Tugas Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam

NIKAH HAMIL

Oleh Accyntiasakti R.P XII IPA 4 /11 Nadia Hanun XII IPA 4 /20 Wiharesi Putri XII IPA 4 /29 Leo Cahya XII IPA 4/ 38

SMAN 3 Yogyakarta Jalan Yos Sudarso 7

HAMIL DI LUAR NIKAH DAN MASALAH NASAB ANAK ZINA
Dalam fasal ini ada beberapa kejadian yang masing-masing berbeda hukumnya, maka kami berkata: 1. Apabila seorang perempuan [Gadis atau janda] berzina

kemudian hamil, maka anak yang dilahirkannya adalah anak zina dengan kesepakatan para ulama, walaupun kemudian perempuan tersebut dinikahi/tidak dinikahi oleh laki- laki yang menzinainya .
• Nasab : Dinasabkan kepada ibunya [Misalnya Fulan bin Fulanah atau Fulanah binti Fulanah], tidak dinasabkan kepada bapak zinanya. • Hak Waris : Hak waris terputus dengan bapaknya, dia hanya mewarisi ibunya dan ibunya mewarisinya. • Hak Perwallian : Seorang anak perempuan dari hasil zina, terputus dengan perwaliannya dengan bapaknya. Yang menjadi wali nikahnya ialah sultan (penguasa) atau wakilnya seperti qadli (penghulu)1. Dan tidak wajib bagi bapaknya memberi nafkah kepada anak yang lahir dari hasil zina2. • Hubungan Mahram : Tidak terputus. Lebih luasnya lagi bacalah kitab-kitab dibawah ini: [1]. Al-Mughni Ibnu Qudamah (Juz 9 hal. 529-530 tahqiq Doktor Abdullah bin Abdul Muhsin At-Turkiy) [2]. Majmu Fatawa Ibnu Taimiyah (Jilid 32, hal. 134-152) [3]. Majmu Syarah Muhadzdzab (Juz 15 hal. 109-113) [4]. Al-Ankihatul Faasidah (Hal. 75-79 Abdurrahman bin Abdirrahman Sumailah AlAhsal). 2. Apabila terjadi sumpah li’aan 3 antara suami isteri. • Nasab : Dinasabkan kepada ibunya. Dalam kasus li’aan ini anak dinasabkan kepada isteri baik tuduhan suami itu benar atau bohong. • Hak Waris : Hak waris terputus dengan bapaknya, dia hanya mewarisi ibunya dan ibunya mewarisinya. • Hak Perwalian : Terputus dengan perwaliannya dengan bapaknya. Yang menjadi wali nikahnya ialah sultan (penguasa) atau wakilnya seperti qadli (penghulu). Dan tidak wajib bagi bapaknya memberi nafkah [Fathul baari (no. 5315). Nailul Authar Juz 7 hal.91 dan seterusnya]
Al-Muhalla Ibnu Hazm Juz 10 hal 323 masalah 2013. Al-Majmu Syarah Muhadzdzab Juz 15 hal. 112. Majmu Fatawa Ibnu Taimiyyah 34/100 2 Tidak wajib maknanya tidak berdosa kalau dia tidak memberi nafkah, akan tetapi tidak juga terlarang baginya untuk memberi nafkah. Ini berbeda dengan anak dari pernikahan yang shahih, berdosa bagi seorang bapak kalau dia tidak memberi nafkah kepada anak-anaknya
1

Suami menuduh isterinya berzina atau menafikan anak yang dikandung isterinya di muka hakim sehingga dilaksanakan sumpah li’aan. 3. Apabila seorang isteri berzina –baik diketahui suaminya [Dan
3

suaminya tidak menuduh istrinya di muka hakim sehingga tidak terjadi hukum li’aan] atau tidak- kemudian dia hamil
• Nasab : Dinasabkan kepada suaminya bukan kepada laki-laki yang menzinai dan menghamilinya berdasarkan sabda Nabi yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Anak itu haknya (laki-laki) yang memiliki tempat tidur dan bagi yang berzina tidak mempunyai hak apapun (atas anak tersebut)” 4 • Hak Waris : Hak waris tidak terputus dengan bapaknya [suami yang istrinya berzina]. • Hak Perwallian : Tidan terputus dengan perwaliannya dengan bapaknya [suami yang istrinya berzina] • Hubungan Mahram : Tidak terputus.

Sedangkan pada kasus di atas tidak terjadi sumpah li’aan meskipun suami mengetahui bahwa isterinya telah berzina dengan laki-laki lain.laki yang menghamilinya dan kepada siapa dinasabkan anaknya? Boleh dia dinikahi oleh laki-laki yang menzinainya dan menghamilinya dengan kesepakatan (ijma) para ahli fatwa sebagaimana ditegaskan oleh Imam Ibnu Abdil Bar yang dinukil oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar di kitabnya Fathul Baari (Juz 9 hal. yang laki-laki membawa anak laki-laki dan yang perempuan membawa anak gadis). Semua ini menunjukkan telah terjadi ijma di antara para shahabat bahwa perempuan yang berzina kemudian hamil boleh bahkan harus dinikahkan dengan laki-laki yang menzinainya dan menghamilinya. Berkata Abu Yazid Al-Makkiy. Untuk lebih jelasnya lagi marilah kita ikuti fatwa para ulama satu persatu dari para shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan seterusnya : • Fatwa Abu Bakar Ash-Shiddiq Berkata Ibnu Umar : Ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq sedang berada di masjid tiba-tiba datang seorang laki-laki. “Sesungguhnya aku kedatangan seorang tamu. 157 di bagian kitab nikah bab 24 hadits 5105) 6. 5 4. Tafsir Fathul Qadir (1/446 tafsir surat An-Nisaa ayat 23) oleh Imam Asy-Syaukani 4 di kitabnya Al-Muhalla juz 9 hal. 223 dari jalan Ibnu Umar) 7 • Fatwa Umar bin Khaththab Fatwa Abu Bakar di atas sekaligus menjadi fatwa Umar bahkan fatwa para shahabat. “Bahwasanya ada seorang laki-laki nikah dengan seorang perempuan. Dan perempuan itu mempunyai seorang anak gadis yang bukan (anak kandung) dari laki-laki (yang baru nikah dengannya) dan laki-laki itupun mempunyai seorang anak laki-laki yang bukan (anak kandung) dari perempuan tersebut (yakni masing.masing membawa seorang anak. Apabila seorang perempuan berzina kemudian hamil. Lalu Umar bertanya kepada keduanya dan keduanya mengakui (telah . 4/171 dari jalan Aisyah dalam hadits yang panjang. 476 dan Imam Baihaqiy di kitabnya Sunanul Kubro juz 8 hal. Kemudian beliau menikahkan keduanya lalu beliau memerintahkan agar keduanya diasingkan selama satu tahun . “Semoga Allah memburukkanmu! Tidakkah engkau tutup saja (rahasia zina) atas anak perempuan itu!” Kemudian Abu Bakar memerintahkan agar dilaksanakan hukum had (didera sebanyak seratus kali) terhadap keduanya (laki-laki dan perempuan yang berzina). 6750. Dan Bukhari no. 565) 6 Baca juga Kitaabul Kaafi fi Fiqhi Ahlil Madinah (Juz 2 hal. Ini disebabkan suami tidak melaporkan tuduhannya ke muka hakim sehingga tidak dapat dilaksanakan sumpah li’aan. dan 6818 dan Muslim 4/171 juga mengeluarkan dari jalan Abu Hurairah dengan ringkas seperti lafadz di atas 5 Apabila seorang istri berzina atau suami berzina maka nikah keduanya tidak batal (fasakh) menurut umumnya ahli ilmu (Al-Mughni Juz 9 hal. lalu dia berzina dengan anak perempuanku!?” Lalu Umar memukul dada orang tersebut dan berkata. Dan semua para shahabat diam menyetujuinya dan tidak ada seorang pun di antara mereka yang mengingkari fatwa tersebut. “Berdirilah dan perhatikanlah urusannya karena sesungguhnya dia mempunyai urusan (penting)” Lalu Umar berdiri menghampirinya.542) oleh Imam Ibnu Abdil bar. [Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hazm Hadits shahih riwayat Bukhari no. 6749 dan Muslim no. Lalu pemuda dan anak gadis tersebut melakukan zina sehingga nampaklah pada diri gadis itu kehamilan. bolehkah ia dinikahi oleh laki. lalu Abu Bakar berkata kepada Umar. kemudian laki-laki itu menerangkan urusannya kepada Umar. Oleh karena itu kita melihat para shahabat berfatwa seperti di atas di antaranya Umar bin Khaththab ketika beliau menjadi khalifah sebagaimana riwayat di bawah ini. Maka tatkala Umar datang ke Makkah diangkatlah kejadian itu kepada beliau. Ini disebabkan bahwa fatwa dan keputusan Abu Bakar terjadi di hadapan para shahabat [Al-Muhalla Juz 9 hal 476] atau diketahui oleh mereka khususnya Umar.

“Jika keduanya bertaubat dan keduanya berbuat kebaikan (yakni beramal shalih)” [Dikeluarkan oleh Imam Ibnu Hazm di Al-Muhalla juz 9 hal. “Kemudian Ibnu Mas’ud mengulang. kemudian sesudah itu mereka bertaubat dan mereka berbuat kebaikan. 12798)] Dalam sebagian riwayat ini terdapat tambahan : Setelah Ibnu Mas’ud membaca ayat di atas beliau berkata. 475. karena (nikah itu) perbuatan halal” [Dikeluarkan oleh Baihaqiy (7/155) dengan sanad yang shahih] [Al-Mushannaf Abdurrazaq (7/203)] Dari Ikrimah dari Ibnu Abbas : Tentang seorang laki-laki yang berzina . “Dari Hammaam bin Harits bin Qais bin Amr An-Nakha’i Al-Kufiy dari Abdullah bin Mas’ud tentang.hambaNya dan memaafkan dari kesalahan. 12793) bahwa Umar mengundurkan hukuman kepada anak gadis tersebut sampai dia melahirkan 9 Kebodohan disini maksudnya perbuatan maksiat yang dilakukan dengan sengaja. lalu laki-laki itu bertanya. Ibnu Umar pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang berzina dengan seorang perempuan. “Hendaklah menikahinya!”. Kemudian Umar memerintahkan mendera keduanya (dilaksanakan hukum had) 8 . “Ya”. “Seorang lakilaki berzina dengan seorang perempuan kemudian keduanya bertaubat dan berbuat kebaikan. apakah boleh dia menikahinya ? Jawab Ibnu Umar. “Apabila keduanya bertaubat dan keduanya berbuat kebaikan.ulang ayat Baihaqiy meriwayatkan dari jalan yang lain bahwa perempuan tersebut hamil (9/476) lihat juga Mushannaf Abdurrazzaq (12796) 8 Diriwayatkan Imam Abdurrazzaq (Mushannaf Abdurrazzaq (7/203-204 no.berbuat zina). • Fatwa Ibnu Umar. • Fatwa Jabir bin Abdullah Berkata Jabir bin Abdullah. “Kemudian sesungguhnya Rabb-mu kepada orang-orang yang mengerjakan kejahatan dengan kebodohan 9 . Dan Umar sangat ingin mengumpulkan di antara keduanya (dalam satu perkawinan) akan tetapi anak muda itu tidak mau ” [Dikeluarkan oleh Imam Baihaqiy (7/155) dengan sanad yang shahih] • Fatwa Abdullah bin Mas’ud Dari Hammam bin Harits bin Qais bin Amr An-Nakha’i Al-Kufiy. dikeluarkan juga oleh Imam Abdurrazzaq (7/202) yang semakna dengan riwayat di atas] • Fatwa Ibnu Abbas Berkata Ubaidullah bin Abi Yazid . apakah boleh laki-laki itu kawin dengan perempuan tersebut? “ Kemudian Ibnu Mas’ud membaca ayat ini. “Tidak mengapa yang demikian itu” [Dikeluarkan oleh Imam Baihaqiy (7/156) secara mu’allaq dengan sanad yang shahih] Dari Al-Qamah bin Qais (ia berkata) : Sesungguhnya telah datang seorang laki-laki kepada Ibnu Mas’ud. Karena setiap orang yang maksiat kepada Allah dikatakan jahil (tafsir Ibnu Katsir 2/590) 7 tersebut berkali-kali sampai orang yang bertanya itu yakin bahwa Ibnu Mas’ud telah memberikan keringanan dalam masalah ini (yakni beliau membolehkannya)”. “Aku pernah bertanya kepada Ibnu Abbas tentang seorang laki-laki yang berzina dengan seorang perempuan bolehkah dia menikahinya ?” Jawab beliau. “Seorang anak laki-laki yang berzina dengan seorang perempuan kemudian laki-laki itu hendak menikahi perempuan tersebut?” Jawab Ibnu Mas’ud. [Dikeluarkan oleh Imam Baihaqiy (7/156). Kemudian Imam Baihaqiy (7/156) juga meriwayatkan dari jalan yang lain yang semakna dengna riwayat di atas akan tetapi di riwayat ini Ibnu Mas’ud membaca ayat): 10 “Dan Dialah (Allah) yang menerima taubat dari hamba. maka tidak mengapa (tidak salah dilangsungkan pernikahan di antara keduanya) –yakni tentang laki-laki yang berzina dengan seorang perempuan kemudian dia ingin menikahinya -“ [Dikeluarkan oleh Ibnu Hazm (9/475). sesungguhnya Rabb-mu sesudah itu Maha Pengampun (dan) Maha Penyayang ” [An-Nahl : 119] Berkata Al-Qamah bin Qais.kesalahan (mereka) dan Dia mengetahui apaapa yang kamu kerjakan ” [Asy-Syura : 25] [Lihat riwayat yang semakna di Mushannaf Abdurrazzaq (7/205 no.

[Baihaqiy 7/155 dan Abdurrazzaq 7/203-207] Dari keterangan-keterangan di atas kita mengetahui: a.masing dari keduanya telah menyentuh yang lain dengan cara yang haram (yakni keduanya telah berzina). b. Dan di dalam kasus seperti ini –di mana perempuan yang berzina itu kemudian hamil lalu dinikahi laki-laki yang menzinai dan menghamilinya. “Yang Imma kejadian ini satu kali dan masing-masing rawi membawakan satu ayat dari dua ayat yang dibaca Ibnu Mas’ud atau kejadian di atas dua kali. Ini disebabkan karena laki-laki itu menikahi perempuan yang dia zinai dan dia hamili setelah perempuan itu hamil bukan . Wallahu a’lam 11 Mushannaf Abdurrazzaq (7/202) maksud perkataan Ibnu Abbas di riwayat 1 s/d 4 ialah bahwa zina itu haram sedangkan nikah itu halal. Telah terjadi ijma Ulama yang didahului oleh ijmanya para shahabat tentang masalah bolehnya perempuan yang berzina kemudian hamil dinikahi oleh laki-laki yang menzinai dan menghamilinya. Mereka pun memberikan syarat agar keduanya bertaubat dan berbuat kebaikan (beramal shalih) dengan menyesal dan membenci perbuatan keduanya. kemudian pertanyaan yang kedua kepada siapakah anak tersebut dinasabkan? Jawabnya : Anak tersebut dinasabkan kepada ibunya bukan kepada laki-laki yang menzinai dan menghamili ibunya (bapak zinanya) walaupun akhirnya lakilaki itu menikahi ibunya dengan sah. Said bin Jubair. “Tidak salah (yakni menikahinya)] Berkata Said bin Jubair : Ibnu Abbas pernah ditanya tentang seorang lakilaki dan seorang perempuan yang masing. Apabila salah satunya tidak mau maka janganlah dipaksa hatta perempuan tersebut telah hamil [Bacalah kembali riwayat Umar bin Khaththab]. kemudian dia menikahinya. Bahkan laki-laki yang menzinai dan menghamili seorang perempuan lebih berhak terhadap perempuan tersebut sebelum orang lain [Abdurrazzaq (7/206. Ini. Cukuplah bagi keduanya bertaubat dan beramal shalih. sedangkan yang terakhir nikah” [Dikeluarkan Abdul Razzaq 7/202] Dari Thawus.tidak dapat dimasukkan ke dalam keumuman hadits yang lalu yaitu : “Anak itu haknya (laki-laki) yang memiliki tempat tidur (suami yang sah) dan bagi yang berrzina tidak mempunyai hal apapun (atas anak tersebut)”.dengan seorang perempuan kemudian sesudah itu dia menikahinya ? Beliau berkata. AzZuhri dan Hasan Al-Bashri dan lain-lain Ulama. Karena sesuatu yang haram tidak bisa mengharamkan sesuatu yang halal 10 pertama dari urusannya itu adalah zina. maka zina yang haram itu tidak bisa mengharamkan nikah yang memang halal. “Yang pertama itu zina sedangkan yang terakhir nikah dan yang pertama itu haram sedangkan yang terakhir halal ” [Dikeluarkan Baihaqiy (7/155) 11 Dan dalam riwayat yang lain juga dari jalan Ikrimah ada tambahan. Oleh karena di negeri kita ini sebagaimana negeri-negeri Islam yang lainnya kecuali Saudi Arabia tidak dilaksanakan hukum-hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala seperti hukum had dan lain-lain.207)] dengan syarat keduanya mau dan ridha untuk nikah.itu lebih bagus ” [Dikeluarkan Abdurrazzaq 7/203] Demikian juga fatwa para Tabi’in seperti Said bin Musayyab. kemudian nyatalah (kehamilan) bagi perempuan tersebut lalu laki-laki itu menikahinya? Jawab Ibnu Abbas : “Yang pertama itu zina sedangkan yang kedua nikah” [Dikeluarkan oleh Imam Baihaqiy (3/267 dengan sanad yang hasan)] Berkata Atha bin Abi Rabah : Berkata Ibnu Abbas tentang laki-laki yang berzina dengan seorang perempuan. Langsungkanlah pernikahan karena yang demikian itu sangat bagus sekali sebagaimana dikatakan Ibnu Abbas. ia berkata : Diriwayatkan kepada Ibnu Abbas. “Seorang lakilaki menyentuh perempuan dengan cara yang haram (yakni zina). ini tidak menghalangi taubatnya orang yang mau bertaubat demikian juga nikahnya dua orang yang berzina. kemudian dia menikahinya?” Jawab beliau. “itu baik –atau beliau mengatakannya. Adapun mengenai hukuman bagi yang berzina (hukum had) yang melaksanakannya adalah pemerintah bukan orang perorang atau kelompok perkelompok.

Al-Muhalla (Juz 10 hal. “Dan perempuan. Pertama : Ayat di atas untuk perempuan yang hamil dari hasil nikah bukan untuk perempuan. Bacalah kembali keterangan-keterangan kami di muka mengiringi apa yang telah dikatakan oleh Imam Ibnu Abdil Bar bahwa dalam hal ini telah terjadi ijma’ ulama.sebelumnya. Akan tetapi perempuan tersebut ketika suaminya wafat dalam keadaan hamil maka keumuman ayat di ataslah yang dipakai. Sedangkan di dalam zina tidak ada semuanya itu termasuk tidak adanya ‘iddah.laki yang tidak menghamilinya? Dan kepada siapakah dinasabkan anaknya? Madzhab Syafi’I dan Hanafi : Boleh dan halal dinikahi dengan alasan bahwa perempuan tersebut hamil karena zina bukan dari hasil nikah.perempuan yang hamil dari hasil zina. Madzhab Hambali dan Maliki : Haram dinikahi sampai perempuan tersebut melahirkan. dan kewalian dan nafkah sesuai dengan zhahirnya bagian akhir dari hadits diatas yaitu : “…. Atau ayat di atas tetap di dalam keumumannya oleh sebagian ulama terhadap perempuan yang berzina lalu hamil kemudian dinikahi oleh laki-laki yang bukan menghamilinya sebagaimana akan datang keterangannya di kejadian kelima. ‘iddah. waris. Apabila seorang perempuan berzina kemudian dia hamil. Abu Hanifah mensyaratkan tidak boleh disetubuhi sampai perempuan tersebut melahirkan.323) Fathul Baari 12 .perempuan yang hamil itu ‘iddah mereka sampai mereka melahirkan” [Ath.529-530). meskipun demikian laki-laki itu tetap dikatakan sebagai bapak dari anak itu apabila dilihat bahwa anak tersebut tercipta dengan sebab air maninya akan tetapi dari hasil zina. Karena agama yang mulia ini hanya menghubungkan anak dengan bapaknya apabila anak itu lahir dari pernikahan yang sah atau lebih jelasnya lagi perempuan itu hamil dari pernikahan yang sah bukan dari zina. maka nasabnya kepada bapaknya demikian juga tentang hukum waris. Dan bagi (orang) yang berzina tidak mempunyai hak apapun (atas anak tersebut)” . nafkah. Al-Mughni Ibnu Qudamah (Juz 9 hal. Karena di dalam nikah itu terdapat thalaq. Fatawa Islamiyyah (Juz 2 hal. Dan anehnya tidak ada seorang pun di antara mereka yang berdalil dengan ayat di atas untuk melarang atau mengharamkannya kecuali setelah perempuan itu melahirkan anaknya ? Apakah kita mau mengatakan bahwa kita lebih pintar cara berdalilnya dari para Shahabat dan seterusnya? 5.353 dan 354. Wallahu a’lam 12 Sebagian orang di negeri kita ini ada yang mengatakan : Tidak boleh perempuan yang hamil lantaran zina itu dinikahi hatta oleh laki-laki yang menzinai atau menghamilinya sampai perempuan itu melahirkan berdasarkan keumuman firman Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu halal baginya menikahinya dan menyetubuhinya tanpa harus menunggu perempuan tersebut melahirkan anaknya. maka bolehkan dia dinikahi oleh laki. 374-375). nasab. tempat tinggal. Sebagaimana kita ketahui bahwa syara’ (agama) tidak menganggap sama sekali anak yang lahir dari hasil zina seperti terputusnya nasab dan lain-lain sebagaimana beberapa kali kami jelaskan di muka. wali dan nafkah tidak terputus sama sekali. Berbeda dengan anak yang lahir dari hasil pernikahan yang sah. Majmu Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (32/134-142). Ayat di atas tetap di dalam keumumannya terhadap perempuan-perempuan yang hamil yang dithalaq suaminya maka ‘iddahnya sampai dia melahirkan sesuai keumuman ayat di atas meskipun ayat yang lain (Al-Baqarah : 234) menegaskan bahwa perempuan-perempuan yang kematian suaminya ‘iddahnya empat bulan sepuluh hari. Wallahu a’lam. Kedua : Telah terjadi ijma’ Shahabat bersama para ulama tentang bolehnya bagi seorang laki-laki menikahi perempuan yang dia hamili lantaran zina. Karena hasil zina inilah maka anak tersebut dikatakan sebagai anak zina yang bapaknya tidak mempunyai hak apapun atasnya dari hal nasab. Cara pengambilan dalil seperti di atas sama sekali tidak tepat dalam menempatkan keumuman ayat dan cenderung kepada pemaksaan dalil. Inilah perbedaan yang mendasar antara pernikahan dengan perzinaan. waris dan kewalian.Thalaq : 4] Kami jawab .

2158 dan 2150) dan Ahmad (4/108-109) dengan sanad Hasan] Dan Imam Tirmidzi (no. maka janganlah dia menyiramkan air (mani)nya ke anak . “Ya”. 87) dan Ad-Darimi (2/171)] Hadits Ketiga “Dari Ruwaifi Al-Anshariy –ia berdiri di hadapan kita berkhotbah-. Ahmad (3/28. ia berkata : Adapaun sesungguhnya aku tidak mengatakan kepada kamu kecuali apa-apa yang aku dengar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata pada hari Hunain. “Barangkali dia 13 (yakni laki-laki yang memiliki tawanan 14 tersebut) mau menyetubuhinya!?”. Wallahu a’lam. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah dia menaiki kendaraan Disini ada lafadz yang hilang yang takdirnya beliau bertanya tentang perempuan tersebut dan dijawab bahwa perempuan tersebut adalah tawanan si Fulan 14 Hadits yang mulia ini salah satu dalil dari sekian banyak dalil tentang halalnya menyetubuhi tawanan perang meskipun tidak dinikahi.(Syarah hadits no.2157). Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah ia memakai pakaian dari harta fa’i kaum muslimin sehingga apabila pakaian tersebut telah rusak ia baru megembalikannya ” [Dikeluarkan oleh Abu Dawud (no. 62. bagaimana dia menjadikannya sebagai budak padahal dia tidak halal baginya!? ” 16 [Hadits Shahih riwayat Muslim 4/161] Hadits Kedua “Dari Abu Said Al-khudriy dan dia memarfu’kannya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang tawanantawanan perang Authaas [Authaas adalah satu tempat di Thaif]. beliau bersabda.[Penjelasan ini imma dari Ruwaifi atau dari yang selainnya] Dan tidak halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk menyetubuhi perempuan dari tawanan perang sampai perempuan itu bersih. Dan bagaimana mungkin dia menjadikan anaknya itu sebagai budaknya padahal anak itu bukan anaknya. 1131) meriwayatkan juga hadits ini dari jalan yang lain dengan ringkas hanya pada bagian pertama saja dengan lafadz. Tafsir Ibnu Katsir surat An-Nisaa ayat 23. “Tidak halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk menyiramkan air (mani)nya ke tanaman [Ke rahim orang lain yang telah membuahkan anak] orang lain –yakni menyetubuhi perempuan hamil. Karena dengan menjadi tawanan dia menjadi milik orang yang menawannya atau milik orang yang diberi bagian dari hasil ghanimah (rampasan perang) meskipun dia masih menjadi istri orang (baca . yakni bagaimana mungkin laki-laki itu mewarisi anak yang dikandung oleh perempuan tersebut padahal anak itu bukan anaknya. “Bagaimana dia mewarisinya … dan seterusnya”.34-36) 15 Hadits yang mulia ini pun menjadi dalil tentang haramnya menyetubuhi tawanan perang yang hamil sampai selesai iddahnya yaitu sampai ia melahirkan dan yang tidak hamil ber’iddah satu kali haid sebagaimana ditunjuki oleh hadits yang kedua insya Allah. Maka dengan menjadi tawanan fasakhlah (putuslah) nikahnya dengan suaminya. 6749). Dan tidak halal bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk mejual harta rampasan perang sampai dibagikan. (Baca Syarah Muslim Juz 10. hal. “Janganlah disetubuhi perempuan yang hamil sampai dia melahirkan dan yang tidak hamil sampai satu kali haid” [Hadits riwayat Abu Dawud (no. Dan lain-lain beralasan kepada beberapa hadits : Hadits Pertama. Berdasarkan hadits yang mulia ini madzhab yang kedua mengeluarkan hukum tentang haramnya menikahi dan menyetubuhi perempuan yang hamil oleh orang lain sampai ia melahirkan. orang kafir). Jawab mereka. 13 dari harta fa’i 17 kaum muslimin sehingga apabila binatang tersebut telah lemah ia baru mengembalikannya. “Dari Abu Darda dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau pernah melewati seorang perempuan [Perempuan ini adalah seorang tawanan perang yang tertawan dalam keadaan hamil tua] yang sedang hamil tua sudah dekat waktu melahirkan di muka pintu sebuah kemah. “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir. 16 Sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Sesungguhnya aku berkeinginan untuk melaknatnya dengan satu laknat yang akan masuk bersamanya ke dalam kuburnya 15 bagaimana dia mewarisinya padahal dia tidak halal baginya. Lalu beliau bersabda. Maka bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

30-31 [3]. bibi. [Baca Al.orang lain (ke anak yang sedang dikandung oleh perempuan yang hamil oleh orang lain)”. 561 s/d 565 tahqiq Doktor Abdullah bn Abdul Muhsin At-Turkiy. Apabila terjadi akad nikah yang fasid (rusak) atau batil yaitu setiap akad nikah yang telah diharamkan syara’ (agama) atau hilang salah satu dari rukunnya sehingga akad nikah tersebut tidak sah seperti : • Nikah dengan mahram 18 • Nikah dengan ibu susu atau saudara sepersusuan • Nikah dengan istri bapak atau istri anak atau mertua atau dengan anak tiri • Nikah mu’tah • Nikah lebih dari empat orang istri • Nikah dengan istri orang lain • Nikah dengan perempuan yang sedang ‘iddah • Nikah seorang muslim dengan wanita selain dari wanita ahlul kitab (Yahudi dan Nashara) • Nikah tanpa wali • Nikah sir (rahasia) tanpa saksi • Mengumpulkan dua orang bersaudara dalam satu perkawinan Harta fa-i harta yang didapat oleh kaum muslimin dari orang-orang kafir tanpa peperangan. maka tidak syak lagi tentang dosanya dan wajib bagi mereka dikenakan hukuman kemudian anak tidak dinasabkan kepada bapaknya. Fatawa Al-Islamiyyah Juz 2 halaman 353-354 dan 374-375 oleh Syaikh bin Baaz dan Syaikh Utsaimin dan lain-lain. Al-Ankihatul Faasidah (hal. Dan disamakan dengan orang yang tidak mengetahui yaitu orang yang mendapat fatwa tentang sahnya nikah yang fasid dan batil tersebut sebagaimana banyak terjadi pada zaman kita sekarang ini khususnya mengenai nikah mut’ahnya kaum Syi’ah rafidhah [Bacalah risalah kami tentang masalah ini dengan judul Nikah Mut’ah = Zina]. Al-Majmu Syarah Muhadzdzab Juz 15 hal. Al-Mughni Ibnu Qudamah Juz 9 hal. maka keduanya tidak berdosa dan tidak dikenakan hukuman dan anak dinasabkan kepada bapaknya seperti pernikahan yang sah meskipun keduanya langsung dipisahkan karena fasidnya akad keduanya. Adapun apabila mereka telah mengetahui tentang fasid dan batilnya akad nikah tersebut. Atau dengan kata lain dan tegasnya anak yang lahir itu adalah anak zina! Bacalah dua masalah di kejadian yang ke lima ini di kitab-kitab. Adapun masalah nasab anak dia dinasabkan kepada ibunya tidak kepada lakilaki yang menzinai dan menghamili ibunya dan tidak juga kepada laki-laki yang menikahi ibunya setelah ibunya melahirkannya . Madzhab yang kedua ini lebih kuat dari madzhab yang pertama dan lebih mendekati kebenaran. saudara. [1]. anak. Akan tetapi imam kaum kuffar menyerah sebelum berperang atau mereka melarikan diri meninggalkan hartaharta mereka 18 Mahram ialah setiap perempuan yang haram dinikahi seperti ibu. dan lain-lain 17 Mengumpulkan seorang perempuan dengan bibinya dalam satu perkawinan Dan lain. [2]. Wallahu a’lam.Ankihatul Faasidah] • Maka apabila keduanya tidak mengetahui fasid dan batilnya akad keduanya. Masalah : Bagaimana hukumnya apabila yang mengetahui tentang haramnya . 6.lain dari perkawinan yang rusak menurut agama. 255-256]) [4].

Penerbit Darul Qolam Jakarta. Jawabanya : Maka hukumnya terkena kepada yang mengetahui tidak kepada yang tidak mengetahui. Penulis Abdul Hakim bin Amir Abdat. maka dia yang berdosa dan dikenakan hukuman kepadanya dan anak tetap dinasabkan kepada bapaknya (pihak laki-laki).or. Kalau yang mengetahui hukumnya itu pihak perempuan. imam pihak laki-laki atau pihak perempuan? . Sumber : Buku Menanti Buah Hati Dan Hadiah Untuk Yang Dinanti. maka dia berdosa dan dikenakan hukuman dan anak tidak dinasabkan kepadanya.perkawinan tersebut hanya salah satu pihak.almanhaj.id . Kalau yang mengetahui hukumnya itu pihak laki-laki. Wallahu a’lam . www. Cetakan I – Th 1423H/2002M.

Bagaimana hukumnya pernikahan yang dilakukan saat. dia melakukannya dengan suaminya sendiri. Sebab kalimat ‘menikahi wanita hamil’ itu sesungguhnya masih mengandung banyak kekurangan informasi. Lagi pula. Suaminya meninggal atau menceraikannya. lalu berhubungan seksual dengan suaminya. . Misalnya. Kasus Kedua Seorang wanita sudah menikah dan sedang dalam keadaan hamil. Maka hukumnya halal. lalu siapa yang diharamkan untuk menikahinya? Laki-laki yang menzinainya kah? Atau laki-laki lain yang tidak berzina dengannya? Semua harus kita petakan terlebih dahulu. Sebelum sampai kepada jawaban. mempelai wanitanya sedang dalam keadaan hamil akibat hubungan pra nikah. Apakah pernikahan itu sah? Apakah setelah anak itu lahir pernikahan harus diulang. Makasih Wassalam Wr Wr Ny Mita Jawaban Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh. atau suami orang lain? Ataukah wanita itu belum punya suami lalu berzina dengan seseorang. Sebab hubungan suami isteri tidak terlarang. apakah suaminya. apalagi melakukan hubungan seksual dengan laki-laki lain. Dan jika tidak ada pernikahan ulang. 1.Pak Ustadz saya mau bertanya. Saat ini banyak kejadian anak SMA hamil diluar nikah kemudian langsung dinikahkan oleh keluarganya untuk menutupi aib. 2. Maka wanita ini diharamkan menikah. Kasus Pertama Seorang wanita sudah menikah dan sedang dalam keadaan hamil. Mohon penjelasannya Pak Ustadz. maka hukumnya halal. bagaimana status dan kedudukan wanita itu. karena tiap-tiap kasus akan berbeda-beda hukumnya. agar tidak terjadi salah paham. apakah selama pasangan suami isteri itu tinggal bersama itu termasuk dalam perbuatan zinah. bahkan pada saat hamil sekali pun. apakah sudah menikah atau belum? Lalu siapakah yang diharamkan untuk menikahinya. rasanya kita perlu membedakan terlebih dahulu kasusnya.

keluarganya menikahkannya dengan orang lain. 4. Dalam hal ini.” (HR Tirmizi dan beliau menghasankannya) Jumhur ulamayang mengharamkan pernikahan antara mereka mengatakan bahwa haramnya ‘menyirami air orang lain’ adalah haram melakukan akad nikah. ada pun melakukan akad nikah tanpa persetubuhan tidak dilarang. tanpa hubungan seksual. Asalkan selama anak itu belum lahir. Pendapat kedua. lalu untuk menutupi rasa malu. Karena memang tidak ada larangan atau pelanggaran yang dikhawatirkan. dia menikah dengan laki-laki yang menzinainya itu. maka pernikahan itu tidak sah alias batil. “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Di antara para ulama yang mengatakan hal ini adalah Al-Imam Malik. Setidaknya. Yaitu laki-laki lain yang tidak menzinainya. suami itu tetap tidak melakukan hubungan seksual dengannnya. ‫رويفع بن ثابت أن النبى صلى ال عليه وسلم قال “ من كان يؤمن بال واليوم الخر فل يسقى ماءه ولد غيره وروى‬ ‫، الترمذى ، وحسنه ، وغيره من حديث‬ Dari Rufai’ bin Tsabit bahwa Nabi SAW bersabda. lalu berzina hingga hamil. yaitu masa di mana dia harus berada dalam posisi tidak boleh menikah. bahkan termasuk ke luar rumah dan sebagainya. asalkan sudah terjadi pernikahan yang syar’i antara mereka. Dalam hal ini para ulama sepakat membolehkannya. Adapun apakah boleh terjadi pernikahan saja. Dalil itu adalah dalil tentang haramnya seorang laki-laki menyirami ladang laki-laki lain.Pendapat ini dikemukakan oleh Al-Imam Asy-Syafi’i dan Imam Abu Hanifah. hukumnya halal dan pernikahan itu sah. Al-Imam Asy-syafi’i dan Abu Hanifah rahimahumallah membolehkannya. ada dua pendapat yang berkembang.Sebab wanita itu masih harus menjalankan masa iddah. Dan masa iddah wanita yang hamil adalah hingga dia melahirkan anaknya. Kasus Keempat Seorang wanita belum menikah. para ulama mengharamkan terjadinya hubungan seksual antara mereka. maka janganlah menyiramkan airnya pada tempat yang sudah disirami orang lain. hukumnya haram. 3. Dan kalau dinikahkan juga. Kemudian untuk menutupi rasa malunya. Pendapat pertama. Karena yang namanya suami isteri tidak mungkin diharamkan dalam melakukan hubungan seksual. karena tidak ada nash yang melarang. Jadi menikah saja pun diharamkan. . Baik dalam keadaan hidup atau mati. Imam Ahmad bin Hanbal dan jumhur ulama. Suami harus menunggu hingga lahirnya bayi dalam perut. Kasus Ketiga Seorang wanita hamil di luar nikah yang syar’i (berzina). Bahkan mereka dibolehkan melakukan hubungan seksual selama masa kehamilan. kecuali setelah anak dalam kandungan itu lahir. Sedangkan As-Syafi’i dan Abu Hanifah mengatakan bahwa yang haram adalah melakukan persetubuhannya saja. Perbedaan pendapat para ulama ini berangkat dari satu dalil yang dipahami berbeda.

karena yang menikahi adalah laki-laki yang sama. Lc . Allah SWT telah mengahramkan laki-laki muslim untuk menikahi wanita pezina. dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mu’min. Sehingga hukumnya boleh dan sesungguhnya tidak perlu lagi untuk menikah ulang setelah melahirkan. bahkan masih suka melakukannya.Karena illat (titik point) larangan hal itu adalah tercampurnya mani atau janin dari seseorang dengan mani orang lain dalam satu rahim yang sama. Karena pernikahan antara mereka sudah sah di sisi Allah SWT. belum bertaubat. (QS. Ayat di atas tidak bisa dijadikan dalil untuk mengharamkan pernikahan bagi dirinya. kalau wanita hamil menikah dengan laki-laki yang menzinainya. maka wanita seperti ini tidak bisa disamakan dengan wanita pezina. mereka tetap diperbolehkan untuk melakukan hubungan suami isteri. kemudian bertaubat dengan taubat nashuha. serta bersumpah untuk tidak akan pernah terjatuh di lubang yang sama untuk kedua kalinya. Antara keduanya sangat besar bedanya. maka tidak ada dalil atau illat yang melarangnya. Ahmad Sarwat. Jadi mengapa harus diulang? Perbedaan Antara Wanita Pezina dengan Wanita Yang Pernah Berzina Satu hal lagi yang perlu dijelaskan duduk perkaranya adalah perbedaan hukum antara dua istilah. lalu dia menyesali dosa-dosanya. atau perempuan yang musyrik. Seringkali ada orang yang tetap mengharamkan bentuk keempat ini. Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina. sampai dia bertaubat dan menghentikan perbuatannya secara total. sedangkan yang kedua adalah ‘wanita yang pernah berzina’. wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh. baik sesekali atau seringkali. Wanita pezina itu adalah wanita yang pernah melakukan zina. mungkin karena agak rancu dalam memahami keadaan serta titik pangkal keharamannya. Dan secara tegas. Ketika kemungkinan itu tidak ada. dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik. meski dalam bentuk zina. Bahkan selama masa kehamilan itu. Istilah yang pertama adalah ‘wanita pezina’. Wallahu a’lam bishshawab. maka larangan itu pun menjadi tidak berlaku. Bahkan mungkin punya pandangan bahwa zina itu halal. Dan wanita seperti inilah yang dimaksud di dalam surat An-Nur berikut ini. Wanita yang bertipologi seperti ini memang haram dinikahi. hanya lantaran dia pernah jatuh kepada dosa zina. Pendeknya. An-Nur: 3) Adapun wanita yang pernah berzina.

Bagaimanakah hukumnya pernikahan yang dilaksanakan ketika wanita yang dinikahi dalam keadaan hamil?. Takmilah Al-Majmu' 17/347-348. Dan hukum menikah dengan perempuan hamil seperti ini adalah haram dan nikahnya batil tidak sah sebagaimana dalam firman Allah Ta'ala : Dan janganlah kalian ber'azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah sebelum habis 'iddahnya. Dua : Perempuan yang hamil karena melakukan zina sebagaimana yang banyak terjadi di zaman ini –Wal 'iyadzu billah. kami melihat perlu dirinci lebih meluas karena pentingnya perkara ini dan banyaknya kasus yang terjadi diseputarnya. Kemudian beliau berkata : Dan para 'ulama telah sepakat bahwa akad tidaklah sah pada masa 'iddah. (QS. (QS. Syarat yang pertama : Bertaubat dari perbuatan zinanya yang nista. Adapun perempuan hamil yang diceraikan oleh suaminya. apakah yang harus dilakukan? Apakah harus cerai dulu. Dan 'iddah-nya ialah sampai ia melahirkan sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala : Dan perempuan-perempuan yang hamil waktu 'iddah mereka sampai mereka melahirkan kandungannya. Secara global para 'ulama berbeda pendapat dalam pensyaratan dua perkara untuk sahnya nikah dengan perempuan yang berzina. Dalam pensyaratan taubat ada dua pendapat dikalangan para 'ulama : . Bila sudah terlanjur menikah. apakah yang harus dilakukan? Apakah harus cerai dulu. Al-Baqarah : 235).mudah-mudahan Allah menjaga kita dan seluruh kaum muslimin dari dosa terkutuk ini. Dalam hal ini apakah masih diperlukan mas kawin (mahar)? Kami jawab dengan meminta pertolongan dari Allah Al-'Alim Al-Hakim sebagai berikut : 1. kemudian menikah lagi atau langsung menikah lagi tanpa harus bercerai terlebih dahulu? 3. Maka dengan mengharap curahan taufiq dan hidayah dari Allah Al-'Alim Al-Khabir. Berkata Ibnu Katsir dalam tafsir-nya tentang makna ayat ini : Yaitu jangan kalian melakukan akad nikah sampai lepas 'iddah-nya. dalam hal bolehnya melakukan pernikahan dengannya terdapat persilangan pendapat dikalangan para 'ulama. kemudian menikah lagi atau langsung menikah lagi tanpa harus bercerai terlebih dahulu? Dalam hal ini apakah masih diperlukan mas kawin (mahar)? Oleh: Ust. tidak boleh dinikahi sampai lepas 'iddah nya. masalah ini kami uraikan sebagai berikut : Perempuan yang telah melakukan zina menyebabkan dia hamil atau tidak. Perempuan yang dinikahi dalam keadaan hamil ada dua macam : Satu : Perempuan yang diceraikan oleh suaminya dalam keadaan hamil. Ath-Tholaq : 4). Dzulqarnain bin Muhammad Sanusi Pertanyaan 1. Bagaimanakah hukumnya pernikahan yang dilaksanakan ketika wanita yang dinikahi dalam keadaan hamil? 2. Lihat : Al-Mughny 11/227. Adapun perempuan hamil karena zina. Bila sudah terlanjur menikah. Al-Muhalla 10/263 dan Zadul Ma'ad 5/156.

At-Tirmidzy no. (Hadits hasan. 1745 dan disebutkan oleh Syeikh Muqbil rahimahullahu dalam Ash-Shohih Al-Musnad Min Asbabin Nuzul). riwayat Abu Daud no. Dan perempuan yang berzina tidak dinikahi melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik. (QS. Kemudian beliau memanggilku lalu membacakannya padaku dan beliau berkata : Jangan kamu nikahi dia. Tarjih diatas berdasarkan firman Allah 'Azza Wa Jalla : Laki-laki yang berzina tidak menikahi melainkan perempuan yang berzina atau perempuan yang musyrik. Tarjih Yang benar dalam masalah ini adalah pendapat pertama yang mengatakan disyaratkan untuk bertaubat. Karena permintaannya ini . Martsad berkata : Maka beliau diam. Dan ini merupakan pendapat Imam Malik.Satu : Disyaratkan bertaubat. Saya nikahi 'Anaq ?. beliau berkata : Sesungguhnya Martsad bin Abi Martsad Al-Ghonawy membawa tawanan perang dari Makkah dan di Makkah ada seorang perempuan pelacur disebut dengan (nama) 'Anaq dan ia adalah teman (Martsad). An-Nur : 3). Al-Baihaqy 7/153. Al-Hakim 2/180. Catatan : Sebagian 'ulama berpendapat bahwa perlu diketahui kesungguhan taubat perempuan yang berzina ini dengan cara dirayu untuk berzina kalau ia menolak berarti taubatnya telah baik. Dan telah diharamkan hal tersebut atas kaum mu`minin. Adapun kalau ia telah bertaubat maka terhapuslah hukum haram nikah dengan perempuan pezina tersebut berdasarkan sabda Rasulullah shollallahu 'alaihi wa 'ala alihi wa sallam : Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak ada dosa baginya. Dan lihat permasalahan di atas dalam : Al-Ifshoh 8/81-84. Inilah yang benar tanpa keraguan. Tapi Ibnu Qudamah dalam Al-Mughny 9/564 berpendapat lain. beliau berkata : Tidak pantas bagi seorang muslim mengajak perempuan untuk berzina dan memintanya. Syafi'iy dan Abu Hanifah. dan Al-Jami' Lil Ikhtiyarat Al-Fiqhiyah 2/582-585. Pendapat ini disebutkan oleh Al-Mardawy dalam Al-Inshof 8/133 diriwayatkan dari 'Umar dan Ibnu 'Abbas dan pendapat Imam Ahmad. ini pula yang dikuatkan Asy-Syinqithy dalam Adwa Al-Bayan 6/71-84 dan lihat Zadul Ma'ad 5/114-115. (Dihasankan oleh Syeikh Al-Albany dalam Adh-Dho'ifah 2/83 dari seluruh jalan-jalannya) Adapun para 'ulama yang mengatakan bahwa kalimat 'nikah' dalam ayat An-Nur ini bermakna jima' atau yang mengatakan ayat ini mansukh (terhapus hukumnya) ini adalah pendapat yang jauh dan pendapat ini (yaitu yang mengatakan bermakna jima' atau mansukh) telah dibantah secara tuntas oleh Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa 32/112-116. Ishaq dan Abu 'Ubaid. An-Nasa`i 6/66 dan dalam AlKubra 3/269. maka turunlah (ayat) : Dan perempuan yang berzina tidak dinikahi melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik. Dan Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa 32/125 kelihatan condong ke pendapat ini. Dan ini merupakan madzhab Imam Ahmad dan pendapat Qatadah. Dan dalam hadits 'Amr bin Syu'aib dari ayahnya dari kakeknya 'Abdullah bin 'Amr bin 'Ash. Ayat dan hadits ini tegas menunjukkan haram nikah dengan perempuan pezina. Al-Mughny 9/562-563 (cet. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa 32/109 : Menikahi perempuan pezina adalah haram sampai ia bertaubat. Dan pendapat yang mengatakan haram nikah dengan perempuan pezina sebelum bertaubat. 2051. apakah yang menikahinya itu adalah yang menzinahinya atau selainnya. 3177. (Martsad) berkata : Maka saya datang kepada Nabi shollallahu 'alaihi wa 'ala alihi wa sallam lalu saya berkata : Ya Rasulullah. Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no. Namun hukum haram tersebut bila ia belum bertaubat. Dua : Tidak disyaratkan taubat. Dar 'Alamil Kutub).

Meninggalkan dosa tersebut. (HR. 2157. Ini adalah pendapat Imam Syafi'iy dan Abu Hanifah. Dan bukan disini tempat menguraikan dalil-dalil lima syarat ini. Maka yang benar adalah ia bertaubat atas perbuatan zinanya sebagaimana ia bertaubat kalau melakukan dosa besar yang lainnya. 7/449. ada dua pendapat : Pertama : Wajib 'iddah. Ibnu Sa'ad dalam Ath-Thobaqot 2/114-115.4482 dihasankan oleh Syeikh Al-Albany dalam Al-Irwa` no. apakah orang yang menikahinya itu adalah orang yang menzinahinya itu sendiri atau selainnya. 1131. An-Nakha'iy. Hadits Ruwaifi' bin Tsabit radhiyallahu 'anhu dari Nabi shollallahu 'alaihi wa 'ala alihi wa sallam. Ath-Thobarany dalam Al-Ausath no. Hadits Abu Ad-Darda` riwayat Muslim dari Nabi shollallahu 'alaihi wa 'ala alihi wa sallam : . 2158. Para 'ulama berbeda pendapat apakah lepas 'iddah. AtsTsaury. Abu Daud no. Ahmad 4/108. Yaitu dengan lima syarat : 1.pada saat berkhalwat (berduaan) dan tidak halal berkhalwat dengan Ajnabiyah (perempuan bukan mahram) walaupun untuk mengajarinya Al-Qur'an maka bagaimana (bisa) hal tersebut dihalalkan dalam merayunya untuk berzina ?. apakah merupakan syarat bolehnya menikahi perempuan yang berzina atau tidak. 5. Ad-Darimy 2/224 Al-Hakim 2/212. beliau bersabda : Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Ini adalah pendapat Hasan Al-Bashry. 307 dan di dalam sanadnya ada rowi yang bernama Syarik bin 'Abdullah An-Nakha'iy dan ia lemah karena hafalannya yang jelek tapi hadits ini mempunyai dukungan dari jalan yang lain dari beberapa orang shohabat sehingga dishohihkan dari seluruh jalan-jalannya oleh Syeikh Al-Albany dalam AlIrwa` no. Imam Ahmad dan Ishaq bin Rahawaih. maka jangan ia menyiramkan airnya ke tanaman orang lain. Pada waktu yang masih bisa bertaubat seperti sebelum matahari terbit dari Barat dan sebelum ruh sampai ke tenggorokan. Tarjih Dan yang benar dalam masalah ini adalah pendapat pertama yang wajib 'iddah berdasarkan dalildalil berikut ini : 1. Sedangkan Abu Hanifah berpendapat boleh melakukan akad nikah dengannya dan boleh ber-jima' dengannya. sesungguhnya Nabi shollallahu 'alaihi wa 'ala alihi wa sallam bersabda tentang tawanan perang Authos : Jangan dipergauli perempuan hamil sampai ia melahirkan dan jangan (pula) yang tidak hamil sampai ia telah haid satu kali. 2. 187). Syarat Kedua : Telah lepas 'iddah. Abu Daud no. yaitu menurut Imam Syafi'iy boleh untuk melakukan akad nikah dengan perempuan yang berzina dan boleh ber-jima' dengannya setelah akad. tapi ada perbedaan antara mereka berdua pada satu hal. 2137). Ahmad 3/62. Imam Malik. apabila yang menikahinya adalah orang yang menzinahinya itu sendiri.87. Rabi'ah bin 'Abdurrahman. Ath-Thobarany 5/no. 4. 3. 2. Kedua : Tidak wajib 'iddah. Ikhlash karena Allah. 1973 dan Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no. Hadits Abu Sa'id Al-Khudry radhiyallahu 'anhu. Wallahu A'lam. 3. Al-Baihaqy 7/449. Tapi kalau yang menikahinya selain orang yang menzinahinya maka boleh melakukan akad nikah tapi tidak boleh ber-jima' sampai istibro` (telah nampak kosongnya rahim dari janin) dengan satu kali haid atau sampai melahirkan kalau perempuan tersebut dalam keadaan hamil. Menyesali perbuatannya. Ibnu Qoni' dalam Mu'jam Ash-Shohabah 1/217. At-Tirmidzi no. Ber'azam dengan sungguh-sungguh tidak akan mengulanginya. Al-Baihaqy 5/329. (HR.

Dan 'iddah dengan tiga kali haid hanya disebutkan dalam Al-Qur'an bagi perempuan yang ditalak (diceraikan) oleh suaminya sebagaimana dalam firman Allah Jalla Sya`nuhu : Dan wanita-wanita yang dithalaq (hendaknya) mereka menahan diri (menunggu) selama tiga kali quru`(haid). Al-Ifshoh 8/81-84. apakah hamilnya itu karena suaminya. (Para sahabat) menjawab : Benar. (QS. Nampaklah dari sini kuatnya pendapat yang mengatakan wajib 'iddah dan pendapat ini yang dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah. Bagaimana ia mewarisinya sedangkan itu tidak halal baginya dan bagaimana ia memperbudakkannya sedang ia tidak halal baginya. Syaikh Ibnu Baz dan Al-Lajnah AdDaimah (Lembaga Fatwa Saudi Arabia). 'iddahnya adalah sampai melahirkan. demikian keterangan Imam Ibnu Qudamah dalam Al-Mughny 11/242. Catatan : Nampak dari dalil-dalil yang disebutkan di atas bahwa perempuan hamil karena zina tidak boleh dinikahi sampai melahirkan. syubhat atau karena zina. Raudhah Ath-Tholibin 8/375. 154-155. kalau ia belum hamil. maka ini 'iddah bagi perempuan yang hamil karena zina dan ini juga ditunjukkan oleh keumuman firman Allah 'Azza Wa Jalla : Dan perempuan-perempuan yang hamil waktu 'iddah mereka sampai mereka melahirkan kandungannya. Adapun perempuan yang berzina dan belum nampak hamilnya. 847-850. Asy-Syinqithy. Tidak boleh nikah dengan perempuan yang berzina kecuali dengan dua syarat yaitu. tuannya (kalau ia seorang budak-pent. Zadul Ma'ad 5/104-105. baik hamil karena pernikahan sah. maka 'iddahnya adalah sampai melahirkan. Wallahu Ta'ala A'lam. 'iddahnya diperselisihkan oleh para 'ulama yang mewajibkan 'iddah bagi perempuan yang berzina. Dan para 'ulama sepakat bahwa akad nikah pada masa 'iddah adalah akad yang batil lagi tidak sah.Beliau mendatangi seorang perempuan yang hampir melahirkan di pintu Pusthath.) atau karena zina. syubhat (yaitu nikah dengan orang yang haram ia nikahi karena tidak tahu atau karena ada kesamar-samaran-pent. Al-Inshof 8/132-133. apakah boleh keduanya kembali setelah . Kalau ada yang bertanya : Setelah keduanya berpisah. etentuan perempuan yang berzina dianggap lepas 'iddah adalah sebagai berikut : kalau ia hamil. Dan yang dikuatkan oleh Imam Malik dan Ahmad dalam satu riwayat adalah cukup dengan istibro` dengan satu kali haid. bila perempuan tersebut telah bertaubat dari perbuatan nistanya dan telah lepas 'iddah-nya. maka 'iddahnya adalah sampai ia telah haid satu kali semenjak melakukan perzinahan tersebut. Al-Fatawa 32/109-134. Telah jelas dari jawaban di atas bahwa perempuan yang hamil. Beliau bersabda : Barangkali orang itu ingin menggaulinya ?. Kesimpulan Pembahasan : 1. Ath-Tholaq : 4). (QS. Ibnul Qayyim. Adwa` Al-Bayan 6/71-84 dan Jami' Lil Ikhtiyarat Al-Fiqhiyah Lisyaikhil Islam Ibnu Taimiyah 2/582-585. Bidayatul Mujtahid 2/40. Dan pendapat ini yang dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah berdasarkan hadits Abu Sa'id Al-Khudry di atas. 11/196-197.). Maka Rasulullah shollallahu 'alaihi wa 'ala alihi wa sallam bersabda : Sungguh saya telah berkehendak untuk melaknatnya dengan laknat yang dibawa ke kuburnya. Al-Baqarah : 228). Sebagian para 'ulama mengatakan bahwa 'iddahnya adalah istibro` dengan satu kali haid. Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah : Dalam (hadits) ini ada dalil yang sangat jelas akan haramnya menikahi perempuan hamil. 2. 3. Wallahu A'lam. Lihat pembahasan di atas dalam : Al-Mughny 9/561-565. Dan 'ulama yang lainnya berpendapat : tiga kali haid yaitu sama dengan 'iddah perempuan yang ditalak. Dan kalau keduanya tetap melakukan akad nikah dan melakukan hubungan suami-istri setelah keduanya tahu haramnya melakukan akad pada masa 'iddah maka keduanya dianggap pezina dan keduanya harus diberi hadd (hukuman) sebagai pezina kalau negara mereka menerapkan hukum Islam. Takmilah Al-Majmu' 17/348-349.

Abu Nu'aim dalam Al-Hilyah 6/88. 7/171. Ad-Darimy 2/185. Dan mereka diselisihi oleh Imam Malik.lepas masa 'iddah?. Ath-Thohawy dalam Syarah Ma'any AlAtsar 3/7. nikahnya batil. 4. 4682. Dan beliau berdalilkan dengan atsar 'Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu yang menunjukkan hal tersebut. Adapun orang yang ingin meminang kembali perempuan hamil ini setelah ia melahirkan. maka nikahnya batil. Nikah tanpa wali hukumnya adalah batil tidak sah sebagaimana nikah di masa 'iddah hukumnya batil tidak sah. Ad-Daruquthny 3/221. nikahnya batil. 698.4750. 315. si perempuan hamil ini berhak mendapatkan maharnya kalau memang belum ia ambil atau belum dilunasi. Dan firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala : Berikanlah kepada mereka mahar mereka sebagai suatu kewajiban. maka kembali diwajibkan mahar atasnya berdasarkan keumuman firman Allah Ta'ala : Berikanlah kepada para perempuan (yang kalian nikahi) mahar mereka dengan penuh kerelaan (QS. Laki-laki dan perempuan hamil yang melakukan pernikahan dalam keadaan keduanya tahu tentang haramnya menikahi perempuan hamil kemudian mereka berdua tetap melakukan jima' maka keduanya dianggap berzina dan wajib atas hukum hadd kalau mereka berdua berada di negara yang diterapkan di dalamnya hukum Islam dan juga tidak ada mahar bagi perempuan tersebut.An-Nisa` : 24) Dan banyak lagi dalil yang semakna dengannya.222. Jawabannya adalah Ada perbedaan pendapat dikalangan para 'ulama. 'Abdurrazzaq dalam Mushonnafnya 6/195. .4837.138. Rasulullah shollallahu 'alaihi wa 'ala alihi wa sallam bersabda : Perempuan mana saja yang nikah tanpa izin walinya. Hal ini berdasarkan hadits 'Aisyah radhiyallahu 'anha. Abu Ya'la dalam Musnadnya no. Ibnu Jarud dalam Al-Muntaqo no. dan dalam Al-Umm 5/13. 1102. Al-Humaidy dalam Musnadnya 1/112. Wal 'Ilmu 'Indallah. Lihat : Tafsir Ibnu Katsir 1/355 (Darul Fikr). Adapun mahar. Adapun kalau keduanya tidak tahu tantang haramnya menikahi perempuan hamil maka ini dianggap nikah syubhat dan harus dipisahkan antara keduanya karena tidak sahnya nikah yang seperti ini sebagaimana yang telah diterangkan. Ibnu Abi Syaibah 3/454. 7/284. Sa'id bin Manshur dalam sunannya 1/175. At-Tirmidzi no. 1654 dan Ibnu 'Abbil Barr dalam At-Tamhid 19/85-87 dan dishohihkan oleh Al-Albany dalam Al-Irwa` no.(QS. Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim. 2083. 700. (HR. An-Nisa` : 4).1840). Wallahu A'lam. dan apabila ia telah masuk padanya (perempuan) maka baginya mahar dari dihalalkannya kemaluannya. Al-Hakim 2/182-183. Jumhur (kebanyakan) 'ulama berpendapat : Perempuan tersebut tidak diharamkan baginya bahkan boleh ia meminangnya setelah lepas 'iddah-nya. Karena itu kandungan hukum dalam hadits mencakup semuanya. As-Sahmy dalam Tarikh Al-Jurjan hal. 1879. Demikian rincian Ibnu Qudamah.124. Al-Baihaqy 7/105. 10/148. 1463. 4074. Dan pendapat yang terakhir ini zhohir yang dikuatkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsir-nya dan beliau melemahkan atsar 'Umar yang menjadi dalil bagi Imam Malik bahkan Ibnu Katsir juga membawakan atsar yang serupa dari 'Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu yang menunjukkan bolehnya. beliau berpendapat bahwa perempuan telah menjadi haram baginya untuk selama-lamanya. Syafi'iy sebagaimana dalam Munadnya 1/220. dan apabila mereka berselisih maka penguasa adalah wali bagi yang tidak mempunyai wali. pendapat Imam Malik ini juga merupakan pendapat dulu dari Imam Syafi'iy tapi belakangan beliau berpendapat bolehnya menikah kembali setelah dipisahkan. Ibnul Jauzy dalam AtTahqiq no. Abu Daud no.275. Ibnu Hibban sebagaimana dalam AlIhsan no. Ibnu Majah no. Ibnu Wahb sebagaimana dalam Al-Mudawwah Al-Kubra 4/166.165. Ahmad 6/47. Ath-Thoyalisy dalam Musnadnya no. Ishaq bin Rahawaih dalam Musnadnya 2/no.66. Maka sebagai kesimpulan pendapat yang kuat dalam masalah ini adalah boleh keduanya menikah kembali setelah lepas 'iddah.166.

Dzulqarnain bin Muhammad Sanusi. Referensi: Dari: Majalah An-Nashihah Volume 05 Th. Shohih Al-Bukhary (Fathul Bary) 9/494. hal.200 dan Zadul Ma'ad 5/104-105.Lihat : Al-Mughny 10/186-188.2-6 Catatan: Jika memperbanyak artikel ini mohon mencantumkan sumbernya.1/1424 H/2004 M Rubrik: Masalah Anda. Terima kasih [Kontributor : Abah Utik. Diasuh oleh Ust. 18 Agustus 2004 ] . Al-Fatawa 32/198.

Dengan putusnya garis nasab. 6. maka didera sebanyak 100 deraan dan diasingkan dari negerinya selama satu tahun. karena si anak lahir dari benih bapaknya. untuk anak yang lahir karena hubungan diluar nikah. Nasab atau garis keturunannya adalah dari ibunya.Pertama. jika ia belum menikah. Pelakunya. Selanjutnya. dikenai hukuman. ada beberapa catatan yang harus diketahui oleh kaum muslimin: 1. . dan bukan fulan/fulanah bin/binti A. Jika anak zina ini lahir dari hasil selingkuhan. Demikian hukum-hukum yang ada kaitannya dengan anak hasil perzinahan. maka status keduanya adalah MAHRAM (haram untuk dinikahi). 3. Tidak wajib (yakni tidak berdosa) jika si bapak (zina) tidak menafkahi anak hasil zinanya ini. tetap saja. Wallahu a'lam. yang menjadi wali adalah BUKAN bapak (zina)nya. jika ia sudah menikah. maka ia tidak punya nasab kepada bapak (zina)nya. Namun. bagaimana dengan status anak yang lahir dari hubungan di luar pernikahan ini? Maka. Begitu pula sebaliknya. yakni dosa besar. 4. Hal ini didasarkan atas hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori: Artinya: Anak itu haknya (laki-laki) yang memiliki tempat tidur dan bagi yang berzina tidak mempunyai hak apapun (atas anak tersebut). perbuatan zina adalah perbuatan yang termasuk dalam al Kabaair. maka anak zina. maka jika si anak (zina) menikah. 2. Maka nasab anak tersebut adalah fulan/fulanah bin/binti B. maka bapak (zina) tidak memperoleh bagian warisnya. tidak berhak memperoleh waris dari bapak (zina)nya. melainkan sulthon/penguasa/KUA/penghulu. Jika bapak (zina)nya adalah A dan ibunya adalah B. maka nasabnya tetap mengikuti bapak yang ada hubungan pernikahan dengan ibunya. Dengan putusnya nasab. BUKAN nasab bapak yang berselingkuh. maka hukumannya dirajam sampai mati. Namun. Sebagai anak zina. yakni jika anak (zina) meninggal duluan. 5.

Didalam fiqhus sunnah didapat keterangan bahwa bila akad nikah . kecuali wanita tersebut telah memenuhi dua syarat berikut. Dengan demikian. bersabda tentang tawanan wanita Authos. 2. "(HR Abu Dawud) Kedua. akad nikah tersebut hukumnya tidak sah. bahwa Nabi saw. a. Pendapat ulama Malikiyah ini didasarkan pada hadits Nabi saw.Kalau mas Arland. hamil atau tidak. telah bertobat dari perbuatan zina. Bagi wanita merdeka dan tidak hamil. " (HR Abu Daud). " (an-Nuur: 3) Ayat ini dipahami oleh ulama mazhab Hanabilah bahwa hukumnya haram menikahi laki-laki atau perempuan pezina kecuali jika mereka telah bertaubat. istibra'-nya sampai melahirkan kandungannya. sedangkan bagi amat (bukan wanita merdeka). baik merdeka maupun amat (budak). Jika ia hamil. disamping hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud diatas. .Dasar yang digunakan adalah ferman Allah. apalagi bila ia bukan yang menghamilinya. (Istibra' adalah masa menunggu untuk mengetahui bersihnya rahim ). Pertanyaannya : Darimana TIDAK SYAH -nya pernikahan itu Berdasarkan : 1. Ulama Hanabilah berpendapat bahwa hukumnya tidak sah menikahi wanita yang diketahui telah berbuat zina. Bila akad nikah dilangsungkan dalam keadaan hamil. baik dengan laki-laki bukan yang menzinainya terlebih lagi dengan laki-laki yang menzinainya (karena dia tahu pasti bahwa wanita itu telah berbuat zina dengan dirinya). Adapun dasar yang digunakan oleh para ulama Hanabilah. tapi bila ia hamil. ia wajib istibra'. "Tidak boleh bercampur dengan wanita yang hamil hingga ia melahirkan dan wanitaa yang tidak hamil hingga datang haidnya sekali. istibra'nya cukup satu kali haid. Ulama Malikiyah berpendapat bahwa wanita yang berzina."…dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin. "Tidak halal bagi seseorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir menyiramkan airnya pada tanaman orang lain. juga berdasarkan hadits berikut ini. meskipun yang menikahi itu laki-laki yang menghamilinya. Bila akad nikah tetap dilangsungkan dalam keadaan hamil (belum istibra'). Pertama. telah habis masa iddahnya. akad nikah itu fasid dan wajib difasakh. baik atas dasar suka sama suka maupun karena diperkosa. istibra'-nya tiga kali haid. Dari abu Sa'id r. tidak sependapat adalah : Kehamilan diluar nikah LALU DINIKAHKAN adalah TIDAK SYAH. iddahnya habis dengan melahirkan kandungannya. 3. ulama Malikiyah berpendapat bahwa hukumnya tidak sah menikahi wanita hamil akibat zina.

5. (Para sahabat) menjawab : Benar. pernikahannya fasid dan keduanya harus diceraikan. Banganut melihat proses hukum dari perzinahan sampai pernikahan. Telah jelas dari jawaban di atas bahwa perempuan yang hamil.). wb. apakah hamilnya itu karena suaminya. syubhat atau karena zina. syubhat (yaitu nikah dengan orang yang haram ia nikahi karena tidak tahu atau karena ada kesamar-samaran-pent. 4. 'iddahnya adalah sampai melahirkan. sedangkan saya melihat dari sisi "hukum pernikahan seorang wanita SETELAH terjadinya perzinahan". baik hamil karena pernikahan sah. Maka Rasulullah shollallahu 'alaihi wa 'ala alihi wa sallam bersabda : Sungguh saya telah berkehendak untuk melaknatnya dengan laknat yang dibawa ke kuburnya. wassalam anut Assalamu 'alaikum wr. Dan kalau keduanya tetap melakukan akad nikah dan melakukan hubungan suami-istri setelah keduanya tahu haramnya melakukan akad pada masa 'iddah maka keduanya dianggap pezina dan keduanya harus diberi hadd (hukuman) sebagai pezina kalau negara mereka menerapkan hukum Islam." Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah : Dalam (hadits) ini ada dalil yang sangat jelas akan haramnya menikahi perempuan hamil.) atau karena zina.dilangsungkan sebelum wanita itu bertaubat dan melahirkan kandungannya. Bagaimana ia mewarisinya sedangkan itu tidak halal baginya dan bagaimana ia memperbudakkannya sedang ia tidak halal baginya. . Hadits Abu Ad-Darda` riwayat Muslim dari Nabi shollallahu 'alaihi wa 'ala alihi wa sallam : "Beliau mendatangi seorang perempuan yang hampir melahirkan di pintu Pusthath. Dan para 'ulama sepakat bahwa akad nikah pada masa 'iddah adalah akad yang batil lagi tidak sah. demikian keterangan Imam Ibnu Qudamah dalam Al-Mughny 11/242. tuannya (kalau ia seorang budak-pent. Beliau bersabda : Barangkali orang itu ingin menggaulinya ?. Disinilah titik benang merahnya.

Tidak Syah nikahnya itu semata-mata karena wanita tersebut sedang menjalani MASA IDDAH. penerapan hukum berzina sampai hamil sebagaimana status seseorang. dan dengan jujur. kecuali sekedar menutup malu belaka. bahwa Kasus zina. maka berlakulah sebagaimana hukum zina (jika syariat tentang zina telah tegak). maka berlakulah sebagaimana hukum zina. Kehamilan diluar nikah lalu dinikahkah adalah tidak sah. Kalau mengenai hukum perzinahan. jika ia gadis maka di cambuk setelah selesai melahirkan. teman yang pertama lantas dinikahkan dalam keadaan hamil. Saya sependapat dengan banganut bahwa : Hubungan diluar nikah adalah Zina. saya tidak tahu harus menjawab apa. perempuan tentunya.. padahal mereka belum sah dimata syari'at. yang ditanya oleh penanya pada point 1 adalah : saya punya 2 teman. Pertanyaannya : Darimana TIDAK SYAH -nya pernikahan itu. yang saya tidak sependapat adalah : Kehamilan diluar nikah LALU DINIKAHKAN adalah TIDAK SYAH. teman yang kedua katanya akan menikah setelah bayinya lahir. inipun jika syariat tentang zina telah tegak.. dia hamil di luar nikah. ketika kedua teman saya bertanya bagaimana pertanggung jawaban terhadap apa yang sudah saya lakukan? Mohon dapat di jawab dengan sebenar-benarnya. Ketika menjawab pertanyaan point 1 menurut banganut adalah : 1. bukan karena hamilnya. Hubungan diluar pernikahan sah adalah zina. BUKAN kecelakaan/hamil di luar nikah.. saya sependapat dengan Banganut.. sedangkan fiqih syafi'iyyah dengan mengutip Al-Qur'an At-Thalaq 4 dan hadits dari Ubay bin Ka'ab mengatakan bahwa TIDAK SYAH Nikahnya WANITA HAMIL hanya berlaku bagi wanita yang di talak 3 atau ditinggal mati oleh suaminya. Sedangkan pernikahan setelah melahirkan bisa dilakukan dengan melakukan taubat terlebih dahulu. Pelaksanaan pernikahan ketika hamil tidak ada syar'inya... Dengan demikian maka HAMILnya wanita di luar nikah TIDAK ADA . Jika ia sudah menikah lalu berzina maka di rajam sampai mati setelah selesai penyusuan Nah.Sedangkan masalah budak yang dihamili oleh pemilik budak (majikan) sementara ini kita pending dulu. Namun kenyataan yang terjadi di masyarakat mereka yang telah menikah dalam keadaan hamil tingal serumah. jadi malah terjadi legalitas perzinaan. IDDAH bagi wanita yang hamil adalah sampai melahirkan. karena masalah ini fiqihnya berbeda lagi.. dan inipun berlaku HANYA pada pernikahan yang syah menurut syariat.

tapi semata-mata untuk MENYELESAIKAN masalah perzinahan yang SUDAH TERLANJUR TERJADI. atau tidak dihormati. penerapan hukum berzina sampai hamil sebagaimana status seseorang. Karena telah berubah status hukum dari zina ke pernikahan. Sekali lagi ini bukan berarti fiqih MELEGALKAN perzinahan.. jika ia gadis maka di cambuk setelah selesai melahirkan. oleh karena sperma yang masuk ke dalam rahimnya adalah Ghairu Muhtarom. karena itu tak ada larangan yang menghalangi bagi wanita itu menikah walaupun wanita tersebut dalam keadaan hamil. Saya hanya melihat proses hukum dari perzinahan sampai ke pernikahan Kasus zina. . Demikian. semoga dapat dilihat benang merahnya.IDDAH-nya. Karena wanita yang hamil di luar pernikahan dianggap sebagai suatu kehamilan yang TIDAK DIHORMATI SYARA'. Namanya juga berbeda pendapat . wassalam. Berarti terjadi pengguguran pelaksanaan hukum dera atau rajam.. Jika penerapan hukum seperti ini lalu terjadi pembenaran pernikahan ketika hamil diluar nikah oleh si laki yang melakukan zina dengan wanita tersebut. Jika ia sudah menikah lalu berzina maka di rajam sampai mati setelah selesai penyusuan.

apakah ada kasus seperti ini pada masa Rasul dan sahabat ? Sedangkan salah satu syarat wanita yang hendak dinikahi adalah gadis atau janda. "Ya". dari berdosa toh nanti diampuni juga. [3]. maka suatu kewajaran jika orang lebih memilih zina dulu. kalau hamil tinggal dinikahi. "Barangkali dia [2] (yakni laki-laki yang memiliki tawanan [3] tersebut) mau menyetubuhinya!?".34-36). tidak menutup kemungkinan oleh yang menghamilinya berlaku juga hal tersebut. Hadits yang mulia ini salah satu dalil dari sekian banyak dalil tentang halalnya menyetubuhi tawanan perang meskipun tidak dinikahi. Hadits yang mulia ini pun menjadi dalil tentang haramnya . boleh disetubuhi tanpa proses pernikahan. orang kafir). Maka dengan menjadi tawanan fasakhlah (putuslah) nikahnya dengan suaminya.Pertanyaannya. Maka bersabda Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam. [2]. Dalil : "Artinya : Dri Abu Darda dari Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam bahwasanya beliau pernah melewati seorang perempuan [1] yang sedang hamil tua sudah dekat waktu melahirkan di muka pintu sebuah kemah. kenyataannya Nabi melarang menyetubuhi wanita hamil tersebut sekalipun oleh orang lain hamilnya. Sebagaimana Mas Arland mengatakan "Shah dinikahkan oleh laki-laki yang menzinainya atau dengan laki-laki lain. Lalu beliau bersabda. Karena dengan menjadi tawanan dia menjadi milik orang yang menawannya atau milik orang yang diberi bagian dari hasil ghanimah (rampasan perang) meskipun dia masih menjadi istri orang (baca . hal. Disini ada lafadz yang hilang yang takdirnya beliau bertanya tentang perempuan tersebut dan dijawab bahwa perempuan tersebut adalah tawanan si Fulan. (Baca Syarah Muslim Juz 10. dan boleh disetubuhi sebelum melahirkan". Jawab mereka. Apakah ada keterangan salah satu syarat wanita dinikahai adalah hamil diluar nikah oleh laki-laki itu sendiri ? Jika wanita hamil diluar nikah dibenarkan keabsahannya untuk dinikahi. [4]. bagaimana dia menjadikannya sebagai budak padahal dia tidak halal baginya!?" [5] [Hadits Shahih riwayat Muslim 4/161] Keterangan: [1]. "Sesungguhnya aku berkeinginan untuk melaknatnya dengan satu laknat yang akan masuk bersamanya ke dalam kuburnya [4] bagaimana dia mewarisinya padahal dia tidak halal baginya.Perempuan ini adalah seorang tawanan perang yang tertawan dalam keadaan hamil tua. dari haram toh nanti jadi halal juga. Wanita tawanan.

"Bagaimana dia mewarisinya . beliau bersabda. 62. Wallahu a'lam.2157). "Artinya : Dari Abu Said Al-khudriy dan dia memarfu'kannya kepada Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam bahwa beliau Shallallahu `alaihi wa sallam bersabda tentang tawanan-tawanan perang Authaas [Authaas adalah satu tempat di Thaif]. dan seterusnya". "Tidak halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk menyiramkan air (mani)nya ke tanaman [7] orang lain -yakni menyetubuhi perempuan hamil. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah dia menaiki kendaraan dari harta fa'i [9] kaum muslimin sehingga apabila binatang tersebut telah lemah ia baru mengembalikannya. Sabda beliau Shallallahu `alaihi wa sallam. Dan tidak halal bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk mejual harta rampasan perang sampai dibagikan. Ke rahim orang lain yang telah membuahkan anak [8]. Dan bagaimana mungkin dia menjadikan anaknya itu sebagai budaknya padahal anak itu bukan anaknya. Penjelasan ini imma dari Ruwaifi atau dari yang selainnya [9]. ia berkata : Adapun sesungguhnya aku tidak mengatakan kepada kamu kecuali apa-apa yang aku dengan dari Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam berkata pada hari Hunain. yakni bagaimana mungkin laki-laki itu mewarisi anak yang dikandung oleh perempuan tersebut padahal anak itu bukan anaknya. [5]. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah ia memakai pakaian dari harta fa'i kaum muslimin sehingga apabila pakaian tersebut telah rusak ia baru megembalikannya" [Dikeluarkan oleh Abu Dawud (no.[8] Dan tidak halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk menyetubuhi perempuan dari tawanan perang sampai perempuan itu bersih. Ahmad (3/28. Berdasarkan hadits yang mulia ini madzhab yang kedua mengeluarkan hukum tentang haramnya menikahi dan menyetubuhi perempuan yang hamil oleh orang lain sampai ia melahirkan. 2158 dan 2150) dan Ahmad (4/108-109) dengan sanad Hasan] Keterangan [7]. 87) dan Ad-Darimi (2/171)] "Artinya : Dari Ruwaifi Al-Anshariy -ia berdiri di hadapan kita berkhotbah-.menyetubuhi tawanan perang yang hamil sampai selesai iddahnya yaitu sampai ia melahirkan dan yang tidak hamil ber'iddah satu kali haid sebagaimana ditunjuki oleh hadits yang kedua insya Allah. "Janganlah disetubuhi perempuan yang hamil sampai dia melahirkan dan yang tidak hamil sampai satu kali haid" [Hadits riwayat Abu Dawud (no. Harta fa-i harta yang didapat oleh kaum muslimin dari orang-orang .

atau dicerai oleh suaminya. Ya Rasulullah. Syaikhul Islam .. "Artinya : Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Ibnu Murduyah dan Ad-Darulqutni) Kemudian ulama-ulama syafi'iyyah antara lain Syeik Muhammad Assyarbini Al-Hathieb dalam kitab Mughnil Muhtaaj. Rasulullah SAW menjawab : Ya.kafir tanpa peperangan. sudah jelas bahwa yang dimaksud adalah mereka yang ditinggal mati oleh suaminya. Dalam satu riwayat hadits tentang asbabun-nuzul ayat ini turun. Akupun bertanya kepada Rasulullah SAW. Kata "ajalahunna" yang artinya iddah mereka. silahkan bagi yang ingin mengomentarinya juga. Mudah-mudahan dengan adanya komentar ini diskusi menjadi lebih terbuka. atau karena berzina. diriwayatkan dari Ubay bin Ka'ab berkata ia: Tatkala ayat ini turun. Ibnu Abi Haatim. untuk wanita yang ditalak tiga dan yang ditinggal mati oleh suami mereka. dan BUKAN atau tidak termasuk orang yang hamil tanpa suami. maka janganlah dia menyiramkan air (mani)nya ke anak orang lain (ke anak yang sedang dikandung oleh perempuan yang hamil oleh orang lain)". wassalam Saya hanya mau mengomentari point 1 yang disampaikan oleh banganut. :) Al-Qur'an surah At-Thalaq ayat 4 : " wa ulatul ahmali ajaluhunna ay-yadlo'na hamlahunna" artinya : Dan perempuan-perempuan yang hamil.. waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. 1131) meriwayatkan juga hadits ini dari jalan yang lain dengan ringkas hanya pada bagian pertama saja dengan lafadz.. Akan tetapi imam kaum kuffar menyerah sebelum berperang atau mereka melarikan diri meninggalkan harta-harta mereka. tidak dipungut bayaran . Ayat ini untuk yang ditalak tiga atau yang ditinggal mati ?. (Hadits Riwayat Ibnu Jarier. Dan Imam Tirmidzi (no..

Yang calon suaminya masih mahramnya (mis :kakak. Shah dinikahkan oleh laki-laki yang menzinainya atau dengan laki-laki lain.kemenakan. 6. tetapi semata-mata karena IDDAHnya. dan lain-lainnya pada umumnya secara jelas dan terang dapat disimpulkan perkataan mereka bahwa : wanita yang hamil karena kecelakaan itu Tidak ada Iddahnya. atau wanita yang diubah kelaminnya menjadi laki-laki. Yang calon suaminya itu banci muskil. sebab sperma yang masuk ke dalam rahimnya itu adalah ghoiru mahrom. Syekh Yusuf Al-Ardabily dalam kitab Kitaabul Anwar li a'maali Abror. Yang calon suaminya MASIH mempunyai istri 4 (empat) orang. karena kehamilan diluar nikah adalah suatu kehamilan yang tidak dihormati oleh Syara'.kakek dsb) 2. Wanita itu masih menjadi Istri orang lain. Sedangkan wanita yang bersuami yang ditalak oleh suaminya atau ditinggal mati oleh suaminya. yaitu sampai melahirkan.paman. Yang masih dalam iddah wafat atau cerai hidup oleh suaminya walaupun sudah talaq 3 5. atau tidak dihormati.bapak. yaitu : 1. Sepertimana kita ketahui bersama bahwa dalm Fiqih Pernikahan bahwa wanita yang tidak boleh dinikahkan ada 6. seperti Al-Qur'an surah At-Thalaq tersebut di atas. Yang calon suminya non-islam. wassalam. kecuali di islamkan lebih dulu. Jadi wanita yang hamil di luar nikah tidak termasuk katagori yang dilarang menikah. 4. . Jadi yang menghalangi perkawinan wanita itu BUKAN-lah semata-mata karena kehamilannya. boleh sependapat boleh juga tidak sependapat. oleh karenanya pada wanita tersebut TIDAK ada sesuatu yang menghalangi nikahnya.adik. Demikian sekedar mengomentari.Zakariya Al-Anshory dalam kitab Hasyiatul Jamal 'alal Manhaj. jika ia hamil. dan boleh disetubuhi sebelum melahirkan. Oleh karena itu adanya kehamilan tersebut sama halnya seperti tidak hamil. tidak boleh kawin sebelum selesai iddahnya. 3.

Namun saat ini jalankan mana syariat yang tidak bersinggungan dengan sistem yang ada. Kehamilan diluar nikah lalu dinikahkah adalah tidak sah.1. Syari'at yang membutuhkan orang banyak untuk melaksanakannya ini butuh proses yang panjang. Namun kenyataan yang terjadi di masyarakat mereka yang telah menikah dalam keadaan hamil tingal serumah. sudah cukup ada kebebasan untuk kita bisa laksanakan. Hubungan diluar pernikahan sah adalah zina. kecuali sekedar menutup malu belaka. 2. Setahu saya istilah bulan syuro itu muncul pada masa kerajaan Mataram di mana terjadi percampur adukan ajaran Islam dan nenek moyang. Syari'at yang bersifat pribadi. Saya tinggal di Palembang. masih sangat memungkinkan perjuangan Islam berjihad secara dakwah karena sistem yang ada di indonesia masih mendukung gerak dakwah seperti ini. pasca kerajaan demak dipindahkan ke Mataram. padahal mereka belum sah dimata syari'at. Jadi tidak banyak tahu secara persis kebiasaan tersebut. Sudah jelas ini bertentangan dengan Islam. maka berlakulah sebagaimana hukum zina (jika syariat tentang zina telah tegak). Tetapi karena pemerintah punya kepentingan menarik wisatawan asing dengan alasan membudayakan tradisi nenek moyang. sekalipun kita tidak bisa menghakimi orang yang melanggar syariat pribadi itu. Sedangkan pernikahan setelah melahirkan bisa dilakukan dengan melakukan taubat terlebih dahulu. Penerapan syariat Islam secara kaffah butuh proses. Justru itu malah kebablasan. indikator perjuangan ummat mengarah . 3. Mohon maaf pelaksanaan 1 syuro saya tidak tahu. Kondisi indonesia. jadi malah terjadi legalitas perzinaan. Pelaksanaan pernikahan ketika hamil tidak ada syar'inya. Kalau di bengkulu ada tradisi membuang kepala kerbau kelaut sebagai peringatan meninggalnya hasan dan husin cucung nabi.

kepada jihad secara qital. wassalam . sedangkan sikap Indonesia masih demokratis dan toleran tentu kita jangan egois kearah sana.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful