P. 1
Tugas Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam

Tugas Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam

|Views: 28|Likes:
Published by Kimi Smith

More info:

Published by: Kimi Smith on Jun 02, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/02/2012

pdf

text

original

Tugas Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam

NIKAH HAMIL

Oleh Accyntiasakti R.P XII IPA 4 /11 Nadia Hanun XII IPA 4 /20 Wiharesi Putri XII IPA 4 /29 Leo Cahya XII IPA 4/ 38

SMAN 3 Yogyakarta Jalan Yos Sudarso 7

HAMIL DI LUAR NIKAH DAN MASALAH NASAB ANAK ZINA
Dalam fasal ini ada beberapa kejadian yang masing-masing berbeda hukumnya, maka kami berkata: 1. Apabila seorang perempuan [Gadis atau janda] berzina

kemudian hamil, maka anak yang dilahirkannya adalah anak zina dengan kesepakatan para ulama, walaupun kemudian perempuan tersebut dinikahi/tidak dinikahi oleh laki- laki yang menzinainya .
• Nasab : Dinasabkan kepada ibunya [Misalnya Fulan bin Fulanah atau Fulanah binti Fulanah], tidak dinasabkan kepada bapak zinanya. • Hak Waris : Hak waris terputus dengan bapaknya, dia hanya mewarisi ibunya dan ibunya mewarisinya. • Hak Perwallian : Seorang anak perempuan dari hasil zina, terputus dengan perwaliannya dengan bapaknya. Yang menjadi wali nikahnya ialah sultan (penguasa) atau wakilnya seperti qadli (penghulu)1. Dan tidak wajib bagi bapaknya memberi nafkah kepada anak yang lahir dari hasil zina2. • Hubungan Mahram : Tidak terputus. Lebih luasnya lagi bacalah kitab-kitab dibawah ini: [1]. Al-Mughni Ibnu Qudamah (Juz 9 hal. 529-530 tahqiq Doktor Abdullah bin Abdul Muhsin At-Turkiy) [2]. Majmu Fatawa Ibnu Taimiyah (Jilid 32, hal. 134-152) [3]. Majmu Syarah Muhadzdzab (Juz 15 hal. 109-113) [4]. Al-Ankihatul Faasidah (Hal. 75-79 Abdurrahman bin Abdirrahman Sumailah AlAhsal). 2. Apabila terjadi sumpah li’aan 3 antara suami isteri. • Nasab : Dinasabkan kepada ibunya. Dalam kasus li’aan ini anak dinasabkan kepada isteri baik tuduhan suami itu benar atau bohong. • Hak Waris : Hak waris terputus dengan bapaknya, dia hanya mewarisi ibunya dan ibunya mewarisinya. • Hak Perwalian : Terputus dengan perwaliannya dengan bapaknya. Yang menjadi wali nikahnya ialah sultan (penguasa) atau wakilnya seperti qadli (penghulu). Dan tidak wajib bagi bapaknya memberi nafkah [Fathul baari (no. 5315). Nailul Authar Juz 7 hal.91 dan seterusnya]
Al-Muhalla Ibnu Hazm Juz 10 hal 323 masalah 2013. Al-Majmu Syarah Muhadzdzab Juz 15 hal. 112. Majmu Fatawa Ibnu Taimiyyah 34/100 2 Tidak wajib maknanya tidak berdosa kalau dia tidak memberi nafkah, akan tetapi tidak juga terlarang baginya untuk memberi nafkah. Ini berbeda dengan anak dari pernikahan yang shahih, berdosa bagi seorang bapak kalau dia tidak memberi nafkah kepada anak-anaknya
1

Suami menuduh isterinya berzina atau menafikan anak yang dikandung isterinya di muka hakim sehingga dilaksanakan sumpah li’aan. 3. Apabila seorang isteri berzina –baik diketahui suaminya [Dan
3

suaminya tidak menuduh istrinya di muka hakim sehingga tidak terjadi hukum li’aan] atau tidak- kemudian dia hamil
• Nasab : Dinasabkan kepada suaminya bukan kepada laki-laki yang menzinai dan menghamilinya berdasarkan sabda Nabi yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Anak itu haknya (laki-laki) yang memiliki tempat tidur dan bagi yang berzina tidak mempunyai hak apapun (atas anak tersebut)” 4 • Hak Waris : Hak waris tidak terputus dengan bapaknya [suami yang istrinya berzina]. • Hak Perwallian : Tidan terputus dengan perwaliannya dengan bapaknya [suami yang istrinya berzina] • Hubungan Mahram : Tidak terputus.

masing membawa seorang anak. Lalu pemuda dan anak gadis tersebut melakukan zina sehingga nampaklah pada diri gadis itu kehamilan. Maka tatkala Umar datang ke Makkah diangkatlah kejadian itu kepada beliau. “Berdirilah dan perhatikanlah urusannya karena sesungguhnya dia mempunyai urusan (penting)” Lalu Umar berdiri menghampirinya. dan 6818 dan Muslim 4/171 juga mengeluarkan dari jalan Abu Hurairah dengan ringkas seperti lafadz di atas 5 Apabila seorang istri berzina atau suami berzina maka nikah keduanya tidak batal (fasakh) menurut umumnya ahli ilmu (Al-Mughni Juz 9 hal.laki yang menghamilinya dan kepada siapa dinasabkan anaknya? Boleh dia dinikahi oleh laki-laki yang menzinainya dan menghamilinya dengan kesepakatan (ijma) para ahli fatwa sebagaimana ditegaskan oleh Imam Ibnu Abdil Bar yang dinukil oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar di kitabnya Fathul Baari (Juz 9 hal. bolehkah ia dinikahi oleh laki. lalu dia berzina dengan anak perempuanku!?” Lalu Umar memukul dada orang tersebut dan berkata. Lalu Umar bertanya kepada keduanya dan keduanya mengakui (telah . Ini disebabkan bahwa fatwa dan keputusan Abu Bakar terjadi di hadapan para shahabat [Al-Muhalla Juz 9 hal 476] atau diketahui oleh mereka khususnya Umar. Dan semua para shahabat diam menyetujuinya dan tidak ada seorang pun di antara mereka yang mengingkari fatwa tersebut. 223 dari jalan Ibnu Umar) 7 • Fatwa Umar bin Khaththab Fatwa Abu Bakar di atas sekaligus menjadi fatwa Umar bahkan fatwa para shahabat. 6749 dan Muslim no. Apabila seorang perempuan berzina kemudian hamil. “Sesungguhnya aku kedatangan seorang tamu. 565) 6 Baca juga Kitaabul Kaafi fi Fiqhi Ahlil Madinah (Juz 2 hal.542) oleh Imam Ibnu Abdil bar. Dan perempuan itu mempunyai seorang anak gadis yang bukan (anak kandung) dari laki-laki (yang baru nikah dengannya) dan laki-laki itupun mempunyai seorang anak laki-laki yang bukan (anak kandung) dari perempuan tersebut (yakni masing. kemudian laki-laki itu menerangkan urusannya kepada Umar. “Semoga Allah memburukkanmu! Tidakkah engkau tutup saja (rahasia zina) atas anak perempuan itu!” Kemudian Abu Bakar memerintahkan agar dilaksanakan hukum had (didera sebanyak seratus kali) terhadap keduanya (laki-laki dan perempuan yang berzina). 476 dan Imam Baihaqiy di kitabnya Sunanul Kubro juz 8 hal. lalu Abu Bakar berkata kepada Umar.Sedangkan pada kasus di atas tidak terjadi sumpah li’aan meskipun suami mengetahui bahwa isterinya telah berzina dengan laki-laki lain. Dan Bukhari no. “Bahwasanya ada seorang laki-laki nikah dengan seorang perempuan. Tafsir Fathul Qadir (1/446 tafsir surat An-Nisaa ayat 23) oleh Imam Asy-Syaukani 4 di kitabnya Al-Muhalla juz 9 hal. 157 di bagian kitab nikah bab 24 hadits 5105) 6. 6750. 4/171 dari jalan Aisyah dalam hadits yang panjang. yang laki-laki membawa anak laki-laki dan yang perempuan membawa anak gadis). Semua ini menunjukkan telah terjadi ijma di antara para shahabat bahwa perempuan yang berzina kemudian hamil boleh bahkan harus dinikahkan dengan laki-laki yang menzinainya dan menghamilinya. 5 4. Ini disebabkan suami tidak melaporkan tuduhannya ke muka hakim sehingga tidak dapat dilaksanakan sumpah li’aan. Kemudian beliau menikahkan keduanya lalu beliau memerintahkan agar keduanya diasingkan selama satu tahun . Berkata Abu Yazid Al-Makkiy. [Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hazm Hadits shahih riwayat Bukhari no. Untuk lebih jelasnya lagi marilah kita ikuti fatwa para ulama satu persatu dari para shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan seterusnya : • Fatwa Abu Bakar Ash-Shiddiq Berkata Ibnu Umar : Ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq sedang berada di masjid tiba-tiba datang seorang laki-laki. Oleh karena itu kita melihat para shahabat berfatwa seperti di atas di antaranya Umar bin Khaththab ketika beliau menjadi khalifah sebagaimana riwayat di bawah ini.

“Seorang lakilaki berzina dengan seorang perempuan kemudian keduanya bertaubat dan berbuat kebaikan. kemudian sesudah itu mereka bertaubat dan mereka berbuat kebaikan. “Dari Hammaam bin Harits bin Qais bin Amr An-Nakha’i Al-Kufiy dari Abdullah bin Mas’ud tentang. lalu laki-laki itu bertanya. • Fatwa Jabir bin Abdullah Berkata Jabir bin Abdullah. “Jika keduanya bertaubat dan keduanya berbuat kebaikan (yakni beramal shalih)” [Dikeluarkan oleh Imam Ibnu Hazm di Al-Muhalla juz 9 hal. “Apabila keduanya bertaubat dan keduanya berbuat kebaikan. Karena setiap orang yang maksiat kepada Allah dikatakan jahil (tafsir Ibnu Katsir 2/590) 7 tersebut berkali-kali sampai orang yang bertanya itu yakin bahwa Ibnu Mas’ud telah memberikan keringanan dalam masalah ini (yakni beliau membolehkannya)”. Kemudian Umar memerintahkan mendera keduanya (dilaksanakan hukum had) 8 . “Kemudian sesungguhnya Rabb-mu kepada orang-orang yang mengerjakan kejahatan dengan kebodohan 9 . karena (nikah itu) perbuatan halal” [Dikeluarkan oleh Baihaqiy (7/155) dengan sanad yang shahih] [Al-Mushannaf Abdurrazaq (7/203)] Dari Ikrimah dari Ibnu Abbas : Tentang seorang laki-laki yang berzina . • Fatwa Ibnu Umar. Ibnu Umar pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang berzina dengan seorang perempuan.ulang ayat Baihaqiy meriwayatkan dari jalan yang lain bahwa perempuan tersebut hamil (9/476) lihat juga Mushannaf Abdurrazzaq (12796) 8 Diriwayatkan Imam Abdurrazzaq (Mushannaf Abdurrazzaq (7/203-204 no. “Seorang anak laki-laki yang berzina dengan seorang perempuan kemudian laki-laki itu hendak menikahi perempuan tersebut?” Jawab Ibnu Mas’ud.hambaNya dan memaafkan dari kesalahan. Dan Umar sangat ingin mengumpulkan di antara keduanya (dalam satu perkawinan) akan tetapi anak muda itu tidak mau ” [Dikeluarkan oleh Imam Baihaqiy (7/155) dengan sanad yang shahih] • Fatwa Abdullah bin Mas’ud Dari Hammam bin Harits bin Qais bin Amr An-Nakha’i Al-Kufiy. dikeluarkan juga oleh Imam Abdurrazzaq (7/202) yang semakna dengan riwayat di atas] • Fatwa Ibnu Abbas Berkata Ubaidullah bin Abi Yazid . 475. 12798)] Dalam sebagian riwayat ini terdapat tambahan : Setelah Ibnu Mas’ud membaca ayat di atas beliau berkata. 12793) bahwa Umar mengundurkan hukuman kepada anak gadis tersebut sampai dia melahirkan 9 Kebodohan disini maksudnya perbuatan maksiat yang dilakukan dengan sengaja. “Aku pernah bertanya kepada Ibnu Abbas tentang seorang laki-laki yang berzina dengan seorang perempuan bolehkah dia menikahinya ?” Jawab beliau. “Kemudian Ibnu Mas’ud mengulang. maka tidak mengapa (tidak salah dilangsungkan pernikahan di antara keduanya) –yakni tentang laki-laki yang berzina dengan seorang perempuan kemudian dia ingin menikahinya -“ [Dikeluarkan oleh Ibnu Hazm (9/475). “Ya”.berbuat zina). “Tidak mengapa yang demikian itu” [Dikeluarkan oleh Imam Baihaqiy (7/156) secara mu’allaq dengan sanad yang shahih] Dari Al-Qamah bin Qais (ia berkata) : Sesungguhnya telah datang seorang laki-laki kepada Ibnu Mas’ud. Kemudian Imam Baihaqiy (7/156) juga meriwayatkan dari jalan yang lain yang semakna dengna riwayat di atas akan tetapi di riwayat ini Ibnu Mas’ud membaca ayat): 10 “Dan Dialah (Allah) yang menerima taubat dari hamba. [Dikeluarkan oleh Imam Baihaqiy (7/156).kesalahan (mereka) dan Dia mengetahui apaapa yang kamu kerjakan ” [Asy-Syura : 25] [Lihat riwayat yang semakna di Mushannaf Abdurrazzaq (7/205 no. “Hendaklah menikahinya!”. sesungguhnya Rabb-mu sesudah itu Maha Pengampun (dan) Maha Penyayang ” [An-Nahl : 119] Berkata Al-Qamah bin Qais. apakah boleh laki-laki itu kawin dengan perempuan tersebut? “ Kemudian Ibnu Mas’ud membaca ayat ini. apakah boleh dia menikahinya ? Jawab Ibnu Umar.

“Seorang lakilaki menyentuh perempuan dengan cara yang haram (yakni zina). ia berkata : Diriwayatkan kepada Ibnu Abbas. Ini. Bahkan laki-laki yang menzinai dan menghamili seorang perempuan lebih berhak terhadap perempuan tersebut sebelum orang lain [Abdurrazzaq (7/206. ini tidak menghalangi taubatnya orang yang mau bertaubat demikian juga nikahnya dua orang yang berzina. Cukuplah bagi keduanya bertaubat dan beramal shalih. “Yang Imma kejadian ini satu kali dan masing-masing rawi membawakan satu ayat dari dua ayat yang dibaca Ibnu Mas’ud atau kejadian di atas dua kali.masing dari keduanya telah menyentuh yang lain dengan cara yang haram (yakni keduanya telah berzina). Oleh karena di negeri kita ini sebagaimana negeri-negeri Islam yang lainnya kecuali Saudi Arabia tidak dilaksanakan hukum-hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala seperti hukum had dan lain-lain. AzZuhri dan Hasan Al-Bashri dan lain-lain Ulama. Adapun mengenai hukuman bagi yang berzina (hukum had) yang melaksanakannya adalah pemerintah bukan orang perorang atau kelompok perkelompok. sedangkan yang terakhir nikah” [Dikeluarkan Abdul Razzaq 7/202] Dari Thawus. b. Ini disebabkan karena laki-laki itu menikahi perempuan yang dia zinai dan dia hamili setelah perempuan itu hamil bukan . Mereka pun memberikan syarat agar keduanya bertaubat dan berbuat kebaikan (beramal shalih) dengan menyesal dan membenci perbuatan keduanya. kemudian pertanyaan yang kedua kepada siapakah anak tersebut dinasabkan? Jawabnya : Anak tersebut dinasabkan kepada ibunya bukan kepada laki-laki yang menzinai dan menghamili ibunya (bapak zinanya) walaupun akhirnya lakilaki itu menikahi ibunya dengan sah. “itu baik –atau beliau mengatakannya. Apabila salah satunya tidak mau maka janganlah dipaksa hatta perempuan tersebut telah hamil [Bacalah kembali riwayat Umar bin Khaththab]. Langsungkanlah pernikahan karena yang demikian itu sangat bagus sekali sebagaimana dikatakan Ibnu Abbas. Said bin Jubair.itu lebih bagus ” [Dikeluarkan Abdurrazzaq 7/203] Demikian juga fatwa para Tabi’in seperti Said bin Musayyab. kemudian nyatalah (kehamilan) bagi perempuan tersebut lalu laki-laki itu menikahinya? Jawab Ibnu Abbas : “Yang pertama itu zina sedangkan yang kedua nikah” [Dikeluarkan oleh Imam Baihaqiy (3/267 dengan sanad yang hasan)] Berkata Atha bin Abi Rabah : Berkata Ibnu Abbas tentang laki-laki yang berzina dengan seorang perempuan. “Tidak salah (yakni menikahinya)] Berkata Said bin Jubair : Ibnu Abbas pernah ditanya tentang seorang lakilaki dan seorang perempuan yang masing. “Yang pertama itu zina sedangkan yang terakhir nikah dan yang pertama itu haram sedangkan yang terakhir halal ” [Dikeluarkan Baihaqiy (7/155) 11 Dan dalam riwayat yang lain juga dari jalan Ikrimah ada tambahan.207)] dengan syarat keduanya mau dan ridha untuk nikah. [Baihaqiy 7/155 dan Abdurrazzaq 7/203-207] Dari keterangan-keterangan di atas kita mengetahui: a. maka zina yang haram itu tidak bisa mengharamkan nikah yang memang halal.tidak dapat dimasukkan ke dalam keumuman hadits yang lalu yaitu : “Anak itu haknya (laki-laki) yang memiliki tempat tidur (suami yang sah) dan bagi yang berrzina tidak mempunyai hal apapun (atas anak tersebut)”. Wallahu a’lam 11 Mushannaf Abdurrazzaq (7/202) maksud perkataan Ibnu Abbas di riwayat 1 s/d 4 ialah bahwa zina itu haram sedangkan nikah itu halal.dengan seorang perempuan kemudian sesudah itu dia menikahinya ? Beliau berkata. kemudian dia menikahinya. Dan di dalam kasus seperti ini –di mana perempuan yang berzina itu kemudian hamil lalu dinikahi laki-laki yang menzinai dan menghamilinya. Telah terjadi ijma Ulama yang didahului oleh ijmanya para shahabat tentang masalah bolehnya perempuan yang berzina kemudian hamil dinikahi oleh laki-laki yang menzinai dan menghamilinya. kemudian dia menikahinya?” Jawab beliau. Karena sesuatu yang haram tidak bisa mengharamkan sesuatu yang halal 10 pertama dari urusannya itu adalah zina.

Bacalah kembali keterangan-keterangan kami di muka mengiringi apa yang telah dikatakan oleh Imam Ibnu Abdil Bar bahwa dalam hal ini telah terjadi ijma’ ulama. Pertama : Ayat di atas untuk perempuan yang hamil dari hasil nikah bukan untuk perempuan. Fatawa Islamiyyah (Juz 2 hal. Madzhab Hambali dan Maliki : Haram dinikahi sampai perempuan tersebut melahirkan. meskipun demikian laki-laki itu tetap dikatakan sebagai bapak dari anak itu apabila dilihat bahwa anak tersebut tercipta dengan sebab air maninya akan tetapi dari hasil zina. Cara pengambilan dalil seperti di atas sama sekali tidak tepat dalam menempatkan keumuman ayat dan cenderung kepada pemaksaan dalil. nafkah. Berbeda dengan anak yang lahir dari hasil pernikahan yang sah. ‘iddah. Sebagaimana kita ketahui bahwa syara’ (agama) tidak menganggap sama sekali anak yang lahir dari hasil zina seperti terputusnya nasab dan lain-lain sebagaimana beberapa kali kami jelaskan di muka. waris. waris dan kewalian.sebelumnya. Kedua : Telah terjadi ijma’ Shahabat bersama para ulama tentang bolehnya bagi seorang laki-laki menikahi perempuan yang dia hamili lantaran zina. tempat tinggal. maka nasabnya kepada bapaknya demikian juga tentang hukum waris. Karena agama yang mulia ini hanya menghubungkan anak dengan bapaknya apabila anak itu lahir dari pernikahan yang sah atau lebih jelasnya lagi perempuan itu hamil dari pernikahan yang sah bukan dari zina. Majmu Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (32/134-142).perempuan yang hamil itu ‘iddah mereka sampai mereka melahirkan” [Ath. 374-375). Dan anehnya tidak ada seorang pun di antara mereka yang berdalil dengan ayat di atas untuk melarang atau mengharamkannya kecuali setelah perempuan itu melahirkan anaknya ? Apakah kita mau mengatakan bahwa kita lebih pintar cara berdalilnya dari para Shahabat dan seterusnya? 5. Al-Mughni Ibnu Qudamah (Juz 9 hal. Akan tetapi perempuan tersebut ketika suaminya wafat dalam keadaan hamil maka keumuman ayat di ataslah yang dipakai.353 dan 354. Wallahu a’lam. Ayat di atas tetap di dalam keumumannya terhadap perempuan-perempuan yang hamil yang dithalaq suaminya maka ‘iddahnya sampai dia melahirkan sesuai keumuman ayat di atas meskipun ayat yang lain (Al-Baqarah : 234) menegaskan bahwa perempuan-perempuan yang kematian suaminya ‘iddahnya empat bulan sepuluh hari. Sedangkan di dalam zina tidak ada semuanya itu termasuk tidak adanya ‘iddah. Al-Muhalla (Juz 10 hal. Karena hasil zina inilah maka anak tersebut dikatakan sebagai anak zina yang bapaknya tidak mempunyai hak apapun atasnya dari hal nasab.perempuan yang hamil dari hasil zina. Inilah perbedaan yang mendasar antara pernikahan dengan perzinaan. Oleh karena itu halal baginya menikahinya dan menyetubuhinya tanpa harus menunggu perempuan tersebut melahirkan anaknya. wali dan nafkah tidak terputus sama sekali. Karena di dalam nikah itu terdapat thalaq.323) Fathul Baari 12 . Atau ayat di atas tetap di dalam keumumannya oleh sebagian ulama terhadap perempuan yang berzina lalu hamil kemudian dinikahi oleh laki-laki yang bukan menghamilinya sebagaimana akan datang keterangannya di kejadian kelima. dan kewalian dan nafkah sesuai dengan zhahirnya bagian akhir dari hadits diatas yaitu : “…. Apabila seorang perempuan berzina kemudian dia hamil. Wallahu a’lam 12 Sebagian orang di negeri kita ini ada yang mengatakan : Tidak boleh perempuan yang hamil lantaran zina itu dinikahi hatta oleh laki-laki yang menzinai atau menghamilinya sampai perempuan itu melahirkan berdasarkan keumuman firman Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan bagi (orang) yang berzina tidak mempunyai hak apapun (atas anak tersebut)” . “Dan perempuan. Abu Hanifah mensyaratkan tidak boleh disetubuhi sampai perempuan tersebut melahirkan.Thalaq : 4] Kami jawab . nasab. maka bolehkan dia dinikahi oleh laki.laki yang tidak menghamilinya? Dan kepada siapakah dinasabkan anaknya? Madzhab Syafi’I dan Hanafi : Boleh dan halal dinikahi dengan alasan bahwa perempuan tersebut hamil karena zina bukan dari hasil nikah.529-530).

16 Sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. 62. 2158 dan 2150) dan Ahmad (4/108-109) dengan sanad Hasan] Dan Imam Tirmidzi (no. 1131) meriwayatkan juga hadits ini dari jalan yang lain dengan ringkas hanya pada bagian pertama saja dengan lafadz. “Tidak halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk menyiramkan air (mani)nya ke tanaman [Ke rahim orang lain yang telah membuahkan anak] orang lain –yakni menyetubuhi perempuan hamil. Maka dengan menjadi tawanan fasakhlah (putuslah) nikahnya dengan suaminya. Maka bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Dari Abu Darda dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau pernah melewati seorang perempuan [Perempuan ini adalah seorang tawanan perang yang tertawan dalam keadaan hamil tua] yang sedang hamil tua sudah dekat waktu melahirkan di muka pintu sebuah kemah. Jawab mereka. (Baca Syarah Muslim Juz 10. ia berkata : Adapaun sesungguhnya aku tidak mengatakan kepada kamu kecuali apa-apa yang aku dengar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata pada hari Hunain. “Ya”. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah ia memakai pakaian dari harta fa’i kaum muslimin sehingga apabila pakaian tersebut telah rusak ia baru megembalikannya ” [Dikeluarkan oleh Abu Dawud (no. Lalu beliau bersabda. Ahmad (3/28. 6749). 13 dari harta fa’i 17 kaum muslimin sehingga apabila binatang tersebut telah lemah ia baru mengembalikannya. 87) dan Ad-Darimi (2/171)] Hadits Ketiga “Dari Ruwaifi Al-Anshariy –ia berdiri di hadapan kita berkhotbah-. “Bagaimana dia mewarisinya … dan seterusnya”.34-36) 15 Hadits yang mulia ini pun menjadi dalil tentang haramnya menyetubuhi tawanan perang yang hamil sampai selesai iddahnya yaitu sampai ia melahirkan dan yang tidak hamil ber’iddah satu kali haid sebagaimana ditunjuki oleh hadits yang kedua insya Allah. “Sesungguhnya aku berkeinginan untuk melaknatnya dengan satu laknat yang akan masuk bersamanya ke dalam kuburnya 15 bagaimana dia mewarisinya padahal dia tidak halal baginya. Dan lain-lain beralasan kepada beberapa hadits : Hadits Pertama. Wallahu a’lam.(Syarah hadits no.[Penjelasan ini imma dari Ruwaifi atau dari yang selainnya] Dan tidak halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk menyetubuhi perempuan dari tawanan perang sampai perempuan itu bersih. Tafsir Ibnu Katsir surat An-Nisaa ayat 23. hal. Dan bagaimana mungkin dia menjadikan anaknya itu sebagai budaknya padahal anak itu bukan anaknya. yakni bagaimana mungkin laki-laki itu mewarisi anak yang dikandung oleh perempuan tersebut padahal anak itu bukan anaknya. Dan tidak halal bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk mejual harta rampasan perang sampai dibagikan. beliau bersabda. maka janganlah dia menyiramkan air (mani)nya ke anak . bagaimana dia menjadikannya sebagai budak padahal dia tidak halal baginya!? ” 16 [Hadits Shahih riwayat Muslim 4/161] Hadits Kedua “Dari Abu Said Al-khudriy dan dia memarfu’kannya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang tawanantawanan perang Authaas [Authaas adalah satu tempat di Thaif]. “Barangkali dia 13 (yakni laki-laki yang memiliki tawanan 14 tersebut) mau menyetubuhinya!?”. Berdasarkan hadits yang mulia ini madzhab yang kedua mengeluarkan hukum tentang haramnya menikahi dan menyetubuhi perempuan yang hamil oleh orang lain sampai ia melahirkan. orang kafir). Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah dia menaiki kendaraan Disini ada lafadz yang hilang yang takdirnya beliau bertanya tentang perempuan tersebut dan dijawab bahwa perempuan tersebut adalah tawanan si Fulan 14 Hadits yang mulia ini salah satu dalil dari sekian banyak dalil tentang halalnya menyetubuhi tawanan perang meskipun tidak dinikahi.2157). Karena dengan menjadi tawanan dia menjadi milik orang yang menawannya atau milik orang yang diberi bagian dari hasil ghanimah (rampasan perang) meskipun dia masih menjadi istri orang (baca . “Janganlah disetubuhi perempuan yang hamil sampai dia melahirkan dan yang tidak hamil sampai satu kali haid” [Hadits riwayat Abu Dawud (no. “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir.

Madzhab yang kedua ini lebih kuat dari madzhab yang pertama dan lebih mendekati kebenaran. Apabila terjadi akad nikah yang fasid (rusak) atau batil yaitu setiap akad nikah yang telah diharamkan syara’ (agama) atau hilang salah satu dari rukunnya sehingga akad nikah tersebut tidak sah seperti : • Nikah dengan mahram 18 • Nikah dengan ibu susu atau saudara sepersusuan • Nikah dengan istri bapak atau istri anak atau mertua atau dengan anak tiri • Nikah mu’tah • Nikah lebih dari empat orang istri • Nikah dengan istri orang lain • Nikah dengan perempuan yang sedang ‘iddah • Nikah seorang muslim dengan wanita selain dari wanita ahlul kitab (Yahudi dan Nashara) • Nikah tanpa wali • Nikah sir (rahasia) tanpa saksi • Mengumpulkan dua orang bersaudara dalam satu perkawinan Harta fa-i harta yang didapat oleh kaum muslimin dari orang-orang kafir tanpa peperangan.lain dari perkawinan yang rusak menurut agama. Akan tetapi imam kaum kuffar menyerah sebelum berperang atau mereka melarikan diri meninggalkan hartaharta mereka 18 Mahram ialah setiap perempuan yang haram dinikahi seperti ibu. Wallahu a’lam. [2]. 255-256]) [4].orang lain (ke anak yang sedang dikandung oleh perempuan yang hamil oleh orang lain)”. saudara. Al-Majmu Syarah Muhadzdzab Juz 15 hal. Al-Mughni Ibnu Qudamah Juz 9 hal. Adapun apabila mereka telah mengetahui tentang fasid dan batilnya akad nikah tersebut.Ankihatul Faasidah] • Maka apabila keduanya tidak mengetahui fasid dan batilnya akad keduanya. Masalah : Bagaimana hukumnya apabila yang mengetahui tentang haramnya . [1]. bibi. anak. 6. Fatawa Al-Islamiyyah Juz 2 halaman 353-354 dan 374-375 oleh Syaikh bin Baaz dan Syaikh Utsaimin dan lain-lain. [Baca Al. Al-Ankihatul Faasidah (hal. maka tidak syak lagi tentang dosanya dan wajib bagi mereka dikenakan hukuman kemudian anak tidak dinasabkan kepada bapaknya. Dan disamakan dengan orang yang tidak mengetahui yaitu orang yang mendapat fatwa tentang sahnya nikah yang fasid dan batil tersebut sebagaimana banyak terjadi pada zaman kita sekarang ini khususnya mengenai nikah mut’ahnya kaum Syi’ah rafidhah [Bacalah risalah kami tentang masalah ini dengan judul Nikah Mut’ah = Zina]. Atau dengan kata lain dan tegasnya anak yang lahir itu adalah anak zina! Bacalah dua masalah di kejadian yang ke lima ini di kitab-kitab. dan lain-lain 17 Mengumpulkan seorang perempuan dengan bibinya dalam satu perkawinan Dan lain. 30-31 [3]. 561 s/d 565 tahqiq Doktor Abdullah bn Abdul Muhsin At-Turkiy. maka keduanya tidak berdosa dan tidak dikenakan hukuman dan anak dinasabkan kepada bapaknya seperti pernikahan yang sah meskipun keduanya langsung dipisahkan karena fasidnya akad keduanya. Adapun masalah nasab anak dia dinasabkan kepada ibunya tidak kepada lakilaki yang menzinai dan menghamili ibunya dan tidak juga kepada laki-laki yang menikahi ibunya setelah ibunya melahirkannya .

perkawinan tersebut hanya salah satu pihak. Penulis Abdul Hakim bin Amir Abdat. Kalau yang mengetahui hukumnya itu pihak laki-laki. Jawabanya : Maka hukumnya terkena kepada yang mengetahui tidak kepada yang tidak mengetahui. Kalau yang mengetahui hukumnya itu pihak perempuan. Penerbit Darul Qolam Jakarta. maka dia berdosa dan dikenakan hukuman dan anak tidak dinasabkan kepadanya. Cetakan I – Th 1423H/2002M. Wallahu a’lam .or. imam pihak laki-laki atau pihak perempuan? .id .almanhaj. Sumber : Buku Menanti Buah Hati Dan Hadiah Untuk Yang Dinanti. maka dia yang berdosa dan dikenakan hukuman kepadanya dan anak tetap dinasabkan kepada bapaknya (pihak laki-laki). www.

lalu siapa yang diharamkan untuk menikahinya? Laki-laki yang menzinainya kah? Atau laki-laki lain yang tidak berzina dengannya? Semua harus kita petakan terlebih dahulu.Pak Ustadz saya mau bertanya. 2. Apakah pernikahan itu sah? Apakah setelah anak itu lahir pernikahan harus diulang. rasanya kita perlu membedakan terlebih dahulu kasusnya. bahkan pada saat hamil sekali pun. agar tidak terjadi salah paham. bagaimana status dan kedudukan wanita itu. Kasus Pertama Seorang wanita sudah menikah dan sedang dalam keadaan hamil. apakah sudah menikah atau belum? Lalu siapakah yang diharamkan untuk menikahinya. Sebab kalimat ‘menikahi wanita hamil’ itu sesungguhnya masih mengandung banyak kekurangan informasi. atau suami orang lain? Ataukah wanita itu belum punya suami lalu berzina dengan seseorang. Maka hukumnya halal. Maka wanita ini diharamkan menikah. 1. Suaminya meninggal atau menceraikannya. apakah suaminya. Misalnya. Makasih Wassalam Wr Wr Ny Mita Jawaban Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh. dia melakukannya dengan suaminya sendiri. . Kasus Kedua Seorang wanita sudah menikah dan sedang dalam keadaan hamil. apakah selama pasangan suami isteri itu tinggal bersama itu termasuk dalam perbuatan zinah. Sebab hubungan suami isteri tidak terlarang. lalu berhubungan seksual dengan suaminya. maka hukumnya halal. Bagaimana hukumnya pernikahan yang dilakukan saat. apalagi melakukan hubungan seksual dengan laki-laki lain. mempelai wanitanya sedang dalam keadaan hamil akibat hubungan pra nikah. Lagi pula. karena tiap-tiap kasus akan berbeda-beda hukumnya. Mohon penjelasannya Pak Ustadz. Saat ini banyak kejadian anak SMA hamil diluar nikah kemudian langsung dinikahkan oleh keluarganya untuk menutupi aib. Sebelum sampai kepada jawaban. Dan jika tidak ada pernikahan ulang.

Dalam hal ini. karena tidak ada nash yang melarang. ada pun melakukan akad nikah tanpa persetubuhan tidak dilarang. Bahkan mereka dibolehkan melakukan hubungan seksual selama masa kehamilan. Dalil itu adalah dalil tentang haramnya seorang laki-laki menyirami ladang laki-laki lain. Kasus Ketiga Seorang wanita hamil di luar nikah yang syar’i (berzina). 3. Dalam hal ini para ulama sepakat membolehkannya. yaitu masa di mana dia harus berada dalam posisi tidak boleh menikah. maka janganlah menyiramkan airnya pada tempat yang sudah disirami orang lain. hukumnya halal dan pernikahan itu sah. Asalkan selama anak itu belum lahir. Yaitu laki-laki lain yang tidak menzinainya. asalkan sudah terjadi pernikahan yang syar’i antara mereka. Suami harus menunggu hingga lahirnya bayi dalam perut. Jadi menikah saja pun diharamkan. bahkan termasuk ke luar rumah dan sebagainya. Pendapat pertama. Karena memang tidak ada larangan atau pelanggaran yang dikhawatirkan. dia menikah dengan laki-laki yang menzinainya itu. . Kemudian untuk menutupi rasa malunya. maka pernikahan itu tidak sah alias batil. “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Baik dalam keadaan hidup atau mati. 4. Setidaknya.Pendapat ini dikemukakan oleh Al-Imam Asy-Syafi’i dan Imam Abu Hanifah. ada dua pendapat yang berkembang. Di antara para ulama yang mengatakan hal ini adalah Al-Imam Malik. Al-Imam Asy-syafi’i dan Abu Hanifah rahimahumallah membolehkannya.Sebab wanita itu masih harus menjalankan masa iddah. Imam Ahmad bin Hanbal dan jumhur ulama. ‫رويفع بن ثابت أن النبى صلى ال عليه وسلم قال “ من كان يؤمن بال واليوم الخر فل يسقى ماءه ولد غيره وروى‬ ‫، الترمذى ، وحسنه ، وغيره من حديث‬ Dari Rufai’ bin Tsabit bahwa Nabi SAW bersabda. Perbedaan pendapat para ulama ini berangkat dari satu dalil yang dipahami berbeda. suami itu tetap tidak melakukan hubungan seksual dengannnya. keluarganya menikahkannya dengan orang lain. hukumnya haram. Sedangkan As-Syafi’i dan Abu Hanifah mengatakan bahwa yang haram adalah melakukan persetubuhannya saja. tanpa hubungan seksual. kecuali setelah anak dalam kandungan itu lahir. Dan masa iddah wanita yang hamil adalah hingga dia melahirkan anaknya. Adapun apakah boleh terjadi pernikahan saja. para ulama mengharamkan terjadinya hubungan seksual antara mereka. Kasus Keempat Seorang wanita belum menikah. lalu berzina hingga hamil. Pendapat kedua.” (HR Tirmizi dan beliau menghasankannya) Jumhur ulamayang mengharamkan pernikahan antara mereka mengatakan bahwa haramnya ‘menyirami air orang lain’ adalah haram melakukan akad nikah. lalu untuk menutupi rasa malu. Karena yang namanya suami isteri tidak mungkin diharamkan dalam melakukan hubungan seksual. Dan kalau dinikahkan juga.

meski dalam bentuk zina. karena yang menikahi adalah laki-laki yang sama. Karena pernikahan antara mereka sudah sah di sisi Allah SWT. Antara keduanya sangat besar bedanya. Istilah yang pertama adalah ‘wanita pezina’. Wanita yang bertipologi seperti ini memang haram dinikahi. Wallahu a’lam bishshawab. belum bertaubat. mungkin karena agak rancu dalam memahami keadaan serta titik pangkal keharamannya. kemudian bertaubat dengan taubat nashuha. Pendeknya. atau perempuan yang musyrik. Seringkali ada orang yang tetap mengharamkan bentuk keempat ini. baik sesekali atau seringkali. Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina. maka tidak ada dalil atau illat yang melarangnya. serta bersumpah untuk tidak akan pernah terjatuh di lubang yang sama untuk kedua kalinya. Bahkan mungkin punya pandangan bahwa zina itu halal. maka larangan itu pun menjadi tidak berlaku. mereka tetap diperbolehkan untuk melakukan hubungan suami isteri. hanya lantaran dia pernah jatuh kepada dosa zina. kalau wanita hamil menikah dengan laki-laki yang menzinainya. Ayat di atas tidak bisa dijadikan dalil untuk mengharamkan pernikahan bagi dirinya. Ketika kemungkinan itu tidak ada. Sehingga hukumnya boleh dan sesungguhnya tidak perlu lagi untuk menikah ulang setelah melahirkan. dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik. An-Nur: 3) Adapun wanita yang pernah berzina. Allah SWT telah mengahramkan laki-laki muslim untuk menikahi wanita pezina. wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Bahkan selama masa kehamilan itu. sedangkan yang kedua adalah ‘wanita yang pernah berzina’. Wanita pezina itu adalah wanita yang pernah melakukan zina. Lc . sampai dia bertaubat dan menghentikan perbuatannya secara total. lalu dia menyesali dosa-dosanya. Dan secara tegas. Dan wanita seperti inilah yang dimaksud di dalam surat An-Nur berikut ini. dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mu’min. Jadi mengapa harus diulang? Perbedaan Antara Wanita Pezina dengan Wanita Yang Pernah Berzina Satu hal lagi yang perlu dijelaskan duduk perkaranya adalah perbedaan hukum antara dua istilah. bahkan masih suka melakukannya. maka wanita seperti ini tidak bisa disamakan dengan wanita pezina.Karena illat (titik point) larangan hal itu adalah tercampurnya mani atau janin dari seseorang dengan mani orang lain dalam satu rahim yang sama. (QS. Ahmad Sarwat.

Syarat yang pertama : Bertaubat dari perbuatan zinanya yang nista. (QS. Dalam hal ini apakah masih diperlukan mas kawin (mahar)? Kami jawab dengan meminta pertolongan dari Allah Al-'Alim Al-Hakim sebagai berikut : 1. Secara global para 'ulama berbeda pendapat dalam pensyaratan dua perkara untuk sahnya nikah dengan perempuan yang berzina. kemudian menikah lagi atau langsung menikah lagi tanpa harus bercerai terlebih dahulu? Dalam hal ini apakah masih diperlukan mas kawin (mahar)? Oleh: Ust. Ath-Tholaq : 4). Dalam pensyaratan taubat ada dua pendapat dikalangan para 'ulama : . (QS. tidak boleh dinikahi sampai lepas 'iddah nya. Takmilah Al-Majmu' 17/347-348. kami melihat perlu dirinci lebih meluas karena pentingnya perkara ini dan banyaknya kasus yang terjadi diseputarnya. Bila sudah terlanjur menikah. Al-Muhalla 10/263 dan Zadul Ma'ad 5/156. Adapun perempuan hamil yang diceraikan oleh suaminya. Lihat : Al-Mughny 11/227. dalam hal bolehnya melakukan pernikahan dengannya terdapat persilangan pendapat dikalangan para 'ulama.Bagaimanakah hukumnya pernikahan yang dilaksanakan ketika wanita yang dinikahi dalam keadaan hamil?. Berkata Ibnu Katsir dalam tafsir-nya tentang makna ayat ini : Yaitu jangan kalian melakukan akad nikah sampai lepas 'iddah-nya. apakah yang harus dilakukan? Apakah harus cerai dulu. kemudian menikah lagi atau langsung menikah lagi tanpa harus bercerai terlebih dahulu? 3. apakah yang harus dilakukan? Apakah harus cerai dulu. Dua : Perempuan yang hamil karena melakukan zina sebagaimana yang banyak terjadi di zaman ini –Wal 'iyadzu billah. Maka dengan mengharap curahan taufiq dan hidayah dari Allah Al-'Alim Al-Khabir. Dan 'iddah-nya ialah sampai ia melahirkan sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala : Dan perempuan-perempuan yang hamil waktu 'iddah mereka sampai mereka melahirkan kandungannya. Dzulqarnain bin Muhammad Sanusi Pertanyaan 1. Perempuan yang dinikahi dalam keadaan hamil ada dua macam : Satu : Perempuan yang diceraikan oleh suaminya dalam keadaan hamil. Bila sudah terlanjur menikah. masalah ini kami uraikan sebagai berikut : Perempuan yang telah melakukan zina menyebabkan dia hamil atau tidak. Al-Baqarah : 235). Dan hukum menikah dengan perempuan hamil seperti ini adalah haram dan nikahnya batil tidak sah sebagaimana dalam firman Allah Ta'ala : Dan janganlah kalian ber'azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah sebelum habis 'iddahnya. Adapun perempuan hamil karena zina. Kemudian beliau berkata : Dan para 'ulama telah sepakat bahwa akad tidaklah sah pada masa 'iddah. Bagaimanakah hukumnya pernikahan yang dilaksanakan ketika wanita yang dinikahi dalam keadaan hamil? 2.mudah-mudahan Allah menjaga kita dan seluruh kaum muslimin dari dosa terkutuk ini.

Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no. Saya nikahi 'Anaq ?. Martsad berkata : Maka beliau diam. Tapi Ibnu Qudamah dalam Al-Mughny 9/564 berpendapat lain. Inilah yang benar tanpa keraguan. Ayat dan hadits ini tegas menunjukkan haram nikah dengan perempuan pezina. (Martsad) berkata : Maka saya datang kepada Nabi shollallahu 'alaihi wa 'ala alihi wa sallam lalu saya berkata : Ya Rasulullah. Dua : Tidak disyaratkan taubat. Dan perempuan yang berzina tidak dinikahi melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik. Kemudian beliau memanggilku lalu membacakannya padaku dan beliau berkata : Jangan kamu nikahi dia. Ishaq dan Abu 'Ubaid. beliau berkata : Sesungguhnya Martsad bin Abi Martsad Al-Ghonawy membawa tawanan perang dari Makkah dan di Makkah ada seorang perempuan pelacur disebut dengan (nama) 'Anaq dan ia adalah teman (Martsad). riwayat Abu Daud no. Dan ini merupakan madzhab Imam Ahmad dan pendapat Qatadah. 1745 dan disebutkan oleh Syeikh Muqbil rahimahullahu dalam Ash-Shohih Al-Musnad Min Asbabin Nuzul). beliau berkata : Tidak pantas bagi seorang muslim mengajak perempuan untuk berzina dan memintanya. Namun hukum haram tersebut bila ia belum bertaubat. Dan telah diharamkan hal tersebut atas kaum mu`minin. maka turunlah (ayat) : Dan perempuan yang berzina tidak dinikahi melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik. Al-Hakim 2/180. Dan lihat permasalahan di atas dalam : Al-Ifshoh 8/81-84. Pendapat ini disebutkan oleh Al-Mardawy dalam Al-Inshof 8/133 diriwayatkan dari 'Umar dan Ibnu 'Abbas dan pendapat Imam Ahmad. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa 32/109 : Menikahi perempuan pezina adalah haram sampai ia bertaubat. Syafi'iy dan Abu Hanifah. Catatan : Sebagian 'ulama berpendapat bahwa perlu diketahui kesungguhan taubat perempuan yang berzina ini dengan cara dirayu untuk berzina kalau ia menolak berarti taubatnya telah baik. apakah yang menikahinya itu adalah yang menzinahinya atau selainnya. Tarjih diatas berdasarkan firman Allah 'Azza Wa Jalla : Laki-laki yang berzina tidak menikahi melainkan perempuan yang berzina atau perempuan yang musyrik. Al-Baihaqy 7/153. Karena permintaannya ini . (Dihasankan oleh Syeikh Al-Albany dalam Adh-Dho'ifah 2/83 dari seluruh jalan-jalannya) Adapun para 'ulama yang mengatakan bahwa kalimat 'nikah' dalam ayat An-Nur ini bermakna jima' atau yang mengatakan ayat ini mansukh (terhapus hukumnya) ini adalah pendapat yang jauh dan pendapat ini (yaitu yang mengatakan bermakna jima' atau mansukh) telah dibantah secara tuntas oleh Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa 32/112-116. Dan Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa 32/125 kelihatan condong ke pendapat ini. (QS. At-Tirmidzy no. Dan ini merupakan pendapat Imam Malik. Al-Mughny 9/562-563 (cet. Dan dalam hadits 'Amr bin Syu'aib dari ayahnya dari kakeknya 'Abdullah bin 'Amr bin 'Ash. An-Nur : 3). dan Al-Jami' Lil Ikhtiyarat Al-Fiqhiyah 2/582-585. Dan pendapat yang mengatakan haram nikah dengan perempuan pezina sebelum bertaubat. Adapun kalau ia telah bertaubat maka terhapuslah hukum haram nikah dengan perempuan pezina tersebut berdasarkan sabda Rasulullah shollallahu 'alaihi wa 'ala alihi wa sallam : Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak ada dosa baginya. ini pula yang dikuatkan Asy-Syinqithy dalam Adwa Al-Bayan 6/71-84 dan lihat Zadul Ma'ad 5/114-115. 2051. Tarjih Yang benar dalam masalah ini adalah pendapat pertama yang mengatakan disyaratkan untuk bertaubat. Dar 'Alamil Kutub). An-Nasa`i 6/66 dan dalam AlKubra 3/269. 3177. (Hadits hasan.Satu : Disyaratkan bertaubat.

7/449. Rabi'ah bin 'Abdurrahman. 2158. AtsTsaury. apabila yang menikahinya adalah orang yang menzinahinya itu sendiri. Al-Baihaqy 7/449. 2. Meninggalkan dosa tersebut. Pada waktu yang masih bisa bertaubat seperti sebelum matahari terbit dari Barat dan sebelum ruh sampai ke tenggorokan. 187).87. ada dua pendapat : Pertama : Wajib 'iddah. 307 dan di dalam sanadnya ada rowi yang bernama Syarik bin 'Abdullah An-Nakha'iy dan ia lemah karena hafalannya yang jelek tapi hadits ini mempunyai dukungan dari jalan yang lain dari beberapa orang shohabat sehingga dishohihkan dari seluruh jalan-jalannya oleh Syeikh Al-Albany dalam AlIrwa` no. Ahmad 4/108. Dan bukan disini tempat menguraikan dalil-dalil lima syarat ini. 2157. 3.pada saat berkhalwat (berduaan) dan tidak halal berkhalwat dengan Ajnabiyah (perempuan bukan mahram) walaupun untuk mengajarinya Al-Qur'an maka bagaimana (bisa) hal tersebut dihalalkan dalam merayunya untuk berzina ?. Para 'ulama berbeda pendapat apakah lepas 'iddah. Abu Daud no. (HR. apakah orang yang menikahinya itu adalah orang yang menzinahinya itu sendiri atau selainnya. Syarat Kedua : Telah lepas 'iddah. Hadits Abu Sa'id Al-Khudry radhiyallahu 'anhu. Ini adalah pendapat Imam Syafi'iy dan Abu Hanifah. At-Tirmidzi no. Hadits Ruwaifi' bin Tsabit radhiyallahu 'anhu dari Nabi shollallahu 'alaihi wa 'ala alihi wa sallam. Ikhlash karena Allah. maka jangan ia menyiramkan airnya ke tanaman orang lain. Hadits Abu Ad-Darda` riwayat Muslim dari Nabi shollallahu 'alaihi wa 'ala alihi wa sallam : . 1131. Al-Baihaqy 5/329. Yaitu dengan lima syarat : 1. beliau bersabda : Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. An-Nakha'iy. Ibnu Sa'ad dalam Ath-Thobaqot 2/114-115. 1973 dan Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no. Tarjih Dan yang benar dalam masalah ini adalah pendapat pertama yang wajib 'iddah berdasarkan dalildalil berikut ini : 1. Sedangkan Abu Hanifah berpendapat boleh melakukan akad nikah dengannya dan boleh ber-jima' dengannya. Ath-Thobarany 5/no. Imam Ahmad dan Ishaq bin Rahawaih. Ber'azam dengan sungguh-sungguh tidak akan mengulanginya. sesungguhnya Nabi shollallahu 'alaihi wa 'ala alihi wa sallam bersabda tentang tawanan perang Authos : Jangan dipergauli perempuan hamil sampai ia melahirkan dan jangan (pula) yang tidak hamil sampai ia telah haid satu kali. yaitu menurut Imam Syafi'iy boleh untuk melakukan akad nikah dengan perempuan yang berzina dan boleh ber-jima' dengannya setelah akad. tapi ada perbedaan antara mereka berdua pada satu hal. Kedua : Tidak wajib 'iddah. Tapi kalau yang menikahinya selain orang yang menzinahinya maka boleh melakukan akad nikah tapi tidak boleh ber-jima' sampai istibro` (telah nampak kosongnya rahim dari janin) dengan satu kali haid atau sampai melahirkan kalau perempuan tersebut dalam keadaan hamil. Ad-Darimy 2/224 Al-Hakim 2/212.4482 dihasankan oleh Syeikh Al-Albany dalam Al-Irwa` no. (HR. apakah merupakan syarat bolehnya menikahi perempuan yang berzina atau tidak. 2137). 2. Menyesali perbuatannya. Ibnu Qoni' dalam Mu'jam Ash-Shohabah 1/217. 4. 5. Ath-Thobarany dalam Al-Ausath no. Abu Daud no. Ahmad 3/62. 3. Wallahu A'lam. Imam Malik. Maka yang benar adalah ia bertaubat atas perbuatan zinanya sebagaimana ia bertaubat kalau melakukan dosa besar yang lainnya. Ini adalah pendapat Hasan Al-Bashry.

Dan 'ulama yang lainnya berpendapat : tiga kali haid yaitu sama dengan 'iddah perempuan yang ditalak. Al-Inshof 8/132-133. Tidak boleh nikah dengan perempuan yang berzina kecuali dengan dua syarat yaitu. Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah : Dalam (hadits) ini ada dalil yang sangat jelas akan haramnya menikahi perempuan hamil. Takmilah Al-Majmu' 17/348-349. Al-Fatawa 32/109-134. apakah boleh keduanya kembali setelah . Dan yang dikuatkan oleh Imam Malik dan Ahmad dalam satu riwayat adalah cukup dengan istibro` dengan satu kali haid. Wallahu A'lam. Adapun perempuan yang berzina dan belum nampak hamilnya. Al-Baqarah : 228). Bidayatul Mujtahid 2/40. Al-Ifshoh 8/81-84. (Para sahabat) menjawab : Benar.Beliau mendatangi seorang perempuan yang hampir melahirkan di pintu Pusthath.). (QS. etentuan perempuan yang berzina dianggap lepas 'iddah adalah sebagai berikut : kalau ia hamil. maka 'iddahnya adalah sampai melahirkan. Lihat pembahasan di atas dalam : Al-Mughny 9/561-565. Kalau ada yang bertanya : Setelah keduanya berpisah. 154-155. 3. Catatan : Nampak dari dalil-dalil yang disebutkan di atas bahwa perempuan hamil karena zina tidak boleh dinikahi sampai melahirkan. kalau ia belum hamil. syubhat atau karena zina. syubhat (yaitu nikah dengan orang yang haram ia nikahi karena tidak tahu atau karena ada kesamar-samaran-pent. Zadul Ma'ad 5/104-105. Maka Rasulullah shollallahu 'alaihi wa 'ala alihi wa sallam bersabda : Sungguh saya telah berkehendak untuk melaknatnya dengan laknat yang dibawa ke kuburnya. tuannya (kalau ia seorang budak-pent. 11/196-197. Asy-Syinqithy. Dan 'iddah dengan tiga kali haid hanya disebutkan dalam Al-Qur'an bagi perempuan yang ditalak (diceraikan) oleh suaminya sebagaimana dalam firman Allah Jalla Sya`nuhu : Dan wanita-wanita yang dithalaq (hendaknya) mereka menahan diri (menunggu) selama tiga kali quru`(haid). 'iddahnya adalah sampai melahirkan.) atau karena zina. Dan pendapat ini yang dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah berdasarkan hadits Abu Sa'id Al-Khudry di atas. demikian keterangan Imam Ibnu Qudamah dalam Al-Mughny 11/242. 2. bila perempuan tersebut telah bertaubat dari perbuatan nistanya dan telah lepas 'iddah-nya. baik hamil karena pernikahan sah. apakah hamilnya itu karena suaminya. Ath-Tholaq : 4). 847-850. Bagaimana ia mewarisinya sedangkan itu tidak halal baginya dan bagaimana ia memperbudakkannya sedang ia tidak halal baginya. maka ini 'iddah bagi perempuan yang hamil karena zina dan ini juga ditunjukkan oleh keumuman firman Allah 'Azza Wa Jalla : Dan perempuan-perempuan yang hamil waktu 'iddah mereka sampai mereka melahirkan kandungannya. Nampaklah dari sini kuatnya pendapat yang mengatakan wajib 'iddah dan pendapat ini yang dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah. Raudhah Ath-Tholibin 8/375. Ibnul Qayyim. Telah jelas dari jawaban di atas bahwa perempuan yang hamil. Wallahu Ta'ala A'lam. 'iddahnya diperselisihkan oleh para 'ulama yang mewajibkan 'iddah bagi perempuan yang berzina. maka 'iddahnya adalah sampai ia telah haid satu kali semenjak melakukan perzinahan tersebut. Kesimpulan Pembahasan : 1. Dan para 'ulama sepakat bahwa akad nikah pada masa 'iddah adalah akad yang batil lagi tidak sah. (QS. Dan kalau keduanya tetap melakukan akad nikah dan melakukan hubungan suami-istri setelah keduanya tahu haramnya melakukan akad pada masa 'iddah maka keduanya dianggap pezina dan keduanya harus diberi hadd (hukuman) sebagai pezina kalau negara mereka menerapkan hukum Islam. Adwa` Al-Bayan 6/71-84 dan Jami' Lil Ikhtiyarat Al-Fiqhiyah Lisyaikhil Islam Ibnu Taimiyah 2/582-585. Syaikh Ibnu Baz dan Al-Lajnah AdDaimah (Lembaga Fatwa Saudi Arabia). Sebagian para 'ulama mengatakan bahwa 'iddahnya adalah istibro` dengan satu kali haid. Beliau bersabda : Barangkali orang itu ingin menggaulinya ?.

4.(QS.138. si perempuan hamil ini berhak mendapatkan maharnya kalau memang belum ia ambil atau belum dilunasi. . Ahmad 6/47. 7/171. nikahnya batil. Dan pendapat yang terakhir ini zhohir yang dikuatkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsir-nya dan beliau melemahkan atsar 'Umar yang menjadi dalil bagi Imam Malik bahkan Ibnu Katsir juga membawakan atsar yang serupa dari 'Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu yang menunjukkan bolehnya. (HR. 315. An-Nisa` : 4). 10/148. beliau berpendapat bahwa perempuan telah menjadi haram baginya untuk selama-lamanya.275. Dan firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala : Berikanlah kepada mereka mahar mereka sebagai suatu kewajiban. Adapun orang yang ingin meminang kembali perempuan hamil ini setelah ia melahirkan. Jumhur (kebanyakan) 'ulama berpendapat : Perempuan tersebut tidak diharamkan baginya bahkan boleh ia meminangnya setelah lepas 'iddah-nya. Karena itu kandungan hukum dalam hadits mencakup semuanya.124. Al-Hakim 2/182-183. 4074. Ibnul Jauzy dalam AtTahqiq no. Ibnu Abi Syaibah 3/454. Al-Humaidy dalam Musnadnya 1/112. Ibnu Hibban sebagaimana dalam AlIhsan no. 2083. 1879. 1654 dan Ibnu 'Abbil Barr dalam At-Tamhid 19/85-87 dan dishohihkan oleh Al-Albany dalam Al-Irwa` no. 1102. Wallahu A'lam. nikahnya batil. Nikah tanpa wali hukumnya adalah batil tidak sah sebagaimana nikah di masa 'iddah hukumnya batil tidak sah.1840). Adapun kalau keduanya tidak tahu tantang haramnya menikahi perempuan hamil maka ini dianggap nikah syubhat dan harus dipisahkan antara keduanya karena tidak sahnya nikah yang seperti ini sebagaimana yang telah diterangkan. Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim. Abu Nu'aim dalam Al-Hilyah 6/88. Ibnu Wahb sebagaimana dalam Al-Mudawwah Al-Kubra 4/166. At-Tirmidzi no. Ad-Darimy 2/185. Laki-laki dan perempuan hamil yang melakukan pernikahan dalam keadaan keduanya tahu tentang haramnya menikahi perempuan hamil kemudian mereka berdua tetap melakukan jima' maka keduanya dianggap berzina dan wajib atas hukum hadd kalau mereka berdua berada di negara yang diterapkan di dalamnya hukum Islam dan juga tidak ada mahar bagi perempuan tersebut. maka kembali diwajibkan mahar atasnya berdasarkan keumuman firman Allah Ta'ala : Berikanlah kepada para perempuan (yang kalian nikahi) mahar mereka dengan penuh kerelaan (QS. Syafi'iy sebagaimana dalam Munadnya 1/220. Ad-Daruquthny 3/221. Ishaq bin Rahawaih dalam Musnadnya 2/no.166.165. Sa'id bin Manshur dalam sunannya 1/175.4750. Ibnu Jarud dalam Al-Muntaqo no. 698. 1463. Adapun mahar.An-Nisa` : 24) Dan banyak lagi dalil yang semakna dengannya.222. Ibnu Majah no. Dan beliau berdalilkan dengan atsar 'Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu yang menunjukkan hal tersebut. Al-Baihaqy 7/105. Hal ini berdasarkan hadits 'Aisyah radhiyallahu 'anha. dan apabila ia telah masuk padanya (perempuan) maka baginya mahar dari dihalalkannya kemaluannya. Maka sebagai kesimpulan pendapat yang kuat dalam masalah ini adalah boleh keduanya menikah kembali setelah lepas 'iddah. 700. Rasulullah shollallahu 'alaihi wa 'ala alihi wa sallam bersabda : Perempuan mana saja yang nikah tanpa izin walinya. Lihat : Tafsir Ibnu Katsir 1/355 (Darul Fikr). dan apabila mereka berselisih maka penguasa adalah wali bagi yang tidak mempunyai wali. Ath-Thohawy dalam Syarah Ma'any AlAtsar 3/7. Ath-Thoyalisy dalam Musnadnya no. Demikian rincian Ibnu Qudamah. 'Abdurrazzaq dalam Mushonnafnya 6/195. pendapat Imam Malik ini juga merupakan pendapat dulu dari Imam Syafi'iy tapi belakangan beliau berpendapat bolehnya menikah kembali setelah dipisahkan.4837. 4682.lepas masa 'iddah?. dan dalam Al-Umm 5/13. Abu Daud no. Wal 'Ilmu 'Indallah. Dan mereka diselisihi oleh Imam Malik.66. Jawabannya adalah Ada perbedaan pendapat dikalangan para 'ulama. Abu Ya'la dalam Musnadnya no. As-Sahmy dalam Tarikh Al-Jurjan hal. 7/284. maka nikahnya batil.

hal.1/1424 H/2004 M Rubrik: Masalah Anda. Diasuh oleh Ust. Referensi: Dari: Majalah An-Nashihah Volume 05 Th.2-6 Catatan: Jika memperbanyak artikel ini mohon mencantumkan sumbernya. Shohih Al-Bukhary (Fathul Bary) 9/494. 18 Agustus 2004 ] . Dzulqarnain bin Muhammad Sanusi. Al-Fatawa 32/198.Lihat : Al-Mughny 10/186-188. Terima kasih [Kontributor : Abah Utik.200 dan Zadul Ma'ad 5/104-105.

maka anak zina. 3. dan bukan fulan/fulanah bin/binti A. ada beberapa catatan yang harus diketahui oleh kaum muslimin: 1. Pelakunya. Demikian hukum-hukum yang ada kaitannya dengan anak hasil perzinahan. Dengan putusnya nasab. BUKAN nasab bapak yang berselingkuh. yakni dosa besar. Nasab atau garis keturunannya adalah dari ibunya. perbuatan zina adalah perbuatan yang termasuk dalam al Kabaair.Pertama. Wallahu a'lam. Namun. maka hukumannya dirajam sampai mati. untuk anak yang lahir karena hubungan diluar nikah. tetap saja. . 2. 6. Namun. 4. Dengan putusnya garis nasab. maka nasabnya tetap mengikuti bapak yang ada hubungan pernikahan dengan ibunya. Maka nasab anak tersebut adalah fulan/fulanah bin/binti B. maka didera sebanyak 100 deraan dan diasingkan dari negerinya selama satu tahun. Sebagai anak zina. 5. Jika bapak (zina)nya adalah A dan ibunya adalah B. bagaimana dengan status anak yang lahir dari hubungan di luar pernikahan ini? Maka. melainkan sulthon/penguasa/KUA/penghulu. yakni jika anak (zina) meninggal duluan. Begitu pula sebaliknya. Hal ini didasarkan atas hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori: Artinya: Anak itu haknya (laki-laki) yang memiliki tempat tidur dan bagi yang berzina tidak mempunyai hak apapun (atas anak tersebut). dikenai hukuman. maka bapak (zina) tidak memperoleh bagian warisnya. Tidak wajib (yakni tidak berdosa) jika si bapak (zina) tidak menafkahi anak hasil zinanya ini. karena si anak lahir dari benih bapaknya. jika ia sudah menikah. Selanjutnya. maka status keduanya adalah MAHRAM (haram untuk dinikahi). jika ia belum menikah. yang menjadi wali adalah BUKAN bapak (zina)nya. Jika anak zina ini lahir dari hasil selingkuhan. maka ia tidak punya nasab kepada bapak (zina)nya. tidak berhak memperoleh waris dari bapak (zina)nya. maka jika si anak (zina) menikah.

akad nikah tersebut hukumnya tidak sah. bahwa Nabi saw. iddahnya habis dengan melahirkan kandungannya. tidak sependapat adalah : Kehamilan diluar nikah LALU DINIKAHKAN adalah TIDAK SYAH. "Tidak halal bagi seseorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir menyiramkan airnya pada tanaman orang lain. " (HR Abu Daud). istibra'nya cukup satu kali haid. hamil atau tidak. telah habis masa iddahnya. (Istibra' adalah masa menunggu untuk mengetahui bersihnya rahim ). ulama Malikiyah berpendapat bahwa hukumnya tidak sah menikahi wanita hamil akibat zina. sedangkan bagi amat (bukan wanita merdeka). Ulama Hanabilah berpendapat bahwa hukumnya tidak sah menikahi wanita yang diketahui telah berbuat zina. tapi bila ia hamil. Jika ia hamil. Bila akad nikah tetap dilangsungkan dalam keadaan hamil (belum istibra'). apalagi bila ia bukan yang menghamilinya. Pendapat ulama Malikiyah ini didasarkan pada hadits Nabi saw. a. Pertanyaannya : Darimana TIDAK SYAH -nya pernikahan itu Berdasarkan : 1. Pertama. juga berdasarkan hadits berikut ini. akad nikah itu fasid dan wajib difasakh. .Dasar yang digunakan adalah ferman Allah. istibra'-nya tiga kali haid. Dari abu Sa'id r. baik merdeka maupun amat (budak). telah bertobat dari perbuatan zina. istibra'-nya sampai melahirkan kandungannya. Adapun dasar yang digunakan oleh para ulama Hanabilah. disamping hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud diatas. " (an-Nuur: 3) Ayat ini dipahami oleh ulama mazhab Hanabilah bahwa hukumnya haram menikahi laki-laki atau perempuan pezina kecuali jika mereka telah bertaubat. Didalam fiqhus sunnah didapat keterangan bahwa bila akad nikah . 2. bersabda tentang tawanan wanita Authos. kecuali wanita tersebut telah memenuhi dua syarat berikut. ia wajib istibra'. meskipun yang menikahi itu laki-laki yang menghamilinya. Ulama Malikiyah berpendapat bahwa wanita yang berzina. baik atas dasar suka sama suka maupun karena diperkosa. "(HR Abu Dawud) Kedua. Dengan demikian. baik dengan laki-laki bukan yang menzinainya terlebih lagi dengan laki-laki yang menzinainya (karena dia tahu pasti bahwa wanita itu telah berbuat zina dengan dirinya)."…dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin. 3. Bila akad nikah dilangsungkan dalam keadaan hamil. Bagi wanita merdeka dan tidak hamil. "Tidak boleh bercampur dengan wanita yang hamil hingga ia melahirkan dan wanitaa yang tidak hamil hingga datang haidnya sekali.Kalau mas Arland.

tuannya (kalau ia seorang budak-pent. Bagaimana ia mewarisinya sedangkan itu tidak halal baginya dan bagaimana ia memperbudakkannya sedang ia tidak halal baginya. Dan kalau keduanya tetap melakukan akad nikah dan melakukan hubungan suami-istri setelah keduanya tahu haramnya melakukan akad pada masa 'iddah maka keduanya dianggap pezina dan keduanya harus diberi hadd (hukuman) sebagai pezina kalau negara mereka menerapkan hukum Islam. Dan para 'ulama sepakat bahwa akad nikah pada masa 'iddah adalah akad yang batil lagi tidak sah. pernikahannya fasid dan keduanya harus diceraikan. syubhat (yaitu nikah dengan orang yang haram ia nikahi karena tidak tahu atau karena ada kesamar-samaran-pent. Telah jelas dari jawaban di atas bahwa perempuan yang hamil. apakah hamilnya itu karena suaminya. Maka Rasulullah shollallahu 'alaihi wa 'ala alihi wa sallam bersabda : Sungguh saya telah berkehendak untuk melaknatnya dengan laknat yang dibawa ke kuburnya. Beliau bersabda : Barangkali orang itu ingin menggaulinya ?. 4. (Para sahabat) menjawab : Benar. syubhat atau karena zina. . 5.) atau karena zina. Hadits Abu Ad-Darda` riwayat Muslim dari Nabi shollallahu 'alaihi wa 'ala alihi wa sallam : "Beliau mendatangi seorang perempuan yang hampir melahirkan di pintu Pusthath. sedangkan saya melihat dari sisi "hukum pernikahan seorang wanita SETELAH terjadinya perzinahan". demikian keterangan Imam Ibnu Qudamah dalam Al-Mughny 11/242. Disinilah titik benang merahnya. wassalam anut Assalamu 'alaikum wr. baik hamil karena pernikahan sah. 'iddahnya adalah sampai melahirkan.). wb." Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah : Dalam (hadits) ini ada dalil yang sangat jelas akan haramnya menikahi perempuan hamil. Banganut melihat proses hukum dari perzinahan sampai pernikahan.dilangsungkan sebelum wanita itu bertaubat dan melahirkan kandungannya.

Pertanyaannya : Darimana TIDAK SYAH -nya pernikahan itu.. dan dengan jujur. bahwa Kasus zina... IDDAH bagi wanita yang hamil adalah sampai melahirkan.. maka berlakulah sebagaimana hukum zina. yang saya tidak sependapat adalah : Kehamilan diluar nikah LALU DINIKAHKAN adalah TIDAK SYAH. Saya sependapat dengan banganut bahwa : Hubungan diluar nikah adalah Zina. Dengan demikian maka HAMILnya wanita di luar nikah TIDAK ADA . Ketika menjawab pertanyaan point 1 menurut banganut adalah : 1. padahal mereka belum sah dimata syari'at. Pelaksanaan pernikahan ketika hamil tidak ada syar'inya. teman yang kedua katanya akan menikah setelah bayinya lahir. perempuan tentunya. bukan karena hamilnya. saya tidak tahu harus menjawab apa. dan inipun berlaku HANYA pada pernikahan yang syah menurut syariat. ketika kedua teman saya bertanya bagaimana pertanggung jawaban terhadap apa yang sudah saya lakukan? Mohon dapat di jawab dengan sebenar-benarnya. saya sependapat dengan Banganut. jadi malah terjadi legalitas perzinaan. Kehamilan diluar nikah lalu dinikahkah adalah tidak sah. yang ditanya oleh penanya pada point 1 adalah : saya punya 2 teman. teman yang pertama lantas dinikahkan dalam keadaan hamil. dia hamil di luar nikah. BUKAN kecelakaan/hamil di luar nikah. Sedangkan pernikahan setelah melahirkan bisa dilakukan dengan melakukan taubat terlebih dahulu. Tidak Syah nikahnya itu semata-mata karena wanita tersebut sedang menjalani MASA IDDAH. Hubungan diluar pernikahan sah adalah zina. sedangkan fiqih syafi'iyyah dengan mengutip Al-Qur'an At-Thalaq 4 dan hadits dari Ubay bin Ka'ab mengatakan bahwa TIDAK SYAH Nikahnya WANITA HAMIL hanya berlaku bagi wanita yang di talak 3 atau ditinggal mati oleh suaminya. maka berlakulah sebagaimana hukum zina (jika syariat tentang zina telah tegak). Kalau mengenai hukum perzinahan. inipun jika syariat tentang zina telah tegak... kecuali sekedar menutup malu belaka. karena masalah ini fiqihnya berbeda lagi. Namun kenyataan yang terjadi di masyarakat mereka yang telah menikah dalam keadaan hamil tingal serumah. jika ia gadis maka di cambuk setelah selesai melahirkan. Jika ia sudah menikah lalu berzina maka di rajam sampai mati setelah selesai penyusuan Nah.Sedangkan masalah budak yang dihamili oleh pemilik budak (majikan) sementara ini kita pending dulu.. penerapan hukum berzina sampai hamil sebagaimana status seseorang.

wassalam. penerapan hukum berzina sampai hamil sebagaimana status seseorang. Berarti terjadi pengguguran pelaksanaan hukum dera atau rajam. semoga dapat dilihat benang merahnya. Namanya juga berbeda pendapat . Jika penerapan hukum seperti ini lalu terjadi pembenaran pernikahan ketika hamil diluar nikah oleh si laki yang melakukan zina dengan wanita tersebut. Saya hanya melihat proses hukum dari perzinahan sampai ke pernikahan Kasus zina.. Jika ia sudah menikah lalu berzina maka di rajam sampai mati setelah selesai penyusuan. jika ia gadis maka di cambuk setelah selesai melahirkan. Karena wanita yang hamil di luar pernikahan dianggap sebagai suatu kehamilan yang TIDAK DIHORMATI SYARA'. Sekali lagi ini bukan berarti fiqih MELEGALKAN perzinahan. oleh karena sperma yang masuk ke dalam rahimnya adalah Ghairu Muhtarom. karena itu tak ada larangan yang menghalangi bagi wanita itu menikah walaupun wanita tersebut dalam keadaan hamil. atau tidak dihormati. Karena telah berubah status hukum dari zina ke pernikahan. tapi semata-mata untuk MENYELESAIKAN masalah perzinahan yang SUDAH TERLANJUR TERJADI.IDDAH-nya. Demikian. ..

Maka bersabda Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam. Karena dengan menjadi tawanan dia menjadi milik orang yang menawannya atau milik orang yang diberi bagian dari hasil ghanimah (rampasan perang) meskipun dia masih menjadi istri orang (baca . "Ya". dari haram toh nanti jadi halal juga. orang kafir). "Sesungguhnya aku berkeinginan untuk melaknatnya dengan satu laknat yang akan masuk bersamanya ke dalam kuburnya [4] bagaimana dia mewarisinya padahal dia tidak halal baginya. dari berdosa toh nanti diampuni juga. Lalu beliau bersabda. Hadits yang mulia ini pun menjadi dalil tentang haramnya . Hadits yang mulia ini salah satu dalil dari sekian banyak dalil tentang halalnya menyetubuhi tawanan perang meskipun tidak dinikahi.Pertanyaannya. "Barangkali dia [2] (yakni laki-laki yang memiliki tawanan [3] tersebut) mau menyetubuhinya!?". tidak menutup kemungkinan oleh yang menghamilinya berlaku juga hal tersebut. Maka dengan menjadi tawanan fasakhlah (putuslah) nikahnya dengan suaminya. (Baca Syarah Muslim Juz 10. Wanita tawanan.Perempuan ini adalah seorang tawanan perang yang tertawan dalam keadaan hamil tua. [3]. kalau hamil tinggal dinikahi. dan boleh disetubuhi sebelum melahirkan". [4]. bagaimana dia menjadikannya sebagai budak padahal dia tidak halal baginya!?" [5] [Hadits Shahih riwayat Muslim 4/161] Keterangan: [1]. boleh disetubuhi tanpa proses pernikahan. [2]. apakah ada kasus seperti ini pada masa Rasul dan sahabat ? Sedangkan salah satu syarat wanita yang hendak dinikahi adalah gadis atau janda. Jawab mereka. Apakah ada keterangan salah satu syarat wanita dinikahai adalah hamil diluar nikah oleh laki-laki itu sendiri ? Jika wanita hamil diluar nikah dibenarkan keabsahannya untuk dinikahi. kenyataannya Nabi melarang menyetubuhi wanita hamil tersebut sekalipun oleh orang lain hamilnya.34-36). Dalil : "Artinya : Dri Abu Darda dari Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam bahwasanya beliau pernah melewati seorang perempuan [1] yang sedang hamil tua sudah dekat waktu melahirkan di muka pintu sebuah kemah. maka suatu kewajaran jika orang lebih memilih zina dulu. Disini ada lafadz yang hilang yang takdirnya beliau bertanya tentang perempuan tersebut dan dijawab bahwa perempuan tersebut adalah tawanan si Fulan. Sebagaimana Mas Arland mengatakan "Shah dinikahkan oleh laki-laki yang menzinainya atau dengan laki-laki lain. hal.

yakni bagaimana mungkin laki-laki itu mewarisi anak yang dikandung oleh perempuan tersebut padahal anak itu bukan anaknya. 62. ia berkata : Adapun sesungguhnya aku tidak mengatakan kepada kamu kecuali apa-apa yang aku dengan dari Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam berkata pada hari Hunain. beliau bersabda. "Tidak halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk menyiramkan air (mani)nya ke tanaman [7] orang lain -yakni menyetubuhi perempuan hamil. 87) dan Ad-Darimi (2/171)] "Artinya : Dari Ruwaifi Al-Anshariy -ia berdiri di hadapan kita berkhotbah-. Harta fa-i harta yang didapat oleh kaum muslimin dari orang-orang . Ahmad (3/28. Dan bagaimana mungkin dia menjadikan anaknya itu sebagai budaknya padahal anak itu bukan anaknya. Penjelasan ini imma dari Ruwaifi atau dari yang selainnya [9]. "Bagaimana dia mewarisinya . Berdasarkan hadits yang mulia ini madzhab yang kedua mengeluarkan hukum tentang haramnya menikahi dan menyetubuhi perempuan yang hamil oleh orang lain sampai ia melahirkan.[8] Dan tidak halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk menyetubuhi perempuan dari tawanan perang sampai perempuan itu bersih. Wallahu a'lam. Dan tidak halal bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk mejual harta rampasan perang sampai dibagikan.2157). Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah ia memakai pakaian dari harta fa'i kaum muslimin sehingga apabila pakaian tersebut telah rusak ia baru megembalikannya" [Dikeluarkan oleh Abu Dawud (no. [5]. Sabda beliau Shallallahu `alaihi wa sallam. "Artinya : Dari Abu Said Al-khudriy dan dia memarfu'kannya kepada Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam bahwa beliau Shallallahu `alaihi wa sallam bersabda tentang tawanan-tawanan perang Authaas [Authaas adalah satu tempat di Thaif].menyetubuhi tawanan perang yang hamil sampai selesai iddahnya yaitu sampai ia melahirkan dan yang tidak hamil ber'iddah satu kali haid sebagaimana ditunjuki oleh hadits yang kedua insya Allah. "Janganlah disetubuhi perempuan yang hamil sampai dia melahirkan dan yang tidak hamil sampai satu kali haid" [Hadits riwayat Abu Dawud (no. Ke rahim orang lain yang telah membuahkan anak [8]. 2158 dan 2150) dan Ahmad (4/108-109) dengan sanad Hasan] Keterangan [7]. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah dia menaiki kendaraan dari harta fa'i [9] kaum muslimin sehingga apabila binatang tersebut telah lemah ia baru mengembalikannya. dan seterusnya".

.kafir tanpa peperangan. Dan Imam Tirmidzi (no. maka janganlah dia menyiramkan air (mani)nya ke anak orang lain (ke anak yang sedang dikandung oleh perempuan yang hamil oleh orang lain)". Ibnu Murduyah dan Ad-Darulqutni) Kemudian ulama-ulama syafi'iyyah antara lain Syeik Muhammad Assyarbini Al-Hathieb dalam kitab Mughnil Muhtaaj. Dalam satu riwayat hadits tentang asbabun-nuzul ayat ini turun. diriwayatkan dari Ubay bin Ka'ab berkata ia: Tatkala ayat ini turun. Akupun bertanya kepada Rasulullah SAW. dan BUKAN atau tidak termasuk orang yang hamil tanpa suami.. waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. Mudah-mudahan dengan adanya komentar ini diskusi menjadi lebih terbuka. atau karena berzina. "Artinya : Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir. untuk wanita yang ditalak tiga dan yang ditinggal mati oleh suami mereka. (Hadits Riwayat Ibnu Jarier. atau dicerai oleh suaminya. Ya Rasulullah. tidak dipungut bayaran . wassalam Saya hanya mau mengomentari point 1 yang disampaikan oleh banganut. Rasulullah SAW menjawab : Ya. Akan tetapi imam kaum kuffar menyerah sebelum berperang atau mereka melarikan diri meninggalkan harta-harta mereka. sudah jelas bahwa yang dimaksud adalah mereka yang ditinggal mati oleh suaminya. :) Al-Qur'an surah At-Thalaq ayat 4 : " wa ulatul ahmali ajaluhunna ay-yadlo'na hamlahunna" artinya : Dan perempuan-perempuan yang hamil. Syaikhul Islam . Ibnu Abi Haatim. Ayat ini untuk yang ditalak tiga atau yang ditinggal mati ?. Kata "ajalahunna" yang artinya iddah mereka. silahkan bagi yang ingin mengomentarinya juga. 1131) meriwayatkan juga hadits ini dari jalan yang lain dengan ringkas hanya pada bagian pertama saja dengan lafadz...

Yang calon suaminya itu banci muskil. atau tidak dihormati. jika ia hamil.paman. wassalam. yaitu : 1. Syekh Yusuf Al-Ardabily dalam kitab Kitaabul Anwar li a'maali Abror. Shah dinikahkan oleh laki-laki yang menzinainya atau dengan laki-laki lain. . atau wanita yang diubah kelaminnya menjadi laki-laki. Jadi yang menghalangi perkawinan wanita itu BUKAN-lah semata-mata karena kehamilannya. Wanita itu masih menjadi Istri orang lain. dan lain-lainnya pada umumnya secara jelas dan terang dapat disimpulkan perkataan mereka bahwa : wanita yang hamil karena kecelakaan itu Tidak ada Iddahnya.Zakariya Al-Anshory dalam kitab Hasyiatul Jamal 'alal Manhaj. Yang calon suaminya masih mahramnya (mis :kakak.adik. dan boleh disetubuhi sebelum melahirkan.bapak. Yang calon suminya non-islam. Yang masih dalam iddah wafat atau cerai hidup oleh suaminya walaupun sudah talaq 3 5. tidak boleh kawin sebelum selesai iddahnya. yaitu sampai melahirkan. Oleh karena itu adanya kehamilan tersebut sama halnya seperti tidak hamil. Sepertimana kita ketahui bersama bahwa dalm Fiqih Pernikahan bahwa wanita yang tidak boleh dinikahkan ada 6. Yang calon suaminya MASIH mempunyai istri 4 (empat) orang.kakek dsb) 2. 6. Jadi wanita yang hamil di luar nikah tidak termasuk katagori yang dilarang menikah. 4. 3. Sedangkan wanita yang bersuami yang ditalak oleh suaminya atau ditinggal mati oleh suaminya. sebab sperma yang masuk ke dalam rahimnya itu adalah ghoiru mahrom. Demikian sekedar mengomentari. seperti Al-Qur'an surah At-Thalaq tersebut di atas. boleh sependapat boleh juga tidak sependapat. tetapi semata-mata karena IDDAHnya.kemenakan. kecuali di islamkan lebih dulu. oleh karenanya pada wanita tersebut TIDAK ada sesuatu yang menghalangi nikahnya. karena kehamilan diluar nikah adalah suatu kehamilan yang tidak dihormati oleh Syara'.

Sedangkan pernikahan setelah melahirkan bisa dilakukan dengan melakukan taubat terlebih dahulu. maka berlakulah sebagaimana hukum zina (jika syariat tentang zina telah tegak). Tetapi karena pemerintah punya kepentingan menarik wisatawan asing dengan alasan membudayakan tradisi nenek moyang. Justru itu malah kebablasan. Kondisi indonesia. Sudah jelas ini bertentangan dengan Islam. Mohon maaf pelaksanaan 1 syuro saya tidak tahu. Syari'at yang membutuhkan orang banyak untuk melaksanakannya ini butuh proses yang panjang. Kehamilan diluar nikah lalu dinikahkah adalah tidak sah. 3. Namun kenyataan yang terjadi di masyarakat mereka yang telah menikah dalam keadaan hamil tingal serumah. jadi malah terjadi legalitas perzinaan. Namun saat ini jalankan mana syariat yang tidak bersinggungan dengan sistem yang ada. Jadi tidak banyak tahu secara persis kebiasaan tersebut. padahal mereka belum sah dimata syari'at. Setahu saya istilah bulan syuro itu muncul pada masa kerajaan Mataram di mana terjadi percampur adukan ajaran Islam dan nenek moyang. Hubungan diluar pernikahan sah adalah zina. sekalipun kita tidak bisa menghakimi orang yang melanggar syariat pribadi itu. pasca kerajaan demak dipindahkan ke Mataram. Syari'at yang bersifat pribadi. Saya tinggal di Palembang. indikator perjuangan ummat mengarah . kecuali sekedar menutup malu belaka.1. masih sangat memungkinkan perjuangan Islam berjihad secara dakwah karena sistem yang ada di indonesia masih mendukung gerak dakwah seperti ini. Penerapan syariat Islam secara kaffah butuh proses. 2. Kalau di bengkulu ada tradisi membuang kepala kerbau kelaut sebagai peringatan meninggalnya hasan dan husin cucung nabi. sudah cukup ada kebebasan untuk kita bisa laksanakan. Pelaksanaan pernikahan ketika hamil tidak ada syar'inya.

wassalam . sedangkan sikap Indonesia masih demokratis dan toleran tentu kita jangan egois kearah sana.kepada jihad secara qital.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->