P. 1
Fitoremediasi Pada Tanaman Eceng Gondok

Fitoremediasi Pada Tanaman Eceng Gondok

|Views: 482|Likes:
Published by Cori Damayanti

More info:

Published by: Cori Damayanti on Jun 01, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/10/2014

pdf

text

original

Fitoremediasi pada tanaman eceng gondok (Eichhornia crassipes) dan isolasi bakteri dalam media limbah yang berbeda

Cori Damayanti Abstrak Fitoremediasi dapat didefinisikan sebagai: penggunaan tumbuhan untuk menghilangkan, memindahkan, menstabilkan, atau menghancurkan bahan pencemar baik itu senyawa organik maupun anorganik. Fitoremediasi dapat dibagi menjadi fitoekstraksi, rizofiltrasi, fitodegradasi, fitostabilisasi, fitovolatilisasi. Fitoremediasi merupakan pemanfaatan tumbuhan, mikroorganisme untuk meminimalisasi dan mendetoksifkasi polutan, strategi remediasi ini cukup penting, karena tanaman berperan menyerap logam dan mineral yang tinggi atau sebagai fitoakumulator dan fitochelator. Konsep pemanfaatan tumbuhan untuk meremediasi tanah yang terkontaminasi polutan adalah pengembangan terbaru dalam teknik pengolahan limbah. Berdasarkan pengamatan diketahui bahwa di tanah yang ditanami tumbuhan hijau kandungan senyawa kimia organiknya lebih sedikit dibandingkan di sekitar tanah yang tidak ditanami tumbuhan hijau. Fitoremediasi dapat diaplikasikan pada limbah organik maupun anorganik dalam bentuk padat, cair, dan gas (Salt et al., 1998). Beberapa jenis tumbuhan air mampu bekerja sebagai agens fitoremediasi, seperti azolla, kiambang, kangkung air, eceng gondok serta tumbuhan mangrove. Eceng gondok (Eichhornia crassipes (Mart.) Solms) yang sering menjadi permasalahan di lingkungan perairan karena dianggap sebagai tumbuhan pengganggu (gulma) ternyata memiliki sifat hiperakumulator terhadap beberapa bahan pencemar seperti logam berat. Hasil penelitian yang dilaporkan oleh Liao dan Chang (2004) dimana eceng gondok mampu menyerap Cd, Pb, Cu, Zn dan Ni masing-masing adalah 24, 542, 2162, 2617, dan 1346 mg/m2 untuk kondisi perairan Erh-Chung wetland yang tercemar logam berat. Kata kunci: Fitoremediasi, eceng gondok, tumbuhan pengganggu (gulma) Pendahuluan Istilah fitoremediasi berasal dari kata Inggris phytoremediation; kata ini sendiri tersusun atas dua bagian kata, yaitu phyto yang berasal dari kata Yunani phyton (= "tumbuhan") dan remediation yang berasal dari kata Latin remedium ( ="menyembuhkan", dalam hal ini berarti juga "menyelesaikan masalah dengan cara memperbaiki kesalahan atau kekurangan") (Anonimous, 1999b). Dengan demikian fitoremediasi dapat didefinisikan sebagai: penggunaan tumbuhan untuk menghilangkan, memindahkan, menstabilkan, atau menghancurkan bahan pencemar baik itu senyawa organik maupun anorganik. Fitoremediasi dapat dibagi menjadi fitoekstraksi, rizofiltrasi, fitodegradasi, fitostabilisasi, fitovolatilisasi. Fitoekstraksi mencakup penyerapan kontaminan oleh akar tumbuhan dan translokasi atau akumulasi senyawa itu ke bagian tumbuhan seperti akar, daun atau batang. Rizofiltrasi adalah pemanfaatan kemampuan akar tumbuhan untuk menyerap, mengendapkan, dan mengakumulasi logam dari aliran limbah. Fitodegradasi adalah metabolisme kontaminan di dalam jaringan tumbuhan, misalnya oleh enzim dehalogenase dan oksigenase. Fitostabilisasi adalah suatu fenomena diproduksinya senyawa kimia tertentu untuk mengimobilisasi kontaminan di daerah rizosfer. Fitovolatilisasi terjadi ketika tumbuhan menyerap kontaminan dan melepasnya ke udara lewat daun; dapat pula senyawa kontaminan mengalami degradasi sebelum dilepas lewat daun. Eceng gondok hidup mengapung di air dan kadang-kadang berakar dalam tanah. Tingginya sekitar 0,4 – 0,8 meter. Tidak mempunyai batang. Daunnya tunggal dan berbentuk oval. Ujung dan pangkalnya meruncing, pangkal tangkai daun menggelembung. Permukaan

daunnya licin dan berwarna hijau. Bunganya termasuk bunga majemuk, berbentuk bulir, kelopaknya berbentuk tabung. Bijinya berbentuk bulat dan berwarna hitam. Buahnya kotak beruang tiga dan berwarna hijau. Akarnya merupakan akar serabut. Eceng gondok memiliki akar yang bercabang-cabang halus, permukaan akarnya digunakan oleh mikroorganisme sebagai tempat pertumbuhan (Neis, 1993). Muramoto dan Oki dalam Sudibyo (1989) menjelaskan, bahwa Eceng gondok dapat digunakan untuk menghilangkan polutan, karena fungsinya sebagai sistem filtrasi biologis, menghilangkan nutrien mineral, untuk menghilangkan logam berat seperti cuprum, aurum, cobalt, strontium, merkuri, timah, kadmium dan nikel. Menurut Mangkoedihardjo (2005), bahwa fitoremediasi (phytoremediation) merupakan suatu sistem dimana tanaman tertentu, secara sendiri atau bekerjasama dengan mikroorganisme dalam media tanam, dapat mengubah zat kontaminan menjadi kurang atau tidak berbahaya. Tanaman yang digunakan dalam fitoremediasi adalah tanaman hiperakumulator yang mampu mentranslokasikan unsur pencemar seperti Pb, dengan konsentrasi sangat tinggi ke jaringan dan tanpa membuat tanaman tumbuh dengan tidak normal (kerdil dan mengalami fitotoksisitas). Beberapa jenis tumbuhan air mampu bekerja sebagai agens fitoremediasi, seperti azolla, kiambang, kangkung air, eceng gondok serta tumbuhan mangrove. Eceng gondok (Eichhornia crassipes (Mart.) Solms) yang sering menjadi permasalahan di lingkungan perairan karena dianggap sebagai tumbuhan pengganggu (gulma) ternyata memiliki sifat hiperakumulator terhadap beberapa bahan pencemar seperti logam berat. Hasil penelitian yang dilaporkan oleh Liao dan Chang (2004) dimana eceng gondok mampu menyerap Cd, Pb, Cu, Zn dan Ni masing-masing adalah 24, 542, 2162, 2617, dan 1346 mg/m2 untuk kondisi perairan Erh-Chung wetland yang tercemar logam berat. Walaupun pada beberapa penelitian di lapangan memperlihatkan kemampuan tanaman eceng gondok dalam menyerap Pb cukup baik, tetapi belum diketahui seberapa besar kapasitas kemampuan tanaman tersebut dalam menyerap Pb. Selain itu pula perlu diketahui gangguan pertumbuhan yang mungkin terjadi ketika media tanam eceng gondok terpapar Pb pada konsentrasi yang cukup tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menjajaki kemampuan tanaman eceng gondok dalam menyerap logam Pb yang terdapat pada media tanam, serta menjajaki tingkat toleransi tanaman eceng gondok terhadap logam Pb yang ada di dalam media tanam. Bahan dan Metode Bahan-bahan yang digunakan dalam isolate bakteri adalah limbah rumah tangga, limbah minyak, limbah kertas EM4, bakteri isolate, aquades. Alat-alat yang digunakan dalam isolate bakteri adalah cawan Petri, pipet mikro, tabung reaksi, shaker, incubator. Bahan-bahan yang digunakan dalam adalah tanaman enceng gondok. Alat-alat yang digunakan dalam isolate bakteri adalah ember, pH indicator. Hasil dan Pembahasan Tabel 1. Hasil pengamatan praktikum bioremediasi Bahan Isolasi Bakteri Limbah Rumah Limbah Minyak Limbah Kertas Parameter Tangga Pengamatan Cawan Petri Cawan Petri Cawan Petri 1 2 1 2 1 2 Ukuran Kecil Kecil Sedang Besar Besar Sedang, besar

EM4 Cawan Petri 1 2 Kecil Sedang

Pigmentasi Karakteristik Optik Bentuk

Kuning Tembus cahaya Irregular

Kuning Kuning Tembus Tembus cahaya cahaya Circular

Kuning Tembus cahaya Irregular

Kuning Tembus cahaya Filame ntous

Kuning Tembus cahaya Irregular circular filament ous

Kuning Tembus cahaya Irregular

Kuning Tembus cahaya Circular

Permukaan

Kasar

Kasar

Kasar

Halus

Margin pH enceng gondok

Felament ous 8

Lobate

Lobate

Undulat e 8-9 8

Felamen tous

Berkerut, Halus, kering mengkila t Lobate lobate 5

Setiap isolate bakteri memiliki waktu tumbuh yang berbeda-beda. Oleh karena itu, pada tahap ini perlu ditentukan pula waktu tumbuh isolate mencapai fase eksponensial, yaitu suatu fase pertumbuhna cepat dan produktif yang menunjukkan laju pembelahan sel bakteri yang konstan tiap satuan waktu dan aktivitas bakteri pada fase ini adalah yang terbesar dengan menghasilkan produk-produk hasil metabolismenya. Bakteri yang diperoleh dari hasil isolasi, diidentifikasi untuk mengetahui spesies bakteri pendegradasi tersebut. Identifikasi yang dilakukan berupa uji-uji biokimia yang dilakukan untuk mengetahui sifat suatu bakteri sehingga dapat diidentifikasi jenisnya, diantaranya adalah hidrolisa gelatin, reaksi terhadap karbohidrat, reduksi nitrat, dan lain-lain menurut Manual for Identification of Medical Bacteriology (Cowan, 1974). Mempunyai sifat biologis sebagai penyaring air yang tercemar oleh berbagai bahan kimia buangan industri. Hal ini karena eceng gondok memiliki kemampuan menyerap zat pencemar yang tinggi daripada jenis tumbuhan lainnya. Kecepatan penyerapan zat pencemar dari dalam air limbah oleh eceng gondok dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya komposisi dan kadar zat yang terkandung dalam air limbah, kerapatan eceng gondok, dan waktu tinggal eceng gondok dalam air limbah. Moenandir (1990) menyebutkan, bahwa pada konsentrasi kadar O2 yang terlarut dalam air 3,5 – 4,8 ppm perkembangbiakan eceng gondok dapat berjalan dengan cepat. Simpulan Setiap isolate bakteri memiliki waktu tumbuh yang berbeda-beda. Bakteri yang diperoleh dari hasil isolasi, diidentifikasi untuk mengetahui spesies bakteri pendegradasi tersebut. Identifikasi yang dilakukan berupa uji-uji biokimia yang dilakukan untuk mengetahui sifat suatu bakteri sehingga dapat diidentifikasi jenisnya. Pemanfaatan eceng gondok untuk memperbaiki kualitas air yang tercemar telah biasa dilakukan, khususnya terhadap limbah domestik dan industri. Daftar Pustaka Eddy S., 2008. Kemampuan Tanaman Enceng Gondok sebagai agens Fitoremediasi Air Tercemar Timbal (Pb). Di akses tanggal 20 Oktober 2010. Erna Styani, Juli 2008. Bioremediasi Tanah Terkontaminasi Minyak Bumi menggunakan Bakteri Bacillus sp dan Pseudomonas sp. Warta Akab. LEMIGAS, 2005. Penelitian Pemanfaatan Mikroba dlam Penanggulangan Air Buangan di Industri Migas. PPPTMGB LEMIGAS. Jakarta.

Paul R Adler, February 22, 2000. Phytoremediation of Aquaculture Effluents. USDA-ARS. Kearneysville, West Virginia USA. Bapedalda Propinsi Bali, Desember 2002. Petunjuk Teknis Pengolahan Limbah Cair Dengan Sistem Wastewater garden (WWG). Denpasar Bali.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->