P. 1
Pengertian Advokasi

Pengertian Advokasi

|Views: 908|Likes:
Published by Akku Aini

More info:

Published by: Akku Aini on Jun 02, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/12/2014

pdf

text

original

Pengertian Advokasi Pengertian Advokasi Dalam buku terbitan Insist Pers (2002) yang berjudul "Kisah-kisah advokasi

di Indonesia" secara eksplisit membenarkan pengertian advokasi sebagai aksi-aksi sosial, politik dan kultural yang dilakukan secara sistematis, terencana dan dilakukan secara kolektif, melibatkan berbagai strategi termasuk lobby, kampanye, bangun koalisi, tekanan aksi massa serta penelitian yang ditujukan untuk mengubah kebijakan dalam rangka melindungi hak-hak rakyat dan menghindari bencana buatan manusia. Kaminski dan Walmsley (1995) menjelaskan bahwa advokasi adalah satu aktivitas yang menunjukkan keunggulan pekerjaan social berbanding profesi lain. Selain itu, banyak defenisi yang diberikan mengenai advokasi. Beberapa di antaranya mendefinisikan advokasi adalah adalah suatu tindakan yang ditujukan untuk mengubah kebijakan, kedudukan atas program dari suatu institusi. Zastrow (1982) memberikan pengertian advokasi sebagai aktivitas menolong klien untuk mencapai layanan ketika mereka ditolak suatu lembaga atau suatu system layanan, dan mebantu dan memperluas pelayanan agar mencakup lebih banyak orang yang mebutuhkan. Dalam pengantar buku “Pedoman Advokasi”, 2005, mengutip Webster‟s New Collegiate Dictionary, memberikan pengertian advokasi sebagai tindakan atau protes untuk membela atau memberi dukungan. Dalam makna memberikan pembelaan atau dukungan kepada kelompok masyarakat yang lemah itu advokasi digiatkan oleh individu, kelompok, lembaga swadaya masyarakat atau organisasi rakyat yang mempunyai kepedulian terhadap masalah-masalah hak asasi manusia (HAM), lingkungan hidup, kemiskinan, dan berbagai bentuk ketidakadilan. Topatimasang (2000) mengatakan bahwa advokasi adalah upaya untuk memperbaiki, membela (confirmatio) dan mengubah (policy reform) kebijakan sesuai dengan kepentingan prinsipprinsip keadilan. Sheila Espine-Villaluz berpendapat bahwa advokasi diartikan sebagai aksi strategis dan terpadu yang dilakukan perorangan dan kelompok untuk memasukkan suatu masalah (isu) kedalam agenda kebijakan, mendorong para pembuat kebijakan untuk menyelesaikan masalah tersebut, dan membangun basis dukungan atas kebijakan publik yang diambil untuk menyelesaikan masalah tersebut. Menurut Dr. Wolf Wolfensberger, Advokasi adalah berbicara, bertindak dan menulis dengan sedikit konflik kepentingan atas nama kepentingan dianggap tulus dari orang atau kelompok yang kurang beruntung untuk mempromosikan, melindungi dan mempertahankan kesejahteraan dan keadilan oleh: 1). Berada di pihak mereka dan tidak ada orang lain, 2). yang terutama berkaitan dengan kebutuhan dasar mereka, 3). tetap setia dan bertanggung jawab kepada mereka dengan cara yang tegas dan penuh semangat dan yang, atau mungkin, mahal untuk advokat atau kelompok advokasi. Scheneider (2001) mengatakan bahwa pengertian terbaru mengenai advokasi harus terdiri dari

2. yaitu: 1. jawaban atas pertanyaan “Mengapa beradvokasi?” menjadi cukup relevan dan urgen untuk dijawab. sebenarnya tidak ada definisi yang baku. Namun.beberapa criteria yaitu. kebodohan. kekuasaan. dan diharuskan. dan kebijakan yang tidak berpihak pada keadilan dan kenyataan. . Advokasi: Alasan. Usaha-usaha terorganisir untuk membawa perubahan-perubahan secara sistematis dalam menyikapi suatu kebijakan. untuk melakukan kerjakerja advokasi. Secara umum alasan-alasan tersebut antara lain adalah: 1. Tujuan. 2. atau bahkan belum pernah mengenal. tentu mereka tidak akan menanyakan kembali mengapa mereka melakukan hal itu. dan politik pada suatu kawasan tertentu. 4. focus kepada aktivitas bukan peranan atau hasil advokasi (focus on activity$. 3. Advokasi: Sebuah Definisi Berbicara advokasi. dan kemunafikan semakin tumbuh subur pada lingkungan kita Yang kaya semakin gaya dan yang melarat semakin sekarat Dari beberapa poin di atas ini kemudian melahirkan kesadaran untuk melakukan perubahan. perlawanan. setidaknya advokasi dapat difahami sebagai bentuk upaya melakukan pembelaan rakyat (masyarakat sipil) dengan cara yang sistematis dan terorganisir atas sikap. Advokasi adalah membangun organisasi-organisasi demokratis yang kuat untuk membuat para penguasa bertanggung jawab menyangkut peningkatan keterampilan serta pengertian rakyat tentang bagaimana kekuasaan itu bekerja. 3. regulasi. not rules or outcomes of advocacy) dan bersifat mendefinisikan advokasi pekerjaan social sebagai “the exclusive and mutual representation of clients or a cause in a form. dapat diukur (measurable). Pengertian advokasi selalu berubah-ubah sepanjang waktu tergantung pada keadaan. dan pembelaan atas apa yang dirasakan olehnya. dan Sasaran Bagi sebagian orang yang telah berkecimpung dalam dunia advokasi. Upaya terorganisir maupun aksi yang menggunakan sarana-sarana demokrasi untuk menyusun dan melaksanakan undang-undang dan kebijakan yang bertujuan untuk menciptakan masyarakat yang adil dan merata (Institut Advokasi Washington DC). Dari beberapa definisi di atas. Ada banyak sekali alasan mengapa seseorang harus. Setidaknya ada beberapa pengertian dan penjelasan terkait dengan definisi advokasi. berorinetasi tindakan (action – oriented). Advokasi sendiri dari segi bahasa adalah pembelaan. atau pelaksanaannya (Meuthia Ganier). bagi sebagian lainnya yang belum begitu memahami. perilaku. Salah satu bentuk perlawanan dan pembelaan yang “elegan” adalah advokasi. kejelasan (clarify). pembatasan (limited). attempting to systematically influence decision making in an unjust or unresponsive systems. seluk-beluk advokasi. Kita selalu dihadapkan dengan persoalan-persoalan kemanusiaan dan kemiskinan Perusakan dan kekejaman kebijakan selalu menghiasi kehidupan kita Keserakahan.

Organisasi masyarakat keagamaan (NU. Secara lebih spesifik. Komunitas-komunitas basis (termasuk klan dan asosiasi RT. dan lain-lain) 6. Siapa Pelaku Advokasi? Advokasi dilakukan oleh banyak orang. ormas. PWI. dan lain-lain) 2. Mahasiswa atau organisasi kemahasiswaan (PMII. Dalam melakukan perubahan kebijakan pun tidak semudah yang kita bayangkan. FMN. PHDI. Organisasi-organisasi masyarakat atau kelompok yang mewakili interest para anggotanya. Lurah. Persatuan buruh dan kelompok-kelompok lain yang peduli akan perubahan menuju kebaikan Kerja-kerja Advokasi: Tantangan dan Strategi Advokasi selamnya menyangkut perubahan yang mengubah beberapa kebijakan. legislatif. dan LSM. Asosiasi-asosiasi bisnis 7. termasuk organisasi akar rumput 5. dalam praksisnya kerja advokasi banyak diarahkan pada sasaran tembak yaitu kebijakan publik yang dibuat oleh para penguasa. Hal ini dikarenakan pemerintah ataupun penguasa tidak mungkin mewakili secara luas. Mengapa kebijakan publik? Kebijakan publik merupakan beberapa regulasi yang dibuat berdasarkan kompromi para penguasa (eksekutif. Apdesi. atau organisasi yang dapat diklasfikan sebagai berikut: 1. sementara kekuasaannya cenderung sentralistik dan mereka selalu memainkan peranan dalam proses kebijakan. nelayan. LMND. dan lain-lain 4. Contoh: FBR. Lapisan pertama mencakup permintaan. dan lainlain). Lapisan kedua. Komunitas masyarakat petani. Dengan penolakan dan penentangan adanya Raperda. atau desakan perubahan dalam praktik kelembagaan dan program-programnya. tuntutan. Pandu. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atau disebut juga organisasi non-pemerintah 3.Tujuan dari kerja-kerja advokasi adalah untuk mendorong terwujudnya perubahan atas sebuah kondisi yang tidak atau belum ideal sesuai dengan yang diharapkan. PGI. dan Polosoro 9. kelompok. MUI. dan yudikatif) dengan mewajibkan warganya untuk mematuhi peraturan yang telah dibuat. Contoh. regulasi. Media 8. HMI. dan cara badan-badan perwakilan melakukan kebijakan. Muhammadiyah. anggota komunitas belajar bagaimana mengkomunikasikan pesan mereka pada segmentasi yang lebih luas untuk memperkuat basis . Walubi. Dukuh. KAMMI. mengembangkan kemampuan individu para warga. ada beberapa lapisan yang harus kita lewati untuk melakukan perubahan tersebut. Setiap kebijakan yang akan disahkan untuk menjadi peraturan perlu dan harus dikawal serta diawasi agar kebijakan tersebut tidak menimbulkan dampak negatif bagi warganya. sekelompok anak jalanan dan “gepeng” menolak Raperda yang telah dirancang kepada anggota dewan dan pejabat pemerintahan.

Siapa aktor-aktor utama. Melakukan lobi-lobi antar instansi. Jaringan formal bisa termasuk institusi-institusi seperti komite legislatif dan forum public hearing. Mengerti dan memahami isi dari kebijakan beserta konteksnya. dan lain-lain) 6. siapa yang mendorong dan apa kepentingan serta posisi mereka 5. ada beberapa langkah yang harus kita lakukan untuk memetakan dan mengawal jalannya sebuah kebijakan sebelum disahkan menjadi hukum formal. Tentukan jaringan formal maupun informal melalui mana kebijakan sedang diproses. Melakukan kampanye dan kerja-kerja media sebagai ajang publikasi 5. Siapa yang akan dipengaruhi baik itu sifatnya merugikan ataupun menguntungkan 4. Berikut beberapa aturan main ataupun perencanaan dalam melakukan aksi ataupun melakukan demonstrasi. kita harus menjawab dulu poin-poin pertanyaan berikut:  Pemetaan isu ataupun wacana apa yang akan kita gaungkan? . organisasi kemasyarakatan (NU dan Muhammadiyah) 4. Advokasi butuh perencanaan yang matang. seperti federasi. Sebelum menentukan apakah kita akan melakukan aksi. Siapa saja yang akan mendapat manfaat dari kebijakan tersebut 3. class action. Membangun jaringan di antara organisasi-organisasi akar rumput (grassroots). Berikut beberapa strategi dalam melakukan advokasi: 1. Mencari tahu apa motivasi para aktor utama dan juga jaringan yang ada dalam mendukung kebijakan yang telah dibuat Perlu kita pahami bahwa advokasi tidak terjadi seketika. Advokasi dikatakan berhasil apabila kita mampu membuat komunitas kita lebih berdaya dan mampu meneriakkan aspirasinya sendiri. Lapisan ketiga. Kita mengubah pola pikir dan memberdayakan masyarakat marjinal (gepeng dan anjal) untuk berinisiatif melakukan perjuangan hak-haknya secara mandiri. maka kita perlu menggunakan beberapa strategi. Menerjunkan massa untuk melakukan demonstrasi Manajemen Aksi Menerjunkan massa untuk melakukan aksi ataupun demonstrasi adalah merupakan strategi akhir dalam mengadvokasi setiap kebijakan yang telah disahkan ataupun merugikan banyak kalangan.dukungan kelembagaan mereka. Mempererat kokmunikasi dan kerjasama dengan para pejabat dan beberapa partai politik yang berorientasi reformasi pada pemerintahan 3. menata kembali masyarakat. perserikatan. Agar advokasi yang dilakukan dapat terwujud secara maksimal. dan organisasi pengayom lainnya 2. organisasi kemahasiswaan. Pelajari beberapa konsekuensi dari kebijakan tersebut. Jaringan informal melalui komunikasi interpersonal dari individu-individu yang terlibat dalam proses pembentukan kebijakan 6. Melewati aksi-akasi peradilan (litigasi. Oleh karena itu. yaitu: 1. pejabat. yaitu dengan memeriksa kebijakan apa saja tujuan dari lahirnya kebijakan tersebut 2.

pemahaman. idealnya. dsb). ü Budaya Hukum (culture of law) . Sebagai suatu kesatuan sistem (systemic). penafsiran terhadap dua aspek sistem hukum diatas isi dan tata laksana hukum. yakniterjadinya perubahan peraturan atau kebijakan publik (policy reform). protes. menolak atau mendukung? Apa persoalannya kemudian kita berinisiatif untuk melakukan aksi? Bagaimana kita hendak mengaksesnya? Apa sasaran dan tujuan kita (siapa yang membuatnya)? Apa yang sedang ditargetkan perundang-undangan ataupun peraturan adminstratif? Pada dasarnya. Mempunyai kesamaan sasaran. selebaran-selebaran. unjuk rasa. dsb. Dengan kata lain. namun tujuan atau sasaran akhirnya sebenarnya sama saja. berbagai program advokasi yang dilakukan oleh banyak kalangan (NGO. peraturan-peraturan dan keputusan-keputusan pemerintah. pertanyaannya adalah “apakah yang dimaksud dengan kebijakan publik itu” ?. sikap penerimaan. dimulai terlebih dahulu dari salah satu aspek hukum tersebut yang memang dianggap sebagai titik tolak paling menentukan (crucial starting point). Dalam pengertian ini juga tercakup bentuk-bentuk tanggapan (reaksi. suatu kegiatan atau program advokasi yang baik adalah yang secara sengaja dan sistematis memang dirancang untuk mendesakkan terjadinya perubahan baik dalam isi. Tiga aspek hukum tersebut saling jumbuh dan berkait satu sama lain. yakni uraian atau penjabaran tertulis dari suatu kebijakan yang tertuang dalam bentuk perundang-undangan. Karena itu. ü Tata laksana hukum (structure of law). Salah satu kerangka analisis yang dapat digunakan untuk memahami suatu kebijakan publik adalah dengan melihat kebijakan tersebut sebagai suatu „sistem hukum‟ (system of law) yang terdiri dari : ü Isi hukum (content of law). Tetapi ini hanyalah masalah penentuan strategi dan prioritas dari kegiatan advokasi. Dengan demikian advokasi tidak lain adalah merupakan upaya untuk memperbaiki atau merubah kebijakan publik sesuai dengan kehendak atau kepentingan mereka yang mendesakkan terjadinya perbaikan atau perubahan tersebut. Karena. response) masyarakat luas terhadap pelaksanaan isi dan tatalaksana hukum yang berlaku. yakni persepsi. tanpa harus mengorbankan prinsip dasarnya sebagai suatu upaya kearah perubahan kebijakan secara menyeluruh.           Apa yang kita inginkan atas isu yang telah kita gaungkan. yakni semua perangkat kelembagaan dan pelaksana dari isi hukum yang berlaku (lembaga hukum dan para aparat pelaksananya). seperti aksi protes. suatu kegiatan atau program advokasi harus juga mencakup sasaran perubahan ketiganya. Organisasi Massa. Kaidah ini tidak menafikan bahwa perubahan bisa terjadi secara bertahap atau berjenjang. Sekarang. kemudian berlanjut (atau diharapkan membawa pengaruh dan dampak perubahan) ke aspek-aspek lainnya.    . tata laksana maupun budaya hukum yang berlaku. praktek-praktek pelaksanaan. Dengan demikian sasaran perubahan terhadap suatu kebijakan publik mestilah mencakup ketiga aspek hukum atau kebijakan tersebut sekaligus. yakni suatu kebijakan tertentu dari pemerintah yang menyangkut kepentingan publik (publik policy). Meskipun sangat mungkin hasil dari kegiatan yang mereka nyatakan itu berbeda. dalam kenyataannya perubahan yang terjadi pada salah satu aspek saja tidak dengan serta merta membawa perubahan pada aspek lainnya.

karena itu. dan blokade). Masing-masing proses ini memiliki tata caranya sendiri. ketiga aspeknya terbentuk melalui suatu proses-proses yang khas. debat umum. dan budaya hukum terbentuk melalui proses-proses sosialisasi dan mobilisasi. seminar akademik untuk penyusunan naskah awal (academic draft). Ø Proses-proses politik dan birokrasi. mediasi. Skema itu juga memperlihatkan bahwa suatu sistem kegiatan advokasi. mulai dari penggalangan pendapat dan dukungan (kampanye. boikt. pendidikan politik kader) sampai ke tingkat pengerahan kekuatan (unjuk rasa. namun tidak berarti hanya dapat dilakukan melalui jalur-jalur „legal‟ (proses-proses legitasi dan jurikdiksi) saja. tetapi juga „isi hati‟ orang banyak. Hal yang terakhir ini jelas lebih menyangkut soal afeksi (perasaan. Karena itu. Isi hukum dibentuk melalui proses-proses legislasi dan jurisdiksi. Ø Proses-proses sosialisasi dan mobilisasi. Barangkali memang perlu diperingatkan kembali disini bahwa salah satu tujuan kegiatan advokasi. tetapi juga melalui jalur-jalur „paralegal‟ (proses politik dan birokrasi serta proses-proses sosialisasi dan mobilisasi). bukanlah semata-mata membuat orang „sekeda tahu‟ tetapi juga „mau terlibat dan bertindak‟. sindikasi. khususnya dalam rangka pembentukan opini (pendapat umum) dan penggalangan dukungan massa. walaupun sasarannya adalah perubahan kebijakan publik sebagai bagian dari sistem hukum. proses-proses ini terwujud dalam berbagai bentuk tekanan politik (politica pressure). Jelasnya advokasi bukan cuma urusan mempengaruhi‟isi kepala‟. keprihatinan. Karena itu. dalam hal ini harus mempertimbangkan dan menempuh proses-proses yang sesuai dengan asal-usul ketiga aspek sistem hukum ini dibentuk. negosiasi dan (dalam pengertiannya yang buruk) bahkan sampai pada praktek-praktek intrik. rekruitment dan induksi para aparat pelaksana pada semua tingkatan birokrasi yang terbentuk. dan perilaku) ketimbang soal kognisi (pengetahuan. penyajian naskah awal kepada pemerintah. atau tuntutan tersebut. rangkaian diskusi dan seminar. Advokasi juga dapat diartikan sebagai suatu kegiatan mendesakkan terjadinya perubahan sosil (sosial movement) secara bertahap maju melalui serangkaian . seluruh tahapan tersebut sangat diwarnai oleh kepentingan-kepentingan diantara berbagai kelompok yang terlibat didalamnya. Bagian terpenting dan paling menentukan dalam keseluruhan proses ini adalah seleksi. Ø Proses-proses legislasi dan jurisdiksi . sikap. konspirasi dan manipulasi.        KERANGKA DASAR KERJA Kebijakan publik (sistem hukum) sebagai sasaran advokasi. pelatihan). pengorganisasian (pembentukan basis basis massa dan konstituen. proses ini meliputi semua bentuk kegiatan pembentukan kesadaran dan pendapat umum (opini) serta tekanan massa terorganisir yang. proses ini meliputi semua tahap formasi konsolidasi organisasi pemerintah sebagai perangkat kelembagaan dan pelaksana kebijakan publik. kegiatan advokasi juga harus didekati secara berbeda. pengajuan kembali ke-parlemen sampai pada akhirnya disetujui atau disepakati dalam pemungutan suara diparlemen. proses ini meliputi seluruh proses penyusunan rancangan undang-undang atau peraturan (legal drafting) sesuai dengan konstitusi dan sistem ketatanegaraan yang berlaku. sementara tata laksana hukum dibentuk melalui proses-proses politik dan manajemen birokrasi. akhirnya akan membentuk suatu pola perilaku tertentu dalam mensikapi suatu masalah bersama. dan wawasan) seorang. mulai dari lobby. mogok. pembentukan kelompok kerja dalam kabinet dan parlemen.mulai dari pengajuan gagasan.

Maka. Seminar ini mengangkat tema Strategi Sehat Di Era Perubahan Iklim. Armi Susandi.Dr. sidang komisi dan sidang paripurna yang berisi pembahasan program kerja ISMAFARSI selama satu periode.Psikolog/Praktisi Farmasi Komunitas . dengan narasumber yaitu : . Rapat Kerja Nasional ISMAFARSI Periode 2010 – 2012. .    perubahan kebijakan publik. Dosen ITB) . suatu kegiatan advokasi yang baik adalah yang memang terfokus hanya pada satu masalah atau issu strategis kebijakan publik tertentu. Dengan demikian.Asumsi yang mendasarinya adalah bahwa suatu perubahan sosial yang lebih besar dan luas bisa terjadi (atau paling tidak. Yaitu pengukuhan jajaran pengurus BPH pusat ISMAFARSI beserta koordinator wilayah ISMAFARSI seluruh Indonesia. terutama lapisan atau kalangan mayoritas yang memang sering tidak diuntungkan oleh kebijakan negara. Seminar Nasional Kefarmasian dan Workshop. dengan narasumber : . Pelantikan BPH Pusat dan Koordinator Wilayah ISMAFARSI periode 2010 – 2012. daur ulang kertas. 4. 2. Untuk menetapkan strategis atau tidaknya sebuah issu kebijakan publik. paling tidak dapat dilakukan atas dasar beberapa indikator sebagai berikut : 1. Seminar dan workshop dalam Rakernas kali ini adalah : a.Depkes RI . Seminar Nasional “Kupas Tuntas Farmasi Komunitas”. Terdiri dari sidang pleno. 3.Praktisi Farmasi Lingkungan b. Kaitan dan relevansi perubahan perubahan tersebut terhadap kepentingan atau kebutuhan nyata masyarakat luas. Kesesuaian dengan agenda kerja utama jaringan organisasi advokasi yang memang menjadikan issu kebijakan publik tersebut sebagai sasaran utamanya. 2. 3.Ikatan Apoteker Indonesia . Workshop Nasional “Green Environment” Kegiatan ini berupa pelatihan pembuatan keranjang sampah takakura. bisa dimulai) dengan merubah satu persatu kebijakan-kebijakan publik yang memang strategis atau sangat menentukan dalam kehidupan masyarakat luas. penanaman pohon dan gaya hidup ramah lingkungan. “Aktualisasi Ilmu Farmasi Yang Ramah Lingkungan“ 1. Seminar Nasional “Green Pharmacy”. Besaran dan luasnya dampak positif yang dapat dihasilkan jika perubahan kebijakan itu terjadi.Sosiolog c. MT (Dewan Nasional Perubahan Iklim. Taraf penting dan mendesaknya (urgensi) tuntutan masyarakat luas yang mendesakkan perlunya segera perubahan kebijakan publik tersebut. langkah awal terpenting dalam kegiatan advokasi adalah memilih dan menetapkan issu kebijakan publik apa yang benar – benar strategis dijadikan sebagai sasaran advokasi.

Kegiatan ini berupa kunjungan ke obyek wisata dan sentra kerajinan khas yang terdapat di wilayah Tasikmalaya. 5.4. PHBS yang disertai pameran produk-produk farmasi dan penampilan kesenian tradisional khas Tasikmalaya. Bakti Sosial dan Pharmacy Ekspo. Kampanye Informasi Obat Nasional (KIONAS). Kegiatan ini juga sekaligus merupakan pemecahan rekor MURI kegiatan KIO terbanyak dan terlama yang dilakukan oleh 1000 orang tenaga farmasi. kesenian modern serta bazaar ragam produk khas Tasikmalaya dan pasar rakyat. STIKes Bakti Tunas Husada. Kegiatan ini berupa penyuluhan dan sosialisasi tentang tata cara penggunaan. Yaitu pengabdian kepada masyarakat berupa pengobatan gratis. 6. pemeriksaan golongan darah. Eksplor Tasikmalaya. Tasikmalaya. Indonesia . penyimpanan dan pembuangan sampah obat yang baik dan benar.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->