Krisis Moneter Indonesia : Sebab, Dampak, Peran IMF dan Saran KRISIS MONETER INDONESIA : SEBAB, DAMPAK, PERAN

IMF DAN SARAN*) Lepi T. Tarmidi **) K K risis moneter yang melanda Indonesia sejak awal Juli 1997, sementara ini telah berlangsung hampir dua tahun dan telah berubah menjadi krisis ekonomi, yakni lumpuhnya kegiatan ekonomi karena semakin banyak perusahaan yang tutup dan meningkatnya jumlah pekerja yang menganggur. Memang krisis ini tidak seluruh nya disebabkan karena terjadinya krisis moneter saja, karena sebagian diperberat ole h berbagai musibah nasional yang datang secara bertubi-tubi di tengah kesulitan ekonomi sep erti kegagalan panen padi di banyak tempat karena musim kering yang panjang dan terpa rah selama 50 tahun terakhir, hama, kebakaran hutan secara besar-besaran di Kalimant an dan peristiwa kerusuhan yang melanda banyak kota pada pertengahan Mei 1998 lalu dan kelanjutannya. Krisis moneter ini terjadi, meskipun fundamental ekonomi Indonesia di masa lalu dipandang cukup kuat dan disanjung-sanjung oleh Bank Dunia (lihat World Bank: Ba b 2 dan Hollinger). Yang dimaksud dengan fundamental ekonomi yang kuat adalah pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, laju inflasi terkendali, tingkat pengangg uran relatif rendah, neraca pembayaran secara keseluruhan masih surplus meskipun defi sit neraca berjalan cenderung membesar namun jumlahnya masih terkendali, cadangan devisa ma sih cukup besar, realisasi anggaran pemerintah masih menunjukkan sedikit surplus. Li hat Tabel. Namun di balik ini terdapat beberapa kelemahan struktural seperti peraturan perd agangan domestik yang kaku dan berlarut-larut, monopoli impor yang menyebabkan kegiatan ekonomi tidak efisien dan kompetitif. Pada saat yang bersamaan kurangnya transparansi da n kurangnya data menimbulkan ketidak pastian sehingga masuk dana luar negeri dalam jumlah besar melalui sistim perbankan yang lemah. Sektor swasta banyak meminjam dana dari luar negeri yang sebagian besar tidak di hedge. Dengan terjadinya krisis mo neter, terjadi juga krisis kepercayaan. (Bandingkan juga IMF, 1997: 1). Namun semua kelemahan i ni masih mampu ditampung oleh perekonomian nasional. Yang terjadi adalah, mendadak datang badai yang sangat besar, yang tidak mampu dbendung oleh tembok penahan yang ada, yang selama bertahun-tahun telah mampu menahan berbagai terpaan gelombang yang datang mengancam. *) Tulisan ini merupakan revisi dan updating dari pidato pengukuhan Guru Besar Mady

a pada FEUI dengan judul Krisis Moneter Tahun 1997/1998 dan Peran IMF , Jakarta, 10 Juni 1998. **)Lepi T. Tarmidi : Wakil Kepala Pusat Kajian APEC, Universitas Indonesia, emai l : lepi@lpem.feui.org

INDIKATOR UTAMA EKONOMI INDONESIA 1990 - 1997 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 Pertumbuhan ekonomi (%) 7,24 6,95 6,46 6,50 7,54 8,22 7,98 4,65 Tingkat inflasi (%) 9,93 9,93 5,04 10,18 9,66 8,96 6,63 11,60 Neraca pembayaran (US$ juta) 2,099 1,207 1,743 741 806 1,516 4,451 -10,021 Neraca perdagangan 5,352 4,801 7,022 8,231 7,901 6,533 5,948 12,964 Neraca berjalan -3.24 -4,392 -3,122 -2,298 -2.96 -6.76 -7,801 -2,103 Neraca modal 4,746 5,829 18,111 17,972 4,008 10,589 10,989 -4,845 Pemerintah (neto) 633 1,419 12,752 12,753 307 336 -522 4,102 Swasta (neto) 3,021 2,928 3,582 3,216 1,593 5,907 5,317 -10.78 PMA (neto) 1,092 1,482 1,777 2,003 2,108 4,346 6,194 1,833 Cadangan devisa akhir tahun (US$ juta) 8,661 9,868 11,611 12,352 13,158 14,674 19,125 17,427 (bulan impor nonmigas c&f) 4,7 4,8 5,4 5,4 5,0 4,3 5,2 4,5 Debt-service ratio (%) 30,9 32,0 31,6 33,8 30,0 33,7 33,0 Nilai tukar Des. (Rp/US$) 1,901 1,992 2,062 2.11 2.2 2,308 2,383 4.65 APBN* (Rp. milyar) 3,203 433 -551 -1.852 1,495 2,807 818 456 * Tahun anggaran Sumber : BPS, Indikator Ekonomi; Bank Indonesia, Statistik Ekonomi Keuangan Indo nesia; World Bank, Indonesia in Crisis, July 2, 1998 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Maret 1999

Krisis Moneter Indonesia : Sebab, Dampak, Peran IMF dan Saran 3 Sebagai konsekuensi dari krisis moneter ini, Bank Indonesia pada tanggal 14 Agus tus 1997 terpaksa membebaskan nilai tukar rupiah terhadap valuta asing, khususnya do llar AS, dan membiarkannya berfluktuasi secara bebas (free floating) menggantikan sis tim managed floating yang dianut pemerintah sejak devaluasi Oktober 1978. Dengan demikian Ba nk Indonesia tidak lagi melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menopang n ilai tukar rupiah, sehingga nilai tukar ditentukan oleh kekuatan pasar semata. Nilai tukar rupiah kemudian merosot dengan cepat dan tajam dari rata-rata Rp 2.450 per dollar AS Ju ni 1997 menjadi Rp 13.513 akhir Januari 1998, namun kemudian berhasil menguat kembali me njadi sekitar Rp 8.000 awal Mei 1999. Krisis Moneter dan Faktor-Faktor Penyebabnya Penyebab dari krisis ini bukanlah fundamental ekonomi Indonesia yang selama ini lemah, hal ini dapat dilihat dari data-data statistik di atas, tetapi terutama k arena utang swasta luar negeri yang telah mencapai jumlah yang besar. Yang jebol bukanlah se ktor rupiah dalam negeri, melainkan sektor luar negeri, khususnya nilai tukar dollar AS yang mengalami overshooting yang sangat jauh dari nilai nyatanya1 . Krisis yang berke panjangan ini adalah krisis merosotnya nilai tukar rupiah yang sangat tajam, akibat dari s erbuan yang mendadak dan secara bertubi-tubi terhadap dollar AS (spekulasi) dan jatuh tempon ya utang swasta luar negeri dalam jumlah besar. Seandainya tidak ada serbuan terhadap dol lar AS ini, meskipun terdapat banyak distorsi pada tingkat ekonomi mikro, ekonomi Indon esia tidak akan mengalami krisis. Dengan lain perkataan, walaupun distorsi pada tingk at ekonomi mikro ini diperbaiki, tetapi bila tetap ada gempuran terhadap mata uang rupiah, maka krisis akan terjadi juga, karena cadangan devisa yang ada tidak cukup kuat untuk menaha n gempuran ini. Krisis ini diperparah lagi dengan akumulasi dari berbagai faktor p enyebab lainnya yang datangnya saling bersusulan. Analisis dari faktor-faktor penyebab i ni penting, karena penyembuhannya tentunya tergantung dari ketepatan diagnosa. Anwar Nasution melihat besarnya defisit neraca berjalan dan utang luar negeri, ditambah dengan lemahnya sistim perbankan nasional sebagai akar dari terjadinya krisis finansial (Nasution: 28). Bank Dunia melihat adanya empat sebab utama yang bersa masama membuat krisis menuju ke arah kebangkrutan (World Bank, 1998, pp. 1.7 -1.11). Ya ng pertama adalah akumulasi utang swasta luar negeri yang cepat dari tahun 1992 hin

95% dari total kenaikan utang luar negeri berasal dari sekto r swasta ini.gga Juli 1997. dan jatuh tempo rata-ratanya hanyalah 18 bulan. . Tetapi selama krisis ini berlangsung.k. sehingga l. Sebab yang kedua adalah kelemaha n 1 Dalam teori. Bahkan selama empat tahun terakh ir utang luar negeri pemerintah jumlahnya menurun. overshooting nilai tukar biasanya bersifat sementara untuk kemudi an mencari keseimbangan jangka panjang baru. nilai overshooting adalah sa ngat besar dan sudah berlangsung sejak akhir tahun 1997.

Kondisi di atas dimungkinkan. sementara rupiah juga bebas diperdagangkan di pusat-pusat keuangan di luar neger i. Yang keempat a dalah ketidak pastian politik menghadapi Pemilu yang lalu dan pertanyaan mengenai kese hatan Presiden Soeharto pada waktu itu. yang berada di bawah nilai tukar nyatanya. karena Indonesia menganut rez im devisa bebas dengan rupiah yang konvertibel. ekspor menjadi kurang kompetitif dan impor meningkat. Masyarakat bebas membuka rekening valas di dalam negeri atau di luar negeri. Berikut ini diberikan rangkuman dar i berbagai faktor tersebut menurut urutan kejadiannya: 1) Dianutnya sistim devisa yang terlalu bebas tanpa adanya pengawasan yang memad ai.8% (1991) antara tahun 1988 hingga 1996. Ketiga adalah masalah governance. Valas bebas diperdagangkan di dalam n egeri. Sementara menurut penilaian penulis. 3) Akar dari segala permasalahan adalah utang luar negeri swasta jangka pendek d an menengah sehingga nilai tukar rupiah mendapat tekanan yang berat karena tidak te .4% (1993) hi ngga 5. menyebabkan nilai rupiah secara kumulatif sangat overvalued. Nilai Rupiah yang overvalued berarti j uga proteksi industri yang negatif. penyebab utama dari terjadinya krisis yang berkepanjangan ini adalah merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang sangat tajam. yang kemudian menjelma menjadi krisis kepercayaa n dan keengganan donor untuk menawarkan bantuan finansial dengan cepat.Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Maret 1999 pada sistim perbankan. Nilai rupiah yang sangat overvalu ed ini sangat rentan terhadap serangan dan permainan spekulan. Akibatnya produksi dalam negeri tidak berkembang. sehingga masyarakat memilih barang impor yang kualitasnya lebih baik. memungkinkan arus modal dan valas dapat mengalir keluar-masuk secara bebas berapapun jumlahnya. termasuk kemampuan peme rintah menangani dan mengatasi krisis. berkisar antara 2. sehingga membuka peluang yang sebes arbesarnya untuk orang bermain di pasar valas. meskipun ini bukan faktor satu-satunya. karena tidak mencerminka n nilai tukar yang nyata. Akibatnya harga barang impor menjadi relatif mur ah dan produk dalam negeri relatif mahal. Ditambah dengan ken aikan pendapatan penduduk dalam nilai US dollar yang naiknya relatif lebih cepat dari kenaikan pendapatan nyata dalam Rupiah. tetapi ada banyak faktor lainnya yang berbeda menurut sisi pandang masing-masing pengamat. dan produk dalam negeri yang makin lama makin kalah bersaing dengan produk impor. 2) Tingkat depresiasi rupiah yang relatif rendah.

Ada tiga piha k yang . bahkan sudah jauh melampaui utang resmi pemerintah yang beberapa tahun terakhir malah sedikit berkurang (oustanding official debt).: 22). Akumulas i utang swasta luar negeri yang sejak awal tahun 1990-an telah mencapai jumlah yan g sangat besar. ditambah sistim perbankan nasional yang lemah.rsedia cukup devisa untuk membayar utang yang jatuh tempo beserta bunganya (bandingkan juga Wessel et al.

Beda dengan pinjaman swasta. 1998: 5). tingkat bunga nya relatif rendah. karena telah memberi signal yang salah kepada pelaku ekonomi dengan membuat nilai rupia h terus-menerus overvalued dan suku bunga rupiah yang tinggi.5 milyar. pinjaman luar neger i pemerintah sifatnya jangka panjang. namun masih bisa diatasi dengan pinjaman baru dan pemasukan modal luar negeri dari sumber-sumber lain. sehingga pinjaman da lam rupiah menjadi relatif mahal dan pinjaman dalam mata uang asing menjadi relatif murah. Pihak kreditur luar negeri juga ikut bersalah. karena kurang hati-hati dalam memberi pinjaman dan salah mengantisipas i keadaan (bandingkan IMF. di mana p engusaha beramai-ramai melakukan investasi di bidang yang sama meskipun bidangnya sudah jenuh. Dengan demikian pengusaha hanya bereaksi atas signal yang diberikan oleh pemerintah. dan tiap tahunnya ada pemasukan pinjaman baru. ada tenggang waktu pembayaran. Sebagian besar dari pinjaman luar negeri dge (Nasution: 12). meskipun masalahnya juga cukup berat karena selama bertahun-tahun telah terjadi net capit al outflow3 yang kian lama kian membesar berupa pembayaran cicilan utang pokok dan bunga. Bagi debitur dalam negeri. Pada awal Mei 1998 besarnya utang luar negeri swasta dari diperkirakan berkisar antara US$ 63 hingga US$ 64 milyar. kreditur dan debitur. terjadinya utang swasta luar negeri dalam jumlah besar ini. Kalau masalahnya hanya menyangkut utang luar negeri pemerintah saja. di samping lebih menguntungkan. Peran IMF dan Saran 5 bersalah di sini. jika kreditur luar neg eri juga ikut menanggung sebagian dari kerugian yang diderita oleh debitur. Kesalahan pemerintah adalah. juga disebabkan s uatu gejala yang dalam teori ekonomi dikenal sebagai fallacy of thinking2 . tingkat bunga di dalam negeri dibiarkan tinggi untuk menahan pelaria n dana ke luar negeri dan agar masyarakat mau mendepositokan dananya dalam rupiah. Sebagian orang Indonesia malah bisa hidup 1.800 perusahaan sementara utang pemeri swasta ini tidak di he mewah dengan menikmati .Krisis Moneter Indonesia : Sebab. Keadaan ini menguntungk an pengusaha selama tidak terjadi devaluasi dan ini terjadi selama bertahun-tahun s ehingga memberi rasa aman dan orang terus meminjam dari luar negeri dalam jumlah yang se makin besar. Dampak. Sebaliknya. kecuali yang berkaitan dengan proyek pemerin tah dengan dibentuknya tim PKLN. pemerintah. Jadi sudah sewajarnya. karena masing-masing pengusaha hanya melihat dirinya sendiri saja dan tid ak memperhitungkan gerakan pengusaha lainnya. Selain itu pemerintah sama sekali tidak melakukan pengawasan terhada p utang-utang swasta luar negeri ini. Jadi di sini pemerintah dihadapi dengan buah simalakama. ntah US$ 53.

3 Total pembayaran cicilan utang pokok dan bunga setelah dikurangi pinjaman baru. misalnya 2 Yang dimaksud di sini adalah perilaku pengusaha yang bertindak atas pertimbangan dirinya sendiri tanpa mengetahui apa yang dilakukan oleh pengusaha lainnya. Misalnya pengusaha ramai-ramai mendir i-kan apotik. membuka tambak udang. hal. .. 22) . membangun realestat dan kondomium.selisih biaya bunga antara dalam negeri dan luar negeri (Wessel et al.

yang memun gkinkan dengan modal relatif kecil bermain dalam jumlah besar. Dewasa ini mata uang send iri sudah menjadi komoditi perdagangan. yang menjadi penyebab utama dari kr isis di Asia Timur. yakni disalurkan ke kegiatan grupnya sendiri dan untuk proyek-proyek pembangunan realestat dan kondomium secara berlebihan sehing ga jauh melampaui daya beli masyarakat. banyak yang dikelola secara tidak prudent. Pinjaman luar negeri dan dana masyarakat yang masuk ke sistim perbankan. kemudian macet dan uangnya tidak kembali (Nasution: 28.Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. 4) Permainan yang dilakukan oleh spekulan asing (bandingkan juga Ehrke: 2-3) yan g dikenal sebagai hedge funds tidak mungkin dapat dibendung dengan melepas cadangan devisa yang dimiliki Indonesia pada saat itu. Ehrke: 3). teta pi mereka tidak bisa disalahkan sepenuhnya atas pecahnya krisis moneter ini. Maka beban pembayaran utang luar negeri beserta bunganya menjadi tamb ah besar yang dibarengi oleh kinerja ekspor yang melemah (bandingkan IDE). karena praktek margin trading. Ditambah lagi dengan kemerosotan nilai tukar rupiah yang tajam yang membuat utang dalam n ilai rupiah membengkak dan menyulitkan pembayaran kembalinya. shopping malls dan realestat (Nasutio n: 9. Itu sebabnya mengapa Bank Indonesia memutuskan untuk tidak intervensi di pasar valas karena tidak akan ada gunanya. maka sedi kit sekali pemasukan devisa yang bisa diandalkan untuk membayar kembali utang luar negeri.4). Mereka meminjamkan pada proyek-proyek berisiko tinggi sehingga te rjadi investasi berlebihan di sektor tanah (Krugman. Para spekulan ini ju ga meminjam dari sistim perbankan untuk memperbesar pertaruhan mereka. 1. hal. IMF Research Department Staff: 10). Proyek-proyek besar ini umumnya tidak menghasilkan barang-barang ekspor dan mengandalkan pasar dalam negeri. Sebagi an dari mereka ini justru sekarang menderita kerugian. 1998. Meskipun pada awalnya spekulan asing ikut berperan. Krugman melihat bahwa para financial intermediaries juga berperan di Tha iland dan Korea Selatan dengan moral nekat mereka. Mereka mulai me ncari dollar AS untuk membayar utang jangka pendek dan membeli dollar AS untuk di hedg e (World Bank. Maret 1999 bank-bank. 1998. Greenwood). taman hiburan. resort pariwisata. lepas dari sektor riil. karena mereka membeli rupiah dalam . taman industri. Pinjaman-pinjaman luar negeri dalam jumlah relatif bes ar yang dilakukan oleh sistim perbankan sebagian disalurkan ke sektor investasi yang tid ak menghasilkan devisa (non-traded goods) di bidang tanah seperti pembangunan hotel .

IMF Research .jumlah cukup besar ketika kurs masih di bawah Rp.000 per dollar AS dengan pengharapan ini adalah kurs tertinggi dan rupiah akan balik menguat. dan pada sa at itu mereka akan menukarkan kembali rupiah dengan dollar AS (Wessel et al. yang diserang terlebih dahulu oleh spekulan dan kemudian menyebar ke negara Asia lainnya termasuk Indonesia (Nasution: 1. Namun pemicu adalah krisis moneter kiriman yang berawal dari Thailand antara Maret sampai Juni 1997. 1). hal. 4..

1998: 5). Greenwood). ditopang oleh tingkat devaluasi yang relatif stabil sekitar 4% per tahun sejak 1986 menyebabkan banyak modal luar negeri yang mengal ir masuk. Sistim ini menyebabkan apresiasi nyata dari nilai tukar rupiah dan mengundang tindakan spekulasi ketika sistim batas intervensi ini dihapus pada ta nggal 14 Agustus 1997 (Nasution: 2). Negara-negara sahabat yang menjanjikan akan membantu Indonesia juga . Ketidak mampuan pemerintah menangani krisis menimbulkan krisis kepercayaan dan mengurangi kesediaan investor asing untuk memberi bantuan finansial dengan cepat (World Bank. Selisih tingkat suku bunga dalam negeri d engan luar negeri yang besar dan kemungkinan memperoleh keuntungan yang relatif besar dengan cara bermain di bursa efek. Peran IMF dan Saran Department Staff: 10.3. 5) Kebijakan fiskal dan moneter tidak konsisten dalam suatu sistim nilai tukar d engan pita batas intervensi. Setelah nilai tukar Rupiah tambah melemah dan terjadi krisis kepercayaan. 1998: 1. Kesalahan jug a terletak pada investor luar negeri yang kurang waspada dan meremehkan resiko (IMF. Dampak.1). p. 1998. Krisis moneter yang terjadi sudah saling ka it-mengkait di kawasan Asia Timur dan tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya (butir 16 dari persetujuan IMF 15 Januari 1998). Terkesan tidak adanya kebijakan pemerintah yang j elas dan terperinci tentang bagaimana mengatasi krisis (Nasution: 1) dan keadaan ini masih berlangsung hingga saat ini. 7) Penanam modal asing portfolio yang pada awalnya membeli saham besar-besaran d imingimingi keuntungan yang besar yang ditunjang oleh perkembangan moneter yang relatif stabil kemudian mulai menarik dananya keluar dalam jumlah besar (bandingkan Worl d Bank. hal. 1998: 5). 2. 1998. 11). 6) Defisit neraca berjalan yang semakin membesar (IMF Research Department Staff: 10. Sebab utama adalah nilai tukar rupiah yang sangat overvalued.4.10). 1. IDE). 1.Krisis Moneter Indonesia : Sebab. yang disebabkan karena laju peningkatan impor barang dan jasa lebih besar dari e kspor dan melonjaknya pembayaran bunga pinjaman. 8) IMF tidak membantu sepenuh hati dan terus menunda pengucuran dana bantuan yan g dijanjikannya dengan alasan pemerintah tidak melaksanakan 50 butir kesepakatan dengan baik. yang membuat harga barang-barang impor menjadi relatif m urah dibandingkan dengan produk dalam negeri. IMF. dana modal asing terus mengalir ke luar negeri meskipun dicoba ditahan dengan tingkat bunga yang tinggi atas surat-surat berharga Indonesia (Nasution: 1. Krisis ini adalah krisis kepercayaan terhadap rupiah (World Bank.

menunda mengucurkan bantuannya menunggu signal dari IMF. sementara Brunei Darussalam yang menjanjikan l.k. Singapura yang menjanjikan l. US$ 5 milyar meminta pembayaran bunga yang lebih tinggi dari pi njaman IMF.k. padahal keadaan perekonomian Indonesia makin lama makin tambah terpuruk. US$ 1 milyar baru akan mencairkan dananya sebagai yang terakhir setelah semua pihak lain yang berjanji akan .

sehingga menimbulkan krisis keuangan. Sejak awal Desember 1997 hingga awal Mei 1998 telah terjadi pelarian modal besar-besaran ke luar neg eri karena ketidak stabilan politik seperti isu sakitnya Presiden dan Pemilu (World Bank. Memang terjadi dislokasi sumber-sum ber ekonomi dan kegiatan mengejar rente ekonomi oleh perorangan/kelompok tertentu ya . di mana serbuan terhadap dollar AS makin lama makin besar. sehingga banyak perusahaan Jepang melakukan relokasi dan investasi dalam jumlah besar di negara-negara ini.Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. jiwa dan martabat mereka. Tahun 1995 kurs dollar AS berbalik menguat terhadap yen Jepang. kurs dollar AS dan juga mata uang negara-negara Asia Timur melemah terhadap yen Jepang. Terdapatnya keterkaitan yang erat dengan yen Jepang. 22). Padahal mereka menguasai sebagian besar modal d an kegiatan ekonomi di Indonesia dengan akibat mereka membawa keluar harta kekayaan mereka dan untuk sementara tidak melaukan investasi baru. sementara nilai utang dari negara-negara ini dalam dollar AS meningkat karena meminjam dalam yen. Spekulan domestik ikut bermain (Wessel et al. Orang-orang kaya Indonesia. Para spekulan inipun ti dak semata-mata menggunakan dananya sendiri.4. Terjadilah snowball effect. IMF sendiri dinilai banyak pihak telah gagal menerapkan program reformasinya di Indonesia dan malah telah mempertajam dan memperpanjang krisis. hal.Terjadi krisis kepercayaan dan kepanikan yang menyebabkan masyarakat luas men yerbu membeli dollar AS agar nilai kekayaan tidak merosot dan malah bisa menarik keunt ungan dari merosotnya nilai tukar rupiah. 9. yang nilainya melemah t erhadap dollar AS (lihat IDE). karena mata uang nega ranegara Asia ini dipatok dengan dollar AS. tetapi juga meminjam dana dari sistim perbankan untuk bermain. 11. 10. 1998: 1. Di lain pihak harus diakui bahwa sektor riil sudah lama menunggu pembenahan yang mendasar. baik pejabat pribu mi dan etnis Cina. (Ehrke: 2). 1.10). Maret 1999 membantu telah mencairkan dananya dan telah habis terpakai. Kerusahan besar-besaran pada pertengahan Mei yang lalu yang di tujukan terhadap etnis Cina telah menggoyahkan kepercayaan masyarakat ini akan keamanan harta.. namun kelemahan ini meskipun telah terakumulasi selama bertahun-t ahun masih bisa ditampung oleh masyarakat dan tidak cukup kuat untuk menjungkir-balik kan perekonomian Indonesia seperti sekarang ini. Setelah Plaza-Accord tahun 1985. sudah sejak tahun lalu bersiap-siap menyelamatkan harta kekayaan nya ke luar negeri mengantisipasi ketidak stabilan politik dalam negeri. Daya saing negara-negara Asia Timur meningkat terhadap Jepang.

ng menguntungkan mereka ini dan merugikan rakyat banyak dan perusahaan-perusahaan yang efisien. Subsidi pangan oleh BULOG. penyaluran dana yang besar untuk proyek IPTN dan mobil nasional. Timbulnya krisis berkaitan deng an . monopoli di berbagai bidang.

Untuk menunjang program ini. Peran IMF dan Saran jatuhnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS secara tajam. Dari jumlah total pinjaman tersebut.3 milyar selama tiga hingga lima tahun masa program. Kebijakan fiskal. Sebab itu tindakan yang harus segera didahulukan untuk mengatasi krisis ekonomi ini adalah pemecahan masalah utang swasta luar negeri. tidak memecahkan permasalahan. IMF akan mengalokasikan stand-by credit sekitar US$ 11. Program bantuan IMF pertama ditanda-tangani pada tanggal 31 Oktober 1997. Indones ia . 4. dan sisanya akan dicairkan secara bertahap sesuai kemajuan dalam pelaksanaan program. kemudian 29 Juli 1998. Dampak. dan kurang dipengaruhi oleh sektor riil dalam negeri. Penyehatan sektor keuangan. Sementara itu pemerintah Indonesia telah enam kali memperbaharui persetujuannya dengan IMF. 2. Program Reformasi Ekonomi IMF Menurut IMF. 3. Penyesuaian struktural. Sejumlah US$ 3. S trategi pemulihan IMF dalam garis besarnya adalah mengembalikan kepercayaan pada mata ua ng. (Fischer 1998b). menstabilkan nilai tukar r upiah pada tingkat yang nyata. meskipun kelemahan sektor riil dalam negeri mempunyai pengaruh terhadap melemahnya nilai tukar rupiah. yaitu dengan membuat mata uang itu sendiri menarik. dan yang terakhir adalah review yang keempat. yang menyebabkan nilai dollar AS melambung dan tidak terbendung. tanggal 16 Maret 1999. Program reformasi ekonomi yang disarankan IMF ini mencakup empat bidang: 1. yakni sektor ekonom i luar negeri. Mem benahi sektor riil saja. mengembalikan kepercayaan masyarakat dalam dan luar negeri terhadap kemampuan ekonomi Indonesia.04 milyar dicairkan segera. jumlah yang sama disediakan setelah 15 Maret 1998 bila program penyehata nnya telah dijalankan sesuai persetujuan. Krisis pecah karena terdapat ketidak seimbangan antara kebutuhan akan valas dala m jangka pendek dengan jumlah devisa yang tersedia. dan tidak kalah penting adalah mengembalikan stabilitas sosial dan politik. Kebijakan moneter. Inti dari setiap program pem ulihan ekonomi adalah restrukturisasi sektor finansial.Krisis Moneter Indonesia : Sebab. Second Supplementary Memorandum of Economic and Financial Policies (MEFP) tanggal 24 Ju ni. krisis ekonomi yang berkepanjangan di Indonesia disebabkan karena pemerintah baru meminta bantuan IMF setelah rupiah sudah sangat terdepresiasi. membenahi kinerja perbankan nasional.

1997: 1). Di samping dana bantuan IMF.07 milyar yang bisa dimanfaatkan. Bank Pembangunan Asia dan neg aranegara sahabat juga menjanjikan pemberian bantuan yang nilai totalnya mencapai lebih . Bank Dunia.sendiri mempunyai kuota di IMF sebesar US$ 2. ( IMF.

Setelah pelaksanaan reformasi kedua ini kembali menghadapi berbagai hambatan. maka dilakukanlah nego siasi kedua yang menghasilkan persetujuan mengenai reformasi ekonomi (letter of intent ) yang ditanda-tangani pada tanggal 15 Januari 1998. Thailand hanya memperoleh dana bantuan total sebesar US$ 17. 2. Str ategi yang akan dilaksanakan adalah: 1. Restrukturisasi sektor keuangan -Program restrukturisasi bank -Memperkuat aspek hukum dan pengawasan untuk perbankan C. dan aspek baru yang masuk adalah penyelesaian utang luar negeri perusahaan swasta Indonesia. Karena dalam beberapa hal program-program yang diprasyaratkan IMF oleh pihak Indonesia dirasakan berat dan tidak mungkin dilaksanakan. di antaranya US$ 4 milyar dari IMF dan masing-masing US$ 0. menstabilkan rupiah pada tingkat yang sesuai dengan kekuatan ekonomi Indonesia. 7 appendix dan satu matriks. Korea mendapat bantuan dana total sebesar US$ 57 milyar untuk jangka waktu tiga tahun. . Kebijakan makro-ekonomi -Kebijakan fiskal -Kebijakan moneter dan nilai tukar B. maka diadakanlah negosiasi ulang yang menghasilkan supplementary memorandum pada tanggal 10 April 1998 yang terdiri atas 20 butir.2 milyar. 3.10 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Saransaran IMF diharapkan akan mengembalikan kepercayaan masyarakat dengan cepat dan kurs nilai tukar rupiah bisa menjadi stabil (butir 17 persetujuan IMF 15 Januari 1998). memperkuat dan mempercepat restrukturisasi sistim perbankan. yang mengandung 50 butir. Namun bantuan dari pihak lain ini dikaitkan dengan kesungguhan pemerintah Indonesia melaksanakan program-program yang diprasyaratkan IMF. C akupan memorandum ini lebih luas dari kedua persetujuan sebelumnya.5 milyar berasal dari Indonesia dan Korea. Pokokpokok dari program IMF adalah sebagai berikut: A. memperkuat implementasi reformasi struktural untuk membangun ekonomi yang efisie n dan berdaya saing. Jadwal pelaks anaan masing-masing program dirangkum dalam matriks komitmen kebijakan struktural. di antaranya sebesar US$ 21 milyar berasal dari I MF. Reformasi struktural -Perdagangan luar negeri dan investasi -Deregulasi dan swastanisasi -Social safety net -Lingkungan hidup. Sebagai perbandingan. Maret 1999 kurang US$ 37 milyar (menurut Hartcher dan Ryan).

Peran IMF dan Saran 11 4. Pembangunan sektor perbankan 3. yang paling umum adalah bahwa: (1) program IMF terlalu s eragam. Restrukturisasi utang swasta 7. Reformasi struktural 6. kembalikan pembelanjaan perdagangan pada keadaan yang normal.4 juta dan jumlah yang sama akan dicairkan lagi berturut-turut awal bulan Juni dan awal bul an Juli. menyusun kerangka untuk mengatasi masalah utang perusahaan swasta. sehingga tidak bisa keluar dengan program penyelamatan yang tepat. Kritik Terhadap IMF Banyak kritik yang dilontarkan oleh berbagai pihak ke alamat IMF dalam hal menan gani krisis moneter di Asia. 5. timbul kesan yang kuat bahwa IMF sesungguhnya tidak menguasai permasalahan dari timbulnya krisis. Dampak. rasa tenteram. Korea dan Indonesia) telah gagal. padahal masalah yang dihadapi tiap negara tidak seluruhnya sama. Hukum Kebangkrutan dan reformasi yuridis. Bantuan anggaran pemerintah untuk golongan lemah 4. sehingga ekspor bisa bangkit kembali. 6 Me i 1998). Sementara itu Menko E kuin/ Kepala Bappenas menegaskan bahwa Dana IMF dan sebagainya memang tidak kita gunaka n untuk intervensi. Awal Mei 1998 telah dilakukan pencairan kedua sebesar US$ 989. dan rasa kepercayaan terhadap perekonomian bahwa kita memiliki cu kup devisa untuk mengimpor dan memenuhi kewajiban-kewajiban luar negeri (Kompas. Prioritas utama dari program IMF ini adalah restrukturisasi sektor perbankan. dan (2) program IMF terlalu banyak mencampuri kedaulatan negara yang dibantu (Fischer. Salah satu pemecahan standar IMF adalah menuntut adanya . 1998b). Pemerintah akan terus menjamin kelangsungan kredit murah bagi perusahaan kecilme nengah dan koperasi dengan tambahan dana dari anggaran pemerintah (butir 16 dan 20 dari Suplemen). Reformasi BUMN dan swastanisasi 5. bila pemerintah dengan konsekuen melaksanakan program IMF. Kebijakan moneter dan suku bunga 2. Ke tujuh appendix adalah masing-masing: 1. Setelah melihat program penyelematan IMF di ke tiga negara tersebut. tetapi untuk mendukung neraca pembayaran serta memberi rasa am an. Radel et dan Sachs secara gamblang mentakan bahwa bantuan IMF kepada tiga negara Asia (Thaila nd.Krisis Moneter Indonesia : Sebab. Pencairan berikutnya sebesar US$ 1 milyar yang dijadwalkan awal bulan Jun i baru akan terlaksana awal bulan September ini.

meskipun su rplus .surplus dalam anggaran belanja negara. padahal dalam hal Indonesia anggaran bela nja negara sampai dengan tahun anggaran 1996/1997 hampir selalu surplus.

dan bagaimana i ngin dicapai sasaran pertumbuhan ekonomi sebesar 3%. (Kompas. (Nasution: 27-28). bagaimana caranya untuk meningkat kan penerimaan pemerintah dan mengurangi pengeluaran pemerintah untuk mencapai sasar an surplus anggaran sebesar 1% dari PDB dalam tahun fiskal 1998/99. pemimpin ekonom Bank Dunia. yaitu negara pengutang lazimnya harus mendapatkan restu pendanaan dari pemerintah AS. Harapan satu-satunya adalah peningkatan ekspor non-migas. sementara keputusan yang diambil harus mengacu pada fakta konkret ekonomi. Tidak ada penjelasan rinci. mengkritik bahwa prakondisi IMF yang teramat ketat terhadap negara-negara Asia di tengah krisis yang berkepanjangan b erpotensi menyebabkan resesi yang berkepanjangan.R. 13 Mei 1998). Karenanya. Karena itu pe mecahan utamanya adalah bagaimana mengembalikan nilai tukar rupiah ke tingkat yang wajar . dan prinsip ini terus dipegang. dan ini ak an menunda cairnya bantuan dari sumber-sumber lain (Hartcher dan Ryan). namun kelemahan utama dari IMF adalah tidak ada pr ogram yang jelas untuk meningkatkan efisiensi dan menurunkan biaya produksi untuk mend orong ekspor non-migas. perwakilan IMF mewakili negara dan pemerintahan dengan kebijakan dan visi politik masing-masing. Stiglitz. semakin besar defisit yang terjadi dalam anggaran belanja. Kabar terakhir menyebutkan bahwa pencairan bantuan tahap ketiga awal Juni ni akan tertunda lagi atas desakan peme rintah AS yang dikaitkan dengan perkembangan reformasi politik di Indonesia. Penasehat khusus IMF untuk Indonesia (P. Adalah kebijakan dari Ord e Baru untuk menjaga keseimbangan dalam anggaran belanja negara. Kemudian berlakunya praktek apa yang dinamakan konsensus Washington . Memang dalam anggaran belanja negara tahun 1998/1999 terdapat defisit anggaran y ang besar. namun ini bukan disebabkan karena kebijakan deficit financing dari pemeri ntah. Narvekar) sendiri juga dikutip sebaga i mengatakan bahwa IMF kerap menerapkan standar ganda dalam pengambilan keputusan. Maret 1999 ini ditutup oleh bantuan luar negeri resmi pemerintah. Selama ini tidak ada pencetakan uang secara besar-besaran untuk menutu p anggaran belanja negara yang defisit. ada saja peluang bahwa tudingan atas pelanggaran hak asasi manusia di Indonesia yang makin marak belakangan ini. J. Demikianpun halnya . menjadi hal yang disoroti Dewan Direktur IMF dalam pengambilan keputusannya pekan depan . Di satu pihak.12 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Semakin jatuh n ilai tukar rupiah. yang pada dasarnya hanya memperl uas kesempatan ekonomi AS. tetapi oleh karena nilai tukar rupiah yang terpuruk terhadap dollar AS. Anwar Nasution mengkritik bahwa reformasi ekonomi yang disarankan IMF bentuknya masih samar-samar. dan tidak ada tingkat inflasi yang melebih i 10%.

Di satu pihak IM F .dengan Bank Dunia. bahwa di bidang kebijaksanaan makro IMF tidak memperlihatkan adanya konsistensi antarinstrumen kebijaksanaan. 2 Mei 1998). (Kompas. Sri Mulyani mengemukakan.

karena cara pengelolaan bank yan g amburadul dan tidak mengikuti peraturan. karena keharusan BI melakukan f ungsi lender of last resort bagi perbankan nasional. sedang di lain pihak menganu t kebijaksanaan moneter yang kontraktif. berhubung semua bantuan tamba han yang besarnya mencapai US$ 27 milyar dikaitkan dengan cairnya bantuan IMF. juga ketidak sejalanan kebijaksanaan moneter dan fiskal (Sri Mulyani: 72). Hal ini juga diakui oleh IMF (butir 14. Rencana IMF untuk mencairkan bantuannya secara bertahap d alam jarak waktu yang cukup jauh menunjukkan bahwa IMF menekan Indonesia untuk menjalankan programnya secara ketat dan membiarkan keadaan ekonomi Indonesia ter us merosot menuju resesi yang berkepanjangan. (Sri Mulyani: 72). sehingga memperparah keadaan dan masyarakat beramai-ramai memindahkan dananya dalam jumlah besar ke bank-bank asing dan pemerintah atau ditaruh di rumah. Bank Indonesia dan perbankan nasional. Dampak. ditambah jarak yang cukup lama antara paket bantuan pertama dan kedua. Peran IMF dan Saran 13 memberikan kelenturan dengan mengizinkan dipertahankannya subsidi dan menyediaka n dana untuk menciptakan jaringan keselamatan sosial. Dengan menahan pencairan bantuan taha p kedua dan setelah diundur. Masyarakat kehilangan kepercayaan kepada otoritas moneter.Krisis Moneter Indonesia : Sebab. namun dampak psikologisnya dari tindaka n ini tidak diperhitungkan. Saran IMF menutup sejumlah bank yang bermasalah untuk menyehatkan sistim perbankan Indonesia pada dasarnya adalah tepat. yang bertentangan dengan tema pen getatan. terutama dalam rangka stabilitas nilai tukar da n inflasi. Secara makro ancaman kegagalan terbesar kesepakatan ketiga ini berasal dari kebijaksanaan moneter yang masih ambivalen. Pertanyaan mendasar yang harus ditujukan kepada IMF menurut penulis adalah sejauh mana IMF bersungguh-sungguh dalam hal membantu mengatasi krisis ekonomi yang sedang melanda Indonesia dewasa ini? Apakah sama seperti kesungguhan Amerik a Serikat ketika membantu Meksiko bersama-sama dengan IMF dan negara-negara maju lainnya yang berhasil menggalang sebesar hampir US$ 48 milyar Januari 1995? Sete lah mencapai titik terendah tahun 1995. bahka n memperparah keadaan. yang menimbulkan krisis likuiditas perbankan n asional yang gawat. hanya dicicil US$ 1 milyar dari jumlah US$ 3 milyar. perekonomian Meksiko dengan cepat pada tahun 1996 dapat bangkit kembali. 15 dan 24 dari persetujuan I MF tanggal 15 Januari 1998). Kedua kebijaksanaan ini bisa memandulkan efektivitas kebijaksanaan makro. menyulitkan pemuli han ekonomi Indonesia secara cepat. Di la . Karena badan internasional lain dan negara-negara sahabat y ang menjanjikan bantuan juga menunggu signal dari IMF. menghilangkan kepercayaan terhadap rupiah.

in pihak. . IMF sedikit banyak mempunyai andil dalam perjuangan menggulirkan tun tutan reformasi politik. kita juga perlu berterima kasih kepada IMF karena dengan menunda mencairk an bantuannya. ekonomi dan hukum di Indonesia yang pada akhirnya bermuara pa da mundurnya Presiden Soeharto.

IMF sendiri tampaknya tidak tahu apa yang harus dilakukannya dan berput arputar pada kebijakan surplus anggaran. dan titipan-titipan khusus dar i negaranegara maju yaitu membuka peluang investasi yang seluas-luasnya bagi mereka dengan menggunakan kesempatan dalam kesempitan Indonesia. pembenahan se ktor riil yang memang perlu dan sudah sangat mendesak. Ibaratnya orang yang sudah hampir ten ggelam .14 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. yang didukung oleh bantuan dana dari World Bank. karena untuk beberapa tindakan memang ada tanda-tanda kekurang sungguhan di pihak Indonesia. IMF tidak memecah kan permasalahan yang utama dan yang paling mendesak secara langsung. Tidak adanya program dari IMF yang jelas dan berjangka pendek untuk mengembalikan nilai tukar rupiah ke tingkat yang wajar da n menstabilkannya membuat pemerintah cukup lama terombang-ambing antara memilih program IMF atau currency board system. Sayangnya tidak ada program khusus yang secara langsung ditujukan untuk menguatkan kembali nilai tukar rupiah. butir 5. dari waktu ke waktu mengadakan intervensi terbatas di pasar valas dengan petunju k IMF (lihat butir 14. 21 dari persetujuan 15 Januari 1998. uang ketat. juga tidak ada Appendix untuk masalah ini. menaikkan suku bunga dan mengembalikan kepercayaan terhadap kebijakan eko nomi. kalau mau. Namun kekurangan yang paling utama d ari IMF adalah bahwa IMF dalam program bantuannya tidak mencari pemecahan terhadap masalah yang pokok dan sangat mendesak ini dan berputar-putar pada reformasi str uktural yang dampaknya jangka panjang. Namun bantuan dana IMF dan ketergantungan harapa n pada IMF ini di(salah)gunakan untuk menekan pemerintah Indonesia untuk melaksana kan reformasi struktural secara besar-besaran. 7 dari Su plemen). Maret 1999 Saran IMF untuk menstabilkan nilai tukar adalah dengan menerapkan kebijakan uang ketat. Di lain pihak memang harus diakui bahwa tekanan ini perlu untuk memastikan kesungguhan Indonesia. dengan mencairkan dana bantuan yang relatif besar pada bulan November lalu. 16. yang justru menjanjikan kepastian dan ke stabilan nilai tukar pada tingkat yang wajar. Krisis ekonomi yang tengah berlangsung ini memang bukan tanggung-jawab IMF dan tidak bisa dipecahkan oleh IMF sendiri. Bila semua kekuatan bantuan ini dikumpulkan sekal igus secara dini. Dengan demikian timbulnya krisis kepercayaan yang berkepanjangan dapat dicegah. maka hal ini dengan cepat akan memulihkan kembali kepercayaan masya rakat dalam negeri dan internasional. IMF bisa saja terlebih dahulu mengambil kebijakan memprioritaskan stabilisasi nilai tukar rupiah. tingkat bunga tinggi. Asian Development Bank dan negara-ne gara sahabat. 17.

tetapi dampak hasilnya baru bisa dirasakan dalam jangka panjang.diombang-ambing ombak laut tidak segera ditolong dengan dilempari pelampung. Reformasi struktural sebagaimana yang dianjurkan oleh IMF memang mendasar dan penting. se mentara pemecahan masalahnya sudah sangat mendesak. di mana makin ditunda makin banyak . tap i disuruh belajar berenang dahulu.

karena IMF menganjurkan penghapusan subsidi secara bertahap dan tidak secar . Banyak perusahaan yang mengandalkan pasara n dalam negeri tidak bisa menjual barang hasil produksinya karena perusahaan-perus ahaan ini umumnya memiliki kandungan impor yang tinggi dan harga jualnya menjadi tidak terjangkau dengan semakin jatuhnya nilai tukar rupiah. karena d alam jangka pendek proyek ini akan mengacaukan kebijakan pemerintah di bidang fiskal. Peran IMF dan Saran 15 perusahaan yang jatuh bergelimpangan. Tindakan drastis ini sedikit-banyak telah membantu memicu te rjadinya kerusuhan-kerusuhan sosial dan politik. apakah pemerintah tidak bisa menunda kenaikan BBM dan listrik untuk beberapa bulan. Namun penu runan subsidi BBM dan listrik oleh pemerintah secara drastis dan mendadak pada tanggal 4 Mei 1998 yang lalu mempunyai dampak yang sangat luas terhadap perekonomian rakyat ke cil. Yang menjadi pertanyaan di sini adalah. 1996. misalnya penagihan yang lebih efektif. yakni melalui subsi di silang sehingga masyarakat berpenghasilan rendah tetap dikenakan tarif listrik yang mur ah dan melalui peningkatan efisiensi. apakah IMF benar-benar tidak melihat inti permasalahannya atau berpura-pura tidak tahu? Atau IMF mengambil kesempatan dalam kesempitan untuk memaksakan perubahan-perubahan yang sudah lama menjadi duri di matanya dan bagi Bank Dunia serta mewakili kepentingan-kepentingan asing ? Tampaknya di balik anjuran program pemulihan kegiatan ekonomi ada titipan-titipa n politik dan ekonomi dari negara-negara besar tertentu. men unggu keresahan masyarakat reda? Di sini pemerintah salah membaca isi dari kesepakatan dengan IMF.Krisis Moneter Indonesia : Sebab. anggaran dan moneter secara berarti. meskipun kepentingan rakyat kecil sangat diperhatikan dengan adanya jaringan keselamatan sosial. Jadi. utang luar negeri s wasta dan nilai tukar rupiah yang merosot jauh dari nilai riilnya adalah masalah-masalah d asar jangka pendek. yang lama tidak disinggung oleh IMF. bab 4 dan 5). Dampak. bab 2. Di sini timbul keragu-raguan akan k emurnian kebijakan reformasi IMF. Subsidi listrik relatif lebih mudah untuk dihapuskan.World Bank. Juga saran IMF untuk menghapuskan subsidi B BM dan listrik yang kian membesar secara bertahap dalam jangka waktu tiga tahun sud ah benar. Program reformasi IMF secara menc urigakan mengulang kembali tuntutan-tuntutan deregulasi ekonomi yang sudah sejak bertahun -tahun didengungkan oleh Bank Dunia dan belum sepenuhnya dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia (lihat World Bank. Permintaan IMF untuk menghentikan dengan segera perlakuan pembebasan pajak dan kemudahan kredit untuk proyek mobil nasional dan IPTN adalah tepat. 1997. sehingga timbul teka-teki.

a mendadak. Dalam suplemen program IMF April 1998 disebutkan bahwa subsidi masih b isa diberikan kepada beberapa jenis barang yang banyak dikonsumsi oleh penduduk berpenghasilan rendah seperti bahan makanan. (butir 10 dan 11 dari Suple men). Membengkaknya subsidi ini disebabk an . Dalam situasi seka rang hampir tidak ada peluang untuk meningkatkan pajak. Subsidi untuk bahan pangan. Baru pada tanggal 1 Oktober 1 998 direncanakan subsidi akan diturunkan secara berarti. BBM dan listrik. BBM dan listrik sudah diperhitungkan dan dinaikkan d alam anggaran pemerintah (butir 20 dari Suplemen).

kita harus melihat sebab-sebab lain di balik kenaikan biaya produksi. tetapi apa sumbangan dari keterbukaan ini terhadap restrukturisasi ekonomi dari program IMF. tagihan listrik dalam jumlah besar yang tidak dibayar. bank asing maupun penguasaan saham dari perusahaan-perusahaan yang telah go public. (Bandingkan juga Sri Mulyani: 72-3). Keadaan ini ti dak sebanding. Modal asing sudah dibe ri peluang yang cukup besar untuk investasi di Indonesia dengan diperbolehkannya kepemilika n hingga 100% baik untuk pendirian PMA. . Di antara saran-saran IMF juga ada yang mengenai perluasan penyertaan modal asing dalam kegiatan ekonomi Indonesia yang terlalu jauh. sementara pendapatan masyarakat adalah dalam rupiah yang tidak berubah sejak seb elum terjadinya krisis moneter. Jad i tindakan yang pokok adalah pertama mengembalikan dulu nilai rupiah ke tingkat yang wajar dan dari sini baru menghitung besarnya subsidi. Meskipun demikian IMF masih meminta dihapuskannya larangan membuka cabang bagi bank asing. Dalam kaitan ini perlu dipertanyakan.16 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. izin investasi di bidang perdagangan besar dan eceran. siapa yang menjadi penyebab dari terjadiny a krisis yang berkepanjangan ini. dan apa sumbangannya terhadap pemasukan modal asing? Bukan masalah anti asing atau sentimen nasionalisme yang sempit. Halnya akan lain. kalau tidak menurun dan banyaknya PHK. seperti kinerja yang kurang efisien. kecuali saham bank nasional yang go public. Tidak bisa biaya produksi dihitung a tas dasar nilai tukar dengan dollar AS yang masih relatif tinggi lalu dibebankan kepada ko nsumen. Masalahnya bukan sentimen nasionalisme. sehingga nilai tukar valas naik sangat tinggi da n siapa yang menarik keuntungan dari krisis ini? Janganlah rakyat banyak diminta untuk b erkorban mengatasi krisis ini atau membebankan di atas penderitaan rakyat dengan misalnya menaikkan harga BBM dan tarif listrik. tetapi sebab utama karena merosotnya nilai tukar rupiah. dan liberalis asai perdagangan yang jauh lebih liberal dari komitmen resmi pemerintah di forum WTO. terutama yang bermodal kec il? Apa permintaan IMF ini tidak terlalu jauh? Kedengarannya seperti IMF menerima ti tipan pesan sponsor dari negara-negara besar yang ingin memaksakan kepentingannya deng an menggunakan kesempatan dalam kesempitan. tetapi apa salahnya bila peme rintah menyisakan bidang kegiatan untuk pengusaha Indonesia. seperti orang asing yang tinggal d i Indonesia misalnya. bila pendapatan masyarakat dalam rupiah juga ikut naik dua atau tiga kali lipat sesuai dengan kenaikan nilai tukar dollar AS. stabilisasi e konomi dan moneter. Maret 1999 oleh beberapa faktor. AFTA dan APEC.

karena IMF sebagai lembaga yang disegani bisa banyak membantu memulihkan kepercayaan kr editor . Ikut campurnya IMF dalam penyelesaian utang swasta adalah sangat baik.Saran IMF lainnya yang disisipkan dalam persetujuan dan tidak ada kaitannya deng an program stabilisasi ekonomi dan moneter adalah desakannya untuk menyusun UndangUndang Lingkungan Hidup yang baru (butir 50 dari persetujuan IMF tanggal 15 Janu ari 1998).

yang melambung tinggi jika dihadapkan de ngan pendapatan masyarakat dalam rupiah yang tetap. perjalanan ke luar n egeri dan pengiriman anak sekolah ke luar negeri. Dampak dari Krisis Dewasa ini semua permasalahan dalam krisis ekonomi berputar-putar sekitar kurs nilai tukar valas. Petani yang berbasis ekspor penghasilannya dala m rupiah mendadak melonjak drastis. kebalikannya arus masuk turis asing akan lebih besar. Secara umum impor barang menurun tajam termasuk impor buah. tidak terjadi. proteksi industri dalam negeri meningkat sejalan dengan merosotnya ni lai tukar rupiah. Mes kipun . Sayangnya ekspor yang secara teoretis seharusnya naik. daya saing produk dalam negeri dengan tingkat kandungan impor renda h meningkat sehingga bisa menahan impor dan merangsang ekspor khususnya yang berba sis pertanian. Masalah in i hanya bisa dipecahkan secara mendasar bila nilai tukar valas bisa diturunkan hingga tingkat yang wajar atau nyata (riil). Dengan demikian roda perekonomian bisa berputar kembali dan harga-harga bisa turun dari tingkat yang tinggi dan terjangkau oleh masyarakat. pengusaha domestik kapok meminjam dana dari luar negeri. investasi menurun karena impor barang modal menjadi mahal. Peran IMF dan Saran 17 luar negeri. kopi dan sebagainya ikut naik. Hasilnya adalah perbaikan dalam neraca berjalan.Krisis Moneter Indonesia : Sebab. I MF bisa bertindak sebagai perantara yang netral dan dipercaya. perusahaan tutup atau mengurangi produksinya karena tidak bisa menjual barangnya dan beban utang yang tinggi. PHK di mana-mana. yang bukan disebabkan karena imported inflation4 . toko sepi. Imbas dari kemerosotan nilai tukar rupiah yang taja m secara umum sudah kita ketahui: kesulitan menutup APBN. tetapi lebih tepat jika dikatakan foreign exchange induced inflation. Dampak. yang akan memperlancar dan mempercepat proses penyelesaian utang. sementara bagi konsumen dalam negeri harga beras. meskipun tidak kembali pada tingkat sebelum terjadinya krisis moneter. biaya sekolah di luar negeri melonjak. khususnya dollar AS. gul a. utang lu ar negeri dalam rupiah melonjak. harga BBM/tarif listrik naik. Dampak lain adalah laju in flasi yang tinggi selama beberapa bulan terakhir ini. padahal harga dari banyak barang naik cukup tinggi. Pada sisi lain merosotnya nilai tukar rupiah secara tajam juga membawa hikmah. bahkan cenderung sedikit menurun pada sektor barang hasil industri. bahkan dalam beberapa hal turun ditambah PHK. harga telur/ayam naik. tarif angkutan naik. kecuali sebagi an sektor pertanian dan ekspor.

tetapi penerimaan eksp or dalam valas umumnya tidak berubah. dan negara-negara produsen lain juga mengalami d epresiasi 4 Suatu inflasi dikatakan terjadi karena imported inflation bila harga barang-bara ng di negara pengekspornya naik. . karena pembeli di luar negeri juga menekan harganya karena tahu petani dapat untung besar. dan ini tidak terjadi.penerimaan rupiah petani komoditi ekspor meningkat tajam.

tenaga terlatih. Meningkatnya jumlah penduduk miskin tidak terlepas dari jatuhnya nilai tukar rup iah yang tajam. Namun secara keseluruhan dampak negatifnya dari jatuhnya nilai tukar rupiah masi h lebih besar dari dampak positifnya. Tapi sekali krisis berakhir dan ekonomi berbalik bangkit kembali (rebound). sulit untuk diramalkan karena tergantung pada banyak faktor. karena kri sis belum juga menyentuh dasar jurang. pada Oktober 1998 in i jumlah keluarga miskin diperkirakan meningkat menjadi 7. sehi ngga . pabrik. dan tingkat inflasi sekitar 66%. Menurut perkiraan IMF pada bulan Maret 1999 lalu. Maret 1999 dalam nilai tukar mata uangnya dan bisa menurunkan harga jual dalam nominasi val as. pulihnya kepercayaan investor dalam dan luar negeri. menguatnya nilai tukar rupiah t erhadap dollar AS pada tingkat yang wajar.5 juta. yang menyebabkan terjadinya kesenjangan antara penghasilan yang berk urang karena PHK atau naik sedikit dengan pengeluaran yang meningkat tajam karena ting kat inflasi yang tinggi. Keadaan ekonomi yang sangat parah ini diperkirakan pada bulan-bulan mendatang masih akan berlangsung terus.18 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. sehingga perlu d ilancarkan program-program untuk menunjang mereka yang dikenal sebagai social safety net. Karena prasarana dasa r untuk pembangunan sudah tersedia. karena ada masalah dengan pembukaan L/C dan kead aan sosial-politik yang belum menentu sehingga pembeli di luar negeri mengalihkan pe sanan barangnya ke negara lain. maka perbaikan ini diperkirakan akan berlangsung relatif cepat. sehingga bila nilai tukar rupiah bisa dikembalikan ke nilai nyatanya maka biaya besar yang dibutuhkan untuk social safety net ini bisa dikurangi seca ra drastis. hanya di sini ada k esulitan lain untuk meningkatkan ekspor. Berapa lama krisis ekonomi ini masih akan ber langsung. keamanan yang mantap. pertumbuhan GDP nyata Indonesia pada tahun 1998/9 diperkirakan akan n egatif sebesar 16%. Faktor-faktor terse but adalah bantuan IMF dan donor-donor lainnya yang segera. Sebagai dampak dari krisis ekonomi yang berkepanjangan ini. Hal yang serupa juga terjadi untuk ekspor barang manufaktur. mesin-mesin sudah ada. suasana politik dan sosial yang stabil. Prospek Ekonomi Indonesia Prospek ekonomi untuk beberapa tahun mendatang adalah kurang cerah dan akan ditandai oleh pertumbuhan ekonomi yang negatif.

yang diperlukan adalah pulihnya kepercayaan dan masuknya modal baru. maka upaya yang paling utama dan mendesak bagi Indonesi a . Saran-Saran Krisis moneter telah memberikan pelajaran yang sangat berharga untuk menentukan kebijakan di masa depan.

impor secara otomatis akan berkurang (misalnya buah. Setelah mendapat pengalaman dari krisis ini. Inti dari pemecahan krisis moneter dalam jangka pendek haruslah ditujukan kepada . perjalanan. sejauh persyaratan di atas bisa dipenuhi. Dengan sistim ini. 1998. dan meningkatkan ekspor. harga mobil terjangkau oleh m asyarakat. Dunia per bankan nasional juga telah diajarkan dari manfaat jangka panjang untuk bertindak pruden t. kegiatan ekonomi Indonesia terutama harus ditunjang o leh kekuatan sendiri berdasarkan dana modal yang tersedia di dalam negeri. berobat di luar negeri. perdagangan dan angkut an juga bisa hidup kembali. Dengan demikian. dan menjaga stabilitas fiskal dan monete r selama masa transisi (World Bank. industrialisasi substitusi impor berlanjut.2). restrukturisasi perbankan. p. Dengan demikian sumber uta ma krisis di masa lalu untuk masa mendatang sudah dapat dieliminir. Peran IMF dan Saran 19 dewasa ini adalah program penyelamatan yang bisa mengembalikan kepercayaan masyarakat serta menstabilkan kurs rupiah pada nilai tukar yang nyata (bandingka n juga Stiglitz). Penulis menginterpretasikan nilai tukar nyata sebagai nilai tukar berdasarkan purchasing power parity yang bisa menjaga keseimbangan dalam neraca berjalan dan yang bisa menjamin ekonomi nasional beroperasi. jalan-jalan ke luar negeri. Para ekonom dari CSIS berpendapat bahwa langkah yang harus diambil un tuk mengatasi kemelut ini adalah dengan menstabilkan nilai tukar rupiah terhadap dol ar AS dalam tingkat yang wajar. harga barang-baran g produksi dalam negeri dengan kandungan lokal tinggi bisa meningkat daya saingnya sehingga bisa berkembang dan orang tidak mengandalkan bahan impor karena menjadi mahal. Dampak. Bank Dunia menyarankan mengembalikan kepercayaan terhadap rupiah dengan empat kebijakan utama: restrukturisasi beban utang swasta. Ditambah dengan hilangnya insentif untuk meminjam dari luar negeri karena biaya pinjaman yang lebih rendah diimbangi dengan tingkat depresiasi yang lebih tinggi dan karena tidak adanya lagi intervensi kurs oleh BI. Kegiatan jasa hotel. 2. begitupun pengusaha domestik akan sangat hati-hati untuk meminjam dari luar negeri. 9 April 1998). reformasi dan memperk uat sistim perbankan. dana asing akan sangat hati-hati ma suk ke Indonesia. memperbaiki governance . pola makan makanan yang bahannya gandum). kirim anak sekolah di luar negeri. dan penyelesaian masalah ut ang swasta dengan penjadwalan ulang (Kompas.Krisis Moneter Indonesia : Sebab.

Beberapa saran dari penulis untuk mengatasi krisis ekonomi dewasa ini adalah sebagai berikut: . pada suatu saat tertentu dan membagi (spread-out) pembayaran ini secara merata d alam jangka waktu yang lebih panjang pada tingkat yang terkendali (manageable).pencegahan penumpukan pembayaran utang luar negeri. baik swasta maupun pemerinta h.

Bila Jepang hanya mau membantu dengan dengan menambah pinjaman baru. Maret 1999 1. Indonesia bisa bern apas untuk memperkuat posisi cadangan devisanya. diharapkan akan terjadi arus balik devisa dan masuknya modal luar negeri. tanpa merusak nama Indonesia sebagai debitur yang baik. Sebab menurut APBN tahun 1998/99 jumlah pembayaran cicilan utang pokok luar negeri beserta bunganya mencapai US$ 7. dalam hal ini Departemen Keuangan dan Bank Indonesia.20 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Keuntungan dari penundaan pembayaran utang ini adalah. Mengusahakan penundaan pembayaran utang resmi pemerintah berupa pembayaran cicilan pokok dan bunga selama misalnya dua tahun melalui Paris Club. terlebih lagi karena bantuan IMF ini terkait dengan bantuan negara-negara donor lainnya yang jumlahnya sangat besar. Seandainya Indonesia tidak mene rima bantuan barupun. 3.560 juta. yang juga selalu mendapatkan pujian dari Bank Dunia dan IMF. Dengan demikian. harus bertindak proaktif menghadapi IMF dengan mengajukan saran-sarannya sendiri dan menolak program-program yang tidak relevan dan cenderung merugikan Indonesia. Pemerintah melaksanakan reformasi dan restrukturisa si sektor riil dan keuangan secara konsekuen untuk memperkuat fundamental ekonomi Indonesia. sebab Paris Club adalah instrumen internasional yang memang khusus dirancang untuk membantu negara-negara sedang berkembang dalam menghadapi masalah pembayaran kembali utang-utang luar negeri pemerintah. hanya saja jangka waktu pembayaran kembalinya saj a yang lebih panjang. 2. makin cepat juga dananya cair. Membentuk kabinet baru yang terdiri atas teknokrat untuk mengembalikan keperc ayaan masyarakat Indonesia maupun luar negeri akan kesungguhan program reformasi. bahwa beban utang tidak menjadi bertambah. Namun dalam keadaan krisis yang parah ini. Jumlah i ni sangat berarti untuk memperkuat cadangan devisa negara.450 juta. apa salahnya jika Indonesia meminta penundaan wak tu pembayaran kembali utang? Nama Indonesiapun tidak menjadi jelek karenanya. Karena Indonesia telah menanda-tangani persetujuan program reformasi struktural ekonomi dengan IMF. Makin cepat pemerintah melaksanakan program-program reformasi. Namun pemerintah. Deng an adanya kepercayaan ini. maka pemerintah juga harus melaksanakannya dengan konsekuen. maka masih ada selisih positif sebesar lebih dari US$ 1 milyar yang bisa dihemat. Yang nanti akan menjadi masalah adalah bagaimana membay ar utang bantuan darurat yang mencapai US$ 46 milyar tersebut di samping utang-utan g pemerintah dan swasta yang ada. sementara pinjaman luar negeri baru sebesar US$ 6. berarti bahwa beban . Sementara ini sudah banyak negara se dang berkembang yang memanfaatkan fasilitas ini. termasuk program reformasi IMF. Sejauh ini Indonesia memang selalu patuh untuk membayar semua utang-utangnya secara tepat waktu.

Penjadwalan kembali pembayaran utang resmi pemerintah ini juga akan banyak .utang termasuk pembayaran bunga untuk di kemudian hari akan bertambah besar.

biaya angkutan udara bisa diturunkan. artinya tidak lagi ov ervalued ketika regim managed floating. pembayaran utang luar negeri pemerintah dan swast a dalam rupiah dapat ditekan sehingga mampu dikembalikan. perjalanan d omestik dan luar negeri dapat hidup kembali. Mengadakan negosiasi ulang utang luar negeri swasta Indonesia dengan para kredit or . Peran IMF dan Saran 21 membantu meringankan defisit anggaran belanja. insentif untuk meminjam dana dar i luar negeri hilang. Nilai tukar nyata yang wajar ini harus dicari dengan memperhatikan kriteria-kriteria berikut. Masalah pokoknya adalah bagaimana memperkuat nilai tukar mata uang masing-masing kembali pada tingkat yang wajar. biaya perjalanan ke dan sekolah di luar negeri tetap masih m ahal. ASEAN. karena merubah perbandingan harga antara barang dalam negeri aktif dalam forum-forum internasional seperti APEC. Kebijakan depresiasi nilai tukar yang relatif besar dampaknya sama seperti kebij akan proteksi produksi dalam negeri. Hal ini telah dilakukan oleh pemerintah dan telah dicapai kesepakatan. jumlah penduduk miskin dapat ditekan kembali dan jaringan keama nan sosial tidak lagi diperlukan. maka seluruh da ya upaya dan pikiran dapat diarahkan untuk memecahkan persoalannya. Dilain pihak kurs dollar AS ini harus cukup tinggi untuk menahan impor berbagai macam barang dan bahan serta meningkatkan daya saing produk dalam negeri termasuk buah-buahan. harga barang-barang produksi dalam negeri dapat terjangkau termasu k sembako dan pabrik-pabrik beroperasi kembali. bahwa Indonesia akan menunda pembayaran cicilan utang pokoknya saja . sehingga ekspor masih bisa tetap bergairah. Bila ini disadari seba gai hal yang utama dan yang paling mendesak untuk mengakhiri krisis ini. Dampak. Sebaliknya daya saing ekspor masih cukup tinggi. orang-orang yang menganggur dapat bekerja kembali. dan sebagainya untuk mencari pemecahan atas krisis moneter yang sedang melanda banya k negara Asia Timur. yang semuanya mengurangi pengurangan devisa.Krisis Moneter Indonesia : Sebab. Misalnya dengan mengajukan gagasan-gagasan pemecahan yang konkrit dan mendesak diadakannya pertemuanpertemu an dengan segera. Menstabilkan nilai tukar rupiah pada tingkat yang riil. juga tingkat inflasi. terlebih lagi dengan semakin terpuruknya nilai tukar rupiah semakin besar pula defisit dalam anggaran belanja negara yang harus ditutup. paling tidak tingkat depresiasi rupiah tidak lebih rendah dari depresiasi nyatanya. bahkan bisa dipertimbangkan untuk membiarkannya sedikit undervalued untuk meningkatkan daya saing secara internasional dan merangsang produksi dalam negeri dan ekspor. Dengan kurs ini defisit anggaran belanja negara bisa ditekan. begitupun harga BBM/listrik da n pakan ternak. 6. 4. Hingga kini sikap pemerintah Indonesia terkesan pasif.

.untuk meminta penundaan pembayaran. yang sekarang sedang diusahakan oleh Tim Penanggulangan Utang Luar Negeri Swasta (PULNS) atau Indonesian Debt Restructuri ng Agency (INDRA).

22 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Maret 1999 7. Mengembalikan stabilitas sosial dan politik dan rasa aman secepatnya sehingga bi sa memulihkan kepercayaan pemilik modal dalam dan luar negeri. 8. Untuk mengembalikan kepercayaan dari masyarakat yang menyimpan uangnya di dalam negeri, pemerintah bisa mempertimbangkan melakukan operasi swap, apalagi didukun g oleh cadangan devisa pemerintah yang semakin membesar. 9. Menghalangi kemungkinan kegiatan spekulasi valas besar-besaran dengan mempela jari kemungkinan melakukan pengawasan devisa secara terbatas tanpa melepas prinsip regim devisa bebas atau melanggar kesepakatan dengan IMF, misalnya transfer prib adi dibatasi sampai jumlah tertentu, US$ 10.000. Selanjutnya tidak memberi peluang u ntuk memperdagangkan rupiah atau menaruh deposito Rupiah di luar negeri. Deposito val as hanya boleh di bank-bank devisa dalam negeri dan tidak boleh ditempatkan di luar . Krugman juga menganjurkan memungut pajak atas dana yang masuk dan membuat peraturan yang menghambat pengiriman dana ke luar (lihat Wessel dan Davis, hal. 16). Daftar Kepustakaan Anwar, Moh. Arsjad. 1997. Transformasi Struktur Perekonomian Indonesia: Pola dan Potensi , dalam: M. Pangestu, I. Setiati (penyunting), Mencari Paradigma Baru Pembangunan Indonesia, Jakarta: CSIS, hal. 33-48. Bank Indonesia. 1998. Financial Crisis in Indonesia , Jakarta, August. Bello, W. 1998. Mencari Solusi Alternatif untuk Mengatasi Krisis , saduran, Jakarta : Kompas, 1 September, hal. 3. Ehrke, M.1998. Pangloss oder die beste aller moeglichen Welten, Ursachen und Auswirkungen der Asienkrise , Bonn: Friedrich Ebert Stiftung, Februari. Fischer, S. 1998a. IMF dan Krisis Asia , Kompas, Jakarta, 6 April. ________. 1998b. Peranan IMF Saat Krisis , Kompas, Jakarta, 8 April. ________. 1998c. The Asian Crisis and the Changing Role of the IMF , Washington, D.C.: Finance & Development, Vol. 35 No. 2, June, pp. 2-5. Greenwood, J. 1997. The Lessons of Asia s Currency Crisis , Hong Kong: The Asian Wall Street Journal, 9 Oktober, hal. 6. Gunawan, A.H., Sri Mulyani I.. 1998. Krisis Ekonomi Indonesia dan Reformasi (Makr o) Ekonomi , makalah pada Simposium Kepedulian Universitas Indonesia Terhadap Tatanan Masa Depan Indonesia , Kampus UI, Depok, 30 Maret - 1 April.

Krisis Moneter Indonesia : Sebab, Dampak, Peran IMF dan Saran 23 Hartcher, P., C. Ryan. 1998. w, May 21. The IMF Turns Off the Tap , Australian Financial Revie

Hollinger, W.C. 1996. Economic Policy under President Soeharto: Indonesia s Twenty -Five Year Record, the United States-Indonesia Society. IMF. 1997. IMF Approves Stand-By Credit for Indonesia , Washington, D.C., Press Release No. 97/50, November 5. IMF. 1997. IMF Approves Stand-By Credit for Indonesia , Press Release No. 97/50, November 5. IMF. 1998. World Economic Outlook, Washington, D.C., May. IMF. 1999. Indonesia, Supplemetary Memorandum of Economic and Financial Policies,

Fourth Review Under the Extended Arrangement , March 16. IMF Research Department Staff. 1997. Capital Flow Sustainability and Speculative Currency Attacks , Finance and Development, Washington, D.C.: World Bank, December , hal. 8-11. IMF Staff. 1998. The Asian Crisis: Causes and Cures , Washington, D.C.: Finance & Development, Vol. 35 No. 2, June, pp.18-21. IMF Cairkan Semilyar Dollar AS , Jakarta: Kompas, 6 Mei 1998. IMF Mulai Sadar Transparensi , Jakarta: Kompas, 13 Mei 1998, hal. 9. Indonesia - IMF Agreement on Economic Reforms , January 15, 1998. Indonesia - Supplementary Memorandum of Economic and Financial Policies , Jakarta, April 10, 1998. Institute of Developing Economies (IDE). 1997. 1998 Economic Outlook for East As ia, Tokyo, December 9. Kitamura, K.; T. Tanaka (editors). 1997. Examining Asia s Tigers, Nine Economies Challenging Common Structural Problems, Tokyo: Institute of Developing Economies , IDE Spot Survey. Korea Letter of Intent, February 7, 1998, Krause, L.B. 1994. The Pacific Century: Myth or Reality?, the 1994 Panglaykim Me morial Lecture, Jakarta: CSIS.

24 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Maret 1999 Krugman, P. 1994. The Myth of Asia s Miracle , Foreign Affairs, November/December, hal. 62-77. _________. 1997. Currency Crisis . _________. 1998a. What Happened to Asia , The Economist, January. Dimuat di Kompas dengan judul Di Balik Terjadinya Krisis Keuangan Asia , 27 Januari, hal. 17. __________. 1998b. Saatnya Dipertimbangkan Solusi Alternatif , Jakarta: Kompas, 28 Agustus, hal. 3. Montes, M.F. 1998. The Currency Crisis in Southeast Asia, Singapore: ISEAS, 3rd updated reprint. Nasution, Anwar. 1997. Lessons from the Recent Financial Crisis in Indonesia , makalah pada 1997 Economics Conference , diselenggarakan bersama oleh USAID, ACAES, LPEM-FEUI, Jakarta, 17-18 Desember. Radelet, S., J. Sachs. 1998. Why Not Let the Banks Own the Debtor Firms? , The Sunday Times, Singapore, July 26, p. 28-29. RI-IMF Hasilkan Memorandum Tambahan , Jakarta: Kompas, 9 April 1998. Saran Ali Wardhana untuk Atasi Krisis, Ada yang Harus Dilakukan dan yang Harus Dihindari , Jakarta: Kompas, 26 Agustus 1998, hal. 3. Schuman, M., N. Cho. 1997. South Korea, IMF Agree on Bailout; Economy Is Slated f or Rapid Change , Hong Kong: The Asian Wall Street Journal, December 4. Sender, H.1997. What s a Fund for? , Hong Kong: Far Eastern Economic Review, September 25, hal. 140-2. Soros, G. 1998. The Crisis of Global Capitalism , Hong Kong: The Asian Wall Street Journal, September 16. Stiglitz, J. 1998. Restoring the Asian Miracle , Hong Kong: The Asian Wall Street J ournal, February 2, hal. 8. Sri Mulyani Indrawati. 1998. Kesepakatan Ketiga , Gatra, No. 25 Tahun IV, Jakarta, 9 Mei, hal. 72-3. Tarmidi, L.T. 1998a. APEC dan Krisis Moneter di Kawasan Asia Timur , majalah Global, Jakarta, No. 5, hal. 31-38. ___________. 1998b. Krisis Moneter Tahun 1997/1998 dan Peran IMF, pidato penguku han Guru Besar Madya Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta, 10 Juni.

Krisis Moneter Indonesia : Sebab, Dampak, Peran IMF dan Saran 25 ___________. 1998c. APEC and the Monetary Crisis in East Asia , paper presented at the APEC Study Centre Consortium Conference, Bangi, Malaysia, August 11-13. Thailand Letter of Intent, February 24, 1998. Utang Swasta Sekitar 64 Milyar Dollar AS , Jakarta: Kompas, 2 Mei 1998. Wessel, D., B. Davis. 1998. Crisis Crusaders, Would-Be Keyneses Debate How to Fight Global Woes , Hong Kong: The Asian Wall Street Journal, September 28, hal. 1 , 16. Wessel, D., D. McDermott, G. Ip. 1997. Money Trail: Who Ruptured the Rupiah , Hong Kong: The Asian Wall Street Journal, December 31, hal. 1, 22. World Bank. 1994. Indonesia: Stability, Growth and Equity in Repelita VI, May 27 . __________. 1996. Indonesia, Dimensions of Growth, Report No. 15383-IND, May 7. __________. 1997. Indonesia, Sustaining High Growth with Equity, Report No. 1643 3IND, May 30. __________. 1998. Indonesia in Crisis, A Macroeconomic Update, draft Report, Jul y 2.

Pendekatan Too-Big-To-Fail (TBTF) yang sejak beberapa waktu terakhir telah menimbulkan inkonsistensi dalam proses penjaminan diharapkan dapat dihilangkan o leh konsep ini. Konsep ini ju ga mengupayakan adanya perlakuan yang sama untuk bank-bank besar dan bank-bank kecil dalam mempe r-oleh penjaminan. Dengan merujuk pada ide yang dilontarkan Bert Ely t entang CrossGuarantee. Bank Indonesia . konsep Cross-Guarantee juga akan mengakibatkan pe rubahan yang sangat mendasar terhadap seluruh pola dan praktek penjaminan dan pengawasan bank yang sudah dijalankan selama ini. *) Maulana Ibrahim : Kepala Urusan Pengawasan Bank 2. konsep ini sangat progresif dalam hal memperca yakan penyelenggaraan penjaminan kepada mekanisme pasar dan meniadakan intervensi peme rintah.Konsep Cross-Guarantee dalam Program Penjaminan dan Kemungkinan Penerapannya di Indonesia 31 KONSEP CROSS-GUARANTEE DALAM PROGRAM PENJAMINAN DAN KEMUNGKINAN PENERAPANNYA DI INDONESIA Maulana Ibrahim dan Agusman *) Tulisan ini mencoba mengetengahkan salah satu bentuk pikiran alternatif dalam pr ogram penjaminan yang dikenal dengan konsep Cross-Guarantee. Sangat berbeda dengan kon sep-konsep lainnya dalam program penjaminan. Sebagai suatu konsep yang ditujukan untuk mengatasi berbagai kelemahan deposit i nsurance scheme yang berlaku sekarang ini. sekal igus mempelajari kemungkinan penerapannya di Indonesia. Urusan Pengawasan Bank 2. Bank Indonesia Agusman : Pengawas Bank. dalam tulisan ini akan didalami prinsip-prinsip dasar yang terkandung dalam konsep tersebut beserta pengaruhnya terhadap pola penjaminan dan pengawasan bank. Apabila diterapkan sepenuhnya. maka konsep Cross-Guarantee menekankan penting nya penggunaan pendekatan risk-sensitive analysis dalam penetapan besarnya premi. sehingga mengarah sepenuhnya pada swastanisasi baik penyelenggaraan penjaminan m aupun pelaksanaan pengaturan dan pengawasan bank yang menyertainya.

Balino. serta mencoba mempelajari kemungkinan penerapannya di Indone sia. khususnya karena tidak sebandin gnya nilai premi dengan cakupan penjaminan disamping adanya peluang untuk melakukan moral hazard. tindakan darurat (emergency measu res) yang dilakukan bank sentral dapat berupa pemberian fasilitas lender of last resort. namun untuk jangka panjang tampaknya perlu dicari alternatif lain yang memungkinkan terselenggaranya program penjaminan yang efisien dan efektif. hal tersebut barangkali masih dapat dite rima. Pencarian kemungkinan alternatif lain program penjaminan merupakan hal yang perlu dilakukan secara terus menerus. Untuk mendalami masalah ini lebih lanjut lihat tulisan mereka berdua dalam Banking Crises: Cases and Issues. Untuk tindakan darurat1 . skim program penjaminan yang dipilih pemerintah tersebut ternyata lebih bersifat blan ket guarantee (penjaminan menyeluruh). Editor: V. Di Amerika Serikat sendiripun upaya pencar ian tersebut masih tetap dilakukan meskipun program penjaminannya dianggap telah jau h lebih maju dan mapan. seorang pakar deposit insurance telah mengemukakan konsep Cross-Guarantee sebagai salah satu a lternatif. intervensi terha dap bank-bank/lembaga keuangan bermasalah dan pembentukan deposit insurance.Sundararajan dan Tomas . Dalam Konferensi mengenai Bank Structure and Competition y ang baru-baru ini diadakan oleh Federal Reserve Bank of Chicago. telah mencoba mengkaji kemungkinan penggantian ketentuan blanket guarantee tersebut dengan deposit protection scheme. Bert Ely3 . Kusumaningtuti (1999)2 misalnya. Kritikan tersebut perlu ditanggapi karena FDIC 1 Menurut V.Sundararajan dan Tomas J.32 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Maret 1999 Pendahuluan P P rogram penjaminan merupakan salah satu kebijaksanaan yang diambil pemerintah untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada sistem perbankan nasional yang sempat terganggu karena parahnya krisis ekonomi dan keuangan yang dihadapi Indonesia sejak paroh kedua tahun 1997. Tulisan ini mencoba mengetengahkan pikiran-pikiran Bert Ely mengenai konsep Cros sGuarantee tersebut. Ditinjau dari karakteristiknya.T. Sulit untuk memungkiri bahwa skim penjaminan pemerintah yang bersifat menyeluruh itu akan sangat memberatkan keuangan pemerintah. Dalam hubungan ini . Latar Belakang Konsep Cross-Guarantee Konsep Cross-Guarantee muncul antara lain karena adanya berbagai kritik dan ketidakpuasan terhadap skim penjaminan yang diterapkan pada Federal Deposit Insu rance Corporation (FDIC) di Amerika Serikat.

. No. 2 Kusumaningtuti S. Bank Indonesia. Washington.C.3..Balino. .T. The Cross-Guarantee Concept and Interbank Markets. Ketentuan Blanket Guarantee dan Kemungkinan Penggantianny a dengan Deposit Protection Scheme. D. 7 Mei 1999. Paper dalam The 35 th Annual Conference on Bank Structure and Competition .J.S.1. Vol. 1991. 3 Bert Ely. Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Dese mber 1998. International Monetary Fund. The Federal Reserve Bank of Chicago.

000. Pertama. termasuk juga pos pinja man subordinasi. Dengan kata l ain.25%. Sebagaimana diketahui. Meskipun penerapan asas TBTF sangat dimungkinkan berdasarkan konsep Reformasi Deposit Insurance (deposit insurance reforms) yang disetujui Kongres Amerika Ser ikat dan berlaku sejak setelah tahun 1988.100. laba yang diperoleh FDIC cukup besar sehingga ketergantungan pada premi menjadi semakin lebih berkurang. dan sebaliknya5 . Namun dalam prakteknya prinsip tersebut ternyata tidak diterapkan karena dua alasan pokok berikut ini. pada dasarnya yang dijamin oleh FDI C adalah dana pihak ketiga (deposits) maksimum sebesar USD. tampaknya hanya dalam FDIC mengalami kerugian dan deposit growth menekan RR di bawah 1. akan tetapi tetap saja ada kritik bahwa perlak uan khusus tersebut dapat menimbulkan diskriminasi diantara sesama bank.sedangkan non -deposits liabilities seperti pinjaman yang diterima.25% barulah premi akan dinaikkan.. Ole h karena itu. Salah satu hal yang memperoleh kritikan adalah mengenai ruang lingkup penjaminan FDIC yang cenderung agak kurang konsisten sehubungan dengan penerapan pendekatan Too-Big-To-Fail (TBTF). komitmen dan kewajiban off-balance s heet serta kewajiban antar bank di atas USD. sehingga pada gilirannya dapat merugikan masya rakat penyimpan dana. yaitu bank-bank . seharusnya semakin besar risiko yang ditanggung semakin besar premi. khususnya bagi ban kbank yang Too-Small-To-Safe (TSTS). pendapat an dari penanaman dana oleh FDIC jauh melebihi biaya-biaya operasionalnya. sehingga menimbulkan cross-subsidies. Perhitun gan premi oleh FDIC dinilai kurang mencerminkan risiko yang harus ditanggungnya. Alasan kedua adalah karena jumlah dana yang ditanamkan oleh FDI C telah melebihi ketentuan minimum Reserve Ratio (RR) perbankan sebesar 1. Kritikan berikutnya yang sering ditujukan kepada FDIC adalah berkenaan dengan penetapan premi yang harus dibayar oleh bank-bank yang ikut penjaminan.100. Disamping itu premi yang dikenakan oleh FDIC sekarang ini juga dinilai terlalu berlebihan (overcharging) untuk bank-bank yang sehat dan terlalu kecil (undercha rging) untuk bank-bank yang bermasalah. Namun dalam hal suatu ba nk dinilai TBTF maka seluruh pos kewajibannya akan dijamin.000 tidak dijamin. Sebagaimana layaknya perusahaan asuransi.Konsep Cross-Guarantee dalam Program Penjaminan dan Kemungkinan Penerapannya di Indonesia 33 sekarang ini menghadapi risiko yang lebih besar dibandingkan dengan periode-peri ode sebelumnya4 .

hal. hal. Tahun 1994. Hal ini diungkap dalam tulisan Yoram Landskroner dan Jacob P aroush.yang 4 Adanya risiko yang lebih besar tersebut antara lain dikemukakan oleh Jin-Chuan Duan. 531-552.Sealey dalam Deposit Insurance and Bank Interest Rate Risk: Pricing and Regul atory Implications .1091-1108. No. Journal of Banking & Finance.19 Tahun 1995. Journal of Banking & Finance. . 5 Ide agar FDIC menetapkan premi sebagaimana layaknya perusahaan asuransi swasta mula-mula sekali dilontarkan oleh Merton (1977). No. Arthur F. Deposit Insurance Pricing and Social Welfare . Moreau dan C.W.18.

rapid growth. Kritikan lainnya adalah mengenai masih terbukanya peluang untuk melakukan moral hazard dalam sistem yang berlaku sekarang. weak internal controls dan execessi ve exposure to emerging speculative bubbles. Melalui premi yang mereka bayar. Maret 1999 sehat membayar kewajiban bank-bank yang tidak sehat.34 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. meskipun belum seutuhnya. Struktur seperti ini ternyata dapat mengakibatka n terjadinya regulatory moral hazard pada tingkat pembuat ketentuan. Menurut Bert Ely. Perubahan-perubahan tersebut dapat mencakup aspek penyelenggara. Mekanisme Cross-Guarantee ini memiliki kemiripan dengan mekanisme yang berlaku pada Standby Letter of Credits. Karakteristik Sistem Cross-Guarantee dalam Penjaminan Terlepas dari berbagai kritik terhadap skim penjaminan FDIC sebagaimana dikemukakan di atas. Sekarang ini FDIC menggunakan 2 (dua) alat ukur risiko yaitu Capital Lev els dan CAMEL Rating. khususny a dalam hal terdapat multiple participant. seharusnya alat ukur yang digunakan adalah leading indicators of banking risks seperti risk mismatches. lemba ga penjamin. Penerapan konsep Cross-Guarantee dalam program penjaminan memer-lukan perubahan mendasar terhadap skim penjaminan dan pola pengawasan bank yang sedang berjalan. ruang-lingkup penjaminan. dan potensial untuk beru bah menjadi real moral hazard pada tingkat FDIC. bank-bank yang ikut program penjaminan FDIC pada hakekatnya saling menjamin satu-sama lain. Colorado pada bulan J uli 1998. secara implisit konsep Cross-Guarantee sebenarnya sudah mel ekat pada FDIC. namun pendekatan ini dinilai kurang ideal dalam perhitungan premi. su . Contoh yang paling baru dari fenomena regul atory moral hazard ini adalah dalam hal kegagalan BestBank di Boulder. Hal ini erat kaitannya deng an belum diterapkannya secara penuh prinsip risk-sensitive premium sebagaimana yang dipersyaratkan oleh Section 302 FDICIA6 serta penggunaan alat ukur risiko yang b elum sesuai. sedangkan pihak lain yaitu birok rasi pemerintah (regulator) berkewajiban untuk meminimumkan kerugian FDIC dan mencega h kegagalan bank (bank failures). kar ena masing-masing bank-bank yang dijamin (insured banks) pada akhirnya menjadi pihak yang bertanggung jawab terhadap semua kerugian yang terjadi apabila ada bank-bank yan g mengalami kegagalan usaha (failed banks). Hal ini terjadi karena pada satu piha k FDIC memiliki kekuasaan besar dalam penentuan premi. bentuk kontribusi dari bank yang dijamin.

6 FDICIA singkatan dari FDIC Improvement Act.mber pembayaran klaim.721-722.Kaufman. hal. lembaga lain y ang terlibat dan lain-lain. Selanjutnya lihat George G. No. FDICIA and Bank Capital n 1995. apabila diterapkan secara penuh maka ketentuan yang tercakup dalam FDICIA dapat efektif menurunkan moral hazard.19. ketentuan perbankan. Pada Lampiran-1 disajikan perbandingan antara Cross-Guar antee dengan skim penjaminan deposit insurance konvensional untuk masing-masing aspek tersebut. dalam Journal of Banking & Finance.Kaufman. Menurut George G. pelaksana pengawasan bank. Tahu .

Dengan cara ini. Jumlah modal yang tersedia untuk menyerap kerugian juga akan semakin besar dan semua itu terjadi atas dasar komit men sukarela (committed voluntarily). Sebuah lembaga baru yang disebut Cross Guarantee Regulation Corporation (CGRC) h arus dibentuk. Syndicate agent ini selanjutnya akan menggantikan fungsi pengawas dan pemeriksa bank yang ada sekarang. Apabila direct guarantor gagal memenuhi kewajibannya maka guarantor dari direct guarantor tersebut harus bertanggungjawab. minimal untuk menyelesaikan kewajiban cross-guarantee da . Setiap penjamin (guarantor) harus dijamin oleh penjamin-penjamin lainnya dalam suatu sistem cross-guarantee. selur uh kerugian karena bangkrutnya suatu bank akan langsung diserap oleh modal bank-ban k yang ada dalam sistem perbankan suatu negara. Lembaga ini berfungsi untuk memastikan bahwa perjanjian penjaminan (cr ossguarantee contract) yang disepakati para pihak telah sesuai dengan aturan penyebaran risiko (risk dispersion rule) serta ketentuan-ketentuan lainnya. Penunjukan syndicate agent ini dilakukan secara terbuka sehingga a kan mendorong adanya kompetisi yang sehat dan efisiensi.Konsep Cross-Guarantee dalam Program Penjaminan dan Kemungkinan Penerapannya di Indonesia 35 Agar konsep Cross-Guarantee tersebut dapat diimplementasikan dalam praktek maka perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: a. secar a accrual accounting setiap direct guarantor akan langsung mengakui dan mencatat kerugian sebesar share yang harus ditanggungnya apabila bank yang dijaminnya mengalami kegagalan usaha. Direct guarantor akan melakukan pembayaran dengan menggunakan general fun ds (cadangan umum) yang merupakan salah satu unsur modalnya. Perjanjian ini ak an berfungsi sebagai pengganti ketentuan perbankan yang berlaku sekarang. Dengan demikian. akan terjadi pergeseran dari government regulation and deposit insuran ce kepada contractual regulation and guarantees (swasta). Selanjutnya. Setiap bank diberi kebebasan untuk menentukan sendiri penjaminnya (direct guaran tornya). b. Untuk memastikan bahwa bank-bank yang dijamin mematuhi cross-guarantee contract maka sebuah perusahaan swasta yang disebut syndicate agent akan disewa. Bank yang dijamin (insured bank) selanjutnya akan melakukan pembicaraan dengan direct guarantor-nya untuk mencapai kesepakatan-kesepakatan yang akan dituangkan dalam bentuk perjanjian penjaminan (cross-guarantee contract). d. Perlu kiranya dikemukakan bahwa aturan penyebaran risiko (risk dispersion rule) merupakan salah satu pilar penting dalam konsep Cross-Guarantee. c. Aturan ini menc akup hal-hal sebagai berikut: . Secara bersama-sama para direct guarantor akan membentuk suatu sindikat direct guarantor (lihat Lampiran-2).

.ri setiap penjamin. Dengan demikian setiap dolar kerugian pasti akan dapat diselesa ikan oleh bank-bank yang berada dalam himpunan para penjamin (the universe of guarant ors).

memenuhi aturan penyebaran risiko (risk dispersion rule) serta ketentuan-ketentu an lainnya yang dianggap penting oleh para pihak. . sehingga penjaminan akan terlaksana sec ara efisien dan efektif. Yang perlu dijaga adalah agar perjanjian dimaksu d sudah memperhitungkan premi atas dasar sensitivitas terhadap risiko (risk-sensitive pr emium). Untuk memastikan bahwa tidak akan pernah ada suatu bank mengalami kegagalan usaha karena menjadi penjamin maka perlu diberlakukan suatu standard stop-loss r ule. Sebagai aturan yang akan menggantikan pru dential regulation maka perjanjian penjaminan harus dibuat sedemikian rupa agar dapat me nampung prinsip kehati-hatian. . Oleh karena itu . Setiap perjanjian penjaminan (cross guarantee contracts) harus menyebutkan jum lah minimum para penjamin dan persentase risiko yang ditanggung mereka masing-masing . Secara aggregat. Maret 1999 . Karena adanya kebebasan dalam proses merumuskan mekanisme penjaminan untuk setiap bank. 7 Dalam hal ini premi merupakan proxy terbaik dari cross-guarantee risk. yaitu in sured banks dan direct guarantor-nya. maka konsep Cross-Guarantee dipandang lebih berori entasi ke depan dibandingkan dengan konsep penjaminan (FDIC) yang berlaku sekarang. agar dapat terlaksana dengan baik. baik untuk setiap bank maupun secara aggregat. Skim penjaminan berbasiskan pasar tersebut diha rapkan dapat mengeliminir intervensi dari pemerintah.36 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. penerapan konsep CrossGuarantee akan menimbulkan pergeseran peranan dari pemerintah kepada pihak swast a dalam melakukan penjaminan serta pengaturan dan pengawasan bank. . Demikian pula penentuan perjanjian penjaminan (cross -guarantee contract) sepenuhnya diserahkan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Cross-Guarantee memerlukan peran aktif dari p ihak swasta untuk mewujudkan suatu skim penjaminan yang diarahkan oleh kekuatan pasar (market-driven cross-guarantee). Manfaat Swastanisasi Penjaminan melalui Cross-Guarantee Sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya. yang menyatakan bahwa apabila satu penjamin mengalami kerugian cross-guarantee melebihi lima kali premi yang diperolehnya dalam setahun maka kewajiban crossgua ranteenya harus dialihkan kepada direct guarantor-nya. Semangat untuk melakukan privatisasi penjaminan melalui Cross-Guarantee jelas terlihat sejak awal penentuan bank penjamin (direct guarantor) yang dilakukan se cara sukarela (voluntary) dan demokratis. Setiap penjamin bertanggungjawab sebatas jumlah risiko cross-guarantee yang ditanggungnya. s etiap bank penjamin tidak diperkenankan menerima pendapatan dari premi7 dalam setahun melebihi 3 (tiga) persen dari total modalnya.

.

kegiatan kontrol atau pengawasan akan semakin lebih ketat karena langsung dilakukan oleh kekuatan pasar. asal bank-bank tersebut dapat menemukan direct guarantor-nya. insured banks dapat membuat berbagai ketentuan yang mengatur dirinya secara spes ifik berdasarkan kesepakatan dengan direct guarantor-nya.Konsep Cross-Guarantee dalam Program Penjaminan dan Kemungkinan Penerapannya di Indonesia 37 Dengan swastanisasi penjaminan dan pengawasan bank maka nantinya tidak akan ada lagi fenomena satu ketentuan yang berlaku untuk semua (one-size-must-fit-all g overnment regulation) yang selama ini merupakan salah satu kelemahan inheren dari ketentua n perbankan yang dibuat pemerintah. Persaingan sehat juga akan terjadi diantara sesama syndicate agent yang akan ber fungsi sebagai pengganti pengawas dan pemeriksa bank yang ada sekarang. Atas dasar konsep Cross-Guarante e ini. unexpired leases dan kewajiban yang . Pada p ihak lain. Konsep Cross-Guarantee juga memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi insured banks untuk berdiskusi dan bernegosiasi dengan direct guarantor-nya untu k segala hal termasuk mengenai masa depan bank tersebut. Dengan menggunakan konsep Cross-Guarantee. maka transaks itransaksi non-funding obligations seperti account payment. Hal ini pada gil irannya dapat mendorong kompetisi yang sehat diantara sesama perusahaan syndicate agent dan mendorong efisiensi pekerjaan penjaminan. Karena kemungki nan akan banyak perusahaan syndicate agent yang muncul maka direct guarantor diberi keleluasaan dalam menentukan syndicate agent yang mereka pilih. Dalam praktek selama ini sering ditemukan adan ya beberapa ketentuan yang sulit diterapkan karena bersifat terlalu umum dan kurang mempertimbangkan karakteristik individual bank. Tanpa memandang besar kecilnya suatu bank. pendekatan TBTF menjadi tidak relevan sama sekal i dalam konsep Cross-Guarantee. mereka akan di jamin sebagaimana layaknya bank-bank lainnya. Manfaat berikutnya dari konsep Cross-Guarantee dapat ditinjau dari segi ruang lingkup penjaminannya. Hal-hal tersebut akan membua t persaingan dalam industri perbankan akan semakin ketat dan mendorong efisiensi b esarbesaran dalam sektor keuangan. Hal ini pada gilirannya akan mem buat strategi business dan perencanaan bank menjadi semakin tajam dan terarah. tetapi j uga menjalar kepada bank yang menjadi direct guarantor. Apabila suatu bank memperoleh penilaian yang jelek dari pas ar maka yang akan menanggung akibatnya bukan hanya bank yang bersangkutan saja. Oleh karena itu.

8 Pengecualian hanya terjadi dalam hal TBTF. .muncul karena tuntutan hukum akan dapat ikut dijamin. maka dalam crossguarantee. Kewajiban yang tidak dapat dijamin hanyalah pinjaman subordinasi karena memiliki karakteristik campuran (hybrid) hu tang dengan modal. karena ada kemungkinan pinjaman sub ordinasinya juga akan ikut dibayar. tergantung pada bobot permasalahan bank yang TBTF tersebut. Sama halnya dengan program penjaminan biasa. unsur modal juga tidak dijamin8 .

. Disamping itu pelua ng untuk moral hazard juga besar karena unsur keadilan yang kurang terpenuhi yang t ercermin antara lain dari gejala cross-subsidies dimana bank-bank yang sehat membayar kew ajiban bank-bank yang tidak sehat. padahal kemampuan keuangan pemerintah sendiri sudah sangat terbatas. Kemungkinan Penerapan Konsep Cross-Guarantee di Indonesia Skim penjaminan yang sekarang ini diterapkan di Indonesia masih mengandung berbagai kelemahan baik pada tingkat konsep maupun pada tingkat pelaksanaan. Hal ini pada gilirannya memungkinkan terselengga ranya suatu Sistem Pembayaran yang bebas risiko (risk-free basis). Maret 1999 Manfaat lainnya dari konsep Cross-Guarantee adalah adanya kesempatan untuk melakukan penyesuaian secara cepat terhadap perhitungan premi berdasarkan kekuat an pasar. Sistem Kliring akan terbebas dari risik o tidak dibayarnya tagihan antar bank karena adanya jaminan bahwa direct guarantor masin g-masing bank pada akhirnya akan bertanggungjawab sesuai perjanjian penjaminan (cross-gua rantee contract) yang mereka sepakati. Pengaruh terhadap Pasar Antar Bank dan Sistem Pembayaran Cross-guarantee dapat menghilangkan counterparty risk yang selama ini melekat da lam transaksi antar bank (lihat Lampiran-3). terdapat pula indikasi bah wa dalam praktek tidak seluruh aspek penjaminan dapat terlaksana. Dalam hal ini besarnya premi dapat langsung dibicarakan oleh masing-masing bank dengan dir ect guarantor-nya. Penggunaan konsep Cross-Guarantee ini juga dapat mendorong penggunaan secara luas net settlement procedures dalam Sistem Pembayaran. untuk melaksanakan penjaminan transaksi off-balance sheet derivatives perlu ada buktibukti bahwa transaksi itu genuine. karena bersifat blanket guarantee (jaminan menyeluruh) maka skim tersebut dapat mengakibatkan beban yang sangat berat bagi keuangan pemerintah. Perhitungan tersebut akan mencerminkan risk-sensitivity dari bank yang di jamin dan diharapkan dapat disesuaikan segera baik secara bulanan atau mingguan.38 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. sesuatu yang sangat sulit dibuktikan kecuali oleh p erbankan sendiri. Pad a tingkat konsep. Sebagai contoh. Dengan adanya kemungkinan untuk melakukan perhitungan premi berdasarkan kecenderungan pasar tersebut maka cross-subsidies yang inheren dalam skim penjaminan yang ada sekarang diharapkan akan dapat dihilangkan. Pada tingkat pelaksanaan. Bagi bank sentral hal in i akan sangat menguntungkan karena net settlement procedures tersebut dapat lebih efisien dari real-time gross settlement .

karena hakekat persoalan penja minan dikembalikan secara utuh kepada pelaku pasar sendiri yaitu antara bank-bank yang . konsep Cross-Guarantee tampaknya dapat menjadi salah satu alternatif jalan keluar.Sehubungan dengan hal-hal tersebut di atas.

apalagi dalam situasi krisis seperti sekarang. business strategy dan prudential regulation untuk dituangkan dalam semacam perjanjian yang mengikat me reka secara bersama-sama ?. yai tu untuk mencegah kegagalan pasar perbankan (banking market failure) dan untuk membangkit kan kembali kepercayaan masyarakat serta menghentikan bank runs9. v Apakah sistem informasi yang terdapat pada masing-masing bank dan secara nasiona l telah sanggup menyediakan data/informasi yang diperlukan untuk penetapan premi yang sensitif terhadap risiko ? v Apakah pihak otoritas pengawas yang ada sekarang berkenan menyerahkan fungsinya pada mekanisme pasar melalui syndicate agent dan dapat menerima keberadaan Cross Guarantee Regulation Corporation (CGRC) sebagai lembaga yang akan memverifikasi perjanjian penjaminan (cross-guarantee contract) ?. yang k ontra lebih melihat dari sisi kesiapan perbankan dan kalangan pemerintahan kita dalam menera pkan konsep dimaksud. penerapan konsep Cross-Guarantee di Indonesia dapat menimbulkan pro dan kontra. Mereka yan g pro mungkin lebih didasarkan atas adanya peluang besar untuk meringankan beban keuan gan pemerintah. Meskipun dapat dipandang sebagai salah satu alternatif jalan keluar.Konsep Cross-Guarantee dalam Program Penjaminan dan Kemungkinan Penerapannya di Indonesia 39 bertransaksi. Namun demikian perlu kiranya diingat agar pemilihan konsep Cross-Guar antee tersebut hendaknya tidak terlepas dari tujuan utama dari program penjaminan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas cukup relevan untuk kondisi Indonesia dan memerlukan jawaban-jawaban yang tidak sederhana. sehingga mereka perlu saling menjamin dan saling menjaga kestabila n sistem perbankan. Pengkajian lebih lanjut sangat . Hal yang terakhir ini tampaknya ada benarnya juga karena untuk sampai pada konsep Cross-Guarantee perlu dijawab terlebih dahulu pertanyaan-pertanyaan berikut ini: v Apakah bank-bank di Indonesia sudah sedemikian sehat dan kuat sehingga mampu untuk saling menjamin (cross-guarantee) sesama mereka ? v Apakah bank-bank di Indonesia sudah cukup dewasa untuk mendiskusikan sendiri sesama mereka hal-hal yang berkenaan dengan penjaminan. Pertanyaan ini cukup penting mengingat selama ini bank-ba nk di Indonesia sangat tergantung pada petunjuk dan arahan yang diberikan oleh otor itas moneter sebagai pengawas dan pembina bank-bank. Sementara itu.

The Risk of D epository Institution Failure and The Role of Deposit Insurance dalam Banking Deregulation and The New Competit ion in Financial Services. Cambridge Massachusetts.Fraser. 9 Mengenai hal ini lihat misalnya Kerry Cooper dan Donald R. 1984. .diperlukan untuk mencegah pengambilan keputusan yang keliru yang dapat berakibat kontraproduktif terhadap masa depan sistem perbankan dan sektor keuangan negara kita. Ballinger Publishing Company.

George G.Sundararajan dan Tomas J. Cambridge Massachusetts. International Monetary Fund. Ketentuan Blanket Guarantee dan Kemungkinan Penggantiannya dengan Deposit Protection Scheme. The Federal Reserve Bank of Chicago.Balino. hal. Kerry Cooper and Donald R. Kusumaningtuti S.18. hal.19. D.1091-1108. Yoram Landskroner dan Jacob Paroush. dalam Journal of Banking & Finance. .S. Washington. 1984.Sealey dalam Deposit Insurance and Bank Interest Rate Risk: Pricing and Regulatory Implications dalam Journal of Ban king & Finance. The Risk of Depository Institution Failure and The Role of Deposit Insurance dalam Banking Deregulation and The New Competition in Financial Services.Kaufman.. Editor V.Sundararajan dan Tomas J. V.531-552.W. No. FDICIA and Bank Capital No. The Cross-Guarantee Concept and Interbank Markets.Moreau and C. No. Ballinger Publishing Company. No. 7 Mei 1999. Vol.3.40 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.T. Jin-Chuan Duan. Arthur F. Deposit Insurance Pricing and Social Welfare dalam Journal of Banking and Finance. Bank In donesia. C..Fraser. Tahun 1994. Banking Crises: Cases and Issues.19 Tahun 1995. Tahun 1995.T.Balino. Maret 1999 Daftar Pustaka Bert Ely.721-722.1. Desember 1998. Paper dalam The 35th Annual Conference on Bank Structure and Competition . 1991. hal. Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.

4 Bentuk kontribusi dari yang dijamin Premi (namun belum memenuhi kriteria "risk-sensitive premium"). Dibentuk lembaga baru yang disebut Cross Guarantee Regulation Corporation (CGRC) untuk memastikan bahwa perjanjian jaminan sudah sesuai aturan penyebaran risiko dan ketentuan lainnya. 3 Ruang-lingkup Penjaminan Terbatas dan sangat subjektif dalam penentuan bank-bank yang "TBTF" (Too-Big-Too-Fail). 8 Lembaga lain yang terlibat Tidak ada lembaga lain yang terlibat kecuali FDIC. kecuali Pinjaman Subordinasi. General funds (general reserves) dari direct guarantors. 6 Pelaksana pengawasan bank Bank Sentral dan FDIC Murni swasta. ASPEK DEPOSIT INSURANCE CROSS-GUARANTEE 1 Penyelenggara Pemerintah Swasta 2 Lembaga Penjamin FDIC Sesama bank. dilaksanakan ole h "Syndicate Agent". 5 Sumber pembayaran klaim Hasil pengelolaan dan penanaman premi pada sektor-sektor yang menguntungkan. Seluruh pos-pos kewajiban. Premi ("risk sensitive premium"). Bank Sentral dan "insured banks". 7 Ketentuan perbankan Prudential regulation konvensional Berdasarkan kesepakatan antara bank yang dijamin (insured banks) dengan direct guarantor-nya ("Contractual Regulation").Lampiran-1 PERBANDINGAN ANTARA CROSS-GUARANTEE DENGAN DEPOSIT INSURANCE KONVENSIONAL No. baik sebagai direct guarantor maupun indirect guarantor. Konsep Cross-Guarantee dalam Program Penjaminan dan Kemungkinan Penerapannya di Indonesia 41 .

......... Permission granted to reproduce with attribution ............................................................... Maret 1999Monitoring fee Obligation to protect competitively sensitive data Syndicate Agent (Independent of any other party) complies with risk dispersion rules and other statutory requirements ....... .......................................... Syndicate of Direct Guarantors Contractual relationship = Bank or non-depository guarantor Contract approval ..........................Lampiran 2 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.................... .......... ............................ ............................. .................................................. 1998 Ely & Company Inc........................................................................... . ......... .............. .. ........... ................. ............................................. ........ ................ ........................................................................................... ....................................... ....................................... .................................... .............. Guaranteed Bank of Thrift Delegation ofmonitoring responsibility Fiduciary responsibilityEnsures that cross-guarantee contract complies with risk dispersion rules and other statutory requirementsCross-guarantee commitment Guarantee premium Ensures that cross-gurantee contract .....

firms. including Clearing syst ems will be able to operate much more efficiently daylight overdraft limits. Clearing Systems Flow of insolvency loss if a clearing system participant becomes insolvent Failure Failure Counterparties (banks. cross-guarantee contracts will ensure payment finality. securities. and collateralized net and safely whe re balances due to clearing system participants debit positions. In effect. bilateral caps.Lampiran 3 Using Cross-Guarantees to Ensure Payment Finality Will Permit Clearing Systems to Operate Much More Efficiently by Eliminating Counterparty Risk Present System In a World of Cross-Guarantees Clearing systems presently utilize a variety of devices. thereby ensuring payment finality. to protect clearing systems participant from a are fully guaran teed by the guarantors of the clearing system s default by a counterparty. stc) that are direct participants in the clearing system Guarantors of counterparties Konsep Cross-Guarantee dalam Program Penjaminan dan Kemungkinan Penerapannya di Indonesia 43 . counterparties.

karena sebagian justru sengaja memacetkan kreditnya. Tergambar pula masih lugu dan mandirinya sifat pengusaha mikro perdesaan nasabah LKM diban ding pengusaha konglomerat nasabah bank umum: apabila kenaikan pendapatan pengusaha mikro perde saan dipakai untuk menambah tabungan dan melunasi tunggakan. waktu pemrosesan kredit. jarak rata-rat a antara lokasi LKM ke lokasi nasabah. bahwa faktor yan g paling mempengaruhi kinerja adalah jarak ke lokasi nasabah dan selang waktu pemrosesan kredit. misalnya: jam kerja. kenangan dan salam perpisahan p enulis kepada Urusan Kredit. Bank Indonesia **) Sumantoro Martowijoyo : Peneliti pada Tim Penyiapan Pusat Pendidikan dan Ris et. suk u bunga tabungan dan suku bunga pinjaman. Indonesia telah menjadi laboratorium bagi penelitian di bidang Lembaga Keuangan Mikro (LKM). Dari hasil analisis dapat diungkapkan. karena memi liki berbagai jenis sejak lama.Kinerja Lembaga Keuangan Mikro dan Perilaku Masyarakat Pedesaan 45 KINERJA LEMBAGA KEUANGAN MIKRO DAN PERILAKU MASYARAKAT PEDESAAN *) Sumantoro Martowijoyo **) Setelah disuguhi banyak topik moneter dengan teknik-teknik analisis canggih ekon ometrika tingkat pascasarjana. ad a Badan Kredit Desa yang didirikan di zaman Belanda. Ukuran kinerja sendiri jauh berbeda dengan kriteria CAMEL yang tidak akan mudah te rcerna oleh kesahajaan lembaga-lembaga tersebut. dan kiranya akan menjadi topik pembica raan tersendiri. *) Bagian dari tulisan yang sedang dalam proses. tulisan ini mengajak pembaca untuk turun ke dunia nyata te mpat sebagian besar saudara kita sebangsa hidup. tidak demikian halnya pengusaha konglomerat. Di luar BRI Unit yang merupakan kisah sukses tingkat dunia. tingkat penghasilan nasabah. Di sini dibahas beberapa faktor yang menggambarkan perilaku masyarakat perdesaa n yang mempengaruhi kinerja lembaga keuangan mikro. di samping berkembangnya kelompok-kelompok swadaya masyarakat sebagai bentuk lembaga keuang an yang paling sederhana di tingkat akar rumput . USDM. Bank Indonesia . Di era pengentasan kemiskinan ini. Badan Kredit Kecamatan di Jawa Tengah.

dan dalam pengembangan LKM melalui Proyek Kredit Mikro yang didanai bersama Asian Development Bank. tanpa melihat status hukumnya. Apabila kebutuhan akan uang tersebut makin terasa dan jumlah yang diperoleh dari arisan terlalu kecil. di samping BRI Unit yang merupakan k isah sukses dunia. terdapat banyak LKM yang semiformal maup un informal di Indonesia. simpanan wajib. Kelompok Swadaya Masyarakat Di Indonesia. Di luar perhatian para penentu kebijakan kita. Kegiatan arisan sudah tumbuh menjamur diperdesaan dan perkotaan dan jumlahnya mungkin melebihi satu juta. dan simpanan sukarela. Lembaga Keuangan Mikro di Indonesia Selain lembaga yang formal seperti BRI Unit dan BPR yang secara hukum diakui sebagai lembaga keuangan formal (bank). Maret 1999 Latar Belakang D D engan disepakatinya ikrar dalam Microcredit Summit di Washington DC Amerika Serikat pada tahun 1997 untuk membebaskan 100 juta penduduk dunia dari kemiskinan. Dengan begitu. . timbullah gagasan untuk menambah jumlah dan jenis uang set oran menjadi simpanan pokok. kegiatan yang dilakukan secara kelompok sudah merupakan budaya masyarakat yang berazaskan paguyuban.46 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Model Grameen Bank Bangladesh direplikasikan di manamana. dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat (LSM) bergiat membina keswadayaan masyarakat melalui kelompok-kelompok swadaya masyarakat (KSM). 1 banyak pula yang menyebutnya rural financial institutions (RFI) atau lembaga k euangan pedesaan (LKP). Dalam pengembangan KSM Bank Indonesia ikut berkiprah melalui Pengembangan Hubungan Bank dengan Kelompok Swadaya Masyarakat (PHBK) yang gagasannya berasal dari APRACA (Asia Pacific Rural and Agricultural Credit Assoc iation). para pakar merekomendasikan prinsip keswadayaan dan kesehatan (viability) dari progra mprogram pengentasan kemiskinan. pencarian model lembaga keuangan mikro1 yang tepat untuk melayani rakyat miskin dilakukan di mana-mana. Indonesia sebetulnya sudah lebih maju dalam pencipt aan lembaga keuangan mikro sejak zaman Belanda. tapi untuk Indonesia karena lokasinya banyak pula di perkotaan maka dipilih istilah y ang dikenal sejak Summit ini. Tiga lembaga yang dipilih adalah yang efektif beroperasi di tingkat akar rumput dan menerapkan prinsip suku bunga pasar yang terbukti lestari. Setelah dua dasawarsa diwarnai kr editkredit murah bersubsidi yang sebagian tidak jatuh ke tangan kelompok sasaran dan mengakibatkan merosotnya kinerja serta moralitas lembaga keuangan pelaksananya.

konotasinya terkait dengan kemiskinan .Istilah mikro selain menunjuk skala yang lebih kecil dari yang kecil.

Pembukuan dilakukan oleh Juru Tata Usaha (JTU) yang bekerja untuk 6 BKD secara bergilir (BKD umumnya buka sekali seminggu pada hari atau hari pasaran tertentu) . memungut bunga berupa jasa . 1995). banyak LSM yang lahir dan tumbuh untuk dapat menangkap bantuan dari badan atau LSM internasional. Berkembangnya KSM di Indonesia tidak lepas dari berkembangnya lembaga swadaya masyarakat (LSM) dari tahun 1960-an sampai awal 1990-an yang jumlahnya diperkira kan antara 1000-2000 buah (Saidi. Lumbung desa mengumpulkan padi untuk diberikan sebagai pinjaman berupa padi kepada petani di saat mereka membutuhkan. Selama zaman Belanda sistem BKD telah berfungsi dengan baik sebagai lembag a keuangan bagi rakyat perdesaan. organisasi dan pengelolaan BKD dipertahankan tetap seperti konsep semula yaitu Komisi BKD terdiri dari kepala d esa sebagai ketua komisi (Komisi I) dan 2 orang pemuka masyarakat atau aparat desa sebagai K omisi II dan III. Perkumpulan semacam ini secara tidak sadar sudah berfungsi sebagai lembaga keuan gan perdesaan: menghimpun dana dan memberikan kredit kepada anggota. Seperti halnya di Filipina. di mana untuk peminjaman uang ditarik pula semacam jasa yang dipotongkan dari jumlah pinjaman. pengawasan terhadap BKD sebetulnya ada di tangan Bank Indonesia (BI). Suharto. 357 tahun 1929. berguguran di zaman pendudukan Jepang dan Perang Kemerdekaan.Kinerja Lembaga Keuangan Mikro dan Perilaku Masyarakat Pedesaan 47 perkumpulan arisan telah berubah menjadi koperasi kredit (credit union). Jumlah kredit yang dapat diberikan sampai dengan Rp 400. serta di akhir tahun membagikan dividen bagi para pemegang saham. Sedangkan bank desa menghimpun tabungan berupa uang dan memberikan kredit berupa uang. kemudian mulai tumbuh kembali sesudah kemerdekaan.7 tahun 1992 yang mencabut berlakunya Staatsblad no. BI sendiri meny . 1988) dan keduanya diku kuhkan dengan Staatsblad nomor 357 tahun 1929. Pengawasan terhadap BKD dilakukan secara langsung oleh Mantri BKD yang mewilayah i satu kemantren yang terdiri dari 18 BKD. Sistem kredit BKD sederhana.000 tanpa agunan. Sebagai bank sekunder dalam pembinaan BRI. semata-mata berdasarkan penilaian kelayakan nasabah oleh K omisi I. terutama terdiri dari kredit pasaran dan mingguan y ang berjangka waktu 12 pasar2 atau 12 minggu dengan pembayaran angsuran pokok maupun bunga dengan jumlah yang tetap. Badan Kredit Desa Badan Kredit Desa (BKD) terdiri dari lumbung desa yang didirikan tahun 1897 dan bank desa yang didirikan sekitar tahun 1904 (P. Akan tetapi mengingat banyak faktor. Dengan berlakunya Undang-undang Perbankan No.

etujui BRI meneruskan tugas pengawasannya terhadap BKD dengan bantuan keuangan dari BI. Satu pasar=5 hari (kalender Jawa). 2. kredit pasaran diberikan oleh BKD yang buk anya setiap hari pasaran tertentu .

48 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Maret 1999 Lepas dari suara yang mendiskreditkan BKD, keberadaannya dibutuhkan oleh rakyat dan telah membuktikan kelestarian dan kemandiriannya dalam arti tidak pernah men erima dana maupun subsidi bunga dari pemerintah. Di tengah maraknya kredit Bimas, misa lnya, lumbung desa tetap menjadi sumber kredit bagi rakyat kecil untuk konsumsi sehari -hari (Dibyo Prabowo, 1981). Sebagai LKM, BKD mampu menjangkau masyarakat paling miski n di pedesaan, tercermin dari paling rendahnya jumlah kredit rata-rata BKD dibandi ng beberapa lembaga keuangan mikro yang terkenal di dunia, yaitu sebesar USD 38 di tahun 1993 (Christen, 1995,p.26). Jumlah BKD di Jawa dan Madura tercatat 5345 terdiri dari 4806 yang aktif dan 539 yang tidak aktif (BRI, 1998). Badan Kredit Kecamatan Badan Kredit Kecamatan (BKK) adalah lembaga keuangan yang beroperasi di tingkat kecamatan yang didirikan oleh Pemerintah Daerah Tingkat I Jawa Tengah di awal ta hun 1970an dengan status sebagai suatu proyek, dan kemudian dengan Peraturan Daerah (Perda) No. 11 tahun 1981 dikukuhkan menjadi badan usaha milik daerah. BKK didirikan dengan tujuan: (1) mendekatkan modal pada masyarakat pengusaha miskin di perdesaan dengan cara mudah, murah dan mengarah, (2) menciptakan pemer ataan kesempatan berusaha di pedesaan, dan (3) mendidik masyarakat pedesaan untuk gema r menabung (BP-BKK,1994). Prosedur permohonan kredit kepada BKK cukup sederhana da n untuk jumlah kredit sampai dengan Rp 500.000 tidak diperlukan agunan selain reko mendasi kepala desa. Selang waktu antara saat pengajuan permohonan dengan realisasi kred it untuk nasabah baru paling lama seminggu, sedangkan untuk nasabah ulangan yang lancar pencairan kredit dapat dilakukan pada hari yang sama. Jenis kredit BKK sama dengan BKD, yaitu kebanyakan kredit pasaran, mingguan, bulanan (3 bulan), dan musiman (6 bulan). Sama dengan BKD jumlah angsuran sama s etiap pembayaran, hanya menuruti peraturan BPR, dibukukan terpisah sebagai angsuran po kok dan bunga. Manajemen BKK terdiri dari Pimpinan, Pemegang Kas dan Pemegang Buku. Kinerja manajemen BKK dipantau oleh Camat sebagai penanggung jawab BKK di wilayahnya. Berdasarkan Perda no.11 tahun 1981 Bank Pembangunan Daerah (BPD) Jawa Tengah ditugasi sebagai pembina dan pengawas teknis BKK. BKK diharuskan menyimpan keleb ihan alat likuidnya di BPD, di pihak lain apabila BKK kekurangan modal kerja BPD akan memberikan pinjaman likuiditas. Jumlah BKK di seluruh Jawa Tengah 510, 202 di antaranya sudah berstatus BPR, rat

arata peminjam per unit 978 orang, jumlah pinjaman rata-rata per unit Rp 96 juta dan p er nasabah Rp 132.584 (DAI, 1993)

Kinerja Lembaga Keuangan Mikro dan Perilaku Masyarakat Pedesaan 49 Metodologi Penelitian Penelitian ini dilakukan di lapangan terhadap 105 lembaga keuangan mikro (LKM) di Jawa Tengah, yang merupakan 34 % dari populasi, untuk masing-masing jenis LKM (KSM, BKD, BKK) diambil proporsional berdasarkan jumlah populasinya masing-masin g secara purposif, beserta masing-masing 3 nasabah per LKM yang diambil secara aca k. Analisis data primer dilakukan dengan teknik statistik nonparametrik, pertama de ngan uji Kruskal-Wallis untuk beda populasi dan uji Kendall untuk kesesuaian (concordance ) pemeringkatan faktor-faktor kinerja, kemudiaan untuk hubungan antarfaktor kinerj a dengan korelasi jenjang Spearman3 . Keuntungan penggunaan statistik nonparametrik adala h tidak perlu dibuktikannya kenormalan distribusi data (yang merupakan prasyarat bagi sa hihnya penggunaan statistik parametrik) dan dapat diterapkannya pada sampel kecil atau data kualitatif (Siegel, 1997). Faktor-faktor yang mempengaruhi Kinerja LKM Terdapat beberapa faktor atau variabel yang secara rasional dianggap mempengaruh i kinerja, seperti: umur LKM, jam kerja, jarak rata-rata ke lokasi nasabah (JARAK) , selang waktu pemrosesan kredit (SELANG), penghasilan rata-rata nasabah (RAYNAS), suku b unga tabungan (ITAB), dan suku bunga pinjaman (IPIN). Mengenai kriteria kinerja, dari pengkajian terhadap falsafah dan hakekat LKM ser ta pendapat para praktisi keuangan perdesaan, penulis mengajukan beberapa faktor pe nentu kinerja LKM, yaitu tingkat akses kepada penabung (AKPEN), tingkat akses kepada p eminjam (AKPEM), persentase jumlah penunggak (PERPUNG), efisiensi (biaya usaha per rupia h kredit, BIRUP) dan laba per rupiah kredit (LARAP). AKPEN dan AKPEM adalah masing masing jumlah penabung dan peminjam dibagi jumlah penduduk di wilayah kerja LKM. PERPUNG adalah persentase jumlah penunggak (debitur kredit macet) dari jumlah pe minjam, BIRUP dihitung dari jumlah biaya operasional dibagi dengan saldo pinjaman, sedan gkan LARAP merupakan laba bersih sebelum pajak dibagi saldo pinjaman. Kegunaan kriter ia ini akan dapat dipahami setelah selesai membaca hasil analisis di belakang. N 6 S d2 i=1 i r = 1 -

s N3 - N di mana rs = koefisien korelasi Spearman N = jumlah pasangan observasi d = perbedaan jenjang yang diperoleh dari setiap pasangan observasi

Selang dan Sukubunga Pinjaman terhadap Faktor Kinerja AKPEN AKPEM PERPUNG BIRUP LARP JARAK -. menurunkan laba per rupiah kredit secara sangat signifikan (rs=-0. demiki an pula uji Kendall menghasilkan nilai W yang sangat signifikan.474).000) -.2073(.3406(. Suku bunga pinjaman berpengaruh sangat signifikan terhadap jumlah peminjam (rs=0 .2674(.000) dan biaya per rupiah kredit (rs=0.1325.50 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.3981. Maret 1999 Hasil Analisis Uji Kruskal-Wallis menghasilkan nilai chi-kuadrat yang sangat signifikan. a=0. a=0. berarti bahwa suku bunga pinjaman sudah ada di batas atas.019) -. mengingat banyaknya kredit murah serta persaingan berat dari BRI Unit .076(. Faktor yang berpengaruh paling besar terhadap faktor kinerja adalah jarak antara lokasi nasabah ke kantor atau pos desa LKM (JARAK). a=0.2864.780).000) .109) dan berpengaruh tidak signifikan terhadap laba per rupiah kredit (rs=0.2864(.3981 (. a=0.000). apabila din aikkan akan menurunkan jumlah peminjam dan mengakibatkan meningkatnya jumlah penunggak.003).006).000). 0276. Korelasi antara Jarak.229) -. 3.178). serta peningkatan jumlah penunggak (rs=0.000) SELANG xxxxxx -. a=0.4816. membuktikan bahwa angka rata-rata yang dianalisis memang berasal dari tiga populasi yang berbeda dan pem eringkatan semua faktor kinerja dilakukan secara konsisten.0706.474) .109) xxxxxxx .2674.2073.3406.4816(. Jauhnya jarak berpengaruh sangat signifikan terhadap penurunan jumlah penabung (rs=-0.1183(.006) . a = 0.178) . a=0. 2. a =0. Dari hasil analisis korelasi peringkat Spearman antara variabel nonkinerja denga n faktor penentu kinerja terdapat beberapa temuan yang berhubungan dengan perilaku nasabah.2292.2292(. Lamanya waktu pemrosesan kredit berpengaruh menurunkan jumlah peminjam cukup signifikan (rs=-0. meningkat kan biaya per rupiah kredit secara tidak signifikan (rs=0.1183.1325(.003) IPIN xxxxxxx -. Tabel 1.4959. meningkatka n jumlah penunggak walaupun tidak signifikan (rs=0.000) dan jumlah peminjam (rs=-0. a=0. a=0.4959(. a=0.229.019) juga berpengaruh sangat signifikan dalam penurunan laba per rupiah kredit (rs=-0. berpengaruh cukup signifikan terhadap jumlah penunggak (rs=0.000) . a=0.0276(.780) 1. Faktor lain yang cukup berpengaruh kepada faktor kinerja adalah lamanya waktu pemrosesan kredit (SELANG).

668) (16) .027) . pengaruh penghasilan nasabah terhadap kiner ja tidak begitu signifikan.610) . (c) Walaupun begitu terlihat masih adanya sifat jujur dan mandiri pada pengusaha mikro nasabah BKK dibanding pengusaha besar nasabah bank umum saat ini.2784(. karena jauhnya jarak lokasi LKM akan menyebabkan nasabah malas untuk berhubungan karena besarnya biaya transaksi yang harus ditanggungnya.274).0565(.012) .567) .3412(. Dari sini dapat disimpulkan bahwa pada BKK. terlihat bahwa penghasilan nasabah paling berpengaruh terhadap kinerja BKK.2912. a=0. nasabah yang penghasilannya relatif lebih tinggi mempunyai akses kepada pelayanan tabungan dan pinjaman yang lebih besar dibanding dengan nasabah yang 98.169 di tahun 1992 dan melonjak menjadi Rp 132. yaitu apabila penghasilan pengusaha mikro nasabah BKK meningkat. dapat diungkapkan beberapa temuan yang menarik. a=0.1131(.0025(.0539(. dan jumlah penunggak (rs=-0.985) .196) -.251) (28) -.3412.876) -.456) -. Hal sederhana ini kiranya dapat dimaklumi.2912(.000) -. yaitu biaya angkutan dan hilangnya waktu meninggalkan pekerjaan. Dari analisis mengenai pengaruh penghasilan nasabah dan jumlah tabungan rata-rat a terhadap kinerja. (b) Dilihat per segmen nasabah terdapat perbedaan perilaku apabila penghasilanny a meningkat: nasabah BKD yang relatif kurang mampu lebih suka menabung dan tidak meminjam.349) (61) . jumlah peminjam (rs=0. sama dengan perilaku pengusaha besar nasabah bank umum.1466(.Kinerja Lembaga Keuangan Mikro dan Perilaku Masyarakat Pedesaan 51 dan BPR yang memperoleh fasilitas kredit dari pemerintah.1131(. Tabel 2 Korelasi antara Penghasilan Rata-rata Nasabah dengan Faktor Kinerja untuk Seluruh LKM dan Per Jenis LKM AKPEN AKPEM PERPUNG BIRP LARP LKM KSM BKD BKK (105) -. nasabah BKK yang relatif lebih mampu meningkatkan tabungan tetapi terus memanfaatkan kredit.0 4. sedangkan pengaruhnya pada BKD kurang signifikan.585) .0601(. terutama kepada jumlah penabung (rs=0.516) -.3670(. (a) Dilihat LKM sebagai keseluruhan. 1993).645) .5500(.5500.027).274) .297) . mereka .949) .1245(.0063(.196). a=0. Akan tetapi apabila dianalisis per jenis LKM. Akan tetapi dilihat da ri kuat dan signifikannya korelasi.1281(.339) -.3194(.1840(.0309(.0237(.594 di tahun 1993 (DAI. jarak mempunyai dampak yang lebih kuat terhadap berkurangnya jumlah peminjam dan bertambahnya jumlah penunggak dibandingkan suku bunga pinjaman.

keadaannya justru dibuat seperti telor di ujung tanduk karena banyaknya programprogram kredit murah bersubsidi di perdesaan. maka keputusan pemberian kredit kepada peminjam baru hendaknya dilakukan sesegera mungkin. Mendorong LKM untuk memberikan kredit dalam jumlah yang semakin besar berarti menjauhkan LKM dari nasabahnya yang miskin. 4. tetapi mungkin hanya sekedar meja dan kursi tempat petugas lapangan menemui nasabahnya. Otoritas perbankan hendaknya tidak melarang pembukaan pos pelayanan ataupun memberi sanksi berupa penutupan pos pelayanan ( kantor di bawah kantor cabang ) kepada LKM yang sudah menjadi BPR karena alasan tingkat kesehatan yang tidak baik. Maret 1999 meningkatkan tabungan. karena pengertian kantor di bawah kantor cabang bagi LKM umumnya bukan merupakan gedung atau kantor seperti bank umum. Pengawas BPR hendaknya tidak melihat pemberian kredit dalam jumlah kecil-kecil pada LKM sebagai suatu hal yang tidak efisien atau tidak maju . karena menghambat akses kepada masyarakat yang merupakan sumber dana dan penghasilannya. sedangkan pemrosesan kredit ulangan hendaknya dapat diselesaikan pada hari yang sama. tetapi apabila pendapatan pengusaha konglomerat nasabah bank umum meningkat (dan pasti setiap tarikan napas menghasilkan uang). BKD telah beroperasi selama satu abad dan BKK selama hampir tiga dasawarsa denga n pendekatan pasar yang telah membuat mereka lestari (sustainable) dan mandiri. karena sebagian dari mereka sengaja menunggak dan memacetkan kreditnya.52 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. belum tentu mengurangi jumlah penunggak. terus memanfaatkan kredit dan tidak lupa melunasi tunggakannya. Adanya kredit dari pemerintah untu k BPR condong menguntungkan BPR Gaya Baru yang dimiliki para pemodal berdasi. Implikasi Kebijakan 1. . Mengingat jarak merupakan variabel yang paling mempengaruhi kinerja. oleh karena (a) kriteria CAMEL tidak menampung aspirasi dan misi LKM (tersurat ataupun tersi rat dalam Undang-undang) sebagai pelayan keuangan bagi masyarakat papan bawah. LKM diharapkan membuka sebanyak mungkin pos pelayanan dan/atau mengintensifkan kunjungan lapangan. 2. Mengingat pula bahwa lamanya waktu pemrosesan kredit juga berpengaruh cukup kuat kepada kinerja. 3. seperti terlihat pada gejala pemberian kredit BKK d i atas. (b) pelarangan pembukaan kantor di bawah kantor cabang kiranya dapat dihapuskan. (c) pelarangan/penutupan pos pelayanan justru akan lebih memperparah kinerja LKM . karena hal itu justru sesuai dengan misi LKM membantu pengentasan kemiskinan.

PT Gra media Pustaka Utama-Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia. Sidney. Boulder.(ed). Zanzawi Suyuti & Landung Simatupang. dkk. 1995 Siegel.1997 Suharto. Inc. terj.. Perkembangan BKK dan BPR-BKK. and Subang . LSM dan Kebangkitan Masyarakat. Zaim. Statistik Nonparametrik. Jakarta. May 1993 Dibyo Prabowo dan Sayogyo: The Green Revolution: Sidoarjo. Jakarta. 1981 Saidi. Pandu. LPPI.Gramedia. West Java. Westview Press. July 1995 Development Alternatives. Secangkir Kopi Max Havelaar. 10. Agricultural and Rural Development in Indonesia . Project Completion Report of Technical Support P rovided to the Financial Institutions Development Project (USAID No. Gary E. 31 Maret 1994 Christen.Jakarta. Maximizing the Outreach of Microenterprise Finance. USAID Program and Operations Assessment Report No. East Java.Kinerja Lembaga Keuangan Mikro dan Perilaku Masyarakat Pedesaan 53 memungkinkan mereka menurunkan sukubunga kreditnya sehingga menambah pesaing bagi LKM. Sejarah Pendirian Bank Perkreditan Rakyat. Di era reformasi ini pemerintah seyogianya lebih membina semangat keswadayaan masyarakat dan tidak menggunakan program-program kredit murah sebagai alat politik karena merusak moralitas masyarakat perdesaan yang masih ju jur seperti terbukti dari perilakunya terhadap LKM. Robert Peck. dalam Hansen. Daftar Pustaka Badan Pembina BKK Propinsi Jawa Tengah. 1988 . 497-0341) in Indone sia.

Potensi Perum Pegadaian untuk lebih berperan dalam pemberdayaan ekonomi rakyat d apat dilihat dari keberpihakan terhadap masyarakat berpendapatan rendah (mayoritas na sabah). serta kekurangan lik uiditas juga disebabkan karena obligasi yang diterbitkan untuk membayar obligasi yang jatuh tempo. beberapa kelemahan pro sedur yang berpotensi menimbulkan penyimpangan. kuran g diminati masyarakat. Perum Pegadaian (PP) merupakan salah s atu lembaga keuangan yang masih mampu bertahan. Porsi kredit yang diberikan oleh PP semakin meningkat walaupun secara nominal relatif lebih kecil dibandingkan dua l embaga tersebut. Untuk mengatasi permasalahan tersebut Perum Pegadaian telah menerima bantuan dalam bentuk RDI dari pemerintah dan KLBI. . relatif kecilnya skala kredit yang diberikan (Rp 5. Sedangkan u ntuk meningkatkan efisiensi pembiayaan usaha kecil perlu dikaji kemungkinan pemberian izin bagi perusahaan/lembaga lain untuk bergerak dalam usaha pegadaian. Perum Pegadaian menghadapi permasalahan temporer berupa l onjakan nasabah (puncaknya terjadi pada Juni 1998) yang mendorong Perum Pegadaian melaku kanoverdraft sangat besar atas fasilitas kredit yang diperoleh dari BRI. khususnya sektor perbankan yang berakibat terhentinya aliran kredit perbankan. Rp 20 juta). Dalam masa krisis ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dibandingkan dengan peer-gro upnya (BPR dan BRI Udes) secara umum kinerja PP relatif lebih baik. serta mudahnya prosedur gadai. suku bunga yang dikenakan relatif rendah.000 s.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekono mi Rakyat 55 KEGIATAN USAHA PERUM PEGADAIAN DAN PERANANNYA DALAM MENDUKUNG PEMBERDAYAAN EKONOMI RAKYAT Satrio Wibowo dan Gunawan *) Krisis ekonomi yang terjadi sejak pertengan tahun 1997 telah berdampak luas terh adap segala aspek perekonomian. Dalam kondisi krisis tersebut.d. Permasalahan lain yang bersifat struktural antara lain rentang kendali yang terlalu luas namun tidak ditunjang sistem pengawasan yang memadai. Untuk mewujudkan potensi tersebut terlebi h dahulu harus dibenahi berbagai kelemahan khususnya kelemahan struktural yang ada. bahkan menunjukkan peningkatan kinerja baik operasional maupun keuangan. serta tidak adanya sistem yang mampu mengan tisipasi resiko fluktuasi harga barang jaminan khususnya emas. sistem manajemen yang sentralistik sehingga berpotensi menghambat kinerja.

BI. Budi Wikanto. Ridho Hakim. BI. Bank Indon esia. Erwin Gunawan. . Gunawan : Asisten Peneliti. UREM. Bagian Studi Struktur dan Per kembangan Pasar Keuangan. email: gunawan@bi. UREM. Bagian Studi Struktur dan Perkembangan Pasar Keuangan. Bagian Studi Struktur dan Perkembangan Pasar Keuanga n. BI.id. dan Sudiro Pambudi. USDM. Penulisan paper ini juga dibantu oleh Didy Laksmono.go. Mak alah ini ditulis ketika yang bersangkutan masih menjadi Peneliti Ekonomi .*) Penulis utama dari paper ini adalah : Satrio Wibowo : Kepala Bagian Pendidikan dan Pengembangan Pegawai. UREM.

63% pada tahun 1998. Hal ini tercermin dari beberapa indikator ekonomi makro seperti pertumbuhan ekonomi yang merosot tajam. 5 juta orang. Sedangkan laju inflasi yang di ukur dengan IHK meningkat tajam dari 10.8 juta orang.1. Tingginya laju inflasi terutama disebabkan oleh dua hal pokok.31% pada tahun 1997 menjadi 77. jumlah penduduk miskin di Indonesia berdasarkan data SUSENAS berjumlah 22. Salah satu langkah yang ditempuh adalah pemberdayaan ekonomi raky at yang bertujuan meningkatkan akses rakyat kecil terhadap perekonomian dan menguta makan .4 juta orang tiap tahun.56 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Jika pada tahun 1996. Dari sisi permintaan.67 juta orang warga pedesaan1 . Latar Belakang Masalah K K risis ekonomi di Indonesia yang berlangsung sejak pertengahan tahun 1997 telah berdampak luas terhadap hampir semua aspek perekonomian. melambatnya pertumbuhan ekonomi terut ama disebabkan oleh tingginya biaya impor bahan baku. pada tahun 1998 diperkirakan membengkak hingga mencapai 13. Jumlah pengangguran yang pada masa sebelum krisis berkisar antara 3 . khususnya masyarakat kecil. laju inflasi yang meningkat dan angka pengangguran y ang melonjak. Krisis ekonomi yang berkepanjangan.68 juta orang warga perkotaan dan 56. Dari sisi penawaran. Hal tersebut didoro ng pula oleh meningkatnya jumlah pengangguran sebagai dampak dari banyaknya perusah aan yang pailit dan melemahnya investasi. yaitu melem ahnya nilai tukar rupiah (imported inflation) dan kelangkaan pasokan (supply shortage) khususnya sembilan bahan pokok. melambatnya pertumbuhan e konomi disebabkan oleh melemahnya permintaan domestik.7% pada tahun 1 997 menjadi -13. Jumlah perkiraan tersebut terdir i dari 22. jika tidak dapat diatasi akan berpotensi mendorong terjadinya gejolak sosial ekonomi yang lebih luas. Meningkatnya inflasi tersebut telah mengakibatkan semakin melemahnya daya beli masyarakat. khususnya konsumsi rumah tangga dan investasi swasta. telah mengakibatkan terjadinya kontraksi perekonomian dan mendorong meningkatnya jumlah penduduk miskin.68% pada tahun 1998. Pendahuluan 1. Maret 1999 I. Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) merosot dari 4.35 juta orang. Sehingga dikhawatirkan akan semakin memperparah kondisi perekonomian nasional Dalam upaya penyehatan perekonomian nasional. Melonjak nya jumlah pengangguran dan penduduk miskin tersebut. Pemerintah telah menempuh serangkaian langkah dan tindakan yang juga memperoleh bantuan dari beberapa lemb aga internasional. maka berdasarkan perkiraan BPS jumlah tersebut pada pertengahan 1998 meningkat empat kali mencapai 79.

Perhitungan Jumlah Penduduk Miskin 1998 . Pemerintah juga mendorong komitmen perbankan dal am 1 Badan Pusat Statistik. Selain itu. .kepentingan rakyat.

Pada masa krisis. Tujuan Penelitian . serta ancaman kesulitan likuiditas yang masih berlangsung hingga awal tahun 1999 ini. Sektor keuangan khususnya perbankan yang selama ini sangat berperan dalam menggerakkan roda perekonomian. terutama prosedurnya yang sederhana. terganggunya fungsi intermediasi perbankan te rsebut memberi peluang bagi Perum Pegadaian untuk semakin berperan dalam pembiayaan. Namun. menengah dan koperasi. Hal tersebut ditandai dengan meningkat nya jumlah non performing loan. khususnya usaha kecil dan dalam masa krisis ini juga telah menjadi salah satu al ternatif pemenuhan kebutuhan pembiayaan bagi sebagian masyarakat yang terkena dampaknya. 1. serta dengan melakukan reformasi struktural untuk meningka tkan efisiensi perekonomian. Disamping itu. dan aman merupakan suatu potensi keunggulan Perum Pegadaian dibandingkan dengan lembaga keuangan lainnya. 1. Kinerja perbankan yang memburuk tersebut mengakibatkan terhambatnya penyaluran kredit.3. jaringan kantor dan wilayah kerj a yang menjangkau hampir seluruh wilayah Indonesia serta prosedur yang sederhana. antara lain dengan melaksanakan program Jaring Pengaman Sosial (JPS) untuk memberdayakan masyarakat (khususnya yang terkena dampak langs ung dari krisis ekonomi). memburuknya net interest margin dan kondisi permodal an. sumber daya manusia yang memadai serta jaringan usaha yang luas. Peran dalam pembiayaan nasabah kecil tersebut. Salah satu lembaga keuangan selain bank yang telah lama dikenal masyarakat adala h Perum Pegadaian. cepat. mudah dan ce pat. sesuai dengan tujuan Perum Pegada ian yang tidak hanya semata-mata mencari untung tetapi juga sebagai penunjang kebija kan dan program Pemerintah di bidang ekonomi dan pembangunan nasional melalui penyal uran pinjaman atas dasar hukum gadai. Upaya-upaya tersebut juga diimb angi dengan upaya lain di sektor riil. Sehubungan dengan kondisi tersebut. untuk mendorong pertumbuhan ekonomi diperluk an peran lembaga keuangan lain yang dapat berperan sebagaicomplementary institution sdari perbankan. Hal tersebut didukung oleh karakteristik Perum Pegadaian. tentunya sangat diperlukan untuk membantu pemuli han perekonomian nasional. mudah .2. Hipotesa Kegiatan usaha Perum Pegadaian dapat dikembangkan untuk mendukung perkembangan usaha kecil khususnya sektor informal. sejak terjadinya krisis ekonomi perbankan nasional juga menghadapi permasalahan yang cukup berat.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekono mi Rakyat 57 pengembangan usaha kecil.

.Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari peran usaha Perum Pegadaian serta potensinya untuk ikut berperan dalam pelaksanaan program Jaring Pengaman Sosial (JPS).

8 kantor daerah. Wilayah barat diwakili oleh 3 kantor d aerah di Pulau Jawa dan 2 kantor daerah di Pulau Sumatera. Maret 1999 Sesuai dengan karakteristik usaha dan mayoritas nasabah Perum Pegadaian yang merupakan masyarakat berpendapatan rendah. Salah satu produk Perum Pegadaian adalah memb erikan kredit berdasarkan hukum gadai. st atusnya diubah menjadi Perusahaan Negara (PN). data operasional. Sedangkan wilayah timur diwakili oleh 1 kantor daerah di Pulau Sulawesi. Disamping itu. Sampel kantor daerah dipilih dengan sistem purposive sampling yang mewakili wila yah Indonesia Bagian Barat. Data sekunder yang dipergunakan berupa laporan-laporan yang telah tersedia dari Perum Pegadaian. sifat Pegadaian ada lah menyediakan pelayanan bagi masyarakat umum dan sekaligus memupuk keuntungan berdasarkan prinsip pengelolaan perusahaan yang sehat. berupa data keuangan. serta dengan mewawancarai beberapa nasabah yang dipilih sebagai responden di kantor-kantor cabang tersebut. namun diubah kembali menjadi Perusahaan Jawatan (Perjan) tahun 1969. kepegawaian. Disamping itu. Dalam upaya meningkatkan kinerja perusahaan. Perum Pegadaian telah merancang Rencana Jangka Panjang II (RJP II) yaitu periode tahun 1997-2001. Survey tersebut dilaksanakan pa da tanggal 23 November .58 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. II. 36 kantor cabang. maka Perum Pegadaian berpotensi untuk berperan serta dalam program JPS. RJP II ini mer . dengan periode pengamatan sej ak tahun 1996 s. untuk memperoleh data mengenai kea daan dan operasionalisasi Perum Pegadaian dilakukan metode survey terhadap kantor pus at. Dengan PP No. Wilayah tengah diwakili oleh 1 kantor daerah di Pulau Bali dan 1 kantor daerah di Pulau Kalimantan.d September 1998. Tengah dan Timur. Dengan status sebagai Perum. ketentuan-ketentuan operasion al. penelitian juga dimaksudkan unt uk mempelajari peran dan potensi Perum Pegadaian dalam mendukung pemberdayaan usaha kecil.10 Desember 1998.4 Metode Penelitian Penelitian dilakukan dengan melakukan analisis data sekunder dan primer. 10/1990 tanggal 10 April 1990 status Perjan Pegadaian diubah menjadi Perusahaan Umum (Perum) Pegadaian guna meningkatkan efisiensi dan produktivitas usaha. Nasabah yang dipilih sebagai responden dikelompokkan sebagai nasabah biasa dan nasabah yang dianggap potensial (prima) berdasarkan frekwensi dan lamanya berhubungan dengan Perum Pegadaian. Profil Perum Pegadaian Pegadaian Negeri didirikan pertama kali oleh pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 1 April 1901 di kota Sukabumi dengan status Jawatan. Pada tahun 1961. 1. manajemen maupun dari sumber lainnya. khususnya sektor informal.

upakan .

Berdasarkan visi tersebut. Arah pengusahaan dalam periode ini adalah : 1) menjadi persero pada tahun 19982 . Perum Pegadaian menyusun suatu strategi pokok perusahaan yang meliputi : a. b. Omzet perkreditan meningkat dengan 20% per tahun. c. Posisi keuangan yang likuid dan solvabel dengan current ratio di atas 1 dan debt to equity ratio di bawah 3. b. Meningkatkan pelayanan kepada seluruh nasabah dengan baik. dan 3) memiliki kinerja dan citra yang meningkat. Melaksanakan optimalisasi kantor-kantor cabang sebagai ujung tombak operasi perusahaan. cepat dan manusiawi. Memiliki kinerja sehat sekali (SS) dengan rating minimal A 1 . Misi perusahaan tersebut yaitu : Ikut meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat golongan menengah ke b awah melalui penyediaan dana berdasarkan hukum gadai secara inovatif dan melakukan us aha lain yang menunjang. d. Menjadi lembaga keuangan yang modern dan dinamis. Perum Pegadaian merumuskan misinya yang dijadikan acuan untuk menentukan arah pengusahaan. Hasil usaha lain-lain menyumbang sekitar 5. b. c. Meningkatkan efisiensi perusahaan 1 Yang dimaksud dengan rating A sesuai dengan definisi PT. sasaran pengusahaannya adalah : a. kelemahan.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekono mi Rakyat 59 bagian dari visi Perum Pegadaian yang dirumuskan dengan mengindentifikasi kekuat an.1% dari laba usaha. Memiliki SDM yang handal dan profesional.2% per tahun. Meningkatkan produktivitas di seluruh bidang kegiatan. peluang dan ancaman (analisis SWOT) yang dihadapi dalam Pembangunan Jangka Panjang Tahap II (PJPT II). Sementara. 2) melaksanakan go public. Untuk mendukung pencapaian sasaran tersebut. Laba bersih (earnings after taxes) meningkat dengan 30. c. sasaran pengusahaan dan strategi pokok perusahaan dalam periode RJP II. Visi Perum Pegadaian dalam PJPT II ini adalah : a. d. Pefindo merupakan perusah aan atau efek hutang yang berisiko investasi rendah dan berkemampuan baik untuk membayar bunga dan po kok hutang sesuai dengan yang diperjanjikan dan hanya sedikit dipengaruhi oleh perubahan keadaan yang mer .

ugikan. 2 Menurut Perum Pegadian. . serta membuka anak perusahaan. (ii) kekhawatiran bahwa dengan status persero Perum Pegadaian akan meninggalkan segmen nasabah kecil dengan tujuan untuk memperoleh laba maksimal. Namun target terse but tidak tercapai pada tahun 1998 karena tidak memperoleh ijin dari Menkeu dengan pertimbangan (i) masih besa rnya misi sosial yang harus dilaksanakan oleh Perum Pegadaian. target menjadi Persero terutama bertujuan untuk mengatas i kelemahan pendanaan dengan menjual saham di bursa.

b. khususnya di kawasan timur Indonesia. Sampai dengan 30 September 1998. sehingga bisa meningkatkan citra perusahaan dan nasabah tidak malu lagi u ntuk datang ke Pegadaian.60 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. jasa sertifikasi kadar emas. Usaha ini juga mempunyai misi sosial untuk mendidik masyarakat untuk berinvestasi dalam bentuk emas serta meningkatkan image masyarakat terhadap Perum Pegadaian Produk-produk usaha baru tersebut merupakan upaya untuk mengoptimalkan aset. pedagang valut a asing dan leasing. hotel/penginapan dan ruko) dan toko bar angbarang perhiasan/asesoris dan arloji. Produk-produk baru tersebut meliputi : a. yaitu pemanfaatan 20 lokasi strategis yang nantinya dapat merupakan kompleks lok asi usaha. Kepengurusan dan Kelembagaan Perum Pegadaian memiliki 4 orang anggota direksi yang terdiri dari satu orang di rektur utama dan 3 orang direktur yang masing-masing membawahi bidang operasi dan pengembangan. guarantee fund. properti (gedung perkantoran. kredit dengan jaminan surat berharga dan sertifikat tanah dan kredit dengan sistem pinjam pakai. s eperti yang telah dilaksanakan di lokasi Salemba dan Pasar Baru. Sebagai implementasi dari salah satu strategi pokok perusahaan. jasa taks iran. Perum Pegadaian telah merencanakan untuk melakukan ekspansi jenis produk perusahaan dengan mengembangkan usaha baru. Melaksanakan pengembangan produk baru hingga mampu menyumbangkan 20% dari total pendapatan usaha.3 c. Produk baru di luar lingkup usaha gadai tetapi masih dalam lingkup lembaga pembiayaan seperti BPR. f. modal ventura. dan bidang umum. Produk baru yang masih dalam lingkup usaha gadai seperti jasa titipan. Memperluas jaringan pelayanan dengan membuka cabang-cabang baru di daerah yang potensial. leasing yang akan dilaksanakan merupakan leasing menu rut format Perum Pegadaian dimana barang jaminan yang digadaikan tidak disimpan oleh Perum Pegadaian namun tetap dapat digunakan oleh . Produk usaha baru yang sama sekali di luar usaha gadai dan lembaga keuangan sepe rti toko emas. Maret 1999 e.1. usaha toko emas sudah dilaksanakan di 28 kantor cabang Perum Pegadaian. Khusus untuk bisnis properti dapat dilakukan melalui kerja sama dengan pihak ketiga (investor) dengan sistem Built Operate and Transfer (BOT). bidang keuangan. Dua diantaranya yait u jasa titipan dan taksiran sudah dilaksanakan. franchisor usaha gadai. Dalam menjalankan tugas rutin di 3 Menurut Perum Pegadaian. 2. factoring.

.nasabah untuk menjalankan usahanya (diestimasikan akan dilaksanakan pada tahun 2 000).

Perum Pegadaian juga memiliki Satuan Pengawasan Intern (SPI) yang bertanggung ja wab langsung kepada direksi.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekono mi Rakyat 61 kantor pusat. Sel ain itu. direksi dibantu oleh 9 subdirektorat (subdit) yang masing-masing m emiliki rincian tugas sesuai bidangnya (Lampiran 1). Struktur Organisasi Perum Pegadaian Direksi Balai Diklat Subdit LB Subdit OPP dan Pengembangan Subdit AK Subdit AP Keuangan Umum Subdit BG Subdit KP Direktur Utama Kantor Daerah Kantor Cabang Subdit PB Direktur Subdit TURT Direktur Subdit SP Direktur Operasi SPI Keterangan : OPP = Operasi dan Pengembangan AP = Anggaran dan Permodalan KP = Kepegawaian LB = Penelitian dan Pengembangan Operasi AK = Akuntansi BG = Bangunan SP = Kesekretariatan Perusahaan P = Perbendaharaan TURT = Tata Usaha dan Rumah Tangga 4 Tanggal 25 November 1998.4 Struktur organisasi Perum Pegadaian ditunjukkan bagan 1. Dari 633 Kanca t ersebut. Sampai dengan September 1998. 58 diantaranya merupakan anak cabang (Ancab) yaitu cabang yang baru berdiri (bia sanya kurang dari 2 tahun). Kp. Perum Pegadaian telah memiliki cabang di 27 propinsi dengan jumlah Kanca mencapa i 633 buah dengan dikoordinasikan oleh 14 kantor daerah (Lampiran 2). Kegiatan operasional Perum Pegadaian dilaksanakan melalui kantor-kantor cabang (Kanca) yang dikoordinasikan oleh kantor daerah (Kanda).2/41/10 sebagai upaya untuk meningkatkan sistem dan sarana pengaw . Perum Pegadaian membentuk Subdit Teknologi Informasi b erdasarkan Keputusan Direksi No. Bagan 1. Untuk meningkatkan profesionalitas pegawai Perum Pegadaian memiliki Balai Diklat yang langsung berada di bawah direksi.

asan yang memadai. .

per Juni 1998 jumlah Kanca Pegadaian di Pulau Jawa merupakan yang . Formasi dan adanya pegawai Kanca (bobot nilai 20).1 5 . Perbandingan Kanda tipe A dan B dapat dilihat dalam tabe l 2. kelas II sebanyak 78 dan kelas III seban yak 491. Berdasarkan keempat kriteria di atas. jumlah Kanca untuk masing-masing kelas per Juni 1998 adalah : kelas I sebanyak 54. yang mencerminkan tingkat tanggung jawab penanganan/pengelolaan. perawatan dan faktor risiko. Seluruh kantor yang berstatus Ancab diklasifikasikan sebagai cabang kelas III. dan III. d. Efisiensi (bobot nilai 40). II.1 Perbandingan Tipe Kantor Daerah Jabatan Kanda Tipe A Kanda Tipe B Ka Kanda Inspektur Daerah Kepala Seksi Pemeriksa Ka Sub Seksi Pemeriksa Pembantu Staf Pemeriksa 1 1 4 2 12 3 2 1 0 2 1 8 3 0 Sumber : Perum Pegadaian Kanca Perum Pegadaian digolongkan menjadi 3 kelas. Tabel 2. yaitu kelas I. c. b. yang diukur dari besarnya surplus (laba-rugi) cab ang dalam satu periode akuntansi. yang mencerminkan tingkat efektivitas dan kemampuan pegawai sebagai sumber daya dalam menjalankan perusahaan. yang mencerminkan tingkat kemampuan penjualan p roduk (produktivitas). Pembagian kelas masing-masing Kanca dilakukan berdasarkan tingkat efisiensi dan produktivitas yang diukur dari 4 faktor yaitu : a. Kanda tipe A mem iliki struktur organisasi yang lebih lengkap dibandingkan Kanda tipe B karena besarnya jumlah Kanca yang dibawahinya. D itinjau dari kuantitasnya. Omzet usaha (bobot nilai 40). Barang jaminan (bobot nilai 10). Maret 1999 Kanda Perum Pegadaian terdiri dari dua tipe yaitu tipe A dan B.62 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.

terbanyak yaitu 401 buah atau 64. 5 Jumlah total pemeriksa per Kanda sejak 1 Februari 1999 telah diperbanyak menja di 6-7 orang. .4%.

3 juta orang yang terdiri dari petani. Perum Pegadaian juga melakukan peningkatan kualitas karyawan yang terlihat dari meningkatnya jumlah karyawan yang berpendidikan S1 dan S2 dan berkurangnya karya wan yang berpendidikan SD sampai dengan D3. Produk dan Pasar Produk-produk Perum Pegadaian yang sudah tersedia hingga saat ini meliputi empat jenis produk.426 pegawai tidak tetap. nelayan. Jumlah karyawan tetap ini lebih rendah dari jumlah pada akhir 1996 (5. Tidak semua Kanca menyediakan keempat jenis produk tersebut. Selain terjadi pengurangan j umlah. Jasa taksiran. Komposisi karyawan tetap menurut jenjang karir dan pendidikan dapat dilihat dalam lampiran 3. Konsumen sasaran Per um Pegadaian ini adalah seluruh lapisan masyarakat yang membutuhkan dana-dana jangk a pendek. Dalam memperkenalkan produk-produknya. yang terdiri dari 4. Jasa titipan.3. c. Selama tahun 1997. 2. Berikut merupakan uraian tentang kebijakan-kebijakan dan fungsi pengawasa n yang . 2. Hal ini berkaitan dengan salah satu upaya Perum Pegadaian untuk meningkatkan efisiensi.817 pegawai tetap dan 1. yang ditujukan untuk memberikan keyakinan kepada masyarakat at as kualitas barang-barang perhiasan miliknya. Perum Pegadaian telah berhasil melayani kebutuhan 5.541 orang). yaitu : a. Manajemen dan Instrumen Kebijakan Dalam menjalankan usahanya Perum Pegadaian melaksanakan fungsi-fungsi manajemen dan menetapkan kebijakan-kebijakan yang menjadi patokan bagi Kanda mau pun Kanca. Perum Pegadaian diantaranya menggunakan papan-papan reklame. yaitu toko emas Pegadaian yang menjamin kualitas emas/perhiasan ya ng dijualnya. Hal ini terkait den gan fasilitas. yang ditujukan untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat ata s barang-barang yang dimilikinya apabila akan bepergian dalam jangka waktu yang cukup lama. pedagang dan lain-lain . pelaku industri. ketersediaan sumber daya manusia dan dana. pembukaan toko e mas yang hingga September 1998 baru berjumlah 28 buah. menjadi sponsor kegi atan olahraga serta dengan layanan yang relatif mudah dan cepat.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekono mi Rakyat 63 Jumlah karyawan Perum Pegadaian hingga Oktober 1998 mencapai 6. b. Misalnya. Jasa gadai.233 orang. merupakan jasa utama Pegadaian yaitu memberikan pinjaman kepada masyarakat berdasarkan hukum gadai. Galeri 24. media elektronis. leaflet.2. d.

.dilaksanakan oleh Perum Pegadaian.

pada bulan September 1998 Perum Pegadaian me mperoleh pinjaman dari pemerintah berupa Rekening Dana Investasi (RDI) sebesar Rp 100 mil iar dengan jangka waktu 3 tahun. Hingga saat ini Perum Pegadaian tela h menerbitkan 5 seri obligasi dengan nilai nominal keseluruhan Rp 425 miliar. Kredit kepada masyarakat merupakan porsi terbesar penanaman dana yang mencapai Rp 756. Perum Pegadaian memiliki beberapa sumber. deposito. Sesuai dengan hukum gadai. Dengan demikian Kanda dapat mengontrol secara langsung kebutuhan dana masing-mas ing Kancanya.25 miliar dan dari sa ldo laba sebesar Rp 111.3. Bila terjadi kekurangan dana. Untuk itu Perum Pegadaian mencari sumber-sumber pendanaan baru untuk menambah modal kerja melalu i pinjaman bank.2. Besarnya jumlah dana yang diterima oleh masing-m asing Kanda tersebut ditentukan berdasarkan hasil evaluasi perkembangan omzet selama 6 bulan terakhir dan dievaluasi setiap 3 bulan. Dana yang telah dihimpun ini kemudian didistribusikan dari kantor pusat ke Kanca melalui masing-masing Kandanya. Biasanya batas maksimum kredit yang dapat diberikan oleh masing-masing cabang mencapai Rp 20 juta per SBK (Surat Bukti Kredit). 2. Sementara pinjaman dari bank pada posisi September 1 998 mencapai Rp 321 miliar. Kebijakan Penanaman Dana Penanaman dana Perum Pegadaian dilakukan dalam bentuk kredit.75 miliar (91.5 miliar. sehingga Kanda dan Kanca hanya melaksanakan penanaman dana berdasarkan alokasi dana yang diberikan.1. Perum Pegadaian telah menerbitkan MTN sebanyak 4 kali dengan nilai nominal keseluruhan Rp 16. Kebijakan Pendanaan Dalam penyediaan dana bagi keperluan usahanya.0 %) pada Septe mber 1998 (Lampiran 4). Selain itu. Seja k Desember 1997. Bila terdapat n . penyertaan modal pemerintah Rp 46. Penghimpunan dana hanya dapat dilakukan oleh kantor pusat.64 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.85 miliar (per 30 September 1998). maka Kanca harus meminta tambahan dana kepada Kand anya masing-masing dan tidak diperkenankan untuk melakukan transfer langsung antarcab ang.3. tetapi se jak 30 Juli 1998 batas maksimum kredit diturunkan menjadi Rp 5 juta per SBK. suratsur at berharga dan penyertaan di perusahaan lain. kredit yang diberikan dijamin deng an barang jaminan nasabah. Maret 1999 2. penerbitan obligasi dan MTN. Sebagai sumber utama adalah modal awal Perum Pegadaian yang berjumlah Rp 205 miliar. Mengingat besarnya permintaan terhadap jasa gadai dari masyarakat. maka modal tersebut tidak lagi mencukupi.

asabah yang ingin memperoleh kredit melebihi batas maksimum maka cabang tersebut harus meminta persetujuan dari Kanda. Golongan B (kredit . Perum Pegadaian membagi pemberian kredit kepada nasabah menjadi empat golongan yaitu Golongan A (kredit Rp 5.000-Rp 40.000).

000). membawa Nasabah barang jaminan Penaksir Kasir menerima kredit . sisa dari keseluruhan penggunaan laba bersih di atas disetorkan sebag ai Dana Pembangunan Semesta (DPS). dan e. Tabel seleng kapnya dapat dilihat dalam lampiran 5. Berikut ini merupakan ilustrasi proses memperoleh kr edit di Perum Pegadaian. Prosedur Kredit Dalam memberikan kredit.3.000-Rp 500. Perum Pegadaian memiliki mekanisme dan prosedur yang harus dilalui oleh nasabah.Alokasi Laba Setelah diaudit. Golongan C (kredit Rp 151. DPS yang menjadi hak negara wajib segera disetor kan ke Bendahara Umum Negara setelah Laporan Tahunan disahkan. Sosial dan pendidikan. Cadangan umum yang dilakukan sampai cadangan mencapai sekurang-kurangnya dua kali lipat dari modal yang ditempatkan. sebesar jumlah tertentu disisihkan untuk cadangan tujuan. 2. Sementara.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekono mi Rakyat 65 Rp 40. Sumbangan dana pensiun. c. a. nasabah juga dikenakan biaya penitipan dan asuransi (PA) yang besarnya disesuaikan dengan jenis barang dan golongannya. d. sesuai dengan PP No. Sokongan dan sumbangan ganti rugi.000) dan Golongan D ( kredit Rp 510. Jangka waktu kredit maksimum adalah 120 hari dengan bu nga dihitung setiap 15 hari.4. 2.000). Kemudian 45% dari sisa penyisihan tersebut dialo kasikan untuk lima hal berikut yang masing-masing persentase alokasinya ditetapkan oleh Menteri Keuangan. 13/1998. penyusutan dan pengurangan yang wajar lainnya. Selain itu. Jasa produksi.3.3. b.000-Rp 5.500-Rp150. dari laba bersih yang diperoleh P erum Pegadaian.000.

dan uang pinjaman (UP) yang dapat diberikan berdasarkan plafon UP yang yang menjadi wewenangnya (Lampiran 6). Petugas penaksir memeriksa keadaan barang termasuk kelengkapan yang disyaratkan.Nasabah Nasabah yang datang ke Pegadaian terlebih dulu menyerahkan barang-barang bergerak sebagai agunan kepada petugas penaksir yang disertai dengan identitas d iri. Jika UP yang dapat diberikan melebihi kewenangannya. Penaksir menetapkan harga pedoman standar. taksiran. Jika besarnya UP yang telah dipu tuskan . maka harus diajukan dan disetujui o leh kepala Kanca selaku kuasa pemutus kredit (KPK).

Barang emas. Pada SBK tersebut dimuat nama dan alamat nasabah. SBK diserahkan kepada nasabah. Dalam hal petugas gud ang berhalangan sampai dengan 7 hari. Maret 1999 oleh penaksir maupun KPK telah disepakati oleh nasabah. Selain petugas gudang dilarang u ntuk memasuki gudang tanpa mendapat izin dari petugas tersebut. Nasabah mengambil UP pada kasir seperti yang tertera pada SBK. 2. perhiasan atau barang-barang kecil lainnya yang masuk di dalam kantong disebut barang kantong dengan rubrik K.5. rubrik dan ribuan. Barang masuk dan keluar s elalu dicatat sehingga pada akhir hari dapat ditentukan saldo barang jaminan.66 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Untuk barang-barang tertentu seperti k amera dan mobil mendapat perlakuan khusus. maka diterbitkan Surat B ukti Kredit (SBK) sesuai dengan golongannya. petugas gudang lama tetap bertanggung jawab atas barang jaminan di dalam gudang. sedangkan yang mengelola barang gudang dan barang kain disebut pemegang gudang. Tempat penyimpanan barang tersebut harus selalu dalam keadaan tert utup dan terkunci apabila tidak ada keperluan. besarnya taksiran dan UP. dengan terlebih dahulu membayar biaya penyimpanan dan asuransi (PA) yang telah ditetapkan sesuai dengan besarnya UP da n jenis barang yang diagunkan. Barang kantong ini disimpan dala m kamar emas (kluis/khasanah). keterangan barang jaminan. Di samping itu. Untuk me ngontrol kebenarannya. Sedangkan barang jaminan yang tidak masuk di dalam kantong disebut dengan barang gudang dengan rubrik G.3. Barang jenis ini disimpan di dalam gudang. maka petugas gudang tersebut dapat menunjuk du a orang pegawai lainnya sebagai pengganti sementara dan harus diberitahukan kepada kepala cabang. Walaupun telah digantikan petugas sementara. Sistem Pengelolaan Barang Jaminan Barang-barang jaminan yang diterima oleh Pegadaian ditatausahakan dalam suatu Bu ku Gudang yang diisi menurut golongan. Kamera harus disimpan dalam tempat tertutup (le mari kaca atau peti kayu yang tidak lembab) yang diberi penerangan cukup. saldo Buku Gudang ini dicocokkan dengan saldo Ikhtisar Kredit dan Pelunasan. tidak kena hujan dan panas. Pegawai yang bertanggung jawab (sesuai dengan SK penunjukan) atas pengelolaan gudang dan semua barang yang ada di dalamnya disebut petugas gudang. mobil juga ha rus dalam keadaan terkunci dan bila ada tutupnya (cover) digunakan dengan baik agar tidak kotor. Setelah ditandatan gani nasabah dan penaksir/KPK. Mobil disim pan dalam tempat tertutup. Pegawai yang menjadi petu gas . Petugas gud ang yang mengelola barang kantong disebut penyimpan.

Untuk mencegah terjadinya kesalahan atau penyimpangan dalam pengelolaan gudang maka Perum Pegadaian membuat prosedur pemeriksaan barang jaminan. Posedur terseb ut dapat dilihat dalam lampiran 7.gudang mempunyai masa tugas maksimum selama 6 bulan. .

Barang-bar ang yang telah laku pada saat lelang harus dibayar tunai setelah lelang ditutup.3. media cetak dan elektr onik. Untuk barang-barang jaminan yang telah ditaksir dengan wajar tetapi tidak laku dilelang disebut sebagai Barang Sisa Lelang (BSL).Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekono mi Rakyat 67 2. pemberitahuan langsung oleh pegawai di loket dan pemberitahuan tertulis kepada p emilik barang dan Dinas Penerangan setempat (minimum 15 hari sebelum pelaksanaan). BSL dini lai berdasarkan harga pembeliannya yaitu sebesar harga jual minimal lelang tanpa tam bahan biaya lelang (9. Hal ini dilakukan dengan penjualan barang jaminan tersebut pada waktu yang telah ditentukan. Untuk menent ukan tanggal lelang. Media yang digunakan untuk mengumumkan tanggal lelang adalah melalui papan pengumuman di Kanca setempat.7% (tujuh permil) untuk dana sosial yang dihitung dari nilai lakunya lelang. b.7%). Perlakuan administrasi dan pembukuan terhadap BSL dapat dil ihat dalam lampiran 8. Cara penyelesaian BSL ini dapat dilakukan dengan dua cara yait . agar bisa dijadikan acuan oleh masyarakat. setiap Kanda membuat suatu daftar ikhtisar lelang berdasarkan us ulan dari masing-masing kanca-nya dengan memperhatikan : a. c. Masing-masing kanca sedapat mungkin melaksanakan lelang pada hari dan tanggal yang sama setiap bulannya. Sebelum pelaksanaan lelang. maka kelebihannya akan dikembalikan kepada nasabah tersebut. Bila hasil lelang mel ebihi nilai kewajiban nasabah. Tim Pelaksana Lelang akan mengawasi/memeriksa jumlah setoran uang jaminan dari masing-masing peserta/calon pembeli. Dalam bulan puasa lelang sedapat mungkin dilakukan sebelum lebaran. Uan g yang akan dibayar oleh pembeli harus ditambah 9% untuk ongkos lelang dan 0. d. Sistem Lelang Lelang merupakan upaya pengembalian uang pinjaman beserta sewa modalnya yang tidak dilunasi sampai batas waktu yang ditentukan. BSL ini ditetapkan menjadi as et perusahaan yang diakui dan dicatat sebagai transaksi mutasi aset dari Pinjaman Y ang Diberikan (aktiva lancar) menjadi Aktiva Lainnya (aktiva tidak lancar). Penundaan hari lelang ini harus diumumkan kepada masyarakat dan diberitahukan ke pada Ka Kanda dan Inspektur Daerah. Lelang dilaksanakan tidak pada hari libur. untuk kanca-kanca yang lokasinya berdekatan tidak diizinkan untuk melaksanakan lelang pada hari dan tanggal yang bersamaan.6. Lokasi kanca. Apabila di kemudian hari ternyata lelang tidak dapat dijalankan pada tanggal yan g telah ditetapkan maka pelaksanaan lelang itu harus diundur pada hari berikutnya.

Sedangkan mutasi antarcabang merupakan upaya penjualan di kantor caban g yang berada di daerah lain yang diyakini dapat terjual lebih cepat (Lampiran 9).u dijual di bawah tangan dan dimutasikan antarcabang. Penjualan di bawah tangan merupakan penjualan yang terbuka bagi siapa saja yang berminat dengan suatu patokan harga minimum tertentu. .

teknik serta metode dalam menjala nkan fungsi pengawasan. bulanan dan tahunan.68 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. ikhtisar barang sisa lelang. Laporan mingguan. yang berisi rekapitulasi dari laporan bulanan ditambah laporan mutasi aktiva serta laporan surplus usaha. Selain kewajiban mengirimkan laporan ke kantor pusat. Hal ini dilakuka n karena Perum Pegadaian telah melakukan go public dengan menerbitkan obligasi. sisa uang kelebihan. Sistem Pelaporan dan Auditing Setiap Kanca Pegadaian harus membuat laporan operasional rutin secara berkala. masing-masing Kanca dan Kanda Perum Pegadaian secara internal juga diperiksa oleh SPI. Maret 1999 2. c. mutasi aktiva yang disisihkan. Laporan bulanan. Pengawasan ditujukan untuk meyakinkan apakah kegiatan perusahaan telah dilaksana kan sesusai dengan rencana yang ditetapkan. barang jaminan yang tidak ditebus/dilelang/barang polisi. Sementara. Laporan tahunan. Laporan operasional adalah laporan tentang perkembangan operasional Kanca yang meliputi laporan mingguan. pemeriksaan merupakan bagian dari fungsi pengawasan yaitu tindakan secara fisik. yang berisi laporan tentang : perkembangan usaha. Tujuan pembuatan laporan operasi onal ini adalah untuk menyediakan informasi tentang perkembangan operasional kepada manajemen sebagai dasar untuk pengambilan keputusan lebih lanjut pembinaan Kanca . Tugas SPI tersebu t adalah melakukan pengawasan dan pemeriksaan terhadap jalannya kegiatan perusahaan. rincian data nasabah dan kredit menurut profesi. Laporan semester. . Sebelumnya. Jenis-jenis laporan operasional yang dibuat oleh Kanca yang harus dikirimkan ke Kanda adalah berbentuk : a. Kelayakan laporan keuanga n Perum Pegadaian setiap tahun diperiksa oleh pihak eksternal. d. Sejak tahun 1993 audit te rhadap laporan keuangan Perum Pegadaian dilakukan oleh akuntan publik. rincian sis a uang pinjaman. pemeriksaan atas laporan keuangan Perum Pegadaian dilakukan oleh BPK P. penerimaan se wa modal dan biaya PA. Laporan-laporan yang dibuat oleh masing-masing Kanca tersebut di atas kemudian dikonsolidasikan oleh Kanda sebelum dikirimkan ke kantor pusat.7.3. yang berisi laporan rincian sisa uang pinjaman dan perhitungan sewa modal. yang berisi perkembangan penyaluran kredit dan barang jaminan yang tercantum dalam laporan mingguan keuangan yang dikirimkan ke Kanda b. dan perhitu ngan surplus operasi. Di kantor pusat laporanlaporan dari seluruh Kanda dikumpulkan sehingga dapat dibuat suatu laporan keuangan konsolidasi secara nasional yang diaudit setiap tahun.

Aspek-aspek yang dilihat dalam melakukan pemeriksaan oleh SPI mencakup tiga hal yaitu sistem dan prosedur yang menyangkut kendali. kewajiban atasan untuk mengaw asi .

dan (iii) Irwil III mengawasi kanda XI XIV. Sebagai gambaran setiap kanda di pulau Jawa rata-rata memba wahi lebih dari 50 Kanca. Sementara itu. Berdasarkan perbandingan antara jumlah Kanca (633 kantor). PENDEKATAN TEORITIS 3. Mengingat karakteristik Perum Pegadaian seba gai lembaga keuangan formal yang memberikan pinjaman berjangka pendek dalam skala ke cil dengan sistem gadai. Kondisi yang seharusnya merupakan sesuatu yang ditet apkan oleh peraturan/ketentuan pemerintah. Kanda-kanda lainnya di luar Jawa harus memba wahi kanca-kanca yang secara geografis terlalu jauh. III. Tugas Irda adalah mengawasi kanca-kanca di bawahnya dengan frekwensi 1 4 kali pemeriksaan dalam satu tahun. tidak melakukan penghimpunan dana seperti layaknya bank. Kanda (14 kantor). yaitu : (i) Irwil I mengawasi kanda I V. sesuatu yang diatur secara umum yang diakui dan sesuatu yang diatur oleh ketentuan perusahaan. frekwensi pemeriksaan serta jumlah tenaga pemeriksa di masing-masing Kanda.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekono mi Rakyat 69 bawahan (waskat) dan aparat pengawasan fungsional. SPI tersebut dibagi menjadi 3 Inspektorat Wilayah (Irwil). Dalam melaksanakan tugasnya SPI dipimpin oleh seorang kepala yang bertanggung jawab langsung kepada Direktur Utama. Tenaga pemeriksa di masing-masing Irwil rata-r ata sejumlah 4 orang yang bertugas melakukan pemeriksaan terhadap setiap kanda denga n frekwensi 1 .1 Pembiayaan Kredit Pedesaan Untuk memahami pegadaian terutama sebagai salah satu alternatif pembiayaan bagi usaha/nasabah kecil perlu dilakukan pendekatan yang mempunyai relevansi dengan kegiatan operasi lembaga keuangan baik formal maupun informal yang telah ada di masyarakat dalam penyaluran kredit. Di setiap Kanda terdapat Inspektorat Daerah (Irda) yang dipimpin oleh orang kedua di kanda yang bersangkutan dengan tenaga pemeriksa ber jumlah 4-5 orang. Dalam melakukan pemeriksaan seora ng pemeriksa harus bersifat objektif dan independen karena pertanggungjawabannya la ngsung kepada direksi. menunjukkan terlalu luasnya rentang kendali Kanda terhadap kanca-kanca yang ada di bawah koordinasinya. Tolok ukur yang dipakai dalam melakukan pemeriksaan adalah membandingkan antara kondisi sebenarnya (fakta) den gan yang seharusnya (kriteria).2 kali setahun. Rentang kendali yang terlalu lua s yang belum ditunjang dengan saluran komunikasi yang memadai (canggih) sangat tidak menunjang efektivitas pemantauan kinerja kantor-kantor cabang. . serta bisa menyeb abkan timbulnya berbagai penyimpangan seperti yang tercantum dalam lampiran 10. (ii) Irwil II mengawasi kanda VI X.

mempunyai jaringan kerja yang luas sampai ke daerah-daerah. serta mempunyai nasa bah .

Pasar kredit pedesaan informal biasanya bers ifat quasimonopolistik. Pasar informal tersebut ada di dalam masy arakat namun tidak diatur oleh pemerintah. USA. Beberapa pendekatan yang dapat digunakan untuk analisis tersebut antara lain Teori Rural Financial Interm ediation (RFI). Sementara itu. kredit di pedesaan dapat disediakan oleh lembaga keuangan formal maupun pasar informal. maka perlu dilakukan analisis tterhadap posisi dan keterkaitan Perum Pegadaian dengan lembaga lainnya. Teori RFI menjelaskan keterkaitan antara lembaga keuangan formal dan informal dalam pasar keuangan pedesaan. Seorang kreditur hanya melayani sejumlah kecil peminjam yang sudah dikenal baik dan berisiko rendah. berjangka wakt u pendek. Teori RF M yang bertumpu pada mekanisme pasar berpendapat bahwa pembiayaan/kredit pedesaan merupakan proses intermediasi dimana financial assets dan debts di relokasi dian tara pelaku-pelaku ekonomi di pedesaan. teori Farm Finance (FF) dan Teori Rural Financial Market (RFM). cepat. BRI Unit Desa. Maret 1999 mayoritas masyarakat berpenghasilan rendah yang sulit untuk akses ke perbankan s erta jaringan kerja hingga ke daerah-daerah. teori RFM berpendapat bahwa pedesaan memiliki kemampuan/resources untuk membiayai kegiatan-kegiatan produkti f yang berlangsung di pedesaan. Kredit pedes aan pada dasarnya dapat diperoleh dari sumber informal dan formal.1. Sebagian besar pinjaman relatif kecil jumlahnya. proses penyediaan sederhana.70 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. yai tu Farm Finance dan teori Rural Financial Market yang dikembangkan oleh Department of Agricultural Economics and Rural Sociology. Ohio State University. sedangkan teori FF berpendapat perlu adanya extern al funds (dana pihak luar) untuk membiayai kegiatan-kegiatan produktif di pedesaan.6 Sedangkan untuk melihat sumber dana untuk kredit pedesaan dikenal dua teori. lembaga kredit formal dan informal serta struktur pasar kredit pedesaan untuk masing-masing lembaga keuangan tersebut dap at dijelaskan sebagai berikut : 3. Di dalam pasar terdapat beberapa kreditur namun seorang debitur punya akses yang sangat terbatas.1 Lembaga Kredit Informal Sebagaimana dikemukakan. untuk penghimpunan dana di pedesaan lebih banyak melalui lembaga formal. Berdasarkan ketiga pendekatan tersebut. Ketergantungan seorang debitur terhadap kreditur san gat tinggi. koperasi dan pegadaian se rta pasar kredit informal di pedesaan (rentenir atau pelepas uang komersial). dan pemberian kredit tersebut lebih didasark . Dengan kata lain. Dalam teori ini dijelaskan karakteristik lembaga keuangan formal seperti Bank Perkreditan Rakyat.

6 Robinson.an pada unsur kepercayaan. 1992 . S Rural Financial Intermediation : Lessons From Indonesia.

T ingginya suku bunga tersebut disebabkan adanya quasi-monopolistic many-lender credit mark et. Menurut penelitian Robinson. political alliances. Dengan praktek tersebut. and Meghir bahwa 8 : Informal commercial credit forms parts of the local political economy. suku bunga berkisar antara 2 sampai 10 kali dari tingkat bunga bank. financial channels and market shares of lenders are inextricably related to local distribution of wealt h and power. Kreditur pada umumnya berkeberatan apabila nasabahnya meminjam kepada kreditur informal lainnya karena khawatir ikatan bisnis lainnya juga akan berpindah sehingga dapat melakukan pembalasan di kemudian hari. Terdapat pula kecenderungan para kreditur untuk memberikan kredit yang lebih besar kepada pejabat lokal serta rekan bisnis dengan tujuan menjaga hubungan baik agar diberi kesempatan memperoleh akses yang lebih luas bagi kepentingan politik dan/atau bisnisnya. Mereka tidak mau bersaing karena justru akan menurunkan keuntungan masingmasing. information flows. Alasan utamanya adalah terlalu berisiko untuk melakukan ekspansi ke luar pasar tradisonalnya. Sebaliknya. terdapat kecenderungan debitur untuk hanya setia kepada satu debitur karena khawatir akan memperoleh kesulitan di kemudian hari. market interlinkages. sehingga risiko tidak terbayarnya pinjam an yang diberikan kepada nasabah dapat ditekan serendah mungkin. setiap kreditur dapat memelihara kesetiaan debiturnya. . Kessler. Selain itu. bagi kreditur yang sudah lebih kaya dan memiliki status sosial yang tinggi melakukan diversifikasi investasi dianggap lebih menguntungkan dibandingkan deng an hasil yang diperoleh dari kredit dalam skala kecil. Fenomena ini terjadi di be berapa negara berkembang. Caranya antara lain den gan hanya memberikan kredit kepada orang-orang yang berkaitan dengan jaringan bisnis nya seperti sistem ijon dan yang mempunyai aliran politik yang sama. etc . Hal ini terjadi k arena antara satu kreditur dengan kreditur lainnya dalam satu wilayah umumnya punya ikatan ya ng erat. seperti India dan Philipina sebagaimana dikemukakan oleh Germ idis.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekono mi Rakyat 71 Terjadinya pasar yang bersifat quasi-monopolistik dimungkinkan oleh kecenderunga n setiap kreditur untuk membatasi jumlah nasabah yang dilayani dan berupaya menjag a portofolio pinjamannya sedemikian rupa. Suku bunga kredit dalam pasar informal sangat bervariasi.7 Kreditur cenderung tidak tertarik untuk meningkatkan market share.

7 Ibid.Dengan kondisi tersebut. 8 Germidis. suku bunga dapat dipertahankan tinggi lebih-lebih jika di wilayah tersebut tidak terdapat lembaga perkreditan formal. . hal 81. Kessler Financial Systems and Development : What Role for the Formal and Informal Financial Sectors ? (1991).

Disamping itu. Maret 1999 3. Suku bunga pada lembaga kredit formal pada umumnya lebih rendah dibandingkan dengan suku bunga kreditur informal. seorang kreditur informal akan mendorong nasabahnya untuk meminta kredit ke lembaga formal jika memerlukan dana yang relatif besar. bagi merek a yang tidak memenuhi syarat untuk memperoleh dana dari lembaga formal disebabkan tidak memiliki agunan ataupun sebab lainnya akan tetap bergantung pada kreditur inform . untuk menunjang berlangsungnya keg iatan operasi lembaga keuangan tersebut harus mampu menyalurkan kredit dalam jumlah ya ng cukup dan bersumber dari penghimpunan dana dengan spread yang cukup menguntungka n.2 Lembaga Kredit Formal Lembaga keuangan formal dapat juga memasuki pasar keuangan pedesaan dengan perspektif perhitungan jangka panjang bila didukung beberapa persyaratan.1. lembaga formal tidak dianggap sebagai pesaing oleh kreditur informal. Di samping itu. Sebagai contoh. Su ku bunga yang lebih rendah tersebut akan meningkatkan permintaan kredit yang akan menyebabkan biaya operasi per unit menjadi lebih murah. seseorang yang tid ak memiliki agunan dapat datang ke kreditur informal untuk meminjam uang. karena berspesialisasi pada k egiatan perkreditan. Bah kan di beberapa tempat dianggap sebagai rekan kerja. Sementara itu. Kreditur informal yang kekurangan dana dapat meminjam dari bank dan lembaga kredit formal lainnya untuk kemudian disalurkan ke nasabahnya. terper caya. Disamping itu. aman. lembaga formal pada umumnya dapat mempelajari karakteristik pasar keuangan pedesaan dan memperoleh informasi terpercaya mengen ai nasabah potensial melalui stafnya yang profesional. Dengan biaya yang murah ters ebut maka lembaga formal dapat menawarkan suku bunga rendah untuk menarik nasabah. Perlu dikemukakan bahwa jika lembaga kredit formal dapat memberikan pelayanan yang baik dengan beban bunga ya ng lebih rendah maka sebagian masyarakat desa yang sebelumnya bergantung kepada kre ditur informal akan beralih ke lembaga formal. Tid ak tertutup kemungkinan. Kemudahan bagi lembaga formal dalam memasuki pasar tersebut selain dilindungi hukum.72 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. dan berlokasi strategis. Persya ratan tersebut berkaitan dengan perlunya lembaga keuangan dikelola secara baik. meskipun ada kemungkinan mereka masih memerlukan dana dari kredit informal sebagai tambahan. Hal ini terjadi karena lembaga kredit forma l dapat memanfaatkan economies of scale sehingga dapat menjalankan kegiatannya dengan biay a yang relatif murah. lembaga formal tidak dicurigai akan merebut kekuasaan para kreditur informal yang pada umumnya juga memiliki kaitan usaha di sektor riil atas nasabahnya.

al. . Bagi kreditur informal. hal tersebut tidak terlalu mengganggu karena mereka masi h tetap memiliki pangsa pasar yang aman.

dan BRI Unit Desa. bahkan dapat dikatakan saling melengkapi sesu ai dengan kondisi masyarakat. Mengacu pada teori tersebu t. Namun kebijakan tersebut pada beberapa aspek justru menghambat perkembangan Peru m Pegadaian terutama pada saat terjadinya kekurangan likuiditas.9 Pada dasarnya antar lembaga-lembaga tersebut tidak saling bersaing karena masing-masi ng sudah mempunyai pangsa pasar tersendiri.10 D alam 9 Data akurat mengenai potensi lembaga informal pemberi pinjaman sulit untuk diper oleh.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekono mi Rakyat 73 IV. Lembaga lain yang juga mempunyai potensi besar untuk menjadi pesaing Perum Pegadaian adalah Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan BRI Unit Desa (BRI UDes). Temuan ini sesuai dengan teori RFM bahwa pada dasarnya masyarakat pedesaan juga mampu menabung dan masuknya dana pihak luar justru akan menghambat perkembangan pasar keuangan pedesaan. Koperasi Simpan Pinjam (K osipa). Studi lapangan me nunjukkan bahwa pada dasarnya masing-masing Kantor Daerah mempunyai potensi untuk menghimp un dana sendiri yang berasal dari potensi daerah setempat. Hasil penelitian tersebut sejalan dengan hasil penelitian Robinson dengan mempergunakan teori RFI (dijelaskan pada bagian III). Sementara itu dari temuan pene litian CPIS (pada periode 1982-1990) koperasi simpan pinjam mengenakan suku bunga antara 20% . HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pada pasar kredit pedesaan di Indonesia dapat diidentifikasikan beberapa lembaga formal yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat khususnya golongan ekonomi lemah adalah Perum Pegadaian. Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Disamping itu juga terdapat beberapa lembaga informal yang be rperan dalam memberikan pinjaman kepada masyarakat antara lain pelepas uang (rentenir).40% per bul . diperoleh temuan bahwa antara Perum Pegadaian dengan lembaga-lembaga keuangan formal dan informal lainnya yang ada di masyarakat tidak saling bersaing meskipun mempunyai segmen pasar yang hampir sama. nampaknya sesuai dengan te ori FF. Kebijakan penghimpunan dan penyaluran dana serta sistem manajemen pendanaan yang sentralistik seperti diterapkan Perum Pegadaian. toko emas yang memberikan pinjaman dengan sistem gadai serta pegadaian gelap. Informasi yang diperoleh dari hasil studi lapangan hanyalah mengenai besarnya suku bunga yang dikenakan r entenir dan toko emas pada umumnya sangat tinggi berkisar 10% 20% per bulan. Persaingan tidak terjadi karena nasabah masing-masing le mbaga keuangan tersebut mempunyai karakteristik khusus yang menentukan preferensi mere ka untuk menjadi nasabah lembaga keuangan tertentu (struktur pasar bersifat quasi-m onopolistik).

7 triliun. . toko emas dan pega daian gelap.558 BP R non BKD dengan total aset sebesar Rp 2. pangsa pasar kredit pedesaan yang dapat di kuasai oleh Perum Pegadaian diperkirakan berkisar 40% . kemudian Jabotabek sebanyak 345 BPR) dan yang paling sedikit berada di wilayah Kalimantan (22 BPR). Di daerah-daerah di mana terdapat kantor Perum Pegadaian. Sedangkan jumlah BRI UDes sebanyak 3.142 buah) berada di pulau Jawa (persebaran jumlah BPR terbanyak berada di wilayah Jawa Timur sebanya k 362 BPR.60% dibandingkan dengan rentenir. 1 0 Sampai dengan September 1998 di seluruh Indonesia terdapat sebanyak 1.706 kantor. Sebagia n besar BPR (1.an.4 triliun dan kredit yang diberikan sebesar Rp 1.

dan Balikpapan) mencatat perkembangan yang kurang memuaskan. Sampai dengan 30 Septembe r 1998 omset Perum Pegadaian telah mencapai Rp 2. terutama sejak terjadinya krisis ekonomi pada pertengahan tahun 1997.3 triliun dengan pencapaian target seb esar 87. Ujung Pandang.74 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Perkembangan Omset Perum Pegadaian 0 500 1000 1500 2000 2500 1994 1995 1996 1997 Triw III/ 1998 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Rp miliar 1998 11 Omset : adalah jumlah/nilai pinjaman yang diberikan dalam suatu periode terte ntu (konsep flow). sementara beberapa Kantor Daerah (Padang. Grafik 1. 4. Untuk masing-masing wilayah.9%. .1). Maret 1999 analisis selanjutnya. lonjakan omset terutama dialami oleh Kantor Daerah Jakarta.1. Pemilihan ini berdasarkan ketersediaan data BPR dan BRI Unit Desa (BRI UDes).1 Hasil Studi Lapangan 4. atau meningkat 11% dibandingkan dengan realisasi omset tahun 1997 (Tabel 4. Medan .1 Kinerja Operasional Omset 11 Peran Perum Pegadaian dalam memberikan pinjaman kepada masyarakat berpendapatan rendah menunjukkan perkembangan yang cukup pesat. sementara untuk institusi lain dan lembaga kredit informal tidak diperoleh data akurat. Namu n lonjakan omset yang terjadi pada Juni 1998 selanjutnya untuk bulan Agustus dan S eptember mengalami penurunan terutama sebagai dampak dihentikannya fasilitas overdraft di BRI pada pertengahan Agustus. Bandung dan Yogyakarta. kinerja Perum Pegadaian akan dibandingkan dengan BPR dan B RI UDes (untuk beberapa rasio keuangan) untuk memperoleh gambaran mengenai peranan Perum Pegadaian dalam pemberdayaan ekonomi rakyat dibandingkan dengan institusi kredit lainnya.

1. Kecenderungan pergeseran orie ntasi pembiayaan Perum Pegadaian ke arah nasabah besar juga terlihat pada menurunnya p orsi nasabah golongan A dan B masing-masing dari 43. Sementara itu.1). Fenomena dominasi pinjaman oleh golongan D juga terlihat di setiap kantor daerah yang diteliti kecuali untuk Kantor Daerah Bandung dimana pinjaman didomin asi oleh golongan C. porsi golongan A. Alokasi pinjaman untuk golongan D12 melonjak sehingga porsinya menin gkat dari 35. dengan alasan bahwa selama ini Perum Pegadaian telah memberikan subsidi kepada golongan nasabah mikro. Dengan demikian kebijakan pembiayaan Perum Pegadaian telah bergeser ke arah nasabah dengan nilai pinjaman yang lebih besar.4 545.4% dan 24. Nasabah 1996 1997 1998 Proyeksi Realisasi Des. melalui peningkatan kualitas barang jaminan serta meningkatkan porsi nasabah golongan D (proyeksi tahun 1998) .9% dan 27. Perkembangan Omzet Perum Pegadaian (miliar rupiah) Gol.0 8.d September).3% (1998). B dan C semakin berkurang (Tabel 4. Kebijakan untuk meningkatkan keuntungan dengan mengurangi porsi pemberian pinjaman kepada nasabah mikro tersebut kurang sejalan dengan misi Perum Pegadaia n untuk lebih memihak kepada nasabah mikro. Nominal % Nominal % Nominal % Nominal % Nominal % A B C D E 184.6% (1997) menjadi 41.9 547. Pergeseran dari nasabah mikro ke nasabah besar tersebut terutam a merupakan dampak dari : (i) Kebijakan Perum Pegadaian untuk meningkatkan laba.9 10. sehingga dengan barang jaminan yang sama nasabah golongan A dan B bisa mendapatkan pinjaman yang lebih besar.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekono mi Rakyat 75 Lonjakan kenaikan omset tersebut ternyata tidak diikuti dengan meningkatnya aspe k pemerataan. (ii) Kenaikan harga barang jaminan sejalan dengan kenaikan harga barang jaminan khususnya emas. Jan -Sept. Tabel 4.7 . Jan -Jun.3 437.3% (tahun 1998 s.4% (tahun 1997) menjadi 50. Des.

035.000 Gol.000 20.5 100.1 475.4 1. A = Rp 5.8 32.5 256.9 709.000 Rp 40.9 8.000.7 0.4 645.2 14.000 .000 . E = pegawai Perum Pegadaian.000. diolah.5 666.5 5.000.088.000.7 5.2 100.8 32.7 8. Keterangan : A = Rp 5.0 2. Gol.5 739.166.000 500.0 6.0 Sumber : Perum Pegadaian.0 226.317.2 0.7 30. Gol. D = Rp 510.6 951. .5 35.000.9 679.5 183.4 0.500.0 2.9 100. C = Rp 151.5 115.5 35.0 13.000 .5 80.8 22.7 31.000 E = pinjaman kepada pegawai B = Rp 40. D = Rp 510.3 0. dan Gol.0 10.0 2.00.9 8.7 16.397.0 1.8 1.0 100.000 -20.4 46.4 0.925. Gol.4 439.6 50. B = Rp 40.Rp 150.000 Perum Pegadaian 12 Perum Pegadaian menetapkan 5 macam golongan nasabah berdasarkan besarnya plaf on pinjaman sebagai berikut: Rp 150.8 22.2 31.Rp 40.4 317.0 1.3 100.723.000.000 C = Rp 151.4 31.25.

mulai banyaknya perusahaan yang melakukan PHK terhadap karyawan dan meningkatnya harga emas.8% dan 2. Lonjakan nasabah Perum Pegadaian yang sangat besar terjadi sejak bulan Juni 1998 dengan rata-rata per bulan di atas 1 juta nasabah dibandingkan bulan-bulan sebel umnya (Januari s. Lonjakan nasabah sepanjang tahu n 1998 tersebut sangat signifikan jika dibandingkan dengan perkembangan nasabah pada bu lan yang sama tahun 1997 (Grafik 2). yaitu 68 hari. Berdasarkan Kandan ya. sementara itu golongan B meminjam dalam jangka wak tu paling singkat. Faktor lain yang menyebabkan lonjakan jumlah nasabah tersebut menurut Perum Pegadaian adalah peak season tahun ajaran baru serta meningkatnya gangguan keamanan.76 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. . Penurunan tersebut juga disebabkan oleh meningkatn ya harga barang jaminan khususnya emas.2 juta nasabah). Jumlah Nasabah Sejalan dengan lonjakan omset.6 juta orang. yaitu 95. sedangkan jumlah nasabah yang paling sedikit terdapat di wilayah Kalimantan masi ngmasing 2. Maret 1999 Jangka waktu peminjaman rata-rata dalam tahun 1998 adalah 89 hari yang berarti lebih singkat dibandingkan dengan tahun 1997. sehingga mendorong penebusan oleh nasabah terutama dengan barang jaminan emas untuk dijual ke pasar.d Septembe r menunjukkan kecenderungan menurun. peningkatan jumlah nasabah terbesar terjadi pada Kanda Surabaya (243.7 hari. jumlah nasabah Perum Pegadaian juga mengalami lonjakan tajam khususnya pada bulan Juni 1998 sehingga sampai dengan 30 Septembe r 1998 jumlah nasabah yang dapat diraih mencapai 6. Dari segi persebaran nasabah.d Mei 1998) sekitar 400 ribu nasabah.3%). Golongan D meminjam dalam jangka w aktu paling lama.3%. Namun seiring dengan berkurangnya kemampuan Perum Pegadaian dalam memberikan pinjaman kepada masyarakat maka jumlah nasabah pada Juli s.7%) dan ter endah pada Kanda Malang (2. meskipun masih lebih banyak jika dibandingkan periode yang sama tahun 1997. terdapat kesamaan antara Perum Pegadaian dengan BPR dimana baik untuk Perum Pegadaian dan BPR sebagian besar nasabah terkonsentrasi di wilayah Jawa (masing-masing 70% dan 57%). Lonjakan jumlah nasabah dari posisi Mei ke Juni 1998 tersebut diduga merupakan dampak krisis ekonomi sehingga akses masyarakat untuk dapat memperoleh kredit dari perbankan semakin sulit. Jumlah nasabah ya ng mampu diraih Perum Pegadaian tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan juml ah nasabah yang mampu diraih BPR (4.

.

........ ........................ ............ .200 ....Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekono mi Rakyat 77 Grafik 2.................. ........... .......... Perkembangan Jumlah Nasabah .................... ................ .............. ............................. .................................. ................ .. ................. . ..... ... ........... ............... ..................... ... ............ . ...... ..... .............. ..... ........... .. ......................... ............. ........ ...... ........... ................ .... 0 200 400 600 800 1............................................. .... ............... ...... ..... ........... ...................000 1.......................... ...... ............................ ........... ............ ................. .........

20.265.0 D 635..400 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sep Okt Nop Des 1997 .331..9 0.3 0. Komposisi Jumlah Nasabah Menurut Golongan dan Profesi 1997 1998*) 1997 1998*) Gol.000 .0 Industri 325.4 Nelayan 405.2 30.4 21. terlihat adanya pergeseran kompo sisi jumlah nasabah menurut golongan dan meningkatnya jumlah nasabah dengan profesi sebagai karyawan (Tabel 4.1 331..5%) pada tahun 1998 berasal dari golongan A.000 pegawai Perum Pegadaian .1 16. (ribu) % Jml. (ribu) % A 2. Keterangan : *) : s. Meningkatnya jumlah nasabah yang berprofesi sebaga i karyawan (berdasarkan kartu identitas/KTP) merupakan indikasi dari meningkatnya jumlah karyawan yang terkena PHK.7 40.1 13..621.7% ) berprofesi sebagai petani. Nsb.0 5.221.621.2 Jumlah 5. (ribu) % Jml. Nasabah Jml.032.4 1.000 D = Rp 510.2.7 7.6 6.Rp 40.000 -Rp 150. Nsb.4 12.7 100.305.2).000 E = pinjaman kepada B = Rp 40.5 43.734. Sementara dari profesinya mayoritas nasabah (30.8 24.2 27.682. Nsb.7 B 1..1 3.3 23.000 -500.0 Pedagang 1.9 2. diolah.410.0 8.612.9 30.305.3 E 3..d September A = Rp 5.1 6. (ribu) % Profesi Jml. mayoritas nasabah Perum Pegadaian (40.9 26.000 C = Rp 151.5 Petani 1.1 100.5 682.0 1.0 10.7 100.0 6.3 23.5 C 871..000.9 2.638.9 22.463.. 1998 (ribu) Berdasarkan golongannya.458.05 Karyawan 449.6 1.1 5.4 6.0 Sumber : Perum Pegadaian.9 1.1.000 .0 864. Nsb. Tabel 4. Dibandingkan dengan tahun 1997.3 Lain-lain 1.6 430..

dengan menjual barang jaminan kepada masyarakat umum pada waktu yang telah ditentukan. Sementara itu.0% dari omset dan 4. usaha yang bersifat pesanan seperti kontraktor skala k ecil. pinjaman yang digolongkan sebagai kredit macet di BPR (per 30 Jun i 1998) mencapai Rp 253 miliar (15 % dari total kredit yang diberikan). pembayaran upah karyawan. 5% dari sisa uang pinjaman).7% omset) atau senilai Rp 11. namun jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan kredit macet di BPR. Perbandingan kualitas pinjaman yang diberikan tersebut menunjuk kan persentase kredit macet di Perum Pegadaian lebih besar dibandingkan dengan BRI U Des (0.1% dari sisa uang pinjaman).8%.5%).1%.2% (1997) menjadi 2. rasio nilai lelang terhadap total kredit untuk golongan A meningkat dar i 2. Kebutuhan konsumtif yang dapat dipenuhi dari pegadai an antara lain pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Menurut masing-masing golon gan nasabah. maka telah terjadi penurunan jumlah dan nil ai barang yang dilelang masing-masing sebesar 36.810 potong (1. Sedangka n rasio terendah adalah golongan D yaitu sebesar 0. perajin mebel.5% dari omset atau 1.7% dan 47. 13 Lelang merupakan upaya pengembalian uang pinjaman beserta sewa modal yang tid ak dilunasi atau pinjamannya tidak diperpanjang (roll over) oleh nasabah sampai batas waktu yang ditentukan. sedangkan kredit macet di BRI UDes (per 30 September 1998) mencapai Rp 22.3 miliar (0.78 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Maret 1999 Penggunaan dana pinjaman oleh nasabah sangat bervariasi baik untuk tujuan konsumtif maupun produktif. Kondisi tersebut menunjukkan bahw a krisis ekonomi sangat dirasakan dampaknya khususnya oleh nasabah mikro dengan se makin meningkatnya nilai pinjaman yang tidak dilunasi oleh golongan tersebut. biaya sekolah. dan lain-lain. biaya pengobatan. Lelang 13 Barang jaminan yang dilelang sampai dengan 30 September 1998 adalah sebanyak 261. . Jika dibandingkan dengan volume dan nil ai lelang sampai sebelum krisis (1997). da n keperluan keluarga lainnya.1 miliar (0.5% dari tot al kredit yang diberikan).3% (1998) tertinggi dibandingkan dengan golongan lain. Penggunaan yang bersifat produktif antara lain modal kerja bagi petani dan pedagang. usaha catering. Berdasarkan hasi l wawancara dengan beberapa nasabah diperoleh informasi bahwa sebagian besar dana pinjaman pegadaian dipergunakan untuk tujuan produktif (profil nasabah dikemukak an pada persepsi masyarakat ). rasio tersebut menurun jika dibandingkan dengan tahun 1997 (1.

.

7 475.7 115. Ja minan*) Nilai**) Omset***) Sisa UP Rasio (%)a) Rasio (%)b) A 285.02% total kredit atau 3.9 0.14 .2 4.3 7.077.d September 1998.810 11.9 2.0 709.3% total kredit atau 29% total kredit macet).9 317.2 0. kredit macet di wilayah Jawa sebesar Rp 12.0 4.0 182. 1997 1998 Nasabah Brg.9 0.9 78. kredit macet BPR sebagian besar terdapat di wilayah Jawa yang mencapai 58% total kredit macet. lelang terbanyak dilakukan oleh Kanda Yogyakarta (38.6 12.7 1.27% tot al kredit atau 56.3 2.81% total kredit macet).6 2. Sedangkan kredit macet di BRI UDes baik sebelum maupun sesudah krisis.6 miliar (0.8 1.6% total kredit macet).2 679.9% dari total kredit macet.278 21.1 261.7 739.0 750.801 3.4 1.1% tota l kredit atau 0.6% total kredit mace t).9 0.14% total kredit atau 29.6 521.9 183.5 milia r (0. Sedangkan volume kredit macet paling kecil terdapat di wilayah Sulawesi (termasuk Maluku.5 172. diolah.047 6. Perlu dikemukakan bahwa lelang barang jaminan yang dilakukan Perum Pegadaian pada dasa rnya bukan merupakan kerugian bagi Perum Pegadaian karena sesuai dengan hukum gadai. Pada periode Januari s.596 1. Sementara nilai lelang terbesar terdapat di Kanda Ja karta (Rp 2 miliar) dan yang paling sedikit di Kanda Balikpapan (Rp 289. khususnya di Jabotabek sebesar Rp 73.4 miliar ( 4. Perbandingan kualitas pinjaman ketiga lembaga tersebut menunjukkan kesamaan wilayah kerja yang mempunyai jumlah kredit macet terbesar yaitu di wilayah Jawa.3 D 3.813 7. Untuk tahun 1998.8 ribu potong) sedangkan yang paling sedikit dilakukan oleh Kanda Balikpapan (3 ribu potong). Untuk wilayah Bali (termasuk NTT da n NTB) kredit macet sebesar Rp 794 juta (0. Jaminan*) Nilai**) Omset***) SisaUP Rasio (%)a) Rasio (%)b) Brg.5 50. barang jaminan yang dilelang merupakan barang bergerak serta hasil lelang selalu dapat menutup nilai pinjaman ditambah bunga dan biaya administrasi.5 2.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekono mi Rakyat 79 Tabel 4. khususnya DKI & Jawa Barat sebesar Rp 6.5 1.9 C 25.1 0.1 1.7 juta). Perkembangan Lelang Barang Jaminan Gol.3 34.2 8.9 3.309.4 TOTAL 413. kecuali dalam kasu s tertentu dimana terjadi penurunan harga barang jaminan yang sangat besar.7 1.2 48.166.5 0.914 3.5 2.0 1.504 3. Irian Jaya dan Timor Timur) sebesar 0.6 6. Sementara itu.9 118.5 Keterangan: *) potong a): rasio lelangthd omset **): nilai barang yang dilelang(miliar rupiah) b): rasio lelang thd sisauang pin jaman ***): omset pinjaman (miliar rupiah) Sumber : PerumPegadaian.010 2.0 227.3.8 408.403 3.1 197.7 B 98. sebagian besar terdapat di wilayah Jawa dan paling sedikit di wilayah Bali (termasuk NTT dan NTB).

.1 4 Sebagai contoh turunnya harga barang jaminan adalah turunnya harga emas seca ra drastis di bulan November hingga mencapai 60% dari harga bulan Juni 1998. sehingga banyak nasabah dengan b arang jaminan emas yang meminjam pada bulan Juni 1998 dan jatuh tempo pada November 1998 tidak melunasi pinjamannnya.

4% dari tahun sebelumnya. Realisasi aset pada tahun 1998 ters ebut meningkat sebesar 51. total aset BPR sebagian besar terkonsentrasi di wilayah Jawa (Rp 1. Perum Pegadaian telah menerbitkan obligasi sebanyak lima kali (seri I s.d V) dengan nilai nominal sebe sar Rp 289. Perbandingan total aset berdasarkan wilayah terseb ut menunjukkan adanya kesamaan antara Perum Pegadaian dengan BPR yaitu konsentrasi aset berada di wilayah Jawa dan aset terkecil di wilayah Kalimantan.8% dari total aset BPR) sedangkan yang paling kecil terdapat di wilayah Kalimantan sebes ar Rp 63.6% dibandingkan periode yang sama tahun 1997.9 miliar (2. Total aset terbesar dimiliki oleh Perum Pegadaian di wi layah Kanda Jakarta (Rp 183 miliar). Emisi terakhir adalah oblig asi emisi V (Juni 1998). total aset Perum Pegadaian sebagian besar terkonsentrasi di wilayah Jawa (Rp 573 miliar atau 50.1. Maret 1999 4. dengan tujuan penggunaan dana untuk pelunasan obligasi I (sebesar . Sumber dan Penggunaan Dana Sumber dana Perum Pegadaian selain terdiri dari modal (ekuitas) juga sumber dana lain yang diperoleh dari penerbitan surat berharga maupun pinjaman dari pihak la in. Kewajiban jangka panjang Perum Pega daian (terdiri dari hutang obligasi dan hutang jangka panjang lainnya) sebesar Rp 364. Komponen terbesar dari kewajiban jangka pende k tersebut adalah hutang bank (Rp 321 miliar). Ditinjau berdasarkan wilayah. meningka t 171.9% total aset Perum Pegadaian).3% total aset Perum Pegadaian) dan yang paling kecil adalah wilayah Kalimantan (Rp 44 miliar atau 3.80 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. melampaui target yang ditetapkan untuk tahun 1998 sebesar Rp 1 triliun (Tabel 4.6 miliar) (Tabel 4.2 Kinerja Keuangan Aset Aset Perum Pegadaian menunjukkan kecenderungan meningkat. Jumlah aset per 30 September 1998 tercatat sebesar Rp 1. Sementar a itu. Total aset Perum Pegada ian tersebut lebih kecil jika dibandingkan dengan total aset BPR (per Juni 1998) yan g telah mencapai Rp 2.1 triliun.7% dari periode yang sama tahun 1997. dengan komponen terbesar adalah hutang ob ligasi (Rp 264. Jumlah modal per 30 September 1998 sebesar Rp 363 miliar.7 triliun ata u 70.6 miliar yang akan jatuh tempo pada periode 1998 2003. sedangkan yang terkecil adalah Kanda Kupang (Rp 34 mili ar). 6 miliar meningkat 32. sementara kewajiban jangka pe ndek (terdiri dari hutang bank dan kewajiban lainnya) sebesar Rp 412 miliar.4).7% total aset BPR).4). Sebagaimana telah disebutkan dalam Bab II bahwa u ntuk memenuhi kebutuhan dana maka selama periode 1993 1998.4 triliun.

Berdasarkan tujuan tersebut dapat dikemukakan bahwa Perum Pegadaian nampaknya tidak mempersiapkan cadangan dana pelunasan obligasi (sinking fund) yang memadai untuk memenuhi kebutuhan dana pelunasan obligasi yang akan jatuh tempo (s.Rp 50 miliar) dan pengembangan usaha (modal kerja).d 30 September 1998 dana pelunasan o bligasi .

9 178. pinjaman yang diberikan dan lainnya) serta aktiva lain .4 191 190.4 119 236.6 119.2 778.4 Neraca Singkat Perum Pegadaian (miliar rupiah) Pos .8 29. 1996 1997 1998 Per 30 Sep.4 187.75 52.8 412 45. namun dari sisi makro berdampak pada timbulnya distorsi suku bunga pasar pinjaman berskala kecil.9 192.9 Lainnya 35.6 240. bahwa suku bunga bersubsidi dapat menimbulkan inefisiensi dalam penyaluran dana di pedesaan.9 Aktiva Lain 166.9 Hutang Obligasi 175 275 225 390 225 264.4 582.2 40. Per 31 Des.7 31.3 356.2 673.7 8.5 --Hutang jangka panjang lainnya ----100 Ekuitas 307.3 363 1.9 32.5 55.5 8.0 Lainnya 160.6 Hutang Sewa Guna Usaha 0.3 35.7 182.2 476. Dengan demikian.487 0. sinking fund tersebut tidak dihimpun karena tidak diperoleh ijin dari Menkeu untuk membentuk cadangan sebesar obligasi yang akan jatuh tempo.7 Hutang bank 140.7 0.028 864 1139. Perum Pegadaian juga memperoleh pinjaman berbun ga rendah dalam bentuk RDI pemerintah sebesar Rp 100 miliar (sejak tanggal 4 Septem ber 1998). kebijakan subsidi bunga hanya akan efektif apabila diterapkan dalam jangka pendek. Jun -Sept.8 615 837.5 miliar). Aktiva dalam bentuk kas dan setara kas per 30 September 1998 tercatat sebesar Rp 119 mi .9 Sumber : Perum Pegadaian -diolah Penanaman dana oleh Perum Pegadaian dalam bentuk aktiva lancar (dikelompokkan dalam kas dan setara kas.4 167. Mengacu pada temuan Robinson yang menggunak an pendekatan RFI.9 Kewajiban Jangka Pendek 163.4 28.3 91 11. Dana dengan suku bunga murah yang diperoleh Perum Pegadaian tersebut di satu sisi sangat membantu dalam mengatasi kesulitan likuiditas yang dialami.Pos Neraca Per 31 Des.2 184 1.7 8.2 72. Tabel 4.9 36.0 Total Aktiva 647 752 798.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekono mi Rakyat 81 yang dicadangkan hanya sebesar Rp 8.1 275 282. alokasi dana tersebut lebih diu tamakan untuk penambahan modal kerja.9 325 333 363.6 151.7 0.7 8.4 201.2 Pinjaman yg diberikan 412.6 17.9 34.2 183.7 564.7 Kas dan setara kas 30.9 Dana pelunasan obligasi 5. (%) Per 30 Juni Per 30 Sept.2 1.2 947. Selain dari penerbitan obligasi.5 174.5 321 59.1 526. Aktiva Lancar 480.7 81.6 53. khususnya untuk memenuhi kebutuhan dana akibat lonjakan nasabah dan bantu an KLBI sejumlah Rp 50 miliar (per 31 Desember 1998).4 756. Proyeksi Realisasi Pertumb. Menurut Perum Pegadaian.4 71.3 Kewajiban lainnya 22.

liar meningkat 240. dan sisanya sebesar Rp 65 miliar untuk sementara disimpan dalam . Perlu dikemukakan bahwa lonjakan deposito tersebut terjadi karena adanya pencair an bantuan modal kerja dari Pemerintah dalam bentuk RDI sebesar Rp 100 miliar pada tanggal 4 September 1998. dimana sampai dengan 30 September 1998 telah disalurkan ke nas abah sejumlah Rp 35 miliar.9% dari periode yang sama tahun 1997. terutama diakibatkan oleh meningkatnya nilai deposito sebesar 605%.

pinjaman yang diberikan oleh Perum Pegadaian baik dibandingkan dengan total kredit yang diberikan maupun dalam peer-groupnya relatif kecil. namun peran Perum Pegadaian dalam memberikan pinjaman cenderung tidak mengalami penurunan dalam masa krisis ini.6% total kredit peer-group.0 6. Penanaman dana dalam bentuk pinjaman yang dib erikan mempunyai porsi yang paling besar (86. sementara porsi BPR menunjukkan penurunan.3 4.0 7.1 0.3 1.5). Secara makro. Dari jumlah tersebut. porsi BPR dan BRI UDes justru mengalami penurunan. sedangkan porsi BRI UDes meskipun meningkat namun tidak sebesar peningkatan Perum Pegadaian (Tabel 4.6 1.6 28.795.077.688. Dalam kon disi perkembangan perbankan saat ini yang tidak menentu maka tidak tertutup kemungkin an pangsa pegadaian akan mampu melampaui pangsa BPR. Rasio Perkembangan Pinjaman yang Diberikan 1996 1997 1998 Lembaga Nominal Rasio (%) Nominal Rasio (%) Nominal Rasio (%) ( Rp miliar ) (1) (2) ( Rp miliar ) (1) (2) ( Rp miliar ) (1) (2) Pegadaian BPR BRI Unit Desa 414.5 65.976. Maret 1999 bentuk deposito. meningkat 58.6 64.9%. Perbandingan dalam peer-groupnya menunjukkan peningkatan porsi Perum Pegadaian yang lebih besar dibandingkan dengan BPR dan BRI UDes.3% (1997) menjadi 10.4 526. Por si kredit yang diberikan Perum Pegadaian terhadap total kredit pada September 1998 sebesar 0.5%) dibandingkan aktiva produktif lainnya. Pinjaman yang diberikan per tanggal 30 September 1998 sebesar Rp 756.5.3 27.9% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 1997. Rp 50 miliar dalam deposit on-call dan Rp 15 miliar untuk cadangan investasi.8 miliar.1% total kredit atau 6.2 1. yaitu dari 7.7% (1998 ).2 . Meskipun porsi Perum Pegadaian s aat ini masih kecil dan secara makro tidak terlalu besar dampak moneternya. Tabel 4.0 4. Sementara akti va lain hanya meningkat sebesar 2.82 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.9 0.

3 385.3 2.1 616.074.9 4.5 1.0 10.3 0.7 24.0.1 7.324.921.0 98.557.2 756. BRI Udes) Rasio (2) : rasio terhadap total kredit (termasuk bank umum) Pinjaman yang diberikan oleh Perum Pegadaian.696.134.7 Sub-Total 6.1 0.9 98.5 623.9 378.0 98.5 1.0 97.0 65.207. BPR.1 0. BPR dan BRI UDes menurut wilayah adalah sebagai berikut : .1 Bank Umum 292.3 0.7 Keterangan : Rasio (1) : rasio terhadap peer-group ( PP.286.621.7 1.8 1.190.483.9 7.9 Total 299.

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekono mi Rakyat 83 Pinjaman terbesar diberikan oleh Perum Pegadaian di wilayah Jawa. Sedangkan untuk BRI UDes.7 miliar dan Rp 9.0% dari total biaya operasional.1 miliar (58. Irian dan Tim-Tim) sebesar Rp 36. dan k euntungan barang sisa lelang) sampai dengan 30 September 1998 tercatat masing-masing sebes ar Rp 209. uang kelebihan lewat waktu. yaitu sebesar Rp 2.2 triliun (74% dari total kredit BPR). sedangkan yang paling kecil diberikan oleh BPR di wilayah Sulawesi (termasuk Maluku. dimana pendapatan bunga dan biaya bunga merupakan komponen terbesar dari pendapatan dan biaya operasional. Penyumbang terbesar dari pendapatan usaha tersebut adal ah pendapatan sewa modal (88. . Pendapatan. menurun dari tahun sebelumnya sebesar 31. Sementara itu biaya operasional tercatat sebesar Rp 180.3 miliar.8 triliun (64% dari total kredit) dan yang pal ing sedikit di wilayah Bali (termasuk NTB dan NTT) sebesar Rp 293 miliar (6. dengan komponen terbesar berasal dari penda patan bunga sebesar 44.3%.3% total pinjaman).9%).6 miliar (4. sedangkan yang terkecil diberikan oleh Peru m Pegadaian di wilayah Kalimantan sebesar Rp 36. Biaya operasional BPR juga mengalami peningkatan dari Rp 519 miliar (1997) menjadi Rp 742 miliar (1998) dengan komponen terbesar adalah biaya bunga deposito berjangka seb esar 21.4%. Terlihat adanya kesamaan ant ara Perum Pegadaian dengan BPR.7% dibandingkan tahun 1997. Kredit yang diberikan oleh BPR sebagian besar terkonsentrasi di wilayah Jawa. ya itu sebesar Rp 1. Biaya dan Efisiensi Kemampuan Perum Pegadaian dalam meraih pendapatan menunjukkan kecenderungan semakin meningkat. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pinjaman yang diberikan oleh ketiga lembaga formal tersebut selama ini terkonsentrasi di pulau Jawa.5% dan 144. kredit yang diberikan per 30 September 1998 terkonsent rasi di pulau Jawa. Seperti juga Perum Pegadaian. meningkat masing-masing sebesar 4.4 miliar.4% menurun dari pangsa tahun sebelumnya sebesar 79. meningkat 10.3% dari total kr edit).8%. Pendapatan Perum Pegadaian yang terdiri dari pendapatan usaha (meliputi: sewa modal dan bea penyimpanan & asuransi) dan penda patan usaha lainnya (meliputi: pendapatan investasi. 5 miliar (2% dari total kredit). dengan porsi terbesar adalah bi aya bunga dan provisi yang mencapai 57. yaitu sebesar Rp 441. pendapatan operasional BPR menunjukkan peningkatan dari Rp 543 miliar (1997) menjadi Rp 758 miliar (1998).7% dibandingkan tahun 1997.8% total pinjaman).

diperoleh nilai rasio antara biaya operasional dengan pendapatan operasional unt uk tahun 1997 dan tahun 1998 masing-masing sebesar 80.3% dan 81.0%.Berdasarkan besarnya pendapatan dan biaya operasional Perum pegadaian tersebut. terutama sebagai dampak meningkatnya beban bunga dan . Rasio tersebut menunj ukkan terjadinya penurunan efisiensi.

Jika dibandingkan d engan rasio BPR sebesar 1. sedangkan ROA BRI UDes sebesar 4. Profitabilitas yang tinggi t ersebut mampu diraih Perum Pegadaian karena besarnya sewa modal hampir sama dengan suku bunga perbankan. Koefisien tersebut menunjukkan bahwa pada tahun 19 98 terjadi penurunan kemampuan Perum Pegadaian dalam meraih keuntungan. Disamping itu .3% dan 1.4% (1998).1% dengan ROE sebesar 4.4 kali.7%) dan BRI UDes (84.7% (1997) dan 9.8% dan 3.3% (1998). Dengan membandingkan besarnya rasi o profitabilitas Perum Pegadaian dan BPR untuk masing-masing periode tersebut terl ihat bahwa kemampuan Perum Pegadaian dalam meraih keuntungan relatif lebih baik jika dibandingkan dengan BPR dan BRI UDes (Lampiran 13). Cadan gan tersebut tidak dihimpun oleh Perum Pegadaian karena nilai pinjaman yang diberika n sudah didiskonto dari nilai pasar/taksiran barang jaminan (Lampiran 13).3% . Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pada tahun 1997 dan 1998 Perum Pegadaian mempunyai kemampuan untuk memenuhi kewajiban lancarnya sebesar 2.4 kali dan untuk tahun 1998 tidak berubah yaitu sebesar 2. Sementara ROA yang mampu diraih BPR sebesar 1. Salah satu aspek yang mendorong tingginya efisiensi yang mampu diraih P erum Pegadaian dibandingkan dengan BPR dan BRI UDes adalah karena Perum Pegadaian tid ak memperhitungkan cadangan kredit macet dalam komponen biaya operasionalnya. Pencapaian rasio tersebut berarti telah sesuai dengan target yang ditetapkan.6% dari target tahun 1998.1%). Maret 1999 provisi yang sudah mencapai 112. sementara realisasi p endapatan sewa modal baru mencapai 82.3%. dan koefisien ROE s ebesar 10.84 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Perum Pegadaian masih mencata t tingkat efisiensi yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan BPR (95. di sisi lain sumber dana be rsubsidi yang diperoleh serta modal Perum Pegadaian cukup besar. Likuiditas Rasio antara aktiva lancar dengan kewajiban lancar Perum Pegadaian rata-rata tah un 1997 sebesar 2.4%. Profitabilitas Dengan menggunakan indikator ROA dan ROE.5% (1997) dan 4. Perum Pegadaian memiliki struktur modal yang lebih kuat dan juga memperoleh pinjaman d engan suku bunga relatif murah. khususnya pada masa krisis ekonomi.2 kali menunjukkan bahwa Perum Pegadaian mempunyai kemampuan yang lebih baik dalam memenuhi kewajiban lancarnya (Lampiran 13). Meskipun demikian.7% dan 3. untuk periode 1997 dan 1998 diperoleh koefisien ROA sebesar 6. Solvabilitas .4 kali.

Kemampuan Perum Pegadaian untuk memenuhi semua kewajibannya berdasarkan rasio antara total hutang dengan total aktiva rata-rata tahun 1997 dan tahun 199 8 adalah .

Pada per iode 1996 s. sisa omzet dibagi secara merata diantara golongan lainnya . C.8% dan 89%.1%. golongan B dan C turun menjadi 8. Pada bagian pertama (Lampiran 1 5-A). Untuk tujuan tersebut.39%. Sementara itu.26% (1998) (Lampiran 15-A).Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekono mi Rakyat 85 sebesar 64. yang terlihat dari meningkatnya marjin tertimbang (weighted prof it/loss) dari 7. dan D serta pengaruh peningkatan porsi omzet pada gol ongan A terhadap keuntungan yang mampu diraih Perum Pegadaian. D sebesar 8. Rasio tersebut menunjukkan bahwa Perum Pegadaian mempunyai kemampuan lebih besar dalam memenuhi seluruh kewajibannya dibandingkan dengan BPR dan BRI UDes (Lampiran 13). Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa secara umum harga kredit di Perum Pegadaian lebih mahal dibandingkan perbankan. bahwa Perum Pegadaian masih memiliki marjin yang positif untuk semua golongan selain A.d 1998 perbankan mencatat marjin negatif dengan kecenderungan semakin besar pa da tahun 1998. lebih baik jika dibandingkan dengan BPR dan BRI UDes dengan rasio masingmasing sebesar sebesar 76. Kebijakan Per um Pegadaian untuk menaikkan sewa modal pada Juni dan Agustus 1998.76% (Lampiran 14). Turunnya marjin pada golongan A. Defisit pada golongan A yang ditandai oleh marjin negatif. telah berdampak cukup berarti pada perubahan besarnya marjin.24%. sejalan dengan komitm en Perum Pegadaian untuk membantu nasabah mikro dengan menerapkan subsidi silang pa da sewa modal.26%. sedangkan gol ongan D (rata-rata D dan D1) meningkat menjadi 13. Untuk golongan A terjadi peningkat an marjin negatif menjadi 7. Marjin yang diperoleh Perum Pegadaian tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan perbankan (Lampiran 16). C. B dan C tersebut ternyata tidak men yebabkan penurunan laba. Namun karena prosedurnya mudah. dilakukan peningkatan porsi omzet pada nasabah golongan A secara bertahap sebesa r 5 persen. Dalam simulasi pertama ini. Marjin yang diperoleh pada tahun 1997 unt uk nasabah golongan A adalah 3.34% (1997) menjadi 10. Biaya Aktiva Produktif dan Analisis Sensitivitas Marjin (selisih biaya dana yang ditanamkan dalam bentuk aktiva produktif dengan sewa modal pada masing-masing golongan nasabah) yang diperoleh pada masa sebelum dan sesudah krisis menunjukkan. Analisis sensitivitas dilakukan untuk melihat sejauh mana pengaruh penurunan marjin pada golongan B.61% dan golongan B. marjin keuntungan/kerugian untuk tiap golongan dianggap sa . ma ka masyarakat masih tertarik untuk meminjam dari Perum Pegadaian. dilakukan simulasi yang terdiri dari dua bagian.

sementara untuk simulasi selanjutnya akan menurunkan keuntungan nominal sebesar +Rp 20 miliar.2 miliar pada saat omzet nasabah golongan A sebesar 60 %. Pegadaian baru akan merugi sebesar Rp 7.ma dengan kondisi pada tahun 1998. Berdasarkan hasil simulasi terlihat bahwa setiap peningkatan porsi omzet terhadap nasabah golongan A sebesar 5% akan pada simulas i ke1 akan menurunkan keuntungan nominal + Rp 44 miliar. .

Produktivitas omset yang diukur deng an rasio antara realisasi omset dengan jumlah pegawai selama Januari . Pegadaian masih memiliki keuntungan Rp 17.9 M Jumlah Pegawai Rasio 6.243 Rp 371.76%. dilakukan penurunan marjin keuntungan pada nasabah golongan B. Berdasarkan hasil simulasi terlihat bahwa s etiap penurunan marjin keuntungan sebesar 1 % pada golongan B. marjin untuk nasabah golongan A dibiarkan tetap dan distribusi omzet untuk tiap golongan nasa bah sama dengan kondisi pada tahun 1998.318 miliar dengan jumlah pegawai sebanyak 6.86 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Produktivitas Omset Realisasi omset sampai dengan 30 September 1998 adalah sebesar Rp 2.2% dari target ya ng ditetapkan untuk tahun 1998. dan D = 3. Rasio yang dicapai pada tahun 1998 tersebut masih l ebih besar dibandingkan tahun 1996 (Rp 311 juta) dan 1997 (Rp 340 juta).3 juta Berdasarkan realisasi tersebut terlihat bahwa produktivitas omset yang mampu dic apai Perum Pegadaian sampai dengan September 1998 sudah mencapai 79. Produktivitas omset untuk tahun 1998 tersebut adalah sebagai berikut : Tabel 4.9 Tahun 1998 . Sedangkan be rdasarkan analisis untuk masing-masing wilayah kerja Perum Pegadaian menunjukkan bahwa pegadaian di wilayah Ujungpandang mempunyai produktivitas omset terbesar (Rp 682 . dan D 15 . C.74%.24%. Berdasarkan kedua simulasi tersebut di atas.3 juta. dan D secara bertahap sebesar 1%. B = -1. C = 1.6 miliar pad a saat marjin untuk tiap golongan nasabah sebagai berikut : A = -7.6 Target dan Realisasi Produktivitas Omset Target Realisasi Omset Rp 9.317.74%.3 juta Rata-rata per bulan Rp 52 juta Rp 41.. C. Maret 1999 Pada bagian kedua (Lampiran 15-B).3 juta per bulan. Pada bagian ini. Perum Pegadaian masih memiliki ruan g untuk meningkatkan porsi pemberian kredit kepada nasabah golongan A dan menurunk an sewa modal pada golongan B.243 orang.September 19 98 yaitu sebesar Rp 371.5 juta 6. C dan D akan menurunkan keuntungan +Rp 22 miliar. atau rata-rata Rp 41.243 Rp 468.925 M Rp 2.

. Perum Pegadaian telah menetapkan keputusan (SK.15 Berdasarkan informasi.C dan D) yang berlaku mulai tanggal 1 Maret 1999 . No. 16 /UT/II/1999) untuk menurunkan besarnya sewa modal (golongan B.

7 Target dan Realisasi Rasio Nasabah dengan Jumlah Pegawai Tahun 1998 Target Realisasi Jumlah Nasabah 6.1 juta 7.1 juta). Rasio Nasabah dengan Jumlah Pegawai Rasio antara nasabah dengan jumlah pegawai selama Januari. 4.243 982 6. sementara target yang ditetapkan untuk tahun 1998 sebesar 982 orang atau sekitar 82 orang per bulan.1 juta Jumlah Pegawai Rasio 6.3 (1998).September 1998 sebesa r 1.7 orang atau rata-rata setiap pegawai dapat melayani sebanyak 126 orang pe r bulan.3 Masalah yang Dihadapi Perum Pegadaian Masalah Temporer Lonjakan nasabah yang sangat besar terutama sejak Juni 1998 telah menyebabkan Perum Pegadaian melakukan overdraft yang besar atas pinjaman rekening koran di B RI. 1. sedangkan produktivitas terendah adalah wilayah Sumatera dengan rasio sebesar 806. Untuk masing-masing wilayah kerja. Rasio tersebut meningkat jika dibandingkan dengan rasio tahun 1 996 (907.133.9 (1998) dan 1.379 orang (199 7). Rasio antara jumlah nasabah dengan jumlah Pegawai tahun 1998 adalah sebagai berikut : Tabel 4. r asio nasabah dengan pegawai tertinggi baik sebelum maupun sesudah krisis ekonomi terd apat di wilayah Ujungpandang dengan rasio sebesar 1.137 Rata-rata per bulan 82 126 Rasio tersebut menunjukkan bahwa realisasi rasio jumlah nasabah dengan jumlah pegawai yang dicapai Perum Pegadaian sampai 30 September 1998 telah melampaui ta rget yang ditetapkan.1. sedangkan produktivitas omset terendah terdapat di wilayah Sumatera (Rp 336.400. sedangkan yang terendah pada 1997 adalah Perum Pegadaian di wilayah Jawa.6 orang). .Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekono mi Rakyat 87 juta) baik sebelum maupun sesudah krisis ekonomi..243 1.8 orang) dan tahun 1997 (862.582 orang (1996) nasabah untuk satu orang pegawai. 480 orang (1997) dan 448 nas abah (1996) untuk satu orang pegawai.

yang mengakibatkan BRI menghentikan pemberian kredit lebih lanjut ke Perum Pegad aian .

Jika mengacu pada ketentuan yang menetapkan re alisasi uang pinjaman untuk nasabah golongan A sebesar 90%.9% .7 miliar). Sebelumnya.5 juta) sebesar 81% dan D (diatas 2. B sebesar 71. D (diba wah 2. Maret 1999 sejak pertengahan Agustus 1998. perbandingan tersebut relatif rendah dengan per sentase secara nasional sebesar 73. Untuk mengatasi hal tersebut Perum Pegadaian telah memperoleh RDI Pemerint ah sebesar Rp 100 miliar (4 September 1998) serta KLBI sebesar Rp 50 miliar pada bu lan Desember 1998. Nilai realisasi uang pinjaman dengan persentase t ertinggi diberikan oleh Kantor Daerah Jember (81.8).4% dan D 73. Saldo pinjaman rekening koran di BRI tersebut pa da akhir September 1998 sebesar Rp 284.3%. Kesulitan likuiditas yang dialami Perum Pegadaian juga terlihat dari perbandinga n antara realisasi pinjaman yang diterima nasabah dengan nilai taksiran yang ditet apkan. Tabel 4. sementara penerbitan obligasi baru ku rang laku.5%. Kesulitan likuiditas tersebut semakin dalam karena Perum Pegadaian harus membaya r pokok dan bunga obligasi yang jatuh tempo. B dan C sebesar 85%. Sampai dengan 30 September 1998. Realisasi Pinjaman yang Diterima Nasabah Tahun 1998 Golongan Nasabah Ketentuan Realisasi Pinjaman (%)*) Realisasi Pinjaman yang Diterima Nasabah (%) A B C D 90 . C sebesar 73. sedangkan yang terendah diberikan o leh Kantor Daerah Balikpapan (65.8%).8.88 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Damp ak dari kesulitan likuiditas tersebut adalah semakin terbatasnya kemampuan Perum Pe gadaian dalam memberikan kredit kepada masyarakat. sejak November 1998 setiap kantor daerah wajib melakukan setor an ke kantor pusat secara proporsional berdasarkan modal kerja yang dimanfaatkan. maka nilai rata-rata realisasi uang pinjaman terhadap nilai taksiran untuk golongan A sebesar 85.2%).1% masih lebih kecil dari ketentuan yang berlaku (Tabel 4. Kon disi tersebut tentunya kurang menguntungkan bagi nasabah yang membutuhkan dana lebih besar kar ena pinjaman yang diterima jauh lebih kecil dari nilai taksiran maupun nilai pasar b arang yang diagunkan.3 miliar (plafond Rp 181.5 juta) sebesar 81%.

maka berdasarkan SE No. 37-OPP-1/1/23 tgl.85 85 81 85. 28/OPP.9 73.3 71. Perum Pegadaian menurunkan plafon maksimum pinjaman yang .1/1/117 tanggal 17 Juni 1998.1 *) SE No.4 73. 30 Juli 1998 Kebijakan yang telah ditempuh agar tetap mampu melayani sebanyak mungkin nasabah dalam kondisi keterbatasan dana.

kondisi tersebut berpotensi menyebabkan beralihnya n asabahnasabah potensial tersebut ke sumber pendanaan lainnya (seperti toko emas dan pegadaian gelap) yang masih bersedia memberikan pinjaman lebih dari Rp 5 juta. Kebijakan l ain adalah dengan memberlakukan sistem antrian (waiting list) seperti yang diterapkan oleh beberapa kantor cabang. Beberapa kantor cabang yang diamati bahkan telah melakukan pembatasan plafon pin jaman maksimum untuk seorang nasabah rata-rata kurang dari Rp 5 juta. Sementara itu. maka Perum Pegadaian sejak 30 Juni 1998 menempuh kebijakan dengan menaikkan suku bunga pinjaman untuk golongan D dengan nilai pinjaman di atas Rp 500 ribu (Lampiran 5). setiap kantor daerah rata-rata membawahi lebih d ari 50 Kanca dengan frekuensi pemeriksaan untuk masing-masing kantor cabang rata-rata 3 4 kali dalam satu tahun. namun di sisi lain menimbulkan permasalahan tersendiri bagi Perum Pegadaian. kebijakan tersebut dianggap memberatkan bagi beberapa nasabah meskipun bagi nasabah lainny a tidak terlalu memperdulikan kenaikan suku bunga tersebut. Dengan j umlah tenaga pemeriksa hanya 4 orang.16 Dampak kebijakan penurunan batas maksimum pinjaman tersebut adalah semakin sulitnya nasabah-nasabah potensial untuk bisa memperoleh pinjaman di atas Rp 5 j uta dengan satu barang jaminan. Kenaikan suku bunga pasar juga menimbulkan permasalahan tersendiri bagi Perum Pegadaian karena biaya dana yang sebagian besar diperoleh dari kredit bank semak in besar.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekono mi Rakyat 89 dapat diperoleh nasabah dari Rp 20 juta (golongan D) menjadi maksimum Rp 5 juta per SBK. Namun di sisi nasabah. Luasnya jaringan kerja tersebut di satu sisi sangat mendukung usaha Perum Pegadaian dalam membantu masyarakat. Kebijakan terseb ut tetap dipertahankan sampai saat ini meskipun sudah ada tambahan dana RDI dan KLBI yang sebagian justru ditanamkan dalam bentuk deposito. Untuk memperkecil dampak naiknya suku bunga pasar. Permasalahan yang timbul terutama adalah terlalu luasnya rentang kendali masing-masing kantor daer ah terhadap kantor cabang-kantor cabang yang ada di wilayah koordinasinya. Permasalahan Struktural Perum Pegadaian sebagai satu-satunya lembaga keuangan yang memberikan pinjaman dengan sistem gadai mempunyai jaringan kantor cabang yang sangat banyak dengan wilayah operasional yang sangat luas. kanda di luar Jawa harus membawahi kanca y . bahkan pada beberapa kantor cabang terpaksa melakukan penutupan k antor sebelum waktunya.

Luasnya rentang kendali tersebut belum diimbangi dengan 1 6 Menurut Perum Pegadaian. dana sebesar Rp 50 milyar yang disimpan dalam bentu k deposito (on call) dengan jangka waktu kurang dari 1 bulan dimaksudkan untuk cadangan pelunasan pinjaman B RI yang jatuh tempo.ang secara geografis terlalu jauh. .

dwilipat kunci disimpan oleh Kepala Cabang karena da lam setiap pemeriksan intern dwilipat kunci tersebut diperiksa sampai sejauh mana penyalahgunaan pemakaiannya .90 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Kantor daerah dan kantor cabang tidak diperbolehk an untuk menetapkan besarnya tingkat sewa modal (suku bunga) meskipun terhadap nasabah-nasabah potensial. Sistem manajemen yang diterapkan oleh Perum Pegadaian saat ini cenderung menekankan pada besarnya peranan kantor pusat. antara lain dalam : (i) Penetapan besarnya sewa modal. Dampak dari ketentuan ini adalah. Sistem manajemen yang sentralistik tersebut tercermin pada terpusatnya wewenang penetapan kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan operasional Perum Pegadaian. (iii) Penghimpunan dana. Permasalahan struktural lainnya terutama adalah masih terdapatnya beberapa kelemahan prosedur yang dapat mendorong terjadinya berbagai penyimpangan. Maret 1999 sarana komunikasi yang memadai sehingga belum dapat menunjang pemantauan kinerja kanca-kanca secara efektif. (ii) Penetapan harga patokan emas. Wewenang untuk menghimpun dana sepenuhnya berada di kantor pusat dimana baik kantor daerah maupun kantor cabang tidak diperbolehkan menghimpun dana sendiri. Harga patokan emas ditetapkan oleh kantor pusat dengan berdasarkan harga emas di Jakarta. Sistem ini berdampak pada lambatnya antisipasi kantor cabang dalam merespon perkembangan harga emas di daerah. Sistem manajemen tersebut dalam jangka panja ng akan menimbulkan permasalahan tersendiri khususnya jika kebijakan pemberian oton omi yang lebih besar untuk masing-masing propinsi di Indonesia akan dilaksanakan ole h Pemerintah. namun di sisi lain berpotensi menghambat kinerja Perum Pegadaian. Penyimpangan tersebut antara lain adalah 17 Menurut Perum Pegadaian. masing-masing kantor daerah atau kantor cabang tidak mampu memanfaatkan potensi daerah sepenuhnya terutama dalam kondisi terbatasnya likuiditas seperti yang dialami dewasa ini. serta sewaktu-waktu dapat digunakan apabila pemegang kunci utama (pemegang gudang) berhalangan untuk masuk . dalam penelitian lapangan juga dijumpai beberapa k egiatan yang dapat dikategorikan sebagai penyimpangan. Disamping kelemahan tersebut. Sistem manajemen sentralistik ter sebut di satu sisi dapat menunjang sistem internal control yang handal. Bebera pa kelemahan prosedur yang dijumpai antara lain adalah kewenangan Kantor daerah yan g seakan tanpa batas dalam memutuskan besarnya nilai pinjaman di atas plafon Rp 20 juta serta penyimpanan seluruh kunci duplikat pada satu orang (Kepala Kantor Cabang) 17 .

kerja. .

serta tidak dilaksanakannya prosedur internal control kluis dan gudang. khususnya yang berpendapatan rendah. mayoritas nasabah (± 59%) mempergunakan pinjaman yang diperoleh dari Perum Pegadai an untuk tujuan produktif seperti modal kerja (56%) dan bridging financing (3%).d Rp 500 ribu per bu lan. Berdasarkan penggunaann ya. mayoritas berpenghasilan antara Rp 150 ribu s. Perum Pegadaian juga akan terus menghadapi risiko fluktuasi harga barang jaminan akibat fluktuasi nilai tukar mengingat besarnya jumlah agunan di Perum Pegadaian berupa emas/perhiasan yang harganya mengikuti pergerakan harga pasar internasional. Hal tersebut menunjukkan adanya peningkatan jumlah barang jaminan dalam b entuk emas/perhiasan semenjak terjadinya krisis ekonomi di Indonesia. Pada umumnya masyarakat. Persepsi Masyarakat Berdasarkan hasil penelitian lapangan ke beberapa kantor cabang. Namun dalam pr akteknya dijumpai beberapa kantor cabang yang berlokasi di wilayah kota besar masih melakukan praktek trans fer antarcabang. emergency (5%). meskipun di . Pengguna an dana oleh nasabah sangat beragam baik untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat pro duktif (misalnya untuk modal kerja dan bridging financing) sampai untuk memenuhi kebutu han yang bersifat konsumtif (misalnya untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekono mi Rakyat 91 praktek transfer dana antarcabang 18. kebutu han sehari-hari (16%). se dangkan sisanya mempergunakan untuk tujuan konsumtif seperti biaya sekolah (17%). biaya s ekolah dan kebutuhan mendesak lainnya). pelanggaran kriteria barang jaminan yang d apat diterima Perum Pegadaian 19 . ditemukan berba gai persepsi masyarakat terhadap Perum Pegadaian. Sementara itu. merasa sangat terbantu oleh Perum Pegadaian. Nilai barang jaminan dalam bentuk emas/perhiasan pada tahun 1998 dan 1997 masing-masing sebesar 75% dari total pinjaman meningkat dibandingkan tahun 1996 (72%). Sebagian besar nasabah tersebut tidak mempunyai akses ke perbankan atau tidak ma u berhubungan dengan perbankan karena prosedur yang rumit. Dari 90 nasabah yang dipilih secara acak dan be rhasil diwawancarai. (Grafik 3). penyimpanan barang jaminan pada tempat yang tidak sesuai dengan prosedur. dan lain-lain (3%). 18 Menurut Perum Pegadaian. praktek transfer antarcabang masih diijinkan sepanja ng BRI yang terdapat di wilayah kantor cabang tersebut tidak menyediakan fasilitas rekening giro.

19 Menurut Perum Pegadaian.wilayah tersebut terdapat kantor BRI yang cukup besar. barang jaminan yang tidak memenuhi ketentuan yang su dah ditetapkan masih bisa diterima asalkan secara ekonomis tidak menimbulkan kerugian bagi Perum Pegadaian . .

sehingga nasabah khususnya nasabah besar mulai merasakan bahwa Perum Pegadaian tidak selalu dapat memberikan pinjaman sesuai permintaan mereka.2%). keunggulan Perum Pegadaian dibandingkan lembaga pember i pinjaman lainnya terutama adalah dari segi pelayanan kepada nasabah. khususnya f aktor keamanan barang jaminan dan kewajaran nilai taksiran. pe gadaian gelap atau toko emas. Kesulitan likuiditas yang dialami sejak Agustus 1998 berdampak pada berkurangnya kemampuan Perum Pegadaian dalam melayani nasabah. Dengan melihat keunggulan tersebut nasabah Perum Pegadaian pada umumnya tidak terlalu memperdulikan besarnya suku b unga meskipun saat ini relatif tinggi pada kondisi suku bunga pasar yang cenderung me nurun. berpenghasilan rendah dan mempergunakan dana yang diperoleh dari Perum Pegadaian untuk tujuan produktif.92 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Menurut persepsi nasabah. Disamping persepsi positif nasabah tersebut. Financing 3% Keb.3%) terbanyak kedua ad alah nasabah berpendidikan SLTP (20%) dan yang paling sedikit adalah nasabah dengan pendidikan tidak tamat SD (2. Sehari-hari 16% Modal Kerja 56% Sedangkan berdasarkan tingkat pendidikannya. menyebabkan pada beberapa wilayah masyarakat masih merasa malu untuk berhubungan . Kondisi tersebut mendorong beberap a nasabah besar untuk beralih ke pemberi pinjaman lainnya seperti pelepas uang. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas nasabah mempunyai pendidikan yang cukup. mayoritas responden yang banyak berhubungan dengan Perum Pegadaian berpendidikan SLTA (43. Komposisi Penggunaan Dana oleh Nasabah Biaya Sekolah 17% Emergency 5% Lain-lain 3% Brid. Maret 1999 Grafik 3. Kurangnya sosialisasi/pemasaran produk Perum Pegadaian kepada masyarakat. dari penelitian lapangan juga ditem ukan bahwa beberapa nasabah merasakan tingginya suku bunga Perum Pegadaian saat ini s erta sistem penghitungan bunga dengan acuan minimal 15 hari dirasakan cenderung merug ikan nasabah.

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekono mi Rakyat 93 dengan Perum Pegadaian. Namun tidak semua masyarakat merasa malu berhubungan den gan Perum Pegadaian, terlihat pada beberapa wilayah seperti Ujung Pandang (mencakup Sulawesi, Maluku, dan Irian Jaya) serta Kodya Yogyakarta, sedangkan pada beberapa wilayah kantor Perum Pegadaian lainnya yang diamati sebagian nasabah masih merasa malu untuk berhubungan langsung dengan pegadaian dan lebih suka menggunakan jasa perantara (calo). 4.2 Program Pemberdayaan Ekonomi Rakyat Perhatian terhadap ekonomi kerakyatan semakin meningkat seiring dengan meluasnya ketimpangan ekonomi dan kesenjangan sosial. Salah satu faktor dalam pemberdayaan ekonomi rakyat adalah pemberian prioritas dan bantuan dalam pengembangan usaha kepada ekonomi lemah. Berkaitan dengan pemberdayaan ekonomi rakyat tersebut, pemerintah telah menempuh berbagai upaya yang antara lain meliputi : 1. Kredit Program Dalam rangka mendorong berputarnya roda perekonomian di lapisan bawah yang saat ini menghadapi kesulitan sumber-sumber pembiayaan/pendanaan di lembaga formal (bank), maka Bank Indonesia mendorong komitmen perbankan dalam melayani usaha kecil (KUK), merealisasikan berbagai skim kredit program yang dananya berasal da ri KLBI (seperti KKPA, KKop, KUT, dll), memberi bantuan teknis yang diarahkan kepad a kemitraan dan pendekatan kelompok melalui PPUK, PHBK dan PKM serta mengembangkan kelembagaan keuangan sesuai kebutuhan usaha kecil menengah dan koperasi. 2. Program Jaring Pengaman Sosial (JPS) Program JPS ditujukan untuk menciptakan kesempatan kerja produktif bagi pengangg ur, meningkatkan pendapatan dan daya beli masyarakat, meningkatkan kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat terutama yang terkena dampak krisis serta mengkoordinasikan berbagai program penanggulangan dampak krisis dan berbagai program penanggulangan kemiskinan. Realisasi JPS ditempuh dalam empat program; (i) program ketahanan pangan, (ii) program padat karya dan penciptaan lapangan k erja produktif (iii) program perlindungan sosial, dan (iv) program pemberdayaan ekonom i rakyat. 3. Reformasi Struktural Sektor Riil Program ini dijalankan melalui reformasi di bidang perdagangan, investasi, dereg ulasi dan privatisasi, yang diwujudkan dengan berbagai kebijakan untuk menghapuskan berbagai aspek yang menyebabkan inefisiensi dalam perekonomian. Semakin berkurangnya kemampuan perbankan dalam memberikan pinjaman kepada masyarakat dewasa ini semakin membuka peluang bagi Perum Pegadaian untuk berpera n lebih besar dalam program pemberdayaan ekonomi rakyat.

94 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Maret 1999 Potensi Perum Pegadaian tersebut dapat dilihat dari beberapa aspek, yaitu : a. Kesiapan jaringan kerja dan sumber daya manusia Perum Pegadaian mempunyai jaringan kerja yang sangat luas (633 kantor cabang) ya ng tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Selain jaringan kerja yang sangat luas, P erum Pegadaian juga didukung oleh jumlah dan kualitas pegawai yang cukup memadai. b. Keberpihakan pada masyarakat khususnya golongan ekonomi lemah Keberpihakan Perum Pegadaian kepada masyarakat khususnya golongan ekonomi lemah terlihat dari relatif kecilnya skala kredit yang diberikan dibandingkan dengan l embaga formal lainnya, dengan plafon terendah Rp 5.000 dan tertinggi Rp 20 juta. Disamp ing itu, Perum Pegadaian juga masih memberikan peluang bagi permintaan pinjaman dalam skala yang lebih besar (diatas Rp 20 juta). Prosedur pengajuan dan pelunasan pin jaman relatif mudah dan cepat. Suku bunga pinjaman yang dikenakan Perum Pegadaian pada umumnya juga relatif rendah. Nasabah pegadaian sebagian besar merupakan nasabah mikro dan mayoritas berprofesi sebagai petani. Keberpihakan tersebut juga tercer min dalam misi yang ditetapkan dalam periode RJP II untuk ikut meningkatkan kemakmur an dan kesejahteraan masyarakat golongan menengah ke bawah melalui penyediaan dana berdasarkan hukum gadai secara inovatif dan melakukan usaha lain yang menunjang. c. Meningkatnya jumlah pinjaman yang diberikan. Pinjaman yang diberikan pegadaian kepada masyarakat semakin meningkat seiring dengan lonjakan permintaan khususnya sejak krisis ekonomi. Lonjakan tersebut merupakan dampak semakin sulitnya akses masyarakat ke perbankan. d. Kinerja yang semakin meningkat Perum Pegadaian merupakan salah satu usaha di sektor keuangan yang masih dapat bertahan di masa krisis ekonomi dewasa ini bahkan menunjukkan kinerja yang semak in meningkat, khususnya jika dibandingkan dengan BPR. Kinerja efisiensi, profitabil itas, likuiditas maupun solvabilitas Perum Pegadaian pada umumnya juga relatif lebih b aik jika dibandingkan dengan lembaga lain khususnya BPR dan BRI UDes. e. Keunggulan Perum Pegadaian Keunggulan utama Perum Pegadaian dibandingkan lembaga lain adalah prosedur yang mudah, murah dan cepat. Disamping itu pemberian pinjaman dengan sistem gadai dap at memperkecil moral hazard khususnya dalam penyaluran kredit-kredit bersubsidi, ka rena dengan sistem gadai nasabah dididik untuk berupaya mengembalikan pinjaman yang diterima. Potensi Perum Pegadaian untuk berperan dalam pemberdayaan ekonomi rakyat terlihat jelas terutama pada aspek keberpihakan pada masyarakat kecil. Pelaksana an peran tersebut selama ini dilakukan oleh Perum Pegadaian dengan memberikan pinjaman ke pada masyarakat (khususnya masyarakat berpendapatan rendah) dalam skala kecil dengan

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekono mi Rakyat 95 prosedur dan persyaratan yang mudah dan murah. Nasabah mikro pada Perum pegadaia n tersebut terutama adalah golongan A (dengan nilai pinjaman antara Rp 5.000 Rp 40 .000) pada tahun 1998 mencapai 41,4% total nasabah. Namun porsi dan nilai pinjaman yan g diperoleh golongan ini relatif sangat kecil (rata-rata sebesar Rp 18.000) diband ingkan golongan B,C dan D. Kecilnya skala pinjaman golongan A tersebut juga terlihat da ri jenisjenis barang yang banyak dijadikan agunan seperti : kain, alat rumah tangga (misal : k uali/ panci, piring, sendok, lampu tekan, dll), sepeda dan lain-lain. Fenomena tersebu t nampak jelas di kantor-kantor Perum Pegadaian di wilayah Jawa, khususnya di wilayah pan tai utara. Total nilai pinjaman untuk golongan A pada tahun 1998 sebesar Rp 115,4 mi liar atau hanya sebesar 5% dari total omset Perum Pegadaian. Namun perkembangan terakhir menunjukkan kecenderungan pergeseran orientasi pemberian pinjaman ke nasabah bes ar (golongan D) meskipun Perum Pegadaian masih mempunyai peluang untuk meningkatkan porsi pinjaman untuk nasabah mikro (golongan A). Sejalan dengan perkembangan usaha Perum Pegadaian, terlihat kebijakan Perum Pegadaian untuk mengembangkan produk-produk baru yang di luar lingkup usaha pegadaian. Salah satu produk yang akan dikembangkan yaitu memberikan kredit deng an jaminan surat berharga dan sertifikat tanah, serta kredit dengan sistem pinjam p akai sebenarnya sudah tidak sesuai dengan prinsip dari hukum gadai yang mewajibkan ba rang jaminan berbentuk barang bergerak dan dititipkan (tidak boleh dipakai oleh pemil iknya). Begitu pula dengan adanya rencana untuk mengembangkan produk-produk pembiayaan lainnya merupakan suatu upaya yang kurang sesuai dengan misi dari Perum Pegadaia n yang ingin melayani kebutuhan masyarakat golongan menengah ke bawah. Namun renca na tersebut justru menimbulkan kekhawatiran akan terjadi pergeseran dari core busin ess Perum Pegadaian dan orientasi nasabah yang dilayani seperti yang ditetapkan dalam PP N o. 10 tahun 1990. Apalagi pada beberapa tahun terakhir terdapat kecenderungan di dalam kelompok-kelompok usaha untuk kembali ke core business masing-masing untuk meningkatkan kinerja usahanya. Oleh karena itu, pengembangan produk-produk baru diusahakan tetap dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat kecil apabila tetap mengacu pada prinsip-prinsip hukum gadai dan misi perusahaan, dengan tetap berpihak pada masyarakat berpendapatan rendah. V. PENUTUP 5.1 Kesimpulan

1. . Perkembangan Perum Pegadaian dalam tiga tahun terakhir cukup pesat. khususnya tahun 1998 (setahun terakhir) terjadi pelonjakan kinerja terutama karena beralih nya sebagian nasabah perbankan ke Perum Pegadaian.

sementara dana pelunasan obligasi yang dihimpun (sinking fund) kura ng memadai. Perum Pegadaian memiliki keunggulan dalam kualitas pinjaman yang diberikan. 3.6 juta (September 1998) dengan mayoritas merupakan nasabah mikro (40. sementara dana yang diperoleh sebagia n besar bersuku bunga rendah. C dan D dengan tetap memberika n subsidi bagi golongan A.96 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Untuk menutupi kekurangan dana tersebut (khususnya modal kerja).5%). Maret 1999 2. 5. Meskipun demikian. Perum Pegadaian melakukan penarikan overdraft sangat besar sehingga mengakibatkan penghentian pemberian fasilitas ov erdraft BRI. Perum Pegadaian mempunyai beberapa kelemahan struktural yang dapat menghambat peningkatan kinerja dan merupakan potensi timbulnya berbagai penyimpangan yaitu : terlalu luasnya rentang kendali manajemen yang tidak didukung dengan sistem dan sarana pengawasan/pelaporan yang memadai. profitabilitas dan efisiensi. Jarin gan Perum pegadaian yang didukung oleh 633 kantor menjangkau seluruh wilayah Indones ia sampai ke pedesaan. serta sistem manajemen yang sangat . Namun masih terdapat peluang (room) bagi Perum Pegadaian untuk menurunkan sewa modal khususnya untuk golongan B. Secara makro dan jika dibandingkan dengan BPR dan BRI UDes yang memiliki pasar yang hampir sama. Pada periode Agustus s. sumbangan Perum Pegadaian dalam pemberian kredit masih lebih rendah. Kredit yang diberikan terutama kepada nasabah menengah ke ba wah yang pada umumnya bergerak di sektor informal dan tidak memiliki akses ke perban kan. 7. 6. Perum Pegadaian telah ikut berperan dalam kegiatan pembiayaan usaha kecil. Dalam tiga tahun terakhir telah terjadi pergeseran pemberian kredit dari nasabah kecil ke nasabah besar. Hal ini terutama disebabkan oleh perubahan orientasi kebijakan Pe rum Pegadaian untuk meningkatkan laba serta kenaikan golongan pinjaman karena adanya kenaikan harga barang jaminan. Suku bunga (sewa modal) yang dikenakan Perum Pegadaian kepada nasabah saat ini relatif tinggi. 4. serta meningkatkan porsi pemberian kredit bagi golongan A tanpa menimbulkan kerugian bagi Perum Pegadaian. Peran Perum Pegadaian dalam mendukung pemberdayaan ekonomi rakyat cukup besar terlihat dari jumlah nasabah mencapai 6. Perum Pegadaian mengalami kesulitan likuiditas akibat lonjakan permintaan nasabah dan kurangnya peminat obligasi yan g diterbitkan. Untuk memenuhi lonjakan tersebut. Perum Pegadaian telah memperoleh fasilitas RDI dari Pemerintah dan KLBI. Keunggulan dalam profitab ilitas dan efisiensi tersebut terutama disebabkan oleh tingginya sewa modal yang dikena kan (hampir sama dengan suku bunga perbankan).d September 1998.

.sentralistik.

Dengan mempertimbangkan potensi dan rencana jangka panjang. untuk mengkaji apakah akan melakukan pemindahan kantorkan tor cabang tersebut ke lokasi yang lebih strategis atau melakukan penutupan.1 Saran 1. Di samping itu. Sistem manajemen pendanaan secara sentralistik yang diterapkan Perum Pegadaian sampai saat ini nampaknya sangat sejalan dengan teori FF. namun dari penelitian diperoleh temuan bahwa daerah juga mempunyai potensi pendanaan (sesuai dengan teori RFM). Berdasarkan kinerjanya Perum Pegadaian memiliki potensi untuk berperan dalam channeling pemberdayaan ekonomi rakyat.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekono mi Rakyat 97 8. Perum Pegadaian perlu lebih intensif dalam memonitor nasabah. maka Pemerintah perl u mengkaji kemungkinan pemberian izin bagi perusahaan lain untuk bergerak dalam usaha pegadaian. 3. 5. Mengingat masih besarnya potensi pasar yang dapat dimanfaatkan oleh lembaga keuangan yang memberikan pinjaman berdasarkan sistem gadai.40%. Perum Pegadaian perlu melakukan evaluasi secara lebih intens terhadap kantor-kan tor cabang yang merugikan. tersedianya room yang cukup luas. Sesuai dengan misi Perum Pegadaian yang didukung oleh sumber dana yang mayoritas bersubsidi. 5. nampaknya Perum Pegadaian perlu lebih menekankan pada pemberian kredit daripada melakukan usahau saha lain di luar core usaha Perum Pegadaian. maka sud ah saatnya besarnya sewa modal diturunkan. 4. 6. misa lnya sebesar 30% . sehingga Kanda berpotensi untuk mencari dana pinjaman sendiri. Namun untuk mewujudkan potensi tersebut Perum Pegadaian harus terlebih dahulu membenahi kelemahan-kelemahan struktural yang ada. untuk menjaga konsistens i pelaksanaan misi Perum Pegadaian. serta kecenderungan penurunan suku bunga pasar. Hal ini sekaligus dapat mendorong kompetisi untuk meningkatkan efisiensi. Masalah kesulitan likuiditas dapat diminimalkan apabila sampai batas tertentu ka ntor daerah diberi kewenangan untuk mencari dana sendiri dengan memanfaatkan potensi daerah setempat (sesuai dengan teori RFM). rentabilitas yang lebih baik diban dingkan lembaga formal lainnya. 7. 2. . pemerintah hendaknya menetapkan ketentuan yang mengatur batas minimum porsi kredit untuk nasabah kecil (golongan A dan B). khususnya bagi Kanca defisit yang sudah lama didirikan dengan tetap mempertimbangkan pelaksanaan misi sosial yang diemban. Untuk mengetahui efektivitas penggunaan kredit dalam rangka pemberdayaan ekonomi rakyat.

Tokyo : Asian Productivity Organization. Husnan. Development Discussion Paper No. Laporan-Laporan Operasional Bulanan dan Tahunan ___________________. Rural Financial Intermediation : Lessons From Ind onesia Part One The Bank Rakyat Indonesia : Rural Banking. .98 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Suad (1985). 1970-91. Manajemen Keuangan Edisi ke-7 Jili d I (Terjemahan dari Managerial Finance 7th edition). Eugene F (1981). Pedoman Operasional Kantor Cabang. Laporan-Laporan Keuangan Robinson. Direktorat Keuangan. Harvard University. Fumio (1986). Tim Analisis Jabatan Perum Pegadaian (1990). dan Direktorat Umum. maka Perum Pegadaian perlu memperhitungkan biaya dana untuk masing-masing Kanca. Rural Financial Markets : Two School of Thoughts. Company Profile Perum Pegadaian ___________________. Penerbit BPFE Yogyakarta. J. Surat-Surat Keputusan Direksi Perum Pegadaian. ___________________ (1997). maka kebijakan pemberi an bantuan likuiditas dengan subsidi bunga kepada lembaga pembiayaan yang berorient asi pada masyarakat menengah ke bawah hendaknya hanya dilakukan dalam jangka pendek atau dalam bentuk sekuritisasi. Untuk memperoleh penilaian efisiensi yang lebih riil. Penerbit Erlangga Jakarta. PERUM PEGADAIAN (1997). dalam F arm Finance and Agricultural Development. DAFTAR PUSTAKA Egaitsu. Marguerite S (1992). 434. Harvard Institute for International Development. 9. Untuk menghindarkan terjadinya distorsi suku bunga pasar. Prospektus Obligasi V Perum Pegadaian Tahun 1998. ___________________. Uraian Tugas dan Kegiatan : Direkto rat Operasi dan Pengembangan. Weston. Pedoman Pemeriksaan Satuan Pengawasan Intern Perum P egadaian. Maret 1999 8. ___________________. Fred dan Brigham. Manajemen Keuangan : Teori dan Penerapan (Keputusan Jangka Pendek) Jilid 2. ___________________.

sistem. bertugas untuk mengkoordinasikan penyusunan rencana anggaran. bertugas untuk mengkoordinasikan evaluasi. pemberhentian. bertugas untuk mengkoordinasika n dan melaksanakan penelitian dan pengembangan jenis. bertugas untuk mengkoordinasikan pengelolaan kas. perpajakan. penyelenggaraanpembukuan dan penyajian laporan keuangan perusahaan serta pengembangan sistem informasi keuangan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dala m rangka pengendalian keuangan perusahaan. Subdit Operasi dan Pengembangan (OPP). Subdit Penelitian dan Pengembangan Operasi (LB). urusan kehumasan. surat berharga. kesejahteraan serta pengembangan manajemen . Subdit Akuntansi (AK). kepangkatan. prosedur dan wilayah operasi serta bentuk usaha lain berdasarkan peraturan yang berlaku dalam rangka meningkatkan kinerja perusahaan. pengevaluasian pelaksanaan anggaran. 7. pemensiunan. 5. gaji.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekono mi Rakyat 99 LAMPIRAN Lampiran 1 Tugas masing-masing Kepala Sub Direktorat 1. ba nk. verifikasi. perjalanan dinas dan tunjangan serta pelaksana an penagihan piutang perusahaan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam rangka menunjang kelancaran pelaksanaan tugas. Subdit Perbendaharaan (PB). 4. 2. pemindahan. Subdit Kesekretariatan Perusahaan (SP). pengalokasian dana. Subdit Anggaran dan Permodalan (AP). Subdit Kepegawaian (KP). promosi. kebutuhan modal kerja dan pengalokasian modal kerja serta investasi la innya sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam rangka menjamin kontinuitas keuangan perusahaan. bertugas untuk mengkoordinasikan penyusunan formal. 3. jasa dan mengembangkan kegiatan pemasaran serta mengkoordinasikan pengolahan dan dan penyajian statistik perusahaan sesuai dengan ketentuan yang berlaku sebagai bahan pertimbangan pimpinan dalam rangka meningkatkan pendapatan perusahaan. pengadaan dan penyelenggaraan pengangkatan. kepustakaan dan pengelolaan produk hukum serta pemberian pertimbangan hukum sesuai dengan peraturan yang berlaku dalam rangka menunjang kelancaran pelaksanaan tugas pimpinan perusahaan. 6. bertugas untuk membina penyaluran kredit gadai. bertugas untuk mengkoordinasikan dan mengedalikan penyelenggaraan kesekretariatan pimpinan.

bertugas untuk mengkoordinasikan pembuatan disain bangunan pemrosesan pelaksanaan pembangunan atau perbaikan. 9. 11. pengurusan persewaan bangunan. Subdit Tata Usaha dan Rumah Tangga (TURT). bertugas untuk mengkordinasikan pengurusan ketatausahaan. 10. Subdit Bangunan (BG). izin mendirikan bangunan dan penghapusan serta penyelenggaraan tata usaha pembangunan atau perbaikan bangunan prasarana dan rumah jabatan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam rangka penyediaan sarana kerja yang memadai untuk menunjang kelancaran pelaksanaan tugas. Maret 1999 perusahaan berdasarkan peraturan yang berlaku dalam rangka pembinaan kepegawaian dan peningkatan kesejahteraan pegawai. Kepala Pusat Pengembangan Teknologi Informasi (Kapus TI). . Kepala Balai Diklat (Kabal Diklat). 8. bertugas mengkoordinasikan perencanaan pengembangan program penyelenggaraan dan evaluasi pelaksanaan pendidikan dan pelatihan serta penyusunan laporannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku agar penyelenggaraan diklat berjalan lancar dan te rpadu. bertugas mengkoordinasikan penyelenggaraan pengelolaan database dan jaringan serta pengembangan dan pengimplementasian sistem dalam menunjang kegiatan operasional perusahaan. pengadaan denah.100 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. pemilikan hak atas tanah. urusan rumah tangga dan perlengkapan kantor agar pelaksanaan tugas berjalan lancar dan terpadu.

893 4.171 2. Kupang 17 6 23 JUMLAH 575 58 633 Lampiran 3 Komposisi Pegawai Tetap Perum Pegadaian Jenjang Karir 1995 1996 1997 Okt. Malang 51 0 51 XI. 1998 Manajemen Puncak 4 4 4 4 Manajemen Menengah 34 34 45 45 Manajemen Pelaksana 742 780 794 794 Staf Administrasi 4.817 . Surakarta 53 0 53 IX. Pandang 49 6 55 VI. Yogyakarta 56 0 56 VIII. Medan 35 7 42 II. Semarang 45 2 47 VII. Balikpapan 22 9 31 XIV.442 2. Padang 36 3 39 III.050 3. Denpasar 31 10 41 XIII. Jember 37 0 37 XII.303 2.118 D3 897 814 811 803 S1 468 511 591 655 S2 14 2531 35 T O T A L 5.183 4. U. Surabaya 50 2 52 X.365 4. Bandung 49 2 51 V. Jakarta 44 11 55 IV.349 4.974 Tingkat Pendidikan SD 982 954 885 829 SLTP 465 437 404 377 SLTA 2.129 5.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekono mi Rakyat 101 Lampiran 2 Jumlah Cabang yang Dibawahi oleh Setiap Kanda KANDA JUMLAH CABANG JUMLAH TOTAL ANAK CABANG I.

351 3.500 . Semen Gresik (Sertifikat Bukti Right) 70 70 . BIG Palapa .000 .150 1. BNI Dana Berbunga 1.Saham PT.000 2.000 70.243 756.150 Sumber : Perum Pegadaian . -500 Cadangan penurunan nilai surat berharga -1.BRI 7.000 876 .000 Surat Berharga 5. Pinjaman yg.500 5.500 . Dua Satu Tiga Puluh) 1.500 65.Saham PT.176 .Saham PT.320 Penyertaan (Dalam bentuk 500 lembar saham PT.102 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.768 -2.BEII 2. Danareksa Fund MGT. Diberikan 526. Danareksa Seruni 2. Semen Gresik 50 50 -Saham PT.Saham PT.000 2.Saham PT.000-Saham PT.000 2.751 Deposito 10. Maret 1999 Lampiran 4 Penanaman Dana Perum Pegadaian (Juta rupiah) Jenis Penanaman 1997 Per-31 Des 1998 Per-30 Sep. Bahana Dana Selaras 2.

5%XUP.25% 2.50% 120 hari 40. HPS adalah harga pasar barang-barang gudang yang didasa rkan pada harga pasar barang baru (toko) di daerah setempat. Perum Pegadaian mengacu kepada harga pasar. minimum Rp 10. Harga Pasar Daerah HPD adalah harga pasar yang ditentukan oleh Kanda dengan memperhatikan toleransi maksimum 4% di atas HPP dan 2% di bawah HPP.000 ke atas) Biaya PA dengan jaminan Mobil ditetapkan 0.00% 120 hari Keterangan : K=Kantong. minimum Rp 8. M=Mobil.000 ke atas) Lampiran 6 Jenis-jenis Harga Pasar Untuk menentukan nilai barang jaminan yang akan digadaikan oleh masyarakat.000 2. Dalam hal ini Perum Pegadaian membua t tiga kriteria harga pasar yaitu harga pasar pusat (HPP).000 (pembulatan Rp 1.500. Harga Pasar Pusat HPP adalah harga pasar emas/perak/permata yang ditetapkan oleh Kanpus sebagai patokan umum baik bagi Kanda maupun Kanca berdasarkan perkembangan harga pasaran umum dengan memperhitungkan kecenderungan perkembangan harga di masa mendatang.500.000-40. yang direvisi minimum ti ga .000-1.000 (pembu latan Rp 500 ke atas) Biaya PA gol.5%XUP. G=Gudang. 1.5 juta ditetapkan 0.25% 2.50% 3.000-500.25% 120 hari 510.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekono mi Rakyat 103 Lampiran 5 Tabel Sewa Modal dan Biaya PA masing-masing Golongan Gol Uang Pinjaman Maksimum Sewa Modal Jangka Waktu Per 15 Hari Per Tahun Kredit A B C D D 5. DG selain mobil u/ UP > Rp 1.000 (pembulatan Rp 1.000 2.000 2.500-150. harga pasar daerah (HPD ) dan harga pasar setempat (HPS).50% 120 hari >2. 2. Harga Pasar Setempat. minimum Rp 25. DK u/ UP > Rp 1. UP=Uang Pinjaman Biaya PA gol.000 2.000 1.5 juta ditetapkan 0. 3.25% 2.5%XUP.25% 120 hari 151.50% 1.000-5.000.

2. Menghitung barang jaminan. yaitu dengan mencocokkan fisik barang jaminan dengan keterangan pada SBK dwilipatnya (lembar II/kopinya). Buku Kredit yang bersangkutan pada nomor yang menjadi BSL sebagai penghapusan b. Barang jaminan yang sudah ditetapkan sebagai BSL pada buku Redister Barang Si sa Lelang (RBSL). Buku Kas didebet sebagai pelunasan dan dikredit pembelian BSL. Lampiran 8 Administrasi dan Pembukuan Barang Sisa Lelang (BSL) 1.104 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. c. Pemeriksaan buku gudang yang dilakukan setiap hari. maka adanya BSL pada setia p lelang tidak perlu dicatat pada Berita Acara Lelang (BAL). Meskipun demikian dalam jangka waktu 2 bu lan tiap-tiap rubrik/golongan/ribuan harus sudah pernah dihitung sebanyak dua kali. kerapihan dan keamanan gudang berserta isinya. Buku Ikhtisar Kredit dan Pelunasan bulan kredit yang bersangkutan dikredit sebes ar uang pinjaman BSL. 4. 3. d. Penghitungan barang jaminan ini dilakuk an minimal sepuluh kali dalam satu bulan. Kegiatan ini dilakukan minimal 3 kali sebulan untuk cabang kelas III. yaitu dengan melakukan pemeriksaan secara langsung ke dalam g udang tentang kebersihan. Pemeriksaan ini dilakukan s etelah penghitungan barang jaminan selesai dilaksanakan. Laporan Bulanan Operasionalatas penambahan BSL. Meronda gudang. Pemeriksaan isi barang jaminan. 2. Karena BSL diakui dan dicatat sebagai mutasi aset. dan minimal 60% dari tiap rubrik/golongan/ribuan telah dihitung untuk ketiga kalinya . sedangkan cabang kelas I dan II minimal satu kali sebulan oleh Kacab. Maret 1999 bulan sekali. Dengan demikian BAL hanya be risi data barang jaminan yang laku dilelang saja. . Kemudian berdasarkan RBSL tersebut dibukukan pada : a. kemudian ditentukan besarny a persentase uang pinjaman terhadap taksiran menurut masing-masing golongan yaitu : -Golongan A -Golongan B -Golongan D -Golongan D Lampiran 7 = 90% dan C = 85% s/d Rp 5 juta = 85% > Rp 5 juta = 84% Kegiatan pemeriksaan barang jaminan di gudang 1. Berdasarkan harga-harga pasar di atas. yaitu dengan mencocokkan jumlah barang yang ada di gudang dengan saldo menurut buku gudang.

. Buku Gudang dikreditkan sejumlah BSL. f. Buku Uang Kelebihan eks BSL.e.

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekono mi Rakyat 105 Lampiran 9 Penyelesaian Barang Sisa Lelang (BSL) 1. BSL yang diminta oleh Hakim/Jaksa/Polisi harus diselesaikan menurut peraturan yang berlaku. Beban suku bunga pendanaan yang tinggi menyebabkan Perum Pegadaian menaikkan sewa modalnya seperti terlihat dalam tabel di atas. Perum Pegadaian diberikan fasilitas kredi t oleh BRI sebesar Rp 181. makin sedikitnya sumber pe ndanaan yang ada menyebabkan Perum Pegadaian mengurangi batas nilai kredit maksimum. b) BSL Non-Emas Diusahakan BSL harus sudah terjual dalam jangka waktu 30 (tiga puluh hari) namun demikian apabila dalam jangka waktu tersebut belum laku terjual. Sebelumnya. Dijual di bawah tangan Pedoman harga penjualan BSL ditetapkan sebagai berikut : a) BSL Perhiasan Emas · Penjualan BSL jangka waktu kurang dari 30 (tiga puluh) hari. . Hal ini menyebabkan kredit yang ditarik secara keseluruhan melebihi plafon yang ditentukan (overdraft) sehingga BRI menghentikan fasilitas tersebut pada bulan Agustus 1998.75 miliar (suku bunga 36 %) yang secara langsung dapat ditari k oleh cabang-cabang Perum Pegadaian melalui kantor-kantor cabang BRI setempat yang telah ditentukan.7% · Penjualan BSL jangka waktu lebih dari 30 (tiga puluh hari s/d 60 (enam puluh har i) dijual sebesar Harga Pembelian x 105%. Selisih lebih atau kurang atas penjualan ini dibukukan sebagai laba/rugi perusahaan. Dimutasikan Antarcabang BSL emas atau non-emas sebelum diusulkan penurunan harga jualnya dapat juga diupayakan penjualannya di kantor cabang yang berada di daerah lain yang diyakin i dapat terjual lebih cepat. Kacab dapat mengusulkan penurunan harga jual kepada Kakanda. Di samping itu. tidak diijinkan untuk menjualnya. Sebelum mendapat keputusan penurunan harga jual dari Kakanda. Kesulitan likuiditas yang dialami Perum Pegadaian antara lain akibat dihentikann ya fasilitas kredit dari BRI. mutasi aktiva dan harus mendapat izin dari Kakanda dan penjualannya di tempat yang baru harus memperhitungkan biaya pengirimannya. Pengiriman BSL ini dibukukan sebagai Rekening Antar K antor (RAK). Kelebihan kredit yang d itarik tersebut dikenakan suku bunga pasar sebesar 71% per tahun. atau kebijakan lain dari Kakanda atas usu l penurunan harga jual yang telah diajukan sebelumnya. dijual sebesar Harg a Pembelian x 109. Sejak terjadinya krisis ekonomi. Pedoman penurunan harga jual secara bertahap sesuai kebijakan Kakanda. permintaan terhadap jasa Pega daian meningkat pesat sehingga masing-masing cabang Pegadaian melakukan penarikan dana dari BRI dalam jumlah cukup besar.

.

Maret 1999 .106 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekono mi Rakyat 107 .

108 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Maret 1999 .

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekono mi Rakyat 109 .

110 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Maret 1999 .

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekono mi Rakyat 111 .

Maret 1999 .112 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekono mi Rakyat 113 .

Maret 1999 .114 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekono mi Rakyat 115 .

Maret 1999 .116 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.

volatilitas yang sangat besar pada modal internas ional dari transfer asset antar negara yang tidak terantisipasi. layering ataupun integration. sumber-sumber regulasi. Urusan Devisa. Kecenderungan tersebut ternyata juga memberikan kesempatan bagi para pelaku money laundering untuk turut memanfaatkan kecanggihan jaringan layanan pe rbankan.Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Int ernasional 117 KAJIAN AWAL TENTANG MONEY LAUNDERING SERTA IMPLIKASINYA DALAM PASAR KEUANGAN INTERNASIONAL Hariyadi Ramelan. Ketidakberhasilan dalam menggalang kerjasama internasional dalam memerangi money laundering akan menimbulkan risiko perubahan variabel permintaan uang yang tak terduga. dan Delfianto Ras*) Perkembangan teknologi perbankan internasional dalam dekade terakhir ini telah m emberikan jalan bagi tumbuhnya jaringan-jaringan perbankan yang semula lokal/regional menj adi suatu lembaga keuangan yang global. Uang hasil transaksi ilegal (obat bius/ narkotika. Namun pada sisi yang lain. terorganisasi rapi dan profesional. Urusan Devisa. Bank Indonesia . Dalam posisi ini. Kajian ini diharapkan akan mampu memb erikan gambaran serta perbaikan-perbaikan yang memadai dan perlu dilakukan oleh masyarakat keuan gan internasional dalam upaya pencegahan maupun penindakan terhadap kegiatan money laundering. senjata gelap. efek kontaminasi pada transaksi keuangan yang legal. Bank Indonesia Delfianto Ras : Dealer Yunior pada Dealing Room. batasan. serta implikasi yang timbul sehu bungan dengan peranan bank sebagai lembaga intermediasi. teknik-teknik. juga merupakan le mbaga yang sangat rentan terhadap proses placement. suap/korupsi/ manipulasi serta fraud perbankan) telah menjadi legal dalam dunia bisnis di pasar keuangan internasional. perbankan internasional khususnya International Offshore Banking Centres (I OBC) dengan segala aspek perlindungan data serta keleluasaan pajaknya telah menjadi lembaga interme diasi yang sangat diminati oleh para money launderer. *) Haryadi Ramelan : Dealer pada Dealing Room. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan gambaran awal tentang kegiatan money laun dering. risiko pada kesehatan perbankan. yan g dari tahun ke tahun semakin canggih.

Kalimat tersebut nampaknya bukan se kedar slogan kosong bagi Pemerintah Amerika Serikat dalam memberantas kegiatan money laundering. bila sebuah komodit as diimpor dan dibayar. Secara lebih rinci. saat ini perkembangan pasar . Kedua bank juga terbukti bersalah dan mengaku bertanggung jawab penuh bahwa karyawan-karyawan banknya telah melakukan money laundering atas hasil-hasil ilegal narkotik.9 juta dan USD 4. namun tidak ada catatan bahwa seseorang telah menerima pembayaran t ersebut. penjumlahan total nilai import dan pembayaran bunga seharusnya sama dengan total nilai ekspor dan penerimaan bunga. Lantas kemanakah uangnya? Beberapa sebab dapat dikemukakan seperti statistical e rror atau (bukan mustahil) adanya secret money. Pendahuluan T T he war against money launderer is not over . Dalam kasus black hole di atas. Hal kedua tersebut diakui sebagai mas alah yang pelik namun realitasnya memang terdapat permintaan pasar yang cukup kuat un tuk secret money. suap kepada pejabat pemerint ahan. Pada situasi global.118 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. dalam kasus money laundering. kegiatan money laundering dalam konsep akuntansi internasio nal ternyata mampu menjelaskan adanya defisit neraca transaksi berjalan dunia. tidak hanya dari para kriminal namun juga dari perusahaan-perusaha an dan bahkan pemerintahan. 1) uang yang dibayarkan unt uk barang atau jasa-jasa tersebut tidak pernah tercatat oleh perusahaan/ individu yang umu mnya dengan berbagai alasan antara lain untuk menghindari pajak ataupun karena transa ksi tersebut ilegal (manipulasi oleh perusahaan swasta. Contoh-contoh tersebut hanya menggambarkan situ asi mikro dari satu konsekuensi bercampurnya uang halal yang secara resmi masuk dalam hitung an otoritas moneter dengan uang haram yang merupakan hasil kegiatan melawan hukum dalam bisnis keuangan internasional. Pada saat yang bersamaan di London. Dinas Pajak Dalam Negeri Inggris melakukan razia terhadap 2 kantor akuntan besar dan j uga rumah pengacara serta akuntan yang terbukti berupaya menghindari objek pajak yan g diperoleh dari money laundering. Maret 1999 I. Secar a teoritis dan teknis. Dua bank besar Mexico.7 juta. Sejalan dengan praktek money laundering tersebut. Hal tersebut paling tidak terbukti pada hasil Operation Cassablanca yang berlangsung akhir bulan Maret 1999. Dua bank besar tersebut diharuskan membayar denda masing masing USD 9. yakni Bancomer d an Banco Serfin dinyatakan bersalah oleh Pengadilan Federal (Fed Court) Los Angeles . dll).

keuangan internasional telah memungkinkan terbukanya peluang untuk menampung rekening secret money.22-23. 6th Ed. 1996. Cha pman & Hall. Samuel. Hal ini antara lain ditandai dengan semakin maraknya Inte rnational Offshore Banking Centers (IOBC) di berbagai belahan dunia seperti Gambar 1.M et al. . pp. 1. J. London. Management of Company Finance.

pemilik uang dan sumber sesungguhnya uang tersebut harus disembunyikan. bentuk pengambilan uangnya harus diubah. Keempat. pengawasan melekat terhadap uang (dirty money) harus dipertahankan. a da empat faktor yang umum terdapat dalam kegiatan money laundering. Angka ini secara ekstrim dapat diartikan bahwa bisnis money laundering merupakan bisnis terbesar ketiga di dunia setelah forex market dan bisnis minyak dunia. _____________. 1997. serta implikasinya bagi pelaku-pelaku transaksi-transaksi perban kan internasional seperti bankir. Batasan dan Proses Kegiatan Money Laundering Tak ada batasan money laundering secara umum. bagian kedua tulisan ini akan memaparkan batasan. regulator atau lembaga lain yang berwenang (bank s entral) serta pelaku-pelaku pasar finansial lainnya. Dalam textbook. Pertama. Batasan. yang besarnya mencapai 300 400 milyar USD. Tujuan dari penulisan makalah ini antara lain memberikan gambaran yang menyeluruh berkaitan dengan kegiatan money laundering. namun demikian money laundering secara khusus dapat diartikan pencucian uang (laundering money from illicit proc eeds). Kedua. Teknik dan Regulasi dalam Kegiatan Money Laundering A. Annu .Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Int ernasional 119 Berkaitan dengan permasalahan tersebut. yakni sebagai suatu proses dimana para kriminal berupaya untuk menyembunyikan sumber d an kepemilikan hasil-hasil aktivitas kriminal yang melawan hukum. batasan. II. International Monetary Fund (IMF) 2) berpendapat bahwa money laundering merupakan salah satu ancaman paling serius ba gi masyarakat keuangan internasional khususnya dan sistem keuangan global pada umum nya. Secara rinci. jejak proses pencucian uang harus disamarkan dalam upaya menghilangkan jejak jika seseorang menelusuri proses uang dari awal hingga akhir. mengupas beberapa implikasi yan g sifatnya represif dan antisipatif terhadap kegiatan money laundering dan Bagian Keempat berisi Kesimpulan akhir. 2. Bagian Ketiga. yakni 2-5% dari GDP dunia. The Finacial Action Task Force on Money Laundering. Ketiga. Dengan memiliki pemahaman yang cukup memadai. proses kegiatan dan pelanggaran money laundering. trend dan teknik umum yang digunakan. maka diharapkan dapat diupayakan langkah-langkah efektif untuk mencegah terjadinya money laundering ma upun langkah-langkah represif seandainya money laundering terjadi dengan tetap mengac u pada Undang-undang ataupun regulasi yang berlaku secara internasional. Sebagai gambaran turn over kegiatan money laundering saat ini telah melampaui ba tas imaginasi.

.al Report.

120 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Maret 1999 .

stocks. 2. kegiatan money laundering biasanya terdiri atas 3 proses yang berkelanjutan yakni: 1. 1998) 3). Placement (Penempatan Dana) Penempatan dana merupakan proses awal dalam money laundering yang ditandai denga n penyerahan secara fisik uang yang dihasilkan dari aktivitas melawan hukum sepert i perdagangan narkotika. forex mark et. teknik-teknik yang dilakukan dalam pencucian uang dap at dikategorikan dalam 2 cara umum yakni: 1. senjata gelap. Langkah lain yang sering dilakukan adalah menciptakan sebanyak mungkin account dari perusahaan fiktif/semu dengan memanfaatkan aspek kerahasian bank dan keistimewaan hubungan antara nasabah bank dan pengacara. obat-obatan terlarang. 3. Teknik-Teknik Money Laundering Berdasarkan survey yang dilakukan oleh The FATF 4) (The Financial Action Task Fo rce) sepanjang tahun 1996-1997. Secara ringkas. Hal ini dilakukan dalam upaya untuk menghilangkan jejak atau upaya audit sehingga seolah-olah merupakan transaksi finansial yang legal. proses pencucian yang dapat dilihat pada Gambar 2. Langkah ini disebut juga sebagai immersion ya ng merupakan gabungan dari consolidation dan placement (Robinson. Layering (Pemilahan Dana) Layering atau heavy soaping merupakan langkah kedua dalam money laundering yang ditandai dengan pemilahan hasil-hasil ilegal tersebut dari sumber-sumber asalnya melalui pembelian/transaksi-transaksi finansial seperti bearer bonds. Cara tradisional dalam money laundering adalah dengan cara menyelundupkan secara fisik uang tunai hasil transaksi ilegal ke luar negeri (perbatasan nasional suat u negara). Proses Pencucian Uang.Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Int ernasional 121 Secara kronologis. Proses yang t erjadi adalah apabila hasil-hasil ilegal dari money laundering masuk kembali ke dalam s istem keuangan dan muncul sebagai dana-dana bisnis yang wajar/ normal. B. Spin Dry (Repatriation and Integration) Spin dry merupakan gabungan dari langkah repatriasi dan integrasi. . J. Cara tradisional. penipuan/ penggelap an (fraud) serta hasil-hasil korupsi.

Cara lain yang juga relatif konvensional adalah menggunakan pedagang valuta asin g, lawyers maupun akuntan pribadi. Penggerebekan yang terjadi di London pada contoh 3. Robinson, Jeffrey. 1998. Laundrymen. Pocket Books, London 4. ____________, 1997. The Financial Action Task Force on Money Laundering, Annu al Report.

122 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Maret 1999

Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Int ernasional 123 kasus di atas jelas menunjukkan kecurangan seorang pengacara/akuntan dalam menyembunyikan hasil-hasil kejahatan seperti money laundering. 2. Cara-cara Modern. Berkembangnya teknologi baru dibidang perbankan antara lain elektronic money (e money) telah memberikan ancaman baru dalam teknik money laundering yang lebih canggih. Tiga cara yang mungkin dilakukan adalah melalui : Stored value cards, i nternet/ network based systems dan hybrid systems. Namun demikian, aplikasi ke tiga cara ini dalam sistem pembayaran masih relatif belum termanfaatkan. Hal yang sulit untuk dilacak justru hasil-hasil ilegal yang ditransfer melalui International Electron ic Fund Transfer. Berdasarkan pengalaman di Inggris, ciri-ciri yang sering dilakukan ole h money launderer antara lain menggunakan institusi yang terkait (perbankan) serta Pedag ang Valuta Asing (PVA), lawyer, serta accountant. 2.1. Bank sebagai money launderer Salah satu contoh yang sangat berharga berkaitan dengan kasus money laundering adalah skandal yang dilakukan oleh The Bank of Credit and Commerce International (BCCI) pada tahun 1991. Bank yang didirikan di Luxembourg tahun 1972 oleh pengusaha Pakistan (Agha Hasan Abedi), dalam perjalanannya asset bank tumbuh dengan cepat hingga mencapai USD 20 milyar dan mempunyai cabang di 70 negara. Namun sayangnya bank tersebut mengirimkan dananya ke rekening rahasia di Cayman Islands, dimana tempat tersebut banyak uang hasil curian. Diperkirakan hampir setengah assets bank telah hilang (disappeared). Penggelapan uang tersebu t tidak hanya menjadi kegiatan bayangan BCCI, namun BCCI diperkirakan juga membantu diktator seperti Sadam Hussein (Irak), Manuel Noriega (Panama) dan Ferdinand Marcos (Philipina) dalam mencuri uang dari negaranya, serta bertindak sebagai bankir dari kelompok Abu Nidal. Tidaklah mengejutkan bila BCCI diplesetkan artinya menjadi Bank of Crook and Criminals, Inc . Bagaimana BCCI menjalankan aktivitas penggelapan dalam waktu yang cukup lama? Jawabannya adalah sulitnya mengatur bank yang beroperasi di banyak negara. Meskipun kantor pusat BCCI di London, namun lemahnya peraturan bank oleh Institut Monetaire Luxembourgeois (IML) di Luxembourg, mengakibatkan BCCI beroperasi bebas dari peraturan pemerintah selama 15 tahun. Pada tahun 1987, IML mencapai persetujuan dengan tujuh negara dimana BCCI beroperasi, tetapi masih belum dapat menelusuri aktivitas bank tersebut. Pada musim semi tahun 1990 IML dapat menemukan beberapa bukti penggelapan dan pada Juli 1991 perusahaan akuntan Price Waterhouse menemukan dokumen serta menyerahkan pada Bank of England, selanjutnya BCCI dinyatakan ditutup. Kerugian deposan

124 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Maret 1999 dan pemegang saham dari colapse-nya BCCI sudah tak terhingga dan pengawas bank dalam hal ini Bank of England sulit disalahkan atas kelambanan menuntaskan skandal tersebut. Setahun setelah BCCI colapse, the Basle Committee baru mengumumkan dan menyetujui standarisasi dari peraturan bank internasional. 2.2 Payable through account Salah satu cara yang juga tergolong cukup modern dan sering digunakan oleh money launderers adalah payable through account (lihat Gambar 3). Pada gambar tersebut diilustrasikan adanya pembelian US bonds yang pembayarannya dilakukan melalui account oleh client bank yang kemudian diperjual belikan pada level nasa bah client bank tersebut (third bank) dan diteruskan pada level nasabah third bank. Melalui transaksi beberapa jenjang tersebut pada level terbawah yaitu pada level nasabah third bank tersebut para money launderers banyak melakukan aktivitasnya untuk memasukkan dananya ke dalam sistem jasa keuangan bank. C. Regulasi Kegiatan Money Laundering Sebagaimana diketahui, bank ataupun lembaga finansial lainnya merupakan lembagal embaga yang sangat rentan bagi kemungkinan penyusupan hasil-hasil transaksi ilegal (secret money). Rentannya lembaga-lembaga tersebut dari kegiatan money launderin g dimungkinkan baik dalam proses placement, layering maupun integration. Berkaitan dengan upaya untuk mencegah dan memerangi kegiatan money laundering tersebut, perlu adanya aturan hukum yang mengikat secara internasional dan berke kuatan hukum yang tetap. Rezim yang dapat dijadikan contoh untuk pencegahan kegiatan mo ney laundering adalah Inggris. Mengapa demikian, karena London sebagai salah satu pu sat pasar keuangan terbesar dunia, merupakan target yang menarik bagi para pencuci u ang. Pasar finansial London yang terkenal dengan kemajuan dan transparannya sangat me mberi peluang untuk memuluskan tahapan-tahapan kegiatan money laundering, apakah itu placement, layering dan integrasi. Kondisi ini lebih membuka peluang setelah dip erkenalkan Euro sebagai mata uang tunggal Eropa yang secara tidak langsung telah menurunkan kontrol dan hambatan-hambatan dalam rangka pasar tunggal Eropa, khususnya untuk mobilitas barang-barang, jasa, orang dan modal secara leluasa di seluruh Eropa. Dalam rangka merespon hal-hal tersebut di atas, beberapa ketentuan perundangan telah disahkan oleh oleh Parlemen Inggris, yakni antara lain: 1. Ketentuan Primer (Tier 1) 1) Drug Trafficking Offences Act 1986 (DTOA) 2) Criminal Justice Scotland Act 1987 (CJSA)

Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Int ernasional 125 .

b) Identifikasi dan Verifikasi. d) Pencatatan. Ketentuan ini menjamin pegawai dari waktu ke waktu diberikan kesempatan mengikut i pelatihan dalam upaya mengenali dan menguasai transaksi yang dilakukannya sendir i atau atas nama orang lain . yang sangat berpotensi dimanfaatkan pihak lain untuk money laundering. c) Uji/Pemeriksaan atas Transaksi.lembaga keuangan adalah sebagai berikut: a) Sistem Kontrol.126 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. apa jenis informasinya . Ketentuan Sekunder (Tier 2) Ketentuan sekunder yang merupakan bentuk dari Money Laundering Regulation 1993 secara khusus ditujukan pada lembaga keuangan. e) Pelaporan. Dalam kaitan ini. pendapat orang yang menanggulangi masalah tersebut dalam upaya meningkatkan pengetahuan terutama mengenai dasar kecurigaan terhadap orang yang melakukan money laundering. Prosedur pelaporan antara lain mencakup laporan identifikasi orang dalam suatu organisasi. kepada siapa informasi tersebut harus dibuat. Sistem ini berupa peraturan yang meliputi prosedur internal control dan komunika si tepat pada lembaga-lembaga keuangan yang bertujuan mencegah dan menghalangi terjadinya money laundering. dan sejenisnya untuk membuat sistem untuk menghalangi terjadinya money laundering. pencatatan dapat dibagi dua yaitu. Prosedur pencegahan terhadap terjadinya money laund ering yang umumnya digunakan pada lembaga. Maret 1999 3) 4) 5) 6) 7) 8) Criminal Justice Act 1988 (CJA88) Prevention of Terrorism (Temporary Provisions) Act 1989 (POTA) Criminal Justice (Int. Peraturan tersebut mensyaratkan b agi semua lembaga keuangan. . Cooperation) Act 1990 (CJCA) Criminal Justice (Confiscation) ( Northern Ireland) Order CJO 1990 Northern Ireland Act 1991. masalahmasalah yang muncul dan pegawai yang menanggulanginya. pencatatan yang berhubungan dengan pembukaan rekening nasabah baru (client) atau identitas counterparty dan pencatatan yang berhubungan dengan transaksi yang dilakukan oleh client atau cou nterparty. (NIEPA) Criminal Justice Act 1993 (CJA93) 2. Setiap calon nasabah harus diidentifikasi dan diverifikasi bahwa yang bersangkut an memang memenuhi syarat sebagai applicant for business.

Prosedur ini sangat dibutuhkan bagi seluruh personil perbankan dan lembaga terka it .f) Pendidikan dan Pelatihan.

b) Mengakuisisi . mengubah. dan secara langsung atau tidak langsung dia menguasai atau menggunakan atau memiliki kekayaan tersebut. Dibawah aturan CJA seseorang dianggap melakukan pelanggaran apabila menyembunyikan. Buku ketentuan ini bia sanya disebut sebagai the read book untuk perbankan. menguasai. 3. menyembunyikan. Tindakan ini digolo ngkan sebagai pelanggaran bagi seseorang yang memberikan bantuan kepada money laundere r untuk memperoleh. seluruh atau sebagian penerimaan yang berasal da ri kegiatan kriminal. CJA mensyaratkan siapapun sehubungan dengan transaksi yang dilakukan. yaitu: a) Membantu seseorang untuk menyimpan hasil-hasil kejahatan. dan green book untuk bisnis asuransi. menyamarkan. Prosedur ini merupakan langkah terakhir yang harus dilakukan dan biasanya berupa investigasi oleh National Criminal Inteligent Service (NCIS). bisni s. 4. c) Menyembunyikan atau mentransfer penerimaan untuk menghindari tindakan pencegahan atau perintah penyitaan. atau menginvestasikan dana jika dan a yang bersangkutan diketahui atau dicurigai merupakan hasil penerimaan kriminal. memiliki . asuransi dan lembaga investasi lainnya. g) Tindakan hukum. profesi. melakukan transfer atau menyembunyikan kekayaan dari pengadilan baik secara langsung maupun tidak langsung. Seseo rang dianggap bersalah melakukan pelanggaran jika dia mengetahui sebagian atau keseluruhan kekayaan orang lain baik secara langsung atau tidak langsung berasal dari hasil kejahatan. yellow book untuk bisnis investas i swasta. d) Menggagalkan usaha penyingkapan atau kecurigaan dari praktek money laundering . dan menggunakan hasil dari kegiatan kriminal. Ketentuan Tambahan (Tier 3) Ketentuan tambahan ini lebih merupakan petunjuk teknis yang diterbitkan oleh The Joint Money Laundering Steering Group (JMLSG) yang ditujukan bagi bank-bank dan lembaga keuangan lainnya. atau pegawai yang mengetahui atau mencurigai orang lain melakukan money launderi ng . Pelanggaran Hukum dalam Money Laundering Berdasarkan perundangan di Inggris (Criminal Justice Act 1993/ CJA) tersebut di atas. terdapat 5 pelanggaran utama yang dapat dikategorikan sebagai tindakan mon ey laundering.Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Int ernasional 127 dalam upaya peningkatan kualitas pemahaman terhadap pekerjaan yang dijalani sert a kontribusinya terhadap pengawasan internal.

.

Satu upaya upaya penting yang telah dilakukan oleh ma syarakat internasional adalah dibentuknya FATF yang salah satu rekomendasinya menyatakan bahwa countries should monitor the physical cross border transportation of cash a nd bearer instruments without impeding in any way the freedom at capital movement . intentionally or uninte ntionally. yang secara pokok dapat dijabarkan se bagai berikut: . Beberapa Upaya Represif dan Antisipatif terhadap Kegiatan Money Laundering Sebagaimana diuraikan di atas. e) Tipping off (Peringatan). practices a nd procedures in place. by criminal elements . that promote high ethical and pr ofessional standards in the financial sector and prevent the bank being used. Faktor instabilitas tersebut tidak han ya bersumber dari turn over yang sangat besar (300 400 milyar USD per tahun). namun juga bera sal dari perkembangan teknologi seperti EFT (cyber payment) yang memungkinkan pembayaran transfer berlangsung dengan mobilitas yang tinggi dengan mengoptimalkan jaringan perbankan internasional sebagai lembaga intermediasi. BIS melalui Basle Committee pada bulan September 19 97 juga menetapkan prinsip utama dalam supervisi perbankan yang efektif yang berbun yi Banking supervisor must determine that banks have adequate policies. Implikasi tersebut menuntut adanya suatu langkah kerjasama preventif dan represif yang berskala internasiona l terhadap kegiatan money laundering. kegiatan money laundering memiliki dampak instabilitas pada sistem finansial dunia. CJA hanya ment olerir kesalahan atas kecurigaan yang dilaporkan dengan alasan yang dapat diterima. Dalam kaitan di atas. III. Suatu pemaksaan terhadap keterbukaan konsumen atau pihak ketiga untuk menyampaikan informasi pada pihak yang berwenang bahwa telah terjad i praktek money laundering atau adanya rencana money laundering. including strict know your customer rules.128 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Rekomend asi ini merupakan kunci utama dalam pemahaman konsep know your customer approach. Sejalan dengan hal tersebut. FATF memberikan 40 rekomendasi langkah-langkah utama dalam memerangi kegiatan money laundering. Maret 1999 harus melaporkan informasi tersebut pada polisi sesegera mungkin. Hal ini berarti b ahwa seseorang dianggap melanggar hukum apabila tidak melaporkan kepada pihak berwenang apabila mengetahui adanya praktek money laundering. Kondisi ini memberikan suatu implikasi yang sangat luas dan kompleks dalam upaya menciptakan kestabilan masyarakat global di pasar finansial.

. b) Modifikasi sistem pelaporan transaksi mata uang (CTR= Currency Transaction Re porting System).a) Introduksi sistem SAR (suspicious activity reporting system) yang baru.

Pelatihan terhadap dealer/staf lainnya seharusnya juga mencakup tanggung jawab secara hukum. f) Penetapan aturan baru dalam pencatatan transfer-transfer dana (system at determi ne internal control. dan jaminan perorangan menurut ketentuan yang berlaku. pengenalan terhadap faktor-faktor yang mencurigakan. sistem pelaporan. jaminan hukum yang dilaporkan. Pelatihan terhadap manajer yang memberikan instruksi. Supervisors/ Manager. lebih ditekankan pada detail mengenai ketentuan perundang-undangan yang berlaku meliputi identifikasi. 2. 5 kelompok yang diharuskan mengikutinya adalah: 1. staf pelaksana harus menerima pelatihan khusus money launderi ng. Pelatihan terhadap petugas front office harus meliputi prosedur-prosedur identif ikasi dan verifikasi ( sebagai contoh. pelanggaran migrasi dan kesehatan. pelaporan kondisi yang terjadi.Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Int ernasional 129 c) Perluasan daftar tindakan pelanggaran money laundering dalam memberantas teroris me. Pelatihan terhadap pegawai baru sebaiknya mencakup latar belakang terjadinya money laundering. . mengenali secara baik proses settlement/payment/delivery instructions yang dilua r batas kewajaran. e) Implementasi proyek Gateway yang menyediakan data-data inteligen keuangan secara on line antar negara dan pemerintah-pemerintah daerah. Pegawai baru (New employees). 4. d) Peningkatan kerjasama antar negara dan perwakilan industri keuangan global dalam upaya melawan kegiatan money laundering melalui penetapan kelompok kerja. g) Memperluas upaya pelaksanaan hukum dan pengaturan hukum dalam memerangi kegiatan money laundering. h) Staff Training : dalam rangka mengenali dengan baik dan menangani transaksi-tran saksi yang mencurigakan. 3. dealing dengan customer yang jarang dilakukan (antara lain transaksi kas dalam jumlah besar/ bearer securities). pengecekan akan kecocokan identitas investor). Account Opening staff. Dealers and sales staff. kebijaksanaan perusahaan terhadap adanya kasus-kasus pengecualian. policies and prosedures).

.pencatatan. peraturan dan prosedur internal. pelaporan prosedur serta tindakan pinalti. validasi. Pendalaman materi pelatihan terhadap kelompok staf ini meliputi seluruh aspek perundangan-undangan. 5. Reporting Officers. dan laporan transaksi yang mencurigakan.

Perbedaan visi dan persepsi ini tentunya akan berimplikasi pada kelompok-kelompok kerja yang dibentuk oleh FATF. Peningkatan tersebut dapat diupaya kan dalam bentuk investigasi khusus terhadap asal modal disetor. Sebagai mana kita ketahui. Dengan semakin berkembangnya kegiatan/transaksi-transaksi illegal internasional. bahwa apabi la terdapat negara-negara yang tidak mematuhi kesepakatan bersama tersebut akan mendapatkan pinalti yang dapat berupa punitive taxes atas transaksi-transaksi ya ng terbukti berkaitan dengan money laundering di pasar finansial di negara yang bersangkutan. tindakan yang paling efektif dalam menangkal kegiatan money laund ering pada lembaga perbankan adalah mendeteksi sedini mungkin aktivitas kriminal terse but pada titik paling crucial yakni pada saat hasil-hasil ilegal tersebut masuk ke d alam sistem perbankan/keuangan (placement process). lembaga perbankan seringkali dipergunakan sebagai intermediasi oleh pelaku tindakan kriminal yang tidak mustahil juga dibantu oleh adanya moral haza rd oleh karyawan bank sendiri (contoh kasus BCCI. 2. dan transaksi finansial yang dilakukan khususnya transaksi transaksi off balance sheet. 3. Hal ini sangat penting mengingat dalam banyak kasus money laundering. Maret 1999 IV. Secara taktis. CTR maupun Gateway Intelligence System. bahwa setiap negara memiliki prioritas yang berbeda-beda khususnya dalam menghadapi kegiatan/praktek money laundering. 4. para anggota kelompok kerja FATF ataupun masyarakat keuangan internasional sudah selayaknya menerapkan aturan-aturan standar minimum dalam upaya memerangi kegiatan money laundering misalnya keseragaman penggunaan sistem SAR. Konsekwensi lain. adalah bahwa kualitas supervisi terhadap transaksi finansial o leh bank khususnya harus senantiasa ditingkatkan. Hal ini berarti. Dalam konteks ini maka pendekatan know your customer rule menjadi acuan yang sangat mendasar dalam menggali informas . dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1. khususnya bagi lembaga pengawas perbankan ataupun lembaga keuangan lainnya. Penutup Dari pokok-pokok rekomendasi yang diberikan oleh FATF di atas. maka upaya pemberantasan terhadap kegiatan money laundering merupakan real test case bagi masyarakat dan sistem keuangan internasional. Mengapa demikian? Karena anti money laundering measures membutuhkan kerjasama internasional yang harus kondusif baik bersifat multilateral maupun bilateral (antar dua negara). 1991). asal dana-dana piha k ketiga yang diterima. Berkaitan dengan butir (1). ataupun tidak diakuinya transaksi keuangan yang terjadi di negara tersebut secara internasional (default).130 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.

maka kecil kemungkinan .i calon nasabah bank. Jika langkah preventif ini diterapkan secara universal terha dap semua lembaga keuangan/ jaringan perbankan internasional.

. But terworths. Michael. Allan. Legal Analys is. Jeffrey.1998. Richard. Money Laundering: Butterworths. Pp 29-31. Journal of Internation al Banking and Financial Law. USA. Annual Report. Bancomer and Banca serfin Plead Guilty to Money La undering. Guide to Financial Services Regulation. The Financial Action Task Force on Money Laundering. Andrew. Payable Through Accounts and Money Laundering. Jeffrey.1999 (March 31).1996.1998. 6) Reuters News.1996. July August. Paris (Feb 10). et al.1995. 5) Parlour. Pocket Books. CCH Inc.1995. Laundrymen.Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Int ernasional 131 money launderer akan mampu menembusnya. Illinois. 3rd Edition. Sebaliknya bila langkah tersebut tidak berhasil. 4) Morris. 1997. Money Laundering: The Regim in the United Kingdom. London. Money Laundering: The Importance of International Countermeasures. 3) Hayaes.1998. 9) The Banker. Money Laundering: The Sky s the Limit. International Guide to Money Laundering and Practice. pp 52-53. Barry. maka money launderer akan selalu mencari titik terlemah dari sistem ja ringan keuangan internasional. pp 350. baik melalui International offshore Banking Centre (IOBS ) yang memiliki insentif pembebasan pajak dan longgarnya peraturan ataupun memanfaatkan negara-negara/ lokasi yang relatif tidak/ belum terjangkau oleh hukum internasio nal. 7) Richard. 1998 (Feb). 10) _________. 8) Robinson. Daftar Pustaka 1) Abrahamson. 2) Camdesus.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful