11111

Perbedaan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Preoperasi Sebelum Dan Sesudah Diberikan Terapi Musik Di Bangsal Bedah RS XX
Posted on 8 September 2011 by grahacendikia Kecemasan adalah keadaan yang tidak mengenakan dan tidak merasa nyaman yang terjadi di kehidupan sehari-hari yang juga dapat terjadi pada seseorang yang akan menjalani operasi. Dalam studi pendahuluan di Rumah Sakit Daerah XX pada bulan April 2011 didapatkan data bahwa, dari 10 orang pasien yang akan dilakukan operasi dengan General Anastesi, ternyata kurang lebih 60% mengalami kecemasan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan tingkat kecemasan pasien preoperasi sebelum dan sesudah diberikan terapi musik di Bangsal Bedah RS XX. Penelitian ini merupakan penelitian Quasi Eksperiment dengan pendekatan potong lintang (cross sectional). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasein preoperasi yang berada di bangsal bedah RS XX selama kurun waktu bulan Juli sampai Agustus 2011. Teknik sampel yang digunakan adalah convinience sampling dengan jumlah sampel yang diambil sebanyak 30 orang. Hasil penelitian ini diperoleh tingkat kecemasan pasien preoperasi sebelum dilakukan terapi musik di RS XX sebagian besar adalah tingkat kecemasan sedang yaitu sebanyak 21 orang (70%). Tingkat kecemasan pasien preoperasi sesudah dilakukan terapi musik di RSD sebagian besar adalah tingkat kecemasan ringan yaitu sebanyak 20 orang (66,7%). Berdasarkan uji Wilcoxon diketahui nilai p = 0,0005 (p<0,05) menunjukkan adanya perbedaan sangat signifikan antara tingkat kecemasan pasien preoperasi sebelum dan sesudah diberikan terapi musik di RS XX. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terapi musik dapat menurunkan tingkat kecemasan pada pasien yang akan menjalani operasi.
http://grahacendikia.wordpress.com/2011/09/08/perbedaan-tingkat-kecemasan-pada-pasienpreoperasi-sebelum-dan-sesudah-diberikan-terapi-musik-di-bangsal-bedah-rs-xx/ 222222222222

HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN KECEMASAN PADA PASIEN PRE OPERASI Undergraduate Theses from JIPTUMM / 2002-09-01 08:53:00 Oleh : FERLINA INDRA S.(99010074), Nursing Academy Dibuat : 2002-10-30, dengan 1 file Keyword : hubungan pasien Latar Belakang:Persiapan pra bedah penting sekali untuk memperkecil resiko operasi, karena hasil akhir suatu pembedahan sangat bergantung pada penilaian keadaan penderita dan persiapan pra bedah yang telah dilakukan, dari hasil penelitian didapatkan sekitar 80% dari semua pasien yang menjalani pembedahan,mengalami kecemasan.Tujuan Penelitian:Untuk mengetahui ada

atau tidaknya hubungan pengetahuan dengan kecemasan pada pasien pre operasi.Metode Penelitian:Metode yang digunakan adalah korelasional dengan sampel 20 orang.Pengambilan sampel dengan total populasi Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Pengumpulan data dimulaidaripersiapan, pelaksanaan dan pengambilan data. Dalam pengolahan data digunakan prosentase yang selanjutnya dianalisa dengan menggunakan chi-square.Dari hasil analisa data didapatkan hasil x2 tabel =1,82 dan x2 (0,05)(1) =1,sehingga didapatkan keputusan analisa x2 hitung < x2(0,05)(1) .Kesimpulan Ho diterima dan HI ditolak,ini berarti tidak ada hubungan pengetahuan pengetahuan dengan kecemasan pada pasien pre operasi.Hal ini bisa dipengaruhi banyak hal antara lain waktu penelitian,pemilihan sampel,dan lingkungan rumah sakit. Deskripsi Alternatif : Latar Belakang:Persiapan pra bedah penting sekali untuk memperkecil resiko operasi, karena hasil akhir suatu pembedahan sangat bergantung pada penilaian keadaan penderita dan persiapan pra bedah yang telah dilakukan, dari hasil penelitian didapatkan sekitar 80% dari semua pasien yang menjalani pembedahan,mengalami kecemasan.Tujuan Penelitian:Untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan pengetahuan dengan kecemasan pada pasien pre operasi.Metode Penelitian:Metode yang digunakan adalah korelasional dengan sampel 20 orang.Pengambilan sampel dengan total populasi Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Pengumpulan data dimulaidaripersiapan, pelaksanaan dan pengambilan data. Dalam pengolahan data digunakan prosentase yang selanjutnya dianalisa dengan menggunakan chi-square.Dari hasil analisa data didapatkan hasil x2 tabel =1,82 dan x2 (0,05)(1) =1,sehingga didapatkan keputusan analisa x2 hitung < x2(0,05)(1) .Kesimpulan Ho diterima dan HI ditolak,ini berarti tidak ada hubungan pengetahuan pengetahuan dengan kecemasan pada pasien pre operasi.Hal ini bisa dipengaruhi banyak hal antara lain waktu penelitian,pemilihan sampel,dan lingkungan rumah sakit.
http://digilib.itb.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jiptumm-gdl-s1-2002-ferlina-5477-2002 3333333333

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT KECEMASAN PADA PASIEN PRE OPERASI APENDIKTOMI DI BANGSAL BEDAH BRSD RAA SOEWONDO PATI
Posted: Maret 22, 2011 in Keperawatan (S1)

0

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perawat mempunyai kontak paling lama dalam menangani persoalan klien (pasien) dan peran perawat dalam upaya penyembuhan klien menjadi sangat penting. Seorang perawat dituntut bisa mengetahui kondisi dan kebutuhan pasien.Termasuk salah satunya dalam mengendalikan kebutuhan emosi diri pasien, terutama pada pasien pre operasi dan post operasi. Seperti yang dikemukakan oleh perkumpulan dokter spesialis indonesia, bahwa tindakan operasi dapat menaikkan tingkat kecemasan pasien dan meningkatkan hormon pemicu stress (Ibrahim, 2006). Perawat profesional sebagai tenaga kesehatan yang dalam tugas pokoknya adalah memenuhi kebutuhan dasar klien harus mampu merespon dan bersikap secara profesional dalam mengendalikan kebutuhan emosi pasien. Karena perawat merupakan tenaga profesional terbesar dalam struktur ketenagaan rumah sakit yang akan ikut mewarnai mutu pelayanan kesehatan (Gillies, 1995). Perawatan pre operasi yang efektif dapat mengurangi resiko post operasi, salah satu prioritas keperawatan pada periode ini adalah mengurangi kecemasan pasien. Cemas merupakan reaksi normal terhadap ancaman pembedahan. Orang yang sangat cemas dan mencoba menyesuaikan diri dengan kecemasan sebelum operasi sering kali menderita kesukaran pada pasca operasi. Mereka cenderung banyak marah, kesal, dan bingung (Ellis dan Nowlis,1994). Tindakan pembedahan seringkali menjadi ancaman potensial atau aktual bagi integritas seseorang. Hal ini disebabkan tindakan pembedahan dapat membangkitkan reaksi stress baik fisiologis maupun psikologis. Setiap klien berbeda pandangan dalam menanggapi tindakan bedah atau operasi sehingga responnya berbeda-beda pula. Pada respon fisiologis ada tindakan langsung dengan bedah, karena tindakan bedah merupakan stresor pada tubuh. Respon ini terdiri dari sistem saraf simpati dan respon hormonal yang bertugas melindungi tubuh dari ancaman cidera. Bila stress terhadap sistem cukup gawat atau kehilangan darah cukup banyak, tubuh akan terlalu banyak beban dan terjadi shock. Sedangkan respon psikologi secara umum berhubungan dengan adanya ketakutan terhadap anestesia, diagnosis yang belum pasti, keganasan, nyeri, ketidakmampuan dan cerita dari orang lain (Long,1996). Operasi apendiktomi termasuk salah satu tindakan pembedahan yang juga dapat membangkitkan reaksi stress pada pasien. Karena pasien yang mengalami proses peradangan apendiktomi harus dilakukan operasi ( Martius, 1990). Apendiktomi begitu sering dijumpai sehingga lebih dari 50 persen kasus dari operasi abdomen akut yang dirawat di rumah sakit adalah peradangan apendiks (Cope, 1991). Hal ini sesuai dengan data yang tercatat pada bagian rekam medis BRSD RAA Soewondo Pati dari tahun 20022006 ditemukan kasus apendiktomi sebanyak 498 kasus, sedangkan pada tahun 2006 sebanyak 172 kasus dan jumlah operasi yang mengalami kecemasan di BRSD RAA Soewondo Pati pada tahun 2001- 2005 ada 456 orang atau 80,4% (Medical Record BRSD RAA Soewondo Pati, 2006). Faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan pasien pre operasi dapat berasal dari faktor internal dan eksternal. Faktor internal antara lain berupa usia, jenis kelamin, pekerjaan, tingkat pendidikan, tingkat sosial ekonomi, dan tipe kepribadian. Sedangkan faktor eksternal berupa ancaman tarhadap integritas biologis dan ancaman terhadap konsep diri (Stuart dan Sundeen, 1998). Kecemasan yang terjadi pada pasien yang akan dilakukan tindakan pembedahan termasuk

bahwa penyampaian prosedur atau informasi merupakan salah satu tindakan yang digunakan dalam mengatasi atau mengurangi pada kecemasan sebelum operasi (Amran. Sebagai landasan dasar dalam membuat daftar tilik SOP (standard operational prosedur) bagi pasien sebelum dilakukan operasi. B. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat: 1. http://bankjudul. Bagaimanakah hubungan antara masing-masing faktor dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi apendiktomi. 2. Sebagai bahan masukan di BRSD RAA Soewondo Pati terutama dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien pre apendiktomi. 2. 2.com/2011/03/22/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-tingkat-kecemasanpada-pasien-pre-operasi-apendiktomi-di-bangsal-bedah-brsd-raa-soewondo-pati/ 444444444 . e. Sesuai dengan uraian diatas penulis ingin mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kecemasan pada pasien pre operasi apendiktomi di bangsal bedah BRSD RAA Soewondo Pati. Tujuan Umum Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan pasien pre operasi apendiktomi dibangsal bedah BRSD RAA Soewondo Pati. Tujuan Khusus a. C. f. Menggambarkan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kecemasan pasien pre operasi apendiktomi dibangsal bedah BRSD RAA Soewondo Pati. Pemberian informasi yang adekuat pada klien yang akan dilakukan tindakan pembedahan umumnya mampu mengurangi tingkat kecemasan yang dirasakan klien. b. c. Menganalisis hubungan antara usia dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi apendiktomi dibangsal bedah BRSD RAA Soewondo Pati. Menganalisis hubungan antara pekerjaan dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi apendiktomi dibangsal bedah BRSD RAA Soewondo Pati. Menganalisis hubungan antara jenis kelamin dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi apendiktomi dibangsal bedah BRSD RAA Soewondo Pati. 2007).operasi apendiktomi. Hal ini sesuai dengan pendapat Amran. D. Menganalisis hubungan antara pendidikan dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi apendiktomi dibangsal bedah BRSD RAA Soewondo Pati. Faktor apa saja yang mempengaruhi kecemasan pasien pre apendiktomi. Tujuan Penelitian 1. Perumusan Masalah 1. Menganalisis hubungan antara sosial ekonomi dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi apendiktomi dibangsal bedah BRSD RAA Soewondo Pati.wordpress. dapat diantisipasi baik dengan memahami bagaimana cara panyebab kecemasan secara tepat. d.

. 2002).922 pasien (25. Latar Belakang Rumah sakit adalah sebuah fasilitas. dan identitas diri (Tjandra. Dari. Kecemasan merupakan perasaan yang paling umum di alami oleh pasien yang dirawat dirumah sakit. Setiap pasien pernah mengalami periode cemas. Kecemasan merupakan gejala klinis yang terlihat pada pasien dengan penatalaksanaan medis. Berdasarkan data WHO (2007). 8.473 pasien (7%) mengalami kecemasan. untuk itu pasien yang akan menjalani operasi harus diberi pendidikan kesehatan untuk menurunkan atau mengurangi gejala kecemasan (Carbonel. sebuah institusi dan sebuah organisasi yang fungsi utamanya adalah memberikan pelayanan kepada pasien diagnostik dan terapeutik untuk berbagai penyakit dan masalah kesehatan. apalagi yang akan menjalani operasi. Kecemasan terjadi ketika seseorang merasa terancam baik fisik maupun psikologisnya misalnya harga diri. Amerika Serikat menganalisis data dari 35. Reaksi cemas ini akan berlanjut bila pasien tidak pernah atau kurang mendapat informasi yang berhubungan dengan penyakit dan tindakan yang dilakukan terhadap dirinya. 2006). 2003). Sebagian besar pasien beranggapan bahwa operasi merupakan pengalaman yang menakutkan. 24 Mei 2011 HUBUNGAN PENDIDIKAN DAN PERAN PERAWAT DENGAN TINGKAT KECEMASAN PADA PASIEN PRE OPERASI DI RUANG SERUNI RSUD. kecemasan yang sering terjadi adalah apabila pasien yang dirawat di rumah sakit harus mengalami proses pembedahan. YUNUS BENGKULU TAHUN 2010 BAB I PENDAHULUAN 1. Pembahasan tentang reaksi – reaksi pasien terhadap pembedahan sebagian besar berfokus pada persiapan pembedahan dan proses penyembuhan (Dewi wijayanti. M. gambaran diri. Pelayanan yang ada di Rumah Sakit adalah pelayanan pengobatan baik yang bersifat bedah maupun non bedah. Bila kecemasan pada pasien pre operasi tidak segera diatasi maka dapat mengganggu proses penyembuhan.539 pasien bedah dirawat di unit perawatan intensif antara 1 oktober 2003 dan 30 september 2006.Asip KU search: Selasa. Pembedahan merupakan tindakan pengobatan yang banyak menimbulkan kecemasan.1%) mengalami kondisi kejiwaan dan 2.

Seorang perawat dituntut bisa mengetahui kondisi dan kebutuhan pasien. Peran perawat sangat penting untuk memberikan suport atau dukungan dan penyuluhan terhadap penurunan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi ( Kuntjoro. Makin tinggi pendidikan seseorang. 1998). Soeharso tahun 2008 dari 3827 pasien yang mengalami pembedahan sekitar (2%) mengalami kecemasan (Makmur. Salah satu cara melakukan hal ini ialah dengan mencurahkan perhatian sampai kepada hal yang sekecil-kecilnya dalam merawat pasien. 2007). 2007). dan spiritual. Peran perawat sangat penting dalam penanggulangan kecemasan dan berupaya agar pasien tidak merasa cemas melalui asuhan keperawatan komprehensif secara biologis. Selain itu faktor pendidikan pasien juga dapat mempengaruhi kecemasan yaitu tingkat pendidikan yang rendah serta kurangnya dukungan dari perawat (Sadock dan Kaplan. Perawat mempunyai kontak paling lama dalam menangani persoalan pasien. terjadi penundaan proses operasi karena peningkatan kecemasan. 2002). . dan faktor psikologis yang dapat terjadi akibat implusimplus bawah sadar yang masuk kealam sadar seperti tidak didampingi oleh orang tua. Pendidikan dapat mempengaruhi seorang termasuk juga prilaku seseorang akan kepatuhannya. anak ataupun keluarga yang lain. 2006). didapatkan bahwa 10% dari pasien yang akan menjalani pembedahan. terutama dalam motivasi untuk berperan serta dalam pembangunan kesehatan. Perawat merupakan salah satu tenaga kesehatan yang paling sering berinteraksi dengan pasien.Berdasarkan data dari RSUD Sragen Wijaya Kusuma. Penelitian yang dilakukan oleh makmur et. Peran perawat dalam upaya penyembuhan klien menjadi sangat penting. 16 orang (40%) yang memilki tingkat kecemasan dalam kategori sedang.5%). Perawat harus mau mendengarkan semua keluhan pribadi pasien (Widodo. psikologis. sosial. suami. maka memerlukan keterampilan komunikasi yang baik.5%) dalam kategori ringan dan responden yang tidak merasa cemas sebanyak 2 orang (5%). Sikap dan tingkah laku perawat membantu menumbuhkan rasa kepercayaan pasien. mempunyai kewajiban membantu pasien mempersiapkan fisik dan mental untuk menghadapi operasi. Sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap perubahan-perubahan hidup sehat (Notoatmojo. Kecemasan pre operasi dapat dipengaruhi dari beberapa faktor antara lain adalah faktor biologis yang terjadi akibat dari reaksi saraf otonom yang berlebihan dengan naiknya system tonus saraf simpatis. 2002 ). (Ibrahim. R. maka makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimilikinya.al (2007) tentang tingkat kecemasan pre operasi bahwa dari 40 orang responden dalam tingkat kecemasan berat sebanyak 7 orang (17. Kecemasan yang terjadi dapat berpengaruh terhadap peningkatan tekanan darah (RSUD Sragen. Hasil penelitian di Rumah Sakit Ortopedi Prof Dr. 15 orang (37. Termasuk salah satunya dalam mengendalikan kebutuhan emosi diri pasien terutama pasien pre operasi dan post operasi. 1999). termasuk dalam pemberian pendidikan kesehatan.

Untuk menurunkan tingkat kecemasan pasien tersebut keluarga dan perawat harus lebih banyak memberikan dukungan salah satunya yaitu selalu berada dekat pasien. Yunus Bengkulu.Berdasarkan hasil pengumpulan data di RSUD M. M. M. yang dirawat 2154 pasien. Pasien yang akan menjalani operasi besar dianjurkan untuk minimal masuk rumah sakit 12 jam sebelum pre operasi dilaksanakan dan operasi kecil 6 jam sebelum dilaksanakan. Kecemasan yang terjadi dapat berpengaruh terhadap peningkatan tekanan darah. Tujuan agar persiapan yang dilakukan dapat sebaik mungkin (RSUD M. Yunus Bengkulu. M. Yunus Bengkulu. Tujuan Khusus 1. gemetar sehingga dapat menghambat proses operasi.. gelisah. Berdasarkan hasil observasi dengan teknik wawancara selama tiga hari di ruang seruni RSUD M. 2. Sementara dari pengumpulan data awal diruang Seruni RSUD M. . Mengetahui gambaran peran perawat di ruang seruni RSUD. 2008). sehingga tindakan anestesi atau pembedahan ditunda. Mengetahui gambaran tingkat pendidikan pada pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. 3. Yunus Bengkulu. maka penulis tertarik untuk meneliti hubungan pendidikan pasien dan peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. Tujuan penelitian 1.Yunus Bengkulu. nafas pendek. Yunus Bengkulu didapatkan data 2008 sebanyak 1033 dan data 2009 dari januari sampai tanggal Desember sebanyak 786 orang yang melakukan operasi. Sedangkan rumusan masalah penelitian ini adalah "apakah ada hubungan pendidikan pasien dan peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD M. Dari 5 orang yang mengalami kecemasan berat tersebut mempunyai pendidikan SMA kebawah dan kurang mendapatkan penkes dari perawat. M. Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan di atas. 2. Yunus Bengkulu didapatkan data bahwa dari 15 pasien yang akan melakukan operasi 5 orang yang mengalami kecemasan berat dengan ciri-ciri muka merah. dengan rincian sembuh 2259 dan 36 pasien meninggal (15%) dilakukan penundaan karena peningkatan kecemasan. sering buang air kecil. Yunus Bengkulu". Yunus Bengkulu. pada tahun 2007 terdapat 4449 pasien yang mengalami pembedahan. susah tidur. Yunus Bengkulu. Tujuan umum Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada Hubungan antara pendidikan dan peran perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. 2. memotivasi pasien untuk memberi keyakinan bahwa operasi dapat berjalan dengan lancar. masalah penelitian ini adalah masih tingginya tingkat kecemasan pasien pre operasi di RSUD M. Rumusan masalah Berdasarkan uraian dalam latar belakang di atas.

2. Mengetahui tingkat Kecemasan pasien pre operasi di Ruang Seruni RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu". 2. 4. Bagi Akademik Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi literatur bagi perpustakaan. Mengetahui hubungan peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. M. Bagi Peneliti Lain Hasil penelitian ini dapat berguna sebagai masukan atau informasi bagi peneliti lain dalam mengembangkan penelitian dengan variabel-variabel yang lain. atau depresi dalam menghadapi pembedahan. Mengetahui hubungan pendidikan dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. 5. 3. Dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan di bidang kesehatan. 5. . Bagi Masyarakat Dapat memperoleh pelayanan yang lebih baik terutama yang mengalami ketakutan. 4. kecemasan. Rinda Lesti Sentia dengan judul penelitian " Hubungan Tingkat Pendidikan dan Umur Kehamilan dengan Tingkat Kecemasan Ibu Hamil Primigravida di Rumah Bersalin YKWP Desa Kangkung Kabupaten Demak. Keaslian penelitian Sebagai bahan perbandingan penelitian serupa pernah diteliti oleh : 1. M.Yunus Bengkulu. Menambah wawasan dan pengetahuan bagi mahasiswa dan masyarakat mengenai tingkat kecemasan pada pasien pre operasi. Agri Maha Tirani dengan judul penelitian "Perbedaan tingkat kecemasan sebelum dan sesudah pemberian pendidikan kesehatan pada pasien pre operasi di RSUD. Yunus Bengkulu. rancangan dan waktu penelitian. 4. M. Bagi Rumah sakit Hasil penelitaan ini diharapkan dapat memberi masukan bagi para tenaga kesehatan khususnya pada perawat di ruang seruni dan ruangan yang lain.3. Yunus Bengkulu.Adapun perbedaan antara karya tulis ini dengan karya tulis tersebut adalah pada variabel. Manfaat penelitian 1.

Keadaan emosi ini tidak memiliki subyek yang spesifik. rancangan dan waktu penelitian. Pengertian Cemas adalah keadaan emosi individu yang berkaitan dengan perasaan yang tak pasti dan tidak berdaya. Adapun perbedaan antara karya tulis ini dengan karya tulis di atas adalah pada variabel. Faktor-faktor Penyebab Kecemasan 1.3. Kecemasan adalah Suatu kondisi yang menyangkut terminologi kesehatan jiwa dengan suatu kondisi was-was. perut terasa kosong. 2006). 1998). gangguan phobik dan gangguan obsesifkompulsif (Dadang Hawari. Faktor Biologis Kecemasan terjadi akibat dari reaksi saraf otonomi yang berlebihan dengan naiknya sistem tonus saraf simpatis. Kecemasan merupakan komponen utama bagi hampir semua gangguan kejiwaan (psychiatric disorder). ancaman) yang masuk kealam sadar. 2005) Jadi. nafas sesak dan dada terasa nyeri (Ayub Sani. Kecemasan adalah suatu keadaan dimana psikologis seseorang berada pada ketakutan dalam menghadapi masalah yang ada pada dirinya. Mekanisme . Psikologis Ditinjau dari aspek psikoanalisa. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1. Konsep Kecemasan 1. Kecemasan adalah suatu keadaan yang menggoncangkan karena adanya ancaman terhadap kesehatan (Siti Sundari. Yunus Bengkulu. gangguan panik. 2007). Secara klinis gejala kecemasan dibagi dalam beberapa kelompok yaitu gangguan kecemasan. gangguan cemas menyeluruh (Generalized anxiety disorder/GAD). Elika dengan judul penelitian " Hubungan peran perawat dan dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD M. kecemasan dapat muncul akibat implus-implus bawah sadar (misalnya : sex. kondisi ini dialami secara subyektif (yang hanya dirasakan individu tersebut) dan dikomunikasikan dalam hubungan interpersonal (Stuard and Sundeen. 2. 2.

3. lesu) lebih mudah megalami kecemasan. Kecemasan bisa terjadi pada individu yang tingkat pendidikannya rendah disebabkan karena kurangnya informasi yang didapat individu tersebut. 4. Sosial Kecemasan yang timbul akibat hubungan interpersonal dimana individu menerima suatu keadan yang menurutnya tidak disukai oleh orang lain yang berusaha memberikan penilaian atas opininya (Sadock dan Kaplan. 1998). 2. Kecemasan merupakan peringatan yang bersifat subyektif atas adanya bahaya yang tidak dikenali sumbernya. 3. Potensi stressor Suatu keadaan yang menyebabkan perubahan dalam individu. Disamping itu kelelahan fisik (lemah. Ekonomi Seseorang yang memiliki pendapatan rendah lebih mudah mengalami kecemasan.pembelaan ego yang tidak sepenuhnya berhasil juga dapat menimbulkan kecemasan yang mengambang. sehingga individu harus melakukan penyesuaian diri (adaptasi). dibandingkan dengan orang yang memiliki pendapatan tinggi. Lingkungan Lingkungan sangat berpengaruh pada kecemasan seseorang. 6. penyakit. sakit. Tingkat pendidikan Status pendidikan yang rendah pada seseorang akan menyebabkan orang tersebut mudah mengalami kecemasan. 5. Sosial budaya Individu yang tidak bersosialisasi dengan masyarakat lebih mudah mengalami kecemasan. operasi. letih. lebih mudah mengalami kecemasan. Reaksi pergeseran yang dapat mengakibatkan reaksi fobia. 3. Selain itu faktor yang mempengaruhi tingkat kecemasan menurut Soewandi (1998) antara lain : 1. dimana lingkungan yang tidak kondusif berpotensial besar terhadap kecemasan yang dialami . Keadaan fisik Seseorang yang mengalami gangguan fisik seperti cacat badan.

2. dan banyak orang. gagap.hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada dan meningkatkan lahan persepsinya. gangguan perkemihan. nadi cepat. 5. mudah tersinggung. tidak tenang. sakit kepala dan lain sebagainya. 2. biasanya kecemasan sering dialami oleh usia muda. pendengaran berdenging (tinnitus). Tingkat kecemasan 1. Umur Umur ikut menentukan kecemasan. Takut sendiri. 8. takut pada keramaian. Ansietas Sedang (Tingkat II) . mudah terkejut. 3. firasat buruk. begitu juga sebaliknya jika lingkungannya kondusif mempercepat penyembuhan seseorang. gelisah. Ansietas Ringan (Tingkat I) 1. sulit tidur. Gejala – gejala Kecemasan Keadaan cemas mempunyai gejala-gejala somatik atau fisik dan gejala psikologis atau mental. mimpi yang menegangkan Gangguan konsentrasi dan daya ingat Keluhan somatik misalnya rasa sakit pada otot tulang. takut akan fikirannya sendiri. gangguan pencernaan. nyeri pada gastro intestinal. 4. Reaksi fisik terhadap kecemasan pada masingmasing individu berbeda (Setyonegoro. muntah-muntah.seseorang. Berhubungan dengan ketegangan yang dialami dalam kehidupan sehari. 6. hiperaktifitas. Merasa tegang. mengetuk jari-jari. 5. hiperventilasi. berhenti berbicara dan terjadi perubahan suara. khawatir. sesak nafas. menyebutkan gejala klinis dari cemas antara lain : Cemas. Ansietas dapat memotivasi belajar dan menghasilkan pertumbuhan. kebingungan. berdebar-debar. gangguan muskulo skeletal. Gangguan pola tidur. 4. gangguan kulit. berkeringat. Jenis kelamin Kecemasan lebih banyak dialami wanita. 1994). Menurut Dadang Hawari (2006). 7. Gejala-gejala tersebut antara lain: Iritabilitas. mulut kering. dibandingkan dengan pria. sering buang air besar atau kecil. energi menurun.

Semua perilaku ditujukan untuk mengurangi ketegangan. 3. Ansietas terhadap integritas seorang meliputi ketidakmampuan fisiologis yang akan datang atau menurunnya kapasitas untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Ansietas Berat (Tingkat III) Sangat mengurangi lahan persepsi seseorang. Perasaan pengendalian 3. menurunnya kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain. Dialog Internal Membantu pasien mengembangkan pesan dialog sendiri yang meningkatkan : 1. Kemampuan untuk mengatasi 4. 1997). Orang tersebut banyak pengarahan untuk dapat memusatkan pada suatu area lain. Teknik Mengatasi ansietas Teknik kognitif dapat membantu pasien ansietas dan tidak tergantung pada wawasan atau pemahaman yang kompleks dari kondisi psikologi diri sendiri. yaitu: 1. Optimisme 5. Tingkat Panik Berhubungan dengan terperangah. 7. 6. Perincian terpecah dari proporsinya karena mengalami kehilangan kendali. 4.Memungkinkan seseorang untuk memusatkan pada hal yang penting dan mengesampingkan yang lain. persepsi yang menyimpang dan kehilangan pemikiran yang rasional tingkat ansietas ini tidak sejalan dengan kehidupan dan jika berlangsung terus dalam waktu yang lama dapat terjadi kelelahan yang sangat bahkan kematian (Hudak dan Gallo. Stressor Pencetus Stressor pencetus berasal dari sumber internal atau eksternal. 1. Harapan 2. Dialog Eksternal . Seseorang cenderung untuk memusatkan pada sesuatu yang terinci dan spesifik dan tidak berfikir tentang hal lain. Ansietas terhadap sistem diri seseorang dapat membahayakan identitas. 1997). Sterssor dapat di kelompokkan dalam dua kategori. Percaya diri 2. sehingga seseorang mengalami perhatian yang selektif namun dapat melakukan sesuatu yang lebih terarah. ketakutan dan terror-terror. 2. dengan panik terjadi peningkatan aktivitas motorik. harga diri dan fungsi sosial (Brunner dan suddarth. Orang yang mengalami panik tidak mampu melakukan sesuatu walaupun dengan pengarahan. Panik melibatkan disorganisasi kepribadian.

Alat ukur kecemasan untuk mengetahui sejauh mana derajat kecemasan apakah ringan atau berat dengan menggunakan alat ukur (instrument) yang dikenal denga nama Hamilton Rating Scale or Anxiaty (HRS-A) dengan skor ringan jika ≤ 28 dan berat jika ≥ 28. Takut terhadap anestesi. takut terhadap nyeri atau kematian. Tujuan Prosedur pembedahan . Dimana mekanisme koping setiap orang berbeda-beda. 2. interview preoperatif. takut tentang ketidaktahuan. Perawatan pre operasi merupakan bagian dari perawat perioperatif yang di mulai dari kapan di putuskan tindakan operasi dibuat dan diakhiri dengan pemindahan klien ke meja ruang operasi. 8. 9. 10. 1997). 1997). Khayalan Mental dan Relaksasi Mendorong pasien untuk mengkhayalkan tempat yang indah atau menjadi bagian dari pengalaman yang menyenangkan sehingga dapat membantu pasien menurunkan ketegangan (Abraham dkk. takut tentang deformitas dan ancaman lain terhadap citra tubuh dapat menyebabkan ketidaktenangan atau ansietas (Brunner dan Suddarth. Lingkup kegiatan perawatan pre operasi termasuk dalam menetapkan batas pengkajian klien setting secara klinis atau dalam ruangan. tidur. tertawa. 1997). Tipe . Pengertian Pasien Pre operasi dapat mengalami berbagai ketakutan. Hal ini menurunkan rasa ketidak berdayaan dan ansietas mereka. 3. melakukan kegiatan fisik.Dengan dialog eksternal kebutuhan pasien untuk berbicara cara akurat tentang dirinya dengan orang lain.tipe tingkah laku seperti mennangis. menyiapkan klien untuk diberikan anestesi dan pembedahan bagaimanapun kegiatan perawatan dibatasi oleh pengkajian pre operasi dalam ruangan atau selama operasi. Mekanisme Koping Mekanisme koping adalah suatu bentuk pertahanan yang di gunakan oleh seseorang yang sedang berada pada suatu bentuk kecemasan untuk menghindar atau mengurangi respon yang ditimbulkan oleh kecemasan tersebut. Pre Operasi 1. merokok dan minum-minum (Brunner dan Suddarth.

1997). Pengkajian psikologi pada pasien atau keluarga harus di lakukan supaya hal tersebut tidak menghambat rencana operasi. 5. Sebagai contoh. 3. tapi kadang-kadang dapat terlihat dalam bentuk lain. obat-obatan dan perawatan tindakan. Penyuluhan tersebut harus melebihi deskripsi tentang berbagai langkah prosedur dan harus mencakup tentang sensasi yang akan di alami. tetapi berusaha mengalihkan perhatiannya kepada buku atau sebaliknya ia bergerak terus-menerus dan tidak mau tidur (Kaplan. Pembedahan Mayor (pembedahan resiko tinggi ) 2. Pasien yang gelisah dan takut biasanya sering bertanya berulang-ulang walaupun pertanyaan tersebut telah dijawab.Sebagai salah satu bentuk pengobatan dan penatalaksanaan berbagai macam penyakit untuk mempercepat proses penyembuhan (Perry Potter. di kelompokkan menjadi dua bagian yaitu : 1. Kecemasan pada pasien pre operasi Kecemasan pada pasien pre operasi adalah kecemasan yang di akibatkan sterssor tindakan operasi. stressor tersebut merupakan faktor timbulnya kecemasan yang mengakibatkan terancamnya integritas seseorang meliputi ketidakmampuan fisiologis atau menurunkan kapasitas untuk melakukan hidup sehari-hari (Brunner dan suddarth. memberitahu pasien hanya medikasi pre operasi yang akan membuatnya rileks sebelum operasi tidaklah selektif bila menyebutkan juga bahwa medikasi tersebut dapat mengakibatkan kepala terasa melayang dan mengantuk. Salah satu caranya yaitu dengan penyuluhan pada keluarga maupun pasien supaya mereka mengerti apa yang akan terjadi. Jenis-jenis operasi Menurut derajat kepentingan Perry dan potter (2006). 2006). kurangnya dukungan keluarga terhadap pasien pre operasi. Pembedahan Minor (pembedahan resiko kecil ) 4. perawatan menjelang operasi yang dianggap sebagai hal baru. Mengetahui apa yang di perkirakan akan membantu pasien mengantisipasi reaksi-reaksi tersebut dan dengan demikian mencapai tingkat relaksasi yang lebih tinggi daripada yang di perkirakan sebaliknya (Brunner dan suddarth. 1994). Pasien biasanya tidak mau bicara dan memperhatikan keadaan sekitarnya. 1997). Perasaan gelisah dan takut kadang-kadang tidak tampak jelas. . Khawatir meninggal di meja operasi dan meninggalkan anakanak ditinggalkan seandainya ia meninggal saat atau setelah operasi. Persiapan psikologis pasien pre operasi Pasien yang akan di operasi biasanya akan mengalami kegelisahan dan rasa takut.

Pendidikan Non-Formal : . 3. (1997) janis pendidikan terbagi atas 3 yaitu : 1. akan tetapi juga bagi tujuan terakhir pembangunan seperti kualitas keluarga dan kehidupan masyarakat. D4. serta memperkuat kemasyarakatan. politeknik. 1.11. Pendidikan Tinggi: satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi yang dapat berbentuk akademik. Pendidikan Menengah : pendidikan menengah yang lamanya 3 tahun sesudah pendidikan dasar. 2003). 5. kepribadian. Pendidikan Dasar : warga Negara yang berumur 6 atau 7 tahun berkewajiban mengikuti pendidikan dasar atau sederajat selama 9 tahun yaitu SD dan SLTP. (Diknas. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. Manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya. pengendalian diri. dan ayat (3) menegaskan bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan Undang-Undang. 2. pendidikan formal yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar. Pendidikan formal : Pendidikan formal merupakan usaha-usaha dalam pendidikan dasar dapat memberikan sumbangan dalam jangka panjang. dan S2. dan kemampuan yang dikembangkan menjadi: 2. Pengertian Pendidikan adalah suatu usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. diselenggarakan di SLTA atau sederajat. kecerdasan akhlak mulia. sekolah tinggi dan universitas yang termasuk perguruan tinggi D1. Pendidikan merupakan usaha agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran atau cara lain yang dikenal dan diakui oleh masyarakat. UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia menyelenggarakan Tahun 1945 Pasal 31 ayat (1) menyebutkan bahwa setiap warga Negara berhak mendapat pendidikan. menyatakan bahwa jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik. Sedangkan menurut Diknas (2003). seluruh komponen bangsa wajib mencerdaskan kehidupan bangsa yang merupakan salah satu tujuan negara indonesia. masyarakat. Pendidikan 1. D2. dan tinggi. tujuan yang akan dicapai. bukan saja bagi produktivitas. Untuk itu. D3. Jenjang Pendidikan Menurut Diknas (2003). menengah. S1. bangsa dan negara. 4. Menurut Ahmadi.

Pendidikan non-Formal adalah pendidikan yang dilakukan secara teratur, dengan sadar dilakukan, tapi tidak terlalu ketat mengikuti peraturan-peraturan yang tepat, seperti pada pendidikan formal di sekolah. Karena pendidikan non-formal pada umumnya dilaksanakan tidak dalam lingkungan fisik sekolah maka sasaran pokok adalah anggota-anggota masyarakat. Diknas (2003), menyatakan pendidikan non-formal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang.
3. Pendidikan informal :

Pendidikan informal yakni pendidikan yang diperoleh seorang berdasarkan pengalaman dalam hidup sehari-hari dengan sadar atau tidak sadar, sejak seorang lahir sampai akhir hidupnya, di dalam lingkungan keluarga, masyarakat atau dalam lingkungan pekerjaan sehari-hari. Diknas (2003), menyatakan bahwa pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan. Pendidikan dapat mempengaruhi seorang termasuk juga prilaku seseorang akan kepatuhannya, terutama dalam motivasi untuk berperan serta dalam pembangunan kesehatan. Makin tinggi pendidikan seseorang, maka makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pngetahuan yang dimilikinya. Sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap perubahan-perubahan hidup sehat (Notoatmojo, 2002).

12. Hubungan pendidikan dengan kecemasan

Pendidikan merupakan salah satu faktor sosial dari kecemasan pada pasien pre operasi. Pada pasien yang pendidikannya hanya sebatas pendidikan dasar atau tidak pernah sekolah sangat susah dalam pemberian informasi. Setiap perawat yang menjelaskan pengetahuan tentang kesehatan pasien tidak mengerti. Berdasarkan penelitian yang lakukan di Kabupaten Demak menghasilkan informasi bahwa pendidikan masyarakat disana masih relatif rendah, sehingga tenaga kesehatan disana perlu melakukan konseling kepada ibu hamil primigravida sebagai upaya mengantisipasi terjadinya komplikasi dan kecemasan. Hasil penelitian Lesti, (2009). P < 0,05 menunjukkan bahwa hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara pendidikan pasien dengan tingkat kecemasan.

13. Peran Perawat 1. Definisi

Peran adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap seseorang sesuai kedudukannya dalam suatu system. Peran dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari dalam maupun dari luar dan bersifat stabil. Peran adalah bentuk dari perilaku yang diharapkan dari seesorang pada situasisosial tertentu. (Kozier Barbara, 1995:21). Peran Perawat (Ali Zaidin, 2001) meliputi : (a) Pelaksana pelayanan keperawatan, (b)Pengelola pelayanan keperawatan dan institusi Pendidikan, (c) Pendidik dalam keperawatan, (d)Peneliti dan pengembang keperawatan Perawat profesional baik dalam lingkungan perawatan kesehatan institusional maupun komunitas mengemban tiga peran : peran pelaksana, peran kepemimpinan dan peran peneliti. Meski tiap peran memiliki tanggung jawab khusus, peran-peran ini saling berhubungan satu dengan yang lain dan dapat ditemui pada semua posisi keperawatan. Peran ini dirancang untuk memenuhi perawatan kesehatan saat ini dan kebutuhan keperawatan dari konsumen yang merupakan penerima pelayanan keperawatan.
2. Peran Pelaksana

Peran pelaksana dari perawat mencakup tindakan-tindakan yang dilakukan oleh perawat ketiaka ia mengemban tanggung jawab yang ditujakan untuk memenuhi kebutuhan perawatan kesehatan dan kebutuhan keperawatan pasien secara individu, keluarga mereka dan orang terdekat pasien. Peran ini merupakan peran yang dominan dari perawat dalam lingkungan pelayanan kesehatan primer, sekunder, dan tersier dan dalam keperawatan kesehatan rumah dan komunitas. Peran ini merupakan peran yang hanya dapat dicapai melalui proses keperawatan, yang merupakan dasar untuk semua praktik keperawatan.
3. Peran Kepemimpinan

Peran Kepemimpinan dari perawat yang secara tradisional dikerap sebagai peran spesialisasi yang diembankannya oleh perawat yang mempunyai gelar yang menunjukkan kepemimpinan dan mereka yang memimpin sekelompok besar perawat atau profesional perawatan kesehatan yang berhubungan.Definisi kepemimpinan keperawatan yang dirumuskan oleh memberi cakupan yang luas pada konsep tersebut dan mengidentifikasi kepemimpinan sebagai peran yang melekat didalam semua posisi keperawatan. Peran kepemimpinan dari perawat mencakup tindakan-tindakan yang dilaksanakan oleh perawat saat ini ia mengemban tanggung jawab untuk mempengaruhi tindakan orang lain yang ditujukan untuk menentukan dan mencapai tujuan.
4. Peran Peneliti

Peran peneliti dari perawat pada mulanya dianggap hanya dilakukan oleh para akademikus, perawat ilmuwan dan mahasiswa keperawatan di tingkat sarjana. Kini, partisipasi dalam proses penelitian dianggap sebagai tanggung jawab dari perawat dalam praktik klinis. Tugas utama dari penelitian keperawatan adalah untuk memberikan konstribusi pada dasar ilmiah praktik keperawatan. Kajian dibutuhkan untuk menentukan keefektifan intervensi dan asuhan keperawatan. Melalui upaya penelitian semacam ini, ilmu keperawatan akan berkembang dan rasional yang didasarkan secara ilmiah untuk membuat perubahan dalam praktik keperawatan akan tercipta (Brunner dan Suddarth, 2001). Peran Perawat menurut Para Sosiolog
5. Peran terapeutik : kegiatan yang ditujukan langsung pada pencegahan dan pengobatan penyakit. 6. Expressive/mother substitute role, yaitu kegiatan yang bersifat langsung dalam menciptakan lingkungan dimana pasien merasa aman, diterima dilindungi, dirawat dan didukung oleh perawat. Menurut Johnson dan Martin, peran ini bertujuan untuk menghilangkan ketegangan dalam kelompok pelayanan (dokter, perawat, pasien, dan lain-lain)

Menurut konsorsium ilmu kesehatan (1989) dalam Ali Haidin (2001) peran perawat terdiri dari :
7. Sebagai pemberi asuhan keperawatan

Peran ini dapat dilakukan perawat dengan memperhatikan keadaan kebutuhan dasar manusia yang dibutuhkan melalui pemberian pelayanan keperawatan. Pemberian asuhan keperawatan ini dilakukan dari yang sederhana sampai dengan kompleks.
8. Sebagai advokat klien

Peran ini dilakukan perawat dalam membantu klien dan keluaga dalam menginterpretasikan berbagai informasi dari pemberi pelayanan khususnya dalam pengambilan persetujuan atas tindakan keperawatan. Perawat juga berperan dalam mempertahankan dan melindungi hak-hak pasien meliputi hak atas pelayanan sebaik-baiknya, hak atas informasi tentang penyakitnya, hak atas privasi, hak untuk menentukan nasibnya sendiri, hak menerima ganti rugi akibat kelalaian.
9. Sebagai edukator

Peran ini dilakukan dengan membantu klien dalam meningkatkan tingkat pengetahuan kesehatan, gejala penyakit bahkan tindakan yang diberikan sehingga terjadi perubahan perilaku dari klien setelah dilakukan pendidikan kesehatan.

Sebagai kolaborator Peran ini dilakukan karena perawat bekerja melalui tim kesehatan yang terdiri dari dokter. kerjasama. fisioterapi. kerjasama. ahli gizi dan lain-lain dengan berupaya mengidentifikasi pelayanan keperawatan yang diperlukan. 15. perubahan yang sistematis dan terarah sesuai dengan metode pemberian pelayanan keperawatan 13. merencanakan serta mengorganisasi pelayanan kesehatan dari tim kesehatan sehingga pemberi pelayanan kesehatan dapat terarah serta sesuai dengan kebutuhan klien. Sebagai konsultan Perawat berperan sebagai tempat konsultasi dengan mengadakan perencanaan. 14. Sebagai pembaharu Perawat mengadakan perencanaan. 12. (6) Melaksanakan prosedur dan teknik keperawatan. (1) Melaksanakan instruksi dokter (fungsi dependen). dan memperbaiki rencana keperawatan secara terus menerus berdasarkan pada kondisi dan kemampuan pasien. (7) Memberikan pengarahan dan penyuluhan untuk meningkatkan kesehatan fisik dan mental. (2002) yaitu. (4) Supervisi semua pihak yang ikut terlibat dalam perawatan pasien. menyusun. 11. Sebagai koordinator Peran ini dilaksanakan dengan mengarahkan. (5) Mencatat dan melaporkan keadaan pasien.10. Tujuh Fungsi Perawat Kozier Barbara. (3) Memantau pasien. (2) Observasi gejala dan respons pasien yang berhubungan dengan penyakit dan penyebabnya. perubahan yang sistematis dan terarah sesuai dengan metode pemberian pelayanan keperawatan. Hubungan peran perawat dengan kecemasan Orang yang sakit sangat memerlukan seseorang yang bisa mengobati penyakitnya tersebut dan orang sehat memerlukan seseorang yang bisa mengarahkan agar bisa . Fungsi Perawat Fungsi adalah pekerjaan yang harus dilaksanakan sesuai dengan perannya.

Yunus Bengkulu Tahun 2010. Klien merasa cemas tentang pembedahan. al (2007) dan penelitian rumah Sakit Ortopedi Prof Dr.5% yang mengalami kecemasan ringan. Dan hasil penelitian yang dilakukan Elika tahun 2009. dengan nilai p < 0. Desain penelitian . Begitu pula dengan Pembedahan. sehingga kekambuhan sering terjadi dan bahkan bertambah parah. Ada hubungan antara peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD.M. Hipotesa peneliti 1. 16.05 yang mengalami kecemasan ringan sehingga dapat disimpulkan ada hubungan peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi. sumber koping klien serta asuhan keperawatan yang terbaik (Perry Potter.Yunus Bengkulu Tahun 2010. Klien merasa kurang dapat mengontrol situasi mereka sendiri untuk memahami dampak pembedahan pada kesehatan emosional klien tersebut. BAB III METODE PENELITIAN 1.mencegah dan terhindar dari berbagai penyakit. Perawat harus dapat mengkaji perasaan klien tentang pembedahan. Secara unum perawat mempunyai peran terapeutik yaitu kegiatan yang ditujukan langsung pada pencegahan dan pengobatan penyakit. Karena masih kurangnya pengetahuan pasien tentang penyakit yang dideritanya.M. 2006). R. Proses pembedahan sering menimbulkan stress psikologi yang tinggi. Ada hubungan antara pendidikan pasien dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. Soerharto tahun 2008. konsep diri. Seseorang tersebut ialah perawat yang mempunyai banyak peran untuk melaksanakan praktek keperawatan. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Makmur et. 2. citra diri. terdapat 37.

Variabel Penelitian Sesuai dengan desain penelitian di atas. Definisi Operasional Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Cara ukur Hasil Ukur 0=Cemas Berat jika. dimana variabel independen dan variabel dependen di kumpulkan pada saat bersamaan (Notoadmodjo. 2010). Kuisioner Wawancara (14 komponen pertanyaan HRS-A) dan observasi 1= Tidak Berat jika.1 Desain Penelitian B. < 28 ≥ 28 Ordinal Skala Ukur . maka Variabel Penelitian dapat digambarkan sebagai berikut : Variabel Variabel Dependen Independen Bagan 3.2 Variabel Penelitian C. Bagan 3. Tingkat kecemasan (Dependen) Suatu kondisi yang menyangkut kekhawatiran seseorang pada masalah yang terjadi.Desain penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional.

786 orang. Dalam penelitian ini teknik yang digunakan adalah teknik Simple Random sampling n = Z²1-α/2.0=Rendah ≤ SMA Pendidikan (Independen) Pendidikan Formal yang ditempuh pasien Kuisioner Dengan cara mengisi (1 pertanyaan kuisioner ) 1= Tinggi >SMA 0= kurang baik jika skor ≤ 75% Dengan cara mengisi kuisioner 1= baik. 0. 0.0. 2010). 2.84.P(1-P) = (1.175. Populasi dan Sampel 1. Sampel Sampel adalah objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi ( Notoatmojo. Populasi dalam penelitian ini adalah kelompok pasien pre operasi yang ingin menjalankan operasi di ruang Seruni dari bulan januari sampai bulan desember tahun 2010.96)².825 . Populasi Populasi adalah Keseluruhan dari objek penelitian yang di teliti.175. Kuisioner (15 pertanyaan) 1. (Noto atmojo. berdasarkan data jumlah pasien pada tahun 2009 adalah 1. 2010). jika skor ≥ 75% Ordinal Ordinal Peran Perawat (Independent) Tindakan yang dilakukan oleh perawat dalam proses penyembuhan. 0.825 =3.

tidak pernah (TP). dengan penilaian tidak berat jika skor < 28 dan berat jika skor ≥ 28. Tempat Penelitian Penelitian dilakukan di Ruang Seruni RSUD. kadang (KD). Tempat dan Waktu Penelitian 1. Data primer yaitu data yang didapat langsung dari responden yaitu pasien dalam perawatan pre operasi di Ruang Seruni RSUD M. untuk mengukur tingkat kecemasan.= 55 responden (Aziz Alimul.1. Sedangkan data Sekunder adalah data yang didapatkan secara tidak langsung dari responden. jarang (JR). Pengolahan Dan Analisa Data 1. D.5% D = Derajat akurasi (presisi) yang diinginkan 0. Yunus Bengkulu dengan cara wawancara dan observasi dengan skala HARS. Pengumpulan data Data dalam penelitian ini berupa data primer dan sekunder. 2008) Keterangan : n = Sampel Z(1-α/2) = Nilai Z pada derajat kemaknaan (α 5%=1.175 =17.Yunus Bengkulu pada bulan Desember 2010 2. Jumlah sampel yang didapat adalah 55 responden. tetapi didapat dengan metode pencarian data rumah sakit dalam bentuk . sering (SR). Pengumpulan. Yunus Bengkulu yang sudah diberi penjelasan tentang pengisian kuisoner. kuisioner pendidikan dan kuisioner peran perawat dengan skala selalu (SL).96) P = Proporsi suatu kasus yaitu proporsi kecemasan 0. M. Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan Desember sampai dengan februari 2010. E. yang nantinya akan diisi oleh responden dan dibantu oleh satu orang perawat yang bertugas di ruang Seruni RSUD M.

1. Pengolahan Data Data yang telah diperoleh atau terkumpul diolah dan dianalisis dengan program komputer melalui beberapa tahapan. tanggal masuk rumah sakit. alamat. jumlah pasien yang melakukan operasi. pekerjaan. Editing dilakukan langsung pada saat responden mengembalikan kuesioner yang sudah diisi dengan harapan apabila ada kekurangan data atau kesalahan dalam pengisian dapat segera diperbaiki. Entry Data (Pemasukan Data) Data yang telah ada dicoding dan hasil scoring kemudian diolah kedalam komputer dengan menggunakan program SPSS For Window. 3.Rekam Medik misalnya: nama. Editing Editing data adalah meneliti kembali apakah isian pada kuisioner yang dilakukan responden sudah cukup dan benar sesuai dengan petunjuk yang ada. Analisa Univariat . tanggal keluar rumah sakit dan lain-lain.. 2. Coding (Pengkodean) Jawaban-jawaban atau hasil yang ada kemudian di klasifikasikan dalam bentuk yang lebih ringkas dengan menggunakan kode-kode. yaitu : 1. F. umur. G. Cleaning (Pembersihan Data) Sebelum melakukan analisa data dengan dilakukan pengecekan kembali terhadap data yang sudah masuk apakah data yang dimasukkan sudah benar dan tidak ada lagi kesalahan. Kemudian dilakukan scoring terhadap pertanyaan yang berhubungan dengan masing-masing variabel dan diteruskan dengan pengujian kebenaran data dengan menggunakan uji Chi-Square dengan signifikan α = 5 %. Selanjutnya dilakukan transformasi data untuk menggambarkan variabel bebas dan variabel terikat. Analisa Data 1.

Untuk melihat gambaran distribusi frekuensi dari masing-masing variabel penelitian baik independent maupun dependent. . Rumus yang digunakan, yaitu : Keterangan : P F = Persentase yang ingin dicapai = Jawaban dalam setiap kategori

N = Jumlah seluruh responden (Budiarto, 2001) 2. Analisa Bivariat Analisa bivariat adalah analisa yang digunakan untuk melihat hubungan antara variabel bebas (pendidikan pasien dan peran perawat) dengan variabel terikat (kecemasan pada pasien pre operasi). Untuk melihat hubungan antara dua variabel kategorik maka digunakan Uji X² (Chi-Square) Ha diterima jika nilai p ≤ 0,05 Ha ditolak jika nilai p > 0,05 (Budiarto, 2001)
http://yulnico.blogspot.com/2011/05/hubungan-pendidikan-dan-peran-perawat.html 555555555

HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN KELUARGA DENGAN TINGKAT KECEMASAN PASIEN PRE OPERASI DI BANGSAL MELATI RSD PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL YOGYAKARTA
3 Mei 2009

DEWI WIJAYANTI A. Latar Belakang Masalah

Rumah sakit adalah salah satu organisasi kesehatan yang dengan segala fasilitas kesehatannya diharapkan dapat membantu pasien dalam meningkatkan kesehatan dan mencapai kesembuhan baik fisik, psikis, maupun sosial. Tujuan kesehatan tidak hanya memulihkan kesehatan pasien secara fisik tetapi sedapat mungkin diupayakan menjaga kondisi emosi dan jasmani pasien menjadi nyaman, namun kemajuan yang pesat dalam teknologi medis belum diiringi dengan kemajuan yang sama pada aspek-aspek kemanusiaan dari perawatan pasien. Proses perawatan di rumah sakit seringkali mengabaikan aspek-aspek psikologis sehingga menimbulkan berbagai permasalahan pisikologis bagi pasien yang salah satunya adalah kecemasan. Kecemasan merupakan perasaan yang paling umum dialami oleh pasien yang dirawat di rumah sakit, kecemasan yang sering terjadi adalah apabila pasien yang dirawat di rumah sakit harus mengalami proses pembedahan. Pembahasan tentang reaksi-reaksi pasien terhadap pembedahan sebagian besar berfokus pada persiapan pembedahan dan proses penyembuhan. Pembedahan adalah tindakan pengobatan yang banyak menimbulkan kecemasan, sampai saat ini sebagian besar orang menganggap bahwa semua pembedahan yang dilakukan adalah pembedahan besar. Tindakan pembedahan merupakan ancaman potensial aktual terhadap integritas seseorang yang dapat membangkitkan reaksi stress fisiologis maupun psikologis (Barbara C.Long, 1989) Pandangan setiap orang dalam menghadapi pembedahan berbeda, sehingga respon pun berbeda. Setiap menghadapi pembedahan selalu menimbulkan ketakutan dan kecemasan pada pasien, kecemasan sering muncul pada usia sebelum 30 tahun (Stuard and Sundeen, 1998). Seseorang yang sangat cemas sehingga tidak bisa berbicara dan mencoba menyesuaikan diri dengan kecemasan sebelum operasi, seringkali menjadi hambatan pada paska operasi, pasien menjadi cepat marah, bingung, lebih mudah tersinggung akibat reaksi psikis, dibandingkan dengan orang yang cemas ringan (Barbara C. Long, 1996). Pasien pre operasi sangat membutuhkan dukungan keluarga, pasien dapat mengekspresikan ketakutan dan kecemasannya pada keluarga dengan mengurangi kecemasan dan ketakutan yang berlebihan dan tidak beralasan, akan mempersiapkan pasien secara emosional. Selain itu, mempersiapkan keluarga terhadap kejadian yang akan dialami pasien dan diharapkan keluarga banyak memberi dukungan pada pasien dalam menghadapi operasi (Anderson dan Masur 1989).
1. Dukungan keluarga sebagai salah satu sumber dukungan bagi anggota keluarga yang sedang sakit. Dari hasil observasi atau studi pendahuluan selama satu minggu, dengan teknik wawancara di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta, pada tanggal 15 Februari tahun 2008, didapatkan data bahwa dari 15 pasien yang mau melakukan operasi, 9 orang diantaranya merasa cemas, dengan data sebagai berikut:

1. Satu pasien mengatakan cemas dikarenakan tidak didampingi oleh kedua orang tua dan suami yang merupakan sumber dukungan, kedua orang tuanya berada diluar kota sedang suami sibuk mencari surat keringanan biaya operasi, tanda-tanda kecemasan yang dimiliki adalah pasien lebih banyak berdiam diri dan murung. 2. Tiga pasien mengatakan cemas karena saat di rumah sakit tidak didampingi oleh keluarga namun hanya didampingi oleh suami, dan tanda-tanda kecemasan yang dimiliki antara lain nafsu makan berkurang,sering bangun saat malam hari, muka terlihat puat dan murung. 3. Lima pasien mengatakan cemas dikarenakan tidak ada dukungan dari anak-anak dan sanak saudara, tanda-tanda kecemasan yang dimilliki adalah jarang berkomunikasi, sering menanyakan keluarga, dan sulit untuk memulai tidur. 4. Enam pasien mengatakan tidak cemas dikaranakan mendapatkan dukungan dari keluarga, yaitu anak, istri, orang tua yang selalu mendampingi dan sanak keluarga yang bergantian mengunjungi. B. Rumusan Masalah

Dari berbagai uraian latar belakang tersebut diatas maka akan timbul masalah sebagai berikut “Adakah Hubungan Antara Dukungan Keluarga Dengan Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi Di Bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta?”
C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta.
1. Tujuan Khusus

a Diketahuinya dukungan keluarga yang diberikan pada pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. b Diketahuinya tingkat kecemasan pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta.
D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Perawat Di RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta

Mengoptimalkan fungsi perawat dalam penatalaksanan asuhan keperawatan kepada pasien yang mengalami kecemasan, tanpa mengabaikan aspek-aspek psikologis, sehingga profesionalisme perawat dalam bekerja dapat ditingkatkan lagi dan operasi berjalan dengan lancar.
1. Bagi RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta

Dapat dipakai sebagai masukkan untuk meningkatkan pelayanan

1. Dukungan keluarga adalah variable bebas 3. Penelitian yang dilakukan oleh Rondhianto (2004) dengan judul “Hubungan antara dukungan keluarga dengan kecemasan perpisahan akibat hospitalisasi pada pasien anak usia pra sekolah di bangsal anak RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta. 1. Bagi Pasien Dan Keluarga Di RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta 1. Tempat penelitian di bangsal Ibnu Sina RSU PKU Muhammadiyah. Tingkat kecemasan pada pasien pre operasi adalah variabel terikat 1. pada bulan Januari sampai Maret 2004. E. Memberikan masukan bagi peneliti bahwasanya dukungan keluarga sangat diperlukan bagi pasien. Waktu Penelitian ini dilakukan pada bulan April sampai dengan Mei tahun 2008. namun ada beberapa penelitian yang mirip dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti antara lain : 1. Alat ukur untuk pengumpulan data adalah daftar pertanyaan dalam bentuk kuesioner. Responden Pasien dewasa yang berumur 21– 40 tahun yang menjalani rawat inap dan akan melakukan operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. Hasil penelitian adalah ada hubungan . Ruang Lingkup Masalah 1. Memberikan masukan bahwa dukungan keluarga sangat dibutuhkan oleh pasien 3. dengan uji validitas menggunakan product moment dari pearson. dengan pendekatan cross sectional. Memberikan rasa nyaman pada pasien sehingga pasien tidak cemas pada proses operasi 2. Penelitian yang sama sepengetahuan peneliti belum pernah dilakukan oleh peneliti yang lain. Keaslian Penelitian Penelitian ini dititik beratkan pada hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. Variabel Yang Diteliti 2. Bagi Peneliti 1.” Menggunakan metode penelitian non eksperimental. Menambah ilmu pengetahuan dan wawasan 2. Sampel adalah orang tua dari anak pra sekolah yang dirawat di bangsal Ibnu Sina RSU PKU Muhammadiyah.1. 1.

Peneliti melakukan penelitian yang berjudul“ Hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta.” Instrumen penelitian menggunakan angket sedangkan uji validitas dan reabilitas mengunakan product moment dari pearson. peneliti meneliti tentang “Hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. Yogyakarta”. Perbedaan dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah. Sampel yang dipakai adalah pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. untuk mengukur tingkat kecemasan dan rating-scale (skala bertingkat) untuk mengukur dukungan keluarga pada pasien pre operasi.com/2009/05/03/ikpiii18/ 6666666666 . Penelitian yang dilakukan oleh Liliyanti (2000) dengan judul “ Peran keluarga dalam proses hospitalisasi di lakukan di bangsal Bedah RS Dr. 1. Tempat penelitian di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. alat ukur penelitian menggunakan kuesioner yang diuji validitas dan reabilitas menggunakan product moment dan alpha serta kr 20.” Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental dengan pendekatan cross sectional.” yang merupakan penelitian non eksperimental dengan pendekatan cross sectional. Penelitian yang dilakukan oleh Efrita Herliyati (2005) dengan judul “ Hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kooperatif anak usia pra sekolah saat pemasangan infus di INSKA RS Dr.wordpress. http://skripsistikes. 1. Sardjito Yogyakarta. alat ukur penelitian menggunakan kuesioner. Penelitian yang dilakukan oleh peneliti memiliki perbedaan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rondhianto (2004) diantaranya. sampel yang diteliti adalah pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. Jenis penelitian yang telah dilakukan tersebut bersifat penelitian deskriptif kualitatif dengan penggunaan wawancara mendalam pada responden dalam metode pengumpulan datanya.dukungan keluarga dengan kecemasan pada anak akibat hospitalisasi pada pasien anak usia pra sekolah di bangsal Ibnu Sina RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Metode yang digunakan adalah quota sampel. Menggunakan kuesioner sebagai alat ukur yang bersifat tertutup dan langsung dalam bentuk check list. Sardjito. sampel adalah pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. Hasil penelitian yang dilakukan bahwa tidak ada hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kooperatif anak usia pra sekolah saat pelaksanaan pemasangan infus. dengan uji validitas menggunakan product moment dan reliabilitas menggunakan alpha dan kr 20. Menggunakan metode quota sampel. pada bulan April sampai Mei tahun 2008. Jenis penelitian non eksperimental dengan pendekatan cross sectional. peneliti meneliti tentang “Hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta.

Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Kecemasan Dan Pengetahuan Pada Pasien Preoperasi Fraktur Di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten
ABSTRAK Burhanuddin, S541002006. Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Kecemasan Dan Pengetahuan Pada Pasien Preoperasi Fraktur Di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten. Komisi Pembimbing I : Prof. Dr. Sri Yutmini, M. Pd. Pembimbing II : Dr. Nunuk Suryani, M.Pd. Tesis: Magister Kedokteran Keluarga. Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta. 2011. Latar Belakang: Kecemasan juga dapat terjadi pada pasien yang akan menjalani operasi patah tulang atau fraktur. Kecemasan pada masa preoperasi fraktur meliputi takut terhadap anestesi, takut terhadap nyeri atau kematian, takut tentang ketidaktahuan atau takut tentang deformitas atau ancaman lain terhadap citra tubuh. Pendidikan kesehatan adalah salah satu yang bertujuan untuk menurunkan tingkat kecemasan pasien preoperasi fraktur melalui pemenuhan kebutuhan informasi mengenai pembedahan. pendidikan kesehatan merupakan satu bentuk intervensi keperawatan yang mandiri untuk membantu klien, baik individu, kelompok, maupun masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatannya melalui kegiatan pembelajaran, yang didalamnya perawat berperan sebagai perawat pendidik yang bertugas untuk meningkatkan pengetahuan klien Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kecemasan dan pengetahuaan pada pasien preoperasi fraktur sebelum dan sesudah memperoleh pendidikan kesehatan. Metode: Desain dalam penelitian ini adalah Pre-eksperimental design (Pre-eksperimental one group pre test-post test design). Populasi sumber penelitian ini adalah penderita yang akan menjalani operasi fraktur di RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten dari tanggal 07 Juli s/d 07 Agustus 2011. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Penentuan jumlah sampel menggunakan metode exhaustive sampling. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner yang berisi pernyataan tentang kecemasan dan tes pengetahuan. Data dianalisis dengan menggunakan uji Paired Sample T-Test. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara kecemasan pada pasien preoperasi fraktur sebelum dan sesudah memperoleh pendidikan kesehatan (t = 92,697 dan p = 0,000). Ada perbedaan yang signifikan antara pengetahuan pada pasien preoperasi fraktur sebelum dan sesudah memperoleh pendidikan kesehatan (t = 16,683 dan p = 0,000). Simpulan: Pendidikan kesehatan dapat menurunkan tingkat kecemasan dan meningkatkat pengetahuan pada pasien preoperasi fraktur. Disarankan pada penyelenggara pelayanan kesehatan agar melakukan pendidikan kesehatan pada pasien preoperasi fraktur karena terbukti mampu menerunkan kecemasan dan meningkatkan pengetahuan pasien. Kata Kunci: Pendidikan Kesehatan, Kecemasan, Pengetahuan, Preoperasi fraktur. ABSTRACT

Burhannudin, S541002006. Effect of Health Education on Worry and Knowledge of Fracture Presurgery Patients in Dr. Soeradji Tirtonegoro General Hospital of Klaten. The first commission of supervision : Prof. Dr. Sri Yutmini, M. Pd. The second supervision is Dr. Nunuk Suryani, M.Pd. Thesis. Family Medical Magister. Postgraduate Program of Sebelas Maret University of Surakarta. Background: Worry may occur in a patient who will go through surgery for his/her fracture. Worry in fracture presurgery period includes worry of anesthesia, worry of pain or death, worry of ignorance or worry about deformity or other threats on body image. One of health education aims is to reduce worry level of patients of fracture presurgey through meeting information needs of the patient. Health education is one of independent nursing intervention in attempts of helping client, individually or collectively and people in overcoming health problems by conducting learning activities in which nurse has a role as educator nurse whose duty is to enhance client‟s knowledge. Purpose: The research aims to know difference of worry and knowledge of fracture presurgery patients before and after receiving health education. Method: Design of the research is pre-experimental one (pre-experimental one group pretest posttest design). Population of the research is patients who will go through fracture surgery in Dr. Soeradji Tirtonegoro General Hospital of Klaten during 07 July - 07 August 2011. Sample of the research is taken by using purposive sampling technique. Number of sample is determined by using exhaustive sampling method. Data is collected by using questionnaire asking about worry and test of knowledge. The data is, then, analyzed by using Paired Sample T-Test. Results: Results of the research indicated that there was a significant difference between worry of fracture presurgery patients before and after receiving health education (t=92.696 and p = 0.000). There was a significant difference between knowledge of fracture presurgey patients before and after receiving health education (t=16.683 and p = 0.000). Conclusion: Health education can reduce worry level of fracture presurgery patients and increase knowledge of the patients. It is suggested that health provider should perform health education for fracture presurgery patients because it is proved to be able to reduce worry and to improve knowledge of the patients.
http://pasca.uns.ac.id/?p=1891 7777777

Manfaat membaca al-Qur'an untuk kehidupan
Sebagai wahyu yang Allah turunkan kepada nabi-Nya, tentu al-Qur'an memiliki keutamaan dan keistimewaan tersendiri bagi para pembaca dan penggemarnya. Ayat-ayat al-qur'an yang kita baca sehari-sehari tidak lepas dari karunia Allah untuk setiap muslim yang demikian besar. Karena saking istimewanya al-Qur'an ini dari kitab-kitab samawi lainnya, Allah memberikan tempat istimewa bagi para pecintanya. Oleh karena bagi anda yang ingin memaksimalkan peran al-Qur'an dalam kehidupan, nampaknya harus lebih banyak lagi mengetahui manfaat dan perannya, terutama untuk kehidupan. Di antara

manfaat itu adalah: 1. Ayat-ayat al-Qur'an yang dibaca setiap hari akan memberikan motivasi dan penyemangat bagi si pembacanya. 2. Ketika membaca al-Qur'an, Allah akan menegur diri kita pada setiap ayat-ayat-Nya. 3. Bacaan al-Qur'an yang melibatkan emosi akan memberikan kedamaian dan ketenangan yang tidak bisa dilukiskan, seperti yang dialami dan dirasakan oleh Sayyid Quthb Rahimahullah. 4. Orang yang membaca al-Qur'an akan senantiasa ingat Allah dan kembali kepada-Nya. 5. Orang yang membaca al-Qur'an akan selalu berada dalam kecukupan dan nikmat Allah meski ia merasakan serba kurang di dunia. 6. Ayat-ayat Alloh akan menjadi penjaganya selama ia hidup di dunia, karena ia telah menjaga ayat-ayatNya. 7. Orang yang paham al-Qur'an adalah orang yang memiliki banyak ilmu. 8. Orang yang membaca al-Qur'an bagaikan orang yang sedang menyelami samudera kehidupan, dan mengambil manfaat darinya. 9. Orang yang selalu akrab dengan ayat-ayat akan diberikan jiwa yang sejuk, hati yang damai dan pikiran yang jernih, sehingga membuatnya ingin selalu beramal, kreatif, inovatif dan produktif. 10. Orang yang membaca al-Qur'an akan selalu berada dalam kegembiraan dan penuh harapan, di saat orang lain merasakan kesedihan, kecemasan dan rasa pesimis. Karena diri mereka selalu dipompa dengan siraman ayat-ayat-Nya yang lembut. 11. Orang yang rajin membaca al-Qur'an akan selalu diberikan jalan kemudahan dan petunjuk sehingga tidak mudah untuk menyimpang dan menyerah karena ayat-ayat Allah akan selalu mengingatkan dirinya ketika dirinya 'tersandung dosa dan maksiat.' 12. Orang yang membaca dan menjaga al-Qur'an selalu berada dalam lindungan dan penjagaan Allah. Ayat-ayat al-Qur'an mengajak pembacanya untuk senantiasa berpikir, merenung dan beramal sebanyakbanyaknya. Dan masih banyak manfaat-manfaat lainnya yang terus update dengan kondisi kehidupan kita...Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu belajar dan meningkatkan diri untuk lebih dekat lagi dengan alQur'an...Amiin wallahu a'lam http://baskomm.blogspot.com/2011/06/manfaat-membaca-al-quran-untuk.html 888888

Penawar Hati..., Katakanlah: “Al Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman”. QS. Fushilat: 44).
Wednesday, 16 March 2011 06:15 Lady Ukhtifillah Rahimakumullah

shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam. Dan di bawah ini beberapa langkah yang bermanfaat untuk menghalau rasa bimbang. Allah subhanahu wata‟ala berfirman: Barang siapa yang mengerjakan amal saleh. Al-Nahl: 97) Segala puji hanya bagi Allah subhanahu wata‟ala. Perkara ini akan menghapuskan dosa-dosanya dan mengangkat derajatnya. dia akan mendapat manfaat yang lain. di dalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu”. baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman. maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. sehingga dengannya hati akan mendapatkan ketenangan dan ketentraman. Perasaan ini akan membawanya kepada zuhud dengan dunia dan tidak cendrung kepadanya. semua perkara yang mengeruhkan hidup akan menjadikan seorang mu‟min mengetahui kehinaan duniawi. bertdharru‟ kepada -Nya. yaitu sebuah kebahagiaan yang tidak bisa terlukiskan. Selain itu. (QS. bersimpuh di hadapan -Nya. yang paling penting adalah bahwa semua cobaan hidup ini akan mengarahkan seorang yang beriman untuk kembali kepada Allah subhanahu wata‟ala. (35)Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga) dari karunia -Nya. dia akan mementingkan akherat dengan penuh keyakinan bahwa dia lebih baik dan lebih kekal abadi. Selain itu. (QS. Fathir: 34-35) Alangkah agungnya manfaat yang didapatkan bagi orang yang mengetahui hikmah Allah yang terakandung di dalamnya. (QS. dan aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi -Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan -Nya.“As-salámu „alaikum wa Bismillah Ar Rahman Ar Raheem Penawar Kebingungan dan Kebimbangan rahmatul láhi wa barakátuh!” Barang siapa yang mengerjakan amal saleh. sebab tidak ada kebimbangan di dalam surga dan tidak pula kesedihan sebagaimana ditegaskan di dalam firman Allah subhanahu wata‟ala: Dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami. didalam kehidupan seorang yang beriman tidak terlepas dari kebimbangan dan kesedihan yang mengeruhkan kebeningan kehidupannya dan mematahkan kenikmatannya. serta akan merasakan kebahagiaan dan merasa dekat dengan Allah Azza Wa Jalla. maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. Al-Nahl: 97) . Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. Amma Ba‟du: Terkadang. sedih dan berencana bagi orang yang menggunakannya secara baik: Pertama: Beriman dan beramal shaleh. baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman. bingung.

Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran). baik kebimbangan dan kecemasan pada hakekatnya hal itu sebagai penghapus bagi kesalahankesalahannya dan tabungan bagi kebaikannya. . Kedua: Kegembiraan seorang muslim karena apa yang diperolehnya berupa pahala yang agung. kesedihan. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Qotadah bahwa jenazah seseorang melewati Nabi Muhammad shalallahu „alaihi wasallam lalu bersabda: Tenang dan orang lain tenang darinya”. dan hal itu tidak terjadi kecuali bagi orang yang beriman. Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim dari Abi Hurairah RA bahwa Nabi Muhammad shalallahu „alaihi wasallam bersabda: Apa apa yang menimpa seorang muslim baik keletihan. kelezatannya bisa mendatangkan kekeruhan. Bahkan salah seorang di antara mereka senang jika ditimpa musibah sebagaimana kesenangan mereka hidup dalam suasana sentosa. gangguan. bahwa dia fana. kebimbangan. gangguan. Seorang ulama salaf berkata: Seandainya bukan karena musibah maka kita akan datang pada hari kiamat sebagai orang yang merugi. kebingungan.. kecuali Allah akan menghapuskan dengannnya kesalahan-kesalahannya”. dan apabila mendapat musibah dia bersabar dan itu lebih baik baginya”. sebagai balasan atas kesabaran dan harapan pahala dari Allah subhanahu wata‟ala atas bencana-bencana yang menimpanya itu baik berupa kebimbangan duniawi dan segala bentuk musibahnya. tidak pernah menjanjikan kecerahan bagi siapapun. jika dia seseorang gembira di dunia dalam waktu yang pendek maka dia juga membuat seseorang. Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Shuhaib RA berkata: Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam bersabda: Sungguh menakjubkan perkara seorang yang beriman. kesenangan yang ada padanya sangatlah sedikit. banyak bersedih. upah yang besar. Dunia juga sebagai ladang kelelahan. jika dia mendapatkan kebaikan maka dia bersyukur maka itu adalah lebih baik baginya. Ali Imron: 140). Maka hari-hari bergilir satu hari untuk kemenangan dan di hari yang lain penderitaan. penyakit yang akut. Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Hurairah RA bahwa Nabi Muhammad shalallahu „alaihi wasallam bersabda: Dunia ini adalah penjara bagi orang yang beriman dan surga bagi orang kafir”. maka orang itu menangis di dunia dalam waktu yang panjang. jika seseorang tertawa di dunia dalam sesaat.Ini adalah janji Allah subhanahu wata‟ala kepada orang yang beriman dan beramal shaleh bahwa Dia akan menganugarahkan kepada mereka kehidupan yang baik. (QS. kebingungan bahkan duri yang menusuknya. di dalam riwayat yang lain disebutkan oleh Imam Muslim: Apapun yang menimpa seorang muslim baik duri atau yang lebih kecil darinya kecuali Allah akan mengangkat derajatnya dengan musibah tersebut atau dia akan dihapuskan kesalahannya”. Akhirnya seorang muslim menyadari bahwa apapun musibah yang menimpanya. kecemasan maka seorang yang beriman akan merasa tenang setelah meninggalkannya. di dalam riwayat yang lain disebutkan: Bahkan kecemasan kecuali Allah subhanahu wata‟ala akan menghapuskan dengannya segala keburukan-keburukannya”. Allah subhanahu wata‟ala berfirman: Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu. sesungguhnya segala perkara orang yang beriman itu baik. Ketiga: Mengetahui hakekat dunia.

” Diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam kitab sunannya dari hadits riwayat Abdurrahman bin Abi Bakroh bahwa Nabi Muhammad shalallahu „alaihi wasallam bersabda: Do‟a orang yang kesusahan adalah. Al-Baqarah: 186). maka (jawablah). bahwasanya Aku adalah dekat. lilitan hutang dan penindasan orang. Inilah makna tentang hakekat dunia yang disadari oleh orang yang beriman maka dengan kesadaran ini segala musibah dan kebimbangan akan menjadi enteng. Langkah ini adalah penawar yang paling ampuh dalam menghilangkan kebimbangan dan kebingungan. Keempat: Kebimbangan dan kecemasan yang terjadi dunia ini akan membuat jiwa ini tercerai berai. Allah subhanahu wata‟ala berfirman: Dan apabila hamba-hamba -Ku bertanya kepadamu tentang Aku. lemah dan malas. Diriwayatkan oleh Al-Turmudzi di dalam kitab sunannya dari Anas bin Malik bahwa Nabi Muhammad shalallahu „alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa yang menjadikan negeri akherat sebagai orientasinya maka Allah akan menjadikan kekayaan di dalam hatinya dan Dia akan mengumpulkan segala kekuatannya sementara dunia ini akan datang mengejarnya dengan penuh ketundukan. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada -Ku. dan barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai orientasinya maka Allah akan menjadikan kefakiran di hadapannya dan mencerai beraikan kekuatannya dan dunia tidak datang kepadanya kecuali apa yang telah ditetapkan baginya”. oleh karena itu. Dan Nabi Muhammad shalallahu „alaihi wasallam meminta perlindungan kepada Allah subhanahu wata‟ala dari segala kebimbangan dan kesedihan. (QS. jangan Engkau biarkan . negeri.Para shahabat bertanya: Wahai Rasulullah apa yang anda maksudkan dengan kata tenang dan orang lain tenang darinya?. Allh subhanahu wata‟ala berfirman: Berkata Musa: “Ya Tuhanku. “Ya Allah! Aku mengharapkan (mendapat) rahmat -Mu. Thaha: 25). Maka beliau bersabda: Seorang hamba yang beriman akan tenang terlepas dari keletihan duniawi dan gangguannya menuju rahmat Allah sementara hamba yang bejat akan membuat manusia. sebab dia menyadari bahwa itulah hakekat dunia. pohon dan hewan akan tenang dengan kepergiannya”. lapangkanlah untukku dadaku. bakhil dan penakut. memporak-porandakan kekuatannya. Diriwayatkan oleh Al-Buhkari di dalam kitab shahihnya dari Anas bin Malik berkata : Aku menjadi pembantu Nabi Muhammad shalallahu „alaihi wasallam di dalam rumah tangganya dan apabila beliau memasuki rumah keluarganya maka beliau bersabda: “Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepada -Mu dari (hal yang) menyedihkan dan menyusahkan. (QS. namun jika seseorang menjadikan orientasinya mengarah kepada akherat maka Allah subhanahu wata‟ala akan mengumpulkan kekuatannya dan tekadnya akan dimantapkan. Kelima: Berdo‟a.

Al-Isro‟: 82) Maka barangsiapa yang membaca Al-Qur‟an ini dengan penuh perenungan dan meresapi maknanya maka segala kecemasan dan kebimbangan akan hilang dari dirinya. Al-Thalaq: 3) Artinya mencukupkan keperluannya baik dari perkara dunia atau akherat.diriku sekejap mata (tanpa pertolongan atau rahmat dari -Mu). Dia berfirman: Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. mengharap pada karunia -Nya. Hati akan merasakan kekuatan. obat bagi segala macam penyakit baik penyakit badan atau hati. Fushilat: 44). QS. Allah subhanahu wata‟ala berfirman: Katakanlah: “Al Qur‟an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman”. tidak pula dikendalikan oleh hayalan-hayalan yang buruk. Ingatlah. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Allah subhanahu wata‟ala berfirman: Dan Kami turunkan dari Al Qur‟an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman”.net/joomla-license/67-penawar-hati-katakanlah-al-quran-itu-adalah-petunjuk-danpenawar-bagi-orang-orang-yang-beriman-qs-fushilat-44. Perbaikilah seluruh urusanku. hanya dengan mengingat Allah -lah hati menjadi tenteram. Allah subhanahu wata‟ala berfirman: (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Keenam: Bertawakkal kepada Allah subhanahu wata‟ala. tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. shahabat serta seluruh pengikut beliau http://khutbahbank. semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad dan kepada keluarga. (QS. tidak menyerah pada kecemasan. cahaya bagi dada. Syekh Abdurrahman As-Sa‟di berkata: Maka pada saat hati ini bergantung kepada Allah subhanahu wata‟ala. berserah diri kepada -Nya. niat yang benar dan dibarengi dengan usaha-usaha yang menyebabkan do‟a tersebut diterima maka Allah pasti memberikan apa-apa yang dimintanya dan dia berbuat untuk mewujudkan keinginannya serta kecemasan akan berbuah kesenangan dan kegembiraan.”. serta akan terbebas dari banyak jenis penyakit hati dan jasad. dan semua langkah ini akan bertumpu pada membaca Al-Qur‟an yang dibarengi dengan perenungan. (QS.html . dia adalah pelipur hati. Langakah-langkah untuk menggapai kebahgiaan itu ternyata sangat banyak bagi mereka yang menyadarinya. (QS. dengannya pula segala serpihan-serpihan kebimbangan dan kebingungan akan terusir. kelapangan dan kegembiraan yang tidak bisa terlukiskan…. maka dia akan percaya kepada Allah. Al-Ra‟du: 28). dan aku hanya menyebutkan beberapa langkah yang penting saja. penghilang segala kebimbangan dan kebingungan. penghapus kesedihan.” Apabila seorang hamba mendengungkan do‟a ini dengan hati yang sadar.

misalnya otot seorang binaraga yang tidak pernah dilatih (Taufiq Pasiak. sangat mudah lelah. dan nasional. tidur. keadaan ini adalah kondisi yang prima untuk penyembuhan penyakit. Suatu upaya terus menerus tak kenal lelah. Latar belakang Setiap orang pasti pernah mengalami kecemasan. Keadaan teta adalah kondisi ketika pikiran atau otak bekerja secara baik. Itu justru memicu keingintahuan yang mendalam. Ini adalah proses belajar yang dialami Thomas Alfa Edison. Dimana rasa cemas itu disebabkan oleh proses-proses berpikir yang menyimpang. karena tidak ada cara untuk menghindari kecemasan. Ada beberapa teori dalam psikologi yang menjelaskan tentang sebab-sebab kecemasan.5 Hz. mudah tersinggung. Ketika seseorang dilanda setres atau frustasi dan tidak dapat berpikir jernih. Kecemasan yang sering dihadapi oleh peserta didik di usia sekolah menengah pada saat menghadapi ujian semester. Kreativitas yang tidak dilatih akan lumpuh. Tidak gampang menyerah. Ada empat jenis gelombang otak yang merekam aktivitas manusia sepanjang waktu. dan mengalami keteganggang otot yang amat sangat. dan “bening”.999999999 PENGARUH BELAJAR DAN TERAPI MEMBACA AL QUR’AN SECARA RUTIN TERHADAP HILANGNYA RASA CEMAS PADA ANAK DIDIK SAAT MENGHADAPI UJIAN AKADEMIK. Ketika seseorang tidur dan bermimpi. 2002: 166). Keadaan tidur ini disebut keadaan delta yang memiliki frekuensi 0. kisaran 7 atau 8. ini merupakan salah satu kunci kesuksesan Thomas Alfa Edison. Kreativitas adalah sebuah hasil latihan. 1. Keadaan ini menunjukkan bahwa kondisi otak sedang berada . atau bahkan membaca Al-Qur’an.5-3. Pertama teori psikoanalisis yang berpendapat bahwa sumber kecemasan adalah konflik yang tidak disadari antara ego (alam sadar) dan impuls-impuls id (alam bawah sadar). PENGARUH BELAJAR DAN TERAPI MEMBACA AL QUR’AN SECARA RUTIN TERHADAP HILANGNYA RASA CEMAS PADA ANAK DIDIK SAAT MENGHADAPI UJIAN AKADEMIK. Dan jika seseorang meninggalkan id maka orang tersebut tidak lagi hidup. otak bekerja sedemikian rupa malalui gerakan-gerakan sel saraf dan melepas muatan sehingga di dalam otak ada gelombang listrik.13 Hz. Maka untuk mengurangi kecemasan tersebut anak didik harus belajar dan dibutuhkan terapi membaca Al-Quran secara rutin. Ketika seorang bermeditasi atau bertafakur. Untuk mengingat dengan baik. Tahap iluminasi dari proses kreatif menunjukkan gelombang alfa pada otak. otak harus berada dalam keadaan alfa. ketidaksabaran. dan bermimpi. berati ia dalam keadaan teta. berdzikir. Ciri-ciri orang yang mengalami gangguan kecamasan antara lain kesulitan untuk berkonsentrasi. jernih. Ketika seseorang tidur dan tidak bermimpi itu artinya ia tidak melakukan apa-apa. Dia tidak gampang putus asa dengan ribuan kasus kegagalannya. Akan tetapi positifnya. sekolah. teori tentang kognitif-Behavioral. Kedua. terapi membaca Al-Quran ini bisa dilaksanakan secara mandiri oleh peserta didik usia sekolah menengah.

Tujuan Program Program ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh membaca Al-Quran dan belajar secara rutin terhadap hilangnya rasa cemas pada anak didik saat menghadapi ujian semester. Manfaat program Perancang program berharap program ini bisa menambah wawasan mengenai manfaat membaca AlQuran secara rutin sebagi obat penghilang rasa cemas disertai dengan belajar rutin bagi setiap anak didik di sekolah menengah. 2002). Dimana observer juga melakukan belajar dan terapi membaca Al-Qur’an secara rutin dan mandiri. Metode dan Cara Penyampaian Metode pengumpulan data ini dilakukan dengan mengumpulkan data yang berhubungan dengan manfaat belajar dan membaca Al-Qur’an. 2. Banyak juga peserta didik yang melakukan belajar dengan sistem kebut semalam.dalam kondisi beta. 5. sekolah. Selain itu. maupun nasional. Otak dalam kondisi ini adalah otak analitis (Taufiq Pasiak. metode yang digunakan adalah observasi partisipan. Tapi dilihat dari fenomena yang ada banyak peserta didik dan guru yang melakukan doa bersama sehari sebelum ujian dan berkeyakinan dapat membuat mereka lulus dalam ujian. Gelombang ini berkisar di atas 13 Hz yang menunjukkan kinerja logis otak. Cara penyampaiannya dengan melakukan sosialisasi di sekolah dan masyarakat tentang pentingnya belajar dan membaca Al-Qur’an secara rutin. Sasaran program Sasaran dari program ini adalah anak didik di sekolah menengah. Namun seharusnya hal ini dilakukan secara rutin. Serta program ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi orang tua dan guru agar mengarahkan anak didiknya untuk membaca Al-Quran. Hambatan yang kemungkinan dialami . 3. 4. 6.

Solusi 1.1. baik muslim maupun non muslim karena intonasi dan bacaan Al-Quran itu dapat menghilangkan gelombang beta pada otak.com/2011/05/pengaruh-belajar-dan-terapi-membaca-al. Guru dan orang tua yang peduli terhadap kemajuan anak. 4. Anak didik menjadi lebih tenang saat menghadapi ujian semester. 5.html Selasa. 2. Orang tua tidak peduli terhadap waktu belajar dan mengaji untuk anak usia sekolah menengah. dimana gelombang beta tersebut dapat menyebabkan pikiran tidak bisa fokus dan sulit berkonsentrasi serta tidak dapat berpikir jernih. Guru tidak hanya mementingkan segi kognitif anak saja tetapi juga harus memikirkan segi psikis anak. sekolah. Anak didik lebih percaya diri dengan kemampuannya tanpa mengandalkan contekan dari teman dan bocoran jawaban soal ujian. Anak usia sekolah dibatasi waktu untuk menonton televisi dan bermain agar anak menjadi disiplin. Guru hanya menekankan segi kognitif dari pada psikis anak didiknya. maupun nasional. Waktu menonton televisi dan bermain yang berlebihan bagi anak usia sekolah menengah. Anak didik diajari dan disuruh untuk membaca Al-Quran. Selain itu juga orang tua tidak lupa untuk mengontrolnya. 24 Mei 2011 HUBUNGAN PENDIDIKAN DAN PERAN PERAWAT DENGAN TINGKAT KECEMASAN PADA PASIEN PRE OPERASI DI RUANG SERUNI RSUD. 7. 4. 2. 3. Tidak semua anak didik usia sekolah menengah beragama islam. 4.blogspot. baik dari segi mentalitas maupun kognitif. 2. 3. Remaja Indonesia yang tidak mudah terpengaruh oleh arus globalisasi dan tidak latah dengan fenomena yang dipropogandakan oleh media masa. Anak didik yang disiplin. 8. http://arifindikromo. Orang tua memberikan tanggung jawab kepada anak untuk megatur waktu belajar mengajinya sendiri. Hasil Pembuat program berharap dengan dilaksanakannya program ini dapat terlahir: 1. YUNUS BENGKULU TAHUN 2010 BAB I . baik melalui sms maupun dari oknum. M. 3. misalnya anak diwajibkan mengikuti ekstrakulikuler sesuai dengan bakat dan minat anak.

al (2007) tentang tingkat kecemasan pre operasi bahwa dari 40 orang responden dalam tingkat kecemasan berat sebanyak 7 orang (17. 2007). Latar Belakang Rumah sakit adalah sebuah fasilitas. R.473 pasien (7%) mengalami kecemasan. 2007). apalagi yang akan menjalani operasi. Bila kecemasan pada pasien pre operasi tidak segera diatasi maka dapat mengganggu proses penyembuhan. Pelayanan yang ada di Rumah Sakit adalah pelayanan pengobatan baik yang bersifat bedah maupun non bedah.5%). Sebagian besar pasien beranggapan bahwa operasi merupakan pengalaman yang menakutkan. terjadi penundaan proses operasi karena peningkatan kecemasan. Berdasarkan data WHO (2007). Amerika Serikat menganalisis data dari 35. Dari. Kecemasan merupakan gejala klinis yang terlihat pada pasien dengan penatalaksanaan medis. gambaran diri. Pembedahan merupakan tindakan pengobatan yang banyak menimbulkan kecemasan. Setiap pasien pernah mengalami periode cemas. Reaksi cemas ini akan berlanjut bila pasien tidak pernah atau kurang mendapat informasi yang berhubungan dengan penyakit dan tindakan yang dilakukan terhadap dirinya. untuk itu pasien yang akan menjalani operasi harus diberi pendidikan kesehatan untuk menurunkan atau mengurangi gejala kecemasan (Carbonel. kecemasan yang sering terjadi adalah apabila pasien yang dirawat di rumah sakit harus mengalami proses pembedahan. Kecemasan merupakan perasaan yang paling umum di alami oleh pasien yang dirawat dirumah sakit. Penelitian yang dilakukan oleh makmur et.922 pasien (25.PENDAHULUAN 1. 2002). 8. Kecemasan yang terjadi dapat berpengaruh terhadap peningkatan tekanan darah (RSUD Sragen. 15 orang (37. dan identitas diri (Tjandra.5%) dalam kategori ringan dan responden yang tidak merasa cemas sebanyak 2 orang (5%). 16 orang (40%) yang memilki tingkat kecemasan dalam kategori sedang. sebuah institusi dan sebuah organisasi yang fungsi utamanya adalah memberikan pelayanan kepada pasien diagnostik dan terapeutik untuk berbagai penyakit dan masalah kesehatan. Berdasarkan data dari RSUD Sragen Wijaya Kusuma.1%) mengalami kondisi kejiwaan dan 2.539 pasien bedah dirawat di unit perawatan intensif antara 1 oktober 2003 dan 30 september 2006. 2003). Soeharso tahun 2008 dari 3827 pasien yang mengalami pembedahan sekitar (2%) mengalami kecemasan (Makmur. Kecemasan terjadi ketika seseorang merasa terancam baik fisik maupun psikologisnya misalnya harga diri. . 2006). Pembahasan tentang reaksi – reaksi pasien terhadap pembedahan sebagian besar berfokus pada persiapan pembedahan dan proses penyembuhan (Dewi wijayanti. didapatkan bahwa 10% dari pasien yang akan menjalani pembedahan. Hasil penelitian di Rumah Sakit Ortopedi Prof Dr.

Berdasarkan hasil pengumpulan data di RSUD M. mempunyai kewajiban membantu pasien mempersiapkan fisik dan mental untuk menghadapi operasi. 2006). pada tahun 2007 terdapat 4449 pasien yang mengalami pembedahan. Perawat merupakan salah satu tenaga kesehatan yang paling sering berinteraksi dengan pasien. sehingga tindakan anestesi atau pembedahan ditunda. Termasuk salah satunya dalam mengendalikan kebutuhan emosi diri pasien terutama pasien pre operasi dan post operasi. Makin tinggi pendidikan seseorang. 2002 ). maka memerlukan keterampilan komunikasi yang baik. anak ataupun keluarga yang lain. dengan rincian sembuh 2259 dan 36 pasien meninggal (15%) dilakukan penundaan karena peningkatan kecemasan. Salah satu cara melakukan hal ini ialah dengan mencurahkan perhatian sampai kepada hal yang sekecil-kecilnya dalam merawat pasien. maka makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimilikinya. dan spiritual. 1999). Pendidikan dapat mempengaruhi seorang termasuk juga prilaku seseorang akan kepatuhannya.Kecemasan pre operasi dapat dipengaruhi dari beberapa faktor antara lain adalah faktor biologis yang terjadi akibat dari reaksi saraf otonom yang berlebihan dengan naiknya system tonus saraf simpatis.Yunus Bengkulu. Pasien yang akan menjalani operasi besar dianjurkan untuk minimal masuk rumah sakit 12 jam sebelum pre operasi dilaksanakan dan operasi kecil 6 jam sebelum dilaksanakan. psikologis. yang dirawat 2154 pasien. . Peran perawat sangat penting untuk memberikan suport atau dukungan dan penyuluhan terhadap penurunan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi ( Kuntjoro. termasuk dalam pemberian pendidikan kesehatan. dan faktor psikologis yang dapat terjadi akibat implusimplus bawah sadar yang masuk kealam sadar seperti tidak didampingi oleh orang tua. 2008). Selain itu faktor pendidikan pasien juga dapat mempengaruhi kecemasan yaitu tingkat pendidikan yang rendah serta kurangnya dukungan dari perawat (Sadock dan Kaplan. Perawat harus mau mendengarkan semua keluhan pribadi pasien (Widodo. Perawat mempunyai kontak paling lama dalam menangani persoalan pasien. Sikap dan tingkah laku perawat membantu menumbuhkan rasa kepercayaan pasien. 1998). Yunus Bengkulu. Peran perawat dalam upaya penyembuhan klien menjadi sangat penting. terutama dalam motivasi untuk berperan serta dalam pembangunan kesehatan. 2002). Kecemasan yang terjadi dapat berpengaruh terhadap peningkatan tekanan darah. Tujuan agar persiapan yang dilakukan dapat sebaik mungkin (RSUD M. (Ibrahim. Peran perawat sangat penting dalam penanggulangan kecemasan dan berupaya agar pasien tidak merasa cemas melalui asuhan keperawatan komprehensif secara biologis. Seorang perawat dituntut bisa mengetahui kondisi dan kebutuhan pasien. Sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap perubahan-perubahan hidup sehat (Notoatmojo. sosial. suami.

Yunus Bengkulu. masalah penelitian ini adalah masih tingginya tingkat kecemasan pasien pre operasi di RSUD M. Mengetahui hubungan pendidikan dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. Tujuan umum Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada Hubungan antara pendidikan dan peran perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. Yunus Bengkulu didapatkan data 2008 sebanyak 1033 dan data 2009 dari januari sampai tanggal Desember sebanyak 786 orang yang melakukan operasi. Manfaat penelitian 1. maka penulis tertarik untuk meneliti hubungan pendidikan pasien dan peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. M. nafas pendek. Yunus Bengkulu didapatkan data bahwa dari 15 pasien yang akan melakukan operasi 5 orang yang mengalami kecemasan berat dengan ciri-ciri muka merah.Yunus Bengkulu. gelisah. 2. Mengetahui gambaran peran perawat di ruang seruni RSUD. 4. M. Yunus Bengkulu. Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan di atas. Rumusan masalah Berdasarkan uraian dalam latar belakang di atas. M. 3. memotivasi pasien untuk memberi keyakinan bahwa operasi dapat berjalan dengan lancar. M. 2. 3. Mengetahui gambaran tingkat pendidikan pada pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. 5. Yunus Bengkulu. M. Yunus Bengkulu. Yunus Bengkulu. Sedangkan rumusan masalah penelitian ini adalah "apakah ada hubungan pendidikan pasien dan peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD M. Mengetahui hubungan peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. Dari 5 orang yang mengalami kecemasan berat tersebut mempunyai pendidikan SMA kebawah dan kurang mendapatkan penkes dari perawat. Berdasarkan hasil observasi dengan teknik wawancara selama tiga hari di ruang seruni RSUD M. 2. Yunus Bengkulu". Bagi Akademik . Yunus Bengkulu. Mengetahui tingkat Kecemasan pasien pre operasi di Ruang Seruni RSUD Dr. Tujuan penelitian 1. 4.Sementara dari pengumpulan data awal diruang Seruni RSUD M. M.. Yunus Bengkulu. gemetar sehingga dapat menghambat proses operasi. M. Untuk menurunkan tingkat kecemasan pasien tersebut keluarga dan perawat harus lebih banyak memberikan dukungan salah satunya yaitu selalu berada dekat pasien. Tujuan Khusus 1. sering buang air kecil. susah tidur.

Yunus Bengkulu. 3. Keaslian penelitian Sebagai bahan perbandingan penelitian serupa pernah diteliti oleh : 1. Yunus Bengkulu". 2. 4. Bagi Masyarakat Dapat memperoleh pelayanan yang lebih baik terutama yang mengalami ketakutan. rancangan dan waktu penelitian. Dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan di bidang kesehatan. Elika dengan judul penelitian " Hubungan peran perawat dan dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD M. Rinda Lesti Sentia dengan judul penelitian " Hubungan Tingkat Pendidikan dan Umur Kehamilan dengan Tingkat Kecemasan Ibu Hamil Primigravida di Rumah Bersalin YKWP Desa Kangkung Kabupaten Demak. atau depresi dalam menghadapi pembedahan. Bagi Rumah sakit Hasil penelitaan ini diharapkan dapat memberi masukan bagi para tenaga kesehatan khususnya pada perawat di ruang seruni dan ruangan yang lain. rancangan dan waktu penelitian. Adapun perbedaan antara karya tulis ini dengan karya tulis di atas adalah pada variabel. M.Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi literatur bagi perpustakaan. 3. BAB II TINJAUAN PUSTAKA . 2. 5. Menambah wawasan dan pengetahuan bagi mahasiswa dan masyarakat mengenai tingkat kecemasan pada pasien pre operasi. Agri Maha Tirani dengan judul penelitian "Perbedaan tingkat kecemasan sebelum dan sesudah pemberian pendidikan kesehatan pada pasien pre operasi di RSUD.Adapun perbedaan antara karya tulis ini dengan karya tulis tersebut adalah pada variabel. kecemasan. Bagi Peneliti Lain Hasil penelitian ini dapat berguna sebagai masukan atau informasi bagi peneliti lain dalam mengembangkan penelitian dengan variabel-variabel yang lain.

Secara klinis gejala kecemasan dibagi dalam beberapa kelompok yaitu gangguan kecemasan. Faktor Biologis Kecemasan terjadi akibat dari reaksi saraf otonomi yang berlebihan dengan naiknya sistem tonus saraf simpatis. kecemasan dapat muncul akibat implus-implus bawah sadar (misalnya : sex. perut terasa kosong. Sosial Kecemasan yang timbul akibat hubungan interpersonal dimana individu menerima suatu keadan yang menurutnya tidak disukai oleh orang lain yang berusaha memberikan penilaian atas opininya (Sadock dan Kaplan. Reaksi pergeseran yang dapat mengakibatkan reaksi fobia. 2006). gangguan phobik dan gangguan obsesifkompulsif (Dadang Hawari. Kecemasan merupakan peringatan yang bersifat subyektif atas adanya bahaya yang tidak dikenali sumbernya. 1998). Kecemasan adalah Suatu kondisi yang menyangkut terminologi kesehatan jiwa dengan suatu kondisi was-was. gangguan cemas menyeluruh (Generalized anxiety disorder/GAD). 3. ancaman) yang masuk kealam sadar. Pengertian Cemas adalah keadaan emosi individu yang berkaitan dengan perasaan yang tak pasti dan tidak berdaya. 2. gangguan panik. 2. Faktor-faktor Penyebab Kecemasan 1. Kecemasan adalah suatu keadaan dimana psikologis seseorang berada pada ketakutan dalam menghadapi masalah yang ada pada dirinya. 2005) Jadi. 2007). nafas sesak dan dada terasa nyeri (Ayub Sani. Kecemasan adalah suatu keadaan yang menggoncangkan karena adanya ancaman terhadap kesehatan (Siti Sundari. Psikologis Ditinjau dari aspek psikoanalisa. . Mekanisme pembelaan ego yang tidak sepenuhnya berhasil juga dapat menimbulkan kecemasan yang mengambang. Konsep Kecemasan 1. kondisi ini dialami secara subyektif (yang hanya dirasakan individu tersebut) dan dikomunikasikan dalam hubungan interpersonal (Stuard and Sundeen. Keadaan emosi ini tidak memiliki subyek yang spesifik. Kecemasan merupakan komponen utama bagi hampir semua gangguan kejiwaan (psychiatric disorder). 1998).1.

7. Potensi stressor Suatu keadaan yang menyebabkan perubahan dalam individu. operasi.3. Kecemasan bisa terjadi pada individu yang tingkat pendidikannya rendah disebabkan karena kurangnya informasi yang didapat individu tersebut. 6. sakit. Sosial budaya Individu yang tidak bersosialisasi dengan masyarakat lebih mudah mengalami kecemasan. Tingkat pendidikan Status pendidikan yang rendah pada seseorang akan menyebabkan orang tersebut mudah mengalami kecemasan. 5. begitu juga sebaliknya jika lingkungannya kondusif mempercepat penyembuhan seseorang. penyakit. Disamping itu kelelahan fisik (lemah. 4. Umur . lesu) lebih mudah megalami kecemasan. Selain itu faktor yang mempengaruhi tingkat kecemasan menurut Soewandi (1998) antara lain : 1. sehingga individu harus melakukan penyesuaian diri (adaptasi). Lingkungan Lingkungan sangat berpengaruh pada kecemasan seseorang. 3. 2. Keadaan fisik Seseorang yang mengalami gangguan fisik seperti cacat badan. letih. lebih mudah mengalami kecemasan. dimana lingkungan yang tidak kondusif berpotensial besar terhadap kecemasan yang dialami seseorang. Ekonomi Seseorang yang memiliki pendapatan rendah lebih mudah mengalami kecemasan. dibandingkan dengan orang yang memiliki pendapatan tinggi.

sakit kepala dan lain sebagainya. mulut kering. 1994). 3. gangguan kulit. berdebar-debar. pendengaran berdenging (tinnitus). Reaksi fisik terhadap kecemasan pada masingmasing individu berbeda (Setyonegoro.Umur ikut menentukan kecemasan. mudah tersinggung. Seseorang cenderung untuk memusatkan pada sesuatu yang terinci dan spesifik dan tidak berfikir tentang hal lain. biasanya kecemasan sering dialami oleh usia muda. tidak tenang. gangguan perkemihan. 4. gangguan muskulo skeletal. Ansietas Berat (Tingkat III) Sangat mengurangi lahan persepsi seseorang. 2. energi menurun. gangguan pencernaan. hiperaktifitas. gagap. Ansietas Sedang (Tingkat II) Memungkinkan seseorang untuk memusatkan pada hal yang penting dan mengesampingkan yang lain. nyeri pada gastro intestinal. Gejala – gejala Kecemasan Keadaan cemas mempunyai gejala-gejala somatik atau fisik dan gejala psikologis atau mental. khawatir. Semua perilaku ditujukan untuk mengurangi ketegangan. sering buang air besar atau kecil. 5. kebingungan. menyebutkan gejala klinis dari cemas antara lain : Cemas. Orang tersebut banyak pengarahan untuk dapat memusatkan pada suatu area lain. 8. berkeringat. sulit tidur. takut akan fikirannya sendiri. Tingkat kecemasan 1. . sehingga seseorang mengalami perhatian yang selektif namun dapat melakukan sesuatu yang lebih terarah. Ansietas Ringan (Tingkat I) 1. 6. 3. Berhubungan dengan ketegangan yang dialami dalam kehidupan sehari. Merasa tegang. Jenis kelamin Kecemasan lebih banyak dialami wanita. Ansietas dapat memotivasi belajar dan menghasilkan pertumbuhan. Gejala-gejala tersebut antara lain: Iritabilitas. nadi cepat. 2. berhenti berbicara dan terjadi perubahan suara. 4. dan banyak orang. Takut sendiri. takut pada keramaian. gelisah. firasat buruk. mimpi yang menegangkan Gangguan konsentrasi dan daya ingat Keluhan somatik misalnya rasa sakit pada otot tulang. hiperventilasi. Menurut Dadang Hawari (2006). dibandingkan dengan pria. 5. Gangguan pola tidur. muntah-muntah.hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada dan meningkatkan lahan persepsinya. sesak nafas. mengetuk jari-jari. mudah terkejut.

Tingkat Panik Berhubungan dengan terperangah. Kemampuan untuk mengatasi 4. Perincian terpecah dari proporsinya karena mengalami kehilangan kendali. 1997). Panik melibatkan disorganisasi kepribadian. Sterssor dapat di kelompokkan dalam dua kategori. . 1. Harapan 2. Optimisme 5. Ansietas terhadap integritas seorang meliputi ketidakmampuan fisiologis yang akan datang atau menurunnya kapasitas untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Teknik Mengatasi ansietas Teknik kognitif dapat membantu pasien ansietas dan tidak tergantung pada wawasan atau pemahaman yang kompleks dari kondisi psikologi diri sendiri. 1997). Perasaan pengendalian 3. Ansietas terhadap sistem diri seseorang dapat membahayakan identitas. 7. Orang yang mengalami panik tidak mampu melakukan sesuatu walaupun dengan pengarahan. 6. ketakutan dan terror-terror. Dialog Internal Membantu pasien mengembangkan pesan dialog sendiri yang meningkatkan : 1. Khayalan Mental dan Relaksasi Mendorong pasien untuk mengkhayalkan tempat yang indah atau menjadi bagian dari pengalaman yang menyenangkan sehingga dapat membantu pasien menurunkan ketegangan (Abraham dkk. Hal ini menurunkan rasa ketidak berdayaan dan ansietas mereka. yaitu: 1. 1997). 2.4. Dialog Eksternal Dengan dialog eksternal kebutuhan pasien untuk berbicara cara akurat tentang dirinya dengan orang lain. persepsi yang menyimpang dan kehilangan pemikiran yang rasional tingkat ansietas ini tidak sejalan dengan kehidupan dan jika berlangsung terus dalam waktu yang lama dapat terjadi kelelahan yang sangat bahkan kematian (Hudak dan Gallo. Percaya diri 2. 3. menurunnya kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain. dengan panik terjadi peningkatan aktivitas motorik. harga diri dan fungsi sosial (Brunner dan suddarth. Stressor Pencetus Stressor pencetus berasal dari sumber internal atau eksternal.

tertawa. Pembedahan Minor (pembedahan resiko kecil ) 4. 3. di kelompokkan menjadi dua bagian yaitu : 1. Pre Operasi 1. Perawatan pre operasi merupakan bagian dari perawat perioperatif yang di mulai dari kapan di putuskan tindakan operasi dibuat dan diakhiri dengan pemindahan klien ke meja ruang operasi. 9. 2. Jenis-jenis operasi Menurut derajat kepentingan Perry dan potter (2006). melakukan kegiatan fisik.tipe tingkah laku seperti mennangis. Pengertian Pasien Pre operasi dapat mengalami berbagai ketakutan. Kecemasan pada pasien pre operasi .8. takut tentang ketidaktahuan. Tujuan Prosedur pembedahan Sebagai salah satu bentuk pengobatan dan penatalaksanaan berbagai macam penyakit untuk mempercepat proses penyembuhan (Perry Potter. Lingkup kegiatan perawatan pre operasi termasuk dalam menetapkan batas pengkajian klien setting secara klinis atau dalam ruangan. takut terhadap nyeri atau kematian. merokok dan minum-minum (Brunner dan Suddarth. Alat ukur kecemasan untuk mengetahui sejauh mana derajat kecemasan apakah ringan atau berat dengan menggunakan alat ukur (instrument) yang dikenal denga nama Hamilton Rating Scale or Anxiaty (HRS-A) dengan skor ringan jika ≤ 28 dan berat jika ≥ 28. 1997). takut tentang deformitas dan ancaman lain terhadap citra tubuh dapat menyebabkan ketidaktenangan atau ansietas (Brunner dan Suddarth. menyiapkan klien untuk diberikan anestesi dan pembedahan bagaimanapun kegiatan perawatan dibatasi oleh pengkajian pre operasi dalam ruangan atau selama operasi. Mekanisme Koping Mekanisme koping adalah suatu bentuk pertahanan yang di gunakan oleh seseorang yang sedang berada pada suatu bentuk kecemasan untuk menghindar atau mengurangi respon yang ditimbulkan oleh kecemasan tersebut. Tipe . 2006). interview preoperatif. Takut terhadap anestesi. tidur. Pembedahan Mayor (pembedahan resiko tinggi ) 2. Dimana mekanisme koping setiap orang berbeda-beda. 1997). 10.

bangsa dan negara. 1997). memberitahu pasien hanya medikasi pre operasi yang akan membuatnya rileks sebelum operasi tidaklah selektif bila menyebutkan juga bahwa medikasi tersebut dapat mengakibatkan kepala terasa melayang dan mengantuk. tapi kadang-kadang dapat terlihat dalam bentuk lain. Manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya. 5. Pasien yang gelisah dan takut biasanya sering bertanya berulang-ulang walaupun pertanyaan tersebut telah dijawab. Pendidikan merupakan usaha agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses . 1994). (Diknas. 1997). Pasien biasanya tidak mau bicara dan memperhatikan keadaan sekitarnya. Pengertian Pendidikan adalah suatu usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. tetapi berusaha mengalihkan perhatiannya kepada buku atau sebaliknya ia bergerak terus-menerus dan tidak mau tidur (Kaplan. kecerdasan akhlak mulia. pengendalian diri. Sebagai contoh. Khawatir meninggal di meja operasi dan meninggalkan anakanak ditinggalkan seandainya ia meninggal saat atau setelah operasi. 2003). Perasaan gelisah dan takut kadang-kadang tidak tampak jelas. kurangnya dukungan keluarga terhadap pasien pre operasi. kepribadian. obat-obatan dan perawatan tindakan.Kecemasan pada pasien pre operasi adalah kecemasan yang di akibatkan sterssor tindakan operasi. Mengetahui apa yang di perkirakan akan membantu pasien mengantisipasi reaksi-reaksi tersebut dan dengan demikian mencapai tingkat relaksasi yang lebih tinggi daripada yang di perkirakan sebaliknya (Brunner dan suddarth. Penyuluhan tersebut harus melebihi deskripsi tentang berbagai langkah prosedur dan harus mencakup tentang sensasi yang akan di alami. stressor tersebut merupakan faktor timbulnya kecemasan yang mengakibatkan terancamnya integritas seseorang meliputi ketidakmampuan fisiologis atau menurunkan kapasitas untuk melakukan hidup sehari-hari (Brunner dan suddarth. Pengkajian psikologi pada pasien atau keluarga harus di lakukan supaya hal tersebut tidak menghambat rencana operasi. 11. Persiapan psikologis pasien pre operasi Pasien yang akan di operasi biasanya akan mengalami kegelisahan dan rasa takut. Pendidikan 1. perawatan menjelang operasi yang dianggap sebagai hal baru. masyarakat. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. Salah satu caranya yaitu dengan penyuluhan pada keluarga maupun pasien supaya mereka mengerti apa yang akan terjadi.

2. bukan saja bagi produktivitas. D2. 3. 4. Pendidikan Dasar : warga Negara yang berumur 6 atau 7 tahun berkewajiban mengikuti pendidikan dasar atau sederajat selama 9 tahun yaitu SD dan SLTP. akan tetapi juga bagi tujuan terakhir pembangunan seperti kualitas keluarga dan kehidupan masyarakat. . pendidikan formal yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar. Pendidikan Menengah : pendidikan menengah yang lamanya 3 tahun sesudah pendidikan dasar. menengah. menyatakan pendidikan non-formal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Pendidikan formal : Pendidikan formal merupakan usaha-usaha dalam pendidikan dasar dapat memberikan sumbangan dalam jangka panjang. D4.pembelajaran atau cara lain yang dikenal dan diakui oleh masyarakat. menyatakan bahwa jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik. 5. S1. politeknik. Pendidikan Tinggi: satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi yang dapat berbentuk akademik. Karena pendidikan non-formal pada umumnya dilaksanakan tidak dalam lingkungan fisik sekolah maka sasaran pokok adalah anggota-anggota masyarakat. dengan sadar dilakukan. seperti pada pendidikan formal di sekolah. UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia menyelenggarakan Tahun 1945 Pasal 31 ayat (1) menyebutkan bahwa setiap warga Negara berhak mendapat pendidikan. seluruh komponen bangsa wajib mencerdaskan kehidupan bangsa yang merupakan salah satu tujuan negara indonesia. tapi tidak terlalu ketat mengikuti peraturan-peraturan yang tepat. dan tinggi. Pendidikan Non-Formal : Pendidikan non-Formal adalah pendidikan yang dilakukan secara teratur. Jenjang Pendidikan Menurut Diknas (2003). dan S2. dan kemampuan yang dikembangkan menjadi: 2. dan ayat (3) menegaskan bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan Undang-Undang. Untuk itu. 1. diselenggarakan di SLTA atau sederajat. sekolah tinggi dan universitas yang termasuk perguruan tinggi D1. D3. Sedangkan menurut Diknas (2003). serta memperkuat kemasyarakatan. Diknas (2003). tujuan yang akan dicapai. Menurut Ahmadi. (1997) janis pendidikan terbagi atas 3 yaitu : 1.

Sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap perubahan-perubahan hidup sehat (Notoatmojo.05 menunjukkan bahwa hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara pendidikan pasien dengan tingkat kecemasan.3. Pendidikan informal : Pendidikan informal yakni pendidikan yang diperoleh seorang berdasarkan pengalaman dalam hidup sehari-hari dengan sadar atau tidak sadar. Berdasarkan penelitian yang lakukan di Kabupaten Demak menghasilkan informasi bahwa pendidikan masyarakat disana masih relatif rendah. sehingga tenaga kesehatan disana perlu melakukan konseling kepada ibu hamil primigravida sebagai upaya mengantisipasi terjadinya komplikasi dan kecemasan. di dalam lingkungan keluarga. sejak seorang lahir sampai akhir hidupnya. P < 0. maka makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pngetahuan yang dimilikinya. Diknas (2003). 12. menyatakan bahwa pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan. . Pendidikan dapat mempengaruhi seorang termasuk juga prilaku seseorang akan kepatuhannya. Hasil penelitian Lesti. Pada pasien yang pendidikannya hanya sebatas pendidikan dasar atau tidak pernah sekolah sangat susah dalam pemberian informasi. Peran adalah bentuk dari perilaku yang diharapkan dari seesorang pada situasisosial tertentu. terutama dalam motivasi untuk berperan serta dalam pembangunan kesehatan. Setiap perawat yang menjelaskan pengetahuan tentang kesehatan pasien tidak mengerti. 1995:21). Makin tinggi pendidikan seseorang. Peran Perawat 1. Hubungan pendidikan dengan kecemasan Pendidikan merupakan salah satu faktor sosial dari kecemasan pada pasien pre operasi. 13. Definisi Peran adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap seseorang sesuai kedudukannya dalam suatu system. masyarakat atau dalam lingkungan pekerjaan sehari-hari. (Kozier Barbara. 2002). (2009). Peran dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari dalam maupun dari luar dan bersifat stabil.

dan tersier dan dalam keperawatan kesehatan rumah dan komunitas. (c) Pendidik dalam keperawatan.Definisi kepemimpinan keperawatan yang dirumuskan oleh memberi cakupan yang luas pada konsep tersebut dan mengidentifikasi kepemimpinan sebagai peran yang melekat didalam semua posisi keperawatan. Peran Kepemimpinan Peran Kepemimpinan dari perawat yang secara tradisional dikerap sebagai peran spesialisasi yang diembankannya oleh perawat yang mempunyai gelar yang menunjukkan kepemimpinan dan mereka yang memimpin sekelompok besar perawat atau profesional perawatan kesehatan yang berhubungan. Kajian dibutuhkan untuk menentukan keefektifan intervensi dan asuhan keperawatan. partisipasi dalam proses penelitian dianggap sebagai tanggung jawab dari perawat dalam praktik klinis. yang merupakan dasar untuk semua praktik keperawatan. Peran Peneliti Peran peneliti dari perawat pada mulanya dianggap hanya dilakukan oleh para akademikus. Peran ini merupakan peran yang dominan dari perawat dalam lingkungan pelayanan kesehatan primer. 4.Peran Perawat (Ali Zaidin. 2001) meliputi : (a) Pelaksana pelayanan keperawatan. perawat ilmuwan dan mahasiswa keperawatan di tingkat sarjana. Melalui upaya penelitian . Peran kepemimpinan dari perawat mencakup tindakan-tindakan yang dilaksanakan oleh perawat saat ini ia mengemban tanggung jawab untuk mempengaruhi tindakan orang lain yang ditujukan untuk menentukan dan mencapai tujuan. 3. Peran ini merupakan peran yang hanya dapat dicapai melalui proses keperawatan. Peran Pelaksana Peran pelaksana dari perawat mencakup tindakan-tindakan yang dilakukan oleh perawat ketiaka ia mengemban tanggung jawab yang ditujakan untuk memenuhi kebutuhan perawatan kesehatan dan kebutuhan keperawatan pasien secara individu. Tugas utama dari penelitian keperawatan adalah untuk memberikan konstribusi pada dasar ilmiah praktik keperawatan. Peran ini dirancang untuk memenuhi perawatan kesehatan saat ini dan kebutuhan keperawatan dari konsumen yang merupakan penerima pelayanan keperawatan. Kini. 2. (d)Peneliti dan pengembang keperawatan Perawat profesional baik dalam lingkungan perawatan kesehatan institusional maupun komunitas mengemban tiga peran : peran pelaksana. peran kepemimpinan dan peran peneliti. peran-peran ini saling berhubungan satu dengan yang lain dan dapat ditemui pada semua posisi keperawatan. keluarga mereka dan orang terdekat pasien. sekunder. (b)Pengelola pelayanan keperawatan dan institusi Pendidikan. Meski tiap peran memiliki tanggung jawab khusus.

hak atas privasi.semacam ini. 9. 6. dirawat dan didukung oleh perawat. Peran Perawat menurut Para Sosiolog 5. Pemberian asuhan keperawatan ini dilakukan dari yang sederhana sampai dengan kompleks. Sebagai edukator Peran ini dilakukan dengan membantu klien dalam meningkatkan tingkat pengetahuan kesehatan. Peran terapeutik : kegiatan yang ditujukan langsung pada pencegahan dan pengobatan penyakit. pasien. Sebagai koordinator Peran ini dilaksanakan dengan mengarahkan. yaitu kegiatan yang bersifat langsung dalam menciptakan lingkungan dimana pasien merasa aman. ilmu keperawatan akan berkembang dan rasional yang didasarkan secara ilmiah untuk membuat perubahan dalam praktik keperawatan akan tercipta (Brunner dan Suddarth. dan lain-lain) Menurut konsorsium ilmu kesehatan (1989) dalam Ali Haidin (2001) peran perawat terdiri dari : 7. merencanakan serta mengorganisasi pelayanan kesehatan dari tim kesehatan sehingga pemberi pelayanan kesehatan dapat terarah serta sesuai dengan kebutuhan klien. diterima dilindungi. 2001). peran ini bertujuan untuk menghilangkan ketegangan dalam kelompok pelayanan (dokter. gejala penyakit bahkan tindakan yang diberikan sehingga terjadi perubahan perilaku dari klien setelah dilakukan pendidikan kesehatan. hak atas informasi tentang penyakitnya. Sebagai kolaborator . hak untuk menentukan nasibnya sendiri. Sebagai pemberi asuhan keperawatan Peran ini dapat dilakukan perawat dengan memperhatikan keadaan kebutuhan dasar manusia yang dibutuhkan melalui pemberian pelayanan keperawatan. Sebagai advokat klien Peran ini dilakukan perawat dalam membantu klien dan keluaga dalam menginterpretasikan berbagai informasi dari pemberi pelayanan khususnya dalam pengambilan persetujuan atas tindakan keperawatan. 8. Menurut Johnson dan Martin. Perawat juga berperan dalam mempertahankan dan melindungi hak-hak pasien meliputi hak atas pelayanan sebaik-baiknya. Expressive/mother substitute role. 10. 11. perawat. hak menerima ganti rugi akibat kelalaian.

perubahan yang sistematis dan terarah sesuai dengan metode pemberian pelayanan keperawatan. Fungsi Perawat Fungsi adalah pekerjaan yang harus dilaksanakan sesuai dengan perannya. (3) Memantau pasien. (4) Supervisi semua pihak yang ikut terlibat dalam perawatan pasien. Tujuh Fungsi Perawat Kozier Barbara. Begitu pula dengan Pembedahan. Seseorang tersebut ialah perawat yang mempunyai banyak peran untuk melaksanakan praktek keperawatan. fisioterapi. 12. Karena masih kurangnya pengetahuan pasien tentang penyakit yang dideritanya.Peran ini dilakukan karena perawat bekerja melalui tim kesehatan yang terdiri dari dokter. menyusun. 15. kerjasama. (1) Melaksanakan instruksi dokter (fungsi dependen). perubahan yang sistematis dan terarah sesuai dengan metode pemberian pelayanan keperawatan 13. Secara unum perawat mempunyai peran terapeutik yaitu kegiatan yang ditujukan langsung pada pencegahan dan pengobatan penyakit. ahli gizi dan lain-lain dengan berupaya mengidentifikasi pelayanan keperawatan yang diperlukan. kerjasama. 14. (6) Melaksanakan prosedur dan teknik keperawatan. (2) Observasi gejala dan respons pasien yang berhubungan dengan penyakit dan penyebabnya. Sebagai konsultan Perawat berperan sebagai tempat konsultasi dengan mengadakan perencanaan. (2002) yaitu. Hubungan peran perawat dengan kecemasan Orang yang sakit sangat memerlukan seseorang yang bisa mengobati penyakitnya tersebut dan orang sehat memerlukan seseorang yang bisa mengarahkan agar bisa mencegah dan terhindar dari berbagai penyakit. Sebagai pembaharu Perawat mengadakan perencanaan. dan memperbaiki rencana keperawatan secara terus menerus berdasarkan pada kondisi dan kemampuan pasien. (7) Memberikan pengarahan dan penyuluhan untuk meningkatkan kesehatan fisik dan mental. . (5) Mencatat dan melaporkan keadaan pasien. sehingga kekambuhan sering terjadi dan bahkan bertambah parah.

Klien merasa cemas tentang pembedahan. Desain penelitian Desain penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. 2010). 16. Ada hubungan antara peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. Bagan 3.M.1 Desain Penelitian . konsep diri.M. Hipotesa peneliti 1.5% yang mengalami kecemasan ringan. terdapat 37.Proses pembedahan sering menimbulkan stress psikologi yang tinggi. al (2007) dan penelitian rumah Sakit Ortopedi Prof Dr. BAB III METODE PENELITIAN 1. sumber koping klien serta asuhan keperawatan yang terbaik (Perry Potter.Yunus Bengkulu Tahun 2010. Perawat harus dapat mengkaji perasaan klien tentang pembedahan. Ada hubungan antara pendidikan pasien dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. Klien merasa kurang dapat mengontrol situasi mereka sendiri untuk memahami dampak pembedahan pada kesehatan emosional klien tersebut.Yunus Bengkulu Tahun 2010.05 yang mengalami kecemasan ringan sehingga dapat disimpulkan ada hubungan peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi. dimana variabel independen dan variabel dependen di kumpulkan pada saat bersamaan (Notoadmodjo. dengan nilai p < 0. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Makmur et. 2. R. Dan hasil penelitian yang dilakukan Elika tahun 2009. 2006). Soerharto tahun 2008. citra diri.

Kuisioner Wawancara (14 komponen pertanyaan HRS-A) dan observasi 1= Tidak Berat jika. Variabel Penelitian Sesuai dengan desain penelitian di atas. Kuisioner (15 pertanyaan) Ordinal . maka Variabel Penelitian dapat digambarkan sebagai berikut : Variabel Variabel Dependen Independen Bagan 3. Tingkat kecemasan (Dependen) Suatu kondisi yang menyangkut kekhawatiran seseorang pada masalah yang terjadi.2 Variabel Penelitian C. < 28 0=Rendah ≤ SMA Pendidikan (Independen) Pendidikan Formal yang ditempuh pasien Kuisioner Dengan cara mengisi (1 pertanyaan kuisioner ) 1= Tinggi >SMA 0= kurang Dengan cara baik jika skor ≤ 75% mengisi kuisioner Ordinal ≥ 28 Ordinal Skala Ukur Peran Perawat (Independent) Tindakan yang dilakukan oleh perawat dalam proses penyembuhan.B. Definisi Operasional Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Cara ukur Hasil Ukur 0=Cemas Berat jika.

(Noto atmojo.825 = 55 responden (Aziz Alimul.5% .786 orang. Dalam penelitian ini teknik yang digunakan adalah teknik Simple Random sampling n = Z²1-α/2.P(1-P) = (1. 0.825 =3. 2.1= baik. 2010).175 =17.0. 2008) Keterangan : n = Sampel Z(1-α/2) = Nilai Z pada derajat kemaknaan (α 5%=1. Populasi dalam penelitian ini adalah kelompok pasien pre operasi yang ingin menjalankan operasi di ruang Seruni dari bulan januari sampai bulan desember tahun 2010.96) P = Proporsi suatu kasus yaitu proporsi kecemasan 0. 2010).96)². Sampel Sampel adalah objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi ( Notoatmojo. 0. berdasarkan data jumlah pasien pada tahun 2009 adalah 1. 0.175.175. Populasi Populasi adalah Keseluruhan dari objek penelitian yang di teliti. jika skor ≥ 75% 1.84. Populasi dan Sampel 1.

Tempat Penelitian Penelitian dilakukan di Ruang Seruni RSUD.D = Derajat akurasi (presisi) yang diinginkan 0. tetapi didapat dengan metode pencarian data rumah sakit dalam bentuk Rekam Medik misalnya: nama. Sedangkan data Sekunder adalah data yang didapatkan secara tidak langsung dari responden. M. tanggal masuk rumah sakit. kuisioner pendidikan dan kuisioner peran perawat dengan skala selalu (SL). yang nantinya akan diisi oleh responden dan dibantu oleh satu orang perawat yang bertugas di ruang Seruni RSUD M. Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan Desember sampai dengan februari 2010. Yunus Bengkulu dengan cara wawancara dan observasi dengan skala HARS. tidak pernah (TP). jumlah pasien yang melakukan operasi. yaitu : 1. Pengumpulan. Jumlah sampel yang didapat adalah 55 responden. jarang (JR). Tempat dan Waktu Penelitian 1.Yunus Bengkulu pada bulan Desember 2010 2. E. dengan penilaian tidak berat jika skor < 28 dan berat jika skor ≥ 28. sering (SR). pekerjaan. untuk mengukur tingkat kecemasan. Pengolahan Data Data yang telah diperoleh atau terkumpul diolah dan dianalisis dengan program komputer melalui beberapa tahapan. F. Data primer yaitu data yang didapat langsung dari responden yaitu pasien dalam perawatan pre operasi di Ruang Seruni RSUD M. Yunus Bengkulu yang sudah diberi penjelasan tentang pengisian kuisoner. D. alamat. umur. Editing . Pengumpulan data Data dalam penelitian ini berupa data primer dan sekunder.1. kadang (KD). Pengolahan Dan Analisa Data 1. tanggal keluar rumah sakit dan lain-lain.

3. Rumus yang digunakan. Entry Data (Pemasukan Data) Data yang telah ada dicoding dan hasil scoring kemudian diolah kedalam komputer dengan menggunakan program SPSS For Window. Editing dilakukan langsung pada saat responden mengembalikan kuesioner yang sudah diisi dengan harapan apabila ada kekurangan data atau kesalahan dalam pengisian dapat segera diperbaiki. 2. Coding (Pengkodean) Jawaban-jawaban atau hasil yang ada kemudian di klasifikasikan dalam bentuk yang lebih ringkas dengan menggunakan kode-kode. Analisa Univariat Untuk melihat gambaran distribusi frekuensi dari masing-masing variabel penelitian baik independent maupun dependent. 1.Editing data adalah meneliti kembali apakah isian pada kuisioner yang dilakukan responden sudah cukup dan benar sesuai dengan petunjuk yang ada. Analisa Data 1. Kemudian dilakukan scoring terhadap pertanyaan yang berhubungan dengan masing-masing variabel dan diteruskan dengan pengujian kebenaran data dengan menggunakan uji Chi-Square dengan signifikan α = 5 %.. Cleaning (Pembersihan Data) Sebelum melakukan analisa data dengan dilakukan pengecekan kembali terhadap data yang sudah masuk apakah data yang dimasukkan sudah benar dan tidak ada lagi kesalahan. . G. Selanjutnya dilakukan transformasi data untuk menggambarkan variabel bebas dan variabel terikat. yaitu : Keterangan : P F = Persentase yang ingin dicapai = Jawaban dalam setiap kategori N = Jumlah seluruh responden .

Edisi 8.com.2001. (2003). 2001) 2. (1997).Y. http://www. . Volume 1. Analisa Bivariat Analisa bivariat adalah analisa yang digunakan untuk melihat hubungan antara variabel bebas (pendidikan pasien dan peran perawat) dengan variabel terikat (kecemasan pada pasien pre operasi).eprints.ac. 2001) DAFTAR PUSTAKA Aditama.A. Universitas Indonesia: Jakarta Ahmadi. Definisi Pendidikan.google. Manajemen Administrasi Rumah sakit. Salemba Medika: Jakarta Brunner. http://etd. (Diakses tanggal 26 oktober 2010) Ali. EGC: Jakarta Carbonel (2002). Z.id.ums. Dasar-dasar Keperawatan Profesional. Untuk melihat hubungan antara dua variabel kategorik maka digunakan Uji X² (Chi-Square) Ha diterima jika nilai p ≤ 0.(Budiarto.05 (Budiarto. Metode Penelitian keperawatan dan Teknik Analisa Data.Sudarth Keperawatan Medikal Bedah. (1997). Widya Medika: Jakarta Alimul A. (2008).05 Ha ditolak jika nilai p > 0.

dkk. http://etd. Dr.ac. (2006).id. Salemba Medika: Jakarta Oswari E.ums. Bedah Dan Perawatannya. M. EGC : Jakarta Patricia. Penerbit Gaya Baru: Jakarta Ibrahim (2006). Yunus Bengkulu. (2002). Fundamental Keperawatan. Metodologi Penelitian Kesehatan. Laporan Tahunan RSUD.Hawari D. (2010). Medical Record. (2007). Praktek Keperawatan Profesional : Konsep dan Perspektif. Manajemen Stress Cemas dan Depresi. EGC : Jakarta . (2005).Volume 2.ums. Kozier.ac. (2006). PT Rineka Cipta: Jakarta Nursalam (2003).eprints. (2009). Edisi 4: Jakarta Makmur. Bengkulu Notoatmodjo S. http://etd.Potter dkk.id.eprints. Konsep & Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan.

Graha Ilmu: Yogyakarta Sundari S... http://etd. (2007). Kesehatan Mental Dalam Kehidupan. semua zat yang di. (1999). (2005).Sabiston (1995). Diposkan oleh FERYN di 09:38 0 komentar: Poskan Komentar Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda Langgan: Poskan Komentar (Atom) Blog Archive  ▼ 2011 (26) o ► Desember (1)  PENDAHULUAN Pada masa kehamilan. PT.ums. Takut mati Cemas. o ▼ Mei (12)  Gejala Anemia Pada Ibu Hamil  EKSTRAKSI VAKUM ..ac.Volume I. Konsep dan Penulisan Riset Keperawatan. Buku Ajar Bedah. CV Ref Grafika: Jakarta Setiadi (2007). EGC : Jakarta Sani A.Rineka Cipta: Jakarta Widodo.eprints.id. Was-was dan Khawatir (Ansietas).

..  CARA POSTING BLOGSPOT DENGAN MENGGUNAKAN MICROSOFT.  Membongkar Password Office 2000Hello there! If you.  Membuat Daftar File dan FolderHello there! If you .. ► 2009 (6) o ► Desember (6)  if (WIDGETBOX) WIDGETBOX.... S DENG....o Kumpulan Askep MAKALAHASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny..  Melewatkan Serial Number Pada MS Office 2000Hello ....  Tips Membuat Hotspot Menggunakan Laptop Di Windows.  Cara memrubah prosesor            ► 2010 (2) o ► Maret (1)  Download Game Gratis hide Google Search Result.....  Googling Dengan Google HacksHello there! If you ar.. Proposal KTI Keperawatan ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN HIV-AIDS ► April (13)  ASKEP ATRIUM SEPTAL DEFEK (ASD)  DFX on AIMP  BASALIOMA NASOLABIAL SINISTRA  ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN HIV-AIDS  Cara Mengatasi Browser Mozilla Firefox Yang Hang S...renderWidget('54bcd528-3d..  Tips mempercepat koneksi dial-up modem Koneksi in..  Start Menu Windows XP Bergaya Windows VistaHello t.. Arbosi HIV/AIDS Ultasonik Yuk Pasang Sendiri Per dan Kampas Kopling Racing !......  Tips Adsense Tips -Tips Dalam Memasang Ikl. HUBUNGAN PENDIDIKAN DAN PERAN PERAWAT DENGAN TINGK. o ► Januari (1)  10 Cara Memperbaiki Windows XP Yang Tidak Bisa Boo...... MAKALAH SEMINAR“ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN..  Total Tayangan Laman 4783 ..N Dengan FRAKTU.  Free Download Game : Worms 3D  free download Adobe Fireworks CS3 Portable  trik dan cara mempercepat koneksi modem semua mode..

Blogroll Kura kura Template by : kendhin x-template.com Minggu.blogspot. 13 Juni 2010 KARYA TULIS ILMIAH HUBUNGAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT DENGAN TINGKAT KECEMASAN PADA PASIEN PRE OPERASI SEKSIO CAESAR DIRUANG KEBIDANAN RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH PALEMBANG TAHUN 2010 Sebagai Salah Satu Syarat Dalam Menyelesaikan Program Pendidikan Diploma III Keperawatan Oleh : AGUSTUS 02 07 832 PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEPERAWATAN .

S. Lailani Badrun SPd. Kes Ketua STIKES Muhammadiyah Palembang dr.Kes Program Studi D III Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiayah Palembang Ka.Kep. SMIP. Prodi D III Keperawatan Trilia WM. M.07. Ns Adi Santosa.Kep. M. Ns H. S.SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH PALEMBANG TAHUN AKADEMIK 2009/2010 HUBUNGAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT DENGAN TINGKAT KECEMASAN PADA PASIEN PRE OPERASI SEKSIO CAESAR DIRUANG KEBIDANAN RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH PELEMBANG TAHUN 2010 Nama : Agustus Nim : 02.832 Telah di pertahankan didepan dewan penguji karya tulis ilmiah pada Tanggal 01 Februari 2010 dan dinyatakan telah memenuhi syarat untuk diterima SUSUNAN DEWAN PENGUJI Pembimbing Penguji I Penguji II Suzanna. 16 Agustus 1989 Agama : Islam Status dalam keluarga : Anak ke 11 Dari 12 saudara . SPd. Santi Mismeriyanti BIOGRAFI Nama : Agustus Jenis kelamin : Laki-laki Tempat tanggal lahir : Betung.

dan adikku yang tercinta Kusmiati. • Tingkat I tahun : 2007 . • Sahabat terbaik ku yang tidak bisa diucapkan satu persatu • Teman2 PKLku Khusunya kelompok II • Almamater yang tercinta. SMP : SMP PGRI I Betung Tahun 2001 . K’ Dedi Yuk Anita. Banyuasin Riwayat Pendidikan : 1.2004 3.2010 MOTTO DAN PERSEMBAHAN Motto : ”Ingatlah MATI seakan-akan kau mati besok.Alamat : Jalan Palembang – Jambi Lk II Rt 031 Rw 08 No 24 Betung Kel. Betung Kab. DIII Keperawatan (STIKes) Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Palembang. ayuk Sumi K’ Sudarsono K’ Amran K’ Rudi.2001 2. Alm) dan Ibuda yang ku cinta yang telah berjasa dan selalu mendo’akan keberhasilanku setiap saat. SD : SD 06 NEGERI I Betung Tahun 1995 .2009 • Tingkat III tahun : 2009 . SMA : SMA PGRI I Betung Tahun 2004 – 2007 4.2008 • Tingkat II tahun : 2008 . . Rimbah Asam. Ns sebagai pembimbing ku yang telah membantu dalam penyusunan KTI ku • Buat K’ Ali Hafis yang telah banyak memberi motivasi. • Suzanna. Skep. • Buat saudaraku ayuk Tuti. dan ingatlah duniamu seakan-akan kau hidup 1000 tahun” Kupersembahkan : • Ayahanda (Lahmad. Kec.

SKM selaku kepala ruangan Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang yang memberikan kemudaan dalam pengumpulan data. Ns. M. SMIP. Akhirnya semoga karya tulis ilmiah ini dapat bermanfaat bagi pembangunan ilmu pendidikan dan ilmu keperawatan serta bagi kita semua. 6. atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah (KTI) ini dengan judul ”Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Diruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Pelembang Tahun 2010” Dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini penulis menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan dikarnakan keterbatasan ilmu pengetahuan. Bapak H. Kes.Kep Ns. 4. dengan ikhlas penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat mendidik dan membangun dari semua pihak demi kesempurnaan karya tulis ilmiah dimasa yang akan datang. bimbingan serta saran dari berbagai pihak. 2. SPd. Ibu Suzanna S. Selaku pembimbing yang telah memberikan bimbingan serta pengarahan selama penulisan karya tulis ilmiah ini. 3. SPd. selaku Direktur Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang yang telah memberi kemudaan dalam pengurusan administrasi penelitian. Penyusunan karya tulis ilmiah ini tidak akan terlaksana dengan baik tampa bantuan. Selaku penguji II yang memberikan kritik dan saran dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini. Maka dari itu. Sehingga karya tulis ilmiah ini dapat penulis selesaikan. Santi Mismeriyanti. Ibu Trilia WM. Ibu dr. Yudi Fadila. Selaku Ketua (STIKes) Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Palembang. Semoga Allah SWT membalas selalu melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya atas bantuan yang telah diberikan kepada penulis dalam penulisan karya tulis ilmiah ini. 7. Para dosen dan staf Program Studi DIII Keperawatan STIKes Muhammadiyah Palembang. amin. Selaku penguji I yang memberikan kritik dan saran dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini. Selaku Kepala Program Studi DIII Keperawatan STIKes Muhammadiyah Palembang. Bapak dr. AMKeb. S. 5. pengalaman serta khilafan yang penulis miliki. Kes. Ibu Eva Yulianti. Dan semua pihak yang telah memberikan bantuan.Kep. 9.KATA PENGANTAR Syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadiran allah SWT. 8. M. Maret 2010 . Palembang. Lailani Badrun. Untuk itulah pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih yang tak terhingga kepada : 1. Bapak Adi Santosa.

tujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien.Penulis. ABSTRAK SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH PALEMBANG PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN KARYA TULIS ILMIAH. JUNI 2010 AGUSTUS Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang 2010 ( xiii + 68 Halaman + 7 Tabel + 6 Lampiran) Komunikasi terapeutik merupakan komunikasi yang direncanakan secara sadar. Pada dasarnya komunikasi terapeutik merupakan komunikasi profesional yang mengarah pada tujuan yaitu penyembuhan pasien. Penelitian ini merupakan penelitian survey analitik dengan pendekatan cross sectional. Hasil analisis univariat didapatkan komunikasi terapeutik perawat dengan kategori baik sebesar 36% dan kategori cukup sebesar 64%. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan angket yang berupa kuesioner dan observasi yang berupa cheklis.05 menunjukan bahwa ada hubungan antara komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar. Populasi penelitian adalah semua pasien pre operasi seksio caesar dan perawat di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang dari tanggal 22 Februari – 6 Maret tahun 2010 dengan jumlah sampel penelitian sebanyak 14 respondenn yang dipilih secara non random dengan teknik accidental sampling. Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa komunikasi terapeutik perawat mempengaruhi tingkat kecemasan pasien pre operasi seksio caesar. sedangkan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi dengan tingkat kecemasan sedang sebesar 57% dan dengan tingkat kecemasan berat sebesar 43%. Daftar Bacaan : 15 (1996-2009) . Saran kepada petugas kesehatan diharapkan lebih meningkatkan komunikasi terapeutik yang baik kepada pasien pre operasi seksio caesar ataupun pasien yang lainnya. Dari hasil uji chisquare dengan pValue <0. Penelitian ini bertujuan mengetahui Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat dengan Tingkat Kecemasan pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang 2010.

Reading List : 15 (1996 . From these results it is concluded that therapeutic communication nurse patient anxiety level welsh pre Caesar section operation.ABSTRACT HEALTH SCIENCE HIGH SCHOOL MUHAMMADIYAH PALEMBANG STUDY PROGRAMMES DIPLOMA OF NURSING WRITING SCIENTIFIC. while the level of anxiety in patients with pre surgery anxiety level was at 57% and with severe anxiety level of 43%. The study population was all patients pre and caesar section operation room nurse at Muhammadiyah Palembang Obstetric Hospital of the date of 22 February to 6 March 2010 with the number of samples is 14 respondenn selected non random accidental sampling technique. Basically.2009) DAFTAR ISI Hal HALAMAN JUDUL i . therapeutic communication is a professional communications that lead to the goal of healing the patient. JUNE 2010 AUGUST Relationps Communication Anxiety Therapeutic Nurse Level In Patients With Pre Caesar In Operating Room Midwifery Section Hospital Muhammadiyah Palembang 2010 ( xiii + 68 Pages + 7 Table + 6 Annex ) Therapeutic communication is consciously planned communication. Advice to health workers is expected to further improve therapeutic communication both to the patient pre Caesar section operation or other patients. This research was conducted using a questionnaire in the form of questionnaires and observation in the form cheklis. This study aimed to Therapeutic Communication Nurse Relations Anxiety Level in Patients with Pre Operation Caesar section Obstetric Hospital in Room 2010 of Muhammadiyah Palembang. Results Univariate analysis showed a nurse therapeutic communication with both categories by 36% and 64% adequate category. From the results of chi-square test with p value <0.05 indicates that there is a relationship between therapeutic communication nurse with the anxiety level in patients pre Caesar section operation. This research is an analytical survey with cross sectional approach. goals and activities focused on healing the patient.

6 Sikap Komunikasi Terapeutik 13 2.2 Klasifikasi Kecemasan 24 2.5 Prinsip-Prinsip Komunikasi Terapeutik 11 2.1.3 Pertanyaan Penelitian 6 1.2.1.8 Fase – Fase Dalam Komunikasi Teraupetik 20 2.1 Pengertian Komunikasi Terapeutik 9 2.1 Pengertian Seksio Sesarea 34 2.9 Pengukuran Skala Kecemasan 29 2.3 Tingkat Kecemasan 25 2.2 Rumusan Masalah 6 1.3 Klasifikasi Seksio Sesarea 35 2.2 Tujuan Komunikasi Terapeutik 10 2.4 Penelitian Terkait 39 .2 Faktor-faktor yang Menyebabkan Seksio Sesarea 34 2.5 Bentuk-Bentuk Kecemasan 27 2.2.7 Tanda-Tanda Kecemasan 28 2.1.3.1 Komunikasi Terapeutik 9 2.5 Ruang Lingkup Penelitian 7 1.2.1.1 Definisi Kecemasan (Ansietas) 22 2.6 Ciri-Ciri Kecemasan 27 2.2.4 Syarat-Syarat Komunikasi Terapeurik 10 2.2.2.6 Manfaat Penelitian 8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.2.1 Latar Belakang 1 1.1.2 Kecemasan (Ansietas) 22 2.7 Tehnik-Tehnik Komunikasi Terapeutik 14 2.3 Seksio Sesarea 34 2.HALAMAN PERSETUJUAN ii BIOGRAFI iii MOTTO DAN PERSEMBAHAN iv KATA PENGANTAR v ABSTRAK vi ABSTRACT vii DAFTAR ISI ix DAFTAR TABEL xii DAFTAR LAMPIRAN xiii BAB I PENDAHULUAN 1.1.2.1.3.3 Manfaat Komunikasi Terapeutik 10 2.2.3.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kecemasan 26 2.4 Tujuan 7 1.1.8 Penyebab Kecemasan (Ansietas) 28 2.

3 Pembahasan 59 5.1 Desain Penelitian 45 4.8 Analisa Data 48 4.3.2 Saran 67 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN DAFTAR TABEL .3 Lokasi dan Waktu Penelitian 46 4.4 Hipotesis 44 BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.3 Tingkat Kecemasan Pasien Seksio Caesar 63 5.7 Pengolahan Data 47 4.2.BAB III KERANGKA KONSEP.1 Kerangka Konsep 41 3.3.2 Variabel 42 3.9 Etika Penelitian 48 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN 5.1 Kesimpulan 67 6.5 Tehnik Pengumpulan Data 46 4.1 Populasi Penelitian 45 4.2 Variabel Peneliti 54 5.4 Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi Seksio Caesar ` 65 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.2 Komunikasi Terapeutik Perawat 61 5.6 Instrumen Pengumpulan Data 46 4.4 Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data 46 4.3 Definisi Operasional 43 3.2.1 Persalinan 59 5. DEFINISI OPERASIONAL DAN HIPOTESIS 3.1 Hasil 51 5.2 Sampel Penelitian 45 4.2 Populasi dan Sampel Penelitian 45 4.3.3.

1 : Bagan Kerangka Konsep Tabel 4.3 : Komunikasi Terapeutik Perawat Tabel 5.2 : Persalinan Seksio Caesar Dan Spontan Tabel 5.1 : Jumlah Tempat Tidur Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang Tabel 5.1 : Perencanaan Waktu Penelitian Tabel 5.Tabel 3.5 : Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 : Surat Penelitian Lampiran 2 : Lembar Persetujuan Menjadi Responden Lampiran 3 : Quisioner Penelitian Lampiran 4 : Cheklist Penelitian Lampiran 5 : Output SPSS Lampiran 6 : Lembar Konsultasi .4 : Tingakat Kecemasan Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Tabel 5.

seringkali menjadi hambatan pada paska operasi. Dan juga Komunikasi terapeutik bukan pekerjaan yang bisa diabaikan. 1997). bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien disebut dengan komunikasi terapeutik. dibandingkan dengan orang yang cemas ringan (Barbara C. Setiap menghadapi operasi selalu menimbulkan ketakutan dan kecemasan pada pasien. dan belajar bagaimana berhubungan dengan orang lain. untuk mengurangi kecemasan itu maka perawat harus memberikan komunikasi terapeutik kepada pasien pre operasi seksio caesar. sehingga respon pun berbeda. 2003). mengatasi gangguan psikologis. bingung. Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang mendorong proses penyembuhan klien (Depkes RI. lebih mudah tersinggung akibat reaksi psikis. perawat membantu dan pasien menerima bantuan (Indrawati. kecemasan sering muncul pada usia sebelum 30 tahun (Stuard and Sundeen. Komunikasi yang direncanakan secara sadar. Komunikasi terapeutik juga merupakan kemampuan atau keterampilan perawat untuk membantu pasien beradaptasi terhadap stres. Hal ini juga terkait dengan komunikasi perawat yang sangat dibutuhkan pada pasien operasi seksio caesar karena pada kondisi ini pasien cemas. Persoalan mendasar dan komunikasi ini adalah adanya saling membutukan antara perawat dan pasien. yang dalam kegiatan sehari-harinya selalu berhubungan dengan orang lain.1 Latar Belakang Komunikasi merupakan bagian integral dari kehidupan manusia tidak terkecuali seorang perawat. Seseorang yang sangat cemas sehingga tidak bisa berbicara dan mencoba menyesuaikan diri dengan kecemasan sebelum operasi. jangan sampai karena terlalu asyik bekerja.BAB I PENDAHULUAN 1. dan merupakan tindakan profesional. 2003). . Pandangan setiap orang dalam menghadapi operasi berbeda. Komunikasi terapeutik juga termasuk komunikasi interpersonal dengan titik tolak saling memberikan pengertian antar perawat dengan klien. Akan tetapi. kemudian melupakan pasien sebagai manusia dengan beragam latar belakang dan masalahnya (Arwani. 1998). pasien menjadi cepat marah. Long. namun harus direncanakan. disengaja. sehingga dapat dikategorikan ke dalam komunikasi pribadi di antara perawat dan pasien. 1996).

5% adalah persalinan spontan. 48% merupakan persalinan caesar. pemantauan janin secara elektronik. 1 diantara setiap 10 wanita yang melahirkan setiap tahunnya pernah menjalani seksio caesar.Proses perawatan di rumah sakit seringkali mengabaikan aspek-aspek psikologis sehingga menimbulkan berbagai permasalahan pisikologis bagi pasien yang salah satunya adalah kecemasan. dan 37% di antaranya pernah menjalani seksio caesar sebelumnya. Operasi merupakan tindakan pengobatan yang banyak menimbulkan kecemasan. 2009) Operasi adalah salah satu tindakan pengobatan yang banyak menimbulkan kecemasan. Untuk dapat menurunkan kecemasan pada pasien pre operasi salah satunya diperlukan komunikasi yang efektif terutama komunikasi terapeutik. untuk itu pasien yang akan menjalani operasi harus diberi komunikasi terapeutik untuk menurunkan atau mengurangi gejala kecemasan serta dapat meningkatkan pengetahuan kesehatan pada pasien. Penyebab peningkatan ini adalah nulipara. Pembahasan tentang reaksi-reaksi pasien terhadap pembedahan sebagian besar berfokus pada persiapan pembedahan dan proses penyembuhan. kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna. presentasi bokong. 1989) Menurut World Heath Organization (WHO) angka persalinan dengan seksio caesarea yang wajar adalah 5-10 % dari seluruh kelahiran. kemudian dari segumpal darah. sedangkan sisanya dengan bantuan alat seperti vakum atau forsep (Kasdu. 2003). Kecemasan merupakan sesuatu hal yang tidak jelas. 40% persalinan normal. kemudian dari setetes mani. Komunikasi terapeutik pada hakikatnya adalah suatu kegiatan atau usaha untuk menyampaikan pesan kesehatan kepada masyarakat. adanya perasaan gelisah atau tidak tenang dengan sumber yang tidak spesifik dan tidak diketahui oleh seseorang.com ) Di Amerika Serikat. kelompok atau individu. 30% merupakan persalinan caesar. (http://www. kecemasan yang sering terjadi adalah apabila pasien yang dirawat di rumah sakit harus mengalami proses operasi. sedangkan sisanya dengan bantuan alat seperti vakum dan forsep. jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur). Sebagian besar peningkatan ini berlangsung pada tahun 1970-an sampai awal 1980-an dan terjadi di seluruh negara barat. Bila kecemasan pada pasien pre operasi tidak segera diatasi maka dapat mengganggu proses penyembuhan. menyebutkan dari jumlah persalinan sebanyak 404 per bulan. 2005). Lebih dari 825. Ternyata diseluruh dunia angka operasi seksio caesarea meningkat dengan pesat. wanita yang hamil berusia lebih tua. Data dari RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta tahun 2000. Kelahiran manusia dimuka bumi ini sudah di jelaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Hajj Ayat : 5 yang berarti ”Hai manusia. maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah.Long. dan tuntutan malpraktik (Cunningham. sampai saat ini sebagian besar orang menganggap bahwa semua operasi yang dilakukan adalah operasi besar. Hal ini perlu mendapat perhatian serius dari perawat karena perawat merupakan petugas kesehatan yang terdekat dan terlama dengan pasien. Sedangkan data yang diperoleh dari Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang pada tahun 2009 menyebutkan dari jumlah persalinan sebanyak 2331 per tahun. (Dewi wijayanti.000 wanita melahirkan dengan seksio caesar pada tahun 1998. sedangkan angka di Indonesia belum diketahui secara pasti. apa yang Kami kehendaki sampai . Tindakan operasi merupakan ancaman potensial aktual terhadap integritas seseorang yang dapat membangkitkan reaksi stress fisiologis maupun psikologis (Barbara C. Kecemasan merupakan perasaan yang paling umum dialami oleh pasien yang dirawat di rumah sakit.drdidispog. 52. agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim.

waktu yang sudah ditentukan. membatasi seksio caesar atas indikasi distosia persalinan pada wanita yang memenuhi kriteria yang ditentukan dengan ketat (Cunningham..2 Rumusan Masalah Berdasarkan pada data diatas maka belum diketahui Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien pre Operasi Seksio Caesar Di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang 2010. kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi.5 Ruang Lingkup Masalah 1.1 Tujuan Umum Untuk mengetahui Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang.5. dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun. kemudian (dengan berangsur. 1.3 Pertanyaan Penelitian Bagaimana Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang? 1.(Al-Quran Terjemah : Tohaputra Ahmad..4.angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan. .2 Tujuan Khusus a) Diketahuinya gambaran komunikasi terapeutik perawat pada pasien pre operasi seksio caesar. supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. 2005) Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas bahwa komunikasi terapeutik sangat dibutuhkan bagi pasien yang akan menjalani operasi seksio caesar.1 Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan Di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang. 1998).. 1..5.. 1.4 Tujuan Penelitian 1. umumnya difokuskan pada upaya pendidikan dan pengawasan.2 Waktu Penelitian ini dilakukan pada tanggal 22 Febuari sampai dengan tanggal 6 Maret tahun 2010. mendorong percobaan persalinan pada wanita dengan riwayat seksio caesar transversal. Beberapa penelitian telah membuktikan adanya kemungkinan untuk menurunkan angka seksio caesar di Institusi kesehatan mengurangi peningkatan mordibitas (kelahiran) atau mortalitas (kematian) perinatal. b) Diketahuinya gambaran tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar c) Diketahuinya gambaran hubungan antara komunikasi terapeutik perawat/bidan dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar.4. 1. maka penulis tertarik untuk meneliti ”Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi Seksio Caesar” 1. Diamana pada tahap ini tingkat kecemasan pasien yang akan di operasi masih sangat tinggi. Program-program yang ditujukan untuk mengurangi seksio caesar yang tidak diperlukan. Karena komunikasi terapeutik salah satu tindakan perawat yang dapat mengurangi kecemasan.

1.1 Komunikasi Terapeutik 2.1 Manfaat Bagi Rumah Sakit Diharapkan dapat dijadikan masukan dan motivasi bagi rumah sakit untuk lebih menerapkan komuniksi terapeutik perawat dalam mengurangi tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar.2 Manfaat Bagi Institusi Pendidikan Diharapkan dapat menambah informasi dan referensi yang berguna bagi mahasiswa sekolah tinggi ilmu kesehatan Muhammadiyah Palembang.6.6 Manfaat Penelitian 1. 1. tujuan dan kegiatannya .3 Manfaat Bagi Pasien Diharapkan dapat memberikan rasa nyaman dan aman pada semua pasien yang akan menjalankan operasi seksio caesar sehingga pasien yang menjalankan operasi tidak cemas dan operasi bisa berjalan dengan lancar.1. Maka disini dapat di artikan bahwa terapeutik adalah segala sesuatu yang memfasilitasi proses penyembuhan. 2005). BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. ( Mukhripah Damaiyanti. 1. Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar.6.6. Sehingga komunikasi terapeutik itu sendiri adalah komunikasi yang direncanakan dan dilakukan untuk membantu penyembuhan dan pemulihan pasien. 2008 ). Komunikasi terapeutik merupakan komunikasi profesional bagi perawat.1 Pengertian Komunikasi Terapeutik Terapeutik merupakan kata sifat yang dihubungkan dengan seni dari penyembuhan (As Hornby Dalam Intan.4 Manfaat Bagi Peneliti Diharapkan dapat menambah ilmu pengetahuan dan wawasan bagi peneliti mengenai hubungan komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar.6.1.

Pada dasarnya komunikasi terapeutik merupakan komunikasi profesional yang mengarah pada tujuan yaitu penyembuhan pasien.3 Manfaat Komunikasi Terapeutik Manfaat komunikasi terapeutik adalah untuk mendorong dan menganjurkan kerja sama antara perawat dan pasien melalui hubungan perawat dan pasien. 2. tingkah lakunya sehingga tumbuh mangkin matang dan dapat memecahkan masalahmasalah yang dihadapi. d. Komunikasi yang menciptakan saling pengertian yang harus dilakukan terlebih dahulu sebelum memberikan sarana. Mengidentifikasi. b. ( Indrawati. b. (Mukhripah Damaiyanti. Persoalan mendasar dan komunikasi ini adalah adanya saling membutuhan antara perawat dan pasien. 1994) adalah : a.1.2 Tujuan Komunikasi Terapeutik Membantu pasien untuk memperjelas dan mengurangi beban perasaan dan pikiran serta dapat mengambil tindakan yang efektif untuk pasien. Perawat harus menyadari pentingnya kebutuan pasien baik fisik maupun mental. memahami dirinya sendiri serta nilai yang dianut.1. Kualitas asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien sangat dipengaruhi oleh kualitas hubungan perawat-klien. 2. Perawat harus menciptakan suasana yang memungkinkan pasien memiliki motivasi untuk mengubah dirinya baik sikap. dkk. membantu mempengaruhi orang lain.5 Prinsip-Prinsip Komunikasi Terapeutik Prinsip-prinsip komunikasi terapeutik menurut Carl Rogers (dalam Perwanto. 2003 ). Bila perawat tidak memperhatikan hal ini. c. e. tetapi hubungan sosial biasa. Perawat harus mengenal dirinya sendiri yang berarti menghayati. perawat membantu dan pasien menerima bantuan. Komunikasi terapeutik termasuk komunikasi interpersonal dengan titik tolak saling memberikan pengertian antar perawat dengan pasien. (Indrawati. . Persyaratan . hubungan perawat-klien tersebut bukanlah hubungan yang memberikan dampak terapeutik yang mempercepat kesembuhan klien. Semua komunikasi terapeutik harus ditujukan untuk menjaga harga diri pemberi maupun penerima pesan. saling pecaya dan saling menghargai. 2003) mengatakan ada dua persyaratan untuk komunikasi terapeutik efektif : a. 2003 ).Persyaratan untuk komunikasi terapeutik ini dibutuhkan untuk membentuk hubungan antara perawat dengan pasien sehingga klien memungkinkan untuk mengimplementasikan proses keperawatan. lingkungan fisik dan diri sendiri. Komunikasi harus di tandai dengan sikap saling menerima. 2008 ).dipusatkan untuk kesembuhan pasien. Komunikasi terapeutik ini akan efektif bila melalui penggunaan dan latihan yang sering. Perawat harus menciptakan suasana yang memungkinkan pasien bebas berkembang tanpa rasa takut.1.4 Syarat-Syarat Komunikasi Terapeutik Stuart dan Sundeen (dalam Christina. informasi atau masukan. 2. dkk. Christina. mengungkap perasaan dan mengkaji masalah dan evaluasi tindakan yang dilakukan oleh perawat. 2. sehingga dapat dikategorikan ke dalam komunikasi pribadi di antara perawat dan pasien.1.

Mempertahankan sikap terbuka Tidak melipat kaki atau tangan menunjukan keterbukaan untuk berkomunikasi dan siap membantu. Tehnik berikut sering digunakan pada tahap orientasi. i. meskipun dalam situasi yang kurang menyenangkan. l. oleh karena itu perawat perlu mempertahan suatu keadaan sehat fisik mental. Altruisme untuk mendapatkan kepuasan dengan menolong orang lain secara manusiawi. e.1.7.6 Sikap Komunikasi Terapeutik Egan (dalam Keliat. Berhadapan Arti dari posisi ini adalah saya siap untuk anda b.7 Tehnik-Tehnik Komunikasi Terapeutik 2. Mampu menentukan batas waktu yang sesuai dan dapat mempertahankan konsistensinya. Berpegang pada etika dengan cara berusaha sedapat mungkin mengambil keputusan berdasarkan prinsip kesejahteraan manusia. Perawat harus mampu menguasai perasaan sendiri secara bertahap untuk mengetahui dan mengatasi perasaan gembira. d. Tetap rileks Tetap dapat mengendalikan keseimbangan antara ketegangan dan relaksasi dalam memberikan respons kepada pasien. h. Membungkuk kearah klien Posisi ini menunjukan keinginan untuk menyatakan atau mendengarkan sesuatu. yaitu : a. a. Kejujuran dan komunikasi terbuka merupakan dasar dari hubungan terapeutik j. keberhasilan maupun frustasi g. mengindentifikasi lima sikap atau cara untuk menghadirkan diri secara fisik yang dapat memfasilitasi komunikasi terapeutik. Mempertahankan kontak mata Kontak mata pada level yang sama berarti menghargai klien dan menyatakan keinginan untuk tetap berkomunikasi. 1992). m. sedangkan pertanyaan nonfasilitatif (Nonfacilitative Question) adalah pertanyaan yang tidak efektif karena memberikan . c. n. 2.f. Mampu berperan sebagai role model agar dapat menunjukan dan menyakinkan orang lain tentang kesehatan. sedih marah. Pertanyaan Fasilitatif Dan Nonfasilitatif Pertanyaan fasilitatif (Facilitative Question) terjadi jika pada saat bertanya perawat sensitif terhadap pikiran dan perasaan serta secara langsung berhubungan dengan masalah klien. 2. k.1. spiritual dan gaya hidup. Bertanggung jawab dalam dua demensi yaitu tanggung jawab terhadap diri sendiri atas tindakan yang dilakukan dan bertanggung jawab dengan orang lain. Memahami betul arti empati sebagai tindakan terapeutik dan sebaliknya sempati bukan tindakan terapeutik. Disarankan untuk mengekspresikan perasaan bila dianggap menganggu.1.1 Bertanya Bertanya (Questioning) merupakan tehnik yang dapat mendorong klien untuk mengungkapkan perasaan dan pikirannya.

2. 1992 ).5 Refleksi Refleksi (Reflection) adalah mengarahkan kembali ide.7. 2005). 1994 ). Fokus utama klarifikasi adalah pada perasaan. Pertanyaan Terbuka Dan Tertutup Pertanyaan terbuka (Open Question) digunakan apabila perawat membutuhkan jawaban yang banyak dari klien. Dengan pertanyaan terbuka. G. maka penilaiannya akan berdasarkan pandangan dan perasaannya. minat. 2005). dan tampak kurang pengertian terhadap klien (Gerald. Restarting (pengulangan) merupakan suatu strategi yang mendukung listening ( Suryani.pertanyaan yang tidak fokus pada masalah atau pembicaraan. 2005).1.1.W dalam Suryani. 2005).4 Klarifikasi Klarifikasi (Clarification) adalah menjelaskan kembali ide atau pikiran klien yang tidak jelas atau meminta klien untuk menjelaskan arti dari ungkapannya ( Gerald. Pada saat klarifikasi. Budi Anna. 2. perasaan.3 Mengulang Mengulang (Restarting) yaitu mengulang pokok pikiran yang diungkapkan klien. dan isi pembicaraan kepada klien. S dalam Suryani. Gunanya untuk menguatkan ungkapan klien dan memberi indikasi perawat mengikuti pembicaraan klien ( Keliat. pertanyaan. Mendengarkan adalah proses aktif (Gerald. 2. Selama mendengarkan. D. D dalam Suryani. Apabila perawat menginterpretasikan pembicaraan klien. dalam Suryani.1. b. 2005 ). 2005). bersifat mengancam. Hal ini digunakan untuk memvalidasi pengertian perawat tentang apa yang diucapkan klien dan menekankan empati. 2005).6 Memfokuskan Memfokuskan (Focusing) bertujuan memberi kesempatan kepada klien untuk membahas masalah inti dan mengarahkan komunikasi klien pada pencapaian tujuan (Stuart. 2005). Pertanyaan tertutup (Closed Question) digunakan ketika perawat membutuhkan jawaban yang singkat. 1992). 2005) dan penerimaan informasi serta penelaahan reaksi seseorang terhadap pesan yang diterima (Hubson.2 Mendengarkan Mendengarkan (Listening) merupakan dasar utama dalam komunikasi terapeutik (Keliat. dan penghargaan terhadap klien (Antai-Otong dalam Suryani. karena pengertian terhadap perasaan klien sangat penting dalam memahami klien. Dengan demikian akan terhindar dari pembicaraan tanpa arah dan penggantian topik pembicaraan. Hal yang . 2. Budi Anna.7. Perawat memberikan tanggapan dengan tepat dan tidak memotong pembicaraan klien. Tunjukkan perhatian bahwa perawat mempunyai waktu untuk mendengarkan ( Purwanto Heri.1. perawat harus mengikuti apa yang dibacakan klien dengan penuh perhatian. juga tidak boleh menambahkan informasi (Gerald. D dalam Suryani.7.1.7. perawat mampu mendorong klien mengekspresikan dirinya (Antai-Otong dalam Suryani. 2.7. perawat tidak boleh menginterpretasikan apa yang dikatakan klien. D dalam Suryani.

W (1998) dalam Suryani (2005) menyatakan. membagi persepsi (Sharing Peception) adalah meminta pendapat klien tentang hal yang perawat rasakan atau pikirkan. 2. 2005) supaya masalah tersebut bisa diatasi. misalnya menyatakan : “sebenarnya apa yang anda pikirkan tidak seburuk itu kejadiannya”. 2005). memperlambat tempo interaksi. 2005) sehingga memungkinkan klien untuk membuat perencanaan yang lebih baik dalam mengatasi masalah yang dihadapinya. Tehnik ini membantu perawat dan klien untuk memiliki pikiran dan ide yang sama saat mengakhiri pertemuan.1.7. 2. sambil perawat menyampaikan dukungan.1. Informasi yang diberikan pada klien harus dapat memberikan pengertian dan pemahaman tentang masalah yang dihadapi klien serta membantu dalam memberikan alternatif pemecahan masalah (Suryani. 2.1. 2005).7 Diam Tehnik diam (Silence) digunakan untuk memberikan kesempatan pada klien sebelum menjawab pertanyaan perawat.7. D dalam Suryani. 2. 2005). pengertian.7. dan penerimaannya. Poin utama dari menyimpulkan yaitu peninjauan kembali komunikasi yang telah dilakukan (Murray. Tehnik ini sangat membantu dalam mengajarkan kesehatan atau pendidikan pada klien tentang aspek-aspek yang relevan dengan perawatan diri dan penyembuhan klien.perlu diperhatikan dalam menggunakan metode ini adalah usahakan untuk tidak memutus pembicaraan ketika klien menyampaikan masalah penting (Suryani. Diam akan memberikan kesempatan kepada perawat dan klien untuk mengorganisasi pikiran masing-masing (Stuart & Sundeen dalam Suryani. Seorang perawat kadang memberikan tanggapan yang kurang tepat ketika klien mengungkapkan masalah. D dalam Suryani.1. 2005). Tehnik ini digunakan ketika . Tehnik ini memberikan waktu pada klien untuk berfikir dan menghayati.7. 2005).7. atau memandang sesuatu dari sisi negatifnya.7. 2005).9 Menyimpulkan Menyimpulkan (Summerizing) adalah tehnik komunikasi yang membantu klien mengeksplorasi poin penting dari interaksi perawat-klien.8 Memberi Informasi Memberikan tambahan informasi (Informing) merupakan tindakan penyuluhan kesehatan klien. 2. Tehnik ini sangat bermanfaat terutama ketika klien berfikiran negatif terhadap sesuatu. 2. Reframing akan membuat klien mampu melihat apa yang dialaminya dari sisi positif (Gerald. Diam juga memungkinkan klien untuk berkomunikasi dengan dirinya sendiri dan berguna pada saat klien harus mengambil keputusan (Suryani.1.12 Membagi Persepsi Stuart G.11 Eksplorasi Eksplorasi bertujuan untuk mencari atau menggali lebih jauh atau lebih dalam masalah yang dialami klien (Antai-Otong dalam Suryani.10 Mengubah Cara Pandang Tehnik mengubah cara pandang (refarming) ini digunakan untuk memberikan cara pandang lain sehingga klien tidak melihat sesuatu atau masalah dari aspek negatifnya saja (Gerald.1. B & Judith dalam Suryani. Tehnik ini bermanfaat pada tahap kerja untuk mendapatkan gambaran yang detail tentang masalah yang dialami klien.

W dalam Suryani. Pada tahap ini perawat dan klien bekerja bersama-sama untuk mengatasi masalah yang dihadapi klien. Tehnik ini sangat bermanfaat pada tahap awal kerja untuk memfokuskan pembicaraan pada awal masalah yang benar-benar dirasakan klien. 2.3 Tahap Kerja Tahap kerja ini merupakan tahap inti dari keseluruhan proses komunikasi terapeutik (Stuart. 2002). 2. 2005). 2005). 2005). Reinforcement berguna untuk meningkatkan harga diri dan menguatkan perilaku klien (Gerald.1. 2005). Pada tahap ini perawat juga mencari informasi tentang klien. dan meyakinkan dirinya bahwa dia siap untuk berinteraksi dengan klien (Suryani. Humor dapat meningkatkan kesadaran mental dan kreativitas. Florence Nightingale dalam Anonymous (1999) dalam Suryani (2005) pernah mengatakan suatu pengalaman pahit sangat baik ditangani dengan humor.1. perawat harus memperkenalkan dirinya terlebih dahulu kepada klien (Brammer dalam Suryani. dkk.7.13 Mengidentifikasi Tema Perawat harus tanggap terhadap cerita yang disampaikan klien dan harus mampu manangkap tema dari seluruh pembicaraan tersebut.8 Fase – Fase Dalam Komunikasi Terapeutik 2. G. Dengan memperkenalkan dirinya berarti perawat telah bersikap terbuka pada klien dan ini diharapkan akan mendorong klien untuk membuka dirinya (Suryani. serta menurunkan tekanan darah dan nadi.2 Tahap Perkenalan Perkenalan merupakan kegiatan yang dilakukan saat pertama kali bertemu atau kontak dengan klien (Christina.1. G.7. D dalam Suryani. Kemudian perawat merancang strategi untuk pertemuan pertama dengan klien. mengatasi kecemasannya.8.1.1 Tahap Persiapan (Preinteraksi) Tahap Persiapan atau prainteraksi sangat penting dilakukan sebelum berinteraksi dengan klien (Christina.7.1.1.14 Humor Humor bisa mempunyai beberapa fungsi dalam hubungan terapeutik. Tahap ini harus dilakukan oleh seorang perawat untuk memahami dirinya. dkk. Pada tahap kerja ini dituntut kemampuan perawat dalam mendorong klien mengungkap . Pada saat berkenalan. 2005).perawat merasakan atau melihat ada perbedaan antara respos verbal dan respons nonverbal klien. 2. 2005). Reniforcement bisa diungkapkan dengan kata-kata ataupun melalui isyarat nonverbal. Pada tahap ini perawat menggali perasaan dan mengidentifikasi kelebihan dan kekurangannya.W dalam Suryani. Tujuan tahap ini adalah untuk memvalidasi keakuratan data dan rencana yang telah dibuat dengan keadaan klien saat ini. 2. 2002).8. 2005). 2.8.15 Memberikan Pujian Memberikan Pujian (Reinforcement) merupakan keuntungan psikologis yang didapatkan klien ketika berinteraksi dengan perawat. serta mengevaluasi hasil tindakan yang lalu (Stuart. 2. Gunanya adalah untuk meningkatkan pengertian dan menggali masalah penting (Stuart & Sadeen dalam Suryani.1.

1 Definisi Kecemasan (Ansietas) Ansietas atau kecemasan adalah : a. Freud (dalam Arndt. dkk. Suatu perasaan takut yang tidak menyenangkan dan tidak dapat dibenarkan yang sering disertai dengan gejala fisiologi (Tom.8. a.com ) Menurut Post (1978). perawat membantu klien untuk mendefinisikan masalah yang dihadapi. dan membantu perawat-klien memiliki pikiran dan ide yang sama (Murray. 1997) Ansietas adalah perasaan yang dialami terlalu mengkhwatirkan kemungkinan peristiwa yang menakutkan yang terjadi dimasa depan yang tidak bisa dikendalikan dan jika itu terjadi akan menilai mengerikan atau dapat diungkapkan sebagai orang yang benar-benar tidak mampu menata pikiran. yang ditandai oleh perasaan-perasaan subjektif seperti ketegangan. Respon emosional terhadap penilaian intelektual terhadap sesuatu yang berbahaya (stuart dan sundeen. setelah terminasi sementara.1. perawat akan bertemu kembali dengan klien pada waktu yang telah ditentukan. dengan kata lain kecemasan adalah reaksi atas situasi yang dianggap berbahaya.2007. yang diikuti oleh reaksi fisiologis tertentu seperti perubahan detak jantung dan pernafasan. Perawat juga dituntut untuk mempunyai kepekaan dan tingkat analisis yang tinggi terhadap adanya perubahan dalam respons verbal maupun nonverbal klien. Tehnik menyimpulkan ini merupakan usaha untuk memadukan dan menegaskan hal-hal penting dalam percakapan. Keadaan dimana individu atau kelompok mengalami perasaan gelisah (penilaian atau opini) dan aktivitas sistem syaraf autonom dalam berespon terhadap ancaman yang tidak jelas.2 Kecemasan (Ansietas) 2. Suatu sinyal yang menyadarkan.2. 2. 2000) c. B & Judth dalam Suryani. Menurut Freud. Pada tahap ini perawat perlu melakukan active listening karena tugas perawat pada tahap kerja ini bertujuan untuk menyelesaikan masalah klien.silvalintar. 2005). bagaimana cara mengatasi masalahnya. yang memperingatkan adanya bahaya yang mengancam dan memungkinkan seseorang mengambil tindakan untuk mengatasi ancaman (Kaplan dan Sadock. 2003) e. ninspesifik (Carpenito. Perawat juga diharapkan mampu menyimpulkan percakapannya dengan klien. b. (www. 2005). kekhawatiran dan juga ditandai dengan aktifnya sistem syaraf pusat. Tahap ini dibagi dua yaitu terminasi sementara dan terminasi akhir (Stuart.4 Tahap Terminasi Terminasi merupakan akhir dari pertemuan perawat dengan klien (Christina. 1974) menggambarkan dan mendefinisikan kecemasan sebagai suatu perasaan yang tidak menyenangkan. Suatu keadaan ketidakseimbangan atau tegangan yang cepat mengusahakan coping (Hudak dan Gallo. ketakutan. kecemasan melibatkan persepsi tentang perasaan yang tidak menyenangkan dan reaksi fisiologis. Terminasi sementara adalah akhir dari tiap pertemuan perawat-klien. Melalui active listening. 1998) b. 2. .perasaan dan pikirannya. 2002). kecemasan adalah kondisi emosional yang tidak menyenangkan. dan mengevaluasi cara atau alternatif pemecahan masalah yang telah dipilih. Terminasi akhir terjadi jika perawat telah menyelesaikan proses keperawatan secara keseluruhan. 1997) d.W dalam Suryani. G.

Polyuri (sering kencing). Pernafasan kasa. Orang yang hati nuraninya berkembang baik cendrung merasa berdosa apabila dia melakukan sesuatu yang berlawanan dengan kode moral yang dimilikinya. 2. (Corey Gerald. Kecemasan Sedang Pada ringkat ini individu lebih menfokuskan hal penting saat ini dan mengesampingkan yang lain . Kecemasan neorotik adalah ketakutan rehadap tidak terkendalinya naluri-naluri yang menyebabkan seseorang melakukan sesuatu tindakan yang mendatangkan hukuman bagi dirinya.2 Klasifikasi Kecemasan Ada tiga macam kecemasan yaitu : a. sebelumnya punya pengalaman emosi (biasa terdapat pada Ibu yang akan bersalin). Kecemasan moral adalah ketakutan terhadap hati nuraninya sendiri.3 Tingkat Kecemasan Menurut Jersild (1963) menyatakan bahwa ada dua tingkatan kecemasan. Bila gejala kecemasan hanya sedikit (40-50%) b. lesu). Kecemasan Akut Keadaan dimana perasaan sakit berat. b. Mudah berdebar-debar. dan takut bisa berjalan beberapa menit atau beberapa jam. Kecemasan Ringan Pada tingkat kecemasan yang terjadi pada kehidupan sehari-hari dan kondisi membantu individu menjadi waspada dan bagaimana mencegah berbagai kemungkinan. Diarrhee.2. Gejala-gejalanya : Perasaan takut. Hypertensi sifatnya sistolik. kecemasan normal. lengkap tidak ditemukan kelainan apa-apa. Menurut Struat & Sunden (1998) mengidentifikasikan tingkat kecemasan dapat dibagi menjadi : a. Kecemasan realistik adalah ketakutan terhadap bahaya dari dunia eksternal. Kecemasan Kronis Kecemasan timbul untuk sebab yang tidak diketahui (tidak di sadari). b.2. Tachy cardi. Gejalagejalanya: Sakit kepala. Keluhan-keluhan gastro intestinal. ketika individu tidak menyadari adanya konflik dan tidak mengetahui penyebab cemas. sehingga fisik makin bertambah pula. Pertama. Mungkin penderita sadar. kecemasan kemudian dapat menjadi bentuk pertahanan diri. c.2. Hyperhyrosis. Hyperventilas. dan taraf kecemasannya sesuai dengan derajat ancaman yang ada. Mungkin karena penderita tidak tahu sebab maka justru kecemasannya akanbertambah. Kelelahan. 2007) Adapun pendapat lain yang menyatakan bahwa kecemasan ada dua yaitu : a. Perasaan tersumbat di tenggorokan. Kedua. yaitu pada saat individu masih menyadari konflik-konflik dalam diri yang menyebabkan cemas. kecemasan neurotik.Perasaan payah (lemah. Pada pemeriksaan fisik .

Faktor-faktor kultural merupakan faktor yang tidak dapat di abaikan. . 2. individu tidak mampu untuk melakukan sesuatu walaupun dengan pengarahan. Tingkat Psikologis.7 Tanda-Tanda Kecemasan Menurut Sue. Tingkat Fisiologis. Kecemasan yang sudah mempengaruhi atau terwujud pada gejala-gejala fisik. b. Nilai-nilai moral c. 2. Kecemasan Berat Pada tingkat ini lahan individu sangat menurun dan cendrung memusatkan perhatian pada hal-hal lain. diare. Tingkatkan individu tersebut dalam menanggapi batasan-batasan sosiokulturil tersebut 2.5 Bentuk-Bentuk Kecemasan Menurut Bucklew (1980). terutama pada fungsi sistem syaraf. kecemasan seseorang terwujud dalam gerakan tidak menentu seperti gemetar. seringkali memikirkan tentang malapetaka atau kejadian buruk yang akan terjadi. Kecemasan yang berwujud sebagai gejala-gejala kejiwaan. distory persepsi dan kehilangan pikiran yang rasional. khawatir. Ketentuan hukum. 1995) menyebutkan bahwa manifestasi kecemasan terwujud dalam empat hal berikut ini : a. b. Kartono (1981) menyebutkan bahwa kecemasan ditandai dengan emosi yang tidak stabil. Bila semua gejala kecemasan ada (76100%) d.2. sering dalam keadaan excited atau gempar gelisah. menurunnya respon untuk berhubungan dengan orang lain.2. jantung berdebar-debar. nafas sesak disertai tremor pada otot. Bila gejala kecemasan ada sebagian (51-75%) c. semua perilaku ditunjukan untuk mengurangi kecemasan. Tingkah laku panik ini tidak mendukung kehidupan individu tersebut. sangat mudah tersinggung dan marah. Ketentuan pendidikan dan agama d. seperti tegang. seringkali buang air. dkk (dalam Kartikasari. para ahli membagi bentuk kecemasan itu dalam dua tingkat.6 Ciri-Ciri Kecemasan Simptom-simptom somatis yang dapat menunjukkan ciri-ciri kecemasan menurut Stern (1964) adalah muntah-muntah.2. 2. dan sebagainya. bingung.sehingga mempersempit lahan persepsinya.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kecemasan a. yaitu: a. Panik Keadaan ini mengancam pengendalian diri. perut mual. individu tersebut mencoba memusatkan perhatian pada lahan lain dan memerlukan banyak pengarahan. Perilaku motorik.2. yang terwujud dalam pikiran seseorang. perasaan tidak menentu dan sebagainya. denyut jantung yang bertambah keras. gemetar. b. Panik melibatkan disorganisasi keperibadian yang ditandai dengan meningkatnya kegiatan motorik. Manifestasi kognitif. misalnya tidak dapat tidur.

b. bangun dini hari. Penyebab ansietas adalah kejadian yang dapat menimbulkan ansietas. 2. sedih. g. merasa nafas . tidak dapat istirahat tenang. Gangguan tidur ditandai oleh : sukar untuk tidur. Ansietas dialami saat terdapat suatu ancaman ketidak berdayaan atau kurang pengendalian. kaku. Gejala sensorik ditandai oleh : tintus. ketegangan otot. kurangnya kesenangan pada hoby. h. dan mudah tersenggung. Kegagalan membentuk pertahanan e. lesu. ketakutan pada keramaian lalu lintas. ketakutan pada binatang besar. Yaitu mengukur aspek kognitif dan efektif yang meliputi (Hawari. mudah terkejut. Hampir semua penderita kecemasan menunjukkan peningkatan detak jantung. mimpi-mimpi. merasa lemah. Gangguan kecerdasan ditandai oleh: sukar konsentrasi. d. mimpi buruk. Ansietas terjadi bila ada : a.2. diwujudkan dalam perasaan gelisah. perasaan berubah sepanjang hari. Perasaan terisolasi dapat dikurangi dengan mengajak pasien berbicara tentang pengobatan dan penyentuhannya saat keadaan yang menakutkan. tidur tidak nyenyak. Ketakutan ditinggal sendiri. penglihatan kabur.8 Penyebab Kecemasan (Ansietas) Menurut Hudak dan Gallo (1997) penyebab yang paling umum dari ansietas di rumah sakit : a. Perubahan somatik. Afektif. suara tidak stabil. b. muka merah dan pucat. ketegangan otot dan tekanan darah. ketakutan pada kerumunan orang banyak. gelisah dan mudah terkejut. Penerimaan di unit perawatan kritis secara daramatid meyakinkan pasien dan keluarga bahwa keamanan meraka pada semua tingakat secara hebat terancam. d.c. terbangun malam hari. daya ingat buruk. berdebar-debar. j. Takut mati 2. Timbunya stimulus ansietas termasuk hal yang mengancam keamanan individu. 2001) : a. Perasaan terisolasi f. Gejala pernafasan di tandai oleh : Rasa tertekan atau sempit didada. firasat buruk.9 Pengukuran Skala Kecemasan Instrumen lain yang dapat digunakan untuk mengukur skala kecemasan adalah Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS). tangan dan kaki dingin. nyeri dada. perasaan tercekik. rasa lemah seperti mau pingsan. dan perasaan tegang yang berlebihan. mudah menangis. Ketakutan pada orang asing. c. Perasaan kehilangan fungsi dan harga diri d. detak jantung hilang sekejap. mimpi yan menakutkan. denyut nadi mengeras. perasaan di tusuk-tusuk.2. ditandai dengan : cemasan. diare. peningkatan tekanan darah dan lain-lain. e. Ancanman ketidakberdayaan b. sering kencing. gemetar. Perasaan depresi di tandai oleh : kehilangan minat. Kehilangan kendali c. gigi gemeretak. c. Ketegangan yang di tandai oleh : merasa tegang. Perasaan cemas. muncul dalam keadaaan mulut kering. Ketakutan ditandai oleh : Ketakutan pada gelap. Gejala kardiovaskuler ditandai oleh : takikardia. daya ingat menurun. kedutan otot. bangun dengan lesu. f. i. gelisah. takut akan pikiran sendiri. Gejala somatik ditandai oleh : nyeri pada otot. respirasi.

muka tegang tonus otot meningkat. Saya merasa khawatir kalau-kalau muka saya menjadi merah karena malu. j. nyeri lambung sebelum atau sesudah makan. g. Saya mengalami kesukaran untuk melakukan konsentrasi menanggapi suatu masalah. Pada waktu-waktu tertentu saya merasa gelisah. Menunggu membuat saya gelisah. Pernyataanpernyataan adalah sebagai berikut : a. Saya merasa lapar hampir setiap saat. ereksi melemah. Saya tidak cepat lelah. Saya jarang sakit kepala. sehingga saya tidak duduk terlalu lama. masa haid berkepanjangan. t. muntah. m. r. Tidur saya sering terganggu dan tidak nyenyak. Salah satu pengukuran kecemasan menurut : Taylor Manifest Anxiety Scale (TMAS). h. amenorrhoe. kadang-kadang keringat saya bercucuran. Tangan dan kaki saya biasanya cukup hangat. muka merah kering. mengerutkan dahi atau kening. e. Gejala Otonom ditandai oleh : mulut kering. Gejala Urogenital ditandai oleh : sering kencing. Saya sering merasa tegang pada waktu bekerja. dan kontipasi (sukar buang air besar) l. masa haid amat pendek. Kadangkadang saya merasa gembira sekali. n. v. berat badan menurun. c. saya tidak mudah tersipu-sipu seperti kebanyakan orang lain. perut melilit. Kalau terjadi sesuatu pada diri saya. q. jari gemetar. Saya jarang berdebar-debar maupun bernafas tersengal-sengal. Tangan saya sering terasa gemetar bila mencoba mengerjakan sesuatu. Saya sering merasa bahwa saya dihadapkan pada banyak kesulitan yang tidak dapat saya selesaikan. u. haid beberapa kali dalam sebulan. Saya selalu merasa gembira setiap saat. l. Biasanya saya bersikap tenang dan tidak mudah marah. b. k. Ketika saya merasa malu. tidak tenang. defekasi lembek. Saya sering merasa mual. s. sakit kepala. ereksi hilang dan inpoten. Saya akui. w. Saya lebih tenang bila dibandingkan dengan orang lain. f. pusing. nafas pendek dan cepat dan muka memerah. Saya jarang mengalami sakit perut. Saya merasa risau bila memikirkan masalah-masalah keuangan dan pekerjaan. Saya menginginkan kebahagiaan seperti orang yang saya lihat. Seringkali saya bermimpi tentang sesuatu yang sulit untuk diceritakan pada orang lain. bahwa saya kadang-kadang merasa khawatir tanpa sesuatu alasan tertentu pada suatu hal . ditandai oleh : gelisah. perut terasa kembung atau penuh. rasa panas di perut. tidak dapat menahan kencing. kepala terasa berat. frigiditas. Saya mudah merasa malu. Saya sering mengkhawatirkan diri saya terhadap sesuatu. sehingga sukar untuk tidur x. o. Saya sering mencemaskan sesuatu maupun orang lain. Saya mengalami mencret sekali atau lebih dalam 1 bulan. Saya sering mengalami mimpi yang menakutkan pada waktu tidur malam hari. Saya lebih merasa sensitif (peka) daripada kebanyakan orang. sering menarik nafas panjang. bulu-bulu berdiri. Perilaku sewaktu wawancara. gangguan pencernaan. amenorrhagia. Saya khawatir akan terjadi kesulitan yang menimpa diri saya. Gejala Gastrointestinal ditandai oleh : sulit menelan. hal ini sangat menjengkelkan saya. mudah berkeringat.pendek/sesak. k. d. mual. p. m. Saya jarang merasa sembelit. ejakuasi prekok. Saya mudah menangis. Saya tidak pernah merasa tersipu-sipu bila sesuatu terjadi pada diri saya. i. n. Kadang-kadang saya tidak dapat tidur karena mengkhawatirkan sesuatu.

faktor hambatan jalan lahir. Bila dibandingkan dengan teman-teman maka saya tidak seperti mereka. 2007). tulang panggul. persalinan sebelumnya dengan seksio caesar.1 Pengertian Seksio Caesar Seksio caesar adalah melahirkan janin yang sudah mampu hidup (beserta plasenta dan selaput ketuban) secara transabdominal melalui insisi uterus (Benson.3. Faktor Ibu Menurut Cunningham (2005) dan Benson (2008). malposisi dan malpresentasi (presentasi bokong. y. dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding perut dan dinding rahim dengan sayatan rahim dalam keadaan utuh (Sarwono. Penyakit ibu yang dapat mempengaruhi seksio sesarea adalah: preeklampsi-eklampsi berat. eritroblastosis. posisi dagu posterior. 2) Pada dinding perut dibuat insisi mediana mulai dari atas simfisis sepanjang ±12 cm sampai dibawah umbilikus lapis demi lapis sehingga kavum peritoneal terbuka.3. 2. presentasi bahu. letak lintang. 2008). faktor-faktor yang menyebabkan seksio sesarea adalah dari faktor ibu dan janin. gawat janin atau fetal distress.2 Faktor-faktor yang Menyebabkan Seksio Sesarea a. 2008). faktor plasenta: solusio plasenta.3 Klasifikasi Seksio Caesar a. 2008). ruptur uteri (Cunningham. keadaan melemahkan lainnya (Benson.3. presentasi majemuk). vasa previa. penyakit jantung berat pada ibu. ruptur uteri.2005). b. 2. defleksi kepala. 2005). Seksio caesar adalah suatu persalinan buatan. diabetes. . presentasi dahi.3 Seksio Caesar 2. plasenta previa. Faktor Janin Faktor janin yang menyebabkan seksio caesar adalah: janin dengan anomali (Meningokel. 2. Seksio Caesar Klasik Sebuah pengirisan memanjang di bgian tengah yang memberikan satu ruang yang lebih besar (10-14 cm) untuk mengeluarkan bayi (Cunningham. Teknik Seksio Caesar Klasik 1) Mula-mula dilakukan desinfeksi pada dinding perut dan lapangan operasi dipersempit dengn kain suci hama. Hidrosefalus). bayi terlalu besar (Makrosomia (>4000 gram). Faktor Ibu yang menyebabkan seksio sesarea adalah: usia. bayi kembar (Multiple Pregnancy) (Benson.yang tidak berarti. kelainan tali pusat (prolapsus tali pusat/tali pusat menumbung.

6) Plasenta dilahirkan secara manual disuntikkan 10 U oksitosin ke dalam rahim secara intra mural. . Lapisan I : Endometrium bersama miometrium dijahit secara jelujur dengan benang catgut khoromik. 7) Luka insisi SAR dijahit kembali. c) Otot-otot rahimnya tebal dan lebaih banyak pembuluh darah sehingga sayatan ini lebih banyak mengeluarkan darah. kedua adneksa dieksplorasi. Pada dinding perut dibuat insisi mediana mulai dari atas simfisis sampai di bawah umbilikus lapis demi lapis sehingga peritonei terbuka. selaput ketuban dipecahkan. Janin dilahirkan dengan meluksir kepala dan mendorong fundusuteri.3) Dalam rongga perut disekitar rahim dilingkari dengan kasa laparotomi. Lapisan III : Perimetrium saja. b) Memiliki risiko empat kali lebih besar terkena ruptur uteri pada kehamilan selanjutnya. d) Lebih mudah diperbaiki. c) Tidak menyebabkan perlekatan usus atau omentum ke garis insisi. 4) Di buat insisi secara tajam dengan pada segmen atas rahim (SAR). 2. 9) Rongga perut dibersihkan dari isa-sisa darah dan akhirnya luka dinding perut dijahit. tali pusat dijepit dan dipotong diantara kedua penjepit. Lapisan II : Hanya miometrium saja dijahit secara simpul. 8) Setelah dinding rahim dijahit. 2003). kemudian dierlebar secara sagital dengan gunting. 3) Plasenta previa dengan insersi plasenta di dinding depan segmen bawah rahim. misalnya karena adanya perlekatan –perlekatan akibat pembedahan seksio caesar yang lalu. Seksio Caesar Transperitoneal Profunda Dilakukan dengan membuat sayatan atau irisan horizontal di bagian bawah rahim (Kasdu. Mula. Indikasi Seksio Caesar Indikasi seksio Caesar klasik menurut Sarwono 2007 : 1) Bila terjadi kesukaran dalam memisahkan kandung kencing untuk mencapai segmen bawah rahim. c. dijahitbsecara simpul dengan benang cutgut biasa. b) Keluarnya janin lebih cepat. Setelah janin lahir seluruhnya. 2003). 2) Janin besar dalam letak lintang. Teknik Seksio Caesar Transperitoneal Profunda 1. 5) Setelah kavum uteri terbuka. Kekurangan: a) Lebih berisiko terkena peritonitis (radang selaput perut). b. sayatan ini akan memerlukan waktu dan obat lebih banyak (Kasdu. Kelebihan: a) Memerlukan sedikit pemisahan kandung kemih dari miometrium. atau adanya tumor-tumor di daerah segmen bawah rahim.mula dilakukan desinfeksi pada dinding perut dan lapangan operasi dipersempit dengan kain suci hama. d) Jika menggunakan anestesi lokal.

Setelah kavum uteri terbuka.4 Penelitian Terkait Menurut penelitian Eka Fitrianti 2008. Luka dinding rahim dijahit Lapisan I : Dijahit jelujur. Setelah dinding rahim selesai dijahit. Kedalam otot rahim intra mural disuntikkan 10 U oksitosin. selaput ketuban dipecahkan.62% dan kategori kurang sebanyak 52. 2. Plika vesikouterina ini disisihkan secara tumpul ke arah samping dan bawah. kanan bawah. Di buat insisi pada segmen bawah rahim 1 cm di bawah irisan plika vesikouterina tadi secara tajam dengan pisau bedah ±2 cm. Pada fase ini 14. pada endometrium da miometrium Lapisan II : Dijahit jelujur hanya pada miometrium saja Lapisan III : Dijahit jelujur pada plika vesikouterina 7. dan kandung kencing yang telah disisihkan ke arah bawah dan samping dilindungi dengan spekulum kandung kencing. kemudian diperlebar melintang secara tumpul dengan kedua jari telunjuk perator. Kategori cukup 8 responden (27%) dan 6 responden (20%) dikategorikan .Keluhan kandung kemih.8% ). Di peroleh data mengenai gambaran peran perawat pelaksana dalam menerapkan teknik komunikasi terapeutik pada teknik menyimpulkan pada pasien gangguan jiwa diruang rawat inap Rumah Sakit Dr. Dibuat bladder-flap. kedua adneksa diejsplorasi 8.3. dari hasil penelitian di instalasi kebidanan dan penyakit kandungan Rumah Sakit Dr. janin dilahirkan dengan meluksir kepalanya. Tali pusat dijepit dan dipotong. Dalam rongga perut disekitar rahim dilingkari dengan kasa laparotomi. Uterin putus sehingga mengakibatkan perdarahan yang banyak.7% ). Kekurangan : Luka dapat melebar kekiri.7% masih dalam kategori kurang dimana responden tidak menjelaskan tindakan keperawatan yang dilakukan seharusnya perawat menjelaskan tindakan keperawatan yang dilakukan agar tidak menimbulkan kecemasan pada pasien dengan demikian komunikasi terapeutik pada fase kerja tidak ada lagi dalam katogori kurang.Untuk kategori baik sebanyak 47. 5. yaitu dengan menggunting peritoneum kandung kencing (plika vesikouterina) didepan segmen bawah rahim (SBR) secara melintang. Penutupan luka dan reperetonialisasi yang baik. Mohammad Hoesin Palembang. Mengenai penerapan komunikasi terapeutik pada pasien DM Di Irna Non Bedah Rumah Sakit Dr. Penelitian ini dapat digambarkan bahwa peran perawat pelaksana komunikasi terapeutik pada teknik menyimpulkan tergolong kurang. 6. 4. Menurut penelitian Tri Setiani 2009. plasenta dilahirkan secara manual. Mohammad Hoesin Palembang terdapat 30 responden didapat data bahwa pengetahuan ibu bersalin dengan SC tentang perawatan bekas sayatan SC dengan kategori baik sebanyak 16 responden (53%). Ernaldi Bahar Propinsi Sumatra Selatan tahun 2008. Kategori cukup 9 orang ( 26. Badan janin dilahirkan dengan mengait kedua ketiaknya. Kelebihan : Penjahitan luka lebih mudah. Dari hasil penelitian Rosalina 2008. 2007). yang dilakukan pada keseluruhan responden didapatkan bahwa dari 34 responden yang melakukan komunikasi terapeutik pada fase kerja dengan baik yaitu 20 orang ( 58. Rongga perut dibersihkan dari sisa-sisa darah dan akhirnya luka dindina perut dijahit (Sarwono. Arah insisi pada segmen bawah rahim dapat melintang (transversa) atau membujur (sagital). Dibandingkan dengan cara klasik kemungkinan ruptur uteri spontan kurang atau lebih kecil.5% ) sedangkan kategori kurang yaitu sebanyak 5 orang ( 14.38%.

dari variabel itulah konsep dapat diamati dan diukur (Notoatmodjo. Berdasarkan hal tersebut maka kerangka konsep penelitian hubungan komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar adalah sebagai berikut: Variabel Dependen Variabel Independen .kurang. Komunikasi terapeutik merupakan suatu hubungan atau interaksi antara perawat dengan pasien. maka konsep tersebut harus dijabarkan kedalam variabel-variabel. konsep adalah suatu abstraksi yang dibentuk dengan menggeneralisasikan suatu pengertian oleh karena itu konsep tidak dapat diamati dan dapat diukur. BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL 3.1 Kerangka Konsep Kerangka konsep penelitian adalah suatu hubungan atau kaitan antara konsep satu terhadap konsep yang lainnya dari masalah yang ingin diteliti. Tingkat kecemasan merupakan salah satu tolak ukur yang digunakan untuk mengukur kecemasan pada pasien pre operasi seksio sesarea. 2005).

Persalinan normal / spontan Nominal 2 Komunikasi terapeutik perawat Komunikasi yang dilakukan oleh perawat dengan pasien yang meliputi dari fase prainteraksi. Cukup jika yang menjawab benar antara 60-75% dari pertayaan yang diajukan 3.3 Hipotesis Ada hubungan antara komunikasi terapeutik perawat/bidan dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar. 1989) Ordinal 3. orientasi. Sedang jika nilainya (50-75 %) 3. dan terminasi. 2007) 3. Kurang jika yang menjawab benar < 60 % dari pertayaan yang diajukan ( Arikunto. Persalinan SC 2. Wawancara Kuiesioner 1. .Keterangan : : Yang diteliti : Tidak diteliti Sumber : Menurut teori Lawrence Green (Dalam Notoatmodjo Soekidjo. Berat jika nilainya (> 75 %) (Struat & Sunden. Baik jika yang menjawab benar > 75 % dari pertayaan yang diajukan 2.2 Definisi Operasional No Variabel Definisi Operasional Cara Ukur Alat Ukur Hasil Ukur Skala 1 Operasi seksio caesar Merupakan salah satu cara melahirkan janin melalui insisi pada dinding perut dan dinding uterus Observasi Cheklist 1. kerja. Ringan jika nilainya ( < 50 %) 2. 2006 ) Ordinal 3 Tingkat kecemasan pasien pre operasi seksio caesar Merupakan tingkat kecemasan yang dialami oleh pasien pre operasi SC yang diukur dengan cara Anxiety Scale Observasi Checklist 1.

2.1. 2005).2. Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan Diruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang 2010. Pengajuan judul √ 2.3.3. 4. Sampel Penelitian Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmojo. Pembahasan bab I-IV √ √ 3.1.2.1. 2005).1 Perencanaan Waktu Penelitian Kegiatan Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Juni Juli 1. 4. Tempat dan Waktu Penelitian 4. Populasi Penelitian Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti (Notoatmodjo. Penelitian yang dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang 2010. Sampel dalam penelitian ini menggunakan metode accidental yaitu sampel yang diambil dari responden atau kasus yang kebetulan ada atau tersedia.2. Populasi dan Sampel Penelitian 4. 4.3. Seminar proposal √ . 4.BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4. Persiapan seminar proposal √ 4. Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan serangkaian kegiatan yang dilaksanakan dengan perencanaan waktu sebagai barikut : Tabel 4. Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien pre operasi seksio caesar dan perawat/bidan di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang. Desain Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian yang bersifat hubungan analitik menggunakan tehnik cross sektional.2.

5. Penelitian langsung mengambil data pada subyek penelitian langsung pada nilai operasi. Dan data sekunder diperoleh dari Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang yang berupa data yang diambil dari Medical Record. Cleaning Data ( Pembersihan Data ) Pemeriksaan kembali data yang telah dimasukan sehingga benar – benar bebas dari kesalahan kemudian diuji kebenarannya. Pengumpulan data dilakukan sendiri oleh penulis dengan cara melakukan pengamatan (observasi) secara langsung kepada responden dengan menggunakan observasi atau cheklist yang dikembangkan sendiri oleh peneliti dan wawancara langsung dengan pasien dengan menggunakan kuesioner yang dikembangkan sendiri oleh peneliti.4. Editing ( Pegolahan Data ) Klasifikasikan jawaban / hasil yang ada menurut macamnya ke bentuk yang lebih ringkas dengan menggunakan kode. 4.2.1. 4. 4. Entry Data ( Memasukan Data ) Memasukan hasil data penelitian ke dalam tabel sesuai dengan kriteria.3. Instrumen Pengumpulan Data Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data adalah Wawancara (Kuesioner) dan observasi (Check List). Coding ( Pengkodean ) Dalam melakukan pengolahan data dengan baik.4. Pengolahan Data Menurut Hastono (2001) pengolahan data dapat jelaskan sebagai berikut : 4.5. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data 4. Komprehensif √ 9. Tehnik Pengumpulan Data Pada penelitian ini data yang diperoleh adalah data primer yaitu Data primer berupa angket yang dibagikan kepada responden dengan cara menggunakan kuesioner yang dikembangkan sendiri oleh penulis (Notoatmojo.5. Ujian √ 4.5.4. 4. Penelitian √ √ 6.1. data tersebut perlu diperiksa terlebih dahulu apakah telah sesuai dengan yang diharapkan atau tidak. 4. Persiapan komprehensif √ 8.5.5. Pembahasan bab V-VI √ √ 7.4. Rumus pengolahan data bila respon : .2. 2003).

Cukup jika yang menjawab benar antara 60 .6. jika responden menjawab ”Tidak ” nilainya 0.75% dari pertayaan yang diajukan c. Analisa Univariat Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah univariat terhadap tiap variabel dari hasil penelitian dalam hal ini hanya menghasilkan distribusi frekuensi dan persentase dari tiap variabel. maka peneliti tidak boleh memaksa dan harus tetap menghormati hakhak subjek. Etika Penelitian Dalam melakukan penelitian. tetapi pada lembar tersebut diberiakan kode. peneliti perlu membawa rekomendasi dari Institusi dari pihak lain dengan cara mengajukan permohonan izin pada Instiusi/Lembaga penelitian yang dituju oleh peneliti. Kurang jika yang menjawab benar < 60 % dari pertayaan yang diajukan Jika responden menjawab ”Ya” nilainya 1.1. Anonimity (Tanpa Nama) Untuk menjaga kerahasiaan. peneliti tidak akan mencantumkan nama responden. 4. Analisa Bivariat Analisa bivariat dilakukan untuk melihat hubungan antara dua variabel independen yang meliputi : Tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar dengan variabel dependen : Komunikasi terapeutik perawat.6. Bila subjek menolak. Setelah mendapat persetujuan barulah penelitian menekankan masalah etika yang meliputi: a.a. Dalam hal ini untuk melihat hubungan antara dua variabel independen dan dependen digunakan uji Chi square (SPSS). Informend Consent Lembar persetujuan ini diberikan pada responden yang akan diteliti.7. Responden harus memenuhi kriteria inklusi. Lembar informend consed harus dilengkapi dengan judul penelitian dan manfaat penelitian. dan hanya kelompok data tertentu yang akan dilaporkan sebagai hasil penelitian.6. 4. b. maka setiap kuisioner nilainya dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut : R = n x 100 % N Keterangan : R : Indeks kesesuaian prilaku n : Jumlah responden yang menjawab ”Ya” N : Jumlah pertayaan 4. ¬¬ . c. Analisa Data 4.2. Confidentiality (Kerahasiaan) Kerahasiaan informasi responden dijamin oleh peneliti. Baik jika yang menjawab benar > 75 % dari pertayaan yang diajukan b.

1 Visi. mengesankan dan bernuansa islami. modern. dan islami sehingga menjadi rahmatan lil’alamin bagi masyarakat. pelayanan yang cepat.BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5. Menjadi pusat persemaian kader Muhammadiyah dalam bidang kesehatan. ruangan yang bersih. dokter umum. dan Motto a) Visi Terwujudnya Rumah Sakit yang profesional.1.1 Gambaran Rumah Sakit Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang adalah Amal Usaha Persyarikatan Muhammadiyah yang diresmikan tanggal 10 Dzulhijjah 1417 H/ 18 April 1997 oleh Gubernur Propinsi Sumatera Selatan (Bapak H. 5. b) Misi 1. Insya Allah Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang akan selalu memupuk dan memelihara kepercayaan masyarakat melalui dipenuhinya dokterdokter spesialis. Paru e. Amien Rais) merupakan satu satunya amal usaha dibawah langsung PWM SumSel. Anak . peralatan medis. 2. ramah. terkemuka. Paramedis (Perawat. Pada saat ini Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang lebih menggembirakan jika dilihat dari berbegai sektor. DR. Syaraf c. simpatik. Memberikan pelayanan kesehatan secara profesional. Kebidanan dan Kandungan b. peralatan non medis dan peralatan penunjang lainnya. 5.2 Fasilitas Pelayanan a. Bidan) dan karyawan yang terampil dan berkemampuan dengan didukung oleh peralatan-peralatan canggih. Misi. 3. Ramli Hasan Basri) bersama Ketua PP Muhammadiyah (Bapak Prof. baik pelayanan.1. Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang telah berkembang cukup pesat dan berkat ridho Allah SWT dan dukungan masyarakat rumah sakit ini sudah sama dengan rumah sakit lainnya di kota Palembang. Penyakit Dalam d. c) Motto ” Pelayanan sebagai Ibadah dan Dakwah”. dan islami kepada masyarakat. modern. Mewujudkan citra sebagai Rumah Sakit islam kebanggaan Muhammadiyah yang berfungsi sebagai wahana ibadah dan berperan aktif sebagai media dakwah persyarikatan dalam bidang kesehatan.

.3 Tempat Tidur Tabel 5..... didapatkan dari 14 responden pada perawat dan pasien pre operasi seksio caesar yang dilakukan di ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang.4 Pelayanan Penunjang / Tindakan Medis a. Laboratorium f.. USG/ECG i.... 5. Daftar ditampilkan dalam bentuk tabel dan teks..24 42 P D L . IGD. Ambulance 5..f. Kamar Operasi d.1 Analisa Univariat Analisa ini yang digambarkan dalam bentuk distribusi frekuensi dari variabel komunikasi terapeutik perawat dan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar.. Fisioterapi j....6 16 10 32 VIP Atas 1 6 .7 VIP Bawah 2 ..8 10 . Radiologi h.10 Total TT 3 6 2 14 12 33 35 112 227 5.14 ICU/ ICCU 10 .. Instalasi Farmasi b.2 10 .2 Variabel Penelitian Dari hasil penelitian yang telah dilakukan pada tanggal 22 Februari sampai 8 Maret tahun 2010.1 Jumlah Tempat Tidur Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang 2010 RUANG Kelas TT Tidur VIP Khusus VIP Utama I A I B II A II B IIIA III B Bedah .. 6 Konsultasi Gizi c.. 5..1.1.6 8 16 30 Anak .. Mata.4 4 11 11 62 92 Kebidanan .. THT h..2.. Treadmil g... Jantung g.. Bedah i. . Echo e. ICCU /ICU.

cukup 60%-75%.2 Tabel 5. b) Komunikasi Terapeutik Perawat Pada penelitian ini komunikasi terapeutik perawat dikelompokan menjadi 3 kategori komunikasi terapeutik baik > 75%.2 Distribusi Frekuensi Persalinan Spontan Dan Seksio Caesar di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang Tahun 2010 No Bulan Persalinan Seksio Caesar % Spontan % 1 Nopember 116 25 76 19 2 Desember 106 23 89 23 3 Januari 85 19 67 17 4 Februari 73 16 65 17 5 Maret 75 16 92 24 Total 455 100 389 100 Dari data diatas bahwa dari 844 persalinan yang bulan Nopember seksio caesar 116 pasien (25%) spontan 76 (20%). Desember seksio caesar 106 pasien (23%) spontan 89 (23%). Februari seksio caesar 73 pasien (16%) spontan 65 (17%).3 Distribusi Frekuensi Komunikasi Terapeutik Perawat di .3 Tabel 5. Januari seksio caesar 85 pasien (19%) spontan 67 (17%). dan bulan Maret seksio caesar 75 pasien (16%) spontan 92 (24%). dan kurang < 60% untuk lebih jelas lihat tabel 5.a) Persalinan Pada penelitian ini persalinan dikelompokan menjadi 2 kategori persalianan spontan dan persalinan operasi seksio caesar berdasarkan medical record Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang dari bulan Nopember 2009 sampai dengan Maret 2010 untuk lebih jelas lihat tabel 5.

c) Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Pada penelitian ini tingkat kecemasan dikategorikan menjadi menjadi 3 yaitu ringan 40% . sedang 51% . untuk lebih jelas lihat tabel 54.65%. cukup 9 perawat (64%). sedang sebanyak 6 pasien (43%). . Tabel 5.50%. dan berat 66% -100 %.Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang Tahun 2010 No Komunikasi Terapeutik Perawat N % 1 Baik 5 36 2 Cukup 9 64 Jumlah 14 100 Dari data di atas bahwa dari 14 perawat yang komunikasi terapeutik baik 5 perawat (36 %).4 Distribusi Frekuensi Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang Tahun 2010 No Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar N % 1 Ringan 8 57 2 Sedang 6 43 Jumlah 14 100 Dari data di atas bahwa dari 14 pasien seksio caesar yang tingkat kecemasan ringan sebanyak 8 pasien (57%).

Dari uji statistik diperoleh pValue = 0.3.5 Tabel 5.05 dapat diketahui bahwa pValue = 0.2.031 setelah dibandingkan dengan α 0.1 Persalinan . Dari hasil penelitian yang telah dilakukan. Untuk variabel mempengaruhi seperti perawat yang merawat pasien operasi seksio caesar tersebut yang ada diruang tempat pasien dirawat. Maka akan diuraikan satu persatu oleh penulis di bawah ini : 5.2 Analisa Bivariat Analisa ini untuk mengetahui hubungan antara variabel independent (komunikasi terapeutik perawat) dengan variabel dependent (tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar) dengan uji statistik yang menggunakan uji Chi-Square.0315 36 0 0 5 36 2 Cukup 3 21 6 43 9 64 Total 8 57 6 43 14 100 Dari data diatas dapat diketahui bahwa perawat dengan komunikasi terapeutik yang baik didapatkan tingkat kecemasan kategori ringan (36%) dari pada perawat dengan komunikasi terapeutik yang cukup didapatkan tingkat kecemasan kategori ringan (21%) dan sedang (43%).5 Distribusi Frekuensi Komunikasi Terapeutik Perawat dengan Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang Tahun 2010 No Komunikasi Terpeutik Perawat Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi SC Jumlah Value Ringan Sedang N%N%N% 1 Baik = 0. Sehingga sampel yang didapatkan adalah pasien pre operasi seksio caesar yang ada di ruangan kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang.5.031 ≤ 0. 5. a) Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Komunikasi terapeutik dengan tingkat kecemasan pasien dikategorikan menjadi 2 dengan jumlah responden 14. maka dapat diketahui bahwa ada hubungan antara komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar.3 Pembahasan Pembahasan ádalah suatu penelitian untuk membandingkan hasil penelitian di lapangan dengan teori yang mendukung.05. hasil uji Chi-Square lihat tabel 5. Pada penelitian ini sampel di ambil secara accicidental sample.

Seksio caesar adalah suatu persalinan buatan. presentasi bokong. presentasi majemuk). Kategori cukup 8 responden (27%) dan 6 responden (20%) dikategorikan kurang. Menurut Cunningham (2005) dan Benson (2008).Dari hasil penelitian di ruang kebidanan rumah Sakit Muhammadiyah Palembang dapat dilihat bahwa dari bulan Nopember sampai Maret yaitu persalinan SC sebanyak 455 pasien dan persalinan spontan sebanyak 389 pasien Maka angka persalinan SC meningkat dan persalinan spontan terjadi penurunan di ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammdiyah Palembang tahun 2010. solusio plasenta. Berarti komunikasi terapeutik perawat masih cukup di ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang.3. 2008). Didalam komunikasi terapeutik perawat ada empat fase yaitu fase preinteraksi (persiapan) Pada tahap ini perawat menggali perasaan dan mengidentifikasi kelebihan dan kekurangannya. presentasi dahi. penyakit jantung berat pada ibu.2005). Komunikasi terapeutik merupakan komunikasi profesional bagi perawat bertujuan untuk kesembuhan pasien. defleksi kepala. keadaan melemahkan lainnya. ( Mukhripah Damaiyanti. menunjukan bahwa kejadian persalinan seksio caesar mengalami peningkatan dikarnakan adanya faktor-faktor yang membahayakan ibu dan bayi. bayi kembar (Multiple Pregnancy) (Benson. Fase terminasi akhir dari pertemuan perawat dengan klien. plasenta previa. dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding perut dan dinding rahim dengan sayatan rahim dalam keadaan utuh (Sarwono. gawat janin atau fetal distress. tulang panggul. Bila kecemasan pada pasien pre operasi tidak segera diatasi maka dapat mengganggu proses penyembuhan. Penyakit ibu yang dapat mempengaruhi seksio sesarea adalah: preeklampsieklampsi berat. Fase kerja pada tahap kerja ini dituntut kemampuan perawat dalam mendorong klien mengungkap perasaan dan pikirannya. ruptur uteri. ruptur uteri (Cunningham.2 Komunikasi Terapeutik Perawat Dari hasil penelitian di rumah Sakit Muhammadiyah Palembang dapat dilihat bahwa dari 14 perawat komunikasi terapeutik kategori cukup (64%). sehingga dilakukan operasi seksio caesar yang membantu persalinan bukan karena suatu Trens. vasa previa. Dari hasil penelitian yang didapatkan dan dari teori yang mendukung. 5. persalinan sebelumnya dengan seksio caesar. Faktor Ibu yang menyebabkan seksio sesarea adalah: usia. Dari hasil Tri Setiani dari 30 responden didapat data bahwa pengetahuan ibu bersalin dengan SC tentang perawatan bekas sayatan SC dengan kategori baik sebanyak 16 responden (53%). posisi dagu posterior. bayi terlalu besar (>4000 gram). 2008 ). Faktor janin yang menyebabkan seksio caesar adalah: janin dengan anomali. faktor hambatan jalan lahir. eritroblastosis. Hasil penelitian yang di peroleh data mengenai gambaran peran perawat pelaksana dalam menerapkan . presentasi bahu. untuk itu pasien yang akan menjalani operasi harus diberi komunikasi terapeutik untuk menurunkan atau mengurangi gejala kecemasan serta dapat meningkatkan pengetahuan kesehatan pada pasien. diabetes. Pada tahap ini perawat juga mencari informasi tentang klien fase orientasi (perkenalaan) Pada saat berkenalan. Perawat juga dituntut untuk mempunyai kepekaan dan tingkat analisis yang tinggi terhadap adanya perubahan dalam respons verbal maupun nonverbal klien. letak lintang. Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan dan dilakukan untuk membantu penyembuhan dan pemulihan pasien. faktor-faktor yang menyebabkan seksio sesarea adalah dari faktor ibu dan janin. kelainan tali pusat. Operasi merupakan salah satu tindakan pengobatan yang banyak menimbulkan kecemasan. perawat harus memperkenalkan dirinya terlebih dahulu kepada klien. 2007).

Dikarenakan perawat kurang mencari informasi tentang klien dan perawat tidak memperkenalkan dirinya terlebih dahulu serta pada saat melakukan tindakan operasi perawat tidak menjelaskan prosedur tindakan operasi pada pasien yang akan menjalankan operasi. Karena dengan banyaknya pengetahuan dan penjelasan dalam suatu masalah dapat meringankan kecemasan terhadap pasien tersebut.38%. Penelitian ini dapat digambarkan bahwa peran perawat pelaksana komunikasi terapeutik pada teknik menyimpulkan tergolong kurang.3. Dan perawat mengatahui bahwa menurunkan suatu kecemasan pasien perlu suatu metode yang baik yaitu komunikasi yang terapeutik sehingga pasien dapat merasakan rasa nyaman dalam menghadapi operasi yang akan dilakukan oleh klien. kurangnya dukungan keluarga hal ini suami serta kurangnya pendekatan dan komunikasi terapeutik perawat. Untuk perawat harus melakukan komunikasi terapeutik.62% dan kategori kurang sebanyak 52. Berarti tingkat kecemasan pasien pre operasi seksio caesar masih berat di ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang. 5.teknik komunikasi terapeutik pada teknik menyimpulkan pada pasien gangguan jiwa diruang rawat inap Rumah Sakit Dr. 2000). karena dengan komunikasi terapeutik dapat mengurangi kecemasan terhadap pasien tersebut dan membuat pasien merasa lebih baik dan operasi bisa berjalan dengan . Dari hasil penelitian yang didapatkan dan dari teori yang mendukung. menunjukan bahwa komunikasi terapeutik perawat masih banyak yang belum berkomunikasi terapeutik yang baik. Untuk kategori baik sebanyak 47. Oleh sebab itu untuk mengurangi kecemasan pada pasien yang akan menjalankan operasi seksio caesar dibutuhkan komunikasi terapeutik yang baik.3 Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Dari hasil penelitian di rumah Sakit Muhammadiyah Palembang dapat dilihat bahwa dari 14 pasien tingkat kecemasan yang kategori berat (43%). Kecemasan (ansietas) adalah keadaan dimana individu atau kelompok mengalami perasaan gelisah (penilaian atau opini) dan aktivitas sistem syaraf autonom dalam berespon terhadap ancaman yang tidak jelas. Oleh sebab itu perawat dapat membagi waktu untuk memberikan informasi dan dapat meningkatkan pengetahuan pasien terutama untuk mengurangi kecemasan psien itu sendiri. karena perawat tidak mempunyai waktu yang lama. Respon emosional terhadap penilaian intelektual terhadap sesuatu yang berbahaya (Stuart Dan Sundeen. menunjukan bahwa tingkat kecemasan pasien pre operasi seksio caesar masih mengalami kecemasan dikarenakan lingkungan yang bising dan kurang nyaman. Ernaldi Bahar Propinsi Sumatra Selatan tahun 2008. ninspesifik (Carpenito. 1998). MASUKKAN PENELITIAN YANG TERKAIT TENTANG KECEMASAN ”? Dari hasil penelitian yang didapatkan dan dari teori yang mendukung.

berarti ada hubungan komunikasi teraputik perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar di ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang. Kecemasan juga merupakan sesuatu hal yang tidak jelas. dan belajar bagaimana berhubungan dengan orang lain. (Arwani. perawatlah yang berperan penting dalam meningkatkan pengetahuan pasien terutama menjelaskan tentang prosedur tindakan operasi maka perawatlah yang harus melakukan komunikasi terapeutik dengan pasien pre operasi seksio caesar. menunjukan bahwa komunikasi terapeutik perawat dapat mempengaruhi serta menurunkan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar karena salah satu untuk menurunkan kecemasan dengan cara komunikasi yang efeksif yaitu komunikasi terapeutik yang baik oleh perawat. Karena perawat tenaga kesehatan yang . Menurut Northouse (1998) Komunikasi terapeutik adalah kemampuan atau keterampilan perawat untuk membantu pasien beradaptasi terhadap stres. 2003) Menurut Yadi (2001) kecemasan adalah suatu perasaan yang tidak nyaman yang disertai dengan rasa takut yang mengancam dan perasaan tidak nyaman terhadap sesuatu. 2009) Hasil penelitian Supono (2005) mengatakan bahwa tingkat kecemasan pasien persalinan dapat berkurang dengan adanya komunikasi terapeutik perawat. (Dewi Wijayanti.lancar.3. Karena komunikasi tersebut sangat dibutuhkan oleh pasien yang akan menjalankan operasi.016 ≤ 0.05. 5. Untuk dapat menurunkan kecemasan pada pasien pre operasi salah satunya diperlukan komunikasi yang efektif terutama komunikasi terapeutik.4 Komunikasi Terapeutik Perawat dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Dari hasil penelitian di rumah Sakit Muhammadiyah Palembang dapat dilihat bahwa komunikasi terapeutik perawat di ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang tergolong dalam kategori cukup dan pasien pre operasi seksio caesar mengalami kecemasan sedang sebanyak 8 pasien (56%) dari hasil uji statistik menunjukkan bahwa pValue 0. Hal ini perlu mendapat perhatian serius dari perawat karena perawat merupakan petugas kesehatan yang terdekat dan terlama dengan pasien. maka pasien yang akan menjalankan operasi akan timbul kecemasan dalam dirinya. adanya perasaan gelisah atau tidak tenang dengan sumber yang tidak spesifik dan tidak diketahui oleh seseorang. Dari hasil penelitian yang didapatkan dan dari teori yang mendukung. mengatasi gangguan psikologis.

7.2. 7. Dari hasil uji Chi-Square. Diposkan oleh agustus di 09:06 0 komentar .1.2. didapatkan pValue = 0. BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 7.2 Tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar di ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang Tahun 2010 didapatkan sebagian besar dengan kategori ringan.2 Saran 7.1. 7.2 Manfaat Bagi Institusi Pendidikan Dapat menambah informasi dan referensi yang berguna bagi mahasiswa sekolah tinggi ilmu kesehatan Muhammadiyah Palembang.3 Ada hubungan antara komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar.2.1 Komunikasi terapeutik perawat dirumah Sakit Muhammadiyah Palembang Tahun 2010 didapatkan sebagian besar dengan kategori cukup.2.1 Manfaat Bagi Rumah Sakit Dapat dijadikan masukan dan motivasi bagi rumah sakit untuk lebih meningkatkan komunikasi terapeutik perawat dalam mengurangi tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar. 031. 7. 7.dekat dengan pasien dan memberikan rasa nyaman pada pasien yang akan menjalankan operasi seksio caesar.1.1 Kesimpulan Setelah dilakukan penelitian terhadap 14 responden di ruangan Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang 22 Februari sampai 6 Maret tahun 2010 dapat disimpulkan bahwa : 7. 7.3 Manfaat Bagi Pasien Dapat memberikan rasa nyaman dan aman pada semua pasien yang akan menjalankan operasi seksio caesar sehingga pasien yang menjalankan operasi tidak cemas dan operasi bisa berjalan dengan lancar.4 Manfaat Bagi Peneliti Dapat menambah ilmu pengetahuan maternitas serta riset penelitian dan wawasan bagi peneliti mengenai hubungan komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar.

• Umur ibu lebih dari 40 tahun. . Rita Yuliani. Faktor Prenatal : • Ibu menderita penyakit infeksi : Rubella. Hubungan ini ( shunt ) ini diperlukan oleh karena sistem respirasi fetus yang belum bekerja di dalam masa kehamilan tersebut. 2001. Faktor Genetik : Anak yang lahir sebelumnya menderita penyakit jantung bawaan. 2002 : 375 ) Patent Ductus Arteriosus (PDA) atau Duktus Arteriosus Paten (DAP) adalah kelainan jantung kongenital ( bawaan ) dimana tidak terdapat penutupan ( patensi ) duktus arteriosus yang menghubungkan aorta dan pembuluh darah besar pulmonal setelah 2 bulan pasca kelahiran bayi ( www. 235 ) 2. Kelainan kromosom seperti Sindrom Down. 10 Juni 2010 patens ductus PATENT DUCTUS ARTERIOSUS (PDA) 1. 3. • Ibu menderita penyakit Diabetes Mellitus (DM) yang memerlukan insulin. DEFINISI Patent Ductus Arteriosus (PDA) adalah duktus arteriosus yang tetap terbuka setelah bayi lahir. Kelainan ini merupakan 7% dari seluruh penyakit jantung bawaan. insidennya bertambah dengan berkurangnya masa gestasi ( Betz & Sowden. Ayah / Ibu menderita penyakit jantung bawaan. ETIOLOGI Penyebab terjadinya penyakit jantung bawaan belum dapat diketahui secara pasti.google. ± 2-10 mm distal dari percabangan arteri subklavia kiri. • Ibu alkoholisme. Aliran darah balik fetus akan bercampur dengan aliran darah bersih dari ibu ( melalui vena umbilikalis ) kemudian masuk ke dalam atrium kanan dan kemudian dipompa oleh ventrikel kanan kembali ke aliran sistemik melalui duktus arteriosus. PATOFISIOLOGI Duktus arteriosus adalah pembuluh darah yang menghubungkan aliran darah pulmonal ke aliran darah sistemik dalam masa kehamilan ( fetus ). • Ibu meminum obat-obatan penenang atau jamu. yang menyebabkan mengalirnya darah dari aorta yang bertekanan tinggi ke arteri pulmonal yang bertekanan rendah. Normalnya duktus arteriosus berasal dari arteri pulmonalis utama (arteri pulmonalis kiri) dan berakhir pada bagian superior dari aorta desendens. ( Suriadi. 2.Kamis. tetapi ada beberapa faktor yang diduga mempunyai pengaruh pada peningkatan angka kejadian penyakit jantung bawaan : 1. Lahir dengan kelainan bawaan yang lain.com ) Patent Duktus Arteriosus adalah kegagalan menutupnya ductus arteriosus (arteri yang menghubungkan aorta dan arteri pulmonal) pada minggu pertama kehidupan. Sering dijumpai pada bayi prematur.

Pemberian indomethacin (inhibitor prostaglandin) untuk mempermudah penutupan duktus. Hiperkalemia (penurunan keluaran urin). Besarnya pirai (shunt) ditentukan oleh diameter. Non pembedahan : Penutupan dengan alat penutup dilakukan pada waktu kateterisasi jantung. Pembedahan : Pemotongan atau pengikatan duktus. Penatalaksanaan Konservatif : Restriksi cairan dan Pemberian obat-obatan : Furosemid (lasix) diberikan bersama restriksi cairan untuk meningkatkan diuresis dan mengurangi efek kelebihan beban kardiovaskular. 3. Selsel otot polos pada duktus arteriosus sensitif terhadap mediator vasodilator prostaglandin dan vasokonstriktor (pO2). Hepatomegali (jarang terjadi pada bayi prematur) e. Gangguan paru yang terjadi bersamaan (misalnya sindrom gawat nafas atau displasia bronkkopulmoner) g. KOMPLIKASI a. Obstruksi pembuluh darah pulmonal c. 5. berbeda dengan aorta yang memiliki lapisan elastin yang tebal dan tersusun rapat ( unfragmented ). penurunan jumlah trombosit h. panjang PDA serta tahanan vaskuler paru (PVR). pemberian antibiotik profilaktik untuk mencegah endokarditis bakterial. Murmur kontinyu (machinery) derajat 1 sampai 4/6 terdengar dengan jelas pada ULSB atau daerah infraklavikula kiri yang merupakan petanda khas kelainan ini. CHF ( gagal jantung kongestif ) d. 2.Dinding duktus arteriosus terutama terdiri dari lapisan otot polos ( tunika media ) yang tersusun spiral. Penutupan spontan PDA tidak akan terjadi pada bayi aterm. MANIFESTASI KLINIK 1. b. 4. 6. Akan terjadi hipertensi pulmonal dan PVOD bila PDA dibiarkan tanpa tindakan penutupan. 5. Tidak menimbulkan gejala bila PDA kecil. Diantara sel-sel otot polos terdapat serat-serat elastin yang membentuk lapisan yang berfragmen. PENATALAKSANAAN MEDIS a. Sianosis yang terjadi pada PDA dengan PVOD dikenal sebagai sianosis diferensial oleh karena hanya ekstremitas bawah yang biru sedangkan ekstremitas atas tetap normal. Tanda-tanda CHF muncul pada PDA besar. i. Gagal tumbuh 6. sirkulasi dan meningkatnya pO2 akan menyebabkan penutupan spontan duktus arteriosus dalam waktu 2 minggu. Aritmia j. CHF dan infeksi paru berulang seringkali terjadi pada PDA besar. Rumble apikal terdengar pada PDA besar. Endokarditis b. . Pulsasi nadi perifer yang lemah dan lebar 4. Adanya perubahan tekanan. Enterokolitis nekrosis f. Setelah persalinan terjadi perubahan sirkulasi dan fisiologis yang dimulai segera setelah eliminasi plasenta dari neonatus. Perdarahan gastrointestinal (GI). c. Duktus arteriosus yang persisten (PDA) akan mengakibatkan pirai (shunt) L-R yang kemudian dapat menyebabkan hipertensi pulmonal dan sianosis. 7.

tanda-tanda vital di catat dan data dasar di tegakkan untuk perbandingan masa yang akan datang. PDA sedangbesar terjadi kardiomegali dan peningkatan PVM. Ekhokardiografi yaitu rasio atrium kiri tehadap pangkal aorta lebih dari 1. CVH bila PDA besar. d.com/ 99999999 KONSEP KEPERAWATAN PRE OPERASI 19 Januari 2009 oleh PRO-HEALTH Keperawatan pre operasi dimulai ketika keputusan tindakan pembedahan di ambil. pada PDA kecil tidak ada abnormalitas. Melalui pemeriksaan ekho 2-D dan Doppler dapat divisualisasi adanya PDA dan besarnya shunt. Pengkajian Sebelum operasi dilaksanakan pengkajian menyangkut riwayat kesehatan dikumpulkan.blogspot. PEMERIKSAAN a. A. bervariasi sesuai tingkat keparahan. memastikan kelengkapan pemeriksaan praoperasi. http://agustusstikes. Pada PDA kecil bayangan jantung normal. mengkaji kebutuhan klien dalam rangka perawatan post operasi. Adanya PVOD akan mengakibatkan ukuran jantung normal dengan pembesaran MPA dan peningkatan corakan vaskulerisasi hilus. c. Dalam fase pre operasi ini dilakukan pengkajian pre operasi awal. EKG serupa dengan kelainan VSD. Pada PDA kecil-sedang dapat terjadi LVH atau normal. merencanakan penyuluhan dengan metode yang sesuai dengan kebutuhan pasien.7. Atau RVH bila telah terjadi PVOD. Pemeriksaan diagnostik mungkin dilakukan seperti . pemeriksaan fisik dilakukan.3:1 pada bayi cukup bulan atau lebih dari 1. b. Kateterisasi jantung yaitu hanya dilakukan untuk mengevaluasi lebih jauh hasil ECHO atau Doppler yang meragukan atau bila ada kecurigaan defek tambahan lainnya. hipertrofi ventrikel kiri pada PDA yang lebih besar. melibatkan keluarga atau orang terdekat dalam wawancara.0 pada bayi praterm (disebabkan oleh peningkatan volume atrium kiri sebagai akibat dari pirau kiri ke kanan) e. Pemeriksaan angiografi biasanya tidak dibutuhkan kecuali bila terdapat kecurigaan PVOD. dan berakhir ketika klien di pindahkan ke kamar operasi. Foto toraks juga menyerupai kelainan VSD.

Disamping pengkajian fisik secara umum perlu di periksa berbagai fungsi organ seperti pengkajian terhadap status pernapasan. endoskopi. . endoskopi. jika penyuluhan diberikan terlalu lama sebelum pembedahan memungkinkan klien lupa. Perawat berperan memberikan penjelasan pentingnya pemeriksaan fisik diagnostik. fungsi endokrin. Status nutrisi klien pre operasi perlu dikaji guna perbaikan jaringan pos operasi.analisa darah. penyembuhan luka akan di pengaruhi status nutrisi klien. tambahan pengetahuan. keterampilan. Tuntutan klien akan bantuan keperawatan terletak pada area pengambilan keputusan. Pendidikan Pasien Pre operasi Penyuluhan pre operasi didefinisikan sebagai tindakan suportif dan pendidikan yang dilakukan perawat untuk membantu pasien bedah dalam meningkatkan kesehatannya sendiri sebelum dan sesudah pembedahan. sebelumnya diberikan penjelasan yang gamblang dan jelas mengenai pembedahan dan kemungkinan resiko. dan fungsi imunologi. dan pemeriksaan feses dan urine. rontgen. fungsi hepar dan ginjal. C. juga terhadap kesulitan teknik dan mekanik selama dan setelah pembedahan. Informed Consent Tanggung jawab perawat dalam kaitan dengan Informed Consent adalah memastikan bahwa informed consent yang di berikan dokter di dapat dengan sukarela dari klien. Demikian pula dengan kondisi obesitas. Dalam memberikan penyuluhan klien pre operasi perlu dipertimbangkan masalah waktu.dan perubahan perilaku. B. klien obesitas akan mendapat masalah post operasi dikarenakan lapisan lemak yang tebal akan meningkatkan resiko infeksi luka. biopsi jaringan.

wordpress. http://forbetterhealth. 2008 by kuliahbidan Tujuan 1. Jenis operasi yang direncanakan 3. obat-obatan yang pernah / sedang / akan diberikan untuk masalah saat ini yang kemungkinan . menyusun rencana penatalaksanaan sebelum. (Gambar 2. informed consent Penilaian catatan medik (chart review) 1. Batuk dan Relaksasi salah satu tujuan dari keperawatan pre operasi adalah untuk mengajar pasien cara untuk meningkatkan ventilasi paru dan oksigenasi darah setelah anastesi umum.demikian juga bila terlalu dekat dengan waktu pembedahan klien tidak dapat berkonsentrasi belajar karena adanya kecemasan atau adanya efek medikasi sebelum anastesi. mengetahui masalah saat ini.2 dan 2. ambil nafas pendek. Membedakan masalah obstetri / ginekologi dengan masalah non-obstetri yang terjadi pada kehamilan. faktor penyulit 5. 2. nafas lambat (menahan inspirasi secara maksimal) dan bagaimana menghembuskan nafas dengan lambat pasien dalam posisi duduk untuk memberikan ekspansi paru maksimum. Setelah melakukan latihan nafas dalam beberapa kali. mengetahui riwayat penyakit dahulu serta keadaan / masalah yang mungkin menyertai pada saat ini. Latihan Nafas Dalam. Hal ini dapat dicapai dengan memperagakan pada pasien bagaimana melakukan nafas dalam. menghembuskan melalui mulut. menciptakan hubungan dokter-pasien 3. mengenal pasien. dan batukkan. pasien di instruksikan untuk bernafas dalam-dalam.3 ). ada/tidak kemungkinan terjadinya komplikasi. Beberapa penyuluhan atau instruksi pre operasi yang dapat meningkatkan adaptasi klien pasca operasi di antaranya : 1.com/2009/01/19/konsep-keperawatan-pre-operasi/ 100000000 sted on November 1. selama dan sesudah anestesi / operasi 4. 2. Selain meningkatkan pernafasan latihan ini membantu pasien untuk relaksasi. indikasi / kontraindikasi 4.

kebiasaan merokok / alkohol / obat-obatan. dsb. Pemeriksaan fisik : tinggi / berat badan. hipertensi. ANESTESIA / ANALGESIA UNTUK KASUS OBSTETRI Pertimbangan : Fisiologi Kehamilan / Persalinan (Maternal Physiology) Sistem pernapasan Perubahan pada fungsi pulmonal. pemantauan kesejahteraan janin (dengan fetal monitoring). Konsultasi dengan dokter yang akan melakukan tindakan obstetrik. cara.dapat berinteraksi dengan obat / prosedur anestesi 6. kontraksi uterus / his menyebabkan terjadinya autotransfusi dari plasenta . pemulihan. Jika tidak segera dideteksi dan dikoreksi. . premedikasi). Menetapkan rencana anestesi 1. kepala / leher (perhatian KHUSUS pada mulut / gigi / THT / saluran napas atas. penyakit ginjal. menyebabkan terjadinya dilutional anemia of pregnancy. Sistem kardiovaskular Peningkatan isi sekuncup / stroke volume sampai 30%. analgesi. jantung / paru / abdomen / ekstremitas. cadangan oksigen juga berkurang. riwayat operasi / anestesi sebelumnya. baca sendiri yaaaaa !!!. Functional residual capacity menurun sampai 15-20%. puasa. Menjelang / dalam persalinan dapat terjadi gangguan / sumbatan jalan napas pada 30% kasus. gangguan pembekuan darah. peningkatan curah jantung sampai 40%. penekanan / kompresi vena cava inferior dan aorta oleh massa uterus gravid dapat menyebabkan terjadinya supine hypertension syndrome. Pada saat persalinan. musclerelaxant. persiapan (diet. Volume plasma meningkat sampai 45% sementara jumlah eritrosit meningkat hanya sampai 25%. riwayat alergi. untuk airway maintenance selama anestesi / operasi). dsb) Untuk detail nya. anestesi. Pada kasus obstetri / kasus non-obstetri dalam kehamilan. dsb). Pada persalinan. Ventilasi per menit meningkat sampai 50%. hasil-hasil pemeriksaan penunjang / laboratorium yang diperlukan Pemeriksaan pasien Anamnesis : penting mengumpulkan data tambahan tentang riwayat penyakit yang dapat menjadi penyulit / faktor risiko tindakan anestesi (asma. penyakit jantung. Penjelasan kepada pasien : metode. vasopresor / vasodilator. memungkinkan dilakukannya induksi anestesi yang cepat pada wanita hamil. Meskipun terjadi peningkatan isi dan aktifitas sirkulasi. kebutuhan oksigen (oxygen demand) meningkat sampai 100%. penting dilakukan : pemeriksaan obstetri (umumnya telah dilakukan oleh dokter obstetri). kemungkinan risiko. 2. tanda vital lengkap. PENTING DIKETAHUI : FARMAKOLOGI OBAT-OBAT (uterotonik / tokolitik. riwayat pengobatan. ventilasi dan pertukaran gas. meskupun dengan disertai denitrogenasi. menyebabkan penurunan PaO2 yang cepat pada waktu dilakukan induksi anestesi. dapat terjadi penurunan vaskularisasi uterus sampai asfiksia janin. peningkatan frekuensi denyut jantung sampai 15%.

sebesar 300-500 cc selama kontraksi. Sistem saraf pusat Akibat peningkatan endorphin dan progesteron pada wanita hamil. Pada sectio cesarea. Sementara itu terjadi juga peningkatan sekresi asam lambung. mungkin akibat hemodilusi dan penurunan sintesis. Meskipun demikian jarang diperlukan transfusi. makanan) tanpa memandang kapan waktu makan terakhir. Kadar kolinesterase plasma menurun sampai sekitar 28%. Pada pemberian suksinilkolin dapat terjadi blokade neuromuskular untuk waktu yang lebih lama. sampai 80%. Kadar kreatinin. Pada anestesi epidural atau intratekal (spinal). VIII. dapat terjadi perdarahan sampai 1000 cc. penurunan tonus sfingter esophagus bawah serta perlambatan pengosongan lambung. konsentrasi obat inhalasi yang lebih rendah cukup untuk mencapai anestesia. Pasien dengan preeklampsia mungkin berada dalam proses menuju kegagalan fungsi ginjal meskipun pemeriksaan laboratorium mungkin menunjukkan nilai “normal”. kebutuhan halotan menurun sampai 25%. Perdarahan yang terjadi pada partus pervaginam normal bervariasi. Faktor yang menentukan yaitu peningkatan sensitifitas serabut saraf akibat meningkatnya kemampuan difusi zat-zat anestetik lokal pada lokasi membran reseptor (enhanced diffusion). dapat sampai 400-600 cc. (baca juga catatan special aspects of perinatal pharmacology) Tindakan Anestesi / Analgesi Regional . Lambung HARUS selalu dicurigai penuh berisi bahan yang berbahaya (asam lambung. Beban jantung meningkat. Ginjal Aliran darah ginjal dan laju filtrasi glomerulus meningkat sampai 150% pada trimester pertama. urea dan asam urat dalam darah mungkin menurun namun hal ini dianggap normal. Sistem gastrointestinal Uterus gravid menyebabkan peningkatan tekanan intragastrik dan perubahan sudut gastroesophageal junction. dapat juga menyebabkan depresi pada janin. Transfer obat dari ibu ke janin melalui sirkulasi plasenta Juga menjadi pertimbangan. sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya regurgitasi dan aspirasi pulmonal isi lambung. Hal itu karena selama kehamilan normal terjadi juga peningkatan faktor pembekuan VII. namun menurun sampai 60% di atas nonpregnant state pada saat kehamilan aterm. metoksifluran 32%. Harus dianggap bahwa SEMUA obat dapat melintasi plasenta dan mencapai sirkulasi janin. karena obat-obatan anestesia yang umumnya merupakan depresan. Enzimenzim hati pada kehamilan normal sedikit meningkat. isofluran 40%. X. XII dan fibrinogen sehingga darah berada dalam hypercoagulable state. Hal ini karena pelebaran vena-vena epidural pada kehamilan menyebabkan ruang subarakhnoid dan ruang epidural menjadi lebih sempit. konsentrasi anestetik lokal yang diperlukan untuk mencapai anestesi juga lebih rendah. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh aktifitas hormon progesteron. curah jantung meningkat.

Infeksi / inflamasi / tumor pada lokasi injeksi Teknik : 1. Kontraindikasi : 1. berikan antasida 3. 2. berikan 500-1000 cc cairan kristaloid (RingerLaktat). Kemungkinan terjadi sakit kepala pasca punksi. Ruang epidural dicapai dengan perasaan “hilangnya tahanan” pada saat jarum menembus ligamentum flavum. Identifikasi adalah dengan keluarnya cairan cerebrospinal. 9. Pasien menolak 5. 8. Kerugian : 1. Spinal / subaraknoid : posisi lateral dekubitus atau duduk. Dosis yang dipakai untuk anestesi epidural lebih tinggi daripada untuk anestesi spinal. stimulus nyeri dan kontraksi dapat menurun. Ibu tetap dalam keadaan sadar dan dapat berpartisipasi aktif dalam persalinan. Anestesi epidural atau spinal : sering digunakan untuk persalinan per abdominam / sectio cesarea. mencapai ruangan subaraknoid. 5. Untuk persalinan per vaginam. Kemudian obat anestetik diinjeksikan ke dalam ruang epidural / subaraknoid. Risiko aspirasi pulmonal minimal (dibandingkan pada tindakan anestesi umum) 4. dengan jarum / trokard. sehingga kemajuan persalinan dapat menjadi lebih lambat. Keuntungan : 1. Obat anestetik yang digunakan : lidocain 1-5%. Hipotensi akibat vasodilatasi (blok simpatis) 2. dilakukan fiksasi.Analgesi / blok epidural (lumbal) : sering digunakan untuk persalinan per vaginam. jalur obat anestesia regional sudah siap. 6. Jika dalam perjalanannya diperlukan sectio cesarea. Daerah punksi ditutup dengan kasa dan plester. chlorprocain 2-3% atau bupivacain 0. Insufisiensi utero-plasenta 6. Setelah menembus ligamentum flavum (hilang tahanan). tusukan diteruskan sampai menembus selaput duramater. 2. Jika dipakai kateter untuk anestesi. dilakukan punksi antara vertebra L2-L5 (umumnya L3-L4) dengan jarum / trokard. 3. 7. Mengurangi pemakaian narkotik sistemik sehingga kejadian depresi janin dapat dicegah / dikurangi.250. Observasi tanda vital 4. Keberhasilan anestesi diuji dengan tes sensorik pada daerah operasi. jika stylet ditarik perlahan-lahan. Sepsis 2. 15-30 menit sebelum anestesi. Epidural : posisi pasien lateral dekubitus atau duduk membungkuk. Gangguan pembekuan 3. Pasang line infus dengan diameter besar.75%. Waktu mula kerja (time of onset) lebih lama 3. menggunakan jarum halus atau kapas. Kemudian posisi pasien diatur pada posisi operasi / tindakan selanjutnya. Syok hipovolemik 7. Kelainan SSP tertentu 4. . 4. dilakukan punksi antara L3-L4 (di daerah cauda equina medulla spinalis).

Diperlukan keadaan relaksasi uterus. Pengendalian jalan napas dan pernapasan optimal. Kerugian : 1. 3. menggunakan 1. Harus dilakukan intubasi pada pasien. dan dilakukan hiperventilasi untuk mengatasi asidosis metabolik. atau pasien diminta melakukan pernapasan dalam sebanyak 5 sampai 10 kali. pasien diposisikan dengan uterus digeser / dimiringkan ke kiri. Tindakan Anestesi Umum Tindakan anestesi umum digunakan untuk persalinan per abdominam / sectio cesarea. Indikasi : 1. dilakukan intubasi.Komplikasi yang mungkin terjadi : 1. dengan uterus digeser ke kiri. Risiko aspirasi pada ibu lebih besar. Komplikasi neurologik yang sering adalah rasa sakit kepala setelah punksi dura. 4.75% isofluran. Dilakukan preoksigenasi dengan O2 100% selama 3 menit. O2-N2O 50%-50% diberikan melalui inhalasi. antasida diberikan 15-30 menit sebelum operasi. 3. dan pengikat / korset perut (abdominal binder).0 – 1. dilakukan ventilasi O2 100% dengan mask disertai penekanan tulang cricoid. Jika terjadi injeksi subarakhnoid yang tidak diketahui pada rencana anestesi epidural. hidrasi (>3 L/hari). Kadang terjadi juga serangan kejang.5 mg/kgBB suksinilkolin.5% halotan. Keuntungan : 1. hipotensi dan kehilangan kesadaran.5 mg/kgBB suksinilkolin. Setelah regio abdomen dibersihkan dan dipersiapkan. 3. Hiperventilasi pada ibu dapat menyebabkan terjadinya hipoksemia dan asidosis pada janin. kemudian dilakukan intubasi. dapat sampai disertai henti napas dan henti jantung. Pasien harus diatur dalam posisi telentang / supine. Risiko hipotensi dan instabilitas kardiovaskular lebih rendah. Hipotensi ditangani dengan memberikan cairan intravena dan ephedrine. Ada kontraindikasi atau keberatan terhadap anestesia regional. 4. Dilakukan penekanan krikoid. analgesik. 2. Dapat terjadi depresi janin akibat pengaruh obat. observasi tanda vital. 5. 3. Injeksi intravaskular ditandai dengan gangguan penglihatan. Teknik : 1. dapat terjadi total spinal anesthesia. dan balon pipa endotrakeal dikembangkan. Pasang line infus dengan diameter besar.0% enfluran. dilakukan induksi dengan 4 mg/kgBB tiopental dan 1. Gawat janin. Terapi dengan istirahat baring total. dan suksinilkolin diinjeksikan melalui infus. 2. Induksi cepat. Kesulitan melakukan intubasi tetap merupakan penyebab utama mortalitas dan morbiditas maternal. 0. 3. dan kehilangan kesadaran. tinitus. sampai . atau 0. 2. Dialirkan ventilasi dengan tekanan positif. Gejala berupa nausea. dan operator siap. karena dosis yang dipakai lebih tinggi. 2. 2. Dapat juga ditambahkan inhalasi 1.

diberikan juga vasodilator. Keselamatan ibu (prioritas utama) 2. Untuk pasien yang direncanakan anestesia dengan N2O. Contoh : 1. Usaha mempertahankan kehamilan 3. narkotik dapat digunakan untuk analgesia. Pencegahan sedapat mungkin. Operasi semi-urgent sebaiknya ditunda sampai trimester kedua atau ketiga. (catatan) Jika terjadi hipertonus uterus. 8. Teknik anestesia regional (terutama spinal) lebih dianjurkan. Operasi elektif sebaiknya ditunda sedapat mungkin sampai 6 minggu pascapersalinan (setelah masa nifas. 7. Anjuran / pertimbangan : 1. hal ini menjadi indikasi untuk induksi cepat dan penggunaan anestetik inhalasi. Ekstubasi dilakukan setelah pasien sadar. 4. karena paparan / exposure obatobatan terhadap janin relatif paling minimal. Usaha mempertahankan fisiologi sirkulasi utero-plasenta yang optimal 4.janin dilahirkan. karena obat-obat tersebut dapat menyebabkan atonia uteri. efek hambatan pertumbuhan atau efek teratogen terhadap janin. CATATAN : Pada kasus-kasus obstetri patologi yang memerlukan obat-obatan / penanganan medik selain anestesi. pemakaian obat-obatan yang memiliki efek depresi. Premedikasi minimal : barbirat lebih dianjurkan dibandingkan benzodiazepin. 2. pada infeksi atau kemungkinan infeksi. appendiksitis. Jika operasi dilakukan dalam masa kehamilan. magnesiumsulfat. Setelah itu. sementara diperlukan relaksasi uterus yang optimal. 3. 5. berikan suplementasi asam folat (N2O dapat menghambat sintesis dan metabolisme asam folat). ANESTESIA / ANALGESIA UNTUK OPERASI NON-OBSTETRI PADA MASA KEHAMILAN (NON-OBSTETRICAL SURGERY DURING PREGNANCY) Sekitar 1-5% wanita hamil mengalami masalah yang tidak berhubungan secara langsung dengan kehamilannya. anestetik inhalasi yang kuat juga dapat digunakan dengan konsentrasi rendah. diberikan antibiotika. obat2an. Mortalitas / morbiditas maternal : tidak berbeda signifikan dengan tindakan anestesi / operasi pada wanita yang tidak hamil. 2. cairan. atau jika ada hipertensi. Obat inhalasi dihentikan setelah tali pusat dijepit. untuk mencegah ibu bangun. Pertimbangan tindakan anestesi untuk bedah non-obstetri pada masa kehamilan : 1. 3. misalnya syok. hipoksia. 6. lanjutkan pemeriksaan antenatal dengan . Mortalitas / morbiditas perinatal : LEBIH TINGGI signifikan. dsb dsb). ditatalaksana dengan oksigen. mortalitas maternal dan perinatal SANGAT TINGGI (lihat catatan management of injured pregnant patient). 9. dan sebagainya. pada keadaan umum / tanda vital yang buruk. pada pre-eklampsia. Pada kasus gawat darurat. diberikan sebagaimana seharusnya. antara 5-35%. di mana semua perubahan fisiologis akibat kehamilan diharapkan telah kembali pada keadaan normal). untuk maintenance anestesi digunakan teknik balans (N2O/narkotik/relaksan). 6. yang memerlukan tindakan operasi (misalnya : trauma.

atropin sulfat (0. Dapat juga digunakan tambahan anestesi inhalasi dalam konsentrasi rendah. dan/atau tramadol 1-2 mg/kgbb) 2.perhatian khusus pada fetal heart monitoring dan penilaian aktifitas uterus. anestesia . untuk deteksi kemungkinan persalinan preterm pascaoperasi. (baca juga modul “Safe Motherhood” tentang Penuntun Belajar Kuretase (POEK)) Laparotomi operasi ginekologi Untuk operasi ginekologi dengan laparotomi. 2. mencegah peningkatan tekanan parsial CO2 dalam darah (PaCO2) pada insuflasi abdomen dengan gas CO2. 4. Kadang diperlukan posisi Trendelenburg ekstrim. mengurangi potensial kejadian aritimia akibat hiperkarbia dan asidosis. Metode yang dianjurkan adalah anestesi dengan N2O-O2 perbandingan 75%-25% inhalasi. Pengisian rongga abdomen dengan udara (pneumoperitoneum) 2. Untuk meningkatkan kontraksi uterus digunakan ergometrin maleat. serta peningkatan tekanan vena sentral dan curah jantung sekunder akibat redistribusi sentral volume darah.0% isofluran atau enfluran.5-1. diperlukan keadaan khusus : 1. Tujuan anestesi pada laparoskopi adalah : 1.25-0.5 mg/ml) diberikan melalui infus intravena. Peningkatan tekanan intraabdominal akibat insuflasi gas dapat menyebabkan muntah dan aspirasi.5 mg/kgbb. dapat sampai 30-40 cm H2O). Kadang digunakan elektrokoagulasi. seperti 0. ANESTESIA / ANALGESIA UNTUK KASUS GINEKOLOGI Kuretase Untuk tindakan kuretase. sedativa (diazepam 10 mg) 3. dengan anestetik narkotik dan musclerelaxant. dan/atau neuroleptika ketamin HCl 0. mempertahankan stabilitas kardiovaskular pada keadaan peningkatan tekanan intraabdominal yang besar akibat insuflasi CO2 (umumnya tekanan naik sampai 20-25 cmH2O. Jika diperlukan. digunakan anestesia umum. menciptakan relaksasi otot yang adekuat untuk membantu tindakan operasi Pengisian rongga peritoneum dengan CO2 dapat menyebabkan peningkatan PaCO2 jika pernapasan tidak dikendalikan. 3. Kelebihan CO2 dapat diatasi dengan kendali frekuensi pernapasan 1. Laparoskopi Untuk tindakan laparoskopi. analgetika (pethidin 1-2 mg/kgbb.5 kali di atas frekuensi basal. digunakan : 1. Tekanan intraabdominal sampai 30-40 cm H2O sebaliknya dapat menyebabkan penurunan tekanan vena sentral dan curah jantung dengan cara menurunkan pengisian jantung kanan. 3.

2. Takut yang belum diketahui adalah umum. Pembedahan atau lebihdikenal dengan istilah operasi dapat dibedakan. mereka cenderung banyak marah. Jenis prosedur pembedahan atau operasi diklasifikasi berdasarkan tingkat keseriusan. respon terjadi dari saraf simpati dan respon hormonal yang bertugas melindungi tubuh dari ancaman cedera. dimana dapat dilakukan di ruang praktek klinik untuk rawat jalan dengan anastesi lokal. Respon Fsiologis Operasi besar merupakan stressor kepada tubuh dan memicu respon neoro endecrine. Pengertian Menurut Depkes RI (1998). pembedahan adalah suatu metode pengobatan yang dilakukan dengan terencana atau mendadak terhadap sebagian sistem tubuh. 2006). Respon Psikologis Sebagian ketakutan yang melatarbelakangi pra pembedahan adalah elusive atau keinginan mengelak dan orang tidak akan mengetahui penyebabnya. Orang yang sangat cemas sehingga tidak bisa berbicara dan mencoba menyesuaikan diri dengan kecemasan sebelum operasi sering kali menderita banyak kesukaran pada pasca pembedahan. B. guna mengisi kebutuhan protein untuk keperluan penyembuhan dan mengisi kebutuhan untuk fungsi yang optimal. 111111111 A. Mereka lebih mudah tersinggug akibat psikis dibandingkan dengan orang yang cemasnya sedikit. bila stress terhadap sistem.lokal blok regio periumbilikal dapat dilakukan dengan 10-15 cc bupivacain 0. takut anastesi biasanya dalam maut “ Tidur terus tidak bangun kembali”. cukup gawat atau kehilangan darah cukup banyak maka akan menyebapkan shock intake protein yang tinggi. kesal. pembedahan adalah semua tindakan pengobatan yang menggunakan cara invasif dengan membuka atau menampilkan bagian tubuh yang akan ditangani yang umumnya dilakukan dengan membuka sayatan. kegawatan dan tujuan pembedahan. pembedahan minor atau (operasi kecil). Prosedur yang gawat juga dianggap punya keseriusan mayor misalnya. Sedangkan menurut Laksamana (2003).5%. seksio sesarea yang dilakukan sebagai prosedur kedaruratan atau kegawatan untuk melahirkan janin (Poter dan Perry. Sedangkan operasi mayor (operasi besar) dengan menggunakan anastesi umum yang dilakukan di unit pembedahan rawat inap. Konsep Seksio Sesarea . bingung atau depresi. Sedasi ringan dapat diberikan. 3. yang melibatkan rekonstruksi atau perubahan yang luas pada bagian tubuh dan menimbulkan risiko yang tinggi bagi kesehatan. Konsep Operasi/ Pembedahan 1.

Komplikasi lainnya.cabang ateri ulterina ikut terbuka.1. indikasi untuk seksio sesarea ialah a. sehingga pada kehamilan berikutnya bisa terjadi ruptura uteri. Plasenta prepea. b.paru. g. Indikasi Menurut statistik tentang 3509 kasus seksio sesarea yang disusun oleh Peel dan Camberlain (dalam Hanifa 2006).1995).negara dengan pengawasan antenatal dan intranatal yang baik. f. Kelainan letak. Pada ibu komplikasi. 4. d. Suatu komplikasi yang baru yang kemudian tampak. c. Pernah seksio sesaresa 3. Disproporsi janin panggul. Infeksi puerperal Komplikasi ini bisa bersifat ringan seperti : kenaikan suhu tubuh selama beberapa hari dalam masa nifas. Pengertian Seksio sesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding rahim (kafita selekta kedokteran. b. Pada anak Seperti halnya dengan ibunya. anak yang dilahirkan dengan seksio sesarea menurut data statistik di negara. kurang kuatnya perut pada dinding uterus. Gawat janin.komplikasi yang bisa timbul ialah sebagai berikut : 1). Preeklamsi. Pendarahan Pendarahan banyak bisa timbul pada waktu pembedahan jika cabang. embolisme paru. h. Pesalinan seksio sesarea kelahiran bayi melalui abdomen dan insisi uterus (Mary.. Incoordinate uteria action. kematian prenatal pasca seksio sesarea berkisar antara 4 sampai 7%. Komplikasi a. Kontra indikasi e. lika kandung kencing. 2001). 2. 2). Hipertensi .

(Hanifa. Stuart dan lararia (1998) mengatakan kecemasan dapat diekspresikan secara langsung melalui perubahan fisiologis dari perilaku maupun secara tidak langsung melalui timbulnya gejala atau mekanisme koping sebagai upaya untuk melawan kecemasan (Sofia. C. atau apabila janin terbukti cacat seperti hidro sefalus. Rentang Respon Cemas . Menurut Barbara (1996) kecemasan adalah respon psikologis perasaan takut atau tidak tenang yang sumbernya tidak dikenali dan terjadi ketika seseorang merasa terancam baik secara fisik maupun secara psikologis .Y. pada sesuatu yang akan terjadi dengan penyebab yang tidak jelas yang dihubungkan dengan perasaan tidak menentu dan tidak berdaya. 5.1990). Keadaan emosi ini dialami secara obyektif dan dikomunikasikan dalam hubungan interpersonal (Maramis. ia memperingatkan adanya bahaya yang mengancam dan memungkinkan seseorang mengambil tindakan untuk mengatasi ancaman (Kaplan & Sadock). Seksio sesarea transperitonealis profunda. anensefalus. Konsep kecemasan 1. Perasaan tidak nyaman sebagai respon terhadap rasa takut akan terjadinya perlukaan tubuh atau kehilangan sesuatu yang bernilai dari dirinya (DepKes. Kecemasan adalah suatu sinyal yang menyadarkan.Mengenai komtra indikasi perlu diingat bahwa seksio sesarea dilakukan baik untuk kepentingan ibu maupun kepentingan anak. kecemasan sangat berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya. 2. 3. Jenis. dan sebagainya.jenis seksio sesarea Dikenal beberapa secsio sesarea yaitu : 1. dkk. Seksio sesarea ekstraperitoneal. Oleh sebab itu seksio sesarea tidak dilakukan – kecuali dalam keadaan terpaksa – apabila misalnya janin sudah meninggal dalam uterus.2004). stimulus tersebut dapat berasal dari luar maupun dari dalam diri. 1993). Freud (1998) memandang bahwa kecemasan timbul secara otomatis apabila kita menerima stimulus yang berlebihan yang melampaui kemampuan untuk menanganinya. 2. 2006). atau apabila janin terlalu kecil untuk hidup di luar kandungan. Seksio sesarea transperitonealis klasik atau korforal. Pengertian Kecemasan Menurut Stuart & Sundeen (1998) kecemasan adalah kebingungan. ketakutan.

Cemas sedang memungkinkan seseorang untuk memusatkan perhatian pada yang selektif. Rentang respon cemas terbagi menjadi empat tingkat: (1) kecemasan ringan. berat dan panik. Cemas berat mengurangi lapang persepsi seseorang sehingga cenderung untuk memusatkan pikiran untuk mengurangi ketegangan. gelisah. banyak bicara dan volume keras. mengidentifikasikan kecemasan dalam empat tingkat yaitu : ringan. pada kecemasan sedang individu merasa lebih tegang. tidak mampu rileks dan sukar tidur. Menurut Stuart & Sundeen (1995) rentang respon individu terhadap kecemasan berfluktuasi antara respon adaptif dan maladaptif seperti terlihat pada gambar berikut: Gambar 2. sedang. menolak) . Sementara menurut Dadang (2001) Gejala. Cemas ringan dapat menyebabkan seseorang menjadi waspada dan meningkatkan area persepsi sehingga dapat memotivasi untuk belajar. Perasaan cemas 1. cemas ringan berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. 1995) menyebutkan bahwa pada orang cemas refleksi tingkah laku terbagi atas fisiologis. (2) kecemasan sedang. individu merasa tidak bisa memperhatikan lingkungan sehingga fokus terhadap lingkungan berkurang. Cemas (menangis.1. tempat dan orang. pusing atau sakit kepala. nyeri dada. Manifestasinya adalah berdebar-debar. Manifestasinya adalah mulut kering. 1995).Peplu (dalam Stuart & Sundeen . banyak bicara dan bertanya-tanya. pada tingkat ini lapang persepsi individu menyempit. Manifestasinya adalah nafas pendek.gejala kecemasan tersebut adalah : a. menurunnya kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain. persepsi yang menyempit dan kehilangan pemikiran yang rasional. Panik berhubungan dengan ketakutan dan teror yang melibatkan aktivitas motorik. kognitif dan afektif yang berbeda-beda. mual dan muntah. lapang persepsi menyempit. (3) kecemasan berat. 2004). agitasi. Cemas ringan berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada. otot merasa tegang. persepsi wajah ketakutan. badan gemetar. bicara terus dan sukar dimengerti. anoreksia. dan masih dapat mengenal waktu. sering buang air kecil. takut. orang tersebut tidak mampu menyelesaikan masalah. perilaku diluar kesadaran (Sofia Y. : Rentang Respon individu terhadap kecemasan Respon adaptif Respon mal adaptif # Antisipasi # Ringan # Sedang # Berat # Panik Menurut Peplu (dalam Stuart & Sundeen.

Ketakutan 1. Menarik diri c. Pada kerumunan orang banyak d. Merasa tegang 2. Hilandnya minat 2. Gangguaan tidur 1. Daya ingat terganggu f.2. Gemetar 5. Lesu 3. Gangguan kecerdasan 1. Saat bangun kondisi lesu 3. Terbangun pada malam hari 2. Tidak bisa istirahat tenang/ gelisa 4. Banyak mimpi/ mengigau 4. Perasaan defresi 1. Tidur tidak nyenyak e. Bicara cepat 6. Mudah tersinggung b. Pandangan kosong . Ditinggal sendiri 4. Pada orang asing 3. Pada gelap 2. Ketegangan 1.

Sulit menelan 2. Gejala somatic (sensorik) i. Nyeri dada 3. Napas pendek k. Rasa seperti mau pingsan j. Gejala gastrointestinal 1. Sedih 4. Gejala urogenital (perkemihan dan kelamin) 1. Serimg buang air kecil 2. Gejala somatic (otot) 1. Rasa tercekik 3. Muntah 4. Gejala kardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah) 1. Gerakan lambat dan janggal h. Rasa tertekan dan sempit dada 2. Tidak dapat menahan kencing .3. Sering menarik napas dalam 4. Takikardi (denyut jantung meningkat) 2. Perasaan terbakar diperut 3. Gejala respirator (pernapasan) 1. Sukar buang air besar l. Bangun dini hari g. Denyut nadi kasar/ amat jelas terasa/ teraba 4.

jantung berdebar. insomnia. 1998). sensasi tercekik serta terlihat terengah-engah. tekanan darah meningkat. gelisah. tremor. tekanan pada dada. Kecemasan ringan c. wajah tegang. (3) pada sistem neuromuscular akan muncul respon peningkatan refleks. Intensitas fisik dan perilaku dapat meningkat sejalan dengan tingkat cemas (Stuart & Sundeen. Tingkah laku pada saat wawancara 1. Kecemasan berat e. Gemetar 3. Kecemasan berat sekali/ panik : jika nilai ≤ 7 : jika nilai 8 -13 : jika nilai 14 – 18 : jika nilai 19 – 29 : jika nilai 30 – 44 3. mual dan mungkin akan diare. (5) respon sistem urinaria meliputi tidak dapat menahan kencing. Kecemasan sedang d. rigiditas. Mudah berkeringat 4.m. Gejala autonom 1. (2) pada sistem pernafasan akan terjadi nafas pendek dan cepat. (4) respon pada sistem gastrointestinal meliputi kehilangan nafsu makan. Ekspresi wajah tegang Tingkat kecemasan tersebut dapat dikelompokkandengan nilai hasil total score dari masingmasing gejala kecemasan sebagai berikut : a. kelemahan umum. Gelisah dan muka merah 2. rasa tidak nyaman pada abdomen. Muka merah 3. Kepala sering terasa pusing n. kaki goyah dan adanya gerakan yang janggal. (6) pada sistem . mata berkedip-kedip. Respon fisik terhadap kecemasan meliputi berbagai sistem organ tubuh: (1) pada sistem kardiovaskuler akan muncul respon palpitasi. Tidak ada kecemasan b. Mulut kering 2. menolak untuk makan. Respon Fisik Dan Psikologi Cemas Cemas dapat diekspresikan secara langsung melalui perubahan fisik dan perilaku.

gatal. Faktor Predisposisi Pandangan psikoanalitik oleh Sigmund freud mengatakan bahwa faktor predisposisi kecemasan adalah adanya konflik antara dua elemen kepribadian yaitu id dan superego. 1997). cenderung mendapat cidera. lapang persepsi menurun. serta berkeringat pada seluruh tubuh. 4. Kecemasan juga berkaitan dengan trauma psikologis seperti perpisahan dan kehilangan. Respon terhadap kognitif meliputi perhatian terganggu. tegang. Pandangan interpersonal oleh Sulivan mengatakan bahwa kecemasan timbul dari adanya perasaan terhadap tidak adanya penerimaan interpersonal. bicara cepat. dingin pada kulit. lebih baik dan lebih matang pada individu atau kelompok (Notoatmodjo. Hal ini berhubungan dengan aktivitas neurotransmitter gamma aminobutyric acid (GABA) yang mengatur laju dan aktifitas neuron dalam otak untuk menurunkan kecemasan. pelupa. Respon cemas pada perilaku berupa gelisah. sedangkan superego mencerminkan hati nurani seseorang dan dikendalikan oleh norma-norma budaya seseorang.integumen akan tampak wajah kemerahan. Menurit Notoadmodjo (2003) kematangan atau kesiapan pribadi menyangkut tiga pengalaman belajar pokok yaitu : a.2004). Selanjutnya Panji Anoraga dan Sri Suryati (1999) menjelaskan bahwa pendidikan merupakan usaha sadar dan sistematis yang berlangsung seumur hidup dalam rangka mengalihkan pengetahuan oleh seseorang kepada orang lain. Pandangan perilaku menganggap kecemasan merupakan produk frustasi yaitu segala sesuatu yang mengganggu kemampuan seseorang untuk mencapai tujuan. tremor gugup. D. ketakutan dan tremor (Sofia Y. gelisah. ketegangan fisik. Aspek pengetahuan (Kongnitif) . wajah pucat. Reseptor ini mungkin membantu mengatur kecemasan. konsentrasi buruk. Id mewakili dorongan insting dan impuls primitif seseorang. rasa panas. kreatifitas dan produktifitas menurun dan kesadaran diri meningkat. Konsep pendidikan 1. berkeringat setempat. Kajian biologis menunjukkan bahwa otak mempunyai reseptor khusus untuk benzodiasepin. Stuart & Sundeen menguraikan bahwa banyak teori telah dikembangkan mengenai faktor terhadap terjadi kecemasan. Atau pendidikan adalah suatu proses yang berarti di dalam pendidikan itu terjadi proses pertumbuhan perkembangan atau perubahan kearah yang lebih dewasa. Pengertian Pendidikan Pendidikan adalah dasar untuk menyiapkan peserta didik bimbingan. Sedangkan dari segi afektif akan tampak keadaan mudah terganggu. 1. Kajian keluarga menerangkan bahwa kecemasan merupakan hal yang biasa ditemui dalam keluarga berbagai tipe akibat konflik dalam keluarga (Sofia Y. kurang koordinasi. menarik diri dari hubungan interpersonal. 2004).

yaitu pendidikan yang berstruktur. Dengan demikian pendidikan umum atau pendidikan sekolah terdiri dari pendidikan dasar. 2. mempunyai jenjang atau tingkat dalam periode waktu tertentu berlangsung dari SD. Pendidikan menengah yang lamanya 3 tahun sesudah pendidikan dasar diselenggarakan di . SMA. Jenis-jenis Pendidikan Pendidikan dasar dibedakan menjadi 3 jenis yaitu: 1. Pendidikan non formal yaitu merupakan pendidikan (pada umumnya) di luar sekolah yang secara potensial dapat membantu dan mengartikan pendidikan formal dalam aspek tertentu. SMP. yaitu suatu proses yang sesungguhya terjadi seumur hidup yang karena tiap-tiap individu merupakan sikap melalui keterampilan dan pengetahuan seharihari dan pengaruh lingkungan. budaya dan alam sekitar serta dapat mengembangkan kemampuan lebuh lanjut dalam dunua kerja atau pendidikan tinggi. 3. Aspek sikap dan perilaku (Efektif) c. Pendidikan formal. Pendidikan Dasar yaitu suatu lembaga pendidikan yang diselenggarakan untuk mengembangkan sikap dan kemampuan serta memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar yang diperlukan untuk hidup dalam masyarakat serta mempersiapkan perserta didik yang memenuhi persyaratan untuk mengikuti pendidikan menengah. contoh SD dan SLTP Warga Negara yang berumur 6-7 tahun berkewajiban mengikuti pendidikan dasar atau pendidikan yang setara sampai tamat SLTP (Sekolah Menegah Tingkat Pertama). sampai Universitas dan tercakup disamping studi akademi umum. Pendidikan Menengah yaitu suatu lembaga pendidikan yang diselenggarakan untuk melanjutkan dan meluaskan pendidikan dasar serta menyiapkan peseta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial. Aspek yang berkaitan dengan keterampilan (Psikomotorik) 2. 3. pendidikan menengah dan pendidikan tinggi yang meliputi : 1. 1. SLTA (Sekoah Menengah Atas) dan SMK. Pendidikan formal.b. juga berbagai program khusus dan lembaga untuk latihan. Tingkat Pendidikan Notoadmodjo (2003) menyatakan bahwa pendidikan umumnya merupakan pendidikan yang mengutamakan perluasan pengetahuan dan peningkatan keterampilan peserta didik.

S2. 3. E. Tingkat pengetahuan Menurut Notoatmodjo (2003). penciuman. 1. ide atau fenomena yang diproses sebelumnya. 2002). 2. sehingga akan lebih terbuka terhadap pembaharuan. pengetahuan dikatagorikan dalam enam bagian yaitu : 1. S1. Namun sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. pengecapan (rasa) dan perabaan. Pengetahuan merupakan dasar untuk terbentuknya tindakan seseorang (Notoadmodjo. Pendidikan Tinggi Satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi disebut perguruan tinggi yang dapat berbentuk Akademik. Institut dan Universitas yang termasuk perguruan tinggi D2. Sekolah Tinggi. Pengetahuan pada dasarnya terdiri dari sejumlah fakta dan teori yang memungkinkan seseorang untuk dapat memecahkan masalah yang dihadapinya. Dari pengertian tentang pendidikan tersebut diatas kiranya dapat diharapkan bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin luas pengetahuan tentang suatu hal dan semakin luas pula wawasan berfikirnya. D3. Pengamatan (menanamkan) yaitu penggunaan indra lahir dan indra batin untuk menangkap objek. 1. dalam kaitannya dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi seksio sesarea sehingga dapat meminimalkan respon terhadap kecemasan. 2. Konsep pengetahuan 1. pengetahuan sebagai alat jaminan yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa prilaku didasarkan atas pengetahuan akan lebih langgeng dibanding dengan tampa didasari pengetahuan. Tahu (Know) .dan S3. Sasaran (objek) yaitu sesuatu yang menjadi bahan pengamatan. Kesadaran (jiwa) salah satu dari alam yang ada pada diri manusia.1. Pengetahuan merupakan hasil tahu telah terjadi setelah seseorang melakukan pengindraan melalui panca indra yaitu penglihatan. Selanjutnya Notoadmodjo (2002) menyatakan ada tiga unsur pengetahuan yaitu : 1. Pengertian Pengetahuan adalah pemberian bukti oleh seseorang melalui proses pengingatan dan pengenalan informasi. Politeknik.

prinsip dan sebagainya dalam kontek atau kondisi yang lain. Memahami (comprehension) Memahami diartikan sebagai kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat mengukur prestasi materi secara benar. merencanakan. 1.hukum. 1. Khnowledge (pengetahuan)dalam masyarakat dipengaruhi beberapa faktor antara lain sosial ekonomi. Kemampuan analisis dapat dilihat dari kemampuan menggambarkan. meringkas. metode. 1. 1. 3. Analisis (Analysis) Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen tetapi dalam struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain. Faktor-Faktor yang mempengaruhi pengetahuan Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan menurut Nasution (2002). Aplikasi (Application) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada kondisi riil (sebenarnya) yang termasuk aplikasi adalah penggunaan hukum. menyelesaikan dan sebagainya. Penilaian-penilaian yang didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria yang ada misalnya dapat membandingkan antara anak-anak yang cukup gizi dengan anak-anak yang kurang gizi. . Termasuk dalam timgkat pengetahuan ini adalah mengingat kembali sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang diterima. Evaluasi Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan jasvikasi atau penelitian terhadap suatu materi atau objek. pendidikan dan pengelaman. Sintesis (syntesis) Sintesis menunjukan suatu kemampuan untuk melekatkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru misalnya dapat menyusun.Tahu diartikan sebagai mengingat sesuatu yang telah dipelajari sebelumnya. Orang yang telah tahu terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan. membedakan dan sebagainya. 1. Misalnya dapat menggunakan rumus statistik dalam penghitungan-penghitungan siklus pemecahan masalah kesehatan dari kasus yang diberikan. menyimpulkan dan sebagainya. kultur (budaya agama). menyebutkan contoh.

Kriteria Penilaian Menurut Arikunto (1998) kriteria penilaian pengetahua dikelompokkan dalam persentase yaitu : Baik Cukup : Bila jawaban benar mencapai 75-100% dari seliruh pertanyaan. kalau positif akan menimbulkan sikap positif demikian sebaliknya (Green dalam Notoadmodjo. Pendidikan yaitu semakin tinggi tingkat pendidikan maka ia akan mudah menerima hal-hal baru dan mudah menyesuaikan dengan hal-hal yang baru tersebut. Kultur yaitu budaya sangat berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan seseorang. 2003). maksudnya pendidikan yang tinggi pengalaman akan lebih luas. Pengalaman. 4. Pada hakikatnya pengetahuan merupakan segenap apa yang diketahui manusia tentang objek tertentu. Pengetahuan ini berpengaruh terhadap sikap seseorang sesuai dengan pemikirannya. 4. karena informasi-informasi yang baru akan disaring kira-kira sesuai tidak dengan yang ada dan agama yang dianut.1. tingkat pendidikan tinggi. 2. Kurang : Bila jawaban benar mencapai kurang dari 56% dari seluruh pertayaan. termasuk didalamnya tentang ilmu. : Bila jawaban benar mencapai 56-74% dari seluruh pertanyaan. Sosial ekonomi yaitu lingkungan sosial akan mendukung tingginya pengetahuan seseorang sedangkan bila ekonomi baik. Bila pengetahuan pasien kurang membuat pasien tidak mengerti tentang prosedur tindakan yang akan dilakukan sehingga membuat pasien merasa lebih cemas dalam menghadapi operasi seksio sesarea. sedangkan umur semakin tua umur seseorang maka pengalaman akan semakin banyak. tingkat pengetahuan akan tinggi juga. pengalaman disini berkaitan dengan umur dan pendidikan individu. BAB III METODEOLOGI PENELITIAN . 3.

Kerangka Konsep Operasi seksio sesarea merupakan suatu tindakan medis yang dilakukan pada ibu hamil trisemester akhir. A.1. M. B. kurangnya informasi yang benar tentang seksio sesarea serta tehnik operasi yang akan dijalani akan menambah kecemasan pasien dalam menjalani operasi seksio sesarea sehingga dapat memperburuk proses tindakan dan pemulihan setelah menjalani operasi pembedahan. Tingkat kecemasan Pasien Pre Operasi v Tingkat Pendidikan v Pengetahuan Variabel Indevenden Variabel Devenden . Yunus Bengkulu Tahun 2008. Rancangan Penelitian dan Jenis Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian secara Deskriptif dengan menggunakan desain penelitian cross sectional yang merupakan rancangan penelitian dengan menggunakan pengukuran atau pengamatan pada saat bersamaan (sekali waktu) yang bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat kecemasan pasien pre operasi seksio sesarea ditijau dari tingkat pendidikan dan pengetahuan di Ruang Mawar RSUD Dr.

Pendidikan terakhir Mengajukan Questioner yang pernah diraih pertanyaan responden Ordi nal 0= Dasar (SD. 1. M. Berat : nilai 1929 Hasil Ukur a. Yunus Bengkulu. Sedang : nilai 14-18 2 Tingkat Pendidikan Kondisi yang Melihat Ceklis mengambarkan lang perasaan takut terhadap proses sung operasi/pembedahan yang ingin dijalani pasien. 3 Pengetahuan Segala sesuatu yang Mengajukan Questioner diketahui oleh pertanyaan pasien tentang operasi seksio sesarea Ordi nal D. 1997). Definisi Operasional No Variabel 1 Tingkat Kecemasan Definisi Cara Ukur Alat Ukur Skala Ukur Ordi nal b.C. Sampel . Populasi dan Sampel 1. Populasi Populasi adalah keseluruhan subject penelitian yang akan diteliti (Notoatmodjo. Populasi dalam penelitian ini pasien yang akan menjalani operasi seksio sesarea di ruang mawar RSUD Dr. SLTP) 1= Menengah (SMA) 2= Tinggi (PT) 0= Kurang (bila jawaban benar 05) 1= cukup (bila jawaban benar 67) 2= baik bila jawaban 8-10).

dan tingkat kecemasan pasien pre operasi seksio sesarea. Pengolahan data . E. palpasi dan menggunakan angket dengan cara menyebarkan kuesioner pada pasien yang akan mejalani operasi seksio sesarea untuk menentukan tingkat pendidikan. Dalam penelitian ini sampel yang diambil menggunakan tekhnik pengambilan data dengan Accident Sampling. Yunus Bengkulu. palfasi dan menggunakan lembar kuisioner yang digunakan untuk memperoleh data.Data Primer yaitu data yang langsung didapat dari responden yang berisikan tentang pendidikan. 3. 1. observasi. dimana sampel yang menjadi objek penelitian adalah pasien yang akan menjalani operasi secsio sesarea di Ruang Mawar Dr. Waktu Waktu penelitian ini dilakukan sejak tanggal 28 Juni sampai dengan 12 Juli 2008. M. Teknik Pengolahan. 1. Analisa dan Penyajian Data. Waktu dan Tempat Penelitian 1. 2. Instrumen pengumpulan data Dalam penelitian ini instrumen yang digunakan yaitu Wawancara. data yang dikumpulkan dalam penelitian ini diperoleh melalui wawancara. 1. Teknik Pengumpulan Data 1. Tempat Penelitian ini dilakukan di Instalasi Rawat Inap Ruang Mawar RSUD Dr. Jenis data . Cara pengumpulan data Dalam upaya untuk mendapatkan data-data atau informasi yang jelas dan akurat. 1998). G. M. dikumpulkan melalui lembar kuesioner dan ceheck list. 1. pengetahuan. F. 1.Sampel adalah sebagian yang diambil dari populasi (Arikunto. Yunus Bengkulu dari tanggal 28 Juni sampai dengan 12 Juli 2008. observasi. pengetahuan terhadap tingkat kecemasan.

Pengkodean data (Coding) Coding adalah mengalokasikan jawaban-jawaban yang ada menurut macamnya kedalam bentuk yang lebih ringkas yang menggunakan kode-kode agar lebih mudah dan sederhana. Tabulasi data (Tabulating) Setelah dilakukan coding data. pengetahuan kurang 0. sedang 1. baik 2.com/2011/12/16/gambaran-tingkat-kecemasan-ditinjau-dari-tingkatpendidikan-dan-pengetahuan-pasien-pre-operasi-seksio-sesarea-di-ruang-mawar-rsud-dr-m-yunusbengkulu/ 222222222 . pendidikan dasar 0. a. Pengeditan datan (Editing) Langkah ini dilakukan peneliti untuk memeriksa kembali kelengkapan data yang diperlikan untuk mencapai tujuan penelitian dilakukan pengelompokan dan penyusunan data.Data yang dikumpulkan selanjutnya diolah dengan beberapa tahapan yaitu : a. 2. Analisa univariat untuk melihat distribusi frekuensi dari masing-masing variabel indevenden dan devenden dengan menggunakan rumus : P= Keterangan : P : Jumlah persentase yang dicari F : Jumlah frekuensi untuk setiap katagori n : Jumlah sampel http://kutaukomputer. Analisa univariat untuk melihat distribusi. Analisa Data Dalam penelitian ini digunakan analisa univariat dan analisa bivariat. Analisa Univariat analisa univariat yaitu seluruh variabel yang akan digunakan dalam analisa ditampilkan dalam distribusi frekuensi. c. tingkat kecemasan ringan 0. maka dilakukan tabulasi data dengan memberi skore pada masing-masing sub variabel. b. menengah 1. berat 2. cukup 1. tinggi 2.wordpress.

Analisa data yang dc. Nur Asnah Nadeak.2% dan paling sedikit adalah kategori kurang 17.date. http://repository.advisor dc. Untuk peneliti keperawatan selanjutnya disarankan agar dapat melakukan pendidikan kesehatan dan memberikan motivasi kepada keluarga dalam memberikan dukungan pada pasien pre operasi untuk mengurangi tingkat kecemasan pasien pre operasi.ac.ac.01.date.Full metadata record DC Field dc.Untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi digunakan uji Spearman.available dc.identifier.uri dc. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruangan RB2 Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan.usu.contributor.2%.description Value Language en_US Tarigan.usu.issued dc.8% dan yang paling sedikit adalah kategori berat 24. Besar sampel adalah 62 orang dengan metode pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Anggota keluarga memandang bahwa orang yang bersifat mendukung selalu siap memberikan pertolongan dan bantuan jika diperlukan.identifier.id/handle/123456789/24606 091121032 Dukungan keluarga adalah sikap. dimana didapat nilai r = 0. Ruspina Jenita 2011-05-19T03:34:25Z 2011-05-19T03:34:25Z 2011-05-19 Fredo Hasugian http://repository. tindakan dan penerimaan keluarga terhadap penderita yang sakit.398 dan nilai p = 0.7%.id/handle/123456789/24606?mode=full 3333333333 .other dc.author dc. Hasil penelitian diperoleh bahwa dukungan keluarga yang terbesar adalah kategori baik 53.description.date.advisor dc. Kecemasan merupakan bagian dari kehidupan manusia yang ditandai dengan perasaan ketakutan atau kekhawatiran yang mendalam dan berkelanjutan. Desain penelitian yang digunakan adalah desain studi korelasional. Mula Sitohang.contributor. Untuk tingkat kecemasan kategori tertinggi adalah ringan 46.contributor.accessioned dc.abstract digunakan adalah statistik univariat dan statistik bivariat.

TAMPILKAN FULLTEXT PDF 62Kb Preview PDF Restricted to Repository staff only 1108Kb Official URL Abstract .PERBEDAAN TINGKAT KECEMASAN PASIEN PRE OPERATIF SELAMA MENUNGGU JAM OPERASI ANTARA RUANG RAWAT INAP DENGAN RUANG PERSIAPAN OPERASI RUMAH SAKIT ORTOPEDI SURAKARTA PARYANTO. Universitas Muhammadiyah Surakarta. PARYANTO (2009) PERBEDAAN TINGKAT KECEMASAN PASIEN PRE OPERATIF SELAMA MENUNGGU JAM OPERASI ANTARA RUANG RAWAT INAP DENGAN RUANG PERSIAPAN OPERASI RUMAH SAKIT ORTOPEDI SURAKARTA. Skripsi thesis.

02 dan tingkat kecemasan di ruang persiapan operasi mencapai skor 17. Soeharso Surakarta. Data dari laporan tahunan Instalasi Bedah Sentral (2008).ac. manusia amatlah akrab dengan berbagai macam penyakit ringan maupun berat.99 termasuk kategori sedang. Tindakan operasi atau pembedahan merupakan pengalaman yang bisa menimbulkan kecemasan. Kecemasan timbul pada pasien pre operasi ketika menunggu jam operasi diruang rawat inap dan kondisi ini meningkat ketika pasien berada di ruang persiapan operasi. tahun 2006 : 3827 pasien ( 6. pasti Allah juga menciptakan obatnya. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan alat ukur yang digunakan adalah kuesioner Hamilton Rating Scale for Anxiety (HRS-A). oleh karena itu berbagai kemungkinan buruk bisa terjadi yang akan membahayakan pasien. jumlah tindakan bedah di IBS Rumah Sakit Ortopedi Prof DR R Soeharso Surakarta tahun 2005 : 3589 pasien.ums. Metode. yang diyakini berkhasiat menyembuhkan jenis penyakit tertentu. DR. Namun tentu semua jenis pengobatan dan obat-obatan tersebut hanya terasa khasiatnya bila disertai dengan sugesti dan keyakinan. atau sistim pemijatan. Hanya ada manusia yang mengetahuinya dan ada juga yang tidak mengetahuinya. maka Islam mengenal istilah do‟a dan keyakinan.000 pada tingkat signifikansi 5% berarti terbukti ada perbedaan tingkat kecemasan pasien pre operatif selama menunggu jam operasi antara ruang rawat inap dengan ruang persiapan operasi di Rumah Sakit Ortopedi Surakarta dengan signifikansi . Tingkat kecemasan diruang rawat inap rata-rata ringan yaitu skor 12. baik berupa tumbuh-tumbuhan secara tunggal maupun yang sudah terkomposisikan. Semua dilakukan dengan trial dan error.2 % ) pasien dan pada tahun 2008 : 3827 pasien ( turun 2 % dibanding tahun 2007 ). pembekaman.eprints.Dzikir. '07 12:12 AM para Todos Dunia pengobatan semenjak dahulu selalu berjalan seiring dengan kehidupan umat manusia.Kecemasan (ansietas) adalah respon psikologik terhadap stres yang mengandung komponen fisiologik dan psikologik. Karena sebagai mahluk hidup.Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian survey dengan rancangan penelitian Discriptive Comparative dan pengambilan sampel mengunakan Quota Sampling untuk memperoleh 94 responden. Keinginan untuk terlepas dari segala macam penyakit inilah yang mendorong manusia untuk membuat upaya menyingkap berbagai metode pengobatan. Dengan pengobatan yang tepat (tentunya berdasarkan pengetahuan . Ansietas adalah keadaan suasana perasaan (mood) yang ditandai oleh gejala-gejala jasmaniah seperti ketegangan fisik dan kekhawatiran tentang masa depan. hingga operasi pembedahan. http://etd. Kesimpulan.id/4455/ 444444 Meditasi dengan Al Qur‟an Sep 5. mulai dari mengkonsumsi berbagai jenis obat-obatan.6 % ). Uji Mann Whiney U Test diperoleh nilai koefisien Mann-Whitney U sebesar 2505. namun perkembangan jenis penyakit juga tidak kalah cepatnya ber-regenerasi. Analisis statistik menggunakan Mann Whiney U Test. Teknologi medis boleh saja semakin modern dan canggih. tahun 2007 : 4143 ( 8.000 dan probability value (r-value) sebesar 0. Disinilah kekuatan Do‟a . Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan tingkat kecemasan pasien pre operatif selama menunggu jam operasi diruang rawat inap dengan ruang persiapan operasi Instalasi Bedah Sentral di Rumah Sakit Ortopedi Prof. Sementara banyak manusia yang tidak menyadari bahwa Allah tidak pernah menciptakan manusia dengan ditinggalkan begitu saja. Setiap kali penyakit muncul. Tujuan. R.

for a long time · if you meditate. meditatio yang berarti merenungkan dan juga berakar dari kata Mederi (kesehatan) dari kata ini pula diserap kata medisin. sehingga terjadi tumpang tindih dan tidak dapat dibedakan secara tegas antara „meditasi‟ dan „kontemplasi‟. Samedi itu artinya meditasi dalam bahasa Sangsekerta atau dalam bahasa Ibrani = hagah. tersimpan potensi-potensi penyembuhan bagi penyakit. dzikir. dan jenis-jenis penyakit emosional. seperti kanker. dosis obat yang sesuai disertai doa dan keyakinan. . or the product of this activity. „meditasi‟ adalah “pemusatan perhatian pada suatu obyek batin secara terusmenerus. Belajar meditasi merupakan bagian dari latihan mengendalikan pikiran. kerusakan kromosom/ DNA. Dalam Alkitab bahasa Inggris perkataan tsb diterjemahkan sebagai Meditation. esp. akan ternyata bahwa di dalam „meditasi‟ justru proses berpikir berhenti untuk sementara. Meditasi. Sedangkan pengertian meditasi dalam kamus Cambridge International Dictionary of English. Bahwa untuk mengatasi kekecewaan. Untuk mengatasinya bisa dengan latihan meditasi. adalah pemusatan pikiran dan perasaan untuk mencapai sesuatu. Pada dasarnya. yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. either as a religious activity or as a way of becoming calm and relaxed: prayer and meditation. Meditation is serious thought or study. praktik-praktik sufi. tafakur (meditasi). Ini hampir sama dengan „kontemplasi‟ yang didefinisikan secara persis sama. tidak ada penyakit yang tidak bisa disembuhkan terkecuali maut. Kata „meditasi‟ [meditation] didefinisikan sebagai “praktek berpikir secara mendalam dalam keheningan. tetapi kata meditasi itu lebih dikenal dengan nama samedi yang diserap dari bahasa Sansekerta. ternyata tidak sekedar ritual-ritual tanpa makna.” (Oxford Advanced Learner‟s Dictionary). Dalam bahasa Indonesia.penyakit yang tidak bisa disembuhkan oleh kedokteran modern. psikologis dan non medis. Merujuk pada praktek-praktek agung tasawuf praktis. „meditasi‟ dianggap sebagai proses „berpikir‟. Jadi jelas meditasi itu sebenarnya baik bagi kesehatan.dan pengalaman puluhan tahun). terutama untuk alasan keagamaan atau untuk membuat batin tenang. usually as a religious activity or as way calming or relaxing your mind. Meditasi adalah latihan konsentrasi yang dapat digunakan untuk mempertajam tehnik dan meningkatkan kepekaan terhadap suasana sekitar. you give your attention to one thing. and do not think about anything else. adalah: Meditate is to think seriously (about something). samadhi yang juga disebut dhyana atau pranayama. PENGERTIAN MEDITASI Perkataan Meditasi itu sendiri diserap dari bahasa Latin. Dalam kamus yang bersifat umum ini. strooke. seperti sholat.” Memang ada obyek-obyek meditasi tertentu yang berupa pikiran atau ide/konsep. Meditation is also the act of giving your attention to only one thing. Jadi bermeditasi adalah memusatkan pikiran dan perasaan untuk mencapai sesuatu. Tetapi kalau dikaji secara lebih mendalam dan dipraktekkan. Dibalik praktik-praktik sufi tersebut. kita harus mencari sumbernya dulu yaitu pikiran.

Dan ada juga yang mengartikan bahwa meditasi adalah sebuah pelatihan yang menggunakan pikiran untuk tujuan mengatur pikiran dengan usaha kita. sehingga pokok-caranya dapat membukakan kesadaran yang sedang bermeditasi akan arti makna yang lebih luas dan dalam. Sedangkan tujuan meditasi ialah melatih pikiran. dalam keadaan tenang. yang berbeda dengan introspeksi.pemahaman diri yang diperoleh dari meditasi bersifat transformatif (mengubah). dan beristirahat/ berhenti pada pokok yang dipilih. Pemusatan perhatian tidaklah berarti anda kosong. sehingga ia menurut perintahnya sang Pribadi. hal ini dianggap bukanlah bagian/tahapan meditasi. Kita meditasi pada yang abstrak. Jadi. Ada juga yang memberi pengertian bahwa meditasi yang sering kita dengar mempunyai pengertian yaitu: sikap menenangkan pikiran dengan cara-cara tertentu di mana pikiran kita sampai menemukan sensasi-sensasi sehingga menimbulkan rasa damai dalam hati untuk mencapai ketenangan jiwa (ruhani). tidak juga mempunyai kwalitas atau lambang-lambang. volisional. dsb). tidaklah kosong sama sekali. konsentrasi adalah sebuah upaya keras (baca: dipaksa) untuk memusatkan pada sesuatu. Dalam ajaran Budha terdapat sebuah tahapan meditasi. Pengertian konsentrasi ialah untuk memahami dan menguasai pikiran-perasaan sehingga ia tidak lagi menanggapi dengan kacau terhadap suatu peristiwa. afektif. pemahaman melalui introspeksi kebanyakan hanya bersifat kognitif saja. ataupun ke cakra jantung untuk memberikan lebih banyak kekuatan kepada roh. meskipun keduanya dalam pelaksanaannya berhubungan. Meditasi dapat didefinisikan sebagai suatu aktivitas yang mengakibatkan hubungan erat beberapa orang dengan Tuhan. sehingga biasanya tidak banyak perubahan yang terjadi. oleh karena pemahaman itu melibatkan seluruh aspek diri (kognitif. Sebagaimana namanya pemusatan perhatian. Atau dengan kata lain.Dengan demikian. Di lain pihak. Tidak dianjurkan bagi anda untuk berada dalam keadaan kosong seratus persen karena ini mungkin dapat membiarkan masuknya kekuatan dari luar yang dapat mengganggu. Karena Yang Tertinggi tidak mempunyai bentuk dan tidak mempunyai nama. Perbedaan Konsentrasi dan Meditasi Terdapat perbedaan jelas antara konsentrasi dan meditasi. tidak berbentuk. meditasi adalah cara lain untuk memahami diri. Latihan-latihan konsentrasi adalah suatu pendidikan kembali mengenai tekniknya pikiranrendah. dan menghentikan sifatnya yang bergerak kian kemari dan tidak menentu. MANFAAT MEDITASI . Justru pemahaman yang diperoleh dari meditasi jauh lebih tepat dan sesuai dengan keadaan sebenarnya dibandingkan dengan pemahaman dari introspeksi yang dipengaruhi oleh kebiasaan-kebiasaan pikiran yang tidak disadari sehingga memberikan hasil yang bias. yaitu Dharana yang berarti pemusatan perhatian tanpa paksaan. perhatian anda tertunjukkan pada sesuatu. Meditasi tingkat tinggi biasanya mengajarkan untuk memusatkan perhatian ke cakra mahkota untuk menerima lebih banyak kekuatan spiritual. atau ke antara alis mata untuk membangkitkan mata spiritual. Di samping itu. lebih baik pada hal yang mengandung arti yang dalam dan rohaniah. tidak bernama.

membawa pada kecerdasan otak. Meditasi dalam agama Yahudi dikenal dengan nama hitbonenut ini bisa dibaca di Kabbalah sedangkan bangsa Yunani kuno mengenal meditasi dengan nama “Gnothi se auton” = “mengenal diri sendiri”. meditasi adalah suatu cara untuk mengembangkan bathin menuju taraf kesempurnaan yang selanjutnya menjadi dasar dari kebijaksanaan. Menurut kepercayaan orang India/Hindu. namun untuk peningkatan rohani. Maka jika anda benar-benar ingin mendalami meditasi. Unsur-unsur gaib itu berupa zat yang sangat halus sebagai inti dari segala zat yang menjadi roh dari alam. justeru dapat mengatasi pelbagai masalah serta meningkatkan produktivitas dan meningkatkan kesehatan. Meditasi ada dua macam. kemurungan serta mudah marah. keheningan dan kejernihan pikiran. bahwa di udara bebas ini terdapat unsu-unsur gaib yang bersatu dengan zat asam (oksigen). dengan demikian membuahkan jasmani dan rohani yang selalu jernih dan segar. dan menganjurkan kepada para pelakunya agar tidak terlalu melakukan konsentrasi. Tujuan dari meditasi ini adalah kesunyian yang indah.yaitu usaha intensif untuk memfokuskan pikiran pada mantra. maupun dengan alat-alat apapun. Meditasi duduk ini sebenarnya sudah diperkenalkan oleh Islam jauh sebelum Sidharta Gauthama lahir melalui ajaran Budhi Dharma. Beberapa cara meditasi melibatkan pengulangan suara tertentu secara internal. Juga daya fikir bertambah kuat dan tajam. Dalam latihan Meditasi Islam. Zat tersebut sedemikian halusnya hingga tak dapat ditanggapi dengan panca indera. perkara yang harus diperhatikan ialah bagaimana mereka dapat menemukan makna dan tujuan hidup yang memberikan sense of direction. seperti pada penyelidikan Zen Meditation. Teknik seperti itu akan menyegarkan dan membuat orang relaks. Meditasi ini juga sering dipraktikkan oleh Nabi Muhammad SAW ketika . dan kemudian pada penyelidikan Transcendental Meditation. Meditasi bisa mengurangi kecemasan telah diselidiki oleh tokoh-tokoh sarjana Barat. stress. Dengan metode ini.Menurut ajaran Buddhis. pastikan anda dilatih oleh mereka benar-benar mahir dan berpengalaman serta mampu memberi penjelasan untuk setiap keadaan. fikiran tetap terjaga dengan baik dan senantiasa terkontrol. yang menurut kepercayaan mereka sesuai dengan irama gerakan alam. yaitu meditasi duduk dan meditasi gerak (Tai-Chi). konsentrasi tetaplah sangat perlu . AGAMA DAN MEDITASI Meditasi bukan hanya dikenal oleh agama yang berasal dari India & Tiongkok saja bahkan hampir disemua agama mereka mempraktekan meditasi. Zat inilah yang mereka beri nama Prana. antara lain untuk penyembuhan penyakit. Tetapi kajian di barat juga telah membuktikan 33% hingga 50% mereka yang melakukan meditasi tanpa teknik yang betul akan mengalami peningkatan dalan tekanan darah. Latihan meditasi dengan pemusatan fikiran pada pernafasan disebut Anaspanasati. Cara mendapatkan zat gaib atau prana tadi ialah dengan jalan pernafasan yang diatur dengan irama tertentu. Zat ini mempunyai tenaga gaib yang amat berkuasa untuk berbagai macam kepentingan.

telah datang kepadamu kitab yang berisi pelajaran dari Tuhanmu dan sebagai obat penyembuh jiwa. “Hai manusia. Yunus/10: 57) . Subhi Al Salih berarti „bacaan‟. “Dan kami menurunkan Al Qur’an sebagai penawar dan Rahmat untuk orang-orang yang mu’min. Gua Hira bukanlah tempat bertahannuts seperti yang dilakukan beliau sebelum diangkat menjadi Rasul. dan ditulis di mushaf dan diriwayatkan dengan mutawatir serta membacanya adalah ibadah. yang pada saat itu disebut dengan berkhalwat dan tahannuts. Beliau melakukan meditasi di Gua Hira. meditasi gerak juga sudah ada dalam ajaran Islam yaitu dalam bentuk gerakan shalat. Pada saat selanjutnya. Maka. ISLAM DAN MEDITASI Salah satu fase penting yang secara simbolik sering disebut sebagai mencerminkan corak misi yang dibawa oleh Nabi Muhammad adalah saat dia bertahannuts atau melakukan meditasi di Hira. Ar Ra’d/13: 28) Menurut para ahli tafsir bahwa nama lain dari Al Qur‟an yaitu “Asysyifâ” yang artinya secara Terminologi adalah Obat Penyembuh. Adapun definisi Alqur‟an adalah: “Kalam Allah swt. Al Isra/17: 82) “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah.” (QS. Ingatlah. mendakwahkan ajaran-ajaran. hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tentram. Al Qur’an dan Kesehatan Arti Qur‟an menurut pendapat yang paling kuat seperti yang dikemukakan Dr. ia balik ke kota. sebuah gua di luar kota Mekah. Nabi saw pergi ke gua Hira hanya untuk bertemu dengan malaikat Jibril dengan tujuan tasmi? (memperdengarkan) hafalan Alqur‟an beliau dihadapan Jibril.” (QS.” (QS. yang merupakan mu‟jizat yang diturunkan (diwahyukan) kepada nabi Muhammad saw. dia tidak terus tinggal di sana. Kata Alqur‟an itu berbentuk masdar dengan arti isim maf‟ul yaitu maqru` (dibaca). Setelah nabi mendapat wahyu pada 610 M. asal kata qara`a. Sebaliknya. menikmati meditasi yang soliter. Seperti halnya meditasi duduk. dan melakukan apa yang dalam istilah sekarang disebut sebagai transformasi sosial. ketika menghadapi masalah yang menimpa diri dan umatnya.” Banyak ayat Al Qur‟an yang mengisyaratkan tentang pengobatan karena AlQur‟an itu sendiri diturunkan sebagai penawar dan Rahmat bagi orang-orang yang mukmin.sebelum dan sesudah diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Tetapi dijadikan tempat untuk mengoreksi ayat-ayat Alqur‟an yang telah diterimanya. sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. menjauhkan diri dari masyarakat.

” (HR Bukhori) “Siapa saja yang disibukkan oleh Alqur’an dalam rangka berdzikir kepada-Ku. Selanjutnya ia berkata. Walaupun tidak dibarengi dengan data ilmiah.Di samping Al Qur‟an mengisyaratkan tentang pengobatan juga menceritakan tentang keindahan alam semesta yang dapat kita jadikan sebagai sumber dari pembuat obat. An-Nahl 16:11) “Dan makanlah oleh kamu bermacam-macam sari buah-buahan. anggur dan buahbuahan lain selengkapnya. I. Di alamnya terdapat tandatanda Kekuasaan Allah bagi orang-orang yang mau memikirkan”. Ibnu Majah dan Ibnu Mas’ud) Dan masih banyak lagi dalil yang menerangkan bahwa berbagai penyakit dapat disembuhkan dengan membaca atau dibacakan ayat-ayat Alqur‟an (lihat Assuyuthi. “Dia menumbuhkan tanaman-tanaman untukmu. Syaikh Ibrahim bin Ismail dalam karyanya Ta‟lim al Muta‟alim halaman 41. malaikat menaungi mereka dan Allah menyebut-nyebut mereka pada makhluk yang ada di sisi-Nya”. terj. “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Alqur’an dan mengajarkannya. (HR. Jalaluddin.” (HR. CV. dan memohon kepada-Ku. . Surya Angkasa Semarang. “Tak ada lagi bacaan yang dapat meningkatkan terhadap daya ingat dan memberikan ketenangan kepada seseorang kecuali membaca Alqur‟an”. seperti keutamaan Allah atas makhluk-Nya. seperti zaitun. Semarang. Banyak pula hadits Nabi yang menerangkan tentang keutamaan membacanya dan menghafalnya atau bahkan mempelajarinya. Al Qur‟an sebagai Penyembuh (Alqur‟an asy Syâfî). An-Nahl 16: 69) Berdasarkan keterangan tadi. mereka membaca Alqur’an dan mempelajarinya. membiasakan melaksanakan ibadah salat malam. sesungguhnya pada hal-hal yang demikian terdapat tanda-tanda Kekuasaan Allah bagi orang-orang yang mau memikirkan”. sebuah kitab yang mengupas tata krama mencari ilmu berkata. At Turmudzi) “Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah (masjid) Allah. serta tempuhlah jalan-jalan yang telah digariskan tuhanmu dengan lancar. dan membaca Alquran sambil melihat kepada mushaf”. (QS. korma. cet. Dan keutamaannya Kalam Allah daripada seluruh kalam selain-Nya. mereka diliputi dengan rahmat. Muslim) “Hendaklah kamu menggunakan kedua obat-obat: madu dan Alqur’an” (HR.obatan. Achmad Sunarto. dapat dipastikan bahwa orang yang membaca Alqur‟an akan merasakan ketenangan jiwa. niscaya Aku akan berikan sesuatu yang lebih utama daripada apa yang telah Aku berikan kepada orang-orang yang telah meminta. “Terdapat beberapa hal yang dapat menyebabkan seseorang kuat ingatan atau hafalannya. Di antaranya. (QS. kecuali turun kepada mereka ketentraman. menyedikitkan makan. Dari perut lebah itu keluar minuman madu yang bermacam-macam jenisnya dijadikan sebagai obat untuk manusia. 1995).

menangkal berbagai macam penyakit merupakan pengaruh umum yang dirasakan orang-orang yang menjadi objek penelitiannya. yakni membacakan Alquran dengan tartil dan membacakan bahasa Arab yang bukan dari Alqur‟an. Alquran terbukti mampu mendatangkan ketenangan sampai 97% bagi mereka yang men dengarkannya. . Penelitiannya ditunjang dengan bantuan peralatan elektronik terbaru untuk mendeteksi tekanan darah. Dalam laporan sebuah penelitian yang disampaikan dalam Konferensi Kedokteran Islam Amerika Utara pada tahun 1984. suatu yang menjadi penawar (obat) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Alquran itu tidaklah menambah kepada orangorang yang zalim selain kerugian” (Q. bacaan Alquran lebih dari itu. 7: 204). seorang Muslim. Dari hasil uji cobanya ia berkesimpulan. Selain menjadi ibadah dalam membacanya. Kesimpulan hasil uji coba tersebut diperkuat lagi oleh penelitian Muhammad Salim yang dipublikasikan Universitas Boston.S. “Dan Kami telah menurunkan dari Alquran.S. Hal tersebut diungkapkan Dr. disebutkan. baik mereka yang berbahasa Arab maupun bukan. responden mendapatkan ketenangan sampai 65% ketika mendengarkan bacaan Alquran dan mendapatkan ketenangan hanya 35% ketika mendengarkan bahasa Arab yang bukan dari Alqur‟an. Menurut penelitiannya. Penelitian yang dilakukan sebanyak 210 kali ini terbagi dua sesi. detak jantung. Nurhayati dari Malaysia dalam Seminar Konseling dan Psikoterapi Islam di Malaysia pada tahun 1997. ketahanan otot. Al Qadhi. Al Qadhi ini diperkuat pula oleh penelitian lainnya yang dilakukan oleh dokter yang berbeda.Dr. Kesimpulannya. berhasil membuktikan hanya dengan mendengarkan bacaan ayat-ayat Alquran. melalui penelitiannya yang panjang dan serius di Klinik Besar Florida Amerika Serikat. Selain memengaruhi IQ dan EQ. Sungguh suatu kebahagiaan dan merupakan kenikmatan yang besar. bacaan Alquran memengaruhi kecerdasan spiritual (SQ). Penelitian Dr.17:82). simaklah dengan baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat” (Q. dan ketahanan kulit terhadap aliran listrik. Mahabenar Allah yang telah berfirman. kita memiliki Alquran. bacaan Alquran berpengaruh besar hingga 97% dalam melahirkan ketenangan jiwa dan penyembuhan penyakit. Objek penelitiannya terhadap 5 orang sukarelawan yang terdiri dari 3 pria dan 2 wanita. Kelima orang tersebut sama sekali tidak mengerti bahasa Arab dan mereka pun tidak diberi tahu bahwa yang akan diperdengarkannya adalah Alqur‟an. Penemuan sang dokter ahli jiwa ini tidak serampangan. bayi yang berusia 48 jam yang kepadanya diperdengarkan ayat-ayat Alquran dari tape recorder menunjukkan respons tersenyum dan menjadi lebih tenang. Alquran memberikan pengaruh besar jika diperdengarkan kepada bayi. Atau juga. kesedihan. “Dan apabila dibacakan Alquran. dapat merasakan perubahan fisiologis yang sangat besar. bacaannya memberikan pengaruh besar bagi kehidupan jasmani dan rohani kita. Penurunan depresi. Jika mendengarkan musik klasik dapat memengaruhi kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosi (EQ) seseorang. memperoleh ketenangan jiwa.

Membaca. psikologis. adalah hukum.Atau. “Ingatlah. ahsan alhadits. kata-kata yang digunakan adalah tidur. Platonov telah membuktikan dalam eksperimennya bahwa kata-kata sebagai suatu Conditioned Stimulus (Premis dari Pavlov) memang benar-benar menimbulkan perubahan sesuai dengan arti atau makna kata-kata tersebut pada diri manusia. yang oleh kaum Muslim diartikan bahwa petunjuk yang dikandungnya akan membawa manusia pada kesehatan spiritual. berdekatan dengannya. Relaksasi Aspek Waqof Alqur‟an adalah sebuah kitab suci yang mempunyai kode etik dalam membacanya. dan fisik. hanya dengan berdzikir kepada Allah-lah hati menjadi tentram” (Q. Pikiran dan tubuh dapat berinteraksi dengan cara yang amat beragam untuk menimbul kan kesehatan atau penyakit. tidur dan memang individu tersebut akhirnya tertidur. auto sugesti. dan berita-berita ancaman bagi mereka yang tidak beriman dan atau tidak beramal sholeh.S. Zakiah Daradjat mengatakan bahwa sembahyang. Kata-kata yang penuh kebaikan sering memberikan efek auto sugesti yang positif dan yang akan menimbulkan ketenangan. alqur‟an berisikan ucapan-ucapan yang baik. mendengar. salah satu unsur yang dapat dikatakan meditasi dalam Alquran adalah. Membaca Alqur‟an harus tanpa nafas . maka dengarkanlah baik-baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat. Maka. yang dalam istilah Alqur‟an sendiri. dan kedua. Unsur Meditasi Al Qur’an Kitab ini. Al A’raf: 204) Menurut hemat penulis. semuanya merupakan cara-cara pelegaan batin yang akan mengembalikan ketenangan dan ketentraman jiwa kepada orang-orang yang melakukannya. do‟a-do‟a dan permohonan ampun kepada Allah. pertama. tentu saja bukanlah sebuah buku sains ataupun buku kedokteran. Banyak sekali nasihat-nasihat. berita-berita kabar gembira bagi orang yang beriman dan beramal sholeh. dan mendengarkannya.ukum bacaan yaitu waqaf. Kesembuhan menggunakan Alqur‟an dapat dilakukan dengan membaca. “Dan apabila dibacakan Alqur’an.” (QS. namun Alqur‟an menyebut dirinya sebagai „penyembut penyakit‟. memperhatikan dan berdekatan dengannya ialah bahwasanya Alqur‟an itu dibaca di sisi orang yang sedang menderita sakit sehingga akan turun rahmat kepada mereka. Allah saw menjelaskan. Membaca Alqur‟an tidak seperti membaca bacaan-bacaan lainnya. 13: 28). Pada eksperimen Plotonov. Aspek Auto Sugesti Alqur‟an merupakan kitab suci umat Islam yang berisikan firman-firman Allah.

baik pria maupun wanita selagi mereka dalam keadaan suci atau berwudlu. Jadi cara membaca Alqur‟an itu bisa disesuaikan dengan tanda-tanda waqaf dalam Alqur‟an atau disesuaikan dengan kemampuan si pembaca dengan syarat bahwa bacaan yang dibacanya tidak berubah arti atau makna. 3. Walaupun jika berhenti dengan sengaja pada kalimat-kalimat tertentu yang dapat merusak arti dan makna yang dimaksud. Penekanan-penekanan tersebut dalam ilmu tajwid dinamakan mad. maka hukumnya haram. Waktu Meditasi dengan Alqur’an . baik di akhir ayat maupun di tengah ayat dan disertai nafas. yaitu apabila terdapat mad bertemu dengan hamzah dalam kalimat yang terpisah. Berhenti berdasarkan kemampuan nafas pembaca. Mad Badal. Adapun hukumhukum bacaan mad dalam ilmu Tajwid menurut Rowi Hafsh adalah: 1. Waqaf dalam Alquran > Tanda awal atau akhir ayat > Tanda awal atau akhir surat > Tanda-tanda waqaf Kemampuan nafas pembaca Siapa saja bisa boleh membaca Alqur?an. yang telah berguru kepada imam „Ashim. Cara membaca hukum ini adalah 2 harakat. Mad Munfashil. yaitu apabila terdapat hamzah yang berharakat bertemu dengan huruf mad yang sukun. Mad Muttashil. bisa dikategorikan dalam bagian-bagian waqaf. 2. Adapula beberapa penekanan nafas dalam membaca Alqur‟an. kedudukannya tidak dihukumi wajib syar‟i bagi yang melanggarnya. Cara baca hukum ini 4 harakat.dalam pengertian sang pembaca harus membaca dengan sekali nafas hingga kalimat-kalimat tertentu atau hingga tanda-tanda tertentu yang dalam istilah ilmu tajwid dinamakan waqaf. muda maupun tua. Waqof artinya berhenti di suatu kata ketika membaca Alqur‟an. Indonesia adalah negara yang mayoritas umat Islam menerapkan hukum-hukum membaca Alqur‟an menurut Rowi. Hafsh. yaitu apabila terdapat mad bertemu dengan hamzah dalam satu kalimat. Jika si pembaca berhenti pada tempat yang tidak semestinya maka dia harus membaca ulang kata atau kalimat sebelumnya. Mengikuti tanda-tanda waqof yang ada dalam Alqur‟an. Cara membaca hukum ini adalah 4 harakat. Jadi bagaimanapun kemampuan mereka bernafas mereka boleh membaca Alqur‟an. dalam ilmu tajwid. baik anak kecil.

cara membacanya maupun http://musiconlinecairo. „Waktu-waktu pilihan yang paling utama untuk membaca Alqur‟an ialah dalam sholat.“ 2. Dalam sholat An-Nawawi berkata. hanya saja memang ada beberapa dalil yang menerangkan bahwa ada waktu-waktu yang lebih utama dari waktu-waktu yang lainnya untuk membaca Alqur‟an. Setelah Subuh Sebagai penutup mudah-mudahan ini merupakan langkah awal untuk bisa lebih membuktikan unsur-unsur kesehatan dari Alqur‟an. Malam-malam yang lebih dicintai Allah ialah malam Qadar. Ali Imron 3:113) Waktu malam ini pun dibagi menjadi 2: > antara waktu Maghrib dan Isya > bagian malam yang terakhir 3. Allah telah memilih hari-hari. Allah telah memilih zaman.‟ Al Baihaqi meriwayatkan dalam asy Syu‟ab dari Ka‟ab r. maka hari yang lebih dicintai Allah ialah hari Jum?at. maka negeri-negeri yang lebih dicintai Allah ialah negeri al Haram (Mekkah).a. ia berkata: “Allah telah memilih negeri-negeri. maka kalam yang dicintai Allah adalah lafadz „La ilâha illallâh wallâhu akbar wa subhanallâhi wal hamdulillâh. sedang mereka juga bersujud (sholat). Hari-hari bulan Dzulhijjah yang lebih dicintai Allah ialah sepuluh hari yang pertama. maka waktu yang lebih dicintai Allah ialah waktu-waktu sholat yang lima waktu. Waktu-waktu tersebut adalah: 1. Dan bulan yang lebih dicintai Allah ialah bulan dzulhijjah. Allah telah memilih kalam-kalam (perkataan). “Di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus. Allah telah memilih waktu-waktu malam dan siang.multiply. Malam hari Waktu-waktu yang paling utama untuk membaca Alqur‟an selain waktu sholat adalah waktu malam. maka zaman yang lebih dicintai Allah ialah bulan-bulan haram. Allah menegaskan. baik makna-maknanya.” (QS.Pada hakikatnya tidak ada waktu yang makruh untuk membaca/meditasi Alqur‟an.com/journal/item/34 55555 . mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful