P. 1
Askep Postpartum Blues

Askep Postpartum Blues

|Views: 129|Likes:
Published by Rheza Hakviasyah

More info:

Published by: Rheza Hakviasyah on Jun 03, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/21/2013

pdf

text

original

ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU DENGAN GANGGUAN PSIKOLOGIS POSTPARTUM : POSTPARTUM BLUES

A.Konsep Dasar 1. Pengertian Post-partum blues sendiri sudah dikenal sejak lama. Savage pada tahun 1875 telah menulis referensi di literature kedokteran mengenai suatu keadaan disforia ringan pasca-salin yang disebut sebagai ‘milk fever ‘ karena gejala disforia tersebut muncul bersamaan dengan laktasi. Dewasa ini, post-partum blues (PPB) atau sering juga disebut maternity blues atau baby blues dimengerti sebagai suatu sindroma gangguan afek ringan yang sering tampak dalam minggu pertama setelah persalinan atau pada saat fase taking in, cenderung akan memburuk pada hari ketiga sampai kelima dan berlangsung dalam rentang waktu 14 hari atau dua minggu pasca persalinan. Post-partum blues ini dikategorikan sebagai sindroma gangguan mental yang ringan oleh sebab itu sering tidak dipedulikan sehingga tidak terdiagnosis dan tidak ditatalaksanai sebagaimana seharusnya, akhirnya dapat menjadi masalah yang menyulitkan, tidak menyenangkan dan dapat membuat perasaan-perasaan tidak nyaman bagi wanita yang mengalaminya, dan bahkan kadang-kadang gangguan ini dapat berkembang menjadi keadaan yang lebih berat yaitu depresi dan psikosis pascasalin, yang mempunyai dampak lebih buruk, terutama dalam masalah hubungan perkawinan dengan suami dan perkembangan anak, karena stres dan sikap ibu yang tidak tulus terus-menerus bisa membuat bayi tumbuh menjadi anak yang mudah menangis, cenderung rewel, pencemas, pemurung dan mudah sakit. Keadaan ini sering disebut puerperium atau trimester keempat kehamilan. Baby blues adalah keadaan di mana seorang ibu mengalami perasaan tidak nyaman (kesedihan atau kemurungan)/gangguan suasana hati setelah persalinan, yang berkaitan dengan hubungannya dengan si bayi, atau pun dengan dirinya sendiri. Ketika plasenta dikeluarkan pada saat persalinan, terjadi perubahan hormon yang melibatkan endorphin, progesteron, dan estrogen dalam tubuh Ibu, yang dapat mempengaruhi kondisi fisik, mental dan emosional Ibu.

2.

Etiologi Etiologi atau penyebab pasti terjadinya postpartum blues sampai saat ini belum diketahui. Namun, banyak faktor yang diduga berperan terhadap terjadinya postpartum blues, antara lain:

1.

Faktor hormonal yang berhubungan dengan perubahan kadar estrogen, progesteron, prolaktin dan estradiol. Penurunan kadar estrogen setelah melahirkan sangat berpengaruh pada gangguan emosional pascapartum karena estrogen memiliki efek supresi aktifitas enzim monoamine oksidase yaitu suatu enzim otak yang bekerja menginaktifasi noradrenalin dan serotonin yang berperan dalam perubahan mood dan kejadian depresi.

2. 3. 4.

Faktor demografi yaitu umur dan paritas. Pengalaman dalam proses kehamilan dan persalinan. Latar belakang psikososial ibu, seperti; tingkat pendidikan, status perkawinan, kehamilan yang tidak diinginkan, riwayat gangguan kejiwaan sebelumnya, sosial ekonomi serta keadekuatan dukungan sosial dari lingkungannya (suami, keluarga dan teman). Apakah suami menginginkan juga kehamilan ini, apakah suami, keluarga, dan teman memberi dukungan moril (misalnya dengan membantu pekerjaan rumah tangga, atau berperan sebagai tempat ibu mengadu/berkeluh-kesah) selama ibu menjalani masa kehamilannya atau timbul permasalahan, misalnya suami yang tidak membantu, tidak mau mengerti perasaan istri maupun persoalan lainnya dengan suami, problem dengan orang tua dan mertua, problem dengan si sulung.

5.

Takut kehilangan bayinya atau kecewa dengan bayinya. Namun ada beberapa pendapat yang menyebutkan bahwa Post partum blues tidak berhubungan dengan perubahan hormonal, biokimia atau kekurangan gizi. Antara 8% sampai 12% wanita tidak dapat menyesuaikan peran sebagai orang tua dan menjadi sangat tertekan sehingga mencari bantuan dokter. Dengan kata lain para wanita lebih mungkin mengembangkan depresi post partum jika mereka terisolasi secara sosial dan emosional serta baru saja mengalami peristiwa kehidupan yang menakan. Ada juga yang berpendapat bahwa kemunculan dari postpartum blues ini disebabkan oleh beberapa factor dari dalam dan luar individu. Penelitian dari Dirksen dan De Jonge Andriaansen (1985) menunjukkan bahwa depresi tersebut membawa

Misalnya saja pada pembedahan caesar.Perubahan hormon dan perubahan hidup ibu pasca melahirkan juga dapat dianggap pemicu. Patoflow Post Partum Blues . tusuk punggung. penggunaan tang. De Jonge Andriaansen juga meneliti beberapa teknologi medis (penggunaan alat-alat obstetrical) dalam pertolongan melahirkan dapat memicu depresi postpartum blues ini. episiotomi dan sebagainya.kondisi yang berbahaya bagi perkembangan anak di kemudian hari.

e. mudah tersinggung (iritabilitas). Rencanakan acara keluar bersama bayi berdua dengan suami Rekreasi . merasa tidak mempunyai ikatan batin dengan si kecil yang baru saja Anda lahirkan .3. c. Beberapa perubahan sikap tersebut diantaranya sering tiba-tiba menangis karena merasa tidak bahagia. penakut. Berbagai studi mengenai post-partum blues di luar negeri melaporkan angka kejadian yang cukup tinggi dan sangat bervariasi antara 26-85%. f. 4. sakit kepala sering berganti mood. banyak peneliti dan klinisi yang memberi perhatian khusus pada gejala psikologis yang menyertai seorang wanita pasca salin. Pencegahan Post partum blues dapat dicegah dengan cara : a. tidak mampu berkonsentrasi dan sangat sulit membuat keputusan. insomnia yang berlebihan. dan telah melaporkan beberapa angka kejadian dan berbagai faktor yang diduga mempunyai kaitan dengan gejala-gejala tersebut. 5. tidak bergairah. Gejala tersebut biasanya muncul pada hari ke-3 atau 6 hari setelah melahirkan. Anjurkan ibu untuk merawat dirinya. Manifestasi Klinis Gejala-gejala postpartum blues ini bisa terlihat dari perubahan sikap seorang ibu. Namun jika masih berlangsung beberapa minggu atau beberapa bulan itu dapat disebut postpartum depression. Menu makanan yang seimbang Olah raga secara teratur Mintalah bantuan pada keluarga atau suami untuk merawat ibu dan bayinya. d. Gejala-gejala itu mulai muncul setelah persalinan dan pada umumnya akan menghilang dalam waktu antara beberapa jam sampai beberapa hari. khususnya terhadap hal yang semula sangat diminati. tidak mau bicara. tidak mau makan. yakinkan pada suami atau keluarga untuk selalu memperhatikan si ibu b. merasa terlalu sensitif dan cemas berlebihan. Insiden Dalam dekade terakhir ini. yang kemungkinan disebabkan karena adanya perbedaan populasi dan kriteria diagnosis yang digunakan.

Apabila mereka pergi mengunjungi dokter atau sumber-sumber lainnya Untuk minta pertolongan. Cox et. Secara medis.. perasaan bersalah serta mencakup hal-hal lain yang terdapat pada post-partum blues . di mana setiap pertanyaan memiliki 4 (empat) pilihan jawaban yang mempunyai nilai skor dan harus dipilih satu sesuai dengan gradasi perasaan yang dirasakan ibu pasca salin saat itu. Mereka merasakan ada suatu hal yang salah namun mereka sendiri tidak benar-benar mengetahui apa yang sedang terjadi.EPDS dapat dipergunakan dalam minggu pertama pasca salin dan bila hasilnya meragukan dapat diulangi pengisiannya 2 (dua) minggu kemudian. Penatalaksanaan Post-partum blues atau gangguan mental pasca-salin seringkali terabaikan dan tidak ditangani dengan baik. Banyak ibu yang ‘berjuang’ sendiri dalam beberapa saat setelah melahirkan. Pertanyaanpertanyaannya berhubungan dengan labilitas perasaan. Pemeriksaan Diagnostik Sampai saat ini belum ada alat test khusus yang dapat mendiagnosa secara langsung post partum blues. kecemasan. Kekurangan hormon tyroid yang ditemukan pada individu yang mengalami kelelahan luar biasa (fatigue) ditemukan juga pada ibu yang mengalami post partum blues mempunyai jumlah kadar tyroid yang sangat rendah. Australia.Pertanyaan harus dijawab sendiri oleh ibu dan rata-rata dapat diselesaikan dalam waktu 5 menit.Kuesioner ini terdiri dari 10 (sepuluh) pertanyaan. Italia. Endinburgh Posnatal Depression Scale (EPDS) merupakan kuesioner dengan validitas yang teruji yang dapat mengukur intensitas perubahan perasaan depresi selama 7 hari pasca salin. 7. Al. mendapati bahwa nilai skoring lebih besar dari 12 (dua belas) memiliki sensitifitas 86% dan nilai prediksi positif 73% untuk mendiagnosis kejadian post-partum blues .6. seringkali . dokter menyimpulkan beberapa simtom yang tampak dapat disimpulkan sebagai gangguan depresi post partum blues bila memenuhi kriteria gejala yang ada. dan Indonesia. Untuk skrining ini dapat dipergunakan beberapa kuesioner dengan sebagai alat bantu. Skrining untuk mendeteksi gangguan mood/depresi sudah merupakan acuan pelayanan pasca salin yang rutin dilakukan. Swedia.EPDS juga telah teruji validitasnya di beberapa negara seperti Belanda.

bahkan merujuk para ahli psikologi/konseling bila memang diperlukan. misalnya dari seorang psikolog atau konselor yang berpengalaman dalam bidang tersebut. bergabung dengan kelompok ibu-ibu baru. tidur ketika bayi tidur. Para ahli obstetri memegang peranan penting untuk mempersiapkan para wanita untuk kemungkinan terjadinya gangguan mental pasca-salin dan segera memberikan penanganan yang tepat bila terjadi gangguan tersebut. tidak perfeksionis dalam hal mengurusi bayi. konseling emosional. dan seringkali akan merasa gembira mendapat pertolongan yang praktis. dapat diberikan pertolongan dari para ahli. Penanganan gangguan mental pasca-salin pada prinsipnya tidak berbeda dengan penanganan gangguan mental pada momen-momen lainya.Bila memang diperlukan. Pengobatan medis. ikhlas dan tulus dengan peran baru sebagai ibu. yaitu: dokter dan bidan/perawat sangat diperlukan. bersikap fleksibel. minum obat atau berhenti mengasihani diri sendiri dan mulai merasa gembira menyambut kedatangan bayi yang mereka cintai. Secara garis besar dapat dikatakan bahwa dibutuhkan penanganan . atau mungkin menghilangkan beberapa kegiatan. misalnya dengan cara memberikan informasi yang memadai/adekuat tentang proses kehamilan dan persalinan. mereka mungkin perlu untuk mengatur atau menata kembali kegiatan rutin sehari-hari. berolahraga ringan. bantuan-bantuan praktis dan pemahaman secara intelektual tentang pengalaman dan harapan-harapan mereka mungkin pada saat-saat tertentu.Mereka membutuhkan kesempatan untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan mereka dari situasi yang menakutkan. disesuaikan dengan konsep mereka tentang keibuan dan perawatan bayi. Post-partum blues juga dapat dikurangi dengan cara belajar tenang dengan menarik nafas panjang dan meditasi. Para ibu ini membutuhkan dukungan pertolongan yang sesungguhnya.Para ibu ini membutuhkan dukungan psikologis seperti juga kebutuhan fisik lainnya yang harus juga dipenuhi.hanya mendapatkan saran untuk beristirahat atau tidur lebih banyak. tidak gelisah. Dukungan yang memadai dari para petugas obstetri. Mungkin juga mereka membutuhkan pengobatan dan/atau istirahat. termasuk penyulit-penyulit yang mungkin timbul dalam masa-masa tersebut serta penanganannya. Dengan bantuan dari teman dan keluarga. membicarakan rasa cemas dan mengkomunikasikannya. Dalam penanganan para ibu yang mengalami post-partum blues dibutuhkan pendekatan menyeluruh/holistik. Para ibu yang mengalami post-partum blues membutuhkan pertolongan yang sesungguhnya.

dengan melibatkan lingkungannya. keluarga dan juga teman dekatnya. sosial dan psikologis secara bersama-sama.di tingkat perilaku. intelektual. yaitu: suami. . emosional.

orang tua bisa merasa kecewa karena tidak bisa mencapai yang telah direncanakan sebelumnya.B. 1. 3. hal-hal yang mencakup kelahiran pervagina dan beberapa intervensi medis. pekerjaan. ibu dan pasangannya mungkin telah membuat suatu rencana tertentu tentang kelahiran anak mereka. kelahiran sesar). Apa yang dirasakan orang tua tentang pengalaman melahirkan sudah pasti akan mempengaruhi adaptasi mereka untuk menjadi orang tua.Rencan individu didasarkan pada karakteristik wanita dan keadaannya yang spesifik. 1987).Bagaimana perasaan ibu baru tentang diri dan tubuhnya selama masa nifas dapat mempengaruhi perilaku dan adaptasinya dalam menjadi orang tua. Ibu yang baru melahirkan bisa . pendidikan. dan seksualitas ibu. induksi. Pengkajian Pengenalan gejala mood merupakan hal yang penting untuk dilakukan oleh perawat perinatal.Perasaan-perasaan yang berkaitan dengan penyesuaian perilaku seksual setelah melahirkan seringkali menimbulkan kekhawatiran pada orang tua baru. Dampak pengalaman melahirkan Banyak ibu memperlihatkan suatu kebutuhan untuk memeriksa proses kelahiran itu sendiri dan melihat kembali perilaku mereka saat hamil dalam upaya retrospeksi diri (Konrad. medical record dan lain-lain 2.Rencana keperawatan harus merefleksikan respons perilaku yang diharapkan dari gangguan tertentu. Pengkajian pada pasien post partum blues menurut Bobak ( 2004 ) dapat dilakukan pada pasien dalam beradaptasi menjadi orang tua baru. alamat. Pengkajiannya meliputi . Selama hamil. anestesi epidural.Konsep Asuhan Keperawatan 1. Citra diri ibu Suatu pengkajian penting mengenai konsep diri. Apabila pengalaman mereka dalam persalinan sangat berbeda dari yang diharapkan (misalnya . citra tubuh. umur. Identitas klien Data diri klien meliputi : nama.Konsep diri dan citra tubuh ibu juga dapat mempengaruhi seksualitasnya.Suami atau pasangan wanita tersebut juga dapat mengalami gangguan emosional akibat perilaku wanita tersebut.

Tanda-tanda yang menunjukkan ada atau tidaknya kualitas ini.Respon orang tua terhadap kelahiran anak meliputi perilaku adaptif dan perilaku maladatif. terlihat segera setelah ibu melahirkan. lelah keinginan untuk berbicara dan kebutuhan untuk dipeluk dan melakukan kontak mata. seperti rasa lapar. Perilaku maladaptif terlihat ketika respon orang tua tidak sesuai dengan kebutuhan bayinya. Orang tua menunjukkan perilaku yang adaptif ketika mereka merasakan suka cita karena kehadiran bayinya dan karena tugas-tugas yang diselesaikan untuk dan bersama anaknya.Kualitas keibuan atau kebapaan pada perilaku orang tua membantu perawatan dan perlindungan anak.merasa enggan untuk memulai hubungan seksual karena takut merasa nyeri atau takut bahwa hubungan seksual akan mengganggu penyembuhan jaringan perineum. 5.Tugas merawat anak seperti memandikan atau mengganti pakaian. saat mereka memahami yang dikatakan bayinya melalui ekspresi emosi yang diperlihatkan bayi dan yang kemudian menenangkan bayinya. dan ketika mereka dapat membaca gerakan bayi dan dapat merasa tingkat kelelahan bayi. 4.Mereka tidak dapat merasakan kesenangan dari kontak fisik dengan anak mereka.Banyak orang tua baru mengalami kesulitan untuk menjadi orang tua sampai akhirnya keterampilan mereka membaik. Orang tua tidak merasa tertarik untuk melihat anaknya. dan ketidakberdayaannya. Orang tua tidak mampu membedakan cara berespon terhadap tanda yang disampaikan oleh bayi. Perilaku Adaptif dan Perilaku Maladaptif Perilaku adaptif berasal dari penerimaan dan persepsi realistis orang tua terhadap kebutuhan bayinya yang baru lahir dan keterbatasan kemampuan mereka. . respon social yang tidak matur. Tampaknya sukar bagi mereka untuk menerima anaknya sebagai anak yang sehat dan gembira. dipandang sebagai sesuatu yang menyebalkan. Bayi – bayi ini cenderung akan dapat diperlakukan kasar. Interaksi Orang tua – Bayi Suatu pengkajian pada masa nifas yang menyeluruh meliputi evaluasi interaksi orang tua dengan bayi baru.Baik ibu maupun ayah menunjukkan kedua jenis perilaku maupun saat ini kebanyakan riset hanya berfokus pada ibu. saat orang tua bereaksi terhadap bayi baru lahir dan melanjutkan proses untuk menegakkan hubungan mereka.

takut/menangis (" Post partum blues " sering terlihat kira-kira 3 hari setelah kelahiran). Aktivitas / istirahat Insomnia mungkin teramati. tergantung kapan menyusui dimulai. Payudara : Produksi kolostrum 48 jam pertama. Nyeri/ketidaknyamanan Nyeri tekan payudara/pembesaran dapat terjadi diantara hari ke-3 sampai ke-5 pascapartum. b. Eliminasi Diuresis diantara hari ke-2 dan ke-5. g.3. biasanya pada hari ke-3. menyusui). mungkin lebih dini. menurun kira-kira 1 lebar jari setiap harinya. Lokhia rubra berlanjut sampai hari ke-2. berlanjut pada susu matur. Penyesuaian seorang wanita terhadap perannya sebagai ibu sangat dipengaruhi oleh hubungannya dengan pasangannya. Struktur dan fungsi keluarga Komponen penting lain dalam pengkajian pada pasien post partum blues ialah melihat komposisi dan fungsi keluarga. d. berlanjut menjadi lokhia serosa dengan aliran tergantung pada posisi (misalnya .6. Integritas Ego Peka rangsang. ibunya dengan keluarga lain. Sirkulasi Episode diaforetik lebih sering terjadi pada malam hari. . e. dan anak-anak lain. Makanan/cairan Kehilangan nafsu makan mungkin dikeluhkan mungkin hari – hari ke-3. c. rekumben versus ambulasi berdiri) dan aktivitas (misalnya . Seksualitas Uterus 1 cm diatas umbilikus pada 12 jam setelah kelahiran. Perawat dapat membantu meringankan tugas ibu baru yang akan pulang dengan mengkaji kemungkinan konflik yang bisa terjadi diantara anggota keluarga dan membantu ibu merencanakan strategi untuk mengatasi masalah tersebut sebelum keluar dari rumah sakit. f. Sedangkan Pengkajian Dasar data klien menurut Marilynn E. Doenges ( 2001 ) Adalah : a.

memungkinkan tujuan aktualisasi diri muncul ke permukaan. 2) Tentukan sistem pendukung yang tersedia pada klien. Menyusui berhubungan dengan tingkat pengetahuan.2. kegirangan). Risiko tinggi terhadap perubahan peran menjadi orang tua berhubungan dengan pengaruh komplikasi fisik dan emosional c. Tujuan : Mengungkapkan pemahaman tentang proses/situasi menyusui. Menyusui berhubungan dengan tingkat pengetahuan. pengalaman sebelumnya. g. 3. Gangguan pola tidur berhubungan dengan Respon hormonal dan psikologis (sangat gembira. tingkat dukungan. tidak mengenal sumber – sumber. pengalaman sebelumnya. Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan pada pasien postpartum blues diantaranya Adalah : a. Potensial terhadap pertumbuhan koping keluarga berhubungan dengan kecukupan pemenuhan kebutuhan – kebutuhan individu dan tugas – tugas adaptif. tingkat dukungan. Resiko tinggi ketidakefektifan koping individu berkaitan perubahan emosional yang tidak stabil pada ibu d. Rencana Keperawatan a. . dan sikap pasangan / keluarga. menunjukkan kepuasan regimen menyusui satu sama lain. usia gestasi bayi. Intervensi Keperawatan : 1) Kaji pengetahuan dan pengalaman klien tentang menyusui sebelumnya Rasional : Membantu dalam mengidentifikasi kebutuhan saat ini dan mengembangkan rencana perawatan. f. kesalahan interpretasi. ansietas. Kurang pengetahuan mengenai perawatan diri dan perawatan bayi berhubungan dengan kurang pemajanan / mengingat. struktur/karakteristik fisik payudara ibu. usia gestasi bayi. proses persalinan dan kelahiran melelahkan. b. struktur/karakteristik fisik payudara ibu. mendemonstrasikan teknik efektif dari menyusui. nyeri/ketidaknyamanan.

secara aktif mulai melakukan tugas perawatan bayi baru lahir dengan tepat. 4) Demonstrasikan dan tinjau ulang teknik – teknik menyusui Rasional : Posisi yang tepat biasanya mencegah luka putting. memberikan kenyamanan. Rasional : Pelayanan ini mendukung pemberian ASI melalui pendidikan klien dan nutrisional. usia. tanpa memperhatikan lamanya menyusu. mengidentifikasi sumber-sumber. verbal dan tertulis. Rasional : Mengidentifikasi faktor – faktor risiko potensial dan sumber-sumber pendukung. status perkawinan. misalnya . kelemahan. Risiko tinggi terhadap perubahan peran menjadi orang tua berhubungan dengan pengaruh komplikasi fisik dan emosional Tujuan :Mengungkapkan masalah dan pertanyaan tentang menjadi orang tua. b.Rasional : Mempunyai dukungan yang cukup meningkatkan kesempatan untuk pengalaman menyusui dengan berhasil. Intervensi Keperawatan : 1) Kaji kekuatan. dan membuat peran ibu menyusui. 3) Evaluasi sifat dari menjadi orangtua secara emosi dan fisik yang pernah dialami klien/pengalaman selama kanak-kanak. . mencegah putting pecah dan luka. Rasional : Membantu menjamin supli susu adekuat. perawatan putting dan payudara. 2) Perhatikan respons klien/pasangan terhadap kelahiran dan peran menjadi orang tua. Rasional : Kemampuan klien untuk beradaptasi secara positif untuk menjadi orang tua mungkin dipengaruhi oleh reaksi ayah dengan kuat. 3) Berikan informasi. ketersediaan sumber pendukung dan latar belakang budaya. dan faktor–faktor yang memudahkan atau mengganggu keberhasilan menyusui. mendiskusikan peran menjadi orang tua secara realistis. mengenai fisiologi dan keuntungan menyusui. 5) Identifikasi sumber-sumber yang tersedia di masyarakat sesuai indikasi . yang mempengaruhi kemampuan klien/pasangan untuk menerima tantangan peran menjadi orang tua. kebutuhan diet khusus. progam Kesehatan Ibu dan Anak ( KIA ).

7) Pantau dan dokumentasikan interaksi klien/pasangan dengan bayi. komunikasikan dengan staf perawatan sesuai indikasi. ketidakadekuatan sistem pendukung. kerentanan personal. atau pascapartal. 5) Evaluasi status fisik masa lalu dan saat ini dan kejadian komplikasi pranatal. 4) Tinjau ulang catatan intrapartum terhadap lamanya persalinan. mereka dikenalkan pada bayi secara bertahap. dan peran pasangan pada persalinan. 8) Anjurkan pasangan/sibling untuk mengunjungi dan menggendong bayi dan berpartisipasi terhadap aktifitas perawatan bayi sesuai izin. selanjutnya. 6) Evaluasi kondisi bayi . persepsi tidak realistis Tujuan :Mengungkapkan ansietas dan respon emosional. intranatal. adanya komplikasi. dan individu memakai peran orang tua mereka sendiri menjadi model peran. Rasional : Ibu sering mengalami kesedihan karena mendapati bayinya tidak seperti bayi yang diharapkan.Rasional : Peran menjadi orang tua dipelajari. Rasional : Membantu meningkatkan ikatan dan mencegah perasaan putus asa. 9) Kolaborasi dalam merujuk untuk konseling bila keluarga beresiko tinggi terhadap masalah menjadi orang tua atau bila ikatan positif diantara klien/pasangan dan bayi tidak terjadi. . Rasional : Kejadian seperti persalinan praterm. mencari sumber-sumber yang tepat sesuai kebuuhan. Rasional : Perilaku menjadi orang tua yang negatif dan ketidakefektifan koping memerlukan perbaikan melalui konseling. pemeliharaan atau bahkan psikoterapi yang lama. hemoragi. Rasional : Beberapa ibu atau ayah mengalami kasih sayang bermakna pada pertama kali . mengidentifikasi kekuatan individu dan kemampuan koping pribadi. Risiko tidak efektif koping individual berhubungan dengan krisis maturasional dari kehamilan/mengasuh anak dan melakukan peran ibu dan menjadi orang tua (atau melepaskan untuk adopsi). atau adanya komplikasi ibu dapat mempengaruhi kondisi psikologis klien. c. infeksi. Rasional : Persalinan lama dan sulit. dapat secara sementara menurunkan energi fisik dan emosional yang perlu untuk mempelajari peran menjadi ibu dan dapat secara negatif mempengaruhi menyusui.

ansietas. kesedihan. menangis. Rasional : Membantu klien / pasangan bekerja melalui proses dan memperjelas realitas dari pengalaman fantasi. kegagalan pribadi. Rasional : Membantu dalam mengkaji kemampuan klien untuk mengatasi stres.Intervensi Keperawatan : 1) Kaji respon emosional klien selama pranatal dan dan periode intrapartum dan persepsi klien tentang penampilannya selama persalinan. Rasional : Terhadap hubungan langsung antara penerimaan yang positif akan peran feminin dan keunikan fungsi feminin serta adaptasi yang positif terhadap kelahiran anak. pelayanan sosial. 7) Kolaborasi dalam merujuk klien/pasangan pada kelompok pendukungan menjadi orang tua. 4) Evaluasi kemampuan koping masa lalu klien. Rasional : Kira – kira 40 % wanita dengan depresi pascapartum ringan mempunyai gejala – gejala yang menetap sampai 1 tahun dan dapat memerlukan evaluasi lanjut. 3) Kaji terhadap gejala depresi yang fana (" perasaan sedih " pascapartum) pada hari ke-2 sampai ke-3 pascapartum (misalnya . dan menyusui. 6) Anjurkan pengungkapan rasa bersalah. kelompok komunitas. dan depresi ringan atau berat). . atau keragu – raguan tentang kemampuan menjadi orang tua Rasional : Membantu pasangan mengevaluasi kekuatan dan area masalah secara realistis dan mengenali kebutuhan terhadap bantuan profesional yang tepat. Rasional : Sebanyak 80 % ibu – ibu mengalami depresi sementara atau perasaan emosi kecewa setelah melahirkan. konsentrasi yang buruk. sistem pendukung. 5) Berikan dukungan emosional dan bimbingan antisipasi untuk membantu klien mempelajari peran baru dan strategi untuk koping terhadap bayi baru lahir. Rasional : Keterampilan menjadi ibu / orang tua bukan secara insting tetapi harus dipelajari. latar belakang budaya. 2) Anjurkan diskusi oleh klien / pasangan tentang persepsi pengalaman kelahiran. dan rencana untuk bantuan domestik pada saat pulang. atau pelayanan perawat berkunjung. menjadi ibu.

kebutuhan individu. khususnya bila ini terjadi malam. melaporkan peningkatan rasa sejahtera dan istirahat. tidak mengenal sumber – sumber. bantuan dirumah. Tujuan : Mengungkapkan berhubungan dengan pemahaman perubahan fisiologis. nyeri/ketidaknyamanan. Rasional : Persalinan atau kelahiran yang lam dan sulit. suplai ASI. Kurang pengetahuan mengenai perawatan diri dan perawatan bayi berhubungan dengan kurang pemajanan/mengingat. hasil yang diharapkan. ansietas. kegirangan). proses persalinan dan kelahiran melelahkan. Gangguan pola tidur berhubungan dengan Respon hormonal dan psikologis (sangat gembira. Intervensi Keperawatan : 1) Kaji tingkat kelelahan dan kebutuhan untuk istirahat. meningkatkan tingkat kelelahan. e.d. dan penurunan refleks secara psikologis. melakukan aktivitas / prosedur yang perlu dan menjelaskan alasan-alasan untuk tindakan. tidur dan relaksasi dan menurunkan rangsang. 3) Berikan informasi tentang kebutuhan untuk tidur/istirahat setelah kembali ke rumah. 4) Berikan informasi tentang efek-efek kelelahan dan ansietas pada suplai ASI. bila ada yang mempengaruhi istirahat. Rasional : Rencana yang kreatif yang membolehkan untuk tidur dengan bayi lebih awal serta tidur siang membantu untuk memenuhi kebutuhan tubuh. kesalahan interpretasi. Rasional : Multipara dengan anak di rumah memerlukan tidur lebih banyak dirumah sakit untuk mengatasi kekurangan tidur dan memenuhi kebutuhannya. Rasional : Membantu meningkatkan istirahat. 2) Kaji factor-faktor. dan adanya sibling dan anggota keluarga lain. Rasional : Kelelahan dapat mempengaruhi penilaian psikologis. . Tujuan : Mengidentifikasi penilaian untuk mengakomodasi perubahan yang diperlukan dengan kebutuhan terhadap anggota keluarga baru. 5) Kaji lingkungan rumah.

Rasional : Membantu mencegah infeksi. maturasi. 3) Berikan informasi tentang perawatan diri. Rasional : Terhadap hubungan antara lama persalinan dan kemampuan untuk melakukan tanggung jawab tugas dan aktifitas-aktifitas perawatan diri/perawatan bayi. mengekspresikan perasaan percaya diri dan kepuasan dengan terbentuknya kemajuan dan adaptasi. Potensial terhadap pertumbuhan koping keluarga berhubungan dengan kecukupan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan individu dan tugas-tugas adaptif. Rasional : Pasangan mungkin memerlukan kejelasan mengenai ketersediaan metoda kontrasepsi dan kenyataan bahwa kehamilan dapat terjadi bahkan sebelum kunjungan sebelum kunjungan minggu ke-6. 4) Diskusikan kebutuhan seksualitas dan rencana untuk kontrasepsi. Tujuan :Mengungkapkan keinginan untuk melaksanakan tugas-tugas yang mengarah pada kerja sama dari anggota keluarga baru. perubahan fisiologis. termasuk perawatan perineal dan higiene. . Rasional : Perawat dapat membantu memberikan pengalaman positif di rumah sakit dan menyiapkan keluarga terhadap pertumbuhan melalui tahap – tahap perkembangan. dan tingkat kelelahan klien. Rasional : Periode pascanatal dapat merupakan pengalaman positif bila penyuluhan yang tepat untuk membantu pertumbuhan ibu. mempercepat pemulihan dan penyembuhan. dan kompetensi. memungkinkan tujuan aktualisasi diri muncul ke permukaan. f. dan berperan pada adaptasi yang positif dari perubahan fisik dan emosional.Intervensi Keperawatan : 1) Pastikan persepsi klien tentang persalinan dan kelahiran. Intervensi Keperawatan : 1) Kaji hubungan anggota keluarga satu sama lain. 2) Kaji kesiapan klien dan motivasi untuk belajar. lama persalinan.

Implementasi Menurut Doenges (2000) implementasi adalah perawat mengimplementasikan intervensi-intervensi yang terdapat dalam rencana perawatan. menurunkan stres dan meningkatkan koping positif. Evaluasi Evaluasi didasarkan pada kemajuan pasien dalam mencapai hasil akhir yang ditetapkan yaitu meliputi . Ibu dan keluarga akan mengembangkan koping yang efektif. kolaboratif. Setiap anggota keluarga . kesejahteraan fisik ibu dan bayi akan dipertahankan.Menurut Allen (1998) komponen dalam tahap implementasi meliputi tindakan keperawatann mandiri. 4) Berikan informasi tertulis mengenai buku-buku yang dianjurkan untuk anak-anak (sibling) tetang bayi baru. 3) Berikan bimbingan antisipasi mengenai perubahan emosi normal berkenaan dengan periode pascapartum.2) Anjurkan partisipasi seimbang dari orang tua pada perawatan bayi. 4. dan respon pasien terhadap asuhan keperawatan. Rasional : Membantu anak mengidentifikasi dan mengatasi perasaan akan kemungkinan penggantian atau penolakan. 5. Rasional : Membantu menyiapkan pasangan untuk kemungkinan perubahan yang mereka alami. dokumentasi. Rasional : Fleksibilitas dan sensitifitasi terhadap kebutuhan keluarga membantu mengembangkan harga diri dan rasa kompeten dalam perawatan bayi baru lahir setelah pulang. 5) Kolaborasi dalam merujuk klien/pasangan pada kelompok orang tua pascapartum di komunitas. Rasional : Meningkatkan pengetahuan orang tua tentang membesarkan anak dan perkembangan anak.

Jakarta: EGC. . DAFTAR PUSTAKA Bobak. ibu dan keluarganya dapat mengatasi masalahnya secara efektif. (2004). dan setiap anggota keluarga dapat meneruskan pola pertumbuhan dan perkembangan yang sehat. Lowdermilk. Perawat dapat yakin bahwa perawatan berlangsung efektif jika kesejahteraan fisik ibu dan bayi dapat dipertahankan. Jensen. Buku Ajar: Keperawatan Maternitas edisi-4.akan melanjutkan pertumbuhan dan perkembangan yang sehat.

Penerjemah Kariasa I Made.Marilyn E.blogspot. Doenges. 1999. Jakarta : EGC. Rencana Asuhan Keperawatan. http://hasgurstika.html TUGAS KEPERAWATAN MATERNITAS ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU DENGAN GANGGUAN PSIKOLOGIS POSTPARTUM : POSTPARTUM BLUES .com/2011/02/askep-post-partum-blues.

A KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN PALEMBANG JURUSAN KEPERAWATAN 2012 . Lora anindita lucia Tingkat : II. Indah Permata Sari 2.DISUSUN OLEH : Kelompok IV : 1. Julian valenza 5. Islahul marhamah 4. Indah yuliani 3.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->