P. 1
BAB II Tinjauan Pustaka_I09fna

BAB II Tinjauan Pustaka_I09fna

|Views: 29|Likes:
Published by Indra Saputra

More info:

Published by: Indra Saputra on Jun 03, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/03/2012

pdf

text

original

TINJAUAN PUSTAKA

Hipertensi dan Faktor Risikonya Hipertensi merupakan masalah kesehatan masyarakat baik di negara maju maupun negara berkembang. Hipertensi merupakan suatu keadaan tanpa gejala, dimana tekanan yang abnormal tinggi di dalam arteri menyebabkan meningkatnya risiko terhadap stroke, aneurisma, gagal jantung, serangan jantung dan kerusakan ginjal (Armilawati 2007). Seseorang dikatakan mengalami hipertensi jika memiliki tekanan darah sistolik ≥140 mmHg atau tekanan darah diastolik ≥90 mmHg atau keduanya. Pada pengukuran tekanan darah dikenal dua istilah, yaitu tekanan darah sistolik dan diastolik. Tekanan darah sistolik menunjukkan besarnya tekanan pada dinding pembuluh darah pada saat jantung berkontraksi. Tekanan ini merupakan tekanan tertinggi pada pembuluh darah pada satu waktu tertentu, yaitu pada saat darah dipompakan dari ventrikel kiri. Tekanan darah diastolik menunjukkan besarnya tekanan pada dinding pembuluh darah pada saat otot jantung relaks diantara dua denyutan. Tekanan ini merupakan tekanan terkecil di pembuluh darah pada satu waktu tertentu, yaitu saat darah kembali ke atrium kanan (Purwati et al. 2002). Tekanan darah sistolik berpengaruh terhadap tekanan arteri pada gangguan kardiovaskular. Laki-laki yang memiliki TDD normal (<82 mmHg) tetapi TDS tinggi (>158 mmHg) memiliki risiko terkena gangguan kardiovaskular 2.5 kali lebih besar daripada seseorang dengan nilai TDD sama tetapi TDS nya normal (<130 mmHg) (Williams 1991). Klasifikasi hipertensi selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut
Tabel 1 Klasifikasi hipertensi Klasifikasi Hipertensi TDS* (mmHg) TDD** (mmHg) Normal <120 <80 Pre-hipertensi 120-139 80-89 Hipertensi tingkat 1 140-159 90-99 Hipertensi tingkat 2 ≥160 100 *TDS, Tekanan Darah Sistolik **TDD, Tekanan darah Diastolik Sumber: The Seventh Report of Joint National Committee (JNC-7) (2003)

Penyakit hipertensi berdasarkan penyebabnya dibagi menjadi 2 jenis, yaitu hipertensi primer dan hipertensi sekunder. Hipertensi primer atau esensial adalah hipertensi yang tidak/belum diketahui penyebabnya (terdapat pada kurang lebih 90 % dari seluruh hipertensi). Hipertensi primer kemungkinan

dislipidemia (tingginya kolesterol darah) dan obesitas (Krummel 2004). dan ketegangan pada ibu hamil bisa menyebabkan hipertensi (Khomsan 2004). Faktor Risiko yang Tidak Bisa Diubah Hipertensi dapat disebabkan oleh adanya faktor-faktor yang secara alami telah ada pada seseorang. dan pembuluh darah. bertambahnya jumlah darah yang dipompa ke jantung. Karakteristik genetik. Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang disebabkan oleh adanya penyakit lain. Hipertensi sering muncul dengan faktor risiko lain yang timbul sebagai sindrom metabolik. Faktor risiko hipertensi dibedakan menjadi faktor risiko yang tidak bisa diubah dan faktor risiko yang bisa diubah. faktor risiko diartikan sebagai karakteristik yang berkaitan dengan kejadian suatu penyakit diatas rata-rata. Sekitar 510% penderita hipertensi disebabkan oleh penyakit ginjal. Faktor risiko memiliki pengaruh yang sangat kuat dan lemah (Krisnatuti dan Yenrina 2005). otak. Kondisi fisiologis lainnya yang dapat menyebabkan hipertensi diantaranya adalah aterosklerosis (penebalan dinding arteri yang menyebabkan hilangnya elastisitas pembuluh darah). Faktor risiko yang tidak bisa diubah tersebut antara lain adalah kondisi fisiologis tubuh. tekanan psikologis. yaitu hipertensi dengan gangguan toleransi glukosa atau diabetes mellitus (DM). yaitu jantung. dan sistem saraf simpatis (Ganong 1998). maka disebut hipertensi sekunder. tidak hanya disebabkan oleh tingginya tekanan darah. umur dan jenis kelamin tersebut pada akhirnya juga berpengaruh terhadap kondisi fisiologis tubuh. ginjal. Tekanan sistolik terus meningkat sampai usia 80 tahun . Jika penyebabnya diketahui. sementara itu sekitar 1-2% disebabkan oleh kelainan hormon atau pemakaian obat tertentu (misalnya pil KB) (Armilawati 2007). Umur Sejalan dengan bertambahnya usia. hampir setiap orang mengalami kenaikan tekanan darah. umur dan jenis kelamin. Kondisi Fisiologis Tubuh Munculnya hipertensi. stress. penyakit ginjal. genetik. Sementara itu. akan tetapi juga karena adanya faktor risiko lain seperti keturunan/genetik. kelenjar adrenal. beberapa perubahan pada jantung dan pembuluh darah kemungkinan bersama-sama menyebabkan meningkatnya tekanan darah. dan kelainan pada organ target. Kelebihan berat badan. komplikasi penyakit.memiliki banyak penyebab.

kemudian berkurang secara perlahan atau bahkan menurun drastis. dan berat badan dapat mempengaruhi kejadian hipertensi. Tekanan darah sistolik dan diastolik berpengaruh nyata dengan umur pada laki-laki maupun perempuan. Jenis kelamin Penyakit hipertensi cenderung lebih rendah pada jenis kelamin perempuan dibandingkan dengan laki-laki. . Penyakit hipertensi paling banyak dialami oleh kelompok umur 31-55 tahun dan umumnya berkembang pada saat umur seseorang mencapai paruh baya yakni cenderung meningkat khususnya yang berusia lebih dari 40 tahun bahkan pada usia lebih dari 60 tahun keatas (Krummel 2004). Williams (1991) menyatakan bahwa umur. jenis kelamin. Koefisien korelasi antara umur dan TDS sebesar 0. Selain sebagai hormon pada wanita.dan tekanan diastolik terus meningkat sampai usia 55-60 tahun. Peranan estrogen sebagai antioksidan adalah mencegah proses oksidasi LDL. Namun demikian. Prevalensi hipertensi pada wanita (25%) lebih besar daripada pria (24%) (Tesfaye et al. merokok. perempuan yang mengalami masa premenopause cenderung memiliki tekanan darah lebih tinggi daripada laki-laki. Modifikasi perilaku/gaya hidup melalui pengetahuan dan pendidikan gizi dapat dilakukan untuk meminimalisir faktor yang dapat memicu dan meningkatkan faktor yang dapat mencegah kejadian hipertensi. Kejadian hipertensi meningkat drastis pada usia 55-64 tahun dan IMT kuintil ke-5 (Tesfaye et al.40 pada wanita. sehingga aliran darah menjadi lancar dan jantung memperoleh suplai oksigen yang cukup (Khomsan 2004). Kolesterol LDL lebih mudah menembus plak di dalam dinding nadi pembuluh darah apabila dalam kondisi teroksidasi. Hal tersebut disebabkan oleh hormon estrogen. ras. Hormon estrogen ini kadarnya akan semakin menurun setelah menopause (Armilawati 2007). 2007).38 pada laki-laki dan 0. Faktor Risiko Hipertensi yang Bisa Diubah Kejadian hipertensi juga ditentukan oleh faktor yang dapat diubah. yang dapat melindungi wanita dari penyakit kardiovaskuler. Peranan estrogen yang lain adalah sebagai pelebar pembuluh darah jantung. intoleransi glukosa. estrogen juga berfungsi sebagai antioksidan. kolesterol darah. Faktor risiko yang bisa diubah antara lain adalah gaya hidup dan status gizi. 2007). sehingga kemampuan LDL untuk menembus plak akan berkurang.

gaya hidup adalah hasil pengaruh beragam peubah bebas yang terjadi di dalam individu atau keluarga. Gaya hidup dapat diartikan sebagai cara hidup masyarakat (Suhardjo 1989). Sebagai ciri atau karakteristik. Gaya hidup yang diduga berhubungan dengan kejadian hipertensi antara lain meliputi aktivitas fisik. berlemak. aktivitas aerobik menurunkan tekanan darah rata-rata 4 mmHg TDS dan 2 mmHg TDD . keadaan dan hasil pengaruh beragam variabel bebas yang terjadi di dalam keluarga atau rumah tangga. sedangkan jantung dan paru-paru memerlukan tambahan energi untuk mengantarkan zat-zat gizi dan oksigen ke seluruh tubuh dan untuk mengeluarkan sisa-sisa dari tubuh (Supariasa 2001). Selain itu. otot membutuhkan energi diluar metabolisme untuk bergerak. Seseorang dengan aktivitas fisik yang kurang. Aktivitas Fisik Tekanan darah dipengaruhi oleh aktivitas fisik. jeroan. Selama melakukan aktivitas fisik. dua meta-analisis yang telah dilakukan juga menyebutkan hal yang sama. reaksi atau respon seseorang terhadap diri dan lingkungan yang mempengaruhinya (Mulyono 1994 dalam Andiyani 2007). dan stress. Gaya hidup merupakan hasil penyaringan dari sejumlah interaksi sosial. Dengan kata lain. sifat situasi. budaya. menurut Sanjur (1982) dalam Andiyani (2007). makanan yang diawetkan. asin. minuman beralkohol dan minuman berkafein. makanan manis. Peubah yang membentuk gaya hidup termasuk penyediaan materi. kebiasaan makan. dan sifat-sifat psikologis serta kesehatan. Penelitian dari Farmingharm Study menyatakan bahwa aktivitas fisik sedang dan berat dapat mencegah kejadian stroke.Gaya Hidup Gaya hidup merupakan ciri pribadi yang dimiliki oleh setiap orang. Hasil analisis pertama menyebutkan bahwa berjalan kaki dapat menurunkan tekanan darah pada orang dewasa sekitar 2% (Kelley 2001). kerangka ide budaya. kebiasaan merokok. memiliki kecenderungan 30%-50% terkena hipertensi daripada mereka yang aktif. Aktivitas fisik adalah gerakan yang dilakukan oleh otot tubuh dan sistem penunjangnya. gaya hidup merupakan disposisi atau watak yang melatarbelakangi perilaku. Kebiasaan makan yang diamati adalah kebiasaan konsumsi buah dan sayur. Sedangkan. Tekanan darah akan lebih tinggi pada saat melakukan aktivitas fisik dan lebih rendah ketika beristirahat (Armilawati 2007). gaya hidup banyak berpengaruh terhadap tingkah laku dalam kehidupan individu. Analisis kedua pada 54 randomized controlled trial (RCT).

budaya dan sosial. (2007) menyebutkan bahwa peningkatan konsumsi sayur dan buah serta penurunan konsumsi lemak pangan. yang menemukan bahwa penurunan risiko jantung koroner dan . Akibatnya aktivitas fisik menurun yang berarti makin sedikit energi yang digunakan dan makin banyak energi yang ditimbun (Rimbawan dan Siagian 2004). minuman beralkohol.4 mmHg (Khomsan 2004). Kemajuan teknologi seperti transportasi dan alat bantu komunikasi berkontribusi pada meningkatnya prevalensi kegemukan. makanan manis.pada pasien dengan dan tanpa hipertensi (Whelton et al. Penemuan ini memperkuat hasil penelitian sebelumnya. 30 – 45 menit per hari. makanan awetan. Pada penelitian ini. serta membuat enggan mengeluarkan tenaganya. dan kepercayaan serta tingkat kemajuan teknologi (Suhardjo 1989). the Nurses’ Health Study and the Health Professionals Follow-up Study groups. diantaranya adalah perbedaan etnis. iklim. dan minuman berkafein. Olah raga atau aktivitas fisik yang mampu membakar 800-1000 kalori akan meningkatkan high density lipoprotein (HDL) sebesar 4. makanan berlemak. tingkat sosial ekonomi. makanan asin. Selain itu. 2002). disertai dengan penurunan konsumsi lemak total dan lemak jenuh. kebiasaan makan yang diduga berhubungan dengan kejadian hipertensi adalah konsumsi buah dan sayur.01). psikologis. Konsumsi Buah dan Sayur Penelitian yang dilakukan oleh Dauchet et al. Tersedianya sarana transportasi membuat orang lebih memilih naik kendaraan daripada berjalan kaki walaupun pada jarak yang tidak jauh. geografi. Hal ini membuktikan bahwa semakin aktif secara fisik maka kemungkinan semakin baik status gizi (Amelia 2008). agama. Orang lebih memilih naik eskalator atau lift daripada naik tangga. Banyak faktor yang mempengaruhi kebiasaan makan. penting dilakukan sebagai strategi untuk pencegahan dan pengelolaan hipertensi. Peningkatan intensitas aktivitas fisik. Hasil analisis Korelasi Pearson menunjukkan adanya hubungan antara aktivitas fisik (pengeluaran energi) dengan status gizi remaja (p<0. jeroan. Kebiasaan Makan Kebiasaan makan merupakan cara individu atau kelompok individu memilih pangan dan mengkonsumsinya sebagai tanggapan pengaruh fisiologis. dapat menurunkan tekanan darah. diciptakannya mesin-mesin yang dapat menggantikan tugas manusia semakin membuat ”manja”.

Sedangkan.02. Menkonsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan dalam porsi yang memadai akan menjadi sumber asupan antioksidan bagi tubuh (Almatsier 2003). dan padi-padian tumbuk. kacangkacangan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kerusakan pembuluh darah bisa dicegah dengan mengkonsumsi antioksidan sejak dini. Konsumsi tinggi sayur dan buah serta rendah karbohidrat dan lemak dapat digunakan sebagai pola makan untuk penurunan berat badan.005) (Dauchet et al. tidak merokok. P<0. Hal ini tidak saja disebabkan oleh aktivitas antioksidan dalam buah dan sayur. Antioksidan terbagi atas dua jenis. menemukan hubungan nyata antara konsumsi pangan yang memiliki densitas energi rendah dengan penurunan berat badan (p<0. P<0. liar. Penelitian yang dilakukan oleh Ledikwe et al. Dalam hal ini. dan selenium (Se). Radikal bebas adalah suatu molekul oksigen dengan atom pada orbit terluarnya memiliki elektron yang tidak berpasangan. dan radikal. vitamin C. dan katalase. vitamin E. molekul lalu menjadi tidak stabil. Contoh dengan pola konsumsi rendah densitas energi dapat . yakni antioksidan endogen dan eksogen. zinc (Zn). Orang yang mengkonsumsi buah dan sayur biasanya memiliki kebiasaan yang lebih sehat.001). sayur.0 mmHg. antioksidan eksogen mencakup beta karoten. antioksidan mampu menstabilkan radikal bebas dengan melengkapi kekurangan elektronnya dan menghambat terjadinya reaksi berantai dari pembentukan radikal bebas yang dapat menimbulkan stress oksidatif. dan tidak mengkonsumsi alkohol. Pasien hipertensi dianjurkan mengkonsumsi sayur dan buah yang mengandung serat pangan minimal 30 mg/hari (Hartono 2006). Tingginya konsumsi biji-bijian dengan kulit berhubungan dengan penurunan hipertensi pada orang dewasa dan lansia wanita (Wang et al. (2007) pada 810 orang penderita prehipertensi dan hipertensi ringan. 2007). antioksidan mampu menangkap radikal bebas dan mencegah dimulainya proses kerusakan pembuluh darah. 2007). dan magnesium. Konsumsi buah dan sayur >400 gram per hari dapat menurunkan risiko hipertensi dengan semakin bertambahnya umur. misalnya superoksida dismutase (SOD).stroke berhubungan dengan tingginya pola konsumsi buah. ikan. mineral kalium.6 mmHg. tetapi juga karena adanya komponen lain seperti serat. glutathion. yang secara keseluruhan dapat menurunkan risiko hipertensi (TDS: -1. TDD: -1. Karena kehilangan pasangannya itu. seperti: melakukan aktivitas fisik lebih banyak. Antioksidan endogen berupa enzim dalam tubuh. Dalam hal ini.

dan akhirnya akan menurunkan risiko hipertensi (Krisnatuti & Yenrina 2005). Menurut penelitian Johnson et al. (2007) menemukan adanya penurunan tekanan darah sistolik pada sampel dengan intervensi Dietary Approach to Stop Hypertension (DASH). sedangkan penumpukan pada pembuluh darah akan menyumbat peredaran darah dan membentuk plak (aterosklerosis) yang berdampak pada hipertensi dan jantung koroner. dibandingkan dengan jumlah fruktosa yang biasa dikonsumsi 60%) dapat meningkatkan tekanan darah dan perubahan mikrovaskular. Serat pangan dapat membantu meningkatkan pengeluaran kolesterol melalui feces dengan jalan meningkatkan waktu transit bahan makanan melalui usus kecil. konsumsi serat sayuran dan buah akan mempercepat rasa kenyang. berupa pangan berdensitas energi rendah (konsumsi buah dan sayur 9-12 . Konsumsi pangan dengan densitas energi yang rendah (kkal/g) telah dimasukkan dalam Dietary Guidelines for Americans 2005 sebagai strategi untuk mengurangi konsumsi energi. Selanjutnya Ledikwe et al. Konsumsi Makanan Manis dan Tinggi Energi Makanan atau minuman manis mengandung unsur karbohidrat sederhana yang menghasilkan energi tinggi. Selain itu. Keadaan ini menguntungkan karena dapat mengurangi pemasukan energi dan obesitas. Banyak penelitian menemukan fakta bahwa konsumsi pangan dengan densitas energi rendah berhubungan dengan berat badan yang lebih sehat. (2007). vitamin dan mineral.28 P<0. dosis fruktosa yang tinggi (10% air menghasilkan ½ asupan energi.menurunkan asupan energi dan penurunan berat badan. Seseorang yang mengkonsumsi makanan/minuman manis tidak akan merasa puas dan akan makan terus menerus. Kelebihan konsumsi energi dan aktivitas fisik yang rendah merupakan faktor penting yang menyebabkan epidemik obesitas. tidak memberikan efek kepuasan setelah makan.001). serat. Konsumsi yang berlebihan akan meningkatkan asupan energi yang selanjutnya disimpan tubuh sebagai cadangan lemak. Pola konsumsi rendah densitas energi dapat dilakukan dengan peningkatan konsumsi buah. Fruktosa (gula sederhana yang menghasilkan rasa manis). Konsumsi pangan dengan densitas energi rendah dapat menurunkan berat badan secara signifikan (r=0. sayur. Penumpukan lemak tubuh pada perut akan menyebabkan obesitas sentral.

Penelitian yang dilakukan oleh GuallarCastillon et al. Sebanyak 60% populasi yang mengalami hipertensi esensial. memiliki tekanan darah yang responsif terhadap jumlah konsumsi natrium. Konsumsi Makanan Berlemak dan Jeroan Konsumsi jenis pangan yang digoreng (deep frying) berpengaruh meningkatnya asupan energi dari lipid. Pengaruh asupan natrium terhadap hipertensi terjadi melalui peningkatan volume plasma (cairan tubuh) dan tekanan darah (William 1991). Salah satu rekomendasi pencegahan hipertensi di Amerika adalah dengan membatasi konsumsi garam 6 g/hari (100 mEq atau 2400 mg Na per hari). yang mengalami peningkatan tekanan darah seiring dengan meningkatnya umur dan modernisasi masyarakat.1. Studi epidemiologi pada berbagai populasi menunjukkan adanya peranan garam dalam kejadian hipertensi. Reaksi adrenal akan meningkat dan reaksi renal vascular akan menurun dengan adanya pembatasan konsumsi natrium (Williams 1991).5 mmHg jika ratarata konsumsi natrium lebih rendah dari 100 mEq/ hari (Krummel 2004). pengaturan sirkulasi ginjal yang tidak normal dan sekresi aldosteron. (2007) di Spanyol menunjukkan bahwa makanan berlemak berhubungan dengan obesitas 1. Masyarakat perdesaan yang mengkonsumsi garam dalam jumlah kecil (70mEq/hari) terbukti memiliki riwayat hipertensi yang lebih rendah. sehingga dapat meningkatkan nafsu makan (Krisnatuti dan Yenrina 2005). yaitu 100 mEq/24 jam. Makanan Asin dan Awetan Makanan asin dan makanan yang diawetkan adalah makanan dengan kadar natrium tinggi. Makanan asin dan awetan biasanya memiliki rasa gurih (umami). Natrium adalah mineral yang sangat berpengaruh pada mekanisme timbulnya hipertensi. dan konsumsi total lemak dan lemak jenuh <25% dan <7% dari total energi) dan penyuluhan.09. Peningkatan TDS karena penuaan (umur >30 tahun) berkurang 9 mmHg dan peningkatan TDD berkurang 4. Populasi lain dari 24 komunitas memiliki kebiasaan konsumsi jumlah natrium yang berbeda.001) pada pria 1. antara lain: ketidakmampuan ginjal untuk mengeskresikan natrium. protein hewani rendah lemak 2-3 porsi/hari. Williams (1991) menjelaskan bahwa mekanisme yang mendasari sensitivitas garam pada beberapa pasien mungkin disebabkan oleh beberapa hal. berhubungan dengan penurunan 10 mmHg TDS pada orang dewasa berumur 60-69 tahun.25 .porsi/hari. P<0.45.26 (95% CL: 1. Konsumsi natrium akan mengatur reaksi adrenal dan renal vascular terhadap angiotensin II.

001) pada pria dan 1.001) pada wanita dan obesitas sentral 1. Secara umum.02. trigliserida. renyah. dan otak. asam lemak jenuh cenderung meningkatkan kolesterol darah.1.17 (1. Jika dibandingkan dengan orang yang bukan peminum alkohol.7 mg/dL kolesterol darah. paru) banyak mengandung asam lemak jenuh (saturated fatty acid/ SFA). low density lipoprotein (LDL) (Almatsier 2003).1. P<0. santan dan semua minyak lain seperti minyak jagung.11.1. Konsumsi pangan tinggi lemak juga dapat menyebabkan penyumbatan pembuluh darah yang dikenal dengan aterosklerosis. akan tetapi hal ini tidak terjadi pada semua orang.13. Makanan yang digoreng memiliki rasa yang gurih. Rendahnya tingkat kepuasan dapat berpengaruh terhadap kemampuan respon insulin dan leptin.(1. Konsumsi alkohol 3 kali per hari dapat menjadi pencetus meningkatnya tekanan darah. enak dan kaya lemak. dan berhubungan dengan peningkatan 3 mmHg. Setiap peningkatan 1% energi dari asam lemak jenuh. P<0. Kandungan lemak atau minyak yang dapat mengganggu kesehatan jika jumlahnya berlebih lainnya adalah: kolesterol. Lemak yang berasal dari minyak goreng tersusun dari asam lemak jenuh rantai panjang (long-saturated fatty acid).27 (1.41. minyak kedelai yang mendapat pemanasan tinggi atau dipanaskan berulang-ulang. Keberadaannya yang berlebih di dalam tubuh akan menyebabkan penumpukan dan pembentukan plak di pembuluh darah. 10 oz wine. hormon yang menstimulasi rasa lapar-kenyang. Konsumsi alkohol seharusnya kurang dari 2 kali per hari (24 oz bir. P<0. 25-60% lemak yang berasal dari hewani dan produknya merupakan asam lemak jenuh. Lemak jenuh terutama berasal dari minyak kelapa. Kebiasaan konsumsi alkohol harus dihilangkan untuk menghindari peningkatan tekanan darah (Hartono 2006). sehingga memiliki densitas energi yang tinggi dan tingkat kepuasan yang rendah. Hal ini menyebabkan seseorang ingin makan terus menerus. maka terdapat perbedaan yang signifikan dalam hal tingginya tekanan darah. Konsumsi Alkohol Konsumsi alkohol diakui sebagai faktor penting yang berhubungan dengan tekanan darah.42. Pembuluh darah menjadi semakin sempit dan elastisitasnya berkurang. babat. Kelebihan lemak jenuh akan menyebabkan peningkatan kadar LDL kolesterol (Almatsier 2003). diperkirakan akan meningkatkan 2.34. atau 2 oz whiskey murni) pada laki-laki untuk pencegahan . lidah.001) pada wanita. Jeroan (usus. hati. Jeroan mengandung kolesterol 4-15 kali lebih tinggi dibandingkan dengan daging. jantung.

98).54.67. nikotin juga meningkatkan frekuensi denyut . Selain menyebabkan ketagihan merokok. Kafein mempunyai sifat antagonis endogenus adenosin. Dua studi kohort yang dilakukan selama 15 tahun pada 155 594 wanita berusia 30-55 tahun dari Nurses Health Studies (NHSs). direkomendasikan tidak lebih dari 1 kali minum per hari (Krummel 2004).31.46. 95% CI: 0. sehingga dapat menyebabkan vasokontriksi dan peningkatan resistensi pembuluh darah tepi. Namun dosis yang digunakan dapat mempengaruhi efek peningkatan tekanan darah. (2007) yang menunjukkan adanya hubungan ”invers U” antara jumlah kopi yang dikonsumsi dengan kejadian hipertensi.4% (Karyadi 2002). Namun ditemukan adanya hubungan dengan pola invers U antara konsumsi kopi dengan kejadian hipertensi (Whinkelmayer et al. Seseorang yang biasa minum kopi dengan dosis kecil mempunyai adaptasi yang rendah terhadap efek kafein daripada orang yang biasa mengkonsumsinya dengan dosis besar. Namun akan lebih baik jika konsumsi alkohol tidak dilakukan. Wanita yang mengkonsumsi >6 gls/hari memiliki risiko yang lebih rendah daripada wanita yang mengkonsumsi >0-3 gls/hari (OR: 0. Konsumsi Kafein Penelitian mengenai pengaruh kafein terhadap kejadian hipertensi belum menunjukkan hasil yang konsisten. Tandra (2003) menyatakan bahwa nikotin mengganggu sistem saraf simpatis yang mengakibatkan meningkatnya kebutuhan oksigen miokard. Beberapa penelitian menunjukkan adanya pengaruh negatif antara konsumsi kafein dengan kejadian hipertensi. keduanya tidak menunjukkan hubungan linear antara konsumsi kafein dengan risiko kejadian hipertensi.92). sehingga dapat menurunkan kapasitas sel darah merah pembawa oksigen ke jantung dan jaringan lainnya. Hasil tersebut juga didukung oleh penelitian kohort yang dilakukan oleh Uiterwaal et al. 2005). 0.peningkatan tekanan darah. Seseorang yang tidak mengkonsumsi kopi memiliki risiko rendah terkena hipertensi daripada orang yang mengkonsumsi >0-3 gls/hari (OR: 0. 0. Laporan dari Amerika Serikat menunjukkan bahwa upaya menghentikan kebiasaan merokok dalam jangka waktu 10 tahun dapat menurunkan insiden penyakit jantung koroner (PJK) sekitar 24. Bagi perempuan dan orang yang memiliki berat badan berlebih. Kebiasaan Merokok Asap rokok (CO) memiliki kemampuan menarik sel darah merah lebih kuat dari kemampuan menarik oksigen. 95% CI: 0.

0. Merokok dapat meningkatkan kadar kolesterol darah dan dapat menurunkan kadar HDL. Selain itu.58-2. Peningkatan sekresi hormon tersebut berdampak pada peningkatan tekanan darah. 2. angiotensin. Framingham Heart Study yang meneliti pria dan wanita sekitar 20 – 49 tahun dilaporkan bahwa kadar kalesterol HDL lebih rendah 4. kompetisi. Status Gizi Masalah kekurangan atau kelebihan gizi pada orang dewasa merupakan masalah penting karena selain mempunyai risiko penyakit-penyakit tertentu juga dapat mempengaruhi produktivitas kerja.5 – 6.jantung. merangsang pelepasan adrenalin. Nilai OR dari perbandingan waktu terdesak/tidak sabar terhadap skor terendah sebesar 1. Oleh karena itu. Pada saat stress. Nikotin juga mengganggu kerja saraf. dan kebutuhan oksigen jantung. (2006) pada subjek berusia 32-59 tahun menyebutkan bahwa waktu tidur yang sedikit (≤ 5 jam per malam).12-2.01. merokok juga dapat meningkatkan pengaktifan platelet (sel-sel penggumpal darah) (Khomsan 2004). dan pada studi lain dilaporkan bahwa pria yang merokok lebih dari 20 batang sehari akan mengalami penurunan HDL hingga 11% dibandingkan bukan perokok (Karyadi 2002). prestasi kerja. Merokok dapat mengubah metabolisme kolesterol ke arah aterogenik. sekresi katekolamin semakin meningkat sehingga renin. Faktor psikososial dari waktu terdesak/tidak sabar. 1.76-1.47) p<0. 2003). dan aldosteron yang dihasilkan juga semakin meningkat (Klabunde 2007). tekanan darah. Penelitian Gangwisch et al. berhubungan nyata dengan peningkatan kejadian hipertensi (hazart rasio. dan permusuhan 1.01 (Yan et al. pemantauan keadaan . Stress Stress dapat meningkatkan aktivitas saraf simpatik yang mengatur fungsi saraf dan hormon. otak.5 % pada perokok. 1. serta menyebabkan gangguan irama jantung.79). sehingga dapat meningkatkan denyut jantung.06 (95% CI. Rokok dapat meningkatkan kadar LDL dalam darah dan menurunkan kadar HDL. permusuhan.19.03) p<0.51 (95% CI. 95% CI. dan banyak bagian tubuh lainnya. menyempitkan pembuluh darah. dan meningkatkan retensi air dan garam (Syaifuddin 2006). Studi kohort pada orang dewasa berusia 18-30 tahun menunjukkan adanya hubungan nyata antara tingginya waktu terdesak/tidak sabar dan permusuhan terhadap kejadian hipertensi pada keseluruhan sampel yang diikuti selama 15 tahun. depresi dan rasa gelisah berhubungan dengan kejadian hipertensi.

dan hepatomegali.0 Sumber: Departemen Kesehatan (Depkes) (1994) diacu dalam Depkes (2008) 2 Seseorang dikatakan kegemukan atau obesitas jika memiliki nilai IMT≥25. dan olahragawan. statistik vital dan faktor ekologi (Supariasa 2002). remaja. gula darah 2 mg/dl.<25.5 .tersebut perlu dilakukan secara berkesinambungan. sedangkan secara tidak langsung dibagi menjadi tiga. Obesitas pada anak berisiko terkena hipertensi tiga kali lebih besar daripada anak non-obesitas. dibanding dengan 18% laki-laki dan 17% perampuan yang memiliki IMT<25 (Krummel 2004). IMT tidak dapat diterapkan pada bayi. yaitu: antropometri. asites.<27. Aktivitas sistem . Kategori batasan IMT (kg/m ) Kategori IMT Kurus < 18. Menurut Supariasa (2002). penyakit jantung koroner dan diabetes mellitus. ibu hamil. IMT tidak bisa diterapkan pada keadaan khusus (penyakit) lainnya seperti edema.0 BB lebih ≥ 25. Penilaian status gizi secara langsung dapat dibagi menjadi empat. yaitu: survei konsumsi pangan. Data dari studi Farmingham (AS) yang diacu dalam Khomsan (2004) menunjukkan bahwa kenaikan berat badan sebesar 10% pada pria akan meningkatkan tekanan darah 6. dan biofisik.0 Obesitas ≥ 27. Indeks Massa Tubuh (IMT) adalah salah satu cara untuk mengukur status gizi seseorang. Salah satu cara adalah dengan mempertahankan berat badan yang ideal atau normal. Obestitas merupakan faktor risiko munculnya berbagai penyakit degeneratif. Prevalensi hipertensi pada seseorang yang memiliki IMT>30 pada lakilaki sebesar 38% dan wanita 32%. dan kolesterol darah 11 mg/dl. Rumus perhitungan IMT adalah sebagai berikut: IMT = BB (kg)/ TB2 (m2) Keterangan: IMT = Indeks Massa Tubuh BB = Berat badan (kg) TB = Tinggi Badan (m) Klasifikasi status gizi menggunakan IMT orang dewasa disajikan pada tabel berikut: Tabel 2. klinis. Disamping itu. Risiko hipertensi pada anak meningkat seiring dengan peningkatan BMI. penggunaan IMT hanya berlaku untuk orang dewasa berumur di atas 18 tahun. seperti hipertensi. anak.5 Normal ≥ 18.0.0 .6 mmHg. biokimia.

95% CI: 1. serta perubahan organ ginjal. Hubungan nyata positif juga terdapat pada status gizi (IMT) dengan tekanan darah diastolik (r=0. yaitu resistensi insulin dan hiperinsulinemia. p<0.458.05). 95% CI: 1.68. p<0.47.67. Peningkatan asupan energi juga berhubungan dengan peningkatan insulin plasma.42-4. Hubungan antara kelebihan berat badan dengan hipertensi dapat dijelaskan sebagai perubahan fisiologis. 2007). yang berperan sebagai faktor natriuretik dan menyebabkan peningkatan reabsorbsi natrium ginjal sehingga menyebabkan meningkatnya tekanan darah (Krummel 2004). aktivasi sistem saraf simpatik dan sistem renin-angiotenin. di Ethiopia (OR= 2.29) dan Vietnam (OR=2. 95% CI: 3. Ethiopia dan Vietnam.0). Hubungan linear antara IMT dan tekanan darah ditemukan pada negara-negara berkembang seperti Indonesia. Risiko hipertensi pada orang yang overweight dan obesitas (IMT≥25.250.syaraf simpatik berlebih karena stress dan resistansi insulin berkontribusi dalam kejadian hipertensi pada anak maupun orang dewasa (Peebles & Hammer 2006).01).08) (Tesfaye et al. Hal ini mengindikasikan bahwa contoh pada kategori status gizi gemuk memiliki tekanan darah sistolik maupun distolik yang lebih tinggi (Sabunga 2007). Penelitian yang dilakukan pada remaja berumur 17-20 tahun menunjukkan adanya hubungan nyata positif antara status gizi (IMT) dengan tekanan darah sistolik (r=0. .75-4.0) lebih tinggi di Indonesia (OR=7.88-15.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->