Rumah Sakit di Bengkulu

Rumah sakit merupakan fasilitas sosial yang tak mungkin dapat dipisahkan dengan masyarakat, dan keberadaannya sangat diharapkan oleh masyarakat, karena sebagai manusia atau masyarakat tentu menginginkan agar kesehatan tetap terjaga. Oleh karena itu rumah sakit mempunyai kaitan yang erat dengan keberadaan kumpulan manusia atau masyarakat tersebut. Di masa lalu, suatu rumah sakit dibangun di suatu wilayah yang jaraknya cukup jauh dari daerah pemukiman, dan biasanya dekat dengan sungai dengan pertimbangan agar pengelolaan limbah baik padat maupun cair tidak berdampak negatip terhadap penduduk, atau bila ada dampak negatip maka dampak tersebut dapat diperkecil. Sejalan dengan perkembangan penduduk yang sangat pesat, lokasi rumah sakit yang dulunya jauh dari daerah pemukiman penduduk tersebut sekarang umumnya telah berubah dan berada di tengah pemukiman penduduk yang cukup padat, sehingga masalah pencemaran akibat limbah rumah sakit baik limbah padat atau limbah cair sering menjadi pencetus konflik antara pihak rumah sakit dengan masyarakat yang ada di sekitarnya. Untuk mengetahui dampak lingkungan yang mungkin terjadi, dapat dilihat dengan diagram berikut ini: Hasil kajian terhadap 100 RS di Jawa dan Bali menunjukkan bahwa rata-rata produksi sampah sebesar 3,2 Kg per tempat tidur per hari. Sedangkan produksi limbah cair sebesar 416,8 liter per tempat tidur per hari. Analisis lebih jauh menunjukkan, produksi sampah (limbah padat) berupa limbah domestik sebesar 76,8 persen dan berupa limbah infektius

serta besarnya tuntutan masyarakat akan kebutuhan peningkatan sarana penunjang pelayanan kesehatan yang baik. untuk lingkungan. Kewenangan penerbitan Izin Mendirikan dan izin Operasional Rumah Sakit Bersalin adalah kewenangan Kepala Daerah di bidang kesehatan (PP Nomor 38 Tahun 2007). Pejabat yang bertanggungjawab dalam pelaksanaan Pelayanan Terpadu Satu Pintu harus berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan dalam penerbitan izin.089 ton per hari dan produksi air limbah sebesar 48. Rumah Sakit Bersalin adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang melakukan kegiatan persalinan dan pelayanannya disediakan oleh tenaga kesehatan terampil. sedangkan izin operasional diberikan untuk jangka waktu 5 (lima) tahun dan dapat diperpanjang kembali selama memenuhi persyaratan sebagaimana diatur dalam UU Nomor 44 Tahun 2009. yaitu melalui akreditasi rumah sakit. Namun dengan semakin mahalnya harga tanah. Izin mendirikan dan izin operasional Rumah Sakit Khusus kelas C diberikan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota setelah mendapat rekomendasi dari pejabat yang berwenang di bidang kesehatan pada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. Akibatnya. Akreditasi Rumah Sakit Selama ini. dan di lain pihak peraturan pemerintah tentang pelestarian lingkungan juga semakin ketat. mengakibatkan biaya investasi maupun biaya operasional menjadi lebih besar. Namun.2 persen. Hal ini disebabkan karena air limbah rumah sakit mengandung senyawa organik yang cukup tinggi juga kemungkinan mengandung senyawa-senyawa kimia lain serta mikro-organisme patogen yang dapat menyebabkan penyakit terhadap masyarakat . Permohonan izin mendirikan dan izin operasional Rumah Sakit Khusus diajukan menurut jenis dan klasifikasi Rumah Sakit Khusus. Perizinan Rumah Sakit Perkembangan Rumah Sakit Swasta di Provinsi Bengkulu umumnya dimulai dari Rumah Sakit Khusus seperti Rumah Sakit Bersalin. Dengan adanya kebijakan legal yang mengharuskan pihak rumah sakit agar menyediakan fasilitas pengolahan limbah yang dihasilkan. maka pihak rumah sakit umumnya menempatkan sarana pengolah limbah pada skala prioritas yang rendah. Akreditasi merupakan ketentuan yang diwajibkan bagi rumah sakit untuk memenuhi standar-standar pelayanan di rumah sakitnya. maka Kepala daerah melimpahkan kewenangan tersebut kepada Pejabat Pelayanan Terpadu Satu Pintu dalam penerbitan Izin Mendirikan dan Izin Operasional Rumah Sakit Bersalin.sebesar 23. Pengelolaan Lingkungan Rumah Sakit Rumah sakit yang dibangun setelah tahun 1980 an telah diwajibkan menyediakan sarana limbah padat maupun limbah cair.985. Dari gambaran tersebut dapat dibayangkan betapa besar potensi RS untuk mencemari lingkungan dan kemungkinannya menimbulkan kecelakaan serta penularan penyakit. salah satu cara rumah sakit di Indonesia melakukan peningkatan mutu adalah dengan memenuhi standar pelayanan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Dalam akreditasi rumah sakit terdapat dua puluh standar pelayanan yang harus dipenuhi oleh rumah sakit. sering terjadi benturan perbedaan kepentingan antar pihak rumah sakit dengan masyarakat atau pemerintah.70 ton per hari. Air limbah yang berasal dari limbah rumah sakit merupakan salah satu sumber pencemaran air yang sangat potensial. Dalam rangka pelaksanaan Pelayanan Terpadu Satu Pintu. akreditasi rumah sakit masih belum banyak memenuhi ketentuan yang mengharuskan rumah sakit memenuhi pedoman pengelolaan lingkungan. Setiap penyelenggara Rumah Sakit wajib memiliki izin yang terdiri dari izin mendirikan dan izin operasional. Izin mendirikan diberikan untuk jangka waktu 2 (dua) tahun dan dapat diperpanjang untuk 1 (satu) tahun. Diperkirakan secara nasional produksi sampah (limbah padat) RS sebesar 376.

Percampuran tersebut justru memperbesar permasalahan limbah medis. limbah radiologi. Pengelolaan lingkungan yang baik dari sebuah rumah sakit tidak hanya meliputi bagaimana cara mengolah limbah sebagai by product (output) tetapi juga mengembangkan strategistrategi manajemen dengan pendekatan sistematis untuk meminimalkan limbah dari sumbernya dan meningkatkan efisiensi pemakaian sumber daya alam sehingga mampu mencegah pencemaran dan meningkatkan performa lingkungan. Sebagian besar pengelolaan limbah infeksius disamakan dengan limbah medis noninfeksius. Ironisnya. kurangnya komitmen pendanaan bagi upaya pengendalian pencemaran karena menganggap . Bila hal tersebut tidak diindahkan oleh manajemen rumah sakit. ada yang belum memiliki IPAL dan beberapa rumah sakit IPAL-nya dalam kondisi rusak berat. tangki pembuangan seperti itu di Indonesia sebagian besar tidak memenuhi syarat sebagai tempat pembuangan limbah. Oleh karena potensi dampak air limbah rumah sakit terhadap kesehatan masyarakat sangat besar. Beberapa hal yang patut jadi pemikiran bagi pengelola rumah sakit. dan menghemat biaya untuk remediasi pencemaran lingkungan serta tidak kalah pengtingnya adalah sebagai strategi pemasaran sosial yang dapat membawa perubahan yang positif dan lebih berarti dalam jangka waktu panjang. digunakan untuk membakar limbah padat berupa limbah sisa-sisa organ tubuh manusia yang tidak boleh dibuang begitu saja. Data tersebut juga menyebutkan. Dengan adanya peraturan yang mengharuskan bahwa setiap rumah sakit harus mengolah air limbah sampai standar yang diijinkan. Tetapi untuk rumah sakit tipe kecil sampai dengan tipe sedang umumnya sampai saat ini masih membuang air limbahnya ke saluran umum tanpa pengolahan sama sekali. malah sebagian besar limbah rumah sakit dibuang ke tangki pembuangan seperti itu. pembelian bahan baku. Selebihnya. Selain itu. Pasalnya. maka kebutuhan akan teknologi pengolahan air limbah rumah sakit khususnya yang murah dan hasilnya baik perlu dikembangkan. 147 tahun 2010 tentang perizinan rumah sakit dan Kepmenkes No. belum dikelola dengan baik. hanya tiga rumah sakit saja yang memiliki IPAL dan bekerja dengan baik. Yang termasuk limbah medis adalah limbah infeksius. Untuk rumah sakit dengan kapasitas yang besar umumnya dapat membangun unit alat pengolah air limbahnya sendiri karena mereka mempunyai dana yang cukup. diantaranya akan dicabut izin operasional rumah sakit itu. hanya sembilan rumah sakit saja yang memiliki incinerator. Berdasarkan data dari Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jakarta Timur dari 26 rumah sakit yang ada di Jakarta. 1204 tahun 2004 tentang persyaratan kesehatan lingkungan rumah sakit. Kasus IPAL Rumah Sakit Peraturan yang mengharuskan rumah sakit memiliki IPAL diatur dalam UU RI No. 44 thn 2009 tentang rumah sakit. kurangnya kepedulian manajemen terhadap pengelolaan lingkungan karena tidak memahami masalah teknis yang dapat diperoleh dari kegiatan pencegahan pencemaran. khususnya limbah medis yang infeksius. kerap bercampur limbah medis dan nonmedis. limbah medis memerlukan pengelolaan khusus yang berbeda dengan limbah nonmedis. Alat tersebut. maka setiap rumah sakit diharuskan mengolah air limbahnya sampai memenuhi persyaratan standar yang berlaku. Limbah rumah sakit. Permenkes No.di sekitarnya. Hal ini mengingat bahwa kendala yang paling banyak dijumpai yakni teknologi yang ada saat ini masih cukup mahal. maka berbagai sanksi akan dihadapi. limbah sitotoksis. dan jadi penyebab tingginya tingkat penurunan kualitas lingkungan dari kegiatan rumah sakit antara lain disebabkan. sedangkan di lain pihak dana yang tersedia untuk membangun unit alat pengolah air limbah tersebut sangat terbatas sekali. dan limbah laboratorium. Dengan adanya berbagai aturan tersebut maka sudah menjadi ketentuan bagi rumah sakit untuk memiliki IPAL. Hal itu berarti dapat menghemat biaya untuk pengolahan limbah. Padahal.

Dengan kata lain pihak Rumah Sakit dapat mengeluarkan pernyataan “Ini Lho. pencegahan pencemaran. Dan di Rumah Sakit PMI telah menerapkan hal itu. pembuangan bahan kimia baik B3 maupun non B3. menurut dasar-dasar KEPMENKES RI No. limbah cair. Sampah medis dibuang ke dalam kantong plastik kuning sedangkan sampah non medis dibuang ke kantong plastik hitam.. Di Rumah Sakit ini telah dilakukan pemilahan sampah. Mungkin kendalanya plastik yang berwarna kuning itu lebih mahal.. . mulai dan membiasakan untuk mengidentifikasi dan memilah jenis limbah berdasarkan teknik pengelolaan (Limbah B3. Rumah sakit yang baik adalah rumah sakit yang telah memisahkan antara sampah medis dengan sampah nonmedis. Hasil akhir dari sampah non medis dapat digunakan sebagai media tanam untuk menanam kangkung. bawang. Dalam program Green Hospital ke depan. Teknologi pengolahan air limbah dapat dicontoh dari Rumah Sakit yang telah memiliki Sertifikat Proper Hijau. Salah satu kegiatan pengelolaan limbah Rumah Sakit telah dilaksanakan oleh Rumah Sakit PMI Bogor yang berbasis kearifan lokal. pemeliharaan peralatan serta tindak gawat darurat. kurang memahami apa yang disebut produk usaha dan masih banyak lagi kekurangan lainnya. sudah seharusnya rumah sakit mengutamakan layanan kesehatan. Untuk itu upaya menjaga dan mengelola instalasi sanitasi rumah sakit sangatlah penting.. menyediakan dan menjaga ruang terbuka hijau (taman). ini air limbahnya. lingkungan dan udara rumah sakit dari sampah (limbah padat). berbagai penyakit dan vector penyebarnya akan bertebaran bebas dan akan mempersulit proses penyembuhan.dan seperti ini outputnya”. Meningkatkan pengelolaan dan pengawasan serta pengendalian terhadap pembelian dan penggunaan.. yang mengikutsertakan masyarakat dalam pengelolaan limbah dapat mengurangi benturan yang terjadi antara pihak rumah sakit dengan masyarakat sekitar rumah sakit. Mulai dari menjaga kebersihan ruang.1204/MENKES/SK/X/2004 Tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit. infeksius. IPAL yang telah kami buat . Keikutsertaan masyarakat dalam Pengelolaan Limbah Sebagai tempat pengobatan dan penyembuhan masyarakat yang sakit. sampah yang berasal dari ranting daun yang sudah kering dapat dimanfaatkan sebagai pupuk sehingga dipisahkan dari sampah non medis yang lain. Namun yang tak kalah penting adalah sanitasi lingkungannya. Masyarakat pada umumnya ingin mengetahui bentuk dari IPAL yang telah dibuat oleh Rumah Sakit tersebut dalam wujud “Nyata” bukan hanya dongeng yang mengatakan bahwa “IPAL telah dibuat dengan konstruksi baja dan dijamin tanpa adanya kebocoran”. Tanpa sanitasi yang berkualitas. dapat digunapakai atau guna ulang). ini IPAL nya.. kebun sayur organik dan persemaian taman serta proses pengomposan (composting). sampah nonmedis dibakar dengan alat incinerator.bahwa pengelolaan rumah sakit untuk menghasilkan uang bukan membuang uang mengurusi pencemaran. Transparansi dalam Pengelolaan Limbah Pengelolaan air limbah yang terbuka pada masyarakat. Untuk itu.. dan lain-lain. lahan parkir yang nyaman dan sebagainya. Sampah non medis yang berasal dari plastik dikumpulkan terlebih dahulu untuk kemudian di daur ulang. air limbah hasil olahan ini dapat dimanfaatkan untuk penyiraman taman dan rumput di rumah sakit serta penyiraman kebun herba. Memantau aliran obat mencakup pembelian dan persediaan serta meningkatkan pengetahuan karyawan terhadap pengelolaan lingkungan melalui pelatihan dengan materi pengolahan bahan. upaya-upaya yang harus dilakukan rumah sakit adalah. Kemudian.

. Respon yang ditunjukkan oleh warga sekitar terhadap dugaan kasus-kasus pencemaran hendaknya bisa menjadi penyemangat bagi pengelola rumah sakit untuk terus menerus mengembangkan pengelolaan terhadap limbah rumah sakit agar semakin baik dan benar misi rumah sakit sebagai institusi pelayanan kesehatan. Dari beberapa kasus dugaan pencemaran limbah rumah sakit di Provinsi Bengkulu yang selama ini terjadi kiranya semua pihak harus berkomitmen untuk mengupayakan agar limbah rumah sakit dapat benar-benar dikelola dengan baik. IPAL bergerak ini didasarkan teknologi oksidasi.Sebuah trobosan telah dilakukan di Indonesia.. apakah disana tidak ada dugaan pencemaran. dengan catatan pelayanan Rumah Sakit harus tetap berjalan. Konflik yang terjadi antara pihak Rumah Sakit Tiara Sella hendaklah harus disikapi secara bijak. Apabila terjadi pencemaran konsekuensinya pihak Rumah Sakit harus memberikan kompensasi pada masyarakat sekitar. yaitu penggabungan antara ozonisasi dan sinar ultraviolet. Oksida ini dirancang agar sistem ini memiliki pengelolaan limbah yang sangat kompak dan fleksibel sehingga dapat dioperasikan di atas mobil bak terbuka. jangan sampai terjadi adanya kesempatan komponen tersebut yang “memancing di air keruh”. Mengapa masyarakat yang berada disekitar Rumah Sakit Pemerintah tidak pernah mengeluh. setiap komponen masyarakat dan pemerintah hendaklah berada dalam posisi yang sebenarnya. Dengan menggunakan Oksida ini sebuah rumah sakit tidak lagi memerlukan area yang luas untuk instalasi. yaitu dengan adanya IPAL Bergerak (mobile wastewater treatment system).??. IPAL bergerak ini dinamakan Oksida.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful