P. 1
Tugas Artikel Ilmiah Sosiologi Pendidikan (Heri Setyawan-q100100015)

Tugas Artikel Ilmiah Sosiologi Pendidikan (Heri Setyawan-q100100015)

|Views: 1,070|Likes:
Published by Aris Nur Azhar

More info:

Published by: Aris Nur Azhar on Jun 02, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/01/2014

pdf

text

original

ARTIKEL ILMIAH SOSIOLOGI PENDIDIKAN

Disusun untuk Memenuhi Tugas Individu Ujian Semster Mata Kuliah Sosiologi Pendidikan (Dosen Pengampu: Dr. Tjipto Subadi, M.Si)

Penyusun : Nama NIM Kelas : : : Heri Setyawan Q 100 100 015 II - A

PROGRAM MAGISTER MANAJEMEN PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2011

Sosiologi Pendidikan

Page 1

Abstrak Artikel Ilmiah ini bertujuan untuk mengkaji sosiologis pendidikan. Kajian sosiologis pendidikan dibatasi pada sejarah sosiologi pendidikan, peletakan dasar pendidikan, peletakan dasar sosiologi, teori sosiologi makro dan metode penelitian sosiologi pendidikan (teori mikro). Sejarah sosiologi pendidikan Lester F. Ward dapat dikatakan sebagai pencetus gagasan timbulnya studi baru tentang Sosiologi Pendidikan. John Dewey (18591952) secara formal dikenal sebagai tokoh pertama yang melihat hubungan antara pendidikan struktur masyarakat dari bentuk semulangan yang masih bersahaja. Secara formal, Emlie Durkheim telah memandang pendidikan sebagai suatu “social thing” (Ikhtiar sosial). Payne (1928) menjelaskan bahwa Sosiologi Pendidikan merupakan sebuah ilmu pengetahuan yang menjadi alat (mean) untuk mendeskripsikan dan menjelaskan institusi, kelompok sosial, dan proses sosial yang merupakan hubungan sosial di dalamnya individu memperoleh pengalaman yang terorganisasi. Peletakan dasar sosiologi menurut beberapa pakar sosiologi, diantaranya (1) Ibnu Khaldun bahwa sistem sosial manusia dapat berubah seiring dengan kemampuan pola berpikir mereka, keadaan muka bumi di sekitar mereka, pengaruh iklim, makanan, emosi serta jiwa manusia itu sendiri, (2) Menurut Auguse Comte bahwa Sosiologi merupakan sebuah ilmu yang mempelajari tentang masyarakat, (3) Menurut Emile Durkheim bahwa masyarakat dapat mempertahankan integritas dan koherensinya di masa modern. Teori sosiologi makro akan membahas tentang (1) Teori Struktural Fungsional menekankan adanya kepercayaan pandangan tentang berfungsinya secara nyata struktur yang berada di luar diri pengamat (2) Teori Konflik merupakan teori yang memandang bahwa perubahan sosial tidak terjadi melalui proses penyesuaian nilainilai yang membawa perubahan, tetapi terjadi akibat adanya konflik yang menghasilkan kompromi-kompromi yang berbeda dengan kondisi semula, (3) Teori Marxian adalah ekonomi dipandang sebagai infra struktur, sedang sosial politik, budaya dan agama sebagai supra struktur. Metode Penelitian Sosiologi Pendidikan (Teori Makro) membahas tentang (1) Teori Fenomenologi yaitu pendekatan penelitian yang berusaha untuk memahami makna peristiwa serta interaksi pada orang-orang biasa dalam situasi tertentu, (2) Teori Interaksi Simbolis yaitu pendekatan penelitian yang berasumsi bahwa realitas sosial sebagai proses dan bukan sesuatu yang bersifat statis, (3) Teori Etnografi yaitu pendekatan penelitian yang berusaha untuk mendiskripsikan budaya atau aspek budaya. Kata-kata kunci: sejarah sosial pendidikan, peletakan dasar sosiologi, teori sosiologi makro, teori mikro. Sosiologi Pendidikan Page 2

A. Pendahuluan B. Sejarah Sosiologi Pendidikan Sejarah Perkembangan Sosiologi Pendidikan Sejak manusia dilahirkan di dunia ini, secara sadar maupun tidak, sesungguhnya ia telah belajar dan berkenalan dengan hubungan-hubungan sosial yaitu hubungan antara manusia dalam masyarakat. Hubungan sosial out dimulai dari hubungan antara anak dengan orang tua kemudian meluas hingga ketetangga. Dalam hubungan sosial tersebut terjadilah proses pengenalan dan proses pengenalan tersebut mencakup berbagai budaya, nilai, norma dan tanggung jawab manusia, sehingga dapat tercipta corak kehidupan masyarakat yang berbeda-beda dengan masalah yang berbeda pula. Kenyataan sosial menunjukkan suatu perubahan yang terjadi begitu cepat dalam masyarakat. Perubahan sosial yang cepat tersebut terjadi di abad ke-19, sebagai akibat revolusi industri di Inggris. Akibat perubahan tersebut menurut Mc Kee (dalam Faisal, tanpa tahun) menyebabkan terjadinya apa yang dinamakian keterkejutan intelektual kelompok cerdik pandai yang salah satu diantaranya adalah para sosiolog. Lester F. Ward dapat dikatakan sebagai pencetus gagasan timbulnya studi baru tentang Sosiologi Pendidikan. Gagasan tersebut muncul dengan idenya tentang evolusi sosial yang realistik dan memimpin perencanaan kehidupan pemerintahan (Vembriarto, 1993). John Dewey (1859-1952) secara formal dikenal sebagai tokoh pertama yang melihat hubungan antara pendidikan struktur masyarakat dari bentuk semulangan yang masih bersahaja. Secara formal, pada tahun 1910 Henry Suzzalo memberi kuliah Sosiologi Pendidikan di Teachers College University Columbia (Vembriarto, 1993). Pada tahun 1913, Emlie Durkheim telah memandang pendidikan sebagai suatu “social thing” (Ikhtiar sosial). Payne (1928) menjelaskan bahwa Sosiologi Pendidikan merupakan sebuah ilmu pengetahuan yang menjadi alat (mean)

Sosiologi Pendidikan

Page 3

untuk mendeskripsikan dan menjelaskan institusi, kelompok sosial, dan proses sosial yang merupakan hubungan sosial di dalamnya individu memperoleh pengalaman yang terorganisasi. Sosiologi Pendidikan di dalam menjalankan fungsinya untuk menelaah berbagai macam hubungan antara pendidikan dengan masyarakat, harus memperhatikan sejumlah konsep-konsep umum. Sosiologi pendidikan merupakan suatu disiplin ilmu yang masih muda dan belum banyak berkembang. Atas dasar tersebut dikalangan para ahli Sosiologi Pendidikan timbul beberapa kecendrungan yang berbeda yaitu : 1. 2. Golongan yang terlalu menitikberatkan pandangan pendidikan Golongan Applied Educational (Sociology) terutama terdiri atas daripada sosiologinya ahli-ahli sosiologi yang memberikan dasar pengertian sosial kultural untuk pendidikan 3. Golongan yang terutama menitikberatkan pandangan teoritik

Ketika diangkat menjadi Presiden American Sosiological Association pada tahun 1883, Lester Frank Ward, yang berpandangan demokratis, menyampaikan pidato pengukuhan dengan menekankan bahwa sumber utama perbedaan kelas sosial dalam masyarakat Amerika adalah perbedaan dalam memiliki kesempatan, khususnya kesempatan dalam memperoleh pendidikan. Orang berpendidikan lebih tinggi memiliki peluang lebih besar untuk maju dan memiliki kehidupan yang lebih bermutu. Pendidikan dipandang sebagai faktor pembeda antara kelas-kelas sosial yang cukup merisaukan. Untuk menghilangkan perbedaan-perbedaan tersebut ia mendesak pemerintahnya agar menyelenggarakan wajib belajar. Usulan itu dikabulkan, dan wajib belajar di USA berlangsung 11 tahun, sampai tamat Senior High School (Rochman Natawidjaja, et. al., 2007: 78). Buah pikiran Ward dijadikan landasan untuk lahirnya Educational Sociology sebagai cabang ilmu yang baru dalam sosiologi pada awal abad ke-20. Ia Sosiologi Pendidikan Page 4

Penelitian dan publikasi hasilnya menandai kehidupan Sociology of Education sejak pasca Perang Dunia II. Nama sosiologi untuk pertama kali digunakan oleh August Comte Sosiologi Pendidikan Page 5 . sehingga Sociology of Education bisa menjadi sumber data dan informasi ilmiah. pada tahun 1914. Serta seksi Educational Sociology dalam American Sociological Society pun berubah menjadi seksi Sociology of Education yang berlaku sampai sekarang. Sosiologi lahir dalam abad ke-19 di Eropa karena pergeseran pandangan tentang masyarakat sebagai ilmu empiris yang memperoleh pijakan yang kokoh. Maka diubahlah nama Educational Sociology menjadi Sociology of Education dan Journal of Educational Sociology menjadi Journal of the Sociology of Education (1963).sering dijuluki sebagai “Bapak Sosiologi Pendidikan”(Rochman Natawidjaja. Pada tahun 1928 Robert Angel mengeritik Educational Sociology dan memperkenalkan nama baru yaitu Sociology of Education dengan focus perhatian pada penelitian dan publikasi hasilnya. organisasi progesional yang mandiri itu bergabung ke dalam seksi pendidikan dari American Sociological Society. Pada tahun 1948. et. Kelahiran cabang ilmu baru ini mendapat sambutan luas dikalangan universitas di USA. Selanjutnya. Fokus kajian Educational Sociology adalah penggunaan pendidikan pendidikan sebagai alat untuk memecahkan permasalahan social dan sekaligus memberikan rekomendasi untuk mendukung perkembangan pendidikan itu sendiri. berhembuslah angin segar dan menarik para sosiolog untuk melakukan penelitian dalam bidang pendidikan. pada tahun 1923 dibentuk organisasi professional bernama National Society for the Study of Educational Sociology dan menerbitkan Journal of educational Sociology. serta studi akademis yang bertujuan mengembangkan teori dan ilmu sendiri. 2007: 79).. Hal itu terbukti dari adanya 14 universitas yang menyelenggarakan perkuliahan Educational Sociology. Dengan dukungan dana penelitian yang memadai. Al.

pragmatic. yaitu mengenai interaksi social yang terjadi dalam ruang belajar. Pelopor pendidikan pada saat itu antara lain: Van Deventer. misalnya. perhatian sosiologi pada pendidikan pada awalnya kurang berkembang karena pelopor sosiologi-nya.Kartini. descriptive. dan R. Para pendukung politis etis di Negeri Belanda saat itu melihat adanya keterpurukan kehidupan orang Indonesia. irigasi. berusaha dengan jalan menyajikan lukisan tentang kenyataan dan permasalahan yang terdapat dalam sistem persekolahan dengan tujuan agar para pengambil keputusan menentukan langkah-langkah perbaikan yang tepat. and policy focused (Rochman Natawidjaja. dimulai sekitar tahun 1900. R. perhatian akan peran pendidikan dalam pengembangan masyarakat. Namun belakangan. Meskipun pada mulanya program pendidkan itu amat elitis. yaitu Herbert Spencer (1820-1903) justru merupakan Darwinisme Sosial. Al.A. Di Jerman.. saat Indonesia masih dijajah Belanda. pelopor sosiologi pendidikan yang terkemuka adalah Durkheim (1858-1917). dan emigrasi. lama kelamaan meluas dan meningkat ke arah yang makin populis sampai penyelenggaraan wajib belajar dewasa ini. Berstein. 2007: 80). 1994: 96).(1798-1857) pada tahun 1839 (Umar Tirtarahardja dan La Sulo. et. Di Indonesia. Sedang di Inggris. Pendekatan Berstein ini oleh Karabel dijuluki sebagai atheoretical. Max Weber (1864-1920) menyoroti keadaan dan penyelenggaraan pendidikan pada masyarakat dengan latar belakang sosial budaya serta tingkat kemajuan berbeda. Sosiologi Pendidikan Page 6 . di Inggris muncul aliran sosiologi yang memfokuskan perhatiannya akan analisis pendidikan pada level mikro. Di Prancis.Dewi Sartika. merupakan Guru Besar Sosiologi dan Pendidikan pada Universitas Sorbonne. Mereka mendesak agar pemerintah jajahan melakukan politik balas budi untuk memerangi ketidakadilan melalui edukasi.

Ibnu Khaldun Ibnu Khaldun mengemukakan pemikiran baru yang menyatakan bahwa sistem sosial manusia dapat berubah seiring dengan kemampuan pola berpikir mereka. kebebasan. Prof. University Islam Antarbangsa Malaysia (UIAM). Muhammad Uthman El-Muhammady juga melihat pendekatan (pemikiran) Ibnu Khaldun secara mendunia. kemakmuran dan kemunduran (keterpurukan). Ibnu Khaldun mengutarakan pandangannya untuk memperbaiki kesalahan dalam kehidupan. keadaan muka bumi di sekitar mereka. astronomi. memberi gelar Waliuddin kepada Ibnu Khaldun. peradaban. menjadikan karya beliau seperti ensiklopedia yang mengisahkan berbagai perkara dalam kehidupan sosial manusia. Dari situ. Pemikiran Ibnu Khaldun dikagumi oleh tokoh sejarah keturunan Yahudi. pemilikan. Ibnu Khaldun juga memajukan konsep ekonomi. Felo Amat Utama Akademik Institut Antarbangsa Pemikiran dan Ketamadunan (ISTAC). Bernerd Lewis yang mengukuhkan tokoh ilmuwan itu sebagai ahli sejarah arab yang hebat pada abad pertengahan. Peletakan Dasar Sosiologi 1. Dr. makanan. Selain sebagai ilmuwan dalam bidang ilmu sosial. Beliau juga berpendapat bahwa pola pemikiran masyarakat berkembang secara bertahap yang dimulai dari tahap primitif. tetapi juga merangkum sejarah umat terdahulu. beliau terkenal karena hasil kerjanya dalam bidang sosiologi. perdagangan. Ibnu Khaldun mampu menjalankan tugas dengan baik saat dilantik sebagai kadi (wali agama) ketika menetap di Mesir. Sosiologi Pendidikan Page 7 . emosi serta jiwa manusia itu sendiri. Emeritus.C. pengaruh iklim. Kajian yang dilakukan Ibnu Khaldun tidak hanya mencakup kisah kehidupan masyarakat saat itu. Kebijaksanaan beliau mendorong Sultan Burquq yaitu Sultan Mesir pada waktu itu. Karya Ibnu Khaldun yang menakjubkan (Mukaddimah) membuat beliau mendapat gelar Prolegomena atau pengenalan pada berbagai ilmu perkembangan kehidupan manusia di kalangan ilmuwan barat.

Pemerintah juga melaksanakan kepemimpinan politik yang bijaksana dengan keterpaduan sosial dan kekuasaan tanpa adanya paksaan. Sosiologi Pendidikan Page 8 . mengenalkan pembagian kerja. kimia serta sejarah. istilah ini dipublikasikan melalui tulisannya yang berjudul “Cours de Philosophie Positive”. Beliau berpendapat bahwa tugas kerajaan hanya mempertahankan rakyatnya dari kejahatan. Walaupun istilah sosiologi ditemukan oleh tokoh sosiologi kelahiran Perancis abad ke 19 yaitu Auguste Comte. 2. membantu pemasaran terbuka. Sosiologi berasal dari kata “socius” yang berarti kawan atau teman dan “logis” yang berarti ilmu. Secara harfiah sosiologi dapat dimaknai sebagai ilmu tentang perkawanan atau pertemanan. Secara teori. Auguste Comte Sosiologi merupakan sebuah ilmu yang mempelajari tentang masyarakat. 500 tahun lebih awal. Wacana atau pemikiran Ibnu Khaldun juga diterapkan dalam kehidupan masyarakaat modern yang ingin mengimbangi pembangunan fisik dan spiritual. Dari segi ekonomi.ilmu itu dikaitkan dengan persoalan manusia dalam masyarakat dan para ahli sosiologi berharap ilmu itu dapat menjalin keterpaduan serta membentuk pembenahan krisis moral yang dihadapi masyarakat saat ini.numerologi. pada usianya 36 tahun. tetapi kajian mengenai kehidupan sosial manusia sudah diurai oleh Ibnu Khaldun dalam kitabnya Mukaddimah. Ibnu Khaldun memajukan teori nilai dan keterkaitan hubungan dengan tenaga kerja. memberantas penipuan dalam perdagangan dan mengurus pemasukan kas negara (upeti/ pajak). melindungi harta rakyat. Istilah sosiologi diperkenalkan pertama kali oleh August Comte (1798-1857) pada abad ke-19.menyadari kesan dinamik permintaan dan modal penjualan serta keuntungan.

perkembangan masyarakat berubah secara drastis dimana masyarakat dunia mengingnkan adanya perubahan dalam menyahuti perkembangan dan kebutuhan baru terhadap penyesuaian perilaku lembaga pendidikan. diperluas dan diperhalus d. Bersifat teoritis yaitu selalu berusaha menyusun abstraksi dan hasil observasi. c. Setelah selesai perang dunia II. oleh Comte dikatakan sebagai ilmu tentang masyarakat secara ilmiah (Faisal. metafisika atau abstrak dan saintifik atau positif. Bersifat nenotis yaitu tidak mempersoalkan baik buruk suatu fakta tertentu tetapi untuk menjelaskan fakta tersebut. pendidikan dengan ekonomi. prinsip dan metode yang sekarang dipakai dalam sosiologi berasal dari Comte. tanpa tahun). Oleh karena itu disiplin sosiologi pendidikan yang sempat tenggelam dimunculkan kembali sebagai bagian dari ilmu-ilmu penting dilembaga pendidikan. misalnya gejala ekonomi dengan agama.Sosiologi. Sosiologi merupakan disiplin ilmu yang lahir pada saat terakhir perkembangan ilmu pengetahuan. Sosiologi Pendidikan Page 9 . Comte mengatakan bahwa tiap-tiap cabang ilmu pengetahuan manusia mesti melalui tiga tahapan perkembangan teori secara berturut-turut yaitu keagamaan atau khayalan. Bersifat empiris yaitu didasarkan pada observasi dan akal sehat yang hasilnya tidak bersifat spekulatif. Ia merupakan seorang penulis kebanyakan konsep. Sosiologi ini dicetuskan oleh Aguste Comte maka dari itu dia dikenal sebagai bapak sosiologi. Pitirim Sorokim (dalam Soekamto. 1999) menjelaskan bahwa sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari mengenai: pertama. ia lahir di Montpellier tahun 1798. Comte membagikan sosiologi atas statika social dan dinamika social dan sosiologi mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: a. b. hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala-gejala sosial. Bersifat kumulatif yaitu teori-teori sosiologi dibentuk berdasarkan teori yang ada kemudian diperbaiki.

misalnya gejala biologis. hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dengan gejala-gejala non sosial. Setelah pecahnya Revolusi Perancis. iklim dan sebagainya. Kedua. Sosiologi dapat digolongkan pada salah satu bentuk ilmu pengetahuan (sosial) atau social science. tetapi juga berdampak negative. Comte melihat hal itu terjadi karena masyarakat tidak lagi mengetahui bagaimana mengatasi Sosiologi Pendidikan Page 10 . masyarakat Perancis dilanda konflik antarkelas. pendidikan dan politik. Oleh karena itu. Ketiga. Menurut Comte konflik-konflik tersebut terjadi karena hilangnya norma atau pegangan (normless) bagi masyarakat dalam bertindak. geografis. melihat perubahan-perubahan yang disebabkan adanya ancaman terhadap tatanan social. Salah satu dampak negative tersebut adalah terjadinya konflik antarkelas dalam masyarakat.agama dengan pendidikan. Comte berkaca dari apa yang terjadi dalam masyarakat Perancis ketika itu (abad ke-19). menganggap bahwa perubahan tersebut tidak saja bersifat positif seperti berkembangnya demokratisasi dalam masyarakat. ciri-ciri umum semua jenis gejala-gejala sosial. Sosiologi juga mempunyai beberapa unsur pokok yaitu : • • • • Pengetahuan (knowledge) Tersusun secara sistematis Menggunakan pemikiran Dapat dikontrol atau dikritisi oleh orang lain Adapun ciri-ciri sosiologi sebagai suatu bentuk ilmu pengetahuan antara lain : • Sosiologi bersifat empiris • Sosiologi bersifat teoritis • Sosiologi bersifat kumulatif • Sosiologi bersifat nonetis Pandangan terhadap Sosiologi menurut Auguste Comte.

dengan ilmu social yang sistematis dan analitis. dapat dinamakan hokum atau kemauan yang berlaku umum. selalu membutuhkan social order karenanya dibutuhkan nilai yang disepakati bersama dan berdiri atas keinginan bersama.perubahan akibat revolusi dan hukum-hukum apa saja yang dapat dipakai untuk mengatur tatanan social masyarakat. Meskipun demikian. Comte menjadikan ilmu pengetahuan yang dikajinya ini terklarifikasi atas dua bagian. ilmu pengetahuan yang mempelajari mengenai perkembangan masyarakat atau gerak sejarah masyarakat kepada arah kemajuannya. Namun. Static social menerangkan perihal nilai-nilai yang melandasi masyarakat dalam perubahannya. Comte belum berhasil mengembangkan hukum-hukum social tersebut menjadi sebuah ilmu. Sosiologi baru berkembang menjadi sebuah ilmu setelah Emile Durkheim mengembangkan metodologi sosiologi melalui bukunya Rules of Sosiological Method. Social static dan social dinamik hanya untuk memudahkan analitik saja terbagi dua. Comte jelaslah dapat terlihat progretivitasnya dalam memperjuangkan optimisme dari pergolakan realitas social pada masanya. Comte menyarankan agar semua penelitian tentang masyarakat ditingkatkan menjadi suatu ilmu yang berdiri sendiri. Ia hanya memberi istilah bagi ilmu yang akan lahir itu dengan istilah “Sosiologi”. Suguste Comte tetap disebut sebagai Bapak Sosiologi. Pemandangan Comte rasanya dapat terlihat dalam penjabarannya mengenai ilmu pengetahuannya. walapun begitu keduanya bagian yang integral karena Comte jelas sekali dengan hokum tiga tahapnya memperlihatkan ilmu pengetahuan yang holistic. yang mengidamkan adanya tata yang jelas mengendapkan keteraturan social dan kemajuan perkembangan serta Sosiologi Pendidikan Page 11 . atas jasanya terhadap lahirnya Sosiologi. Sedangkan social dinamik. Comte membayangkan suatu penemuan hukum-hukum yang dapat mengatur gejala-gejala social. yaitu social statik dan social dinamik. Oleh karena itu. Comte dikelanjutan sistematisasi dari observasi dan analisanya.

ketika halhal seperti latar belakang keagamaan dan etnik bersama tidak ada lagi. Durkheim juga menekankan bahwa masyarakat lebih daripada sekadar jumlah dari seluruh bagiannya. lentupan-lentupan yang mnegembang melalui konflik dalam masyarakat karena akan menyebabkan tidak tumbuhnya keteraturan social yang nantinya mempersulit perkembangan masyarakat. Ketertiban harus diutamakan apabila masyarakat menginginkan kemajuan yang merata dan bebas dari anarkisme social. Comte terpaksa memberikan stigma negative terhadap konflik. Jadi berbeda dengan rekan sezamannya. melainkan lebih kepada penelitian terhadap "fakta-fakta sosial". Durkheim berusaha menciptakan salah satu pendekatan ilmiah pertama terhadap fenomena sosial. Max Weber. anarkisme intelektual. ia memusatkan perhatian bukan kepada apa yang memotivasi tindakan-tindakan dari setiap pribadi (individualisme metodologis). Bersama Herbert Spencer Durkheim adalah salah satu orang pertama yang menjelaskan keberadaan dan sifat berbagai bagian dari masyarakat dengan mengacu kepada fungsi yang mereka lakukan dalam mempertahankan kesehatan dan keseimbangan masyarakat – suatu posisi yang kelak dikenal sebagai fungsionalisme. Sebagai seorang ilmuwan Comte mengharapkan sesuatu yang ideal tetapi. merupakan inti ajaran Comte. revolusi social. Emile Durkheim Perhatian Durkheim yang utama adalah bagaimana masyarakat dapat mempertahankan integritas dan koherensinya di masa modern. Untuk mempelajari kehidupan sosial di kalangan masyarakat modern. dalam hal ini Comte berbenturan dengan realitas social yang menginginkan perubahan social secara cepat. istilah yang diciptakannya untuk menggambarkan fenomena yang Sosiologi Pendidikan Page 12 .pemikiran masyarakat kea rah positif. 3. Keteraturan social tiap fase perkembangan social (sejarah manusia) harus sesuai perkembangan pemikiran manusia dan pada tiap proses fase-fasenya (perkembangan) bersifat mutlak dan universal.

dan meneliti bagaimana hal itu berbeda dalam masyarakat tradisional dan masyarakat modern. misalnya. kata Durkheim. para petani gurem hidup dalam masyarakat yang swa-sembada dan terjalin bersama oleh warisan bersama dan pekerjaan yang sama. dan darwinisme sosial. Dalam bukunya “Pembagian Kerja dalam Masyarakat” (1893). sambil menambahkan teorinya kepada kumpulan teori yang terus berkembang mengenai kemajuan sosial. misalnya. melalui adaptasi masyarakat terhadap iklim atau situasi ekologis tertentu. Dalam masyarakat yang ‘mekanis’. dan karenanya mempunyai banyak kesamaan di antara sesamanya. Ia berpendapat bahwa fakta sosial mempunyai keberadaan yang independen yang lebih besar dan lebih objektif daripada tindakan-tindakan individu yang membentuk masyarakat dan hanya dapat dijelaskan melalui fakta-fakta sosial lainnya daripada. Dalam masyarakat modern. Dalam masyarakat modern yang 'organik'. Spesialisasi yang berbeda-beda dalam bidang pekerjaan dan peranan sosial menciptakan ketergantungan yang mengikat orang kepada sesamanya. Para penulis sebelum dia seperti Herbert Spencer dan Ferdinand Toennies berpendapat bahwa masyarakat berevolusi mirip dengan organisme hidup.ada dengan sendirinya dan yang tidak terikat kepada tindakan individu. Durkheim meneliti bagaimana tatanan sosial dipertahankan dalam berbagai bentuk masyarakat. Ia berpendapat bahwa masyarakat-masyarakat tradisional bersifat ‘mekanis’ dan dipersatukan oleh kenyataan bahwa setiap orang lebih kurang sama. Ia memusatkan perhatian pada pembagian kerja. evolusionisme sosial. bergerak dari sebuah keadaan yang sederhana kepada yang lebih kompleks yang mirip dengan cara kerja mesin-mesin yang rumit. demikian pendapatnya. kesadaran kolektif sepenuhnya mencakup kesadaran individual – norma-norma sosial kuat dan perilaku sosial diatur dengan rapi. Durkheim membalikkan rumusan ini. pembagian kerja yang sangat kompleks menghasilkan solidaritas 'organik'. karena mereka tidak lagi dapat memenuhi seluruh kebutuhan mereka sendiri. Dalam masyarakat tradisional. para Sosiologi Pendidikan Page 13 .

dan yang paling menonjol adalah bunuh diri. dan hal itu akan membalas kesadaran kolektif yang dilanggar oleh kejahatan itu. Ia menemukan bahwa masyarakat yang memiliki solidaritas mekanis hokum seringkali bersifat represif: pelaku suatu kejahatan atau perilaku menyimpang akan terkena hukuman. yang diterbitkannya pada 1897. Dalam bukunya ini.pekerja memperoleh gaji dan harus mengandalkan orang lain yang mengkhususkan diri dalam produk-produk tertentu (bahan makanan. hukuman itu bertindak lebih untuk mempertahankan keutuhan kesadaran. Sebaliknya. Durkheim menghubungkan jenis solidaritas pada suatu masyarakat tertentu dengan dominasi dari suatu sistem hukum. ia meneliti berbagai tingkat bunuh diri di antara orang-orang Protestan dan Katolik. dll) untuk memenuhi kebutuhan mereka. Tingkat integrasi sosial yang secara abnormal tinggi atau rendah dapat menghasilkan bertambahnya tingkat bunuh diri: tingkat yang rendah menghasilkan hal ini Sosiologi Pendidikan Page 14 . dalam masyarakat yang memiliki solidaritas organic. Dari keadaan anomie muncullah segala bentuk perilaku menyimpang. Durkheim menamai keadaan ini anomie. ialah bahwa kesadaran individual berkembang dalam cara yang berbeda dari kesadaran kolektif – seringkali malah berbenturan dengan kesadaran kolektif. hukum bersifat restitutif: ia bertujuan bukan untuk menghukum melainkan untuk memulihkan aktivitas normal dari suatu masyarakat yang kompleks. yang disebutnya integrasi sosial. pakaian. dan menjelaskan bahwa kontrol sosial yang lebih tinggi di antara orang Katolik menghasilkan tingkat bunuh diri yang lebih rendah. Durkheim belakangan mengembangkan konsep tentang anomie dalam "Bunuh Diri". Jadi. yang akhirnya mengakibatkan runtuhnya norma-norma sosial yang mengatur perilaku. perubahan masyarakat yang cepat karena semakin meningkatnya pembagian kerja menghasilkan suatu kebingungan tentang norma dan semakin meningkatnya sifat yang tidak pribadi dalam kehidupan sosial. Menurut Durkheim. demikian Durkheim. orang mempunyai suatu tingkat keterikatan tertentu terhadap kelompok-kelompok mereka. Akibat dari pembagian kerja yang semakin rumit ini.

Menurut Durkheim. Akhirnya. menekankan pengkajiannya pada hal-hal yang menyangkut pengorganisasian bahasa dan sistem sosial. menyebabkan orang melakukan bunuh diri sebagai upaya terakhir. sementara tingkat yang tinggi menyebabkan orang bunuh diri agar mereka tidak menjadi beban bagi masyarakat. masyarakat Katolik mempunyai tingkat integrasi yang normal. dan seringkali disebut sebagai studi sosiologis yang klasik. Fungsionalisme struktural atau ‘analisa sistem’ pada prinsipnya berkisar Sosiologi Pendidikan Page 15 . Kedua karya ini meneliti peranan yang dimainkan oleh agama dan mitologi dalam membentuk pandangan dunia dan kepribadian manusia dalam masyarakat-masyarakat yang sangat 'mekanis' (meminjam ungkapan Durkheim) D. Teori Struktural Fungsional Teori fungsional dan struktural adalah salah satu teori komunikasi yang masuk dalam kelompok teori umum atau general theories (Littlejohn. non Barat) dalam buku-bukunya seperti "Bentuk-bentuk Elementer dari Kehidupan Agama" (1912) dan esainya "Klasifikasi Primitif" yang ditulisnya bersama Marcel Mauss. ciri utama teori ini adalah adanya kepercayaan pandangan tentang berfungsinya secara nyata struktur yang berada di luar diri pengamat. 1999). Teori Sosiologi Makro 1. Fungsionalisme struktural atau lebih popular dengan ‘struktural fungsional’ merupakan hasil pengaruh yang sangat kuat dari teori sistem umum di mana pendekatan fungsionalisme yang diadopsi dari ilmu alam khususnya ilmu biologi. Dan pendekatan strukturalisme yang berasal dari linguistik.karena rendahnya integrasi sosial menghasilkan masyarakat yang tidak terorganisasi. sementara masyarakat Protestan mempunyai tingat yang rendah. Karya ini telah memengaruhi para penganjur teori kontrol. Durkheim diingat orang karena karyanya tentang masyarakat 'primitif' (artinya. menekankan pengkajiannya tentang cara-cara mengorganisasikan dan mempertahankan sistem.

atau program yang telah ditentukan. nilai yang ditujukan kepada manusia dalam melaksanakan fungsi dan aktivitas dalam berbagai bentuk persekutuan hidupnya. Menurut Michael J. fungsi organ tubuh. kegiatan manusia merupakan fungsi dan mempunyai fungsi. Demikian pula fungsi komunikasi dan fungsi politik. Hal ini Sosiologi Pendidikan Page 16 . Secara kuantitatif. menunjukkan kepada aktivitas dan dinamika manusia dalam mencapai tujuan hidupnya. misalnya pada fungsi mobil. Thomson dalam batasan yang lebih lengkap. Jucius dalam hal ini lebih menitikberatkan pada aktivitas manusia dalam mencapai tujuan. sesuai dengan target. dan lain-lain termasuk fungsi komunikasi politik yang digunakan oleh suatu partai dalam hal ini Partai Persatuan Pembangunan misalnya. Fungsi juga menunjuk pada proses yang sedang atau yang akan berlangsung. fungsi dapat kita lihat sebagai upaya manusia. Berbeda dengan Viktor A. Sedangkan benda-benda lain melaksanakan fungsi dan aktivitas hanya sebagai alat pembantu bagi manusia dalam melaksanakan fungsinya tersebut. Michael J. Secara kualitatif fungsi dilihat dari segi kegunaan dan manfaat seseorang. Berbicara masalah nilai sebagaimana dimaksud oleh Viktor. kelompok. fungsi dapat menghasilkan sejumlah tertentu. proyeksi. yaitu menunjukkan pada benda tertentu yang merupakan elemen atau bagian dari proses tersebut. 1974:57) mengungkapkan bahwa fungsi sebagai aktivitas yang dilakukan oleh manusia dengan harapan dapat tercapai apa yang diinginkan. Dilihat dari tujuan hidup.” Fungsi tergantung pada predikatnya. tidak hanya memperhatikan pada kegiatannya saja tapi juga memperhatikan terhadap nilai (value) dan menghargai nilai serta memeliharanya dan meningkatkan nilai tersebut. Jucius (dalam Soesanto. namun yang paling penting adalah konsep fungsi dan konsep struktur. sehingga terdapat perkataan ”masih berfungsi” atau ”tidak berfungsi. Perkataan fungsi digunakan dalam berbagai bidang kehidupan manusia. fungsi rumah.pada beberapa konsep. organisasi atau asosiasi tertentu.

serta pengertian struktur oleh SP. Selain fungsi artikulasi dan agregasi kepentingan. sosiologi adalah studi tentang strata sosial (struktur) dan dinamika sosial (proses/fungsi). Comte menerima Sosiologi Pendidikan Page 17 . fungsi lain yang harus dijalankan oleh partai politik sebagai infrastruktur politik dalam sistem politik adalah fungsi komunikasi politik. Sementara struktur yang dimaksud adalah Partai Persatuan Pembangunan sebagai salah satu bagian dari infrastruktur dalam sistem politik. Varma. Partai politik. Merton. Mungkin menjadikan fungsional bagi struktur lain akan tetapi partai politik menjadi disfungsional jika tidak dapat melaksanakan semua fungsi tersebut. Varma menunjuk kepada susunan-susunan dalam sistem yang melakukan fungsi-fungsi. maka fungsi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah fungsi komunikasi politik sebagai salah satu fungsi input dalam sistem politik.disebabkan karena. serta fungsi sosialisasi politik. Mengacu pada pengertian fungsi yang diajukan Oran Young dan Robert K. Jika fungsi menurut Robert K. Di dalam membahas struktur masyarakat. dan aktor termasuk ke dalam infrastruktur politik. yaitu Auguste Comte. fungsi partisipasi politik dan rekruitmen politik. Studi struktur dan fungsi masyarakat merupakan sebuah masalah sosiologis yang telah menembus karya-karya para pelopor ilmu sosiologi dan para ahli teori kontemporer. Menurut Comte. maka struktur menurut SP. kelompok kepentingan (interest group). sementara lembaga legislatif. Merton merupakan akibat yang tampak yang ditujukan bagi kepentingan adaptasi dan penyetelan (adjustments) dari suatu sistem tertentu. keduanya merupakan usaha manusia dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya. dan yudikatif termasuk ke dalam supra-struktur politik. eksekutif. baik komunikasi maupun politik. Sedangkan fungsi yang didefenisikan oleh Oran Young sebagai hasil yang dituju dari suatu pola tindakan yang diarahkan bagi kepentingan (dalam hal ini sistem sosial atau sistem politik). media massa. Pendekatan ini memiliki asal-usul sosiologi dalam karya penemunya. Struktur dalam sistem politik adalah semua aktor (institusi atau person) yang terlibat dalam proses-proses politik.

merupakan suatu struktur-mikro yang dapat dipelajari secara terpisah. Seorang ahli sosiologi Inggris dari pertengahan abad ke-19 Herbert Spencer. walaupun saling berkaitan. (2) disebabkan oleh pertumbuhan dalam ukurannya. demikian pula dengan partai politik sebagai struktur institusional memiliki struktur dan fungsi serta tujuan yang berbeda dalam sistem politik. (4) baik di dalam sistem organisme maupun sistem sosial. hati memiliki struktur dan memiliki fungsi yang berbeda dengan paru-paru. maka struktur tubuh sosial (social body) maupun tubuh organisme hidup (living body) itu mengalami pertambahan pula. misalnya manusia. misalnya bagian yang dapat dibedakan bila dibanding dengan makhluk yang lebih sempurna.premis bahwa ”masyarakat adalah laksana organisme hidup”. Bagian-bagian itu saling berkaitan satu sama lain. Pembahasan Spencer tentang masyarakat sebagai suatu organisme hidup (1895: 436-506) dapat diringkas sebagai berikut: (1) masyarakat maupun organisme hidup sama-sama mengalami pertumbuhan. pendidikan. membahas lebih lanjut berbagai perbedaan dan kesamaan yang khusus antara sistem biologis dan sistem sosial. (5) bagian-bagian tersebut. Demikianlah maka sistem peredaran atau sistem pembuangan merupakan pusat perhatian para spesialis biologi dan medis. Pada manusia. ”mereka tumbuh menjadi organ yang berbeda dengan tugas yang berbeda pula”. seperti halnya dengan sistem biologis yang menjadi semakin kompleks sementara ia tumbuh menjadi semakin besar. (3) tiap bagian yang tumbuh di dalam tubuh organisme biologis maupun organisme sosial memiliki fungsi dan tujuan tertentu. Binatang yang lebih kecil. perubahan pada suatu bagian akan mengakibatkan perubahan pada bagian lain dan pada akhirnya di dalam sistem secara keseluruhan. di mana semakin besar suatu struktur sosial maka semakin banyak pula bagian-bagiannya. seperti halnya sistem Sosiologi Pendidikan Page 18 . sistem budaya dan atau sistem ekonomi. akan tetapi dia tidak benar-benar berusaha untuk mengembangkan tesis ini. Misalnya perubahan sistem politik dari suatu pemerintahan demokratis ke suatu pemerintahan totaliter akan mempengaruhi keluarga. agama dan sebagainya.

sedangkan dalam sistem sosial hubungan yang sangat dekat seperti itu tidak begitu jelas terlihat. Masyarakat modern dilihat oleh Durkheim sebagai keseluruhan organis yang memiliki realitas tersendiri. ialah bahwa masyarakat dapat dilihat sebagai suatu sistem yang terdiri dari bagian-bagian yang saling tergantung satu sama lain. Keseluruhan tersebut memiliki seperangkat kebutuhan atau fungsi-fungsi tertentu yang harus dipenuhi oleh bagian-bagian yang menjadi anggotanya agar dalam keadaan normal. Kegagalan suatu partai sebagai sebuah sistem organisasi dalam hal ini Partai Persatuan Pembangunan ditengarai tidak atau adanya salah satu atau beberapa bagian penting yang fungsional sehingga membuat yang lain disfungsional dan menyebabkan kefatalan secara keseluruhan. sebagai konsekuensinya kegagalan mencapai tujuan partai yaitu menjadi pemenang dalam pemilu atau memperoleh dukungan suara terbanyak dari konstituen. Demikian pula dengan partai politik. Di dalam sistem organisme. Bila mana kebutuhan tertentu tadi tidak dipenuhi maka akan Sosiologi Pendidikan Page 19 . merupakan satu kesatuan dalam sistem yang terdiri dari difusi-difusi atau bagian-bagian yang saling berkaitan dan ketergantungan satu sama lain.politik atau sistem ekonomi merupakan sasaran pengkajian para ahli politik dan ekonomi. Masyarakat tidak benar-benar mirip dengan organisme hidup. tidak berfungsinya satu difusi akan mengakibatkan disfungsional pada difusi lain. Lahirnya fungsionalisme struktural sebagai suatu perspektif yang ”berbeda” dalam sosiologi memperoleh dorongan yang sangat besar lewat karya-karya klasik seorang ahli sosiologi Perancis. di antara kedua hal itu terdsapat sebuah perbedaan yang sangat penting. yaitu Emile Durkheim. tetap langgeng. bagian-bagian tersebut saling terkait dalam suatu hubungan yang intim. Dengan hati-hati Spencer menegaskan bahwa apa yang diketengahkan itu hanyalah merupakan subuah model atau analogi yang seharusnya tidak diterima begitu saja. Asumsi dasar sosiologi dari pemikiran kaum fungsionalis bermula dari Comte dan dilanjutkan dalam karya Spencer. dengan bagian-bagian yang kadang-kadang sangat terpisah.

analisa fungsional yang dibangun di atas model organis.R. karena itu merupakan sumbangan yang diberikannya bagi pemeliharaan kelangsungan struktural (Radcliffe-Brown (1976:505). walau dalam beberapa hal berbeda dari Brown. Malinowski dan Brown dipengaruhi oleh ahliahli sosiologi yang melihat masyarakat sebagai organisme hidup. mendukung konsepsi dasar fungsionalisme tersebut. Para fungsionalis kontemporer menyebut keadaan normal sebagai equilibrium. Bilamana kehidupan ekonomi mengalami suatu fluktuasi yang keras. yaitu Bronislaw Malinowski dan A. pemahaman Radcliffe-Brown (1976:503-511) mengenai fungsionalisme struktural merupakan dasar bagi analisa fungsional kontemporer: Fungsi dari setiap kegiatan yang selalu berulang. dan keduanya menyumbangkan buah pikiran mereka tentang hakikat. Fungsionalisme Durkheim ini tetap bertahan dan dikembangkan lagi oleh dua orang ahli antropologi abad ke-20. Para ahli antropologi menganalisa kebudayaan dengan melihat pada ”fakta- Sosiologi Pendidikan Page 20 . sedang keadaan patologis menunjuk pada ketidakseimbangan atau perubahan sosial. yang pada akhirnya akan teratasi dengan sendirinya sehingga keadaan normal kembali dapat dipertahankan. Pukulan yang demikian terhadap sistem dilihat sebagai suatu keadaan patologis. maka bagian ini akan mempengaruhi bagian yang lain dari sistem itu dan akhirnya sistem sebagai keseluruhan.berkembang suatu keadaan yang bersifat ”patologis”. mengubah sistem keluarga dan menyebabkan perubahan dalam struktur keagamaan. Di dalam batasannya tentang beberapa konsep dasar fungsionalisme dalam ilmu-ilmu sosial. seperti penghukuman kejahatan. atau sebagai suatu sistem yang seimbang. Jasa Malinowski terhadap fungsionalisme. atau upacara penguburan. Radcliffe-Brown. Sebagai contoh dalam masyarakat modern fungsi ekonomi merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi. adalah merupakan bagian yang dimainkannya dalam kehidupan sosial sebagai keseluruhan dan. Suatu depresi yang parah dapat menghancurkan sistem politik.

yang dengan jelas memiliki batas-batas srukturalnya. teorinya merupakan teori sosial yang optimistis. Sosiologi Pendidikan Page 21 .fakta antropologis” dan bagian yang dimainkan oleh fakta-fakta itu dalam sistem kebudayaan (Malinowski. atau ”suatu sistem dengan pola-pola yang relatif abadi”. seperti yang dilakukan oleh teori baru Parsons. Pada saat depresi kala itu. akan tetapi paham ini benar-benar berpendapat bahwa sosiologi adalah merupakan suatu studi tentang struktur-struktur sosial sebagai unit-unit yang terbentuk atas bagianbagian yang saling tergantung. Alvin Gouldner (1970: 138-157) mengingatkan pada pembaca-pembacanya akan lingkungan di mana fungsionalisme aliran Parson berkembang. Struktur menunjuk pada seperangkat unit-unit sosial yang relatif stabil dan berpola”. Dalam membahas sejarah fungsionalisme struktural. Bagi mereka yang hidup dalam sistem yang kelihatannya galau dan kemudian diikuti oleh pergantian dan perkembangan lebih lanjut maka optimisme teori Parsons dianggap benar. Akan tetapi agaknya optimisme Parson itu dipengaruhi oleh keberhasilan Amerika dalam Perang Dunia II dan kembalinya masa kemewahan setelah depresi yang parah itu. 1976: 551). Sekalipun demikian adalah mungkin untuk memperoleh suatu batasan dari dua konsep kunci berdasarkan atas kebiasaan sosiologis standar. Walaupun kala itu adalah merupakan masa kegoncangan ekonomi di dalam maupun di luar negeri sebagai akibat dari depresi besar. Walaupun fungsionalisme struktural memiliki banyak pemuka yang tidak selalu harus merupakan ahli-ahli pemikir teori. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Gouldner (1970: 142): ”untuk melihat masyarakat sebagai sebuah firma. adalah tidak bertentangan dengan pengalaman kolektif. Teori fungsionalisme Parsons mengungkapkan suatu keyakinan akan perubahan dan kelangsungan sistem. dengan realitas personal kehidupan sehari-hari yang sama-sama kita miliki”. Coser dan Rosenberg (1976: 490) melihat bahwa kaum fungsionalisme struktural berbeda satu sama lain di dalam mendefinisikan konsep-konsep sosiologi mereka.

Lembaga-lembaga sosial seperti keluarga. ia juga mengakui bahwa fungsionalisme struktural mungkin tidak akan mampu mengatasi seluruh masalah sosial (Merton. yang dinyatakannya Sosiologi Pendidikan Page 22 . Pada saat yang sama Merton tetap sebagai pelindung setia dari analisa fungsional. Merton. ini memungkinkan status-status tersebut saling berhubungan satu sama lain dan berhubungan dengan sistem yang lebih luas. Di tahun 1959 Kingsley Davis di dalam pidato kepemimpinannya di hadapan anggota ”American Sociological Association”. atau pemerintahan. 1975: 25). Robert K. Selama beberapa dasawarsa. fungsionalisme struktural telah berkuasa sebagai suatu paradigma atau model teoritis yang dominan di dalam sosiologi kontemporer Amerika. Coser dan Rosenberg (1976: 490) membatasi fungsi sebagai ”konsekuensi-konsekuensi dari setiap kegiatan sosial yang tertuju pada adaptasi penyesuaian suatu struktur tertentu dari bagian-bagian komponennya”. Mengakui bahwa pendekatan ini telah membawa kemajuan bagi pengetahuan sosiologis. Tetapi dalam sepuluh tahun terakhir ini teori fungsionalisme struktural itu semakin banyak mendapat serangan sehingga memaksa para pendukungnya untuk mempertimbangkan kembali pernyataan mereka tentang potensi teori tersebut sebagai teori pemersatu dalam sosiologi. termasuk struktur kelembagaan partai politik adalah contoh dari struktur atau sistem sosial yang masing-masing merupakan bagian yang saling bergantungan satu sama lain (norma-norma mengatur status dan peranan) menurut beberapa pola tertentu. Hal ini melahirkan masalah tentang bagaimana berbagai norma sosial yang mengatur statusstatus. agama. sebagai seorang yang mungkin dianggap lebih dari ahli teori lainnya telah mengembangkan pernyataan mendasar dan jelas teori-teori fungsionalisme. adalah seorang pendukung yang mengajukan tuntutan lebih terbatas bagi perspektif ini. Dengan demikian fungsi menunjuk kepada proses dinamis yang terjadi di dalam struktur itu. bahkan melangkah lebih jauh dengan menyatakan bahwa fungsionalisme struktural sudah tidak dapat lagi dipisahkan dari sosiologi itu sendiri.

(5) Status-status dalam birokrasi tersusun ke dalam susunan yang bersifat hirarkis. Mengikuti Weber. Di dalam kata-kata Coser dan Rosenberg (1976: 492) model fungsionalisme struktural Merton ini adalah merupakan ”pernyataan yang paling canggih dari pendekatan fungsionalisme yang tersedia dewasa ini. (7) otoritas pada jabatan. (1) birokrasi merupakan struktur sosial yang terorganisir secara rasional dan formal. (8) hubunganhubungan antara orang-orang dibatasi secara formal. mencoba membuat batasanbatasan beberapa konsep analitis dasar dari bagi analisa fungsional dan menjelaskan beberapa ketidakpastian arti yang terdapat di dalam postulatpostulat kaum fungsional. Postulat pertama. termasuk universitas atau akademi. memberikan ilustrasi yang baik tentang model birokrasi yang diuraikan oleh Weber dan Merton. Organisasi-organisasi yang berskala besar. (6) berbagai kewajiban serta hak-hak di dalam birokrasi dibatasi oleh aturan-aturan yang terbatas serta terperinci. (3) kegiatan-kegiatan tersebut secara ideal berhubungan dengan tujuan-tujuan organisasi. 1975: 30). Paradigma analisa fungsional Merton. (2) ia meliputi suatu pola kegiatan yang memiliki batas-batas yang jelas. adalah kesatuan fungsional masyarakat yang dapat dibatasi sebagai ”suatu keadaan di mana seluruh bagian dari sistem sosial bekerja sama dalam suatu tingkat keselarasan atau konsistensi internal yang Sosiologi Pendidikan Page 23 . bukan pada orang. Pengaruh Weber dapat dilihat dalam batasan Merton tentang birokrasi.mampu melahirkan ”suatu masalah yang saya anggap menarik dan cara berfikir yang saya anggap lebih efektif dibanding dengan cara berfikir lain yang pernah saya temukan” (Merton. Merton mengutip tiga postulat yang terdapat di dalam analisa fungsional yang kemudian disempurnakannya satu demi satu.” Model analisa fungsional Merton merupakan hasil perkembangan pengetahuan yang menyeluruh dari teori-teori klasik yang menggunakan penulis besar seperti Max Weber. Merton (1957: 195196) mengamati beberapa hal berikut di dalam organisasi birokrasi modern. (4) jabatan-jabatan dalam organisasi diintegrasikan ke dalam keseluruhan struktur birokratis.

memadai. Fungsionalisme universal menganggap bahwa ”seluruh bentuk sosial dan kebudayaan yang sudah baku memiliki fungsi-fungsi positif” (Merton. dan kemudian menetapkan keseimbangan di antara keduanya. seperti apa yang telah kita ketahui Merton memperkenalkan konsep disfungsi maupun fungsi positif. misalnya. terkait dengan postulat pertama. Sosiologi Pendidikan Page 24 . misalnya) dapat tidak fungsional bagi keseluruhan bagi kota Belfast. kita juga mempunyai banyak kasus di mana agama memiliki konsekuensi disintegratif. Sehubungan dengan kasus agama yang dicontohkan tadi. 1967: 84). Sebagai contoh. yaitu fungsionalisme universal. Merton menganjurkan agar elemen-elemen kultural seharusnya dipertimbangkan menurut kriteria keseimbangan konsekuensi fungsional (net balance of functional consequences). Paradigma Merton menegaskan bahwa disfungsi (elemen disintegratif) tidak boleh diabaikan hanya karena orang begitu terpesona oleh fungsi-fungsi positif (elemen integratif). Merton menegaskan bahwa kesatuan fungsioanal yang sempurna dari suatu masyarakat adalah ”bertentangan dengan fakta”. seorang fungsionalis harus mencoba mengkaji fungsi positif maupun negatifnya. Beberapa perilaku sosial jelas bersifat disfungsioanal. sebagai suatu unsur penting (kalau tidak esensial) di dalam masyarakat. Postulat kedua. tanpa menghasilkan konflik yang berkepanjangan yang tidak dapat diatasi atau diatur” (Merton. Kita memiliki banyak contoh di mana agama mampu mempertinggi tingkat kohesi suatu masyarakat. 1967: 80). Oleh karena itu batas-batas kelompok yang dianalisa harus diperinci. beliau juga menegaskan bahwa apa yang fungsional bagi suatu kelompok (masyarakat Katolik atau Protestan di kota Belfast. yang menimbang fungsi positif relatif terhadap fungsi negatif. Sebagai contoh dia mengutip beberapa kebiasaan masyarakat yang dapat bersifat fungsional bagi suatu kelompok (menunjang integrasi dan kohesi suatu kelompok) akan tetapi disfungsional (mempercepat kehancuran) bagi kelompok lain. Para sesepuh sosiologi melihat agama.

maka fungsi dan kedudukan teori-teori di sini lebih merupakan ”rambu-rambu” yang membatasi wilayah fenomena yang diteliti. struktur sosial merujuk pada pola hubungan dalam setiap satuan sosial yang mapan dan sudah memiliki identitas sendiri. memiliki sejumlah tugas yang harus dijalankan. setiap kebiasaan. Salah satu pendekatan sosiologi komunikasi yang digunakan untuk menelaah sistem politik dalam hal ini fungsi komunikasi politik pada Partai Persatuan Pembangunan sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya adalah teori struktural fungsional sebagai teori umum (general theory) dalam disiplin ilmu komunikasi. adalah postulat indispensability. 1967: 86). karena peneliti tetap dalam posisi outsider menggambarkan. walaupun menggunakan jenis atau desain penelitian yang kualitatif dengan menggunakan dan metode studi kasus. obyek materil. Pertama. ide. Oleh karena penelitian ini lebih menekankan pada metode kualitatif-studi kasus. Dari sisi kaidah tersebut. Dalam penelitian ini. sedangkan fungsi merujuk pada kegunaan atau manfaat dari tiap satuan sosial tadi. digunakan teori-teori pendukung yang sesuai dengan objek kajian penelitian yang sifatnya aplikatif.Postulat ketiga melengkapi trio postulat fungsionalisme. maka fungsional memperhatikan sistem dan pola komunikasi sebagai fakta sosial (social facts). Sosiologi Pendidikan Page 25 . bahwa fungsionalisme sebagai kaidah atau teori dapat menjelaskan gejala-gejala dan institusi sosial dengan memfokuskan kepada fungsi yang dibentuk dan disusun oleh gejala sosial dan institusi sosial tersebut. menganalisa menginterpretasikan penelitian sebagaimana yang dikemukakan oleh informan. dan kepercayaan memenuhi beberapa fungsi penting. Kedua. hasil pendekatannya tetap objektif. dan merupakan bagian penting yang tidak dapat dipisahkan dalam kegiatan sistem sebagai keseluruhan” (Merton. Adapun untuk mengkaji secara operasional mengenai fungsi komunikasi politik pada Partai Persatuan Pembangunan untuk melihat kegagalannya dalam pemilu. Teori struktural fungsional sebagaimana Garna (1996: 54) mengemukakan. Ia menyatakan bahwa ”dalam setiap tipe peradaban.

asumsi pertama. dan (4) institusi sosial. dan kekerabatan yang hasilnya nanti berbentuk sebuah model. sifat-sifat yang dipandang esensial untuk kelangsungan sistem. hukum. Dalam mengkaji fungsi komunikasi politik Partai Persatuan Pembangunan. (4) adanya spesifikasi jalan yang menentukan perbedaan nilai. Artinya. (2) adanya perbedaan individu. andaian bahwa semua kepercayaan yang Sosiologi Pendidikan Page 26 .Menurut Sendjaja (1994: 32) mengemukakan bahwa model struktural fungsional mempunyai ciri sebagai berikut: (1) sistem dipandang sebagai satu kesatuan yang terdiri dari unsur-unsur yang saling berkaitan. struktur sosial berarti menentukan relasi sosial yang penting dalam menentukan tingkah laku manusia dalam masyarakat yang dapat ditinjau dari: (1) status. Merton melalui teori struktural fungsional yang dianggap lebih pragmatis dan konkrit dengan asumsinya sebagai berikut. secara sosiologis juga relevan dengan kondisi yang digambarkan oleh Robert K. (3) nilai-nilai dan norma-norma. 1996: 50). dan (5) adanya aturan tentang bagaimana bagian-bagian secara kolektif beroperasi sesuai ciri-cirinya untuk menjaga eksistensi sistem. budaya. struktur sosial dalam hal ini struktur dalam partai politik merupakan dasar untuk pendekatan ”struktural fungsional” di mana rangkaian relasi-relasi sosial yang kompleks dan berwujud itu analoginya seperti organisme hidup dalam biologi yaitu: (1) adanya relasi sosial di antara para individu. satuansatuan masyarakat berfungsi. Untuk itu berbicara tentang struktur sosial dalam hal ini struktur dalam partai politik akan erat kaitannya dengan fungsi-fungsi yang melekat pada struktur partai politik tadi. namun masih diragukan sebagai sesuatu yang konkret. (2) peranan. juga turut membahas tentang sistem politik. dan (3) adanya kelas sosial menurut peranan sosial mereka (Garna. Fungsi komunikasi politik Partai Persatuan Pembangunan. Ditambahkan menurut Raymond Firth bahwa. maka digunakan konsep struktur sosial dari Radcliffe Brown yang mengemukakan bahwa. (2) adanya spesifikasi lingkungan yakni spesifikasi faktor-faktor eksternal yang bisa mempengaruhi sistem. (3) adanya ciri-ciri.

adat kebiasaan. yang dengan perspektif fungsional ini mengungkapkan suatu pendekatan tentang kehidupan sosial atau kehidupan diri kita sendiri dalam suatu masyarakat.umum. Keadaan itu kemudian mengandung makna bahwa tidaklah semua unsur memenuhi fungsi yang positif. asumsi yang ketiga. fungsional itu bersifat sejagat atau universal. Sosiologi Pendidikan Page 27 . tetapi pada sisi lain ada unsur yang berfungsi pada bagian yang satu dan tidak berfungsi pada bagian lainnya. atau kebiasaan yang umum seperti institusi sosial dan aktifitas sosial adalah berfungsi bagi keseluruhan sistem sosial ataupun sistem kebudayaan. institusi sosial. dan tingkah laku sosial lainnya yang tidak atau kurang berfungsi bagi sebagian anggota masyarakat lainnya. Untuk mengetahui aktifitas sosial. asumsi yang kedua. Unsur yang tidak berfungsi pada bagian tertentu memiliki nilai negatif dan menimbulkan ketidakpahaman sistem. Fungsi yang tampak adalah tindakan tingkah laku sosial yang dialami oleh para individu tersebut. sebenarnya dapat dilihat bagaimana satuan atau bagian tertentu itu dalam lingkup keseluruhan masyarakat. andaian ini bersifat positif karena unsur-unsur organisasi sosial atau tingkah laku itu haruslah memenuhi fungsi yang berfaedah apabila masih berwujud dalam jangka waktu tertentu. yaitu: kebutuhan yang berfungsi dan konsep praktis. seperti melihat sebagian dari seluruh masyarakat dan manakah yang berfungsi secara khusus dari sistem ekonomi ataukah politik. Mungkin tidak semua unsur itu berfungsi bagi seluruh masyarakat. Dalam analisis sosial terdapat suatu perbedaan antara fungsi yang tampak (manifest). Karena itu selalu ada kemungkinan dari sebagian sistem kepercayaan. Sehingga tidak berfungsi (disfungsional) atau menceraiberaikan kemampuan keseluruhan sistem sosial. norma dan kepercayaan tertentu dalam suatu masyarakat. dan fungsi terpendam (latent). unsur-unsur kebudayaan. tanpa kekecualian (indispensibility) yang termasuk dalam dua konsep.

konflik adalah teori yang tetapi terjadi akibat memandang bahwa perubahan menghasilkan sosial tidak terjadi melalui proses penyesuaian nilai-nilai yang membawa adanya konflik yang kompromi-kompromi yang berbeda dengan kondisi semula. pertentangan. interaksi antagonis (Kartini Kartono. 1996). arti kata ini menunjuk pada semua bentuk benturan. tabrakan. tanpa melihat kaitan unsur-unsur budaya yang diteliti masa silam. ketidaksesuaian. perkelahian. (3) teori ini beranjak dari pengalaman lapangan formatif untuk menemukan bahwa masyarakat itu dapat dipahami sebagai suatu sistem yang berkaitan dan rasional. Teori Konflik Teori perubahan. bersaing. 2. ketidakserasian.sarana produksi sebagai unsur pokok pemisahan kelas dalam masyarakat. berlomba. (2) beberapa tindakan dan institusi sosial tampak tidak nyata hubungannya dengan tindakan dan institusi sosial lainnya. namum kritik dan revisi atas teori ini masih terus berlangsung.Walaupun teori struktural fungsional banyak manfaatnya. terutama kebudayaan material atau benda-benda yang tampak. berbeda dengan orang lain. Kata Konflik berasal dari kata conflict yang berarti saling benturan. Konflik yang positif bisa diartikan : pometasi. (4) pertimbangan teori ini sebagian terletak hanya pada gambaran eksplanasi yang memerlukan fakta yang diketahui dan mampu diobservasi. fastabihul khoirot/berlomba dalam kebaikan. Pada dasarnya teori konflik berasumsi bahwa setiap manusia memiliki potensi untuk berkompetisi. diantaranya kekurangan teori ini dikemukakan oleh Garna (1996: 114-117) sebagai berikut: (1) keyakinan bahwasanya ada masyarakat yang tanpa lapisan sosial harus diabaikan. Teori ini didasarkan pada pemilikan sarana. Berdasarkan manfaatnya konflik dapat dikelompokkan ke dalam konflik fungsional dan konflik disfungsional (Gibson. berlomba. 1991:213) konflik semacam ini yang negatif. Menurutnya bahwa konflik fungsional adalah konfrontasi diantara kelompok yang Sosiologi Pendidikan Page 28 .

yaitu revolusi. Eksploitasi ini akan terus berjalan selama kesadaran semu eksis (false consiousness) dalam diri proletar. Pada tahun 1950-an dan 1960-an. merugikan. Teori konflik menyediakan alternatif terhadap teori struktural fungsional. Pemikiran yang paling berpengaruh atau menjadi dasar dari teori konflik ini adalah pemikiran Karl Marx. Pada saat itu Marx mengajukan konsepsi mendasar tentang masyarakat kelas dan perjuangannya. Marx tidak mendefinisikan kelas secara panjang lebar tetapi ia menunjukkan bahwa dalam masyarakat. Konflik disfungsional adalah konfrontasi atau pertentangan antar kelompok yang merusak. yaitu berupa rasa menyerah diri. Kedua kelas ini berada dalam suatu struktur sosial hirarkis. karena konflik yang tidak dikelola dengan baik dapat menurunkan prestasi dan kinerja organisasi.19 di Eropa di mana dia hidup. kaumborjuis melakukan eksploitasi terhadap kaum proletar dalam proses produksi. dimana teori struktural fungsional sangat mengedepankan keteraturan dalam masyarakat. Teori konflik merupakan antitesis dari teori struktural fungsional. terdiri dari kelas pemilik modal (borjuis) dan kelas pekerja miskin sebagai kelas proletar. Ketegangan tersebut terjadi jika kaum proletar telah sadar akan eksploitasi kaum borjuis terhadap mereka. Teori konflik melihat pertikaian dan konflik dalam sistem sosial.[3] beberapa asumsi dasar dari teori konflik ini. Ketegangan hubungan antara kaum proletar dan kaum borjuis mendorong terbentuknya gerakan sosial besar.menambah keuntungan kerja. dan menghalangi pencapaian tujuan organisasi. pada abad ke. Sehubungan dengan itu setiap organisasi harus mampu menangani dan mengelolan serta mengurangi konflik agar memberikan dampak positif dan meningkatkan prestasi. Teori konflik Sosiologi Pendidikan Page 29 . • Asumsi Dasar Teori konflik muncul sebagai reaksi dari munculnya teori struktural fungsional. menerima keadaan apa adanya tetap terjaga. teori konflik mulai merebak.

dan kekuasaan dalam masyarakat. koersi. Ketika struktural fungsional mengatakan bahwa perubahan sosial dalam masyarakat itu selalu terjadi pada titik ekulibrium. Terdapat dua tokoh sosiologi modern yang berorientasi serta menjadi dasar pemikiran pada teori konflik. masyarakat disatukan dengan “paksaan”.melihat bahwa di dalam masyarakat tidak akan selamanya berada pada keteraturan. teori konflik lekat hubungannya dengan dominasi. Perbedaan antara superordinasi dan subordinasi dapat menimbulkan konflik karena adanya perbedaan kepentingan. Teori konflik juga membicarakan mengenai otoritas yang berbeda-beda. Kemudian teori konflik juga melihat adanya dominasi. Maksudnya. Buktinya dalam masyarakat manapun pasti pernah mengalami konflik-konflik atau ketegangan-ketegangan. Di dalam konflik. dan power. masyarakat mampu mencapai sebuah kesepakatan bersama. selalu ada negosiasi-negosiasi yang dilakukan sehingga terciptalah suatu konsensus. Oleh karena itu. koersi. Namun pada suatu titik tertentu. Teori konflik juga mengatakan bahwa konflik itu perlu agar terciptanya perubahan sosial. keteraturan yang terjadi di masyarakat sebenarnya karena adanya paksaan (koersi). Sosiologi Pendidikan Page 30 . Coser dan Ralf Dahrendorf. Otoritas yang berbeda-beda ini menghasilkan superordinasi dan subordinasi. yaitu Lewis A. Menurut teori konflik. teori konflik melihat perubahan sosial disebabkan karena adanya konflik-konflik kepentingan.

mereka melihatnya konflik sebagai penyakit bagi kelompok sosial. Max Weber atau Karl Marx. Akan tetapi para ahli sosiologi kontemporer sering mengacuhkan analisa konflik sosial. Simmel mempertahankan pendapatnya bahwa sosiologi bekerja untuk menyempurnakan dan mengembangkan bentuk. Coser Sejarah Awal Selama lebih dari dua puluh tahun Lewis A. Karena ia yakin bahwa setiap usaha untuk menghasilkan suatu teori sosial menyeluruh yang mencakup seluruh fenomena sosial adalah premature (sesuatu yang sia. Namun. Coser tetap terikat pada model sosiologi dengan tertumpu kepada struktur sosial.[4] Sosiologi Pendidikan Page 31 . Memang Simmel tidak pernah menghasilkan risalat sebesar Emile Durkheim. Seperti halnya Simmel. coser mengungkapkan komitmennya pada kemungkinan menyatukan kedua pendekatan tersebut. Coser memilih untuk menunjukkan berbagai sumbangan konflik yang secara potensial positif yaitu membentuk serta mempertahankan struktur suatu kelompok tertentu.Teori Konflik Menurut Lewis A.konsep sosiologi di mana isi dunia empiris dapat ditempatkan. Penjelasan tentang teori knflik Simmel sebagai berikut:  Simmel memandang pertikaian sebagai gejala yang tidak mungkin dihindari dalam masyarakat. Berbeda dengan beberapa ahli sosiologiyang menegaskan eksistensi dua perspektif yang berbeda (teori fungsionalis dan teori konflik).bentuk atau konsep.sia).pisahkan. Struktur sosial dilihatnya sebagai gejala yang mencakup pelbagai proses asosiatif dan disosiatif yang tidak mungkin terpisah. Pada saat yang sama dia menunjukkan bahwa model tersebut selalu mengabaikan studi tentang konflik sosial. Coser tidak mencoba menghasilkan teori menyeluruh yang mencakup seluruh fenomena sosial. namun dapat dibedakan dalam analisa. Coser mengembangkan perspektif konflik karya ahli sosiologi Jerman George Simmel.

kondisi di mana konflik secara positif membantu struktur sosial dan bila terjadi secara negatif akan memperlemah kerangka masyarakat. penyatuan dan pemeliharaan struktur sosial.[4] Inti Pemikiran Konflik dapat merupakan proses yang bersifat instrumental dalam pembentukan. [5]Katup Penyelamat (savety-value) ialah salah satu mekanisme khusus yang dapat dipakai untuk mempertahankan kelompok dari kemungkinan konflik sosial. Konflik dapat menempatkan dan menjaga garis batas antara dua atau lebih kelompok. [5] Katup penyelamat merupakan sebuah institusi pengungkapan rasa tidak puas atas sebuah sistem atau struktur. Misalnya.hubungan di antara pihak-pihak yang bertentangan akan semakin menajam. Perang yang terjadi bertahun.praktik ajaran katolik pra. Sosiologi Pendidikan Page 32 .Konsili Vatican II) dan gereja AngloKatolik (yang berpisah dengan gereja Episcopal mengenai masalah pentahbisan wanita). fungsi positif konflik tersebut dapat dilihat dalam ilustrasi suatu kelompok yang sedang mengalami konflik dengan kelompok lain. Coser mengembangkan proposisi dan memperluas konsep Simmel tersebut dalam menggambarkan kondisi. Konflik dengan kelompok lain dapat memperkuat kembali identitas kelompok dan melindunginya agar tidak lebur ke dalam dunia sosial sekelilingnya. yang tanpa itu hubungan. Menurut Simmel konflik tunduk pada perubahan.tahun yang terjadi di Timur Tengah telah memperkuat identitas kelompok Negara Arab dan Israel. pengesahan pemisahan gereja kaum tradisional (yang memepertahankan praktik. Coser melihat katup penyelamat berfungsi sebagai jalan ke luar yang meredakan permusuhan.

Contoh: Badan Perwakilan Mahasiswa atau panitia kesejahteraan Dosen. tetapi setelah meniggalkan persidangan mereka melupakan perbedaan dan pergi ke restoran untuk membicarakan masa lalu. Contoh: Dua pengacara yang selama masih menjadi mahasiswa berteman erat. santet dan lain. tetapi dari kebutuhan untuk meredakan ketegangan. Sebagaimana halnya masyarakat maju melakukan pengkambing hitaman sebagai pengganti ketidakmampuan melawan kelompok yang seharusnya menjadi lawan mereka. Coser menjelaskan dalam masyarakat yang buta huruf pembasan dendam biasanya melalui ilmu gaib seperti teluh.masing secara agresif dan teliti melindungi kepentingan kliennya. konflik yang bukan berasal dari tujuantujuan saingan yang antagonis. maka pemisahan (antara konflik realistis dan non-realistis) akan Sosiologi Pendidikan Page 33 . paling tidak dari salah satu pihak.Realistis. Lembaga tersebut membuat kegerahan yang berasal dari situasi konflik tersalur tanpa menghancurkan sistem tersebut. Konflik Non.hubungan yang intim. dan yang ditujukan pada obyek yang dianggap mengecewakan. 2. Masing. berasal dari kekecewaan terhadap tuntutantuntutan khusus yang terjadi dalam hubungan dan dari perkiraan kemungkinan keuntungan para partisipan. yaitu: 1.lain. Menurut Coser konflik dibagi menjadi dua. Akan tetapi apabila konflik berkembang dalam hubungan. Konflik Realistis. Contohnya para karyawan yang mogok kerja agar tuntutan mereka berupa kenaikan upah atau gaji dinaikkan. Menurut Coser terdapat suatu kemungkinan seseorang terlibat dalam konflik realistis tanpa sikap permusuhan atau agresi. Kemudian setelah lulus dan menjadi pengacara dihadapkan pada suatu masalah yang menuntut mereka untuk saling berhadapan di meja hijau.

rasa permusuhan dapat relatif bebas diungkapkan. Perbedaan merupakan peristiwa normal yang sebenarnya dapat memperkuat struktur sosial. Dia menjelaskan bukti yang masyarakat Yahudi bahwa peningkatan konflik kelompok dapat dihubungkan dengan peningkatan interaksi dengan masyarakat secara keseluruhan. Coser mennyatakan bahwa. berarti menunjukkan lemahnya integrasi kelompok tersebut dengan masyarakat. Sedang pada hubungan.segera setelah penampilan karya Coser. Apabila konflik tersebut benar. serta konflik sepasang kekasih.hubungan sekunder. Teori Konflik Menurut Ralf Dahrendorf Sejarah Awal Bukan hanya Coser saja yang tidak puas dengan pengabaian konflik dalam pembentukan teori sosiologi.benar melampaui batas sehingga menyebabkan ledakan yang membahayakan hubungan tersebut. Hal ini tidak selalu bisa terjadi dalam hubunganhubungan primer dimana keterlibatan total para partisipan membuat pengungkapan perasaan yang demikian merupakan bahaya bagi hubungan tersebut. semakin dekat suatu hubungan semakin besar rasa kasih saying yang sudah tertanam. seperti misalnya dengan rekan bisnis. sehingga semakin besar juga kecenderungan untuk menekan ketimbang mengungkapkan rasa permusuhan. Contoh: Seperti konflik antara suami dan istri. Dengan demikian Coser menolak pandangan bahwa ketiadaan konflik sebagai indikator dari kekuatan dan kestabilan suatu hubungan. Dalam struktur besar atau kecil konflik in-group merupakan indikator adanya suatu hubungan yang sehat.lebih sulit untuk dipertahankan. Coser sangat menentang para ahli sosiologi yang selalu melihat konflik hanya dalam pandangan negatif saja. Bila konflik dalam kelompok tidak ada. seorang ahli sosiologi Jerman bernama Ralf Dahrendorf menyadur teori Sosiologi Pendidikan Page 34 . Coser mengutip berasal dari hasil hasil pengamatan pengamatan terhadap Simmel yang meredakan ketegangan yang terjadi dalam suatu kelompok.

korporasi dengan saham yang dimiliki oleh orang banyak. Karl Marx berpendapat bahwa pemilikan dan Kontrol sarana. separuh penolakan.1958). serta memodifikasi teori sosiologi Karl Marx. Ralf Dahrendorf menganggap masyarakat bersisi ganda. Inti Pemikiran Teori konflik Ralf Dahrendorf merupakan separuh penerimaan.individu yang sama. seperti halnya seseorang atau beberapa orang yang mempunyai perusahaan tapi tidak Sosiologi Pendidikan Page 35 .sarana berada dalam satu individu. separuh penolakan. memiliki sisi konflik dan sisi kerja sama. Diantaranya:  Dekomposisi modal Menurut Dahrendorf timbulnya korporasi. Ralf Dahrendorf mula. Dekomposisi tenaga.  Dekomposisi Tenaga kerja Di abad spesialisasi sekarang ini mungkin sekali seorang atau beberapa orang mengendalikan perusahaan yang bukan miliknya.mula melihat teori konflik sebagai teori parsial. Dahrendorf tidak menggunakan teori Simmel melainkan membangun teorinya dengan separuh penerimaan. mengenggap teori tersebut merupakan perspektif yang dapat dipakai untuk menganalisa fenomena sosial. Seperti halnya Coser.sarana juga bertugas sebagai pengontrol apalagi pada abad kesembilan belas. serta modifikasi teori sosiologi Karl Marx.kelas dan konflik kelasnya ke dalam bahasa inggris yang sebelumnya berbahasa Jerman agar lebih mudah difahami oleh sosiolog Amerika yang tidak faham bahasa Jerman saat kunjungan singkatnya ke Amerika Serikat (1957. dimana tak seorangpun memiliki kontrol penuh merupakan contoh dari dekomposisi modal. Bentuk penolakan tersebut ia tunjukkan dengan memaparkan perubahan yang terjadi di masyarakat industri semenjak abad kesembilan belas. Menurut Dahrendorf tidak selalu pemilik sarana.

Kemudian dimodifikasi oleh berdasarkan perkembangan yang terjadi akhir. sementara kepentingan. sebagai pengganti konsepsi pemilikan sarana produksi sebagai dasar perbedaan kelas itu.nilai yang merupakan ideologi keabsahan kekuasannya. antara lain termasuk kelompok. Karena zaman ini adalah zaman keahlian dan spesialisasi. pertentangan kelompok mungkin paling mudah di analisa bila dilihat sebagai pertentangan mengenai ligitimasi hubunganhubungan kekuasaan. Perbedaan dominasi itu dapat terjadi secara drastis.pegawai untuk memimpin perusahaanya agar berkembang dengan baik. Contoh: Kasus kelompok minoritas yang pada tahun 1960-an kesadarannya telah memuncak. Dalam analisanya Dahrendorf menganggap bahwa secara empiris.kelompok kulit hitam. Sosiologi Pendidikan Page 36 . Dahrendorf mengatakan bahwa ada dasar baru bagi pembentukan kelas.hubungan kekuasaan yang menyangkut bawahan dan atasan menyediakan unsur bagi kelahiran kelas. Menurut Dahrendorf hubungan. manajemen perusahaan dapat menyewa pegawai. Tetapi pada dasarnya tetap terdapat dua kelas sosial yaitu. lahir kelas pekerja dengan susunan yang jelas.mengendalikanya. Dalam setiap asosiasi. Penerimaan Dahrendorf pada teori konflik Karl Marx adalah ide mengenai pertentangan kelas sebagai satu bentuk konflik dan sebagai sumber perubahan sosial.  Timbulnya kelas menengah baru Pada akhir abad kesembilan belas. mereka yang berkuasa dan yang dikuasai. Dahrendorf mengakui terdapat perbedaan di antara mereka yang memiliki sedikit dan banyak kekuasaan.akhir ini. kepentingan kelompok penguasa merupakan nilai.kepentingan kelompok bawah melahirkan ancaman bagi ideologi ini serta hubunganhubungan sosial yang terkandung di dalamnya. di mana para buruh terampil berada di jenjang atas sedang buruh biasa berada di bawah.

selalu muncul bentuk produksi baru. Ekonomi KARL MARX (1818 – 1883) dipandang sebagai infra struktur. Pada pertengahan tahun 1960an muncul kesadaran kaum wanita untuk menyamakan derajatnya dengan kaum laki.wanita. Komunis Struktur kelas atas dasar pemilikan alat produksi: a.Manusia berbeda dari hewan dalam kemampuan bersama menciptakan kondisi materiil yang diperlukan. Karl marx terpengaruh hegel. Sejarah perkembangan masyarakat meliputi : a. budaya dan agama sebagai supra struktur. Komunal purba c. Idealisme dengan materialisme b. mesin. Sosiologi Pendidikan Page 37 . Feodal d. Kelompok wanita sebelum tahun 1960-an merupakan kelompok semu yang ditolak oleh kekuasan di sebagian besar struktur sosial di mana mereka berpartisipasi. Primitif b. alat produksi (tanah. modal). Karl marx menolak pendekatan positif dan menggunakan pendekatan historis. Dialektika tetap tidak berubah Kebutuhan manusia tak pernah tuntas. tetapi mengganti: a. Teori Marxian Pola pola pikirannya adalah determinisme ekonomi. sedang sosial politik. Perubahan cara produksi menimbulkan perubahan sosial. Borjuis merupakan pemilik mempertahankan status quo. Konservatisme dengan perubahan sosial radikal c. 3. Kapitalis e. suku Indian dan Chicanos.laki.

Metode Penelitian Sosiologi Pendidikan (Teori Makro) 1. Kesadaran palsu merupakan dasar bagi dari merupakan Kritik sikap karl Marx pembuatnya perlindungan Karl Marx terhadap agama karena dalam agama terdapat banyakkesadaran palsu. Kesadaran palsu b. Pendekatan ini menghendaki adanya sejumlah Sosiologi Pendidikan Page 38 Perspektif Fenomenologi . Proletar. Fiskal yg berimbang e. Tersebarnya pemilikan saham d. terhadap kapitalisme : nilai surplus jatuh ketangan kapitalis. Jawaban kapitalis atas kritik Karl Marx: a. Alienasi hak milik dan terlepas politik Alienasi terjadi paling ekstrim dlm kapitalisme yg ditandai mekanisme pemerintah terhadap kelas yang dominan. Upah buruh naik b. Pertumbuhan kelas menengah c. kedua kelas terjadi mengusahakanperubahan revolusioner antara konflik yg tak pernah selesai. Alienasi Kesadaran palsu merupakan ideologi budaya berupa ilusi untukmengimbangi ketimpangan dan kekurangan materiyg berakibat tidak sadar akan kepentingansebenarnya. hanya memiliki tenaga dan keterampilan. Teori Fenomenologi Penelitian yang menggunakan pendekatan fenomenologis berusaha untuk memahami makna peristiwa serta interaksi pada orang-orang biasa dalam situasi tertentu. Alienasi merupakan Produk pasar yang impersonal. Struktur kelas dan kesadaran kelas: Setrata kelas merupakan obyektif dan kesadaran kelas merupakan subyektif.b. Untuk menghilangkan alienasi hrs menghilangkan kapitalisme. Tanggung jawab thd kesejahteraan dasar E. Konsep dasar lainnya: a.

assumsi yang berlainan dengan cara yang digunakan untuk mendekati perilaku orang dengan maksud menemukan “fakta” atau “penyebab”. Dalam hal ini masyarakat dipandang sebagai sebuah interaksi simbolik bagi individuindividu yang ada didalamnya. 2. Teori Interaksi Simbolis Titik tolak pemikiran interaksi simbolik berasumsi bahwa realitas sosial sebagai proses dan bukan sesuatu yang bersifat statis. dalam hal demikian Berger menyebutnya dengan first order understanding and second order understanding. ia membayangkan dirinya dalam posisi orang lain dengan harapan-harapan orang lain dan mencoba memahami apa yang diharapkan orang itu (Mulyana. Menurut George Herbert Mead. Pada hakikatnya tiap manusia bukanlah “barang jadi” melainkan barang yang “akan jadi” karena itu teori interaksi simbolik membahas pula konsep mengenai “diri” (self) yang tumbuh berdasarkan suatu “negosiasi” makna dengan orang lain. Mead melihat pikiran (mind) dan dirinya (self) menjadi bagian dari perilaku manusia yaitu bagian interaksinya dengan orang lain. Jika peneliti menggunakan perspektif fenomenologi dengan paradikma definisi sosial biasanya peneliti ini bergerak pada kajian mikro. Mead menambahkan bahwa sebelum seseorang bertindak. 2007). cara manusia mengartikan dunia dan dirinya sendiri berkaitan erat dengan masyarakatnya. Perspektif fenomenoligi dengan paradigm definisi sosial ini akan member peluang individu sebagai subjek penelitian (informan penelitian) melakukan interpretasi terhadap intepretasi itu sampai mendapatkan makna yang berkaitan dengan pokok masalah penelitian. Sosiologi Pendidikan Page 39 . Akal budi ini mengandung makna bahwa kita perlu menggunakan criteria lebih tinggi lagi dari sekedar true or false (Muhadjir. dalam Tjipto 2009: 68). Pendekatan fenomenologi mengakui adanya kebenaran empiric etik yang memerlukan akal budi untuk melacak dan menjelasskan serta berargumentasi.

diri adalah proses sosial. Konsep diri yang dimiliki individu dapat diketahui melalui informasi. Ada tiga premis yang dibangun dalam interaksi simbolik yaitu. Sosiologi Pendidikan Page 40 . meskipun kita bisa saja menganggapnya sebagai proses mental. sehingga dapat digunakan untuk membedakan manusia dari makhluk hidup lainnya. Dengan menyerasikan diri dengan harapan-harapan orang lain. Perkembangan yang berlangsung tersebut kemudian membantu pembentukan konsep diri individu yang bersangkutan. semakin mampu seseorang mengambil alih atau menerjemahkan perasaan-perasaan sosial semakin terbentuk identitas atau kediriannya. manusia bertindak berdasarkan makna-makna. Diri juga terdiri menjadi dua bagian yaitu diri obyek yang mengalami kepuasan atau kurang mengalami kepuasan dan diri yang bertindak dalam melayani diri obyek yang berupaya memberinya kepuasan. Tentu saja mustahil memisahkan pikiran dari diri. Menurut Mead. Keunikan konsep diri pada setiap individu pun relatif berbeda-beda karena antara individu satu dengan individu lainnnya mempunyai pola pikir yang berbeda. orang mampu menelaah dirinya sendiri sebagaimana orang lain menelaah dia (Ritzer. Sementara disisi lain bersama refleksivitasnya. maka dimungkinkan terjadi interaksi.Konsep diri terbentuk dan dapat berubah karena interaksi dengan lingkungannya. Mekanisme umum perkembangan diri adalah refleksivitas atau kemampuan untuk meletakkan diri kita secara bawah sadar ditempat orang lain serta bertindak sebagaimana mereka bertindak. tubuh bukanlah diri dan baru menjadi diri ketika pikiran telah berkembang. pendapat dan penilaian atau evaluasi dari orang lain. karena diri adalah proses mental. 1. Konsep diri merupakan sifat yang unik pada manusia. Akibatnya. 2004). Namun.Konsep diri (self consept) merupakan suatu bagian yang penting dalam setiap pembicaraan tentang kepribadian manusia. diri adalah sesuatu yang mendasar bagi perkembangan pikiran.

dan makna tersebut berkembang dan disempurnakan ketika interaksi tersebut berlangsung (Mulyana. Teori interaksi simbolik fokus pada soal diri sendiri dengan segala atribut luarnya. 3. perbuatan. Setiap interaksi manusia selalu dipenuhi dengan simbol-simbol. Orang lain adalah refleksi untuk melihat diri sendiri. individu membayangkan bagaimana peniliaian mereka atas penampilan individu tersebut. 2001). makna tersebut didapatkan dari interaksi dengan orang lain. 3. seperti kebanggaan atau malu.2. Littlejohn menyatakan bahwa interaksi simbolik mengandung inti dasar premis tentang komunikasi dan masyarakat (Littlejohn. 1996). Lewat imajinasi. menampilkan perilaku yang rumit dan sulit diramalkan. Dari penjelasan ini berarti bahwa teori interaksi simbolik merupakan perspektif yang memperlakukan individu sebagai diri sendiri sekaligus diri sosial. Teori interaksi simbolik melihat individu sebagai pelaku aktif. 2. individu mengembangkan bagaimana dia tampil bagi orang lain. perilaku. Deddy Mulyana mengutip istilah yang digunakan Cooley yaitu looking glass self (Mulyana. 2001). Bagi Mead. baik dalam kehidupan sosial maupun kehidupan diri sendiri. “Diri” juga merupakan proses sosial. tujuan. kita mempersepsi dalam pikiran orang lain suatu gambaran tentang penampilan kita. sebuah proses dimana para pelakunya memperlihatkan pada dirinya sendiri hal-hal yang dihadapinya. individu mengembangkan sejenis perasaan-diri. Sosiologi Pendidikan Page 41 . menafsirkan. “diri” lebih dari sebuah internalisasi struktur sosial dan budaya. reflektif dan kreatif. sebagai akibat membayangkan penilaian orang lain tersebut. Diri tidak terkungkung melainkan bersifat sosial. Gagasan diri ala Cooley ini terdiri dari tiga komponen. karakter teman-teman kita dan sebagainya. dan dengan berbagai cara kita terpangaruh olehnya. 1.

Lebih jauh lagi tradisi Chicago menganggap orang itu kreatif. lalu memberikan respon atas tindakan-tindakan itu. “Diri” disini bersifat aktif dan kreatif serta tidak ada satupun variabel-variabel sosial. budaya. aktor atau pelaku yang melakukan interaksi sosial dengan dirinya sendiri. dan bertindak berdasarkan peran tersebut. menurut Mead dilakukan dengan cara mengambil peran orang lain. inovatif. aliran Chicago School yang dimonitori oleh Herbert Blumer. Pertama. Sosiologi Pendidikan Page 42 . Blumer dan pengikut-pengikutnya menghindari pendekatan-pendekatan kuatitatif dan ilmiah dalam mempelajari tingkah laku manusia. Pendapat Mead tentang pikiran adalah bahwa pikiran mempunyai corak sosial.didalam situasi dimana ia bertindak dan merencanakan tindakannya itu melalui penafsirannya atas hal-hal tersebut. konsepsi tentang “aku” itu sendiri merupakan konsepsi orang lain terhadap individu tersebut. Blumer menekankan bahwa studi terhadap manusia tidak bisa dilakukan dengan cara yang sama seperti studi terhadap benda. individu mengambil pandangan orang lain mengenai dirinya seolah-olah pandangan tersebut adalah “dirinya” yang berasal dari “aku. Konsep interaksi pribadi (self interaction) dimana para pelaku menunjuk diri mereka sendiri berdasarkan pada skema Mead mengenai psikologi sosial.” Interaksi simbolik sering dikelompokan ke dalam dua aliran (school). percakapan dalam batin adalah percakapan antara “aku” dengan “yang lain” pada titik ini. melanjutkan tradisi humanistis yang dimulai oleh George Herbert Mead. maupun psikologis yang dapat memutuskan tindakan-tindakan “diri. Dalam hal ini.” Mead menyatakan bahwa konsep diri pada dasarnya terdiri dari jawaban individu atas pertanyaan mengenai “siapa aku” untuk kemudian dikumpulkan dalam bentuk kesadaran diri individu mengenai keterlibatannya yang khusus dalam seperangkat hubungan sosial yang sedang berlangsung. Atau dengan kalimat singkat. dan bebas untuk mendefinisikan segala situasi dengan berbagai cara dengan tidak terduga.

yaitu: 1. 6. walaupun Kuhn mengakui adanya proses dalam alam tingkah laku. Interaksionisme simbolik mengandung inti dasar pemikiran umum tentang komunikasi dan masyarakat. Sosiologi Pendidikan Page 43 . 5. 7. 2. ia menyatakan bahwa pendekatan struktural objektif lebih efektif daripada metode “lemah” yang digunakan oleh Blumer. Tingkah laku seseorang tidaklah mutlak ditentukan oleh kejadiankejadian pada masa lampau saja. 4. Kita tidak dapat memahami pengalaman seorang individu dengan mengamati tingkah lakunya belaka. yang merefleksikan interaksi yang telah terjadi antara seseorang dengan orang lain. Berbagai arti dipelajari melalui interaksi di antara orang-orang.Kedua Iowa School menggunakan pendekatan yang lebih ilmiah dalam mempelajari interaksi. Jerome Manis dan Bernard Meltzer memisahkan tujuh hal mendasar yang bersifat teoritis dan metodologis dari interaksionisme simbolik. Arti muncul dari adanya pertukaran simbol-simbol dalam kelompokkelompok sosial. Manford Kuhn dan Carl Couch percaya bahwa konsep-konsep interaksionis dapat dioperasikan. Tingkah laku terbentuk atau tercipta di dalam kelompok sosial selama proses interaksi. Pikiran terdiri dari percakapan internal. Orang-orang dapat mengerti berbagai hal dengan belajar dari pengalaman. Tetapi. Pengalaman dan pengertian seseorang akan berbagai hal harus diketahui pula secara pasti. Persepsi seseorang selalu diterjemahkan dalam simbolsimbol. Seluruh struktur dan institusi sosial diciptakan dari adanya interaksi di antara orang-orang. tetapi juga dilakukan secara sengaja. 3.

maka hal tersebut banyak mewarnai pemikiran-pemikiran dramaturgisnya. atau anggota komunitas tertentu dalam waktu yang relative lama. Budaya merupakan pengetahuan yang diperoleh seseorang dan digunakan untuk menginterpretasikan pengalaman yang menghasilkan sesuatu (Spradly dalam Tjipto. merepresentasikan apa yang mereka maksudkan untuk berkomunikasi dengan sesamannya. Sosiologi Pendidikan Page 44 . Dalam pengertian ini budaya merangkum apa yang dilakukan orang. Peneliti Etnografi agar dapat mencapai tujuan perlu memperhatikan prinsipprinsip sebagai berikut: 1) Peneliti dituntut memiliki pengetahuan dan dedikasi yang tingi. 3. Usaha untuk mendiskripsikan budaya atau aspek budaya disebut (ethnography). Teori Etnografi Menurut Bogdan dan Bilken dalam Tjipto (2009: 83) dijelaskan bahwa kerangka kerja yang digunakan dalam melaksanakan studi antropologi adalah konsep tentang kebudayaan (the concept of culture). Beberapa antropologi mendefinisikan kebudayaan sebagai “Pengetahuan perolehan yang digunakan orang untuk menafsirkan pengalaman dan membuahkan tingkahlaku” (Spradly dalam Tjipto. sebab etnografi diperlukan pengamatan. 2009: 83). Itulah interaksi simbolik dan itu pulalah yang mengilhami perspektif dramaturgis.Pada dasarnya interaksi manusia menggunakan simbol-simbol. 2) Etnografi umumnya tidak tertarik dengan generalisasi seperti pada penelitian psikometrik. dan barang-barang yang dibuat dan dipergunakan. seorang peneliti meungkin berfikif tentang perristiwa dan kemudian menjelaskan peristiwa itu (menjelaskan tingkahlaku orang dengan jalan mendiskripsikan apa yang dialaminya). tetapi lebih tertarik untuk memotret kondisi apa adanya. interaksi dengan responden. 2009: 83). dimana Erving Goffman sebagai salah satu eksponen interaksionisme simbolik. cara manusia menggunakan simbol. Untuk mendiskripsikan budaya dalam perspektif ini.

3) Fokus etnografi adalah situasi nyata dan setting secra alamiah dimana orang beraktifitas dan berhubungan sosial dengan anggota masyarakat lainnya. karena peneliti lebih percaya bahwa perilaku manusia tidak dapat dimengerti dengan lebih baik tanpa meleburkan diri bersama (incorporating) kedalam pengamatan persepsi subjek serta system kepercayaan diri mereks yang terlibat dalam penelitian. 4) Etnografi menempatkan pada perlunya koleksi dan interpretasi data dari hipotesis yang sudah diterapkan. Dari hipotesis yang dibangun peneliti. etnografi dapat dibedakan menjadi dua. Sosiologi Pendidikan Page 45 . Sedangakan dalam penelitian Qualitatif Phenomenological Hypothesis lebih mengkonsentrasikan etnografi dibnding dengan psikometrik. yaitu Naturalistic Ecological Hypotheses (NEH) dan Qualitative Phenomenological Hypothesis (QHP). memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku subjek tersebut. Naturalistic Ecological Hypothesis menyatakan bahwa konteks duania perilaku terjadi pada subjek yang diteliti. 5) Etnografi bergerak dari data dalam mencari hipotesis. bukan hipotesis mencari data.

F. Penutup Sosiologi Pendidikan Page 46 .

Theories of Human Communication.J. 1960. Mulyana. 32-70 Lewis Coser (ed). Wadsworth. Continuities in the Study of Social Conflict. page. 71 G. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher. hlm. (ed. 2008. 1965. Bandung. Deddy dan Solatun. Eaglewood Cliffts. Hartoto. 142-189 Sosiologi Pendidikan Page 47 .page. Sosiologi pendidikan. Ciputat Press Mulyana. The Function of Social Conflict. Peter. Jakarta: PT. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 2001.: Stanford University Press. 1996.: Prentice-Hall. page. Contohcontoh Penelitian Kualitatif dengan Pendekatan Praktis. Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya. Belmont California. Sosiologi Pendidikan Suatu Analisis Sosiologi tentang Pelbagai Problem Pendidikan. Teori-Teori Sosial.. 2004. Bernard Raho. 1956. Metodologi Penelitian Kualitatif. 2002. New Jersey: Prentice-Hall. M. 1967. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Remaja Rosdakarya.Teori Sosiologi Modern. Bandung.). 5th Edition. 56-65 Lewis Coser . Calif. George Simmel. 1959. New York: Free Press. Jakarta: Rineka Cipta. Englewood Cliffs.Class and Class Conflict in Industrial Society. 113-120 Muhyi Batu Bara. Metode Penelitian Komunikasi. Poloma. Deddy. Jakarta: Rineka Cipta. Ralf Dahrendorf. Remaja Rosdakarya. page. 2007. page. 54 Fred. Lewis Coser. 2006. New York: Free Press. Margaret. 1994. N. Stephen W. You Can Trust the Communists. Sosiologi Kontemporer. Ary. Inc. Gunawan. 2007. hlm. 151-210 Littlejohn. Defenisi Sosiologi Pendidikan.Daftar Pustaka Beilharz. Schwarz.

Bantul. Calif. Karl Marx: Selected Writings in Sociology and Social Philosphy. Victoria: Penguin Books.Essays in the Theory of Society. Kartasura : Fairus Media Sunarto. Veeger. 1997. 1968. Karel J. 2000.: Stanford University Press. Subadi. Kamanto. Sosiologi: Sejarah Teori dan Aplikasinya. Sosiologi Pendidikan Page 48 . dkk. page. Pengantar Sosiologi Edisi Kedua. 34 Usman. Pengantar Sosiologi. page.Ralf Dahrendorf. Cipto. Cetakan Kelima. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama – APTIK. Yogyakarta: CIRed-Jejak Pena. Jakarta: LPFE-UI Tom Bottomore. Sosiologi dan Sosioogi Pendidikan. Stanford. 2004. 1979. George. 2004. Teori Sosiologi.2009. Kreasi Wacana Offset. 56-89 Ritzer. Sunyoto.

com Sosiologi Pendidikan Page 49 .Dikirim tjiptosubadi@yahoo.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->