P. 1
MAKALAH RIBA

MAKALAH RIBA

|Views: 386|Likes:
Published by Agung Jagung R

More info:

Published by: Agung Jagung R on Jun 02, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/08/2014

pdf

text

original

TUGAS KULIAH AGAMA MAKALAH RIBA

DI SUSUN OLEH :

NAMA NIM

: SAIPULAH : 11156281

JURUSAN : TEKNIK MESIN

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI DUTA BANGSA (STTDB) 2012

demikian juga Romawi.1. Di sisi lain. cendekiawan maupun menurut undang-undang yang ada. berbeda dengan bagi hasil yang hanya memberikan nisbah tertentu pada deposannya. Cyril Glasse. dampaknya akan sangat panjang pada transaksi selanjutnya. terkesan seolah-olah doktrin riba adalah khas Islam. maka yang di bagi adalah keuntungan dari yang didapat kemudian dibagi sesuai dengan nisbah yang disepakati oleh kedua belah pihak. Orang sering lupa bahwa hukum larangan riba.. sehingga berbagai penguasa terpaksa dilakukan pengaturan dan pembatasan terhadap bisnis pembungaan uang. Pandangan ini juga yang mendorong maraknya perbankan syariah dimana konsep keuntungan bagi penabung didapat dari sistem bagi hasil bukan dengan bunga seperti pada bank konvensional.. kita dihadapkan pada suatu kenyataan bahwa praktek riba yang merambah ke berbagai negara ini sulit diberantas. kerugian pasti akan ditanggung oleh peminjam. riba adalab barang terlarang dalam pandangan theolog. berbeda dengan prinsip bagi hasil yang hanya memberikan nisbah bagi hasil bagi deposannya.. memungut riba atau mendapatkan keuntungan berupa riba pinjaman adalah haram.. sebagaimana dikatakan oleh seorang Muslim Amerika. karena menurut sebagian pendapat (termasuk Majelis Ulama Indonesia). dalam buku ensiklopedinya. Oleh karenanya. Masalah riba telah menjadi bahasan kalangan Yahudi. Akhirnya timbul berbagai pendapat yang bermacam-macam tentang bunga dan riba.000 tahun silam. tapi berbagai kalangan di luar Islam pun memandang serius persoalan riba. Kajian terhadap masalah riba dapat dirunut mundur hingga lebih dari 2. bunga bank termasuk ke dalam riba. Perdebatan panjang di kalangan ahli fikih tentang riba belum menemukan titik temu. contoh . jadi ketika kita sudah menabung dengan tingkat suku bunga tertentu. Riba bukan cuma persoalan masyarakat Islam. Latar Belakang Istilah dan persepsi mengenai riba begitu hidupnya di dunia Islam. maka kita akan mengetahui hasilnya dengan pasti. kebanyakan orang tidak mengetahui bahwa di dunia Kristenpun. maka yang menjadi sasaran untuk menutupi jumlah bunga tersebut adalah para pengusaha yang meminjam modal dan apapun yang terjadi. Dalam Islam.padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Sebab mereka masing-masing memiliki alasan yang kuat. tidak diberlakukan di negeri Islam modern manapun. Ini dipertegas dalam Al-Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 275 : . Kalangan Kristen dari masa ke masa juga mempunyai pandangan tersendiri mengenai riba. bagaimana suatu akad itu dapat dikatakan riba? hal yang mencolok dapat diketahui bahwa bunga bank itu termasuk riba adalah ditetapkannya akad di awal. Yunani. selama satu milenium.. Sementara itu. yaitu bila akad ditetapkan di awal/persentase yang didapatkan penabung sudah diketahui.

Maka diharamkannyalah riba itu sedikit maupun banyak. Ancaman Bagi Pelaku Riba Islam membenarkan pengembangan uang dengan jalan perdagangan. Asal arti kata riba adalah ziyadah „tambahan‟. maka terimalah peperangan dari Allah dan Rasul-Nya. maka bagi kamu adalah pokok-pokok hartamu. 2. Apabila kamu tidak mau berbuat demikian. 2. kecuali dengan jalan perdagangan dengan adanya saling kerelaan dari antara kamu. Firman Allah: "Sedang yang lain berjalan di permukaan bumi untuk mencari anugerah Allah. berasal dari rabaa yarbuu.nisbahnya adalah 60%:40%. sebagaimana yang diterangkan oleh Nabi: . dan tinggalkanlah apa yang tertinggal daripada riba jika kamu benar-benar beriman. adakalanya tambahan itu berasal dari dirinya sendiri. Di antara ayat-ayat yang paling akhir diturunkan ialah firman Allah dalam surat al-Baqarah: "Hai orang-orang yang beriman! Takutlah kepada Allah. kamu tidak boleh berbuat zalim juga tidak mau dizalimi." (an-Nisa': 29) Islam sangat memuji orang yang berjalan di permukaan bumi untuk berdagang. seperti satu dirham ditukar dengan dua dirham. Definisi Riba Kata Ar-Riba adalah isim maqshur." (alMuzammil: 20) Akan tetapi Islam menutup pintu bagi siapa yang berusaha akan mengembangkan uangnya itu dengan jalan riba. PENDAHULUAN 1. adakalanya lagi tambahan itu berasal dari luar berupa imbalan. dan jika kamu sudah bertobat. maka bagian deposan 60% dari total keuntungan yang didapat oleh pihak bank. Dan. dan mencela orang-orang Yahudi yang menjalankan riba padahal mereka telah dilarangnya.” (QS Al-Hajj: 5). yaitu akhir kata ini ditulis dengan alif. seperti firman Allah swt: (ihtazzat wa rabat) “maka hiduplah bumi itu dan suburlah." (al-Baqarah: 278-279) Allah telah memproklamirkan perang untuk memberantas riba dan orang-orang yang meribakan harta serta menerangkan betapa bahayanya dalam masyarakat. Seperti firman Allah: "Hai orang-orang yang beriman! Jangan kamu makan harta kamu di antara kamu dengan cara yang batil.

sebagaimana diperjelas dalam fasal Ulangan 23:20 "Maka daripada orang lain bangsa boleh kamu mengambil bunga. Sedangkan riba jual-beli terbagi 2 juga yaitu . yaitu baginya sebagai penagih hutang yang keras dan jangan ambil bunga daripadanya.. tetapi akibatnya akan berkurang” Hadis ini merupakan ancaman bagi orang yang melakukan praktik riba. riba qardh dan 2. Misalnya dalam Injil Lukas dikatakan: "Tetapi hendaklah kamu mengasihi seterumu dan berbuat baik dan memberi pinjam dengan tiada berharap akan menerima balik.-.berikut hadis yang melarang dan mengecam praktik riba dengan kata-kata yang tegas dan jelas. Sayang sekali tangan-tangan usil telah sampai pada Perjanjian Lama." (Lukas 6: 35). tetapi daripada saudaramu tak boleh kamu mengambil dia .. riba jahiliyyah. Riba hutang-piutang terbagi menjadi 2 yaitu 1.Yaitu riba hutang-piutang dan riba jual-beli. Rasulullah Saw melaknat pemakan riba. Dalam hadis ini tersebut dikatakan dengan jelas tentang laknat bagi pelaku riba. sehingga mereka menjadikan kata Saudaramu --yang dalam terjemahan di atas diartikan Hambaku pent. Jenis-jenis Riba Secara garis besar riba dikelompokkan menjadi dua. dan yang seperti itu diriwayatkan juga oleh Abu Ya'la dengan sanad yang baik) Dalam hal ini Islam bukan membuat cara baru dalam agama-agama samawi lainnya. Dalam agama Kristen pun terdapat demikian. 3. penulisnya." Riba di haramkan baik dalam al-quran maupun hadis. tetapi suatu saat tidak akan mendapatkan berkah dari Allah SWT."Apabila riba dan zina sudah merata di suatu daerah. maka mereka telah menghalalkan dirinya untuk mendapat siksaan Allah." (Keluaran 22:25).. Dalam agama Yahudi.dikhususkan buat orang-orang Yahudi. maka berpahala besarlah kamu. di Perjanjian Lama terdapat ayat yang berbunyi: "Jikalau kamu memberi pinjam uang kepada ummatku. Dalam alquran ditegaskan bahwa Allah SWT akan memusnahkan harta yang di peroleh dengan cara riba dan menghilangkan keberkahannya. sehingga pada akhirnya akan berkurang.. bahwa riba memang dapat mendatangkan keuntungan besar bagi pelakunya. Nabi SAW bersabda : “riba itu sekalipun dapat menyebabkan bertambah banyak." (Riwayat Hakim. kedua saksinya mereka semua sama. pemberinya.

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan shadaqah. ya Rasulullah?” Jawab Beliau. riba nasi‟ah. • Riba Jahiliyyah o Hutang dibayar lebih dari pokoknya. maka permaklumkanlah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. “Apa itu. (kedua) sihir. (kelima) makan harta anak yatim. Berikut penjelasannya : a. melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. hukumnya berdasar Kitabullah.” (QS Al-Baqarah: 278-279). kami tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. riba jual beli ( bai’) • Riba Fadhl o Pertukaran antarbarang sejenis dengan kadar atau takaran yang berbeda. Riba dalam nasi‟ah muncul karena adanya perbedaan. Dari Abu Hurairah ra bahwa Nabi saw bersabda. maka bagimu pokok hartamu. b. (ketiga) membunuh jiwa yang telah haramkan kecuali dengan cara yang haq. “Jauhilah tujuh hal yang membinasakan. sedangkan barang yang dipertukarkan itu termasuk dalam jenis barang ribawi. riba hutang piutang ( yad ) • Riba Qardh o Suatu manfaat atau tingkat kelebihan tertentu yang disyaratkan terhadap yang berhutang (muqtaridh). (keenam) melarikan diri pada hari pertemuan dua . sunnah Rasul-Nya dan ijma‟ umat Islam: “Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan tinggalkanlah sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. karena si peminjam tidak mampu membayar hutangnya pada waktu yang ditetapkan. (keempat) makan riba.” Para sahabat bertanya. Jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba). “(Pertama) melakukan kemusyrikan kepada Allah. riba fadhl dan 2. atau t ambahan antara yang diserahkan saat ini dengan yang diserahkan kemudian. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba).” (QS AlBaqarah: 275).1. perubahan. “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri. Hukum Riba Riba.” (QS Al-Baqarah: 276). • Riba Nasi‟ah o Penangguhan penyerahan atau penerimaan jenis barang ribawi yang dipertukarkan dengan jenis barang ribawi lainnya.

Dari Ibnu Mas‟ud ra bahwa Nabi saw bersabda. sebanding. dan ijma‟ umat Islam.pasukan. dan (ketujuh) menuduh berzina perempuan baik-baik yang tidak tahu menahu tentang urusan ini dan beriman kepada Allah. “Tak seorang pun memperbanyak (harta kekayaannya) dari hasil riba. sama . “Riba itu mempunyai tujuh puluh tiga pintu. gandum dengan gandum. Dari Abdullah bin Hanzhalah ra dari Nabi saw bersabda. Muslim I: 92 no: 89.” (Muttafaqun „alaih: Fathul Bari V: 393 no: 2766. “(Boleh menjual emas dengan emas. kurma dengan kurma.” Dan Beliau bersabda. karena ia merupakan pintu menuju riba nasiah. garam dengan garam. perak dengan perak. „Aunul Ma‟bud VIII: 77 no: 2857 dan Nasa‟i VI: 257). Shahihul Jami‟us Shaghir no: 5090 dan Muslim III: 1219 no: 1598). Sedangkan yang dimaksud riba fadhl adalah tukar menukar barang yang sejenis dengan ada tambahan. dua saksinya dan penulisnya. menu makanan dengan makanan yang disertai dengan adanya tambahan.” (Shahih: Mukhtasar Muslim no: 955. Riba model ini diharamkan oleh Kitabullah. adalah lebih berat daripada tiga puluh enam pelacur. “Rasulullah saw melaknat pemakan riba. yang paling ringan (dosanya) seperti seorang anak menyetubuhi ibunya.” (Shahih: Shahihul Jami‟us Shaghir no: 3375 dan al-Fathur Rabbani XV: 69 no: 230). sunnah Rasul-Nya.” (Shahih: Shahihul Jami‟us Shaghir no: 3539 dan Mustadrak Hakim II: 37). pemberi makan riba. “Mereka semua sama. Adapun yang dimaksud riba nasiah ialah tambahan yang sudah ditentukan di awal transaksi. kecuali pada enam jenis barang yang sudah ditegaskan nash-nash syar‟i berikut: Dari Ubaidah bin Shamir ra bahwa Rasulullah saw bersabda.jenis Riba Riba ada dua macam yaitu riba nasiah dan riba fadhl. melainkan pasti akibat akhirnya ia jatuh miskin. “Satu Dirham yang riba dimakan seseorang padahal ia tahu. ia berkata. Beberapa Barang yang padanya Diharamkan Melakukan Riba Riba tidak berlaku. Riba model kedua ini diharamkan juga oleh sunnah Nabi saw dan ijma‟ kaum Muslimin. Dari Ibnu Mas‟ud ra dari Nabi saw. sya‟ir (sejenis gandum) dengan sya‟ir. yang diambil oleh si pemberi pinjaman dari orang yang menerima pinjaman sebagai imbalan dari pelunasan bertempo. misalnya tukar menukar uang dengan uang. jenis . Beliau bersabda.” (Shahih: Shahihul Jami‟us Shaghir no: 5518 dan Ibnu Majah II: 765 no: 2279). Dari Jabir ra.

tidak sah (pula) dua sha‟ biji gandum dengan satu sha‟ biji gandum. Fathul Bari IV: 311 no: 2080 secara ringkas dan Nasa‟i VII: 272). yaitu satu jenis tamar. Muslim III: 1209 no: 1586. janganlah kamu tambah sebagiannya atas sebagian yang lain. “Tidak sah (pertukaran) dua sha‟ tamar dengan satu sha‟ tamar. maka boleh ada kelebihan dengan syarat harus diserahterimakan di majlis: Berdasar hadits Ubadah tadi: “…tetapi jika berlainan jenis maka juallah sesukamu. dan tidak sah (juga) satu Dirham dengan dua Dirham. apabila tunai dengan tunai. Dari Umar bin Khattab ra bahwa Rasulullah saw bersabda. “Emas dengan emas adalah riba kecuali begini dengan begini (satu pihak mengambil barang. Lalu kasus ini sampai kepada Rasulullah saw maka Beliau bersabda. Manakala terjadi barter di antara enam jenis barang ini dengan lain jenis. Dengan demikian. bur dengan sya‟ir. Nasa‟i VII: 273 dan bagi mereka lafadz pertama memakai adz-dzahabu bil wariq (emas dengan perak) dan Aunul Ma‟bud IX: 197 no: 3332 dengan dua model lafadz). Muslim III: 1208 no: 1584. Dari Abi Sa‟id al-Khudri ra bahwa Rasulullah saw bersabda. harus sama baik dalam hal timbangan maupun takarannya.” (Shahih: Mukhtashar Muslim no: 949. tamar dengan tamar. Nasa‟i VII: 278 dan Tirmidzi II: 355 no: 1259 sema‟na). sya‟ir dengan sya‟ir riba kecuali begini dengan begini. dan tamar dengan tamar adalah riba kecuali begini dengan begini. dan .” (Muttafaqun‟alaih: Fathul Bahri IV: 347 no: 2134. apabila terjadi barter barang yang sejenis dari empat jenis barang ini. ia bertutur: Kami pada masa Rasulullah saw pernah mendapat rizki berupa tamar jama‟. dan adapun secara kredit.” (Muttafaqun „alaih: Fathul Bari IV: 379 no: 2177. dan Muslim III: 1211 no: 81 dan 1587). seperti emas ditukar dengan perak.dan tunai. sedang yang lain menyerahkan) bur dengan bur (juga) riba kecuali begini dengan begini. dan janganlah kamu menjual emas dan perak yang barang-barangnya belum ada dengan kontan. janganlah kamu tambah sebagiannya atas sebagian yang lain.” Dalam riwayat Imam Abu Daud dan lainnya dari Ubadah ra Nabi saw bersabda: “Tidak mengapa menjual emas dengan perak dan peraknya lebih besar jumlahnya daripada emasnya secara kontan.” (Muttafaqun ‟alaih: Muslim III: 1216 no: 1595 dan lafadz ini baginya. yaitu emas ditukar dengan emas. “Janganlah kamu menjual emas kecuali sama. maka haram tambahannya baik secara riba fadhl maupun secara riba nasiah. dan lafadz ini bagi Imam Bukhari. kemudian kami menukar dua sha‟ tamar dengan satu sha‟ tamar. janganlah kamu menjual perak dengan perak kecuali sama. Tirmidzi II: 357 no: 1261. maka tidak boleh. Dari Abu Sa‟id ra. apabila tunai dengan tunai. maka juallah sesukamu. tetapi jika berbeda jenis. dan harus diserahterimakan dalam majlis. tanpa memperhatikan kualitasnya bermutu atau jelek.

Dari Sa‟ad bin Abi Waqqash ra bahwa Nabi saw pernah ditanya perihal menjual kurma basah dengan tamar. Tirmidzi II: 383 no: 1218 dan Ibnu Majah II: 762 no: 2269). (Shahih: Irwa-ul Ghalil no: 1393 dan Fathul Bari IV: 399 no: 2200). tidak boleh menjual ruthab (kurma basah) dengan kurma kering.” (Shahih: Irwa-ul Ghalil V: 195 dan „Aunul Ma‟bud IX: 198 no: 3333). “Apakah kurma basah itu menyusut apabila telah kering?” Jawab para sahabat. baik secara bertempo meskipun ada kelebihan jumlah atau berbeda beratnya. Ibnu Majah II: 761 no: 2264. Dari Abdullah bin Umar ra. yang mereka taksir. „Aunul Ma‟bud IX: 216 no: 3346. dan lain sebagainya yang termasuk barang yang bisa ditakar. Maka Beliau (balik) bertanya. edt) ditukar dengan barang ribawi yang berlainan jenis. Dalam kitab Subulus Salam III: 38. “Ketahuilah bahwa para ulama‟ telah sepakat atas bolehnya barang ribawi (barang yang bisa ditakar atau ditimbang. misalnya emas ditukar dengan hinthah (gandum). Nasa‟i VII: 267.” Maka Beliaupun melarangnya. perak dengan gandum. mereka menukarnya dengan kurma kering. Nasa‟i VII: 269 dan Tirmidzi II: 348 no: 1243). Sesungguhnya Nabi saw melarang menjual kurma basah dengan tamar hanyalah karena kurma basah kalau kering pasti menyusut.” Namun. maka boleh ada kelebihan atau secara bertempo. kemudian mereka makan dalam keadaan masih berada di pohonnya. Muslim III: 1171 no: 1542 dan Nasa‟i VII: 266) Dari Zaid bin Tsabit ra bahwa Rasulullah saw memberi kelonggaran kepada pemilik „ariyyah agar menjualnya dengan tamar secara taksiran. Apabila salah satu jenis di antara enam jenis ini ditukar dengan barang yang berlain jenis dan „illah „sebab‟. al-Amir ash-Sha‟ani menyatakan. maka tidak boleh. (Shahih: Irwa-ul Ghalil no: 1352. kecuali para pemilik „ariyah.tidak mengapa menjual bur dengan sya‟ir dan sya‟irnya lebih banyak daripada burnya secara kontan dan adapun secara kredit. (Muttafaqun „alaih: Fathul Bari IV: 384 no: 2185. bahwa Rasulullah saw melarang muzabanah. Muzabanah ialah menjual buah-buahan dengan tamar secara takaran. atau perak dengan garam. karena mereka adalah orang-orang yang faqir yang tidak mempunyai pohon kurma. menyusut. „Aunul Ma‟bud IX: 211 no: 3343. (Muttafaqun„alaih: Muslim III: 1169 no: 60 dan 1539 dan lafadz ini baginya dan sema‟na dalam Fathul Bari IV: 390 no: 2192. sedangkan Nabi saw menggadaikan sebuah baju besinya kepada Yahudi itu. kredit: Dari Aisyah ra bahwa Nabi saw pernah membeli makanan dari seorang Yahudi secara bertempo. . yaitu mereka boleh membeli kurma basah dari petani kurma. seperti emas ditukar dengan bur. “Ya. dan menjual anggur dengan kismis secara takaran.

Sedang hal semacam itu akan berakibat terputusnya bahan keperluan masyarakat. lalu kudapatkan padanya lebih dari dua belas Dinar. bahwa dengan melalui riba dia akan beroleh tambahan uang. Sebab kalau si pemilik uang yakin.(Tidak diragukan lagi. masyarakat maupun perekonomiannya. dipandang dari segi perekonomian). dagang dan pekerjaan-pekerjaan yang berat. „Aunul Ma‟bud IX: 202 no: 3336 dan Nasa‟i VII: 279). kemudian aku pisahkan. yaitu haram menjual satu jenis barang dengan sejenisnya secara berlebih. Sebab orang yang meminjamkan uang 1 dirham dengan 2 dirham.‟” (Shahih: Irwa-ul Ghalil no: 1356. sehingga hampir-hampir dia tidak mau menanggung beratnya usaha. 4. memberi komentar sebagai berikut. maka sudah pasti kebutuhan orang akan menganggap berat dengan diambilnya uang satu .” Dari Fadhalah bin Ubaid ia berkata: “Pada waktu perang Khaibar aku pernah membeli sebuah kalung seharga dua belas Dinar sedang dalam perhiasan itu ada emas dan permata.Kiranya cukup untuk mengetahui hikmahnya seperti apa yang dikemukakan oleh Imam ar-Razi dalam tafsir Qurannya sebagai berikut: 1. Satu hal yang tidak dapat disangkal lagi bahwa kemaslahatan dunia seratus persen ditentukan oleh jalannya perdagangan."Oleh karena itu mengambil harta kawannya tanpa ganti. Tetapi kalau riba itu dihalalkan. Riwayat Fadhalah bin Ubaid yang menjadi landasan kesimpulan ini dimuat juga dalam Mukhtashar Nailul Authar hadits no: 2904. bahwa hikmah ini pasti dapat diterima. Sedang harta orang lain itu merupakan standard hidup dan mempunyai kehormatan yang sangat besar. Islam bersikap sangat keras dalam persoalan riba semata-mata demi melindungi kemaslahatan manusia. „Kalung itu tidak boleh dijual hingga dipisahkan.Dan. sama dengan kehormatan darahnya. maka dia akan memudahkan persoalan mencari penghidupan. demikian juga perak dan semua jenis barang ribawi lainnya. 3. seperti apa yang disebut dalam hadis Nabi Muhammad SAW: 2. Tirmidzi II: 363 no: 1273. Imam Asy-Syaukani. kemudian hal itu kusampaikan kepada Nabi saw. baik kontan ataupun berjangka. "Bahwa kehormatan harta manusia. pekerjaan. baik dari segi akhlak. maka dia dapat tambahan satu dirham tanpa imbalan ganti. misalnya. tidak sah jual beli barang ribawi dengan yang sejenisnya sementara keduanya atau salah satunya mengandung unsur lain. perusahaan dan pembangunan. Riba adalah suatu perbuatan mengambil harta kawannya tanpa ganti. “Hadits ini menunjukkan bahwa tidak boleh menjual emas yang mengandung unsur lainnya dengan emas murni hingga unsur lain itu dipisahkan agar diketahui ukuran emasnya. Bergantung kepada riba dapat menghalangi manusia dari kesibukan bekerja. karena ada kesamaan illat. maka seseorang akan merasa senang meminjamkan uang satu dirham dan kembalinya satu dirham juga. Muslim III: 1213 no: 90 dan 1591. sudah pasti haramnya. Maka Beliau bersabda. Sebab kalau riba itu diharamkan. Riba akan menyebabkan terputusnya sikap yang baik (ma'ruf) antara sesama manusia dalam bidang pinjam-meminjam.

5.dirham dengan diharuskannya mengembalikan dua dirham. yang memungkinkan akan menimbulkan golongan sakit hati dan pendengki. . Sedang tidak layak berbuat demikian sebagai orang yang memperoleh rahmat Allah. bahwa dalam riba terdapat unsur pemerasan terhadap orang yang lemah demi kepentingan orang kuat (exploitasion de l'home par l'hom) dengan suatu kesimpulan: yang kaya bertambah kaya. sedang peminjam adalah orang yang tidak mampu. dipandang dari segi etika). (Ini suatu alasan yang dapat diterima. Hal mana akan mengarah kepada membesarkan satu kelas masyarakat atas pembiayaan kelas lain. Pada umumnya pemberi piutang adalah orang yang kaya. dan akan berakibat berkobarnya api pertentangan di antara anggota masyarakat serta membawa kepada pemberontakan oleh golongan ekstrimis dan kaum subversi. maka terputuslah perasaan belas-kasih dan kebaikan. (Ini ditinjau dari segi sosial). Maka pendapat yang membolehkan riba. berarti memberikan jalan kepada orang kaya untuk mengambil harta orang miskin yang lemah sebagai tambahan. Ini semua dapat diartikan. Justru itu. sedang yang miskin tetap miskin.

juz IV Al wajiz:fiqih sunnah . 2004.DAFTAR PUSTAKA Rasjid Sulaiman. Fiqih Islam. Ad-Durul Mukhtar. Bandung: Sinar Baru Algensindo Alaud Din Al-hushkaffi.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->