MODEL ANTRIAN : MULTI CHANEL - SINGLE PHASE (SWALAYAN

)

MAKALAH Untuk memenuhi tugas matakuliah Riset Operasi yang dibina oleh Bapak Hendro Permadi

Oleh Kelompok 3: Taufiq Hidayanto Laili Mu’awanah Gutomo Wibi Ananggih Hario Wisnu D B P Imama Wahidah Siska Oktavia 109311422570 109311422577 109311422585 109311422593 109311426521 209311419786

UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM JURUSAN MATEMATIKA Maret 2012

PENDAHULUAN A. Latar Belakang Teori antrian atau sering disebut sebagai waiting line theory, atau queuing theory mulai dikembangkan oleh ahli mathematik Denmark yang bernama A.K. Erlang, yang mengadakan penelitian dalam lalu-lintas telephone. Sampai dengan saat ini, khususnya setelah perang dunia ke II waiting line theory mempunyai aplikasi yang luas untuk alat operasi perusahaan/manajemen. Persoalan-persoalan yang dapat diselesaikan dengan waiting line theory adalah meliputi bagaimana perusahaan dapat menentukan waktu dan fasilitas yang sebaikbaiknya agar dapat melayani langganan dengan effisien. Di dalam hal ini tentu saja diperhitungkan antara ekstra biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk menambah fasilitas service baru dengan kerugian-kerugian konsumen karena harus menunggu apabila tidak diadakan penambahan fasilitas service yang baru. Sebagai contoh dari persoalana waiting line theory ini adalah konsumen yang antri untuk fotocopy. Disini harus diperhitungkan ongkos-ongkos untuk menambah mesin fotocopy dengan penghematan yang didapat konsumen karena berkurangnya waktu untuk menunggu pelayanan / service. Sebagaimana diketahui apabila konsumen ini merasakan kepuasan karena tidak terlalu lama menunggu, akan menguntungkan perusahaan karena tidak telalu lama menunggu, akan menguntungkan perusahaan yang bersangkutan oleh karena akan menjadi langganan. Contoh yang lain adalah pelayanan/service pada rumah sakit (misalnya bed, kasur dan lain sebagainya). Di dalam rumah sakit ini apabila ada pasien yang baru, harus disediakan bed dengan perlengkapannya. Apabila bed dan perlengkapannya sudah penuh, maka pasien yang baru tidak akan mendapatkan tempat lagi, sehingga tidak dapat dirawat di rumah sakit yang bersangkutan. Suatu proses antrian adalah suatu proses yang berhubungan dengan kedatangan seorang pelanggan pada suatu fasilitas pelayanan, kemudian tahap selanjutnya menunggu dalam suatu barisan atau antrian jika semua pelayanannya sibuk, dan akhirnya pelanggan meninggalkan fasilitas tersebut. Salah satu model antrian yang ada yaitu Multi Channel – Single Phase. Hal inilah yang melatarbelakangi penulis untuk menyusun makalah yang berjudul Model Antrian: Multi Chanel – Single Phase (Swalayan)

Bagaimana contoh aplikasi dan analisis model antrian Multi ChannelSingle Phase (swalayan)? C. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan sebelumnya. Bagaimanakah konsep dasar mengenai model antrian Multi ChannelSingle Phase (swalayan)? 2. Tujuan Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah : 1.B. Bagaimanakah konsep dasar mengenai model antrian Multi ChannelSingle Phase (swalayan)? 2. maka penulis dapat merumuskan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana contoh aplikasi dan analisis model antrian Multi ChannelSingle Phase (swalayan)? .

1 Komponen Proses Antrian Setiap masalah antrian melibatkan kedatangan. Gambar 2. maka akan terjadi baris penungguan dalam waktu yang cukup lama dan juga akan menimbulkan ongkos. Kendall mengenai notasi antrian A/B/C pada tahun 1953. Sebenarnya tujuan utama dari teori antrian ini adalah mencapai keseimbangan antara ongkos pelayanan dengan ongkos yang disebabkan oleh adanya waktu menunggu tersebut.PEMBAHASAN A. Kemudian diperkenalkan lebih dalam oleh David G. Konsep dasar model antrian Multi Chanel – Single Phase (Swalayan) Teori antrian pertama kali dikemukakan oleh A.1. Krarup Erlang. maka akan memerlukan ongkos yang besar. lalu dikuatkan lagi oleh Leonardo Kleinrock dengan mengaplikasikan teori antrian pada jaringan modem packet switching pada awal tahun 1960-an. Pengertian Teori Antrian Teori antrian merupakan teori yang menyangkut studi matematis dari antrian-antrian atau baris-baris penungguan. Misalnya. yaitu insinyur kebangsaan Denmark yang bekerja pada Copenhagen Telephone Exchange pada tahun 1909. 1. Cara terjadinya umumnya merupakan proses acak. sebaliknya jika kapasitas pelayanan kurang. . Komponen dasar proses antrian adalah kedatangan dan pelayanan. Formasi baris-baris penungguan terjadi apabila kebutuhan akan suatu pelayanan melebihi kapasitas yang tersedia. apabila pelayanan terlalu banyak. mobil atau panggilan telepon untuk dilayani. Unsur ini sering dinamakan proses input. Komponen-komponen ini disajikan pada gambar 2. Dalam hal ini. orang. Komponen Proses Antrian Proses antrian yang terjadi sangat sederhana atau sangat kompleks. Proses input meliputi sumber kedatangan atau biasa dinamakan Calling Population.

Pemilihan didasarkan pada suatu anturan tertentu dan setelah itu kemudian unit-unit meninggalkan sistem antrian. serta perilaku dari populasi yang akan dilayani. 1. 4. Aturan pelayanan menurut aturan kedatangan ini dapat didasarkan pada: . Mekanisme Pelayanan Mekanisme pelayanan terdiri atas satu atau lebih fasilitas pelayanan yang masingmasing terdiri atas satu atau lebih saluran paralel. maka unit-unit yang memerlukan pelayanan akan dilayani oleh serangkaian fasilitas.Disiplin Pelayanan Disiplin pelayanan dapat dikelompokkan menjadi dua bagian. Disiplin preemptive : Merupakan disiplin yang menggambarkan situasi dimana pelayan sedang melayani seseorang. Disiplin Antrian Istilah disiplin antrian menyatakan metode suatu set aturan yang digunakan untuk menentukan urutan pekerjaan yang akan dilayani. 6. Dalam waktu tertentu. 2. kemudian beralih melayani orang yang diprioritaskan meskipun belum selesai melayani orang sebelumnya. 5. Struktur Dasar Model-Model Antrian Dalam teori antrian terdapat beberapa struktur dasar model-model antrian. pola kedatangan.2. salah satu diantaranya adalah unit-unit (langganan) yang memerlukan pelayanan yang diturunkan dari suatu sumber input memasuki sistem antrian dan ikut dalam antrian. 3. populasi yang akan dilayani bisa terbatas (finite) bisa juga tidak terbatas (infinite). Input (Populasi) Karakteristik dari populasi yang akan dilayani (calling population) dapat dilihat menurut ukurannya. Jika ada lebih dari satu fasilitas pelayanan. anggota antrian ini dipilih untuk dilayani. Disiplin non preemptive: Disiplin non preemptive merupakan disiplin yang menggambarkan situasi dimana pelayan akan menyelesaikan pelayanannya baru kemudian beralih melayani orang yang diprioritaskan. yaitu preemptive dan non preemptive. Menurut ukurannya.

antrian pada loket pembelian tiket bioskop. Single phasemenunjukkan bahwa hanya ada satu station pelayanan atau sekumpulan tunggaloperasi yang dilaksanakan. misalnya seseorang yang dalam keadaan penyakit lebih berat dibanding dengan orang lain dalam suatu tempat praktek dokter. Diamungkin bergabung dengan populasi asal dan mempunyai probabilitas yangf samauntuk memasuki sistem kembali. dia mungkin bergabung pada satu di antara kategori populasi. Priority Service (PS) artinya. 3. meskipun yang terakhir ini kemungkinan sudah lebih dahulu tiba dalam garis tunggu. Sesudah keluar. Single channel berarti bahwa hanya adasatu jalur untuk memasuki sistem pelayanan atau ada satu fasilitas pelayanan. Service In Random Order (SIRO) artinya. Keluar (Exit) Sesudah seseorang (individu) telah selesai dilayani. prioritas pelayanan diberikan kepada pelanggan yang mempunyai prioritas lebih tinggi dibandingkan dengan pelanggan yang mempunyai prioritas lebih rendah. Single phase menunjukkan bahwa hanya ada satu fasilitas pelayanan. lebih dulu datang (sampai). tidak soal siapa yang lebih dulu tiba. pembelian tiket kertetaapi antarkota kecil yang dilayani oleh satu loket. sistem antrian dalam elevator untuk lantai yang sama. Model-model struktur antrian Ada 4 model struktur antrian dasar yang umum terjadi didalam seluruh sistem antrian: a. FirstCome FirstServed (FCFS) atau FirstIn FirstOut (FIFO) artinya. atau dia mungkin bergabung dengan populasi lainyang mempunyai probalitas lebih kecil dalam hal kebutuhan pelayanan tersebutkembali.1. seorang pelayan took. Misalnya. 2. dansebagainya. Misalnya. LastCome FirstServed (LCFS) atau LastIn FirstOut (LIFO) artinya. individu-individu keluar darisistem. panggilan didasarkan pada peluang secara random. yang tiba terakhir yang lebih dulu keluar. Single Channel-Single Phase Sistem ini adalah yang paling sederhana. Kejadian seperti ini kemungkinan disebabkan oleh beberapa hal. keluar . Setelah menerima pelayanan. 4. 7.Contoh untuk model struktur ini adalah seorang tukang cukur. lebih dulu dilayani (keluar). dia keluar (exit) dari sistem.

Single channel-Multiphase Istilah multiphase menunjukkan ada dua atau lebih pelayanan yang dilaksanakan secara berurutan (dalam phase-phase). Multichannel-Multiphase Contoh model ini yaitu herregistrasi para mahasiswa di universitas. Sebagai contoh model ini adalah pembeliantiket yang dilayani oleh lebih dari satu loket pelayanan potong rambut oleh beberapatukang potong. . jaringan antrian ini terlalu kompleks untuk dianalisa dengan teori antrian. keluar Dalam makalah ini khususnya akan membahas tentang model antrian Multi Chanel-Single Phase. pencucianmobil. Toko-toko dengan beberapa pelayanan(multichannel). Multichannel-Single Phase Sistem multichannel-single phase terjadi (ada) kapan saja dua atau lebih fasilitas pelayanan dialiri oleh antrian tunggal. dan sebagainya. lini produksi massa. keluar d.mungkin simulasi lebih sering digunakan untuk menganalisa sistem ini. penyembuhan sampai pembayaran. dan sebagainya. sehingga lebih dari satu individu dapat dilayani pada suatu waktu. Misal. tukang cat mobil. keluar c. Padaumumnya. namun pembayarannya hanya pada seorang kasir (single channel).Selain empat model struktur antrian diatas sering terjadi struktur antrian diatas sering terjadi struktur campuran(mixed arrangements) yang merupakan campuran dari dua ataulebih struktur antrian diatas. pelayanan kepada pasien di rumah sakit dari pendaftaran. diagnosa. Sebagai contoh. Setiap sistem-sistem ini mempunyai beberapa fasilitas pelayanan padasetiap tahap.b.

Tingkat Kesibukan ρ = λ /c μ 2. 2.) d= disiplin pelayanan (FCFS. LCFS. Probabilitas N pelanggan di Dalam Sistem .. 3. Probabilitas Sistem Sedang Kosong P0 = ∑ ⁄ ⁄ Yang dari foto kopian itu beda ce??? Aq udah coba dua2nya tinggal pilih pake cara yang mana… begitu juga yang Pn 3. atau SIRO) e= jumlah maximum yang dapat ditampung sistem (dalam antrian + dalam pelayanan) f= ukuran pemanggil populasi atau sumber Notasi khusus untuk model antrian Multi Chanel-Single Phase adalah pada tiap fase mengikuti model antrian (M/M/S).Notasi antrian Notasi yang sesuai untuk menyederhanakan karakteristik utama dari antrian paralel telah ditentukan secara umum dengan format: (a/b/c) : (d/e/f) Keterangan: a= distribusi kedatangan b= distribusi waktu pelayanan c= jumlah fasilitas pelayanan (s=1.. . Asumsi M/M/S Asumsi-asumsi yang sering digunakan dalam model antrian Multi Chanel-Single Phase (M/M/S) adalah sebagai berikut:     Kedatangannya berdistribusi poison Waktu pelayanannya mengikuti distribusi eksponensial Panjang antriannya tidak terbatas Disiplin antriannya adalah FCFS Dari asumsi tersebut dapat diperoleh hasil secara statistik sebagai berikut : 1.

Rata-rata Waktu Menunggu Pelanggan Di Dalam Sistem Untuk Mengantri 7.Pn (n=c) = 4. Rata-rata Jumlah Dalam Antrian Dimana : λ = rata-rata tingkat kedatangan (jumlah kedatangan per satuan waktu) 1/λ = rata-rata waktu antar kedatangan μ = rata-rata kecepatan pelayanan (jumlah satuan yang dilayani per satuan waktu bila pelayan sibuk). Rata-rata Waktu Menunggu Pelanggan Di Dalam Sistem Untuk Dilayani 6. Rata-rata Jumlah Pelanggan Dalam system 5. 1/μ = rata-rata waktu yang dibutuhkan pelayan ρ = faktor penggunaan pelayan (proporsi waktu pelayan ketika sedang sibuk) Pn = probabilitas N pelanggan di dalam system P0 = probabilitas sistem sedang kosong Lq = jumlah rata-rata di dalam sistem (yang antri dan yang sedang dilayani) Ls= rata-rata pelanggan dalam sistem Ws = waktu rata-rata di dalam system untuk dilayani Wq = waktu rata-rata di dalam system untuk mengantri .

16 14.59 14.07 14. Tujuan dari sistem antrian adalah meminimalkan biaya total. antara lain berupa waktu yang hilang karena menunggu.29 14.11 Waktu antar kedatangan 0’ 1’ 0’ 1’ 1’ 2’ 2’ 2’ 2’ 0’ Selesai belanja (Masuk Kasir) 14.02 14.09 14. yaitu biaya karena mengantri dan biaya karena menambah fasilitas layanan.05 14.00 WIB.PERILAKU BIAYA Dua jenis biaya yang timbul.29 14. Yaitu biaya karena orang dalam sistem antrian ada mengantri.01 14. Sementara biaya menambah fasilitas layanan berupa penambahan fasilitas layanan serta gaji tenaga kerja yang memberi pelayanan.24 14.03 14.00 14. Berikut ini merupakan total biaya untuk fasilitas pelayanan: B.01 14.49 14. Contoh aplikasi dan analisis model antrian Multi Chanel – Single Phase (Swalayan) Penelitian pada hari Kamis mulai pukul 14.21 14.28 14.11 14. Biaya yang terjadi karena orang mengantri.21 Lama Lama Antri dilayani 0’ 1’ 0’ 3’ 1’ 2’ 0’ 5’ 0’ 3’ 0’ 1’ 0’ 1’ 1’ 1’ 1’ 1’ 0’ 1’ . dan di sisi lain biaya karena menambah fasilitas layanan.23 14. jumlah loket 15 dan loket yang melayani ada 7 loket : NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu Masuk 14.

33 14.50 14.21 14.20 14.29 14.37 14.01 15.47 15.03 14.22 14.45 14. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Total Interval (j) 14.06 < j ≤ 14.15 14.18 14.53 14.06 14.00 < j ≤ 14.42 14.49 14.27 14. Data berdasarkan intervalnya diberikan sebagai berikut.11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 14.16 14.21 14.30 4’ 1’ 1’ 0’ 1’ 1’ 0’ 1’ 1’ 1’ 3’ 2’ 2’ 0’ 1’ 14.17 14.29 14.24 < j ≤ 14.36 14.09 14.12 < j ≤ 14.40 14.19 14.24 14.15 14.27 14.09 < j ≤ 14.03 < j ≤ 14.19 14.29 14.25 14.00 10 Jumlah Pelanggan 5 1 2 1 2 4 4 1 2 3 25 .15 < j ≤ 14.21 < j ≤ 14.27 < j ≤ 15.11 1’ 1’ 3’ 1’ 2’ 0’ 0’ 2’ 2’ 1’ 2’ 0’ 1’ 1’ 2’ 1’ 1’ 11’ 4’ 1’ 3’ 2’ 3’ 1’ 1’ 1’ 6’ 1’ 3’ 4’ Analisis Data Interval kedatangan dibagi dalam 10 interval dengan selang waktu 3 menit.12 14.57 14.17 14.18 < j ≤ 14.18 14. No.46 14.

atau setiap 2. sehingga : pelanggan /menit Jadi rata-rata tingkat pelayanan per menit adalah sebanyak 0-1 orang. Sehingga  Rata-rata tingkat pelayanan ( ) = 1. maka : = 2.5 per tiga menit atau 2-3 orang. atau setiap 1.2. Dengan demikian ratarata waktu pelayanan adalah : satu orang pelanggan.5 pelanggan/ 3 menit Jadi rata-rata tingkat kedatangan pelanggan adalah 2. Dengan demikian waktu rata-rata kedatangan pelanggan = datang satu pelanggan.5 menit melayani pelayanan yang siap melayani pada hari itu berjumlah 7 loket. sehingga perhitungannya sebagai berikut: = . Waktu pelayanan total dari 25 pengunjung adalah 62 menit. maka c = 7.  Rata-rata tingkat kedatangan ( ) ) dan rata-rata tingkat pelayanan ( Karena selama kurun waktu 30 menit terdapat 10 interval waktu tetap dan masing-masing interval 3 menit. Untuk langkah selanjutnya menghitung tingkat kesibukan sistem ( diketahui loket menit/pelanggan.2 menit rata-rata pelanggan/menit atau 0-1 orang Pada kasus ini mencari jumlah pelanggan yang dapat dilayani per satuan waktu.Analisis antrian Tingkat kesibukan sistem Untuk menghitung tingkat kesibukan sistem kita harus menggunakan perhitungan kedatangannya dengan distribusi poisson. Untuk menghitung tingkat kesibukan pertama-tama yang harus dicari adalah rata-rata tingkat kedatangan ( ).

782)-0.06%  Kemungkinan terdapat tiga pelanggan dalam sistem P3 (n=c=3) = =2x =2x = 0.2146 x 100% =21.14% Kemungkinan terdapat satu pelanggan dalam sistem P1 (n=c=1) = =2x =2x = 2 x -0.Dari hasil perhitungan tingkat kesibukan di atas berarti :  Kemungkinan tidak ada pelanggan dalam system antrian adalah P0 = ∑ ⁄ ⁄ ⁄ x 100% = 25% P0 =  = (2.5 x 100% = -50% karena bernilai negatif maka hal ini tidak mungkin P1 =  = = 0.7514 x 100% = 75.2802 x 100% = 28.46% Kemungkinan terdapat dua pelanggan dalam sistem P2 (n=c=2) = P2 = = =2x =2x = 0 x 100% = 0% = 0.29% Kemungkinan terdapat empat pelanggan dalam sistem P4 (n=c=4) = =2x =2x = 0.0306 x 100% =3.2802 x 100% = 28.25 = -0.02% P3 =  = = 0.02% P4 =  = = 0.0002 x 100% = 0.2857 = 0.0029 x 100% = 0.00013 x 100% = 0% .02% Kemungkinan Pelanggan yang datang harus menunggu P7 (n=c) = =2x =2x = 0.

0003 x 100% = Rata-rata waktu menunggu pelanggan dalam antrian Rata-rata jumlah pelanggan dalam sistem dinotasikan dengan (Wq). = = = 0.P7 = = = 0. di dalam antrian rata-rata waktu tunggu pelanggan adalah 0 menit. Ws = Wq + = 0 + = 2. di dalam sistem rata-rata terdapat 0.5 Jadi. Ls = Lq + =0+ =2 Jadi. Lq = 0% Jadi.000000023 x 100% = 0% Rata-rata Jumlah Pelanggan dalam sistem Rata-rata jumlah pelanggan dalam system dinotasikan dengan (Lq).5 menit. rata-rata pengunjung yang berada dalam sistem adalah 2 pelanggan . Rata-rata jumlah pelanggan dalam system Rata-rata jumlah pelanggan dalam system dinotasikan dengan Ls. rata-rata setiap pelanggan akan berada di dalam antrian selama 2. Wq = = =0 Nilai Wq = Lq = 0 Jadi.0003 pelanggan atau 0 pelanggan. Rata-rata waktu menunggu pelanggan dalam sistem Rata-rata waktu menunggu pelanggan dalam system dinotasikan dengan Ws.

06 20.01 19.11 19.33 20.14 19.12 19.07 19.Penelitian Pada hari Minggu mulai pukul 19.43 19.03 19.27 20.05 19.47 20.04 19.37 19.18 19.18 20.17 19.02 19.02 20.05 19.02 19.01 19.18 19.23 19.21 20.04 20.16 19.03 19.21 20.31 19.25 Waktu antar kedatangan 0’ 0’ 1’ 0’ 0’ 1’ 0’ 0’ 0’ 1’ 1’ 0’ 1’ 0’ 1’ 0’ 2’ 0’ 2’ 0’ 1’ 1’ 1’ 2’ 0’ 1’ 0’ 0’ 1’ 0’ 1’ 0’ 0’ 2’ 0’ 1’ 2’ 0’ 1’ Selesai belanja (Masuk Kasir) 19.21 19.19 19.19 19.19 20.02 19.27 19.19 19.46 19.37 19.06 19.01 20.09 19.17 19.11 20.03 19.07 19.21 19.05 20.13 19.09 20.31 19.00 dengan jumlah loket 15 semua melayani: NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 Waktu Masuk 19.13 20.22 20.09 20.29 19.11 20.09 19.03 19.16 20.17 19.23 20.19 20.13 20.17 Lama Antri 3’ 1’ 3’ 4’ 6’ 4’ 3’ 2’ 4’ 1’ 2’ 2’ 3’ 4’ 4’ 5’ 1’ 3’ 7’ 2’ 10’ 3’ 4’ 6’ 3’ 4’ 6’ 5’ 3’ 3’ 6’ 5’ 3’ 6’ 4’ 6’ 7’ 2’ 3’ Lama dilayani 6’ 3’ 2’ 2’ 5’ 4’ 1’ 2’ 1’ 4’ 3’ 6’ 1’ 4’ 4’ 2’ 3’ 2’ 5’ 7’ 4’ 3’ 5’ 8’ 6’ 2’ 4’ 3’ 5’ 2’ 3’ 5’ 6’ 4’ 2’ 5’ 2’ 5’ 3’ .03 20.06 19.24 19.22 19.48 19.41 20.24 19.27 19.16 19.19 20.11 19.02 20.28 20.

Untuk menghitung tingkat kesibukan pertama-tama yang harus dicari adalah rata-rata tingkat kedatangan ( ).03 19.29 2’ 0’ 1’ 1’ 0’ 0’ 20.27 19.40 41 42 43 44 45 Analisis Data 19.08 20.27 < j ≤ 19.27 20.27 20.27 19.12 < j ≤ 19.09 < j ≤ 19.06 < j ≤ 19.27 19.  Rata-rata tingkat kedatangan ( ) ) dan rata-rata tingkat pelayanan ( .29 19.09 19.29 19.21 < j ≤ 19. No.01 20.06 19.24 19.32 4’ 8’ 3’ 2’ 2’ 3’ 3’ 4’ 4’ 1’ 2’ 5’ Interval kedatangan dibagi dalam 10 interval dengan selang waktu 3 menit. Data berdasarkan intervalnya diberikan sebagai berikut.12 19.18 < j ≤ 19. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Total Interval (j) 19.30 10 Jumlah Pelanggan 9 5 4 3 2 7 5 3 3 4 45 Analisis antrian Tingkat kesibukan sistem Untuk menghitung tingkat kesibukan sistem kita harus menggunakan perhitungan kedatangannya dengan distribusi poisson.03 < j ≤ 19.18 19.28 19.21 20.24 < j ≤ 19.00 < j ≤ 19.21 19.15 19.15 < j ≤ 19.

atau setiap 0.782)-0.Karena selama kurun waktu 30 menit terdapat 10 interval waktu tetap dan masing-masing interval 3 menit. maka c = 15. maka : = 4. atau 1-2 pelanggan  Rata-rata tingkat pelayanan ( ) Pada kasus ini mencari jumlah pelanggan yang dapat dilayani per satuan waktu. Waktu pelayanan total dari 45 pengunjung adalah 163 menit. Sehingga = 0.6 menit pelayanan yang siap melayani pada hari itu berjumlah 15 loket. atau setiap 3.6% Kemungkinan terdapat satu pelanggan dalam sistem P1 (n=c=1) = = 5.3623 = 0.6. Dengan demikian ratarata waktu pelayanan adalah : melayani satu orang pelanggan. Dengan demikian waktu rata-rata kedatangan pelanggan = datang satu pelanggan.5 per tiga menit atau 4-5 orang.6960 x 100% = 69. sehingga : pelanggan /menit Jadi rata-rata tingkat pelayanan per menit adalah sebanyak 0-1 orang.07 % P0 =  = (2. sehingga perhitungannya sebagai berikut: = Dari hasil perhitungan tingkat kesibukan di atas berarti :  Kemungkinan tidak ada pelanggan dalam system antrian adalah P0 = ∑ ⁄ ⁄ ⁄ = 0.6 menit rata-rata pelanggan/menit.5 pelanggan/ 3 menit Jadi rata-rata tingkat kedatangan pelanggan adalah 4.1838 x 100% .434 x = 5. Untuk langkah selanjutnya menghitung tingkat kesibukan sistem ( diketahui loket menit/pelanggan.1507 x 100% = 15.434 x = -0.

936 x 10-11 x 100% = 0% = = = .21%  Kemungkinan terdapat dua pelanggan dalam sistem P2 (n=c=2) = = 5.00049 x 100% = 0.0055 x 100% = 0.434 x = -0.434 x = -0.2521 x 100% =25.434 x = 5. Lq = 1.2 x 10-19) x 100% = 1.434 x ) x 100%= 0% P15 = = = (1.434 x = 5.0456 x 100% =4.73% karena bernilai negatif maka hal ini tidak mungkin P2 =  = = 0.55% = 5.56% Kemungkinan terdapat tiga pelanggan dalam sistem P3 (n=c=3) = 16.434 x = (5.= -18.48% P4 = = = 0.38% karena bernilai negatif maka hal ini tidak mungkin P1 = = = 0.1675 x 100% =  Kemungkinan terdapat empat pelanggan dalam sistem P4 (n=c=4) = 9.434 x = 5.0948 x 100% =  Kemungkinan Pelanggan yang datang harus menunggu P15 (n=c) = = 5.2 x10-17% = 0% Rata-rata Jumlah Pelanggan dalam sistem Rata-rata jumlah pelanggan dalam system dinotasikan dengan (Lq).434 x = -0.75% P3 = = = 0.2373x 100% = -23.04% = 5.

di dalam antrian rata-rata waktu menunggu pelanggan adalah 0 menit Rata-rata waktu menunggu pelanggan dalam system Rata-rata waktu menunggu pelanggan dalam system dinotasikan dengan Ws. rata-rata pelanggan dalam sistem adalah 5. Wq = = =0 Nilai Wq = Lq = 0 Jadi. Rata-rata waktu menunggu pelanggan dalam antrian Rata-rata jumlah pelanggan dalam system dinotasikan dengan (Wq).623 menit Rata-rata jumlah pelanggan dalam system Rata-rata jumlah pelanggan dalam system dinotasikan dengan Ls. rata-rata waktu menunggu pelanggan dalam sistem adalah 3. Ls = Lq + =0+ = 5.434 Jadi.Jadi.434 pelanggan atau 5-6 orang. di dalam sistem rata-rata terdapat 0 pelanggan.623 Jadi. =0+ = 3. .

Fasilitas pelayanan terdiri dari saluran tunggal 5. Disiplin pelayanan mengikuti pedoman FCFS (First Come First Service) 4.PENUTUP A. Tidak ada penolakan maupun pengingkaran . Distribusi kedatangan pelanggan potensial mengikuti distribusi Poisson 3. Kapasitas sistem diasumsikan tak terbatas 7. Kesimpulan Asumsi-asumsi yang sering digunakan dalam model antrian single chanel (M/M/1) adalah sebagai berikut: 1. Populasi input tidak terbatas 2. Distribusi pelayanan mengikuti distribusi Poisson (λ < μ) 6.

2005. Online. Jakarta: Erlangga. 2007. 1989.DAFTAR PUSTAKA Aminudin. Taha. Inc. Online. Diakses tanggal 01 April 2012. http:// s_l5051_055423_chapter2 . . Jakarta: Erlangga. http:// 12D004-penerapan-teori-antrian. Prinsip-Prinsip Riset Operasi. Diakses tanggal 01 April 2012. Operations Research Jilid 2. Siswanto. Hamdy A. Operation Research. New York: Macmillan Publishing Co.