Kompetensi Kewirausahaan Kepala Sekolah

Kompetensi Kewirausahaan Kepala Sekolah

MEMBANGUN KOMPETENSI KEWIRAUSAHAAN UNTUK KEPALA SEKOLAH MUHAMMADIYAH Oleh : Gita Danupranata Pendahuluan DEPDIKNAS mengeluarkan PERMENDIKNAS NO. 13 TAHUN 2007, tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah. Permendiknas yang baru tersebut dalam rangka pelaksanaan Pasal 38 ayat (5) PP 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Ada 5 dimensi kompetensi kepala sekolah/madrasah yang diatur dalam Permendiknas tersebut, yaitu: kompetensi kepribadian, manajerial, kewirausahaan, supervisi dan sosial. Kami akan mencoba mencermati dan mengurai kompetensi ketiga dari lima dimensi kompetensi kepala sekolah/madrasah yaitu kompetensi kewirausahaan. Lima dimensi kompetensi kewirausahaan yang tertuang dalam peraturan tersebut meliputi : 1. Menciptakan inovasi yang berguna bagi pengembangan sekolah/madrasah 2. Bekerja keras untuk mencapai keberhasilan sekolah sebagai organisasi pembelajar yang efektif 3. Memiliki motivasi yang kuat untuk sukses dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya 4. Pantang menyerah dan selalu mencari solusi terbaik dalam menghadapi kendala 5. Memiliki naluri kewirausahaan dalam mengelola kegiatan produksi/jasa sekolah sebagai sumber belajar siswa Membangun Jiwa Interpreneurship Kepala Sekolah Banyak referensi dan literatur yang membahas pemahaman tentang kewirausahaan. Menurut Dr.Suyana, Msi, melalui bukunya yang berjudul “kewirausahaan, pedoman praktis, kiat dan proses menuju sukses”. kewirausahaan adalah kemampuan kreatif dan inovatif yang dijadikan dasar, kiat dan sumber daya untuk mencari peluang menuju sukses. Inti dari kewirausahaan adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda (creatif new and different) melalui berfikir kreatif dan bertindak inovatif untuk menciptakan peluang. Bagaimana membangun jiwa kewirausahaan (interpreneurship) dapat diuraikan bahwa memahami kewirausahaan maka kepala sekolah harus memahami terlebih dahulu bagaimana muatan konsep kewirausahaan tersebut secara praktis dan menerapkannya secara teknis. Membangun jiwa kewirausahaan haruslah dimulai dengan kemauan kreatif dan inovatif kepala sekolah untuk mencapai suatu tujuan pada sekolah yang dipimpinnya. Banyak orang yang berhasil dan sukses karena memiliki kemampuan berfikir kreatif dan inovatif. Hal tersebut penting untuk dipahami mengingat selama ini dalam kehidupan sehari-hari, masih banyak orang yang menafsirkan dan memandang bahwa kewirausahaan identik dengan apa yang dimiliki dan dilakukan oleh “usahawan” atau “wiraswasta”. Padahal jiwa kewirausahaan (interpreneurship) tidak hanya dimiliki oleh usahawan akan tetapi dapat dimiliki oleh setiap orang yang berfikir kreatif dan bertindak inovatif baik kalangan pemerintah, mahasiswa, dosen, guru termasuk kepala sekolah.

menyebutkan karakteristik kegiatan wirausaha sosial sebagai berikut: . yang didirikan oleh Bill Drayton tahun 1980. berkomunikasi dan berelasi (human skill) dan keterampilan merumuskan masalah dan mengambil keputusan (decicion making skill). Sedangkan inovasi adalah kemampuan untuk menerapkan kreativitas dalam rangka pemecahan masalah dan menemukan peluang (doing new thing). berorientasi pada masa depan dan orisinil. Misalnya. motivasi.Kreativitas adalah kemampuan untuk mengembangkan ide-ide baru dan cara-cara baru dalam pemecahan masalah dan menemukan peluang (thinking new thing). Ide kreatif akan muncul apabila kepala sekolah“look at old and think something new or different”. Berbagai pendapat atau rumusan yang sudah ada cenderung menggambarkan suatu jenis wirausaha sosial yang unggul beserta karakteristik peran dan kegiatannya. berorientasi pada tugas dan hasil. dan bisa dalam bentuk proses pembelajaran seperti ide. dan ada pula sejumlah jenis wirausaha sosial. Sesuatu yang baru dan berbeda yang diciptakan melalui proses berfikir kreatif dan bertindak inovatif merupakan nilai tambah (value added) dan merupakan keunggulan yang dimiliki sekolah yang dipimpinnya. mengerti. Bahwa keberhasilan kepala sekolah memimpin sekolah didasari atas sikap dan persepsinya sendiri tentang apa yang dikerjakannya. keterampilan konseptual (conceptual skill) dan keterampilan memahami. Oleh karenanya maka kepala sekolah harus memiliki ciri dalam dirinya. keberanian mengambil risiko. Kepala Sekolah Muhammadiyah sebagai Wirausaha Sosial Sebagai bidang yang relatif baru berkembang. yaitu percaya diri (self confidence). maka dengan sendirinya motivasi dan kreativitas serta inovasi akan muncul seiring dengan harapan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. menganalisis proses secara mendalam dan memperhitungkan risiko yang mungkin terjadi. mengamati pintu peluang. Sesuatu yang baru dan berbeda tersebut dapat dalam bentuk prestasi sekolah. Dr. Ide berwirausaha akan menjadi peluang apabila kepala sekolah bersedia melakukan evaluasi terhadap peluang secara terus menerus melalui proses penciptaan sesuatu yang baru dan berbeda. prestasi guru terlebih prestasi peserta didik. keterampilan mengatur dan menggunakan waktu (time management skill) dan keterampilan teknik lainnya secara spesifik. Dari sejumlah rumusan kewirausahaan sosial yang telah didefinsikan oleh organisasi dan ahli yang menggumuli bidang ini. Berdasarkan analisis adanya berbagai jenis wirausaha bisnis. maka kepala sekolah haruslah memiliki kompetensi. Jika sikap dan persepsinya positif tentang apa yang dilakukannya. metode dan cara. masih terdapat sejumlah pendapat yang tidak seragam tentang maksud kewirausahaan sosial dan siapa saja yang dapat disebut sebagai wirausaha sosial. Mas’ud Machfoedz. Ashoka Fellows. keterampilan dan kualitas individu yang meliputi sikap. Ciri-ciri tersebut perlu dikembangkan secara lebih detail dan terperinci untuk kemajuan sekolah. Keterampilanketerampilan tersebut diantaranya keterampilan manajerial (managerial skill). Kompetensi adalah seseorang yang memiliki ilmu pengetahuan. Jadi kreativitas adalah kemampuan untuk memikirkan sesuatu yang baru dan berbeda. Meredith (Kewirausahaan : Teori dan Praktek) dan Prof. Kompetensi tersebut merupakan syarat utama bagi kepala sekolah yang ingin melakukan proses perjalanan kreativitas berfikir dan inovasi tentang keinginan yang diharapkannya untuk kemajuan sekolah. Untuk mendorong berkembangnya jiwa kewirausahaan. nilai serta tingkah laku yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan/ kegiatan. MBA (Kewirausahaan : Suatu Pendekatan Kontemporer) beliau memberikan pemahaman wirausaha tidak hanya memerlukan pengetahuan tapi juga keterampilan. Nilai tambah yang berharga adalah sumber peluang bagi kepala sekolah. Dalam bukunya Geoffrey G.

1. 2. guru. menyebarluaskan pemecahannya. Wirausaha sosial tidak puas hanya memberi “ikan” atau mengajarkan cara “memancing ikan”. Kepala sekolah harus dapat meyakinkan guru dan peserta didik untuk berani melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Ia tidak akan diam hingga “industri perikanan” pun berubah. Kepala sekolah harus dapat mengenali kemacetan atau kemandegan sekolah yang dipimpinnya dan bagaimana mencari jalan keluar dari kemacetan atau kemandegan tersebut. Ia menemukan apa yang tidak berfungsi. dan meyakinkan seluruh masyarakat untuk berani melakukan perubahan. Kepala sekolah harus dapat menemukan apa yang tidak berfungsi dan menecahkan berbagai masalah yang dihadapi sekolah. memecahkan masalah dengan mengubah sistemnya. Tugas wirausaha sosial ialah mengenali adanya kemacetan atau kemandegan dalam kehidupan masyarakat dan menyediakan jalan keluar dari kemacetan atau kemandegan itu. . Pada prestasi yang lebih tinggi kepala sekolah harus dapat membangun mata rantai sekolah menjadi system yang seimbang (link and matc) antara wali peserta didik. Dengan karakteristik tersebut maka sangat relevan bahwa kepala sekolah muhammadiyah adalah sebagai wirausahawan sosial sejati.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful