Budaya Suku Manggarai NTT Indonesia Budaya Suku Manggarai Yang Berada Di Indonesia Tepatnya Di Pulau Flores Nusa

Tenggara Timur Budaya Manggarai
RAGAM BUDAYA MANGGARAI Pada umumnya gambaran masyarakat Manggarai bisa dilihat dari corak maupun ragam budayanya yang tercermin dalam berbagai sistem atau sub-sistem yang berlaku. Beragam sub-sistem yang hidup dalam masyarakat Manggarai yang dapat memperlihatkan bagaimana sesungguhnya corak kebudayaan di Manggarai. Sub-sistem yang hidup dalam masyarakat Manggarai yaitu sub-sistem religi, sub-sistem organisasi, sub-sistem pengetahuan, bahasa, kesenian, sistem mata pencaharian atau ekonomi, sistem teknologi. 1. Religi Secara umum, sistem religi asli orang Manggarai adalah monoteis implisit, dengan dasar religinya yakni menyembah Tuhan Maha Pencipta dan Maha Kuasa (mori jadi dedek – Ema pu’un kuasa), meski masih terdapat cara-cara dan tempat persembahan misalnya, compang (mesbah) juga terkadang di bawah pohon-pohon besar yang dipandang angker dan suci. Compang (Mesbah) Yang didirikan di tengah kampung karena menurut kepercayaan orang Manggarai di sana berdiamlah Sang Naga Beo (kekuatan pelindung) yang menjaga ketentraman warga kampung setiap waktu. Compang itu berbentuk bulat maksudnya atau mengandung makna kekerabatan, sehingga dalam upacara adat Manggarai sering diungkapkan kalimat sebagai berikut: Muku ca pu’u toe woleng curup (kesatuan kata) Ipung ca tiwu neka woleng wintuk (kesatuan tindakan) Teu ca ambong neka woleng lako (kesatuan langkah) Wujud nyata dari prinsip ini nampak dalam kegiatan leles, kokor tago, dan lain-lain. semuanya menekankan persaudaraan, kebersamaan, dan kekeluargaan. Di dalam masyarakat Manggarai, khususnya berkaitan dengan religius tumbuh dan berkembangnya upacara-upacara adat yang berkaitan untuk menyebut nama Tuhan atau wujud tertinggi misalnya : * Dalam acara penti, ucapan untuk menyebut nama Tuhan atau wujud tertinggi: - Lawang morin agu ngaran Artinya untuk minta pengukuhan dari Tuhan sebagai pemilik atau pemberi atas benih atau tumbuh-tumbuhan yang digunakan oleh manusia. sehingga dalam adat Manggarai, diadakannya pesta penti (syukuran) kepada Tuhan atas pemberiannya itu. * Dalam upacara kematian, ucapan untuk menyebut nama Tuhan atau wujud tertinggi : - Kamping morin agu ngaran 2. Sistem Organisasi Sosial atau Kemasyarakatan 1. Lembaga adat atau tua adat * Gendang A. Sejarah berdirinya gendang Secara etimologis, gendang adalah alat musik tradisional Manggarai sejenis drum. Sedangkan secara esensial, gendang adalah lembaga kekuasaan dari suatu masyarakat hukum adat.

a. Suku ini kemudian membentuk Gendang’n one lingko’n pe’ang yang berdiri sampai saat ini. B. Gendang Lame.Menata kehidupan sosial warga gendang. .Seperti masyarakat hukum adat Gendang Mano.Apabila ketiga Gendang tersebut membagi moso atau lodok (membagi tanah per keluarga). Gendang Mano yang dimaksud dalam penelitian ini dibentuk setelah menguasai suatu wilayah kosong yang telah ratusan tahun ditinggalkan.Mempersatukan warga gendang. . . Kemudian terbentuklah gendang’n onen lingkon’n pe’ang. walaupun memiliki sejarah tersendiri tetapi melihat struktur lembaga hukum adat yang berlaku sampai sekarang di Kabupaten Daerah Tingkat II Manggarai. dan Gendang Bea Laing. Cara lain yang membentuk atau mengadakan gendang adalah sebagai akibat memenangkan perang atau menguasai suatu wilayah kosong. Dalam perkembangannya. Wilayah kosong ini ditemukan oleh nenek moyang orang Mano yaitu suku Kuleng. seperti dalam hal sebagai berikut : . Empo Mbak ini adalah pelarian atau orang buangan dari suku Minangkabau sebagai akibat perebutan kekuasaan. Sehingga secara umum Gendang adalah nenek moyang dari masyarakat hukum adat tertentu beserta keturunannya yang berkuasa untuk memerintah seluruh masyarakat hukum adat tertentu dan berkuasa atas wilayahnya. . Gendang Mano harus mendapatkan juga satu bagian sebagai Gendang induk. . Perlu juga diketahui bahwa nenek moyang pertama yang menguasai wilayah Mano adalah Empo Mbak. Maka Gendang Mano membagi lingko untuk mendirikan Gendang Lame. dan melalui perkawinan maka terjadilah hubungan dengan masyarakat Gendang Mano. Fungsi. dari Gendang Alang Mano. sanak saudara). Dalam legenda orang Manggarai. Fungsi organisasi gendang : . Sedangkan terbentuknya Gendang Lame atau gendang widang (pembagian) adalah gendang pembagian kepada saudari perempuan atau kepada anak mantu. Gendang Alang Mano. karena sebenarnya Bea Laing berasal dari suku Pau Ruteng.Mempertahankan kekuasaan gendang. Serta lembaga hukum adatnya yaitu Gendang’n onen lingko’n pe’ang. . Sehingga hubungan antara Gendang Mano dan ketiga Gendang tersebut sangat erat dan harmonis dan ketiga Gendang yang dibentuk tetap tunduk dan taat kepada Gendang Mano.Mempertahankan kepemilikan tanah dan mengatur pembagiannya.Masyarakat dari kegita Gendang harus hadir apabila dipanggil oleh Tu’a Gendang Mano sehubungan dengan pesta penti. maka gendang dibentuk atau diadakan oleh Gelarang yang tugasnya untuk menyelesaikan sengketa tanah atau lingko yang timbul antara gendang dan menentukan serta membagikan lingko-lingko kepada setiap kampung atau gendang. Empo Mbak ini adalah seorang keturunan raja Minangkabau. karena melalui suatu kebijaksanaan maka Gendang Mano memberikan lingko kepada suku Pau Ruteng. Atas kebaikan orang Mano mereka lalu diberikan untuk menghuni wilayah Bangka Pau di Mano kemudian pindah ke Mera Mano. tugas dan struktur organisasi gendang yang ada di Manggarai sama. . tugas dan struktur organisasi gendang Pada dasarnya fungsi. Demikian juga dengan Gendang Bea Laing yang disebut dengan Gendang Ase Ka’e (famili.Ketiga Gendang harus tunduk dan taat kepada perintah dari Gendang Mano dalam hubungan adat istiadat mengenai lingko. karena memiliki lingko yang luas dan banyak maka Gendang Mano memberikan (widang) suatu lingko kepada orang Alang sebagai tanda persaudaraan.Menegakkan sejarah garis keturunan. Dalam hal terbentuknya gendang. Karena perkembangan akhirnya mereka pindah ke Bea Laing untuk menetap.

Keadaan ini berlaku hingga saat ini melalui hukum adat Manggarai. Sehingga mereka menguasai Beo (kampung) secara keseluruhan yaitu gendang’n onen lingko’n pe’ang. mempunyai gesah sebagai pemimpin. Kemudian Dalu membentuk Gelarang yang fungsi dan tugasnya menentukan dan membagibagikan Lingko kepada setiap kampung atau gendang serta menyelesaikan sengketa tanah yang timbul antara gendang di setiap kampung atau desa. Tu’a gendang adalah sekelompok orang yang merupakan pendiri gendang dan keturunannya. Bima dan pemerintahan jajahan Belanda.Ata lami gendang (keluarga yang menempati rumah niang atau rumah gendang dan menjaga serta memelihara). Mengenai struktur organisasi elit tradisional yang dalam penelitian ini adalah gendang. tetapi tidak mutlak untuk membentuk atau mengadakan gendang di setiap kampung. taat kepada aturan adat istiadat dan tidak banyak cacat cela dalam hal moral.Memasukkan kehidupan bersama warga gendang. Sehingga struktur pemerintahan pada jaman itu adalah sebagai berikut : Gambar 1 Struktur Organisasi Elit Tradisional Di Kabupaten Manggarai Membaca dan melihat struktur pemerintahan tersebut jelas terlihat bahwa Raja membentuk dan mengangkat Dalu yang kemudian dinamakan Haminte sampai dengan tahun 1968. Yang mengangkat Tu’a Golo adalah Tu’a Gendang.Tu’a Teno . . Gambar 2 Struktur Organisasi Elit Tradisional Di Desa Mandosawu 2. oli (upacara musim tanam). Struktur organisasi gendang Sebagai tambahan.Menata ketertiban sosial bagi kehidupan warga gendang. yang tertinggal hanyalah apa yang dinamakan dengan gendang atau lembaga hukum adat yang disebut dengan gendang’n onen lingko’n pe’ang. wasa (mohon penyuburan). c.Pelaksana ritus gendang yang menentukan penti (syukuran).Deskripsi jabatan : 1.Menjaga dan memelihara kesinambungan keberadaan keturunan gendang. ngaung’n musi (segenap wilayah milik gendang yang bertugas memimpin rakyat gendang. b. Keturunan pendiri gendang berhak untuk menjadi : .Tu’a Golo . mengontrol dan menertibkan pelaksanaan adat istiadat sebagai pedoman hidup seluruh warga gendang dan memberi sanksi bagi yang melanggar tata tertib gendang.. dan paki kaba (persembahan). saya mulai saja dengan melihat kembali sejarah pemerintahan di Manggarai sejak zaman pemerintahan Goa. Dia yang diangkat karena turunan pendiri gendang. Tugas organisasi gendang : . dapat dilihat pada gambar 2. Tu’a Golo Adalah Tu’a yang menguasai golo (kampung) Pa’ang’n olon. Keadaan dewasa ini telah menunjukkan bahwa Raja.Membentuk pertahanan yang kuat dalam menghadapi musuh. Dalu dan Gelarang tidak berperan lagi karena organisasinya telah bubar. . . .

Pada umumnya mereka memiliki hubungan dengan gendang karena faktor perkawinan. Biasa disebut dengan wae ase atau keturunan termuda. Orang yang laki pe’ang atau wai pe’ang membuka jalur hubungan baru dengan suku-suku lain. Dan persyaratan menjadi Tu’a Golo adalah orang yang bijaksana. Cangkang Perkawinan di luar suku atau perkawinan antar suku. 6. Dalam bahasa adanya dikatakan laki pe’ang atau wai pe’ang (anak wanita yang kawin di luar suku). khusus di luar kekuasaan Tu’a Teno. Ame terdiri dari beberapa kilo atau keluarga. 7. Panga terdiri dari beberapa Ame atau keluarga yang berasal dari satu nenek dalam suku tertentu. Tu’a Teno adalah orang yang berasal dari Tu’a gendang dengan tugas menentukan pembagian tanah yang menjadi hak milik gendang. Tu’a Ame adalah pemimpin keluarga. Karena paca itu sendiri bukan cuma soal uang atau hewan. namun tetap taat pada tata tertib dan peraturan gendang yang dihuni. C. Wilayah kekuasaan ini nampak dalam sebutan gendang’n onen atau beon one. lingko’n pe’ang. Dari praktek orang tua tempo dulu. Tetapi dia harus taat kepada kebijaksanaan Tu’a Gendang yang merupakan sesepuh-sesepuh agung gendang. Tu’a Golo dan Tu’a Teno. orang yang laki pe’ang bukan sembarang orang. Tu’a Panga adalah pemimpin atau kepala panga. tetapi terutama soal harga diri dan martabat dari kedua belah pihak. Panga (bagian atau cabang) adalah sekelompok orang yang merupakan turunan Tu’a Gendang pada lapisan tertentu yang dipercayakan untuk mengurus diri berdasarkan kebijaksanaan Tu’a Gendang. 8. Dan perlu diketahui bahwa kedudukan Tu’a Golo dan Tu’a Teno adalah sejajar. mengamankan pelaksanaan pembagian tanah dan melaksanakan ritus pembagian. Tu’a Ame adalah keturunan Tu’a Gendang sesudah lapisan panga dan dipercayakan untuk mengurus diri. antara keluarga pria dan wanita. Tu’a Panga. Tungku Perkawinan untuk mempertahankan hubungan woe nelu. Sedang yang menentukan kepemilikan tanah adalah Tu’a Gendang. 3. Gendang’n one yang dimaksud adalah segenap warga gendang sedangkan lingko’n pe’ang adalah wilayah yang merupakan tanah (lingko) milik gendang. Tu’a Wae Tu’a yaitu yang mengetahui atau menguasai suku yang tertua dari gendang tersebut. Biasanya dari kalangan keluarga yang mampu membayar belis atau paca. 5. Tu’a Wa’u adalah yang mengepalai keturunan pendatang yang telah berkembang dalam gendang dan menerima pembagian tanah. b. menjaga keamanan warga dan kebun warga. Ruang Lingkup Wilayah Gendang Wilayah kekuasaan gendang adalah suatu wilayah tertentu dari sebuah kampung atau desa yang terdiri dari beberapa lingko atau tanah dan setiap lingko mempunyai tanah sendiri. Tu’a Kilo adalah yang mengetahui atau menguasai suatu keluarga. Dengan itu keluarga besar lebih lebar jangkauan hubungan woe nelu-nya. Tu’a Kilo adalah pemimpin keluarga yang biasanya disandang oleh bapak. mampu menyelesaikan masalah dalam wilayah gendang. Dalam musyawarah gendang.Tugas Tu’a Golo adalah sebagai pemimpin rakyat gendang dalam hal urusan harian seperti ketertiban warga gendang. Tu’a Wae Koe yaitu yang mengetahui atau menguasai suku yang termuda dalam gendang. 4. 9. * Kekerabatan atau Keluarga Perkawinan (Menyangkut Anak Wina – Anak Rona) Sistem perkawinan menurut adat Manggarai Menurut adat Manggarai. hubungan anak rona dengan anak . Walaupun mereka merupakan keturunan pendatang. dia adalah pemimpin sidang. Biasa disebut dengan wae ka’e atau keturunan tertua. ada tiga cara atau sistem perkawinan yaitu : a.

Begitupun pengetahuan tentang fauna dimiliki secara turun temurun karena orang Manggarai pada dasarnya senang beternak dan berburu. Menurut adat Manggarai ada beberapa jenis tungku : Tungku cu atau tungku dungka Kawin antara anak laki-laki dari ibu kawin dengan anak perempuan dari saudara itu atau om. SVD yang dilakukannya sebelum 1950 menyebutkan bahwa di Manggarai terdapat enam bahasa. Orang Manggarai percaya bahwa Tuhan-lah yang menentukan apakan perkawinan itu direstui atau tidak. termasuk bahasa Manggarai Timur Jauh. bahwa kedua insan yang menikah itu mati pada usia muda sebelum memperoleh anak. Sedangkan anak wina berasal dari keturunan anak perempuan atau yang disebut ata pe’ang. Pemuda yang laki one dapat berarti pria yang kawin tungku. Verheijen. Perkawinan cako biasanya orang tua mulai mencobanya pada lapisan ketiga atau lapisan keempat dalam daftar silsilah keluarga. Bahasa Mengutip hasil penelitian Pastor P.wina yang sudah terbentuk akibat perkawinan cangkang. yaitu bahasa Komodo di pulau Komodo. Laki-laiki dan wanita yang kawin tungku disebut saja laki one dan wai leleng one. Mengapa dikatakan mencoba? Karena menurut adat Manggarai. Anak wina – anak rona muncul karena hubungan perkawinan. tentang tanaman atau tumbuh-tumbuhan yang bermanfaat bagi kehidupannya. di mana pihak pria disebut anak wina dan pihak perempuan disebut anak rona. Ilmu Pengetahuan Sejak dulu. tidak semua perkawinan cako direstui mori agu ngaran. Biasanya anak laki-laki dari keturunan adik dan anak perempuan dari keturunan kakak. orang Manggarai memiliki pengetahuan tentang alam sekitarnya. Berlaku ungkapan tama beka salang agu beka weki. bahasa Werana di Manggarai Tenggara. Berbicara tentang paca untuk orang yang laki one dan wai leleng one tergantung pada jenis tungku. Sistem dan pola hidup masyarakat Manggarai yang agraris mengharuskan mereka memiliki pengetahuan yang cukup tentang flora.J. Tungku nereng nara Tungku anak de due Tungku canggot Tungku ulu atau tungku sa’i Tungku salang manga Tungku dondot c. Demikian pula terhadap wanita yang wai leleng one. * Arti anak wina dan anak rona Dalam konteks sosial budaya Manggarai yang disebut anak rona berasal dari keturunan pria atau yang disebut ata one. bahasa Rajong di wilayah Rajong dan bahasa Manggarai Kuku yang termasuk atas lima kelompok dialeg. juga berarti perkawinan terjadi di dalam atau di sekitar kampung asalnya. Perkawinan cako cama salang artinya perkawinan yang dilangsungkan dengan sesama anak wina. Cako Perkawinan dalam suku sendiri. Disebut juga sebagai perkawinan cako cama tau. bahasa Kempo di wilayah Kempo. 3. . Ada bukti bahwa perkawinan cako tidak direstui. baik fauna maupun flora dengan seluruh ekosistemnya. 4. Dalam konteks ini belis tidak dituntut sesuai dengan kemampuan kita. bahasa Rembong di Rembong yang wilayahnya meluas ke Ngada Utara.

dan memiliki ketinggian pengaruh lebih dari orang lain dalam hal membawa perubahan dalam hidup. nilai sportifitas. nilai estektika. sebab kesatuan genealogis yang lebih besar di Manggarai adalah Wa’u (klen patrilineal) dan perkawinan pun patrilokal. gong. ada dua jenis yang sudah mencapai tingkat sebuah peradaban dan sudah dikenal luas. musik. doa porong langkas haeng ntala. tari. Beberapa macam kesenian di Manggarai : Seni Musik * Alat-alat musi tradisional : sunding. Motif ntala (bintang) terkait dengan harapan yang sering dikumandangkan dalam tudak. Dari berbagai jenis kesenian itu. Seni Tari * Ronda Ronda adalah sebuah nyanyian yang dipakai sebagai nyanyian perarakan. muatan nilai persatuan. yang dinyanyikan oleh banyak orang dalam bentuk lingkaran. lukis. songke. Maksudnya. supaya senantiasa tinggi sampai bintang. Misalnya dalam upacara adat masyarakat yaitu upacara paki kaba dalam rangka congko lokap atau menempatkan kampung baru. nilai etika (sopan santun). Motif ju’i (garis-garis batas) pertanda keberakhiran segala sesuatu. agar senantiasa sehat. * Sanda Sebuah nyanyian. gendang. Sedangkan aneka motif bunga pada kain songke mengandung banyak makna sesuai motif itu sendiri seperti motif wela kawong bermakna interdependensi antara manusia dengan alam sekitarnya. Warna dasar hitam pada songke melambangkan sebuah arti kebesaran dan keagungan orang Manggarai serta kepasrahan bahwa semua manusia akhirnya akan kembali pada Yang Maha Kuasa. yakni seni pertunjukan caci dan seni rupa (kriya). Motif wela runu (bunga runu). Sistem Mata Pencaharian atau Ekonomi Aktivitas perekonomian atau mata pencaharian sudah sangat lama dikenal dalam masyarakat . Caci sudah merupakan puncak kebudayaan Manggarai yang unik dan sarat makna: seni gerak (lomes). umur panjang. ekspresi suka cita. 5. * Danding * Wera 6. misalnya menjemput tamu baru. yaitu segala sesuatu ada akhirnya. Kesenian Di Manggarai juga tumbuh dan berkembang berbagai jenis kesenian khas daerah ini seperti seni sastra. yang melambangkan sikap atau ethos bahwa orang Manggarai bagaikan bunga kecil tapi memberikan keindahan dan hidup di tengah-tengah kefanaan ini. Seni Tenun * Tenun Songke Seni kriya songke sarat dengan nilai dan simbol. tambor. ada batasnya. Seni Sastra Cerita-cerita rakyat. disain dan kriya. serta penanaman percaya diri. Motif ranggong (laba-laba) bersimbol kejujuran dan kerja keras.Pengelompokkan bahasa tersebut sekaligus mengisyaratkan secara umum kelompok budaya di Manggarai yang erat kaitannya dengan corak kesatuan genealogis. Dalam kesatuan genealogis inilah bahasa terpelihara baik secara turun temurun. tinding. * Sae Sebuah tarian adat Manggarai untuk memeriahkan sebuah pesta. Sanda sering dipakai dalam upacara menjelang pesta penti dan pesta adat lainnya.

setelah melihat hasil pekerjaan orang yang mengerjakan jauh lebih baik dan menjanjikan. sanda lima. maka sistem irigasi pun secara berangsur-angsur mulai ditiru dan kemudian malah menjadi kegiatan primadona. Angka ini memang dipandang sebagai angka keramat karena secara kausalistis dihubungkan dengan rempa lima (lima jari kaki). masyarakat Manggarai pada umumnya adalah masyarakat agraris. bahan pakaiannya terbuat dari kulit kayu cale (sejenis sukun). wase lima. Konstruksi segi lima ini berkaitan dengan latar belakang filosofis dan sosiologis. Sebelum mengenal logam. yakni proses pembuatan atau mencampur air enau dengan kulit damer sehingga menghasilkan alkohol berkadar tinggi seperti arak atau tuak. lidi enau. untuk alat-alat pertanian. kuda. untuk pengombatan disentri. masyarakat Manggarai sudah mengenal perkakas dari bambu. Masyarakat Manggarai sejak dulu juga sudah mengenal cara pembuatan obat-obatan yang berasal dari daun-daunan. Tapi. Sama seperti halnya sub-sistem sosial yang lain. Untuk pakaian. misalnya di Manggarai dikenal lima tahapan yang sekaligus menggambarkan konstruksi segi lima. Sementara alat perburuan yang dikenal yakni bambu runcing. Secara turun temurun dua jenis tanaman andalan masyarakat adalah padi dan jagung. orang Manggarai sebelum mereka mengenal tenun ikat. seusia itu pula pengenalan masyarakat setempat terhadap kegiatan mencari nafkah. Bahkan sepanjang usia peradaban yang dimilikinya. Begitupun teknologi pembuatan minuman tradisional juga sudah dikenal cama di masyarakat Manggarai. anjing. Teknologi Masyarakat Manggarai di masa lalu sudah mengenal bahkan mampu menghasilkan peralatan atau perkakas yang dibutuhkan untuk kehidupannya. serta melaut. 7. babi. Dalam bidang pertanian. Di samping mengerjakan sawah. misalnya londek jembu yaitu pucuk daun jambu untuk mengobati sakit perut. Semula sistem irigasi persawahan ini kurang diminati masyarakat karena terasa asing. berladang dan menanam kopi orang Manggarai juga terkenal handal dalam beternak kerbau. kayu atau akar bahar. Sementara untuk perhiasan sebelum mereka mengenal logam. Secara tradisional.Manggarai. mosa lima (lima jari dalam ukuran pembagian kebun komunal). sapi. tali ijuk. sub-sistem ekonomi dan mata pencaharian orang Manggarai senantiasa melekat dengan nuansa-nuansa religi. mereka sudah dapat membangun rumah. ayam. Pesta kebun adalah acara syukuran kepada mori jari dedek dan arwah nenek moyang atas hasil padi dan jagung yang diperoleh. kayu atau tanah liat untuk mengolah tanah pertanian. Dalam hal pembuatan rumah. perhiasan mereka umumnya terbuat dari tempurung kelapa. kayu sita. sudah sangat lama dikenal pola perkebunan yang disebut oleh masyarakat setempat dengan lingko (kebun komunal atau sistem pembagian tanah pertanian yang disebut lodok). . lampek lima. Sejak tahun 1938. berdagang atau bermata pencaharian. Seperti diketahui. Bahwa kemudian kopi mendapat tempat sebagai komoditas yang akrab dengan orang Manggarai. Begitu pula upacara penanaman benih atau upacara silih yang dilakukan agar kebun atau ladang terhindarkan dari berbagai hama penyakit yang mengganggu tanaman. pembukaan sawah dengan sistem irigasi sudah dikenal di Manggarai.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful