11111

Perbedaan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Preoperasi Sebelum Dan Sesudah Diberikan Terapi Musik Di Bangsal Bedah RS XX
Posted on 8 September 2011 by grahacendikia Kecemasan adalah keadaan yang tidak mengenakan dan tidak merasa nyaman yang terjadi di kehidupan sehari-hari yang juga dapat terjadi pada seseorang yang akan menjalani operasi. Dalam studi pendahuluan di Rumah Sakit Daerah XX pada bulan April 2011 didapatkan data bahwa, dari 10 orang pasien yang akan dilakukan operasi dengan General Anastesi, ternyata kurang lebih 60% mengalami kecemasan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan tingkat kecemasan pasien preoperasi sebelum dan sesudah diberikan terapi musik di Bangsal Bedah RS XX. Penelitian ini merupakan penelitian Quasi Eksperiment dengan pendekatan potong lintang (cross sectional). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasein preoperasi yang berada di bangsal bedah RS XX selama kurun waktu bulan Juli sampai Agustus 2011. Teknik sampel yang digunakan adalah convinience sampling dengan jumlah sampel yang diambil sebanyak 30 orang. Hasil penelitian ini diperoleh tingkat kecemasan pasien preoperasi sebelum dilakukan terapi musik di RS XX sebagian besar adalah tingkat kecemasan sedang yaitu sebanyak 21 orang (70%). Tingkat kecemasan pasien preoperasi sesudah dilakukan terapi musik di RSD sebagian besar adalah tingkat kecemasan ringan yaitu sebanyak 20 orang (66,7%). Berdasarkan uji Wilcoxon diketahui nilai p = 0,0005 (p<0,05) menunjukkan adanya perbedaan sangat signifikan antara tingkat kecemasan pasien preoperasi sebelum dan sesudah diberikan terapi musik di RS XX. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terapi musik dapat menurunkan tingkat kecemasan pada pasien yang akan menjalani operasi.
http://grahacendikia.wordpress.com/2011/09/08/perbedaan-tingkat-kecemasan-pada-pasienpreoperasi-sebelum-dan-sesudah-diberikan-terapi-musik-di-bangsal-bedah-rs-xx/ 222222222222

HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN KECEMASAN PADA PASIEN PRE OPERASI Undergraduate Theses from JIPTUMM / 2002-09-01 08:53:00 Oleh : FERLINA INDRA S.(99010074), Nursing Academy Dibuat : 2002-10-30, dengan 1 file Keyword : hubungan pasien Latar Belakang:Persiapan pra bedah penting sekali untuk memperkecil resiko operasi, karena hasil akhir suatu pembedahan sangat bergantung pada penilaian keadaan penderita dan persiapan pra bedah yang telah dilakukan, dari hasil penelitian didapatkan sekitar 80% dari semua pasien yang menjalani pembedahan,mengalami kecemasan.Tujuan Penelitian:Untuk mengetahui ada

atau tidaknya hubungan pengetahuan dengan kecemasan pada pasien pre operasi.Metode Penelitian:Metode yang digunakan adalah korelasional dengan sampel 20 orang.Pengambilan sampel dengan total populasi Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Pengumpulan data dimulaidaripersiapan, pelaksanaan dan pengambilan data. Dalam pengolahan data digunakan prosentase yang selanjutnya dianalisa dengan menggunakan chi-square.Dari hasil analisa data didapatkan hasil x2 tabel =1,82 dan x2 (0,05)(1) =1,sehingga didapatkan keputusan analisa x2 hitung < x2(0,05)(1) .Kesimpulan Ho diterima dan HI ditolak,ini berarti tidak ada hubungan pengetahuan pengetahuan dengan kecemasan pada pasien pre operasi.Hal ini bisa dipengaruhi banyak hal antara lain waktu penelitian,pemilihan sampel,dan lingkungan rumah sakit. Deskripsi Alternatif : Latar Belakang:Persiapan pra bedah penting sekali untuk memperkecil resiko operasi, karena hasil akhir suatu pembedahan sangat bergantung pada penilaian keadaan penderita dan persiapan pra bedah yang telah dilakukan, dari hasil penelitian didapatkan sekitar 80% dari semua pasien yang menjalani pembedahan,mengalami kecemasan.Tujuan Penelitian:Untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan pengetahuan dengan kecemasan pada pasien pre operasi.Metode Penelitian:Metode yang digunakan adalah korelasional dengan sampel 20 orang.Pengambilan sampel dengan total populasi Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Pengumpulan data dimulaidaripersiapan, pelaksanaan dan pengambilan data. Dalam pengolahan data digunakan prosentase yang selanjutnya dianalisa dengan menggunakan chi-square.Dari hasil analisa data didapatkan hasil x2 tabel =1,82 dan x2 (0,05)(1) =1,sehingga didapatkan keputusan analisa x2 hitung < x2(0,05)(1) .Kesimpulan Ho diterima dan HI ditolak,ini berarti tidak ada hubungan pengetahuan pengetahuan dengan kecemasan pada pasien pre operasi.Hal ini bisa dipengaruhi banyak hal antara lain waktu penelitian,pemilihan sampel,dan lingkungan rumah sakit.
http://digilib.itb.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jiptumm-gdl-s1-2002-ferlina-5477-2002 3333333333

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT KECEMASAN PADA PASIEN PRE OPERASI APENDIKTOMI DI BANGSAL BEDAH BRSD RAA SOEWONDO PATI
Posted: Maret 22, 2011 in Keperawatan (S1)

0

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perawat mempunyai kontak paling lama dalam menangani persoalan klien (pasien) dan peran perawat dalam upaya penyembuhan klien menjadi sangat penting. Seorang perawat dituntut bisa mengetahui kondisi dan kebutuhan pasien.Termasuk salah satunya dalam mengendalikan kebutuhan emosi diri pasien, terutama pada pasien pre operasi dan post operasi. Seperti yang dikemukakan oleh perkumpulan dokter spesialis indonesia, bahwa tindakan operasi dapat menaikkan tingkat kecemasan pasien dan meningkatkan hormon pemicu stress (Ibrahim, 2006). Perawat profesional sebagai tenaga kesehatan yang dalam tugas pokoknya adalah memenuhi kebutuhan dasar klien harus mampu merespon dan bersikap secara profesional dalam mengendalikan kebutuhan emosi pasien. Karena perawat merupakan tenaga profesional terbesar dalam struktur ketenagaan rumah sakit yang akan ikut mewarnai mutu pelayanan kesehatan (Gillies, 1995). Perawatan pre operasi yang efektif dapat mengurangi resiko post operasi, salah satu prioritas keperawatan pada periode ini adalah mengurangi kecemasan pasien. Cemas merupakan reaksi normal terhadap ancaman pembedahan. Orang yang sangat cemas dan mencoba menyesuaikan diri dengan kecemasan sebelum operasi sering kali menderita kesukaran pada pasca operasi. Mereka cenderung banyak marah, kesal, dan bingung (Ellis dan Nowlis,1994). Tindakan pembedahan seringkali menjadi ancaman potensial atau aktual bagi integritas seseorang. Hal ini disebabkan tindakan pembedahan dapat membangkitkan reaksi stress baik fisiologis maupun psikologis. Setiap klien berbeda pandangan dalam menanggapi tindakan bedah atau operasi sehingga responnya berbeda-beda pula. Pada respon fisiologis ada tindakan langsung dengan bedah, karena tindakan bedah merupakan stresor pada tubuh. Respon ini terdiri dari sistem saraf simpati dan respon hormonal yang bertugas melindungi tubuh dari ancaman cidera. Bila stress terhadap sistem cukup gawat atau kehilangan darah cukup banyak, tubuh akan terlalu banyak beban dan terjadi shock. Sedangkan respon psikologi secara umum berhubungan dengan adanya ketakutan terhadap anestesia, diagnosis yang belum pasti, keganasan, nyeri, ketidakmampuan dan cerita dari orang lain (Long,1996). Operasi apendiktomi termasuk salah satu tindakan pembedahan yang juga dapat membangkitkan reaksi stress pada pasien. Karena pasien yang mengalami proses peradangan apendiktomi harus dilakukan operasi ( Martius, 1990). Apendiktomi begitu sering dijumpai sehingga lebih dari 50 persen kasus dari operasi abdomen akut yang dirawat di rumah sakit adalah peradangan apendiks (Cope, 1991). Hal ini sesuai dengan data yang tercatat pada bagian rekam medis BRSD RAA Soewondo Pati dari tahun 20022006 ditemukan kasus apendiktomi sebanyak 498 kasus, sedangkan pada tahun 2006 sebanyak 172 kasus dan jumlah operasi yang mengalami kecemasan di BRSD RAA Soewondo Pati pada tahun 2001- 2005 ada 456 orang atau 80,4% (Medical Record BRSD RAA Soewondo Pati, 2006). Faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan pasien pre operasi dapat berasal dari faktor internal dan eksternal. Faktor internal antara lain berupa usia, jenis kelamin, pekerjaan, tingkat pendidikan, tingkat sosial ekonomi, dan tipe kepribadian. Sedangkan faktor eksternal berupa ancaman tarhadap integritas biologis dan ancaman terhadap konsep diri (Stuart dan Sundeen, 1998). Kecemasan yang terjadi pada pasien yang akan dilakukan tindakan pembedahan termasuk

Pemberian informasi yang adekuat pada klien yang akan dilakukan tindakan pembedahan umumnya mampu mengurangi tingkat kecemasan yang dirasakan klien.com/2011/03/22/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-tingkat-kecemasanpada-pasien-pre-operasi-apendiktomi-di-bangsal-bedah-brsd-raa-soewondo-pati/ 444444444 . Menganalisis hubungan antara pekerjaan dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi apendiktomi dibangsal bedah BRSD RAA Soewondo Pati. c. Menganalisis hubungan antara pendidikan dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi apendiktomi dibangsal bedah BRSD RAA Soewondo Pati. f.operasi apendiktomi. 2007). e. C. http://bankjudul. Perumusan Masalah 1. Sebagai landasan dasar dalam membuat daftar tilik SOP (standard operational prosedur) bagi pasien sebelum dilakukan operasi. D. Tujuan Khusus a. B. Menganalisis hubungan antara jenis kelamin dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi apendiktomi dibangsal bedah BRSD RAA Soewondo Pati. Tujuan Umum Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan pasien pre operasi apendiktomi dibangsal bedah BRSD RAA Soewondo Pati. bahwa penyampaian prosedur atau informasi merupakan salah satu tindakan yang digunakan dalam mengatasi atau mengurangi pada kecemasan sebelum operasi (Amran. Menganalisis hubungan antara usia dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi apendiktomi dibangsal bedah BRSD RAA Soewondo Pati. Menggambarkan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kecemasan pasien pre operasi apendiktomi dibangsal bedah BRSD RAA Soewondo Pati. Tujuan Penelitian 1. dapat diantisipasi baik dengan memahami bagaimana cara panyebab kecemasan secara tepat. d.wordpress. 2. Menganalisis hubungan antara sosial ekonomi dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi apendiktomi dibangsal bedah BRSD RAA Soewondo Pati. Faktor apa saja yang mempengaruhi kecemasan pasien pre apendiktomi. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat: 1. Hal ini sesuai dengan pendapat Amran. Bagaimanakah hubungan antara masing-masing faktor dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi apendiktomi. 2. Sebagai bahan masukan di BRSD RAA Soewondo Pati terutama dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien pre apendiktomi. b. Sesuai dengan uraian diatas penulis ingin mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kecemasan pada pasien pre operasi apendiktomi di bangsal bedah BRSD RAA Soewondo Pati. 2.

Setiap pasien pernah mengalami periode cemas.1%) mengalami kondisi kejiwaan dan 2.473 pasien (7%) mengalami kecemasan. Bila kecemasan pada pasien pre operasi tidak segera diatasi maka dapat mengganggu proses penyembuhan. gambaran diri.Asip KU search: Selasa. Sebagian besar pasien beranggapan bahwa operasi merupakan pengalaman yang menakutkan. YUNUS BENGKULU TAHUN 2010 BAB I PENDAHULUAN 1.539 pasien bedah dirawat di unit perawatan intensif antara 1 oktober 2003 dan 30 september 2006. 2002). Kecemasan merupakan gejala klinis yang terlihat pada pasien dengan penatalaksanaan medis. Pembahasan tentang reaksi – reaksi pasien terhadap pembedahan sebagian besar berfokus pada persiapan pembedahan dan proses penyembuhan (Dewi wijayanti. Kecemasan terjadi ketika seseorang merasa terancam baik fisik maupun psikologisnya misalnya harga diri. Pembedahan merupakan tindakan pengobatan yang banyak menimbulkan kecemasan. sebuah institusi dan sebuah organisasi yang fungsi utamanya adalah memberikan pelayanan kepada pasien diagnostik dan terapeutik untuk berbagai penyakit dan masalah kesehatan.922 pasien (25. 2003). . 24 Mei 2011 HUBUNGAN PENDIDIKAN DAN PERAN PERAWAT DENGAN TINGKAT KECEMASAN PADA PASIEN PRE OPERASI DI RUANG SERUNI RSUD. untuk itu pasien yang akan menjalani operasi harus diberi pendidikan kesehatan untuk menurunkan atau mengurangi gejala kecemasan (Carbonel. Reaksi cemas ini akan berlanjut bila pasien tidak pernah atau kurang mendapat informasi yang berhubungan dengan penyakit dan tindakan yang dilakukan terhadap dirinya. kecemasan yang sering terjadi adalah apabila pasien yang dirawat di rumah sakit harus mengalami proses pembedahan. Pelayanan yang ada di Rumah Sakit adalah pelayanan pengobatan baik yang bersifat bedah maupun non bedah. 8. Dari. Amerika Serikat menganalisis data dari 35. Kecemasan merupakan perasaan yang paling umum di alami oleh pasien yang dirawat dirumah sakit. apalagi yang akan menjalani operasi. dan identitas diri (Tjandra. Latar Belakang Rumah sakit adalah sebuah fasilitas. M. 2006). Berdasarkan data WHO (2007).

Perawat mempunyai kontak paling lama dalam menangani persoalan pasien. (Ibrahim.al (2007) tentang tingkat kecemasan pre operasi bahwa dari 40 orang responden dalam tingkat kecemasan berat sebanyak 7 orang (17. dan spiritual. Salah satu cara melakukan hal ini ialah dengan mencurahkan perhatian sampai kepada hal yang sekecil-kecilnya dalam merawat pasien. Kecemasan pre operasi dapat dipengaruhi dari beberapa faktor antara lain adalah faktor biologis yang terjadi akibat dari reaksi saraf otonom yang berlebihan dengan naiknya system tonus saraf simpatis.Berdasarkan data dari RSUD Sragen Wijaya Kusuma. anak ataupun keluarga yang lain. 2002 ). mempunyai kewajiban membantu pasien mempersiapkan fisik dan mental untuk menghadapi operasi. Termasuk salah satunya dalam mengendalikan kebutuhan emosi diri pasien terutama pasien pre operasi dan post operasi. 1998). Peran perawat sangat penting untuk memberikan suport atau dukungan dan penyuluhan terhadap penurunan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi ( Kuntjoro. Peran perawat dalam upaya penyembuhan klien menjadi sangat penting. dan faktor psikologis yang dapat terjadi akibat implusimplus bawah sadar yang masuk kealam sadar seperti tidak didampingi oleh orang tua. suami. maka memerlukan keterampilan komunikasi yang baik. Kecemasan yang terjadi dapat berpengaruh terhadap peningkatan tekanan darah (RSUD Sragen. R. sosial. . Perawat merupakan salah satu tenaga kesehatan yang paling sering berinteraksi dengan pasien.5%). Perawat harus mau mendengarkan semua keluhan pribadi pasien (Widodo. Peran perawat sangat penting dalam penanggulangan kecemasan dan berupaya agar pasien tidak merasa cemas melalui asuhan keperawatan komprehensif secara biologis. Penelitian yang dilakukan oleh makmur et. Soeharso tahun 2008 dari 3827 pasien yang mengalami pembedahan sekitar (2%) mengalami kecemasan (Makmur. 2007). Seorang perawat dituntut bisa mengetahui kondisi dan kebutuhan pasien. 16 orang (40%) yang memilki tingkat kecemasan dalam kategori sedang. 2002). 2007). terutama dalam motivasi untuk berperan serta dalam pembangunan kesehatan. didapatkan bahwa 10% dari pasien yang akan menjalani pembedahan. 1999). Hasil penelitian di Rumah Sakit Ortopedi Prof Dr. maka makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimilikinya. Sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap perubahan-perubahan hidup sehat (Notoatmojo. Makin tinggi pendidikan seseorang. termasuk dalam pemberian pendidikan kesehatan. Sikap dan tingkah laku perawat membantu menumbuhkan rasa kepercayaan pasien. Selain itu faktor pendidikan pasien juga dapat mempengaruhi kecemasan yaitu tingkat pendidikan yang rendah serta kurangnya dukungan dari perawat (Sadock dan Kaplan.5%) dalam kategori ringan dan responden yang tidak merasa cemas sebanyak 2 orang (5%). psikologis. 15 orang (37. 2006). Pendidikan dapat mempengaruhi seorang termasuk juga prilaku seseorang akan kepatuhannya. terjadi penundaan proses operasi karena peningkatan kecemasan.

Tujuan penelitian 1. maka penulis tertarik untuk meneliti hubungan pendidikan pasien dan peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. susah tidur. Untuk menurunkan tingkat kecemasan pasien tersebut keluarga dan perawat harus lebih banyak memberikan dukungan salah satunya yaitu selalu berada dekat pasien. gelisah. Yunus Bengkulu. M. M. Rumusan masalah Berdasarkan uraian dalam latar belakang di atas. sering buang air kecil. pada tahun 2007 terdapat 4449 pasien yang mengalami pembedahan. 2008). sehingga tindakan anestesi atau pembedahan ditunda. Yunus Bengkulu. Yunus Bengkulu. Dari 5 orang yang mengalami kecemasan berat tersebut mempunyai pendidikan SMA kebawah dan kurang mendapatkan penkes dari perawat. dengan rincian sembuh 2259 dan 36 pasien meninggal (15%) dilakukan penundaan karena peningkatan kecemasan. Tujuan umum Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada Hubungan antara pendidikan dan peran perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. memotivasi pasien untuk memberi keyakinan bahwa operasi dapat berjalan dengan lancar. gemetar sehingga dapat menghambat proses operasi. nafas pendek. 2. yang dirawat 2154 pasien. Yunus Bengkulu.. M. Pasien yang akan menjalani operasi besar dianjurkan untuk minimal masuk rumah sakit 12 jam sebelum pre operasi dilaksanakan dan operasi kecil 6 jam sebelum dilaksanakan. Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan di atas. Yunus Bengkulu didapatkan data 2008 sebanyak 1033 dan data 2009 dari januari sampai tanggal Desember sebanyak 786 orang yang melakukan operasi. Tujuan Khusus 1.Berdasarkan hasil pengumpulan data di RSUD M. Yunus Bengkulu didapatkan data bahwa dari 15 pasien yang akan melakukan operasi 5 orang yang mengalami kecemasan berat dengan ciri-ciri muka merah. Sedangkan rumusan masalah penelitian ini adalah "apakah ada hubungan pendidikan pasien dan peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD M. 3. Mengetahui gambaran tingkat pendidikan pada pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. M. . Yunus Bengkulu. 2. Berdasarkan hasil observasi dengan teknik wawancara selama tiga hari di ruang seruni RSUD M.Yunus Bengkulu. Yunus Bengkulu. Kecemasan yang terjadi dapat berpengaruh terhadap peningkatan tekanan darah. masalah penelitian ini adalah masih tingginya tingkat kecemasan pasien pre operasi di RSUD M. 2. Mengetahui gambaran peran perawat di ruang seruni RSUD. Tujuan agar persiapan yang dilakukan dapat sebaik mungkin (RSUD M. Sementara dari pengumpulan data awal diruang Seruni RSUD M. Yunus Bengkulu".

M. Menambah wawasan dan pengetahuan bagi mahasiswa dan masyarakat mengenai tingkat kecemasan pada pasien pre operasi. Yunus Bengkulu". Keaslian penelitian Sebagai bahan perbandingan penelitian serupa pernah diteliti oleh : 1. 4. 2. M. 3. Mengetahui hubungan peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD.Yunus Bengkulu. M. Rinda Lesti Sentia dengan judul penelitian " Hubungan Tingkat Pendidikan dan Umur Kehamilan dengan Tingkat Kecemasan Ibu Hamil Primigravida di Rumah Bersalin YKWP Desa Kangkung Kabupaten Demak. Manfaat penelitian 1. rancangan dan waktu penelitian. .Adapun perbedaan antara karya tulis ini dengan karya tulis tersebut adalah pada variabel.3. Dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan di bidang kesehatan. Bagi Akademik Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi literatur bagi perpustakaan. 5. Agri Maha Tirani dengan judul penelitian "Perbedaan tingkat kecemasan sebelum dan sesudah pemberian pendidikan kesehatan pada pasien pre operasi di RSUD. Bagi Rumah sakit Hasil penelitaan ini diharapkan dapat memberi masukan bagi para tenaga kesehatan khususnya pada perawat di ruang seruni dan ruangan yang lain. Mengetahui tingkat Kecemasan pasien pre operasi di Ruang Seruni RSUD Dr. 5. 4. atau depresi dalam menghadapi pembedahan. Yunus Bengkulu. 4. 2. Bagi Masyarakat Dapat memperoleh pelayanan yang lebih baik terutama yang mengalami ketakutan. Mengetahui hubungan pendidikan dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. kecemasan. Bagi Peneliti Lain Hasil penelitian ini dapat berguna sebagai masukan atau informasi bagi peneliti lain dalam mengembangkan penelitian dengan variabel-variabel yang lain. Yunus Bengkulu. M.

perut terasa kosong. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1. gangguan panik. gangguan cemas menyeluruh (Generalized anxiety disorder/GAD). gangguan phobik dan gangguan obsesifkompulsif (Dadang Hawari. 2005) Jadi. Pengertian Cemas adalah keadaan emosi individu yang berkaitan dengan perasaan yang tak pasti dan tidak berdaya. nafas sesak dan dada terasa nyeri (Ayub Sani. Psikologis Ditinjau dari aspek psikoanalisa. 1998). kondisi ini dialami secara subyektif (yang hanya dirasakan individu tersebut) dan dikomunikasikan dalam hubungan interpersonal (Stuard and Sundeen. Keadaan emosi ini tidak memiliki subyek yang spesifik. Elika dengan judul penelitian " Hubungan peran perawat dan dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD M.3. Faktor-faktor Penyebab Kecemasan 1. Konsep Kecemasan 1. Kecemasan merupakan komponen utama bagi hampir semua gangguan kejiwaan (psychiatric disorder). Secara klinis gejala kecemasan dibagi dalam beberapa kelompok yaitu gangguan kecemasan. 2. Mekanisme . 2007). Adapun perbedaan antara karya tulis ini dengan karya tulis di atas adalah pada variabel. ancaman) yang masuk kealam sadar. 2006). Yunus Bengkulu. 2. Kecemasan adalah suatu keadaan yang menggoncangkan karena adanya ancaman terhadap kesehatan (Siti Sundari. rancangan dan waktu penelitian. Faktor Biologis Kecemasan terjadi akibat dari reaksi saraf otonomi yang berlebihan dengan naiknya sistem tonus saraf simpatis. Kecemasan adalah suatu keadaan dimana psikologis seseorang berada pada ketakutan dalam menghadapi masalah yang ada pada dirinya. Kecemasan adalah Suatu kondisi yang menyangkut terminologi kesehatan jiwa dengan suatu kondisi was-was. kecemasan dapat muncul akibat implus-implus bawah sadar (misalnya : sex.

1998). dibandingkan dengan orang yang memiliki pendapatan tinggi. Selain itu faktor yang mempengaruhi tingkat kecemasan menurut Soewandi (1998) antara lain : 1. Disamping itu kelelahan fisik (lemah. dimana lingkungan yang tidak kondusif berpotensial besar terhadap kecemasan yang dialami . Kecemasan merupakan peringatan yang bersifat subyektif atas adanya bahaya yang tidak dikenali sumbernya. 3. Potensi stressor Suatu keadaan yang menyebabkan perubahan dalam individu. 3. 3. 2. Sosial budaya Individu yang tidak bersosialisasi dengan masyarakat lebih mudah mengalami kecemasan. 4. lesu) lebih mudah megalami kecemasan. Sosial Kecemasan yang timbul akibat hubungan interpersonal dimana individu menerima suatu keadan yang menurutnya tidak disukai oleh orang lain yang berusaha memberikan penilaian atas opininya (Sadock dan Kaplan. Keadaan fisik Seseorang yang mengalami gangguan fisik seperti cacat badan. penyakit. 5. Ekonomi Seseorang yang memiliki pendapatan rendah lebih mudah mengalami kecemasan. letih. lebih mudah mengalami kecemasan. sehingga individu harus melakukan penyesuaian diri (adaptasi). Reaksi pergeseran yang dapat mengakibatkan reaksi fobia. 6. operasi. sakit. Lingkungan Lingkungan sangat berpengaruh pada kecemasan seseorang. Tingkat pendidikan Status pendidikan yang rendah pada seseorang akan menyebabkan orang tersebut mudah mengalami kecemasan.pembelaan ego yang tidak sepenuhnya berhasil juga dapat menimbulkan kecemasan yang mengambang. Kecemasan bisa terjadi pada individu yang tingkat pendidikannya rendah disebabkan karena kurangnya informasi yang didapat individu tersebut.

berdebar-debar. biasanya kecemasan sering dialami oleh usia muda. 8. Takut sendiri. tidak tenang. begitu juga sebaliknya jika lingkungannya kondusif mempercepat penyembuhan seseorang. dan banyak orang.seseorang. sesak nafas. mudah terkejut. 2. Ansietas Ringan (Tingkat I) 1. mimpi yang menegangkan Gangguan konsentrasi dan daya ingat Keluhan somatik misalnya rasa sakit pada otot tulang. 7. 4. muntah-muntah. 2. dibandingkan dengan pria. gagap. Ansietas Sedang (Tingkat II) . 6. Gejala-gejala tersebut antara lain: Iritabilitas. Reaksi fisik terhadap kecemasan pada masingmasing individu berbeda (Setyonegoro. pendengaran berdenging (tinnitus). sering buang air besar atau kecil. Gangguan pola tidur. gangguan perkemihan. nyeri pada gastro intestinal. mudah tersinggung. 1994). gangguan muskulo skeletal. nadi cepat. takut akan fikirannya sendiri. gelisah. hiperaktifitas. gangguan kulit. firasat buruk. berkeringat. takut pada keramaian.hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada dan meningkatkan lahan persepsinya. sulit tidur. energi menurun. mulut kering. Ansietas dapat memotivasi belajar dan menghasilkan pertumbuhan. Berhubungan dengan ketegangan yang dialami dalam kehidupan sehari. hiperventilasi. 4. Merasa tegang. mengetuk jari-jari. Tingkat kecemasan 1. sakit kepala dan lain sebagainya. khawatir. menyebutkan gejala klinis dari cemas antara lain : Cemas. kebingungan. Umur Umur ikut menentukan kecemasan. Jenis kelamin Kecemasan lebih banyak dialami wanita. berhenti berbicara dan terjadi perubahan suara. Gejala – gejala Kecemasan Keadaan cemas mempunyai gejala-gejala somatik atau fisik dan gejala psikologis atau mental. 3. 5. Menurut Dadang Hawari (2006). gangguan pencernaan. 5.

Optimisme 5. Dialog Internal Membantu pasien mengembangkan pesan dialog sendiri yang meningkatkan : 1. 1. Perasaan pengendalian 3. menurunnya kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain. sehingga seseorang mengalami perhatian yang selektif namun dapat melakukan sesuatu yang lebih terarah. dengan panik terjadi peningkatan aktivitas motorik. 1997).Memungkinkan seseorang untuk memusatkan pada hal yang penting dan mengesampingkan yang lain. Sterssor dapat di kelompokkan dalam dua kategori. Harapan 2. ketakutan dan terror-terror. Teknik Mengatasi ansietas Teknik kognitif dapat membantu pasien ansietas dan tidak tergantung pada wawasan atau pemahaman yang kompleks dari kondisi psikologi diri sendiri. 2. Percaya diri 2. 7. 4. harga diri dan fungsi sosial (Brunner dan suddarth. Orang tersebut banyak pengarahan untuk dapat memusatkan pada suatu area lain. 1997). Tingkat Panik Berhubungan dengan terperangah. Ansietas terhadap sistem diri seseorang dapat membahayakan identitas. yaitu: 1. Ansietas Berat (Tingkat III) Sangat mengurangi lahan persepsi seseorang. persepsi yang menyimpang dan kehilangan pemikiran yang rasional tingkat ansietas ini tidak sejalan dengan kehidupan dan jika berlangsung terus dalam waktu yang lama dapat terjadi kelelahan yang sangat bahkan kematian (Hudak dan Gallo. Ansietas terhadap integritas seorang meliputi ketidakmampuan fisiologis yang akan datang atau menurunnya kapasitas untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Perincian terpecah dari proporsinya karena mengalami kehilangan kendali. Dialog Eksternal . 6. Panik melibatkan disorganisasi kepribadian. Semua perilaku ditujukan untuk mengurangi ketegangan. Seseorang cenderung untuk memusatkan pada sesuatu yang terinci dan spesifik dan tidak berfikir tentang hal lain. Orang yang mengalami panik tidak mampu melakukan sesuatu walaupun dengan pengarahan. Stressor Pencetus Stressor pencetus berasal dari sumber internal atau eksternal. 3. Kemampuan untuk mengatasi 4.

3. takut tentang deformitas dan ancaman lain terhadap citra tubuh dapat menyebabkan ketidaktenangan atau ansietas (Brunner dan Suddarth. takut terhadap nyeri atau kematian. Pre Operasi 1. 10. menyiapkan klien untuk diberikan anestesi dan pembedahan bagaimanapun kegiatan perawatan dibatasi oleh pengkajian pre operasi dalam ruangan atau selama operasi. 1997).tipe tingkah laku seperti mennangis. Lingkup kegiatan perawatan pre operasi termasuk dalam menetapkan batas pengkajian klien setting secara klinis atau dalam ruangan. Takut terhadap anestesi. Mekanisme Koping Mekanisme koping adalah suatu bentuk pertahanan yang di gunakan oleh seseorang yang sedang berada pada suatu bentuk kecemasan untuk menghindar atau mengurangi respon yang ditimbulkan oleh kecemasan tersebut. 1997). Alat ukur kecemasan untuk mengetahui sejauh mana derajat kecemasan apakah ringan atau berat dengan menggunakan alat ukur (instrument) yang dikenal denga nama Hamilton Rating Scale or Anxiaty (HRS-A) dengan skor ringan jika ≤ 28 dan berat jika ≥ 28. interview preoperatif. melakukan kegiatan fisik. Perawatan pre operasi merupakan bagian dari perawat perioperatif yang di mulai dari kapan di putuskan tindakan operasi dibuat dan diakhiri dengan pemindahan klien ke meja ruang operasi. tertawa. Tipe . Hal ini menurunkan rasa ketidak berdayaan dan ansietas mereka. Tujuan Prosedur pembedahan .Dengan dialog eksternal kebutuhan pasien untuk berbicara cara akurat tentang dirinya dengan orang lain. takut tentang ketidaktahuan. 2. Khayalan Mental dan Relaksasi Mendorong pasien untuk mengkhayalkan tempat yang indah atau menjadi bagian dari pengalaman yang menyenangkan sehingga dapat membantu pasien menurunkan ketegangan (Abraham dkk. Dimana mekanisme koping setiap orang berbeda-beda. 1997). merokok dan minum-minum (Brunner dan Suddarth. tidur. Pengertian Pasien Pre operasi dapat mengalami berbagai ketakutan. 9. 8.

Pasien biasanya tidak mau bicara dan memperhatikan keadaan sekitarnya. Kecemasan pada pasien pre operasi Kecemasan pada pasien pre operasi adalah kecemasan yang di akibatkan sterssor tindakan operasi. di kelompokkan menjadi dua bagian yaitu : 1. Penyuluhan tersebut harus melebihi deskripsi tentang berbagai langkah prosedur dan harus mencakup tentang sensasi yang akan di alami. Salah satu caranya yaitu dengan penyuluhan pada keluarga maupun pasien supaya mereka mengerti apa yang akan terjadi. perawatan menjelang operasi yang dianggap sebagai hal baru. stressor tersebut merupakan faktor timbulnya kecemasan yang mengakibatkan terancamnya integritas seseorang meliputi ketidakmampuan fisiologis atau menurunkan kapasitas untuk melakukan hidup sehari-hari (Brunner dan suddarth. kurangnya dukungan keluarga terhadap pasien pre operasi. Pembedahan Mayor (pembedahan resiko tinggi ) 2. . Jenis-jenis operasi Menurut derajat kepentingan Perry dan potter (2006). Sebagai contoh. Mengetahui apa yang di perkirakan akan membantu pasien mengantisipasi reaksi-reaksi tersebut dan dengan demikian mencapai tingkat relaksasi yang lebih tinggi daripada yang di perkirakan sebaliknya (Brunner dan suddarth. Pengkajian psikologi pada pasien atau keluarga harus di lakukan supaya hal tersebut tidak menghambat rencana operasi. 5. tetapi berusaha mengalihkan perhatiannya kepada buku atau sebaliknya ia bergerak terus-menerus dan tidak mau tidur (Kaplan. Perasaan gelisah dan takut kadang-kadang tidak tampak jelas. 2006). 1997). Persiapan psikologis pasien pre operasi Pasien yang akan di operasi biasanya akan mengalami kegelisahan dan rasa takut. 1994). Pembedahan Minor (pembedahan resiko kecil ) 4. memberitahu pasien hanya medikasi pre operasi yang akan membuatnya rileks sebelum operasi tidaklah selektif bila menyebutkan juga bahwa medikasi tersebut dapat mengakibatkan kepala terasa melayang dan mengantuk. tapi kadang-kadang dapat terlihat dalam bentuk lain. 1997). Pasien yang gelisah dan takut biasanya sering bertanya berulang-ulang walaupun pertanyaan tersebut telah dijawab. Khawatir meninggal di meja operasi dan meninggalkan anakanak ditinggalkan seandainya ia meninggal saat atau setelah operasi.Sebagai salah satu bentuk pengobatan dan penatalaksanaan berbagai macam penyakit untuk mempercepat proses penyembuhan (Perry Potter. obat-obatan dan perawatan tindakan. 3.

2003). menengah. dan tinggi. (Diknas. 2. 4. pendidikan formal yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar.11. Manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya. Pendidikan Non-Formal : . dan ayat (3) menegaskan bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan Undang-Undang. serta memperkuat kemasyarakatan. Jenjang Pendidikan Menurut Diknas (2003). S1. 3. Pendidikan Tinggi: satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi yang dapat berbentuk akademik. Pengertian Pendidikan adalah suatu usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. 1. D2. Pendidikan Dasar : warga Negara yang berumur 6 atau 7 tahun berkewajiban mengikuti pendidikan dasar atau sederajat selama 9 tahun yaitu SD dan SLTP. dan S2. kepribadian. masyarakat. tujuan yang akan dicapai. 5. Untuk itu. Menurut Ahmadi. menyatakan bahwa jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik. Pendidikan merupakan usaha agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran atau cara lain yang dikenal dan diakui oleh masyarakat. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. seluruh komponen bangsa wajib mencerdaskan kehidupan bangsa yang merupakan salah satu tujuan negara indonesia. dan kemampuan yang dikembangkan menjadi: 2. sekolah tinggi dan universitas yang termasuk perguruan tinggi D1. Pendidikan 1. Pendidikan formal : Pendidikan formal merupakan usaha-usaha dalam pendidikan dasar dapat memberikan sumbangan dalam jangka panjang. bangsa dan negara. Sedangkan menurut Diknas (2003). Pendidikan Menengah : pendidikan menengah yang lamanya 3 tahun sesudah pendidikan dasar. (1997) janis pendidikan terbagi atas 3 yaitu : 1. bukan saja bagi produktivitas. D3. kecerdasan akhlak mulia. UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia menyelenggarakan Tahun 1945 Pasal 31 ayat (1) menyebutkan bahwa setiap warga Negara berhak mendapat pendidikan. politeknik. pengendalian diri. diselenggarakan di SLTA atau sederajat. D4. akan tetapi juga bagi tujuan terakhir pembangunan seperti kualitas keluarga dan kehidupan masyarakat.

Pendidikan non-Formal adalah pendidikan yang dilakukan secara teratur, dengan sadar dilakukan, tapi tidak terlalu ketat mengikuti peraturan-peraturan yang tepat, seperti pada pendidikan formal di sekolah. Karena pendidikan non-formal pada umumnya dilaksanakan tidak dalam lingkungan fisik sekolah maka sasaran pokok adalah anggota-anggota masyarakat. Diknas (2003), menyatakan pendidikan non-formal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang.
3. Pendidikan informal :

Pendidikan informal yakni pendidikan yang diperoleh seorang berdasarkan pengalaman dalam hidup sehari-hari dengan sadar atau tidak sadar, sejak seorang lahir sampai akhir hidupnya, di dalam lingkungan keluarga, masyarakat atau dalam lingkungan pekerjaan sehari-hari. Diknas (2003), menyatakan bahwa pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan. Pendidikan dapat mempengaruhi seorang termasuk juga prilaku seseorang akan kepatuhannya, terutama dalam motivasi untuk berperan serta dalam pembangunan kesehatan. Makin tinggi pendidikan seseorang, maka makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pngetahuan yang dimilikinya. Sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap perubahan-perubahan hidup sehat (Notoatmojo, 2002).

12. Hubungan pendidikan dengan kecemasan

Pendidikan merupakan salah satu faktor sosial dari kecemasan pada pasien pre operasi. Pada pasien yang pendidikannya hanya sebatas pendidikan dasar atau tidak pernah sekolah sangat susah dalam pemberian informasi. Setiap perawat yang menjelaskan pengetahuan tentang kesehatan pasien tidak mengerti. Berdasarkan penelitian yang lakukan di Kabupaten Demak menghasilkan informasi bahwa pendidikan masyarakat disana masih relatif rendah, sehingga tenaga kesehatan disana perlu melakukan konseling kepada ibu hamil primigravida sebagai upaya mengantisipasi terjadinya komplikasi dan kecemasan. Hasil penelitian Lesti, (2009). P < 0,05 menunjukkan bahwa hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara pendidikan pasien dengan tingkat kecemasan.

13. Peran Perawat 1. Definisi

Peran adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap seseorang sesuai kedudukannya dalam suatu system. Peran dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari dalam maupun dari luar dan bersifat stabil. Peran adalah bentuk dari perilaku yang diharapkan dari seesorang pada situasisosial tertentu. (Kozier Barbara, 1995:21). Peran Perawat (Ali Zaidin, 2001) meliputi : (a) Pelaksana pelayanan keperawatan, (b)Pengelola pelayanan keperawatan dan institusi Pendidikan, (c) Pendidik dalam keperawatan, (d)Peneliti dan pengembang keperawatan Perawat profesional baik dalam lingkungan perawatan kesehatan institusional maupun komunitas mengemban tiga peran : peran pelaksana, peran kepemimpinan dan peran peneliti. Meski tiap peran memiliki tanggung jawab khusus, peran-peran ini saling berhubungan satu dengan yang lain dan dapat ditemui pada semua posisi keperawatan. Peran ini dirancang untuk memenuhi perawatan kesehatan saat ini dan kebutuhan keperawatan dari konsumen yang merupakan penerima pelayanan keperawatan.
2. Peran Pelaksana

Peran pelaksana dari perawat mencakup tindakan-tindakan yang dilakukan oleh perawat ketiaka ia mengemban tanggung jawab yang ditujakan untuk memenuhi kebutuhan perawatan kesehatan dan kebutuhan keperawatan pasien secara individu, keluarga mereka dan orang terdekat pasien. Peran ini merupakan peran yang dominan dari perawat dalam lingkungan pelayanan kesehatan primer, sekunder, dan tersier dan dalam keperawatan kesehatan rumah dan komunitas. Peran ini merupakan peran yang hanya dapat dicapai melalui proses keperawatan, yang merupakan dasar untuk semua praktik keperawatan.
3. Peran Kepemimpinan

Peran Kepemimpinan dari perawat yang secara tradisional dikerap sebagai peran spesialisasi yang diembankannya oleh perawat yang mempunyai gelar yang menunjukkan kepemimpinan dan mereka yang memimpin sekelompok besar perawat atau profesional perawatan kesehatan yang berhubungan.Definisi kepemimpinan keperawatan yang dirumuskan oleh memberi cakupan yang luas pada konsep tersebut dan mengidentifikasi kepemimpinan sebagai peran yang melekat didalam semua posisi keperawatan. Peran kepemimpinan dari perawat mencakup tindakan-tindakan yang dilaksanakan oleh perawat saat ini ia mengemban tanggung jawab untuk mempengaruhi tindakan orang lain yang ditujukan untuk menentukan dan mencapai tujuan.
4. Peran Peneliti

Peran peneliti dari perawat pada mulanya dianggap hanya dilakukan oleh para akademikus, perawat ilmuwan dan mahasiswa keperawatan di tingkat sarjana. Kini, partisipasi dalam proses penelitian dianggap sebagai tanggung jawab dari perawat dalam praktik klinis. Tugas utama dari penelitian keperawatan adalah untuk memberikan konstribusi pada dasar ilmiah praktik keperawatan. Kajian dibutuhkan untuk menentukan keefektifan intervensi dan asuhan keperawatan. Melalui upaya penelitian semacam ini, ilmu keperawatan akan berkembang dan rasional yang didasarkan secara ilmiah untuk membuat perubahan dalam praktik keperawatan akan tercipta (Brunner dan Suddarth, 2001). Peran Perawat menurut Para Sosiolog
5. Peran terapeutik : kegiatan yang ditujukan langsung pada pencegahan dan pengobatan penyakit. 6. Expressive/mother substitute role, yaitu kegiatan yang bersifat langsung dalam menciptakan lingkungan dimana pasien merasa aman, diterima dilindungi, dirawat dan didukung oleh perawat. Menurut Johnson dan Martin, peran ini bertujuan untuk menghilangkan ketegangan dalam kelompok pelayanan (dokter, perawat, pasien, dan lain-lain)

Menurut konsorsium ilmu kesehatan (1989) dalam Ali Haidin (2001) peran perawat terdiri dari :
7. Sebagai pemberi asuhan keperawatan

Peran ini dapat dilakukan perawat dengan memperhatikan keadaan kebutuhan dasar manusia yang dibutuhkan melalui pemberian pelayanan keperawatan. Pemberian asuhan keperawatan ini dilakukan dari yang sederhana sampai dengan kompleks.
8. Sebagai advokat klien

Peran ini dilakukan perawat dalam membantu klien dan keluaga dalam menginterpretasikan berbagai informasi dari pemberi pelayanan khususnya dalam pengambilan persetujuan atas tindakan keperawatan. Perawat juga berperan dalam mempertahankan dan melindungi hak-hak pasien meliputi hak atas pelayanan sebaik-baiknya, hak atas informasi tentang penyakitnya, hak atas privasi, hak untuk menentukan nasibnya sendiri, hak menerima ganti rugi akibat kelalaian.
9. Sebagai edukator

Peran ini dilakukan dengan membantu klien dalam meningkatkan tingkat pengetahuan kesehatan, gejala penyakit bahkan tindakan yang diberikan sehingga terjadi perubahan perilaku dari klien setelah dilakukan pendidikan kesehatan.

11. ahli gizi dan lain-lain dengan berupaya mengidentifikasi pelayanan keperawatan yang diperlukan. 15. 12. Fungsi Perawat Fungsi adalah pekerjaan yang harus dilaksanakan sesuai dengan perannya.10. (5) Mencatat dan melaporkan keadaan pasien. Sebagai konsultan Perawat berperan sebagai tempat konsultasi dengan mengadakan perencanaan. (3) Memantau pasien. Sebagai kolaborator Peran ini dilakukan karena perawat bekerja melalui tim kesehatan yang terdiri dari dokter. perubahan yang sistematis dan terarah sesuai dengan metode pemberian pelayanan keperawatan 13. Tujuh Fungsi Perawat Kozier Barbara. Sebagai pembaharu Perawat mengadakan perencanaan. kerjasama. (7) Memberikan pengarahan dan penyuluhan untuk meningkatkan kesehatan fisik dan mental. perubahan yang sistematis dan terarah sesuai dengan metode pemberian pelayanan keperawatan. 14. (6) Melaksanakan prosedur dan teknik keperawatan. (1) Melaksanakan instruksi dokter (fungsi dependen). (2) Observasi gejala dan respons pasien yang berhubungan dengan penyakit dan penyebabnya. Hubungan peran perawat dengan kecemasan Orang yang sakit sangat memerlukan seseorang yang bisa mengobati penyakitnya tersebut dan orang sehat memerlukan seseorang yang bisa mengarahkan agar bisa . dan memperbaiki rencana keperawatan secara terus menerus berdasarkan pada kondisi dan kemampuan pasien. kerjasama. (2002) yaitu. fisioterapi. Sebagai koordinator Peran ini dilaksanakan dengan mengarahkan. (4) Supervisi semua pihak yang ikut terlibat dalam perawatan pasien. menyusun. merencanakan serta mengorganisasi pelayanan kesehatan dari tim kesehatan sehingga pemberi pelayanan kesehatan dapat terarah serta sesuai dengan kebutuhan klien.

konsep diri. Soerharto tahun 2008. 16. Secara unum perawat mempunyai peran terapeutik yaitu kegiatan yang ditujukan langsung pada pencegahan dan pengobatan penyakit. BAB III METODE PENELITIAN 1.05 yang mengalami kecemasan ringan sehingga dapat disimpulkan ada hubungan peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi. Hipotesa peneliti 1. Klien merasa cemas tentang pembedahan. Proses pembedahan sering menimbulkan stress psikologi yang tinggi. sumber koping klien serta asuhan keperawatan yang terbaik (Perry Potter.Yunus Bengkulu Tahun 2010. Begitu pula dengan Pembedahan. sehingga kekambuhan sering terjadi dan bahkan bertambah parah. al (2007) dan penelitian rumah Sakit Ortopedi Prof Dr.5% yang mengalami kecemasan ringan. Desain penelitian . Ada hubungan antara peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. Ada hubungan antara pendidikan pasien dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. 2006).M. Seseorang tersebut ialah perawat yang mempunyai banyak peran untuk melaksanakan praktek keperawatan.M. Karena masih kurangnya pengetahuan pasien tentang penyakit yang dideritanya. Perawat harus dapat mengkaji perasaan klien tentang pembedahan. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Makmur et.Yunus Bengkulu Tahun 2010. 2. dengan nilai p < 0. citra diri.mencegah dan terhindar dari berbagai penyakit. R. Dan hasil penelitian yang dilakukan Elika tahun 2009. Klien merasa kurang dapat mengontrol situasi mereka sendiri untuk memahami dampak pembedahan pada kesehatan emosional klien tersebut. terdapat 37.

Desain penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Variabel Penelitian Sesuai dengan desain penelitian di atas. Tingkat kecemasan (Dependen) Suatu kondisi yang menyangkut kekhawatiran seseorang pada masalah yang terjadi. 2010).2 Variabel Penelitian C. Definisi Operasional Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Cara ukur Hasil Ukur 0=Cemas Berat jika. Bagan 3. maka Variabel Penelitian dapat digambarkan sebagai berikut : Variabel Variabel Dependen Independen Bagan 3. Kuisioner Wawancara (14 komponen pertanyaan HRS-A) dan observasi 1= Tidak Berat jika.1 Desain Penelitian B. < 28 ≥ 28 Ordinal Skala Ukur . dimana variabel independen dan variabel dependen di kumpulkan pada saat bersamaan (Notoadmodjo.

2.786 orang.175. Sampel Sampel adalah objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi ( Notoatmojo.825 . Dalam penelitian ini teknik yang digunakan adalah teknik Simple Random sampling n = Z²1-α/2.0. 0. Populasi Populasi adalah Keseluruhan dari objek penelitian yang di teliti.96)².0=Rendah ≤ SMA Pendidikan (Independen) Pendidikan Formal yang ditempuh pasien Kuisioner Dengan cara mengisi (1 pertanyaan kuisioner ) 1= Tinggi >SMA 0= kurang baik jika skor ≤ 75% Dengan cara mengisi kuisioner 1= baik. 0. (Noto atmojo. jika skor ≥ 75% Ordinal Ordinal Peran Perawat (Independent) Tindakan yang dilakukan oleh perawat dalam proses penyembuhan. Kuisioner (15 pertanyaan) 1.825 =3. Populasi dan Sampel 1. 0.P(1-P) = (1. Populasi dalam penelitian ini adalah kelompok pasien pre operasi yang ingin menjalankan operasi di ruang Seruni dari bulan januari sampai bulan desember tahun 2010. 2010). berdasarkan data jumlah pasien pada tahun 2009 adalah 1.84.175. 2010).

Pengumpulan data Data dalam penelitian ini berupa data primer dan sekunder. kadang (KD). Tempat Penelitian Penelitian dilakukan di Ruang Seruni RSUD. yang nantinya akan diisi oleh responden dan dibantu oleh satu orang perawat yang bertugas di ruang Seruni RSUD M. 2008) Keterangan : n = Sampel Z(1-α/2) = Nilai Z pada derajat kemaknaan (α 5%=1. Sedangkan data Sekunder adalah data yang didapatkan secara tidak langsung dari responden. D.96) P = Proporsi suatu kasus yaitu proporsi kecemasan 0. dengan penilaian tidak berat jika skor < 28 dan berat jika skor ≥ 28. tetapi didapat dengan metode pencarian data rumah sakit dalam bentuk . Yunus Bengkulu dengan cara wawancara dan observasi dengan skala HARS. Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan Desember sampai dengan februari 2010. kuisioner pendidikan dan kuisioner peran perawat dengan skala selalu (SL). E. Pengolahan Dan Analisa Data 1.5% D = Derajat akurasi (presisi) yang diinginkan 0. sering (SR).175 =17. tidak pernah (TP). Pengumpulan. Data primer yaitu data yang didapat langsung dari responden yaitu pasien dalam perawatan pre operasi di Ruang Seruni RSUD M. Tempat dan Waktu Penelitian 1.= 55 responden (Aziz Alimul.Yunus Bengkulu pada bulan Desember 2010 2.1. M. jarang (JR). Yunus Bengkulu yang sudah diberi penjelasan tentang pengisian kuisoner. untuk mengukur tingkat kecemasan. Jumlah sampel yang didapat adalah 55 responden.

tanggal masuk rumah sakit. 1. alamat. Cleaning (Pembersihan Data) Sebelum melakukan analisa data dengan dilakukan pengecekan kembali terhadap data yang sudah masuk apakah data yang dimasukkan sudah benar dan tidak ada lagi kesalahan. Analisa Data 1. yaitu : 1. Analisa Univariat . G. Entry Data (Pemasukan Data) Data yang telah ada dicoding dan hasil scoring kemudian diolah kedalam komputer dengan menggunakan program SPSS For Window. tanggal keluar rumah sakit dan lain-lain. Coding (Pengkodean) Jawaban-jawaban atau hasil yang ada kemudian di klasifikasikan dalam bentuk yang lebih ringkas dengan menggunakan kode-kode. Selanjutnya dilakukan transformasi data untuk menggambarkan variabel bebas dan variabel terikat. jumlah pasien yang melakukan operasi. umur. Pengolahan Data Data yang telah diperoleh atau terkumpul diolah dan dianalisis dengan program komputer melalui beberapa tahapan. 3. F.Rekam Medik misalnya: nama. Editing dilakukan langsung pada saat responden mengembalikan kuesioner yang sudah diisi dengan harapan apabila ada kekurangan data atau kesalahan dalam pengisian dapat segera diperbaiki. Kemudian dilakukan scoring terhadap pertanyaan yang berhubungan dengan masing-masing variabel dan diteruskan dengan pengujian kebenaran data dengan menggunakan uji Chi-Square dengan signifikan α = 5 %. 2. pekerjaan. Editing Editing data adalah meneliti kembali apakah isian pada kuisioner yang dilakukan responden sudah cukup dan benar sesuai dengan petunjuk yang ada..

Untuk melihat gambaran distribusi frekuensi dari masing-masing variabel penelitian baik independent maupun dependent. . Rumus yang digunakan, yaitu : Keterangan : P F = Persentase yang ingin dicapai = Jawaban dalam setiap kategori

N = Jumlah seluruh responden (Budiarto, 2001) 2. Analisa Bivariat Analisa bivariat adalah analisa yang digunakan untuk melihat hubungan antara variabel bebas (pendidikan pasien dan peran perawat) dengan variabel terikat (kecemasan pada pasien pre operasi). Untuk melihat hubungan antara dua variabel kategorik maka digunakan Uji X² (Chi-Square) Ha diterima jika nilai p ≤ 0,05 Ha ditolak jika nilai p > 0,05 (Budiarto, 2001)
http://yulnico.blogspot.com/2011/05/hubungan-pendidikan-dan-peran-perawat.html 555555555

HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN KELUARGA DENGAN TINGKAT KECEMASAN PASIEN PRE OPERASI DI BANGSAL MELATI RSD PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL YOGYAKARTA
3 Mei 2009

DEWI WIJAYANTI A. Latar Belakang Masalah

Rumah sakit adalah salah satu organisasi kesehatan yang dengan segala fasilitas kesehatannya diharapkan dapat membantu pasien dalam meningkatkan kesehatan dan mencapai kesembuhan baik fisik, psikis, maupun sosial. Tujuan kesehatan tidak hanya memulihkan kesehatan pasien secara fisik tetapi sedapat mungkin diupayakan menjaga kondisi emosi dan jasmani pasien menjadi nyaman, namun kemajuan yang pesat dalam teknologi medis belum diiringi dengan kemajuan yang sama pada aspek-aspek kemanusiaan dari perawatan pasien. Proses perawatan di rumah sakit seringkali mengabaikan aspek-aspek psikologis sehingga menimbulkan berbagai permasalahan pisikologis bagi pasien yang salah satunya adalah kecemasan. Kecemasan merupakan perasaan yang paling umum dialami oleh pasien yang dirawat di rumah sakit, kecemasan yang sering terjadi adalah apabila pasien yang dirawat di rumah sakit harus mengalami proses pembedahan. Pembahasan tentang reaksi-reaksi pasien terhadap pembedahan sebagian besar berfokus pada persiapan pembedahan dan proses penyembuhan. Pembedahan adalah tindakan pengobatan yang banyak menimbulkan kecemasan, sampai saat ini sebagian besar orang menganggap bahwa semua pembedahan yang dilakukan adalah pembedahan besar. Tindakan pembedahan merupakan ancaman potensial aktual terhadap integritas seseorang yang dapat membangkitkan reaksi stress fisiologis maupun psikologis (Barbara C.Long, 1989) Pandangan setiap orang dalam menghadapi pembedahan berbeda, sehingga respon pun berbeda. Setiap menghadapi pembedahan selalu menimbulkan ketakutan dan kecemasan pada pasien, kecemasan sering muncul pada usia sebelum 30 tahun (Stuard and Sundeen, 1998). Seseorang yang sangat cemas sehingga tidak bisa berbicara dan mencoba menyesuaikan diri dengan kecemasan sebelum operasi, seringkali menjadi hambatan pada paska operasi, pasien menjadi cepat marah, bingung, lebih mudah tersinggung akibat reaksi psikis, dibandingkan dengan orang yang cemas ringan (Barbara C. Long, 1996). Pasien pre operasi sangat membutuhkan dukungan keluarga, pasien dapat mengekspresikan ketakutan dan kecemasannya pada keluarga dengan mengurangi kecemasan dan ketakutan yang berlebihan dan tidak beralasan, akan mempersiapkan pasien secara emosional. Selain itu, mempersiapkan keluarga terhadap kejadian yang akan dialami pasien dan diharapkan keluarga banyak memberi dukungan pada pasien dalam menghadapi operasi (Anderson dan Masur 1989).
1. Dukungan keluarga sebagai salah satu sumber dukungan bagi anggota keluarga yang sedang sakit. Dari hasil observasi atau studi pendahuluan selama satu minggu, dengan teknik wawancara di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta, pada tanggal 15 Februari tahun 2008, didapatkan data bahwa dari 15 pasien yang mau melakukan operasi, 9 orang diantaranya merasa cemas, dengan data sebagai berikut:

1. Satu pasien mengatakan cemas dikarenakan tidak didampingi oleh kedua orang tua dan suami yang merupakan sumber dukungan, kedua orang tuanya berada diluar kota sedang suami sibuk mencari surat keringanan biaya operasi, tanda-tanda kecemasan yang dimiliki adalah pasien lebih banyak berdiam diri dan murung. 2. Tiga pasien mengatakan cemas karena saat di rumah sakit tidak didampingi oleh keluarga namun hanya didampingi oleh suami, dan tanda-tanda kecemasan yang dimiliki antara lain nafsu makan berkurang,sering bangun saat malam hari, muka terlihat puat dan murung. 3. Lima pasien mengatakan cemas dikarenakan tidak ada dukungan dari anak-anak dan sanak saudara, tanda-tanda kecemasan yang dimilliki adalah jarang berkomunikasi, sering menanyakan keluarga, dan sulit untuk memulai tidur. 4. Enam pasien mengatakan tidak cemas dikaranakan mendapatkan dukungan dari keluarga, yaitu anak, istri, orang tua yang selalu mendampingi dan sanak keluarga yang bergantian mengunjungi. B. Rumusan Masalah

Dari berbagai uraian latar belakang tersebut diatas maka akan timbul masalah sebagai berikut “Adakah Hubungan Antara Dukungan Keluarga Dengan Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi Di Bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta?”
C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta.
1. Tujuan Khusus

a Diketahuinya dukungan keluarga yang diberikan pada pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. b Diketahuinya tingkat kecemasan pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta.
D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Perawat Di RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta

Mengoptimalkan fungsi perawat dalam penatalaksanan asuhan keperawatan kepada pasien yang mengalami kecemasan, tanpa mengabaikan aspek-aspek psikologis, sehingga profesionalisme perawat dalam bekerja dapat ditingkatkan lagi dan operasi berjalan dengan lancar.
1. Bagi RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta

Dapat dipakai sebagai masukkan untuk meningkatkan pelayanan

Hasil penelitian adalah ada hubungan . Sampel adalah orang tua dari anak pra sekolah yang dirawat di bangsal Ibnu Sina RSU PKU Muhammadiyah. Keaslian Penelitian Penelitian ini dititik beratkan pada hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. Waktu Penelitian ini dilakukan pada bulan April sampai dengan Mei tahun 2008. 1. 1. Ruang Lingkup Masalah 1. Variabel Yang Diteliti 2. Bagi Pasien Dan Keluarga Di RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta 1. Memberikan masukan bagi peneliti bahwasanya dukungan keluarga sangat diperlukan bagi pasien. namun ada beberapa penelitian yang mirip dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti antara lain : 1. Memberikan rasa nyaman pada pasien sehingga pasien tidak cemas pada proses operasi 2. Memberikan masukan bahwa dukungan keluarga sangat dibutuhkan oleh pasien 3. Tempat penelitian di bangsal Ibnu Sina RSU PKU Muhammadiyah. Penelitian yang dilakukan oleh Rondhianto (2004) dengan judul “Hubungan antara dukungan keluarga dengan kecemasan perpisahan akibat hospitalisasi pada pasien anak usia pra sekolah di bangsal anak RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta. pada bulan Januari sampai Maret 2004. Alat ukur untuk pengumpulan data adalah daftar pertanyaan dalam bentuk kuesioner. Menambah ilmu pengetahuan dan wawasan 2. E.1. Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. 1.” Menggunakan metode penelitian non eksperimental. Tingkat kecemasan pada pasien pre operasi adalah variabel terikat 1. Responden Pasien dewasa yang berumur 21– 40 tahun yang menjalani rawat inap dan akan melakukan operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. Penelitian yang sama sepengetahuan peneliti belum pernah dilakukan oleh peneliti yang lain. Bagi Peneliti 1. dengan uji validitas menggunakan product moment dari pearson. Dukungan keluarga adalah variable bebas 3. dengan pendekatan cross sectional.

” Instrumen penelitian menggunakan angket sedangkan uji validitas dan reabilitas mengunakan product moment dari pearson. Sampel yang dipakai adalah pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. Sardjito. untuk mengukur tingkat kecemasan dan rating-scale (skala bertingkat) untuk mengukur dukungan keluarga pada pasien pre operasi. 1. Metode yang digunakan adalah quota sampel. sampel yang diteliti adalah pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. dengan uji validitas menggunakan product moment dan reliabilitas menggunakan alpha dan kr 20. alat ukur penelitian menggunakan kuesioner yang diuji validitas dan reabilitas menggunakan product moment dan alpha serta kr 20. 1. Tempat penelitian di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. alat ukur penelitian menggunakan kuesioner. Peneliti melakukan penelitian yang berjudul“ Hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. peneliti meneliti tentang “Hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. Sardjito Yogyakarta. Penelitian yang dilakukan oleh peneliti memiliki perbedaan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rondhianto (2004) diantaranya. http://skripsistikes.com/2009/05/03/ikpiii18/ 6666666666 . Penelitian yang dilakukan oleh Liliyanti (2000) dengan judul “ Peran keluarga dalam proses hospitalisasi di lakukan di bangsal Bedah RS Dr. sampel adalah pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. peneliti meneliti tentang “Hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. Yogyakarta”.” Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental dengan pendekatan cross sectional. Jenis penelitian yang telah dilakukan tersebut bersifat penelitian deskriptif kualitatif dengan penggunaan wawancara mendalam pada responden dalam metode pengumpulan datanya.wordpress.” yang merupakan penelitian non eksperimental dengan pendekatan cross sectional.dukungan keluarga dengan kecemasan pada anak akibat hospitalisasi pada pasien anak usia pra sekolah di bangsal Ibnu Sina RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Menggunakan kuesioner sebagai alat ukur yang bersifat tertutup dan langsung dalam bentuk check list. Perbedaan dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah. Hasil penelitian yang dilakukan bahwa tidak ada hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kooperatif anak usia pra sekolah saat pelaksanaan pemasangan infus. pada bulan April sampai Mei tahun 2008. Penelitian yang dilakukan oleh Efrita Herliyati (2005) dengan judul “ Hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kooperatif anak usia pra sekolah saat pemasangan infus di INSKA RS Dr. Menggunakan metode quota sampel. Jenis penelitian non eksperimental dengan pendekatan cross sectional.

Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Kecemasan Dan Pengetahuan Pada Pasien Preoperasi Fraktur Di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten
ABSTRAK Burhanuddin, S541002006. Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Kecemasan Dan Pengetahuan Pada Pasien Preoperasi Fraktur Di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten. Komisi Pembimbing I : Prof. Dr. Sri Yutmini, M. Pd. Pembimbing II : Dr. Nunuk Suryani, M.Pd. Tesis: Magister Kedokteran Keluarga. Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta. 2011. Latar Belakang: Kecemasan juga dapat terjadi pada pasien yang akan menjalani operasi patah tulang atau fraktur. Kecemasan pada masa preoperasi fraktur meliputi takut terhadap anestesi, takut terhadap nyeri atau kematian, takut tentang ketidaktahuan atau takut tentang deformitas atau ancaman lain terhadap citra tubuh. Pendidikan kesehatan adalah salah satu yang bertujuan untuk menurunkan tingkat kecemasan pasien preoperasi fraktur melalui pemenuhan kebutuhan informasi mengenai pembedahan. pendidikan kesehatan merupakan satu bentuk intervensi keperawatan yang mandiri untuk membantu klien, baik individu, kelompok, maupun masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatannya melalui kegiatan pembelajaran, yang didalamnya perawat berperan sebagai perawat pendidik yang bertugas untuk meningkatkan pengetahuan klien Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kecemasan dan pengetahuaan pada pasien preoperasi fraktur sebelum dan sesudah memperoleh pendidikan kesehatan. Metode: Desain dalam penelitian ini adalah Pre-eksperimental design (Pre-eksperimental one group pre test-post test design). Populasi sumber penelitian ini adalah penderita yang akan menjalani operasi fraktur di RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten dari tanggal 07 Juli s/d 07 Agustus 2011. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Penentuan jumlah sampel menggunakan metode exhaustive sampling. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner yang berisi pernyataan tentang kecemasan dan tes pengetahuan. Data dianalisis dengan menggunakan uji Paired Sample T-Test. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara kecemasan pada pasien preoperasi fraktur sebelum dan sesudah memperoleh pendidikan kesehatan (t = 92,697 dan p = 0,000). Ada perbedaan yang signifikan antara pengetahuan pada pasien preoperasi fraktur sebelum dan sesudah memperoleh pendidikan kesehatan (t = 16,683 dan p = 0,000). Simpulan: Pendidikan kesehatan dapat menurunkan tingkat kecemasan dan meningkatkat pengetahuan pada pasien preoperasi fraktur. Disarankan pada penyelenggara pelayanan kesehatan agar melakukan pendidikan kesehatan pada pasien preoperasi fraktur karena terbukti mampu menerunkan kecemasan dan meningkatkan pengetahuan pasien. Kata Kunci: Pendidikan Kesehatan, Kecemasan, Pengetahuan, Preoperasi fraktur. ABSTRACT

Burhannudin, S541002006. Effect of Health Education on Worry and Knowledge of Fracture Presurgery Patients in Dr. Soeradji Tirtonegoro General Hospital of Klaten. The first commission of supervision : Prof. Dr. Sri Yutmini, M. Pd. The second supervision is Dr. Nunuk Suryani, M.Pd. Thesis. Family Medical Magister. Postgraduate Program of Sebelas Maret University of Surakarta. Background: Worry may occur in a patient who will go through surgery for his/her fracture. Worry in fracture presurgery period includes worry of anesthesia, worry of pain or death, worry of ignorance or worry about deformity or other threats on body image. One of health education aims is to reduce worry level of patients of fracture presurgey through meeting information needs of the patient. Health education is one of independent nursing intervention in attempts of helping client, individually or collectively and people in overcoming health problems by conducting learning activities in which nurse has a role as educator nurse whose duty is to enhance client‟s knowledge. Purpose: The research aims to know difference of worry and knowledge of fracture presurgery patients before and after receiving health education. Method: Design of the research is pre-experimental one (pre-experimental one group pretest posttest design). Population of the research is patients who will go through fracture surgery in Dr. Soeradji Tirtonegoro General Hospital of Klaten during 07 July - 07 August 2011. Sample of the research is taken by using purposive sampling technique. Number of sample is determined by using exhaustive sampling method. Data is collected by using questionnaire asking about worry and test of knowledge. The data is, then, analyzed by using Paired Sample T-Test. Results: Results of the research indicated that there was a significant difference between worry of fracture presurgery patients before and after receiving health education (t=92.696 and p = 0.000). There was a significant difference between knowledge of fracture presurgey patients before and after receiving health education (t=16.683 and p = 0.000). Conclusion: Health education can reduce worry level of fracture presurgery patients and increase knowledge of the patients. It is suggested that health provider should perform health education for fracture presurgery patients because it is proved to be able to reduce worry and to improve knowledge of the patients.
http://pasca.uns.ac.id/?p=1891 7777777

Manfaat membaca al-Qur'an untuk kehidupan
Sebagai wahyu yang Allah turunkan kepada nabi-Nya, tentu al-Qur'an memiliki keutamaan dan keistimewaan tersendiri bagi para pembaca dan penggemarnya. Ayat-ayat al-qur'an yang kita baca sehari-sehari tidak lepas dari karunia Allah untuk setiap muslim yang demikian besar. Karena saking istimewanya al-Qur'an ini dari kitab-kitab samawi lainnya, Allah memberikan tempat istimewa bagi para pecintanya. Oleh karena bagi anda yang ingin memaksimalkan peran al-Qur'an dalam kehidupan, nampaknya harus lebih banyak lagi mengetahui manfaat dan perannya, terutama untuk kehidupan. Di antara

manfaat itu adalah: 1. Ayat-ayat al-Qur'an yang dibaca setiap hari akan memberikan motivasi dan penyemangat bagi si pembacanya. 2. Ketika membaca al-Qur'an, Allah akan menegur diri kita pada setiap ayat-ayat-Nya. 3. Bacaan al-Qur'an yang melibatkan emosi akan memberikan kedamaian dan ketenangan yang tidak bisa dilukiskan, seperti yang dialami dan dirasakan oleh Sayyid Quthb Rahimahullah. 4. Orang yang membaca al-Qur'an akan senantiasa ingat Allah dan kembali kepada-Nya. 5. Orang yang membaca al-Qur'an akan selalu berada dalam kecukupan dan nikmat Allah meski ia merasakan serba kurang di dunia. 6. Ayat-ayat Alloh akan menjadi penjaganya selama ia hidup di dunia, karena ia telah menjaga ayat-ayatNya. 7. Orang yang paham al-Qur'an adalah orang yang memiliki banyak ilmu. 8. Orang yang membaca al-Qur'an bagaikan orang yang sedang menyelami samudera kehidupan, dan mengambil manfaat darinya. 9. Orang yang selalu akrab dengan ayat-ayat akan diberikan jiwa yang sejuk, hati yang damai dan pikiran yang jernih, sehingga membuatnya ingin selalu beramal, kreatif, inovatif dan produktif. 10. Orang yang membaca al-Qur'an akan selalu berada dalam kegembiraan dan penuh harapan, di saat orang lain merasakan kesedihan, kecemasan dan rasa pesimis. Karena diri mereka selalu dipompa dengan siraman ayat-ayat-Nya yang lembut. 11. Orang yang rajin membaca al-Qur'an akan selalu diberikan jalan kemudahan dan petunjuk sehingga tidak mudah untuk menyimpang dan menyerah karena ayat-ayat Allah akan selalu mengingatkan dirinya ketika dirinya 'tersandung dosa dan maksiat.' 12. Orang yang membaca dan menjaga al-Qur'an selalu berada dalam lindungan dan penjagaan Allah. Ayat-ayat al-Qur'an mengajak pembacanya untuk senantiasa berpikir, merenung dan beramal sebanyakbanyaknya. Dan masih banyak manfaat-manfaat lainnya yang terus update dengan kondisi kehidupan kita...Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu belajar dan meningkatkan diri untuk lebih dekat lagi dengan alQur'an...Amiin wallahu a'lam http://baskomm.blogspot.com/2011/06/manfaat-membaca-al-quran-untuk.html 888888

Penawar Hati..., Katakanlah: “Al Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman”. QS. Fushilat: 44).
Wednesday, 16 March 2011 06:15 Lady Ukhtifillah Rahimakumullah

semua perkara yang mengeruhkan hidup akan menjadikan seorang mu‟min mengetahui kehinaan duniawi. Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. sebab tidak ada kebimbangan di dalam surga dan tidak pula kesedihan sebagaimana ditegaskan di dalam firman Allah subhanahu wata‟ala: Dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami.“As-salámu „alaikum wa Bismillah Ar Rahman Ar Raheem Penawar Kebingungan dan Kebimbangan rahmatul láhi wa barakátuh!” Barang siapa yang mengerjakan amal saleh. Amma Ba‟du: Terkadang. maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. dan aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi -Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan -Nya. sehingga dengannya hati akan mendapatkan ketenangan dan ketentraman. baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman. yaitu sebuah kebahagiaan yang tidak bisa terlukiskan. di dalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu”. (QS. sedih dan berencana bagi orang yang menggunakannya secara baik: Pertama: Beriman dan beramal shaleh. Perkara ini akan menghapuskan dosa-dosanya dan mengangkat derajatnya. Perasaan ini akan membawanya kepada zuhud dengan dunia dan tidak cendrung kepadanya. shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam. Selain itu. Al-Nahl: 97) Segala puji hanya bagi Allah subhanahu wata‟ala. (35)Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga) dari karunia -Nya. (QS. dia akan mementingkan akherat dengan penuh keyakinan bahwa dia lebih baik dan lebih kekal abadi. yang paling penting adalah bahwa semua cobaan hidup ini akan mengarahkan seorang yang beriman untuk kembali kepada Allah subhanahu wata‟ala. Allah subhanahu wata‟ala berfirman: Barang siapa yang mengerjakan amal saleh. Selain itu. bingung. bertdharru‟ kepada -Nya. dia akan mendapat manfaat yang lain. bersimpuh di hadapan -Nya. Al-Nahl: 97) . Dan di bawah ini beberapa langkah yang bermanfaat untuk menghalau rasa bimbang. baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman. Fathir: 34-35) Alangkah agungnya manfaat yang didapatkan bagi orang yang mengetahui hikmah Allah yang terakandung di dalamnya. maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. didalam kehidupan seorang yang beriman tidak terlepas dari kebimbangan dan kesedihan yang mengeruhkan kebeningan kehidupannya dan mematahkan kenikmatannya. (QS. serta akan merasakan kebahagiaan dan merasa dekat dengan Allah Azza Wa Jalla.

sebagai balasan atas kesabaran dan harapan pahala dari Allah subhanahu wata‟ala atas bencana-bencana yang menimpanya itu baik berupa kebimbangan duniawi dan segala bentuk musibahnya. Kedua: Kegembiraan seorang muslim karena apa yang diperolehnya berupa pahala yang agung. (QS. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Qotadah bahwa jenazah seseorang melewati Nabi Muhammad shalallahu „alaihi wasallam lalu bersabda: Tenang dan orang lain tenang darinya”. jika dia seseorang gembira di dunia dalam waktu yang pendek maka dia juga membuat seseorang. kesenangan yang ada padanya sangatlah sedikit. kecemasan maka seorang yang beriman akan merasa tenang setelah meninggalkannya. Akhirnya seorang muslim menyadari bahwa apapun musibah yang menimpanya. penyakit yang akut. Dunia juga sebagai ladang kelelahan. kebimbangan. Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran). Maka hari-hari bergilir satu hari untuk kemenangan dan di hari yang lain penderitaan. Bahkan salah seorang di antara mereka senang jika ditimpa musibah sebagaimana kesenangan mereka hidup dalam suasana sentosa. kebingungan.Ini adalah janji Allah subhanahu wata‟ala kepada orang yang beriman dan beramal shaleh bahwa Dia akan menganugarahkan kepada mereka kehidupan yang baik. Ketiga: Mengetahui hakekat dunia. . jika seseorang tertawa di dunia dalam sesaat. kecuali Allah akan menghapuskan dengannnya kesalahan-kesalahannya”. Seorang ulama salaf berkata: Seandainya bukan karena musibah maka kita akan datang pada hari kiamat sebagai orang yang merugi. bahwa dia fana. Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim dari Abi Hurairah RA bahwa Nabi Muhammad shalallahu „alaihi wasallam bersabda: Apa apa yang menimpa seorang muslim baik keletihan. upah yang besar. baik kebimbangan dan kecemasan pada hakekatnya hal itu sebagai penghapus bagi kesalahankesalahannya dan tabungan bagi kebaikannya. gangguan. kelezatannya bisa mendatangkan kekeruhan. dan hal itu tidak terjadi kecuali bagi orang yang beriman. gangguan. banyak bersedih. maka orang itu menangis di dunia dalam waktu yang panjang. tidak pernah menjanjikan kecerahan bagi siapapun. Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Hurairah RA bahwa Nabi Muhammad shalallahu „alaihi wasallam bersabda: Dunia ini adalah penjara bagi orang yang beriman dan surga bagi orang kafir”. kebingungan bahkan duri yang menusuknya. Allah subhanahu wata‟ala berfirman: Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu. di dalam riwayat yang lain disebutkan: Bahkan kecemasan kecuali Allah subhanahu wata‟ala akan menghapuskan dengannya segala keburukan-keburukannya”. sesungguhnya segala perkara orang yang beriman itu baik. kesedihan. di dalam riwayat yang lain disebutkan oleh Imam Muslim: Apapun yang menimpa seorang muslim baik duri atau yang lebih kecil darinya kecuali Allah akan mengangkat derajatnya dengan musibah tersebut atau dia akan dihapuskan kesalahannya”. dan apabila mendapat musibah dia bersabar dan itu lebih baik baginya”. jika dia mendapatkan kebaikan maka dia bersyukur maka itu adalah lebih baik baginya.. Ali Imron: 140). Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Shuhaib RA berkata: Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam bersabda: Sungguh menakjubkan perkara seorang yang beriman.

Maka beliau bersabda: Seorang hamba yang beriman akan tenang terlepas dari keletihan duniawi dan gangguannya menuju rahmat Allah sementara hamba yang bejat akan membuat manusia. Keempat: Kebimbangan dan kecemasan yang terjadi dunia ini akan membuat jiwa ini tercerai berai. (QS. pohon dan hewan akan tenang dengan kepergiannya”. Inilah makna tentang hakekat dunia yang disadari oleh orang yang beriman maka dengan kesadaran ini segala musibah dan kebimbangan akan menjadi enteng. dan barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai orientasinya maka Allah akan menjadikan kefakiran di hadapannya dan mencerai beraikan kekuatannya dan dunia tidak datang kepadanya kecuali apa yang telah ditetapkan baginya”. Al-Baqarah: 186). Dan Nabi Muhammad shalallahu „alaihi wasallam meminta perlindungan kepada Allah subhanahu wata‟ala dari segala kebimbangan dan kesedihan. Thaha: 25). namun jika seseorang menjadikan orientasinya mengarah kepada akherat maka Allah subhanahu wata‟ala akan mengumpulkan kekuatannya dan tekadnya akan dimantapkan. negeri. Allh subhanahu wata‟ala berfirman: Berkata Musa: “Ya Tuhanku. Kelima: Berdo‟a. Langkah ini adalah penawar yang paling ampuh dalam menghilangkan kebimbangan dan kebingungan. memporak-porandakan kekuatannya. lemah dan malas. sebab dia menyadari bahwa itulah hakekat dunia. (QS. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada -Ku. oleh karena itu. bahwasanya Aku adalah dekat.” Diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam kitab sunannya dari hadits riwayat Abdurrahman bin Abi Bakroh bahwa Nabi Muhammad shalallahu „alaihi wasallam bersabda: Do‟a orang yang kesusahan adalah. Diriwayatkan oleh Al-Buhkari di dalam kitab shahihnya dari Anas bin Malik berkata : Aku menjadi pembantu Nabi Muhammad shalallahu „alaihi wasallam di dalam rumah tangganya dan apabila beliau memasuki rumah keluarganya maka beliau bersabda: “Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepada -Mu dari (hal yang) menyedihkan dan menyusahkan. Diriwayatkan oleh Al-Turmudzi di dalam kitab sunannya dari Anas bin Malik bahwa Nabi Muhammad shalallahu „alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa yang menjadikan negeri akherat sebagai orientasinya maka Allah akan menjadikan kekayaan di dalam hatinya dan Dia akan mengumpulkan segala kekuatannya sementara dunia ini akan datang mengejarnya dengan penuh ketundukan. bakhil dan penakut. lilitan hutang dan penindasan orang. maka (jawablah). Allah subhanahu wata‟ala berfirman: Dan apabila hamba-hamba -Ku bertanya kepadamu tentang Aku. jangan Engkau biarkan .Para shahabat bertanya: Wahai Rasulullah apa yang anda maksudkan dengan kata tenang dan orang lain tenang darinya?. lapangkanlah untukku dadaku. “Ya Allah! Aku mengharapkan (mendapat) rahmat -Mu.

dan semua langkah ini akan bertumpu pada membaca Al-Qur‟an yang dibarengi dengan perenungan.”. Al-Ra‟du: 28). niat yang benar dan dibarengi dengan usaha-usaha yang menyebabkan do‟a tersebut diterima maka Allah pasti memberikan apa-apa yang dimintanya dan dia berbuat untuk mewujudkan keinginannya serta kecemasan akan berbuah kesenangan dan kegembiraan. QS. mengharap pada karunia -Nya. kelapangan dan kegembiraan yang tidak bisa terlukiskan….net/joomla-license/67-penawar-hati-katakanlah-al-quran-itu-adalah-petunjuk-danpenawar-bagi-orang-orang-yang-beriman-qs-fushilat-44. obat bagi segala macam penyakit baik penyakit badan atau hati. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. berserah diri kepada -Nya.diriku sekejap mata (tanpa pertolongan atau rahmat dari -Mu). Keenam: Bertawakkal kepada Allah subhanahu wata‟ala. dengannya pula segala serpihan-serpihan kebimbangan dan kebingungan akan terusir. dia adalah pelipur hati. Syekh Abdurrahman As-Sa‟di berkata: Maka pada saat hati ini bergantung kepada Allah subhanahu wata‟ala. penghapus kesedihan. Fushilat: 44). maka dia akan percaya kepada Allah. Perbaikilah seluruh urusanku. Langakah-langkah untuk menggapai kebahgiaan itu ternyata sangat banyak bagi mereka yang menyadarinya. semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad dan kepada keluarga. shahabat serta seluruh pengikut beliau http://khutbahbank. Allah subhanahu wata‟ala berfirman: Dan Kami turunkan dari Al Qur‟an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman”. dan aku hanya menyebutkan beberapa langkah yang penting saja. Hati akan merasakan kekuatan. Ingatlah. tidak menyerah pada kecemasan. Al-Isro‟: 82) Maka barangsiapa yang membaca Al-Qur‟an ini dengan penuh perenungan dan meresapi maknanya maka segala kecemasan dan kebimbangan akan hilang dari dirinya. Allah subhanahu wata‟ala berfirman: (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. (QS. cahaya bagi dada. serta akan terbebas dari banyak jenis penyakit hati dan jasad. Allah subhanahu wata‟ala berfirman: Katakanlah: “Al Qur‟an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman”. tidak pula dikendalikan oleh hayalan-hayalan yang buruk. Dia berfirman: Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. penghilang segala kebimbangan dan kebingungan. Al-Thalaq: 3) Artinya mencukupkan keperluannya baik dari perkara dunia atau akherat. (QS.html .” Apabila seorang hamba mendengungkan do‟a ini dengan hati yang sadar. (QS. hanya dengan mengingat Allah -lah hati menjadi tenteram.

Keadaan ini menunjukkan bahwa kondisi otak sedang berada . dan bermimpi. Kecemasan yang sering dihadapi oleh peserta didik di usia sekolah menengah pada saat menghadapi ujian semester. terapi membaca Al-Quran ini bisa dilaksanakan secara mandiri oleh peserta didik usia sekolah menengah. Dan jika seseorang meninggalkan id maka orang tersebut tidak lagi hidup. misalnya otot seorang binaraga yang tidak pernah dilatih (Taufiq Pasiak. Itu justru memicu keingintahuan yang mendalam. Ketika seseorang dilanda setres atau frustasi dan tidak dapat berpikir jernih. Keadaan teta adalah kondisi ketika pikiran atau otak bekerja secara baik.13 Hz. berati ia dalam keadaan teta. Ketika seorang bermeditasi atau bertafakur. dan mengalami keteganggang otot yang amat sangat.5 Hz. Kreativitas adalah sebuah hasil latihan. Akan tetapi positifnya. ini merupakan salah satu kunci kesuksesan Thomas Alfa Edison. Ini adalah proses belajar yang dialami Thomas Alfa Edison. otak bekerja sedemikian rupa malalui gerakan-gerakan sel saraf dan melepas muatan sehingga di dalam otak ada gelombang listrik.5-3. Maka untuk mengurangi kecemasan tersebut anak didik harus belajar dan dibutuhkan terapi membaca Al-Quran secara rutin. kisaran 7 atau 8.999999999 PENGARUH BELAJAR DAN TERAPI MEMBACA AL QUR’AN SECARA RUTIN TERHADAP HILANGNYA RASA CEMAS PADA ANAK DIDIK SAAT MENGHADAPI UJIAN AKADEMIK. Tidak gampang menyerah. PENGARUH BELAJAR DAN TERAPI MEMBACA AL QUR’AN SECARA RUTIN TERHADAP HILANGNYA RASA CEMAS PADA ANAK DIDIK SAAT MENGHADAPI UJIAN AKADEMIK. Untuk mengingat dengan baik. otak harus berada dalam keadaan alfa. Pertama teori psikoanalisis yang berpendapat bahwa sumber kecemasan adalah konflik yang tidak disadari antara ego (alam sadar) dan impuls-impuls id (alam bawah sadar). Ada empat jenis gelombang otak yang merekam aktivitas manusia sepanjang waktu. Suatu upaya terus menerus tak kenal lelah. jernih. mudah tersinggung. Tahap iluminasi dari proses kreatif menunjukkan gelombang alfa pada otak. Ketika seseorang tidur dan bermimpi. Latar belakang Setiap orang pasti pernah mengalami kecemasan. Kreativitas yang tidak dilatih akan lumpuh. teori tentang kognitif-Behavioral. 1. 2002: 166). atau bahkan membaca Al-Qur’an. sekolah. berdzikir. Ciri-ciri orang yang mengalami gangguan kecamasan antara lain kesulitan untuk berkonsentrasi. Dia tidak gampang putus asa dengan ribuan kasus kegagalannya. dan nasional. Ada beberapa teori dalam psikologi yang menjelaskan tentang sebab-sebab kecemasan. Dimana rasa cemas itu disebabkan oleh proses-proses berpikir yang menyimpang. karena tidak ada cara untuk menghindari kecemasan. Ketika seseorang tidur dan tidak bermimpi itu artinya ia tidak melakukan apa-apa. sangat mudah lelah. dan “bening”. keadaan ini adalah kondisi yang prima untuk penyembuhan penyakit. Kedua. Keadaan tidur ini disebut keadaan delta yang memiliki frekuensi 0. ketidaksabaran. tidur.

maupun nasional. 3. Serta program ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi orang tua dan guru agar mengarahkan anak didiknya untuk membaca Al-Quran. Sasaran program Sasaran dari program ini adalah anak didik di sekolah menengah. sekolah. Tapi dilihat dari fenomena yang ada banyak peserta didik dan guru yang melakukan doa bersama sehari sebelum ujian dan berkeyakinan dapat membuat mereka lulus dalam ujian. Tujuan Program Program ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh membaca Al-Quran dan belajar secara rutin terhadap hilangnya rasa cemas pada anak didik saat menghadapi ujian semester. Metode dan Cara Penyampaian Metode pengumpulan data ini dilakukan dengan mengumpulkan data yang berhubungan dengan manfaat belajar dan membaca Al-Qur’an.dalam kondisi beta. Namun seharusnya hal ini dilakukan secara rutin. Selain itu. Cara penyampaiannya dengan melakukan sosialisasi di sekolah dan masyarakat tentang pentingnya belajar dan membaca Al-Qur’an secara rutin. Hambatan yang kemungkinan dialami . 5. Otak dalam kondisi ini adalah otak analitis (Taufiq Pasiak. metode yang digunakan adalah observasi partisipan. Dimana observer juga melakukan belajar dan terapi membaca Al-Qur’an secara rutin dan mandiri. 6. Gelombang ini berkisar di atas 13 Hz yang menunjukkan kinerja logis otak. Manfaat program Perancang program berharap program ini bisa menambah wawasan mengenai manfaat membaca AlQuran secara rutin sebagi obat penghilang rasa cemas disertai dengan belajar rutin bagi setiap anak didik di sekolah menengah. 2. Banyak juga peserta didik yang melakukan belajar dengan sistem kebut semalam. 2002). 4.

2. YUNUS BENGKULU TAHUN 2010 BAB I . 8. 3.blogspot. Anak didik lebih percaya diri dengan kemampuannya tanpa mengandalkan contekan dari teman dan bocoran jawaban soal ujian. 24 Mei 2011 HUBUNGAN PENDIDIKAN DAN PERAN PERAWAT DENGAN TINGKAT KECEMASAN PADA PASIEN PRE OPERASI DI RUANG SERUNI RSUD. baik muslim maupun non muslim karena intonasi dan bacaan Al-Quran itu dapat menghilangkan gelombang beta pada otak. dimana gelombang beta tersebut dapat menyebabkan pikiran tidak bisa fokus dan sulit berkonsentrasi serta tidak dapat berpikir jernih. Anak usia sekolah dibatasi waktu untuk menonton televisi dan bermain agar anak menjadi disiplin. Guru hanya menekankan segi kognitif dari pada psikis anak didiknya. baik dari segi mentalitas maupun kognitif. 7. M. Orang tua memberikan tanggung jawab kepada anak untuk megatur waktu belajar mengajinya sendiri.1. 4. Selain itu juga orang tua tidak lupa untuk mengontrolnya. 2. Solusi 1. 4. 3. Hasil Pembuat program berharap dengan dilaksanakannya program ini dapat terlahir: 1.html Selasa. 4. http://arifindikromo. Remaja Indonesia yang tidak mudah terpengaruh oleh arus globalisasi dan tidak latah dengan fenomena yang dipropogandakan oleh media masa. maupun nasional. Guru tidak hanya mementingkan segi kognitif anak saja tetapi juga harus memikirkan segi psikis anak.com/2011/05/pengaruh-belajar-dan-terapi-membaca-al. misalnya anak diwajibkan mengikuti ekstrakulikuler sesuai dengan bakat dan minat anak. Guru dan orang tua yang peduli terhadap kemajuan anak. Tidak semua anak didik usia sekolah menengah beragama islam. baik melalui sms maupun dari oknum. Orang tua tidak peduli terhadap waktu belajar dan mengaji untuk anak usia sekolah menengah. sekolah. Anak didik menjadi lebih tenang saat menghadapi ujian semester. Waktu menonton televisi dan bermain yang berlebihan bagi anak usia sekolah menengah. 3. 2. 5. Anak didik diajari dan disuruh untuk membaca Al-Quran. Anak didik yang disiplin.

Kecemasan merupakan perasaan yang paling umum di alami oleh pasien yang dirawat dirumah sakit.al (2007) tentang tingkat kecemasan pre operasi bahwa dari 40 orang responden dalam tingkat kecemasan berat sebanyak 7 orang (17. . 2003). Dari.5%) dalam kategori ringan dan responden yang tidak merasa cemas sebanyak 2 orang (5%). Pembedahan merupakan tindakan pengobatan yang banyak menimbulkan kecemasan. Sebagian besar pasien beranggapan bahwa operasi merupakan pengalaman yang menakutkan. sebuah institusi dan sebuah organisasi yang fungsi utamanya adalah memberikan pelayanan kepada pasien diagnostik dan terapeutik untuk berbagai penyakit dan masalah kesehatan. kecemasan yang sering terjadi adalah apabila pasien yang dirawat di rumah sakit harus mengalami proses pembedahan.5%). 2007). gambaran diri. 2002). 15 orang (37. Soeharso tahun 2008 dari 3827 pasien yang mengalami pembedahan sekitar (2%) mengalami kecemasan (Makmur. Kecemasan yang terjadi dapat berpengaruh terhadap peningkatan tekanan darah (RSUD Sragen.1%) mengalami kondisi kejiwaan dan 2. Latar Belakang Rumah sakit adalah sebuah fasilitas. untuk itu pasien yang akan menjalani operasi harus diberi pendidikan kesehatan untuk menurunkan atau mengurangi gejala kecemasan (Carbonel. 8. dan identitas diri (Tjandra. Penelitian yang dilakukan oleh makmur et. didapatkan bahwa 10% dari pasien yang akan menjalani pembedahan. terjadi penundaan proses operasi karena peningkatan kecemasan. Kecemasan terjadi ketika seseorang merasa terancam baik fisik maupun psikologisnya misalnya harga diri. R. Pelayanan yang ada di Rumah Sakit adalah pelayanan pengobatan baik yang bersifat bedah maupun non bedah. Bila kecemasan pada pasien pre operasi tidak segera diatasi maka dapat mengganggu proses penyembuhan. Hasil penelitian di Rumah Sakit Ortopedi Prof Dr. Berdasarkan data WHO (2007).539 pasien bedah dirawat di unit perawatan intensif antara 1 oktober 2003 dan 30 september 2006. 16 orang (40%) yang memilki tingkat kecemasan dalam kategori sedang. Pembahasan tentang reaksi – reaksi pasien terhadap pembedahan sebagian besar berfokus pada persiapan pembedahan dan proses penyembuhan (Dewi wijayanti. Berdasarkan data dari RSUD Sragen Wijaya Kusuma.PENDAHULUAN 1. Amerika Serikat menganalisis data dari 35. Reaksi cemas ini akan berlanjut bila pasien tidak pernah atau kurang mendapat informasi yang berhubungan dengan penyakit dan tindakan yang dilakukan terhadap dirinya. Setiap pasien pernah mengalami periode cemas.922 pasien (25.473 pasien (7%) mengalami kecemasan. 2007). Kecemasan merupakan gejala klinis yang terlihat pada pasien dengan penatalaksanaan medis. 2006). apalagi yang akan menjalani operasi.

termasuk dalam pemberian pendidikan kesehatan. psikologis. 1999). Sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap perubahan-perubahan hidup sehat (Notoatmojo. sehingga tindakan anestesi atau pembedahan ditunda. mempunyai kewajiban membantu pasien mempersiapkan fisik dan mental untuk menghadapi operasi. Perawat harus mau mendengarkan semua keluhan pribadi pasien (Widodo. 2002 ). 2002). Termasuk salah satunya dalam mengendalikan kebutuhan emosi diri pasien terutama pasien pre operasi dan post operasi. Peran perawat dalam upaya penyembuhan klien menjadi sangat penting. Salah satu cara melakukan hal ini ialah dengan mencurahkan perhatian sampai kepada hal yang sekecil-kecilnya dalam merawat pasien. 2006). . Makin tinggi pendidikan seseorang. Pasien yang akan menjalani operasi besar dianjurkan untuk minimal masuk rumah sakit 12 jam sebelum pre operasi dilaksanakan dan operasi kecil 6 jam sebelum dilaksanakan. Berdasarkan hasil pengumpulan data di RSUD M. Peran perawat sangat penting untuk memberikan suport atau dukungan dan penyuluhan terhadap penurunan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi ( Kuntjoro. Yunus Bengkulu. Tujuan agar persiapan yang dilakukan dapat sebaik mungkin (RSUD M. anak ataupun keluarga yang lain.Kecemasan pre operasi dapat dipengaruhi dari beberapa faktor antara lain adalah faktor biologis yang terjadi akibat dari reaksi saraf otonom yang berlebihan dengan naiknya system tonus saraf simpatis. suami. Peran perawat sangat penting dalam penanggulangan kecemasan dan berupaya agar pasien tidak merasa cemas melalui asuhan keperawatan komprehensif secara biologis. Sikap dan tingkah laku perawat membantu menumbuhkan rasa kepercayaan pasien. maka memerlukan keterampilan komunikasi yang baik. Pendidikan dapat mempengaruhi seorang termasuk juga prilaku seseorang akan kepatuhannya.Yunus Bengkulu. 1998). dan spiritual. Seorang perawat dituntut bisa mengetahui kondisi dan kebutuhan pasien. (Ibrahim. sosial. pada tahun 2007 terdapat 4449 pasien yang mengalami pembedahan. terutama dalam motivasi untuk berperan serta dalam pembangunan kesehatan. dengan rincian sembuh 2259 dan 36 pasien meninggal (15%) dilakukan penundaan karena peningkatan kecemasan. 2008). Selain itu faktor pendidikan pasien juga dapat mempengaruhi kecemasan yaitu tingkat pendidikan yang rendah serta kurangnya dukungan dari perawat (Sadock dan Kaplan. yang dirawat 2154 pasien. dan faktor psikologis yang dapat terjadi akibat implusimplus bawah sadar yang masuk kealam sadar seperti tidak didampingi oleh orang tua. maka makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimilikinya. Kecemasan yang terjadi dapat berpengaruh terhadap peningkatan tekanan darah. Perawat merupakan salah satu tenaga kesehatan yang paling sering berinteraksi dengan pasien. Perawat mempunyai kontak paling lama dalam menangani persoalan pasien.

Mengetahui hubungan pendidikan dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. Yunus Bengkulu. Mengetahui tingkat Kecemasan pasien pre operasi di Ruang Seruni RSUD Dr. maka penulis tertarik untuk meneliti hubungan pendidikan pasien dan peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. nafas pendek. 3. M. M. M. Bagi Akademik . Yunus Bengkulu. Berdasarkan hasil observasi dengan teknik wawancara selama tiga hari di ruang seruni RSUD M. 2. 2. Yunus Bengkulu. Yunus Bengkulu. Yunus Bengkulu". 3. Yunus Bengkulu didapatkan data 2008 sebanyak 1033 dan data 2009 dari januari sampai tanggal Desember sebanyak 786 orang yang melakukan operasi. 4.Yunus Bengkulu. Tujuan penelitian 1. 2. 4. Mengetahui gambaran peran perawat di ruang seruni RSUD. Yunus Bengkulu. gelisah.. Sedangkan rumusan masalah penelitian ini adalah "apakah ada hubungan pendidikan pasien dan peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD M. Untuk menurunkan tingkat kecemasan pasien tersebut keluarga dan perawat harus lebih banyak memberikan dukungan salah satunya yaitu selalu berada dekat pasien. Manfaat penelitian 1. Rumusan masalah Berdasarkan uraian dalam latar belakang di atas. Yunus Bengkulu. gemetar sehingga dapat menghambat proses operasi. sering buang air kecil. Dari 5 orang yang mengalami kecemasan berat tersebut mempunyai pendidikan SMA kebawah dan kurang mendapatkan penkes dari perawat. Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan di atas. Mengetahui hubungan peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. M. M. susah tidur. masalah penelitian ini adalah masih tingginya tingkat kecemasan pasien pre operasi di RSUD M. Tujuan Khusus 1. M. M. Mengetahui gambaran tingkat pendidikan pada pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. Yunus Bengkulu. 5. Yunus Bengkulu didapatkan data bahwa dari 15 pasien yang akan melakukan operasi 5 orang yang mengalami kecemasan berat dengan ciri-ciri muka merah.Sementara dari pengumpulan data awal diruang Seruni RSUD M. memotivasi pasien untuk memberi keyakinan bahwa operasi dapat berjalan dengan lancar. Tujuan umum Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada Hubungan antara pendidikan dan peran perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi di ruang seruni RSUD.

Rinda Lesti Sentia dengan judul penelitian " Hubungan Tingkat Pendidikan dan Umur Kehamilan dengan Tingkat Kecemasan Ibu Hamil Primigravida di Rumah Bersalin YKWP Desa Kangkung Kabupaten Demak. Bagi Rumah sakit Hasil penelitaan ini diharapkan dapat memberi masukan bagi para tenaga kesehatan khususnya pada perawat di ruang seruni dan ruangan yang lain. 4. Elika dengan judul penelitian " Hubungan peran perawat dan dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD M. 3. 2. 5. BAB II TINJAUAN PUSTAKA . Adapun perbedaan antara karya tulis ini dengan karya tulis di atas adalah pada variabel. Keaslian penelitian Sebagai bahan perbandingan penelitian serupa pernah diteliti oleh : 1. Agri Maha Tirani dengan judul penelitian "Perbedaan tingkat kecemasan sebelum dan sesudah pemberian pendidikan kesehatan pada pasien pre operasi di RSUD. Bagi Masyarakat Dapat memperoleh pelayanan yang lebih baik terutama yang mengalami ketakutan.Adapun perbedaan antara karya tulis ini dengan karya tulis tersebut adalah pada variabel. Menambah wawasan dan pengetahuan bagi mahasiswa dan masyarakat mengenai tingkat kecemasan pada pasien pre operasi. 2. Dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan di bidang kesehatan.Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi literatur bagi perpustakaan. kecemasan. rancangan dan waktu penelitian. M. Yunus Bengkulu. Bagi Peneliti Lain Hasil penelitian ini dapat berguna sebagai masukan atau informasi bagi peneliti lain dalam mengembangkan penelitian dengan variabel-variabel yang lain. Yunus Bengkulu". atau depresi dalam menghadapi pembedahan. rancangan dan waktu penelitian. 3.

kecemasan dapat muncul akibat implus-implus bawah sadar (misalnya : sex. Pengertian Cemas adalah keadaan emosi individu yang berkaitan dengan perasaan yang tak pasti dan tidak berdaya. nafas sesak dan dada terasa nyeri (Ayub Sani. Faktor Biologis Kecemasan terjadi akibat dari reaksi saraf otonomi yang berlebihan dengan naiknya sistem tonus saraf simpatis. Kecemasan merupakan komponen utama bagi hampir semua gangguan kejiwaan (psychiatric disorder). . 2007). kondisi ini dialami secara subyektif (yang hanya dirasakan individu tersebut) dan dikomunikasikan dalam hubungan interpersonal (Stuard and Sundeen. Secara klinis gejala kecemasan dibagi dalam beberapa kelompok yaitu gangguan kecemasan. 2005) Jadi.1. perut terasa kosong. Sosial Kecemasan yang timbul akibat hubungan interpersonal dimana individu menerima suatu keadan yang menurutnya tidak disukai oleh orang lain yang berusaha memberikan penilaian atas opininya (Sadock dan Kaplan. 1998). Kecemasan adalah suatu keadaan dimana psikologis seseorang berada pada ketakutan dalam menghadapi masalah yang ada pada dirinya. Keadaan emosi ini tidak memiliki subyek yang spesifik. Kecemasan adalah Suatu kondisi yang menyangkut terminologi kesehatan jiwa dengan suatu kondisi was-was. Mekanisme pembelaan ego yang tidak sepenuhnya berhasil juga dapat menimbulkan kecemasan yang mengambang. Konsep Kecemasan 1. gangguan cemas menyeluruh (Generalized anxiety disorder/GAD). 3. Faktor-faktor Penyebab Kecemasan 1. gangguan panik. 1998). gangguan phobik dan gangguan obsesifkompulsif (Dadang Hawari. 2006). 2. 2. Reaksi pergeseran yang dapat mengakibatkan reaksi fobia. Kecemasan merupakan peringatan yang bersifat subyektif atas adanya bahaya yang tidak dikenali sumbernya. Psikologis Ditinjau dari aspek psikoanalisa. ancaman) yang masuk kealam sadar. Kecemasan adalah suatu keadaan yang menggoncangkan karena adanya ancaman terhadap kesehatan (Siti Sundari.

6. 3. dibandingkan dengan orang yang memiliki pendapatan tinggi. begitu juga sebaliknya jika lingkungannya kondusif mempercepat penyembuhan seseorang. Keadaan fisik Seseorang yang mengalami gangguan fisik seperti cacat badan. 2. letih. 5. sakit. Disamping itu kelelahan fisik (lemah. Selain itu faktor yang mempengaruhi tingkat kecemasan menurut Soewandi (1998) antara lain : 1. Kecemasan bisa terjadi pada individu yang tingkat pendidikannya rendah disebabkan karena kurangnya informasi yang didapat individu tersebut. dimana lingkungan yang tidak kondusif berpotensial besar terhadap kecemasan yang dialami seseorang. Tingkat pendidikan Status pendidikan yang rendah pada seseorang akan menyebabkan orang tersebut mudah mengalami kecemasan. Umur . Lingkungan Lingkungan sangat berpengaruh pada kecemasan seseorang. Ekonomi Seseorang yang memiliki pendapatan rendah lebih mudah mengalami kecemasan. operasi. Sosial budaya Individu yang tidak bersosialisasi dengan masyarakat lebih mudah mengalami kecemasan. penyakit.3. sehingga individu harus melakukan penyesuaian diri (adaptasi). 7. lebih mudah mengalami kecemasan. lesu) lebih mudah megalami kecemasan. Potensi stressor Suatu keadaan yang menyebabkan perubahan dalam individu. 4.

sering buang air besar atau kecil. gangguan kulit. menyebutkan gejala klinis dari cemas antara lain : Cemas. biasanya kecemasan sering dialami oleh usia muda. Ansietas dapat memotivasi belajar dan menghasilkan pertumbuhan. berdebar-debar. takut pada keramaian. 2. Orang tersebut banyak pengarahan untuk dapat memusatkan pada suatu area lain. tidak tenang. Gangguan pola tidur. 2. gangguan muskulo skeletal. kebingungan. mudah terkejut.hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada dan meningkatkan lahan persepsinya. sesak nafas. berkeringat. mengetuk jari-jari. sulit tidur. Takut sendiri. Gejala-gejala tersebut antara lain: Iritabilitas. energi menurun. khawatir. Tingkat kecemasan 1. Ansietas Ringan (Tingkat I) 1. hiperaktifitas. .Umur ikut menentukan kecemasan. gagap. berhenti berbicara dan terjadi perubahan suara. muntah-muntah. Merasa tegang. Ansietas Berat (Tingkat III) Sangat mengurangi lahan persepsi seseorang. 1994). 4. sakit kepala dan lain sebagainya. 3. 4. 8. takut akan fikirannya sendiri. Gejala – gejala Kecemasan Keadaan cemas mempunyai gejala-gejala somatik atau fisik dan gejala psikologis atau mental. nyeri pada gastro intestinal. nadi cepat. Berhubungan dengan ketegangan yang dialami dalam kehidupan sehari. mimpi yang menegangkan Gangguan konsentrasi dan daya ingat Keluhan somatik misalnya rasa sakit pada otot tulang. mudah tersinggung. Seseorang cenderung untuk memusatkan pada sesuatu yang terinci dan spesifik dan tidak berfikir tentang hal lain. Ansietas Sedang (Tingkat II) Memungkinkan seseorang untuk memusatkan pada hal yang penting dan mengesampingkan yang lain. 5. sehingga seseorang mengalami perhatian yang selektif namun dapat melakukan sesuatu yang lebih terarah. dibandingkan dengan pria. 3. gangguan perkemihan. Jenis kelamin Kecemasan lebih banyak dialami wanita. firasat buruk. gangguan pencernaan. Menurut Dadang Hawari (2006). pendengaran berdenging (tinnitus). mulut kering. gelisah. Reaksi fisik terhadap kecemasan pada masingmasing individu berbeda (Setyonegoro. 6. Semua perilaku ditujukan untuk mengurangi ketegangan. 5. hiperventilasi. dan banyak orang.

Dialog Eksternal Dengan dialog eksternal kebutuhan pasien untuk berbicara cara akurat tentang dirinya dengan orang lain. Ansietas terhadap sistem diri seseorang dapat membahayakan identitas. Teknik Mengatasi ansietas Teknik kognitif dapat membantu pasien ansietas dan tidak tergantung pada wawasan atau pemahaman yang kompleks dari kondisi psikologi diri sendiri. Sterssor dapat di kelompokkan dalam dua kategori. Tingkat Panik Berhubungan dengan terperangah. yaitu: 1. Kemampuan untuk mengatasi 4. Stressor Pencetus Stressor pencetus berasal dari sumber internal atau eksternal. 3. Khayalan Mental dan Relaksasi Mendorong pasien untuk mengkhayalkan tempat yang indah atau menjadi bagian dari pengalaman yang menyenangkan sehingga dapat membantu pasien menurunkan ketegangan (Abraham dkk. Ansietas terhadap integritas seorang meliputi ketidakmampuan fisiologis yang akan datang atau menurunnya kapasitas untuk melakukan aktivitas sehari-hari. 1997). ketakutan dan terror-terror. Orang yang mengalami panik tidak mampu melakukan sesuatu walaupun dengan pengarahan. Hal ini menurunkan rasa ketidak berdayaan dan ansietas mereka. Optimisme 5. menurunnya kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain. . 6.4. 7. Panik melibatkan disorganisasi kepribadian. harga diri dan fungsi sosial (Brunner dan suddarth. dengan panik terjadi peningkatan aktivitas motorik. 1997). Percaya diri 2. 1. 1997). Perincian terpecah dari proporsinya karena mengalami kehilangan kendali. persepsi yang menyimpang dan kehilangan pemikiran yang rasional tingkat ansietas ini tidak sejalan dengan kehidupan dan jika berlangsung terus dalam waktu yang lama dapat terjadi kelelahan yang sangat bahkan kematian (Hudak dan Gallo. Harapan 2. 2. Dialog Internal Membantu pasien mengembangkan pesan dialog sendiri yang meningkatkan : 1. Perasaan pengendalian 3.

takut terhadap nyeri atau kematian. melakukan kegiatan fisik. Perawatan pre operasi merupakan bagian dari perawat perioperatif yang di mulai dari kapan di putuskan tindakan operasi dibuat dan diakhiri dengan pemindahan klien ke meja ruang operasi. Pembedahan Minor (pembedahan resiko kecil ) 4. takut tentang ketidaktahuan. menyiapkan klien untuk diberikan anestesi dan pembedahan bagaimanapun kegiatan perawatan dibatasi oleh pengkajian pre operasi dalam ruangan atau selama operasi. 2. interview preoperatif. 2006). 9. Jenis-jenis operasi Menurut derajat kepentingan Perry dan potter (2006). Pre Operasi 1. takut tentang deformitas dan ancaman lain terhadap citra tubuh dapat menyebabkan ketidaktenangan atau ansietas (Brunner dan Suddarth. Dimana mekanisme koping setiap orang berbeda-beda. tidur. Pengertian Pasien Pre operasi dapat mengalami berbagai ketakutan. Mekanisme Koping Mekanisme koping adalah suatu bentuk pertahanan yang di gunakan oleh seseorang yang sedang berada pada suatu bentuk kecemasan untuk menghindar atau mengurangi respon yang ditimbulkan oleh kecemasan tersebut.8. Tipe . Pembedahan Mayor (pembedahan resiko tinggi ) 2. Takut terhadap anestesi. Lingkup kegiatan perawatan pre operasi termasuk dalam menetapkan batas pengkajian klien setting secara klinis atau dalam ruangan. merokok dan minum-minum (Brunner dan Suddarth. Alat ukur kecemasan untuk mengetahui sejauh mana derajat kecemasan apakah ringan atau berat dengan menggunakan alat ukur (instrument) yang dikenal denga nama Hamilton Rating Scale or Anxiaty (HRS-A) dengan skor ringan jika ≤ 28 dan berat jika ≥ 28. tertawa. Tujuan Prosedur pembedahan Sebagai salah satu bentuk pengobatan dan penatalaksanaan berbagai macam penyakit untuk mempercepat proses penyembuhan (Perry Potter. 1997). 10. 3. di kelompokkan menjadi dua bagian yaitu : 1. 1997).tipe tingkah laku seperti mennangis. Kecemasan pada pasien pre operasi .

11. 1997). Salah satu caranya yaitu dengan penyuluhan pada keluarga maupun pasien supaya mereka mengerti apa yang akan terjadi. Penyuluhan tersebut harus melebihi deskripsi tentang berbagai langkah prosedur dan harus mencakup tentang sensasi yang akan di alami. obat-obatan dan perawatan tindakan. (Diknas. Pengkajian psikologi pada pasien atau keluarga harus di lakukan supaya hal tersebut tidak menghambat rencana operasi. Persiapan psikologis pasien pre operasi Pasien yang akan di operasi biasanya akan mengalami kegelisahan dan rasa takut.Kecemasan pada pasien pre operasi adalah kecemasan yang di akibatkan sterssor tindakan operasi. pengendalian diri. Khawatir meninggal di meja operasi dan meninggalkan anakanak ditinggalkan seandainya ia meninggal saat atau setelah operasi. Pasien biasanya tidak mau bicara dan memperhatikan keadaan sekitarnya. memberitahu pasien hanya medikasi pre operasi yang akan membuatnya rileks sebelum operasi tidaklah selektif bila menyebutkan juga bahwa medikasi tersebut dapat mengakibatkan kepala terasa melayang dan mengantuk. Mengetahui apa yang di perkirakan akan membantu pasien mengantisipasi reaksi-reaksi tersebut dan dengan demikian mencapai tingkat relaksasi yang lebih tinggi daripada yang di perkirakan sebaliknya (Brunner dan suddarth. kurangnya dukungan keluarga terhadap pasien pre operasi. tapi kadang-kadang dapat terlihat dalam bentuk lain. Perasaan gelisah dan takut kadang-kadang tidak tampak jelas. 1997). Pendidikan 1. tetapi berusaha mengalihkan perhatiannya kepada buku atau sebaliknya ia bergerak terus-menerus dan tidak mau tidur (Kaplan. stressor tersebut merupakan faktor timbulnya kecemasan yang mengakibatkan terancamnya integritas seseorang meliputi ketidakmampuan fisiologis atau menurunkan kapasitas untuk melakukan hidup sehari-hari (Brunner dan suddarth. Sebagai contoh. Pengertian Pendidikan adalah suatu usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. 1994). Pasien yang gelisah dan takut biasanya sering bertanya berulang-ulang walaupun pertanyaan tersebut telah dijawab. Pendidikan merupakan usaha agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses . Manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya. kepribadian. perawatan menjelang operasi yang dianggap sebagai hal baru. 5. 2003). masyarakat. kecerdasan akhlak mulia. bangsa dan negara.

4. menengah. Karena pendidikan non-formal pada umumnya dilaksanakan tidak dalam lingkungan fisik sekolah maka sasaran pokok adalah anggota-anggota masyarakat. 1. politeknik. 3. Sedangkan menurut Diknas (2003). seperti pada pendidikan formal di sekolah. Pendidikan Tinggi: satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi yang dapat berbentuk akademik. Untuk itu. 5. Pendidikan Dasar : warga Negara yang berumur 6 atau 7 tahun berkewajiban mengikuti pendidikan dasar atau sederajat selama 9 tahun yaitu SD dan SLTP. akan tetapi juga bagi tujuan terakhir pembangunan seperti kualitas keluarga dan kehidupan masyarakat. dan S2.pembelajaran atau cara lain yang dikenal dan diakui oleh masyarakat. Pendidikan Menengah : pendidikan menengah yang lamanya 3 tahun sesudah pendidikan dasar. Jenjang Pendidikan Menurut Diknas (2003). sekolah tinggi dan universitas yang termasuk perguruan tinggi D1. dengan sadar dilakukan. dan kemampuan yang dikembangkan menjadi: 2. pendidikan formal yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar. tujuan yang akan dicapai. tapi tidak terlalu ketat mengikuti peraturan-peraturan yang tepat. Pendidikan Non-Formal : Pendidikan non-Formal adalah pendidikan yang dilakukan secara teratur. Pendidikan formal : Pendidikan formal merupakan usaha-usaha dalam pendidikan dasar dapat memberikan sumbangan dalam jangka panjang. UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia menyelenggarakan Tahun 1945 Pasal 31 ayat (1) menyebutkan bahwa setiap warga Negara berhak mendapat pendidikan. menyatakan bahwa jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik. 2. Menurut Ahmadi. bukan saja bagi produktivitas. Diknas (2003). dan tinggi. . D4. D2. D3. (1997) janis pendidikan terbagi atas 3 yaitu : 1. seluruh komponen bangsa wajib mencerdaskan kehidupan bangsa yang merupakan salah satu tujuan negara indonesia. dan ayat (3) menegaskan bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan Undang-Undang. S1. menyatakan pendidikan non-formal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. serta memperkuat kemasyarakatan. diselenggarakan di SLTA atau sederajat.

P < 0. sejak seorang lahir sampai akhir hidupnya. Hubungan pendidikan dengan kecemasan Pendidikan merupakan salah satu faktor sosial dari kecemasan pada pasien pre operasi. 13. terutama dalam motivasi untuk berperan serta dalam pembangunan kesehatan. Sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap perubahan-perubahan hidup sehat (Notoatmojo. Diknas (2003). di dalam lingkungan keluarga. Pendidikan dapat mempengaruhi seorang termasuk juga prilaku seseorang akan kepatuhannya. Setiap perawat yang menjelaskan pengetahuan tentang kesehatan pasien tidak mengerti. (2009).05 menunjukkan bahwa hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara pendidikan pasien dengan tingkat kecemasan. (Kozier Barbara. . masyarakat atau dalam lingkungan pekerjaan sehari-hari. sehingga tenaga kesehatan disana perlu melakukan konseling kepada ibu hamil primigravida sebagai upaya mengantisipasi terjadinya komplikasi dan kecemasan. Pada pasien yang pendidikannya hanya sebatas pendidikan dasar atau tidak pernah sekolah sangat susah dalam pemberian informasi. 1995:21). menyatakan bahwa pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan. 12.3. Berdasarkan penelitian yang lakukan di Kabupaten Demak menghasilkan informasi bahwa pendidikan masyarakat disana masih relatif rendah. Definisi Peran adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap seseorang sesuai kedudukannya dalam suatu system. Pendidikan informal : Pendidikan informal yakni pendidikan yang diperoleh seorang berdasarkan pengalaman dalam hidup sehari-hari dengan sadar atau tidak sadar. 2002). Makin tinggi pendidikan seseorang. Peran dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari dalam maupun dari luar dan bersifat stabil. Peran adalah bentuk dari perilaku yang diharapkan dari seesorang pada situasisosial tertentu. Hasil penelitian Lesti. Peran Perawat 1. maka makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pngetahuan yang dimilikinya.

Tugas utama dari penelitian keperawatan adalah untuk memberikan konstribusi pada dasar ilmiah praktik keperawatan. 2. Peran kepemimpinan dari perawat mencakup tindakan-tindakan yang dilaksanakan oleh perawat saat ini ia mengemban tanggung jawab untuk mempengaruhi tindakan orang lain yang ditujukan untuk menentukan dan mencapai tujuan. Peran ini dirancang untuk memenuhi perawatan kesehatan saat ini dan kebutuhan keperawatan dari konsumen yang merupakan penerima pelayanan keperawatan.Peran Perawat (Ali Zaidin.Definisi kepemimpinan keperawatan yang dirumuskan oleh memberi cakupan yang luas pada konsep tersebut dan mengidentifikasi kepemimpinan sebagai peran yang melekat didalam semua posisi keperawatan. Melalui upaya penelitian . perawat ilmuwan dan mahasiswa keperawatan di tingkat sarjana. 4. dan tersier dan dalam keperawatan kesehatan rumah dan komunitas. Kini. peran kepemimpinan dan peran peneliti. peran-peran ini saling berhubungan satu dengan yang lain dan dapat ditemui pada semua posisi keperawatan. (c) Pendidik dalam keperawatan. partisipasi dalam proses penelitian dianggap sebagai tanggung jawab dari perawat dalam praktik klinis. (b)Pengelola pelayanan keperawatan dan institusi Pendidikan. (d)Peneliti dan pengembang keperawatan Perawat profesional baik dalam lingkungan perawatan kesehatan institusional maupun komunitas mengemban tiga peran : peran pelaksana. yang merupakan dasar untuk semua praktik keperawatan. Peran Kepemimpinan Peran Kepemimpinan dari perawat yang secara tradisional dikerap sebagai peran spesialisasi yang diembankannya oleh perawat yang mempunyai gelar yang menunjukkan kepemimpinan dan mereka yang memimpin sekelompok besar perawat atau profesional perawatan kesehatan yang berhubungan. keluarga mereka dan orang terdekat pasien. Peran ini merupakan peran yang hanya dapat dicapai melalui proses keperawatan. Kajian dibutuhkan untuk menentukan keefektifan intervensi dan asuhan keperawatan. Peran Peneliti Peran peneliti dari perawat pada mulanya dianggap hanya dilakukan oleh para akademikus. Peran ini merupakan peran yang dominan dari perawat dalam lingkungan pelayanan kesehatan primer. Peran Pelaksana Peran pelaksana dari perawat mencakup tindakan-tindakan yang dilakukan oleh perawat ketiaka ia mengemban tanggung jawab yang ditujakan untuk memenuhi kebutuhan perawatan kesehatan dan kebutuhan keperawatan pasien secara individu. Meski tiap peran memiliki tanggung jawab khusus. sekunder. 3. 2001) meliputi : (a) Pelaksana pelayanan keperawatan.

ilmu keperawatan akan berkembang dan rasional yang didasarkan secara ilmiah untuk membuat perubahan dalam praktik keperawatan akan tercipta (Brunner dan Suddarth. 6. hak atas privasi. pasien.semacam ini. Peran Perawat menurut Para Sosiolog 5. hak atas informasi tentang penyakitnya. Sebagai koordinator Peran ini dilaksanakan dengan mengarahkan. Menurut Johnson dan Martin. merencanakan serta mengorganisasi pelayanan kesehatan dari tim kesehatan sehingga pemberi pelayanan kesehatan dapat terarah serta sesuai dengan kebutuhan klien. Sebagai pemberi asuhan keperawatan Peran ini dapat dilakukan perawat dengan memperhatikan keadaan kebutuhan dasar manusia yang dibutuhkan melalui pemberian pelayanan keperawatan. hak untuk menentukan nasibnya sendiri. 10. Pemberian asuhan keperawatan ini dilakukan dari yang sederhana sampai dengan kompleks. Sebagai edukator Peran ini dilakukan dengan membantu klien dalam meningkatkan tingkat pengetahuan kesehatan. 8. dan lain-lain) Menurut konsorsium ilmu kesehatan (1989) dalam Ali Haidin (2001) peran perawat terdiri dari : 7. yaitu kegiatan yang bersifat langsung dalam menciptakan lingkungan dimana pasien merasa aman. gejala penyakit bahkan tindakan yang diberikan sehingga terjadi perubahan perilaku dari klien setelah dilakukan pendidikan kesehatan. Expressive/mother substitute role. hak menerima ganti rugi akibat kelalaian. Perawat juga berperan dalam mempertahankan dan melindungi hak-hak pasien meliputi hak atas pelayanan sebaik-baiknya. 9. Peran terapeutik : kegiatan yang ditujukan langsung pada pencegahan dan pengobatan penyakit. 11. 2001). dirawat dan didukung oleh perawat. diterima dilindungi. Sebagai advokat klien Peran ini dilakukan perawat dalam membantu klien dan keluaga dalam menginterpretasikan berbagai informasi dari pemberi pelayanan khususnya dalam pengambilan persetujuan atas tindakan keperawatan. peran ini bertujuan untuk menghilangkan ketegangan dalam kelompok pelayanan (dokter. Sebagai kolaborator . perawat.

Peran ini dilakukan karena perawat bekerja melalui tim kesehatan yang terdiri dari dokter. 12. Seseorang tersebut ialah perawat yang mempunyai banyak peran untuk melaksanakan praktek keperawatan. kerjasama. ahli gizi dan lain-lain dengan berupaya mengidentifikasi pelayanan keperawatan yang diperlukan. kerjasama. fisioterapi. perubahan yang sistematis dan terarah sesuai dengan metode pemberian pelayanan keperawatan 13. Tujuh Fungsi Perawat Kozier Barbara. Secara unum perawat mempunyai peran terapeutik yaitu kegiatan yang ditujukan langsung pada pencegahan dan pengobatan penyakit. (3) Memantau pasien. dan memperbaiki rencana keperawatan secara terus menerus berdasarkan pada kondisi dan kemampuan pasien. Begitu pula dengan Pembedahan. (1) Melaksanakan instruksi dokter (fungsi dependen). . Karena masih kurangnya pengetahuan pasien tentang penyakit yang dideritanya. Sebagai pembaharu Perawat mengadakan perencanaan. Fungsi Perawat Fungsi adalah pekerjaan yang harus dilaksanakan sesuai dengan perannya. perubahan yang sistematis dan terarah sesuai dengan metode pemberian pelayanan keperawatan. 14. (7) Memberikan pengarahan dan penyuluhan untuk meningkatkan kesehatan fisik dan mental. (2002) yaitu. menyusun. (4) Supervisi semua pihak yang ikut terlibat dalam perawatan pasien. (6) Melaksanakan prosedur dan teknik keperawatan. (2) Observasi gejala dan respons pasien yang berhubungan dengan penyakit dan penyebabnya. (5) Mencatat dan melaporkan keadaan pasien. 15. sehingga kekambuhan sering terjadi dan bahkan bertambah parah. Sebagai konsultan Perawat berperan sebagai tempat konsultasi dengan mengadakan perencanaan. Hubungan peran perawat dengan kecemasan Orang yang sakit sangat memerlukan seseorang yang bisa mengobati penyakitnya tersebut dan orang sehat memerlukan seseorang yang bisa mengarahkan agar bisa mencegah dan terhindar dari berbagai penyakit.

05 yang mengalami kecemasan ringan sehingga dapat disimpulkan ada hubungan peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi. 2010).M. 2. dengan nilai p < 0. R. Soerharto tahun 2008. Dan hasil penelitian yang dilakukan Elika tahun 2009. Klien merasa kurang dapat mengontrol situasi mereka sendiri untuk memahami dampak pembedahan pada kesehatan emosional klien tersebut. al (2007) dan penelitian rumah Sakit Ortopedi Prof Dr.Yunus Bengkulu Tahun 2010. dimana variabel independen dan variabel dependen di kumpulkan pada saat bersamaan (Notoadmodjo. Perawat harus dapat mengkaji perasaan klien tentang pembedahan.M. Ada hubungan antara pendidikan pasien dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD.Proses pembedahan sering menimbulkan stress psikologi yang tinggi. sumber koping klien serta asuhan keperawatan yang terbaik (Perry Potter. Ada hubungan antara peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. BAB III METODE PENELITIAN 1. 16. Desain penelitian Desain penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. 2006). Bagan 3. konsep diri. citra diri. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Makmur et.Yunus Bengkulu Tahun 2010. terdapat 37.1 Desain Penelitian .5% yang mengalami kecemasan ringan. Klien merasa cemas tentang pembedahan. Hipotesa peneliti 1.

B. < 28 0=Rendah ≤ SMA Pendidikan (Independen) Pendidikan Formal yang ditempuh pasien Kuisioner Dengan cara mengisi (1 pertanyaan kuisioner ) 1= Tinggi >SMA 0= kurang Dengan cara baik jika skor ≤ 75% mengisi kuisioner Ordinal ≥ 28 Ordinal Skala Ukur Peran Perawat (Independent) Tindakan yang dilakukan oleh perawat dalam proses penyembuhan.2 Variabel Penelitian C. Definisi Operasional Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Cara ukur Hasil Ukur 0=Cemas Berat jika. Kuisioner (15 pertanyaan) Ordinal . Kuisioner Wawancara (14 komponen pertanyaan HRS-A) dan observasi 1= Tidak Berat jika. Tingkat kecemasan (Dependen) Suatu kondisi yang menyangkut kekhawatiran seseorang pada masalah yang terjadi. Variabel Penelitian Sesuai dengan desain penelitian di atas. maka Variabel Penelitian dapat digambarkan sebagai berikut : Variabel Variabel Dependen Independen Bagan 3.

786 orang. Populasi dan Sampel 1. 0.96) P = Proporsi suatu kasus yaitu proporsi kecemasan 0. Populasi dalam penelitian ini adalah kelompok pasien pre operasi yang ingin menjalankan operasi di ruang Seruni dari bulan januari sampai bulan desember tahun 2010.84. 2.825 =3.P(1-P) = (1. berdasarkan data jumlah pasien pada tahun 2009 adalah 1.175. Populasi Populasi adalah Keseluruhan dari objek penelitian yang di teliti. 0. jika skor ≥ 75% 1. 2010). 2008) Keterangan : n = Sampel Z(1-α/2) = Nilai Z pada derajat kemaknaan (α 5%=1.5% .96)².175 =17.1= baik. (Noto atmojo. Dalam penelitian ini teknik yang digunakan adalah teknik Simple Random sampling n = Z²1-α/2. 2010).0.825 = 55 responden (Aziz Alimul.175. 0. Sampel Sampel adalah objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi ( Notoatmojo.

Pengolahan Data Data yang telah diperoleh atau terkumpul diolah dan dianalisis dengan program komputer melalui beberapa tahapan. Editing .Yunus Bengkulu pada bulan Desember 2010 2. Pengumpulan data Data dalam penelitian ini berupa data primer dan sekunder. Yunus Bengkulu yang sudah diberi penjelasan tentang pengisian kuisoner. F. E. kuisioner pendidikan dan kuisioner peran perawat dengan skala selalu (SL). alamat. jumlah pasien yang melakukan operasi. Yunus Bengkulu dengan cara wawancara dan observasi dengan skala HARS. dengan penilaian tidak berat jika skor < 28 dan berat jika skor ≥ 28. yaitu : 1. D. kadang (KD). pekerjaan. Pengolahan Dan Analisa Data 1. tanggal keluar rumah sakit dan lain-lain. untuk mengukur tingkat kecemasan. umur.1. Data primer yaitu data yang didapat langsung dari responden yaitu pasien dalam perawatan pre operasi di Ruang Seruni RSUD M.D = Derajat akurasi (presisi) yang diinginkan 0. Jumlah sampel yang didapat adalah 55 responden. Tempat dan Waktu Penelitian 1. sering (SR). Tempat Penelitian Penelitian dilakukan di Ruang Seruni RSUD. Sedangkan data Sekunder adalah data yang didapatkan secara tidak langsung dari responden. tidak pernah (TP). yang nantinya akan diisi oleh responden dan dibantu oleh satu orang perawat yang bertugas di ruang Seruni RSUD M. tetapi didapat dengan metode pencarian data rumah sakit dalam bentuk Rekam Medik misalnya: nama. tanggal masuk rumah sakit. M. jarang (JR). Pengumpulan. Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan Desember sampai dengan februari 2010.

Analisa Univariat Untuk melihat gambaran distribusi frekuensi dari masing-masing variabel penelitian baik independent maupun dependent. Cleaning (Pembersihan Data) Sebelum melakukan analisa data dengan dilakukan pengecekan kembali terhadap data yang sudah masuk apakah data yang dimasukkan sudah benar dan tidak ada lagi kesalahan. Analisa Data 1. . Entry Data (Pemasukan Data) Data yang telah ada dicoding dan hasil scoring kemudian diolah kedalam komputer dengan menggunakan program SPSS For Window. G. Rumus yang digunakan. 2. yaitu : Keterangan : P F = Persentase yang ingin dicapai = Jawaban dalam setiap kategori N = Jumlah seluruh responden . Selanjutnya dilakukan transformasi data untuk menggambarkan variabel bebas dan variabel terikat. 3. Kemudian dilakukan scoring terhadap pertanyaan yang berhubungan dengan masing-masing variabel dan diteruskan dengan pengujian kebenaran data dengan menggunakan uji Chi-Square dengan signifikan α = 5 %.Editing data adalah meneliti kembali apakah isian pada kuisioner yang dilakukan responden sudah cukup dan benar sesuai dengan petunjuk yang ada. 1.. Editing dilakukan langsung pada saat responden mengembalikan kuesioner yang sudah diisi dengan harapan apabila ada kekurangan data atau kesalahan dalam pengisian dapat segera diperbaiki. Coding (Pengkodean) Jawaban-jawaban atau hasil yang ada kemudian di klasifikasikan dalam bentuk yang lebih ringkas dengan menggunakan kode-kode.

(1997). Analisa Bivariat Analisa bivariat adalah analisa yang digunakan untuk melihat hubungan antara variabel bebas (pendidikan pasien dan peran perawat) dengan variabel terikat (kecemasan pada pasien pre operasi). Dasar-dasar Keperawatan Profesional. EGC: Jakarta Carbonel (2002). (2003).(Budiarto. Z. Salemba Medika: Jakarta Brunner. Universitas Indonesia: Jakarta Ahmadi. http://www.eprints. Volume 1.A. Untuk melihat hubungan antara dua variabel kategorik maka digunakan Uji X² (Chi-Square) Ha diterima jika nilai p ≤ 0.Y.Sudarth Keperawatan Medikal Bedah.google. (Diakses tanggal 26 oktober 2010) Ali. (1997).com. Manajemen Administrasi Rumah sakit. 2001) DAFTAR PUSTAKA Aditama.id. http://etd. Metode Penelitian keperawatan dan Teknik Analisa Data.05 (Budiarto.ums. 2001) 2. Widya Medika: Jakarta Alimul A. (2008).2001. .05 Ha ditolak jika nilai p > 0. Edisi 8. Definisi Pendidikan.ac.

EGC : Jakarta Patricia. Metodologi Penelitian Kesehatan.ac.id.Volume 2.ac.Potter dkk. Salemba Medika: Jakarta Oswari E. Dr. PT Rineka Cipta: Jakarta Nursalam (2003). Yunus Bengkulu. (2005). Kozier. Medical Record. Praktek Keperawatan Profesional : Konsep dan Perspektif. (2006). dkk. Laporan Tahunan RSUD.eprints.ums. (2006). Manajemen Stress Cemas dan Depresi. Penerbit Gaya Baru: Jakarta Ibrahim (2006). (2002). EGC : Jakarta .ums. Konsep & Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. (2009).eprints. (2010). http://etd. Edisi 4: Jakarta Makmur.Hawari D. Fundamental Keperawatan.id. (2007). M. http://etd. Bedah Dan Perawatannya. Bengkulu Notoatmodjo S.

(2007). Diposkan oleh FERYN di 09:38 0 komentar: Poskan Komentar Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda Langgan: Poskan Komentar (Atom) Blog Archive  ▼ 2011 (26) o ► Desember (1)  PENDAHULUAN Pada masa kehamilan. semua zat yang di. Kesehatan Mental Dalam Kehidupan.. (1999).ums. Graha Ilmu: Yogyakarta Sundari S.eprints. PT.ac. Konsep dan Penulisan Riset Keperawatan. Buku Ajar Bedah. Was-was dan Khawatir (Ansietas). Takut mati Cemas. CV Ref Grafika: Jakarta Setiadi (2007).. o ▼ Mei (12)  Gejala Anemia Pada Ibu Hamil  EKSTRAKSI VAKUM . http://etd.Volume I.Sabiston (1995). EGC : Jakarta Sani A..id.Rineka Cipta: Jakarta Widodo. (2005).

MAKALAH SEMINAR“ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN..  Membuat Daftar File dan FolderHello there! If you ....  Start Menu Windows XP Bergaya Windows VistaHello t.  Melewatkan Serial Number Pada MS Office 2000Hello ........  Tips mempercepat koneksi dial-up modem Koneksi in.  CARA POSTING BLOGSPOT DENGAN MENGGUNAKAN MICROSOFT.  Tips Membuat Hotspot Menggunakan Laptop Di Windows.  Free Download Game : Worms 3D  free download Adobe Fireworks CS3 Portable  trik dan cara mempercepat koneksi modem semua mode. ► 2009 (6) o ► Desember (6)  if (WIDGETBOX) WIDGETBOX.. Proposal KTI Keperawatan ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN HIV-AIDS ► April (13)  ASKEP ATRIUM SEPTAL DEFEK (ASD)  DFX on AIMP  BASALIOMA NASOLABIAL SINISTRA  ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN HIV-AIDS  Cara Mengatasi Browser Mozilla Firefox Yang Hang S...... o ► Januari (1)  10 Cara Memperbaiki Windows XP Yang Tidak Bisa Boo....... S DENG.o Kumpulan Askep MAKALAHASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny..... Arbosi HIV/AIDS Ultasonik Yuk Pasang Sendiri Per dan Kampas Kopling Racing !.  Total Tayangan Laman 4783 .  Cara memrubah prosesor            ► 2010 (2) o ► Maret (1)  Download Game Gratis hide Google Search Result.N Dengan FRAKTU.....  Tips Adsense Tips -Tips Dalam Memasang Ikl.renderWidget('54bcd528-3d. HUBUNGAN PENDIDIKAN DAN PERAN PERAWAT DENGAN TINGK.  Membongkar Password Office 2000Hello there! If you.  Googling Dengan Google HacksHello there! If you ar......

blogspot. 13 Juni 2010 KARYA TULIS ILMIAH HUBUNGAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT DENGAN TINGKAT KECEMASAN PADA PASIEN PRE OPERASI SEKSIO CAESAR DIRUANG KEBIDANAN RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH PALEMBANG TAHUN 2010 Sebagai Salah Satu Syarat Dalam Menyelesaikan Program Pendidikan Diploma III Keperawatan Oleh : AGUSTUS 02 07 832 PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEPERAWATAN .com Minggu.Blogroll Kura kura Template by : kendhin x-template.

Ns H. Lailani Badrun SPd.Kep. S. Santi Mismeriyanti BIOGRAFI Nama : Agustus Jenis kelamin : Laki-laki Tempat tanggal lahir : Betung. SMIP.07.832 Telah di pertahankan didepan dewan penguji karya tulis ilmiah pada Tanggal 01 Februari 2010 dan dinyatakan telah memenuhi syarat untuk diterima SUSUNAN DEWAN PENGUJI Pembimbing Penguji I Penguji II Suzanna. M. S. 16 Agustus 1989 Agama : Islam Status dalam keluarga : Anak ke 11 Dari 12 saudara . Ns Adi Santosa.SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH PALEMBANG TAHUN AKADEMIK 2009/2010 HUBUNGAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT DENGAN TINGKAT KECEMASAN PADA PASIEN PRE OPERASI SEKSIO CAESAR DIRUANG KEBIDANAN RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH PELEMBANG TAHUN 2010 Nama : Agustus Nim : 02. Kes Ketua STIKES Muhammadiyah Palembang dr. Prodi D III Keperawatan Trilia WM.Kep. SPd.Kes Program Studi D III Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiayah Palembang Ka. M.

K’ Dedi Yuk Anita. • Suzanna. • Sahabat terbaik ku yang tidak bisa diucapkan satu persatu • Teman2 PKLku Khusunya kelompok II • Almamater yang tercinta. DIII Keperawatan (STIKes) Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Palembang. Skep.Alamat : Jalan Palembang – Jambi Lk II Rt 031 Rw 08 No 24 Betung Kel. Banyuasin Riwayat Pendidikan : 1. dan ingatlah duniamu seakan-akan kau hidup 1000 tahun” Kupersembahkan : • Ayahanda (Lahmad. .2008 • Tingkat II tahun : 2008 . Ns sebagai pembimbing ku yang telah membantu dalam penyusunan KTI ku • Buat K’ Ali Hafis yang telah banyak memberi motivasi. Alm) dan Ibuda yang ku cinta yang telah berjasa dan selalu mendo’akan keberhasilanku setiap saat. Rimbah Asam. ayuk Sumi K’ Sudarsono K’ Amran K’ Rudi.2004 3. SMP : SMP PGRI I Betung Tahun 2001 .2010 MOTTO DAN PERSEMBAHAN Motto : ”Ingatlah MATI seakan-akan kau mati besok.2009 • Tingkat III tahun : 2009 . dan adikku yang tercinta Kusmiati. SD : SD 06 NEGERI I Betung Tahun 1995 . SMA : SMA PGRI I Betung Tahun 2004 – 2007 4. • Tingkat I tahun : 2007 . • Buat saudaraku ayuk Tuti.2001 2. Kec. Betung Kab.

8. Ibu dr. 3. Yudi Fadila. Selaku penguji II yang memberikan kritik dan saran dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini. Ibu Trilia WM. M.KATA PENGANTAR Syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadiran allah SWT. Semoga Allah SWT membalas selalu melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya atas bantuan yang telah diberikan kepada penulis dalam penulisan karya tulis ilmiah ini. Kes. Untuk itulah pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih yang tak terhingga kepada : 1. selaku Direktur Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang yang telah memberi kemudaan dalam pengurusan administrasi penelitian. 4. Akhirnya semoga karya tulis ilmiah ini dapat bermanfaat bagi pembangunan ilmu pendidikan dan ilmu keperawatan serta bagi kita semua.Kep.Kep Ns. 9. atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah (KTI) ini dengan judul ”Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Diruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Pelembang Tahun 2010” Dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini penulis menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan dikarnakan keterbatasan ilmu pengetahuan. SMIP. SPd. pengalaman serta khilafan yang penulis miliki. S. Ibu Eva Yulianti. Sehingga karya tulis ilmiah ini dapat penulis selesaikan. Kes. Palembang. Selaku pembimbing yang telah memberikan bimbingan serta pengarahan selama penulisan karya tulis ilmiah ini. 7. Maret 2010 . Selaku penguji I yang memberikan kritik dan saran dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini. Ibu Suzanna S. Selaku Ketua (STIKes) Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Palembang. AMKeb. amin. Bapak H. Ns. Maka dari itu. Santi Mismeriyanti. 6. Dan semua pihak yang telah memberikan bantuan. 5. Selaku Kepala Program Studi DIII Keperawatan STIKes Muhammadiyah Palembang. Para dosen dan staf Program Studi DIII Keperawatan STIKes Muhammadiyah Palembang. SPd. bimbingan serta saran dari berbagai pihak. Lailani Badrun. Bapak Adi Santosa. 2. SKM selaku kepala ruangan Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang yang memberikan kemudaan dalam pengumpulan data. M. Penyusunan karya tulis ilmiah ini tidak akan terlaksana dengan baik tampa bantuan. dengan ikhlas penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat mendidik dan membangun dari semua pihak demi kesempurnaan karya tulis ilmiah dimasa yang akan datang. Bapak dr.

Daftar Bacaan : 15 (1996-2009) . Populasi penelitian adalah semua pasien pre operasi seksio caesar dan perawat di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang dari tanggal 22 Februari – 6 Maret tahun 2010 dengan jumlah sampel penelitian sebanyak 14 respondenn yang dipilih secara non random dengan teknik accidental sampling. Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa komunikasi terapeutik perawat mempengaruhi tingkat kecemasan pasien pre operasi seksio caesar. Penelitian ini merupakan penelitian survey analitik dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan angket yang berupa kuesioner dan observasi yang berupa cheklis. Dari hasil uji chisquare dengan pValue <0. Saran kepada petugas kesehatan diharapkan lebih meningkatkan komunikasi terapeutik yang baik kepada pasien pre operasi seksio caesar ataupun pasien yang lainnya. tujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien. Pada dasarnya komunikasi terapeutik merupakan komunikasi profesional yang mengarah pada tujuan yaitu penyembuhan pasien. sedangkan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi dengan tingkat kecemasan sedang sebesar 57% dan dengan tingkat kecemasan berat sebesar 43%. Hasil analisis univariat didapatkan komunikasi terapeutik perawat dengan kategori baik sebesar 36% dan kategori cukup sebesar 64%. JUNI 2010 AGUSTUS Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang 2010 ( xiii + 68 Halaman + 7 Tabel + 6 Lampiran) Komunikasi terapeutik merupakan komunikasi yang direncanakan secara sadar.Penulis. ABSTRAK SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH PALEMBANG PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN KARYA TULIS ILMIAH.05 menunjukan bahwa ada hubungan antara komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar. Penelitian ini bertujuan mengetahui Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat dengan Tingkat Kecemasan pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang 2010.

The study population was all patients pre and caesar section operation room nurse at Muhammadiyah Palembang Obstetric Hospital of the date of 22 February to 6 March 2010 with the number of samples is 14 respondenn selected non random accidental sampling technique. From the results of chi-square test with p value <0. This research was conducted using a questionnaire in the form of questionnaires and observation in the form cheklis. JUNE 2010 AUGUST Relationps Communication Anxiety Therapeutic Nurse Level In Patients With Pre Caesar In Operating Room Midwifery Section Hospital Muhammadiyah Palembang 2010 ( xiii + 68 Pages + 7 Table + 6 Annex ) Therapeutic communication is consciously planned communication. This research is an analytical survey with cross sectional approach.05 indicates that there is a relationship between therapeutic communication nurse with the anxiety level in patients pre Caesar section operation. From these results it is concluded that therapeutic communication nurse patient anxiety level welsh pre Caesar section operation. while the level of anxiety in patients with pre surgery anxiety level was at 57% and with severe anxiety level of 43%.ABSTRACT HEALTH SCIENCE HIGH SCHOOL MUHAMMADIYAH PALEMBANG STUDY PROGRAMMES DIPLOMA OF NURSING WRITING SCIENTIFIC.2009) DAFTAR ISI Hal HALAMAN JUDUL i . This study aimed to Therapeutic Communication Nurse Relations Anxiety Level in Patients with Pre Operation Caesar section Obstetric Hospital in Room 2010 of Muhammadiyah Palembang. therapeutic communication is a professional communications that lead to the goal of healing the patient. goals and activities focused on healing the patient. Advice to health workers is expected to further improve therapeutic communication both to the patient pre Caesar section operation or other patients. Results Univariate analysis showed a nurse therapeutic communication with both categories by 36% and 64% adequate category. Reading List : 15 (1996 . Basically.

1.9 Pengukuran Skala Kecemasan 29 2.1.2 Faktor-faktor yang Menyebabkan Seksio Sesarea 34 2.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kecemasan 26 2.1.8 Fase – Fase Dalam Komunikasi Teraupetik 20 2.2 Rumusan Masalah 6 1.4 Tujuan 7 1.3 Klasifikasi Seksio Sesarea 35 2.4 Syarat-Syarat Komunikasi Terapeurik 10 2.6 Sikap Komunikasi Terapeutik 13 2.1 Komunikasi Terapeutik 9 2.1.1 Pengertian Seksio Sesarea 34 2.6 Manfaat Penelitian 8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.3.1.5 Prinsip-Prinsip Komunikasi Terapeutik 11 2.7 Tehnik-Tehnik Komunikasi Terapeutik 14 2.2.4 Penelitian Terkait 39 .1.2 Kecemasan (Ansietas) 22 2.1.2.2.2 Klasifikasi Kecemasan 24 2.6 Ciri-Ciri Kecemasan 27 2.2.3 Tingkat Kecemasan 25 2.2.5 Bentuk-Bentuk Kecemasan 27 2.2 Tujuan Komunikasi Terapeutik 10 2.5 Ruang Lingkup Penelitian 7 1.8 Penyebab Kecemasan (Ansietas) 28 2.1 Definisi Kecemasan (Ansietas) 22 2.3 Pertanyaan Penelitian 6 1.3.1 Latar Belakang 1 1.2.2.2.3 Manfaat Komunikasi Terapeutik 10 2.3 Seksio Sesarea 34 2.2.3.1.7 Tanda-Tanda Kecemasan 28 2.HALAMAN PERSETUJUAN ii BIOGRAFI iii MOTTO DAN PERSEMBAHAN iv KATA PENGANTAR v ABSTRAK vi ABSTRACT vii DAFTAR ISI ix DAFTAR TABEL xii DAFTAR LAMPIRAN xiii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Pengertian Komunikasi Terapeutik 9 2.

3.BAB III KERANGKA KONSEP.7 Pengolahan Data 47 4.3 Pembahasan 59 5.4 Hipotesis 44 BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Desain Penelitian 45 4.3 Tingkat Kecemasan Pasien Seksio Caesar 63 5.4 Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi Seksio Caesar ` 65 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan 67 6.6 Instrumen Pengumpulan Data 46 4.1 Populasi Penelitian 45 4.8 Analisa Data 48 4.1 Persalinan 59 5.3 Definisi Operasional 43 3.2.2.2 Populasi dan Sampel Penelitian 45 4.2 Komunikasi Terapeutik Perawat 61 5.1 Kerangka Konsep 41 3.9 Etika Penelitian 48 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN 5.2 Variabel 42 3.3.2 Saran 67 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN DAFTAR TABEL . DEFINISI OPERASIONAL DAN HIPOTESIS 3.2 Sampel Penelitian 45 4.3 Lokasi dan Waktu Penelitian 46 4.4 Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data 46 4.1 Hasil 51 5.3.2 Variabel Peneliti 54 5.5 Tehnik Pengumpulan Data 46 4.3.

2 : Persalinan Seksio Caesar Dan Spontan Tabel 5.3 : Komunikasi Terapeutik Perawat Tabel 5.1 : Perencanaan Waktu Penelitian Tabel 5.1 : Bagan Kerangka Konsep Tabel 4.5 : Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 : Surat Penelitian Lampiran 2 : Lembar Persetujuan Menjadi Responden Lampiran 3 : Quisioner Penelitian Lampiran 4 : Cheklist Penelitian Lampiran 5 : Output SPSS Lampiran 6 : Lembar Konsultasi .1 : Jumlah Tempat Tidur Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang Tabel 5.4 : Tingakat Kecemasan Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Tabel 5.Tabel 3.

2003). 1998). Long. dibandingkan dengan orang yang cemas ringan (Barbara C. seringkali menjadi hambatan pada paska operasi. mengatasi gangguan psikologis. 1997). kecemasan sering muncul pada usia sebelum 30 tahun (Stuard and Sundeen. Setiap menghadapi operasi selalu menimbulkan ketakutan dan kecemasan pada pasien.1 Latar Belakang Komunikasi merupakan bagian integral dari kehidupan manusia tidak terkecuali seorang perawat. yang dalam kegiatan sehari-harinya selalu berhubungan dengan orang lain. pasien menjadi cepat marah. Komunikasi yang direncanakan secara sadar. kemudian melupakan pasien sebagai manusia dengan beragam latar belakang dan masalahnya (Arwani. sehingga dapat dikategorikan ke dalam komunikasi pribadi di antara perawat dan pasien. Seseorang yang sangat cemas sehingga tidak bisa berbicara dan mencoba menyesuaikan diri dengan kecemasan sebelum operasi. Persoalan mendasar dan komunikasi ini adalah adanya saling membutukan antara perawat dan pasien. dan belajar bagaimana berhubungan dengan orang lain.BAB I PENDAHULUAN 1. 2003). perawat membantu dan pasien menerima bantuan (Indrawati. namun harus direncanakan. bingung. sehingga respon pun berbeda. Pandangan setiap orang dalam menghadapi operasi berbeda. Dan juga Komunikasi terapeutik bukan pekerjaan yang bisa diabaikan. dan merupakan tindakan profesional. Hal ini juga terkait dengan komunikasi perawat yang sangat dibutuhkan pada pasien operasi seksio caesar karena pada kondisi ini pasien cemas. jangan sampai karena terlalu asyik bekerja. lebih mudah tersinggung akibat reaksi psikis. untuk mengurangi kecemasan itu maka perawat harus memberikan komunikasi terapeutik kepada pasien pre operasi seksio caesar. bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien disebut dengan komunikasi terapeutik. Akan tetapi. . Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang mendorong proses penyembuhan klien (Depkes RI. disengaja. 1996). Komunikasi terapeutik juga termasuk komunikasi interpersonal dengan titik tolak saling memberikan pengertian antar perawat dengan klien. Komunikasi terapeutik juga merupakan kemampuan atau keterampilan perawat untuk membantu pasien beradaptasi terhadap stres.

sedangkan sisanya dengan bantuan alat seperti vakum dan forsep. 1 diantara setiap 10 wanita yang melahirkan setiap tahunnya pernah menjalani seksio caesar. sampai saat ini sebagian besar orang menganggap bahwa semua operasi yang dilakukan adalah operasi besar. Kecemasan merupakan perasaan yang paling umum dialami oleh pasien yang dirawat di rumah sakit. Operasi merupakan tindakan pengobatan yang banyak menimbulkan kecemasan. apa yang Kami kehendaki sampai . pemantauan janin secara elektronik. 2003).drdidispog. dan tuntutan malpraktik (Cunningham. kemudian dari setetes mani. Untuk dapat menurunkan kecemasan pada pasien pre operasi salah satunya diperlukan komunikasi yang efektif terutama komunikasi terapeutik. Ternyata diseluruh dunia angka operasi seksio caesarea meningkat dengan pesat. adanya perasaan gelisah atau tidak tenang dengan sumber yang tidak spesifik dan tidak diketahui oleh seseorang. Data dari RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta tahun 2000. sedangkan angka di Indonesia belum diketahui secara pasti. kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna. 2005). dan 37% di antaranya pernah menjalani seksio caesar sebelumnya.com ) Di Amerika Serikat. Bila kecemasan pada pasien pre operasi tidak segera diatasi maka dapat mengganggu proses penyembuhan. Komunikasi terapeutik pada hakikatnya adalah suatu kegiatan atau usaha untuk menyampaikan pesan kesehatan kepada masyarakat. wanita yang hamil berusia lebih tua. kecemasan yang sering terjadi adalah apabila pasien yang dirawat di rumah sakit harus mengalami proses operasi. Lebih dari 825.Proses perawatan di rumah sakit seringkali mengabaikan aspek-aspek psikologis sehingga menimbulkan berbagai permasalahan pisikologis bagi pasien yang salah satunya adalah kecemasan.000 wanita melahirkan dengan seksio caesar pada tahun 1998. sedangkan sisanya dengan bantuan alat seperti vakum atau forsep (Kasdu. 1989) Menurut World Heath Organization (WHO) angka persalinan dengan seksio caesarea yang wajar adalah 5-10 % dari seluruh kelahiran. Kecemasan merupakan sesuatu hal yang tidak jelas.Long. agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim. (http://www. 30% merupakan persalinan caesar.5% adalah persalinan spontan. 52. Sebagian besar peningkatan ini berlangsung pada tahun 1970-an sampai awal 1980-an dan terjadi di seluruh negara barat. menyebutkan dari jumlah persalinan sebanyak 404 per bulan. 48% merupakan persalinan caesar. Kelahiran manusia dimuka bumi ini sudah di jelaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Hajj Ayat : 5 yang berarti ”Hai manusia. kelompok atau individu. (Dewi wijayanti. Sedangkan data yang diperoleh dari Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang pada tahun 2009 menyebutkan dari jumlah persalinan sebanyak 2331 per tahun. 40% persalinan normal. jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur). 2009) Operasi adalah salah satu tindakan pengobatan yang banyak menimbulkan kecemasan. Tindakan operasi merupakan ancaman potensial aktual terhadap integritas seseorang yang dapat membangkitkan reaksi stress fisiologis maupun psikologis (Barbara C. Hal ini perlu mendapat perhatian serius dari perawat karena perawat merupakan petugas kesehatan yang terdekat dan terlama dengan pasien. untuk itu pasien yang akan menjalani operasi harus diberi komunikasi terapeutik untuk menurunkan atau mengurangi gejala kecemasan serta dapat meningkatkan pengetahuan kesehatan pada pasien. Penyebab peningkatan ini adalah nulipara. presentasi bokong. Pembahasan tentang reaksi-reaksi pasien terhadap pembedahan sebagian besar berfokus pada persiapan pembedahan dan proses penyembuhan. maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah. kemudian dari segumpal darah.

mendorong percobaan persalinan pada wanita dengan riwayat seksio caesar transversal. umumnya difokuskan pada upaya pendidikan dan pengawasan..5.angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan. Karena komunikasi terapeutik salah satu tindakan perawat yang dapat mengurangi kecemasan.4.(Al-Quran Terjemah : Tohaputra Ahmad. b) Diketahuinya gambaran tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar c) Diketahuinya gambaran hubungan antara komunikasi terapeutik perawat/bidan dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar. Beberapa penelitian telah membuktikan adanya kemungkinan untuk menurunkan angka seksio caesar di Institusi kesehatan mengurangi peningkatan mordibitas (kelahiran) atau mortalitas (kematian) perinatal.5 Ruang Lingkup Masalah 1. dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun. 2005) Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas bahwa komunikasi terapeutik sangat dibutuhkan bagi pasien yang akan menjalani operasi seksio caesar.1 Tujuan Umum Untuk mengetahui Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang.. kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi. Diamana pada tahap ini tingkat kecemasan pasien yang akan di operasi masih sangat tinggi. supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. 1.4 Tujuan Penelitian 1. kemudian (dengan berangsur. 1.4.2 Tujuan Khusus a) Diketahuinya gambaran komunikasi terapeutik perawat pada pasien pre operasi seksio caesar. maka penulis tertarik untuk meneliti ”Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi Seksio Caesar” 1. 1.2 Waktu Penelitian ini dilakukan pada tanggal 22 Febuari sampai dengan tanggal 6 Maret tahun 2010.5..waktu yang sudah ditentukan..1 Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan Di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang.. 1. 1998). Program-program yang ditujukan untuk mengurangi seksio caesar yang tidak diperlukan.2 Rumusan Masalah Berdasarkan pada data diatas maka belum diketahui Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien pre Operasi Seksio Caesar Di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang 2010.3 Pertanyaan Penelitian Bagaimana Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang? 1. . membatasi seksio caesar atas indikasi distosia persalinan pada wanita yang memenuhi kriteria yang ditentukan dengan ketat (Cunningham.

2 Manfaat Bagi Institusi Pendidikan Diharapkan dapat menambah informasi dan referensi yang berguna bagi mahasiswa sekolah tinggi ilmu kesehatan Muhammadiyah Palembang.3 Manfaat Bagi Pasien Diharapkan dapat memberikan rasa nyaman dan aman pada semua pasien yang akan menjalankan operasi seksio caesar sehingga pasien yang menjalankan operasi tidak cemas dan operasi bisa berjalan dengan lancar. Sehingga komunikasi terapeutik itu sendiri adalah komunikasi yang direncanakan dan dilakukan untuk membantu penyembuhan dan pemulihan pasien. 1. Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar.6.1 Pengertian Komunikasi Terapeutik Terapeutik merupakan kata sifat yang dihubungkan dengan seni dari penyembuhan (As Hornby Dalam Intan. tujuan dan kegiatannya . ( Mukhripah Damaiyanti. 2005).6. 2008 ). BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Komunikasi terapeutik merupakan komunikasi profesional bagi perawat.1 Komunikasi Terapeutik 2.6.6.4 Manfaat Bagi Peneliti Diharapkan dapat menambah ilmu pengetahuan dan wawasan bagi peneliti mengenai hubungan komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar. 1. 1.1. Maka disini dapat di artikan bahwa terapeutik adalah segala sesuatu yang memfasilitasi proses penyembuhan.1 Manfaat Bagi Rumah Sakit Diharapkan dapat dijadikan masukan dan motivasi bagi rumah sakit untuk lebih menerapkan komuniksi terapeutik perawat dalam mengurangi tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar.6 Manfaat Penelitian 1.

sehingga dapat dikategorikan ke dalam komunikasi pribadi di antara perawat dan pasien. tetapi hubungan sosial biasa. (Indrawati. Christina. hubungan perawat-klien tersebut bukanlah hubungan yang memberikan dampak terapeutik yang mempercepat kesembuhan klien. e. Komunikasi terapeutik termasuk komunikasi interpersonal dengan titik tolak saling memberikan pengertian antar perawat dengan pasien. 2. 2.1. 2003) mengatakan ada dua persyaratan untuk komunikasi terapeutik efektif : a.4 Syarat-Syarat Komunikasi Terapeutik Stuart dan Sundeen (dalam Christina. d. membantu mempengaruhi orang lain. 2003 ). ( Indrawati. Perawat harus menciptakan suasana yang memungkinkan pasien bebas berkembang tanpa rasa takut. Semua komunikasi terapeutik harus ditujukan untuk menjaga harga diri pemberi maupun penerima pesan. lingkungan fisik dan diri sendiri. 2003 ). Komunikasi terapeutik ini akan efektif bila melalui penggunaan dan latihan yang sering. informasi atau masukan. perawat membantu dan pasien menerima bantuan. 1994) adalah : a. Persoalan mendasar dan komunikasi ini adalah adanya saling membutuhan antara perawat dan pasien.3 Manfaat Komunikasi Terapeutik Manfaat komunikasi terapeutik adalah untuk mendorong dan menganjurkan kerja sama antara perawat dan pasien melalui hubungan perawat dan pasien. mengungkap perasaan dan mengkaji masalah dan evaluasi tindakan yang dilakukan oleh perawat. tingkah lakunya sehingga tumbuh mangkin matang dan dapat memecahkan masalahmasalah yang dihadapi.5 Prinsip-Prinsip Komunikasi Terapeutik Prinsip-prinsip komunikasi terapeutik menurut Carl Rogers (dalam Perwanto. memahami dirinya sendiri serta nilai yang dianut. Mengidentifikasi. saling pecaya dan saling menghargai. (Mukhripah Damaiyanti. Bila perawat tidak memperhatikan hal ini. Perawat harus menyadari pentingnya kebutuan pasien baik fisik maupun mental. dkk. c. 2. 2.1. 2008 ). Persyaratan .Persyaratan untuk komunikasi terapeutik ini dibutuhkan untuk membentuk hubungan antara perawat dengan pasien sehingga klien memungkinkan untuk mengimplementasikan proses keperawatan. Pada dasarnya komunikasi terapeutik merupakan komunikasi profesional yang mengarah pada tujuan yaitu penyembuhan pasien. Perawat harus mengenal dirinya sendiri yang berarti menghayati. Komunikasi harus di tandai dengan sikap saling menerima.1. b. Komunikasi yang menciptakan saling pengertian yang harus dilakukan terlebih dahulu sebelum memberikan sarana.dipusatkan untuk kesembuhan pasien.1. . dkk.2 Tujuan Komunikasi Terapeutik Membantu pasien untuk memperjelas dan mengurangi beban perasaan dan pikiran serta dapat mengambil tindakan yang efektif untuk pasien. Perawat harus menciptakan suasana yang memungkinkan pasien memiliki motivasi untuk mengubah dirinya baik sikap. Kualitas asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien sangat dipengaruhi oleh kualitas hubungan perawat-klien. b.

Perawat harus mampu menguasai perasaan sendiri secara bertahap untuk mengetahui dan mengatasi perasaan gembira. Disarankan untuk mengekspresikan perasaan bila dianggap menganggu. n. Mempertahankan sikap terbuka Tidak melipat kaki atau tangan menunjukan keterbukaan untuk berkomunikasi dan siap membantu. spiritual dan gaya hidup. e. Tehnik berikut sering digunakan pada tahap orientasi.f. Kejujuran dan komunikasi terbuka merupakan dasar dari hubungan terapeutik j. m. a.7 Tehnik-Tehnik Komunikasi Terapeutik 2. Mampu berperan sebagai role model agar dapat menunjukan dan menyakinkan orang lain tentang kesehatan. h.7. Memahami betul arti empati sebagai tindakan terapeutik dan sebaliknya sempati bukan tindakan terapeutik. i.1 Bertanya Bertanya (Questioning) merupakan tehnik yang dapat mendorong klien untuk mengungkapkan perasaan dan pikirannya. l. sedih marah. Mempertahankan kontak mata Kontak mata pada level yang sama berarti menghargai klien dan menyatakan keinginan untuk tetap berkomunikasi. yaitu : a. Tetap rileks Tetap dapat mengendalikan keseimbangan antara ketegangan dan relaksasi dalam memberikan respons kepada pasien. sedangkan pertanyaan nonfasilitatif (Nonfacilitative Question) adalah pertanyaan yang tidak efektif karena memberikan . keberhasilan maupun frustasi g. mengindentifikasi lima sikap atau cara untuk menghadirkan diri secara fisik yang dapat memfasilitasi komunikasi terapeutik. Pertanyaan Fasilitatif Dan Nonfasilitatif Pertanyaan fasilitatif (Facilitative Question) terjadi jika pada saat bertanya perawat sensitif terhadap pikiran dan perasaan serta secara langsung berhubungan dengan masalah klien. Membungkuk kearah klien Posisi ini menunjukan keinginan untuk menyatakan atau mendengarkan sesuatu. oleh karena itu perawat perlu mempertahan suatu keadaan sehat fisik mental. d.1. Altruisme untuk mendapatkan kepuasan dengan menolong orang lain secara manusiawi. c.6 Sikap Komunikasi Terapeutik Egan (dalam Keliat. Mampu menentukan batas waktu yang sesuai dan dapat mempertahankan konsistensinya. 1992). k.1. 2. Berpegang pada etika dengan cara berusaha sedapat mungkin mengambil keputusan berdasarkan prinsip kesejahteraan manusia. Bertanggung jawab dalam dua demensi yaitu tanggung jawab terhadap diri sendiri atas tindakan yang dilakukan dan bertanggung jawab dengan orang lain. meskipun dalam situasi yang kurang menyenangkan.1. 2. Berhadapan Arti dari posisi ini adalah saya siap untuk anda b.

3 Mengulang Mengulang (Restarting) yaitu mengulang pokok pikiran yang diungkapkan klien. minat. perasaan. Dengan demikian akan terhindar dari pembicaraan tanpa arah dan penggantian topik pembicaraan. 2005).4 Klarifikasi Klarifikasi (Clarification) adalah menjelaskan kembali ide atau pikiran klien yang tidak jelas atau meminta klien untuk menjelaskan arti dari ungkapannya ( Gerald. 1992 ). 2. D dalam Suryani. dalam Suryani. 2005).W dalam Suryani. Apabila perawat menginterpretasikan pembicaraan klien. perawat tidak boleh menginterpretasikan apa yang dikatakan klien. Pertanyaan Terbuka Dan Tertutup Pertanyaan terbuka (Open Question) digunakan apabila perawat membutuhkan jawaban yang banyak dari klien. 2. maka penilaiannya akan berdasarkan pandangan dan perasaannya. Fokus utama klarifikasi adalah pada perasaan. 2005).1. D dalam Suryani. perawat mampu mendorong klien mengekspresikan dirinya (Antai-Otong dalam Suryani.7. Selama mendengarkan. G.7. 1992). 2. 2. Gunanya untuk menguatkan ungkapan klien dan memberi indikasi perawat mengikuti pembicaraan klien ( Keliat. 2005).1. 2005). 2. pertanyaan. 2005). S dalam Suryani. Pertanyaan tertutup (Closed Question) digunakan ketika perawat membutuhkan jawaban yang singkat.7. Tunjukkan perhatian bahwa perawat mempunyai waktu untuk mendengarkan ( Purwanto Heri. juga tidak boleh menambahkan informasi (Gerald. Dengan pertanyaan terbuka.7. karena pengertian terhadap perasaan klien sangat penting dalam memahami klien. Budi Anna. Restarting (pengulangan) merupakan suatu strategi yang mendukung listening ( Suryani. 1994 ).7.1. D dalam Suryani. dan tampak kurang pengertian terhadap klien (Gerald. dan isi pembicaraan kepada klien. Mendengarkan adalah proses aktif (Gerald.pertanyaan yang tidak fokus pada masalah atau pembicaraan.1. 2005). Budi Anna.6 Memfokuskan Memfokuskan (Focusing) bertujuan memberi kesempatan kepada klien untuk membahas masalah inti dan mengarahkan komunikasi klien pada pencapaian tujuan (Stuart. dan penghargaan terhadap klien (Antai-Otong dalam Suryani. D. perawat harus mengikuti apa yang dibacakan klien dengan penuh perhatian. 2005) dan penerimaan informasi serta penelaahan reaksi seseorang terhadap pesan yang diterima (Hubson. Perawat memberikan tanggapan dengan tepat dan tidak memotong pembicaraan klien.1. Pada saat klarifikasi. b. Hal ini digunakan untuk memvalidasi pengertian perawat tentang apa yang diucapkan klien dan menekankan empati.2 Mendengarkan Mendengarkan (Listening) merupakan dasar utama dalam komunikasi terapeutik (Keliat. 2005 ). Hal yang .5 Refleksi Refleksi (Reflection) adalah mengarahkan kembali ide. bersifat mengancam.

perlu diperhatikan dalam menggunakan metode ini adalah usahakan untuk tidak memutus pembicaraan ketika klien menyampaikan masalah penting (Suryani. 2005). 2.7. atau memandang sesuatu dari sisi negatifnya. 2.7. sambil perawat menyampaikan dukungan. 2005) supaya masalah tersebut bisa diatasi. D dalam Suryani. Poin utama dari menyimpulkan yaitu peninjauan kembali komunikasi yang telah dilakukan (Murray.11 Eksplorasi Eksplorasi bertujuan untuk mencari atau menggali lebih jauh atau lebih dalam masalah yang dialami klien (Antai-Otong dalam Suryani. B & Judith dalam Suryani. 2.1. pengertian. Tehnik ini bermanfaat pada tahap kerja untuk mendapatkan gambaran yang detail tentang masalah yang dialami klien. 2005).8 Memberi Informasi Memberikan tambahan informasi (Informing) merupakan tindakan penyuluhan kesehatan klien.12 Membagi Persepsi Stuart G. misalnya menyatakan : “sebenarnya apa yang anda pikirkan tidak seburuk itu kejadiannya”. memperlambat tempo interaksi. 2. Tehnik ini memberikan waktu pada klien untuk berfikir dan menghayati. Diam juga memungkinkan klien untuk berkomunikasi dengan dirinya sendiri dan berguna pada saat klien harus mengambil keputusan (Suryani.9 Menyimpulkan Menyimpulkan (Summerizing) adalah tehnik komunikasi yang membantu klien mengeksplorasi poin penting dari interaksi perawat-klien.1. Informasi yang diberikan pada klien harus dapat memberikan pengertian dan pemahaman tentang masalah yang dihadapi klien serta membantu dalam memberikan alternatif pemecahan masalah (Suryani. 2005).1. membagi persepsi (Sharing Peception) adalah meminta pendapat klien tentang hal yang perawat rasakan atau pikirkan. 2005) sehingga memungkinkan klien untuk membuat perencanaan yang lebih baik dalam mengatasi masalah yang dihadapinya.7 Diam Tehnik diam (Silence) digunakan untuk memberikan kesempatan pada klien sebelum menjawab pertanyaan perawat.7. dan penerimaannya.1.1. 2005). Tehnik ini membantu perawat dan klien untuk memiliki pikiran dan ide yang sama saat mengakhiri pertemuan. 2005). D dalam Suryani. Diam akan memberikan kesempatan kepada perawat dan klien untuk mengorganisasi pikiran masing-masing (Stuart & Sundeen dalam Suryani. Reframing akan membuat klien mampu melihat apa yang dialaminya dari sisi positif (Gerald. 2.7. 2005).7.10 Mengubah Cara Pandang Tehnik mengubah cara pandang (refarming) ini digunakan untuk memberikan cara pandang lain sehingga klien tidak melihat sesuatu atau masalah dari aspek negatifnya saja (Gerald.W (1998) dalam Suryani (2005) menyatakan. Tehnik ini sangat membantu dalam mengajarkan kesehatan atau pendidikan pada klien tentang aspek-aspek yang relevan dengan perawatan diri dan penyembuhan klien. Tehnik ini sangat bermanfaat terutama ketika klien berfikiran negatif terhadap sesuatu.1. 2.7. Seorang perawat kadang memberikan tanggapan yang kurang tepat ketika klien mengungkapkan masalah. Tehnik ini digunakan ketika .

8.W dalam Suryani. perawat harus memperkenalkan dirinya terlebih dahulu kepada klien (Brammer dalam Suryani. Pada tahap ini perawat menggali perasaan dan mengidentifikasi kelebihan dan kekurangannya. dkk.7. 2005).1.8 Fase – Fase Dalam Komunikasi Terapeutik 2. 2.8. 2005).13 Mengidentifikasi Tema Perawat harus tanggap terhadap cerita yang disampaikan klien dan harus mampu manangkap tema dari seluruh pembicaraan tersebut.8. Florence Nightingale dalam Anonymous (1999) dalam Suryani (2005) pernah mengatakan suatu pengalaman pahit sangat baik ditangani dengan humor.1. 2005).1. dkk. Humor dapat meningkatkan kesadaran mental dan kreativitas. Pada tahap ini perawat dan klien bekerja bersama-sama untuk mengatasi masalah yang dihadapi klien. Tujuan tahap ini adalah untuk memvalidasi keakuratan data dan rencana yang telah dibuat dengan keadaan klien saat ini. 2002). 2. G.perawat merasakan atau melihat ada perbedaan antara respos verbal dan respons nonverbal klien. Dengan memperkenalkan dirinya berarti perawat telah bersikap terbuka pada klien dan ini diharapkan akan mendorong klien untuk membuka dirinya (Suryani. Reniforcement bisa diungkapkan dengan kata-kata ataupun melalui isyarat nonverbal.1. D dalam Suryani.W dalam Suryani. serta menurunkan tekanan darah dan nadi.3 Tahap Kerja Tahap kerja ini merupakan tahap inti dari keseluruhan proses komunikasi terapeutik (Stuart. 2.7. 2. 2002). Pada tahap kerja ini dituntut kemampuan perawat dalam mendorong klien mengungkap . G. Reinforcement berguna untuk meningkatkan harga diri dan menguatkan perilaku klien (Gerald.14 Humor Humor bisa mempunyai beberapa fungsi dalam hubungan terapeutik. Kemudian perawat merancang strategi untuk pertemuan pertama dengan klien.1. serta mengevaluasi hasil tindakan yang lalu (Stuart.15 Memberikan Pujian Memberikan Pujian (Reinforcement) merupakan keuntungan psikologis yang didapatkan klien ketika berinteraksi dengan perawat. 2005). mengatasi kecemasannya. 2005). 2005). Gunanya adalah untuk meningkatkan pengertian dan menggali masalah penting (Stuart & Sadeen dalam Suryani.7. Pada tahap ini perawat juga mencari informasi tentang klien.1 Tahap Persiapan (Preinteraksi) Tahap Persiapan atau prainteraksi sangat penting dilakukan sebelum berinteraksi dengan klien (Christina. 2.1. Tahap ini harus dilakukan oleh seorang perawat untuk memahami dirinya.2 Tahap Perkenalan Perkenalan merupakan kegiatan yang dilakukan saat pertama kali bertemu atau kontak dengan klien (Christina. 2005). Pada saat berkenalan. Tehnik ini sangat bermanfaat pada tahap awal kerja untuk memfokuskan pembicaraan pada awal masalah yang benar-benar dirasakan klien.1. 2. dan meyakinkan dirinya bahwa dia siap untuk berinteraksi dengan klien (Suryani.

dkk. Perawat juga diharapkan mampu menyimpulkan percakapannya dengan klien. Perawat juga dituntut untuk mempunyai kepekaan dan tingkat analisis yang tinggi terhadap adanya perubahan dalam respons verbal maupun nonverbal klien. yang memperingatkan adanya bahaya yang mengancam dan memungkinkan seseorang mengambil tindakan untuk mengatasi ancaman (Kaplan dan Sadock. perawat akan bertemu kembali dengan klien pada waktu yang telah ditentukan. Tahap ini dibagi dua yaitu terminasi sementara dan terminasi akhir (Stuart. Respon emosional terhadap penilaian intelektual terhadap sesuatu yang berbahaya (stuart dan sundeen.silvalintar. Terminasi sementara adalah akhir dari tiap pertemuan perawat-klien.4 Tahap Terminasi Terminasi merupakan akhir dari pertemuan perawat dengan klien (Christina. kecemasan melibatkan persepsi tentang perasaan yang tidak menyenangkan dan reaksi fisiologis. 1997) Ansietas adalah perasaan yang dialami terlalu mengkhwatirkan kemungkinan peristiwa yang menakutkan yang terjadi dimasa depan yang tidak bisa dikendalikan dan jika itu terjadi akan menilai mengerikan atau dapat diungkapkan sebagai orang yang benar-benar tidak mampu menata pikiran. Terminasi akhir terjadi jika perawat telah menyelesaikan proses keperawatan secara keseluruhan. setelah terminasi sementara. yang diikuti oleh reaksi fisiologis tertentu seperti perubahan detak jantung dan pernafasan. dan membantu perawat-klien memiliki pikiran dan ide yang sama (Murray. perawat membantu klien untuk mendefinisikan masalah yang dihadapi.2007.2 Kecemasan (Ansietas) 2. Suatu sinyal yang menyadarkan. Melalui active listening. (www. kecemasan adalah kondisi emosional yang tidak menyenangkan.com ) Menurut Post (1978). Suatu keadaan ketidakseimbangan atau tegangan yang cepat mengusahakan coping (Hudak dan Gallo. .8.2. 1997) d. B & Judth dalam Suryani.perasaan dan pikirannya.1. kekhawatiran dan juga ditandai dengan aktifnya sistem syaraf pusat. Keadaan dimana individu atau kelompok mengalami perasaan gelisah (penilaian atau opini) dan aktivitas sistem syaraf autonom dalam berespon terhadap ancaman yang tidak jelas. Suatu perasaan takut yang tidak menyenangkan dan tidak dapat dibenarkan yang sering disertai dengan gejala fisiologi (Tom. a. Menurut Freud. b. 2. yang ditandai oleh perasaan-perasaan subjektif seperti ketegangan. Pada tahap ini perawat perlu melakukan active listening karena tugas perawat pada tahap kerja ini bertujuan untuk menyelesaikan masalah klien.1 Definisi Kecemasan (Ansietas) Ansietas atau kecemasan adalah : a. 1998) b. Tehnik menyimpulkan ini merupakan usaha untuk memadukan dan menegaskan hal-hal penting dalam percakapan. 2005). G. bagaimana cara mengatasi masalahnya. ninspesifik (Carpenito. dan mengevaluasi cara atau alternatif pemecahan masalah yang telah dipilih. 2. dengan kata lain kecemasan adalah reaksi atas situasi yang dianggap berbahaya. ketakutan.W dalam Suryani. 2005). 2002). Freud (dalam Arndt. 2003) e. 1974) menggambarkan dan mendefinisikan kecemasan sebagai suatu perasaan yang tidak menyenangkan. 2000) c.

kecemasan neurotik. Menurut Struat & Sunden (1998) mengidentifikasikan tingkat kecemasan dapat dibagi menjadi : a.3 Tingkat Kecemasan Menurut Jersild (1963) menyatakan bahwa ada dua tingkatan kecemasan. Hyperventilas. dan takut bisa berjalan beberapa menit atau beberapa jam. Orang yang hati nuraninya berkembang baik cendrung merasa berdosa apabila dia melakukan sesuatu yang berlawanan dengan kode moral yang dimilikinya. Kecemasan neorotik adalah ketakutan rehadap tidak terkendalinya naluri-naluri yang menyebabkan seseorang melakukan sesuatu tindakan yang mendatangkan hukuman bagi dirinya. Pernafasan kasa. Keluhan-keluhan gastro intestinal. Kecemasan Akut Keadaan dimana perasaan sakit berat.2. yaitu pada saat individu masih menyadari konflik-konflik dalam diri yang menyebabkan cemas. Bila gejala kecemasan hanya sedikit (40-50%) b. dan taraf kecemasannya sesuai dengan derajat ancaman yang ada. Kecemasan moral adalah ketakutan terhadap hati nuraninya sendiri. Kelelahan. Tachy cardi. Kecemasan realistik adalah ketakutan terhadap bahaya dari dunia eksternal. Hypertensi sifatnya sistolik.Perasaan payah (lemah.2. ketika individu tidak menyadari adanya konflik dan tidak mengetahui penyebab cemas. Perasaan tersumbat di tenggorokan. lengkap tidak ditemukan kelainan apa-apa. Pada pemeriksaan fisik . Pertama. Mungkin penderita sadar. b. 2. Kecemasan Ringan Pada tingkat kecemasan yang terjadi pada kehidupan sehari-hari dan kondisi membantu individu menjadi waspada dan bagaimana mencegah berbagai kemungkinan. 2007) Adapun pendapat lain yang menyatakan bahwa kecemasan ada dua yaitu : a. Polyuri (sering kencing). Kedua. Kecemasan Sedang Pada ringkat ini individu lebih menfokuskan hal penting saat ini dan mengesampingkan yang lain . Mudah berdebar-debar. sebelumnya punya pengalaman emosi (biasa terdapat pada Ibu yang akan bersalin). Kecemasan Kronis Kecemasan timbul untuk sebab yang tidak diketahui (tidak di sadari). Hyperhyrosis. Gejalagejalanya: Sakit kepala. lesu). Diarrhee. Mungkin karena penderita tidak tahu sebab maka justru kecemasannya akanbertambah. c. Gejala-gejalanya : Perasaan takut. sehingga fisik makin bertambah pula. kecemasan kemudian dapat menjadi bentuk pertahanan diri.2. b. kecemasan normal.2 Klasifikasi Kecemasan Ada tiga macam kecemasan yaitu : a. (Corey Gerald.

seringkali buang air. 1995) menyebutkan bahwa manifestasi kecemasan terwujud dalam empat hal berikut ini : a. diare. Nilai-nilai moral c. Manifestasi kognitif. sering dalam keadaan excited atau gempar gelisah. yang terwujud dalam pikiran seseorang. Ketentuan hukum. khawatir. perasaan tidak menentu dan sebagainya. Tingkat Fisiologis.2. Tingkah laku panik ini tidak mendukung kehidupan individu tersebut. 2. Kartono (1981) menyebutkan bahwa kecemasan ditandai dengan emosi yang tidak stabil.2. terutama pada fungsi sistem syaraf.5 Bentuk-Bentuk Kecemasan Menurut Bucklew (1980). b.sehingga mempersempit lahan persepsinya. seringkali memikirkan tentang malapetaka atau kejadian buruk yang akan terjadi. kecemasan seseorang terwujud dalam gerakan tidak menentu seperti gemetar. individu tersebut mencoba memusatkan perhatian pada lahan lain dan memerlukan banyak pengarahan. Ketentuan pendidikan dan agama d. Panik Keadaan ini mengancam pengendalian diri. semua perilaku ditunjukan untuk mengurangi kecemasan. yaitu: a. Panik melibatkan disorganisasi keperibadian yang ditandai dengan meningkatnya kegiatan motorik.2. gemetar.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kecemasan a. b. bingung. b. dan sebagainya. dkk (dalam Kartikasari. para ahli membagi bentuk kecemasan itu dalam dua tingkat. Kecemasan yang sudah mempengaruhi atau terwujud pada gejala-gejala fisik. seperti tegang. Kecemasan yang berwujud sebagai gejala-gejala kejiwaan. perut mual.6 Ciri-Ciri Kecemasan Simptom-simptom somatis yang dapat menunjukkan ciri-ciri kecemasan menurut Stern (1964) adalah muntah-muntah. individu tidak mampu untuk melakukan sesuatu walaupun dengan pengarahan. misalnya tidak dapat tidur.2. Faktor-faktor kultural merupakan faktor yang tidak dapat di abaikan. Tingkatkan individu tersebut dalam menanggapi batasan-batasan sosiokulturil tersebut 2. menurunnya respon untuk berhubungan dengan orang lain. 2. Tingkat Psikologis. 2. denyut jantung yang bertambah keras. nafas sesak disertai tremor pada otot. sangat mudah tersinggung dan marah. Bila gejala kecemasan ada sebagian (51-75%) c. Perilaku motorik. Bila semua gejala kecemasan ada (76100%) d.7 Tanda-Tanda Kecemasan Menurut Sue. Kecemasan Berat Pada tingkat ini lahan individu sangat menurun dan cendrung memusatkan perhatian pada hal-hal lain. distory persepsi dan kehilangan pikiran yang rasional. . jantung berdebar-debar.

2001) : a. Perasaan kehilangan fungsi dan harga diri d. h. i. c. Ketegangan yang di tandai oleh : merasa tegang. b. mimpi yan menakutkan.2. rasa lemah seperti mau pingsan. dan perasaan tegang yang berlebihan. tidak dapat istirahat tenang. peningkatan tekanan darah dan lain-lain. g. Penyebab ansietas adalah kejadian yang dapat menimbulkan ansietas. Yaitu mengukur aspek kognitif dan efektif yang meliputi (Hawari. e. Perasaan terisolasi dapat dikurangi dengan mengajak pasien berbicara tentang pengobatan dan penyentuhannya saat keadaan yang menakutkan. mudah menangis. diwujudkan dalam perasaan gelisah. muncul dalam keadaaan mulut kering. Perubahan somatik. Kegagalan membentuk pertahanan e. suara tidak stabil. perasaan tercekik. gelisah dan mudah terkejut. d. ditandai dengan : cemasan. c. Ansietas dialami saat terdapat suatu ancaman ketidak berdayaan atau kurang pengendalian. Perasaan terisolasi f. takut akan pikiran sendiri. Timbunya stimulus ansietas termasuk hal yang mengancam keamanan individu. sering kencing. mimpi-mimpi. mudah terkejut. j. firasat buruk. respirasi. nyeri dada. Gejala sensorik ditandai oleh : tintus. Gangguan tidur ditandai oleh : sukar untuk tidur. kedutan otot. Gejala somatik ditandai oleh : nyeri pada otot. gigi gemeretak. dan mudah tersenggung. 2. merasa lemah. detak jantung hilang sekejap. Kehilangan kendali c. Ketakutan ditandai oleh : Ketakutan pada gelap. lesu. Takut mati 2. terbangun malam hari.8 Penyebab Kecemasan (Ansietas) Menurut Hudak dan Gallo (1997) penyebab yang paling umum dari ansietas di rumah sakit : a. diare.2. b. mimpi buruk. daya ingat buruk. Ketakutan pada orang asing. Afektif. merasa nafas . Perasaan depresi di tandai oleh : kehilangan minat. d. gelisah.c. Gejala pernafasan di tandai oleh : Rasa tertekan atau sempit didada. ketakutan pada keramaian lalu lintas. Gejala kardiovaskuler ditandai oleh : takikardia. gemetar. Gangguan kecerdasan ditandai oleh: sukar konsentrasi. perasaan di tusuk-tusuk. Perasaan cemas. Ancanman ketidakberdayaan b. tidur tidak nyenyak.9 Pengukuran Skala Kecemasan Instrumen lain yang dapat digunakan untuk mengukur skala kecemasan adalah Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS). ketegangan otot dan tekanan darah. ketakutan pada kerumunan orang banyak. perasaan berubah sepanjang hari. kurangnya kesenangan pada hoby. Penerimaan di unit perawatan kritis secara daramatid meyakinkan pasien dan keluarga bahwa keamanan meraka pada semua tingakat secara hebat terancam. ketegangan otot. bangun dini hari. Ketakutan ditinggal sendiri. sedih. denyut nadi mengeras. berdebar-debar. Ansietas terjadi bila ada : a. daya ingat menurun. muka merah dan pucat. ketakutan pada binatang besar. penglihatan kabur. bangun dengan lesu. tangan dan kaki dingin. f. kaku. Hampir semua penderita kecemasan menunjukkan peningkatan detak jantung.

q. k. Saya khawatir akan terjadi kesulitan yang menimpa diri saya. Saya jarang mengalami sakit perut. r. Saya mudah merasa malu. b. Kadang-kadang saya tidak dapat tidur karena mengkhawatirkan sesuatu. k. masa haid berkepanjangan. pusing. haid beberapa kali dalam sebulan. Saya selalu merasa gembira setiap saat. perut melilit. Saya merasa khawatir kalau-kalau muka saya menjadi merah karena malu. Menunggu membuat saya gelisah. Saya jarang berdebar-debar maupun bernafas tersengal-sengal. sehingga saya tidak duduk terlalu lama. Saya jarang merasa sembelit. h. Saya menginginkan kebahagiaan seperti orang yang saya lihat. amenorrhoe. Gejala Gastrointestinal ditandai oleh : sulit menelan. n. frigiditas. ereksi melemah. amenorrhagia. e. muka merah kering. Saya merasa risau bila memikirkan masalah-masalah keuangan dan pekerjaan. tidak dapat menahan kencing. f. Pernyataanpernyataan adalah sebagai berikut : a. muntah. c. Perilaku sewaktu wawancara. nyeri lambung sebelum atau sesudah makan. bahwa saya kadang-kadang merasa khawatir tanpa sesuatu alasan tertentu pada suatu hal . m. s. Saya mengalami mencret sekali atau lebih dalam 1 bulan. Saya sering mengkhawatirkan diri saya terhadap sesuatu. nafas pendek dan cepat dan muka memerah. t. Saya sering merasa mual. Saya tidak pernah merasa tersipu-sipu bila sesuatu terjadi pada diri saya. berat badan menurun. tidak tenang. j. kadang-kadang keringat saya bercucuran. defekasi lembek. Tangan dan kaki saya biasanya cukup hangat. Saya sering merasa tegang pada waktu bekerja. sakit kepala. Saya merasa lapar hampir setiap saat. v. muka tegang tonus otot meningkat. mual. m. Saya tidak cepat lelah. perut terasa kembung atau penuh. Saya lebih tenang bila dibandingkan dengan orang lain. Saya akui. n. kepala terasa berat. Gejala Urogenital ditandai oleh : sering kencing. w. ereksi hilang dan inpoten. Seringkali saya bermimpi tentang sesuatu yang sulit untuk diceritakan pada orang lain. d. Tangan saya sering terasa gemetar bila mencoba mengerjakan sesuatu. Ketika saya merasa malu. Kadangkadang saya merasa gembira sekali. Pada waktu-waktu tertentu saya merasa gelisah. o. saya tidak mudah tersipu-sipu seperti kebanyakan orang lain. Saya jarang sakit kepala. hal ini sangat menjengkelkan saya. Saya mengalami kesukaran untuk melakukan konsentrasi menanggapi suatu masalah. Tidur saya sering terganggu dan tidak nyenyak. sering menarik nafas panjang. u. bulu-bulu berdiri.pendek/sesak. ejakuasi prekok. i. gangguan pencernaan. sehingga sukar untuk tidur x. mengerutkan dahi atau kening. Salah satu pengukuran kecemasan menurut : Taylor Manifest Anxiety Scale (TMAS). Saya lebih merasa sensitif (peka) daripada kebanyakan orang. p. dan kontipasi (sukar buang air besar) l. mudah berkeringat. Saya sering mengalami mimpi yang menakutkan pada waktu tidur malam hari. Gejala Otonom ditandai oleh : mulut kering. Saya sering mencemaskan sesuatu maupun orang lain. g. Kalau terjadi sesuatu pada diri saya. Saya sering merasa bahwa saya dihadapkan pada banyak kesulitan yang tidak dapat saya selesaikan. rasa panas di perut. Biasanya saya bersikap tenang dan tidak mudah marah. jari gemetar. l. Saya mudah menangis. masa haid amat pendek. ditandai oleh : gelisah.

Seksio Caesar Klasik Sebuah pengirisan memanjang di bgian tengah yang memberikan satu ruang yang lebih besar (10-14 cm) untuk mengeluarkan bayi (Cunningham.3. faktor plasenta: solusio plasenta. presentasi dahi. Faktor Ibu yang menyebabkan seksio sesarea adalah: usia. 2008).yang tidak berarti. 2007).2005). Faktor Ibu Menurut Cunningham (2005) dan Benson (2008). kelainan tali pusat (prolapsus tali pusat/tali pusat menumbung. Bila dibandingkan dengan teman-teman maka saya tidak seperti mereka. diabetes. posisi dagu posterior. penyakit jantung berat pada ibu. faktor-faktor yang menyebabkan seksio sesarea adalah dari faktor ibu dan janin. ruptur uteri. 2. faktor hambatan jalan lahir. gawat janin atau fetal distress.3. 2005). malposisi dan malpresentasi (presentasi bokong. keadaan melemahkan lainnya (Benson.1 Pengertian Seksio Caesar Seksio caesar adalah melahirkan janin yang sudah mampu hidup (beserta plasenta dan selaput ketuban) secara transabdominal melalui insisi uterus (Benson. 2. 2008). b. eritroblastosis.3 Klasifikasi Seksio Caesar a. vasa previa. Faktor Janin Faktor janin yang menyebabkan seksio caesar adalah: janin dengan anomali (Meningokel. dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding perut dan dinding rahim dengan sayatan rahim dalam keadaan utuh (Sarwono. bayi terlalu besar (Makrosomia (>4000 gram). plasenta previa. ruptur uteri (Cunningham. defleksi kepala. Penyakit ibu yang dapat mempengaruhi seksio sesarea adalah: preeklampsi-eklampsi berat. 2) Pada dinding perut dibuat insisi mediana mulai dari atas simfisis sepanjang ±12 cm sampai dibawah umbilikus lapis demi lapis sehingga kavum peritoneal terbuka. 2008). y.3 Seksio Caesar 2. 2. Seksio caesar adalah suatu persalinan buatan.3. presentasi majemuk). Teknik Seksio Caesar Klasik 1) Mula-mula dilakukan desinfeksi pada dinding perut dan lapangan operasi dipersempit dengn kain suci hama. persalinan sebelumnya dengan seksio caesar. letak lintang. presentasi bahu. tulang panggul.2 Faktor-faktor yang Menyebabkan Seksio Sesarea a. Hidrosefalus). bayi kembar (Multiple Pregnancy) (Benson. .

d) Jika menggunakan anestesi lokal. sayatan ini akan memerlukan waktu dan obat lebih banyak (Kasdu. Indikasi Seksio Caesar Indikasi seksio Caesar klasik menurut Sarwono 2007 : 1) Bila terjadi kesukaran dalam memisahkan kandung kencing untuk mencapai segmen bawah rahim. 2. Kelebihan: a) Memerlukan sedikit pemisahan kandung kemih dari miometrium. 7) Luka insisi SAR dijahit kembali. Setelah janin lahir seluruhnya. 5) Setelah kavum uteri terbuka. Pada dinding perut dibuat insisi mediana mulai dari atas simfisis sampai di bawah umbilikus lapis demi lapis sehingga peritonei terbuka. d) Lebih mudah diperbaiki. Teknik Seksio Caesar Transperitoneal Profunda 1. 3) Plasenta previa dengan insersi plasenta di dinding depan segmen bawah rahim. Lapisan II : Hanya miometrium saja dijahit secara simpul. Kekurangan: a) Lebih berisiko terkena peritonitis (radang selaput perut). Lapisan I : Endometrium bersama miometrium dijahit secara jelujur dengan benang catgut khoromik. 2003). dijahitbsecara simpul dengan benang cutgut biasa. 8) Setelah dinding rahim dijahit. c) Otot-otot rahimnya tebal dan lebaih banyak pembuluh darah sehingga sayatan ini lebih banyak mengeluarkan darah.mula dilakukan desinfeksi pada dinding perut dan lapangan operasi dipersempit dengan kain suci hama. c. Janin dilahirkan dengan meluksir kepala dan mendorong fundusuteri. atau adanya tumor-tumor di daerah segmen bawah rahim. 2) Janin besar dalam letak lintang. kedua adneksa dieksplorasi.3) Dalam rongga perut disekitar rahim dilingkari dengan kasa laparotomi. Lapisan III : Perimetrium saja. . selaput ketuban dipecahkan. Mula. kemudian dierlebar secara sagital dengan gunting. 6) Plasenta dilahirkan secara manual disuntikkan 10 U oksitosin ke dalam rahim secara intra mural. 2003). b) Memiliki risiko empat kali lebih besar terkena ruptur uteri pada kehamilan selanjutnya. c) Tidak menyebabkan perlekatan usus atau omentum ke garis insisi. tali pusat dijepit dan dipotong diantara kedua penjepit. b) Keluarnya janin lebih cepat. b. Seksio Caesar Transperitoneal Profunda Dilakukan dengan membuat sayatan atau irisan horizontal di bagian bawah rahim (Kasdu. 4) Di buat insisi secara tajam dengan pada segmen atas rahim (SAR). misalnya karena adanya perlekatan –perlekatan akibat pembedahan seksio caesar yang lalu. 9) Rongga perut dibersihkan dari isa-sisa darah dan akhirnya luka dinding perut dijahit.

Luka dinding rahim dijahit Lapisan I : Dijahit jelujur. Penutupan luka dan reperetonialisasi yang baik. Kategori cukup 9 orang ( 26. Kelebihan : Penjahitan luka lebih mudah. Mohammad Hoesin Palembang.38%. Kekurangan : Luka dapat melebar kekiri. Setelah kavum uteri terbuka. 5. yang dilakukan pada keseluruhan responden didapatkan bahwa dari 34 responden yang melakukan komunikasi terapeutik pada fase kerja dengan baik yaitu 20 orang ( 58. Arah insisi pada segmen bawah rahim dapat melintang (transversa) atau membujur (sagital). 2007).Keluhan kandung kemih. Mohammad Hoesin Palembang terdapat 30 responden didapat data bahwa pengetahuan ibu bersalin dengan SC tentang perawatan bekas sayatan SC dengan kategori baik sebanyak 16 responden (53%). Plika vesikouterina ini disisihkan secara tumpul ke arah samping dan bawah. Dari hasil penelitian Rosalina 2008. Dibandingkan dengan cara klasik kemungkinan ruptur uteri spontan kurang atau lebih kecil. Penelitian ini dapat digambarkan bahwa peran perawat pelaksana komunikasi terapeutik pada teknik menyimpulkan tergolong kurang. Mengenai penerapan komunikasi terapeutik pada pasien DM Di Irna Non Bedah Rumah Sakit Dr. Uterin putus sehingga mengakibatkan perdarahan yang banyak. kemudian diperlebar melintang secara tumpul dengan kedua jari telunjuk perator.62% dan kategori kurang sebanyak 52. pada endometrium da miometrium Lapisan II : Dijahit jelujur hanya pada miometrium saja Lapisan III : Dijahit jelujur pada plika vesikouterina 7. Kategori cukup 8 responden (27%) dan 6 responden (20%) dikategorikan . selaput ketuban dipecahkan. kanan bawah. Setelah dinding rahim selesai dijahit. janin dilahirkan dengan meluksir kepalanya.7% ).5% ) sedangkan kategori kurang yaitu sebanyak 5 orang ( 14. yaitu dengan menggunting peritoneum kandung kencing (plika vesikouterina) didepan segmen bawah rahim (SBR) secara melintang.7% masih dalam kategori kurang dimana responden tidak menjelaskan tindakan keperawatan yang dilakukan seharusnya perawat menjelaskan tindakan keperawatan yang dilakukan agar tidak menimbulkan kecemasan pada pasien dengan demikian komunikasi terapeutik pada fase kerja tidak ada lagi dalam katogori kurang. Pada fase ini 14. Badan janin dilahirkan dengan mengait kedua ketiaknya. 2. Dibuat bladder-flap. Di peroleh data mengenai gambaran peran perawat pelaksana dalam menerapkan teknik komunikasi terapeutik pada teknik menyimpulkan pada pasien gangguan jiwa diruang rawat inap Rumah Sakit Dr. Dalam rongga perut disekitar rahim dilingkari dengan kasa laparotomi.4 Penelitian Terkait Menurut penelitian Eka Fitrianti 2008.Untuk kategori baik sebanyak 47. plasenta dilahirkan secara manual. Ernaldi Bahar Propinsi Sumatra Selatan tahun 2008.3.8% ). kedua adneksa diejsplorasi 8. Rongga perut dibersihkan dari sisa-sisa darah dan akhirnya luka dindina perut dijahit (Sarwono. Kedalam otot rahim intra mural disuntikkan 10 U oksitosin. Tali pusat dijepit dan dipotong. Menurut penelitian Tri Setiani 2009. 6. dari hasil penelitian di instalasi kebidanan dan penyakit kandungan Rumah Sakit Dr. dan kandung kencing yang telah disisihkan ke arah bawah dan samping dilindungi dengan spekulum kandung kencing. 4. Di buat insisi pada segmen bawah rahim 1 cm di bawah irisan plika vesikouterina tadi secara tajam dengan pisau bedah ±2 cm.

Berdasarkan hal tersebut maka kerangka konsep penelitian hubungan komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar adalah sebagai berikut: Variabel Dependen Variabel Independen .kurang. Tingkat kecemasan merupakan salah satu tolak ukur yang digunakan untuk mengukur kecemasan pada pasien pre operasi seksio sesarea. Komunikasi terapeutik merupakan suatu hubungan atau interaksi antara perawat dengan pasien. BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL 3. konsep adalah suatu abstraksi yang dibentuk dengan menggeneralisasikan suatu pengertian oleh karena itu konsep tidak dapat diamati dan dapat diukur.1 Kerangka Konsep Kerangka konsep penelitian adalah suatu hubungan atau kaitan antara konsep satu terhadap konsep yang lainnya dari masalah yang ingin diteliti. dari variabel itulah konsep dapat diamati dan diukur (Notoatmodjo. 2005). maka konsep tersebut harus dijabarkan kedalam variabel-variabel.

2007) 3. Sedang jika nilainya (50-75 %) 3. Baik jika yang menjawab benar > 75 % dari pertayaan yang diajukan 2. . Cukup jika yang menjawab benar antara 60-75% dari pertayaan yang diajukan 3.Keterangan : : Yang diteliti : Tidak diteliti Sumber : Menurut teori Lawrence Green (Dalam Notoatmodjo Soekidjo. 1989) Ordinal 3. Persalinan normal / spontan Nominal 2 Komunikasi terapeutik perawat Komunikasi yang dilakukan oleh perawat dengan pasien yang meliputi dari fase prainteraksi. Persalinan SC 2. orientasi. Kurang jika yang menjawab benar < 60 % dari pertayaan yang diajukan ( Arikunto. Berat jika nilainya (> 75 %) (Struat & Sunden. Wawancara Kuiesioner 1.2 Definisi Operasional No Variabel Definisi Operasional Cara Ukur Alat Ukur Hasil Ukur Skala 1 Operasi seksio caesar Merupakan salah satu cara melahirkan janin melalui insisi pada dinding perut dan dinding uterus Observasi Cheklist 1. Ringan jika nilainya ( < 50 %) 2. kerja.3 Hipotesis Ada hubungan antara komunikasi terapeutik perawat/bidan dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar. dan terminasi. 2006 ) Ordinal 3 Tingkat kecemasan pasien pre operasi seksio caesar Merupakan tingkat kecemasan yang dialami oleh pasien pre operasi SC yang diukur dengan cara Anxiety Scale Observasi Checklist 1.

Penelitian yang dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang 2010. Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan Diruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang 2010. 4. Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien pre operasi seksio caesar dan perawat/bidan di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang. 4.1.2.3.2.2.1 Perencanaan Waktu Penelitian Kegiatan Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Juni Juli 1. Populasi dan Sampel Penelitian 4. 4. Sampel Penelitian Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmojo. Tempat dan Waktu Penelitian 4. Persiapan seminar proposal √ 4. Pengajuan judul √ 2. Desain Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian yang bersifat hubungan analitik menggunakan tehnik cross sektional. Seminar proposal √ . 2005).2. 4. Sampel dalam penelitian ini menggunakan metode accidental yaitu sampel yang diambil dari responden atau kasus yang kebetulan ada atau tersedia.BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.2. Pembahasan bab I-IV √ √ 3.1. Populasi Penelitian Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti (Notoatmodjo.3.3. Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan serangkaian kegiatan yang dilaksanakan dengan perencanaan waktu sebagai barikut : Tabel 4. 2005).1.

Ujian √ 4. 4.2. Entry Data ( Memasukan Data ) Memasukan hasil data penelitian ke dalam tabel sesuai dengan kriteria. 2003).1.4. Coding ( Pengkodean ) Dalam melakukan pengolahan data dengan baik.2. data tersebut perlu diperiksa terlebih dahulu apakah telah sesuai dengan yang diharapkan atau tidak. Instrumen Pengumpulan Data Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data adalah Wawancara (Kuesioner) dan observasi (Check List).4. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data 4. Editing ( Pegolahan Data ) Klasifikasikan jawaban / hasil yang ada menurut macamnya ke bentuk yang lebih ringkas dengan menggunakan kode. Dan data sekunder diperoleh dari Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang yang berupa data yang diambil dari Medical Record.4. 4.5. Pengolahan Data Menurut Hastono (2001) pengolahan data dapat jelaskan sebagai berikut : 4. Persiapan komprehensif √ 8.1.3.5. Tehnik Pengumpulan Data Pada penelitian ini data yang diperoleh adalah data primer yaitu Data primer berupa angket yang dibagikan kepada responden dengan cara menggunakan kuesioner yang dikembangkan sendiri oleh penulis (Notoatmojo. Penelitian langsung mengambil data pada subyek penelitian langsung pada nilai operasi.5. Rumus pengolahan data bila respon : .5. Pengumpulan data dilakukan sendiri oleh penulis dengan cara melakukan pengamatan (observasi) secara langsung kepada responden dengan menggunakan observasi atau cheklist yang dikembangkan sendiri oleh peneliti dan wawancara langsung dengan pasien dengan menggunakan kuesioner yang dikembangkan sendiri oleh peneliti. Penelitian √ √ 6. Pembahasan bab V-VI √ √ 7. 4. Komprehensif √ 9.5.4.5. 4. 4. Cleaning Data ( Pembersihan Data ) Pemeriksaan kembali data yang telah dimasukan sehingga benar – benar bebas dari kesalahan kemudian diuji kebenarannya.

2. jika responden menjawab ”Tidak ” nilainya 0. Setelah mendapat persetujuan barulah penelitian menekankan masalah etika yang meliputi: a. peneliti perlu membawa rekomendasi dari Institusi dari pihak lain dengan cara mengajukan permohonan izin pada Instiusi/Lembaga penelitian yang dituju oleh peneliti. Baik jika yang menjawab benar > 75 % dari pertayaan yang diajukan b.6. Responden harus memenuhi kriteria inklusi. peneliti tidak akan mencantumkan nama responden.7.75% dari pertayaan yang diajukan c. Lembar informend consed harus dilengkapi dengan judul penelitian dan manfaat penelitian. Anonimity (Tanpa Nama) Untuk menjaga kerahasiaan. Informend Consent Lembar persetujuan ini diberikan pada responden yang akan diteliti. Analisa Univariat Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah univariat terhadap tiap variabel dari hasil penelitian dalam hal ini hanya menghasilkan distribusi frekuensi dan persentase dari tiap variabel. Analisa Data 4. tetapi pada lembar tersebut diberiakan kode. Bila subjek menolak. Kurang jika yang menjawab benar < 60 % dari pertayaan yang diajukan Jika responden menjawab ”Ya” nilainya 1. b. Confidentiality (Kerahasiaan) Kerahasiaan informasi responden dijamin oleh peneliti. Etika Penelitian Dalam melakukan penelitian.a. dan hanya kelompok data tertentu yang akan dilaporkan sebagai hasil penelitian. 4. ¬¬ . 4. maka setiap kuisioner nilainya dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut : R = n x 100 % N Keterangan : R : Indeks kesesuaian prilaku n : Jumlah responden yang menjawab ”Ya” N : Jumlah pertayaan 4.1. c.6. maka peneliti tidak boleh memaksa dan harus tetap menghormati hakhak subjek. Dalam hal ini untuk melihat hubungan antara dua variabel independen dan dependen digunakan uji Chi square (SPSS). Analisa Bivariat Analisa bivariat dilakukan untuk melihat hubungan antara dua variabel independen yang meliputi : Tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar dengan variabel dependen : Komunikasi terapeutik perawat.6. Cukup jika yang menjawab benar antara 60 .

5. simpatik. Paru e. Anak . Kebidanan dan Kandungan b.1. modern. b) Misi 1. Bidan) dan karyawan yang terampil dan berkemampuan dengan didukung oleh peralatan-peralatan canggih. Memberikan pelayanan kesehatan secara profesional. dan islami kepada masyarakat. Insya Allah Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang akan selalu memupuk dan memelihara kepercayaan masyarakat melalui dipenuhinya dokterdokter spesialis. 5. Pada saat ini Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang lebih menggembirakan jika dilihat dari berbegai sektor. Mewujudkan citra sebagai Rumah Sakit islam kebanggaan Muhammadiyah yang berfungsi sebagai wahana ibadah dan berperan aktif sebagai media dakwah persyarikatan dalam bidang kesehatan. ruangan yang bersih. 2. peralatan medis.1 Visi. 3. Ramli Hasan Basri) bersama Ketua PP Muhammadiyah (Bapak Prof. Paramedis (Perawat.BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5. terkemuka. Amien Rais) merupakan satu satunya amal usaha dibawah langsung PWM SumSel.1 Gambaran Rumah Sakit Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang adalah Amal Usaha Persyarikatan Muhammadiyah yang diresmikan tanggal 10 Dzulhijjah 1417 H/ 18 April 1997 oleh Gubernur Propinsi Sumatera Selatan (Bapak H. c) Motto ” Pelayanan sebagai Ibadah dan Dakwah”. pelayanan yang cepat.1. DR. mengesankan dan bernuansa islami. Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang telah berkembang cukup pesat dan berkat ridho Allah SWT dan dukungan masyarakat rumah sakit ini sudah sama dengan rumah sakit lainnya di kota Palembang. Misi. dokter umum. modern. ramah. baik pelayanan. peralatan non medis dan peralatan penunjang lainnya. Penyakit Dalam d. dan islami sehingga menjadi rahmatan lil’alamin bagi masyarakat. Menjadi pusat persemaian kader Muhammadiyah dalam bidang kesehatan.2 Fasilitas Pelayanan a. Syaraf c. dan Motto a) Visi Terwujudnya Rumah Sakit yang profesional.

Instalasi Farmasi b.24 42 P D L .1... Radiologi h.. Laboratorium f.f.2 10 . Jantung g. Kamar Operasi d..1 Jumlah Tempat Tidur Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang 2010 RUANG Kelas TT Tidur VIP Khusus VIP Utama I A I B II A II B IIIA III B Bedah ..4 Pelayanan Penunjang / Tindakan Medis a..... Echo e.. USG/ECG i..1. Fisioterapi j....7 VIP Bawah 2 . THT h. Mata.1 Analisa Univariat Analisa ini yang digambarkan dalam bentuk distribusi frekuensi dari variabel komunikasi terapeutik perawat dan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar..2...3 Tempat Tidur Tabel 5.4 4 11 11 62 92 Kebidanan ..14 ICU/ ICCU 10 . 5.... . didapatkan dari 14 responden pada perawat dan pasien pre operasi seksio caesar yang dilakukan di ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang.6 8 16 30 Anak ... Bedah i. 5. 6 Konsultasi Gizi c. ICCU /ICU...10 Total TT 3 6 2 14 12 33 35 112 227 5.6 16 10 32 VIP Atas 1 6 ... Ambulance 5. Treadmil g.8 10 . IGD. Daftar ditampilkan dalam bentuk tabel dan teks.2 Variabel Penelitian Dari hasil penelitian yang telah dilakukan pada tanggal 22 Februari sampai 8 Maret tahun 2010.

b) Komunikasi Terapeutik Perawat Pada penelitian ini komunikasi terapeutik perawat dikelompokan menjadi 3 kategori komunikasi terapeutik baik > 75%.3 Tabel 5.2 Tabel 5. Februari seksio caesar 73 pasien (16%) spontan 65 (17%).a) Persalinan Pada penelitian ini persalinan dikelompokan menjadi 2 kategori persalianan spontan dan persalinan operasi seksio caesar berdasarkan medical record Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang dari bulan Nopember 2009 sampai dengan Maret 2010 untuk lebih jelas lihat tabel 5. dan bulan Maret seksio caesar 75 pasien (16%) spontan 92 (24%).3 Distribusi Frekuensi Komunikasi Terapeutik Perawat di . Januari seksio caesar 85 pasien (19%) spontan 67 (17%). Desember seksio caesar 106 pasien (23%) spontan 89 (23%).2 Distribusi Frekuensi Persalinan Spontan Dan Seksio Caesar di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang Tahun 2010 No Bulan Persalinan Seksio Caesar % Spontan % 1 Nopember 116 25 76 19 2 Desember 106 23 89 23 3 Januari 85 19 67 17 4 Februari 73 16 65 17 5 Maret 75 16 92 24 Total 455 100 389 100 Dari data diatas bahwa dari 844 persalinan yang bulan Nopember seksio caesar 116 pasien (25%) spontan 76 (20%). cukup 60%-75%. dan kurang < 60% untuk lebih jelas lihat tabel 5.

dan berat 66% -100 %. untuk lebih jelas lihat tabel 54. .50%. sedang sebanyak 6 pasien (43%).65%. cukup 9 perawat (64%).Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang Tahun 2010 No Komunikasi Terapeutik Perawat N % 1 Baik 5 36 2 Cukup 9 64 Jumlah 14 100 Dari data di atas bahwa dari 14 perawat yang komunikasi terapeutik baik 5 perawat (36 %). sedang 51% . c) Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Pada penelitian ini tingkat kecemasan dikategorikan menjadi menjadi 3 yaitu ringan 40% .4 Distribusi Frekuensi Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang Tahun 2010 No Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar N % 1 Ringan 8 57 2 Sedang 6 43 Jumlah 14 100 Dari data di atas bahwa dari 14 pasien seksio caesar yang tingkat kecemasan ringan sebanyak 8 pasien (57%). Tabel 5.

2. Untuk variabel mempengaruhi seperti perawat yang merawat pasien operasi seksio caesar tersebut yang ada diruang tempat pasien dirawat.5 Tabel 5. Maka akan diuraikan satu persatu oleh penulis di bawah ini : 5.1 Persalinan . Pada penelitian ini sampel di ambil secara accicidental sample.2 Analisa Bivariat Analisa ini untuk mengetahui hubungan antara variabel independent (komunikasi terapeutik perawat) dengan variabel dependent (tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar) dengan uji statistik yang menggunakan uji Chi-Square. hasil uji Chi-Square lihat tabel 5.05.05 dapat diketahui bahwa pValue = 0. a) Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Komunikasi terapeutik dengan tingkat kecemasan pasien dikategorikan menjadi 2 dengan jumlah responden 14.3 Pembahasan Pembahasan ádalah suatu penelitian untuk membandingkan hasil penelitian di lapangan dengan teori yang mendukung. maka dapat diketahui bahwa ada hubungan antara komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar. Dari uji statistik diperoleh pValue = 0.031 setelah dibandingkan dengan α 0.5 Distribusi Frekuensi Komunikasi Terapeutik Perawat dengan Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang Tahun 2010 No Komunikasi Terpeutik Perawat Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi SC Jumlah Value Ringan Sedang N%N%N% 1 Baik = 0.031 ≤ 0.5. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan. 5.0315 36 0 0 5 36 2 Cukup 3 21 6 43 9 64 Total 8 57 6 43 14 100 Dari data diatas dapat diketahui bahwa perawat dengan komunikasi terapeutik yang baik didapatkan tingkat kecemasan kategori ringan (36%) dari pada perawat dengan komunikasi terapeutik yang cukup didapatkan tingkat kecemasan kategori ringan (21%) dan sedang (43%).3. Sehingga sampel yang didapatkan adalah pasien pre operasi seksio caesar yang ada di ruangan kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang.

vasa previa. defleksi kepala. letak lintang. plasenta previa. Hasil penelitian yang di peroleh data mengenai gambaran peran perawat pelaksana dalam menerapkan . ruptur uteri (Cunningham. keadaan melemahkan lainnya. 2007). sehingga dilakukan operasi seksio caesar yang membantu persalinan bukan karena suatu Trens. bayi kembar (Multiple Pregnancy) (Benson. presentasi majemuk). Bila kecemasan pada pasien pre operasi tidak segera diatasi maka dapat mengganggu proses penyembuhan.2005). Menurut Cunningham (2005) dan Benson (2008). Fase terminasi akhir dari pertemuan perawat dengan klien. Pada tahap ini perawat juga mencari informasi tentang klien fase orientasi (perkenalaan) Pada saat berkenalan. solusio plasenta. faktor hambatan jalan lahir. eritroblastosis. 2008 ). Perawat juga dituntut untuk mempunyai kepekaan dan tingkat analisis yang tinggi terhadap adanya perubahan dalam respons verbal maupun nonverbal klien. gawat janin atau fetal distress. presentasi bokong. Dari hasil Tri Setiani dari 30 responden didapat data bahwa pengetahuan ibu bersalin dengan SC tentang perawatan bekas sayatan SC dengan kategori baik sebanyak 16 responden (53%).3. Seksio caesar adalah suatu persalinan buatan. ruptur uteri. faktor-faktor yang menyebabkan seksio sesarea adalah dari faktor ibu dan janin. posisi dagu posterior.Dari hasil penelitian di ruang kebidanan rumah Sakit Muhammadiyah Palembang dapat dilihat bahwa dari bulan Nopember sampai Maret yaitu persalinan SC sebanyak 455 pasien dan persalinan spontan sebanyak 389 pasien Maka angka persalinan SC meningkat dan persalinan spontan terjadi penurunan di ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammdiyah Palembang tahun 2010. Berarti komunikasi terapeutik perawat masih cukup di ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang. Operasi merupakan salah satu tindakan pengobatan yang banyak menimbulkan kecemasan. Fase kerja pada tahap kerja ini dituntut kemampuan perawat dalam mendorong klien mengungkap perasaan dan pikirannya. tulang panggul. kelainan tali pusat. Didalam komunikasi terapeutik perawat ada empat fase yaitu fase preinteraksi (persiapan) Pada tahap ini perawat menggali perasaan dan mengidentifikasi kelebihan dan kekurangannya. ( Mukhripah Damaiyanti. 5. 2008). bayi terlalu besar (>4000 gram). Faktor Ibu yang menyebabkan seksio sesarea adalah: usia. penyakit jantung berat pada ibu. Penyakit ibu yang dapat mempengaruhi seksio sesarea adalah: preeklampsieklampsi berat. Dari hasil penelitian yang didapatkan dan dari teori yang mendukung. Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan dan dilakukan untuk membantu penyembuhan dan pemulihan pasien. untuk itu pasien yang akan menjalani operasi harus diberi komunikasi terapeutik untuk menurunkan atau mengurangi gejala kecemasan serta dapat meningkatkan pengetahuan kesehatan pada pasien. Komunikasi terapeutik merupakan komunikasi profesional bagi perawat bertujuan untuk kesembuhan pasien. perawat harus memperkenalkan dirinya terlebih dahulu kepada klien. Faktor janin yang menyebabkan seksio caesar adalah: janin dengan anomali. presentasi bahu.2 Komunikasi Terapeutik Perawat Dari hasil penelitian di rumah Sakit Muhammadiyah Palembang dapat dilihat bahwa dari 14 perawat komunikasi terapeutik kategori cukup (64%). Kategori cukup 8 responden (27%) dan 6 responden (20%) dikategorikan kurang. dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding perut dan dinding rahim dengan sayatan rahim dalam keadaan utuh (Sarwono. presentasi dahi. diabetes. persalinan sebelumnya dengan seksio caesar. menunjukan bahwa kejadian persalinan seksio caesar mengalami peningkatan dikarnakan adanya faktor-faktor yang membahayakan ibu dan bayi.

3. Penelitian ini dapat digambarkan bahwa peran perawat pelaksana komunikasi terapeutik pada teknik menyimpulkan tergolong kurang. Dikarenakan perawat kurang mencari informasi tentang klien dan perawat tidak memperkenalkan dirinya terlebih dahulu serta pada saat melakukan tindakan operasi perawat tidak menjelaskan prosedur tindakan operasi pada pasien yang akan menjalankan operasi. Untuk kategori baik sebanyak 47. Berarti tingkat kecemasan pasien pre operasi seksio caesar masih berat di ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang. karena dengan komunikasi terapeutik dapat mengurangi kecemasan terhadap pasien tersebut dan membuat pasien merasa lebih baik dan operasi bisa berjalan dengan . menunjukan bahwa komunikasi terapeutik perawat masih banyak yang belum berkomunikasi terapeutik yang baik. ninspesifik (Carpenito. Ernaldi Bahar Propinsi Sumatra Selatan tahun 2008. Dari hasil penelitian yang didapatkan dan dari teori yang mendukung. Oleh sebab itu perawat dapat membagi waktu untuk memberikan informasi dan dapat meningkatkan pengetahuan pasien terutama untuk mengurangi kecemasan psien itu sendiri. karena perawat tidak mempunyai waktu yang lama. Dan perawat mengatahui bahwa menurunkan suatu kecemasan pasien perlu suatu metode yang baik yaitu komunikasi yang terapeutik sehingga pasien dapat merasakan rasa nyaman dalam menghadapi operasi yang akan dilakukan oleh klien.teknik komunikasi terapeutik pada teknik menyimpulkan pada pasien gangguan jiwa diruang rawat inap Rumah Sakit Dr. Oleh sebab itu untuk mengurangi kecemasan pada pasien yang akan menjalankan operasi seksio caesar dibutuhkan komunikasi terapeutik yang baik. 2000). MASUKKAN PENELITIAN YANG TERKAIT TENTANG KECEMASAN ”? Dari hasil penelitian yang didapatkan dan dari teori yang mendukung. menunjukan bahwa tingkat kecemasan pasien pre operasi seksio caesar masih mengalami kecemasan dikarenakan lingkungan yang bising dan kurang nyaman.3 Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Dari hasil penelitian di rumah Sakit Muhammadiyah Palembang dapat dilihat bahwa dari 14 pasien tingkat kecemasan yang kategori berat (43%). kurangnya dukungan keluarga hal ini suami serta kurangnya pendekatan dan komunikasi terapeutik perawat. Untuk perawat harus melakukan komunikasi terapeutik.38%. Kecemasan (ansietas) adalah keadaan dimana individu atau kelompok mengalami perasaan gelisah (penilaian atau opini) dan aktivitas sistem syaraf autonom dalam berespon terhadap ancaman yang tidak jelas. 5. 1998).62% dan kategori kurang sebanyak 52. Karena dengan banyaknya pengetahuan dan penjelasan dalam suatu masalah dapat meringankan kecemasan terhadap pasien tersebut. Respon emosional terhadap penilaian intelektual terhadap sesuatu yang berbahaya (Stuart Dan Sundeen.

adanya perasaan gelisah atau tidak tenang dengan sumber yang tidak spesifik dan tidak diketahui oleh seseorang. perawatlah yang berperan penting dalam meningkatkan pengetahuan pasien terutama menjelaskan tentang prosedur tindakan operasi maka perawatlah yang harus melakukan komunikasi terapeutik dengan pasien pre operasi seksio caesar. (Dewi Wijayanti. Karena perawat tenaga kesehatan yang . dan belajar bagaimana berhubungan dengan orang lain. menunjukan bahwa komunikasi terapeutik perawat dapat mempengaruhi serta menurunkan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar karena salah satu untuk menurunkan kecemasan dengan cara komunikasi yang efeksif yaitu komunikasi terapeutik yang baik oleh perawat. Untuk dapat menurunkan kecemasan pada pasien pre operasi salah satunya diperlukan komunikasi yang efektif terutama komunikasi terapeutik. maka pasien yang akan menjalankan operasi akan timbul kecemasan dalam dirinya. 2009) Hasil penelitian Supono (2005) mengatakan bahwa tingkat kecemasan pasien persalinan dapat berkurang dengan adanya komunikasi terapeutik perawat. (Arwani.3.4 Komunikasi Terapeutik Perawat dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Dari hasil penelitian di rumah Sakit Muhammadiyah Palembang dapat dilihat bahwa komunikasi terapeutik perawat di ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang tergolong dalam kategori cukup dan pasien pre operasi seksio caesar mengalami kecemasan sedang sebanyak 8 pasien (56%) dari hasil uji statistik menunjukkan bahwa pValue 0. 5.05. Kecemasan juga merupakan sesuatu hal yang tidak jelas. Dari hasil penelitian yang didapatkan dan dari teori yang mendukung. Hal ini perlu mendapat perhatian serius dari perawat karena perawat merupakan petugas kesehatan yang terdekat dan terlama dengan pasien. Karena komunikasi tersebut sangat dibutuhkan oleh pasien yang akan menjalankan operasi.016 ≤ 0. berarti ada hubungan komunikasi teraputik perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar di ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang.lancar. 2003) Menurut Yadi (2001) kecemasan adalah suatu perasaan yang tidak nyaman yang disertai dengan rasa takut yang mengancam dan perasaan tidak nyaman terhadap sesuatu. mengatasi gangguan psikologis. Menurut Northouse (1998) Komunikasi terapeutik adalah kemampuan atau keterampilan perawat untuk membantu pasien beradaptasi terhadap stres.

031. 7. BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 7.2. Diposkan oleh agustus di 09:06 0 komentar .1 Manfaat Bagi Rumah Sakit Dapat dijadikan masukan dan motivasi bagi rumah sakit untuk lebih meningkatkan komunikasi terapeutik perawat dalam mengurangi tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar. Dari hasil uji Chi-Square.1 Kesimpulan Setelah dilakukan penelitian terhadap 14 responden di ruangan Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang 22 Februari sampai 6 Maret tahun 2010 dapat disimpulkan bahwa : 7. 7. 7.2 Manfaat Bagi Institusi Pendidikan Dapat menambah informasi dan referensi yang berguna bagi mahasiswa sekolah tinggi ilmu kesehatan Muhammadiyah Palembang. 7.3 Ada hubungan antara komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar.2 Tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar di ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang Tahun 2010 didapatkan sebagian besar dengan kategori ringan.1. 7.1 Komunikasi terapeutik perawat dirumah Sakit Muhammadiyah Palembang Tahun 2010 didapatkan sebagian besar dengan kategori cukup.1.4 Manfaat Bagi Peneliti Dapat menambah ilmu pengetahuan maternitas serta riset penelitian dan wawasan bagi peneliti mengenai hubungan komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar.1.2 Saran 7.2. 7.2. didapatkan pValue = 0.dekat dengan pasien dan memberikan rasa nyaman pada pasien yang akan menjalankan operasi seksio caesar.3 Manfaat Bagi Pasien Dapat memberikan rasa nyaman dan aman pada semua pasien yang akan menjalankan operasi seksio caesar sehingga pasien yang menjalankan operasi tidak cemas dan operasi bisa berjalan dengan lancar.2.

2001.Kamis. 2. Aliran darah balik fetus akan bercampur dengan aliran darah bersih dari ibu ( melalui vena umbilikalis ) kemudian masuk ke dalam atrium kanan dan kemudian dipompa oleh ventrikel kanan kembali ke aliran sistemik melalui duktus arteriosus.google. Faktor Prenatal : • Ibu menderita penyakit infeksi : Rubella. insidennya bertambah dengan berkurangnya masa gestasi ( Betz & Sowden. Kelainan ini merupakan 7% dari seluruh penyakit jantung bawaan. ETIOLOGI Penyebab terjadinya penyakit jantung bawaan belum dapat diketahui secara pasti. 3. Faktor Genetik : Anak yang lahir sebelumnya menderita penyakit jantung bawaan. 235 ) 2. 2002 : 375 ) Patent Ductus Arteriosus (PDA) atau Duktus Arteriosus Paten (DAP) adalah kelainan jantung kongenital ( bawaan ) dimana tidak terdapat penutupan ( patensi ) duktus arteriosus yang menghubungkan aorta dan pembuluh darah besar pulmonal setelah 2 bulan pasca kelahiran bayi ( www. 10 Juni 2010 patens ductus PATENT DUCTUS ARTERIOSUS (PDA) 1. • Umur ibu lebih dari 40 tahun. PATOFISIOLOGI Duktus arteriosus adalah pembuluh darah yang menghubungkan aliran darah pulmonal ke aliran darah sistemik dalam masa kehamilan ( fetus ). • Ibu alkoholisme. ( Suriadi. Sering dijumpai pada bayi prematur. Hubungan ini ( shunt ) ini diperlukan oleh karena sistem respirasi fetus yang belum bekerja di dalam masa kehamilan tersebut. • Ibu menderita penyakit Diabetes Mellitus (DM) yang memerlukan insulin. ± 2-10 mm distal dari percabangan arteri subklavia kiri.com ) Patent Duktus Arteriosus adalah kegagalan menutupnya ductus arteriosus (arteri yang menghubungkan aorta dan arteri pulmonal) pada minggu pertama kehidupan. yang menyebabkan mengalirnya darah dari aorta yang bertekanan tinggi ke arteri pulmonal yang bertekanan rendah. tetapi ada beberapa faktor yang diduga mempunyai pengaruh pada peningkatan angka kejadian penyakit jantung bawaan : 1. Kelainan kromosom seperti Sindrom Down. DEFINISI Patent Ductus Arteriosus (PDA) adalah duktus arteriosus yang tetap terbuka setelah bayi lahir. Normalnya duktus arteriosus berasal dari arteri pulmonalis utama (arteri pulmonalis kiri) dan berakhir pada bagian superior dari aorta desendens. Rita Yuliani. . • Ibu meminum obat-obatan penenang atau jamu. Lahir dengan kelainan bawaan yang lain. Ayah / Ibu menderita penyakit jantung bawaan.

Adanya perubahan tekanan. i. 2. Penatalaksanaan Konservatif : Restriksi cairan dan Pemberian obat-obatan : Furosemid (lasix) diberikan bersama restriksi cairan untuk meningkatkan diuresis dan mengurangi efek kelebihan beban kardiovaskular. CHF dan infeksi paru berulang seringkali terjadi pada PDA besar. berbeda dengan aorta yang memiliki lapisan elastin yang tebal dan tersusun rapat ( unfragmented ). Akan terjadi hipertensi pulmonal dan PVOD bila PDA dibiarkan tanpa tindakan penutupan. Gagal tumbuh 6. sirkulasi dan meningkatnya pO2 akan menyebabkan penutupan spontan duktus arteriosus dalam waktu 2 minggu. MANIFESTASI KLINIK 1. Pulsasi nadi perifer yang lemah dan lebar 4. Gangguan paru yang terjadi bersamaan (misalnya sindrom gawat nafas atau displasia bronkkopulmoner) g. 7. Perdarahan gastrointestinal (GI). KOMPLIKASI a. c. CHF ( gagal jantung kongestif ) d. . Hiperkalemia (penurunan keluaran urin). Setelah persalinan terjadi perubahan sirkulasi dan fisiologis yang dimulai segera setelah eliminasi plasenta dari neonatus. Rumble apikal terdengar pada PDA besar. Selsel otot polos pada duktus arteriosus sensitif terhadap mediator vasodilator prostaglandin dan vasokonstriktor (pO2). penurunan jumlah trombosit h. Enterokolitis nekrosis f. Penutupan spontan PDA tidak akan terjadi pada bayi aterm. Tidak menimbulkan gejala bila PDA kecil. Diantara sel-sel otot polos terdapat serat-serat elastin yang membentuk lapisan yang berfragmen. pemberian antibiotik profilaktik untuk mencegah endokarditis bakterial. 5. panjang PDA serta tahanan vaskuler paru (PVR). Tanda-tanda CHF muncul pada PDA besar. 4. Non pembedahan : Penutupan dengan alat penutup dilakukan pada waktu kateterisasi jantung. PENATALAKSANAAN MEDIS a. Aritmia j. 3. Hepatomegali (jarang terjadi pada bayi prematur) e. Pemberian indomethacin (inhibitor prostaglandin) untuk mempermudah penutupan duktus. 5.Dinding duktus arteriosus terutama terdiri dari lapisan otot polos ( tunika media ) yang tersusun spiral. Murmur kontinyu (machinery) derajat 1 sampai 4/6 terdengar dengan jelas pada ULSB atau daerah infraklavikula kiri yang merupakan petanda khas kelainan ini. 6. Endokarditis b. b. Obstruksi pembuluh darah pulmonal c. Duktus arteriosus yang persisten (PDA) akan mengakibatkan pirai (shunt) L-R yang kemudian dapat menyebabkan hipertensi pulmonal dan sianosis. Pembedahan : Pemotongan atau pengikatan duktus. Besarnya pirai (shunt) ditentukan oleh diameter. Sianosis yang terjadi pada PDA dengan PVOD dikenal sebagai sianosis diferensial oleh karena hanya ekstremitas bawah yang biru sedangkan ekstremitas atas tetap normal.

Pada PDA kecil-sedang dapat terjadi LVH atau normal. Kateterisasi jantung yaitu hanya dilakukan untuk mengevaluasi lebih jauh hasil ECHO atau Doppler yang meragukan atau bila ada kecurigaan defek tambahan lainnya.3:1 pada bayi cukup bulan atau lebih dari 1. Pemeriksaan diagnostik mungkin dilakukan seperti . bervariasi sesuai tingkat keparahan. Pemeriksaan angiografi biasanya tidak dibutuhkan kecuali bila terdapat kecurigaan PVOD. Dalam fase pre operasi ini dilakukan pengkajian pre operasi awal. Ekhokardiografi yaitu rasio atrium kiri tehadap pangkal aorta lebih dari 1. Pengkajian Sebelum operasi dilaksanakan pengkajian menyangkut riwayat kesehatan dikumpulkan. Foto toraks juga menyerupai kelainan VSD. CVH bila PDA besar. Atau RVH bila telah terjadi PVOD.com/ 99999999 KONSEP KEPERAWATAN PRE OPERASI 19 Januari 2009 oleh PRO-HEALTH Keperawatan pre operasi dimulai ketika keputusan tindakan pembedahan di ambil. merencanakan penyuluhan dengan metode yang sesuai dengan kebutuhan pasien. A. pemeriksaan fisik dilakukan. mengkaji kebutuhan klien dalam rangka perawatan post operasi. memastikan kelengkapan pemeriksaan praoperasi. PEMERIKSAAN a.blogspot. Pada PDA kecil bayangan jantung normal. PDA sedangbesar terjadi kardiomegali dan peningkatan PVM. c. d. tanda-tanda vital di catat dan data dasar di tegakkan untuk perbandingan masa yang akan datang. hipertrofi ventrikel kiri pada PDA yang lebih besar. dan berakhir ketika klien di pindahkan ke kamar operasi. melibatkan keluarga atau orang terdekat dalam wawancara. pada PDA kecil tidak ada abnormalitas. Melalui pemeriksaan ekho 2-D dan Doppler dapat divisualisasi adanya PDA dan besarnya shunt. b.0 pada bayi praterm (disebabkan oleh peningkatan volume atrium kiri sebagai akibat dari pirau kiri ke kanan) e. http://agustusstikes. Adanya PVOD akan mengakibatkan ukuran jantung normal dengan pembesaran MPA dan peningkatan corakan vaskulerisasi hilus.7. EKG serupa dengan kelainan VSD.

dan fungsi imunologi. biopsi jaringan. Disamping pengkajian fisik secara umum perlu di periksa berbagai fungsi organ seperti pengkajian terhadap status pernapasan. keterampilan. Dalam memberikan penyuluhan klien pre operasi perlu dipertimbangkan masalah waktu. fungsi endokrin. C. endoskopi. klien obesitas akan mendapat masalah post operasi dikarenakan lapisan lemak yang tebal akan meningkatkan resiko infeksi luka. . tambahan pengetahuan. fungsi hepar dan ginjal. Tuntutan klien akan bantuan keperawatan terletak pada area pengambilan keputusan. Demikian pula dengan kondisi obesitas. sebelumnya diberikan penjelasan yang gamblang dan jelas mengenai pembedahan dan kemungkinan resiko. dan pemeriksaan feses dan urine. rontgen. B. juga terhadap kesulitan teknik dan mekanik selama dan setelah pembedahan. Pendidikan Pasien Pre operasi Penyuluhan pre operasi didefinisikan sebagai tindakan suportif dan pendidikan yang dilakukan perawat untuk membantu pasien bedah dalam meningkatkan kesehatannya sendiri sebelum dan sesudah pembedahan. penyembuhan luka akan di pengaruhi status nutrisi klien. Informed Consent Tanggung jawab perawat dalam kaitan dengan Informed Consent adalah memastikan bahwa informed consent yang di berikan dokter di dapat dengan sukarela dari klien. jika penyuluhan diberikan terlalu lama sebelum pembedahan memungkinkan klien lupa.analisa darah. Perawat berperan memberikan penjelasan pentingnya pemeriksaan fisik diagnostik.dan perubahan perilaku. endoskopi. Status nutrisi klien pre operasi perlu dikaji guna perbaikan jaringan pos operasi.

Hal ini dapat dicapai dengan memperagakan pada pasien bagaimana melakukan nafas dalam. ada/tidak kemungkinan terjadinya komplikasi.2 dan 2. ambil nafas pendek. nafas lambat (menahan inspirasi secara maksimal) dan bagaimana menghembuskan nafas dengan lambat pasien dalam posisi duduk untuk memberikan ekspansi paru maksimum.com/2009/01/19/konsep-keperawatan-pre-operasi/ 100000000 sted on November 1. dan batukkan. Batuk dan Relaksasi salah satu tujuan dari keperawatan pre operasi adalah untuk mengajar pasien cara untuk meningkatkan ventilasi paru dan oksigenasi darah setelah anastesi umum. obat-obatan yang pernah / sedang / akan diberikan untuk masalah saat ini yang kemungkinan . menciptakan hubungan dokter-pasien 3.3 ). (Gambar 2. faktor penyulit 5. Selain meningkatkan pernafasan latihan ini membantu pasien untuk relaksasi. Setelah melakukan latihan nafas dalam beberapa kali. mengetahui riwayat penyakit dahulu serta keadaan / masalah yang mungkin menyertai pada saat ini. pasien di instruksikan untuk bernafas dalam-dalam. 2. Latihan Nafas Dalam. Jenis operasi yang direncanakan 3. selama dan sesudah anestesi / operasi 4. 2008 by kuliahbidan Tujuan 1. indikasi / kontraindikasi 4. informed consent Penilaian catatan medik (chart review) 1. menghembuskan melalui mulut. http://forbetterhealth. 2. Beberapa penyuluhan atau instruksi pre operasi yang dapat meningkatkan adaptasi klien pasca operasi di antaranya : 1.wordpress.demikian juga bila terlalu dekat dengan waktu pembedahan klien tidak dapat berkonsentrasi belajar karena adanya kecemasan atau adanya efek medikasi sebelum anastesi. mengetahui masalah saat ini. menyusun rencana penatalaksanaan sebelum. mengenal pasien. Membedakan masalah obstetri / ginekologi dengan masalah non-obstetri yang terjadi pada kehamilan.

riwayat pengobatan. premedikasi). penyakit jantung. memungkinkan dilakukannya induksi anestesi yang cepat pada wanita hamil. riwayat operasi / anestesi sebelumnya. menyebabkan terjadinya dilutional anemia of pregnancy. meskupun dengan disertai denitrogenasi. Pada persalinan. Meskipun terjadi peningkatan isi dan aktifitas sirkulasi. Ventilasi per menit meningkat sampai 50%. Menjelang / dalam persalinan dapat terjadi gangguan / sumbatan jalan napas pada 30% kasus. baca sendiri yaaaaa !!!. vasopresor / vasodilator. Pada kasus obstetri / kasus non-obstetri dalam kehamilan. ANESTESIA / ANALGESIA UNTUK KASUS OBSTETRI Pertimbangan : Fisiologi Kehamilan / Persalinan (Maternal Physiology) Sistem pernapasan Perubahan pada fungsi pulmonal. pemantauan kesejahteraan janin (dengan fetal monitoring). Sistem kardiovaskular Peningkatan isi sekuncup / stroke volume sampai 30%. PENTING DIKETAHUI : FARMAKOLOGI OBAT-OBAT (uterotonik / tokolitik. Functional residual capacity menurun sampai 15-20%. hipertensi. Konsultasi dengan dokter yang akan melakukan tindakan obstetrik. Jika tidak segera dideteksi dan dikoreksi. untuk airway maintenance selama anestesi / operasi). dapat terjadi penurunan vaskularisasi uterus sampai asfiksia janin. gangguan pembekuan darah. dsb. Penjelasan kepada pasien : metode. Menetapkan rencana anestesi 1. penekanan / kompresi vena cava inferior dan aorta oleh massa uterus gravid dapat menyebabkan terjadinya supine hypertension syndrome. hasil-hasil pemeriksaan penunjang / laboratorium yang diperlukan Pemeriksaan pasien Anamnesis : penting mengumpulkan data tambahan tentang riwayat penyakit yang dapat menjadi penyulit / faktor risiko tindakan anestesi (asma. menyebabkan penurunan PaO2 yang cepat pada waktu dilakukan induksi anestesi. cadangan oksigen juga berkurang. cara. peningkatan curah jantung sampai 40%. Volume plasma meningkat sampai 45% sementara jumlah eritrosit meningkat hanya sampai 25%. musclerelaxant. jantung / paru / abdomen / ekstremitas. kebutuhan oksigen (oxygen demand) meningkat sampai 100%. peningkatan frekuensi denyut jantung sampai 15%. analgesi. puasa. 2. persiapan (diet. tanda vital lengkap.dapat berinteraksi dengan obat / prosedur anestesi 6. . Pada saat persalinan. pemulihan. penyakit ginjal. ventilasi dan pertukaran gas. dsb). kepala / leher (perhatian KHUSUS pada mulut / gigi / THT / saluran napas atas. kemungkinan risiko. kebiasaan merokok / alkohol / obat-obatan. penting dilakukan : pemeriksaan obstetri (umumnya telah dilakukan oleh dokter obstetri). anestesi. dsb) Untuk detail nya. kontraksi uterus / his menyebabkan terjadinya autotransfusi dari plasenta . riwayat alergi. Pemeriksaan fisik : tinggi / berat badan.

Kadar kolinesterase plasma menurun sampai sekitar 28%. Pada sectio cesarea. Lambung HARUS selalu dicurigai penuh berisi bahan yang berbahaya (asam lambung.sebesar 300-500 cc selama kontraksi. Meskipun demikian jarang diperlukan transfusi. konsentrasi obat inhalasi yang lebih rendah cukup untuk mencapai anestesia. sampai 80%. Beban jantung meningkat. mungkin akibat hemodilusi dan penurunan sintesis. namun menurun sampai 60% di atas nonpregnant state pada saat kehamilan aterm. Sistem gastrointestinal Uterus gravid menyebabkan peningkatan tekanan intragastrik dan perubahan sudut gastroesophageal junction. curah jantung meningkat. Hal ini karena pelebaran vena-vena epidural pada kehamilan menyebabkan ruang subarakhnoid dan ruang epidural menjadi lebih sempit. Sementara itu terjadi juga peningkatan sekresi asam lambung. metoksifluran 32%. Pada anestesi epidural atau intratekal (spinal). (baca juga catatan special aspects of perinatal pharmacology) Tindakan Anestesi / Analgesi Regional . urea dan asam urat dalam darah mungkin menurun namun hal ini dianggap normal. dapat juga menyebabkan depresi pada janin. Perdarahan yang terjadi pada partus pervaginam normal bervariasi. dapat sampai 400-600 cc. Pasien dengan preeklampsia mungkin berada dalam proses menuju kegagalan fungsi ginjal meskipun pemeriksaan laboratorium mungkin menunjukkan nilai “normal”. konsentrasi anestetik lokal yang diperlukan untuk mencapai anestesi juga lebih rendah. XII dan fibrinogen sehingga darah berada dalam hypercoagulable state. X. Kadar kreatinin. Faktor yang menentukan yaitu peningkatan sensitifitas serabut saraf akibat meningkatnya kemampuan difusi zat-zat anestetik lokal pada lokasi membran reseptor (enhanced diffusion). sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya regurgitasi dan aspirasi pulmonal isi lambung. Harus dianggap bahwa SEMUA obat dapat melintasi plasenta dan mencapai sirkulasi janin. karena obat-obatan anestesia yang umumnya merupakan depresan. Hal itu karena selama kehamilan normal terjadi juga peningkatan faktor pembekuan VII. Sistem saraf pusat Akibat peningkatan endorphin dan progesteron pada wanita hamil. VIII. penurunan tonus sfingter esophagus bawah serta perlambatan pengosongan lambung. isofluran 40%. dapat terjadi perdarahan sampai 1000 cc. Ginjal Aliran darah ginjal dan laju filtrasi glomerulus meningkat sampai 150% pada trimester pertama. Transfer obat dari ibu ke janin melalui sirkulasi plasenta Juga menjadi pertimbangan. Pada pemberian suksinilkolin dapat terjadi blokade neuromuskular untuk waktu yang lebih lama. kebutuhan halotan menurun sampai 25%. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh aktifitas hormon progesteron. makanan) tanpa memandang kapan waktu makan terakhir. Enzimenzim hati pada kehamilan normal sedikit meningkat.

dilakukan punksi antara vertebra L2-L5 (umumnya L3-L4) dengan jarum / trokard. Kemudian posisi pasien diatur pada posisi operasi / tindakan selanjutnya. 9. Epidural : posisi pasien lateral dekubitus atau duduk membungkuk. Waktu mula kerja (time of onset) lebih lama 3. Dosis yang dipakai untuk anestesi epidural lebih tinggi daripada untuk anestesi spinal. Jika dalam perjalanannya diperlukan sectio cesarea. 2. 7.250. sehingga kemajuan persalinan dapat menjadi lebih lambat. menggunakan jarum halus atau kapas. 5. jalur obat anestesia regional sudah siap. Kontraindikasi : 1. 15-30 menit sebelum anestesi. Syok hipovolemik 7. Ruang epidural dicapai dengan perasaan “hilangnya tahanan” pada saat jarum menembus ligamentum flavum. Kelainan SSP tertentu 4.75%. dilakukan punksi antara L3-L4 (di daerah cauda equina medulla spinalis). Pasang line infus dengan diameter besar. jika stylet ditarik perlahan-lahan.Analgesi / blok epidural (lumbal) : sering digunakan untuk persalinan per vaginam. Obat anestetik yang digunakan : lidocain 1-5%. Kemungkinan terjadi sakit kepala pasca punksi. Daerah punksi ditutup dengan kasa dan plester. Sepsis 2. dengan jarum / trokard. Identifikasi adalah dengan keluarnya cairan cerebrospinal. dilakukan fiksasi. 6. Observasi tanda vital 4. berikan antasida 3. berikan 500-1000 cc cairan kristaloid (RingerLaktat). Keuntungan : 1. Kemudian obat anestetik diinjeksikan ke dalam ruang epidural / subaraknoid. 3. Infeksi / inflamasi / tumor pada lokasi injeksi Teknik : 1. 4. Ibu tetap dalam keadaan sadar dan dapat berpartisipasi aktif dalam persalinan. Hipotensi akibat vasodilatasi (blok simpatis) 2. . Kerugian : 1. Spinal / subaraknoid : posisi lateral dekubitus atau duduk. Mengurangi pemakaian narkotik sistemik sehingga kejadian depresi janin dapat dicegah / dikurangi. Keberhasilan anestesi diuji dengan tes sensorik pada daerah operasi. mencapai ruangan subaraknoid. Anestesi epidural atau spinal : sering digunakan untuk persalinan per abdominam / sectio cesarea. stimulus nyeri dan kontraksi dapat menurun. Pasien menolak 5. chlorprocain 2-3% atau bupivacain 0. Untuk persalinan per vaginam. Insufisiensi utero-plasenta 6. Setelah menembus ligamentum flavum (hilang tahanan). 8. Jika dipakai kateter untuk anestesi. 2. tusukan diteruskan sampai menembus selaput duramater. Risiko aspirasi pulmonal minimal (dibandingkan pada tindakan anestesi umum) 4. Gangguan pembekuan 3.

dan balon pipa endotrakeal dikembangkan. sampai .75% isofluran. karena dosis yang dipakai lebih tinggi. Diperlukan keadaan relaksasi uterus. Pengendalian jalan napas dan pernapasan optimal. dan pengikat / korset perut (abdominal binder).5% halotan.0 – 1. Pasien harus diatur dalam posisi telentang / supine. 2. Indikasi : 1. 2. atau 0.5 mg/kgBB suksinilkolin.Komplikasi yang mungkin terjadi : 1. Injeksi intravaskular ditandai dengan gangguan penglihatan. dengan uterus digeser ke kiri. dapat terjadi total spinal anesthesia. Kesulitan melakukan intubasi tetap merupakan penyebab utama mortalitas dan morbiditas maternal. Hipotensi ditangani dengan memberikan cairan intravena dan ephedrine. observasi tanda vital. Keuntungan : 1.0% enfluran. 4. Terapi dengan istirahat baring total. dilakukan induksi dengan 4 mg/kgBB tiopental dan 1. tinitus. Pasang line infus dengan diameter besar. Risiko hipotensi dan instabilitas kardiovaskular lebih rendah. analgesik. 3.5 mg/kgBB suksinilkolin. pasien diposisikan dengan uterus digeser / dimiringkan ke kiri. O2-N2O 50%-50% diberikan melalui inhalasi. Setelah regio abdomen dibersihkan dan dipersiapkan. Tindakan Anestesi Umum Tindakan anestesi umum digunakan untuk persalinan per abdominam / sectio cesarea. 3. Hiperventilasi pada ibu dapat menyebabkan terjadinya hipoksemia dan asidosis pada janin. hipotensi dan kehilangan kesadaran. Dapat juga ditambahkan inhalasi 1. Jika terjadi injeksi subarakhnoid yang tidak diketahui pada rencana anestesi epidural. Induksi cepat. dan operator siap. Dapat terjadi depresi janin akibat pengaruh obat. dan dilakukan hiperventilasi untuk mengatasi asidosis metabolik. Ada kontraindikasi atau keberatan terhadap anestesia regional. Dilakukan penekanan krikoid. Gejala berupa nausea. menggunakan 1. 2. atau pasien diminta melakukan pernapasan dalam sebanyak 5 sampai 10 kali. Teknik : 1. Risiko aspirasi pada ibu lebih besar. Dialirkan ventilasi dengan tekanan positif. Kerugian : 1. dilakukan ventilasi O2 100% dengan mask disertai penekanan tulang cricoid. dilakukan intubasi. dan suksinilkolin diinjeksikan melalui infus. Gawat janin. 5. Kadang terjadi juga serangan kejang. kemudian dilakukan intubasi. dan kehilangan kesadaran. 4. hidrasi (>3 L/hari). 3. antasida diberikan 15-30 menit sebelum operasi. Komplikasi neurologik yang sering adalah rasa sakit kepala setelah punksi dura. 2. 3. 3. Dilakukan preoksigenasi dengan O2 100% selama 3 menit. dapat sampai disertai henti napas dan henti jantung. 0. 2. Harus dilakukan intubasi pada pasien.

janin dilahirkan. Mortalitas / morbiditas maternal : tidak berbeda signifikan dengan tindakan anestesi / operasi pada wanita yang tidak hamil. diberikan sebagaimana seharusnya. diberikan juga vasodilator. Usaha mempertahankan kehamilan 3. Setelah itu. yang memerlukan tindakan operasi (misalnya : trauma. 9. magnesiumsulfat. diberikan antibiotika. 5. Teknik anestesia regional (terutama spinal) lebih dianjurkan. Pertimbangan tindakan anestesi untuk bedah non-obstetri pada masa kehamilan : 1. antara 5-35%. efek hambatan pertumbuhan atau efek teratogen terhadap janin. Jika operasi dilakukan dalam masa kehamilan. misalnya syok. hipoksia. dan sebagainya. Usaha mempertahankan fisiologi sirkulasi utero-plasenta yang optimal 4. Operasi elektif sebaiknya ditunda sedapat mungkin sampai 6 minggu pascapersalinan (setelah masa nifas. hal ini menjadi indikasi untuk induksi cepat dan penggunaan anestetik inhalasi. Premedikasi minimal : barbirat lebih dianjurkan dibandingkan benzodiazepin. 3. Untuk pasien yang direncanakan anestesia dengan N2O. ANESTESIA / ANALGESIA UNTUK OPERASI NON-OBSTETRI PADA MASA KEHAMILAN (NON-OBSTETRICAL SURGERY DURING PREGNANCY) Sekitar 1-5% wanita hamil mengalami masalah yang tidak berhubungan secara langsung dengan kehamilannya. Anjuran / pertimbangan : 1. karena paparan / exposure obatobatan terhadap janin relatif paling minimal. obat2an. 3. pada infeksi atau kemungkinan infeksi. pada pre-eklampsia. ditatalaksana dengan oksigen. narkotik dapat digunakan untuk analgesia. 2. berikan suplementasi asam folat (N2O dapat menghambat sintesis dan metabolisme asam folat). untuk maintenance anestesi digunakan teknik balans (N2O/narkotik/relaksan). Obat inhalasi dihentikan setelah tali pusat dijepit. pemakaian obat-obatan yang memiliki efek depresi. 4. (catatan) Jika terjadi hipertonus uterus. 7. atau jika ada hipertensi. 6. untuk mencegah ibu bangun. Operasi semi-urgent sebaiknya ditunda sampai trimester kedua atau ketiga. Ekstubasi dilakukan setelah pasien sadar. Pencegahan sedapat mungkin. cairan. karena obat-obat tersebut dapat menyebabkan atonia uteri. dsb dsb). Pada kasus gawat darurat. CATATAN : Pada kasus-kasus obstetri patologi yang memerlukan obat-obatan / penanganan medik selain anestesi. 8. 2. lanjutkan pemeriksaan antenatal dengan . Contoh : 1. mortalitas maternal dan perinatal SANGAT TINGGI (lihat catatan management of injured pregnant patient). Mortalitas / morbiditas perinatal : LEBIH TINGGI signifikan. Keselamatan ibu (prioritas utama) 2. di mana semua perubahan fisiologis akibat kehamilan diharapkan telah kembali pada keadaan normal). anestetik inhalasi yang kuat juga dapat digunakan dengan konsentrasi rendah. sementara diperlukan relaksasi uterus yang optimal. appendiksitis. pada keadaan umum / tanda vital yang buruk. 6.

5 kali di atas frekuensi basal. menciptakan relaksasi otot yang adekuat untuk membantu tindakan operasi Pengisian rongga peritoneum dengan CO2 dapat menyebabkan peningkatan PaCO2 jika pernapasan tidak dikendalikan. 3. mengurangi potensial kejadian aritimia akibat hiperkarbia dan asidosis. dapat sampai 30-40 cm H2O). Pengisian rongga abdomen dengan udara (pneumoperitoneum) 2. seperti 0.5 mg/ml) diberikan melalui infus intravena. Untuk meningkatkan kontraksi uterus digunakan ergometrin maleat. untuk deteksi kemungkinan persalinan preterm pascaoperasi. Tujuan anestesi pada laparoskopi adalah : 1. Kadang diperlukan posisi Trendelenburg ekstrim. digunakan : 1. dengan anestetik narkotik dan musclerelaxant. Dapat juga digunakan tambahan anestesi inhalasi dalam konsentrasi rendah. atropin sulfat (0.5 mg/kgbb. Tekanan intraabdominal sampai 30-40 cm H2O sebaliknya dapat menyebabkan penurunan tekanan vena sentral dan curah jantung dengan cara menurunkan pengisian jantung kanan. dan/atau tramadol 1-2 mg/kgbb) 2. sedativa (diazepam 10 mg) 3. Metode yang dianjurkan adalah anestesi dengan N2O-O2 perbandingan 75%-25% inhalasi. 3. anestesia .25-0. mempertahankan stabilitas kardiovaskular pada keadaan peningkatan tekanan intraabdominal yang besar akibat insuflasi CO2 (umumnya tekanan naik sampai 20-25 cmH2O. (baca juga modul “Safe Motherhood” tentang Penuntun Belajar Kuretase (POEK)) Laparotomi operasi ginekologi Untuk operasi ginekologi dengan laparotomi. Peningkatan tekanan intraabdominal akibat insuflasi gas dapat menyebabkan muntah dan aspirasi. ANESTESIA / ANALGESIA UNTUK KASUS GINEKOLOGI Kuretase Untuk tindakan kuretase. Jika diperlukan.perhatian khusus pada fetal heart monitoring dan penilaian aktifitas uterus. 4. 2. Kelebihan CO2 dapat diatasi dengan kendali frekuensi pernapasan 1. analgetika (pethidin 1-2 mg/kgbb. Laparoskopi Untuk tindakan laparoskopi. mencegah peningkatan tekanan parsial CO2 dalam darah (PaCO2) pada insuflasi abdomen dengan gas CO2. dan/atau neuroleptika ketamin HCl 0.0% isofluran atau enfluran. diperlukan keadaan khusus : 1. digunakan anestesia umum. Kadang digunakan elektrokoagulasi.5-1. serta peningkatan tekanan vena sentral dan curah jantung sekunder akibat redistribusi sentral volume darah.

Mereka lebih mudah tersinggug akibat psikis dibandingkan dengan orang yang cemasnya sedikit. Takut yang belum diketahui adalah umum. Respon Fsiologis Operasi besar merupakan stressor kepada tubuh dan memicu respon neoro endecrine. Jenis prosedur pembedahan atau operasi diklasifikasi berdasarkan tingkat keseriusan. pembedahan adalah semua tindakan pengobatan yang menggunakan cara invasif dengan membuka atau menampilkan bagian tubuh yang akan ditangani yang umumnya dilakukan dengan membuka sayatan. Konsep Operasi/ Pembedahan 1. Sedasi ringan dapat diberikan. Pembedahan atau lebihdikenal dengan istilah operasi dapat dibedakan. kegawatan dan tujuan pembedahan. Sedangkan menurut Laksamana (2003). kesal. takut anastesi biasanya dalam maut “ Tidur terus tidak bangun kembali”. Respon Psikologis Sebagian ketakutan yang melatarbelakangi pra pembedahan adalah elusive atau keinginan mengelak dan orang tidak akan mengetahui penyebabnya. Pengertian Menurut Depkes RI (1998). B. dimana dapat dilakukan di ruang praktek klinik untuk rawat jalan dengan anastesi lokal.lokal blok regio periumbilikal dapat dilakukan dengan 10-15 cc bupivacain 0. 3. seksio sesarea yang dilakukan sebagai prosedur kedaruratan atau kegawatan untuk melahirkan janin (Poter dan Perry. 2006). Konsep Seksio Sesarea . Orang yang sangat cemas sehingga tidak bisa berbicara dan mencoba menyesuaikan diri dengan kecemasan sebelum operasi sering kali menderita banyak kesukaran pada pasca pembedahan. pembedahan adalah suatu metode pengobatan yang dilakukan dengan terencana atau mendadak terhadap sebagian sistem tubuh. mereka cenderung banyak marah. cukup gawat atau kehilangan darah cukup banyak maka akan menyebapkan shock intake protein yang tinggi. pembedahan minor atau (operasi kecil). yang melibatkan rekonstruksi atau perubahan yang luas pada bagian tubuh dan menimbulkan risiko yang tinggi bagi kesehatan. respon terjadi dari saraf simpati dan respon hormonal yang bertugas melindungi tubuh dari ancaman cedera. bingung atau depresi.5%. Sedangkan operasi mayor (operasi besar) dengan menggunakan anastesi umum yang dilakukan di unit pembedahan rawat inap. 2. 111111111 A. bila stress terhadap sistem. Prosedur yang gawat juga dianggap punya keseriusan mayor misalnya. guna mengisi kebutuhan protein untuk keperluan penyembuhan dan mengisi kebutuhan untuk fungsi yang optimal.

Pesalinan seksio sesarea kelahiran bayi melalui abdomen dan insisi uterus (Mary. b. Plasenta prepea. g. Pengertian Seksio sesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding rahim (kafita selekta kedokteran. f.1995). kurang kuatnya perut pada dinding uterus. Preeklamsi. Hipertensi . kematian prenatal pasca seksio sesarea berkisar antara 4 sampai 7%. Indikasi Menurut statistik tentang 3509 kasus seksio sesarea yang disusun oleh Peel dan Camberlain (dalam Hanifa 2006). b. Pada ibu komplikasi.. Suatu komplikasi yang baru yang kemudian tampak. lika kandung kencing. anak yang dilahirkan dengan seksio sesarea menurut data statistik di negara. indikasi untuk seksio sesarea ialah a. Disproporsi janin panggul. d. Kontra indikasi e.komplikasi yang bisa timbul ialah sebagai berikut : 1). Pernah seksio sesaresa 3. h. Incoordinate uteria action.1. embolisme paru. 2. 2001).negara dengan pengawasan antenatal dan intranatal yang baik. Kelainan letak. 2). Komplikasi a. Pada anak Seperti halnya dengan ibunya. Infeksi puerperal Komplikasi ini bisa bersifat ringan seperti : kenaikan suhu tubuh selama beberapa hari dalam masa nifas. sehingga pada kehamilan berikutnya bisa terjadi ruptura uteri. Komplikasi lainnya.paru. Pendarahan Pendarahan banyak bisa timbul pada waktu pembedahan jika cabang. c. Gawat janin. 4.cabang ateri ulterina ikut terbuka.

Seksio sesarea ekstraperitoneal. 2. pada sesuatu yang akan terjadi dengan penyebab yang tidak jelas yang dihubungkan dengan perasaan tidak menentu dan tidak berdaya. anensefalus. Pengertian Kecemasan Menurut Stuart & Sundeen (1998) kecemasan adalah kebingungan. 3. ia memperingatkan adanya bahaya yang mengancam dan memungkinkan seseorang mengambil tindakan untuk mengatasi ancaman (Kaplan & Sadock). Keadaan emosi ini dialami secara obyektif dan dikomunikasikan dalam hubungan interpersonal (Maramis.Mengenai komtra indikasi perlu diingat bahwa seksio sesarea dilakukan baik untuk kepentingan ibu maupun kepentingan anak. Kecemasan adalah suatu sinyal yang menyadarkan. atau apabila janin terbukti cacat seperti hidro sefalus. Seksio sesarea transperitonealis profunda. C. Stuart dan lararia (1998) mengatakan kecemasan dapat diekspresikan secara langsung melalui perubahan fisiologis dari perilaku maupun secara tidak langsung melalui timbulnya gejala atau mekanisme koping sebagai upaya untuk melawan kecemasan (Sofia. (Hanifa.1990). ketakutan. dkk. Menurut Barbara (1996) kecemasan adalah respon psikologis perasaan takut atau tidak tenang yang sumbernya tidak dikenali dan terjadi ketika seseorang merasa terancam baik secara fisik maupun secara psikologis . Freud (1998) memandang bahwa kecemasan timbul secara otomatis apabila kita menerima stimulus yang berlebihan yang melampaui kemampuan untuk menanganinya.jenis seksio sesarea Dikenal beberapa secsio sesarea yaitu : 1. stimulus tersebut dapat berasal dari luar maupun dari dalam diri. Konsep kecemasan 1. 2006). 5.Y. Jenis. 2. atau apabila janin terlalu kecil untuk hidup di luar kandungan. dan sebagainya. kecemasan sangat berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya. Seksio sesarea transperitonealis klasik atau korforal.2004). Perasaan tidak nyaman sebagai respon terhadap rasa takut akan terjadinya perlukaan tubuh atau kehilangan sesuatu yang bernilai dari dirinya (DepKes. Oleh sebab itu seksio sesarea tidak dilakukan – kecuali dalam keadaan terpaksa – apabila misalnya janin sudah meninggal dalam uterus. Rentang Respon Cemas . 1993).

gelisah. Manifestasinya adalah nafas pendek. anoreksia. orang tersebut tidak mampu menyelesaikan masalah. Cemas ringan dapat menyebabkan seseorang menjadi waspada dan meningkatkan area persepsi sehingga dapat memotivasi untuk belajar. Sementara menurut Dadang (2001) Gejala. Manifestasinya adalah berdebar-debar. 2004). (3) kecemasan berat. banyak bicara dan bertanya-tanya. Menurut Stuart & Sundeen (1995) rentang respon individu terhadap kecemasan berfluktuasi antara respon adaptif dan maladaptif seperti terlihat pada gambar berikut: Gambar 2.gejala kecemasan tersebut adalah : a. tidak mampu rileks dan sukar tidur. cemas ringan berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Panik berhubungan dengan ketakutan dan teror yang melibatkan aktivitas motorik. : Rentang Respon individu terhadap kecemasan Respon adaptif Respon mal adaptif # Antisipasi # Ringan # Sedang # Berat # Panik Menurut Peplu (dalam Stuart & Sundeen. Rentang respon cemas terbagi menjadi empat tingkat: (1) kecemasan ringan. sedang.1. kognitif dan afektif yang berbeda-beda. 1995) menyebutkan bahwa pada orang cemas refleksi tingkah laku terbagi atas fisiologis. pusing atau sakit kepala. berat dan panik. Manifestasinya adalah mulut kering. pada tingkat ini lapang persepsi individu menyempit. Cemas berat mengurangi lapang persepsi seseorang sehingga cenderung untuk memusatkan pikiran untuk mengurangi ketegangan. persepsi yang menyempit dan kehilangan pemikiran yang rasional. lapang persepsi menyempit. mual dan muntah. dan masih dapat mengenal waktu. takut. pada kecemasan sedang individu merasa lebih tegang.Peplu (dalam Stuart & Sundeen . banyak bicara dan volume keras. agitasi. bicara terus dan sukar dimengerti. sering buang air kecil. nyeri dada. individu merasa tidak bisa memperhatikan lingkungan sehingga fokus terhadap lingkungan berkurang. 1995). Cemas ringan berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada. mengidentifikasikan kecemasan dalam empat tingkat yaitu : ringan. Cemas sedang memungkinkan seseorang untuk memusatkan perhatian pada yang selektif. otot merasa tegang. menolak) . badan gemetar. Perasaan cemas 1. tempat dan orang. persepsi wajah ketakutan. menurunnya kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain. (2) kecemasan sedang. perilaku diluar kesadaran (Sofia Y. Cemas (menangis.

Menarik diri c. Perasaan defresi 1. Pandangan kosong . Terbangun pada malam hari 2. Merasa tegang 2. Pada gelap 2. Gangguan kecerdasan 1. Ketegangan 1. Daya ingat terganggu f. Pada kerumunan orang banyak d. Hilandnya minat 2. Gemetar 5. Lesu 3. Ketakutan 1. Mudah tersinggung b.2. Ditinggal sendiri 4. Tidak bisa istirahat tenang/ gelisa 4. Gangguaan tidur 1. Pada orang asing 3. Banyak mimpi/ mengigau 4. Saat bangun kondisi lesu 3. Bicara cepat 6. Tidur tidak nyenyak e.

Denyut nadi kasar/ amat jelas terasa/ teraba 4. Bangun dini hari g. Rasa tercekik 3. Rasa tertekan dan sempit dada 2. Gejala somatic (sensorik) i. Napas pendek k. Sukar buang air besar l. Sedih 4. Gejala kardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah) 1. Perasaan terbakar diperut 3. Sering menarik napas dalam 4. Nyeri dada 3. Sulit menelan 2. Gerakan lambat dan janggal h. Gejala somatic (otot) 1.3. Rasa seperti mau pingsan j. Gejala gastrointestinal 1. Serimg buang air kecil 2. Tidak dapat menahan kencing . Muntah 4. Gejala respirator (pernapasan) 1. Gejala urogenital (perkemihan dan kelamin) 1. Takikardi (denyut jantung meningkat) 2.

wajah tegang. Gemetar 3.m. gelisah. mual dan mungkin akan diare. Mulut kering 2. tekanan darah meningkat. tremor. Respon fisik terhadap kecemasan meliputi berbagai sistem organ tubuh: (1) pada sistem kardiovaskuler akan muncul respon palpitasi. Mudah berkeringat 4. jantung berdebar. kaki goyah dan adanya gerakan yang janggal. tekanan pada dada. Kecemasan sedang d. Kecemasan ringan c. Ekspresi wajah tegang Tingkat kecemasan tersebut dapat dikelompokkandengan nilai hasil total score dari masingmasing gejala kecemasan sebagai berikut : a. Gelisah dan muka merah 2. Kecemasan berat e. rigiditas. insomnia. Tidak ada kecemasan b. sensasi tercekik serta terlihat terengah-engah. (3) pada sistem neuromuscular akan muncul respon peningkatan refleks. Tingkah laku pada saat wawancara 1. Intensitas fisik dan perilaku dapat meningkat sejalan dengan tingkat cemas (Stuart & Sundeen. menolak untuk makan. (5) respon sistem urinaria meliputi tidak dapat menahan kencing. Muka merah 3. kelemahan umum. Respon Fisik Dan Psikologi Cemas Cemas dapat diekspresikan secara langsung melalui perubahan fisik dan perilaku. Gejala autonom 1. Kepala sering terasa pusing n. Kecemasan berat sekali/ panik : jika nilai ≤ 7 : jika nilai 8 -13 : jika nilai 14 – 18 : jika nilai 19 – 29 : jika nilai 30 – 44 3. (4) respon pada sistem gastrointestinal meliputi kehilangan nafsu makan. (6) pada sistem . 1998). rasa tidak nyaman pada abdomen. mata berkedip-kedip. (2) pada sistem pernafasan akan terjadi nafas pendek dan cepat.

2004). serta berkeringat pada seluruh tubuh. Pandangan interpersonal oleh Sulivan mengatakan bahwa kecemasan timbul dari adanya perasaan terhadap tidak adanya penerimaan interpersonal. 1997). 4. wajah pucat. Konsep pendidikan 1. Id mewakili dorongan insting dan impuls primitif seseorang. kreatifitas dan produktifitas menurun dan kesadaran diri meningkat. 2004). gatal. Respon terhadap kognitif meliputi perhatian terganggu. Kajian keluarga menerangkan bahwa kecemasan merupakan hal yang biasa ditemui dalam keluarga berbagai tipe akibat konflik dalam keluarga (Sofia Y. tegang. 1. pelupa. menarik diri dari hubungan interpersonal. lebih baik dan lebih matang pada individu atau kelompok (Notoatmodjo. Stuart & Sundeen menguraikan bahwa banyak teori telah dikembangkan mengenai faktor terhadap terjadi kecemasan. gelisah. Atau pendidikan adalah suatu proses yang berarti di dalam pendidikan itu terjadi proses pertumbuhan perkembangan atau perubahan kearah yang lebih dewasa. Faktor Predisposisi Pandangan psikoanalitik oleh Sigmund freud mengatakan bahwa faktor predisposisi kecemasan adalah adanya konflik antara dua elemen kepribadian yaitu id dan superego. Pengertian Pendidikan Pendidikan adalah dasar untuk menyiapkan peserta didik bimbingan. Sedangkan dari segi afektif akan tampak keadaan mudah terganggu. sedangkan superego mencerminkan hati nurani seseorang dan dikendalikan oleh norma-norma budaya seseorang. berkeringat setempat. rasa panas. Kecemasan juga berkaitan dengan trauma psikologis seperti perpisahan dan kehilangan. Kajian biologis menunjukkan bahwa otak mempunyai reseptor khusus untuk benzodiasepin. dingin pada kulit. konsentrasi buruk. Hal ini berhubungan dengan aktivitas neurotransmitter gamma aminobutyric acid (GABA) yang mengatur laju dan aktifitas neuron dalam otak untuk menurunkan kecemasan.integumen akan tampak wajah kemerahan. ketegangan fisik. Pandangan perilaku menganggap kecemasan merupakan produk frustasi yaitu segala sesuatu yang mengganggu kemampuan seseorang untuk mencapai tujuan. cenderung mendapat cidera. Selanjutnya Panji Anoraga dan Sri Suryati (1999) menjelaskan bahwa pendidikan merupakan usaha sadar dan sistematis yang berlangsung seumur hidup dalam rangka mengalihkan pengetahuan oleh seseorang kepada orang lain. ketakutan dan tremor (Sofia Y. D. Menurit Notoadmodjo (2003) kematangan atau kesiapan pribadi menyangkut tiga pengalaman belajar pokok yaitu : a. tremor gugup. kurang koordinasi. lapang persepsi menurun. bicara cepat. Respon cemas pada perilaku berupa gelisah. Aspek pengetahuan (Kongnitif) . Reseptor ini mungkin membantu mengatur kecemasan.

3. Aspek sikap dan perilaku (Efektif) c. 1. contoh SD dan SLTP Warga Negara yang berumur 6-7 tahun berkewajiban mengikuti pendidikan dasar atau pendidikan yang setara sampai tamat SLTP (Sekolah Menegah Tingkat Pertama). Aspek yang berkaitan dengan keterampilan (Psikomotorik) 2. Pendidikan non formal yaitu merupakan pendidikan (pada umumnya) di luar sekolah yang secara potensial dapat membantu dan mengartikan pendidikan formal dalam aspek tertentu. Pendidikan menengah yang lamanya 3 tahun sesudah pendidikan dasar diselenggarakan di . Dengan demikian pendidikan umum atau pendidikan sekolah terdiri dari pendidikan dasar. SMP. 2. yaitu suatu proses yang sesungguhya terjadi seumur hidup yang karena tiap-tiap individu merupakan sikap melalui keterampilan dan pengetahuan seharihari dan pengaruh lingkungan. sampai Universitas dan tercakup disamping studi akademi umum. Tingkat Pendidikan Notoadmodjo (2003) menyatakan bahwa pendidikan umumnya merupakan pendidikan yang mengutamakan perluasan pengetahuan dan peningkatan keterampilan peserta didik. 3. Pendidikan formal. mempunyai jenjang atau tingkat dalam periode waktu tertentu berlangsung dari SD. budaya dan alam sekitar serta dapat mengembangkan kemampuan lebuh lanjut dalam dunua kerja atau pendidikan tinggi. Pendidikan Menengah yaitu suatu lembaga pendidikan yang diselenggarakan untuk melanjutkan dan meluaskan pendidikan dasar serta menyiapkan peseta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial. Pendidikan formal. juga berbagai program khusus dan lembaga untuk latihan. Jenis-jenis Pendidikan Pendidikan dasar dibedakan menjadi 3 jenis yaitu: 1. Pendidikan Dasar yaitu suatu lembaga pendidikan yang diselenggarakan untuk mengembangkan sikap dan kemampuan serta memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar yang diperlukan untuk hidup dalam masyarakat serta mempersiapkan perserta didik yang memenuhi persyaratan untuk mengikuti pendidikan menengah. pendidikan menengah dan pendidikan tinggi yang meliputi : 1.b. yaitu pendidikan yang berstruktur. SMA. SLTA (Sekoah Menengah Atas) dan SMK.

1. Pengetahuan merupakan hasil tahu telah terjadi setelah seseorang melakukan pengindraan melalui panca indra yaitu penglihatan. pengetahuan dikatagorikan dalam enam bagian yaitu : 1. Politeknik. sehingga akan lebih terbuka terhadap pembaharuan. D3. 1. pengecapan (rasa) dan perabaan. Pendidikan Tinggi Satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi disebut perguruan tinggi yang dapat berbentuk Akademik. Pengertian Pengetahuan adalah pemberian bukti oleh seseorang melalui proses pengingatan dan pengenalan informasi. Sasaran (objek) yaitu sesuatu yang menjadi bahan pengamatan. 2. Konsep pengetahuan 1. Pengamatan (menanamkan) yaitu penggunaan indra lahir dan indra batin untuk menangkap objek. S1. 1. Pengetahuan merupakan dasar untuk terbentuknya tindakan seseorang (Notoadmodjo. Selanjutnya Notoadmodjo (2002) menyatakan ada tiga unsur pengetahuan yaitu : 1. Dari pengertian tentang pendidikan tersebut diatas kiranya dapat diharapkan bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin luas pengetahuan tentang suatu hal dan semakin luas pula wawasan berfikirnya. Kesadaran (jiwa) salah satu dari alam yang ada pada diri manusia. 2. pengetahuan sebagai alat jaminan yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa prilaku didasarkan atas pengetahuan akan lebih langgeng dibanding dengan tampa didasari pengetahuan. 3. S2. Sekolah Tinggi. Tingkat pengetahuan Menurut Notoatmodjo (2003). dalam kaitannya dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi seksio sesarea sehingga dapat meminimalkan respon terhadap kecemasan. Pengetahuan pada dasarnya terdiri dari sejumlah fakta dan teori yang memungkinkan seseorang untuk dapat memecahkan masalah yang dihadapinya. penciuman. E. ide atau fenomena yang diproses sebelumnya. 2002). Tahu (Know) . Namun sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.dan S3. Institut dan Universitas yang termasuk perguruan tinggi D2.

1. menyelesaikan dan sebagainya. Kemampuan analisis dapat dilihat dari kemampuan menggambarkan. membedakan dan sebagainya. Termasuk dalam timgkat pengetahuan ini adalah mengingat kembali sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang diterima. menyimpulkan dan sebagainya. meringkas. Faktor-Faktor yang mempengaruhi pengetahuan Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan menurut Nasution (2002). . 1. kultur (budaya agama). Orang yang telah tahu terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan. 1. pendidikan dan pengelaman. Penilaian-penilaian yang didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria yang ada misalnya dapat membandingkan antara anak-anak yang cukup gizi dengan anak-anak yang kurang gizi. Memahami (comprehension) Memahami diartikan sebagai kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat mengukur prestasi materi secara benar. metode. Sintesis (syntesis) Sintesis menunjukan suatu kemampuan untuk melekatkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru misalnya dapat menyusun.Tahu diartikan sebagai mengingat sesuatu yang telah dipelajari sebelumnya. Khnowledge (pengetahuan)dalam masyarakat dipengaruhi beberapa faktor antara lain sosial ekonomi. menyebutkan contoh. prinsip dan sebagainya dalam kontek atau kondisi yang lain. Evaluasi Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan jasvikasi atau penelitian terhadap suatu materi atau objek.hukum. merencanakan. 1. 1. Misalnya dapat menggunakan rumus statistik dalam penghitungan-penghitungan siklus pemecahan masalah kesehatan dari kasus yang diberikan. 3. Aplikasi (Application) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada kondisi riil (sebenarnya) yang termasuk aplikasi adalah penggunaan hukum. Analisis (Analysis) Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen tetapi dalam struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain.

2003). Pengalaman. maksudnya pendidikan yang tinggi pengalaman akan lebih luas. 3. tingkat pengetahuan akan tinggi juga. 4. Kriteria Penilaian Menurut Arikunto (1998) kriteria penilaian pengetahua dikelompokkan dalam persentase yaitu : Baik Cukup : Bila jawaban benar mencapai 75-100% dari seliruh pertanyaan. 2. Kurang : Bila jawaban benar mencapai kurang dari 56% dari seluruh pertayaan. Pada hakikatnya pengetahuan merupakan segenap apa yang diketahui manusia tentang objek tertentu. sedangkan umur semakin tua umur seseorang maka pengalaman akan semakin banyak.1. pengalaman disini berkaitan dengan umur dan pendidikan individu. Bila pengetahuan pasien kurang membuat pasien tidak mengerti tentang prosedur tindakan yang akan dilakukan sehingga membuat pasien merasa lebih cemas dalam menghadapi operasi seksio sesarea. 4. : Bila jawaban benar mencapai 56-74% dari seluruh pertanyaan. Pendidikan yaitu semakin tinggi tingkat pendidikan maka ia akan mudah menerima hal-hal baru dan mudah menyesuaikan dengan hal-hal yang baru tersebut. Sosial ekonomi yaitu lingkungan sosial akan mendukung tingginya pengetahuan seseorang sedangkan bila ekonomi baik. kalau positif akan menimbulkan sikap positif demikian sebaliknya (Green dalam Notoadmodjo. BAB III METODEOLOGI PENELITIAN . Pengetahuan ini berpengaruh terhadap sikap seseorang sesuai dengan pemikirannya. termasuk didalamnya tentang ilmu. tingkat pendidikan tinggi. karena informasi-informasi yang baru akan disaring kira-kira sesuai tidak dengan yang ada dan agama yang dianut. Kultur yaitu budaya sangat berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan seseorang.

kurangnya informasi yang benar tentang seksio sesarea serta tehnik operasi yang akan dijalani akan menambah kecemasan pasien dalam menjalani operasi seksio sesarea sehingga dapat memperburuk proses tindakan dan pemulihan setelah menjalani operasi pembedahan. Yunus Bengkulu Tahun 2008. Kerangka Konsep Operasi seksio sesarea merupakan suatu tindakan medis yang dilakukan pada ibu hamil trisemester akhir. Rancangan Penelitian dan Jenis Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian secara Deskriptif dengan menggunakan desain penelitian cross sectional yang merupakan rancangan penelitian dengan menggunakan pengukuran atau pengamatan pada saat bersamaan (sekali waktu) yang bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat kecemasan pasien pre operasi seksio sesarea ditijau dari tingkat pendidikan dan pengetahuan di Ruang Mawar RSUD Dr.1. B. A. Tingkat kecemasan Pasien Pre Operasi v Tingkat Pendidikan v Pengetahuan Variabel Indevenden Variabel Devenden . M.

1. M.C. Populasi dalam penelitian ini pasien yang akan menjalani operasi seksio sesarea di ruang mawar RSUD Dr. Definisi Operasional No Variabel 1 Tingkat Kecemasan Definisi Cara Ukur Alat Ukur Skala Ukur Ordi nal b. 1997). Pendidikan terakhir Mengajukan Questioner yang pernah diraih pertanyaan responden Ordi nal 0= Dasar (SD. Yunus Bengkulu. Berat : nilai 1929 Hasil Ukur a. SLTP) 1= Menengah (SMA) 2= Tinggi (PT) 0= Kurang (bila jawaban benar 05) 1= cukup (bila jawaban benar 67) 2= baik bila jawaban 8-10). 3 Pengetahuan Segala sesuatu yang Mengajukan Questioner diketahui oleh pertanyaan pasien tentang operasi seksio sesarea Ordi nal D. Sampel . Populasi dan Sampel 1. Populasi Populasi adalah keseluruhan subject penelitian yang akan diteliti (Notoatmodjo. Sedang : nilai 14-18 2 Tingkat Pendidikan Kondisi yang Melihat Ceklis mengambarkan lang perasaan takut terhadap proses sung operasi/pembedahan yang ingin dijalani pasien.

observasi. 1. Dalam penelitian ini sampel yang diambil menggunakan tekhnik pengambilan data dengan Accident Sampling.Data Primer yaitu data yang langsung didapat dari responden yang berisikan tentang pendidikan. 1. Teknik Pengolahan. Analisa dan Penyajian Data. Pengolahan data . E. dan tingkat kecemasan pasien pre operasi seksio sesarea. G. dikumpulkan melalui lembar kuesioner dan ceheck list. pengetahuan terhadap tingkat kecemasan. M. 3. Instrumen pengumpulan data Dalam penelitian ini instrumen yang digunakan yaitu Wawancara. Yunus Bengkulu. Waktu dan Tempat Penelitian 1. pengetahuan. M. Teknik Pengumpulan Data 1. 2. Cara pengumpulan data Dalam upaya untuk mendapatkan data-data atau informasi yang jelas dan akurat. Yunus Bengkulu dari tanggal 28 Juni sampai dengan 12 Juli 2008. palpasi dan menggunakan angket dengan cara menyebarkan kuesioner pada pasien yang akan mejalani operasi seksio sesarea untuk menentukan tingkat pendidikan. Jenis data . palfasi dan menggunakan lembar kuisioner yang digunakan untuk memperoleh data. 1998).Sampel adalah sebagian yang diambil dari populasi (Arikunto. Waktu Waktu penelitian ini dilakukan sejak tanggal 28 Juni sampai dengan 12 Juli 2008. 1. Tempat Penelitian ini dilakukan di Instalasi Rawat Inap Ruang Mawar RSUD Dr. data yang dikumpulkan dalam penelitian ini diperoleh melalui wawancara. observasi. 1. dimana sampel yang menjadi objek penelitian adalah pasien yang akan menjalani operasi secsio sesarea di Ruang Mawar Dr. 1. F.

Pengeditan datan (Editing) Langkah ini dilakukan peneliti untuk memeriksa kembali kelengkapan data yang diperlikan untuk mencapai tujuan penelitian dilakukan pengelompokan dan penyusunan data. sedang 1.wordpress.com/2011/12/16/gambaran-tingkat-kecemasan-ditinjau-dari-tingkatpendidikan-dan-pengetahuan-pasien-pre-operasi-seksio-sesarea-di-ruang-mawar-rsud-dr-m-yunusbengkulu/ 222222222 . pengetahuan kurang 0. Analisa univariat untuk melihat distribusi. Analisa univariat untuk melihat distribusi frekuensi dari masing-masing variabel indevenden dan devenden dengan menggunakan rumus : P= Keterangan : P : Jumlah persentase yang dicari F : Jumlah frekuensi untuk setiap katagori n : Jumlah sampel http://kutaukomputer. Tabulasi data (Tabulating) Setelah dilakukan coding data. b. menengah 1. tinggi 2. maka dilakukan tabulasi data dengan memberi skore pada masing-masing sub variabel. tingkat kecemasan ringan 0. cukup 1. Analisa Univariat analisa univariat yaitu seluruh variabel yang akan digunakan dalam analisa ditampilkan dalam distribusi frekuensi.Data yang dikumpulkan selanjutnya diolah dengan beberapa tahapan yaitu : a. Analisa Data Dalam penelitian ini digunakan analisa univariat dan analisa bivariat. berat 2. baik 2. Pengkodean data (Coding) Coding adalah mengalokasikan jawaban-jawaban yang ada menurut macamnya kedalam bentuk yang lebih ringkas yang menggunakan kode-kode agar lebih mudah dan sederhana. c. a. pendidikan dasar 0. 2.

author dc.date. Hasil penelitian diperoleh bahwa dukungan keluarga yang terbesar adalah kategori baik 53.advisor dc.description. Untuk tingkat kecemasan kategori tertinggi adalah ringan 46.contributor. Desain penelitian yang digunakan adalah desain studi korelasional.abstract digunakan adalah statistik univariat dan statistik bivariat.accessioned dc.date. Ruspina Jenita 2011-05-19T03:34:25Z 2011-05-19T03:34:25Z 2011-05-19 Fredo Hasugian http://repository.ac.Untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi digunakan uji Spearman. Besar sampel adalah 62 orang dengan metode pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling.id/handle/123456789/24606?mode=full 3333333333 .advisor dc.ac.Full metadata record DC Field dc.2%.2% dan paling sedikit adalah kategori kurang 17.date.8% dan yang paling sedikit adalah kategori berat 24.identifier. Mula Sitohang. Nur Asnah Nadeak.contributor.7%.id/handle/123456789/24606 091121032 Dukungan keluarga adalah sikap. Kecemasan merupakan bagian dari kehidupan manusia yang ditandai dengan perasaan ketakutan atau kekhawatiran yang mendalam dan berkelanjutan.398 dan nilai p = 0.issued dc.contributor.identifier. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruangan RB2 Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan. Anggota keluarga memandang bahwa orang yang bersifat mendukung selalu siap memberikan pertolongan dan bantuan jika diperlukan.description Value Language en_US Tarigan.available dc.usu. tindakan dan penerimaan keluarga terhadap penderita yang sakit.usu.other dc. dimana didapat nilai r = 0.01. Analisa data yang dc. http://repository.uri dc. Untuk peneliti keperawatan selanjutnya disarankan agar dapat melakukan pendidikan kesehatan dan memberikan motivasi kepada keluarga dalam memberikan dukungan pada pasien pre operasi untuk mengurangi tingkat kecemasan pasien pre operasi.

PERBEDAAN TINGKAT KECEMASAN PASIEN PRE OPERATIF SELAMA MENUNGGU JAM OPERASI ANTARA RUANG RAWAT INAP DENGAN RUANG PERSIAPAN OPERASI RUMAH SAKIT ORTOPEDI SURAKARTA PARYANTO. TAMPILKAN FULLTEXT PDF 62Kb Preview PDF Restricted to Repository staff only 1108Kb Official URL Abstract . PARYANTO (2009) PERBEDAAN TINGKAT KECEMASAN PASIEN PRE OPERATIF SELAMA MENUNGGU JAM OPERASI ANTARA RUANG RAWAT INAP DENGAN RUANG PERSIAPAN OPERASI RUMAH SAKIT ORTOPEDI SURAKARTA. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Skripsi thesis.

oleh karena itu berbagai kemungkinan buruk bisa terjadi yang akan membahayakan pasien. http://etd. baik berupa tumbuh-tumbuhan secara tunggal maupun yang sudah terkomposisikan. manusia amatlah akrab dengan berbagai macam penyakit ringan maupun berat. maka Islam mengenal istilah do‟a dan keyakinan. mulai dari mengkonsumsi berbagai jenis obat-obatan. DR. Dengan pengobatan yang tepat (tentunya berdasarkan pengetahuan .6 % ).99 termasuk kategori sedang. Setiap kali penyakit muncul. Sementara banyak manusia yang tidak menyadari bahwa Allah tidak pernah menciptakan manusia dengan ditinggalkan begitu saja.02 dan tingkat kecemasan di ruang persiapan operasi mencapai skor 17. Teknologi medis boleh saja semakin modern dan canggih.000 dan probability value (r-value) sebesar 0.Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian survey dengan rancangan penelitian Discriptive Comparative dan pengambilan sampel mengunakan Quota Sampling untuk memperoleh 94 responden. Semua dilakukan dengan trial dan error. Analisis statistik menggunakan Mann Whiney U Test. Soeharso Surakarta. Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan tingkat kecemasan pasien pre operatif selama menunggu jam operasi diruang rawat inap dengan ruang persiapan operasi Instalasi Bedah Sentral di Rumah Sakit Ortopedi Prof.2 % ) pasien dan pada tahun 2008 : 3827 pasien ( turun 2 % dibanding tahun 2007 ). Namun tentu semua jenis pengobatan dan obat-obatan tersebut hanya terasa khasiatnya bila disertai dengan sugesti dan keyakinan. Tingkat kecemasan diruang rawat inap rata-rata ringan yaitu skor 12.ac. Kesimpulan. tahun 2006 : 3827 pasien ( 6. Keinginan untuk terlepas dari segala macam penyakit inilah yang mendorong manusia untuk membuat upaya menyingkap berbagai metode pengobatan. Tindakan operasi atau pembedahan merupakan pengalaman yang bisa menimbulkan kecemasan.000 pada tingkat signifikansi 5% berarti terbukti ada perbedaan tingkat kecemasan pasien pre operatif selama menunggu jam operasi antara ruang rawat inap dengan ruang persiapan operasi di Rumah Sakit Ortopedi Surakarta dengan signifikansi . hingga operasi pembedahan. Data dari laporan tahunan Instalasi Bedah Sentral (2008). Karena sebagai mahluk hidup. atau sistim pemijatan. yang diyakini berkhasiat menyembuhkan jenis penyakit tertentu. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan alat ukur yang digunakan adalah kuesioner Hamilton Rating Scale for Anxiety (HRS-A). R.Dzikir. '07 12:12 AM para Todos Dunia pengobatan semenjak dahulu selalu berjalan seiring dengan kehidupan umat manusia.Kecemasan (ansietas) adalah respon psikologik terhadap stres yang mengandung komponen fisiologik dan psikologik. Kecemasan timbul pada pasien pre operasi ketika menunggu jam operasi diruang rawat inap dan kondisi ini meningkat ketika pasien berada di ruang persiapan operasi. pasti Allah juga menciptakan obatnya.ums. jumlah tindakan bedah di IBS Rumah Sakit Ortopedi Prof DR R Soeharso Surakarta tahun 2005 : 3589 pasien. Tujuan. Uji Mann Whiney U Test diperoleh nilai koefisien Mann-Whitney U sebesar 2505. tahun 2007 : 4143 ( 8. Ansietas adalah keadaan suasana perasaan (mood) yang ditandai oleh gejala-gejala jasmaniah seperti ketegangan fisik dan kekhawatiran tentang masa depan. pembekaman.eprints. Hanya ada manusia yang mengetahuinya dan ada juga yang tidak mengetahuinya. Disinilah kekuatan Do‟a . namun perkembangan jenis penyakit juga tidak kalah cepatnya ber-regenerasi. Metode.id/4455/ 444444 Meditasi dengan Al Qur‟an Sep 5.

tidak ada penyakit yang tidak bisa disembuhkan terkecuali maut. adalah: Meditate is to think seriously (about something). ternyata tidak sekedar ritual-ritual tanpa makna. and do not think about anything else. psikologis dan non medis. Meditasi adalah latihan konsentrasi yang dapat digunakan untuk mempertajam tehnik dan meningkatkan kepekaan terhadap suasana sekitar.dan pengalaman puluhan tahun). Bahwa untuk mengatasi kekecewaan.” (Oxford Advanced Learner‟s Dictionary). Meditation is serious thought or study. Dalam bahasa Indonesia. tafakur (meditasi).penyakit yang tidak bisa disembuhkan oleh kedokteran modern. Tetapi kalau dikaji secara lebih mendalam dan dipraktekkan. kita harus mencari sumbernya dulu yaitu pikiran. Jadi jelas meditasi itu sebenarnya baik bagi kesehatan. Ini hampir sama dengan „kontemplasi‟ yang didefinisikan secara persis sama. adalah pemusatan pikiran dan perasaan untuk mencapai sesuatu. you give your attention to one thing. Sedangkan pengertian meditasi dalam kamus Cambridge International Dictionary of English. „meditasi‟ adalah “pemusatan perhatian pada suatu obyek batin secara terusmenerus. meditatio yang berarti merenungkan dan juga berakar dari kata Mederi (kesehatan) dari kata ini pula diserap kata medisin. „meditasi‟ dianggap sebagai proses „berpikir‟. tetapi kata meditasi itu lebih dikenal dengan nama samedi yang diserap dari bahasa Sansekerta. yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia.” Memang ada obyek-obyek meditasi tertentu yang berupa pikiran atau ide/konsep. Dalam kamus yang bersifat umum ini. akan ternyata bahwa di dalam „meditasi‟ justru proses berpikir berhenti untuk sementara. terutama untuk alasan keagamaan atau untuk membuat batin tenang. Kata „meditasi‟ [meditation] didefinisikan sebagai “praktek berpikir secara mendalam dalam keheningan. Untuk mengatasinya bisa dengan latihan meditasi. praktik-praktik sufi. Belajar meditasi merupakan bagian dari latihan mengendalikan pikiran. Dalam Alkitab bahasa Inggris perkataan tsb diterjemahkan sebagai Meditation. strooke. or the product of this activity. seperti sholat. Merujuk pada praktek-praktek agung tasawuf praktis. sehingga terjadi tumpang tindih dan tidak dapat dibedakan secara tegas antara „meditasi‟ dan „kontemplasi‟. either as a religious activity or as a way of becoming calm and relaxed: prayer and meditation. Jadi bermeditasi adalah memusatkan pikiran dan perasaan untuk mencapai sesuatu. samadhi yang juga disebut dhyana atau pranayama. PENGERTIAN MEDITASI Perkataan Meditasi itu sendiri diserap dari bahasa Latin. dosis obat yang sesuai disertai doa dan keyakinan. kerusakan kromosom/ DNA. esp. dan jenis-jenis penyakit emosional. Dibalik praktik-praktik sufi tersebut. . Meditasi. dzikir. for a long time · if you meditate. usually as a religious activity or as way calming or relaxing your mind. Pada dasarnya. seperti kanker. Samedi itu artinya meditasi dalam bahasa Sangsekerta atau dalam bahasa Ibrani = hagah. tersimpan potensi-potensi penyembuhan bagi penyakit. Meditation is also the act of giving your attention to only one thing.

Dengan demikian. Meditasi tingkat tinggi biasanya mengajarkan untuk memusatkan perhatian ke cakra mahkota untuk menerima lebih banyak kekuatan spiritual. Dalam ajaran Budha terdapat sebuah tahapan meditasi. ataupun ke cakra jantung untuk memberikan lebih banyak kekuatan kepada roh. hal ini dianggap bukanlah bagian/tahapan meditasi. oleh karena pemahaman itu melibatkan seluruh aspek diri (kognitif. afektif. Sebagaimana namanya pemusatan perhatian. atau ke antara alis mata untuk membangkitkan mata spiritual. pemahaman melalui introspeksi kebanyakan hanya bersifat kognitif saja. konsentrasi adalah sebuah upaya keras (baca: dipaksa) untuk memusatkan pada sesuatu. dan beristirahat/ berhenti pada pokok yang dipilih.pemahaman diri yang diperoleh dari meditasi bersifat transformatif (mengubah). tidak berbentuk. Meditasi dapat didefinisikan sebagai suatu aktivitas yang mengakibatkan hubungan erat beberapa orang dengan Tuhan. Perbedaan Konsentrasi dan Meditasi Terdapat perbedaan jelas antara konsentrasi dan meditasi. dalam keadaan tenang. Di lain pihak. tidak bernama. MANFAAT MEDITASI . sehingga ia menurut perintahnya sang Pribadi. tidaklah kosong sama sekali. dsb). sehingga biasanya tidak banyak perubahan yang terjadi. Sedangkan tujuan meditasi ialah melatih pikiran. Pengertian konsentrasi ialah untuk memahami dan menguasai pikiran-perasaan sehingga ia tidak lagi menanggapi dengan kacau terhadap suatu peristiwa. Latihan-latihan konsentrasi adalah suatu pendidikan kembali mengenai tekniknya pikiranrendah. tidak juga mempunyai kwalitas atau lambang-lambang. Pemusatan perhatian tidaklah berarti anda kosong. meditasi adalah cara lain untuk memahami diri. Atau dengan kata lain. Kita meditasi pada yang abstrak. yaitu Dharana yang berarti pemusatan perhatian tanpa paksaan. perhatian anda tertunjukkan pada sesuatu. yang berbeda dengan introspeksi. dan menghentikan sifatnya yang bergerak kian kemari dan tidak menentu. Di samping itu. Dan ada juga yang mengartikan bahwa meditasi adalah sebuah pelatihan yang menggunakan pikiran untuk tujuan mengatur pikiran dengan usaha kita. Karena Yang Tertinggi tidak mempunyai bentuk dan tidak mempunyai nama. sehingga pokok-caranya dapat membukakan kesadaran yang sedang bermeditasi akan arti makna yang lebih luas dan dalam. Jadi. Justru pemahaman yang diperoleh dari meditasi jauh lebih tepat dan sesuai dengan keadaan sebenarnya dibandingkan dengan pemahaman dari introspeksi yang dipengaruhi oleh kebiasaan-kebiasaan pikiran yang tidak disadari sehingga memberikan hasil yang bias. volisional. Ada juga yang memberi pengertian bahwa meditasi yang sering kita dengar mempunyai pengertian yaitu: sikap menenangkan pikiran dengan cara-cara tertentu di mana pikiran kita sampai menemukan sensasi-sensasi sehingga menimbulkan rasa damai dalam hati untuk mencapai ketenangan jiwa (ruhani). Tidak dianjurkan bagi anda untuk berada dalam keadaan kosong seratus persen karena ini mungkin dapat membiarkan masuknya kekuatan dari luar yang dapat mengganggu. meskipun keduanya dalam pelaksanaannya berhubungan. lebih baik pada hal yang mengandung arti yang dalam dan rohaniah.

Latihan meditasi dengan pemusatan fikiran pada pernafasan disebut Anaspanasati. Meditasi ada dua macam. yang menurut kepercayaan mereka sesuai dengan irama gerakan alam. maupun dengan alat-alat apapun. meditasi adalah suatu cara untuk mengembangkan bathin menuju taraf kesempurnaan yang selanjutnya menjadi dasar dari kebijaksanaan. AGAMA DAN MEDITASI Meditasi bukan hanya dikenal oleh agama yang berasal dari India & Tiongkok saja bahkan hampir disemua agama mereka mempraktekan meditasi. kemurungan serta mudah marah. Meditasi ini juga sering dipraktikkan oleh Nabi Muhammad SAW ketika . stress. seperti pada penyelidikan Zen Meditation. justeru dapat mengatasi pelbagai masalah serta meningkatkan produktivitas dan meningkatkan kesehatan.yaitu usaha intensif untuk memfokuskan pikiran pada mantra. namun untuk peningkatan rohani. pastikan anda dilatih oleh mereka benar-benar mahir dan berpengalaman serta mampu memberi penjelasan untuk setiap keadaan. Meditasi duduk ini sebenarnya sudah diperkenalkan oleh Islam jauh sebelum Sidharta Gauthama lahir melalui ajaran Budhi Dharma. Zat tersebut sedemikian halusnya hingga tak dapat ditanggapi dengan panca indera. keheningan dan kejernihan pikiran. Teknik seperti itu akan menyegarkan dan membuat orang relaks. Beberapa cara meditasi melibatkan pengulangan suara tertentu secara internal. dan menganjurkan kepada para pelakunya agar tidak terlalu melakukan konsentrasi. konsentrasi tetaplah sangat perlu . dan kemudian pada penyelidikan Transcendental Meditation. Cara mendapatkan zat gaib atau prana tadi ialah dengan jalan pernafasan yang diatur dengan irama tertentu. Unsur-unsur gaib itu berupa zat yang sangat halus sebagai inti dari segala zat yang menjadi roh dari alam. Dengan metode ini. Juga daya fikir bertambah kuat dan tajam. yaitu meditasi duduk dan meditasi gerak (Tai-Chi). Tetapi kajian di barat juga telah membuktikan 33% hingga 50% mereka yang melakukan meditasi tanpa teknik yang betul akan mengalami peningkatan dalan tekanan darah.Menurut ajaran Buddhis. fikiran tetap terjaga dengan baik dan senantiasa terkontrol. Tujuan dari meditasi ini adalah kesunyian yang indah. Meditasi bisa mengurangi kecemasan telah diselidiki oleh tokoh-tokoh sarjana Barat. Zat ini mempunyai tenaga gaib yang amat berkuasa untuk berbagai macam kepentingan. dengan demikian membuahkan jasmani dan rohani yang selalu jernih dan segar. Maka jika anda benar-benar ingin mendalami meditasi. Meditasi dalam agama Yahudi dikenal dengan nama hitbonenut ini bisa dibaca di Kabbalah sedangkan bangsa Yunani kuno mengenal meditasi dengan nama “Gnothi se auton” = “mengenal diri sendiri”. bahwa di udara bebas ini terdapat unsu-unsur gaib yang bersatu dengan zat asam (oksigen). Menurut kepercayaan orang India/Hindu. antara lain untuk penyembuhan penyakit. membawa pada kecerdasan otak. Zat inilah yang mereka beri nama Prana. Dalam latihan Meditasi Islam. perkara yang harus diperhatikan ialah bagaimana mereka dapat menemukan makna dan tujuan hidup yang memberikan sense of direction.

dia tidak terus tinggal di sana. Ingatlah. Yunus/10: 57) . yang pada saat itu disebut dengan berkhalwat dan tahannuts. Seperti halnya meditasi duduk. Kata Alqur‟an itu berbentuk masdar dengan arti isim maf‟ul yaitu maqru` (dibaca). yang merupakan mu‟jizat yang diturunkan (diwahyukan) kepada nabi Muhammad saw. Gua Hira bukanlah tempat bertahannuts seperti yang dilakukan beliau sebelum diangkat menjadi Rasul.” (QS. Sebaliknya. telah datang kepadamu kitab yang berisi pelajaran dari Tuhanmu dan sebagai obat penyembuh jiwa.” Banyak ayat Al Qur‟an yang mengisyaratkan tentang pengobatan karena AlQur‟an itu sendiri diturunkan sebagai penawar dan Rahmat bagi orang-orang yang mukmin. ISLAM DAN MEDITASI Salah satu fase penting yang secara simbolik sering disebut sebagai mencerminkan corak misi yang dibawa oleh Nabi Muhammad adalah saat dia bertahannuts atau melakukan meditasi di Hira. Tetapi dijadikan tempat untuk mengoreksi ayat-ayat Alqur‟an yang telah diterimanya. Al Qur’an dan Kesehatan Arti Qur‟an menurut pendapat yang paling kuat seperti yang dikemukakan Dr. Pada saat selanjutnya. ketika menghadapi masalah yang menimpa diri dan umatnya. menikmati meditasi yang soliter. “Dan kami menurunkan Al Qur’an sebagai penawar dan Rahmat untuk orang-orang yang mu’min. meditasi gerak juga sudah ada dalam ajaran Islam yaitu dalam bentuk gerakan shalat. Adapun definisi Alqur‟an adalah: “Kalam Allah swt. dan melakukan apa yang dalam istilah sekarang disebut sebagai transformasi sosial. Al Isra/17: 82) “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah.” (QS. Beliau melakukan meditasi di Gua Hira. Subhi Al Salih berarti „bacaan‟. Maka. sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. sebuah gua di luar kota Mekah. Setelah nabi mendapat wahyu pada 610 M. mendakwahkan ajaran-ajaran.sebelum dan sesudah diangkat menjadi Nabi dan Rasul. asal kata qara`a. ia balik ke kota. “Hai manusia.” (QS. menjauhkan diri dari masyarakat. hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tentram. Nabi saw pergi ke gua Hira hanya untuk bertemu dengan malaikat Jibril dengan tujuan tasmi? (memperdengarkan) hafalan Alqur‟an beliau dihadapan Jibril. Ar Ra’d/13: 28) Menurut para ahli tafsir bahwa nama lain dari Al Qur‟an yaitu “Asysyifâ” yang artinya secara Terminologi adalah Obat Penyembuh. dan ditulis di mushaf dan diriwayatkan dengan mutawatir serta membacanya adalah ibadah.

obatan. Muslim) “Hendaklah kamu menggunakan kedua obat-obat: madu dan Alqur’an” (HR. sesungguhnya pada hal-hal yang demikian terdapat tanda-tanda Kekuasaan Allah bagi orang-orang yang mau memikirkan”. kecuali turun kepada mereka ketentraman. Dari perut lebah itu keluar minuman madu yang bermacam-macam jenisnya dijadikan sebagai obat untuk manusia. anggur dan buahbuahan lain selengkapnya. Achmad Sunarto. CV. Di antaranya. Walaupun tidak dibarengi dengan data ilmiah. mereka membaca Alqur’an dan mempelajarinya. mereka diliputi dengan rahmat. terj. Al Qur‟an sebagai Penyembuh (Alqur‟an asy Syâfî). serta tempuhlah jalan-jalan yang telah digariskan tuhanmu dengan lancar. Ibnu Majah dan Ibnu Mas’ud) Dan masih banyak lagi dalil yang menerangkan bahwa berbagai penyakit dapat disembuhkan dengan membaca atau dibacakan ayat-ayat Alqur‟an (lihat Assuyuthi. An-Nahl 16:11) “Dan makanlah oleh kamu bermacam-macam sari buah-buahan. dapat dipastikan bahwa orang yang membaca Alqur‟an akan merasakan ketenangan jiwa. sebuah kitab yang mengupas tata krama mencari ilmu berkata.” (HR Bukhori) “Siapa saja yang disibukkan oleh Alqur’an dalam rangka berdzikir kepada-Ku. I. malaikat menaungi mereka dan Allah menyebut-nyebut mereka pada makhluk yang ada di sisi-Nya”. “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Alqur’an dan mengajarkannya. Selanjutnya ia berkata. membiasakan melaksanakan ibadah salat malam. (QS. Surya Angkasa Semarang. Banyak pula hadits Nabi yang menerangkan tentang keutamaan membacanya dan menghafalnya atau bahkan mempelajarinya. korma. “Tak ada lagi bacaan yang dapat meningkatkan terhadap daya ingat dan memberikan ketenangan kepada seseorang kecuali membaca Alqur‟an”. Semarang. At Turmudzi) “Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah (masjid) Allah. (HR. An-Nahl 16: 69) Berdasarkan keterangan tadi. Syaikh Ibrahim bin Ismail dalam karyanya Ta‟lim al Muta‟alim halaman 41. . 1995). “Terdapat beberapa hal yang dapat menyebabkan seseorang kuat ingatan atau hafalannya. niscaya Aku akan berikan sesuatu yang lebih utama daripada apa yang telah Aku berikan kepada orang-orang yang telah meminta. seperti keutamaan Allah atas makhluk-Nya. dan memohon kepada-Ku.Di samping Al Qur‟an mengisyaratkan tentang pengobatan juga menceritakan tentang keindahan alam semesta yang dapat kita jadikan sebagai sumber dari pembuat obat. seperti zaitun. (QS. menyedikitkan makan.” (HR. cet. “Dia menumbuhkan tanaman-tanaman untukmu. Di alamnya terdapat tandatanda Kekuasaan Allah bagi orang-orang yang mau memikirkan”. dan membaca Alquran sambil melihat kepada mushaf”. Jalaluddin. Dan keutamaannya Kalam Allah daripada seluruh kalam selain-Nya.

Menurut penelitiannya. Nurhayati dari Malaysia dalam Seminar Konseling dan Psikoterapi Islam di Malaysia pada tahun 1997.Dr. “Dan Kami telah menurunkan dari Alquran. 7: 204). berhasil membuktikan hanya dengan mendengarkan bacaan ayat-ayat Alquran. detak jantung. Penelitian Dr.S. Objek penelitiannya terhadap 5 orang sukarelawan yang terdiri dari 3 pria dan 2 wanita. Sungguh suatu kebahagiaan dan merupakan kenikmatan yang besar.17:82). bayi yang berusia 48 jam yang kepadanya diperdengarkan ayat-ayat Alquran dari tape recorder menunjukkan respons tersenyum dan menjadi lebih tenang. Alquran memberikan pengaruh besar jika diperdengarkan kepada bayi. suatu yang menjadi penawar (obat) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Alquran itu tidaklah menambah kepada orangorang yang zalim selain kerugian” (Q. Alquran terbukti mampu mendatangkan ketenangan sampai 97% bagi mereka yang men dengarkannya. Atau juga. menangkal berbagai macam penyakit merupakan pengaruh umum yang dirasakan orang-orang yang menjadi objek penelitiannya. memperoleh ketenangan jiwa. Jika mendengarkan musik klasik dapat memengaruhi kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosi (EQ) seseorang. bacaan Alquran berpengaruh besar hingga 97% dalam melahirkan ketenangan jiwa dan penyembuhan penyakit. kesedihan. Kesimpulan hasil uji coba tersebut diperkuat lagi oleh penelitian Muhammad Salim yang dipublikasikan Universitas Boston. Kesimpulannya. bacaannya memberikan pengaruh besar bagi kehidupan jasmani dan rohani kita. Mahabenar Allah yang telah berfirman. kita memiliki Alquran. Dari hasil uji cobanya ia berkesimpulan. Al Qadhi ini diperkuat pula oleh penelitian lainnya yang dilakukan oleh dokter yang berbeda. Al Qadhi. simaklah dengan baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat” (Q. dapat merasakan perubahan fisiologis yang sangat besar. Penelitiannya ditunjang dengan bantuan peralatan elektronik terbaru untuk mendeteksi tekanan darah. bacaan Alquran lebih dari itu. seorang Muslim. bacaan Alquran memengaruhi kecerdasan spiritual (SQ). baik mereka yang berbahasa Arab maupun bukan.S. Selain menjadi ibadah dalam membacanya. melalui penelitiannya yang panjang dan serius di Klinik Besar Florida Amerika Serikat. Selain memengaruhi IQ dan EQ. Penurunan depresi. Kelima orang tersebut sama sekali tidak mengerti bahasa Arab dan mereka pun tidak diberi tahu bahwa yang akan diperdengarkannya adalah Alqur‟an. dan ketahanan kulit terhadap aliran listrik. disebutkan. “Dan apabila dibacakan Alquran. yakni membacakan Alquran dengan tartil dan membacakan bahasa Arab yang bukan dari Alqur‟an. Dalam laporan sebuah penelitian yang disampaikan dalam Konferensi Kedokteran Islam Amerika Utara pada tahun 1984. Penelitian yang dilakukan sebanyak 210 kali ini terbagi dua sesi. Hal tersebut diungkapkan Dr. responden mendapatkan ketenangan sampai 65% ketika mendengarkan bacaan Alquran dan mendapatkan ketenangan hanya 35% ketika mendengarkan bahasa Arab yang bukan dari Alqur‟an. . ketahanan otot. Penemuan sang dokter ahli jiwa ini tidak serampangan.

Aspek Auto Sugesti Alqur‟an merupakan kitab suci umat Islam yang berisikan firman-firman Allah. memperhatikan dan berdekatan dengannya ialah bahwasanya Alqur‟an itu dibaca di sisi orang yang sedang menderita sakit sehingga akan turun rahmat kepada mereka. salah satu unsur yang dapat dikatakan meditasi dalam Alquran adalah.” (QS. Pada eksperimen Plotonov. tidur dan memang individu tersebut akhirnya tertidur. Relaksasi Aspek Waqof Alqur‟an adalah sebuah kitab suci yang mempunyai kode etik dalam membacanya. berita-berita kabar gembira bagi orang yang beriman dan beramal sholeh. dan berita-berita ancaman bagi mereka yang tidak beriman dan atau tidak beramal sholeh. berdekatan dengannya. adalah hukum. tentu saja bukanlah sebuah buku sains ataupun buku kedokteran. Al A’raf: 204) Menurut hemat penulis. Pikiran dan tubuh dapat berinteraksi dengan cara yang amat beragam untuk menimbul kan kesehatan atau penyakit. ahsan alhadits. Kata-kata yang penuh kebaikan sering memberikan efek auto sugesti yang positif dan yang akan menimbulkan ketenangan. Membaca Alqur‟an tidak seperti membaca bacaan-bacaan lainnya. kata-kata yang digunakan adalah tidur. Membaca. hanya dengan berdzikir kepada Allah-lah hati menjadi tentram” (Q. mendengar.ukum bacaan yaitu waqaf. do‟a-do‟a dan permohonan ampun kepada Allah. yang oleh kaum Muslim diartikan bahwa petunjuk yang dikandungnya akan membawa manusia pada kesehatan spiritual. Zakiah Daradjat mengatakan bahwa sembahyang. Banyak sekali nasihat-nasihat. dan mendengarkannya. Maka. Kesembuhan menggunakan Alqur‟an dapat dilakukan dengan membaca. “Dan apabila dibacakan Alqur’an. yang dalam istilah Alqur‟an sendiri. auto sugesti. namun Alqur‟an menyebut dirinya sebagai „penyembut penyakit‟. pertama.Atau. Platonov telah membuktikan dalam eksperimennya bahwa kata-kata sebagai suatu Conditioned Stimulus (Premis dari Pavlov) memang benar-benar menimbulkan perubahan sesuai dengan arti atau makna kata-kata tersebut pada diri manusia. psikologis. dan fisik. “Ingatlah. Membaca Alqur‟an harus tanpa nafas . dan kedua. maka dengarkanlah baik-baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.S. Allah saw menjelaskan. Unsur Meditasi Al Qur’an Kitab ini. 13: 28). alqur‟an berisikan ucapan-ucapan yang baik. semuanya merupakan cara-cara pelegaan batin yang akan mengembalikan ketenangan dan ketentraman jiwa kepada orang-orang yang melakukannya.

Cara membaca hukum ini adalah 4 harakat. Mad Badal. yang telah berguru kepada imam „Ashim. Mengikuti tanda-tanda waqof yang ada dalam Alqur‟an. yaitu apabila terdapat mad bertemu dengan hamzah dalam satu kalimat. baik pria maupun wanita selagi mereka dalam keadaan suci atau berwudlu. Adapula beberapa penekanan nafas dalam membaca Alqur‟an. Hafsh. Waktu Meditasi dengan Alqur’an . Berhenti berdasarkan kemampuan nafas pembaca. 2. Jadi bagaimanapun kemampuan mereka bernafas mereka boleh membaca Alqur‟an. yaitu apabila terdapat mad bertemu dengan hamzah dalam kalimat yang terpisah. kedudukannya tidak dihukumi wajib syar‟i bagi yang melanggarnya. muda maupun tua. Indonesia adalah negara yang mayoritas umat Islam menerapkan hukum-hukum membaca Alqur‟an menurut Rowi. baik di akhir ayat maupun di tengah ayat dan disertai nafas. yaitu apabila terdapat hamzah yang berharakat bertemu dengan huruf mad yang sukun. 3. Cara membaca hukum ini adalah 2 harakat. Cara baca hukum ini 4 harakat. baik anak kecil. bisa dikategorikan dalam bagian-bagian waqaf. Mad Muttashil. dalam ilmu tajwid. Mad Munfashil. Penekanan-penekanan tersebut dalam ilmu tajwid dinamakan mad. maka hukumnya haram. Adapun hukumhukum bacaan mad dalam ilmu Tajwid menurut Rowi Hafsh adalah: 1. Waqaf dalam Alquran > Tanda awal atau akhir ayat > Tanda awal atau akhir surat > Tanda-tanda waqaf Kemampuan nafas pembaca Siapa saja bisa boleh membaca Alqur?an. Jadi cara membaca Alqur‟an itu bisa disesuaikan dengan tanda-tanda waqaf dalam Alqur‟an atau disesuaikan dengan kemampuan si pembaca dengan syarat bahwa bacaan yang dibacanya tidak berubah arti atau makna.dalam pengertian sang pembaca harus membaca dengan sekali nafas hingga kalimat-kalimat tertentu atau hingga tanda-tanda tertentu yang dalam istilah ilmu tajwid dinamakan waqaf. Walaupun jika berhenti dengan sengaja pada kalimat-kalimat tertentu yang dapat merusak arti dan makna yang dimaksud. Jika si pembaca berhenti pada tempat yang tidak semestinya maka dia harus membaca ulang kata atau kalimat sebelumnya. Waqof artinya berhenti di suatu kata ketika membaca Alqur‟an.

maka kalam yang dicintai Allah adalah lafadz „La ilâha illallâh wallâhu akbar wa subhanallâhi wal hamdulillâh. „Waktu-waktu pilihan yang paling utama untuk membaca Alqur‟an ialah dalam sholat. Allah telah memilih zaman. Allah telah memilih hari-hari. Malam hari Waktu-waktu yang paling utama untuk membaca Alqur‟an selain waktu sholat adalah waktu malam. Waktu-waktu tersebut adalah: 1. baik makna-maknanya.Pada hakikatnya tidak ada waktu yang makruh untuk membaca/meditasi Alqur‟an.multiply. Setelah Subuh Sebagai penutup mudah-mudahan ini merupakan langkah awal untuk bisa lebih membuktikan unsur-unsur kesehatan dari Alqur‟an. Allah menegaskan.‟ Al Baihaqi meriwayatkan dalam asy Syu‟ab dari Ka‟ab r. maka negeri-negeri yang lebih dicintai Allah ialah negeri al Haram (Mekkah). maka zaman yang lebih dicintai Allah ialah bulan-bulan haram. Hari-hari bulan Dzulhijjah yang lebih dicintai Allah ialah sepuluh hari yang pertama. maka hari yang lebih dicintai Allah ialah hari Jum?at.a. cara membacanya maupun http://musiconlinecairo. mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari. sedang mereka juga bersujud (sholat).” (QS. Allah telah memilih kalam-kalam (perkataan). Dalam sholat An-Nawawi berkata. ia berkata: “Allah telah memilih negeri-negeri. Dan bulan yang lebih dicintai Allah ialah bulan dzulhijjah. hanya saja memang ada beberapa dalil yang menerangkan bahwa ada waktu-waktu yang lebih utama dari waktu-waktu yang lainnya untuk membaca Alqur‟an. Ali Imron 3:113) Waktu malam ini pun dibagi menjadi 2: > antara waktu Maghrib dan Isya > bagian malam yang terakhir 3. Allah telah memilih waktu-waktu malam dan siang.com/journal/item/34 55555 . “Di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus. Malam-malam yang lebih dicintai Allah ialah malam Qadar.“ 2. maka waktu yang lebih dicintai Allah ialah waktu-waktu sholat yang lima waktu.