P. 1
Budaya Suku Manggarai NTT Indonesia

Budaya Suku Manggarai NTT Indonesia

|Views: 1,489|Likes:
Published by Herlynch Andy Dae

More info:

Published by: Herlynch Andy Dae on Jun 04, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/18/2013

pdf

text

original

Budaya Suku Manggarai NTT Indonesia Budaya Suku Manggarai Yang Berada Di Indonesia Tepatnya Di Pulau Flores Nusa

Tenggara Timur Budaya Manggarai
RAGAM BUDAYA MANGGARAI Pada umumnya gambaran masyarakat Manggarai bisa dilihat dari corak maupun ragam budayanya yang tercermin dalam berbagai sistem atau sub-sistem yang berlaku. Beragam sub-sistem yang hidup dalam masyarakat Manggarai yang dapat memperlihatkan bagaimana sesungguhnya corak kebudayaan di Manggarai. Sub-sistem yang hidup dalam masyarakat Manggarai yaitu sub-sistem religi, sub-sistem organisasi, sub-sistem pengetahuan, bahasa, kesenian, sistem mata pencaharian atau ekonomi, sistem teknologi. 1. Religi Secara umum, sistem religi asli orang Manggarai adalah monoteis implisit, dengan dasar religinya yakni menyembah Tuhan Maha Pencipta dan Maha Kuasa (mori jadi dedek – Ema pu’un kuasa), meski masih terdapat cara-cara dan tempat persembahan misalnya, compang (mesbah) juga terkadang di bawah pohon-pohon besar yang dipandang angker dan suci. Compang (Mesbah) Yang didirikan di tengah kampung karena menurut kepercayaan orang Manggarai di sana berdiamlah Sang Naga Beo (kekuatan pelindung) yang menjaga ketentraman warga kampung setiap waktu. Compang itu berbentuk bulat maksudnya atau mengandung makna kekerabatan, sehingga dalam upacara adat Manggarai sering diungkapkan kalimat sebagai berikut: Muku ca pu’u toe woleng curup (kesatuan kata) Ipung ca tiwu neka woleng wintuk (kesatuan tindakan) Teu ca ambong neka woleng lako (kesatuan langkah) Wujud nyata dari prinsip ini nampak dalam kegiatan leles, kokor tago, dan lain-lain. semuanya menekankan persaudaraan, kebersamaan, dan kekeluargaan. Di dalam masyarakat Manggarai, khususnya berkaitan dengan religius tumbuh dan berkembangnya upacara-upacara adat yang berkaitan untuk menyebut nama Tuhan atau wujud tertinggi misalnya : * Dalam acara penti, ucapan untuk menyebut nama Tuhan atau wujud tertinggi: - Lawang morin agu ngaran Artinya untuk minta pengukuhan dari Tuhan sebagai pemilik atau pemberi atas benih atau tumbuh-tumbuhan yang digunakan oleh manusia. sehingga dalam adat Manggarai, diadakannya pesta penti (syukuran) kepada Tuhan atas pemberiannya itu. * Dalam upacara kematian, ucapan untuk menyebut nama Tuhan atau wujud tertinggi : - Kamping morin agu ngaran 2. Sistem Organisasi Sosial atau Kemasyarakatan 1. Lembaga adat atau tua adat * Gendang A. Sejarah berdirinya gendang Secara etimologis, gendang adalah alat musik tradisional Manggarai sejenis drum. Sedangkan secara esensial, gendang adalah lembaga kekuasaan dari suatu masyarakat hukum adat.

Fungsi organisasi gendang : .Masyarakat dari kegita Gendang harus hadir apabila dipanggil oleh Tu’a Gendang Mano sehubungan dengan pesta penti. karena sebenarnya Bea Laing berasal dari suku Pau Ruteng. Sedangkan terbentuknya Gendang Lame atau gendang widang (pembagian) adalah gendang pembagian kepada saudari perempuan atau kepada anak mantu. karena memiliki lingko yang luas dan banyak maka Gendang Mano memberikan (widang) suatu lingko kepada orang Alang sebagai tanda persaudaraan. walaupun memiliki sejarah tersendiri tetapi melihat struktur lembaga hukum adat yang berlaku sampai sekarang di Kabupaten Daerah Tingkat II Manggarai. Kemudian terbentuklah gendang’n onen lingkon’n pe’ang. Dalam perkembangannya. maka gendang dibentuk atau diadakan oleh Gelarang yang tugasnya untuk menyelesaikan sengketa tanah atau lingko yang timbul antara gendang dan menentukan serta membagikan lingko-lingko kepada setiap kampung atau gendang.Mempertahankan kepemilikan tanah dan mengatur pembagiannya. Empo Mbak ini adalah pelarian atau orang buangan dari suku Minangkabau sebagai akibat perebutan kekuasaan.Menegakkan sejarah garis keturunan. Sehingga secara umum Gendang adalah nenek moyang dari masyarakat hukum adat tertentu beserta keturunannya yang berkuasa untuk memerintah seluruh masyarakat hukum adat tertentu dan berkuasa atas wilayahnya. Dalam legenda orang Manggarai. Serta lembaga hukum adatnya yaitu Gendang’n onen lingko’n pe’ang. Gendang Lame. Gendang Mano harus mendapatkan juga satu bagian sebagai Gendang induk.Menata kehidupan sosial warga gendang. dan melalui perkawinan maka terjadilah hubungan dengan masyarakat Gendang Mano. . Wilayah kosong ini ditemukan oleh nenek moyang orang Mano yaitu suku Kuleng. a.Mempertahankan kekuasaan gendang.Seperti masyarakat hukum adat Gendang Mano.Mempersatukan warga gendang. . Gendang Alang Mano.Apabila ketiga Gendang tersebut membagi moso atau lodok (membagi tanah per keluarga). Perlu juga diketahui bahwa nenek moyang pertama yang menguasai wilayah Mano adalah Empo Mbak. Sehingga hubungan antara Gendang Mano dan ketiga Gendang tersebut sangat erat dan harmonis dan ketiga Gendang yang dibentuk tetap tunduk dan taat kepada Gendang Mano. Suku ini kemudian membentuk Gendang’n one lingko’n pe’ang yang berdiri sampai saat ini. karena melalui suatu kebijaksanaan maka Gendang Mano memberikan lingko kepada suku Pau Ruteng. tugas dan struktur organisasi gendang Pada dasarnya fungsi. . Maka Gendang Mano membagi lingko untuk mendirikan Gendang Lame. . Karena perkembangan akhirnya mereka pindah ke Bea Laing untuk menetap. Dalam hal terbentuknya gendang. tugas dan struktur organisasi gendang yang ada di Manggarai sama. Empo Mbak ini adalah seorang keturunan raja Minangkabau. Demikian juga dengan Gendang Bea Laing yang disebut dengan Gendang Ase Ka’e (famili. . . seperti dalam hal sebagai berikut : . sanak saudara). dan Gendang Bea Laing. Atas kebaikan orang Mano mereka lalu diberikan untuk menghuni wilayah Bangka Pau di Mano kemudian pindah ke Mera Mano. dari Gendang Alang Mano. Gendang Mano yang dimaksud dalam penelitian ini dibentuk setelah menguasai suatu wilayah kosong yang telah ratusan tahun ditinggalkan. Cara lain yang membentuk atau mengadakan gendang adalah sebagai akibat memenangkan perang atau menguasai suatu wilayah kosong. . B.Ketiga Gendang harus tunduk dan taat kepada perintah dari Gendang Mano dalam hubungan adat istiadat mengenai lingko. Fungsi.

mengontrol dan menertibkan pelaksanaan adat istiadat sebagai pedoman hidup seluruh warga gendang dan memberi sanksi bagi yang melanggar tata tertib gendang. tetapi tidak mutlak untuk membentuk atau mengadakan gendang di setiap kampung.Membentuk pertahanan yang kuat dalam menghadapi musuh. b. . Kemudian Dalu membentuk Gelarang yang fungsi dan tugasnya menentukan dan membagibagikan Lingko kepada setiap kampung atau gendang serta menyelesaikan sengketa tanah yang timbul antara gendang di setiap kampung atau desa.Memasukkan kehidupan bersama warga gendang. saya mulai saja dengan melihat kembali sejarah pemerintahan di Manggarai sejak zaman pemerintahan Goa. Tugas organisasi gendang : . dan paki kaba (persembahan). wasa (mohon penyuburan). ngaung’n musi (segenap wilayah milik gendang yang bertugas memimpin rakyat gendang. .Ata lami gendang (keluarga yang menempati rumah niang atau rumah gendang dan menjaga serta memelihara). Sehingga mereka menguasai Beo (kampung) secara keseluruhan yaitu gendang’n onen lingko’n pe’ang. yang tertinggal hanyalah apa yang dinamakan dengan gendang atau lembaga hukum adat yang disebut dengan gendang’n onen lingko’n pe’ang. Struktur organisasi gendang Sebagai tambahan.Tu’a Golo . Tu’a gendang adalah sekelompok orang yang merupakan pendiri gendang dan keturunannya. Sehingga struktur pemerintahan pada jaman itu adalah sebagai berikut : Gambar 1 Struktur Organisasi Elit Tradisional Di Kabupaten Manggarai Membaca dan melihat struktur pemerintahan tersebut jelas terlihat bahwa Raja membentuk dan mengangkat Dalu yang kemudian dinamakan Haminte sampai dengan tahun 1968.Tu’a Teno .Menjaga dan memelihara kesinambungan keberadaan keturunan gendang. Dia yang diangkat karena turunan pendiri gendang.Deskripsi jabatan : 1. Keadaan ini berlaku hingga saat ini melalui hukum adat Manggarai. Gambar 2 Struktur Organisasi Elit Tradisional Di Desa Mandosawu 2. Mengenai struktur organisasi elit tradisional yang dalam penelitian ini adalah gendang. Dalu dan Gelarang tidak berperan lagi karena organisasinya telah bubar. taat kepada aturan adat istiadat dan tidak banyak cacat cela dalam hal moral. mempunyai gesah sebagai pemimpin.Menata ketertiban sosial bagi kehidupan warga gendang. Bima dan pemerintahan jajahan Belanda. Keadaan dewasa ini telah menunjukkan bahwa Raja.. dapat dilihat pada gambar 2.Pelaksana ritus gendang yang menentukan penti (syukuran). . Yang mengangkat Tu’a Golo adalah Tu’a Gendang. oli (upacara musim tanam). Keturunan pendiri gendang berhak untuk menjadi : . . Tu’a Golo Adalah Tu’a yang menguasai golo (kampung) Pa’ang’n olon. c.

Tu’a Wa’u adalah yang mengepalai keturunan pendatang yang telah berkembang dalam gendang dan menerima pembagian tanah. Tu’a Kilo adalah pemimpin keluarga yang biasanya disandang oleh bapak. Karena paca itu sendiri bukan cuma soal uang atau hewan. Biasa disebut dengan wae ka’e atau keturunan tertua. khusus di luar kekuasaan Tu’a Teno. Tu’a Golo dan Tu’a Teno. Tu’a Panga. Dari praktek orang tua tempo dulu. Dengan itu keluarga besar lebih lebar jangkauan hubungan woe nelu-nya. namun tetap taat pada tata tertib dan peraturan gendang yang dihuni. Orang yang laki pe’ang atau wai pe’ang membuka jalur hubungan baru dengan suku-suku lain. 7. 8. mengamankan pelaksanaan pembagian tanah dan melaksanakan ritus pembagian. Walaupun mereka merupakan keturunan pendatang. Biasanya dari kalangan keluarga yang mampu membayar belis atau paca. 6. Sedang yang menentukan kepemilikan tanah adalah Tu’a Gendang. Dalam musyawarah gendang. tetapi terutama soal harga diri dan martabat dari kedua belah pihak. Ame terdiri dari beberapa kilo atau keluarga. Wilayah kekuasaan ini nampak dalam sebutan gendang’n onen atau beon one. 5. Tu’a Ame adalah keturunan Tu’a Gendang sesudah lapisan panga dan dipercayakan untuk mengurus diri. Tu’a Wae Koe yaitu yang mengetahui atau menguasai suku yang termuda dalam gendang. * Kekerabatan atau Keluarga Perkawinan (Menyangkut Anak Wina – Anak Rona) Sistem perkawinan menurut adat Manggarai Menurut adat Manggarai. Tetapi dia harus taat kepada kebijaksanaan Tu’a Gendang yang merupakan sesepuh-sesepuh agung gendang. C. Tungku Perkawinan untuk mempertahankan hubungan woe nelu. lingko’n pe’ang. b. Biasa disebut dengan wae ase atau keturunan termuda. Dalam bahasa adanya dikatakan laki pe’ang atau wai pe’ang (anak wanita yang kawin di luar suku). Cangkang Perkawinan di luar suku atau perkawinan antar suku.Tugas Tu’a Golo adalah sebagai pemimpin rakyat gendang dalam hal urusan harian seperti ketertiban warga gendang. Pada umumnya mereka memiliki hubungan dengan gendang karena faktor perkawinan. dia adalah pemimpin sidang. mampu menyelesaikan masalah dalam wilayah gendang. hubungan anak rona dengan anak . 9. Dan perlu diketahui bahwa kedudukan Tu’a Golo dan Tu’a Teno adalah sejajar. Panga (bagian atau cabang) adalah sekelompok orang yang merupakan turunan Tu’a Gendang pada lapisan tertentu yang dipercayakan untuk mengurus diri berdasarkan kebijaksanaan Tu’a Gendang. Tu’a Panga adalah pemimpin atau kepala panga. 3. Ruang Lingkup Wilayah Gendang Wilayah kekuasaan gendang adalah suatu wilayah tertentu dari sebuah kampung atau desa yang terdiri dari beberapa lingko atau tanah dan setiap lingko mempunyai tanah sendiri. Tu’a Kilo adalah yang mengetahui atau menguasai suatu keluarga. Panga terdiri dari beberapa Ame atau keluarga yang berasal dari satu nenek dalam suku tertentu. menjaga keamanan warga dan kebun warga. antara keluarga pria dan wanita. Gendang’n one yang dimaksud adalah segenap warga gendang sedangkan lingko’n pe’ang adalah wilayah yang merupakan tanah (lingko) milik gendang. 4. orang yang laki pe’ang bukan sembarang orang. Tu’a Ame adalah pemimpin keluarga. ada tiga cara atau sistem perkawinan yaitu : a. Dan persyaratan menjadi Tu’a Golo adalah orang yang bijaksana. Tu’a Wae Tu’a yaitu yang mengetahui atau menguasai suku yang tertua dari gendang tersebut. Tu’a Teno adalah orang yang berasal dari Tu’a gendang dengan tugas menentukan pembagian tanah yang menjadi hak milik gendang.

Menurut adat Manggarai ada beberapa jenis tungku : Tungku cu atau tungku dungka Kawin antara anak laki-laki dari ibu kawin dengan anak perempuan dari saudara itu atau om. 4. . Ada bukti bahwa perkawinan cako tidak direstui. juga berarti perkawinan terjadi di dalam atau di sekitar kampung asalnya. Berbicara tentang paca untuk orang yang laki one dan wai leleng one tergantung pada jenis tungku. bahasa Kempo di wilayah Kempo. Tungku nereng nara Tungku anak de due Tungku canggot Tungku ulu atau tungku sa’i Tungku salang manga Tungku dondot c. * Arti anak wina dan anak rona Dalam konteks sosial budaya Manggarai yang disebut anak rona berasal dari keturunan pria atau yang disebut ata one. Pemuda yang laki one dapat berarti pria yang kawin tungku. Demikian pula terhadap wanita yang wai leleng one.wina yang sudah terbentuk akibat perkawinan cangkang. di mana pihak pria disebut anak wina dan pihak perempuan disebut anak rona. Sedangkan anak wina berasal dari keturunan anak perempuan atau yang disebut ata pe’ang. SVD yang dilakukannya sebelum 1950 menyebutkan bahwa di Manggarai terdapat enam bahasa. Dalam konteks ini belis tidak dituntut sesuai dengan kemampuan kita. bahasa Rajong di wilayah Rajong dan bahasa Manggarai Kuku yang termasuk atas lima kelompok dialeg. Ilmu Pengetahuan Sejak dulu. tentang tanaman atau tumbuh-tumbuhan yang bermanfaat bagi kehidupannya. orang Manggarai memiliki pengetahuan tentang alam sekitarnya. Verheijen. Bahasa Mengutip hasil penelitian Pastor P. Sistem dan pola hidup masyarakat Manggarai yang agraris mengharuskan mereka memiliki pengetahuan yang cukup tentang flora. Berlaku ungkapan tama beka salang agu beka weki. Orang Manggarai percaya bahwa Tuhan-lah yang menentukan apakan perkawinan itu direstui atau tidak. Mengapa dikatakan mencoba? Karena menurut adat Manggarai.J. baik fauna maupun flora dengan seluruh ekosistemnya. Perkawinan cako cama salang artinya perkawinan yang dilangsungkan dengan sesama anak wina. bahasa Werana di Manggarai Tenggara. Laki-laiki dan wanita yang kawin tungku disebut saja laki one dan wai leleng one. 3. Begitupun pengetahuan tentang fauna dimiliki secara turun temurun karena orang Manggarai pada dasarnya senang beternak dan berburu. Cako Perkawinan dalam suku sendiri. tidak semua perkawinan cako direstui mori agu ngaran. bahwa kedua insan yang menikah itu mati pada usia muda sebelum memperoleh anak. yaitu bahasa Komodo di pulau Komodo. Disebut juga sebagai perkawinan cako cama tau. Biasanya anak laki-laki dari keturunan adik dan anak perempuan dari keturunan kakak. Perkawinan cako biasanya orang tua mulai mencobanya pada lapisan ketiga atau lapisan keempat dalam daftar silsilah keluarga. Anak wina – anak rona muncul karena hubungan perkawinan. termasuk bahasa Manggarai Timur Jauh. bahasa Rembong di Rembong yang wilayahnya meluas ke Ngada Utara.

Dari berbagai jenis kesenian itu. Motif wela runu (bunga runu). nilai etika (sopan santun). lukis. Sistem Mata Pencaharian atau Ekonomi Aktivitas perekonomian atau mata pencaharian sudah sangat lama dikenal dalam masyarakat . agar senantiasa sehat. Kesenian Di Manggarai juga tumbuh dan berkembang berbagai jenis kesenian khas daerah ini seperti seni sastra. tari. yaitu segala sesuatu ada akhirnya. Motif ju’i (garis-garis batas) pertanda keberakhiran segala sesuatu. ada batasnya. ekspresi suka cita. Caci sudah merupakan puncak kebudayaan Manggarai yang unik dan sarat makna: seni gerak (lomes). doa porong langkas haeng ntala. nilai sportifitas. dan memiliki ketinggian pengaruh lebih dari orang lain dalam hal membawa perubahan dalam hidup. misalnya menjemput tamu baru. Seni Tenun * Tenun Songke Seni kriya songke sarat dengan nilai dan simbol. serta penanaman percaya diri. Warna dasar hitam pada songke melambangkan sebuah arti kebesaran dan keagungan orang Manggarai serta kepasrahan bahwa semua manusia akhirnya akan kembali pada Yang Maha Kuasa. gendang. 5. tinding. * Sae Sebuah tarian adat Manggarai untuk memeriahkan sebuah pesta. Maksudnya. Seni Tari * Ronda Ronda adalah sebuah nyanyian yang dipakai sebagai nyanyian perarakan. yang melambangkan sikap atau ethos bahwa orang Manggarai bagaikan bunga kecil tapi memberikan keindahan dan hidup di tengah-tengah kefanaan ini. Sedangkan aneka motif bunga pada kain songke mengandung banyak makna sesuai motif itu sendiri seperti motif wela kawong bermakna interdependensi antara manusia dengan alam sekitarnya. yang dinyanyikan oleh banyak orang dalam bentuk lingkaran. muatan nilai persatuan.Pengelompokkan bahasa tersebut sekaligus mengisyaratkan secara umum kelompok budaya di Manggarai yang erat kaitannya dengan corak kesatuan genealogis. gong. Misalnya dalam upacara adat masyarakat yaitu upacara paki kaba dalam rangka congko lokap atau menempatkan kampung baru. supaya senantiasa tinggi sampai bintang. nilai estektika. songke. yakni seni pertunjukan caci dan seni rupa (kriya). * Danding * Wera 6. disain dan kriya. sebab kesatuan genealogis yang lebih besar di Manggarai adalah Wa’u (klen patrilineal) dan perkawinan pun patrilokal. Sanda sering dipakai dalam upacara menjelang pesta penti dan pesta adat lainnya. tambor. * Sanda Sebuah nyanyian. Dalam kesatuan genealogis inilah bahasa terpelihara baik secara turun temurun. musik. Motif ntala (bintang) terkait dengan harapan yang sering dikumandangkan dalam tudak. Seni Sastra Cerita-cerita rakyat. umur panjang. Beberapa macam kesenian di Manggarai : Seni Musik * Alat-alat musi tradisional : sunding. Motif ranggong (laba-laba) bersimbol kejujuran dan kerja keras. ada dua jenis yang sudah mencapai tingkat sebuah peradaban dan sudah dikenal luas.

Sama seperti halnya sub-sistem sosial yang lain. Begitu pula upacara penanaman benih atau upacara silih yang dilakukan agar kebun atau ladang terhindarkan dari berbagai hama penyakit yang mengganggu tanaman. Semula sistem irigasi persawahan ini kurang diminati masyarakat karena terasa asing. Sementara alat perburuan yang dikenal yakni bambu runcing. Begitupun teknologi pembuatan minuman tradisional juga sudah dikenal cama di masyarakat Manggarai. mereka sudah dapat membangun rumah. Sementara untuk perhiasan sebelum mereka mengenal logam. mosa lima (lima jari dalam ukuran pembagian kebun komunal). Pesta kebun adalah acara syukuran kepada mori jari dedek dan arwah nenek moyang atas hasil padi dan jagung yang diperoleh. berdagang atau bermata pencaharian. untuk pengombatan disentri. kayu atau akar bahar. orang Manggarai sebelum mereka mengenal tenun ikat. untuk alat-alat pertanian. Secara tradisional. Di samping mengerjakan sawah. Teknologi Masyarakat Manggarai di masa lalu sudah mengenal bahkan mampu menghasilkan peralatan atau perkakas yang dibutuhkan untuk kehidupannya. setelah melihat hasil pekerjaan orang yang mengerjakan jauh lebih baik dan menjanjikan. Bahwa kemudian kopi mendapat tempat sebagai komoditas yang akrab dengan orang Manggarai. Dalam hal pembuatan rumah. masyarakat Manggarai pada umumnya adalah masyarakat agraris. Dalam bidang pertanian. lidi enau. Konstruksi segi lima ini berkaitan dengan latar belakang filosofis dan sosiologis. sanda lima. anjing. Seperti diketahui. babi. . ayam.Manggarai. Untuk pakaian. misalnya londek jembu yaitu pucuk daun jambu untuk mengobati sakit perut. bahan pakaiannya terbuat dari kulit kayu cale (sejenis sukun). tali ijuk. misalnya di Manggarai dikenal lima tahapan yang sekaligus menggambarkan konstruksi segi lima. 7. kayu sita. yakni proses pembuatan atau mencampur air enau dengan kulit damer sehingga menghasilkan alkohol berkadar tinggi seperti arak atau tuak. sapi. kayu atau tanah liat untuk mengolah tanah pertanian. Secara turun temurun dua jenis tanaman andalan masyarakat adalah padi dan jagung. Bahkan sepanjang usia peradaban yang dimilikinya. berladang dan menanam kopi orang Manggarai juga terkenal handal dalam beternak kerbau. serta melaut. seusia itu pula pengenalan masyarakat setempat terhadap kegiatan mencari nafkah. lampek lima. pembukaan sawah dengan sistem irigasi sudah dikenal di Manggarai. Angka ini memang dipandang sebagai angka keramat karena secara kausalistis dihubungkan dengan rempa lima (lima jari kaki). sudah sangat lama dikenal pola perkebunan yang disebut oleh masyarakat setempat dengan lingko (kebun komunal atau sistem pembagian tanah pertanian yang disebut lodok). Sejak tahun 1938. Tapi. kuda. Masyarakat Manggarai sejak dulu juga sudah mengenal cara pembuatan obat-obatan yang berasal dari daun-daunan. Sebelum mengenal logam. wase lima. sub-sistem ekonomi dan mata pencaharian orang Manggarai senantiasa melekat dengan nuansa-nuansa religi. maka sistem irigasi pun secara berangsur-angsur mulai ditiru dan kemudian malah menjadi kegiatan primadona. perhiasan mereka umumnya terbuat dari tempurung kelapa. masyarakat Manggarai sudah mengenal perkakas dari bambu.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->