MAKALAH HUKUM PAJAK HUKUM PAJAK INTERNASIONAL

DISUSUN OLEH: RIDHO SUCIAWAN 06 17 037 DOSEN PEMBIMBING SITI RACMIATUN, S.H, M.Hum

FAKULTAS SYARI’AH JURUSAN MUAMALAH INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI RADEN FATAH PALEMBANG 2008

Perhubungan-perhubungan hukum pada umumnya yang telah ada di antara negara-negara itu.PENDAHULUAN Dalam dunia yang serba modern seperti sekarang ini. Sebagai modernisasi dari nama lain yaitu “hukum bangsabangsa” yang merupakan terjemahan lurus dari nama-nama seperti volkerrect. telah diatar dalam himpunan peraturan-peraturan yang disebut “hukum antar negara”. droit de gens. Maka dicarilah kini olehnya salah satu undang-undang kesepakatan kerjasama yang erat dalam lapangan-lapangan perpajakan. PEMBAHASAN . Dalam pada ini tidaklah dapat dibantah-bantah lagi. keadilan. tidaklah ada suatu negera yang dapat mengasingkan diri dari pergaulan internasional. cooperation dan sebagainya. Demikian pula halnya yang dikehendaki oleh negara-negara burhubungan dengan tugasnya sebagai pemungut pajak. kemakmuran. sehingga dapatlah kini dikatakan bahwa hukum antar negara adalah hukum yang mengatur pergaulan internasional. bahwa kepentingan bersama dari semua negara seperti perdamaian. yang kemudian hanya ditunjukkan kepada himpunan peraturan-peraturan yang bersangkutan saja. law of nations. dan volkenrecht yang kesemuanya barasal dari istilah Romawi: ius gentium. keamanan. dengan perkataan lain lambat laun berubahlah tugasnya. menghendaki dengan mutlak adanya sopan santun dalam pergaulan antar negara yang merupakan peraturan-peraturan hukum. Modernisasi nama itu membawa pula perubahan dalam artinya. Pergaulan antar negera-negara yang berdaulat dan merdeka sudah barang tentu harus diatur.

Adriani. Dr. P. bahwa hukum pajak internasional adalah hukum pajak nasional yang terdiri atas kaedah. Sedangkan menurut pendapat Prof. 3. Persoalan yang terjadi dalam hukum pajak ini ialah apakah hukum pajak nasional akan diterapkan atau tidak? Hukum pajak internasional juga merupakan norma-norma yang mengatur perpajakan karena adanya unsur asing. Menurut pendapat Prof. Hukum Pajak Internasional dapat berkaitan dengan subjek maupun . hukum pajak internasional sebenarnya merupakan hukum pajak nasional yang di dalamnya mengacu pengenaan terhadap orang asing. khususnya Hukum Pajak Internasional Indonesia secara umum dapat dikatakan barlaku terbatas hanya pada subjeknya dan objeknya yang berada di wilayah Indonesia saja. untuk mengatur soal-soal perpajakan dan di mana dapat ditunjukkan adanya unsur-unsur asing. peraturanperaturan nasional untuk menghindarkan pajak ganda dan traktat-traktat. baik mengenai objeknya maupun subjeknya. Dengan kata lain terhadap orang atau badan yang tidak bertempat tinggal atau berkedudukan di Indonesia pada dasarnya tidak akan dikenakan pajak berdasarkan UU Indonesia. Mr.J. Rochmat Soemitro.J. Menurut pendapat Prof. B. H. Dr.A.A. Kedaulatan Hukum Pajak Internasional Berbicara masalah Hukum Pajak Internasional. hukum pajak internasional adalah suatu kesatuan hukum yang mengupas suatu persoalan yang diatur dalam UU Nasional mengenai pemajakan terhadap orang-orang luar negeri. baik berupa kaedah-kaedah nasional maupun kaedah yang berasal dari traktat antar negara dan dari prinsif atau kebiasaan yang telah diterima baik oleh negera-negara di dunia. Pengertian Hukum Pajak Internasional Pengertian hukum pajak ini dapat dibagi menjadi tiga bagian dari pendapat ahli hukum pajak. 2. Namun demikian. Hofstra. yaitu: 1.

Dalam hukum antar negara terdapat suatu asas mengenai kedaulatan negara yang dinyatakan sebagai kedaulatan setiap negara untuk dengan bebas mengatur kepentingan-kepentingan rumah tangganya sendiri. Pasal ini menunjukkan bahwa contoh adanya hubungan ekonomis antara orang asing dengan penghasilan yang diperoleh di Indonesia. maka kedaulatan pemajakan sebagai spesial dari gengsi kedaulatan negera dapat dinyatakan sebagai kedaulatan suatu negara untuk bertindak merdeka dalam lapangan pajak. Keputusan Hakim Nasional atau Komisi Internasional tentang pajak-pajak internasional. 3. C. hadiah dan penghargaan. Hukum Pajak Nasional atau Unilateral yang mengandung unsur asing. S. royalti. yaitu: 1.objek yang berada di luar wilayah Indonesia sepanjang ada hubungan yang erat dalam hal terdapat hubungan ekonomis atau hubungan kenegaraan dengan Indonesia. dalam batas-batas yang ditentukan oleh hukum antar negara dan bebas dari pengaruh kekuasaan negara lain. Sumber-sumber Hukum Pajak Internasional Prof. Santoso Brotodihardjo. Sesuai dengan asas yang dimaksud di muak. sewa. yaitu: 1. UU No. akan dikenakan PPh sebesar 20% dari jumlah bruto. Trakat. yaitu kaedah hukum yang dibuat menurut perjanjian antar negara baik secara bilateral maupun multilateral. 2. menyebutkan bahwa ada bebarapa sumber hukum pajak internasional.H. Asas-asas yang terdapat dalam hukum antar negara . Sedangkan dalam buku “Pengantar Ilmu Hukum Pajak” karangan R. 7 Tahun 1983 tentang PPh sebagaimana telah diubah dengan UU No. menyatakan bahwa sumber-sumber formal dari hukum pajak internasional. Rochmat Soemito dalam bukunya “Hukum Pajak Indonesia. Dr. 17 Tahun 2000 (UU PPh) khususnya dalam pasal 26 diatur bahwa terhadap WP luar negeri yang memperoleh penghasilan dari Indonesia antara lain berupa bunga.

Terjadinya Pajak Berganda Internasional Pajak berganda internasional umumnya terjadi karena pada dasarnya tidak ada hukum internasional yang mengatur hal tersebut sehingga terjadi bentrokan hukum antar dua negara atau lebih.2. Subjek pajak yang sama dikenakan pajak yang sama di beberapa negera. D. Selanjutnya Prof. Untuk mengatur pelakuan fiskal terhadap orang-orang asing. Peraturan-peraturan unilateral (sepihak) dari setiap negara yang maksudnya tidak ditujukan kepada negara lain. melainkan karena dua negara atau lebih secara bersamaan memungut pajak atas objek dan subjek yang sama. Beban tambahan yang terjadi tidak semata-mata disebabkan karena perbedaan tarif dari negara-negara yang bersangkutan. Traktat-traktat (perjanjian) dengan negera lain. Untuk mengatur soal pemecahan laba di dalam hal suatu perusahaan atau seseorang mempunyai cabang-cabang atau sumber-sumber pendapatan di negara asing. Untuk meniadakan atau menghindarkan pajak berganda. seperti: a. c. Dari pengertian di atas jelas bahwa pajak berganda internasional akan timbul karena atas suatu objek pajak dan subjek pajak yang sama dikenakan pajak lebih dari satu kali sehingga menimbulkan beban yang berat bagi subjek pajak yang dikenakan pajak tersebut. yaitu: 1. Velkenbond memberikan pengertian bahwa pajak berganda internasional terjadi apabila pengenaan pajak dari dua negara atau lebih saling menindih sedemikian rupa. Kewarganegaraan rangkap . Domisili rangkap b. sehingga orang-orang yang dikenakan pajak di negaranegara yang lebih dari satu memikul beban pajak yang lebih besar daripada jika mereka dikenakan pajak di satu negara saja. Rochmat Soemitro menjelaskan bahwa ada beberapa sebab terjadinya pajak berganda internasional. 3. b. yang dapat terjadi karena: a.

Cara Penghindaran Pajak Berganda Internasional Ada dua cara untuk menghindari pajak berganda internasional. Objek pajak yang sama dikenakan pajak yang sama di beberapa negara. yaitu dengan cara sebagai berikut: 1. 2. sedangkan di negera domisili dikenakan pajak berdasarkan asas sumber. E. yang lebih dikenal dengan sebutan traktat atau tax treaty. persetujuan untuk menetap. Pengguanaan cara ini merupakan wujud kedaulatan suatu negara untuk mengatur sendiri masalah pemungutan pajak dalam suatu UU. persetujuan dagangan dan peretujuan pelayanan yang kadang-kadang mencakup satu ketentuan yang ada hubungannya dengan beberapa macam pajak yang kebanyakan mencantumkan klausul . Subjek pajak yang sama dikenakan pajak di negara tempat tinggal berdasarkan atas wold wide incom. Cara Unilateral Cara ini dilakukan dengan memasukkan ketentuan untuk menghindari pajak berganda dalam UU suatu negara dengan suatu prosedur yang jelas. 2. dahulu hanya dikenakan persetujuan persahabatan. Bentrokan atas domisili dan asas kewarganegaraan. Perjanjian yang dilakukan secara bilateral oleh dua negara. sedangkan multelateral dilakukan oleh lebih dari dua negara. Proses terjadinya perjanjian secara bilateral maupun multilateral tentu akan membutuhkan waktu yang cukup lama karena masing-masing negara mempunyai prinsip pemajakannya masing-masing sesuai dengan kedaulatan negaranya sendiri. Cara Bilateral atau Multilateral Cara Bilateral atau Multilateral dilakukan melalui suatu perundingan antar negara yang berkepentingan untuk menghindarkan terjadinya pajak berganda. 3. F. Perjanjian Dalam Pajak Berganda Internasional Perjanjian seperti ini kebanyakan masih berusia muda.c.

tentang keharusan adanya perlakuan yang sama terhadap penduduk atau penguasa dari negara-negara yang mengadakan persetujuan. Orang-orang yang dapat menikmati keuntungan dari perjanjian-perjanjian. Kedudukan hukum perjanjian perpajakan tidak lebih tinggi dari UU Perpajakan Nasional. dengan pertimbangan kepraktisan khusus dalam lalu lintas hukum internasional antara Indonesia dengan negara-negara lain yang cukup intensif. dan karena lambannya prosedur perundingan untuk tidak berbicara tentang lambannya atau resikonya pengukuhan oleh kepala negara-negara peserta perjanjian. G. Kedudukan Hukum Perjanjian Perpajakan Bagaimana kedudukan hukum suatu perjanjian perpajakan yang diadakan antara Indonesia dengan negara lain? Bila ditelusuri dasar hukum bisa diadakannya perjanjian perpajakan antar negara. Pajak-pajak yang diatur dalam perjanjian. Prosedur dari perjanjian kolektif ternyata sukar untuk dilaksanakan karena bermacam-macam ragam. 2. Oleh karenanya. arti tempa kediaman fiskal. maka tidak diperlukan lagi persetujuan DPR tetapi cukup diberitahukan saja. 3. Berdasarkan ketentuan Pasal 11 UUD 1945 di atas. tentu saja akan memerlukan waktu yang cukup lama. Ketentuan-ketentuan penting yang tercantum dalam perjanjian-perjanjian pajak berganda secara singkat adalah sebagai berikut: 1. maka kita kembali pada konstitusi yaitu pasal 11 ayat (1) UUD 1945 beserta perubahannya. 4. . Mengacu pada dasar hukum tersebut. Sengketa internasional. maka dapat disimpulkan bahwa kedudukan hukum perjanjian perpajakan adalah sama dengan UU Nasional seperti UU tentang PPh. sistem dan asas perpajakan di berbagai negara.

baik mengenai subjek maupun objeknya. Dan para ahli hukum pajak juga banyak memberikan definisi tentang hukum pajak internasional salah satunya yaitu. . Hukum Pajak Nasional.KESIMPULAN Hukum Pajak Internasional merupakan norma-norma yang mengatur perpajakan karena adanya unsur asing. 3. kedudukan hukum tax treaty tidak lebih tinggi dari UU Perpajakan Nasional. P. Dan kedudukan Hukum Perjanjian Perpajakan adalah sama dengan UU Nasional seperti UU tentang PPh. seorang ahli yang banyak menulis buku tentang perpajakan.A.J. Traktat Keputusan Hakim Nasional. Kemudian sumber-sumber hukum pajak internasional terdiri dari: 1. 2. Prof. Adriani. Dr.

2003.DAFTAR PUSTAKA Brotodihardjo Santoso. . Jakarta: Salemba Empat. 2007. Pengantar Ilmu Hukum Pajak. Wirawan. Hukum Pajak. Refika Aditama Ilyas B. dkk. Bandung: PT.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful