PERIHAL PENUNTUTAN

Kelompok IV Anggota : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Muhammad Ihsan Miftah Rahmania Niza Apriani Fitriana Batubara Miftah Mitha Purnama

FAKULTAS KEGURUAN dan ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA TAHUN AKADEMIK 2011 / 2012

KATA PENGANTAR .

................................................................................ i Kata Pengantar .............................................................................................................................. 1................................DAFTAR ISI Halaman Judul ........................................................... iii Isi ............. 2....................................................................................................... Pembahasan .................................................. Daftar Pustaka ... ..... ii Daftar Isi .................................................................................................. Penutup ........................ Saran .... Latar Belakang ........... Permasalahan ................................................................................................................................................................... 3......................................................................................................................................... 1..... Kesimpulan ......................................................................................................................... 2...........

I. Latar Belakang .

Permasalahan .II.

Menurut Pasal 14 KUHAP Penuntut Umum Mempunyai Wewenang. B. kejaksaan RI selanjutnya disebut kejaksaan ialah alat negara penegak hukum yang terutama bertugas sebagai penuntut umum. 4. Tugas dan Wewenang Penuntut Umum Dalam Pasal 13 KUHAP dinyatakan bahwa penuntut umum adalah jaksa yang di beri wewenang untuk melakukan penuntutan dan melaksanakan penetapan hakim. Melimpahkan perkara ke pengadilan . bahkan masyarakat awam mengidentikan keduanya sama. Sedangkan dalam Pasal 1 UU Pokok Kejaksaan No. Membuat surat dakwaan 5. Penuntut Umum adalah jaksa yang diberi wewenang oleh undang-undang untuk melakukan penuntutan dan melaksanakan putusan hakim (Pasal 1 angka 5 huruf b KUHAP). Memberikan perpanjangan penahanan. Jaksa adalah pejabat yang diberi wewenang oleh Undang-Undang untuk bertindak sebagai penuntut kekuatan hukum tetap. Mengadakan pra penuntutan apabila ada kekurangan pada penyidikan dengan memperhatikan ketentuan Pasal 110 ayat 3 dan 4 dengan memeberikan petunjuk dalam menyempurnakan penyidikan dari penyidik. Padahal dalam Pasal 1 angka 6 huruf a dan b KUHAP menyebutkan bahwa Jaksa merupakan Jabatan sedangkan Penuntut Umum Merupakan hal yang menyangkut dengan fungsinya. yaitu : 1. Menerima dan memeriksa berkas perkara penyidikan dan penyidik atau pembantu penyidik 2. melakukan penahanan atau penahanan lanjutan dan atau mengubah status tahanan setelah perkaranya di limpahkan oleh penyidik.III. 3. * Note * Jika di lihat dari kita akan kesulitan membedakan pengertian dari Jaksa dan Penuntut Umum. Pembahasan PERIHAL PENUNTUTAN A. Sepintas Tentang Lembaga Penuntut Umum Penuntut adalah tindakan penuntut umum untuk melimpahkan ke pengadilan negeri yang berwenang dalam hal dan menurut cara yang diatur undang-undang ini dengan permintaan supaya diperiksa dan diputuskan oleh hakim disidang pengadilan (Pasal 1 angka 7 KUHAP).15 tahun 1961 menyatakan.

6. Hasil penyidikan akan dianggap lengkap apabila telah memenuhi syarat formal dan syarat material. Adanya surat dari ketua pengadilan negeri jika dalam penyidikan dilakukan pemeriksaan surat sebagaimana tersebut dalam pasal 47 KUHAP . Menutup perkara demi kepentingan hukum 9. Dalam hal delik aduan harus ada surat pengaduan dari pihak yang dirugikan. 1. c. d. e. penyidik harus sudah menyampaikan kembali berkas perkara itu kepada penuntut umum (Pasal 138 KUHAP). penuntut umum mengembalikan berkas perkaa kepada penyidik disertai petunjuk tentang hal yang harus dilakukan untuk dilengkapi dan dalam wktu 14 hari sejak tanggal penerimaan berkas.PW. 05. b. 7. Mengadakan tindakan lain dalam lingkungan tugas dan tanggung jawab sebagai penuntut umum menurut UU 10. Penyidik/penyidik pembantu harus memenuhi syarat sebagaimana tersebut dalam pasal 2 dan 33 PP No. Melaksanakan penetapan hakim.04 tahun 1884. Setelah penuntut umum menerima kembali hasil penyidikan yang lengkap dari penyidik ia segera menentukan apakah berkas perkara itu sudah memenuhi persyarakatan untuk dapat atau tidak diadakan penuntutan. baik kepada terdakwa maupun kepada saksi untuk datang pada sidang yang telah ditentukan. Adanya surat izin dari Ketua Pengadilan Negeri setempat jika dalam penyidikan dilakukan penggeledahan dan penyitaan sebagaimana tersebut dalam pasal 33 dan 38 KUHAP. 27 th 1983 jo. Mencantumkan identitas tersangka sebagaimana tersebut dalam pasal 143 ayat 2 KUHAP. Menyampaikan pemberitahuan kepada terdakwa tentang ketentuan dan waktu perkara disidangkan yang disertai surat panggilan. Setelah penuntut umum menerima hasil penyidikan dari penyidik. M. jika belum.07. Syarat Formal a. Peraturan Menteri Kehakiman No. ia segera mempelajari dan menelitinya dan dalam waktu 7 Hari wajib memberitahukan kepada penyidik apakah hasil penyidikan itu adalah lengkap atau belum. Melakukan penuntutan 8.

jelas. maka hasil penyidikan itu akan dijadikan dasar bagi pembuatan surat dakwaan sebagaimana diatur pasal 138 jo. 2. apabila penuntut umum berpendapat bahwa hasil penyidikan dari penyidik dapat dilakuukan penuntutan. 2. pekerjaan terdakwa dan kemudian surat dakwaan itu harus ditanda tangani oleh penuntut umum. umur atau tanggal lahir. kecuali dalam perkara pidana yang sifatnya sangat sederhana. maka sukar bagi penuntut umum untuk menuntut terdakwa untuk kedua . yang berarti terdakwa dibebaskan. tanpa diikuti dengan dakwaan-dakwaan lain atau tanpa ada alternative dakwaan lainnya. Syarat material Harus berisikan uraian secara cermat. bila dalam penyidikan dilakukan penangkapan dan atau tindakan lain. untuk itu sifat-sifat khusus dari suatu tindak pidana yang telah dilakukan itu harus dicantumkan dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu surat dakwaan yang dikatakan lengkap jika memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : 1. Surat Dakwaan Menurut pasal 140 KUHAP. Bentuk dakwaan semacam ini jarang dipergunakan. agama. kebangsaan. C. Jika dakwaan tersebut tidak dapat dibuktikan. tempat tinggal. Adanya berita acara pemeriksaan sebagaimana tersebut dalam pasal 75 KUHAP.f. tempat lahir. pasal 110 KUHAP. Syarat Material Jika hasil penyidikan itu menurut penuntut umum sudah lengkap dengan syarat-syarat tersebut di atas. Adapun yang dimaksud dengan Surat Dakwaan adalah : Suatu surat atau akte yang memuat perumusan dari tindak pidana yang didakwakan. maka ia dalam waktu secepatnya membuat surat dakwaan. jenis kelamin. yang sementara dapat disimpulkan dari hasil penyidikan dari penyidik yang merupakan dasar bagi hakim untuk melakukan pemeriksaan di sidang pengadilan. Adapun Tujuan Utama Surat Dakwaan adalah : Bahwa undang-undang ingin melihat ditetapkannya alasan-alasan yang menjadi dasar penuntutan sesuatu peristiwa pidana. Bentuk-Bentuk Surat Dakwaan 1) Bentuk dakwaan tunggal Di dalam dakwaan tunggal ini terdakwa didakwa satu perbuatan saja. D. dan lengkap tentang tindak pidana yang didakwakan dengan menyebutkan waktu dan tempat tindak pidana itu dilakukan. sebab mengandung resiko besar. Syarat formal Hendaknya surat dakwaan menyebuutkan dengan lengkap identitas terdakwa yang meliputi : nama lengkap.

baru membuktikan pada dakwaan yang subsidernya. Sebagai contoh : penuntut umum masih ragu-ragu apakah perbuatan terdakwa itu sebaiknya dikualifisir sebagai pencurian atau penggelapan. Dalam dakwaan subsider ini. Ciri-cirinya : Dakwaan ke I pasal 374 KUHP Dakwaan ke II pasal 378 KUHP 5) Bentuk dakwaan campuran Surat dakwaan dalam bentuk ini. 4) Bentuk dakwaan kumulatif Dakwaan dalam bentuk kumulatif dibuat oleh penuntut umum apabila ia berpendapat bahwa tersangka melakukan dua atau lebih tindak pidana.kalinya ke muka hakim. dan begitu seterusnya pada dakwaan yang terakhir adalah dakwaan yang paling yang ringan. Dakwaan semacam ini dibuat jika hasil pemeriksaan menurut pendapat penuntut umum masih meragukan tentang jenis tindak pidana apa yang tepat harus didakwakan. akan tetapi tiap-tiap tindak pidana ragu-ragu tindak pidana apa yang dilakukannya. dakwaan selebihnya tak perlu dibuktikan lagi. 2) Bentuk dakwaan subsider Di dalam dakwaan subsider terdakwa didakwakan lebih dari satu dakwaan. Pada dasarnya dakwaan ini merupakan penggabungan dari beberapa tindak pidana yang dicantumkan dalam satu surat dakwaan. tetapi pada hakekatnya ia hanya didakwa atau dipersalahkan satu tindak pidana saja. pertama-tama didakwakan dakwaan yang terberat. Cirri-cirinya : Dakwaan ke I Primer Subsider Dakwaan ke II Primer Subsider pasal 340 KUHP pasal 338 KUHP pasal 372 KUHP pasal 362KUHP . kemuadian apabila dakwaan primernya tidak terbukti. sebab ada resiko besar bahwa perbuatan yang dituntut kedua kalinya itu akan dianggap oleh hakim sebagai perbuatan yang sama yang pertama sehingga hakim menolak tuntutan jaksa berdasarkan azas nobis in idem. bila ia berpendapat bahwa terdakwa melakukan dua atau lebih tindak pidana. Dinamakan alternatif sebab dakwaan tersebut satu sama lain saling mengecualikan dan merupakan alternatif. dimana masing-masing tindak pidana itu berdiri sendiri. 3) Bentuk dakwaan alternatif Kepada terdakwa secara faktual didakwakan lebih dari satu tindak pidana. tetapi pada prinsipnya ia hanya dipersalahkan satu tindak pidana saja. Maka sebaga konsekwensinya pembuktiannya apabila salah satu dakwaan telah terbukti. akan dibuat oleh penuntut umum. dengan dakwaan yang lebih tepat.

Perkara rol tindak pidana ringan Menurut pasal 205 KUHAP. 3. Cara Mengajukan Perkara Oleh Penuntut Umum Ada tiga macam perkara yaitu : 1. karena neb is and idem. jadi tidak semua pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan lalu lintas. a.E. demikian pula penerapan hukumnya dan merupakan perkara besar diajukan oleh penuntut umum dengan surat pelimpahan perkara. Perkara biasa Perkara biasa adalah perkara yang sulit pembuktiannya. b. acara pemeriksaannya disebut acara pemeriksaan cepat. 2. F. jaksa penuntut umum dan terdakwa atau penasihat hukum) sangat berkepentingan dengan surat dakwaan. yang diperiksa menurut acara pemeriksaan tindak pidana ringan adalah perkara yang diancam dengan pidana penjara atau kurungan paling lama tiga bulan atau denda sebanyak-banyaknya tujuh ribu lima ratus rupiah dan penghinaan ringgan sebagaimana dimaksud dalam pasal 315 KUHP. yang dperiksa dengan acara cepat ini adalah perkara pelanggaran lalu lintas tertentu. Perkara rol Terdiri dari rol tindak pidana ringan dan rol lalu lintas. terdakwa meninggal dunia dan masa penuntutan sudah kadaluarsa 2. Perkara sumair (singkat) Yang diperiksa menurut cara pemeriksaan singkat adalah perkara pidana yang menurut penuntut hukum pemmbuktiannya mudah. Namun. bagi penuntut umum surat dakwaan mempunyai konsekwensi tersendiri apabila surat dakwaan melalui penetapan hakim dinyatakan : 1. . Surat dakwaan tidak dapat diterima Dalam pengertian ini bahwa penuntut umum untuk menuntut terdakwa menjadi gugur. Perkara rol lalu lintas Menurut pasal 211 KUHAP. Sikap Penuntut Umum Tentang Penetapan Hakim Sebagimana kita ketahuii bahwa jika satuu diantar tiga pihak (hakim. penerapan hukumnya mudah dan sifatnya sederhana (pasal 203 KUHAP) Dalam perkara ini putusan hakim tidak dimuat secara khusus tetapi cukup dicatat dalam berita acara sidang dan hakim memberikan surat yang memuat putusan tersebut. Surat dakwaan harus dibatalkan Dalam pengertian ini surat dakwaan tidak memenuhi syarat-syarat yang diatur dalam pasal 143 ayat 2 KUHAP. Misalnya dalam hal delik aduan telah dicabut kembali.

4) Jika pengadilan menguatkan pendapat pengadilan negeri. Surat dakwaan dikembalikan oleh karena pengadilan tidak berwenang untuk memeriksanya. 3) Turunan surat penetapan senagaimana dimaksud dalam ayat (1) disampaikan kepada terdakwa atau penasihat hukum dan penyidik. Ia mengajukan perlawanan kepada pengadilan tinggi yang bersangkutan dalam wkatu tujuh hari setelah penetapan tersebut diterima. b. d. bahwa perkara pidana itu tidak termasuk kewenangan pengadilan yang dipimpinnya. . 3) Dalam hal pengadilan tinggi menguatkan perlawanan penuntut umum. maka : a. 5) Tembusan surat penetapan pengadilan tinggi sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) dan ayat (4) disampaikan kepada penuntut umum. ia menyerahkan surat pelimpahan perkara tersebut kepada pengadilan negeri yang dianggap berwenang yang memuat alasannya. Dalam waktu tujuh hari pengadilan negeri wajib meneruskan perlawanan tersebut kepada pengadilan tinggi yang bersangkutan. maka dengan surat penetapan diperintahkan kepada pengadilan negeri yang bersangkutan untuk menyidangkan perkara tersebut. . Ketentuan ini mengacu pada pasal 148 dan 149 KUHAP yang telah mengatur kompetensi relative dari sebuah pengadilan dan bagaimana penuntut umum menetukan sikap terhadap penetapan itu. Perlawanan tersebut disampaikan kepada pengadilan negeri sebagaimana dimaksud dalam pasal 148 dalam hal ini dicatat dalam buku daftar panitera. pengadilan tinggi mengirimkan berkas perkara pidana tersebut kepada pengadilan negeri yang bersangkutan. 2) Pengadilan tinggi dalam waktu paling lama empat belas hari setelah menerima perlawanan tersebut dapat menguatkan atau menolak perlawanan itu dengan surat penetapan.Pasal 149 KUHAP 1) Dalam hal penuntutan umum keberatan terhadap surat penetapan pengadilan negeri sebagaimana dimaksud dalam pasal 148. Tidak dipenuhinya tenggang waktu tersebut diatas mengakibatkan batalnya perlawanan c.Pasal 148 KUHAP 1) Dalam ketua Pengadilan Negeri berpendapat. .3. 2) Surat pelimpahan tersebut diserahkan kepada penuntut umum selanjutnya kejaksaan negeri yang bersangkutan menyampaikannya kepada kejaksaan negeri ditempat pengadilan negeri yang tercantum dalam surat penetapan.

PENUTUP I. Saran . Kesimpulan II.

DAFTAR PUSTAKA .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful