Perkawinan anda adalah sah apabila dilakukan berdasarkan pasal 2 ayat (1) dan ayat (2) UU Nomor 1 Tahun 1974 yaitu

dilakukan berdasarkan hukum agama dari masing-masing mempelai dan dicatatkan pada lembaga pencatat perkawinan.

perkawinan anda dilakukan di Australia, karena anda menyatakan menikah di Gereja maka diasumsikan bahwa anda beragama nasrani. Maka anda sudah memenuhi ketentuan pasal 2 ayat (1), dan anda juga menggunakan institusi catatan sipil di Australia kemudian melaporkan perkawinan yang anda lakukan di luar negeri pada saat anda kembali ke Indonesia maka anda telah memenuhi ketentuan pasal 2 (2). Dengan demikian maka perkawinan anda telah sah menurut hukum di Indonesia.

Apabila anda ingin bercerai maka hukum yang mengatur perkawinan anda berdua tetaplah hukum Indonesia. Pertama karena anda berdua adalah warga negara indonesia yang berdasarkan pasal 16 Algemene Bepalingen dimana setiap WNI akan tunduk pada hukum Indonesia dalam setiap tindakan hukum yang dilakukannya. Kedua karena dari keterangan yang anda berikan disimpulkan bahwa anda berdua telah berdomisili di Indonesia.

Mengenai harta perkawinann, akan dibagi berdasarkan ketentuan Pasal 37 UU Nomor 1 Tahun 1974 yaitu : Bila perkawinan putus karena perceraian, harta bersama diatur menurut hukumnya masing-masing. Yang dimaksud hukum masing masing adalah hukum yang dipilih oleh para pihak yang bercerai tersebut, yaitu hukum Islam bagi pemeluk agama Islam, atau hukum perdata Barat yang sudah diadopsi menjadi hukum nasional Indonesia, atau hukum adat dari masing-masing pihak.

Fenomena Hukum Perkawinan Beda Agama
Pandangan Hukum dan Hukum Agama Perkawinan beda agama termasuk masalah rumah tangga yang banyak mengandung persoalan-persoalan sosial dan yuridis, baik ditinjau dari segi kaca mata hukum Islam maupun menurut Undang-Undang No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan. Hal ini memang menimbulkan berbagai persoalan, masalah yang dapat saja ditimbulkan dari perkawinan beda agama tersebut. Sebab dalam aturan hukum (Undang-undang) yang berlaku, tidak mengatur secara jelas tentang prosedur pelaksanaan perkawinan antar agama. Sedang negara kita adalah negara hukum, yang secara formalistis berpegang pada aturan hukum yang ada (positif) dalam melihat suatu permasalahan. Namun dalam kenyataan yang berkembang dalam masyarakat, hal ini (perkawinan beda agama) banyak terjadi.

Jika RUU Adminduk yang saat ini sedang dibahas DPR disahkan. Pagi menikah sesuai agama lakilaki.Guru Besar Hukum Perdata Universitas Indonesia Prof. Deddy yang Katolik dinikahkan secara Islam oleh penghulu pribadi yang dikenal sebagai tokoh dari Yayasan Paramadina. Wahid Institute. penundukan sementara pada salah satu hukum agama. Padahal. perkawinan dilakukan menurut masing-masing agama. seharusnya yang dicatat KCS adalah sesuai dengan hukum Indonesia. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. menjabarkan ada empat cara yang populer ditempuh pasangan beda agama agar pernikahannya dapat dilangsungkan. pada awal 2005 lalu. Kasus yang cukup terkenal adalah perkawinan artis Deddy Corbuzier dan Kalina. Ia menjelaskan jika melakukan perkawinan di luar negeri. Artinya tidak memperoleh akte lagi dari negara. meminta penetapan pengadilan. Dalam agama Islam. “Secara hukum tidak sah. menikah di luar negeri. yang termasuk ahlul kitab. Kantor Catatan Sipil merupakan produk negara. Menurut Prof Wahyono Perkawinan menurut masing-masing agama merupakan interpretasi lain dari pasal 2 ayat (2) UU No. Empat cara tersebut adalah 1. Dengan demikian. berarti tunduk pada hukum di luar negeri. akan lebih banyak lagi penetapan pengadilan dimohonkan. Meskipun UU tidak memperbolehkan kawin beda agama. 2. Penundukan diri terhadap salah satu hukum agama mempelai mungkin lebih sering digunakan. bahkan diperluas jadi memperbolehkan kawin beda agama bagi wanita muslim. Pasangan tersebut mendapat akte dari negara itu. Ayat Al-Quran inilah yang dipraktekkan sungguh oleh lembaga-lembaga seperti Paramadina. Lies melihat banyak artis yang lari ke luar negeri seperti Singapura dan Australia untuk melakukan perkawinan beda agama. Masalahnya adalah perkawinan mana yang sah? 3. Kalau . Ketua Konsorsium Catatan Sipil Lies Sugondo menyatakan bahwa solusi penetapan pengadilan yang disarankannya turut dimasukkan dalam RUU Adminduk. Solusi terakhir adalah menikah di luar negeri. Wahyono Darmabrata. diperbolehkan laki-laki Islam menikahi wanita non-Islam. siangnya menikah sesuai dengan agama perempuan. dan 4. Meminta penetapan pengadilan terakhir kali dilakukan oleh Andi Vonny Gani pada 1989. tetapi Kantor Catatan Sipil bisa menerima pencatatan perkawinan beda agama yang dilakukan di luar negeri. Farida menilai Pemerintah tidak tegas. dan Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP). kemudian akte di bawa pulang untuk dicatatkan saja.

Ia menilai hukum tidak akan tegak dengan baik jika masih ada penyelundupan hukum. Seperti juga yang dikatakan Prof. “Sepanjang tidak ada pengesahan agama.. agama-agama lain juga tidak membolehkan. Namun pada kasus pernikahan beda agama. monogami dan tidak bercerai seumur hidup. bukan hanya agama Islam. Yang jelas dalam jalinan pernikahan antara suami dan istri. Harusnya kantor catatan sipil tidak boleh melakukan pencatatan. serta membiarkan pasangannya tetap memeluk Katholik. juga menerangkan hukum gereja Katholik memperbolehkan perkawinan beda agama selama calon mempelai non-Katholik bersedia berjanji tunduk pada hukum perkawinan Katholik. Pendapat berbeda disampaikan pengajar hukum Islam di UI Farida Prihatini.kita melakukan perbuatan hukum di luar negeri. Dia menguraikan pandangannya berdasarkan hukum Islam dan sejumlah peraturan hukum di Indonesia. Muhammad Daud Ali (alm.). pegawai Kantor Catatan Sipil DKI Jakarta. Romo Andang Binawan SJ. baru sah sesuai dengan hukum kita dan sesuai dengan hukum di negara tempat kita berada. yang bisa disimpulkan. tidak ada waris. cukup ditegakkan saja. harus ada jaminan dari agama yang dipeluk masingmasing suami dan istri agar tetap menghormati agama pasangannya. Sudhar Indopa. anaknya juga ikut hubungan hukum dengan ibunya. dosen Sekolah Tinggi Filsafat Driyakarya. Perkawinannya dianggap tidak sah. Umatnya saja yang mencari peluang-peluang. Jika peraturannya sudah tegas. pertama harus didasari atas persamaan agama dan keyakinan hidup. diantaranya : . dianggap tidak ada perkawinan. Mei lalu di depan seminar tentang perkawinan beda agama yang diselenggarakan Lembaga Kajian Hukum Perdata Fakultas Hukum Universitas Indonesia terang-terangan menyatakan negara bukannya tidak mau mengakomodir perkawinan beda agama. dalam bukunya yang berjudul ”Perkawinan Antar Pemeluk Agama Yang Berbeda”.” Untuk perkawinan beda agama. Itu zina”. “Jadi jangan ada sikap saling menghalangi untuk menjalankan ibadah sesuai agamanya”. adalah tidak mungkin catatan sipil mencatat sebuah perkawinan”. Farida menegaskan bahwa MUI melarang perkawinan beda agama. Pada prinsipnya. “Semua agama tidak memperbolehkan kawin beda agama. mantan Menteri Agama Quraish Shihab berpendapat agar dikembalikan kepada agama masing-masing. Larangan tersebut tidak datang dari negara melainkan dari agama. Dr.

Perkawinan antara orang-orang yang berbeda agama dengan berbagai cara pengungkapannya. hal yang mendasar bukan karena mereka tidak mengetahui aturan yang ada dan yang berlaku (UU ataupun hukum dari agamanya masing-masing). Di mana dalam perkembangan terakhir. karena sahnya perkawinan didasarkan pada hukum agama. tidak sah pula menurut Undang-undang Perkawinan Indonesia. namun terbentur (pada aturan yang ada) yaitu oleh persoalan pada perbedaan agama yang dianut dari mereka yang akan melangsungkan perkawinan tersebut. Memberi perlindungan hukum pada warga negara yang melakukan perbuatan yang bertentangan dengan Pancasila sebagai cita hukum bangsa dan kaidah fundamental negara serta hukum agama yang berlaku di Indonesia. . tidak perlu dilindungi oleh negara. kendatipun merupakan kenyataan dalam masyarakat. apakah itu keluarga dari kedua belah pihak. Dan. maka kita akan menemukan berbagai macam faktor penyebab yang mereka jadikan landasan dalam melakukan perkawinan tersebut. tidak perlu dibuat peraturan tersendiri. namun kita juga tidak dapat menutup mata bahwa halhal seperti ini masih saja dapat kita temui di masyarakat. Inilah salah satu kendala yang dihadapi bagi mereka yang ingin melakukan perkawinan. Dalam hal ini. bina dapat dilanjutkan pada jenjang perkawinan. Untuk penyimpangan ini. 2. bahkan oleh aturan sekalipun. jalan bagi pemeluk agama Islam dalam melaksanakan perkawinan semacam ini telah ditutup sama sekali. yang mungkin telah menjadi komitmen bersama dari kedua pasangan tersebut. yang mereka inginkan hanyalah bagaimana agar tali kasih yang telah mereka pupuk.1. maka perkawinan yang tidak sah menurut hukum agama. namun kebanyakan disebabkan oleh rasa cinta dari keduanya dan tidak ingin dipisahkan lagi oleh siapun. sesungguhnya tidaklah sah menurut agama yang diakui keberadaannya dalam Negara Republik Indonesia. Perkawinan antara orang-orang yang berbeda agama adalah penyimpangan dari pola umum perkawinan yang benar menurut hukum agama dan Undang-undang Perkawinan yang berlaku di tanah air kita. Pandangan Sosiologi Hukum Apabila kita mencari sebab dari timbulnya hal seperti ini di masyarakat.

bahwa kaidah-kaidah hukum disusun dan direncanakan oleh sebagian kecil dari masyarakat yang menamakan dirinya sebagai elit masyarakat tersebut. Sociological jurisprudence mengkaji bagaimana norma disesuaikan dengan rasa keadilan masyarakat sehingga ditekankan pada kesebandingan hukum. dan setiap aturan bisa diabaikan dalam situasi tertentu. dan hampir setiap aturan mungkin bertentangan dengan aturan lain. artinya dalam pembuatan hukum seharusnya terdapat pengkajian terlebih dahulu mengenai hal-hal yang terkait dengan keberlakuan dan efektifitas aturan tersebut sehingga hukum tidak tertinggal karena tidak dapat memenuhi kebutuhan masyarakat pada suatu waktu dan tempat tertentu. Namun hal demikian akan menyebabkan tertinggalnya hukum di belakang perubahan sosial masyarakat. hukum harus dilihat atau dipandang sebagai suatu lembaga kemasyarakatan yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan sosial dan tugas dari ilmu hukum untuk mengembangkan suatu kerangka yang mana kebutuhankebutuhan sosial dapat terpenuhi secara maksimal. Disamping itu dalam menetapkan hukum juga harus diperhatikan pola perilaku yang sesuai. . tampaknya setiap aturan punya aturan sekunder dan tersier yang mengatur aplikasi aturan primer. yang mungkin berbeda kepentingan dan pola-pola perilakunya dengan yang diatur. yang sering dideskrispsikan secara sederhana sebagai pelanggaran atas aturan sosial. dan ekspektasi sosial yang dapat dikenai hukuman. Dalam kasus diatas bisa disebut suatu penyimpangan. Menurut Matza. orang yang menyimpang dapat melakukan tipu daya. norma. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan. Menurut ajaran aliran sociological jurisprudence. apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu”. dan Douglas menyatakan penyimpangan sebagai tindakan orangorang yang dikalahkan dalam kompetisi politik moral. Adalah suatu keadaan yang lazim. akan dijumpai suatu perbedaan antara pola-pola perilaku yang hidup dalam masyarakat dengan pola-pola yang dikehendaki oleh kaidah-kaidah hukum. Seperti yang dikatakan Hargreave adalah problem ketaatan pada aturan dan penegakan aturan di satu tempat. Menurut Leslie Wilkins. dan terdapat dalam pasal 2 ayat 1 yaitu : “Perkawinan adalah sah.Soerjono Soekanto mengatakan dalam peranan hukum untuk mengubah masyarakat. sebagai prilaku yang secara statistic jarang dilakukan tapi jelas ada aktivitas yang sering dilakukan yang dianggap sebagai penyimpangan. Lagipula suatu kaidah hukum berisikan patokan perilaku yang kelak diharapkan. Peranan hukum dalam mengatur tentang perkawinan atau membatasi perkawinan beda agama atau antar agama melalui Undang-Undang No.

Kegagalan internalisasi norma dapat disebabkan karena penggunaan hukum yang hanya berpatokan pada kaidah-kaidah agama. sehingga sesuai dengan tujuannya. karena pada dasarnya hukum merupakan kaidah-kaidah yang ditetapkan untuk mengatur tingkah laku manusia dalam pergaulan hidup. Dengan demikian dalam penciptaan hukum. Dari sudut pandang sosiologis.. hukum harus mengadopsi nilai-nilai sosial dari semua kelompok masyarakat yang ada. Dalam kondisi masyarakat majemuk.Dalam konteks sosiologi hukum. Namun tentunya demi memenuhi rasa keadilan masyarakat. terjadi kegagalan internalisasi norma dari hukum ke dalam sikap dan perilaku masyarakat. bahwa kehadirannya untuk melindungi dan memajukan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakatnya. Menurut Satjipto Rahardjo Hukum sebagai perwujudan nilai-nilai mengandung arti. seperti Indonesia. sehingga yang akan tersingkir adalah masyarakat tradisional. . mendorong lembaga-lembaga tertentu dalam membangun kondisi sosial ekonomi (proses rekayasa sosial). menyangkut ketidakpatuhan sebagian masyarakat terhadap ketentuan perkawinan. yaitu mengamati interaksi antara hukum dengan lingkungan sosialnya. sehingga hukum bisa berfungsi sebagai pendorong terciptanya perilakuperilaku tertentu. berbagai aspek sosial harus diperhatikan demi berlakunya hukum secara efektif. hukum modern lebih dikedepankan. Hukum sebagai tool of social engineering (Roscou Pound). Penggunaan paradigma rekayasa sosial menekankan pada efektivitas hukum yang hanya dapat dilakukan dengan pendekatan sosiologis. sehingga hukum seharusnya dapat memenuhi nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakat. Terjadinya konflik antara nilai-nilai hukum berasal dari interaksi antara nilainilai tertentu dengan struktur sosial dimana nilai-nilai itu dijalankan. ketidakpatuhan hukum ini terkait dengan budaya hukum yang menggambarkan kegagalan internalisasi norma dan nilai sosial dari hukum ke dalam sikap dan perilaku masyarakat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful