P. 1
Hakikat Sabar

Hakikat Sabar

|Views: 11|Likes:

More info:

Published by: Makiyatul Munawwaroh on Jun 02, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/20/2013

pdf

text

original

Hakikat Sabar (1

)
Kategori Akhlaq dan Nasehat, Tazkiyatun Nufus | 02-07-2008 | 87 Komentar

Sabar adalah pilar kebahagiaan seorang hamba. Dengan kesabaran itulah seorang hamba akan terjaga dari kemaksiatan, konsisten menjalankan ketaatan, dan tabah dalam menghadapi berbagai macam cobaan. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Kedudukan sabar dalam iman laksana kepala bagi seluruh tubuh. Apabila kepala sudah terpotong maka tidak ada lagi kehidupan di dalam tubuh.” (Al Fawa‟id, hal. 95) Pengertian Sabar Syaikh Muhammad bin Shalih Al „Utsaimin rahimahullah berkata, “Sabar adalah meneguhkan diri dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, menahannya dari perbuatan maksiat kepada Allah, serta menjaganya dari perasaan dan sikap marah dalam menghadapi takdir Allah….” (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24) Macam-Macam Sabar Syaikh Muhammad bin Shalih Al „Utsaimin rahimahullah berkata, “Sabar itu terbagi menjadi tiga macam: 1. Bersabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah 2. Bersabar untuk tidak melakukan hal-hal yang diharamkan Allah 3. Bersabar dalam menghadapi takdir-takdir Allah yang dialaminya, berupa berbagai hal yang menyakitkan dan gangguan yang timbul di luar kekuasaan manusia ataupun yang berasal dari orang lain (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24) Sebab Meraih Kemuliaan Di dalam Taisir Lathifil Mannaan Syaikh As Sa‟di rahimahullah menyebutkan sebab-sebab untuk menggapai berbagai cita-cita yang tinggi. Beliau menyebutkan bahwa sebab terbesar untuk bisa meraih itu semua adalah iman dan amal shalih. Di samping itu, ada sebab-sebab lain yang merupakan bagian dari kedua perkara ini. Di antaranya adalah kesabaran. Sabar adalah sebab untuk bisa mendapatkan berbagai kebaikan dan menolak berbagai keburukan. Hal ini sebagaimana diisyaratkan oleh firman Allah ta‟ala, “Dan mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat.” (QS. Al Baqarah [2]: 45). Yaitu mintalah pertolongan kepada Allah dengan bekal sabar dan shalat dalam menangani semua urusan kalian. Begitu pula sabar menjadi sebab hamba bisa meraih kenikmatan abadi yaitu surga. Allah ta‟ala berfirman kepada penduduk surga, “Keselamatan atas kalian berkat kesabaran kalian.” (QS. Ar Ra‟d [13] : 24). Allah juga berfirman, “Mereka itulah orang-orang yang dibalas dengan kedudukan-kedudukan tinggi (di surga) dengan sebab kesabaran mereka.” (QS. Al Furqaan [25] : 75). Selain itu Allah pun menjadikan sabar dan yakin sebagai sebab untuk mencapai kedudukan tertinggi yaitu kepemimpinan dalam hal agama. Dalilnya adalah firman Allah ta‟ala, “Dan Kami menjadikan di antara mereka (Bani Isra‟il) para pemimpin yang memberikan petunjuk dengan titah Kami, karena mereka mau bersabar dan meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. As Sajdah [32]: 24) (Lihat Taisir Lathifil Mannaan, hal. 375) Sabar Dalam Ketaatan Sabar Dalam Menuntut Ilmu Syaikh Nu‟man mengatakan, “Betapa banyak gangguan yang harus dihadapi oleh seseorang yang berusaha menuntut ilmu. Maka dia harus bersabar untuk menahan rasa lapar, kekurangan harta, jauh dari keluarga dan tanah airnya. Sehingga dia harus bersabar dalam upaya menimba ilmu dengan cara menghadiri pengajian-pengajian, mencatat dan memperhatikan penjelasan serta mengulang-ulang pelajaran dan lain sebagainya. Semoga Allah merahmati Yahya bin Abi Katsir yang pernah mengatakan, “Ilmu itu tidak akan didapatkan dengan banyak mengistirahatkan badan”, sebagaimana tercantum dalam shahih Imam Muslim. Terkadang seseorang harus menerima gangguan dari orang-orang yang terdekat darinya, apalagi orang lain yang hubungannya jauh darinya, hanya karena kegiatannya menuntut ilmu. Tidak ada yang bisa bertahan kecuali orang-orang yang mendapatkan anugerah ketegaran dari Allah.” (Taisirul wushul, hal. 12-13) Sabar Dalam Mengamalkan Ilmu

Namun. Sesungguhnya hal itu termasuk pertolongan yang didapatkan oleh da‟i ini meskipun dia sudah mati. maka cukuplah Allah sebagai penolong bagi kita. Ibunya Sumayyah disiksa dengan cara yang sangat keji sehingga mati sebagai muslimah pertama yang syahid di jalan Allah. inilah kekuatan iman. Ingatlah bagaimana siksaan tidak berperikemanusiaan yang dialami oleh Ammar bin Yasir dan keluarganya. (Lihat Tegar di Jalan Kebenaran.” (QS. hal. Dan kita sekarang ini berada di zaman di mana orang yang berpegang teguh dengan agamanya seperti orang yang sedang menggenggam bara api.Syaikh Nu‟man mengatakan. hal. yang sanggup bertahan dan kokoh menjulang walaupun diterpa oleh berbagai badai dan topan kehidupan. Waraqah bin Naufal mengatakan kepada Nabi kita shallallahu „alaihi wa sallam. Sehingga gangguan berupa ucapan harus diterimanya. demikian pula orang-orang bodoh yang tidak kenal agama kecuali ajaran warisan nenek moyang mereka.” (Taisirul wushul. karena di saat itu dia tengah menempati posisi sebagaimana para Rasul. “Dan orang yang ingin beramal dengan ilmunya juga harus bersabar dalam menghadapi gangguan yang ada di hadapannya. Namun dengan tegas Sa‟ad bin Abi Waqqash mengatakan. “Tidaklah ada seorang pun yang datang dengan membawa ajaran sebagaimana yang kamu bawa melainkan pasti akan disakiti orang. hal. Begitu pula jika dia memerangi kemaksiatan dan berbagai kemungkaran niscaya akan ditemuinya para pemuja syahwat. “Demikianlah. 122-123) Lihatlah keteguhan Sa‟ad bin Abi Waqqash radhiyallahu „anhu yang dipaksa oleh ibunya untuk meninggalkan Islam sampai-sampai ibunya bersumpah mogok makan dan minum bahkan tidak mau mengajaknya bicara sampai mati. begitu pula para pengikut dan orang-orang yang mengenyangkan perut mereka dengan cara itu. tidaklah ada seorang Rasul pun yang datang sebelum mereka melainkan mereka (kaumnya) mengatakan. Dialah sebaik-baik penolong” (Taisirul wushul. hal. Lihatlah para Rasul shalawatullaahi wa salaamuhu „alaihim. Maka wajib bagi para da‟i untuk bersabar dalam melancarkan dakwahnya dan tetap konsisten dalam menjalankannya. 13-14) Sabar dan Kemenangan Syaikh Muhammad bin Shalih Al „Utsaimin rahimahullah berkata. maka mereka pun bersabar menghadapi pendustaan terhadap mereka dan mereka juga disakiti sampai tibalah pertolongan Kami. demi Allah. Semakin besar gangguan yang diterima niscaya semakin dekat pula datangnya kemenangan. Adz Dzariyaat [51]: 52).” Sehingga jika dia mengajak kepada tauhid didapatinya para da‟i pengajak kesyirikan tegak di hadapannya. bahkan terkadang dengan kedua-keduanya. „Dia adalah tukang sihir atau orang gila‟. hendaknya para da‟i tabah dan bersabar dalam menghadapi itu semua…” (Syarh Tsalatsatul Ushul. sedetikpun ananda tidak akan meninggalkan agama ini…” (Lihat Tegar di Jalan Kebenaran. Yaitu ketika Allah menundukkan hati-hati umat manusia sehingga menerima dakwahnya serta berpegang teguh dengannya. “Wahai Ibu. Al Furqaan [25]: 31).” (QS. . 133) Inilah akidah. Apabila dia melaksanakan ibadah kepada Allah menuruti syari‟at yang diajarkan Rasulullah niscaya akan ada ahlul bida‟ wal ahwaa‟ yang menghalangi di hadapannya. 24) Sabar di atas Islam Ingatlah bagaimana kisah Bilal bin Rabah radhiyallahu „anhu yang tetap berpegang teguh dengan Islam meskipun harus merasakan siksaan ditindih batu besar oleh majikannya di atas padang pasir yang panas (Lihat Tegar di Jalan Kebenaran. Begitu juga Allah „azza wa jalla berfirman. Hendaknya dia bersabar dalam menjalani agama Allah yang sedang didakwahkannya dan juga hendaknya dia bersabar dalam menghadapi rintangan dan gangguan yang menghalangi dakwahnya. bid‟ah dan kemaksiatan yang selama ini mereka tekuni. Mereka semua akan berusaha menghalang-halangi dakwahnya karena dia telah menghalangi mereka dari kesyirikan. “Dan demikianlah Kami menjadikan bagi setiap Nabi ada musuh yang berasal dari kalangan orang-orang pendosa. 13) Sabar Dalam Berdakwah Syaikh Nu‟man mengatakan. andaikata ibu memiliki seratus nyawa kemudian satu persatu keluar. 122). kefasikan dan dosa besar serta orang-orang yang turut bergabung dengan kelompok mereka. “Dan sungguh telah didustakan para Rasul sebelummu. Dan bukanlah pertolongan/kemenangan itu terbatas hanya pada saat seseorang (da‟i) masih hidup saja sehingga dia bisa menyaksikan buah dakwahnya terwujud. dan terkadang berbentuk gangguan fisik. hal. “Begitu pula orang yang berdakwah mengajak kepada agama Allah harus bersabar menghadapi gangguan yang timbul karena sebab dakwahnya. “Allah ta‟ala berfirman kepada Nabi-Nya. Mereka juga disakiti dengan ucapan dan perbuatan sekaligus. Allah ta‟ala berfirman yang artinya. Al An‟aam [6]: 34). Sedangkan apabila dia mengajak kepada ajaran As Sunnah maka akan ditemuinya para pembela bid‟ah dan hawa nafsu.” (QS. Akan tetapi yang dimaksud pertolongan itu terkadang muncul di saat sesudah kematiannya. hal.

Ingatlah firman Allah ta‟ala yang artinya. “Macam ketiga dari macam-macam kesabaran adalah Bersabar dalam menghadapi takdir dan keputusan Allah serta hukum-Nya yang terjadi pada hamba-hambaNya.” (HR. “Maka masingmasing (mereka itu) kami siksa disebabkan dosanya. “Dan ikutilah kejelekan dengan kebaikan. ada pula yang binasa karena disambar petir. Bersama kesusahan pasti akan ada kemudahan. “Dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan sebagai seorang muslim. anak. “Bersabar menahan diri dari kemaksiatan kepada Allah. Ahmad. “Syaikh memberikan isyarat terhadap sebuah ayat. alam kubur dan akhirat siap menimpanya apabila dia melakukannya. dituduh yang bukan-bukan. kehilangan jiwa dari saudara yang tercinta. sesungguhnya datangnya kemenangan itu bersama dengan kesabaran. dan ada juga di antara mereka yang dibenamkan oleh Allah ke dalam perut bumi. hal. Ali „Imran [3] : 102). Bersabar menghadapi berbagai musibah yang menimpa diri. hal. dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka. Sebagaimana difirmankan Allah „azza wa jalla. didustakan. Abdu bin Humaid di dalam Musnadnya [636] (Lihat Durrah Salafiyah. dan di antara mereka ada yang kami tenggelamkan. ada pula yang dimusnahkan dengan suara yang mengguntur. kehilangan tempat tinggal atau kekurangan bahan makanan. baik yang terkait dengan nyawa. Bersama kesempitan pasti akan ada jalan keluar. Jadi. (Syarh Arba‟in Ibnu „Utsaimin. diperangi. Dan tidaklah umat-umat terdahulu binasa kecuali karena disebabkan kemaksiatan mereka. Di antara mereka ada yang ditenggelamkan oleh Allah ke dalam lautan. baik yang berupa kehilangan harta. “Ketahuilah. maka kemaksiatan kepada Allah merupakan kejahatan yang sangat mungkar yang akan menimbulkan kemurkaan. akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.Saudaraku. 200) Sabar Menjauhi Maksiat Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkhali mengatakan. hal. Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa Nabi shallallahu „alaihi wa sallam bersabda. hal. Dan hendaknya dia mengikuti kejelekan-kejelekannya dengan berbuat kebaikan-kebaikan. Ath Thalaq [65] : 23). Huud [11] : 114). Mereka disakiti. Janganlah mendekatinya. Ingatlah juga janji Allah yang artinya. Maka bersabar itu harus. sebagaimana hal itu dikabarkan oleh Allah „azza wa jalla di dalam muhkam al-Qur‟an. salah satu macam kesabaran adalah bersabar untuk menahan diri dari perbuatan maksiat kepada Allah. Dan apabila seseorang sudah terlanjur terjatuh di dalamnya hendaklah dia segera bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya. 15-17) Sabar Menerima Takdir Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkhali mengatakan. dan ada juga di antara mereka yang di rubah bentuk fisiknya (dikutuk). 15-17) Sabar dan Tauhid . sehingga dia berusaha menjauhi kemaksiatan. “Sesungguhnya kebaikan-kebaikan akan menghapuskan kejelekan-kejelekan. Dan juga sebagaimana disabdakan oleh Nabi shallallahu „alaihi wa sallam.” (QS.” Pentahqiq kitab tersebut memberikan catatan. Al „Ankabuut [29] : 40).” (HR. bahkan ada juga yang dikucilkan. ketahuilah sesungguhnya cobaan yang menimpa kita pada hari ini. niscaya kebaikan itu akan menghapuskannya. harta dan lain sebagainya yang merupakan takdir yang berjalan menurut ketentuan Allah di alam semesta…” (Thariqul wushul. Maka di antara mereka ada yang kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur. dan di antara mereka ada yang kami benamkan ke dalam bumi. III/624). kemarahan serta mengakibatkan turunnya siksa-Nya yang sangat pedih. itu semua jauh lebih ringan daripada cobaan yang dialami oleh salafush shalih dan para ulama pembela dakwah tauhid di masa silam. begitu pula tidak ada suatu kejadian atau urusan melainkan Allah lah yang mentakdirkannya. 148) dan Al Haakim dalam Mustadrak „ala Shahihain. bahkan ada juga yang sampai meninggal di dalam penjara. karena bahaya dunia. Karena hak Allah adalah untuk ditaati tidak boleh didurhakai. “Bukankah itu semua terjadi hanya karena satu sebab saja yaitu maksiat kepada Allah tabaaraka wa ta‟ala. dll. meminta ampunan dan menyesalinya di hadapan Allah.” (QS. Karena tidak ada satu gerakan pun di alam raya ini. “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya akan Allah berikan jalan keluar dan Allah akan berikan rezeki kepadanya dari jalan yang tidak disangka-sangka. Ada yang tertimpa kemiskinan harta. dihasankan Al Albani dalam Misykatul Mashaabih 5043)…” (Thariqul wushul. namun sama sekali itu semua tidaklah menggoyahkan pilar keimanan mereka.” (QS.” (QS.

ash shabru „ala aqdaarillah” artinya: salah satu ciri karakteristik iman kepada Allah adalah bersabar tatkala menghadapi takdir-takdir Allah. Sehingga setiap . tidak punya kesabaran untuk menjauhi maksiat serta tidak sabar tatkala tertimpa takdir yang menyakitkan maka dia kehilangan banyak sekali bagian keimanan” Perkataan beliau “Bab Minal imaan.” Maka hakikat pengutusan Nabi „alaihish shalaatu was salaam adalah menjadi ujian. Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam pernah bersabda “Allah ta‟ala berfirman: „Sesungguhnya Aku mengutusmu dalam rangka menguji dirimu. atau berupa larangan syari‟at (untuk tidak mengerjakan sesuatu). Dan Aku menguji (manusia) dengan dirimu‟. Sebab orang yang tidak punya kesabaran dalam menjalankan ketaatan. Adapun ujian dengan dibebani ajaran-ajaran agama adalah sebagaimana tercermin dalam firman Allah jalla wa „ala kepada Nabi-Nya shallallahu „alaihi wa sallam di dalam sebuah hadits qudsi riwayat Muslim dari „Iyaadh bin Hamaar. sehingga ia pun bersabar menanggung ketentuan takdir Allah. “Sesungguhnya sabar terbagi tiga. sabar dalam berbuat taat. Maka dengan perkataan “Minal imaan ash shabru” beliau ingin memberikan penegasan bahwa sabar termasuk salah satu cabang keimanan. Imam Ahmad rahimahullah berkata. Ungkapan rasa marah dan tak mau sabar itulah yang banyak muncul dalam diri orang-orang tatkala mereka mendapatkan ujian berupa ditimpakannya musibah. ash-shabru „ala aqdarillah” (Bab Bersabar dalam menghadapi takdir Allah termasuk cabang keimanan kepada Allah) Syaikh Shalih bin Abdul „Aziz Alusy Syaikh hafizhahullahu ta‟ala mengatakan dalam penjelasannya tentang bab yang sangat berfaedah ini. Secara bahasa sabar artinya tertahan. semoga Allah merahmati beliau. Maka menurut istilah syari‟at sabar artinya: Menahan lisan dari mengeluh. “Bab Minal iman billah. Hal itu beliau lakukan dalam rangka menjelaskan bahwasanya sabar termasuk bagian dari kesempurnaan tauhid. Hal ini dikarenakan ibadah merupakan perintah syari‟at (untuk mengerjakan sesuatu). Hakikat penghambaan adalah tunduk melaksanakan perintah syari‟at serta menjauhi larangan syari‟at dan bersabar menghadapi musibah-musibah. Sedangkan hakikat penghambaan yang sejati tidak akan terealisasi tanpa kesabaran. tanpa ada perlawanan atau peperangan. Ia disebut sebagai sabar karena di dalamnya terkandung penahanan lisan untuk tidak berkeluh kesah. Dengan alasan itulah beliau membuat bab ini. Begitu pula saat menghadapi keputusan takdir kauni (yang menyakitkan) tentu juga diperlukan bekal kesabaran. “Qutila fulan shabran” (artinya si polan dibunuh dalam keadaan “shabr”) yaitu tatkala dia berada dalam tahanan atau sedang diikat lalu dibunuh. Dia berkata. Beliau juga memberikan penegasan melalui sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim yang menunjukkan bahwa niyaahah (meratapi mayit) itu juga termasuk salah satu cabang kekufuran. Ia menempati relung-relung hati. “Di dalam al-Qur‟an kata sabar disebutkan dalam 90 tempat lebih. menahan hati dari marah dan menahan anggota badan dari menampakkan kemarahan dengan cara merobek-robek sesuatu dan tindakan lain semacamnya. untuk menerangkan bahwa sabar adalah hal yang wajib dilakukan tatkala tertimpa takdir yang terasa menyakitkan. Sebagaimana kekufuran juga bercabang-cabang. Sabar termasuk kewajiban yang harus ditunaikan oleh hamba. Sabar adalah bagian iman. “Sabar tergolong perkara yang menempati kedudukan agung (di dalam agama). Dengan demikian ujian itu bisa melalui sarana ajaran agama dan melalui sarana keputusan takdir. gerak-gerik lisan dan tindakan anggota badan. Dengan hal itu beliau juga ingin memberikan penegasan bahwa bersabar dalam rangka menjalankan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan hukumnya juga wajib. Untuk melaksanakan berbagai kewajiban tentu saja dibutuhkan bekal kesabaran. Ujian yang ada dengan diutusnya beliau sebagai rasul ialah dengan bentuk perintah dan larangan.Syaikh Al Imam Al Mujaddid Al Mushlih Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu ta‟ala membuat sebuah bab di dalam Kitab Tauhid beliau yang berjudul. atau bisa juga berupa ujian dalam bentuk musibah yang ditimpakan Allah kepada seorang hamba supaya dia mau bersabar ketika menghadapinya. Musibah yang dijadikan sebagai batu ujian oleh Allah jalla wa „ala untuk menempa hamba-hamba-Nya. Ia termasuk salah satu bagian ibadah yang sangat mulia. Oleh sebab itulah sebagian ulama mengatakan. Orang Arab mengatakan. Dan demikianlah inti makna kesabaran yang dipakai dalam pengertian syar‟i. menahan hati untuk tidak merasa marah dan menahan anggota badan untuk tidak mengekspresikan kemarahan dalam bentuk menampar-nampar pipi. sebagaimana kedudukan kepala bagi jasad. merobek-robek kain dan semacamnya. Keimanan itu mempunyai cabang-cabang. Sedangkan adanya ujian jelas membutuhkan sikap sabar dalam menghadapinya. Untuk meninggalkan berbagai larangan dibutuhkan bekal kesabaran. sabar dalam menahan diri dari maksiat dan sabar tatkala menerima takdir Allah yang terasa menyakitkan.” Karena amat sedikitnya dijumpai orang yang sanggup bersabar tatkala tertimpa musibah maka Syaikh pun membuat sebuah bab tersendiri.

yaitu terhadap musibah itu sendiri.muslim.” (At Tamhiid. Adapun ridha memiliki dua sudut pandang yang berlainan: Sudut pandang pertama: terarah kepada perbuatan Allah jalla wa „ala. Muslim) Syaikh Al „Utsaimin menjelaskan bahwa manusia dalam menghadapi takdir Allah yang berupa kesenangan dan kesulitan terbagi menjadi dua. Bukan kewajiban atas hamba untuk merasa ridha dengan sebab kehilangan hartanya. Dan apabila dia tertimpa kesulitan maka dia pun bersabar. Tidaklah hal itu didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Rasa ridha terhadap perbuatan Allah ini termasuk salah satu kewajiban yang harus ditunaikan. . Maka ini baik baginya. Tazkiyatun Nufus | 02-07-2008 | 12 Komentar Hukum Merasa Ridha Terhadap Musibah Syaikh Shalih Alusy Syaikh hafizhahullahu ta‟ala menjelaskan. Dengan demikian dia memperoleh pahala orang-orang yang sabar. Inilah salah satu ciri keimanan. Maka itu pun baik baginya. semua urusannya adalah baik. Apabila dia tertimpa kesenangan maka bersyukur. akan tetapi harus dilengkapi dengan melaksanakan berbagai ketaatan kepada Allah.id Hakikat Sabar (2) Kategori Akhlaq dan Nasehat. Adapun orang yang beriman bagaimanapun kondisinya selalu baik baginya. dia adalah salah satu kewajiban yang harus ditunaikan. Sehingga inipun baik bagi dirinya. Karena syukur bukan saja mencakup ucapan syukur di mulut saja. Oleh sebab itu dalam konteks tersebut (ridha yang hukumnya wajib) Alqamah mengatakan. Seorang hamba merasa ridha terhadap perbuatan Allah yang menetapkan terjadinya segala sesuatu. Bukan kewajiban atas hamba untuk merasa ridha dengan sakit yang dideritanya.or. Bersabar menghadapi musibah hukumnya wajib. Apabila dia tertimpa kesulitan maka dia bersabar dan tabah menunggu datangnya jalan keluar dari Allah serta mengharapkan pahala dengan kesabarannya itu. Hal itu dikarenakan di dalam sabar terkandung meninggalkan sikap marah dan tidak terima terhadap ketetapan dan takdir Allah. hal. 392-393) Sabar dan Syukur Dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinaan radhiyallahu „anhu. Maka hukum merasa ridha terhadapnya adalah mustahab. Sedangkan kesimpulan yang pas untuk itu adalah sebagai berikut. bukan wajib. Bukan kewajiban atas hamba untuk merasa ridha dengan sebab kehilangan anaknya. beliau mengatakan. “Hukum merasa ridha dengan adanya musibah adalah mustahab (sunnah). Dia merasa puas dengan hikmah dan kebijaksanaan Allah.cabang kekafiran itu harus dihadapi dengan cabang keimanan.389-391) -bersambung insya Allah*** Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi Artikel www. Dia merasa ridha dan puas dengan perbuatan Allah. hal. Sehingga orang yang beriman memiliki dua nikmat ketika mengalami kesenangan yaitu nikmat dunia dengan merasa senang dan nikmat diniyah dengan bersyukur. “Sungguh menakjubkan urusan orang yang beriman. “Ayat ini berbicara tentang seorang lelaki yang tertimpa musibah dan dia menyadari bahwa musibah itu berasal dari sisi Allah maka diapun merasa ridha” yakni merasa puas terhadap ketetapan Allah “dan ia bersikap pasrah”. Namun hal ini hukumnya mustahab (disunnahkan). yaitu kaum beriman dan kaum yang tidak beriman. Oleh karenanya banyak orang yang kesulitan membedakan antara ridha dengan sabar. Meratapi mayit adalah sebuah cabang kekafiran maka dia harus dihadapi dengan sebuah cabang keimanan yaitu bersabar terhadap takdir Allah yang terasa menyakitkan” (At Tamhiid. Meninggalkan perasaan itu hukumnya haram dan menafikan kesempurnaan tauhid (yang harus ada). Karena ia mengetahui musibah itu datangnya dari sisi (perbuatan) Allah jalla jalaaluhu.” (HR. Sedangkan apabila seorang mukmin menerima nikmat diniyah maupun duniawiyah maka dia bersyukur yaitu dengan melaksanakan ketaatan kepada Allah. Maka itu baik baginya. Sudut pandang kedua: terarah kepada kejadian yang diputuskan. “Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam pernah bersabda. Dia merasa ridha terhadap pembagian jatah yang didapatkannya dari Allah jalla wa „ala.

Karena ia menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa. wal „iyaadzu billaah. I/107-108) Hikmah di Balik Musibah Dari Anas. Sebagaimana halnya orang yang dengan musibahnya bisa melahirkan sikap sabar dan tunduk melaksanakan ketaatan. Apabila tertimpa kesulitan mereka tidak mau bersabar. Ia juga diriwayatkan oleh Al Haakim dalam Al Mustadrak (1/349. Setelah dosanya terhapus karenanya maka muncullah sesudahnya rahmat (kasih sayang dari Allah).” (QS. 353-354) Doa Apabila Tertimpa Musibah Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji‟uun. maka musibah yang menimpa orang semacam ini sebenarnya adalah nikmat diniyah. Mereka memakannya padahal itu haram bagi mereka dan pada hari kiamat nanti mereka akan disiksa karenanya.” (QS. lihat Hishnul Muslim. mereka berada dalam keadaan yang buruk sekali. Dan kita pasti akan kembali kepada-Nya. Musibah itu sendiri dijadikan oleh Allah sebagai sebab penghapus dosa dan kesalahan. Maka kesenangan yang dialami oleh orang-orang kafir di dunia ini kelak di akhirat akan berubah menjadi siksaan. Sedangkan apabila mendapatkan kesenangan dia tidak bersyukur kepada Allah. “Apabila Allah menginginkan kebaikan bagi hamba-Nya. bila ditilik dari sudut pandang musibah yang menimpa agamanya. Maka bagi orang semacam ini kesehatan lebih baik baginya. hal.” (Hadits riwayat At Tirmidzi dengan nomor 2396 di dalam Az Zuhud. memprotes takdir. 4/376 dan 377). Muslim. begitu pula derajatnya pun akan terangkat. hal. Hal ini bila ditilik dari sisi dampak yang timbul setelah dia mengalami musibah. wal „iyaadzu billaah. Ya Allah. Dan apabila Allah menghendaki keburukan pada hamba-Nya maka Allah tahan hukuman atas dosanya itu sampai dibayarkan di saat hari kiamat. Dan apabila dia memuji Rabbnya atas musibah yang menimpanya niscaya dia juga akan memperoleh pujian-Nya. meninggalkan sebagian kewajiban yang dibebankan padanya dan malah berkubang dengan berbagai hal yang diharamkan sehingga berakibat semakin membahayakan agamanya. Musibah itu sendiri terjadi dengan perbuatan Rabb „azza wa jalla sekaligus sebagai rahmat untuk manusia. “Datangnya musibah-musibah itu adalah nikmat.Adapun orang kafir. “Katakanlah: Siapakah yang mengharamkan perhiasan Allah dan rezeki yang baik-baik yang dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya. dengan ringkas. akan tetapi lain halnya bagi orang kafir. Adapun orang-orang yang tidak beriman maka nikmat itu bukan menjadi hak mereka. Sehingga bagi orang kafir kesenangan maupun kesulitan adalah sama-sama buruknya. 96-97) . (Lihat Fathul Majiid. beliau berkata: Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda. Ia juga menuntut kesabaran sehingga orang yang tertimpanya justru diberi pahala. Hal ini sebagaimana difirmankan oleh Allah ta‟ala yang artinya. kecuali apabila musibah itu menyebabkan orang yang tertimpa musibah menjadi terjerumus dalam kemaksiatan yang lebih besar daripada maksiat yang dilakukannya sebelum tertimpa. Al Baqarah [2]: 156) Ampunan dari Allah atas dosa-dosanya juga akan didapatkan. Barang siapa yang diuji dengan suatu musibah lantas diberikan karunia kesabaran oleh Allah maka sabar itulah nikmat bagi agamanya. kekufuran yang jelas. dan berbagai maslahat agung lainnya yang muncul karenanya. (Lihat Syarh Riyadhush Shalihin. Ia tercantum dalam Ash Shahihah karya Al Albani dengan nomor 1220) Syaikhul Islam mengatakan. Dan gantikanlah ia dengan sesuatu yang lebih baik darinya.” “Sesungguhnya ada di antara orang-orang yang apabila mendapat ujian dengan kemiskinan. mencela masa dan caci maki lainnya. “Mereka itulah orang-orang yang diberikan pujian (shalawat) dari Rabb mereka dan memperoleh curahan rahmat. bukan dari sisi musibahnya itu sendiri. Allahumma‟jurnii fii mushiibatii wa ahklif lii khairan minhaa Artinya: “Sesungguhnya kita adalah milik Allah. Sehingga semua rezeki tersebut diperuntukkan bagi kaum beriman saja pada hari kiamat nanti.Al A‟raaf [7]: 32). mendoakan kebinasaan.” (HR. Musibah itulah yang melahirkan sikap kembali taat dan merendahkan diri di hadapan Allah ta‟ala serta memalingkan ketergantungan hatinya dari sesama makhluk. Bahkan ini termasuk nikmat yang paling agung. 2/632. atau bahkan penyakit hati. bahkan tidak mau terima. Maka seluruh musibah pada hakikatnya merupakan rahmat dan nikmat bagi keseluruhan makhluk. Beliau mengatakan: hadits ini hasan gharib. berikanlah ganjaran pahala atas musibah hamba. Bab tentang kesabaran menghadapi musibah. maka Allah segerakan hukuman atas dosanya di dunia. Karena orang kafir itu tidaklah menyantap makanan atau menikmati minuman kecuali dia pasti mendapatkan dosa karenanya. Apabila itu yang terjadi maka ia menjadi keburukan baginya. Katakanlah: itu semua adalah untuk orang-orang yang beriman di dalam kehidupan dunia yang akan diperuntukkan untuk mereka saja pada hari kiamat. dan Allah ta‟ala maha terpuji karena perbuatan-Nya tersebut. Meskipun hal itu bagi orang mukmin tidak dinilai dosa. Barang siapa yang merealisasikan sabar yang hukumnya wajib ini niscaya dia akan memperoleh balasan-balasan tersebut” Selesai perkataan Syaikhul Islam. sakit atau terluka justru menyebabkan munculnya sikap munafik dan protes dalam dirinya.

kesedihan maupun gangguan yang menimpa seorang mukmin melainkan Allah pasti menghapuskan sebagian dosa kesalahan-kesalahannnya. dengan kesempitan dan kelapangan. Asy Syura [42]: 30). . Yang demikian itu sebagaimana yang dialami oleh para Nabi dan Rasul „alaihimush shalatu was salaam. Dan juga dia bisa menjadi contoh untuk orang lain dalam hal kesabaran dan keyakinannya untuk berharap pahala. lalu bagaimanakah cara untuk mengetahui bahwa bencana itu merupakan ujian ataukah kemurkaan dari sisi Allah ? Syaikh Abdul „Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah menjawab. Seperti dengan mendoakan kecelakaan dan kebinasaan atau ucapan semacamnya. sebagaimana tercantum dalam firman Allah ta‟ala yang artinya. “Di antara manusia ada orang yang menyembah Allah di pinggiran. Bahkan terkadang bisa menjerumuskan pelakunya ke dalam kekafiran. diterjemahkan dari website beliau) Marah Saat Tertimpa Musibah ? Pertanyaan: Apa hukumnya orang yang marah tatkala tertimpa musibah ? Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah menjawab. Hal itu sebagaimana diceritakan di dalam sebuah hadits dari beliau shallallahu „alaihi wa sallam. Terkadang dengan hal itu Allah menguji mereka supaya bisa menaikkan derajat mereka serta meninggikan sebutan mereka dan juga demi melipatgandakan kebaikan-kebaikan mereka. Oleh karena itu musibah yang menimpa dirinya maka itu sesungguhnya timbul dikarenakan dosa-dosa yang diperbuatnya serta kekurangannya sendiri dalam menjalankan perintah Allah. Dan apabila dia tertimpa ujian maka dia pun berbalik ke belakang.” (QS. Allah ta‟ala berfirman yang artinya. penyakit. Apabila dia tertimpa kebaikan dia pun merasa tenang. “Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya maka Allah segerakan hukuman baginya di alam dunia.” Dan sabda beliau shallallahu „alaihi wa sallam. kemarahannya diekspresikan dengan ucapan. “Dan musibah apapun yang menimpa kalian maka itu terjadi karena ulah perbuatan tangan-tangan kalian. peningkatan pahala. (Majmu‟ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi‟ah juz 4. “Barang siapa yang diinginkan baik oleh Allah maka pasti Dia timpakan musibah kepadanya. entah berupa penyakit tertentu ataupun musibah yang lainnya. “Allah „azza wa jalla menguji hamba-hambaNya dengan bentuk kesenangan dan kesulitan.Pertanyaan: Apabila ada seseorang yang terkena suatu penyakit atau tertimpa suatu bencana yang berakibat buruk bagi diri atau hartanya. Sehingga hasil yang ingin diraih dengan sebab terjadinya musibah ialah terangkatnya derajat. maka sesungguhnya hal ini termasuk kategori ujian yang diberikan kepada kalangan para Nabi dan Rasul dalam rangka mengangkat derajat serta membesarkan balasan pahalanya. Hal ini adalah haram.” (HR. dinilainya hasan). Al Hajj [22]: 11). Sehingga dia pun menjadi marah terhadap apa yang sudah diputuskan Allah. Tirmidzi. Nabi bersabda. “Tidaklah ada sebuah kesusahan. “Barang siapa yang melakukan kejelekan pasti akan dibalas. Adapun kondisi sebagian besar umat manusia yang ada ialah fenomena taqshir/meremehkan dan tidak menunaikan kewajiban yang telah dibebankan. “Orang ketika menghadapi musibah terbagi dalam empat tingkatan : Tingkatan Pertama: Marah Tingkatan ini meliputi beberapa macam keadaan: Kondisi pertama. dan Allah memaafkan banyak kesalahan orang. Sedangkan apabila yang mengalami musibah adalah termasuk golongan hamba Allah yang shalih.” Namun terkadang bisa juga hal itu merupakan hukuman yang di segerakan disebabkan perbuatan-perbuatan maksiat yang dilakukan dan kelambatan diri dalam bertaubat. sebagaimana halnya musibah yang ditetapkan oleh Allah menimpa para Nabi dan sebagian orang yang baik/shalih. kemudian diikuti oleh orangorang lain yang berada di bawah tingkatan mereka. Sebagaimana sudah disabdakan oleh Nabi shallallahu „alaihi wa sallam. kekalutan. Dan bisa juga hal itu terjadi demi menghapuskan dosa kesalahan-kesalahan. Sedangkan apabila Allah menghendaki keburukan bagi hambaNya maka Allah menahan hukuman atas dosa itu hingga terbayarkan kelak pada hari kiamat. Kondisi kedua. ini juga haram. dan juga para hamba Allah yang shalih.” Dan terkadang Allah juga menimpakan hal itu disebabkan oleh perbuatan-perbuatan maksiat dan dosa-dosa (yang mereka lakukan). hingga rugilah dia dunia dan akhirat. An Nisaa‟ [4] : 123). keletihan.” (QS. bahkan sampai duri yang menusuk bagian tubuhnya. Nabi shallallahu „alaihi wa sallam bersabda. Sehingga dengan demikian maka bencana itu merupakan hukuman yang di segerakan. ia menyimpan perasaan marah di dalam hati kepada Allah. “Orang yang paling berat cobaannya adalah para Nabi. sebagaimana tercantum dalam firman Allah Yang Mahasuci yang artinya.” (QS.

Sabar dari kemaksiatan kepada-Nya. namun dia masih tetap bersabar. merobek-robek kain pakaian. Dia tidak merasakannya sebagai sebuah beban yang sangat berat. “Sesungguhnya kami ini berasal dari Allah.” (HR. Tingkatan Ketiga: Merasa Ridha Yaitu seseorang bisa merasa ridha dengan musibah yang menimpanya. Maka berikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar.” (QS. dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh hidayah. Ini adalah tingkatan yang sangat dianjurkan/mustahab. Tingkatan Keempat: Bersyukur Inilah tingkatan yang tertinggi. bahkan terkadang bisa menjadi sumber penambahan amal kebaikannya. Sabar itu memang seperti namanya Pahit kalau baru dirasa Tapi buahnya yang ditunggu-tunggu Jauh lebih manis daripada madu Dia melihat bahwa musibah ini adalah sesuatu yang sangat berat akan tetapi dia tetap bisa tabah dalam menanggungnya. Yaitu orang-orang yang apabila tertimpa musibah mereka mengatakan. hal. Yaitu karena dalam tingkatan ini ada tidaknya musibah itu terasa sama saja dalam hal keridhaan terhadapnya. (Diterjemahkan dengan penyesuaian redaksional dari Fatawa Arkanil Islam. Yaitu dengan justru bersyukur kepada Allah atas musibah yang menimpanya. Bersabar dalam melaksanakan ketaatan kepada-Nya. Dia merasa tidak senang atas kejadiannya.” (QS. bahkan sekalipun duri yang menusuknya. “Bersabarlah kalian. Dan hal ini adalah tingkatan yang wajib. Adapun dalam tingkatan sebelumnya terjadinya musibah itu masih dirasakan sebagai sesuatu yang sukar baginya. Namun imannya masih bisa menjaganya untuk tidak marah. dan bukan hal yang wajib menurut pendapat yang kuat. 76) Allah ta‟ala juga berfirman yang artinya. jiwa. Seperti dengan menampar-nampar pipi. Az Zumar [39]: 10). Allah berfirman yang artinya. yaitu hamba tidak merasa marah karenanya. Bukhari (5640) dan Muslim (2572)). “Tiada sebuah musibah pun yang menimpa seorang muslim. siksaan. kecuali pasti Allah hapuskan (dosanya) dengan sebab musibah itu. kelaparan serta kekurangan harta benda. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa‟di rahimahullah berkata di dalam kitab tafsirnya. Sebab Allah ta‟ala telah memerintahkan untuk bersabar. dan kami juga akan kembali kepada-Nya”. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa‟di rahimahullah berkata di dalam kitab tafsirnya. Nabi shallallahu „alaihi wa sallam bersabda. dan buah-buahan. Betapa jauhnya perbedaan antara kedua golongan ini. Sabar dalam menghadapi takdir Allah yang terasa menyakitkan. hal. Dia sadar bahwa pada hakikatnya musibah adalah faktor penyebab terhapusnya dosa-dosanya. kemarahannya sampai meluap sehingga terekspresikan dengan tindakan anggota badan. yaitu dengan cara tidak berkubang di dalamnya. kesesatan serta kerugian. Mereka itulah orang-orang yang akan mendapatkan ucapan shalawat (pujian) dari Tuhan mereka. Tingkatan Kedua: Bersabar Hal ini sebagaimana digambarkan oleh seorang penyair dalam syairnya. Sehingga ada dan tidaknya musibah adalah sama saja baginya.” (QS. Sehingga terjadi atau tidaknya musibah itu masih terasa berbeda baginya. Dan hal itu tidaklah bisa diraih kecuali disebabkan karena . “Ayat ini menunjukkan bahwa barang siapa yang tidak bersabar maka dia berhak menerima lawan darinya. “Sesungguhnya balasan pahala bagi orang-orang yang sabar adalah tidak terbatas. “Sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut. berupa celaan dari Allah. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. Al Baqarah [2]: 155157).Kondisi ketiga. Al Alnfaal [8]: 46). mencabuti rambut dan perbuatan semacamnya. Allah menjanjikan kepada orang-orang yang sabar pahala untuk mereka yang tanpa hitungan. artinya tanpa batasan tertentu maupun angka tertentu ataupun ukuran tertentu. 126-127) Balasan Bagi Orang yang Sabar Allah ta‟ala berfirman yang artinya. sehingga dia pun merasa lapang dalam melakukannya. Betapa kecilnya keletihan yang ditanggung oleh orang-orang yang sabar bila dibandingkan dengan besarnya penderitaan yang harus ditanggung oleh orang-orang yang protes dan tidak bersabar…” (Taisir Karimir Rahman. Perbuatan ini semua haram hukumnya dan meniadakan sifat sabar yang wajib ada.”Ayat ini berlaku umum untuk semua jenis kesabaran. Perbedaan antara tingkatan ini dengan tingkatan sebelumnya cukup jelas.

pasti akan terjadi. maka dirinya akan sibuk untuk bertaubat dan memohon ampun kepada Allah atas dosa-dosanya yang menjadi sebab Allah menurunkan musibah tersebut.begitu besarnya keutamaan sifat sabar dan agungnya kedudukan sabar di sisi Allah. Dia justru sibuk melakukan hal itu dan tidak menyibukkan diri mencela dan mengolok-olok berbagai pihak yang telah menzaliminya. Sehingga.” (QS. َّ َ ُ َ َ ِ ْ َ َّ ٌ َ َ َ َ ‫ما وَضل بََلء إال بِزوب وال سفِع إال بِتَوْ بَت‬ ِ . (Oleh karena itu). maka pasti tidak akan terjadi. Kamis 8/1/1428 Abu Mushlih Al Jukjakarti Semoga Allah mengampuninya Tips Bersabar (2): Sabar Ketika Disakiti Orang Lain Kategori Tazkiyatun Nufus | 28-02-2010 | 26 Komentar Terdapat beberapa faktor yang dapat membantu seorang hamba untuk dapat melaksanakan kesabaran jenis kedua (yaitu bersabar ketika disakiti orang lain. dan menunjukkan pula bahwa Allah lah penolong segala urusan. ْ َ َّ ٌ ْ َ َّ ٌ ْ َ َّ َ ُ ًَُ‫الَ ٌَشْ جون عبذ إِالَّ سبًَُّ الَ ٌَخَ افَه عبذ إال روب‬ َ “Hendaknya seorang hamba hanya berharap kepada Rabb-nya dan hendaknya dia takut terhadap akibat yang akan diterima dari dosa-dosa yang telah diperbuatnya. (sambil mengucapkan): “Salamun „alaikum bima shabartum” (Keselamatan atas kalian sebagai balasan atas kesabaran kalian).” (Taisir Karimir Rahman. [Di antaranya adalah sebagai berikut:] Pertama. Selesai disusun ulang. maka anda akan terbebas dari segala kedongkolan dan kegelisahan. baik itu gerakan. hamba adalah „alat‟. musibah yang dirasakannya) justru berubah menjadi kenikmatan. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu. Apabila seorang hamba mengakui bahwa segala musibah yang menimpanya dikarenakan dosa-dosanya yang telah lalu. ed) yang bergerak di alam ini melainkan dengan izin dan kehendak Allah. ed). tidak ada satupun benda meski seberat dzarrah (semut kecil. diam dan keinginannya.”[1] Dan terdapat sebuah atsar yang diriwayatkan dari Ali bin Abi Tholib dan selainnya. hendaknya seorang mengakui akan segala dosa yang telah diperbuatnya dan mengakui bahwasanya tatkala Allah menjadikan pihak lain menzalimi (dirinya). dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). Ali bin Abi Thalib radliallahu „anhu pernah mengatakan sebuah kalimat yang indah. Asy Syuura: 30). ََْ ُْ ِْ ْ ََ َ َ ٍ ِ ُ ْ ِ ُْ َ ‫وما أَصابَكم مه مصٍبَت فَبِما كسبت أٌَذٌكم وٌعفُو عَه كثٍش‬ َ َ ٍ َِ ْ “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu.” (QS. Ar Ra‟d: 23-24). 721) Surga Bagi Orang yang Sabar Allah ta‟ala berfirman yang artinya. beristighfar dan mengucapkan. beliau mengatakan. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu. sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu. “(yaitu) Surga „Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya. hendaknya dia mengakui bahwa Allah ta‟ala adalah Zat yang menciptakan segala perbuatan hamba. (Sebaliknya) apabila dirinya bertaubat. maka ketahuilah (pada kondisi demikian) musibah yang dia alami justru adalah musibah yang hakiki. Oleh karenanya. Lihatlah kepada Zat yang menjadikan pihak lain menzalimimu dan janganlah anda melihat tindakannya terhadapmu. “Musibah ini dikarenakan dosa-dosaku yang telah saya perbuat. (Apabila anda melakukan hal itu). Kedua. Dan segala sesuatu yang tidak dikehendaki Allah untuk terjadi. istri-istrinya dan anak cucunya. maka itu semua dikarenakan dosa-dosa yang telah dia perbuat sebagaimana firman Allah ta‟ala.” Maka (pada kondisi demikian. Wa shallallahu „ala Nabiyyina Muhammadin wa „ala aalihi wa shahbihi wa sallam. hal. Maka segala sesuatu yang dikehendaki Allah untuk terjadi. maka itu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. apabila anda melihat seorang yang mencela manusia yang telah menyakitinya dan justru tidak mengoreksi diri dengan mencela dirinya sendiri dan beristighfar kepada Allah.

tidak ada orang yang berdiri melainkan mereka yang (sewaktu di dunia termasuk golongan) yang (senantiasa) memaafkan dan bersabar (terhadap gangguan orang lain kepada dirinya). (dengan perbuatan di atas). [2] golongan yang moderat yang hanya membalas sesuai haknya dan [3] golongan yang muhsin (berbuat baik) karena memaafkan pihak yang menzalimi dan justru meniggalkan haknya untuk membalas.” (QS. hendaknya dia mengetahui bahwa apabila dia memaafkan dan berbuat baik. maka tentulah dia akan mudah untuk bersabar dan memaafkan (setiap pihak yang telah menzaliminya). “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa.“Musibah turun disebabkan dosa dan diangkat dengan sebab taubat. dia akan merasa sangat gembira atas karunia Allah yang diberikan kepadanya melebihi kegembiraan yang pernah dirasakannya. (Dengan demikian). Oleh karenanya. hendaknya dia mengetahui bahwa seorang yang melampiaskan dendam semata-mata untuk kepentingan nafsunya. maka hal itu akan menyebabkan hatinya selamat dari (berbagai kedengkian dan kebencian kepada saudaranya) serta hatinya akan terbebas dari keinginan untuk melakukan balas dendam dan berbuat jahat (kepada pihak yang menzaliminya). baik manfaat itu dirasakan sekarang atau nanti. maka Allah justru akan memberikan kemuliaan kepadanya.” Ketiga. bagian kedua diperuntukkan bagi mereka yang berbuat baik dan bagian akhir diperuntukkan bagi mereka yang telah berbuat zalim dalam melakukan pembalasan (yang melampaui batas). Keutamaan ini telah diberitakan oleh rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam melalui sabdanya. Kemuliaan yang diperoleh dari pelampiasan dendam adalah kemuliaan lahiriah semata. (Dengan melaksanakan perbuatan di atas). manusia terbagi ke dalam tiga golongan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim. Keempat. Manfaat di atas tentu tidak sebanding dengan “kenikmatan dan manfaat” yang dirasakannya ketika melakukan pembalasan.” (QS.”[3] (Berdasarkan hadits di atas) kemuliaan yang diperoleh dari sikap memaafkan itu (tentu) lebih disukai dan lebih bermanfaat bagi dirinya daripada kemuliaan yang diperoleh dari tindakan pelampiasan dendam. (Sehingga) dia memperoleh kenikmatan memaafkan yang justru akan menambah kelezatan dan manfaat yang berlipat-lipat. yaitu [1] golongan yang zalim karena melakukan pembalasan yang melampaui batas. Apabila hal ini diiringi dengan pengetahuan bahwa segala pahala tersebut akan hilang jika dirinya menuntut dan melakukan balas dendam. maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik. Ditinjau dari segi penunaian balasan. namun mewariskan kehinaan batin. namun dia malah menerima ganti puluhan ribu dinar. . Hal ini dinyatakan dalam firman-Nya. Kelima. namun mewariskan kemuliaan lahir dan batin. َ‫وّللاُ ٌُحبُّ المحْ سىٍِه‬ ِ ُ ْ ِ َّ َ “Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Apabila dia memaafkan. (Hendaknya dia juga) mengetahui panggilan malaikat di hari kiamat kelak yang akan berkata. (Sedangkan) sikap memaafkan (terkadang) merupakan kehinaan di dalam batin. Kondisi yang dialaminya layaknya seorang yang kecurian satu dinar. hendaknya seorang mengetahui pahala yang disediakan oleh Allah ta‟ala bagi orang yang memaafkan dan bersabar (terhadap tindakan orang lain yang menyakitinya). dia (dapat) tercakup dalam firman Allah ta‟ala. maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Asy Syuura: 40). ًّ ِ ‫وما صَ اد ّللاُ عبذًا بِعفو إِالَّ عضا‬ َ َ ٍ ْ َ ْ َ َّ َ “Kemuliaan hanya akan ditambahkan oleh Allah kepada seorang hamba yang bersikap pemaaf. dirinya pun menjadi pribadi yang dicintai Allah. َّ َ ُ َ َ َ ْ َ ْ ِ‫أَالَ لٍَِقُم مه وجب أَجْ شيُ علَى ّللا‬ “Perhatikanlah! Hendaknya berdiri orang-orang yang memperoleh balasan yang wajib ditunaikan oleh Allah!”[2] (Ketika panggilan ini selesai dikumandangkan). maka hal itu hanya akan mewariskan kehinaan di dalam dirinya. bagian pertama bagi mereka yang moderat. Ali Imran: 134). Allah ta‟ala menyebutkan ketiga golongan ini dalam ayat di atas.

Meskipun demikian. dia wajib bersabar dan tidak boleh melakukan pembalasan. maka segala bentuk gangguan dan bahaya -yang tidak satupun makhluk yang mampu menolaknya. maka Allah pun akan memaafkan dosa-dosanya.akan tertolak darinya. kecintaan Allah dan ridla-Nya kepada dirinya apabila dia bersabar. َ‫وّللاُ ٌُحبُّ الصَّابِشٌه‬ ِ َّ َ ِ . Maka bagaimana bisa salah seorang diantara kita melakukan pembalasan dan pembelaan untuk diri sendiri. Kesepuluh. Jiwa beliau adalah jiwa yang termulia. Jiwa yang paling jauh dari berbagai akhlak yang tercela dan paling berhak terhadap berbagai akhlak yang terpuji. Kesembilan. Manfaat ini tentu sangat mencukupi seorang yang berakal (agar tidak melampiaskan dendamnya). padahal dia tahu kondisi jiwanya sendiri serta kejelekan dan aib yang terdapat di dalamnya? Bahkan. ketika para mujahid yang berjihad di jalan Allah kehilangan nyawa dan harta. maka hati dan fisiknya akan merasa “fresh” untuk mencapai berbagai manfaat yang tentu lebih penting bagi dirinya daripada sekedar mengurusi perkara pelampiasan dendam. apabila seorang disakiti atas tindakan yang dia peruntukkan kepada Allah (ibadah-pent). seorang yang arif tentu (menyadari bahwa) jiwanya tidaklah pantas untuk menuntut balas (karena aib dan kejelekan yang dimilikinya) dan (dia juga mengetahui bahwa jiwanya) tidaklah memiliki kadar kedudukan yang berarti sehingga patut untuk dibela. padahal menyakiti beliau termasuk tindakan menyakiti Allah ta‟ala dan menyakiti beliau termasuk di antara perkara yang di dalamnya berlaku ketentuan ganti rugi. maka tentu dia tidak usah berdagang. tentu dia tidak lagi memperoleh ganti rugi dari Allah. bukan di tangan makhluk. Dengan demikian. sesungguhnya pelampiasan dendam yang dilakukannya merupakan bentuk pembelaan diri yang dilandasi oleh keinginan melampiaskan hawa nafsu. -dan hal ini merupakan salah satu faktor yang paling bermanfaat-. yaitu hendaknya dia mengetahui bahwa setiap balasan itu sesuai dengan amalan yang dikerjakan. Berbagai manfaat justru akan luput dari genggamannya. hendaknya dia mengetahui bahwa apabila dirinya disibukkan dengan urusan pelampiasan dendam. Dan kemungkinan hal ini lebih berbahaya daripada musibah yang ditimbulkan oleh berbagai pihak yang menzhaliminya. Apabila dia tersakiti karena harta. maka (pada kondisi demikian). Oleh karenanya. hendaknya dia mengetahui kebersamaan. Sesungguhnya. Apabila dia mengetahui pemaafan dan perbuatan baik yang dilakukannya kepada berbagai pihak yang menzalimi merupakan sebab yang akan mendatangkan pahala bagi dirinya. maka Allah pun akan mengampuninya. (Hendaknya dia menyadari) bahwa dirinya adalah seorang yang zalim lagi pendosa. dirinya tersibukkan (untuk mengoreksi diri dan itu lebih baik daripada) dia mencela berbagai pihak yang telah menyakitinya. Barangsiapa yang menuntut ganti rugi kepada makhluk (yang telah menyakitinya). maka hendaknya dia menyibukkan diri dengan mencela dirinya sendiri. Hal ini dikarenakan dirinya telah disakiti (ketika melakukan ketaatan) di jalan Allah. maka waktunya akan terbuang sia-sia dan hatinya pun akan terpecah (tidak dapat berkonsentrasi untuk urusan yang lainpent). tersuci dan terbaik. Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam tidak pernah melakukan pembalasan yang didasari keinginan pribadi. Begitupula hendaknya dia mengetahui bahwa setiap orang yang memaafkan kesalahan manusia terhadap dirinya. beliau tidak pernah melakukan pembalasan yang didasari keinginan pribadi (jiwanya) (terhadap berbagai pihak yang telah menyakitinya). maka tentulah (dia akan mudah) memaafkan dan berbuat kebajikan dalam rangka (menebus) dosa-dosanya. Apabila dia memaafkan. Allah ta‟ala berfirman. Karena dengan demikian. Apabila dia tersakiti akibat musibah yang menimpanya. Dan orang yang memohonkan ampun setiap manusia yang berbuat salah kepada dirinya. maka dia akan dianugerahi kesabaran dalam mencari sesuatu itu sekadar kejujuran (dan kesungguhan) yang dimilikinya. terpaan hujan dan salju serta rintangan perjalanan dan gangguan perampok. bahwa setiap orang yang memang jujur (dan bersungguh-sungguh) dalam mencari sesuatu. maka Allah berkewajiban memberikan gantinya. Apabila Allah membersamai seorang. atau dia disakiti karena melakukan ketaatan yang diperintahkan atau karena dia meninggalkan kemaksiatan yang terlarang. ganti rugi menjadi tanggungan Allah. seorang yang mengalami kerugian (karena disakiti) ketika beribadah di jalan Allah. Ketujuh. Kedelapan. Setiap orang yang tidak mampu bersabar terhadap panas terik di siang hari. maka hendaknya dia berusaha menyabarkan jiwanya. sehingga balasannya menjadi tanggungan Allah. mereka tidak memperoleh ganti rugi karena Allah telah membeli nyawa dan harta mereka.Keenam. Realita ini diketahui oleh manusia. karena mendapatkan harta tanpa dibarengi dengan kesabaran merupakan perkara yang lebih pahit daripada kesabaran itu sendiri.

pent-). pihak yang zhalim akan kembali dalam keadaan malu terhadap pihak yang telah dizaliminya. Ketiga belas. Karena hawa nafsu tidak akan mampu melakukan pembalasan dendam dengan adil. apakah akan sama kondisi antara seorang yang ditolong Allah. Dan betapa banyak jiwa. Oleh karena itu. maka Allah akan menyerahkan dirinya kepada hawa nafsunya sendiri sehingga dia pun menjadi penolongnya. (ketika kesabaran dijalankan). pent-) dan kehendak (maksudnya ditinjau dari segi kehendak. baik ditinjau dari segi pengetahuan (maksudnya hawa nafsu tidak memiliki parameter yang pasti yang akan menunjukkan kepada dirinya bahwa pembalasan dendam yang dilakukannya telah sesuai dengan kezaliman yang menimpanya. sebaiknya dia tidak mengganti sebagian iman tersebut dengan pelampiasan dendam. justru berubah menjadi pihak yang zalim. tentu tidak akan memilih perkara yang lebih berbahaya. maka kerajaan hati akan menang dan bala tentaranya akan kokoh dan menguat sehingga segenap musuh akan terusir. Seorang yang berakal.” (QS. maka hawa nafsu akan senantiasa mengiringinya hingga nafsu tersebut membinasakannya kecuali dia memperoleh rahmat dari Rabb-nya. hawa nafsu tidak mampu membatasi diri dalam melakukan pembalasan dendam sesuai dengan kadar yang dibenarkan. Maka Allah adalah penolong bagi setiap orang yang bersabar dan memasrahkan setiap pihak yang menzaliminya kepada Allah. tentu nafsu tidak mampu memperbudak dan menawan dirinya serta menjerumuskan dirinya ke dalam berbagai kebinasaan. maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Dan Allah-lah yang akan membela orang-orang yang beriman. maka dia akan terhindar dari berbagai bentuk keburukan di atas.“Allah menyukai orang-orang yang bersabar. karena kemarahan (ketika melakukan pembalasan dendam) akan berjalan bersama pemiliknya menuju batas yang tidak dapat ditentukan (melampaui batas. pent-). Dengan demikian. Apabila dia bersabar. Betapa banyak pembalasan dendam justru menimbulkan berbagai keburukan yang sulit untuk dibendung oleh pelakunya. Hal ini juga justru akan memperkuat dorongan hawa nafsu serta menyibukkan pikiran untuk memikirkan berbagai bentuk pembalasan yang akan dilancarkan sebagaimana hal ini sering terjadi. Jika demikian. Terkadang. hendaknya dia mengetahui bahwa kesabaran yang dia laksanakan merupakan hukuman dan pengekangan terhadap hawa nafsunya. yang menunggu pertolongan dan kemuliaan. terkadang pembalasan dendam malah menjadi sebab yang akan menambah kejahatan sang musuh terhadap dirinya. maka dia telah memelihara dan menjaga keimanannya dari aib (kekurangan). Kelima belas. Keenam belas.” (QS. bahkan bisa jadi pihak yang zalim akan berubah menjadi sahabat karib bagi pihak yang dizhalimi. setelah menyakiti dirinya. Kesabaran mengandung pengekangan terhadap hawa nafsu berikut setan yang (menyusup masuk di dalam diri). Ali „Imran: 146). ْ ْ )43( ‫ ادفَع بِالَّتًِ ًٌ أَحْ سهُ فَإِرا الَّزي بٍَىَكَ وبٍَىًَُ عذَاوةٌ كأَوًَُّ ولًِ حمٍم (34) وما ٌُلَقَّاٌَا إِال الَّزٌهَ صبَشُوا وما ٌُلَقَّاٌَا إِال رو حظٍّ عَظٍم‬ô َ ُ َّ َ َ ٌ ِ َ ٌّ َ َ َ َ ْ َ ْ ِ َ ِ َّ ٍ ِ َ َ َ َ َ ِ “Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik. harta dan kemuliaan yang tetap langgeng ketika pihak yang dizalimi menempuh jalan memaafkan. Maka tatkala hawa nafsu terkalahkan. sebaik-baik penolong dengan seorang yang ditolong oleh hawa nafsunya yang merupakan penolong yang paling lemah? Keempat belas. Sehingga dengan demikian. Kedua belas. kesabaran yang dilakukan oleh seorang akan melahirkan penghentian kezhaliman dan penyesalan pada diri musuh serta akan menimbulkan celaan manusia kepada pihak yang menzalimi. sesungguhnya seorang yang terbiasa membalas dendam dan tidak bersabar mesti akan terjerumus ke dalam kezaliman. hawa nafsu tentu akan melakukan pembalasan yang lebih. maka tentu Allah-lah yang menjadi penolongnya. Fushshilaat: 34-35). Apabila dirinya bersabar dan memaafkan pihak yang menzhaliminya. Kesebelas. . Barangsiapa yang membela hawa nafsunya (dengan melakukan pembalasan). hendaknya dia mengetahui bahwa tatkala dia bersabar . Demikian pula dia akan menyesali perbuatannya. posisi dirinya yang semula menjadi pihak yang dizalimi. Inilah makna firman Allah ta‟ala. Oleh karenanya. yang akan menerima kehancuran dan siksaan. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar. hendaknya dia mengetahui bahwa kesabaran merupakan sebagian daripada iman. Tatkala dirinya tunduk dan mendengar hawa nafsu serta terkalahkan olehnya.

[3] HR. Apabila pihak yang dizalimi membalas dendam. maka sikapnya tersebut akan melahirkan kehinaan pada diri sang musuh dan menimbulkan ketakutan terhadap dirinya dan manusia. Bandung. Oleh karena itu. Griya Cempaka Arum K4/7. Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Mardawaih serta selain mereka berdua dari sahabat Ibnu‟ Abbas dan Anas. pada hari Senin. apabila dia membalas dendam dan tidak bersabar. Dan terkadang hal ini menjadi sebab keselamatan dan kesuksesan abadi. kesabaran dan pemaafan yang dilakukannya merupakan pasukan terkuat yang akan membantunya dalam menghadapi sang musuh. Sesungguhnya setiap orang yang bersabar dan memaafkan pihak yang telah menzaliminya. [4] Selesai diterjemahkan dengan bebas dari risalah Al Qo’idatu fish Shobr. dia akan menuntut penghalalan dari pihak yang telah dizaliminya. kezaliman yang diderita akan menjadi sebab yang akan menghapuskan berbagai dosa atau mengangkat derajatnya.or. Kedelapan belas. sang musuh akan senantiasa memandang bahwa kedudukan dirinya berada di bawah kedudukan pihak yang telah dizaliminya. Maka tentu hal ini cukup menjadi keutamaan dan kemuliaan dari sikap memaafkan. sehingga kebaikannya akan senantiasa bertambah. Dengan demikian. Kedua puluh. ‫ت‬ ‫ص‬ ‫ذي ب ن ع ت ت تم‬ ‫د هلل‬ [4] Diterjemahkan dari risalah Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -semoga Allah merahmati beliauPenerjemah: Muhammad Nur Ichwan Muslim Artikel www. seluruh keutamaan itu akan terluput darinya. Orang yang Berjalan di Atas Wajahnya Kategori Tazkiyatun Nufus | 02-03-2011 | Belum ada komentar Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya : ‫د د‬ ‫د‬ ‫بن‬ ‫ب‬ ‫ت‬ ‫ب‬ ‫دن‬ ‫ذي‬ ‫د‬ ‫دب‬ ‫ب‬ ‫دن‬ ‫ت‬ ‫ن‬ ‫ب‬ ‫دن‬ . Lihat ad Durr al Mantsur (7/359). maka sikapnya tersebut merupakan suatu kebaikan yang akan melahirkan berbagai kebaikan yang lain.id [1] Lihat penjelasan perkataan beliau ini dalam Majmu‟ al Fatawa (8/161-180). seluruh hal itu justru akan terluput darinya. Hal ini dikarenakan manusia tidak akan tinggal diam terhadap kezaliman yang dilakukannya tersebut. apabila dia menghina atau menyakiti pihak lain. maka hati sang musuh akan tersadar bahwa kedudukan pihak yang dizalimi berada di atasnya dan dirinya telah menuai keuntungan dari kezaliman yang telah dilakukannya. apabila pihak yang dizalimi memaafkan sang musuh. Apabila pihak yang dizalimi mengabulkannya. Oleh karena itu. Kesembilan belas. meskipun pihak yang dizalimi mendiamkannya.muslim. sebagaimana balasan bagi setiap keburukan adalah kontinuitas keburukan (keburukan yang terus berlanjut).Ketujuh belas. maka dirinya akan merasa lega dan beban yang dahulu dirasakan akan hilang. anda dapat menjumpai sebagian manusia. Sesungguhnya balasan bagi setiap kebaikan adalah kontinuitas kebaikan (kebaikan yang berlanjut). maka kezaliman tersebut tidak akan menghapuskan dosa dan tidakpula mengangkat derajatnya. tanggal 27 Rabi‟ul Awwal 1430 H. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. [2] HR. Muslim (2588) dari sahabat Abu Hurairah. Apabila dirinya melakukan pembalasan dendam. apabila seorang memaafkan.

sebagaimana yang dilakukan oleh sahabat tersebut dengan memanggil Nabi dengan sebutan Rasulullah bukan dengan langsung menyebut namanya. Muslim dalam Kitab Shifat al-Qiyamah wa al-Jannah wa an-Naar) Hadits yang mulia ini menunjukkan kepada kita berbagai pelajaran penting. Yunus bin Muhammad menuturkan kepada kami. Anas bin Malik menuturkan kepada kami bahwa ada seorang lelaki yang bertanya. saudaraku… kehidupan dunia dengan seabrek tipuan dan sejuta kepalsuan ini tidak selayaknya melupakan seorang muslim akan hakekat yang sebenarnya dari hidup yang dijalaninya. tidak kekal selamanya. “Wahai Rasulullah. sedangkan lafaznya adalah milik Zuhair. Maka demikian pula hendaknya seorang murid memanggil gurunya dengan sebutan „Ustadz‟ atau yang semacamnya dan tidak dengan langsung menyebut namanya 4. “Demi kemuliaan Rabb kita. Seringkali kita tertipu oleh pandangan sekilas. Wajibnya mengimani perkara gaib 7. Sesuatu -yang belum jelas. Amma ba‟du. Bolehnya bersumpah dengan salah satu sifat Allah yang disandarkan kepada-Nya 13. Maka beliau menjawab. Penetapan sifat rububiyah Allah 15. yang mengajak meniti jalan yang lurus menuju negeri keabadian yang dengan penuh kenikmatan. Di dalamnya terkandung penetapan sifat qudrah/berkuasa bagi Allah ta‟ala 10. mereka berdua berkata. sedangkan orang yang hidup di dunia dengan kakfiran dan kedurhakaan maka di akhirat dia akan sengsara 6.Zuhair bin Harb menuturkan kepada saya. padahal hanya sekilas saja. Orang kafir akan dibangkitkan dalam keadaan terbalik. sungguh benar Allah Maha kuasa untuk melakukannya. Bolehnya bersumpah untuk menegaskan sesuatu tanpa diminta 12.id Sekarang dan Masa Depan Kategori Tazkiyatun Nufus | 03-12-2010 | 4 Komentar Segala puji bagi Allah. Yang merajai pada hari pembalasan. Hadits ini menunjukkan wajibnya menundukkan akal kepada wahyu 18. Hadits ini menunjukkan bahwa akal yang sehat akan senantiasa tunduk kepada wahyu bukan malah menentangnya. Subhanallah! Oleh sebab itu. alam pembalasan pahala atau penjatuhan hukuman! Maka. Penetapan sifat „Izzah bagi Allah 14. kepalanya berada di bawah dan dia berjalan di atasnya untuk menuju pengadilan Allah ta‟ala (lihat QS. Iman kepada hari akhirat 2. Salawat dan keselamatan semoga selalu terlimpah kepada Rasul akhir zaman. Setelah itu. maka kebalikannya justru yang dijumpai. kita akan memasuki alam akherat… Ya. kalau diteliti dan dicermati dampakdampaknya serta ujung-ujungnya. bagaimana cara orang kafir itu dibangkitkan dan dikumpulkan pada hari kiamat nanti berjalan di atas wajahnya?”. al-Furqan : 34). Hadits ini menunjukkan adanya hari kebangkitan dan pembalasan amal.or. Syaiban menuturkan kepada kami dari Qatadah. Bolehnya menyebut Allah dengan „Rabb kita‟ 16. Di dalamnya juga terkandung kewajiban untuk membenarkan firman Allah dan sabda Rasul-Nya shallallahu „alaihi wa sallam 11. demikian juga Abdu bin Humaid. hidup kita di alam dunia ini pasti berakhir. Wallahu a‟lam Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi Artikel www. penyesalan dan penderitaan berkepanjangan. Hadits ini menunjukkan besarnya pengagungan kaum salaf kepada hadits-hadits Nabi shallallahu „alaihi wa sallam 17.” (HR. Kita yakini bersama.menjadi tergambar indah dan menyenangkan dengan sekilas pandangan. kesedihan. Dia berkata. Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu „alaihi wa sallam benar-benar seorang manusia yang mendapatkan wahyu dari Allah ta‟ala 8. Hadits ini menunjukkan kemahakuasaan Allah ta‟ala 5. Namun. Qatadah berkata. Bagaimana pun senangnya orang kafir di dunia maka di akhirat mereka akan sengsara 3. Hadits ini menunjukkan sopan santun seorang murid kepada gurunya. Barangsiapa yang melakukan kebaikan di dunia dengan iman dan amal salih maka akan mendapatkan kebahagiaan di akhirat. Dia berkata. “Bukankah Dzat yang telah membuatnya berjalan di atas kedua kakinya ketika hidup di dunia berkuasa pula untuk membuatnya berjalan di atas wajahnya pada hari kiamat kelak?”. 20. di antaranya : 1. Cerdik dalam menyikapi segala .muslim. Hadits ini merupakan mukjizat Nabi shallallahu „alaihi wa sallam dimana beliau mengabarkan kepada kita sesuatu yang belum terjadi di dunia ini 9. kita harus cerdik dan sabar. Hadits ini menunjukkan bahwa akal manusia itu terbatas dan bertingkat-tingkat 19.

Dan sabar dalam menahan godaan yang menggiurkan dari para penebar kebatilan. “Keberuntungan paling besar di dunia ini adalah kamu menyibukkan dirimu di sepanjang waktu dengan perkara-perkara yang lebih utama dan lebih bermanfaat untukmu kelak di hari akherat. Apabila seseorang melakukan hal ini hatinya akan sehat dan kuat.” (al-Fawa‟id. ia pasti menemui kamu.id  301 301 301 301 301 301 301 301 301         . Allah ta‟ala berfirman (yang artinya). “(Allah) Yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian siapakah di antara kalian yang terbaik amalnya. 2. apabila kamu takut kepada-Nya niscaya kamu akan merasa tentram karena dekat dengan-Nya dan berusaha untuk terus mendekatkan diri kepada-Nya. hal. 34) Ketahuilah wahai saudaraku -semoga Allah membimbing kita di atas jalan-Nya. “Katakanlah.macam kepalsuan tersebut agar kita tidak tertipu olehnya.dan segala urusan yang tidak penting. seseorang yang menjual surga demi mendapatkan sesuatu yang mengandung kesenangan hanya sesaat? Orang yang benar-benar mengerti hakekat hidup ini akan keluar dari alam dunia dalam keadaan belum bisa menuntaskan dua urusan. 34). al-Mulk: 2). al-Hadid: 20).” (QS. menangisi dirinya sendiri -akibat menuruti hawa nafsu tanpa kendalidan menunaikan kewajiban untuk memuji Rabbnya.tiada bahagia tanpa takwa kepadaNya. Adapun Rabb (Allah) ta‟ala. Bagaimana mungkin dianggap berakal. 3. Allahul musta‟aan. “Dan kehidupan dunia tidak lain adalah kesenangan yang palsu.” (QS. Apabila seseorang melakukan hal ini hatinya akan diliputi dengan kegembiraan dan sejuk dalam menjalani ketaatan (lihat al-Fawa‟id. Sementara. Allah ta‟ala berfirman (yang artinya). Allah ta‟ala berfirman (yang artinya). lalu Dia beritakan kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Menjaga hati dan anggota tubuh dari perbuatan dosa dan keharaman.” (QS. Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya. al-Jumu‟ah: 8). hal. Menjaga diri dari berlebih-lebihan -dalam perkara mubah. Apabila seseorang melakukan hal ini hatinya akan tetap hidup. Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi Artikel www. takwa itu mencakup tiga tingkatan: 1. Apabila kamu merasa takut kepada makhluk maka kamu akan merasa gelisah karena keberadaannya dan menghindar darinya.or. Allah ta‟ala berfirman (yang artinya). yang mengetahui yang gaib dan yang nyata. Ali Imran: 142) Ibnul Qayyim rahimahullah berkata. kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah).muslim. sementara Allah belum mengetahui (membuktikan) siapakah orang-orang yang bersungguh-sungguh di antara kalian dan mengetahui siapakah orang-orang yang bersabar. “Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk surga begitu saja. Menjaga diri dari perkara-perkara yang makruh/dibenci.

copy-paste atau mencetak artikel yang ada di muslim.. ilham 8 December 2010 at 10:55 am Semoga kita menjadi orang yang selalu menjadi orang yang bertakwa kepada Allah swt.. dengan ditemukannya berbagai macam fasilitas canggis yang terkadang membuat kita lupa terhadap kehidupan yang sesungguhnya.. Bapak'e Hanifah 20 May 2011 at 2:43 am renungan yang bagus. Fahrul 7 December 2010 at 3:17 pm Assalamu`alaikum Saya minta ijin copy-paste. . deny 6 December 2010 at 7:06 pm izin share. disadari atau tidak.or.^_^ 3. Oh ya muslim.id dengan menyertakan muslim. 4. makasih 2.or.id kok tak menyediakan forum tanya jawab.. terkadang kita suka terlena dengan gemerlapnya kehidupan dunia ini. re-publikasi.or. ampuni kami ya Allah yang terlalu sering melupakan-Mu. astaghfirullahal „adhim.amiin Ya Allah... apalagi di zaman moderen ini.semoga Allah mengampuniku.id sebagai sumber artikel Daftar RSS komentar 4 komentar 1... khususnya diri ini yang berlumuran dg dosa.supaya kami bisa berkonsultasi..Anda diperkenankan untuk menyebarkan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->