P. 1
ANALISIS BIAYA PENGOLAHAN CRUDE PALM OIL (CPO) DAN EVALUASI KINERJA KEMITRAAN PASCA KONVERSI (KASUS PT. PERKEBUNAN NUSANTARA V PABRIK KELAPA SAWIT SEI. PAGAR, KABUPATEN KAMPAR, RIAU)

ANALISIS BIAYA PENGOLAHAN CRUDE PALM OIL (CPO) DAN EVALUASI KINERJA KEMITRAAN PASCA KONVERSI (KASUS PT. PERKEBUNAN NUSANTARA V PABRIK KELAPA SAWIT SEI. PAGAR, KABUPATEN KAMPAR, RIAU)

|Views: 162|Likes:
Published by KARYAGATA MANDIRI

More info:

Published by: KARYAGATA MANDIRI on Jun 02, 2012
Copyright:Traditional Copyright: All rights reserved

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

01/13/2015

Sections

ANALISIS BIAYA PENGOLAHAN CRUDE PALM OIL (CPO) DAN EVALUASI KINERJA KEMITRAAN PASCA KONVERSI (Kasus PT.

Perkebunan Nusantara V Pabrik Kelapa Sawit Sei. Pagar, Kabupaten Kampar, Riau)

Oleh: MORINTARA PUTRI SURBAKTI A14304072

PROGRAM STUDI EKONOMI PERTANIAN DAN SUMBERDAYA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

109

RINGKASAN MORINTARA PUTRI SURBAKTI. Analisis Biaya Pengolahan Crude Palm Oil (CPO) dan Evaluasi Kinerja Kemitraan Pasca Konversi (Kasus PT. Perkebunan Nusantara V Pabrik Kelapa Sawit Sei. Pagar, Kabupaten Kampar, Riau). Di bawah Bimbingan EKA INTAN KUMALA PUTRI. Sektor pertanian memiliki beberapa subsektor, salah satunya adalah subsektor perkebunan yang memegang peranan strategis dalam perekonomian Indonesia. Kelapa sawit merupakan salah satu tanaman perkebunan yang memiliki arti penting bagi perkembangan pembangunan nasional. Areal kelapa sawit di Propinsi Riau sebagian besar adalah milik PT. Perkebunan Nusantara V (PTPN V) dibawah naungan BUMN, salah satunya yaitu Sei Pagar (SPA). PTPN V Pabrik Kelapa Sawit (PKS) SPA sebagai penanggung jawab terlaksananya pembangunan proyek perkebunan inti rakyat (PIR)-Trans. PTPN V PKS SPA mengembangkan kemitraan dengan petani plasma. Kemitraan PIR-Trans dilihat sebagai suatu sistem pengadaan bahan baku agroindustri, maka posisi petani plasma sebagai pemasok bahan baku tandan buah segar (TBS) ke perusahaan inti menjadi salah satu faktor yang menentukan keunggulan bersaing perusahaan dalam industri. Namun pada kenyataannya, kemitraan yang dilaksanakan tidak selalu berjalan sesuai harapan. Adanya penurunan volume pasokan bahan baku (TBS) dari petani plasma ke PKS SPA menunjukkan kemitraan pemasok sebagai sistem pengadaan bahan baku belum mencapai manfaat yang optimal. Tidak tercapainya jumlah pasokan TBS yang masuk ke PKS SPA juga berpengaruh kepada jumlah biaya pengolahan PKS SPA yang dikeluarkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) Mendeskripsikan perkembangan biaya pengolahan PKS SPA. (2) Menganalisis faktor–faktor yang mempengaruhi biaya pengolahan CPO PKS SPA. (3) Mengkaji kemitraan yang terjadi antara petani plasma dan PTPN V Sei. Pagar pada tahap pasca konversi. Penelitian dilaksanakan di PTPN V PKS SPA dan petani plasma di tingkat kebun. Perusahaan ini dipilih dengan sengaja (purposive) berdasarkan pertimbangan bahwa perusahaan ini merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dibidang perkebunan dan pengolahan kelapa sawit. Pengumpulan data dilaksanakan pada bulan Desember 2007 sampai dengan Februari 2008. Data penelitian yang dikumpulkan menggunakan data primer dan data sekunder. Pengambilan data untuk evaluasi kemitraan yang terjadi antara petani plasma dan PTPN V SPA dilakukan dengan wawancara kepada pihak karyawan inti sebanyak 10 orang dan kepada petani plasma sebanyak 30 orang. Pengambilan sampel dilakukan secara accidental sampling karena keterbatasan waktu dan kesulitan menyeleksi observasi. Analisis yang digunakan adalah analisis kuantitatif dan kualitatif. Analisis kuantitaf digunakan untuk mendeskripsikan perkembangan biaya pengolahan dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi biaya pengolahan CPO, sedangkan analisis kualitatif digunakan untuk mengkaji evaluasi kemitraan PTPN V SPA. Komponen biaya tetap yang terbesar adalah gaji karyawan pimpinan dan pelaksana sedangkan komponen biaya variabel terbesar adalah pembelian bahan baku (TBS), pada tahun 2007 terjadi peningkatan harga TBS sebesar 44,25 persen

110

dibanding tahun 2006. Secara ekonomis belum efisien, sedangkan dari segi efisiensi teknis PTPN V SPA dapat disimpulkan sudah cukup baik. Tapi perlu dilakukan peningkatan jumlah produksi TBS agar sesuai dengan kapasitas terpasang pabrik yaitu 30 ton TBS/jam. Dari hasil analisis regresi diperoleh faktor biaya yang mempengaruhi biaya pengolahan CPO secara nyata yaitu gaji karyawan, biaya pemeliharaan bangunan pabrik, biaya pemeliharan mesin dan instalasi pabrik, premi asuransi pabrik, pembelian TBS, biaya listrik, biaya air, dan biaya angkut. Nilai elastisitas sebagian besar masing-masing variabel independen adalah positif menunjukkan bahwa kenaikan penggunaan faktor biaya memberikan pengaruh positif terhadap kenaikan jumlah biaya pengolahan CPO PTPN V PKS SPA. Saat ini kemitraan PIR–Trans antara PTPN V SPA dan petani plasma telah memasuki tahap pasca konversi. Sepuluh indikator evaluasi kinerja kemitraan diperoleh kesimpulan bahwa kemitraan PTPN V SPA dan petani plasma masih dikategorikan pada tingkat sedang. Hal ini ditunjukkan oleh enam indikator dari sepuluh indikator menyatakan kinerja kemitraan PTPN V SPA tergolong sedang yaitu pengetahuan mengenai penyetoran TBS ke inti (80 persen), komunikasi yang dibangun pihak inti dan plasma (73,33 persen), harga beli TBS (70 persen), waktu pembayaran TBS (74,44 persen), ketanggapan inti dalam menyelesaikan keluhan petani (67,78 persen), dan sikap inti terhadap kesejahteraan petani (71,11). PT. Perkebunan Nusantara V SPA perlu mencari alternatif-alternatif untuk melakukan pendekatan kepada petani plasma misalkan melalui pengadaan pupuk dan pestisida kembali seperti pada tahap persiapan kemitraan yang pembayarannya dapat diberikan melalui kredit dari hasil panen petani plasma tersebut, memberikan penyuluhan, dan menjalin hubungan yang baik dengan petani plasma sehingga terjalin adanya ikatan persaudaraan yang kuat antara PTPN V SPA dengan petani plasma serta memberikan kemudahan kepada petani plasma dalam hal pembayaran hasil panen dengan sistem cash and carry.

111

ANALISIS BIAYA PENGOLAHAN CRUDE PALM OIL (CPO) DAN EVALUASI KINERJA KEMITRAAN PASCA KONVERSI (Kasus PT. Perkebunan Nusantara V Pabrik Kelapa Sawit Sei. Pagar, Kabupaten Kampar, Riau)

Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian Pada Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor

Oleh: MORINTARA PUTRI SURBAKTI A14304072

PROGRAM STUDI EKONOMI PERTANIAN DAN SUMBERDAYA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

112

Judul : ANALISIS BIAYA PENGOLAHAN CRUDE PALM OIL (CPO) DAN EVALUASI KINERJA KEMITRAAN PASCA KONVERSI (Kasus PT. Perkebunan Nusantara V Pabrik Kelapa Sawit Sei. Pagar, Kabupaten Kampar, Riau) Nama : MORINTARA PUTRI SURBAKTI NRP : A14304072

Menyetujui, Dosen Pembimbing

Dr. Ir. Eka Intan Kumala Putri, MS NIP: 131 918 659

Mengetahui, Dekan Fakultas Pertanian

Prof. Dr. Ir. Didy Sopandie, M. Agr NIP. 131 124 019

Tanggal Lulus:

113

PERNYATAAN DENGAN INI, SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL ”ANALISIS BIAYA PENGOLAHAN CRUDE PALM OIL (CPO) DAN EVALUASI KINERJA KEMITRAAN PASCA KONVERSI (Kasus PT. Perkebunan Nusantara V Pabrik Kelapa Sawit Sei. Pagar, Kabupaten Kampar, Riau)” BENAR-BENAR HASIL KARYA SENDIRI YANG BELUM PERNAH DIAJUKAN PADA PERGURUAN TINGGI LAIN ATAU LEMBAGA LAIN MANAPUN UNTUK TUJUAN MEMPEROLEH GELAR AKADEMIK TERTENTU. SAYA JUGA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI BENAR-BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI DAN TIDAK MENGANDUNG BAHAN-BAHAN YANG PERNAH DITULIS ATAU DITERBITKAN OLEH PIHAK LAIN KECUALI SEBAGAI BAHAN RUJUKAN YANG DINYATAKAN DALAM NASKAH.

Bogor, Mei 2008

Morintara Putri Surbakti A14304072

114

RIWAYAT HIDUP

Penulis bernama lengkap Morintara Putri Surbakti, dilahirkan pada tanggal 22 Februari 1986 di Jakarta dari pasangan Bapak M. K Surbakti dan Ibu Rosmariany Ginting. Penulis merupakan anak keempat dari empat bersaudara. Pada tahun 1998 penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SD. YKPP I, Sungai Pakning, Riau. Penulis menyelesaikan pendidikan menengah pertama di SLTP STRADA FX-1 Jakarta pada tahun 2001 dan menyelesaikan pendidikan menengah atas di SMAN 80 Jakarta pada tahun 2004. Penulis aktif di beberapa organisasi seperti OSIS serta kegiatan ekstrakurikuler. Penulis diterima di Institut Pertanian Bogor melalui Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) tahun 2004. Penulis diterima sebagai mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) pada program studi Ekonomi Pertanian Sumberdaya (EPS), jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Selama menempuh pendidikan di IPB, penulis aktif diberbagai organisasi kemahasiswaan seperti Himpunan Mahasiswa Peminat Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian (MISETA) periode 2004/2005 departemen Pengembangan Ilmu Sosial dan Ekonomi, Asisten Dosen Mata Kuliah Agama Protestan pada tahun 2005/2006 sampai 2006/2007, Koordinator Asisten Dosen Mata Kuliah Agama Protestan pada tahun 2007/2008, serta aktif dalam beberapa kegiatan kepanitian intern maupun ekstern kampus, yaitu kepanitian Agrocareer, PMK, panitia Retreat Angkatan, panitia MAPER, dan Ketua KAKR GBKP Bogor periode 2007/2008 sampai 2008/2009.

115

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena rahmat dan karunia-Nya penulis diberikan kekuatan, hikmat dan pengetahuan untuk menyelesaikan skripsi ini. Sebuah kebanggaan bagi penulis ketika membuat skripsi yang berjudul “Analisis Biaya Pengolahan Crude Palm Oil (CPO) dan Evaluasi Kinerja Kemitraan Pasca Konversi (Kasus PT. Perkebunan Nusantara V Pabrik Kelapa Sawit Sei. Pagar, Kabupaten Kampar, Riau).” Skripsi ini ditulis untuk memenuhi persyaratan penyelesaian Program Sarjana pada Fakultas Pertanian, Departemen Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan dari berbagai pihak, skripsi ini tidak akan terselesaikan. Untuk itu dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak atas bantuan secara moril maupun material selama proses penyusunan skripsi ini. Penulis menyadari bahwa skripsi ini memiliki banyak kekurangan dan kelemahan, oleh karena itu penulis senantiasa menerima setiap saran dan kritik yang membangun guna menyempurnakan skripsi ini. Akhir kata, semoga skripsi ini berguna dan bermanfaat bagi penulis dan semua pihak yang membutuhkan.

Bogor, Mei 2008

Penulis

116

UCAPAN TERIMA KASIH

Puji dan syukur atas segala berkat Tuhan yang senatiasa menyertai dan memberkati proses penulisan tugas akhir ini sehingga penulis dapat menyelesaikanya dengan baik. Terselesainya tugas akhir ini tidak terlepas dari bantuan dan dukungan dari pihak–pihak yang telah membantu. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Keluarga tercinta: Papa, Mama yang penulis sayangi semua yang terbaik kupersembahkan untuk kedua orangtuaku, Bang ala dan keluarga, Bang Ijos dan keluarga, dan Bang Iman yang selalu mendoakan dan memberi dorongan setiap hari. 2. Ibu Dr. Ir. Eka Intan Kumala Putri, MS selaku dosen pembimbing skripsi yang telah sabar membantu, meluangkan waktu dan mengarahkan penulis sampai selesainya penulisan skripsi ini. 3. Bapak A. Faroby Falatehan, SP,ME selaku dosen penguji utama dan Ibu Ir. Meti Ekayani, M.Sc selaku dosen penguji wakil departemen yang telah bersedia untuk menguji penulis, serta atas saran, masukan dan perbaikannya dalam penyusunan skripsi ini. 4. Bapak Ir. Arifin Saragih, selaku Manajer yang sudah memberikan izin untuk dapat melakukan penelitian di PTPN V Sei. Pagar. 5. Bapak H. Khairulrizal, ST, selaku Masinis Kepala di PT. Perkebunan Nusantara PKS V Sei. Pagar. 6. Bapak Indranof Tarigan, selaku KTU di PT. Perkebunan Nusantara V PKS Sei. Pagar. Terima kasih atas motivasi dan dukungan yang telah diberikan kepada penulis. 7. Bapak Bantu Sembiring dan Bapak Fransisco Karo-Karo terima kasih atas motivasi dan dukungan yang telah diberikan kepada penulis. 8. Bapak Syahendra Lubis (Bang Lokot), selaku Ko. Anggaran di PT.Perkebunan Nusantara PKS V Sei. Pagar. Terima kasih atas dukungan yang diberikan dan banyak membantu penulis dalam kelangsungan penyusunan skripsi ini.

117

9. Natalia sebagai sahabat yang selalu memberi dukungan ketika penulis mulai lelah dan jatuh. Terima kasih untuk persahabatan kita selama ini. Teman-Teman EPS 41 yang banyak mendukung dan peduli: Owien, Tita, Deli, Nana, Yudie, Kevin, Bjay, Pipih, Rolas, Lenny, Yanthi, Mery, Lina, Rocky, Jimmy, Risti, Mayang, Ade, Maya, Aghiez, Mba sari, dan rekanrekan EPS 41 seluruhnya serta teman-teman sepembimbingan penulis: Evie, Cecep, Gufron, Erfan kalian harus semangat ya teman. 10. Keluarga kelompok kecilku, Kak Tience, Yenny, Rini, Dek Ade, Dek Conny, dan Dek Emta, kalian adalah salah satu sumber kekuatanku. Penulis mengasihi kalian semua. 11. Bernardo Nababan terima kasih buat semuanya. Teman-teman Pondok Dame: Bang Supardi, Bang Landes, Bang Debi, Bang Mario, Bang Richard, serta partnerku yang lagi di Kalimantan Agus Manalu. Terima kasih untuk dukungan kalian. 12. Adik-adikku PMK IPB yang kukasihi: Kade Putri, Yesika, Adit, Ati, Jenita, Ninis, Rico, Leonard, Wesly, Ferryaman, Okto, Jesika, Nico, Anta, Jhon, Cipta, Edwin, Nehemia, Desra, Hartip, Andi, buyung, Elsye, Nuah, Icha, Demak, Corry dan Anak-anak Kost Perwira 52: Lenny, Nina, Kezhia, Putri, Riska, dan semuanya yang tidak bisa satu per satu disebutkan. Terima kasih buat dukungan kalian. 13. Guru KAKR GBKP Bogor: Kak Ana, Kak Yanti, Kak Ira, Kak Ika, Kak Leli, Kak Mila, Kak Ina, Kak Chicha, Bang Ago, Bang itor, Bang Yosi, Abed, Gandhi, Devi, Anita, Eva, Damenta, Cynthia, dan Permata GBKP Bogor: Indri, Bang Bremin, Kak Nia, Bang Budi, Bang Joy, Kak Elpita. Terima kasih untuk kebersamaan dan dukungan kalian semua, baik dalam pelayanan maupun dukungan doa dalam setiap pergumulan yang penulis alami. 14. Teman-teman KKP Kecamatan Tonjong buat Citta, Mira, Indah, Adjiest, dan teman-temanku lainnya. Terima kasih untuk kebersamaan kita disana. Suka dan duka kita lalui, serta teman-teman penulis baik sekarang maupun masa lalu serta semua pihak yang telah membantu tetapi luput dari ingatan penulis untuk menyebutkannya. Terima kasih buat kalian semua.

118

DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI .......................................................................................... i DAFTAR TABEL .................................................................................. iii DAFTAR GAMBAR .............................................................................. iv DAFTAR LAMPIRAN .......................................................................... v I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang .................................................................... 1 1.2 Perumusan Masalah ............................................................. 8 1.3 Tujuan Penelitian ................................................................. 11 1.4 Kegunaan Penelitian ............................................................ 11 1.5 Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian ........................ 12 2.1 2.2 2.3 2.4 2.5 2.6 II. TINJAUAN PUSTAKA Sejarah Kelapa Sawit ............................................................ Varietas Kelapa Sawit........................................................... Keunggulan Minyak Sawit.................................................... Hasil–Hasil Olahan Minyak Kelapa Sawit............................. Konsep Kemitraan ................................................................ Penelitian Terdahulu ............................................................. 2.6.1 Studi Terdahulu Mengenai Biaya Pengolahan.............. 2.6.2 Studi Terdahulu Mengenai Pabrik Kelapa Sawit dan Perkebunan Inti Rakyat .............................................. 2.6.3 Studi Terdahulu Mengenai Crude Palm Oil (CPO)...... 13 15 15 16 17 22 22 23 25 28 28 29 31 31 33 36 37 37 38 38 40 49 50

III. KERANGKA PEMIKIRAN Kerangka Pemikiran Teoritis................................................ 3.1.1 Produksi dan Fungsi Produksi ..................................... 3.1.2 Biaya Produksi ............................................................ 3.1.3 Klasifikasi Biaya Produksi .......................................... 3.1.4 Indikator Evaluasi Kinerja Kemitraan........................... 3.2 Kerangka Pemikiran Konseptual .......................................... 3.3 Hipotesis Penelitian ............................................................. 3.1 4.1 4.2 4.3 IV. METODE PENELITIAN Penentuan Lokasi dan Waktu Penelitian................................ Jenis dan Metode Pengumpulan Data .................................... Metode Analisis Data............................................................ 4.3.1 Analisis Biaya Pengolahan dan Efisiensi Teknis.......... 4.3.2 Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Biaya Pengolahan CPO ......................................................... 4.3.3 Analisis Kinerja Kemitraan ......................................... Definisi Operasional ............................................................

4.4

119

Halaman V. GAMBARAN UMUM PENELITIAN 5.1 Gambaran Umum Perusahaan 5.1.1 Sejarah PTPN V PKS SPA ........................................ 5.1.2 Keadaan Kebun di PTPN V SPA ............................... 5.1.3 Pengolahan dan Penanganan Limbah......................... 5.1.4 Proses Pengolahan TBS Menjadi CPO....................... 5.2 Karakteristik Responden ....................................................... 5.2.1 Karakteristik Umum Petani Plasma .............................. 5.2.2 Karakteristik Usaha Petani Plasma ............................... VI. 6.1 6.2 VII.

51 53 56 58 61 61 64

ANALISIS BIAYA PENGOLAHAN TBS MENJADI CPO Komponen–Komponen Biaya Pengolahan ........................... 67 Analisis Efisiensi Teknis...................................................... 72

ANALISIS FAKTOR–FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BIAYA PENGOLAHAN CPO 7.1 Model Fungsi Linear Berganda ............................................ 76 7.2 Analisis Elastisitas Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Biaya Pengolahan CPO .................................................................. 80

VIII. EVALUASI KINERJA KEMITRAAN PT.PERKEBUNAN NUSANTARA V SEI. PAGAR PASCA KONVERSI 8.1 Perkembangan PIR–Trans PT.Perkebunan Nusantara V SPA 84 8.2 Evaluasi Kemitraan Pihak Inti dan Petani Plasma............... .. 88 IX. KESIMPULAN DAN SARAN 7.1 Kesimpulan............................................................................ 102 7.2 Saran ..................................................................................... 103 DAFTAR PUSTAKA ............................................................................. 105 LAMPIRAN................................................................................................ 108

120

DAFTAR TABEL
Halaman

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16.

Perkembangan Luas Areal Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia Tahun 1999 – 2005 ......................................................................... Perkembangan Produksi Kelapa Sawit Indonesia Tahun 1999 – 2005 .................................................................................... Perkembangan Ekspor CPO dan Minyak Sawit lainnya di Indonesia Tahun 1999 – 2005 ......................................................................... Perbandingan Produktivitas Komoditas Perkebunan Tahun 1990 - 2000..................................................................................... Luas Areal dan Produksi Perkebunan Kelapa Sawit Seluruh Indonesia, Tahun 2000 ....................................................................

2 3 4 5 6

Produksi Enam Varietas Unggul Kelapa Sawit ................................ 15 Daftar Indikator Kinerja Kemitraan................................................. 38 Komponen Biaya Tetap PTPN V PKS SPA Tahun 2005 – 2007...... 68 Komponen Biaya Variabel PTPN V PKS SPA Tahun 2005 – 2007.. 69 Perkembangan Harga TBS PTPN V PKS SPA Tahun 2005 – 2007 . 70 Komponen Biaya Pengolahan Tanpa Pembelian TBS PTPN V PKS SPA Tahun 2005 – 2007 ................................................................. 71 Biaya Rata-Rata Tingkat Pabrik PTPN V SPA Tahun 2005 – 2007 . 72 Perbandingan Jumlah TBS dan CPO Diolah PTPN V PKS SPA Tahun 2005 – 2007 ......................................................................... 73 Hasil Analisis Regresi Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Biaya Pengolahan CPO ............................................................................. 77 Tahap-Tahap Kemitraan PTPN V SPA dan Petani Plasma .............. 86 Evaluasi Kinerja Kemitraan PT. Perkebunan Nusantara V SPA....... 89

121

DAFTAR GAMBAR Halaman 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Pohon Industri Kelapa Sawit ........................................................... 17 Kerangka Pemikiran Konseptual ..................................................... 35 Persentase Jenis Kelamin ................................................................ 62 Persentase Tingkat Umur ................................................................ 62 Persentase Tingkat Pendidikan ........................................................ 64 Persentase Jumlah Produksi CPO .................................................... 65 Persentase Tingkat Pendapatan........................................................ 66 Persentase Asal Daerah Petani Plasma ............................................ 84 Persentase Pihak Penjualan TBS ..................................................... 99

122

DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Struktur Organisasi PTPN V PKS SPA ........................................... 109 Data Jumlah TBS dan Produksi CPO PTPN V PKS SPA ................ 110 Perkembangan Harga TBS PTPN V PKS SPA 2005 – 2007............ 111 Perhitungan Rentang Skala.............................................................. 112 Perbandingan Antara Realisasi dan Anggaran Biaya Pengolahan PTPN V PKS SPA Tahun 2005....................................................... 113 Perbandingan Antara Realisasi dan Anggaran Biaya Pengolahan PTPN V PKS SPA Tahun 2006....................................................... 115 Perbandingan Antara Realisasi dan Anggaran Biaya Pengolahan PTPN V PKS SPA Tahun 2007....................................................... 117 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Biaya Pengolahan CPO PTPN V PKS SPA ......................................................................... 119 Hasil Regresi Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Biaya Pengolahan CPO PTPN V PKS SPA.................................................................. 121

10. Pelaksanaan Hak dan Kewajiban dalam Kemitraan PTPN V SPA dengan Petani Plasma...................................................................... 122

123

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor pertanian memiliki beberapa subsektor, salah satunya adalah subsektor perkebunan. Perkebunan memegang peranan strategis dalam

penyediaan pangan, seperti minyak goreng sawit dan gula yang merupakan salah satu pilar stabilitas ekonomi dan politik di Indonesia. Selain itu perkebunan juga berperan dalam penyerapan tenaga kerja. Hal ini dapat dilihat dari besar penyerapan tenaga kerja pada tahun 2003 yaitu sebesar 17 juta jiwa. Peran ini relatif konsisten, baik ketika Indonesia mengalami masa kritis maupun masa jaya. Kontribusi subsektor perkebunan terhadap pendapatan domestik bruto (PDB) secara nasional tanpa migas adalah sekitar 2,9 persen atau sekitar 2,6 persen dari PDB total. Jika menggunakan PDB dengan harga konstan tahun 1993, pangsa subsektor perkebunan terhadap PDB sektor pertanian adalah 17,6 persen, sedangkan terhadap PDB tanpa migas dan PDB nasional masing-masing adalah 3,0 persen dan 2,8 persen (Badan Pusat Statistik, 2004). Kelapa sawit merupakan salah satu tanaman perkebunan yang memiliki arti penting bagi perkembangan pembangunan nasional. Selain mampu menciptakan kesempatan kerja, kontribusi lainnya adalah sebagai sumber devisa negara. Indonesia merupakan salah satu produsen utama minyak sawit (Crude Palm Oil). Crude Palm Oil (CPO) yang dihasilkan kelapa sawit memiliki beberapa keunggulan dibandingkan minyak nabati tanaman lainnya, yaitu tahan lebih lama, tahan terhadap tekanan, dan memiliki toleransi suhu yang relatif tinggi. CPO dikenal sebagai produk primadona perkebunan Indonesia.

124

Perkembangan luas areal perkebunan kelapa sawit di Indonesia selama tahun 1999 – 2005 cenderung meningkat yakni sekitar 1,97 – 13,36 persen (Tabel 1). Pada tahun 2001 pertumbuhan luas areal perkebunan kelapa sawit paling besar yaitu sebesar 13,36 persen dikarenakan permintaan ekspor CPO Indonesia meningkat. Sementara pada tahun 2005 luas areal juga mengalami peningkatan sekitar 1,97 persen atau menjadi 5,51 juta hektar walaupun paling kecil dibandingkan peningkatan tahun sebelumnya, kelapa sawit merupakan komoditas andalan pertanian dalam negeri. Tabel 1. Perkembangan Luas Areal Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia Tahun 1999 – 2005 Tahun 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 PR (ha) 1041046 1166758 1561031 1808424 1854394 1904943 1917038 PBN (ha) 576999 588125 609943 631566 662803 674983 676408 PBS (ha) 2283757 2403194 2542457 2627068 2766360 2821705 2914773 Jumlah (ha) 3901802 4158077 4713431 5067058 5283557 5401631 5508219 Pertumbuhan (%) 9,60 6,57 13,36 7,50 4,27 2,23 1,97

Sumber : BPS, 2005. Keterangan : PR : Perkebunan Rakyat PBN : Perkebunan Besar Negara PBS : Perkebunan Besar Swasta

Produksi kelapa sawit berupa minyak sawit (CPO) di Indonesia selama tahun 1999 – 2005 juga mengalami peningkatan antara 8,44 – 19,94 persen (Tabel 2). Peningkatan produksi tersebut berfluktuasi dari tahun ke tahun. Adanya peningkatan produksi CPO setiap tahunnya mengindikasikan bahwa CPO memiliki potensi untuk dikembangkan.

125

Tabel 2. Perkembangan Produksi Kelapa Sawit Indonesia Tahun 1999 - 2005 Tahun 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 PR (ton) 1527811 1905653 2798032 3426739 3517324 3745264 3873677 PBN (ton) 1468949 1460954 1519289 1607734 1750651 2013130 2158684 PBS (ton) 3438830 3633901 4079151 4587871 5172859 6466132 7079579 Jumlah (ton) 6435590 7000508 8396472 9622344 10440834 12224526 13111940 Pertumbuhan (%) 8,86 8,44 19,94 14,60 8,51 17,08 7,26

Sumber : BPS, 2005. Keterangan : PR : Perkebunan Rakyat PBN : Perkebunan Besar Negara PBS : Perkebunan Besar Swasta

Indonesia adalah negara net exporter minyak sawit. Produksinya sebagian besar di ekspor dan sisanya dipasarkan di dalam negeri. Pangsa pasar untuk produk minyak sawit telah menjangkau kelima benua yakni Asia, Afrika, Australia, Amerika dan Eropa. Namun demikian Asia masih merupakan pangsa pasar yang paling utama. Perkembangan ekspor minyak sawit tahun 1999 – 2005 selalu mengalami peningkatan (Tabel 3). Hal ini disebabkan harga internasional yang terus meninggi, sebagai dampak permintaan dunia akan CPO terus bertambah. Saat ini dunia sedang banyak mencari sumber energi baru pengganti minyak bumi yang cadangannya semakin menipis. Salah satu alternatif pengganti tersebut adalah energi biodiesel dimana bahan baku utamanya adalah minyak mentah kelapa sawit atau yang lebih dikenal dengan nama Crude Palm Oil (CPO). Biodiesel ini merupakan energi alternatif yang ramah lingkungan, selain itu sumber energinya

126

dapat terus dikembangkan, sangat berbeda dengan minyak bumi yang jika cadangannya sudah habis tidak dapat dikembangkan kembali. Tabel 3. Perkembangan Ekspor CPO dan Minyak Sawit Lainnya di Indonesia 1999 – 2005 CPO (Crude Palm Oil) Tahun Volume (000 ton) 865 1818 1849 2805 2892 3820 4566 Nilai (000 ton) 270 476 406 892 1062 1444 1593 Minyak Sawit lainnya Volume (000 ton) 2434 2292 3054 3529 3494 4842 5810 Nilai (000 ton) 844 611 674 1200 1392 1997 2163 Jumlah Total Volume (000 ton) 3299 4110 4903 6334 6386 8662 10376 Nilai (000 ton) 1114 1087 1081 2092 2455 3442 3756 Pertumbuhan (%) 123,01 24,58 19,30 29,17 0,83 35,63 19,49

1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005

Sumber: BPS, 2005.

Produktivitas kelapa sawit lebih tinggi bila dibandingkan dengan produktivitas komoditas perkebunan lain (Tabel 4). Banyak para investor yang menginvestasikan modalnya untuk membangun perkebunan dan pabrik

pengolahan kelapa sawit. Berdasarkan produk yang dihasilkan, industri kelapa sawit dapat dibedakan dalam dua kelompok besar, yaitu hulu kelapa sawit (penghasil buah sawit) dan industri hilir kelapa sawit (industri ekstraksi minyak sawit dari buah sawit dan pengolahan lanjutan, termasuk limbah kelapa sawit). Skala industri perkebunan kelapa sawit Indonesia memiliki rentang yang luas mulai dari yang berskala kecil satu sampai lima hektar hingga ratusan ribu hektar. Industri hilir kelapa sawit memiliki karakteristik berupa padat teknologi dan padat modal. Industri hilir kelapa sawit Indonesia dapat dikelompokkan kedalam

127

tiga kelompok besar yaitu (a) Industri ekstraksi minyak sawit dari buah sawit (Pabrik Pengolahan Kelapa Sawit / PKS), (b) Industri pengolahan minyak sawit, dan (c) Industri pemanfaatan limbah kelapa sawit. Tabel 4. Perbandingan Produktivitas Komoditas Perkebunan Tahun 1990 – 2000 Komoditas PR Karet Kelapa Sawit Kelapa Dalam Kelapa Hibrida Kopi Robusta Kopi Arabika Cokelat 659 2.173 1.037 997 583 830 1.313 Produktivitas (kg/ha) PBN 1.071 4.929 1.141 1.031 633 830 812 PBS 1.31 2.693 934 920 604 581 856

Sumber : Statistik Perkebunan dalam Fauzi,dkk, 2002. Keterangan : PR : Perkebunan Rakyat PBN : Perkebunan Besar Negara PBS : Perkebunan Besar Swasta

Propinsi Riau merupakan propinsi dengan luas areal perkebunan rakyat (PR) kelapa sawit terluas di seluruh Indonesia pada tahun 2000 yaitu 205.361 ha dengan produksi 361.962 ton, sedangkan untuk perkebunan besar negara (PBN) Propinsi Riau memiliki luas areal kedua yang terluas setelah Sumatra Utara. Perkebunan besar swasta (PBS), Propinsi Riau yang terluas yaitu 389.690 ha dengan hasil produksinya 642.017 ton (Tabel 5). Propinsi Riau juga memiliki kapasitas produksi pengolahan kelapa sawit terbesar kedua setelah Sumatra Utara, yaitu 2.017 ton TBS/jam (Fauzi,dkk 2002). Hal ini didukung oleh letak geografis Propinsi Riau yang sesuai untuk ditanami kelapa sawit. Luas areal dan produksi kelapa sawit di Indonesia dapat dilihat pada Tabel 5.

128

Tabel 5. Luas Areal dan Produksi Perkebunan Kelapa Sawit Seluruh Indonesia, Tahun 2000 PR Propinsi DI Aceh Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Jawa Barat Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Irian Jaya (Papua) Luas (ha) 60.188 105.330 51.599 205.361 159.947 154.012 24.529 31.537 6.296 143.695 22.642 0 32.816 10.638 27.206 17.000 Produksi (ton) 48.759 256.986 116.201 361.962 185.367 154.501 37.693 11.141 12.587 202.083 4.210 0 40.848 13.643 30.476 26.956 Luas (ha) 41.645 257.434 3.256 63.088 8.326 27.209 4.345 12.996 11.071 42.960 0 0 9.360 4.349 9.887 5.217 PBN Produksi (ton) 83.541 1.259.61 5 18.579 303.307 37.105 108.021 1.754 57.209 6.068 113.923 0 0 19.736 0 21.846 25.815 Luas (ha) 117.549 264.218 92.331 389.690 90.842 157.541 35.739 37.626 4.135 105.697 97.771 103.557 43.653 23.440 47.360 9.638 PBS Produksi (ton) 263.203 918.372 252.694 642.017 104.188 170.206 58.335 18.377 7.914 93.053 25.997 45.052 15.910 13.258 28.935 0

Sumber : Dirjen Perkebunan, 2000.

129

Areal kelapa sawit di Propinsi Riau sebagian besar merupakan milik PT.Perkebunan Nusantara V (PTPN V) yang berada dibawah naungan BUMN. Salah satu PTPN yang ada di Propinsi Riau adalah PTPN V Sei Pagar. PTPN V Pabrik Kelapa Sawit Sei Pagar (PKS SPA) merupakan salah satu dari 12 pabrik yang dimiliki oleh PTPN V yang bergerak dibidang perkebunan dan pengolahan kelapa sawit. PTPN V PKS SPA melakukan proyek perkebunan inti rakyat atau proyek PIR-Trans. PKS SPA mengolah Tandan Buah Segar (TBS) menjadi dua macam produk akhir yaitu Crude Palm Oil (CPO) dan Palm Kernel (PK). Prosesnya dimulai dari pasokan tandan buah segar (TBS) yang berasal dari perkebunan inti dan perkebunan plasma kemudian diolah menjadi CPO dan kernel. PT. Perkebunan Nusantara V PKS SPA sebagai penanggung jawab terlaksananya pembangunan proyek PIR-Trans. Pelaksanaan program PIR-Trans dilaksanakan berdasarkan Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1986 tentang pengembangan perkebunan dengan pola PIR yang dikaitkan dengan program transmigrasi dan disusun jelas dalam Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 333/Kpts/KB.50/6/1986. PT. Perkebunan Nusantara V PKS SPA mengembangkan kemitraan dengan petani plasma dalam hal pengadaan bahan baku. Berdasarkan konsep PIR-Trans maka perusahaan berperan sebagai inti, sedangkan perkebunan rakyat berperan sebagai plasma (peserta). Adanya kerjasama antara pengusaha dengan petani diharapkan dapat menciptakan hubungan yang saling menguntungkan bagi keduanya. Kontinuitas hubungan antara perkebunan sebagai penyedia bahan baku

130

dengan pabrik pengolahannya sebagai pihak yang membutuhkan bahan baku menjadi salah suatu hal yang penting untuk dikaji.

1.2 Perumusan Masalah Pembangunan PKS SPA merupakan langkah strategis dalam pengembangan industri kelapa sawit. Sifat alami buah sawit yang tidak dapat disimpan lama mengharuskan adanya pembangunan PKS. Tanpa PKS buah kelapa sawit tidak dapat dimanfaatkan. Menurut SK Menteri Pertanian No 357/Kpts/HK.350/5/2002, pembangunan pabrik pengolahan hasil perkebunan wajib secara terpadu dengan jaminan pasokan bahan baku dari kebun sendiri. Apabila pasokan bahan baku dari kebun sendiri tidak mencukupi dapat dipenuhi dari sumber lain melalui perusahaan patungan dengan menempuh salah satu pola pengembangan dari pihak luar. Oleh karena itu, kebun–kebun yang luas akan lebih aman apabila memiliki PKS sendiri. PT. Perkebunan Nusantara V PKS SPA berlokasi di Kecamatan Perhentian Raja, Desa Hangtuah, Kabupaten Kampar, Propinsi Riau. Pertama kali dilakukan penanaman pada lahan perkebunan PTPN V SPA adalah tahun 1986. PKS SPA memiliki kapasitas pabrik 30 ton TBS/jam, secara pedoman umum pabrik dengan kapasitas 30 ton TBS/jam memerlukan lahan kelapa sawit seluas 6000 ha. PKS SPA saat ini sudah memiliki lahan seluas 8000 ha dengan sistem pengembangan kemitraan pola perkebunan inti rakyat transmigrasi (PIR-Trans). Berdasarkan konsep PIR-Trans maka perusahaan sebagai inti, sedangkan perkebunan rakyat berperan sebagai plasma.

131

PT. Perkebunan Nusantara V sebagai penanggung jawab pelaksanaan proyek kemitraan PIR-Trans dengan memberikan areal seluas 6000 ha kebun plasma kepada 3000 KK petani, sedangkan luas areal kebun inti seluas 2.752,68 ha. PTPN V SPA memiliki empat pasokan TBS yaitu kebun inti, kebun plasma, titip olah, dan pembelian tandan buah segar (TBS). Kapasitas PKS adalah 30 ton TBS/jam, maka kapasitas olah ideal yang dicapai perbulan adalah 10.000 ton TBS dengan masa operasi 20 jam. Apabila dipaksa untuk beroperasi 22 jam/hari, maka kapasitas olah bulanan adalah 11.000 ton TBS. Dalam keadaan terpaksa, PKS dapat dioperasikan selama 24 jam/hari untuk beberapa hari saja. Pada tahun 2006 PKS Sei. Pagar membuat anggaran TBS yang diolah 169.200.000 kg, sedangkan yang terealisasi jumlah TBS sampai dengan bulan Desember 2006 adalah 107.175.110 kg TBS. Berarti tidak tercapainya TBS yang akan diolah sebesar 62.024.890 kg dibandingkan dengan anggaran. Tidak tercapainya TBS yang masuk ke PKS Sei. Pagar akan berpengaruh kepada jumlah biaya pengolahan yang dikeluarkan. Walaupun jumlah TBS yang dipasok tidak memenuhi target sehingga pabrik sering tidak mengolah atau dalam keadaan idle capacity tapi biaya tetap pengolahan seperti gaji karyawan pimpinan, gaji karyawan pelaksana, biaya listrik, biaya pemeliharaan bangunan pabrik, dan, biaya pemeliharaan mesin dan instalasi pabrik tetap saja dikeluarkan. Semakin tinggi biaya pengolahan akan berakibat semakin tinggi harga pokok pengolahan yang terjadi sehingga pabrik tidak efisien. Pengoperasian pabrik dikatakan efisien apabila biaya untuk menghasilkan keluaran lebih kecil dari nilai keluarannya. Biaya pengolahan termasuk kedalam biaya terbesar yang dikeluarkan oleh PKS SPA. Oleh karena itu, analisis biaya pengolahan sangat perlu dilakukan.

132

Biaya pengolahan digunakan untuk melihat perkembangan total biaya pengolahan selama ini terutama tiga tahun terakhir, komponen–komponen apa saja yang memiliki pengaruh terhadap biaya pengolahan, serta mengetahui komponen yang memiliki biaya terbesar dan terkecil. Biaya pengolahan yang dikeluarkan terdiri dari beberapa komponen seperti pembelian bahan baku, gaji karyawan, biaya pemeliharaan bangunan pabrik, biaya listrik, biaya air, dan lain-lain. Salah satu penyebab pabrik tidak efisien adalah pasokan TBS yang tidak masuk ke PTPN V PKS SPA. Kontinuitas pasokan hasil produksi petani plasma ke inti merupakan kunci kelanggengan kemitraan dimana terdapat manfaat yang dapat dirasakan oleh kedua belah pihak. Manfaat tersebut adalah terpenuhinya pasokan bahan baku bagi inti dan adanya jaminan pemasaran hasil produksi bagi petani plasma. Namun pada kenyataannya, kemitraan yang dilaksanakan tidak selalu berjalan sesuai harapan. Adanya penurunan volume pasokan bahan baku (TBS) dari petani plasma ke PKS SPA menunjukkan kemitraan pemasok sebagai sistem pengadaan bahan baku belum mencapai manfaat yang optimal. Jika kemitraan PIR-Trans dilihat sebagai suatu sistem pengadaan bahan baku agroindustri, maka posisi petani plasma sebagai pemasok ke perusahaan inti menjadi salah satu faktor yang menentukan keunggulan bersaing perusahaan dalam industri. Berdasarkan hal ini perlu dilakukan suatu kajian terhadap kinerja pola kemitraan yang terjadi antara petani plasma dan PTPN V SPA.

133

Berdasarkan uraian tersebut, permasalahan yang akan diteliti dapat dirumuskan sebagai berikut : 1. Bagaimana perkembangan biaya pengolahan CPO PKS Sei. Pagar? 2. Faktor–faktor apa saja yang berpengaruh terhadap biaya pengolahan CPO PKS Sei. Pagar? 3. Bagaimana kinerja kemitraan yang terjadi antara petani plasma dan PTPN V Sei. Pagar?

1.3 Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah : 1. Mendeskripsikan perkembangan biaya pengolahan CPO PKS Sei. Pagar. 2. Menganalisis faktor–faktor yang mempengaruhi biaya pengolahan CPO PKS Sei. Pagar. 3. Mengkaji kemitraan yang terjadi antara petani plasma dan PTPN V Sei. Pagar.

1.4 Kegunaan Penelitian Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk: 1. Bagi peneliti, dapat menambah wawasan, pengetahuan dan pengalaman tentang analisis biaya pengolahan dan pengkajian mengenai evaluasi kemitraan. 2. Bagi pihak perusahaan, dapat memberikan masukan untuk mengupayakan peningkatan pasokan TBS, serta mengenai perkembangan biaya–biaya pengolahan yang terjadi.

134

3. Bagi pemerintah, dapat mempertimbangkan masukan dalam menetapkan kebijakan mengenai pembangunan pabrik kelapa sawit, terutama yang ada di Kabupaten Kampar, Riau.

1.5 Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian PTPN V terdiri dari 12 pabrik yaitu Tanjung Medan, Tanah Putih, Sei. Buatan, Lubuk Dalam, Sei. Pagar, Sei. Galuh, Sei. Garo, Terantam, Tandun, Sei. Intan, Sei. Rokan, dan Sei. Tapung. Namun pada penelitian ini yang akan dibahas adalah salah satu pabrik dari PTPN V ini yaitu PKS Sei. Pagar. Oleh karena itu, hasil dari penelitian ini tidak dapat digeneralisasi terhadap kondisi PTPN V secara keseluruhan karena ada keterbatasan penelitian.

135

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. 1 Sejarah Kelapa Sawit Tanaman kelapa sawit (Elaeis guinensis Jack) berasal dari Nigeria, Afrika Barat. Kelapa sawit (Palm oil) termasuk dalam ordo: Palmales, famili: Palmaceae, sub-famili: Palminae, genus: Elaeia. Walaupun demikian, ada yang menyatakan bahwa kelapa sawit berasal dari Amerika Selatan yaitu Brazil karena lebih banyak ditemukan spesies kelapa sawit di hutan Brazil dibandingkan dengan Afrika. Pada kenyataannya tanaman kelapa sawit dapat hidup subur di luar daerah asalnya, seperti Malaysia, Indonesia, Thailand, dan Papua Nugini. Bahkan mampu memberikan hasil produksi yang lebih tinggi. Di Indonesia, kelapa sawit pertama kali diusahakan dan dibudidayakan secara komersial pada tahun 1911 oleh Adrien Hallet, seorang Belgia yang banyak belajar tentang kelapa sawit di Afrika. Perkebunan kelapa sawit pertama kali di Indonesia berlokasi di Pantai Timur Sumatera (Deli) dan Aceh. Luas areal perkebunannya mencapai 5.123 ha. Indonesia mulai mengekspor minyak sawit (CPO) pada tahun 1919 sebesar 576 ton ke negara-negara Eropa, kemudian tahun 1923 mulai mengekspor minyak inti sawit (kernel) sebesar 850 ton (Setyamidjaja, 1991). Memasuki masa penguasaan pemerintahan Jepang, perkembangan kelapa sawit di Indonesia mengalami kemunduran. Secara keseluruhan produksi perkebunan kelapa sawit terhenti. Lahan perkebunan mengalami penyusutan sebesar 16 persen dari total luas lahan yang ada sehingga produksi minyak sawit hanya mencapai 56.000 ton pada tahun 1948/1949. Padahal pada tahun 1940

136

Indonesia mengekspor 250.000 ton minyak sawit. Setelah Belanda dan Jepang meninggalkan Indonesia, pada tahun 1957, pemerintah mengambil alih perkebunan dengan alasan politik dan keamanan. Perubahan manajemen dalam perkebunan dan kondisi sosial politik serta keamanan dalam negeri yang tidak kondusif, menyebabkan produksi kelapa sawit mengalami penurunan. Pada periode tersebut posisi Indonesia sebagai pemasok minyak dunia tergeser oleh Malaysia. Memasuki pemerintahan orde baru, pembangunan perkebunan diarahkan dalam rangka menciptakan kesempatan kerja, meningkatkan

kesejahteraan masyarakat, dan sektor penghasil devisa negara. Pemerintah terus mendorong pembukaan lahan baru untuk perkebunan. Sampai dengan tahun 1980 luas lahan mencapai 294.560 ha dengan produksi CPO sebesar 721.172 ton. Sejak saat itu lahan perkebunan kelapa sawit Indonesia berkembang pesat terutama perkebunan rakyat dan juga didukung oleh kebijakan pemerintah yang melaksanakan program PIR. Pada tahun 1990-an, luas perkebunan kelapa sawit mencapai lebih dari 1,6 juta hektar yang tersebar diberbagai sentra produksi seperti Sumatra dan Kalimantan (Setyamidjaja, 1991). Kelapa sawit biasanya berbuah setelah berumur 2,5 tahun. Buahnya masak 5,5 bulan setelah penyerbukan. Dalam memanen, perlu diperhatikan beberapa ketentuan umum agar buah yang dihasilkan baik mutunya, sehingga minyak yang dihasilkan juga bermutu baik. Buah yang akan dipenen adalah buah yang telah matang panen. Tanaman telah berumur ± 31 bulan, berat janjangan (tandan) telah mencapai tiga kg atau lebih, dan penyebaran panen telah mencapai satu banding lima, yaitu setiap lima pohon terdapat satu tandan buah yang matang panen.

137

2.2 Varietas Kelapa Sawit Dewasa ini dikenal beberapa varietas unggul yang telah ditanam diperkebunan kelapa sawit. Varietas unggul ini merupakan hasil persilangan buatan atau hibridisasi antara tipe Delidura dengan tipe Pisifera. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian RI No.312, 313, 314, 315, 316 dan 317/Kpts/TP.240/4/1985 telah dilepas enam varietas unggul kelapa sawit baru. Adapun nama dan daya produksinya terdapat pada Tabel 6. Varietas kelapa sawit unggul ini dianjurkan untuk ditanam dengan kerapatan tanaman 130 pohon per hektar, kecuali DP Marihat dan DP Lame sebaiknya 143 pohon per hektar (Setyamidjaja,1991). Tabel 6. Produksi Enam Varietas Unggul Kelapa Sawit No 1 2 3 4 5 6 Induk Asal Delidura X Pisifera Delidura X Pisifera Delidura X Pisifera Delidura X Pisifera Delidura X Pisifera Delidura X Pisifera Nama Varietas (*) DP Dolok Sinumbah DP Lame DP Yangambi DP Bah Jambi DP Marihat DP Avros Produksi Minyak Kelapa Sawit (ton/ha/tahun) 7,1 7,0 7,0 6,9 6,7 6,4

Sumber: Setyamidjaja, 1991. (*) DP berarti hasil silang antara Delidura dengan Pisifera; nama dibelakang huruf DP diambil dari nama tempat asal kelapa sawit Pisifera (sumber tepung sari) tersebut

2.3 Keunggulan Minyak Sawit Minyak sawit dapat dimanfaatkan di berbagai industri karena memiliki susunan dan kandungan gizi yang cukup lengkap. Industri banyak menggunakan minyak sawit sebagai bahan baku seperti industri pangan serta industri non

138

pangan seperti kosmetik dan farmasi. Bahkan minyak sawit telah dikembangkan sebagai salah satu bahan bakar. Berbagai hasil penelitian mengungkapkan bahwa minyak sawit memiliki keunggulan dibandingkan dengan minyak nabati lainnya. Beberapa keunggulan minyak sawit antara lain sebagai berikut (Fauzi, dkk, 2004): a. Tingkat efisiensi minyak sawit tinggi sehingga mampu menempatkan CPO menjadi sumber minyak nabati termurah. b. Produktivitas minyak sawit tinggi yaitu 3,2 ton/ha, sedangkan minyak kedelai, lobak, kopra, dan minyak bunga matahari masing–masing 0.34, 0.51, 0.57, dan 0.53 ton/ha. c. Sifat intercgeable-nya cukup menonjol dibanding dengan minyak nabati lainnya, karena memiliki keluwesan dan keluasan dalam ragam kegunaan baik di bidang pangan maupun non pangan. d. Sekitar 80 persen dari penduduk dunia, khususnya di negara berkembang masih berpeluang meningkatkan konsumsi per kapita untuk minyak dan lemak terutama minyak yang harganya murah (minyak sawit). e. Terjadinya pergeseran dalam industri yang menggunakan bahan baku minyak bumi ke bahan yang lebih bersahabat dengan lingkungan yaitu oleokimia yang berbahan baku CPO, terutama di beberapa negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Eropa Barat.

2.4 Hasil –Hasil Olahan Minyak Kelapa Sawit Produk–produk yang dapat dihasilkan dari minyak sawit sangat banyak, dapat dilihat pada Gambar 1 antara lain:

139

1. Produk turunan CPO selain minyak goreng dapat dihasilkan margarin, vanaspati, es krim, shortening, dan lainnya seperti instant noodle, sabun dan detergent, chocolate dan coatings, specialty fats, dry soap mixes, textiles oils dan biodiesel (Dirjen Bina Produksi, 2004). 2. Produk turunan PKO yaitu margarin, confectionary, krim biskuit, es krim, susu isian, dan lainnya seperti cocoa butter substitute, fikked mild, imiation cream, shampo dan kosmetik (Dirjen Bina Produksi, 2004). 3. Limbah cair bisa digunakan sebagai pupuk, dan limbah padat dapat digunakan sebagai kompos, serat dan rayon.

Gambar 1. Pohon Industri Kelapa Sawit
Sumber : Kurniawan, dkk, 2004.

2.5 Konsep Kemitraan Berdasarkan pelaku usahanya, usaha pertanian di Indonesia dapat dibedakan atas pengusaha pertanian besar (agribisnis besar) dan pengusaha kecil (agribisnis kecil). Agribisnis kecil di Indonesia umumnya bergerak pada sektor usahatani untuk menghasilkan komoditas pertanian tanpa olahan lebih lanjut dan langsung

140

dipasarkan. Agribisnis besar umumnya bergerak pada sektor pengembangan bidang pengolahan dan pemasaran hasil pertanian. Kedua pelaku usaha ini bergerak pada sektor yang berbeda, namun masih dalam cakupan suatu sistem agribisnis. Kondisi yang berbeda tersebut dapat dimanfaatkan dalam rangka mencapai efisiensi yang lebih besar, yaitu dengan mengadakan kerjasama. Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1995 tentang usaha kecil bahwa kemitraan adalah kerjasama antara usaha kecil dengan usaha menengah atau dengan usaha besar disertai dengan pembinaan dan pengembangan oleh usaha menengah atau usaha besar yang berkelanjutan dengan memperhatikan prinsip saling memperkuat, dan saling menguntungkan. Hal ini berarti bahwa dalam kemitraan tidak ada pihak yang merasa lebih besar atau lebih kuat daripada yang lain, namun saling bergantung antara satu dengan yang lain untuk mencapai tujuan bersama. Dalam kondisi yang ideal, tujuan yang ingin dicapai dalam pelaksanaan kemitraan secara lebih konkret, antara lain (Hafsah, 2000): 1. Meningkatkan pendapatan usaha kecil dan masyarakat. 2. Meningkatkan perolehan nilai tambah bagi pelaku kemitraan. 3. Meningkatkan pemerataan, pemberdayaan masyarakat, dan usaha kecil. 4. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi pedesaan, wilayah, dan nasional. 5. Memperluas kesempatan kerja. 6. Meningkatkan ketahanan ekonomi nasional.

141

Dalam melaksanakan kemitraan, semua pihak yang terlibat harus merasakan keuntungan dan manfaat yang diperoleh dari kemitraan. Secara garis besar manfaat dilaksanakannya kemitraan yang dapat diperoleh petani, yaitu (Nurdiniayati,1996) : 1. Merangsang petani untuk lebih bergairah dalam kegiatan produksi karena adanya jaminan pemasaran, yang meliputi jaminan pasar pembelian, pasar penjualan, harga pasar, dan harga pembelian. 2. Tersedianya modal dan sarana produksi. 3. Terjadi transfer teknologi tepat guna sehingga dapat meningkatkan produktivitas. 4. Memungkinkan petani untuk memperluas usaha. Manfaat dilaksanakannya kemitraan bagi perusahaan diantaranya adalah sebagai berikut : 1. Mendapat jaminan pasokan bahan baku. 2. Resiko kerugian jauh lebih kecil dibandingkan jika usaha tersebut dilakukan sendiri. 3. Investasi yang dikeluarkan jauh lebih kecil dibandingkan jika usaha tersebut dilakukan sendiri. 4. Kegiatan produksi dapat diarahkan kepada industri yang berskala ekonomi tinggi, efisien, efektif, yang berorientasi pada pasar dan memiliki daya saing dalam pemasaran.

142

Menurut Hafsah (2000), pola kemitraan yang dapat dikembangkan di Indonesia adalah sebagai berikut : a. Pola kemitraan sederhana Pada pola kemitraan ini, menempatkan pengusaha besar pada peranan dalam (a) memberikan bantuan atau kemudahan perolehan modal untuk

mengembangkan usaha, (b) penyediaan sarana produksi yang dibutuhkan, (c) bantuan teknologi. Pengusaha kecil mempunyai kewajiban memasokkan hasil produksinya kepada pengusaha besar (mitranya) sesuai jumlah dan standar mutu yang telah disepakati bersama. Pembina (pemerintah) berperan dalam pemberian fasilitas dan kemudahan dalam berinvestasi, penyediaan sarana transportasi, telekomunikasi, listrik, serta perangkat perundang – undangan yang mendukung kemitraan usaha. b. Pola Kemitraan Tahap Madya Pada pola kemitraan ini, peran usaha besar terhadap usaha kecil mitranya semakin berkurang. Dalam tahapan ini, usaha kecil telah mampu mengembangkan usaha, terutama dalam pengadaan sarana produksi, permodalan, dan manajemen. Usaha besar lebih terfokus pada aspek pengolahan dan pemasaran hasil. c. Pola Kemitraan Tahap Utama Pola kemitraan ini adalah yang paling ideal untuk dikembangkan, namun dibutuhkan persyaratan yang cukup berat, diantaranya kemampuan

manajemen dan pengetahuan bisnis yang luas. Dalam pola ini pengusaha kecil turut terlibat dalam pengembangan usaha perusahaan besar mulai dari tahap perencanaan pengembangan usaha sampai dengan pemasaran hasil. Pembina

143

(pemerintah) tetap dibutuhkan peranannya agar dapat terwujud kemitraan yang diharapkan. Berdasarkan sifat / kondisi dan tujuan usaha yang dimitrakan, terdapat beberapa pola kemitraan yang saat ini telah banyak dilaksanakan, yaitu (Hafsah, 2000): 1. Pola Inti Plasma, merupakan pola hubungan kemitraan antara kelompok mitra usaha sebagai plasma dengan perusahaan inti yang bermitra. Perusahaan inti menyediakan lahan, sarana produksi, bimbingan teknis, manajemen, menampung, mengolah, dan memasarkan hasil produksi, selain tetap memproduksi kebutuhan perusahaan. Pihak plasma (petani) harus dapat memenuhi kebutuhan perusahaan sesuai dengan persyaratan yang telah disepakati. 2. Pola Subkontrak, merupakan pola hubungan kemitraan antara perusahaan mitra dengan kelompok mitra usaha yang memproduksi kebutuhan yang diperlukan perusahaan sebagai bagian dari komponen produksinya. Ciri khas dari bentuk kemitraan ini adalah adanya kontrak bersama yang mencantumkan volume, harga, dan waktu. 3. Pola Dagang Umum, merupakan pola hubungan kemitraan antara mitra usaha yang memasarkan hasil dengan kelompok usaha yang mensuplai kebutuhan yang diperlukan oleh perusahaan. 4. Pola keagenan, merupakan pola hubungan kemitraan dimana usaha kecil diberi hak khusus untuk memasarkan barang dan jasa dari usaha menengah atau usaha besar sebagai mitranya.

144

5. Waralaba, merupakan pola hubungan kemitraan antara kelompok mitra usaha dengan perusahaan mitra usaha yang memberikan hak lisensi dan merek dagang saluran distribusi perusahaannya kepada kelompok mitra usaha sebagai penerima waralaba yang disertai dengan bantuan bimbingan manajemen.

2. 6 Penelitian Terdahulu 2.6.1 Studi Terdahulu Mengenai Biaya Pengolahan Kamilla (2004) melakukan penelitian “Analisis Biaya Produksi Pengolahan Getah Pinus di Pabrik Gondorukem dan Terpetin Cimanggu, KPH Banyumas Barat” menggunakan metode perhitungan biaya dan analisis break even point. Menyimpulkan secara garis besar biaya produksi total gondorukem dan terpentin pada bulan November 2003 mencapai Rp.2.122.403.993,10. Break even point Pabrik Gondoruken dan Terpetin Cimanggu atas dasar unit barang yang digunakan dalam proses, atau jumlah getah minimal yang harus dimasak adalah Rp.790.682 kg per bulan agar KPH Banyumas tidak rugi. Artiyanto (2006) melakukan penelitian berjudul “Analisis Biaya Pengolahan Gondorukem dan Terpetin di PGT. Sindangwangi, KPH Bandung Utara, Perum Perhutani Unit III Jawa barat” menggunakan metode analisis biaya produksi, analisis Rugi–Laba dan analisis break even point. Menyimpulkan PGT Sindangwangi mengeluarkan biaya produksi sebesar Rp.16,9 milyar dan mendapatkan keuntungan sebesar Rp.6,32 milyar pada tahun 2005. Keuntungan dapat ditingkatkan dengan menaikkan harga jual dan menambah jumlah produksi.

145

2.6.2 Studi Terdahulu Mengenai Pabrik Kelapa Sawit dan Perkebunan Inti Rakyat Ekaprasetya (2006) melakukan penelitian mengenai “Faktor–Faktor yang Berhubungan dengan Motivasi Kerja Karyawan Pabrik Kelapa Sawit (studi kasus: PKS PT. Milano Aek Batu Kabupaten Labuhan Batu, Sumatera Utara).” Analisis statistik yang digunakan adalah koefisien korelasi Rank Sperman untuk mengetahui hubungan faktor internal dan faktor eksternal terhadap motivasi kerja karyawan bagian proses dan karyawan bagian non proses serta seluruh karyawan dalam faktor eksternal. Sedangkan untuk mengidentifikasi lingkungan kerja perusahaan menurut karakteristik responden dan tingkat motivasi kerja karyawan dianalisis secara deskriptif dan diberi skor. Berdasarkan hasil uji korelasi, upaya peningkatan motivasi kerja karyawan hendaknya perusahaan memperhatikan faktor internal terutama usia, masa kerja, dan jumlah tanggungan keluarga untuk karyawan bagian non proses. Pada karyawan bagian non proses, urutan variabel yang paling berhubungan dengan tingkat motivasi kerja karyawan adalah variabel kompensasi, variabel peraturan dan kebijakan perusahaan, variabel kondisi kerja, dan variabel hubungan sesama rekan kerja. Novianti (1999) meneliti tentang “Evaluasi Manfaat Kemitraan PT.Sinar Inesco dengan Petani Teh.” Lokasi penelitian adalah di kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Tujuan penelitian adalah untuk mengkaji pola pelaksanaan kemitraan agribisnis teh, mengkaji manfaat kemitraan terhadap produksi dan pendapatan petani.

146

Kemitraan yang dilaksanakan berpola inti plasma, dimana PT.Sinar Inesco berperan sebagai inti dan petani teh berperan sebagai plasma. Untuk mengetahui manfaat kemitraan terhadap perusahaan inti dapat dilihat dari tingkat kemampuan memasok kebutuhan bahan baku bagi pabrik pengolahan yang ada. Manfaat kemitraan terhadap petani plasma dapat dilihat dengan cara membandingkan pendapatan usahatani peserta PIR teh dengan petani yang bukan peserta PIR teh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PT. Sinar Inesco dapat memperoleh pucuk teh untuk memenuhi kebutuhan pabrik pengolahan secara kontinu. Bagi petani plasma, dengan mengikuti kemitraan terjadi peningkatan produksi dan pendapatan usahatani. Hal ini terlihat dari adanya perbedaan produksi dan pendapatan yang signifikan antara petani peserta PIR dan petani bukan peserta PIR. Namun, tujuan kemitraan ini belum sepenuhnya dicapai karena tingkat produktivitas kebun petani plasma yang relatif rendah dibandingkan kebun inti. Oleh karena itu, perlu diadakan pembinaan terhadap kelompok tani dan penerapan teknologi untuk meningkatkan produktivitas kebun petani plasma. Widyastuti (2006) melakukan penelitian dengan judul “Evaluasi

Pelaksanaan PIR pada PT.Inti Indosawit Subur.” Lokasi penelitian adalah di Pabrik Kelapa Sawit Buatan, Kabupaten Pelalawan, Propinsi Riau. Tujuan penelitian adalah mengkaji gambaran pelaksanaan PIR di pabrik minyak kelapa sawit PT.Intisawit, mengukur tingkat kepuasan petani plasma terhadap pelaksanaan PIR, menganalisis dampak PIR terhadap pendapatan usahatani petani plasma jika dibandingkan dengan petani nonplasma, dan merumuskan alternatif strategi perbaikan kinerja PIR antara PT.Inti Indosawit Subur–Buatan dengan petani plasma.

147

Hasil penelitian menunjukkan kemitraan yang dikembangkan oleh PT.IIS adalah pola PIR-Trans yang telah memasuki tahap pasca konversi. Kemitraan mencakup kegiatan pembinaan, pemeliharaan tanaman, dan pengolahan kebun petani plasma. Berdasarkan matriks pelaksanaan hak dan kewajiban kemitraan belum sepenuhnya sesuai dengan petunjuk inti, kurang perhatian petani plasma terhadap pemeliharaan jalan, dan keterlambatan pembayaran hasil produksi kepada petani. Berdasarkan tingkat kepuasan maka atribut penetapan denda sortasi merupakan atribut terpenting dan memiliki nilai kepuasan terendah. Berdasarkan hasil uji statistik dengan metode uji-T terlihat pendapatan usahatani petani plasma dan non plasma berbeda nyata. Analisis pendapatan usahatani petani plasma dan non plasma menunjukkan bahwa petani plasma memperoleh pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan petani non plasma. 2.6.3 Studi Terdahulu Mengenai Crude Palm Oil (CPO) Esron (2005) meneliti mengenai peramalan produksi CPO dan Palm Kernel Oil PT. Panamtama Kebun Dalam, Asahan, Sumut dengan metode kausal yaitu regresi berganda model linier dan regresi berganda model non linier dengan variabel independen produksi TBS dan faktor musiman. Penelitian di PTPN V PKS SPA juga sudah pernah dilakukan oleh peneliti terdahulu yaitu Yusuf (2001) dan Sari (2004). Yusuf (2001) mengemukakan bahwa produksi TBS dan CPO PTPN V SPA mengalami kenaikan selama periode tahun 1996 – 1999, sehingga pada tahun tersebut perusahaan mencapai profit yang cukup besar. Dengan menggunakan analisis harga pokok (biaya rata-rata produksi), pendekatan garis lurus, analisis titik impas dan analisis

kemampulabaan (profitabilitas), Yusuf menyarankan agar perusahaan menekan

148

harga pokok terutama biaya pemeliharaan tanaman menghasilkan (TM) dan biaya bahan baku TBS sehingga Margin of Safety (MOS) dan Marginal Income Ratio (MIR) yang didapat juga tinggi. Sari (2004) dalam penelitiannya yang berjudul ”Analisis Efisiensi FaktorFaktor Produksi CPO” dianalisis dengan menggunakan model fungsi produksi Cobb-Douglas yang diolah dengan metode Ordinary Least Square (OLS). Menyimpulkan dari analisis efisiensi produksi bahwa kenaikan penggunaan faktor produksi memberikan pengaruh positif terhadap jumlah produksi CPO PKS SPA. Di lain sisi ternyata kenaikan pada harga jual tidak berpengaruh besar terhadap tingkat keuntungan, karena tidak dapat mengimbangi kenaikan biaya produksi berupa pembelian bahan baku dan kompensasi untuk karyawan (biaya gaji dan upah). Naibaho M dan Manurung A (1994) dalam jurnal dengan judul “Studi Efisiensi Pengolahan dan Produktivitas Pabrik Kelapa Sawit (PKS)” melakukan penelitian dengan cara survei pada PKS yang ditentukan dengan purposive sampling pada PKS BUMN dan PT. Perkebunan Swasta Nasional di Sumatra Utara dan Aceh. Data diolah dengan cara statistik deskriptif. Menyimpulkan panen yang tidak terkendali akan menyebabkan kehilangan minyak dan inti sawit serta penurunan sawit serta penurunan kualitas produksi. Produktivitas pabrik rata-rata mencapai 84,12 persen (Indeks Produktivitas Pabrik = 2,42) Unit pengolahan screw press, klarifikasi, boiler, dan thressher mendominasi penyerapan sumberdaya pengolahan yang menjadi pusat perhatian dalam pengolaan PKS untuk mencapai efisiensi, efektivitas, dan produktivitas.

149

Kelebihan penelitian ini adalah belum banyak penelitian mengenai analisis biaya pengolahan khusus pabrik yaitu pabrik kelapa sawit dan evaluasi kinerja kemitraan yang terjadi di PTPN V SPA. Kemudian saat ini PTPN V PKS SPA dapat dikatakan pengoperasiannya belum maksimal baik secara ekonomi maupun teknis. Oleh karena itu, penting dilakukan penelitian mengenai perkembangan biaya pengolahan yang terjadi beberapa tahun kebelakang (tahun 2005 sampai 2007) dan evaluasi kinerja kemitraan PTPN V SPA sebagai masukkan kepada perusahaan dalam meningkatkan kinerja PTPN V SPA.

150

BAB III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Produksi dan Fungsi Produksi Pada umumnya suatu sistem produksi adalah proses pengubahan masukan– masukan menjadi barang atau jasa yang lebih berguna atau mempunyai nilai yang lebih tinggi. Masukan–masukan kedalam sistem ini adalah bahan mentah, tenaga kerja, modal, energi, dan informasi. Masukan ini diubah menjadi barang–barang dan jasa–jasa oleh teknologi proses yang merupakan metode atau cara tertentu yang digunakan untuk transformasi. Perubahan teknologi akan merubah cara satu masukkan yang digunakan dalam hubungannya dengan masukan yang lain, dan mungkin juga merubah keluaran–keluaran yang diproduksi (Rony, 1990). Dalam rangka kegiatan produksi, perusahaan memerlukan modal investasi dari modal kerja meliputi antara lain (Rony, 1990): 1. Sarana produksi seperti tanah untuk gudang penyimpanan bahan baku dan produksi akhir, pabrik, mesin–mesin serta peralatannya, penerang listrik, alat transportasi, air dan lainnya yang berkaitan dengan berbagai sarana penunjang untuk kelancaran aktifitas produksi. 2. Tenaga kerja yang berkaitan langsung maupun tidak langsung dengan kegiatan produksi seperti buruh pabrik, mandor, tenaga operator, penjaga, tenaga pembersih gedung, dan peralatan pabrik lainnya. 3. Bahan–bahan yang meliputi bahan baku utama, bahan pembantu dan penunjang lainnya seperti olie, solar, bensin, minyak pelumnas, dan lainnya.

151

Hubungan antara input dan output disusun dalam fungsi produksi (production function) yang berbentuk Q = f (K,L,M,...) Dimana Q mewakili output barang tertentu selama satu periode, K mewakili mesin (yaitu, modal) yang digunakan selama periode tersebut, L mewakili input jam tenaga kerja, dan M mewakili bahan mentah yang digunakan. Bentuk dari notasi ini menunjukkan adanya kemungkinan variabel-variabel lain yang mempengaruhi proses produksi. Fungsi produksi dengan demikian, menghasilkan kesimpulan tentang apa yang diketahui perusahaan mengenai bauran berbagai input untuk menghasilkan output. 3.1.2 Biaya Produksi Setiap kegiatan usaha pada umumnya akan berhadapan dengan persoalan biaya, baik yang berhubungan langsung maupun tidak langsung dengan produksi atau tujuan yang hendak diwujudkan. Sebelum membahas masalah biaya produksi, perlu kiranya disorot dahulu pengertian dari biaya dan produksi itu sendiri. Gittinger (1986) menyatakan apa pun yang mengurangi pendapatan adalah suatu biaya dan apa pun yang langsung mengurangi jumlah barang dan jasa akhir jelas adalah suatu biaya. Prawirosentono (1997) dalam Kamilla, mendefinisikan produksi adalah segala kegiatan dalam menciptakan dan menambah manfaat dari suatu barang atau jasa. Untuk menjalankan kegiatan produksi tersebut dibutuhkan faktor–faktor produksi, yang dalam ilmu ekonomi faktor–faktor produksi yang dimaksud adalah tanah, modal, tenaga kerja, dan skill (organizational and managerial skill).

152

Berdasarkan pengertian–pengertian mengenai biaya dan produksi, Somarso (1996) dalam Kamilla mendefinisikan biaya produksi adalah biaya yang dibebankan dalam proses produksi selama suatu periode. Biaya ini terdiri dari persediaan dalam proses awal ditambah biaya pabrik (manufacturing cost). Yang dimaksud biaya pabrik adalah biaya–biaya yang terjadi dalam pabrik selama suatu periode. Pada dasarnya biaya pabrik dapat dikelompokkan menjadi biaya bahan baku (raw material), biaya buruh langsung (dirrect labor), dan biaya pabrikase (overhead) termasuk dalam biaya produksi adalah biaya–biaya yang dibebankan pada persediaan dalam proses pada akhir periode. Biaya produksi didefinisikan sebagai semua pengeluaran yang dilakukan oleh perusahaan untuk memperoleh faktor–faktor produksi dan bahan-bahan mentah yang akan digunakan untuk menciptakan barang-barang yang

diproduksikan perusahaan tersebut. Biaya produksi meliputi biaya tanaman dan biaya pengolahan. Biaya pengolahan meliputi gaji dan biaya sosial karyawan pimpinan, gaji dan biaya sosial karyawan pelaksana, alat dan inventaris kecil, bahan kimia dan bahan pelengkap, biaya analisis, bahan bakar dan pelumnas, biaya penerangan listrik, biaya air, biaya langsir, biaya angkat sampah, biaya pemeliharaan bangunan pabrik, biaya pemeliharaan mesin dan instalasi pabrik, premi asuransi pabrik, dan penyusutan. Biaya produksi yang dikeluarkan setiap perusahaan dapat dibedakan kepada dua jenis biaya, yaitu biaya eksplisit dan biaya tersembunyi. Biaya eksplisit adalah pengeluaran–pengeluaran perusahaan yang berupa pembayaran dengan uang (atau cek) untuk memperoleh faktor–faktor dan bahan mentah yang dibutuhkan perusahaan. Sedangkan biaya tersembunyi adalah taksiran pengeluaran ke atas

153

faktor–faktor produksi yang dimiliki oleh perusahaan itu sendiri (Somarso, 1996 dalam Kamilla). 3.1.3 Klasifikasi Biaya Produksi Biaya produksi merupakan salah satu unsur biaya dalam menentukan besarnya harga jual suatu produk, sehingga pada akhirnya keuntungan perusahaan dapat diketahui. Untuk kebanyakan produksi, ada dua macam biaya yang dapat dibedakan yaitu biaya tetap dan biaya variabel. Biaya dari macam pertama biasanya disebut fixed (tetap) atau overhead dan macam yang kedua dinamakan biaya variabel. Biaya tetap adalah biaya yang relatif tetap (konstan) dan tidak tergantung volume produksi, sedangkan biaya tidak tetap (biaya variabel) adalah biaya yang berubah sesuai dengan besarnya produksi, biaya yang akan bertambah atau berkurang proposional dengan volume kegiatan. Biaya tetap terdiri dari elemen–elemen biaya: upah, penyusutan, overhead tetap dan sebagainya, sedangkan biaya variabel adalah biaya yang jumlah totalnya berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan. Apabila biaya–biaya tersebut digabungkan, dapat terjadi bahwa satu atau lebih banyak biaya variabel akan menjadi tetap dalam hubungannya dengan yang lain (biaya campuran). Biaya variabel diklasifikasikan menjadi biaya bahan baku, upah langsung, bahan bakar, bahan penolong, bahan pengepakan dan sebagainya. Overhead variabel terdiri dari bahan perlengkapan, pemeliharaan instalasi, pemeliharaan bangunan dan sebagainya (Rony, 1990).

154

3.1.4 Indikator Evaluasi Kinerja Kemitraan Evaluasi pelaksanaan kemitraan perlu dilakukan dengan tujuan untuk (1) meningkatkan tingkat pelaksanaan hak dan kewajiban antara kedua pihak yang bermitra, (2) menilai besarnya manfaat yang diperoleh masing-masing pihak, (3) mengidentifikasi faktor-faktor yang menunjang dan menghambat pelaksanaan kemitraan, (4) mencari alternatif pemecahan masalah yang dihadapi. Kualitas pelayanan dapat dinilai dengan menggunakan konsep Servqual. Berdasarkan konsep ini, kualitas pelayanan yang mempengaruhi kepuasan pelanggan diyakini mempunyai lima dimensi, yaitu (Rangkuti, 2003): 1. Tangible (bukti langsung), pelayanan merupakan sesuatu yang tidak bisa dilihat, tidak bisa dicium, dan tidak bisa diraba, maka pelanggan akan menggunakan bukti langsung untuk menilai kualitas pelayanan. Dimensi tangible meliputi fasilitas fisik, perlengkapan, dan sarana komunikasi. 2. Reliability (keandalan), merupakan dimensi yang mengukur kemampuan perusahaan dalam memberikan pelayanan sesuai dengan yang dijanjikan. 3. Responsiveness (ketanggapan), merupakan dimensi yang mengukur

kemampuan untuk menolong pelanggan dan ketersediaan untuk melayani dengan baik 4. Assurance (jaminan), merupakan dimensi kualitas yang berhubungan dengan kemampuan dalam menanamkan rasa percaya dan keyakinan kepada para pelanggannya. 5. Empathy (empati), yaitu kepedulian untuk memberikan perhatian dan memahami kebutuhan pelanggan

155

3.2 Kerangka Pemikiran Konseptual Pengembangan industri kelapa sawit saat ini memiliki peluang yang baik. Produksi adalah suatu kegiatan ekonomi suatu perusahaan untuk memproses dan merubah bahan baku (raw material) menjadi barang setengah jadi atau barang jadi melalui penggunaan tenaga kerja dan fasilitas produksi lainnya (Rony, 1990). Tandan Buah Segar (TBS) merupakan produk awal yang merupakan input bagi PTPN V PKS SPA. PTPN V PKS SPA hanya menghasilkan produk setengah jadi yaitu CPO dan PK. Untuk menghasilkan produk, perusahaan memerlukan biaya–biaya dalam mengalokasikan sumberdaya yang ada. Biaya yang dikeluarkan untuk proses produksi disebut biaya produksi. Biaya produksi pada pengolahan kelapa sawit terdiri dari biaya tanaman menghasilkan dan biaya pengolahan. Biaya pengolahan merupakan biaya yang paling dominan dalam proses produksi di PKS SPA, namun saat ini PTPN V PKS SPA dapat dikatakan pengoperasiannya kurang efisien. Jumlah pasokan TBS yang masuk ke PTPN V PKS SPA yang belum sesuai target atau anggaran juga berpengaruh kepada jumlah biaya pengolahan yang dikeluarkan. Hal ini dapat dilihat dari masih tingginya biaya pengolahan PTPN V PKS SPA. Pengoperasian pabrik dikatakan efisien apabila biaya untuk menghasilkan keluaran lebih kecil dari nilai keluaran. Ukuran efisiensi adalah penggunaan biaya pengolahan PTPN V PKS SPA. Analisis biaya pengolahan bertujuan untuk mengkaji komponen–komponen yang termasuk dalam biaya pengolahan dan menganalisis biaya terbesar sampai terkecil dalam proses pengolahan serta menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi biaya pengolahan CPO PTPN V PKS SPA, sehingga penggunaan biaya

156

pengolahan lebih efisien dan diharapkan mampu untuk memperbaiki struktur biaya pengolahan di PTPN V PKS SPA. Salah satu penyebab pabrik tidak efisien adalah pasokan TBS yang tidak masuk ke PTPN V PKS SPA. Kontinuitas pasokan hasil produksi petani plasma ke inti merupakan kunci kelanggengan kemitraan dimana terdapat manfaat yang dapat dirasakan oleh kedua belah pihak. Manfaat tersebut adalah terpenuhinya pasokan bahan baku bagi inti dan adanya jaminan pemasaran hasil produksi bagi petani plasma. Namun pada kenyataannya, kemitraan yang dilaksanakan tidak selalu berjalan sesuai harapan. Adanya penurunan volume pasokan bahan baku (TBS) dari petani plasma ke PKS SPA menunjukkan kemitraan pemasok sebagai sistem pengadaan bahan baku belum mencapai manfaat yang optimal. Berdasarkan hal ini dilakukan pula suatu kajian terhadap kinerja pola kemitraan yang terjadi antara petani plasma dan PTPN V SPA. Pemikiran Konseptual penelitian ini diilustrasikan pada Gambar 2.

157

Sebagian besar petani plasma tidak memberikan TBS kepada PTPN V Sei. Pagar

Biaya pengolahan PTPN V tidak efisien

Penggunaan kapasitas terpasang pabrik belum optimal

Kinerja kemitraan PTPN V Sei. Pagar dan petani plasma

Ada Perbedaan antara anggaran dan realisasi

Evaluasi kinerja kemitraan

Perkembangan biaya pengolahan

Faktor-faktor biaya yang mempengaruhi biaya pengolahan

Biaya rata–rata pabrik

Regresi OLS

Memberi rekomendasi kepada PTPN V Sei. Pagar Gambar 2. Kerangka Pemikiran Konseptual

158

3.3 Hipotesis Penelitian 1. Biaya pengolahan PTPN V PKS Sei. Pagar pada tahun 2005 – 2007 mengalami peningkatan setiap tahunnya. 2. Komponen faktor-faktor biaya tetap dan biaya variabel mempengaruhi biaya pengolahan PTPN V PKS SPA. 3. Elastisitas antara faktor-faktor yang mempengaruhi biaya pengolahan PTPN V PKS SPA adalah positif. 4. Harga TBS yang ditawarkan oleh PTPN V PKS SPA mempengaruhi kemitraan antara PTPN V SPA dengan petani plasma.

159

BAB IV METODE PENELITIAN

4.1 Penentuan Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di PT. Perkebunan Nusantara V Pabrik Kelapa Sawit Sei. Pagar (PTPN V PKS SPA) dan petani plasma di tingkat kebun. Perusahaan ini dipilih dengan sengaja (purposive) berdasarkan pertimbangan bahwa perusahaan ini merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dibidang perkebunan dan pengolahan kelapa sawit. Pengumpulan data dilaksanakan pada bulan Desember 2007 sampai dengan Februari 2008.

4.2 Jenis dan Metode Pengumpulan Data Data penelitian yang dikumpulkan menggunakan data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui metode wawancara langsung kepada Masinis Kepala, Kepala Tata Usaha, karyawan PTPN V PKS SPA, dan petani plasma. Selain itu juga dilakukan pengamatan langsung di lapangan untuk memperoleh informasi proses pengolahan TBS dan informasi tambahan yang lain untuk mendukung data yang diperoleh. Data sekunder diperoleh dari bagian keuangan dan administrasi produksi. Data yang dikumpulkan meliputi laporan manajemen, neraca percobaan, data produksi, capaian produksi, harga TBS dan biaya pengolahan tahun 2005 sampai 2007 serta informasi dari bahan-bahan pustaka yang mendukung penelitian. Pengambilan data untuk evaluasi kemitraan yang terjadi antara petani plasma dan PTPN V SPA dilakukan dengan wawancara kepada pihak karyawan

160

inti sebanyak 10 orang dan kepada petani plasma sebanyak 30 orang. Pengambilan sampel dilakukan secara accidental sampling karena keterbatasan waktu dan kesulitan menyeleksi observasi. Data kinerja kemitraan PTPN V SPA diperoleh dengan melakukan wawancara terhadap 30 responden petani plasma. Kinerja kemitraan ditentukan dengan memberikan beberapa indikator seperti pada Tabel 7. Tabel 7. Daftar Indikator Kinerja Kemitraan No 1 Indikator Buruk Dimensi Tangible Daya tampung inti Dimensi Reliability Komunikasi yang dibangun pihak inti dan plasma Harga Beli TBS Waktu pembayaran TBS Dimensi Responsiveness Ketanggapan inti dalam menyelesaikan keluhan petani Layanan pinjaman dana Dimensi Assurance Disiplin inti dalam menaati perjanjian Pengetahuan proyek PIR-Trans Pengetahuan mengenai penyetoran TBS ke inti Dimensi Empathy Sikap inti terhadap kesejahteraan petani plasma Baik Sedang

2 3 4

5 6 7 8 9 10

4.3 Metode Analisis Data 4.3.1 Analisis Biaya Pengolahan dan Efisiensi Teknis Analisis yang digunakan dalam penelitian perhitungan biaya pengolahan adalah analisis harga pokok. Perkebunan perusahaan memproduksi minyak sawit (CPO) sebagai produk utama dan inti sawit (PK) sebagai produk sampingan. Berdasarkan sifat pengolahannya, CPO dan PK termasuk dalam sifat pengolahan

161

produk massa dan proses produksinya dilakukan secara kontinyu. Dengan demikian harga pokok yang digunakan adalah metode harga pokok proses, yaitu cara penentuan harga pokok produk yang membebankan biaya produksi selama periode tertentu kepada proses atau kegiatan produksi dan membaginya sama rata kepada produk yang dihasilkan dalam periode tertentu. Pembebanan biaya kepada produk yang dilakukan adalah berdasarkan full costing method, karena biaya yang digunakan dalam penelitian ini adalah total biaya (biaya penuh) yang dikeluarkan perusahaan untuk menghasilkan CPO baik biaya tetap maupun biaya variabel. Menurut Mulyadi (1993), full costing method adalah metode penentuan harga pokok yang memasukkan semua komponen biaya produksi (biaya tetap maupun variabel) sebagai komponen harga pokok produksi. Rumus yang digunakan adalah (Mulyadi, 1993):
H arg a Pokok = Total biaya pada periode tertentu Jumlah produksi pada periode tertentu

Dalam penelitian ini perhitungan harga pokok yang dilakukan adalah harga pokok pengolahan tingkat pabrik, yaitu komponen biaya yang dikeluarkan di tingkat pabrik dan membagi dengan rata produksi yang dihasilkan. Efisiensi teknis/fisik berkaitan dengan jumlah semua faktor produksi fisik yang digunakan dalam proses produksi. Jumlah produksi CPO yang dihasilkan oleh PKS jumlahnya tergantung dari produksi TBS yang dihasilkan oleh kebun, dan kualitas dari rendemennya. Pengolahan efisien secara teknis jika produksi TBS yang dihasilkan lebih besar dari produksi kapasitas idealnya dan jika kualitas rendemen yang dihasilkan berada pada selang yang ditentukan oleh Balai Penelitian Marihat dan Balai Penelitian Perkebunan Medan tahun 2004 untuk

162

jenis Tenera adalah 22–24 persen. Rumus untuk mencari kapasitas pabrik ideal adalah sebagai berikut:

4.3.2 Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Biaya Pengolahan CPO 1. Fungsi Cobb - Douglas
Dalam menduga parameter-parameter yang mempengaruhi produksi ada beberapa macam bentuk fungsi produksi yang digunakan, seperti fungsi linear biasa, fungsi transendental dan fungsi Cobb-Douglas (Beattie dan Taylor, 1994). Dari semua bentuk fungsi produksi tersebut fungsi Cobb-Douglas merupakan salah satu bentuk yang paling banyak digunakan karena memiliki beberapa kelebihan (Doll dan Orazem, 1984), yaitu: 1. Mengurangi heteroskedastisitas, karena bentuk linear fungsi produksi ditransformasikan ke dalam bentuk logaritma sehingga varians data menjadi lebih kecil. 2. Koefisien pangkat dari masing-masing faktor produksi yang digunakan dalam fungsi produksi Cobb-Douglas sekaligus menyatakan besarnya elastisitas produksi dari masing-masing faktor produksi yang digunakan terhadap output. 3. Jumlah elastisitas produksi masing-masing faktor produksi merupakan pendugaan terhadap skala usaha dari proses produksi. 4. Perhitungan sederhana dan dapat dimanipulasi menjadi bentuk linear dan dapat dilakakukan dengan program komputer.

163

Namun fungsi produksi Cobb-Douglas juga memiliki beberapa kelemahan, yaitu: 1. Model menganggap elastisitas produksi tetap sehingga tidak mencakup tiga tahap yang biasa dikenal dalam proses produksi, yaitu tahap kenaikan hasil bertambah, tahap kenaikan hasil tetap, dan tahap kenaikan hasil berkurang. 2. Nilai duga elastisitas produksi yang dihasilkan akan berbias bila faktor–faktor produksi yang digunakan tidak lengkap. 3. Model tidak dapat digunakan untuk menduga tingkat produksi pada taraf penggunaan faktor sama dengan nol. 4. Bila digunakan untuk menduga tingkat produksi pada taraf faktor produksi yang jauh di atas rata-rata akan menghasilkan nilai duga yang berbias ke atas. Fungsi produksi Cobb-Douglas menggunakan cara regresi berganda atau regresi sederhana. Fungsi produksi Cobb-Douglas, dapat ditransfomasikan menjadi fungsi biaya (Rahim dan Hastuti, 2007). Produksi hasil komoditas pertanian (on–farm) sering disebut korbanan produksi karena faktor produksi tersebut dikorbankan untuk menghasilkan komoditas pertanian. Oleh karena itu, untuk menghasilkan suatu produk diperlukan hubungan antara faktor produksi (input) dan komoditas (output). Menurut Soekartawi (1994:3), hubungan antara input dan output disebut factor relationship (FR). Fungsi produksi Cobb–Douglas adalah suatu fungsi persamaan yang melibatkan dua atau lebih variabel (variabel bebas/independent variable dan variabel tidak bebas/dependent variable). Y = a X1b1X2b2X3b3X4b4 X5b5X6b6X7b7X8b8X9b9X10b10X11b11X12b12 eu

164

Keterangan: Y a,b X1 X2 X3 X4 X5 X6 X7 X8 X9 X10 X11 X12 u e = Biaya Pengolahan (Rp) = besaran yang diduga = Gaji karyawan (Rp) = Alat dan inventaris (Rp) = Biaya pemeliharaan bangunan pabrik (Rp) = Biaya pemeliharaan mesin dan instalasi pabrik (Rp) = Premi asuransi pabrik (Rp) = Pembelian TBS (Rp) = Bahan kimia dan pelengkap (Rp) = Bahan bakar dan pelumnas (Rp) = Biaya listrik (Rp) = Biaya air (Rp) = Biaya angkut (Rp) = Biaya pengepakan (Rp) = kesalahan (disturbance term) = logaritma natural, e =2,718 Untuk menaksir parameter-parameter maka harus ditransformasikan dalam bentuk double logaritma natural (ln) sehingga merupakan linier berganda (multiple linear) yang kemudian dianalisis dengan metode kuadrat terkecil (ordinary least square) dengan menggunakan software E-views 4.1. Ln Y = Ln a + b1LnX1 + b2LnX2 + b3LnX3 + b4LnX4 + b5LnX5 + b6LnX6,......... + e

165

Karena penyelesaian fungsi Cobb-Douglas selalu dilogaritma naturalkan dan diubah bentuk fungsinya menjadi fungsi linear, maka ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, antara lain: a. Tidak ada nilai pengamatan yang bernilai nol. Sebab logaritma dari bilangan nol adalah suatu bilangan yang besarnya tidak diketahui (infinite). b. Dalam fungsi produksi, perlu asumsi bahwa tidak ada perbedaan teknologi pada setiap pengamatan. c. Tiap variabel X adalah perfect competition. d. Perbedaan lokasi (pada fungsi produksi) seperti iklim adalah sudah tercakup pada faktor kesalahan, u.

2. Asumsi Model Regresi OLS
1. Hubungan antara yi dan x1i dan x2i bersifat linear (dalam parameter). 2. x1i dan x2i bersifat tetap pada setiap observasi, atau dengan kata lain nilainya tidak berubah-ubah (tidak stokastik). 3. Nilai x harus bervariasi. 4. Nilai ei yang diharapkan (expected value) adalah nol, yaitu E(ei│xi) = 0, karena nilai y yang diharapkan hanya dipengaruhi oleh variabel independen, E(y)= β0+β1xi. 5. Varian variabel pengganggu ei adalah sama atau bersifat homoskedastis yaitu var(ei│xi) = δ2. 6. Tidak ada korelasi serial antarresidual, antara ei dengan ej atau tidak ada hubungan antara ei dengan ej dilambangkan dengan cov(ei,ej│ xi,xj) = E(ei│xi) (ej│xj)=0. 7. Tidak ada hubungan antara ei dengan xi , sehingga (ui,xi)=0.

166

8. Variabel pengganggu ei berdistribusi normal, dilambangkan e~N(0, δ2). 9. Tidak ada multikolinearitas sempurna antar variabel independen. 10. Jumlah observasi n harus lebih besar daripada jumlah parameter yang diestimasi (sebanyak variabel independen).

3. Masalah dalam Analisis Regresi Linear
Berbagai masalah yang sering dijumpai dalam analisis regresi dan korelasi adalah multikolinearitas(multicolineariry), heteroskedastisitas(heteroscedasticity), dan autokorelasi (autocorrelation). a. Multikolinearitas Multikolinearitas adalah kondisi adanya hubungan linear antarvariabel independen. Karena melibatkan beberapa variabel independen, maka

multikolinearitas tidak akan terjadi pada persamaan regresi sederhana (yang terdiri atas satu variabel dependen dan satu variabel independen). Kondisi terjadinya multikolinearitas ditunjukkan oleh: a. Nilai R2 tinggi, tetapi variabel independen banyak yang tidak signifikan. b. Dengan menghitung koefisien korelasi antarvariabel independen. Apabila koefisiennya rendah, maka tidak terdapat multikolinearitas. c. Nilai VIF (Variance Inflation Factor) yang lebih besar dari sepuluh menunjukkan tingkat multikolinearitas yang tinggi. b. Heteroskedastisitas Asumsi dalam model regresi adalah: (1) residual (ei) memiliki nilai rata-rata nol, (2) residual memiliki varian yang konstan, (3) residual suatu observasi tidak saling berhubungan dengan residual observasi lainnya, sehingga menghasilkan estimator yang BLUE.

167

Apabila asumsi (1) tidak terpenuhi, yang terpengaruh hanyalah slope estimator dan ini tidak membawa konsekuensi serius dalam analisis ekonometris. Sedangkan apabila asumsi (2) dan (3) dilanggar, maka akan membawa dampak serius bagi prediksi dengan model yang dibangun. Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi ada tidaknya masalah heteroskedastisitas, seperti metode grafik, Uji Park, dan uji White. c. Autokorelasi Autokorelasi adalah hubungan antara residual satu observasi dengan residual observasi lainnya. Autokorelasi lebih mudah timbul pada data yang bersifat runtut waktu, karena berdasarkan sifatnya, data masa sekarang dipengaruhi oleh data pada masa–masa sebelumnya. Meskipun demikian, tetap dimungkinkan autokorelasi dijumpai pada data yang bersifat antar objek (cross section). Salah satu asumsi dalam penggunaan model OLS adalah tidak ada autokorelasi, yang dinyatakan: E(ei,ej) = 0 dan i ╪ j Sedangkan apabila ada autokorelasi, maka dilambangkan: E(ei,ej) ╪ 0 dan i ╪ j Menurut Gujarati (1997), beberapa penyebab autokorelasi adalah: a. Data mengandung pergerakan naik turun secara musiman. b. Kekeliruan memanipulasi data. c. Data runtut waktu, terjadi hubungan antara data sekarang dan data periode sebelumnya. d. Data yang dianalisis tidak bersifat stasioner.

168

Autokorelasi dapat berbentuk autokorelasi positif dan autokorelasi negatif. Seperti halnya pengaruh heteroskedatisitas, autokorelasi juga akan menyebabkan estimator hanya bersifat LUE, tidak lagi BLUE. Keberadaan autokorelasi dalam sebuah fungsi dapat diuji dengan menggunakan uji Durbin-Watson. Nilai DurbinWatson yang diperoleh dari hasil olahan data (d), selanjutnya akan dibandingkan dengan nilai yang terdapat pada tabel Durbin-Watson. Nilai d akan berada dikisaran 0 hingga 4. Jika nilai Durbin Watson (d) yang diperoleh dari

pengolahan data berada pada selang dU < d < 4 – dU, maka tidak terdapat masalah autokorelasi dalam model.

4. Pengujian Fungsi Faktor-faktor yang Mempengaruhi Biaya Pengolahan
Pengujian–pengujian yang dilakukan dalam hal ini adalah pengujian model penduga dan pengujian terhadap parameter regresi 1. Pengujian terhadap model penduga Pengujian ini untuk mengetahui apakah model yang diajukan sudah layak untuk menduga parameter fungsi produksi. Hipotesis : Ho : b1 = b2 = ..... bi = 0 Semua variabel bebas (dependen) tidak berpengaruh terhadap variabel tidak bebas (independen) H1 : minimal ada satu dari bi ╪ 0 Minimal ada satu variabel bebas (dependen) berpengaruh terhadap terhadap variabel tidak bebas (independen) Uji statistik yang digunakan adalah uji F,

169

Keterangan : k = jumlah variabel termasuk variabel n n = jumlah pengamatan Kriteria uji : F hit > F tabel (k-1,n-k) : tolak Ho F hit < F tabel (k-1, n-k) : terima Ho Untuk memperkuat pengujian, dihitung besarnya nilai koefisien

determinasi (R2), untuk mengetahui berapa jauh keragaman produksi dapat diterangkan oleh variabel penjelas yang telah dipilih. Koefisien determinasi dapat ditulis sebagai berikut : R2 =
Jumlah Kuadrat Regresi (SSR) Jumlah Kuadrat Total (SST)

2. Pengujian untuk masing–masing parameter Tujuannya adalah untuk mengetahui variabel bebas yang berpengaruh nyata terhadap variabel tidak bebas. Hipotesis : Ho : bi = 0 Variabel bebas (independen) ke-i tidak berpengaruh terhadap variabel tak bebas (independen) H1 : bi ╪ 0 Variabel bebas (independen) ke-i berpengaruh terhadap variabel tak bebas (independen) Kriteria uji : p-value > α : tolak Ho p-value < α : terima Ho

170

Keterangan : v = jumlah variabel bebas n = jumlah pengamatan Jika tolak Ho artinya variabel bebas berpengaruh nyata terhadap variabel tidak bebas dalam model pada taraf nyata α persen dan demikian sebaliknya.

5. Elastisitas
Elastisitas produksi merupakan persentase perbandingan dari hasil produksi atau output sebagai akibat dari persentase perubahan dari input atau faktor produksi, atau dengan kata lain persentase perubahan hasil atau produk pertanian dibandingkan dengan persentase input atau korbanan. Elastisitas produksi dinotasikan dengan rumus sebagai berikut :

Keterangan : Y = perubahan hasil produksi Y = hasil produksi X = perubahan faktor produksi X = faktor produksi Berdasarkan elastisitas produksi, daerah yang tidak rasional dapat dibagi menjadi 3 (tiga) daerah, yaitu sebagai berikut: 1. Daerah produksi I dengan Ep > 1. Merupakan produksi yang tidak rasional karena pada daerah ini penambahan input sebesar satu persen akan menyebabkan penambahan produk yang selalu lebih besar dari satu persen. Di daerah produksi ini belum tercapai pendapatan yang maksimum

171

karena pendapatan masih dapat diperbesar apabila pemakaian input variabel dinaikkan. 2. Daerah produksi II dengan 0 < Ep < 1. Pada daerah ini penambahan input sebesar satu persen akan menyebabkan penambahan komoditas paling tinggi sama dengan satu persen dan paling rendah nol persen, tergantung harga input dan outputnya. Di daerah ini akan dicapai pendapatan maksimum. Daerah produksi ini disebut daerah produksi yang rasional. 3. Daerah produksi III dengan Ep < 0. Pada daerah ini, penambahan pemakaian input akan menyebabkan penurunan produksi total. Daerah produksi ini disebut daerah produksi yang tidak rasional.

4.3.3 Analisis Kinerja Kemitraan
Kinerja didefinisikan oleh Sluyter (1998) sebagai keseluruhan efektivitas organisasi untuk mencapai kebutuhan yang telah ditetapkan dari masing-masing anggota kelompok melalui usaha yang sistematis yang berkesinambungan untuk meningkatkan kemampuannya dalam mencapai tujuan yang efektif. Untuk mengukur kinerja kemitraan PTPN V SPA, petani plasma melakukan penilaian menggunakan skala 3 tingkat (Skala Likert) yang terdiri dari buruk, sedang, dan buruk. Ketiga penilaian diberikan bobot sebagai berikut : 1. Jawaban baik diberi bobot 3 2. Jawaban sedang diberi bobot 2 3. Jawaban buruk diberi bobot 1 Total penilaian tingkat kinerja masing-masing peubah diperoleh dengan cara menjumlahkan hasil perkalian skor masing-masing skala dengan jumlah responden yang memilih pada skala tersebut. Sebelum memberikan interpretasi

172

hasil penilaian petani plasma terhadap kinerja PTPN V SPA, ditentukan terlebih dahulu rentang skala penilaian kemudian dapat diketahui skala penilaiannya.

Keterangan : Rs = rentang skala m = persentase tertinggi dalam pengukuran n = persentase terendah dalam pengukuran b = banyak kelas interpretasi Skala penilaiannya adalah : 50,00 ≤ x < 66 = buruk 66,00 ≤ x < 82 = sedang x ≥82 = baik

4.4 Definisi Operasional
1. Wilayah penelitian di PT. Perkebunan Nusantara V Pabrik Kelapa Sawit, Sei. Pagar (PKS SPA). 2. Inti adalah perusahaan yang menyediakan sarana produksi, memberikan bimbingan kepada petani plasma serta menampung hasil panen. 3. Petani plasma adalah petani yang menjalin kemitraan dengan PT.Perkebunan Nusantara V Pabrik Kelapa Sawit Sei. Pagar dalam usaha budidaya sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati. 4. Tandan Buah Segar (TBS) adalah buah kelapa sawit yang telah dipanen. 5. Responden merupakan petani plasma yang menyetor TBS ke inti maupun ke pihak luar (swasta).

173

BAB V GAMBARAN UMUM PENELITIAN

5.1 Gambaran Umum Perusahaan 5.1.1 Sejarah PTPN V PKS SPA
PT Perkebunan Nusantara V (Persero) merupakan hasil konsolidasi wilayah perkembangan PTP II, IV, dan V pada tahun 1996, yang berdiri pada tanggal 14 Februari 1996 berdasarkan Peraturan Pemerintah RI No. 10 tahun 1996 dan disahkan 11 Maret 1996. Secara efektif perseroan mulai beroperasi sejak tanggal 9 April 1996 dengan kantor Pusat di kota Pekanbaru. Direksi PTPN V sebagai penanggung jawab pelaksanaan proyek PIR-Trans disamping tetap melaksanakan usahanya sendiri yaitu dapat membangun 6000 ha kebun plasma tanaman kelapa sawit lengkap dengan sarana pengolahan dan transportasi, dan kemampuan untuk bisa menerima hasil produksi petani peserta PIR-Trans. Bagi para peserta PIR-Trans dibangun pemukiman dalam bentuk desa lengkap dengan segala fasilitas sosial seperti pasar, sekolah, tempat ibadah, sarana olahraga, koperasi, dan polibun. PT. Perkebunan Nusantara V memiliki 18 kebun dan dua unit rumah sakit. Untuk pengolahan produksi PTPN V memiliki 12 unit PKS, empat unit pabrik pengolahan karet, satu kilang kakao. Luas kebun sawit untuk inti adalah 57.909,69 ha, TBM : 5.521,79 ha, TM : 52.386,90 ha, sedangkan untuk plasma adalah 56.665,00 ha, TBM : 84,00 ha, TM : 56.581,00 ha. Untuk wilayah kerja PTPN V terletak di lima Kabupaten, yaitu Kabupaten Kampar, Kabupaten Rokan Hulu, Kabupaten Rokan Hilir, Kabupaten Siak, dan Kabupaten Indragiri Hulu.

174

PT. Perkebunan Nusantara V mempunyai 12 PKS yaitu PKS Sei. Pagar, PKS Garo, PKS Sei. Intan, PKS Lubuk Dalam, PKS Tanjung Medan yang memiliki kapasitas olah sebesar 30 ton TBS/jam. PKS Tandun dengan kapasitas 40 ton TBS/ jam dan PKS Sei. Buatan, PKS Sei. Rokan, PKS Sei. Tapung, PKS Sei. Galuh, PKS Terantam serta PKS Tanah Putih yang masing–masing memiliki kapasitas olah sebesar 60 ton TBS/jam. PT. Perkebunan Nusantara PKS SPA dibangun pada tahun 1994, yaitu berlokasi di Desa Hang Tuah, Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar, Propinsi Riau ± 40 km dari kota Pekanbaru. Luas areal pabrik seluas 65.000 m2. Pembangunan PKS SPA memakan waktu 18 bulan oleh kontraktor Sumatera Raya Sari Eng. Co, sementara engenering consultant adalah PT. Tri Karya Pacindo Medan. Pelaksanaan Commisioning Take Over Test (TOT) tanggal 27 November 1995 dengan kapasitas olah terpasang 30 ton TBS/jam, dengan luas areal kebun inti seluas 2.752,68 ha dan kebun plasma seluas 6000 ha. Managemen organisasi PKS SPA dipimpin oleh seorang manager dan dibantu oleh asisten teknik pabrik, asisten pengendalian mutu, asisten umum proses, asisten CPO, asisten inti sawit dan kepala tata usaha. Sedangkan untuk karyawan terdiri dari empat bagian, yaitu bagian administrasi berjumlah 24 orang, laboratorium 26 orang, bengkel 53 orang, dan bagian pengolahan 71 orang. Untuk jam kerja di PKS SPA ini dibagi menjadi dua shift yaitu shift A pukul 06.30 – 18.30 dan shift B pukul 18.30 – 06.30, khusus bagian administrasi jam kerja yaitu pukul 06.30 – 16.00. Untuk tenaga permanen di PKS SPA ini (kebun inti) yaitu untuk afdeling I sebanyak 33 orang, adfeling II sebanyak 38 orang, adfeling III sebanyak 28 orang, dan adfeling IV sebanyak 28 orang.

175

5.1.2 Keadaan Kebun di PTPN V SPA a. Keadaan Iklim
Menurut sumber badan meteorologi dan geofisika Simpang Tiga Pekanbaru–Riau, lokasi kebun sawit Sei. Pagar secara geografis terletak antara 0010’32’’ – 0092’44’’ LU dan 101012’58’’ – 101024’39’’BT. Lokasi kebun tersebut termasuk kedalam tipe iklim A berdasarkan pembagian iklim, hal itu berarti bahwa daerah tersebut mempunyai rata–rata bulan basah dengan curah hujan lebih dari 100 mm. Temperatur udara harian yaitu 21.90C – 32.30C (maks), rata–rata 26.10C. Temperatur ini masih cocok untuk tanaman kelapa sawit karena kisaran temperatur bagi tanaman ini antara 150C – 300C. Kelembaban relatif rata–rata 83 persen, kelembaban minimal 82 persen dan kelembaban maksimal 84 persen. Lama intensitas penyinaran matahari rata–rata adalah 48.1 persen. Lama penyinaran puncak 57.6 persen terjadi pada bulan Juni. Bulan–bulan penyinaran matahari yang tinggi terjadi pada bulan April–Agustus (50 persen). Ketinggian tempatnya adalah tujuh sampai 30 m diatas permukaan laut. Untuk faktor tanah, diperkirakan 40 – 60 persen areal terdiri dari tanah gambut sehingga mempengaruhi pertumbuhan tanaman dan kondisi jalan produksi. Untuk mengatasi hal tersebut dibuat parit keliling blok dan parit ranjangan dalam blok.

b. Luas Kebun
Luas kebun PKS SPA dibagi dua jenis kepemilikan yaitu kebun inti dan kebun plasma. Kebun inti dikelola PTPN V PKS SPA, sedangkan kebun plasma dikelola petani plasma. Luas area kebun inti seluas 2.752,68 ha sedangkan kebun

176

plasma seluas 6000 ha, yang rencananya total kebun baik inti dan plasma adalah seluas 15000 ha.

c. Tahun Tanam
Pada PKS SPA untuk tahun tanam kelapa sawit mulai dari tahun 1986–1995 yaitu : Afdeling I Afdeling II TM 1986 = 678 ha TM 1986 = 698.8 ha TM 1988 = 24 ha TM 1989 = 9.2 ha Afdeling III TM 1986 = 145.5 ha TM 1988 = 480.5 ha TM 1990 = 20 ha TM 1995 = 48.5 ha Afdeling IV TM 1990 = 486.4 ha TM 1995 = 59.7 ha

d. Luas Kebun Produktif dan Tidak Produktif
PT. Perkebunan Nusantara V PKS SPA memiliki kebun inti dengan total luas kebun produktif 2.762,53 ha (tanaman menghasilkan/ TM) dan kebun non produktif 111.98 ha (tanaman belum menghasilkan/ TBM), yaitu sebagai berikut: Afdeling I Afdeling II Afdeling III Afdeling IV = 678 ha (TM) dan 74.60 ha (TBM) = 732 ha (TM) dan 22.73 ha (TBM) = 694.50 ha (TM) dan 14.65 ha (TBM) = 546.05 ha (TM) dan 0 ha (TBM)

177

Untuk kebun plasma dengan luas total kebun 6000 ha (TM) dan 0 ha (TBM) yaitu sebgai berikut : Wilayah KUD Manunggal = 1500 ha (TM) dan 0 ha (TBM)

Wilayah KUD Kusuma Bakti = 1500 ha (TM) dan 0 ha (TBM) Wilayah KUD Tri Manunggal = 922 ha (TM) dan 0 ha (TBM) Wilayah KUD Rukun Makmur = 958 ha (TM) dan 0 ha (TBM) Wilayah KUD Usaha Maju = 812 ha (TM) dan 0 ha (TBM)

e. Produksi tiap petak / blok
Pada kebun Sei. Pagar produksi tiap blok sebagai berikut : 1. Afdeling I Tahun tanam 1986, terdiri dari 46 blok dengan luas lahan total 678 ha dan jumlah pokok 86.300 serta pokok per hektar 127. 2. Afdeling II Tahun tanam 1986, terdiri dari 39 blok dengan luas lahan 698.80 ha dan jumlah pokok 89.840 serta pokok per hektar 129. Tahun tanam 1988, terdiri dari dua blok dengan luas lahan 24.00 ha dan jumlah pokok 3. 088 serta pokok per hektar 129. Tahun tanam 1989, terdiri dari empat blok dengan luas lahan 9.20 ha dan jumlah pokok 1.174 serta pokok per hektar 128. 3. Afdeling III Tahun tanam 1986, terdiri dari 13 blok dengan luas lahan 145.50 ha dan jumlah pokok 18.836 serta pokok per hektar 129. Tahun tanam 1988, terdiri dari 29 blok dengan luas lahan 480.50 ha dan jumlah pokok 61.267 serta pokok per hektar 128.

178

Tahun tanam 1990, terdiri dari satu blok dengan luas lahan 20 ha dan jumlah pokok 6.380 serta pokok per hektar 123 Tahun tanam 1995, terdiri dari empat blok dengan luas lahan 48.50 ha dan jumlah pokok 6.380 serta pokok per hektar 132 4. Afdeling IV Tahun tanam 1990, terdiri dari 23 blok dengan luas lahan 486.35 ha dan jumlah pokok 60.749 serta pokok per hektar 125. Tahun tanam 1995, terdiri dari tiga blok dengan luas lahan 59.70 ha dan jumlah pokok 7.740 serta pokok per hektar 130.

f. Jenis Varietas Tanaman
Untuk jenis varietas tanaman yang dipakai di PTPN V PKS SPA adalah jenis Tenera yang merupakan persilangan antara jenis Dura (memiliki biji besar dan tempurung tebal) dengan jenis Pesifera (memiliki biji kecil dan tempurung tipis) yang hasilnya adalah jenis Tenera (memiliki biji besar dan temopurung tipis).

5.1.3 Pengolahan dan Penanganan Limbah
Air limbah kelapa sawit dianggap mengganggu keseimbangan kehidupan dengan alam karena limbah tersebut mengandung beberapa bahan yaitu bahan– bahan yang tidak larut yang mempunyai berat jenis lebih kecil dari berat jenis air yang terangkut di dalam air limbah yaitu lapisan lemak dari limbah pabrik kelapa sawit, akan menutup permukaan air sungai. Hal ini akan menyebabkan penetrasi oksigen dari udara kedalam air akan tergantung sehinggga makhluk air akan kekurangan oksigen. Disamping itu proses photosintesa dalam membentuk O2 menjadi terhambat. Jika lapisan itu makin tebal di permukaan air sungai,

179

kemungkinan akan terjadi anaerob yang akan menghasilkan gas CH4 dan H2S yang berbau busuk. Timbulnya gas tersebut akan berbahaya bagi makhluk air atau bagi penduduk yang menggunakannya. Limbah yang dihasilkan dari pabrik kelapa sawit antara lain yaitu berupa cangkang (sheel) dan ampas (fibre), waste product, yaitu air limbah yang berasal dari air kondesat steam dari rebusan (sterilizer), drab buangan dari stasiun klarifikasi, dan air pencucian pabrik dari stasiun klarifikasi. Untuk mendapatkan air limbah yang sesuai dengan standar mutu air limbah di PKS Sei. Pagar dilakukan suatu pengendalian air limbah yang dikenal dengan istilah ”Effluent

treatment”. Air limbah pabrik yang dihasilkan untuk PKS kapasitas 30 ton
TBS/jam diperhitungkan ± 18 m3/jam. Air limbah yang mengandung bahan organik seperti protein, lemak, karbohidrat dan lain–lain yang berhasil penguraiannya dapat mempengaruhi keseimbangan kehidupan makhluk disekitarnya. Untuk menjaga agar jangan sampai terjadi populasi pencemaran lingkungan tersebut harus lebih dahulu mengalami perlakuan pengendalian, yang dikenal beberapa cara yaitu secara khemis, fisis, dan biologi.

Effluent treatment merupakan suatu pengendalian atau pemurnian air limbah
secara biologis, dimana mikrobia yang digunakan sebagai alat untuk menguraikan limbah melalui proses fermentasi sehingga dihasilkan limbah yang mempunyai BOD yang tidak mencemari lingkungan. Fermentasi adalah suatu proses perubahan–perubahan kimia yang terjadi pada media organik dengan perantaraan enzim yang dihasilkan oleh mikroorganisme dalam keadaan aerob maupun

anaerob.

180

5.1.4 Proses Pengolahan TBS Menjadi CPO
Pengolahan tandan buah segar (TBS) sampai diperoleh minyak sawit (CPO) dan inti sawit (Kernel) dilaksanakan melalui proses yang cukup panjang. Prosesnya melalui beberapa stasiun, yaitu: 1. Stasiun penerimaan buah (Fruit Reception Station) Stasiun yang berfungsi menerima TBS dari kebun inti maupun kebun plasma yang diangkut oleh truk pengangkut TBS ke pabrik, dan pada stasiun ini sudah dapat diketahui jumlah produksi TBS. Stasiun ini meliputi beberapa peralatan, yaitu: a. Jembatan Timbang (Weight Bridge) yang berfungsi untuk mengetahui berat TBS yang diterima. Truk yang berisi TBS ditimbang untuk mengetahui berat pada saat berisi buah (bruto). Kemudian TBS dikeluarkan di Loading Ramp maka truk yang kosong ditimbang untuk mendapatkan berat tara (tidak bermuatan) sehingga diperoleh berat bersih (neto) TBS tersebut. b. Tandan Buah Segar (TBS) akan diolah melalui proses pengolahan sehingga menghasilkan CPO dan kernel. Untuk mendapatkan mutu sesuai dengan keinginan perusahaan maupun konsumen maka diadakan sortasi TBS terlebih dahulu. c. Penimbunan TBS (Loading Ramp) berfungsi sebagai tempat penimbunan sementara dan pemindahan TBS ke dalam lori rebusan. Loading Ramp memiliki panjang 60 m terdiri dari 20 pintu dengan kapasitas 15 ton/pintu.

Loading Ramp dibuat miring dengan 270 terhadap bidang datar untuk
memudahkan penurunan buah ke lori.

181

d. Lori adalah alat yang berfungsi sebagai wadah untuk mengangkut dan merebus TBS.

e. Transfer carriage berfungsi untuk memindahkan lori yang telah diisi di Loading Ramp dan sebagai penyambung jalur pengisian buah ke jalur
perebusan. 2. Stasiun perebusan (Sterilizer Station) Stasiun yang berfungsi untuk merebus TBS yang terdapat di dalam lori. Baik buruknya mutu dan jumlah hasil olah suatu pabrik sawit, terutama ditentukan oleh keberhasilan rebusan. Tujuan dari sterilisasi TBS adalah:

Menonaktifkan enzim lipase dan oksidase yang terdapat dalam buah sawit yang dapat menaikkan ALB. Enzim tersebut dapat terhenti aktifitasnya dengan pemanasan pada suhu 550C

• • • •

Menaikkan kadar air hingga 12 persen Memudahkan brondolan lepas dari tandan Melunakan daging buah sehingga mempermudah proses pressing Membantu proses pelepasan inti dari cangkang

Pada stasiun ini terdapat beberapa alat sebagai berikut:

Alat penarik (Capstand) berfungsi sebagai alat penarik lori keluar dan masuk rebusan

Ketel rebusan (Sterilizer) merupakan bejana uap tekan yang digunakan untuk merebus buah. Masing–masing rebusan terdiri dari delapan lori dengan kapasitas 20 ton TBS dengan tekanan kerja yang diinginkan.

182

3. Stasiun penebahan (Threshing Station) Stasiun yang berfungsi untuk memisahkan brondolan dari tandan yang sudah direbus. Pada stasiun ini terjadi proses pemisahan pertama antara janjangan kosong (jankos) pada konveyor jankos (Empty Bunch Conveyor) dan berondolan yang akan didistribusikan ke tiap unit digester oleh distributing conveyor. 4. Stasiun pengempaan (Pressing Station) Stasiun kempa berfungsi untuk mengambil miyak dari mesocarp (daging buah yang berserabut dan mengandung minyak) dan memisahkan dari ampas press. Pada stasiun kempa terdapat peralatan umumnya terdiri dari: a. Digester (Ketel Pelumat buah) yang berfungsi untuk melumatkan brondolan sehingga daging buah terpisah dari biji. b. Pengempaan buah (Screw Press) digunakan untuk memisahkan crude oil dari daging buah (mesocarp) dengan kapasitas olah 10 – 12 ton/jam. c. Pemisah ampas kempa (Cake Breaker Conveyor) adalah alat yang berfungsi untuk memecahkan ampas kempa, untuk mempermudah pemisahan biji dan ampas. d. Pemisahan ampas dan biji adalah alat yang berfungsi untuk memisahkan ampas dan biji serta membersihkan biji dan sisa–sisa serabut yang masih melekat pada biji. 5. Stasiun pemurnian (Clarification Station) Proses yang terjadi pada stasiun ini adalah pemisahan minyak dari fraksi lainnya, seperti air dan sludge, sehingga diperoleh minyak produksi. Pemisahan minyak, air, dan kotoran dilakukan dengan sistem pengendapan, sentrifugasi, dan penguapan.

183

6. Statiun pengolahan inti (Kernel Station) Stasiun kernel adalah stasiun terakhir untuk menghasilkan inti sawit sebagai hasil produksi yang siap dipasarkan serta cangkang (shell) dan serat (fiber) sebagai bahan bakar boiler.

5.2 Karakteristik Responden 5.2.1 Karakteristik Umum Petani Plasma
Karakteristik umum petani plasma di PTPN V PKS SPA didasarkan survei terhadap 30 responden, dimana seluruhnya adalah petani plasma yang berada di tiga KUD yang berada di Sei. Pagar yaitu KUD Kusuma Bhakti, KUD Sukatani, dan KUD Mawar Indah. Karakteristik umum responden dapat dilihat dari beberapa variabel yaitu, jenis kelamin, tingkat umur, status perkawinan, dan tingkat pendidikan.

1. Jenis Kelamin
Menurut hasil survei terhadap 30 responden, diketahui bahwa sebagian besar petani plasma berjenis kelamin laki–laki sebanyak 28 orang (93,33 persen), sedangkan petani plasma sebanyak dua orang (6,67 persen) adalah perempuan (Gambar 3). Sehingga yang bertanggung jawab dalam pengambilan keputusan dan pengelolaannya adalah laki–laki, selain itu juga bertindak sebagai kepala rumah tangga.

184

Persentase Jenis Kelamin

Perempuan, 6.67, 7%

Laki -Laki Perempuan Laki -Laki, 93.33, 93%

Gambar 3. Persentase Jenis Kelamin 2. Tingkat Umur
Distribusi tingkat umur dari petani plasma bervariasi, dimulai dari umur 40an sampai dengan umur 60an. Tingkat umur petani plasma tersebar pada kelompok umur sebagaimana terlihat pada (Gambar 4).
Persentase Tingkat Umur

55-59 10%

60-65 7% 40-44 40% 40-44 45-49 50-54 55-59 60-65 45-49 23%

50-54 20%

Gambar 4. Persentase Tingkat Umur

Penyebaran umur responden terbesar pada kelompok umur 40 – 44 tahun, yaitu sebanyak 12 orang (40 persen). Kemudian petani yang termasuk dalam kelompok umur 45 – 49 tahun sebanyak tujuh orang (23 persen), kemudian diikuti oleh kelompok umur 50 – 54 tahun sebanyak enam orang (20 persen), dan kelompok umur 55 – 59 tahun sebanyak tiga orang (10 persen). Sedangkan

185

kelompok petani yang berumur 60 – 65 tahun memiliki jumlah yang paling sedikit yaitu sebanyak dua orang (tujuh persen). Dapat dilihat bahwa rata–rata petani plasma berumur 40 – 54 tahun. Hal ini disebabkan karena berprofesi sebagai petani perkebunan sawit merupakan mata pencaharian utama rumah tangga, sehingga keputusan dan pengelolaan dilakukan oleh orang dewasa. Mereka memilih menjadi petani mengikuti program PIR– Trans berpindah dari daerah asalnya disebabkan karena keterbatasan tingkat pendidikan, sehingga menjadi petani plasma merupakan jenis pekerjaan yang dipilih. Sebagai petani plasma tidak dibutuhkan tingkat pendidikan yang tinggi.

3. Tingkat Pendidikan
Kualitas pendidikan petani plasma rendah. Hal ini ditunjukkan oleh penyebaran tingkat pendidikan petani plasma yang berada pada tingkat pendidikan SD dan SLTP. Tingkat pendidikan paling tinggi yang dicapai adalah SMA berjumlah empat orang (13 persen). Mayoritas tingkat pendidikan dari petani plasma adalah SD dan SLTP sebanyak 44 dan 43 persen dan disajikan pada Gambar 5. Kualitas pendidikan memberi refleksi akan pola dan aktivitas seseorang dalam menjalani kehidupannya.
Persentase Tingkat Pendidikan

SMA 13% SD 44% SD SLTP SMA SLTP 43%

Gambar 5. Persentase Tingkat Pendidikan

186

4. Status Perkawinan
Seluruh petani plasma yang ada di sekitar PTPN PKS SPA sudah menikah. Hal ini disebabkan karena petani plasma dijadikan sebagai mata pencaharian utama bahkan satu-satunya untuk menopang atau menjadi tulang punggung perekonomian rumah tangga. Dengan menjadi petani usaha kelapa sawit, maka mereka dapat menghidupi keluarga, dan anak–anak atau istri mereka dapat membantu dengan menjadi salah satu tenaga kerja, sehingga biaya tenaga kerja menjadi lebih murah.

5.2.2 Karakteristik Usaha Petani Plasma
Karakteristik usaha dari 30 orang petani plasma di SPA bervariasi. Karakteristik usaha ini merupakan hal–hal atau variabel–variabel yang menjadi ciri dari masing–masing pengrajin tersebut. Variabel–variabel tersebut adalah umur tanaman, luas lahan, jumlah produksi, dan pendapatan usaha.

1. Umur Tanaman
Rata–rata umur tanaman kelapa sawit yang dimiliki oleh petani plasma Sei. Pagar adalah berumur 22 tahun sebanyak 28 orang (93,33 persen) sedangkan petani plasma sebanyak dua orang (6,67 persen) memiliki tanaman kelapa sawit berumur 21 tahun. Umur ekonomis kelapa sawit adalah 25 tahun oleh karena itu sekitar tiga tahun ke depan, tanaman kelapa sawit tersebut akan mengalami peremajaan dan akan dibutuhkan dana yang besar untuk melakukan peremajaan tersebut.

187

2. Luas Lahan
Luas lahan yang dimiliki oleh petani plasma adalah dua hektar. Lahan tersebut merupakan aturan yang sudah ditetapkan dalam program PIR–Trans. Setiap petani plasma mendapatkan lahan seluas dua hektar.

3. Jumlah Produksi
Jumlah produksi yang dihasilkan oleh petani plasma berbeda–beda tergantung setiap petani dalam merawat, memberikan pupuk, dan pola pemanenan. Gambar 6 menunjukkan perbedaan jumlah produksi yang dihasilkan.
Persentase Jumlah Produksi TBS

>5000 10%

<2000 2000 -3000 7% 7%

<2000 2000 -3000 3001 - 4000

4001 - 5000 43%

3001 - 4000 33%

4001 - 5000 >5000

Gambar 6. Persentase Jumlah Produksi CPO

Hasil produksi yang dihasilkan rata–rata perbulan paling banyak sekitar 4001 kg – 5000 kg sebanyak 13 orang petani plasma (43 persen), kemudian hasil produksi petani plasma sekitar 3001 kg – 4000 kg sebanyak 10 orang (33 persen), jumlah petani sebanyak tiga orang (10 persen) menghasilkan produksi dengan kisaran lebih dari 5000 kg, sedangkan yang paling sedikit hasil produksi kisaran kurang dari 2000 kg dan kisaran 2000 kg – 3000 kg masing–masing sebanyak dua orang (7 persen).

188

4. Pendapatan Usaha
Pendapatan usaha petani plasma adalah sejumlah uang yang diperoleh petani plasma dari hasil penjualan TBS setelah dikurangi oleh biaya produksi. Pendapatan yang diterima dihitung dalam rata–rata perbulan.
Persentase Tingkat Pendapatan

>7500000 3%

<25000000 10% 25000005000000 23% <25000000 2500000-5000000 5100000-7500000 >7500000

51000007500000 64%

Gambar 7. Persentase Tingkat Pendapatan

Gambar 7 menunjukkan bahwa distribusi pendapatan petani plasma yang terbanyak berada pada kelompok pendapatan Rp.5.100.000 – Rp.7.500.000 sebanyak 19 orang (64 persen), kemudian diikuti kelompok pendapatan Rp.2.500.000 – Rp.5.000.0000 sebanyak tujuh orang (23 persen), dan sebanyak tiga orang (10 persen) memiliki tingkat pendapatan kurang dari Rp.2.500.000. Yang paling sedikit adalah tingkat pendapatan lebih dari Rp.7.500.000 adalah satu orang (3 persen).

189

BAB VI ANALISIS BIAYA PENGOLAHAN TBS MENJADI CPO

6.1 Komponen–Komponen Biaya Pengolahan
Pabrik Kelapa Sawit (PKS) diperlukan karena sifat alami buah sawit yang tidak dapat disimpan lama. PKS menjadi satu keharusan dalam industri kelapa sawit, tanpa PKS buah kelapa sawit tidak dapat dimanfaatkan. PKS dapat beroperasi dengan baik apabila pasokan tandan buah segar (TBS) yang berasal dari inti dan plasma dapat memasukkan buahnya setiap hari ke PKS. Saat ini PKS dapat dikatakan pengoperasiannya kurang efisien baik secara teknis dan ekonomi. Secara teknis dapat dikatakan bahwa pabrik bekerja kurang efisien antara lain disebabkan tidak tercapainya kapasitas olah pabrik sesuai kapasitas terpasang yaitu 30 ton TBS/jam, sedangkan efisiensi ekonomis dapat dilihat dari alokasi sektor biaya yang digunakan oleh PTPN V PKS SPA. Biaya pengolahan merupakan biaya yang paling dominan dalam proses produksi di PKS SPA. Biaya pengolahan terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel pabrik. Proses pengolahan di pabrik merupakan kegiatan mengubah bahan baku (TBS) menjadi bahan jadi (CPO) yang merupakan produk yang dihasilkan untuk dijual. Biaya pengolahan pabrik yang dimaksud disini merupakan biaya pengolahan minyak sawit (CPO) sebagai produk utama, sedangkan inti minyak sawit (PK) tidak dianalisis karena persentase dari produk PK sangat kecil (< 20%) dari total produksi palm product. Metode yang digunakan adalah metode biaya rata-rata pabrik.

190

1. Biaya Tetap Pabrik
Biaya tetap pabrik terdiri dari gaji karyawan pimpinan, gaji karyawan pelaksana, alat dan inventaris, biaya pemeliharaan bangunan pabrik, biaya pemeliharaan mesin dan instalasi pabrik, dan premi asuransi pabrik. Besarnya biaya tetap selama periode 2005 – 2007 dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8. Komponen Biaya Tetap PTPN V PKS SPA Tahun 2005 - 2007
Komponen Biaya Tetap Gaji karyawan Pimpinan Gaji Karyawan Pelaksana Alat dan Inventaris Biaya Pemeliharaan Bangunan Pabrik Biaya Pemeliharaan mesin dan instalasi Pabrik Premi asuransi Pabrik Total Tahun 2005 Total (Rp) 257.68 2296.01 106.45 208.39 2436.71 Rata – rata (Rp/bulan) 23.43 208.73 9.68 18.94 221.52 Tahun 2006 Total (Rp) 305.89 2504.62 102.77 191.54 2093.65 Rata – rata (Rp/bulan) 25.49 208.72 8.56 15.96 174.47 Tahun 2007 Total (Rp) 533.72 3288.71 109.16 128.45 1926.13 Rata – rata (Rp/bulan) 44.48 274.06 9.10 10.70 160.51

176.05 6021.29

65.10 -

632.69 5831.17

52.72 -

624.07 6610.25

52.01 -

Sumber: Laporan Manajemen PTPN V PKS SPA

Satuan : Jutaan rupiah

Pada Tabel 8 dapat dilihat bahwa rata–rata peningkatan biaya tetap terbesar terjadi pada tahun 2007 dikarenakan terjadi kenaikan upah karyawan baik gaji karyawan pimpinan maupun karyawan pelaksana pada tahun tersebut. Jumlah karyawan pimpinan enam orang dan dua orang calon karyawan pimpinan serta jumlah karyawan pelaksana sebanyak 165 orang. Disamping itu biaya tetap pabrik yang mengeluarkan biaya yang besar adalah biaya pemeliharaan mesin dan instalasi pabrik. Pada tahun 2005, biaya pemeliharaan mesin dan instalasi pabrik mengeluarkan biaya yang paling besar

191

dibandingkan dengan tahun 2006 dan 2007. Pada tahun 2005, jumlah TBS yang diolah banyak, sehingga biaya yang dikeluarkan untuk memelihara mesin dan instalasi pabrik tinggi, karena dengan semakin banyaknya jam olah yang digunakan untuk mengolah TBS maka akan menyebabkan mesin dan instalasi pabrik kemampuannya menurun dan membutuhkan perawatan.

2. Biaya Variabel Pabrik
Biaya variabel PKS SPA meliputi biaya pembelian TBS, bahan kimia dan pelengkap, bahan bakar dan pelumas, biaya listrik, biaya air, biaya langsir, biaya angkat sampah/tankos, dan biaya pengepakan (Tabel 9). Biaya variabel pabrik dari tahun 2005 – 2007 mengalami peningkatan. Pada tahun 2007 terlihat peningkatan yang sangat tajam dari tahun sebelumnya.

Tabel 9. Komponen Biaya Variabel PTPN V PKS SPA Tahun 2005 – 2007
Komponen Biaya Variabel Pembelian TBS Bahan kimia dan pelengkap Bahan bakar dan Pelumnas Biaya Listrik Biaya Air Biaya Langsir Biaya Angkat sampah/Tankos Biaya Pengepakan Total Tahun 2005 Total 80956.36 164.08 51.61 910.69 251.01 176.22 183.13 5.24 82698.33 Rata rata Tahun 2006 Total Rata rata Tahun 2007 Total Rata rata

7359.67 83984.07 6998.67 161875.32 13489.61 14.92 4.69 82.79 22.82 16.02 16.65 0.48 181.28 27.71 1323.68 244.45 287.78 167.67 3.25 15.11 2.31 110.31 20.37 23.98 13.97 0.27 180.82 30.35 1198.08 234.30 246.63 214.30 216.31 15.07 2.53 99.84 19.53 20.55 17.86 18.03 -

- 86219.88

- 164196.09

Sumber: Daftar Harga Pembelian TBS Laporan Manajemen PTPN V PKS SPA

Satuan : Jutaan rupiah

192

Salah satu faktor yang menyebabkan peningkatan biaya variabel terdapat pada komponen pembelian TBS. Pada tahun 2007 harga pembelian TBS mengalami peningkatan yang tajam (Lampiran 3). Biaya pembelian bahan baku TBS merupakan biaya tingkat kebun yang dimasukkan ke dalam komponen biaya variabel pabrik.

Tabel 10. Perkembangan Harga TBS PTPN V PKS SPA Tahun 2005 – 2007
Tahun 2005 2006 2007 Rata - Rata Harga TBS (RP/kg) 706.92 742.47 1331.79 Rasio Peningkatan Harga TBS (%) 4.79 44.25

Sumber: Daftar Harga Pembelian TBS PTPN V PKS SPA.

Peningkatan harga TBS disebabkan oleh meningkatnya permintaan pasar, baik untuk kebutuhan konsumsi maupun bahan baku pembuatan bahan bakar nabati seperti biodiesel di berbagai negara di dunia. Pada tahun 2006 terjadi peningkatan harga TBS PTPN V SPA sebesar 4,79 persen dibanding tahun 2005, dan pada tahun 2007 terjadi peningkatan yang cukup tajam yaitu sebesar 44,25 persen dibandingkan tahun sebelumnya yaitu tahun 2006 (Tabel 10). Terlepas dari biaya bahan baku TBS, komponen biaya variabel pabrik yang memberikan kontribusi terbesar terhadap biaya variabel pabrik adalah biaya listrik yang digunakan oleh pabrik untuk mengolah TBS menjadi CPO. Pada tahun 2006 terjadi peningkatan biaya sebesar 45,35 persen dari tahun 2005 sedangkan pada tahun 2007 terjadi penurunan biaya listrik sebesar 9,49 persen.

193

Tabel 11. Komponen Biaya Pengolahan Tanpa Pembelian TBS PTPN V PKS SPA Tahun 2005 – 2007
Jenis biaya Bahan kimia dan pelengkap Bahan bakar dan Pelumnas Biaya Listrik Biaya Air Biaya Langsir Biaya Angkat sampah/Tankos Biaya Pengepakan Total 2005 Realisasi 164076176 51611586 910687462 251008107 176216746 183129497 5239865 1741969439 Anggaran 181797890 74894600 933051409 362090000 103848954 390517778 10613674 2056814305 Realisasi 181283812 27710083 1323675429 244449318 287776767 167671580 3250000 2235816989 2006 Anggaran 220756675 85824420 910935614 349377078 243407132 489881263 11695117 2311877299 Realisasi 180816078 30345077 1198075549 234304982 246629155 214300271 216307539 2320778651 2007 Anggaran 212120950 90583580 955934000 330972142 247065555 339419431 10285470 2186381128

Sumber: Laporan Manajemen PTPN V PKS SPA Tahun 2005 – 2007

Perbedaan antara total realisasi terhadap anggaran yang dibuat oleh PTPN V PKS SPA pada tahun 2005 adalah sebesar 18,07 persen, pada tahun 2006 terjadi juga perbedaan sebesar 3,40 persen. Tahun 2007 berbeda dengan tahun 2005 dan 2006, biaya variabel yang terealisasi pada tahun 2007 lebih besar dibanding dengan biaya anggarannya yaitu sebesar 5,79 persen. Dari biaya produksi PKS SPA (biaya tetap dan biaya variabel), biaya rata– rata tingkat pabrik untuk memproduksi CPO dapat dilihat pada Tabel 12. Biaya rata–rata tingkat pabrik merupakan penjumlahan dari biaya bahan baku TBS dan biaya tingkat pabrik (biaya tetap dan biaya variabel pabrik) dibagi dengan jumlah produksi CPO yang dihasilkan selama periode 2005 – 2007.

194

Tabel 12. Biaya Rata–Rata Tingkat Pabrik PTPN V SPA Tahun 2005 – 2007
Tahun 2005 2006 2007 Biaya Pengolahan (Rp) 88719625624 92051048275 170806349624 Produksi CPO (kg) 24629164 23600861 25779183 Biaya Rata - Rata (Rp/kg CPO) 3602,22 3900,33 6625,75

Sumber : Laporan Manajemen PTPN V PKS SPA Tahun 2005 – 2007 (data diolah)

Biaya tingkat pabrik PKS SPA untuk menghasilkan satu kilogram CPO masing–masing sebesar Rp. 3602,2 pada tahun 2005, Rp. 3900,33 pada tahun 2006, dan Rp. 6625,75 pada tahun 2007. Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa biaya rata–rata yang dikeluarkan rupiah per kilogram CPO cenderung meningkat setiap tahun. Artinya peningkatan biaya lebih besar dari peningkatan produksinya.

6.2 Analisis Efisiensi Teknis
Secara umum efisiensi dapat dilihat dengan membandingkan antara nilai output dengan nilai inputnya. Perusahaan dapat dikatakan efisien bila dengan input yang lebih sedikit dapat dihasilkan output yang sama atau dengan input yang sama dapat dihasilkan output yang lebih tinggi. Efisiensi produksi dapat dilihat secara teknis/fisik. Efisiensi teknis/fisik berkaitan dengan jumlah semua faktor produksi fisik yang digunakan dalam proses produksi. Jumlah produksi CPO yang dihasilkan oleh PKS jumlahnya tergantung dari produksi TBS yang dihasilkan oleh kebun, dan kualitas dari rendemennya.

195

Tabel 13. Perbandingan Jumlah TBS dan CPO Diolah PTPN V PKS SPA Tahun 2005 – 2007
Tahun 2005 2006 2007 Produksi TBS (kg) 126724970 106120820 117279490 Produksi CPO (kg) 27508451 23600861 25779183 Rendemen (%) 21.71 22.24 21.98 Kapasitas Terpasang (ton tbs/jam) 30 30 30 Produksi Kapasitas Ideal (kg) 120000000 120000000 120000000 Rasio (%) 105.60 88.43 97.73

Sumber : Laporan Manajemen PTPN V PKS SPA Tahun 2005 – 2007 (data diolah)

Kapasitas oleh terpasang dihitung dalam satuan ton TBS/ jam yaitu 30 ton TBS/jam. Apabila kapasitas PKS yang dibuat adalah 30 ton TBS/ jam, idealnya sesuai dengan perhitungan kapasitas pabrik berdasarkan produksi maksimum bulanan kapasitas olah PKS adalah 120.000 ton/tahun, dengan kapasitas olah per bulan 10.000 ton TBS dengan masa operasi 20 jam. Pada tabel 13 terlihat bahwa total produksi tahun 2005 berada diatas target yaitu sebesar 105,60 persen, namun pada tahun 2006 dan 2007 terjadi sebaliknya bahwa total produksi berada dibawah target yaitu masing–masing 88,43 persen dan 97,73 persen. Semakin tinggi rasio antara produksi TBS yang diolah dengan kapasitas terpasang menunjukkan terjadinya peningkatan efisiensi teknis di PTPN V Sei. Pagar. Pada tahun 2005 PKS menerima TBS dari inti maupun plasma, tapi diperkirakan bahwa pada tahun 2005 TBS yang berasal dari plasma bukan asli dari plasma tapi ada juga yang berasal dari luar tanaman PTPN V SPA yang dijual kepada PTPN V SPA. Sedangkan pada tahun 2006 dan 2007 jumlah produksi TBS yang masuk ke PTPN inti berkurang disebabkan oleh faktor luar yaitu banyaknya PKS swasta yang dibangun di luar PTPN V SPA sehingga banyak

196

petani plasma yang menjual buahnya kepada pihak luar. Hal ini yang menyebabkan PKS seringkali kekurangan buah sehingga pabrik jarang mengolah. Pada tabel 13 terlihat bahwa kualitas rendemen TBS berfluktuasi dari tahun 2005 – 2007. Pada tahun 2005 rendemen sebesar 21,71 persen mengalami peningkatan pada tahun 2006 menjadi 22,24, sedangkan pada tahun 2007 mengalami penurunan menjadi 21,98. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Balai Penelitian Marihat dan Balai Penelitian Perkebunan Medan tahun 2004 menyatakan kualitas rendemen tertinggi untuk jenis Tenera adalah 22 – 24 persen. Bila dibandingkan dengan hasil penelitian Marihat, berarti kulitas rendemen PTPN V SPA sudah cukup baik sepanjang periode tahun 2005 – 2007. Kualitas rendemen nantinya akan mempengaruhi hasil olahan minyak sawit (CPO). Jumlah TBS yang tinggi dapat memberikan hasil CPO yang tinggi pula dengan mempertimbangkan faktor rendemen di pabrik, semakin tinggi rendemen, kualitas hasil CPO juga meningkat. Pada tahun 2005, dengan produksi TBS sebesar 126.724.970 kg dapat dihasilkan 27.508.451 kg CPO dan nilai rendemen 21,71 persen. Artinya dari 100 kilogram TBS dapat dihasilkan 21,71 kilogram CPO. Pada tahun 2006 jumlah produksi TBS mengalami penurunan sekitar 16,26 persen, namun nilai rendemen TBS diolah dengan CPO mengalami peningkatan sebesar 2,44 persen, yaitu sebesar 22,24 persen. Artinya, pada tahun 2006, dari 100 kilogram TBS dapat dihasilkan 22,24 kilogram CPO. Nilai ini lebih baik bila dibandingkan dengan tahun 2007, meskipun jumlah produksi TBS meningkat sebesar 10,52 persen dan produksi CPO meningkat sebesar 9,23 persen dengan kapasitas olah terpasang 30 ton TBS per jam, namun nilai rendemen TBS diolah dengan CPO dihasilkan

197

menurun sebesar 1,17 persen menjadi 21,98 persen. Hal ini berarti, pada tahun 2007 dari 100 kilogram TBS dapat dihasilkan 21,98 kilogram CPO. Nilai rendemen tertinggi dicapai pada tahun 2006 yaitu sebesar 22,24 persen, artinya dari 100 kilogram TBS dapat dihasilkan 22,24 kilogram CPO. Tapi pada tahun ini pula dihasilkan total produksi TBS yang jumlahnya terkecil bila dibandingkan dengan kapasitas ideal untuk kapasitas pabrik 30 ton TBS/jam yaitu 88,43 persen sedangkan tahun 2005 dan 2007 masing–masing adalah 105,60 persen dan 97,73 persen. Secara keseluruhan efisiensi teknis PTPN V SPA sudah cukup baik. Tapi perlu dilakukan peningkatan jumlah produksi TBS agar sesuai dengan kapasitas terpasang pabrik yaitu 30 ton TBS/jam.

198

BAB VII ANALISIS FAKTOR-FAKTOR BIAYA YANG MEMPENGARUHI BIAYA PENGOLAHAN CPO

7.1 Model Fungsi Linear Berganda
Model analisis yang digunakan untuk mengetahui faktor–faktor yang mempengaruhi biaya pengolahan CPO adalah fungsi Cobb–Douglas dengan menggunakan penduga model OLS (Ordinary Least Square). Faktor–faktor yang diduga untuk menentukan model ini adalah yaitu gaji karyawan (X1), alat dan inventaris (X2), biaya pemeliharaan bangunan pabrik (X3), biaya pemeliharan mesin dan instalasi pabrik (X4), premi asuransi pabrik (X5), pembelian TBS (X6), bahan kimia dan pelengkap (X7), bahan bakar dan pelumnas (X8), biaya listrik (X9), biaya air (X10), biaya angkut (X11), dan biaya pengepakan (X12). Semua faktor biaya tersebut merupakan peubah bebas (X) yang menduga mepengaruhi biaya pengolahan CPO. Hubungan antara gaji karyawan (X1), alat dan inventaris (X2), biaya pemeliharaan bangunan pabrik (X3), biaya pemeliharan mesin dan instalasi pabrik (X4), premi asuransi pabrik (X5), pembelian TBS (X6), bahan kimia dan pelengkap (X7), bahan bakar dan pelumnas (X8), biaya listrik (X9), biaya air (X10), biaya angkut (X11), dan biaya pengepakan (X12) dengan biaya pengolahan CPO ditentukan dengan model regresi linear berganda. Biaya pengolahan CPO merupakan variabel dependen (tidak bebas), gaji karyawan (X1), alat dan inventaris (X2), biaya pemeliharaan bangunan pabrik (X3), biaya pemeliharan mesin dan instalasi pabrik (X4), premi asuransi pabrik (X5), pembelian TBS (X6), bahan kimia dan pelengkap (X7), bahan bakar dan pelumnas (X8), biaya listrik

199

(X9), biaya air (X10), biaya angkut (X11), dan biaya pengepakan (X12) merupakan variabel independen (bebas). Tabel 14 menunjukkan hasil analisis regresi.

Tabel 14. Hasil Analisis Regresi Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Biaya Pengolahan TBS Variabel
Konstanta Gaji Karyawan Alat dan Inventaris Pemeliharaan Bangunan Pabrik Pemeliharan mesin dan instalasi Pabrik Premi Asuransi Pabrik Pembelian TBS Bahan Kimia dan Pelengkap Bahan Bakar dan Pelumnas Biaya Listrik Biaya Air Biaya Angkut Biaya Pengepakan R-squared = 92.92% Adjusted R-squared = 89.06%
Keterangan : * nyata pada taraf 1%

Koef
3.849058 0.145204 0.005858 0.060116 0.310015

SE Koef
1.260058 0.024452 0.017425 0.039251 0.037938

T
3.054668 5.938261 0.336197 1.53158 8.171568

P
0.0058 0.0000* 0.7399 0.1399*** 0.0000*

0.007704 0.145947 0.026708 -0.013168 0.061918 0.055697 0.056303 0.000878

0.004778 0.038881 0.034657 0.018581 0.020251 0.035502 0.021002 0.002048

1.612434 3.753698 0.770644 -0.708685 3.057581 1.568811 2.680835 0.428816

0.1211*** 0.0011* 0.4491 0.4860 0.0058* 0.1310*** 0.0137** 0.6722

F-statistic = 24.07 Durbin-Watson Stat = 1.84
**nyata pada taraf 5% ***nyata pada taraf 15%

Model tersebut memiliki koefisien determinasi (R2) sebesar 92.92 persen. Nilai berarti bahwa keragaman biaya pengolahan CPO yang dihasilkan 92.92 persen dapat dijelaskan oleh 12 faktor biaya yaitu gaji karyawan (X1), alat dan inventaris (X2), biaya pemeliharaan bangunan pabrik (X3), biaya pemeliharan mesin dan instalasi pabrik (X4), premi asuransi pabrik (X5), pembelian TBS (X6), Bahan Kimia dan Pelengkap (X7), bahan bakar dan pelumnas (X8), biaya listrik (X9), biaya air (X10), biaya angkut (X11), dan biaya pengepakan (X12), sedangkan

200

sisanya sebesar 7.08 persen dipengaruhi oleh faktor lain. Nilai Adjusted R-squared (koefisien korelasi) sebesar 89.06 persen berarti terdapat hubungan yang sangat erat antara variabel dependen dan variabel independen. Untuk menguji kelinearan model yang digunakan, dilakukan uji-F yaitu dengan membandingkan nilai F-hitung dengan F-tabel. Dari hasil analisis diperoleh nilai F-hitung sebesar 24.07, sedangkan nilai F-tabel pada tingkat kepercayaan 99 persen (F
(0.01 ; 12 ; 22))

sebesar 3.1209, nilai F-tabel pada tingkat

kepercayaan 95 persen (F (0.5 ; 12 ; 22)) sebesar 2.2258, dan nilai F-tabel pada tingkat kepercayaan 85 persen (F
(0.5 ; 12 ; 22))

sebesar 1.6460. Berdasarkan nilai F hitung

yang lebih besar dari F tabel maka dapat diambil keputusan untuk menolak Ho yang artinya menerima H1 yakni pada tingkat kepercayaan 99 persen, 95 persen, dan 85 persen terdapat minimal satu variabel independen (gaji karyawan (X1), alat dan inventaris (X2), biaya pemeliharaan bangunan pabrik (X3), biaya pemeliharan mesin dan instalasi pabrik (X4), premi asuransi pabrik (X5), pembelian TBS (X6), Bahan Kimia dan Pelengkap (X7), bahan bakar dan pelumnas (X8), biaya listrik (X9), biaya air (X10), biaya angkut (X11), dan biaya pengepakan (X12)) yang berpengaruh nyata terhadap biaya pengolahan TBS menjadi CPO. Untuk mengetahui variabel mana yang nyata mempengaruhi produksi CPO dilakukan dengan membandingkan nilai P-value dengan nilai α yang digunakan. Variabel yang berpengaruh nyata adalah variabel yang memiliki nilai P-value yang lebih kecil dari nilai α. Pada penelitian ini digunakan tingkat kepercayaan 99 persen (α = 0,01), 95 persen (α = 0.05), dan 85 persen (α =0.15). Berdasarkan pengujian terhadap tingkat kepercayaan 99 persen diperoleh bahwa gaji karyawan, biaya pemeliharan mesin dan instalasi pabrik, pembelian TBS, dan biaya listrik

201

berpengaruh nyata terhadap biaya pengolahan, sedangkan pengujian terhadap tingkat kepercayaan 95 persen diperoleh bahwa variabel biaya angkut memiliki nilai P-value sebesar 0.0137, berarti biaya angkut berpengaruh nyata terhadap biaya pengolahan TBS PTPN V PKS SPA, dan pada pengujian terhadap tingkat kepercayaan 85 persen diperoleh bahwa biaya pemeliharaan bangunan pabrik, premi asuransi pabrik, dan biaya air berpengaruh nyata terhadap biaya pengolahan. Variabel-variabel lainnya tidak berpengaruh nyata pada taraf satu, lima, dan 15 persen, karena memiliki nilai P-value yang lebih besar dari nilai α yaitu alat dan inventaris, bahan kimia dan pelengkap, bahan bakar dan pelumnas, dan biaya pengepakan. Berdasarkan nilai Durbin Watson (d) sebesar 1.84 berada pada kisaran tidak terdapat autokorelasi. Dari pengujian multikolineritas, didapat bahwa antara variabel independent tidak terdapat hubungan linear dilihat dari koefisien yang kecil. Sehingga dapat dikatakan bahwa model ini tidak mengandung multikolinearitas. Cara pengujian untuk mengetahui ada tidaknya masalah heteroskedastisitas digunakan uji White Heteroscedasticity. Jika nilai probabilitas dalam uji yang digunakan lebih kecil dari taraf nyata satu dan lima persen maka model tersebut terdapat heteroskedastisitas. Hasil pengujian heteroskedastisitas (probabilitas Obs*R-squared) untuk model adalah sebesar 0.5520 (lebih besar dari α satu, lima, dan 15 persen). Berdasarkan nilai tersebut maka pada taraf nyata satu, lima, dan 15 persen, model tersebut memenuhi asumsi homoskedastisitas atau tidak mengandung heteroskedastisitas.

202

7.2 Analisis Elastisitas Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Biaya Pengolahan CPO 1. Gaji Karyawan
Gaji karyawan berasal dari penjumlahan gaji karyawan pimpinan dan gaji karyawan pelaksana. Nilai P-value dengan menggunakan model linear adalah 0.000, berarti pada taraf satu persen variabel ini nyata berpengaruh terhadap biaya pengolahan CPO. Gaji karyawan merupakan biaya tetap terbesar yang dikeluarkan oleh PTPN V PKS SPA. Koefisien gaji karyawan (X1) yang dihasilkan adalah +0.15. Hal ini berarti bahwa peningkatan gaji karyawan sebanyak satu persen akan meningkatkan biaya pengolahan CPO sebesar 0.15 persen dengan faktor lainnya tetap (ceteris paribus).

2. Alat dan Inventaris
Dari hasil pengolahan data diperoleh elastisitas faktor biaya alat dan inventaris sebesar +0.006. Hal ini menunjukkan bahwa kenaikan biaya alat dan inventaris pabrik satu persen akan meningkatkan jumlah biaya pengolahan CPO yang dikeluarkan sebesar 0.006 persen dengan faktor lainnya tetap (ceteris

paribus). Penambahan biaya alat dan inventasi akan meningkatkan biaya
pengolahan TBS tetapi dalam jumlah yang relatif kecil.

3. Pemeliharaan Bangunan Pabrik
Nilai P-value dengan menggunakan model linear adalah 0.139, berarti pada taraf 15 persen variabel ini nyata berpengaruh terhadap biaya pengolahan CPO. Dari hasil olahan data diperoleh elastisitas produksi faktor biaya pemeliharaan bangunan pabrik sebesar +0.06. Hal ini berarti bahwa kenaikan biaya

203

pemeliharaan bangunan pabrik satu persen akan meninngkatkan biaya pengolahan CPO sebesar 0.06 persen dengan faktor lainnya tetap (ceteris paribus).

4. Pemeliharan Mesin dan Instalasi Pabrik
P-value dari hasil double log untuk variabel biaya pemeliharaan mesin dan instalasi pabrik sebesar 0.0000 menunjukkan bahwa biaya pemeliharaan mesin dan instalasi pabrik berpengaruh nyata terhadap biaya pengolahan pada taraf satu persen. Nilai koefisien biaya pemeliharaan mesin dan instalasi pabrik yang diperoleh dari hasil analisis regresi double-log adalah sebesar +0.31. Nilai ini menunjukkan bahwa kenaikan biaya pemeliharaan mesin dan instalasi pabrik satu persen akan memberikan peningkatkan biaya pengolahan CPO sebesar 0.31 persen dengan faktor lainnya tetap (ceteris paribus).

5. Premi Asuransi Pabrik
Nilai P-value premi asuransi pabrik sebesar 0.12, artinya premi asuransi akan mempengaruhi biaya pengolahan pada taraf 15 persen. Sedangkan pada taraf nyata satu dan lima persen premi asuransi pabrik tidak berpengaruh nyata

terhadap biaya pengolahan. Nilai koefisien variabel premi asuransi pabrik berdasarkan analisis regresi adalah sebesar +0.008 yang artinya setiap kenaikan premi asuransi pabrik sebesar satu persen akan meningkatkan biaya pengolahan CPO sebesar 0.008 persen dengan faktor lainnya tetap (ceteris paribus).

6. Pembelian TBS
Nilai P-value pembelian TBS sebesar 0.0011 persen, berarti pada taraf satu persen pembelian TBS nyata berpengaruh terhadap biaya pengolahan TBS. Tandan buah segar (TBS) merupakan bahan baku untuk menghasilkan CPO. Koefisien variabel pembelian TBS sebesar +0.15. Hal ini berarti bahwa

204

peningkatan pembelian TBS sebanyak satu persen akan meningkatkan biaya pengolahan CPO sebesar 0.15 persen dengan faktor lainnya tetap (ceteris

paribus).

7. Bahan Kimia dan Pelengkap
Hasil pengolahan data variabel biaya bahan kimia dan pelengkap diperoleh elastisitas sebesar +0.027. Hal ini menunjukkan bahwa kenaikan biaya bahan kimia dan pelengkap satu persen akan meningkatkan biaya pengolahan sebesar 0.027 persen dengan faktor lainnya tetap (ceteris paribus). Penambahan biaya bahan kimia dan pelengkap akan meningkatkan biaya pengolahan CPO dalam jumlah yang relatif kecil.

8. Bahan Bakar dan Pelumnas
Dari hasil olahan data diperoleh elastisitas faktor biaya bahan bakar dan pelumnas sebesar -0.013 persen. Berarti menunjukkan bahwa kenaikan biaya bahan bakar dan pelumnas sebesar satu persen akan menurunkan biaya pengolahan CPO sebesar 0.013 persen dengan faktor lainnya tetap (ceteris

paribus).

9. Biaya Listrik
P-value dari hasil double log untuk variabel biaya listrik adalah sebesar 0.0058 persen, berarti pada taraf satu persen variabel biaya listrik nyata berpengaruh terhadap biaya pengolahan TBS. Koefisien biaya listrik sebesar +0.062. Hal ini menunjukkan bahwa kenaikan penggunaan biaya listrik satu persen maka akan meningkatkan jumlah biaya pengolahan CPO sebesar 0.062 persen dengan faktor lainnya tetap (ceteris paribus).

205

10. Biaya Air
P-value dari hasil double log untuk variabel biaya pemeliharaan mesin dan instalasi pabrik sebesar 0.131 menunjukkan bahwa biaya air berpengaruh nyata terhadap biaya pengolahan pada taraf 15 persen. Variabel biaya air memiliki nilai elastisitas sebesar +0.056, yang artinya bahwa penambahan jumlah biaya air sebesar satu persen dapat meningkatkan jumlah biaya pengolahan CPO sebesar 0.056 dengan faktor lainnya tetap (ceteris paribus). Elastisitas positif antara nol dan satu menunjukkan bahwa penggunaan biaya air berada pada daerah rasional.

11. Biaya Angkut
Faktor biaya angkut nyata berpengaruh pada taraf lima persen. P-value variabel biaya angkut sebesar 0.014, nilai P-value lebih kecil dari taraf nyata yang digunakan lima persen (α = 0.5). Koefisien biaya angkut sebesar +0.056. Hal ini menunjukkan bahwa kenaikan penggunaan biaya angkut sebesar satu persen akan meningkatkan jumlah biaya pengolahan CPO sebesar 0.056 dengan faktor lainnya tetap (ceteris paribus).

12. Biaya Pengepakan
Nilai elastisitas untuk biaya pengepakan sebesar +0.001 yang artinya setiap penambahan penggunaan biaya pengepakan sebesar satu persen maka akan meningkatkan biaya pengolahan sebesar 0.001 dengan faktor lainnya tetap (ceteris

paribus). Elastisitas positif antara nol dan satu menunjukkan bahwa penggunaan
biaya air berada pada daerah rasional.

206

BAB VIII EVALUASI KINERJA KEMITRAAN PT. PERKEBUNAN NUSANTARA V SEI. PAGAR PASCA KONVERSI

8.1 Perkembangan PIR–Trans PT. Perkebunan Nusantara V SPA
Program pelaksanaan pengembangan perkebunan dengan pola PIR-Trans dilakukan dalam rangka peningkatan produksi perkebunan, membantu

pengembangan wilayah serta menunjang keberhasilan

program transmigrasi.

Pelaksanaan program PIR-Trans dilaksanakan berdasarkan Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1986 tentang Pengembangan Perkebunan dengan pola PIR yang dikaitkan dengan Program Transmigrasi dan disusun jelas dalam Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 333/Kpts/KB.50/6/1986. Pelaksanaan proyek PIR-Trans dilakukan di SPA mulai tahun 1986, petani plasma berasal dari daerah yang bervariasi. Kebanyakan petani plasma berasal dari pulau Jawa, tetapi ada pula petani yang berasal dari Sumatera bahkan Riau (Gambar 8).
Persentase Asal Daerah Plasma

Riau 30% Jawa Sumatra Sumatra 7% Jawa 63% Riau

Gambar 8. Persentase Asal Daerah Petani Plasma

207

Dapat dilihat dari 30 responden seperti ditunjukkan pada Gambar 8 bahwa petani plasma paling banyak yaitu 19 orang (63 persen) berasal dari Pulau Jawa, kemudian sembilan orang (30 persen) berasal dari Riau, dan sebanyak dua orang (tujuh persen) berasal dari Sumatra. Proyek PIR-Trans dilakukan melalui tiga tahap yang dikaitkan dengan pengelolaan kredit dan pembiayaan. Tahap–tahap tersebut meliputi tahap persiapan, tahap konversi, dan tahap pasca konversi (Tabel 15). Tahapan persiapan merupakan tahap pembangunan kebun plasma dan mempersiapkan petani sebagai calon peserta PIR–Trans. Perusahan inti menyediakan lahan dan melakukan kegiatan di bidang pertanaman yang meliputi pembibitan, pembukaan lahan, penanaman tanaman, dan memberikan bimbingan, serta pelatihan kepada para transmigran melalui pembentukan kelompok tani. Pemerintah melaksanakan kegiatan di bidang penyediaan sarana yaitu pembangunan rumah dan jalan. Selama tahap persiapan dimana tanaman kelapa sawit masih berada dalam masa tanaman belum menghasilkan (TBM), para transmigran dipekerjakan oleh perusahaan di kebun inti sebagai buruh harian lepas dan mereka diberi upah sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan. Para transmigran tersebut diberi fasilitas rumah dan kebutuhan hidup selama satu tahun pertama yaitu berupa bahan-bahan pokok oleh pemerintah. Tahap persiapan ini berlangsung selama empat tahun, sesuai dengan umur tanaman kelapa sawit dari masa tanaman belum menghasilkan menjadi tanaman menghasilkan. Setelah tanaman menghasilkan akan terjadi pengalihan lahan dari kepemilikan PTPN V SPA menjadi

208

kepemilikan lahan atas nama petani plasma. Pengalihan lahan tersebut dilakukan dengan sistem kredit, sehingga dinamakan dengan pengalihan kredit.

Tabel 15. Tahap–Tahap Kemitraan PTPN V SPA dan Petani Plasma
Periode Waktu Tahap Kemitraan Tahap persiapan Inti Hal-Hal yang Dilakukan Plasma 1. Petani dipekerjakan oleh inti sebagai buruh harian lepas dan diberi upah 2. Petani bersedia mematuhi petunjuk dan bimbingan teknis yang diberikan inti

1. Menyediakan lahan

2. Menyediakan sarana produksi Tahun 1986 1990 3. Membimbing petani plasma 4. Membina petani plasma dalam berusahatani 5. Menampung hasil panen yang memenuhi kriteria 1. Menerima pembayaran kredit oleh plasma 2. Sudah tidak memberikan sarana produksi kepada plasma 3. Menetapkan jadwal pembayaran hasil produksi kebun plasma 4. Membeli seluruh hasil produksi kebun plasma yang memenuhi kriteria 5. Menyetor jumlah potongan angsuran kredit plasma kepada bank pelaksana 1. Membeli seluruh hasil produksi kebun plasma yang memenuhi kriteria

Tahap konversi

1. Menyetor angsuran kredit kepada inti 2. Sudah mandiri dalam hal pengadaan sarana produksi tanaman kelapa sawit 3. Menerima pembayaran hasil produksi sesuai jadwal yang ditentukan 4. Mengangkut semua hasil produksi kepada inti

Tahun 1990 1996

5. Melaksanakan panen sesuai petunjuk dan bimbingan teknis dari inti 1. Mengangkut hasil produksi kepada inti walaupun sekarang sudah banyak terjadi penyimpangan, plasma menjual TBS kepada PKS swasta

Tahap pasca konversi Tahun 1996 Sekarang

Sumber: Data wawancara dan pengamatan di lapangan

Tahap konversi merupakan tahap pengalihan kredit yang dikeluarkan proyek menjadi kredit atas nama tiap petani. Tahap konversi dimulai tahun 1990. Tiap

209

petani plasma mendapat lahan seluas dua hektar. Petani plasma membayar secara kredit kepada PTPN V SPA sebesar 30 persen dari penghasilan setiap bulannya yang diperoleh dari hasil penjualan TBS ke perusahaan inti. Pada tahun 1990, harga TBS masih rendah kira-kira penghasilan petani plasma setiap bulan Rp.500.000, sehingga petani plasma membayar kredit sekitar Rp.150.000 setiap

bulannya. Penghasilan setiap petani plasma berbeda-beda. Perbedaan penghasilan tersebut berdampak pada cepat atau lambatnya petani plasma melunasi kredit mereka. Semakin besar penghasilan setiap bulan maka akan semakin cepat petani plasma melunasi kreditnya. Besarnya kredit yang dibayar petani plasma adalah sekitar Rp.9.000.000 sampai Rp.11.000.000. Setelah lunas kredit maka kepemilikan tanah dibagikan kepada petani dan menjadi milik petani plasma tersebut. Selama masa pengembalian kredit, petani wajib menjual hasil produksinya kepada inti sampai pinjamannya lunas. Tahap pasca konversi adalah tahap setelah pinjaman lunas, maka lahan seluas dua hektar yang dibagikan tadi menjadi hak milik petani dan mereka memperoleh sertifikat atas lahan yang sebelumnya disimpan di bank sebagai agunan kredit. Saat ini kemitraan PIR–Trans antara PT. Perkebunan Nusantara V Sei. Pagar dan petani plasma telah memasuki tahap pasca konversi. Pemberian sertifikat secara langsung atas lahan yang menjadi hak milik petani plasma merupakan kelemahan dari kemitraan yang terjadi antara PTPN V SPA dan petani plasma, dengan pemberian sertifikat langsung maka menyebabkan tidak ada lagi keterikatan antara inti dan plasma. Tidak ada tanggung jawab atau aturan yang mengikat agar petani plasma menjual TBS kepada inti, sehingga

210

petani plasma memilih untuk menjual TBS kepada pihak yang bisa menawarkan harga beli TBS yang tinggi.

8.2 Evaluasi Kemitraan Pihak Inti dan Petani Plasma
Evaluasi dilakukan dengan menentukan beberapa hal yang menjadi indikator tingkat kinerja. Ada sepuluh indikator yang digunakan yaitu pengetahuan petani plasma mengenai proyek PIR-Trans, pengetahuan petani mengenai penyetoran, daya tampung inti, komunikasi yang dibangun pihak inti dan plasma, harga beli TBS , waktu pembayaran TBS , ketanggapan inti dalam menyelesaikan keluhan petani, layanan pinjaman dana, disiplin inti dalam menaati perjanjian, dan sikap inti terhadap kesejahteraan petani. Hasil evaluasi yang dilakukan terhadap petani plasma dapat dilihat pada Tabel 16. Berdasarkan Tabel 16, dari sepuluh indikator evaluasi kinerja kemitraan diperoleh persentase tertinggi adalah 100 yang dipilih oleh 30 responden untuk 10 indikator, sedangkan persentase terendah adalah 54.44. Nilai persentase menunjukkan baik buruknya kinerja dari kemitraan tersebut. Semakin tinggi nilai persentase variabel indikator, maka kinerja variabel tersebut semakin baik. Sesuai dengan metode penentuan rentang skala, banyaknya kelas interpretasi dari persentase yang ada adalah tiga kelas yaitu kategori baik (persentase ≥82), kategori sedang (66,00≤ persentase <82), dan kategori buruk (50,00≤ persentase <66,00).

211

Tabel 16. Evaluasi Kinerja Kemitraan PT.Perkebunan Nusantara V SPA
No Indikator Buruk Sedang Baik Total (Persentase) Keterangan

1

Pengetahuan mengenai proyek PIRTrans Pengetahuan mengenai penyetoran TBS ke inti Daya tampung inti Komunikasi yang dibangun pihak inti dan plasma Harga beli TBS Waktu pembayaran TBS Ketanggapan inti dalam menyelesaikan keluhan petani Layanan pinjaman dana Disiplin inti dalam menaati perjanjian Sikap inti terhadap kesejahteraan petani Total Rata-rata 18

30

30.00 (100.00) 24.00 (80.00) 30.00 (100.00) 22.00 (73.33) 21.00 (70.00) 22.33 (74.44) 20.33 (67.78) 16.33 (54.44) 27.33 (91.11) 21.33 (71.11)

Baik

2

12

Sedang

3 4

30

Baik

2

20

8

Sedang

5 6 7

5 3

17 17

8 10

Sedang Sedang

2

25

3

Sedang

8 9

16 1 2

9 6 22

5 23 6

Buruk Baik Sedang

10

78.22

Sedang

Sumber: Wawancara Petani plasma

Terdapat beberapa variabel indikator yang tergolong dalam kinerja yang baik yaitu pengetahuan mengenai proyek PIR-Trans (100 persen), daya tampung inti (100 persen), dan disiplin inti dalam menaati peraturan (91.11 persen), sedangkan variabel indikator yang tergolong sedang adalah pengetahuan mengenai penyetoran TBS ke inti (80 persen), komunikasi yang dibangun pihak

212

inti dan plasma (73.33 persen), harga beli TBS (70 persen), waktu pembayaran TBS (74.44 persen), ketanggapan inti dalam menyelesaikan keluhan petani (67.78 persen), dan sikap inti terhadap kesejahteraan petani (71.11), dan hanya terdapat satu indikator saja yang masih tergolong kinerja yang buruk yaitu layanan pinjaman dana (54.44 persen). 1. Pengetahuan Mengenai Proyek PIR-Trans Semua responden petani plasma (100 pesen) sudah mengetahui proyek PIRTrans. Mereka juga mengetahui bahwa lahan yang mereka miliki sekarang bersumber dari PTPN V SPA sebagai penanggung jawab proyek PIR-Trans dan semua responden petani plasma mengatakan bahwa proyek PIR-Trans ini adalah baik. Sehingga dapat dikategorikan untuk indikator pengetahuan mengenai proyek PIR-Trans tergolong baik. 2. Pengetahuan Mengenai Penyetoran TBS ke inti Pengetahuan petani plasma untuk menyetor ke inti tidak semua mendapat tanggapan baik. Total persentase yang diperoleh adalah 80 persen sehingga kinerja dari indikator ini diketegorikan sedang. Hal ini dapat dilihat dari masih banyaknya petani plasma menjual TBS kepada PKS swasta 3. Daya Tampung Inti Daya tampung inti dengan kapasitas olah pabrik 30 ton/jam sudah baik dan mampu menampung semua TBS apabila petani plasma menyetorkan buahnya kepada inti. Nilai total persentase yang diperoleh 100 persen mengatakan bahwa daya tampung inti sudah baik.

213

4. Komunikasi yang dibangun oleh Inti dan Plasma Komunikasi yang dibangun pihak inti dan plasma dikategorikan sedang. Nilai total yang diperoleh adalah 22 (73.33 persen) karena belum adanya kontinuitas petani plasma menyetor TBS kepada inti walaupun dari segi pihak inti sudah melakukan komunikasi yang baik kepada petani plasma. Pihak inti sudah memiliki orang khusus bekerja di lapangan yang bertujuan untuk mengontrol kondisi lapangan, namun jumlahnya masih terbatas. 5. Harga Beli TBS Harga Beli TBS oleh inti dinilai berbeda-beda oleh petani plasma. Nilai total untuk harga beli TBS adalah 21 (70 persen), dikategorikan sedang. Terkait dengan informasi harga TBS, masih ada sebagian petani yang tidak mengetahui perubahan harga yang terjadi. Harga TBS PTPN V SPA ditentukan oleh rapat tim sehingga proses penentuan harga TBS dinilai cukup lambat dan dinilai tidak dapat bersaing dengan pihak luar. 6. Waktu Pembayaran TBS Nilai total waktu pembayaran TBS oleh inti dinilai petani plasma adalah sedang yakni sebesar 22.33 (74.44 persen). Waktu pembayaran TBS dilakukan setiap satu bulan sekali tepatnya setiap tanggal 28, namun karena adanya keterbatasan,dan jika pihak inti merasa situasi kurang aman maka mereka akan mengundurkan waktu pembayaran sampai situasinya dianggap aman. Sebaiknya sistem pembayaran yang dilakukan oleh pihak PTPN V SPA bersifat cash and

carry.

214

7. Ketanggapan Inti dalam Menyelesaikan Keluhan Petani Ketanggapan inti dalam menyelesaikan keluhan petani dinilai masih sedang. Nilai total indikator ini adalah 20.33 (67.78 persen). PTPN V SPA sebaiknya perlu meningkatkan lagi perhatiaan terhadap masalah-masalah yang dihadapi petani plasma, walaupun pihak inti berupaya untuk menyelesaikan keluhan petani namun terbatasnya jumlah asisten pembinaan dari inti sehingga tidak semua keluhan petani dapat diperhatikan dan direspon secara cepat. Untuk masalah ini perusahaan inti sebaiknya meningkatkan aktifitas para asisten pembina dalam mengontrol petani plasma. 8. Layanan Pinjaman Dana Layanan pinjaman dana oleh petani plasma kepada inti dinilai buruk yaitu 16.33 (54.44 persen) dikarenakan saat ini petani plasma tidak pernah lagi meminjam kepada inti tapi langsung meminjam kredit pada bank-bank melalui KUD dengan jaminan sertifikat tanah. Besarnya pinjaman setiap petani plasma berbeda-beda ada petani plasma yang meminjam sebesar Rp.40.000.000 kepada bank dan dibayar dengan cicilan setiap bulan Rp.1000.000. Petani plasma meminjam dana untuk keperluan pengembangan kebun, atau membangun usahausaha lain. Salah satu contoh petani plasma meminjam uang kepada bank adalah petani dengan inisial A. Pendapatan kotor petani tersebut pada bulan Desember 2008 adalah Rp.6.106.268, kemudian beban potongan yang terdiri dari pengembalian kredit kepada bank sebesar Rp. 1.096.991 dan beban lainnya seperti pemeliharaan jalan, keamanan, potongan wajib desa, kas RT, dana sosial, Idapertabun, kosumsi, timbangan, dan lampu jalan dengan total keseluruhan beban potongan adalah

215

Rp.1.244.591, sehingga jumlah pendapatan bersih petani A pada bulan Desember 2008 adalah sebesar Rp.4.862.277. 9. Disiplin Inti dalam Menaati Perjanjian Disiplin inti dalam menaati peraturan dikategorikan sudah baik, nilai total adalah 27.33 (91.11 persen). Kedisiplinan untuk menaati perjanjian merupakan salah satu faktor yang penting dalam menciptakan kepercayaan terhadap pihak plasma. Pihak inti berupaya untuk menjalani sesuai dengan peraturan yang telah disepakati. 10. Sikap Inti terhadap Kesejahteraan Petani Petani plasma menganggap bahwa harga TBS yang ditetapkan oleh inti masih rendah, sehingga sikap inti terhadap kesejahteraan petani dinilai sedang. Nilai total indikator sikap inti terhadap kesejahteraan petani adalah 21.33 (71.11 persen). Mereka juga memiliki pandangan bahwa kemitraan dengan pihak inti lebih merupakan hubungan bisnis semata. Mekanisme kerjasama antara PTPN V SPA dengan petani plasma dilaksanakan atas dasar aturan-aturan dalam perjanjian kerjasama. Pelaksanaan kerjasama terwujud dengan adanya kesepakatan untuk mematuhi hak dan kewajiban dalam aturan perjanjian oleh pihak-pihak yang bermitra. Tingkat pelaksanaan hak dan kewajiban dapat dilihat secara singkat pada Lampiran 10. Penilaian terhadap pelaksanaan hak dan kewajiban ini diperoleh dari wawancara terhadap pihak inti dan petani responden, serta pengamatan di lapangan. Dari hasil pengamatan menunjukkan bahwa pelaksanaan kemitraan belum sepenuhnya sesuai dengan aturan-aturan yang terdapat dalam perjanjian kerjasama. Dalam perjanjian disebutkan bahwa petani plasma wajib melaksanakan

216

panen sesuai dengan petunjuk dan bimbingan dari inti, namun kenyataannya petani tidak melaksanakan panen sesuai dengan yang seharusnya. Hal ini terjadi karena panen tidak dilakukan oleh petani plasma, tetapi diupahkan ke orang lain. Pemanenan TBS menjadi kurang terkontrol terutama saat pemotongan buah dari pohon. Kesalahan yang sering terjadi adalah buah yang dipanen tergolong mentah dan tangkai buah tidak dipotong pendek. Selain itu, terdapat juga sebagian petani yang kurang memperhatikan kondisi jalan yang ada di kebun. Kondisi jalan yang baik sangat penting dalam proses pengangkutan TBS karena turut mempengaruhi kualitas TBS yang diangkut. Kurangnya kesadaran petani dalam kegiatan panen dan pemeliharaan jalan mengakibatkan kualitas TBS tidak sesuai dengan kriteria yang dapat diterima inti sehingga TBS hasil kebun plasma mengalami sortasi yang cukup banyak. Kerugian selanjutnya dirasakan oleh kedua pihak dimana keuntungan petani dari hasil penjualan menjadi berkurang dan pihak inti tidak memperoleh TBS yang berkualitas baik. Pembayaran hasil produksi oleh inti terkadang terjadi keterlambatan. Hal ini terjadi karena PTPN V SPA berusaha agar proses pembayaran dapat dilaksanakan dengan situasi yang aman. Berdasarkan kesepakatan, pembayaran dilakukan setiap tanggal 28. Namun, jika pihak inti merasa situasi kurang aman maka mereka akan mengundurkan waktu pembayaran sampai situasinya dianggap aman. Walaupun demikian, dari keseluruhan isi perjanjian kerjasama sebagian besar telah dapat dilaksanakan sesuai aturan yang telah disepakati. Oleh karena itu pelaksanaan kemitraan antara PTPN V SPA dapat dikatakan telah berlangsung baik.

217

1. Penilaian Pihak Inti Terhadap Pelaksanaan PIR–Trans
Evaluasi terhadap pelaksanaan PIR-Trans dapat dilihat dari penilaian masing-masing pihak terlibat dalam kemitraan, yaitu pihak inti dan petani plasma. Evaluasi terhadap atribut-atribut dalam pelaksanaan kemitraan dapat diperoleh berdasarkan tanggapan atas kinerja kemitraan yang dirasakan oleh kedua belah pihak. Berikut akan diuraikan tanggapan dari pihak inti atas kinerja petani plasma dalam kemitraan. Penilaian ini diperoleh dari hasil wawancara dengan pihak inti yang terkait dengan pelaksanaan kemitraan antara PTPN V SPA dan petani plasma. Pihak inti berpendapat bahwa dengan adanya program PIR–Trans ini, maka memberi dampak positif bagi kedua belah pihak baik inti maupun plasma. Secara umum pihak inti merasa cukup puas dengan kinerja petani plasma dalam kemitraan. Hal-hal yang mendasari pernyataan tersebut diantaranya adalah pihak inti merasa sudah dapat diterima dengan baik dan dipercaya oleh petani plasma sebagai mitra kerja, kinerja pelayanan inti dalam kemitraan berdampak positif terhadap petani plasma terutama dari segi finansial yaitu adanya peningkatan pendapatan usahatani. Dari sisi pendapatan masyarakat berdampak positif terhadap pendapatan masyarakat karena dapat menyediakan lapangan pekerjaan. Sementara, dampak positif Pabrik Kelapa Sawit (PKS) terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah berupa peningkatan pendapatan pada pajak–pajak, retribusi, perdagangan, dan jasa. Namun saat ini pihak inti sebanyak 10 orang (seratus persen) menyadari bahwa banyak petani plasma tidak memasok TBS kepada PTPN V SPA. Petani plasma banyak menjual TBS kepada pihak luar, sehingga PKS kekurangan bahan baku TBS untuk diolah oleh pabrik.

218

Salah satu faktor yang menyebabkan petani plasma menjual kepada pihak luar adalah maraknya PKS swasta yang dibangun di sekitar lingkungan PTPN V SPA. PKS swasta dibangun tanpa memiliki kebun tanaman kelapa sawit padahal syarat untuk mendirikan suatu PKS, perusahaan tersebut harus memiliki kebun sendiri. PKS swasta mendapat pasokan TBS yang akan diolah seluruhnya berasal dari masyarakat perkebunan kelapa sawit termasuk di dalamnya petani plasma. Pihak swasta tersebut dapat memberi kemudahan–kemudahan kepada petani plasma yang tidak diberikan oleh inti. Seperti mekaninsme penentuan harga dan pembayaran TBS. Standar utama yang dipakai oleh PTPN V SPA dalam menentukan harga adalah harga resmi yang ditetapkan oleh dewan direksi dan pemerintah daerah setempat. Kemudian pihak swasta menetapkan harga sedikit lebih tinggi dari harga PTPN V SPA untuk memenangkan persaingan mendapatkan pasokan TBS. Sedangkan untuk sistem pembayaran TBS dilakukan dengan berbagai cara yang menarik oleh pihak swasta, salah satu caranya adalah dari pabrik kepada supplier atau agen seminggu sekali. Sedangkan pembayaran oleh pihak inti dilakukan sebulan sekali, walaupun saat ini sudah baru mulai dengan sistem pembayaran yang lebih cepat. Sejak lahan kepemilikan dipindahkan kepada petani plasma, petani semakin sadar akan pentingnya pemeliharaan dan perawatan kebun. Tapi di pihak lain petani beranggapan dengan telah lunasnya kredit petani plasma kepada pihak inti maka petani plasma memiliki kebebasan untuk memilih pabrik pengolah TBS mereka.

219

Pabrik Kelapa Sawit (PKS) dapat dikatakan pengoperasiannya kurang efisien baik dari segi teknis maupun ekonomis. Sisi teknik teknologis dikatakan bahwa pabrik bekerja kurang efisien antara lain disebabkan tidak tercapainya kapasitas olah pabrik sesuai kapasitas terpasang. Sedangkan dari sisi ekonomi dikatakan bahwa biaya produksi yang dikeluarkan masih tinggi. Pihak inti menyadari bahwa tingkat kesadaran petani plasma rendah untuk memasokkan TBS ke inti. Seringkali pabrik dalam keadaan “idle capacity”. Masih terdapat beberapa kekurangan yang menjadi masalah terkait dengan pelaksanaan kemitraan, antara lain : 1. Sebanyak 10 orang (100 persen) pihak inti mengatakan adanya petani yang berbuat tidak adil sewaktu menjual buahnya, mereka menjual buah kepada pihak luar atau swasta tidak kepada perusahaan inti. 2. Sebanyak empat orang (40 persen) pihak inti menjelaskan bahwa kualitas TBS plasma masih berada dibawah standar mutu TBS kebun inti. Kegiatan panen yang kurang terkontrol menyebabkan TBS yang dipanen tidak memenuhi kriteria yang ditetapkan.

2. Penilaian Petani Plasma terhadap Pelaksanaan kemitraan
Evaluasi terhadap tanggapan petani plasma atas pelaksanaan kemitraan adalah sebagai berikut: a. Harga pembelian TBS yang berlaku dinilai terlalu rendah, tidak sebanding dengan semakin tingginya harga pupuk dan obat-obatan, padahal harga merupakan insentif bagi petani plasma untuk menjual hasil produksinya. Petani plasma juga sering mengalami kekurangan informasi mengenai

220

harga TBS yang berlaku. Umumnya mereka mengetahui perubahan harga setelah TBS hasil panen dipasok/dijual ke pabrik inti. b. Petani plasma menganggap pihak inti tidak konsisten dalam melaksanakan sortasi buah. Jika buah yang dipasok ke pabrik inti merupakan buah dari pihak luar maka penetapan standar mutu diperlonggar sehingga buah luar yang seharusnya terkena sortasi justru dapat lolos dan diterima oleh pabrik. c. Seiringnya terjadi kerusakan jalan menyebabkan beban petani makin berat karena selain mengeluarkan biaya usahatani mereka juga diharuskan membiayai perbaikan jalan tersebut. Mengenai masalah ini pihak inti telah turut berperan dengan memberikan bantuan alat-alat berat untuk perbaikan jalan. Namun biaya sewanya tetap menjadi tanggungan petani. Terhadap atribut pelaksanaan kemitraan lainnya petani plasma memberikan tanggapan bahwa pelaksanaannya telah cukup sesuai dengan harapan. Atributatribut tersebut diantaranya adalah kemampuan pabrik untuk menampung hasil panen, dan pelaksanaan penyuluhan. Dari 30 responden petani plasma, mereka tidak semua menjual hasil buahnya (TBS) kepada pihak inti. Sebanyak sembilan orang (30 persen) yang menjual hasilnya kepada inti, sedangkan 21 orang (70 persen) menjual hasilnya kepada pihak luar inti (Gambar 9)

221

Persentase Penjualan TBS

Menjual ke inti 30% Menjual ke luar inti
Menjual ke luar inti 70%

Menjual ke inti

Gambar 9. Persentase Pihak Penjualan TBS
a. Alasan Petani Plasma Menjual TBS ke inti Dari persentase penjualan TBS ke inti yang hanya sepertiga saja dari total responden menunjukkan bahwa banyak petani yang berbuat tidak adil. Mereka sebagian besar tidak menjual TBS ke inti sehingga menyebabkan PKS SPA kekurangan pasokan TBS dan pabrik seringkali tidak mengolah “idle capacity”. Alasan petani plasma tersebut masih menjual TBS ke PTPN V SPA sebagai inti dikarenakan pertama, sebanyak 30 persen petani plasma tidak mau dipersulit untuk membandingkan harga kepada pihak lain. Biaya yang dikeluarkan cukup besar untuk mengetahui harga–harga TBS yang ditawarkan oleh pihak swasta. Karena banyak PKS swasta yang ada dan memiliki persaingan harga yang kuat. Kedua, semua petani plasma yang menjual ke inti (100 persen) mengatakan sudah ada pengalaman yang tidak baik ketika petani plasma tersebut menjual kepada pihak luar. Petani plasma tersebut dirugikan karena uang mereka dilarikan dan ketika ingin memprosesnya mereka tidak memiliki kekuatan hukum. Ketiga, sebanyak 55 persen tingkat kesadaran petani plasma sudah tinggi terhadap proses penimbangan dan pemotongan–pemotongan biaya yang dilakukan oleh pihak luar yang merugikan

222

petani tersebut. Petani plasma menyadari bahwa awal dari proyek PIR–Trans sudah ada aturan–aturan tertulis yang menyatakan bahwa petani plasma memiliki kewajiban untuk menjual buahnya (TBS) kepada inti. b. Alasan Petani Plasma Menjual TBS Kepada Pihak Luar Pabrik seringkali tidak mengolah karena pasokan TBS yang masuk ke pabrik tidak mencukupi untuk diolah. TBS berasal dari kebun inti dan kebun plasma. PTPN V SPA dengan PIR–Transnya mengalami masalah dalam pasokan TBS dari kebun plasma. Alasan petani plasma tersebut tidak menjual TBS ke PTPN V SPA sebagai inti dikarenakan pertama yang menjadi permasalahan yang cukup kuat adalah sistem ijon yang berlangsung di petani plasma sebanyak 85 persen petani plasma terikat sistem ijon tersebut. Mereka lebih senang menjual kepada tengkulaktengkulak karena adanya beberapa kemudahan terutama dalam sistem pembayaran TBS, lebih cepat dibanding pihak inti. PTPN V SPA membayar penjualan TBS setiap tanggal 28, tapi tengkulak bisa pembayarannya kapan saja dan lebih cepat dibanding inti. Namun ketergantungan yang tinggi terhadap tengkulak tetap merugikan petani karena tengkulak dengan semena-mena menentukan harga dengan patokan yang mereka tetapkan sendiri. Kedua, sebanyak 10 orang (48 persen) petani plasma mengatakan harga pembelian TBS yang berlaku atau ditetapkan oleh PTPN V SPA dinilai terlalu rendah, tidak sebanding dengan semakin tingginya harga pupuk dan obat–obatan, padahal merupakan insentif bagi petani plasma untuk menjual hasil produksinya. Petani plasma juga sering mengalami kekurangan informasi mengenai harga TBS yang berlaku.

223

Permasalahan ketiga adalah adanya persaingan harga yang ditawarkan oleh pihak luar sebanyak 81 persen petani plasma menjawab hal tersebut. Harga yang ditawarkan oleh pihak luar lebih tinggi dibanding PTPN V SPA. Tetapi petani tidak menyadari secara langsung dibalik harga yang tinggi ditawarkan tapi ada permainan yang dilakukan oleh pihak swasta. Seperti masalah timbangan, biasanya dari ukuran timbangan tidak bersih sementara untuk PTPN V SPA ukuran timbangan bersih. Selain itu pada penjualan dipihak swasta banyak ongkos-ongkos pemotongan yang terjadi seperti pemotongan uang sampah, pemeliharaan jalan, beli timbangan, dan lainnya. Sehingga dari segi persaingan harga secara total sebenarnya petani lebih rugi menjual kepada pihak swasta.

224

IX. KESIMPULAN DAN SARAN

9.1 Kesimpulan
1. Komponen biaya tetap yang terbesar adalah gaji karyawan pimpinan dan pelaksana sedangkan komponen biaya variabel terbesar adalah pembelian bahan baku (TBS), pada tahun 2007 terjadi peningkatan harga TBS sebesar 44,25 persen dibanding tahun 2006. Secara ekonomis belum efisien dikarenakan peningkatan biaya lebih besar dari peningkatan

produksinya, sedangkan dari segi efisiensi teknis PTPN V SPA berkaitan dengan jumlah semua faktor produksi fisik yang digunakan dalam proses produksi yaitu produksi TBS yang dihasilkan oleh kebun, dan kualitas dari rendemennya dapat disimpulkan sudah cukup baik. Tapi perlu dilakukan peningkatan jumlah produksi TBS agar sesuai dengan kapasitas terpasang pabrik yaitu 30 ton TBS/jam. 2. Dari hasil analisis regresi diperoleh faktor biaya yang mempengaruhi biaya pengolahan CPO secara nyata yaitu gaji karyawan, biaya pemeliharaan bangunan pabrik, biaya pemeliharan mesin dan instalasi pabrik, premi asuransi pabrik, pembelian TBS, biaya listrik, biaya air, dan biaya angkut. Nilai elastisitas sebagian besar masing-masing variabel independen adalah positif menunjukkan bahwa kenaikan penggunaan faktor biaya

memberikan pengaruh positif terhadap kenaikan jumlah biaya pengolahan CPO PTPN V PKS SPA. 3. Saat ini kemitraan PIR–Trans antara PT. Perkebunan Nusantara V Sei. Pagar dan petani plasma telah memasuki tahap pasca konversi. Sepuluh

225

indikator evaluasi kinerja kemitraan diperoleh kesimpulan bahwa kemitraan PTPN V SPA dan petani plasma masih dikategorikan pada tingkat sedang. Hal ini ditunjukkan oleh enam indikator dari sepuluh indikator menyatakan kinerja kemitraan PTPN V SPA tergolong sedang. Kemitraan belum sepenuhnya sesuai dengan aturan-aturan yang terdapat dalam perjanjian kerjasama. Namun dari keseluruhan isi perjanjian kerjasama sebagian besar telah dapat dilaksanakan sesuai aturan yang telah disepakati. Oleh karena itu pelaksanaan kemitraan antara PTPN V SPA dari segi evaluasi hak dan kewajiban PTPN V SPA dengan petani plasma dapat dikatakan telah berlangsung baik.

9.2 Saran
1. PT Perkebunan Nusantara V Sei. Pagar perlu mencari alternatif-alternatif untuk melakukan pendekatan kepada petani plasma misalkan melalui pengadaan pupuk dan pestisida kembali seperti pada tahap persiapan kemitraan yang pembayarannya dapat diberikan melalui kredit dari hasil panen petani plasma tersebut, memberikan penyuluhan, dan menjalin

hubungan yang baik dengan petani plasma sehingga terjalin adanya ikatan persaudaraan yang kuat antara PTPN V SPA dengan petani plasma. 2. Memberikan kemudahan kepada petani plasma dalam hal pembayaran hasil panen. Misalkan sistem pembayaran yang diberikan oleh PTPN V SPA terhadap penjualan TBS plasma lebih cepat, bila perlu dengan sistem

cash and carry. Penetapan harga beli TBS plasma oleh pemerintah

226

sebaiknya dijadikan sebagai harga beli minimum, mengingat persaingan dengan perusahaan swasta yang cukup ketat. 3. Pabrik Kelapa Sawit yang dibangun oleh suatu perusahaan yang tidak mempunyai kebun kelapa sawit sendiri sebenarnya perlu dikaji lebih jauh lagi. Pemerintah pusat dapat segera mengeluarkan semacam surat keputusan bersama (SKB) menteri terkait yang memberikan pelayanan perizinan yang transparan satu pintu dalam kegiatan perluasan dan pemanfaatan lahan untuk perkebunan kelapa sawit.

227

DAFTAR PUSTAKA

Artiyanto, Dwi Nugroho.2006. Analisis Biaya Pengolahan Gondorukem Dan terpentin di PGT, Sindangwangi, KPH Bandung Utara, Perum Perhutani Unit III Jawa Barat. Departemen Hasil Hutan. Skripsi. Bogor: Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. Badan Pusat Statistik. 2004. Buletin Statistik Bulanan–Indikator Ekonomi. Jakarta:Badan Pusat Statistik. Badan Pusat Statistik. 2005. Statistik Kelapa Sawit Indonesia. Jakarta:Badan Pusat Statistik. Beattie BR, Taylor C. 1994. Ekonomi Produksi. Penerjemah Dr. Soeratno Josohardjono, Mec. Yogyakarta:Gadjah Mada University Press. Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan, 2004. Statistik Perkebunan Indonesia. Jakarta: Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan. Direktorat Jenderal Perkebunan. Statistik Perkebunan Indonesia. Jakarta: Direktorat Jenderal Perkebunan. Doll JP, Frank O. 1984. Production Economics Theory With Applications. Second edition. Canada: John Wiley & Sons, Inc. Ekaprasetya, Dodi.2006. Analisis Faktor–faktor Yang Berhubungan Dengan Motivasi Kerja Karyawan Pabrik Kelapa Sawit (Studi Kasus : Pabrik Kelapa Sawit (PKS) PT Milano Aek Batu Kabupaten Labuhan Batu, Sumatera Utara). Skripsi. Bogor:Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Esron, Sahat. 2005. Peramalan Produksi Crude Palm Oil (CPO) dan Palm Kernel Oil (PKO) PT. Panamtama Kebun Teluk Dalam, Asahan Sumatera Utara. Skripsi. Bogor: Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Fauzi Y, Widyastuti, Satyawibawa, Hartono R. 2002. Budi Daya Pemanfaatan Hasil dan Limbah Analisis Usaha dan Pemasaran. Jakarta:Penebar Swadaya. Gittinger, J Price. 1986. Analisa Ekonomi Proyek – Proyek Pertanian. Jakarta:UI Press. Gujarati, Damodar. 1997. Ekonometrika Dasar. Soemarno, Penerjemah; Jakarta:Erlangga. Terjemahan dari:Basic Econometrics. Hafsah, M. Jafar. 2000. Kemitraan Usaha, Konsepsi dan Strategi. Jakarta:Pustaka Sinar Harapan.

228

Kamilla, Helmi.2004.Analisis Biaya Produksi Pengolahan Getah Pinus Di Pabrik Gondorukem Dan Terpentin Cimanggu, KPH Banyumas Barat Perum Perhutani unit I Jawa Tengah. Teknologi Hasil Hutan. Skripsi. Bogor:Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. Kurniawan, Djafar, Siahaan D, Buana L, Wahyono T. 2004. Tinjauan Ekonomi Industri Kelapa Sawit. Medan:Pusat Penelitian Kelapa Sawit. Naibaho M, Manurung A.1994. Studi Efisiensi Pengolahan Dan Produktivitas Pabrik Kelapa Sawit. Berita PPKS Vol 2:47 – 61. Nurdiniayati.1996. Studi terhadap Pola Pembinaan dan Pengembangan Kerjasama Usaha Koperasi di Indonesia. Skripsi. Bogor:Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. PT. Perkebunan Nusantara V PKS SPA. 2005. Daftar Harga Pembelian TBS. Pekanbaru: PTPN V PKS SPA. Pekanbaru: PTPN V PKS SPA. . 2006. Daftar Harga Pembelian TBS.

Pekanbaru: PTPN V PKS SPA.

. 2007. Daftar Harga Pembelian TBS.

Pekanbaru: PTPN V PKS SPA.

.

2005.

Laporan

Manajemen.

Pekanbaru: PTPN V PKS SPA.

.

2006.

Laporan

Manajemen.

Pekanbaru: PTPN V PKS SPA.

.

2007.

Laporan

Manajemen.

. 2007. Struktur Organisasi PTPN V

PKS SPA. Pekabaru: PTPN V PKS SPA
Rangkuti, Freddy. 2003. Measuring Customer Satisfaction. Cetakan Kedua PT. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Rahim ABD, Hastuti. 2007. Ekonomika Pertanian. Jakarta: Penebar Swadaya. Rony H. 1990. Akuntansi Biaya. Jakarta:Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

229

Sari, Ranni. 2004. Analisis Efisiensi Faktor-faktor Produksi Crude Palm Oil (CPO) di PT. Perkebunan Nusantara V PKS Sei Pagar, Kabupaten Kampar. Skripsi. Bogor: Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Setyamidjaja, Djoehana. 1991. Budidaya Kelapa Sawit. Yogyakarta: Kanisius. Sluyter. 1998. Kinerja Organisasi Pelayanan Umum. Sosiohumanika Volume 16A (nomor 3):631 Soekartawi, 2003. Teori Ekonomi Produksi dengan Pokok Bahasan Analisis Fungsi Cobb-Doglass. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta. Widyastuti.2006.Evaluasi Pelaksanaan PIR Pada PT.INTI INDOSAWIT Subur (Kasus PIR di Pabrik Minyak Kelapa Sawit Buatan, Kabupaten Pelalawan, Propinsi Riau). Skripsi. Bogor: Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Yusuf, Boy. 2001. Analisis Biaya Penerimaan Produksi CPO di PT. Perkebunan Nusantara V PKS Sei Pagar, Kabupaten Kampar. Skripsi. Bogor: Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

230

LAMPIRAN

231

Manajer Pabrik Kelapa Sawit

Asisten Inti Sawit

Asisten CPO

Asisten Umum Proses

Asisten Teknik Pabrik

Kepala Tata Usaha

Asisten Umum (ASUM)

Asisten Pengendalian Mutu

Perwira Pengaman

Lampiran 1. Struktur Organisasi PTPN V PKS SPA

Sumber : PTPN V PKS SPA, 2007

232

Lampiran 2. Data Jumlah TBS dan Produksi CPO PTPN V PKS SPA Waktu Feb 2005 Mrt 2005 Apr 2005 May 2005 Jun 2005 Jul 2005 Ags 2005 Sep 2005 Oct 2005 Nov 2005 Dec 2005 Jan 2006 Feb 2006 Mar 2006 Apr 2006 May 2006 Jun 2006 Jul 2006 Ags 2006 Sep 2006 Oct 2006 Nov 2006 Dec 2006 Jan 2007 Feb 2007 Mar 2007 Apr 2007 May 2007 Jun 2007 Jul 2007 Ags 2007 Sep 2007 Oct 2007 Nov 2007 Dec 2007 TBS (kg) 10798160 10108920 8667250 9866090 8849770 9252030 9440950 9487730 10491780 13987040 12989680 11962070 8133800 9138420 8426000 9609860 9480430 7699230 8306600 9123390 7530720 8800850 7909450 8653510 5366820 6032170 5959090 6515990 9016770 9971270 14178260 12256650 13300230 13869770 12158960 CPO (kg) 2353356 2152507 1838055 2031576 1924233 1994468 1984800 2178004 2292266 2788791 3091108 2489826 1740198 2099235 1837053 2057273 2095916 1703307 2006971 2133309 1579164 2087732 1770877 1845176 1158001 1465161 1327184 1560889 1952230 2122220 3078588 2639469 2879825 3103954 2646486 Rendemen (%) 21.79 21.29 21.21 20.59 21.74 21.56 21.02 22.96 21.85 19.94 23.79 20.81 21.39 22.97 21.8 21.41 22.11 22.12 24.16 23.38 20.97 23.72 22.39 21.32 21.58 24.29 22.27 23.95 21.65 21.28 21.71 21.54 21.65 22.38 21.77

Sumber : Laporan Manajemen PTPN V PKS SPA Tahun 2005 - 2007

233

Lampiran 3. Perkembangan Harga TBS PTPN V PKS SPA 2005 – 2007 Bulan Jan Feb Maret April Mei Juni Juli Agst Sept Oct Nov Des Tahun 2005 667.26 628.61 656.01 721.63 730.19 705.84 724.80 709.64 738.18 763.69 744.16 692.97 Tahun 2006 673.30 687.78 713.38 666.44 678.30 715.30 702.17 770.13 779.10 757.70 809.21 956.83 Tahun 2007 1013.33 1028.43 1087.67 1205.00 1350.09 1435.00 1397.00 1457.50 1412.50 1449.05 1565.85 1580.00

Sumber: Daftar Harga Pembelian TBS PTPN V PKS SPA Tahun 2005 - 2007

234

Lampiran 4. Perhitungan Rentang Skala Hasil rentangan nilainya yaitu :

Jadi skala penilaiannya adalah: 50,00 ≤ x < 66 = buruk 66,00 ≤ x < 82 = sedang x ≥82 = baik

235

Lampiran 5. Perbandingan Antara Realisasi dan Anggaran Biaya Pengolahan PTPN V PKS SPA Tahun 2005
Feb Realisasi 6787867351 18583026 160842272 8854481 1797002 5730571 66608934 10079107 16691340 6664686 6247095 91652117 1279955 119582093 7302480030 1089466157 7102400419 525768842 56533012 59791047 56533012 59791047 7049329118 680875 680875 1279955 653610942 104754837 43574063 237973362 6467222 21276205 6467322 8469744 8467222 195423070 1286442 56533012 613637986 59791047 7911040528 24330089 14752662 23576593 12015669 28540203 5621447 4960356 5374472 16701760 5375529 27412000 11030325 19560000 100540713 19550000 12665043 19924558 1385835 17418938 253576563 68751157 38368406 49107969 146505483 49107969 107746707 6808600 2266846 6808600 655705 6808600 7561014 6808600 98215935 29280000 37491178 99477581 8717772 390843129 1238873 66000012 1003594475 9099629 13816598 10472324 4285735 9557194 5970602 10021729 14371300 7009066 14648450 9617271 13308750 8989658 13664690 192673843 173853678 265859121 176524243 196573954 192011096 218728935 195500915 12572199 4603570 3934394 52745398 16404743 21719234 2432743 16331948 187317527 1279955 59791047 6841015345 23106041 19001480 23106041 20449704 23106041 19846323 23106041 19860015 6631518913 6254518727 7204153144 6246521657 23106041 242949847 29056350 9557194 6808600 98215938 39160000 6334709 26435485 6467222 390846139 680875 56533012 936151412 59791047 7457689787 Anggaran Realisasi Anggaran Realisasi Anggaran Realisasi Anggaran Realisasi Anggaran Maret April Mei Juni Realisasi 6705902184 21491795 175483773 12080212 8489039 6223148 76567814 22020002 15707473 66779108 16714570 270439622 23106041 238154348 16121000 11845019 6808600 147323907 58740000 3701639 34074846 6467232 99031961 1027542 50583012 696985147 Juli Anggaran

Tahun 2005

Pembelian TBS

Gaji karyawan Pimpinan

Gaji Karyawan Pelaksana

Bahan kimia dan pelengkap

Alat dan Invebtaris

Bahan bakar dan Pelumnas

Biaya Listrik

Biaya Air

Biaya Langsir

Biaya Angkat sampah/Tankos

Biaya Pemeliharaan Bangunan Pabrik

Biaya Pemeliharaan mesin dan instalasi Pabrik

Biaya Pengepakan

Premi asuransi Pabrik

Total

236

Lanjutan
Agustus Realisasi 6699707228 25386040 180587854 10610780 27212937 2177290 62147236 15139002 31436642 4091929 15925438 150508029 680875 59791047 7284721452 791676770 7834362718 56533012 59791047 890875 56533012 721595195 59791047 8754207393 158044745 387928720 158451137 8467222 26688855 7967322 36708999 25906582 27962094 26550800 28268160 168534869 8221959 2734702 6930620 3733082 58740000 20459859 39160000 17155523 147323907 3072911 98215938 121096722 58929563 23496000 11707875 38748933 27172222 99031961 1287192 38076112 574193170 64791047 1.1058E+10 6808600 3848150 6808600 13480648 6808600 12802584 14936385 11387454 13350483 11845019 17766050 32712685 16163150 22521594 16361000 13350330 6997292 3076459 70192624 11976854 21655074 8040512 22354072 138123183 256472776 232068665 268018952 267017878 217622652 262217078 23106041 20530000 23106041 274091 23106041 26879770 7003684157 8012432496 1.0409E+10 23106041 212837606 14616150 16928774 6808600 58929563 23496000 6862530 24777030 6467322 138044743 1478375 56583012 590935746 Anggaran Realisasi Anggaran Realisasi Anggaran Realisasi Anggaran September Oktober November Desember Realisasi 9001415251 65374342 279906116 25757900 4993619 2657361 165635227 13536936 20952525 14508971 28691542 445903933 1400000 53348507 10124082230 23106041 252810942 15721000 11845025 6808600 58929563 23496000 6226996 25885925 6457322 158451137 680875 56533012 646952438 Anggaran

Tahun 2005

Pembelian TBS

Gaji karyawan Pimpinan

Gaji Karyawan Pelaksana

Bahan kimia dan pelengkap

Alat dan Invebtaris

Bahan bakar dan Pelumnas

Biaya Listrik

Biaya Air

Biaya Langsir

Biaya Angkat sampah/Tankos

Biaya Pemeliharaan Bangunan Pabrik

Biaya Pemeliharaan mesin dan instalasi Pabrik

Biaya Pengepakan

Premi asuransi Pabrik

Total

Sumber : Laporan Manajemen PTPN V PKS SPA Tahun 2005

237

Lampiran 6. Perbandingan Antara Realisasi dan Anggaran Biaya Pengolahan PTPN V PKS SPA Tahun 2006
Jan Realisasi 8054101605 20165827 192856046 22685416 5432656 1430256 83886327 15528705 7890466 8980416 10677801 77463368 408563 57254640 8501098889 679052661 6109659671 712410937 57254640 57254640 57254640 7212745900 300000 408563 197924572 105250573 242500000 153947915 6103580 15794079 5789813 16782229 6062833 242500000 916063 57254640 727640920 55659581 6207967193 31463636 20717502 30365263 32126860 32590316 15005946 14539594 14256131 70285851 16101657 20104906 20918406 19379842 18031051 20052700 15822782 58163508 12857587 16879772 100740379 56601063 61969790 61656132 72062967 53848646 87110801 6878680 2417360 6578680 3412415 6578680 1559850 6578680 73197229 37474504 29204576 46413353 6223651 242500000 1731025 57254640 804297280 55659581 7181458700 5987820 5406576 5533051 7498843 5739906 6355371 7859799 14370700 16684000 16088075 9031953 14912700 15680757 15139950 241572955 172953488 227225147 229827314 245707179 215312577 255344273 268908062 12463177 5217874 1666788 91171045 15577525 11028873 6502612 17509617 146803299 25375600 21188699 25375600 23317802 25375600 6400788 25375600 30550176 5594264964 6519166060 5615423440 6518400071 25375600 259077853 15111600 25716784 6578680 69380596 30559689 20046930 49734061 6562855 359825428 817125 57254640 926041841 55659581 7461246080 Anggaran Realisasi Anggaran Realisasi Anggaran Realisasi Anggaran Realisasi Anggaran Feb Maret April Mei Realisasi 6781319978 27066689 231171890 13277337 6060680 343481 111213724 12676546 28936178 8279499 20031398 165209099 25375600 263869328 39073700 9179860 6578680 87622822 40304897 17965304 36398400 6797718 315250000 1485688 57254640 907156637 Juni Anggaran

Tahun 2006

Pembelian TBS

Gaji karyawan Pimpinan

Gaji Karyawan Pelaksana

Bahan kimia dan pelengkap

Alat dan Invebtaris

Bahan bakar dan Pelumnas

Biaya Listrik

Biaya Air

Biaya Langsir

Biaya Angkat sampah/Tankos

Biaya Pemeliharaan Bangunan Pabrik

Biaya Pemeliharaan mesin dan instalasi Pabrik

Biaya Pengepakan

Premi asuransi Pabrik

Total

238

Lanjutan
Juli Realisasi 5406193993 28675018 190622256 6543023 6619590 1542623 100387893 12099317 4959916 11463576 13112282 154733477 1400000 55659581 5994012545 828109384 7128450144 652787612 57254640 55659581 57254640 55659581 7868696847 1225688 1077125 242500000 236219999 121250000 210258230 7637756 14830059 6564894 16461448 6146926 121250000 1731025 57254640 653417150 55659581 6661506493 39190618 10862502 35576553 15272513 36325835 19975705 15094191 17671421 7027525 18548294 41184932 20217749 30488145 34839709 30160895 18579057 27043028 4762107 23401320 192590227 83880328 102653160 67843938 173397311 64138298 175522731 6578680 3197740 6578680 1871175 6578680 2303905 6580170 74573608 20170970 26326429 53324682 6748246 121250000 408563 57254640 652033030 70500000 7844624515 15378780 7797289 7217738 2630609 8795892 19551241 22282144 14652700 21559167 14860075 7708134 14858700 16333209 15355700 273273957 206164879 261028803 206385679 262252365 367684033 222381900 216447957 11213447 13428399 2136030 109123637 15995996 5399455 11748665 10238156 230979485 25375600 37059659 25375600 29121373 25375600 52074612 25375978 25706796 6397134169 7108063560 5706001442 7121706492 25375600 229781346 15844600 5176186 6578770 68049620 19912986 17235307 34557743 6158898 121250000 668563 57254640 607844259 Anggaran Realisasi Anggaran Realisasi Anggaran Realisasi Anggaran Realisasi Anggaran Agustus September Oktober November Desember Realisasi 7568025408 4562850 6286094 11420192 16774209 3411100 93206253 23244069 22868588 3380239 15819090 319457760 1250000 58063830 8147769682 25375600 228420718 14400100 5500185 6578680 88487202 20202770 16813301 33575540 6239036 97000000 408563 57264039 600265734 Anggaran

Tahun 2006

Pembelian TBS

Gaji karyawan Pimpinan

Gaji Karyawan Pelaksana

Bahan kimia dan pelengkap

Alat dan Invebtaris

Bahan bakar dan Pelumnas

Biaya Listrik

Biaya Air

Biaya Langsir

Biaya Angkat sampah/Tankos

Biaya Pemeliharaan Bangunan Pabrik

Biaya Pemeliharaan mesin dan instalasi Pabrik

Biaya Pengepakan

Premi asuransi Pabrik

Total

Sumber : Laporan Manajemen PTPN V PKS SPA Tahun 2006

239

Lampiran 7. Perbandingan Antara Realisasi dan Anggaran Biaya Pengolahan PTPN V PKS SPA Tahun 2007
Jan Realisasi 8768890133 30120967 201958086 12913935 5069236 3869600 78789339 11420854 15598748 3166549 13030569 86026529 150000 56380376 9287384921 587995707 6022178482 655047353 53920593 48807877 53920593 51466044 7173893270 680875 680875 91761150 95511125 163522300 116918457 6156192 10017576 5624671 8675827 8675096 367044600 680875 53920593 871087784 12142549 3620750 11661573 10830748 13089804 14840893 12365579 14253033 13722603 15998649 18737479 10440691 18101431 15529753 18692377 18516809 15675729 13635382 8845854 137250250 1400000 51466044 7831736789 74754100 80396801 68767774 69887593 71184188 74838834 7287145 667650 7287145 648354 7287145 5907786 7287000 89903300 26336113 28391402 23229329 6291084 165881999 680875 53920780 714112080 51466045 9489763681 13373757 271935 13373757 13966364 13373525 11474347 13373599 14886000 7529280 15852550 18690630 21283500 16117411 16340800 235210669 189439589 237757346 254173885 235613127 247812206 238231399 242488234 14389561 12218248 1086727 91799688 20307639 8910676 11601108 11280790 187932680 44244305 43728826 44244305 38392775 44244305 48092687 44244400 39087626 5519380803 6560990237 7180703450 8797194659 44244400 238111999 16973550 13373599 7287000 90491000 26604592 22847464 18693380 13914264 183522435 680875 53920780 730665338 51466045 13705391324 Anggaran Realisasi Anggaran Realisasi Anggaran Realisasi Anggaran Realisasi Anggaran Feb Maret April Mei Realisasi 12939064950 35099589 260568286 14102228 4180605 2292051 85221849 18427936 5654337 11903747 6873705 270535996 44244400 241095999 20953000 13375799 7287000 116604210 42446392 19912644 16292163 11993674 183522300 680875 53920780 772329236 Juni Anggaran

Tahun 2007

Pembelian TBS

Gaji karyawan Pimpinan

Gaji Karyawan Pelaksana

Bahan kimia dan pelengkap

Alat dan Invebtaris

Bahan bakar dan Pelumnas

Biaya Listrik

Biaya Air

Biaya Langsir

Biaya Angkat sampah/Tankos

Biaya Pemeliharaan Bangunan Pabrik

Biaya Pemeliharaan mesin dan instalasi Pabrik

Biaya Pengepakan

Premi asuransi Pabrik

Total

240

Lanjutan
Juli Realisasi 13929864190 43509255 278877374 25160502 14503660 2768381 87689945 30074840 4537276 4148406 13633529 184082649 1400000 51466045 14671716052 842032485 21449031477 652702100 57254740 51466045 57254740 51466045 18091663477 1226000 71524587 1077000 75241000 242500263 180477662 121250490 168084994 121249775 1730800 57254741 653417387 21638216 9741030 6565100 10304796 6147147 39191000 1471753 35576640 4173957 36325500 19976000 11390805 17670754 12706959 18547465 11601673 13540104 17213925 216952297 64741952 72122095 20340624226 41106443 17660473 30400165 16435092 30161300 24926519 83880325 87607311 67844336 98468149 64138182 128472217 6579000 2848704 6579000 1501230 6579000 1737547 6679000 52947445 20171420 26325618 53324700 6746157 81250007 408500 57254741 612340879 15377820 5296589 7218096 3219742 8796100 12095179 22292205 14652300 6579039 14860000 24881018 14859000 9421705 15355500 273274000 299540517 261029401 276151261 262251999 420625122 244009199 273752757 15264784 6853021 3567809 121394240 18063638 109140903 111391220 7949913 189260320 1850000 22792069 22647187833 25376378 38613012 25376378 36511109 25376378 74449009 25576387 47893130 20664813950 17312518125 19272724882 21718014029 25376478 252285000 15845400 5176135 6579000 45545600 19913423 17235200 34557620 6159046 81250604 668545 57254741 567846792 63707393 19980757341 Anggaran Realisasi Anggaran Realisasi Anggaran Realisasi Anggaran Realisasi Anggaran Agustus September Oktober November Desember Realisasi 19211156800 58225382 343327569 8236705 20015790 2781588 113112782 22060047 12958288 21195797 10884950 93094250 25371845 255800200 14406800 5009300 6579000 61105766 20199576 16813400 33673600 6238240 64093006 408500 57253620 566952853 Anggaran

Tahun 2007

Pembelian TBS

Gaji karyawan Pimpinan

Gaji Karyawan Pelaksana

Bahan kimia dan pelengkap

Alat dan Invebtaris

Bahan bakar dan Pelumnas

Biaya Listrik

Biaya Air

Biaya Langsir

Biaya Angkat sampah/Tankos

Biaya Pemeliharaan Bangunan Pabrik

Biaya Pemeliharaan mesin dan instalasi Pabrik

Biaya Pengepakan

Premi asuransi Pabrik

Total

Sumber : Laporan Manajemen PTPN V PKS SPA Tahun 2007

241

Lampiran 8. Faktor-faktor Biaya yang Mempengaruhi Biaya Pengolahan CPO PTPN V PKS SPA
X2 1797002 13816598 4285735 5970602 4603570 8489039 27212937 14936385 13350483 6997292 4993619 5432656 5406576 7498843 6355371 5217874 6060680 6619590 7797289 2630609 19551241 13428399 16774209 15819090 319457760 10238156 230979485 70500000 58063830 23401320 192590227 55659581 16461448 210258230 55659581 14830059 236219999 55659581 13112282 154733477 55659581 5.406E+09 6.397E+09 7.108E+09 5.706E+09 7.122E+09 7.568E+09 20031398 165209099 55659581 6.781E+09 17509617 146803299 55659581 6.518E+09 16879772 100740379 55659581 5.615E+09 16782229 153947915 57254640 6.519E+09 9031953 15680757 12463177 13277337 6543023 21559167 7708134 16333209 11213447 11420192 15794079 105250573 57254640 5.594E+09 16684000 10677801 77463368 0 8.054E+09 22685416 28691542 445903933 53348507 9.001E+09 25757900 2657361 1430256 2417360 3412415 1559850 1666788 343481 1542623 3197740 1871175 2303905 2136030 3411100 22354072 138123183 64791047 1.041E+10 13350330 3076459 28268160 168534869 59791047 8.012E+09 22521594 13480648 26688855 387928720 59791047 7.004E+09 32712685 3848150 15925438 150508029 59791047 6.7E+09 10610780 2177290 62147236 3072911 121096722 70192624 165635227 83886327 61969790 72062967 87110801 91171045 111213724 100387893 102653160 173397311 175522731 109123637 93206253 16714570 270439622 59791047 6.706E+09 12080212 6223148 76567814 16331948 187317527 59791047 6.247E+09 12572199 3934394 52745398 17418938 253576563 59791047 7.204E+09 8989658 7561014 107746707 8469744 237973362 59791047 6.255E+09 9617271 655705 146505483 100540713 12665043 16404743 22020002 15139002 20459859 17155523 11976854 13536936 15528705 20918406 18031051 15822782 15577525 12676546 12099317 20217749 34839709 18579057 15995996 23244069 21276205 104754837 59791047 6.632E+09 7009066 2266846 38368406 11030325 6247095 91652117 119582093 6.788E+09 8854481 5730571 66608934 10079107 X3 X4 X5 X6 X7 X8 X9 X10 X11 23356026 19713018 28717429 21310393 24151977 82486581 35528571 28641284 30283882 29695586 35461496 16870882 35257096 102412711 71021095 17531485 37215677 16423492 25956693 22300038 31805135 17148120 26248827 1250000 1400000 300000 1400000 1279955 1279955 X12 1279955

Waktu

Y

X1

Feb-05

514612679

179425298

Mrt 05

470881506

192855158

Apr-05

794810391

196973947

May-05

706887384

211857419

Jun-05

594493688

215360930

Jul-05

751787603

196975568

Ags 05

585014224

205973894

Sep-05

830678561

252598665

Oct 05

741774897

267291969

Nov 05

649654290

289096848

Dec-05

1.123E+09

345280458

Jan-06

446997284

213021873

Feb-06

515394707

194142187

Mar-06

693579840

253145116

Apr-06

592543753

221713365

May-06

663058629

299458238

Jun-06

679926102

258238579

Jul-06

587818552

219297274

Ags 06

731315975

243224538

Sep-06

760633287

235507052

Oct 06

955505051

419758645

Nov 06

722918023

242154753

Dec-06

579744274

10848944

242

Lanjutan
X2 5069236 271935 13966364 11474347 12218248 4180605 14503660 5296589 3219742 12095179 6853021 20015790 10884950 93094250 63707393 1.921E+10 8236705 2781588 7949913 189260320 22792069 2.172E+10 15264784 3567809 17213925 216952297 72122095 1.927E+10 9421705 1737547 10304796 168084994 51466045 1.731E+10 24881018 1501230 9741030 180477662 51466045 2.066E+10 6579039 2848704 87607311 98468149 128472217 121394240 113112782 13633529 184082649 51466045 1.393E+10 25160502 2768381 87689945 6873705 270535996 51466045 1.294E+10 14102228 2292051 85221849 11280790 187932680 51466045 8.797E+09 14389561 1086727 91799688 8845854 137250250 51466044 7.181E+09 16117411 5907786 74838834 18516809 20307639 18427936 30074840 17660473 16435092 24926519 18063638 22060047 8675827 116918457 51466044 6.561E+09 18690630 648354 69887593 15529753 10017576 95511125 48807877 5.519E+09 7529280 667650 80396801 10440691 13030569 86026529 56380376 8.769E+09 12913935 3869600 78789339 11420854 X3 X4 X5 X6 X7 X8 X9 X10 X11 18765297 15986329 24553351 29311111 20511784 17558084 8685682 12862558 16880916 25141777 220532123 34154085 1400000 71524587 75241000 64741952 1850000 1400000 X12 150000

Waktu

Y

X1

Jan-07

518494788

232079053

Feb-07

518494788

233168415

Mar-07

612903033

292566660

Apr-07

651033339

295904893

May-07

692569022

281575860

Jun-07

766326370

295667875

Jul-07

741851860

322386629

Ags 07

784217520

338153529

Sep-07

779145350

312662370

Oct 07

1.068E+09

495074131

Nov 07

929173810

321645887

Dec-07

769600540

401552951

Sumber: Laporan Manajemen PTPN V PKS SPA Tahun 2005 - 2007

243

Lampiran 9. Hasil Regresi Faktor-faktor yang Mempengaruhi Biaya Pengolahan CPO PTPN V PKS SPA
Dependent Variable: Y Method: Least Squares Date: 05/06/08 Time: 18:58 Sample: 2005:02 2007:12 Included observations: 35 Variable C X1 X2 X3 X4 X5 X6 X7 X8 X9 X10 X11 X12 R-squared Adjusted R-squared S.E. of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat Coefficient 3.849058 0.145204 0.005858 0.060116 0.310015 0.007704 0.145947 0.026708 -0.013168 0.061918 0.055697 0.056303 0.000878 0.929218 0.890609 0.071359 0.112028 50.86337 1.840057 Std. Error 1.260058 0.024452 0.017425 0.039251 0.037938 0.004778 0.038881 0.034657 0.018581 0.020251 0.035502 0.021002 0.002048 t-Statistic 3.054668 5.938261 0.336197 1.531580 8.171568 1.612434 3.753698 0.770644 -0.708685 3.057581 1.568811 2.680835 0.428816
Prob.

0.0058 0.0000 0.7399 0.1399 0.0000 0.1211 0.0011 0.4491 0.4860 0.0058 0.1310 0.0137 0.6722 20.34472 0.215755 -2.163621 -1.585921 24.06764 0.000000

Mean dependent var S.D. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic)

Uji Multikolinearitas
X1 X1 X2 X3 X4 X5 X6 X7 X8 X9 X10 X11 X12 1.000000 0.045387 0.016735 X2 0.045387 1.000000 0.320548 X3 0.016735 0.320548 1.000000 X4 0.147324 0.220008 0.312189 X5 0.025292 0.054946 0.125280 X6 0.304547 0.123805 0.272844 X7 0.126927 0.238579 0.236853 X8 0.100176 0.242045 0.208399 X9 0.079452 0.132197 0.180515 X10 0.062750 0.175951 0.117904 X11 0.001592 0.150430 0.128365 X12 0.100902 0.128574 0.282100 0.147324 0.025292 0.304547 0.126927 0.100176 0.079452 0.220008 0.054946 0.123805 0.238579 0.242045 0.132197 0.312189 0.125280 0.272844 0.236853 0.208399 0.180515 1.000000 0.304949 0.090600 0.240530 0.176334 0.059717 0.304949 1.000000 0.007847 0.238643 0.128004 0.011317 0.090600 0.007847 1.000000 0.041783 0.110789 0.165684 0.240530 0.238643 0.041783 1.000000 0.110328 0.255779 0.176334 0.128004 0.110789 0.110328 1.000000 0.154924 0.059717 0.011317 0.165684 0.255779 0.154924 1.000000 0.369026 0.049042 0.115641 0.053072 0.138867 0.159085 0.081984 0.110714 0.007471 0.051469 0.174514 0.028563 0.103175 0.132900 0.402835 0.019984 0.102833 0.147498 -0.100902 0.062750 0.001592 -0.128574 0.175951 0.150430 -0.282100 0.117904 0.128365 0.103175 0.369026 0.081984 0.132900 0.049042 0.110714 0.402835 0.115641 0.007471 -0.019984 0.053072 0.051469 0.102833 0.138867 0.174514 0.147498 0.159085 0.028563 0.187366 1.000000 0.057341 -0.114970 0.057341 1.000000 1.000000 0.187366 0.114970

244

Uji White Heteroskedasticity Test: F-statistic Obs*R-squared 0.745976 22.45674 Probability Probability 0.734262 0.552026

245

Lampiran 10. Pelaksanaan Hak dan Kewajiban dalam Kemitraan PTPN V SPA dengan Petani Plasma
Aturan Perjanjian Hak Inti Menetapkan jadwal pembayaran hasil produksi kebun plasma Memberikan peringatan kepada pihak plasma apabila terjadi penyimpangan dalam mematuhi peraturan yang sudah ditetapkan Kewajiban Inti Membeli seluruh hasil produksi kebun petani plasma yang memenuhi kriteria Membeli hasil produksi kebun plasma dengan harga sesuai dengan aturan yang ditetapkan Dinas Perkebunan Melaksanakan pembayaran atas pembelian hasil produksi plasma Melaksanakan administrasi penerimaan hasil produksi Menyetorkan jumlah potongan angsuran kredit plasma kepada bank pelaksana Membuat peraturan teknis yang diketahui Dinas Perkebunan Hak Petani Plasma Menerima pembayaran hasil produksi sesuai jadwal yang ditentukan inti Memperoleh bukti pembayaran angsuran kredit dari bank melalui inti Kewajiban Petani Plasma Petani bersedia mematuhi petunjuk dan bimbingan teknis yang diberikan inti Petani bersedia melaksanakan pemeliharaan jalanjalan di kebun Mengangkut hasil produksi dari kebun sampai ke pabrik inti Melaksanakan panen sesuai dengan petunjuk dan bimbingan teknis dari inti petani dapat mengikuti petunjuk dan bimbingan teknis yang diberikan oleh inti Terdapat sebagian petani yang kurang memperhatikan kondisi jalan Petani mengangkut hasil produksi secara kolektif melalui kelompok tani sampai ke pabrik inti Panen dilakukan oleh orang lain yang diberi upah, menyebabkan kegiatan ini kurang dikontrol oleh petani Sesuai Kurang sesuai Petani plasma kadang-kadang mengalami keterlambatan dalam menerima pembayaran hasil produksi Petani plasma memperoleh bukti pembayaran angsuran kredit pada saat pembayaran hasil produksi oleh inti Tidak sesuai Pabrik inti dapat menampung seluruh hasil produksi kebun petani plasma Harga yang berlaku untuk pembelian hasil produksi kebun plasma adalah berdasarkan harga yang ditetapkan Dinas Perkebunan Kadang-kadang PTPN V SPA terlambat membayar hasil produksi kebun plasma PTPN V SPA melaksanakan administrasi penerimaan hasil produksi sesuai dengan ketentuan yang telah disepakati PTPN V SPA selalu menyetorkan angsuran kredit plasma kepada bank pelaksana Peraturan teknis yang dibuat merupakan peraturan yang telah disetujui oleh Dinas Perkebunan Sesuai PTPN V SPA menetapkan jadwal pembayaran yaitu sekali dalam sebulan setiap tanggal 28 Apabila terjadi masalah dalam kerjasama maka PTPN V SPA dan pihak plasma menyelesaikannya dengan musyawarah Kurang Sesuai Pelaksanaan Keterangan

Sesuai

Sesuai

Tidak sesuai

Sesuai

Sesuai

Sesuai

Sesuai

Sesuai

Tidak sesuai

246

Melaksanakan administrasi penerimaan hasil produksi

Petani membuat surat kuasa kepada pengurus kelompok tani sebagai syarat administrasi dalam penjualan hasil produksi kebun

Sesuai

Sumber: Pihak inti dan petani plasma PTPN V PKS SPA

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->