Kata Pengantar

Sejalan dengan Peraturan Presiden RI No. 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2004-2009 yang menetapkan penyusunan PDB Hijau sebagai kegiatan dalam Program Peningkatan Kualitas dan Akses Informasi SDA dan LH, maka kegiatan sosialisasi dan penyempurnaan penghitungan PDRB Hijau perlu dilaksanakan. Menyikapi keputusan tersebut Pusat Rencana dan Statistik Kehutanan, Badan Planologi Kehutanan, Departemen Kehutanan Republik Indonesia menyambut positif dengan melakukan ujicoba penghitungan kontribusi hijau sektor kehutanan terhadap PDRB. Ujicoba penghitungan kontribusi hijau sektor kehutanan kali ini dilakukan di Pulau Bali yaitu Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali. Berbagai pihak telah menyadari bahwa hutan memiliki peranan yang sangat penting bagi keberhasilan pembangunan baik secara nasional maupun pembangunan di daerah. Oleh sebab itu keberadaan hutan memerlukan adanya penilaian yang lebih lengkap serta menyeluruh terhadap semua produk dan jasa atau manfaat yang dihasilkannya. Berbagai upaya telah dirintis oleh banyak pihak untuk memulai memperhitungkan dimensi lingkungan dalam aktifitas kegiatan pembangunan sebagai dasar bagi keberhasilan pelaksanaan pembangunan yang berkelanjutan. Salah satu upaya yang ditempuh adalah dengan mengintegrasikan nilai-nilai depresiasi yang mencakup nilai deplesi dan degradasi lingkungan sektor kehutanan pada nilai kontribusi sektor kehutanan secara menyeluruh termasuk industri kayu dan hasil hutan lainnya terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Kajian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi semua pihak, khususnya bagi jajaran Departemen Kehutanan maupun Dinas/instansi Kehutanan di tingkat Provinsi, maupun Kabupaten, untuk menghitung nilai kontribusi hijau sektor kehutanan dalam arti luas dalam pembentukan PDRB di daerahnya masing-masing. Terima kasih disampaikan kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan khususnya kepada Tim Penyusun yang dikoordinir oleh Prof. DR. I Wayan Sudirman. SE, SU.dari Universitas Udayana. Kritik dan saran perbaikan akan kami terima dengan senang hati dan kami ucapkan terima kasih

Denpasar, Desember 2007 Kepala Balai,

Ir. AGUS NURHAYAT, MM. NIP. 710016597 .

DAFTAR ISI

Kata Pengantar i Daftar Isi .......................................................................................... Daftar Tabel ...................................................................................... Daftar Gambar .................................................................................. Daftar Istilah .....................................................................................

Halaman ................................................................................. ii iv vi vii

BAB 1

PENDAHULUAN 1.1. Peran Sektor Kehutanan .............................................. 1.2. Kondisi Sektor Kehutanan pada Umumnya .................... 1.3. Pengertian PDRB ......................................................... 1.4. Tujuan dan Manfaat .................................................... 1.4.1. Tujuan ............................................................. 1.4.2. Manfaat ............................................................ 1.5. 1.6. 1.7. 1.8. Lokasi Studi ................................................................ Sasaran ...................................................................... Tahapan Penyelesaian Studi ........................................ Sistematika Pelaporan .................................................

1 2 7 8 8 9 9 11 11 12

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Manfaat PDB dan PDRB ............................................... 2.2. Munculnya PDRB Hijau ................................................ 2.3. Pengalaman di Beberapa Kabupaten ............................ 2.3.1. PDRB Kabupaten Kutai Kartanegara ................... 2.3.2. PDRB Hijau Karawang ....................................... 2.3.3. PDRB Hijau Kabupaten Bandung ........................ 2.3.4. Kontribusi Hijau Sektor Kehutanan pada PDRB Kabupaten Berau ..................................... METODOLOGI PENYUSUNAN KONTRIBUSI HIJAU SEKTOR KEHUTANAN 3.1. Cara Menghitung PDRB ............................................... 3.2. Cara Menghitung PDRB Semi Hijau .............................. 3.3. Cara menghitung PDRB Hijau ...................................... 3.4. Kontribusi Hijau Sektor Kehutanan ............................... 3.5. Penghitungan Deplesi Sumberdana Hutan .................... 3.5.1. Prakiraan volume deplesi ................................... 3.5.2 Prakiraan nilai degradasi .................................... 3.5.3 Penghitungan kontribusi hijau sektor kehutanan ....

15 17 18 19 21 23 24

BAB 3

28 29 30 30 32 32 34 35 .

Halaman 3.6. Menghitung Unit Rent ................................................. 3.7. Menghitung Degradasi Sektor Kehutanan ..................... 3.8. Aplikasi Penghitungan Kontribusi Hijau Sektor Kehutanan .................................................................. 3.8.1. Konsep penghitungan ....................................... 3.8.2. Data yang diperlukan ........................................ BAB 4 GAMBARAN PEREKONOMIAN DAN SEKTOR KEHUTANAN KABUPATEN KARANGASEM 4.1. Keadaan Umum ........................................................... 4.2. Penduduk ................................................................... 4.3. Kondisi Perekonomian ................................................. 4.4. Sektor Kehutanan Kabupaten Karangasem .................. KONTRIBUSI HIJAU SEKTOR KEHUTANAN PADA PDRB 5.1. Nilai Tambah Sektor Kehutanan ................................... 5.2. Kontribusi Sektor Kehutanan pada PDRB Coklat ............ 5.3. Deplesi Sumberdaya Hutan .......................................... 5.4. Degradasi Sumberdaya Hutan ...................................... 5.5. Total Kontribusi Hijau Sektor Kehutanan pada PDRB Kabupaten Karangasem Provinsi Bali ............................ KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN 6.1. Kesimpulan ................................................................. 6.2. Implikasi Kebijakan ..................................................... 36 37 38 38 40

41 42 43 49

BAB 5

53 55 56 58 62

BAB 6

.

....2.. 19 Tabel 19 Tabel 20 Tabel 22 24 Tabel Tabel 2.6.... Forest Value of Goods and Services Loss Due to Timber Cutting (US $/Ha) . 3......4................. Produk Domestik Regional Bruto Semi Hijau Kabupaten Karawang Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha Tahun 2001 (Jutaan Rupiah) ......................... 4. 4...... Milyar) ......... Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Karangasem Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2004-2006 (Jutaan Rupiah) ... .............................DAFTAR TABEL Halaman Tabel 2.................... Persentase dan Nilai Jasa Hutan .......................... 2.............................. 2.............. Milyar) .........................1....... 3....................2.........................3.......5....... PDRB Hijau Kabupaten Kutai Kertanegara Tahun 2000-2001 (Rp..... Luas dan Jumlah penduduk menurut Kecamatan Di Kabupaten Karangasem Tahun 2006 . 43 Tabel 44 Tabel 46 Tabel 47 .......... 25 Tabel 33 35 Tabel Tabel 4.... Nilai Deplesi Empat Sumberdaya Alam Kabupaten Kutai Kertanegara Tahun 1999-2000 (Rp.3............. Kontribusi Hijau Sektor Kehutanan pada PDRB Hijau Kabupaten Berau Tahun 2000-2003 (Rp....... PDRB dan Pendapatan Regional Semi Hijau di Kabupaten Kutai Kertanegara .............. PDRB Hijau Kabupaten Bandung Tahun 2003 .......1.... 2........ Kontribusi Kelompok Sektor terhadap PDRB Kabupaten Karangasem Menurut dalam Persentase (%) Tahun 2004-2006 ........ 4..4. Distribusi Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Karangasem Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku dalam Persentase (%) Tahun 2004-2006 .....2.................1...... Juta) ....... 2...........

.....................5........................ 5........-) ......................................... Nilai Jasa Hutan ...... 5...........4..... 000) ....................... 4............ PDRB Kabupaten Karangasem Atas Dasar Harga Berlaku 2004-2006 (jutaan) .................................. Luas Areal Hutan Berdasarkan Fungsinya di Kabupaten Karangasem ........... Perhitungan Unit Rent Kabupaten Karangasem 2000-2006 (Rp/m3) ...........7............................. 000............... Nilai Degradasi Hutan di Kabupaten Karangasem Tahun 2000 – 2006 (Rp................................... Rata-rata Kurs Dolar terhadap Rupiah Tahun 2000 – 2006 ...................Halaman Tabel 4........ Deplesi dan Degradasi akibat Kebakaran dan Pencurian Kayu serta PDRB Hijau di Kabupaten Karangasem 2000-2006 (Rp...............6... PDRB Coklat................ 5........ 5........... 61 Tabel 61 Tabel 62 ...................................... 5.. Laju Pertumbuhan Sub Sektor Pertanian pada PDRB Kabupaten Karangasem Tahun 2004-2006 (%) ...3........................ 50 Tabel 51 Tabel 54 Tabel 57 Tabel 57 Tabel 59 60 Tabel Tabel 5.. Nilai Deplesi Sektor Kehutanan Akibat Kebakaran dan Pencurian Kayu Hutan di Kabupaten Karangasem 2000-2006 (Rp) ...... 5...2................... 5.............................1. Luas Kebakaran Hutan dan Pencurian Kayu Kabupaten Karangasem 2000-2006 (Ha) ...........5....8............. ...6...........

............... ................1................................ 3... 58 .. Peta Kabupaten Karangasem Provinsi Bali ...................... 3................................................. Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Karangasem Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku ...DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar Gambar 1................. Distribusi PDRB Kabupaten Karangasem Menurut Kelompok Sektor Atas Dasar Harga Berlaku . Perhitungan Kontribusi Sektor Kegiatan Ekonomi Terhadap PDRB Semi Hijau .... 4.................. 4.......3... 3...4...1. Perhitungan Unit Rent ...........4...... Distribusi Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Karangasem Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku ............... 5.............1..............2.........................................3...... 10 3..............1... 28 Gambar 29 Gambar 30 37 Gambar Gambar 4......... Perhitungan Kontribusi Sektor Kegiatan Ekonomi Terhadap PDRB Hijau .... 4........... Perhitungan Kontribusi Sektor Kegiatan Ekonomi Terhadap PDRB ..........2....................... Laju Pertumbuhan Sub Sektor Pertanian pada PDRB Kabupaten Karangasem .. Kontribusi Sektor Kehutanan pada PDRB Coklat Kabupaten Karangasem Tahun 2004-2006 (persen) 45 Gambar 46 Gambar 48 Gambar 51 Gambar .....

CONTINGENT VALUATION : Metode valuasi ekonomi terhadap jasa lingkungan yang diberikan oleh suatu ekosistem dan tidak dijual belikan di pasar. padang lamun. rusaknya tata air. pengurangan volume atau jumlah sumberdaya alam. DEGRADASI : Kerusakan lingkungan yang merupakan penurunan kualitas lingkungan alami. yang berupa pelayanan bagi hidup dan berkembangnya keanekaragaman hayati termasuk flora dan fauna. bahan pembantu lem. INPUT ANTARA (Intermediate Inputs) : Bahan atau masukan atau input yang digunakan dalam proses produksi suatu barang sehingga menjadi produk baru. Pasar adalah pertemuan antara pembeli dan penjual. . hutan mangrove. . danau. dan sebagainya. HARGA PASAR : Harga barang dan jasa yang timbul karena transaksi permintaan dan penawaran di pasar. dsb. misalnya hutan. Contoh : penurunan kesuburan tanah. terumbu karang. jumlah batu bara yang ditambang. Contoh : volume penebangan kayu. JASA BIOLOGI : Jasa suatu habitat. Umumnya diperkirakan sebesar tingkat suku bunga yang berlaku di pasar (lihat laba layak). dan obat pengawet. DEPLESI : Menunjuk pada produksi. Semua bahan mentah dan bahan pembantu yang digunakan disebut dengan input antara. kanji tapioka. Contoh : Untuk menghasilkan kayu lapis diperlukan bahan mentah kayu bulat. maupun sumberdaya alam dan lingkungan yang rusak atau terdegradasi. sungai. pengurasan.DAFTAR ISTILAH BALAS JASA INVESTASI : Jumlah uang yang dinyatakan dalam persentase terhadap jumlah dana yang diinvestasikan atau biaya yang dikeluarkan untuk produksi barang yang bersangkutan. pengambilan. Metode ini biasanya melibatkan survei terhadap responden tentang kesediaannya melakukan pembayaran (contingent variation = CV) atau kesediaannya menerima pembayaran (equivalent variation = EV). IDENTIFIKASI : Merupakan kegiatan meneliti dan mengamati macam sumberdaya alam yang dieksploitasi atau dideplesi.

NILAI EKONOMI TOTAL : Jumlah seluruh nilai sumberdaya alam dan lingkungan yang terdiri dari nilai atas penggunaan (use value) dan nilai tanpa penggunaan (non-use value). yang berupa pelayanan seperti menyerap karbon. padang lamun. NILAI KEBERADAAN : Nilai sumberdaya alam dan lingkungan tanpa harus adanya kontak antara seseorang dengan sumberdaya alam dan lingkungan yang dimaksud. danau. Biasanya besarnya persentase tersebut disamakan dengan tingginya suku bunga bank yang berlaku di pasar. KUANTIFIKASI : Suatu langkah dalam penilaian ekonomi setelah dampak dari suatu proyek diidentifikasi.JASA LINGKUNGAN : Jasa yang diberikan oleh suatu habitat seperti hutan terumbu karang. menjaga cadangan air. . LABA LAYAK : Jumlah atau persentase laba atau balas jasa yang layak diterima oleh seorang pengusaha karena menanamkan uangnya pada usaha tertentu. menaham banjir. KESEDIAAN MEMBAYAR (Willingness to Pay) : Metode untuk menentukan nilai suatu lingkungan dengan menanyakannya kepada responden tentang kesediaannya memberikan kontribusi dipertahankannya suatu proyek atau untuk ditolaknya suatu proyek. KESEDIAAN MENERIMA PEMBAYARAN (Willingness to Accept) : Metode valuasi untuk suatu lingkungan dengan menanyakannya kepada responden tentang kesediaannya menerima ganti rugi untuk dipertahankannya suatu proyek atau ditolaknya suatu proyek. NILAI PILIHAN : Nilai sumberdaya alam dan lingkungan yang timbul karena orang memilih untuk tidak menggunakannya sekarang dan lebih senang menggunakannya di waktu nyang akan datang. sungai dan sebagainya. kemudian ingin diketahui berapa besar volume atau luasnya dampak tersebut. . hutan mangrove. mempengaruhi tata air. Contoh : jumlah kayu yang ditebang dalam m3 dikalikan dengan harga kayu per m3 di pasar atau di toko kayu. KONTRIBUSI KEHUTANAN : Kontribusi atau sumbangan atau share sektor kehutanan dalam pembentukan PDRB Konvensional atau PDRB Hijau. NILAI PRODUKSI : Jumlah produk dan atau jasa yang dihasilkan oleh suatu kegiatan dikalikan dengan harganya di pasar. dan sebagainya.

PDRB HIJAU : Produk Domestik Regional Bruto yang dihitung dengan memasukan nilai deplesi sumberdaya alam dan degradasi lingkungan atau nilai PDRB Coklat dikurangi dengan nilai deplesi sumberdaya alam dan nilai degradasi lingkunga. 400. nilai air terjun di Tawang Mangu dan nilai hutan lindung. Harga kayu bulat Rp. PDRB HARGA KONSTAN : PDRB yang dihitung berdasarkan pada harga tahun tertentu. Contoh : nilai badak bercula satu di Ujung Kulon. PDRB PADA HARGA BERLAKU : PDRB yang nilainya dihitung menurut hargaharga pada tahun yang bersangkutan. 800. kabupaten. PDRB SEMI HIJAU : Produk Domestik Regional Bruto yang dihitung dengan mengurangi nilai PDRB Coklat dengan nilai deplesi sumberdaya alam saja. Contoh : PDRB pada harga konstan tahun 2000. 400. 400.000.NON-USE VALUE : Nilai lingkungan tanpa harus menggunakan atau kontak langsung dengan orang yang memberikan penilaian.NILAI TAMBAH : Harga produk atau jasa di pasar atau di toko dikurangi dengan nilai semua input antara. atau kota.000 – Rp. PDRB COKLAT : Produk Domestik Regional Bruto yang dihitung secara konvensional belum memasukan nilai deplesi sumberdaya alam dan degradasi lingkungan.000 = Rp. PENDAPATAN NASIONAL : Nilai PDB dikurangi penyusutan dan pajak tidak langsung. . maka nilai tambahnya adalah Rp. .000/m3. PDRB KONVENSIONAL : Sama dengan PDRB Coklat. ditambah dengan aliran pendapatan dari faktor produksi yang ditanam atau dipekerjakan orang Indonesia di luar negeri. 800. PDRB HIJAU KEHUTANAN : Nilai tambah yang diciptakan sektor kehutanan dengan memasukan unsur deplesi sumberdaya hutan dan degradasi lingkungan di sektor kehutanan. Contoh : Harga kayu gergajian di perusahaan penggergajian kayu Rp. PDB : Produk Domestik Bruto untuk tingkat nasional PDRB : Produk Domestik Regional Bruto adalah PDB untuk tingkat daerah provinsi. kemudian dikurangi lagi dengan aliran pendapatan dari faktor produksi yang ditanam atau dipekerjakan orang asing di Indonesia.000/m3.

nilai timah yang diekstraksi. . UNIT RENT : adalah rata-rata nilai rente ekonomi per unit produk atau nilai rente ekonomi total dibagi dengan jumlah produk yang dihasilkan atau dideplesi. rotan. Contoh : rekreasi. TRAVEL COST METHOD : Metode valuasi ekonomi dengan menghitung biaya perjalanan seperti biaya financial dan biaya waktu. keindahan. Contoh : nilai kayu tegakan (stumpage value). nilai bahan tambang tatkala masih di dalam tanah. Contoh : kayu. yaitu nilai sumberdaya alam semasa masih di tempatnya. VALUASI EKONOMI : Metode penghitungan nilai ekonomi untuk sumberdaya alam dan lingkungan. PRODUK NON EKSTRAKTIF : Produk atau jasa yang dapat dinikmati tanpa harus diambil dari hutan. penelitian. serta total pengeluaran selama di lokasi yang dituju. nilai ikan. pendidikan. RENTE EKONOMI : Economic Rent. Contoh : nilai kayu. Nilai pendapatan regional sama dengan nilai PDRB dikurangi nilai penyusutan dan nilai pajak tidak langsung. WTA (WILLINGNESS TO ACCEPT) : kesediaan seseorang menerima pembayaran agar tetap bersedia menerima pencemaran. (royalty). . madu. Nilai rente ekonomi disebut juga dengan nilai penggunaan (user cost). USE VALUE : Nilai ekonomi terhadap produk-produk ekstraktif sumberdaya alam. PRODUK EKSTRAKTIF : Produk yang dapat diambil langsung dari hutan. WTP (WILLINGNESS TO PAY) : kesediaan membayar oleh seseorang untuk mendapatkan lingkungan yang bersih. Biasanya digunakan untuk menilai taman rekreasi.PENDAPATAN REGIONAL : Pendapatan yang diciptakan oleh faktor-faktor produksi di dalam suatu daerah.

East Kalimantan. sektor industri. sektor perhubungan.sektor lainnya. mengurangi erosi dan sedimentasi. Oleh karena itu. . Krystop Obidzinki and Christopher Barr. perkebunan dan perikanan. Jakarta. 2003. bahan obat-obatan. CIFOR. sumber keanekaragaman hayati dan menyerap karbon sehingga mengurangi pencemaran udara. sektor pariwisata. hutan juga memberikan jasa lingkungan seperti menampung air. rotan. sektor pemukiman. Sektor kehutanan juga merupakan penghasil devisa negara nomor 2 (dua) setelah minyak bumi dan gas alam pada periode tahun 1970-1980-an 1.BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Peran Sektor Kehutanan Indonesia merupakan negara yang memiliki hutan terluas nomor 3 (tiga) di dunia setelah Brazil dan Kongo. dan sektor. The Effects of Decentralization on Forest and Forest Industries in Berau District. Hutan di samping menghasilkan kayu dan hasil hutan lainnya seperti damar. menahan banjir. 1 . Pada tahun 1977 luas tutupan hutan Indonesia diperkirakan sekitar 100 juta hektar. Perkiraan rendah (modest estimate) ada sekitar 20 juta orang yang mengandalkan kehidupannya langsung pada hutan. Lebih dari itu sektor kehutanan merupakan sektor yang memberikan kontribusi besar terhadap pembangunan baik nasional maupun daerah. hutan sangat bermanfaat untuk mendukung kehidupan dan perkembangan semua sektor-sektor ekonomi yang lain seperti sektor pertanian.

Sementara baru ada sekitar 8 ijin yang merealisasikan pembukaan kebun kelapa sawit tersebut 5). Hasil diskusi dalam Rapat Koordinasi Departemen Kahutanan di Palangkaraya mencatat bahwa ada sekitar 600 ijin pembukaan hu. dan meningkat menjadi 2. dan Dedi M. 2004. kajian Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia. 2004. misalnya ke Serawak melalui pelabuhan Entikong yang diperkirakan cukup besar jumlahnya 3.8 juta Ha/tahun antara 2001-2004 2 . Penebangan liar (illegal logging) semakin marak pula.1 Ha/tahun antara 1997-2001. Permintaan akan kayu bulat yang lebih tinggi dibandingkan penawaran kayu legal. Sumberdaya Alam & Lingkungan Hidup Indonesia : Antara Krisis dan peluang.tan yang akan dikonversikan menjadi kebun kelapa sawit. 2003. sedangkan hutan produksi dan hutan konversi karena sudah menipis cadangan kayunya boleh dikatakan hanya sebagian kecil saja yang diusahakan. meningkat menjadi 2. Jakarta. industri kayu lapis dan induistri bubur kayu bersama-sama diperkirakan mengkonsumsi 60-80 juta m3 kayu bulan per tahun.2 Kondisi Sektor Kehutanan pada Umumnya Kondisi hutan saat ini sangat memprihatinkan karena tingkat deforestasi hutan sangat tinggi yaitu sekitar 1. 2 Bahan Pidato Kenegaraan Presiden Sektor Kehutanan (Draft Masukan Pusrentikhut) tak diterbitkan. . 3 Tesis Tidak Diterbitkan. Salah satu sebab dari penebangan liar tersebut adalah adanya kelebihan kapasitas industri pengelohan kayu di atas produksi kayu yang legal. Riyadi. halaman 5. hal 3. Di samping itu ada motivasi lain bahwa para pemegang hak UPK yang akan mengkonversi hutan menjadi lahan perkebunan lebih senang memanen kayu hutan daripada memulai usaha perkebunan. Sedangkan berdasarkan pengelolaan hutan berkelanjutan yang dicanangkan Pemerintah Indonesia produksi kayu hutan hanya sebesar 25 m3 per tahun. mau tidak mau akan dipenuhi dari penebangan liar. Belum lagi ada sejumlah besar kayu bulat yang diekspor secara ilegal. . Sampai dengan pertengahan tahun 1990-an industri kayu gergajian. Sebagian besar kawasan hutan yang dinyatakan sebagai hutan lindung dan hutan konservasi justru banyak yang ditebang. BAPPENAS.6 juta Ha/tahun antara 1985-1997.1.

sektor pariwisata.25% di Kabupaten Sikka (1999) dan 6.Data Departemen Kehutanan menunjukan bahwa volume kayu bulat dari pemanfaatan Hutan Alam Produksi yang diijinkan untuk ditebang dibatasi hanya 6. mengurangi erosi dan sedimentasi. Jakarta. sektor perhubungan.21% dari PDRB dengan migas pada tahun 1999 dan turun menjadi 10. 7. Suparmoko dkk. sektor pertanian hanya mencatat sumbangan setinggi 11.50% pada tahun 2001. sementara itu kebutuhan kayu bulat untuk industri diperkirakan lebih dari 80 juta m3. . sektor pemukiman. hutan juga memberikan jasa lingkungan seperti menampung air.3%) maupun dalam nilai PDRB (misalnya berkisar antara 0. sektor industri. termasuk 20 juta m3 untuk kayu lapis. 4 juta m3 untuk kayu gergajian dan 15 juta m3 untuk bubur kertas (pulp). Oleh karena itu hutan sangat bermanfaat untuk mendukung kehidupan dan perkembangan semua sektor-sektor ekonomi lainnya mulai dari sektor pertanian. BPFE Yogyakarta. 2005 halaman 129.892. Neraca Sumberdaya Alam (Natural Resources Accounting). 4 5 Sumber : Status Lingkungan Hidup Indonesia 2004.5 juta m3 4. menahan banjir. Cina 2 juta m3. Walaupun demikian peranan atau kontribusi sektor kehutanan masih tampak sangat kecil bila dinilai dengan kontribusinya pada nilai PDB Indonesia (sekitar 1. .01% di Karawang. Emma Rahmawaty dkk. Untuk Kabupaten Kutai Kartanagara di mana sektor pertambangan dan sektor kehutanan tampak dominan dalam menyumbang pada penciptaan devisa negara. Kementerian Lingkungan Hidup. serta Asia dan Australia 1.52% di Kabupaten Berau (2003) 5 . Eropa 3 juta m3.000 m3. Panduan Penghitungan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Hijau. Sekali lagi ditegaskan bahwa peranan hutan dalam perekonomian sangatlah besar yaitu di samping menghasilkan kayu dan hasil ikutan lainnya sebagai produk primer kehutanan. 2004. dan bahkan sektor jasa sekalipun. M. dan 12. sumber keanekaragaman hayati dan hutan juga menyerap karbon sehingga mengurangi pencemaran udara. ”Valuasi Ekonomi Sumberdaya Alam di Kabupaten Sikka” dalam M Suparmoko editor. Penyelundupan kayu illegal ke Jepang sebanyak 3 juta m3.37% di Kabupaten Kutai Kartanagara (2000). perkebunan dan perikanan.

Jika sektor kehutanan ingin meningkatkan kontribusinya kepada PDB Indonesia. damar. Namun besar atau kecilnya nilai PDB tidak hanya berasal dari nilai tambah yang diciptakan oleh produk sektor kehutanan (hutan dan industri pengolahan hasil hutan) melainkan lebih banyak yang berasal dari luar sektor kehutanan dan dihitung sebagai kontribusi sektor-sektor non kehutanan. . Jadi nilai tambah tersebut dicatat sebagai kontribusi sektor lain diluar sektor kehutanan terhadap PDB Indonesia. . Sebenarnya dapat pula nilai tambah sektor kehutanan tercipta jika terjadi reboisasi. dan sebagainya. atau peningkatan dalam kegiatan pengolahan hasil hutan di sektor industri. bunga. Perhitungan kontribusi pada PDB dan PDRB yang diterapkan bagi sektor-sektor yang mengelola sumberdaya alam sebenarnya kurang tepat dan bersifat misleading dalam penghitungan kontribusinya bagi pembangunan nasional karena nilai sumberdaya alam yang di ekstraksi maupun kerusakan lingkungan yang ditimbulkan tidak diperhitungkan dalam penilaian PDB ataupun PDRB. Nilai tambah itu merupakan jumlah semua jenis penghasilan (upah.Sektor kehutanan disini telah mencakup sub-sektor hutan yang menghasilkan kayu dan hasil hutan lainnya dan sub-sektor industri pengolahan hasil hutan. Nilai kontribusi sektor kehutanan pada PDB dan PDRB tersebut sama dengan nilai tambah (value added) dari sektor hutan. ekstraksi sumberdaya hutan lainnya maupun kegiatan reboisasi serta penghijauan lahan kritis. pengambilan rotan. laba) yang diciptakan dalam setiap kegiatan eksploitasi hasil hutan. sewa. Kontribusi sub-sektor hutan dihitung dari kontribusinya terhadap pembentukan PDB atau PDRB karena PDB dan PDRB berdasarkan nilai produksi yang dihasilkan. penghijauan lahan kristis. Nilai tambah sektor kehutanan (kontribusi pada PDB) terjadi bila terdapat penebangan hutan. hewan liar. bungabungaan dan pengambilan produk-pruduk kehutanan lainnya yang selanjutnya diolah oleh sektor industri pengolahan produk primer hutan. harus ada kegiatan penebangan hutan. gaji. madu.

sebagai habitat flora dan fauna.67%). Apabila kita dapat menghargai nilai dan jasa lingkungan hutan seperti kemampuannya menyediakan udara bersih. industri mebel. . maupun transportasi air) banyak menggunakan bahan dari kayu. biantang liar dan sebagainya. rotan.90% . menahan erosi.90% per tahun antara tahun 1993 sampai dengan tahun 2004. mengatur tata air.23% = 7. industri rumah dan bangunan. Industri farmasi dan obat-obatan banyak menggunakan produk hasil hutan seperti daun-daunan. kereta api. maka keberadaan hutan harus diprioritaskan. dan sebagainya. Dengan demikian secara riil pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diukur dengan PDB meningkat dengan 7. Walaupun dikatakan bahwa kontribusi sektor kehutanan secara relatif (dalam persentase) menurun terus sejak 1998. Nilai PDB Indonesia (tanpa Migas) menurut harga berlaku meningkat dengan laju 21. bunga-bungaan dan lain sebagainya. menyerap karbon. . dalam arti absolut nilai kontribusi hutan pada PDB Indonesia menurut harga yang berlaku tampak terus meningkat sejalan dengan perkembangan nilai PDB Indonesia.67% per tahun antara 1993-2004. Padahal seperti industri kertas. industri kapal. Menurut harga berlaku sektor kehutanan (hutan dan 6 Cara perhitungannya : nilai pertumbuhan nominal dikurangi laju inflasi sama dengan nilai pertumbuhan riil atau (21.14. Tetapi semua nilai tambah dari kegiatan yang menggunakan bahan hasil hutan tidak dihitung sebagian atau seluruhnya sebagai nilai tambah masing-masing sektor yang melakukan kegiatan yang memanfaatkan hasil produksi kehutanan tersebut. industri transportasi darat (truk.Sebagai contoh perhitungan nilai tambah sektor kehutanan saat ini hanya terbatas pada kegiatan di hutan dan pengolahan bahan primer hasil hutan saja.23% per tahun. mengurangi sedimentasi. Demikian juga industri perdagangan dan perhotelan tidak mungkin tidak menggunakan produk hutan seperti kayu. Jadi dalam menilai kontribusi sektor kehutanan bagi pembangunan nasional tidak dapat dilihat dari kontribusinya pada PDB dan PDRB saja. mencegah banjir. Tingkat inflasi antara tahun 1993 sampai dengan tahun 2004 rata-rata mencapai 14. Jadi secara riil ekonomi Indonesia menurut hitungan PDB Konvensional tumbuh setinggi 7. akar-akaran.67% per tahun6.

Sejalan dengan komitmen pemerintah untuk melaksanakan pembangunan di bidang lingkungan hidup yang tertuang dalam PP No. Kontribusi sektor kehutanan tidak boleh hanya dihitung dari kontribusinya terhadap pembentukan PDRB saja. Secara keseluruhan untuk sektor kehutanan (hutan dan industri pengolah hasil hutan) mengalami pertumbuhan riil setinggi 4.5% per tahun antara tahun 1993-2004.29% per tahun dan laju pertumbuhan sektor industri pengolah hasil hutan setinggi 28. Oleh karena itu kontribusi (share) dalam arti persentase tidak harus meningkat karena meningkatnya kontribusi suatu sektor (dalam %) akan selalu diimbangi oleh menurunnya kontribusi (dalam %) oleh sektor-sektor lain.73% per tahun.industri pengolahan hasil hutan) kontribusi dalam arti absolut (rupiah) terus meningkat dengan laju pertumbuhan rata.36% per tahun.94% per tahun) untuk periode waktu yang sama. karena sektor-sektor lain juga berusaha meningkatkan produksinya. . telah diarahkan untuk disusun dan . Seperti telah diketahui bersama bahwa kontribusi sektor kehutanan yang mencakup produksi hasil-hasil hutan dan industri pengolahan produk primer kehutanan relatif kecil dan mulai menurun dari tahun ke tahun sejak 1998. Dengan pertumbuhan laju inflasi rata-rata setinggi 14.23% per tahun untuk periode waktu 1993– 2004. Peningkatan kontribusi sektor kehutanan pada PDB Indonesia hanya akan terjadi bila nilai tambah sektor kehutanan meningkat lebih cepat daripada peningkatan nilai tambah sektor-sektor lain. Laju pertumbuhan setinggi itu terbentuk dari laju pertumbuhan sektor hutan murni setinggi 13.23% per tahun antara 1993 sampai dengan 2004. khusus nya dalam kerangka Program Peningkatan Kualitas dan Akses Informasi SDA dan LH. karena PDRB merupakan suatu konsep yang hanya menghitung nilai produksi yang dihasilkan oleh semua kegiatan dalam suatu perekonomian secara regional. maka dapat diperkirakan sektor kehutanan murni tanpa industri pengolahan hasil hutan mengalami laju pertumbuhan negatif (-0.7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2004-2009. Sektor industri pengolahan hasil hutan secara riil mengalami pertumbuhan sebesar 14.rata setinggi 18.

seperti Provinsi.3 Pengertian PDRB Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) disusun tiap tahun dan diterapkan untuk tingkat regional atau daerah. Oleh karena itu untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap mengenai kontribusi sektor kehutanan kepada pembangunan daerah pada umumnya. 1. Hal ini terjadi karena Kabupaten Berau masih memiliki hutan alam yang cukup luas dengan tingkat penebangan hutan yang tinggi pula. Badan Planologi Kehutanan. telah disusun sebuah panduan dalam bentuk Buku Pedoman Penyusunan PDRB Hijau Sektor Kehutanan 7. Kabupaten dan Kota. Provinsi Kalimantan Timur. Penghitungan kontribusi hijau sektor kehutanan (sektor produksi kayu dan hasil hutan lainnya serta industri pengolahan hasil hutan primer) terhadap PDRB sebelumnya telah diujicobakan di Kabupaten Berau.diterapkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Hijau sebagai salah satu instrumen perencanaan. . Pusat Rencana dan Statistik Kehutanan. Departemen Kehutanan. dilakukan penghitungan kontribusi hijau sektor kehutanan pada PDRB di beberapa daerah atau kabupaten lain. dkk. PDRB yang selama ini dihitung atau disebut sebagai PDRB Konvensional (Coklat) karena hanya mengukur hasil kegiatan ekonomi tanpa memasukan Toni Suhartono. 2005. Perhitungan kontribusi hijau sektor kehutanan yang dilakukan di Kabupaten Berau belum tentu sama dengan kontribusi hijau sektor kehutanan yang terjadi di daerah atau kabupaten lain. Hasilnya menunjukan bahwa kontribusi sektor kehutanan terhadap PDRB di Kabupaten Berau adalah negatip. Namun bila dinilai dari besarnya kontribusi sektor kehutanan pada pembangunan daerah dan pembangunan nasional maka nilai yang dihasilkan positip dan cukup besar yaitu berupa nilai tambah yang diciptkan seperti yang tercantum dalam laporan PDRB. Buku Pedoman Penyusunan PDRB Hijau Sektor Kehutanan. Untuk mempermudah para peminat atau petugas untuk menyusun Kontribusi Hijau Sektor Kehutanan dalam PDRB di daerah. 7 .

.1 Tujuan Kegiatan studi yang akan dilakukan adalah menghitung secara lengkap kontribusi sektor kehutanan pada nilai PDRB di Kabupaten Karangasem. PDRB harus dikembangkan dengan memasukan nilai deplesi dan degradasi lingkungan agar diperoleh nilai PDRB yang baru atau disebut sebagai PDRB Hijau karena PDRB Hijau menampilkan indikator kegiatan ekonomi dan sekaligus menampilkan nilai deplesi dan degradasi lingkungan sehingga struktur perekonomian dapat dilihat secara lebih realistis. Selanjutnya hasil perkiraan nilai kontribusi hijau yang lengkap itu dapat dimanfaatkan sebagai salah satu instrumen perencanaan pengelolaan dan pengembangan sektor kehutanan dengan lebih baik dan sempurna.4.4 Tujuan dan Manfaat 1. 1. PDRB Hijau dapat dimanfaatkan sebagai perangkat perencanaan pembangunan sektoral dan regional yang lebih baik karena menampilkan hasil atau kinerja perekonomian setiap tahunnya secara lebih lengkap. Kesadaran atas perlunya pemahaman tentang PDRB Hijau telah mendorong Pusat Rencana dan Statistik Kehutanan Departemen Kehutanan Republik Indonesia untuk menghitung secara lengkap kontribusi sektor kehutanan pada nilai PDRB di beberapa kabupaten sehingga peranan dan kontribusi sektor kehutanan pada pembangunan daerah dan pembangunan nasional akan tampak lebih realistis. dengan harapan agar peranan dan kontribusi sektor kehutanan pada pembangunan daerah di Kabupaten tersebut akan tampak lebih realistis sehingga perencanaan serta pelaksanaan pembangunan daerah yang bersangkutan akan dapat tewrlaksana dengan baik dan berkelanjutan. . Oleh karena itu.dimensi lingkungan didalamnya.

5 Lokasi Studi Lokasi sebagai penerapan studi mengenai kontribusi hijau oleh sektor kehutanan pada PDRB telah ditentukan yaitu di Kabupaten Karangasem Provinsi Bali secara purposive sampling.2 Manfaat Manfaat dari studi ini adalah pemahaman dan penyempurnaan perencanaan dan pengelolaan sumberdaya hutan.1. tetapi juga bagi para pelaksana pemerintahan maupun anggota DPRD yang bersangkutan. .4. Untuk jelasnya dapat ditunjukan dengan peta berikut. tidak hanya bagi para pengelola di sektor kehutanan. 1. .

1 Peta Kabupaten Karangasem Provinsi Bali .Gambar 1. .

i. Melakukan kunjungan lapangan di daerah lokasi studi (Kabupaten Karangasem Provinsi Bali) dan mengumpulkan data primer. Review laporan PDRB kabupaten yang bersangkutan atau daerah yang dijadikan lokasi studi.7 Tahapan Penyelesaian Studi Dalam melakukan studi ini ditempuh tahapan kerja sebagai berikut : a. Meningkatkan Karangasem kapasitas Provinsi Bali sumberdaya dalam manusia di Kabupaten dan menyusun perencanaan pengelolaan sumberdaya kehutanan guna mendukung pembangunan daerah yang berkelanjutan. PDRB Daerah Kabupaten atau Provinsi. . . Kehutanan. e. dan Perindustrian. Dinas Perkebunan. terkait. 1.1. c. Pengumpulan data sekunder dari berbagai laporan daerah. Laporan Dinas-Dinas Perdagangan. Menghitung volume deplesi sumberdaya hutan. f. h. Kabupaten Dalam Angka. b.6 Sasaran a. Menghitung degradasi lingkungan sektor kehutanan. Review literatur tentang PDRB Hijau dan berbagai buku pedoman penyusunan PDRB Hijau yang disusun oleh Kementerian Lingkungan Hidup maupun buku pedoman penyusunan PDRB Hijau Sektor Kehutanan. Daerah. Memvaluasi deplesi sumberdaya hutan. Diterbitkannya Laporan Penyusunan Kontribusi Sektor Kehutanan pada PDRB Kabupaten Karangasem Provinsi Bali sebagai salah satu acuan dalam penyusunan rencana pengelolaan dan pengembangan sektor kehutanan daerah tersebut. g. Pendapatan Pertambangan. d. sebagainya. b. Mengidentifikasikan macam produk sumberdaya hutan yang diplesi. Menghitung kontribusi semi hijau sektor kehutanan kehutanan.

Bab 3 Bab 2 menyajikan telaah menyajikan metodologi penyusunan kontribusi hijau sektor kehutanan. . Bab 6 digunakan untuk menyampaikan simpulan hasil pembahasan beserta implikasi kebijakannya. Bab 5 menguraikan depresiasi yang terjadi berkenaan dengan nilai kontribusi hijau sektor kehutanan terhadap PDRB dan pembangunan daerah di Kabupaten Karangasem.8 Sistematika Pelaporan Bab 1 Pendahuluan membicarakan latar belakang dan kondisi kehutanan di Indonesia termasuk kerusakan hutan yang terjadi. Menghitung kontribusi hijau sektor kehutanan dan peranan sektor kehutanan dalam pembangunan berkelanjutan. atau tinjauan pustaka. 1.j. . Bab 4 mengulas gambaran secara umum dan gambaran khusus mengenai keberadaan sektor kehutanan di daerah penelitian.

1995. . Economics. Dengan kata lain nilai tambah mencerminkan balas jasa atau pendapatan dari setiap pemilik faktor produksi. McGraw-Hill. PDRB Hijau dikenal juga sebagai PDRB ramah lingkungan yaitu dengan mengurangkan nilai deplesi sumberdaya alam dan degradasi lingkungan ke dalam PDRB yang konvensional tersebut. Nordhaus. akan dapat diketahui tinggi rendahnya kemajuan suatu perekonomian negara yang bersangkutan 8 8 Paul A. Samuelson and William D. Jadi PDRB yang kemudian merupakan konsep penghitungan pendapatan regional sesungguhnya merupakan pengembangan dari konsep pendapatan nasional yang ditunjukan oleh Produk Domestik Bruto. Nilai tambah ini merupakan selisih antara seluruh nilai produksi dengan seluruh biaya input antara (intermediate input). Chapter 22. Halaman 402-420. Fifteenth Edition. PDRB sesungguhnya sama dengan Produk Domestik Bruto (PDB) yang diterapkan untuk tingkat regional atau daerah seperti provinsi dan kabupaten atau kota. PDB itu sendiri merupakan jumlah seluruh nilai tambah (value added) yang diciptakan dalam suatu perekonomian dalam suatu negara yang dihitung untuk masa satu tahun.BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Produk Domestik Regional Bruto Hijau (PDRB Hijau) merupakan pengembangan dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang konvensional atau yang sering disebut dengan Produk Domestik Regional Bruto Coklat. Inc. International Edition. sedangkan PDB diterapkan untuk tingkat nasional (seluruh negara). Dengan mengetahui tinggi rendahnya nilai tambah atau PDB suatu negara. .

3. dan juga Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). 4. Sektor perindustrian. Dalam perkembangannya sampai dengan saat ini (2006). Provinsi Jawa Tengah. 1997. Pedoman Praktis Penghitungan PDRB Kabupaten/Kota : Tatacara Penghitungan menurut Lapangan Usaha. . Bahkan penyusunan PDRB ini telah merupakan kegiatan rutin Bappeda yang biasanya dibantu oleh Kantor BPS di daerah. Yogyakarta. Listrik. Dalam rangka belajar tersebut. 9 Pendapatan 10 yaitu : BPS. . 2. BPFE. Universitas Andalas dan instansi pemerintah seperti Bappenas. Pada mulanya kegiatan perekono mian dibedakan menjadi 11 sektor perekonomian 1. semua provinsi dan semua kabupaten maupun kota di Indonesia telah memiliki PDRB konvensional atau Coklat. Biro Pusat Statistik yang sekarang disebut Badan Pusat Statistik. Provinsi jawa Barat.Penyusunan PDRB Konvensional (PDRB Coklat) baru dimulai di Indonesia pada pertengahan tahun 1970 dimana pada waktu itu ada beberapa universitas seperti Universitas Gadjah Mada. bersama-sama belajar menyusun PDRB untuk beberapa provinsi seperti DKI Jaya. Daerah Istimewa Yogyakarta. Lampiran tentang Sistem Penghitungan Pendapatan Nasional Indonesia pada tahun 1970. Sektor bangunan (konstruksi). dalam Pengantar Ekonomika Makro Edisi Ketiga. 5. Sektor pertanian. Universitas Indonesia. tim penyusun mendapat tenaga konsultan dari Australia bernama Prof Alex Kerr. gas. dan air minum. Oleh karena itu pembagian perekonomian menurut sektor ekonomi atau kegiatan usaha untuk PDRB di Indonesia juga disesuaikan dengan pembagian sektor-sektor dalam Neraca Nasional atau Produk Domestik Bruto Indonesia 9. November 2000. Jakarta. 10 Suparmoko. dan provinsi Sumatera Barat. Struktur sektoral dalam PDRB disesuaikan dengan struktur Neraca Pendapatan Nasional Indonesia. Sektor pertambangan dan penggalian. PDB dan PDRB sebenarnya lebih merupakan informasi makro ekonomi yang menunjukan sumbangan setiap sektor ekonomi atau setiap kegiatan usaha dalam seluruh perekonomian di suatu daerah.

Sektor pertanian termasuk didalamnya sektor tanaman bahan makanan. Berdasarkan angka PDB 2001 diketahui bahwa laju pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2001 menjadi lebih baik dibanding dengan tahun 2000. 2. Sektor listrik. Sektor industri pengolahan. Indonesia. Juli 2002. Sektor perdagangan. 7. Setelah dilakukan penyusunan PDRB dalam beberapa tahun. 2. . Sektor angkutan dan komunikasi. 11 Untuk melihat pertumbuhan BPS. 8. 9. 7. 10. 4. dan air minum. . Sektor keuangan.1 Manfaat PDB dan PDRB Badan Pusat Statistik menggunakan angka-angka PDB 2001 untuk menganalisis perekonomian secara makro. Sektor sewa rumah. gas. Sektor transportasi dan komunikasi. Jumlah sektor-sektor perekonomian yang baru dalam penghitungan PDRB saat ini tidak lagi 11 sektor tetapi hanya 9 sektor atau 9 lapangan usaha dengan pengelompokan sebagai berikut 11 : 1. Statistik Indonesia 2001. Sektor jasa-jasa. Sektor bank dan lembaga keuangan lainnya. persewaan dan jasa perusahaan. 6. 11. 8. Sektor perdagangan besar dan eceran. halaman 529 -535. Jakarta.6. Sektor pemerintahan. Sektor bangunan. peternakan dan kehutanan. 5. 3. Sektor pertambangan dan penggalian. Bab 11 mengenai Neraca Nasional dan Pendapatan Regional. hotel dan restauran. perkebunan. 9. Sektor jasa. terjadi perubahan dalam pembagian sektoral baik dalam neraca nasional dan penghitungan pendapatan nasional maupun dalam penghitungan PDRB di daerah.

080 Kemudian pada tahun 2002 mencapai Rp. dan sektor pertambangan dan penggalian (13. Misalkan dengan menggunakan PDB pada harga konstan tahun 1993 laju pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2001 ditemukan sebesar 3. Lima sektor lainnya menyumbang hanya kurang dari 10% dan sektor yang terkecil sumbangannya adalah sektor listrik. ada 4 sektor utama yang menyumbang pada pembentukan PDB Indonesia tahun 2001 yaitu sektor industri pengolahan (26.11%). PDB atas dasar harga konstan adalah PDB yang dinilai menurut harga pada tahun tertentu. pada tahun 2001 tercatat ada 8 sektor ekonomi yang mempunyai laju pertumbuhan positip. 84.469. Nilai PDB atas dasar harga konstan tahun 1993 untuk tahun 2000 dan untuk tahun 2001 diperkirakan mencapai Rp.8 trilyun. karena logikanya jumlah PDRB dari semua propinsi atau semua kabupaten dan kota harus sama dengan nilai PDB Indonesia. sektor perdagangan . sektor pertanian (16. selama ini telah dimanfaatkan seperti halnya angka-angka PDB ditingkat nasional yaitu . 90. gas dan air bersih yaitu sebesar 1. restauran dan hotel (16. .16%.9 trilyun trilyun pada harga konstan tahun 2000. sedangkan laju pertumbuhan terendah ditempati oleh sektor pertanian (0.09%). 97.59%).39%).6 trilyun pada tahun 2004. dan akhirnya menjadi Rp. Dengan melihat sektor-sektor ekonomi dalam perekonomian Indonesia dengan perhitungan PDB.103 trilyun pada tahun 2003.63%). Data-data PDRB disetiap provoinsi.397. Sektor pertambangan dan penggalian memiliki laju pertumbuhan negatip yaitu (-0.ekonomi biasanya didasarkan pada nilai PDB pada harga konstan.64%).466.43%). gas dan air minum mempunyai laju pertumbuhan tertinggi (8. 80. kabupaten maupun kota. maka nilainya dapat dibandingkan satu sama lainnya untuk melihat propinsi manakah yang memiliki sumbangan terbesar pada PDB Indonesia. dan meningkat lagi menjadi Rp. Sektor listrik. Kegunaan yang lain adalah dengan melihat distribusi atau sumbangan masing-masing sektor terhadap pembentukan PDB Indonesia pada tahun 2001. Selanjutnya untuk angka-angka PDRB karena sudah dibuat untuk setiap propinsi dan kabupaten serta kota diseluruh Indonesia.32%. Rp.

tetapi didasarkan pada PDB Hijau (Green Gross Domestic Product atau Green GDP) yang dihitung atas dasar konsep Sistem Penghitungan 12 13 BPS. Untuk menghindari dampak pembangunan yang semakin parah terhadap sumberdaya alam dan lingkungan. halaman 564-572. Meningkatnya pendapatan nasional hampir disemua negara di planet bumi ini telah mendorong terkurasnya sumberdaya alam dan rusaknya lingkungan. sehingga pembangunan itu dapat bersifat berkelanjutan (sustainable development). . Sebelumnya telah diperingatkan pula oleh kelompok Roma bahwa pertumbuhan ekonomi akan mengalami hambatan karena menipisnya sumberdaya alam. Karena paradigma pembangunan akan berubah kearah pembangunan yang berkelanjutan. The Limits to Growth. Statistik Indonesia 2001. 1972. . kemudian juga angka PDRB per kapita dan pendapatan perkapita di masing-masing provinsi. New American Library. Pada umumnya angka-angka PDRB yang ditampilkan adalah nilai absolut PDRB disetiap daerah provinsi. Meadows and Denis L.2 Munculnya PDRB Hijau Seperti telah diketahui bahwa menipisnya sumberdaya alam dan rusaknya lingkungan telah menjadi perhatian banyak pemimpin negara seperti tampak dalam KTT BUMI di Rio de Janeiro pada tahun 1991. Juli 2002. Jakarta. kabupaten dan kota. Donella H. kabupaten dan kota. kabupaten maupun kota. New York. maka indikator pembangunan juga semestinya diubah. Meadows. Indonesia. tidak lagi menggunakan PDB yang dihitung atas dasar System of National Account (SNA). Pembangunan berkelanjutan diartikan sebagai pembangunan yang memenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa mengorbankan kemampuan generasi yang akan datang untuk memenuhi kebutuhannya. perlu dianut suatu paradigma baru yaitu bahwa pembangunan harus berwawasan lingkungan. maupun pendapatan per kapita di masing-masing provinsi. terutama kalau pola konsumsi penduduk dunia tidak mau berubah dari trendnya yang sekarang ini 13 . Demikian juga ditampilkan PDRB dan pendapatan regional. kabupaten dan kota 12. 2.sebagai dasar perencanaan pembangunan di setiap daerah provinsi.

Suparmoko mengusulkan hendaknya disusun pula PDRB Hijau (Green PDRB) untuk tingkat daerah baik itu provinsi. . 2.3 Pengalaman di Beberapa Kabupaten Pada bagian ini disajikan beberapa pengalaman hasil penghitungan PDRB Hijau di Kabupaten Kutai Kartanegara. 14 15 16 United Nationas Statistical Devision. minyak bumi. Sejalan dengan pemikiran pembangunan berkelanjutan itu. sejak tahun 1995/96 telah melakukan studi kasus menyusun neraca ekonomi yang memulai memasukan elemen penyusunan sumberdaya alam kedalam sistem perhitungan pendapatan nasional. dan Kabupaten Berau. BPS. Kabupaten Karawang. emas. Publikasi Sitem Terintegrasi Neraca Lingkungan dan Ekonomi Indonesia 1990-1995 telah melibatkan 7 komoditi sumberdaya alam seperti batubara. Kemudian jika nilai degradasi lingkungan sudah diperhitungkan maka diperoleh Environmentally Adjusted Doemstic Product II yang disebut juga sebagai EDP-II. Sistem Terintegrasi Neraca Lingkungan dan Ekonomi Indonesia. 1997. Jakarta. perak. Handbook of Integrated Environmental and Economic Accounting.Terpadu antara lingkungan dan ekonomi (System of Integrated Environmental and Economic Account) 14 Kemudian BPS Indonesia dalam rangka mengantisipasi rekomendasi PBB bahwa setiap negara harus mengembangkan sistem statistik pendapatan nasional yang berwawasan lingkungan. 1997. dan hutan kedalam penghitungan neraca terpadu tersebut. bauksit. . Yogyakarta. Edisi Ketiga. gas alam. 1990-1995 (laporan Hasil Studi). Suparmoko. BPFE. maka hasil penghitungannya disebut dengan Environmentally Adjusted Doemstic Product I yang disebut juga sebagai EDP-I. Sejauh ini belum pernah ada elemen 15 degradasi yang telah dimasukan dalam perhitungan . 1993. Apabila dalam penghitungan PDB sudah dimasukan unsure deplesi sumberdaya alam. Ekonomi Sumberdaya Alam dan Lingkungan. New York. kabupaten maupun kota yang sebelum masa reformasi disebut sebagai Daerah Tingkat I dan daerah Tingkat II 16 . halaman 359-360.

175 1.juta) Batubara Minyak Bumi Hutan dan Gas Alam 3.0 867.1 Nilai Deplesi Empat Sumberdaya Alam Kabupaten Kutai Kartanegara Tahun 1999-2000 (Rp.6 32.2 PDRB dan Pendapatan Regional Semi Hijau di Kabupaten Kutai Kartanegara Uraian PDRB Bruto (Rp Milyar) Penyusutan (Rp Milyar) PDR Neto (Rp Milyar) Pajak Tak Langsung (Rp Milyar) Pendapatan Regional Coklat (Rp Milyar) Pendapatan Regional Coklat per kapita (Rp Juta) Penyusutan SDA (Rp Milyar) Pendapatan Regional Semi Hijau (Rp Milyar) Pendapatan Regional Semi Hijau per kapita (Rp Juta) Jumlah Penduduk Sumber : data diolah 1999 2000 14.390.047.200.0 2. Dalam studi tersebut sebenarnya belum diperoleh nilai PDRB Hijau.169 64.440.2 18. Studi Kasus : Kabupaten Kutai Kartanegara.974 2. Hasilnya ialah dapat diketahui nilai deplesi 4 macam sumberdaya alam tersebut seperti dalam Tabel 2.229 Tahun 1999 2000 Ikan 484. sumber daya pertambangan batubara dan minyak bumi serta sumberdaya ikan ke dalam penghitungan PDRB Kabupaten Kutai Kartanegara tahun 1999 dan 2000.342.759. Jakarta.8 3.0 434.1 Tabel 2.2.0 14.000 432.2 Tabel 2.029.3 6.3 1. Kementerian Lingkungan Hidup membuat ujicoba untuk menyusun Buku Pedoman dan Penghitungan PDRB Hijau Kabupaten Kutai Partanegara.954.583 2.0 .410.065.5 24.314.0 14. karena baru memperhitungkan nilai deplesi 4 sektor sumberdaya alam saja.967 128.2 11.380. Sehingga nilai yang didapatkan baru mencerminkan nilai PDRB Semi Hijau karena belum menghitung nilai degradasi lingkungan seperti terlihat pada Tabel 2.066.500 Sumber : Laporan Penghitungan Pendapatan Regional Hijau .3.9 463.266.8 10.362.9 17.1 PDRB Hijau Kabupaten Kutai Kartanegara Pada tahun anggaran 2002.086.3 3. Dalam ujicoba tersebut metode yang digunakan hanya memasukan nilai deplesi sektor hutan.0 5.2 24.8 11.847. . 2002. Kementerian Lingkungan Hidup.676.067.

01 2001 18.00 4.275. kerusakan dan kebakaran hutan di Kabupaten Kutai Kartanegara.64 c) -596.924. Tabel 3 menampilkan nilai PDRB Hijau hanya dengan memasukan nilai degradasi karena penebangan.271.213. .489. Selanjutnya untuk mendapatkan nilai Produk Domestik Regikonal Bruto Hijau harus dimasukan unsur degradasi lingkungan untuk dikurangkan dari nilai Produk Domestik Regional Bruto Semi Hijau. ikan.90 14.Pada tahun anggaran 2003 usaha penghitungan PDRB Hijau Kabupaten Kutai Kartanegara dilanjutkan lagi dengan melihat unsur kerusakan yang ditimbulkan oleh eksploitasi sumberdaya alam utama yaitu hutan.540.51 14.3 Tabel 2.00 3.3 PDRB Hijau Kabupaten Kutai Kartanegara Tahun 2000-2001 (Rp Milyar) No 1 2 3 4 5 Uraian DPRB Deplesi SDA PDRB Semi Hijau Degradasi lingkungan kehutanan PDRB Hijau 2000 18.49 610.06 d) -88.455. Selanjutnya adanya penurunan Produk Domestik Regional Bruto Hijau secara drastis dari tahun 2000 hingga 2001 yaitu sebesar 283% dikarenakan terjadinya bencana alam kebakaran hutan di Kabupaten Kutai Kartanegara.15 e) oleh sektor Sumber : data diolah Catatan : a) Tidak termasuk degradasi akibat kebakaran hutan b) Termasuk degradasi akibat kebakaran hutan c) Tidak termasuk degradasi akibat kebakaran hutan d) PDRB Hijau setelah dikurangkan nilai degradasi lingkungan termasuk terbakarnya hutan e) PDRB Hijau setelah dikurangkan nilai degradasi lingkungan tidak termasuk terbakarnya hutan .327. Dengan memasukan nilai deplesi yang dikurangkan dari Produk Domestik Regional Bruto Coklat didapatkan nilai Produk Domestik Regional Bruto Semi Hijau.315. minyak bumi dan gas alam serta batubara.10 166.11 a) -152. Untuk perhitungan pendapatan regional hijau di Kabupaten Kutai Kartanegara lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 4.770.058.55 b) 102.380.

3. Dalam mencari nilai deplesi sumberdaya alam. Dalam ujicoba tersebut metode yang digunakan hanya memasukan nilai deplesi sumberdaya alam pada sektor-sektor usaha yang dihitung dalam penghitungan PDRB. namun secara persentase peranan sektor industri masih tampak dominan.4. Memang di Karawang terdapat pengilangan minyak. . tetapi hal tersebut tidak tercatat mendeplisi sumberdaya mineral minyak bumi. sirtu.2 PDRB Hijau Kabupaten Karawang Selanjutnya pada tahun anggaran 2003. disamping Didaerah menggunakan atau mendeplisi bahan-bahan Kabupaten Karawang tercatat adanya penambangan pasir. Setelah diketahui nilai sumberdaya alam yang dideplisi oleh masing-masing sektor perekonomian. disusul perdagangan. Dalam identifikasi juga ditemukan sektor penggalian dan pertambangan tambang. nilai-nilai sumbangan masing-masing Walaupun secara absolut tampak lebih kecil sektor dibandingkan dengan tanpa pengurangan nilai deplisi sumberdaya alam.2. hotel dan restoran dan kemudian sektor pertanian. kemudian nilai sumbangan masing-masing sub-sektor dan nilai sumbangan sektor yang bersangkutan pada PDRB dikurangi dengan nilai-nilai deplisi. terlebih dahulu diiden-tifikasi sumberdaya apa saja yang dipakai atau dideplesi oleh sektor-sektor dan sub-sub sektor kegiatan ekonomi. Hasil pengurangan tersebut disebut nilai PDRB Semi Hijau seperti tampak pada Tabel 2. melainkan hanya mengolah minyak mentah menjadi minyak jadi. Dalam identifikasi tersebut ternyata semua sektor dan sub-sektor kegiatan ekonomi tidak luput dari penggunaan atau deplisi sumberdaya air. . dan batu andalit. Kementerian Lingkungan Hidup membuat ujicoba untuk menyusun Buku Pedoman dan Ujicoba Penghitungan PDRB Hijau Kabupaten Karawang. Jadi dalam hal ini tidak ada delisi minyak bumi di kabupaten Karawang. maka nilai-nilai deplisi tersebut dimasukan dalam tabel nilai sumbangan terhadap PDRB Konvensional yang telah ada.

00 116.05 0.00 9.00 101.95 902.00 518.00 67.057.00 66.547.3 7 7.918.438.067.91 509.09 0.278.00 116.895.595.1 7.3 1.1 2.728.527.475.031.18 622. .00 0.3 3 3.00 4.056.864.00 902.79 0.1 1.00 0.2 6.00 116.00 0.00 454.746.414.00 487.3 8.00 9.505.009.00 9.00 0.81 3.134.303.027.1 9.547.2 7.1.248.91 0.82 0.03 .683.1.6 7.00 80.00 200.015.698.00 659.2 8.00 0.95 653.928.00 0.5 2 2.00 996.00 0.00 2.605.00 97.21 117.769.00 37.707.916.Tabel 2.00 97.700.5 7.047.475.335.403.00 67.1.00 2.00 200.248.595.55 83.00 9.057.26 454.470.34 10.00 0.669.077.74 0.1 4.783.060.00 4.00 Deplisi 10.00 0.00 30.928.771.527.09 114.031.556.31 66.2 1.800.1 3.00 13.00 115.707.00 3.00 0.581. PERSEWAAN DAN JASA PERUSAHAAN Bank Lembaga Keuangan Lain Sewa Bangunan Jasa Perusahaan JASA-JASA Pemerintahan Umum Swasta Jasa Sosial Kemasyarakatan Jasa Hiburan dan Rekreasi Jasa Perseorangan+Rumah Tangga PDRB dengan Migas PDRB tanpa Migas PDRB 1.4 Produk Domestik Regional Bruto Semi Hijau Kabupaten Karawang Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha Tahun 2001 (Jutaan Rupiah) No 1 1.471.36 1.3 5 6 6.45 -83.303.00 16.1.00 0.04 54.2 4.00 488.783.2 4 4.82 50.015.614.602.980.438.254.580.00 16.00 2.771.00 9.00 0.512.4 7.683.00 0.00 4..746.64 8.4 1.00 30.088.2.00 3.435.87 2.00 0.00 0.0 1.462.394.91 13.465.394.00 509.077.027.69 0.365.26 204.2 8 8.00 622.00 256.26 34. GAS DAN AIR BERSIH Listrik Gas Kota Air bersih BANGUNAN PERDAG.702.00 101.18 3.00 2.00 7.00 34.3 Lapangan Usaha PERTANIAN Tanaman Bahan Makanan Perkebunan Peternakan Kehutanan Perikanan PERTAMBANGAN&PENGGALIAN Minyak dan Gas Bumi Pertambangan tanpa Minyak Penggalian INDUSTRI PENGOLAHAN Industri Migas Industri Non Migas LISTRIK.00 204.03 8.322.00 117.00 556.630.00 108.085.96 941.060.00 0.00 7.1 6.860.00 518.00 410.009.1 8.00 0.00 0.2 9.974.00 556.00 2.171.00 0.74 0.3 7.09 0.1 7.690.2.00 0.561.1.00 30.00 1.65 3.00 256.088.54 0.477.549.00 0.583.00 0.00 6.00 3.13 69.05 6.46 4.97 0.769.306.917.1.81 50.74 43.505.00 0.637.00 114.00 114.605.2 9.2. Perdagangan Besar dan Eceran Hotel Restoran ANGKUTAN DAN KOMUNIKASI Angkutan Angkutan Kereta Api Angkutan Jalan Raya Angkutan Laut Angkutan Sungai dan Penyeberang Angkutan Udara Jasa Penunjuang Angkutan Komunikasi KEUANGAN.00 67. HOTEL DAN REST.2 2.00 0.4 9 9.1 9.00 PDRB Semi Hijau 1.00 107.

Salah satu kapital atau modal yang digunakan adalah modal alami (natural capital) disamping modal-modal lainnya yaitu modal buatan manusia (man-made capital).5 mengikhtisarkan hasil-hasil perhitungan pada bagian dan bab sebelumnya.373.99 milyar.390. Untuk sementara nilai PDRB Hijau Kabupaten Bandung pada tahun 2003 dapat ditampilkan sebagaimana tampak pada Tabel 2. Dengan adanya degradasi lingkungan sebesar dihitung nilai PDRB Hijau sebesar Rp.832.2.5 dapat dilihat bahwa nilai PDRB Hijau lebih kecil daripada nilai PDRB Coklat.01 milyar maka dapat Rp. Perlu dikemukakan bahwa hasil perhitungan nilai PDRB Hijau Kabupaten Bandung kali ini belum sempurna karena belum memasukan semua unsur deplisi dan degradasi yang benar-benar terjadi.5. berhubung dengan keterbatasan data. Ditunjukan bahwa nilai PDRB Coklat Kabupaten Kemudian Bandung sebesar Rp. dan modal sumberdaya manusia itu sendiri (SDM= human Capital). 23. Bahkan sekarang masih dikenal satu jenis kapital lagi yaitu kapital sosial (social capital).763. dengan adanya deplisi sumberdaya alam pada tahun yang sama mengubah PDRB Coklat menjadi PDRB Semi Hijau dengan nilai sebesar Rp.98 milyar.5 Pada Tebl 2.18. Tabel 2. Hal ini wajar karena semua kegiatan ekonomi umumnya menggunakan kapital dalam melakukan kegiatannya.23. .3.3 PDRB Hijau Kabupaten Bandung Seperti telah diketahui sebelumnya bahwa nilai-nilai dalam PDRB Hijau adalah hasil pengurangan nilai PDRB Coklat dengan nilai deplisi sumberdaya alam dan degradasi lingkungan. .10 milyar pada tahun 2003. Oleh karena itu boleh dikatakan bahwa angka-angka yang ada masih dapat diperbaiki apabila tersedia data yang lebih lengkap dikemudian hari.

017.11 23.5.11 4. maka didapatkan angka pendapatan regional Kabupaten Bandung.951.390.763. Kemudian dengan membagi nilai pendapatan regional tersebut diperoleh nilai pendapatan per kapita yang hijau.931. didapatkan nilai Kontribusi Hijau sektor kehutanan pada PDRB (perhatikan Tabel 2.4 Kontribusi Hijau Sektor Kehutanan pada PDRB Kabupaten Berau Dari hasil perhitungan nilai deplesi sumberdaya hutan dan degradasi lingkungan dan kemudian mengurangkan dari nilai kontribusi sektor kehutanan kepada PDRB Coklat. dapat dihitung PDRB Coklat per kapita Kabupaten Bandung adalah sebesar Rp. .05.582 jiwa.624.577.373. Dengan diketahuinya penduduk Kabupaten Bandung sebanyak 4.624.017.98 5. Kalau PDRB Coklat sudah pula dikurangkan nilai penyusutan modal buatan manusia dan pajak tidak langsung. 2.3.05 Sumber : Bandung dalam angka 2004. Catatan : Jumlah penduduk Kabupaten bandung tahun 2003 sebesar 4. Nilai PDRB Hjau per kapita inilah yang menunjukan nilai kesejahteraan yang sebenarnya karena pendapatan yang diciptakan dalam bentuk PDRB Hijau sudah dikurangi dengan penyusutan atau depresiasi modal alami (SDA dan lingkungan) guna menciptakan PDRB Coklat per kapita.931.99 5.11 dan nilai PDRB Hijau per kapita adalah sebesar Rp.951.577.582 orang.832.Tabel 2.5 PDRB Hijau Kabupaten Bandung Tahun 2003 No 1 2 3 4 5 6 7 Uraian PDRB Coklat (milyar rupiah) Deplisi SDA (milyar rupiah) PDRB Semi Hijau (milyar rupiah) Degradasi lingkungan (milyar rupiah) PDRB Hijau (milyar rupiah) PDRB Coklat per kapita (juta rupiah) PDRB Hijau per kapita (juta rupiah) 2003 23.6).01 18. Data diolah. 4.10 68. .

19 2003 381.82 370.03 milyar oada tahun 2003.12 -545.14 milyar dalam bentuk deplesi sumberdaya alam hutan dan degradasi lingkungan sebesar Rp.79 232.31 -401.27 milyar pada tahun 2003).03 155. tetapi dengan mengorbankan aset dibidang kehutanan sebesar Rp.89 193.25 298. Berapa sesungguhnya kontribusi sektor kehutanan dalam pembangunan nasional yang diukur dengan nilai PDB Indonesia?. jawabnya ialah bahwa kontribusi sektor kehutanan terhadap pembangunan nasional (PDB Coklat) adalah seluruh nilai tambah yang berupa kontribusi yang telah dihitung dalam PDB Coklat ditambah nilai deplesi sumberdaya alam ditambah lagi dengan nilai degradasi lingkungan.56 142.23 -186.6 Kontribusi Hijau Sektor Kehutanan pada PDRB Hijau Kabupaten Berau Tahun 2000-2003 (Rp Milyar) Keterangan Kontribusi sektor Kehutanan pada *) Deplesi sumberdaya hutan Kontribusi semi hijau sektor kehutan an pada PDRB Degradasi SDH Kontribusi hijau sektor kehutanan pa da PDRB Nilai tambah sektor kehutanan 2000 374.32 Sumber : data diolah Catatan : *) Sektor Kehutanan termasuk didalamnya nilai kontribusi industri pengolahan kayu pada PDRB. Dengan nilai deplesi sumberdaya hutan dan nilai degradasi lingkungan yang positip jumlahnya dan nilai kontribusi coklat sektor kehutanan pada PDRB yang lebih kecil dibanding dengan nilai deplesi ditambah nilai degradasinya. 796.71 74. Namun hendaknya kita sangat hati-hati dalam menginterpretasikan angka-angka tersebut.27 796.54 620.08 2002 376. .15 milayr dalam bentuk degradasi lingkungan. Dalam kasus ini nilai kontribusi sektor kehutanan lebih 2 kali lipat daripada nilainya yang telah dihitung dalam PDB Coklat.07 183.34.150.32 milyar untuk tahun 2003.08 1. 381. 155. 260.88 260. . Nilai kontribusi ini sebesar Rp.65 2001 373.58 1. diperoleh nilai kontribusi hijau sektor kehutanan pada PDRB yang negatip (-Rp.15 -34. Angka ini dapat diartikan sebagai hasil neto kinerja sektor kehutanan yang memberikan konteribusi coklat pada PDRB sebesar Rp.41 940.Tabel 2.14 225.23 543.292.

artinya hilangnya nilai sumberdaya alam dan lingkungan tidak diperhitungkan sebagai bagian dari angka penyusutan modal. Kegiatan itu terus berlanjut sampai sekarang baik untuk daerah kabupaten. kota maupun provinsi. PDRB Coklat sendiri merupakan catatan tentang jumlah nilai rupiah dari barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh suatu daerah (provinsi/Kabupaten/Kota) dalam waktu satu .BAB 3 METODOLOGI PENYUSUNAN KONTRIBUSI HIJAU SEKTOR KEHUTANAN Secara konvensional PDRB merupakan ukuran keberhasilan kinerja pembangunan suatu daerah baik itu kabupaten. kota maupun provinsi. maka setiap daerah tingkat satu dan tingkat dua pada waktu itu sudah mampu secara rutin menyajikan data atau hasil perhitungan PDRB untuk setiap tahunnya. kota atau provinsi tertentu. Karena PDRB sudah menjadi wacana nasional dan perwilayahan sejak pemerintahan orde baru. Karena dalam konsep PDRB yang konvensional ini tidak diperhitungkan dimensi lingkungan. maka nilai PDRB yang diperoleh hanya mencerminkan hasil kegiatan ekonomi suatu kabupaten. . kota maupun provinsi. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Hijau merupakan pengembangan dari PDRB Coklat atau kovensional. dalam waktu satu tahun yang dinyatakan dalam nilai rupiah. Pada dasarnya PDRB merupakan seluruh jumlah barang dan jasa akhir (final product) yang dihasilkan oleh suatu kegiatan perekonomian atau pembangunan regional (daerah) baik kabupaten. PDRB yang konvensional disebut dengan istilah PDRB Coklat karena dalam penghitungannya belum memasukan penyusutan nilai modal alami yaitu sumberdaya alam dan lingkungan.

Untuk keperluan analisis ekonomi serta perencanaan pembangunan di daerah. maupun cukai. Yang dimaksud dengan pajak tidak langsung adalah pajak yang beban pajaknya dapat digeserkan pada pihak lain seperti PPN. maka hasil-hasil pembangunan per sektor dapat diketahui dengan jelas dan oleh sebab itu rencana pembangunan daerah dapat disusun secara lebih akurat. baik secara total maupun secara sektoral. Dengan mengetahui kontribusi maupun laju pertumbuhan masing-masing sektor terhadap PDRB. pajak penjualan barang mewah. 17 ditampilkan menurut sektor kegiatan PDRB banyak digunakan sebagai instrumen untuk menilai keberhasilan pembangunan di daerah yang bersangkutan. PDRB dan pendapatan regional ekonomi atau lapangan usaha. System of Integrated Economic and Environment. .tahun. New York. sehingga dianggap mencerminkan kondisi perekonomian daerah yang bersangkutan. Istilah PDRB Coklat sebenarnya karena disejajarkan dengan adanya istilah Green GDP dan Brown yang dikeluarkan oleh United Nations Statistic Office (UNSO). . Nilai PDRB suatu daerah sebenarnya adalah nilai tambah yang diciptakan oleh semua sektor usaha didaerah tersebut. Tetapi sesungguhnya tidak demikian karena nilai sumberdaya yang hilang (dieksploitasi) dan kerusakan (degradasi) lingkungan akibat kegiatan eksploitasi itu sendiri belum diperhitungkan sebagai nilai kehilangan dan kerusakan yang seharusnya dibayar. 1993. sehingga nilai-nilai yang tercantum dalam PDRB yang konvensional itu belum menunjukan nilai kemajuan pembangunan atau kesejahteraan masyarakat yang sesungguhnya 18 Untuk membuat agar nilai-nilai yang ada didalam PDRB mencerminkan nilai kesejahteraan yang sebenarnya dari hasil kegiatan perekonomian atau pembangunan suatu daerah. Nilai yang dihasilkan seolah-olah memberikan gambaran tentang struktur perekonomian dan pertumbuhan ekonomi yang dialami oleh suatu daerah. PDRB yang sekarang ada disusun secara konvensional yang disebut dengan PDRB Coklat. Penghitungan PDRB yang sudah dilakukan hingga saat ini baru menghitung nilai total barang dan jasa (final product) yang dihasilkan selama satu tahun dan dinyatakan dalam nilai rupiah. maka perlu dilakukan penghitungan PDRB yang disesuaikan (adjusted gross regional domestic bruto/ GRDP) yang disebut juga sebagai PDRB Hijau yaitu dengan memasukan kedalam penghitungan PDRB 17 18 Yang dimaksud dengan pendapatan regional adalah nilai PDRB setelah dikurangi dengan nilai penyusutan barang modal dan nilai pajak tak langsung.

.... maka lebih banyak digunakan pendekatan nilai tambah atau pendekatan produksi. yaitu : a. . Menjumlahkan seluruh pengeluaran setiap kegiatan di masing-masing sektor... . modal. . Rp... perlengkapan dan sumberdaya alam serta keahlian.... b.. Menjumlahkan seluruh nilai tambah dari setiap sektor kegiatan ekonomi.1 Cara menghitung PDRB Tiga pendekatan utama dalam menghitung PDRB.. Dalam kaitannya dengan sumberdaya alam.. Untuk setiap sektor kegiatan ekonomi dihitung sumbangannya terhadap angka PDRB dengan cara seperti pada Gambar 3.... .1 Nilai produksi Intermediate Inputs (bahan-bahan) Nilai tambah (PDRB) Coklat Rp.1 Perhitungan Kontribusi Sektor Kegiatan Ekonomi terhadap PDRB .... Rp.. Menjumlahkan semua jenis pendapatan yang diperoleh oleh para pemilik faktor produksi seperti tenaga kerja......... c..(Coklat) nilai deplesi sumberdaya alam dan kerusakan (degradasi) lingkungan yang ditimbulkan sebagai produk yang tidak diinginkan (undisirable outputs). Dengan demikian nilai PDRB yang telah disesuaikan tersebut dapat dijadikan acuan dasar yang lebih komprehensif bagi perencanaan pembangunan yang berkelanjutan dan lingkungan disamping faktor-faktor lainnya. alat........ Gambar 3. 3............

3....2 Perhitungan Kontribusi Sektor Kegiatan Ekonomi terhadap PDRB Semi Hijau . Gambar 3. ...... Rp... Kalau pendekatan ini yang dipakai.. Rp..... PDRB Konvensional yang disebut juga dengan PDRB Coklat dikurangi dengan nilai deplesi dari sektor kehutanan sehingga hasil yang didapatkan adalah PDRB Semi Hijau...2 di bawah ini. Rp. sewa.....2 Penghitungan PDRB Semi Hijau PDRB Semi Hijau adalah hasil pengembangan PDRB Coklat dengan memasukan dimensi lingkungan (deplesi SDA dan kerusakan lingkungan) kedalam perhitungan PDRB Konvensional.... tetapi Pendapatan Nasional.......Yang dimaksud dengan intermediate inputs adalah semua bahan yang digunakan dalam proses produksi...... bunga. baru kemudian dikurangi dengan nilai deplesi dan nilai degradasi lingkungan.... 3.. . biasanya dipakai pendekatan pendapatan yaitu balas jasa terhadap faktor produksi dalam bentuk upah/gaji... Hijau harus ditambahkan penyusutan barang modal buatan manusia....... ... dan laba. tidak termasuk tenaga kerja. .......... Rp.......... angka atau nilai yang diperoleh Untuk sampai pada nilai PDRB bukannya PDRB. ........ ..... Kalau suatu sektor tidak memiliki produk yang dapat dijual di pasar seperti sektor pemerintahan dan pendidikan... Perhatikan Gambar Nilai produksi hutan Intermediate Inputs (bahan-bahan) Nilai tambah (PDRB) Coklat Deplesi SDA PDRB Semi Hijau Rp...

.4 Penyusunan Kontribusi Hijau Sektor Kehutanan Sebagai langkah awal dalam penyusunan kontribusi hijau sektor kehutanan... terhadap nilai-nilai pada PDRB Semi Hijau masih harus dikurangi lagi nilai kerusakan atau degradasi lingkungan.. ..... Kabupaten ini dipilih karena dalam studi ini menitik beratkan kajian pada kontribusi hijau sektor kehutanan di wilayah tersebut dimana Kabupaten Karangsem masih memiliki kawasan hutan yang cukup luas..... sektor yang menjadi perhatian dalam studi ini adalah sub sektor kehutanan...3.3 Penghitungan PDRB Hijau Untuk sampai pada nilai PDRB Hijau. .. sektor industri pengolahan...... Gambar 3. PDRB Semi Hijau Degradasi lingkungan PDRB Hijau Rp.3 di bawah ini.. sektor pertanian dan industri pengolahan hasil hutan pada sub sektor industri pengolahan non migas..3 Kontribusi Sektor Kegiatan Ekonomi pada PDRB Hijau 3.... Oleh karenanya dalam meninjau laporan PDRB Kabupaten Karangasem. secara singkat tahapan studi ini meliputi : a. Rp...... Dengan semikian. sehingga akhirnya diperoleh nilai PDRB Hijau yang sebenarnya.. Mengkaji sektor yang berkaitan dengan sektor kehutanan (sub sektor kehutanan dan industri pengolahan hasil hutan) yang memberikan kontribusi pada PDRB Kabupaten Karangasem.. dikembangkan menjadi PDRB Hijau langkah Jadi untuk adalah perhitungannya sebagaimana tampak pada Gambar 3.. ... yakni Kabupaten Karangasem Provinsi Bali.. ..... Rp...... ditentukan ruang lingkup studi khususnya berkaitannya dengan wilayah studi.. ...

b. Data harga diperoleh dari data sekunder ataupun data primer dari perusahaan yang terlibat dalam proses produksi dan penggunaan sumberdaya alam. Setelah nilai deplesi. Kemudian valuasi ekonominya dapat menggunakan metode biaya pengganti (replacement costs) dan metode pendapatan yang hilang (forgone income). Melakukan valuasi ekonomi terhadap sumberdaya hutan yang digunakan atau yang diekstrak dari hutan. degradasi lingkungan dan degradasi industri pengolahan hasil hutan dapat dihitung. Menghitung volume kerusakan akibat deplesi sumberdaya hutan dan menghitung pula dampak negatif yang ditimbulkan akibat adanya proses produksi industri hasil hutan. . c. Untuk ini informasi dapat diperoleh dari Dinas Perindustrian dan juga Kantor badan Statistik Daerah. . e. misalnya dengan metode prevention cost yaitu dengan menginternalkan biaya biaya pengolahan limbah pada hasil akhir industri pengolahan. Mengidentifikasi semua jenis dan volume sumberdaya hutan baik kayu maupun non kayu yang digunakan dan diambil baik secara langsung maupun tidak langsung dan memiliki nilai ekonomi di wilayah tersebut. Khusus dalam menghitung dampak negatif yang timbul akibat pengolahan industri hasil hutan ini digunakan berbagai metode yang paling mendekatai angka degradasi. Selain itu. Valuasi dilakukan dengan pendekatan nilai pasar untuk produk-produk yang memiliki nilai pasar dan dipasarkan atau menggunakan nilai barang pengganti dan barang pelengkapnya. metode lain yang digunakan adalah metode observasi langsung dan metode perkiraan dengan menggunakan benefit transfer. selanjutnya nilai-nilai tersebut dikurangkan dari kontribusi sektor kehutanan sehingga akan diperoleh nilai kontribusi hijau sektor kehutanan pada PDRB. atau dengan contingent valuation yaitu kesediaan membayar atau kesediaan menerima pembayaran untuk produk yang tidak memiliki nilai pasar atau untuk menaksir nilai kerusakan lingkungan. d. serta wawancara langsung dengan beberapa perusahaan dan industri sampel.

1 berikut : . . 3. Untuk mendapatkan nilai PDRB Semi Hijau adalah nilai deplesi sumberdaya hutan yang telah dihitung kemudian dikurangkan dari nilai kontribusi sektor kehutanan pada PDRB Coklat.f. 3. Untuk sumberdaya hutan yang ekstraktif sifatnya. Luas areal hutang yang ditebang dan yang rusak atau yang terbakar (A).1 Prakiraan Volume Deplesi a). Setelah diketahui sumberdaya hutan yang dideplesi.5 Penghitungan Deplesi Sumberdaya Hutan Hal yang sangat krusial dalam kaitannya dengan penghitungan PDRB Semi Hijau adalah penentuan produk sumberdaya hutan yang mengalami deplesi dalam suatu perekonomian di daerah dalam waktu tertentu dalam satu tahun. selanjutnya dilakukan kuantifikasi berkaitan dengan kuantitas sumberdaya hutan yang dideplesi dalam tahun tersebut dan kemudian dicari atau dihitung nilai ekonominya. sebaiknya digunakan harga pasar sebagai pendekatan untuk menghitung unit rent dari masing-masing jenis sumberdaya hutan yang mengalami deplesi di daerah kabupaten/kota atau provinsi yang bersangkutan. Kontribusi riil sektor kehutanan pada pembangunan diperoleh dengan jalan menjumlahkan kontribusi sektor kehutanan dengan depresiasi lingkungan kemudian dikurangi dengan degradasi industri pengolahan hasil hutan. Luas arela hutang yang ditebang dan yang terbakar umumnya dapat diketaui dari data yang disajikan oleh Dinas Kehutanan setempat. Sedangkan luas hutan yang rusak terutama sebagai akibat dari cara penebangan hutan yang salah dapat diperkirakan dengan menggunakan hasil estimasi Simangunsong seperti ditampilkan pada Tabel 3.5.

Tabel 3.01 Flood protection service 1. . madu. dsb (Q1) : Q1 = (A) x (1) Dimana Q1= volume produk hutan lainnya 1 = volume produk lain perhektar d). Volume produk lain yang hilang : rotan damar. Adapun kecuali bila datanya langsung untuk perhitungan deplesi sumberdaya hutan digunakan rumus sebagai berikut : Vk = (Qk) x (Pk) Dimana : Vk = nilai deplesi kayu Pk = unit rent kayu V1 = (Q1) x (P1) Dimana : V1 = nilai deplesi produk lain P1 = unit rent produk lain.41 The existence value 1.41 Soil and water conservation service loss 1.18 The option value 0.33 Carbon sink service 113. Memberikan valuasi ekonomi deplesi sumberdaya hutan.34 Sumber : Bintang Simangonsong b). sarang burung.59 Residual Stand damage 79. tersedia dalam volume kayu : Qk = (A) x (k) Dimana Qk = volume kayu total A = luas areal hitan ditebang K = volume kayu per hektar c). .1 Forest Value of Goods and Services Loss Due to Timber Cutting (US $/Ha) Services US $/Ha Non Timber 8. Rata-rata volume kayu yang dideplesi (ditebang dan terbakar) = (Qk).41 Total loss 205. Volume kayu yang ditebang dan terbakar diestimasi dengan menggunakan rumus di bawah ini.

.3. maka nilai total kayu hutan yang dihasilkan adalah sebesar US$ 4. c). VK. maka DR yang terkumpul per hektar hutan adalah US$ 640/ha Apabila DR diasumsikan setara dengan pajak penghasilan sebesar 15%.5. penghitungan sebagai berikut : Untuk itu digunakan rumus QE = (A) x (E) Dimana : QE = volume erosi A = luas areal hutan ditebang E = volume erosi rata-rata per hektar.266.6 (lihat Tabel 3. Vs. nilai keberadaan dan nilai pilihan. Qc = (PH) x (C) Dimana : Qc = volume penyerapan karbon PH = jumlah pohon yang tertebang C = volume penyerapan karbon perhektar Qs = (A) x (S) Dimana : Qs = volume sedimentasi A = luas arela yang ditebang S = volume sedimentasi perhektar hutang ditebang. yaitu nilai-nilai erosi. penyerap karbon. sedimentasi. b). Dalam melakukan degradasi lingkungan digunakan pendekatan dengan menggunakan asumsi bahwa 1 hektar hutan menghasilkan 40m3 kayu dan besarnya dana reboisasi (DR) sebesar US$ 16/m3 kayu.2 Prakiraan Nilai Degradasi a). Mengidentifikasi dan mengkuantifikasi macam degradasi lingkungan yang terkait dengan kehutanan. Studi ini menggunakan angka yang dihasilkan oleh NRM untuk mengetahui persentase sumbangan nilai .2). Memvaluasi semua macam degradasi lingkungan yang telah teridentifikasi sehingga diperoleh VE. Vp. Vc.

92 123.242.3 Penghitungan kontribusi hijau sektor kehutanan a) Menghitung kontribusi hijau sektor kehutanan pada PDRB Kabupaten/ Daerah : KH = Hckl – (VK+VL) – (VE+VC+VS) – (VK+Vp) .5.95 ----100 Nilai (US$/ha/thn) 4.14 12.62 2.11 0. Nilai ekonomi tersebut dengan asumsi bahwa penebangan kayu dihutan berakibat pada rusak atau hilangnya fungsi hutan seperti tersebut diatas.26 2.83 847.60 Sumber : NRM dan Suparmoko.34 69.266. .03 19.94 4.Nilai penggunaan langsung Kayu Kayu bakar Produk hutan non kayu Konsumsi air . atatan: Nilai degradasi ditunjukan oleh nilai penggunaan tak langsung dan nilai atas dasar bukan penggunaan.2 Persentase dan Nilai Jasa Hutan Jenis Nilai Jasa yang dihasilkan * Atas dasar penggunaan .2 Nilai jasa hutan diperoleh dengan mengalikan persentase masing.12 133.14 3.masing fungsi dengan nilai total ekonomi hutan - 3.43 8.266.28 126.235.071.44 1.00 0.81 210.39 29.Nilai penggunaan tak langsung Konservasi air dan tanah Penyerap karbon Pencegah banjir Transportasi air Keanekaragaman hayati * Atas dasar bukan penggunaan Nilai opsi Nilai keberadaan Nilai Ekonomi Total Persentase (%) 95.85 3.33 2.20 981.05 -------4.6 Hasil perhitungan NRM untuk nilai ekonomi hutan di Indonesia digunakan sebagai dasar penghitungan persentase sumbangan masing-masing nilai terhadap nilai total ekonomi dengan persentase seperti tampak pada Tabel 3.79 195.66 1.42 52.90 4.85 525. Secara ringkas asumsi-asumsi yang digunakan adalah sebagai berikut : Asumsi : 1 hektar hutan menghasilkan 40 m3 kayu Dana reboisasi US$ 16/m3 diasumsikan setara dengan tarif pajak 15 % Pajak kehutanan/ha = 40m3 x US$ 16 = US$ 640/ha Nilai Ekonomi Hutan Total = (100/15) x US$ 640 = US$ 4.20 43.58 1.835.08 23. Tabel 3.masing-masing fungsi hutan dan mengalikannya dengan angka yang sudah disesuaikan berdasarkan penghitungan dana reboisasi (DR).

6 Menghitung Unit Rent Sehubungan dengan kebutuhan dalam menentukan nilai deplesi sumberdaya hutan. dibutuhkan nilai unit rent untuk masing-masing jenis produk sumberdaya hutan. Untuk sampai pada perhitungan nilai unit rent. 3. diterima pengusaha dianggap sama dengan tingkat bunga pinjaman di bank sebagai alternatif cost dari modal yang ditanam untuk mengambil atau mengeksploitasi sumberdaya hutan di kabupaten/kota atau propinsi yang bersangkutan. Cara menghitung unit rent adalah dengan mengurangkan seluruh biaya produksi dari nilai penerimaan hasil pengambilan sumberdaya hutan itu. terhadap nilai laba kotor itu harus dikurangkan lagi Adapun nilai laba yang layak nilai laba yang layak diterima oleh si pengusaha. .4 : . Uraian ini diringkas seperti pada Gambar 3.Dimana : KH Kckl VK VL VE VC VK Vp = kontribusi hijau = kontribusi coklat = nilai deplisi kayu = nilai deplisi produk hutan lainnya = nilai erosi = nilai sedimentasi = nilai keberadaan = nilai pilihan b) Menghitung kontribusi sektor kehutanan pada pembangunan daerah yaitu : Kpemb = Kckl + (VK+VL) + (VE+VC+VS) + (VK+Vp) Dimana : Kpemb = kontribusi pada pembangunan daerah c) Menyusun kesimpulan studi d) Menyusun implikasi kebijakan atau rekomendasi untuk pengelolaan dan pengembangan sektor kehutanan. Dari perhitungan ini diperoleh nilai laba kotor.

. dsb) Laba kotor per unit Laba layak (balas jasa investasi) (suku bunga SBI x total biaya produksi) Unit Rent Gambar 3. Untuk menilai degradasi tersebut perlu diadakan penelitian pendahuluan mengenai sumberdaya alam dan komponen lingkungan yang mana yang mengalami degradasi pada tahun yang bersangkutan. sehingga lapisan tanah yang subur (stop soil) akan hilang...... ekan terjadi erosi sumberdaya tanah. Bagaimana cara menilainya ? Untuk hal-hal yang ada kaitannya dengan sumberdaya ekstraktif dapat didekati dengan menggunakan harga pasar dan unit rent....4 Perhitungan Unit Rent 3........ maka akan terjadi degradasi pantai yang dapat mengakibatkan terganggunya kegiatan rekreasi atau wisata pantai di pantai tersebut........... . ..... sewa.7 Rp. . Selanjutnya untuk hal-hal yang merupakan jasa lingkungan dan jasa keanekaragaman hayati penilaiannya harus didekati dengan menggunakan nilai .. Sebagai misal dengan adanya penebangan hutan. Rp... karena perlu menggunakan berbagai perkiraan sesuai dengan jenis sumberdaya alam dan lingkungan yang terdegradasi.. . (-) Rp......... Dalam hal ini terjadi degradasi sumberdaya lahan. (-) Rp. ..... Kemudian langkah berikutnya adalah langkah mengkuantifikasi besaran atau luasan degradasi yang bersangkutan........... Akhirnya terhadap lauasan degradasi tersebut dapat diperkirakan besarnya nilai degradasi yang bersangkutan... Kalau tanah yang terbawa erosi itu diendapkan dimuara sungai dan pantai.. Penghitungan Degradasi Sektor Kehutanan Perhitungan nilai degradasi lingkungan lebih kompleks.. Selanjutnya kalau tanah yang terbawa erosi itu terbawa melalui sungai akan terjadi pendangkalan sungai dan menambah kekeruhan air sungai... Rp........... .. tenaga kerja...Harga per unit Biaya produksi per unit (bahan. Langkah ini merupakan langkah identifikasi. Dalam hal ini terjadi degradasi sumberdaya air........... baik dari segi kuantitas maupun kualitas.

biaya pengganti. Perhitungan nilai tambahnya adalah : Nilai tambah = Nilai produk kayu . Sehingga nilai degradasi ini dapat didekati dengan melihat besarnya biaya pengolahan limbah termasuk didalamnya tenaga kerja. 3. nilai kesenangan (hedonik) atau biaya perjalanan (travel cost). Degradasi lain yang sangat mungkin terjadi adalah degradasi di sektor industri pengolahan hasil hutan.nilai lahan NTk = Hk – Ni Dimana NTk = nilai tambah kayu di hutan Hk = harga kayu (stumpage value) Ni = nilai input untuk menghasilkan kayu Harga kayu tegakan atau stumpage value adalah nilai rente kayu per unit (unit rent) yang merupakan nilai tambah yang dihasilkan oleh hutan atau sektor kehutanan. Karena intermediate input sektor kehutanan tidak perlu diberikan oleh manusia melalui usaha-usaha tertentu atau .8. Biaya keseluruhan kegiatan pengolahan limbah inilah yang nantinya digunakan sebagai angka degradasi pada industri pengolahan hasil hutan. dimana kegiatan ini juga menghasilkan limbah yang dapat mendegradasi fungsi lingkungan. .8 Aplikasi Penghitungan Kontribusi Hijau Sektor Kehutanan 3. peneliti menganalisa dengan pendekatan metode prevention cost yaitu pihak perusahaan melakukan pengolahan limbah sebelum dibuang ke badan sungai. Dalam hal ini. maupun dengan cara survey (contingent valuation) dengan meneliti tentang kesediaan membayar (willingnes to pay) atau kesediaan untuik menerima ganti rugi (willingnes to accept).1 Konsep Penghitungan Sebagai ilustrasi diambil contoh produk kayu bulat yang ditebang dari hutan. bahan-bahan kimia yang dibutuhkan dan harga penyusutan alat pengolah limbah per tahun.

201 Rp.Biaya umum Rp.Biaya lain-lain Rp.252. Karena itu nilai tambah sektor kehutanan yang ditampilkan dalam PDRB maupun PDB sebarang ini harus ditambah dengan nilai deplesi sumberdaya hutan.594 Catatan : Untuk sampai pada nilai Unit Rent maka Rente Ekonomi dibagi dengan volume produksi.49. . IHPH dan Dana Reboisasi Hutan. Neraca Sumberdaya Alam (Natural Resource Accounting). BPFE Yogyakarta. 19. 1. PSDH.Biaya pemeliharaan Rp.392 . M.561 . ”Forest Resource Accounting” dalam M Suparmoko. Yang menjadi pertanyaan kemana nilai uang yang Nilai uang dari nilai tambah ditimbulkan dari nilai tambah tersebut ? hutan diantaranya sudah dicerminkan dalam bentuk pajak atau pngutan yang berkaitan dengan kegiatan penebangan hutan dalam bentuk IHH. Kasus diatas menunjukan bahwa sumbangan sector kehutanan untuk PDRB adalah nilai tambah yang diciptakan di sector tersebut yang terdiri dari laba perusahaan dotambah dengan nilai rente ekonomi kayu dan . maka boleh dikatakan bahwa nilai intermediate input sama dengan nol. 2005. 9.605 .Biaya pemasaran Rp. Harlini Kahar.122.704 (-) Rp.905 Rp. Tetapi apabila data yang tersedia adalah harga atau nilai kayu setelah sampai ke tempat penimbunan kayu saja. Oleh karena itu nilai tambah yang diciptakan sama dengan harga kayu tegakan itu sendiri.730 + Laba kotor Laba perusahaan (balas jasa investasi) (suku bunga SBI = 15% x total biaya produksi) Rente ekonomi Rp.102.26.Biaya eksploitasi Rp. Asta. Konsep ini berlaku pula untuk semua jenis sumberdaya alam yang tidak perlu dibudidayakan oleh manusia. Editor.48. Sumber : Suparmoko dan Maria Ratnaningsih.130.416 .dengan kata lain alam hutan itu sendiri yang memberikan intermediate inputnya. maka contoh berikut dapat disimak : Contoh penghitungan ” Nilai rente ekonomi kayu bulat tahun 1989 Nilai produksi Biaya produksi : .606 (-) Rp.

dsb). dsb). dsb).8. kayu lapis. Data yang berkenaan dengan besarnya biaya pengolahan limbah oleh perusahaan-perusahaan pengolahan industri kehutanan. pembuatan tanggul. Secara teoritis nilai rente ekonomi harus sama dengan nilai pungutan pemerintah dari sektor kehutanan seperti PSDH. Tingkat bunga bank yang berlaku di daerah bersangkutan untuk investasi di kehutanan. rotan. IHH. . Data lain terkait atau yang diperlukan dalam pendugaan nilai kerusakan lingkungan (misal debit air. . Macam dan jumlah produk kehutanan yang diekstrak dari hutan (kayu. f. perabot rumah tangga.2 Data yang diperlukan Dalam rangka menyusun kontribusi hijau sektor kehutanan terhadap PDRB suatu daerah. c. b. d. teknik penanganan pencemaran. e. kayu lapis.produk ekstraktif kainnya yang sesungguhnya adalah sama dengan laba kotor. Biaya produksi masing-masing jenis produk industri berbasis produk hutan (kayu gergajian. perabot rumah tangga dsb). dan sebagainya. Dana Reboisasi. Biaya pengambilan atau biaya produksi masing-masing jenis produk hutan tersebut (kayu. 3. biaya pengerukan. laju dan besar sedimentasi. g. damar. Harga masing-masing jenis produk industri yang menggunakan bahan mentah produk hutan (kayu gergajian. dsb) di daerah yang bersangkutan pada tahun tertentu. damar. ritan. Laba kotor adalah nilai produksi kayu bulat dan produk ekstraktif lainnya yang dihasilkan dari hutan ditambah dengan nilai rente ekonomi. tentunya diperlukan data atau informasi mengenai : a. IHPH.

Bangli.472 Ha dan terkecil yaitu Kecamatan Sidemen seluas 3.1 Keadaan Umum Kabupaten Karangasem merupakan kabupaten yang paling timur di Provinsi Bali dan secara geografis kabupaten Karangasem terletak diantara 08O00’00’’ – 08O41’37.954 ha atau sekitar 14.8’’ – 115O54’89’’ bujur timur.515 Ha Wilayah yang berbatasan dengan Kabupaten Karangasem meliputi : Sebelah utara dengan Laut Jawa Sebelah selatan dengan Selat Badung. Samudera Indonesia Sebelah timur dengan Selat Lombok Sebelah barat dengan Kabupaten Klungkung.BAB 4 GAMBARAN PEREKONOMIAN DAN SEKTOR KEHUTANAN KABUPATEN KARANGASEM 4. .90% luas wilayah Provinsi Bali. dan Kabupaten Buleleng Kabupaten Karangasem memiliki iklim yang hampir sama dengan sebagian besar wilayah di Indonesia.8’’ lintang selatan dan 115O35’9. yang dikenal dengan 2 musim yaitu musim penghujan yang biasanya terjadi antara bulan Oktober hingga Maret karena angin bertiup dari Asia dan Samudera Pasifik yang banyak mengandung uap air. memiliki luas daerah sebesar 83. Wilayah kecamatan terluas terdapat di Kecamatan Kubu yaitu 23. Wilayah administrasi Kabupaten Karangasem dibagi atas 8 kecamatan dan 77 desa. .

Kabupaten Karangasem terletak pada ketinggian 300 meter diatas permukaan laut dengan suhu udara berkisar antara 21. . Jumlah KK tercatat 102.138 jiwa.830 KK dengan rata-rata anggota 4 orang. . Lombok.1.94% 4.1 OC dengan kelembaban udara antara 68 . Untuk lebih jelasnya distribusi penduduk di Kabupaten Karangasem berdasarkan kecamatan ditampilkan seperti pada Tabel 4. jasa tempat rekreasi. Penduduk mayoritas di Kabupaten Karangasem adalah penduduk Bali dan sisanya dari Cina. Kondisi pergantian musim ini berganti setiap tahun melewati masa-masa peralihan yaitu pada bulan April – Mei dan Oktober. Walaupun demikian. seperti jasa pariwisata. Potensi sektor kehutanan tidak menjadi andalan bagi pendapatan daerah dan juga bukan merupakan sumber kehidupan bagi sebagian terbesar penduduk Kabupaten Karangasem karena sektor kehutanan bukan merupakan hutan produktif.594 jiwa dengan jumlah laki-laki 201. sektor kehutanan di Kabupataen Karangasem memberikan jasa lingkungan yang menjadi pendukung kesejahteraan kehidupan masyarakat Kabupaten Karangasem.Nopember. Distribusi penduduk di Kabupaten Karangasem memiliki tingkat kepadatan 482 jiwa/km2.sedangkan musim kemarau biasa terjadi pada bulan Juni sampai September karena angin bertiup dari Australia yang tidak mengandung uap air. dan lain sebagainya.456 jiwa dan perempuan 203.8 OC – 36.2 Penduduk Jumlah penduduk di Kabupaten Karangasem pada tahun 2005 adalah 404. dan lainnya.

3 menyajikan PDRB Karangasem menurut harga berlaku tahun 2004-2006 dan Kontribusinya dalam persen (%) untuk masing-masing sektor . Kubu Kab.195 68. Rendang 2.311 42. hotel dan restoran sebagai sektor yang memberikan kontribusi terbesar. Seperti daerah setingkat regional lainnya.235 74. Karangasem 5. Abang 6. Peningkatan perekonomian selama periode tersebut (3 tahun) masih didominasi oleh sektor pertanian. Tabel 4. Karangasem Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Karangasem Luas (km2) 109. kemudian oleh sektor sektor pertambangan dan penggalian dan sektor listrik. Perekonomian di Kabupaten Karangasem selama periode tahun 20042006 meningkat setinggi 4.Tabel 4.05 81.241 33. Kabupaten Karangasem secara rutin melakukan penghitungan PDRB setiap tahun.631 37.54 Jumlah Penduduk (jiwa) 35. Selat 8. Bebandem 7. yang diikuti oleh sektor jasa-jasa dan sektor perdagangan.1 Luas dan Jumlah Penduduk menurut Kecamatan di Kabupaten Karangasem Tahun 2006 Kecamatan 1.15 69.81 %.23 134.3 Kondisi Perekonomian Sebagai salah satu indikator makro tentang kondisi perekonomian di Kabupaten Karangasem dibutuhkan angka Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku maupun atas dasar harga konstan.004 46.418 67. Sidemen 3.83 94. Manggis 4.2 dan Tabel 4.35 234.72 839. gas dan air bersih sebagai sektor yang memeberikan kontribusi terkecil pada PDRB Karangasem.7 35.559 404.594 4. .51 80.

PERTANIAN 2. BANGUNAN 6..28 persen dan 32.647 324. sektor pertanian merupakan sektor yang paling dominan karena menyumbang sebesar 31.061 2. PERDAG.455 2. PENGANGKUTAN & KOMUNIKASI 8.743 2006 763.679 11.690 430.185 157. Sumbangan ini sedikit menurun bila dibanding tahun 2004 dan 2005 berturut-turut 33.043 100. LISTRIK. PERTAMBANGAN & PENGGALIAN 3. JASA-JASA PDRB Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Bali 2004 633.002 179.2 Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Karangasem Menurut Lapangan Usaha atas dasar Harga Berlaku Tahun 2004-2006 (Jutaan Rupiah) Lapangan Usaha 1.665 457.266 389.657 64.034 54.155 82.995 152.656 124.49 persen dari total PDRB tahun 2006.423.619 97.perekonomian terhadap PDRB.206.334 1.890 2005 716.217 138.943 168. . INDUSTRI PENGOLAHAN 4. KEU. Tabel 4.428 46.541 38.103 79. HOTEL & RESTORAN 7.752 21.751 564.615 16. & JASA PERUSAHAAN 9. GAS & AIR BERSIH 5.903.897 197.47 persen. Dari sembilan sektor yang membentuk perekonomian Kabupaten Karangasem. PERSEWAAN.403 .645 522.

KEU. . Hal ini mengindikasikan bahwa perekonomian di Kabupaten Karangasem sangat mengandalkan ketiga sektor tersebut.000 400. Untuk mengetahui secara lebih mendetail dapat disimak lebih jauh sektor pertanian tersebut yaitu dari tahun ke tahun meningkat dan dominan mulai tahun 2004 sampai dengan 2006.1 PDRB Kabupaten Karangasem Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku Bila diamati selama kurun waktu 3 tahun (2004-2006) tiga sektor utama yang dominan di wilayah tersebut tidak berubah mulai dari sektor pertanian sebagai sektor yang paling dominan. BANGUNAN 7.000 300. perdagangan. berarti sektor pertanian menjadi tumpuan perekonomian Kabupaten Karangasem. HOTEL & RESTORAN 8. hotel dan restauran sebagai sektor dominan kedua kemudian sektor jasa-jasa sebagai ketiga. hotel dan restoran.000 700. INDUSTRI PENGOLAHAN 5. PERTANIAN 3. GAS & AIR BERSIH 6. Terutama pada sektor pertanian.000 0 2004 1.. .000 100. PERDAG.000 500. PERSEWAAN.000 600.000 200. & JASA PERUSAHAAN Gambar 4. kontribusinya mencapai setengah dari nilai PDRB. PERTAMBANGAN & PENGGALIAN 4. PENGANGKUTAN & KOMUNIKASI 9. JASA-JASA 2005 2006 2. kemudian jasa dan terakhir sektor perdagangan.800. LISTRIK.

28 0. HOTEL & RESTORAN 7. INDUSTRI PENGOLAHAN 5. LISTRIK. KEU. GAS & AIR BERSIH 5.59 17.3 Distribusi Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Karangasem menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku dalam Persentase (%) Tahun 2004-2006 Lapangan Usaha 1. PERTANIAN 2.. PERTAMBANGAN & PENGGALIAN 4. GAS & AIR BERSIH 6. .01 7. LISTRIK.11 4.16 5.03 17. HOTEL & RESTORAN 8.78 8.89 4.00 2006 31.00 2005 32.15 23. PERTAMBANGAN & PENGGALIAN 3. BANGUNAN 7..00 35 30 25 20 15 10 5 0 2004 1.73 3.68 100. PERTANIAN 3. & JASA PERUSAHAAN Gambar 4.02 100. PERSEWAAN.56 23.14 0. & JASA PERUSAHAAN 9. PENGANGKUTAN & KOMUNIKASI 8.47 2. KEU.40 17. JASA-JASA PDRB Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Bali 2004 33.09 7.96 0.99 4.61 3.49 2.07 7.Tabel 4.34 24.2 Distribusi PDRB Kabupaten Karangasem Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku .28 2. BANGUNAN 6.28 100. PERDAG. PERDAG.27 6.63 8. JASA-JASA 2005 2006 2. PERSEWAAN. PENGANGKUTAN & KOMUNIKASI 9. INDUSTRI PENGOLAHAN 4.

serta sektor jasa-jasa).42 2005 34. sektor listrik dan air minum serta sektor bangunan) • Sektor tersier (Sektor perdagangan.4 Kontribusi Kelompok Sektor terhadap PDRB Kabupaten Karangasem dalam Persentase (%) Tahun 2004-2006 Kelompok Sektor Primer Sekunder Tersier Sumber : Data diolah 2004 35.56 11.75 11.28 11. sektor angkutan dan komunikasi.89 54. sektor hotel dan restoran.Ditinjau berdasarkan output dan input asal terjadinya proses produksi untuk masing-masing produsen maka secara makro dapat diklasifikasikan menjadi 3 kelompok besar. . sektor bank dan lembaga keuangan lainnya.29 53. yaitu : • • Sektor primer (Sektor pertanian serta sektor penggalian dan pertambangan Sektor sekunder (Sektor industri pengolahan.46 53.36 . Berdasarkan laporan PDRB atas dasar harga berlaku tahun 2004-2006 maka klasifikasi kontribusi per kelompok sektor terhadap PDRB Kabupaten Karangasem ditampilkan pada Tabel 4.98 2006 33.4 Tabel 4.

Perubahan ini sangat baik bagi perkembangan perekonomian Kabupaten Karangasem dan diaharapkan perkembangan sektor sekunder akan mampu menyerap banyak investor yang pada akhirnya tercipta semakin banyaknya lapangan kerja di Kabupaten Karangasem. Penurunan di kelompok sektor primer ini sangat mungkin disebabkan karena adanya peningkatan produksi di sektor sekunder dan sektor tersier. Sektor primer pada tahun 2004 hingga 2006 kontribusinya menurun sebesar 1.3 Distribusi PDRB Kabupaten Karangasem Menurut Kelompok Sektor Atas Dasar Harga Berlaku Dari Tabel 4. diharapkan pula .53 persen. .4 kita dapat melihat perkembangan kontribusi masingmasing kelompok sektor dalam tiga tahun terakhir 2004-2006. Sekunder 2006 3.59 persen. Tersie Gambar 4.60 50 40 30 20 10 0 2004 1. Hal ini patut disambut secara positip karena pergeseran tersebut mengindikasikan adanya perbaikan dalam pemerataan ekonomi kelompok sektor dimana pada kelompok sektor sekunder sejak tahun 2004 hingga 2006 tercatat meningkat sebesar 0. Bila ditinjau dari laporan PDRB maka adanya peningkatan pada kelompok sektor sekunder tersebut disebabkan terjadinya peningkatan pada sektor ekonomi bangunan. Primer 2005 2.

016.dalam kelompok sektor ini diikuti pula oleh perkembangan sektor ekonomi lainnya yaitu sektor industri.11 Ha. hotel dan restoran serta sektor ekonomi jasa-jasa merupakan sektor yang dominan dalam memberikan kontribusi terhadap PDRB di Kabupaten Karangasem.5 .4 Sektor Kehutanan Kabupaten Karangasem Berdasarkan Peraturan Daerah No. Pada kelompok sektor ini. Dengan terjadinya pergeseran kelompok sektor yaitu menurunnya sektor primer dan meningkatnya sektor sekunder pada tahun 2006. Dinas Kehutanan merupakan unsur pelaksana Pemerintah Kabupaten Karangasem. diharapkan berdampak positip pada perkembangan kelompok sektor tersier terutama pada kedua sektor ekonomi yang dominan tersebut dan sektor ekonomi lainnya pada kelompok sektor tersier. tanggal 25 Juni 2004 tentang Pembentukan Susunan Organisasi dan Tata Kerja Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Karangasem. bahkan kontribusinya lebih besar dibandingkan sektor ekonomi bangunan pada kelompok sektor sekunder. maka Dinas Kehutanan dan Perkebunan di Kabupaten Karangasem dipimpin oleh seorang Kepala Dinas yang berada di bawah wewenang dan berggungjawab kepada Bupati. Hampir 17. Berdasarkan peta Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) tahun 2005 wilayah kerja Dinas Kehutanan Kabupaten Karangasem mencakup seluruh wilayah Kabupaten Karangasem dengan luas kawasan hutan berdasarkan fungsinya seperti terlihat pada Tabel 4.01 persen luas wilayah Karangasem merupakan kawasan hutan yang meliputi hutan lindung sebesar 14. . sektor ekonomi perdagangan.12 Ha dan hutan produksi terbatas sebesar 204. 10 Tahun 2004. Kelompok sektor tersier selama kurun waktu 3 tahun juga mengalami peningkatan. 4.

terdapat 5 sub sektor didalamnya dimana pada Tabel 4.54 persen. Hutan Produksi Terbatas 3. 2005 Seperti telah disebutkan di atas bahwa sektor ekonomi pertanian merupakan sektor yang paling dominan kontribusinya terhadap PDRB Kabupaten Karangasem.Tabel 4. Hal ini disebabkan fungsi hutan yang ada di Kabupaten Karangasem lebih diprioritaskan untuk hutan lindung meskipun ada sebagian kecil menjadi hutan produksi terbatas namun sampai saat ini belum memberikan hasil.6) maka terlihat bahwa pada tahun 2004 pertumbuhan meningkat sebesar 2.2 tersebut terlihat bahwa sub sektor tanaman bahan makanan merupakan sub sektor yang paling dominan selama kurun waktu 2004-2006. namun besarnya .17 persen. Secara garis besar pertumbuhan sub sektor kehutanan menunjukkan perkembangan yang positip karena terjadi peningkatan terus. Hutan Lindung 2.23 Sumber : Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Karangasem.24 persen. Bila dilihat secara rinci.220.12 204.016.5 Luas Areal Hutan Berdasarkan Fungsinya di Kabupaten Karangasem Hutan menurut fungsinya 1.11 0 0 14. . Selanjutnya bila dilihat laju pertumbuhan sub sektor kehutanan (Tabel 4. Hutan Produksi Tetap 4. namun pada tahun 2006 pertumbuhan meningkat sebesar 6. sedangkan pada tahun 2005 terjadi penurunan dimana laju pertumbuhan melambat menjadi 0. Bila dilihat pada sub sektor kehutanan dari tahun 2004-2006 maka kontribusi sub sektor kehutanan selama kurun waktu tersebut tidak mengalami peningkatan yang berati. Hutan Konversi Jumlah Luas (Ha) 14.

Peternakan dan Hasil-hasilnya 2004 2.86 2006 2.17 6.17 persen.63 0.61 7.24 9. Peternakan dan Hasil-hasilnya e.95 2005 3.54 11. Kehutanan 2006 b. Tabel 4.19 6. Perikanan Sumber : Data diolah 2.6 Laju Pertumbuhan Sub Sektor Pertanian pada PDRB Kabupaten Karangasem Tahun 2004-2006 (%) Lapangan Usaha a. Tanaman Bahan Makanan b. Tanaman Perkebunan c. . Perikanan 2005 d.96 3. padahal bila dilihat jauh kedepan maka selain . Tanaman Perkebunan Gambar 4.29 d.perubahan yang terjadi dapat dikatakan belum stabil.28 12 10 8 6 4 2 0 2004 a. Tanaman Bahan Makanan c. terlihat pada tahun 2005 melambat tajam namun tahun 2006 meningkat tajam sebesar 6.95 3.69 6.4 Laju Pertumbuhan Sub Sektor Pertanian pada PDRB Kabupaten Karangasem Bila dilihat angka kontribusi sektor kehutanan pada laporan PDRB maka angka yang muncul terlihat kecil.82 1. Kehutanan e.10 0.

. sumberdaya hutan juga memiliki fungsi lingkungan yang besar. Oleh sebab itu dalam studi ini akan dikaji peranan atau kontribusi hutan yang sudah mulai memasukkan dimensi lingkungan dalam perhitungan kontribusinya pada PDRB.hutan sebagai penyedia kayu dan bahan baku industri. .

Karena itu jika penghitungan untuk PDRB bagi sektor-sektor yang mengelola sumberdaya alam sebenarnya kurang tepat dan akan bersifat misleading dalam penghitungan kontribusinya bagi pembangunan daerah. sewa. . . misalnya untuk kayu bakar.1 Nilai Tambah Sektor Kehutanan Sektor kehutanan merupakan salah saktor yang cukup penting dalam memberikan kontribusi terhadap pembangunan baik langsung maupun tidak langsung.BAB 5 KONTRIBUSI HIJAU SEKTOR KEHUTANAN KABUPATEN KARANGASEM 5. bunga modal dan laba) yang diciptakan oleh kegiatan ekonomo sedangkan nilai bahan atau sumberdaya alam yang dideplesi tidak muncul dalam bentik nilai tambah. Sektor kehutanan di Kabupaten karangasem tidak mempunyai nilai tambah (value added) hasil produksi Hutan melainkan pemanfaatkan secara tidak langsung oleh masyarakat sekitar hutan dalam pemanfaatkan untuk kebutuhan seharhari. Peranan sektor kehutanan ini dalam melayani dan menyediakan kebutuhan pembangunan dapat dilihat bagaimana pengarauhnya kedepan (forward linkages) ataupun bagaimana pengaruhnya ke belakang (backward linkages). Nilai tambah itu akan sama dengan jumlah penghasilan dari faktor produksi (upah/gaji. Kontribusi sektor kehutanan ini Kabupaten Karangasem untuk saat ini hanya dihitung dari kontribusinya terhadap pembentukan PDRB.

22 88.00 0. Air Bersih 5.615.00 46.646.358.029.935. Angk.12 4.14 8.042.111.00 3.216.00 100.216. INDUSTRI PENGOLAHAN a.20 197.47 121. Industri Tanpa Migas 4.545.501. Pengilangan Minyak Bumi 2. & JASA 2004 633.94 263.84 19.00 104.61 0.51 120.149.001.27 7.751. PERTAMBANGAN & PENGGALIAN a.00 0.00 157. Minyak dan Gas Bumi b.185.458.78 5.339.751.36 0.84 324. Komunikasi 1. Gas c.78 0.52 0.60 27.71 89.24 141.869.022.35 72.297.645. PERDAG. .347. PERTANIAN a.147.982.547.47 168.926.718.29 157.11 94.68 5. Angkutan Udara 6.92 240.05 0.723.00 21.1 PDRB Kabupaten Karangasem Atas Dasar Harga Berlaku 2004-2006 (jutaan) Lapangan Usaha 1.620. PENGANGKUTAN & KOMUNIKASI a.154.01 152.29 0. Danau & Penyebr.618. Tabel 5. Jasa Penunjang Komunikasi 8.689.32 3.00 4.894. Kehutanan e.20 0. Pengangkutan 1.00 0.123.93 0.019.034. Pertambangan tanpa Migas c.61 79. Perdagangan Besar & Eceran b.943.00 0.20 16. Perikanan 2.65 430.061.27 54.655.47 0. Gas Alam Cair b.607. Industri Migas 1.765. Angkutan Jalan Raya 3. Penggalian 3.00 23.265.955.102.00 38. GAS & AIR BERSIH a.00 0.678. Hotel c. Sungai. Tanaman Bahan Makanan b.53 81.00 82.671.995.20 64.547.678.348.185.166.00 0.297. Restoran 7.68 40.442.615. Tanaman Perkebunan c.493.34 493.657.51 21.20 198.00 0. 5.664.51 0. PERSEWAAN.26 2006 763.28 33.245.00 98.78 192. LISTRIK.11 5.82 56.38 24.428.00 54.68 11.71 16.421.1.999.29 109.887.89 11.77 148.751.00 82.Nilai tambah sektor-sektor ekonomi Kabupaten Karangasem ditampilkan seperti terlihat pada tabel 5. Angkutan Laut 4.42 469.272.622.00 4. Angkutan Rel 2.00 168.00 138.89 0.00 19.70 21.89 138.70 110.28 0.68 0.78 97. Jasa Penunjang Angkutan b.22 420.916. KEU.541.00 124. Listrik b. dimana dapat dilihat bahwa nilai tambah sektor kehutanan pada PDRB Kabupaten Karangasem selama tahun 2004 – 2006 meningkat terus.12 0.26 .00 0.896.85 2005 716.413.05 4.943.008.65 3.83 0.02 46. Pos dan Telekomunikasi 2.970.49 50.76 99.591.259.93 0.65 0. Peternakan dan Hasil-hasilnya d.00 0. BANGUNAN 6.66 174.694.47 159.92 179.56 38. HOTEL & RESTORAN a.51 389.00 0.76 6..68 59.348.

93 8.206.003 0.146.18 268.00 233.76 11. Perorangan & Rumahtangga PDRB DENGAN MIGAS 8.78 3.00 221.006. Gambar 5.903.876.52 15.005 0.676.17 4. Pemerintah & Pertahanan 2. Bank b.95 330.139.739.708.25 0.564.03 3.00506 0.742.208.94 12.00451 0.29 564.34 208.402.880.01 0.63 2.471. Swasta 1. Adm.790.46 177.65 2.270.001 0 0.423.PERUSAHAAN a.889.44 3.01 4.804.113.70 3. Hiburan & Rekreasi 3.529.00513 0.334.848.335.797. Lembaga Keuangan tanpa Bank c.95 3. 5.322.25 2.455.03 4.00543 0. Jasa Penunjang Keuangan d.1 Kontribusi Sektor Kehutanan pada PDRB Coklat Kabupaten Karangasem Tahun 2000-2006 (persen) 0.604.00 0. 2006.319.00516 0. Pemerintahan Umum 1.54 98.77 9.00 216.002 0. Sosial Kemasyarakatan 2.060. Jasa Perusahaan 9.006 0. JASA-JASA a.75 1.00455 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Sumber : BPS Kabupaten Karangasem .337.004 0. Sewa Bangunan e.509.61 0.38 300.00 188.73 79.38 457. .1 menyajikan kontribusi sektor kehutanan pada PDRB Kabupaten Karangasem.2 Kontribusi Sektor Kehutanan pada PDRB Coklat Untuk melihat besarnya kontribusi sektor kehutanan pada PDRB coklat maka perlu dilihat besarnya kontribusi sektor tersebut terhadap total nilai tambah sektor kehutanannya.31 4.006.00496 0.61 Sumber : BPS Kabupaten Karangasem.85 65.23 1.00 0.343.73 522.77 1.657. Jasa Pemerintah lainnya b. Untuk itu.911.505.219.00 0. Gambar 5.

00455 persen. .00516 pada tahun 2001 dan kontribusinya terus mengalami menurun hingga tahun 2006 yang hanya mencapai 0. Namun jika dilihat dari sisi persentase sebetulnya kontribusi sektor kehutanan terus mengalami penurunan. pertama: tidak adanya produksi hutan. . memperlihatkan bahwa kontribusi sektor kehutanan relatif kecil meskipun dari sisi nilai tambah terus meningkat. 5. 94. Dalam penghitungan rente ekonomi untuk Kabupaten Karangasem banyak meneui kendala.22 juta. Untuk itu dalam penghitungan rente ekonomi diperkirakan dari kerugian hutan akibat kebakaran dan pencurian dan untuk tahun-tahun selanjutnya di-inflate dengan menggunakan indeks implisit sektor kehutanan Kabupaten Karangasem. karena itu peneliti melakukan pendekatan terhadap terjadinya kebakaran hutan serta pencurian kayu yang disan juga terjadi kerusakan alam akibat kedua kejadian tersebut. Pada tahun 2000.1. Deplesi dapat juga terjadi untuk produk hutan lainnya. kedua: kegiatan industri kayu yang dilakukan tidak mengetahui darima asal kayu namun dari jawaban yang ada banyak yang berasal dari luas Kabupaten Karangasem. Pada tahun 2004.00543 persen kemudian menurun menjadi 0. nilai tambah sektor kehutanan Kabupaten Karangasem mencapai Rp. Untuk dapat melakukan penghitungan deplesi sangat penting diketahui rente ekonomi dari hasil hutan. langkah selanjutnya adalah melakukan estimasi seluruh kegiatan/kejadian yang mendeplesi sektor kehutanan. Seperti diketahui bahwa selama kurun waktu 2000 – 2006 tidak sedikit kejadian pencurian dan kebakaran hutan di Kabupaten Karangasem.3 Deplesi Sumberdaya Hutan Deplesi kayu hutan adalah hilangnya kayu hutan yang disebabkan karena kegiatan penebangan yang tercermin dari jumlah kayu yang ditebang dihutan.Gambar 5.35 juta dan meningkat terus hingga tahun 2006 yang mencapai 110. kontribusi sektor kehutanan sebeasr 0. Oleh sebab itu. Namun di Kabupaten Karangasem kegiatan tebangan tidak ditemukan.

800.00 257.26 398.00 96.000.46 23.003.000.677.00 107.00 11.19 61.296.000.59 2004 257. data diolah Dari Tabel 5.47 123.66 154.99 26.700.12 1.979.99 9.3 Nilai Deplesi Sektor Kehutanan akibat Kebakaran dan Pencurian Kayu Hutan di Kabupaten Karangasem 2000-2006 (Rp) Deplesi Tahun Kebakaran Hutan [1] [2] Pencurian [3] Total [4] 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Sumber: Data diolah 8.500.238.587.000.979.65 132.59 2003 257.000.00 108.979.13 380.31 147.00 87.68 319.00 67.26 88.750.00 1.979.59 2005 257.30 343.650. Tabel 5.2.59 100.922.59 2006 257.59 277.59 2002 257.200.33 21.000.00 .51 Sumber : BPS Provinsi Bali.979.358.062.177. 397.00 15.058.000.250.19 59. 257.33 361.232.000.833.062.00 76.900.00 12.00 3.058.510.500.962.979.979.51.59.98 140.754.510. Nilai rente ekonomi terus meningkat seiring kenaikan harga yang ada.000.2 Perhitungan Unit Rent Kabupaten Karangasem 2000-2006 (Rp/m3) Keterangan Rente ekonomi Indeks Implisit Rente Ekonomi 2000 257.194.000.567. sehingga pada tahun 2000 rente ekonomi kayu hutan Kabupaten Karangasem seharga Rp.000. .979.979.20 397.000.567.59 2001 257.450. terlihat bahwa rente ekonomi pada tahun 2000 untuk kayu hutan di Kabupaten Karangasem adalah sebesar Rp.795.000.296.Tabel 5.00 17.132.300.

000. Deplesi terendah selama periode 2000 – 2006 terjadi pada tahun 2005 yaitu sebesar Rp.dan Rp.062. kebakaran hutan merupakan penyebab tertinggi dari deplesi sektor kehutanan yang ada di Kabupaten Karangasem. Selain itu yang perlu mendapat perhatian khusus penyebab deplesi ini adalah kebakaran hutan karena selama kurun waktu 2000 – 2006.4 Degradasi Sumberdaya Hutan Selanjutnya untuk mengetahui degradasi yang terjadi akibat hilangnya hutan di Kabupaten Karangasem terutama yang disebabkan oleh kebakaran dan pencurian maka dicari data luasan yang berkiatan dengan dua kejadian utama tersebut.4.. Pada tahun 2000 deplesi akibat kebakaran dan pencurian kayu hutan mencapai Rp. Konversi jumlah pohon dengan per luas lahan adalah 82 pohon per hektar dan 103.-. Peneliti melakukan konversi jumlah pohon yang hilang akibat kebakaran hutan dan jumlah m3 kayu hilang akibat pencurian kedalam satuan hektar akibat dua kejadian tersebut.132.dan Rp.000.900.. 5. Bila peningkatan deplesi tahun 2006 ini tidak dapat dikurangi dimungkinkan akan menyebabkan sumberdaya hutan di Kabupaten Karangasem akan semakin menipis. deplesinya mencapai Rp. 61. Dengan konversi tersebut maka didapat data luas areal yang diakibatkan karena kebakaran dan pencurian seperti terlihat pada tabel 5. 108. 67. .. yaitu dari kebakaran hutan dan pencurian kayu hutan. deplesi sekor kehutanan mengalami penurunan.26 akibat pencurian kayu hutan. Pada tahun 2001.26 yang terdiri dari deplesi akibat kebakaran hutan sebesar Rp.232. 76. 15.dan terbesar pada tahun 2006 yang mencapai Rp.800.000.19 akibat pencurian kayu hutan. 59.177. .80 m3 per hektar.19 yang terdiri dari deplesi akibat kebakaran hutan sebesar Rp.567. 1.062. 8.000.000.500.677. Kontribusi hijau sektor kehutanan sangat dipengaruhi oleh tinggi rendahnya angka deplesi dan degradasi.Nilai deplesi untuk sektor Kehutanan di Kabupaten Karangasem dapat dilhat dari dua penyebab.567.

14 2.05 2.36 2. .5 berikut ini.32 0. . Namun jika dibandingkan luas areal yang disebabkan oleh pencurian kayu maka luas areal kebakaran hutan lebih tinggi yaitu rata-rata mencapai 54.64 Luas area kebakaran hutan dari tahun 2000 hingga tahun 2006 mengalami fluktuasi.86 2.31 persen selama kurun waktu yang sama.25 0.33 0. Angka degradasi ini diperoleh dengan mengkalikan luas areal akibar kebakaran dan pencurian kayu dengan nilai jasa hutan.61 0.46 0.67 0.65 0.71 0.69 persen sedangkan untuk pencurian kayu sebesar 45.27 2. Ini menandakan bahwa penyebab degradasi yang paling tinggi berasal dari kebakaran hutan dibandingkan dengan luas areal pencurian kayu.04 0.40 2.Tabel 5.68 0.08 2.4 Luas Kebakaran dan Pencurian Kayu Kabupaten Karangasem Tahun 2000-2006 (Ha) Luas Areal yang Hilang Tahun Kebakaran Hutan [1] [2] Pencurian Kayu [3] Total [4] 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Sumber: Data Diolah 0.01 0.53 2. Dengan data luas areal akibat kebakaran dan pencurian kayu maka dapat dilakukan penghitungan ats nilai degradasi hutan di Kabupaten Karangasem.09 0. Untuk nilai jasa hutan dapat dilihat pada tabel 5.

. .

Tabel 5.5 Nilai Jasa Hutan

Jenis Nilai Jaya yang Dihasilkan
[1]

Nilai (US$ / ha / tahun)
[2]

Nilai Penggunaan tak langsung Konservasi air dan tanah Penyerapan karbon Pencegahan banjir Transportasi air Keanekaragaman hayati Atas dasar Bukan Penggunaan Nilai opsi Nilai Keberadaan

1.835,83 847,12 133,85 525,92 123,81 210,79 195,34 69,28 126,05

Sumber: Suparmoko dan NRM Catatan: Nilai Degradasi ditunjukkan oleh nilai penggunaan tak langsung dan nilai atas dasar bukan penggunaan dan nilai atas dasar bukan penggunaan dihitung dengan asumsi bahwa kebaran dan pencurian hutan akan berakibat pada rusak atau hilangnya fungsi hutan.

Berdasarkan

metodologi

yang

digunakan

maka

dihasilkan

angka

degradasi untuk masing-masing tahun. Namun nilai ekonomi masih dalam nilai US dollar. Selanjutnya nilai US dollar disesuaikan dengan mengalikan nilai kurs dolar terhadap rupiah untuk masing-masing tahun (2000 – 2006). Kurs dollar terhadap rupiah tampak seperti pada tabel 5.6 berikut:

.

Tabel 5.6 Rata-rata Kurs Dolar terhadap Rupiah Tahun 2000 - 2006
Tahun
[1]

Rp./ US$
[2]

2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006
Sumber: BI, Data Diolah

8.031 9.766 8.761 8.073 8.958 9.721 9.150

Tabel 5.7 Nilai Degradasi Hutan di Kabupaten Karangasem Tahun 2000 – 2006 (Rp. 000,-)
Jenis Nilai Jaya yang Dihasilkan
[1]

2000
[2]

2001
[3]

2002
[4]

2003
[5]

2004
[6]

2005
[7]

2006
[8]

I. Nilai Penggunaan tak langsung Konservasi air dan tanah Penyerapan karbon Pencegahan banjir Transportasi air Keanekaragaman hayati II. Atas dasar Bukan Penggunaan Nilai opsi Nilai Keberadaan Degradasi (I + II)
Sumber: Data Diolah

42.338,17 19.476,35 3.077,38 12.091,56 2.846,55 4.846,33 4.490,88 1.592,83 2.898,05 46.829,05

38.499,33 17.710,42 2.798,35 10.995,21 2.588,45 4.406,91 4.083,69 1.448,41 2.635,28 42.583,02

43.271,98 19.905,92 3.145,25 12.358,25 2.909,33 4.953,22 4.589,93 1.627,97 2.961,97 47.861,92

9.693,85 4.459,35 704,60 2.768,51 651,75 1.109,63 1.028,24 364,70 663,54 10.722,09

11.782,66 5.420,24 856,43 3.365,07 792,19 1.348,73 1.249,81 443,28 806,52 13.032,46

7.203,27 3.313,64 523,57 2.057,22 484,30 824,54 764,06 271,00 493,06 7.967,34

44.435,31 20.441,08 3.229,81 12.690,49 2.987,55 5.086,38 4.713,33 1.671,73 3.041,60 49.148,64

.

5.5

Total Kontribusi Hijau Sektor Kehutanan pada PDRB Kabupaten Karangasem Provinsi Bali Tabel 5.8 menyajikan secara ringkas hasil perhitungan mulai dari

kontribusi sektor kehutanan pada PDRB Coklat hingga kontribusi hijau sektor kehutanan pada PDRB dan akhirnya didapatkan nilai tambah yang mampu diciptakan oleh sektor kehutanan di Kabupaten Karangasem.

Tabel 5.8 PDRB Coklat, Deplesi dan Degradasi akibat Kebakaran Hutan dan pencurian Kayu serta PDRB Hijau di Kabupaten Karangasem Tahun 2000 – 2006 (Rp. 000,-)
Keterangan
[1]

2000
[2] 64.370,00

2001
[3] 69.450,00

2002
[4] 80.120,00

2003
[5] 87.210,00

2004
[6] 94.350,00

2005
[7] 99.532,59

2006
[8] 110.220,00

PDRB Coklat

Deplesi
Kebakaran Hutan Pencurian Kayu

76.132,06
8.900,00 67.232,06

61.177,57
1.500,00 59.677,57

88.194,59
87.795,83 398,75

23.058,51
21.700,00 1.358,51

26.650,00
17.200,00 9.450,00

15.800,00
3.300,00 12.500,00

108.000,00
96.750,00 11.250,00

Degradasi
Kebakaran Hutan Pencurian Kayu PDRB Hijau
Sumber: Data Diolah

46.829,05
5.474,42 41.354,64 -58.591,12

42.583,02
1.044,08 41.538,94 -34.310,59

47.861,92
47.645,52 216,40 -55.936,50

10.722,09
10.090,39 631,70 53.429,39

13.032,46
8.411,20 4.621,27 54.667,54

7.967,34
1.664,06 6.303,27 75.765,26

49.148,64
44.028,99 5.119,65 -46.928,64

Dari tabel terlihat bahwa PDRB Coklat Kabupaten Karangasem dari tahun 2000 hingga tahun 2006 terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2000, nilai tambah sektor kehutanan yang terlihat dari nilai PDRB coklat sektor ini mencapai Rp. 64,37 juta dan pada tahun 2006 mencapai Rp. 110,22 juta. Namun jika dilihat dari sisi PDRB Hijau Kabupaten Karangasem, maka nilainya mengalami fluktuasi seiring besarnya deplesi dan degradasi akibat kebaran hutan dan pencurian kayu yang terjadi. Pada tahun 2000, nilai PDRB Hijau .

sebesar minus Rp. 58,59 juta artinya sumbangan sektor kehutanan terhadap pembangunan daerah lebih kecil daripada nilai kerusakan yang ditimbulkannya. Sementara itu, selama tahun 2003 hingga tahun 2005 nilai PDRB Hijau Kabupaten Karangasem bernilai positif artinya nilai ekonomi yang dihasilkan melebihi nilai kerusakan yang ditimbulkannya. Namun pada tahun 2006 ini, nilai PDRB Hijau Kabupaten Karangasem kembali negati sebesar Rp. 46,93 juta. Keadaan ini perlu mendapat perhatian dari pemerintah daerah karena nilai kerusakan hutan akibat kebakaran dan pencurian kayu telah melebihi nilai ekonomis hutannya.

.

sumberdaya hutan selain memberikan nilai tambah melalui produksi kayu dan hasil hutan lainnya. penyerapan karbon sehingga mengurangi pemanasan global dan memperbaiki kualitas udara serta sebagai habitat flora dan fauna. bunga modal dan laba yang diciptakan oleh kegiatan ekonomi sedangkan fungsi jasa lingkungan hutan yang meliputi fungsi lindung maupun fungsi konservasi belum diberi nilai dalam penghitungan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Karangasem. Hutan juga (termasuk hutan di Kabupaten Karangasem) memberikan kontribusi dalam bentuk jasa lingkungan antara lain sebagai pengaman lingkungan dari berbagai bencana banjir dan kekeringan.9 Kesimpulan 1. Kontribusi sektor kehutanan di Kabupaten Karangasem pada pembangunan regional dinilai sebagai jumlah pemanfaatan hutan secara langsung oleh masyarakat sekitar hutan dalam pemanfaatannya untuk kebutuhan sehari-hari misalnya kayu bakar. Secara umum. 3.BAB 6 KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN 1. Kontribusi sektor kehutanan yang memasukan dimensi lingkungan (deplesi sumberdaya alam dan degradasi lingkungan) disebut sebagai kontribusi hijau sektor kehutanan. Nilai tambah yang dihasilkan berasal dari penghasilan dari faktor produksi seperti upah/gaji. juga menjadi sumber pendapatan negara maupun sumber devisa. sewa. memelihara fungsi tata air. . 2. terhadap pembangunan nilai deplesi .

650 juta. fungsi pencegah banjir. 15. 7. Kontribusi hijau sektor kehutanan pada PDRB Kabupaten Karangasem dapat dilihat dari pemanfaatan hutan secara tidak langsung oleh masyarakat sekitarnya yang menciptakan kegiatan ekonomi setelah dikurangi dengan kebakaran dan pencurian atau tebangan. Manggis. sedangkan nilai degradasi lingkungan adalah sama dengan menurunnya nilai jasa lingkungan atas dasar penggunaan tidak langsung seperti fungsi konservasi air dan tanah. Nilai deplesi sumberdaya hutan adalah sama dengan nilai pengambilan sumberdaya hutan atas dasar penggunaan. Total deplesi hutan di Karangasem dari tahun 2004 hingga tahun 2006 berturut-turut adalah Rp. di kecamatan Rendang dan Daya tahun 2005. dan di Kecamatan Rendang pada tahun 2006. termasuk degradasi lingkungan yang dinilai atas dasar tanpa melalui penggunaan seperti nilai opsi (option value) dan nilai keberadaan (existence value) akibat pengambilan sumberdaya hutan. 5. 26. Nilai degradasi lingkungan karena kerusakan hutan akibat tebangan atau pencurian dan kebakaran di Kabupaten Karangasem berupa konservasi tanah dan air. .sumberdaya alam ditambah dengan nilai degradasi lingkungan disebut sebagai penyusutan (depresiasi) sumberdaya alam dan lingkungan.15 juta. Pencurian kayu pernah terjadi di Kecamatan Rendang tahun 2004. 13. Abang. fungsi penyerap karbon. 49. Kubu. Kebakaran hutan pernah terjadi di Kecamatan Rendang. penyerapan karbon.03 juta.80 Juta dan Rp. transportasi air dan keanekaragaman hayati mulai tahun 2004 hingga tahun 2006 berturutturut adalah Rp. 6. di Kecamatan Abang dan Daya tahun 2005 dan di Kecamatan Rendang.00 juta. 7. 108. dan Daya pada tahun 2004.97 juta dan Rp. 4. Jika dibandingkan kebarakan hutan dengan pencurian kayu. dan fungsi keanekaragaman hayati. luas kebakaran hutan jauh lebih besar dari luas pencurian kayu. Rp. Abang. Rp. Nilai deplesi sumberdaya hutan diperoleh dengan pendekatan kebakaran hutan dan pencurian kayu yaitu mengalikan unit rent dengan volume kayu yang dideplesi. pencegah banjir. Kubu dan Daya tahun 2006. .

67 juta. dari berbagai penemuan diatas dapat dinyatakan manfaat dari penyusunan PDRB Hijau pada umumnya dan kontribusi hijau sektor kehutanan pada khususnya terhadap PDRB. 75. f. Untuk memahami struktur perekonomian yang lebih realistik.93 juta. Mengetahui besarnya nilai deplesi dan kerusakan lingkungan hutan sebagai dasar untuk mengontrol kerusakan sumberdaya hutan. g.8. 54. menghindari bias perhitungan kinerja pembangunan ekonomi suatu daerah. Sebagai masukan dalam rangka menghitung kontribusi sektor kehutanan dalam pembangunan suatu daerah.76 juta. Nilai kontribusi sektor kehutanan pada PDRB Kabupaten Karangasem dapat diketahui dengan mengurangkan nilai depresiasi sektor kehutanan dari nilai kontribusi konvensional pada PDRB Kabupaten Karangasem. h. Mengetahui sumbangan sektoral yang faktual terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. e. Rp. yaitu: a. dan – Rp. Sebagai masukan dalam penentuan besar kecilnya pungutan atau ganti rugi kerusakan lingkungan. 9. Mulai tahun 2004 hingga tahun 2006 berturut-turut nilai kontribusi hijau sektor kehutanan pada PDRB Kabupaten Karangasem adalah Rp. Nilai kontribusi hijau sektor kehutanan pada PDRB Kabupaten Karangasemyang negatif artinya nilai manfaat yang diciptakan oleh sektor kehutanan sebagaimana dilaporkan dalam PDRB (coklat) Kabupaten Karangasem lebih kecil daripada nilai modal alami yang dikorbankan karena terdeplesi dan terdegradasi. Memberikan penilaian wajar pada keanekaragaman hayati dan jasa lingkungan. c. 46. d. b. . Rencana dan kebijakan pembangunan kehutana daerah dapat disusun berdasarkan kondisi faktual yang ada serta lebih sempurna dan terarah. 10. .

3. dan option value) dari sumberdaya hutan tersebut. non.extractive use value. kebijakan pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya hutan harus benarbenar didasarkan atas nilai holistik (extractive use value. PDRB Hijau disemua kabupaten/kota di Bali perlu diketahui sehingga perencanaan pembangunan di Provinsi Bali dapat dievaluasi secara proporsional dalam kaitannya dengan daya dukung sumberdaya alam dan lingkungan sebagai modal pembangunan disamping modal lainnya seperti modal manusia dan modal sosial. sehingga harus dipelihara secara lestari dan berkelanjutan.10 Implikasi kebijakan Dengan melihat hasil analisis diatas. 6. . 5. Penyusunan kontribusi hijau sektor kehutanan sebaiknya dilaksanakan juga di kabupaten-kabupaten lain di Bali yang memiliki kawasan hutan sehingga kontribusi sektor kehutanan bagi pembangunan berkelanjutan di Provinsi Bali menjadi nyata dan perencanaan pengelolaan hutan akan menjadi lebih baik. disarankan: 1. 4. kontribusi sektor kehutanan terhadap pembangunan jauh lebih besar daripada yang dilaporkan saat ini. dan nilai degradasi hutan. 1. 2. . Akan menambah motivasi penyelenggara pemerintahan untuk mengelola sumberdaya hutan yang ada. Dengan memperhitungkan nilai deplesi dan degradasi. existance value. Implementasi PDRB Hijau sebagai pengembangan lebih lanjut dari PDRB Konvensional akan memberikan hasil analisis pencapaian pembanguna yang lebih realistik.i. Dalam menilai kontribusi sektor kehutanan terhadap pembangunan di Kabupaten Karangasem haruslah dihitung semua nilai tambah dari pemanfaatan hutan ditambah dengan nilai deplesi sumberdaya hutan.

Untuk mewujudkan pengelolaan daerah otonom yang berbasis konservasi kawasan seperti Kabupaten karangasem diperlukan Peraturan Pemerintah yang mendukung pelaksanaannya sehingga tersedia dana perimbangan sebagai kompensasi terhadap tindakan konservasi daerah. 34/2004) sehingga penghijauan kawasan hutan tetap dapat dilakukan dan terbentuk peraturan untuk penghitungan dana dalam penanggulangan deplesi dan degradasi lingkungan sehingga dana yang diperlukan dapat mencukupi untuk mana jasa kehutanan benar-benar dapat menyumbang dengan maksimal pada kesejahteraan masyarakat. . 10. 8.7. Penghitungan dan penerapan PDRB Hijau membutuhkan dukungan peraturan dan perundang-undangan yang menyangkut Undang-undang tentang Pemerintah Daerah (UU 32/2004). Kontribusi sektor kehutanan pada PDRB yang negatif diartikan bahwa manfaat yang didapat dari sektor kehutanan lebih kecil dari biaya penanggulangan deplesi dan degradasi lingkungannya. Undang-undang tentang Perimbangan Keuangan antara Pusat dan Daerah ( UU No. 9. . Nilai deplesi sumberdaya hutan dapat diminimalkan apabila sebagai pemerintah Kabupaten Karangasem berhasil membina masyarakat agar memiliki kesadaran bahwa hutan harus terhindar dari kebakaran dan pencurian kayu.

. Pedoman Penyusunan dan Penetapan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Hijau. MPA.. Drs. 2005. Ir.. D.. BPFE Yogyakarta. Neraca Sumber Daya Alam (Natural Resource Accounting). 2006.. Badan Pusat Statistik Provinsi Bali bekerjasama dengan Bappeda Provinsi Bali. M.. Data Bali Membangunan 2004. 2005. Aristin Tri Apriliani. BPFE Yogyakarta. -----------. 2004. Ir.. Pusat Rencana dan Statistik Kehutanan Badan Planologi Kehutanan Departemen Kehutanan Tahun 2007. Suparmoko. Sudharto. MA.. Suparmoko. Panduan dan Analisis Valuasi Ekonomi Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Konsep Metode Penghitungan dan Aplikasi).. 2001 – 2005. Pusat Rencana dan Statistik Kehutanan Badan Planologi Kehutanan Departemen Kehutanan Tahun 2006. BPFE Yogyakarta... MA. PhD.DAFTAR PUSTAKA Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Provinsi Bali. Produk Domestik Regional Bruto. 2006. MSc. 2005. Dr. . PDRB Hijau.. Penyusunan PDRB Berwawasan Lingkungan Green PDRB Kabupaten Mandailing Natal Provinsi Sumatera Utara. Karangasem Dalam Angka 2004/2005.. PhD.. M. Badan Pusat Statistik Kabupaten Karangasem.. Ratnaningsih. M.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful