P. 1
Kedudukan an Dan Perceraian Dibawah Tangan

Kedudukan an Dan Perceraian Dibawah Tangan

|Views: 181|Likes:
Published by Husen Masyhur

More info:

Published by: Husen Masyhur on Jun 03, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/12/2012

pdf

text

original

Hubungan antara pelembagaan berganda (Paul Bohannan) dan Social Engineering (Rescoe Pound) dengan undang-undang RI nomor

1 tahun 1974 tentang Perkawinan

Pelembagaan berganda: Paul Bohannan mengemukakan suatu konsep yang dikenal sebagai reinstitutionalization of norms (pelembagaan kembali kaidah-kaidah). Menurut pendapatnya, masyarakat memiliki baik lembaga hukum maupun lembaga yang non-hukum. Yang dimaksud dengan lembaga hukum ialah ketentuan-ketentuan yang digunakan masyarakat untuk menyelesaikan segala

persengketaan yang timbul, di samping untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan dari ketentuan yang terhimpun di dalam pelbagai lembaga kemasyarakatan. Hukum ini terdiri dari ketentuan maupun kebiasaan yang telah mengalami proses pelembagaan kembali; artinya, kebiasaan-kebiasaan dari lembaga-lembaga kemasyarakatan tertentu diubah sedemikian rupa sehingga dapat digunakan oleh lembaga kemasyarakatan lainnya, yang memegang khusus dibentuk untuk maksud tersebut.

Menurut Paul Bohannan terdapat dua ukuran untuk membedakan lembaga hukum dengan lembaga-lembaga kemasyarakatan lainnya. Pertama – lembaga hukum terdiri dari ketentuan-ketentuan tentang cara-cara menyelesaikan perselisihan-perselisihan dalam masyarakat. Kedua – lembaga hukum mencakup dua jenis ketentuan, yaitu penetapan kembali aturanaturan lembaga non-hukum dan aturan yang mengatur aktivitas lembaga-lembaga hukum itu sendiri.

Beberapa pendapat ahli sains social dengan maksud agar memperoleh gambaran luas tentang hubungan antara kaidah hukum yang dengan kaidah-kaidah sosial lainnya. Dari pendapatpendapat yang terurai cukup jelas bahwa memang sukar untuk membedakan secara tegas kaidah hukum tadi dengan kaidah sosial lainnya. Bahkan kesepakatan dari para ahli, bahwa ciri utama hukum itu ialah adanya dukungan dari kekuasaan yang terpusat (negara), masih dapat menimbulkan kesalahpahaman, sebab nanti akan ada yang berpendapat bahwa masyarakat yang tidak memiliki kekuasaan semacam itu lamas tidak memiliki hukum.

yang dianggapnya sangat diperlukan untuk menaklukkan aspek eksternal atau lingkungan fisikal. Hukum bertujuan untuk menciptakan keseimbangan di antara kepentingan-kepentingan yang terdapat dalam masyarakat. Hukum secara bertahap telah menggantikan fungsi agama dan moralitas sebagai instrumen penting untuk mencapai ketertiban sosial.Dari hasil-hasil kajian para ahli antropologi sendiri telah terbukti bahwa dalam masyarakat sederhana pun hukum itu ada. Pound mengatakan bahwa hokum kodrati dari setiap masa pada dasarnya berupa sebuah hokum kodrati yang “positif”. Menurutnya. “naturalisasi” untuk kepentingan kontrol sosial manakala kekuatan yang ditetapkan oleh masyarakat yang terorganisasi tidak lagi dianggap sebagai alat pembenar yang memadai. dan agama. moral. Barangkali dapat dikatakan bahwa apa yang dinamakan hukum itu memiliki ciri ciri khusus yang berbeda dengan kaidah-kaidah sosial yang lain dan kaidah agama. ia membutuhkan dukungan dari institusi keluarga. Dalam masyarakat sederhana badan serupa ini dapat kepala adat. kontrol sosial diperlukan untuk melestarikan peradaban karena fungsi utamanya adalah mengendalikan “aspek internal atau sifat manusia”. merupakan fungsi utama dari negara dan bekerja melalui penerapan kekuatan yang dilaksanakan secara sistematis dan teratur oleh agen yang ditunjuk untuk melakukan fungsi itu. b. di mana ada masyarakat. Social Engineering (Roscoe Pound): Pound menyatakan bahwa hukum adalah lembaga terpenting dalam melaksanakan kontrol sosial. di situ ada hukum. pendidikan. Hukum. yang menggabungkan teori hukum kodrat dan positivistik. Pound menyatakan bahwa kontrol sosial diperlukan untuk menguatkan peradaban masyarakat manusia karena mengendalikan perilaku antisosial yang bertentangan dengan kaidah-kaidah ketertiban sosial. Pound menambahkan bahwa hukum saja tidak cukup. Akan tetapi. dewan para sesepuh atau lainnya. sebagai mekanisme control sosial. Mengatur perbuatan manusia secara lahiriah. versi ideal dari hukum positif pada masa dan tempat tertentu. Dijalankan oleh badan badan yang diakui oleh masyarakat sebagai badan pelaksana hukum. c. Ciri-ciri itu ialah: a. Hukum adalah sistem ajaran dengan unsur ideal dan empiris. Ibi ius ibi societal. Roscoe Pound memiliki pendapat mengenai hukum yang menitik beratkan hukum pada kedisiplinan dengan teorinya yaitu: “Law as a tool of social engineering” (Hukum adalah alat .

Menurut Pasal 2 ayat (1) ini. Kepentingan Umum (Public Interest) Kepentingan negara sebagai Badan Hukum Kepentingan negara sebagai penjaga kepentingan masyarakat. kita tahu bahwa sebuah perkawinan adalah sah. Dalam kedua peraturan tersebut disebutkan bahwa tiap-tiap perkawinan selain harus dilakukan menurut ketentuan agama juga harus dicatatkan. 2. Nikah dibawah tangan yang dikenal masyarakat muncul setelah di undangkannya Undangundang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan di keluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 sebagai pelaksanaan undang-undang Nomor 1 Tahun 1974. KEDUDUKAN PERKAWINAN DAN PERCERAIAN DIBAWAH TANGAN DI TINJAU DARI HUKUM ISLAM DAN PERATURAN PERUNDANG UNDANGAN YANG BERLAKU DI INDONESIA”. yaitu sebagai berikut: 1. apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu”. 3. Kepentingan Masyarakat (Social Interest) Kepentingan akan kedamaian dan ketertiban Perlindungan lembaga-lembaga social Pencegahan kemerosotan akhlak Pencegahan pelanggaran hak Kesejahteraan sosial. Kepentingan Pribadi (Private Interest) Contoh: Kepentingan individu Kepentingan keluarga Kepentingan hak milik. yang berbunyi: “Perkawinan adalah sah. Mengenai sahnya perkawinan dan pencatatan perkawinan terdapat pada Pasal 2 ayat (1) undang-undang Perkawinan. Untuk dapat memenuhi peranannya Roscoe Pound lalu membuat penggolongan atas kepentingan-kepentingan yang harus dilindungi oleh hukum itu sendiri. bahwa jika suatu perkawinan telah memenuhi syarat dan rukun nikah atau ijab kabul telah dilaksanakan (bagi umat Islam) atau . apabila dilakukan menurut hokum masingmasing agamanya dan kepercayaannya itu. Hal ini berarti.untuk memperbaharui atau merekayasa masyarakat).

Pencatatan perkawinan bertujuan agar keabsahan perkawinan mempunyai kekekuatan hukum. Hilangnya akta nikah. Dalam rangka penyelesaian perceraian. 1 tahun 1974 tentang perkawinan. dapat mengajukan permohonan itsbat nikah (penetapan/pengesahan nikah) kepada Pengadilan Agama sebagaimana diatur dalam Pasal 7 Kompilasi hukum Islam (KHI). Tetapi sahnya perkawinan ini di mata agama dan kepercayaan masyarakat perlu mendapat pengakuan dari negara. bila ada salah satu dari kelima alasan di atas yang dapat dipergunakan. istri mendapat cacat badan atau penyakit yang sulit untuk disembuhkan dan istri tidak dapat melahirkan keturunan. jadi tidak menentukan sah/tidaknya suatu perkawinan. Namun Itsbat Nikah ini hanya dimungkinkan bila berkenaan dengan: a. Artinya. Perkawinan terjadi sebelum berlakunya UU No. c. jika sebelumnya sudah memiliki Akta Nikah dari pejabat berwenang. Adanya keraguan tentang sah atau tidaknya salah satu syarat perkawinan. disamping itu harus ada persetujuan dari istri pertama. yang dalam hal ini ketentuannya terdapat pada Pasal 2 ayat (2) Undang-Undang Perkawinan. dengan ketentuan jika istri tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagal istri. adanya kepastian suami mampu memberi nafkah isteri dan anak-anaknya dan ada jaminan bahwa suami akan berlaku adil terhadap istri dan anak-anak mereka. b. 1/1974.pendeta/pastor telah melaksanakan pemberkatan atau ritual lainnya. . Sebaliknya. Perkawinan yang dilakukan oleh mereka yang tidak mempunyai halangan perkawinan menurut UU No. tentang pencatatan perkawinan ialah tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. maka perkawinan tersebut adalah sah terutama di mata agama dan kepercayaan masyarakat. e. namun tak dapat membuktikan terjadinya perkawinan dengan akte nikah. Begitu juga pada Pasal 4 dan 5 dalam undang-undang yang sama berbunyi " Dalam hal seorang suami akan beristri lebih dari seorang (poligami). d. Sebagaimana telah disebutkan dalam Pasal 2 ayat (2) Undang-Undang Perkawinan. akan sulit bila tidak memenuhi salah satu alasan yang ditetapkan. yaitu: “tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku”. Bagi yang beragama Islam. Sedangkan pengajuan itsbat nikah dengan alasan lain (bukan dalam rangka perceraian) hanya dimungkinkan. dapat mengajukan permohonan Istbat Nikah ke Pengadilan Agama. maka la waib rnengajukan permohonan ke Pengadilan di daerah tempat tinggalnya.

Pertama. Karena itu perkawinan yang dilakukan menurut ketentuan agama tanpa pencatatan oleh PPN. Tidak ada kemuskilan bagi seseorang untuk memahami sisi kemaslahatan dalam pencatatan nikah. tidaklah merupakan syarat sahnya nikah. Ia tidak berhak atas nafkah dan warisan dari suami jika ditinggal meninggal dunia. akad dan transaksi-transaksi ini. Kedua. Timbulnya penertiban administrasi modern dalam kaitan ini telah membawa kemudahan pencatatan akad dan transaksi–transaksi yang berkaitan dengan barang-barang tak bergerak dan perusahaan. sang istri akan sulit bersosialisasi karena perempuan yang melakukan perkawinan di bawah tangan sering dianggap telah tinggal serumah dengan laki-laki tanpa ikatan perkawinan (alias kumpul kebo) atau dianggap menjadi istri simpanan. Secara hukum. . perempuan tidak dianggap sebagai istri sah. bahwa sahnya suatu perkawinan semata-mata hanya harus memenuhi Pasal 2 ayat (1) undang-undang Perkawinan tersebut.Mengingat banyaknya masalah praktis yang timbul dari tidak dicatatnya perkawinan yang berhubungan dengan soal-soal penting deperti asal-usul anak. Ada dua pendapat para pakar hukum mengenai masalah ini. Perkawinan di bawah tangan berdampak sangat merugikan bagi istri dan perempuan umumnya. kewarisan dan nafkah. bukan alternatif. Sehubungan dengan Pasal 2 ayat (1) dan ayat (2) UU Undang-Undang Perkawinan tersebut.karena secara hokum perkawinan tersebut dianggap tidak pernah terjadi. lanjutnya. baik secara hukum maupun sosial. Selanjutnya secara sosial. Dengan demikian ketentuan Pasal 2 ayat (1) dan ayat (2) tersebut merupakan syarat kumulatif. bahwa sahnya suatu akad nikah harus memenuhi ketentuan Pasal 2 ayat (1) UndangUndang Perkawinan mengenai tata cara agama dan ayat (2) mengenai pencatatan nikah oleh PPN secara simultan. Selain itu sang istri tidak berhak atas harta gono-gini jika terjadi perpisahan. tetapi hanya kewajiban administratif saja. Mengenai pencatatan nikah oleh PPN. belumlah dianggap sebagai perkawinan yang sah dan perkawinan inilah yang kemudian setelah berlakunya Undang-Undang Perkawinan secara efektif tanggal 1 Oktober 1975 terkenal dengan menikah dibawah tangan. yakni perkawinannya telah dilaksanakan menurut ketentuan secara sempurna (memenuhi rukun dan syarat nikah). hingga kini kalangan teoritis dan praktisi hukum masih bersilang pendapat tentang pengertian yuridis sahnya suatu perkawinan.

penegakan hukum dan lain sebagainya. maka teori sosial yang dipergunakan adalah teori fungsionalisme struktural.Pembahasan permasalahan ini menggunakan paradigma fakta sosial. kesadaran hukum. Kedua sebagai social engineering yang merupakan tinjauan yang paling banyak pergunakan oleh pejabat (the official perspective of the law) untuk menggali sumber-sumber kekuasaan apa yang dapat dimobilisasikan dengan menggunakan hukum sebagai mekanismenya. Masalah sanksi dan lembaga yang menerapkan sanksi tersebut. 3. dan 4. telah gagal . yakni menyangkut ideologi yang menjadi dasar penataan aturan hukum. maka secara teoritis dapatlah dikatakan kalau perkawinan dan perceraian dibawah tangan. Oleh sebab itu dikatakan Bergers bahwa tidak ada masyarakat yang bisa hidup langgeng tanpa kontrol social dari hukum sebagai sarananya. Masalah dasar legitimasi. yaitu: 1. Masalah hak dan kewajiban masyarakat yang menjadi sasaran regulasi hukum proses hukumnya. Dengan meminjam inti dari 3 (tiga) perspektif hukum tersebut. masalah kewenangan penegakan aturan hukum. sebagai kontrol sosial dari hukum yang merupakan salah satu dari konsep-konsep yang biasanya. Sedangkan teori hukum yang dipergunakan sebagai acuan adalah teori social engineering. yaitu: Pertama. Perspektif ini merupakan tinjauan dari bawah terhadap hukum (the bottoms up view of the law). karena permasalahan ini menyangkut struktur sosial (social structure) dan institusi sosial (social institution). paling banyak digunakan dalam studi-studi kemasyarakatan. hukum dalam perspektif ini meliputi obyek studi seperti misalnya kemampuan hukum. ialah karena institusi hukum tersebut baik di tingkat subtansi maupun struktur. 2. Dalam perspektif ini fungsi utama suatu sistem hokum bersifat integratif karena dimaksudkan untuk mengatur dan memelihara regulasi sosial dalam suatu sistem sosial. Ketiga perspektif emansipasi masyarakat terhadap hukum. Selanjutnya menurut Parsons agar hokum dapat mengemban fungsi kontrol tersebut. dalam hal ini menyangkut tentang pola pikir dan gaya hidup masyarakat dalam menyikapi perkawinan dan perceraian dibawah tangan dalam hubungan dengan fakta sosial ini. mengemukakan ada 4 (empat) prasyarat fungsional dari suatu sistem hukum. Hukum sebagai lembaga yang bekerja di dalam masyarakat minimal memiliki 3 (tiga) perspektif dari fungsinya (fungsi hukum).

Menurut ketentuan pada Pasal 2 Ayat (1) UU Perkawinan. Ini berarti bahwa jika suatu perkawinan telah memenuhi syarat dan rukun nikah atau ijab kabul telah dilaksanakan (bagi umat Islam) atau pendeta/pastur telah melaksanakan pemberkatan atau ritual lainnya. Friedmann adalah keseluruhan dari sikap-sikap warga masyarakat yang bersifat umum dan nilai-nilai dalam masyarakat yang akan menentukan bagaimana seharusnya hukum itu berlaku dalam masyarakat. maka dapat disimpulkan: Kedudukan perkawinan dan perceraian dibawah tangan ditinjau dari Hukum Islam dan ketentuan Hukum Positif yang berlaku di Indonesia adalah sah apabila memenuhi rukun dan semua syarat sahnya nikah meskipun tidak dicatatkan. Budaya hukum sebagaimana dikemukakan Lawrence M. Selanjutnya akibat hukum dari perkawinan dan perceraian di bawah tangan. maupun dalam mengarahkan masyarakat sesuai dengan tujuan hukum. sebuah perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masingmasing agamanya dan kepercayaannya itu. Berdasarkan hal-hal di atas. baik secara hukum maupun sosial. Dengan demikian budaya hukum menempati posisi yang sangat strategis dalam menentukan pilihan berperilaku dalam menerima hukum atau justru sebaliknya menolak. meski secara agama atau kepercayaan dianggap sah.mengintegrasikan kepentingan-kepentingan yang menjadi prasyarat untuk dapat berfungsinya suatu sistem hukum baik sebagai kontrol. serta bagi anak yang dilahirkan. suatu institusi hukum pada akhirnya akan dapat menjadi hokum yang benar-benar diterima dan digunakan oleh masyarakat ataupun suatu komunitas tertentu adalah sangat ditentukan oleh budaya hukum masyarakat ataupun komunitas tertentu adalah sangat ditentukan oleh budaya hokum masyarakat atau komunitas yang bersangkutan. Dengan perkataan lain. . Akibat hukum perkawinan dan perceraian tersebut berdampak sangat merugikan bagi istri dan perempuan umumnya. Tetapi sahnya perkawinan ini di mata agama dan kepercayaan masyarakat perlu dipastikan lagi oleh negara. namun perkawinan yang dilakukan di luar pengetahuan dan pengawasan pegawai pencatat nikah tidak memiliki kekuatan hukum yang tetap dan dianggap tidak sah di mata hukum Negara. maka perkawinan tersebut adalah sah terutama di mata agama dan kepercayaan masyarakat. yang dalam hal ini ketentuannya terdapat pada Pasal 2 Ayat (2) UU Perkawinan supaya mempunyai kekuatan hukum.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->