P. 1
Laporan Kunjungan Ke Museum Sri Baduga Bandung

Laporan Kunjungan Ke Museum Sri Baduga Bandung

|Views: 351|Likes:

More info:

Published by: Ingeu Widyatari Heriana on Jun 04, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/29/2014

pdf

text

original

(Sumber: www.sribadugamuseum.com)

6

II.1.1 Sejarah / Latar Belakang

Provinsi Jawa Barat merupakan wilayah yang sebagian besar dihuni oleh orang

Sunda, maka sering disebut Tatar Sunda atau Tanah Sunda. Dari perjalanan sejarah dan

lingkup geografis Budaya Jawa Barat secara umum berada pada lingkup budaya Sunda,

sebagai budaya daerah yang menunjang pembangunan kebudayaan nasional.

Tinggalan budaya yang bernilai tinggi banyak tersebar di kawasan Jawa Barat,

baik yang hampir punah maupun yang masih berkembang hingga kini. Perkembangan

budaya Jawa Barat berlangsung sepanjang masa sesuai dengan pasang surut pola

kehidupan. Dalam garis perkembangnnya tidak sedikit pengaruh budaya luar yang

masuk. Hal ini disebabkan wilayah Jawa Barat berada pada posisi yang strategis dari

berbagai aspek mobilitas penduduk yang cukup tinggi. Pengaruh budaya luar cenderung

mempercepat proses kepunahan budaya asli Jawa Barat. Kehawatiran terhadap

ancaman erosi budaya di Jawa Barat, maka pemerintah mengambil kebijakan untuk

mendirikan museum di Jawa Barat, yang kini dikenal “Balai Pengelolaan Museum
Negeri Sri Baduga.”

Pembangunan gedung dirintis sejak tahun 1974 dengan mengambil model

bangunan tradisional Jawa Barat, berbentuk bangunan suhunan panjang dan rumah

panggung yang dipadukan dengan gaya arsitektur modern. Gedung dibangun di atas

tanah bekas areal kantor kewedanaan Tegallega seluas 8,415,5 m. Bangunan bekas

kantor Kewedanaan tetap dipertahankan, sebagai Bangunan Cagar Budaya yang

difungsikan sebagai salah satu ruang perkantoran.

Pembangunan tahap pertama selesai pada tahun 1980, dengan nama Museum

Negeri Jawa Barat, diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI , Dr.

DAUD JOESOEF didampingi oleh Gubernur Jawa Barat H. Aang Kunaefi (1975-1985)

tanggal 5 Juni 1980. Pada tanggal 1 April 1990 terjadi penambahan nama Sri Baduga,

diambil dari gelar seorang raja Pajajaran yang memerintah tahun 1482-1521 Masehi.

Dengan demikian nama lengkap museum waktu itu adalah Museum negeri {ropinsi

Jawa Barat “Sri Baduga.” Pada era Otonomi Daerah (OTDA) berdasarkan Peraturan

Daerah No.5 Tahun 2002 sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) bergabung dengan

Dinas Kebudayaan Provinsi Jawa Barat dengan nama Balai Pengelolaan Museum

Negeri Sri Baduga hingga sekarang.

7

Berdasarkan Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 64 Tahun 2002 tentang

Tugas Pokok, Fungsi dan Rincian Tugas pada UPTD di lingkungan Dinas Kebudayaan

dan Pariwisata struktur organisasi Balai Pengelolaan Museum Negeri Sri Baduga terdiri

atas Kepala, Sub Bagian Tata Usaha, Seksi Perlindungan, Seksi Pengembangan, Seksi

Pemasaran, dan Pejabat Fungsional. Pada tahun 2010 terjadi perubahan struktur

organisasi melalui Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 43 tahun 2010, yaitu

Kepala, Sub Bagian Tata Usaha, Seksi Perlindungan, Seksi Pemanfaatan dan Kelompok

Pejabat Fungsional.

Berdasarkan jenis kegiatan yang dilaksanakan unsur organisasi non teknis dan

teknis. Kegiatan non teknis bersifat administratif dilaksanakan oleh Subbag Tata Usaha.

Sedangkan yang bersifat teknis dilaksanakan oleh pejabat fungsional Pamong Budaya

yang dikukuhkan melalui SK Gubernur No. 821.27/Kep.3-C/Peg/2004 tetang

Pengangkatan Kembali Jabatan Fungsional Pamong Budaya di Museum Sri Baduga.

Dalam melaksanakan pekerjaannya, para Pejabat Fungsional berkoordinasi dengan

Kepala Seksi yang berkaitan dengan bidang kerjanya.

(Sumber: www.sribadugamuseum.com).

II.1.2 Tupoksi dan Visi Misi

Tugas Pokok dan Fungsi :

Melaksanakan pengunpulan, perawatan, penelitian, penyajian dan bimbingan edukatif.

Visi:

Museum sebagai pusat dokumentasi, informasi dan media pembelajaran serta objek

wisata budaya unggulan Jawa Barat.

Misi:

1) Mengumpulkan, meneliti, melestarikan dan mengkomunikasikan benda tinggalan

budaya

Jawa

Barat

kepada

masyarakat.

2) Mengembangkan/memanfaatkan hasil penelitian untuk meningkatkan kualitas

apresiasi masyarakat terhadap nilai-nilai luhur budaya daerah.

3) Meningkatkan fungsi museum sebagai laboratorium budaya daerah dan filter

terhadap

pengaruh

buruk

budaya

global.

4)

Menanamkan

nilai-nilai

luhur

budaya

daerah.

5) Menata museum sebagai salah satu aset wisata budaya.

(Sumber: www.sribadugamuseum.com).

8

II.1.3 Struktur Organisasi

- Kepala Museum: Memimpin mengkoodinasikan dan mengendalikan pelaksanaan

kegiatan pengetahuan museum.

- Subbag Tata Usaha: Melaksanakan penyusunan rencana kerja pengelolaan

administrasi kepegawaian, keuangan, perlengkapan, umum dan pelaporan.

- Kelompok Jafung: Adalah pegawai museum yang diberi tanggung jawab,

wewenang dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melaksanakan

kegiatan pembinaan kebudayaan.

- Seksi Perlindungan: Menyusun rencana pelaksanaan kegiatan pemeliharaan,

penyimpanan dan pengamanan koleksi.

- Seksi Pengembangan: Menyusun dan melaksanakan rencana pengembangan dan

pendayagunaan koleksi museum.

- Seksi Pemasaran: Melaksanakan penyusunan rencana peningkatan promosi

museum.

(Sumber: www.sribadugamuseum.com).

9

II.1.4 Koleksi Museum

Koleksi yang disajikan pada pameran tetap museum Sri Baduga ditata

menyajikan benda benda bukti kebudayaan Jawa Barat. Kondisi geografis dan

kekayaan alam berpengaruh pada tumbuh dan berkembangnya kebudayaan Jawa

Barat. Fase-fase perkembangan tersebut dikelompokkan dalam bentuk pameran

dalam tiga lantai ruang pameran tetap museum.

Museum Sri Baduga yang memiliki jumlah koleksi sebanyak 6600 koleksi

terdiri dari 6346 buah, 220 set, 23 stel dan 11 pasang yang kemudian dikelompokan

menjadi 10 klasifikasi.

1. Geologika / Geografika

: 79 buah, 3 set, 0 stel, 0 pasang.

2. Biologika

: 180 buah, 1set, 0 stel, 0pasang.

3. Etnografika

: 2420 buah, 179 set, 20 stel, 9 pasang.

4. Arkeologika

: 953 buah, 3 set, 0 stel, 0 pasang.

5. Historika

: 16 buah, 6 set, 3 stel, 0 pasang.

6. Numismatika / Heraldika : 1705 buah, 0 set, 0 stel, 0 pasang.

7. Filologika

: 145 buah, 0 set, 0 stel, 0 pasang.

8. Keramologika

: 599 buah, 1 set, 0 stel, 0 pasang.

9. Seni rupa

: 134 buah, 0 set, 0 stel, 2 pasang.

10. Teknologika

: 115 buah, 27 set, 0 stel, 0 pasang.

(Sumber: www.sribadugamuseum.com).

10

II.1.5 Lokasi

Museum Sri Baduga merupakan museum pemerintah Pripinsi Jawa Barat yang

berdomisili di Ibukota Propinsinya Bandung. Dari sisi Geografi kota ini terletak

diantara 1070 36' Bujur Timur dan 600 55' Lintang Selatan. Selain kota ini menjadi

kota yang bersejarah pada masa perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia juga

memiliki posisi geografis yang sangatlah strategis baik dari sisi, komunikasi,

perekonomian dan transportasi berada dalam poros jalan raya nasional dan poros jalan

raya wisata.Kota yang berada pada ketinggian 791 m dpl yang dikelilingi perbukitan

dan gunung disekitarnya sangat potensial secara ekosistem dan lingkungan. Ditambah

lagi dengan kondisi iklim kota yang lembab dan sejuk dengan temperatur rata rata

23,1o C dan curah hujan rata rata 204,11 mm / tahun memungkinkan orang untuk

nyaman beraktifitas dan berekreasi.

(Sumber: www.sribadugamuseum.com).

11

II.1.6 Denah

- Lantai 1: Batuan(geologi), Flora, Fauna, Manusia Purba (Homo Erectus) dan

Prasejarah (Homo Sapiens), Cekungan Danau Bandung Purba. Religi masyarakat

dari masa Prasejarah sampai Hindu-Budha.

- Lantai 2: Religi masyarakat ( masa Islam, Kong Hu Cu, Teoisme dan Kristen)

system pengetahuan, Bahasa, Peralatan Hidup.

- Lantai 3: Mata pencaharian, Teknologi, Kesenian, Pojok Sejarah Perjuangan

Bangsa, Pojok Wawasan Nusantara dan Pojok Bandung Tempo Dulu.

(Sumber: www.sribadugamuseum.com)

12

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->