P. 1
Buku Ajar Mikrobiologi

Buku Ajar Mikrobiologi

|Views: 102|Likes:
Published by I WAYAN MADIYA

More info:

Published by: I WAYAN MADIYA on Jun 01, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/11/2015

pdf

text

original

Sections

BAHAN AJAR MATAKULIAH MIKROBIOLOGI

Tinjauan Mata kuliah 1. Deskripsi Mata kuliah Dalam mata kuliah ini tercakup pengenalan mikrobiologi, morfologi dan anatomi mikroorganisme, metode pemeriksaan mikroba, analisis mikroba, nutrisi mikroorganisme, pertumbuhan dan perkembangan mikroorganisme, faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi mikroorganisme, metabolisme mikroorganisme, genetika mikroorganisme, dan disiplin ilmu dalam mikrobiologi serta pengantar mikrobiologi terapan. 2. Kegunaan Mata kuliah Mata kuliah ini memberikan manfaat kepada mahasiswa dalam memahami tentang berbagai macam mikroorganisme baik bentuk, ukuran dan sifat-sifat, serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Selain itu dapat mengetahui peranan mikroorganisme dalam kehidupan sehari-hari. 3. Standar Kompetensi Setelah menyelesaikan matakuliah ini dalam satu semester, mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan manfaat mempelajari mikrobiologi serta aplikasinya di lapangan. 4. Susunan Bahan Ajar Bab 1. Pengenalan Mikrobiologi Bab 2. Morfologi dan Anatomi Mikroorganisme Bab 3. Metode Pemeriksaan Mikroba Bab 4. Analisis Mikroba Bab 5. Nutrisi Mikroorganisme Bab 6. Pertumbuhan dan Perkembangan Mikroorganisme Bab 7. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Mikroorganisme Bab 8. Metabolisme Mikroorganisme Bab 9. Genetika Mikroorganisme Bab 10.Disiplin ilmu dalam Mikrobiologi

Bab 11.Pengantar Mikrobiologi Terapan 5. Petunjuk Bagi Mahasiswa 1. Sebelum mengikuti perkuliahan hendaknya mahasiswa telah membaca buku yang relevan dengan materi yang akan dibahas pada setiap pertemuan. 2. Ikuti pembahasan setiap topik yang sudah didiskusikan, carilah tambahan bahan yang terbaru yang relevan dengan topik bahasan dari internet dan didiskusikan kembali dalam kelompok-kelompok kecil. 3. Mintalah petunjuk dari dosen jika ada konsep yang belum terselesaikan baik dalam kelompok kecil maupun kelompok klasikal. 4. Kerjakan tugas mandiri yang diberikan pada akhir perkuliahan dan ikuti ketentuan yang disepakati baik isi, teknis maupun batas pemasukan. 5. Ikuti kegiatan praktikum dan masukkan laporan praktikum sesuai batas pemasukan yang telah disepakati.

2

BAB I PENGENALAN MIKROBIOLOGI
A. Pendahuluan Deskripsi singkat Bab ini akan menguraikan tentang sejarah perkembangan mikrobiologi, ruang lingkup mikrobiologi, kedudukan mikroba dan klasifikasi mikroba . Relevansi Pembahasan ini akan sangat berhubungan dengan bab selanjutnya. Mahasiswa akan mengenal dan mengetahui terlebih dahulu sejerah perkembangan mikrobiologi, ruang lingkup mikrobiologi, kedudukan mikroba dan klasifikasi mikroba sehingga mahasiswa alan lebih mudah mengikuti materi berikutnya. Kompetensi Dasar Mahasiswa dapat menjelaskan pengenalan mikrobiologi. B. Penyajian Uraian dan contoh 1.1 Sejarah Perkembangan Mikrobiologi Mikrobiologi adalah ilmu yang mempelajari organisme (makhluk) kecil yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang dan hanya dapat dilihat dengan mikroskop. Mikrobiologi merupakan telaah mengenai organisme hidup yang berukuran mikroskopis. Dunia mikroorganisme terdiri dari lima kelompok organisme, yaitu bakteri, protozoa, virus, algae dan cendawan mikroskopis. Mikroorganisme sangat erat kaitannya dengan kehidupan kita, beberapa dianyaranya bermanfaat dan yang lain merugikan. Beberapa mikroorganisme menyebabkan penyakit dan yang lain terlibat dalam kegiatan manusia sehari-hari seperti dalam pembuatan anggur, keju, yogurt, produksi penisilin dan sebagainya. Mikrobiologi merupakan ilmu yang masih muda. Dunia jasad renik barulah ditemukan sekitar 300 tahun yang lalu, dan makna sesungguhnya mengenai mikroorganisme itu barulah dipahami dan dihargai 200 tahun kemudian. Sekarang mikroorganisme digunakan oleh para peneliti dalam penelaahan hampir semua gejala biologis yang utama.

3

Untuk mempelajari mikrobiologi secara umum perlu diungkapkan periode perkembangan bidang ilmu tersebut mulai dari periode yang paling awal sampai sekarang dengan kemajuan-kemajuan yang telah dicapai. 1.1.1 Era Perintisan Dalam periode ini para ahli mencoba mencari jawaban dari berbagai permasalahan yang timbul di lingkungannya yang mungkin berkaitan dengan peranan mikroba. A. Mikroskop dan penemuan dunia jasad renik Antony van Leeuwenhoek (1632-1723), seorang mahasiswa ilmu pengetahuan alam berkebangsaan Belanda merupakan orang pertama yang melaporkan pengamatannya dengan keterangan dan gambar-gambar yang teliti mengenai mikroba (bakteri dan protozoa). Leeuwenhoek melakukan pengamatan ini selama ia memburu hobinya mengasah lensa dan membuat mikroskop. Pada tanggal bulan Juni 1675, Leeuwenhoek membuat gambar-gambar bakteri yang ditemukannya dari air hujan, air liur, cuka serta substansi lain dan dia memerikannya dengan gambar-gambar disertai keterangan-keterangan yang amat menarik. Ia menuangkan penemuan-penemuannya yang sangat menarik hati itu dalam serangkaian surat yang dikirimkannya kepada sahabat-sahabatnya pada Lembaga Ilmu Pengetahuan di London dan Perancis. Secarik surat bertanggal 17 September 1683 berisi gambar-gambarnya yang pertama tentang bakteri. Leeuwenhoek mengamati makhluk hidup ini dalam suspensi tartar yang dikoreknya dari sela-sela giginya. Kecermatan ketelitian pengamatannya nyata sekali pada gambar-gambar tersebut. Ia membuat sketsa sel bakteri dengan bentuk seperti bola (kini disebut kokus), silindris atau bentuk batang (basilus), atau spiral (spirilum). Hasil pengamatan Leeuwenhoek, yang dilaporkannya dalam bentuk surat-surat tidak dihiraukan.

B. Generasi spontan lawan biogenesis Ditemukannya suatu dunia organisme yang tidak tampak dengan mata bugil itu membangunkan minat terhadap perdebatan hebat pada masa itu mengenai asal mula kehidupan. Dari manakah datangnya jasad-jasad renik itu?

4

Ada yang menduga bahwa jasad renik itu muncul sebagai akibat dekomposisi jaringan tumbuhan atau hewan yang mati. Dengan kata lain mereka mengira bahwa organisme hidup berasal dari bahan mati yang mengalami penghancuran. Konsepsi ini yaitu bahwa kehidupan berasal dari bahan mati, dikenal sebagai generasi spontan atau abiogenesis (abio : tidak hidup, genesis : asal). Pemikiran mengenai generasi spontan sekurang-kurangnya telah dicetuskan oleh bangsa Yunani Kuno yang meyakini bahwa daging yang membusuk menghasilkana belatung dan bahwa lalat serta katak muncul begitu saja dari Lumpur pada keadaan-keadaan iklim tertentu. Banyak orang pada masa lalu tidak sependapat bahwa mikroorganisme menjelma melalui generasi spontan, tetapi tidak sedikit pula yang mendukung berlakunya teori ini bagi cacing, serangga dan sebagainya. Bagi teori yang mengatakan bahwa benda hidup dapat bermula secara spontan, terdapat baik penganut maupun penentangnya masing-masing dengan suatu penjelasan baru yang kadang-kadang mengagumkan ataupun sedikit bukti percobaan. Pada tahun 1749, John Needham (1713-1781) melakukan percobaan dengan daging yang dimasak dan mengamati bahwa terdapat mikroorganisme pada awal percobaan dan berkesimpulan bahwa jasad-jasad tersebut berasal dari daging. Kira-kira dalam waktu yang sama Lazaro Spallanzani (1729-1799), dalam usahanya untuk membuktikan bahwa konsepsi abiogenesis itu tidak benar, mendidihkan kaldu daging, yaitu suatu larutan nutrien dalam labu selama satu jam lalu wadah itu ditutupnya rapat-rapat. Maka tak ada jasad renik dalam labu tersebut. Tetapi hasil percobaannya ini, yang dikuatkan dalam rangkaian percobaan ulangan, tidak dapat meyakinkan Needham bahwa mikroba tidaklah muncul karena generasi spontan. Needham berpendapat bahwa diperlukan udara untuk generasi spontan mikroba dan bahwa karena udara itu dikeluarkan dari labu pada percobaan Spallanzani, maka tidak ada mikroba yang muncul. Perbedaan pendapat ini dipecahkan 80 atau 90 tahun kemudian oleh dua peneliti secara terpisah, yaitu Franz Schulze (1815-1873) dan Theodor Schwann (1810-1882). Schulze melalukan udara melewati larutan asam pekat ke dalam labu berisi kaldu daging yang didihkan, sedangkan Schwan melalukan udara melalui tabung membara ke dalam labu berisi kaldu daging yang dididihkan. Dan ternyata di

5

dalam masing-masing labu itu tidak ada mikroba karena terbunuh oleh asam dan panas yang luar biasa. Namun tetap saja hal ini belum meyakinkan mereka yang menyokong konsepsi abiogenesis. Mereka mengatakan bahwa asam dan panas mengubah udara sedemikian sehingga tidak mendukung pertumbuhan. Sekitar 1850 Schroder dan Von Dusch melakukan percobaan yang lebih meyakinkan dengan melewatkan udara melalui tabung berisi kapas ke dalam labu berisi kaldu yang sebelumnya dipanaskan. Mikroba disaring ke luar dari udara oleh serat-serat kapas dan dengan demikian dicegah masuk ke dalam labu maka tidak ada jasad renik yang tumbuh dalam kaldu tersebut. Di antara bukti-bukti yang paling penting ialah hasil percobaan John Tyndall pada awal tahun 1970-an. Ia menciptakan sebuah kotak bebas debu dan menempatkan tabung-tabung berisi kaldu steril di dalamnya. Selama udara dalam kotak itu bebas debu maka selama itu pula kaldu dalam tabung tetap steril. Partikel-partikel debu mengendap dan tertahan pada tabung berbentuk leher angsa yang menuju ke dalam kotak. Inilah bukti bahwa mikroba terbawa oleh partikelpartikel debu. Selama periode ini muncullah muka baru dalam ilmu pengetahuan, yakni Louis Pasteur (1822-1895). Pasteur merasa tertarik pada industri minuman anggur dan perubahan-perubahan yang terjadi selama proses fermentasi. Perhatiannya terhadap fermentasi inilah yang mendorongnya ikut berdebat tentang generasi spontan. Fermentasi terjadi karena enzim, yakni zat yang dihasilkan sel hidup yang menyebabkan berlangsungnya reaksi-reaksi kimiawi tertentu. Contoh, sari buah apel atau anggur, bila dibiarkan akan meragi, hasilnya alcohol dan asam. Apakah hasil fermentasi itu disebabkan oleh mikroorganisme yang ada dalam sari buah itu atau sebaliknya? Jasad renik dalam sari buah itulah yang berasal dari proses fermentasi, sebagaimana yang dikemukakan pendukung teori abiogenesis. Secara teguh Pasteur menentang konsepsi generasi spontan. Karena itu ia mulai menyimak secara cermat karya-karya terdahulu mengenai masalah tersebut lalu melanjutkannya dengan merancang banyak sekali percobaan untuk mendokumen tasikan fakta bahwa mikroorganisme hanya dapat timbul dari jasad renik lain (biogenesis).

6

Pasteur melakukan percobaan untuk mengakhiri pertikaian mengenai masalah tersebut. Ia mempersiapkan larutan nutrien dalam labu yang dilengkapi dengan lubang panjang dan sempit berbentuk leher angsa. Kemudian ia memanaskan larutan nutrien itu dan udara tanpa perlakuan dan tanpa disaring dibiarkannya lewat keluar masuk. Tak ditemukan mikroba dalam larutan itu. Alasannya adalah bahwa partikel-partikel debu yang mengandung mikroba tidak mencapai larutan nutrien. Mereka mengendap dalam bagian tabung leher angsa yang berbentuk U dan aliran udara demikian berkurangnya sehingga partikelpartikel tadi tidak terbawa ke dalam labu. Dengan diterimanya konsepsi biogenesis ini maka terbukalah jalan untuk karya Pasteur berikutnya tentang fermentasi dan mikroorganisme-mikroorgnisme penyebab penyakit.

C. Teori nutfah fermentasi Pada zaman dahulu, orang memperbaiki mutu produk-produk

fermentasinya dengan cara mencoba-coba, tanpa menyadari bahwa mutu sesungguhnya bergantung kepada penyediaan atau perbaikan kondisi bagi pertumbuhan mikroorganisme pelaku fermentasi tersebut. Barulah setelah Pasteur menelaah peranan mikroorganisme dalam proses fermentasi pada pembuatan anggur maka orang menjadi mengerti bahwa mikroorganisme itulah yang menyebabkan terjadinya fermentasi. Pada tahun 1850-an Psteur menaruh perhatian pada pembuatan minuman anggur, yang merupakan industri utama di Perancis. Ia setelah membuktikan ketidak benaran geneasi spontan, jadi memastikan bahwa mikroorganisme

merupakan penyebab fermentasi. Setelah memeriksa banyak kelompok minuman anggur, maka dia menemukan berbagai mikroba. Pada tong-tong fermentasi yang baik ternyata macam mikroba tertentu lebih menonjol, pada tong-tong fermentasi yang jelek ditemukan macam lain pula. Pasteur menetapkan bahwa dengan seleksi yang tepat terhadap mikroba yang bersangkutan, maka dapat dipastikan bahwa akan diperoleh hasil yang baik dan konsisten. Untuk mencapai hal ini, maka microbe yang sudah ada dalam sari buah harus dihilangkan dan fermentasi yang baru dimulai dengan biakan, yeitu suatu pertumbuhan mikroorganisme yang

7

diambil dari tong anggur yang dinilai baik. Pasteur menyarankan agar menghilangkan tipe-tipe mikroba yang tidak diinginkan itu dengan pemanasan, tang tidak sampai mersak aroma sari buah tetapi cukup tinggi untuk membunuh mikroba. Ia mendapai bahwa perlakuan dengan suhu 62.80C selama setengah jam cukuplah untuk mencapai hal tersebut. Kini proses tersebut dinamakan pasteurisasi, digunakan secara meluas pada industri fermentasi. Tetapi yang paling dikenal adalah dimanfaatkan di industri hasil susu, untuk membunuh jasadjasad renik penyebab penyakit yang terdapat dalam susu dan produk-produk susu. D. Teori nutfah penyakit Sebelum Pateur berhasil membuktikan bahwa bakteri menjadi penyebab beberapa penyakit, banyak pengamatan yang cermat menentang keras adanya teori nutfah penyakit. Dalam tahun 1546 Fracastoro dari Verona (1483-1553) menyatakan bahwa penyakit dapat disebabkan oleh jasad renik yang terlalu kecil untuk dapat dilihat yang dipindahkan (ditularkan) dari seseorang ke orang lain. Pada tahun 1762 von Plenciz dari Vienna tidak hanya mengemukakan bahwa sesungguhnya makhluk hiduplah yang menjadi penyebab penyakit, tetapi juga berpendapat bahwa berbagai jasad renik menimbulkan bermacam-macam penyakit pula. Konsepsi parasitisme, yakni adanya organisme hidup pada atau di dalam organisme lain dengan mengambil nutrien daripadanya, tersebar luar dalam tahun 1700-an. Hal ini tercermin dalam karya tulis Jonathan swift (1667-1745), seorang satria Inggris pada awal abad kedelapan belas. Oliver Wendell Holmes (1809-1894), seorang fisikawan dan sastrawan dalam tahun 1843 secara tegas menyatakan bahwa demam nifas itu (demam yang timbul ketika baru melahirkan), yang sering fatal, menular dan boleh jadi disebabkan oleh mikroorganisme yang dibawa oleh bidan dokter, dari ibu yang satu kepada yang lain. Pada waktu yang hampir bersamaan (1840-an) ahli fisika Hongaria, Ignaz Philip Semmelweis (1818-1865) mempelopori penggunaan prosedur obstetric (kebidanan) yang dapt mengurangi komungkinan infeksi yang disebabkan jasad renik. Karena keberhasilan Pasteur dalam memecahkan masalah fermentasi maka pemerintah Perancis memintanya untuk meneliti pebrine, penyakit pada ulat sutera yang menghancurkan industri sutera yang penting di negara tersebut. Ia

8

berhasil mengisolasi jasad renik (suatu protozoa) penyebabnya. Pasteur menganjurkan kepada para petani ulat sutera agar mereka menyeleksi ulat-ulat baru yang sehat dan bebas penyakit untuk menghindari penyakit itu. Kemudian Pasteur (1877) menangani masalah antraks, penyakit pada sapi, domba dan terkadang manusia. Setelah mengamati penyebab penyakit itu dari darah hewan yang mati karena penyakit tersebut, maka ia menumbuhkannya dalam labu-labu di laboratorium. Selam tahun 1870-an, Robert Koch (1843-1910) juga sibuk dengan masalah antraks di Jerman. Dia berhasil mengisolasi bakteri khas berbentuk batang dengan ujung-ujungnya yang agak persegi (basilus) dari darah biri-biri yang mati karena antraks. Ia menumbuhkan bakteri itu di laboratorium, memeriksanya dengan mikroskop untuk meyakinkan bahwa hanya satu macam yang ada, kemudian menyuntikkannya pada mencit untuk mengetahui apakah hewan-hewan itu terinfeksi dan terjadi gejala antraks. Dari mencit-mencit tersebut dia mengisolasi bakteri seperti yang diperoleh dari biri-biri yang mati karena antraks tadi. Inilah untuk pertama kalinya suatu bakteri dapat dibuktikan sebagai penyebab penyakit hewan. Kemudian koch menemukan bakteri yang

menimbulkan tuberculosis dan kolera. 1.1.2 Keemasan Periode keemasan ini dikaitkan dengan penemuan-penemuan baru terutama oleh Robert Koch tentang biakan murni. Percobaan-percobaan Koch dan peneliti-peneliti lain di laboratorium membuktikan bahwa jasad renik tertentu menyebabkan timbulnya penyakit tertentu pula dan hal ini telah menuntun kepada ditetapkannya criteria yang dapat mendasari ditariknya kesimpulan semacam itu. Kriteria ini dikenal dengan Postulat Koch (1882), yang menjadi garis penunjuk dan tetap sampai kini dipakai dalam mencari bukti bahwa suatu penyakit disebabkan oleh jasad renik tertentu. Postulat Koch itu ialah: 1) Mikroorganisme tertentu selalu dapat dijumpai berasosiasi dengan penyakit tertentu. 2) Mikroorganisme itu dapat diisolasi dan ditumbuhkan menjadi biakan murni di laboratorium.

9

3)

Biakan murni mikroorganisme tersebut akan menimbulkan penyakit itu bila disuntikkan pada hewan yang rentan.

4)

Penggunaan prosedur laboratorium memungkinkan diperolehnya kembali mikroorganisme yang disuntikkan itu dari hewan yang dengan sengaja diinfeksi dalam percobaan.

Pada periode keemasan juga ditemukan cawan petri, pewarnaan gram dan penemuan-penemuan lainnya tentang kuman penyebab penyakit. 1.1.3 Era Modern Pada era ini ditandai dengan dipergunakannya banyak metode dan peralatan mutakhir, seperti mikroskop elektron, kromatografi, sampai dengan komputer. Masalah masalah pelik yang sebelu,nya belum terungkap dan belum dijelaskan miasalnya antibiotika, vaksin, serum, sekarang telah diketahui. Periode modern perkembangan mikrobiologi ditandai pula dengan diraihnya beberapa hadiah Nobel dalam bidang mikrobiologi seperti: Pada tahun 1928, Domagk menemukan sulfonamida Tahun 1945, Fleming, Tatum & Beadle, menemukan penisilin Tahun 1952, Waksman menemukan streptomisin.

1.2 Ruang Lingkup Mikrobiologi Mikrobiologi merupakan bagian ilmu dari biologi, tersusun oleh banyak disiplin ilmu. Pembagian ini tergantung arah atau orientasinya, apakah terhadap taksonomi, terhadap habitat atau terhadap permasalahan yang ada atau ditimbulkan akibat mikroba. Dari pembagian tersebut, sedikitnya ada 21 disiplin atau sub bidang mikrobiologi. Tabel 1 Disiplin Ilmu di Bidang Mikrobiologi

Orientasi terhadap Taksonomi 1. Virologi

Disiplin dan keterangan

10

Ilmu yang mempelajari susunan dan pembagian kelompok jasad, yakni virus 2. Bakteriologi Ilmu yang mempelajari susunan dan pembagian kelompok jasad yang termasuk bakteri 3. Mikologi Ilmu yang mempelajari susunan dan pembagian kelompok jasad yang termasuk fungi atau jamur 4. Fikologi (Algologi) Ilmu yang mempelajari susunan dan pembagian kelompok jasad yang termasuk ganggang atau alga 5. Protozoologi Ilmu yang mempelajari susunan dan pembagian kelompok jasad yang termasuk protozoa atau hewan bersel satu. Habitat 1. Mikrobiologi Air Ilmu yang mempelajari kehidupan dan peranan mikroorganisme di dalam air (untuk bidang pertanian, peternakan, perikanan, kesehatan, industri, pengairan, pengolahan buangan dan sebagainya). 2. Mikrobiologi Tanah Ilmu yang mempelajari kehidupan dan peranan mikroorganisme di dalam tanah (untuk bidang pertanian, pertambangan, geologi dan sebagainya). 3. Mikrobiologi Udara Ilmu yang mempelajari kehidupan dan peranan mikroorganisme di udara (untuk bidang kedokteran/kesehatan, industri, ruang angkasa dan sebagainya). 4. Mikrobiologi rumen Ilmu yang mempelajari kehidupan dan peranan mikroorganisme di dalam sistem lambung manusia dan hewan (untuk bidang kedokteran/kesehatan, peternakan, perikanan dan sebagainya). 1. Ekologi Mikroba Ilmu yang mempelajari penyebaran dan asosiasi kehidupan mikroba dengan lingkungannya. 2. Fisiologi Mikroba Ilmu yang mempelajari sifat-sifat faal mikroba 3. Kimia/biokimia Mikroba Ilmu yang mempelajari bentuk dan sifat kimia atau biokimia mikroba 4. Genetika Mikroba Ilmu yang mempelajari sifat-sifat turunan, kebakaan mikroorganisme. 1. Mikrobiologi Kesehatan Ilmu yang mempelajari bentuk, sifat dan peranan mikroorganisme di bidang kesehatan (penyakit, imunisasi,

Problema 1) Dasar

2)Terapan

11

antibiotika dan sebagainya). 2. Mikrobiologi Industri Ilmu yang mempelajari bentuk, sifat dan peranan mikroorganisme di bidang industri, baik yang menguntungkan (di dalam proses) maupun yang merugikan (menghambat proses, toksikasi dan sebagainya). 3. Mikrobiologi Makanan Ilmu yang mempelajari bentuk, sifat dan peranan mikroorganisme di dalam bahan makanan, baik yang menguntungkan (misalnya dalam proses pembuatan) ataupun yang merugikan (misalnya dalam proses pembusukan dan kerusakan). 4. Mikrobiologi Lingkungan Ilmu yang mempelajari bentuk, sifat dan peranan mikroorganisme di dalam lingkungan (tanah, air, udara). 5. Mikrobiologi Sanitasi Ilmu yang mempelajari bentuk, sifat dan peranan mikroorganisme di bidang sanitasi (termasuk di dalamnya bidang kebersihan). 6. Mikrobiologi Geologi dan Pertambangan Ilmu yang mempelajari bentuk, sifat dan peranan mikroorganisme di bidang pertam bangan dan geologi (misalnya minyak) 7. Mikrobiologi Pasca Panen Ilmu yang mempelajari bentuk, sifat dan peranan mikroorganisme pada masa pasca panen (pertanian pangan, tanaman industri, tanaman obat dan sebagainya). 8. Mikrobiologi Analitik Ilmu yang mempelajari bentuk, sifat dan peranan mikroorganisme yang harus dianalisis kehadirannya di dalam suatu bahan atau habitat. 9. Mikrobiologi Kesenjataan Ilmu yang mempelajari bentuk, sifat dan peranan mikroorganisme di dalam sistem kesenjataan (bidang kesenjataan NUBIKA: Nuklir, Biologi dan Kimia).

1.3 Kedudukan Mikroba dalam Dunia Kehidupan Dunia mikroba terdiri dari berbagai kelompok jasad renik. Kebanyakan bersel satu atau uniseluler. Ada yang mempunyai ciri-ciri sel tumbuhan, ada yang mempunyai ciri-ciri sel hewan dan ada lagi yang mempunyai ciri-ciri keduaduanya. Haeckel (1866) mengusulkan agar jasad renik ditempatkan dalam dunia yang terpisah yakni Protista.

12

Ciri utama yang membedakan kelompok mikroba tertentu dari yang lain ialah organisasi bahan selulernya. Perbedaan ini yang secara asasi itu teramat penting, memisahkan semua protista menjadi dua kategori utama, yaitu prokariotik dan eukariotik. Secara umum jasad renik juga disebut protista. Secara keseluruhan klasifikasi jasad renik adalah: 1). Protista eukariotik; protista tingkat tinggi, yang terdiri dari protozoa, Algae, jamur (cendawan) dan jamur berlendir. 2). Protista prokariotik; protista tingkat rendah, yang terdiri kuman (bakteri), Sianobakteri dan Arkhebakteri. Ciri utama sebagai pembeda yang mendasar di antara Protista tingkat rendah dengan Protista tingkat tinggi adalah perbedaan struktur internal sel. Protista tingkat rendah sebagai sel prokariotik (pranuklir yaitu bahan nukleus tidak terbungkus di dalam suatu membran) dan Protista tingkat tinggi sebagai sel eukaritik (mengandung nukleus sejati atau nukleus khas). Ciri dasar sel prokariotik adalah: - Tidak terdapat membran internal yang memisahkan nukleus dari sitoplasma. Juga tidak ada membran internal yang melingkupi struktur atau tubuh lain di dalam sel. - Pembelahan nukleus secara amitosis (pembelahan aseksual sederhana) - Dinding sel mengandung semacam molekul kompleks yang disebut mukopeptida, yang memberi kekuatan pada struktur selnya. 1.4 Klasifikasi Mikroba Klasifikasi ialah suatu istilah yang berkaitan dengan dan terkadang digunakan secara dapat dipertukarkan dengan taksonomi. Taksonomi ialah ilmu mengenai klasifikasi atau penataan sistematik organisme ke dalam kelompok atau katagori yang disebut taksa (tunggal : takson). Akan tetapi, penyusunan taksonomik mikroorganisme mensyaratkan mereka diidentifikasi sebagaimana mestinya dan diberi nama. Kegiatan seluruhnya pengklasifikasian, penamaan, dan pengidentifikasian disebut sistematika mikrobe. Ketiga proses ini sebagaimana dijelaskan berikut ini, amat saling bergantungan. 1. Taksonomi (klasifikasi) : Penataan teratur unit-unit ke dalam kelompok satuan yang lebih besar. Hal ini dapat diibaratkan dengan permainan kartu.

13

Kartu-kartu ini dapat dipilih mula-mula berdasarkan rupanya, kemudian di dalam setiap rupa, kartu-kartu itu dapat disusun menurut nomor urutnya, dengan kartu yang bergambar muka (raja, ratu dan pangeran) ditempatkan berurutan. 2. Nomenklatur : Penamaan satuan-satuan yang dicirikan dan dibatasioleh klasifikasi. Dapat digunakan analogy yang sama. Kartu-kartu yang bergambar muka diberi nama dan mungkin bahkan lebih dari satu nama. Misalnya “jack” atau “knave” menunjukkan kartu yang sama. Untunglah, nomenklatur ilmiah dalam semua bahasa itu sama. 3. Identifikasi : Penggunaan kriteria yang ditetapkan untuk klasifikasi dan nomenklatur tersebut di atas untuk mengidentifikasi mikroorganisme dengan membanding-bandingkan ciri-ciri yang ada pada satuan yang belum diketahui dengan satuan-satuan yang sudah dikenal. Identifikasi

mikroorganisme yang baru diisolasi memerlukan pencirian, deskripsi, dan pembandingan yang cukup, dengan deskripsi yang telah dipublikasikan untuk jasad-jasad renik lain yang serupa. Sebelum tahun 1700, organisme yang dapat tampak dengan mata bugil diklasifikasikan sebagai tumbuhan atau binatang saja. Dalam tahun 1750-an kedua dunia itu dibagi lagi menjadi pengelompokan yang dapat diidentifikasi dan yang berkerabat oleh Carolus Linnaeus, seorang naturalis dari Swedia. Suatu cirri yang amat penting pada skema Linnaeus ini masih digunakan sampai kini yaitu nomenklatur system biner (dua bagian). System klasifikasi biologi didasarkan pada hirarki taksonomi atau penataan kelompok atau kategori yang menempatkan spesies pada satu ujung dan dunia di ujung lainnya dalam urutan sebagai berikut: Spesies : sekelompok organisme berkerabat dekat (untuk tujuan kita jasad renik) yang individu-individunya di dalam kelompok itu serupa dalam sebagian terbesar ciri-cirinya. Genus : Sekelompok spesies yang serupa Famili : Sekelompok genus yang serupa Kelas : Sekelompok famili yang serupa Filum atau divisi : sekelompok kelas yang berkerabat

14

-

Dunia : seluruh organisme di dalam hierarki ini.

Mikroorganisme sebagaimana bentuk-bentuk kehidupan yang lain, diberi nama menurut nomenklatur sistem biner. Tujuan utama suatu nama ialah memberi cara pengacuan suatu mikroorganisme, dan bukanlah untuk memeriksanya. Setiap organisme ditandakan dengan nama genus dan istilah biasa atau deskriptif yang disebut epitet spesies, keduanya itu bahasa Latin atau dilatinkan. Nama genus selalu ditulis dengan huruf besar, epitet spesies selalu dengan huruf kecil. Kedua komponen tersebut bersama-sama disebut nama ilmiah (genus dan epitet spesies) dan selalu dicetak miring misalnya Neisseria gonorrhoeae, bakteri yang menyebabkan penyakit gonorea. Agar memperoleh penamaan yang konsisten dan seragam bagi organisme, telah ditentukan peraturan yang diterima secara internasional ntuk penamaan organisme dan diikuti oleh para biologiwan di semua negara. Peraturan seperti itu untuk tumbuhan dan hewan ditetapkan pada awal tahun 1900 oleh para ahli botani dan zoologi. Sandi internasional nomenklatur zoologi untuk pertama kali

diterbitkan dalam tahun 1901. Sandi internasional bagi nomenklatur botani untuk pertama kali terbit pada tahun 1906. Dalam tahun 1947 Gabungan Internasional Perhimpunan Mikrobiologi memakai sandi internasional untuk bakteri dan virus. Sandi itu kini dikenal dengan Kode Internasional Nomenklatur Bakteri, secara bersambung diubah sesuai (dimodifikasi) dalam suatu usaha untuk memperbaiki dan menjelaskan peraturan dan pengaturannya. Edisi yang paling mutakhir diterbitkan dalam tahun 1975. Sandi-sandi dalam zoologi, botani, dan bakteriologi didasarkan pada beberapa prinsip yang umum. Beberapa di antaranya yang paling penting ialah: 1. 2. Setiap macam organisme yang nyata disebut sebagai spesies. Spesies ditandai dengan kombinasi biner Latin, maksudnya untuk memberinya label yang seragam dan dipahami secara internasional. 3. Nomenklatur organisme diatur oleh organisasi pengawas internasional yang sesuai dalam hal bakteri,”The Internasional Association of Mikrobiological Societies”. 4. Hukum prioritas menjamin penggunaan nama sah tertua yang tersedia bagi suatu organisme. Hal ini berarti bahwa nama yang pertama-tama

15

diberikan kepada mikroorganisme itulah nama yang benar, asalkan mengikuti prosedur yang semestinya. 5. 6. Penunjukan kategori diperlukan untuk klasifikasi organisme. Kriteria ditetapkan untuk pembentukan dan publikasi nama-nama yang baru. Nama-nama yang dibentuk sesuai dengan peraturan nomenklatur sistem biner merupakan nama ilmiah bagi organisme. Nama orgnaisme yang seringkali disebutsebut biasanya adalah nama umum. 1.3.1 Klasifikasi Bakteri Kklasifikasi bakteri yang dipakai di Eropa dan Amerika Serikat, sekarang ini banyak menggunakan sistematik yang disusun oleh Bergey. Edisi yang sekarang dari “Bergey”s Manual of Determinative bacteriology” adalah edisi kesembilan tahun 1994. Pada klasifikasi Bergey’s tahun 1994 edisi ke-9, kelompok bakteri secara garis besar digolongkan menjadi 4 kategori besar, yakni: 1). Kategori Besar I : Eubacteria Gram Negatif dengan dinding sel, yang terdiri 16 GRUP, mulai dari GRUP 1 sampai GRUP 16. 2). Kategori Besar II : Eubacteria Gram Positif dengan dinding sel, yang terdiri dari 6 GRUP, mulai dari GRUP 17 sampai dengan DRUP 29. 3). Kategori Besar III : Eubacteria tanpa dinding sel, terdiri hanya 1 GRUP, yakni GRUP 30 (Mycoplasma atau Mollicula). 4). Kategori Besar IV : Archeobacteria, yang terdiri dari 5 GRUP, dari GRUP 31 sampai GRUP 35. 1.3.2 Klasifikasi Alga Dasar klasifikasi untuk alga meliputi ciri fisiologi sel vegetatif, morfologi sel reproduksi dan berdasarkan pigmen yang dimiliki. Divisi I : Cyanophyta (alga hijau-biru), yang terdiri dari 1 kelas saja dengan 3 nama yaitu Cynaophyceae atau Myxophyceae atau Schyzophyceae. Divisi II : Chlorophyta (alga hijau) Divisi III : Euglenophyta hanya terdiri dari 1 kelas yaitu kelas Euglebophyceae. Divisi IV : Pyrrophyta (alga api), terdiri dari 2 kelas, yakni kelas Dinophyceae dan kelas Desmophyceae (Desmokontae).

16

Divisi

V

:

Chrysophyta,

terdiri

dari

3

kelas

yaitu:

Kelas

Xanthophyceae/Heterokontae, kelas Chrysophyceae/ alga keemasan, kelas Bacillariophyceae/Diatomae (Alga kersik). Divisi VI : Phaeophyta, 3 golongan yaitu golongan Isogeneratae (golongan yang memiliki pergiliran keturunan isomorf), golongan Heterogeneratae (yang memiliki pergiliran keturunan yang heteromorf, golongan Cyclosporae (golongan tyang tidak mempunyai pergiliran keturunan). Divisi VII : Rhodophyta (Alga merah), terdiri dari 1 kelas yakni kelas Rhodophyceae. Kelas ini mempunyai 2 anak kelas yaitu Bangiophyceae dan Florideophyceae. 1.3.3 Klasifikasi jamur - Divisi Myxomycophyta - Divisi Eumycophyta (jamur), terdiri dari kelas: * Phycomycetes, golongan jamur tingkat rendah. * Ascomycetec, golongan jamur tingkat tinggi. * Basidiomycetes, golongan jamur tingkat tinggi. * Deuteromycetes, golongan Fungi Imperfecti, yakni go- longan jamur

(cendawan) yang memiliki fase pembiakan seksual yang belum diketahui dengan jelas.

1.3.4 Klasifikasi Protozoa Protozoa berdasarkan pada alat gerak/alat lokomosia dapat dibedakan menjadi 4 kelas: Kelas Rhizopoda Kelas Mastigophora Kelas Ciliata Kelas Sporozoa

1.3.5 Klasifikasi Virus Secara garis besar penggolongan virus dibagi menjadi 2 kelompok yaitu: a. Kelompok virus ADN, yakni

17

-

Parvoviridae Papovaviridae Adenoviridae Herpesviridae Poxviridae Hepadnaviridae

b. Kelompok virus ARN Picornaviridae Flaviviridae Togaviridae Bunyaviridae Arenaviridae Coronaviridae Retroviridae Orthomyxoviridae Paramyxoviridae Rhabdoviridae Reoviridae

Latihan Untuk memperdalam pemahaman anda tentang materi di atas, maka jawablah soal-soal latihan berikut: 1. 2. Jelaskan secara singkat sejarah perkembangan mikrobiologi! Mengapa skema klasifikasi penting dalam mikrobiologi dan biologi pada umumnya? 3. Sebutkan beberapa ciri untuk membedakan sel prokariotik dari sel eukariotik. Rangkuman 1. Sejarah Perkembangan Mikrobiologi - Era Perintisan Dalam periode ini para ahli mencoba mencari jawaban dari berbagai permasalahan yang timbul di lingkungannya yang mungkin berkaitan dengan peranan mikroba. Periode ini ditandai dengan adanya mikroskop dan penemuan

18

dunia jasad renik, generasi spontan lawan biogenesis, teori nutfah fermentasi, teori nutfah penyakit - Era Keemasan Periode keemasan ini dikaitkan dengan penemuan-penemuan baru terutama oleh Robert Koch tentang biakan murni. Pada periode keemasan juga ditemukan cawan petri, pewarnaan gram dan penemuan-penemuan lainnya tentang kuman penyebab penyakit. - Era Modern Pada era ini ditandai dengan dipergunakannya banyak metode dan peralatan mutakhir, seperti mikroskop elektron, kromatografi, sampai dengan komputer. 2. Ruang Lingkup Mikrobiologi Mikrobiologi merupakan bagian ilmu dari biologi, tersusun oleh banyak disiplin ilmu. Pembagian ini tergantung arah atau orientasinya, apakah terhadap taksonomi, terhadap habitat atau terhadap permasalahan yang ada atau ditimbulkan akibat mikroba. Dari pembagian tersebut, sedikitnya ada 21 disiplin atau sub bidang mikrobiologi. 3 Kedudukan Mikroba dalam Dunia Kehidupan Secara umum jasad renik juga disebut protista. Secara keseluruhan klasifikasi jasad renik adalah: 1). Protista eukariotik; protista tingkat tinggi, yang terdiri dari protozoa, Algae, jamur (cendawan) dan jamur berlendir. 2). Protista prokariotik; protista tingkat rendah, yang terdiri kuman (bakteri), Sianobakteri dan Arkhebakteri. 4. Klasifikasi Mikroba Kegiatan seluruh pengklasifikasian, penamaan, dan pengidentifikasian disebut sistematika mikrobe. - Klasifikasi Bakteri Pada klasifikasi Bergey’s tahun 1994 edisi ke-9, kelompok bakteri secara garis besar digolongkan menjadi 4 kategori besar, yakni: 1). Kategori Besar I : Eubacteria Gram Negatif dengan dinding sel, yang terdiri 16 GRUP, mulai dari GRUP 1 sampai GRUP 16.

19

2). Kategori Besar II : Eubacteria Gram Positif dengan dinding sel, yang terdiri dari 6 GRUP, mulai dari GRUP 17 sampai dengan DRUP 29. 3). Kategori Besar III : Eubacteria tanpa dinding sel, terdiri hanya 1 GRUP, yakni GRUP 30 (Mycoplasma atau Mollicula). 4). Kategori Besar IV : Archeobacteria, yang terdiri dari 5 GRUP, dari GRUP 31 sampai GRUP 35. - Klasifikasi Alga Dasar klasifikasi untuk alga meliputi ciri fisiologi sel vegetatif, morfologi sel reproduksi dan berdasarkan pigmen yang dimiliki. Divisi I : Cyanophyta (alga hijau-biru), yang terdiri dari 1 kelas saja dengan 3 nama yaitu Cynaophyceae atau Myxophyceae atau Schyzophyceae. Divisi II : Chlorophyta (alga hijau) Divisi III : Euglenophyta hanya terdiri dari 1 kelas yaitu kelas Euglebophyceae. Divisi IV : Pyrrophyta (alga api), terdiri dari 2 kelas, yakni kelas Dinophyceae dan kelas Desmophyceae (Desmokontae). Divisi V : Chrysophyta, terdiri dari 3 kelas yaitu: Kelas

Xanthophyceae/Heterokontae, kelas Chrysophyceae/ alga keemasan, kelas Bacillariophyceae/Diatomae (Alga kersik). Divisi VI : Phaeophyta, 3 golongan yaitu golongan Isogeneratae (golongan yang memiliki pergiliran keturunan isomorf), golongan Heterogeneratae (yang memiliki pergiliran keturunan yang heteromorf, golongan Cyclosporae (golongan tyang tidak mempunyai pergiliran keturunan). Divisi VII : Rhodophyta (Alga merah), terdiri dari 1 kelas yakni kelas Rhodophyceae. Kelas ini mempunyai 2 anak kelas yaitu Bangiophyceae dan Florideophyceae. - Klasifikasi jamur - Divisi Myxomycophyta - Divisi Eumycophyta (jamur), terdiri dari kelas: * Phycomycetes, golongan jamur tingkat rendah. * Ascomycetec, golongan jamur tingkat tinggi. * Basidiomycetes, golongan jamur tingkat tinggi.

20

* Deuteromycetes, golongan

Fungi Imperfecti, yakni go- longan jamur

(cendawan) yang memiliki fase pembiakan seksual yang belum diketahui dengan jelas. - Klasifikasi Protozoa Protozoa berdasarkan pada alat gerak/alat lokomosia dapat dibedakan menjadi 4 kelas: Kelas Rhizopoda Kelas Mastigophora Kelas Ciliata Kelas Sporozoa

- Klasifikasi Virus Secara garis besar penggolongan virus dibagi menjadi 2 kelompok yaitu: a. Kelompok virus ADN, yakni Parvoviridae Papovaviridae Adenoviridae Herpesviridae Poxviridae Hepadnaviridae

b. Kelompok virus ARN Picornaviridae Flaviviridae Togaviridae Bunyaviridae Arenaviridae Coronaviridae Retroviridae Orthomyxoviridae Paramyxoviridae Rhabdoviridae Reoviridae

21

C. Penutup a. Pertanyaan 1. Jelaskan secara singkat sejarah perkembangan mikrobiologi! 2. Sebutkan ruang lingkup mikrobiologi 3. Bagaimana kedudukan mikroba dalam dunia kehidupan? b. Umpan balik Anda dapat menguasai materi ini dengan baik jika memperhatikan hal-hal sebagai berikut: Membaca bahan atau materi yang relevan dengan materi yang akan dibahas. Aktif dalam tanya jawab sehubungan dengan materi yang dibahas. Mengerjakan latihan.

c. Tindak lanjut Apabila mahasiswa dapat menyelesaikan 80% pertanyaan di atas, maka mahasiswa tersebut dapat melanjutkan ke bab selanjutnya, sebab materi pengenalan mikrobiologi merupakan dasar untuk bab-bab selanjutnya. Jika ada di antara mahasiswa ada yang belum mencapai penguasaan 80% dianjurkan untuk:    Mempelajari kembali topik di atas dari awal. Berdiskusi dengan teman terutama hal-hal yang belum dikuasai. Bertanya kepada Dosen jika ada hal-hal yang tidak jelas dalam penyampaian materi atau diskusi. d. Kunci Jawaban 1. Sejarah Perkembangan Mikrobiologi - Era Perintisan Dalam periode ini para ahli mencoba mencari jawaban dari berbagai permasalahan yang timbul di lingkungannya yang mungkin berkaitan dengan peranan mikroba. Periode ini ditandai dengan adanya mikroskop dan penemuan dunia jasad renik, generasi spontan lawan biogenesis, teori nutfah fermentasi, teori nutfah penyakit - Era Keemasan

22

Periode keemasan ini dikaitkan dengan penemuan-penemuan baru terutama oleh Robert Koch tentang biakan murni. Pada periode keemasan juga ditemukan cawan petri, pewarnaan gram dan penemuan-penemuan lainnya tentang kuman penyebab penyakit. - Era Modern Pada era ini ditandai dengan dipergunakannya banyak metode dan peralatan mutakhir, seperti mikroskop elektron, kromatografi, sampai dengan komputer. 2. Ruang Lingkup Mikrobiologi Mikrobiologi merupakan bagian ilmu dari biologi, tersusun oleh banyak disiplin ilmu. Pembagian ini tergantung arah atau orientasinya, apakah terhadap taksonomi, terhadap habitat atau terhadap permasalahan yang ada atau ditimbulkan akibat mikroba. Dari pembagian tersebut, sedikitnya ada 21 disiplin atau sub bidang mikrobiologi. 3 Kedudukan Mikroba dalam Dunia Kehidupan Secara umum jasad renik juga disebut protista. Secara keseluruhan klasifikasi jasad renik adalah: 1). Protista eukariotik; protista tingkat tinggi, yang terdiri dari protozoa, Algae, jamur (cendawan) dan jamur berlendir. 2). Protista prokariotik; protista tingkat rendah, yang terdiri kuman (bakteri), Sianobakteri dan Arkhebakteri. Referensi Pelczhar. 1986. Dasar-dasar Mikrobiologi 1. Jakarta. UI Press. Uno, W. 2004. Diktat Mikrobiologi 1. FMIPA UNG. Waluyo. 2004. Mikrobiologi Umum. UMM f. Senarai Abiogenesis: generasi spontan (generasi berasal dari benda mati) Biogenesis : generasi hidup (generasi berasal dari makhluk hidup) Taksonomi : klasifikasi : penggolongan.

23

BAB II MORFOLOGI DAN ANATOMI MIKROORGANISME
A. Pendahuluan Deskripsi singkat Bab ini akan menguraikan tentang morfologi mikroorganisme, ukuran mikroorganisme dan struktur sel mikroorganisme.

Relevansi Pembahasan ini akan sangat berhubungan dengan bab selanjutnya. Mahasiswa akan mengenal dan mengetahui terlebih dahulu mikroorganisme, ukuran mikroorganisme dan morfologi

struktur sel mikroorganisme

sehingga mahasiswa akan lebih mudah mengikuti materi berikutnya. Materi ini merupakan dasar untuk kegiatan praktikum mengamati bentuk, struktus sel mikroorganisme. Kompetensi Dasar Mahasiswa dapat menjelaskan morfologi dan anatomi mikroorganisme. B. Penyajian Uraian dan contoh 2.1 Morfologi Mikroorganisme Dunia mikroorganisme terdiri dari berbagai kelompok jasad renik, kebanyakan uniseluler. Ciri utama yang membedakan kelompok mikroorganime tertentu dari mikroba yang lain adalah organisasi bahan selulernya. Perbedaan ini penting untuk memisahkan semua protista menjadi 2 kategori uatama yakni Prokariotik dan eukariotik. 2.1.1 Sel Sebagai Satuan Struktur Dasar Kehidupan Sel merupakan satuan struktural yang fundamental dan fungsional bagi kehidupan. Untuk organisme uniseluler, sel bukan saja merupakan satuan struktural kehidupan, tetapi juga merupakan organisme itu sendiri. Sebaliknya

24

pada organisme multiseluler adalah merupakan kumpulan sel-sel yang tersusun menjadi satuan-satuan yang terpadu ke dalam sistem atau berbagai sistem yang secara bersama-sama membentuk organisme hidup. 2.1.2 Bentuk dan Susunan Mikroorganisme Bentuk umum mikroorganisme terdiri dari satu sel (uniseluler), seperti yang diperoleh pada bakteri, ragi dan mikroalga. Bentuk mikroorganisme dapat juga berbentuk filamen atau serat, yakni rangkaian sel yang terdiri dari 2 sel atau lebih yang berbentuk rantai seperti yang ditemui pada fungi dan mikroalga. Bentuk lain mikroorganisme adalah koloni, yakni gabungan dua sel atau lebih di dalam satu ruang seperti yang didapatkan pada bakteri dan mikroalga. Berikut ini diuraikan bentuk umum dari masing-masing mikroorganisme. b. Bakteri adalah sel prokariotik yang khas, uniseluler dan tidak mengandung struktur yang terbatasi membran di dalam sitoplasmanya. Sel-selnya khas, berbentuk bola, batang atau spiral. c. Sianobakteri merupakan organisme prokariotik fotosin tetik, artinya mengandung klorofil dan pigmen-pigmen lain yang memungkinkan mereka melakukan fotosintesis. Bersel satu dan dapat dijumpai secara tunggal atau dalam rantai sel dan kadang-kadang bercabang. d. Fungi, tidak berklorofil dan tidak mempunyai dinding sel yang kaku. Beberapa bersel satu, yang lain multiseluler dan sedikit menunjukkan perbedaan pada bagian-bagian strukturalnya. e. Protozoa adalah protista eukariotik yang berklorofil pada golongan tertentu, dan tidak mempunyai dinding sel. Bentuknya bermacam-macam. f. Alga adalah protista eukariotik yang berklorofil g. Virus bersifat uniseluler, terdiri dari seutas asam nukleat, baik ADN maupun ARN, terbungkus dalam lapisan protein. 2.2 Ukuran Mikroorganisme Besaran untuk mengukur mikroba yang paling umum digunakan adalah mikron (μ)), bahkan pada beberapa jenis mungkin dengan mikro-mikron ataupun sampai angstrom (A). Pengukuran terhadap mikroorganisme sekarang ini dilakukan lebih teliti lagi, karena sudah menggunakan mikroskop elektron yang ketepatannya lebih

25

tinggi, sehingga ukuran dari bagian-bagian sel seperti flagela, pili, inti atau bagian-bagian lain yang lebih kecil akan dapat ditentukan dengan baik. Kelompok mikroba yang kecil, misalnya pada Mycoplasma yang hanya berdiameter 0,125 mikron saja, sedangkan yang paling besar adalah mikroalga biru hijau, misalnya Oscillatoria dengan ukuran diameter lebih kurang 500 kali dari Mycoplasma. Jenis mikroba lainnya sangat bervariasi, tergantung dari kelompok, jenis dan lingkungan di mana jasad renik itu hidup dan berkembang.

Gambar 1. Bandingan Ukuran Sel pada Beberapa Mikroorganisme

2.3 Struktur Sel Mikroorganisme 2.3.1 Struktur Sel Prokariotik Pada tiap tingkatan, struktur sel prokariotik lebih sederhana daripada sel eukariotik, dengan satu perkecualian dinding selnya lebih kompleks. Secara umum susunan sel prokariotik terdiri dari: a. b. c.  Dinding luar, yang terdiri dari lapisan lendir, dinding sel dan membran sitoplasma. Sitoplasma atau plasma sel Bahan inti

Lapisan lendir Beberapa sel prokariotik dilengkapi dengan selubung yang lengkap atau berlendir di luar dari dinding sel yang kaku. Bila lapisan lendir ini cukup tebal dan berlekatan dengan dinding sel, maka bungkus ini disebut dengan kapsula (kapsel), dan bila lapisan bungkus ini tidak berlekatan dengan dinding sel disebut lapisan lendir. Lapisan lendir tidak mudah menghisap zat warna. Hanya dengan pewarnaan yang khusus, lapisan lendir dapat dilihat. Lapisan

26

lendir terdiri dari karbohidrat. Pada beberapa spesies tertentu, lendir ini juga mengandung unsur nitrogen atau fosfor (P). Lendir memberikan perlindungan terhadap kekeringan, seolah-olah merupakan suatu benteng untuk bertahan terhadap faktor lingkungan.  Dinding sel Lapisan-lapisan yang membungkus sel prokariotik secara kolektif dinamakan pembungkus sel. Pembungkus yang terletak antara membran sitoplasma dengan lapisan lendir atau kapsula disebut dinding sel. Dinding sel sangat tipis, namun dinding inilah yang memberikan bentuk tertentu pada sel prokariotik. Karena memiliki dinding sel yang kaku inilah, menyebabkan bakteri digolongkan ke dunia tumbuhan. Fungsi dinding sel adalah untuk memberi bentuk tertentu pada sel, perlindungan, untuk mengatur masuk keluarnya zat-zat kimia dan memegang peranan penting dalam pembelahan sel.  Membran sitoplasma Disebut juga membran plasma atau plasmalema atau lapisan hialin merupakan bungkus dari bahan sel prokariotik (protoplasma/sitoplasma dan isinya). Secara keseluruhan bahan sel dan organela yang terdapat di dalam sel disebut protoplast.  Isi sel Disebut juga protoplasma merupakan suatu koloid yang mengandung karbohidrat, protein, enzim-enzim, belerang, kalsium karbonat dan volutin. Volutin adalah suatu zat yang banyak mengandung asam ribonukleat (ARN) dan memiliki sifat mudah menghisap zat warna tertentu, yakni zat warna yang bersifat basa.  Inti atau nukleus Inti terdiri dari ADN (asam deoksiribonukleat) dan ARN (asam ribonukleat). ARN merupakan bagian dari ribosom, yakni organel sel dan berfungsi sebagai organel penyusun protein. Pada virus berupa ARN atau ADN. Bakteri tidak memiliki nukleolus, tidak memiliki retikulum endoplasma, tidak mempunyai

27

mitokndria dan badan golgi. Pada bakteri Gram positif terdapat lipatan-lipatan yang disebut mesosom. Organel inilah yang dianggap berfungsi sebagai mitokondria.  Flagel Beberapa mikroorganisme bergerak dengan menggunakan flagel, misalnya kuman yang berbentuk batang (basil) dan spiril. Dengan mikroskop elektron ditunjukkan bahwa flagel itu merupakan benang-benang protopllasma yang berpangkal pada titik tepat di bawah membran sel, pangkal itu disebut rizoblast. Komposisi flagel sendiri terdiri dari protein yang disebut flagelin, yakni protein semacam miosin.  Pili atau fimbriae Banyak bakteri Gram negatif memiliki bulu-bulu panjang di sekitar sel. Bulubulu ini tidak berlekuk-lekuk dan lebih halus dari flagel. Bulu inilah yang disebut pili, dan jumlahnyaratusan. Susunan kimiawi dari pili adalah protein yang dinamakan pilia, yakni heteropolimer dari 18 asam amino yang bersifat antigenik. Diduga fungsi pili berkaitan dengan fungsi konyugasi (perkawinan).

2.3.2 Struktur Sel Eukariotik Struktur sel eukariotik lebih rumit daripada sel prokariotik. Ciri utama struktur internal sel eukariotik dan yang membedakannya dari sel prokariotik adalah sistem membran internalnya yang ekstensif. Membran ini yang disebut retikulum endoplasma. - Retikulum endoplasma System membran yang kompleks ini meluas ke seluruh sitoplasma dan membaginya ke dalam ruang-ruang terpisah dan saluran-saluran. Sebagian dari retikulum endoplasma ini menyelubungi inti dan membentuk membran nucleus. Beberapa bagian dilapisi dengan ribosom. Banyak fungsi dilakukan oleh retikulum endoplasma, antara lain sebagai penghalang di antara berbagai organel dan menjaganya dalam posisi yang relatif

28

konstan. Juga menyediakan saluran-saluran yang mengatur arus bahan-bahan dalam sel. Selain itu merupakan sumber membran internal tambahan, dan memberikan pula permukaan yang kokoh bagi penjajaran ribosom yang berfungsi dalam pembentukan protein baru (biosintesis protein). - Nukleus Nucleus merupakan suatu tubuh yang sangat penting, biasanya bulat dan dikelilingi oleh membran ganda, yang dinamakan envelope nucleus (selaput nucleus). Membran ini berkelanjutan dengan membran plasma. Substansi nucleus ini terdiri dari DNA dalam bentuk kromosom, RNA dan protein. Di dalam nucleus terdapat satu atau lebih tubuh yang disebut nucleolus. Tubuh-ubuh ini penuh berisi RNA dan diduga merupakan situs pembentukan RNA ribosom. Nucleus merupakan lokasi utama bahan genetic dan berfungsi sebagai pusat pengendalian sel. - Alat golgi Alat golgi dinamakan juga kompleks golgi, organel bermembran ini terdiri dari sekelompok kantung pipih seperti cakram, tersusun dalam tumpukan dan dikelilingi oleh tubul dan gelembung kecil. Struktur ini yang terdapat dalam daerah retikulum endoplasma, mengemas dan mengangkut protein dan polisakarida ke luar sel. Juga merupakan situs bagi sintesis bahan dinding sel yang baru. - Mitokondria Organel ini terselubung dalam membran ganda, berfungsi sebagai situs utama untuk produksi energi dalam proses proses selular (proses respirasi). - Kloroplas Kloroplas adalah organel dalam sel tumbugan yang mengandung pigmen hijau klorofil dan di dalamnya berlangsung fotosintesis. - Vakuola Vakuola merupakan ruang yang dibatasi membran di dalam sitoplasma yang mengandung larutan encer berbagai substansi. - Mikrotubul dan mikrofilamen Batang-batang yang sangat tipis ini terdapat bebas atau dalam berkas di dalam sitoplasma atau di dalam struktur sitoplasma. Mikrofilamen mengandung

29

protein aktin dan miosin yang berperan dalam mentediakan mekanisme pergerakan amuboid. Fungsinya menjaga bentuk sel dan meningkatkan gerak teratur komponen-komponen di dalam organel. - Flagela dan silia Keduanya merupakan tonjolan yang meluas di luar dinding sel berbagai bakteri, ganggang, cendawan dan protozoa. Organel-organel ini biasanya berfungsi untuk menggerakkan organisme, sehingga sering disebut organel lokomotor. Flagela eukariotik secara structural lebih kompleks daripada yang dimiliki prokariotik. - Dinding sel Beberapa sel eukariotik mempunyai dinding sel, suatu penutup luar membran sitoplasma. Strukturnya terdiri dari dua macam komponen yang utama yaitu jaringan mikrofibril yang memberikan sifat kaku pada dinding sel, dan substansi yang di dalamnya tertanam mikrofibril. Komposisi bahan-bahan ini berbeda-beda sesuai dengan macam organismenya. Protozoa tidak mempunyai dinding sel tetapi ada mempunyai bahan penutup (pelindung) yang disebut pelikel. Latihan Untuk memperdalam pemahaman anda tentang materi di atas, kerjakanlah soal-soal latihan berikut: 1. Jelaskan dengan singkat morfologi mikroorganisme 2. Sebutkan perbedaan ukuran berbagai mikroorganisme 3. Jelaskan perbedaan struktur sel prokariotik dengan sel eukariotik.

Rangkuman 1. Morfologi Mikroorganisme Sel merupakan satuan struktural yang fundamental dan fungsional bagi kehidupan. Untuk organisme uniseluler, sel bukan saja merupakan satuan struktural kehidupan, tetapi juga merupakan organisme itu sendiri. Bentuk umum mikroorganisme terdiri dari satu sel (uniseluler), seperti yang diperoleh pada bakteri, ragi dan mikroalga. Bentuk mikroorganisme dapat

30

juga berbentuk filamen atau serat, yakni rangkaian sel yang terdiri dari 2 sel atau lebih yang berbentuk rantai seperti yang ditemui pada fungi dan mikroalga. Bentuk lain mikroorganisme adalah koloni, yakni gabungan dua sel atau lebih di dalam satu ruang seperti yang didapatkan pada bakteri dan mikroalga. Berikut ini diuraikan bentuk umum dari masing-masing mikroorganisme. Bakteri adalah sel prokariotik yang khas, uniseluler dan tidak mengandung struktur yang terbatasi membran di dalam

sitoplasmanya. Sel-selnya khas, berbentuk bola, batang atau spiral. Sianobakteri merupakan organisme prokariotik fotosin tetik, artinya mengandung klorofil dan pigmen-pigmen lain yang memungkinkan mereka melakukan fotosintesis. Bersel satu dan dapat dijumpai secara tunggal atau dalam rantai sel dan kadangkadang bercabang. Fungi, tidak berklorofil dan tidak mempunyai dinding sel yang kaku. Beberapa bersel satu, yang lain multiseluler dan sedikit menunjukkan perbedaan pada bagian-bagian strukturalnya. Protozoa adalah protista eukariotik yang berklorofil pada golongan tertentu, dan tidak mempunyai dinding sel. Bentuknya bermacam-macam. Alga adalah protista eukariotik yang berklorofil Virus bersifat uniseluler, terdiri dari seutas asam nukleat, baik ADN maupun ARN, terbungkus dalam lapisan protein. 2. Ukuran Mikroorganisme Besaran untuk mengukur mikroba yang paling umum digunakan adalah mikron (μ)), bahkan pada beberapa jenis mungkin dengan mikro-mikron ataupun sampai angstrom (A). Pengukuran terhadap mikroorganisme sekarang ini dilakukan lebih teliti lagi, karena sudah menggunakan mikroskop elektron yang ketepatannya lebih tinggi, sehingga ukuran dari bagian-bagian sel seperti flagela, pili, inti atau bagian-bagian lain yang lebih kecil akan dapat ditentukan dengan baik.

31

Kelompok mikroba yang kecil, misalnya pada Mycoplasma yang hanya berdiameter 0,125 mikron saja, sedangkan yang paling besar adalah mikroalga biru hijau, misalnya Oscillatoria dengan ukuran diameter lebih kurang 500 kali dari Mycoplasma. Jenis mikroba lainnya sangat bervariasi, tergantung dari kelompok, jenis dan lingkungan di mana jasad renik itu hidup dan berkembang. 3. Struktur Sel Mikroorganisme - Struktur Sel Prokariotik Pada tiap tingkatan, struktur sel prokariotik lebih sederhana daripada sel eukariotik, dengan satu perkecualian dinding selnya lebih kompleks. Secara umum susunan sel prokariotik terdiri dari: a. Dinding luar, yang terdiri dari lapisan lendir, dinding sel dan membran sitoplasma. b. Sitoplasma atau plasma sel c. Bahan inti * Lapisan lendir Beberapa sel prokariotik dilengkapi dengan selubung yang lengkap atau berlendir di luar dari dinding sel yang kaku. Bila lapisan lendir ini cukup tebal dan berlekatan dengan dinding sel, maka bungkus ini disebut dengan kapsula (kapsel), dan bila lapisan bungkus ini tidak berlekatan dengan dinding sel disebut lapisan lendir. Lapisan lendir tidak mudah menghisap zat warna. Hanya dengan pewarnaan yang khusus, lapisan lendir dapat dilihat. Lapisan lendir terdiri dari karbohidrat. Pada beberapa spesies tertentu, lendir ini juga mengandung unsur nitrogen atau fosfor (P). Lendir memberikan perlindungan terhadap kekeringan, seolah-olah merupakan suatu benteng untuk bertahan terhadap faktor lingkungan. * Dinding sel Lapisan-lapisan yang membungkus sel prokariotik secara kolektif dinamakan pembungkus sel. Pembungkus yang terletak antara membran sitoplasma dengan lapisan lendir atau kapsula disebut dinding sel. Dinding sel sangat tipis, namun dinding inilah yang memberikan bentuk tertentu pada sel

32

prokariotik. Karena memiliki dinding sel yang kaku inilah, menyebabkan bakteri digolongkan ke dunia tumbuhan. Fungsi dinding sel adalah untuk memberi bentuk tertentu pada sel, perlindungan, untuk mengatur masuk keluarnya zat-zat kimia dan memegang peranan penting dalam pembelahan sel. * Membran sitoplasma Disebut juga membran plasma atau plasmalema atau lapisan hialin merupakan bungkus dari bahan sel prokariotik (protoplasma/sitoplasma dan isinya). Secara keseluruhan bahan sel dan organela yang terdapat di dalam sel disebut protoplast. * Isi sel Disebut juga protoplasma merupakan suatu koloid yang mengandung karbohidrat, protein, enzim-enzim, belerang, kalsium karbonat dan volutin. Volutin adalah suatu zat yang banyak mengandung asam ribonukleat (ARN) dan memiliki sifat mudah menghisap zat warna tertentu, yakni zat warna yang bersifat basa. * Inti atau nukleus Inti terdiri dari ADN (asam deoksiribonukleat) dan ARN (asam ribonukleat). ARN merupakan bagian dari ribosom, yakni organel sel dan berfungsi sebagai organel penyusun protein. Pada virus berupa ARN atau ADN. Bakteri tidak memiliki nukleolus, tidak memiliki retikulum endoplasma, tidak mempunyai mitokndria dan badan golgi. Pada bakteri Gram positif terdapat lipatan-lipatan yang disebut mesosom. Organel inilah yang dianggap berfungsi sebagai mitokondria. * Flagel Beberapa mikroorganisme bergerak dengan menggunakan flagel, misalnya kuman yang berbentuk batang (basil) dan spiril. Dengan mikroskop elektron ditunjukkan bahwa flagel itu merupakan benang-benang protopllasma yang berpangkal pada titik tepat di bawah membran sel, pangkal itu disebut

33

rizoblast. Komposisi flagel sendiri terdiri dari protein yang disebut flagelin, yakni protein semacam miosin. * Pili atau fimbriae Banyak bakteri Gram negatif memiliki bulu-bulu panjang di sekitar sel. Bulubulu ini tidak berlekuk-lekuk dan lebih halus dari flagel. Bulu inilah yang disebut pili, dan jumlahnyaratusan. Susunan kimiawi dari pili adalah protein yang dinamakan pilia, yakni heteropolimer dari 18 asam amino yang bersifat antigenik. Diduga fungsi pili berkaitan dengan fungsi konyugasi (perkawinan). - Struktur Sel Eukariotik Ciri utama struktur internal sel eukariotik dan yang membedakannya dari sel prokariotik adalah sistem membran internalnya yang ekstensif. Membran ini yang disebut retikulum endoplasma. - Retikulum endoplasma Banyak fungsi dilakukan oleh retikulum endoplasma, antara lain sebagai penghalang di antara berbagai organel dan menjaganya dalam posisi yang relatif konstan. Juga menyediakan saluran-saluran yang mengatur arus bahan-bahan dalam sel. Selain itu merupakan sumber membran internal tambahan, dan memberikan pula permukaan yang kokoh bagi penjajaran ribosom yang berfungsi dalam pembentukan protein baru (biosintesis protein). - Nukleus Substansi nucleus ini terdiri dari DNA dalam bentuk kromosom, RNA dan protein. Di dalam nucleus terdapat satu atau lebih tubuh yang disebut nucleolus. Tubuh-ubuh ini penuh berisi RNA dan diduga merupakan situs pembentukan RNA ribosom. Nucleus merupakan lokasi utama bahan genetic dan berfungsi sebagai pusat pengendalian sel. - Alat golgi Alat golgi dinamakan juga kompleks golgi, organel bermembran ini terdiri dari sekelompok kantung pipih seperti cakram, tersusun dalam tumpukan dan dikelilingi oleh tubul dan gelembung kecil. Struktur ini yang terdapat dalam daerah retikulum endoplasma, mengemas dan mengangkut protein dan

34

polisakarida ke luar sel. Juga merupakan situs bagi sintesis bahan dinding sel yang baru. - Mitokondria Organel ini terselubung dalam membran ganda, berfungsi sebagai situs utama untuk produksi energi dalam proses proses selular (proses respirasi). - Kloroplas Kloroplas adalah organel dalam sel tumbugan yang mengandung pigmen hijau klorofil dan di dalamnya berlangsung fotosintesis. - Vakuola Vakuola merupakan ruang yang dibatasi membran di dalam sitoplasma yang mengandung larutan encer berbagai substansi. - Mikrotubul dan mikrofilamen Mikrofilamen mengandung protein aktin dan miosin yang berperan dalam menyediakan mekanisme pergerakan amuboid. Fungsinya menjaga bentuk sel dan meningkatkan gerak teratur komponen-komponen di dalam organel. - Flagela dan silia Keduanya merupakan tonjolan yang meluas di luar dinding sel berbagai bakteri, ganggang, cendawan dan protozoa. Organel-organel ini biasanya berfungsi untuk menggerakkan organisme, sehingga sering disebut organel lokomotor. Flagela eukariotik secara structural lebih kompleks daripada yang dimiliki prokariotik. - Dinding sel Beberapa sel eukariotik mempunyai dinding sel, suatu penutup luar membran sitoplasma. Strukturnya terdiri dari dua macam komponen yang utama yaitu jaringan mikrofibril yang memberikan sifat kaku pada dinding sel, dan substansi yang di dalamnya tertanam mikrofibril. Protozoa tidak mempunyai dinding sel tetapi ada mempunyai bahan penutup (pelindung) yang disebut pelikel.

C. Penutup a. Pertanyaan 1. Jelaskan dengan singkat morfologi mikroorganisme

35

2. Sebutkan perbedaan ukuran berbagai mikroorganisme 3. Jelaskan perbedaan struktur sel prokariotik dengan sel eukariotik. b. Umpan balik Anda dapat menguasai materi ini dengan baik jika memperhatikan hal-hal sebagai berikut: Membaca bahan atau materi yang relevan dengan materi yang akan dibahas. Aktif dalam diskusi Mengerjakan latihan.

c. Tindak lanjut Apabila mahasiswa dapat menyelesaikan 80% pertanyaan di atas, maka mahasiswa tersebut dapat melanjutkan ke bab selanjutnya, sebab materi ini merupakan dasar untuk bab-bab selanjutnya. Jika ada di antara mahasiswa ada yang belum mencapai penguasaan 80% dianjurkan untuk:    Mempelajari kembali topik di atas dari awal. Berdiskusi dengan teman terutama hal-hal yang belum dikuasai. Bertanya kepada Dosen jika ada hal-hal yang tidak jelas dalam penyampaian materi atau diskusi. d. Kunci Jawaban 1. Morfologi Mikroorganisme Sel merupakan satuan struktural yang fundamental dan fungsional bagi kehidupan. Untuk organisme uniseluler, sel bukan saja merupakan satuan struktural kehidupan, tetapi juga merupakan organisme itu sendiri. Bentuk umum mikroorganisme terdiri dari satu sel (uniseluler), seperti yang diperoleh pada bakteri, ragi dan mikroalga. Bentuk mikroorganisme dapat juga berbentuk filamen atau serat, yakni rangkaian sel yang terdiri dari 2 sel atau lebih yang berbentuk rantai seperti yang ditemui pada fungi dan mikroalga. Bentuk lain mikroorganisme adalah koloni, yakni gabungan dua sel atau lebih di dalam satu ruang seperti yang didapatkan pada bakteri dan mikroalga. Berikut ini diuraikan bentuk umum dari masing-masing mikroorganisme.

36

-

Bakteri adalah sel prokariotik yang khas, uniseluler dan tidak mengandung struktur yang terbatasi membran di dalam

sitoplasmanya. Sel-selnya khas, berbentuk bola, batang atau spiral. Sianobakteri merupakan organisme prokariotik fotosin tetik, artinya mengandung klorofil dan pigmen-pigmen lain yang memungkinkan mereka melakukan fotosintesis. Bersel satu dan dapat dijumpai secara tunggal atau dalam rantai sel dan kadangkadang bercabang. Fungi, tidak berklorofil dan tidak mempunyai dinding sel yang kaku. Beberapa bersel satu, yang lain multiseluler dan sedikit menunjukkan perbedaan pada bagian-bagian strukturalnya. Protozoa adalah protista eukariotik yang berklorofil pada golongan tertentu, dan tidak mempunyai dinding sel. Bentuknya bermacam-macam. Alga adalah protista eukariotik yang berklorofil Virus bersifat uniseluler, terdiri dari seutas asam nukleat, baik ADN maupun ARN, terbungkus dalam lapisan protein. 2. Ukuran Mikroorganisme Besaran untuk mengukur mikroba yang paling umum digunakan adalah mikron (μ)), bahkan pada beberapa jenis mungkin dengan mikro-mikron ataupun sampai angstrom (A). Pengukuran terhadap mikroorganisme sekarang ini dilakukan lebih teliti lagi, karena sudah menggunakan mikroskop elektron yang ketepatannya lebih tinggi, sehingga ukuran dari bagian-bagian sel seperti flagela, pili, inti atau bagian-bagian lain yang lebih kecil akan dapat ditentukan dengan baik. Kelompok mikroba yang kecil, misalnya pada Mycoplasma yang hanya berdiameter 0,125 mikron saja, sedangkan yang paling besar adalah mikroalga biru hijau, misalnya Oscillatoria dengan ukuran diameter lebih kurang 500 kali dari Mycoplasma. Jenis mikroba lainnya sangat bervariasi, tergantung dari kelompok, jenis dan lingkungan di mana jasad renik itu hidup dan berkembang. 3. Struktur Sel Mikroorganisme

37

- Struktur Sel Prokariotik Pada tiap tingkatan, struktur sel prokariotik lebih sederhana daripada sel eukariotik, dengan satu perkecualian dinding selnya lebih kompleks. Secara umum susunan sel prokariotik terdiri dari: d. Dinding luar, yang terdiri dari lapisan lendir, dinding sel dan membran sitoplasma. e. Sitoplasma atau plasma sel f. Bahan inti * Lapisan lendir Beberapa sel prokariotik dilengkapi dengan selubung yang lengkap atau berlendir di luar dari dinding sel yang kaku. Bila lapisan lendir ini cukup tebal dan berlekatan dengan dinding sel, maka bungkus ini disebut dengan kapsula (kapsel), dan bila lapisan bungkus ini tidak berlekatan dengan dinding sel disebut lapisan lendir. Lapisan lendir tidak mudah menghisap zat warna. Hanya dengan pewarnaan yang khusus, lapisan lendir dapat dilihat. Lapisan lendir terdiri dari karbohidrat. Pada beberapa spesies tertentu, lendir ini juga mengandung unsur nitrogen atau fosfor (P). Lendir memberikan perlindungan terhadap kekeringan, seolah-olah merupakan suatu benteng untuk bertahan terhadap faktor lingkungan. * Dinding sel Lapisan-lapisan yang membungkus sel prokariotik secara kolektif dinamakan pembungkus sel. Pembungkus yang terletak antara membran sitoplasma dengan lapisan lendir atau kapsula disebut dinding sel. Dinding sel sangat tipis, namun dinding inilah yang memberikan bentuk tertentu pada sel prokariotik. Karena memiliki dinding sel yang kaku inilah, menyebabkan bakteri digolongkan ke dunia tumbuhan. Fungsi dinding sel adalah untuk memberi bentuk tertentu pada sel, perlindungan, untuk mengatur masuk keluarnya zat-zat kimia dan memegang peranan penting dalam pembelahan sel.

38

* Membran sitoplasma Disebut juga membran plasma atau plasmalema atau lapisan hialin merupakan bungkus dari bahan sel prokariotik (protoplasma/sitoplasma dan isinya). Secara keseluruhan bahan sel dan organela yang terdapat di dalam sel disebut protoplast. * Isi sel Disebut juga protoplasma merupakan suatu koloid yang mengandung karbohidrat, protein, enzim-enzim, belerang, kalsium karbonat dan volutin. Volutin adalah suatu zat yang banyak mengandung asam ribonukleat (ARN) dan memiliki sifat mudah menghisap zat warna tertentu, yakni zat warna yang bersifat basa. * Inti atau nukleus Inti terdiri dari ADN (asam deoksiribonukleat) dan ARN (asam ribonukleat). ARN merupakan bagian dari ribosom, yakni organel sel dan berfungsi sebagai organel penyusun protein. Pada virus berupa ARN atau ADN. Bakteri tidak memiliki nukleolus, tidak memiliki retikulum endoplasma, tidak mempunyai mitokndria dan badan golgi. Pada bakteri Gram positif terdapat lipatan-lipatan yang disebut mesosom. Organel inilah yang dianggap berfungsi sebagai mitokondria. * Flagel Beberapa mikroorganisme bergerak dengan menggunakan flagel, misalnya kuman yang berbentuk batang (basil) dan spiril. Dengan mikroskop elektron ditunjukkan bahwa flagel itu merupakan benang-benang protopllasma yang berpangkal pada titik tepat di bawah membran sel, pangkal itu disebut rizoblast. * Pili atau fimbriae Banyak bakteri Gram negatif memiliki bulu-bulu panjang di sekitar sel. Diduga fungsi pili berkaitan dengan fungsi konyugasi (perkawinan). - Struktur Sel Eukariotik

39

Ciri utama struktur internal sel eukariotik dan yang membedakannya dari sel prokariotik adalah sistem membran internalnya yang ekstensif. Membran ini yang disebut retikulum endoplasma. - Retikulum endoplasma Banyak fungsi dilakukan oleh retikulum endoplasma, antara lain sebagai penghalang di antara berbagai organel dan menjaganya dalam posisi yang relatif konstan. Juga menyediakan saluran-saluran yang mengatur arus bahan-bahan dalam sel. Selain itu merupakan sumber membran internal tambahan, dan memberikan pula permukaan yang kokoh bagi penjajaran ribosom yang berfungsi dalam pembentukan protein baru (biosintesis protein). - Nukleus Substansi nucleus ini terdiri dari DNA dalam bentuk kromosom, RNA dan protein. Di dalam nucleus terdapat satu atau lebih tubuh yang disebut nucleolus. Tubuh-ubuh ini penuh berisi RNA dan diduga merupakan situs pembentukan RNA ribosom. Nucleus merupakan lokasi utama bahan genetic dan berfungsi sebagai pusat pengendalian sel. - Alat golgi Alat golgi dinamakan juga kompleks golgi, organel bermembran ini terdiri dari sekelompok kantung pipih seperti cakram, tersusun dalam tumpukan dan dikelilingi oleh tubul dan gelembung kecil. Struktur ini yang terdapat dalam daerah retikulum endoplasma, mengemas dan mengangkut protein dan polisakarida ke luar sel. Juga merupakan situs bagi sintesis bahan dinding sel yang baru. - Mitokondria Organel ini terselubung dalam membran ganda, berfungsi sebagai situs utama untuk produksi energi dalam proses proses selular (proses respirasi). - Kloroplas Kloroplas adalah organel dalam sel tumbuhan yang mengandung pigmen hijau klorofil dan di dalamnya berlangsung fotosintesis. - Vakuola Vakuola merupakan ruang yang dibatasi membran di dalam sitoplasma yang mengandung larutan encer berbagai substansi.

40

- Mikrotubul dan mikrofilamen Mikrofilamen mengandung protein aktin dan miosin yang berperan dalam menyediakan mekanisme pergerakan amuboid. Fungsinya menjaga bentuk sel dan meningkatkan gerak teratur komponen-komponen di dalam organel. - Flagela dan silia Keduanya merupakan tonjolan yang meluas di luar dinding sel berbagai bakteri, ganggang, cendawan dan protozoa. Organel-organel ini biasanya berfungsi untuk menggerakkan organisme, sehingga sering disebut organel lokomotor. - Dinding sel Beberapa sel eukariotik mempunyai dinding sel, suatu penutup luar membran sitoplasma. Strukturnya terdiri dari dua macam komponen yang utama yaitu jaringan mikrofibril yang memberikan sifat kaku pada dinding sel, dan substansi yang di dalamnya tertanam mikrofibril. Protozoa tidak mempunyai dinding sel tetapi ada mempunyai bahan penutup (pelindung) yang disebut pelikel. e. Referensi Jawetz. 1996. Mikrobiologi Kedokteran. Edisi 20. kedokteran EGC. Pelczhar. 1986. Dasar-dasar Mikrobiologi 1. Jakarta. UI Press. Uno, W. 2004. Diktat Mikrobiologi 1. FMIPA UNG. Waluyo. 2004. Mikrobiologi Umum. UMM f. Senarai - Uniseluler: satu sel - Multiseluler: banyak sel - Protoplasma: isi sel - Konjugasi: perkawinan - Klorofil: pigmen hijau Jakarta. Penerbit Buku

41

BAB III METODE PEMERIKSAAN MIKROBA
A. Pendahuluan Deskripsi singkat Bab ini akan menguraikan tentang sterilisasi, mikroskop dan pemeriksaan mikroskopi, pembuatan media, penanaman dan isolasi mikroorganisme serta teknik-teknik pewarnaan.

Relevansi Pembahasan ini akan sangat berhubungan dengan bab selanjutnya. Mahasiswa akan mengenal dan mengetahui terlebih dahulu teori tentang sterilisasi, mikroskop dan pemeriksaan mikroskopi, pembuatan media, penanaman dan isolasi mikroorganisme serta teknik-teknik pewarnaan, sehingga mahasiswa akan lebih mudah mengikuti praktikum. Kompetensi Dasar Mahasiswa dapat menjelaskan metode pemeriksaan mikroba. B. Penyajian Uraian dan contoh 3.1 Sterilisasi Bahan atau peralatan yang digunakan dalam bidang mikrobiologi harus dalam keadaan steril. Steril artinya tidak didapatkan mikroba yang tidak diharapkan kehadirannya, baik yang mengganggu atau merusak media atau mengganggu kehidupan dan proses yang sedang dikerjakan. Setiap proses baik fisika, kimia dan mekanik yang membunuh semua bentuk hidup terutama mikroorganisme disebut sterilisasi. Ada beberapa metode sterilisasi, yaitu: a. Sterilisasi secara fisik Cara membunuh mikroba ini dengan memakai panas (Thermal kill). Panas tersebut akan mendenaturasi protein, terutama enzim-enzim dan membran sel. Panas kering membunuh bakteri karena oksidasi komponen-komponen sel. Daya

42

bunuh panas kering tidak sebaik panas basah. Hal ini dibuktikan dengan memasukkan biakan mikroba dalam air mendidih akan cepat mati daripada dipanasi secara kering. 1). Pemanasan Basah - Otoklaf Alat ini serupa tangki minyak yang dapat diisi dengan uap air. Dalam otoklaf, yang mensterilkannya adalah panas basah, bukan tekanannya. Oleh karena itu setelah air di dalam tangki mendidih dan mulai terbentuk uap air, maka uap air ini akan mengalir ke ruang pensteril guna mendesak keluar semua udara di dalmnya. - Tyndallisasi Metode ini berupa mendidihkan medium dengan uap beberapa menit saja. Setelah didiamkan satu hari, selama itu spora-spora sempat tumbuh menjadi bakteri vegetatif, maka medium tersebut dididihkan lagi selama beberapa menit. Akhirnya pada hari ketiga, medium tersebut dididihkan sekali lagi. Dengan jalan demikian diperoleh medium steril, dan zat-zat organik yang terkandung di dalamnya tidak mengalami perubahan. - Pasteurisasi Pasteurisasi adalah suatu cara disinfeksi dengan pemanasan yang pertamakalinya dilakukan oleh Pasteur dengan maksud untuk mengurangi jumlah mikroorganisme pembusuk (perusak) di dalam anggur tanpa merusak anggur tersebut. Suhu yang dipergunakan pada pasteurisasi adalah sekitar 69 oC, dan waktu yang digunakan adalah 30 menit. 2). Pemanasan Kering - Oven Sterilisasi ini menggunakan udara panas. Alat-alat yang disterilkan ditempatkan dalam oven di mana suhunya dapat mencapai 160-180oC. Caranya adalah dengan memanaskan udara dalam oven tersebut dengan gas atau listrik. Oleh karena daya penetrasi panas kering tidak sebaik panas basah, maka waktu

43

yang diperlukan pada sterilisasi cara ini lebih lama yakni selama 1 – 2 jam. Sterilisasi cara ini baik dipergunakan untuk mensterilkan alat-alat gelas seperti cawan petri, pipet, tabung reaksi, labu dan sebagainya. - Pembakaran (incineration) pembakaran merupakan cara sterilisasi yang 100% efektif, tetapi ini terbatas penggunaannya. Cara ini biasa dipergunakan untuk mensterilkan alat penanam kuman (jarum ose/sengkelit), yakni dengan membakarnya sampai pijar. Dengan cara ini semua bentuk hidup akan dimatikan. Pembakaran juga dilakukan untuk bangkai binatang percobaan yang mati. 3). Penyinaran dengan sinar gelombang pendek Mikroorganisme di udara dapat dibunuh dengan penyinaran memakai sinar ultraviolet. Panjang gelombang yang dapat membunuh mikroorganisme adalah 220 – 290 nm. Radiasi yang paling efektif adalah 253,7 nm. Untuk memperoleh hasil yang baik, maka bahan-bahan yang disterilkan, baik yang berupa cairan, gas atau aerosol harus dilewatkan (dialirkan) atau ditempatkan langsung di bawah sinar ultra ungu dalam lapisan-lapisan yang tipis. b. Sterilisasi secara Kimia Antiseptik kimia biasanya dipergunakan dan dibiarkan menguap seperti halnya alkohor. Umumnya isopropil alkohol 70-90% adalah yang termurah namun merupakan antiseptik yang sangat efisien dan efektif. Penambahan yodium pada alkohol akan meningkatkan daya disinfeksinya. Dengan atau tanpa yodium, isopropil tidak efektif terhadap spora. Solusi terbaik untuk membunuh spora adalah campuran formaldehid dengan alkohol, tetapi solusi ini terlalu toksik untuk dipakai sebagai antiseptik. Zat-zat kimia yang dapat dipakai untuk sterilisasi antara lain adalah halogen (senyawa klorin, yodium), alkohol, fenol, hidrogen peroksida, zat warna ungu kristal, derivat akridin, rosanalin, deterjen, logamlogam berat (Hg, Ag, As, aldehida, gas ETO (oksida etilen), uap formaldehid, beta-propilakton. c. Sterilisasi secara mekanik

44

Beberapa bahan yang akibat pemanasan tinggi atau tekanan tinggi akan mengalami perubahan atau penguraian, maka sterilisasi yang dilakukan adalah dengan cara mekanik, misalnya dengan saringan. Dalam mikrobiologi, penyaringan secara fisik yang paling banyak digunakan adalah dengan penggunaan filter khusus, misalnya filter berkefeld, filter Chamberland dan filter Seitz. Jenis filter yang dipakai atau yang akan dipergunakan tergantung pada tujuan penyaringan dan benda yang akan disaring. - Menyaring cairan Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai filter seperti saringan seitz yang menggunakan saringan asbestos sebagai alat penyaringnya, saringan Berkefeld yang menggunakan filter yang terbuat dari tanah diatom, saringan Chamberland yang menggunakan filter yang terbuat dari porselen, dan fritted glass filter, yang menggunakan filter yang terbuat dari serbuk gelas. - Menyaring udara Untuk menjaga suatu alat yang sudah steril agar tidak tercemar oleh mikroba atau untuk menjaga agar suatu biakan kuman tidak tercemar olah kuman yang lain, maka alat-alat tersebut harus ditutup dengan kapas, karena kapas mudah ditembus udara tetapi dapat menahan mikroorganisme. Harus dijaga agar kapas tidak menjadi basah, oleh karena kapas yang basah memungkinkan kuman menembus ke dalam. Untuk mencegah pencemaran oleh kuman-kuman udara pada waktu menuang perbenihan, dapat digunakan suatu alat yang disebut Laminar flow di mana udara yang masuk ke dalamnya disaring lebih dahulu dengan suatu saringan khusus. Saringan ini ada batas waktu pemakaiannya. 3.2 Mikroskop dan Pemeriksaan Mikroskopi Mikroskop adalah intrumen yang paling banyak digunakan dan paling bermanfaat di laboratorium mikroskopi. Dengan alat ini diperoleh perbesaran sehingga memungkinkan untuk melihat organisme dan struktur yang tak tampak dengan mata bugil. Mikroskop memungkinkan perbesaran dalam kisaran luas dari seratus kali sampai ratusan ribu kali.

45

Mikroskop yang ada terdiri dari dua kategori yaitu mikroskop cahaya (optis) dan mikroskop elektron. Keduanya berbeda dalam prinsip yang mendasari perbesaran. Mikroskop cahaya yang kesemuanya menggunakan sistem lensa optis, mencakup mikroskop: medan terang medan gelap fluoresensi kontras fase.

Mikroskop elektron menggunakan berkas elektron sebagai pengganti gelombang cahaya untuk memperoleh bayangan yang diperbesar. A. Mikroskop cahaya 1). Mikroskop medan terang Dalam mikroskop medan terang, medan mikroskop atau daerah yang diamati diterangi dengan benderang sehingga objek-objek yang sedang ditelaah tampak lebih gelap dari pada latar belakangnya. Pada umumnya mikroskop semacam ini menghasilkan pembesaran berguna maksimum sekitar 1.000 diameter. Dengan sedikit modifikasi termasuk lensa mata (okuler) yang berkekuatan tinggi, pembesaran ini dapat ditingkatkan. Aakan tetapi pembesaran 1.000 sampai 2.000 diameter merupakan batas pembesaran bermanfaat yang dapat diperoleh dengan peralatan seperti itu. Mikroskop majemuk, pembesaran dicapai dengan menggunakan sistem lensa berlawanan dengan mikroskop sederhana Leeuwenhoek, yang hanya mengguanakan lensa tunggal, dimana lensa terdapat pada kondensor memusatkan kerucut cahaya pada medan spesimen. Sebagian dari berkas cahaya dalam kerucut cahaya ini secara langsung menembus lensa objektif untuk membentuk cahaya latar belakang atau medan terang. Berkas cahaya yang mengenai objek (mikroorganisme) pada spesimen tersebut dan menjadi “bengkok” difokuskan oleh lensa objektif sehingga terbentuk bayangan objek tadi. Bayangan tersebut diperbesar oleh lensa okuler. Jadi yang memberikan pembesaran permulaan ialah sistem lensa objektif kemuduan lebih diperbesar lagi oleh sistem lensa okuler.

46

Mikroskop yang umum digunakan dalam mikrobiologi biasanya dilengkapi dengan tiga objektif, masing-masing memberikan derajat pembesaran yang berlainan, yang terpancang pada turret yaitu suatu alas (platform) yang dapat diputar untuk menggerakkan masing-masing objektif sehingga letaknya segaris dengan kondensor. Pembesaran total yang dapat dicapai dengan salah satu objektif manapun ditentukan dengan mengalikan daya pembesaran lensa objektif dengan daya pembesaran lensa mata, yang biasanya 10 kali (x 10). Pembesaran yang berguna terbatas oleh dayapisah suatu mikroskop, yaitu kemampuan untuk menghasilkan bayangan berlainan dari dua titik yang berdekatan (titik disini berarti objek atau bagian kecil-kecil objek). Dayapisah suatu mikroskop cahaya ditentukan oleh panjang gelombang cahaya dan sifat lensa objektif dan lensa kondensor yang dikenal dengan tingkap numeris (numerical aperture atau NA). 2). Mikroskop medan gelap Mikroskop medan gelap diperoleh dari macam mikroskop yang sama seperti yang digunakan untuk mikroskop medan terang kecuali bahwa alat itu diperlengkapi dengan kondensor medan gelap dan suatu objektif ber NA rendah. Macam kondensor ini mengarahkan berkas cahaya ke dalam medan spesimen pada sudut yang sedemikian hingga hanyalah berkas-berkas yang mengenai objek pada medan spesimen itu dibiaskan dan memasuki objektif, maka objek itu menjadi terang-benderang dan sangat nyata terhadap medan gelap (latar belakang yang gelap). Mikroskop medan gelap terutama berguna untuk pemeriksaan mikroorganisme hidup. Teknik ini sangat berguna bagi identifikasi bakteri yang menyebabkan sifilis. Mikroskop fluoresensi (pendar fluor) telah menjadi prosedur yang penting dan dipakai secara amat luas untuk laboratorium rumah sakit dan klinis. Digunakan untuk memeriksa spesimen yang telah diwarnai dengan zat-zat pewarna fluorokrom sehingga memungkinkan identifikasi mikroorganisme dengan cepat. Zat-zat pewarna ini menterap energi gelombang cahaya pendek tak kasatmata sambil memancarkan gelombang-gelombang panjang, gelombang kasatmata yang lebih besar. Bahan seperti itu dinamakan fluoresen dan fenomena ini dinamakan fluoresensi (pendar fluor). Asas ini digabungkan dengan teknik-

47

teknik yang memungkinkan untuk mengidentifikasi mikroorganisme secara khusus dengan pemeriksaan mikroskopis secara langsung. Cara-cara kerja laboratorisnya dapat dilaksanakan dengan cepat. 4). Mikroskopi kontras fase Mikroskop kontras fase adalah suatu tipe mikroskopi cahaya yang memungkinkan kontras yang lebih besar antara substansi dengan berbagai ketebalan atau berbagai indeks bias. Hal tersebut dapat dicapai dengan menggunakan kondensor dan objektif yang khusus yang mengendalikan iluminasi objeknya dengan jalan mengaksentuasikan perbedaan-perbedaan yang kecil dalam ketebalan atau indeks bias struktur-struktur seluler. Perbedaan-perbedaan itu tersingkapkan dalam derjat terang atau derajat gelap yang berlainan (kontras yang lebih nyata). Dengan teknik ini dapat ditemukan letak struktur-struktur di dalam sel yang tidak diwarnani yang tak teramati dengan mikroskop medan terang. B. Mikroskop elektron Mikroskop elektron memberikan pembesaran berguna yang jauh lebih besar dari pada yang mungkin beroleh dengan mikroskopi cahaya. Hal ini dimungkinkan oleh dayapisah yang lebih besar yang diperoleh karena berkasberkas elektron yang digunakan untuk pembesaran mempunyai panjang gelombang yang sangat pendek dibandingkan dengan cahaya. Berkas elektron yang dipakai dalam mikroskopi elektron mempunyai panjang gelombang yang berkisar antara 0,005 sampai 0,0003 µm. Panjang gelombang yang teramat pendek tersebut dari sinar elektron ini memungkinkan dicapainya dayapisah beberapa ratus kali lebih besar dari pada yang dapat diperoleh dengan mikroskopi cahaya. Dengan menggunakan mikroskopi elektron ini memungkinkan untuk memisah-misah objek dalam kisaran 0,0003 µm. Untuk mikroskopi elektron, spesimen yang harus diperksa disiapkan sebagai suatu lapisan kering yang teramat tipis pada layar kecil dan dimasukkan k edalam alat itu pada titik diantara kondensor magnetik dan objektif magnetik (sistem optis kaca tidak digunakan pada mikroskopi elektron), yang sebanding dengan kondensor dan objektif pada mikroskop cahaya. Bayangan yang diperbesar tampak pada layar fluoresen atau terekam pada film fotografik oleh kamera yang terpasang pada instrumen tersebut.

48

Banyak teknik dikembangkan untuk pemeriksaan mikroorganisme dengan mikroskopi elektron. Diantaranya adalah metode-metode pewarnaan yang baru, yaitu metode untuk mengiris sel-sel mikrobe menjadi irisan-irisan tipis mikroskopis untuk pemeriksaan dan teknik radioaktif. Semua prosedur ini diterapkan untuk mikroskopi elektron transmisi (MET). Dalam mikroskopi ini, berkas elektron melewati spesimen dan hamburan elektron ini menghasilkan bayangan. Mikroskopi elektron ini telah mengalami perkembangan suatu modifikasi (ubahsuai) yang dikenal dengan mikroskopi elektron payar (MEP). Dengan prosedur ini spesimen dikenai berkas elektron sedemikian rupa sehingga memungkinkan untuk memperoleh pandangan permukaan tiga dimensi sel-sel.

C. Preparat untuk pemeriksaan mikroskopi cahaya Dua teknik umum digunakan untuk mempersiapkan material atau spesimen untuk pemeriksaan mikroskopis, yaitu (1) suspensi organisme dalam suatu cairan; (2) menggunakan lapisan tipis atau olesan spesimen yang dikeringkan, difikasi dan diwarnai. Ada dua macam teknik yang digunakan yaitu teknik lekapan basah dan teknik tetes gantung Preparat basah diperoleh dengan menaruh setetes zat alir yang mengandung organisme pada kaca objek dan menutupnya dengan kaca sangat tipis yang dinamakan kaca tutup. Untuk mengurangi laju penguapan dan meniadakan aliran udara, tetesan itu biasanya dilingkari dengan “jeli petroleum” atau bahan serupa sehingga antara kaca objek dan kaca tutup terkatup rapat. Preparat basah atau preparat tetes gantung terutama berguna apabila morfologi mikroorganisme yang tengah diperksa dapat rusak karena perlakuan dengan panas atau bahan kimia ataupun bila organisme itu sukar diwarnai. 3.3 Pembuatan Media 3.3.1 Pengertian Media Media adalah perbenihan/substrat atau dasar makanan untuk

menumbuhkan dan mengembangbiakkan suatu mikroorganisme. Media yang baik bagi pemeliharaan mikroorganisme adalah yang mengandung unsur-unsur

49

makanan yang diperlukan, dapat berupa garam-garam anorganik dan senyawasenyawa organik seperti protein, pepton, asam-asam amino dan vitamin-vitamin. Bahan-bahan makanan yang disediakan untuk menumbuhkan mikroorganisme disebut kultur media. Sedangkan mikroorganisme yang tumbuh dan berkembang buak pada suatu kultur media disebut kultur. 3.3.2 Fungsi Media Media dapat berfungsi untuk membiakkan, menga singkan dan menyimpan mikroorganisme dalam waktu yang lama di laboratorium. Media juga berfungsi untuk mempelajari sifat-sifat koloni/pertumbuhan, sifat-sifat biokimiawi mikroorganisme. Selain itu dalam labora-torium mikrobiologi kedokteran dapat berfungsi untuk pembuatan antigen, toksin, dan untuk pasasi kuman dengan tujuan perubahan virulensi dan lain-lain. 3.3.3 Syarat-syarat Membuat Media Syarat-syarat membuat media yang perlu diperhatikan dalam membuat media ialah: Media harus mengandung semua unsur makanan yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangbiakkan mikroorganisme. Media harus mempunyai tekanan osmosa, tegangan permukaan dan pH yang sesuai dengan kebutuhan mikroorganisme. Media harus dalam keadaan steril sebelum ditanami mikroorganisme yang dimaksud, jadi tidak ditumbuhi oleh mikroorganisme lain yang tidak diharapkan. 3.3.4 Klasifikasi Media Media dapat diklasifikasi berdasarkan atas susunan kimia, konsistensi dan fungsinya. 1). Klasifikasi media berdasarkan susunan kimia Klasifikasi media berdasarkan susunan kimia adalah: Media anorganik, yaitu media yang tersusun atas bahan-bahan anorganik. Media organik, yaitu media yang tersusun atas bahan-bahan organik. Media sintetik, yaitu media yang susunan kimianya dapat diketahui dengan pasti, media ini biasanya digunakan untuk mempelajari kebutuhan nutrisi mikroba.

50

-

Media non sintetik, yaitu media yang susunan kimianya tidak dapat ditentukan dengan pasti, media ini banyak digunakan untuk menumbuhkan dan untuk mempelajari taksonomi mikroba.

2). Klasifikasi media berdasarkan konsistensinya Dapat dibagi atas: Media cair, yaitu media yang berbentuk cair. Media padat, media yang berbentuk padat, media ini dapat berbentuk media organik (alamiah) misalnya media wortel, kentang dll atau media anorganik misalnya silika gel. Media padat dapat diperoleh juga dengan cara menambahkan agar-agar yang berasal dari ganggang/alga yang berfungsi sebagai bahan pemadat. Alga digunakan karena bahan ini tidak diuraikan oleh mikroorganisme, dan dapat membeku pada suhu di atas 45oC. Media padat ini terbagi menjadi media agar miring dan agar deep. Media semi padat, dapat dibuat dengan bahan yang sama dengan media padat tetapi yang berbeda adalah komposisi agarnya. Media ini digunakan untuk melihat gerak kuman secara mikroskopik. 3). Klasifikasi Media Berdasarkan Fungsinya Dapat dibagi atas: Media diperkaya, yaitu media yang ditambah zat-zat tertentu misalnya serum, darah, ekstrak tumbuhan dan lainnya, sehingga dapat digunakan untuk menumbuhkan mikroba heterotrof tertentu. Media selektif, yaitu media yang ditambahkan zat kimia tertentu yang bersifat selektif untuk mencegah pertumbuhan mikroba lain, misalnya media yang mengandung kristal violet pada kadar tertentu dapat mencegah pertumbuhan bakteri gram positif tanpa mempengaruhi pertumbuhan gram negatif. Media diferensial, media yang ditambah regensia atau zat kimia tertentu yang menyebabkan suatu mikroba membentuk pertumbuhan atau mengadakan perubahan tertentu sehingga dapat membedakan bakteri hemolitik dan non hemolitik.

51

-

Media penguji, media dengan susunan asam-asam amino tertentu yang digunakan untuk menguji vitamin-vitamin, asam-asam amino, antibiotik dll.

-

Media untuk perhitungan jumlah mikroba, media spesifik yang digunakan untuk menghitung jumlah mikroba dalam suatu bahan, misalnya media untuk menghitung jumlah bakteri, actinomicetes, dll.

-

Media khusus, media untuk menentukan tipe pertumbuhan mikroba dan kemampuannya untuk mengadakan perubahan-perubahan kimia tertentu.

3.3.5 Komposisi Media Pada hakekatnya komposisi media yang baik adalah sesuai dengan kebutuhan mikroorganisme untuk melakukan metabolisme seperti pada habitat aslinya (kondisi alamiah). Dewasa ini untuk keperluan penelitian maupun pekerjaan di laboratorium banyak dipermudah dengan adanya bermacam-macam media yang tersedia dalam bentuk serbuk kering. Di bawah ini ada beberapa media yang menggunakan bahan serbuk kering: 1). Nutrient Agar (NA) Komposisi I : - Ekstrak daging (beef) - Pepton - Bacto Agar - Air suling Komposisi II : - Daging segar - Pepton - Bacto Agar - Air suling Komposisi III: - Ekstrak daging - Pepton - NaCl - Agar 3 gram 5 gram 5 gram 1,5 – 2% 500 gram 10 gram 15 gram 1000 ml 3 gram 5 gram 15 gram 1000 ml

52

- Akuades pH 7,3

1000 ml

2). Media Nutrien Cair (Nutrient Broth : NB) Komposisi I: - Ekstrak daging - Pepton - NaCl - Akuades pH 7,3 3 gram 5 gram 5 gram 1000 ml

Komposisi II: - Daging - Sukrosa - Akuades 0,25 gram 30 gram 1000 ml

3). Media Potato Dekstrosa Agar (PDA) Komposisi: - Kentang - Dekstrosa - Bacto Agar - Air suling 4). Lactose Broth (LB) Komposisi: - Ekstrak beef - Pepton - Laktosa - Air suling 3 gram 5 gram 5 gram 1000 ml 200 gram 15 gram 15 gram 1000 ml

5). Eosin Methylene Blue (EMB) Agar Komposisi: - Pepton - Laktosa - Sakharosa - Eosin Y - Biru metilen 10 gram 5 gram 5 gram 2 gram 0,065 gram

53

- Agar - Air suling 6). Salmonella-Shigella (SS) Agar Komposisi: - Ekstrak sapi - Proteose pepton - Laktosa - Garam bile no.3 - Natrium thiosulfat - Natrium sitrat - Ferrik sitrat - Agar - Merah netral - Hijau brilian - Air suling pH

15 gram 1000 ml

5 gram 5 gram 10 gram 8,5 gram 8,5 gram 8,5 gram 1,0 gram 13,5 gram 0,025 gram 0,33 mg 1000 ml 7,0

3.4 Penanaman dan Isolasi Mikroorganisme Semua alat, bahan dan medium yang digunakan untuk inokulasi (penanaman) harus-harus benar-benar steril, hal ini untuk menghindari kontaminasi, yakni masuknya mikroorganisme yang tidak diinginkan. Langkahlangkah pada pekerjaan inokulasi dan isolasi mikroba adalah sebagai berikut: 1). Menyiapkan ruangan Ruang tempat inokulasi harus bersih dan bebas angin. Dinding ruang yang basah menyebabkan butir-butir debu menempel. Pada waktu mengadakan inokulasi, baik sekali bila meja tempat inokulasi didasari dengan kain basah. Inokulasi dapat dilakukan di dalam suatu kotak kaca (ent-kas). 2). Pemindahan dengan kawat inokulasi Ujung kawat inokulasi sebaiknya dari platina atau nikrom, ujung kawat boleh lurus, boleh juga berupa kolongan yang berdiameter 1-3 mm. Lebih dahulu ujung kawat ini dipijarkan, sedang sisanya sampai tangkai cukup dilewatkan nyala api saja. Setelah dingin kembali, ujung kawat itu disentuhkan suatu koloni. Mulut tabung tempat pemeliharaan itu dipanasi juga setelah sumbatnya diambil. Setelah

54

pengambilan inokulum (sampel bakteri) selesai, mulut tabung dipanasi lagi kemudian disumbat seperti semula. Ujung kawat yang yang membawakan inokulum tersebut digesekkan pada medium baru atau pada suatu kaca benda, kalau tujuannya memang akan membuat suatu sediaan. 3). Pemindahan dengan pipet Cara ini dilakukan misalnya pada penyelidikan air minum atau penyelidikan susu. Untuk itu diambil 1 ml contoh (sampel) untuk diencerkan dengan 99 ml air murni yang telah disterilkan. Dalam pengenceran ini tergantung dari keadaan air atau susu yang diselidiki. Kemudian diambil 1 ml dari hasil pengenceran ini untuk diambil dengan pipet dan dituang ke cawan petri yang berisi medium agar-agar yang masih dalam keadaan cair dan dicampuraduk sampai homogen. Setelah agar-agar membeku, cawan tersebut disimpan di di dalam inkubator. Peliharaan yang diperoleh dengan cara di atas terkenal dengan nama peliharaan adukan. Dengan cara ini bakteri yang diinokulasikan tadi dapat menyebar luas ke seluruh medium. Bakteri aerob dan anaerob dapat tumbuh di situ, dan banyaknya koloni dapat dihitung dengan mudah. 4). Teknik Biakan Murni (Cara Menyendirikan Piaraan Murni) Di alam bebas tidak ada mikroba yang hidup tersendiri terlepas dari spesies yang lain. Seringkali mikroba patogen kedapatan secara bersama-sama dengan mikroba saproba (saprobakteri). Dalam teknik biakan murni tidak saja diperlukan bagaimana memperoleh suatu biakan murni, tetapi juga bagaimana memelihara serta mencegah kontaminasi dari laur. Medium untuk membiakkan mikroba haruslah steril sebelum digunakan. Kontaminasi dari luar terutama berasal dari udara yang mengandung banyak mikroorganisme. Teknik biakan murni untuk suatu spesies dapat dilakukan dengan beberapa cara. a. Cara Pengenceran Cara ini pertama kali dilakukan oleh Lister pada tahun 1865. Lister berhasil memelihara murni Streptococcus lactis yang diisolasi dari susu yang sudah asam. Caranya adalah dengan mengencerkan suatu suspensi yang berupa campuran bermacam-macam spesies kemudian diencerkan dalam suatu tabung tersendiri. Dari pengenceran ini kemudian diambil 1 ml untuk diencerkan lagi. Kalau perlu dari hasil pengenceran kedua diambil 1 ml untuk diencerkan lebih

55

lanjut. Gari hasil pengenceran ketiga diambil 0,1 ml untuk disebarkan pada suatu medium padat, kemungkinan besar akan ditemukan beberapa koloni yang tumbuh pada medium tersebut, tapi mungkin juga yang ditemukan hanya 1 koloni murni dan selanjutnya spesies ini dapat dijadikan piaraan murni (biakan murni). Kalau belum yakin, bahwa koloni tunggal yang diperoleh tersebut murni, maka dapat mengulang pengenceran dengan menggunakan koloni tersebut sebagai sampel. b. Cara penuangan Metode ini pertama kali dilakukan oleh Robert Koch (1843-1905). Caranya adalah dengan mengambil sedikit sampel campuran bakteri yang sudah diencerkan, dan sampel itu kemuadian disebarkan dalam suatu medium dari kaldu dan gelatin encer. Setelah medium engental, maka beberapa jam kemudian nampaklah koloni yang masing-masing dapat dianggap murni. Dengan mengulang pekerjaan seperti di atas, akhirnya akan diperoleh biakan murni yang lebih terjamin. Dalam penemuan metode penuangan ini ada dua orang pembantu Koch yang sangat berjasa, yaitu Petri yang menciptakan cawan dengan tutup, yang sekarang dikenal dengan cawan petri (petri dish). Ornag yang kedua adalah Hesse yang menemukan agar-agar untuk mengantikan gelatin. c. Cara Penggesekan/Pengoresan Penggoresan yang sempurna akan menghasilkan koloni yang terpisah. Tetapi kelemahan cara ini adalah bakteri-bakteri anaerob tidak dapat tumbuh. Untuk mendapatkan koloni yang terpisah sewaktu melakukan goresan harus memperhatikan, antara lain: Gunakan ose (sengkelit) yang dingin untuk menggores permukaan lempengan agar. Sengkelit yang panas akan mematikan mikroorganisme, sehingga tidak terjadi pertumbuhan pada bekas goresan. Sewaktu menggores, sengkelit dibiarkan meluncur di atas permukaan lempengan. Agar yang luka akan mengganggu pertumbuhan

mikroorganisme, sehingga sulit diperoleh koloni yang terpisah. Sengkelit harus dipijarkan setelah menggores suatu daerah, hal ini bertujuan untuk mematikan mikroorganisme yang melekat pada mata ose dan mencegah pencemaran pada penggoresan berikutnya.

56

-

Menggunakan tutup cawan petri untuk melindungi permukaan supaya terhindar dari pencemaran.

-

Membalikkan lempengan agar untuk mencegah air kondensasi jatuh di atas permukaan sehingga dapat terjadi penyebaran koloni. Ada beberapa teknik penggesekan, yaitu:

a. Goresan T Lempengan dibagi menjadi 3 bagian dengan huruf T pada bagian luar dasar cawan petri. Inokulasikan daerah 1 sebanyak mungkin dengan gerakan sinambung. Panaskan ose dan biarkan dingin kembali. Gores ulang daerah 1 sebanyak 3-4 kali dan teruskan goresan ke daerah 2. Pijarkan kembali ose dan dinginkan kembali. Prosedur di atas diulangi untuk daerah 3.

b. Goresan Kuadran, teknik ini sama dengan goresan T, hanya lempengan agar dibagi menjadi 4. c. Goresan Radian Goresan dimulai dari bagian pinggir lempengan. Pijarkan sengkelit dan dinginkan kembali. Putar lempengan agar 90o dan buat goresan terputus di atas goresan sebelumnya. Pijarkan ose.

d. Goresan sinambung Ambil satu mata ose suspensi dan goreskan setengah permukaan lempengan agar. Jangan pijarkan ose, putar lempengan 180o, gunakan sisi mata ose yang sama dan gores pada sisa permukaan lempengan agar.

57

a)

b)

c)

d)

Gambar 2. a). Goresan T b). Goresan Kuadran c). Goresan Radian d). Goresan Sinambung d. Cara Penyebaran (agar sebar) Pengenceran sampel sama seperti pada cara penuangan. Dengan memipet sebanyak 0,1 ml cairan dari botol pengencer dan biarkan cairan mengalir ke atas permukaan agar. Cairan sampel disebarkan dengan penyebar yang terbuat dari gelkas. Pada teknik ini sterilisasi penyebar dilakukan dengan mencelupkan ke dalam alkohol dan kemudian dipanaskan sehingga alkohol terbakar habis. Penyebar didinginkan dahulu sebelum digunakan untuk menyebarkan cairan sampel pada permukaan agar. Penyabaran cairan contoh (sampel) dilakukan dengan memutar agar lempengan tersebut. e. Cara Pengucilan Satu Sel (single cell isolation). Cara ini menggunakan suatu alat yang dapat mengambil bakteri dari sekian banyak bakteri dengan tanpa ikutnya bakteri yang lain. Alat ini berupa mikropipet yang ditempatkan pada suatu mikromanipulator. Dengan membuat beberapa tetesan bergantung pada suatu kaca penutup dengan menggunakan mikropipet. Pekerjaan ini dilakukan di bawah kaca obyektif mikroskop. Bila tampak suatu tetesan yang hanya mengandung satu bakteri, maka dengan lain pipet, tetesan dipindahkan ke suatu mediumencer dengan tujuan bakteri tersebut berbiak lebih dulu. Dari biakan ini akan diperoleh piaraan murni. f. Cara Inokulasi pada Hewan

58

-

Metode ini didasarkan pada kenyataan bahwa tidak semua bakteri dapat tumbuh di dalam tubuh seekor hewan. Misalnya, kita ambil bahan pemeriksaan berupa dahak (sputum) dari seseorang yang disangka menderita TBC. Bila dahak disuntikkan ke dalam tubuh tikus putih, maka saproba akan ikut serta, tetapi tidak dapat bertahan hidup, sehingga kemudian hanya kita dapatkan kuman TBC saja.

-

Bakteri yang tertinggal dalam tubuh tikus yang sakit atau mati itu akhirnya dapat dipindahkan ke dalam medium yang sesuai. Inokulasi dilakukan di dalam kulit (intracutaneous), di bawah kulit (subcutaneous), di dalam otot (intramuscular) dan dapat juga pada rongga tubuh atau di tempat lain.

Teknik-teknik pewarnaan Mikroorganisme sangat sulit dilihat dengan mikroskop cahaya, karena tidak membiaskan cahaya. Dengan alasan inilah yang menyebabkan zat warna digunakan untuk mewarnai mikroorganisme. Zat warna mengadsorbsi dan membiaskan cahaya sehingga mikroorganisme tersebut terlihat kontras dengan sekelilingnya. Banyak senyawa organik berwarna (zat pewarna) digunakan untuk mewarnai mikroorganisme untuk pemeriksaan mikroskopis. Telah dikembangkan prosedur-prosedur pewarnaan untuk : a. Mengamati dengan lebih baik tampang morfologi mikroorganisme secara kasar. b. c. Mengidentifikasi bagian-bagian struktural sel mikroorganisme. Membantu mengidentifikasi dan/atau membedakan organisme yang serupa. Langkah-langkah utama dalam mempersiapkan spesimen mikrobe yang diwarnai untuk pemeriksaan mikroskopik ialah : a. b. Penempatan olesan atau lapisan tipis spesimen pada kaca objek. Fiksasi olesan itu pada kaca objek, biasanya dengan pemanasan, menyebabkan mikroorganisme itu melekat pada kaca objek. c. Aplikasi pewarna tunggal (pewarnaan sederhana) atau serangkaian larutan pewarna atau reagen (pewarnaan diferensial). Pewarnaan sederhana, pemberian warna pada bakteri atau jasad-jasad renik lain dengan menggunakan larutan tunggal suatu pewarna pada lapisan tipis atau

59

olesan yang sudah difiksasi dinamakan pewarnaan sederhana. Lapisan tadi digenangi dengan larutan pewarna selama jangka waktu tertentu, kemudian larutan itu dicuci dengan air dan kaca objeknya dikeringkan dengan kertas pengisap. Pewarnaan diferensial, prosedur pewarnaan yang menampilkan perbedaan diantara sel-sel mikroba atau bagian-bagian sel mikrobe disebut teknik pewarnaan diferensial. Dengan teknik ini biasanya digunakan lebih dari satu larutan zat pewarna atau reagen pewarnaan. Pewarnaan gram, adalah salah satu teknik pewarnaan diferensial yang paling penting dan paling luas digunakan untuk bakteri ialah dengan pewarnaan gram. Dalam proses ini olesan bakteri yang terfiksasi dikenai larutan-larutan berikut dalam urutan yang telah ditentukan, yaitu ungu kristal, larutan yodium, alkohol (bahan pemucat) dan safranin atau beberapa pewarna tandingan lain yang sesuai. Bakteri yang diwarnai dengan metode gram ini dibagi menjadi dua kelompok. Salah satu diantaranya adalah bakteri gram positif, mempertahankan zat pewarna ungu kristal dan karenanya tampak ungu tua. Kelompok yang lain adalah bakteri gram negatif, kehilangan ungu kristal ketika dicuci dengan alkohol dan sewaktu diberi pewarna tandingan dengan warna merah safranin, tampak berwarna merah. Pewarnaan gram masih merupakan salah satu prosedur yang paling banyak digunakan untuk mencirikan banyak bakteri. Terutama lebih banyak digunakan di laboratorium diagnostik rumah sakit karena informasi yang diperoleh dari pengamatan spesimen yang diwarnani dengan pewarna gram dilakukan dengan cepat dan dapat memberi pentujuk akan organisme penyebab suatu infeksi. Beberapa macam metode pewarnaan, yaitu: 1). Pewarnaan spora Spora pada bakteri merupakan struktur yang tahan panas dan tahan bahan kimia. Spora dibentuk oleh bakteri tertentu untuk mengatasi lingkungan yang tidak menguntungkan bagi bakteri tersebut. Bakteri pembentuk spora antara lain Bacillus, Clostridium, Thermoactinomyces, Sporosarcina dan lain lain. Spora bakteri dapat diwarnai dengan cara dipanaskan. Pemanasan ini menyebabkan lapisan luar spora mengembang sehingga zat warna dapat masuk.

60

Bahan yang digunakan untuk pewarnaan spora adalah larutan hijau malakhit dan larutan safranin. 2). Pewarnaan kapsula Lapisan kapsul cukup tebal, sehingga dapat dilihat dengan mikroskop cahaya, namun demikian sulit diwarnai sehingga perlu diberi pewarnaan khusus. Pada pewarnaan negatif, latar belakangnya diwarnai zat warna negatif, sedangkan bakterinya diwarnai zat warna basa. Kapsula tidak menyerap warna sehingga terlihat lapisan terang tembus dengan latar belakang yang berwarna. Salah satu pewarnaan kapsula menurut raebiger yaitu dengan menggunakan laruta formolgentian violet Raebiger. 3). Pewarnaan flagela Untuk melihat flagela digunakan cara khusus. Penambahan bahan kimia berupa larutan mordan yang berguna untuk membengkakkan flagela sehingga dapat dilihat dengan mikroskop cahaya. 4). Pewarnaan badan inkluisi Beberapa bakteri dapat mensintesis badan inklusi atau granula yang disimpan dalam sitoplasma. Asam PHB membentuk granula seperti lipida dapat diwarnai dengan zat warna yang larut dalam lipida, sperti Sudan black B. Zat warna ini mewarnai granula PHB menjadi biru tua, sedangkan sitoplasma menjadi merah. Bila ada spora dalam bakteri, maka spora ini tidak akan menyerap warna. Zat warna yang larut dalam lipida seringkali disebut zat warna netral, karena bagian berwarnanya tidak mempunyai muatan dan mewarnai granula lipida karena larut dalam bahan lipida. Latihan Untuk memperdalam pemahaman anda tentang materi di atas, kerjakanlah soal-soal berikut: 1. Apa yang dimaksud dengan sterilisasi dan sebutkan macamnya. 2. Sebutkan klasifikasi media pertumbuhan mikroba 3. Sebutkan beberapa metode yang digunakan untuk menanam dan mengisolasi mikroorganisme. 4. Bedakan teknik pewarnaan negatif dengan pewarnaan positif.

61

Rangkuman 1. Sterilisasi Bahan atau peralatan yang digunakan dalam bidang mikrobiologi harus dalam keadaan steril. Steril artinya tidak didapatkan mikroba yang tidak diharapkan kehadirannya, baik yang mengganggu atau merusak media atau mengganggu kehidupan dan proses yang sedang dikerjakan. Setiap proses baik fisika, kimia dan mekanik yang membunuh semua bentuk hidup terutama mikroorganisme disebut sterilisasi. Ada beberapa metode sterilisasi, yaitu: a. Sterilisasi secara fisik Cara membunuh mikroba ini dengan memakai panas (Thermal kill). Panas tersebut akan mendenaturasi protein, terutama enzim-enzim dan membran sel. Panas kering membunuh bakteri karena oksidasi komponen-komponen sel. Daya bunuh panas kering tidak sebaik panas basah. Hal ini dibuktikan dengan memasukkan biakan mikroba dalam air mendidih akan cepat mati daripada dipanasi secara kering. b. Sterilisasi secara Kimia Antiseptik kimia biasanya dipergunakan dan dibiarkan menguap seperti halnya alkohol. Zat-zat kimia yang dapat dipakai untuk sterilisasi antara lain adalah halogen (senyawa klorin, yodium), alkohol, fenol, hidrogen peroksida, zat warna ungu kristal, derivat akridin, rosanalin, deterjen, logam-logam berat (Hg, Ag, As, aldehida, gas ETO (oksida etilen), uap formaldehid, beta-propilakton. c. Sterilisasi secara mekanik Beberapa bahan yang akibat pemanasan tinggi atau tekanan tinggi akan mengalami perubahan atau penguraian, maka sterilisasi yang dilakukan adalah dengan cara mekanik, misalnya dengan saringan. Dalam mikrobiologi, penyaringan secara fisik yang paling banyak digunakan adalah dengan penggunaan filter khusus, misalnya filter berkefeld, filter Chamberland dan filter Seitz. Jenis filter yang dipakai atau yang akan dipergunakan tergantung pada tujuan penyaringan dan benda yang akan disaring.

62

2. Mikroskop dan Pemeriksaan Mikroskopi Mikroskop adalah intrumen yang paling banyak digunakan dan paling bermanfaat di laboratorium mikroskopi. Dengan alat ini diperoleh perbesaran sehingga memungkinkan untuk melihat organisme dan struktur yang tak tampak dengan mata bugil. Mikroskop memungkinkan perbesaran dalam kisaran luas dari seratus kali sampai ratusan ribu kali. Mikroskop yang ada terdiri dari dua kategori yaitu mikroskop cahaya (optis) dan mikroskop elektron. Keduanya berbeda dalam prinsip yang mendasari perbesaran. Mikroskop cahaya yang kesemuanya menggunakan sistem lensa optis, mencakup mikroskop, medan terang, medan gelap, fluoresensi dan kontras fase. Mikroskop elektron menggunakan berkas elektron sebagai pengganti gelombang cahaya untuk memperoleh bayangan yang diperbesar. 3. Klasifikasi Media Media adalah perbenihan/substrat atau dasar makanan untuk

menumbuhkan dan mengembangbiakkan suatu mikroorganisme. Media yang baik bagi pemeliharaan mikroorganisme adalah yang mengandung unsur-unsur makanan yang diperlukan, dapat berupa garam-garam anorganik dan senyawasenyawa organik seperti protein, pepton, asam-asam amino dan vitamin-vitamin. Media dapat berfungsi untuk membiakkan, mengasingkan dan menyimpan mikroorganisme dalam waktu yang lama di laboratorium. Media juga berfungsi untuk mempelajari sifat-sifat koloni/pertumbuhan, sifat-sifat biokimiawi

mikroorganisme. Selain itu dalam laboratorium mikrobiologi kedokteran dapat berfungsi untuk pembuatan antigen, toksin, dan untuk pasasi kuman dengan tujuan perubahan virulensi dan lain-lain. Media dapat diklasifikasi berdasarkan atas susunan kimia, konsistensi dan fungsinya. 1). Klasifikasi media berdasarkan susunan kimia: media anorganik, yaitu media yang tersusun atas bahan-bahan anorganik. Media organik, yaitu media yang tersusun atas bahan-bahan organik. Media sintetik, yaitu media yang susunan kimianya dapat diketahui dengan pasti, media ini biasanya digunakan untuk mempelajari kebutuhan nutrisi mikroba.

63

-

Media non sintetik, yaitu media yang susunan kimianya tidak dapat ditentukan dengan pasti, media ini banyak digunakan untuk menumbuhkan dan untuk mempelajari taksonomi mikroba.

2). Klasifikasi media berdasarkan konsistensinya: Media cair, yaitu media yang berbentuk cair. Media padat, media yang berbentuk padat, media ini dapat berbentuk media organik (alamiah) misalnya media wortel, kentang dll atau media anorganik misalnya silika gel. Media padat dapat diperoleh juga dengan cara menambahkan agar-agar yang berasal dari ganggang/alga yang berfungsi sebagai bahan pemadat. Media semi padat, dapat dibuat dengan bahan yang sama dengan media padat tetapi yang berbeda adalah komposisi agarnya. Media ini digunakan untuk melihat gerak kuman secara mikroskopik. 3). Klasifikasi Media Berdasarkan Fungsinya: Media diperkaya, yaitu media yang ditambah zat-zat tertentu misalnya serum, darah, ekstrak tumbuhan dan lainnya, sehingga dapat digunakan untuk menumbuhkan mikroba heterotrof tertentu. Media selektif, yaitu media yang ditambahkan zat kimia tertentu yang bersifat selektif untuk mencegah pertumbuhan mikroba lain, misalnya media yang mengandung kristal violet pada kadar tertentu. Media diferensial, media yang ditambah regensia atau zat kimia tertentu yang menyebabkan suatu mikroba membentuk pertumbuhan atau mengadakan perubahan tertentu sehingga dapat membedakan bakteri hemolitik dan non hemolitik. Media penguji, media dengan susunan asam-asam amino tertentu yang digunakan untuk menguji vitamin-vitamin, asam-asam amino, antibiotik dll. Media untuk perhitungan jumlah mikroba, media spesifik yang digunakan untuk menghitung jumlah mikroba dalam suatu bahan, misalnya media untuk menghitung jumlah bakteri, actinomicetes, dll. Media khusus, media untuk menentukan tipe pertumbuhan mikroba dan kemampuannya untuk mengadakan perubahan-perubahan kimia tertentu.

64

4. Penanaman dan Isolasi Mikroorganisme Langkah-langkah pada pekerjaan inokulasi dan isolasi mikroba adalah sebagai berikut: 1). Menyiapkan ruangan 2). Pemindahan dengan kawat inokulasi 3). Pemindahan dengan pipet 4). Teknik Biakan Murni (Cara Menyendirikan Piaraan Murni) Teknik biakan murni untuk suatu spesies dapat dilakukan dengan beberapa cara: cara pengenceran, cara penuangan, cara penggesekan/pengoresan, cara

Penyebaran (agar sebar) cara pengucilan satu sel (single cell isolation). 5. Teknik pewarnaan gram positif dan gram negatif Pewarnaan gram, adalah salah satu teknik pewarnaan diferensial yang paling penting dan paling luas digunakan untuk bakteri ialah dengan pewarnaan gram. Dalam proses ini olesan bakteri yang terfiksasi dikenai larutan-larutan berikut dalam urutan yang telah ditentukan, yaitu ungu kristal, larutan yodium, alkohol (bahan pemucat) dan safranin atau beberapa pewarna tandingan lain yang sesuai. Bakteri yang diwarnai dengan metode gram ini dibagi menjadi dua kelompok. Salah satu diantaranya adalah bakteri gram positif, mempertahankan zat pewarna ungu kristal dan karenanya tampak ungu tua. Kelompok yang lain adalah bakteri gram negatif, kehilangan ungu kristal ketika dicuci dengan alkohol dan sewaktu diberi pewarna tandingan dengan warna merah safranin, tampak berwarna merah. C. Penutup a. Pertanyaan 1. Apa yang dimaksud dengan sterilisasi dan sebutkan macamnya. 2. Sebutkan klasifikasi media pertumbuhan mikroba 3. Sebutkan beberapa metode yang digunakan untuk menanam dan mengisolasi mikroorganisme. 4. Bedakan teknik pewarnaan negatif dengan pewarnaan positif. b. Umpan balik

65

Anda dapat menguasai materi ini dengan baik jika memperhatikan hal-hal sebagai berikut: Membaca bahan atau materi yang relevan dengan materi yang akan dibahas. Aktif dalam diskusi dan praktikum. Mengerjakan latihan.

c. Tindak lanjut Apabila mahasiswa dapat menyelesaikan 80% pertanyaan di atas, maka mahasiswa tersebut dapat melanjutkan ke bab selanjutnya, sebab materi ini merupakan dasar untuk menganalisis mikroba. Jika ada di antara mahasiswa ada yang belum mencapai penguasaan 80% dianjurkan untuk:   Mempelajari kembali topik di atas dari awal. Berdiskusi dengan teman terutama hal-hal yang belum dikuasai.

Bertanya kepada Dosen jika ada hal-hal yang tidak jelas dalam penyampaian materi atau diskusi..

d. Kunci Jawaban 1. Sterilisasi Bahan atau peralatan yang digunakan dalam bidang mikrobiologi harus dalam keadaan steril. Steril artinya tidak didapatkan mikroba yang tidak diharapkan kehadirannya, baik yang mengganggu atau merusak media atau mengganggu kehidupan dan proses yang sedang dikerjakan. Setiap proses baik fisika, kimia dan mekanik yang membunuh semua bentuk hidup terutama mikroorganisme disebut sterilisasi. Ada beberapa metode sterilisasi, yaitu: a. Sterilisasi secara fisik Cara membunuh mikroba ini dengan memakai panas (Thermal kill). Panas tersebut akan mendenaturasi protein, terutama enzim-enzim dan membran sel. Panas kering membunuh bakteri karena oksidasi komponen-komponen sel. Daya bunuh panas kering tidak sebaik panas basah. Hal ini dibuktikan dengan

66

memasukkan biakan mikroba dalam air mendidih akan cepat mati daripada dipanasi secara kering. b. Sterilisasi secara Kimia Antiseptik kimia biasanya dipergunakan dan dibiarkan menguap seperti halnya alkohol. Zat-zat kimia yang dapat dipakai untuk sterilisasi antara lain adalah halogen (senyawa klorin, yodium), alkohol, fenol, hidrogen peroksida, zat warna ungu kristal, derivat akridin, rosanalin, deterjen, logam-logam berat (Hg, Ag, As, aldehida, gas ETO (oksida etilen), uap formaldehid, beta-propilakton. c. Sterilisasi secara mekanik Beberapa bahan yang akibat pemanasan tinggi atau tekanan tinggi akan mengalami perubahan atau penguraian, maka sterilisasi yang dilakukan adalah dengan cara mekanik, misalnya dengan saringan. Dalam mikrobiologi, penyaringan secara fisik yang paling banyak digunakan adalah dengan penggunaan filter khusus, misalnya filter berkefeld, filter Chamberland dan filter Seitz. Jenis filter yang dipakai atau yang akan dipergunakan tergantung pada tujuan penyaringan dan benda yang akan disaring. 2. Klasifikasi Media Media adalah perbenihan/substrat atau dasar makanan untuk

menumbuhkan dan mengembangbiakkan suatu mikroorganisme. Media yang baik bagi pemeliharaan mikroorganisme adalah yang mengandung unsur-unsur makanan yang diperlukan, dapat berupa garam-garam anorganik dan senyawasenyawa organik seperti protein, pepton, asam-asam amino dan vitamin-vitamin. Media dapat berfungsi untuk membiakkan, mengasingkan dan menyimpan mikroorganisme dalam waktu yang lama di laboratorium. Media juga berfungsi untuk mempelajari sifat-sifat koloni/pertumbuhan, sifat-sifat biokimiawi

mikroorganisme. Selain itu dalam laboratorium mikrobiologi kedokteran dapat berfungsi untuk pembuatan antigen, toksin, dan untuk pasasi kuman dengan tujuan perubahan virulensi dan lain-lain. Media dapat diklasifikasi berdasarkan atas susunan kimia, konsistensi dan fungsinya. 1). Klasifikasi media berdasarkan susunan kimia:

67

-

media anorganik, yaitu media yang tersusun atas bahan-bahan anorganik. Media organik, yaitu media yang tersusun atas bahan-bahan organik. Media sintetik, yaitu media yang susunan kimianya dapat diketahui dengan pasti, media ini biasanya digunakan untuk mempelajari kebutuhan nutrisi mikroba.

-

Media non sintetik, yaitu media yang susunan kimianya tidak dapat ditentukan dengan pasti, media ini banyak digunakan untuk menumbuhkan dan untuk mempelajari taksonomi mikroba.

2). Klasifikasi media berdasarkan konsistensinya: Media cair, yaitu media yang berbentuk cair. Media padat, media yang berbentuk padat, media ini dapat berbentuk media organik (alamiah) misalnya media wortel, kentang dll atau media anorganik misalnya silika gel. Media padat dapat diperoleh juga dengan cara menambahkan agar-agar yang berasal dari ganggang/alga yang berfungsi sebagai bahan pemadat. Media semi padat, dapat dibuat dengan bahan yang sama dengan media padat tetapi yang berbeda adalah komposisi agarnya. Media ini digunakan untuk melihat gerak kuman secara mikroskopik. 3). Klasifikasi Media Berdasarkan Fungsinya: Media diperkaya, yaitu media yang ditambah zat-zat tertentu misalnya serum, darah, ekstrak tumbuhan dan lainnya, sehingga dapat digunakan untuk menumbuhkan mikroba heterotrof tertentu. Media selektif, yaitu media yang ditambahkan zat kimia tertentu yang bersifat selektif untuk mencegah pertumbuhan mikroba lain, misalnya media yang mengandung kristal violet pada kadar tertentu. Media diferensial, media yang ditambah regensia atau zat kimia tertentu yang menyebabkan suatu mikroba membentuk pertumbuhan atau mengadakan perubahan tertentu sehingga dapat membedakan bakteri hemolitik dan non hemolitik. Media penguji, media dengan susunan asam-asam amino tertentu yang digunakan untuk menguji vitamin-vitamin, asam-asam amino, antibiotik dll.

68

-

Media untuk perhitungan jumlah mikroba, media spesifik yang digunakan untuk menghitung jumlah mikroba dalam suatu bahan, misalnya media untuk menghitung jumlah bakteri, actinomicetes, dll.

-

Media khusus, media untuk menentukan tipe pertumbuhan mikroba dan kemampuannya untuk mengadakan perubahan-perubahan kimia tertentu.

3. Penanaman dan Isolasi Mikroorganisme Langkah-langkah pada pekerjaan inokulasi dan isolasi mikroba adalah sebagai berikut: 1). Menyiapkan ruangan 2). Pemindahan dengan kawat inokulasi 3). Pemindahan dengan pipet 4). Teknik Biakan Murni (Cara Menyendirikan Piaraan Murni) Teknik biakan murni untuk suatu spesies dapat dilakukan dengan beberapa cara: cara pengenceran, cara penuangan, cara penggesekan/pengoresan, cara

Penyebaran (agar sebar) cara pengucilan satu sel (single cell isolation). 4. Teknik pewarnaan gram positif dan gram negatif Pewarnaan gram, adalah salah satu teknik pewarnaan diferensial yang paling penting dan paling luas digunakan untuk bakteri ialah dengan pewarnaan gram. Dalam proses ini olesan bakteri yang terfiksasi dikenai larutan-larutan berikut dalam urutan yang telah ditentukan, yaitu ungu kristal, larutan yodium, alkohol (bahan pemucat) dan safranin atau beberapa pewarna tandingan lain yang sesuai. Bakteri yang diwarnai dengan metode gram ini dibagi menjadi dua kelompok. Salah satu diantaranya adalah bakteri gram positif, mempertahankan zat pewarna ungu kristal dan karenanya tampak ungu tua. Kelompok yang lain adalah bakteri gram negatif, kehilangan ungu kristal ketika dicuci dengan alkohol dan sewaktu diberi pewarna tandingan dengan warna merah safranin, tampak berwarna merah. e. Referensi Jawetz. 1996. Mikrobiologi Kedokteran. Edisi 20. kedokteran EGC. Jakarta. Penerbit Buku

69

Fardiaz, S. 1993. Analisis Mikrobiologi Pangan. Jakarta. Manajemen PT RajaGrafindo Persada. Pelczhar. 1986. Dasar-dasar Mikrobiologi 1. Jakarta. UI Press. Uno, W. 2004. Diktat Mikrobiologi 1. FMIPA UNG. Waluyo. 2004. Mikrobiologi Umum. UMM f. Senarai Intracutaneous: dalam kulit Subcutaneous : di bawah kulit Intramuscular : di dalam otot Sputum : dahak

70

BAB IV ANALISIS MIKROBA
A. Pendahuluan Deskripsi singkat Bab ini akan menguraikan tentang analisis kuantitatif mikroorganisme dan analisis kualitatif mikroorganisme.

Relevansi Pembahasan ini akan sangat berhubungan dengan bab selanjutnya, terutama mikrobiologi pangan. Mahasiswa akan mengetahui cara menganalisis kuantitatif dan kualitatif mikroorganisme. Dengan demikian mahasiswa akan lebih mudah mengikuti praktikum. Kompetensi Dasar Mahasiswa dapat menjelaskan analisis mikroba. B. Penyajian Uraian dan contoh 4.1 Analisis Kuantitatif Mikroorganisme Beberapa metode yang dapat digunakan untuk menghitung jumlah mikroba di dalam bahan pangan adalah: metode hitungan mikroskopik metode hitungan cawan, Metode MPN (Most Propable Number) Dari metode-metode tersebut, metode hitungan cawanlah yang paling banyak digunakan. 4.1.1 Metode hitungan mikroskopik Metode hitungan mikroskopik sering digunakan untuk menguji bahan makanan yang mengandung bakteri dalam jumlah yang tinggi, mis. susu yang diperoleh dari sapi yang terkena mastitis, yaitu suatu penyakit infeksi yang menyerang kelenjar susu sapi. Cara ini merupakan suatu cara yang cepat, yaitu menghitung bakteri secara langsung menggunakan mikroskop.

71

Beberap cara yang dilakukan dalam metode hitungan mikroskopik, adalah: 1). Metode Petroff-Hauser Dalam metode ini, hitungan mikroskopik dilakukan dengan pertolongan kotak-kotak skala, di mana dalam setiap ukuran skala seluas 1 mm2 terdapat 25 buah kotak besar dengan luas 0,04 mm2, dan setiap kotak besar terdiri dari 16 kotak-kotak kecil. Tinggi sample yang terletak di antara kaca benda dan kaca penutup adalah 0,02 mm. Jumlah sel dalam beberapa kotak besar dapat dihitung, kemudian dihitung jumlah sel rata-rata dalam kotak besar. Jumlah sel per ml sample dapat dihitung sebagai berikut: Jumlah sel per ml sample = jumlah sel perkotak besar x 1/0,02 x 103 = jumlah sel perkotak besar x 1,25 x 106 Misalnya : Didapatkan jumlah mikroba yang mau dihitung 12 sel mikroba, maka jumlah sel per ml sample adalah: 12 x 1,25 x 106 = 1,5 x 107 sel/ml. Hitungan mikroskopik merupakan metode yang cepat dan murah, tetapi mempunyai kelemahan sebagai berikut: Sel-sel microbe yang telah mati tidak dapat dibedakan dari sel yang hidup. Karena itu keduanya terhitung. Sel-sel berukuran kecil sukar dilihat di bawah mikroskop, sehingga kalau tidak teliti tidak terhitung. Untuk mempertinggi ketelitian, jumlah sel di dalam suspensi harus cukup tinggi, minimal untuk bakteri 106 sel/ml. Hal ini disebabkan dalam setiap bidang pandang yang diamati harus terdapat sejumlah sel yang dapat dihitung. Tidak dapat digunakan untuk menhitung sel microbe di dalam bahan yang banyak mengandung debris atau ekstrak makanan, karena akan mengganggu dalam perhitungan sel. 2). Metode Breed Hitungan mikroskopik dengan metode Breed sering digunakan untuk menganalisis susu yang mengandung bakteri dalam jumlah yang tinggi. Misalnya susu yang diperoleh dari sapi yang terkena mastitis, yakni suatu penyakit infeksi yang menyerang kelenjar susu sapi. Cara ini merupakan suatu cepat, yaitu menghitung bakteri langsung dengan menggunakan mikroskop.

72

Metode Breed memeliki kelemahan yaitu tidak dapat dilakukan terhadap susu yang dipasteurisasi karena secara mikroskopik tidak dapat dibedakan antara sel-sel bakteri yang masih hidup atau yang telah mati karena perlakuan pasteurisasi. Dalam metode Breed, luas areal pandang mikroskop yang akan digunakan harus dihitung terlebih dahulu. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengukur diameter areal pandang menggunakan micrometer yang dapat dilihat melalui lensa minyak emersi. Micrometer yang digunakan adalah micrometer gelas. Obyek yang mempunyai skala terkecil 0,01 mm. Areal pandang mikroskop biasanya mempunyai ukuran 14-16 skala atau 0,14-0,16 mm. Tetapi beberapa mikroskop mempunyai ukuran diameter areal pandang lebih dari 0,18 mm. Luas areal pandang mikroskop dapat dihitung dengan rumus: πr2 Luas areal pandang mikroskop = πr2 mm2 = 100 cm2

dimana, r = jari-jari (mm) areal pandang. Karena sample susu disebarkan pada kaca benda seluas 1 cm2 ada sebanyak 0,01 ml, maka: πr2 Jumlah susu per areal pandang mikroskop = x 0,01 ml 100 10.000 Jumlah bakteri per ml = πr2 x jumlah bakteri per areal pandang.

Dengan kata lain, untuk mendapatkan 1 ml sample susu dapat diperoleh dari 10.000/ πr2 x areal pandang mikroskop. Angka 10.000/ πr2 disebut juga factor mikroskopik (FM), dan dapat digunakan untuk mengubah jumlah bakteri per areal pandang mikroskop menjadi jumlah bakteri per areal pandang mikroskop menjadi jumlah bakteri per ml.

73

Jumlah bakteri per areal pandang mikroskop dihitung dari rata-rata pengamatan areal pandang. Jumlah areal pandang yang harus diamati tergantung dari jumlah rata-rata bakteri per areal pandang, dan ditentukan sebagai berikut:

Jumlah rata-rata bakteri per areal pandang < 0,5 0,5 – 1 1 – 10 10 – 30 > 30

Jumlah areal pandang yang harus diamati 50 25 10 5 dilaporkan sebagai TUBD (terlalu banyak untuk dihitung)

4.1.2 Metode hitungan cawan Prinsip dari metode hitungan cawan adalah bila sel microbe yang masih hidup ditumbuhkan pada medium, maka microbe tersebut akan berkembang biak dan membentuk koloni yang dapat dilihat langsung, dan kemudian dihitung tanpa menggunakan mikroskop. Metode ini merupakan cara yang paling sensitive untuk menentukan jumlah jasad renik, dengan alasan: (1). Hanya sel yang masih hidup yang dihitung (2). Beberapa jenis mikroba dapat dihitung sekaligus (3). Dapat digunakan untuk isolasi dan identifikasi mikroba karena koloni yang terbentuk mungkin berasal dari satu sal mikroba yang mempunyai penampakan spesifik. Selain keuntungan-keuntungan tersebut, metode hitungan cawan juga mempunyai kelemahan-kelemahan sebagai berikut: - Hasil perhitungan tidak menunjukkan jumlah sel mikroba yang sebenarnya, karena beberapa sel yang berdekatan mungkin membentuk satu koloni. - Medium dan kondisi yang berbeda mungkin menghasilkan nilai yang berbeda. - Memerlukan persiapan dan waktu inkubasi beberapa hari sehingga pertumbuhan koloni dapat dihitung.

74

Langkah–langkah yang harus diperhatikan pada metode hitungan cawan adalah: 1. Pengenceran Bahan pangan yang diperkirakan mengandung lebih dari 300 sel mikroba per ml, per g atau per cm permukaan, memerlukan perlakuan pengenceran sebelum ditumbuhkan pada medium agar di dalam cawan petri, sehingga setelah inkubasi akan terbentuk koloni pada cawan tersebut dalam jumlah yang dapat dihitung, dimana jumlah yang terbaik adalah di antara 30 dan 300. Pengenceran biasanya dilakukan secara desimal yaitu 1:10, 1:100, 1:1000 dan seterusnya. Pengambilan contoh dilakukan secara aseptic dan pada setiap pengenceran dilakukan pengocokan kira-kira sebanyak 25 kali untuk memisahkan sel-sel mikroba yang bergabung menjadi satu. Larutan yang digunakan untuk pengenceran dapat berupa larutan fosfat buffer, larutan garam fisiologis atau larutan Ringer. 2. Cara Pemupukan Prinsip metode hitungan cawan adalah sebagai berikut: jika sel mikroba yang masih hidup ditumbuhkan pada medium agar, maka sel mikroba tersebut akan berkembang biak dan membentuk koloni yang dapat dilihat langsung dengan mata tanpa menggunakan mikroskop. Beberapa metode hitungan cawan yaitu metode tuang (pour plate), metode permukaan (surface/spread plate), metode tetes (drop plate). (!). Metode Tuang (pour plate) Dari pengenceran yang dikehendaki, sebanyak 1 ml atau 0,1 ml larutan tersebut dipipet ke dalam cawan petri. Sebaiknya waktu antara dimulainya pengenceran sampai menuangkan ke dalam cawan petri tidak boleh lebih lama 30 menit. Kemudian ke cawan tersebut dimasukkan agar cair steril yang telah didinginkan sampai 500C sebanyak kira-kira 15 ml. Selama penuangan medium, tutup cawan tidak boleh dibuka terlalu lebar untuk menghindari kontaminasi dari luar. Segera setelah penuangan, cawan petri digerakkan di atas meja secara hatihati untuk menyebarkan sel-sel mikroba secara merata, yaitu dengan gerakan melingkar atau gerakan seperti angka delapan. Setelah agar memadat, cawancawan tersebut dapat diinkubasikan di dalam incubator dengan posisi terbalik.

75

Inkubasi dilakukan pada suhu dan waktu tertentu sesuai dengan jenis mikroba yang akan dihitung. Medium agar yang digunakan juga disesuaikan dengan jenis mikroba yang akan ditumbuhkan. Selama inkubasi, sel-sel yang masih hidup akan tumbuh dan membentuk koloni yang dapat terlihat langsung oleh mata. Setelah akhir masa inkubasi, koloni yang terbentuk dihitung. Setiap koloni dapat dianggap berasal dari satu sel yang membelah menjadi banyak sel. Perhitungan jumlah koloni dapat menggunakan “Quebec Colony Counter”. Ketelitian akan lebih tinggi jika dilakukan pemupukan secara duplo, yaitu menggunakan dua cawan petri untuk setiap pengenceran.

(2). Metode permukaan (Surface/Pour Plate). Pada pemupukan dengan metode permukaan, agar steril terlebih dahulu dituangkan ke dalam cawan petri steril dan dibiarkan membeku. Setelah membeku dengan sempurna, kemudian sebanyak 0,1 ml contoh yang telah diencerkan dipipet pada permukaan agar tersebut. Sebuah batang gelas melengkung (hockey stick) dicelupkan ke dalam alcohol 95% dan dipijarkan sehingga alcohol habis terbakar. Setelah dingin, batang gelas tersebut digunakan untuk meratakan contoh di atas medium agar dengan cara memutarkan cawan petri di atas meja. Selanjutnya inkubasi dilakukan seperti pada metode tuang. Cara menghitung koloni Cara menghitung koloni pada cawan adalah sebagai berikut: 1. Cawan yang dipilih dan dihitung adalah yang mengandung jumlah koloni antara 30 dan 300 2. Beberapa koloni yang bergabung menjadi satu merupakan suatu

kumpulan koloni yang besar dimana jumlah koloninya diragukan, dapat dihitung sebagai satu koloni. 3. Suatu deretan (rantai) koloni yang terlihat sebagai suatu garis tebal dihitung sebagai satu koloni. Contoh: penetapan jumlah mikroba pada susu. Pengenceran awal 1:10 (10-1) dibuat dengan cara mengencerkan 1 ml susu ke dalam 9 ml larutan pengencer, dilanjutkan ke pengenceran yang lebih tinggi. Jika setelah inkubasi diperoleh 60

76

dan 64 koloni masing-masing pada cawan duplo pada pengenceran 10-4, maka jumlah koloni dapat dihitung sebagai berikut (1 ml larutan dianggap mempu nyai berat 1 g). Factor pengenceran = Pengenceran x jumlah yang ditumbuhkan. = 10-4 x 1 = 10-4 Jumlah koloni = jumlah koloni x 1/factor pengeceran = (60+64)/2 x 1/10-4 = 62 x 104 = 6,2 x 105 Dalam SPC ditentukan cara pelaporan dan perhitungan koloni, sebagai berikut: Hasil yang dilaporkan hanya terdiri dari dua angka yakni angka pertama (satuan) dan angka kedua (desimal), jika angka ketiga samadengan atau lebih besar dari 5, harus dibulatkan satu angka lebih tinggi pada angka kedua. Jika pada semua pengenceran dihasilkan kurang dari 30 koloni percawan petri, berarti pengenceran yang dilakukan terlalu tinggi. Karena itu jumlah koloni pada pengenceran yang terendah yang dihitung. Hasilnya dilaporkan sebagai kurang dari 30 dikalikan dengan besarnya

pengenceran, tetapi jumlah yang sebenarnya harus dicantumkan dalam tanda kurung. Jika pada semua pengenceran dihasilkan lebih dari 300 koloni pada cawan petri, berarti pengenceran yang dilakukan terlalu rendah. Karena itu jumlah koloni pada pengenceran yang tertinggi yang dihitung. Hasilnya dilaporkan sebagai lebih dari 300 dikalikan dengan factor pengenceran, tetapi jumlah yang sebenarnya harus dicantumkan di dalam tanda kurung. Jika jumlah cawan dari dua tingkat pengenceran dihasilkan koloni dengan jumlah antara 30 dan 300, dan perbandingan antara hasil tertinggi dan terendah dari kedua pengenceran tersebut lebih kecil atau sama dengan 2, dilaporkan rata-rata dari kedua nilai tersebut dengan memperhitungkan factor pengencerannya. Jika perbandingan antara hasil tertinggi dan terendah lebih besar dari 2, yang dilaporkan hanya hasil yang terkecil.

77

-

Jika digunakan dua cawan petri (duplo) per pengenceran, data yang diambil harus dari kedua cawan petri itu, tidak boleh dari satu. Oleh karena itu harus dipilih tingkat pengenceran yang menghasilkan kedua cawan duplo dengan koloni antara 30 dan 300.

(3). Metode tetes (Drop Plate) Bahan pemeriksaan yang telah dibuat homogen sebanyak 0,01 – 0,1 ml diletakkan pada medium lempeng agar yang telah dikeringkan lebih dahulu dengan menggunakan pipet 0,1 ml atau 0,2 ml posisi vertical, sehingga ujung pipet tidak menyentuh permukaan medium tetapi tetesannya menyentuh permukaan medium. Tetesan tadi dibiarkan menyebar sendiri pada permukaan medium. Biarkan pada suhu kamar sampai bagian cair terserap semua ke dalam medium agar. Medium lempeng agar dieramkan dengan posisi terbalik. Sesudah waktu pengeraman jumlah koloni yang tumbuh dihitung. Jumlah koloni yang diperoleh dikalikan dengan pengencerannya. Misalnya, apabila bahan yang diperiksa sebanyak 0,05 ml maka jumlah koloni adalah jumlah koloni yang diperoleh x 20 x 1/factor pengenceran. 4.1.3 Metode Most Probable Number (MPN) Berbeda dengan metode cawan dimana digunakan medium padat (agar), dalam metode MPN digunakan medium cair di dalam tabung reaksi, dimana perhitungan dilakukan berdasarkan jumlah tabung yang positif, yaitu yang ditumbuhi oleh mikroba setelah inkubasi pada suhu dan waktu tertentu. Pengamatan tabung yang positif dapat dilihat dengan mengamati timbulnya kekeruhan atau terbentuknya gas di dalam tabung Durham untuk mikroba pembentuk gas. Contoh: suatu bahan pangan dilakukan pengenceran secara desimal, dari masing-masing pengenceran dimasukkan 1 ml ke dalam tabung yang berisi Lactosa Broth dan tabung Durham. Untuk setiap pengenceran digunakan tiga seri tabung. Setelah inkubasi pada suhu dan waktu tertentu, dilihat tabung yang positif, yaitu tabung yang ditumbuhi mikroba yang dapat ditandai dengan terbentuknya gas di dalam tabung Durham. Mis. pada pengenceran 10-2 ketiga tabung menghasilkan pertumbuhan positif, pada pengenceran 10-3 dua tabung positif

78

-

pada pengenceran 10-4 satu tabung positif pada pengenceran 10-5 tidak ada tabung positif. Jadi kombinasi tabung yang positif menjadi 3, 2, 1, 0, dan jika diambil 3

pengenceran yang pertama kombinasinya adalah 3, 2, 1. setelah dicocokkan dengan tabel MPN, hasilnya sebagai berikut: Kombinasi= 3 – 2 – 1 Nilai MPN dari Tabel MPN 3 seri = 1.50 MPN mikroba = Nilai MPN x 1/pengenceran tabung yang ditengah = 1.50 x 1/10-3 = 1.5 x 103 4.2 Analisis Kualitatif Mikroorganisme Dalam analisis kualitatif mikroorganisme diperlukan beberapa tahap untuk dapat memperbanyak jumlah bakteri-bakteri tersebut sehingga memudahkan untuk mendeteksi dan mengisolasinya. Tahap-tahap tersebut meliputi: 1. Tahap perbanyakan (enrichment), yautu memperbanyak jumlah bakteri yang akan diuji, sedangkan bakteri lainnya dihambat pertumbuhannya. Jika diperlukan tahap ini dapat dilakukan dalam dua tahap, yaitu preenrichment dan enrichment. 2. Tahap seleksi, yaitu menumbuhkan pada medium selektif sehingga koloni bakteri yang akan diuji mudah diisolasi. 3. Tahap isolasi, yaitu memisahkan bakteri yang akan diuji dari mikroba lainnya. 4. Identifikasi primer, yaitu membedakan bakteri yang diuji dari bakteri-bakteri lainnya yang sifat-sifatnya sangat berbeda. 5. Identifikasi lengkap, yaitu membedakan bakteri yang diuji dari bakteri-bakteri yang lainnya yang sekelompok dengan sifat-sifat yang hampir sama, seperti uji serologi dan uji biokimia. Uji serologi adalah membedakan bakteri berdasarkan sifat-sifat antigeniknya. Bersamaan dengan uji serologi dapat dilakukan uji biokimia untuk memperkuat identifikasi tersebut. Latihan Untuk memperdalam pemahaman anda tentang materi di atas, kerjakanlah soal-soal latihan di bawah ini.

79

1. Sebutkan beberapa metode yang digunakan untuk menganalisis mikroba secara kuantitatif. 2. Bedakan metode hitungan cawan dengan metode MPN! 3. Jelaskan tahap-tahap yang harus dilakukan dalam menanalisis secara kualitatif mikroba! Rangkuman 1. Analisis Kuantitatif Mikroorganisme Beberapa metode yang dapat digunakan untuk menghitung jumlah mikroba di dalam bahan pangan adalah: metode hitungan mikroskopik, metode hitungan cawan, dan metode MPN (Most Propable Number) 1 Metode hitungan mikroskopik Metode hitungan mikroskopik sering digunakan untuk menguji bahan makanan yang mengandung bakteri dalam jumlah yang tinggi, mis. susu yang diperoleh dari sapi yang terkena mastitis, yaitu suatu penyakit infeksi yang menyerang kelenjar susu sapi. 2. Metode hitungan cawan Metode ini merupakan cara yang paling sensitive untuk menentukan jumlah jasad renik, dengan alasan: (1). Hanya sel yang masih hidup yang dihitung (2). Beberapa jenis mikroba dapat dihitung sekaligus (3). Dapat digunakan untuk isolasi dan identifikasi mikroba karena koloni yang terbentuk mungkin berasal dari satu sal mikroba yang mempunyai penampakan spesifik. Langkah–langkah yang harus diperhatikan pada metode hitungan cawan adalah: 1. Pengenceran Bahan pangan yang diperkirakan mengandung lebih dari 300 sel mikroba per ml, per g atau per cm permukaan, memerlukan perlakuan pengenceran sebelum ditumbuhkan pada medium agar di dalam cawan petri, sehingga setelah inkubasi akan terbentuk koloni pada cawan tersebut dalam jumlah yang dapat dihitung, dimana jumlah yang terbaik adalah di antara 30 dan 300. Pengenceran biasanya dilakukan secara desimal yaitu 1:10, 1:100, 1:1000 dan seterusnya.

80

2. Cara Pemupukan Prinsip metode hitungan cawan adalah sebagai berikut: jika sel mikroba yang masih hidup ditumbuhkan pada medium agar, maka sel mikroba tersebut akan berkembang biak dan membentuk koloni yang dapat dilihat langsung dengan mata tanpa menggunakan mikroskop. Beberapa metode hitungan cawan yaitu metode tuang (pour plate), metode permukaan (surface/spread plate), metode tetes (drop plate). Cara menghitung koloni pada cawan adalah sebagai berikut: Cawan yang dipilih dan dihitung adalah yang mengandung jumlah koloni antara 30 dan 300 Beberapa koloni yang bergabung menjadi satu merupakan suatu

kumpulan koloni yang besar dimana jumlah koloninya diragukan, dapat dihitung sebagai satu koloni. Suatu deretan (rantai) koloni yang terlihat sebagai suatu garis tebal dihitung sebagai satu koloni. 3. Metode Most Probable Number (MPN) Dalam metode MPN digunakan medium cair di dalam tabung reaksi, dimana perhitungan dilakukan berdasarkan jumlah tabung yang positif, yaitu yang ditumbuhi oleh mikroba setelah inkubasi pada suhu dan waktu tertentu. Pengamatan tabung yang positif dapat dilihat dengan mengamati timbulnya kekeruhan atau terbentuknya gas di dalam tabung Durham untuk mikroba pembentuk gas. 2. Analisis Kualitatif Mikroorganisme Dalam analisis kualitatif mikroorganisme diperlukan beberapa tahap untuk dapat memperbanyak jumlah bakteri-bakteri tersebut sehingga memudahkan untuk mendeteksi dan mengisolasinya. Tahap-tahap tersebut meliputi: Tahap perbanyakan (enrichment), yautu memperbanyak jumlah bakteri yang akan diuji, sedangkan bakteri lainnya dihambat pertumbuhannya. Jika diperlukan tahap ini dapat dilakukan dalam dua tahap, yaitu preenrichment dan enrichment. Tahap seleksi, yaitu menumbuhkan pada medium selektif sehingga koloni bakteri yang akan diuji mudah diisolasi.

81

-

Tahap isolasi, yaitu memisahkan bakteri yang akan diuji dari mikroba lainnya.

-

Identifikasi primer, yaitu membedakan bakteri yang diuji dari bakteribakteri lainnya yang sifat-sifatnya sangat berbeda.

-

Identifikasi lengkap, yaitu membedakan bakteri yang diuji dari bakteribakteri yang lainnya yang sekelompok dengan sifat-sifat yang hampir sama, seperti uji serologi dan uji biokimia. Uji serologi adalah membedakan bakteri berdasarkan sifat-sifat antigeniknya. Bersamaan dengan uji serologi dapat dilakukan uji biokimia untuk memperkuat identifikasi tersebut.

C. Penutup a. Pertanyaan 1. Sebutkan beberapa metode yang digunakan untuk menganalisis mikroba secara kuantitatif. 2. Bedakan metode hitungan cawan dengan metode MPN! 3. Jelaskan tahap-tahap yang harus dilakukan dalam menanalisis secara kualitatif mikroba! b. Umpan balik Anda dapat menguasai materi ini dengan baik jika memperhatikan hal-hal sebagai berikut: Membaca bahan atau materi yang relevan dengan materi yang akan dibahas. Aktif dalam diskusi dan praktikum. Mengerjakan latihan.

c. Tindak lanjut Apabila mahasiswa dapat menyelesaikan 80% pertanyaan di atas, maka mahasiswa tersebut dapat melanjutkan ke bab selanjutnya. Jika ada di antara mahasiswa ada yang belum mencapai penguasaan 80% dianjurkan untuk:   Mempelajari kembali topik di atas dari awal. Berdiskusi dengan teman terutama hal-hal yang belum dikuasai.

82

-

Bertanya kepada Dosen jika ada hal-hal yang tidak jelas dalam penyampaian materi atau diskusi..

d. Kunci jawaban 1. Analisis Kuantitatif Mikroorganisme Beberapa metode yang dapat digunakan untuk menghitung jumlah mikroba di dalam bahan pangan adalah: metode hitungan mikroskopik, metode hitungan cawan, dan metode MPN (Most Propable Number) 2. Perbedaan metode hitungan cawan dengan metode MPN - Metode hitungan cawan Metode ini merupakan cara yang paling sensitive untuk menentukan jumlah jasad renik, dengan alasan: (1). Hanya sel yang masih hidup yang dihitung (2). Beberapa jenis mikroba dapat dihitung sekaligus (3). Dapat digunakan untuk isolasi dan identifikasi mikroba karena koloni yang terbentuk mungkin berasal dari satu sal mikroba yang mempunyai penampakan spesifik. Langkah–langkah yang harus diperhatikan pada metode hitungan cawan adalah: 1. Pengenceran Bahan pangan yang diperkirakan mengandung lebih dari 300 sel mikroba per ml, per g atau per cm permukaan, memerlukan perlakuan pengenceran sebelum ditumbuhkan pada medium agar di dalam cawan petri, sehingga setelah inkubasi akan terbentuk koloni pada cawan tersebut dalam jumlah yang dapat dihitung, dimana jumlah yang terbaik adalah di antara 30 dan 300. Pengenceran biasanya dilakukan secara desimal yaitu 1:10, 1:100, 1:1000 dan seterusnya. 2. Cara Pemupukan Prinsip metode hitungan cawan adalah sebagai berikut: jika sel mikroba yang masih hidup ditumbuhkan pada medium agar, maka sel mikroba tersebut akan berkembang biak dan membentuk koloni yang dapat dilihat langsung dengan mata tanpa menggunakan mikroskop.

83

Beberapa metode hitungan cawan yaitu metode tuang (pour plate), metode permukaan (surface/spread plate), metode tetes (drop plate). Cara menghitung koloni pada cawan adalah sebagai berikut: Cawan yang dipilih dan dihitung adalah yang mengandung jumlah koloni antara 30 dan 300 Beberapa koloni yang bergabung menjadi satu merupakan suatu

kumpulan koloni yang besar dimana jumlah koloninya diragukan, dapat dihitung sebagai satu koloni. Suatu deretan (rantai) koloni yang terlihat sebagai suatu garis tebal dihitung sebagai satu koloni. - Metode Most Probable Number (MPN) Dalam metode MPN digunakan medium cair di dalam tabung reaksi, dimana perhitungan dilakukan berdasarkan jumlah tabung yang positif, yaitu yang ditumbuhi oleh mikroba setelah inkubasi pada suhu dan waktu tertentu. Pengamatan tabung yang positif dapat dilihat dengan mengamati timbulnya kekeruhan atau terbentuknya gas di dalam tabung Durham untuk mikroba pembentuk gas. 3. Analisis Kualitatif Mikroorganisme Dalam analisis kualitatif mikroorganisme diperlukan beberapa tahap untuk dapat memperbanyak jumlah bakteri-bakteri tersebut sehingga memudahkan untuk mendeteksi dan mengisolasinya. Tahap-tahap tersebut meliputi: Tahap perbanyakan (enrichment), yautu memperbanyak jumlah bakteri yang akan diuji, sedangkan bakteri lainnya dihambat pertumbuhannya. Jika diperlukan tahap ini dapat dilakukan dalam dua tahap, yaitu preenrichment dan enrichment. Tahap seleksi, yaitu menumbuhkan pada medium selektif sehingga koloni bakteri yang akan diuji mudah diisolasi. Tahap isolasi, yaitu memisahkan bakteri yang akan diuji dari mikroba lainnya. Identifikasi primer, yaitu membedakan bakteri yang diuji dari bakteribakteri lainnya yang sifat-sifatnya sangat berbeda.

84

Identifikasi lengkap, yaitu membedakan bakteri yang diuji dari bakteri-bakteri yang lainnya yang sekelompok dengan sifat-sifat yang hampir sama, seperti uji serologi dan uji biokimia. Uji serologi adalah membedakan bakteri berdasarkan sifat-sifat antigeniknya. Bersamaan dengan uji serologi dapat dilakukan uji biokimia untuk memperkuat identifikasi tersebut. e. Referensi Uno, W. 2004. Diktat Mikrobiologi 1. FMIPA UNG. Waluyo. 2004. Mikrobiologi Umum. UMM f. Senarai pour plate : metode tuang surface/spread plate : metode permukaan drop plate : metode tetes enricment : perbanyakan

85

BAB V NUTRISI MIKROORGANISME
A. Pendahuluan Deskripsi singkat Bab ini akan menguraikan tentang peran nutrisi bagi mikroorganisme, pola nutrisi mikroorganisme dan pengelompokkan mikroorganisme berdasarkan zat gizi Relevansi Pembahasan ini akan sangat berhubungan dengan bab selanjutnya. Mahasiswa akan mikroorganisme mengamatinya. Kompetensi Dasar Mahasiswa dapat menjelaskan nutrisi mikroorganisme. B. Penyajian Uraian dan contoh 5.1 Peran Nutrien bagi Mikroorganisme Untuk keperluan hidupnya, semua makhluk hidup memerlukan bahan makanan. Bahan makanan ini diperlukan untuk sintesis bahan sel dan untuk mendapatkan kehidupannya energi. Demikian juga dengan mikroorganisme, dan anorganik untuk dari mengetahui zat gizi atau nutrisi yang dibutuhkan oleh untuk pertumbuhannya, sehingga akan mudah untuk

membutuhkan

bahan-bahan

organik

lingkungannya. Bahan-bahan tersebut disebut dengan nutrien (zat gizi). Peran utama nutrien adalah sumber energi, bahan pembangun sel dan sebagai aseptor elektron dalam reaksi bioenergetik (reaksi yang menghasilkan energi). Oleh karenanya bahan makanan yang diperlukan terdiri dari air, sumber energi, sumber karbon, sumber aseptor elektron, sumber mineral, faktor pertumbuhan dan nitrogen. Makhluk hidup menggunakan sumber-sumber nutrien dapat dalam bentuk padat, tetapi ada juga yang hanya dapat menggunakan sumber nutrien dalam bentuk cair (larutan). Bila jasad hidup menggunakan sumber nutrien dalam bentuk padat digolongkan tipe holozoik, sedangkan yang menggunakan nutrien dalam

86

bentuk cairan tergolong tipe holofitik. Namun ada yang hidup holofitik dapat juga menggunakan sumber nutrien dalam bentuk padat, tetapi bahan tersebut dicerna dahulu di luar sel dengan bantuan enzim ekstraseluler. 5.2 Pola Nutrisi Mikroorganisme Mikroorganisme membutuhkan persyaratan zat gizi yang bersifat khusus. Penentuan medium biakan harus berdasarkan persyaratan nutrisi bagi

mikroorganisme yang bersangkutan. Persyaratan nutrisi dalam bentuk zat-zat kimia diperlukan untuk pertumbuhan dan fungsi normal. Berikut ini persyaratan nutrisi bagi mikroorganisme:  Semua organisme hidup membutuhkan sumber energi Beberapa bentuk kehidupan, seperti tumbuhan hijau dapat menggunakan energi cahaya, hal tersebut dinamakan fototrof. Sedangkan yang lain seperti hewan tergantung pada oksidasi senyawa-senyawa kimia untuk memperoleh energinya disebut kemotrof. Semua organimsme hidup terbagi atas fototrof dan kemotrof.  Semua organisme hidup membutuhkan karbon Sejumlah organisme membutuhkan sejumlah karbon dalam bentuk senyawa karbon dioksida, tetapi kebanyakan di antaranya juga membutuhkan beberapa senyawa karbon organik seperti gula dan karbohidrat. Tumbuhan, alga dan beberapa kuman berklorofil membutuhkan karbon dioksida dan mengubahnya menjadi karbohidrat melalui proses fotosintesis. Ditinjau dari segi nutrisi, semua organisme seperti yang disebutkan di atas adalah organisme ototrof. Bila energinya diperoleh dari cahaya maka disebut dengan organisme fotootorof, danbila energinya diperoleh dengan cara mengoksidasi senyawa kimia, maka disebut organisme kemoototrof. Organisme yang membutuhkan senyawa-senyawa organik lain sebagai sumber karbonnya di sebut organisme heterotrof.  Semua organisme hidup membutuhkan nitrogen Tumbuhan menggunakan nitrogen dalam bentuk garam nitrogen anorganik seperti kalium nitrat, sedangkan hewan membutuhkan senyawa nitrogen organik, seperti protein dan produk hasil peruraiannya, yakni peptida dan asam-asam amino tertentu. Beberapa kuman sangat beragam terhadap

87

kebutuhan nitrogen, beberapa tipe menggunakan nitrogen atmosferik, beberapa tumbuh pada senyawa nitrogen anorganik, dan yang lain membutuhkan nitrogen dalam bentuk senyawa nitgrogen organik.  Semua organisme hidup membutuhkan belerang (sulfur) dan fosfor) Persyaratan sulfur pada hewan secara khas dipenuhi oleh senyawa-senyawa sulfur organik. Sedangkan persyaratan sulfur pada tumbuhan secara khas dipenuhi melalui senyawa-senyawa anorganik. Fosfor biasanya diberikan sebagai fosfat yaitu garam-garam fosfat.  Semua organisme hidup membutuhkan beberapa unsur logam, natrium, kalium, magnesium, mangan, besi, seng, tembaga dan kobalt. Berbagai unsur tersebut digunakan untuk pertumbuhan yang normal, tidak terkecuali kuman. Jumlah yang dibutuhkan biasanya amat kecil dan diukur dalam satuan ppm (part per milion = persejuta)  Semua organisme hidup membutuhkan vitamin Vitamin adalah senyawa organik khusus yang penting untuk pertumbuhan. Kebanyakan vitamin berfungsi membentuk substansi yang mengaktifkan enzim. Dalam aspek nutrisi akan vitamin, pada bakteri menunjukkan pola yang beragam. Meskipun bakteri membutuhkan vitamin di dalam proses metaboliknya yang normal, beberapa mikroba mampu mensintesis seluruh kebutuhan vitaminnya.  Semua organisme hidup membutuhkan air Air pada organisme berfungsi untuk membantu fungsi-fungsi metabolik dan pertumbuhannya. Untuk mikroorganisme, semua nutrien harus dalam bentuk larutan sebelum dapat memasuki selnya. 5.3 Pengelompokkan Mikroorganisme berdasarkan Zat Gizi Klasifikasi mikroorganisme berdasarkan zat gizi didasarkan atas dua parameter, yakni sifat sumber energi dan sifat sumber karbon yang utama. Berdasarkan sumber energi dapat dibagi atas fototrof merupakan organisme yang menggunakan cahaya sebagai sumber energi dan kemotrof yang merupakan organisme yang menggunakan oksidasi senyawa anorganik sederhana sebagai sumber energi. Sedangkan pembagian organisme berdasar sifat sumber karbon utama yaitu organisme ototrof yang merupakan organisme yang menggunakan

88

karbondioksida sebagai sumber karbon utama atau untuk pertumbuhan, dan organisme heterotrof merupakan organisme yang tergantung pada sumber karbon organik. Secara sederhana pembagian organisme berdasarkan zat gizi dapat dilihat pada tabel 2. Pada tipe mikroba heterotrof, baik yang fotoheterotrof dan kemoheterotrof terdapat perbedaan antara mikroba saprofit dengan bakteri parasit. Bakteri saprofit disebut juga saprobakteri atau saproba (sapros=sampah), yaitu kelompok mikroba yang hidup dari zat-zat organik yang telah berupa sisa-sisa atau sampah. Sedangkan mikroba parasit yang dapat dipelihara di luar hospes, dinamakan mikroba parasit fakultatif. Dan mikroba yang tidak mungkin hidup kecuali pada hospesnya dinamakan mikroba parasit obligat. Sedangkan mikroba yang menyebabkan penyakit yang dapat mengganggu hospes disebut mikroba patogen. Tabel 2 Pembagian Organisme Berdasarkan Kebutuhannya terhadap Zat Gizi

Tipe

Sifat sumber energi untuk pertumbuhan Cahaya

Sifat sumber karbon utama untuk pertum buhan CO2

Contoh

Fototrof -Fotoototrof

Chromatium, alga Bakteri fotosinte tik Rhodo-spiril lum rubrum Bakteri hijau, bakteri ungu, Rhodopseudomonas Thiobacillus, Nitrosomonas, Nitrosospira, Nitrosococcus Escherichia, proto zoa, cendawan, se bagian besar bakteri

-Fotoheterotrof

Cahaya

Senyawa organik

Kemotrof -Kemoototrof

Oksidasi senya CO2 wa organik

-Kemoheterotrof Oksidasi senya-wa organik

Senyawa organik

89

Berkaitan dengan masalah pembagian mikroba berdasarkan zat gizi, ada beberapa istilah yang menyatakan keadaan fisis pada waktu zat organik memasuki sel, yaitu:    Osmotrof, yaitu organisme yang mengambil semua zat gizi dalam bentuk larutan. Misalnya bakteri dan cendawan. Fagotrof, yaitu organisme yang dapat mengambil partikel makanan padat dengan mekanisme yang dinamakan fagositosis. Misalnya protozoa. Auksotrof, yaitu organisme yang disamping memerlukan sumber karbon utama, juga tambahan satu atau lebih zat gizi organik (faktor tumbuh). Misalnya pada banyak alga dan bakteri fotoototrof. Latihan Untuk memperdalam pemahaman anda tentang materi di atas, kerjakanlah soal-soal latihan di bawah ini: 1. Apakah peran nutrien bagi mikroorganisme? 2. Sebutkan pola-pola nutrisi mikroorganisme! 3. Sebutkan pengelompokkan mikroorganisme berdasarkan zat gizi. Rangkuman 1. Peran Nutrien bagi Mikroorganisme Peran utama nutrien adalah sumber energi, bahan pembangun sel dan sebagai aseptor elektron dalam reaksi bioenergetik (reaksi yang menghasilkan energi). Oleh karenanya bahan makanan yang diperlukan terdiri dari air, sumber energi, sumber karbon, sumber aseptor elektron, sumber mineral, faktor pertumbuhan dan nitrogen. 2. Pola Nutrisi Mikroorganisme Berikut ini persyaratan nutrisi bagi mikroorganisme:      Semua organisme hidup membutuhkan sumber energi Semua organisme hidup membutuhkan karbon Semua organisme hidup membutuhkan nitrogen Semua organisme hidup membutuhkan belerang (sulfur) dan fosfor) Semua organisme hidup membutuhkan beberapa unsur logam, natrium, kalium, magnesium, mangan, besi, seng, tembaga dan kobalt.

90

 

Semua organisme hidup membutuhkan vitamin Semua organisme hidup membutuhkan air Air pada organisme berfungsi untuk membantu fungsi-fungsi metabolik dan pertumbuhannya. Untuk mikroorganisme, semua nutrien harus dalam bentuk larutan sebelum dapat memasuki selnya.

3. Pengelompokkan Mikroorganisme berdasarkan Zat Gizi Klasifikasi mikroorganisme berdasarkan zat gizi didasarkan atas dua parameter, yakni sifat sumber energi dan sifat sumber karbon yang utama. Berdasarkan sumber energi dapat dibagi atas fototrof merupakan organisme yang menggunakan cahaya sebagai sumber energi dan kemotrof yang merupakan organisme yang menggunakan oksidasi senyawa anorganik sederhana sebagai sumber energi. Sedangkan pembagian organisme berdasar sifat sumber karbon utama yaitu organisme ototrof yang merupakan organisme yang menggunakan karbondioksida sebagai sumber karbon utama atau untuk pertumbuhan, dan organisme heterotrof merupakan organisme yang tergantung pada sumber karbon organik. C. Penutup a. Pertanyaan 1. Apakah peran nutrien bagi mikroorganisme? 2. Sebutkan pola-pola nutrisi mikroorganisme! 3. Sebutkan pengelompokkan mikroorganisme berdasarkan zat gizi. b. Umpan balik Anda dapat menguasai materi ini dengan baik jika memperhatikan hal-hal sebagai berikut: Membaca bahan atau materi yang relevan dengan materi yang akan dibahas. Aktif dalam diskusi. Mengerjakan latihan.

c. Tindak lanjut Apabila mahasiswa dapat menyelesaikan 80% pertanyaan di atas, maka mahasiswa tersebut dapat melanjutkan ke bab selanjutnya.

91

-

Jika ada di antara mahasiswa ada yang belum mencapai penguasaan 80% dianjurkan untuk:   Mempelajari kembali topik di atas dari awal. Berdiskusi dengan teman terutama hal-hal yang belum dikuasai.

- Bertanya kepada Dosen jika ada hal-hal yang tidak jelas dalam penyampaian materi atau diskusi. d. Kunci Jawaban 1. Peran Nutrien bagi Mikroorganisme Peran utama nutrien adalah sumber energi, bahan pembangun sel dan sebagai aseptor elektron dalam reaksi bioenergetik (reaksi yang menghasilkan energi). Oleh karenanya bahan makanan yang diperlukan terdiri dari air, sumber energi, sumber karbon, sumber aseptor elektron, sumber mineral, faktor pertumbuhan dan nitrogen. 2. Pola Nutrisi Mikroorganisme Berikut ini persyaratan nutrisi bagi mikroorganisme:        Semua organisme hidup membutuhkan sumber energi Semua organisme hidup membutuhkan karbon Semua organisme hidup membutuhkan nitrogen Semua organisme hidup membutuhkan belerang (sulfur) dan fosfor) Semua organisme hidup membutuhkan beberapa unsur logam, natrium, kalium, magnesium, mangan, besi, seng, tembaga dan kobalt. Semua organisme hidup membutuhkan vitamin Semua organisme hidup membutuhkan air Air pada organisme berfungsi untuk membantu fungsi-fungsi metabolik dan pertumbuhannya. Untuk mikroorganisme, semua nutrien harus dalam bentuk larutan sebelum dapat memasuki selnya. 3. Pengelompokkan Mikroorganisme berdasarkan Zat Gizi Klasifikasi mikroorganisme berdasarkan zat gizi didasarkan atas dua parameter, yakni sifat sumber energi dan sifat sumber karbon yang utama. Berdasarkan sumber energi dapat dibagi atas fototrof merupakan organisme yang menggunakan cahaya sebagai sumber energi dan kemotrof yang merupakan

92

organisme yang menggunakan oksidasi senyawa anorganik sederhana sebagai sumber energi. Sedangkan pembagian organisme berdasar sifat sumber karbon utama yaitu organisme ototrof yang merupakan organisme yang menggunakan karbondioksida sebagai sumber karbon utama atau untuk pertumbuhan, dan organisme heterotrof merupakan organisme yang tergantung pada sumber karbon organik. e. Referensi Jawetz. 1996. Mikrobiologi Kedokteran. Edisi 20. kedokteran EGC. Uno, W. 2004. Diktat Mikrobiologi 1. FMIPA UNG. Waluyo. 2004. Mikrobiologi Umum. UMM f. Senarai - Nutrien : zat gizi Jakarta. Penerbit Buku

93

BAB VI PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN MIKROORGANISME
A. Pendahuluan Deskripsi singkat Bab ini akan menguraikan tentang peran nutrisi bagi mikroorganisme, pola nutrisi mikroorganisme dan pengelompokkan mikroorganisme berdasarkan zat gizi Relevansi Pembahasan ini akan sangat berhubungan dengan bab selanjutnya. Mahasiswa akan mikroorganisme mengamatinya. Kompetensi Dasar Mahasiswa dapat menjelaskan nutrisi mikroorganisme. B. Penyajian Uraian dan contoh 6.1 Pertumbuhan Mikroorganisme 6.1.1 Definisi Pertumbuhan Pertumbuhan secara umum dapat didefinisikan sebagai pertambahan secara teratur semua komponen di dalam sel hidup. Perbanyakan sel adalah konsekuensi pertumbuhan. Pada organisme multiseluler, yang disebut mengetahui zat gizi atau nutrisi yang dibutuhkan oleh untuk pertumbuhannya, sehingga akan mudah untuk

pertumbuhan adalah peningkatan jumlah sel perorganisme dan perbesaran sel. Pada organisme uniseluler, pertumbuhan adalah pertambahan jumlah sel, yang juga berarti pertambahan jumlah organisme yang membentuk populasi atau suatu biakan. Pada organisme soenositik (aseluler), selama pertumbuhan ukuran sel menjadi besar, tetapi tidak terjadi pembelahan sel. Pertumbuhan makhluk hidup dapat juga ditinjau dari 2 sudut yaitu: Pertumbuhan individu (sel) Pertumbuhan kelompok sebagai satu populasi

94

Pertumbuhan sel diartikan sebagai adanya penambahan volume sel serta bagian-bagian sel lainnya, atau sebagai penambahan kuantitas isi dan kandungan di dalam sel. Sedangkan pertumbuhan populasi merupakan akibat pertumbuhan individu.. Misalnya dari satu sel menjadi dua, dari dua sel menjadi 4 sel dan seterusnya. 6.1.2 Pengukuran Pertumbuhan Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengukur atau menghitung jumlah jasad renik, yaitu: a. Perhitungan Jumlah sel Hitungan mikroskopik Hitungan cawan MPN (Most Probable Number)

b. Perhitungan Massa Sel secara langsung Cara volumetric Cara gravimetric Turbidimetri (kekeruhan)

c. Perhitungan massa sel secara tidak langsung Analisis komponen sel (protein, AND, ATP dsb) Analisis produk katabolisme (metabolit primer, panas) Analisis konsumsi nutrien (karbon, nitrogen, oksigen, asam amino, mineral dsb). Perhitungan massa sel secara langsung maupun tidak langsung jarang digunakan dalam menguji jumlah mikroba pada bahan, tetapi sering digunakan untuk mengukur pertumbuhan sel selama proses fermentasi. Metode volumetric dan gravimetric, pengukuran volume dan berat sel dilakukan terlebih dahulu dengan menyaring mikroorganisme tersebut. Oleh karena itu, bila substrat tempat tumbuhnya banyak mengandung padatan, misalnya bahan pangan, sel mikroorganisme tidak dapat diukur dengan menggunakan metode volumetric maupun dengan turbidimetri. metabolit sekunder,

95

6.1.3 Laju Pertumbuhan Cara khas bakteri berkembang biak adalah dengan cara pembelahan biner melintang : satu sel membelah diri, menghasilkan dua sel. Jadi kalau kita mulai dari 1 bakteri tunggal, maka populasi bertambah secara geometric. 1 2  22  23  24  …2n. Selang waktu yang dibutuhkan bagi sel untuk membelah diri menjadi dua kali lipat dinamakan waktu generasi (generation time) atau waktu berganda (doubling time). Tidak semua spesies microbe mempunyai waktu generasi yang sama. Waktu generasi untuk suatu spesies bakteri tertentu juga tidak sama pada segala kondisi fisik. Waktu generasi (G) suatu mikroorganisme dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut: t G= 3,0 log (b/B) dimana: G t : waktu generasi : selang waktu antara pengukuran jumlah sel di dalam populasi pada sua tu saat dalam fase log B dan kemudian lagi pada suatu titik waktu kemudian (b) B b : populasi awal : populasi setelah waktu t

Log : log 10 3,0 : factor konversi log 2 menjadi log 10

Contoh: Sejumlah 1000 sel bakteri setelah 4 jam di dalam suatu medium bertambah jumlahnya menjadi 100.000 sel. Berapa waktu generasi dari populasi tersebut?

t G= 3,0 log (b/B)

96

4 G= 3,0 log (100.000/1.000)

= 4/6,6 = 0,61 jam.

Jadi data yang dibutuhkan untuk menentukan waktu generasi adalah (1) jumlah bakteri mula-mula, yakni di dalam inokulum), (2) jumlah bakteri yang ada pada akhir waktu tertentu, (3) interval waktu. 6.1.4 Kurva Pertumbuhan Adapun kurva pertumbuhan jasad renik dapat dilihat pada gambar 3.

Gambar 3. Kurva Pertumbuhan Jasad Renik - Fase 1 : fase adaptasi (fase lag) Bila jasad renik dipindahkan ke dalam suatu medium, mula-mula akan mengalami fase adaptasi. Fase ini untuk menyesuaikan diri dengan substrat dan kondisi lingkungan di sekitarnya. Fase ini belum terjadi pembelahan sel karena beberapa enzim mungkin belum disintesis. Jumlah sel pada fase ini mungkin tetap. Lamanya fase ini bervariasi, dapat cepat atau lambat tergantung dari kecepatan penyesuaian dengan lingkungan di sekitarnya. Lamanya fase adaptasi dipengaruhi oleh beberapa factor, diantaranya adalah sebagai berikut:

97

a. Medium dan lingkungan pertumbuhan. Sel yang ditempatkan pada medium dan lingkungan pertumbuhan sama seperti medium dan lingkungan sebelumnya, mungkin tidak diperlukan waktu adaptasi. Tetapi jika nutrien yang tersedia dan kondisi lingkungan yang baru sangat berbeda dengan sebelumnya, diperlukan waktu penyesuaian untuk mensintensis enzim-enzim yang dibutuhkan untuk metabolisme. b. Jumlah inokulum. Jumlah sel yang semakin tinggi akan mempercepat proses adaptasi. - Fase 2: Fase Pertumbuhan awal = Fase Permulaan Pembiakan Setelah mengalami fase adaptasi, sel mulai membelah dengan kecepatan yang masih rendah karena baru selesai tahap penyesuaian diri. - Fase 3: Fase pertumbuhan Logaritmik (fase eksponensial atau Fase Pembiakan Cepat) Setelah mikroba menyesuaikan diri dengan lingkungan, yakni pada fase adaptasi dan fase permulaan pembiakan, maka sel jasad renik membelah dengan cepat, dimana pertambahan jumlahnya mengikuti kurva logaritmik. Pada fase ini kecepatan pertumbuhan sangat dipengaruhi oleh medium tempat tumbuhnya seperti pH dan kandungan nutrien, suhu dan kelembaban udara. Pada fase ini sel membutuhkan energi lebih banyak dibandingkan dengan fase lainnya, selain itu sel paling sensitive terhadap keadaan lingkungan. - Fase 4. Fase Pertumbuhan Lambat (Fase Pembiakan Diperlambat) Pada fase ini pertumbuhan jasad renik diperlambat, karena : (1) zat nutrisi di dalam medium sudah sangat kurang, (2) adanya zat hasil-hasil metabolisme yang mungkin beracun atau dapat menghambat pertumbuhan jasad renik. Pada fase ini pertumbuhan sel tidak stabil, tetapi jumlah populasi masih naik. Hal ini karena jumlah sel yang masih tumbuh lebih banyak daripada jumlah sel yang mati. - Fase 5. Fase Pertumbuhan Tetap (Statis) Pada fase ini jumlah populasi sel tetap karena jumlah sel yang tumbuh sama dengan jumlah sel yang mati. Ukuran sel pada fase ini lebih kecil karena sel tetap membelah meskipun zat nutrisi sudah habis. Karena kekurangan zat nutrisi,

98

maka kemungkinan sel tersebut mempunyai komposisi berbeda dengan sel yang tumbuh pada fase logaritma. - Fase 6. Fasemenuju kematian dan fase kematian Pada fase ini sebagian populasi jasad renik mulai mengalami kematian karena, (1) nutrien di dalam medium sudah habis, (2) energi cadangan di dalam sel habis. Jumlah sel yang mati semakin lama akan semakin banyak dan kecepatan kematian dipengaruhi kondisi nutrien, lingkungan dan jenis jasad renik. 6.1.5 Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan mikroba Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan jasad renik yang bersifat heterotrof adalah tersedianya nutrien, air, suhu, pH, oksigen dan potensial oksidasi reduksi, adanya zat-zat penghambat dan adanya jasad renik yang lain. A. Nutrien Jasad renik heterotrof membutuhkan nutrien untuk kehidupan dan pertumbuhannya, yakni sebagai: (1) sumber karbon, (2) sumber nitrogen, (3) sumber energi, (4) factor pertumbuhan yaitu mineral dan vitamin. Nutrien tersebut dibutuhkan untuk membentuk energi dan menyusun komponen-komponen sel. Setiap jasad renik bervariasi dalam kebutuhannya akan zat-zat nutrisi tersebut. B. Tersedianya air Pertumbuhan jasad renik di dalam suatu bahan sangat dipengaruhi oleh jumlah air yang tersedia. Tidak semua air yang tersedia dapat digunakan oleh jasad renik. Beberapa keadaan di mana air tidak dapat digunakan oleh jasad renik adalah: (1) adanya solut dan ion yang dapat mengikat air di dalam larutan, misalnya adanya gula dan garam, (2) koloid hidrofilik (gel), sebanyak 3-4% dapat menghambat pertumbuhan mikroba dalam medium, (3) air dalam bentuk kristal es (hidrasi) juga tidak dapat digunakan oleh jasad renik. Air adalah penting untuk pertumbuhan dan metabolisme dari semua sel. Bila air ini dikurangi atau dihilangkan, aktivitas seluler akan menurun. Contoh: pengambilan air dari sel dengan cara pengeringan atau mengubah bentuk dari air tersebut (dari bentuk cair menjadi padat), mengurangi ketersediaan air bagi sel-sel tersebut (termasuk sel-sel mikroba) untuk aktivitas metabolic. Terdapat dua jenis bentuk air yaitu air bebas dan air terikat. Air terikat adalah air yang terdapat dalam jaringan serta bersifat penting bagi seluruh proses

99

fisiologis dalam sel tersebut. Air bebas adalah air yang terdapat pada dan sekitar jaringan serta dapat dihilangkan dari sel-sel tanpa mempengaruhi secara serius proses-proses penting tersebut. Air bebas inilah yang penting bagi kelangsungan hidup dan aktivitas mikroba. Oleh karena itu, melalui pengambilan air bebas, tingkat aktivitas mikrobiawi dapat dikendalikan. Jumlah air yang tersedia bagi mikroba inilah yang disebut sebagai aktivitas air (aw). Air murni memiliki suatu aktivitas air 1,0. Bakteri memerlukan lebih banyak air daripada khamir, khamir memerlukan air lebih banyak daripada jamur untuk melakukan aktivitas metabolisnya. Hampir semua aktivitas mikroba terhambat di bawah aw 0,6. Kebanyakan jamur terhambat dibawah aw 0,7 kebanyakan bakteri dibawah aw 0,9. Secara alami terdapat kekecualian serta beberapa spesies dari mikroba dapat berada aktif di luar kisaran tersebut. Contoh yang dapat menggambarkan aktivitas air dan aksi mikroba adalah * Aw 1,0 terdapat pada pangan yang sangat mudah rusak sedangkan khamir dibawah aw 0,8 serta

* Aw 0,95 Pseudomonas, Bacillus, Clostridium perfringens serta beberapa khamir terhambat, terdapat pangan dengan sukrosa 40% atau 7% garam. * Aw 0,90 Batas rendah untuk pertumbuhan bakteri Salmonella, Vibrio

parahaemolyticus, Clostridium botulinum, Lactobacillus dan beberapa khamir dan jamur terhambat, pangan dengan 55% sukrosa, 12% garam. * Aw 0,80 Batas rendah untuk kebanyakan aktivitas enzim serta pertumbuhan dari banyak jamur, Staphylococcus aureus terhambat, terdapat pada sirup buah-buahan. Aktivitas air dari bahan pangan tersebut dapat diubah dengan cara mengatur jumlah air bebas yang tersedia. Terdapat beberapa cara untuk mencapainya yaitu pengeringan untuk mengambil air, pembekuan untuk mengubah keadaan air dari cair menjadi padat, meningkatkan atau menurunkan konsentrasi zat terlarut (solut) dengan cara

100

penambahan garam atau gula atau senyawa hidrofilik (garam dan gula merupakan dua zat aditif umum yang digunakan untuk pengawetan makanan). Penambahan garam dan gula pada suatu pangan akan mengikat air bebas, akibatnya aw tersebut menurun. Sebaliknya, penurunan konsentrasi tersebut akan menaikkan jumlah air bebas dan juga aw. Manipulasi dari aw tersebut dengan cara seperti ini dapat digunakan untuk menopang pertumbuhan mikroba yang dikehendaki serta menghambat

pertumbuhan mikroba pengganggu/perusak. Pengaruh NaCl terhadap pertumbuhan mikroorganisme Garam dapur (NaCl) adalah yang paling umum dan banyak digunakan untuk mengawetkan bahan pangan seperti hasil perikanan daripada jenis-jenis bahan pengawet tambahan lainnya. NaCl diketahui merupakan bahan pengawet yang paling tua digunakan sepanjang sejarah. Adapun tujuan utama dari penggaraman adalah memperpanjang daya tahan dan daya simpan bahan pangan seperti ikan, karena garam dapat menghambat atau membunuh bakteri penyebab pembusukan pada ikan. Selama proses penggaraman berlangsung terjadi penetrasi garam ke dalam tubuh ikan dan keluarnya cairan dari tubuh ikan karena adanya perbedaan konsentrasi. Cairan ini dengan cepat akan melarutkan kristal garam atau mengencerkan larutan garam. Bersamaan dengan keluarnya cairan dalam tubuh ikan, partikel garam memasuki tubuh ikan, sampai terjadi keseimbangan antara konsentrasi garam di dalam tubuh ikan dengan konsentrasi garam di luar tubuh ikan. Dan pada saat itulah terjadi pengentalan cairan tubuh yang masih tersisa dan penggumpalan protein (denaturasi) daging ikan dan juga mikroba. Jadi ikan yang telah mengalami proses penggaraman, akan mempunyai daya simpan yang tinggi karena garam dapat berfungsi menghambat atau

mengehentikan sama sekali reaksi autolisis dan membunuh bakteri yang terdapat dalam tubuh ikan. Cara kerja garam menjalankan fungsi kedua ini adalah: garam menyerap cairan tubuh ikan sehingga metabolisme bakteri terganggu karena kekurangan cairan bahkan akhirnya mematikan bakteri. Selain menyerap cairan tubuh, garam

101

juga menyerap cairan tubuh bakteri sehingga bakteri akan mengalami kekeringan dan akhirnya mati. Dapat disimpulkan bahwa NaCl mempunyai daya pengawet tinggi karena beberapa hal, antara lain: - NaCl dapat menyebabkan berkurangnya jumlah air dalam daging sehingga kadar air dan aktivitas airnya akan rendah. - NaCl dapat menyebabkan protein daging dan protein mikrobia terdenaturasi. - NaCl dapat menyebabkan sel-sel mikrobia menjadi lisis karena perubahan tekanan osmosa. - Ion klorida yang ada pada garam dapur (NaCl) mempunyai daya toksisitas yang tinggi pada mikrobia, dapat memblokir system respirasinya. C. Nilai pH Nilai pH medium sangat berpengaruh pada jenis mikroba yang tumbuh. Jasad renik pada umumnya dapat tumbuh pada kisaran pH 3 – 6. kebanyakan bakteri mempunyai pH optimum, yakni pH dimana pertumbuhannya optimum, sekitar pH 6,5 – 7,5. pada pH di bawah 5 dan di atas 8,5 bakteri tidak dapat tumbuh dengan baik, kecuali bakteri asam asetat (Acetobacter suboxydans) dan bakteri yang mengoksidasi sulfur. Sebaliknya khamis menyukai pH 4 – 5 dan dapat tumbuh pada kisaran pH 2,5 – 8,5. Oleh karena itu, khamir tumbuh pada pH rendah dimana pertumbuhan bakteri terhambat. Kapang mempunyai pH optimum 5,7, tetapi seperti halnya khamir, kapang masih dapat hidup pada pH 3,0 – 8,5. D. Suhu Masing-masing jasad renik mempunyai suhu optimum, minimum dan maksimum untuk pertumbuhannya. Hal ini disebabkan di bawah suhu minimum dan di atas suhu maksimum, aktivitas enzim akan berhenti, bahkan pada suhu yang terlalu akan terjadi denaturasi enzim. Jasad renik dapat dibedakan menjadi beberapa kelompok berdasarkan atas kemampuannya untuk dapat memulai pertumbuhan pada kisaran suhu tertentu. Penggolongan tersebut yaitu: a). psikrofil, b). mesofil, c). termofil.

102

Tabel 3 Kisaran Suhu untuk Pertumbuhan Jasad Renik Suhu Pertumbuhan (oC) Minimum 0 –5 10 – 20 25 – 45 Optimum 5 – 15 20 – 40 45 – 60 Maksimum 15 – 20 40 – 45 60 – 80

Kelompok mikroba Psikrofil Mesofil Termofil

Kapang dan khamir pada umumnya tergolong mesofil. Karena itu, dapat tumbuh dengan baik pada makanan yang disimpan pada suhu kamar, bahkan pada beberapa mikroba dapat tumbuh pada suhu pendinginan. Makanan yang disimpan dalam lemari es masih mungkin ditumbuhi oleh jasad renik yang tergolong psikrofil, sedangkan makanan yang disimpan dalam keadaan panas, mungkin masih dapat ditumbuhi oleh mikroba termofil. E. Tersedianya Oksigen Konsentrasi oksigen di alam mempengaruhi jenis mikroba yang dapat tumbuh. Jasad renik dapat dibedakan menjadi 4 kelompok berdasarkan kebutuhannya akan oksigen untuk pertumbuhannya, yaitu jasad renik bersifat aerob, anaerob, anaerob fakultatif dan mikroaerofil. Kapang dan khamir pada umumnya bersifat aerob, sedangkan bakteri dapat bersifat aerob atau anaerob. F. Komponen Antimikroba Komponen antimikroba dalam suatu bahan dapat menghambat

pertumbuhan jasad renik. Komponen antimikroba biasa terdapat secara alami pada bahan pangan, misalnya laktenin dan factor antikoliform di dalam susu, dan lisosim dalam putih telur. Beberapa komponen antimikroba kadang-kadang ditambahkan pada makanan secara sengaja, misalnya asam benzoat di dalam sari buah, asam propionat dalam roti, asam sorbat dalam keju. 6.2 Perkembangan (perkembangbiakan, reproduksi) Perkembang biakan mikroorganisme dapat terjadi secara seksual dan aseksual. Yang paling banyak terjadi adalah perkemban biakan aseksual.

103

Pembiakan aseksual terjadi dengan pembelahan biner, yakni satu sel induk membelah menjadi dua sel anak. Kemudian masing-masing sel anak membentuk dua sel sel anak lagi dan seterusnya. Selain pembelahan biner (binary fission) ada pembelahan ganda (multiple fission), dan perkuncupan (budding). Hal ini dapat dilihat pada gambar 4.

Gambar 4. Tipe Pembelahan Sel Mikroorganisme Reproduksi bakteri secara pembelahan binner ditentukan oleh waktu generasi. Pembelahan binner yang terjadi pada bakteri adalah pembelahan binner melintang, yaitu suatu proses reproduksi aseksual, setelah pembentukan dinding sel melintang, maka satu sel tunggal membelah menjadi dua sel yang disebut sel anak. Pembelahan biner melintang dapat dilihat pada gambar 5.

104

Gambar 5. Pembelahan Biner Melintang pada Bakteri Pada khamir misalnya Saccharomyces cerevisies tipe pembelahan selnya ada yang seperti bakteri yakni dengan pembelahan biner tetapi ada juga yang membentuk kuncup (gambar 4), dimana tiap kuncup akan memebesar seperti induknya. Kemudian tumbuh kuncup baru dan seterusnya. Tipe yang ketiga dari khamir adalah pembelahan tunas, yakni kombinasi antara pertunasan dan pembelahan. Sedang yang keempat adalah dengan sporulasi atau pembentukan spora yang dapat dibedakan atas spora seksual dan spora aseksual.

105

Gambar 6. Cara Perkuncupan Sel Saccharomyces cerevisiae Latihan Untuk memperdalam pemahaman anda tentang materi di atas, kerjakanlah soal-soal latihan di bawah ini: 1. Jelaskan definisi pertumbuhan pada mikroorganisme. 2. Jelaskan cara mengukur pertumbuhan. 3. Sebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan mikroba, jelaskan! 4. Apa yang dimaksud dengan perkembangan pada mikroorganisme? Rangkuman 1. Pertumbuhan Mikroorganisme - Definisi Pertumbuhan Pertumbuhan secara umum dapat didefinisikan sebagai pertambahan secara teratur semua komponen di dalam sel hidup. Perbanyakan sel adalah konsekuensi pertumbuhan. Pada organisme multiseluler, yang disebut

pertumbuhan adalah peningkatan jumlah sel perorganisme dan perbesaran sel. Pada organisme uniseluler, pertumbuhan adalah pertambahan jumlah sel, yang juga berarti pertambahan jumlah organisme yang membentuk populasi atau suatu biakan. Pada organisme soenositik (aseluler), selama pertumbuhan ukuran sel menjadi besar, tetapi tidak terjadi pembelahan sel. - Pengukuran Pertumbuhan Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengukur atau menghitung jumlah jasad renik, yaitu: a. Perhitungan Jumlah sel Hitungan mikroskopik Hitungan cawan MPN (Most Probable Number)

b. Perhitungan Massa Sel secara langsung Cara volumetric

106

-

Cara gravimetric Turbidimetri (kekeruhan)

c. Perhitungan massa sel secara tidak langsung Analisis komponen sel (protein, AND, ATP dsb) Analisis produk katabolisme (metabolit primer, panas) Analisis konsumsi nutrien (karbon, nitrogen, oksigen, asam amino, mineral dsb). - Laju Pertumbuhan Cara khas bakteri berkembang biak adalah dengan cara pembelahan biner melintang : satu sel membelah diri, menghasilkan dua sel. Jadi kalau kita mulai dari 1 bakteri tunggal, maka populasi bertambah secara geometric. 1 2  22  23  24  …2n. Selang waktu yang dibutuhkan bagi sel untuk membelah diri menjadi dua kali lipat dinamakan waktu generasi (generation time) atau waktu berganda (doubling time). - Kurva Pertumbuhan * Fase 1 : fase adaptasi (fase lag) Bila jasad renik dipindahkan ke dalam suatu medium, mula-mula akan mengalami fase adaptasi. Fase ini untuk menyesuaikan diri dengan substrat dan kondisi lingkungan di sekitarnya. Fase ini belum terjadi pembelahan sel karena beberapa enzim mungkin belum disintesis. * Fase 2: Fase Pertumbuhan awal = Fase Permulaan Pembiakan Setelah mengalami fase adaptasi, sel mulai membelah dengan kecepatan yang masih rendah karena baru selesai tahap penyesuaian diri. * Fase 3: Fase pertumbuhan Logaritmik (fase eksponensial atau Fase Pembiakan Cepat) Setelah mikroba menyesuaikan diri dengan lingkungan, yakni pada fase adaptasi dan fase permulaan pembiakan, maka sel jasad renik membelah dengan cepat, dimana pertambahan jumlahnya mengikuti kurva logaritmik. Pada fase ini kecepatan pertumbuhan sangat dipengaruhi oleh medium tempat tumbuhnya seperti pH dan kandungan nutrien, suhu dan kelembaban udara. metabolit sekunder,

107

* Fase 4. Fase Pertumbuhan Lambat (Fase Pembiakan Diperlambat) Pada fase ini pertumbuhan jasad renik diperlambat, karena : (1) zat nutrisi di dalam medium sudah sangat kurang, (2) adanya zat hasil-hasil metabolisme yang mungkin beracun atau dapat menghambat pertumbuhan jasad renik. Pada fase ini pertumbuhan sel tidak stabil, tetapi jumlah populasi masih naik. Hal ini karena jumlah sel yang masih tumbuh lebih banyak daripada jumlah sel yang mati. * Fase 5. Fase Pertumbuhan Tetap (Statis) Pada fase ini jumlah populasi sel tetap karena jumlah sel yang tumbuh sama dengan jumlah sel yang mati. Ukuran sel pada fase ini lebih kecil karena sel tetap membelah meskipun zat nutrisi sudah habis. * Fase 6. Fasemenuju kematian dan fase kematian Pada fase ini sebagian populasi jasad renik mulai mengalami kematian karena, (1) nutrien di dalam medium sudah habis, (2) energi cadangan di dalam sel habis. Jumlah sel yang mati semakin lama akan semakin banyak dan kecepatan kematian dipengaruhi kondisi nutrien, lingkungan dan jenis jasad renik. - Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan mikroba Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan jasad renik yang bersifat heterotrof adalah tersedianya nutrien, air, suhu, pH, oksigen dan potensial oksidasi reduksi, adanya zat-zat penghambat dan adanya jasad renik yang lain. 2. Perkembangan (perkembangbiakan, reproduksi) Perkembang biakan mikroorganisme dapat terjadi secara seksual dan aseksual. Pembiakan aseksual terjadi dengan pembelahan biner, yakni satu sel induk membelah menjadi dua sel anak. Kemudian masing-masing sel anak membentuk dua sel sel anak lagi dan seterusnya. Selain pembelahan biner (binary fission) ada pembelahan ganda (multiple fission), dan perkuncupan (budding). C. Penutup a. Pertanyaan 1. Jelaskan definisi pertumbuhan pada mikroorganisme. 2. Jelaskan cara mengukur pertumbuhan. 3. Sebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan mikroba, jelaskan! 4. Apa yang dimaksud dengan perkembangan pada mikroorganisme?

108

b. Umpan balik Anda dapat menguasai materi ini dengan baik jika memperhatikan hal-hal sebagai berikut: Membaca bahan atau materi yang relevan dengan materi yang akan dibahas. Aktif dalam tanya jawab. Mengerjakan latihan.

c. Tindak lanjut Apabila mahasiswa dapat menyelesaikan 80% pertanyaan di atas, maka mahasiswa tersebut dapat melanjutkan ke bab selanjutnya. Jika ada di antara mahasiswa ada yang belum mencapai penguasaan 80% dianjurkan untuk:   Mempelajari kembali topik di atas dari awal. Berdiskusi dengan teman terutama hal-hal yang belum dikuasai.

- Bertanya kepada Dosen jika ada hal-hal yang tidak jelas dalam penyampaian materi atau diskusi. d. Kunci Jawaban 1. Definisi Pertumbuhan Pertumbuhan secara umum dapat didefinisikan sebagai pertambahan secara teratur semua komponen di dalam sel hidup. Perbanyakan sel adalah konsekuensi pertumbuhan. Pada organisme multiseluler, yang disebut

pertumbuhan adalah peningkatan jumlah sel perorganisme dan perbesaran sel. Pada organisme uniseluler, pertumbuhan adalah pertambahan jumlah sel, yang juga berarti pertambahan jumlah organisme yang membentuk populasi atau suatu biakan. Pada organisme soenositik (aseluler), selama pertumbuhan ukuran sel menjadi besar, tetapi tidak terjadi pembelahan sel. 2. Pengukuran Pertumbuhan Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengukur atau menghitung jumlah jasad renik, yaitu: a. Perhitungan Jumlah sel Hitungan mikroskopik Hitungan cawan

109

-

MPN (Most Probable Number)

b. Perhitungan Massa Sel secara langsung Cara volumetric Cara gravimetric Turbidimetri (kekeruhan)

c. Perhitungan massa sel secara tidak langsung Analisis komponen sel (protein, AND, ATP dsb) Analisis produk katabolisme (metabolit primer, panas) Analisis konsumsi nutrien (karbon, nitrogen, oksigen, asam amino, mineral dsb). metabolit sekunder,

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan mikroba Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan jasad renik yang bersifat heterotrof adalah tersedianya nutrien, air, suhu, pH, oksigen dan potensial oksidasi reduksi, adanya zat-zat penghambat dan adanya jasad renik yang lain. 4. Perkembangan (perkembangbiakan, reproduksi) Perkembang biakan mikroorganisme dapat terjadi secara seksual dan aseksual. Pembiakan aseksual terjadi dengan pembelahan biner, yakni satu sel induk membelah menjadi dua sel anak. Kemudian masing-masing sel anak membentuk dua sel sel anak lagi dan seterusnya. Selain pembelahan biner (binary fission) ada pembelahan ganda (multiple fission), dan perkuncupan (budding). e. Referensi Jawetz. 1996. Mikrobiologi Kedokteran. Edisi 20. kedokteran EGC. Pelczhar. 1986. Dasar-dasar Mikrobiologi 1. Jakarta. UI Press. Uno, W. 2004. Diktat Mikrobiologi 1. FMIPA UNG. Waluyo. 2004. Mikrobiologi Umum. UMM f. Senarai - binary fission : Pembelahan biner - multiple fission: pembelahan ganda - budding : perkuncupan Jakarta. Penerbit Buku

110

BAB VII FAKTOR-FAKTOR LINGKUNGAN YANG MEMPENGARUHI MIKROORGANISME
A. Pendahuluan Deskripsi singkat Bab ini akan menguraikan tentang faktor abiotik, faktor-faktor kimia da faktor-faktor biotik yang mempengaruhi mikroorganisme. Relevansi Pembahasan ini akan sangat berhubungan dengan bab selanjutnya. Mahasiswa akan mengetahui factor-faktor yang mempengaruhi mikroorganisme untuk pertumbuhannya, sehingga akan mudah untuk mengamati

pertumbuhannnya. Kompetensi Dasar Mahasiswa dapat menjelaskan factor-faktor yang mempengaruhi mikroorganisme. B. Penyajian Uraian dan contoh Semua makhluk hidup sangat bergantung pada lingkungan sekitar, demikian juga mikroba. Adapun faktor-faktor lingkungan yang dapat

mempengaruhi mikroba adalah faktor abiotik (faktor alam), faktor biotik (faktor biologi). 7.1 Faktor Abiotik Yang Mempengaruhi Mikroba

faktor kimia dan

Yang termasuk dalam faktor abiotik adalah faktor-faktor alam. Adapun faktor-faktor alam terdiri dari: 1. Pengaruh Temperatur Pada umumnya batas daerah temperatur bagi kehidupan mikroba terletak antara 0oC – 90oC, dan dikenal ada temperatur minimum, optimum dan maksimum. Temperatur minimum adalah nilai paling rendah dimana kegiatan

111

mikroba masih dapat berlangsung. Temperatur maksimum adalah temperatur tertinggi yang masih dapat digunakan untuk aktivitas mikroba. Sedangkan temperatur yang paling baik bagi kegiatan hidup dinamakan temperatur optimum. Untuk menentukan temperatur maut bagi mikroba, ada beberapa pedoman seperti berikut ini: a. Temperatur maut / Titik Kematian Termal (Thermal Death Point) adalah temperatur serendah-rendahnya yang dapat membunuh mikroba yang berada di medium standar selama 10 menit pada kondisi tertentu. b. Laju Kematian Termal (Thermal Death Rate) adalah kecepatan kematian mikroba akibat pemberian temperatur. Hal ini karena bahwa tidak semua spesies mati bersama-sama pada suatu temperatur tertentu. Biasanya spesies satu lebih tahan daripada spesies yang lain terhadap suatu pemanasan, oleh karena itu masing-masing spesies itu ada angka kematian pada suatu temperatur. c. Waktu Kematian Termal (Thermal Death Time) merupakan waktu yang diperlukan untuk membunuh suatu jenis mikroba pada suatu temperatur yang tetap. Berdasarkan pada daerah aktivitas temperatur, mikroba dapat dibagi menjadi tiga golongan utama, yaitu: a. Mikroba psikrofil / karyofil (oligotermik), yaitu golongan mikroba yang dapat tumbuh pada 0 – 30oC, dengan temperatur optimum 10 – 15oC. Kebanyakan dari golongan ini tumbuh di tempat-tempat dingin, baik di daratan maupun di lautan. b. Mikroba mesofil (mesotermik), adalah golongan mikroba yang dapat hidup dengan baik temperatur 5 – 60oC, sedang temperatur optimumnya 25 – 40oC. Umumnya mikroba mesotermik hidup dalam alat pencernaan. c. Mikroba termofil (politermik), yaitu golongan mikroba yang tumbuh pada temperatur 40 – 80oC, dan temperatur optimumnya 55 – 65oC. Golongan mikroba ini terutama terdapat di sumber-sumber air panas dan tempattempat lain yang bertemperatur tinggi. 2. Pengaruh Kebasahan dan Kekeringan

112

Mikroba mempunyai nilai kelembaban optimum. Pada umumnya untuk pertumbuhan ragi dan bakteri diperlukan kelembaban yang tinggi di atas 85%, sedangkan untuk jamur dan aktinomisetes memerlukan kelembaban yang rendah di bawah 80%. Jumlah air yang tersedia bagi mikroba inilah yang disebut sebagai aktivitas air (aw). Kadar air bebas di dalam larutan (aw) ini merupakan nilai perbandingan antara tekanan uap air larutan dengan tekanan uap air murni, atau 1/100 dari kelembaban relatif. Nilai aw untuk bakteri pada umunya terletak antara 0,90 – 0,99, sedangkan bakteri halofilik mendekati 0,75. Bakteri sebenarnya makhluk yang suka akan keadaan basah, bahkan dapat hidup di dalam air. Hanya di dalam air yang tertutup tak dapat hidup subur, hal ini disebabkan karena kurangnya udara. Tanah yang cukup basah baik untuk kehidupan bakteri. Keadaan kekeringan menyebabkan proses pengeringan protoplasma, yang berakibat berhentinya kegiatan metabolisme. Pengeringan secara perlahan-lahan menyebabkan perusakan sel akibat pengaruh tekanan osmosis dan pengaruh lainnya dengan naiknya kadar zat terlarut. Adapun syarat-syarat yang menentukan matinya bakteri karena kekeringan antara lain:     Pengeringan dalam keadaan terang pengaruhnya lebih buruk daripada dalam gelap. Pengeringan pada suhu tubuh (37oC) atau temperatur kamar (+ 26oC) lebih jelek daripada pengeringan pada temperatur titik beku. Pengeringan pada udara efeknya lebih buruk daripada di dalam vakum atau di tempat yang berisi nitrogen. Bakteri yang dalam medium susu, gula, daging kering dapat bertahan lebih lama daripada gesekan pada kaca obyek. 3. Pengaruh Perubahan nilai Osmotik Pada umunya larutan hipertonik menghambat pertumbuhan mikroba karena dapat menyebabkan plasmolisis. Medium paling cocok bagi kehidupan mikroba adalah medium yang isotonik terhadap isi sel mikroba. Larutan garam atau larutan gula yang agak pekat mudah menyebabkan plasmolisis. Sebaliknya mikroba yang ditempatkan di air suling (aquades) akan kemasukan air sehingga

113

dapat menyebabkan pecahnya sel mikroba tersebut, hal ini dinamakan plasmoptisis. Berdasarkan hal ini, maka pembuatan suspensi bakteri dengan menggunakan air murni tidak dapat digunakan. Beberapa mikroba dapat menyesuaikan diri terhadap kadar garam atau kadar gula yang tinggi, misal ragi yang osmofil (dapat tumbuh pada kadar garam tinggi), bahkan beberapa mikroba dapat bertahan di dalam substrat dengan kadar garam sampai 30%, golongan ini bersifat halodurik.

Gambar 7. Pengaruh Tekanan Osmotik terhadap sel Mikroba

Keterangan: a. Sel mikroorganisme dalam keadaan lingkungan isotonik. Dalam lingkungan isotonik, konsentrasi cairan lingkungan setara dengan sel mikroorganisme. Dalam lingkungan ini, cairan dalam sel tidak mengalir keluar, demikian pula cairan dari lingkungan tidak masuk ke dalam sel. b. Sel mikroorganisme dalam keadaan lingkungan hipertonik. Dalam lingkungan hipertonik, konsentrasi cairan lingkunan lebih tinggi dibandingkan di dalam sel mikroorganisme. Perbedaan konsentrasi tersebut menyebabkan cairan dalam sel mikroorganisme mengalir keluar, sehingga mengakibatkan dehidrasi dan pengkerutan sel mikrooreganisme (plasmolisis). c. Sel mikroorganisme dalam lingkungan hipotonik. Dalam lingkungan hipotonik, konsentrasi cairan lingkungan lebih rendah dibandingkan di dalam sel mikroorganisme. Perbedaan konsentrasi tersebut menyebabkan cairan dari lingkungan mengalir ke dalam sel mikroorganisme. Cairan yang masuk ke dalam sel mikroorganisme menyebabkan sel membengkak. Bila cairan yang masuk terlampau banyak, sel mikroorganisme akan pecah (plasmoptisis). Sel

114

mikroorganisme dapat membengkak tanpa menjadi pecah, namun sel mikroorganisme dengan dinding sel yang tidak kuat misalnya bakteri gram negatif dapat pecah disebabkan masuknya cairan ke dalam sel. 4. Pengaruh pH Batas pH untuk pertumbuhan jasad renik merupakan suatu gambaran dari batas pH bagi kegiatan enzim. Setiap jasad renik dikenal nilai pH minimum, pH optimum dan pH maksimum. Bakteri memerlukan pH antara 6,5 – 7,5, ragi antara 4,0 – 4,5, sedangkan jamur dan aktinomisetes mempunyai daerah pH yang luas. Atas dasar daerah-daerah pH bagi kehidupan mikroba dibedakan adanya 3 golongan yang besar: - Mikroba asidofilik, yaitu mikroba yang dapat tumbuh pada pH antara 2,0 – 5,0. - Mikroba mesofilik (netrofilik), yaitu mikroba dapat tumbuh pada pH antara 5,5 – 8,8. - Mikroba alkalifilik, yakni mikroba yang dapat tumbuh pada pH antara 8,4 – 9,5. Bila bakteri dikultivasi di dalam suatu medium yang mula-mula disesuaikan pHnya, misalnya 7, maka mungkin sekali pH ini akan berubah sebagai akibat adanya senyawa-senyawa asam atau basa yang dihasilkan selama pertumbuhannya. Pergeseran pH ini dapat sedemikian besar sehingga dapat

menghambat pertumbuhan seterusnya organisme itu. Pergeseran pH

dicegah dengan menggunakan larutan penyangga dalam medium. Larutan penyangga ialah senyawa atau pasangan senyawa yang dapat menahan perubahan pH. Suatu kombinasi garam-garam fosfat seperti KH2PO4 dan K2HPO4, digunakan secara luas dalam media bakteriologi untuk tujuan ini. 5. Pengaruh Sinar Pada umumnya sel mikroorganisme rusak akibat cahaya, terutama pada mikroba yang tidak mempunyai pigmen fotosintetik. Sinar dengan gelombang pendek akan berpengaruh buruk terhadap mikroba. Sedangkan sinar dengan gelombang panjang mempunyai daya fotodinamik dan daya biofisik, misalnya cahaya matahari. Bila energi radiasi diabsorbsi oleh sel mikroorganisme akan menyebabkan terjadinya ionisasi komponen sel. Ionisasi molekul tertentu dari protoplasma dapat menyebabkan kematian, perubahan genetik atau dapat pula menghambat

115

pertumbuhan.. energi radiasi dari dari sinar X, sinar Y dan terutama sinar ultraviolet banyak digunakan di dalam praktek sterilisasi, pengawetan bahan makanan dan untuk mendapatkan mutan. 6. Pengaruh Penghancuran secara Mekanik Pengaruh tekanan udara terhadap kehidupan bakteri sangat kecil. Untuk menghentikan pembiakan bakteri diperlukan tekanan 600 atm, untuk mematikan diperlukan tekanan 6000 atm dan untuk membunuh sporanya diperlukan tekanan 12000 atm. Mengguncang-guncangkan bakteri tidak membawa kematian, kecuali kalau bakteri itu dicampur dengan benda keras, seperti pecahan kaca, tanah radiolaria, tanah foraminifera dan sebagainya. Untuk memecahkan bakteri diperlukan diperlukan pengguncangan 9000 kali perdetik. Proses-proses ini sering digunakan untuk melepaskan enzim-enzim dan endotoksin yang terkandung di dalam bakteri. 7.2 Faktor-faktor Kimia Di alam jarang mikroorganisme yang mati akibat terkena zat-zat kimia. Hanya manusia dalam usahanya untuk membebaskan diri dari kegiatan mikroba meramu zat-zat yang dapat meracuni mikroorganisme, tetapi tidak meracuni bagi dirinya sendiri atau meracuni makanan. Zat-zat yang hanya menghambat pembiakan mikroorganisme dengan tiada membunuhnya dinamakan zat antiseptik (disinfektan). Antiseptik dan disinfektan dapat merupakan zat yang sama tetapi berbeda dalam cara penggunaannya. Antiseptik dipakai terhadap jaringan hidup, sedangkan disinfektan dipakai untuk bahan-bahan tidak bernyawa. 7.2.1 Penggunaan Antiseptik dan Disinfektan Hingga sekarang semakin banyak zat-zat kima yang dipakai untuk membunuh atau mengurangi julah mikroorganisme, dan penemuan-penemuan baru terus muncul di pasaran. Oleh karena itu, tidak ada bahan kimia yang ideal atau yang dapat dipergunakan untuk segala macam keperluan, maka pilihan jatuh pada bahan kimia yang mampu membunuh organisme yang ada, dalam waktu yang tersingkat dan tanpa merusak bahan yang didisinfeksi. Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada disinfeksi secara kimia: Rongga yang cukup di antara alat-alat yang didisinfeksi, sehingga seluruh permukaan alat tersebut dapat berkontak dengan disinfektan.

116

-

Sebaiknya disinfektan yang dipakai bersifat membunuh (germisida). Lamanya disinfeksi harus tepat, alat-alat yang disinfeksi jangan diangkat sebelum waktunya.

-

Bila untuk membunuh spora kuman biasanya bersifat mudah menguap sehingga ventilasi ruangan perlu diperhatikan.

-

Pengenceran disinfektan harus sesuai dengan yang dianjurkan, dan setiap kali harus dibuat pengenceran baru. Disinfektan yang sudah menunjukkan tandatanda pengeruhan atau pengendapan harus diganti dengan yang baru.

-

Sebaiknya menyediakan hand lotion untuk merawat tangan setelah berkontak dengan disinfektan.

7.1.2 Beberapa disinfektan dan Antiseptik. a. Logam-logam berat Logam berat berfungsi sebagai antimikroba oleh karena dapat

mempresiptasikan enzim-enzim atau protein esensial dalam sel. Logam-logam berat yang umum dipakai adalah Hg, Ag, As, Zn dan Cu. Daya antimikroba dari logam berat, pada konsentrasi yang kecil saja dapat membunuh mikroba dinamakan daya oligodinamik. Tetapi garam dari logam berat ini mudah merusak kulit, merusak alat-alat yang terbuat dari logam dan harganya mahal. b. Fenol dan senyawa-senyawa sejenis Fenol (asam karbol) untuk pertama kalinya digunakan Lister di dalam ruang bedah sebagai germisida, untuk mencegah timbulnya infeksi pasca bedah. Pada konsentrasi yang rendah (2 – 4%), daya bunuhnya disebabkan karena fenol mempresipitasikan protein secar aktif dan selain itu juga merusak membran sel dengan cara menurunkan tegangan permukaannya. Kresol (kreolin) lebih baik khasiatnya dari fenol. Lisol adalah disinfektan yang berupa campuran sabun dengan kresol, lisol lebih banyak digunakan dari pada disinfektan lainnya. Karbol adalah nama lain fenol. c. Alkohol Alkohol merupakan zat yang paling efektif dan dapat diandalkan untuk sterilisasi dan disinfeksi. Alkohol mendenaturasikan protein dengan jalan dehidrasi, dan juga merupakan pelarut lemak. Oleh karena itu membran sel akan

117

rusak dan enzim-enzim akan diinaktifkan oleh alkohol. Alkohol 50 – 70% banyak dipergunakan sebagian disinfektan. d. Aldehid Cara kerjanya adalah dengan membunuh sel mikroba dengan mendenaturasikan protein. Larutan formaldehid (CH2O) 20% dalam 65 – 70% alkohol merupakan cairan pensteril yang sangat baik apabila alat-alat direndam selama 18 jam. Akan tetapi karena meninggalkan residu, maka alat-alat tersebut harus dibilas dulu sebelum dipakai. e. Yodium Larutan yodium baik dalam air maupun dalam alkohol bersifat sangat antiseptik dantelah lama dipakai sebagai antiseptik kulit sebelum proses pembedahan. Yodium juga efektif terhadap berbagai protozoa seperti amuba yang menyebabkan disentri. f. Klor dan senyawa klor Klorin bebas memiliki warna khas (hijau) dan bau yang tajam. Sudah lama klorin dikenal sebagai deodoran dan disinfektan yang sangat baik. Solusi (larutan) hipoklorit paling banyak dipakai untuk maksud-maksud disinfeksi dan menghilangkan bau, karena bersifat relatif tidak membahayakan jaringan manusia, mudah ditangani, tidak berwarna dan tidak mewarnai, meskipun memudarkan warna. Persenyawaan klor dengan kapur atau natrium merupakan disinfektan yang banyak dipakai untuk mencuci alat-alat makan dan minum. Berbagai derivat klorin organik juga dipakai untuk disinfeksi air. Ini terutama penting bagi pekemah yang kadang-kadang harus mempergunakan air yang dikhawatirkan tercemar. Senyawa yang sering digunakan adalah halazon (parasulfone dichloramodobenzoic acid) yang pada konsentrasi 4 – 8 mg/ l dapat mendisinfeksi air yang mengandung Salmonella typi dalam waktu 30 menit. g. Perooksida Peroksida hidrogen (H2O2) merupakan antiseptik yang efektif dan nontoksik. Terdapat bukti bahwa H2O2 10% bersifat virusida dan sporosida. Larutan H2O2 3% biasa dipakai untuk mencuci dan mendisinfeksi luka karena kuman-kuman anaerob terutama sangat peka terhadap oksigen. Pasta Na2O2

118

dipakai untuk mengobati akne sedangkan ZnO2 untuk mengobati luka akibat infeksi kulit karena kuman-kuman anaerob dan mikroaerofilik. h. Zat warna Beberapa zat warna dapat menghambat pertumbuhan kuman

(bakteriostatik), misalnya derivat akridin dan zat warna rosanilin. Akriflavin (campuran derivat akridin dengan senyawa lain) mempunyai spektrum aktivitas yang luas, dan telah lama digunakan untuk mengobati infeksi traktus urinarius. i. Deterjen Sabun biasa tidak banyak khasiatnya sebagai zat pembunuh bakteri (bakterisida), tetapi kalau dicampur dengan heksalorofen daya bunuhnya menjadi besar sekali. Deterjen tidak hanya bersifat bakteriostatik, melainkan juga merupakan bakterisida, terutama bakteri yang bersifat gram positif. j. Antibiotika Antibiotika adalah suatu substansi (zat-zat) kimia yang diperoleh dari atau dibentuk dan dihasilkan oleh mikroorganisme, dan zat-zat itu dalam jumlah yang sedikit pun mempunyai daya penghambat kegiatan mikroorganisme yang lain. Antibiotika berbeda dalam susunan kimia dan cara kerjanya. Antibiotika yang kini banyak digunakan, kebanyakan dari genus Bacillus, Penicilin dan Streptomyces. Antibiotika ada yang mempunyai spectrum luas artinya antibiotika yang efektif digunakan bagi banayak spesies bakteri, baik kokus, basil, maupun spiril contohnya tetrasiklin. Ada juga antibiotika yang berspektrum sempit, artinya hanya efektif digunakan untuk spesies tertentu seperti penisilin yang hanya efektif memberantas jenis kokus. 7.3 Faktor-faktor Biotik Mikroba dari berbagai genus maupun dari berbagai spesies hidup berkumpul di dalam suatu medium yang sama, misalnya di dalam tanah, pada kotoran hewan, di sampah-sampah dan sebagainya. Tidak mudah meneliti pengaruh atau hubungan hidup antar spesies, namun pengaruh timbal balik niscaya ada. Hubungan antar spesies, termasuk pada mikroba dapat dibedakan: a. Netralisme Hubungan netralisme merupakan hubungan antar spesies yang saling tidak mengganggu. Misalnya mikroba yang ada di dalam tanah atau di dalam kotoran

119

hewan banyak spesies yang dapat hidup bersama dengan saling tidak merugikan tetapi juga tidak saling menguntungkan. Meskipun dalam medium yang sama, namun masing-masing spesies memerlukan zat-zat yang tertentu bagi diri masingmasing sehingga tidak perlu ada perebutan zat makanan. b. Kompetisi Kebutuhan akan zat makanan yang sama dapat menyebabkan terjadinya persaingan antar spesies. Spesies yang dapat menyesuaikan diri paling baik, itulah spesies yang akan mengalami pertumbuhan subur. Misalnya bila persediaan oksigen dalam suatu medium berkurang, maka bakteri aerob akan dikalahkan oleh bakteri anaerob faklutatif. Bila persediaan oksigen habis sama sekali, maka pertumbuhan bakteri anaerob fakultatif tadi berhenti dan diganti oleh bakteri anaerob. c. Antagonisme Antagonisme menyatakan hubungan yang berlawanan, dapat juga dikatakan sebagai hubungan yang asosial. Spesies yang satu menghasilkan sesuatu yang meracuni spesies yang lain, sehingga pertumbuhan spesies yang terakhir sangat terganggu. Zat yang dihasilkan oleh spesies yang pertama mungkin berupa suatu ekskret, sisa makanan, dan yang jelas zat itu menentang kehidupan organisme lain. Zat penentang itu dinamakan antibiotika. Beberapa bentuk dari antagonisme misalnya antara Streptococcus lactis dan Bacillus subtilis atau Proteus vulgaris. Jika ketiga spesies ditumbuhkan pada suatu medium, maka pertumbuhan Bacillus dan Proteus akan segera tercekik karena adanya asam susu yang dihasilkan Streptococcus lactis. d. Komensalisme Asosiasi jenis ini terjadi bila dua spesies hidup bersama, kemudian spesies yang satu mendapatkan keuntungan, sedangkan spesies yang lain tidak dirugikan olehnya, maka hubungan hidup antara kedua spesies itu disebut komensalisme (metabiosis). Spesies yang beruntung disebut komensal, sedangkan spesies yang memberikan keuntungan disebut inang (hospes). Hubungan hidup antara Saccharomyces dan Acetobacter merupakan suatu contoh komensalisme atau metabiosis. Spesies pertama menghasilkan alkohol yang tidak diperlukan lagi, sedangkan alkohol ini merupakan zat makanan yang mutlak bagi Acetobacter.

120

e. Mutualisme Mutualisme merupakan suatu bentuk simbiosis antara dua spesies, dimana masing-masing yang bersekutu mendapatkan keuntungan. Jika terpisah, masingmasing tidak atau kurang dapat bertahan diri. Seringkali simbiosis dipakai untuk menyatakan bentuk hubungan antara dua spesies yang mutualistik, tetapi sekarang orang lebih banyak menggunakan istilah mutualisme. Simbiosis antara genus Rhizobium dan Leguminosae, simbiosis antara jamur dan ganggang (Lichenes) merupakan hubungan mutualisme. Rhizobium mendapat tempat hidup dalam akar Leguminosae, sedangkan Leguminosae mendapatkan ersenyawaan nitrogen yang diberikan oleh Rhizobium. f. Sinergisme Sinergisme adalah asosiasi (hubungan hidup) antara kedua spesies, bila mengadakan kegiatan tidak saling mengganggu, akan tetapi kegiatan masingmasing justru merupakan urut-urutan yang saling menguntungkan. Misalnya, ragi untuk membuat tape terdiri atas kumpulan spesies Aspergillus, Saccharomyces, Candida, Hansenula dan Acetobacter. Masing-masing spesies mempunyai kegiatan-kegiatan sendiri, sehingga amilum berubah menjadi gula, dan gula menjadi bermacam-macam asam arganik, alkohol dan lain-lain. g. Parasitisme Parasitisme merupakan suatu bentuk asosiasi di antara dua spesies, dimana satu pihak dirugikan dan pihak lain diuntungkan. Spesies pertama disebut inang (hospes/pejamu/induk semang) sedangkan spesies yang mengambil keuntungan dinamakan parasit. Hubungan ini misalnya, antara virus (bakteriofage) dengan bakteri. Virus tidak dapat hidup di luar bakteri atau sel hidup lainnya. Sebaliknya bakteri atau sel lainnya yang menjadi hospes akan mati karenanya. h. Predatorisme hubungan antara Amoeba dengan bakteri disebut predatorisme. Amoeba merupakan pemangsa (predator), sedangkan bakteri merupakan mangsa. Kematian mangsa berarti kehidupan pemangsa. Berbeda dengan parasitisme adalah dalam hal ukuran besar kecilnya saja, parasit lebih kecil daripada hospes, sedangkan predator lebih besar daripada organisme yang dimangsa. Seperti

121

parasit, tidak dapat hidup tanpa hospes, maka predator pun tidak dapat hidup tanpa mangsa. i. Sintropisme Sintropisme merupakan kegiatan bersama antara berbagai jasad renik terhadap suatu nutrisi. Proses ini penting untuk peruraian bahan organic tanah dan di dalam proses pengolahan air buangan. Misalnya, sintropisme antara mikroorganisme A, B, C, D, dan E di dalam penguraian zat X. Zat ini hanya dapat diuraikan sedikit oleh mikroba A, tetapi hasil pemecahannya dapat merangsang perkembangan mikroba B, yang selanjutnya menghasilkan zat yang diperlukan oleh mikroba C dan seterusnya hingga pada akhirnya mikroba E juga dirangsang dengan menghasilkan senyawa yang sangat merangsang mikroba A. Latihan Untuk memperdalam pemahaman anda tentang materi di atas, kerjakanlah soal-soal latihan di bawah ini. 1. Sebutkan faktor abiotik yang mempengaruhi mikroba! Jelaskan masingmasing faktor tersebut! 2. Sebutkan faktor kimia yang mempengaruhi mikroba! Jelaskan masing-masing faktor tersebut! 3. Sebutkan faktor biotik yang mempengaruhi mikroba! Jelaskan masing-masing faktor tersebut! Rangkuman 1. Faktor Abiotik Yang Mempengaruhi Mikroba Yang termasuk dalam faktor abiotik adalah faktor-faktor alam. Adapun faktor-faktor alam terdiri dari: a. Pengaruh Temperatur Pada umumnya batas daerah temperatur bagi kehidupan mikroba terletak antara 0oC – 90oC, dan dikenal ada temperatur minimum, optimum dan maksimum. Temperatur minimum adalah nilai paling rendah dimana kegiatan mikroba masih dapat berlangsung. Temperatur maksimum adalah temperatur tertinggi yang masih dapat digunakan untuk aktivitas mikroba. Sedangkan temperatur yang paling baik bagi kegiatan hidup dinamakan temperatur optimum. b. Pengaruh Kebasahan dan Kekeringan

122

Mikroba mempunyai nilai kelembaban optimum. Pada umumnya untuk pertumbuhan ragi dan bakteri diperlukan kelembaban yang tinggi di atas 85%, sedangkan untuk jamur dan aktinomisetes memerlukan kelembaban yang rendah di bawah 80%. c. Pengaruh Perubahan nilai Osmotik d. Pada umunya larutan hipertonik menghambat pertumbuhan mikroba karena dapat menyebabkan plasmolisis. Medium paling cocok bagi kehidupan mikroba adalah medium yang isotonik terhadap isi sel mikroba. Larutan garam atau larutan gula yang agak pekat mudah menyebabkan plasmolisis. Sebaliknya mikroba yang ditempatkan di air suling (aquades) akan kemasukan air sehingga dapat menyebabkan pecahnya sel mikroba tersebut, hal ini dinamakan plasmoptisis. d. Pengaruh pH Batas pH untuk pertumbuhan jasad renik merupakan suatu gambaran dari batas pH bagi kegiatan enzim. Setiap jasad renik dikenal nilai pH minimum, pH optimum dan pH maksimum. Bakteri memerlukan pH antara 6,5 – 7,5, ragi antara 4,0 – 4,5, sedangkan jamur dan aktinomisetes mempunyai daerah pH yang luas. e. Pengaruh Sinar Pada umumnya sel mikroorganisme rusak akibat cahaya, terutama pada mikroba yang tidak mempunyai pigmen fotosintetik. Sinar dengan gelombang pendek akan berpengaruh buruk terhadap mikroba. Sedangkan sinar dengan gelombang panjang mempunyai daya fotodinamik dan daya biofisik, misalnya cahaya matahari. f. Pengaruh Penghancuran secara Mekanik Pengaruh tekanan udara terhadap kehidupan bakteri sangat kecil. Untuk menghentikan pembiakan bakteri diperlukan tekanan 600 atm, untuk mematikan diperlukan tekanan 6000 atm dan untuk membunuh sporanya diperlukan tekanan 12000 atm. Untuk memecahkan bakteri diperlukan diperlukan pengguncangan 9000 kali perdetik. Proses-proses ini sering digunakan untuk melepaskan enzimenzim dan endotoksin yang terkandung di dalam bakteri. 2. Faktor-faktor Kimia

123

Hingga sekarang semakin banyak zat-zat kima yang dipakai untuk membunuh atau mengurangi julah mikroorganisme, dan penemuan-penemuan baru terus muncul di pasaran. Beberapa disinfektan dan Antiseptik adalah logamlogam berat, fenol dan senyawa-senyawa sejenis, alcohol, aldehid, yodium, klor dan senyawa klor, perooksida, zat warna, deterjen, dan antibiotika. 3. Faktor-faktor Biotik Hubungan antar spesies, termasuk pada mikroba dapat dibedakan: a. Netralisme : hubungan netralisme merupakan hubungan antar spesies yang saling tidak mengganggu. b. Kompetisi : ebutuhan akan zat makanan yang sama dapat menyebabkan terjadinya persaingan antar spesies. Spesies yang dapat menyesuaikan diri paling baik, itulah spesies yang akan mengalami pertumbuhan subur. c. Antagonisme : menyatakan hubungan yang berlawanan, dapat juga dikatakan sebagai hubungan yang asosial. Spesies yang satu menghasilkan sesuatu yang meracuni spesies yang lain, sehingga pertumbuhan spesies yang terakhir sangat terganggu. d. Komensalisme : asosiasi jenis ini terjadi bila dua spesies hidup bersama, kemudian spesies yang satu mendapatkan keuntungan, sedangkan spesies yang lain tidak dirugikan olehnya, maka hubungan hidup antara kedua spesies itu disebut komensalisme (metabiosis). e. Mutualisme : merupakan suatu bentuk simbiosis antara dua spesies, dimana masing-masing yang bersekutu mendapatkan keuntungan. f. Sinergisme : asosiasi (hubungan hidup) antara kedua spesies, bila mengadakan kegiatan tidak saling mengganggu, akan tetapi kegiatan masing-masing justru merupakan urut-urutan yang saling menguntungkan. g. Parasitisme : merupakan suatu bentuk asosiasi di antara dua spesies, dimana satu pihak dirugikan dan pihak lain diuntungkan. Spesies pertama disebut inang (hospes/pejamu/induk semang) sedangkan spesies yang mengambil keuntungan dinamakan parasit. h. Predatorisme : hubungan antara Amoeba dengan bakteri disebut predatorisme. Amoeba merupakan pemangsa (predator), sedangkan bakteri merupakan mangsa.

124

i. Sintropisme : merupakan kegiatan bersama antara berbagai jasad renik terhadap suatu nutrisi. C. Penutup a. Pertanyaan 1. Sebutkan faktor abiotik yang mempengaruhi mikroba! Jelaskan masingmasing faktor tersebut! 2. Sebutkan faktor kimia yang mempengaruhi mikroba! Jelaskan masingmasing faktor tersebut. 3. Sebutkan faktor biotik yang mempengaruhi mikroba! Jelaskan masingmasing faktor tersebut! b. Umpan balik Anda dapat menguasai materi ini dengan baik jika memperhatikan hal-hal sebagai berikut: Membaca bahan atau materi yang relevan dengan materi yang akan dibahas. Aktif dalam diskusi. Mengerjakan latihan.

c. Tindak lanjut Apabila mahasiswa dapat menyelesaikan 80% pertanyaan di atas, maka mahasiswa tersebut dapat melanjutkan ke bab selanjutnya. Jika ada di antara mahasiswa ada yang belum mencapai penguasaan 80% dianjurkan untuk:   Mempelajari kembali topik di atas dari awal. Berdiskusi dengan teman terutama hal-hal yang belum dikuasai.

- Bertanya kepada Dosen jika ada hal-hal yang tidak jelas dalam penyampaian materi atau diskusi. d. Kunci Jawaban 1. Faktor Abiotik Yang Mempengaruhi Mikroba Yang termasuk dalam faktor abiotik adalah faktor-faktor alam. Adapun faktor-faktor alam terdiri dari: a. Pengaruh Temperatur

125

Pada umumnya batas daerah temperatur bagi kehidupan mikroba terletak antara 0oC – 90oC, dan dikenal ada temperatur minimum, optimum dan maksimum. Temperatur minimum adalah nilai paling rendah dimana kegiatan mikroba masih dapat berlangsung. Temperatur maksimum adalah temperatur tertinggi yang masih dapat digunakan untuk aktivitas mikroba. Sedangkan temperatur yang paling baik bagi kegiatan hidup dinamakan temperatur optimum. b. Pengaruh Kebasahan dan Kekeringan Mikroba mempunyai nilai kelembaban optimum. Pada umumnya untuk pertumbuhan ragi dan bakteri diperlukan kelembaban yang tinggi di atas 85%, sedangkan untuk jamur dan aktinomisetes memerlukan kelembaban yang rendah di bawah 80%. c. Pengaruh Perubahan nilai Osmotik Pada umunya larutan hipertonik menghambat pertumbuhan mikroba karena dapat menyebabkan plasmolisis. Medium paling cocok bagi kehidupan mikroba adalah medium yang isotonik terhadap isi sel mikroba. Larutan garam atau larutan gula yang agak pekat mudah menyebabkan plasmolisis. Sebaliknya mikroba yang ditempatkan di air suling (aquades) akan kemasukan air sehingga dapat menyebabkan pecahnya sel mikroba tersebut, hal ini dinamakan plasmoptisis. d. Pengaruh pH Batas pH untuk pertumbuhan jasad renik merupakan suatu gambaran dari batas pH bagi kegiatan enzim. Setiap jasad renik dikenal nilai pH minimum, pH optimum dan pH maksimum. Bakteri memerlukan pH antara 6,5 – 7,5, ragi antara 4,0 – 4,5, sedangkan jamur dan aktinomisetes mempunyai daerah pH yang luas. e. Pengaruh Sinar Pada umumnya sel mikroorganisme rusak akibat cahaya, terutama pada mikroba yang tidak mempunyai pigmen fotosintetik. Sinar dengan gelombang pendek akan berpengaruh buruk terhadap mikroba. Sedangkan sinar dengan gelombang panjang mempunyai daya fotodinamik dan daya biofisik, misalnya cahaya matahari. f. Pengaruh Penghancuran secara Mekanik

126

Pengaruh tekanan udara terhadap kehidupan bakteri sangat kecil. Untuk menghentikan pembiakan bakteri diperlukan tekanan 600 atm, untuk mematikan diperlukan tekanan 6000 atm dan untuk membunuh sporanya diperlukan tekanan 12000 atm. Untuk memecahkan bakteri diperlukan diperlukan pengguncangan 9000 kali perdetik. Proses-proses ini sering digunakan untuk melepaskan enzimenzim dan endotoksin yang terkandung di dalam bakteri. 2. Faktor-faktor Kimia Hingga sekarang semakin banyak zat-zat kima yang dipakai untuk membunuh atau mengurangi julah mikroorganisme, dan penemuan-penemuan baru terus muncul di pasaran. Beberapa disinfektan dan Antiseptik adalah logamlogam berat, fenol dan senyawa-senyawa sejenis, alcohol, aldehid, yodium, klor dan senyawa klor, perooksida, zat warna, deterjen, dan antibiotika. 3. Faktor-faktor Biotik Hubungan antar spesies, termasuk pada mikroba dapat dibedakan: a. Netralisme : hubungan netralisme merupakan hubungan antar spesies yang saling tidak mengganggu. b. Kompetisi : ebutuhan akan zat makanan yang sama dapat menyebabkan terjadinya persaingan antar spesies. Spesies yang dapat menyesuaikan diri paling baik, itulah spesies yang akan mengalami pertumbuhan subur. c. Antagonisme : menyatakan hubungan yang berlawanan, dapat juga dikatakan sebagai hubungan yang asosial. Spesies yang satu menghasilkan sesuatu yang meracuni spesies yang lain, sehingga pertumbuhan spesies yang terakhir sangat terganggu. d. Komensalisme : asosiasi jenis ini terjadi bila dua spesies hidup bersama, kemudian spesies yang satu mendapatkan keuntungan, sedangkan spesies yang lain tidak dirugikan olehnya, maka hubungan hidup antara kedua spesies itu disebut komensalisme (metabiosis). e. Mutualisme : merupakan suatu bentuk simbiosis antara dua spesies, dimana masing-masing yang bersekutu mendapatkan keuntungan. f. Sinergisme : asosiasi (hubungan hidup) antara kedua spesies, bila mengadakan kegiatan tidak saling mengganggu, akan tetapi kegiatan masing-masing justru merupakan urut-urutan yang saling menguntungkan.

127

g. Parasitisme : merupakan suatu bentuk asosiasi di antara dua spesies, dimana satu pihak dirugikan dan pihak lain diuntungkan. Spesies pertama disebut inang (hospes/pejamu/induk semang) sedangkan spesies yang mengambil keuntungan dinamakan parasit. h. Predatorisme : hubungan antara Amoeba dengan bakteri disebut predatorisme. Amoeba merupakan pemangsa (predator), sedangkan bakteri merupakan mangsa. i. Sintropisme : merupakan kegiatan bersama antara berbagai jasad renik terhadap suatu nutrisi. e. Referensi Uno, W. 2004. Diktat Mikrobiologi 1. FMIPA UNG. Waluyo. 2004. Mikrobiologi Umum. UMM f. Senarai Asosiasi : hubungan hidup Hospes : inang Predator : pemangsa

BAB VIII METABOLISME MIKROORGANISME
Deskripsi singkat Bab ini akan menguraikan tentang anabolisme dan katabolisme. Relevansi Pembahasan ini akan sangat berhubungan dengan bab selanjutnya. Mahasiswa akan mengetahui proses metabolisme pada mikroorganisme. Kompetensi Dasar Mahasiswa dapat menjelaskan metabolisme mikroorganisme B. Penyajian Uraian dan contoh Setiap makhluk hidup mengadakan pertukaran zat atau metabolisme, yakni mengambil atau mengasimilasikan zat makanan dan membuang sisa (sampah) yang tidak diperlukan lagi. Metabolisme juga berarti serentetan reaksi kimia yang terjadi di dalam sel hidup. Penyusunan atau pengambilan zat makanan atau

128

proses sintesis disebut anabolisme, sedangkan penggunaan atau pembongkaran zat makanan atau reaksi penguraian bahan organik kompleks menjadi bahan organik yang sederhana dinamakan katabolisme. Energi hasil katabolisme sebagian digunakan untuk sintesis makromolekul, seperti misalnya asam nukleat, lipida atau polisakarida. Sedangkan fungsi energi lainnya adalah: 1. Membangun bagian fisik dari sebuah sel (dinding sel) 2. Untuk memperbaiki kerusakan-kerusakan biologis 3. Untuk memelihara tubuh sel 4. Untuk menahan agar zat-zat tertentu tidak masuk dalam tubuh 5. Untuk melakukan gerakan 8.1 Anabolisme Proses ini disebut juga dengan biosintesis, hal ini berbeda dengan nutrisi, karena di dalam proses biosintesis diperlukan sumber energi. Bahan baku proses anabolisme adalah zat makanan. 8.1.1 Enzim dan Zat Makanan Enzim merupakan substansi yang ada dalam sel dalam jumlah yang amat kecil dan mampu menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan yang berkaitan dengan proses seluler dari kehidupan. Nama lain dari enzim adalah fermen. Enzim adalah katalis hayati, mempunyai kemampuan unik untuk mempercepat berlangsungnya reaksi kimiawi tanpa enzim itu sendiri terkonsumsi atau berubah setelah reaksi selesai. Ada dua tipe enzim yaitu eksoenzim atau enzim ekstraseluler dan endoenzim atau enzim intraseluler. Fungsi utama dari eksoenzim adalah melangsungkan perubahan-perubahan pada nutrien disekitarnya sehingga memungkinkan nutrien tersebut memasuki sel, misalnya enzim amilase. Endoenzim mensintesis bahan seluler dan menguraikan nutrien untuk

menyediakan energi yang dibutuhkan oleh sel. Adapun sifat-sifat umum dari enzim adalah sebagai berikut: 1. Mengiatkan atau kadang-kadang memulai suatu proses 2. Bekerja secara khusus 3. Merupakan protein dan dalam bentuk koloid 4. Dapat bekerja bolak-balik

129

5. Tidak tahan terhadap temperatur yang agak tinggi 6. Dipengaruhi oleh pH, konsentrasi, suhu, substrat dan oleh hasil akhir 7. Banyak enzim memerlukan pembantu yang disebut koenzim/kofaktor (zat anorganik). Bagian proteinnya disebut apoenzim, bila bergabung kedua enzim tersebut membentuk enzim yang lengkap dinamakan haloenzim dan bersifat aktif. 8. Bersifat tidak stabil Penamaan dan Klasifikasi Enzim Tatanama enzim telah diresmikan menurut Persetujuan Internasional dengan bantuan “Comission on Enzymes of Internasional Union Biochemistry”. Untuk menamakan enzim digunakan akhiran – ase dan ini hanya digunakan untuk enzim tungal. Berikut ini kelas-kelas utama enzim: Oksidoreduktase,

Transferase, Hidrolase, Liase, Isomerase dan Ligase.

Katabolisme Katabolisme merupakan reaksi kimiawi yang membebaskan energi melalui perombakan nutrien, disebut juga dengan reaksi disimilasi atau reaksi peruraian. Bila sel merombak ikatan-ikatan kimiawi tertentu selama

metabolisme, energi yang dilepaskan menjadi tersedia untuk melangsungkan kerja biologis. Pernapasan (respirasi) merupakan proses disimilasi yang hanya

berlangsung di dalam sel hidup yang menghasilkan energi untuk keperluan organisme tersebut. Jika oksigen yang diperlukan dalam proses ini berasal dari udara bebas, maka peristiwa ini dinamakan pernapasan aerob. 8.2.1 Pernapasan Aerob Dalam pernapasaa aerob, mikrobe menggunakan glukosa atau zat organik yan lain sebagai substrat untuk dioksidasikan menjadi karbohidrat dan air, sedangkan mikrobanya sendiri memperoleh energi. Persamaan kimia pernapasan aerob yang sempurna dengan menggunakan glukosa sebagai substrat adalah sebagai berikut:

C6H12O6
Glukosa

+

6 O2

CO2

+

6H2O + 675 kcal

130

Jika pengoksidasi substrat tidak sempurna, maka energi yang timbul tidak akan sebanyak jumlah tersebut di atas. Pada pernapasa aerob yang dilakukan oleh genus Acetobacter, substrat yang dioksidasi berupa alkohol (etanol), energi yang diperoileh tidak begitu banyak. CH3CH2 OH Etanol + O2 CH3COOH + H2O + 116 Kcal asam cuka

Reaksi di atas pengoksidasian tidak sempurna hasil akhirnya bukan berupa CO2 dan H2O, melainkan air dan suatu asam organik asam cuka. Asam tersebut masih merupakan timbunan energi. Jika pengoksidasian etanol terjadi sempurna, maka energi yang terlepas ialah 328 kcal. Bakteri autrotof memperoleh energi dengan pengoksidasian zat-zat anorganik senagai substrat. Contohnya adalah sebagai berikut: H2 S 4HN3 + 9 O2 + 2 O2 4 NO3 + H2SO4 6 H2O + Energi

8.2.2 Pernapasan Anaerob Beberapa mikroba dapat hidup tanpa menggunkan oksigen bebas, bahkan ada mikroba yang malahan mati jika terkena udara bebas. Ada juga mikroba yang tidak menggunakan oksigen bebas, meskipun gas ini tersedia baginya, contohnya adalah Streptoccocus lactis, mikroba ini tidak dapat memanfaatkan oksigen bebas karena tidak mempunyai enzim untuk mereduksi oksigen tersebut. Louis Pasteurlah orang pertamakali mengetahui adanya pernapasan aerob itu. Pengetahuan ini dia dapatkan dengan percobaan fermentasi. Pernapasan anaerob dapat terlaksana dengan dua cara yaitu: 1. Pernapasan Anaerob Antarmolekul Pernapasan antarmolekul hampir sama dengan pernapasan aerob, bedanya adalah bahwa pernapasan antarmolekul itu oksigen yang diperlukan untuk

mengoksidasi substrat tidak diperoleh dari udara bebas, melainkan dari suatu senyawa, sedangkan yang direduksi bukan oksigen, melainkan suatu senyawa pula. Penerima hidrogen dapat berupa seperti nitrat, nitrit karbonat atau sulfat. Energi yang ditimbulkan dalam prosese ini tidak banyak. Misalnya:

131

2H2O + 5S menjadi N2.

+

6HNO3

N2 + 5 H2SO4

+

Energi

Dalam reksi di atas, S dioksidasi menjadi SO4 , sedangkan

HNO3 direduksi

2.

Pernapasan anaerob Intramolekul Dalam pernapasan intramolekul terjadi pengubahan suatu molekul tanpa

mengalami oksidasi samasekali, bagian dari suatu molekul kehilangan atom-atom H. Sebagai contoh proses alkoholisasi yang dilakukan oleh sel-sel Sacharomyces dengan glukosa sebagai substrat.

C6H12O6
Glukosa

2CH3CH2 OH

+

2CO2 + 31,2 kcal

Pernapasan intramolekul dikenal juga dengan nama fermentasi. Contoh lain adalah laktasi yang dilakukan yang dilakukan sel-sel dari genus Lactobacillus. Bakteri ini mengubah glukosa menjadi asam susu dan energi, menurut rekasi kimia sebagai berikut:

C6H12O6
Glukosa

2CH3CHOHCOOH
asam susu

+ Energi

Sebenarnya ada beberapa species bakteri dapat hidup seara aerob maupun anaerob tetapi hidup secara aeorob lebih menguntungkan karena menghasilkan energi yang lebih besar. Kejadian ini dikenal dengan efek Pasteur.

8.2.3 Fermentasi dan Pembusukan Proses fermentasi sering difinisikan sebagai proses pemecahan karbohidrat dan asam amino secara anaerobik, yaitu tanpa memerlukan oksigen. Karbohidrat merupakan polisakarida terlebih dahulu akan dipecah menjadi unit-unit glukosa. Fermentasi glukosa pada prinsipnya terdiri dari dua tahap, yaitu: 1. Pemecahan rantai karbon dari glukosa dan pelepasan paling sedikit dua pasang atom hidrogen, menghasilkan senyawa karbon lainnya yang lebih teroksidasi daripada glukosa.

132

2.

Senyawa yang teroksidasi tersebut direduksi kembali oleh atom hidrogen yang dilepaskan dalam tahap pertama, membentuk senyawa-senyawa lain sebagai hasil fermentasi. Pada tahap pertama fermentasi glukosa selalu terbentuk asam piruvat. Pada

tahap kedua fermentasi asam piruvat akan diubah menjadi produk-produk akhir yang spesifik. Pembusukan digunakan untuk penguraian dan lain-lain senyawa yang mengandung N, sedangkan dalam penguraian itu timbul bau yang sering kali tidak sedap. Proses pembusukan itu akibat dari aktivitas bakteri, biasanya adalah bakteri anaerob.

8.2.4 Zat-zat yang Dihasilkan Mikroba Dalam proses metabolisme ada zat-zat yang masuk atau zat-zat yang disusun dan ada pula zat-zat yang dibongkar dan kemudian dikeluarkan sisasisanya. Zat-zat yang disusun maupun zat-zat yang dihasilkan dalam penguraian disebut dengan metabolit (hasil metabolisme). Mikroorganisme mempunyai zatzat tertentu baik untuk mengambil zat-zat makanan maupun untuk

membongkarnya. Zat-zat ini secara umum dinamakan sekret (hasil sekresi). Enzim-enzim terutama dari golongan hidrolase merupakan sekret yang banyak dihasilkan bakteri. Sisa-sisa zat makanan yang dibongkar yang kemudian dikeluarkan oleh bakteri di sebut ekskret (hasil ekskresi). Ekskret dibuang belaka karena tidak lagi berguna bagi mikroba, bahkan ekskret dapat mengganggu kehidupannya, jika dibiarkan bertimbun-timbun. Selain metabolit, sekret dan ekskret, seringkali ada kedapatan hasil samping berupa zat-zat yang tidak mempunyai hubungan langsung dengan metabolisme. Misalnya dalam penyusutan nitrat oleh bakteri denitrifikan terlepas nitrit, air dan energi. Energi diperlukan oleh bakteri tersebut, air dibuang, sedangkan nitrit merupakan hasil samping. Ekskret yang dihasilkan mikroorganisme dapat berupa gas atau zat-zat organik. Jenis gas yang dihasilkan oleh suatu species mikrob merupakan ciri khas bagi species itu. Kuantitas gas yang dikeluarkan olek mikroba dapat diselidiki

133

dengan respirator Warburg, alat ini mempunyai kepekaan cukup teliti untuk mengetahui volume gas yang dikeluarkan oleh mikroba atau apabila menyelidiki volume gas seacara kasar dapat dipergunakan tabung fermentasi buatan Smith. Sedangkan untuk mengetahui apakah suatu species mikroba menghasilkan gas atau tidak kita dapat mengunakan tabung durham (tabung reaksi berukuran kecil) yang diletakkan terbalik pada tabung reaksi yang lebih besar dan kemudian tabung reaksi tersebut diisi dengan medium cair. Bila mikroba yang kita tumbuhkan dalam medium tersebut menghasilkan gas, maka gas akan nampak sebagai gelembung pada dasar tabung Durham. Zat-zat yang dihasilkan mikroba adalah sebagai berikut: 1. Gas-gas yang dihasilkan mikroba Gas-gas yang timbul dari atau hasil pembongkaran (fermentasi, respirasi) oleh mikroba dapat berupa: - Karbondioksida Senyawa golongan gula yang paling lekas terurai oleh bakteri dan menghasilkan CO2 . Terlepas CO2 di udara bermanfaat bagi tanaman untuk fotosintesis, berguna juga untuk penentuan keasaman tanah. - Hidrogen Gas ini biasanya timbul bersama-sama dengan gas CO2 sengai hasil penguraian karbohidrat atau asam amino. - Metana Methanobacterium omelianskii dalam keadaan anaerob menghasilkan gas metana, dengan menggunakan substrat asam cuka, dengan rekasi sebagai berikut: CO3COOH Asam cuka - Nitrogen Gas nitogen sebagai hasil penguraian nitrat dan nitrit (denitrifikasi). Proses tersebut menguragi kesuburan tanah. Contoh bakterinya adalah Thiobacillus denitrificans - Hidrogen Sulfida CO4 + CO2 metana

134

Gas ini sebagai hasil penguraian protein dan senyawa-senyawa lain yang mengandung belerang. Bakteri yang banyak menghasilkan hidrogen sulfida adalah Desulfovibrio desulfuricans. - Amoniak (NH3) Hasil penguraian protein dan senyawa-senyawa lain yang mengandung nitrogen itu dapat berupa amoniak. Dapat denga tiga cara yairu deaminasi, enzim urease atau dengan mereduksi nitrat. Pereduksian nitrat dilakukan oleh bakteri denitrifikan, nitrat direduksi menjadi nitrit dan nitrit direduksi lagi sehingga menjadi amoniak. Kemampuan mikroba untuk menghasilkan gas-gas tersebut merupakan salah satu kriteria bagi kita untuk menentukan klasifikasi bakteri.

2.

Asam-asam yang dihasilkan mikroba Asam-asam yang timbul akibat kegiatan bakteri dapat berupa asam organik

ataupun asam anorganik, asam-asam ini ada yang berubah menjadi garam atau digunakan oleh mikroorganisme lain. Asam-asam tersebut antara lain yaitu: 1. Asam Belerang Banyak bakteri belerang dapat mengoksidasikan hidrogen sulfida menjadi unsur S bebas atau menjadi asam belerang (asam anorganik). Contohnya bakteri Thiobacillus thiooxidans dapat hidup pada pH 2 - 3,5. 2. Asam Nitrat Asam organik ini terbentuk karena kegitan bakteri nitrifikan. Amonik dioksidasi menjadi nitrit oleh bakteri Nitrosomonas atau oleh bakteri Nitrosococcus, kemudian nitrit yang terbentuk dioksidasikan oleh bakteri Nitrosobacter hingga berbentuk asam nitrat yang menambah kesuburan tanah, karena tanaman tinggi umumnya mengambil unsur N dalam bentuk nitrat. 3. Asam Cuka Bial alkohol dibiarkan terpapar diudara akam berubah menjadi asam. Hal ini disebabkan oleh sam cuka yang timbul dar hasil kegiatan bakteri Acetobacter. 4. Asam Susu

135

Asam susu termasuk asam organik. Fermentasi karbohidrat terutama gula oleh bakteri asam susu menghasilkan asam susu. Gula laktosa merupakan substrat yang baik bagi Streptococcus lactis dan Lactobacillus. Asam susu yang timbul dimulut karena kegiatan bakteri dapat merusak gigi. 5. Asam Lemak Asam propionat dihasilkan oleh bakteri Propionibacterium. Asam propionat penting dalam membutan keju Swiss. Asam butirat dihasilkan oleh beberapa species dari genus Clostridium. Asam ini penting untuk menghasilkan butil alkohol, aseton, isopropil alkohol.

3. Toksin yang dihasilkan mikroba Beberapa species mikroba menghasilkan zat yang merupakan racun bagi kehidupan makhluk hidup di sekitarnya. Racun itu ada yang dikeluarkan dari sel disebut dengan eksotoksin. Tetapi ada pula racun yang tidak dikeluarkan namun tersimpan di dalam sel. Racun ini dinamakan endotoksin. Endotoksin ini tidak berbahaya selama masih berada dalam sel mikroba. Eksotoksin mudah dipisahkan dengan cara penyaringan. Eksotoksin yang mengganggu kesehatan manusia ialah bakteri dipteri, bakteri tetanus, bakteri botulinum. Latihan Untuk memperdalam materi di atas, kerjakanlah soal-soal latihan berikut: 1. Jelaskan proses anabolisme pada mikroorganisme. 2. Jelaskan proses katabolisme pada mikroorganisme.

Rangkuman 1. Anabolisme Proses ini disebut juga dengan biosintesis, hal ini berbeda dengan nutrisi, karena di dalam proses biosintesis diperlukan sumber energi. Bahan baku proses anabolisme adalah zat makanan. - Enzim dan Zat Makanan Enzim merupakan substansi yang ada dalam sel dalam jumlah yang amat kecil dan mampu menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan yang berkaitan dengan proses seluler dari kehidupan. Nama lain dari enzim adalah

136

fermen. Enzim adalah katalis hayati, mempunyai kemampuan unik untuk mempercepat berlangsungnya reaksi kimiawi tanpa enzim itu sendiri terkonsumsi atau berubah setelah reaksi selesai. Ada dua tipe enzim yaitu eksoenzim atau enzim ekstraseluler dan endoenzim atau enzim intraseluler. 2. Katabolisme Katabolisme merupakan reaksi kimiawi yang membebaskan energi melalui perombakan nutrien, disebut juga dengan reaksi disimilasi atau reaksi peruraian. Bila sel merombak ikatan-ikatan kimiawi tertentu selama

metabolisme, energi yang dilepaskan menjadi tersedia untuk melangsungkan kerja biologis. Pernapasan (respirasi) merupakan proses disimilasi yang hanya

berlangsung di dalam sel hidup yang menghasilkan energi untuk keperluan organisme tersebut. Jika oksigen yang diperlukan dalam proses ini berasal dari udara bebas, maka peristiwa ini dinamakan pernapasan aerob. Beberapa mikroba dapat hidup tanpa menggunkan oksigen bebas, bahkan ada mikroba yang malahan mati jika terkena udara bebas. Ada juga mikroba yang tidak menggunakan oksigen bebas, meskipun gas ini tersedia baginya, contohnya adalah Streptoccocus lactis, mikroba ini tidak dapat memanfaatkan oksigen bebas karena tidak mempunyai enzim untuk mereduksi oksigen tersebut. Louis Pasteurlah orang pertamakali mengetahui adanya pernapasan aerob itu. Pengetahuan ini dia dapatkan dengan percobaan fermentasi. Proses fermentasi sering difinisikan sebagai proses pemecahan karbohidrat dan asam amino secara anaerobik, yaitu tanpa memerlukan oksigen. Karbohidrat merupakan polisakarida terlebih dahulu akan dipecah menjadi unit-unit glukosa. penguraian Pembusukan digunakan untuk

dan lain-lain senyawa yang mengandung N, sedangkan dalam

penguraian itu timbul bau yang sering kali tidak sedap. Proses pembusukan itu akibat dari aktivitas bakteri, biasanya adalah bakteri anaerob. C. Penutup a. Pertanyaan 1. Jelaskan proses anabolisme pada mikroorganisme. 2. Jelaskan proses katabolisme pada mikroorganisme. b. Umpan balik

137

Anda dapat menguasai materi ini dengan baik jika memperhatikan hal-hal sebagai berikut: Membaca bahan atau materi yang relevan dengan materi yang akan dibahas. Aktif dalam diskusi. Mengerjakan latihan.

c. Tindak lanjut Apabila mahasiswa dapat menyelesaikan 80% pertanyaan di atas, maka mahasiswa tersebut dapat melanjutkan ke bab selanjutnya. Jika ada di antara mahasiswa ada yang belum mencapai penguasaan 80% dianjurkan untuk:   Mempelajari kembali topik di atas dari awal. Berdiskusi dengan teman terutama hal-hal yang belum dikuasai.

- Bertanya kepada Dosen jika ada hal-hal yang tidak jelas dalam penyampaian materi atau diskusi.

d. Kunci Jawaban 1. Anabolisme Proses ini disebut juga dengan biosintesis, hal ini berbeda dengan nutrisi, karena di dalam proses biosintesis diperlukan sumber energi. Bahan baku proses anabolisme adalah zat makanan. - Enzim dan Zat Makanan Enzim merupakan substansi yang ada dalam sel dalam jumlah yang amat kecil dan mampu menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan yang berkaitan dengan proses seluler dari kehidupan. Nama lain dari enzim adalah fermen. Enzim adalah katalis hayati, mempunyai kemampuan unik untuk mempercepat berlangsungnya reaksi kimiawi tanpa enzim itu sendiri terkonsumsi atau berubah setelah reaksi selesai. Ada dua tipe enzim yaitu eksoenzim atau enzim ekstraseluler dan endoenzim atau enzim intraseluler. 2. Katabolisme Katabolisme merupakan reaksi kimiawi yang membebaskan energi melalui perombakan nutrien, disebut juga dengan reaksi disimilasi atau reaksi

138

peruraian.

Bila

sel

merombak

ikatan-ikatan

kimiawi

tertentu

selama

metabolisme, energi yang dilepaskan menjadi tersedia untuk melangsungkan kerja biologis. Pernapasan (respirasi) merupakan proses disimilasi yang hanya

berlangsung di dalam sel hidup yang menghasilkan energi untuk keperluan organisme tersebut. Jika oksigen yang diperlukan dalam proses ini berasal dari udara bebas, maka peristiwa ini dinamakan pernapasan aerob. Beberapa mikroba dapat hidup tanpa menggunkan oksigen bebas, bahkan ada mikroba yang malahan mati jika terkena udara bebas. Ada juga mikroba yang tidak menggunakan oksigen bebas, meskipun gas ini tersedia baginya, contohnya adalah Streptoccocus lactis, mikroba ini tidak dapat memanfaatkan oksigen bebas karena tidak mempunyai enzim untuk mereduksi oksigen tersebut. Louis Pasteurlah orang pertamakali mengetahui adanya pernapasan aerob itu. Pengetahuan ini dia dapatkan dengan percobaan fermentasi. Proses fermentasi sering difinisikan sebagai proses pemecahan karbohidrat dan asam amino secara anaerobik, yaitu tanpa memerlukan oksigen. Karbohidrat merupakan polisakarida terlebih dahulu akan dipecah menjadi unit-unit glukosa. penguraian Pembusukan digunakan untuk

dan lain-lain senyawa yang mengandung N, sedangkan dalam

penguraian itu timbul bau yang sering kali tidak sedap. Proses pembusukan itu akibat dari aktivitas bakteri, biasanya adalah bakteri anaerob. e. Referensi Jawetz. 1996. Mikrobiologi Kedokteran. Edisi 20. kedokteran EGC. Waluyo. 2004. Mikrobiologi Umum. UMM f. Senarai fermen : enzim disimilasi : penguraian respirasi : pernapasan Jakarta. Penerbit Buku

139

BAB IX GENETIKA MIKROORGANISME
Deskripsi singkat Bab ini akan menguraikan tentang pewarisan ciri dan variasi, perubahan fenotip akibat perubahan lingkungan, perubahan genotif pada mikroba dan rekombinasi genetik pada mikroba. Relevansi Pembahasan ini akan sangat berhubungan dengan bab selanjutnya. Mahasiswa akan mengetahui genetika mikroorganisme. Kompetensi Dasar Mahasiswa dapat menjelaskan genetika mikroorganisme B. Penyajian Uraian dan contoh Genetika merupakan suatu cabang ilmu biologi yang mempelajari sifat kebakaan. Rekayasa genetika suatu segi baru studi genetika menjanjikan umat manusia baik perkembangan yang menguntungkan maupun kemungkinan timbulnya akibat-akibat yang membawa bencana. Hukum kebakaan berlaku umum bagi semua bentuk kehidupan. Hukumhukum Mendel berlaku bagi manusia dan juga organisme percobaan yang dahulu amat populer dalam genetika, yakni lalat buah Drosophila. Namun sekarang percobaan-percobaan ilmu kebakaan demgan mengunakan bakteri Esherichia coli. Bakteri ini dipilih karena paling mudah dipelajari pada taraf molekuler sehingga merupakan pilihan bagi banyak ahli genetika. Hal ini membantu bidang getika mikroba. Jasad renik yang dipelajari dalam bidang genetika mikroba meliputi bakteri, khamir, kapang dan virus. Kesimpulannya tetang heriditas terdiri dari dua konsep yaitu: a. Heriditas bersifat stabil, dengan demikian, generasi berikutnya terbentuk dari pembelahan satu sel yang mempunyai sifat identik dengan induknya. b. Variasi genetik, terjadi sebagai akibat adanya perbedaan sifat dari generasi berikut dengan sel induk, atau disebut juga mutasi, dan terbentuknya

140

perbedaan lingkungan tempat tinggal induk, walaupun hal tersebut tidak mutlak diturunkan pada generasi berikutnya. 9.1 Pewarisan Ciri dan Variasi Ciri khas semua bentuk kehidupan dari segi pandangan genetika adalah kemantapan umum atau kesamaan ciri-ciri keteturunannya dan tetuanya. Mikroorganisme sebagai makhluk hidup juga meneruskan ciri-ciri kepada keturununnya. Hal ini dapat dibuktikan dengan mengidentifikasi species mikroba, bahkan galur-galur mikroba yang menunjukkan bahwa mikroba tersebut mampu meneruskan informasi genetik dari generasi ke generasi berikutnya dengan tepat. Disamping pewarisan ciri-ciri yang menyebabkan sifat tetap, progeni memperlihatkan (mengekspresikan) keragaman (variasi). Perubahan-perubahan ini berkaitan dengan dua sifat dasar sel atau organisme, yakni fenotif dan genotif. Genotif mengacu pada komposisi genetis sel (genom). Fenotif merupakan

ekspresi genotif dalam bentuk atau sifat-sifat yang dapat diamati bagi sel atau organisme yang bersangkutan. Dengan kata lain genotif merupkan kemampuan genetika jasad renik, sedamgkam fenotif merupakan sifat yang terlihat sesungguhnya karena faktor lingkungan. Genotif suatu biakan mikroba relatif konstan selama pertumbuhan tetapi dapat berubah karena mutasi. Variasi genetik yang timbul di dalam suatu sel mikroba dapat disebabkan karena mutasi. Mutasi adalah perubahan di dalam gen sel jasad renik yang berakibat perubahan morfologi dan biokimiawidi dalam sel. Mutasi jasad renik dapat terjadi secara spontan atau dengan pemberian suatu mutagen (penyebab mutasi). 9.2 Perubahan Fenotif Akibat Perubahan Lingkungan Fenotif suatu populasi mikroba dipengaruhi oleh faktor lingkungan, dan dapat diamati bila mikroba tersebut ditumbuhkan pada berbagai medium yang berbeda. Sifat-sifat fenotif yang dapat terlihat langsung misalnya perbedaan dalam morfologi sel dan penampakkan koloni. Sebagai contoh bakteri pembentuk kapsul yang ditumbuhkan pada medium yang mengandung karbohidrat tinggi akan membentuk kapsul lebih tebal dan membentuk koloni yang berlendir. Pembentukkan spora dan flagel juga dapat dihambat oleh komponen-komponen tertentu di dalam medium.

141

Sejauh mana informasi genetik (genotif) diekspresikan tergantung dari faktor lingkungan. Contohnya suatu bakteri yang bersifat anaerob fakultatif akan menghasilkan produk-produk akhir metabolisme, tergantung dari ada tidaknya oksigen selama pertumbuhan. Hal yang paling menonjol pada tipe perubahan fenotif adalah melibatkan sebagian besar sel di dalam biakan. Perubahan fenotif macam ini tidak diwariskan, melainkan terjadi bila beberapa keadaan dalam lingkungan berubah. Kembalinya pada fenotif asli terjadi bila lingkungan semula pulih kembali. Faktor lingkungan selain media, udara juga faktor suhu pertumbuhan. Contohnya Staphylococcus aereus hanya dapat memproduksi pigmen pada suhu kamar.

9.3 Perubahan Genotip pada Mikroba Genotif suatu sel bakteri ditentukan oleh informasi genetik yang dikandung dalam kromosomnya. Kromosom terdiri dari gen-gen. Gen merupakan segmen DNA dengan urutan nukleotida tertentu yang bertanggung jawab dalam menurunkan informasi mengenai sifat biokimia atau fisiologik tertentu.

9.3.1 DNA dan RNA DNA merupakan polimer linier panjang yang terdiri dari nukleotida. Nukleotida terdiri atas tiga komponen yaitu: a. Molekul gula (pentosa=deoksiribosa) b. Basa

c. Gugus fosfat. Komponen basanya berupa basa purin (adenin = A, guanin = G) dan basa pirimidin (cytosin = C, timin = T). Tulang punggung (backbone) molekul DNA terdiri atas gugus fosfat dan gula yang letaknya bergantian dan terdapat satu basa yang melekat pada molekul gula. Monomer nukleotida mempunyai gugus hidroksil pada posisi karbon 3’, gugus fosfat pada posisi karbon 5’ dan basa pada posisi karbon 1’ molekul gula. Dalam kromosom DNA berbentuk untai (heliks) ganda yang mempunyai orientasi antiparalel (arah 5’ – 3’ berlawanan). Untai ganda tersebut terdiri atas dua untai gula fosfat dan pasangan basa yang terletak diantara kedua untai. Urutan

142

basa pada untai DNA tidak identik, tetapi komplemen yaitu basa purin berpasangan dengan basa pirimidin (cytosin berpasangan dengan guanin C-G dengan ikatan hidrogen rangkap tiga, timin berpasangan dengan adenin T-A dengan ikatan hidrogen rangkap dua). RNA merupakan polimer linier yang terdiri dari nukleotida. Perbedaannya dengan DNA adalah molekul gula pada RNA adalah ribosa dan basanya adalah adenin, guanin, cytosin dan urasil. Pada umumnya molekul RNA berbentuk untai tunggal. 1. Replikasi

Replikasi adalah pengandaan diri DNA jadi dua. Karena dalam inti eukariot DNA adalah berutas ganda sehingga setelah replikasi terbentuk dua pasang DNA yang masing-masing berutas ganda juga. Replikasi terjadi pada tahap persiapan untuk bermitosis.
Replikasi dimulai pada kromosom bakteri pada titik yang disebut dengan titik pangkal (ORI=Origin Replication). Kedua utas DNA memisah pada titik pangkal tersebut membentuk struktur berbentuk Y, titik persimpangannya disebut dengan titik tumbuh. Replikasi bergerak berurutan dari titik tumbuh dengan arah 5’ 3’, (lihat Gambar 1). Sintesis DNA bersifat tidak sinambung artinya utasan-utasan direplikasi dalam bentuk segmen-segmen kecil yang disebut dengan fragmen Okazaki dengan arah 5’ 3’. Fragmen-fragmen ini kemudian digabungkan menjadi satu oleh enzim DNA ligase. Replikasi DNA membutuhkan suatu pancing atau pemula (“primer”), karena DNA polimerase hanya bisa memperpanjang (polimerisasi) tapi tidak bisa memulai, oleh karena itu harus ada sepotong pendek RNA yang disintesis oleh RNA polimerase dan komplementer terhadap DNA yang memulai replikasi. Dengan adanya pemula ini DNA polimerase dapat mulai mensintesis deoksiribonukleotide, seterusnya pemula (“primer”) akan lepas. Sekali pancingan mengena DNA polimerase lalu mencerna RNA tersebut dan mengantikan dengan DNA. Berpartisipasinya RNA sebagai pancing tampaknya ekstensif karena setiap fragmen Okazaki juga mengandung sebagian RNA sebagai pancing. 5’ 3’

143

Titik tumbuh

Fragmen-fragmen okasaki

3’ 5’

3’

5’

Gambar 1 Replikasi

Bila titik-titik tumbuh telah bergerak diseluruh panjang molekul DNA, maka terbentuklah dua molekul DNA yang lengkap. Setiap molekul berutasan ganda mengandung salah satu dari utasan asli dan satu utasan baru, cara replikasi ini disebut dengan semikonservatif.

2. Traskripsi Transkripsi adalah suatu proses di mana informasi genetika yang terdapat pada DNA dicopykan kepada mRNA. Proses ini terjadi di dalam nukleus sel dan dikatalisis oleh enzim RNA polimerase. RNA polimerase pada bakteri terdiri atas dua subunit  dan dua sub unit . RNA polimerase bersama-sama dengan faktor sigma () disebut dengan haloenzim, berjalan sepanjang molekul DNA untuk menentukan lokasi awal traskripsi. Fungsi faktor  adalah membantu RNA polimerase untuk mengenali suatu urutan tertentu pada molekul DNA yang

144

menandai tempat awal transkripsi (awal suatu gen) yang dikenal sebagi promotor, yang terbagi menjadi daerah promotor –10, daerah promotor –35 dan daerah promotor –43 dihitung mundur dari daerah inisiasi. Daerah promotor –10 dan –35 adalah daerah yang kaya akan pasangan adenin-timin (A-T), karena ikatan hidrogen disini lemah (hanya 2 ikatan hidrogen), maka pembukaan untai ganda DNA lebih mudah. RNA polimerase bersama-sama faktor  mengikat daerah promotor dengan kuat dan memisahkan untai ganda DNA agar inisiasi transkripsi dapat terjadi. Pada DNA terdapat strand yang ditranskripsikan disebut dengan sense strand, sedangkan yang tidak ditanskripsikan disebut anti-sense strand. Setelah transkripsi dimulai, faktor  terlepas dari RNA polimerase (RNA polimerase tanpa faktor  disebut dengan core enzyme) dan transkripsi berlangsung terus sampai mencapai suatu daerah pada akhir gen yang disebut terminator (mRNA terminal membentuk stem loop). Urutan terminator menandai tempat akhir transkripsi (akhir suatu gen). Terminator biasanya adalah urutan nukleotida yang membentuk pasangan basa adenin dan urasil (A-U) yang lemah ikatannya (hanya 2 ikatan hidrogen) sehingga RNA polimerase dapat lepas beserta RNAnya. Setiap organisme mempunyai sinyal transkripsi (promotor dan terminator) yang spesifik. Gen organisme prokariot bersifat kontinyu artinya seluruh nukleotida menspesifikasikan asam amino. Sedangkan gen organisme eukariot bersifat tidak kontintu artinya tidak seluruh urutan nukleotida menspesifikasikan asam amino. Bagian gen yang menspesifikasikan asam amino disebut ekson, sedangkan yang tidak menspesifikasikan asam amino disebut intron. Ekson dan intron letaknya bergantian. Hasil transkripsi gen organisme prokariot dapat langsung di translasi menjadi protein, sedangan gen organisme eukariot harus melakukan proses splicing untuk menghilangkan intron, agar berfungsi sebagai mRNA yang kemudian ditranslasi menjadi protein.

3. Translasi Translasi ialah suatu proses di mana informasi urutan triplet basa nitrogen pada mRNA (codon) dipakai untuk menentukan asam amino pada suatu protein yang akan dibentuk. Proses translasi berlangsung pada ribosom. Ujung mRNA

145

yang telah masuk ke sitoplasma akan terikat dengan ribosom eukariot unit kecil (40S), yang kemudian mengikat ribosom unit besar (60S), sedangkan pada ribosom prokariot unit kecil (30S) dan unit besar (50S). Terdapat tiga situs pada ribosom unit besar yaitu situs A (acil)/membawa satu asam amino, situs P (peptidyl) dan situs E (exit). Setelah inisiasi translasi, codon pertama contohnya UUA (mRNA) dibaca oleh komplementer anti-codonnya yaitu AAU pada tRNA1, yang tRNAnya mengangkut asam amino leusin masuk pada situs P (peptidyl), kemudian codon kedua yaitu CCC (mRNA) dibaca oleh komplementer anticodonnya yaitu GGG (tRNA2) yang mengangkut asam amino prolin masuk pada situs A (acil), kemudian oleh enzim RNA katalitik terjadi ikatan peptida antara leusin dan prolin. Codon pertama setelah terjadi ikatan peptida akan keluar disebut dengan situs E (exit). Proses ini berlangsung terus menerus sampai mencapai suatu codon yang tidak dikenali oleh anti-codon yang dibawa oleh tRNA, hal tersebut memberikan sinyal bahwa proses translasi telah berhenti. Kedua sub unit ribosom akan berdisosiasi dan polipeptida dibebaskan dari tRNA.

5 3

Anti-sense strand
promotor

3
terminal

DNA 5 Transkripsi

Sense strand G T C T T T

A

T A

mRNA Translasi U A U C A G A A A Protein

Tirosin – Glutamin - Lisin

Gambar 2 Transkripsi dan Translasi

Gen dapat berubah atau bermutasi menjadi bentuk lain, sehingga berakibat memerintahkan pembentukkan suatu protein berubah atau baru dari kekhasan selnya. Mutasi dapat menimbulkan ciri genetik yang baru atau menyebabkan

146

genotif berubah. Suatu organisme yang memperlihatkan efek suatu mutasi dinamakan mutan. Beberapa tipe utama mutan adalah sebagai berikut: 1. Mutan yang memperlihatkan toleransi yang meningkat terhadap unsurunsur penghambat, terutama antobiotika 2. Mutan yang menunjukkan kemampuan fermentasi yang berubah atau meningkatnya atau berkurangnya kapasitas untuk menghasilkan produk akhir. 3. Mutan yang mempunyai defisiensi akan nutrisi, yakni membutuhkan medium yang lebih komplek untuk tumbuhnyan daripada biakan aslinya. 4. Mutan yang memperlihatkan perubahan dalam bentuk koloni atau kemampuan untuk menghasilkan pigmen. 5. Mutan yang memperlihatkan perubahan pada strutur permukaan dan komposisi sel (mutan antegenik). 6. 7. Mutan yang resisten terhadap aksi bakteriofage. Mutan yang memperlihatkan beberapa perubahan pada ciri-ciri

morfologis, misalnya hilang kemampuan untuk menghasilkan spora, kapsul dan flagel.

Mutasi terjadi pada bakteri sebagai akibat kekeliruan pada replikasi DNA. Mutasi dapat dibedakan menjadi mutasi spontan yang terjadi di alam, dan mutasi dibuat oleh manusia yang mengunakan agen-agen muntagen untuk meningkatkan laju mutasi. Mutasi juga dapat dibedakan karena akibat penghilangan pasangan basa menjadi mutasi mikro yaitu basa pirimidin (cytosin-timin) yang terganti dengan basa purin (adenin-guanin), dan mutasi makro yaitu basa pirimidin yang terganti dengan basa pirimidin yang lain. 1. Mutasi Spontan Mutasi spontan adalah perubahan yang terjadi selama pertumbuhan normal. Skala waktu untuk laju mutasi tidak dinyatakan dalam satuan jam atau hari melainkan generasi (evolusi).

2. Mutasi Buatan Mutasi buatan dapat dibedakan menjadi:

147

(1)

Mutasi misens Mutasi misens (salah arti) terjadi karena subtitusi asam amino yang lain ke

dalam polipeptida. Contohnya apabila selama replikasi DNA triplet GAA (leusin) karena kesalahan harus direplikasi sebagai GTA (histidin) sehingga pada sintesis protein selanjutnya leusin akan digantikan oleh histidin. (2) Mutasi pergeseran kerangka Mutasi pergeseran kerangka terjadi karena penyisipan atau pengurangan satu basa. Hal tersebut kelihatannya tidak akan menyebabkan perubahan besar dalam komposisi protein yang dihasilkan padahal akan mengubah semuanya. Contohnya: DNA : AAC GAA CGC TGA

RNA : UUG CUU GCG ACU Pengurangan A pertama pada DNA mengeser kerangka “bacaan” sebagai berikut: DNA : ACG AAC GCT GA RNA : UGC UUG CGA CU Pengurangan tersebut merubah asam amino yang dihasilkan yaitu dari leusinhistidin-alanin-treonin ke sistein-leusin-arginin-leusin. Bila pengurangan

semacam ini diganti dengan penyisipan basa baru yang sangat mirip dengan basa yang dikurangkan, maka jelas akan terjadi polipeptida yang sama sekali baru. (3) Mutasi nonsens Mutasi nonsens adalah mutasi yang terjadi karena terbentuknya codon penghentian sintesis rantai polipeptida sehingga menyebabkan pelepasan polipeptida yang tidak lengkap. Codon penghentian tersebut adalah bara (UAG), koer (UAA) dan opal (UGA).

3. Kecepatan Mutasi Kecepatan mutasi umumnya didefinisikan sebagai angka rata-rata mutasi per sel, per generasi atau per divisi. Dari definisi tersebut, secara asensiil data yang dicatat adalah: 1) jumlah/angka mutasi yang muncul, 2) jumlah generasi yang terjadi mutasi dan 3) jumlah tara-rata bakteri yang muncul dalam interval waktu tertentu. Secara umum perhitungan kecepatan mutasi dalam kondisis ideal memenuhi kondisi sebagai berikut: perlu

148

1.

Harus digunakan populasi yang besar agar reliabilitynya tinggi sehingga estimasi lebih tepat sebab memungkinkan pengamanan kecepatan mutasi yang lebih baik.

2.

Kecepatan yang tidak signifikan terhadap back mutation atau suatu perkiraan yang tepat terhadap back mutation tersebut.

3.

Mutan dan tipe parental harus muncul bersama-sama pada lingkungan dimana mutasi itu terjadi dan peneliti dapat mendeteksi setiap munculnya sel mutan.

9.3.2 Plasmid Plasmid adalah materi genetik diluar kromosom. Sejumlah bakteri memiliki plasmid yaitu berupa untaian DNA melingkar yang lebih kecil dari pada kromosom (mengandung sekitar 100 kbp). Ukuran plasmid bervariasi, berat molekulnya sekitar 5 x 10 daltons yang dapat mengkode 100 gen. Karena ukurannya lebih kecil, replikasi plasmid lebih cepat daripada replikasi kromosom. Molekul DNA-nya direplikasi oleh enzim-emzim yang berasal dari sel. Gen yang berlokasi pada plasmid lebih mobil dibandingkan dengan yang terdapat dalam kromosom karena plasmid terletak di sitoplasma dan ukurannya lebih kecil. Oleh karena itu gen resistensi yang terdapat pada plasmid dapat ditransfer dari satu sel ke sel lain. Transfer plasmid dapat terjadi melalui tiga cara yaitu: tranformasi, transduksi dan konjugasi. 1. Sifat-sifat plasmid Plasmid adalah molekul DNA yang bulat atau sirkuler, sifat-sifat plamid adalah: a. Kira-kira mempunyai berat 1-3% dari kromosom bakteri b. Berada bebas dan bergerak dalam sitoplasma bakteri c. Adalanya dapat bersatu ke dalam kromosom bakteri d. Dapat melakukan replikasi sendiri secara otonom e. Dapat berpindah atau dipindahkan dari satu species ke species lain

2. Jenis-jenis plasmid Ada beberapa jenis-jenis plasmid yaitu:

149

(1) Faktor R Faktor R adalah satu golongan plasmid yang membawa gen-gen untuk resistensi terhadap satu atau lebih antibiotika dan logam berat. Gen dalam plasmid yang menyebabkan resistensi obat seringkali memproduksi enzim-enzim yang dapat merusak daya kerja obat. Contoh: plamid yang menentukan resistensi untuk penecilin dan sefalosporin memproduksi enzim beta laktamase. (2)Toksin Ada beberapa toksin dari kuman yang merupakan produk dari plamid misalnya Enterotoksigenik Escherichia coli memproduksi toksin yang

menyebabkan diare pada anak. (3) Faktor F Faktor F = fertility faktor memegang peranan dalam proses konjugasi bakteri.

3. Fungsi plasmid Fungsi plasmid adalah menyandi. Contohnya plasmid menyandi resistensi antibiotika, menyandi resistensi terhadap merkuri dan garam-garam perak, menyandi fimbria yang terlihat pada perlekatan bakteri pada sel lain. Plasmid lain menyandi kemampuan memetabolisasi gula-gula baru dan sumber karbon baru. Beberapa fungsi tambahan yang disandi plasmid adalah enzim-enzim penambat nitrogen pada Rhizobium, produksi tumor tumbuhan oleh Agrobacterium dan kemampuan untuk metabolisasi hidrokarbon seperti yang terdapat pada ceceran minyak bumi.

9.4 Rekombinasi Genetik pada Mikroba Rekombinan genetis ialah pembentukan suatu genotif baru melalui pemilihan kembali gen-gen setelah terjadi pertukaran bahan genetis antara dua kromosom yang berbeda bersangkutan. Rekombinan dengan mutasi mekanismenya sama tetapi rekombinan lebih mengarah keperbaikan sedangkan mutasi kearah keburukan. Pada bakteri rekombinan genetis dihasikan dari tiga tipe pemindahan gen yaitu: yang mempunyai gen-gen serupa pada situs-situs yang

150

1. Konjugasi Konjugasi adalah proses pemindahan sebagian materi (gen) dari satu bakteri ke bakteri lain melalui suatu kontak langsung/fisik dengan menggunakan pili. Artinya terjadi transfer ADN dari sel bakteri donor ke sel bakteri penerima melalui ujung pilus. Kemampuan sel donor memindahkan ADN dikontrol oleh faktor pemindahan (faktor F). 2. Transformasi Transformasi adalah proses pemindahan DNA bebas-sel atau “bugil” dari satu sel ke sel yang lain, tetapi tidak terjadi melalui kontak langsung. Cara trasformasi ini hanya terjadi pada beberapa species saja. Misalnya pada bakteri Pneumococci yang menyebabkan pnemonia. 3. Transduksi Transduksi adalah proses pemindahan gen dari satu sel ke sel yang lain dengan perantara virus atau bakteriofage (virus bakteri). DNA virus masuk ke DNA bakteri, kemudian mengadakan replikasi sesuai ADN bakteri. Bila viusvirus baru sudah terbentuk dan akhirnya menyebabkan lisis pada bakteri, bakteriofage yang nonvirulen (menimbulkan respon lisogen) memindahkan ADN dan bersatu dengan ADN inangnya, peoses ini dinamakan transduksi. Latihan Untuk memperdalam materi di atas, kerjakanlah latihan soal-soal berikut: 1. Jelaskan secara singkat pewarisan cirri dan variasi 2. Jelaskan perubahan fenotip akibat perubahan lingkungan 3. Jelaskan perubahan genotif pada mikroba. 4. Jelaskan rekombinasi genetic pada mikroba Rangkuman 1. Pewarisan Ciri dan Variasi Ciri khas semua bentuk kehidupan dari segi pandangan genetika adalah kemantapan umum atau kesamaan ciri-ciri keteturunannya dan tetuanya. Mikroorganisme sebagai makhluk hidup juga meneruskan ciri-ciri kepada keturununnya. Hal ini dapat dibuktikan dengan mengidentifikasi species mikroba, bahkan galur-galur mikroba yang menunjukkan bahwa mikroba tersebut mampu meneruskan informasi genetik dari generasi ke generasi berikutnya dengan tepat.

151

Disamping pewarisan ciri-ciri yang menyebabkan sifat tetap, progeni memperlihatkan (mengekspresikan) keragaman (variasi). Perubahan-perubahan ini berkaitan dengan dua sifat dasar sel atau organisme, yakni fenotif dan genotif. Genotif mengacu pada komposisi genetis sel (genom). Fenotif merupakan

ekspresi genotif dalam bentuk atau sifat-sifat yang dapat diamati bagi sel atau organisme yang bersangkutan. Dengan kata lain genotif merupkan kemampuan genetika jasad renik, sedamgkam fenotif merupakan sifat yang terlihat sesungguhnya karena faktor lingkungan. Genotif suatu biakan mikroba relatif konstan selama pertumbuhan tetapi dapat berubah karena mutasi. Variasi genetik yang timbul di dalam suatu sel mikroba dapat disebabkan karena mutasi. Mutasi adalah perubahan di dalam gen sel jasad renik yang berakibat perubahan morfologi dan biokimiawidi dalam sel. Mutasi jasad renik dapat terjadi secara spontan atau dengan pemberian suatu mutagen (penyebab mutasi). 2. Perubahan Fenotif Akibat Perubahan Lingkungan Fenotif suatu populasi mikroba dipengaruhi oleh faktor lingkungan, dan dapat diamati bila mikroba tersebut ditumbuhkan pada berbagai medium yang berbeda. Sifat-sifat fenotif yang dapat terlihat langsung misalnya perbedaan dalam morfologi sel dan penampakkan koloni. Sebagai contoh bakteri pembentuk kapsul yang ditumbuhkan pada medium yang mengandung karbohidrat tinggi akan membentuk kapsul lebih tebal dan membentuk koloni yang berlendir. Pembentukkan spora dan flagel juga dapat dihambat oleh komponen-komponen tertentu di dalam medium. Sejauh mana informasi genetik (genotif) diekspresikan tergantung dari faktor lingkungan. Contohnya suatu bakteri yang bersifat anaerob fakultatif akan menghasilkan produk-produk akhir metabolisme, tergantung dari ada tidaknya oksigen selama pertumbuhan. Hal yang paling menonjol pada tipe perubahan fenotif adalah melibatkan sebagian besar sel di dalam biakan. Perubahan fenotif macam ini tidak diwariskan, melainkan terjadi bila beberapa keadaan dalam lingkungan berubah. Kembalinya pada fenotif asli terjadi bila lingkungan semula pulih kembali. Faktor

152

lingkungan selain media, udara juga faktor suhu pertumbuhan. Contohnya Staphylococcus aereus hanya dapat memproduksi pigmen pada suhu kamar. 3. Perubahan Genotip pada Mikroba Genotif suatu sel bakteri ditentukan oleh informasi genetik yang dikandung dalam kromosomnya. Kromosom terdiri dari gen-gen. Gen merupakan segmen DNA dengan urutan nukleotida tertentu yang bertanggung jawab dalam menurunkan informasi mengenai sifat biokimia atau fisiologik tertentu. 4. Rekombinasi Genetik pada Mikroba Rekombinan genetis ialah pembentukan suatu genotif baru melalui pemilihan kembali gen-gen setelah terjadi pertukaran bahan genetis antara dua kromosom yang berbeda yang mempunyai gen-gen serupa pada situs-situs yang

bersangkutan. Rekombinan dengan mutasi mekanismenya sama tetapi rekombinan lebih mengarah keperbaikan sedangkan mutasi kearah keburukan. Pada bakteri rekombinan genetis dihasikan dari tiga tipe pemindahan gen yaitu: konjugasi, transformasi dan transduksi. C. Penutup a. Pertanyaan 1. Jelaskan secara singkat pewarisan cirri dan variasi 2. Jelaskan perubahan fenotip akibat perubahan lingkungan 3. Jelaskan perubahan genotif pada mikroba. 4. Jelaskan rekombinasi genetic pada mikroba b. Umpan balik Anda dapat menguasai materi ini dengan baik jika memperhatikan hal-hal sebagai berikut: Membaca bahan atau materi yang relevan dengan materi yang akan dibahas. Aktif dalam tanya jawab. Mengerjakan latihan.

c. Tindak lanjut Apabila mahasiswa dapat menyelesaikan 80% pertanyaan di atas, maka mahasiswa tersebut dapat melanjutkan ke bab selanjutnya.

153

-

Jika ada di antara mahasiswa ada yang belum mencapai penguasaan 80% dianjurkan untuk:   Mempelajari kembali topik di atas dari awal. Berdiskusi dengan teman terutama hal-hal yang belum dikuasai.

- Bertanya kepada Dosen jika ada hal-hal yang tidak jelas dalam penyampaian materi atau diskusi. d. Kunci Jawaban 1. Pewarisan Ciri dan Variasi Ciri khas semua bentuk kehidupan dari segi pandangan genetika adalah kemantapan umum atau kesamaan ciri-ciri keteturunannya dan tetuanya. Mikroorganisme sebagai makhluk hidup juga meneruskan ciri-ciri kepada keturununnya. Hal ini dapat dibuktikan dengan mengidentifikasi species mikroba, bahkan galur-galur mikroba yang menunjukkan bahwa mikroba tersebut mampu meneruskan informasi genetik dari generasi ke generasi berikutnya dengan tepat. Disamping pewarisan ciri-ciri yang menyebabkan sifat tetap, progeni memperlihatkan (mengekspresikan) keragaman (variasi). Perubahan-perubahan ini berkaitan dengan dua sifat dasar sel atau organisme, yakni fenotif dan genotif. Genotif mengacu pada komposisi genetis sel (genom). Fenotif merupakan

ekspresi genotif dalam bentuk atau sifat-sifat yang dapat diamati bagi sel atau organisme yang bersangkutan. Dengan kata lain genotif merupkan kemampuan genetika jasad renik, sedamgkam fenotif merupakan sifat yang terlihat sesungguhnya karena faktor lingkungan. Genotif suatu biakan mikroba relatif konstan selama pertumbuhan tetapi dapat berubah karena mutasi. Variasi genetik yang timbul di dalam suatu sel mikroba dapat disebabkan karena mutasi. Mutasi adalah perubahan di dalam gen sel jasad renik yang berakibat perubahan morfologi dan biokimiawidi dalam sel. Mutasi jasad renik dapat terjadi secara spontan atau dengan pemberian suatu mutagen (penyebab mutasi). 2. Perubahan Fenotif Akibat Perubahan Lingkungan Fenotif suatu populasi mikroba dipengaruhi oleh faktor lingkungan, dan dapat diamati bila mikroba tersebut ditumbuhkan pada berbagai medium yang berbeda. Sifat-sifat fenotif yang dapat terlihat langsung misalnya perbedaan

154

dalam morfologi sel dan penampakkan koloni. Sebagai contoh bakteri pembentuk kapsul yang ditumbuhkan pada medium yang mengandung karbohidrat tinggi akan membentuk kapsul lebih tebal dan membentuk koloni yang berlendir. Pembentukkan spora dan flagel juga dapat dihambat oleh komponen-komponen tertentu di dalam medium. Sejauh mana informasi genetik (genotif) diekspresikan tergantung dari faktor lingkungan. Contohnya suatu bakteri yang bersifat anaerob fakultatif akan menghasilkan produk-produk akhir metabolisme, tergantung dari ada tidaknya oksigen selama pertumbuhan. Hal yang paling menonjol pada tipe perubahan fenotif adalah melibatkan sebagian besar sel di dalam biakan. Perubahan fenotif macam ini tidak diwariskan, melainkan terjadi bila beberapa keadaan dalam lingkungan berubah. Kembalinya pada fenotif asli terjadi bila lingkungan semula pulih kembali. Faktor lingkungan selain media, udara juga faktor suhu pertumbuhan. Contohnya Staphylococcus aereus hanya dapat memproduksi pigmen pada suhu kamar. 3. Perubahan Genotip pada Mikroba Genotif suatu sel bakteri ditentukan oleh informasi genetik yang dikandung dalam kromosomnya. Kromosom terdiri dari gen-gen. Gen merupakan segmen DNA dengan urutan nukleotida tertentu yang bertanggung jawab dalam menurunkan informasi mengenai sifat biokimia atau fisiologik tertentu. 4. Rekombinasi Genetik pada Mikroba Rekombinan genetis ialah pembentukan suatu genotif baru melalui pemilihan kembali gen-gen setelah terjadi pertukaran bahan genetis antara dua kromosom yang berbeda yang mempunyai gen-gen serupa pada situs-situs yang

bersangkutan. Rekombinan dengan mutasi mekanismenya sama tetapi rekombinan lebih mengarah keperbaikan sedangkan mutasi kearah keburukan. Pada bakteri rekombinan genetis dihasikan dari tiga tipe pemindahan gen yaitu: konjugasi, transformasi dan transduksi. e. Referensi Jawetz. 1996. Mikrobiologi Kedokteran. Edisi 20. kedokteran EGC. Waluyo. 2004. Mikrobiologi Umum. UMM Jakarta. Penerbit Buku

155

f. Senarai variasi : keragaman mutagen : penyebab mutasi bakteriofage : virus bakteri

BAB X DISIPLIN ILMU DALAM MIKROBIOLOGI
Deskripsi singkat Bab ini akan menguraikan tentang bakteriologi, virologi, miklogi, fikologi da protozologi. Relevansi Pembahasan ini akan sangat berhubungan dengan bab selanjutnya. Mahasiswa akan mengetahui berbagai disiplin ilmu dalam mikrobiologi. Kompetensi Dasar Mahasiswa dapat menjelaskan disiplin ilmu dalam mikrobiologi. B. Penyajian Uraian dan contoh 10.1 Bakteriologi Nama bakteri berasal dari bahasa Yunani yaitu “ bacterion” yang berarti batang atau tongkat. Bakteri berkembangbiak dengan membelah diri dan karena begitu kecil hanya dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop. Bakteri walaupun bersel satu tetapi mempunyai beberapa organel yang dapat melaksanakan beberapa fungsi hidup. 10.1.1 Morfologi Bakteri Morfologi bakteri dibagi menjadi dua yaitu ukuran bakteri dan bentuk bakteri:

156

1.

Ukuran Bakteri Satuan ukuran tubuh bakteri adalah mikrometer atau mikron. Satu mikron

sama dengan1/1.000 milimeter. Lebar tubuh umumnya antara 1-2 m, sedangkan panjangnya atara 2-5 mikron. Bakteri berbentuk kokus ada yang berdiameter 0,5 mikron ada pula yang berdiameter sampai 2,5 mikron. Sedangkan bakteri berbentuk basil ada yang lebarnya 0,2-2 mikron. Pada umumnya bakteri yang berumur 3-6 jam lebih besar daripada bakteri yang umurnya lebih daripada 24 jam. 2. Bentuk Bakteri Secara garis besar bentuk tubuh bakteri dapat dikelompokkan dalam 3 golongan yaitu: (1) Basil (bacillus) Basil dari bacillus, merupakan bakteri yang mempunyai bentuk tongkat pendek/batang kecil dan silindris. Sebagian bakteri berbentuk basil. Basil dapat bergandeng-gandengan panjang, bergandengan dua-dua atau terlepas satu sama lainnya. Berdasarkan jumlah koloni, basil dapat dibagi menjadi beberapa kelompok yaitu:    Monobasil, yaitu basil yang menyendiri atau tidak bergerombol Diplobasil, bila koloni basil terdiri dari dua basil Streptobasil, bila koloni bakteri berbentuk rantai

(2) Kokus (coccus) Kokus adalah bakteri yang mempunyai bentuk bulat seperti bola-bola kecil. Jumlah dari bakteri golongan ini tidak sebanyak golongan basil. Kelompok ini ada yang bergerombol dan bergandeng-gandengan membentuk koloni. Berdasarkan jumlah koloni, kokus dapat dibedakan menjadi beberapa kelompok yaitu:      Monolokus, nila kokus hidup menyendiri Diplokokus, bila kokus membentuk koloni dari dua kokus Steptokokus, bila koloni berbentuk seperti rantai Stafilokokus, bila koloni bakteri kokus membentuk untaian seperti bauh anggur Sarsina, bila koloni bakteri mengelompok serupa kubus

157

 (2)

Tetrakokus, bila koloni terdiri dari empat kokus Spiril (spirillium) Spiril merupakan bakteri yang berbentuk bengkok atau berbengkok-bengkok

seperti spiral. Bakteri yang berbentuk spiral sangat sedikit jenisnya, dibandingkan dengan golongan basil dan golongan kokus. 10.1.2 Struktur Luar Sel Bakteri

1. Envelop Bakteri
Komponen permukaan yang terdapat pada envelop bakteri mempunyai fungsi dalam mengambil nutrien, menghindari senyawa toksik tertentu dan memperantarai transfer informasi genetik. Envelop bakteri terdiri atas: (a) membran sitoplasma, (b) dinding sel, dan (c) membran luar pada bakteri tertentu. Membran sel merupakan lapisan ganda fosfolipid yang mengandung lebih dari 200 protein berbeda. Lapisan ganda fosfolipid terbentuk karena bagian hidrofil fosfolipid terpapar ke arah luar sedangkan bagian hidrofob mengarah ke dalam. Protein yang terdapat dalam membran disebut dengan protein membran, dan protein yang melintasi membran disebut dengan protein transmembran. Membran sel bakteri mempunyai fungsi sebagai barier osmotik, transport nutrien, tempat sintesis lipid membran termasuk LPS, tempat sintesis dinding murein, perakitan dan sekresi protein ekstrasitoplasma (protein membran, periplasma, membran luar, dan protein ekstraseluler), transport elektron yang terlibat dalam respirasi, segregasi kromosom, dan khemotaksis. (1) Dinding sel Dinding sel atau lapisan murein memberi kekuatan pada sel, sehingga sel sangat sulit dipecahkan dengan cara mekanik serta mempertahankan bentuk sel. Dinding sel memberi pertahanan kimia dan fisika terhadap bahan kimia berbahaya yang menyerang membran sel. Pada bakteri Gram positif, peptidoglikan berlapis tebal dan mengandung asam teichoat. Dinding sel ini tidak permeabel terhadap senyawa hidrofob. Demikian juga gugus amino-gula, asam amino bermuatan dan fosfat asam teichoat sangat polar sehingga asam teichoat juga memberi perlindungan terhadap senyawa hidrofob. Keberadaan lapisan peptidoglikan dan asam teichoat

158

menyebabkan sel diselubungi oleh lapisan hidrofil. Beberapa asam teichoat mempunyai lipid disebut asam lipotechoat (LTA). LTA menempel pada membran sitoplasma melalui bagian lipidnya.. Lapisan peptidoglikan yang tebal pada bakteri Gram positif menyebabkan kompleks dye-iodin yang bersifat hidrofob setelah masuk ke dalam sel, sulit untuk meninggalkan sel. Dinding sel yang tebal juga menyebabkan sel dapat bertahan pada media hipotonik. Pada bakteri Gram positif, peptidoglikan mempunyai ketebalan sampai sekitar 25 lapisan. Peptidoglikan mengandung ikatan  1-4 glikosida yang dapat dikenali oleh lisozim. Dinding sel bakteri Gram negatif di bagian luarnya diselubungi oleh suatu membran yang disebut dengan membran luar. Pada bakteri ini, lapisan peptidoglikan tipis dan hanya terdiri atas dua lapisan. Di sebelah dalam lapisan peptidoglikan terdapat satu membran yang disebut membran dalam atau membran sitoplasma. Tidak seperti membran dalam, membran luar merupakan suatu membran yang tidak simetri. Bagian luar membran ini terdiri atas

lipopolisakarida sedangkan bagian dalamnya adalah fosfolipid. Bagian luar LPS adalah antigen O yang merupakan rantai karbohidrat. Struktur envelop bakteri Gram negatif dapat dilihat pada Gambar. Oleh karena itu, baik membran sel bakteri gram positif maupun gram negatif bagian luarnya bersifat hidrofil dan resisten terhadap senyawa hidrofob dan hidrofil. Pada membran luar bakteri gram negatif terdapat porin yang membentuk suatu saluran berisi air. Porin menyebabkan senyawa hidrofil berukuran kecil dapat melintasi membran luar melalui difusi pasif. Struktur porin serta lokasinya dapat dilihat pada gambar. Senyawa hidrofil berukuran besar tentunya tidak dapat melintasi membran luar secara difusi aktif, tetapi harus melalui suatu mekanisme tertentu. Keberadaan membran luar mengakibatkan bakteri gram negatif sangat resisten terhadap berbagai antibiotik. Jarak antara membran luar dan peptidoglikan dipertahankan melalui suatu lipoprotein. Bagian lipid berinteraksi dengan membran luar, sementara bagian proteinnya berinteraksi dengan peptidoglikan. (2) Periplasma Pada bakteri Gram negatif, diantara membran luar dan membran dalam terdapat ruang yang disebut dengan periplasma. Didalam periplasma terdapat

159

berbagai protein dengan fungsi berbeda, yaitu protein pengikat asam amino, gula, vitamin dan ion; enzim pendegradasi yang meliputi berbagai fosfatase, protease dan endonuklease I; enzim detoksifikasi misalnya -laktamase (enzim penginaktivasi aminoglikosida. (3) Fungsi envelop Envelop bakteri sangat bervariasi dalam struktur dan komposisi kimianya. Keragaman ini menggambarkan berbagai tantangan lingkungan yang dialami oleh mikroorganisme. Berbagai strategi dan penggunaan komponen envelop bakteri adalah sebagai berikut : a. Kekuatan dan integritas dinding sel bermanfaat untuk mengatasi tekanan osmosa internal yang tinggi dan kehidupan dalam lingkungan encer. b. Untuk menghadapi berbagai enzim berbahaya di lingkungan, bakteri dilengkapi oleh envelop dengan jala penghalang berpori ukuran kecil. c. Envelop bakteri dilengkapi oleh enzim pendegradasi spesifik, penghalang permeabilitas, mutasi target yang bermanfaat untuk menghadapi racun organik dan antibiotik. d. Keberadaan ion logam toksik untuk menghadapi kebutuhan trace metal, envelop bakteri dilengkapi ligan tertentu untuk menangkap dan khelat selektif untuk menahan ion essensial. e. Untuk menghadapi pemangsa (misalnya virus, protozoa, fagosit), bakteri dilengkapi dengan kemampuan untuk membuat atau mengubah reseptor, lapisan penghalang (termasuk lapisan S), permukaan yang tidak menunjang secara fisikokimia, kapsul dan lain sebagainya. f. Nuklease tertentu digunakan untuk menghadapi serangan DNA asing; (7) untuk menghadapi masalah substrat yang sulit berdifusi atau sulit diperoleh, bakteri dilengkapi oleh mekanisme perlekatan, pergerakan dengan berenang dan gliding, chemotaxis, dan fototaksis. g. Untuk mengatasi lingkungan yang secara fisikokimia bervariasi, bakteri dilengkapi dengan gas vesicle, penghalang difusi selektif dan lebih tepat penisilin dan sefalosporin) dan enzim penfosforilasi

160

membran lipid. 2. Kapsul Banyak bakteri gram positif dan gram negatif mensekresi suatu struktur amorf. Seringkali, senyawa tersebut merupakan polisakarida berbobot molekul tinggi, baik heteropolimer atau homopolimer. Sintesis senyawa ini tidak terjadi setiap saat, tergantung pada medium pertumbuhan dan tidak penting untuk setiap saat. Pertumbuhan dapat terjadi tanpa kapsul, paling tidak pada kondisi laboratorium. Walaupun demikian, kapsul seringkali merupakan suatu determinan kemampuan sel bakteri untuk berkolonisasi pada lingkungan tertentu (misalnya Streptokokus mutants pada gigi). Kapsul juga merupakan pertahanan utama terhadap fagositosis. Tidak mengherankan bahwa banyak bakteri harus melintasi darah untuk mencapai organ dalam bentuk berkapsul. Contohnya adalah Haemophilus influenzae. 3. Flagela atau Bulu Cambuk Flagella adalah organ untuk pergerakan bakteri, Flagela merupakan filamen berbentuk heliks dengan motor pada dasarnya dan berotasi relatif terhadap permukaan bakteri. Flagela bakteri menyebabkan pergerakan dengan rotasi, tidak dengan membengkokkan, seperti yang terjadi pada flagela eukariot. Gerakan flagel dapat menyebabkan bakteri terdorong ke depan, sehingga flagel mempunyai fungsi seperti baling-baling pada kapal laut. Tidak semua bakteri bergerak, dan beberapa bakteri yang bergerak tidak mempunyai flagela. Bentuk lain dari motilitas adalah gliding. Bakteri yang berflagela dapat dibedakan pada jumlah dan organel ini. Beberapa spesies, seperti anggota Pseudomonas, hanya mempunyai satu flagela dan berlokasi pada ujung. Escherichia coli mempunyai sekitar 10 flagela. Proteus mempunyai ratusan flagela dan lokasinya tersebar pada seluruh permukaan sel. Setiap flagela terdiri atas tiga bagian yang berbeda pada kompleksitas molekulnya. Di bagian luar, adalah filamen heliks yang panjang, yang menjorok 5-10 m ke medium – beberapa kali dari panjang sel. Filament dihubungkan dengan hook ke basal body. Filamen terdiri atas protein yang disebut flagelin. Pada beberapa spesies, flagela terdiri atas dua jenis flagelin (pada Caulobacter),

161

tetapi pada umumnya hanya satu jenis. Flagelin sangat antigenik. Berdasarkan tempat kedudukan flagel, maka dapat diklasifikasi sebagai berikut:      Monotrik, jika flagel hanya satu dan melekat pada ujung sel. Lofotrik, jika banyak flagel yang melekat pada salah satu ujung sel Amfitrik, jika banyak flagel yang melekat pada kedua ujung sel Peritrik, jika flagel tersebar dari ujung samapi ke sisi-sisi sel Atrik, jika species tidak mempunyai flagel sama sekali

4. Pili atau Fimbriae Pili adalah tipe kedua dari struktur protein yang menjorok keluar dari permukaan bakteri. Pili merupakan suatu organ untuk perlekatan pada permukaan dan bersifat sangat spesifik. E.coli mempunyai 100-300 pili. Panjang pili adalah berkisar antara 0,2 – 2 m. pili terdiri atas pilin. Beberapa pilin mengandung satu jenis pilin, tetapi yang lain mengandung, lebih dari satu. Protein minor, seringkali berlokasi pada ujung pili dan bertanggung jawab pada sifat perlekatan. Molekul pilin ditata dalam bentuk heliks untuk membentuk silinder lurus. Pili tertentu, dinamakan pili seks, memainkan fungsi yang sangat penting dalam konjugasi bakteri. Pili memperantarai perlekatan awal pada pasangan yang berkonjugasi (lihat gambar). Pili jenis lain, dinamakan pili tipe 1 atau common pili, terlibat dalam perlekatan bakteri pada permukaan, seringkali pada permukaan sel eukariot. Sebagai contoh adalah Neisseria gonorrhoeae, E.coli dan patogen lain melekat pada membran saluran kemih melalui pili. Perlekatan menyebabkan pengikatan spesifik antara pili dan reseptor permukaan (suatu glikoprotein) pada permukaan sel inang. Adesin digunakan untuk menyatakan protein minor pada pili yang berperan dalam interaksi inang – parasit. Pili dari bakteri berbeda mempunyai antigenisitas berbeda dan menginduksi pembentukan antibodi dengan spesifitas berbeda. Antibodi terhadap pili dari suatu spesies bakteri tidak mencegah perlekatan bakteri lain. Walaupun

162

dalam satu spesies, bakteri seperti gonokokus telah berevolusi sehingga mempunyai kemampuan untuk membentuk pili dengan tipe antigenik yang berbeda. Dengan merubah tipe pilinya, sel gonokokus masih tetap melekat pada sel inang, setelah menginduksi respons antibodi yang kuat terhadap tipe pili asal.

10.1.3 Struktur Dalam Sel Bakteri 1. Membran Sitoplaslama Bagian ini merupakan bungkus dari sitoplasma, terletak dibagian bawah dinding sel tetapi tidak terikat. Nama lain dari membran sitoplasma adalah plasmolema atau lapisan hialin. Membran sitoplasma tersusun oleh senyawa protein, lipida dan asam nukleat. Bersifat selektif karena diperlukan sebagai mekanisme pengangkutan nutrien dan sisa metabolisme, yang dilakukan dengan bantuan enzim permease. 2. Protoplasma Protoplasma merupakan isi sel yang disebut juga sitoplasma atau plasma sel. Protoplasma merupakan koloid yang mengandung karbohidrat, protein, enzim, belerang kalsium karbonat dan volutin (yaitu suatu zat yang banyak mengandung asam ribonukleat (ARN). Volutin ini tampak sebagai titik-tik metakromatis (berwarna) yang terdapat pada basil bakteri.

3.

Inti atau Nukleus Nukleus merupakan lokasi utama bahan genetik dan berfungsi sebagai pusat

pengendalian sel. Bakteri mempunyai inti yang teriri atas ADN dan RNA DNA sel bakteri terdapat dalam suatu daerah yang disebut dengan nukleoid. Istilah ini menekankan perbedaan struktur antara organisasi genom prokariot (yang tidak diselubungi membran inti) dan eukariot yang mempunyai nukleus yang diselubungi oleh membran sejati.

163

4. Polisom Ribosom yang terdapat dalam sitosol merupakan organel kompleks yang mengkatalisis proses translasi dari informasi yang terdapat dalam mRNA menjadi protein. Beberapa ribosom mengikat beberapa mRNA secara simultan,

membentuk suatu struktur yang disebut dengan polisom. Sekitar 80-90% ribosom pada sel bakteri yang tumbuh ditemukan dalam polisom dan secara aktif terlibat dalam translasi. 5. Granul penyimpanan dan bahan inkusi lain Seringkali, bahan inklusi bergranul terlihat dalam sel prokariot. Pada E.coli, struktur ini merupakan badan yang elektron-dense, berdiameter 20 – 100 nm, dan terdiri atas glikogen. Mereka merupakan deposit penyimpanan yang mengakumulasi akibat kelebihan karbon di dalam medium ketika sumber nitrogen, sulfur atau fosfor terbatas atau bila pH rendah. Bila terjadi kekurangan karbon, granul ini menghilang karena glikogen digunakan. Pada beberapa bakteri seperti pseudomonad dan rhizoba, menyimpan karbon dalam bentuk poli-hidroksialkan (lihat gambar). Bakteri fotosintesis mempunyai kemampuan untuk menyimpan kedua bentuk tersebut. Pada beberapa bakteri, keberadaan badan inklusi bukan untuk menyimpan senyawa berenergi tinggi tetapi untuk memberikan peran tertentu. Beberapa bakteri magnetotatik yang memberikan respons pada medan magnit disebabkan karena mempunyai butiran besi intraselular yang kecil. 10.1.4 Spora Bakteri Spora pada bakteri yaitu bentuk bakteri yang sedang dalam usaha melindungi (mengamankan) diri dari pengaruh yang buruk dari luar. Spora pada bakteri lazimnya adalah endospora karena spora dibentuk di dalam sel. Menurut Knaysi, proses sporulasi (pembentukan atau terjadinya spora) dibagi menjadi 4 tahap: 1. Tahap permulaan, dimana koloni menunjukkan pertumbuhan yang sangat lambat. 2. Selama beberapa jam kelihatan adanya bahan-bahan lipoprotein yang mengumpulkan ke salah satu ujung sel, sehingga ujung itu nampak memadat.

164

3.

Timbul bungkus yang menyelubungi calon spora. Selubung terdiri atas dua lapis yakni kulit luar (eksin) dan kulit dalam (intin). Pada beberapa species intin menjadi dinding sel, bila spora melanjutkan pertumbuhan menjadi bakteri biasa.Dinding spora bersifat impermeabel terhadap zat-zat yang dapat menganggu kehidupan bakteri.

4.

Pada tahap yang terakhir, maka spora tampak berubah bentuk dan volume. Endospora dapat tetap tinggal disalah satu ujung atau ditengah-tengah sel. Sel dapat pecah karena perkembangan endospora. Pecahan ini kemudian luluh menjadi satu dengan medium. Sel yang mengandung spora dinamakan sporangium (kotak spora).

Biasanya 1 sporangium berisi satu spora, kadang kala berisi lebih dari satu spora, ini disebabkan pembelahan sel yang terlambat. Bakteri dalam bentuk spora lebih tahan terhadap disinfektan, sinar dan terutama terhadap kekeringan, panas dan kedinginan. Hal ini karena dinding spora lebih bersifat impermeabel dan spora mengandung sangat sedikit air, sehingga menyebabkan spora tidak mudah mengalami perubahan temperatur. Hanya beberapa genus bakteri saja yang membentuk spora, yang terpenting yaitu: 1. Genus Bacillus: bentuk batang, bersifat aerob atau anaerob fakultatif, contohnya Bacillus anthracis yang menyebabkan penyakit antraks dan Bacillus cereus yang menyebabkan keracunan makanan. 2. Genus Clostridium: bersifat anaerob, memproduksi toksin yang

mematikan manusia, contohnya Clostridium tetani, Clostridium perfringens dan Clostridium botulinum. Botulisme adalah salah satu tipe keracunan makanan yang sangat berbahaya. 10.1.5 Morfologi Koloni Pada Bakteri Bila bakteri ditumbuhkan di dalam medium yang tidak cair, maka terjadilah suatu kelompok yang dinamakan koloni. Bentuk koloni berbeda-beda untuk setiap species dan bentuk ini merupakan ciri khas bagi suatu species tertentu. 1. Sifat-sifat umum suatu koloni Sifat-sifat yang perlu diperhatikan pada koloni yang tumbuh dipermukaan medium adalah:

165

Besar kecilnya koloni, ada yang berupa titik atau melebar sampai menutup permukaan medium

 

Bentuk, ada yang bulat, memanjang, tepi rata atau tidak merata. Kenaikan permukaan, ada yang rata dengan medium atau timbul menjulang dari permukaan medium.

  

Halus kasarnya permukaan, ada yang halus, kasar atau tidak rata. Wajah permukaan, ada yang permukaan mengkilat atau suram Warna, kebanyakan koloni bakteri berwarna keputihan atau kekuningkuningan, tapi ada juga yang berwarna merah muda, coklat, hijau, unggu atau biru.

 2.

Kepekaan, ada yang lunak seperti lendir, seperti mentega, kering atau keras. Sifat-sifat khusus suatu koloni dalam medium padat Sifat-sifat yang dibahas berikut ini adalah koloni yang tumbuh pada agar-agar

lempengan, agar miring dan tusukan dalam gelatin. (1) Sifat-sifat koloni pada agar-agar lempengan  Bentuk koloni dilukiskan sebagai titik-titik, bulat, berbenang, serupa akar, serupa kumparan.  Permukaan koloni dapat datar, timbul mendatar, timbul

melengkung/mencembung/ membukit tau timbil berkawah.  Tepi koloni ada yang utuh, ada yang berombak, berbelah-belah, bergerigi atau keriting. (2) Sifat-sifat koloni pada agar-agar miring Sifat-sifat koloni pada agar-agar miring berkisar pada bentuk dan tepi koloni. Ada yang serupa pedang, duri, tasbih, titik-titik, batang atau akar. (3) Sifat-sifat koloni pada tusukan dalam gelatin Ada bakteri yang mampu mengencerkan gelatin atau tidak dapat mengencerkan gelatin. Oleh karena itu bentuk koloninya berbeda-beda. Bila

166

dilihat dari samping yang tidak dapat mengencerkan gelatin dapat serupa pedang, tasbih, bertonjol-tonjol, berjonjot atau serpa batang. 3. Sifat-sifat khusus suatu koloni dalam medium cair Medium cair dapat diperoleh dengan tidak mencampurkan agar-agar atau gelatin ke dalamnya. Di dalam medium cair, bakteri akan ketahuan sikapnya terhadap udara. Demikian sifat-sifat koloninya akan berbeda-beda. Permukaan medium dapat memperlihatkan adanya serabut, cincin atau selaput. 10.2 Virologi Virologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang virus. Kata virus berasal dari bahasa latin yang berarti racun. Virus adalah organisme yang sangat kecil dan jauh lebih kecil dari bakteri. Virus ini dapat menembus saringan bakteri dan hanya dapat disaring dengan menggunakan saringan porselin. Asal-asal virus belum diketahui. Ada 3 hipotesis mengenai asal-usul virus, yaitu: 1. Virus merupakan parasit sel-sel primitif, dan keduanya berevolusi bersama. 2. 3. Virus berevolusi dari kuman parasit Virus mungkin merupakan komponen sel tuan rumah yang menjadi otonom. Virus pertamakali ditemukan oleh Adolf Meyer di Nederland pada tahun 1885. Penelitian tentang virus dilanjutkan ahli botani berkebangsaan Rusia yaitu Dimitri Ivanowski (1892) dan Baijerinck (1899) berkebangsaan Jerman. Keduanya menyebutkan bahwa penyakit mozaik pada tembakau disebabkan oleh virus. Reed tahun 1907 menemukan virus yang memyebabkan demam kuning pada manusia. Virus ini menular dengan perantara nyamuk Aedes. Twort (1916) dan d’Herelle (1917) menemukan virus yang menyebabkan lisis pada bakteri yang disebut dengan bakteriofage (pemakan bakteri) atau fage saja. Penyakit lain yang disebabkan oleh virus poliomyelitis, influenza, campak, cacar air, rabies, herpes, AIDS (Acguired Immune Deficiency Sydrome). Adapun sifat-sifat khusus virus menurut Lwoff, Horne dan Tournier (1966) adalah:

167

   

Bahan genetik virus terdiri dari ADN atau ARN, tetapi tidak terdiri dari kedua jenis asam nukleat sekaligus. Struktur dari virus relatif sangat sederhana, yakni yang terdiri dari pembungkus yang mengelilingi asam nukleat. Virus mengadakan reproduksi hanya dalam sel hidup

(sitoplasma/nukleus). Virus tidak membelah diri dengan cara pembelahan biner, tapi dimulai dari pemecahan suatu partikel virus infektif menjadi lapisan protein pelindung dan komponen asam nukleat infektif.    Virus menginfeksi sel mengunakan ribosom sel hospes untuk keperluan metabolisme. Komponen-komponen utama virus dibentuk secara terpisah dan baru digabung dalam sel hospes tidak lama sebelum dibebaskan. Beberapa partikel virus mendapatkan selubung luar yang mengandung lipid protein dan bahan-bahan lain yang sebagian hospes.  Partikel virus lengkap dinamakan virion, terdiri dari inti asam nukleat yang dikelilingi lapisan protein yang bersifat antigenik yang disebut kapsid. 10.2.1 Bentuk dan Ukuran Virus Bentuk virus sangat bervariasi. Ada yang bebentuk bulat. Oval, memanjang, silindris dan ada juga yangberbentuk T. Ukuran tubuh sangat kecil dan bervariasi yaitu kira-kira antara 300 x 250 x 100 nm sampai Provirus yang kira-kira berdiameter 20 nm. Morfologi virus dapat diketahui setelah dikembangkan mikroskop elektron dan difraksi sinar X. Susunan tubuh virus terdiri dari kapsid, isi, kepala dan ekor, lebih jelasnya adalah sebagai berikut:  Kapsid Kapsid merupakan lapisan pembungkus tubuh virus, yang tersusun atas protein. Kapsid terdiri dari sejumlah kapsomer yang terikat satu sama lain dengan ikatan nonkovalen. Fungsi kapsid adalah untuk memberi bentuk virus, sebagai pe;indung virus, mempermudah proses penempelan pada proses penembusan ke dalam sel. besar berasal dari sel

168

Isi Terdapat disebelah dalam kapsid berupa materi genetik, yaitu suatu molekul pembawa sifat keturunan, berupa ADN atau ARN. Virus tanaman berisi ADN atau ARN, virus hewan mengandung ARN atau ADN, sedangkan fage berisi ADN.

Kepala dan Ekor Ekor virus berfungsi melekatkan tubuh virus pada inang. Struktur virus ada 2 macam yaitu virus telanjang dan virus terselubung. Virus telanjang terdiri dari 5 kelompok yaitu: Piconavirus, Reovirus, Adenovirus, Papovavirus dan Parvovirus. Sedang virus lain diluar dari kapsid terdapat selubung luat (envelope) yang terdiri dari protein dan lipid.

10.2.2 Replikasi Virus Perkembangbiakan virus mempunyai arti penting, agar mengetahui bagaimana virus masuk dan keluar dari sel, bagaimana virus bisa mematikan atau mentransformasikan sel. Adapun tahap-ahap replikasi virus adalah sebagai berikut:  Adsorpsi Merupakan tahap penempelan (attachment) virus pada dinding sel inang. Virus menempelkan sisi tempel atau reseptor site ke dinding sel bakteri.  Penetrasi sel inang Setelah reseptor site, bagian ini kemudian mengeluarkan enzim untuk membuka dinding sel bakteri. Molekul asam nukleat (ARN & ADN) virus bergerak keluar melalui pipa ekor dan masuk ke dalam sitoplasma sel melalui dinding sel yang terbuka tersebut. Pada virus telanjang, proses pentusupan ini terjadi dengan cara fagositosis virion (viropexis), sedangkan pada virus berselubung dapat terjadi dengan cara fusi yang diikuti masuknya nukleokapsid ke sitoplasma.  Eklipase Asam nukleat virus menggunakan asam nukleat bakteri untuk membentuk bagian-bagian tubuh virus, seperti protein, asam nukleat dan kapsid. Bahan yang digunakan berasal dari protein, enzim dan asam nukleat sel bakteri.  Pembentukan virus (bakteriofage)baru

169

Setelah bagian-bagian tubuh virus terbentuk, maka pada fase ini bagian-bagian itu akan digabungkan untuk menjadi virus baru. Dari 1 sel bakteri akan dihasilkan 100-300 virus baru.  Pemecahan sel inang Akhir dari siklus adalah pecahnya sel bakteri. Di dalam sel bakteri terbentuk enzim lisoenzim yang mampu melarutkan ikatan kimia dinding sel bakteri. Setelah dinding sel peah maka keluarlah virus-virus baru itu dan selanjutnya menjadi sel bakteri lainnya.

10.2.3 Klasifikasi Virus Dengan lebih diketahuinya penyakit yang ditimbulkan oeh virus dan cara penularan serta ekologinya, maka penggolongan virus lebih dikembangkan. Tahun 1966 dibentuk Komite Internasional untuk Penamaan dan Penggolongan Virus. Pada saat ini penggolongan virus meliputi pembagian atas famili, subfamili, genus dan species. Nama famili virus ditandai dengan viridae. Anggota famili mempunyai sifat umum sama dan tidak banyak berubah. Nama subfamili diberi akhiran virinae. Nama akhiran genus diberi akhiran virus. Penamaan virus tidak mengikuti penamaan binomial seperti pada penamaan bakteri Linnaeus. Lwoff, Horne dan Tournier merupakan ahli yang berjasa dalam pengembangan taksonomi virus. Mereka mengajukan beberpa kriteria sebagai dasar penggolongan virus. Ktiteria tersebut adalah:         Jenis asam nukleat, ARN atau ADN berantai ganda atau tunggal Ukuran dan morfologi termasuk tipe simetri kapsid Adanya enzim spesifik, terutama polimerase ARN dan ADN yang penting bagi replikasi genom Kepekaan terhadap zat kimia dan keadaan fisik Cara penyebaran alamiah Gejala-gejala yang timbul Ada tidaknya selubung Banyaknya kapsomer untuk virus ikosohedral atau diameter nukleokapsid untuk virus helikoidal

170

Saat ini telah lebih dari 61 famili virus diidentifikasi. Dua puluh satu diantaranya mempunyai anggota-anggota yang mampu menyerang manusia dan binatang. Untuk memudahkan berikut ini virus digolongkan menjadi 2 bagian, yaitu virus bergenom ARN dan bergenom ADN. Selain itu masih terdapat sekelompok virus belum dapat diklasifikasikan dan sering disebut sebagai unclassified virus. Tabel 1 Virus dengan Genom ARN

Famili Picornaviridae 
 

Sifat Penting
ARN: rantai tunggal Virion: tidak berselubung, bentuk ikosahedral, diameter 28-30 nm Replikasi dan morfogenesis terjadi di sitoplasma

Caliciviridae
      ARN: rantai tunggal Virion: tidak berselubung, bentuk ikosahedral, diameter 35-45 nm

Togaviridae

Replikasi dan morfogenesis terjadi di sitoplasma

ARN: rantai tungal Virion:berselubung, nukleokapsid berbentuk ikosahedral, diameter 60-70 nm Replikasi di sitoplasma dan morfogenesis melalui proses budding di membran sel

Flaviviridae
  

ARN: rantai tunggal Virion: berselubung, simetris nukleokapsid belum jelas, diameter 40-50 nm Replikasi di sitoplasma dan morfogenesis melalui proses budding di membran sel

Bunyaviridae

ARN: rantai tungal

171

 

Virion:berselubung, diameter 90-120 nm

nukleokapsid

berbentuk heliks,

Replikasi di sitoplasma dan morfogenesis melalui proses budding di membran sel

Arenaviridae
  

ARN: rantai tungal Virion:berselubung, nukleokapsid berbentuk kapsid, diameter 50-300 nm (rata-rata 110-130) Replikasi di sitoplasma dan morfogenesis melalui proses budding di membran plasma

Coronaviridae

  

ARN: rantai tungal Virion:berselubung, diameter 80-160 nm Replikasi di sitoplasma dan morfogenesis melalui proses budding di membran intrasitoplasma nukleokapsid berbentuk heliks,

Rhadoviridae
  

ARN: rantai tungal Virion:berselubung, nukleokapsid berbentuk heliks,

diameter dan panjang virion 70-85 nm dan 130-180 nm Replikasi di sitoplasma dan morfogenesis terjadi di membran intrasitoplasma, tergantung species virus  

Filoviridae

ARN: rantai tungal Virion:berselubung, nukleokapsid berbentuk heliks,

diameter 80 nm, panjangnya dapat mencapai 14.000 nm, bentuk

Paramyxoviridae
   Orthomyxoviridae 

virion pleomorfik. Replikasi di sitoplasma

ARN: rantai tungal Virion:berselubung, diameter 150-300 nm Replikasi di sitoplasma dan morfogenesis melalui proses budding di membran plasma nukleokapsid berbentuk heliks,

172

  Reoviridae 

ARN: rantai tungal Virion:berselubung, diameter 90-120 nm Replikasi ARN terjadi di inti dan sitoplasma dan morfogenesisnya terjadi melalui proses budding di membran plasma nukleokapsid berbentuk heliks,

 Retroviridae     

ARN: rantai ganda, segmen berganda Virion:tak berselubung, kapsidnya dua lapis bersimetri ikosahedral, diameter 60-80 nm Replikasi dan morfogenesisnya terjadi sitoplasma

ARN: rantai tungal Virion:berselubung, simetri kapsid ikosahedral, diameter 80-130 nm Morfogenesisnya terjadi melalui proses budding di membran plasma

Tabel 2 Virus dengan Genom ADN

Famili Adenoviridae
 

Sifat Penting
ADN: rantai ganda, segmen tunggal Virion: tak berselubung, simetri kapsid ikosahedral,

173

diameter 70-90 nm  Replikasi dan morfogenesisnya terjadi di inti sel

Herpesviridae 
 

ADN: rantai ganda, segmen tunggal Virion: berselubung, simetri kapsid ikosahedral, diameter 15-200 nm Replikasi terjadi di inti sel, morfogenesisnya terjadi melalui proses budding di membran inti

Hepadnaviridae

 

ADN: rantai ganda (bagian terbesar), rantai tunggal (bagian kecil, diujung molekul ADN), segmen tunggal Virion: berselubung (HbsAg), diameter 42 nm, tersusun atas selubung (HbsAg) dan nukleokapsid. Dalam nukleokapsid terdapat core (HbcAg) dan protein penting lain (HbeAg)

Replikasi terjadi di hepatosid terjadi di inti sel, seedangkan HbsAg dibuat di sitoplasma.

Papovaviridae
   ADN: rantai ganda, segmen tunggal sirkuler Virion: tak berselubung, diameter 45 nm (polyomavirus) Replikasi dan morfogenesisnya terjadi di inti sel

Parvoviridae

  

ADN: rantai tunggal, segmen tunggal Virion: tak berselubung, simetri kapsid ikosahedral, diameter 18-26 nm Replikasi dan morfogenesisnya terjadi di inti sel, memerlukan bantuan sel hospes.

Poxviridae

  

ADN: rantai ganda, segmen tunggal Virion: berselubung, bentuk seperti batu bata dan merupkan virus dengan diameter terbesar. Replikasi dan morfogenesisnya terjadi di sitoplasma. Hasil morfogenesis dapat berupa virial berselubung atau tidak

174

10.2.4 Penyakit-penyakit yang Disebabkan oleh Virus Virus berbeda dengan mikroba yang lainnya. Virus berkembangbiak pada sel hidup dan tidak pada lingkungan ekstraseluler. Virus bersifat patogen pada hospes tertentu jika virus tersebut dapat menginfeksi dan menimbulkan penyakit pada hospes tersebut. Apabila hospes tidak mendukung perkembangbiakan virus, maka infeksi akan abortif, tetapi sebaliknya bila sel hospes mendukung dan cocok untuk perkembangbiakan virus, maka akan menyebabkan lisis dan kematian sel disebut dengan infeksi sitolitik, bila menetap di dalam sel disebut dengan infeksi persisten. Persistensi di bagi menjadi dua macam yaitu: 1) infeksi persisten produktif, merupakan bentuk infeksi persisten dimana morfogenesis virus dapat ditemukan dan 2) bentuk laten apabila tidak ditemukan pada saat morfogenesis virus. Proses infeksi virus dapat melalui berbagai macam jaringan tubuh seperti saluran pernapasan, saluran pencernaan, kulit mukosa dan lain sebagainya. Di bawah ini port d’ entree virus diberbagai jaringan tubuh. 1. port d’ entree Saluran Pernapasan Virus yang menginfeksi melalui saluran pernapasan, maka penyakit yang ditimbulkan dapat bersifat setempat, seperti pada virus influenza, virus parainfluenza, virus rubeola dan coronavirus atau penyakit di tempat lain seperti virus variola, virus varicella bahkan ada yang bersifat tumorigenik sperti virus papilloma. 2. port d’ entree Saluran Pencernaan Virus tak berselubung ternyata masih tetap infektif setelah lewat cairan lambung dan empedu. Virus tersebut ada yang hanya menimbulkan penyakit setempat seperti Rotavirus, Norwalk agent, pararotavirus. Ada pula yang menyebar ketempat lain seperti hepatitis dan virus imunodefisiensi manusia. 3. port d’ entree Kulit dan Mukosa Genetalia

175

Virus masuk ke dalam sel-sel mukosa melalui (mikro) lesi. Pada kulit dapat terjadi melalui gigitan Artropoda. Sebagian virus yang masuk melalui mukosa menimbulkan kelainan setempat seperti virus herpes simplex, virus papilloma, virus Orf dan sebagainya. Lebih umum terjadi kelainan kulit sebagai akibat penyebab sistemik virus. 4. port d’ entree Plasenta Virus dapat mencapai plasenta apabila ibu mengalami viremia. Virus dapat berkembangbiak dahulu dalam jaringan plasenta atau langsung masuk ke dalam jaringan janin. Kelainan yang terjadi tergantung pada jenis virus dan usia kehamilan. Virus yang banyak dikaitkan dengan kelainan kongenital adalah virus rubella,cytomegalovirus dan kadang-kadang virus varicella. 10.2.5 Virus dan Kanker Virus dapat menyebabkan kanker tetapi tidak semua penyakit kanker disebabkan oleh virus. Virus yang induksi kanker disebut dengan virus onkogenik. Pada golongan virus ARN famili Retroviridae yang menyebabkan kanker pada hewan.

10.2.6 Zat-zat Kimia yang Menghambat Pertumbuhan Virus Zat-zat kimia yang dapat menghambat (antivirus) antara lain adalah: Interferon, Rifampisin, Cytarabine, Dactinimycin, Asam fosfoasetat, Acyclovir, Amantadine dan Rimantadin 10.3 Mikologi Diantara tumbuhan rendah, maka golongan ganggang (alga) dan golongan fungi merupakan kelanjutan dari golongan bakteri. Tetapi ada juga menganggap bahwa fungi sebenarntya ganggang yang kehilangan klorofilnya. Ilmu yang membahas tentang fungi disebut dengan mikologi. Sedangkan fungi tingkat rendah (mirofungi) masuk dalam mikrobiologi. 10.3.1 Morfologi Fungi Fungi tingkat tinggi maupun tingkat rendah mempunyai ciri khas, yakni berupa benang tunggal atau becabang-cabang yang disebut dengan hifa. Kumpulan dari hifa-hifa akan membentuk misellium. Fungi merupakan organisme eukariotik, yang mempunyai ciri-ciri senagai berikut: 1. Mempunyai spora

176

2. 3. 4. 5.

Memproduksi spora Tidak mempunyai klorofil sehingga tidak berfotosintesis Dapat berkembangbiak secara seksual dan aseksual. Tubuh berfilamen dan dinding sel mengandung kitin, glukosa, selulosa dan manan. Fungi dibagi menjadi dua golongan yakni kapang dan khamir. Kapang

merupakan fungi yang berfilamen atau mempunyai miselium, sedangkan khamir merupakan funggi bersel tunggal dan tak berfilamen. Fungi ada yang bersifat parasit dan ada pula bersifat saprofit. Parasit apabila dalam memenuhi kebutuhannya makannya dengan mengambil dari benda hidup yang ditumpanginya, sedangkan bersifat saprofit apabila memperoleh makanan dari benda mati dan tidak merugikan benda itu sendiri.

10.3.2 Kapang 1. Morfologi Kapang Fungi multiseluler atau kapang mempunyai misellium atau filamen. Kapang dapat dibedakan menjadi dua kelompok berdasarkan struktur hifanya, yaitu hifa tidak bersekat atau nonseptat dan hifa bersekat atau septat yang membagi hifa dalam mangan-mangan, dimana setiap mangan mempunyai inti (nukleus) satu atau lebih. Dinding penyekat pada kapang disebut dengan septum yang tidak tertutup rapat sehingga sitoplasma masih dapat bebas bergerak dari satu ruang ke ruang lainnya. Kapang bersepta yaitu terutama kelas Ascomycetes, Basidiomycetes dan Deuteromycetes. Sedangkan kapang tak berseptat yakni kelas Phycomycetes (Zygomycetes dan Oomycetes). Kapang yang tak bersepta intinya tersebar disepanjang septa. 2. Sistem Reproduksi Kapang Secara alamiah kapang berkembangbiak dengan berbagai cara, baik aseksual dengan pembelahan, penguncupan atau pembentukan spora, sedangkan dengan seksual yaitu dengan peleburan nukleus dari kedua induknya. Ada beberapa macam spora aseksual, yaitu:  Spora yang berkelompok kecil, disebut dengan sporangium

177

  

Spora yang terjadi dari ujung hifa yang terbelah-belah seperti tasbih, disebut dengan konidia Klamidospora dari bagian misellium yang dapat membesar serta berdinding tebal Oidospora spora yang serupa telur Perkembangbiakan secara generatif atau seksual dilakukan dengan

isogamet atau heterogamet. Tapi pada beberapa species mempunyai perbedaab gamet besar dan kecil sehingga disebut mikrogamet (sel kelamin jantan) dan makrogamet (sel kelamin betina).

3.

Sifat Fisiologi Kapang Kapang dapat hidup dalam keadaan sekitar yang tak menguntungkan bila

dibanding dengan mikrobe lainnya. Adapun sifat fisiologis kapang antara lain:  Kebutuhan Air Kebanyakan kapang membutuhkan air (aw) minimal untuk pertumbuhan dibandingkan dengan khamir atau bakteri.  Suhu Pertumbuhan Kebanyakan kapang bersifat mesofilik yaitu mampu tumbuh baik pada suhu kamar. Suhu optimum kapang adalah sekitar 25o C samapi 30o C, tetapi ada beberapa dapat tumbuh pada suhu 35o C sampai 37o C, misalnya Aspergillus.  Kebutuhan Oksigen dan pH Semua kapang aerobik yakni membutuhkan oksigen dalam pertumbuhannya dan hidup pada pH yang luas berkisar 2 – 8,5, tapi akan lebih baik pada kondisi pH rendah.  Nutrisi Kapang dapat menggunakan berbagai komponen makanan dari yang sederhana sampai yang kompleks.  Komponen Penghambat Beberapa kapang mengeluarkan komponen yang dapat menghambat pertumbuhan organisme lain, komponen ini disebut dengan antibiotik, contohnya Penicillium. 4. Beberapa Jenis Kapang yang Penting

178

Ada berbagai macam yang penting untuk diketahui karena ada yang penting untuk kehidupan sehari-hari, dan penting karena bersifat merugikan.  Rhizopus Disebut juga kapang roti karena sering tumbuh dan menyebabkan kerusakan pada roti yaitu Rhizopus stolonifer, Rhizopus nigricans. Selain merusak makanan Rhizopus dibuat juga untuk pembuatan beberapa makanan fermentasi tradisional seperti Rhizopus oligisporus dan Rhizopus oryzae yang digunakan dalam pembuatan berbagai macam tempe dan oncom hitam.  Aspergillus Kebanyakan species ini sering menyebabkan kerusakan makanan, contohnya Aspergillus repens yang mampu tumbuh baik pada substrat dengan konsentrasi gula dan garan tinggi. Tetapi beberapa species digunakan dalam fermentasi makanan, contohnya Aspergillus oryzae digunakan dalam fermentasi tahap pertama pada pembuatan kecap dan tauco.  Penicillium Kapang ini banyak tersebar di alam dan penting dalam mikrobiologi pangan. Penicillium menyebabkan kerusakan pada bahan sayuran, buah-buahan (Penicillium expanum :biru-hijau pada buah busuk) dan serealia, tetapi juga digunakan untuk industri misalnya untuk antibiotik penisilin (Penicillium notatum dan Penicillium chysogenum). Kegunaan lain untuk pematangan keju, misalnya keju Camembert (Penicillium camemberti)  Fusarium Kapang dari golongan Fusarium sering tumbuh pada bahan pangan, dan sulit untuk diidentifikasi karena penampakan pertumbuhannya bervariasi.  Cladosporium Cladosporium sering menimbulkan bintik-bintik hitam pada berbagai bahan pangan, termasuk udang beku dan pada dinding dan langit-langit rumah. 5. Identifikasi Kapang Identifikasi kapang biasanya dilakukan dengan melihat morfologi, terutama secara mikroskopik. Sifat-sifat yang digunakan untuk identifikasi kapang adalah:  Hifa bersepta atau non septat

179

  

Miselium terang atau keruh Miselium berwarna atau tidak berwarna Penampakan mikroskopik spora aseksual, terutama konidia: bentuk, ukuran, warna, halus atau kasar, satu atau banyak sel.

6.

Mikotoksin Kapang Seperti halnya bakteri, fungi juga menimbulkan penyakit yang dibedakan

menjadi dua golongan, yaitu: 1) mikotosis, infeksi kapang dan 2) mikotoksikosis yaitu gejala keracunan yang disebabkan tertelannya suatu hasil metabolisme beracun dari kapang atau jamur. Senyawa racun yang diproduksi oleh fungi disebut dengan mikotoksin. 10.3.3 Khamir Khamir termasuk cendawan, tetapi berbeda dengan kapang karena bentuknya yang uniselular. Reproduksi vegetatif terjadi dengan cara pertunasan. Sebagai sel tunggal khamir tumbuh dan berkembang biak lebih cepat dibanding kapang yang tumbuh dengan pembentukan filamen. Khamir juga lebih efektif dalam memecah komponen kimia dibanding kapang, karena mempunyai perbandingan luas permukaan dengan volume yang lebih besar. Khamir lebih besar ukurannya dari bakteri juga berbeda morfologinya. 1. Morfologi Khamir Sel kamir mempunyai ukuran bervariasi, yaitu dengan panjang 1-5 mm sampai 20-50 mm dan lebar 1-10 mm. Bentuk khamir bermacam-macam, yaitu bulat, oval (Saccharomyces), sillinder, ogival (bulat panjang dengan salah satu ujung runcing), segitiga melengkung, berbentuk botol, apikulat atau lemon (Hanseniaspora). Ukuran dan bentuk sel khamir dalam kultur yang sama mungkin berbeda karena pengaruh perbedaan umur dan kondisi lingkungan selama pertumbuhan.

2.

Sitologi Khamir Mikrostruktur dari khamir terdiri dari kapsul, dinding sel, membran

sitoplasma, nukleus, atu atau lebih vakuola, mitikondria, globula lipid, volutin dan sitoplasma.  Kapsul

180

Beberapa khamir ditutupi oleh komponen ekstraseluler yang berlendir yang dinamakan kapsul yang menutupi bagian luar dinding sel terutama terdiri dari polisakarida.  Dinding Sel Dinding sel khamir pada sel-sel yang masih muda sangat tipisdan semakin lama semakin tebal jika sel semakin tua. Pada dinding sel terdapat struktur yang disebut bekas lahir (birt scar) dan bekas tunas (bud scar). Bekas lahir adalah sebuah tanda pada dinding sel yang timbul sebagai akibat pembentukan sel dari sel induknya melalui pertunasan. Karena itu setiap anak sel hanya mempunyai satu bekas lahir. Bekas tunas terbentuk jika sel tersebut telah membentuk satu atau lebih anak sel melalui pertunasan. Dinding sel khamir yang paling banyak diteliti adalah dinding sel Saccharomyces, terdiri dari komponen-komponen sebagai berikut: Glukan atau selulosa, mannan, protein, khitin dan lipid.  Membran Sitoplasma Membran sitoplama terdapat di sebelah dalam dinding sel, dengan tebal kurang lebih 8 mm. Membran berperan penting dalam permeabilitas selektif dan dalam trasport nutrien ke dalam sel dan dalam pelepasan hasil-hasi lmetabolisme ke luar sel. Membran ini tersusun oleh protein, asam ribonukleat dan lipid.  Nukleus Inti sel dikelilingi membran inti yang berlapis ganda. Membran inti mempuntai pori-pori yang berfungsi sebagai jalan pertukaran komponenkomponen sitoplasma dengan komponen di dalam nukleus. Bila sel khamir

mengalami pembelahan atau pertunasan, kumpulan kromosom (kromatin) akan menjadi dua.  Vakuola Biasanya berjumlah satu atau lebih dengan ukuran yang bervariasi. Vakuola ini berupa kantung dari suatu cairan yang lebih bening dan lebih encer dibandingkan dengan sitoplasma. Vakuola dapat diwarnai dengan merah netral sehinga dapat berwarna merah muda dan mudah dibedakan dengan sitoplasma yang tidak berwarna.  Mitokondria

181

Organel ini panjangnya 0,4-0,6 mm dan diameternya 0,2-0,3 mm dan berfungsi dalam proses respirasi khamir. Dilapisi oleh dua lapis membran dimana membran bagian dalam dinamkan krista.  Globula Lipid Khamir mengandung sedikit lipid, dalam bentuk globula yang dapat dilihat dengan mikroskop setelah diwarnai dengan pewarna lemak, pewarna hitam Sudan atau merah Sudan. Khamir roti dan species Saccharomyces lainnya mengandung lipid dalam jumlah yang sangat sedikit.  Sitoplasma Sitoplasma khamir mengandung berbagai komponen, yakni glikogen yang merupakan bentuk penyimpanan karbohidrat, asam ribonukleat dan protein.

3. Sistem Reproduksi Khamir Reproduksi dengan cara pertunasan, pembelahan, pembelahan tunas dan pembentukan spora aseksual dinamakan reproduksi vegetatif sedangkan pembentukan spora seksual disebut dengan reproduksi seksual.  Pertunasan Sel Pertunasan merupakan cara reproduksi paling umum dilakukan oleh khamir. Proses pertunasan dimulai melalui suatu saluran yang terbentuk dari vakuola di dekat nukleus menuju dinding sel yang terdekat dengan vakuola. Karena adanya penipisan dinding sel, maka protoplasma akan menonjol keluar kemudian membesar dan terisi komponen-komponen nukleus dan sitoplasma dari inangnya melalui saluran yang terbentu tersebut. Tunas terus tumbuh dan membentuk dinding sel baru dan juka ukuran tunas sudah hampir sama besar dengan inangnya, komponen inti akan terpisah menjadi dua.  Pembelahan Sel Pembelahan sel atau pembelahan binner, mula-mula sel khamir membengkak atau memanjang, kemudian nukleus terbagi menjadi dua dan terbentuk septa atau dinding penyekat tanpa mengubah dinding sel. Setelah nukleus terbagi menjadi dua, septa terbagi menjadi dua dinding dan kedua sel melepaskan diri satu sama lain.  Pembelahan Tunas

182

Reproduksi vegetatif dengan cara membelah tunas, yakni gabungan antara pertunasan dengan pembelahan. Mula-mula terbentuk tunas, tetapi tempat melekatnya tunas pada induk sel relatif besar, kemudian terbentuk septa yang memisahkan tunas dari induknya.  Pembentukan Spora Aseksual Terjadi melalui pembentukan spora dibedakan atas beberapa macam yaitu: 1) Blastospora membentuk kumpulan tunas menempel pada sel yang memanjang, 2) Balliospora, tumbuh pada ujung sel yang meruncing satu demi satu dilepaskan dengan tekanan, 3) Khlamidospora, bentuk spora istirahat yang mempunyai dinding sel tebal.  Pembentukan Spora Seksual Spora seksual terdiri dari basidiospora dan askospora. Khamir dibedakan atas dua kelompok berdasarkan jumlah kromosom di dalam inti sel yakni 1) khamir diploid dan 2) khamir haploid. Inti sel pada khamir diploid terbentuk dari pengabungan inti dua sel haploid atau dua askospora, karena itu mengandung kromoson 2n. 4. Sifat Fisiologi Khamir Khamir kebanyakan tumbuh paling baik dengan kondisi air yang cukup (0,880,94 aw), tapi bisa juga dengan aktivitas air yang rendah (0,62-0,65 aw). Khamir juga dapat tumbuh pada medium dengan gula atau garam yang tinggi. Kisaran suhu untuk pertumbuhan kebanyakan khamir pada umumnya hampir sama dengan kapang 25-30oC dan suhu maksimum 35-47o C, tetapi beberapa khamir dapat tumbub pada suhu 0o C. Kebanyakan khamir dapat tumbuh pada pH 4-4,5 dan tidak dapat tumbuh dengan baik pada medium alkali. Khamir tumbuh baik dalam keadaan aerobik, tetapi yang bersifat fermentasi dapat tumbuh secara anaerobik meskipun lambat. 5. Klasifikasi dan Identifikasi Khamir Sifat-sifat penting yang digunakan untuk identifikasi dan klasifikasi khamir adalah sebagai berikut:    Sifat-sifat fisiologi Sifat-sifat morfologi Sifat-sifat kultur

183

 6.

Sifat Reproduksi seksual Pengunaan Khamir dalam Kehidupan Sehari-hari Penggunaan khamir dalam industri yaitu diantaranya adalah pembuatan

alkohol, bir, anggur, brem dengan cara proses fermentasi. Selain itu diperlukan dalam industri roti dengan proses fermentasi yang menhasilkan CO2 secara cepat sehingga membuat lubang-lubang pada roti dan mengembangkan roti. 10.4 Fikologi Organisme ini mengandung klorofil serta pigmen lain untuk

melangsungkan fotosintesis, tersebar luas di alam terutama di lingkungan yang terkena sinar matahari. Kebanyakan alga bersifat mikrokopis dan telaah mengenai alga disebut dengan fikologi atau algologi.

10.4.1 Morfologi Alga Banyak species alga dalam bentuk sebagai sel tunggal yang dapat berbentuk bola, batang atau kumparan. Ada yang dapat bergerak ada juga yang tidak, disamping itu ada species yang membentuk koloni. Alga mengandung inti yang dibatasi oleh membran sehingga digolongkan Protista eukariotik.

10.4.2 Fisiologi Alga Alga dalah organisme aerobik fotosintetik, ada yang hidup di salju atau juga suhu tinggi sampai 70 derajat Celcius. Alga marin menyesuaikan diri terhadap variasi konsentrasi garam di berbagai bagian laut. Alga marin dapat dijumpai pada kedalaman 183 m. Alga mempunyai 3 pigmen fotosintetik yakni klorofil (klorofil a, b, c, d dan e) karotenoid (karotin dan xantofil) dan fikobilin (fikosianin dan fikoeritrin). Sebagai hasil fotosintesis alga menyimpan berbagai produk makanan cadangan sebagai granula atau globula dalam sel-selnya. 10.4.3 Reproduksi Alga Alga berkembangbiak dengan cara aseksual dan seksual. Reproduksi aseksual mencakup pembelahan binner sederhana. Semua bentuk reproduksi

seksual dijumpai pada semua alga. Dalam proses ini terjadi kojugasi gamet yang akan menghasilkan zigot. Jika gamet-gamet itu morfologinya serupa disebut

184

dengan isogami, jika gamet-gamet itu berbeda ukurannya dinamakan heterogami. Jika gamet jantan dan betina terdapat pada individu yang sama maka species itu disebut dengan biseksual, jika gamet jantan dan betina dibentuk oleh individu yang berlainan disebut uniseksual . 10.4.4 Alga dalam Kehidupan Manusia Banyak alga yang mengandung vitamin A dan D, bila dimakan oleh ikan maka vitamin-vitamin itu disimpan di dalam organ (hati). Ganggang hijau mengandung vitamin B1, vitamin C dan vitamin K yang cukup besar. Alga dimanfaatkan sebagai makanan misalnya agar-agar. Sedangkan alga coklat dapat diekstraksi alginat yang banyak di pakai dalam makanan dan produkproduk farmasi.

10.5 Protozologi Protozoa berasal dari bahasa Yunani yang berarti hewan pertama. Ilmu yang menelaah tentang protozoa disebut dengan protozologi. Protozoa berperan sebagai mata rantai penting dalam rantai makanan untuk komunitas dalam lingkungan aquatik, misalnya perairan laut yang terdapat zooplankton dan fitoplakton, pada gilirannya mereka menjadi makanan organisme laut yang besar. Hal tersebut penting dalam keseimbangan ekologis. 10.5.1 Morfologi Protozoa Ukuran dan bentuk protozoa sangat beragam, beberapa ada yang berbentuk lonjong, bola atau polimorfik (mempunyai berbagai bentuk morfologi pada tingkat-tingkat yang berbeda pada daur hidupnya). Beberapa protozoa berdiameter lebih kurang 1-2 mm. Sel protozoa terdiri dari membran sitoplasma yakni ektoplasma (lapisan luar sitoplasma) dan endoplasma (bagian dalam sitoplasma). Setiap sel protozoa memiliki satu inti. Tetapi banyak protozoa mempunyai inti rangkap disebagian besar siklus hidupnya. Pada Ciliata terdapat satu makronukleus (yang berfungsi mengawasi kegiatan metabolisme dan pertumbuhan juga proses regenerasi) dan satu mikronukleus kecil yang mengendalikan kegiatan reproduksi.

185

Pelikel adalah lapisan yang meliputi membran sitoplasma sel, kemudian ada lapisan di luar pelikel yang disebut dengan cangkang atau cangkerang yang terdiri dari bahan organik dan diperkuat dengan bahan anorganik (kalsium karbonat atau silikat). 10.5.2 Klasifikasi Protozoa Filum Protozoa bisa dibagi menjadi empat kelas berdasarkan bentuk gerak alihnya, dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel .. Kelas Utama Protozoa

Kelompo k Utama
Sarcodina

Cara Gerak

Cara Berkembangbiak

Ciri-ciri lain

Pseudopodia

Pembelahan binner

Hidup

bebas,

heterotropik Flagelata Flagelata Pembelahan binner Fototropik, heterotropik atau keduanya Ciliata Silia Pembelahan melintang, konjugasi Sporozoa Dengan atau diam meluncur Pembelahan bahurangkap, Parasit seksual binner Hidup bebas,

membujur, beberapa seksual

dgn heterotropik

beberpa seksual

Latihan Untuk memperdalam pemahaman anda tentang materi di atas, kerjakanlah soal-soal latihan berikut: 1. Apa yang anda ketahui tentang bakteriologi. 2. Apa yang anda ketahui tentang virologi. 3. Apa yang anda ketahui tentang mikologi. 4. Apa yang anda ketahui tentang fikologi. 5. Apa yang anda ketahui tentang protozologi.

186

Rangkuman 1. Bakteriologi Nama bakteri berasal dari bahasa Yunani yaitu “ bacterion” yang berarti batang atau tongkat. Bakteri berkembangbiak dengan membelah diri dan karena begitu kecil hanya dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop. Bakteri walaupun bersel satu tetapi mempunyai beberapa organel yang dapat melaksanakan beberapa fungsi hidup. Satuan ukuran tubuh bakteri adalah mikrometer atau mikron. Lebar tubuh umumnya antara 1-2 m, sedangkan panjangnya atara 2-5 mikron. Bakteri berbentuk kokus ada yang berdiameter 0,5 mikron ada pula yang berdiameter sampai 2,5 mikron. Sedangkan bakteri berbentuk basil ada yang lebarnya 0,2-2 mikron. Pada umumnya bakteri yang berumur 3-6 jam lebih besar daripada bakteri yang umurnya lebih daripada 24 jam. Secara garis besar bentuk tubuh bakteri dapat dikelompokkan dalam 3 golongan yaitu: basil (bacillus), kokus (coccus), spiril (spirillium). 2. Virologi Virologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang virus. Kata virus berasal dari bahasa latin yang berarti racun. Virus adalah organisme yang sangat kecil dan jauh lebih kecil dari bakteri. Virus ini dapat menembus saringan bakteri dan hanya dapat disaring dengan menggunakan saringan porselin. - Bentuk dan Ukuran Virus Bentuk virus sangat bervariasi. Ada yang bebentuk bulat. Oval, memanjang, silindris dan ada juga yangberbentuk T. Ukuran tubuh sangat kecil dan bervariasi yaitu kira-kira antara 300 x 250 x 100 nm sampai Provirus yang kira-kira berdiameter 20 nm. Nama famili virus ditandai dengan viridae. Anggota famili mempunyai sifat umum sama dan tidak banyak berubah. Nama subfamili diberi akhiran virinae. Nama akhiran genus diberi akhiran virus. Penamaan virus tidak

mengikuti penamaan binomial seperti pada penamaan bakteri Linnaeus. 3. Mikologi Di antara tumbuhan rendah, maka golongan ganggang (alga) dan golongan fungi merupakan kelanjutan dari golongan bakteri. Tetapi ada juga menganggap

187

bahwa fungi sebenarntya ganggang yang kehilangan klorofilnya. Ilmu yang membahas tentang fungi disebut dengan mikologi. Sedangkan fungi tingkat rendah (mirofungi) masuk dalam mikrobiologi.Fungi tingkat tinggi maupun tingkat rendah mempunyai ciri khas, yakni berupa benang tunggal atau becabangcabang yang disebut dengan hifa. Kumpulan dari hifa-hifa akan membentuk misellium. Fungi merupakan organisme eukariotik, yang mempunyai ciri-ciri senagai berikut: mempunyai spora, memproduksi spora, tidak mempunyai klorofil sehingga tidak berfotosintesis, dapat berkembangbiak secara seksual dan aseksual, tubuh berfilamen dan dinding sel mengandung kitin, glukosa, selulosa dan manan. Fungi dibagi menjadi dua golongan yakni kapang dan khamir. Kapang merupakan fungi yang berfilamen atau mempunyai miselium, sedangkan khamir merupakan funggi bersel tunggal dan tak berfilamen. 4. Fikologi Organisme ini mengandung klorofil serta pigmen lain untuk

melangsungkan fotosintesis, tersebar luas di alam terutama di lingkungan yang terkena sinar matahari. Kebanyakan alga bersifat mikrokopis dan telaah mengenai alga disebut dengan fikologi atau algologi. Banyak species alga dalam bentuk sebagai sel tunggal yang dapat berbentuk bola, batang atau kumparan. Ada yang dapat bergerak ada juga yang tidak, disamping itu ada species yang membentuk koloni. Alga mengandung inti yang dibatasi oleh membran sehingga digolongkan Protista eukariotik. Alga dalah organisme aerobik fotosintetik, ada yang hidup di salju atau juga suhu tinggi sampai 70 derajat Celcius. Alga marin menyesuaikan diri terhadap variasi konsentrasi garam di berbagai bagian laut. Alga marin dapat dijumpai pada kedalaman 183 m. Banyak alga yang mengandung vitamin A dan D, bila dimakan oleh ikan maka vitamin-vitamin itu disimpan di dalam organ (hati). Ganggang hijau mengandung vitamin B1, vitamin C dan vitamin K yang cukup besar. Alga dimanfaatkan sebagai makanan misalnya agar-agar. Sedangkan alga coklat dapat diekstraksi alginat yang banyak di pakai dalam makanan dan produkproduk farmasi. 5. Protozologi

188

Protozoa berasal dari bahasa Yunani yang berarti hewan pertama. Ilmu yang menelaah tentang protozoa disebut dengan protozologi. Protozoa berperan sebagai mata rantai penting dalam rantai makanan untuk komunitas dalam lingkungan aquatik, misalnya perairan laut yang terdapat zooplankton dan fitoplakton, pada gilirannya mereka menjadi makanan organisme laut yang besar. Hal tersebut penting dalam keseimbangan ekologis. Ukuran dan bentuk protozoa sangat beragam, beberapa ada yang berbentuk lonjong, bola atau polimorfik (mempunyai berbagai bentuk morfologi pada tingkat-tingkat yang berbeda pada daur hidupnya). Beberapa protozoa berdiameter lebih kurang 1-2 mm. Sel protozoa terdiri dari membran sitoplasma yakni ektoplasma (lapisan luar sitoplasma) dan endoplasma (bagian dalam sitoplasma). Setiap sel protozoa memiliki satu inti. Tetapi banyak protozoa mempunyai inti rangkap disebagian besar siklus hidupnya. Pada Ciliata terdapat satu makronukleus (yang berfungsi mengawasi kegiatan metabolisme dan pertumbuhan juga proses regenerasi) dan satu mikronukleus kecil yang mengendalikan kegiatan reproduksi. Pelikel adalah lapisan yang meliputi membran sitoplasma sel, kemudian ada lapisan di luar pelikel yang disebut dengan cangkang atau cangkerang yang terdiri dari bahan organik dan diperkuat dengan bahan anorganik (kalsium karbonat atau silikat). C. Penutup a. Pertanyaan 1. Apa yang anda ketahui tentang bakteriologi. 2. Apa yang anda ketahui tentang virologi. 3. Apa yang anda ketahui tentang mikologi. 4. Apa yang anda ketahui tentang fikologi. 5. Apa yang anda ketahui tentang protozologi. b. Umpan balik Anda dapat menguasai materi ini dengan baik jika memperhatikan hal-hal sebagai berikut: Membaca bahan atau materi yang relevan dengan materi yang akan dibahas.

189

-

Aktif dalam tanya jawab dan diskusi. Mengerjakan latihan.

c. Tindak lanjut Apabila mahasiswa dapat menyelesaikan 80% pertanyaan di atas, maka mahasiswa tersebut dapat melanjutkan ke bab selanjutnya. Jika ada di antara mahasiswa ada yang belum mencapai penguasaan 80% dianjurkan untuk:   Mempelajari kembali topik di atas dari awal. Berdiskusi dengan teman terutama hal-hal yang belum dikuasai.

- Bertanya kepada Dosen jika ada hal-hal yang tidak jelas dalam penyampaian materi atau diskusi.

d. Kunci Jawaban 1. Bakteriologi Nama bakteri berasal dari bahasa Yunani yaitu “ bacterion” yang berarti batang atau tongkat. Bakteri berkembangbiak dengan membelah diri dan karena begitu kecil hanya dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop. Bakteri walaupun bersel satu tetapi mempunyai beberapa organel yang dapat melaksanakan beberapa fungsi hidup. Satuan ukuran tubuh bakteri adalah mikrometer atau mikron. Lebar tubuh umumnya antara 1-2 m, sedangkan panjangnya atara 2-5 mikron. Bakteri berbentuk kokus ada yang berdiameter 0,5 mikron ada pula yang berdiameter sampai 2,5 mikron. Sedangkan bakteri berbentuk basil ada yang lebarnya 0,2-2 mikron. Pada umumnya bakteri yang berumur 3-6 jam lebih besar daripada bakteri yang umurnya lebih daripada 24 jam. Secara garis besar bentuk tubuh bakteri dapat dikelompokkan dalam 3 golongan yaitu: basil (bacillus), kokus (coccus), spiril (spirillium). 2. Virologi Virologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang virus. Kata virus berasal dari bahasa latin yang berarti racun. Virus adalah organisme yang sangat kecil dan jauh lebih kecil dari bakteri. Virus ini dapat menembus saringan bakteri dan hanya dapat disaring dengan menggunakan saringan porselin.

190

- Bentuk dan Ukuran Virus Bentuk virus sangat bervariasi. Ada yang bebentuk bulat. Oval, memanjang, silindris dan ada juga yangberbentuk T. Ukuran tubuh sangat kecil dan bervariasi yaitu kira-kira antara 300 x 250 x 100 nm sampai Provirus yang kira-kira berdiameter 20 nm. Nama famili virus ditandai dengan viridae. Anggota famili mempunyai sifat umum sama dan tidak banyak berubah. Nama subfamili diberi akhiran virinae. Nama akhiran genus diberi akhiran virus. Penamaan virus tidak

mengikuti penamaan binomial seperti pada penamaan bakteri Linnaeus. 3. Mikologi Di antara tumbuhan rendah, maka golongan ganggang (alga) dan golongan fungi merupakan kelanjutan dari golongan bakteri. Tetapi ada juga menganggap bahwa fungi sebenarntya ganggang yang kehilangan klorofilnya. Ilmu yang membahas tentang fungi disebut dengan mikologi. Sedangkan fungi tingkat rendah (mirofungi) masuk dalam mikrobiologi.Fungi tingkat tinggi maupun tingkat rendah mempunyai ciri khas, yakni berupa benang tunggal atau becabangcabang yang disebut dengan hifa. Kumpulan dari hifa-hifa akan membentuk misellium. Fungi merupakan organisme eukariotik, yang mempunyai ciri-ciri senagai berikut: mempunyai spora, memproduksi spora, tidak mempunyai klorofil sehingga tidak berfotosintesis, dapat berkembangbiak secara seksual dan aseksual, tubuh berfilamen dan dinding sel mengandung kitin, glukosa, selulosa dan manan. Fungi dibagi menjadi dua golongan yakni kapang dan khamir. Kapang merupakan fungi yang berfilamen atau mempunyai miselium, sedangkan khamir merupakan funggi bersel tunggal dan tak berfilamen. 4. Fikologi Organisme ini mengandung klorofil serta pigmen lain untuk

melangsungkan fotosintesis, tersebar luas di alam terutama di lingkungan yang terkena sinar matahari. Kebanyakan alga bersifat mikrokopis dan telaah mengenai alga disebut dengan fikologi atau algologi. Banyak species alga dalam bentuk sebagai sel tunggal yang dapat berbentuk bola, batang atau kumparan. Ada yang dapat bergerak ada juga yang

191

tidak, disamping itu ada species yang membentuk koloni. Alga mengandung inti yang dibatasi oleh membran sehingga digolongkan Protista eukariotik. Alga dalah organisme aerobik fotosintetik, ada yang hidup di salju atau juga suhu tinggi sampai 70 derajat Celcius. Alga marin menyesuaikan diri terhadap variasi konsentrasi garam di berbagai bagian laut. Alga marin dapat dijumpai pada kedalaman 183 m. Banyak alga yang mengandung vitamin A dan D, bila dimakan oleh ikan maka vitamin-vitamin itu disimpan di dalam organ (hati). Ganggang hijau mengandung vitamin B1, vitamin C dan vitamin K yang cukup besar. Alga dimanfaatkan sebagai makanan misalnya agar-agar. Sedangkan alga coklat dapat diekstraksi alginat yang banyak di pakai dalam makanan dan produkproduk farmasi. 5. Protozologi Protozoa berasal dari bahasa Yunani yang berarti hewan pertama. Ilmu yang menelaah tentang protozoa disebut dengan protozologi. Protozoa berperan sebagai mata rantai penting dalam rantai makanan untuk komunitas dalam lingkungan aquatik, misalnya perairan laut yang terdapat zooplankton dan fitoplakton, pada gilirannya mereka menjadi makanan organisme laut yang besar. Hal tersebut penting dalam keseimbangan ekologis. Ukuran dan bentuk protozoa sangat beragam, beberapa ada yang berbentuk lonjong, bola atau polimorfik (mempunyai berbagai bentuk morfologi pada tingkat-tingkat yang berbeda pada daur hidupnya). Beberapa protozoa berdiameter lebih kurang 1-2 mm. Sel protozoa terdiri dari membran sitoplasma yakni ektoplasma (lapisan luar sitoplasma) dan endoplasma (bagian dalam sitoplasma). Setiap sel protozoa memiliki satu inti. Tetapi banyak protozoa mempunyai inti rangkap disebagian besar siklus hidupnya. Pada Ciliata terdapat satu makronukleus (yang berfungsi mengawasi kegiatan metabolisme dan pertumbuhan juga proses regenerasi) dan satu mikronukleus kecil yang mengendalikan kegiatan reproduksi. Pelikel adalah lapisan yang meliputi membran sitoplasma sel, kemudian ada lapisan di luar pelikel yang disebut dengan cangkang atau cangkerang yang

192

terdiri dari bahan organik dan diperkuat dengan bahan anorganik (kalsium karbonat atau silikat). e. Referensi Jawetz. 1996. Mikrobiologi Kedokteran. Edisi 20. kedokteran EGC. Waluyo. 2004. Mikrobiologi Umum. UMM f. Senarai ektoplasma : lapisan luar sitoplasma endoplasma : bagian dalam sitoplasma Jakarta. Penerbit Buku

BAB XI PENGANTAR MIKROBIOLOGI TERAPAN
Deskripsi singkat Bab ini akan menguraikan tentang mikrobiologi kesehatan, mikrobiologi lingkungan, dan mikrobiologi pangan serta mikrobiologi industri. Relevansi Pembahasan ini akan sangat berhubungan mikrobiologi terapan. Mahasiswa akan mengetahui berbagai macam mikrobiologi terapan. Kompetensi Dasar Mahasiswa dapat menjelaskan pengantar mikrobiologi terapan. B. Penyajian Uraian dan contoh 11.1 Mikrobiologi Kesehatan

193

Mikrobiologi kedokteran merupakan salah satu bidang mikrobiologi terapan yang mempelajari bentuk, sifat dan peranan nikroorganisme dibidang kesehatan, yang meliputi antara lain penyakit, imunisasi dan lain sebagainya. Penyakit menular pada umumnya disebabkan oleh mikrobe, baik bakteri, virus, jamur atau protozoa. Cara pemindah sebaran penyakit dapat melalui udara, makanan, air, infeksi nosokomial atau inkeksi asal artropoda. Beberapa istilah yang sering dipakai pada penyakit yaitu:    Patogenitas adalah kemampuan organisme untuk menimbulkan penyakit. Infeksi adalah saat mikroba menyerang hospes dengan memasuki jaringan tubuh dan berkembangbiak dalam jaringan. Virulensi adalah derajat kemampuan suatu mikroba untuk menyebabkan infeksi 11.1.1 Pemindahsebaran Melalui Udara Pemindahansebaran mikroba melalui udara sering dinamakan infeksi asal udara dan infeksinya ditularkan melalui udara. Wahana pemindahsebaran ini adalah tetesan air liur, sekresi pernapasan lain, debu tercemar dam fomit (benda mati yang tercemar oleh patogen dan membantu penyebarannya). Beberapa mikroorganisme yang disebarkan melalui udara, yakni:  Corybacterium diphteriae Bakteri ini terlokalisasi di tengorokan yang menjadi meradang bila bakteri tersebut tumbuh dan mengeluarkan eksotoksin yang ampuh. Hal ini menyebabkan sel-sel jaringan mati, bersama dengan lekosit, sel darah merah dan bakteri membentuk eksudat berwarna kelabu suram yang disebut dengan psudomembran. Di dalam psudomembran bakteri berkembang dan serta menghasilkan racun. Bila psudomembran meluas ke trakea, maka saluran napas penderita akan tersumbat dan penderita mengalami kesulitan napas. Penyakit dipteri baru tampak biasanya 2-5 hari sesudah penularan dengan tanda-tanda serak di leher dan demam, disertai dengan pembentukan selaput dan pembengkakaan kelenjar getah bening.  Sreptococcus pyogenes Disebarkan terutama melalui bersin dan batuk. Kuman ini dapat bertahan berminggu-minggu di dalam dahak atau sekresi tubuh yang lain, sehingga membantu penyebarannya. Kuman ini dapat menyebabkan penyakit misalnya

194

faringitis (tonsilitis) yang menyebabkan radang tenggorokan tanpa dahak, demam rematik (peradangan jaringan penghubung pada persendian dan organ).  Sreptococcus pneumoniae Merupakan 95 % penyakit pneumonia, gejalanya adalah demam, rasa menggigil, rasa sakit didaerah sekitar paru-paru.  Mycobacterium tubercolusis Penularan TBC terutama melalui dahak. TBC pada manusia menyerang jaringan tubuh manapun, tetapi yang paling umum terinfeksi adalah paru-paru.  Neisseria meningitidis Kuman ini penyebab utama meningitis (radang selaput otak dan sumsum tulang belakang). Pada manusia kuman dapat menular ke selaput otak lewat darah dari nosofaring.  Bordella pertussis Penularan penyakit pertusis dengan terisap droplet yang terinfeksi, kuman berkembangbik dalam saluran pernapasan, masa inkubasinya adalah 5-21 hari.  Influenza virus Virus ini hanya menyerang terbatas pada saluran pernapasan bagian atas, yang disebit dengan penyakit influenza. Gejalanya adalah demamn mengigil, pusing dan sakit pada otot-otot secara umum. Bila tidak ada komplikasi penderita akan sembuh dalam 3-7 hari. 11.1.2 Pemindahsebaran Melalui Makanan Pemindahansebaran melalui makanan terjadi dengan dua mekanisme yaitu: 1. 2. Mikroba yang terdapat dalam makanan menginfeksi hospes Mikroba mengeluarkan eksotoksin dalam makanan kemudian

menyebabkan penyakit keracunan makanan (mabuk makanan). Beberapa mikroorganisme yang disebarkan melalui makanan, yakni: * Salmonella Salmonelosis merupakan infeksi bakteri genus Salmonella yang menyerang gastrointestinal mencakup perut dan usus halus dan usus besar. Hanya beberapa species yang menyebabkan infeksi makanan, misalnya S. Enteridis, S. Choleraesuis dan Salmonella typhi. Penderita sakit perut mendadak 8-48

195

jam setelah makan makanan yang tercemar Salmonella, timbul rasa sakit perut dengan diare encer atau berair, kadang-kadang dengan lendir atau darah, mual, muntah dan demam, hilang dalam waktu 2-5 hari. * Staphylococcus Peracunan makanan umumnya karena termakan toksin yang dikeluarkan oleh galur toksigenik Staphylococcus aureus yang tumbuh pada makanan yang tercemar. Jumlah enterotoksin yang termakan menentukan timbulnya gejala (mual, pusing, muntah daire) dan parahnya tidaknya infeksi tersebut. * Clostridium botolinum Penyakitnya disebut dengan botulisme. Clostridium botolinum yang menghasilkan neurotoksin yang tidak tahan panas. Penyakit ini terjadi karena makan makanan yang diawetkan kurang sempurna, misalnya makanan kaleng. Gejala penyakit terlihat sekitar 12-48 jam setelah makan makanan tercemar, gejalanya yaitu kesulitan bercakap, biji mata melebar, mulut terasa kering, mual, muntah dan tidak dapat menelan. * Vibrio parahaemolyticus Kuman ini penyebab gastroenteritis akibat memakan makanan laut (mentah). Gejalanya sakit perut, mual dan muntah dan diare. Penyakit ini dapat sembuh dalam 2-5 hari. * Clostridium perfringens Gelaja timbul 8-24 jam setelah makan makanan tercemar, yaitu mulas dan diare. Cara mencegah yang terbaik adalah menghindarkan penyimpanan makanan yang sudah matang apada suhu kamar dalam jangka waktu yang lama. * Virus Virus ini meliputi Adenovius, Reovirus, Echovirus dan virus hepatitis gejal utama dalah diare mendadak, mual, muntah, lesu, sakit perut dan demam. 11.1.3 Pemindahsebaran Melalui Serangga Selain manusia, serangga dapat merupakan sumber pemindahsebaran

mikroba pada manusia. Biasanya berfungsi sebagai inang intermediat bagi parasit atau sebagai vektor mikroba patogenik. Vektor biologis adalah vektor tempat patogen melewatkan masa inkubasi atau perkembangbiakannya.

196

Sebagian besar mikroorganisme yang menggunakan serangga sebagai vektornya telah menyesuaikan diri dengan hospesnya, sehingga tidak

membahayakan serta tidak merusak jaringan inangnya. 11.1.4 Pemindahsebaran Melalui Infeksi Nosokomial Infeksi nosokomial diartikan infeksi yang diperoleh selama dalam perawatan di rumah sakit.Sumber infeksi nonokomial pada hakekatnya sama dengan yang dimasyarakat, yakni benda, orang, aliran udara hewan terutama serangga. Sumber utama mikroba patogen bagi manusia adalah manusia yang lain. Salah satu ancaman adalah dari mikrobiota normal kita sendiri. Misalnya infeksi yang gawat yang banyak terjadi dirumahsakit disebabkan oleh E. coli, Klebsiella pneumoniae, Candida albicans, Stapylococcus aereus, Proteus mirabilis. Sumber infeksi nosokomial, dirangkum sebagai berikut:   Sumber hidup: manusia dan hewan Sumber tak bernyawa: udara, tanah, makanan, ait dan fomit (benda mati)

11.2 Mikrobiologi Lingkungan Mikroba ada dimana-mana disekitar kita di air, udara dan tanah, ada mikroba yang merugikan dan juga menguntungkan. Studi tentang mikroba yang ada dilingkungan alamiahnya disebut dengan ekologi mikroba. 11.2.1 Mikrobiologi Air Air (H2O) di alam tidak pernah dalam keadaan murni. Air murni hanya ada di di laboratorium dalam bentuk aquades. Air di alam selalu ditambahi dengan faktor X, sehingga rumus kimianya menjadi: H2O + X di mana faktor X dapat berbentuk faktor yang bisa hidup (biotik) dan faktor yang tidak hidup (abiotik). 1) Pemeriksaan Kualitas Air Pemeriksaan kualitas air didasarkah oleh syarat-syarat kualitas air itu sendiri. Syarat-syarat tersebut adalah (Slamet Ryadi: 1984):  Persyaratan Fisik Ditentukan oleh faktor-faktor kekekeruhan air biasanya disebabkan oleh zat yang tersuspensi, baik yang bersifat anorganik maupun yang organik. Zat anorganik, biasanya berasal dari lapukan batuan dan logam sedangkan yang organik dapat berasal dari lapukan tanaman atau hewan.

197

Rasa dan bau, antara keduanya tidak bisa dipisahkan secara kualitatif. Air biasanya tidak memberi rasa/tawar. Air yang tidak tawar dapat menunjukkan kehadiran berbagai zat yang dapat membahayakan kesehatan. Rasa logem, amis, rasa pahit, asin, dan sebagainya. Suhu, air sebaiknya sejuk atau tidak panas terutama agar: (a) tidak terjadi pelarutan zat kimia yang ada pada saluran, pipa, yang dapat membahayakan kesehatan, (b) menghambat reaksi-reaksi biokimia di dalam saluran, pipa, (c) mikroorganisme patogen tidak mudah berkembang biak, dan (d) bila diminum air dapat menghilangkan dahaga. Warna, air minum sebaiknya tidak berwarna untuk alasan estetis dan untuk mencegah keracunan dari berbagai zat kimia maupun mikroorganisme yang berwarna.  Persyaratan Kimia Karena bahan-bahan kimia itu pada umumnya mudah larut dalam air, maka tercemarnya air oleh bahan-bahan kimia yang terlarut khususnya timbal balik perlu dinilai kadarnya untuk mengetahui sejauh mana bahan-bahan terlarut itu mulai dapat dikatakan membahayakan eksistensi organisme maupun mengganggu bila digunakan untuk suatu keperluan. Persyaratan kimia meliputi kimia anoranik dan organik. Parameter kimia anorganik meliputi: zat kimia anorganik dan zat kimia organik a. Zat Kimia Anorganik Zat kimia anorganik meliputi: air raksa atau hydrogyrum (Hg), Aluminium (Al), Arsen (As), Barium (Ba), Besi (Fe),Flourida (F), Cadmium (Cd), Klorida adalah senyawa halogen (Cl), toksisitanya tergantung pada senyawanya, Kromium (Cr), Mangan (Mn), Natrium (Na), Perak (Ag), Seng (Zn), Sianida (Cn), Sulfat (SO4), Tembaga (Cu), dan Timbal (Pb). b. Kimia Organik Senyawa organik yang terdapat dalam air dapat menimbulkan ganguan kesehatan adalah sebagai berikut: Aldrin dan dieldrin, benzen, Chlordane, Chloroform, 2,4 di Chlorophenoxyl acetic acid, Dichlor diphenyl trichloroethane (DDT), dan Detergen.

198

Menurur Fardiaz S, 1999 ialah ”zat organik merupakan indikator umum bagi pencemaran air”. Apabila zat organik yang dapat dioksidasi (BOD) besar, maka ia menunjukkan adanya pencemaran air.  Persyaratan Biologis Persyaratan biologis ditentukan baik oleh kehadiran mikroorganisme yang patogen maupun yang non patogen, yang menjadi perhatian adalah yang patogen, tetapi yang non patogen pun apabila dalam jumlah yang berlebihan akan mempengaruhi rasa, bau dan lain-lain. Parameter mikrobiologik ada dua yaitu koliform tinja dan koliform total yang merupakan indikator pencemaran air. Jenis mikroorganisme yang berada di dalam air diantaranya adalah: beberapa jenis kelompok virus, kelompok bakteri, kelompok metazoa. 2) Keuntungan dan Kerugian Mikroorganisme air Mikroorganisme dalam air ini terhadap manusia ada yang menguntungkan dan ada yang merugikan.  Mikroorganisme Air yang Menguntungkan Plankton, baik yang terdiri dari plankton tumbuh-tumbuhan, fitoplankton ataupun plankton hewan/zooplankton, merupakan makanan utama ikan-ikan kecil, sehingga kehadirannya merupakan tanda kesuburan kolam ikan misalnya untuk perikanan. Contoh; Chlorella, Seenedesmus, Hydrodictyon, Pinnularia, kelompok protozoa, dan

Tabellaria, Sinedra, dan sebagainya. Jasad dekomposer, mikroorganisme yang mempunyai kemampuan untuk menguraikan atau merombak senyawa yang berada dalam air, sehingga kehadirannya selalu menguntungkan dalam rangka pengolahan buangan di dalam air secara biologis. Mikroalge, yang mempunyai khloropfil, dapat melakukan proses fotosintesis dengan menghasilkan oksigen. Di dalam air, kegiatan fotosintesis tersebut akan menambah jumlah/kadar oksigen di dalamnya, sehingga nilai kelarutan oksigen yang disebut Dissolved Oxygen = DOP akan naik atau

bertambah. Dalam hal ini jasad renik seperti mikroalgae tersebut dinamakan produser karena mampu untuk menghasilkan oksigen yang dibutuhkan oleh kehidupan di dalam air.

199

 Mikroorganisme Air yang Merugikan Mikroorganisme yang terdapat dalam air yang merugikan terhadap lingkungan dan manusia dapat menimbulkan berubahnya karakteristik air, yakni: 1. Penurunanan turbiditas dan hambatan aliran, berbau, berubah warna, hal ini disebabkan oleh kelompok bakteri besi, dimana bakteri ini dapat

mengoksidasi senyawa ferro menjadi ferri, contoh Crenothrix, Sphaerotilus. Mereduksi senyawa sulfat menjadi asan sulfida, sehingga menimbulkan bau busuk, contoh Chromatium dan Thiobacillus. 2. Badan dan warna air dapat berubah menjadi berwarna dan blooming, terjadi pertumbuhan massa alge yang banyak dan menutupi seluruh permukaan air; contoh Anabaena flos-aquae dan Microcystis aerugynosa. 3. Kelompok patogen, Salmonella, Cholera, Shigella, Rotaviruis, Hepatitis A, Poliomyelitis,Enterovirus. 4. Kelompok penghasil racun yaitu bakteri anaerob Clostridium spp, bakteri aerob Pseudomonas, Salmonella, dan Staphylococcus, Mikropalge, Anabaena dan Microcystis, 5. Kelompok bakteri pencemar Escherichia coli, Streptococcus fecalis, Clostridium welchii karena berasal dari tinja manusia. 3) Mekanisme Penyebaran Air

Penyakit-penyakit asal air terjadi karena meminum air tercemar. Sebenarnya sumber infeksi itu bukanlah airnya, melainkan tinja yang berasal dari manusia atau hewan yang telah mencemari air tersebut. Tinja tersebut mengandung

patogen-patogen enterik bila berasal dari orang sakit atau pembawa penyakit. 11.2.2 Mikrobiologi Tanah Tanah merupakan campuran yang terdiri dari bahan organik, anorganik, air dan udara yang semuanya tercampur jadi satu, sehingga sulit dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Populasi mikroba di dalam tanah terbagi menjadi 3 golongan besar yaitu: 1) Golongan autohtonus yaitu mikroba yang tidak terpengaruh dengan lingkungan luar (misalnya Arthrobacter dan Nocardia).

200

2) Golongan zimogenik yaitu mikroba yang terpengaruh dengan lingkungan luar yang baru (misalnya penambahan senyawa organik), contohnya Pseudomonas dan Bacillus. 3) Golongan transien yaitu mikroba yang kehadirannya bersamaan dengan penambahan mikroba secara buatan. 1) Jenis-jenis Mikroorganisme Tanah Kesuburan tanah tidak hanya ditentukan oleh susunan kimianya, tetapi juga jumlah dan jenis biota yang terdapat di dalam tanah. Biota tanah dapat dikelompokkan sebagai berikut: Protista eukariotik dan Protista prokariotik Protista prokariotik yang berperan penting di dalam tanah meliputi kelompok bakteri, ganggang biru dan actinomycetes, sedang protista eukariotik meliputi jamur, protozoa, ganggang dan metazoa. Perbedaan antara prokariotik dan eukariotik terutama pada struktur dan ultra strukturnya, pada jasad prokariotik tidak mempunyai sistem membran inti, retikulum endoplasmik dan mitokondria, sedang eukariotik memiliki ketiga badan tersebut.  Bakteri Di dalam tanah bakteri merupakan kelompok yang paling dominan dan kurang lebih setengah dari biomasa mikrobia tanah. Bakteri terdapat pada semua jenis tanah, yang makin ke dalam, populasinya makin sedikit. Bakteri berbentuk batang, kokus dan spiral dan bakteri bentuk batang merupakan kelompok yang dominan di dalam tanah. Berdasarkan kebutuhan oksigen, bakteri dikelompokkan menjadi aerob, anaerob dan fakultatif anaerob. Bakteri aerob memerlukan oksigen, bakteri anaerob hanya dapat tumbuh jika tidak ada oksigen, sedangkan bakteri fakultatif anaerob dapat tumbuh baik tanpa atau dengan adanya oksigen. Pada keadaan anaerob bakteri dominan dan paling aktif, karena jamur dan actinomycetes pertumbuhan dan aktivitasnya terganggu. Jumlah dan jenis bakteri dipengaruhi oleh tekstur, kandungan air, aerasi, suhu, bahan organik, kemasaman dan tersedianya nutrien anorganik. Populasi bakteri di dalam tanah dipengaruhi oleh kandungan bahan organik, penambahan bahan organik ke dalam tanah, meningkatkan jumlah dan kegiatan bakteri tanah misalnya penambahan sisa tanaman dan pupuk hijau.

201

Berdasarkan kebutuhan nutrisinya bakteri dikelompokkan menjadi ototrof dan heterotrof. Jasad yang memerlukan sumber karbon senyawa anorganik disebut jasad ototrof atau litotrof (misalnya CO2). Sedang jasad yang memerlukan sumber karbon organik disebut heterotrof atau organotrof. Berdasarkan sumber enersinya, maka jasad dikelompokkan menjadi fototrof jika sumber enersinya cahaya dan organotrof, jika sumber enersinya senyawa kimia. Bakteri yang

bersifat kemoototrof obligat misalnya Nitrobacter menggunakan nitrat, dan Nitrosomonas menggunakan nirat, dan misalnya bakteri fotosintetik.  Actinomycetes Actinomycetes bersifat heterotrof. Actinomycetes tidak toleran terhadap pH tanah, dan pada immune mempunyai kisaran pH 6,5 - 8,0. Pengasaman tanah sampai pH 5 digunakan untuk memberantas penyakit tanaman skabies pada kentang, yang disebabkan oleh Streptomyces. Penggunaan pupuk amonium yang terus menerus dapat menekan pertumbuhan Actinomycetes, karena amonium dioksidasi menjadi nitrat yang dapat menurunkan pH. Pengapuran dapat meningkatkan populasi Actinomycetes.  Jamur Jumlah dan kualitas bahan organik berpengaruh pada jumlah jamur dalam tanah, karena jamur bersifat heterotrof. Pemberian bahan organik merubah amonium, dan bakteri foto-ototrof

susunan jamur yang dominan dari genus Penicillium, Trichoderma, Aspergillus, Fusarium dan Mucor. Jamur dominan pada tanah masam meskipun terdapat juga pada tanah netral atau alkali, dan beberapa diantaranya toleran pada pH 9,0. Kepekaan terhadap pH mempunyai arti penting di dalam usaha mengatasi penyakit tanaman yang hidup di dalam tanah (soil-borne). Misalnya

Plasmodiophora brassicae paling banyak terdapat pada tanah masam, dan penyakit ini tidak terdapat pada tanah dengan pH 7,5. Pemberian pupuk anorganik dapat merubah jumlah jamur misalnya pemupukan dengan garam amonium jika mengalami oksidasi menjadi nitrat akan menurunkan pH. Jamur diklasifikasikan atas Phycomycetes, Ascomycetes, Basidiomycetes dan Fungi Imferfecti. Banyak jamur pembusuk kayu misalnya Polyporus dan Ektomikorisa (misalnya Boletus) berperan penting pada tanaman hutan,

202

Endomikorisa berperan penting dalam penyerapan unsur P tanaman termasuk Phycomycetes. Jamur penyebab penyakit tanaman termasuk keempat golongan tersebut di atas. Peranan utama jamur di dalam tanah ialah merombak bahan organik dan membentuk agregat tanah. Jamur tertentu dari spesies Alternaria, Aspergillus, Cladosporium, Dematium, Gliocladium, Helminthosporium, Humicola dan Metarhizium menghasilkan bahan humat di dalam tanah. Beberapa jamur juga dapat menghasilkan senyawa yang struktur kimianya sama dengan kebanyakan senyawa karbohidrat yang diekstraksi dari bahan organik tanah. Beberapa jamur dapat berassosiasi dengan akar tanaman hutan misalnya Ektomikorisa dari genus Boletus dan Lactarius. Sedangkan Endomikorisa berassosiasi dengan tanaman pertanian, misalnya genus Glomus dengan tanaman jagung, kedelai dan lain-lain. 

Ganggang (Algae) Ganggang tanah berkembang baik jika kelembaban dan cahayanya cukup.

Ganggang membentuk masa berwarna hijau pada permukaan tanah, ganggang termasuk ke dalam kingdom Protista, yang dibedakan atas beberapa divisio yaitu Chlorophyta, Rhodophyta, Cyanophyta dan Phaeophyta. Karena mempunyai

khlorofil, maka bersifat foto-ototrof, yang termasuk ganggang hijau misalnya Chlorella, Chlamydomonas, Chlorococcum dan lain-lain. Ganggang biru mempunyai pigmen yang disebut fikosianin selain klorofil. Yang termasuk Cyanophyta adalah misalnya Aphanocapsa, Lyngbya,

Ascillatoria, Anabaena, Nostoc dan lain-lain. Beberapa ganggang biru mempunyai sel khusus yang disebut heterosis yang berperan dalam penambatan nitrogen.  Tanah sawah merupakan lingkungan yang ideal bagi pertumbuhan

ganggang biru tertentu yang berperan pada penambatan nitrogen. Protozoa Protozoa yang berflagella masuk ke dalam kelas Flagellata atau Mastigophora yang predominan di dalam tanah. diantaranya adalah Genus-genus yang penting

Bodo, Carcobodo dan Tetramitus, yang termasuk kelas

Sarcodina misalnya Biomyxa, Naigleria dan Englypha sedang kelas Ciliata beberapa diantaranya Colpoda, balantiophorus dan Uroleptus. Protozoa yang

203

hidup di dalam tanah memakan bakteri dari genus Aerobacter, Agrobacterium, bacillus, Escherichia coli, Micrococcus dan Pseudomonas dengan mencernakan di dalam protoplasmanya, tetapi hanya bakteri tertentu yang peka. Protozoa banyak terdapat dipermukaan tanah dan jumlahnya dipengaruhi oleh populasi bakteri dan bahan organik tanah.  Virus Suatu kelompok bakteriofaga yang penting dalam pertanian ialah yang menyebabkan lisis bakteri bintil akar Rhizobium di dalam tanah. Bakteriofaga spesifik lain yang terdapat di dalam tanah misalnya bakteriofaga untuk Aerobacter, Agrobacterium, Arthrobacter, Pseudomonas, Rhizobium,

Streptomyces, Azotobacter dan Nocardia. Kelompok virus tertentu dapat menyerang jamur (mycovirus) misalnya Penicillium chrysogenum, Aspergillus, Periconia dan Ustilago. (Kabirun, 1994).

2) Peranan Mikroorganisme Tanah Peranan penting, baik dibidang ilmu tanah, ilmu pertanian dan bidangbidang lain dari mikroba tanah adalah dalam siklus mineral, yang terdiri dari: siklus nitrogen, siklus fosfor, siklus sulfur dan siklus karbon. 11.3 Mikrobiologi Udara Mikroba yang berada di udara bersifat sementara, udara bukan merupakan medium tempat mikroba tumbuh, tetapi merupakan pembawa bahan partikulat, debu dan tetesan air yang semuanya sangat mungkin dimuati mikroba. Mikroorganisme yang terdapat diudara ini dapat menyebabkan berbagai penyakit kepada manusia seperti penyakit saluran pernapasan dan penyakit kulit. Disamping itu juga bisa menyebabkan penyakit pada saluran pencernaan seperti diare. Oleh sebab itu timbulah usaha manusia untuk mengendalikan/menekan penyakit yang disebarkan melalui udara ini seperti adanya usaha untuk imunisasi, tehnik desinfeksi udara dan lain-lain.

1) Jenis-Jenis Mikroorganisme Udara Umumnya mikroorganisme yang terdapat diudara adalah mikroorganisme kontaminan yang bisa bersifat patogen. Mikroorganisme tersebut dapat

204

dikelompokan seperti bakteri, virus dan jamur, yang bisa terdapat ditanah dan disebarkan keudara oleh angin baik dalam bentuk vegetatif maupun dalam bentuk sporanya  Bakteri

1. Bacillus Merupakan bakteri yang hidup saprofit ditanah, air, udara dan tumbuhtumbuhan. Bakteri ini dapat menyebabkan penyakit pada manusia dengan fungsi imun terganggu.(Jawetz, 1998) 2. Streptococcus pyogenes Merupakan bakteri yang bersifat aerotoleran dan hidup sebagai saprofit dn parasit pada manusia. Dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan atas karena penularannya melalui udara.(Unus S,1995 dan Jawetz,1998). 3. Staphylococcus aureus Merupakan bakteri yang hidup sebagai flora normal pada kulit dan selaput mukosa tetapi dapat juga bersifat patogen yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia serta dapat ditularkan melalui udara. (Jawetz, 1998) 4. Bordetella pertusis Merupakan bakteri yang dapat ditularkan melalui udara dan dapat menyebabkan penyakit pertusis/ batuk rejan. (Jawetz,1998) 5. Corynebacterium diptheria Merupakan bakteri patogen yang ditularkan melalui udara dan dapat menyebabkan penyakit dipteri. (Jawetz, 1998). 6. Streptococcus pneumonia Merupakan bakteri yang dapat menyebabkan penyakit pneumonia dan biasanya merupakan penyakit infeksi pernapasan yang lanjut. Sehingga dapat menyebabkan kematian.(Sleigh DJ, 1994 dan Jawetz, 1998). 7. Mycobacterium tuberculosis Merupakan bakteri yang dapat menyebabkan penyakit tuberkulosis yang dapat ditularkan melalui udara baik secara langsung maupun secara tidak langsung. 8. Legionella pnemophili

205

Merupakan bakteri yang sering terdapat pada pendingin ruangan (AC), pancuran mandi dan dapat ditularkan melalui udara. (Jawetz, 1998). 9. Psudomonas Merupakan bakteri yang ditemukan secara luas ditanah, air, tumbuhan dan hewan. Biasanya terdapat dilingkungan yang lembab dirumah sakit dan bersifat sebagai flora normal dan saprofit pada manusi. Bakteri  dapat menyebabkan

penyakit pada manusia bila keadaan imun menurun. (Jawetz, 1998). Virus Umumnya virus yang terdapat diudara ditularkan melalui saluran pernapasan contohnya adalah: 1. Adenovirus Adenovirus menginfeksi sel-sel epitel faring, selaput mata, usus kecil, dan kadang-kadang sistem organ lainnya. Biasanya virus ini tidak sampai menyebar di luar daerah getah bening. 2. Rinovirus Rinovirus adalah virus selesma. Virus ini biasanya diisolasi dari hidung dan tenggorok, dan jarang sekali dari tinja. Virus-virus ini, serta koronavirus dan beberapa reovirus, adenovirus, enterovirus, virus parainfluenza, dan virus influenza, menyebabkan infeksi saluran napas bagian atas, termasuk selesma.. 3. Ortomiksovirus (Virus Influenza) Merupakan virus penyebab influenza yang berbentuk seperti partikel– partikel bulat dan inri RNAnya memiliki simetris heliks, dapat menyebabkan influenza. 4. Virus Sinsitium Pernapasan (RSV: Respiratory Syncitial Virus). Merupakan virus yang dapat menyebabkan kasus bronkitis dan pneumoni pada 6 bulan pertama kehidupan. Tetapi pada orang dewasa hanya mengakibatkan infeksi ringan saluran pernapasan atas.  Jamur Banyak jenis jamur kontaminan udara yang bersifat termofilik, yaitu jamur yang tahan pada pemanasan tinggi sampai diatas 800C. Biasanya tahan selama suatu benda sedang disterilkan bila janur tersebut berada dalam bentuk spora. Jamur tersebut antara lain:

206

1. Aspergillus Merupakan jamur yang hidup ditanah dan dapat menyebabkan penyakit Aspergilosis, tetapi dapat ditularkan melalui udara karena dalam bentuk spora berada diudara. 2. Candida Merupakan jamur yang hidup sebagai flora normal pada selaput mukosa saluran pernapasan, saluran pencernaan dan saluran genitalia wanita dan juga dapat bersifat sangat patogen. Jamur ini ditularkan dalama bentuk spora karena bisa terdapat diudara. 3. Histoplasma Merupakan penyakit jamur sistemik yang ditularkan melalui udara, tetapi umumnya jamur ini terdapat ditanah yang mengandung kotoran ayam. 4. Cryptococcus neoformans Merupakan jamur yang berbentuk khamir yang mempunyai simpai dan dapat hidup dalam keadaan kering sehingga hidup diudara. Biasanya ditularkan melalui inhalasi spora yang didalam paru dapat menimbulkan kelainan setempat dengan gejala yang ringan. 5. Rhizopus Merupakan jamur yang terdapat ditanah dan menghasilkan spora sehingga sporanya bisa ditularkan melalui udara. 2) Mekanisme Penyebaran Infeksi Melalui Udara 1. Melalui Debu Penyakit yang ditularkan melalui debu ini biasanya memasuki inang lewat saluran pernapasan mulai dari hidung, faring, laring, trakea, bronki dan paru-paru. Beberapa diantaranya dapat menyebabkan penyakit saluran pernapasan dan dapat menyerang bagian tubuh yang lain. 2. Melalui Droplet/ Inti Tetesan Penyebaran melalui inti tetesan ini biasanya dimulai dengan seseorang yang batuk, bersin dan meludah, maka terhembuskan titik air baik yang besar maupun yang kecil. Titik–titik air dapat mengandung mikroorganisme yang dapat ditularkan melalui udara. Titik-titik air yang halus menguap dan akan membentuk

207

inti titik air yang dapat mengandung mikroorganisme dan dapat terhirup/ terhisap langsung oleh orang lain. 11.3 Mikrobiologi Pangan Kandungan mikroba di bahan pangan dapat memberikan keterangan yang mencerminkan mutu bahan mentahnya, keadaan sanitasi pada pengolahan pangan tersebut serta keefektifan metode pengawetannya. 11.3.1 Keuntungan Mikroorganisme dalam Makanan 1. Berperan di Dalam Proses Pembuatan Pangan Khusus Berbagai jenis makanan dan minuman hasil fermentasi seperti tempe, kecap, tauco, sosis, keju, bier, anggur dan sebagainya telah sejak lama dikenal melengkapi menu makanan atau minuman sehari-hari. Makanan dan minuman tersebut diolah secara fermentasi dengan menggunakan kemampuan mikroba. Proses fermentasi melibatkan kemampuan mikroba sesuai dengan kondisi proses dan hasilnya, terbagi kedalam 2 bentuk: 1. Proses fermentasi secara alkoholis, kalau hasilnya didapatkan alkohol, seperti misalnya dalam pembuatan beberapa jenis minuman : bir, anggur, tuak, brem, dan sebagainya. 2. Proses fermentasi secara non alkoholis, kalau hasilnya tidak didapatkan senyawa alkohol, tetapi berbentuk asam organik, vitamin, asam amino dan sebagainya. Seperti misalnya di dalam pembuatan tempe, kecap, oncom, sosis, yoghurt dan sebagainya. Proses fermentasi, baik secara alkoholik maupun non-alkoholik, merupakan proses yang unik dilakukan oleh mikroba; cepat, murah, aman, hemat energi dan nilai organoleptiknya (nilai yang dirasakan oleh lidah) rata- rata sesuai dengan selera. Di dalam proses pembuatan tempe misalnya, tercatat dua jenis mikroba yang berperan, yaitu Rhizopus oligosporus dan Rhizopus stoloniferus. Kedua jamur ini mempunyai kemampuan untuk mengubah kedelai menjadi asam amino dan protein lain yang cepat larut kalau memasuki perut pemakannya. Sehingga secara ilmiah sudah dibuktikan bahwa kandungan protein yang dapat diserap oleh pemakan, jumlahnya akan lebih tinggi apabila kedelai tersebut sudah berubah jadi tempe kalau dibandingkan hanya kedelai tersebut direbus atau dimasak biasa saja.

208

2. Berperan di Dalam Peningkatan Nilai Gizi/Nutrisi Makanan Ini terjadi seperti di dalam pembuatan tempe dari kedele, atau pembuatan bahan makanan lain seperti oncom, tuco, terasi dan sebagainya, yang disamping akan menghasilkan nilai gizi/ nutrisi yang jauh lebih baik dan lengkap, juga nilai organoleptik makanan hasilnya akan lebih baik dan meningkat. 3. Berperan di Dalam Pengadaan Bau dan Rasa Bau dan rasa kacang kedele yang langsung direbus, rata-rata kurang menarik kalau dibandingkan dengan kacang kedele yang telah diproses melalui proses fermentasi misalnya. Juga bau dan rasa susu segar misalnya, banyak yang tidak menyukai kalau dibandingkan bila susu tersebut telah difermentasi menjadi makanan lain, antara lain yoghurt. 4. Berperan di Dalam Perubahan Warna Warna, seperti juga bau dan rasa, mempunyai arti yang sangat penting untuk bahan makanan. Warna makanan yang menarik akan lebih banyak mendatangkan peminat kalau dibandingkan makanan tersebut tidak mempunyai warna tertentu. Warna hasil proses mikroba disamping sesui untuk tubuh, stabil, juga aman (tidak ada kecenderungan bersifat karsinogenik). 11.3.2 Kerugian Mikroorganisme dalam Makanan Maksudnya yaitu bila kehadiran mikroba tersebut di dalam bahan makanan justru akan: a. Mengubah bau, rasa dan warna yang tidak dikehendaki b. Menurunkan berat atau volume. c. Menurunkan nilai gizi/nutrisi. d. Mengubah bentuk dan susunan senyawa. e. Menghasilkan toksin (senyawa racun) yang membahayakan Kelompok mikroba seperti bakteri, jamur dan ragi merupakan penyebab terjadinya kerugian pada bahan makanan seperti diatas. Karenanya terhadap bahan makanan, sejak bahan baku, selama proses, selama pengolahan dan penyimpanan, selalu diusahakan untuk tidak dikenai dan ditumbuhi mikroba tersebut. Kerusakan paling umum terjadi pada bahan makanan adalah pembusukan, dan ini dapat disebabkan bakteri maupun jamur. Dipihak lain sering makanan yang mengandung enterotoksin dalam jumlah cukup banyak untuk menimbulkan

209

penyakit biasanya mempunyai penampilan, bau dan rasa yang normal, sehingga masih dikonsumsi sehingga menimbulkan keracunan. 11.3.3 Faktor Penyebab Pertumbuhan Mikroba Dalam Bahan Pangan 1. Faktor Intrinsik (Sifat Bahan Pangan) Faktor–faktor intrinsik atau faktor dalam yang dapat mempengaruhi

populasi mikroorgannisme didalam makanan meliputi sifat-sifat kimia atau komposisi, sifat fisik dan struktur makanan. Faktor ini meliputi nilai aktivitas aira(Aw), komposisi nutrien, pH, potensial redoks, adanya bahan pengawet alamiah atau tambahan dan sebagainya.  Aktivitas Air (aw= water activity) Nilai aktivitas air untuk beberapa bahan makanan dan jenis

mikrooganisme khusus yang terdapat didalamnya kan berbeda untuk setiap jenis bahan makanan. Bahan makanan dengan kadar air tinggi ( nilai aw: 0,95 – 0,99) umumnya dapat ditumbuhi oleh semua jenis mikroorganisme dan biasanya kerusakan akan lebih banyak karena bakteri dapat tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan kapang dan khamir.  Nilai pH Umumnya nilai pH bahan makanan berkisar antara 3,0 sampai 8,0. Kebanyakan mikroorganisme tumbuh pada pH sekitar 5,0 sampai 8,0 dan hanya jenis-jenis tertentu saja mikroorganisme yang ditemukan pada bahan makanan dengan pH yang lebih rendah.  Potensial Redoks

Potensial redoks dari suatu sistem biologis adalah suatu sistem indeks dari tingkat oksidasinya. Bahan makanan dengan potensial redoks yang tinggi akan membantu pertumbuhan dari jenis-jenis mikroorganisme yang bersifat aerobik seperti Pseudomonas.  Zat-zat Gizi Komposisi bahan makanan dapat menentukan jenis mikroorganisme yang dominan didalamnya, karena hal ini akan menentukan jenis zat gizi yang penting tersedia untuk perkembangan mikroorganisme. Bahan makanan dengan gizi yang

210

cukup akan membantu pertumbuhan mikrooragnisme seperti, Lactobacillus yang membutuhkan banyak zat gizi.  Bahan Anti Mikrobial Alamiah Bahan anti mikroba dapat diperoleh secara alamiah pada bahan-bahan makanan seperti minyak essensial dan tanin pada bahan makanan asal tumbuhtumbuhan dan lizozyme serta avidin pada bahan makanan dari hewani seperti telur.  Struktur Biologis Strukutr biologis seperti lapisan kulit telur, kutikula dari bagian tanaman berguna untuk mencegah masuknya mikroorganisme kedalam bahan makanan. 2. Faktor Pengolahan Faktor pengolahan ini akan mempengaruhi jumlah mikroorganisme yang dominan dalam bahan makanan yang telah diolah atau diawetkan. Proses pengolahan seperti pemanasan atau irradiasi dapat membunuh sebagian atau seluruh mikroorganisme, terutama mikroorganisme yang tidak tahan terhadap panas dan irradiasi. Pengeringan dan pembekuan bahan makanan dapat mengakibatkan kerusakan pada mikroorganisme yang terdapat didalamnya. Tetapi beberapa jenis mikroorganisme yang tahan terhadap perlakuan tersebut akan tetap dapat hidup dan dapat menyebabkan kerusakan bila bahan makanan tersebut dicairkan. 3. Faktor Ekstrinsik (Lingkungan) Bahan pangan segar atau makanan olahan yang tidak langsung dikonsumsi memerlukan tahap penyimpanan atau transpor/distribusi. Faktor-faktor yang mempengaruhui penyimpanan dan transpor seperti suhu, kelembaban dan susunan gas, merupakan faktor lingkungan (ekstrinsik) yang mempengaruhi populasi jasad renik yang terdapat pada makanan. 4. Faktor Implisit Berbagai mikroba yang terdapat pada bahan makanan kadang-kadang mengakibatkan dua atau lebih jenis mikro organisme hidup bersama saling menguntungkan (sinergisme) atau sebaliknya yang satu merugikan pertumbuhan jenis mikrorganisme yang lain (antagonisme). 5. Faktor Makanan

211

1. Makanan yang mudah rusak, yaitu yang mempunyai aktivitas air (aw), dan pH yang relatif tinggi (pH>5,3), misalnya : daging , daging ayam, ikan ,susu dan sebagainya. 2. Makanan yang pertengahan agak awet, yaitu makanan atau yang telah mempunyai mengalami pH

(antara 4,5 sampai 6,3 )

proses

pengawetan sehingga kadar airnya menjadi agak rendah, misalnya: jam, jeli, susu kental manis, acar, sosis terfermentasi dan sebagainya. 3. Bahan makanan yang awet (tahan lama disimpan) yaitu makanan yang telah diawetkan dengan pengeringan sehingga kadar airnya (aw) rendah, dan sebagainya.

misalnya dendeng, abon, ikan asin

11.3.4 Pengaruh Proses Pengolahan terhadap Mikroorganisme 1. Pengaruh Pemanasan Terhadap Mikroorganisme Untuk mengendalikan pertumbuhan dan kegiatan mikroba dapat dilakukan dengan menggunakan perlakuan suhu tinggi. Pada perlakuan suhu diatas suhu maksimum pertumbuhan mikroba akan bersifat mematikan dan semakin tinggi suhunya akan semakin tinggi laju kematiannya. 2. Pengaruh Pembekuan Terhadap Mikroorganisme Mikroorganisme dapat diklasifikasikan atas dasar suhu optimum yang berguna untuk pertumbuhannya. Umumnya mikroorganisme tidak dapat tumbuh pada suhu dibawah 320F, tetapi ada beberapa jenis khamir yang masih bisa tumbuh dalam substrat tidak beku pada suhu dibawah 150F. Pendinginan yang lambat dapat merusak populasi mikroba dan bentuk mikrobia yang sangat peka adalah sel-sel vegetatif, sedangkan spora biasanya tidak rusak oleh pembekuan. 3. Pengaruh Pengeringan Terhadap Mikroorganisme Proses pengeringan dalam pengolahan bahan makanan merupakan proses pembatasan air yang digunakan untuk pertumbuhan oleh mikroorganisme. Hal ini akan menentukan jumlah dan jenis dari mikroorganisme untuk tumbuh dalam bahan makanan tersebut. 4. Pengaruh Pengolahan dengan Garam, Asam, dan Bahan Kimia Pengawet terhadap Mikroorganisme 1. Pengolahan dengan Garam dan Asam

212

Garam akan sangat berpengaruh bila dimasukan kedalam bahan makanan karena garam akan dapat merobah rasa dari makanan dan juga dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme pencemar pada bahan makanann terutama mikroorganisme proteolitik dan pembentuk spora walaupu dengan kadar yang sangat rendah (sampai 6%). Pengolahan bahan makanan dengan pemberian garam/ NaCl konsentrasi tinggi dapat mencegah kerusakan dari bahan tersebut. Mikroorganisme psikrofilik dapat dicegah pertumbuhannya dengan pemberian NaCl pada konsetrasi 2-5 % dan dikombinasikan dengan suhu rendah. 2. Pengolahan dengan Gula Penggunaan gula dalam pengolahan bahan makanan akan mempengaruhi mikroorganisme yang terdapat dalam bahan makanan tersebut, terutama bila dalam konsentrasi yang tinggi(minimal 40% padatan terlarut).Hal ini akan mengakibatkan air yang ada dalam bahan makanan tidak tersedia untuk pertumbuhan mikroorganisme sehingga kadar airnya menjadi rendah dan keadaan inilah yang menyebabkan mikroorganisme tidak mampu untuk melakukan aktifitas hidupnya. 3. Pengolahan dengan Bahan Pengawet Kimia Penggunaan bahan kimia pengawet dalam bahan makanan dapat menghambat atau menghentikan aktivitas mikroorganisme baik bakteri, kapang dan khamir. Biasanya bahan kimia pengawet yang digunakan bersifat bakteriostatik karena hanya dipakai dalam jumlah kesil sehingga tidak membahayakan bagi konsumennya. 4. Pengaruh Radiasi dalam Pengawetan Terhadap Mikroorganisme Penggunaan radiasi dalam pengolahan bahan makanan bisa mempengaruhi ketahahan dari mikroorganisme. Radiasi yang digunakan ada dua macam yaitu: radiasi panas yang merupakan radiasi yang menggunakan sinar dengan gelombang yang panjang dan radiasi ionisasi yang merupakan radiasi yang

menggunakan sinar gelombang yang pendek. 11.4 Mikrobiologi Industri

213

Mirobiologi industri adalah kegiatan industri yang melibatkan mikroba sebagai jasad pemroses dalam keadaan terkendali bertujuan untuk menghasilkan produk yang bernilai ekonomis dan bermanfaat.

11.4.1 Prasyarat Proses Mikrobiologi Industri Dilihat dari sudut perindustrian mikroorganisme merupakan “pabrik zat kimia” yang mampu melakukan perubahan yang dikehendaki. Mikroorganisme merombak bahan mentah, dan mengubahnya menjadi suatu poroduk baru, dapat digambarkan sebagai berikut: Subtrat (bahan mentah) + mikroorganisme produk baru

Tetapi hal tersebut memerlukan persyaratan agar mudah dilakukan dan ekonomis, prasyarat tersebut adalah (Pelczar, 1988):

1. Organisme Organisme yang dipakai harus dapat menghasilkan produk yang dikehendaki dalam jumlah yang cukup banyak; harus memiliki sifat yang stabil dan mampu tumbuh pesat dan hebat, serta tidak patogenik. Organisme semacam itu kini bahkan dapat diciptakan secara genetis untuk memenuhi tujuan-tujuan tertentu dengan menggunakan teknologi mutahir. 2. Medium Medium termasuk substrat yang digunakan oleh organisme itu untuk membuat produk baru, harus murah (relatif terhadap produk yang dihasilkan) dan tersedia dalam jumlah banyak. Misalnya limbah yang mengandung nutrien dari industri persusuan (air dadih) dan industri kertas (cairan limbah dari pemasakan kayu) digunakan utuk menghasilkan bahn-bahan yang bernilai. 3. Hasil Produksi yang dibentuk melalui metabolisme mikroorganisme biasanya merupakan campuran heterogen yang meliputi sel mikrobe dalam jumlah yang luar biasa banyaknya dan komponen-komponen medium yang terpakai, disamping juga produk-produk metabolisme lain selain yang tak dikehendaki. Karena itu perlu dikembangkan metode-metode yang mudah dilaksanakan dalam slaka besar

214

untuk memisahkan dan memurnikan produk akhir yang diinginkan sehingga mendapatkan hasil yang maksimal. 11.4.2 Sektor Mikrobiologi Industri Industri mikrobiologi digolongkan ke dalam bebetapa kategori, yang paling penting diantaranya adalah: 1. Minuman beralkohol 2. Makanan tambahan 3. Bahan kimia farmasi 4. Bahan hayati (vaksin dan antiserum) 5. Bahan kimia industri Latihan Untuk memperdalam materi di atas, kerjakanlah soal-soal berikut: 1. Jelaskan secara singkat mikrobiologi kesehatan 2. Apa yang anda ketahui tentang mikrobilogi lingkungan 3. Jelaskan keuntungan dan kerugian mikroba dalam bahan pangan 4. Sebutkan produk-produk mikrobiologi industri Rangkuman 1. Mikrobiologi Kesehatan Mikrobiologi kedokteran merupakan salah satu bidang mikrobiologi terapan yang mempelajari bentuk, sifat dan peranan nikroorganisme dibidang kesehatan, yang meliputi antara lain penyakit, imunisasi dan lain sebagainya. Penyakit menular pada umumnya disebabkan oleh mikrobe, baik bakteri, virus, jamur atau protozoa. Cara pemindah sebaran penyakit dapat melalui udara, makanan, air, infeksi nosokomial atau inkeksi asal artropoda. Pemindahansebaran mikroba melalui udara sering dinamakan infeksi asal udara dan infeksinya ditularkan melalui udara. Wahana pemindahsebaran ini adalah tetesan air liur, sekresi pernapasan lain, debu tercemar dam fomit (benda mati yang tercemar oleh patogen dan membantu penyebarannya). Pemindahansebaran melalui makanan terjadi dengan dua mekanisme yaitu: mikroba yang terdapat dalam makanan menginfeksi hospes dan mikroba mengeluarkan eksotoksin dalam makanan kemudian menyebabkan penyakit keracunan makanan (mabuk makanan).

215

Selain manusia, serangga

dapat merupakan sumber pemindahsebaran

mikroba pada manusia. Biasanya berfungsi sebagai inang intermediat bagi parasit atau sebagai vektor mikroba patogenik. Vektor biologis adalah vektor tempat patogen melewatkan masa inkubasi atau perkembangbiakannya. Infeksi nosokomial diartikan infeksi yang diperoleh selama dalam perawatan di rumah sakit.Sumber infeksi nonokomial pada hakekatnya sama dengan yang dimasyarakat, yakni benda, orang, aliran udara hewan terutama serangga. Sumber utama mikroba patogen bagi manusia adalah manusia yang lain. Salah satu ancaman adalah dari mikrobiota normal kita sendiri. Misalnya infeksi yang gawat yang banyak terjadi dirumahsakit disebabkan oleh E. coli, Klebsiella pneumoniae, Candida albicans, Stapylococcus aereus, Proteus mirabilis. 2. Mikrobiologi Lingkungan Mikroba ada dimana-mana disekitar kita di air, udara dan tanah, ada mikroba yang merugikan dan juga menguntungkan. Studi tentang mikroba yang ada di lingkungan alamiahnya disebut dengan ekologi mikroba. 3. Mikrobiologi Pangan a. Keuntungan Mikroorganisme dalam Makanan - Berperan di Dalam Proses Pembuatan Pangan Khusus Berbagai jenis makanan dan minuman hasil fermentasi seperti tempe, kecap, tauco, sosis, keju, bier, anggur dan sebagainya telah sejak lama dikenal melengkapi menu makanan atau minuman sehari-hari. Makanan dan minuman tersebut diolah secara fermentasi dengan menggunakan kemampuan mikroba. Proses fermentasi, baik secara alkoholik maupun non-alkoholik, merupakan proses yang unik dilakukan oleh mikroba; cepat, murah, aman, hemat energi dan nilai organoleptiknya (nilai yang dirasakan oleh lidah) rata- rata sesuai dengan selera. - Berperan di Dalam Peningkatan Nilai Gizi/Nutrisi Makanan Ini terjadi seperti di dalam pembuatan tempe dari kedele, atau pembuatan bahan makanan lain seperti oncom, tuco, terasi dan sebagainya, yang disamping akan menghasilkan nilai gizi/ nutrisi yang jauh lebih baik dan lengkap, juga nilai organoleptik makanan hasilnya akan lebih baik dan meningkat.

216

- Berperan di Dalam Pengadaan Bau dan Rasa Bau dan rasa kacang kedele yang langsung direbus, rata-rata kurang menarik kalau dibandingkan dengan kacang kedele yang telah diproses melalui proses fermentasi misalnya. Juga bau dan rasa susu segar misalnya, banyak yang tidak menyukai kalau dibandingkan bila susu tersebut telah difermentasi menjadi makanan lain, antara lain yoghurt. - Berperan di Dalam Perubahan Warna Warna, seperti juga bau dan rasa, mempunyai arti yang sangat penting untuk bahan makanan. Warna makanan yang menarik akan lebih banyak mendatangkan peminat kalau dibandingkan makanan tersebut tidak mempunyai warna tertentu. Warna hasil proses mikroba disamping sesui untuk tubuh, stabil, juga aman (tidak ada kecenderungan bersifat karsinogenik). b. Kerugian Mikroorganisme dalam Makanan Maksudnya yaitu bila kehadiran mikroba tersebut di dalam bahan makanan justru akan: a. Mengubah bau, rasa dan warna yang tidak dikehendaki b. Menurunkan berat atau volume. c. Menurunkan nilai gizi/nutrisi. d. Mengubah bentuk dan susunan senyawa. e. Menghasilkan toksin (senyawa racun) yang membahayakan Kelompok mikroba seperti bakteri, jamur dan ragi merupakan penyebab terjadinya kerugian pada bahan makanan seperti diatas. Karenanya terhadap bahan makanan, sejak bahan baku, selama proses, selama pengolahan dan penyimpanan, selalu diusahakan untuk tidak dikenai dan ditumbuhi mikroba tersebut. 4. Mikrobiologi Industri Mirobiologi industri adalah kegiatan industri yang melibatkan mikroba sebagai jasad pemroses dalam keadaan terkendali bertujuan untuk menghasilkan produk yang bernilai ekonomis dan bermanfaat. - Sektor Mikrobiologi Industri Industri mikrobiologi digolongkan ke dalam bebetapa kategori, yang paling penting diantaranya adalah: Minuman beralkohol

217

-

Makanan tambahan Bahan kimia farmasi Bahan hayati (vaksin dan antiserum) Bahan kimia industri

C. Penutup a. Pertanyaan 1. Jelaskan secara singkat mikrobiologi kesehatan 2. Apa yang anda ketahui tentang mikrobilogi lingkungan 3. Jelaskan keuntungan dan kerugian mikroba dalam bahan pangan 5. Sebutkan produk-produk mikrobiologi industri b. Umpan balik Anda dapat menguasai materi ini dengan baik jika memperhatikan hal-hal sebagai berikut: Membaca bahan atau materi yang relevan dengan materi yang akan dibahas. Aktif dalam tanya jawab. Mengerjakan latihan.

c. Tindak lanjut Apabila mahasiswa dapat menyelesaikan 80% pertanyaan di atas, maka mahasiswa tersebut sudah boleh mengikuti UAS. Jika ada di antara mahasiswa ada yang belum mencapai penguasaan 80% dianjurkan untuk:   Mempelajari kembali topik di atas dari awal. Berdiskusi dengan teman terutama hal-hal yang belum dikuasai.

- Bertanya kepada Dosen jika ada hal-hal yang tidak jelas dalam penyampaian materi atau diskusi. d. Kunci Jawaban 1. Mikrobiologi Kesehatan Mikrobiologi kedokteran merupakan salah satu bidang mikrobiologi terapan yang mempelajari bentuk, sifat dan peranan nikroorganisme dibidang kesehatan, yang meliputi antara lain penyakit, imunisasi dan lain sebagainya.

218

Penyakit menular pada umumnya disebabkan oleh mikrobe, baik bakteri, virus, jamur atau protozoa. Cara pemindah sebaran penyakit dapat melalui udara, makanan, air, infeksi nosokomial atau inkeksi asal artropoda. Pemindahansebaran mikroba melalui udara sering dinamakan infeksi asal udara dan infeksinya ditularkan melalui udara. Wahana pemindahsebaran ini adalah tetesan air liur, sekresi pernapasan lain, debu tercemar dam fomit (benda mati yang tercemar oleh patogen dan membantu penyebarannya). Pemindahansebaran melalui makanan terjadi dengan dua mekanisme yaitu: mikroba yang terdapat dalam makanan menginfeksi hospes dan mikroba mengeluarkan eksotoksin dalam makanan kemudian menyebabkan penyakit keracunan makanan (mabuk makanan). Selain manusia, serangga dapat merupakan sumber pemindahsebaran

mikroba pada manusia. Biasanya berfungsi sebagai inang intermediat bagi parasit atau sebagai vektor mikroba patogenik. Vektor biologis adalah vektor tempat patogen melewatkan masa inkubasi atau perkembangbiakannya. Infeksi nosokomial diartikan infeksi yang diperoleh selama dalam perawatan di rumah sakit.Sumber infeksi nonokomial pada hakekatnya sama dengan yang dimasyarakat, yakni benda, orang, aliran udara hewan terutama serangga. Sumber utama mikroba patogen bagi manusia adalah manusia yang lain. Salah satu ancaman adalah dari mikrobiota normal kita sendiri. Misalnya infeksi yang gawat yang banyak terjadi dirumahsakit disebabkan oleh E. coli, Klebsiella pneumoniae, Candida albicans, Stapylococcus aereus, Proteus mirabilis. 2. Mikrobiologi Lingkungan Mikroba ada dimana-mana disekitar kita di air, udara dan tanah, ada mikroba yang merugikan dan juga menguntungkan. Studi tentang mikroba yang ada di lingkungan alamiahnya disebut dengan ekologi mikroba. 3. Mikrobiologi Pangan a. Keuntungan Mikroorganisme dalam Makanan - Berperan di Dalam Proses Pembuatan Pangan Khusus Berbagai jenis makanan dan minuman hasil fermentasi seperti tempe, kecap, tauco, sosis, keju, bier, anggur dan sebagainya telah sejak lama dikenal

219

melengkapi menu makanan atau minuman sehari-hari. Makanan dan minuman tersebut diolah secara fermentasi dengan menggunakan kemampuan mikroba. Proses fermentasi, baik secara alkoholik maupun non-alkoholik, merupakan proses yang unik dilakukan oleh mikroba; cepat, murah, aman, hemat energi dan nilai organoleptiknya (nilai yang dirasakan oleh lidah) rata- rata sesuai dengan selera. - Berperan di Dalam Peningkatan Nilai Gizi/Nutrisi Makanan Ini terjadi seperti di dalam pembuatan tempe dari kedele, atau pembuatan bahan makanan lain seperti oncom, tuco, terasi dan sebagainya, yang disamping akan menghasilkan nilai gizi/ nutrisi yang jauh lebih baik dan lengkap, juga nilai organoleptik makanan hasilnya akan lebih baik dan meningkat. - Berperan di Dalam Pengadaan Bau dan Rasa Bau dan rasa kacang kedele yang langsung direbus, rata-rata kurang menarik kalau dibandingkan dengan kacang kedele yang telah diproses melalui proses fermentasi misalnya. Juga bau dan rasa susu segar misalnya, banyak yang tidak menyukai kalau dibandingkan bila susu tersebut telah difermentasi menjadi makanan lain, antara lain yoghurt. - Berperan di Dalam Perubahan Warna Warna, seperti juga bau dan rasa, mempunyai arti yang sangat penting untuk bahan makanan. Warna makanan yang menarik akan lebih banyak mendatangkan peminat kalau dibandingkan makanan tersebut tidak mempunyai warna tertentu. Warna hasil proses mikroba disamping sesui untuk tubuh, stabil, juga aman (tidak ada kecenderungan bersifat karsinogenik). b. Kerugian Mikroorganisme dalam Makanan Maksudnya yaitu bila kehadiran mikroba tersebut di dalam bahan makanan justru akan: - Mengubah bau, rasa dan warna yang tidak dikehendaki - Menurunkan berat atau volume. - Menurunkan nilai gizi/nutrisi. - Mengubah bentuk dan susunan senyawa. - Menghasilkan toksin (senyawa racun) yang membahayakan

220

Kelompok mikroba seperti bakteri, jamur dan ragi merupakan penyebab terjadinya kerugian pada bahan makanan seperti diatas. Karenanya terhadap bahan makanan, sejak bahan baku, selama proses, selama pengolahan dan penyimpanan, selalu diusahakan untuk tidak dikenai dan ditumbuhi mikroba tersebut. 4. Mikrobiologi Industri Mirobiologi industri adalah kegiatan industri yang melibatkan mikroba sebagai jasad pemroses dalam keadaan terkendali bertujuan untuk menghasilkan produk yang bernilai ekonomis dan bermanfaat. - Sektor Mikrobiologi Industri Industri mikrobiologi digolongkan ke dalam bebetapa kategori, yang paling penting diantaranya adalah: Minuman beralkohol Makanan tambahan Bahan kimia farmasi Bahan hayati (vaksin dan antiserum) Bahan kimia industri

e. Referensi Budiyanto, MAK. 2003. Mikrobiologi Terapan. UMM. Pelczhar. 1986. Dasar-dasar Mikrobiologi 2. Jakarta. UI Press. Waluyo. 2004. Mikrobiologi Umum. UMM f. Senarai organoleptiknya : nilai yang dirasakan oleh lidah toksin : racun

221

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->