P. 1
Faktor

Faktor

|Views: 8|Likes:
Published by Wahyu Nugroho

More info:

Published by: Wahyu Nugroho on Jun 02, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/25/2014

pdf

text

original

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penegakan Hukum di Indonesia

OPINI | 13 July 2009 | 14:45 menilai inspiratif Dibaca: 13508 Komentar: 0 1 dari 1 Kompasianer

Secara konsepsional, maka inti dan arti penegakan hukum terletak pada kegiatan menyerasikan hubungan nilai-nilai yang terjabarkan di dalam kaidah-kaidah yang mantap dan mengejawantah dan sikap tindak sebagai rangkaian penjabaran nilai tahap akhir, untuk meniptakan, memelihara, dan mempertahankan kedamaian pergaulan hidup (Soekanto, 1979). Pokok penegakan hukum sebenarnya terletak pada faktor-faktor yang mungkin mempengaruhinya. Faktor-faktor tersebut mempunyai arti yang netral, sehingga dampak positif atau negatifnya terletak pada isi faktor-faktor tersebut. Faktor-faktor tersebut adalah, sebagai berikut: 1. Faktor hukumnya sendiri, dalam hal ini dibatasi pada undang-undang saja. 2. Faktor penegak hukum, yakni pihak-pihak yang membentuk maupun menerapkan hukum. 3. Faktor sarana atau fasilitas yang mendukung penegakan hukum. 4. Faktor masyarakat, yakni lingkungan dimana hukum tersebut berlaku atau diterapkan. 5. Faktor kebudayaan, yakni sebagai hasil karya, cipta, dan rasa yang didasarkan pada karsa manusia di dalam pergaulan hidup. Kelima faktor tersebut saling berkaitan dengan eratnya, oleh karena merupakan esensi dari penegakan hukum, juga merupakan tolak ukur daripada efektivitas penegakan hukum. Dengan demikian, maka kelima faktor tersebut akan dibahas lebih lanjut dengan mengetengahkan contoh-contoh yang diambil dari kehidupan masyarakat Indonesia. 1. Undang-undang Undang-undang dalam arti material adalah peraturan tertulis yang berlaku umum dan dibuat oleh Penguasa Pusat maupun Daerah yang sah (Purbacaraka & Soerjono Soekanto, 1979). Mengenai berlakunya undang-undang tersebut, terdapat beberapa asas yang tujuannya adalah agar undang-undang tersebut mempunyai dampak yang positif. Asas-asas tersebut antara lain (Purbacaraka & Soerjono Soekanto, 1979): 1. Undang-undang tidak berlaku surut. 2. Undang-undang yng dibuat oleh penguasa yang lebih tinggi,

Sikap yang terbuka terhadap pengalaman maupun penemuan baru. Undang-undang merupakan suatu sarana untuk mencapai kesejahteraan spiritual dan materiel bagi masyarakat maupun pribadi. 2. 7. yang hendaknya mempunyai kemampuan-kemampuan tertentu sesuai dengan aspirasi masyarakat. Senantiasa mempunyai informasi yang selengkap mungkin mengenai pendiriannya. apabila pembuatnya sama. 4. Belum ada kemampuan untuk menunda pemuasan suatu kebutuhan tertentu. disamping mampu menjalankan atau membawakan peranan yang dapat diterima oleh mereka. Mereka harus dapat berkomunikasi dan mendapat pengertian dari golongan sasaran. 5. sehingga sulit sekali untuk membuat proyeksi. melalui pelestaian ataupun pembaharuan (inovasi). Halangan-halangan tersebut dapat diatasi dengan membiasakan diri dengan sikap-sikap. Peka terhadap masalah-masalah yang terjadi di sekitarnya.3. adalah: 1. Undang-undang yang bersifat khusus menyampingkan undang-undang yang bersifat umum. terutama kebutuhan material. Senantiasa siap untuk menerima perubahan setelah menilai kekurangan yang ada pada saat itu. membatalkan undang-undang yan berlaku terdahulu. 4. Undang-undang yang berlaku belakangan. Kegairahan yang sangat terbatas untuk memikirkan masa depan. sebagai berikut: 1. Orientasi ke masa kini dan masa depan yang sebenarnya merupakan suatu urutan. Halangan-halangan tersebut. mempunyai kedudukan yang lebih tinggi pula. 5. 4. Keterbatasan kemampuan untuk menempatkan diri dalam peranan pihak lain dengan siapa dia berinteraksi. Kurangnya daya inovatif yang sebenarnya merupakan pasangan konservatisme. Undang-undang tidak dapat diganggu guat. Penegak Hukum Penegak hukum merupakan golongan panutan dalam masyarakat. 2. 3. Tingkat aspirasi yang relatif belum tinggi. 2. . 5. 3. Ada beberapa halangan yang mungkin dijumpai pada penerapan peranan yang seharusnya dari golngan sasaran atau penegak hukum. 6.

3. Yang kurang-ditambah. Percaya pada kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi di dalam meningkatkan kesejahteraan umat manusia. Faktor Kebudayaan . Yang tidak ada-diadakan yang baru betul. tidak akan mungkin penegak hukum menyerasikan peranan yang seharusnya dengan peranan yang aktual. 5. maka masyarakat dapat mempengaruhi penegakan hukum tersebut. 3. Sarana atau fasilitas mempunyai peran yang sangat penting dalam penegakan hukum. sebaiknya dianut jalan pikiran. 4. Yang mundur atau merosot-dimajukan atau ditingkatkan. Menyadari dan menghormati hak. Faktor Masyarakat Penegakan hukum berasal dari masyarakat. organisasi yang baik. 1983): 1. Khususnya untuk sarana atau fasilitas tesebut. 9.6. Berpegang teguh pada keputusan-keputusan yang diambil atas dasar penalaran dan perhitingan yang mantap. 8. kewajiban. 10. Masyarakat Indonesia mempunyai kecendrungan yang besar untuk mengartikan hukum dan bahkan mengidentifikasikannya dengan petugas (dalam hal ini penegak hukum sebagai pribadi). keuangan yang cukup. Yang rusak atau salah-diperbaiki atau dibetulkan. dan bertujuan untuk mencapai kedamaian dalam masyarakat. bahwa baik buruknya hukum senantiasa dikaitkan dengan pola prilaku penegak hukum tersebut. Salah satu akibatnya adalah. Tanpa adanya sarana atau fasilitas tersebut. peralatan yang memadai. Faktor Sarana atau Fasilitas Tanpa adanya sarana atau fasilitas tertentu. 2. Menyadari akan potensi yang ada dalam dirinya. Oleh karena itu. 5. sebagai berikut (Purbacaraka & Soerjono Soekanto. maka tidak mungkin penegakan hukum akan berjalan dengan lancar. 7. dan seterusnya. Sarana atau fasilitas tersebut antara lain. dipandang dari sudut tertentu. mencakup tenaga manusia yang berpendidikan dan trampil. Yang macet-dilancarkan. 4. maupun kehormatan diri sendiri dan ihak lain. Berpegang pada suatu perencanaan dan tidak pasrah pada nasib.

3.kompasiana. hukum adat adalah merupakan hukum kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat. Di Indonesia masih berlaku hukum adat. adalah sebagai berikut ( Purbacaraka & Soerjono soekantu): 1. http://umum. nilai-nilai yang merupakan konsepsi abstrak mengenai apa yang dianggap baik (sehingga dianuti) dan apa yang dianggap buruk (sehingga dihindari). 2.Kebudayaan(system) hukum pada dasarnya mencakup nilai-nilai yang mendasari hukum yang berlaku. Nilai jasmani/kebendaan dan nilai rohani/keakhlakan. Nilai kelanggengan/konservatisme dan nilai kebaruan/inovatisme. Nilai ketertiban dan nilai ketentraman. Pasanagn nilai yang berperan dalam hukum.com/2009/07/13/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-penegakan-hukumdi-indonesia/ .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->