas (2003). bukan saja bagi produktivitas. Jenjang Pendidikan Menurut Diknas (2003). pendidikan formal yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar. D4. dan tinggi. menengah. dan S2. Pendidikan formal : Pendidikan formal merupakan usaha-usaha dalam pendidikan dasar dapat memberikan sumbangan dalam jangka panjang. diselenggarakan di SLTA atau sederajat. Pendidikan Menengah : pendidikan menengah yang lamanya 3 tahun sesudah pendidikan dasar. 3.pembelajaran atau cara lain yang dikenal dan diakui oleh masyarakat. seluruh komponen bangsa wajib mencerdaskan kehidupan bangsa yang merupakan salah satu tujuan negara indonesia. . Pendidikan Non-Formal : Pendidikan non-Formal adalah pendidikan yang dilakukan secara teratur. Pendidikan Dasar : warga Negara yang berumur 6 atau 7 tahun berkewajiban mengikuti pendidikan dasar atau sederajat selama 9 tahun yaitu SD dan SLTP. UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia menyelenggarakan Tahun 1945 Pasal 31 ayat (1) menyebutkan bahwa setiap warga Negara berhak mendapat pendidikan. (1997) janis pendidikan terbagi atas 3 yaitu : 1. Karena pendidikan non-formal pada umumnya dilaksanakan tidak dalam lingkungan fisik sekolah maka sasaran pokok adalah anggota-anggota masyarakat. serta memperkuat kemasyarakatan. akan tetapi juga bagi tujuan terakhir pembangunan seperti kualitas keluarga dan kehidupan masyarakat. S1. Untuk itu. dengan sadar dilakukan. menyatakan pendidikan non-formal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. politeknik. 5.

Diknas (2003). terutama dalam motivasi untuk berperan serta dalam pembangunan kesehatan. Hubungan pendidikan dengan kecemasan Pendidikan merupakan salah satu faktor sosial dari kecemasan pada pasien pre operasi. Sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap perubahan-perubahan hidup sehat (Notoatmojo. (2009). menyatakan bahwa pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan. Hasil penelitian Lesti. 12. Pendidikan informal : Pendidikan informal yakni pendidikan yang diperoleh seorang berdasarkan pengalaman dalam hidup sehari-hari dengan sadar atau tidak sadar. Definisi Peran adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap seseorang sesuai kedudukannya dalam suatu system. di dalam lingkungan keluarga. Peran adalah bentuk dari perilaku yang diharapkan dari seesorang pada situasisosial tertentu. Berdasarkan penelitian yang lakukan di Kabupaten Demak menghasilkan informasi bahwa pendidikan masyarakat disana masih relatif rendah. 2002).3. maka makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pngetahuan yang dimilikinya. sehingga tenaga kesehatan disana perlu melakukan konseling kepada ibu hamil primigravida sebagai upaya mengantisipasi terjadinya komplikasi dan kecemasan. 1995:21). P < 0. Pendidikan dapat mempengaruhi seorang termasuk juga prilaku seseorang akan kepatuhannya. . Peran dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari dalam maupun dari luar dan bersifat stabil. Pada pasien yang pendidikannya hanya sebatas pendidikan dasar atau tidak pernah sekolah sangat susah dalam pemberian informasi. Makin tinggi pendidikan seseorang. 13.05 menunjukkan bahwa hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara pendidikan pasien dengan tingkat kecemasan. (Kozier Barbara. masyarakat atau dalam lingkungan pekerjaan sehari-hari. Peran Perawat 1. Setiap perawat yang menjelaskan pengetahuan tentang kesehatan pasien tidak mengerti. sejak seorang lahir sampai akhir hidupnya.

Peran Pelaksana Peran pelaksana dari perawat mencakup tindakan-tindakan yang dilakukan oleh perawat ketiaka ia mengemban tanggung jawab yang ditujakan untuk memenuhi kebutuhan perawatan kesehatan dan kebutuhan keperawatan pasien secara individu. Kajian dibutuhkan untuk menentukan keefektifan intervensi dan asuhan keperawatan. Peran ini merupakan peran yang hanya dapat dicapai melalui proses keperawatan. 4. peran-peran ini saling berhubungan satu dengan yang lain dan dapat ditemui pada semua posisi keperawatan. keluarga mereka dan orang terdekat pasien. (b)Pengelola pelayanan keperawatan dan institusi Pendidikan. dan tersier dan dalam keperawatan kesehatan rumah dan komunitas. (d)Peneliti dan pengembang keperawatan Perawat profesional baik dalam lingkungan perawatan kesehatan institusional maupun komunitas mengemban tiga peran : peran pelaksana. 3. Peran ini merupakan peran yang dominan dari perawat dalam lingkungan pelayanan kesehatan primer.Peran Perawat (Ali Zaidin. yang merupakan dasar untuk semua praktik keperawatan. sekunder.Definisi kepemimpinan keperawatan yang dirumuskan oleh memberi cakupan yang luas pada konsep tersebut dan mengidentifikasi kepemimpinan sebagai peran yang melekat didalam semua posisi keperawatan. Peran Peneliti Peran peneliti dari perawat pada mulanya dianggap hanya dilakukan oleh para akademikus. Tugas utama dari penelitian keperawatan adalah untuk memberikan konstribusi pada dasar ilmiah praktik keperawatan. partisipasi dalam proses penelitian dianggap sebagai tanggung jawab dari perawat dalam praktik klinis. perawat ilmuwan dan mahasiswa keperawatan di tingkat sarjana. (c) Pendidik dalam keperawatan. Peran Kepemimpinan Peran Kepemimpinan dari perawat yang secara tradisional dikerap sebagai peran spesialisasi yang diembankannya oleh perawat yang mempunyai gelar yang menunjukkan kepemimpinan dan mereka yang memimpin sekelompok besar perawat atau profesional perawatan kesehatan yang berhubungan. 2001) meliputi : (a) Pelaksana pelayanan keperawatan. 2. Kini. Peran ini dirancang untuk memenuhi perawatan kesehatan saat ini dan kebutuhan keperawatan dari konsumen yang merupakan penerima pelayanan keperawatan. Melalui upaya penelitian . Peran kepemimpinan dari perawat mencakup tindakan-tindakan yang dilaksanakan oleh perawat saat ini ia mengemban tanggung jawab untuk mempengaruhi tindakan orang lain yang ditujukan untuk menentukan dan mencapai tujuan. Meski tiap peran memiliki tanggung jawab khusus. peran kepemimpinan dan peran peneliti.

Sebagai advokat klien Peran ini dilakukan perawat dalam membantu klien dan keluaga dalam menginterpretasikan berbagai informasi dari pemberi pelayanan khususnya dalam pengambilan persetujuan atas tindakan keperawatan. 6. Perawat juga berperan dalam mempertahankan dan melindungi hak-hak pasien meliputi hak atas pelayanan sebaik-baiknya. dirawat dan didukung oleh perawat. diterima dilindungi. ilmu keperawatan akan berkembang dan rasional yang didasarkan secara ilmiah untuk membuat perubahan dalam praktik keperawatan akan tercipta (Brunner dan Suddarth. Peran Perawat menurut Para Sosiolog 5. 2001). perawat.semacam ini. 8. peran ini bertujuan untuk menghilangkan ketegangan dalam kelompok pelayanan (dokter. Menurut Johnson dan Martin. hak menerima ganti rugi akibat kelalaian. Sebagai pemberi asuhan keperawatan Peran ini dapat dilakukan perawat dengan memperhatikan keadaan kebutuhan dasar manusia yang dibutuhkan melalui pemberian pelayanan keperawatan. Sebagai kolaborator . 11. hak untuk menentukan nasibnya sendiri. yaitu kegiatan yang bersifat langsung dalam menciptakan lingkungan dimana pasien merasa aman. gejala penyakit bahkan tindakan yang diberikan sehingga terjadi perubahan perilaku dari klien setelah dilakukan pendidikan kesehatan. hak atas privasi. Pemberian asuhan keperawatan ini dilakukan dari yang sederhana sampai dengan kompleks. hak atas informasi tentang penyakitnya. dan lain-lain) Menurut konsorsium ilmu kesehatan (1989) dalam Ali Haidin (2001) peran perawat terdiri dari : 7. Sebagai koordinator Peran ini dilaksanakan dengan mengarahkan. 10. merencanakan serta mengorganisasi pelayanan kesehatan dari tim kesehatan sehingga pemberi pelayanan kesehatan dapat terarah serta sesuai dengan kebutuhan klien. 9. Expressive/mother substitute role. Sebagai edukator Peran ini dilakukan dengan membantu klien dalam meningkatkan tingkat pengetahuan kesehatan. pasien. Peran terapeutik : kegiatan yang ditujukan langsung pada pencegahan dan pengobatan penyakit.

(6) Melaksanakan prosedur dan teknik keperawatan. (7) Memberikan pengarahan dan penyuluhan untuk meningkatkan kesehatan fisik dan mental. perubahan yang sistematis dan terarah sesuai dengan metode pemberian pelayanan keperawatan 13. Hubungan peran perawat dengan kecemasan Orang yang sakit sangat memerlukan seseorang yang bisa mengobati penyakitnya tersebut dan orang sehat memerlukan seseorang yang bisa mengarahkan agar bisa mencegah dan terhindar dari berbagai penyakit. (1) Melaksanakan instruksi dokter (fungsi dependen). menyusun. Begitu pula dengan Pembedahan. (3) Memantau pasien. Sebagai konsultan Perawat berperan sebagai tempat konsultasi dengan mengadakan perencanaan. ahli gizi dan lain-lain dengan berupaya mengidentifikasi pelayanan keperawatan yang diperlukan. sehingga kekambuhan sering terjadi dan bahkan bertambah parah. 12. 15. Seseorang tersebut ialah perawat yang mempunyai banyak peran untuk melaksanakan praktek keperawatan. perubahan yang sistematis dan terarah sesuai dengan metode pemberian pelayanan keperawatan. Secara unum perawat mempunyai peran terapeutik yaitu kegiatan yang ditujukan langsung pada pencegahan dan pengobatan penyakit. kerjasama. . dan memperbaiki rencana keperawatan secara terus menerus berdasarkan pada kondisi dan kemampuan pasien. Sebagai pembaharu Perawat mengadakan perencanaan.Peran ini dilakukan karena perawat bekerja melalui tim kesehatan yang terdiri dari dokter. (2) Observasi gejala dan respons pasien yang berhubungan dengan penyakit dan penyebabnya. 14. (5) Mencatat dan melaporkan keadaan pasien. Fungsi Perawat Fungsi adalah pekerjaan yang harus dilaksanakan sesuai dengan perannya. Karena masih kurangnya pengetahuan pasien tentang penyakit yang dideritanya. (2002) yaitu. fisioterapi. Tujuh Fungsi Perawat Kozier Barbara. kerjasama. (4) Supervisi semua pihak yang ikut terlibat dalam perawatan pasien.

Yunus Bengkulu Tahun 2010.M. Soerharto tahun 2008. dimana variabel independen dan variabel dependen di kumpulkan pada saat bersamaan (Notoadmodjo. konsep diri. Dan hasil penelitian yang dilakukan Elika tahun 2009. Ada hubungan antara pendidikan pasien dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD.M. Perawat harus dapat mengkaji perasaan klien tentang pembedahan. Desain penelitian Desain penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. BAB III METODE PENELITIAN 1. terdapat 37. Klien merasa kurang dapat mengontrol situasi mereka sendiri untuk memahami dampak pembedahan pada kesehatan emosional klien tersebut. Ada hubungan antara peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. citra diri. 16. sumber koping klien serta asuhan keperawatan yang terbaik (Perry Potter. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Makmur et.Yunus Bengkulu Tahun 2010. Klien merasa cemas tentang pembedahan. Hipotesa peneliti 1. dengan nilai p < 0. R.5% yang mengalami kecemasan ringan. 2010). 2006).Proses pembedahan sering menimbulkan stress psikologi yang tinggi. Bagan 3.1 Desain Penelitian . 2.05 yang mengalami kecemasan ringan sehingga dapat disimpulkan ada hubungan peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi. al (2007) dan penelitian rumah Sakit Ortopedi Prof Dr.

maka Variabel Penelitian dapat digambarkan sebagai berikut : Variabel Variabel Dependen Independen Bagan 3. Tingkat kecemasan (Dependen) Suatu kondisi yang menyangkut kekhawatiran seseorang pada masalah yang terjadi. Kuisioner Wawancara (14 komponen pertanyaan HRS-A) dan observasi 1= Tidak Berat jika. < 28 0=Rendah ≤ SMA Pendidikan (Independen) Pendidikan Formal yang ditempuh pasien Kuisioner Dengan cara mengisi (1 pertanyaan kuisioner ) 1= Tinggi >SMA 0= kurang Dengan cara baik jika skor ≤ 75% mengisi kuisioner Ordinal ≥ 28 Ordinal Skala Ukur Peran Perawat (Independent) Tindakan yang dilakukan oleh perawat dalam proses penyembuhan. Definisi Operasional Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Cara ukur Hasil Ukur 0=Cemas Berat jika. Kuisioner (15 pertanyaan) Ordinal .B. Variabel Penelitian Sesuai dengan desain penelitian di atas.2 Variabel Penelitian C.

Populasi Populasi adalah Keseluruhan dari objek penelitian yang di teliti. 2010). Sampel Sampel adalah objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi ( Notoatmojo. Populasi dan Sampel 1.786 orang.825 = 55 responden (Aziz Alimul. Dalam penelitian ini teknik yang digunakan adalah teknik Simple Random sampling n = Z²1-α/2.175. 0. jika skor ≥ 75% 1.175 =17. (Noto atmojo. 0. berdasarkan data jumlah pasien pada tahun 2009 adalah 1.5% .0.96)².84.P(1-P) = (1. 2008) Keterangan : n = Sampel Z(1-α/2) = Nilai Z pada derajat kemaknaan (α 5%=1.96) P = Proporsi suatu kasus yaitu proporsi kecemasan 0.1= baik.825 =3. Populasi dalam penelitian ini adalah kelompok pasien pre operasi yang ingin menjalankan operasi di ruang Seruni dari bulan januari sampai bulan desember tahun 2010.175. 2010). 0. 2.

Tempat dan Waktu Penelitian 1. F. D.D = Derajat akurasi (presisi) yang diinginkan 0. tanggal keluar rumah sakit dan lain-lain. kadang (KD). umur. Jumlah sampel yang didapat adalah 55 responden. untuk mengukur tingkat kecemasan. Yunus Bengkulu yang sudah diberi penjelasan tentang pengisian kuisoner. jarang (JR). tetapi didapat dengan metode pencarian data rumah sakit dalam bentuk Rekam Medik misalnya: nama. E.1. yang nantinya akan diisi oleh responden dan dibantu oleh satu orang perawat yang bertugas di ruang Seruni RSUD M.Yunus Bengkulu pada bulan Desember 2010 2. sering (SR). M. tidak pernah (TP). pekerjaan. Pengumpulan. Data primer yaitu data yang didapat langsung dari responden yaitu pasien dalam perawatan pre operasi di Ruang Seruni RSUD M. Tempat Penelitian Penelitian dilakukan di Ruang Seruni RSUD. Pengumpulan data Data dalam penelitian ini berupa data primer dan sekunder. kuisioner pendidikan dan kuisioner peran perawat dengan skala selalu (SL). tanggal masuk rumah sakit. Pengolahan Data Data yang telah diperoleh atau terkumpul diolah dan dianalisis dengan program komputer melalui beberapa tahapan. Editing . alamat. jumlah pasien yang melakukan operasi. yaitu : 1. Yunus Bengkulu dengan cara wawancara dan observasi dengan skala HARS. Pengolahan Dan Analisa Data 1. Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan Desember sampai dengan februari 2010. dengan penilaian tidak berat jika skor < 28 dan berat jika skor ≥ 28. Sedangkan data Sekunder adalah data yang didapatkan secara tidak langsung dari responden.

Analisa Univariat Untuk melihat gambaran distribusi frekuensi dari masing-masing variabel penelitian baik independent maupun dependent. Coding (Pengkodean) Jawaban-jawaban atau hasil yang ada kemudian di klasifikasikan dalam bentuk yang lebih ringkas dengan menggunakan kode-kode. . Analisa Data 1. Editing dilakukan langsung pada saat responden mengembalikan kuesioner yang sudah diisi dengan harapan apabila ada kekurangan data atau kesalahan dalam pengisian dapat segera diperbaiki. 2. Kemudian dilakukan scoring terhadap pertanyaan yang berhubungan dengan masing-masing variabel dan diteruskan dengan pengujian kebenaran data dengan menggunakan uji Chi-Square dengan signifikan α = 5 %. Cleaning (Pembersihan Data) Sebelum melakukan analisa data dengan dilakukan pengecekan kembali terhadap data yang sudah masuk apakah data yang dimasukkan sudah benar dan tidak ada lagi kesalahan. 3. 1. Entry Data (Pemasukan Data) Data yang telah ada dicoding dan hasil scoring kemudian diolah kedalam komputer dengan menggunakan program SPSS For Window.. yaitu : Keterangan : P F = Persentase yang ingin dicapai = Jawaban dalam setiap kategori N = Jumlah seluruh responden .Editing data adalah meneliti kembali apakah isian pada kuisioner yang dilakukan responden sudah cukup dan benar sesuai dengan petunjuk yang ada. Rumus yang digunakan. G. Selanjutnya dilakukan transformasi data untuk menggambarkan variabel bebas dan variabel terikat.

Manajemen Administrasi Rumah sakit. (2003). .google.A.2001. http://etd. 2001) DAFTAR PUSTAKA Aditama.eprints. (2008).ac. Edisi 8.Y. Volume 1.05 (Budiarto. EGC: Jakarta Carbonel (2002).Sudarth Keperawatan Medikal Bedah. Untuk melihat hubungan antara dua variabel kategorik maka digunakan Uji X² (Chi-Square) Ha diterima jika nilai p ≤ 0. Z. Widya Medika: Jakarta Alimul A.(Budiarto. (Diakses tanggal 26 oktober 2010) Ali. Definisi Pendidikan. http://www. (1997). Metode Penelitian keperawatan dan Teknik Analisa Data. 2001) 2. Dasar-dasar Keperawatan Profesional.ums. Analisa Bivariat Analisa bivariat adalah analisa yang digunakan untuk melihat hubungan antara variabel bebas (pendidikan pasien dan peran perawat) dengan variabel terikat (kecemasan pada pasien pre operasi).05 Ha ditolak jika nilai p > 0.com.id. (1997). Universitas Indonesia: Jakarta Ahmadi. Salemba Medika: Jakarta Brunner.

Medical Record.ac.Potter dkk. (2006).ac. Metodologi Penelitian Kesehatan. Salemba Medika: Jakarta Oswari E. Edisi 4: Jakarta Makmur. Praktek Keperawatan Profesional : Konsep dan Perspektif.eprints. (2006). Bedah Dan Perawatannya. EGC : Jakarta Patricia. http://etd. (2010). Manajemen Stress Cemas dan Depresi. Bengkulu Notoatmodjo S. PT Rineka Cipta: Jakarta Nursalam (2003). (2009). Konsep & Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. EGC : Jakarta . Yunus Bengkulu. Kozier. Dr.id. Penerbit Gaya Baru: Jakarta Ibrahim (2006). (2007).ums.id. http://etd.ums.Volume 2.Hawari D. (2005). M.eprints. Fundamental Keperawatan. (2002). Laporan Tahunan RSUD. dkk.

Volume I. PT. (2005).. Diposkan oleh FERYN di 09:38 0 komentar: Poskan Komentar Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda Langgan: Poskan Komentar (Atom) Blog Archive  ▼ 2011 (26) o ► Desember (1)  PENDAHULUAN Pada masa kehamilan. Buku Ajar Bedah. Kesehatan Mental Dalam Kehidupan. (2007).ums. semua zat yang di. o ▼ Mei (12)  Gejala Anemia Pada Ibu Hamil  EKSTRAKSI VAKUM .eprints. Was-was dan Khawatir (Ansietas).id. CV Ref Grafika: Jakarta Setiadi (2007).Rineka Cipta: Jakarta Widodo.. Takut mati Cemas.Sabiston (1995). Graha Ilmu: Yogyakarta Sundari S. EGC : Jakarta Sani A. http://etd. Konsep dan Penulisan Riset Keperawatan. (1999)..ac.

.  Googling Dengan Google HacksHello there! If you ar..N Dengan FRAKTU... o ► Januari (1)  10 Cara Memperbaiki Windows XP Yang Tidak Bisa Boo.  Tips Adsense Tips -Tips Dalam Memasang Ikl. ► 2009 (6) o ► Desember (6)  if (WIDGETBOX) WIDGETBOX.o Kumpulan Askep MAKALAHASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny.. HUBUNGAN PENDIDIKAN DAN PERAN PERAWAT DENGAN TINGK..  Tips Membuat Hotspot Menggunakan Laptop Di Windows.... S DENG.  Total Tayangan Laman 4783 .  Start Menu Windows XP Bergaya Windows VistaHello t.....  Cara memrubah prosesor            ► 2010 (2) o ► Maret (1)  Download Game Gratis hide Google Search Result.... Proposal KTI Keperawatan ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN HIV-AIDS ► April (13)  ASKEP ATRIUM SEPTAL DEFEK (ASD)  DFX on AIMP  BASALIOMA NASOLABIAL SINISTRA  ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN HIV-AIDS  Cara Mengatasi Browser Mozilla Firefox Yang Hang S.  Membuat Daftar File dan FolderHello there! If you .. Arbosi HIV/AIDS Ultasonik Yuk Pasang Sendiri Per dan Kampas Kopling Racing !.  Membongkar Password Office 2000Hello there! If you.renderWidget('54bcd528-3d........  Free Download Game : Worms 3D  free download Adobe Fireworks CS3 Portable  trik dan cara mempercepat koneksi modem semua mode... MAKALAH SEMINAR“ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN....  CARA POSTING BLOGSPOT DENGAN MENGGUNAKAN MICROSOFT.....  Tips mempercepat koneksi dial-up modem Koneksi in....  Melewatkan Serial Number Pada MS Office 2000Hello .

com Minggu.Blogroll Kura kura Template by : kendhin x-template. 13 Juni 2010 KARYA TULIS ILMIAH HUBUNGAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT DENGAN TINGKAT KECEMASAN PADA PASIEN PRE OPERASI SEKSIO CAESAR DIRUANG KEBIDANAN RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH PALEMBANG TAHUN 2010 Sebagai Salah Satu Syarat Dalam Menyelesaikan Program Pendidikan Diploma III Keperawatan Oleh : AGUSTUS 02 07 832 PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEPERAWATAN .blogspot.

Prodi D III Keperawatan Trilia WM. 16 Agustus 1989 Agama : Islam Status dalam keluarga : Anak ke 11 Dari 12 saudara . S. Kes Ketua STIKES Muhammadiyah Palembang dr. Ns Adi Santosa. SMIP.SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH PALEMBANG TAHUN AKADEMIK 2009/2010 HUBUNGAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT DENGAN TINGKAT KECEMASAN PADA PASIEN PRE OPERASI SEKSIO CAESAR DIRUANG KEBIDANAN RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH PELEMBANG TAHUN 2010 Nama : Agustus Nim : 02.Kep.832 Telah di pertahankan didepan dewan penguji karya tulis ilmiah pada Tanggal 01 Februari 2010 dan dinyatakan telah memenuhi syarat untuk diterima SUSUNAN DEWAN PENGUJI Pembimbing Penguji I Penguji II Suzanna. Lailani Badrun SPd. M. Santi Mismeriyanti BIOGRAFI Nama : Agustus Jenis kelamin : Laki-laki Tempat tanggal lahir : Betung.Kep.07. M. SPd. Ns H. S.Kes Program Studi D III Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiayah Palembang Ka.

Kec.2009 • Tingkat III tahun : 2009 . SMA : SMA PGRI I Betung Tahun 2004 – 2007 4. • Sahabat terbaik ku yang tidak bisa diucapkan satu persatu • Teman2 PKLku Khusunya kelompok II • Almamater yang tercinta. .2004 3. DIII Keperawatan (STIKes) Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Palembang. Alm) dan Ibuda yang ku cinta yang telah berjasa dan selalu mendo’akan keberhasilanku setiap saat. Banyuasin Riwayat Pendidikan : 1. Betung Kab.2001 2. ayuk Sumi K’ Sudarsono K’ Amran K’ Rudi. Ns sebagai pembimbing ku yang telah membantu dalam penyusunan KTI ku • Buat K’ Ali Hafis yang telah banyak memberi motivasi. dan adikku yang tercinta Kusmiati.2010 MOTTO DAN PERSEMBAHAN Motto : ”Ingatlah MATI seakan-akan kau mati besok. SMP : SMP PGRI I Betung Tahun 2001 . Rimbah Asam. dan ingatlah duniamu seakan-akan kau hidup 1000 tahun” Kupersembahkan : • Ayahanda (Lahmad. K’ Dedi Yuk Anita. Skep.Alamat : Jalan Palembang – Jambi Lk II Rt 031 Rw 08 No 24 Betung Kel. • Suzanna. SD : SD 06 NEGERI I Betung Tahun 1995 . • Tingkat I tahun : 2007 .2008 • Tingkat II tahun : 2008 . • Buat saudaraku ayuk Tuti.

Ibu Eva Yulianti. Yudi Fadila. 4. amin. Selaku Kepala Program Studi DIII Keperawatan STIKes Muhammadiyah Palembang. Selaku pembimbing yang telah memberikan bimbingan serta pengarahan selama penulisan karya tulis ilmiah ini. Bapak dr. 6. 9. Ibu Trilia WM. Maka dari itu. Ibu dr. 8. SMIP. Maret 2010 . atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah (KTI) ini dengan judul ”Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Diruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Pelembang Tahun 2010” Dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini penulis menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan dikarnakan keterbatasan ilmu pengetahuan. M. Kes. 3. pengalaman serta khilafan yang penulis miliki. S. 5. Santi Mismeriyanti. 7. Bapak H. 2. Ns. M. AMKeb. Palembang. Penyusunan karya tulis ilmiah ini tidak akan terlaksana dengan baik tampa bantuan. Bapak Adi Santosa. Selaku penguji II yang memberikan kritik dan saran dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini. Selaku Ketua (STIKes) Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Palembang.Kep Ns. bimbingan serta saran dari berbagai pihak. Semoga Allah SWT membalas selalu melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya atas bantuan yang telah diberikan kepada penulis dalam penulisan karya tulis ilmiah ini. Ibu Suzanna S.Kep. Lailani Badrun. selaku Direktur Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang yang telah memberi kemudaan dalam pengurusan administrasi penelitian. Untuk itulah pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih yang tak terhingga kepada : 1. Selaku penguji I yang memberikan kritik dan saran dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini.KATA PENGANTAR Syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadiran allah SWT. Kes. Akhirnya semoga karya tulis ilmiah ini dapat bermanfaat bagi pembangunan ilmu pendidikan dan ilmu keperawatan serta bagi kita semua. Sehingga karya tulis ilmiah ini dapat penulis selesaikan. dengan ikhlas penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat mendidik dan membangun dari semua pihak demi kesempurnaan karya tulis ilmiah dimasa yang akan datang. SPd. Dan semua pihak yang telah memberikan bantuan. SPd. Para dosen dan staf Program Studi DIII Keperawatan STIKes Muhammadiyah Palembang. SKM selaku kepala ruangan Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang yang memberikan kemudaan dalam pengumpulan data.

JUNI 2010 AGUSTUS Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang 2010 ( xiii + 68 Halaman + 7 Tabel + 6 Lampiran) Komunikasi terapeutik merupakan komunikasi yang direncanakan secara sadar. ABSTRAK SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH PALEMBANG PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN KARYA TULIS ILMIAH. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan angket yang berupa kuesioner dan observasi yang berupa cheklis.05 menunjukan bahwa ada hubungan antara komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar. sedangkan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi dengan tingkat kecemasan sedang sebesar 57% dan dengan tingkat kecemasan berat sebesar 43%.Penulis. Saran kepada petugas kesehatan diharapkan lebih meningkatkan komunikasi terapeutik yang baik kepada pasien pre operasi seksio caesar ataupun pasien yang lainnya. Populasi penelitian adalah semua pasien pre operasi seksio caesar dan perawat di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang dari tanggal 22 Februari – 6 Maret tahun 2010 dengan jumlah sampel penelitian sebanyak 14 respondenn yang dipilih secara non random dengan teknik accidental sampling. Dari hasil uji chisquare dengan pValue <0. Daftar Bacaan : 15 (1996-2009) . tujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien. Penelitian ini bertujuan mengetahui Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat dengan Tingkat Kecemasan pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang 2010. Pada dasarnya komunikasi terapeutik merupakan komunikasi profesional yang mengarah pada tujuan yaitu penyembuhan pasien. Penelitian ini merupakan penelitian survey analitik dengan pendekatan cross sectional. Hasil analisis univariat didapatkan komunikasi terapeutik perawat dengan kategori baik sebesar 36% dan kategori cukup sebesar 64%. Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa komunikasi terapeutik perawat mempengaruhi tingkat kecemasan pasien pre operasi seksio caesar.

2009) DAFTAR ISI Hal HALAMAN JUDUL i . This study aimed to Therapeutic Communication Nurse Relations Anxiety Level in Patients with Pre Operation Caesar section Obstetric Hospital in Room 2010 of Muhammadiyah Palembang. This research is an analytical survey with cross sectional approach. while the level of anxiety in patients with pre surgery anxiety level was at 57% and with severe anxiety level of 43%. JUNE 2010 AUGUST Relationps Communication Anxiety Therapeutic Nurse Level In Patients With Pre Caesar In Operating Room Midwifery Section Hospital Muhammadiyah Palembang 2010 ( xiii + 68 Pages + 7 Table + 6 Annex ) Therapeutic communication is consciously planned communication. Results Univariate analysis showed a nurse therapeutic communication with both categories by 36% and 64% adequate category.05 indicates that there is a relationship between therapeutic communication nurse with the anxiety level in patients pre Caesar section operation. From the results of chi-square test with p value <0. Basically. The study population was all patients pre and caesar section operation room nurse at Muhammadiyah Palembang Obstetric Hospital of the date of 22 February to 6 March 2010 with the number of samples is 14 respondenn selected non random accidental sampling technique. This research was conducted using a questionnaire in the form of questionnaires and observation in the form cheklis. therapeutic communication is a professional communications that lead to the goal of healing the patient. goals and activities focused on healing the patient. From these results it is concluded that therapeutic communication nurse patient anxiety level welsh pre Caesar section operation. Advice to health workers is expected to further improve therapeutic communication both to the patient pre Caesar section operation or other patients.ABSTRACT HEALTH SCIENCE HIGH SCHOOL MUHAMMADIYAH PALEMBANG STUDY PROGRAMMES DIPLOMA OF NURSING WRITING SCIENTIFIC. Reading List : 15 (1996 .

1.4 Tujuan 7 1.6 Manfaat Penelitian 8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.3 Seksio Sesarea 34 2.1 Komunikasi Terapeutik 9 2.2.3.2 Kecemasan (Ansietas) 22 2.1.HALAMAN PERSETUJUAN ii BIOGRAFI iii MOTTO DAN PERSEMBAHAN iv KATA PENGANTAR v ABSTRAK vi ABSTRACT vii DAFTAR ISI ix DAFTAR TABEL xii DAFTAR LAMPIRAN xiii BAB I PENDAHULUAN 1.3 Manfaat Komunikasi Terapeutik 10 2.2.2.8 Penyebab Kecemasan (Ansietas) 28 2.2.3 Tingkat Kecemasan 25 2.1 Pengertian Komunikasi Terapeutik 9 2.2 Faktor-faktor yang Menyebabkan Seksio Sesarea 34 2.2.6 Sikap Komunikasi Terapeutik 13 2.4 Syarat-Syarat Komunikasi Terapeurik 10 2.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kecemasan 26 2.1 Pengertian Seksio Sesarea 34 2.4 Penelitian Terkait 39 .1 Definisi Kecemasan (Ansietas) 22 2.1.3 Pertanyaan Penelitian 6 1.8 Fase – Fase Dalam Komunikasi Teraupetik 20 2.5 Ruang Lingkup Penelitian 7 1.2 Klasifikasi Kecemasan 24 2.1.5 Prinsip-Prinsip Komunikasi Terapeutik 11 2.5 Bentuk-Bentuk Kecemasan 27 2.1 Latar Belakang 1 1.1.7 Tehnik-Tehnik Komunikasi Terapeutik 14 2.2.3 Klasifikasi Seksio Sesarea 35 2.2.2 Tujuan Komunikasi Terapeutik 10 2.6 Ciri-Ciri Kecemasan 27 2.7 Tanda-Tanda Kecemasan 28 2.3.2.9 Pengukuran Skala Kecemasan 29 2.1.1.2.3.2 Rumusan Masalah 6 1.1.

3.2 Saran 67 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN DAFTAR TABEL .4 Hipotesis 44 BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.4 Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi Seksio Caesar ` 65 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Populasi Penelitian 45 4.2.1 Kesimpulan 67 6.6 Instrumen Pengumpulan Data 46 4.3.3.2 Sampel Penelitian 45 4.BAB III KERANGKA KONSEP.5 Tehnik Pengumpulan Data 46 4.2 Variabel 42 3.2 Komunikasi Terapeutik Perawat 61 5.1 Desain Penelitian 45 4.3 Lokasi dan Waktu Penelitian 46 4.3.7 Pengolahan Data 47 4.3 Tingkat Kecemasan Pasien Seksio Caesar 63 5.1 Hasil 51 5.8 Analisa Data 48 4.4 Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data 46 4.3 Definisi Operasional 43 3.1 Persalinan 59 5.9 Etika Penelitian 48 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN 5.2 Populasi dan Sampel Penelitian 45 4. DEFINISI OPERASIONAL DAN HIPOTESIS 3.1 Kerangka Konsep 41 3.2 Variabel Peneliti 54 5.2.3 Pembahasan 59 5.

3 : Komunikasi Terapeutik Perawat Tabel 5.2 : Persalinan Seksio Caesar Dan Spontan Tabel 5.4 : Tingakat Kecemasan Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Tabel 5.5 : Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 : Surat Penelitian Lampiran 2 : Lembar Persetujuan Menjadi Responden Lampiran 3 : Quisioner Penelitian Lampiran 4 : Cheklist Penelitian Lampiran 5 : Output SPSS Lampiran 6 : Lembar Konsultasi .Tabel 3.1 : Jumlah Tempat Tidur Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang Tabel 5.1 : Bagan Kerangka Konsep Tabel 4.1 : Perencanaan Waktu Penelitian Tabel 5.

jangan sampai karena terlalu asyik bekerja. 2003). Komunikasi terapeutik juga merupakan kemampuan atau keterampilan perawat untuk membantu pasien beradaptasi terhadap stres. Dan juga Komunikasi terapeutik bukan pekerjaan yang bisa diabaikan. . dibandingkan dengan orang yang cemas ringan (Barbara C. sehingga dapat dikategorikan ke dalam komunikasi pribadi di antara perawat dan pasien. perawat membantu dan pasien menerima bantuan (Indrawati. 1997). yang dalam kegiatan sehari-harinya selalu berhubungan dengan orang lain. bingung. untuk mengurangi kecemasan itu maka perawat harus memberikan komunikasi terapeutik kepada pasien pre operasi seksio caesar. Akan tetapi. kemudian melupakan pasien sebagai manusia dengan beragam latar belakang dan masalahnya (Arwani. bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien disebut dengan komunikasi terapeutik. Persoalan mendasar dan komunikasi ini adalah adanya saling membutukan antara perawat dan pasien. namun harus direncanakan. sehingga respon pun berbeda. Setiap menghadapi operasi selalu menimbulkan ketakutan dan kecemasan pada pasien. disengaja. seringkali menjadi hambatan pada paska operasi. 1998). lebih mudah tersinggung akibat reaksi psikis. Long. 1996). 2003). kecemasan sering muncul pada usia sebelum 30 tahun (Stuard and Sundeen. Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang mendorong proses penyembuhan klien (Depkes RI. Pandangan setiap orang dalam menghadapi operasi berbeda. dan merupakan tindakan profesional. Komunikasi yang direncanakan secara sadar. pasien menjadi cepat marah.1 Latar Belakang Komunikasi merupakan bagian integral dari kehidupan manusia tidak terkecuali seorang perawat. dan belajar bagaimana berhubungan dengan orang lain. Komunikasi terapeutik juga termasuk komunikasi interpersonal dengan titik tolak saling memberikan pengertian antar perawat dengan klien. mengatasi gangguan psikologis.BAB I PENDAHULUAN 1. Seseorang yang sangat cemas sehingga tidak bisa berbicara dan mencoba menyesuaikan diri dengan kecemasan sebelum operasi. Hal ini juga terkait dengan komunikasi perawat yang sangat dibutuhkan pada pasien operasi seksio caesar karena pada kondisi ini pasien cemas.

Untuk dapat menurunkan kecemasan pada pasien pre operasi salah satunya diperlukan komunikasi yang efektif terutama komunikasi terapeutik. pemantauan janin secara elektronik. Komunikasi terapeutik pada hakikatnya adalah suatu kegiatan atau usaha untuk menyampaikan pesan kesehatan kepada masyarakat. Operasi merupakan tindakan pengobatan yang banyak menimbulkan kecemasan. sedangkan angka di Indonesia belum diketahui secara pasti. 52. kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna. 2009) Operasi adalah salah satu tindakan pengobatan yang banyak menimbulkan kecemasan. sampai saat ini sebagian besar orang menganggap bahwa semua operasi yang dilakukan adalah operasi besar.drdidispog. Lebih dari 825. Penyebab peningkatan ini adalah nulipara. agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim. adanya perasaan gelisah atau tidak tenang dengan sumber yang tidak spesifik dan tidak diketahui oleh seseorang. dan tuntutan malpraktik (Cunningham. Data dari RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta tahun 2000. 2005). kelompok atau individu.5% adalah persalinan spontan. kemudian dari setetes mani. kecemasan yang sering terjadi adalah apabila pasien yang dirawat di rumah sakit harus mengalami proses operasi. Kelahiran manusia dimuka bumi ini sudah di jelaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Hajj Ayat : 5 yang berarti ”Hai manusia. (Dewi wijayanti. Kecemasan merupakan perasaan yang paling umum dialami oleh pasien yang dirawat di rumah sakit. Ternyata diseluruh dunia angka operasi seksio caesarea meningkat dengan pesat. maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah. 2003). 1989) Menurut World Heath Organization (WHO) angka persalinan dengan seksio caesarea yang wajar adalah 5-10 % dari seluruh kelahiran. wanita yang hamil berusia lebih tua. 30% merupakan persalinan caesar. jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur). Bila kecemasan pada pasien pre operasi tidak segera diatasi maka dapat mengganggu proses penyembuhan.com ) Di Amerika Serikat. Sedangkan data yang diperoleh dari Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang pada tahun 2009 menyebutkan dari jumlah persalinan sebanyak 2331 per tahun. menyebutkan dari jumlah persalinan sebanyak 404 per bulan. Hal ini perlu mendapat perhatian serius dari perawat karena perawat merupakan petugas kesehatan yang terdekat dan terlama dengan pasien. sedangkan sisanya dengan bantuan alat seperti vakum dan forsep. Sebagian besar peningkatan ini berlangsung pada tahun 1970-an sampai awal 1980-an dan terjadi di seluruh negara barat. Kecemasan merupakan sesuatu hal yang tidak jelas. Tindakan operasi merupakan ancaman potensial aktual terhadap integritas seseorang yang dapat membangkitkan reaksi stress fisiologis maupun psikologis (Barbara C. 1 diantara setiap 10 wanita yang melahirkan setiap tahunnya pernah menjalani seksio caesar. dan 37% di antaranya pernah menjalani seksio caesar sebelumnya.000 wanita melahirkan dengan seksio caesar pada tahun 1998. kemudian dari segumpal darah. untuk itu pasien yang akan menjalani operasi harus diberi komunikasi terapeutik untuk menurunkan atau mengurangi gejala kecemasan serta dapat meningkatkan pengetahuan kesehatan pada pasien. Pembahasan tentang reaksi-reaksi pasien terhadap pembedahan sebagian besar berfokus pada persiapan pembedahan dan proses penyembuhan.Long. 40% persalinan normal. sedangkan sisanya dengan bantuan alat seperti vakum atau forsep (Kasdu. (http://www.Proses perawatan di rumah sakit seringkali mengabaikan aspek-aspek psikologis sehingga menimbulkan berbagai permasalahan pisikologis bagi pasien yang salah satunya adalah kecemasan. apa yang Kami kehendaki sampai . presentasi bokong. 48% merupakan persalinan caesar.

4 Tujuan Penelitian 1. mendorong percobaan persalinan pada wanita dengan riwayat seksio caesar transversal. maka penulis tertarik untuk meneliti ”Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi Seksio Caesar” 1. .1 Tujuan Umum Untuk mengetahui Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang..4.. kemudian (dengan berangsur.2 Rumusan Masalah Berdasarkan pada data diatas maka belum diketahui Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien pre Operasi Seksio Caesar Di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang 2010. Program-program yang ditujukan untuk mengurangi seksio caesar yang tidak diperlukan.3 Pertanyaan Penelitian Bagaimana Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang? 1. Diamana pada tahap ini tingkat kecemasan pasien yang akan di operasi masih sangat tinggi. umumnya difokuskan pada upaya pendidikan dan pengawasan.4.2 Tujuan Khusus a) Diketahuinya gambaran komunikasi terapeutik perawat pada pasien pre operasi seksio caesar.5.1 Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan Di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang. 1. b) Diketahuinya gambaran tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar c) Diketahuinya gambaran hubungan antara komunikasi terapeutik perawat/bidan dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar.angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan.5. Beberapa penelitian telah membuktikan adanya kemungkinan untuk menurunkan angka seksio caesar di Institusi kesehatan mengurangi peningkatan mordibitas (kelahiran) atau mortalitas (kematian) perinatal. membatasi seksio caesar atas indikasi distosia persalinan pada wanita yang memenuhi kriteria yang ditentukan dengan ketat (Cunningham. supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. 1. 1998).5 Ruang Lingkup Masalah 1. 1.. dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun.. 2005) Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas bahwa komunikasi terapeutik sangat dibutuhkan bagi pasien yang akan menjalani operasi seksio caesar. 1. Karena komunikasi terapeutik salah satu tindakan perawat yang dapat mengurangi kecemasan.2 Waktu Penelitian ini dilakukan pada tanggal 22 Febuari sampai dengan tanggal 6 Maret tahun 2010. kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi.waktu yang sudah ditentukan..(Al-Quran Terjemah : Tohaputra Ahmad.

2005).3 Manfaat Bagi Pasien Diharapkan dapat memberikan rasa nyaman dan aman pada semua pasien yang akan menjalankan operasi seksio caesar sehingga pasien yang menjalankan operasi tidak cemas dan operasi bisa berjalan dengan lancar.1. 1. tujuan dan kegiatannya .2 Manfaat Bagi Institusi Pendidikan Diharapkan dapat menambah informasi dan referensi yang berguna bagi mahasiswa sekolah tinggi ilmu kesehatan Muhammadiyah Palembang. 1.1 Pengertian Komunikasi Terapeutik Terapeutik merupakan kata sifat yang dihubungkan dengan seni dari penyembuhan (As Hornby Dalam Intan. 2008 ). Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar. Sehingga komunikasi terapeutik itu sendiri adalah komunikasi yang direncanakan dan dilakukan untuk membantu penyembuhan dan pemulihan pasien.6. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1.1 Komunikasi Terapeutik 2.6 Manfaat Penelitian 1. 1.6.6. ( Mukhripah Damaiyanti. Komunikasi terapeutik merupakan komunikasi profesional bagi perawat.6. Maka disini dapat di artikan bahwa terapeutik adalah segala sesuatu yang memfasilitasi proses penyembuhan.4 Manfaat Bagi Peneliti Diharapkan dapat menambah ilmu pengetahuan dan wawasan bagi peneliti mengenai hubungan komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar.1 Manfaat Bagi Rumah Sakit Diharapkan dapat dijadikan masukan dan motivasi bagi rumah sakit untuk lebih menerapkan komuniksi terapeutik perawat dalam mengurangi tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar.

2003) mengatakan ada dua persyaratan untuk komunikasi terapeutik efektif : a. dkk.Persyaratan untuk komunikasi terapeutik ini dibutuhkan untuk membentuk hubungan antara perawat dengan pasien sehingga klien memungkinkan untuk mengimplementasikan proses keperawatan. Christina. (Indrawati.1. 2003 ). . Perawat harus menciptakan suasana yang memungkinkan pasien bebas berkembang tanpa rasa takut. Pada dasarnya komunikasi terapeutik merupakan komunikasi profesional yang mengarah pada tujuan yaitu penyembuhan pasien. hubungan perawat-klien tersebut bukanlah hubungan yang memberikan dampak terapeutik yang mempercepat kesembuhan klien. 2.dipusatkan untuk kesembuhan pasien. informasi atau masukan. c.1. b. Kualitas asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien sangat dipengaruhi oleh kualitas hubungan perawat-klien. e. sehingga dapat dikategorikan ke dalam komunikasi pribadi di antara perawat dan pasien.3 Manfaat Komunikasi Terapeutik Manfaat komunikasi terapeutik adalah untuk mendorong dan menganjurkan kerja sama antara perawat dan pasien melalui hubungan perawat dan pasien. Persyaratan . mengungkap perasaan dan mengkaji masalah dan evaluasi tindakan yang dilakukan oleh perawat. Perawat harus mengenal dirinya sendiri yang berarti menghayati. membantu mempengaruhi orang lain. Semua komunikasi terapeutik harus ditujukan untuk menjaga harga diri pemberi maupun penerima pesan. d. 2. (Mukhripah Damaiyanti. 2. tingkah lakunya sehingga tumbuh mangkin matang dan dapat memecahkan masalahmasalah yang dihadapi. Komunikasi terapeutik ini akan efektif bila melalui penggunaan dan latihan yang sering. ( Indrawati. Perawat harus menciptakan suasana yang memungkinkan pasien memiliki motivasi untuk mengubah dirinya baik sikap. perawat membantu dan pasien menerima bantuan. memahami dirinya sendiri serta nilai yang dianut. 2008 ).1.2 Tujuan Komunikasi Terapeutik Membantu pasien untuk memperjelas dan mengurangi beban perasaan dan pikiran serta dapat mengambil tindakan yang efektif untuk pasien. 1994) adalah : a. Komunikasi harus di tandai dengan sikap saling menerima. lingkungan fisik dan diri sendiri. Komunikasi terapeutik termasuk komunikasi interpersonal dengan titik tolak saling memberikan pengertian antar perawat dengan pasien. b.4 Syarat-Syarat Komunikasi Terapeutik Stuart dan Sundeen (dalam Christina. tetapi hubungan sosial biasa. Komunikasi yang menciptakan saling pengertian yang harus dilakukan terlebih dahulu sebelum memberikan sarana. Perawat harus menyadari pentingnya kebutuan pasien baik fisik maupun mental. saling pecaya dan saling menghargai.1. dkk. 2003 ). Persoalan mendasar dan komunikasi ini adalah adanya saling membutuhan antara perawat dan pasien. Mengidentifikasi. Bila perawat tidak memperhatikan hal ini. 2.5 Prinsip-Prinsip Komunikasi Terapeutik Prinsip-prinsip komunikasi terapeutik menurut Carl Rogers (dalam Perwanto.

1 Bertanya Bertanya (Questioning) merupakan tehnik yang dapat mendorong klien untuk mengungkapkan perasaan dan pikirannya. oleh karena itu perawat perlu mempertahan suatu keadaan sehat fisik mental. keberhasilan maupun frustasi g.6 Sikap Komunikasi Terapeutik Egan (dalam Keliat.7 Tehnik-Tehnik Komunikasi Terapeutik 2. Pertanyaan Fasilitatif Dan Nonfasilitatif Pertanyaan fasilitatif (Facilitative Question) terjadi jika pada saat bertanya perawat sensitif terhadap pikiran dan perasaan serta secara langsung berhubungan dengan masalah klien. n. Berhadapan Arti dari posisi ini adalah saya siap untuk anda b.1. spiritual dan gaya hidup. Mampu berperan sebagai role model agar dapat menunjukan dan menyakinkan orang lain tentang kesehatan. 1992).1. Mampu menentukan batas waktu yang sesuai dan dapat mempertahankan konsistensinya. Bertanggung jawab dalam dua demensi yaitu tanggung jawab terhadap diri sendiri atas tindakan yang dilakukan dan bertanggung jawab dengan orang lain. l. Mempertahankan kontak mata Kontak mata pada level yang sama berarti menghargai klien dan menyatakan keinginan untuk tetap berkomunikasi. c. a. mengindentifikasi lima sikap atau cara untuk menghadirkan diri secara fisik yang dapat memfasilitasi komunikasi terapeutik. m. Kejujuran dan komunikasi terbuka merupakan dasar dari hubungan terapeutik j. Membungkuk kearah klien Posisi ini menunjukan keinginan untuk menyatakan atau mendengarkan sesuatu. e.1. h. i. Altruisme untuk mendapatkan kepuasan dengan menolong orang lain secara manusiawi.f. 2. d. sedangkan pertanyaan nonfasilitatif (Nonfacilitative Question) adalah pertanyaan yang tidak efektif karena memberikan . meskipun dalam situasi yang kurang menyenangkan. Disarankan untuk mengekspresikan perasaan bila dianggap menganggu. k. Mempertahankan sikap terbuka Tidak melipat kaki atau tangan menunjukan keterbukaan untuk berkomunikasi dan siap membantu. Berpegang pada etika dengan cara berusaha sedapat mungkin mengambil keputusan berdasarkan prinsip kesejahteraan manusia. 2. Perawat harus mampu menguasai perasaan sendiri secara bertahap untuk mengetahui dan mengatasi perasaan gembira. Tehnik berikut sering digunakan pada tahap orientasi.7. Memahami betul arti empati sebagai tindakan terapeutik dan sebaliknya sempati bukan tindakan terapeutik. yaitu : a. Tetap rileks Tetap dapat mengendalikan keseimbangan antara ketegangan dan relaksasi dalam memberikan respons kepada pasien. sedih marah.

2005).1. Pertanyaan tertutup (Closed Question) digunakan ketika perawat membutuhkan jawaban yang singkat. pertanyaan.7. 2005). 2005). karena pengertian terhadap perasaan klien sangat penting dalam memahami klien.5 Refleksi Refleksi (Reflection) adalah mengarahkan kembali ide.7.pertanyaan yang tidak fokus pada masalah atau pembicaraan. dan tampak kurang pengertian terhadap klien (Gerald. 2005 ). Mendengarkan adalah proses aktif (Gerald. bersifat mengancam.6 Memfokuskan Memfokuskan (Focusing) bertujuan memberi kesempatan kepada klien untuk membahas masalah inti dan mengarahkan komunikasi klien pada pencapaian tujuan (Stuart. 2005). perawat tidak boleh menginterpretasikan apa yang dikatakan klien. Hal yang . 2005) dan penerimaan informasi serta penelaahan reaksi seseorang terhadap pesan yang diterima (Hubson.1. 2. perawat mampu mendorong klien mengekspresikan dirinya (Antai-Otong dalam Suryani. D dalam Suryani. 1992).4 Klarifikasi Klarifikasi (Clarification) adalah menjelaskan kembali ide atau pikiran klien yang tidak jelas atau meminta klien untuk menjelaskan arti dari ungkapannya ( Gerald. Perawat memberikan tanggapan dengan tepat dan tidak memotong pembicaraan klien. 2. dan isi pembicaraan kepada klien. Apabila perawat menginterpretasikan pembicaraan klien.1. Pertanyaan Terbuka Dan Tertutup Pertanyaan terbuka (Open Question) digunakan apabila perawat membutuhkan jawaban yang banyak dari klien. dan penghargaan terhadap klien (Antai-Otong dalam Suryani. 2005). Gunanya untuk menguatkan ungkapan klien dan memberi indikasi perawat mengikuti pembicaraan klien ( Keliat. Pada saat klarifikasi. juga tidak boleh menambahkan informasi (Gerald.3 Mengulang Mengulang (Restarting) yaitu mengulang pokok pikiran yang diungkapkan klien. Hal ini digunakan untuk memvalidasi pengertian perawat tentang apa yang diucapkan klien dan menekankan empati.1. 2.1.7. minat. Budi Anna. D dalam Suryani. Restarting (pengulangan) merupakan suatu strategi yang mendukung listening ( Suryani. 2. Dengan pertanyaan terbuka.7. maka penilaiannya akan berdasarkan pandangan dan perasaannya. Dengan demikian akan terhindar dari pembicaraan tanpa arah dan penggantian topik pembicaraan. 2005).2 Mendengarkan Mendengarkan (Listening) merupakan dasar utama dalam komunikasi terapeutik (Keliat. Tunjukkan perhatian bahwa perawat mempunyai waktu untuk mendengarkan ( Purwanto Heri. D. 1994 ).W dalam Suryani. 1992 ). 2. perawat harus mengikuti apa yang dibacakan klien dengan penuh perhatian. 2005). Fokus utama klarifikasi adalah pada perasaan. Budi Anna.7. G. S dalam Suryani. D dalam Suryani. b. dalam Suryani. Selama mendengarkan. perasaan.

Tehnik ini sangat membantu dalam mengajarkan kesehatan atau pendidikan pada klien tentang aspek-aspek yang relevan dengan perawatan diri dan penyembuhan klien. D dalam Suryani. Diam akan memberikan kesempatan kepada perawat dan klien untuk mengorganisasi pikiran masing-masing (Stuart & Sundeen dalam Suryani.9 Menyimpulkan Menyimpulkan (Summerizing) adalah tehnik komunikasi yang membantu klien mengeksplorasi poin penting dari interaksi perawat-klien. Tehnik ini bermanfaat pada tahap kerja untuk mendapatkan gambaran yang detail tentang masalah yang dialami klien. Tehnik ini membantu perawat dan klien untuk memiliki pikiran dan ide yang sama saat mengakhiri pertemuan.7 Diam Tehnik diam (Silence) digunakan untuk memberikan kesempatan pada klien sebelum menjawab pertanyaan perawat.10 Mengubah Cara Pandang Tehnik mengubah cara pandang (refarming) ini digunakan untuk memberikan cara pandang lain sehingga klien tidak melihat sesuatu atau masalah dari aspek negatifnya saja (Gerald. 2.7. Poin utama dari menyimpulkan yaitu peninjauan kembali komunikasi yang telah dilakukan (Murray.W (1998) dalam Suryani (2005) menyatakan.7. 2.12 Membagi Persepsi Stuart G. 2005). Informasi yang diberikan pada klien harus dapat memberikan pengertian dan pemahaman tentang masalah yang dihadapi klien serta membantu dalam memberikan alternatif pemecahan masalah (Suryani. Tehnik ini digunakan ketika . misalnya menyatakan : “sebenarnya apa yang anda pikirkan tidak seburuk itu kejadiannya”.perlu diperhatikan dalam menggunakan metode ini adalah usahakan untuk tidak memutus pembicaraan ketika klien menyampaikan masalah penting (Suryani. 2005). 2005). Seorang perawat kadang memberikan tanggapan yang kurang tepat ketika klien mengungkapkan masalah.1.8 Memberi Informasi Memberikan tambahan informasi (Informing) merupakan tindakan penyuluhan kesehatan klien. 2005). 2005).1. Tehnik ini sangat bermanfaat terutama ketika klien berfikiran negatif terhadap sesuatu. pengertian. D dalam Suryani. 2005) supaya masalah tersebut bisa diatasi. Tehnik ini memberikan waktu pada klien untuk berfikir dan menghayati. atau memandang sesuatu dari sisi negatifnya. sambil perawat menyampaikan dukungan.7. 2005) sehingga memungkinkan klien untuk membuat perencanaan yang lebih baik dalam mengatasi masalah yang dihadapinya.7.1. memperlambat tempo interaksi. 2.1. B & Judith dalam Suryani. Diam juga memungkinkan klien untuk berkomunikasi dengan dirinya sendiri dan berguna pada saat klien harus mengambil keputusan (Suryani. 2. 2.7. dan penerimaannya. 2. membagi persepsi (Sharing Peception) adalah meminta pendapat klien tentang hal yang perawat rasakan atau pikirkan.11 Eksplorasi Eksplorasi bertujuan untuk mencari atau menggali lebih jauh atau lebih dalam masalah yang dialami klien (Antai-Otong dalam Suryani.1.7.1. 2005). Reframing akan membuat klien mampu melihat apa yang dialaminya dari sisi positif (Gerald.

1.1.7. Reniforcement bisa diungkapkan dengan kata-kata ataupun melalui isyarat nonverbal. D dalam Suryani. 2. 2. Pada tahap kerja ini dituntut kemampuan perawat dalam mendorong klien mengungkap . 2005). Tahap ini harus dilakukan oleh seorang perawat untuk memahami dirinya.perawat merasakan atau melihat ada perbedaan antara respos verbal dan respons nonverbal klien.W dalam Suryani. 2005).8. 2. Pada tahap ini perawat dan klien bekerja bersama-sama untuk mengatasi masalah yang dihadapi klien. Tujuan tahap ini adalah untuk memvalidasi keakuratan data dan rencana yang telah dibuat dengan keadaan klien saat ini.8.1. perawat harus memperkenalkan dirinya terlebih dahulu kepada klien (Brammer dalam Suryani.W dalam Suryani. 2005).1. G.3 Tahap Kerja Tahap kerja ini merupakan tahap inti dari keseluruhan proses komunikasi terapeutik (Stuart. Tehnik ini sangat bermanfaat pada tahap awal kerja untuk memfokuskan pembicaraan pada awal masalah yang benar-benar dirasakan klien. 2. Reinforcement berguna untuk meningkatkan harga diri dan menguatkan perilaku klien (Gerald.8. mengatasi kecemasannya.2 Tahap Perkenalan Perkenalan merupakan kegiatan yang dilakukan saat pertama kali bertemu atau kontak dengan klien (Christina. serta menurunkan tekanan darah dan nadi.13 Mengidentifikasi Tema Perawat harus tanggap terhadap cerita yang disampaikan klien dan harus mampu manangkap tema dari seluruh pembicaraan tersebut. Gunanya adalah untuk meningkatkan pengertian dan menggali masalah penting (Stuart & Sadeen dalam Suryani.1.8 Fase – Fase Dalam Komunikasi Terapeutik 2.7. 2005). G. dkk. dkk.15 Memberikan Pujian Memberikan Pujian (Reinforcement) merupakan keuntungan psikologis yang didapatkan klien ketika berinteraksi dengan perawat.14 Humor Humor bisa mempunyai beberapa fungsi dalam hubungan terapeutik. Dengan memperkenalkan dirinya berarti perawat telah bersikap terbuka pada klien dan ini diharapkan akan mendorong klien untuk membuka dirinya (Suryani. Pada tahap ini perawat menggali perasaan dan mengidentifikasi kelebihan dan kekurangannya. dan meyakinkan dirinya bahwa dia siap untuk berinteraksi dengan klien (Suryani. Florence Nightingale dalam Anonymous (1999) dalam Suryani (2005) pernah mengatakan suatu pengalaman pahit sangat baik ditangani dengan humor. Pada saat berkenalan. 2. Pada tahap ini perawat juga mencari informasi tentang klien.7. 2.1 Tahap Persiapan (Preinteraksi) Tahap Persiapan atau prainteraksi sangat penting dilakukan sebelum berinteraksi dengan klien (Christina. Kemudian perawat merancang strategi untuk pertemuan pertama dengan klien. Humor dapat meningkatkan kesadaran mental dan kreativitas. 2005). 2002). serta mengevaluasi hasil tindakan yang lalu (Stuart.1.1. 2005). 2002). 2005).

bagaimana cara mengatasi masalahnya. 1997) Ansietas adalah perasaan yang dialami terlalu mengkhwatirkan kemungkinan peristiwa yang menakutkan yang terjadi dimasa depan yang tidak bisa dikendalikan dan jika itu terjadi akan menilai mengerikan atau dapat diungkapkan sebagai orang yang benar-benar tidak mampu menata pikiran. ketakutan. Perawat juga diharapkan mampu menyimpulkan percakapannya dengan klien. . kecemasan adalah kondisi emosional yang tidak menyenangkan.silvalintar. kekhawatiran dan juga ditandai dengan aktifnya sistem syaraf pusat. Keadaan dimana individu atau kelompok mengalami perasaan gelisah (penilaian atau opini) dan aktivitas sistem syaraf autonom dalam berespon terhadap ancaman yang tidak jelas. Suatu perasaan takut yang tidak menyenangkan dan tidak dapat dibenarkan yang sering disertai dengan gejala fisiologi (Tom. 1974) menggambarkan dan mendefinisikan kecemasan sebagai suatu perasaan yang tidak menyenangkan. b. Pada tahap ini perawat perlu melakukan active listening karena tugas perawat pada tahap kerja ini bertujuan untuk menyelesaikan masalah klien. Suatu keadaan ketidakseimbangan atau tegangan yang cepat mengusahakan coping (Hudak dan Gallo. yang ditandai oleh perasaan-perasaan subjektif seperti ketegangan. dan membantu perawat-klien memiliki pikiran dan ide yang sama (Murray. a. Tehnik menyimpulkan ini merupakan usaha untuk memadukan dan menegaskan hal-hal penting dalam percakapan. Perawat juga dituntut untuk mempunyai kepekaan dan tingkat analisis yang tinggi terhadap adanya perubahan dalam respons verbal maupun nonverbal klien. Melalui active listening. Freud (dalam Arndt. Respon emosional terhadap penilaian intelektual terhadap sesuatu yang berbahaya (stuart dan sundeen. 2002). 1998) b. Menurut Freud.perasaan dan pikirannya. 2003) e. (www. dengan kata lain kecemasan adalah reaksi atas situasi yang dianggap berbahaya.1. ninspesifik (Carpenito. 2000) c.2 Kecemasan (Ansietas) 2. 2005). B & Judth dalam Suryani.4 Tahap Terminasi Terminasi merupakan akhir dari pertemuan perawat dengan klien (Christina.com ) Menurut Post (1978). 2005). 2. 1997) d. Suatu sinyal yang menyadarkan. dan mengevaluasi cara atau alternatif pemecahan masalah yang telah dipilih.8. perawat akan bertemu kembali dengan klien pada waktu yang telah ditentukan. perawat membantu klien untuk mendefinisikan masalah yang dihadapi. setelah terminasi sementara.1 Definisi Kecemasan (Ansietas) Ansietas atau kecemasan adalah : a.2007. dkk. yang memperingatkan adanya bahaya yang mengancam dan memungkinkan seseorang mengambil tindakan untuk mengatasi ancaman (Kaplan dan Sadock. kecemasan melibatkan persepsi tentang perasaan yang tidak menyenangkan dan reaksi fisiologis. Terminasi akhir terjadi jika perawat telah menyelesaikan proses keperawatan secara keseluruhan.2. yang diikuti oleh reaksi fisiologis tertentu seperti perubahan detak jantung dan pernafasan. Tahap ini dibagi dua yaitu terminasi sementara dan terminasi akhir (Stuart. 2.W dalam Suryani. Terminasi sementara adalah akhir dari tiap pertemuan perawat-klien. G.

c. 2. Gejalagejalanya: Sakit kepala. kecemasan neurotik. Tachy cardi. sehingga fisik makin bertambah pula. Mudah berdebar-debar. Pertama. Menurut Struat & Sunden (1998) mengidentifikasikan tingkat kecemasan dapat dibagi menjadi : a. Kecemasan realistik adalah ketakutan terhadap bahaya dari dunia eksternal. Kecemasan Kronis Kecemasan timbul untuk sebab yang tidak diketahui (tidak di sadari).3 Tingkat Kecemasan Menurut Jersild (1963) menyatakan bahwa ada dua tingkatan kecemasan. Kedua. lesu). Orang yang hati nuraninya berkembang baik cendrung merasa berdosa apabila dia melakukan sesuatu yang berlawanan dengan kode moral yang dimilikinya. Kecemasan moral adalah ketakutan terhadap hati nuraninya sendiri. Polyuri (sering kencing).2. (Corey Gerald. Hyperventilas. b. Mungkin penderita sadar. Diarrhee. b. kecemasan kemudian dapat menjadi bentuk pertahanan diri. Kecemasan neorotik adalah ketakutan rehadap tidak terkendalinya naluri-naluri yang menyebabkan seseorang melakukan sesuatu tindakan yang mendatangkan hukuman bagi dirinya. Kecemasan Ringan Pada tingkat kecemasan yang terjadi pada kehidupan sehari-hari dan kondisi membantu individu menjadi waspada dan bagaimana mencegah berbagai kemungkinan. Bila gejala kecemasan hanya sedikit (40-50%) b. Pada pemeriksaan fisik . Kecemasan Sedang Pada ringkat ini individu lebih menfokuskan hal penting saat ini dan mengesampingkan yang lain . Mungkin karena penderita tidak tahu sebab maka justru kecemasannya akanbertambah. Kelelahan. Gejala-gejalanya : Perasaan takut. dan taraf kecemasannya sesuai dengan derajat ancaman yang ada. Pernafasan kasa. kecemasan normal.2.2 Klasifikasi Kecemasan Ada tiga macam kecemasan yaitu : a. sebelumnya punya pengalaman emosi (biasa terdapat pada Ibu yang akan bersalin). yaitu pada saat individu masih menyadari konflik-konflik dalam diri yang menyebabkan cemas. dan takut bisa berjalan beberapa menit atau beberapa jam. Hyperhyrosis. Perasaan tersumbat di tenggorokan. 2007) Adapun pendapat lain yang menyatakan bahwa kecemasan ada dua yaitu : a. Kecemasan Akut Keadaan dimana perasaan sakit berat. lengkap tidak ditemukan kelainan apa-apa.2. Hypertensi sifatnya sistolik.Perasaan payah (lemah. ketika individu tidak menyadari adanya konflik dan tidak mengetahui penyebab cemas. Keluhan-keluhan gastro intestinal.

diare.7 Tanda-Tanda Kecemasan Menurut Sue. 1995) menyebutkan bahwa manifestasi kecemasan terwujud dalam empat hal berikut ini : a. misalnya tidak dapat tidur. Bila semua gejala kecemasan ada (76100%) d. Kecemasan yang berwujud sebagai gejala-gejala kejiwaan. Nilai-nilai moral c. seringkali buang air. b. b. b. menurunnya respon untuk berhubungan dengan orang lain. Perilaku motorik.6 Ciri-Ciri Kecemasan Simptom-simptom somatis yang dapat menunjukkan ciri-ciri kecemasan menurut Stern (1964) adalah muntah-muntah. dan sebagainya.2. 2. Tingkatkan individu tersebut dalam menanggapi batasan-batasan sosiokulturil tersebut 2. khawatir. Tingkah laku panik ini tidak mendukung kehidupan individu tersebut. terutama pada fungsi sistem syaraf. yaitu: a.sehingga mempersempit lahan persepsinya. sering dalam keadaan excited atau gempar gelisah. yang terwujud dalam pikiran seseorang. semua perilaku ditunjukan untuk mengurangi kecemasan.2. distory persepsi dan kehilangan pikiran yang rasional. para ahli membagi bentuk kecemasan itu dalam dua tingkat. 2. Manifestasi kognitif. . seperti tegang. denyut jantung yang bertambah keras. Kecemasan yang sudah mempengaruhi atau terwujud pada gejala-gejala fisik. Kecemasan Berat Pada tingkat ini lahan individu sangat menurun dan cendrung memusatkan perhatian pada hal-hal lain. dkk (dalam Kartikasari. Ketentuan pendidikan dan agama d. Panik melibatkan disorganisasi keperibadian yang ditandai dengan meningkatnya kegiatan motorik. nafas sesak disertai tremor pada otot. Tingkat Fisiologis. kecemasan seseorang terwujud dalam gerakan tidak menentu seperti gemetar. Panik Keadaan ini mengancam pengendalian diri. 2. Kartono (1981) menyebutkan bahwa kecemasan ditandai dengan emosi yang tidak stabil. individu tersebut mencoba memusatkan perhatian pada lahan lain dan memerlukan banyak pengarahan.2. jantung berdebar-debar. sangat mudah tersinggung dan marah.5 Bentuk-Bentuk Kecemasan Menurut Bucklew (1980). Tingkat Psikologis. gemetar. Ketentuan hukum.2. individu tidak mampu untuk melakukan sesuatu walaupun dengan pengarahan. bingung. seringkali memikirkan tentang malapetaka atau kejadian buruk yang akan terjadi. perut mual. Bila gejala kecemasan ada sebagian (51-75%) c. Faktor-faktor kultural merupakan faktor yang tidak dapat di abaikan. perasaan tidak menentu dan sebagainya.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kecemasan a.

kurangnya kesenangan pada hoby. penglihatan kabur. e.c. ketakutan pada keramaian lalu lintas. gelisah. merasa nafas . Gejala kardiovaskuler ditandai oleh : takikardia. diwujudkan dalam perasaan gelisah. Afektif. Penyebab ansietas adalah kejadian yang dapat menimbulkan ansietas. terbangun malam hari. 2001) : a. Ketakutan ditinggal sendiri. gigi gemeretak. gelisah dan mudah terkejut. b. tidur tidak nyenyak. gemetar. berdebar-debar. ditandai dengan : cemasan. suara tidak stabil. Gejala sensorik ditandai oleh : tintus. perasaan di tusuk-tusuk.9 Pengukuran Skala Kecemasan Instrumen lain yang dapat digunakan untuk mengukur skala kecemasan adalah Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS). mudah terkejut. sedih. perasaan berubah sepanjang hari. firasat buruk. Yaitu mengukur aspek kognitif dan efektif yang meliputi (Hawari. muka merah dan pucat. mimpi-mimpi. Ketakutan ditandai oleh : Ketakutan pada gelap. Perasaan terisolasi dapat dikurangi dengan mengajak pasien berbicara tentang pengobatan dan penyentuhannya saat keadaan yang menakutkan. bangun dengan lesu. Gejala somatik ditandai oleh : nyeri pada otot. denyut nadi mengeras.8 Penyebab Kecemasan (Ansietas) Menurut Hudak dan Gallo (1997) penyebab yang paling umum dari ansietas di rumah sakit : a. kaku. muncul dalam keadaaan mulut kering. c. diare. detak jantung hilang sekejap. i. c. Ketakutan pada orang asing. Ketegangan yang di tandai oleh : merasa tegang. daya ingat buruk. respirasi. Penerimaan di unit perawatan kritis secara daramatid meyakinkan pasien dan keluarga bahwa keamanan meraka pada semua tingakat secara hebat terancam. Kehilangan kendali c. Perasaan depresi di tandai oleh : kehilangan minat. ketegangan otot. Perubahan somatik. dan mudah tersenggung. d. Perasaan cemas. kedutan otot. Gangguan tidur ditandai oleh : sukar untuk tidur. nyeri dada. ketegangan otot dan tekanan darah. Ansietas dialami saat terdapat suatu ancaman ketidak berdayaan atau kurang pengendalian. mimpi yan menakutkan. perasaan tercekik. h. peningkatan tekanan darah dan lain-lain. takut akan pikiran sendiri. Perasaan terisolasi f. ketakutan pada kerumunan orang banyak. Gejala pernafasan di tandai oleh : Rasa tertekan atau sempit didada. tangan dan kaki dingin. g. sering kencing. b. Ansietas terjadi bila ada : a. Takut mati 2. Ancanman ketidakberdayaan b. 2. tidak dapat istirahat tenang.2. daya ingat menurun. f. Kegagalan membentuk pertahanan e. bangun dini hari. merasa lemah. mudah menangis. Perasaan kehilangan fungsi dan harga diri d. ketakutan pada binatang besar. Hampir semua penderita kecemasan menunjukkan peningkatan detak jantung. dan perasaan tegang yang berlebihan. lesu. rasa lemah seperti mau pingsan.2. Gangguan kecerdasan ditandai oleh: sukar konsentrasi. mimpi buruk. j. d. Timbunya stimulus ansietas termasuk hal yang mengancam keamanan individu.

mengerutkan dahi atau kening. tidak tenang. s. Saya lebih tenang bila dibandingkan dengan orang lain. Tidur saya sering terganggu dan tidak nyenyak. Saya sering mengalami mimpi yang menakutkan pada waktu tidur malam hari. q. kepala terasa berat. Saya sering mengkhawatirkan diri saya terhadap sesuatu. Saya lebih merasa sensitif (peka) daripada kebanyakan orang. Kadang-kadang saya tidak dapat tidur karena mengkhawatirkan sesuatu. Saya jarang sakit kepala. tidak dapat menahan kencing. ereksi hilang dan inpoten. sehingga saya tidak duduk terlalu lama. g. Saya sering merasa tegang pada waktu bekerja. p. Saya menginginkan kebahagiaan seperti orang yang saya lihat. Pernyataanpernyataan adalah sebagai berikut : a. n. b. n. mual. Saya jarang berdebar-debar maupun bernafas tersengal-sengal. Saya selalu merasa gembira setiap saat. mudah berkeringat. gangguan pencernaan. Tangan saya sering terasa gemetar bila mencoba mengerjakan sesuatu. Saya mudah menangis. Saya sering merasa bahwa saya dihadapkan pada banyak kesulitan yang tidak dapat saya selesaikan. Perilaku sewaktu wawancara. berat badan menurun. Seringkali saya bermimpi tentang sesuatu yang sulit untuk diceritakan pada orang lain. nafas pendek dan cepat dan muka memerah. Tangan dan kaki saya biasanya cukup hangat. k. Gejala Gastrointestinal ditandai oleh : sulit menelan. Saya akui. Saya sering mencemaskan sesuatu maupun orang lain. k. Saya mengalami kesukaran untuk melakukan konsentrasi menanggapi suatu masalah. j. ejakuasi prekok. w. Kadangkadang saya merasa gembira sekali. Pada waktu-waktu tertentu saya merasa gelisah. Ketika saya merasa malu. Saya merasa khawatir kalau-kalau muka saya menjadi merah karena malu. t. r. m. muka merah kering. muka tegang tonus otot meningkat. Saya sering merasa mual. c. frigiditas. Saya tidak cepat lelah. saya tidak mudah tersipu-sipu seperti kebanyakan orang lain. kadang-kadang keringat saya bercucuran. perut terasa kembung atau penuh. d. m. Gejala Otonom ditandai oleh : mulut kering. Biasanya saya bersikap tenang dan tidak mudah marah. ditandai oleh : gelisah.pendek/sesak. masa haid berkepanjangan. sehingga sukar untuk tidur x. bahwa saya kadang-kadang merasa khawatir tanpa sesuatu alasan tertentu pada suatu hal . l. Gejala Urogenital ditandai oleh : sering kencing. u. Saya mudah merasa malu. Saya merasa risau bila memikirkan masalah-masalah keuangan dan pekerjaan. Saya jarang mengalami sakit perut. h. Menunggu membuat saya gelisah. Saya mengalami mencret sekali atau lebih dalam 1 bulan. nyeri lambung sebelum atau sesudah makan. v. sakit kepala. amenorrhagia. pusing. o. e. Saya tidak pernah merasa tersipu-sipu bila sesuatu terjadi pada diri saya. perut melilit. defekasi lembek. muntah. jari gemetar. Saya jarang merasa sembelit. dan kontipasi (sukar buang air besar) l. f. hal ini sangat menjengkelkan saya. rasa panas di perut. ereksi melemah. sering menarik nafas panjang. bulu-bulu berdiri. amenorrhoe. masa haid amat pendek. haid beberapa kali dalam sebulan. Saya khawatir akan terjadi kesulitan yang menimpa diri saya. i. Salah satu pengukuran kecemasan menurut : Taylor Manifest Anxiety Scale (TMAS). Saya merasa lapar hampir setiap saat. Kalau terjadi sesuatu pada diri saya.

2. keadaan melemahkan lainnya (Benson. b. y. plasenta previa. ruptur uteri (Cunningham. faktor plasenta: solusio plasenta. bayi terlalu besar (Makrosomia (>4000 gram). Faktor Ibu yang menyebabkan seksio sesarea adalah: usia.2 Faktor-faktor yang Menyebabkan Seksio Sesarea a. Hidrosefalus). Faktor Janin Faktor janin yang menyebabkan seksio caesar adalah: janin dengan anomali (Meningokel. .3 Seksio Caesar 2. diabetes. Teknik Seksio Caesar Klasik 1) Mula-mula dilakukan desinfeksi pada dinding perut dan lapangan operasi dipersempit dengn kain suci hama. 2008). 2. faktor-faktor yang menyebabkan seksio sesarea adalah dari faktor ibu dan janin. vasa previa. 2007). presentasi bahu. letak lintang. kelainan tali pusat (prolapsus tali pusat/tali pusat menumbung. eritroblastosis. presentasi majemuk). Seksio Caesar Klasik Sebuah pengirisan memanjang di bgian tengah yang memberikan satu ruang yang lebih besar (10-14 cm) untuk mengeluarkan bayi (Cunningham. Bila dibandingkan dengan teman-teman maka saya tidak seperti mereka. posisi dagu posterior. gawat janin atau fetal distress. defleksi kepala.3. persalinan sebelumnya dengan seksio caesar. 2.yang tidak berarti. dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding perut dan dinding rahim dengan sayatan rahim dalam keadaan utuh (Sarwono. presentasi dahi. Penyakit ibu yang dapat mempengaruhi seksio sesarea adalah: preeklampsi-eklampsi berat. malposisi dan malpresentasi (presentasi bokong. 2008). bayi kembar (Multiple Pregnancy) (Benson. 2005). Faktor Ibu Menurut Cunningham (2005) dan Benson (2008). faktor hambatan jalan lahir.3.3. 2008).1 Pengertian Seksio Caesar Seksio caesar adalah melahirkan janin yang sudah mampu hidup (beserta plasenta dan selaput ketuban) secara transabdominal melalui insisi uterus (Benson. penyakit jantung berat pada ibu. tulang panggul. 2) Pada dinding perut dibuat insisi mediana mulai dari atas simfisis sepanjang ±12 cm sampai dibawah umbilikus lapis demi lapis sehingga kavum peritoneal terbuka.3 Klasifikasi Seksio Caesar a.2005). ruptur uteri. Seksio caesar adalah suatu persalinan buatan.

Teknik Seksio Caesar Transperitoneal Profunda 1. Janin dilahirkan dengan meluksir kepala dan mendorong fundusuteri. tali pusat dijepit dan dipotong diantara kedua penjepit. Seksio Caesar Transperitoneal Profunda Dilakukan dengan membuat sayatan atau irisan horizontal di bagian bawah rahim (Kasdu. 5) Setelah kavum uteri terbuka. Pada dinding perut dibuat insisi mediana mulai dari atas simfisis sampai di bawah umbilikus lapis demi lapis sehingga peritonei terbuka. dijahitbsecara simpul dengan benang cutgut biasa. 9) Rongga perut dibersihkan dari isa-sisa darah dan akhirnya luka dinding perut dijahit. kemudian dierlebar secara sagital dengan gunting. 6) Plasenta dilahirkan secara manual disuntikkan 10 U oksitosin ke dalam rahim secara intra mural. 2003). c) Tidak menyebabkan perlekatan usus atau omentum ke garis insisi. d) Lebih mudah diperbaiki. c. atau adanya tumor-tumor di daerah segmen bawah rahim. Mula.3) Dalam rongga perut disekitar rahim dilingkari dengan kasa laparotomi. Kekurangan: a) Lebih berisiko terkena peritonitis (radang selaput perut). 7) Luka insisi SAR dijahit kembali. sayatan ini akan memerlukan waktu dan obat lebih banyak (Kasdu. Lapisan I : Endometrium bersama miometrium dijahit secara jelujur dengan benang catgut khoromik. 2) Janin besar dalam letak lintang. b) Keluarnya janin lebih cepat. kedua adneksa dieksplorasi. Lapisan III : Perimetrium saja. b) Memiliki risiko empat kali lebih besar terkena ruptur uteri pada kehamilan selanjutnya. 2. d) Jika menggunakan anestesi lokal. 3) Plasenta previa dengan insersi plasenta di dinding depan segmen bawah rahim. . Setelah janin lahir seluruhnya.mula dilakukan desinfeksi pada dinding perut dan lapangan operasi dipersempit dengan kain suci hama. 8) Setelah dinding rahim dijahit. 4) Di buat insisi secara tajam dengan pada segmen atas rahim (SAR). selaput ketuban dipecahkan. 2003). Kelebihan: a) Memerlukan sedikit pemisahan kandung kemih dari miometrium. b. c) Otot-otot rahimnya tebal dan lebaih banyak pembuluh darah sehingga sayatan ini lebih banyak mengeluarkan darah. misalnya karena adanya perlekatan –perlekatan akibat pembedahan seksio caesar yang lalu. Indikasi Seksio Caesar Indikasi seksio Caesar klasik menurut Sarwono 2007 : 1) Bila terjadi kesukaran dalam memisahkan kandung kencing untuk mencapai segmen bawah rahim. Lapisan II : Hanya miometrium saja dijahit secara simpul.

3. Ernaldi Bahar Propinsi Sumatra Selatan tahun 2008.5% ) sedangkan kategori kurang yaitu sebanyak 5 orang ( 14. Luka dinding rahim dijahit Lapisan I : Dijahit jelujur. Penelitian ini dapat digambarkan bahwa peran perawat pelaksana komunikasi terapeutik pada teknik menyimpulkan tergolong kurang. Tali pusat dijepit dan dipotong. Pada fase ini 14. Dari hasil penelitian Rosalina 2008.Keluhan kandung kemih. Mohammad Hoesin Palembang.7% masih dalam kategori kurang dimana responden tidak menjelaskan tindakan keperawatan yang dilakukan seharusnya perawat menjelaskan tindakan keperawatan yang dilakukan agar tidak menimbulkan kecemasan pada pasien dengan demikian komunikasi terapeutik pada fase kerja tidak ada lagi dalam katogori kurang. dari hasil penelitian di instalasi kebidanan dan penyakit kandungan Rumah Sakit Dr. Dibandingkan dengan cara klasik kemungkinan ruptur uteri spontan kurang atau lebih kecil. Plika vesikouterina ini disisihkan secara tumpul ke arah samping dan bawah.38%. Rongga perut dibersihkan dari sisa-sisa darah dan akhirnya luka dindina perut dijahit (Sarwono.8% ). Di peroleh data mengenai gambaran peran perawat pelaksana dalam menerapkan teknik komunikasi terapeutik pada teknik menyimpulkan pada pasien gangguan jiwa diruang rawat inap Rumah Sakit Dr. janin dilahirkan dengan meluksir kepalanya. Kelebihan : Penjahitan luka lebih mudah. Setelah dinding rahim selesai dijahit. Dalam rongga perut disekitar rahim dilingkari dengan kasa laparotomi. 2007). Menurut penelitian Tri Setiani 2009. Kekurangan : Luka dapat melebar kekiri. pada endometrium da miometrium Lapisan II : Dijahit jelujur hanya pada miometrium saja Lapisan III : Dijahit jelujur pada plika vesikouterina 7. plasenta dilahirkan secara manual. yang dilakukan pada keseluruhan responden didapatkan bahwa dari 34 responden yang melakukan komunikasi terapeutik pada fase kerja dengan baik yaitu 20 orang ( 58. kemudian diperlebar melintang secara tumpul dengan kedua jari telunjuk perator. selaput ketuban dipecahkan. Kedalam otot rahim intra mural disuntikkan 10 U oksitosin. Kategori cukup 8 responden (27%) dan 6 responden (20%) dikategorikan . 5.4 Penelitian Terkait Menurut penelitian Eka Fitrianti 2008. kedua adneksa diejsplorasi 8.62% dan kategori kurang sebanyak 52.7% ). kanan bawah. Uterin putus sehingga mengakibatkan perdarahan yang banyak. Setelah kavum uteri terbuka. Badan janin dilahirkan dengan mengait kedua ketiaknya. dan kandung kencing yang telah disisihkan ke arah bawah dan samping dilindungi dengan spekulum kandung kencing. Di buat insisi pada segmen bawah rahim 1 cm di bawah irisan plika vesikouterina tadi secara tajam dengan pisau bedah ±2 cm. Dibuat bladder-flap. Penutupan luka dan reperetonialisasi yang baik. 6. Kategori cukup 9 orang ( 26. Mohammad Hoesin Palembang terdapat 30 responden didapat data bahwa pengetahuan ibu bersalin dengan SC tentang perawatan bekas sayatan SC dengan kategori baik sebanyak 16 responden (53%). 2.Untuk kategori baik sebanyak 47. yaitu dengan menggunting peritoneum kandung kencing (plika vesikouterina) didepan segmen bawah rahim (SBR) secara melintang. Mengenai penerapan komunikasi terapeutik pada pasien DM Di Irna Non Bedah Rumah Sakit Dr. Arah insisi pada segmen bawah rahim dapat melintang (transversa) atau membujur (sagital). 4.

BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL 3. Tingkat kecemasan merupakan salah satu tolak ukur yang digunakan untuk mengukur kecemasan pada pasien pre operasi seksio sesarea.kurang. Komunikasi terapeutik merupakan suatu hubungan atau interaksi antara perawat dengan pasien. 2005). Berdasarkan hal tersebut maka kerangka konsep penelitian hubungan komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar adalah sebagai berikut: Variabel Dependen Variabel Independen . dari variabel itulah konsep dapat diamati dan diukur (Notoatmodjo. konsep adalah suatu abstraksi yang dibentuk dengan menggeneralisasikan suatu pengertian oleh karena itu konsep tidak dapat diamati dan dapat diukur.1 Kerangka Konsep Kerangka konsep penelitian adalah suatu hubungan atau kaitan antara konsep satu terhadap konsep yang lainnya dari masalah yang ingin diteliti. maka konsep tersebut harus dijabarkan kedalam variabel-variabel.

orientasi. Kurang jika yang menjawab benar < 60 % dari pertayaan yang diajukan ( Arikunto. Persalinan normal / spontan Nominal 2 Komunikasi terapeutik perawat Komunikasi yang dilakukan oleh perawat dengan pasien yang meliputi dari fase prainteraksi. Wawancara Kuiesioner 1. . Cukup jika yang menjawab benar antara 60-75% dari pertayaan yang diajukan 3. 2007) 3. kerja.2 Definisi Operasional No Variabel Definisi Operasional Cara Ukur Alat Ukur Hasil Ukur Skala 1 Operasi seksio caesar Merupakan salah satu cara melahirkan janin melalui insisi pada dinding perut dan dinding uterus Observasi Cheklist 1. Persalinan SC 2. Berat jika nilainya (> 75 %) (Struat & Sunden. Baik jika yang menjawab benar > 75 % dari pertayaan yang diajukan 2.3 Hipotesis Ada hubungan antara komunikasi terapeutik perawat/bidan dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar.Keterangan : : Yang diteliti : Tidak diteliti Sumber : Menurut teori Lawrence Green (Dalam Notoatmodjo Soekidjo. 2006 ) Ordinal 3 Tingkat kecemasan pasien pre operasi seksio caesar Merupakan tingkat kecemasan yang dialami oleh pasien pre operasi SC yang diukur dengan cara Anxiety Scale Observasi Checklist 1. Ringan jika nilainya ( < 50 %) 2. dan terminasi. Sedang jika nilainya (50-75 %) 3. 1989) Ordinal 3.

1 Perencanaan Waktu Penelitian Kegiatan Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Juni Juli 1. Populasi Penelitian Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti (Notoatmodjo. Penelitian yang dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang 2010.2.BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4. Populasi dan Sampel Penelitian 4.1.3. Seminar proposal √ . 4. 4.2. Tempat dan Waktu Penelitian 4.1.2.2.1. 2005). 2005). Sampel dalam penelitian ini menggunakan metode accidental yaitu sampel yang diambil dari responden atau kasus yang kebetulan ada atau tersedia. Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan serangkaian kegiatan yang dilaksanakan dengan perencanaan waktu sebagai barikut : Tabel 4. Persiapan seminar proposal √ 4. Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan Diruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang 2010. Pembahasan bab I-IV √ √ 3.3. 4.2. Pengajuan judul √ 2. Sampel Penelitian Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmojo.3. Desain Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian yang bersifat hubungan analitik menggunakan tehnik cross sektional. Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien pre operasi seksio caesar dan perawat/bidan di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang. 4.

5. Dan data sekunder diperoleh dari Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang yang berupa data yang diambil dari Medical Record. Pembahasan bab V-VI √ √ 7. Penelitian langsung mengambil data pada subyek penelitian langsung pada nilai operasi. 4. 2003). Pengolahan Data Menurut Hastono (2001) pengolahan data dapat jelaskan sebagai berikut : 4.4. Penelitian √ √ 6.5.1. 4.5.5. 4. 4.2. data tersebut perlu diperiksa terlebih dahulu apakah telah sesuai dengan yang diharapkan atau tidak.1.2. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data 4. Rumus pengolahan data bila respon : . Pengumpulan data dilakukan sendiri oleh penulis dengan cara melakukan pengamatan (observasi) secara langsung kepada responden dengan menggunakan observasi atau cheklist yang dikembangkan sendiri oleh peneliti dan wawancara langsung dengan pasien dengan menggunakan kuesioner yang dikembangkan sendiri oleh peneliti. Persiapan komprehensif √ 8.5. Coding ( Pengkodean ) Dalam melakukan pengolahan data dengan baik. Ujian √ 4.4.3.4. Tehnik Pengumpulan Data Pada penelitian ini data yang diperoleh adalah data primer yaitu Data primer berupa angket yang dibagikan kepada responden dengan cara menggunakan kuesioner yang dikembangkan sendiri oleh penulis (Notoatmojo. Instrumen Pengumpulan Data Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data adalah Wawancara (Kuesioner) dan observasi (Check List). Cleaning Data ( Pembersihan Data ) Pemeriksaan kembali data yang telah dimasukan sehingga benar – benar bebas dari kesalahan kemudian diuji kebenarannya.4. Entry Data ( Memasukan Data ) Memasukan hasil data penelitian ke dalam tabel sesuai dengan kriteria.5. Komprehensif √ 9. Editing ( Pegolahan Data ) Klasifikasikan jawaban / hasil yang ada menurut macamnya ke bentuk yang lebih ringkas dengan menggunakan kode. 4.

1. Dalam hal ini untuk melihat hubungan antara dua variabel independen dan dependen digunakan uji Chi square (SPSS).6. peneliti tidak akan mencantumkan nama responden. Informend Consent Lembar persetujuan ini diberikan pada responden yang akan diteliti. ¬¬ .6. peneliti perlu membawa rekomendasi dari Institusi dari pihak lain dengan cara mengajukan permohonan izin pada Instiusi/Lembaga penelitian yang dituju oleh peneliti. Anonimity (Tanpa Nama) Untuk menjaga kerahasiaan. Bila subjek menolak.7.a. jika responden menjawab ”Tidak ” nilainya 0. Lembar informend consed harus dilengkapi dengan judul penelitian dan manfaat penelitian.75% dari pertayaan yang diajukan c. 4. Setelah mendapat persetujuan barulah penelitian menekankan masalah etika yang meliputi: a. maka peneliti tidak boleh memaksa dan harus tetap menghormati hakhak subjek.6. Baik jika yang menjawab benar > 75 % dari pertayaan yang diajukan b. tetapi pada lembar tersebut diberiakan kode. Cukup jika yang menjawab benar antara 60 . 4. Analisa Data 4. c. Etika Penelitian Dalam melakukan penelitian. Analisa Bivariat Analisa bivariat dilakukan untuk melihat hubungan antara dua variabel independen yang meliputi : Tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar dengan variabel dependen : Komunikasi terapeutik perawat.2. Responden harus memenuhi kriteria inklusi. Kurang jika yang menjawab benar < 60 % dari pertayaan yang diajukan Jika responden menjawab ”Ya” nilainya 1. dan hanya kelompok data tertentu yang akan dilaporkan sebagai hasil penelitian. Confidentiality (Kerahasiaan) Kerahasiaan informasi responden dijamin oleh peneliti. Analisa Univariat Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah univariat terhadap tiap variabel dari hasil penelitian dalam hal ini hanya menghasilkan distribusi frekuensi dan persentase dari tiap variabel. maka setiap kuisioner nilainya dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut : R = n x 100 % N Keterangan : R : Indeks kesesuaian prilaku n : Jumlah responden yang menjawab ”Ya” N : Jumlah pertayaan 4. b.

Memberikan pelayanan kesehatan secara profesional. DR. Mewujudkan citra sebagai Rumah Sakit islam kebanggaan Muhammadiyah yang berfungsi sebagai wahana ibadah dan berperan aktif sebagai media dakwah persyarikatan dalam bidang kesehatan. c) Motto ” Pelayanan sebagai Ibadah dan Dakwah”. b) Misi 1. dan islami kepada masyarakat. dokter umum. Paramedis (Perawat. Bidan) dan karyawan yang terampil dan berkemampuan dengan didukung oleh peralatan-peralatan canggih.1. Kebidanan dan Kandungan b. modern. dan Motto a) Visi Terwujudnya Rumah Sakit yang profesional. dan islami sehingga menjadi rahmatan lil’alamin bagi masyarakat. mengesankan dan bernuansa islami. peralatan non medis dan peralatan penunjang lainnya. Amien Rais) merupakan satu satunya amal usaha dibawah langsung PWM SumSel.1 Visi. Anak . simpatik. ruangan yang bersih. terkemuka.BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5. Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang telah berkembang cukup pesat dan berkat ridho Allah SWT dan dukungan masyarakat rumah sakit ini sudah sama dengan rumah sakit lainnya di kota Palembang. Penyakit Dalam d.1 Gambaran Rumah Sakit Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang adalah Amal Usaha Persyarikatan Muhammadiyah yang diresmikan tanggal 10 Dzulhijjah 1417 H/ 18 April 1997 oleh Gubernur Propinsi Sumatera Selatan (Bapak H. modern. 5. pelayanan yang cepat. ramah. peralatan medis. baik pelayanan. 3. Insya Allah Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang akan selalu memupuk dan memelihara kepercayaan masyarakat melalui dipenuhinya dokterdokter spesialis. Pada saat ini Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang lebih menggembirakan jika dilihat dari berbegai sektor. Paru e. Ramli Hasan Basri) bersama Ketua PP Muhammadiyah (Bapak Prof. Misi. 5.1. 2. Menjadi pusat persemaian kader Muhammadiyah dalam bidang kesehatan. Syaraf c.2 Fasilitas Pelayanan a.

Kamar Operasi d. 5. Mata.....f.. THT h.8 10 .1.6 16 10 32 VIP Atas 1 6 . Instalasi Farmasi b.. 5.. IGD. ...2 Variabel Penelitian Dari hasil penelitian yang telah dilakukan pada tanggal 22 Februari sampai 8 Maret tahun 2010.1 Analisa Univariat Analisa ini yang digambarkan dalam bentuk distribusi frekuensi dari variabel komunikasi terapeutik perawat dan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar..7 VIP Bawah 2 ....3 Tempat Tidur Tabel 5. Bedah i. USG/ECG i...10 Total TT 3 6 2 14 12 33 35 112 227 5.6 8 16 30 Anak .14 ICU/ ICCU 10 ..4 Pelayanan Penunjang / Tindakan Medis a. Radiologi h..2.. didapatkan dari 14 responden pada perawat dan pasien pre operasi seksio caesar yang dilakukan di ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang. Fisioterapi j..1 Jumlah Tempat Tidur Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang 2010 RUANG Kelas TT Tidur VIP Khusus VIP Utama I A I B II A II B IIIA III B Bedah . 6 Konsultasi Gizi c. Ambulance 5..2 10 . Laboratorium f.4 4 11 11 62 92 Kebidanan . Echo e. Daftar ditampilkan dalam bentuk tabel dan teks... Jantung g..24 42 P D L ... ICCU /ICU.1. Treadmil g...

dan kurang < 60% untuk lebih jelas lihat tabel 5.3 Tabel 5. Januari seksio caesar 85 pasien (19%) spontan 67 (17%). Februari seksio caesar 73 pasien (16%) spontan 65 (17%). b) Komunikasi Terapeutik Perawat Pada penelitian ini komunikasi terapeutik perawat dikelompokan menjadi 3 kategori komunikasi terapeutik baik > 75%. Desember seksio caesar 106 pasien (23%) spontan 89 (23%).2 Distribusi Frekuensi Persalinan Spontan Dan Seksio Caesar di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang Tahun 2010 No Bulan Persalinan Seksio Caesar % Spontan % 1 Nopember 116 25 76 19 2 Desember 106 23 89 23 3 Januari 85 19 67 17 4 Februari 73 16 65 17 5 Maret 75 16 92 24 Total 455 100 389 100 Dari data diatas bahwa dari 844 persalinan yang bulan Nopember seksio caesar 116 pasien (25%) spontan 76 (20%). dan bulan Maret seksio caesar 75 pasien (16%) spontan 92 (24%).3 Distribusi Frekuensi Komunikasi Terapeutik Perawat di .2 Tabel 5. cukup 60%-75%.a) Persalinan Pada penelitian ini persalinan dikelompokan menjadi 2 kategori persalianan spontan dan persalinan operasi seksio caesar berdasarkan medical record Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang dari bulan Nopember 2009 sampai dengan Maret 2010 untuk lebih jelas lihat tabel 5.

sedang 51% . untuk lebih jelas lihat tabel 54. cukup 9 perawat (64%).Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang Tahun 2010 No Komunikasi Terapeutik Perawat N % 1 Baik 5 36 2 Cukup 9 64 Jumlah 14 100 Dari data di atas bahwa dari 14 perawat yang komunikasi terapeutik baik 5 perawat (36 %). Tabel 5.50%. c) Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Pada penelitian ini tingkat kecemasan dikategorikan menjadi menjadi 3 yaitu ringan 40% . dan berat 66% -100 %.4 Distribusi Frekuensi Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang Tahun 2010 No Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar N % 1 Ringan 8 57 2 Sedang 6 43 Jumlah 14 100 Dari data di atas bahwa dari 14 pasien seksio caesar yang tingkat kecemasan ringan sebanyak 8 pasien (57%). sedang sebanyak 6 pasien (43%). .65%.

maka dapat diketahui bahwa ada hubungan antara komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar. hasil uji Chi-Square lihat tabel 5. a) Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Komunikasi terapeutik dengan tingkat kecemasan pasien dikategorikan menjadi 2 dengan jumlah responden 14.2 Analisa Bivariat Analisa ini untuk mengetahui hubungan antara variabel independent (komunikasi terapeutik perawat) dengan variabel dependent (tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar) dengan uji statistik yang menggunakan uji Chi-Square.031 ≤ 0.1 Persalinan .031 setelah dibandingkan dengan α 0. 5. Untuk variabel mempengaruhi seperti perawat yang merawat pasien operasi seksio caesar tersebut yang ada diruang tempat pasien dirawat.2.5.5 Distribusi Frekuensi Komunikasi Terapeutik Perawat dengan Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang Tahun 2010 No Komunikasi Terpeutik Perawat Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi SC Jumlah Value Ringan Sedang N%N%N% 1 Baik = 0.05 dapat diketahui bahwa pValue = 0. Maka akan diuraikan satu persatu oleh penulis di bawah ini : 5. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan.3 Pembahasan Pembahasan ádalah suatu penelitian untuk membandingkan hasil penelitian di lapangan dengan teori yang mendukung.05. Pada penelitian ini sampel di ambil secara accicidental sample.0315 36 0 0 5 36 2 Cukup 3 21 6 43 9 64 Total 8 57 6 43 14 100 Dari data diatas dapat diketahui bahwa perawat dengan komunikasi terapeutik yang baik didapatkan tingkat kecemasan kategori ringan (36%) dari pada perawat dengan komunikasi terapeutik yang cukup didapatkan tingkat kecemasan kategori ringan (21%) dan sedang (43%). Sehingga sampel yang didapatkan adalah pasien pre operasi seksio caesar yang ada di ruangan kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang.5 Tabel 5. Dari uji statistik diperoleh pValue = 0.3.

Kategori cukup 8 responden (27%) dan 6 responden (20%) dikategorikan kurang. presentasi bahu. diabetes. Fase terminasi akhir dari pertemuan perawat dengan klien. Didalam komunikasi terapeutik perawat ada empat fase yaitu fase preinteraksi (persiapan) Pada tahap ini perawat menggali perasaan dan mengidentifikasi kelebihan dan kekurangannya. solusio plasenta. bayi kembar (Multiple Pregnancy) (Benson. plasenta previa. penyakit jantung berat pada ibu.2005). Hasil penelitian yang di peroleh data mengenai gambaran peran perawat pelaksana dalam menerapkan . tulang panggul. presentasi bokong. untuk itu pasien yang akan menjalani operasi harus diberi komunikasi terapeutik untuk menurunkan atau mengurangi gejala kecemasan serta dapat meningkatkan pengetahuan kesehatan pada pasien. persalinan sebelumnya dengan seksio caesar. gawat janin atau fetal distress. presentasi dahi. Perawat juga dituntut untuk mempunyai kepekaan dan tingkat analisis yang tinggi terhadap adanya perubahan dalam respons verbal maupun nonverbal klien. 5. 2008). Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan dan dilakukan untuk membantu penyembuhan dan pemulihan pasien. dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding perut dan dinding rahim dengan sayatan rahim dalam keadaan utuh (Sarwono. Seksio caesar adalah suatu persalinan buatan. Komunikasi terapeutik merupakan komunikasi profesional bagi perawat bertujuan untuk kesembuhan pasien. bayi terlalu besar (>4000 gram). ruptur uteri (Cunningham. Faktor janin yang menyebabkan seksio caesar adalah: janin dengan anomali. Pada tahap ini perawat juga mencari informasi tentang klien fase orientasi (perkenalaan) Pada saat berkenalan. defleksi kepala. ruptur uteri. eritroblastosis. Operasi merupakan salah satu tindakan pengobatan yang banyak menimbulkan kecemasan. Faktor Ibu yang menyebabkan seksio sesarea adalah: usia. posisi dagu posterior. Dari hasil Tri Setiani dari 30 responden didapat data bahwa pengetahuan ibu bersalin dengan SC tentang perawatan bekas sayatan SC dengan kategori baik sebanyak 16 responden (53%). letak lintang. kelainan tali pusat. 2007). sehingga dilakukan operasi seksio caesar yang membantu persalinan bukan karena suatu Trens.Dari hasil penelitian di ruang kebidanan rumah Sakit Muhammadiyah Palembang dapat dilihat bahwa dari bulan Nopember sampai Maret yaitu persalinan SC sebanyak 455 pasien dan persalinan spontan sebanyak 389 pasien Maka angka persalinan SC meningkat dan persalinan spontan terjadi penurunan di ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammdiyah Palembang tahun 2010. 2008 ). Menurut Cunningham (2005) dan Benson (2008). ( Mukhripah Damaiyanti. menunjukan bahwa kejadian persalinan seksio caesar mengalami peningkatan dikarnakan adanya faktor-faktor yang membahayakan ibu dan bayi. Fase kerja pada tahap kerja ini dituntut kemampuan perawat dalam mendorong klien mengungkap perasaan dan pikirannya. Bila kecemasan pada pasien pre operasi tidak segera diatasi maka dapat mengganggu proses penyembuhan. keadaan melemahkan lainnya. Dari hasil penelitian yang didapatkan dan dari teori yang mendukung. Berarti komunikasi terapeutik perawat masih cukup di ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang. vasa previa.2 Komunikasi Terapeutik Perawat Dari hasil penelitian di rumah Sakit Muhammadiyah Palembang dapat dilihat bahwa dari 14 perawat komunikasi terapeutik kategori cukup (64%). faktor-faktor yang menyebabkan seksio sesarea adalah dari faktor ibu dan janin. faktor hambatan jalan lahir. presentasi majemuk). Penyakit ibu yang dapat mempengaruhi seksio sesarea adalah: preeklampsieklampsi berat.3. perawat harus memperkenalkan dirinya terlebih dahulu kepada klien.

1998). menunjukan bahwa komunikasi terapeutik perawat masih banyak yang belum berkomunikasi terapeutik yang baik. 2000). Penelitian ini dapat digambarkan bahwa peran perawat pelaksana komunikasi terapeutik pada teknik menyimpulkan tergolong kurang. Oleh sebab itu perawat dapat membagi waktu untuk memberikan informasi dan dapat meningkatkan pengetahuan pasien terutama untuk mengurangi kecemasan psien itu sendiri.62% dan kategori kurang sebanyak 52. Dan perawat mengatahui bahwa menurunkan suatu kecemasan pasien perlu suatu metode yang baik yaitu komunikasi yang terapeutik sehingga pasien dapat merasakan rasa nyaman dalam menghadapi operasi yang akan dilakukan oleh klien. Untuk perawat harus melakukan komunikasi terapeutik. Dari hasil penelitian yang didapatkan dan dari teori yang mendukung.teknik komunikasi terapeutik pada teknik menyimpulkan pada pasien gangguan jiwa diruang rawat inap Rumah Sakit Dr.38%. Oleh sebab itu untuk mengurangi kecemasan pada pasien yang akan menjalankan operasi seksio caesar dibutuhkan komunikasi terapeutik yang baik. Dikarenakan perawat kurang mencari informasi tentang klien dan perawat tidak memperkenalkan dirinya terlebih dahulu serta pada saat melakukan tindakan operasi perawat tidak menjelaskan prosedur tindakan operasi pada pasien yang akan menjalankan operasi. Kecemasan (ansietas) adalah keadaan dimana individu atau kelompok mengalami perasaan gelisah (penilaian atau opini) dan aktivitas sistem syaraf autonom dalam berespon terhadap ancaman yang tidak jelas. ninspesifik (Carpenito. Untuk kategori baik sebanyak 47.3. Ernaldi Bahar Propinsi Sumatra Selatan tahun 2008. Berarti tingkat kecemasan pasien pre operasi seksio caesar masih berat di ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang. karena dengan komunikasi terapeutik dapat mengurangi kecemasan terhadap pasien tersebut dan membuat pasien merasa lebih baik dan operasi bisa berjalan dengan . 5. Karena dengan banyaknya pengetahuan dan penjelasan dalam suatu masalah dapat meringankan kecemasan terhadap pasien tersebut. kurangnya dukungan keluarga hal ini suami serta kurangnya pendekatan dan komunikasi terapeutik perawat.3 Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Dari hasil penelitian di rumah Sakit Muhammadiyah Palembang dapat dilihat bahwa dari 14 pasien tingkat kecemasan yang kategori berat (43%). Respon emosional terhadap penilaian intelektual terhadap sesuatu yang berbahaya (Stuart Dan Sundeen. menunjukan bahwa tingkat kecemasan pasien pre operasi seksio caesar masih mengalami kecemasan dikarenakan lingkungan yang bising dan kurang nyaman. MASUKKAN PENELITIAN YANG TERKAIT TENTANG KECEMASAN ”? Dari hasil penelitian yang didapatkan dan dari teori yang mendukung. karena perawat tidak mempunyai waktu yang lama.

Dari hasil penelitian yang didapatkan dan dari teori yang mendukung. 2009) Hasil penelitian Supono (2005) mengatakan bahwa tingkat kecemasan pasien persalinan dapat berkurang dengan adanya komunikasi terapeutik perawat. adanya perasaan gelisah atau tidak tenang dengan sumber yang tidak spesifik dan tidak diketahui oleh seseorang. berarti ada hubungan komunikasi teraputik perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar di ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang. Karena perawat tenaga kesehatan yang . mengatasi gangguan psikologis. 2003) Menurut Yadi (2001) kecemasan adalah suatu perasaan yang tidak nyaman yang disertai dengan rasa takut yang mengancam dan perasaan tidak nyaman terhadap sesuatu. maka pasien yang akan menjalankan operasi akan timbul kecemasan dalam dirinya. perawatlah yang berperan penting dalam meningkatkan pengetahuan pasien terutama menjelaskan tentang prosedur tindakan operasi maka perawatlah yang harus melakukan komunikasi terapeutik dengan pasien pre operasi seksio caesar.4 Komunikasi Terapeutik Perawat dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Dari hasil penelitian di rumah Sakit Muhammadiyah Palembang dapat dilihat bahwa komunikasi terapeutik perawat di ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang tergolong dalam kategori cukup dan pasien pre operasi seksio caesar mengalami kecemasan sedang sebanyak 8 pasien (56%) dari hasil uji statistik menunjukkan bahwa pValue 0.lancar. Hal ini perlu mendapat perhatian serius dari perawat karena perawat merupakan petugas kesehatan yang terdekat dan terlama dengan pasien. (Dewi Wijayanti. dan belajar bagaimana berhubungan dengan orang lain. Karena komunikasi tersebut sangat dibutuhkan oleh pasien yang akan menjalankan operasi.05. Kecemasan juga merupakan sesuatu hal yang tidak jelas. Menurut Northouse (1998) Komunikasi terapeutik adalah kemampuan atau keterampilan perawat untuk membantu pasien beradaptasi terhadap stres. Untuk dapat menurunkan kecemasan pada pasien pre operasi salah satunya diperlukan komunikasi yang efektif terutama komunikasi terapeutik. menunjukan bahwa komunikasi terapeutik perawat dapat mempengaruhi serta menurunkan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar karena salah satu untuk menurunkan kecemasan dengan cara komunikasi yang efeksif yaitu komunikasi terapeutik yang baik oleh perawat.016 ≤ 0.3. 5. (Arwani.

1.2 Saran 7. 7.1 Kesimpulan Setelah dilakukan penelitian terhadap 14 responden di ruangan Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang 22 Februari sampai 6 Maret tahun 2010 dapat disimpulkan bahwa : 7.3 Manfaat Bagi Pasien Dapat memberikan rasa nyaman dan aman pada semua pasien yang akan menjalankan operasi seksio caesar sehingga pasien yang menjalankan operasi tidak cemas dan operasi bisa berjalan dengan lancar.2 Manfaat Bagi Institusi Pendidikan Dapat menambah informasi dan referensi yang berguna bagi mahasiswa sekolah tinggi ilmu kesehatan Muhammadiyah Palembang.3 Ada hubungan antara komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar. Dari hasil uji Chi-Square.2.1 Komunikasi terapeutik perawat dirumah Sakit Muhammadiyah Palembang Tahun 2010 didapatkan sebagian besar dengan kategori cukup. BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 7. 7.1 Manfaat Bagi Rumah Sakit Dapat dijadikan masukan dan motivasi bagi rumah sakit untuk lebih meningkatkan komunikasi terapeutik perawat dalam mengurangi tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar. 7.1. 7.2 Tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar di ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang Tahun 2010 didapatkan sebagian besar dengan kategori ringan. Diposkan oleh agustus di 09:06 0 komentar . 7. 031.2. didapatkan pValue = 0. 7.1.dekat dengan pasien dan memberikan rasa nyaman pada pasien yang akan menjalankan operasi seksio caesar.4 Manfaat Bagi Peneliti Dapat menambah ilmu pengetahuan maternitas serta riset penelitian dan wawasan bagi peneliti mengenai hubungan komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar.2.2.

 Lahir dengan kelainan bawaan yang lain. 235 ) 2. ± 2-10 mm distal dari percabangan arteri subklavia kiri. tetapi ada beberapa faktor yang diduga mempunyai pengaruh pada peningkatan angka kejadian penyakit jantung bawaan : 1. 10 Juni 2010 patens ductus PATENT DUCTUS ARTERIOSUS (PDA) 1. • Ibu meminum obat-obatan penenang atau jamu. Aliran darah balik fetus akan bercampur dengan aliran darah bersih dari ibu ( melalui vena umbilikalis ) kemudian masuk ke dalam atrium kanan dan kemudian dipompa oleh ventrikel kanan kembali ke aliran sistemik melalui duktus arteriosus.Kamis. . yang menyebabkan mengalirnya darah dari aorta yang bertekanan tinggi ke arteri pulmonal yang bertekanan rendah. DEFINISI Patent Ductus Arteriosus (PDA) adalah duktus arteriosus yang tetap terbuka setelah bayi lahir. • Ibu alkoholisme. Kelainan kromosom seperti Sindrom Down. Ayah / Ibu menderita penyakit jantung bawaan.google.com ) Patent Duktus Arteriosus adalah kegagalan menutupnya ductus arteriosus (arteri yang menghubungkan aorta dan arteri pulmonal) pada minggu pertama kehidupan. Normalnya duktus arteriosus berasal dari arteri pulmonalis utama (arteri pulmonalis kiri) dan berakhir pada bagian superior dari aorta desendens. 3. Hubungan ini ( shunt ) ini diperlukan oleh karena sistem respirasi fetus yang belum bekerja di dalam masa kehamilan tersebut. • Umur ibu lebih dari 40 tahun. PATOFISIOLOGI Duktus arteriosus adalah pembuluh darah yang menghubungkan aliran darah pulmonal ke aliran darah sistemik dalam masa kehamilan ( fetus ). insidennya bertambah dengan berkurangnya masa gestasi ( Betz & Sowden. Rita Yuliani. ( Suriadi. Kelainan ini merupakan 7% dari seluruh penyakit jantung bawaan. Faktor Genetik : Anak yang lahir sebelumnya menderita penyakit jantung bawaan. 2001. • Ibu menderita penyakit Diabetes Mellitus (DM) yang memerlukan insulin. 2. Faktor Prenatal : • Ibu menderita penyakit infeksi : Rubella. Sering dijumpai pada bayi prematur. 2002 : 375 ) Patent Ductus Arteriosus (PDA) atau Duktus Arteriosus Paten (DAP) adalah kelainan jantung kongenital ( bawaan ) dimana tidak terdapat penutupan ( patensi ) duktus arteriosus yang menghubungkan aorta dan pembuluh darah besar pulmonal setelah 2 bulan pasca kelahiran bayi ( www. ETIOLOGI Penyebab terjadinya penyakit jantung bawaan belum dapat diketahui secara pasti.

penurunan jumlah trombosit h. Gangguan paru yang terjadi bersamaan (misalnya sindrom gawat nafas atau displasia bronkkopulmoner) g. MANIFESTASI KLINIK 1. 7. Diantara sel-sel otot polos terdapat serat-serat elastin yang membentuk lapisan yang berfragmen. Selsel otot polos pada duktus arteriosus sensitif terhadap mediator vasodilator prostaglandin dan vasokonstriktor (pO2). Duktus arteriosus yang persisten (PDA) akan mengakibatkan pirai (shunt) L-R yang kemudian dapat menyebabkan hipertensi pulmonal dan sianosis. Aritmia j. Murmur kontinyu (machinery) derajat 1 sampai 4/6 terdengar dengan jelas pada ULSB atau daerah infraklavikula kiri yang merupakan petanda khas kelainan ini. Pulsasi nadi perifer yang lemah dan lebar 4. c. Obstruksi pembuluh darah pulmonal c. sirkulasi dan meningkatnya pO2 akan menyebabkan penutupan spontan duktus arteriosus dalam waktu 2 minggu. Hiperkalemia (penurunan keluaran urin).Dinding duktus arteriosus terutama terdiri dari lapisan otot polos ( tunika media ) yang tersusun spiral. Adanya perubahan tekanan. panjang PDA serta tahanan vaskuler paru (PVR). 5. Setelah persalinan terjadi perubahan sirkulasi dan fisiologis yang dimulai segera setelah eliminasi plasenta dari neonatus. i. Penatalaksanaan Konservatif : Restriksi cairan dan Pemberian obat-obatan : Furosemid (lasix) diberikan bersama restriksi cairan untuk meningkatkan diuresis dan mengurangi efek kelebihan beban kardiovaskular. berbeda dengan aorta yang memiliki lapisan elastin yang tebal dan tersusun rapat ( unfragmented ). Endokarditis b. Penutupan spontan PDA tidak akan terjadi pada bayi aterm. CHF ( gagal jantung kongestif ) d. Hepatomegali (jarang terjadi pada bayi prematur) e. Enterokolitis nekrosis f. Sianosis yang terjadi pada PDA dengan PVOD dikenal sebagai sianosis diferensial oleh karena hanya ekstremitas bawah yang biru sedangkan ekstremitas atas tetap normal. Tidak menimbulkan gejala bila PDA kecil. Akan terjadi hipertensi pulmonal dan PVOD bila PDA dibiarkan tanpa tindakan penutupan. Perdarahan gastrointestinal (GI). 3. b. Pemberian indomethacin (inhibitor prostaglandin) untuk mempermudah penutupan duktus. Pembedahan : Pemotongan atau pengikatan duktus. 2. . Non pembedahan : Penutupan dengan alat penutup dilakukan pada waktu kateterisasi jantung. pemberian antibiotik profilaktik untuk mencegah endokarditis bakterial. Rumble apikal terdengar pada PDA besar. Besarnya pirai (shunt) ditentukan oleh diameter. 6. PENATALAKSANAAN MEDIS a. 5. Gagal tumbuh 6. CHF dan infeksi paru berulang seringkali terjadi pada PDA besar. KOMPLIKASI a. 4. Tanda-tanda CHF muncul pada PDA besar.

d. Pemeriksaan diagnostik mungkin dilakukan seperti . http://agustusstikes. b.blogspot. Pada PDA kecil-sedang dapat terjadi LVH atau normal. Dalam fase pre operasi ini dilakukan pengkajian pre operasi awal. dan berakhir ketika klien di pindahkan ke kamar operasi. A. melibatkan keluarga atau orang terdekat dalam wawancara. memastikan kelengkapan pemeriksaan praoperasi. bervariasi sesuai tingkat keparahan.3:1 pada bayi cukup bulan atau lebih dari 1. tanda-tanda vital di catat dan data dasar di tegakkan untuk perbandingan masa yang akan datang.7. Adanya PVOD akan mengakibatkan ukuran jantung normal dengan pembesaran MPA dan peningkatan corakan vaskulerisasi hilus. PDA sedangbesar terjadi kardiomegali dan peningkatan PVM. Foto toraks juga menyerupai kelainan VSD. PEMERIKSAAN a. Pengkajian Sebelum operasi dilaksanakan pengkajian menyangkut riwayat kesehatan dikumpulkan. Melalui pemeriksaan ekho 2-D dan Doppler dapat divisualisasi adanya PDA dan besarnya shunt. mengkaji kebutuhan klien dalam rangka perawatan post operasi. Kateterisasi jantung yaitu hanya dilakukan untuk mengevaluasi lebih jauh hasil ECHO atau Doppler yang meragukan atau bila ada kecurigaan defek tambahan lainnya. merencanakan penyuluhan dengan metode yang sesuai dengan kebutuhan pasien. EKG serupa dengan kelainan VSD. pada PDA kecil tidak ada abnormalitas. c.0 pada bayi praterm (disebabkan oleh peningkatan volume atrium kiri sebagai akibat dari pirau kiri ke kanan) e. CVH bila PDA besar. Pada PDA kecil bayangan jantung normal. Pemeriksaan angiografi biasanya tidak dibutuhkan kecuali bila terdapat kecurigaan PVOD. hipertrofi ventrikel kiri pada PDA yang lebih besar. pemeriksaan fisik dilakukan.com/ 99999999 KONSEP KEPERAWATAN PRE OPERASI 19 Januari 2009 oleh PRO-HEALTH Keperawatan pre operasi dimulai ketika keputusan tindakan pembedahan di ambil. Ekhokardiografi yaitu rasio atrium kiri tehadap pangkal aorta lebih dari 1. Atau RVH bila telah terjadi PVOD.

Dalam memberikan penyuluhan klien pre operasi perlu dipertimbangkan masalah waktu. Disamping pengkajian fisik secara umum perlu di periksa berbagai fungsi organ seperti pengkajian terhadap status pernapasan. Perawat berperan memberikan penjelasan pentingnya pemeriksaan fisik diagnostik. jika penyuluhan diberikan terlalu lama sebelum pembedahan memungkinkan klien lupa. sebelumnya diberikan penjelasan yang gamblang dan jelas mengenai pembedahan dan kemungkinan resiko. klien obesitas akan mendapat masalah post operasi dikarenakan lapisan lemak yang tebal akan meningkatkan resiko infeksi luka. endoskopi. Demikian pula dengan kondisi obesitas. juga terhadap kesulitan teknik dan mekanik selama dan setelah pembedahan. rontgen. . B. Tuntutan klien akan bantuan keperawatan terletak pada area pengambilan keputusan. endoskopi. Pendidikan Pasien Pre operasi Penyuluhan pre operasi didefinisikan sebagai tindakan suportif dan pendidikan yang dilakukan perawat untuk membantu pasien bedah dalam meningkatkan kesehatannya sendiri sebelum dan sesudah pembedahan. dan fungsi imunologi. C. keterampilan. biopsi jaringan.analisa darah. penyembuhan luka akan di pengaruhi status nutrisi klien. dan pemeriksaan feses dan urine. Status nutrisi klien pre operasi perlu dikaji guna perbaikan jaringan pos operasi. Informed Consent Tanggung jawab perawat dalam kaitan dengan Informed Consent adalah memastikan bahwa informed consent yang di berikan dokter di dapat dengan sukarela dari klien. fungsi hepar dan ginjal. fungsi endokrin.dan perubahan perilaku. tambahan pengetahuan.

menciptakan hubungan dokter-pasien 3. (Gambar 2. faktor penyulit 5. Hal ini dapat dicapai dengan memperagakan pada pasien bagaimana melakukan nafas dalam. mengenal pasien. obat-obatan yang pernah / sedang / akan diberikan untuk masalah saat ini yang kemungkinan . pasien di instruksikan untuk bernafas dalam-dalam.com/2009/01/19/konsep-keperawatan-pre-operasi/ 100000000 sted on November 1. Selain meningkatkan pernafasan latihan ini membantu pasien untuk relaksasi. nafas lambat (menahan inspirasi secara maksimal) dan bagaimana menghembuskan nafas dengan lambat pasien dalam posisi duduk untuk memberikan ekspansi paru maksimum. indikasi / kontraindikasi 4. Latihan Nafas Dalam. Jenis operasi yang direncanakan 3. ada/tidak kemungkinan terjadinya komplikasi. menghembuskan melalui mulut.demikian juga bila terlalu dekat dengan waktu pembedahan klien tidak dapat berkonsentrasi belajar karena adanya kecemasan atau adanya efek medikasi sebelum anastesi. informed consent Penilaian catatan medik (chart review) 1. http://forbetterhealth. dan batukkan. Batuk dan Relaksasi salah satu tujuan dari keperawatan pre operasi adalah untuk mengajar pasien cara untuk meningkatkan ventilasi paru dan oksigenasi darah setelah anastesi umum. 2008 by kuliahbidan Tujuan 1. mengetahui masalah saat ini. 2.2 dan 2. Membedakan masalah obstetri / ginekologi dengan masalah non-obstetri yang terjadi pada kehamilan.wordpress. ambil nafas pendek. Beberapa penyuluhan atau instruksi pre operasi yang dapat meningkatkan adaptasi klien pasca operasi di antaranya : 1. menyusun rencana penatalaksanaan sebelum. selama dan sesudah anestesi / operasi 4. Setelah melakukan latihan nafas dalam beberapa kali.3 ). 2. mengetahui riwayat penyakit dahulu serta keadaan / masalah yang mungkin menyertai pada saat ini.

musclerelaxant. 2. menyebabkan terjadinya dilutional anemia of pregnancy. Ventilasi per menit meningkat sampai 50%. dapat terjadi penurunan vaskularisasi uterus sampai asfiksia janin. Volume plasma meningkat sampai 45% sementara jumlah eritrosit meningkat hanya sampai 25%. riwayat alergi. jantung / paru / abdomen / ekstremitas. penekanan / kompresi vena cava inferior dan aorta oleh massa uterus gravid dapat menyebabkan terjadinya supine hypertension syndrome. pemulihan. kepala / leher (perhatian KHUSUS pada mulut / gigi / THT / saluran napas atas. ANESTESIA / ANALGESIA UNTUK KASUS OBSTETRI Pertimbangan : Fisiologi Kehamilan / Persalinan (Maternal Physiology) Sistem pernapasan Perubahan pada fungsi pulmonal. peningkatan curah jantung sampai 40%. Menjelang / dalam persalinan dapat terjadi gangguan / sumbatan jalan napas pada 30% kasus. Meskipun terjadi peningkatan isi dan aktifitas sirkulasi. Functional residual capacity menurun sampai 15-20%. Pada saat persalinan. riwayat operasi / anestesi sebelumnya. penyakit jantung. hasil-hasil pemeriksaan penunjang / laboratorium yang diperlukan Pemeriksaan pasien Anamnesis : penting mengumpulkan data tambahan tentang riwayat penyakit yang dapat menjadi penyulit / faktor risiko tindakan anestesi (asma. Pemeriksaan fisik : tinggi / berat badan. cara. Sistem kardiovaskular Peningkatan isi sekuncup / stroke volume sampai 30%. peningkatan frekuensi denyut jantung sampai 15%. kebiasaan merokok / alkohol / obat-obatan. tanda vital lengkap. analgesi.dapat berinteraksi dengan obat / prosedur anestesi 6. menyebabkan penurunan PaO2 yang cepat pada waktu dilakukan induksi anestesi. dsb) Untuk detail nya. vasopresor / vasodilator. Pada persalinan. . PENTING DIKETAHUI : FARMAKOLOGI OBAT-OBAT (uterotonik / tokolitik. persiapan (diet. gangguan pembekuan darah. hipertensi. ventilasi dan pertukaran gas. memungkinkan dilakukannya induksi anestesi yang cepat pada wanita hamil. premedikasi). meskupun dengan disertai denitrogenasi. dsb). baca sendiri yaaaaa !!!. Penjelasan kepada pasien : metode. riwayat pengobatan. kebutuhan oksigen (oxygen demand) meningkat sampai 100%. anestesi. pemantauan kesejahteraan janin (dengan fetal monitoring). kontraksi uterus / his menyebabkan terjadinya autotransfusi dari plasenta . Konsultasi dengan dokter yang akan melakukan tindakan obstetrik. Pada kasus obstetri / kasus non-obstetri dalam kehamilan. kemungkinan risiko. penting dilakukan : pemeriksaan obstetri (umumnya telah dilakukan oleh dokter obstetri). puasa. Menetapkan rencana anestesi 1. Jika tidak segera dideteksi dan dikoreksi. cadangan oksigen juga berkurang. untuk airway maintenance selama anestesi / operasi). penyakit ginjal. dsb.

Sistem saraf pusat Akibat peningkatan endorphin dan progesteron pada wanita hamil. Hal ini karena pelebaran vena-vena epidural pada kehamilan menyebabkan ruang subarakhnoid dan ruang epidural menjadi lebih sempit. sampai 80%. Harus dianggap bahwa SEMUA obat dapat melintasi plasenta dan mencapai sirkulasi janin. Pada sectio cesarea. curah jantung meningkat. namun menurun sampai 60% di atas nonpregnant state pada saat kehamilan aterm. sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya regurgitasi dan aspirasi pulmonal isi lambung. kebutuhan halotan menurun sampai 25%. Transfer obat dari ibu ke janin melalui sirkulasi plasenta Juga menjadi pertimbangan. konsentrasi anestetik lokal yang diperlukan untuk mencapai anestesi juga lebih rendah. Perdarahan yang terjadi pada partus pervaginam normal bervariasi. X. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh aktifitas hormon progesteron. (baca juga catatan special aspects of perinatal pharmacology) Tindakan Anestesi / Analgesi Regional . Ginjal Aliran darah ginjal dan laju filtrasi glomerulus meningkat sampai 150% pada trimester pertama. konsentrasi obat inhalasi yang lebih rendah cukup untuk mencapai anestesia. Lambung HARUS selalu dicurigai penuh berisi bahan yang berbahaya (asam lambung. Kadar kolinesterase plasma menurun sampai sekitar 28%. Faktor yang menentukan yaitu peningkatan sensitifitas serabut saraf akibat meningkatnya kemampuan difusi zat-zat anestetik lokal pada lokasi membran reseptor (enhanced diffusion). karena obat-obatan anestesia yang umumnya merupakan depresan. mungkin akibat hemodilusi dan penurunan sintesis. Pada pemberian suksinilkolin dapat terjadi blokade neuromuskular untuk waktu yang lebih lama.sebesar 300-500 cc selama kontraksi. XII dan fibrinogen sehingga darah berada dalam hypercoagulable state. VIII. Pasien dengan preeklampsia mungkin berada dalam proses menuju kegagalan fungsi ginjal meskipun pemeriksaan laboratorium mungkin menunjukkan nilai “normal”. isofluran 40%. Sementara itu terjadi juga peningkatan sekresi asam lambung. penurunan tonus sfingter esophagus bawah serta perlambatan pengosongan lambung. Meskipun demikian jarang diperlukan transfusi. Kadar kreatinin. Beban jantung meningkat. dapat terjadi perdarahan sampai 1000 cc. urea dan asam urat dalam darah mungkin menurun namun hal ini dianggap normal. dapat sampai 400-600 cc. makanan) tanpa memandang kapan waktu makan terakhir. dapat juga menyebabkan depresi pada janin. Sistem gastrointestinal Uterus gravid menyebabkan peningkatan tekanan intragastrik dan perubahan sudut gastroesophageal junction. Pada anestesi epidural atau intratekal (spinal). metoksifluran 32%. Hal itu karena selama kehamilan normal terjadi juga peningkatan faktor pembekuan VII. Enzimenzim hati pada kehamilan normal sedikit meningkat.

Keberhasilan anestesi diuji dengan tes sensorik pada daerah operasi. chlorprocain 2-3% atau bupivacain 0. 6. 2. 4. Identifikasi adalah dengan keluarnya cairan cerebrospinal. Epidural : posisi pasien lateral dekubitus atau duduk membungkuk. Ruang epidural dicapai dengan perasaan “hilangnya tahanan” pada saat jarum menembus ligamentum flavum. 7. 9. 8. Infeksi / inflamasi / tumor pada lokasi injeksi Teknik : 1. Spinal / subaraknoid : posisi lateral dekubitus atau duduk. mencapai ruangan subaraknoid. dilakukan fiksasi. Dosis yang dipakai untuk anestesi epidural lebih tinggi daripada untuk anestesi spinal. Pasang line infus dengan diameter besar. . jalur obat anestesia regional sudah siap. sehingga kemajuan persalinan dapat menjadi lebih lambat. dengan jarum / trokard. Daerah punksi ditutup dengan kasa dan plester. Waktu mula kerja (time of onset) lebih lama 3. 2. dilakukan punksi antara vertebra L2-L5 (umumnya L3-L4) dengan jarum / trokard. berikan 500-1000 cc cairan kristaloid (RingerLaktat). Kelainan SSP tertentu 4. stimulus nyeri dan kontraksi dapat menurun. Insufisiensi utero-plasenta 6. dilakukan punksi antara L3-L4 (di daerah cauda equina medulla spinalis). Mengurangi pemakaian narkotik sistemik sehingga kejadian depresi janin dapat dicegah / dikurangi. Pasien menolak 5. 3. Syok hipovolemik 7. Ibu tetap dalam keadaan sadar dan dapat berpartisipasi aktif dalam persalinan.250. Kemudian obat anestetik diinjeksikan ke dalam ruang epidural / subaraknoid. Untuk persalinan per vaginam. Kontraindikasi : 1. 5. berikan antasida 3. Jika dalam perjalanannya diperlukan sectio cesarea. menggunakan jarum halus atau kapas. Obat anestetik yang digunakan : lidocain 1-5%. Anestesi epidural atau spinal : sering digunakan untuk persalinan per abdominam / sectio cesarea. Setelah menembus ligamentum flavum (hilang tahanan). Sepsis 2. Kemudian posisi pasien diatur pada posisi operasi / tindakan selanjutnya. 15-30 menit sebelum anestesi. Risiko aspirasi pulmonal minimal (dibandingkan pada tindakan anestesi umum) 4. jika stylet ditarik perlahan-lahan. Kerugian : 1. Observasi tanda vital 4. Keuntungan : 1. Kemungkinan terjadi sakit kepala pasca punksi. Hipotensi akibat vasodilatasi (blok simpatis) 2.75%. Gangguan pembekuan 3.Analgesi / blok epidural (lumbal) : sering digunakan untuk persalinan per vaginam. Jika dipakai kateter untuk anestesi. tusukan diteruskan sampai menembus selaput duramater.

Komplikasi yang mungkin terjadi : 1.5% halotan. Diperlukan keadaan relaksasi uterus. hidrasi (>3 L/hari). dan operator siap. Jika terjadi injeksi subarakhnoid yang tidak diketahui pada rencana anestesi epidural. dapat sampai disertai henti napas dan henti jantung. dan kehilangan kesadaran.75% isofluran.5 mg/kgBB suksinilkolin. Teknik : 1. 0. dilakukan induksi dengan 4 mg/kgBB tiopental dan 1. 3. karena dosis yang dipakai lebih tinggi. Setelah regio abdomen dibersihkan dan dipersiapkan. Dapat juga ditambahkan inhalasi 1. Terapi dengan istirahat baring total. 2. Risiko aspirasi pada ibu lebih besar. analgesik. sampai . Komplikasi neurologik yang sering adalah rasa sakit kepala setelah punksi dura. menggunakan 1. Hipotensi ditangani dengan memberikan cairan intravena dan ephedrine. 3. dengan uterus digeser ke kiri. dan pengikat / korset perut (abdominal binder). Injeksi intravaskular ditandai dengan gangguan penglihatan. pasien diposisikan dengan uterus digeser / dimiringkan ke kiri. Ada kontraindikasi atau keberatan terhadap anestesia regional. Pasang line infus dengan diameter besar. 3. 4. Tindakan Anestesi Umum Tindakan anestesi umum digunakan untuk persalinan per abdominam / sectio cesarea. Dapat terjadi depresi janin akibat pengaruh obat.0% enfluran. dilakukan intubasi. 4. Dialirkan ventilasi dengan tekanan positif.5 mg/kgBB suksinilkolin. 2. atau 0. dapat terjadi total spinal anesthesia. observasi tanda vital. Dilakukan penekanan krikoid. O2-N2O 50%-50% diberikan melalui inhalasi. dilakukan ventilasi O2 100% dengan mask disertai penekanan tulang cricoid. 2. kemudian dilakukan intubasi. 2. Harus dilakukan intubasi pada pasien. Kerugian : 1. Induksi cepat. atau pasien diminta melakukan pernapasan dalam sebanyak 5 sampai 10 kali. Hiperventilasi pada ibu dapat menyebabkan terjadinya hipoksemia dan asidosis pada janin. Pengendalian jalan napas dan pernapasan optimal. Gawat janin.0 – 1. Keuntungan : 1. hipotensi dan kehilangan kesadaran. dan dilakukan hiperventilasi untuk mengatasi asidosis metabolik. Dilakukan preoksigenasi dengan O2 100% selama 3 menit. 3. 5. Gejala berupa nausea. Pasien harus diatur dalam posisi telentang / supine. 2. Kadang terjadi juga serangan kejang. Kesulitan melakukan intubasi tetap merupakan penyebab utama mortalitas dan morbiditas maternal. Indikasi : 1. dan suksinilkolin diinjeksikan melalui infus. antasida diberikan 15-30 menit sebelum operasi. dan balon pipa endotrakeal dikembangkan. 3. Risiko hipotensi dan instabilitas kardiovaskular lebih rendah. tinitus.

untuk maintenance anestesi digunakan teknik balans (N2O/narkotik/relaksan). Contoh : 1. Usaha mempertahankan kehamilan 3. Premedikasi minimal : barbirat lebih dianjurkan dibandingkan benzodiazepin. 2. atau jika ada hipertensi. diberikan juga vasodilator. Operasi semi-urgent sebaiknya ditunda sampai trimester kedua atau ketiga. (catatan) Jika terjadi hipertonus uterus. dsb dsb). di mana semua perubahan fisiologis akibat kehamilan diharapkan telah kembali pada keadaan normal). 3. pada infeksi atau kemungkinan infeksi. narkotik dapat digunakan untuk analgesia. Usaha mempertahankan fisiologi sirkulasi utero-plasenta yang optimal 4. obat2an. efek hambatan pertumbuhan atau efek teratogen terhadap janin. yang memerlukan tindakan operasi (misalnya : trauma. 7. Keselamatan ibu (prioritas utama) 2. karena paparan / exposure obatobatan terhadap janin relatif paling minimal. pada pre-eklampsia. Teknik anestesia regional (terutama spinal) lebih dianjurkan. magnesiumsulfat. Jika operasi dilakukan dalam masa kehamilan. Obat inhalasi dihentikan setelah tali pusat dijepit. 9. ANESTESIA / ANALGESIA UNTUK OPERASI NON-OBSTETRI PADA MASA KEHAMILAN (NON-OBSTETRICAL SURGERY DURING PREGNANCY) Sekitar 1-5% wanita hamil mengalami masalah yang tidak berhubungan secara langsung dengan kehamilannya. 5. 2. Operasi elektif sebaiknya ditunda sedapat mungkin sampai 6 minggu pascapersalinan (setelah masa nifas. misalnya syok.janin dilahirkan. 4. antara 5-35%. 6. dan sebagainya. berikan suplementasi asam folat (N2O dapat menghambat sintesis dan metabolisme asam folat). Pada kasus gawat darurat. Anjuran / pertimbangan : 1. cairan. Setelah itu. pemakaian obat-obatan yang memiliki efek depresi. 3. appendiksitis. Mortalitas / morbiditas perinatal : LEBIH TINGGI signifikan. Mortalitas / morbiditas maternal : tidak berbeda signifikan dengan tindakan anestesi / operasi pada wanita yang tidak hamil. 6. Untuk pasien yang direncanakan anestesia dengan N2O. Ekstubasi dilakukan setelah pasien sadar. 8. Pertimbangan tindakan anestesi untuk bedah non-obstetri pada masa kehamilan : 1. hal ini menjadi indikasi untuk induksi cepat dan penggunaan anestetik inhalasi. sementara diperlukan relaksasi uterus yang optimal. hipoksia. ditatalaksana dengan oksigen. karena obat-obat tersebut dapat menyebabkan atonia uteri. diberikan antibiotika. untuk mencegah ibu bangun. mortalitas maternal dan perinatal SANGAT TINGGI (lihat catatan management of injured pregnant patient). anestetik inhalasi yang kuat juga dapat digunakan dengan konsentrasi rendah. pada keadaan umum / tanda vital yang buruk. CATATAN : Pada kasus-kasus obstetri patologi yang memerlukan obat-obatan / penanganan medik selain anestesi. lanjutkan pemeriksaan antenatal dengan . Pencegahan sedapat mungkin. diberikan sebagaimana seharusnya.

5 mg/kgbb. digunakan anestesia umum.25-0. Tujuan anestesi pada laparoskopi adalah : 1. Pengisian rongga abdomen dengan udara (pneumoperitoneum) 2. Kadang digunakan elektrokoagulasi. seperti 0.5 mg/ml) diberikan melalui infus intravena. diperlukan keadaan khusus : 1. 2. dan/atau neuroleptika ketamin HCl 0. serta peningkatan tekanan vena sentral dan curah jantung sekunder akibat redistribusi sentral volume darah. Dapat juga digunakan tambahan anestesi inhalasi dalam konsentrasi rendah. anestesia . Jika diperlukan. Kadang diperlukan posisi Trendelenburg ekstrim. digunakan : 1. 3. 4. dengan anestetik narkotik dan musclerelaxant. dan/atau tramadol 1-2 mg/kgbb) 2. ANESTESIA / ANALGESIA UNTUK KASUS GINEKOLOGI Kuretase Untuk tindakan kuretase. Untuk meningkatkan kontraksi uterus digunakan ergometrin maleat. Kelebihan CO2 dapat diatasi dengan kendali frekuensi pernapasan 1.5-1. 3. Tekanan intraabdominal sampai 30-40 cm H2O sebaliknya dapat menyebabkan penurunan tekanan vena sentral dan curah jantung dengan cara menurunkan pengisian jantung kanan.perhatian khusus pada fetal heart monitoring dan penilaian aktifitas uterus. menciptakan relaksasi otot yang adekuat untuk membantu tindakan operasi Pengisian rongga peritoneum dengan CO2 dapat menyebabkan peningkatan PaCO2 jika pernapasan tidak dikendalikan. atropin sulfat (0.0% isofluran atau enfluran. Metode yang dianjurkan adalah anestesi dengan N2O-O2 perbandingan 75%-25% inhalasi. Peningkatan tekanan intraabdominal akibat insuflasi gas dapat menyebabkan muntah dan aspirasi. untuk deteksi kemungkinan persalinan preterm pascaoperasi. mengurangi potensial kejadian aritimia akibat hiperkarbia dan asidosis. mencegah peningkatan tekanan parsial CO2 dalam darah (PaCO2) pada insuflasi abdomen dengan gas CO2. analgetika (pethidin 1-2 mg/kgbb. (baca juga modul “Safe Motherhood” tentang Penuntun Belajar Kuretase (POEK)) Laparotomi operasi ginekologi Untuk operasi ginekologi dengan laparotomi. mempertahankan stabilitas kardiovaskular pada keadaan peningkatan tekanan intraabdominal yang besar akibat insuflasi CO2 (umumnya tekanan naik sampai 20-25 cmH2O. Laparoskopi Untuk tindakan laparoskopi.5 kali di atas frekuensi basal. sedativa (diazepam 10 mg) 3. dapat sampai 30-40 cm H2O).

Respon Fsiologis Operasi besar merupakan stressor kepada tubuh dan memicu respon neoro endecrine. cukup gawat atau kehilangan darah cukup banyak maka akan menyebapkan shock intake protein yang tinggi. B. pembedahan adalah suatu metode pengobatan yang dilakukan dengan terencana atau mendadak terhadap sebagian sistem tubuh. Respon Psikologis Sebagian ketakutan yang melatarbelakangi pra pembedahan adalah elusive atau keinginan mengelak dan orang tidak akan mengetahui penyebabnya. Konsep Seksio Sesarea .5%. kesal. seksio sesarea yang dilakukan sebagai prosedur kedaruratan atau kegawatan untuk melahirkan janin (Poter dan Perry. guna mengisi kebutuhan protein untuk keperluan penyembuhan dan mengisi kebutuhan untuk fungsi yang optimal. Prosedur yang gawat juga dianggap punya keseriusan mayor misalnya. yang melibatkan rekonstruksi atau perubahan yang luas pada bagian tubuh dan menimbulkan risiko yang tinggi bagi kesehatan. 2. Pembedahan atau lebihdikenal dengan istilah operasi dapat dibedakan. 2006). Sedangkan menurut Laksamana (2003). pembedahan minor atau (operasi kecil). Takut yang belum diketahui adalah umum. Sedasi ringan dapat diberikan. 3. dimana dapat dilakukan di ruang praktek klinik untuk rawat jalan dengan anastesi lokal. pembedahan adalah semua tindakan pengobatan yang menggunakan cara invasif dengan membuka atau menampilkan bagian tubuh yang akan ditangani yang umumnya dilakukan dengan membuka sayatan. kegawatan dan tujuan pembedahan. 111111111 A. bingung atau depresi. Orang yang sangat cemas sehingga tidak bisa berbicara dan mencoba menyesuaikan diri dengan kecemasan sebelum operasi sering kali menderita banyak kesukaran pada pasca pembedahan. takut anastesi biasanya dalam maut “ Tidur terus tidak bangun kembali”. Konsep Operasi/ Pembedahan 1. respon terjadi dari saraf simpati dan respon hormonal yang bertugas melindungi tubuh dari ancaman cedera. Pengertian Menurut Depkes RI (1998). mereka cenderung banyak marah. Sedangkan operasi mayor (operasi besar) dengan menggunakan anastesi umum yang dilakukan di unit pembedahan rawat inap. Jenis prosedur pembedahan atau operasi diklasifikasi berdasarkan tingkat keseriusan.lokal blok regio periumbilikal dapat dilakukan dengan 10-15 cc bupivacain 0. Mereka lebih mudah tersinggug akibat psikis dibandingkan dengan orang yang cemasnya sedikit. bila stress terhadap sistem.

h. embolisme paru. Disproporsi janin panggul. Preeklamsi. 2001). d. Pada ibu komplikasi. sehingga pada kehamilan berikutnya bisa terjadi ruptura uteri. Komplikasi a. kurang kuatnya perut pada dinding uterus.1995).cabang ateri ulterina ikut terbuka. b. 2. 4. Incoordinate uteria action. 2). Kelainan letak..paru. Indikasi Menurut statistik tentang 3509 kasus seksio sesarea yang disusun oleh Peel dan Camberlain (dalam Hanifa 2006). Pernah seksio sesaresa 3. Hipertensi . c. Gawat janin. f. anak yang dilahirkan dengan seksio sesarea menurut data statistik di negara. Suatu komplikasi yang baru yang kemudian tampak. Pesalinan seksio sesarea kelahiran bayi melalui abdomen dan insisi uterus (Mary. Kontra indikasi e. indikasi untuk seksio sesarea ialah a. lika kandung kencing. Infeksi puerperal Komplikasi ini bisa bersifat ringan seperti : kenaikan suhu tubuh selama beberapa hari dalam masa nifas. Pengertian Seksio sesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding rahim (kafita selekta kedokteran. Pada anak Seperti halnya dengan ibunya. kematian prenatal pasca seksio sesarea berkisar antara 4 sampai 7%.1.negara dengan pengawasan antenatal dan intranatal yang baik. Plasenta prepea. b. g. Pendarahan Pendarahan banyak bisa timbul pada waktu pembedahan jika cabang.komplikasi yang bisa timbul ialah sebagai berikut : 1). Komplikasi lainnya.

Keadaan emosi ini dialami secara obyektif dan dikomunikasikan dalam hubungan interpersonal (Maramis.2004). ketakutan. anensefalus. dan sebagainya. atau apabila janin terlalu kecil untuk hidup di luar kandungan. Freud (1998) memandang bahwa kecemasan timbul secara otomatis apabila kita menerima stimulus yang berlebihan yang melampaui kemampuan untuk menanganinya. pada sesuatu yang akan terjadi dengan penyebab yang tidak jelas yang dihubungkan dengan perasaan tidak menentu dan tidak berdaya. 2006). 2. Konsep kecemasan 1. Pengertian Kecemasan Menurut Stuart & Sundeen (1998) kecemasan adalah kebingungan. Seksio sesarea transperitonealis profunda. Seksio sesarea ekstraperitoneal. Perasaan tidak nyaman sebagai respon terhadap rasa takut akan terjadinya perlukaan tubuh atau kehilangan sesuatu yang bernilai dari dirinya (DepKes.Y. kecemasan sangat berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya. dkk. Seksio sesarea transperitonealis klasik atau korforal. 3. C. Stuart dan lararia (1998) mengatakan kecemasan dapat diekspresikan secara langsung melalui perubahan fisiologis dari perilaku maupun secara tidak langsung melalui timbulnya gejala atau mekanisme koping sebagai upaya untuk melawan kecemasan (Sofia. 2. 5.jenis seksio sesarea Dikenal beberapa secsio sesarea yaitu : 1. atau apabila janin terbukti cacat seperti hidro sefalus. Menurut Barbara (1996) kecemasan adalah respon psikologis perasaan takut atau tidak tenang yang sumbernya tidak dikenali dan terjadi ketika seseorang merasa terancam baik secara fisik maupun secara psikologis . Rentang Respon Cemas . ia memperingatkan adanya bahaya yang mengancam dan memungkinkan seseorang mengambil tindakan untuk mengatasi ancaman (Kaplan & Sadock).Mengenai komtra indikasi perlu diingat bahwa seksio sesarea dilakukan baik untuk kepentingan ibu maupun kepentingan anak. stimulus tersebut dapat berasal dari luar maupun dari dalam diri. Oleh sebab itu seksio sesarea tidak dilakukan – kecuali dalam keadaan terpaksa – apabila misalnya janin sudah meninggal dalam uterus. Kecemasan adalah suatu sinyal yang menyadarkan. (Hanifa. Jenis.1990). 1993).

banyak bicara dan volume keras. tidak mampu rileks dan sukar tidur. sering buang air kecil. perilaku diluar kesadaran (Sofia Y. gelisah. Cemas sedang memungkinkan seseorang untuk memusatkan perhatian pada yang selektif. tempat dan orang. 1995). anoreksia. persepsi wajah ketakutan. takut. badan gemetar. lapang persepsi menyempit. Manifestasinya adalah mulut kering. dan masih dapat mengenal waktu. Manifestasinya adalah nafas pendek. Menurut Stuart & Sundeen (1995) rentang respon individu terhadap kecemasan berfluktuasi antara respon adaptif dan maladaptif seperti terlihat pada gambar berikut: Gambar 2. nyeri dada. 2004). Cemas (menangis. menurunnya kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain. Cemas ringan dapat menyebabkan seseorang menjadi waspada dan meningkatkan area persepsi sehingga dapat memotivasi untuk belajar. (3) kecemasan berat. individu merasa tidak bisa memperhatikan lingkungan sehingga fokus terhadap lingkungan berkurang. Manifestasinya adalah berdebar-debar. Perasaan cemas 1. cemas ringan berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. sedang.gejala kecemasan tersebut adalah : a. (2) kecemasan sedang. Panik berhubungan dengan ketakutan dan teror yang melibatkan aktivitas motorik. persepsi yang menyempit dan kehilangan pemikiran yang rasional. mual dan muntah.1. pada kecemasan sedang individu merasa lebih tegang. pada tingkat ini lapang persepsi individu menyempit. banyak bicara dan bertanya-tanya. 1995) menyebutkan bahwa pada orang cemas refleksi tingkah laku terbagi atas fisiologis. Cemas ringan berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada.Peplu (dalam Stuart & Sundeen . : Rentang Respon individu terhadap kecemasan Respon adaptif Respon mal adaptif # Antisipasi # Ringan # Sedang # Berat # Panik Menurut Peplu (dalam Stuart & Sundeen. berat dan panik. kognitif dan afektif yang berbeda-beda. bicara terus dan sukar dimengerti. Sementara menurut Dadang (2001) Gejala. menolak) . orang tersebut tidak mampu menyelesaikan masalah. agitasi. mengidentifikasikan kecemasan dalam empat tingkat yaitu : ringan. Cemas berat mengurangi lapang persepsi seseorang sehingga cenderung untuk memusatkan pikiran untuk mengurangi ketegangan. pusing atau sakit kepala. Rentang respon cemas terbagi menjadi empat tingkat: (1) kecemasan ringan. otot merasa tegang.

Menarik diri c. Pandangan kosong . Ketakutan 1. Pada kerumunan orang banyak d. Lesu 3. Hilandnya minat 2. Ditinggal sendiri 4. Pada gelap 2. Ketegangan 1. Saat bangun kondisi lesu 3. Gemetar 5. Terbangun pada malam hari 2. Bicara cepat 6. Mudah tersinggung b.2. Tidak bisa istirahat tenang/ gelisa 4. Gangguaan tidur 1. Merasa tegang 2. Daya ingat terganggu f. Pada orang asing 3. Gangguan kecerdasan 1. Tidur tidak nyenyak e. Banyak mimpi/ mengigau 4. Perasaan defresi 1.

Nyeri dada 3.3. Gejala kardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah) 1. Rasa tertekan dan sempit dada 2. Tidak dapat menahan kencing . Gejala urogenital (perkemihan dan kelamin) 1. Gejala somatic (sensorik) i. Sukar buang air besar l. Muntah 4. Gejala respirator (pernapasan) 1. Perasaan terbakar diperut 3. Takikardi (denyut jantung meningkat) 2. Sedih 4. Gerakan lambat dan janggal h. Gejala somatic (otot) 1. Sulit menelan 2. Denyut nadi kasar/ amat jelas terasa/ teraba 4. Sering menarik napas dalam 4. Serimg buang air kecil 2. Rasa seperti mau pingsan j. Bangun dini hari g. Gejala gastrointestinal 1. Rasa tercekik 3. Napas pendek k.

Tingkah laku pada saat wawancara 1. menolak untuk makan. Mudah berkeringat 4. (3) pada sistem neuromuscular akan muncul respon peningkatan refleks. sensasi tercekik serta terlihat terengah-engah. Kecemasan berat e. (5) respon sistem urinaria meliputi tidak dapat menahan kencing. mata berkedip-kedip. Respon fisik terhadap kecemasan meliputi berbagai sistem organ tubuh: (1) pada sistem kardiovaskuler akan muncul respon palpitasi. mual dan mungkin akan diare. (2) pada sistem pernafasan akan terjadi nafas pendek dan cepat. Mulut kering 2. Respon Fisik Dan Psikologi Cemas Cemas dapat diekspresikan secara langsung melalui perubahan fisik dan perilaku. rigiditas. Gejala autonom 1. kelemahan umum. 1998). Kecemasan berat sekali/ panik : jika nilai ≤ 7 : jika nilai 8 -13 : jika nilai 14 – 18 : jika nilai 19 – 29 : jika nilai 30 – 44 3. tekanan darah meningkat. Muka merah 3.m. Gelisah dan muka merah 2. tremor. tekanan pada dada. Tidak ada kecemasan b. (6) pada sistem . Kecemasan sedang d. jantung berdebar. Ekspresi wajah tegang Tingkat kecemasan tersebut dapat dikelompokkandengan nilai hasil total score dari masingmasing gejala kecemasan sebagai berikut : a. Gemetar 3. Kecemasan ringan c. kaki goyah dan adanya gerakan yang janggal. Kepala sering terasa pusing n. wajah tegang. insomnia. (4) respon pada sistem gastrointestinal meliputi kehilangan nafsu makan. gelisah. Intensitas fisik dan perilaku dapat meningkat sejalan dengan tingkat cemas (Stuart & Sundeen. rasa tidak nyaman pada abdomen.

Pandangan perilaku menganggap kecemasan merupakan produk frustasi yaitu segala sesuatu yang mengganggu kemampuan seseorang untuk mencapai tujuan. Respon cemas pada perilaku berupa gelisah. pelupa. lapang persepsi menurun.2004). 1. konsentrasi buruk. Pengertian Pendidikan Pendidikan adalah dasar untuk menyiapkan peserta didik bimbingan.integumen akan tampak wajah kemerahan. Selanjutnya Panji Anoraga dan Sri Suryati (1999) menjelaskan bahwa pendidikan merupakan usaha sadar dan sistematis yang berlangsung seumur hidup dalam rangka mengalihkan pengetahuan oleh seseorang kepada orang lain. Pandangan interpersonal oleh Sulivan mengatakan bahwa kecemasan timbul dari adanya perasaan terhadap tidak adanya penerimaan interpersonal. 4. Sedangkan dari segi afektif akan tampak keadaan mudah terganggu. Faktor Predisposisi Pandangan psikoanalitik oleh Sigmund freud mengatakan bahwa faktor predisposisi kecemasan adalah adanya konflik antara dua elemen kepribadian yaitu id dan superego. Hal ini berhubungan dengan aktivitas neurotransmitter gamma aminobutyric acid (GABA) yang mengatur laju dan aktifitas neuron dalam otak untuk menurunkan kecemasan. Reseptor ini mungkin membantu mengatur kecemasan. kurang koordinasi. menarik diri dari hubungan interpersonal. 1997). Kajian keluarga menerangkan bahwa kecemasan merupakan hal yang biasa ditemui dalam keluarga berbagai tipe akibat konflik dalam keluarga (Sofia Y. Stuart & Sundeen menguraikan bahwa banyak teori telah dikembangkan mengenai faktor terhadap terjadi kecemasan. lebih baik dan lebih matang pada individu atau kelompok (Notoatmodjo. Menurit Notoadmodjo (2003) kematangan atau kesiapan pribadi menyangkut tiga pengalaman belajar pokok yaitu : a. Kecemasan juga berkaitan dengan trauma psikologis seperti perpisahan dan kehilangan. sedangkan superego mencerminkan hati nurani seseorang dan dikendalikan oleh norma-norma budaya seseorang. Respon terhadap kognitif meliputi perhatian terganggu. berkeringat setempat. wajah pucat. dingin pada kulit. ketakutan dan tremor (Sofia Y. rasa panas. gatal. gelisah. Kajian biologis menunjukkan bahwa otak mempunyai reseptor khusus untuk benzodiasepin. Atau pendidikan adalah suatu proses yang berarti di dalam pendidikan itu terjadi proses pertumbuhan perkembangan atau perubahan kearah yang lebih dewasa. bicara cepat. kreatifitas dan produktifitas menurun dan kesadaran diri meningkat. Id mewakili dorongan insting dan impuls primitif seseorang. 2004). ketegangan fisik. Konsep pendidikan 1. serta berkeringat pada seluruh tubuh. Aspek pengetahuan (Kongnitif) . cenderung mendapat cidera. tremor gugup. D. tegang.

yaitu pendidikan yang berstruktur. Jenis-jenis Pendidikan Pendidikan dasar dibedakan menjadi 3 jenis yaitu: 1. 3. Tingkat Pendidikan Notoadmodjo (2003) menyatakan bahwa pendidikan umumnya merupakan pendidikan yang mengutamakan perluasan pengetahuan dan peningkatan keterampilan peserta didik. Pendidikan non formal yaitu merupakan pendidikan (pada umumnya) di luar sekolah yang secara potensial dapat membantu dan mengartikan pendidikan formal dalam aspek tertentu. SLTA (Sekoah Menengah Atas) dan SMK. Aspek sikap dan perilaku (Efektif) c. Pendidikan formal. Pendidikan Menengah yaitu suatu lembaga pendidikan yang diselenggarakan untuk melanjutkan dan meluaskan pendidikan dasar serta menyiapkan peseta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial. Pendidikan Dasar yaitu suatu lembaga pendidikan yang diselenggarakan untuk mengembangkan sikap dan kemampuan serta memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar yang diperlukan untuk hidup dalam masyarakat serta mempersiapkan perserta didik yang memenuhi persyaratan untuk mengikuti pendidikan menengah. budaya dan alam sekitar serta dapat mengembangkan kemampuan lebuh lanjut dalam dunua kerja atau pendidikan tinggi. 1. contoh SD dan SLTP Warga Negara yang berumur 6-7 tahun berkewajiban mengikuti pendidikan dasar atau pendidikan yang setara sampai tamat SLTP (Sekolah Menegah Tingkat Pertama). Aspek yang berkaitan dengan keterampilan (Psikomotorik) 2. SMP. 3. sampai Universitas dan tercakup disamping studi akademi umum. SMA. Dengan demikian pendidikan umum atau pendidikan sekolah terdiri dari pendidikan dasar. juga berbagai program khusus dan lembaga untuk latihan. Pendidikan menengah yang lamanya 3 tahun sesudah pendidikan dasar diselenggarakan di . pendidikan menengah dan pendidikan tinggi yang meliputi : 1. yaitu suatu proses yang sesungguhya terjadi seumur hidup yang karena tiap-tiap individu merupakan sikap melalui keterampilan dan pengetahuan seharihari dan pengaruh lingkungan.b. 2. Pendidikan formal. mempunyai jenjang atau tingkat dalam periode waktu tertentu berlangsung dari SD.

2. Pengetahuan merupakan hasil tahu telah terjadi setelah seseorang melakukan pengindraan melalui panca indra yaitu penglihatan. 2002).dan S3. Pengertian Pengetahuan adalah pemberian bukti oleh seseorang melalui proses pengingatan dan pengenalan informasi. Dari pengertian tentang pendidikan tersebut diatas kiranya dapat diharapkan bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin luas pengetahuan tentang suatu hal dan semakin luas pula wawasan berfikirnya. Tahu (Know) . Pengetahuan merupakan dasar untuk terbentuknya tindakan seseorang (Notoadmodjo. Namun sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. D3. penciuman. S2. Tingkat pengetahuan Menurut Notoatmodjo (2003). pengecapan (rasa) dan perabaan. pengetahuan sebagai alat jaminan yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa prilaku didasarkan atas pengetahuan akan lebih langgeng dibanding dengan tampa didasari pengetahuan. Pendidikan Tinggi Satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi disebut perguruan tinggi yang dapat berbentuk Akademik. Pengamatan (menanamkan) yaitu penggunaan indra lahir dan indra batin untuk menangkap objek. ide atau fenomena yang diproses sebelumnya. 1. Pengetahuan pada dasarnya terdiri dari sejumlah fakta dan teori yang memungkinkan seseorang untuk dapat memecahkan masalah yang dihadapinya. Konsep pengetahuan 1. Sasaran (objek) yaitu sesuatu yang menjadi bahan pengamatan. E. S1. Kesadaran (jiwa) salah satu dari alam yang ada pada diri manusia. Institut dan Universitas yang termasuk perguruan tinggi D2. 1. Sekolah Tinggi. 3. sehingga akan lebih terbuka terhadap pembaharuan. dalam kaitannya dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi seksio sesarea sehingga dapat meminimalkan respon terhadap kecemasan.1. pengetahuan dikatagorikan dalam enam bagian yaitu : 1. Politeknik. Selanjutnya Notoadmodjo (2002) menyatakan ada tiga unsur pengetahuan yaitu : 1. 2.

menyebutkan contoh. 1. meringkas. merencanakan. 1. membedakan dan sebagainya. Analisis (Analysis) Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen tetapi dalam struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain. Orang yang telah tahu terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan. menyimpulkan dan sebagainya. menyelesaikan dan sebagainya. Termasuk dalam timgkat pengetahuan ini adalah mengingat kembali sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang diterima. 3. kultur (budaya agama). Penilaian-penilaian yang didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria yang ada misalnya dapat membandingkan antara anak-anak yang cukup gizi dengan anak-anak yang kurang gizi. Kemampuan analisis dapat dilihat dari kemampuan menggambarkan.Tahu diartikan sebagai mengingat sesuatu yang telah dipelajari sebelumnya. prinsip dan sebagainya dalam kontek atau kondisi yang lain. Memahami (comprehension) Memahami diartikan sebagai kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat mengukur prestasi materi secara benar. Khnowledge (pengetahuan)dalam masyarakat dipengaruhi beberapa faktor antara lain sosial ekonomi. Faktor-Faktor yang mempengaruhi pengetahuan Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan menurut Nasution (2002). metode. Misalnya dapat menggunakan rumus statistik dalam penghitungan-penghitungan siklus pemecahan masalah kesehatan dari kasus yang diberikan.hukum. . pendidikan dan pengelaman. 1. Evaluasi Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan jasvikasi atau penelitian terhadap suatu materi atau objek. 1. Aplikasi (Application) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada kondisi riil (sebenarnya) yang termasuk aplikasi adalah penggunaan hukum. 1. Sintesis (syntesis) Sintesis menunjukan suatu kemampuan untuk melekatkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru misalnya dapat menyusun.

maksudnya pendidikan yang tinggi pengalaman akan lebih luas. 2. BAB III METODEOLOGI PENELITIAN . karena informasi-informasi yang baru akan disaring kira-kira sesuai tidak dengan yang ada dan agama yang dianut. Bila pengetahuan pasien kurang membuat pasien tidak mengerti tentang prosedur tindakan yang akan dilakukan sehingga membuat pasien merasa lebih cemas dalam menghadapi operasi seksio sesarea.1. 4. Sosial ekonomi yaitu lingkungan sosial akan mendukung tingginya pengetahuan seseorang sedangkan bila ekonomi baik. tingkat pengetahuan akan tinggi juga. sedangkan umur semakin tua umur seseorang maka pengalaman akan semakin banyak. Pengalaman. termasuk didalamnya tentang ilmu. 4. : Bila jawaban benar mencapai 56-74% dari seluruh pertanyaan. 2003). Kultur yaitu budaya sangat berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan seseorang. Kurang : Bila jawaban benar mencapai kurang dari 56% dari seluruh pertayaan. 3. kalau positif akan menimbulkan sikap positif demikian sebaliknya (Green dalam Notoadmodjo. Pengetahuan ini berpengaruh terhadap sikap seseorang sesuai dengan pemikirannya. Pada hakikatnya pengetahuan merupakan segenap apa yang diketahui manusia tentang objek tertentu. Pendidikan yaitu semakin tinggi tingkat pendidikan maka ia akan mudah menerima hal-hal baru dan mudah menyesuaikan dengan hal-hal yang baru tersebut. pengalaman disini berkaitan dengan umur dan pendidikan individu. Kriteria Penilaian Menurut Arikunto (1998) kriteria penilaian pengetahua dikelompokkan dalam persentase yaitu : Baik Cukup : Bila jawaban benar mencapai 75-100% dari seliruh pertanyaan. tingkat pendidikan tinggi.

Yunus Bengkulu Tahun 2008. Rancangan Penelitian dan Jenis Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian secara Deskriptif dengan menggunakan desain penelitian cross sectional yang merupakan rancangan penelitian dengan menggunakan pengukuran atau pengamatan pada saat bersamaan (sekali waktu) yang bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat kecemasan pasien pre operasi seksio sesarea ditijau dari tingkat pendidikan dan pengetahuan di Ruang Mawar RSUD Dr. B. M. kurangnya informasi yang benar tentang seksio sesarea serta tehnik operasi yang akan dijalani akan menambah kecemasan pasien dalam menjalani operasi seksio sesarea sehingga dapat memperburuk proses tindakan dan pemulihan setelah menjalani operasi pembedahan. Tingkat kecemasan Pasien Pre Operasi v Tingkat Pendidikan v Pengetahuan Variabel Indevenden Variabel Devenden .1. Kerangka Konsep Operasi seksio sesarea merupakan suatu tindakan medis yang dilakukan pada ibu hamil trisemester akhir. A.

SLTP) 1= Menengah (SMA) 2= Tinggi (PT) 0= Kurang (bila jawaban benar 05) 1= cukup (bila jawaban benar 67) 2= baik bila jawaban 8-10). Sampel . Yunus Bengkulu. Populasi dan Sampel 1.C. Berat : nilai 1929 Hasil Ukur a. 1997). M. Definisi Operasional No Variabel 1 Tingkat Kecemasan Definisi Cara Ukur Alat Ukur Skala Ukur Ordi nal b. Populasi Populasi adalah keseluruhan subject penelitian yang akan diteliti (Notoatmodjo. Populasi dalam penelitian ini pasien yang akan menjalani operasi seksio sesarea di ruang mawar RSUD Dr. Sedang : nilai 14-18 2 Tingkat Pendidikan Kondisi yang Melihat Ceklis mengambarkan lang perasaan takut terhadap proses sung operasi/pembedahan yang ingin dijalani pasien. 3 Pengetahuan Segala sesuatu yang Mengajukan Questioner diketahui oleh pertanyaan pasien tentang operasi seksio sesarea Ordi nal D. Pendidikan terakhir Mengajukan Questioner yang pernah diraih pertanyaan responden Ordi nal 0= Dasar (SD. 1.

Teknik Pengumpulan Data 1. Jenis data . Analisa dan Penyajian Data. 1. Cara pengumpulan data Dalam upaya untuk mendapatkan data-data atau informasi yang jelas dan akurat. 1. E. data yang dikumpulkan dalam penelitian ini diperoleh melalui wawancara. Teknik Pengolahan. 2. dan tingkat kecemasan pasien pre operasi seksio sesarea. pengetahuan. Yunus Bengkulu. Waktu dan Tempat Penelitian 1. observasi. F. pengetahuan terhadap tingkat kecemasan. Instrumen pengumpulan data Dalam penelitian ini instrumen yang digunakan yaitu Wawancara. 1. observasi. Yunus Bengkulu dari tanggal 28 Juni sampai dengan 12 Juli 2008. 3. dimana sampel yang menjadi objek penelitian adalah pasien yang akan menjalani operasi secsio sesarea di Ruang Mawar Dr. 1.Sampel adalah sebagian yang diambil dari populasi (Arikunto. Dalam penelitian ini sampel yang diambil menggunakan tekhnik pengambilan data dengan Accident Sampling. dikumpulkan melalui lembar kuesioner dan ceheck list. 1. M. Tempat Penelitian ini dilakukan di Instalasi Rawat Inap Ruang Mawar RSUD Dr. M. 1998). palfasi dan menggunakan lembar kuisioner yang digunakan untuk memperoleh data. G. Waktu Waktu penelitian ini dilakukan sejak tanggal 28 Juni sampai dengan 12 Juli 2008.Data Primer yaitu data yang langsung didapat dari responden yang berisikan tentang pendidikan. Pengolahan data . palpasi dan menggunakan angket dengan cara menyebarkan kuesioner pada pasien yang akan mejalani operasi seksio sesarea untuk menentukan tingkat pendidikan.

Data yang dikumpulkan selanjutnya diolah dengan beberapa tahapan yaitu : a. tingkat kecemasan ringan 0. Pengeditan datan (Editing) Langkah ini dilakukan peneliti untuk memeriksa kembali kelengkapan data yang diperlikan untuk mencapai tujuan penelitian dilakukan pengelompokan dan penyusunan data. maka dilakukan tabulasi data dengan memberi skore pada masing-masing sub variabel. a. b. baik 2. 2. sedang 1. berat 2. Tabulasi data (Tabulating) Setelah dilakukan coding data. cukup 1. tinggi 2.wordpress. Analisa univariat untuk melihat distribusi frekuensi dari masing-masing variabel indevenden dan devenden dengan menggunakan rumus : P= Keterangan : P : Jumlah persentase yang dicari F : Jumlah frekuensi untuk setiap katagori n : Jumlah sampel http://kutaukomputer. menengah 1. Analisa Univariat analisa univariat yaitu seluruh variabel yang akan digunakan dalam analisa ditampilkan dalam distribusi frekuensi. Pengkodean data (Coding) Coding adalah mengalokasikan jawaban-jawaban yang ada menurut macamnya kedalam bentuk yang lebih ringkas yang menggunakan kode-kode agar lebih mudah dan sederhana. pengetahuan kurang 0. Analisa univariat untuk melihat distribusi. pendidikan dasar 0. c.com/2011/12/16/gambaran-tingkat-kecemasan-ditinjau-dari-tingkatpendidikan-dan-pengetahuan-pasien-pre-operasi-seksio-sesarea-di-ruang-mawar-rsud-dr-m-yunusbengkulu/ 222222222 . Analisa Data Dalam penelitian ini digunakan analisa univariat dan analisa bivariat.

Full metadata record DC Field dc.uri dc.id/handle/123456789/24606?mode=full 3333333333 . tindakan dan penerimaan keluarga terhadap penderita yang sakit. Hasil penelitian diperoleh bahwa dukungan keluarga yang terbesar adalah kategori baik 53.abstract digunakan adalah statistik univariat dan statistik bivariat.date.contributor.available dc.398 dan nilai p = 0. Kecemasan merupakan bagian dari kehidupan manusia yang ditandai dengan perasaan ketakutan atau kekhawatiran yang mendalam dan berkelanjutan.ac.description.description Value Language en_US Tarigan. Untuk tingkat kecemasan kategori tertinggi adalah ringan 46.usu.identifier.01.id/handle/123456789/24606 091121032 Dukungan keluarga adalah sikap.usu. http://repository.date.author dc. Desain penelitian yang digunakan adalah desain studi korelasional.contributor.2% dan paling sedikit adalah kategori kurang 17. Analisa data yang dc.ac.8% dan yang paling sedikit adalah kategori berat 24. Anggota keluarga memandang bahwa orang yang bersifat mendukung selalu siap memberikan pertolongan dan bantuan jika diperlukan.issued dc.2%. Mula Sitohang.advisor dc. Ruspina Jenita 2011-05-19T03:34:25Z 2011-05-19T03:34:25Z 2011-05-19 Fredo Hasugian http://repository.Untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi digunakan uji Spearman.7%. dimana didapat nilai r = 0.other dc. Nur Asnah Nadeak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruangan RB2 Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan. Untuk peneliti keperawatan selanjutnya disarankan agar dapat melakukan pendidikan kesehatan dan memberikan motivasi kepada keluarga dalam memberikan dukungan pada pasien pre operasi untuk mengurangi tingkat kecemasan pasien pre operasi.contributor.advisor dc. Besar sampel adalah 62 orang dengan metode pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling.date.identifier.accessioned dc.

PERBEDAAN TINGKAT KECEMASAN PASIEN PRE OPERATIF SELAMA MENUNGGU JAM OPERASI ANTARA RUANG RAWAT INAP DENGAN RUANG PERSIAPAN OPERASI RUMAH SAKIT ORTOPEDI SURAKARTA PARYANTO. Universitas Muhammadiyah Surakarta. TAMPILKAN FULLTEXT PDF 62Kb Preview PDF Restricted to Repository staff only 1108Kb Official URL Abstract . Skripsi thesis. PARYANTO (2009) PERBEDAAN TINGKAT KECEMASAN PASIEN PRE OPERATIF SELAMA MENUNGGU JAM OPERASI ANTARA RUANG RAWAT INAP DENGAN RUANG PERSIAPAN OPERASI RUMAH SAKIT ORTOPEDI SURAKARTA.

000 pada tingkat signifikansi 5% berarti terbukti ada perbedaan tingkat kecemasan pasien pre operatif selama menunggu jam operasi antara ruang rawat inap dengan ruang persiapan operasi di Rumah Sakit Ortopedi Surakarta dengan signifikansi . Analisis statistik menggunakan Mann Whiney U Test. jumlah tindakan bedah di IBS Rumah Sakit Ortopedi Prof DR R Soeharso Surakarta tahun 2005 : 3589 pasien.Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian survey dengan rancangan penelitian Discriptive Comparative dan pengambilan sampel mengunakan Quota Sampling untuk memperoleh 94 responden. Disinilah kekuatan Do‟a .6 % ). Tindakan operasi atau pembedahan merupakan pengalaman yang bisa menimbulkan kecemasan. Namun tentu semua jenis pengobatan dan obat-obatan tersebut hanya terasa khasiatnya bila disertai dengan sugesti dan keyakinan. mulai dari mengkonsumsi berbagai jenis obat-obatan. Karena sebagai mahluk hidup. Keinginan untuk terlepas dari segala macam penyakit inilah yang mendorong manusia untuk membuat upaya menyingkap berbagai metode pengobatan. Hanya ada manusia yang mengetahuinya dan ada juga yang tidak mengetahuinya. Setiap kali penyakit muncul. Ansietas adalah keadaan suasana perasaan (mood) yang ditandai oleh gejala-gejala jasmaniah seperti ketegangan fisik dan kekhawatiran tentang masa depan. DR. Soeharso Surakarta. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan alat ukur yang digunakan adalah kuesioner Hamilton Rating Scale for Anxiety (HRS-A). Sementara banyak manusia yang tidak menyadari bahwa Allah tidak pernah menciptakan manusia dengan ditinggalkan begitu saja.Dzikir. atau sistim pemijatan.2 % ) pasien dan pada tahun 2008 : 3827 pasien ( turun 2 % dibanding tahun 2007 ). Kecemasan timbul pada pasien pre operasi ketika menunggu jam operasi diruang rawat inap dan kondisi ini meningkat ketika pasien berada di ruang persiapan operasi. http://etd. manusia amatlah akrab dengan berbagai macam penyakit ringan maupun berat. Data dari laporan tahunan Instalasi Bedah Sentral (2008). Teknologi medis boleh saja semakin modern dan canggih. Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan tingkat kecemasan pasien pre operatif selama menunggu jam operasi diruang rawat inap dengan ruang persiapan operasi Instalasi Bedah Sentral di Rumah Sakit Ortopedi Prof. tahun 2006 : 3827 pasien ( 6. Uji Mann Whiney U Test diperoleh nilai koefisien Mann-Whitney U sebesar 2505. namun perkembangan jenis penyakit juga tidak kalah cepatnya ber-regenerasi. pembekaman.02 dan tingkat kecemasan di ruang persiapan operasi mencapai skor 17.ac.Kecemasan (ansietas) adalah respon psikologik terhadap stres yang mengandung komponen fisiologik dan psikologik. baik berupa tumbuh-tumbuhan secara tunggal maupun yang sudah terkomposisikan.id/4455/ 444444 Meditasi dengan Al Qur‟an Sep 5. Semua dilakukan dengan trial dan error. Tingkat kecemasan diruang rawat inap rata-rata ringan yaitu skor 12. pasti Allah juga menciptakan obatnya. Kesimpulan. oleh karena itu berbagai kemungkinan buruk bisa terjadi yang akan membahayakan pasien. Tujuan. '07 12:12 AM para Todos Dunia pengobatan semenjak dahulu selalu berjalan seiring dengan kehidupan umat manusia. hingga operasi pembedahan. maka Islam mengenal istilah do‟a dan keyakinan.99 termasuk kategori sedang. Metode.ums. yang diyakini berkhasiat menyembuhkan jenis penyakit tertentu.000 dan probability value (r-value) sebesar 0. Dengan pengobatan yang tepat (tentunya berdasarkan pengetahuan .eprints. tahun 2007 : 4143 ( 8. R.

. Kata „meditasi‟ [meditation] didefinisikan sebagai “praktek berpikir secara mendalam dalam keheningan.dan pengalaman puluhan tahun). adalah: Meditate is to think seriously (about something). Pada dasarnya.” Memang ada obyek-obyek meditasi tertentu yang berupa pikiran atau ide/konsep. Meditation is also the act of giving your attention to only one thing. Tetapi kalau dikaji secara lebih mendalam dan dipraktekkan. tersimpan potensi-potensi penyembuhan bagi penyakit. Merujuk pada praktek-praktek agung tasawuf praktis. Ini hampir sama dengan „kontemplasi‟ yang didefinisikan secara persis sama. Dalam Alkitab bahasa Inggris perkataan tsb diterjemahkan sebagai Meditation. seperti sholat. samadhi yang juga disebut dhyana atau pranayama. psikologis dan non medis. Dalam bahasa Indonesia. usually as a religious activity or as way calming or relaxing your mind. Sedangkan pengertian meditasi dalam kamus Cambridge International Dictionary of English. Bahwa untuk mengatasi kekecewaan. tidak ada penyakit yang tidak bisa disembuhkan terkecuali maut. kita harus mencari sumbernya dulu yaitu pikiran. you give your attention to one thing. and do not think about anything else. „meditasi‟ dianggap sebagai proses „berpikir‟. dan jenis-jenis penyakit emosional. Untuk mengatasinya bisa dengan latihan meditasi. Meditation is serious thought or study. praktik-praktik sufi.penyakit yang tidak bisa disembuhkan oleh kedokteran modern. sehingga terjadi tumpang tindih dan tidak dapat dibedakan secara tegas antara „meditasi‟ dan „kontemplasi‟. Jadi jelas meditasi itu sebenarnya baik bagi kesehatan. Dibalik praktik-praktik sufi tersebut. either as a religious activity or as a way of becoming calm and relaxed: prayer and meditation. Dalam kamus yang bersifat umum ini. Samedi itu artinya meditasi dalam bahasa Sangsekerta atau dalam bahasa Ibrani = hagah. esp. tetapi kata meditasi itu lebih dikenal dengan nama samedi yang diserap dari bahasa Sansekerta. Belajar meditasi merupakan bagian dari latihan mengendalikan pikiran. seperti kanker. kerusakan kromosom/ DNA. strooke. tafakur (meditasi). adalah pemusatan pikiran dan perasaan untuk mencapai sesuatu. dzikir. akan ternyata bahwa di dalam „meditasi‟ justru proses berpikir berhenti untuk sementara. for a long time · if you meditate. yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. terutama untuk alasan keagamaan atau untuk membuat batin tenang. dosis obat yang sesuai disertai doa dan keyakinan. PENGERTIAN MEDITASI Perkataan Meditasi itu sendiri diserap dari bahasa Latin. meditatio yang berarti merenungkan dan juga berakar dari kata Mederi (kesehatan) dari kata ini pula diserap kata medisin.” (Oxford Advanced Learner‟s Dictionary). Meditasi. ternyata tidak sekedar ritual-ritual tanpa makna. Jadi bermeditasi adalah memusatkan pikiran dan perasaan untuk mencapai sesuatu. „meditasi‟ adalah “pemusatan perhatian pada suatu obyek batin secara terusmenerus. Meditasi adalah latihan konsentrasi yang dapat digunakan untuk mempertajam tehnik dan meningkatkan kepekaan terhadap suasana sekitar. or the product of this activity.

pemahaman diri yang diperoleh dari meditasi bersifat transformatif (mengubah). Pemusatan perhatian tidaklah berarti anda kosong. Ada juga yang memberi pengertian bahwa meditasi yang sering kita dengar mempunyai pengertian yaitu: sikap menenangkan pikiran dengan cara-cara tertentu di mana pikiran kita sampai menemukan sensasi-sensasi sehingga menimbulkan rasa damai dalam hati untuk mencapai ketenangan jiwa (ruhani). tidak bernama. Sebagaimana namanya pemusatan perhatian. Meditasi dapat didefinisikan sebagai suatu aktivitas yang mengakibatkan hubungan erat beberapa orang dengan Tuhan. meskipun keduanya dalam pelaksanaannya berhubungan. yang berbeda dengan introspeksi. dan beristirahat/ berhenti pada pokok yang dipilih. Di samping itu. konsentrasi adalah sebuah upaya keras (baca: dipaksa) untuk memusatkan pada sesuatu. pemahaman melalui introspeksi kebanyakan hanya bersifat kognitif saja. tidak berbentuk. dsb). atau ke antara alis mata untuk membangkitkan mata spiritual. Perbedaan Konsentrasi dan Meditasi Terdapat perbedaan jelas antara konsentrasi dan meditasi. afektif. Tidak dianjurkan bagi anda untuk berada dalam keadaan kosong seratus persen karena ini mungkin dapat membiarkan masuknya kekuatan dari luar yang dapat mengganggu. Latihan-latihan konsentrasi adalah suatu pendidikan kembali mengenai tekniknya pikiranrendah.Dengan demikian. perhatian anda tertunjukkan pada sesuatu. hal ini dianggap bukanlah bagian/tahapan meditasi. MANFAAT MEDITASI . Kita meditasi pada yang abstrak. Jadi. sehingga biasanya tidak banyak perubahan yang terjadi. Justru pemahaman yang diperoleh dari meditasi jauh lebih tepat dan sesuai dengan keadaan sebenarnya dibandingkan dengan pemahaman dari introspeksi yang dipengaruhi oleh kebiasaan-kebiasaan pikiran yang tidak disadari sehingga memberikan hasil yang bias. tidak juga mempunyai kwalitas atau lambang-lambang. volisional. ataupun ke cakra jantung untuk memberikan lebih banyak kekuatan kepada roh. Dalam ajaran Budha terdapat sebuah tahapan meditasi. sehingga pokok-caranya dapat membukakan kesadaran yang sedang bermeditasi akan arti makna yang lebih luas dan dalam. oleh karena pemahaman itu melibatkan seluruh aspek diri (kognitif. dan menghentikan sifatnya yang bergerak kian kemari dan tidak menentu. dalam keadaan tenang. lebih baik pada hal yang mengandung arti yang dalam dan rohaniah. sehingga ia menurut perintahnya sang Pribadi. tidaklah kosong sama sekali. yaitu Dharana yang berarti pemusatan perhatian tanpa paksaan. Karena Yang Tertinggi tidak mempunyai bentuk dan tidak mempunyai nama. Atau dengan kata lain. Meditasi tingkat tinggi biasanya mengajarkan untuk memusatkan perhatian ke cakra mahkota untuk menerima lebih banyak kekuatan spiritual. Di lain pihak. Pengertian konsentrasi ialah untuk memahami dan menguasai pikiran-perasaan sehingga ia tidak lagi menanggapi dengan kacau terhadap suatu peristiwa. Dan ada juga yang mengartikan bahwa meditasi adalah sebuah pelatihan yang menggunakan pikiran untuk tujuan mengatur pikiran dengan usaha kita. meditasi adalah cara lain untuk memahami diri. Sedangkan tujuan meditasi ialah melatih pikiran.

Zat ini mempunyai tenaga gaib yang amat berkuasa untuk berbagai macam kepentingan. konsentrasi tetaplah sangat perlu . stress. fikiran tetap terjaga dengan baik dan senantiasa terkontrol. dengan demikian membuahkan jasmani dan rohani yang selalu jernih dan segar. Maka jika anda benar-benar ingin mendalami meditasi. Zat inilah yang mereka beri nama Prana. yang menurut kepercayaan mereka sesuai dengan irama gerakan alam. justeru dapat mengatasi pelbagai masalah serta meningkatkan produktivitas dan meningkatkan kesehatan. Juga daya fikir bertambah kuat dan tajam. Teknik seperti itu akan menyegarkan dan membuat orang relaks. meditasi adalah suatu cara untuk mengembangkan bathin menuju taraf kesempurnaan yang selanjutnya menjadi dasar dari kebijaksanaan. Latihan meditasi dengan pemusatan fikiran pada pernafasan disebut Anaspanasati. membawa pada kecerdasan otak. kemurungan serta mudah marah. Meditasi duduk ini sebenarnya sudah diperkenalkan oleh Islam jauh sebelum Sidharta Gauthama lahir melalui ajaran Budhi Dharma. Tujuan dari meditasi ini adalah kesunyian yang indah. Beberapa cara meditasi melibatkan pengulangan suara tertentu secara internal. seperti pada penyelidikan Zen Meditation. Cara mendapatkan zat gaib atau prana tadi ialah dengan jalan pernafasan yang diatur dengan irama tertentu. Meditasi ada dua macam. namun untuk peningkatan rohani. antara lain untuk penyembuhan penyakit. perkara yang harus diperhatikan ialah bagaimana mereka dapat menemukan makna dan tujuan hidup yang memberikan sense of direction. Meditasi bisa mengurangi kecemasan telah diselidiki oleh tokoh-tokoh sarjana Barat. maupun dengan alat-alat apapun. Menurut kepercayaan orang India/Hindu. Meditasi ini juga sering dipraktikkan oleh Nabi Muhammad SAW ketika .yaitu usaha intensif untuk memfokuskan pikiran pada mantra. Dalam latihan Meditasi Islam. yaitu meditasi duduk dan meditasi gerak (Tai-Chi). bahwa di udara bebas ini terdapat unsu-unsur gaib yang bersatu dengan zat asam (oksigen). keheningan dan kejernihan pikiran. Meditasi dalam agama Yahudi dikenal dengan nama hitbonenut ini bisa dibaca di Kabbalah sedangkan bangsa Yunani kuno mengenal meditasi dengan nama “Gnothi se auton” = “mengenal diri sendiri”.Menurut ajaran Buddhis. Dengan metode ini. Unsur-unsur gaib itu berupa zat yang sangat halus sebagai inti dari segala zat yang menjadi roh dari alam. AGAMA DAN MEDITASI Meditasi bukan hanya dikenal oleh agama yang berasal dari India & Tiongkok saja bahkan hampir disemua agama mereka mempraktekan meditasi. Tetapi kajian di barat juga telah membuktikan 33% hingga 50% mereka yang melakukan meditasi tanpa teknik yang betul akan mengalami peningkatan dalan tekanan darah. Zat tersebut sedemikian halusnya hingga tak dapat ditanggapi dengan panca indera. pastikan anda dilatih oleh mereka benar-benar mahir dan berpengalaman serta mampu memberi penjelasan untuk setiap keadaan. dan menganjurkan kepada para pelakunya agar tidak terlalu melakukan konsentrasi. dan kemudian pada penyelidikan Transcendental Meditation.

ia balik ke kota.” (QS. sebuah gua di luar kota Mekah.” (QS. ISLAM DAN MEDITASI Salah satu fase penting yang secara simbolik sering disebut sebagai mencerminkan corak misi yang dibawa oleh Nabi Muhammad adalah saat dia bertahannuts atau melakukan meditasi di Hira. asal kata qara`a. Tetapi dijadikan tempat untuk mengoreksi ayat-ayat Alqur‟an yang telah diterimanya. Seperti halnya meditasi duduk. Ar Ra’d/13: 28) Menurut para ahli tafsir bahwa nama lain dari Al Qur‟an yaitu “Asysyifâ” yang artinya secara Terminologi adalah Obat Penyembuh. menjauhkan diri dari masyarakat. Adapun definisi Alqur‟an adalah: “Kalam Allah swt.sebelum dan sesudah diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Kata Alqur‟an itu berbentuk masdar dengan arti isim maf‟ul yaitu maqru` (dibaca). dan melakukan apa yang dalam istilah sekarang disebut sebagai transformasi sosial. hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tentram. Beliau melakukan meditasi di Gua Hira. dia tidak terus tinggal di sana. Pada saat selanjutnya. “Dan kami menurunkan Al Qur’an sebagai penawar dan Rahmat untuk orang-orang yang mu’min. Al Isra/17: 82) “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. meditasi gerak juga sudah ada dalam ajaran Islam yaitu dalam bentuk gerakan shalat. mendakwahkan ajaran-ajaran. yang merupakan mu‟jizat yang diturunkan (diwahyukan) kepada nabi Muhammad saw. Gua Hira bukanlah tempat bertahannuts seperti yang dilakukan beliau sebelum diangkat menjadi Rasul. Ingatlah. Nabi saw pergi ke gua Hira hanya untuk bertemu dengan malaikat Jibril dengan tujuan tasmi? (memperdengarkan) hafalan Alqur‟an beliau dihadapan Jibril. Sebaliknya.” (QS. dan ditulis di mushaf dan diriwayatkan dengan mutawatir serta membacanya adalah ibadah. “Hai manusia. Al Qur’an dan Kesehatan Arti Qur‟an menurut pendapat yang paling kuat seperti yang dikemukakan Dr. Setelah nabi mendapat wahyu pada 610 M. Maka. Subhi Al Salih berarti „bacaan‟. Yunus/10: 57) . ketika menghadapi masalah yang menimpa diri dan umatnya. telah datang kepadamu kitab yang berisi pelajaran dari Tuhanmu dan sebagai obat penyembuh jiwa. yang pada saat itu disebut dengan berkhalwat dan tahannuts. menikmati meditasi yang soliter. sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” Banyak ayat Al Qur‟an yang mengisyaratkan tentang pengobatan karena AlQur‟an itu sendiri diturunkan sebagai penawar dan Rahmat bagi orang-orang yang mukmin.

serta tempuhlah jalan-jalan yang telah digariskan tuhanmu dengan lancar. An-Nahl 16:11) “Dan makanlah oleh kamu bermacam-macam sari buah-buahan. membiasakan melaksanakan ibadah salat malam. Syaikh Ibrahim bin Ismail dalam karyanya Ta‟lim al Muta‟alim halaman 41. Dan keutamaannya Kalam Allah daripada seluruh kalam selain-Nya. (HR. Walaupun tidak dibarengi dengan data ilmiah. mereka diliputi dengan rahmat. Achmad Sunarto. sebuah kitab yang mengupas tata krama mencari ilmu berkata. Muslim) “Hendaklah kamu menggunakan kedua obat-obat: madu dan Alqur’an” (HR. niscaya Aku akan berikan sesuatu yang lebih utama daripada apa yang telah Aku berikan kepada orang-orang yang telah meminta. Di alamnya terdapat tandatanda Kekuasaan Allah bagi orang-orang yang mau memikirkan”. CV. anggur dan buahbuahan lain selengkapnya. dan memohon kepada-Ku. “Tak ada lagi bacaan yang dapat meningkatkan terhadap daya ingat dan memberikan ketenangan kepada seseorang kecuali membaca Alqur‟an”. seperti keutamaan Allah atas makhluk-Nya. (QS. Surya Angkasa Semarang. Banyak pula hadits Nabi yang menerangkan tentang keutamaan membacanya dan menghafalnya atau bahkan mempelajarinya. An-Nahl 16: 69) Berdasarkan keterangan tadi. 1995). . (QS.obatan. “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Alqur’an dan mengajarkannya. malaikat menaungi mereka dan Allah menyebut-nyebut mereka pada makhluk yang ada di sisi-Nya”. cet. sesungguhnya pada hal-hal yang demikian terdapat tanda-tanda Kekuasaan Allah bagi orang-orang yang mau memikirkan”. At Turmudzi) “Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah (masjid) Allah. seperti zaitun. Al Qur‟an sebagai Penyembuh (Alqur‟an asy Syâfî). Ibnu Majah dan Ibnu Mas’ud) Dan masih banyak lagi dalil yang menerangkan bahwa berbagai penyakit dapat disembuhkan dengan membaca atau dibacakan ayat-ayat Alqur‟an (lihat Assuyuthi. dan membaca Alquran sambil melihat kepada mushaf”. korma. I.Di samping Al Qur‟an mengisyaratkan tentang pengobatan juga menceritakan tentang keindahan alam semesta yang dapat kita jadikan sebagai sumber dari pembuat obat. Semarang. dapat dipastikan bahwa orang yang membaca Alqur‟an akan merasakan ketenangan jiwa.” (HR Bukhori) “Siapa saja yang disibukkan oleh Alqur’an dalam rangka berdzikir kepada-Ku. Di antaranya. mereka membaca Alqur’an dan mempelajarinya. Jalaluddin. Selanjutnya ia berkata. “Terdapat beberapa hal yang dapat menyebabkan seseorang kuat ingatan atau hafalannya. terj. kecuali turun kepada mereka ketentraman. Dari perut lebah itu keluar minuman madu yang bermacam-macam jenisnya dijadikan sebagai obat untuk manusia.” (HR. “Dia menumbuhkan tanaman-tanaman untukmu. menyedikitkan makan.

bacaan Alquran memengaruhi kecerdasan spiritual (SQ). dan ketahanan kulit terhadap aliran listrik. Al Qadhi ini diperkuat pula oleh penelitian lainnya yang dilakukan oleh dokter yang berbeda. Dalam laporan sebuah penelitian yang disampaikan dalam Konferensi Kedokteran Islam Amerika Utara pada tahun 1984. yakni membacakan Alquran dengan tartil dan membacakan bahasa Arab yang bukan dari Alqur‟an. responden mendapatkan ketenangan sampai 65% ketika mendengarkan bacaan Alquran dan mendapatkan ketenangan hanya 35% ketika mendengarkan bahasa Arab yang bukan dari Alqur‟an. baik mereka yang berbahasa Arab maupun bukan. simaklah dengan baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat” (Q. Penelitiannya ditunjang dengan bantuan peralatan elektronik terbaru untuk mendeteksi tekanan darah. Alquran memberikan pengaruh besar jika diperdengarkan kepada bayi. “Dan Kami telah menurunkan dari Alquran. Atau juga. 7: 204). Penelitian yang dilakukan sebanyak 210 kali ini terbagi dua sesi. Mahabenar Allah yang telah berfirman. . kesedihan. menangkal berbagai macam penyakit merupakan pengaruh umum yang dirasakan orang-orang yang menjadi objek penelitiannya. Hal tersebut diungkapkan Dr. Al Qadhi. Objek penelitiannya terhadap 5 orang sukarelawan yang terdiri dari 3 pria dan 2 wanita.S. Dari hasil uji cobanya ia berkesimpulan. Jika mendengarkan musik klasik dapat memengaruhi kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosi (EQ) seseorang. “Dan apabila dibacakan Alquran. Nurhayati dari Malaysia dalam Seminar Konseling dan Psikoterapi Islam di Malaysia pada tahun 1997. Alquran terbukti mampu mendatangkan ketenangan sampai 97% bagi mereka yang men dengarkannya. Selain memengaruhi IQ dan EQ. Penurunan depresi. berhasil membuktikan hanya dengan mendengarkan bacaan ayat-ayat Alquran. dapat merasakan perubahan fisiologis yang sangat besar. detak jantung. Kesimpulannya.17:82). Menurut penelitiannya. Kelima orang tersebut sama sekali tidak mengerti bahasa Arab dan mereka pun tidak diberi tahu bahwa yang akan diperdengarkannya adalah Alqur‟an. suatu yang menjadi penawar (obat) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Alquran itu tidaklah menambah kepada orangorang yang zalim selain kerugian” (Q. seorang Muslim.Dr. bacaannya memberikan pengaruh besar bagi kehidupan jasmani dan rohani kita. Sungguh suatu kebahagiaan dan merupakan kenikmatan yang besar. Selain menjadi ibadah dalam membacanya. Kesimpulan hasil uji coba tersebut diperkuat lagi oleh penelitian Muhammad Salim yang dipublikasikan Universitas Boston.S. bacaan Alquran lebih dari itu. disebutkan. melalui penelitiannya yang panjang dan serius di Klinik Besar Florida Amerika Serikat. kita memiliki Alquran. memperoleh ketenangan jiwa. Penelitian Dr. ketahanan otot. Penemuan sang dokter ahli jiwa ini tidak serampangan. bacaan Alquran berpengaruh besar hingga 97% dalam melahirkan ketenangan jiwa dan penyembuhan penyakit. bayi yang berusia 48 jam yang kepadanya diperdengarkan ayat-ayat Alquran dari tape recorder menunjukkan respons tersenyum dan menjadi lebih tenang.

memperhatikan dan berdekatan dengannya ialah bahwasanya Alqur‟an itu dibaca di sisi orang yang sedang menderita sakit sehingga akan turun rahmat kepada mereka.S. Aspek Auto Sugesti Alqur‟an merupakan kitab suci umat Islam yang berisikan firman-firman Allah. Al A’raf: 204) Menurut hemat penulis. Relaksasi Aspek Waqof Alqur‟an adalah sebuah kitab suci yang mempunyai kode etik dalam membacanya. dan berita-berita ancaman bagi mereka yang tidak beriman dan atau tidak beramal sholeh. semuanya merupakan cara-cara pelegaan batin yang akan mengembalikan ketenangan dan ketentraman jiwa kepada orang-orang yang melakukannya. 13: 28). tidur dan memang individu tersebut akhirnya tertidur. Pikiran dan tubuh dapat berinteraksi dengan cara yang amat beragam untuk menimbul kan kesehatan atau penyakit. berita-berita kabar gembira bagi orang yang beriman dan beramal sholeh. kata-kata yang digunakan adalah tidur. pertama. dan kedua. dan mendengarkannya. Maka. mendengar. yang oleh kaum Muslim diartikan bahwa petunjuk yang dikandungnya akan membawa manusia pada kesehatan spiritual. Zakiah Daradjat mengatakan bahwa sembahyang. yang dalam istilah Alqur‟an sendiri. Kata-kata yang penuh kebaikan sering memberikan efek auto sugesti yang positif dan yang akan menimbulkan ketenangan. dan fisik. Kesembuhan menggunakan Alqur‟an dapat dilakukan dengan membaca. Membaca Alqur‟an harus tanpa nafas . Pada eksperimen Plotonov. psikologis. hanya dengan berdzikir kepada Allah-lah hati menjadi tentram” (Q.Atau. adalah hukum. alqur‟an berisikan ucapan-ucapan yang baik. do‟a-do‟a dan permohonan ampun kepada Allah. maka dengarkanlah baik-baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat. Platonov telah membuktikan dalam eksperimennya bahwa kata-kata sebagai suatu Conditioned Stimulus (Premis dari Pavlov) memang benar-benar menimbulkan perubahan sesuai dengan arti atau makna kata-kata tersebut pada diri manusia. Allah saw menjelaskan.ukum bacaan yaitu waqaf. Unsur Meditasi Al Qur’an Kitab ini.” (QS. auto sugesti. ahsan alhadits. Membaca Alqur‟an tidak seperti membaca bacaan-bacaan lainnya. namun Alqur‟an menyebut dirinya sebagai „penyembut penyakit‟. salah satu unsur yang dapat dikatakan meditasi dalam Alquran adalah. “Dan apabila dibacakan Alqur’an. “Ingatlah. Banyak sekali nasihat-nasihat. Membaca. tentu saja bukanlah sebuah buku sains ataupun buku kedokteran. berdekatan dengannya.

Cara membaca hukum ini adalah 4 harakat. Mad Muttashil. Waqof artinya berhenti di suatu kata ketika membaca Alqur‟an. baik anak kecil. baik di akhir ayat maupun di tengah ayat dan disertai nafas. Walaupun jika berhenti dengan sengaja pada kalimat-kalimat tertentu yang dapat merusak arti dan makna yang dimaksud. Waktu Meditasi dengan Alqur’an . Adapun hukumhukum bacaan mad dalam ilmu Tajwid menurut Rowi Hafsh adalah: 1. 2. yaitu apabila terdapat mad bertemu dengan hamzah dalam kalimat yang terpisah. yang telah berguru kepada imam „Ashim. yaitu apabila terdapat hamzah yang berharakat bertemu dengan huruf mad yang sukun. Penekanan-penekanan tersebut dalam ilmu tajwid dinamakan mad. kedudukannya tidak dihukumi wajib syar‟i bagi yang melanggarnya. Indonesia adalah negara yang mayoritas umat Islam menerapkan hukum-hukum membaca Alqur‟an menurut Rowi. Waqaf dalam Alquran > Tanda awal atau akhir ayat > Tanda awal atau akhir surat > Tanda-tanda waqaf Kemampuan nafas pembaca Siapa saja bisa boleh membaca Alqur?an. maka hukumnya haram. Jika si pembaca berhenti pada tempat yang tidak semestinya maka dia harus membaca ulang kata atau kalimat sebelumnya. Mad Badal. baik pria maupun wanita selagi mereka dalam keadaan suci atau berwudlu. Adapula beberapa penekanan nafas dalam membaca Alqur‟an. Jadi cara membaca Alqur‟an itu bisa disesuaikan dengan tanda-tanda waqaf dalam Alqur‟an atau disesuaikan dengan kemampuan si pembaca dengan syarat bahwa bacaan yang dibacanya tidak berubah arti atau makna. Cara membaca hukum ini adalah 2 harakat. Jadi bagaimanapun kemampuan mereka bernafas mereka boleh membaca Alqur‟an. yaitu apabila terdapat mad bertemu dengan hamzah dalam satu kalimat. Berhenti berdasarkan kemampuan nafas pembaca. Mad Munfashil. bisa dikategorikan dalam bagian-bagian waqaf. Mengikuti tanda-tanda waqof yang ada dalam Alqur‟an. muda maupun tua.dalam pengertian sang pembaca harus membaca dengan sekali nafas hingga kalimat-kalimat tertentu atau hingga tanda-tanda tertentu yang dalam istilah ilmu tajwid dinamakan waqaf. 3. dalam ilmu tajwid. Cara baca hukum ini 4 harakat. Hafsh.

mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari.“ 2.multiply. Malam-malam yang lebih dicintai Allah ialah malam Qadar. sedang mereka juga bersujud (sholat). hanya saja memang ada beberapa dalil yang menerangkan bahwa ada waktu-waktu yang lebih utama dari waktu-waktu yang lainnya untuk membaca Alqur‟an. Hari-hari bulan Dzulhijjah yang lebih dicintai Allah ialah sepuluh hari yang pertama. Allah menegaskan.‟ Al Baihaqi meriwayatkan dalam asy Syu‟ab dari Ka‟ab r. Waktu-waktu tersebut adalah: 1. „Waktu-waktu pilihan yang paling utama untuk membaca Alqur‟an ialah dalam sholat. Setelah Subuh Sebagai penutup mudah-mudahan ini merupakan langkah awal untuk bisa lebih membuktikan unsur-unsur kesehatan dari Alqur‟an.a.com/journal/item/34 55555 . Dalam sholat An-Nawawi berkata. Allah telah memilih hari-hari. maka hari yang lebih dicintai Allah ialah hari Jum?at. “Di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus.Pada hakikatnya tidak ada waktu yang makruh untuk membaca/meditasi Alqur‟an. maka kalam yang dicintai Allah adalah lafadz „La ilâha illallâh wallâhu akbar wa subhanallâhi wal hamdulillâh. maka zaman yang lebih dicintai Allah ialah bulan-bulan haram.” (QS. maka negeri-negeri yang lebih dicintai Allah ialah negeri al Haram (Mekkah). Allah telah memilih zaman. Ali Imron 3:113) Waktu malam ini pun dibagi menjadi 2: > antara waktu Maghrib dan Isya > bagian malam yang terakhir 3. Allah telah memilih kalam-kalam (perkataan). Allah telah memilih waktu-waktu malam dan siang. cara membacanya maupun http://musiconlinecairo. maka waktu yang lebih dicintai Allah ialah waktu-waktu sholat yang lima waktu. Dan bulan yang lebih dicintai Allah ialah bulan dzulhijjah. ia berkata: “Allah telah memilih negeri-negeri. baik makna-maknanya. Malam hari Waktu-waktu yang paling utama untuk membaca Alqur‟an selain waktu sholat adalah waktu malam.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful