P. 1
Perpajakan

Perpajakan

4.84

|Views: 6,740|Likes:
Published by KHAIRUNNISA

More info:

Published by: KHAIRUNNISA on Dec 28, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

02/20/2013

Review of Kapita Selekta

week - date : VIII - 16th December 2008
topic :

Perpajakan speaker :

Iim Ibrahim Nur, Ir., M.Ak

Siti Khairunnisa H 0900806750

Manajemen - Economic | Binus University
Jakarta, December 2008

Perpajakan

Jenis Pungutan di Indonesia :
♔ Pajak - Pajak Pusat : Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Pajak Penjualan atas Barang Mewah, Bea Meterai, Bea Lelang, Bea Masuk (impor), Bea Masuk Tambahan (impor), Cukai. - Pajak Daerah : Pajak Reklame, Pajak Kendaraan Bermotor, Pajak Hotel dan Restaurant, Pajak Tontonan, Pajak Reklame, BBN Kendaraan Bermotor, dll - Campuran ( Pusat dan Daerah) : Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB). ♔ Retribusi : Pembayaran kepada Negara yang dilakukan oleh mereka yang menggunakan jasa negara. Misalnya, PAM, Restribusi pasar, dll ♔ Sumbangan / Iuran : Biaya-biaya yang dibayarkan kepada negarauntuk prestasi, tidak ditujukan kepada masyarakat, melainkan hanya untuk sebagian tertentu saja (Santoso Brotodiharjo, S.H. ) ♔ Penerimaan Negara Bukan Pajak (UU No. 20 Tahun 1997) : Seerti SIM< STNK, Lelang, Pass Kayu, dll

Sumber : Pengantar Hukum Pajak, DTS Pajak, Sofiandhi, Tahun 2000

Kapita Selekta VIII : Perpajakan Binus University, Economy - Management page 1/31

Definisi pajak - Prof. Dr. Rochmat Soemitro, S.H :
Iuran kepada negara (yang dapat dipaksakan) terutama oleh yang wajib membayarnya menurut peraturan dengan tidak mendapat prestasi kembali, yang langsung dapat ditunjuk, yang gunanya adalah untuk membiayai pengeluaran umum berhubung dengan tugas negara menyelenggarakan pemerintahan.

Jenis Pajak :
♔ Dikelola oleh Direktorat Jendral Pajak ( Pajak Pusat ) : - Pajak Penghasilan ( PPh), - Pajak Penghasilan (PPh), - Pajak Pertambahan Nilai (PPN), dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), - Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), - Bea Meterai ♔ Dikelola oleh Direktorat Jendral Bea Cukai ( Pajak Pusat ) : - Bea Masuk (BM), - Bea Masuk Tambahan (BMT), - Cukai, dll.

Kapita Selekta VIII : Perpajakan Binus University, Economy - Management page 2/31

♔ Dikelola oleh Dinas Pendapatan Daerah (Pajak Daerah) : - Pajak Reklame, - Pajak Kendaraan Bermotor, - Pajak Hotel dan Restaurant, - Pajak Tontonan, - Pajak Reklame, - BBN Kendaraan Bermotor, dll

Fungsi Pajak :
♔ Fungsi anggaran (budgetair) Sebagai sumber pendapatan negara, pajak berfungsi untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran negara. Untuk menjalankan tugas-tugas rutin negara dan melaksanakan pembangunan, negara membutuhkan biaya. Biaya ini dapat diperoleh dari penerimaan pahak. Pajak digunakan untuk pembiayaan rutin seperti belanja pegawai, belanja barang, pemeliharaan, dan lain sebagainya. Untuk pembiayaan pembangunan, uang dikeluarkan dari tabungan pemerintah, yakni penerimaan dalam negeri dikurangi pengeluaran rutin. Tabungan pemerintah ini dari tahun ke tahun harus ditingkatkan sesuai kebutuhan pembiayaan pembangunan yang semakin meningkat dan ini terutama diharapkan dari sektor pajak.

Kapita Selekta VIII : Perpajakan Binus University, Economy - Management page 3/31

♔ Fungsi mengatur (regulerend) Pemerintah bisa mengatur pertumbuhan ekonomi melalui kebijaksanaan pajak. Dengan fungsi mengatur, pajak bisa digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan. Contohnya dalam rangka menggiring penanaman modal, baik dalam negeri maupun luar negeri, diberikan berbagai macam fasilitas keringanan pajak. Dalam rangka melindungi produksi dalam negeri, pemerintah menetapkan bea masuk yang tinggi untuk produk luar negeri. ♔ Fungsi stabilitas Dengan adanya pajak, pemerintah memiliki dana untuk menjalankan kebijakan yang berhubungan dengan stabilitas harga sehingga inflasi dapat dikendalikan, Hal ini bisa dilakukan antara lain dengan jalan mengatur peredaran uang di masyarakat, pemungutan pajak, penggunaan pajak yang efektif dan efesien.

♔ Fungsi redistribusi pendapatan Pajak yang sudah dipungut oleh negara akan digunakan untuk membiayai semua kepentingan umum, termasuk juga untuk membiayai pembangunan sehingga dapat membuka kesempatan kerja, yang pada akhirnya akan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat.

Kapita Selekta VIII : Perpajakan Binus University, Economy - Management page 4/31

Sistem Pengenaan Pajak :
♔ Self Assessment Self assessment adalah sistem pemungutan pajak yang dihitung, dilaporkan dan dibayarkan sendiri oleh wajib pajak (WP). ♔ Official Assessment Official adalah sistem pemungutan pajak yang nilai pajaknya ditetapkan oleh pemerintah dalam hal ini ditetapkan oleh gubernur. ♔ Joint Collection Joint Collection adalah sistem pemungutan pajak yang dipungut oleh pemungut pajak.

Reformasi Perpajakan 1983 :
Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (UU KUP), Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan (UU PPh 1984), Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (UU PPN 1984). Tujuan utamanya adalah meningkatkan kepatuhan perpajakan. Dalam hal mencakup penetapan besarnya restitusi, pengawasan terhadap laporan keuangan wajib pajak, penagihan tunggakan, sampai hal-hal kecil dalam soal pengisian surat pemberitahuan tahunan (SPT)

Kapita Selekta VIII : Perpajakan Binus University, Economy - Management page 5/31

Kewajiban Wajib Pajak :
✓ Mendaftarkan diri (NPWP/NPPKP) ✓ Menyampaikan Surat Pemberitahuan (SPT/SPM) ✓ Membayar Sendiri Pajak Yang Terutang (SSP) ✓ Menyelenggarakan Pembukuan / Pencatatan (masa kadaluarsa 5 tahun) ✓ Melayani Proses pemeriksaan pajak yang dilakukan oleh fiskus

Hak Wajib Pajak :
✓ Melakukan Pembetulan Surat Pemberitahuan ✓ Meminta kembali kelebihan pembayaran pajak ✓ Mengajukan keberatan (termasuk pengurangan) ✓ Mengajukan permohonan banding ✓ Mendapatkan imbalan bunga berkenaan dengan keberatan / banding

Kapita Selekta VIII : Perpajakan Binus University, Economy - Management page 6/31

4 Jenis Surat Ketetapan Pajak (SKP) :
✓ SKPKB (Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar) ✓ SKPKBT (Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan) ✓ SKPLB (Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar) ✓ SKPN (Surat Ketetapan Pajak Nihil)

Surat Tagihan Pajak (STP) :
Tercantum dalam U KUP Pasal 14, Surat Tagiha Pajak adalah surat untuk melakukan tagihan pajaka dan atau sanksi admininstrasi berupa bunga dan atau denda pajak

Kapita Selekta VIII : Perpajakan Binus University, Economy - Management page 7/31

Pajak Penghasilan (PPh)
Definisi :
Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 adalah pajak atas penghasilan berupa gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan pembayaran lain dengan nama apa pun yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri sehubungan dengan pekerjaan/ jabatan, jasa, dan kegiatan.

Subjek Pajak PPh :
1. Pegawai tetap Orang pribadi yang bekerja pada pemberi kerja yang menerima atau memperoleh gaji dalam jumlah tertentu secara berkala, termasuk anggota dewan komisaris dan anggota dewan pengawas yang secara teratur terus menerus ikut mengelola kegiatan perusahaan secara langsung. 2. Pegawai lepas Orang pribadi yang bekerja pada pemberi kerja yang hanya menerima imbalan apabila orang pribadi yang bersangkutan bekerja. 3. Penerima pensiun Orang pribadi atau ahli warisnya yang menerima atau memperoleh imbalan untuk pekerjaan yang dilakukan di masa lalu, termasuk yang menerima Tabungan Hari Tua atau Tunjangan Hari Tua. 4. Penerima honorariun Orang pribadi yang menerima atau memperoleh imbalan sehubungan dengan jasa, jabatan, atau kegiatan yang dilakukannya.

Kapita Selekta VIII : Perpajakan Binus University, Economy - Management page 8/31

5. Penerima upah Orang pribadi yang menerima upah harian, upah mingguan, upah borongan, atau upah satuan.

Bukan Subjek Pajak PPh :
1. Pejabat perwakilan diplomatik dan konsulat atau pejabat lain dari negara asing, dan orang-orang yang diperbantukan kepada mereka yang bekerja pada dan bertempat tinggal bersama mereka, dengan syarat : * Bukan warga negara Indonesia dan * Tidak menerima atau memperoleh penghasilan lain di luar jabatannya di Indonesia. 2. Pejabat perwakilan organisasi internasional sebagaimana dimaksud dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor: 611/KMK.04/1994 tanggal 23 Desember 1994 sepanjang bukan warga negara Indonesia dan tidak menjalankan usaha atau melakukan kegiatan atau pekerjaan lain untuk memperoleh penghasilan di Indonesia.

Kapita Selekta VIII : Perpajakan Binus University, Economy - Management page 9/31

Mulai dan Akhir Kewajiban Pajak Subjektif :
Undang-undang Pajak Penghasilan memberikan tempat di Pasal 2A yang khusus mengatur kapan mulai dan berakhirnya kewajiban pajak subjektif. Selengkapnya, saat mulai dan berakhirnya kewajiban pajak subjektif ini adalah sebagai berikut : Untuk subjek pajak orang pribadi dalam negeri : dimulai pada saat orang pribadi tersebut dilahirkan, berada, atau berniat untuk bertempat tinggal di Indonesia dan berakhir pada saat meninggal dunia atau meninggalkan Indonesia untuk selama-lamanya. Untuk subjek pajak badan dalam negeri : dimulai pada saat badan tersebut didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia dan berakhir pada saat dibubarkan atau tidak lagi bertempat kedudukan di Indonesia. Untuk subjek pajak luar negeri berupa BUT : dimulai pada saat orang pribadi atau badan menjalankan usaha atau melakukan kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (5) UU PPh dan berakhir pada saat tidak lagi menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap. Untuk subjek pajak luar negeri non BUT : dimulai pada saat orang pribadi atau badan tersebut menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia dan berakhir pada saat tidak lagi menerima atau memperoleh penghasilan tersebut.

Kapita Selekta VIII : Perpajakan Binus University, Economy - Management page 10/31

Bukan Objek Pajak (UU PPh pasal 4(3)) :
Ada satu jenis penghasilan yang dihapuskan dari daftar penghasilan yang bukan objek pajak yaitu : bunga obligasi yang diterima atau diperoleh perusahaan reksadana selama 5 (lima) tahun pertama sejak pendirian perusahaan atau pemberian ijin usaha,

Kemudian ada tiga jenis penghasilan yang ditambahkan ke dalam daftar penghasilan yang bukan objek pajak yaitu : 1. Beasiswa yang memenuhi persyaratan tertentu yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan, 2. Sisa lebih yang diterima atau diperoleh badan atau lembaga nirlaba yang bergerak dalam bidang pendidikan dan/atau bidang penelitian terdaftar pada instansi yang

dan pengembangan, yang telah

membidanginya, yang ditanamkan kembali dalam dan prasarana kegiatan pendidikan dan/atau

bentuk sarana penelitian dan

pengembangan, dalam jangka waktu paling lama 4 (empat) tahun sejak diperolehnya sisa lebih tersebut, yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan, 3. Bantuan atau santunan yang dibayarkan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial kepada Wajib Pajak tertentu, yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan

Kapita Selekta VIII : Perpajakan Binus University, Economy - Management page 11/31

Jenis Pajak Penghasilan (PPh) :
1. PPh Migas a. PPh Minyak bumi b. PPh Gas Alam 2. PPh Non-Migas a. PPh Pasal 21 b. PPh Pasal 22 (1) PPh Pasal 22 Non-impor (2) PPh Pasal 22 Impor c. PPh Pasal 23 d. PPh Pasal 25/29 (1) PPh Pasal 25/29 Pribadi (2) PPh Pasal 25/29 Badan e. PPh Pasal 26 f. PPh Final dan Fiskal Luar Neger **Yang kemudian diperbaharui PPh Pasal 4 (2) : - Bunga deposito dan tabungan - tabungan lainnya (20%) - Penghasilan dari transaksi saham dan sekuritas lainnya dibursa efek - Penghasilan dari pengalihan tanah berupa tanah, dan, atau bangunan

Kapita Selekta VIII : Perpajakan Binus University, Economy - Management page 12/31

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

Definisi
Pajak pertambahan nilai (PPN) adalah pajak yang dikenakan atas setiap pertambahan nilai dari barang atau jasa dalam peredarannya dari produsen ke konsumen. Disebut juga "value added tax" (VAT) atau "goods and services tax" (GST). PPN termasuk jenis pajak tak langsung, yang artinya bahwa pajak tersebut disetor oleh pihak lain (pedagang) yang bukan penanggung pajak, atau dengan kata lain, penanggung pajak (konsumen akhir) tidak menyetorkan langsung pajak yang ia tanggung. Mekanisme pemungutan, penyetoran dan pelaporan PPN ada pada pedagang/ produsen (pengusaha kena pajak atau PKP). Dalam perhitungan PPN yang harus disetor oleh PKP dikenal istilah Pajak Keluaran dan Pajak Masukan. Pajak Keluaran adalah PPN yang dipungut ketika PKP menjual produknya, sedangkan Pajak Masukan adalah PPN yang dibayar ketika PKP membeli/memperoleh/ membuat produknya. Indonesia menganut sistem tarif tunggal untuk PPN; yaitu sebesar 10 persen. Dasar hukum utama yang digunakan untuk penerapan PPN di Indonesia adalah Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 berikut revisinya, yaitu UU No.11/1994 sebagaimana diubah terakhir dengan UU No.18/2000.

Karakteristik PPN
1. Pajak tidak langsung; pemikul beban pajak dan penanggung jawab atas pembayaran pajak ke KPP adalah subyek yang berbeda 2. Multitahap; pajak dikenakan di tiap mata rantai produksi dan distribusi 3. Pajak obyektif; pengenaan pajak didasarkan pada obyek pajak
Kapita Selekta VIII : Perpajakan Binus University, Economy - Management page 13/31

4.

Menghindari pengenaan pajak berganda; sistem pajak pertambahan nilai didesain untuk menghindari pengenaan pajak berganda

5.

Dihitung dengan metode pengurangan tak langsung (indirect subtraction); yaitu dengan memperhitungkan pajak masukan dan pajak keluaran

Barang dan Jasa yang tidak dikenakan PPN
Pada dasarnya semua barang dan jasa merupakan Barang Kena Pajak dan Jasa Kena Pajak, sehingga dikenakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN), kecuali jenis barang dan jenis jasa sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 4A Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2000 tidak dikenakan PPN, yaitu: 6. Barang hasil pertambangan atau hasil pengeboran yang diambil langsung dari sumbernya, meliputi: a.Minyak mentah; b.Gas bumi; c.Panas bumi; d.Pasir dan kerikil; e.Batu bara sebelum diproses menjadi briket batu bara; dan f. Bijih timah, bijih besi, bijih emas, bijih tembaga, bijih nikel, bijih perak, serta bijih bauksit. g.Barang hasil pertambangan dan pengeboran lainnya yang diambil langsung dari sumbernya. 7. Barang-barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh rakyat banyak, yaitu : a. Segala jenis beras dan gabah, seperti beras putih, beras merah, beras ketan hitam atau beras ketan putih dalam bentuk: - Beras berkulit (padi atau gabah) selain untuk benih; - Digiling; - Beras setengah giling atau digiling seluruhnya, disosoh, dikilapkan maupun tidak; - Beras pecah; Menir (groats) dari beras.
Kapita Selekta VIII : Perpajakan Binus University, Economy - Management page 14/31

b. Segala jenis jagung, seperti jagung putih, jagung kuning, jagung kuning kemerahan atau popcorn (jagung brondong), dalam bentuk: - Jagung yang telah dikupas maupun belum/ jagung tongkol dan biji jagung/jagung pipilan; - Munir (groats) / beras jagung, sepanjang masih dalam bentuk butiran. c. Sagu, dalam bentuk : - Empulur sagu; - Tepung, tepung kasar dan bubuk dari sagu. d. Segala jenis kedelai, seperti kedelai putih, kedelai hijau,kedelai kuning atau kedelai hitam dalam bentuk pecah atau utuh; e. Garam baik yang beryodium maupun tidak berjodium termasuk: - Garam meja; - Garam dalam bentuk curah atau kemasan 50 Kg atau lebih, dengan kadar Na CL 94,7 % (dry basis).

8. Makanan dan minuman yang disajikan di hotel, restoran, rumah makan, warung, dan sejenisnya, meliputi makanan dan minuman baik yang dikonsumsi di tempat maupun tidak; tidak termasuk makanan dan minuman yang diserahkan oleh usaha katering atau usaha jasa boga. 9. Uang, emas batangan, dan surat-surat berharga. 10. Jasa di bidang pelayanan sosial, meliputi: a. Jasa pelayanan panti asuhan dan panti jompo; b. Jasa pemadam kebakaran kecuali yang bersifat komersial; c. Jasa pemberian pertolongan pada kecelakaan; d. Jasa lembaga rehabilitasi kecuali yang bersifat komersial; e. Jasa pemakaman termasuk krematorium; f. Jasa di bidang olah raga kecuali yang bersifat komersial. g. Jasa pelayanan sosial lainnya kecuali yang bersifat komersial.

Kapita Selekta VIII : Perpajakan Binus University, Economy - Management page 15/31

11. Jasa di bidang pengiriman surat dengan perangko yang dilakukan oleh PT. Pos Indonesia (Persero). 12. Jasa di bidang perbankan, asuransi, dan sewa guna usaha dengan hak opsi, meliputi : a.Jasa perbankan, kecuali jasa penyediaan tempat untuk menyimpan barang dan surat berharga, jasa penitipan untuk kepentingan pihak lain berdasarkan surat kontrak (perjanjian), serta anjak piutang. b.Jasa asuransi, tidak termasuk broker asuransi; dan c.Jasa Sewa Guna Usaha dengan Hak Opsi. 13. Jasa di bidang keagamaan, meliputi : a.Jasa pelayanan rumah ibadah; b.Jasa pemberian khotbah atau dakwah; dan c.Jasa lainnya di bidang keagamaan, 14. Jasa di bidang pendidikan, meliputi : a.Jasa penyelenggaraan pendidikan sekolah, seperti jasa penyelenggaraan pendidikan umum, pendidikan kejuruan, pendidikan luar biasa, pendidikan kedinasan, pendidikan keagamaan, pendidikan akademik dan pendidikan profesional; b.Jasa penyelenggaraan pendidikan luar sekolah, seperti kursus-kursus, 15. Jasa di bidang kesenian dan hiburan yang telah dikenakan pajak tontonan termasuk jasa di bidang kesenian yang tidak bersifat komersial, seperti pementasan kesenian tradisional yang diselenggarakan secara cuma-cuma.

Kapita Selekta VIII : Perpajakan Binus University, Economy - Management page 16/31

16. Jasa di bidang penyiaran yang bukan bersifat iklan seperti jasa penyiaran radio atau televisi baik yang dilakukan oleh instansi Pemerintah maupun swasta.

Jenis Jasa Yang Tidak Dikenakan PPN 1. Jasa di bidang pelayanan kesehatan medik, meliputi: a. Jasa dokter umum, jasa dokter spesialis, jasa dokter gigi; b. Jasa dokter hewan; c. Jasa ahli kesehatan seperti akupuntur, ahli gizi,fisioterapi, ahli gigi; d. Jasa kebidanan, dan dukun bayi; e. Jasa paramedis, dan perawat; dan f. Jasa rumah sakit, rumah bersalin, klinik kesehatan, laboratorium kesehatan, dan sanatorium. 2. yang bukan bersifat iklan dan tidak dibiayai oleh sponsor yang bertujuan komersial. 3. Jasa di bidang angkutan umum di darat dan di air, meliputi jasa angkutan umum di darat, di laut, di danau maupun di sungai yang dilakukan oleh Pemerintah maupun oleh swasta. 4. Jasa di bidang tenaga kerja, meliputi: a.Jasa tenaga kerja; b.Jasa penyediaan tenaga kerja sepanjang Pengusaha penyedia tenaga kerja tidak bertanggung jawab atas hasil kerja dari tenaga kerja tersebut; dan c. Jasa penyelenggaraan latihan bagi tenaga kerja. 5. Jasa di bidang perhotelan, meliputi: a. Jasa persewaan kamar termasuk tambahannya di hotel, rumah penginapan, motel, losmen, hostel, serta fasilitas yang terkait dengan kegiatan perhotelan untuk tamu yang menginap; dan b. Jasa persewaan ruangan untuk kegiatan acara atau pertemuan di hotel, rumah penginapan, motel, losmen dan hostel.

Kapita Selekta VIII : Perpajakan Binus University, Economy - Management page 17/31

6. Jasa yang disediakan oleh Pemerintah dalam rangka menjalankan pemerintahan secara umum, meliputi jenis-jenis jasa yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah seperti pemberian Izin Mendirikan Bangunan (1MB), pemberian Ijin Usaha Perdagangan, pemberian Nomor Pokok Wajib Pajak dan pembuatan Kartu Tanda Penduduk (KTP).

Kapita Selekta VIII : Perpajakan Binus University, Economy - Management page 18/31

Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM)

Merupakan bagian dari UU Pajak Pertambahan Nilai, dibedakan dengan mekanisme yang tercantum dalam Pasal 5 Ayat (1), bahwa penjualan atas barang mewah dikenakan terhadap : 1. penyerahan Barang Kena Pajak Yang Tergolong Mewah yang dilakukan oleh Pengusaha yang menghasilkan Barang Kena Pajak Yang Tergolong Mewah di dalam Daerah Pabean dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya 2. impor Barang Kena Pajak Yang Tergolong Mewah. PPnBM hanya dikenakan pada saat penyerahan BKP Mewah oleh pabrikan (pengusaha yang menghasilkan) dan pada saat impor BKP Mewah, dan tidak dikenakan lagi pada rantai penjualan setelah itu. Pihak yang mengurus PPnBM tentu saja pabrikan BKP Mewah pada saat melakukan penyerahan atau penjualan BKP Mewah. Sedangkan PPnBM atas impor BKP mewah dilunasi oleh importir berbarengan dengan pembayaran PPN impor dan PPh Pasal 22 Impor.

Dasar Pertimbangan Pengenaan PPnBM
1. Perlu keseimbangan pembebanan pajak antara konsumen yang berpenghasilan rendah dengan konsumen yang berpenghasilan tinggi 2. Perlu adanya pengendalian pola konsumsi atas Barang Kena Pajak Yang Tergolong Mewah 3. Perlu adanya perlindungan terhadap produsen kecil atau tradisional 4. Perlu untuk mengamankan penerimaan negara

Kapita Selekta VIII : Perpajakan Binus University, Economy - Management page 19/31

Pengertian BKP Mewah
1. 2. 3. bahwa barang tersebut bukan merupakan barang kebutuhan pokok; atau barang tersebut dikonsumsi oleh masyarakat tertentu; atau pada umumnya barang tersebut dikonsumsi oleh masyarakat berpenghasilan tinggi; atau 4. 5. barang tersebut dikonsumsi untuk menunjukkan status; atau apabila dikonsumsi dapat merusak kesehatan dan moral masyarakat, serta mengganggu ketertiban masyarakat, seperti minuman beralkohol.

Tarif, Kelompok, dan Jenis BKP Mewah
Berdasarkan Pasal 8 Undang-undang PPN, ditentukan : 1. Tarif Pajak Penjualan Atas Barang Mewah adalah paling rendah 10% (sepuluh persen) dan paling tinggi 75% (tujuh puluh lima persen) 2. Atas ekspor Barang Kena Pajak Yang Tergolong Mewah dikenakan pajak dengan tarif 0% (nol persen) 3. Dengan Peraturan Pemerintah ditetapkan kelompok Barang Kena Pajak Yang Tergolong Mewah yang dikenakan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah 4. Jenis Barang yang dikenakan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah atas Barang Kena Pajak Yang Tergolong Mewah ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan.”

Kapita Selekta VIII : Perpajakan Binus University, Economy - Management page 20/31

Peraturan Pemerintah yang mengatur pengelompokan BKP yang tergolong mewah ini adalah PP Nomor 145 Tahun 2000 yang kemudian mengalami beberapa perubahan dengan PP Nomor 60Tahun 2001, PP Nomor 7 Tahun 2002, PP Nomor 6 Tahun 2003, PP Nomor 43 Tahun 2003, PP Nomor 55 Tahun 2004, PP Nomor 41 Tahun 2005 dan PP Nomor 12 Tahun 2006. Adapun Keputusan Menteri Keuangan yang mengatur jenis barang yang dikenakan PPnBM adalah Keputusan Menteri Keuangan Nomor 570/KMK. 04/2000, 381/KMK.03/2001, 141/KMK.03/2002, 39/KMK.03/2003 dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 620/PMK.03/2004.

Kapita Selekta VIII : Perpajakan Binus University, Economy - Management page 21/31

Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)

Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) adalah Pajak Negara yang dikenakan terhadap bumi dan/atau bangunan berdasarkan Undang-undang nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang nomor 12 Tahun 1994. PBB adalah pajak yang bersifat kebendaan dalam arti besarnya pajak terutang ditentukan oleh keadaan objek yaitu bumi/tanah dan/atau bangunan. Keadaan subyek (siapa yang membayar) tidak ikut menentukan besarnya pajak.

Tarif PBB :
Besarnya tarif PBB adalah 0,5%

Objek PBB
Objek PBB adalah "Bumi dan/atau Bangunan": - Bumi : Permukaan bumi (tanah dan perairan) dan tubuh bumi yang ada dibawahnya. Contoh : sawah, ladang, kebun, tanah. pekarangan, tambang, dll. - Bangunan : Konstruksi teknik yang ditanamkan atau dilekatkan secara tetap pada tanah dan/atau perairan di wilayah Republik Indonesia. Contoh : rumah tempat tinggal, bangunan tempat usaha, gedung bertingkat, pusat perbelanjaan, jalan tol, kolam renang, anjungan minyak lepas pantai, dll

Kapita Selekta VIII : Perpajakan Binus University, Economy - Management page 22/31

Objek PBB yang dikecualikan :
1. Digunakan semata-mata untuk melayani kepentingan umum dibidang ibadah, sosial, pendidikan dan kebudayaan nasional yang tidak dimaksudkan memperoleh keuntungan, seperti mesjid, gereja, rumah sakit pemerintah, sekolah, panti asuhan, candi, dan lain-lain. 2. Digunakan untuk kuburan, peninggalan purbakala. 3. Merupakan hutan lindung, suaka alam, hutan wisata, taman nasional, dan lainlain. 4. Dimiliki oleh Perwakilan Diplomatik berdasarkan azas timbal balik dan Organisasi Internasional yang ditentukan oleh Menteri Keuangan.

Subjek Pajak PBB :
- mempunyai suatu hak atas bumi, dan atau; - memperoleh manfaat atas bumi, dan atau; - memiliki, menguasai atas bangunan, dan atau; - memperoleh manfaat atas bangunan.

Wajib Pajak PBB :
Wajib Pajak adalah Subyek Pajak yang dikenakan kewajiban membayar pajak.

Kapita Selekta VIII : Perpajakan Binus University, Economy - Management page 23/31

Dasar Pengenaan PBB :
Dasar pengenaan PBB adalah "Nilai Jual Objek Pajak (NJOP)". NJOP ditentukan per wilayah berdasarkan keputusan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak dengan terlebih dahulu memperhatikan : a. harga rata-rata yang diperoleh dari transaksi jual beli yang terjadi secara wajar b. perbandingan harga dengan objek lain yang sejenis yang letaknya berdekatan dan telah diketahui harga jualnya, c. nilai perolehan baru, d. penentuan nilai jual objek pengganti.

Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak :
NJOPTKP adalah batas NJOP atas bumi dan/atau bangunan yang tidak kena pajak. Besarnya NJOPTKP untuk setiap daerah Kabupaten/Kota setinggitingginya Rp 12.000.000,- dengan ketentuan sebagai berikut : a. Setiap Wajib Pajak memperoleh pengurangan NJOPTKP sebanyak satu kali dalam satu Tahun Pajak. b. Apabila wajib pajak mempunyai beberapa Objek Pajak, maka yang mendapatkan pengurangan NJOPTKP hanya satu Objek Pajak yang nilainya terbesar dan tidak bisa digabungkan dengan Objek Pajak lainnya.

Kapita Selekta VIII : Perpajakan Binus University, Economy - Management page 24/31

Dasar Perhitungan PBB :
Dasar penghitungan PBB adalah dengan menggunakan Nilai Jual Kena Pajak (NJKP) yaitu adalah sebagai berikut : ✓ Objek pajak perkebunan adalah 40% ✓ Objek pajak kehutanan adalah 40% ✓ Objek pajak pertambangan adalah 20% ✓ Objek pajak lainnya (pedesaan dan perkotaan): apabila NJOP-nya > Rp1.000.000.000,00 adalah 40% apabila NJOP-nya < Rp1.000.000.000,00 adalah 20%

Kapita Selekta VIII : Perpajakan Binus University, Economy - Management page 25/31

Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB)

Definisi
BPHTB atau bea perolehan hak atas tanah dan bangunan adalah pajak yang dikenakan atas perolehan perolehan hak atas tanah dan bangunan. Perolehan hak atas tanah dan atau bangunan adalah perbuatan atau peristiwa hukum yang mengakibatkan diperolehnya atau dimilikinya hak atas tanah dan atau bangunan oleh orang perseorangan pribadi atau badan. Objek pajak BPHTB adalah perolehan hak atas tanah dan atau bangunan. Subjek BPHTB adalah orang pribadi atau badan yang memperoleh hak atas tanah dan atau bangunan. DPP / Dasar pengenaan Pajak BPHTB adalah Nilai Perolehan Objek Bajak atau disingkat menjadi NPOP. NPOP dapat berbentuk harga transaksi dan nilai pasar. Jika nilai NPOP tidak diketahui atau lebih kecil dari NJOP PBB, maka NJOP PBB dapat dipakai sebagai dasar pengenaan pajak BPHTB. BPHTB yaitu merupakan pajak yang harus dibayar akibat perolehan hak atas tanah dan bangunan meliputi hak milik, hak guna usaha, hak guna bangunan, hak pakai, hak milik atas satuan rumah susun dan hak pengelolaan.

Wajib Pajak BPHTB :
a. Akta pemindahan hak atas tanah dan atau bangunan ditandatangani oleh PPAT atau Notaris. b. Risalah lelang untuk pembelian telah ditandatangani oleh Kepala Kantor Lelang atau Pejabat Lelang yang berwenang. c. Dilakukannya pendaftaran hak oleh Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten atau Kotamadya dalam hal pemberian hak baru atau pemindahan hak karena pelaksanaan putusan hakim dan hibah wasiat.
Kapita Selekta VIII : Perpajakan Binus University, Economy - Management page 26/31

Intinya adalah terjadi pemindahan hak karena jual beli, tukar-menukar, hibah, hibah wasiat, hadiah, warisan / waris dan pemberian hak baru karena adanya kelanjutan pelepasan hak dan di luar pelepasan hak. Bentuk pengalihan yang tidak kena BPHTB adalah seperti pengalihan atau perubahan hak dan perbuatan hukum lain dengan tidak adanya perubahan nama, wakaf atau digunakan untuk kepentingan ibadah.

Besaran BPHTB :
a. Tarif BPHTB adalah sebesar 5% dari Nilai Perolehan Objek Pajak Kena Pajak. b. Nilai perolehan objek pajak atau NPOP tidak kena pajak ditetapkan sebesar Rp. 60.000.000 (tiga puluh juta rupiah) yang sewaktu-waktu besarnya dapat dirubah oleh peraturan pemerintah. Sedangkan khusus untuk perolehan karena hak waris dalam satu dahar, sedarah atau keturunan garis lurus satu derajat ke atas atau ke bawah dengan pemberian hibah termasuk istri atau suami NJOPTKP atau Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak adalah sebesar Rp. 300.000.000. c. Nilai Perolehan Objek Pajak Kena Pajak (NPOPKP) adalah nilai perolehan objek pajak (NPOP) dikurangi dengan nilai perolehan onjek pajak tidak kena pajak. d. Besar pajak terutang BPHTB adalah didapat dengan cara mengalikan tarif pajak dengan nilai perolehan onjek pajak kena pajak (NPOPKP).

Kapita Selekta VIII : Perpajakan Binus University, Economy - Management page 27/31

Bea Materai (BM)
Definisi Dokumen
Dokumen adalah kertas yang berisikan tulisan yang mengandung arti dan maksud tentang : perbuatan, keadaan / kenyataan bagi seseorang dan / atau pihak-pihak yang berkepentingan

Benda Materai
Benda Meterai adalah meterai tempel dan kertas meterai yang dikeluarkan oleh Pemerintah R.I.

Objek Materai (Terutang Bea Materai Rp. 6000,-)
a. Surat perjanjian dan surat-surat lainnya yang, dibuat dengan tujuan untuk digunakan sebagai alat pembuktian mengenai perbuatan, kenyataan atau keadaan yang bersifat perdata, b. Akta-akta notaris termasuk salinannya, c. Akta-akta yang dibuat oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) termasuk rangkap rangkapnya, d. Surat berharga seperti wesel, promes, dan aksep; atau e. Dokumen yang akan digunakan sebagai alat pembuktian di muka Pengadilan, yaitu: 1) surat-surat biasa dan surat-surat kerumahtanggaan,

Kapita Selekta VIII : Perpajakan Binus University, Economy - Management page 28/31

2) surat-surat yang semula tidak dikenakan Bea Meterai berdasarkan tujuannya, jika digunakan untuk tujuan lain atau digunakan oleh orang lain, selain dari maksud semula, 3) surat-surat yang semula tidak dikenakan Bea Meterai berdasarkan tujuannya, jika digunakan untuk tujuan lain atau digunakan oleh orang lain, selain dari maksud semula;

f. Surat yang memuat jumlah uang, yaitu: 1. menyebutkan penerimaan uang 2. menyatakan pembukuan uang atau penyimpanan uang dalam rekening di bank, 3. berisi pemberitahuan saldo rekening di bank, 4. berisi pengakuan bahwa hutang uang seluruhnya atau sebagiannya telah dilunasi atau diperhitungkan; yang mempunyai harga nominal lebih dari Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah). g. Efek dengan nama dan dalam bentuk apapun yang mempunyai harga nominal sampai dengan mempunyai harga nominal lebih dari Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah), h. Sekumpulan efek dengan nama dan dalam bentuk apapun yang tercantum dalam surat kolektif yang mempunyai jumlah harga nominal lebih dari Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah).

Kapita Selekta VIII : Perpajakan Binus University, Economy - Management page 29/31

Dokumen Tidak Dikenakan Bea Materai
A. Dokumen Yang Berupa : Surat penyimpanan barang - Konosemen - Surat angkutan penumpang dan barang - Keterangan pemindahan yang dituliskan di atas dokumen sebagaimana dimaksud dalam angka 1), angka 2), dan angka 3) - Bbukti untuk pengiriman dan penerimaan barang, - Surat pengiriman barang untuk dijual atas tanggungan pengirim; - Surat-surat lainnya yang dapat disamakan dengan surat-surat sebagaimana dimaksud dalam angka 1) sampai angka 6). B. Segala Bentuk Ijazah, C. Tanda terima gaji, uang tunggu, pensiun, uang tunjangan, dan pembayaran lainnya yang ada kaitannya dengan hubungan kerja serta surat-surat yang diserahkan untuk mendapatkan pembayaran itu D. Tanda bukti penerimaan uang Negara dari Kas Negara, Kas Pemerintah Daerah, dan bank, E. Kuitansi untuk semua jenis pajak dan untuk penerimaan lainnya yang dapat disamakan dengan itu dari Kas Negara, Kas Pemerintahan Daerah dan bank, F. Tanda penerimaan uang yang dibuat untuk keperluan intern organisasi, G. Dokumen yang menyebutkan tabungan, pembayaran uang tabungan kepada penabung oleh bank, koperasi, dan badan-badan lainnya yang bergerak di bidang tersebut,
Kapita Selekta VIII : Perpajakan Binus University, Economy - Management page 30/31

H. Surat gadai yang diberikan oleh Perusahaan Umum Pegadaian, I. Tanda pembagian keuntungan atau bunga dari efek,dengan nama dan dalam bentuk apapun.

Kapita Selekta VIII : Perpajakan Binus University, Economy - Management page 31/31

References

http://dudiwahyudi.com www.kanwilpajakkhusus.depkeu.go.id http://organisasi.org www.pajak.go.id

Kapita Selekta VIII : Perpajakan Binus University, Economy - Management

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->