P. 1
Rotary Encoder

Rotary Encoder

|Views: 1,148|Likes:
Published by tiga_blas

More info:

Published by: tiga_blas on Jun 03, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/09/2013

pdf

text

original

Dionisius Ramaditya Putra Fatruan 090663156

ROTARY ENCODER
Sensor adalah sebuah piranti yang digunakan untuk mendeteksi suatu besaran fisis, temperatur, gaya, tekanan, ataupun kelembaman(humiditas). Sensor serinngkali disamakan dengan transduser, padahal tranduser sendiri merupakan sebuah alat yang digunakan untuk mentrsformasikan suatu besaran fisik ke besaran fisik lainnya sesuai dengan nilai yang dibutuhkan. Sensor sendiri umumnya digunakan sebagai monitoring, controlling, dan proteksi. Secara umum sensor dapat diklasifikasikan menajdi 6 tipe antara lain, mechanical, thermal, electrical, magnetic, radiant, serta chemical. Dalam tulisan ini saya akan membahas mengenai sensor jenis mechanical, lebih tepatnya sensor yang digunakan untuk pengukuran kecepatan. Rotary encoder sendiri merupakan sebuah divais elektronik yang dapat memonitor gerakan dan posisi. Cara kerja rotary encoder ini umumnya menggunakan sensor optik untuk menghasilkan serial pulsa yang dapat diartikan menjadi gerakan, posisi, dan arah. Hal ini akan membuat posisi sudut benda berputar dapat diolah menjadi informasi berupa kode digital oleh rotary. Rotary encoder ini sendiri tersusun dari suatu piringa tipis yang memiliki lubang-lubang yang terdapat pada piringan tersebut. Setelah itu akan ditempatkan LED pada salah satu sisi piringan. Hal ini akan membuat cahaya masuk menuju piringan. Kemudian disisi lain dari piringan ini diletakan photo trasnsistor yang bertujuan untuk mendeteksi cahaya LED yang berseberangan. Piringan tipis ini yang nantinya akan dikopel dengan poros motor ataupun divais berputar lainnya yang ingin kita ketahui posisinya, hal ini akan membuat piringan berputar keika motor tersebut berputar. Apabila cahaya yang berasal dari LED mencapai photo transistor, maka photo transtor itu akan mengalami saturasi dana kan menghasilkan suatu pulsa gelombang pesergi. Dibawah ini merupakakan gambar skematik sederhana dari rotary encoder.

Rotary encoder sendiri terbagi menjadi dua jenis jaitu : a. Absolute Rotary Encoder

Dengan membaca output biner yang dihasilkan maka posisi dari poros yang kita ukur dapat kita ketahui untuk diteruskan ke rangkaian pengendali. Sebagai contoh. Kelipatan dua yang terdapat pada tiap-tiap segmen piringan tersebutlah yang akan membuat suatu sistem biner. b. Sistem biner ini juga dibentuk akibat terjadinya pasangan antara LED dan photo transistor sebanyak jumlah cincin yang ada pada absolut encoder tersebut. Piringan yang digunakan untuk absolut encoder ini sendiri tersusun dari segmen-segmen cincin konsentris yang dimulai dari bagian tengah piringan ke arah tepi luar piringan yang jumlah segmennya selalu dua kali jumlah segmen cincin sebelumnya. sedangkan cincin kedua memiliki dua segmen transparan dan dua segmen gelap. maka kita dapat melihat dari channel mana yang leading ataupun “memimpin: terhadap channel yang lainnya. Semakin banyak bit yang kita pakai maka posisi yang dapat kita peroleh akan semakin banyak. deretan pulsa tersebut akan muncul pada masing-masing channel serta pada frekuensi yang proporsional dengan kecepatan putar. Hal ini akan menghasilkan kode digital yang berbeda saru sama lain untuk menyatakan sejumlah posisi tertentu dari poros yang dihubungkan pada encoder ini. hal ini terjadi karena kedua channel tersebut akan selalu berbeda fasa seperempat putaran (quadrature signal). cincin pertama yang terdapat pada bagian paling dalam memiliki satu segmen transparan dan satu segmen gelap. namun kelemahan yang muncul pada cara ini adalah pada setiap periode sudut αf yang didapat merupakan kelipatan integer dari α. Incremental Rotary Encoder Incremental encoder ini seniri terdiri single atauun dual track serta dua sensor yang masing-masing disebut sebagai channel A dan channel W.Prinsip kerja dari absolute rotary encoder ini menggunakan piringan yang memiliki pola unik serta sinyal optik yang tersusun dalam jalur concentric. Hal ini dapat menghasilkan quantification error pada kecepatan yagn ingin diukur. begitu seterusnya hingga cincin terluar. Sedangkan untuk mengetahui arah putaran. . Ketika poros berputar. Sedangkan hubungan fasa antara channel A dan B ini lah yang akan menghasilkan putaran. Untuk menentukan kecepatan yang diamati dari sinyal pulsa yang dihasilkan makan kita dapat menggunakan freequencymeter dan periodimeter. Kita dapat mengukur putaran dengan menghitung jumlah pulsa yang terjadi terhadap resolusi piringan.

Kekurangannya adalah apabila sudah terbentuk sebuah lubang maka kita tidak dapat menutup lubang itu kembali. Sedangkan dalam penulisan binernya maka angka 0 menyatakan lubang yang dibuat oleh CD Writer sedangkan angka 1 berarti tidak memiliki lubang. maka lapisan bening tersebut akan disinari oleh laser beruntensitas rendah sementara motor memutar disk tersbut. melainkan diganti dengan transparan atau buramnya salah satu lapisan pada CD yang bernama Photosensitive Dye. permukaan yang berlubang ini dilapisi oleh lapisan bening. Adapun proses pembuatannya adalah dengan cara meletakan selembar lapisan plastik yang telah disinari oleh sinar laser.Apabila kita menggunakan peridiometer. . maka dalam mengukur kecepatan. Kita menggunakan istilah burn atau bakar karena pada dasarnya konstruksi CD-Rom yang kita gunakan sekarang sudah tidak menggunakan lubang lagi. Lapisan Photosensitive Dye inilah yang kemudia akan dibakar sehingga menjadi lebih buram alias tidak transparan. Intensitas laser tersebut berubah setelah mengenai lubang-lubang tersebut yang kemudian terdefleksikan dan dideteksi oleh photo sensor dimana photo sensor ini nantinya akan dikonversikan menjadi data digital. Sinar laser itu kemudian akan membentuk semacam lubang (pit0 yang berukuran mikro atau sangat kecil sekali. Setelah itu. Untuk penomoran binernya maka didapat dari perbedaan lapisan tersebut. Namun penggunaan lubang ini hanya terjadi pada teknologi yang lama. Kemudian apabila kita ingin membuka data yang terdapat dalam CD-Rom tersebut. kita tidak lagi menghitung jumlah pulsa encoder tetapi dengan menghitung clock frekuensi tinggi (HF Clock) untuk sebuah pulsa dari encoder yang mengukur periode pulsa dari encoder. Namun seiring degnan perkembangan waktu makapembuatan CD-Rom pun sudah menggunakan resin (polycarbonate) serta dilapisi dengan permukaan yang sangat reflektif seperti alumunium. Lubang-lubang ini lah yang akan membentuk deretan kode yang isinya berupa data. Deretan angka inilah yang merupakan bilangan biner dari data tersebut. Bagian bawah CD-Rom umumnya berwarna perak. apabila transparan akan terbaca 1 sedangkan bila buram akan terbaca 0. Adapun aplikasi dari rotary encoder yang paling sering kita jumpai adalah CD-Rom. Lapisan plastik ini kemudia dibungkus oleh plastik cair yang berguna sebagai pelindung maupun pemantul. Lapisan ini lah yang nantinya akan menentukan pola deretean biner 1 dan 0. Informasi-informasi yang ingin kita masukan ke dalam CD-Rom ini direkam secara digital dengan menggunakan laser berintensitas tinggi. sekarang kita sering mendengar istilah Burn to cd.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->