11111

Perbedaan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Preoperasi Sebelum Dan Sesudah Diberikan Terapi Musik Di Bangsal Bedah RS XX
Posted on 8 September 2011 by grahacendikia Kecemasan adalah keadaan yang tidak mengenakan dan tidak merasa nyaman yang terjadi di kehidupan sehari-hari yang juga dapat terjadi pada seseorang yang akan menjalani operasi. Dalam studi pendahuluan di Rumah Sakit Daerah XX pada bulan April 2011 didapatkan data bahwa, dari 10 orang pasien yang akan dilakukan operasi dengan General Anastesi, ternyata kurang lebih 60% mengalami kecemasan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan tingkat kecemasan pasien preoperasi sebelum dan sesudah diberikan terapi musik di Bangsal Bedah RS XX. Penelitian ini merupakan penelitian Quasi Eksperiment dengan pendekatan potong lintang (cross sectional). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasein preoperasi yang berada di bangsal bedah RS XX selama kurun waktu bulan Juli sampai Agustus 2011. Teknik sampel yang digunakan adalah convinience sampling dengan jumlah sampel yang diambil sebanyak 30 orang. Hasil penelitian ini diperoleh tingkat kecemasan pasien preoperasi sebelum dilakukan terapi musik di RS XX sebagian besar adalah tingkat kecemasan sedang yaitu sebanyak 21 orang (70%). Tingkat kecemasan pasien preoperasi sesudah dilakukan terapi musik di RSD sebagian besar adalah tingkat kecemasan ringan yaitu sebanyak 20 orang (66,7%). Berdasarkan uji Wilcoxon diketahui nilai p = 0,0005 (p<0,05) menunjukkan adanya perbedaan sangat signifikan antara tingkat kecemasan pasien preoperasi sebelum dan sesudah diberikan terapi musik di RS XX. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terapi musik dapat menurunkan tingkat kecemasan pada pasien yang akan menjalani operasi.
http://grahacendikia.wordpress.com/2011/09/08/perbedaan-tingkat-kecemasan-pada-pasienpreoperasi-sebelum-dan-sesudah-diberikan-terapi-musik-di-bangsal-bedah-rs-xx/ 222222222222

HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN KECEMASAN PADA PASIEN PRE OPERASI Undergraduate Theses from JIPTUMM / 2002-09-01 08:53:00 Oleh : FERLINA INDRA S.(99010074), Nursing Academy Dibuat : 2002-10-30, dengan 1 file Keyword : hubungan pasien Latar Belakang:Persiapan pra bedah penting sekali untuk memperkecil resiko operasi, karena hasil akhir suatu pembedahan sangat bergantung pada penilaian keadaan penderita dan persiapan pra bedah yang telah dilakukan, dari hasil penelitian didapatkan sekitar 80% dari semua pasien yang menjalani pembedahan,mengalami kecemasan.Tujuan Penelitian:Untuk mengetahui ada

atau tidaknya hubungan pengetahuan dengan kecemasan pada pasien pre operasi.Metode Penelitian:Metode yang digunakan adalah korelasional dengan sampel 20 orang.Pengambilan sampel dengan total populasi Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Pengumpulan data dimulaidaripersiapan, pelaksanaan dan pengambilan data. Dalam pengolahan data digunakan prosentase yang selanjutnya dianalisa dengan menggunakan chi-square.Dari hasil analisa data didapatkan hasil x2 tabel =1,82 dan x2 (0,05)(1) =1,sehingga didapatkan keputusan analisa x2 hitung < x2(0,05)(1) .Kesimpulan Ho diterima dan HI ditolak,ini berarti tidak ada hubungan pengetahuan pengetahuan dengan kecemasan pada pasien pre operasi.Hal ini bisa dipengaruhi banyak hal antara lain waktu penelitian,pemilihan sampel,dan lingkungan rumah sakit. Deskripsi Alternatif : Latar Belakang:Persiapan pra bedah penting sekali untuk memperkecil resiko operasi, karena hasil akhir suatu pembedahan sangat bergantung pada penilaian keadaan penderita dan persiapan pra bedah yang telah dilakukan, dari hasil penelitian didapatkan sekitar 80% dari semua pasien yang menjalani pembedahan,mengalami kecemasan.Tujuan Penelitian:Untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan pengetahuan dengan kecemasan pada pasien pre operasi.Metode Penelitian:Metode yang digunakan adalah korelasional dengan sampel 20 orang.Pengambilan sampel dengan total populasi Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Pengumpulan data dimulaidaripersiapan, pelaksanaan dan pengambilan data. Dalam pengolahan data digunakan prosentase yang selanjutnya dianalisa dengan menggunakan chi-square.Dari hasil analisa data didapatkan hasil x2 tabel =1,82 dan x2 (0,05)(1) =1,sehingga didapatkan keputusan analisa x2 hitung < x2(0,05)(1) .Kesimpulan Ho diterima dan HI ditolak,ini berarti tidak ada hubungan pengetahuan pengetahuan dengan kecemasan pada pasien pre operasi.Hal ini bisa dipengaruhi banyak hal antara lain waktu penelitian,pemilihan sampel,dan lingkungan rumah sakit.
http://digilib.itb.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jiptumm-gdl-s1-2002-ferlina-5477-2002 3333333333

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT KECEMASAN PADA PASIEN PRE OPERASI APENDIKTOMI DI BANGSAL BEDAH BRSD RAA SOEWONDO PATI
Posted: Maret 22, 2011 in Keperawatan (S1)

0

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perawat mempunyai kontak paling lama dalam menangani persoalan klien (pasien) dan peran perawat dalam upaya penyembuhan klien menjadi sangat penting. Seorang perawat dituntut bisa mengetahui kondisi dan kebutuhan pasien.Termasuk salah satunya dalam mengendalikan kebutuhan emosi diri pasien, terutama pada pasien pre operasi dan post operasi. Seperti yang dikemukakan oleh perkumpulan dokter spesialis indonesia, bahwa tindakan operasi dapat menaikkan tingkat kecemasan pasien dan meningkatkan hormon pemicu stress (Ibrahim, 2006). Perawat profesional sebagai tenaga kesehatan yang dalam tugas pokoknya adalah memenuhi kebutuhan dasar klien harus mampu merespon dan bersikap secara profesional dalam mengendalikan kebutuhan emosi pasien. Karena perawat merupakan tenaga profesional terbesar dalam struktur ketenagaan rumah sakit yang akan ikut mewarnai mutu pelayanan kesehatan (Gillies, 1995). Perawatan pre operasi yang efektif dapat mengurangi resiko post operasi, salah satu prioritas keperawatan pada periode ini adalah mengurangi kecemasan pasien. Cemas merupakan reaksi normal terhadap ancaman pembedahan. Orang yang sangat cemas dan mencoba menyesuaikan diri dengan kecemasan sebelum operasi sering kali menderita kesukaran pada pasca operasi. Mereka cenderung banyak marah, kesal, dan bingung (Ellis dan Nowlis,1994). Tindakan pembedahan seringkali menjadi ancaman potensial atau aktual bagi integritas seseorang. Hal ini disebabkan tindakan pembedahan dapat membangkitkan reaksi stress baik fisiologis maupun psikologis. Setiap klien berbeda pandangan dalam menanggapi tindakan bedah atau operasi sehingga responnya berbeda-beda pula. Pada respon fisiologis ada tindakan langsung dengan bedah, karena tindakan bedah merupakan stresor pada tubuh. Respon ini terdiri dari sistem saraf simpati dan respon hormonal yang bertugas melindungi tubuh dari ancaman cidera. Bila stress terhadap sistem cukup gawat atau kehilangan darah cukup banyak, tubuh akan terlalu banyak beban dan terjadi shock. Sedangkan respon psikologi secara umum berhubungan dengan adanya ketakutan terhadap anestesia, diagnosis yang belum pasti, keganasan, nyeri, ketidakmampuan dan cerita dari orang lain (Long,1996). Operasi apendiktomi termasuk salah satu tindakan pembedahan yang juga dapat membangkitkan reaksi stress pada pasien. Karena pasien yang mengalami proses peradangan apendiktomi harus dilakukan operasi ( Martius, 1990). Apendiktomi begitu sering dijumpai sehingga lebih dari 50 persen kasus dari operasi abdomen akut yang dirawat di rumah sakit adalah peradangan apendiks (Cope, 1991). Hal ini sesuai dengan data yang tercatat pada bagian rekam medis BRSD RAA Soewondo Pati dari tahun 20022006 ditemukan kasus apendiktomi sebanyak 498 kasus, sedangkan pada tahun 2006 sebanyak 172 kasus dan jumlah operasi yang mengalami kecemasan di BRSD RAA Soewondo Pati pada tahun 2001- 2005 ada 456 orang atau 80,4% (Medical Record BRSD RAA Soewondo Pati, 2006). Faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan pasien pre operasi dapat berasal dari faktor internal dan eksternal. Faktor internal antara lain berupa usia, jenis kelamin, pekerjaan, tingkat pendidikan, tingkat sosial ekonomi, dan tipe kepribadian. Sedangkan faktor eksternal berupa ancaman tarhadap integritas biologis dan ancaman terhadap konsep diri (Stuart dan Sundeen, 1998). Kecemasan yang terjadi pada pasien yang akan dilakukan tindakan pembedahan termasuk

Menganalisis hubungan antara usia dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi apendiktomi dibangsal bedah BRSD RAA Soewondo Pati. Menggambarkan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kecemasan pasien pre operasi apendiktomi dibangsal bedah BRSD RAA Soewondo Pati.operasi apendiktomi. D. c. d. 2. Perumusan Masalah 1. http://bankjudul. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat: 1. f.com/2011/03/22/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-tingkat-kecemasanpada-pasien-pre-operasi-apendiktomi-di-bangsal-bedah-brsd-raa-soewondo-pati/ 444444444 .wordpress. Menganalisis hubungan antara sosial ekonomi dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi apendiktomi dibangsal bedah BRSD RAA Soewondo Pati. Tujuan Khusus a. Faktor apa saja yang mempengaruhi kecemasan pasien pre apendiktomi. C. Sesuai dengan uraian diatas penulis ingin mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kecemasan pada pasien pre operasi apendiktomi di bangsal bedah BRSD RAA Soewondo Pati. 2007). 2. Tujuan Umum Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan pasien pre operasi apendiktomi dibangsal bedah BRSD RAA Soewondo Pati. Menganalisis hubungan antara pekerjaan dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi apendiktomi dibangsal bedah BRSD RAA Soewondo Pati. Menganalisis hubungan antara jenis kelamin dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi apendiktomi dibangsal bedah BRSD RAA Soewondo Pati. dapat diantisipasi baik dengan memahami bagaimana cara panyebab kecemasan secara tepat. 2. b. Pemberian informasi yang adekuat pada klien yang akan dilakukan tindakan pembedahan umumnya mampu mengurangi tingkat kecemasan yang dirasakan klien. Hal ini sesuai dengan pendapat Amran. B. e. Sebagai bahan masukan di BRSD RAA Soewondo Pati terutama dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien pre apendiktomi. bahwa penyampaian prosedur atau informasi merupakan salah satu tindakan yang digunakan dalam mengatasi atau mengurangi pada kecemasan sebelum operasi (Amran. Tujuan Penelitian 1. Menganalisis hubungan antara pendidikan dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi apendiktomi dibangsal bedah BRSD RAA Soewondo Pati. Bagaimanakah hubungan antara masing-masing faktor dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi apendiktomi. Sebagai landasan dasar dalam membuat daftar tilik SOP (standard operational prosedur) bagi pasien sebelum dilakukan operasi.

Dari. . Pelayanan yang ada di Rumah Sakit adalah pelayanan pengobatan baik yang bersifat bedah maupun non bedah. Latar Belakang Rumah sakit adalah sebuah fasilitas. Bila kecemasan pada pasien pre operasi tidak segera diatasi maka dapat mengganggu proses penyembuhan.1%) mengalami kondisi kejiwaan dan 2. Kecemasan merupakan perasaan yang paling umum di alami oleh pasien yang dirawat dirumah sakit. 24 Mei 2011 HUBUNGAN PENDIDIKAN DAN PERAN PERAWAT DENGAN TINGKAT KECEMASAN PADA PASIEN PRE OPERASI DI RUANG SERUNI RSUD. 2002). Berdasarkan data WHO (2007). dan identitas diri (Tjandra. Reaksi cemas ini akan berlanjut bila pasien tidak pernah atau kurang mendapat informasi yang berhubungan dengan penyakit dan tindakan yang dilakukan terhadap dirinya. Kecemasan terjadi ketika seseorang merasa terancam baik fisik maupun psikologisnya misalnya harga diri. Pembahasan tentang reaksi – reaksi pasien terhadap pembedahan sebagian besar berfokus pada persiapan pembedahan dan proses penyembuhan (Dewi wijayanti. Kecemasan merupakan gejala klinis yang terlihat pada pasien dengan penatalaksanaan medis.922 pasien (25. untuk itu pasien yang akan menjalani operasi harus diberi pendidikan kesehatan untuk menurunkan atau mengurangi gejala kecemasan (Carbonel. apalagi yang akan menjalani operasi. sebuah institusi dan sebuah organisasi yang fungsi utamanya adalah memberikan pelayanan kepada pasien diagnostik dan terapeutik untuk berbagai penyakit dan masalah kesehatan. Sebagian besar pasien beranggapan bahwa operasi merupakan pengalaman yang menakutkan.473 pasien (7%) mengalami kecemasan. kecemasan yang sering terjadi adalah apabila pasien yang dirawat di rumah sakit harus mengalami proses pembedahan. 2003). M. 8. YUNUS BENGKULU TAHUN 2010 BAB I PENDAHULUAN 1.Asip KU search: Selasa. Setiap pasien pernah mengalami periode cemas. gambaran diri. Amerika Serikat menganalisis data dari 35.539 pasien bedah dirawat di unit perawatan intensif antara 1 oktober 2003 dan 30 september 2006. 2006). Pembedahan merupakan tindakan pengobatan yang banyak menimbulkan kecemasan.

5%) dalam kategori ringan dan responden yang tidak merasa cemas sebanyak 2 orang (5%). Peran perawat sangat penting dalam penanggulangan kecemasan dan berupaya agar pasien tidak merasa cemas melalui asuhan keperawatan komprehensif secara biologis. . sosial. Seorang perawat dituntut bisa mengetahui kondisi dan kebutuhan pasien.Berdasarkan data dari RSUD Sragen Wijaya Kusuma. didapatkan bahwa 10% dari pasien yang akan menjalani pembedahan. 15 orang (37. suami. Hasil penelitian di Rumah Sakit Ortopedi Prof Dr. 2002). Perawat merupakan salah satu tenaga kesehatan yang paling sering berinteraksi dengan pasien. Peran perawat dalam upaya penyembuhan klien menjadi sangat penting. 16 orang (40%) yang memilki tingkat kecemasan dalam kategori sedang. (Ibrahim. Makin tinggi pendidikan seseorang. Perawat harus mau mendengarkan semua keluhan pribadi pasien (Widodo. 1998). psikologis. Soeharso tahun 2008 dari 3827 pasien yang mengalami pembedahan sekitar (2%) mengalami kecemasan (Makmur. anak ataupun keluarga yang lain. 1999). 2002 ). Selain itu faktor pendidikan pasien juga dapat mempengaruhi kecemasan yaitu tingkat pendidikan yang rendah serta kurangnya dukungan dari perawat (Sadock dan Kaplan. Termasuk salah satunya dalam mengendalikan kebutuhan emosi diri pasien terutama pasien pre operasi dan post operasi. terutama dalam motivasi untuk berperan serta dalam pembangunan kesehatan.al (2007) tentang tingkat kecemasan pre operasi bahwa dari 40 orang responden dalam tingkat kecemasan berat sebanyak 7 orang (17.5%). R. maka memerlukan keterampilan komunikasi yang baik. 2007). Salah satu cara melakukan hal ini ialah dengan mencurahkan perhatian sampai kepada hal yang sekecil-kecilnya dalam merawat pasien. terjadi penundaan proses operasi karena peningkatan kecemasan. 2007). Perawat mempunyai kontak paling lama dalam menangani persoalan pasien. termasuk dalam pemberian pendidikan kesehatan. maka makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimilikinya. dan faktor psikologis yang dapat terjadi akibat implusimplus bawah sadar yang masuk kealam sadar seperti tidak didampingi oleh orang tua. dan spiritual. Pendidikan dapat mempengaruhi seorang termasuk juga prilaku seseorang akan kepatuhannya. Kecemasan yang terjadi dapat berpengaruh terhadap peningkatan tekanan darah (RSUD Sragen. Penelitian yang dilakukan oleh makmur et. Sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap perubahan-perubahan hidup sehat (Notoatmojo. Peran perawat sangat penting untuk memberikan suport atau dukungan dan penyuluhan terhadap penurunan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi ( Kuntjoro. 2006). Kecemasan pre operasi dapat dipengaruhi dari beberapa faktor antara lain adalah faktor biologis yang terjadi akibat dari reaksi saraf otonom yang berlebihan dengan naiknya system tonus saraf simpatis. mempunyai kewajiban membantu pasien mempersiapkan fisik dan mental untuk menghadapi operasi. Sikap dan tingkah laku perawat membantu menumbuhkan rasa kepercayaan pasien.

Yunus Bengkulu. Berdasarkan hasil observasi dengan teknik wawancara selama tiga hari di ruang seruni RSUD M. Mengetahui gambaran peran perawat di ruang seruni RSUD. gemetar sehingga dapat menghambat proses operasi. sering buang air kecil. Tujuan agar persiapan yang dilakukan dapat sebaik mungkin (RSUD M. Tujuan Khusus 1. yang dirawat 2154 pasien. Yunus Bengkulu. Tujuan penelitian 1. 2008). Sedangkan rumusan masalah penelitian ini adalah "apakah ada hubungan pendidikan pasien dan peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD M. Yunus Bengkulu. Yunus Bengkulu. 3. Yunus Bengkulu". Yunus Bengkulu. memotivasi pasien untuk memberi keyakinan bahwa operasi dapat berjalan dengan lancar. . dengan rincian sembuh 2259 dan 36 pasien meninggal (15%) dilakukan penundaan karena peningkatan kecemasan. 2. Yunus Bengkulu didapatkan data bahwa dari 15 pasien yang akan melakukan operasi 5 orang yang mengalami kecemasan berat dengan ciri-ciri muka merah. Dari 5 orang yang mengalami kecemasan berat tersebut mempunyai pendidikan SMA kebawah dan kurang mendapatkan penkes dari perawat. Untuk menurunkan tingkat kecemasan pasien tersebut keluarga dan perawat harus lebih banyak memberikan dukungan salah satunya yaitu selalu berada dekat pasien. 2. Tujuan umum Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada Hubungan antara pendidikan dan peran perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. Pasien yang akan menjalani operasi besar dianjurkan untuk minimal masuk rumah sakit 12 jam sebelum pre operasi dilaksanakan dan operasi kecil 6 jam sebelum dilaksanakan.Berdasarkan hasil pengumpulan data di RSUD M. Sementara dari pengumpulan data awal diruang Seruni RSUD M. pada tahun 2007 terdapat 4449 pasien yang mengalami pembedahan. M. M. 2. susah tidur. masalah penelitian ini adalah masih tingginya tingkat kecemasan pasien pre operasi di RSUD M.. Mengetahui gambaran tingkat pendidikan pada pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. sehingga tindakan anestesi atau pembedahan ditunda. Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan di atas.Yunus Bengkulu. M. maka penulis tertarik untuk meneliti hubungan pendidikan pasien dan peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. nafas pendek. M. gelisah. Yunus Bengkulu. Rumusan masalah Berdasarkan uraian dalam latar belakang di atas. Yunus Bengkulu didapatkan data 2008 sebanyak 1033 dan data 2009 dari januari sampai tanggal Desember sebanyak 786 orang yang melakukan operasi. Kecemasan yang terjadi dapat berpengaruh terhadap peningkatan tekanan darah.

5. . Bagi Peneliti Lain Hasil penelitian ini dapat berguna sebagai masukan atau informasi bagi peneliti lain dalam mengembangkan penelitian dengan variabel-variabel yang lain. 4. Yunus Bengkulu". Manfaat penelitian 1. M. Bagi Akademik Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi literatur bagi perpustakaan. Keaslian penelitian Sebagai bahan perbandingan penelitian serupa pernah diteliti oleh : 1.Yunus Bengkulu. Yunus Bengkulu. Mengetahui hubungan pendidikan dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. Mengetahui hubungan peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. M. kecemasan. rancangan dan waktu penelitian. Menambah wawasan dan pengetahuan bagi mahasiswa dan masyarakat mengenai tingkat kecemasan pada pasien pre operasi. 4. Yunus Bengkulu. 3. Bagi Rumah sakit Hasil penelitaan ini diharapkan dapat memberi masukan bagi para tenaga kesehatan khususnya pada perawat di ruang seruni dan ruangan yang lain. 2. atau depresi dalam menghadapi pembedahan. 5. 2. M. Dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan di bidang kesehatan. Bagi Masyarakat Dapat memperoleh pelayanan yang lebih baik terutama yang mengalami ketakutan. Mengetahui tingkat Kecemasan pasien pre operasi di Ruang Seruni RSUD Dr. Agri Maha Tirani dengan judul penelitian "Perbedaan tingkat kecemasan sebelum dan sesudah pemberian pendidikan kesehatan pada pasien pre operasi di RSUD.Adapun perbedaan antara karya tulis ini dengan karya tulis tersebut adalah pada variabel. Rinda Lesti Sentia dengan judul penelitian " Hubungan Tingkat Pendidikan dan Umur Kehamilan dengan Tingkat Kecemasan Ibu Hamil Primigravida di Rumah Bersalin YKWP Desa Kangkung Kabupaten Demak. M.3. 4.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1. Mekanisme . 1998). nafas sesak dan dada terasa nyeri (Ayub Sani. Kecemasan adalah Suatu kondisi yang menyangkut terminologi kesehatan jiwa dengan suatu kondisi was-was. Keadaan emosi ini tidak memiliki subyek yang spesifik. Pengertian Cemas adalah keadaan emosi individu yang berkaitan dengan perasaan yang tak pasti dan tidak berdaya. kondisi ini dialami secara subyektif (yang hanya dirasakan individu tersebut) dan dikomunikasikan dalam hubungan interpersonal (Stuard and Sundeen. Faktor-faktor Penyebab Kecemasan 1. Secara klinis gejala kecemasan dibagi dalam beberapa kelompok yaitu gangguan kecemasan. 2005) Jadi. 2006). Psikologis Ditinjau dari aspek psikoanalisa. ancaman) yang masuk kealam sadar. Kecemasan adalah suatu keadaan dimana psikologis seseorang berada pada ketakutan dalam menghadapi masalah yang ada pada dirinya. 2. Kecemasan adalah suatu keadaan yang menggoncangkan karena adanya ancaman terhadap kesehatan (Siti Sundari. Elika dengan judul penelitian " Hubungan peran perawat dan dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD M. perut terasa kosong. gangguan panik. Faktor Biologis Kecemasan terjadi akibat dari reaksi saraf otonomi yang berlebihan dengan naiknya sistem tonus saraf simpatis. Konsep Kecemasan 1. 2007). rancangan dan waktu penelitian. kecemasan dapat muncul akibat implus-implus bawah sadar (misalnya : sex. Kecemasan merupakan komponen utama bagi hampir semua gangguan kejiwaan (psychiatric disorder). gangguan cemas menyeluruh (Generalized anxiety disorder/GAD). Adapun perbedaan antara karya tulis ini dengan karya tulis di atas adalah pada variabel. Yunus Bengkulu.3. 2. gangguan phobik dan gangguan obsesifkompulsif (Dadang Hawari.

dimana lingkungan yang tidak kondusif berpotensial besar terhadap kecemasan yang dialami . Potensi stressor Suatu keadaan yang menyebabkan perubahan dalam individu. 6. 3. sehingga individu harus melakukan penyesuaian diri (adaptasi). operasi. Ekonomi Seseorang yang memiliki pendapatan rendah lebih mudah mengalami kecemasan. 1998). dibandingkan dengan orang yang memiliki pendapatan tinggi. Sosial budaya Individu yang tidak bersosialisasi dengan masyarakat lebih mudah mengalami kecemasan. Sosial Kecemasan yang timbul akibat hubungan interpersonal dimana individu menerima suatu keadan yang menurutnya tidak disukai oleh orang lain yang berusaha memberikan penilaian atas opininya (Sadock dan Kaplan. 4. Reaksi pergeseran yang dapat mengakibatkan reaksi fobia. Disamping itu kelelahan fisik (lemah. 5. lebih mudah mengalami kecemasan. Selain itu faktor yang mempengaruhi tingkat kecemasan menurut Soewandi (1998) antara lain : 1. 2. penyakit. letih. Lingkungan Lingkungan sangat berpengaruh pada kecemasan seseorang. Kecemasan merupakan peringatan yang bersifat subyektif atas adanya bahaya yang tidak dikenali sumbernya. 3. Keadaan fisik Seseorang yang mengalami gangguan fisik seperti cacat badan. Kecemasan bisa terjadi pada individu yang tingkat pendidikannya rendah disebabkan karena kurangnya informasi yang didapat individu tersebut. 3. sakit.pembelaan ego yang tidak sepenuhnya berhasil juga dapat menimbulkan kecemasan yang mengambang. lesu) lebih mudah megalami kecemasan. Tingkat pendidikan Status pendidikan yang rendah pada seseorang akan menyebabkan orang tersebut mudah mengalami kecemasan.

Tingkat kecemasan 1. 4. menyebutkan gejala klinis dari cemas antara lain : Cemas. biasanya kecemasan sering dialami oleh usia muda. gelisah. Ansietas Sedang (Tingkat II) . sulit tidur. Menurut Dadang Hawari (2006). takut pada keramaian. Ansietas Ringan (Tingkat I) 1. Jenis kelamin Kecemasan lebih banyak dialami wanita. dibandingkan dengan pria. Reaksi fisik terhadap kecemasan pada masingmasing individu berbeda (Setyonegoro. Umur Umur ikut menentukan kecemasan. mudah tersinggung. Ansietas dapat memotivasi belajar dan menghasilkan pertumbuhan. muntah-muntah. 5. mimpi yang menegangkan Gangguan konsentrasi dan daya ingat Keluhan somatik misalnya rasa sakit pada otot tulang. sakit kepala dan lain sebagainya. sering buang air besar atau kecil. Merasa tegang. gangguan muskulo skeletal. berhenti berbicara dan terjadi perubahan suara.seseorang. 5. takut akan fikirannya sendiri. nyeri pada gastro intestinal. 1994). khawatir. Berhubungan dengan ketegangan yang dialami dalam kehidupan sehari. gangguan pencernaan. tidak tenang. Gangguan pola tidur. mudah terkejut. 8. pendengaran berdenging (tinnitus). mulut kering. 6. Takut sendiri. berdebar-debar. gagap. 2. kebingungan. gangguan perkemihan. nadi cepat. 3. berkeringat. mengetuk jari-jari. firasat buruk. 7. sesak nafas. 4. Gejala-gejala tersebut antara lain: Iritabilitas. gangguan kulit. energi menurun. 2. Gejala – gejala Kecemasan Keadaan cemas mempunyai gejala-gejala somatik atau fisik dan gejala psikologis atau mental. hiperventilasi. begitu juga sebaliknya jika lingkungannya kondusif mempercepat penyembuhan seseorang. hiperaktifitas. dan banyak orang.hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada dan meningkatkan lahan persepsinya.

Ansietas Berat (Tingkat III) Sangat mengurangi lahan persepsi seseorang. Orang tersebut banyak pengarahan untuk dapat memusatkan pada suatu area lain. Harapan 2. sehingga seseorang mengalami perhatian yang selektif namun dapat melakukan sesuatu yang lebih terarah. 1997). Sterssor dapat di kelompokkan dalam dua kategori. yaitu: 1. ketakutan dan terror-terror. Ansietas terhadap sistem diri seseorang dapat membahayakan identitas. 7. Perincian terpecah dari proporsinya karena mengalami kehilangan kendali. Percaya diri 2. Panik melibatkan disorganisasi kepribadian.Memungkinkan seseorang untuk memusatkan pada hal yang penting dan mengesampingkan yang lain. Optimisme 5. Stressor Pencetus Stressor pencetus berasal dari sumber internal atau eksternal. Ansietas terhadap integritas seorang meliputi ketidakmampuan fisiologis yang akan datang atau menurunnya kapasitas untuk melakukan aktivitas sehari-hari. 1997). Semua perilaku ditujukan untuk mengurangi ketegangan. 6. Tingkat Panik Berhubungan dengan terperangah. 3. Dialog Internal Membantu pasien mengembangkan pesan dialog sendiri yang meningkatkan : 1. persepsi yang menyimpang dan kehilangan pemikiran yang rasional tingkat ansietas ini tidak sejalan dengan kehidupan dan jika berlangsung terus dalam waktu yang lama dapat terjadi kelelahan yang sangat bahkan kematian (Hudak dan Gallo. Orang yang mengalami panik tidak mampu melakukan sesuatu walaupun dengan pengarahan. Kemampuan untuk mengatasi 4. 1. Seseorang cenderung untuk memusatkan pada sesuatu yang terinci dan spesifik dan tidak berfikir tentang hal lain. Teknik Mengatasi ansietas Teknik kognitif dapat membantu pasien ansietas dan tidak tergantung pada wawasan atau pemahaman yang kompleks dari kondisi psikologi diri sendiri. Perasaan pengendalian 3. dengan panik terjadi peningkatan aktivitas motorik. Dialog Eksternal . harga diri dan fungsi sosial (Brunner dan suddarth. 2. 4. menurunnya kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain.

takut tentang deformitas dan ancaman lain terhadap citra tubuh dapat menyebabkan ketidaktenangan atau ansietas (Brunner dan Suddarth. takut tentang ketidaktahuan. Alat ukur kecemasan untuk mengetahui sejauh mana derajat kecemasan apakah ringan atau berat dengan menggunakan alat ukur (instrument) yang dikenal denga nama Hamilton Rating Scale or Anxiaty (HRS-A) dengan skor ringan jika ≤ 28 dan berat jika ≥ 28. tertawa. menyiapkan klien untuk diberikan anestesi dan pembedahan bagaimanapun kegiatan perawatan dibatasi oleh pengkajian pre operasi dalam ruangan atau selama operasi. Pengertian Pasien Pre operasi dapat mengalami berbagai ketakutan.Dengan dialog eksternal kebutuhan pasien untuk berbicara cara akurat tentang dirinya dengan orang lain. 1997). Khayalan Mental dan Relaksasi Mendorong pasien untuk mengkhayalkan tempat yang indah atau menjadi bagian dari pengalaman yang menyenangkan sehingga dapat membantu pasien menurunkan ketegangan (Abraham dkk. Mekanisme Koping Mekanisme koping adalah suatu bentuk pertahanan yang di gunakan oleh seseorang yang sedang berada pada suatu bentuk kecemasan untuk menghindar atau mengurangi respon yang ditimbulkan oleh kecemasan tersebut. 2. melakukan kegiatan fisik. 1997). Pre Operasi 1. tidur.tipe tingkah laku seperti mennangis. 9. Perawatan pre operasi merupakan bagian dari perawat perioperatif yang di mulai dari kapan di putuskan tindakan operasi dibuat dan diakhiri dengan pemindahan klien ke meja ruang operasi. Tujuan Prosedur pembedahan . 8. Hal ini menurunkan rasa ketidak berdayaan dan ansietas mereka. Dimana mekanisme koping setiap orang berbeda-beda. 1997). Lingkup kegiatan perawatan pre operasi termasuk dalam menetapkan batas pengkajian klien setting secara klinis atau dalam ruangan. 3. 10. takut terhadap nyeri atau kematian. Takut terhadap anestesi. interview preoperatif. merokok dan minum-minum (Brunner dan Suddarth. Tipe .

Pasien yang gelisah dan takut biasanya sering bertanya berulang-ulang walaupun pertanyaan tersebut telah dijawab. 5.Sebagai salah satu bentuk pengobatan dan penatalaksanaan berbagai macam penyakit untuk mempercepat proses penyembuhan (Perry Potter. Perasaan gelisah dan takut kadang-kadang tidak tampak jelas. 2006). 1994). tapi kadang-kadang dapat terlihat dalam bentuk lain. Persiapan psikologis pasien pre operasi Pasien yang akan di operasi biasanya akan mengalami kegelisahan dan rasa takut. 1997). Penyuluhan tersebut harus melebihi deskripsi tentang berbagai langkah prosedur dan harus mencakup tentang sensasi yang akan di alami. tetapi berusaha mengalihkan perhatiannya kepada buku atau sebaliknya ia bergerak terus-menerus dan tidak mau tidur (Kaplan. Pembedahan Minor (pembedahan resiko kecil ) 4. Pengkajian psikologi pada pasien atau keluarga harus di lakukan supaya hal tersebut tidak menghambat rencana operasi. Kecemasan pada pasien pre operasi Kecemasan pada pasien pre operasi adalah kecemasan yang di akibatkan sterssor tindakan operasi. Mengetahui apa yang di perkirakan akan membantu pasien mengantisipasi reaksi-reaksi tersebut dan dengan demikian mencapai tingkat relaksasi yang lebih tinggi daripada yang di perkirakan sebaliknya (Brunner dan suddarth. kurangnya dukungan keluarga terhadap pasien pre operasi. 3. Pembedahan Mayor (pembedahan resiko tinggi ) 2. stressor tersebut merupakan faktor timbulnya kecemasan yang mengakibatkan terancamnya integritas seseorang meliputi ketidakmampuan fisiologis atau menurunkan kapasitas untuk melakukan hidup sehari-hari (Brunner dan suddarth. Salah satu caranya yaitu dengan penyuluhan pada keluarga maupun pasien supaya mereka mengerti apa yang akan terjadi. obat-obatan dan perawatan tindakan. 1997). Pasien biasanya tidak mau bicara dan memperhatikan keadaan sekitarnya. Sebagai contoh. Khawatir meninggal di meja operasi dan meninggalkan anakanak ditinggalkan seandainya ia meninggal saat atau setelah operasi. di kelompokkan menjadi dua bagian yaitu : 1. memberitahu pasien hanya medikasi pre operasi yang akan membuatnya rileks sebelum operasi tidaklah selektif bila menyebutkan juga bahwa medikasi tersebut dapat mengakibatkan kepala terasa melayang dan mengantuk. perawatan menjelang operasi yang dianggap sebagai hal baru. Jenis-jenis operasi Menurut derajat kepentingan Perry dan potter (2006). .

(1997) janis pendidikan terbagi atas 3 yaitu : 1. dan tinggi. Pendidikan Menengah : pendidikan menengah yang lamanya 3 tahun sesudah pendidikan dasar. dan ayat (3) menegaskan bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan Undang-Undang. Untuk itu. bangsa dan negara. 5. D2. 3. Pengertian Pendidikan adalah suatu usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. Pendidikan Dasar : warga Negara yang berumur 6 atau 7 tahun berkewajiban mengikuti pendidikan dasar atau sederajat selama 9 tahun yaitu SD dan SLTP. dan kemampuan yang dikembangkan menjadi: 2. 2. Pendidikan formal : Pendidikan formal merupakan usaha-usaha dalam pendidikan dasar dapat memberikan sumbangan dalam jangka panjang. 4. seluruh komponen bangsa wajib mencerdaskan kehidupan bangsa yang merupakan salah satu tujuan negara indonesia. Manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya. sekolah tinggi dan universitas yang termasuk perguruan tinggi D1. 1. Jenjang Pendidikan Menurut Diknas (2003). (Diknas. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. Pendidikan 1. politeknik. bukan saja bagi produktivitas. akan tetapi juga bagi tujuan terakhir pembangunan seperti kualitas keluarga dan kehidupan masyarakat. masyarakat. serta memperkuat kemasyarakatan. kepribadian. UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia menyelenggarakan Tahun 1945 Pasal 31 ayat (1) menyebutkan bahwa setiap warga Negara berhak mendapat pendidikan. Pendidikan Non-Formal : . D4. kecerdasan akhlak mulia.11. pendidikan formal yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar. Pendidikan Tinggi: satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi yang dapat berbentuk akademik. Sedangkan menurut Diknas (2003). tujuan yang akan dicapai. D3. Menurut Ahmadi. S1. dan S2. 2003). pengendalian diri. diselenggarakan di SLTA atau sederajat. Pendidikan merupakan usaha agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran atau cara lain yang dikenal dan diakui oleh masyarakat. menengah. menyatakan bahwa jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik.

Pendidikan non-Formal adalah pendidikan yang dilakukan secara teratur, dengan sadar dilakukan, tapi tidak terlalu ketat mengikuti peraturan-peraturan yang tepat, seperti pada pendidikan formal di sekolah. Karena pendidikan non-formal pada umumnya dilaksanakan tidak dalam lingkungan fisik sekolah maka sasaran pokok adalah anggota-anggota masyarakat. Diknas (2003), menyatakan pendidikan non-formal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang.
3. Pendidikan informal :

Pendidikan informal yakni pendidikan yang diperoleh seorang berdasarkan pengalaman dalam hidup sehari-hari dengan sadar atau tidak sadar, sejak seorang lahir sampai akhir hidupnya, di dalam lingkungan keluarga, masyarakat atau dalam lingkungan pekerjaan sehari-hari. Diknas (2003), menyatakan bahwa pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan. Pendidikan dapat mempengaruhi seorang termasuk juga prilaku seseorang akan kepatuhannya, terutama dalam motivasi untuk berperan serta dalam pembangunan kesehatan. Makin tinggi pendidikan seseorang, maka makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pngetahuan yang dimilikinya. Sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap perubahan-perubahan hidup sehat (Notoatmojo, 2002).

12. Hubungan pendidikan dengan kecemasan

Pendidikan merupakan salah satu faktor sosial dari kecemasan pada pasien pre operasi. Pada pasien yang pendidikannya hanya sebatas pendidikan dasar atau tidak pernah sekolah sangat susah dalam pemberian informasi. Setiap perawat yang menjelaskan pengetahuan tentang kesehatan pasien tidak mengerti. Berdasarkan penelitian yang lakukan di Kabupaten Demak menghasilkan informasi bahwa pendidikan masyarakat disana masih relatif rendah, sehingga tenaga kesehatan disana perlu melakukan konseling kepada ibu hamil primigravida sebagai upaya mengantisipasi terjadinya komplikasi dan kecemasan. Hasil penelitian Lesti, (2009). P < 0,05 menunjukkan bahwa hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara pendidikan pasien dengan tingkat kecemasan.

13. Peran Perawat 1. Definisi

Peran adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap seseorang sesuai kedudukannya dalam suatu system. Peran dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari dalam maupun dari luar dan bersifat stabil. Peran adalah bentuk dari perilaku yang diharapkan dari seesorang pada situasisosial tertentu. (Kozier Barbara, 1995:21). Peran Perawat (Ali Zaidin, 2001) meliputi : (a) Pelaksana pelayanan keperawatan, (b)Pengelola pelayanan keperawatan dan institusi Pendidikan, (c) Pendidik dalam keperawatan, (d)Peneliti dan pengembang keperawatan Perawat profesional baik dalam lingkungan perawatan kesehatan institusional maupun komunitas mengemban tiga peran : peran pelaksana, peran kepemimpinan dan peran peneliti. Meski tiap peran memiliki tanggung jawab khusus, peran-peran ini saling berhubungan satu dengan yang lain dan dapat ditemui pada semua posisi keperawatan. Peran ini dirancang untuk memenuhi perawatan kesehatan saat ini dan kebutuhan keperawatan dari konsumen yang merupakan penerima pelayanan keperawatan.
2. Peran Pelaksana

Peran pelaksana dari perawat mencakup tindakan-tindakan yang dilakukan oleh perawat ketiaka ia mengemban tanggung jawab yang ditujakan untuk memenuhi kebutuhan perawatan kesehatan dan kebutuhan keperawatan pasien secara individu, keluarga mereka dan orang terdekat pasien. Peran ini merupakan peran yang dominan dari perawat dalam lingkungan pelayanan kesehatan primer, sekunder, dan tersier dan dalam keperawatan kesehatan rumah dan komunitas. Peran ini merupakan peran yang hanya dapat dicapai melalui proses keperawatan, yang merupakan dasar untuk semua praktik keperawatan.
3. Peran Kepemimpinan

Peran Kepemimpinan dari perawat yang secara tradisional dikerap sebagai peran spesialisasi yang diembankannya oleh perawat yang mempunyai gelar yang menunjukkan kepemimpinan dan mereka yang memimpin sekelompok besar perawat atau profesional perawatan kesehatan yang berhubungan.Definisi kepemimpinan keperawatan yang dirumuskan oleh memberi cakupan yang luas pada konsep tersebut dan mengidentifikasi kepemimpinan sebagai peran yang melekat didalam semua posisi keperawatan. Peran kepemimpinan dari perawat mencakup tindakan-tindakan yang dilaksanakan oleh perawat saat ini ia mengemban tanggung jawab untuk mempengaruhi tindakan orang lain yang ditujukan untuk menentukan dan mencapai tujuan.
4. Peran Peneliti

Peran peneliti dari perawat pada mulanya dianggap hanya dilakukan oleh para akademikus, perawat ilmuwan dan mahasiswa keperawatan di tingkat sarjana. Kini, partisipasi dalam proses penelitian dianggap sebagai tanggung jawab dari perawat dalam praktik klinis. Tugas utama dari penelitian keperawatan adalah untuk memberikan konstribusi pada dasar ilmiah praktik keperawatan. Kajian dibutuhkan untuk menentukan keefektifan intervensi dan asuhan keperawatan. Melalui upaya penelitian semacam ini, ilmu keperawatan akan berkembang dan rasional yang didasarkan secara ilmiah untuk membuat perubahan dalam praktik keperawatan akan tercipta (Brunner dan Suddarth, 2001). Peran Perawat menurut Para Sosiolog
5. Peran terapeutik : kegiatan yang ditujukan langsung pada pencegahan dan pengobatan penyakit. 6. Expressive/mother substitute role, yaitu kegiatan yang bersifat langsung dalam menciptakan lingkungan dimana pasien merasa aman, diterima dilindungi, dirawat dan didukung oleh perawat. Menurut Johnson dan Martin, peran ini bertujuan untuk menghilangkan ketegangan dalam kelompok pelayanan (dokter, perawat, pasien, dan lain-lain)

Menurut konsorsium ilmu kesehatan (1989) dalam Ali Haidin (2001) peran perawat terdiri dari :
7. Sebagai pemberi asuhan keperawatan

Peran ini dapat dilakukan perawat dengan memperhatikan keadaan kebutuhan dasar manusia yang dibutuhkan melalui pemberian pelayanan keperawatan. Pemberian asuhan keperawatan ini dilakukan dari yang sederhana sampai dengan kompleks.
8. Sebagai advokat klien

Peran ini dilakukan perawat dalam membantu klien dan keluaga dalam menginterpretasikan berbagai informasi dari pemberi pelayanan khususnya dalam pengambilan persetujuan atas tindakan keperawatan. Perawat juga berperan dalam mempertahankan dan melindungi hak-hak pasien meliputi hak atas pelayanan sebaik-baiknya, hak atas informasi tentang penyakitnya, hak atas privasi, hak untuk menentukan nasibnya sendiri, hak menerima ganti rugi akibat kelalaian.
9. Sebagai edukator

Peran ini dilakukan dengan membantu klien dalam meningkatkan tingkat pengetahuan kesehatan, gejala penyakit bahkan tindakan yang diberikan sehingga terjadi perubahan perilaku dari klien setelah dilakukan pendidikan kesehatan.

(2002) yaitu. ahli gizi dan lain-lain dengan berupaya mengidentifikasi pelayanan keperawatan yang diperlukan. merencanakan serta mengorganisasi pelayanan kesehatan dari tim kesehatan sehingga pemberi pelayanan kesehatan dapat terarah serta sesuai dengan kebutuhan klien. (7) Memberikan pengarahan dan penyuluhan untuk meningkatkan kesehatan fisik dan mental.10. Sebagai konsultan Perawat berperan sebagai tempat konsultasi dengan mengadakan perencanaan. Sebagai koordinator Peran ini dilaksanakan dengan mengarahkan. 11. (2) Observasi gejala dan respons pasien yang berhubungan dengan penyakit dan penyebabnya. 12. (5) Mencatat dan melaporkan keadaan pasien. dan memperbaiki rencana keperawatan secara terus menerus berdasarkan pada kondisi dan kemampuan pasien. kerjasama. Hubungan peran perawat dengan kecemasan Orang yang sakit sangat memerlukan seseorang yang bisa mengobati penyakitnya tersebut dan orang sehat memerlukan seseorang yang bisa mengarahkan agar bisa . Sebagai kolaborator Peran ini dilakukan karena perawat bekerja melalui tim kesehatan yang terdiri dari dokter. menyusun. (1) Melaksanakan instruksi dokter (fungsi dependen). Tujuh Fungsi Perawat Kozier Barbara. kerjasama. 15. perubahan yang sistematis dan terarah sesuai dengan metode pemberian pelayanan keperawatan. fisioterapi. Fungsi Perawat Fungsi adalah pekerjaan yang harus dilaksanakan sesuai dengan perannya. 14. (6) Melaksanakan prosedur dan teknik keperawatan. perubahan yang sistematis dan terarah sesuai dengan metode pemberian pelayanan keperawatan 13. (4) Supervisi semua pihak yang ikut terlibat dalam perawatan pasien. Sebagai pembaharu Perawat mengadakan perencanaan. (3) Memantau pasien.

M. 2006). Klien merasa cemas tentang pembedahan.M. R. Secara unum perawat mempunyai peran terapeutik yaitu kegiatan yang ditujukan langsung pada pencegahan dan pengobatan penyakit. 2.05 yang mengalami kecemasan ringan sehingga dapat disimpulkan ada hubungan peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi. Karena masih kurangnya pengetahuan pasien tentang penyakit yang dideritanya. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Makmur et.mencegah dan terhindar dari berbagai penyakit. Ada hubungan antara pendidikan pasien dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. sehingga kekambuhan sering terjadi dan bahkan bertambah parah. BAB III METODE PENELITIAN 1. dengan nilai p < 0. Soerharto tahun 2008. Begitu pula dengan Pembedahan. Perawat harus dapat mengkaji perasaan klien tentang pembedahan. Klien merasa kurang dapat mengontrol situasi mereka sendiri untuk memahami dampak pembedahan pada kesehatan emosional klien tersebut.5% yang mengalami kecemasan ringan. 16. Desain penelitian . terdapat 37. Ada hubungan antara peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. sumber koping klien serta asuhan keperawatan yang terbaik (Perry Potter. Seseorang tersebut ialah perawat yang mempunyai banyak peran untuk melaksanakan praktek keperawatan. Hipotesa peneliti 1. Proses pembedahan sering menimbulkan stress psikologi yang tinggi. konsep diri. al (2007) dan penelitian rumah Sakit Ortopedi Prof Dr. citra diri.Yunus Bengkulu Tahun 2010.Yunus Bengkulu Tahun 2010. Dan hasil penelitian yang dilakukan Elika tahun 2009.

Tingkat kecemasan (Dependen) Suatu kondisi yang menyangkut kekhawatiran seseorang pada masalah yang terjadi. Definisi Operasional Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Cara ukur Hasil Ukur 0=Cemas Berat jika.2 Variabel Penelitian C. maka Variabel Penelitian dapat digambarkan sebagai berikut : Variabel Variabel Dependen Independen Bagan 3. Bagan 3. 2010). dimana variabel independen dan variabel dependen di kumpulkan pada saat bersamaan (Notoadmodjo. < 28 ≥ 28 Ordinal Skala Ukur .Desain penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Variabel Penelitian Sesuai dengan desain penelitian di atas. Kuisioner Wawancara (14 komponen pertanyaan HRS-A) dan observasi 1= Tidak Berat jika.1 Desain Penelitian B.

2010). 2010). 0.0. 2.786 orang.825 .0=Rendah ≤ SMA Pendidikan (Independen) Pendidikan Formal yang ditempuh pasien Kuisioner Dengan cara mengisi (1 pertanyaan kuisioner ) 1= Tinggi >SMA 0= kurang baik jika skor ≤ 75% Dengan cara mengisi kuisioner 1= baik. Kuisioner (15 pertanyaan) 1.175. Sampel Sampel adalah objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi ( Notoatmojo. jika skor ≥ 75% Ordinal Ordinal Peran Perawat (Independent) Tindakan yang dilakukan oleh perawat dalam proses penyembuhan.175. berdasarkan data jumlah pasien pada tahun 2009 adalah 1. Populasi dan Sampel 1. Dalam penelitian ini teknik yang digunakan adalah teknik Simple Random sampling n = Z²1-α/2. (Noto atmojo. 0. 0.84.P(1-P) = (1. Populasi Populasi adalah Keseluruhan dari objek penelitian yang di teliti.96)².825 =3. Populasi dalam penelitian ini adalah kelompok pasien pre operasi yang ingin menjalankan operasi di ruang Seruni dari bulan januari sampai bulan desember tahun 2010.

2008) Keterangan : n = Sampel Z(1-α/2) = Nilai Z pada derajat kemaknaan (α 5%=1. untuk mengukur tingkat kecemasan. E. D.175 =17. jarang (JR). Pengumpulan data Data dalam penelitian ini berupa data primer dan sekunder. sering (SR).96) P = Proporsi suatu kasus yaitu proporsi kecemasan 0.1.Yunus Bengkulu pada bulan Desember 2010 2. tetapi didapat dengan metode pencarian data rumah sakit dalam bentuk . M. Sedangkan data Sekunder adalah data yang didapatkan secara tidak langsung dari responden. Yunus Bengkulu yang sudah diberi penjelasan tentang pengisian kuisoner.5% D = Derajat akurasi (presisi) yang diinginkan 0. dengan penilaian tidak berat jika skor < 28 dan berat jika skor ≥ 28. yang nantinya akan diisi oleh responden dan dibantu oleh satu orang perawat yang bertugas di ruang Seruni RSUD M. kuisioner pendidikan dan kuisioner peran perawat dengan skala selalu (SL). Data primer yaitu data yang didapat langsung dari responden yaitu pasien dalam perawatan pre operasi di Ruang Seruni RSUD M. Pengumpulan. Tempat dan Waktu Penelitian 1. tidak pernah (TP). Yunus Bengkulu dengan cara wawancara dan observasi dengan skala HARS. Jumlah sampel yang didapat adalah 55 responden. Tempat Penelitian Penelitian dilakukan di Ruang Seruni RSUD. kadang (KD). Pengolahan Dan Analisa Data 1. Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan Desember sampai dengan februari 2010.= 55 responden (Aziz Alimul.

pekerjaan.. Analisa Univariat . Entry Data (Pemasukan Data) Data yang telah ada dicoding dan hasil scoring kemudian diolah kedalam komputer dengan menggunakan program SPSS For Window. Editing Editing data adalah meneliti kembali apakah isian pada kuisioner yang dilakukan responden sudah cukup dan benar sesuai dengan petunjuk yang ada. Analisa Data 1. Cleaning (Pembersihan Data) Sebelum melakukan analisa data dengan dilakukan pengecekan kembali terhadap data yang sudah masuk apakah data yang dimasukkan sudah benar dan tidak ada lagi kesalahan. Editing dilakukan langsung pada saat responden mengembalikan kuesioner yang sudah diisi dengan harapan apabila ada kekurangan data atau kesalahan dalam pengisian dapat segera diperbaiki. Pengolahan Data Data yang telah diperoleh atau terkumpul diolah dan dianalisis dengan program komputer melalui beberapa tahapan. Selanjutnya dilakukan transformasi data untuk menggambarkan variabel bebas dan variabel terikat. 2. umur. 3. tanggal masuk rumah sakit. F. tanggal keluar rumah sakit dan lain-lain. alamat. Coding (Pengkodean) Jawaban-jawaban atau hasil yang ada kemudian di klasifikasikan dalam bentuk yang lebih ringkas dengan menggunakan kode-kode. G. yaitu : 1. Kemudian dilakukan scoring terhadap pertanyaan yang berhubungan dengan masing-masing variabel dan diteruskan dengan pengujian kebenaran data dengan menggunakan uji Chi-Square dengan signifikan α = 5 %.Rekam Medik misalnya: nama. 1. jumlah pasien yang melakukan operasi.

Untuk melihat gambaran distribusi frekuensi dari masing-masing variabel penelitian baik independent maupun dependent. . Rumus yang digunakan, yaitu : Keterangan : P F = Persentase yang ingin dicapai = Jawaban dalam setiap kategori

N = Jumlah seluruh responden (Budiarto, 2001) 2. Analisa Bivariat Analisa bivariat adalah analisa yang digunakan untuk melihat hubungan antara variabel bebas (pendidikan pasien dan peran perawat) dengan variabel terikat (kecemasan pada pasien pre operasi). Untuk melihat hubungan antara dua variabel kategorik maka digunakan Uji X² (Chi-Square) Ha diterima jika nilai p ≤ 0,05 Ha ditolak jika nilai p > 0,05 (Budiarto, 2001)
http://yulnico.blogspot.com/2011/05/hubungan-pendidikan-dan-peran-perawat.html 555555555

HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN KELUARGA DENGAN TINGKAT KECEMASAN PASIEN PRE OPERASI DI BANGSAL MELATI RSD PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL YOGYAKARTA
3 Mei 2009

DEWI WIJAYANTI A. Latar Belakang Masalah

Rumah sakit adalah salah satu organisasi kesehatan yang dengan segala fasilitas kesehatannya diharapkan dapat membantu pasien dalam meningkatkan kesehatan dan mencapai kesembuhan baik fisik, psikis, maupun sosial. Tujuan kesehatan tidak hanya memulihkan kesehatan pasien secara fisik tetapi sedapat mungkin diupayakan menjaga kondisi emosi dan jasmani pasien menjadi nyaman, namun kemajuan yang pesat dalam teknologi medis belum diiringi dengan kemajuan yang sama pada aspek-aspek kemanusiaan dari perawatan pasien. Proses perawatan di rumah sakit seringkali mengabaikan aspek-aspek psikologis sehingga menimbulkan berbagai permasalahan pisikologis bagi pasien yang salah satunya adalah kecemasan. Kecemasan merupakan perasaan yang paling umum dialami oleh pasien yang dirawat di rumah sakit, kecemasan yang sering terjadi adalah apabila pasien yang dirawat di rumah sakit harus mengalami proses pembedahan. Pembahasan tentang reaksi-reaksi pasien terhadap pembedahan sebagian besar berfokus pada persiapan pembedahan dan proses penyembuhan. Pembedahan adalah tindakan pengobatan yang banyak menimbulkan kecemasan, sampai saat ini sebagian besar orang menganggap bahwa semua pembedahan yang dilakukan adalah pembedahan besar. Tindakan pembedahan merupakan ancaman potensial aktual terhadap integritas seseorang yang dapat membangkitkan reaksi stress fisiologis maupun psikologis (Barbara C.Long, 1989) Pandangan setiap orang dalam menghadapi pembedahan berbeda, sehingga respon pun berbeda. Setiap menghadapi pembedahan selalu menimbulkan ketakutan dan kecemasan pada pasien, kecemasan sering muncul pada usia sebelum 30 tahun (Stuard and Sundeen, 1998). Seseorang yang sangat cemas sehingga tidak bisa berbicara dan mencoba menyesuaikan diri dengan kecemasan sebelum operasi, seringkali menjadi hambatan pada paska operasi, pasien menjadi cepat marah, bingung, lebih mudah tersinggung akibat reaksi psikis, dibandingkan dengan orang yang cemas ringan (Barbara C. Long, 1996). Pasien pre operasi sangat membutuhkan dukungan keluarga, pasien dapat mengekspresikan ketakutan dan kecemasannya pada keluarga dengan mengurangi kecemasan dan ketakutan yang berlebihan dan tidak beralasan, akan mempersiapkan pasien secara emosional. Selain itu, mempersiapkan keluarga terhadap kejadian yang akan dialami pasien dan diharapkan keluarga banyak memberi dukungan pada pasien dalam menghadapi operasi (Anderson dan Masur 1989).
1. Dukungan keluarga sebagai salah satu sumber dukungan bagi anggota keluarga yang sedang sakit. Dari hasil observasi atau studi pendahuluan selama satu minggu, dengan teknik wawancara di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta, pada tanggal 15 Februari tahun 2008, didapatkan data bahwa dari 15 pasien yang mau melakukan operasi, 9 orang diantaranya merasa cemas, dengan data sebagai berikut:

1. Satu pasien mengatakan cemas dikarenakan tidak didampingi oleh kedua orang tua dan suami yang merupakan sumber dukungan, kedua orang tuanya berada diluar kota sedang suami sibuk mencari surat keringanan biaya operasi, tanda-tanda kecemasan yang dimiliki adalah pasien lebih banyak berdiam diri dan murung. 2. Tiga pasien mengatakan cemas karena saat di rumah sakit tidak didampingi oleh keluarga namun hanya didampingi oleh suami, dan tanda-tanda kecemasan yang dimiliki antara lain nafsu makan berkurang,sering bangun saat malam hari, muka terlihat puat dan murung. 3. Lima pasien mengatakan cemas dikarenakan tidak ada dukungan dari anak-anak dan sanak saudara, tanda-tanda kecemasan yang dimilliki adalah jarang berkomunikasi, sering menanyakan keluarga, dan sulit untuk memulai tidur. 4. Enam pasien mengatakan tidak cemas dikaranakan mendapatkan dukungan dari keluarga, yaitu anak, istri, orang tua yang selalu mendampingi dan sanak keluarga yang bergantian mengunjungi. B. Rumusan Masalah

Dari berbagai uraian latar belakang tersebut diatas maka akan timbul masalah sebagai berikut “Adakah Hubungan Antara Dukungan Keluarga Dengan Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi Di Bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta?”
C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta.
1. Tujuan Khusus

a Diketahuinya dukungan keluarga yang diberikan pada pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. b Diketahuinya tingkat kecemasan pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta.
D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Perawat Di RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta

Mengoptimalkan fungsi perawat dalam penatalaksanan asuhan keperawatan kepada pasien yang mengalami kecemasan, tanpa mengabaikan aspek-aspek psikologis, sehingga profesionalisme perawat dalam bekerja dapat ditingkatkan lagi dan operasi berjalan dengan lancar.
1. Bagi RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta

Dapat dipakai sebagai masukkan untuk meningkatkan pelayanan

dengan pendekatan cross sectional. Ruang Lingkup Masalah 1. Bagi Peneliti 1. Penelitian yang sama sepengetahuan peneliti belum pernah dilakukan oleh peneliti yang lain. Bagi Pasien Dan Keluarga Di RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta 1. Keaslian Penelitian Penelitian ini dititik beratkan pada hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. Responden Pasien dewasa yang berumur 21– 40 tahun yang menjalani rawat inap dan akan melakukan operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta.1. Dukungan keluarga adalah variable bebas 3. E. Memberikan masukan bahwa dukungan keluarga sangat dibutuhkan oleh pasien 3. Sampel adalah orang tua dari anak pra sekolah yang dirawat di bangsal Ibnu Sina RSU PKU Muhammadiyah. Memberikan rasa nyaman pada pasien sehingga pasien tidak cemas pada proses operasi 2. Penelitian yang dilakukan oleh Rondhianto (2004) dengan judul “Hubungan antara dukungan keluarga dengan kecemasan perpisahan akibat hospitalisasi pada pasien anak usia pra sekolah di bangsal anak RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta. 1. Alat ukur untuk pengumpulan data adalah daftar pertanyaan dalam bentuk kuesioner. namun ada beberapa penelitian yang mirip dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti antara lain : 1. Variabel Yang Diteliti 2. dengan uji validitas menggunakan product moment dari pearson. Hasil penelitian adalah ada hubungan . Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. 1. Waktu Penelitian ini dilakukan pada bulan April sampai dengan Mei tahun 2008. Tempat penelitian di bangsal Ibnu Sina RSU PKU Muhammadiyah.” Menggunakan metode penelitian non eksperimental. pada bulan Januari sampai Maret 2004. 1. Memberikan masukan bagi peneliti bahwasanya dukungan keluarga sangat diperlukan bagi pasien. Menambah ilmu pengetahuan dan wawasan 2. Tingkat kecemasan pada pasien pre operasi adalah variabel terikat 1.

” yang merupakan penelitian non eksperimental dengan pendekatan cross sectional. pada bulan April sampai Mei tahun 2008. Jenis penelitian yang telah dilakukan tersebut bersifat penelitian deskriptif kualitatif dengan penggunaan wawancara mendalam pada responden dalam metode pengumpulan datanya. Peneliti melakukan penelitian yang berjudul“ Hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. Sardjito. Menggunakan metode quota sampel.” Instrumen penelitian menggunakan angket sedangkan uji validitas dan reabilitas mengunakan product moment dari pearson. http://skripsistikes. Jenis penelitian non eksperimental dengan pendekatan cross sectional. alat ukur penelitian menggunakan kuesioner. sampel yang diteliti adalah pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta.wordpress. Penelitian yang dilakukan oleh Efrita Herliyati (2005) dengan judul “ Hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kooperatif anak usia pra sekolah saat pemasangan infus di INSKA RS Dr. dengan uji validitas menggunakan product moment dan reliabilitas menggunakan alpha dan kr 20. untuk mengukur tingkat kecemasan dan rating-scale (skala bertingkat) untuk mengukur dukungan keluarga pada pasien pre operasi.dukungan keluarga dengan kecemasan pada anak akibat hospitalisasi pada pasien anak usia pra sekolah di bangsal Ibnu Sina RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta. peneliti meneliti tentang “Hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. Perbedaan dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah. Hasil penelitian yang dilakukan bahwa tidak ada hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kooperatif anak usia pra sekolah saat pelaksanaan pemasangan infus. alat ukur penelitian menggunakan kuesioner yang diuji validitas dan reabilitas menggunakan product moment dan alpha serta kr 20. Penelitian yang dilakukan oleh Liliyanti (2000) dengan judul “ Peran keluarga dalam proses hospitalisasi di lakukan di bangsal Bedah RS Dr. Sardjito Yogyakarta. 1. Tempat penelitian di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. 1. Menggunakan kuesioner sebagai alat ukur yang bersifat tertutup dan langsung dalam bentuk check list. Yogyakarta”. Metode yang digunakan adalah quota sampel. peneliti meneliti tentang “Hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. Sampel yang dipakai adalah pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta. sampel adalah pasien pre operasi di bangsal Melati RSD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta.com/2009/05/03/ikpiii18/ 6666666666 .” Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental dengan pendekatan cross sectional. Penelitian yang dilakukan oleh peneliti memiliki perbedaan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rondhianto (2004) diantaranya.

Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Kecemasan Dan Pengetahuan Pada Pasien Preoperasi Fraktur Di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten
ABSTRAK Burhanuddin, S541002006. Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Kecemasan Dan Pengetahuan Pada Pasien Preoperasi Fraktur Di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten. Komisi Pembimbing I : Prof. Dr. Sri Yutmini, M. Pd. Pembimbing II : Dr. Nunuk Suryani, M.Pd. Tesis: Magister Kedokteran Keluarga. Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta. 2011. Latar Belakang: Kecemasan juga dapat terjadi pada pasien yang akan menjalani operasi patah tulang atau fraktur. Kecemasan pada masa preoperasi fraktur meliputi takut terhadap anestesi, takut terhadap nyeri atau kematian, takut tentang ketidaktahuan atau takut tentang deformitas atau ancaman lain terhadap citra tubuh. Pendidikan kesehatan adalah salah satu yang bertujuan untuk menurunkan tingkat kecemasan pasien preoperasi fraktur melalui pemenuhan kebutuhan informasi mengenai pembedahan. pendidikan kesehatan merupakan satu bentuk intervensi keperawatan yang mandiri untuk membantu klien, baik individu, kelompok, maupun masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatannya melalui kegiatan pembelajaran, yang didalamnya perawat berperan sebagai perawat pendidik yang bertugas untuk meningkatkan pengetahuan klien Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kecemasan dan pengetahuaan pada pasien preoperasi fraktur sebelum dan sesudah memperoleh pendidikan kesehatan. Metode: Desain dalam penelitian ini adalah Pre-eksperimental design (Pre-eksperimental one group pre test-post test design). Populasi sumber penelitian ini adalah penderita yang akan menjalani operasi fraktur di RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten dari tanggal 07 Juli s/d 07 Agustus 2011. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Penentuan jumlah sampel menggunakan metode exhaustive sampling. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner yang berisi pernyataan tentang kecemasan dan tes pengetahuan. Data dianalisis dengan menggunakan uji Paired Sample T-Test. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara kecemasan pada pasien preoperasi fraktur sebelum dan sesudah memperoleh pendidikan kesehatan (t = 92,697 dan p = 0,000). Ada perbedaan yang signifikan antara pengetahuan pada pasien preoperasi fraktur sebelum dan sesudah memperoleh pendidikan kesehatan (t = 16,683 dan p = 0,000). Simpulan: Pendidikan kesehatan dapat menurunkan tingkat kecemasan dan meningkatkat pengetahuan pada pasien preoperasi fraktur. Disarankan pada penyelenggara pelayanan kesehatan agar melakukan pendidikan kesehatan pada pasien preoperasi fraktur karena terbukti mampu menerunkan kecemasan dan meningkatkan pengetahuan pasien. Kata Kunci: Pendidikan Kesehatan, Kecemasan, Pengetahuan, Preoperasi fraktur. ABSTRACT

Burhannudin, S541002006. Effect of Health Education on Worry and Knowledge of Fracture Presurgery Patients in Dr. Soeradji Tirtonegoro General Hospital of Klaten. The first commission of supervision : Prof. Dr. Sri Yutmini, M. Pd. The second supervision is Dr. Nunuk Suryani, M.Pd. Thesis. Family Medical Magister. Postgraduate Program of Sebelas Maret University of Surakarta. Background: Worry may occur in a patient who will go through surgery for his/her fracture. Worry in fracture presurgery period includes worry of anesthesia, worry of pain or death, worry of ignorance or worry about deformity or other threats on body image. One of health education aims is to reduce worry level of patients of fracture presurgey through meeting information needs of the patient. Health education is one of independent nursing intervention in attempts of helping client, individually or collectively and people in overcoming health problems by conducting learning activities in which nurse has a role as educator nurse whose duty is to enhance client‟s knowledge. Purpose: The research aims to know difference of worry and knowledge of fracture presurgery patients before and after receiving health education. Method: Design of the research is pre-experimental one (pre-experimental one group pretest posttest design). Population of the research is patients who will go through fracture surgery in Dr. Soeradji Tirtonegoro General Hospital of Klaten during 07 July - 07 August 2011. Sample of the research is taken by using purposive sampling technique. Number of sample is determined by using exhaustive sampling method. Data is collected by using questionnaire asking about worry and test of knowledge. The data is, then, analyzed by using Paired Sample T-Test. Results: Results of the research indicated that there was a significant difference between worry of fracture presurgery patients before and after receiving health education (t=92.696 and p = 0.000). There was a significant difference between knowledge of fracture presurgey patients before and after receiving health education (t=16.683 and p = 0.000). Conclusion: Health education can reduce worry level of fracture presurgery patients and increase knowledge of the patients. It is suggested that health provider should perform health education for fracture presurgery patients because it is proved to be able to reduce worry and to improve knowledge of the patients.
http://pasca.uns.ac.id/?p=1891 7777777

Manfaat membaca al-Qur'an untuk kehidupan
Sebagai wahyu yang Allah turunkan kepada nabi-Nya, tentu al-Qur'an memiliki keutamaan dan keistimewaan tersendiri bagi para pembaca dan penggemarnya. Ayat-ayat al-qur'an yang kita baca sehari-sehari tidak lepas dari karunia Allah untuk setiap muslim yang demikian besar. Karena saking istimewanya al-Qur'an ini dari kitab-kitab samawi lainnya, Allah memberikan tempat istimewa bagi para pecintanya. Oleh karena bagi anda yang ingin memaksimalkan peran al-Qur'an dalam kehidupan, nampaknya harus lebih banyak lagi mengetahui manfaat dan perannya, terutama untuk kehidupan. Di antara

manfaat itu adalah: 1. Ayat-ayat al-Qur'an yang dibaca setiap hari akan memberikan motivasi dan penyemangat bagi si pembacanya. 2. Ketika membaca al-Qur'an, Allah akan menegur diri kita pada setiap ayat-ayat-Nya. 3. Bacaan al-Qur'an yang melibatkan emosi akan memberikan kedamaian dan ketenangan yang tidak bisa dilukiskan, seperti yang dialami dan dirasakan oleh Sayyid Quthb Rahimahullah. 4. Orang yang membaca al-Qur'an akan senantiasa ingat Allah dan kembali kepada-Nya. 5. Orang yang membaca al-Qur'an akan selalu berada dalam kecukupan dan nikmat Allah meski ia merasakan serba kurang di dunia. 6. Ayat-ayat Alloh akan menjadi penjaganya selama ia hidup di dunia, karena ia telah menjaga ayat-ayatNya. 7. Orang yang paham al-Qur'an adalah orang yang memiliki banyak ilmu. 8. Orang yang membaca al-Qur'an bagaikan orang yang sedang menyelami samudera kehidupan, dan mengambil manfaat darinya. 9. Orang yang selalu akrab dengan ayat-ayat akan diberikan jiwa yang sejuk, hati yang damai dan pikiran yang jernih, sehingga membuatnya ingin selalu beramal, kreatif, inovatif dan produktif. 10. Orang yang membaca al-Qur'an akan selalu berada dalam kegembiraan dan penuh harapan, di saat orang lain merasakan kesedihan, kecemasan dan rasa pesimis. Karena diri mereka selalu dipompa dengan siraman ayat-ayat-Nya yang lembut. 11. Orang yang rajin membaca al-Qur'an akan selalu diberikan jalan kemudahan dan petunjuk sehingga tidak mudah untuk menyimpang dan menyerah karena ayat-ayat Allah akan selalu mengingatkan dirinya ketika dirinya 'tersandung dosa dan maksiat.' 12. Orang yang membaca dan menjaga al-Qur'an selalu berada dalam lindungan dan penjagaan Allah. Ayat-ayat al-Qur'an mengajak pembacanya untuk senantiasa berpikir, merenung dan beramal sebanyakbanyaknya. Dan masih banyak manfaat-manfaat lainnya yang terus update dengan kondisi kehidupan kita...Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu belajar dan meningkatkan diri untuk lebih dekat lagi dengan alQur'an...Amiin wallahu a'lam http://baskomm.blogspot.com/2011/06/manfaat-membaca-al-quran-untuk.html 888888

Penawar Hati..., Katakanlah: “Al Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman”. QS. Fushilat: 44).
Wednesday, 16 March 2011 06:15 Lady Ukhtifillah Rahimakumullah

sedih dan berencana bagi orang yang menggunakannya secara baik: Pertama: Beriman dan beramal shaleh. bersimpuh di hadapan -Nya. sehingga dengannya hati akan mendapatkan ketenangan dan ketentraman. serta akan merasakan kebahagiaan dan merasa dekat dengan Allah Azza Wa Jalla. Selain itu. Allah subhanahu wata‟ala berfirman: Barang siapa yang mengerjakan amal saleh.“As-salámu „alaikum wa Bismillah Ar Rahman Ar Raheem Penawar Kebingungan dan Kebimbangan rahmatul láhi wa barakátuh!” Barang siapa yang mengerjakan amal saleh. di dalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu”. yaitu sebuah kebahagiaan yang tidak bisa terlukiskan. (QS. maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman. Selain itu. Al-Nahl: 97) . Perasaan ini akan membawanya kepada zuhud dengan dunia dan tidak cendrung kepadanya. dan aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi -Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan -Nya. shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam. (QS. baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman. dia akan mendapat manfaat yang lain. (35)Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga) dari karunia -Nya. didalam kehidupan seorang yang beriman tidak terlepas dari kebimbangan dan kesedihan yang mengeruhkan kebeningan kehidupannya dan mematahkan kenikmatannya. Al-Nahl: 97) Segala puji hanya bagi Allah subhanahu wata‟ala. dia akan mementingkan akherat dengan penuh keyakinan bahwa dia lebih baik dan lebih kekal abadi. Fathir: 34-35) Alangkah agungnya manfaat yang didapatkan bagi orang yang mengetahui hikmah Allah yang terakandung di dalamnya. sebab tidak ada kebimbangan di dalam surga dan tidak pula kesedihan sebagaimana ditegaskan di dalam firman Allah subhanahu wata‟ala: Dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami. (QS. Amma Ba‟du: Terkadang. yang paling penting adalah bahwa semua cobaan hidup ini akan mengarahkan seorang yang beriman untuk kembali kepada Allah subhanahu wata‟ala. maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. Dan di bawah ini beberapa langkah yang bermanfaat untuk menghalau rasa bimbang. Perkara ini akan menghapuskan dosa-dosanya dan mengangkat derajatnya. semua perkara yang mengeruhkan hidup akan menjadikan seorang mu‟min mengetahui kehinaan duniawi. bertdharru‟ kepada -Nya. bingung. Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.

Maka hari-hari bergilir satu hari untuk kemenangan dan di hari yang lain penderitaan. Ketiga: Mengetahui hakekat dunia. Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Hurairah RA bahwa Nabi Muhammad shalallahu „alaihi wasallam bersabda: Dunia ini adalah penjara bagi orang yang beriman dan surga bagi orang kafir”. tidak pernah menjanjikan kecerahan bagi siapapun. kebingungan bahkan duri yang menusuknya. penyakit yang akut.. (QS. Dunia juga sebagai ladang kelelahan. gangguan. upah yang besar. sesungguhnya segala perkara orang yang beriman itu baik. Kedua: Kegembiraan seorang muslim karena apa yang diperolehnya berupa pahala yang agung. di dalam riwayat yang lain disebutkan: Bahkan kecemasan kecuali Allah subhanahu wata‟ala akan menghapuskan dengannya segala keburukan-keburukannya”. Seorang ulama salaf berkata: Seandainya bukan karena musibah maka kita akan datang pada hari kiamat sebagai orang yang merugi. kesenangan yang ada padanya sangatlah sedikit. bahwa dia fana. gangguan. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Qotadah bahwa jenazah seseorang melewati Nabi Muhammad shalallahu „alaihi wasallam lalu bersabda: Tenang dan orang lain tenang darinya”. Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran). Ali Imron: 140). dan hal itu tidak terjadi kecuali bagi orang yang beriman. dan apabila mendapat musibah dia bersabar dan itu lebih baik baginya”. jika seseorang tertawa di dunia dalam sesaat. . Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Shuhaib RA berkata: Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam bersabda: Sungguh menakjubkan perkara seorang yang beriman. maka orang itu menangis di dunia dalam waktu yang panjang. kecemasan maka seorang yang beriman akan merasa tenang setelah meninggalkannya. Akhirnya seorang muslim menyadari bahwa apapun musibah yang menimpanya. kebimbangan. banyak bersedih. kebingungan. jika dia mendapatkan kebaikan maka dia bersyukur maka itu adalah lebih baik baginya. Bahkan salah seorang di antara mereka senang jika ditimpa musibah sebagaimana kesenangan mereka hidup dalam suasana sentosa. Allah subhanahu wata‟ala berfirman: Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu. di dalam riwayat yang lain disebutkan oleh Imam Muslim: Apapun yang menimpa seorang muslim baik duri atau yang lebih kecil darinya kecuali Allah akan mengangkat derajatnya dengan musibah tersebut atau dia akan dihapuskan kesalahannya”. sebagai balasan atas kesabaran dan harapan pahala dari Allah subhanahu wata‟ala atas bencana-bencana yang menimpanya itu baik berupa kebimbangan duniawi dan segala bentuk musibahnya.Ini adalah janji Allah subhanahu wata‟ala kepada orang yang beriman dan beramal shaleh bahwa Dia akan menganugarahkan kepada mereka kehidupan yang baik. kesedihan. jika dia seseorang gembira di dunia dalam waktu yang pendek maka dia juga membuat seseorang. Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim dari Abi Hurairah RA bahwa Nabi Muhammad shalallahu „alaihi wasallam bersabda: Apa apa yang menimpa seorang muslim baik keletihan. kelezatannya bisa mendatangkan kekeruhan. baik kebimbangan dan kecemasan pada hakekatnya hal itu sebagai penghapus bagi kesalahankesalahannya dan tabungan bagi kebaikannya. kecuali Allah akan menghapuskan dengannnya kesalahan-kesalahannya”.

Keempat: Kebimbangan dan kecemasan yang terjadi dunia ini akan membuat jiwa ini tercerai berai. Maka beliau bersabda: Seorang hamba yang beriman akan tenang terlepas dari keletihan duniawi dan gangguannya menuju rahmat Allah sementara hamba yang bejat akan membuat manusia. (QS. maka (jawablah). namun jika seseorang menjadikan orientasinya mengarah kepada akherat maka Allah subhanahu wata‟ala akan mengumpulkan kekuatannya dan tekadnya akan dimantapkan. sebab dia menyadari bahwa itulah hakekat dunia. Langkah ini adalah penawar yang paling ampuh dalam menghilangkan kebimbangan dan kebingungan. jangan Engkau biarkan . memporak-porandakan kekuatannya. oleh karena itu. Allah subhanahu wata‟ala berfirman: Dan apabila hamba-hamba -Ku bertanya kepadamu tentang Aku. “Ya Allah! Aku mengharapkan (mendapat) rahmat -Mu. Al-Baqarah: 186). lilitan hutang dan penindasan orang. dan barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai orientasinya maka Allah akan menjadikan kefakiran di hadapannya dan mencerai beraikan kekuatannya dan dunia tidak datang kepadanya kecuali apa yang telah ditetapkan baginya”. negeri. lapangkanlah untukku dadaku. Allh subhanahu wata‟ala berfirman: Berkata Musa: “Ya Tuhanku. Diriwayatkan oleh Al-Buhkari di dalam kitab shahihnya dari Anas bin Malik berkata : Aku menjadi pembantu Nabi Muhammad shalallahu „alaihi wasallam di dalam rumah tangganya dan apabila beliau memasuki rumah keluarganya maka beliau bersabda: “Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepada -Mu dari (hal yang) menyedihkan dan menyusahkan. Inilah makna tentang hakekat dunia yang disadari oleh orang yang beriman maka dengan kesadaran ini segala musibah dan kebimbangan akan menjadi enteng. lemah dan malas. Thaha: 25). pohon dan hewan akan tenang dengan kepergiannya”.Para shahabat bertanya: Wahai Rasulullah apa yang anda maksudkan dengan kata tenang dan orang lain tenang darinya?. Diriwayatkan oleh Al-Turmudzi di dalam kitab sunannya dari Anas bin Malik bahwa Nabi Muhammad shalallahu „alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa yang menjadikan negeri akherat sebagai orientasinya maka Allah akan menjadikan kekayaan di dalam hatinya dan Dia akan mengumpulkan segala kekuatannya sementara dunia ini akan datang mengejarnya dengan penuh ketundukan. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada -Ku. Dan Nabi Muhammad shalallahu „alaihi wasallam meminta perlindungan kepada Allah subhanahu wata‟ala dari segala kebimbangan dan kesedihan. (QS. bahwasanya Aku adalah dekat.” Diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam kitab sunannya dari hadits riwayat Abdurrahman bin Abi Bakroh bahwa Nabi Muhammad shalallahu „alaihi wasallam bersabda: Do‟a orang yang kesusahan adalah. Kelima: Berdo‟a. bakhil dan penakut.

” Apabila seorang hamba mendengungkan do‟a ini dengan hati yang sadar. Perbaikilah seluruh urusanku. dia adalah pelipur hati. obat bagi segala macam penyakit baik penyakit badan atau hati. berserah diri kepada -Nya.diriku sekejap mata (tanpa pertolongan atau rahmat dari -Mu).net/joomla-license/67-penawar-hati-katakanlah-al-quran-itu-adalah-petunjuk-danpenawar-bagi-orang-orang-yang-beriman-qs-fushilat-44.”. Hati akan merasakan kekuatan. shahabat serta seluruh pengikut beliau http://khutbahbank. Al-Ra‟du: 28). maka dia akan percaya kepada Allah. (QS. penghapus kesedihan. Fushilat: 44). dan aku hanya menyebutkan beberapa langkah yang penting saja. (QS. (QS. Allah subhanahu wata‟ala berfirman: Katakanlah: “Al Qur‟an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman”. tidak menyerah pada kecemasan. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. hanya dengan mengingat Allah -lah hati menjadi tenteram. dan semua langkah ini akan bertumpu pada membaca Al-Qur‟an yang dibarengi dengan perenungan. QS. Ingatlah. niat yang benar dan dibarengi dengan usaha-usaha yang menyebabkan do‟a tersebut diterima maka Allah pasti memberikan apa-apa yang dimintanya dan dia berbuat untuk mewujudkan keinginannya serta kecemasan akan berbuah kesenangan dan kegembiraan. Allah subhanahu wata‟ala berfirman: Dan Kami turunkan dari Al Qur‟an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman”. penghilang segala kebimbangan dan kebingungan. dengannya pula segala serpihan-serpihan kebimbangan dan kebingungan akan terusir. Syekh Abdurrahman As-Sa‟di berkata: Maka pada saat hati ini bergantung kepada Allah subhanahu wata‟ala. mengharap pada karunia -Nya. semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad dan kepada keluarga. serta akan terbebas dari banyak jenis penyakit hati dan jasad. Al-Thalaq: 3) Artinya mencukupkan keperluannya baik dari perkara dunia atau akherat. tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. cahaya bagi dada. Al-Isro‟: 82) Maka barangsiapa yang membaca Al-Qur‟an ini dengan penuh perenungan dan meresapi maknanya maka segala kecemasan dan kebimbangan akan hilang dari dirinya. Allah subhanahu wata‟ala berfirman: (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Keenam: Bertawakkal kepada Allah subhanahu wata‟ala.html . kelapangan dan kegembiraan yang tidak bisa terlukiskan…. Langakah-langkah untuk menggapai kebahgiaan itu ternyata sangat banyak bagi mereka yang menyadarinya. Dia berfirman: Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. tidak pula dikendalikan oleh hayalan-hayalan yang buruk.

teori tentang kognitif-Behavioral. karena tidak ada cara untuk menghindari kecemasan. Kecemasan yang sering dihadapi oleh peserta didik di usia sekolah menengah pada saat menghadapi ujian semester. Ada empat jenis gelombang otak yang merekam aktivitas manusia sepanjang waktu.5-3.999999999 PENGARUH BELAJAR DAN TERAPI MEMBACA AL QUR’AN SECARA RUTIN TERHADAP HILANGNYA RASA CEMAS PADA ANAK DIDIK SAAT MENGHADAPI UJIAN AKADEMIK. Ada beberapa teori dalam psikologi yang menjelaskan tentang sebab-sebab kecemasan. sekolah. Ketika seseorang dilanda setres atau frustasi dan tidak dapat berpikir jernih.5 Hz. Latar belakang Setiap orang pasti pernah mengalami kecemasan. Keadaan teta adalah kondisi ketika pikiran atau otak bekerja secara baik. Pertama teori psikoanalisis yang berpendapat bahwa sumber kecemasan adalah konflik yang tidak disadari antara ego (alam sadar) dan impuls-impuls id (alam bawah sadar). Kreativitas adalah sebuah hasil latihan. jernih. dan bermimpi. 1. atau bahkan membaca Al-Qur’an. Kedua. misalnya otot seorang binaraga yang tidak pernah dilatih (Taufiq Pasiak. kisaran 7 atau 8. Maka untuk mengurangi kecemasan tersebut anak didik harus belajar dan dibutuhkan terapi membaca Al-Quran secara rutin. sangat mudah lelah. Ini adalah proses belajar yang dialami Thomas Alfa Edison. Kreativitas yang tidak dilatih akan lumpuh. ketidaksabaran. otak bekerja sedemikian rupa malalui gerakan-gerakan sel saraf dan melepas muatan sehingga di dalam otak ada gelombang listrik. 2002: 166). berati ia dalam keadaan teta. Dia tidak gampang putus asa dengan ribuan kasus kegagalannya. dan nasional. otak harus berada dalam keadaan alfa. Tidak gampang menyerah. Tahap iluminasi dari proses kreatif menunjukkan gelombang alfa pada otak. Dan jika seseorang meninggalkan id maka orang tersebut tidak lagi hidup. dan mengalami keteganggang otot yang amat sangat. Akan tetapi positifnya.13 Hz. Ketika seseorang tidur dan tidak bermimpi itu artinya ia tidak melakukan apa-apa. mudah tersinggung. PENGARUH BELAJAR DAN TERAPI MEMBACA AL QUR’AN SECARA RUTIN TERHADAP HILANGNYA RASA CEMAS PADA ANAK DIDIK SAAT MENGHADAPI UJIAN AKADEMIK. dan “bening”. keadaan ini adalah kondisi yang prima untuk penyembuhan penyakit. Itu justru memicu keingintahuan yang mendalam. Ketika seorang bermeditasi atau bertafakur. Suatu upaya terus menerus tak kenal lelah. Dimana rasa cemas itu disebabkan oleh proses-proses berpikir yang menyimpang. Untuk mengingat dengan baik. Keadaan ini menunjukkan bahwa kondisi otak sedang berada . Ciri-ciri orang yang mengalami gangguan kecamasan antara lain kesulitan untuk berkonsentrasi. terapi membaca Al-Quran ini bisa dilaksanakan secara mandiri oleh peserta didik usia sekolah menengah. Ketika seseorang tidur dan bermimpi. Keadaan tidur ini disebut keadaan delta yang memiliki frekuensi 0. tidur. berdzikir. ini merupakan salah satu kunci kesuksesan Thomas Alfa Edison.

Dimana observer juga melakukan belajar dan terapi membaca Al-Qur’an secara rutin dan mandiri.dalam kondisi beta. Tujuan Program Program ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh membaca Al-Quran dan belajar secara rutin terhadap hilangnya rasa cemas pada anak didik saat menghadapi ujian semester. 5. Banyak juga peserta didik yang melakukan belajar dengan sistem kebut semalam. Gelombang ini berkisar di atas 13 Hz yang menunjukkan kinerja logis otak. Serta program ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi orang tua dan guru agar mengarahkan anak didiknya untuk membaca Al-Quran. Otak dalam kondisi ini adalah otak analitis (Taufiq Pasiak. maupun nasional. Tapi dilihat dari fenomena yang ada banyak peserta didik dan guru yang melakukan doa bersama sehari sebelum ujian dan berkeyakinan dapat membuat mereka lulus dalam ujian. sekolah. Cara penyampaiannya dengan melakukan sosialisasi di sekolah dan masyarakat tentang pentingnya belajar dan membaca Al-Qur’an secara rutin. Metode dan Cara Penyampaian Metode pengumpulan data ini dilakukan dengan mengumpulkan data yang berhubungan dengan manfaat belajar dan membaca Al-Qur’an. Namun seharusnya hal ini dilakukan secara rutin. 4. Sasaran program Sasaran dari program ini adalah anak didik di sekolah menengah. Hambatan yang kemungkinan dialami . Selain itu. 3. 6. Manfaat program Perancang program berharap program ini bisa menambah wawasan mengenai manfaat membaca AlQuran secara rutin sebagi obat penghilang rasa cemas disertai dengan belajar rutin bagi setiap anak didik di sekolah menengah. metode yang digunakan adalah observasi partisipan. 2. 2002).

YUNUS BENGKULU TAHUN 2010 BAB I . sekolah. Waktu menonton televisi dan bermain yang berlebihan bagi anak usia sekolah menengah. Guru dan orang tua yang peduli terhadap kemajuan anak.1. Tidak semua anak didik usia sekolah menengah beragama islam. M. Selain itu juga orang tua tidak lupa untuk mengontrolnya. 3. maupun nasional. http://arifindikromo. Orang tua tidak peduli terhadap waktu belajar dan mengaji untuk anak usia sekolah menengah. Anak didik lebih percaya diri dengan kemampuannya tanpa mengandalkan contekan dari teman dan bocoran jawaban soal ujian. 2. Orang tua memberikan tanggung jawab kepada anak untuk megatur waktu belajar mengajinya sendiri. 24 Mei 2011 HUBUNGAN PENDIDIKAN DAN PERAN PERAWAT DENGAN TINGKAT KECEMASAN PADA PASIEN PRE OPERASI DI RUANG SERUNI RSUD. Anak didik yang disiplin. Remaja Indonesia yang tidak mudah terpengaruh oleh arus globalisasi dan tidak latah dengan fenomena yang dipropogandakan oleh media masa.blogspot. 4. baik dari segi mentalitas maupun kognitif. Hasil Pembuat program berharap dengan dilaksanakannya program ini dapat terlahir: 1. 2. Anak didik menjadi lebih tenang saat menghadapi ujian semester. misalnya anak diwajibkan mengikuti ekstrakulikuler sesuai dengan bakat dan minat anak. Solusi 1. dimana gelombang beta tersebut dapat menyebabkan pikiran tidak bisa fokus dan sulit berkonsentrasi serta tidak dapat berpikir jernih.html Selasa. baik melalui sms maupun dari oknum. 2. 4. 8. 4. Anak usia sekolah dibatasi waktu untuk menonton televisi dan bermain agar anak menjadi disiplin. Anak didik diajari dan disuruh untuk membaca Al-Quran.com/2011/05/pengaruh-belajar-dan-terapi-membaca-al. 3. 5. 7. Guru hanya menekankan segi kognitif dari pada psikis anak didiknya. Guru tidak hanya mementingkan segi kognitif anak saja tetapi juga harus memikirkan segi psikis anak. baik muslim maupun non muslim karena intonasi dan bacaan Al-Quran itu dapat menghilangkan gelombang beta pada otak. 3.

gambaran diri.473 pasien (7%) mengalami kecemasan.539 pasien bedah dirawat di unit perawatan intensif antara 1 oktober 2003 dan 30 september 2006. dan identitas diri (Tjandra. 2003). Sebagian besar pasien beranggapan bahwa operasi merupakan pengalaman yang menakutkan. untuk itu pasien yang akan menjalani operasi harus diberi pendidikan kesehatan untuk menurunkan atau mengurangi gejala kecemasan (Carbonel.5%) dalam kategori ringan dan responden yang tidak merasa cemas sebanyak 2 orang (5%). Dari.922 pasien (25. apalagi yang akan menjalani operasi. Amerika Serikat menganalisis data dari 35. 2007). Berdasarkan data WHO (2007). Hasil penelitian di Rumah Sakit Ortopedi Prof Dr. Kecemasan merupakan perasaan yang paling umum di alami oleh pasien yang dirawat dirumah sakit. 2002). Penelitian yang dilakukan oleh makmur et. Kecemasan terjadi ketika seseorang merasa terancam baik fisik maupun psikologisnya misalnya harga diri. Soeharso tahun 2008 dari 3827 pasien yang mengalami pembedahan sekitar (2%) mengalami kecemasan (Makmur. 2006). Kecemasan merupakan gejala klinis yang terlihat pada pasien dengan penatalaksanaan medis. Kecemasan yang terjadi dapat berpengaruh terhadap peningkatan tekanan darah (RSUD Sragen.PENDAHULUAN 1.al (2007) tentang tingkat kecemasan pre operasi bahwa dari 40 orang responden dalam tingkat kecemasan berat sebanyak 7 orang (17. Latar Belakang Rumah sakit adalah sebuah fasilitas. 15 orang (37. Pembahasan tentang reaksi – reaksi pasien terhadap pembedahan sebagian besar berfokus pada persiapan pembedahan dan proses penyembuhan (Dewi wijayanti. R. terjadi penundaan proses operasi karena peningkatan kecemasan. didapatkan bahwa 10% dari pasien yang akan menjalani pembedahan. Pembedahan merupakan tindakan pengobatan yang banyak menimbulkan kecemasan. 16 orang (40%) yang memilki tingkat kecemasan dalam kategori sedang. Bila kecemasan pada pasien pre operasi tidak segera diatasi maka dapat mengganggu proses penyembuhan. kecemasan yang sering terjadi adalah apabila pasien yang dirawat di rumah sakit harus mengalami proses pembedahan. sebuah institusi dan sebuah organisasi yang fungsi utamanya adalah memberikan pelayanan kepada pasien diagnostik dan terapeutik untuk berbagai penyakit dan masalah kesehatan. Berdasarkan data dari RSUD Sragen Wijaya Kusuma. . Reaksi cemas ini akan berlanjut bila pasien tidak pernah atau kurang mendapat informasi yang berhubungan dengan penyakit dan tindakan yang dilakukan terhadap dirinya. 2007). 8.1%) mengalami kondisi kejiwaan dan 2. Setiap pasien pernah mengalami periode cemas.5%). Pelayanan yang ada di Rumah Sakit adalah pelayanan pengobatan baik yang bersifat bedah maupun non bedah.

maka memerlukan keterampilan komunikasi yang baik. Yunus Bengkulu. Pendidikan dapat mempengaruhi seorang termasuk juga prilaku seseorang akan kepatuhannya. Kecemasan yang terjadi dapat berpengaruh terhadap peningkatan tekanan darah. 2006).Yunus Bengkulu. sosial. suami. mempunyai kewajiban membantu pasien mempersiapkan fisik dan mental untuk menghadapi operasi. 2008). sehingga tindakan anestesi atau pembedahan ditunda. Salah satu cara melakukan hal ini ialah dengan mencurahkan perhatian sampai kepada hal yang sekecil-kecilnya dalam merawat pasien. Berdasarkan hasil pengumpulan data di RSUD M. Peran perawat sangat penting dalam penanggulangan kecemasan dan berupaya agar pasien tidak merasa cemas melalui asuhan keperawatan komprehensif secara biologis. yang dirawat 2154 pasien. Termasuk salah satunya dalam mengendalikan kebutuhan emosi diri pasien terutama pasien pre operasi dan post operasi. Makin tinggi pendidikan seseorang. maka makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimilikinya. Pasien yang akan menjalani operasi besar dianjurkan untuk minimal masuk rumah sakit 12 jam sebelum pre operasi dilaksanakan dan operasi kecil 6 jam sebelum dilaksanakan. (Ibrahim. dan spiritual. . Perawat merupakan salah satu tenaga kesehatan yang paling sering berinteraksi dengan pasien. Seorang perawat dituntut bisa mengetahui kondisi dan kebutuhan pasien. Sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap perubahan-perubahan hidup sehat (Notoatmojo. dan faktor psikologis yang dapat terjadi akibat implusimplus bawah sadar yang masuk kealam sadar seperti tidak didampingi oleh orang tua. 1998). 2002).Kecemasan pre operasi dapat dipengaruhi dari beberapa faktor antara lain adalah faktor biologis yang terjadi akibat dari reaksi saraf otonom yang berlebihan dengan naiknya system tonus saraf simpatis. 2002 ). Sikap dan tingkah laku perawat membantu menumbuhkan rasa kepercayaan pasien. Peran perawat dalam upaya penyembuhan klien menjadi sangat penting. terutama dalam motivasi untuk berperan serta dalam pembangunan kesehatan. termasuk dalam pemberian pendidikan kesehatan. Peran perawat sangat penting untuk memberikan suport atau dukungan dan penyuluhan terhadap penurunan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi ( Kuntjoro. Tujuan agar persiapan yang dilakukan dapat sebaik mungkin (RSUD M. Selain itu faktor pendidikan pasien juga dapat mempengaruhi kecemasan yaitu tingkat pendidikan yang rendah serta kurangnya dukungan dari perawat (Sadock dan Kaplan. dengan rincian sembuh 2259 dan 36 pasien meninggal (15%) dilakukan penundaan karena peningkatan kecemasan. Perawat mempunyai kontak paling lama dalam menangani persoalan pasien. Perawat harus mau mendengarkan semua keluhan pribadi pasien (Widodo. 1999). psikologis. anak ataupun keluarga yang lain. pada tahun 2007 terdapat 4449 pasien yang mengalami pembedahan.

Yunus Bengkulu. Yunus Bengkulu. maka penulis tertarik untuk meneliti hubungan pendidikan pasien dan peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. Yunus Bengkulu didapatkan data bahwa dari 15 pasien yang akan melakukan operasi 5 orang yang mengalami kecemasan berat dengan ciri-ciri muka merah. M. Mengetahui gambaran peran perawat di ruang seruni RSUD. Sedangkan rumusan masalah penelitian ini adalah "apakah ada hubungan pendidikan pasien dan peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD M. Yunus Bengkulu". Tujuan penelitian 1. M. gelisah. Manfaat penelitian 1. Yunus Bengkulu.. 2. M. Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan di atas. M.Yunus Bengkulu. Bagi Akademik . Mengetahui hubungan pendidikan dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. Yunus Bengkulu. Tujuan Khusus 1. nafas pendek. M. susah tidur. masalah penelitian ini adalah masih tingginya tingkat kecemasan pasien pre operasi di RSUD M. Dari 5 orang yang mengalami kecemasan berat tersebut mempunyai pendidikan SMA kebawah dan kurang mendapatkan penkes dari perawat. Yunus Bengkulu. 2. Yunus Bengkulu. memotivasi pasien untuk memberi keyakinan bahwa operasi dapat berjalan dengan lancar. 3. M. Mengetahui tingkat Kecemasan pasien pre operasi di Ruang Seruni RSUD Dr. Yunus Bengkulu. Tujuan umum Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada Hubungan antara pendidikan dan peran perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. Berdasarkan hasil observasi dengan teknik wawancara selama tiga hari di ruang seruni RSUD M. Untuk menurunkan tingkat kecemasan pasien tersebut keluarga dan perawat harus lebih banyak memberikan dukungan salah satunya yaitu selalu berada dekat pasien. Mengetahui hubungan peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. gemetar sehingga dapat menghambat proses operasi. Rumusan masalah Berdasarkan uraian dalam latar belakang di atas. Yunus Bengkulu didapatkan data 2008 sebanyak 1033 dan data 2009 dari januari sampai tanggal Desember sebanyak 786 orang yang melakukan operasi. sering buang air kecil. 4.Sementara dari pengumpulan data awal diruang Seruni RSUD M. 5. 2. 3. Mengetahui gambaran tingkat pendidikan pada pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. 4. M.

Yunus Bengkulu". Keaslian penelitian Sebagai bahan perbandingan penelitian serupa pernah diteliti oleh : 1. kecemasan. 3. Dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan di bidang kesehatan. 2. M. rancangan dan waktu penelitian. 2. BAB II TINJAUAN PUSTAKA . 4. rancangan dan waktu penelitian. 3. Bagi Rumah sakit Hasil penelitaan ini diharapkan dapat memberi masukan bagi para tenaga kesehatan khususnya pada perawat di ruang seruni dan ruangan yang lain. Elika dengan judul penelitian " Hubungan peran perawat dan dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD M.Adapun perbedaan antara karya tulis ini dengan karya tulis tersebut adalah pada variabel. Adapun perbedaan antara karya tulis ini dengan karya tulis di atas adalah pada variabel. Rinda Lesti Sentia dengan judul penelitian " Hubungan Tingkat Pendidikan dan Umur Kehamilan dengan Tingkat Kecemasan Ibu Hamil Primigravida di Rumah Bersalin YKWP Desa Kangkung Kabupaten Demak. Menambah wawasan dan pengetahuan bagi mahasiswa dan masyarakat mengenai tingkat kecemasan pada pasien pre operasi. Yunus Bengkulu. Bagi Masyarakat Dapat memperoleh pelayanan yang lebih baik terutama yang mengalami ketakutan.Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi literatur bagi perpustakaan. Bagi Peneliti Lain Hasil penelitian ini dapat berguna sebagai masukan atau informasi bagi peneliti lain dalam mengembangkan penelitian dengan variabel-variabel yang lain. 5. Agri Maha Tirani dengan judul penelitian "Perbedaan tingkat kecemasan sebelum dan sesudah pemberian pendidikan kesehatan pada pasien pre operasi di RSUD. atau depresi dalam menghadapi pembedahan.

1998). ancaman) yang masuk kealam sadar. Reaksi pergeseran yang dapat mengakibatkan reaksi fobia. 2006). 2.1. Secara klinis gejala kecemasan dibagi dalam beberapa kelompok yaitu gangguan kecemasan. kecemasan dapat muncul akibat implus-implus bawah sadar (misalnya : sex. 3. 2005) Jadi. Mekanisme pembelaan ego yang tidak sepenuhnya berhasil juga dapat menimbulkan kecemasan yang mengambang. Sosial Kecemasan yang timbul akibat hubungan interpersonal dimana individu menerima suatu keadan yang menurutnya tidak disukai oleh orang lain yang berusaha memberikan penilaian atas opininya (Sadock dan Kaplan. Kecemasan adalah suatu keadaan dimana psikologis seseorang berada pada ketakutan dalam menghadapi masalah yang ada pada dirinya. kondisi ini dialami secara subyektif (yang hanya dirasakan individu tersebut) dan dikomunikasikan dalam hubungan interpersonal (Stuard and Sundeen. Kecemasan merupakan komponen utama bagi hampir semua gangguan kejiwaan (psychiatric disorder). Kecemasan merupakan peringatan yang bersifat subyektif atas adanya bahaya yang tidak dikenali sumbernya. nafas sesak dan dada terasa nyeri (Ayub Sani. 2. Kecemasan adalah Suatu kondisi yang menyangkut terminologi kesehatan jiwa dengan suatu kondisi was-was. 2007). Konsep Kecemasan 1. Keadaan emosi ini tidak memiliki subyek yang spesifik. Pengertian Cemas adalah keadaan emosi individu yang berkaitan dengan perasaan yang tak pasti dan tidak berdaya. perut terasa kosong. gangguan panik. gangguan cemas menyeluruh (Generalized anxiety disorder/GAD). gangguan phobik dan gangguan obsesifkompulsif (Dadang Hawari. Faktor-faktor Penyebab Kecemasan 1. Psikologis Ditinjau dari aspek psikoanalisa. Kecemasan adalah suatu keadaan yang menggoncangkan karena adanya ancaman terhadap kesehatan (Siti Sundari. 1998). . Faktor Biologis Kecemasan terjadi akibat dari reaksi saraf otonomi yang berlebihan dengan naiknya sistem tonus saraf simpatis.

begitu juga sebaliknya jika lingkungannya kondusif mempercepat penyembuhan seseorang. Potensi stressor Suatu keadaan yang menyebabkan perubahan dalam individu. operasi. Disamping itu kelelahan fisik (lemah.3. lesu) lebih mudah megalami kecemasan. Ekonomi Seseorang yang memiliki pendapatan rendah lebih mudah mengalami kecemasan. 5. letih. 4. sakit. sehingga individu harus melakukan penyesuaian diri (adaptasi). Kecemasan bisa terjadi pada individu yang tingkat pendidikannya rendah disebabkan karena kurangnya informasi yang didapat individu tersebut. 6. lebih mudah mengalami kecemasan. Lingkungan Lingkungan sangat berpengaruh pada kecemasan seseorang. 2. 7. Sosial budaya Individu yang tidak bersosialisasi dengan masyarakat lebih mudah mengalami kecemasan. dimana lingkungan yang tidak kondusif berpotensial besar terhadap kecemasan yang dialami seseorang. Tingkat pendidikan Status pendidikan yang rendah pada seseorang akan menyebabkan orang tersebut mudah mengalami kecemasan. 3. Umur . Keadaan fisik Seseorang yang mengalami gangguan fisik seperti cacat badan. penyakit. dibandingkan dengan orang yang memiliki pendapatan tinggi. Selain itu faktor yang mempengaruhi tingkat kecemasan menurut Soewandi (1998) antara lain : 1.

khawatir. dibandingkan dengan pria. berdebar-debar. kebingungan. sakit kepala dan lain sebagainya. mulut kering. 5. Menurut Dadang Hawari (2006). gagap. Seseorang cenderung untuk memusatkan pada sesuatu yang terinci dan spesifik dan tidak berfikir tentang hal lain. Ansietas Sedang (Tingkat II) Memungkinkan seseorang untuk memusatkan pada hal yang penting dan mengesampingkan yang lain. firasat buruk. mengetuk jari-jari. 4. gangguan pencernaan. 3. 3. gangguan muskulo skeletal. 8. takut pada keramaian. 2. Berhubungan dengan ketegangan yang dialami dalam kehidupan sehari. dan banyak orang. Reaksi fisik terhadap kecemasan pada masingmasing individu berbeda (Setyonegoro. 1994). gangguan kulit. mudah tersinggung. 2. Takut sendiri. 6. nyeri pada gastro intestinal. menyebutkan gejala klinis dari cemas antara lain : Cemas. pendengaran berdenging (tinnitus).hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada dan meningkatkan lahan persepsinya. berkeringat. sesak nafas. Ansietas Ringan (Tingkat I) 1. sering buang air besar atau kecil. tidak tenang. hiperaktifitas. Gejala – gejala Kecemasan Keadaan cemas mempunyai gejala-gejala somatik atau fisik dan gejala psikologis atau mental. berhenti berbicara dan terjadi perubahan suara. sehingga seseorang mengalami perhatian yang selektif namun dapat melakukan sesuatu yang lebih terarah.Umur ikut menentukan kecemasan. muntah-muntah. mudah terkejut. Merasa tegang. 4. 5. Ansietas Berat (Tingkat III) Sangat mengurangi lahan persepsi seseorang. gangguan perkemihan. Jenis kelamin Kecemasan lebih banyak dialami wanita. mimpi yang menegangkan Gangguan konsentrasi dan daya ingat Keluhan somatik misalnya rasa sakit pada otot tulang. Orang tersebut banyak pengarahan untuk dapat memusatkan pada suatu area lain. Semua perilaku ditujukan untuk mengurangi ketegangan. Tingkat kecemasan 1. gelisah. . nadi cepat. sulit tidur. Gangguan pola tidur. energi menurun. Gejala-gejala tersebut antara lain: Iritabilitas. Ansietas dapat memotivasi belajar dan menghasilkan pertumbuhan. biasanya kecemasan sering dialami oleh usia muda. hiperventilasi. takut akan fikirannya sendiri.

Percaya diri 2. Tingkat Panik Berhubungan dengan terperangah. Orang yang mengalami panik tidak mampu melakukan sesuatu walaupun dengan pengarahan. Ansietas terhadap sistem diri seseorang dapat membahayakan identitas. Dialog Eksternal Dengan dialog eksternal kebutuhan pasien untuk berbicara cara akurat tentang dirinya dengan orang lain. Kemampuan untuk mengatasi 4. 3. yaitu: 1. Stressor Pencetus Stressor pencetus berasal dari sumber internal atau eksternal. 1997). Hal ini menurunkan rasa ketidak berdayaan dan ansietas mereka. . Ansietas terhadap integritas seorang meliputi ketidakmampuan fisiologis yang akan datang atau menurunnya kapasitas untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Perasaan pengendalian 3. 7. Sterssor dapat di kelompokkan dalam dua kategori. 1997). Panik melibatkan disorganisasi kepribadian. ketakutan dan terror-terror. Perincian terpecah dari proporsinya karena mengalami kehilangan kendali. 6. dengan panik terjadi peningkatan aktivitas motorik. Optimisme 5. Dialog Internal Membantu pasien mengembangkan pesan dialog sendiri yang meningkatkan : 1. persepsi yang menyimpang dan kehilangan pemikiran yang rasional tingkat ansietas ini tidak sejalan dengan kehidupan dan jika berlangsung terus dalam waktu yang lama dapat terjadi kelelahan yang sangat bahkan kematian (Hudak dan Gallo. Teknik Mengatasi ansietas Teknik kognitif dapat membantu pasien ansietas dan tidak tergantung pada wawasan atau pemahaman yang kompleks dari kondisi psikologi diri sendiri. Khayalan Mental dan Relaksasi Mendorong pasien untuk mengkhayalkan tempat yang indah atau menjadi bagian dari pengalaman yang menyenangkan sehingga dapat membantu pasien menurunkan ketegangan (Abraham dkk. 2. harga diri dan fungsi sosial (Brunner dan suddarth. 1997). Harapan 2.4. 1. menurunnya kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain.

8. 1997). tertawa. takut tentang deformitas dan ancaman lain terhadap citra tubuh dapat menyebabkan ketidaktenangan atau ansietas (Brunner dan Suddarth. Tujuan Prosedur pembedahan Sebagai salah satu bentuk pengobatan dan penatalaksanaan berbagai macam penyakit untuk mempercepat proses penyembuhan (Perry Potter. tidur. merokok dan minum-minum (Brunner dan Suddarth. Pre Operasi 1. Perawatan pre operasi merupakan bagian dari perawat perioperatif yang di mulai dari kapan di putuskan tindakan operasi dibuat dan diakhiri dengan pemindahan klien ke meja ruang operasi. Jenis-jenis operasi Menurut derajat kepentingan Perry dan potter (2006). Mekanisme Koping Mekanisme koping adalah suatu bentuk pertahanan yang di gunakan oleh seseorang yang sedang berada pada suatu bentuk kecemasan untuk menghindar atau mengurangi respon yang ditimbulkan oleh kecemasan tersebut. 2006). 10. Takut terhadap anestesi. 9. 1997). di kelompokkan menjadi dua bagian yaitu : 1. takut terhadap nyeri atau kematian. Kecemasan pada pasien pre operasi . Pengertian Pasien Pre operasi dapat mengalami berbagai ketakutan. Dimana mekanisme koping setiap orang berbeda-beda. Lingkup kegiatan perawatan pre operasi termasuk dalam menetapkan batas pengkajian klien setting secara klinis atau dalam ruangan. menyiapkan klien untuk diberikan anestesi dan pembedahan bagaimanapun kegiatan perawatan dibatasi oleh pengkajian pre operasi dalam ruangan atau selama operasi. Tipe . Pembedahan Minor (pembedahan resiko kecil ) 4. 3. interview preoperatif. 2. melakukan kegiatan fisik. takut tentang ketidaktahuan.tipe tingkah laku seperti mennangis. Pembedahan Mayor (pembedahan resiko tinggi ) 2. Alat ukur kecemasan untuk mengetahui sejauh mana derajat kecemasan apakah ringan atau berat dengan menggunakan alat ukur (instrument) yang dikenal denga nama Hamilton Rating Scale or Anxiaty (HRS-A) dengan skor ringan jika ≤ 28 dan berat jika ≥ 28.

obat-obatan dan perawatan tindakan. Penyuluhan tersebut harus melebihi deskripsi tentang berbagai langkah prosedur dan harus mencakup tentang sensasi yang akan di alami. kecerdasan akhlak mulia. bangsa dan negara. Manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya. masyarakat. Pendidikan 1. 5. 1994). Pasien yang gelisah dan takut biasanya sering bertanya berulang-ulang walaupun pertanyaan tersebut telah dijawab. Pengertian Pendidikan adalah suatu usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. stressor tersebut merupakan faktor timbulnya kecemasan yang mengakibatkan terancamnya integritas seseorang meliputi ketidakmampuan fisiologis atau menurunkan kapasitas untuk melakukan hidup sehari-hari (Brunner dan suddarth. pengendalian diri. Khawatir meninggal di meja operasi dan meninggalkan anakanak ditinggalkan seandainya ia meninggal saat atau setelah operasi. 1997). 1997). Pendidikan merupakan usaha agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses .Kecemasan pada pasien pre operasi adalah kecemasan yang di akibatkan sterssor tindakan operasi. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. kurangnya dukungan keluarga terhadap pasien pre operasi. Salah satu caranya yaitu dengan penyuluhan pada keluarga maupun pasien supaya mereka mengerti apa yang akan terjadi. Pasien biasanya tidak mau bicara dan memperhatikan keadaan sekitarnya. Persiapan psikologis pasien pre operasi Pasien yang akan di operasi biasanya akan mengalami kegelisahan dan rasa takut. 2003). perawatan menjelang operasi yang dianggap sebagai hal baru. 11. Pengkajian psikologi pada pasien atau keluarga harus di lakukan supaya hal tersebut tidak menghambat rencana operasi. kepribadian. (Diknas. tapi kadang-kadang dapat terlihat dalam bentuk lain. Mengetahui apa yang di perkirakan akan membantu pasien mengantisipasi reaksi-reaksi tersebut dan dengan demikian mencapai tingkat relaksasi yang lebih tinggi daripada yang di perkirakan sebaliknya (Brunner dan suddarth. tetapi berusaha mengalihkan perhatiannya kepada buku atau sebaliknya ia bergerak terus-menerus dan tidak mau tidur (Kaplan. Perasaan gelisah dan takut kadang-kadang tidak tampak jelas. Sebagai contoh. memberitahu pasien hanya medikasi pre operasi yang akan membuatnya rileks sebelum operasi tidaklah selektif bila menyebutkan juga bahwa medikasi tersebut dapat mengakibatkan kepala terasa melayang dan mengantuk.

akan tetapi juga bagi tujuan terakhir pembangunan seperti kualitas keluarga dan kehidupan masyarakat. serta memperkuat kemasyarakatan. tujuan yang akan dicapai. (1997) janis pendidikan terbagi atas 3 yaitu : 1. D2. Pendidikan Non-Formal : Pendidikan non-Formal adalah pendidikan yang dilakukan secara teratur. diselenggarakan di SLTA atau sederajat. 5. Pendidikan Dasar : warga Negara yang berumur 6 atau 7 tahun berkewajiban mengikuti pendidikan dasar atau sederajat selama 9 tahun yaitu SD dan SLTP. UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia menyelenggarakan Tahun 1945 Pasal 31 ayat (1) menyebutkan bahwa setiap warga Negara berhak mendapat pendidikan. dengan sadar dilakukan. Sedangkan menurut Diknas (2003). menengah. dan S2. . D4. 2. seperti pada pendidikan formal di sekolah. menyatakan bahwa jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik. dan kemampuan yang dikembangkan menjadi: 2. 1. D3. 4. Karena pendidikan non-formal pada umumnya dilaksanakan tidak dalam lingkungan fisik sekolah maka sasaran pokok adalah anggota-anggota masyarakat. seluruh komponen bangsa wajib mencerdaskan kehidupan bangsa yang merupakan salah satu tujuan negara indonesia. S1. politeknik. 3. Untuk itu. Pendidikan Tinggi: satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi yang dapat berbentuk akademik. dan ayat (3) menegaskan bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan Undang-Undang. menyatakan pendidikan non-formal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. tapi tidak terlalu ketat mengikuti peraturan-peraturan yang tepat. Diknas (2003). bukan saja bagi produktivitas. pendidikan formal yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar. Menurut Ahmadi. dan tinggi. Pendidikan Menengah : pendidikan menengah yang lamanya 3 tahun sesudah pendidikan dasar. Pendidikan formal : Pendidikan formal merupakan usaha-usaha dalam pendidikan dasar dapat memberikan sumbangan dalam jangka panjang. sekolah tinggi dan universitas yang termasuk perguruan tinggi D1.pembelajaran atau cara lain yang dikenal dan diakui oleh masyarakat. Jenjang Pendidikan Menurut Diknas (2003).

Pendidikan informal : Pendidikan informal yakni pendidikan yang diperoleh seorang berdasarkan pengalaman dalam hidup sehari-hari dengan sadar atau tidak sadar. terutama dalam motivasi untuk berperan serta dalam pembangunan kesehatan. di dalam lingkungan keluarga. Diknas (2003). sehingga tenaga kesehatan disana perlu melakukan konseling kepada ibu hamil primigravida sebagai upaya mengantisipasi terjadinya komplikasi dan kecemasan. 13. . Definisi Peran adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap seseorang sesuai kedudukannya dalam suatu system.05 menunjukkan bahwa hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara pendidikan pasien dengan tingkat kecemasan. Pada pasien yang pendidikannya hanya sebatas pendidikan dasar atau tidak pernah sekolah sangat susah dalam pemberian informasi. menyatakan bahwa pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan. maka makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pngetahuan yang dimilikinya. (Kozier Barbara. Makin tinggi pendidikan seseorang.3. Sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap perubahan-perubahan hidup sehat (Notoatmojo. P < 0. Pendidikan dapat mempengaruhi seorang termasuk juga prilaku seseorang akan kepatuhannya. Hubungan pendidikan dengan kecemasan Pendidikan merupakan salah satu faktor sosial dari kecemasan pada pasien pre operasi. (2009). Hasil penelitian Lesti. sejak seorang lahir sampai akhir hidupnya. masyarakat atau dalam lingkungan pekerjaan sehari-hari. Peran adalah bentuk dari perilaku yang diharapkan dari seesorang pada situasisosial tertentu. Berdasarkan penelitian yang lakukan di Kabupaten Demak menghasilkan informasi bahwa pendidikan masyarakat disana masih relatif rendah. 12. 2002). 1995:21). Peran Perawat 1. Peran dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari dalam maupun dari luar dan bersifat stabil. Setiap perawat yang menjelaskan pengetahuan tentang kesehatan pasien tidak mengerti.

Meski tiap peran memiliki tanggung jawab khusus. Peran Kepemimpinan Peran Kepemimpinan dari perawat yang secara tradisional dikerap sebagai peran spesialisasi yang diembankannya oleh perawat yang mempunyai gelar yang menunjukkan kepemimpinan dan mereka yang memimpin sekelompok besar perawat atau profesional perawatan kesehatan yang berhubungan. 3. perawat ilmuwan dan mahasiswa keperawatan di tingkat sarjana. Peran kepemimpinan dari perawat mencakup tindakan-tindakan yang dilaksanakan oleh perawat saat ini ia mengemban tanggung jawab untuk mempengaruhi tindakan orang lain yang ditujukan untuk menentukan dan mencapai tujuan. 2. Peran ini merupakan peran yang hanya dapat dicapai melalui proses keperawatan. yang merupakan dasar untuk semua praktik keperawatan. Peran Pelaksana Peran pelaksana dari perawat mencakup tindakan-tindakan yang dilakukan oleh perawat ketiaka ia mengemban tanggung jawab yang ditujakan untuk memenuhi kebutuhan perawatan kesehatan dan kebutuhan keperawatan pasien secara individu. peran-peran ini saling berhubungan satu dengan yang lain dan dapat ditemui pada semua posisi keperawatan. (d)Peneliti dan pengembang keperawatan Perawat profesional baik dalam lingkungan perawatan kesehatan institusional maupun komunitas mengemban tiga peran : peran pelaksana. Kajian dibutuhkan untuk menentukan keefektifan intervensi dan asuhan keperawatan. Peran Peneliti Peran peneliti dari perawat pada mulanya dianggap hanya dilakukan oleh para akademikus. sekunder. dan tersier dan dalam keperawatan kesehatan rumah dan komunitas. Tugas utama dari penelitian keperawatan adalah untuk memberikan konstribusi pada dasar ilmiah praktik keperawatan. (c) Pendidik dalam keperawatan.Definisi kepemimpinan keperawatan yang dirumuskan oleh memberi cakupan yang luas pada konsep tersebut dan mengidentifikasi kepemimpinan sebagai peran yang melekat didalam semua posisi keperawatan. Peran ini merupakan peran yang dominan dari perawat dalam lingkungan pelayanan kesehatan primer. Kini. 2001) meliputi : (a) Pelaksana pelayanan keperawatan. peran kepemimpinan dan peran peneliti. (b)Pengelola pelayanan keperawatan dan institusi Pendidikan. partisipasi dalam proses penelitian dianggap sebagai tanggung jawab dari perawat dalam praktik klinis. Peran ini dirancang untuk memenuhi perawatan kesehatan saat ini dan kebutuhan keperawatan dari konsumen yang merupakan penerima pelayanan keperawatan. 4. Melalui upaya penelitian . keluarga mereka dan orang terdekat pasien.Peran Perawat (Ali Zaidin.

semacam ini. yaitu kegiatan yang bersifat langsung dalam menciptakan lingkungan dimana pasien merasa aman. Sebagai advokat klien Peran ini dilakukan perawat dalam membantu klien dan keluaga dalam menginterpretasikan berbagai informasi dari pemberi pelayanan khususnya dalam pengambilan persetujuan atas tindakan keperawatan. Sebagai koordinator Peran ini dilaksanakan dengan mengarahkan. dirawat dan didukung oleh perawat. Peran terapeutik : kegiatan yang ditujukan langsung pada pencegahan dan pengobatan penyakit. ilmu keperawatan akan berkembang dan rasional yang didasarkan secara ilmiah untuk membuat perubahan dalam praktik keperawatan akan tercipta (Brunner dan Suddarth. Menurut Johnson dan Martin. 8. Sebagai kolaborator . 6. hak untuk menentukan nasibnya sendiri. diterima dilindungi. perawat. pasien. Sebagai edukator Peran ini dilakukan dengan membantu klien dalam meningkatkan tingkat pengetahuan kesehatan. hak atas informasi tentang penyakitnya. dan lain-lain) Menurut konsorsium ilmu kesehatan (1989) dalam Ali Haidin (2001) peran perawat terdiri dari : 7. 9. Pemberian asuhan keperawatan ini dilakukan dari yang sederhana sampai dengan kompleks. hak menerima ganti rugi akibat kelalaian. Sebagai pemberi asuhan keperawatan Peran ini dapat dilakukan perawat dengan memperhatikan keadaan kebutuhan dasar manusia yang dibutuhkan melalui pemberian pelayanan keperawatan. peran ini bertujuan untuk menghilangkan ketegangan dalam kelompok pelayanan (dokter. merencanakan serta mengorganisasi pelayanan kesehatan dari tim kesehatan sehingga pemberi pelayanan kesehatan dapat terarah serta sesuai dengan kebutuhan klien. Peran Perawat menurut Para Sosiolog 5. Perawat juga berperan dalam mempertahankan dan melindungi hak-hak pasien meliputi hak atas pelayanan sebaik-baiknya. Expressive/mother substitute role. 11. gejala penyakit bahkan tindakan yang diberikan sehingga terjadi perubahan perilaku dari klien setelah dilakukan pendidikan kesehatan. hak atas privasi. 10. 2001).

12. Sebagai konsultan Perawat berperan sebagai tempat konsultasi dengan mengadakan perencanaan. fisioterapi. Secara unum perawat mempunyai peran terapeutik yaitu kegiatan yang ditujukan langsung pada pencegahan dan pengobatan penyakit. (3) Memantau pasien. . dan memperbaiki rencana keperawatan secara terus menerus berdasarkan pada kondisi dan kemampuan pasien. Hubungan peran perawat dengan kecemasan Orang yang sakit sangat memerlukan seseorang yang bisa mengobati penyakitnya tersebut dan orang sehat memerlukan seseorang yang bisa mengarahkan agar bisa mencegah dan terhindar dari berbagai penyakit. kerjasama. (2002) yaitu. Tujuh Fungsi Perawat Kozier Barbara. 15. (4) Supervisi semua pihak yang ikut terlibat dalam perawatan pasien.Peran ini dilakukan karena perawat bekerja melalui tim kesehatan yang terdiri dari dokter. kerjasama. Begitu pula dengan Pembedahan. Karena masih kurangnya pengetahuan pasien tentang penyakit yang dideritanya. (2) Observasi gejala dan respons pasien yang berhubungan dengan penyakit dan penyebabnya. Sebagai pembaharu Perawat mengadakan perencanaan. (6) Melaksanakan prosedur dan teknik keperawatan. ahli gizi dan lain-lain dengan berupaya mengidentifikasi pelayanan keperawatan yang diperlukan. (1) Melaksanakan instruksi dokter (fungsi dependen). menyusun. perubahan yang sistematis dan terarah sesuai dengan metode pemberian pelayanan keperawatan 13. Fungsi Perawat Fungsi adalah pekerjaan yang harus dilaksanakan sesuai dengan perannya. (7) Memberikan pengarahan dan penyuluhan untuk meningkatkan kesehatan fisik dan mental. sehingga kekambuhan sering terjadi dan bahkan bertambah parah. perubahan yang sistematis dan terarah sesuai dengan metode pemberian pelayanan keperawatan. Seseorang tersebut ialah perawat yang mempunyai banyak peran untuk melaksanakan praktek keperawatan. (5) Mencatat dan melaporkan keadaan pasien. 14.

citra diri. Perawat harus dapat mengkaji perasaan klien tentang pembedahan. sumber koping klien serta asuhan keperawatan yang terbaik (Perry Potter. Soerharto tahun 2008. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Makmur et. BAB III METODE PENELITIAN 1.Proses pembedahan sering menimbulkan stress psikologi yang tinggi. Ada hubungan antara pendidikan pasien dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. Hipotesa peneliti 1. al (2007) dan penelitian rumah Sakit Ortopedi Prof Dr.Yunus Bengkulu Tahun 2010. 2010).1 Desain Penelitian . Ada hubungan antara peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruang seruni RSUD. 2. dengan nilai p < 0. Klien merasa cemas tentang pembedahan. 2006). 16.M. terdapat 37. Desain penelitian Desain penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional.M.Yunus Bengkulu Tahun 2010. dimana variabel independen dan variabel dependen di kumpulkan pada saat bersamaan (Notoadmodjo.5% yang mengalami kecemasan ringan. Dan hasil penelitian yang dilakukan Elika tahun 2009.05 yang mengalami kecemasan ringan sehingga dapat disimpulkan ada hubungan peran perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi. R. Bagan 3. Klien merasa kurang dapat mengontrol situasi mereka sendiri untuk memahami dampak pembedahan pada kesehatan emosional klien tersebut. konsep diri.

Variabel Penelitian Sesuai dengan desain penelitian di atas.B.2 Variabel Penelitian C. Kuisioner (15 pertanyaan) Ordinal . maka Variabel Penelitian dapat digambarkan sebagai berikut : Variabel Variabel Dependen Independen Bagan 3. Definisi Operasional Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Cara ukur Hasil Ukur 0=Cemas Berat jika. < 28 0=Rendah ≤ SMA Pendidikan (Independen) Pendidikan Formal yang ditempuh pasien Kuisioner Dengan cara mengisi (1 pertanyaan kuisioner ) 1= Tinggi >SMA 0= kurang Dengan cara baik jika skor ≤ 75% mengisi kuisioner Ordinal ≥ 28 Ordinal Skala Ukur Peran Perawat (Independent) Tindakan yang dilakukan oleh perawat dalam proses penyembuhan. Kuisioner Wawancara (14 komponen pertanyaan HRS-A) dan observasi 1= Tidak Berat jika. Tingkat kecemasan (Dependen) Suatu kondisi yang menyangkut kekhawatiran seseorang pada masalah yang terjadi.

0.825 = 55 responden (Aziz Alimul. 0. 2008) Keterangan : n = Sampel Z(1-α/2) = Nilai Z pada derajat kemaknaan (α 5%=1. Sampel Sampel adalah objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi ( Notoatmojo.175 =17. 2.825 =3.96) P = Proporsi suatu kasus yaitu proporsi kecemasan 0. (Noto atmojo.96)². jika skor ≥ 75% 1. Populasi dan Sampel 1. 2010). Dalam penelitian ini teknik yang digunakan adalah teknik Simple Random sampling n = Z²1-α/2.786 orang.P(1-P) = (1.5% . 2010).84. 0. berdasarkan data jumlah pasien pada tahun 2009 adalah 1. 0. Populasi dalam penelitian ini adalah kelompok pasien pre operasi yang ingin menjalankan operasi di ruang Seruni dari bulan januari sampai bulan desember tahun 2010.1= baik.175.175. Populasi Populasi adalah Keseluruhan dari objek penelitian yang di teliti.

jumlah pasien yang melakukan operasi. M. yang nantinya akan diisi oleh responden dan dibantu oleh satu orang perawat yang bertugas di ruang Seruni RSUD M. Editing . umur. Data primer yaitu data yang didapat langsung dari responden yaitu pasien dalam perawatan pre operasi di Ruang Seruni RSUD M.Yunus Bengkulu pada bulan Desember 2010 2. tetapi didapat dengan metode pencarian data rumah sakit dalam bentuk Rekam Medik misalnya: nama. Pengumpulan data Data dalam penelitian ini berupa data primer dan sekunder. Pengolahan Data Data yang telah diperoleh atau terkumpul diolah dan dianalisis dengan program komputer melalui beberapa tahapan. D. Jumlah sampel yang didapat adalah 55 responden. tanggal masuk rumah sakit. E. tanggal keluar rumah sakit dan lain-lain. Tempat Penelitian Penelitian dilakukan di Ruang Seruni RSUD. Yunus Bengkulu dengan cara wawancara dan observasi dengan skala HARS. Pengumpulan. Yunus Bengkulu yang sudah diberi penjelasan tentang pengisian kuisoner. Pengolahan Dan Analisa Data 1. untuk mengukur tingkat kecemasan. kuisioner pendidikan dan kuisioner peran perawat dengan skala selalu (SL). alamat.D = Derajat akurasi (presisi) yang diinginkan 0. kadang (KD). dengan penilaian tidak berat jika skor < 28 dan berat jika skor ≥ 28. Tempat dan Waktu Penelitian 1.1. sering (SR). yaitu : 1. F. tidak pernah (TP). pekerjaan. jarang (JR). Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan Desember sampai dengan februari 2010. Sedangkan data Sekunder adalah data yang didapatkan secara tidak langsung dari responden.

Coding (Pengkodean) Jawaban-jawaban atau hasil yang ada kemudian di klasifikasikan dalam bentuk yang lebih ringkas dengan menggunakan kode-kode. . Selanjutnya dilakukan transformasi data untuk menggambarkan variabel bebas dan variabel terikat.Editing data adalah meneliti kembali apakah isian pada kuisioner yang dilakukan responden sudah cukup dan benar sesuai dengan petunjuk yang ada. Editing dilakukan langsung pada saat responden mengembalikan kuesioner yang sudah diisi dengan harapan apabila ada kekurangan data atau kesalahan dalam pengisian dapat segera diperbaiki. 2. 3. 1.. Analisa Data 1. Analisa Univariat Untuk melihat gambaran distribusi frekuensi dari masing-masing variabel penelitian baik independent maupun dependent. Entry Data (Pemasukan Data) Data yang telah ada dicoding dan hasil scoring kemudian diolah kedalam komputer dengan menggunakan program SPSS For Window. Cleaning (Pembersihan Data) Sebelum melakukan analisa data dengan dilakukan pengecekan kembali terhadap data yang sudah masuk apakah data yang dimasukkan sudah benar dan tidak ada lagi kesalahan. Kemudian dilakukan scoring terhadap pertanyaan yang berhubungan dengan masing-masing variabel dan diteruskan dengan pengujian kebenaran data dengan menggunakan uji Chi-Square dengan signifikan α = 5 %. yaitu : Keterangan : P F = Persentase yang ingin dicapai = Jawaban dalam setiap kategori N = Jumlah seluruh responden . G. Rumus yang digunakan.

. Widya Medika: Jakarta Alimul A. Metode Penelitian keperawatan dan Teknik Analisa Data. Edisi 8. Dasar-dasar Keperawatan Profesional.google. (2003). Z.eprints.Y.05 Ha ditolak jika nilai p > 0. Definisi Pendidikan. 2001) 2.ums. (1997). Analisa Bivariat Analisa bivariat adalah analisa yang digunakan untuk melihat hubungan antara variabel bebas (pendidikan pasien dan peran perawat) dengan variabel terikat (kecemasan pada pasien pre operasi). (2008).ac. http://etd.05 (Budiarto. http://www. Manajemen Administrasi Rumah sakit. Volume 1.com. Universitas Indonesia: Jakarta Ahmadi. Salemba Medika: Jakarta Brunner.(Budiarto. (Diakses tanggal 26 oktober 2010) Ali.A. Untuk melihat hubungan antara dua variabel kategorik maka digunakan Uji X² (Chi-Square) Ha diterima jika nilai p ≤ 0.2001. 2001) DAFTAR PUSTAKA Aditama.id. EGC: Jakarta Carbonel (2002).Sudarth Keperawatan Medikal Bedah. (1997).

Konsep & Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Metodologi Penelitian Kesehatan. Kozier. Bengkulu Notoatmodjo S. Praktek Keperawatan Profesional : Konsep dan Perspektif.ums. Laporan Tahunan RSUD.eprints. Yunus Bengkulu.Potter dkk. PT Rineka Cipta: Jakarta Nursalam (2003). dkk. M. Edisi 4: Jakarta Makmur.ac. EGC : Jakarta . EGC : Jakarta Patricia. Penerbit Gaya Baru: Jakarta Ibrahim (2006). (2006).Hawari D. (2009). (2002). Fundamental Keperawatan.ac. (2007).Volume 2. http://etd. Manajemen Stress Cemas dan Depresi. Salemba Medika: Jakarta Oswari E.id. (2006).id. Dr. (2005).ums. http://etd. Bedah Dan Perawatannya.eprints. Medical Record. (2010).

o ▼ Mei (12)  Gejala Anemia Pada Ibu Hamil  EKSTRAKSI VAKUM .ums. CV Ref Grafika: Jakarta Setiadi (2007). Konsep dan Penulisan Riset Keperawatan.id.Sabiston (1995). (2007). (1999). (2005). http://etd. Buku Ajar Bedah.. Graha Ilmu: Yogyakarta Sundari S. Takut mati Cemas.Rineka Cipta: Jakarta Widodo. PT. Was-was dan Khawatir (Ansietas).eprints. semua zat yang di.ac. Kesehatan Mental Dalam Kehidupan. Diposkan oleh FERYN di 09:38 0 komentar: Poskan Komentar Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda Langgan: Poskan Komentar (Atom) Blog Archive  ▼ 2011 (26) o ► Desember (1)  PENDAHULUAN Pada masa kehamilan..Volume I.. EGC : Jakarta Sani A.

......  Melewatkan Serial Number Pada MS Office 2000Hello .  Membuat Daftar File dan FolderHello there! If you ....  Cara memrubah prosesor            ► 2010 (2) o ► Maret (1)  Download Game Gratis hide Google Search Result......renderWidget('54bcd528-3d..N Dengan FRAKTU.o Kumpulan Askep MAKALAHASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny...  Tips Adsense Tips -Tips Dalam Memasang Ikl...  CARA POSTING BLOGSPOT DENGAN MENGGUNAKAN MICROSOFT. Proposal KTI Keperawatan ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN HIV-AIDS ► April (13)  ASKEP ATRIUM SEPTAL DEFEK (ASD)  DFX on AIMP  BASALIOMA NASOLABIAL SINISTRA  ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN HIV-AIDS  Cara Mengatasi Browser Mozilla Firefox Yang Hang S....... HUBUNGAN PENDIDIKAN DAN PERAN PERAWAT DENGAN TINGK...  Free Download Game : Worms 3D  free download Adobe Fireworks CS3 Portable  trik dan cara mempercepat koneksi modem semua mode.. ► 2009 (6) o ► Desember (6)  if (WIDGETBOX) WIDGETBOX.  Total Tayangan Laman 4783 .  Tips Membuat Hotspot Menggunakan Laptop Di Windows.  Start Menu Windows XP Bergaya Windows VistaHello t.. MAKALAH SEMINAR“ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN.. Arbosi HIV/AIDS Ultasonik Yuk Pasang Sendiri Per dan Kampas Kopling Racing !.  Tips mempercepat koneksi dial-up modem Koneksi in...  Googling Dengan Google HacksHello there! If you ar..  Membongkar Password Office 2000Hello there! If you... S DENG. o ► Januari (1)  10 Cara Memperbaiki Windows XP Yang Tidak Bisa Boo..

com Minggu. 13 Juni 2010 KARYA TULIS ILMIAH HUBUNGAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT DENGAN TINGKAT KECEMASAN PADA PASIEN PRE OPERASI SEKSIO CAESAR DIRUANG KEBIDANAN RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH PALEMBANG TAHUN 2010 Sebagai Salah Satu Syarat Dalam Menyelesaikan Program Pendidikan Diploma III Keperawatan Oleh : AGUSTUS 02 07 832 PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEPERAWATAN .blogspot.Blogroll Kura kura Template by : kendhin x-template.

Prodi D III Keperawatan Trilia WM.Kes Program Studi D III Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiayah Palembang Ka.Kep. Santi Mismeriyanti BIOGRAFI Nama : Agustus Jenis kelamin : Laki-laki Tempat tanggal lahir : Betung.Kep. Ns Adi Santosa. SMIP.07. M. Lailani Badrun SPd. M. S. S.SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH PALEMBANG TAHUN AKADEMIK 2009/2010 HUBUNGAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT DENGAN TINGKAT KECEMASAN PADA PASIEN PRE OPERASI SEKSIO CAESAR DIRUANG KEBIDANAN RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH PELEMBANG TAHUN 2010 Nama : Agustus Nim : 02. Kes Ketua STIKES Muhammadiyah Palembang dr. 16 Agustus 1989 Agama : Islam Status dalam keluarga : Anak ke 11 Dari 12 saudara .832 Telah di pertahankan didepan dewan penguji karya tulis ilmiah pada Tanggal 01 Februari 2010 dan dinyatakan telah memenuhi syarat untuk diterima SUSUNAN DEWAN PENGUJI Pembimbing Penguji I Penguji II Suzanna. SPd. Ns H.

Alamat : Jalan Palembang – Jambi Lk II Rt 031 Rw 08 No 24 Betung Kel.2001 2. • Buat saudaraku ayuk Tuti. . • Sahabat terbaik ku yang tidak bisa diucapkan satu persatu • Teman2 PKLku Khusunya kelompok II • Almamater yang tercinta. SMA : SMA PGRI I Betung Tahun 2004 – 2007 4.2010 MOTTO DAN PERSEMBAHAN Motto : ”Ingatlah MATI seakan-akan kau mati besok.2004 3.2009 • Tingkat III tahun : 2009 .2008 • Tingkat II tahun : 2008 . K’ Dedi Yuk Anita. dan ingatlah duniamu seakan-akan kau hidup 1000 tahun” Kupersembahkan : • Ayahanda (Lahmad. Alm) dan Ibuda yang ku cinta yang telah berjasa dan selalu mendo’akan keberhasilanku setiap saat. Banyuasin Riwayat Pendidikan : 1. Skep. DIII Keperawatan (STIKes) Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Palembang. SD : SD 06 NEGERI I Betung Tahun 1995 . Ns sebagai pembimbing ku yang telah membantu dalam penyusunan KTI ku • Buat K’ Ali Hafis yang telah banyak memberi motivasi. Betung Kab. ayuk Sumi K’ Sudarsono K’ Amran K’ Rudi. Kec. • Suzanna. SMP : SMP PGRI I Betung Tahun 2001 . Rimbah Asam. • Tingkat I tahun : 2007 . dan adikku yang tercinta Kusmiati.

KATA PENGANTAR Syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadiran allah SWT. Kes. 3. Para dosen dan staf Program Studi DIII Keperawatan STIKes Muhammadiyah Palembang. Maret 2010 . bimbingan serta saran dari berbagai pihak. Sehingga karya tulis ilmiah ini dapat penulis selesaikan. 7. Selaku Kepala Program Studi DIII Keperawatan STIKes Muhammadiyah Palembang. SMIP. Bapak Adi Santosa. Palembang. Maka dari itu. Yudi Fadila. Ns.Kep Ns. SPd. Bapak dr. Kes. Lailani Badrun. Selaku Ketua (STIKes) Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Palembang. atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah (KTI) ini dengan judul ”Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Diruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Pelembang Tahun 2010” Dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini penulis menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan dikarnakan keterbatasan ilmu pengetahuan. 8. Penyusunan karya tulis ilmiah ini tidak akan terlaksana dengan baik tampa bantuan. Ibu Trilia WM. pengalaman serta khilafan yang penulis miliki. AMKeb. Ibu dr.Kep. Selaku pembimbing yang telah memberikan bimbingan serta pengarahan selama penulisan karya tulis ilmiah ini. 9. 2. Selaku penguji I yang memberikan kritik dan saran dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini. amin. 4. Untuk itulah pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih yang tak terhingga kepada : 1. 5. Bapak H. selaku Direktur Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang yang telah memberi kemudaan dalam pengurusan administrasi penelitian. Selaku penguji II yang memberikan kritik dan saran dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini. S. SKM selaku kepala ruangan Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang yang memberikan kemudaan dalam pengumpulan data. M. Semoga Allah SWT membalas selalu melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya atas bantuan yang telah diberikan kepada penulis dalam penulisan karya tulis ilmiah ini. Santi Mismeriyanti. Ibu Eva Yulianti. SPd. Akhirnya semoga karya tulis ilmiah ini dapat bermanfaat bagi pembangunan ilmu pendidikan dan ilmu keperawatan serta bagi kita semua. M. Ibu Suzanna S. Dan semua pihak yang telah memberikan bantuan. 6. dengan ikhlas penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat mendidik dan membangun dari semua pihak demi kesempurnaan karya tulis ilmiah dimasa yang akan datang.

Hasil analisis univariat didapatkan komunikasi terapeutik perawat dengan kategori baik sebesar 36% dan kategori cukup sebesar 64%. Populasi penelitian adalah semua pasien pre operasi seksio caesar dan perawat di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang dari tanggal 22 Februari – 6 Maret tahun 2010 dengan jumlah sampel penelitian sebanyak 14 respondenn yang dipilih secara non random dengan teknik accidental sampling. Pada dasarnya komunikasi terapeutik merupakan komunikasi profesional yang mengarah pada tujuan yaitu penyembuhan pasien. Daftar Bacaan : 15 (1996-2009) . Penelitian ini bertujuan mengetahui Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat dengan Tingkat Kecemasan pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang 2010. Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa komunikasi terapeutik perawat mempengaruhi tingkat kecemasan pasien pre operasi seksio caesar. tujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien. JUNI 2010 AGUSTUS Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang 2010 ( xiii + 68 Halaman + 7 Tabel + 6 Lampiran) Komunikasi terapeutik merupakan komunikasi yang direncanakan secara sadar. ABSTRAK SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH PALEMBANG PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN KARYA TULIS ILMIAH. Saran kepada petugas kesehatan diharapkan lebih meningkatkan komunikasi terapeutik yang baik kepada pasien pre operasi seksio caesar ataupun pasien yang lainnya.Penulis. Dari hasil uji chisquare dengan pValue <0. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan angket yang berupa kuesioner dan observasi yang berupa cheklis.05 menunjukan bahwa ada hubungan antara komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar. Penelitian ini merupakan penelitian survey analitik dengan pendekatan cross sectional. sedangkan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi dengan tingkat kecemasan sedang sebesar 57% dan dengan tingkat kecemasan berat sebesar 43%.

From these results it is concluded that therapeutic communication nurse patient anxiety level welsh pre Caesar section operation. JUNE 2010 AUGUST Relationps Communication Anxiety Therapeutic Nurse Level In Patients With Pre Caesar In Operating Room Midwifery Section Hospital Muhammadiyah Palembang 2010 ( xiii + 68 Pages + 7 Table + 6 Annex ) Therapeutic communication is consciously planned communication. Results Univariate analysis showed a nurse therapeutic communication with both categories by 36% and 64% adequate category. This research is an analytical survey with cross sectional approach.05 indicates that there is a relationship between therapeutic communication nurse with the anxiety level in patients pre Caesar section operation. This research was conducted using a questionnaire in the form of questionnaires and observation in the form cheklis. while the level of anxiety in patients with pre surgery anxiety level was at 57% and with severe anxiety level of 43%. Basically. This study aimed to Therapeutic Communication Nurse Relations Anxiety Level in Patients with Pre Operation Caesar section Obstetric Hospital in Room 2010 of Muhammadiyah Palembang. From the results of chi-square test with p value <0. therapeutic communication is a professional communications that lead to the goal of healing the patient. goals and activities focused on healing the patient.ABSTRACT HEALTH SCIENCE HIGH SCHOOL MUHAMMADIYAH PALEMBANG STUDY PROGRAMMES DIPLOMA OF NURSING WRITING SCIENTIFIC. Advice to health workers is expected to further improve therapeutic communication both to the patient pre Caesar section operation or other patients.2009) DAFTAR ISI Hal HALAMAN JUDUL i . Reading List : 15 (1996 . The study population was all patients pre and caesar section operation room nurse at Muhammadiyah Palembang Obstetric Hospital of the date of 22 February to 6 March 2010 with the number of samples is 14 respondenn selected non random accidental sampling technique.

5 Bentuk-Bentuk Kecemasan 27 2.7 Tehnik-Tehnik Komunikasi Terapeutik 14 2.3 Pertanyaan Penelitian 6 1.3 Klasifikasi Seksio Sesarea 35 2.4 Tujuan 7 1.2.HALAMAN PERSETUJUAN ii BIOGRAFI iii MOTTO DAN PERSEMBAHAN iv KATA PENGANTAR v ABSTRAK vi ABSTRACT vii DAFTAR ISI ix DAFTAR TABEL xii DAFTAR LAMPIRAN xiii BAB I PENDAHULUAN 1.1.3.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kecemasan 26 2.2.2.7 Tanda-Tanda Kecemasan 28 2.2.5 Prinsip-Prinsip Komunikasi Terapeutik 11 2.3.2.3 Tingkat Kecemasan 25 2.1 Pengertian Komunikasi Terapeutik 9 2.2 Tujuan Komunikasi Terapeutik 10 2.2.1.2.1 Komunikasi Terapeutik 9 2.8 Fase – Fase Dalam Komunikasi Teraupetik 20 2.4 Penelitian Terkait 39 .2 Rumusan Masalah 6 1.6 Sikap Komunikasi Terapeutik 13 2.4 Syarat-Syarat Komunikasi Terapeurik 10 2.3 Seksio Sesarea 34 2.1 Pengertian Seksio Sesarea 34 2.3 Manfaat Komunikasi Terapeutik 10 2.6 Manfaat Penelitian 8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.9 Pengukuran Skala Kecemasan 29 2.2 Klasifikasi Kecemasan 24 2.2 Kecemasan (Ansietas) 22 2.1.1 Definisi Kecemasan (Ansietas) 22 2.2 Faktor-faktor yang Menyebabkan Seksio Sesarea 34 2.1 Latar Belakang 1 1.6 Ciri-Ciri Kecemasan 27 2.5 Ruang Lingkup Penelitian 7 1.1.2.8 Penyebab Kecemasan (Ansietas) 28 2.2.3.1.1.1.1.

1 Persalinan 59 5.2.2 Variabel 42 3.2.2 Komunikasi Terapeutik Perawat 61 5.3 Tingkat Kecemasan Pasien Seksio Caesar 63 5.2 Populasi dan Sampel Penelitian 45 4.BAB III KERANGKA KONSEP.9 Etika Penelitian 48 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN 5.2 Variabel Peneliti 54 5.3 Definisi Operasional 43 3.3.1 Populasi Penelitian 45 4.1 Kerangka Konsep 41 3.8 Analisa Data 48 4.3.3 Lokasi dan Waktu Penelitian 46 4.2 Saran 67 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN DAFTAR TABEL .1 Kesimpulan 67 6.4 Hipotesis 44 BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.3. DEFINISI OPERASIONAL DAN HIPOTESIS 3.1 Hasil 51 5.2 Sampel Penelitian 45 4.3.5 Tehnik Pengumpulan Data 46 4.1 Desain Penelitian 45 4.4 Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi Seksio Caesar ` 65 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.3 Pembahasan 59 5.7 Pengolahan Data 47 4.6 Instrumen Pengumpulan Data 46 4.4 Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data 46 4.

2 : Persalinan Seksio Caesar Dan Spontan Tabel 5.5 : Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 : Surat Penelitian Lampiran 2 : Lembar Persetujuan Menjadi Responden Lampiran 3 : Quisioner Penelitian Lampiran 4 : Cheklist Penelitian Lampiran 5 : Output SPSS Lampiran 6 : Lembar Konsultasi .1 : Bagan Kerangka Konsep Tabel 4.1 : Jumlah Tempat Tidur Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang Tabel 5.Tabel 3.4 : Tingakat Kecemasan Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Tabel 5.1 : Perencanaan Waktu Penelitian Tabel 5.3 : Komunikasi Terapeutik Perawat Tabel 5.

Persoalan mendasar dan komunikasi ini adalah adanya saling membutukan antara perawat dan pasien. dibandingkan dengan orang yang cemas ringan (Barbara C. Pandangan setiap orang dalam menghadapi operasi berbeda. kemudian melupakan pasien sebagai manusia dengan beragam latar belakang dan masalahnya (Arwani. seringkali menjadi hambatan pada paska operasi. Komunikasi yang direncanakan secara sadar. dan merupakan tindakan profesional. bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien disebut dengan komunikasi terapeutik. Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang mendorong proses penyembuhan klien (Depkes RI. .BAB I PENDAHULUAN 1. kecemasan sering muncul pada usia sebelum 30 tahun (Stuard and Sundeen. 1996). Setiap menghadapi operasi selalu menimbulkan ketakutan dan kecemasan pada pasien. Akan tetapi. lebih mudah tersinggung akibat reaksi psikis.1 Latar Belakang Komunikasi merupakan bagian integral dari kehidupan manusia tidak terkecuali seorang perawat. namun harus direncanakan. 1998). bingung. mengatasi gangguan psikologis. sehingga dapat dikategorikan ke dalam komunikasi pribadi di antara perawat dan pasien. 2003). Hal ini juga terkait dengan komunikasi perawat yang sangat dibutuhkan pada pasien operasi seksio caesar karena pada kondisi ini pasien cemas. Seseorang yang sangat cemas sehingga tidak bisa berbicara dan mencoba menyesuaikan diri dengan kecemasan sebelum operasi. 2003). 1997). sehingga respon pun berbeda. disengaja. untuk mengurangi kecemasan itu maka perawat harus memberikan komunikasi terapeutik kepada pasien pre operasi seksio caesar. perawat membantu dan pasien menerima bantuan (Indrawati. yang dalam kegiatan sehari-harinya selalu berhubungan dengan orang lain. Dan juga Komunikasi terapeutik bukan pekerjaan yang bisa diabaikan. pasien menjadi cepat marah. Long. Komunikasi terapeutik juga merupakan kemampuan atau keterampilan perawat untuk membantu pasien beradaptasi terhadap stres. dan belajar bagaimana berhubungan dengan orang lain. Komunikasi terapeutik juga termasuk komunikasi interpersonal dengan titik tolak saling memberikan pengertian antar perawat dengan klien. jangan sampai karena terlalu asyik bekerja.

Kecemasan merupakan perasaan yang paling umum dialami oleh pasien yang dirawat di rumah sakit. Pembahasan tentang reaksi-reaksi pasien terhadap pembedahan sebagian besar berfokus pada persiapan pembedahan dan proses penyembuhan. sedangkan sisanya dengan bantuan alat seperti vakum dan forsep. kelompok atau individu. 52. adanya perasaan gelisah atau tidak tenang dengan sumber yang tidak spesifik dan tidak diketahui oleh seseorang. Sebagian besar peningkatan ini berlangsung pada tahun 1970-an sampai awal 1980-an dan terjadi di seluruh negara barat. 30% merupakan persalinan caesar. Data dari RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta tahun 2000.5% adalah persalinan spontan. Kecemasan merupakan sesuatu hal yang tidak jelas. Operasi merupakan tindakan pengobatan yang banyak menimbulkan kecemasan. 2009) Operasi adalah salah satu tindakan pengobatan yang banyak menimbulkan kecemasan. sedangkan sisanya dengan bantuan alat seperti vakum atau forsep (Kasdu. kemudian dari segumpal darah. agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim. presentasi bokong. wanita yang hamil berusia lebih tua.000 wanita melahirkan dengan seksio caesar pada tahun 1998. sedangkan angka di Indonesia belum diketahui secara pasti. maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah. kecemasan yang sering terjadi adalah apabila pasien yang dirawat di rumah sakit harus mengalami proses operasi. Kelahiran manusia dimuka bumi ini sudah di jelaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Hajj Ayat : 5 yang berarti ”Hai manusia. 48% merupakan persalinan caesar. untuk itu pasien yang akan menjalani operasi harus diberi komunikasi terapeutik untuk menurunkan atau mengurangi gejala kecemasan serta dapat meningkatkan pengetahuan kesehatan pada pasien. Untuk dapat menurunkan kecemasan pada pasien pre operasi salah satunya diperlukan komunikasi yang efektif terutama komunikasi terapeutik. Lebih dari 825. Tindakan operasi merupakan ancaman potensial aktual terhadap integritas seseorang yang dapat membangkitkan reaksi stress fisiologis maupun psikologis (Barbara C.drdidispog. pemantauan janin secara elektronik. sampai saat ini sebagian besar orang menganggap bahwa semua operasi yang dilakukan adalah operasi besar. 1989) Menurut World Heath Organization (WHO) angka persalinan dengan seksio caesarea yang wajar adalah 5-10 % dari seluruh kelahiran. dan tuntutan malpraktik (Cunningham. Penyebab peningkatan ini adalah nulipara. Ternyata diseluruh dunia angka operasi seksio caesarea meningkat dengan pesat.com ) Di Amerika Serikat. Komunikasi terapeutik pada hakikatnya adalah suatu kegiatan atau usaha untuk menyampaikan pesan kesehatan kepada masyarakat. kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna. dan 37% di antaranya pernah menjalani seksio caesar sebelumnya. 1 diantara setiap 10 wanita yang melahirkan setiap tahunnya pernah menjalani seksio caesar. Sedangkan data yang diperoleh dari Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang pada tahun 2009 menyebutkan dari jumlah persalinan sebanyak 2331 per tahun.Long. apa yang Kami kehendaki sampai .Proses perawatan di rumah sakit seringkali mengabaikan aspek-aspek psikologis sehingga menimbulkan berbagai permasalahan pisikologis bagi pasien yang salah satunya adalah kecemasan. kemudian dari setetes mani. (Dewi wijayanti. jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur). 2005). (http://www. Hal ini perlu mendapat perhatian serius dari perawat karena perawat merupakan petugas kesehatan yang terdekat dan terlama dengan pasien. 40% persalinan normal. 2003). menyebutkan dari jumlah persalinan sebanyak 404 per bulan. Bila kecemasan pada pasien pre operasi tidak segera diatasi maka dapat mengganggu proses penyembuhan.

dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun. 1. Diamana pada tahap ini tingkat kecemasan pasien yang akan di operasi masih sangat tinggi. membatasi seksio caesar atas indikasi distosia persalinan pada wanita yang memenuhi kriteria yang ditentukan dengan ketat (Cunningham. kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi.1 Tujuan Umum Untuk mengetahui Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang. Program-program yang ditujukan untuk mengurangi seksio caesar yang tidak diperlukan.(Al-Quran Terjemah : Tohaputra Ahmad.5.angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan. maka penulis tertarik untuk meneliti ”Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi Seksio Caesar” 1.2 Waktu Penelitian ini dilakukan pada tanggal 22 Febuari sampai dengan tanggal 6 Maret tahun 2010.2 Rumusan Masalah Berdasarkan pada data diatas maka belum diketahui Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien pre Operasi Seksio Caesar Di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang 2010. .4. umumnya difokuskan pada upaya pendidikan dan pengawasan..waktu yang sudah ditentukan. Beberapa penelitian telah membuktikan adanya kemungkinan untuk menurunkan angka seksio caesar di Institusi kesehatan mengurangi peningkatan mordibitas (kelahiran) atau mortalitas (kematian) perinatal.5 Ruang Lingkup Masalah 1.5.. kemudian (dengan berangsur. 2005) Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas bahwa komunikasi terapeutik sangat dibutuhkan bagi pasien yang akan menjalani operasi seksio caesar.1 Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan Di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang. 1998)..2 Tujuan Khusus a) Diketahuinya gambaran komunikasi terapeutik perawat pada pasien pre operasi seksio caesar. 1. b) Diketahuinya gambaran tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar c) Diketahuinya gambaran hubungan antara komunikasi terapeutik perawat/bidan dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar.. Karena komunikasi terapeutik salah satu tindakan perawat yang dapat mengurangi kecemasan. 1.3 Pertanyaan Penelitian Bagaimana Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang? 1. 1.4.. supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya.4 Tujuan Penelitian 1. mendorong percobaan persalinan pada wanita dengan riwayat seksio caesar transversal.

Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar. 2008 ). Sehingga komunikasi terapeutik itu sendiri adalah komunikasi yang direncanakan dan dilakukan untuk membantu penyembuhan dan pemulihan pasien.6. 1.1 Komunikasi Terapeutik 2.1 Manfaat Bagi Rumah Sakit Diharapkan dapat dijadikan masukan dan motivasi bagi rumah sakit untuk lebih menerapkan komuniksi terapeutik perawat dalam mengurangi tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar.6 Manfaat Penelitian 1.6. tujuan dan kegiatannya . Komunikasi terapeutik merupakan komunikasi profesional bagi perawat. 1.1.4 Manfaat Bagi Peneliti Diharapkan dapat menambah ilmu pengetahuan dan wawasan bagi peneliti mengenai hubungan komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar.6.2 Manfaat Bagi Institusi Pendidikan Diharapkan dapat menambah informasi dan referensi yang berguna bagi mahasiswa sekolah tinggi ilmu kesehatan Muhammadiyah Palembang.1 Pengertian Komunikasi Terapeutik Terapeutik merupakan kata sifat yang dihubungkan dengan seni dari penyembuhan (As Hornby Dalam Intan.1. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Maka disini dapat di artikan bahwa terapeutik adalah segala sesuatu yang memfasilitasi proses penyembuhan. 1. ( Mukhripah Damaiyanti.6. 2005).3 Manfaat Bagi Pasien Diharapkan dapat memberikan rasa nyaman dan aman pada semua pasien yang akan menjalankan operasi seksio caesar sehingga pasien yang menjalankan operasi tidak cemas dan operasi bisa berjalan dengan lancar.

mengungkap perasaan dan mengkaji masalah dan evaluasi tindakan yang dilakukan oleh perawat. Christina. (Mukhripah Damaiyanti. 2. saling pecaya dan saling menghargai.1.4 Syarat-Syarat Komunikasi Terapeutik Stuart dan Sundeen (dalam Christina. b. 2008 ). Perawat harus mengenal dirinya sendiri yang berarti menghayati.3 Manfaat Komunikasi Terapeutik Manfaat komunikasi terapeutik adalah untuk mendorong dan menganjurkan kerja sama antara perawat dan pasien melalui hubungan perawat dan pasien. hubungan perawat-klien tersebut bukanlah hubungan yang memberikan dampak terapeutik yang mempercepat kesembuhan klien. Semua komunikasi terapeutik harus ditujukan untuk menjaga harga diri pemberi maupun penerima pesan. Kualitas asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien sangat dipengaruhi oleh kualitas hubungan perawat-klien. tingkah lakunya sehingga tumbuh mangkin matang dan dapat memecahkan masalahmasalah yang dihadapi. e.5 Prinsip-Prinsip Komunikasi Terapeutik Prinsip-prinsip komunikasi terapeutik menurut Carl Rogers (dalam Perwanto. 2003 ). Komunikasi harus di tandai dengan sikap saling menerima. Perawat harus menciptakan suasana yang memungkinkan pasien memiliki motivasi untuk mengubah dirinya baik sikap.1. ( Indrawati. 2. 2. Mengidentifikasi.1.dipusatkan untuk kesembuhan pasien. Persoalan mendasar dan komunikasi ini adalah adanya saling membutuhan antara perawat dan pasien. tetapi hubungan sosial biasa. sehingga dapat dikategorikan ke dalam komunikasi pribadi di antara perawat dan pasien. Perawat harus menciptakan suasana yang memungkinkan pasien bebas berkembang tanpa rasa takut. lingkungan fisik dan diri sendiri. perawat membantu dan pasien menerima bantuan. Komunikasi terapeutik termasuk komunikasi interpersonal dengan titik tolak saling memberikan pengertian antar perawat dengan pasien. 1994) adalah : a. b. Persyaratan . (Indrawati. dkk. Komunikasi terapeutik ini akan efektif bila melalui penggunaan dan latihan yang sering. Bila perawat tidak memperhatikan hal ini.Persyaratan untuk komunikasi terapeutik ini dibutuhkan untuk membentuk hubungan antara perawat dengan pasien sehingga klien memungkinkan untuk mengimplementasikan proses keperawatan.2 Tujuan Komunikasi Terapeutik Membantu pasien untuk memperjelas dan mengurangi beban perasaan dan pikiran serta dapat mengambil tindakan yang efektif untuk pasien. dkk. Pada dasarnya komunikasi terapeutik merupakan komunikasi profesional yang mengarah pada tujuan yaitu penyembuhan pasien. d. Komunikasi yang menciptakan saling pengertian yang harus dilakukan terlebih dahulu sebelum memberikan sarana. 2. informasi atau masukan. 2003) mengatakan ada dua persyaratan untuk komunikasi terapeutik efektif : a. c. . memahami dirinya sendiri serta nilai yang dianut. Perawat harus menyadari pentingnya kebutuan pasien baik fisik maupun mental.1. membantu mempengaruhi orang lain. 2003 ).

sedangkan pertanyaan nonfasilitatif (Nonfacilitative Question) adalah pertanyaan yang tidak efektif karena memberikan . Disarankan untuk mengekspresikan perasaan bila dianggap menganggu.1. oleh karena itu perawat perlu mempertahan suatu keadaan sehat fisik mental. n.6 Sikap Komunikasi Terapeutik Egan (dalam Keliat. 2. k. d.7. mengindentifikasi lima sikap atau cara untuk menghadirkan diri secara fisik yang dapat memfasilitasi komunikasi terapeutik.f. meskipun dalam situasi yang kurang menyenangkan. Berhadapan Arti dari posisi ini adalah saya siap untuk anda b. a. m.1 Bertanya Bertanya (Questioning) merupakan tehnik yang dapat mendorong klien untuk mengungkapkan perasaan dan pikirannya. Kejujuran dan komunikasi terbuka merupakan dasar dari hubungan terapeutik j. Mampu menentukan batas waktu yang sesuai dan dapat mempertahankan konsistensinya. 2. l. i. e. Perawat harus mampu menguasai perasaan sendiri secara bertahap untuk mengetahui dan mengatasi perasaan gembira. h. yaitu : a. Tehnik berikut sering digunakan pada tahap orientasi. Pertanyaan Fasilitatif Dan Nonfasilitatif Pertanyaan fasilitatif (Facilitative Question) terjadi jika pada saat bertanya perawat sensitif terhadap pikiran dan perasaan serta secara langsung berhubungan dengan masalah klien. Mempertahankan kontak mata Kontak mata pada level yang sama berarti menghargai klien dan menyatakan keinginan untuk tetap berkomunikasi. Altruisme untuk mendapatkan kepuasan dengan menolong orang lain secara manusiawi. Tetap rileks Tetap dapat mengendalikan keseimbangan antara ketegangan dan relaksasi dalam memberikan respons kepada pasien. c. spiritual dan gaya hidup. Bertanggung jawab dalam dua demensi yaitu tanggung jawab terhadap diri sendiri atas tindakan yang dilakukan dan bertanggung jawab dengan orang lain.1. Mampu berperan sebagai role model agar dapat menunjukan dan menyakinkan orang lain tentang kesehatan. 1992). Berpegang pada etika dengan cara berusaha sedapat mungkin mengambil keputusan berdasarkan prinsip kesejahteraan manusia. keberhasilan maupun frustasi g. sedih marah. Mempertahankan sikap terbuka Tidak melipat kaki atau tangan menunjukan keterbukaan untuk berkomunikasi dan siap membantu. Membungkuk kearah klien Posisi ini menunjukan keinginan untuk menyatakan atau mendengarkan sesuatu.7 Tehnik-Tehnik Komunikasi Terapeutik 2.1. Memahami betul arti empati sebagai tindakan terapeutik dan sebaliknya sempati bukan tindakan terapeutik.

W dalam Suryani. 1992 ). D dalam Suryani. karena pengertian terhadap perasaan klien sangat penting dalam memahami klien. Pertanyaan tertutup (Closed Question) digunakan ketika perawat membutuhkan jawaban yang singkat. G. Budi Anna. pertanyaan. 1994 ). minat. 2. perasaan. Mendengarkan adalah proses aktif (Gerald. 2005). Restarting (pengulangan) merupakan suatu strategi yang mendukung listening ( Suryani.1. D dalam Suryani.5 Refleksi Refleksi (Reflection) adalah mengarahkan kembali ide. 2005). D dalam Suryani. Apabila perawat menginterpretasikan pembicaraan klien. bersifat mengancam. dalam Suryani. 2005 ).4 Klarifikasi Klarifikasi (Clarification) adalah menjelaskan kembali ide atau pikiran klien yang tidak jelas atau meminta klien untuk menjelaskan arti dari ungkapannya ( Gerald. perawat mampu mendorong klien mengekspresikan dirinya (Antai-Otong dalam Suryani. perawat tidak boleh menginterpretasikan apa yang dikatakan klien. Hal ini digunakan untuk memvalidasi pengertian perawat tentang apa yang diucapkan klien dan menekankan empati. 2005). 1992).pertanyaan yang tidak fokus pada masalah atau pembicaraan.1. Selama mendengarkan.1. 2005). dan tampak kurang pengertian terhadap klien (Gerald.7. b.7.1. Pada saat klarifikasi. Dengan pertanyaan terbuka. dan isi pembicaraan kepada klien.7. 2.3 Mengulang Mengulang (Restarting) yaitu mengulang pokok pikiran yang diungkapkan klien. dan penghargaan terhadap klien (Antai-Otong dalam Suryani. 2.7. 2005). Fokus utama klarifikasi adalah pada perasaan. 2005). Dengan demikian akan terhindar dari pembicaraan tanpa arah dan penggantian topik pembicaraan.6 Memfokuskan Memfokuskan (Focusing) bertujuan memberi kesempatan kepada klien untuk membahas masalah inti dan mengarahkan komunikasi klien pada pencapaian tujuan (Stuart.7. juga tidak boleh menambahkan informasi (Gerald.2 Mendengarkan Mendengarkan (Listening) merupakan dasar utama dalam komunikasi terapeutik (Keliat. Hal yang . 2005). S dalam Suryani. Perawat memberikan tanggapan dengan tepat dan tidak memotong pembicaraan klien. 2005) dan penerimaan informasi serta penelaahan reaksi seseorang terhadap pesan yang diterima (Hubson. perawat harus mengikuti apa yang dibacakan klien dengan penuh perhatian. 2. maka penilaiannya akan berdasarkan pandangan dan perasaannya. Budi Anna. D. Gunanya untuk menguatkan ungkapan klien dan memberi indikasi perawat mengikuti pembicaraan klien ( Keliat.1. Tunjukkan perhatian bahwa perawat mempunyai waktu untuk mendengarkan ( Purwanto Heri. 2. Pertanyaan Terbuka Dan Tertutup Pertanyaan terbuka (Open Question) digunakan apabila perawat membutuhkan jawaban yang banyak dari klien.

7.7. 2. 2. pengertian.7. Tehnik ini sangat bermanfaat terutama ketika klien berfikiran negatif terhadap sesuatu. memperlambat tempo interaksi. 2.perlu diperhatikan dalam menggunakan metode ini adalah usahakan untuk tidak memutus pembicaraan ketika klien menyampaikan masalah penting (Suryani. Diam juga memungkinkan klien untuk berkomunikasi dengan dirinya sendiri dan berguna pada saat klien harus mengambil keputusan (Suryani. Reframing akan membuat klien mampu melihat apa yang dialaminya dari sisi positif (Gerald. 2005).W (1998) dalam Suryani (2005) menyatakan. 2. Diam akan memberikan kesempatan kepada perawat dan klien untuk mengorganisasi pikiran masing-masing (Stuart & Sundeen dalam Suryani.7. 2.1. D dalam Suryani. atau memandang sesuatu dari sisi negatifnya. dan penerimaannya. 2005) sehingga memungkinkan klien untuk membuat perencanaan yang lebih baik dalam mengatasi masalah yang dihadapinya. 2005). Seorang perawat kadang memberikan tanggapan yang kurang tepat ketika klien mengungkapkan masalah. sambil perawat menyampaikan dukungan.1.10 Mengubah Cara Pandang Tehnik mengubah cara pandang (refarming) ini digunakan untuk memberikan cara pandang lain sehingga klien tidak melihat sesuatu atau masalah dari aspek negatifnya saja (Gerald. 2005) supaya masalah tersebut bisa diatasi.7.7. Tehnik ini digunakan ketika . misalnya menyatakan : “sebenarnya apa yang anda pikirkan tidak seburuk itu kejadiannya”.1. Informasi yang diberikan pada klien harus dapat memberikan pengertian dan pemahaman tentang masalah yang dihadapi klien serta membantu dalam memberikan alternatif pemecahan masalah (Suryani.7 Diam Tehnik diam (Silence) digunakan untuk memberikan kesempatan pada klien sebelum menjawab pertanyaan perawat. Poin utama dari menyimpulkan yaitu peninjauan kembali komunikasi yang telah dilakukan (Murray. Tehnik ini sangat membantu dalam mengajarkan kesehatan atau pendidikan pada klien tentang aspek-aspek yang relevan dengan perawatan diri dan penyembuhan klien. Tehnik ini memberikan waktu pada klien untuk berfikir dan menghayati. membagi persepsi (Sharing Peception) adalah meminta pendapat klien tentang hal yang perawat rasakan atau pikirkan. D dalam Suryani.1.11 Eksplorasi Eksplorasi bertujuan untuk mencari atau menggali lebih jauh atau lebih dalam masalah yang dialami klien (Antai-Otong dalam Suryani. 2. Tehnik ini membantu perawat dan klien untuk memiliki pikiran dan ide yang sama saat mengakhiri pertemuan.12 Membagi Persepsi Stuart G. 2005). 2005). Tehnik ini bermanfaat pada tahap kerja untuk mendapatkan gambaran yang detail tentang masalah yang dialami klien.1.1.9 Menyimpulkan Menyimpulkan (Summerizing) adalah tehnik komunikasi yang membantu klien mengeksplorasi poin penting dari interaksi perawat-klien. 2005).8 Memberi Informasi Memberikan tambahan informasi (Informing) merupakan tindakan penyuluhan kesehatan klien. 2005). B & Judith dalam Suryani.

2. serta mengevaluasi hasil tindakan yang lalu (Stuart. 2002). Pada tahap kerja ini dituntut kemampuan perawat dalam mendorong klien mengungkap . 2005).1. 2. Reinforcement berguna untuk meningkatkan harga diri dan menguatkan perilaku klien (Gerald. 2.8. 2.3 Tahap Kerja Tahap kerja ini merupakan tahap inti dari keseluruhan proses komunikasi terapeutik (Stuart.14 Humor Humor bisa mempunyai beberapa fungsi dalam hubungan terapeutik. 2005). Florence Nightingale dalam Anonymous (1999) dalam Suryani (2005) pernah mengatakan suatu pengalaman pahit sangat baik ditangani dengan humor. dkk. G.13 Mengidentifikasi Tema Perawat harus tanggap terhadap cerita yang disampaikan klien dan harus mampu manangkap tema dari seluruh pembicaraan tersebut.perawat merasakan atau melihat ada perbedaan antara respos verbal dan respons nonverbal klien. perawat harus memperkenalkan dirinya terlebih dahulu kepada klien (Brammer dalam Suryani.15 Memberikan Pujian Memberikan Pujian (Reinforcement) merupakan keuntungan psikologis yang didapatkan klien ketika berinteraksi dengan perawat. Pada tahap ini perawat menggali perasaan dan mengidentifikasi kelebihan dan kekurangannya. dkk. 2. mengatasi kecemasannya.1. Pada saat berkenalan. Pada tahap ini perawat juga mencari informasi tentang klien. 2005). Kemudian perawat merancang strategi untuk pertemuan pertama dengan klien.2 Tahap Perkenalan Perkenalan merupakan kegiatan yang dilakukan saat pertama kali bertemu atau kontak dengan klien (Christina. 2002).7.8.1.1 Tahap Persiapan (Preinteraksi) Tahap Persiapan atau prainteraksi sangat penting dilakukan sebelum berinteraksi dengan klien (Christina. Tujuan tahap ini adalah untuk memvalidasi keakuratan data dan rencana yang telah dibuat dengan keadaan klien saat ini. Dengan memperkenalkan dirinya berarti perawat telah bersikap terbuka pada klien dan ini diharapkan akan mendorong klien untuk membuka dirinya (Suryani. 2. serta menurunkan tekanan darah dan nadi. Reniforcement bisa diungkapkan dengan kata-kata ataupun melalui isyarat nonverbal.1. G. dan meyakinkan dirinya bahwa dia siap untuk berinteraksi dengan klien (Suryani. Humor dapat meningkatkan kesadaran mental dan kreativitas.8 Fase – Fase Dalam Komunikasi Terapeutik 2.8. Gunanya adalah untuk meningkatkan pengertian dan menggali masalah penting (Stuart & Sadeen dalam Suryani. Tahap ini harus dilakukan oleh seorang perawat untuk memahami dirinya. 2005).1.W dalam Suryani.7. Tehnik ini sangat bermanfaat pada tahap awal kerja untuk memfokuskan pembicaraan pada awal masalah yang benar-benar dirasakan klien. 2005).7. 2005). D dalam Suryani.W dalam Suryani.1.1. 2005). Pada tahap ini perawat dan klien bekerja bersama-sama untuk mengatasi masalah yang dihadapi klien.

1997) d.2.com ) Menurut Post (1978). yang memperingatkan adanya bahaya yang mengancam dan memungkinkan seseorang mengambil tindakan untuk mengatasi ancaman (Kaplan dan Sadock. kecemasan adalah kondisi emosional yang tidak menyenangkan. dengan kata lain kecemasan adalah reaksi atas situasi yang dianggap berbahaya. Perawat juga dituntut untuk mempunyai kepekaan dan tingkat analisis yang tinggi terhadap adanya perubahan dalam respons verbal maupun nonverbal klien. 2.8. Suatu sinyal yang menyadarkan. kecemasan melibatkan persepsi tentang perasaan yang tidak menyenangkan dan reaksi fisiologis. yang ditandai oleh perasaan-perasaan subjektif seperti ketegangan.2 Kecemasan (Ansietas) 2. 2000) c.W dalam Suryani. 2005). ninspesifik (Carpenito. a.perasaan dan pikirannya. 2003) e. Suatu keadaan ketidakseimbangan atau tegangan yang cepat mengusahakan coping (Hudak dan Gallo.2007. setelah terminasi sementara. Pada tahap ini perawat perlu melakukan active listening karena tugas perawat pada tahap kerja ini bertujuan untuk menyelesaikan masalah klien. Perawat juga diharapkan mampu menyimpulkan percakapannya dengan klien. perawat akan bertemu kembali dengan klien pada waktu yang telah ditentukan. yang diikuti oleh reaksi fisiologis tertentu seperti perubahan detak jantung dan pernafasan. G. . Terminasi sementara adalah akhir dari tiap pertemuan perawat-klien. Tahap ini dibagi dua yaitu terminasi sementara dan terminasi akhir (Stuart. 2005). b.1.1 Definisi Kecemasan (Ansietas) Ansietas atau kecemasan adalah : a. Freud (dalam Arndt. dan membantu perawat-klien memiliki pikiran dan ide yang sama (Murray. 2002). Terminasi akhir terjadi jika perawat telah menyelesaikan proses keperawatan secara keseluruhan. Tehnik menyimpulkan ini merupakan usaha untuk memadukan dan menegaskan hal-hal penting dalam percakapan. B & Judth dalam Suryani. kekhawatiran dan juga ditandai dengan aktifnya sistem syaraf pusat. (www. 1974) menggambarkan dan mendefinisikan kecemasan sebagai suatu perasaan yang tidak menyenangkan. 1998) b. 2. 1997) Ansietas adalah perasaan yang dialami terlalu mengkhwatirkan kemungkinan peristiwa yang menakutkan yang terjadi dimasa depan yang tidak bisa dikendalikan dan jika itu terjadi akan menilai mengerikan atau dapat diungkapkan sebagai orang yang benar-benar tidak mampu menata pikiran. Menurut Freud. bagaimana cara mengatasi masalahnya. dan mengevaluasi cara atau alternatif pemecahan masalah yang telah dipilih. dkk.4 Tahap Terminasi Terminasi merupakan akhir dari pertemuan perawat dengan klien (Christina.silvalintar. Suatu perasaan takut yang tidak menyenangkan dan tidak dapat dibenarkan yang sering disertai dengan gejala fisiologi (Tom. Keadaan dimana individu atau kelompok mengalami perasaan gelisah (penilaian atau opini) dan aktivitas sistem syaraf autonom dalam berespon terhadap ancaman yang tidak jelas. ketakutan. Respon emosional terhadap penilaian intelektual terhadap sesuatu yang berbahaya (stuart dan sundeen. Melalui active listening. perawat membantu klien untuk mendefinisikan masalah yang dihadapi.

Gejalagejalanya: Sakit kepala. Tachy cardi. Kecemasan moral adalah ketakutan terhadap hati nuraninya sendiri.Perasaan payah (lemah. Kecemasan Ringan Pada tingkat kecemasan yang terjadi pada kehidupan sehari-hari dan kondisi membantu individu menjadi waspada dan bagaimana mencegah berbagai kemungkinan. Diarrhee. Kelelahan. kecemasan neurotik. Kecemasan neorotik adalah ketakutan rehadap tidak terkendalinya naluri-naluri yang menyebabkan seseorang melakukan sesuatu tindakan yang mendatangkan hukuman bagi dirinya.2. sebelumnya punya pengalaman emosi (biasa terdapat pada Ibu yang akan bersalin). b. Bila gejala kecemasan hanya sedikit (40-50%) b. kecemasan kemudian dapat menjadi bentuk pertahanan diri. Mungkin karena penderita tidak tahu sebab maka justru kecemasannya akanbertambah. Kedua. Hyperventilas. Kecemasan realistik adalah ketakutan terhadap bahaya dari dunia eksternal. Perasaan tersumbat di tenggorokan. Pernafasan kasa. ketika individu tidak menyadari adanya konflik dan tidak mengetahui penyebab cemas. dan takut bisa berjalan beberapa menit atau beberapa jam. Menurut Struat & Sunden (1998) mengidentifikasikan tingkat kecemasan dapat dibagi menjadi : a. yaitu pada saat individu masih menyadari konflik-konflik dalam diri yang menyebabkan cemas. Keluhan-keluhan gastro intestinal. lengkap tidak ditemukan kelainan apa-apa. sehingga fisik makin bertambah pula. Mungkin penderita sadar. Gejala-gejalanya : Perasaan takut.2 Klasifikasi Kecemasan Ada tiga macam kecemasan yaitu : a. Kecemasan Akut Keadaan dimana perasaan sakit berat. Hypertensi sifatnya sistolik. Kecemasan Kronis Kecemasan timbul untuk sebab yang tidak diketahui (tidak di sadari). 2. b. dan taraf kecemasannya sesuai dengan derajat ancaman yang ada.2. Polyuri (sering kencing). Pertama. Hyperhyrosis. Orang yang hati nuraninya berkembang baik cendrung merasa berdosa apabila dia melakukan sesuatu yang berlawanan dengan kode moral yang dimilikinya. kecemasan normal. 2007) Adapun pendapat lain yang menyatakan bahwa kecemasan ada dua yaitu : a.3 Tingkat Kecemasan Menurut Jersild (1963) menyatakan bahwa ada dua tingkatan kecemasan.2. c. lesu). (Corey Gerald. Kecemasan Sedang Pada ringkat ini individu lebih menfokuskan hal penting saat ini dan mengesampingkan yang lain . Mudah berdebar-debar. Pada pemeriksaan fisik .

misalnya tidak dapat tidur. semua perilaku ditunjukan untuk mengurangi kecemasan. Manifestasi kognitif. sering dalam keadaan excited atau gempar gelisah. individu tidak mampu untuk melakukan sesuatu walaupun dengan pengarahan. Kecemasan Berat Pada tingkat ini lahan individu sangat menurun dan cendrung memusatkan perhatian pada hal-hal lain.2. yang terwujud dalam pikiran seseorang. seringkali buang air.2. denyut jantung yang bertambah keras. b. Faktor-faktor kultural merupakan faktor yang tidak dapat di abaikan. bingung. b. Nilai-nilai moral c. 2.6 Ciri-Ciri Kecemasan Simptom-simptom somatis yang dapat menunjukkan ciri-ciri kecemasan menurut Stern (1964) adalah muntah-muntah. menurunnya respon untuk berhubungan dengan orang lain. perut mual.2. Panik melibatkan disorganisasi keperibadian yang ditandai dengan meningkatnya kegiatan motorik.5 Bentuk-Bentuk Kecemasan Menurut Bucklew (1980). sangat mudah tersinggung dan marah. terutama pada fungsi sistem syaraf. . Kecemasan yang sudah mempengaruhi atau terwujud pada gejala-gejala fisik. Kecemasan yang berwujud sebagai gejala-gejala kejiwaan.sehingga mempersempit lahan persepsinya. Tingkah laku panik ini tidak mendukung kehidupan individu tersebut. individu tersebut mencoba memusatkan perhatian pada lahan lain dan memerlukan banyak pengarahan. Kartono (1981) menyebutkan bahwa kecemasan ditandai dengan emosi yang tidak stabil. 2. Bila gejala kecemasan ada sebagian (51-75%) c. Tingkat Fisiologis. perasaan tidak menentu dan sebagainya. seringkali memikirkan tentang malapetaka atau kejadian buruk yang akan terjadi. Ketentuan hukum. Ketentuan pendidikan dan agama d. 2. dkk (dalam Kartikasari.2. diare. Bila semua gejala kecemasan ada (76100%) d. Perilaku motorik. Tingkatkan individu tersebut dalam menanggapi batasan-batasan sosiokulturil tersebut 2. dan sebagainya. seperti tegang. jantung berdebar-debar. 1995) menyebutkan bahwa manifestasi kecemasan terwujud dalam empat hal berikut ini : a. b. kecemasan seseorang terwujud dalam gerakan tidak menentu seperti gemetar. nafas sesak disertai tremor pada otot. khawatir.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kecemasan a.7 Tanda-Tanda Kecemasan Menurut Sue. yaitu: a. distory persepsi dan kehilangan pikiran yang rasional. Panik Keadaan ini mengancam pengendalian diri. Tingkat Psikologis. gemetar. para ahli membagi bentuk kecemasan itu dalam dua tingkat.

Ansietas terjadi bila ada : a. berdebar-debar. gigi gemeretak. ketakutan pada kerumunan orang banyak. ketegangan otot dan tekanan darah. firasat buruk. mudah menangis. h. mimpi buruk. merasa lemah. peningkatan tekanan darah dan lain-lain. takut akan pikiran sendiri. Afektif. mudah terkejut. Timbunya stimulus ansietas termasuk hal yang mengancam keamanan individu. perasaan di tusuk-tusuk.2. sering kencing. diare. Gejala somatik ditandai oleh : nyeri pada otot. Perasaan kehilangan fungsi dan harga diri d. lesu. Kehilangan kendali c. Ketakutan pada orang asing. gelisah dan mudah terkejut. j. tangan dan kaki dingin. muka merah dan pucat. bangun dini hari. bangun dengan lesu. Ketakutan ditandai oleh : Ketakutan pada gelap. Perubahan somatik. terbangun malam hari. Gejala sensorik ditandai oleh : tintus. Perasaan cemas. d. kedutan otot. tidak dapat istirahat tenang. tidur tidak nyenyak. c. sedih. Perasaan terisolasi f. c. i. dan perasaan tegang yang berlebihan. muncul dalam keadaaan mulut kering. Penerimaan di unit perawatan kritis secara daramatid meyakinkan pasien dan keluarga bahwa keamanan meraka pada semua tingakat secara hebat terancam. mimpi yan menakutkan. Gejala kardiovaskuler ditandai oleh : takikardia. daya ingat menurun. Ancanman ketidakberdayaan b. denyut nadi mengeras. Gangguan tidur ditandai oleh : sukar untuk tidur. dan mudah tersenggung. e. ketegangan otot. ketakutan pada binatang besar. suara tidak stabil. diwujudkan dalam perasaan gelisah. daya ingat buruk.9 Pengukuran Skala Kecemasan Instrumen lain yang dapat digunakan untuk mengukur skala kecemasan adalah Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS). 2. b. Takut mati 2. Gangguan kecerdasan ditandai oleh: sukar konsentrasi. rasa lemah seperti mau pingsan. Kegagalan membentuk pertahanan e. detak jantung hilang sekejap. g. Ketakutan ditinggal sendiri.2. kurangnya kesenangan pada hoby. nyeri dada. respirasi. penglihatan kabur. Gejala pernafasan di tandai oleh : Rasa tertekan atau sempit didada. perasaan berubah sepanjang hari.8 Penyebab Kecemasan (Ansietas) Menurut Hudak dan Gallo (1997) penyebab yang paling umum dari ansietas di rumah sakit : a. f. gelisah. mimpi-mimpi. Perasaan depresi di tandai oleh : kehilangan minat. 2001) : a. gemetar. kaku. b. perasaan tercekik. Hampir semua penderita kecemasan menunjukkan peningkatan detak jantung. Ketegangan yang di tandai oleh : merasa tegang. d. Yaitu mengukur aspek kognitif dan efektif yang meliputi (Hawari. Penyebab ansietas adalah kejadian yang dapat menimbulkan ansietas. Perasaan terisolasi dapat dikurangi dengan mengajak pasien berbicara tentang pengobatan dan penyentuhannya saat keadaan yang menakutkan. merasa nafas .c. ditandai dengan : cemasan. ketakutan pada keramaian lalu lintas. Ansietas dialami saat terdapat suatu ancaman ketidak berdayaan atau kurang pengendalian.

tidak tenang. amenorrhagia. muka merah kering. ereksi melemah. Kadangkadang saya merasa gembira sekali. Saya mudah merasa malu. rasa panas di perut. bahwa saya kadang-kadang merasa khawatir tanpa sesuatu alasan tertentu pada suatu hal . e. Kalau terjadi sesuatu pada diri saya. c. Saya merasa khawatir kalau-kalau muka saya menjadi merah karena malu. hal ini sangat menjengkelkan saya. j. haid beberapa kali dalam sebulan. Saya sering mencemaskan sesuatu maupun orang lain. Pernyataanpernyataan adalah sebagai berikut : a. h. Saya sering merasa mual. dan kontipasi (sukar buang air besar) l. s. Saya khawatir akan terjadi kesulitan yang menimpa diri saya. b. Saya merasa risau bila memikirkan masalah-masalah keuangan dan pekerjaan. gangguan pencernaan. Saya lebih merasa sensitif (peka) daripada kebanyakan orang. Saya sering mengalami mimpi yang menakutkan pada waktu tidur malam hari. Saya jarang sakit kepala. muka tegang tonus otot meningkat. n. Biasanya saya bersikap tenang dan tidak mudah marah. Saya mengalami mencret sekali atau lebih dalam 1 bulan. Tangan saya sering terasa gemetar bila mencoba mengerjakan sesuatu. kadang-kadang keringat saya bercucuran. o. defekasi lembek. Saya mengalami kesukaran untuk melakukan konsentrasi menanggapi suatu masalah. k. sehingga saya tidak duduk terlalu lama. kepala terasa berat. Ketika saya merasa malu. mual. ereksi hilang dan inpoten. sakit kepala. muntah. v. ditandai oleh : gelisah. Saya menginginkan kebahagiaan seperti orang yang saya lihat. r. Saya merasa lapar hampir setiap saat. Gejala Gastrointestinal ditandai oleh : sulit menelan. nyeri lambung sebelum atau sesudah makan. sehingga sukar untuk tidur x. Kadang-kadang saya tidak dapat tidur karena mengkhawatirkan sesuatu.pendek/sesak. frigiditas. Tidur saya sering terganggu dan tidak nyenyak. Saya tidak pernah merasa tersipu-sipu bila sesuatu terjadi pada diri saya. Saya akui. sering menarik nafas panjang. Saya jarang mengalami sakit perut. Saya sering merasa tegang pada waktu bekerja. berat badan menurun. Saya jarang merasa sembelit. d. bulu-bulu berdiri. Menunggu membuat saya gelisah. jari gemetar. masa haid amat pendek. ejakuasi prekok. Saya jarang berdebar-debar maupun bernafas tersengal-sengal. Saya mudah menangis. tidak dapat menahan kencing. q. u. p. l. saya tidak mudah tersipu-sipu seperti kebanyakan orang lain. g. amenorrhoe. t. Pada waktu-waktu tertentu saya merasa gelisah. Saya selalu merasa gembira setiap saat. masa haid berkepanjangan. mengerutkan dahi atau kening. Gejala Otonom ditandai oleh : mulut kering. Saya sering merasa bahwa saya dihadapkan pada banyak kesulitan yang tidak dapat saya selesaikan. Saya lebih tenang bila dibandingkan dengan orang lain. i. w. Saya tidak cepat lelah. Salah satu pengukuran kecemasan menurut : Taylor Manifest Anxiety Scale (TMAS). Saya sering mengkhawatirkan diri saya terhadap sesuatu. m. n. perut terasa kembung atau penuh. m. mudah berkeringat. pusing. k. Perilaku sewaktu wawancara. f. perut melilit. Seringkali saya bermimpi tentang sesuatu yang sulit untuk diceritakan pada orang lain. nafas pendek dan cepat dan muka memerah. Gejala Urogenital ditandai oleh : sering kencing. Tangan dan kaki saya biasanya cukup hangat.

. eritroblastosis. Seksio caesar adalah suatu persalinan buatan. faktor plasenta: solusio plasenta. tulang panggul. letak lintang. ruptur uteri (Cunningham. 2008).3. presentasi majemuk). 2.3 Klasifikasi Seksio Caesar a.2 Faktor-faktor yang Menyebabkan Seksio Sesarea a. bayi kembar (Multiple Pregnancy) (Benson. 2008). y. bayi terlalu besar (Makrosomia (>4000 gram).3 Seksio Caesar 2. presentasi bahu. dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding perut dan dinding rahim dengan sayatan rahim dalam keadaan utuh (Sarwono. plasenta previa. 2.1 Pengertian Seksio Caesar Seksio caesar adalah melahirkan janin yang sudah mampu hidup (beserta plasenta dan selaput ketuban) secara transabdominal melalui insisi uterus (Benson.2005). defleksi kepala. persalinan sebelumnya dengan seksio caesar. Penyakit ibu yang dapat mempengaruhi seksio sesarea adalah: preeklampsi-eklampsi berat.yang tidak berarti. 2. diabetes.3. gawat janin atau fetal distress. presentasi dahi. 2) Pada dinding perut dibuat insisi mediana mulai dari atas simfisis sepanjang ±12 cm sampai dibawah umbilikus lapis demi lapis sehingga kavum peritoneal terbuka. malposisi dan malpresentasi (presentasi bokong. faktor hambatan jalan lahir. Seksio Caesar Klasik Sebuah pengirisan memanjang di bgian tengah yang memberikan satu ruang yang lebih besar (10-14 cm) untuk mengeluarkan bayi (Cunningham. faktor-faktor yang menyebabkan seksio sesarea adalah dari faktor ibu dan janin. 2005). 2007). 2008). Faktor Ibu yang menyebabkan seksio sesarea adalah: usia. keadaan melemahkan lainnya (Benson. Hidrosefalus). Bila dibandingkan dengan teman-teman maka saya tidak seperti mereka. Faktor Janin Faktor janin yang menyebabkan seksio caesar adalah: janin dengan anomali (Meningokel.3. b. penyakit jantung berat pada ibu. vasa previa. posisi dagu posterior. Teknik Seksio Caesar Klasik 1) Mula-mula dilakukan desinfeksi pada dinding perut dan lapangan operasi dipersempit dengn kain suci hama. ruptur uteri. Faktor Ibu Menurut Cunningham (2005) dan Benson (2008). kelainan tali pusat (prolapsus tali pusat/tali pusat menumbung.

4) Di buat insisi secara tajam dengan pada segmen atas rahim (SAR). b) Memiliki risiko empat kali lebih besar terkena ruptur uteri pada kehamilan selanjutnya. atau adanya tumor-tumor di daerah segmen bawah rahim.3) Dalam rongga perut disekitar rahim dilingkari dengan kasa laparotomi. 2003). c. kemudian dierlebar secara sagital dengan gunting. Kekurangan: a) Lebih berisiko terkena peritonitis (radang selaput perut). c) Tidak menyebabkan perlekatan usus atau omentum ke garis insisi. 6) Plasenta dilahirkan secara manual disuntikkan 10 U oksitosin ke dalam rahim secara intra mural. b) Keluarnya janin lebih cepat. 7) Luka insisi SAR dijahit kembali. 3) Plasenta previa dengan insersi plasenta di dinding depan segmen bawah rahim. sayatan ini akan memerlukan waktu dan obat lebih banyak (Kasdu. Seksio Caesar Transperitoneal Profunda Dilakukan dengan membuat sayatan atau irisan horizontal di bagian bawah rahim (Kasdu. 5) Setelah kavum uteri terbuka. selaput ketuban dipecahkan. Setelah janin lahir seluruhnya. misalnya karena adanya perlekatan –perlekatan akibat pembedahan seksio caesar yang lalu. Mula. 2) Janin besar dalam letak lintang. b. Pada dinding perut dibuat insisi mediana mulai dari atas simfisis sampai di bawah umbilikus lapis demi lapis sehingga peritonei terbuka. . Indikasi Seksio Caesar Indikasi seksio Caesar klasik menurut Sarwono 2007 : 1) Bila terjadi kesukaran dalam memisahkan kandung kencing untuk mencapai segmen bawah rahim. 2003). 8) Setelah dinding rahim dijahit. d) Jika menggunakan anestesi lokal. dijahitbsecara simpul dengan benang cutgut biasa. c) Otot-otot rahimnya tebal dan lebaih banyak pembuluh darah sehingga sayatan ini lebih banyak mengeluarkan darah. tali pusat dijepit dan dipotong diantara kedua penjepit. Teknik Seksio Caesar Transperitoneal Profunda 1. kedua adneksa dieksplorasi. Lapisan I : Endometrium bersama miometrium dijahit secara jelujur dengan benang catgut khoromik.mula dilakukan desinfeksi pada dinding perut dan lapangan operasi dipersempit dengan kain suci hama. Lapisan II : Hanya miometrium saja dijahit secara simpul. Lapisan III : Perimetrium saja. 2. d) Lebih mudah diperbaiki. Janin dilahirkan dengan meluksir kepala dan mendorong fundusuteri. 9) Rongga perut dibersihkan dari isa-sisa darah dan akhirnya luka dinding perut dijahit. Kelebihan: a) Memerlukan sedikit pemisahan kandung kemih dari miometrium.

Uterin putus sehingga mengakibatkan perdarahan yang banyak. janin dilahirkan dengan meluksir kepalanya. 6. Rongga perut dibersihkan dari sisa-sisa darah dan akhirnya luka dindina perut dijahit (Sarwono. dan kandung kencing yang telah disisihkan ke arah bawah dan samping dilindungi dengan spekulum kandung kencing. plasenta dilahirkan secara manual.Untuk kategori baik sebanyak 47. 2007). Penutupan luka dan reperetonialisasi yang baik. Setelah kavum uteri terbuka.3. 2.62% dan kategori kurang sebanyak 52. Pada fase ini 14. Plika vesikouterina ini disisihkan secara tumpul ke arah samping dan bawah. 4.8% ). Dari hasil penelitian Rosalina 2008. Di peroleh data mengenai gambaran peran perawat pelaksana dalam menerapkan teknik komunikasi terapeutik pada teknik menyimpulkan pada pasien gangguan jiwa diruang rawat inap Rumah Sakit Dr. Mohammad Hoesin Palembang terdapat 30 responden didapat data bahwa pengetahuan ibu bersalin dengan SC tentang perawatan bekas sayatan SC dengan kategori baik sebanyak 16 responden (53%). Mohammad Hoesin Palembang. yaitu dengan menggunting peritoneum kandung kencing (plika vesikouterina) didepan segmen bawah rahim (SBR) secara melintang. Ernaldi Bahar Propinsi Sumatra Selatan tahun 2008. Arah insisi pada segmen bawah rahim dapat melintang (transversa) atau membujur (sagital). yang dilakukan pada keseluruhan responden didapatkan bahwa dari 34 responden yang melakukan komunikasi terapeutik pada fase kerja dengan baik yaitu 20 orang ( 58. Kekurangan : Luka dapat melebar kekiri. Kategori cukup 8 responden (27%) dan 6 responden (20%) dikategorikan . Luka dinding rahim dijahit Lapisan I : Dijahit jelujur.38%.7% masih dalam kategori kurang dimana responden tidak menjelaskan tindakan keperawatan yang dilakukan seharusnya perawat menjelaskan tindakan keperawatan yang dilakukan agar tidak menimbulkan kecemasan pada pasien dengan demikian komunikasi terapeutik pada fase kerja tidak ada lagi dalam katogori kurang. Di buat insisi pada segmen bawah rahim 1 cm di bawah irisan plika vesikouterina tadi secara tajam dengan pisau bedah ±2 cm. Setelah dinding rahim selesai dijahit. Dalam rongga perut disekitar rahim dilingkari dengan kasa laparotomi. pada endometrium da miometrium Lapisan II : Dijahit jelujur hanya pada miometrium saja Lapisan III : Dijahit jelujur pada plika vesikouterina 7.7% ). Kelebihan : Penjahitan luka lebih mudah. kedua adneksa diejsplorasi 8. Penelitian ini dapat digambarkan bahwa peran perawat pelaksana komunikasi terapeutik pada teknik menyimpulkan tergolong kurang. dari hasil penelitian di instalasi kebidanan dan penyakit kandungan Rumah Sakit Dr. Tali pusat dijepit dan dipotong.5% ) sedangkan kategori kurang yaitu sebanyak 5 orang ( 14. Badan janin dilahirkan dengan mengait kedua ketiaknya. Menurut penelitian Tri Setiani 2009. Dibandingkan dengan cara klasik kemungkinan ruptur uteri spontan kurang atau lebih kecil.Keluhan kandung kemih. selaput ketuban dipecahkan. Kategori cukup 9 orang ( 26. kemudian diperlebar melintang secara tumpul dengan kedua jari telunjuk perator. Kedalam otot rahim intra mural disuntikkan 10 U oksitosin. Mengenai penerapan komunikasi terapeutik pada pasien DM Di Irna Non Bedah Rumah Sakit Dr. kanan bawah. 5.4 Penelitian Terkait Menurut penelitian Eka Fitrianti 2008. Dibuat bladder-flap.

1 Kerangka Konsep Kerangka konsep penelitian adalah suatu hubungan atau kaitan antara konsep satu terhadap konsep yang lainnya dari masalah yang ingin diteliti. Komunikasi terapeutik merupakan suatu hubungan atau interaksi antara perawat dengan pasien. Berdasarkan hal tersebut maka kerangka konsep penelitian hubungan komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar adalah sebagai berikut: Variabel Dependen Variabel Independen . Tingkat kecemasan merupakan salah satu tolak ukur yang digunakan untuk mengukur kecemasan pada pasien pre operasi seksio sesarea. dari variabel itulah konsep dapat diamati dan diukur (Notoatmodjo. 2005). maka konsep tersebut harus dijabarkan kedalam variabel-variabel. konsep adalah suatu abstraksi yang dibentuk dengan menggeneralisasikan suatu pengertian oleh karena itu konsep tidak dapat diamati dan dapat diukur.kurang. BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL 3.

Ringan jika nilainya ( < 50 %) 2. 1989) Ordinal 3. kerja.2 Definisi Operasional No Variabel Definisi Operasional Cara Ukur Alat Ukur Hasil Ukur Skala 1 Operasi seksio caesar Merupakan salah satu cara melahirkan janin melalui insisi pada dinding perut dan dinding uterus Observasi Cheklist 1.Keterangan : : Yang diteliti : Tidak diteliti Sumber : Menurut teori Lawrence Green (Dalam Notoatmodjo Soekidjo. orientasi. Persalinan normal / spontan Nominal 2 Komunikasi terapeutik perawat Komunikasi yang dilakukan oleh perawat dengan pasien yang meliputi dari fase prainteraksi. dan terminasi. Baik jika yang menjawab benar > 75 % dari pertayaan yang diajukan 2. 2007) 3. 2006 ) Ordinal 3 Tingkat kecemasan pasien pre operasi seksio caesar Merupakan tingkat kecemasan yang dialami oleh pasien pre operasi SC yang diukur dengan cara Anxiety Scale Observasi Checklist 1. Sedang jika nilainya (50-75 %) 3. Kurang jika yang menjawab benar < 60 % dari pertayaan yang diajukan ( Arikunto. Wawancara Kuiesioner 1. . Berat jika nilainya (> 75 %) (Struat & Sunden.3 Hipotesis Ada hubungan antara komunikasi terapeutik perawat/bidan dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar. Persalinan SC 2. Cukup jika yang menjawab benar antara 60-75% dari pertayaan yang diajukan 3.

Seminar proposal √ .2. Desain Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian yang bersifat hubungan analitik menggunakan tehnik cross sektional. 4.3. Populasi Penelitian Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti (Notoatmodjo.3.2. Pengajuan judul √ 2.1. 4. Penelitian yang dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang 2010.1. Sampel Penelitian Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmojo. Populasi dan Sampel Penelitian 4. Pembahasan bab I-IV √ √ 3. Tempat dan Waktu Penelitian 4. Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan Diruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang 2010.3.2.1. 2005). Sampel dalam penelitian ini menggunakan metode accidental yaitu sampel yang diambil dari responden atau kasus yang kebetulan ada atau tersedia. 4. Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan serangkaian kegiatan yang dilaksanakan dengan perencanaan waktu sebagai barikut : Tabel 4.1 Perencanaan Waktu Penelitian Kegiatan Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Juni Juli 1. 4.BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.2.2. Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien pre operasi seksio caesar dan perawat/bidan di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang. 2005). Persiapan seminar proposal √ 4.

Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data 4.5.2.5. Dan data sekunder diperoleh dari Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang yang berupa data yang diambil dari Medical Record.2.1. Entry Data ( Memasukan Data ) Memasukan hasil data penelitian ke dalam tabel sesuai dengan kriteria. 4. Tehnik Pengumpulan Data Pada penelitian ini data yang diperoleh adalah data primer yaitu Data primer berupa angket yang dibagikan kepada responden dengan cara menggunakan kuesioner yang dikembangkan sendiri oleh penulis (Notoatmojo.1. 4. Ujian √ 4.4.5.5. Pengolahan Data Menurut Hastono (2001) pengolahan data dapat jelaskan sebagai berikut : 4.4.4. Editing ( Pegolahan Data ) Klasifikasikan jawaban / hasil yang ada menurut macamnya ke bentuk yang lebih ringkas dengan menggunakan kode. 4. 4.3. Cleaning Data ( Pembersihan Data ) Pemeriksaan kembali data yang telah dimasukan sehingga benar – benar bebas dari kesalahan kemudian diuji kebenarannya. Penelitian √ √ 6. Persiapan komprehensif √ 8. data tersebut perlu diperiksa terlebih dahulu apakah telah sesuai dengan yang diharapkan atau tidak. 4.5. 2003). Rumus pengolahan data bila respon : . Pengumpulan data dilakukan sendiri oleh penulis dengan cara melakukan pengamatan (observasi) secara langsung kepada responden dengan menggunakan observasi atau cheklist yang dikembangkan sendiri oleh peneliti dan wawancara langsung dengan pasien dengan menggunakan kuesioner yang dikembangkan sendiri oleh peneliti. Penelitian langsung mengambil data pada subyek penelitian langsung pada nilai operasi.4. Komprehensif √ 9. Pembahasan bab V-VI √ √ 7.5. Coding ( Pengkodean ) Dalam melakukan pengolahan data dengan baik. Instrumen Pengumpulan Data Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data adalah Wawancara (Kuesioner) dan observasi (Check List).

dan hanya kelompok data tertentu yang akan dilaporkan sebagai hasil penelitian. Cukup jika yang menjawab benar antara 60 . Etika Penelitian Dalam melakukan penelitian.7. 4.1. Dalam hal ini untuk melihat hubungan antara dua variabel independen dan dependen digunakan uji Chi square (SPSS).75% dari pertayaan yang diajukan c. maka setiap kuisioner nilainya dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut : R = n x 100 % N Keterangan : R : Indeks kesesuaian prilaku n : Jumlah responden yang menjawab ”Ya” N : Jumlah pertayaan 4. c. jika responden menjawab ”Tidak ” nilainya 0. Responden harus memenuhi kriteria inklusi. ¬¬ . Analisa Data 4. Analisa Bivariat Analisa bivariat dilakukan untuk melihat hubungan antara dua variabel independen yang meliputi : Tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar dengan variabel dependen : Komunikasi terapeutik perawat. maka peneliti tidak boleh memaksa dan harus tetap menghormati hakhak subjek. Setelah mendapat persetujuan barulah penelitian menekankan masalah etika yang meliputi: a. 4. Confidentiality (Kerahasiaan) Kerahasiaan informasi responden dijamin oleh peneliti. Anonimity (Tanpa Nama) Untuk menjaga kerahasiaan. Analisa Univariat Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah univariat terhadap tiap variabel dari hasil penelitian dalam hal ini hanya menghasilkan distribusi frekuensi dan persentase dari tiap variabel. Bila subjek menolak.6.6.a. peneliti tidak akan mencantumkan nama responden. peneliti perlu membawa rekomendasi dari Institusi dari pihak lain dengan cara mengajukan permohonan izin pada Instiusi/Lembaga penelitian yang dituju oleh peneliti. Baik jika yang menjawab benar > 75 % dari pertayaan yang diajukan b.6. Lembar informend consed harus dilengkapi dengan judul penelitian dan manfaat penelitian. Kurang jika yang menjawab benar < 60 % dari pertayaan yang diajukan Jika responden menjawab ”Ya” nilainya 1.2. Informend Consent Lembar persetujuan ini diberikan pada responden yang akan diteliti. b. tetapi pada lembar tersebut diberiakan kode.

5. dan Motto a) Visi Terwujudnya Rumah Sakit yang profesional. ramah. 2.BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5. Penyakit Dalam d. dan islami sehingga menjadi rahmatan lil’alamin bagi masyarakat. c) Motto ” Pelayanan sebagai Ibadah dan Dakwah”. Ramli Hasan Basri) bersama Ketua PP Muhammadiyah (Bapak Prof. baik pelayanan. Anak .1 Visi. peralatan medis. peralatan non medis dan peralatan penunjang lainnya. Bidan) dan karyawan yang terampil dan berkemampuan dengan didukung oleh peralatan-peralatan canggih. b) Misi 1. dan islami kepada masyarakat. Amien Rais) merupakan satu satunya amal usaha dibawah langsung PWM SumSel. Menjadi pusat persemaian kader Muhammadiyah dalam bidang kesehatan. Paru e. terkemuka.1.1. simpatik. Insya Allah Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang akan selalu memupuk dan memelihara kepercayaan masyarakat melalui dipenuhinya dokterdokter spesialis. Misi. pelayanan yang cepat. modern. Pada saat ini Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang lebih menggembirakan jika dilihat dari berbegai sektor. Syaraf c. Memberikan pelayanan kesehatan secara profesional.2 Fasilitas Pelayanan a. dokter umum. ruangan yang bersih. Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang telah berkembang cukup pesat dan berkat ridho Allah SWT dan dukungan masyarakat rumah sakit ini sudah sama dengan rumah sakit lainnya di kota Palembang. Paramedis (Perawat. 5. DR. Mewujudkan citra sebagai Rumah Sakit islam kebanggaan Muhammadiyah yang berfungsi sebagai wahana ibadah dan berperan aktif sebagai media dakwah persyarikatan dalam bidang kesehatan. modern. 3. mengesankan dan bernuansa islami.1 Gambaran Rumah Sakit Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang adalah Amal Usaha Persyarikatan Muhammadiyah yang diresmikan tanggal 10 Dzulhijjah 1417 H/ 18 April 1997 oleh Gubernur Propinsi Sumatera Selatan (Bapak H. Kebidanan dan Kandungan b.

Daftar ditampilkan dalam bentuk tabel dan teks.. USG/ECG i..3 Tempat Tidur Tabel 5. ICCU /ICU.....1 Analisa Univariat Analisa ini yang digambarkan dalam bentuk distribusi frekuensi dari variabel komunikasi terapeutik perawat dan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar..2 Variabel Penelitian Dari hasil penelitian yang telah dilakukan pada tanggal 22 Februari sampai 8 Maret tahun 2010.2 10 ..8 10 .. Ambulance 5.1.7 VIP Bawah 2 ..... Jantung g. didapatkan dari 14 responden pada perawat dan pasien pre operasi seksio caesar yang dilakukan di ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang.2.... 5. Radiologi h. Bedah i. Echo e. Laboratorium f... Kamar Operasi d. Treadmil g. Fisioterapi j.1..6 8 16 30 Anak .4 4 11 11 62 92 Kebidanan ...14 ICU/ ICCU 10 .10 Total TT 3 6 2 14 12 33 35 112 227 5. Instalasi Farmasi b. . 5..1 Jumlah Tempat Tidur Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang 2010 RUANG Kelas TT Tidur VIP Khusus VIP Utama I A I B II A II B IIIA III B Bedah .24 42 P D L .. THT h.. 6 Konsultasi Gizi c.. Mata.6 16 10 32 VIP Atas 1 6 .f. IGD...4 Pelayanan Penunjang / Tindakan Medis a.

2 Tabel 5.a) Persalinan Pada penelitian ini persalinan dikelompokan menjadi 2 kategori persalianan spontan dan persalinan operasi seksio caesar berdasarkan medical record Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang dari bulan Nopember 2009 sampai dengan Maret 2010 untuk lebih jelas lihat tabel 5. dan kurang < 60% untuk lebih jelas lihat tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Komunikasi Terapeutik Perawat di . Desember seksio caesar 106 pasien (23%) spontan 89 (23%). cukup 60%-75%.2 Distribusi Frekuensi Persalinan Spontan Dan Seksio Caesar di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang Tahun 2010 No Bulan Persalinan Seksio Caesar % Spontan % 1 Nopember 116 25 76 19 2 Desember 106 23 89 23 3 Januari 85 19 67 17 4 Februari 73 16 65 17 5 Maret 75 16 92 24 Total 455 100 389 100 Dari data diatas bahwa dari 844 persalinan yang bulan Nopember seksio caesar 116 pasien (25%) spontan 76 (20%). Februari seksio caesar 73 pasien (16%) spontan 65 (17%).3 Tabel 5. Januari seksio caesar 85 pasien (19%) spontan 67 (17%). b) Komunikasi Terapeutik Perawat Pada penelitian ini komunikasi terapeutik perawat dikelompokan menjadi 3 kategori komunikasi terapeutik baik > 75%. dan bulan Maret seksio caesar 75 pasien (16%) spontan 92 (24%).

dan berat 66% -100 %. c) Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Pada penelitian ini tingkat kecemasan dikategorikan menjadi menjadi 3 yaitu ringan 40% .Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang Tahun 2010 No Komunikasi Terapeutik Perawat N % 1 Baik 5 36 2 Cukup 9 64 Jumlah 14 100 Dari data di atas bahwa dari 14 perawat yang komunikasi terapeutik baik 5 perawat (36 %). untuk lebih jelas lihat tabel 54. sedang sebanyak 6 pasien (43%).50%.4 Distribusi Frekuensi Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang Tahun 2010 No Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar N % 1 Ringan 8 57 2 Sedang 6 43 Jumlah 14 100 Dari data di atas bahwa dari 14 pasien seksio caesar yang tingkat kecemasan ringan sebanyak 8 pasien (57%). cukup 9 perawat (64%). sedang 51% . Tabel 5.65%. .

1 Persalinan . Dari uji statistik diperoleh pValue = 0. Pada penelitian ini sampel di ambil secara accicidental sample.3.05 dapat diketahui bahwa pValue = 0. Sehingga sampel yang didapatkan adalah pasien pre operasi seksio caesar yang ada di ruangan kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang.5 Distribusi Frekuensi Komunikasi Terapeutik Perawat dengan Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang Tahun 2010 No Komunikasi Terpeutik Perawat Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi SC Jumlah Value Ringan Sedang N%N%N% 1 Baik = 0. maka dapat diketahui bahwa ada hubungan antara komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar. Untuk variabel mempengaruhi seperti perawat yang merawat pasien operasi seksio caesar tersebut yang ada diruang tempat pasien dirawat.5 Tabel 5. 5. Maka akan diuraikan satu persatu oleh penulis di bawah ini : 5.0315 36 0 0 5 36 2 Cukup 3 21 6 43 9 64 Total 8 57 6 43 14 100 Dari data diatas dapat diketahui bahwa perawat dengan komunikasi terapeutik yang baik didapatkan tingkat kecemasan kategori ringan (36%) dari pada perawat dengan komunikasi terapeutik yang cukup didapatkan tingkat kecemasan kategori ringan (21%) dan sedang (43%).3 Pembahasan Pembahasan ádalah suatu penelitian untuk membandingkan hasil penelitian di lapangan dengan teori yang mendukung. a) Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Komunikasi terapeutik dengan tingkat kecemasan pasien dikategorikan menjadi 2 dengan jumlah responden 14. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan.5.031 setelah dibandingkan dengan α 0. hasil uji Chi-Square lihat tabel 5.05.2.031 ≤ 0.2 Analisa Bivariat Analisa ini untuk mengetahui hubungan antara variabel independent (komunikasi terapeutik perawat) dengan variabel dependent (tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar) dengan uji statistik yang menggunakan uji Chi-Square.

Bila kecemasan pada pasien pre operasi tidak segera diatasi maka dapat mengganggu proses penyembuhan. kelainan tali pusat. 2008 ). Hasil penelitian yang di peroleh data mengenai gambaran peran perawat pelaksana dalam menerapkan .2 Komunikasi Terapeutik Perawat Dari hasil penelitian di rumah Sakit Muhammadiyah Palembang dapat dilihat bahwa dari 14 perawat komunikasi terapeutik kategori cukup (64%). faktor hambatan jalan lahir. presentasi dahi. Operasi merupakan salah satu tindakan pengobatan yang banyak menimbulkan kecemasan. bayi terlalu besar (>4000 gram). Kategori cukup 8 responden (27%) dan 6 responden (20%) dikategorikan kurang. Berarti komunikasi terapeutik perawat masih cukup di ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang. presentasi bahu. ruptur uteri (Cunningham.2005). faktor-faktor yang menyebabkan seksio sesarea adalah dari faktor ibu dan janin. eritroblastosis. bayi kembar (Multiple Pregnancy) (Benson. ( Mukhripah Damaiyanti. plasenta previa. Pada tahap ini perawat juga mencari informasi tentang klien fase orientasi (perkenalaan) Pada saat berkenalan. Didalam komunikasi terapeutik perawat ada empat fase yaitu fase preinteraksi (persiapan) Pada tahap ini perawat menggali perasaan dan mengidentifikasi kelebihan dan kekurangannya. presentasi majemuk). defleksi kepala. untuk itu pasien yang akan menjalani operasi harus diberi komunikasi terapeutik untuk menurunkan atau mengurangi gejala kecemasan serta dapat meningkatkan pengetahuan kesehatan pada pasien. perawat harus memperkenalkan dirinya terlebih dahulu kepada klien.3. Perawat juga dituntut untuk mempunyai kepekaan dan tingkat analisis yang tinggi terhadap adanya perubahan dalam respons verbal maupun nonverbal klien. Penyakit ibu yang dapat mempengaruhi seksio sesarea adalah: preeklampsieklampsi berat. menunjukan bahwa kejadian persalinan seksio caesar mengalami peningkatan dikarnakan adanya faktor-faktor yang membahayakan ibu dan bayi. 2008). 2007). tulang panggul. presentasi bokong. keadaan melemahkan lainnya. Menurut Cunningham (2005) dan Benson (2008). vasa previa. Komunikasi terapeutik merupakan komunikasi profesional bagi perawat bertujuan untuk kesembuhan pasien. penyakit jantung berat pada ibu. posisi dagu posterior. diabetes. Fase kerja pada tahap kerja ini dituntut kemampuan perawat dalam mendorong klien mengungkap perasaan dan pikirannya. Seksio caesar adalah suatu persalinan buatan. Dari hasil Tri Setiani dari 30 responden didapat data bahwa pengetahuan ibu bersalin dengan SC tentang perawatan bekas sayatan SC dengan kategori baik sebanyak 16 responden (53%). sehingga dilakukan operasi seksio caesar yang membantu persalinan bukan karena suatu Trens. gawat janin atau fetal distress.Dari hasil penelitian di ruang kebidanan rumah Sakit Muhammadiyah Palembang dapat dilihat bahwa dari bulan Nopember sampai Maret yaitu persalinan SC sebanyak 455 pasien dan persalinan spontan sebanyak 389 pasien Maka angka persalinan SC meningkat dan persalinan spontan terjadi penurunan di ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammdiyah Palembang tahun 2010. Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan dan dilakukan untuk membantu penyembuhan dan pemulihan pasien. persalinan sebelumnya dengan seksio caesar. Dari hasil penelitian yang didapatkan dan dari teori yang mendukung. Fase terminasi akhir dari pertemuan perawat dengan klien. dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding perut dan dinding rahim dengan sayatan rahim dalam keadaan utuh (Sarwono. Faktor Ibu yang menyebabkan seksio sesarea adalah: usia. 5. solusio plasenta. ruptur uteri. letak lintang. Faktor janin yang menyebabkan seksio caesar adalah: janin dengan anomali.

ninspesifik (Carpenito. kurangnya dukungan keluarga hal ini suami serta kurangnya pendekatan dan komunikasi terapeutik perawat. menunjukan bahwa komunikasi terapeutik perawat masih banyak yang belum berkomunikasi terapeutik yang baik. karena perawat tidak mempunyai waktu yang lama. Dan perawat mengatahui bahwa menurunkan suatu kecemasan pasien perlu suatu metode yang baik yaitu komunikasi yang terapeutik sehingga pasien dapat merasakan rasa nyaman dalam menghadapi operasi yang akan dilakukan oleh klien. Penelitian ini dapat digambarkan bahwa peran perawat pelaksana komunikasi terapeutik pada teknik menyimpulkan tergolong kurang.38%. Oleh sebab itu perawat dapat membagi waktu untuk memberikan informasi dan dapat meningkatkan pengetahuan pasien terutama untuk mengurangi kecemasan psien itu sendiri. Berarti tingkat kecemasan pasien pre operasi seksio caesar masih berat di ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang. Untuk kategori baik sebanyak 47. menunjukan bahwa tingkat kecemasan pasien pre operasi seksio caesar masih mengalami kecemasan dikarenakan lingkungan yang bising dan kurang nyaman. Ernaldi Bahar Propinsi Sumatra Selatan tahun 2008. 2000). 1998). MASUKKAN PENELITIAN YANG TERKAIT TENTANG KECEMASAN ”? Dari hasil penelitian yang didapatkan dan dari teori yang mendukung. Karena dengan banyaknya pengetahuan dan penjelasan dalam suatu masalah dapat meringankan kecemasan terhadap pasien tersebut. karena dengan komunikasi terapeutik dapat mengurangi kecemasan terhadap pasien tersebut dan membuat pasien merasa lebih baik dan operasi bisa berjalan dengan . 5. Kecemasan (ansietas) adalah keadaan dimana individu atau kelompok mengalami perasaan gelisah (penilaian atau opini) dan aktivitas sistem syaraf autonom dalam berespon terhadap ancaman yang tidak jelas. Dari hasil penelitian yang didapatkan dan dari teori yang mendukung. Dikarenakan perawat kurang mencari informasi tentang klien dan perawat tidak memperkenalkan dirinya terlebih dahulu serta pada saat melakukan tindakan operasi perawat tidak menjelaskan prosedur tindakan operasi pada pasien yang akan menjalankan operasi. Untuk perawat harus melakukan komunikasi terapeutik.62% dan kategori kurang sebanyak 52. Respon emosional terhadap penilaian intelektual terhadap sesuatu yang berbahaya (Stuart Dan Sundeen.3. Oleh sebab itu untuk mengurangi kecemasan pada pasien yang akan menjalankan operasi seksio caesar dibutuhkan komunikasi terapeutik yang baik.3 Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Dari hasil penelitian di rumah Sakit Muhammadiyah Palembang dapat dilihat bahwa dari 14 pasien tingkat kecemasan yang kategori berat (43%).teknik komunikasi terapeutik pada teknik menyimpulkan pada pasien gangguan jiwa diruang rawat inap Rumah Sakit Dr.

2003) Menurut Yadi (2001) kecemasan adalah suatu perasaan yang tidak nyaman yang disertai dengan rasa takut yang mengancam dan perasaan tidak nyaman terhadap sesuatu. 2009) Hasil penelitian Supono (2005) mengatakan bahwa tingkat kecemasan pasien persalinan dapat berkurang dengan adanya komunikasi terapeutik perawat. Karena perawat tenaga kesehatan yang . dan belajar bagaimana berhubungan dengan orang lain. Kecemasan juga merupakan sesuatu hal yang tidak jelas. maka pasien yang akan menjalankan operasi akan timbul kecemasan dalam dirinya. (Dewi Wijayanti. Menurut Northouse (1998) Komunikasi terapeutik adalah kemampuan atau keterampilan perawat untuk membantu pasien beradaptasi terhadap stres. Hal ini perlu mendapat perhatian serius dari perawat karena perawat merupakan petugas kesehatan yang terdekat dan terlama dengan pasien. berarti ada hubungan komunikasi teraputik perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar di ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang.016 ≤ 0. Karena komunikasi tersebut sangat dibutuhkan oleh pasien yang akan menjalankan operasi.lancar.3.05. (Arwani. adanya perasaan gelisah atau tidak tenang dengan sumber yang tidak spesifik dan tidak diketahui oleh seseorang. Dari hasil penelitian yang didapatkan dan dari teori yang mendukung. perawatlah yang berperan penting dalam meningkatkan pengetahuan pasien terutama menjelaskan tentang prosedur tindakan operasi maka perawatlah yang harus melakukan komunikasi terapeutik dengan pasien pre operasi seksio caesar. menunjukan bahwa komunikasi terapeutik perawat dapat mempengaruhi serta menurunkan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar karena salah satu untuk menurunkan kecemasan dengan cara komunikasi yang efeksif yaitu komunikasi terapeutik yang baik oleh perawat. Untuk dapat menurunkan kecemasan pada pasien pre operasi salah satunya diperlukan komunikasi yang efektif terutama komunikasi terapeutik.4 Komunikasi Terapeutik Perawat dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Seksio Caesar Dari hasil penelitian di rumah Sakit Muhammadiyah Palembang dapat dilihat bahwa komunikasi terapeutik perawat di ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang tergolong dalam kategori cukup dan pasien pre operasi seksio caesar mengalami kecemasan sedang sebanyak 8 pasien (56%) dari hasil uji statistik menunjukkan bahwa pValue 0. 5. mengatasi gangguan psikologis.

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 7.2.1 Kesimpulan Setelah dilakukan penelitian terhadap 14 responden di ruangan Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang 22 Februari sampai 6 Maret tahun 2010 dapat disimpulkan bahwa : 7. 7.2 Manfaat Bagi Institusi Pendidikan Dapat menambah informasi dan referensi yang berguna bagi mahasiswa sekolah tinggi ilmu kesehatan Muhammadiyah Palembang. 7.dekat dengan pasien dan memberikan rasa nyaman pada pasien yang akan menjalankan operasi seksio caesar.2 Tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar di ruang Kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang Tahun 2010 didapatkan sebagian besar dengan kategori ringan.2 Saran 7.1.2.1 Komunikasi terapeutik perawat dirumah Sakit Muhammadiyah Palembang Tahun 2010 didapatkan sebagian besar dengan kategori cukup. didapatkan pValue = 0.4 Manfaat Bagi Peneliti Dapat menambah ilmu pengetahuan maternitas serta riset penelitian dan wawasan bagi peneliti mengenai hubungan komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar.3 Manfaat Bagi Pasien Dapat memberikan rasa nyaman dan aman pada semua pasien yang akan menjalankan operasi seksio caesar sehingga pasien yang menjalankan operasi tidak cemas dan operasi bisa berjalan dengan lancar.1. 7. 7. 7. Dari hasil uji Chi-Square.3 Ada hubungan antara komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar.2.2. 031. 7.1 Manfaat Bagi Rumah Sakit Dapat dijadikan masukan dan motivasi bagi rumah sakit untuk lebih meningkatkan komunikasi terapeutik perawat dalam mengurangi tingkat kecemasan pada pasien pre operasi seksio caesar. Diposkan oleh agustus di 09:06 0 komentar .1.

insidennya bertambah dengan berkurangnya masa gestasi ( Betz & Sowden. 3. PATOFISIOLOGI Duktus arteriosus adalah pembuluh darah yang menghubungkan aliran darah pulmonal ke aliran darah sistemik dalam masa kehamilan ( fetus ). 10 Juni 2010 patens ductus PATENT DUCTUS ARTERIOSUS (PDA) 1. . Faktor Genetik : Anak yang lahir sebelumnya menderita penyakit jantung bawaan.com ) Patent Duktus Arteriosus adalah kegagalan menutupnya ductus arteriosus (arteri yang menghubungkan aorta dan arteri pulmonal) pada minggu pertama kehidupan. ± 2-10 mm distal dari percabangan arteri subklavia kiri. 2001. Faktor Prenatal : • Ibu menderita penyakit infeksi : Rubella.Kamis. 235 ) 2. Sering dijumpai pada bayi prematur. • Ibu meminum obat-obatan penenang atau jamu. Hubungan ini ( shunt ) ini diperlukan oleh karena sistem respirasi fetus yang belum bekerja di dalam masa kehamilan tersebut. tetapi ada beberapa faktor yang diduga mempunyai pengaruh pada peningkatan angka kejadian penyakit jantung bawaan : 1. ETIOLOGI Penyebab terjadinya penyakit jantung bawaan belum dapat diketahui secara pasti. Kelainan kromosom seperti Sindrom Down. yang menyebabkan mengalirnya darah dari aorta yang bertekanan tinggi ke arteri pulmonal yang bertekanan rendah. Ayah / Ibu menderita penyakit jantung bawaan. Aliran darah balik fetus akan bercampur dengan aliran darah bersih dari ibu ( melalui vena umbilikalis ) kemudian masuk ke dalam atrium kanan dan kemudian dipompa oleh ventrikel kanan kembali ke aliran sistemik melalui duktus arteriosus. DEFINISI Patent Ductus Arteriosus (PDA) adalah duktus arteriosus yang tetap terbuka setelah bayi lahir. • Ibu menderita penyakit Diabetes Mellitus (DM) yang memerlukan insulin. Normalnya duktus arteriosus berasal dari arteri pulmonalis utama (arteri pulmonalis kiri) dan berakhir pada bagian superior dari aorta desendens. Kelainan ini merupakan 7% dari seluruh penyakit jantung bawaan. ( Suriadi. 2. Rita Yuliani. • Umur ibu lebih dari 40 tahun. Lahir dengan kelainan bawaan yang lain. • Ibu alkoholisme.google. 2002 : 375 ) Patent Ductus Arteriosus (PDA) atau Duktus Arteriosus Paten (DAP) adalah kelainan jantung kongenital ( bawaan ) dimana tidak terdapat penutupan ( patensi ) duktus arteriosus yang menghubungkan aorta dan pembuluh darah besar pulmonal setelah 2 bulan pasca kelahiran bayi ( www.

5. 3. c. Penutupan spontan PDA tidak akan terjadi pada bayi aterm. Tanda-tanda CHF muncul pada PDA besar. Diantara sel-sel otot polos terdapat serat-serat elastin yang membentuk lapisan yang berfragmen. CHF ( gagal jantung kongestif ) d. Setelah persalinan terjadi perubahan sirkulasi dan fisiologis yang dimulai segera setelah eliminasi plasenta dari neonatus. panjang PDA serta tahanan vaskuler paru (PVR). Rumble apikal terdengar pada PDA besar. Akan terjadi hipertensi pulmonal dan PVOD bila PDA dibiarkan tanpa tindakan penutupan. Endokarditis b. Perdarahan gastrointestinal (GI). Besarnya pirai (shunt) ditentukan oleh diameter. Selsel otot polos pada duktus arteriosus sensitif terhadap mediator vasodilator prostaglandin dan vasokonstriktor (pO2). CHF dan infeksi paru berulang seringkali terjadi pada PDA besar. penurunan jumlah trombosit h. sirkulasi dan meningkatnya pO2 akan menyebabkan penutupan spontan duktus arteriosus dalam waktu 2 minggu. Pulsasi nadi perifer yang lemah dan lebar 4. 5. Adanya perubahan tekanan. 7. Gagal tumbuh 6. Aritmia j. 2. . Murmur kontinyu (machinery) derajat 1 sampai 4/6 terdengar dengan jelas pada ULSB atau daerah infraklavikula kiri yang merupakan petanda khas kelainan ini. Pemberian indomethacin (inhibitor prostaglandin) untuk mempermudah penutupan duktus. Non pembedahan : Penutupan dengan alat penutup dilakukan pada waktu kateterisasi jantung. Penatalaksanaan Konservatif : Restriksi cairan dan Pemberian obat-obatan : Furosemid (lasix) diberikan bersama restriksi cairan untuk meningkatkan diuresis dan mengurangi efek kelebihan beban kardiovaskular. 4. KOMPLIKASI a. Hepatomegali (jarang terjadi pada bayi prematur) e. Pembedahan : Pemotongan atau pengikatan duktus. MANIFESTASI KLINIK 1.Dinding duktus arteriosus terutama terdiri dari lapisan otot polos ( tunika media ) yang tersusun spiral. b. Tidak menimbulkan gejala bila PDA kecil. Duktus arteriosus yang persisten (PDA) akan mengakibatkan pirai (shunt) L-R yang kemudian dapat menyebabkan hipertensi pulmonal dan sianosis. 6. Hiperkalemia (penurunan keluaran urin). berbeda dengan aorta yang memiliki lapisan elastin yang tebal dan tersusun rapat ( unfragmented ). i. Gangguan paru yang terjadi bersamaan (misalnya sindrom gawat nafas atau displasia bronkkopulmoner) g. PENATALAKSANAAN MEDIS a. Obstruksi pembuluh darah pulmonal c. Enterokolitis nekrosis f. Sianosis yang terjadi pada PDA dengan PVOD dikenal sebagai sianosis diferensial oleh karena hanya ekstremitas bawah yang biru sedangkan ekstremitas atas tetap normal. pemberian antibiotik profilaktik untuk mencegah endokarditis bakterial.

Pengkajian Sebelum operasi dilaksanakan pengkajian menyangkut riwayat kesehatan dikumpulkan.blogspot. CVH bila PDA besar. pemeriksaan fisik dilakukan. Pada PDA kecil-sedang dapat terjadi LVH atau normal. Pemeriksaan diagnostik mungkin dilakukan seperti . b. Pemeriksaan angiografi biasanya tidak dibutuhkan kecuali bila terdapat kecurigaan PVOD. http://agustusstikes. Atau RVH bila telah terjadi PVOD.7. pada PDA kecil tidak ada abnormalitas. melibatkan keluarga atau orang terdekat dalam wawancara.3:1 pada bayi cukup bulan atau lebih dari 1. tanda-tanda vital di catat dan data dasar di tegakkan untuk perbandingan masa yang akan datang. Dalam fase pre operasi ini dilakukan pengkajian pre operasi awal. mengkaji kebutuhan klien dalam rangka perawatan post operasi. Foto toraks juga menyerupai kelainan VSD.0 pada bayi praterm (disebabkan oleh peningkatan volume atrium kiri sebagai akibat dari pirau kiri ke kanan) e. Adanya PVOD akan mengakibatkan ukuran jantung normal dengan pembesaran MPA dan peningkatan corakan vaskulerisasi hilus. PEMERIKSAAN a. dan berakhir ketika klien di pindahkan ke kamar operasi. memastikan kelengkapan pemeriksaan praoperasi. PDA sedangbesar terjadi kardiomegali dan peningkatan PVM.com/ 99999999 KONSEP KEPERAWATAN PRE OPERASI 19 Januari 2009 oleh PRO-HEALTH Keperawatan pre operasi dimulai ketika keputusan tindakan pembedahan di ambil. hipertrofi ventrikel kiri pada PDA yang lebih besar. bervariasi sesuai tingkat keparahan. c. Melalui pemeriksaan ekho 2-D dan Doppler dapat divisualisasi adanya PDA dan besarnya shunt. A. Ekhokardiografi yaitu rasio atrium kiri tehadap pangkal aorta lebih dari 1. Pada PDA kecil bayangan jantung normal. d. EKG serupa dengan kelainan VSD. Kateterisasi jantung yaitu hanya dilakukan untuk mengevaluasi lebih jauh hasil ECHO atau Doppler yang meragukan atau bila ada kecurigaan defek tambahan lainnya. merencanakan penyuluhan dengan metode yang sesuai dengan kebutuhan pasien.

Disamping pengkajian fisik secara umum perlu di periksa berbagai fungsi organ seperti pengkajian terhadap status pernapasan. fungsi endokrin. keterampilan. C. endoskopi. Dalam memberikan penyuluhan klien pre operasi perlu dipertimbangkan masalah waktu. penyembuhan luka akan di pengaruhi status nutrisi klien. rontgen. tambahan pengetahuan. sebelumnya diberikan penjelasan yang gamblang dan jelas mengenai pembedahan dan kemungkinan resiko. juga terhadap kesulitan teknik dan mekanik selama dan setelah pembedahan.dan perubahan perilaku. biopsi jaringan. jika penyuluhan diberikan terlalu lama sebelum pembedahan memungkinkan klien lupa. B. Tuntutan klien akan bantuan keperawatan terletak pada area pengambilan keputusan. dan pemeriksaan feses dan urine. endoskopi. . fungsi hepar dan ginjal. Perawat berperan memberikan penjelasan pentingnya pemeriksaan fisik diagnostik. Demikian pula dengan kondisi obesitas. dan fungsi imunologi. Informed Consent Tanggung jawab perawat dalam kaitan dengan Informed Consent adalah memastikan bahwa informed consent yang di berikan dokter di dapat dengan sukarela dari klien. Pendidikan Pasien Pre operasi Penyuluhan pre operasi didefinisikan sebagai tindakan suportif dan pendidikan yang dilakukan perawat untuk membantu pasien bedah dalam meningkatkan kesehatannya sendiri sebelum dan sesudah pembedahan. Status nutrisi klien pre operasi perlu dikaji guna perbaikan jaringan pos operasi.analisa darah. klien obesitas akan mendapat masalah post operasi dikarenakan lapisan lemak yang tebal akan meningkatkan resiko infeksi luka.

2008 by kuliahbidan Tujuan 1. menciptakan hubungan dokter-pasien 3. menghembuskan melalui mulut. ambil nafas pendek.wordpress. Selain meningkatkan pernafasan latihan ini membantu pasien untuk relaksasi. Setelah melakukan latihan nafas dalam beberapa kali. 2. Batuk dan Relaksasi salah satu tujuan dari keperawatan pre operasi adalah untuk mengajar pasien cara untuk meningkatkan ventilasi paru dan oksigenasi darah setelah anastesi umum.3 ). 2. mengetahui riwayat penyakit dahulu serta keadaan / masalah yang mungkin menyertai pada saat ini. Membedakan masalah obstetri / ginekologi dengan masalah non-obstetri yang terjadi pada kehamilan.com/2009/01/19/konsep-keperawatan-pre-operasi/ 100000000 sted on November 1. obat-obatan yang pernah / sedang / akan diberikan untuk masalah saat ini yang kemungkinan . mengetahui masalah saat ini. (Gambar 2. indikasi / kontraindikasi 4. faktor penyulit 5.demikian juga bila terlalu dekat dengan waktu pembedahan klien tidak dapat berkonsentrasi belajar karena adanya kecemasan atau adanya efek medikasi sebelum anastesi. selama dan sesudah anestesi / operasi 4.2 dan 2. Latihan Nafas Dalam. mengenal pasien. menyusun rencana penatalaksanaan sebelum. Beberapa penyuluhan atau instruksi pre operasi yang dapat meningkatkan adaptasi klien pasca operasi di antaranya : 1. nafas lambat (menahan inspirasi secara maksimal) dan bagaimana menghembuskan nafas dengan lambat pasien dalam posisi duduk untuk memberikan ekspansi paru maksimum. ada/tidak kemungkinan terjadinya komplikasi. Jenis operasi yang direncanakan 3. Hal ini dapat dicapai dengan memperagakan pada pasien bagaimana melakukan nafas dalam. dan batukkan. informed consent Penilaian catatan medik (chart review) 1. http://forbetterhealth. pasien di instruksikan untuk bernafas dalam-dalam.

premedikasi). tanda vital lengkap. Penjelasan kepada pasien : metode. baca sendiri yaaaaa !!!.dapat berinteraksi dengan obat / prosedur anestesi 6. 2. Pemeriksaan fisik : tinggi / berat badan. dsb. dsb). Pada persalinan. Sistem kardiovaskular Peningkatan isi sekuncup / stroke volume sampai 30%. pemantauan kesejahteraan janin (dengan fetal monitoring). ANESTESIA / ANALGESIA UNTUK KASUS OBSTETRI Pertimbangan : Fisiologi Kehamilan / Persalinan (Maternal Physiology) Sistem pernapasan Perubahan pada fungsi pulmonal. pemulihan. gangguan pembekuan darah. menyebabkan terjadinya dilutional anemia of pregnancy. meskupun dengan disertai denitrogenasi. PENTING DIKETAHUI : FARMAKOLOGI OBAT-OBAT (uterotonik / tokolitik. Konsultasi dengan dokter yang akan melakukan tindakan obstetrik. Menetapkan rencana anestesi 1. Jika tidak segera dideteksi dan dikoreksi. memungkinkan dilakukannya induksi anestesi yang cepat pada wanita hamil. analgesi. Volume plasma meningkat sampai 45% sementara jumlah eritrosit meningkat hanya sampai 25%. penyakit ginjal. peningkatan frekuensi denyut jantung sampai 15%. kebutuhan oksigen (oxygen demand) meningkat sampai 100%. hasil-hasil pemeriksaan penunjang / laboratorium yang diperlukan Pemeriksaan pasien Anamnesis : penting mengumpulkan data tambahan tentang riwayat penyakit yang dapat menjadi penyulit / faktor risiko tindakan anestesi (asma. cara. dsb) Untuk detail nya. riwayat operasi / anestesi sebelumnya. dapat terjadi penurunan vaskularisasi uterus sampai asfiksia janin. untuk airway maintenance selama anestesi / operasi). . vasopresor / vasodilator. Ventilasi per menit meningkat sampai 50%. penekanan / kompresi vena cava inferior dan aorta oleh massa uterus gravid dapat menyebabkan terjadinya supine hypertension syndrome. persiapan (diet. riwayat pengobatan. kontraksi uterus / his menyebabkan terjadinya autotransfusi dari plasenta . penyakit jantung. Menjelang / dalam persalinan dapat terjadi gangguan / sumbatan jalan napas pada 30% kasus. Pada kasus obstetri / kasus non-obstetri dalam kehamilan. hipertensi. ventilasi dan pertukaran gas. Meskipun terjadi peningkatan isi dan aktifitas sirkulasi. Functional residual capacity menurun sampai 15-20%. kepala / leher (perhatian KHUSUS pada mulut / gigi / THT / saluran napas atas. menyebabkan penurunan PaO2 yang cepat pada waktu dilakukan induksi anestesi. peningkatan curah jantung sampai 40%. jantung / paru / abdomen / ekstremitas. Pada saat persalinan. kebiasaan merokok / alkohol / obat-obatan. kemungkinan risiko. penting dilakukan : pemeriksaan obstetri (umumnya telah dilakukan oleh dokter obstetri). riwayat alergi. cadangan oksigen juga berkurang. musclerelaxant. puasa. anestesi.

Hal ini kemungkinan disebabkan oleh aktifitas hormon progesteron.sebesar 300-500 cc selama kontraksi. Kadar kreatinin. Meskipun demikian jarang diperlukan transfusi. Enzimenzim hati pada kehamilan normal sedikit meningkat. isofluran 40%. Pasien dengan preeklampsia mungkin berada dalam proses menuju kegagalan fungsi ginjal meskipun pemeriksaan laboratorium mungkin menunjukkan nilai “normal”. dapat terjadi perdarahan sampai 1000 cc. Sementara itu terjadi juga peningkatan sekresi asam lambung. Harus dianggap bahwa SEMUA obat dapat melintasi plasenta dan mencapai sirkulasi janin. kebutuhan halotan menurun sampai 25%. Perdarahan yang terjadi pada partus pervaginam normal bervariasi. Beban jantung meningkat. VIII. (baca juga catatan special aspects of perinatal pharmacology) Tindakan Anestesi / Analgesi Regional . metoksifluran 32%. Ginjal Aliran darah ginjal dan laju filtrasi glomerulus meningkat sampai 150% pada trimester pertama. sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya regurgitasi dan aspirasi pulmonal isi lambung. Hal ini karena pelebaran vena-vena epidural pada kehamilan menyebabkan ruang subarakhnoid dan ruang epidural menjadi lebih sempit. penurunan tonus sfingter esophagus bawah serta perlambatan pengosongan lambung. Faktor yang menentukan yaitu peningkatan sensitifitas serabut saraf akibat meningkatnya kemampuan difusi zat-zat anestetik lokal pada lokasi membran reseptor (enhanced diffusion). X. Pada anestesi epidural atau intratekal (spinal). dapat sampai 400-600 cc. namun menurun sampai 60% di atas nonpregnant state pada saat kehamilan aterm. konsentrasi anestetik lokal yang diperlukan untuk mencapai anestesi juga lebih rendah. Transfer obat dari ibu ke janin melalui sirkulasi plasenta Juga menjadi pertimbangan. konsentrasi obat inhalasi yang lebih rendah cukup untuk mencapai anestesia. makanan) tanpa memandang kapan waktu makan terakhir. urea dan asam urat dalam darah mungkin menurun namun hal ini dianggap normal. dapat juga menyebabkan depresi pada janin. Kadar kolinesterase plasma menurun sampai sekitar 28%. Pada pemberian suksinilkolin dapat terjadi blokade neuromuskular untuk waktu yang lebih lama. mungkin akibat hemodilusi dan penurunan sintesis. Lambung HARUS selalu dicurigai penuh berisi bahan yang berbahaya (asam lambung. curah jantung meningkat. sampai 80%. Sistem gastrointestinal Uterus gravid menyebabkan peningkatan tekanan intragastrik dan perubahan sudut gastroesophageal junction. Hal itu karena selama kehamilan normal terjadi juga peningkatan faktor pembekuan VII. Pada sectio cesarea. XII dan fibrinogen sehingga darah berada dalam hypercoagulable state. karena obat-obatan anestesia yang umumnya merupakan depresan. Sistem saraf pusat Akibat peningkatan endorphin dan progesteron pada wanita hamil.

Pasang line infus dengan diameter besar. tusukan diteruskan sampai menembus selaput duramater. 4. jika stylet ditarik perlahan-lahan. Infeksi / inflamasi / tumor pada lokasi injeksi Teknik : 1. chlorprocain 2-3% atau bupivacain 0. Kelainan SSP tertentu 4. 6. Setelah menembus ligamentum flavum (hilang tahanan). Spinal / subaraknoid : posisi lateral dekubitus atau duduk. Kerugian : 1. Waktu mula kerja (time of onset) lebih lama 3.Analgesi / blok epidural (lumbal) : sering digunakan untuk persalinan per vaginam. 2. berikan 500-1000 cc cairan kristaloid (RingerLaktat). Daerah punksi ditutup dengan kasa dan plester. Observasi tanda vital 4. Dosis yang dipakai untuk anestesi epidural lebih tinggi daripada untuk anestesi spinal.75%. Kemudian posisi pasien diatur pada posisi operasi / tindakan selanjutnya. 3. dengan jarum / trokard. Syok hipovolemik 7. . Keberhasilan anestesi diuji dengan tes sensorik pada daerah operasi. 15-30 menit sebelum anestesi. Pasien menolak 5. 9. mencapai ruangan subaraknoid. Ruang epidural dicapai dengan perasaan “hilangnya tahanan” pada saat jarum menembus ligamentum flavum. 8. Identifikasi adalah dengan keluarnya cairan cerebrospinal. dilakukan punksi antara vertebra L2-L5 (umumnya L3-L4) dengan jarum / trokard. Keuntungan : 1. Jika dipakai kateter untuk anestesi. Kemudian obat anestetik diinjeksikan ke dalam ruang epidural / subaraknoid. Mengurangi pemakaian narkotik sistemik sehingga kejadian depresi janin dapat dicegah / dikurangi. dilakukan fiksasi. Anestesi epidural atau spinal : sering digunakan untuk persalinan per abdominam / sectio cesarea. Sepsis 2. Obat anestetik yang digunakan : lidocain 1-5%. jalur obat anestesia regional sudah siap.250. Insufisiensi utero-plasenta 6. 7. 5. 2. stimulus nyeri dan kontraksi dapat menurun. Hipotensi akibat vasodilatasi (blok simpatis) 2. Risiko aspirasi pulmonal minimal (dibandingkan pada tindakan anestesi umum) 4. Kemungkinan terjadi sakit kepala pasca punksi. Untuk persalinan per vaginam. Jika dalam perjalanannya diperlukan sectio cesarea. Kontraindikasi : 1. Gangguan pembekuan 3. berikan antasida 3. Ibu tetap dalam keadaan sadar dan dapat berpartisipasi aktif dalam persalinan. dilakukan punksi antara L3-L4 (di daerah cauda equina medulla spinalis). menggunakan jarum halus atau kapas. sehingga kemajuan persalinan dapat menjadi lebih lambat. Epidural : posisi pasien lateral dekubitus atau duduk membungkuk.

Kesulitan melakukan intubasi tetap merupakan penyebab utama mortalitas dan morbiditas maternal. dapat terjadi total spinal anesthesia. Komplikasi neurologik yang sering adalah rasa sakit kepala setelah punksi dura. dan operator siap. Diperlukan keadaan relaksasi uterus. dan dilakukan hiperventilasi untuk mengatasi asidosis metabolik. dan kehilangan kesadaran. karena dosis yang dipakai lebih tinggi. Induksi cepat. Tindakan Anestesi Umum Tindakan anestesi umum digunakan untuk persalinan per abdominam / sectio cesarea.5 mg/kgBB suksinilkolin. antasida diberikan 15-30 menit sebelum operasi. Gejala berupa nausea. Risiko aspirasi pada ibu lebih besar. atau 0. Dilakukan penekanan krikoid. 5. Dilakukan preoksigenasi dengan O2 100% selama 3 menit. observasi tanda vital. Dapat juga ditambahkan inhalasi 1.0% enfluran. 4. hidrasi (>3 L/hari). 3. Pasien harus diatur dalam posisi telentang / supine. Kadang terjadi juga serangan kejang. Setelah regio abdomen dibersihkan dan dipersiapkan. hipotensi dan kehilangan kesadaran.5 mg/kgBB suksinilkolin. Dialirkan ventilasi dengan tekanan positif. Pasang line infus dengan diameter besar. Kerugian : 1. dilakukan induksi dengan 4 mg/kgBB tiopental dan 1. 3. Teknik : 1. atau pasien diminta melakukan pernapasan dalam sebanyak 5 sampai 10 kali. menggunakan 1. dengan uterus digeser ke kiri. kemudian dilakukan intubasi. 3. 2. dilakukan ventilasi O2 100% dengan mask disertai penekanan tulang cricoid. Jika terjadi injeksi subarakhnoid yang tidak diketahui pada rencana anestesi epidural. Gawat janin.Komplikasi yang mungkin terjadi : 1. tinitus. Hipotensi ditangani dengan memberikan cairan intravena dan ephedrine. 2.0 – 1. 2. dilakukan intubasi. 0.5% halotan. pasien diposisikan dengan uterus digeser / dimiringkan ke kiri. Terapi dengan istirahat baring total. Hiperventilasi pada ibu dapat menyebabkan terjadinya hipoksemia dan asidosis pada janin. Dapat terjadi depresi janin akibat pengaruh obat. 3.75% isofluran. Pengendalian jalan napas dan pernapasan optimal. Injeksi intravaskular ditandai dengan gangguan penglihatan. Harus dilakukan intubasi pada pasien. sampai . 2. 3. Keuntungan : 1. 4. Ada kontraindikasi atau keberatan terhadap anestesia regional. dan suksinilkolin diinjeksikan melalui infus. dan pengikat / korset perut (abdominal binder). 2. dan balon pipa endotrakeal dikembangkan. Risiko hipotensi dan instabilitas kardiovaskular lebih rendah. O2-N2O 50%-50% diberikan melalui inhalasi. Indikasi : 1. dapat sampai disertai henti napas dan henti jantung. analgesik.

pada pre-eklampsia. 7. Setelah itu. cairan. Jika operasi dilakukan dalam masa kehamilan. Untuk pasien yang direncanakan anestesia dengan N2O. diberikan sebagaimana seharusnya. untuk mencegah ibu bangun. Premedikasi minimal : barbirat lebih dianjurkan dibandingkan benzodiazepin. 3. Keselamatan ibu (prioritas utama) 2. Anjuran / pertimbangan : 1. hal ini menjadi indikasi untuk induksi cepat dan penggunaan anestetik inhalasi. Pertimbangan tindakan anestesi untuk bedah non-obstetri pada masa kehamilan : 1. mortalitas maternal dan perinatal SANGAT TINGGI (lihat catatan management of injured pregnant patient). dan sebagainya. hipoksia. 3. Mortalitas / morbiditas perinatal : LEBIH TINGGI signifikan. 2. lanjutkan pemeriksaan antenatal dengan . magnesiumsulfat.janin dilahirkan. 9. Pencegahan sedapat mungkin. Mortalitas / morbiditas maternal : tidak berbeda signifikan dengan tindakan anestesi / operasi pada wanita yang tidak hamil. 4. untuk maintenance anestesi digunakan teknik balans (N2O/narkotik/relaksan). Pada kasus gawat darurat. ditatalaksana dengan oksigen. anestetik inhalasi yang kuat juga dapat digunakan dengan konsentrasi rendah. 5. 2. efek hambatan pertumbuhan atau efek teratogen terhadap janin. obat2an. berikan suplementasi asam folat (N2O dapat menghambat sintesis dan metabolisme asam folat). yang memerlukan tindakan operasi (misalnya : trauma. Contoh : 1. sementara diperlukan relaksasi uterus yang optimal. (catatan) Jika terjadi hipertonus uterus. pemakaian obat-obatan yang memiliki efek depresi. misalnya syok. karena paparan / exposure obatobatan terhadap janin relatif paling minimal. 6. dsb dsb). pada keadaan umum / tanda vital yang buruk. karena obat-obat tersebut dapat menyebabkan atonia uteri. antara 5-35%. Usaha mempertahankan fisiologi sirkulasi utero-plasenta yang optimal 4. ANESTESIA / ANALGESIA UNTUK OPERASI NON-OBSTETRI PADA MASA KEHAMILAN (NON-OBSTETRICAL SURGERY DURING PREGNANCY) Sekitar 1-5% wanita hamil mengalami masalah yang tidak berhubungan secara langsung dengan kehamilannya. pada infeksi atau kemungkinan infeksi. Ekstubasi dilakukan setelah pasien sadar. appendiksitis. Usaha mempertahankan kehamilan 3. narkotik dapat digunakan untuk analgesia. Operasi elektif sebaiknya ditunda sedapat mungkin sampai 6 minggu pascapersalinan (setelah masa nifas. atau jika ada hipertensi. di mana semua perubahan fisiologis akibat kehamilan diharapkan telah kembali pada keadaan normal). Operasi semi-urgent sebaiknya ditunda sampai trimester kedua atau ketiga. diberikan antibiotika. CATATAN : Pada kasus-kasus obstetri patologi yang memerlukan obat-obatan / penanganan medik selain anestesi. Teknik anestesia regional (terutama spinal) lebih dianjurkan. Obat inhalasi dihentikan setelah tali pusat dijepit. 6. 8. diberikan juga vasodilator.

seperti 0. menciptakan relaksasi otot yang adekuat untuk membantu tindakan operasi Pengisian rongga peritoneum dengan CO2 dapat menyebabkan peningkatan PaCO2 jika pernapasan tidak dikendalikan. Tujuan anestesi pada laparoskopi adalah : 1.25-0. digunakan : 1. sedativa (diazepam 10 mg) 3. untuk deteksi kemungkinan persalinan preterm pascaoperasi. mencegah peningkatan tekanan parsial CO2 dalam darah (PaCO2) pada insuflasi abdomen dengan gas CO2. mempertahankan stabilitas kardiovaskular pada keadaan peningkatan tekanan intraabdominal yang besar akibat insuflasi CO2 (umumnya tekanan naik sampai 20-25 cmH2O. 2. Kelebihan CO2 dapat diatasi dengan kendali frekuensi pernapasan 1. analgetika (pethidin 1-2 mg/kgbb.5-1.0% isofluran atau enfluran. 4. anestesia . 3. Metode yang dianjurkan adalah anestesi dengan N2O-O2 perbandingan 75%-25% inhalasi. Untuk meningkatkan kontraksi uterus digunakan ergometrin maleat. atropin sulfat (0.perhatian khusus pada fetal heart monitoring dan penilaian aktifitas uterus. Laparoskopi Untuk tindakan laparoskopi. ANESTESIA / ANALGESIA UNTUK KASUS GINEKOLOGI Kuretase Untuk tindakan kuretase. mengurangi potensial kejadian aritimia akibat hiperkarbia dan asidosis. Peningkatan tekanan intraabdominal akibat insuflasi gas dapat menyebabkan muntah dan aspirasi. dan/atau tramadol 1-2 mg/kgbb) 2. 3.5 mg/kgbb. Kadang digunakan elektrokoagulasi. Jika diperlukan. (baca juga modul “Safe Motherhood” tentang Penuntun Belajar Kuretase (POEK)) Laparotomi operasi ginekologi Untuk operasi ginekologi dengan laparotomi. dan/atau neuroleptika ketamin HCl 0. serta peningkatan tekanan vena sentral dan curah jantung sekunder akibat redistribusi sentral volume darah. diperlukan keadaan khusus : 1. Dapat juga digunakan tambahan anestesi inhalasi dalam konsentrasi rendah. digunakan anestesia umum. Pengisian rongga abdomen dengan udara (pneumoperitoneum) 2.5 kali di atas frekuensi basal. dengan anestetik narkotik dan musclerelaxant. Tekanan intraabdominal sampai 30-40 cm H2O sebaliknya dapat menyebabkan penurunan tekanan vena sentral dan curah jantung dengan cara menurunkan pengisian jantung kanan. dapat sampai 30-40 cm H2O). Kadang diperlukan posisi Trendelenburg ekstrim.5 mg/ml) diberikan melalui infus intravena.

Konsep Operasi/ Pembedahan 1.5%. Respon Psikologis Sebagian ketakutan yang melatarbelakangi pra pembedahan adalah elusive atau keinginan mengelak dan orang tidak akan mengetahui penyebabnya. 2006). mereka cenderung banyak marah. dimana dapat dilakukan di ruang praktek klinik untuk rawat jalan dengan anastesi lokal. guna mengisi kebutuhan protein untuk keperluan penyembuhan dan mengisi kebutuhan untuk fungsi yang optimal. kesal. seksio sesarea yang dilakukan sebagai prosedur kedaruratan atau kegawatan untuk melahirkan janin (Poter dan Perry.lokal blok regio periumbilikal dapat dilakukan dengan 10-15 cc bupivacain 0. Prosedur yang gawat juga dianggap punya keseriusan mayor misalnya. Sedasi ringan dapat diberikan. yang melibatkan rekonstruksi atau perubahan yang luas pada bagian tubuh dan menimbulkan risiko yang tinggi bagi kesehatan. bila stress terhadap sistem. kegawatan dan tujuan pembedahan. takut anastesi biasanya dalam maut “ Tidur terus tidak bangun kembali”. cukup gawat atau kehilangan darah cukup banyak maka akan menyebapkan shock intake protein yang tinggi. pembedahan adalah semua tindakan pengobatan yang menggunakan cara invasif dengan membuka atau menampilkan bagian tubuh yang akan ditangani yang umumnya dilakukan dengan membuka sayatan. 2. B. Sedangkan operasi mayor (operasi besar) dengan menggunakan anastesi umum yang dilakukan di unit pembedahan rawat inap. pembedahan adalah suatu metode pengobatan yang dilakukan dengan terencana atau mendadak terhadap sebagian sistem tubuh. Pengertian Menurut Depkes RI (1998). 111111111 A. Jenis prosedur pembedahan atau operasi diklasifikasi berdasarkan tingkat keseriusan. Orang yang sangat cemas sehingga tidak bisa berbicara dan mencoba menyesuaikan diri dengan kecemasan sebelum operasi sering kali menderita banyak kesukaran pada pasca pembedahan. 3. Konsep Seksio Sesarea . Takut yang belum diketahui adalah umum. pembedahan minor atau (operasi kecil). bingung atau depresi. Mereka lebih mudah tersinggug akibat psikis dibandingkan dengan orang yang cemasnya sedikit. Pembedahan atau lebihdikenal dengan istilah operasi dapat dibedakan. Respon Fsiologis Operasi besar merupakan stressor kepada tubuh dan memicu respon neoro endecrine. Sedangkan menurut Laksamana (2003). respon terjadi dari saraf simpati dan respon hormonal yang bertugas melindungi tubuh dari ancaman cedera.

Suatu komplikasi yang baru yang kemudian tampak. sehingga pada kehamilan berikutnya bisa terjadi ruptura uteri. Pesalinan seksio sesarea kelahiran bayi melalui abdomen dan insisi uterus (Mary.cabang ateri ulterina ikut terbuka. Disproporsi janin panggul. Kelainan letak. Pada ibu komplikasi. Incoordinate uteria action. 2. g. Pernah seksio sesaresa 3. Kontra indikasi e.1. 2). lika kandung kencing. b. Komplikasi a.paru. Pada anak Seperti halnya dengan ibunya. indikasi untuk seksio sesarea ialah a. embolisme paru. kematian prenatal pasca seksio sesarea berkisar antara 4 sampai 7%. anak yang dilahirkan dengan seksio sesarea menurut data statistik di negara. Indikasi Menurut statistik tentang 3509 kasus seksio sesarea yang disusun oleh Peel dan Camberlain (dalam Hanifa 2006). b.. Pengertian Seksio sesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding rahim (kafita selekta kedokteran. Preeklamsi. h. Hipertensi . 4.negara dengan pengawasan antenatal dan intranatal yang baik.1995). d. Komplikasi lainnya. Gawat janin.komplikasi yang bisa timbul ialah sebagai berikut : 1). 2001). Plasenta prepea. c. Infeksi puerperal Komplikasi ini bisa bersifat ringan seperti : kenaikan suhu tubuh selama beberapa hari dalam masa nifas. Pendarahan Pendarahan banyak bisa timbul pada waktu pembedahan jika cabang. kurang kuatnya perut pada dinding uterus. f.

2. 3. 5. C. Freud (1998) memandang bahwa kecemasan timbul secara otomatis apabila kita menerima stimulus yang berlebihan yang melampaui kemampuan untuk menanganinya. dan sebagainya.1990). 2. Seksio sesarea transperitonealis profunda. ia memperingatkan adanya bahaya yang mengancam dan memungkinkan seseorang mengambil tindakan untuk mengatasi ancaman (Kaplan & Sadock). Keadaan emosi ini dialami secara obyektif dan dikomunikasikan dalam hubungan interpersonal (Maramis. dkk. 2006). (Hanifa. Perasaan tidak nyaman sebagai respon terhadap rasa takut akan terjadinya perlukaan tubuh atau kehilangan sesuatu yang bernilai dari dirinya (DepKes. Seksio sesarea transperitonealis klasik atau korforal. Stuart dan lararia (1998) mengatakan kecemasan dapat diekspresikan secara langsung melalui perubahan fisiologis dari perilaku maupun secara tidak langsung melalui timbulnya gejala atau mekanisme koping sebagai upaya untuk melawan kecemasan (Sofia. atau apabila janin terlalu kecil untuk hidup di luar kandungan. kecemasan sangat berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya. 1993). Oleh sebab itu seksio sesarea tidak dilakukan – kecuali dalam keadaan terpaksa – apabila misalnya janin sudah meninggal dalam uterus. Seksio sesarea ekstraperitoneal. ketakutan. Pengertian Kecemasan Menurut Stuart & Sundeen (1998) kecemasan adalah kebingungan.2004).Mengenai komtra indikasi perlu diingat bahwa seksio sesarea dilakukan baik untuk kepentingan ibu maupun kepentingan anak. Rentang Respon Cemas . Konsep kecemasan 1. atau apabila janin terbukti cacat seperti hidro sefalus.jenis seksio sesarea Dikenal beberapa secsio sesarea yaitu : 1. Jenis. stimulus tersebut dapat berasal dari luar maupun dari dalam diri. Kecemasan adalah suatu sinyal yang menyadarkan.Y. anensefalus. pada sesuatu yang akan terjadi dengan penyebab yang tidak jelas yang dihubungkan dengan perasaan tidak menentu dan tidak berdaya. Menurut Barbara (1996) kecemasan adalah respon psikologis perasaan takut atau tidak tenang yang sumbernya tidak dikenali dan terjadi ketika seseorang merasa terancam baik secara fisik maupun secara psikologis .

Manifestasinya adalah berdebar-debar. individu merasa tidak bisa memperhatikan lingkungan sehingga fokus terhadap lingkungan berkurang. 1995) menyebutkan bahwa pada orang cemas refleksi tingkah laku terbagi atas fisiologis. orang tersebut tidak mampu menyelesaikan masalah. pada kecemasan sedang individu merasa lebih tegang. cemas ringan berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. sering buang air kecil. menolak) . persepsi yang menyempit dan kehilangan pemikiran yang rasional. tempat dan orang. pada tingkat ini lapang persepsi individu menyempit. 2004). tidak mampu rileks dan sukar tidur. Panik berhubungan dengan ketakutan dan teror yang melibatkan aktivitas motorik. Menurut Stuart & Sundeen (1995) rentang respon individu terhadap kecemasan berfluktuasi antara respon adaptif dan maladaptif seperti terlihat pada gambar berikut: Gambar 2. bicara terus dan sukar dimengerti. sedang. Cemas ringan berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada. nyeri dada. badan gemetar. : Rentang Respon individu terhadap kecemasan Respon adaptif Respon mal adaptif # Antisipasi # Ringan # Sedang # Berat # Panik Menurut Peplu (dalam Stuart & Sundeen. otot merasa tegang. Sementara menurut Dadang (2001) Gejala. banyak bicara dan bertanya-tanya. persepsi wajah ketakutan.1. Manifestasinya adalah mulut kering. (2) kecemasan sedang. dan masih dapat mengenal waktu. mual dan muntah. pusing atau sakit kepala. Manifestasinya adalah nafas pendek. Cemas ringan dapat menyebabkan seseorang menjadi waspada dan meningkatkan area persepsi sehingga dapat memotivasi untuk belajar. gelisah. berat dan panik. Perasaan cemas 1. kognitif dan afektif yang berbeda-beda. 1995). perilaku diluar kesadaran (Sofia Y. Cemas berat mengurangi lapang persepsi seseorang sehingga cenderung untuk memusatkan pikiran untuk mengurangi ketegangan. Cemas (menangis.gejala kecemasan tersebut adalah : a.Peplu (dalam Stuart & Sundeen . takut. agitasi. (3) kecemasan berat. banyak bicara dan volume keras. anoreksia. menurunnya kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain. Cemas sedang memungkinkan seseorang untuk memusatkan perhatian pada yang selektif. mengidentifikasikan kecemasan dalam empat tingkat yaitu : ringan. Rentang respon cemas terbagi menjadi empat tingkat: (1) kecemasan ringan. lapang persepsi menyempit.

Terbangun pada malam hari 2. Gemetar 5. Saat bangun kondisi lesu 3. Gangguaan tidur 1. Perasaan defresi 1. Menarik diri c. Ditinggal sendiri 4. Hilandnya minat 2. Pada orang asing 3. Pada gelap 2. Mudah tersinggung b. Banyak mimpi/ mengigau 4. Gangguan kecerdasan 1. Ketakutan 1. Merasa tegang 2. Pada kerumunan orang banyak d.2. Lesu 3. Tidak bisa istirahat tenang/ gelisa 4. Daya ingat terganggu f. Tidur tidak nyenyak e. Ketegangan 1. Pandangan kosong . Bicara cepat 6.

Bangun dini hari g. Sedih 4. Gejala urogenital (perkemihan dan kelamin) 1. Rasa seperti mau pingsan j. Rasa tercekik 3.3. Gejala somatic (otot) 1. Serimg buang air kecil 2. Muntah 4. Tidak dapat menahan kencing . Rasa tertekan dan sempit dada 2. Sering menarik napas dalam 4. Nyeri dada 3. Gejala kardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah) 1. Napas pendek k. Takikardi (denyut jantung meningkat) 2. Sukar buang air besar l. Perasaan terbakar diperut 3. Gejala gastrointestinal 1. Sulit menelan 2. Gejala respirator (pernapasan) 1. Denyut nadi kasar/ amat jelas terasa/ teraba 4. Gejala somatic (sensorik) i. Gerakan lambat dan janggal h.

tekanan pada dada. Kecemasan berat sekali/ panik : jika nilai ≤ 7 : jika nilai 8 -13 : jika nilai 14 – 18 : jika nilai 19 – 29 : jika nilai 30 – 44 3. Gejala autonom 1. Tidak ada kecemasan b. rasa tidak nyaman pada abdomen. wajah tegang. insomnia. (2) pada sistem pernafasan akan terjadi nafas pendek dan cepat. Intensitas fisik dan perilaku dapat meningkat sejalan dengan tingkat cemas (Stuart & Sundeen. Gemetar 3. kaki goyah dan adanya gerakan yang janggal. jantung berdebar. (5) respon sistem urinaria meliputi tidak dapat menahan kencing. sensasi tercekik serta terlihat terengah-engah. Muka merah 3. Kecemasan berat e. Kecemasan ringan c. kelemahan umum. tremor. (3) pada sistem neuromuscular akan muncul respon peningkatan refleks. Mulut kering 2. Tingkah laku pada saat wawancara 1. Kecemasan sedang d. tekanan darah meningkat. mual dan mungkin akan diare. Kepala sering terasa pusing n. Mudah berkeringat 4. Gelisah dan muka merah 2. (6) pada sistem . Respon Fisik Dan Psikologi Cemas Cemas dapat diekspresikan secara langsung melalui perubahan fisik dan perilaku. Respon fisik terhadap kecemasan meliputi berbagai sistem organ tubuh: (1) pada sistem kardiovaskuler akan muncul respon palpitasi. Ekspresi wajah tegang Tingkat kecemasan tersebut dapat dikelompokkandengan nilai hasil total score dari masingmasing gejala kecemasan sebagai berikut : a. menolak untuk makan. mata berkedip-kedip. (4) respon pada sistem gastrointestinal meliputi kehilangan nafsu makan. 1998).m. rigiditas. gelisah.

sedangkan superego mencerminkan hati nurani seseorang dan dikendalikan oleh norma-norma budaya seseorang. dingin pada kulit. kreatifitas dan produktifitas menurun dan kesadaran diri meningkat. lapang persepsi menurun. pelupa. Konsep pendidikan 1.integumen akan tampak wajah kemerahan. D. cenderung mendapat cidera. Pandangan interpersonal oleh Sulivan mengatakan bahwa kecemasan timbul dari adanya perasaan terhadap tidak adanya penerimaan interpersonal. Kajian biologis menunjukkan bahwa otak mempunyai reseptor khusus untuk benzodiasepin.2004). 1. Atau pendidikan adalah suatu proses yang berarti di dalam pendidikan itu terjadi proses pertumbuhan perkembangan atau perubahan kearah yang lebih dewasa. Reseptor ini mungkin membantu mengatur kecemasan. ketegangan fisik. menarik diri dari hubungan interpersonal. ketakutan dan tremor (Sofia Y. Aspek pengetahuan (Kongnitif) . Kecemasan juga berkaitan dengan trauma psikologis seperti perpisahan dan kehilangan. konsentrasi buruk. tremor gugup. tegang. 2004). berkeringat setempat. Pandangan perilaku menganggap kecemasan merupakan produk frustasi yaitu segala sesuatu yang mengganggu kemampuan seseorang untuk mencapai tujuan. bicara cepat. kurang koordinasi. wajah pucat. Respon cemas pada perilaku berupa gelisah. lebih baik dan lebih matang pada individu atau kelompok (Notoatmodjo. 1997). rasa panas. gelisah. 4. serta berkeringat pada seluruh tubuh. Hal ini berhubungan dengan aktivitas neurotransmitter gamma aminobutyric acid (GABA) yang mengatur laju dan aktifitas neuron dalam otak untuk menurunkan kecemasan. Faktor Predisposisi Pandangan psikoanalitik oleh Sigmund freud mengatakan bahwa faktor predisposisi kecemasan adalah adanya konflik antara dua elemen kepribadian yaitu id dan superego. Selanjutnya Panji Anoraga dan Sri Suryati (1999) menjelaskan bahwa pendidikan merupakan usaha sadar dan sistematis yang berlangsung seumur hidup dalam rangka mengalihkan pengetahuan oleh seseorang kepada orang lain. Sedangkan dari segi afektif akan tampak keadaan mudah terganggu. Kajian keluarga menerangkan bahwa kecemasan merupakan hal yang biasa ditemui dalam keluarga berbagai tipe akibat konflik dalam keluarga (Sofia Y. Menurit Notoadmodjo (2003) kematangan atau kesiapan pribadi menyangkut tiga pengalaman belajar pokok yaitu : a. gatal. Respon terhadap kognitif meliputi perhatian terganggu. Id mewakili dorongan insting dan impuls primitif seseorang. Pengertian Pendidikan Pendidikan adalah dasar untuk menyiapkan peserta didik bimbingan. Stuart & Sundeen menguraikan bahwa banyak teori telah dikembangkan mengenai faktor terhadap terjadi kecemasan.

2. yaitu pendidikan yang berstruktur. Pendidikan menengah yang lamanya 3 tahun sesudah pendidikan dasar diselenggarakan di . Aspek yang berkaitan dengan keterampilan (Psikomotorik) 2. Pendidikan formal. mempunyai jenjang atau tingkat dalam periode waktu tertentu berlangsung dari SD. Pendidikan formal. 1. contoh SD dan SLTP Warga Negara yang berumur 6-7 tahun berkewajiban mengikuti pendidikan dasar atau pendidikan yang setara sampai tamat SLTP (Sekolah Menegah Tingkat Pertama). SLTA (Sekoah Menengah Atas) dan SMK. Tingkat Pendidikan Notoadmodjo (2003) menyatakan bahwa pendidikan umumnya merupakan pendidikan yang mengutamakan perluasan pengetahuan dan peningkatan keterampilan peserta didik. pendidikan menengah dan pendidikan tinggi yang meliputi : 1. SMA. Pendidikan non formal yaitu merupakan pendidikan (pada umumnya) di luar sekolah yang secara potensial dapat membantu dan mengartikan pendidikan formal dalam aspek tertentu. Aspek sikap dan perilaku (Efektif) c. yaitu suatu proses yang sesungguhya terjadi seumur hidup yang karena tiap-tiap individu merupakan sikap melalui keterampilan dan pengetahuan seharihari dan pengaruh lingkungan. juga berbagai program khusus dan lembaga untuk latihan. Pendidikan Menengah yaitu suatu lembaga pendidikan yang diselenggarakan untuk melanjutkan dan meluaskan pendidikan dasar serta menyiapkan peseta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial. budaya dan alam sekitar serta dapat mengembangkan kemampuan lebuh lanjut dalam dunua kerja atau pendidikan tinggi. Dengan demikian pendidikan umum atau pendidikan sekolah terdiri dari pendidikan dasar. 3. sampai Universitas dan tercakup disamping studi akademi umum.b. SMP. 3. Jenis-jenis Pendidikan Pendidikan dasar dibedakan menjadi 3 jenis yaitu: 1. Pendidikan Dasar yaitu suatu lembaga pendidikan yang diselenggarakan untuk mengembangkan sikap dan kemampuan serta memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar yang diperlukan untuk hidup dalam masyarakat serta mempersiapkan perserta didik yang memenuhi persyaratan untuk mengikuti pendidikan menengah.

3. Namun sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. S2. E. 2. D3. Pendidikan Tinggi Satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi disebut perguruan tinggi yang dapat berbentuk Akademik.1. 2.dan S3. Pengetahuan merupakan hasil tahu telah terjadi setelah seseorang melakukan pengindraan melalui panca indra yaitu penglihatan. pengecapan (rasa) dan perabaan. 1. ide atau fenomena yang diproses sebelumnya. Kesadaran (jiwa) salah satu dari alam yang ada pada diri manusia. Tingkat pengetahuan Menurut Notoatmodjo (2003). Institut dan Universitas yang termasuk perguruan tinggi D2. Konsep pengetahuan 1. Dari pengertian tentang pendidikan tersebut diatas kiranya dapat diharapkan bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin luas pengetahuan tentang suatu hal dan semakin luas pula wawasan berfikirnya. pengetahuan sebagai alat jaminan yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa prilaku didasarkan atas pengetahuan akan lebih langgeng dibanding dengan tampa didasari pengetahuan. Selanjutnya Notoadmodjo (2002) menyatakan ada tiga unsur pengetahuan yaitu : 1. penciuman. Sekolah Tinggi. Pengamatan (menanamkan) yaitu penggunaan indra lahir dan indra batin untuk menangkap objek. 1. 2002). Pengetahuan merupakan dasar untuk terbentuknya tindakan seseorang (Notoadmodjo. S1. Pengetahuan pada dasarnya terdiri dari sejumlah fakta dan teori yang memungkinkan seseorang untuk dapat memecahkan masalah yang dihadapinya. Sasaran (objek) yaitu sesuatu yang menjadi bahan pengamatan. sehingga akan lebih terbuka terhadap pembaharuan. Pengertian Pengetahuan adalah pemberian bukti oleh seseorang melalui proses pengingatan dan pengenalan informasi. pengetahuan dikatagorikan dalam enam bagian yaitu : 1. Tahu (Know) . dalam kaitannya dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi seksio sesarea sehingga dapat meminimalkan respon terhadap kecemasan. Politeknik.

menyebutkan contoh. Memahami (comprehension) Memahami diartikan sebagai kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat mengukur prestasi materi secara benar. Evaluasi Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan jasvikasi atau penelitian terhadap suatu materi atau objek. menyelesaikan dan sebagainya. menyimpulkan dan sebagainya. Penilaian-penilaian yang didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria yang ada misalnya dapat membandingkan antara anak-anak yang cukup gizi dengan anak-anak yang kurang gizi. kultur (budaya agama). prinsip dan sebagainya dalam kontek atau kondisi yang lain.Tahu diartikan sebagai mengingat sesuatu yang telah dipelajari sebelumnya.hukum. Orang yang telah tahu terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan. 3. pendidikan dan pengelaman. Kemampuan analisis dapat dilihat dari kemampuan menggambarkan. 1. Khnowledge (pengetahuan)dalam masyarakat dipengaruhi beberapa faktor antara lain sosial ekonomi. Termasuk dalam timgkat pengetahuan ini adalah mengingat kembali sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang diterima. meringkas. 1. Misalnya dapat menggunakan rumus statistik dalam penghitungan-penghitungan siklus pemecahan masalah kesehatan dari kasus yang diberikan. . membedakan dan sebagainya. Aplikasi (Application) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada kondisi riil (sebenarnya) yang termasuk aplikasi adalah penggunaan hukum. 1. 1. metode. Analisis (Analysis) Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen tetapi dalam struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain. Sintesis (syntesis) Sintesis menunjukan suatu kemampuan untuk melekatkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru misalnya dapat menyusun. merencanakan. 1. Faktor-Faktor yang mempengaruhi pengetahuan Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan menurut Nasution (2002).

2003). 3. maksudnya pendidikan yang tinggi pengalaman akan lebih luas. Pada hakikatnya pengetahuan merupakan segenap apa yang diketahui manusia tentang objek tertentu. Bila pengetahuan pasien kurang membuat pasien tidak mengerti tentang prosedur tindakan yang akan dilakukan sehingga membuat pasien merasa lebih cemas dalam menghadapi operasi seksio sesarea. Kriteria Penilaian Menurut Arikunto (1998) kriteria penilaian pengetahua dikelompokkan dalam persentase yaitu : Baik Cukup : Bila jawaban benar mencapai 75-100% dari seliruh pertanyaan. 4. Sosial ekonomi yaitu lingkungan sosial akan mendukung tingginya pengetahuan seseorang sedangkan bila ekonomi baik. Pengetahuan ini berpengaruh terhadap sikap seseorang sesuai dengan pemikirannya. tingkat pengetahuan akan tinggi juga. BAB III METODEOLOGI PENELITIAN . pengalaman disini berkaitan dengan umur dan pendidikan individu. karena informasi-informasi yang baru akan disaring kira-kira sesuai tidak dengan yang ada dan agama yang dianut. sedangkan umur semakin tua umur seseorang maka pengalaman akan semakin banyak. : Bila jawaban benar mencapai 56-74% dari seluruh pertanyaan. termasuk didalamnya tentang ilmu. Pendidikan yaitu semakin tinggi tingkat pendidikan maka ia akan mudah menerima hal-hal baru dan mudah menyesuaikan dengan hal-hal yang baru tersebut. kalau positif akan menimbulkan sikap positif demikian sebaliknya (Green dalam Notoadmodjo. 4. tingkat pendidikan tinggi. Pengalaman. Kultur yaitu budaya sangat berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan seseorang. Kurang : Bila jawaban benar mencapai kurang dari 56% dari seluruh pertayaan.1. 2.

Kerangka Konsep Operasi seksio sesarea merupakan suatu tindakan medis yang dilakukan pada ibu hamil trisemester akhir. A. Tingkat kecemasan Pasien Pre Operasi v Tingkat Pendidikan v Pengetahuan Variabel Indevenden Variabel Devenden . B.1. Rancangan Penelitian dan Jenis Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian secara Deskriptif dengan menggunakan desain penelitian cross sectional yang merupakan rancangan penelitian dengan menggunakan pengukuran atau pengamatan pada saat bersamaan (sekali waktu) yang bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat kecemasan pasien pre operasi seksio sesarea ditijau dari tingkat pendidikan dan pengetahuan di Ruang Mawar RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu Tahun 2008. kurangnya informasi yang benar tentang seksio sesarea serta tehnik operasi yang akan dijalani akan menambah kecemasan pasien dalam menjalani operasi seksio sesarea sehingga dapat memperburuk proses tindakan dan pemulihan setelah menjalani operasi pembedahan.

Populasi dan Sampel 1. Sampel . Populasi Populasi adalah keseluruhan subject penelitian yang akan diteliti (Notoatmodjo. SLTP) 1= Menengah (SMA) 2= Tinggi (PT) 0= Kurang (bila jawaban benar 05) 1= cukup (bila jawaban benar 67) 2= baik bila jawaban 8-10). M.C. 3 Pengetahuan Segala sesuatu yang Mengajukan Questioner diketahui oleh pertanyaan pasien tentang operasi seksio sesarea Ordi nal D. Pendidikan terakhir Mengajukan Questioner yang pernah diraih pertanyaan responden Ordi nal 0= Dasar (SD. 1997). 1. Sedang : nilai 14-18 2 Tingkat Pendidikan Kondisi yang Melihat Ceklis mengambarkan lang perasaan takut terhadap proses sung operasi/pembedahan yang ingin dijalani pasien. Populasi dalam penelitian ini pasien yang akan menjalani operasi seksio sesarea di ruang mawar RSUD Dr. Berat : nilai 1929 Hasil Ukur a. Definisi Operasional No Variabel 1 Tingkat Kecemasan Definisi Cara Ukur Alat Ukur Skala Ukur Ordi nal b. Yunus Bengkulu.

2. dikumpulkan melalui lembar kuesioner dan ceheck list. observasi. 1. Pengolahan data . 1998).Sampel adalah sebagian yang diambil dari populasi (Arikunto. Instrumen pengumpulan data Dalam penelitian ini instrumen yang digunakan yaitu Wawancara. Waktu dan Tempat Penelitian 1. Yunus Bengkulu. E. Teknik Pengolahan. Jenis data . Tempat Penelitian ini dilakukan di Instalasi Rawat Inap Ruang Mawar RSUD Dr. 1. G. palpasi dan menggunakan angket dengan cara menyebarkan kuesioner pada pasien yang akan mejalani operasi seksio sesarea untuk menentukan tingkat pendidikan. Teknik Pengumpulan Data 1. Yunus Bengkulu dari tanggal 28 Juni sampai dengan 12 Juli 2008. 3. pengetahuan. Dalam penelitian ini sampel yang diambil menggunakan tekhnik pengambilan data dengan Accident Sampling. Cara pengumpulan data Dalam upaya untuk mendapatkan data-data atau informasi yang jelas dan akurat. palfasi dan menggunakan lembar kuisioner yang digunakan untuk memperoleh data. F. dimana sampel yang menjadi objek penelitian adalah pasien yang akan menjalani operasi secsio sesarea di Ruang Mawar Dr. Analisa dan Penyajian Data. M. 1. M. 1.Data Primer yaitu data yang langsung didapat dari responden yang berisikan tentang pendidikan. 1. dan tingkat kecemasan pasien pre operasi seksio sesarea. observasi. pengetahuan terhadap tingkat kecemasan. Waktu Waktu penelitian ini dilakukan sejak tanggal 28 Juni sampai dengan 12 Juli 2008. data yang dikumpulkan dalam penelitian ini diperoleh melalui wawancara.

menengah 1. b.wordpress. berat 2. pendidikan dasar 0. pengetahuan kurang 0. Analisa Univariat analisa univariat yaitu seluruh variabel yang akan digunakan dalam analisa ditampilkan dalam distribusi frekuensi. sedang 1. tingkat kecemasan ringan 0. 2. tinggi 2. Pengkodean data (Coding) Coding adalah mengalokasikan jawaban-jawaban yang ada menurut macamnya kedalam bentuk yang lebih ringkas yang menggunakan kode-kode agar lebih mudah dan sederhana. Pengeditan datan (Editing) Langkah ini dilakukan peneliti untuk memeriksa kembali kelengkapan data yang diperlikan untuk mencapai tujuan penelitian dilakukan pengelompokan dan penyusunan data. Analisa univariat untuk melihat distribusi frekuensi dari masing-masing variabel indevenden dan devenden dengan menggunakan rumus : P= Keterangan : P : Jumlah persentase yang dicari F : Jumlah frekuensi untuk setiap katagori n : Jumlah sampel http://kutaukomputer. Analisa Data Dalam penelitian ini digunakan analisa univariat dan analisa bivariat. Analisa univariat untuk melihat distribusi.com/2011/12/16/gambaran-tingkat-kecemasan-ditinjau-dari-tingkatpendidikan-dan-pengetahuan-pasien-pre-operasi-seksio-sesarea-di-ruang-mawar-rsud-dr-m-yunusbengkulu/ 222222222 .Data yang dikumpulkan selanjutnya diolah dengan beberapa tahapan yaitu : a. a. maka dilakukan tabulasi data dengan memberi skore pada masing-masing sub variabel. Tabulasi data (Tabulating) Setelah dilakukan coding data. baik 2. cukup 1. c.

id/handle/123456789/24606 091121032 Dukungan keluarga adalah sikap.id/handle/123456789/24606?mode=full 3333333333 .7%.date. dimana didapat nilai r = 0.abstract digunakan adalah statistik univariat dan statistik bivariat. Mula Sitohang.description Value Language en_US Tarigan. Hasil penelitian diperoleh bahwa dukungan keluarga yang terbesar adalah kategori baik 53. Kecemasan merupakan bagian dari kehidupan manusia yang ditandai dengan perasaan ketakutan atau kekhawatiran yang mendalam dan berkelanjutan.contributor.available dc. Untuk peneliti keperawatan selanjutnya disarankan agar dapat melakukan pendidikan kesehatan dan memberikan motivasi kepada keluarga dalam memberikan dukungan pada pasien pre operasi untuk mengurangi tingkat kecemasan pasien pre operasi.description.identifier. http://repository.2%.date. Besar sampel adalah 62 orang dengan metode pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling.398 dan nilai p = 0. Analisa data yang dc.identifier.ac. Anggota keluarga memandang bahwa orang yang bersifat mendukung selalu siap memberikan pertolongan dan bantuan jika diperlukan.8% dan yang paling sedikit adalah kategori berat 24. tindakan dan penerimaan keluarga terhadap penderita yang sakit.usu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di ruangan RB2 Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan. Desain penelitian yang digunakan adalah desain studi korelasional.Untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi digunakan uji Spearman.contributor.advisor dc.uri dc.issued dc.2% dan paling sedikit adalah kategori kurang 17. Ruspina Jenita 2011-05-19T03:34:25Z 2011-05-19T03:34:25Z 2011-05-19 Fredo Hasugian http://repository.advisor dc.01.usu. Nur Asnah Nadeak.date.accessioned dc.ac.contributor.other dc.Full metadata record DC Field dc. Untuk tingkat kecemasan kategori tertinggi adalah ringan 46.author dc.

Skripsi thesis. PARYANTO (2009) PERBEDAAN TINGKAT KECEMASAN PASIEN PRE OPERATIF SELAMA MENUNGGU JAM OPERASI ANTARA RUANG RAWAT INAP DENGAN RUANG PERSIAPAN OPERASI RUMAH SAKIT ORTOPEDI SURAKARTA. Universitas Muhammadiyah Surakarta. TAMPILKAN FULLTEXT PDF 62Kb Preview PDF Restricted to Repository staff only 1108Kb Official URL Abstract .PERBEDAAN TINGKAT KECEMASAN PASIEN PRE OPERATIF SELAMA MENUNGGU JAM OPERASI ANTARA RUANG RAWAT INAP DENGAN RUANG PERSIAPAN OPERASI RUMAH SAKIT ORTOPEDI SURAKARTA PARYANTO.

DR. hingga operasi pembedahan.ac. Kesimpulan. tahun 2006 : 3827 pasien ( 6. tahun 2007 : 4143 ( 8. '07 12:12 AM para Todos Dunia pengobatan semenjak dahulu selalu berjalan seiring dengan kehidupan umat manusia. Metode. Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan tingkat kecemasan pasien pre operatif selama menunggu jam operasi diruang rawat inap dengan ruang persiapan operasi Instalasi Bedah Sentral di Rumah Sakit Ortopedi Prof. jumlah tindakan bedah di IBS Rumah Sakit Ortopedi Prof DR R Soeharso Surakarta tahun 2005 : 3589 pasien. Setiap kali penyakit muncul. Ansietas adalah keadaan suasana perasaan (mood) yang ditandai oleh gejala-gejala jasmaniah seperti ketegangan fisik dan kekhawatiran tentang masa depan. pembekaman. Karena sebagai mahluk hidup. yang diyakini berkhasiat menyembuhkan jenis penyakit tertentu.Kecemasan (ansietas) adalah respon psikologik terhadap stres yang mengandung komponen fisiologik dan psikologik. Keinginan untuk terlepas dari segala macam penyakit inilah yang mendorong manusia untuk membuat upaya menyingkap berbagai metode pengobatan. R.id/4455/ 444444 Meditasi dengan Al Qur‟an Sep 5.Dzikir. mulai dari mengkonsumsi berbagai jenis obat-obatan. Sementara banyak manusia yang tidak menyadari bahwa Allah tidak pernah menciptakan manusia dengan ditinggalkan begitu saja. Soeharso Surakarta. manusia amatlah akrab dengan berbagai macam penyakit ringan maupun berat. Hanya ada manusia yang mengetahuinya dan ada juga yang tidak mengetahuinya. oleh karena itu berbagai kemungkinan buruk bisa terjadi yang akan membahayakan pasien. Dengan pengobatan yang tepat (tentunya berdasarkan pengetahuan .99 termasuk kategori sedang. http://etd. Teknologi medis boleh saja semakin modern dan canggih. atau sistim pemijatan.000 pada tingkat signifikansi 5% berarti terbukti ada perbedaan tingkat kecemasan pasien pre operatif selama menunggu jam operasi antara ruang rawat inap dengan ruang persiapan operasi di Rumah Sakit Ortopedi Surakarta dengan signifikansi .6 % ). Data dari laporan tahunan Instalasi Bedah Sentral (2008). Uji Mann Whiney U Test diperoleh nilai koefisien Mann-Whitney U sebesar 2505.2 % ) pasien dan pada tahun 2008 : 3827 pasien ( turun 2 % dibanding tahun 2007 ). namun perkembangan jenis penyakit juga tidak kalah cepatnya ber-regenerasi.02 dan tingkat kecemasan di ruang persiapan operasi mencapai skor 17. Namun tentu semua jenis pengobatan dan obat-obatan tersebut hanya terasa khasiatnya bila disertai dengan sugesti dan keyakinan. Tindakan operasi atau pembedahan merupakan pengalaman yang bisa menimbulkan kecemasan. Tingkat kecemasan diruang rawat inap rata-rata ringan yaitu skor 12. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan alat ukur yang digunakan adalah kuesioner Hamilton Rating Scale for Anxiety (HRS-A). maka Islam mengenal istilah do‟a dan keyakinan. Semua dilakukan dengan trial dan error. Disinilah kekuatan Do‟a . baik berupa tumbuh-tumbuhan secara tunggal maupun yang sudah terkomposisikan. Analisis statistik menggunakan Mann Whiney U Test. Kecemasan timbul pada pasien pre operasi ketika menunggu jam operasi diruang rawat inap dan kondisi ini meningkat ketika pasien berada di ruang persiapan operasi. pasti Allah juga menciptakan obatnya.000 dan probability value (r-value) sebesar 0.Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian survey dengan rancangan penelitian Discriptive Comparative dan pengambilan sampel mengunakan Quota Sampling untuk memperoleh 94 responden.ums.eprints. Tujuan.

„meditasi‟ dianggap sebagai proses „berpikir‟. dzikir. Meditation is serious thought or study. ternyata tidak sekedar ritual-ritual tanpa makna. samadhi yang juga disebut dhyana atau pranayama.” (Oxford Advanced Learner‟s Dictionary). strooke. tafakur (meditasi). Meditasi. esp. tidak ada penyakit yang tidak bisa disembuhkan terkecuali maut. either as a religious activity or as a way of becoming calm and relaxed: prayer and meditation. „meditasi‟ adalah “pemusatan perhatian pada suatu obyek batin secara terusmenerus. Jadi jelas meditasi itu sebenarnya baik bagi kesehatan. kerusakan kromosom/ DNA. or the product of this activity. seperti sholat.dan pengalaman puluhan tahun). terutama untuk alasan keagamaan atau untuk membuat batin tenang. PENGERTIAN MEDITASI Perkataan Meditasi itu sendiri diserap dari bahasa Latin. Dibalik praktik-praktik sufi tersebut. . adalah pemusatan pikiran dan perasaan untuk mencapai sesuatu. Merujuk pada praktek-praktek agung tasawuf praktis. for a long time · if you meditate. Samedi itu artinya meditasi dalam bahasa Sangsekerta atau dalam bahasa Ibrani = hagah. Meditasi adalah latihan konsentrasi yang dapat digunakan untuk mempertajam tehnik dan meningkatkan kepekaan terhadap suasana sekitar. dosis obat yang sesuai disertai doa dan keyakinan. Pada dasarnya. Dalam kamus yang bersifat umum ini. dan jenis-jenis penyakit emosional.penyakit yang tidak bisa disembuhkan oleh kedokteran modern. Sedangkan pengertian meditasi dalam kamus Cambridge International Dictionary of English. meditatio yang berarti merenungkan dan juga berakar dari kata Mederi (kesehatan) dari kata ini pula diserap kata medisin. Dalam bahasa Indonesia. Untuk mengatasinya bisa dengan latihan meditasi. adalah: Meditate is to think seriously (about something). yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. and do not think about anything else. Bahwa untuk mengatasi kekecewaan. you give your attention to one thing.” Memang ada obyek-obyek meditasi tertentu yang berupa pikiran atau ide/konsep. tetapi kata meditasi itu lebih dikenal dengan nama samedi yang diserap dari bahasa Sansekerta. akan ternyata bahwa di dalam „meditasi‟ justru proses berpikir berhenti untuk sementara. Dalam Alkitab bahasa Inggris perkataan tsb diterjemahkan sebagai Meditation. Meditation is also the act of giving your attention to only one thing. kita harus mencari sumbernya dulu yaitu pikiran. Ini hampir sama dengan „kontemplasi‟ yang didefinisikan secara persis sama. Kata „meditasi‟ [meditation] didefinisikan sebagai “praktek berpikir secara mendalam dalam keheningan. Belajar meditasi merupakan bagian dari latihan mengendalikan pikiran. psikologis dan non medis. praktik-praktik sufi. seperti kanker. Tetapi kalau dikaji secara lebih mendalam dan dipraktekkan. usually as a religious activity or as way calming or relaxing your mind. Jadi bermeditasi adalah memusatkan pikiran dan perasaan untuk mencapai sesuatu. sehingga terjadi tumpang tindih dan tidak dapat dibedakan secara tegas antara „meditasi‟ dan „kontemplasi‟. tersimpan potensi-potensi penyembuhan bagi penyakit.

Sedangkan tujuan meditasi ialah melatih pikiran. Justru pemahaman yang diperoleh dari meditasi jauh lebih tepat dan sesuai dengan keadaan sebenarnya dibandingkan dengan pemahaman dari introspeksi yang dipengaruhi oleh kebiasaan-kebiasaan pikiran yang tidak disadari sehingga memberikan hasil yang bias. Dan ada juga yang mengartikan bahwa meditasi adalah sebuah pelatihan yang menggunakan pikiran untuk tujuan mengatur pikiran dengan usaha kita. yang berbeda dengan introspeksi. tidak juga mempunyai kwalitas atau lambang-lambang. oleh karena pemahaman itu melibatkan seluruh aspek diri (kognitif. dalam keadaan tenang. Karena Yang Tertinggi tidak mempunyai bentuk dan tidak mempunyai nama. tidak berbentuk. atau ke antara alis mata untuk membangkitkan mata spiritual. Perbedaan Konsentrasi dan Meditasi Terdapat perbedaan jelas antara konsentrasi dan meditasi. Di lain pihak. sehingga ia menurut perintahnya sang Pribadi.Dengan demikian. dan beristirahat/ berhenti pada pokok yang dipilih. tidak bernama. Kita meditasi pada yang abstrak. tidaklah kosong sama sekali. Meditasi dapat didefinisikan sebagai suatu aktivitas yang mengakibatkan hubungan erat beberapa orang dengan Tuhan. dan menghentikan sifatnya yang bergerak kian kemari dan tidak menentu. meditasi adalah cara lain untuk memahami diri. Ada juga yang memberi pengertian bahwa meditasi yang sering kita dengar mempunyai pengertian yaitu: sikap menenangkan pikiran dengan cara-cara tertentu di mana pikiran kita sampai menemukan sensasi-sensasi sehingga menimbulkan rasa damai dalam hati untuk mencapai ketenangan jiwa (ruhani). dsb). MANFAAT MEDITASI .pemahaman diri yang diperoleh dari meditasi bersifat transformatif (mengubah). Atau dengan kata lain. lebih baik pada hal yang mengandung arti yang dalam dan rohaniah. afektif. Di samping itu. sehingga biasanya tidak banyak perubahan yang terjadi. hal ini dianggap bukanlah bagian/tahapan meditasi. Dalam ajaran Budha terdapat sebuah tahapan meditasi. yaitu Dharana yang berarti pemusatan perhatian tanpa paksaan. ataupun ke cakra jantung untuk memberikan lebih banyak kekuatan kepada roh. Tidak dianjurkan bagi anda untuk berada dalam keadaan kosong seratus persen karena ini mungkin dapat membiarkan masuknya kekuatan dari luar yang dapat mengganggu. Sebagaimana namanya pemusatan perhatian. meskipun keduanya dalam pelaksanaannya berhubungan. volisional. sehingga pokok-caranya dapat membukakan kesadaran yang sedang bermeditasi akan arti makna yang lebih luas dan dalam. konsentrasi adalah sebuah upaya keras (baca: dipaksa) untuk memusatkan pada sesuatu. perhatian anda tertunjukkan pada sesuatu. Meditasi tingkat tinggi biasanya mengajarkan untuk memusatkan perhatian ke cakra mahkota untuk menerima lebih banyak kekuatan spiritual. Latihan-latihan konsentrasi adalah suatu pendidikan kembali mengenai tekniknya pikiranrendah. Jadi. Pemusatan perhatian tidaklah berarti anda kosong. Pengertian konsentrasi ialah untuk memahami dan menguasai pikiran-perasaan sehingga ia tidak lagi menanggapi dengan kacau terhadap suatu peristiwa. pemahaman melalui introspeksi kebanyakan hanya bersifat kognitif saja.

yang menurut kepercayaan mereka sesuai dengan irama gerakan alam. dan kemudian pada penyelidikan Transcendental Meditation.Menurut ajaran Buddhis. Meditasi bisa mengurangi kecemasan telah diselidiki oleh tokoh-tokoh sarjana Barat. meditasi adalah suatu cara untuk mengembangkan bathin menuju taraf kesempurnaan yang selanjutnya menjadi dasar dari kebijaksanaan. seperti pada penyelidikan Zen Meditation.yaitu usaha intensif untuk memfokuskan pikiran pada mantra. Latihan meditasi dengan pemusatan fikiran pada pernafasan disebut Anaspanasati. Cara mendapatkan zat gaib atau prana tadi ialah dengan jalan pernafasan yang diatur dengan irama tertentu. Tetapi kajian di barat juga telah membuktikan 33% hingga 50% mereka yang melakukan meditasi tanpa teknik yang betul akan mengalami peningkatan dalan tekanan darah. Meditasi dalam agama Yahudi dikenal dengan nama hitbonenut ini bisa dibaca di Kabbalah sedangkan bangsa Yunani kuno mengenal meditasi dengan nama “Gnothi se auton” = “mengenal diri sendiri”. membawa pada kecerdasan otak. Beberapa cara meditasi melibatkan pengulangan suara tertentu secara internal. pastikan anda dilatih oleh mereka benar-benar mahir dan berpengalaman serta mampu memberi penjelasan untuk setiap keadaan. Menurut kepercayaan orang India/Hindu. stress. bahwa di udara bebas ini terdapat unsu-unsur gaib yang bersatu dengan zat asam (oksigen). keheningan dan kejernihan pikiran. yaitu meditasi duduk dan meditasi gerak (Tai-Chi). fikiran tetap terjaga dengan baik dan senantiasa terkontrol. kemurungan serta mudah marah. Meditasi ini juga sering dipraktikkan oleh Nabi Muhammad SAW ketika . Dalam latihan Meditasi Islam. dengan demikian membuahkan jasmani dan rohani yang selalu jernih dan segar. Zat ini mempunyai tenaga gaib yang amat berkuasa untuk berbagai macam kepentingan. namun untuk peningkatan rohani. dan menganjurkan kepada para pelakunya agar tidak terlalu melakukan konsentrasi. maupun dengan alat-alat apapun. konsentrasi tetaplah sangat perlu . antara lain untuk penyembuhan penyakit. justeru dapat mengatasi pelbagai masalah serta meningkatkan produktivitas dan meningkatkan kesehatan. perkara yang harus diperhatikan ialah bagaimana mereka dapat menemukan makna dan tujuan hidup yang memberikan sense of direction. Dengan metode ini. Meditasi duduk ini sebenarnya sudah diperkenalkan oleh Islam jauh sebelum Sidharta Gauthama lahir melalui ajaran Budhi Dharma. Tujuan dari meditasi ini adalah kesunyian yang indah. Teknik seperti itu akan menyegarkan dan membuat orang relaks. Meditasi ada dua macam. Zat tersebut sedemikian halusnya hingga tak dapat ditanggapi dengan panca indera. Unsur-unsur gaib itu berupa zat yang sangat halus sebagai inti dari segala zat yang menjadi roh dari alam. Zat inilah yang mereka beri nama Prana. AGAMA DAN MEDITASI Meditasi bukan hanya dikenal oleh agama yang berasal dari India & Tiongkok saja bahkan hampir disemua agama mereka mempraktekan meditasi. Maka jika anda benar-benar ingin mendalami meditasi. Juga daya fikir bertambah kuat dan tajam.

Adapun definisi Alqur‟an adalah: “Kalam Allah swt. mendakwahkan ajaran-ajaran. yang merupakan mu‟jizat yang diturunkan (diwahyukan) kepada nabi Muhammad saw. Al Isra/17: 82) “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. dia tidak terus tinggal di sana. asal kata qara`a. Seperti halnya meditasi duduk. Sebaliknya. Kata Alqur‟an itu berbentuk masdar dengan arti isim maf‟ul yaitu maqru` (dibaca). Al Qur’an dan Kesehatan Arti Qur‟an menurut pendapat yang paling kuat seperti yang dikemukakan Dr. “Hai manusia. dan melakukan apa yang dalam istilah sekarang disebut sebagai transformasi sosial. menjauhkan diri dari masyarakat.” (QS. ISLAM DAN MEDITASI Salah satu fase penting yang secara simbolik sering disebut sebagai mencerminkan corak misi yang dibawa oleh Nabi Muhammad adalah saat dia bertahannuts atau melakukan meditasi di Hira. ia balik ke kota. Tetapi dijadikan tempat untuk mengoreksi ayat-ayat Alqur‟an yang telah diterimanya.” Banyak ayat Al Qur‟an yang mengisyaratkan tentang pengobatan karena AlQur‟an itu sendiri diturunkan sebagai penawar dan Rahmat bagi orang-orang yang mukmin. Nabi saw pergi ke gua Hira hanya untuk bertemu dengan malaikat Jibril dengan tujuan tasmi? (memperdengarkan) hafalan Alqur‟an beliau dihadapan Jibril. Maka.” (QS. “Dan kami menurunkan Al Qur’an sebagai penawar dan Rahmat untuk orang-orang yang mu’min. Ar Ra’d/13: 28) Menurut para ahli tafsir bahwa nama lain dari Al Qur‟an yaitu “Asysyifâ” yang artinya secara Terminologi adalah Obat Penyembuh. meditasi gerak juga sudah ada dalam ajaran Islam yaitu dalam bentuk gerakan shalat. sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Pada saat selanjutnya.sebelum dan sesudah diangkat menjadi Nabi dan Rasul. sebuah gua di luar kota Mekah. menikmati meditasi yang soliter. Beliau melakukan meditasi di Gua Hira.” (QS. hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tentram. dan ditulis di mushaf dan diriwayatkan dengan mutawatir serta membacanya adalah ibadah. Yunus/10: 57) . ketika menghadapi masalah yang menimpa diri dan umatnya. Ingatlah. Gua Hira bukanlah tempat bertahannuts seperti yang dilakukan beliau sebelum diangkat menjadi Rasul. yang pada saat itu disebut dengan berkhalwat dan tahannuts. telah datang kepadamu kitab yang berisi pelajaran dari Tuhanmu dan sebagai obat penyembuh jiwa. Subhi Al Salih berarti „bacaan‟. Setelah nabi mendapat wahyu pada 610 M.

Selanjutnya ia berkata.” (HR Bukhori) “Siapa saja yang disibukkan oleh Alqur’an dalam rangka berdzikir kepada-Ku. membiasakan melaksanakan ibadah salat malam.” (HR. korma. sesungguhnya pada hal-hal yang demikian terdapat tanda-tanda Kekuasaan Allah bagi orang-orang yang mau memikirkan”. Banyak pula hadits Nabi yang menerangkan tentang keutamaan membacanya dan menghafalnya atau bahkan mempelajarinya. sebuah kitab yang mengupas tata krama mencari ilmu berkata. Di alamnya terdapat tandatanda Kekuasaan Allah bagi orang-orang yang mau memikirkan”. seperti zaitun. menyedikitkan makan. mereka diliputi dengan rahmat. Al Qur‟an sebagai Penyembuh (Alqur‟an asy Syâfî). anggur dan buahbuahan lain selengkapnya. dapat dipastikan bahwa orang yang membaca Alqur‟an akan merasakan ketenangan jiwa. 1995). Muslim) “Hendaklah kamu menggunakan kedua obat-obat: madu dan Alqur’an” (HR. Semarang. “Tak ada lagi bacaan yang dapat meningkatkan terhadap daya ingat dan memberikan ketenangan kepada seseorang kecuali membaca Alqur‟an”. malaikat menaungi mereka dan Allah menyebut-nyebut mereka pada makhluk yang ada di sisi-Nya”.obatan. Achmad Sunarto. Ibnu Majah dan Ibnu Mas’ud) Dan masih banyak lagi dalil yang menerangkan bahwa berbagai penyakit dapat disembuhkan dengan membaca atau dibacakan ayat-ayat Alqur‟an (lihat Assuyuthi. “Dia menumbuhkan tanaman-tanaman untukmu. I. (HR. Dari perut lebah itu keluar minuman madu yang bermacam-macam jenisnya dijadikan sebagai obat untuk manusia. kecuali turun kepada mereka ketentraman. Walaupun tidak dibarengi dengan data ilmiah. “Terdapat beberapa hal yang dapat menyebabkan seseorang kuat ingatan atau hafalannya. serta tempuhlah jalan-jalan yang telah digariskan tuhanmu dengan lancar. Surya Angkasa Semarang. (QS.Di samping Al Qur‟an mengisyaratkan tentang pengobatan juga menceritakan tentang keindahan alam semesta yang dapat kita jadikan sebagai sumber dari pembuat obat. dan membaca Alquran sambil melihat kepada mushaf”. (QS. cet. . At Turmudzi) “Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah (masjid) Allah. Jalaluddin. terj. An-Nahl 16:11) “Dan makanlah oleh kamu bermacam-macam sari buah-buahan. dan memohon kepada-Ku. Syaikh Ibrahim bin Ismail dalam karyanya Ta‟lim al Muta‟alim halaman 41. mereka membaca Alqur’an dan mempelajarinya. “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Alqur’an dan mengajarkannya. An-Nahl 16: 69) Berdasarkan keterangan tadi. seperti keutamaan Allah atas makhluk-Nya. niscaya Aku akan berikan sesuatu yang lebih utama daripada apa yang telah Aku berikan kepada orang-orang yang telah meminta. CV. Di antaranya. Dan keutamaannya Kalam Allah daripada seluruh kalam selain-Nya.

Dr. simaklah dengan baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat” (Q. baik mereka yang berbahasa Arab maupun bukan.S. Al Qadhi. dapat merasakan perubahan fisiologis yang sangat besar. Atau juga. 7: 204). Sungguh suatu kebahagiaan dan merupakan kenikmatan yang besar. Objek penelitiannya terhadap 5 orang sukarelawan yang terdiri dari 3 pria dan 2 wanita. Kesimpulan hasil uji coba tersebut diperkuat lagi oleh penelitian Muhammad Salim yang dipublikasikan Universitas Boston. Penurunan depresi. memperoleh ketenangan jiwa. Penelitian yang dilakukan sebanyak 210 kali ini terbagi dua sesi. ketahanan otot. Penelitian Dr. suatu yang menjadi penawar (obat) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Alquran itu tidaklah menambah kepada orangorang yang zalim selain kerugian” (Q. Selain menjadi ibadah dalam membacanya. Alquran memberikan pengaruh besar jika diperdengarkan kepada bayi. Kelima orang tersebut sama sekali tidak mengerti bahasa Arab dan mereka pun tidak diberi tahu bahwa yang akan diperdengarkannya adalah Alqur‟an. bacaan Alquran lebih dari itu.17:82). yakni membacakan Alquran dengan tartil dan membacakan bahasa Arab yang bukan dari Alqur‟an. responden mendapatkan ketenangan sampai 65% ketika mendengarkan bacaan Alquran dan mendapatkan ketenangan hanya 35% ketika mendengarkan bahasa Arab yang bukan dari Alqur‟an. Dalam laporan sebuah penelitian yang disampaikan dalam Konferensi Kedokteran Islam Amerika Utara pada tahun 1984. berhasil membuktikan hanya dengan mendengarkan bacaan ayat-ayat Alquran. detak jantung. dan ketahanan kulit terhadap aliran listrik. disebutkan. Jika mendengarkan musik klasik dapat memengaruhi kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosi (EQ) seseorang. menangkal berbagai macam penyakit merupakan pengaruh umum yang dirasakan orang-orang yang menjadi objek penelitiannya. Penelitiannya ditunjang dengan bantuan peralatan elektronik terbaru untuk mendeteksi tekanan darah. melalui penelitiannya yang panjang dan serius di Klinik Besar Florida Amerika Serikat. Nurhayati dari Malaysia dalam Seminar Konseling dan Psikoterapi Islam di Malaysia pada tahun 1997. Al Qadhi ini diperkuat pula oleh penelitian lainnya yang dilakukan oleh dokter yang berbeda. kita memiliki Alquran. Kesimpulannya. Selain memengaruhi IQ dan EQ. Hal tersebut diungkapkan Dr. bayi yang berusia 48 jam yang kepadanya diperdengarkan ayat-ayat Alquran dari tape recorder menunjukkan respons tersenyum dan menjadi lebih tenang.S. “Dan Kami telah menurunkan dari Alquran. bacaan Alquran berpengaruh besar hingga 97% dalam melahirkan ketenangan jiwa dan penyembuhan penyakit. Alquran terbukti mampu mendatangkan ketenangan sampai 97% bagi mereka yang men dengarkannya. bacaannya memberikan pengaruh besar bagi kehidupan jasmani dan rohani kita. Menurut penelitiannya. Dari hasil uji cobanya ia berkesimpulan. kesedihan. “Dan apabila dibacakan Alquran. Mahabenar Allah yang telah berfirman. . Penemuan sang dokter ahli jiwa ini tidak serampangan. bacaan Alquran memengaruhi kecerdasan spiritual (SQ). seorang Muslim.

psikologis. Membaca Alqur‟an tidak seperti membaca bacaan-bacaan lainnya. yang oleh kaum Muslim diartikan bahwa petunjuk yang dikandungnya akan membawa manusia pada kesehatan spiritual. 13: 28). dan mendengarkannya. salah satu unsur yang dapat dikatakan meditasi dalam Alquran adalah. Membaca Alqur‟an harus tanpa nafas . Zakiah Daradjat mengatakan bahwa sembahyang. Pada eksperimen Plotonov. berita-berita kabar gembira bagi orang yang beriman dan beramal sholeh. kata-kata yang digunakan adalah tidur. auto sugesti. “Dan apabila dibacakan Alqur’an.S. memperhatikan dan berdekatan dengannya ialah bahwasanya Alqur‟an itu dibaca di sisi orang yang sedang menderita sakit sehingga akan turun rahmat kepada mereka. Banyak sekali nasihat-nasihat. Unsur Meditasi Al Qur’an Kitab ini. Membaca. Maka. Allah saw menjelaskan. maka dengarkanlah baik-baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat. adalah hukum. Kesembuhan menggunakan Alqur‟an dapat dilakukan dengan membaca. yang dalam istilah Alqur‟an sendiri.ukum bacaan yaitu waqaf. ahsan alhadits. tidur dan memang individu tersebut akhirnya tertidur.” (QS. Aspek Auto Sugesti Alqur‟an merupakan kitab suci umat Islam yang berisikan firman-firman Allah. “Ingatlah. pertama. Relaksasi Aspek Waqof Alqur‟an adalah sebuah kitab suci yang mempunyai kode etik dalam membacanya.Atau. tentu saja bukanlah sebuah buku sains ataupun buku kedokteran. hanya dengan berdzikir kepada Allah-lah hati menjadi tentram” (Q. Pikiran dan tubuh dapat berinteraksi dengan cara yang amat beragam untuk menimbul kan kesehatan atau penyakit. dan kedua. do‟a-do‟a dan permohonan ampun kepada Allah. Kata-kata yang penuh kebaikan sering memberikan efek auto sugesti yang positif dan yang akan menimbulkan ketenangan. berdekatan dengannya. alqur‟an berisikan ucapan-ucapan yang baik. namun Alqur‟an menyebut dirinya sebagai „penyembut penyakit‟. Al A’raf: 204) Menurut hemat penulis. semuanya merupakan cara-cara pelegaan batin yang akan mengembalikan ketenangan dan ketentraman jiwa kepada orang-orang yang melakukannya. mendengar. dan berita-berita ancaman bagi mereka yang tidak beriman dan atau tidak beramal sholeh. dan fisik. Platonov telah membuktikan dalam eksperimennya bahwa kata-kata sebagai suatu Conditioned Stimulus (Premis dari Pavlov) memang benar-benar menimbulkan perubahan sesuai dengan arti atau makna kata-kata tersebut pada diri manusia.

yaitu apabila terdapat mad bertemu dengan hamzah dalam kalimat yang terpisah. yaitu apabila terdapat mad bertemu dengan hamzah dalam satu kalimat. yang telah berguru kepada imam „Ashim. Waqaf dalam Alquran > Tanda awal atau akhir ayat > Tanda awal atau akhir surat > Tanda-tanda waqaf Kemampuan nafas pembaca Siapa saja bisa boleh membaca Alqur?an. 3. baik pria maupun wanita selagi mereka dalam keadaan suci atau berwudlu. Jadi cara membaca Alqur‟an itu bisa disesuaikan dengan tanda-tanda waqaf dalam Alqur‟an atau disesuaikan dengan kemampuan si pembaca dengan syarat bahwa bacaan yang dibacanya tidak berubah arti atau makna. muda maupun tua. Mengikuti tanda-tanda waqof yang ada dalam Alqur‟an. Berhenti berdasarkan kemampuan nafas pembaca. Indonesia adalah negara yang mayoritas umat Islam menerapkan hukum-hukum membaca Alqur‟an menurut Rowi. Mad Badal. kedudukannya tidak dihukumi wajib syar‟i bagi yang melanggarnya. Jika si pembaca berhenti pada tempat yang tidak semestinya maka dia harus membaca ulang kata atau kalimat sebelumnya. Mad Muttashil. Waqof artinya berhenti di suatu kata ketika membaca Alqur‟an.dalam pengertian sang pembaca harus membaca dengan sekali nafas hingga kalimat-kalimat tertentu atau hingga tanda-tanda tertentu yang dalam istilah ilmu tajwid dinamakan waqaf. bisa dikategorikan dalam bagian-bagian waqaf. Waktu Meditasi dengan Alqur’an . Hafsh. Cara baca hukum ini 4 harakat. Adapula beberapa penekanan nafas dalam membaca Alqur‟an. Adapun hukumhukum bacaan mad dalam ilmu Tajwid menurut Rowi Hafsh adalah: 1. dalam ilmu tajwid. Cara membaca hukum ini adalah 4 harakat. baik di akhir ayat maupun di tengah ayat dan disertai nafas. yaitu apabila terdapat hamzah yang berharakat bertemu dengan huruf mad yang sukun. Cara membaca hukum ini adalah 2 harakat. Mad Munfashil. Penekanan-penekanan tersebut dalam ilmu tajwid dinamakan mad. Walaupun jika berhenti dengan sengaja pada kalimat-kalimat tertentu yang dapat merusak arti dan makna yang dimaksud. maka hukumnya haram. baik anak kecil. 2. Jadi bagaimanapun kemampuan mereka bernafas mereka boleh membaca Alqur‟an.

mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari. Allah telah memilih zaman. Allah telah memilih hari-hari.Pada hakikatnya tidak ada waktu yang makruh untuk membaca/meditasi Alqur‟an. maka zaman yang lebih dicintai Allah ialah bulan-bulan haram. Allah telah memilih waktu-waktu malam dan siang. hanya saja memang ada beberapa dalil yang menerangkan bahwa ada waktu-waktu yang lebih utama dari waktu-waktu yang lainnya untuk membaca Alqur‟an. Ali Imron 3:113) Waktu malam ini pun dibagi menjadi 2: > antara waktu Maghrib dan Isya > bagian malam yang terakhir 3. Waktu-waktu tersebut adalah: 1. baik makna-maknanya.com/journal/item/34 55555 . maka negeri-negeri yang lebih dicintai Allah ialah negeri al Haram (Mekkah). Hari-hari bulan Dzulhijjah yang lebih dicintai Allah ialah sepuluh hari yang pertama.multiply.“ 2. maka waktu yang lebih dicintai Allah ialah waktu-waktu sholat yang lima waktu. „Waktu-waktu pilihan yang paling utama untuk membaca Alqur‟an ialah dalam sholat.‟ Al Baihaqi meriwayatkan dalam asy Syu‟ab dari Ka‟ab r. Dalam sholat An-Nawawi berkata. Dan bulan yang lebih dicintai Allah ialah bulan dzulhijjah. Allah telah memilih kalam-kalam (perkataan). maka kalam yang dicintai Allah adalah lafadz „La ilâha illallâh wallâhu akbar wa subhanallâhi wal hamdulillâh.” (QS. “Di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus. ia berkata: “Allah telah memilih negeri-negeri. maka hari yang lebih dicintai Allah ialah hari Jum?at. cara membacanya maupun http://musiconlinecairo. Malam hari Waktu-waktu yang paling utama untuk membaca Alqur‟an selain waktu sholat adalah waktu malam. sedang mereka juga bersujud (sholat). Allah menegaskan. Setelah Subuh Sebagai penutup mudah-mudahan ini merupakan langkah awal untuk bisa lebih membuktikan unsur-unsur kesehatan dari Alqur‟an. Malam-malam yang lebih dicintai Allah ialah malam Qadar.a.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful