BAHAN KIMIA BERBAHAYA DAN KESELAMATAN KESEHATAN KERJA BIDANG KIMIA 1.

BAHAN KIMIA BERBAHAYA Bahan berbahaya adalah bahan-bahan yang pembuatan, pengolahan, pengangkutan, penyimpanan dan penggunaanya menimbulkan atau membebaskan debu, kabut, uap, gas, serat, atau radiasi sehingga dapat menyebabkan iritasi, kebakaran, ledakan, korosi, keracunan dan bahaya lain dalam jumlah yang memungkinkan gangguan kesehatan bagi orang yang berhubungan langsung dengan bahan tersebut atau meyebabkan kerusakan pada barang-barang[1]. 1.1 Penggunaan Bahan Kimia[2] Bahan kimia banyak digunakan dalam lingkungan kerja yang dapat dibagi dalam tiga kelompok besar yaitu : 1. Industri Kimia, yaitu industri yang mengolah dan menghasilkan bahan-bahan kimia, diantaranya industri pupuk, asam sulfat, soda, bahan peledak, pestisida, cat , deterjen, dan lain-lain. Industri kimia dapat diberi batasan sebagai industri yang ditandai dengan penggunaan proses-proses yang bertalian dengan perubahan kimiawi atau fisik dalam sifat-sifat bahan tersebut dan khususnya pada bagian kimiawi dan komposisi suatu zat[3]. 2. Industri Pengguna Bahan Kimia, yaitu industri yang menggunakan bahan kimia sebagai bahan pembantu proses, diantaranya industri tekstil, kulit, kertas, pelapisan listrik, pengolahan logam, obat-obatan dan lain-lain. 3. Laboratorium, yaitu tempat kegiatan untuk uji mutu, penelitian dan pengembangan serta pendidikan. Kegiatan laboratorium banyak dipunyai oleh industri, lembaga penelitian dan pengembangan, perusahaan jasa, rumah sakit dan perguruan tinggi. Dalam lingkungan kerja tersebut, banyak bahan kimia yang terpakai tiap harinya sehingga para pekerja terpapar bahaya dari bahan-bahan kimia itu. Bahaya itu terkadang meningkat dalam kondisi tertentu mengingat sifat bahan-bahan kimia itu, seperti mudah terbakar, beracun, dan sebagainya. Dengan demikian, jelas bahwa bekerja dengan bahan-bahan kimia mengandung risiko bahaya, baik dalam proses, penyimpanan, transportasi, distribusi, dan penggunaannya. Akan tetapi, betapapun besarnya bahaya bahan-bahan kimia tersebut, penanganan yang benar akan dapat mengurangi atau menghilangkan risiko bahaya yang diakibatkannya. 1.2 Klasifikasi Umum[4] Klasifikasi atau penggolongan bahan kimia berbahaya diperlukan untuk memudahkan pengenalan serta cara penanganan dan transportasi. Secara umum bahan kimia berbahya diklasifikasikan menjadi beberapa golongan diantaranya sebagai berikut : 1. Bahan Kimia Beracun (Toxic)

lewat pernafasan atau kontak lewat kulit. Zat-zat tersebut dapat langsung mengganggu organ-organ tubuh tertentu seperti hati. hati. Bahan Kimia Peledak (Explosive) Adalah suatu zat padat atau cair atau campuran keduanya yang karena suatu reaksi kimia dapat menghasilkan gas dalam jumlah dan tekanan yang besar serta suhu yang tinggi. 3. dan lain-lain. nitrogliserin dan ammonium nitrat (NH4NO3). Tetapi dapat juga zat-zat tersebut berakumulasi dalam tulang. Kerusakan dapat berupa luka. Reaksi kebakaran yang amat cepat dapat juga menimbulkan ledakan.Adalah bahan kimia yang dapat menyebabkan bahaya terhadap kesehatan manusia atau menyebabkan kematian apabila terserap ke dalam tubuh karena tertelan. paru-paru. tetapi dapat menghasilkan oksigen yang dapat menyebabkan kebakaran bahan-bahan lainnya. peradangan. Bahan Kimia Reaktif Terhadap Asam (Acid Sensitive Substances) Adalah bahan kimia yang amat mudah bereaksi dengan asam menghasilkan panas dan gas yang mudah terbakar atau gas-gas yang beracun dan korosif. Zat korosif dapat bereaksi dengan jaringan seperti kulit. 5. atau cairan limpa dan menghasilkan efek kesehatan pada jangka panjang[5]. mata. iritasi (gatal-gatal) dan sinsitisasi (jaringan menjadi amat peka terhadap bahan kimia). sehingga menimbulkan kerusakan disekelilingnya. Bahan Kimia Oksidator (Oxidation) Adalah suatu bahan kimia yang mungkin tidak mudah terbakar. darah. 8. Pengeluaran zat-zat beracun dari dalam tubuh dapat melewati urine. sel efitel dan keringat. Gas Bertekanan (Compressed Gases) . Zat eksplosif amat peka terhadap panas dan pengaruh mekanis (gesekan atau tumbukan). saluran pencernaan. 6. ada yang dibuat sengaja untuk tujuan peledakan atau bahan peledak seperti trinitrotoluene (TNT). Pada umumnya zat toksik masuk lewat pernafasan atau kulit dan kemudian beredar keseluruh tubuh atau menuju organ-organ tubuh tertentu. 4. 7. 2. Bahan Kimia Mudah Terbakar (Flammable) Adalah bahan kimia yang mudah bereaksi dengan oksigen dan dapat menimbulkan kebakaran. Bahan Kimia Reaktif Terhadap Air (Water Sensitive Substances) Adalah bahan kimia yang amat mudah bereaksi dengan air dengan mengeluarkan panas dan gas yang mudah terbakar. dan saluran pernafasan. Bahan Kimia Korosif (Corrosive) Adalah bahan kimia yang karena reaksi kimia dapat mengakibatkan kerusakan apabila kontak dengan jaringan tubuh atau bahan lain.

Zat padat mudah terbakar 2. Zat yang bila bereaksi dengan air dapat mengeluarkan gas mudah terbakar Klas V (Zat pengoksidasi) 1. 1. Cairan : F. Suatu bahan kimia dapat termasuk diantara satu atau lebih golongan di atas karena memang mempunyai sifat kimia yang lebih dari satu sifat.Adalah gas yang disimpan dibawah tekanan. Gas beracun Klas III (Bahan mudah terbakar) 1. Zat menyebabkan infeksi Klas II (Cairan mudah terbakar) . baik gas yang ditekan maupun gas cair atau gas yang dilarutkan dalam pelarut dibawah tekanan. Zat yang mudah terbakar dengan sendirinya 3. Gas mudah terbakar 2.P = flash point) Klas IV (Bahan mudah terbakar selain klas II dan III) 1.2 : Klasifikasi bahan berbahaya berdasarkan PBB Klas Klas I (Eksplosif) Penjelasan Dapat terurai pada suhu dan tekanan tertentu dan mengeluarkan gas kecepatan tinggi dan merusak sekeliling 1. Oksidator bahan anorganik 2. Peroksida organik Klas VI (Zat racun) 1. Zat beracun 2.P <23oC 2. Gas tidak mudah terbakar 3.P >23oC ( F. 9. Bahan Kimia Radioaktif (Radioactive Substances) Adalah bahan kimia yang mempunyai kemampuan memancarkan sinar radioaktif dengan aktivitas jenis lebih besar dari 0. Tabel 2. Cairan : F.002 microcurie/gram.3 Sistem Klasifikasi PBB[6] Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations) memberikan klasifikasi bahan berbahaya seperti tabel berikut ini.

Dalam penyimpanannya harus diperhatikan sebagai berikut : . Bahan beracun harus disimpan dalam ruangan yang sejuk. Bahan Kimia Beracun (Toxic) Bahan ini dalam kondisi normal atau dalam kondisi kecelakaan ataupun dalam kondisi kedua-duanya dapat berbahaya terhadap kehidupan sekelilingnya.002 microcury/g Bereaksi dan merusak 1. 3. Bahan Kimia Mudah Terbakar (Flammable) Praktis semua pembakaran terjadi antara oksigen dan bahan bakar dalam bentuk uapnya atau beberapa lainnya dalam keadaan bubuk halus. mengeluarkan gas/uap/debu beracun. Api dari bahan padat berkembang secara pelan. Uap dari asam dapat menyerang/merusak bahan struktur dan peralatan selain itu beracun untuk tenaga manusia. Penyimpanannya harus terpisah dari bangunan lain dengan dinding dan lantai yang tahan terhadap bahan korosif. Wadah/kemasan dari bahan ini harus ditangani dengan hati-hati. Mengabaikan sifat-sifat fisik dan kimia dari bahan yang disimpan akan mengandung bahaya seperti kebakaran. jauh dari bahaya kebakaran dan bahan yang inkompatibel (tidak dapat dicampur) harus dipisahkan satu sama lainnya. Semua logam disekeliling tempat penyimpanan harus dicat dan diperiksa akan adanya kerusakan yang disebabkan oleh korosi. sehingga tempat/ruangan yang ada dapat di manfaatkan sebaik-baiknya dan aman. Pada tempat penyimpanan harus tersedia pancaran air untuk pertolongan pertama bagi pekerja yang terkena bahan tersebut[9]. dan memiliki ventilasi yang baik. 2. tempat yang ada peredaran hawa. Jika panas mengakibatkan proses penguraian pada bahan tersebut maka tempat penyimpanan harus sejuk dengan sirkulasi yang baik.Klas VII (Zat radioaktif) Klas VIII (Zat korosif) Aktifitas : 0. memiliki perlengkapan saluran pembuangan untuk tumpahan. dalam keadaan tertutup dan dipasang label. tidak terkena sinar matahari langsung dan jauh dari sumber panas[8]. Bahan Kimia Korosif (Corrosive) Beberapa jenis dari bahan ini mudah menguap sedangkan lainnya dapat bereaksi dahsyat dengan uap air.4 Penyimpanan Bahan Kimia Berbahaya[7] Mengelompokkan bahan kimia berbahaya di dalam penyimpanannya mutlak diperlukan. peledakan. dan berbagai kombinasi dari pengaruh tersebut. Penyimpanan bahan kimia berbahaya sebagai berikut : 1. Bahan ini harus disimpan dalam ruangan yang sejuk dan ada peredaran hawa yang cukup untuk mencegah terjadinya pengumpulan uap. sedangkan api dari cairan menyebar secara cepat dan sering terlihat seperti meledak.

bensin. bahan yang mudah terbakar dan bahan yang memiliki titik api rendah. api terbuka atau nyala api. sedangkan jenis lainnya dapat menghasilkan oksigen dalam jumlah yang banyak pada suhu kamar. bendungan. jalan raya dan bangunan. memiliki sirkulasi udara yang baik dan bebas dari kelembaban. letak tempat penyimpanan harus berjarak minimum 60[meter] dari sumber tenaga. Di daerah penyimpanan dipasang tanda dilarang merokok h. terowongan. bahan sisa yang dapat terbakar. baik penutupan ataupun pengasapan.a. Pada daerah penyimpanan dipasang sambungan tanah/arde serta dilengkapi alat deteksi asap atau api otomatis dan diperiksa secara periodik 4. ada baiknya memanfaatkan perlindungan alam seperti bukit. Beberapa bahan oksidator memerlukan panas sebelum menghasilkan oksigen. Bahan ini harus dijauhkan dari bahan bakar. Lokasi penyimpanan agak dijauhkan dari daerah yang ada bahaya kebakarannya d. sampah. gemuk. Disimpan pada tempat yang cukup dingin untuk mencegah penyalaan tidak sengaja pada waktu ada uap dari bahan bakar dan udara b. lubang tambang. Di tempat penyimpanan tersedia alat-alat pemadam api dan mudah dicapai f. ada peredaran hawa. Tempat penyimpanan mempunyai peredaran hawa yang cukup. Daerah tempat penyimpanan harus bebas dari rumput kering. Penyimpanan tidak boleh dilakukan di dekat bangunan yang didalamnya terdapat oli. sehingga bocoran uap akan diencerkan konsentrasinya oleh udara untuk mencegah percikan api c. 5. Alat-alat pemadam kebakaran biasanya kurang efektif dalam memadamkan kebakaran pada bahan ini. lantainya terbuat dari bahan yang tidak menimbulkan loncatan api. bahan yang mudah menjadi panas dengan sendirinya atau bahan yang bereaksi dengan udara atau uap air yang lambat laun menjadi panas e. tanah cekung belukar atau hutan lebat. Tempat penyimpanan bahan ini harus diusahakan agar suhunya tetap dingin. Bahan Kimia Oksidator (Oxidation) Bahan ini adalah sumber oksigen dan dapat memberikan oksigen pada suatu reaksi meskipun dalam keadaan tidak ada udara. Untuk penerangan harus dipakai penerangan alam atau lampu listrik yang dapat dibawa atau penerangan yang bersumber dari luar tempat penyimpanan. Bahan Kimia Peledak (Explosive)[10] Terhadap bahan tersebut ketentuan penyimpananya sangat ketat. atau material yang mudah terbakar. Singkirkan semua sumber api dari tempat penyimpanan g. Ruang penyimpanan harus merupakan bangunan yang kokoh dan tahan api. dan gedungnya harus tahan api. dan tetap terkunci sekalipun tidak digunakan. Tempat penyimpanan harus terpisah dari bahan oksidator kuat. hal ini dikarenakan bahan oksidator menyediakan oksigen sendiri. . agar pengaruh ledakan sekecil mungkin.

Gas Bertekanan (Compressed Gases) Silinder dengan gas-gas bertekanan harus disimpan dalam keadaan berdiri dan diikat dengan rantai atau diikat secara kuat pada suatu penyangga tambahan. 8. maka bahan asam dapat juga disimpan dalam gudang yang terbuat dari kayu yang berventilasi. Ruangan penyimpanan untuk bahan ini harus diusahakan agar sejuk. sindroma gas trointestinal dan sindroma kelainan darah. peralatan teknis yang diperlukan dan mendapat izin dari BATAN. Pemakai zat radioaktif dan sumber radiasi harus memiliki instalasi fasilitas atom. Peraturan perundangan mengenai bahan radioaktif diantaranya :   Undang-Undang Nomor 31/64 Tentang Ketentuan Pokok Tenaga Atom Peraturan Pemerintah No. 9. Bahan Kimia Reaktif Terhadap Air (Water Sensitive Substances) Bahan ini bereaksi dengan air. sedangkan efek somatik kronis terjadi pada dosis yang rendah. Bahan Kimia Reaktif Terhadap Asam (Acid Sensitive Substances) Bahan ini bereaksi dengan asam dan uap asam menghasilkan panas. 11 Tahun 1975 Tentang Keselamatan Kerja terhadap radiasi . packing/kemasan dari bahan radioaktif harus mengikuti ketentuan khusus yang telah ditetapkan dan keutuhan kemasan harus dipelihara. dan janganlah menggunakan sprinkler otomatis di dalam ruang simpan. bebas dari sinar matahari langsung. Efek somatik akut bila terkena radiasi 200[Rad] sampai 5000[Rad] yang dapat menyebabkan sindroma system saraf sentral. berlokasi ditanah yang tinggi. Bahan asam dan uap dapat menyerang bahan struktur campuran dan menghasilkan hydrogen. sumber penyalaan api harus disngkirkan dan diperiksa secara berkala. misalnya dengan memasang sprinkler. Bahan ini meliputi isotop radioaktif dan semua persenyawaan yang mengandung radioaktif. Efek genetik mempengaruhi alat reproduksi yang akibatnya diturunkan pada keturunan. Karena banyak dari bahan ini yang mudah terbakar maka tempat penyimpanan bahan ini harus tahan air. Gedung penyimpanan harus tahan api dan harus ada tindakan preventif agar silinder tetap sejuk bila terjadi kebakaran. jauh dari saluran pipa panas di dalam ruangan yang ada peredaran hawanya. tenaga yang terlatih untuk bekerja dengan zat radioaktif. berventilasi. tidak dicampur dengan bahan lain yang dapat membahayakan. Penyimpanannya harus ditempat yang memiliki peralatan cukup untuk memproteksi radiasi. Ruang penyimpanan harus dijaga agar sejuk . terpisah dari penyimpanan bahan lainnya.6. Jika konstruksi gudang trbuat dari logam maka harus di cat atau dibuat kebal dan pasif terhadap bahan asam. efek somatik dapat akut atau kronis. hydrogen dan gas-gas yang mudah menyala. Bahan Kimia Radioaktif (Radioactive Substances)[11] Radiasi dari bahan radioaktif dapat menimbulkan efek somatik dan efek genetik. uap panas atau larutan air yang lambat laun mengeluarkan panas atau gas-gas yang mudah menyala. 7.

1. Peraturan pemerintah No. seperti International Programme On Chemical Safety (IPCS) yang aktifitasnya terkait dengan World Health Organization . 12 Tahun 1975 Tentang izin Pemakaian Zat Radioaktif dan atau Sumber Radiasi lainnya Peraturan Pemerintah No.5 Lembar Data Bahaya[12] Lembar data bahaya (Hazard Data Sheets/HDSs) terkadang disebut Material Safety Data Sheets (MSDSs) atau Chemical Safety Data Sheet (CSDSs) adalah lembar informasi yang detail tentang bahan-bahan kimia. 13 Tahun 1975 Tentang Pengangkutan Zat Radioaktif  Maka Peta Keterkaitan Kegiatan untuk tata letak penyimpanan material kimia berbahaya berdasarkan ketentuan safety tersebut di atas adalah sebagai berikut : Gambar Peta keterkaitan kegiatan untuk penyimpanan raw material. Umumnya lembar ini disiapkan dan dibuat oleh pabrik kimia atau suatu program.

density. Suatu ide yang baik untuk mewakili kasehatan dan keselamatan dengan menyimpan lembar data bahaya pada setiap penggunaan bahan kimia di tempat kerja. HDSs/MSDSs/CSDSs merupakan sumber informasi tentang bahan kimia yang penting dan dapat diakses tetapi kualitasnya dapat bervariasi. Bagian 1 : Identifikasi produk dan pabrik Identifikasi produk : nama produk tertera disini dengan nama kimia atau nama dagang.1% dari campuran. International Labour Organization (ILO). tanggal HDSs dibuat. HDSs sering sulit untuk dibaca dan dimengerti. nama yang tertera harus sama dengan nama yang ada pada label. serta menjelaskan kepada anda bagaimana memadamkan api. dan nomor darurat untuk menelepon setelah jam kerja. Informasi berikut harus muncul pada semua lembar data bahaya. sebagai contoh. bau. Untuk mengatasi keterbatasan ini. dan yang didata bila komposisinya ≥ 1% dari produk. Informasi pada bagian ini membantu anda mengerti bagaimana sifat bahan kimia dan jenis bahaya yang ditimbulkannya. dan lain-lain. kapanpun dimungkinkan untuk menggunakan sumber informasi lain secara bersama-sama dengan HDSs. Bagian 4 : Data Kebakaran Dan Ledakan Bagian ini mendata titik nyala api dan batas mudah terbakar atau meledak. hanya bahan-bahan berbahaya saja yang tercantum pada daftar khusus bahan kimia. Identifikasi pabrik : nama pabrik atau supplier. Batas konsentrasi yaitu Permissible Exposure Limit (PEL)[13] dan The Recommended Threshold Limit Value (TLV )[14] harus didata dalam HDSs. Informasi pada bagian ini dibutuhkan untuk mencegah. Contohnya Methyl alcohol juga dikenal sebagai Metanol atau Alkohol kayu. berhati-hatilah terhadap keterbatasannya. dan United Environment Programme (UNEP). Jika anda menggunakan HDSs. titik cair. akan tetapi urutan dapat berbeda dari yang dijelaskan dibawah ini. Pengecualian untuk zat karsinogen yang harus di daftar jika komposisinya 0. Bagian 5 : Data Reaktifitas . tampilan. Keterbatasan lain yang serius adalah seringnya tidak memuat informasi yang cukup tentang bahaya dan peringatan penting yang anda butuhkan ketika bekerja dengan bahan kimia tertentu. sinonim adalah nama lain dengan substansi yang diketahui. merupakan ide yang baik bagi pengguna produk untuk menelepon pabrik pembuat produk sehingga mendapatkan informasi tentang produk tersebut sebelum terjadi hal yang darurat. nomor telepon. alamat. Bagian 2 : Bahan-bahan berbahaya Untuk produk campuran. tekanan.(WHO). Lembar data bahaya juga harus mendaftar sinonim produk atau substansinya. Bagian 3 : Data Fisik Bagian ini mendata titik didih. merencanakan dan merespon kebakaran atau ledakan dari bahan-bahan kimia.

Bagian 6 : Data Bahaya Kesehatan Rute tempat masuk (pernafasan. apakah produknya bersifat karsinogen. Informasi ini penting untuk penyimpanan dan penanganan produk yang tepat. HDSs boleh dengan simple menyatakan bahwa baju dan sarung tangan yang tidak dapat ditembus harus digunakan. Bagian ini mendata ketidakcocokan substansi. dan penanganan tindakan pencegahan harus detail pada bagian ini.6 Pemasangan Label dan Tanda Pada Bahan Berbahaya[15] Pemasangan label dan tanda dengan memakai lambang atau tulisan peringatan pada wadah atau tempat penyimpanan untuk bahan berbahaya adalah tindakan pencegahan yang esensial. Peringatan tentang bahaya dengan label dan tanda merupakan syarat penting dalam perlindungan keselamatan kerja. yang dibutuhkan dalam penyimpanan. Bagian 7 : Tindakan Pencegahan Untuk Penanganan Informasi dibutuhkan untuk memikirkan rencana respon gawat darurat. metode pembuangan yang aman. demikian pula para konsumen dari barang tersebut. Lambang yang umum dipakai untuk bahan kimia yang memiliki sifat berbahaya adalah sebagai berikut[16] : .Bagian ini menjelaskan kepada anda apakah suatu substansi stabil atau tidak. tanda-tanda dan gejala awal. seperti hindari menghirup asap atau hindari kontak dengan kulit. Akan tetapi sering kali pabrik pembuat produk meringkas informasi ini dengan satu pernyataan yang simple. bahaya apa yang ditimbulkan dalam keadaan tidak stabil. Bagian ini cenderung menekankan alat pelindung diri daripada control engineering. dan pertolongan pertama yang direkomendasikan/prosedur gawat darurat. namun hal tersebut tidak dapat dianggap sebagai perlindungan yang sudah lengkap. masalah kesehatan yang makin buruk bila terkena. praktek kerja dan alat pelindung diri/Personal Protective Equipment (PPE) dirincin pada bagian ini. Bagian 8 : Pengukuran Kontrol Metode yang direkomendasikan untuk control bahaya termasuk ventilasi. semuanya seharusnya terdaftar di bagian ini. prosedur pembersihan. baju pelindung dan sarung tangan material yang paling resisten untuk produk harus diberitahu. penyerapan kulit atau ingestion). 1. substansi mana yang tidak boleh diletakkan atau digunakan secara bersamaan. bila tidak. Tenaga kerja yang bekerja pada proses produksi atau pengangkutan biasanya belum mengetahui sifat bahaya dari bahan kimia dalam wadah/packingnya. efek kesehatan akut dan kronik. Lebih dari rekomendasi perlindungan material yang paling resisten. usaha perlindungan keselamatan lainnya masih tetap diperlukan. dalam hal inilah pemberian label dan tanda menjadi sangat penting. Tipe respirator.

Gambar 2. . .. . . . .14 Tanda bahaya dari bahan kimia Keterangan : E = Dapat Meledak T = Beracun C = Korosif Xi = Iritasi Xn = Berbahaya Jika Tertelan F+ = Sangat Mudah Terbakar F O = Mudah Terbakar = Pengoksidasi . . . .

di dalam air. alat kerja. Tujuan keselamatan kerja adalah : 1. Tidak terduga karena kejadian tersebut tidak terdapat unsur kesengajaan apalagi perencanaan. dan harta bendanya mengingat sifat pekerjaan yang selayaknya diperlukan. waktu isirahat. Asas pokok keselamatan kerja dicetuskan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dengan ketentuan yang mewajibkan pengusaha untuk mengatur dan memelihara ruangan. hubungan kerja disini berarti bahwa kecelakaan dapat dikarenakan oleh pekerjaan atau pada waktu pelaksanaan pekerjaan. alat perkakas di mana ia menyuruh pekerja melakukan pekerjaan. KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA BIDANG KIMIA 2. 2. kecuali pengusaha dapat membuktikan bahwa tidak terpenuhinya kewajiban tersebut disebabkan oleh keadaan yang memaksa atau kerugian yang dimaksud sebagian besar disebabkan karena kesalahan pekerja sendiri[18] 2.1 Pengertian Keselamatan Kerja[17] Keselamatan kerja adalah keselamatan yang bertalian dengan mesin.3 Pengertian Kecelakaan Kerja[20] Kecelakaan kerja adalah kecelakaan yang berhubungan dengan hubungan kerja pada suatu perusahaan. 3. keselamatan dan serta moral kerja dari pekerja sesuai dengan harkat dan martabatnya serta layak bagi kemanusiaan. pesawat. pembatasan melakukan pekerjaan bagi orang muda dan wanita. Sumber produksi dipelihara dan dipergunakan secara aman dan efisien. tidak . tempat kerja dan lingkungannya serta tata cara melakukan pekerjaan. di dalam tanah. sehingga pekerja terlindung dari bahaya yang mengancam badan. pengaturan mengenai waktu kerja. dimaksudkan untuk menjaga kesehatan.T+ = Sangat Beracun N = Berbahaya Untuk Lingkungan 2. cuti haid. bahan dan proses pengolahannya. Sasaran keselamatan kerja adalah semua tempat kerja baik di darat.2 Pengertian Kesehatan Kerja[19] Kesehatan kerja adalah perlindungan bagi pekerja terhadap pemerasan/eksploitasi tenaga kerja oleh pengusaha. Kecelakaan adalah kejadian yang tidak terduga dan tidak diharapkan. ialah pengusaha wajib mengganti kerugian yang menimpa pekerja dalam menjalankan pekerjaannya. bersalin dan keguguran kandungan bagi wanita. Menjamin keselamatan setiap orang lain yang berada ditempat kerja. Larangan memperkerjakan anak dibawah umur. demikian pula mengenai petunjuk-petunjuk. dan di udara yang menyangkut proses produksi dan distribusi baik barang maupun jasa. Melindungi tenaga kerja atas hak keselamatannya dalam melakukan pekerjaan untuk kesejahteraan hidup dan meningkatkan produksi serta produktivitas nasional. di permukaan air. kehormatan. Sanksi terhadap tidak dipenuhinya kewajiban tesebut. 2.

yang antara lain berbunyi sebagai berikut : ” Upaya perlindungan tenaga kerja perlu terus ditingkatkan melalui perbaikan syarat kerja termasuk upah. Bahaya tersebut disebut bahaya potensial jika bahaya tersebut belum mendatangkan kecelakaan. 2.diharapkan karena kejadian tersebut disertai kerugian material ataupun penderitaan dari yang teringan sampai yang terberat. gangguan kesehatan yang merupakan penyakit akibat kerja. gaji dan jaminan sosial. jika kecelakaan telah terjadi maka bahaya tersebut adalah bahaya nyata. Penanganan bahan kimia khususnya bahan kimia berbahaya merupakan sasaran utama dalam rangka penanganan keselamatan dan kesehatan kerja. Kebijakan penanganan bahan kimia khususnya dalam penggunaan dibidang industri/perusahaan pada dasarnya meliputi kebijakan :        Pembuatan peraturan/perundang-undangan Pengawasan Pendidikan/penyuluhan/training Survei/penelitian Informasi Standarisasi Kampanye Ada beberapa peraturan perundangan ketenagakerjaan khususnya yang menyangkut perlindungan tenaga kerja di bidang keselamatan dan kesehatan kerja serta penanganan bahan berbahaya. Bahaya pekerjaan adalah faktor-faktor dalam hubungan pekerjaan yang dapat mendatangkan kecelakaan kerja.4 Kebijakan Pemerintah Indonesia Dalam Menghadapi Bahan Kimia[21] Kebijakan pemerintah indonesia di bidang keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan salah satu bagian dari kebijakan pemerintah di bidang perlindungan tenaga kerja yang telah digariskan oleh Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN). Hal ini disebabkan karena bahan kimia merupakan sumber dari malapetaka yang berkaitan dengan keselamatan dan kesehatan kerja. peledakan. keselamatan dan lingkungan kerja. kondisi kerja termasuk kesehatan.” Berdasarkan GBHN tersebut oleh pimpinan Departemen Tenaga Kerja digariskan sebagai kebijakan Derparteman Tenaga Kerja yang antara lain menyangkut keselamatan dan kesehatan kerja sebagai salah satu prioritas. Peraturan perundangan tersebut antara lain adalah sebagai berikut : . serta hubungan kerja dalam rangka peningkatan kesejahteraan para pekerja secara menyeluruh. seperti kebakaran.

 UU No. Per. 02/Men/1978 tentang Nilai Ambang Batas Bahan Kimia           Selain peraturan perundangan di atas masih ada beberapa peraturan yang dikeluarkan oleh instansi di luar Departemen Tenaga Kerja yang masih menyangkut keselamatan dan kesehatan kerja serta penanganan bahan berbahaya. SE. Per.03/Men/1986 tentang Keselamatan dan Kesehatan di tempat kerja yang mengelola pestisida Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No.1 tahun 1970 yang berkaitan dengan penelitian ini adalah sebagai berikut: . Undang-undang nomor 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja diundangkan pada tahun 1970 sebagai pengganti Veilighedsreglement Stbl. Pasal-pasal dari undang-undang no.01/Men/198 tentang Kewajiban Melaporkan Penyakit Akibat Kerja Peraturan Menteri Tenaga Kerja No.03/Men/1985 tentang Keselamatan dan Kesehatan Pemakaian Asbes Peraturan Menteri Tenaga Kerja No.406 yang berlaku sejak tahun 1910. Latar belakang penggantian Veilighedsreglement tersebut sebagaimana dikemukakan dalam penjelasan umum undang-undang no. tetapi pada dasar teori ini penulis hanya menyajikan Undangundang nomor 1 tahun 1970 yang menurut penulis dirasa cukup untuk mewakili penelitian ini. 11 tahun 1975 tentang Keselamatan Kerja terhadap Radiasi Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. 7 tahun 1973 tentang Pengawasan atas Peredaran dan Penggunaan Pestisida Peraturan Pemerintah No. Per. khususnya pasal 9 dan 10 UU No.No.5 Undang-Undang Keselamatan Kerja Nomor 1 Tahun 1970[22] Kebijakan pemerintah dalam peraturan perundangan ketenagakerjaan yang menyangkut perlindungan tenaga kerja di bidang keselamatan dan kesehatan kerja banyak jumlahnya. 2.1 tahun 1970 dikarenakan telah banyak hal yang sudah terbelakang dan perlu diperbaharui sesuai perkembangan peraturan perlindungan tenaga kerja lainnya dan perkembangan serta kemajuan teknik dan industrialisasi di Indonesia dewasa ini dan untuk selanjutnya. 1/1970 tentang Keselamatan Kerja UU dan Peraturan Uap tahun 1930 UU Petasan tahun 1932 UU tentang Timah Putih tahun 1931 Peraturan Pemerintah No. 14/1969 tentang Pokok-pokok Ketenagakerjaan.

pemakaian. sinar atau radiasi.  Pasal 3. perahu. baik didarat. melalui terowongan. hembusan angin. perlakuan dan penyimpanan barang. Soemanto Imamkhasani. Pasal 4 ayat 1. Pasal 2 ayat 1. dan aparat produksi yang mengandung dan menimbulkan bahaya kecelakaan. [1] Ridwan. pengangkutan. atau di simpan bahan atau barang yang dapat meledak. dermaga. suara atau getaran. menggigit. Pasal 2 ayat 2. Fundamentals Chemical Safety And Major Hazard Control (Jakarta. Dikerjakan bongkar muat barang muatan di kapal. Mengamankan dan memperlancar pekerjaan bongkar muat. uap. api. kotoran. Dengan peraturan perundangan ditetapkan syarat-syarat keselamatan kerja untuk : a. penggunaan. g. Dilakukan pengangkutan barang. dok stasiun atau gudang. yang berada di dalam wilayah kekuasaan hukum Republik Indonesia. atau barang. diolah. dipakai. di dalam air maupun di udara . binatang atau manusia. pemasangan. barang. pembuatan. diperdagangkan. Dengan peraturan perundangan ditetapkan syarat-syarat keselamatan kerja dalam perencanaan. peredaran. Mencegah dan mengurangi bahaya kebakaran n. asap. cuaca. o. Dibuat. debu . Mencegah dan mengurangi kecelakaan b. dipergunakan. [2] Milos Nedved. binatang. mudah terbakar. Mengamankan memperlancar pengangkutan orang. diangkut. 1995) hal. perdagangan. dalam air maupun udara. 3 – 4. beracun. Terdapat atau menyebar suhu. di dalam tanah. baik di daratan. Mencegah mengurangi dan memadamkan kebakaran c. produk teknis. f. gas. 1991) hal. bersuku tinggi. menimbulkan infeksi. di permukaan air. Mengamankan dan memelihara segala jenis bagunan p. 26. di permukaan air. Diktat Keselamatan Kerja Dan Pencegahan Kecelakaan (Jakarta. tanaman. m. . Ketentuan-ketentuan dalam ayat 1 tersebut berlaku dalam tempat kerja dimana :  b. pemeliharaan dan penyimpanan bahan. kelembaban. Yang diatur oleh undang-undang ini adalah keselamatan kerja dalam segala tempat kerja .

Soemanto Imamkhasani. [15] Ridwan. Chamicals In The Workplace (Geneva. 21 – 24. 131 – 137. 30. . [16] Safety Department. 28.. Ibid. Fundamentals Chemical Safety And Major Hazard Control (Jakarta. 3 – 4. [8] Ridwan.. Hukum Ketenagakerjaan (Jakarta. 1995) hal. Diktat Keselamatan Kerja Dan Pencegahan Kecelakaan (Jakarta. 150 – 151. Diktat Keselamatan Kerja Dan Pencegahan Kecelakaan (Jakarta. [21] Milos Nedved. 179 – 185. [18] Soesanto Ismadi. 27 – 28. 2003) hal.. 1995) hal. 67 – 68. 1992) hal. TLV direncanakan oleh agensi pribadi. [11] Ridwan. [19] Soesanto Ismadi.[3] Ridwan.. 1991) hal. PEL dilaksanakan secara legal. [10] Ibid. Fundamentals Chemical Safety And Major Hazard Control (Jakarta. Fundamentals Chemical Safety And Major Hazard Control (Jakarta. 1995) hal. dimaksudkan untuk mewakili konsentrasi substansi dimana setiap harinya pekerja dapat dinyatakan tanpa efek samping yang merugikan kesehatan. [6] Milos Nedved. 1991) hal. 1991) hal. 149 – 150. 36. 1996) hal. hal. Soemanto Imamkhasani. Diktat Keselamatan Kerja Dan Pencegahan Kecelakaan (Jakarta. 35. et al. Soemanto Imamkhasani. 57 – 69. 1995) hal. [9] Ridwan. 29 – 30. Hukum Ketenagakerjaan (Jakarta. [13] PEL adalah jumlah maksimum substansi yang diizinkan dalam udara di tempat kerja. [7] Milos Nedved.. 1995) hal. Buku Panduan Safety (Banten. 1991) hal. Diktat Keselamatan Kerja Dan Pencegahan Kecelakaan (Jakarta. Fundamentals Chemical Safety And Major Hazard Control (Jakarta. [20] Ridwan. [5] Bahan kimia beracun dan gangguannya terhadap kesehatan dapat dilihat pada tabel 1. hal. 1995) hal. [4] Milos Nedved. 150 – 151. [12] Rosskam F. 36 – 37. 6. Diktat Keselamatan Kerja Dan Pencegahan Kecelakaan (Jakarta. Soemanto Imamkhasani. Diktat Keselamatan Kerja Dan Pencegahan Kecelakaan (Jakarta. [14] TLV adalah nilai ambang batas yang direkomendasikan dan dilaksanakan secara ilegal. [17] Ridwan. et al. 1995) hal. 1992) hal. Diktat Keselamatan Kerja Dan Pencegahan Kecelakaan (Jakarta.

[22] Imam Sjahputra. 120 – 130. . Peraturan Perundang-undangan Ketenagakerjaan Baru Di Indonesia (Jakarta. Amin Widjaja. 2004) hal.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful