P. 1
Analisis Cerpen (kelompok)

Analisis Cerpen (kelompok)

|Views: 185|Likes:

More info:

Published by: Puspa Wahyu Kartikasari on Jun 01, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/28/2015

pdf

text

original

Analisis Cerpen PERADILAN RAKYAT

• JUDUL Judul yang menunjukkam Objek Objek terdapat pada rakyat dimana rakyat tidak puas atas keputusan dan keadilan yang diterapkan di negara ini karna hukum dinegara ini hanya berpihak pada mereka yang dapat membelinya. Hal tersebut berdasarkan kutipan dibawah ini: “Apa yang dibisikkan pengacara muda itu kemudian menjadi kenyataan. Dengan gemilang dan mudah ia mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu. Bangsat itu tertawa terkekehkekeh. Ia merayakan kemenangannya dengan pesta kembang api semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara, tak mungkin dijamah lagi. Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa. Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. Hakimnya diburu-buru. Pengacara muda itu diculik, disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat. Tetapi itu pun belum cukup. Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah.” • TEMA Cerpen tersebut bertemakan tentang peradilan dimasyarakat karena menceritakan seorang penegak hukum keadilan yaitu pengacara. Cerpen ini menceritakan tentang keganasan masyarakat yang menuntut keadilan kepada negaranya. Hal tersebut berdasarkan kutipan dibawah ini: "Aku suka kau menyebut dirimu aku dan memanggilku kau. Berarti kita bisa bicara sungguh-sungguh sebagai profesional, Pemburu Keadilan." “Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan.” PENOKOHAN a. Pengacara Muda (anak): merupakan seorang pemuda yang kritis, tekun, bersemangat cerdas dan profesional terhadap pekerjaannya sebagi seorang pengacara. Hal tersebut berdasarkan kutipan dibawah ini: “Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda. Anda dengan seluruh sejarah Anda memang terlalu besar untuk dibicarakan. Meskipun bukan bebas dari kritik. Aku punya sederetan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan. Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. Anda

sudah tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih, kau yang selalu berhasil dan sempurna, tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri” Dari kutipan diatas menunjukkan bahwa pengacara muda tersebut cerdas, dan berpikir kritis. Ia mencermati keadaan dan situasi, seorang pengacara muda yang bersikap adil dan profesional pada pekerjaannya sebagai pengacara. b. Pengacara Senior (ayah): tua, lemah dan sakit. Memiliki bijaksana, penyayang, rendah hati. Hal tersebut berdasarkan kutipan: “Aku kira tak ada yang perlu dibahas lagi. Sudah jelas. Lebih baik kamu pulang sekarang. Biarkan aku bertemu dengan putraku, sebab aku sudah sangat rindu kepada dia.” Pengacara muda itu jadi amat terharu. Ia berdiri hendak memeluk ayahnya. Tetapi orang tua itu mengangkat tangan dan memperingatkan dengan suara yang serak. Nampaknya sudah lelah dan kesakitan. Dari kutipan diatas, karakter tokoh ayah yang menyayangi dan merindukan putranya. Pengacara senior sudah tampak lemah dan tua. Pengacara tua yang bercambang dan jenggot memutih itu, tidak terkejut. Ia menatap putranya dari kursi rodanya, lalu menjawab dengan suara yang tenang dan agung. • KONFLIK  Konflik yang terdapat pada cerpen ini adlah konflik batin sang pengacara muda. Hal tersebut berdasarkan kutipan dibawah ini: "Tapi aku datang kemari bukan untuk minta pertimbanganmu, apakah keputusanku untuk menolak itu tepat atau tidak. Aku datang kemari karena setelah negara menerima baik penolakanku, bajingan itu sendiri datang ke tempat kediamanku dan meminta dengan hormat supaya aku bersedia untuk membelanya."  Selain konflik batin yang dialamin sang pengacara, di cerpen ini juga terdapat konflik fisik dari pengacara muda. Hal tersebut berdasarkan kutipan dibawah ini: “Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa. Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. Hakimnya diburu-buru. Pengacara muda itu diculik, disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat. Tetapi itu pun belum cukup. Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah.” • ALUR

a. Alur: Maju (progesif)

Plausibilitas, yaitu hal-hal yang dipercaya sesuai logika cerita. Dalam cerpen ini terdapat alur cerita yang sesuai dengan logika. contohnya pada kutipan berikut ini : Pengacara tua yang bercambang dan jenggot memutih itu, tidak terkejut. Ia menatap putranya dari kursi rodanya, lalu menjawab dengan suara yang tenang dan agung. “Apa yang ingin kamu tentang, anak muda?” Pengacara muda tertegun. “Ayahanda bertanya kepadaku?” “Ya, kepada kamu, bukan sebagai putraku, tetapi kamu sebagai ujung tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang dicabik-cabik korupsi ini.”
b. Suspense, yaitu cerita mampu membangkitkan rasa ingin tahu

pembaca. Dalam cerpen ini terdapat alur cerita yang mampu membangkitkan rasa ingin tahu pembaca. contohnya pada kutipan berikut ini : “Tidak apa. Jangan surut. Katakan saja apa yang hendak kamu katakan,” sambung pengacara tua menenangkan, sembari mengangkat tangan, menikmati juga pujian itu, “jangan membatasi dirimu sendiri. Jangan membunuh diri dengan diskripsi – diskripsi yang akan menjebak kamu ke dalam doktrin – doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam, karena kamu sangat diperlukan oleh bangsamu ini. Pengacara muda diam beberapa lama untuk merumuskan diri. Lalu ia meneruskan ucapannya dengan lebih tenang.”Aku datang kemari ingin mendengar suaramu. Aku mau berdialog.”"Baik. Mulailah. Berbicaralah sebebas-bebasnya.”
c. Surprise, yaitu cerita mampu memberikan kejutan kepada

pembaca sehingga pembaca ingin mengetahui kelanjutan cerita tersebut. Dalam cerpen ini terdapat alur cerita yang mampu memberikan kejutan kepada pembaca. contohnya pada kutipan berikut ini : Apa yang dibisikkan pengacara muda itu kemudian menjadi kenyataan. Dengan gemilang dan mudah ia mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. Ia merayakan kemenangannya dengan pesta kembang api semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara, tak mungkin dijamah lagi. Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster – poster raksasa. Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. Hakimnya diburuburu. Pengacara muda itu diculik, disiksa dan akhirnya baru

dikembalikan sesudah jadi mayat. Tetapi itu pun belum cukup. Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah.
d. Unity (kepaduan), yaitu peristiwa yang ditampilkan dalam cerita

memiliki keterkaitan satu dengan lainnya. Dalam cerpen ini terdapat keterkaitan dalam setiap kisahnya.

ANALISIS CERPEN PERADILAN RAKYAT Karya: Putu Wijaya
Tugas ini disusun guna melengkapi tugas mata kulian pembelajaran sastra yang diampu oleh Fitri Amelia.

Disusun oleh: Siti Ma’rifa 0910221083 Nur Fitriatun 0910221063 Puspa Wahyu K. 0910221070 Sri Watidatur R. 0910221077

Ditte Dinda Vena

0910221084

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Bahasa Daerah Universitas Muhammadiyah Jember 2012,

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->