P. 1
KAIDAH FIQIH

KAIDAH FIQIH

|Views: 1,072|Likes:
Published by Wahid Abdulrahman

More info:

Published by: Wahid Abdulrahman on Jun 02, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/17/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN A.

LATAR BELAKANG
Kaidah fiqh adalah prinsip-prinsip umum yang mewadahi hukum-hukum cabang di dalamnya. Dengan definisi seperti ini maka kaidah fiqh bisa disebut dengan hukum kulli yang mengandung beberapa cabang fiqh di dalamnya. Kaidah fiqh membingkai diktum-diktum hukum menjadi sebuh maxim atau jargon umum yang memuat contohcontoh pelaksanaan hukum. Dalam praktiknya, kadang terdapat sejumlah contoh pengecualian yang tidak bisa ditarik garis lurus pada kaidah fiqh. Karena itu, Mushthafa Ahmad al-Zarqa‟, guru besar syari‟ah dan perundang-undangan Universitas Damaskus, menyebut kaidah-kaidah fiqh dengan ahkam aghlabiyyah (hukum-hukum yang berlaku pada biasanya). Artinya, kaidah fiqh pada umumnya mencakup contoh-contoh fiqh pada tataran cabang sesuai tema, dengan tidak menutup kemungkinan terdapat hukum-hukum tertentu tidak masuk di dalamnya sebagai pengecualian. Sungguhpun kaidah fiqh merupakan hukum-hukum kebanyakan atau kebiasaan, namun hal ini tidak dapat menyurutkan epistemologi ini dari blantika kajian ilmiah di bidang fiqh. Nilai keilmiahan kaidah fiqh dapat tercermin dalam upaya pemberian prinsip-prinsip dasar terhadap cabang-cabang fiqh yang terfragmentasi pada banyak tema dan sub tema fiqh. Bisa dibanyangkan bagaimana sulitnya cabang-cabang fiqh ini diakses oleh setiap orang tanpa merujuk pada prinsip-prinsip umum fiqh yang dapat menaungi semua komponen di level juz‟iyyat-nya. Kaidah fiqh dengan demikian sangat bermakna dalam upaya mensistematisasi fiqh yang tak terkira jumlanya menjadi jargon-jargon umum yang sangat mudah diingat dan dipelajari. Dari sini tegaslah bahwa fiqh itu merupakan hasil ijtihad ulama. Dalam ijtihad, tentunya memerlukan alat-alat tertentu untuk menghasilkannya. Salah satu yang paling utama adalah `ushûl fiqh. Selain dari `ushûl fiqh, ada juga ilmu qawâ‟id al-fiqh (kaidahkaidah fiqh).

1

Karena pada tiap daerah situasi dan kondisi yang berbeda-bea secara otomatis qawâ‟id al-fiqh pun mengalami perkembangan pada aplikasinya menyesuaikan dengan keadaan yang dapat mendatangkan kemaslahatan yang begitu banyak.

B. FOKUS MASALAH
Berdasarkan latar belakang tersebut, fokus masalah yang akan dibahas adalah sebagai berikut: 1. Pengertian qawâ‟id al-fiqh. 2. Biografi Imam Abu Hanifah 3. Sejarah kaidah fiqh dan kitab-kitabnya.

C. TUJUAN PENULISAN
Tujuan utama penulisan makalah ini adalah memberi informasi tentang masalah bentuk kaidah fiqih imam Abu Hanifah dalam prkateknya di masyarakat dijaman sekarang, agar kelak dikemudian hari para mahasiswa terutama penulis sendiri mampu:
1. Berpikir dan bekerja secara ilmiyah; 2. Merencanakan penulisan; 3. Melaksanakan tugas dengan baik; 4. Menuliskan karya dengan baik; 5. Mempertanggungjawabkan apa yang dipaparkan dari penulis.

2

BAB II PEMBAHASAN A. PENGENALAN KAIDAH FIQH
Kata “‫ ”انمبعذة‬yang bentuk jamaknya “‫ ”انمٕاعذ‬secara bahasa bermakna: asas (‫)األعبط‬ yaitu pondamen/dasar.1 Seperti kata “‫ ”لبعذة كم شًء‬bermakna: “kaidah segala sesuatu” itu berarti: “ّ‫ ”أعبع‬yaitu: “dasar segala sesuatu”. Ini juga ditetapkan dengan firman Allah
ْ َ SWT: {‫ }ٔإِر ٌَشْ فَع إِبشاٍْى انمَٕاعذ يٍَ انبٍَج ٔإِعًبعٍم‬yang berarti: “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim ُ ِ َ ْ َ ِ ْ ْ ِ َِ َ ْ ُ ِ َ ْ ُ

meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail”.2 Sedangkan “‫ ”انمبعذة‬secara istilah menurut ulama itu adalah sebagai berikut: 1. al-Jurjânî: ”‫( ]لؼٍت كهٍت يُطبمت عهى جًٍع جضئٍبحٓب‬ketentuan yang global yang diperuntukkan terhadap seluruh juz-juznya).3 2. al-Tahânawî: “ ‫ًْ فً اططالح انعهًبء حطهك عهى يعبٌ حشادف األطم ٔانمبٌَٕ ٔانًغأنت ٔانؼببؾ‬ ًٍ‫ٔانًمظذ ؛ ٔعشفج بأَٓب أيش كهً يُطبك عهى جًٍع جضئٍبحّ عُذ حعشف أحكبيٓب يُّ ... ٔأَّ ٌظٓش ن‬ ”‫( ]حخبع يٕاسد اإلعخعًبالث أٌ انمبعذة ًْ انكهٍت انخً ٌغٓم حعشف أحٕال انجضئٍبث يُٓب‬Kaidah secara istilah ulama itu dimutlakkan terhadap makna-makna yang sinonim dengan asal, kanun, masalah, dlâbith, dan tempat tujuan. Dan aku mendefinisikanny dengan perkara yang global yang cocok terhadap semua juznya ketika mengetahui hukum-hukumnya juz dari perkara global tersebut…dan perkara tersebut itu jelas bagi orang yang terus-menerus menggunakannya. Sesunggunya kaidah itu yang sejenis global yang mudah mengetahui keadaan-keadaan juz-juz dari kaidah tersebut).4 Akan tetapi, pengertian ini hanya melambangkan sebuah istilah secara umum bagi kata “‫ .”انمبعذة‬Istilah seperti ini hanya berlaku secara umum dari berbagai bidang

1

Ahmad Warson Munawwir, al-Munawwir- – Kamus Arab-Indonesia, (Surabaya: Pustaka Progressif, 2002), hal. 24. 2 Muhammad Nûr al-Dîn Marbû Banjar al-Makkî, al-Durarr al-Bahiyyah fî `Îdlâhi al-Qawâ’id alFiqhiyyah (Alor Setar: Pustaka Darussalam, 2002),hal. 9. 3 „Alî bin Muhammad al-Syarîf al-Jurjânî, Kitâb al-Ta’rîfât (Beirut: Dâr al-Kutub al-„Ilmiyyah, 1983), 171. 4 Muhammad `A‟lâ bin „Alî, Kasyâf `Ishthilâhât al-Funûn, ed. Luthfî „Abd al-Badî‟ (Beirut: Syarikat Khiyâth li al-Kutub wa al-Nasyr, 1963), vol. 5, 1176-7.

3

keilmuan. Ini dikarenakan bagi setiap ilmu itu tentunya memiliki kaidah. Seperti kaidah ilmu nahwu, ilmu `ushûl, dan ilmu perundangan.5 Sedangkan ulama fiqh mengibaratkan kata “‫ ”انمبعذة‬secara langsung dengan berbagai pendapat di kalangan imam mazhab sebagai berikut: 1. al-Hamawî al-Hanafî: “ ‫إٌ انمبعذة عُذ انفمٓبء غٍشْب عُذ انُحبة ٔاألطٕنٍٍٍ إر ًْ عُذ انفمٓبء حكى‬ ”ُّ‫( أكثشي ال كهً ٌُطبك عهى أكثش جضئٍبحّ نخعشف أحكبيٓب ي‬Sesungguhnya kaidah menurut ulama fiqh itu berbeda dengan pendapat ahli nahwu dan `ushû karena kaidah menurut ulama fiqh itu adalah hukum kebanyakan bukan global yang menjadi cocok terhadap banyak juz-juznya agar dapat mengetahui hukum-hukumnya juz dari hukum awal tadi).6 2. al-Maqqarî al-Mâlikî: “ ‫َٔعًُ ببنمبعذة كم كهً ْٕ أخض يٍ األطٕل ٔعبئش انًعبًَ انعمهٍت انعبيت‬ ”‫( ٔأعى يٍ انعمٕد ٔجًهت انؼٕابؾ انفمٍٓت انخبطت‬Yang aku maksud dengan kaidah adalah segala perkara yang global yang mana lebih khusus dibandingkan dengan `ushûl dan makna-makna yang lain yang sejenis akal yang umum. Dan ia lebih umum dibandingkan ikatan-ikatan tertentu dan sejumlah batasan-batasan fiqh yang khusus).7 3. Tâj al-Dîn al-Subkî al-Syâfi‟î: ” ‫ًْ األيش انكهً انزي ٌُطبك عهٍّ جضئٍبث كثٍشة ٌفٓى 8 أحكبيٓب‬ ”‫( يُٓب‬Kaidah adalah perkara yang global yang cocok dengannya juz-juz yang banyak yang mana perkara tersebut dapat memberi kefahaman terhadap hukumhukumnya juz dari kaidah). 9 4. Mushthafâ al-Zarqâ: “ ‫أطٕل فمٍٓت كهٍت فً َظٕص يٕجضة دعخٕسٌت حخؼًٍ أحكبيب حششٌعٍت عبيت‬ ”‫( ]فً انحٕادد انخً حذخم ححج يٕػٕعٓب‬Kaidah adalah dasar-dasar fiqh yang bersifat global di dalam bentuk nash-nash yang ringkas yang bersifat dasar yang mengandung hukum-hukum syariat yang umum di dalam beberapa perkara yang baru jadi yang mana masuk di bawah ruanglingkupnya).10

5 6

„Alî `Ahmad al-Nadwî, al-Qawâ’id al-Fiqhiyyah, (Damascus: Dâr al-Qalam, 2007), hal. 41. `Ahmad bin Muhammad al-Hasanî al-Hamawi, Ghamzu „Uyûn al-Bashâ`ir (Cairo: Dâr al-Thabâ‟ah al„Âmirah, 1357 H), vol. 1, hal. 22. 7 „Abd `Allah bin Muhammad al-Maqqarî, al-Qawâ’id (Mekkah: Jâmi‟ah `Umm al-Qurâ, t.t.), hal. 212. 8 Redaksi lain “‫ ,”حفٓى‬Lihat: al-Nadwî, al-Qawâ‟id al-Fiqhiyyah, hal. 41. 9 Tâj al-Dîn bin „Abd al-Wahhâb al-Subkî, al-`Asybâh wa al-Nazhâ`ir, ed. „Âdil `Ahmad „Abd al-Maujûd & „Alî Muhammad „Iwadl (Beirut: Dâr al-Kutub al-„Ilmiyyah, 1411 H), vol. 1, hal. 11. 10 Mushthafâ `Ahmad al-Zarqâ, al-Madkhal al-Fiqhî al-„Âmi (Damascus: Mathba‟ah Jâmi‟ah Dimasyq, 1983), vol. 2, hal. 941.

4

Definisi yang diberikan al-Hamawî al-Hanafî dan lainnya secara tegas menunjukkan kaidah fiqh adalah sebuah hukum yang menjadi kebanyakan (mayoritas). Ini dikarenakan masih menyisihkan pengecualian bagi kasus-kasus tertentu bagi kaidah tersebut. Oleh karena itu setengah ulama mazhab Maliki berpendapat bahwa kebanyakan kaidah fiqh itu adalah sebangsa mayoritas “11.”‫أغهبٍت‬ Definisi yang diberi oleh al-Maqqarî itu sudah sesuai dengan konteks kaidah fiqh. Ia sudah mengeluarkan kemungkinan dari di masuknya ke dalam istilah ilmu `usûl atau dlâbith. Akan tetapi ia masih terdapat kesamaran yang tidak dapat menunjukkan gambaran yang jelas bagi kaidah fiqh.12 Definisi yang secara langsung menyebutkan konteks hukum sudah tepat pada sasaran karena akan berfaedah untuk menghilangkan pemaknaan kepada konteks yang lain dan ia juga pasti menetapkan “ٍّ‫ .”انًحكٕو بّ ٔانًحكٕو عه‬Akan tetapi ia tidak secara fasih menjelaskan makna yang sempurna bagi kaidah fiqh disebabkan definisi ini tidak mencegah dari pemahaman konteks fan ilmu yang lain yaitu selain fiqh.13 Oleh karena itu, definisi yang paling sesuai dan dapat secara tepat memberi kefahaman tentang kaidah fiqh adalah definisi yang Ustaz Mushthafâ `Ahmad al-Zarqâ. Definisi ini dimudahkan oleh Ustaz „Alî `Ahmad al-Nadwî dengan ibarat sebagai berikut: “ّ‫( ”أطم فمًٓ كهً ٌخؼًٍ أحكبيب حششٌعٍت عبيت يٍ أبٕاة يخعذدة فً انمؼبٌب انخً حذخم ححج يٕػٕع‬Dasar fiqhi yang global terkandung di dalamnya hukum-hukum syariat yang umum dari berbagai bab yang berbeda-beda di dalam ketetapan-ketetapan yang masuk di dalam ruanglingkupnya).14 Secara umumnya, “‫ ”انمبعذة‬dan “‫ ”انؼببؾ‬itu terdapat di bawahnya beberapa cabangcabang fiqh. Agar dapat membedakan antara “‫ ”انمبعذة‬dengan “‫ ,”انؼببؾ‬ini dapat dilihat dari sebuah ibarat yang diberikan `Ibn Nujaim sebagai berikut: " ْٕ ‫ٔانفشق بٍٍ انؼببؾ ٔانمبعذة : أٌ انمبعذة حجًع فشٔعب يٍ أبٕاة شخى , ٔانؼببؾ ٌجًعٓب يٍ ببة ٔاحذ , ْزا‬ ‫51]األطم‬

11 12

al-Nadwî, al-Qawâ‟id al-Fiqhiyyah, hal. 43. Ibid., 42. 13 Ibid. 14 Ibid., 45. 15 Ibn Nujaim al-Mishrî, al-`Asybâh wa al-Nazhâ`ir, ed. Muhammad Muthî‟ al-Hâfiz (Dimasyq: Dâr alFikr, 1983), 192.

5

Terjemahan: Adapun perbedaan antara dlâbith dan kaidah adalah sesungguhnya kaidah itu mengumpulkan cabang-cabang dari bab-bab yang berbagai. Sedangkan dlâbith itu mengumpulkan cabang-cabang dari satu bab. Ini adalah asalnya. Pendapat ini dapat dibuktikan dengan pernyataan Imam al-Suyûthî di dalam kitab al`Asybâh wa al-Nazhâ`ir yang menetapkan bahwa kaidah “‫ ”انٍمٍٍ ال ٌضال ببنشك‬itu masuk di َِْ َِْ ْ َ َ ْ َ َ َ ْ dalam semua bab fiqh.16 Contoh yang dlâbith pula adalah “ ‫يٍ نَضيخُّ ََفَمَخُُّ نَضيخُّ فِطشحُُّ ٔيٍ ال‬ َ .”‫ 71]فَال‬Ketentuan ini khusus masuk di dalam bab zakat fitrah tidak untuk lainnya. 18 Akan tetapi secara lahirnya, perbedaan di antara kedua kaidah dan dlâbith ini tidak dianggap/diterapkan oleh ulama terdahulu. Oleh karena ini, dapat ditemukan banyak dlâbith yang oleh Imam al-Subkî menyebutnya sebagai “19.”‫ انمٕاعذ انخبطت‬Definisi yang membedakan antara kedua kaidah dan dlâbith ini hanya muncul di kalangan ulama mutakhir yaitu tepatnya ketika kata dlâbith secara resmi memiliki istilah yang menjadi terkenal di kalangan ahli fiqh dan pembahas-pembahas di dalam fiqh Islam.20

B. SEJARAH KAIDAH FIQH IMAM ABU HANIFAH
Awal mula lahirnya kaidah fiqh bermula di zaman turunya syariat Islam. Ini dikarenakan Nabi Muhammad SAW ketika bersabda, banyak dari hadis-hadisnya tentang hukum itu bertepatan dengan kaidah-kaidah umum yang terkandung di bawahnya banyak cabang-cabang fiqh yang diterima ulama zaman sekarang. Seperti contoh: “ ‫انخشاج‬ ‫ ”ببنؼًبٌ”, “ال ػشس ٔال ػشاس‬dan “‫ .”انبٍُت عهى انًذعً ٔانًٍٍٍ عهى يٍ أَكش‬Hadis-hadis inilah kemudian diasingkan oleh ulama dengan menjadikannya sebuah kaidah yang mandiri yang jalan di tempat berjalannya kaidah fiqh. Walau bagaimanapun, pada fase ini, kaidah fiqh belum terbukukan atau menjadi sebuah fan ilmu tertentu. Ianya masih berupa ucapan.21

16

Jalâl al-Dîn „Abd al-Rahman al-Suyûthî, al-`Asybâh wa al-Nazhâ`ir (Semarang: Thahâ Putra, t.t.), hal. 37. 17 Ibid., 251. 18 „Abd al-Wahhâb bin `Ahmad Khalîl bin „Abd al-Hamîd, al-Qawâ’id wa al-Dlawâbith al-Fiqhiyyah fî Kitâb al-`Umm li al-`Imâm al-Syâfi’î (Riyâdl: Dâr al-Tadmuriyyah, 2008), 53. 19 al-Subkî, al-`Asybâh wa al-Nazhâ`ir, vol. 1, hal. 200. 20 „Abd al-Wahhâb, al-Qawâ’id wa al-Dlawâbith al-Fiqhiyyah, hal. 53. 21 al-Nadwî, al-Qawâ’id al-Fiqhiyyah, 90.

6

Sebagaimana hadis yang juga berfungsi sebagaimana kaidah fiqh, juga terdapat `atsâr sahabat yang secara tidak langsung berlaku sebagai kaidah fiqh. Seperti contoh ucapan Khalifah „Umar RA: “‫ ”يمبؽع انحمٕق عُذ انششٔؽ‬dan ucapan „Abd Allah bin „Abbâs RA: “‫ .”كم شًء فً انمشآٌ : أٔ أٔ فٕٓ يخٍش ٔكم شًء فئٌ نى حجذٔا فٕٓ األٔل فبألٔل‬Riwayat Khalifah „Umar berada dalam bab syarat, sedangkan riwayatnya „Abd Allah bin „Abbâs RA berada di dalam bab “‫ ”كفبساث‬dan .”‫22.]حخٍٍش‬ Seperti dikisahkan Ibu Nujaim (w. 970 H), pakar kaidah fiqh dari kalangan hanafiyyah, dalam karyanya, al-asybah wa al-nadha‟ir, bahwam embrio kaidah fiqh ini mulai lahir sejak abad ke-3 hingga abad ke-4 hijriyyah. Hal ini ditandai oleh peran Imam Abu Thahir al-Dabas yang hidup pada dua kurun tersebut dalam menghimpun dan merangkai kaidah-kaidah fiqh terpenting dalam madzhab hanafiyyah menjadi tujuh belas kaidah umum. Kemudian, kitab yang paling awal membahas banyak dari isinya berkaitan dengan kaidah fiqh adalah kitab “‫ ”انخشاج‬oleh Abû Yûsuf (w. 182H) yang bermazhab Hanafi. Walau bagaimanapun, kitab ini tidaklah bermaksud membahas kaidah fiqh, akan tetapi hanya menyinggung banyak hal yang pada dasarnya dapat digolongkan kaidah fiqh. Seperti contoh: “ ّ‫انخعضٌش إنى اإليبو عهى لذس عظى انجشو ٔطغشِ”, “كم يٍ يبث يٍ انًغهًٍٍ ال ٔاسد ن‬ ‫ ”فًبنّ نبٍج انًبل‬dan “‫ .”حظشف اإليبو عهى انشعٍت يُٕؽ ببنًظهحت‬Inilah kitab yang mengandung kaidah fiqh secara tertulis, akan tetapi ia bukanlah khusus membahas kaidah fiqh.23 Menurut Imam al-Suyûthî sebagai sebuah riwayat dari Abî Sa‟îd al-Harawî (w. +500H) mengatakan bahwa `Abû Thâhir al-Dabbâs (w. 340H) berupaya merangkum beragam persoalan fiqh mazhab Hanafi ke dalam 17 kaidah. Ke 17 kaidah ini dihafalkan hampir setiap malam di dalam sebuah masjid yang sepi dari pengunjungnya. Kebiasaan `Abû Thâhir al-Dabbâs didengar oleh beberapa ulama Hanafi di kota Harrah (Khurasan). Mereka kemudian mengutus seorang di antara mereka untuk membuktikan kebenaran berita tersebut sekaligus mempelajari koleksi kaidah `Abû Thâhir. Suatu malam, utusan duduk di masjid sampai jamaah meninggalkan masjid hingga sepi. Diam-diam dia duduk di sebelah pinggir tikar yang biasa diduduki `Abû Thâhir. `Abû Thâhir tidak tahu ada orang karena ia memang buta. Seperti biasa, setelah selesai zikir, `Abû Thâhir mengunci

22 23

Ibid., 92. Ibid., 94.

7

pintu dan mulai menghafal kaidah-kaidahnya. `Abû Thâhir al-Dabbâs tidak tahu di sebelahnya ada penguping. Si penguping dengan seksama dan berusaha menghafal setiap kaidah yang disebut `Abû Thâhir. Ketika sampai pada hafalan kaidah yang ke 7, tenggorokan si penguping dihinggapi rasa gatal luar biasa sehingga keluarlah suara batuk. Dikarenakan ini, seketika `Abû Thâhir menghentikan hafalannya dan secara reflek memukul si penguping. Beliau mengusir penguping tadi. Sejak ini beliau tidak pernah melakukan aktivitas hafalan seperti sedia kala. Tapi bagi si penguping, ketujuh kaidah ini adalah sangat berharga dan diajarkan kepada teman-temannya. Koleksi kaidah milik `Abû Thâhir ini pada akhirnya dibukukan oleh salah seorang sahabat karibnya, yaitu `Abû Hasan al-Karakhî (w. 340H).24 Dalam buku ini, `Abû Hasan al-Karakhî mengembangkan kaidah tadi menjadi 37 kaidah. Kitab inilah yang dianggap sebagai kitab pertama secara khusus menggumpulkan kaidah-kaidah fiqh.25 Karena melihat kaidah itu sangat banyak, maka penulis hanya akan memberikan beberapa kaidah yang sangat penting dan perlu untuk dibahas. Salah satu dari cabang kaidah “‫ ”انٍمٍٍ ال ٌضال ببنشك‬adalah kaidah26 ‫األطم فً األشٍبء‬ ‫( اإلببحت‬asal sesuatu itu adalah diperkenan/boleh).27 Kaidah ini pada dasarnya terjadi khilâf di kalangan ulama mazhab. Kaidah yang ini adalah merupakan pendapat Imam alSyâfi‟î (ًٌّ‫ .)انحالل عُذ انشبفعً يب نى ٌذل انذنٍم عهى ححش‬Sedangkan menurut Imam Abû Hanîfah adalah “ّ‫ .”انحالل يب دل انذنٍم عهى حه‬Titik perbedaan antara dua mazhab ini adalah berada pada perkara-perkara yang masih tidak ada dalil (ُّ‫ ,)انًغكٕث ع‬maka pendapat Imam alSyâfi‟î itu adalah halal sedangkan pendapat Imam Abû Hanîfah adalah haram.28 Imam al-Syâfi‟î berhujjah dengan sabda Nabi Muhammad SAW:

24

„Abd Allah bin Sa‟îd Muhammad „Abbâdî al-Lahjî, `Îdlâh al-Qawâ’id al-Fiqhiyyah (Surabaya: alHidâyah, 1410 H), 7; Nûr al-Dîn Marbû, al-Durarr al-Bahiyyah, 15; A. Haque Pribeneze DKK, Formulasi Nalar Fiqh (Kediri: MHM Lirboyo, 2005), hal. 29. 25 al-Nadwî, al-Qawâ‟id al-Fiqhiyyah, hal. 162-265. 26 Redaksi secara lengkap: ‫األطم فً األشٍبء اإلببحت حخى ٌذل انذنٍم عهى ححشًٌّ عُذَب ٔعُذ أبً حٍُفت األطم فٍٓب انخحشٌى حخى‬ ‫( ٌذل انذنٍم عهى اإلببحت‬Asal sesuatu adalah diperkenan sampai ada dalil yang menunjukkan keharamannya). Lihat: „Abbâdî al-Lahjî, `Îdlâh al-Qawâ’id al-Fiqhiyyah, hal. 31. 27 Madrasah al-Nidhâmiyyah, Taqrîrât Nazham al-Farâ`id al-Bahiyyah (Kediri: Madrasah al-Nidhâmiyyah, t.t.), 12; Muhammad Yâsîn bin „Îsâ al-Fâdânî, al-Fawâ`id al-Janiyyah (Beirut: Dâr al-Fikr, 1997), vol. 1, 191. 28 „Abbâdî al-Lahjî, `Îdlâh al-Qawâ‟id al-Fiqhiyyah, 30.

8

َّ َّ “ َ‫يب أحم هللا فٕٓ حالل ٔيب حشو فٕٓ حشاو ٔيب عكج عُّ فٕٓ عفٕ فبلبهٕا يٍ هللا عبفٍخّ فئٌ هللا نى ٌكٍ نٍُغى شٍئب”, “إٌِ هللا‬ ُِ ْ ْ ‫فَشع فَشائِغ فَال حُؼٍِّعَُْٕب، َََٔٓى عٍَ أَشٍَبء فَال حَُخَٓكَْٕب، ٔحذ حذُٔدًا فَال حَعخَذَُْٔب، ٔغفَم عٍَ أَشٍَبء يٍ غٍْش َِغٍَبٌ فَال حَبحثُٕا‬ ُ َّ َ َ َ ْ َ َ َ َ َ َ ْ ْ َ ٍ ْ ِ َ ْ ِ َ ْ ْ َ َ َ َّ َ َّ َ َ ُ َ َ ْ َ ِ ِ َّ َّ َ َ ُ َ َ ْ َْ ْ َ َ َّ ِ َ َْ ‫ ,”عَُٓب‬dan “.”ُُّ‫92 انحالل يب أَحم هللاُ فًِ كخَببِّ ٔانحشاو يب حشو هللاُ فًِ كخَببِّ ٔيب عكَجَ عُُّ فَُٕٓ يًب عفَب ع‬ َ َ َ ِ ِ

Selain dari ini, dalil yang mendukung adalah firman Allah:
30 31

ْ ”‫ُْٕ انَّزي خهَك نَكى يب فًِ األَسْ ع جًٍعًب‬ ِ َ ِ َ ُْ َ َ ِ َ

َّ ”‫, “لُمْ يٍ حشو صٌَُتَ هللاِ انَّخًِ أَخشج نِعبَبدِ ٔانطٍَِّّبَبث يٍَ انشِّصق‬ ِ ِ َ ِِ ِ َ َ ْ ِ ْ ِ َ َّ َ ْ َ ُ ْ َّ ُ َ ْ ٍ ِ ُِ َ ْ َ ًَ َْ َّ ِ ْ ‫, “لُمْ ال أَجذ فًِ يب أُٔحً إِنًَ يحشيب عهَى ؽَبعى ٌَطعًُّ إِال أٌَ ٌَكٌَٕ يٍخَتً أَْٔ ديب يغفُٕحًب أَْٔ نَحْ ى خُضٌش فَئََُِّّ سجْ ظٌ أَْٔ فِغمًب أُْم‬ َ ً َّ َ ُ َّ َ ِ َ ٍ ِ ِْ َ ِ 32 َ َ ٍ َ ْ َ َّ ”‫نِغٍْش هللاِ بِّ فًٍَ اػْ طُش غٍش بَبغ ٔال عَبد فَئٌِ سبَّك غفُٕس سحٍى‬ ٌ ِ َ ٌ َ َ َ َّ ٍ ِ َ ِ َّ ِ َ ْ ِ ِّ ْ َ َّ ُ ِ ْ ْ َ ِّ َ ْ ِ َ َ ْ ْ َ َ ْ ِ ْ َ ْ َ ‫“لُمْ إًََِّب حشو سبًِّ انفَٕاحش يب ظََٓش يَُٓب ٔيب بَطٍََ ٔاإلثى ٔانبَغً بِغٍْش انحك ٔأٌَ حُششكٕا بِبَّللِ يب نَى ٌَُُضلْ بِّ عُهطَبًَب ٔأٌَ حَمُٕنُٕا‬ َ َ ِْ َ َ َ ِ َ ْ َ َ َ َّ َ َ
33

” ًٌََٕ‫عهَى هللاِ يب ال حَعه‬ َ ُ ْ َ َ َّ

Sedangkan menurut pendapat Imam Abû Hanîfah ini berdasarkan pada firman Allah:
34

ََ ”‫ٔال حَمُٕنُٕا نًِب حَظفُ أَ ْنغَُخُكى انكزة َْزا حالل َْٔزا حشاو‬ ٌ َ َ َ َ ٌ ََ َ َ َِْ ُُ ِ ِ َ

dan dari hadis Nabi Muhammad SAW:
35

ْ ُ ٌ ُ َ ْ َ ٌ ُ َ َ ْ َ ٌ ُ ََ ْ ‫انحالل بٍٍَِّ ٔانحشاو بٍٍَِّ ٔبًٍََُُٓب أُيٕس يشخَبَِٓتٌ ٔانًؤيٌُٕ ٔلبفٌٕ عُذ انشبٓبث‬

Perlu diketahui, bahwa ketetapan khilâf ini ternyata ditentang oleh al-Lahjî dalam kitabnya yaitu `Îdlâh al-Qawâ‟id al-Fiqhiyyah. Beliau mengatakan bahwa ternyata di dalam kitab al-`Asybâh wa al-Nazhâ`ir karangan `Ibn Nujaim yang bermazhab Hanafi menisbatkan kaidah “‫ ”األطم فً األشٍبء اإلببحت‬ini kepada Imam Abû Hanîfah.36 Akan tetapi, ternyata memang masih terwujud perbedaan pendapat di dalam mazhab Hanafi sendiri. Termasuk yang berpendapat sama dengan pendapat Imam alSyâfi‟î adalah al-Karkhi.37 Kaidah “ً‫ ”انشخض ال حُبؽ ببنًعبط‬menurut mazhab Hanafi yang melakukan perjalanan yang maksiat itu tidak menyebabkan tercegahnya mengambil keringanan.38 Sedangkan menurut kalangan mazhab Syafi‟I, yaitu kaidah “ ‫انشخض ال حُبؽ‬
„Abbâdî al-Lahjî, `Îdlâh al-Qawâ‟id al-Fiqhiyyah, 31. al-Qur‟an, 2:29. 31 al-Qur‟an, 7:32. 32 al-Qur‟an, 6:145. 33 al-Qur‟an, 7:33. Haque Pribeneze, Formulasi Nalar Fiqh, 151. 34 al-Qur‟an, 16:116. 35 Kata “‫ ”ٔانًؤيٌُٕ ٔلبفٌٕ عُذ انشبٓبث‬adalah redaksi dari buku Formulasi Nalar Fiqh. Sedangkan kata “ ‫انحالل‬ ُ ََ ْ ْ َ ٌ‫ ”بٌٍٍَِّ ٔانحشاو بٌٍٍَِّ ٔبًٍََُُٓب أُيٕس يشخَبَِٓت‬adalah mutawâtir di dalam kitab-kitab hadis. ْ ُ ٌ ُ َ ْ َ ُ َ َ 36 „Abbâdî al-Lahjî, `Îdlâh al-Qawâ‟id al-Fiqhiyyah, 31. 37 Muhammad Shidqi bin Ahmad al-Burnu, al-Wajîz fî `Îdlâh Qawâ`id al-Fiqh al-Kulliyah (Beirut: Mu`assasah al-Risâlah, 1983), hal. 112. 38 Muhammad bin Nidhâm al-Dîn al-`Anshârî, Fawâtih al-Rahmût bi Syarh Musallam al-Tsubût (Bulâq: alMathba‟ah al-`Amîriyyah, 1322 H), vol. 164.
30 29

9

ً‫ .”ببنًعبط‬Makna dari kaidah ini adalah dalam melakukan keringanan, tidak boleh disertai dengan maksiat. Seperti contoh, ketika melakukan perjalanan jauh (‫ ,)عفش‬sedangkan ia adalah orang yang melakukan maksiat; maka ia tidak boleh menerima keringanan dalam syariat seperti melakukan jamak solat, qashr, buka puasa atau lain-lain.39 Yang dimaksud dengan safar yang maksiat adalah ketika orang tersebut melakukan perjalanan yang memang tujuan maksiat, seperti larinya hamba dari tuannya, melakukan perjalanan ke pusat-pusat maksiat seperti pelacuran dan lain-lain. Akan tetapi, kalau perjalanannya itu adalah bertujuan bukan maksiat, seperti ingin menuntut ilmu, mudik ke rumah orang tua dan lain-lain, hanya saja dalam perjalanan tersebut terjadi maksiat seperti meminum khamr, maka ia tidak termasuk dalam kaidah ini. Dengan kata lain, dalam kasus terakhir ini tetap diperkenan mengambil keringanan dalam syariat seperti jamak dan qashr.40

C. PENERAPAN QAIDAH – QAIDAH USHUL FIQIH
1. perbedaan itu dapat diklasifikasi kedalam lima bagian yaitu sebagai berikut : a. Pandangan tentang kehujjahan ijmak ahli Madinah Ijmak ahli Madinah menjadi hujjah bagi Imam Maliki. Sedangkan Abu Hanifah, dan termasuk juga Imam As-Syafi‟iy, menjadi ijmak umat41 b. Pandangan tentang kehujjahan mafhum mukhalafah Dalam ushul fiqih mafhum mukhalafah artinya; “Yang dimaksud adalah lawan dari yang disebutkan”. Misalnya sabda Rasulullah : “ Keterlambatan orang kaya membayar hutang adalah dzalim”. Maka mafhum mukhalafahnya adalah; keterlambatan orang miskin dalam membayar hutang adalah tidak dzalim, berarti boleh. Ahmad bin Hambal dan jumhur ulama

berpendapat bahwa perbuatan penduduk Madinah itu bukan hujjah, kecuali kalau sudah

39

Nûr al-Dîn Marbû, al-Durarr al-Bahiyyah, 155.
Ibid., 157.

40
41

Ibid., hlm. 30. Lihat : Abdul Aly, Fawatihur Rahamuut, J. 2, hlm. 232.

10

Bagi jumhur ulama, mafhum mukhalafah adalah dalil syara‟ dengan bersyarat. Sedangkan ulama Hanafiyah berpendapat bahwa mafhum mukhalafah tidak bisa dijadikan sebagai dalil.42 c. Cara menghadapi dalil ‘am dan dalil khas Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa dalil –dalil yang bersifat „am statusnya adalah qath‟y, maka langsung bisa diamalkan tanpa perlu dikembalikan kepada dalil khas terlebih dahulu. Berbeda dengan jumhur lainnya yaitu, seluruh dalil yang bersifat „am statusnya adalah zhanni, maka perlu dibawa kepada yang bersifat khas yang statusnya qath‟y, selama dimungkinkan, lalu yang khas itulah yang diamalkan. Kalau tidak dapat dibawa, maka barulah yang „am itu diamalkan.43 d. Cara menghadapi dalil mutlak dan muqayyad Tentang dalil mutlak langsung bisa diamalkan menurut ulama Hanafiyah. Sedangkan jumhur, jika bertentangan antara mutlak dan muqayyad, maka nash itu harus dibawakan kepada muqayyad terlebih dahulu, kemudian baru bisa diamalkan.44 e. Pandangan tentang perawi yang berlawanan dari apa yang diriwayatkannya Jumhur ulama berpendapat, yang dipegang adalah hadis yang diriwayatkan, bukan perbuatannya. Akan tetapi bagi Abu Hanifah berpendapat bahwa yang dipegang adalah perbuatannya, bukan hadis yang diriwayatkannya. Karena perbuatan itu dapat dianggap sebagai pembatal dan berarti ia telah mengkritik hadis tersebut dengan perbuatannya serta ia tidak percaya kepada kebenaran hadis itu, sehingga berbuat sebaliknya.45

42 43 44 45

Ibid., hlm. 31. Lihat : Baadi Syah, Taysiirut Tahrir, J. 1, hlm. 146. Ibid., hlm. 33. Lihat : Assharakhsy, op.cit., J. 3, hlm.3 Ibid., hlm. 35. Lihat : Al – Muhallaawy, Tashilul Wushul, hlm. 62. Ibid., hlm. 38.

11

SYNOPSIS KITAB AL-ASYBAH WA AL-NADHA’IR

12

BAB III PENUTUP KESIMPULAN
Definisi kaidah fiqh memiliki beberapa perbedaan pendapat di antara ulama. Akan tetapi apa yang jelas adalah definisi yang diberikan Ahmad al-Nadwî: Dasar fiqhi yang global terkandung di dalamnya hukum-hukum syariat yang umum dari berbagai bab yang berbeda-beda di dalam ketetapan-ketetapan yang masuk di dalam ruanglingkupnya. Sedangkan perbedaan antara kaidah dan dlâbith: Kaidah terkandung di bawahnya banyak sekali cabang fiqh dari berbagai bab, sedangkan dlâbith cabang yang berada di bawahnya dikhususkan ke dalam satu bab tertentu. Kaidah fiqh sudah wujud sejak wahyu turun. Ia berupa kata-kata yang dikeluarkan Nabi Muhammad SAW, seperti “‫ .”ال ػشس ٔال ػشاس‬Selanjutnya kaidah yang merupakan pendapat (ijtihad) sahabat dan tabiin. Sebelum kaidah fiqh dikodefikasi, ia terlebih dahulu tertulis di dalam kitab-kitab Imam mazhab seperti “‫ ”انخشاج‬karangan Abû Yûsuf dan “‫ ”األو‬karangan Imam al-Syâfi‟î. Yang paling awal mengumpulkan kaidah fiqh adalah `Abû Thâhir al-Dabbâs (Hanafi). Sedangkan yang paling awal mengkodefikasi kaidah fiqh adalah `Abû Hasan al-Karakhî. Selanjutnya kaidah fiqh berkembang sampai kepada beberapa mazhab. Kaidah fiqh merupakan hasil ijtihad ulama. Oleh karena itu, tentunya ada yang disepakati adanya dan ada yang masih terjadi khilâf akan kelegalannya. Khilâf ini terjadi sesuai dengan konsep mazhab masing-masing.

13

DAFTAR PUSAKA
„Alî, Muhammad `A‟lâ bin. Kasyâf `Ishthilâhât al-Funûn. Editor: Luthfî „Abd al-Badî‟. Beirut: Syarikat Khiyâth li al-Kutub wa al-Nasyr, 1963. al-`Anshârî, Muhammad bin Nidhâm al-Dîn. Fawâtih al-Rahmût bi Syarh Musallam alTsubût. Bulâq: al-Mathba‟ah al-`Amîriyyah, 1322 H. al-Bahûtî, Manshûr bin Yûnus. Kasyâf al-Qinâ‟. Riyâdl: Maktabah al-Nadlr al-Hadîtsah, t.t.. al-Burnu, Muhammad Shidqi bin Ahmad. al-Wajîz fî `Îdlâh Qawâ`id al-Fiqh al-Kulliyah. Beirut: Mu`assasah al-Risâlah, 1983. al-Dardîrî, Abû al-Barakât `Ahmad bin Muhammad. al-Syarh al-Shaghîr. Cairo: Dâr alMa‟ârif, 1973. al-Fâdânî, Muhammad Yâsîn bin „Îsâ. al-Fawâ`id al-Janiyyah. Beirut: Dâr al-Fikr, 1997. al-Fayûmî, Ahmad bin Muhammad bin „Alî. Al-Mishbâh al-Munîr fî Gharîb al-Syarh alKabîr. Beirut: al-Maktabah al-„Ilmiyyah, t.t.. al-Hamawi, `Ahmad bin Muhammad al-Hasanî. Ghamzu „Uyûn al-Bashâ`ir. Cairo: Dâr al-Thabâ‟ah al-„Âmirah, 1357 H. al-Hamîd, „Abd al-Wahhâb bin `Ahmad Khalîl bin „Abd. al-Qawâ‟id wa al-Dlawâbith alFiqhiyyah fî Kitâb al-`Umm li al-`Imâm al-Syâfi‟î. Riyâdl: Dâr al-Tadmuriyyah, 2008. Hazm, Muhammad „Alî bin `Ahmad bin Sa‟îd `Ibn. al-Muhallâ. Beirut: Mansyûrât alMaktab al-Tijârî, t.t.. al-Jurjânî, „Alî bin Muhammad al-Syarîf. Kitâb al-Ta‟rîfât. Beirut: Dâr al-Kutub al„Ilmiyyah, 1983. al-Lahjî, „Abd Allah bin Sa‟îd Muhammad „Abbâdî. `Îdlâh al-Qawâ‟id al-Fiqhiyyah. Surabaya: al-Hidâyah, 1410 H. al-Makkî, Muhammad Nûr al-Dîn Marbû Banjar. al-Durarr al-Bahiyyah fî `Îdlâhi alQawâ‟id al-Fiqhiyyah. Alor Setar: Pustaka Darussalam, 2002. al-Maqqarî, „Abd `Allah bin Muhammad. al-Qawâ‟id. Mekkah: Jâmi‟ah `Umm al-Qurâ, t.t.. al-Mishrî, `Ibn Nujaim. al-`Asybâh wa al-Nazhâ`ir. Editor: Muhammad Muthî‟ al-Hâfiz. Dimasyq: Dâr al-Fikr, 1983.

14

Munawwir, Ahmad Warson. al-Munawwir- – Kamus Arab-Indonesia. Surabaya: Pustaka Progressif, 2002. al-Nadwî, „Alî `Ahmad. al-Qawâ‟id al-Fiqhiyyah. Damascus: Dâr al-Qalam, 2007. al-Nidhâmiyyah, Madrasah. Taqrîrât Nazham al-Farâ`id al-Bahiyyah. Kediri: Madrasah al-Nidhâmiyyah, t.t.. Pribeneze, A. Haque DKK. Formulasi Nalar Fiqh. Kediri: MHM Lirboyo, 2005. al-Qarâfî, `Ahmad bin `Idrîs. al-Dzakhîrah. Cairo: Mathba‟ah Kulliyyah al-Syarî‟ah, t.t.. al-Subkî, Tâj al-Dîn bin „Abd al-Wahhâb. al-`Asybâh wa al-Nazhâ`ir. Editor: „Âdil `Ahmad „Abd al-Maujûd & „Alî Muhammad „Iwadl. Beirut: Dâr al-Kutub al-„Ilmiyyah, 1411 H. al-Suyûthî, Jalâl al-Dîn „Abd al-Rahman. al-`Asybâh wa al-Nazhâ`ir. Semarang: Thahâ Putra, t.t.. al-Syâfi‟î, Muhammad bin `Idrîs. al-`Umm. Editor: Mahmûd Mathrajî. Beirut: Dâr alKutub al-„Ilmiyyah, 1994. Zaidân, „Abd al-Karîm. al-Madkhal li Dirâsah al-Syarî‟ah al-`Islâmiyyah. Beirut: Mu`assasah al-Risâlah, 2003. al-Zarqâ, Mushthafâ `Ahmad. al-Madkhal al-Fiqhî al-„Âmi. Damascus: Mathba‟ah Jâmi‟ah Dimasyq, 1983. al-Zuhailî, Wahbah. `Ushul al-Fiqh al-`Islamî. Damaskus: Dâr al-Fikr, 2001.

15

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->