Bab 10 Akal Dan Wahyu

AKAL DAN WAHYU 1.

Pengertian akal Kata akal berasal dari kata Arab al-Aql yang dalam bentuk kata benda tidak terdapat dalam al-Qur’an hanya membawa bentuk kata kerjanya aqaluh dalam 1 ayat, ta’qilun 24 ayat, na’qil 1 ayat, ya’qiluha 1 ayat dan ya’qilun 22 ayat. Kata-kata itu dalam arti paham dan mengerti.[1] Sebagai contoh dapat disebutkan ayat-ayat berikut yang artinya : Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui. (Q.S. Al-Baqarah : 75). 2. Pengertian Wahyu Ayat al-Qur’an yang menjelaskan cara terjadinya komunikasi antara Tuhan dengan Nabinabi di antaranya. Yang artinya sebagai berikut : Tidak terjadi bahwa Allah berbicara kepada manusia kecuali dengan wahyu, atau dari belakang tabir, atau dengan mengirim seorang utusan, untuk mewahyukan apa yang ia kehendaki dengan seizing-Nya. Sungguh ia maha Tinggi lagi maha Bijaksana. (Q.S. AsySyuura; 51) Ayat di atas menjelaskan adanya komunikasi antara Tuhan dengan manusia, baik cara penyampaian wahyu itu di belakang tabir maupun dengan mengutus malaikat. Wahyu yang dalam Islam bukanlah hanya isi tetapi juga teks Arab dari ayat-ayat sebagai terkadang dalam al-Qur’an dalam teks Arabnya dari Tuhan adalah bersifat absolute. Wahyu menurut ilmu bahasa adalah isyarat yang cepat dengan tangan dan sesuatu isyarat yang dilakukan bukan dengan tangan. Juga bermakna surat, tulisan dan juga bermakna segala sesuatu yang kita sebuat kepada orang lain untuk diketahui.[2] Dari pengertian akal dan wahyu yang telah diungkapkan di atas, penulis akan membahas bagaimana peranan akal dan wahyu dalam system teologi Mu’tazilah, Asya’ariyah dan Maturidiyah pada kajian selanjutnya. A. Akal dan Wahyu menurut Mu’tazilah, Asy’ariyah, dan Maturidiyah 1. Mu’tazilah Mu’tazilah adalah aliran teologi yang bersifat tradisional dan liberal, dan dikenal juga dengan nama “Kaum Rasionalisme Islam”.[3] Bagi Mu’tazilah akal maupun mengetahui keempat persoalan pokok di atas, berterima kasih kepada Tuhan sebelum turunnya wahyu wajib, mengerjakan yang baik dan menjahui yang jahat adalah wajib. Tokoh Mu’tazilah yang lain seperti al-Nazaam juga mengatakan sedemikian sebelum wahyu datang akal wajib mengetahui Allah, mengetahui yang baik dan yang jahat. Golongan al-Murdar yang dipelopori oleh Isa ibn Sabih lebih jauh lagi menurut mereka akal wajib mengetahui Allah, mengetahui hukum-hukum dan sifat Tuhan, walaupun wahyu belum dating orang yang tidak berterima kasih kepada Tuhan mendapat hukuman kekal dalam neraka.

1) http://kulimijit.blogspot.com/2009/07/perbandingan-antara-aliran-kekuasaan.html 2) M. Hasbi-Asy-shidiqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an/Tafsir, Bulan Bintang, Jakarta, 1954 hlm 12 3) Harun Nasution, Teologi Islam, UI Press, Jakarta, 1986, hlm. 38.

manusia tidak akan berkewajiban mengetahui Tuhan dan tidak akan berkewajiban berterima kasih kepada-Nya atas nikmat yang diturunkan-Nya kepada manusia. Al-Maarif.Dengan demikian. Tidak ada kewajiban sebelum datangnya syariat dan akal tidak dapat menentukan kewajiban sebelum datangnya syariat. Maturidiyah Maturidiyah dan Asy’ariyah disebut juga dengan golongan Ahli Sunnah wal Jama’ah.com/2009/07/perbandingan-antara-aliran-kekuasaan. 1986. Oleh sebab itu. Dengan demikian. masingmasingnya mempunyai persepsi yang berbeda dalam menempatkan kedudukan wahyu dan akal untuk menjawab keempat persoalan terdahulu. karena akal manusia menurut system teologi Asy’ariyah lemah. Sekiranya syariat tidak ada. Ketiga butir lainnya dapat diketahui akal. Untuk itu. hlm.[5] Dengan demikian persoalan baik dan buruk tidak dapat diketahui oleh akal.[4] Pendapat al-Baqhdadi tentang upah ini bertentangan dengan konsep kaum Mu’tazilah. Maturidiyah Samarkand berpendapat hanya satu yang tidak dapat diketahui akal yaitu butir empat. bagi kaum Mu’tazilah fungsi wahyu lebih banyak bersifat konfirmasi daripada informasi. bagi kaum Mu’tazilah daya akal kuat tetapi fungsi wahyu penting yaitu memperkuat apa yang telah diketahui oleh akal. Jakarta. UI Press. wahyu lebih banyak bersifat informasi daripada konfirmasi. Allah wajib memberi pahala atas perbuatan yang dianggap jahat oleh akal karena pada perbuatan itu sendiri terdapat sifat kebaikan dan kejahatan. diperlukan wahyu. bagi Mu’tazilah. akan tetapi persoalan baik dan jahat yang dapat diketahui akal secara garis besarnya saja. Tetapi pengiriman rasul bagi aliran ini jaiz. Bagi mereka akal manusia hanya dapat mengetahui adanya Tuhan saja. Memang akal dapat mengetahui yang baik dan yang jahat. bagi mereka akal hanya dapat mengetahui wujud Tuhan. 1969.[6] Sesuai dengan konsep Kehendak Mutlak Tuhan tidak ada kewajiban bagi Tuhan untuk mengutus rasul. Iskandariyah. Maturidiyah samarkand dengan tokohnya Abu Mansur al-Maturidi dan Maturidiyah Bukhara dengan tokohnya al-Bazdawi.. kaum ini memberikan daya terkecil kepada akal dan fungsi terbesar kepada wahyu. 3. Sedangkan secara terperinci ditetapkan oleh wahyu. kata al-Ghazali. 115. 5) Al-Juwaini. sementara itu Maturidiyah terpecah pula menjadi dua golongan. hlm. 4) Harun Nasution. Tetapi tidak semua yang baik itu baik dan yang jahat itu jahat seperti apa yang diketahui oleh akal. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bagi kaum Mu’tazilah akal cukup mampu mengetahui keempat persoalan pokok tersebut.blogspot. Oleh sebab itu. al-Syamil fi ushul al-Din. Asy’ariyah Asy’ariyah system teologinya bersifat tradisional. Dari pendapat-pendapat yang dikemukakan oleh tokoh Asy’ariyah satu pendapat tentang kemampuan akal manusia. 6) http://kulimijit. Teologi Islam.html . tetapi dalam system teologinya terdapat perbedaan pendapat dalam menempatkan kedudukan akal dan wahyu. 2. Jadi hanya sebagian saja yang diketahui oleh akal. sedangkan mengetahui baik dan jahat dan kewajibankewajiban manusia dapat diketahui melalui wahyu. 100. dalam tiga pokok lainnya dapat diketahui manusia dengan adanya wahyu. jika sekiranya wahyu tidak ada manusia tidak akan tahu kewajiban-kewajibannya.

kewajiban mengetahui Tuhan dan mengetahui yang baik dan yang jahat. Sementara itu. 1963. maka wahyu ini berfungsi memberi konfirmasi tentang apa yang telah dijelaskan oleh akal manusia sebelumnya. dan tidak mengetahui apa saja yang menjadi kewajibannya. Demikian jugalah umumnya Ulama Samarkand dan sebahagian dari alim ulama Irak. akal memang mulia terhadap orang yang adil serta lurus. 77. Fungsi Wahyu Wahyu berfungsi memberi informasi bagi manusia. Ushul al-Din. 1986.[7] Menyangkut masalah pengetahuan tentang keburukan menurut Maturidiyah Samarkand ini ialah : bagi seluruh (al-Asyya’) itu terhadap keburukan yang sebenarnya (zati). hal 207 8) Harun Nasution. namun tidaklah wahyu dalam pandangan mereka tidak perlu. bagaimana cara berterima kasih kepada tuhan. Tanpa diberi tahu oleh wahyu manusia tidak mengetahui mana yang baik dan yang buruk. Oleh karena itu.[8] Argument al-Maturidi tentang akal ini adalah akal mengetahui bahwa bersikap adil dan lurus adalah baik dan bahwa bersikap tak lurus adalah buruk. akal manusia sudah mengetahui empat hal. Pertama : Sesuatu yang dapat diketahui kebaikannya dengan akal Kedua : Sesuatu yang tidak jelas kebaikan dan keburukannya untuk diketahui oleh akal. Sebagaimana penjelasan al-Bazdawi. dan memandang rendah terhadap orang yang bersikap tak adil dan tak lurus. Menurut Mu’tazilah dan Maturidiyah Samarkand wahyu tetaplah perlu. Sementara itu akal mampu mengetahui sebahagian dari keburukan perbuatan itu. Tetapi baik dari aliran Mu’tazilah maupun dari aliran Samarkand tidak berhenti sampai di situ pendapat mereka. serta menjelaskan perincian upah dan hukuman yang akan di terima manusia di akhirat.Dalam hal yang demikian Maturidiyah Samarkand sependapat dengan Mu’tazilah yang mengatakan akal manusia mampu mengetahui Tuhan. Kairo. Wahyu diperlukan untuk memberi tahu manusia. Akal selanjutnya memerintah manusia mengerjakan perbuatan-perbuatan yang akan mempertinggi kemuliaan dan melarang manusia mengerjakan perbuatan-perbuatan yang akan mempertinggi kemuliaan dan melarang manusia mengerjakan perbuatan-perbuatan yang membawa kepada kerendahan. hlm. “Percaya kepada Tuhan dan berterimakasih kepada-Nya sebelum adanya wahyu adalah wajib dalam paham Mu’tazilah Al-Syaikh Abu Mansur al-Maturidi dalam hal ini sepaham dengan Mu’tazilah. Dar al-Ihya’al-Kutub al-Arabiah. Teologi Islam. bagi bagi aliran kalam tradisional karena memberikan daya yang lemah pada akal fungsi wahyu pada aliran ini adalah sangat besar. Perintah dan larangan itu dengan demikian menjadi wajib dengan kemestian akal (fa yajib al-amr wa al-nahy bi ma’rifah alaql). UI Press. Namun. mereka menjelaskan bahwa betul akal sampai pada pengetahuan tentang kewajiban berterima kasih kepada tuhan serta mengerjakan kewajiban yang baik dan menghindarkan dari perbuatan yang buruk. Maturidi membagi sesuatu (al-assya’) itu kepada tiga bagian. kewajiban mengerjakan yang baik dan menjauhi yang jahat bagi Mu’tazilah dapat diketahui akal tetapi bagi Maturidiyah Samarkand diketahui dengan wahyu. 7) Al-Bazdawi. . Bagi alran kalam tradisional. menyempurnakan akal tentang mana yang baik dan yang buruk. Bagian terakhir ini tidak dapat diketahui kecuali melalui petunjuk syariat.

dan sebagai akibatnya manusia akan berada dalam kekacauan. Adapun aliran Maturidiyah bagi cabang Samarkand mempunyai fungsi yang kurang wahyu tersebut. Teologi Islam Aliran-aliran Analisa Perbandingan. Demikian juga masalah baik dan buruk kewajiban berbuat baik dan mnghindari perbuatan buruk. Al-Jubbai berkata wahyulah yang menjelaskan perincian hukuman dan upah yang akan diperoleh manusia di akhirat. Jelas bahwa dalam aliran Asy’ariyah wahyu mempunyai fungsi yang banyak sekali.[9] Oleh Karena itu di dalam system teologi yang memberikan daya terbesar adalah akal dan fungsi terkecil kepada wahyu. Di dalam aliran maturidiyah manusia mempunyai kedudukan menengah di antara manusia dalam pandangan aliran Mu’tazilah. diketahui dari perintah dan larangan-larangan tuhan. dan mengetahui kewajiban-kewajibannya hanya turunnya wahyu.Selanjutnya wahyu kaum mu’tazilah mempunyai fungsi memberi penjelasan tentang perincian hukuman dan upah yang akan diterima manusia di akhirat. hlm. wahyu juga mempunyai fungsi relatif banyak tetapi tidak sebanyak pada teologi Asy’ariyah dan maturidiyah Bukhara. Tegasnya manusia dalam pandangan aliran Mu’tazilah adalah berkuasa dan merdeka sedangkan dalam aliran Asy’ariyah manusia lemah dan jauh dari merdeka. wahyu yang menentukan segala hal. Semua itu hanya dapat diketahui dengan perantaraan wahyu. manusia dipandang mempunyai kekuasaan dan kemerdekaan. Dan demikian menyempurnakan pengtahuan yang telah diperoleh akal. AlBaghdadi berkata semuanya itu hanya bisa diketahui menurut wahyu. Dan dalam pandangan cabang Samarkand manusia lebih berkuasa dan merdeka dari pada manusia dalam pandangan cabang Bukhara. tetapi pada aliran Maturidiyah Bukhara adalah penting. . yang juga memberikan kedudukan yang tinggi pada akal. Dari uraian di atas dapatlah kiranya disimpulkan bahwa wahyu bagi Mu’tazilah mempunyai fungsi untuk informasi dan konfirmasi.tetapi di dalam system teologi lain yang memberikan daya terkecil pada akal dan fungsi terbesar pada wahyu. dan demikianlah pendapat kaum Asy’ariyah. Bagi kaum Asy’ariyah akal hanya dapat mengetahui adanya tuhan saja. sekiranya wahyu tak ada manusia akan bebas berbuat apa saja. sedangkan bagi Maturidiyah Bukhara wahyu perlu untuk mengetahui kwajiban-kewajiban manusia. Oleh karena itu pengiriman para rosul-rosul dalam teologi Asy’ariyah seharusnya suatu keharusan dan bukan hanya hal yang boleh terjadi sebagaimana hal dijelaskan olh Imam Al-Ghozali di dalam al-syahrastani. Dalam teologi Maturidiyah Samarkand. 9) Harun Nasution. yang dikehendakinya. demikian pula akal tak mengetahui bahwa hkuman untuk suatu perbuatan buruk lebih besar dari hukuman untuk suatu perbuatan buruk yang lain. Dengan demikian sekiranya wahyu tidak ada. tetapi tidak begitu tinggi dibandingkan pendapat Mu’tazilah. memperkuat apa-apa yang telah diketahui akal dan menerangkan apa-apa yang belum diketahui akal. wahyu mempunyai kedudukan yang sangat penting. manusia tidak akan tahu kewajiban-kewajibannya kepada tuhan. juga dalam pandangan Asy’ariyah. 101. Manusia dipandang lemah dan tak merdeka. bagi Maturidiyah Samarkand perlu hanya untuk mengetahui kewajiban tentang baik dan buruk. AlDawwani berkata salah satu fungsi wahyu adalah memberi tuntunan kepada manusia untuk mengatur hidupnya di dunia. Abu Jabbar berkata akal tak dapat mengetahui bahwa upah untuk suatu perbuatan baik lebih besar dari pada upah yang ditentukan untuk suatu perbuatan baik lain. sekiranya tidak ada wahyu tak ada kewajiban dan larangan terhadap manusia. Manusia mengetahui yang baik dan yang buruk. sekiranya syariatnya tidak ada Al-Ghozali berkata manusia tidak aka ada kewajiban mengenal tuhan dan tidak akan berkewajiban berterima kasih kepadanya atas nikmat-nikmat yang diturunkannya. Wahyu perlu untuk mengatur masyarakat.

TUGAS AKIDAH Bab 10. Fungsi Wahyu Nama: Lutfi Arie Ramdhan NIM: 1111081000066 Kelas Manajemen 1 B . Analisa dan Perbandingan antar Teologi Islam: Akal dan Wahyu.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful