P. 1
ekonomi

ekonomi

|Views: 77|Likes:
Published by Dwica Haruss Bisaa

More info:

Published by: Dwica Haruss Bisaa on Jun 04, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as TXT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/08/2013

pdf

text

original

Krisis Moneter Indonesia : Sebab, Dampak, Peran IMF dan Saran KRISIS MONETER INDONESIA : SEBAB, DAMPAK, PERAN

IMF DAN SARAN*) Lepi T. Tarmidi **) K K risis moneter yang melanda Indonesia sejak awal Juli 1997, sementara ini telah berlangsung hampir dua tahun dan telah berubah menjadi krisis ekonomi, yakni lumpuhnya kegiatan ekonomi karena semakin banyak perusahaan yang tutup dan meningkatnya jumlah pekerja yang menganggur. Memang krisis ini tidak seluruh nya disebabkan karena terjadinya krisis moneter saja, karena sebagian diperberat ole h berbagai musibah nasional yang datang secara bertubi-tubi di tengah kesulitan ekonomi sep erti kegagalan panen padi di banyak tempat karena musim kering yang panjang dan terpa rah selama 50 tahun terakhir, hama, kebakaran hutan secara besar-besaran di Kalimant an dan peristiwa kerusuhan yang melanda banyak kota pada pertengahan Mei 1998 lalu dan kelanjutannya. Krisis moneter ini terjadi, meskipun fundamental ekonomi Indonesia di masa lalu dipandang cukup kuat dan disanjung-sanjung oleh Bank Dunia (lihat World Bank: Ba b 2 dan Hollinger). Yang dimaksud dengan fundamental ekonomi yang kuat adalah pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, laju inflasi terkendali, tingkat pengangg uran relatif rendah, neraca pembayaran secara keseluruhan masih surplus meskipun defi sit neraca berjalan cenderung membesar namun jumlahnya masih terkendali, cadangan devisa ma sih cukup besar, realisasi anggaran pemerintah masih menunjukkan sedikit surplus. Li hat Tabel. Namun di balik ini terdapat beberapa kelemahan struktural seperti peraturan perd agangan domestik yang kaku dan berlarut-larut, monopoli impor yang menyebabkan kegiatan ekonomi tidak efisien dan kompetitif. Pada saat yang bersamaan kurangnya transparansi da n kurangnya data menimbulkan ketidak pastian sehingga masuk dana luar negeri dalam jumlah besar melalui sistim perbankan yang lemah. Sektor swasta banyak meminjam dana dari luar negeri yang sebagian besar tidak di hedge. Dengan terjadinya krisis mo neter, terjadi juga krisis kepercayaan. (Bandingkan juga IMF, 1997: 1). Namun semua kelemahan i ni masih mampu ditampung oleh perekonomian nasional. Yang terjadi adalah, mendadak datang badai yang sangat besar, yang tidak mampu dbendung oleh tembok penahan yang ada, yang selama bertahun-tahun telah mampu menahan berbagai terpaan gelombang yang datang mengancam. *) Tulisan ini merupakan revisi dan updating dari pidato pengukuhan Guru Besar Mady

a pada FEUI dengan judul Krisis Moneter Tahun 1997/1998 dan Peran IMF , Jakarta, 10 Juni 1998. **)Lepi T. Tarmidi : Wakil Kepala Pusat Kajian APEC, Universitas Indonesia, emai l : lepi@lpem.feui.org

INDIKATOR UTAMA EKONOMI INDONESIA 1990 - 1997 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 Pertumbuhan ekonomi (%) 7,24 6,95 6,46 6,50 7,54 8,22 7,98 4,65 Tingkat inflasi (%) 9,93 9,93 5,04 10,18 9,66 8,96 6,63 11,60 Neraca pembayaran (US$ juta) 2,099 1,207 1,743 741 806 1,516 4,451 -10,021 Neraca perdagangan 5,352 4,801 7,022 8,231 7,901 6,533 5,948 12,964 Neraca berjalan -3.24 -4,392 -3,122 -2,298 -2.96 -6.76 -7,801 -2,103 Neraca modal 4,746 5,829 18,111 17,972 4,008 10,589 10,989 -4,845 Pemerintah (neto) 633 1,419 12,752 12,753 307 336 -522 4,102 Swasta (neto) 3,021 2,928 3,582 3,216 1,593 5,907 5,317 -10.78 PMA (neto) 1,092 1,482 1,777 2,003 2,108 4,346 6,194 1,833 Cadangan devisa akhir tahun (US$ juta) 8,661 9,868 11,611 12,352 13,158 14,674 19,125 17,427 (bulan impor nonmigas c&f) 4,7 4,8 5,4 5,4 5,0 4,3 5,2 4,5 Debt-service ratio (%) 30,9 32,0 31,6 33,8 30,0 33,7 33,0 Nilai tukar Des. (Rp/US$) 1,901 1,992 2,062 2.11 2.2 2,308 2,383 4.65 APBN* (Rp. milyar) 3,203 433 -551 -1.852 1,495 2,807 818 456 * Tahun anggaran Sumber : BPS, Indikator Ekonomi; Bank Indonesia, Statistik Ekonomi Keuangan Indo nesia; World Bank, Indonesia in Crisis, July 2, 1998 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Maret 1999

Krisis Moneter Indonesia : Sebab, Dampak, Peran IMF dan Saran 3 Sebagai konsekuensi dari krisis moneter ini, Bank Indonesia pada tanggal 14 Agus tus 1997 terpaksa membebaskan nilai tukar rupiah terhadap valuta asing, khususnya do llar AS, dan membiarkannya berfluktuasi secara bebas (free floating) menggantikan sis tim managed floating yang dianut pemerintah sejak devaluasi Oktober 1978. Dengan demikian Ba nk Indonesia tidak lagi melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menopang n ilai tukar rupiah, sehingga nilai tukar ditentukan oleh kekuatan pasar semata. Nilai tukar rupiah kemudian merosot dengan cepat dan tajam dari rata-rata Rp 2.450 per dollar AS Ju ni 1997 menjadi Rp 13.513 akhir Januari 1998, namun kemudian berhasil menguat kembali me njadi sekitar Rp 8.000 awal Mei 1999. Krisis Moneter dan Faktor-Faktor Penyebabnya Penyebab dari krisis ini bukanlah fundamental ekonomi Indonesia yang selama ini lemah, hal ini dapat dilihat dari data-data statistik di atas, tetapi terutama k arena utang swasta luar negeri yang telah mencapai jumlah yang besar. Yang jebol bukanlah se ktor rupiah dalam negeri, melainkan sektor luar negeri, khususnya nilai tukar dollar AS yang mengalami overshooting yang sangat jauh dari nilai nyatanya1 . Krisis yang berke panjangan ini adalah krisis merosotnya nilai tukar rupiah yang sangat tajam, akibat dari s erbuan yang mendadak dan secara bertubi-tubi terhadap dollar AS (spekulasi) dan jatuh tempon ya utang swasta luar negeri dalam jumlah besar. Seandainya tidak ada serbuan terhadap dol lar AS ini, meskipun terdapat banyak distorsi pada tingkat ekonomi mikro, ekonomi Indon esia tidak akan mengalami krisis. Dengan lain perkataan, walaupun distorsi pada tingk at ekonomi mikro ini diperbaiki, tetapi bila tetap ada gempuran terhadap mata uang rupiah, maka krisis akan terjadi juga, karena cadangan devisa yang ada tidak cukup kuat untuk menaha n gempuran ini. Krisis ini diperparah lagi dengan akumulasi dari berbagai faktor p enyebab lainnya yang datangnya saling bersusulan. Analisis dari faktor-faktor penyebab i ni penting, karena penyembuhannya tentunya tergantung dari ketepatan diagnosa. Anwar Nasution melihat besarnya defisit neraca berjalan dan utang luar negeri, ditambah dengan lemahnya sistim perbankan nasional sebagai akar dari terjadinya krisis finansial (Nasution: 28). Bank Dunia melihat adanya empat sebab utama yang bersa masama membuat krisis menuju ke arah kebangkrutan (World Bank, 1998, pp. 1.7 -1.11). Ya ng pertama adalah akumulasi utang swasta luar negeri yang cepat dari tahun 1992 hin

gga Juli 1997. Sebab yang kedua adalah kelemaha n 1 Dalam teori. 95% dari total kenaikan utang luar negeri berasal dari sekto r swasta ini. overshooting nilai tukar biasanya bersifat sementara untuk kemudi an mencari keseimbangan jangka panjang baru. Tetapi selama krisis ini berlangsung. . dan jatuh tempo rata-ratanya hanyalah 18 bulan. Bahkan selama empat tahun terakh ir utang luar negeri pemerintah jumlahnya menurun. sehingga l. nilai overshooting adalah sa ngat besar dan sudah berlangsung sejak akhir tahun 1997.k.

yang berada di bawah nilai tukar nyatanya. tetapi ada banyak faktor lainnya yang berbeda menurut sisi pandang masing-masing pengamat.4% (1993) hi ngga 5. Yang keempat a dalah ketidak pastian politik menghadapi Pemilu yang lalu dan pertanyaan mengenai kese hatan Presiden Soeharto pada waktu itu. sehingga masyarakat memilih barang impor yang kualitasnya lebih baik. Berikut ini diberikan rangkuman dar i berbagai faktor tersebut menurut urutan kejadiannya: 1) Dianutnya sistim devisa yang terlalu bebas tanpa adanya pengawasan yang memad ai. memungkinkan arus modal dan valas dapat mengalir keluar-masuk secara bebas berapapun jumlahnya. menyebabkan nilai rupiah secara kumulatif sangat overvalued. karena tidak mencerminka n nilai tukar yang nyata. dan produk dalam negeri yang makin lama makin kalah bersaing dengan produk impor. Nilai rupiah yang sangat overvalu ed ini sangat rentan terhadap serangan dan permainan spekulan. Maret 1999 pada sistim perbankan. Valas bebas diperdagangkan di dalam n egeri. yang kemudian menjelma menjadi krisis kepercayaa n dan keengganan donor untuk menawarkan bantuan finansial dengan cepat. sementara rupiah juga bebas diperdagangkan di pusat-pusat keuangan di luar neger i. Ditambah dengan ken aikan pendapatan penduduk dalam nilai US dollar yang naiknya relatif lebih cepat dari kenaikan pendapatan nyata dalam Rupiah. karena Indonesia menganut rez im devisa bebas dengan rupiah yang konvertibel.8% (1991) antara tahun 1988 hingga 1996. berkisar antara 2. 2) Tingkat depresiasi rupiah yang relatif rendah.Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. ekspor menjadi kurang kompetitif dan impor meningkat. Nilai Rupiah yang overvalued berarti j uga proteksi industri yang negatif. 3) Akar dari segala permasalahan adalah utang luar negeri swasta jangka pendek d an menengah sehingga nilai tukar rupiah mendapat tekanan yang berat karena tidak te . Ketiga adalah masalah governance. penyebab utama dari terjadinya krisis yang berkepanjangan ini adalah merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang sangat tajam. sehingga membuka peluang yang sebes arbesarnya untuk orang bermain di pasar valas. Sementara menurut penilaian penulis. Akibatnya harga barang impor menjadi relatif mur ah dan produk dalam negeri relatif mahal. Kondisi di atas dimungkinkan. Masyarakat bebas membuka rekening valas di dalam negeri atau di luar negeri. Akibatnya produksi dalam negeri tidak berkembang. meskipun ini bukan faktor satu-satunya. termasuk kemampuan peme rintah menangani dan mengatasi krisis.

Ada tiga piha k yang . ditambah sistim perbankan nasional yang lemah.: 22). bahkan sudah jauh melampaui utang resmi pemerintah yang beberapa tahun terakhir malah sedikit berkurang (oustanding official debt).rsedia cukup devisa untuk membayar utang yang jatuh tempo beserta bunganya (bandingkan juga Wessel et al. Akumulas i utang swasta luar negeri yang sejak awal tahun 1990-an telah mencapai jumlah yan g sangat besar.

Sebagian besar dari pinjaman luar negeri dge (Nasution: 12). Selain itu pemerintah sama sekali tidak melakukan pengawasan terhada p utang-utang swasta luar negeri ini.Krisis Moneter Indonesia : Sebab. kecuali yang berkaitan dengan proyek pemerin tah dengan dibentuknya tim PKLN. Keadaan ini menguntungk an pengusaha selama tidak terjadi devaluasi dan ini terjadi selama bertahun-tahun s ehingga memberi rasa aman dan orang terus meminjam dari luar negeri dalam jumlah yang se makin besar. namun masih bisa diatasi dengan pinjaman baru dan pemasukan modal luar negeri dari sumber-sumber lain. tingkat bunga nya relatif rendah. pemerintah. Jadi sudah sewajarnya. Sebaliknya. tingkat bunga di dalam negeri dibiarkan tinggi untuk menahan pelaria n dana ke luar negeri dan agar masyarakat mau mendepositokan dananya dalam rupiah. Sebagian orang Indonesia malah bisa hidup 1. Dampak.800 perusahaan sementara utang pemeri swasta ini tidak di he mewah dengan menikmati . juga disebabkan s uatu gejala yang dalam teori ekonomi dikenal sebagai fallacy of thinking2 . Jadi di sini pemerintah dihadapi dengan buah simalakama. karena telah memberi signal yang salah kepada pelaku ekonomi dengan membuat nilai rupia h terus-menerus overvalued dan suku bunga rupiah yang tinggi. terjadinya utang swasta luar negeri dalam jumlah besar ini. Pihak kreditur luar negeri juga ikut bersalah. ntah US$ 53. dan tiap tahunnya ada pemasukan pinjaman baru. 1998: 5). di samping lebih menguntungkan. kreditur dan debitur. meskipun masalahnya juga cukup berat karena selama bertahun-tahun telah terjadi net capit al outflow3 yang kian lama kian membesar berupa pembayaran cicilan utang pokok dan bunga. Kesalahan pemerintah adalah. pinjaman luar neger i pemerintah sifatnya jangka panjang. Beda dengan pinjaman swasta. karena kurang hati-hati dalam memberi pinjaman dan salah mengantisipas i keadaan (bandingkan IMF. Peran IMF dan Saran 5 bersalah di sini. Dengan demikian pengusaha hanya bereaksi atas signal yang diberikan oleh pemerintah. di mana p engusaha beramai-ramai melakukan investasi di bidang yang sama meskipun bidangnya sudah jenuh. sehingga pinjaman da lam rupiah menjadi relatif mahal dan pinjaman dalam mata uang asing menjadi relatif murah.5 milyar. Kalau masalahnya hanya menyangkut utang luar negeri pemerintah saja. Bagi debitur dalam negeri. Pada awal Mei 1998 besarnya utang luar negeri swasta dari diperkirakan berkisar antara US$ 63 hingga US$ 64 milyar. jika kreditur luar neg eri juga ikut menanggung sebagian dari kerugian yang diderita oleh debitur. karena masing-masing pengusaha hanya melihat dirinya sendiri saja dan tid ak memperhitungkan gerakan pengusaha lainnya. ada tenggang waktu pembayaran.

selisih biaya bunga antara dalam negeri dan luar negeri (Wessel et al. .. 22) . hal. Misalnya pengusaha ramai-ramai mendir i-kan apotik. misalnya 2 Yang dimaksud di sini adalah perilaku pengusaha yang bertindak atas pertimbangan dirinya sendiri tanpa mengetahui apa yang dilakukan oleh pengusaha lainnya. 3 Total pembayaran cicilan utang pokok dan bunga setelah dikurangi pinjaman baru. membangun realestat dan kondomium. membuka tambak udang.

Proyek-proyek besar ini umumnya tidak menghasilkan barang-barang ekspor dan mengandalkan pasar dalam negeri. hal. Krugman melihat bahwa para financial intermediaries juga berperan di Tha iland dan Korea Selatan dengan moral nekat mereka. 1998. taman hiburan. Greenwood). 1998. Para spekulan ini ju ga meminjam dari sistim perbankan untuk memperbesar pertaruhan mereka. yang memun gkinkan dengan modal relatif kecil bermain dalam jumlah besar. banyak yang dikelola secara tidak prudent. yang menjadi penyebab utama dari kr isis di Asia Timur. 4) Permainan yang dilakukan oleh spekulan asing (bandingkan juga Ehrke: 2-3) yan g dikenal sebagai hedge funds tidak mungkin dapat dibendung dengan melepas cadangan devisa yang dimiliki Indonesia pada saat itu. Ditambah lagi dengan kemerosotan nilai tukar rupiah yang tajam yang membuat utang dalam n ilai rupiah membengkak dan menyulitkan pembayaran kembalinya. Maka beban pembayaran utang luar negeri beserta bunganya menjadi tamb ah besar yang dibarengi oleh kinerja ekspor yang melemah (bandingkan IDE). 1. Pinjaman-pinjaman luar negeri dalam jumlah relatif bes ar yang dilakukan oleh sistim perbankan sebagian disalurkan ke sektor investasi yang tid ak menghasilkan devisa (non-traded goods) di bidang tanah seperti pembangunan hotel . resort pariwisata. maka sedi kit sekali pemasukan devisa yang bisa diandalkan untuk membayar kembali utang luar negeri. karena praktek margin trading. Dewasa ini mata uang send iri sudah menjadi komoditi perdagangan. Sebagi an dari mereka ini justru sekarang menderita kerugian. yakni disalurkan ke kegiatan grupnya sendiri dan untuk proyek-proyek pembangunan realestat dan kondomium secara berlebihan sehing ga jauh melampaui daya beli masyarakat. Mereka mulai me ncari dollar AS untuk membayar utang jangka pendek dan membeli dollar AS untuk di hedg e (World Bank. Maret 1999 bank-bank. Mereka meminjamkan pada proyek-proyek berisiko tinggi sehingga te rjadi investasi berlebihan di sektor tanah (Krugman.Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. karena mereka membeli rupiah dalam . Pinjaman luar negeri dan dana masyarakat yang masuk ke sistim perbankan.4). IMF Research Department Staff: 10). teta pi mereka tidak bisa disalahkan sepenuhnya atas pecahnya krisis moneter ini. Itu sebabnya mengapa Bank Indonesia memutuskan untuk tidak intervensi di pasar valas karena tidak akan ada gunanya. Meskipun pada awalnya spekulan asing ikut berperan. kemudian macet dan uangnya tidak kembali (Nasution: 28. lepas dari sektor riil. Ehrke: 3). taman industri. shopping malls dan realestat (Nasutio n: 9.

4. IMF Research .jumlah cukup besar ketika kurs masih di bawah Rp.000 per dollar AS dengan pengharapan ini adalah kurs tertinggi dan rupiah akan balik menguat. yang diserang terlebih dahulu oleh spekulan dan kemudian menyebar ke negara Asia lainnya termasuk Indonesia (Nasution: 1. 1). hal. Namun pemicu adalah krisis moneter kiriman yang berawal dari Thailand antara Maret sampai Juni 1997.. dan pada sa at itu mereka akan menukarkan kembali rupiah dengan dollar AS (Wessel et al.

Peran IMF dan Saran Department Staff: 10. Krisis ini adalah krisis kepercayaan terhadap rupiah (World Bank. 11).1). 2. p. Greenwood). 7) Penanam modal asing portfolio yang pada awalnya membeli saham besar-besaran d imingimingi keuntungan yang besar yang ditunjang oleh perkembangan moneter yang relatif stabil kemudian mulai menarik dananya keluar dalam jumlah besar (bandingkan Worl d Bank.Krisis Moneter Indonesia : Sebab. Sebab utama adalah nilai tukar rupiah yang sangat overvalued.3.4. Ketidak mampuan pemerintah menangani krisis menimbulkan krisis kepercayaan dan mengurangi kesediaan investor asing untuk memberi bantuan finansial dengan cepat (World Bank. Sistim ini menyebabkan apresiasi nyata dari nilai tukar rupiah dan mengundang tindakan spekulasi ketika sistim batas intervensi ini dihapus pada ta nggal 14 Agustus 1997 (Nasution: 2). 1. IMF. 1998. IDE). Terkesan tidak adanya kebijakan pemerintah yang j elas dan terperinci tentang bagaimana mengatasi krisis (Nasution: 1) dan keadaan ini masih berlangsung hingga saat ini. dana modal asing terus mengalir ke luar negeri meskipun dicoba ditahan dengan tingkat bunga yang tinggi atas surat-surat berharga Indonesia (Nasution: 1. 1998: 1. yang disebabkan karena laju peningkatan impor barang dan jasa lebih besar dari e kspor dan melonjaknya pembayaran bunga pinjaman. Selisih tingkat suku bunga dalam negeri d engan luar negeri yang besar dan kemungkinan memperoleh keuntungan yang relatif besar dengan cara bermain di bursa efek. 1998: 5). Krisis moneter yang terjadi sudah saling ka it-mengkait di kawasan Asia Timur dan tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya (butir 16 dari persetujuan IMF 15 Januari 1998). 5) Kebijakan fiskal dan moneter tidak konsisten dalam suatu sistim nilai tukar d engan pita batas intervensi. Dampak. 8) IMF tidak membantu sepenuh hati dan terus menunda pengucuran dana bantuan yan g dijanjikannya dengan alasan pemerintah tidak melaksanakan 50 butir kesepakatan dengan baik. 1.10). yang membuat harga barang-barang impor menjadi relatif m urah dibandingkan dengan produk dalam negeri. 6) Defisit neraca berjalan yang semakin membesar (IMF Research Department Staff: 10. Negara-negara sahabat yang menjanjikan akan membantu Indonesia juga . ditopang oleh tingkat devaluasi yang relatif stabil sekitar 4% per tahun sejak 1986 menyebabkan banyak modal luar negeri yang mengal ir masuk. Kesalahan jug a terletak pada investor luar negeri yang kurang waspada dan meremehkan resiko (IMF. Setelah nilai tukar Rupiah tambah melemah dan terjadi krisis kepercayaan. 1998. hal. 1998: 5).

US$ 1 milyar baru akan mencairkan dananya sebagai yang terakhir setelah semua pihak lain yang berjanji akan .menunda mengucurkan bantuannya menunggu signal dari IMF.k. Singapura yang menjanjikan l. US$ 5 milyar meminta pembayaran bunga yang lebih tinggi dari pi njaman IMF. sementara Brunei Darussalam yang menjanjikan l.k. padahal keadaan perekonomian Indonesia makin lama makin tambah terpuruk.

di mana serbuan terhadap dollar AS makin lama makin besar. jiwa dan martabat mereka. 1. Orang-orang kaya Indonesia. Maret 1999 membantu telah mencairkan dananya dan telah habis terpakai. Daya saing negara-negara Asia Timur meningkat terhadap Jepang. Kerusahan besar-besaran pada pertengahan Mei yang lalu yang di tujukan terhadap etnis Cina telah menggoyahkan kepercayaan masyarakat ini akan keamanan harta. namun kelemahan ini meskipun telah terakumulasi selama bertahun-t ahun masih bisa ditampung oleh masyarakat dan tidak cukup kuat untuk menjungkir-balik kan perekonomian Indonesia seperti sekarang ini. Spekulan domestik ikut bermain (Wessel et al.. Sejak awal Desember 1997 hingga awal Mei 1998 telah terjadi pelarian modal besar-besaran ke luar neg eri karena ketidak stabilan politik seperti isu sakitnya Presiden dan Pemilu (World Bank. Memang terjadi dislokasi sumber-sum ber ekonomi dan kegiatan mengejar rente ekonomi oleh perorangan/kelompok tertentu ya . IMF sendiri dinilai banyak pihak telah gagal menerapkan program reformasinya di Indonesia dan malah telah mempertajam dan memperpanjang krisis. Para spekulan inipun ti dak semata-mata menggunakan dananya sendiri.4. 9. yang nilainya melemah t erhadap dollar AS (lihat IDE).10). kurs dollar AS dan juga mata uang negara-negara Asia Timur melemah terhadap yen Jepang. 11. (Ehrke: 2). Terjadilah snowball effect. hal. Terdapatnya keterkaitan yang erat dengan yen Jepang. Setelah Plaza-Accord tahun 1985. sehingga menimbulkan krisis keuangan. Di lain pihak harus diakui bahwa sektor riil sudah lama menunggu pembenahan yang mendasar. sehingga banyak perusahaan Jepang melakukan relokasi dan investasi dalam jumlah besar di negara-negara ini. sudah sejak tahun lalu bersiap-siap menyelamatkan harta kekayaan nya ke luar negeri mengantisipasi ketidak stabilan politik dalam negeri.Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. 10.Terjadi krisis kepercayaan dan kepanikan yang menyebabkan masyarakat luas men yerbu membeli dollar AS agar nilai kekayaan tidak merosot dan malah bisa menarik keunt ungan dari merosotnya nilai tukar rupiah. 22). baik pejabat pribu mi dan etnis Cina. karena mata uang nega ranegara Asia ini dipatok dengan dollar AS. sementara nilai utang dari negara-negara ini dalam dollar AS meningkat karena meminjam dalam yen. tetapi juga meminjam dana dari sistim perbankan untuk bermain. Padahal mereka menguasai sebagian besar modal d an kegiatan ekonomi di Indonesia dengan akibat mereka membawa keluar harta kekayaan mereka dan untuk sementara tidak melaukan investasi baru. Tahun 1995 kurs dollar AS berbalik menguat terhadap yen Jepang. 1998: 1.

Timbulnya krisis berkaitan deng an . penyaluran dana yang besar untuk proyek IPTN dan mobil nasional. Subsidi pangan oleh BULOG.ng menguntungkan mereka ini dan merugikan rakyat banyak dan perusahaan-perusahaan yang efisien. monopoli di berbagai bidang.

dan sisanya akan dicairkan secara bertahap sesuai kemajuan dalam pelaksanaan program. membenahi kinerja perbankan nasional. dan tidak kalah penting adalah mengembalikan stabilitas sosial dan politik. dan yang terakhir adalah review yang keempat. 3. Program Reformasi Ekonomi IMF Menurut IMF. Penyesuaian struktural. Dari jumlah total pinjaman tersebut. mengembalikan kepercayaan masyarakat dalam dan luar negeri terhadap kemampuan ekonomi Indonesia.3 milyar selama tiga hingga lima tahun masa program. Dampak. Kebijakan moneter. Penyehatan sektor keuangan. Kebijakan fiskal. IMF akan mengalokasikan stand-by credit sekitar US$ 11.Krisis Moneter Indonesia : Sebab.04 milyar dicairkan segera. tidak memecahkan permasalahan. Untuk menunjang program ini. yang menyebabkan nilai dollar AS melambung dan tidak terbendung. (Fischer 1998b). kemudian 29 Juli 1998. yaitu dengan membuat mata uang itu sendiri menarik. Peran IMF dan Saran jatuhnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS secara tajam. Mem benahi sektor riil saja. yakni sektor ekonom i luar negeri. 2. Program reformasi ekonomi yang disarankan IMF ini mencakup empat bidang: 1. Sebab itu tindakan yang harus segera didahulukan untuk mengatasi krisis ekonomi ini adalah pemecahan masalah utang swasta luar negeri. S trategi pemulihan IMF dalam garis besarnya adalah mengembalikan kepercayaan pada mata ua ng. Program bantuan IMF pertama ditanda-tangani pada tanggal 31 Oktober 1997. dan kurang dipengaruhi oleh sektor riil dalam negeri. Indones ia . Second Supplementary Memorandum of Economic and Financial Policies (MEFP) tanggal 24 Ju ni. Sejumlah US$ 3. jumlah yang sama disediakan setelah 15 Maret 1998 bila program penyehata nnya telah dijalankan sesuai persetujuan. menstabilkan nilai tukar r upiah pada tingkat yang nyata. krisis ekonomi yang berkepanjangan di Indonesia disebabkan karena pemerintah baru meminta bantuan IMF setelah rupiah sudah sangat terdepresiasi. Krisis pecah karena terdapat ketidak seimbangan antara kebutuhan akan valas dala m jangka pendek dengan jumlah devisa yang tersedia. Inti dari setiap program pem ulihan ekonomi adalah restrukturisasi sektor finansial. Sementara itu pemerintah Indonesia telah enam kali memperbaharui persetujuannya dengan IMF. 4. meskipun kelemahan sektor riil dalam negeri mempunyai pengaruh terhadap melemahnya nilai tukar rupiah. tanggal 16 Maret 1999.

sendiri mempunyai kuota di IMF sebesar US$ 2. Bank Pembangunan Asia dan neg aranegara sahabat juga menjanjikan pemberian bantuan yang nilai totalnya mencapai lebih . Di samping dana bantuan IMF.07 milyar yang bisa dimanfaatkan. Bank Dunia. ( IMF. 1997: 1).

memperkuat implementasi reformasi struktural untuk membangun ekonomi yang efisie n dan berdaya saing. Maret 1999 kurang US$ 37 milyar (menurut Hartcher dan Ryan). Reformasi struktural -Perdagangan luar negeri dan investasi -Deregulasi dan swastanisasi -Social safety net -Lingkungan hidup. yang mengandung 50 butir.10 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Korea mendapat bantuan dana total sebesar US$ 57 milyar untuk jangka waktu tiga tahun. . Saransaran IMF diharapkan akan mengembalikan kepercayaan masyarakat dengan cepat dan kurs nilai tukar rupiah bisa menjadi stabil (butir 17 persetujuan IMF 15 Januari 1998). 2. di antaranya sebesar US$ 21 milyar berasal dari I MF. Sebagai perbandingan. Setelah pelaksanaan reformasi kedua ini kembali menghadapi berbagai hambatan. 7 appendix dan satu matriks. Pokokpokok dari program IMF adalah sebagai berikut: A. memperkuat dan mempercepat restrukturisasi sistim perbankan. menstabilkan rupiah pada tingkat yang sesuai dengan kekuatan ekonomi Indonesia. di antaranya US$ 4 milyar dari IMF dan masing-masing US$ 0. Namun bantuan dari pihak lain ini dikaitkan dengan kesungguhan pemerintah Indonesia melaksanakan program-program yang diprasyaratkan IMF. dan aspek baru yang masuk adalah penyelesaian utang luar negeri perusahaan swasta Indonesia.2 milyar. maka dilakukanlah nego siasi kedua yang menghasilkan persetujuan mengenai reformasi ekonomi (letter of intent ) yang ditanda-tangani pada tanggal 15 Januari 1998. Jadwal pelaks anaan masing-masing program dirangkum dalam matriks komitmen kebijakan struktural. Str ategi yang akan dilaksanakan adalah: 1. maka diadakanlah negosiasi ulang yang menghasilkan supplementary memorandum pada tanggal 10 April 1998 yang terdiri atas 20 butir.5 milyar berasal dari Indonesia dan Korea. Restrukturisasi sektor keuangan -Program restrukturisasi bank -Memperkuat aspek hukum dan pengawasan untuk perbankan C. C akupan memorandum ini lebih luas dari kedua persetujuan sebelumnya. 3. Kebijakan makro-ekonomi -Kebijakan fiskal -Kebijakan moneter dan nilai tukar B. Thailand hanya memperoleh dana bantuan total sebesar US$ 17. Karena dalam beberapa hal program-program yang diprasyaratkan IMF oleh pihak Indonesia dirasakan berat dan tidak mungkin dilaksanakan.

timbul kesan yang kuat bahwa IMF sesungguhnya tidak menguasai permasalahan dari timbulnya krisis. Salah satu pemecahan standar IMF adalah menuntut adanya . menyusun kerangka untuk mengatasi masalah utang perusahaan swasta. Reformasi BUMN dan swastanisasi 5. tetapi untuk mendukung neraca pembayaran serta memberi rasa am an. Bantuan anggaran pemerintah untuk golongan lemah 4. Sementara itu Menko E kuin/ Kepala Bappenas menegaskan bahwa Dana IMF dan sebagainya memang tidak kita gunaka n untuk intervensi. 6 Me i 1998). 5. bila pemerintah dengan konsekuen melaksanakan program IMF. yang paling umum adalah bahwa: (1) program IMF terlalu s eragam. Awal Mei 1998 telah dilakukan pencairan kedua sebesar US$ 989. Pemerintah akan terus menjamin kelangsungan kredit murah bagi perusahaan kecilme nengah dan koperasi dengan tambahan dana dari anggaran pemerintah (butir 16 dan 20 dari Suplemen).Krisis Moneter Indonesia : Sebab. Restrukturisasi utang swasta 7. rasa tenteram. Prioritas utama dari program IMF ini adalah restrukturisasi sektor perbankan. dan (2) program IMF terlalu banyak mencampuri kedaulatan negara yang dibantu (Fischer. Radel et dan Sachs secara gamblang mentakan bahwa bantuan IMF kepada tiga negara Asia (Thaila nd. Setelah melihat program penyelematan IMF di ke tiga negara tersebut. padahal masalah yang dihadapi tiap negara tidak seluruhnya sama. Hukum Kebangkrutan dan reformasi yuridis. Reformasi struktural 6. Korea dan Indonesia) telah gagal. Kebijakan moneter dan suku bunga 2. Ke tujuh appendix adalah masing-masing: 1. sehingga ekspor bisa bangkit kembali. Dampak. Pencairan berikutnya sebesar US$ 1 milyar yang dijadwalkan awal bulan Jun i baru akan terlaksana awal bulan September ini. 1998b). dan rasa kepercayaan terhadap perekonomian bahwa kita memiliki cu kup devisa untuk mengimpor dan memenuhi kewajiban-kewajiban luar negeri (Kompas.4 juta dan jumlah yang sama akan dicairkan lagi berturut-turut awal bulan Juni dan awal bul an Juli. Peran IMF dan Saran 11 4. Pembangunan sektor perbankan 3. kembalikan pembelanjaan perdagangan pada keadaan yang normal. sehingga tidak bisa keluar dengan program penyelamatan yang tepat. Kritik Terhadap IMF Banyak kritik yang dilontarkan oleh berbagai pihak ke alamat IMF dalam hal menan gani krisis moneter di Asia.

meskipun su rplus .surplus dalam anggaran belanja negara. padahal dalam hal Indonesia anggaran bela nja negara sampai dengan tahun anggaran 1996/1997 hampir selalu surplus.

Kabar terakhir menyebutkan bahwa pencairan bantuan tahap ketiga awal Juni ni akan tertunda lagi atas desakan peme rintah AS yang dikaitkan dengan perkembangan reformasi politik di Indonesia. tetapi oleh karena nilai tukar rupiah yang terpuruk terhadap dollar AS. dan bagaimana i ngin dicapai sasaran pertumbuhan ekonomi sebesar 3%. Karena itu pe mecahan utamanya adalah bagaimana mengembalikan nilai tukar rupiah ke tingkat yang wajar . (Kompas. Kemudian berlakunya praktek apa yang dinamakan konsensus Washington . mengkritik bahwa prakondisi IMF yang teramat ketat terhadap negara-negara Asia di tengah krisis yang berkepanjangan b erpotensi menyebabkan resesi yang berkepanjangan. J. dan ini ak an menunda cairnya bantuan dari sumber-sumber lain (Hartcher dan Ryan). Penasehat khusus IMF untuk Indonesia (P. ada saja peluang bahwa tudingan atas pelanggaran hak asasi manusia di Indonesia yang makin marak belakangan ini. namun kelemahan utama dari IMF adalah tidak ada pr ogram yang jelas untuk meningkatkan efisiensi dan menurunkan biaya produksi untuk mend orong ekspor non-migas. Demikianpun halnya . Maret 1999 ini ditutup oleh bantuan luar negeri resmi pemerintah. 13 Mei 1998). dan prinsip ini terus dipegang. Karenanya. Adalah kebijakan dari Ord e Baru untuk menjaga keseimbangan dalam anggaran belanja negara. Semakin jatuh n ilai tukar rupiah. perwakilan IMF mewakili negara dan pemerintahan dengan kebijakan dan visi politik masing-masing. bagaimana caranya untuk meningkat kan penerimaan pemerintah dan mengurangi pengeluaran pemerintah untuk mencapai sasar an surplus anggaran sebesar 1% dari PDB dalam tahun fiskal 1998/99. Memang dalam anggaran belanja negara tahun 1998/1999 terdapat defisit anggaran y ang besar. Anwar Nasution mengkritik bahwa reformasi ekonomi yang disarankan IMF bentuknya masih samar-samar. sementara keputusan yang diambil harus mengacu pada fakta konkret ekonomi. Stiglitz. yang pada dasarnya hanya memperl uas kesempatan ekonomi AS. Narvekar) sendiri juga dikutip sebaga i mengatakan bahwa IMF kerap menerapkan standar ganda dalam pengambilan keputusan. Tidak ada penjelasan rinci.12 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. dan tidak ada tingkat inflasi yang melebih i 10%. namun ini bukan disebabkan karena kebijakan deficit financing dari pemeri ntah. (Nasution: 27-28). Selama ini tidak ada pencetakan uang secara besar-besaran untuk menutu p anggaran belanja negara yang defisit. pemimpin ekonom Bank Dunia. menjadi hal yang disoroti Dewan Direktur IMF dalam pengambilan keputusannya pekan depan . semakin besar defisit yang terjadi dalam anggaran belanja. Harapan satu-satunya adalah peningkatan ekspor non-migas. Di satu pihak. yaitu negara pengutang lazimnya harus mendapatkan restu pendanaan dari pemerintah AS.R.

dengan Bank Dunia. 2 Mei 1998). bahwa di bidang kebijaksanaan makro IMF tidak memperlihatkan adanya konsistensi antarinstrumen kebijaksanaan. (Kompas. Di satu pihak IM F . Sri Mulyani mengemukakan.

menyulitkan pemuli han ekonomi Indonesia secara cepat. bahka n memperparah keadaan. Dengan menahan pencairan bantuan taha p kedua dan setelah diundur. karena keharusan BI melakukan f ungsi lender of last resort bagi perbankan nasional. Rencana IMF untuk mencairkan bantuannya secara bertahap d alam jarak waktu yang cukup jauh menunjukkan bahwa IMF menekan Indonesia untuk menjalankan programnya secara ketat dan membiarkan keadaan ekonomi Indonesia ter us merosot menuju resesi yang berkepanjangan. Bank Indonesia dan perbankan nasional. hanya dicicil US$ 1 milyar dari jumlah US$ 3 milyar. perekonomian Meksiko dengan cepat pada tahun 1996 dapat bangkit kembali. yang menimbulkan krisis likuiditas perbankan n asional yang gawat. ditambah jarak yang cukup lama antara paket bantuan pertama dan kedua. Dampak. juga ketidak sejalanan kebijaksanaan moneter dan fiskal (Sri Mulyani: 72). Kedua kebijaksanaan ini bisa memandulkan efektivitas kebijaksanaan makro. 15 dan 24 dari persetujuan I MF tanggal 15 Januari 1998).Krisis Moneter Indonesia : Sebab. Di la . Masyarakat kehilangan kepercayaan kepada otoritas moneter. namun dampak psikologisnya dari tindaka n ini tidak diperhitungkan. Secara makro ancaman kegagalan terbesar kesepakatan ketiga ini berasal dari kebijaksanaan moneter yang masih ambivalen. Hal ini juga diakui oleh IMF (butir 14. sedang di lain pihak menganu t kebijaksanaan moneter yang kontraktif. sehingga memperparah keadaan dan masyarakat beramai-ramai memindahkan dananya dalam jumlah besar ke bank-bank asing dan pemerintah atau ditaruh di rumah. Peran IMF dan Saran 13 memberikan kelenturan dengan mengizinkan dipertahankannya subsidi dan menyediaka n dana untuk menciptakan jaringan keselamatan sosial. Saran IMF menutup sejumlah bank yang bermasalah untuk menyehatkan sistim perbankan Indonesia pada dasarnya adalah tepat. karena cara pengelolaan bank yan g amburadul dan tidak mengikuti peraturan. berhubung semua bantuan tamba han yang besarnya mencapai US$ 27 milyar dikaitkan dengan cairnya bantuan IMF. (Sri Mulyani: 72). menghilangkan kepercayaan terhadap rupiah. yang bertentangan dengan tema pen getatan. terutama dalam rangka stabilitas nilai tukar da n inflasi. Karena badan internasional lain dan negara-negara sahabat y ang menjanjikan bantuan juga menunggu signal dari IMF. Pertanyaan mendasar yang harus ditujukan kepada IMF menurut penulis adalah sejauh mana IMF bersungguh-sungguh dalam hal membantu mengatasi krisis ekonomi yang sedang melanda Indonesia dewasa ini? Apakah sama seperti kesungguhan Amerik a Serikat ketika membantu Meksiko bersama-sama dengan IMF dan negara-negara maju lainnya yang berhasil menggalang sebesar hampir US$ 48 milyar Januari 1995? Sete lah mencapai titik terendah tahun 1995.

ekonomi dan hukum di Indonesia yang pada akhirnya bermuara pa da mundurnya Presiden Soeharto. IMF sedikit banyak mempunyai andil dalam perjuangan menggulirkan tun tutan reformasi politik. kita juga perlu berterima kasih kepada IMF karena dengan menunda mencairk an bantuannya. .in pihak.

menaikkan suku bunga dan mengembalikan kepercayaan terhadap kebijakan eko nomi. Di lain pihak memang harus diakui bahwa tekanan ini perlu untuk memastikan kesungguhan Indonesia. Maret 1999 Saran IMF untuk menstabilkan nilai tukar adalah dengan menerapkan kebijakan uang ketat. 17. Dengan demikian timbulnya krisis kepercayaan yang berkepanjangan dapat dicegah. butir 5.14 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Krisis ekonomi yang tengah berlangsung ini memang bukan tanggung-jawab IMF dan tidak bisa dipecahkan oleh IMF sendiri. dan titipan-titipan khusus dar i negaranegara maju yaitu membuka peluang investasi yang seluas-luasnya bagi mereka dengan menggunakan kesempatan dalam kesempitan Indonesia. IMF sendiri tampaknya tidak tahu apa yang harus dilakukannya dan berput arputar pada kebijakan surplus anggaran. tingkat bunga tinggi. Asian Development Bank dan negara-ne gara sahabat. uang ketat. dengan mencairkan dana bantuan yang relatif besar pada bulan November lalu. maka hal ini dengan cepat akan memulihkan kembali kepercayaan masya rakat dalam negeri dan internasional. yang didukung oleh bantuan dana dari World Bank. Ibaratnya orang yang sudah hampir ten ggelam . yang justru menjanjikan kepastian dan ke stabilan nilai tukar pada tingkat yang wajar. Sayangnya tidak ada program khusus yang secara langsung ditujukan untuk menguatkan kembali nilai tukar rupiah. pembenahan se ktor riil yang memang perlu dan sudah sangat mendesak. Bila semua kekuatan bantuan ini dikumpulkan sekal igus secara dini. IMF bisa saja terlebih dahulu mengambil kebijakan memprioritaskan stabilisasi nilai tukar rupiah. IMF tidak memecah kan permasalahan yang utama dan yang paling mendesak secara langsung. Tidak adanya program dari IMF yang jelas dan berjangka pendek untuk mengembalikan nilai tukar rupiah ke tingkat yang wajar da n menstabilkannya membuat pemerintah cukup lama terombang-ambing antara memilih program IMF atau currency board system. karena untuk beberapa tindakan memang ada tanda-tanda kekurang sungguhan di pihak Indonesia. kalau mau. dari waktu ke waktu mengadakan intervensi terbatas di pasar valas dengan petunju k IMF (lihat butir 14. Namun kekurangan yang paling utama d ari IMF adalah bahwa IMF dalam program bantuannya tidak mencari pemecahan terhadap masalah yang pokok dan sangat mendesak ini dan berputar-putar pada reformasi str uktural yang dampaknya jangka panjang. 16. Namun bantuan dana IMF dan ketergantungan harapa n pada IMF ini di(salah)gunakan untuk menekan pemerintah Indonesia untuk melaksana kan reformasi struktural secara besar-besaran. 7 dari Su plemen). 21 dari persetujuan 15 Januari 1998. juga tidak ada Appendix untuk masalah ini.

di mana makin ditunda makin banyak .diombang-ambing ombak laut tidak segera ditolong dengan dilempari pelampung. tetapi dampak hasilnya baru bisa dirasakan dalam jangka panjang. tap i disuruh belajar berenang dahulu. Reformasi struktural sebagaimana yang dianjurkan oleh IMF memang mendasar dan penting. se mentara pemecahan masalahnya sudah sangat mendesak.

utang luar negeri s wasta dan nilai tukar rupiah yang merosot jauh dari nilai riilnya adalah masalah-masalah d asar jangka pendek. Dampak. Peran IMF dan Saran 15 perusahaan yang jatuh bergelimpangan. 1996. 1997. misalnya penagihan yang lebih efektif. Tindakan drastis ini sedikit-banyak telah membantu memicu te rjadinya kerusuhan-kerusuhan sosial dan politik.World Bank. sehingga timbul teka-teki. apakah pemerintah tidak bisa menunda kenaikan BBM dan listrik untuk beberapa bulan. Subsidi listrik relatif lebih mudah untuk dihapuskan. Jadi. Permintaan IMF untuk menghentikan dengan segera perlakuan pembebasan pajak dan kemudahan kredit untuk proyek mobil nasional dan IPTN adalah tepat. yakni melalui subsi di silang sehingga masyarakat berpenghasilan rendah tetap dikenakan tarif listrik yang mur ah dan melalui peningkatan efisiensi. anggaran dan moneter secara berarti. Di sini timbul keragu-raguan akan k emurnian kebijakan reformasi IMF. bab 2. karena d alam jangka pendek proyek ini akan mengacaukan kebijakan pemerintah di bidang fiskal. karena IMF menganjurkan penghapusan subsidi secara bertahap dan tidak secar . bab 4 dan 5). apakah IMF benar-benar tidak melihat inti permasalahannya atau berpura-pura tidak tahu? Atau IMF mengambil kesempatan dalam kesempitan untuk memaksakan perubahan-perubahan yang sudah lama menjadi duri di matanya dan bagi Bank Dunia serta mewakili kepentingan-kepentingan asing ? Tampaknya di balik anjuran program pemulihan kegiatan ekonomi ada titipan-titipa n politik dan ekonomi dari negara-negara besar tertentu.Krisis Moneter Indonesia : Sebab. Banyak perusahaan yang mengandalkan pasara n dalam negeri tidak bisa menjual barang hasil produksinya karena perusahaan-perus ahaan ini umumnya memiliki kandungan impor yang tinggi dan harga jualnya menjadi tidak terjangkau dengan semakin jatuhnya nilai tukar rupiah. Program reformasi IMF secara menc urigakan mengulang kembali tuntutan-tuntutan deregulasi ekonomi yang sudah sejak bertahun -tahun didengungkan oleh Bank Dunia dan belum sepenuhnya dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia (lihat World Bank. yang lama tidak disinggung oleh IMF. Yang menjadi pertanyaan di sini adalah. men unggu keresahan masyarakat reda? Di sini pemerintah salah membaca isi dari kesepakatan dengan IMF. meskipun kepentingan rakyat kecil sangat diperhatikan dengan adanya jaringan keselamatan sosial. Juga saran IMF untuk menghapuskan subsidi B BM dan listrik yang kian membesar secara bertahap dalam jangka waktu tiga tahun sud ah benar. Namun penu runan subsidi BBM dan listrik oleh pemerintah secara drastis dan mendadak pada tanggal 4 Mei 1998 yang lalu mempunyai dampak yang sangat luas terhadap perekonomian rakyat ke cil.

Dalam suplemen program IMF April 1998 disebutkan bahwa subsidi masih b isa diberikan kepada beberapa jenis barang yang banyak dikonsumsi oleh penduduk berpenghasilan rendah seperti bahan makanan. BBM dan listrik sudah diperhitungkan dan dinaikkan d alam anggaran pemerintah (butir 20 dari Suplemen).a mendadak. (butir 10 dan 11 dari Suple men). Baru pada tanggal 1 Oktober 1 998 direncanakan subsidi akan diturunkan secara berarti. Subsidi untuk bahan pangan. Membengkaknya subsidi ini disebabk an . BBM dan listrik. Dalam situasi seka rang hampir tidak ada peluang untuk meningkatkan pajak.

sementara pendapatan masyarakat adalah dalam rupiah yang tidak berubah sejak seb elum terjadinya krisis moneter. siapa yang menjadi penyebab dari terjadiny a krisis yang berkepanjangan ini. Jad i tindakan yang pokok adalah pertama mengembalikan dulu nilai rupiah ke tingkat yang wajar dan dari sini baru menghitung besarnya subsidi. dan liberalis asai perdagangan yang jauh lebih liberal dari komitmen resmi pemerintah di forum WTO. tetapi apa salahnya bila peme rintah menyisakan bidang kegiatan untuk pengusaha Indonesia. stabilisasi e konomi dan moneter. seperti orang asing yang tinggal d i Indonesia misalnya. (Bandingkan juga Sri Mulyani: 72-3). Di antara saran-saran IMF juga ada yang mengenai perluasan penyertaan modal asing dalam kegiatan ekonomi Indonesia yang terlalu jauh. . sehingga nilai tukar valas naik sangat tinggi da n siapa yang menarik keuntungan dari krisis ini? Janganlah rakyat banyak diminta untuk b erkorban mengatasi krisis ini atau membebankan di atas penderitaan rakyat dengan misalnya menaikkan harga BBM dan tarif listrik. Meskipun demikian IMF masih meminta dihapuskannya larangan membuka cabang bagi bank asing. terutama yang bermodal kec il? Apa permintaan IMF ini tidak terlalu jauh? Kedengarannya seperti IMF menerima ti tipan pesan sponsor dari negara-negara besar yang ingin memaksakan kepentingannya deng an menggunakan kesempatan dalam kesempitan. tagihan listrik dalam jumlah besar yang tidak dibayar. seperti kinerja yang kurang efisien. kita harus melihat sebab-sebab lain di balik kenaikan biaya produksi. kalau tidak menurun dan banyaknya PHK. Masalahnya bukan sentimen nasionalisme. Dalam kaitan ini perlu dipertanyakan. tetapi apa sumbangan dari keterbukaan ini terhadap restrukturisasi ekonomi dari program IMF. dan apa sumbangannya terhadap pemasukan modal asing? Bukan masalah anti asing atau sentimen nasionalisme yang sempit. AFTA dan APEC. Halnya akan lain. Modal asing sudah dibe ri peluang yang cukup besar untuk investasi di Indonesia dengan diperbolehkannya kepemilika n hingga 100% baik untuk pendirian PMA. Maret 1999 oleh beberapa faktor. Keadaan ini ti dak sebanding. bila pendapatan masyarakat dalam rupiah juga ikut naik dua atau tiga kali lipat sesuai dengan kenaikan nilai tukar dollar AS. bank asing maupun penguasaan saham dari perusahaan-perusahaan yang telah go public. izin investasi di bidang perdagangan besar dan eceran. Tidak bisa biaya produksi dihitung a tas dasar nilai tukar dengan dollar AS yang masih relatif tinggi lalu dibebankan kepada ko nsumen.16 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. kecuali saham bank nasional yang go public. tetapi sebab utama karena merosotnya nilai tukar rupiah.

Saran IMF lainnya yang disisipkan dalam persetujuan dan tidak ada kaitannya deng an program stabilisasi ekonomi dan moneter adalah desakannya untuk menyusun UndangUndang Lingkungan Hidup yang baru (butir 50 dari persetujuan IMF tanggal 15 Janu ari 1998). Ikut campurnya IMF dalam penyelesaian utang swasta adalah sangat baik. karena IMF sebagai lembaga yang disegani bisa banyak membantu memulihkan kepercayaan kr editor .

kecuali sebagi an sektor pertanian dan ekspor. toko sepi. Peran IMF dan Saran 17 luar negeri. perusahaan tutup atau mengurangi produksinya karena tidak bisa menjual barangnya dan beban utang yang tinggi. Petani yang berbasis ekspor penghasilannya dala m rupiah mendadak melonjak drastis. daya saing produk dalam negeri dengan tingkat kandungan impor renda h meningkat sehingga bisa menahan impor dan merangsang ekspor khususnya yang berba sis pertanian. PHK di mana-mana. Dampak. Dengan demikian roda perekonomian bisa berputar kembali dan harga-harga bisa turun dari tingkat yang tinggi dan terjangkau oleh masyarakat. I MF bisa bertindak sebagai perantara yang netral dan dipercaya. tetapi lebih tepat jika dikatakan foreign exchange induced inflation. pengusaha domestik kapok meminjam dana dari luar negeri. Dampak lain adalah laju in flasi yang tinggi selama beberapa bulan terakhir ini. biaya sekolah di luar negeri melonjak. bahkan dalam beberapa hal turun ditambah PHK. perjalanan ke luar n egeri dan pengiriman anak sekolah ke luar negeri. meskipun tidak kembali pada tingkat sebelum terjadinya krisis moneter. Pada sisi lain merosotnya nilai tukar rupiah secara tajam juga membawa hikmah. Dampak dari Krisis Dewasa ini semua permasalahan dalam krisis ekonomi berputar-putar sekitar kurs nilai tukar valas. investasi menurun karena impor barang modal menjadi mahal. tarif angkutan naik. padahal harga dari banyak barang naik cukup tinggi. kebalikannya arus masuk turis asing akan lebih besar. Sayangnya ekspor yang secara teoretis seharusnya naik. Hasilnya adalah perbaikan dalam neraca berjalan. yang akan memperlancar dan mempercepat proses penyelesaian utang. Masalah in i hanya bisa dipecahkan secara mendasar bila nilai tukar valas bisa diturunkan hingga tingkat yang wajar atau nyata (riil). harga BBM/tarif listrik naik. proteksi industri dalam negeri meningkat sejalan dengan merosotnya ni lai tukar rupiah. Secara umum impor barang menurun tajam termasuk impor buah. bahkan cenderung sedikit menurun pada sektor barang hasil industri. tidak terjadi. harga telur/ayam naik. yang melambung tinggi jika dihadapkan de ngan pendapatan masyarakat dalam rupiah yang tetap. yang bukan disebabkan karena imported inflation4 . gul a. utang lu ar negeri dalam rupiah melonjak. Mes kipun . Imbas dari kemerosotan nilai tukar rupiah yang taja m secara umum sudah kita ketahui: kesulitan menutup APBN. sementara bagi konsumen dalam negeri harga beras. kopi dan sebagainya ikut naik. khususnya dollar AS.Krisis Moneter Indonesia : Sebab.

dan negara-negara produsen lain juga mengalami d epresiasi 4 Suatu inflasi dikatakan terjadi karena imported inflation bila harga barang-bara ng di negara pengekspornya naik. karena pembeli di luar negeri juga menekan harganya karena tahu petani dapat untung besar.penerimaan rupiah petani komoditi ekspor meningkat tajam. dan ini tidak terjadi. . tetapi penerimaan eksp or dalam valas umumnya tidak berubah.

karena kri sis belum juga menyentuh dasar jurang. Menurut perkiraan IMF pada bulan Maret 1999 lalu.18 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. suasana politik dan sosial yang stabil. Prospek Ekonomi Indonesia Prospek ekonomi untuk beberapa tahun mendatang adalah kurang cerah dan akan ditandai oleh pertumbuhan ekonomi yang negatif. Namun secara keseluruhan dampak negatifnya dari jatuhnya nilai tukar rupiah masi h lebih besar dari dampak positifnya. sehingga bila nilai tukar rupiah bisa dikembalikan ke nilai nyatanya maka biaya besar yang dibutuhkan untuk social safety net ini bisa dikurangi seca ra drastis. Berapa lama krisis ekonomi ini masih akan ber langsung. pabrik. pada Oktober 1998 in i jumlah keluarga miskin diperkirakan meningkat menjadi 7. Tapi sekali krisis berakhir dan ekonomi berbalik bangkit kembali (rebound). sulit untuk diramalkan karena tergantung pada banyak faktor. Faktor-faktor terse but adalah bantuan IMF dan donor-donor lainnya yang segera.5 juta. menguatnya nilai tukar rupiah t erhadap dollar AS pada tingkat yang wajar. sehingga perlu d ilancarkan program-program untuk menunjang mereka yang dikenal sebagai social safety net. Hal yang serupa juga terjadi untuk ekspor barang manufaktur. pertumbuhan GDP nyata Indonesia pada tahun 1998/9 diperkirakan akan n egatif sebesar 16%. maka perbaikan ini diperkirakan akan berlangsung relatif cepat. yang menyebabkan terjadinya kesenjangan antara penghasilan yang berk urang karena PHK atau naik sedikit dengan pengeluaran yang meningkat tajam karena ting kat inflasi yang tinggi. dan tingkat inflasi sekitar 66%. Sebagai dampak dari krisis ekonomi yang berkepanjangan ini. keamanan yang mantap. Keadaan ekonomi yang sangat parah ini diperkirakan pada bulan-bulan mendatang masih akan berlangsung terus. Karena prasarana dasa r untuk pembangunan sudah tersedia. karena ada masalah dengan pembukaan L/C dan kead aan sosial-politik yang belum menentu sehingga pembeli di luar negeri mengalihkan pe sanan barangnya ke negara lain. sehi ngga . hanya di sini ada k esulitan lain untuk meningkatkan ekspor. mesin-mesin sudah ada. pulihnya kepercayaan investor dalam dan luar negeri. tenaga terlatih. Maret 1999 dalam nilai tukar mata uangnya dan bisa menurunkan harga jual dalam nominasi val as. Meningkatnya jumlah penduduk miskin tidak terlepas dari jatuhnya nilai tukar rup iah yang tajam.

maka upaya yang paling utama dan mendesak bagi Indonesi a . Saran-Saran Krisis moneter telah memberikan pelajaran yang sangat berharga untuk menentukan kebijakan di masa depan.yang diperlukan adalah pulihnya kepercayaan dan masuknya modal baru.

memperbaiki governance .2). industrialisasi substitusi impor berlanjut. reformasi dan memperk uat sistim perbankan. kirim anak sekolah di luar negeri. dan meningkatkan ekspor. Dengan sistim ini. perjalanan. restrukturisasi perbankan. Dengan demikian sumber uta ma krisis di masa lalu untuk masa mendatang sudah dapat dieliminir. begitupun pengusaha domestik akan sangat hati-hati untuk meminjam dari luar negeri. perdagangan dan angkut an juga bisa hidup kembali. p. Para ekonom dari CSIS berpendapat bahwa langkah yang harus diambil un tuk mengatasi kemelut ini adalah dengan menstabilkan nilai tukar rupiah terhadap dol ar AS dalam tingkat yang wajar. harga mobil terjangkau oleh m asyarakat. Dengan demikian. 2. Penulis menginterpretasikan nilai tukar nyata sebagai nilai tukar berdasarkan purchasing power parity yang bisa menjaga keseimbangan dalam neraca berjalan dan yang bisa menjamin ekonomi nasional beroperasi.Krisis Moneter Indonesia : Sebab. berobat di luar negeri. kegiatan ekonomi Indonesia terutama harus ditunjang o leh kekuatan sendiri berdasarkan dana modal yang tersedia di dalam negeri. jalan-jalan ke luar negeri. dan penyelesaian masalah ut ang swasta dengan penjadwalan ulang (Kompas. Bank Dunia menyarankan mengembalikan kepercayaan terhadap rupiah dengan empat kebijakan utama: restrukturisasi beban utang swasta. Dunia per bankan nasional juga telah diajarkan dari manfaat jangka panjang untuk bertindak pruden t. Setelah mendapat pengalaman dari krisis ini. 1998. Peran IMF dan Saran 19 dewasa ini adalah program penyelamatan yang bisa mengembalikan kepercayaan masyarakat serta menstabilkan kurs rupiah pada nilai tukar yang nyata (bandingka n juga Stiglitz). 9 April 1998). Kegiatan jasa hotel. Ditambah dengan hilangnya insentif untuk meminjam dari luar negeri karena biaya pinjaman yang lebih rendah diimbangi dengan tingkat depresiasi yang lebih tinggi dan karena tidak adanya lagi intervensi kurs oleh BI. sejauh persyaratan di atas bisa dipenuhi. harga barang-baran g produksi dalam negeri dengan kandungan lokal tinggi bisa meningkat daya saingnya sehingga bisa berkembang dan orang tidak mengandalkan bahan impor karena menjadi mahal. impor secara otomatis akan berkurang (misalnya buah. Dampak. pola makan makanan yang bahannya gandum). dana asing akan sangat hati-hati ma suk ke Indonesia. dan menjaga stabilitas fiskal dan monete r selama masa transisi (World Bank. Inti dari pemecahan krisis moneter dalam jangka pendek haruslah ditujukan kepada .

pada suatu saat tertentu dan membagi (spread-out) pembayaran ini secara merata d alam jangka waktu yang lebih panjang pada tingkat yang terkendali (manageable). Beberapa saran dari penulis untuk mengatasi krisis ekonomi dewasa ini adalah sebagai berikut: . baik swasta maupun pemerinta h.pencegahan penumpukan pembayaran utang luar negeri.

Mengusahakan penundaan pembayaran utang resmi pemerintah berupa pembayaran cicilan pokok dan bunga selama misalnya dua tahun melalui Paris Club. makin cepat juga dananya cair. dalam hal ini Departemen Keuangan dan Bank Indonesia. diharapkan akan terjadi arus balik devisa dan masuknya modal luar negeri. Dengan demikian. Seandainya Indonesia tidak mene rima bantuan barupun. Pemerintah melaksanakan reformasi dan restrukturisa si sektor riil dan keuangan secara konsekuen untuk memperkuat fundamental ekonomi Indonesia. Maret 1999 1.450 juta. maka masih ada selisih positif sebesar lebih dari US$ 1 milyar yang bisa dihemat. Sejauh ini Indonesia memang selalu patuh untuk membayar semua utang-utangnya secara tepat waktu. 3. terlebih lagi karena bantuan IMF ini terkait dengan bantuan negara-negara donor lainnya yang jumlahnya sangat besar. Deng an adanya kepercayaan ini. hanya saja jangka waktu pembayaran kembalinya saj a yang lebih panjang. sebab Paris Club adalah instrumen internasional yang memang khusus dirancang untuk membantu negara-negara sedang berkembang dalam menghadapi masalah pembayaran kembali utang-utang luar negeri pemerintah. Membentuk kabinet baru yang terdiri atas teknokrat untuk mengembalikan keperc ayaan masyarakat Indonesia maupun luar negeri akan kesungguhan program reformasi. yang juga selalu mendapatkan pujian dari Bank Dunia dan IMF. Makin cepat pemerintah melaksanakan program-program reformasi. Karena Indonesia telah menanda-tangani persetujuan program reformasi struktural ekonomi dengan IMF.20 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Namun dalam keadaan krisis yang parah ini. tanpa merusak nama Indonesia sebagai debitur yang baik. maka pemerintah juga harus melaksanakannya dengan konsekuen. Jumlah i ni sangat berarti untuk memperkuat cadangan devisa negara. Namun pemerintah. sementara pinjaman luar negeri baru sebesar US$ 6. Keuntungan dari penundaan pembayaran utang ini adalah. 2. Yang nanti akan menjadi masalah adalah bagaimana membay ar utang bantuan darurat yang mencapai US$ 46 milyar tersebut di samping utang-utan g pemerintah dan swasta yang ada. harus bertindak proaktif menghadapi IMF dengan mengajukan saran-sarannya sendiri dan menolak program-program yang tidak relevan dan cenderung merugikan Indonesia. apa salahnya jika Indonesia meminta penundaan wak tu pembayaran kembali utang? Nama Indonesiapun tidak menjadi jelek karenanya. bahwa beban utang tidak menjadi bertambah. Sebab menurut APBN tahun 1998/99 jumlah pembayaran cicilan utang pokok luar negeri beserta bunganya mencapai US$ 7. Indonesia bisa bern apas untuk memperkuat posisi cadangan devisanya. termasuk program reformasi IMF.560 juta. Sementara ini sudah banyak negara se dang berkembang yang memanfaatkan fasilitas ini. Bila Jepang hanya mau membantu dengan dengan menambah pinjaman baru. berarti bahwa beban .

Penjadwalan kembali pembayaran utang resmi pemerintah ini juga akan banyak .utang termasuk pembayaran bunga untuk di kemudian hari akan bertambah besar.

Kebijakan depresiasi nilai tukar yang relatif besar dampaknya sama seperti kebij akan proteksi produksi dalam negeri. jumlah penduduk miskin dapat ditekan kembali dan jaringan keama nan sosial tidak lagi diperlukan. biaya angkutan udara bisa diturunkan. artinya tidak lagi ov ervalued ketika regim managed floating. 6. Menstabilkan nilai tukar rupiah pada tingkat yang riil. ASEAN. paling tidak tingkat depresiasi rupiah tidak lebih rendah dari depresiasi nyatanya. 4. dan sebagainya untuk mencari pemecahan atas krisis moneter yang sedang melanda banya k negara Asia Timur. Sebaliknya daya saing ekspor masih cukup tinggi. pembayaran utang luar negeri pemerintah dan swast a dalam rupiah dapat ditekan sehingga mampu dikembalikan. insentif untuk meminjam dana dar i luar negeri hilang. juga tingkat inflasi. Misalnya dengan mengajukan gagasan-gagasan pemecahan yang konkrit dan mendesak diadakannya pertemuanpertemu an dengan segera. terlebih lagi dengan semakin terpuruknya nilai tukar rupiah semakin besar pula defisit dalam anggaran belanja negara yang harus ditutup. orang-orang yang menganggur dapat bekerja kembali. Nilai tukar nyata yang wajar ini harus dicari dengan memperhatikan kriteria-kriteria berikut. begitupun harga BBM/listrik da n pakan ternak. harga barang-barang produksi dalam negeri dapat terjangkau termasu k sembako dan pabrik-pabrik beroperasi kembali. Bila ini disadari seba gai hal yang utama dan yang paling mendesak untuk mengakhiri krisis ini. Hal ini telah dilakukan oleh pemerintah dan telah dicapai kesepakatan. Dengan kurs ini defisit anggaran belanja negara bisa ditekan. Mengadakan negosiasi ulang utang luar negeri swasta Indonesia dengan para kredit or . Hingga kini sikap pemerintah Indonesia terkesan pasif. bahkan bisa dipertimbangkan untuk membiarkannya sedikit undervalued untuk meningkatkan daya saing secara internasional dan merangsang produksi dalam negeri dan ekspor. bahwa Indonesia akan menunda pembayaran cicilan utang pokoknya saja . Dilain pihak kurs dollar AS ini harus cukup tinggi untuk menahan impor berbagai macam barang dan bahan serta meningkatkan daya saing produk dalam negeri termasuk buah-buahan. biaya perjalanan ke dan sekolah di luar negeri tetap masih m ahal.Krisis Moneter Indonesia : Sebab. perjalanan d omestik dan luar negeri dapat hidup kembali. yang semuanya mengurangi pengurangan devisa. sehingga ekspor masih bisa tetap bergairah. Dampak. Masalah pokoknya adalah bagaimana memperkuat nilai tukar mata uang masing-masing kembali pada tingkat yang wajar. maka seluruh da ya upaya dan pikiran dapat diarahkan untuk memecahkan persoalannya. karena merubah perbandingan harga antara barang dalam negeri aktif dalam forum-forum internasional seperti APEC. Peran IMF dan Saran 21 membantu meringankan defisit anggaran belanja.

untuk meminta penundaan pembayaran. . yang sekarang sedang diusahakan oleh Tim Penanggulangan Utang Luar Negeri Swasta (PULNS) atau Indonesian Debt Restructuri ng Agency (INDRA).

22 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Maret 1999 7. Mengembalikan stabilitas sosial dan politik dan rasa aman secepatnya sehingga bi sa memulihkan kepercayaan pemilik modal dalam dan luar negeri. 8. Untuk mengembalikan kepercayaan dari masyarakat yang menyimpan uangnya di dalam negeri, pemerintah bisa mempertimbangkan melakukan operasi swap, apalagi didukun g oleh cadangan devisa pemerintah yang semakin membesar. 9. Menghalangi kemungkinan kegiatan spekulasi valas besar-besaran dengan mempela jari kemungkinan melakukan pengawasan devisa secara terbatas tanpa melepas prinsip regim devisa bebas atau melanggar kesepakatan dengan IMF, misalnya transfer prib adi dibatasi sampai jumlah tertentu, US$ 10.000. Selanjutnya tidak memberi peluang u ntuk memperdagangkan rupiah atau menaruh deposito Rupiah di luar negeri. Deposito val as hanya boleh di bank-bank devisa dalam negeri dan tidak boleh ditempatkan di luar . Krugman juga menganjurkan memungut pajak atas dana yang masuk dan membuat peraturan yang menghambat pengiriman dana ke luar (lihat Wessel dan Davis, hal. 16). Daftar Kepustakaan Anwar, Moh. Arsjad. 1997. Transformasi Struktur Perekonomian Indonesia: Pola dan Potensi , dalam: M. Pangestu, I. Setiati (penyunting), Mencari Paradigma Baru Pembangunan Indonesia, Jakarta: CSIS, hal. 33-48. Bank Indonesia. 1998. Financial Crisis in Indonesia , Jakarta, August. Bello, W. 1998. Mencari Solusi Alternatif untuk Mengatasi Krisis , saduran, Jakarta : Kompas, 1 September, hal. 3. Ehrke, M.1998. Pangloss oder die beste aller moeglichen Welten, Ursachen und Auswirkungen der Asienkrise , Bonn: Friedrich Ebert Stiftung, Februari. Fischer, S. 1998a. IMF dan Krisis Asia , Kompas, Jakarta, 6 April. ________. 1998b. Peranan IMF Saat Krisis , Kompas, Jakarta, 8 April. ________. 1998c. The Asian Crisis and the Changing Role of the IMF , Washington, D.C.: Finance & Development, Vol. 35 No. 2, June, pp. 2-5. Greenwood, J. 1997. The Lessons of Asia s Currency Crisis , Hong Kong: The Asian Wall Street Journal, 9 Oktober, hal. 6. Gunawan, A.H., Sri Mulyani I.. 1998. Krisis Ekonomi Indonesia dan Reformasi (Makr o) Ekonomi , makalah pada Simposium Kepedulian Universitas Indonesia Terhadap Tatanan Masa Depan Indonesia , Kampus UI, Depok, 30 Maret - 1 April.

Krisis Moneter Indonesia : Sebab, Dampak, Peran IMF dan Saran 23 Hartcher, P., C. Ryan. 1998. w, May 21. The IMF Turns Off the Tap , Australian Financial Revie

Hollinger, W.C. 1996. Economic Policy under President Soeharto: Indonesia s Twenty -Five Year Record, the United States-Indonesia Society. IMF. 1997. IMF Approves Stand-By Credit for Indonesia , Washington, D.C., Press Release No. 97/50, November 5. IMF. 1997. IMF Approves Stand-By Credit for Indonesia , Press Release No. 97/50, November 5. IMF. 1998. World Economic Outlook, Washington, D.C., May. IMF. 1999. Indonesia, Supplemetary Memorandum of Economic and Financial Policies,

Fourth Review Under the Extended Arrangement , March 16. IMF Research Department Staff. 1997. Capital Flow Sustainability and Speculative Currency Attacks , Finance and Development, Washington, D.C.: World Bank, December , hal. 8-11. IMF Staff. 1998. The Asian Crisis: Causes and Cures , Washington, D.C.: Finance & Development, Vol. 35 No. 2, June, pp.18-21. IMF Cairkan Semilyar Dollar AS , Jakarta: Kompas, 6 Mei 1998. IMF Mulai Sadar Transparensi , Jakarta: Kompas, 13 Mei 1998, hal. 9. Indonesia - IMF Agreement on Economic Reforms , January 15, 1998. Indonesia - Supplementary Memorandum of Economic and Financial Policies , Jakarta, April 10, 1998. Institute of Developing Economies (IDE). 1997. 1998 Economic Outlook for East As ia, Tokyo, December 9. Kitamura, K.; T. Tanaka (editors). 1997. Examining Asia s Tigers, Nine Economies Challenging Common Structural Problems, Tokyo: Institute of Developing Economies , IDE Spot Survey. Korea Letter of Intent, February 7, 1998, Krause, L.B. 1994. The Pacific Century: Myth or Reality?, the 1994 Panglaykim Me morial Lecture, Jakarta: CSIS.

24 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Maret 1999 Krugman, P. 1994. The Myth of Asia s Miracle , Foreign Affairs, November/December, hal. 62-77. _________. 1997. Currency Crisis . _________. 1998a. What Happened to Asia , The Economist, January. Dimuat di Kompas dengan judul Di Balik Terjadinya Krisis Keuangan Asia , 27 Januari, hal. 17. __________. 1998b. Saatnya Dipertimbangkan Solusi Alternatif , Jakarta: Kompas, 28 Agustus, hal. 3. Montes, M.F. 1998. The Currency Crisis in Southeast Asia, Singapore: ISEAS, 3rd updated reprint. Nasution, Anwar. 1997. Lessons from the Recent Financial Crisis in Indonesia , makalah pada 1997 Economics Conference , diselenggarakan bersama oleh USAID, ACAES, LPEM-FEUI, Jakarta, 17-18 Desember. Radelet, S., J. Sachs. 1998. Why Not Let the Banks Own the Debtor Firms? , The Sunday Times, Singapore, July 26, p. 28-29. RI-IMF Hasilkan Memorandum Tambahan , Jakarta: Kompas, 9 April 1998. Saran Ali Wardhana untuk Atasi Krisis, Ada yang Harus Dilakukan dan yang Harus Dihindari , Jakarta: Kompas, 26 Agustus 1998, hal. 3. Schuman, M., N. Cho. 1997. South Korea, IMF Agree on Bailout; Economy Is Slated f or Rapid Change , Hong Kong: The Asian Wall Street Journal, December 4. Sender, H.1997. What s a Fund for? , Hong Kong: Far Eastern Economic Review, September 25, hal. 140-2. Soros, G. 1998. The Crisis of Global Capitalism , Hong Kong: The Asian Wall Street Journal, September 16. Stiglitz, J. 1998. Restoring the Asian Miracle , Hong Kong: The Asian Wall Street J ournal, February 2, hal. 8. Sri Mulyani Indrawati. 1998. Kesepakatan Ketiga , Gatra, No. 25 Tahun IV, Jakarta, 9 Mei, hal. 72-3. Tarmidi, L.T. 1998a. APEC dan Krisis Moneter di Kawasan Asia Timur , majalah Global, Jakarta, No. 5, hal. 31-38. ___________. 1998b. Krisis Moneter Tahun 1997/1998 dan Peran IMF, pidato penguku han Guru Besar Madya Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta, 10 Juni.

Krisis Moneter Indonesia : Sebab, Dampak, Peran IMF dan Saran 25 ___________. 1998c. APEC and the Monetary Crisis in East Asia , paper presented at the APEC Study Centre Consortium Conference, Bangi, Malaysia, August 11-13. Thailand Letter of Intent, February 24, 1998. Utang Swasta Sekitar 64 Milyar Dollar AS , Jakarta: Kompas, 2 Mei 1998. Wessel, D., B. Davis. 1998. Crisis Crusaders, Would-Be Keyneses Debate How to Fight Global Woes , Hong Kong: The Asian Wall Street Journal, September 28, hal. 1 , 16. Wessel, D., D. McDermott, G. Ip. 1997. Money Trail: Who Ruptured the Rupiah , Hong Kong: The Asian Wall Street Journal, December 31, hal. 1, 22. World Bank. 1994. Indonesia: Stability, Growth and Equity in Repelita VI, May 27 . __________. 1996. Indonesia, Dimensions of Growth, Report No. 15383-IND, May 7. __________. 1997. Indonesia, Sustaining High Growth with Equity, Report No. 1643 3IND, May 30. __________. 1998. Indonesia in Crisis, A Macroeconomic Update, draft Report, Jul y 2.

Bank Indonesia Agusman : Pengawas Bank. sekal igus mempelajari kemungkinan penerapannya di Indonesia.Konsep Cross-Guarantee dalam Program Penjaminan dan Kemungkinan Penerapannya di Indonesia 31 KONSEP CROSS-GUARANTEE DALAM PROGRAM PENJAMINAN DAN KEMUNGKINAN PENERAPANNYA DI INDONESIA Maulana Ibrahim dan Agusman *) Tulisan ini mencoba mengetengahkan salah satu bentuk pikiran alternatif dalam pr ogram penjaminan yang dikenal dengan konsep Cross-Guarantee. Dengan merujuk pada ide yang dilontarkan Bert Ely t entang CrossGuarantee. Sebagai suatu konsep yang ditujukan untuk mengatasi berbagai kelemahan deposit i nsurance scheme yang berlaku sekarang ini. Konsep ini ju ga mengupayakan adanya perlakuan yang sama untuk bank-bank besar dan bank-bank kecil dalam mempe r-oleh penjaminan. Sangat berbeda dengan kon sep-konsep lainnya dalam program penjaminan. konsep ini sangat progresif dalam hal memperca yakan penyelenggaraan penjaminan kepada mekanisme pasar dan meniadakan intervensi peme rintah. Bank Indonesia . Apabila diterapkan sepenuhnya. sehingga mengarah sepenuhnya pada swastanisasi baik penyelenggaraan penjaminan m aupun pelaksanaan pengaturan dan pengawasan bank yang menyertainya. Pendekatan Too-Big-To-Fail (TBTF) yang sejak beberapa waktu terakhir telah menimbulkan inkonsistensi dalam proses penjaminan diharapkan dapat dihilangkan o leh konsep ini. Urusan Pengawasan Bank 2. dalam tulisan ini akan didalami prinsip-prinsip dasar yang terkandung dalam konsep tersebut beserta pengaruhnya terhadap pola penjaminan dan pengawasan bank. maka konsep Cross-Guarantee menekankan penting nya penggunaan pendekatan risk-sensitive analysis dalam penetapan besarnya premi. konsep Cross-Guarantee juga akan mengakibatkan pe rubahan yang sangat mendasar terhadap seluruh pola dan praktek penjaminan dan pengawasan bank yang sudah dijalankan selama ini. *) Maulana Ibrahim : Kepala Urusan Pengawasan Bank 2.

Sulit untuk memungkiri bahwa skim penjaminan pemerintah yang bersifat menyeluruh itu akan sangat memberatkan keuangan pemerintah.32 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. tindakan darurat (emergency measu res) yang dilakukan bank sentral dapat berupa pemberian fasilitas lender of last resort. Kritikan tersebut perlu ditanggapi karena FDIC 1 Menurut V. Editor: V. Maret 1999 Pendahuluan P P rogram penjaminan merupakan salah satu kebijaksanaan yang diambil pemerintah untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada sistem perbankan nasional yang sempat terganggu karena parahnya krisis ekonomi dan keuangan yang dihadapi Indonesia sejak paroh kedua tahun 1997.T. Bert Ely3 .Balino. Di Amerika Serikat sendiripun upaya pencar ian tersebut masih tetap dilakukan meskipun program penjaminannya dianggap telah jau h lebih maju dan mapan. Latar Belakang Konsep Cross-Guarantee Konsep Cross-Guarantee muncul antara lain karena adanya berbagai kritik dan ketidakpuasan terhadap skim penjaminan yang diterapkan pada Federal Deposit Insu rance Corporation (FDIC) di Amerika Serikat. skim program penjaminan yang dipilih pemerintah tersebut ternyata lebih bersifat blan ket guarantee (penjaminan menyeluruh). Untuk mendalami masalah ini lebih lanjut lihat tulisan mereka berdua dalam Banking Crises: Cases and Issues. telah mencoba mengkaji kemungkinan penggantian ketentuan blanket guarantee tersebut dengan deposit protection scheme. namun untuk jangka panjang tampaknya perlu dicari alternatif lain yang memungkinkan terselenggaranya program penjaminan yang efisien dan efektif. Untuk tindakan darurat1 . Tulisan ini mencoba mengetengahkan pikiran-pikiran Bert Ely mengenai konsep Cros sGuarantee tersebut. Dalam Konferensi mengenai Bank Structure and Competition y ang baru-baru ini diadakan oleh Federal Reserve Bank of Chicago. Kusumaningtuti (1999)2 misalnya. Ditinjau dari karakteristiknya.Sundararajan dan Tomas . Dalam hubungan ini . seorang pakar deposit insurance telah mengemukakan konsep Cross-Guarantee sebagai salah satu a lternatif. hal tersebut barangkali masih dapat dite rima. serta mencoba mempelajari kemungkinan penerapannya di Indone sia. Pencarian kemungkinan alternatif lain program penjaminan merupakan hal yang perlu dilakukan secara terus menerus. khususnya karena tidak sebandin gnya nilai premi dengan cakupan penjaminan disamping adanya peluang untuk melakukan moral hazard. intervensi terha dap bank-bank/lembaga keuangan bermasalah dan pembentukan deposit insurance.Sundararajan dan Tomas J.

.S..1. D.3. Bank Indonesia. Dese mber 1998. 1991. 2 Kusumaningtuti S. 7 Mei 1999.T. Vol. Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. The Cross-Guarantee Concept and Interbank Markets.Balino. Ketentuan Blanket Guarantee dan Kemungkinan Penggantianny a dengan Deposit Protection Scheme.J. No. The Federal Reserve Bank of Chicago. . Washington. Paper dalam The 35 th Annual Conference on Bank Structure and Competition . 3 Bert Ely. International Monetary Fund.C.

Dengan kata l ain. laba yang diperoleh FDIC cukup besar sehingga ketergantungan pada premi menjadi semakin lebih berkurang. Alasan kedua adalah karena jumlah dana yang ditanamkan oleh FDI C telah melebihi ketentuan minimum Reserve Ratio (RR) perbankan sebesar 1.Konsep Cross-Guarantee dalam Program Penjaminan dan Kemungkinan Penerapannya di Indonesia 33 sekarang ini menghadapi risiko yang lebih besar dibandingkan dengan periode-peri ode sebelumnya4 . dan sebaliknya5 . Namun dalam hal suatu ba nk dinilai TBTF maka seluruh pos kewajibannya akan dijamin. sehingga menimbulkan cross-subsidies. Meskipun penerapan asas TBTF sangat dimungkinkan berdasarkan konsep Reformasi Deposit Insurance (deposit insurance reforms) yang disetujui Kongres Amerika Ser ikat dan berlaku sejak setelah tahun 1988. komitmen dan kewajiban off-balance s heet serta kewajiban antar bank di atas USD. pendapat an dari penanaman dana oleh FDIC jauh melebihi biaya-biaya operasionalnya. termasuk juga pos pinja man subordinasi.100.000. Perhitun gan premi oleh FDIC dinilai kurang mencerminkan risiko yang harus ditanggungnya. Disamping itu premi yang dikenakan oleh FDIC sekarang ini juga dinilai terlalu berlebihan (overcharging) untuk bank-bank yang sehat dan terlalu kecil (undercha rging) untuk bank-bank yang bermasalah. tampaknya hanya dalam FDIC mengalami kerugian dan deposit growth menekan RR di bawah 1.sedangkan non -deposits liabilities seperti pinjaman yang diterima. Sebagaimana layaknya perusahaan asuransi. Ole h karena itu. pada dasarnya yang dijamin oleh FDI C adalah dana pihak ketiga (deposits) maksimum sebesar USD. Namun dalam prakteknya prinsip tersebut ternyata tidak diterapkan karena dua alasan pokok berikut ini. Salah satu hal yang memperoleh kritikan adalah mengenai ruang lingkup penjaminan FDIC yang cenderung agak kurang konsisten sehubungan dengan penerapan pendekatan Too-Big-To-Fail (TBTF).25% barulah premi akan dinaikkan.. akan tetapi tetap saja ada kritik bahwa perlak uan khusus tersebut dapat menimbulkan diskriminasi diantara sesama bank. Pertama.25%.100. Sebagaimana diketahui. sehingga pada gilirannya dapat merugikan masya rakat penyimpan dana. khususnya bagi ban kbank yang Too-Small-To-Safe (TSTS). seharusnya semakin besar risiko yang ditanggung semakin besar premi. Kritikan berikutnya yang sering ditujukan kepada FDIC adalah berkenaan dengan penetapan premi yang harus dibayar oleh bank-bank yang ikut penjaminan. yaitu bank-bank .000 tidak dijamin.

Tahun 1994. Hal ini diungkap dalam tulisan Yoram Landskroner dan Jacob P aroush. hal. Journal of Banking & Finance. hal.yang 4 Adanya risiko yang lebih besar tersebut antara lain dikemukakan oleh Jin-Chuan Duan. Moreau dan C. 5 Ide agar FDIC menetapkan premi sebagaimana layaknya perusahaan asuransi swasta mula-mula sekali dilontarkan oleh Merton (1977).W. No. 531-552.19 Tahun 1995. . Journal of Banking & Finance. Deposit Insurance Pricing and Social Welfare . Arthur F.Sealey dalam Deposit Insurance and Bank Interest Rate Risk: Pricing and Regul atory Implications .1091-1108. No.18.

dan potensial untuk beru bah menjadi real moral hazard pada tingkat FDIC. ruang-lingkup penjaminan. Contoh yang paling baru dari fenomena regul atory moral hazard ini adalah dalam hal kegagalan BestBank di Boulder. Maret 1999 sehat membayar kewajiban bank-bank yang tidak sehat. Kritikan lainnya adalah mengenai masih terbukanya peluang untuk melakukan moral hazard dalam sistem yang berlaku sekarang. Perubahan-perubahan tersebut dapat mencakup aspek penyelenggara. su . Penerapan konsep Cross-Guarantee dalam program penjaminan memer-lukan perubahan mendasar terhadap skim penjaminan dan pola pengawasan bank yang sedang berjalan. namun pendekatan ini dinilai kurang ideal dalam perhitungan premi. secara implisit konsep Cross-Guarantee sebenarnya sudah mel ekat pada FDIC. sedangkan pihak lain yaitu birok rasi pemerintah (regulator) berkewajiban untuk meminimumkan kerugian FDIC dan mencega h kegagalan bank (bank failures). bank-bank yang ikut program penjaminan FDIC pada hakekatnya saling menjamin satu-sama lain. weak internal controls dan execessi ve exposure to emerging speculative bubbles. kar ena masing-masing bank-bank yang dijamin (insured banks) pada akhirnya menjadi pihak yang bertanggung jawab terhadap semua kerugian yang terjadi apabila ada bank-bank yan g mengalami kegagalan usaha (failed banks). Colorado pada bulan J uli 1998. Karakteristik Sistem Cross-Guarantee dalam Penjaminan Terlepas dari berbagai kritik terhadap skim penjaminan FDIC sebagaimana dikemukakan di atas. khususny a dalam hal terdapat multiple participant. Hal ini terjadi karena pada satu piha k FDIC memiliki kekuasaan besar dalam penentuan premi. Sekarang ini FDIC menggunakan 2 (dua) alat ukur risiko yaitu Capital Lev els dan CAMEL Rating. Struktur seperti ini ternyata dapat mengakibatka n terjadinya regulatory moral hazard pada tingkat pembuat ketentuan. bentuk kontribusi dari bank yang dijamin. Menurut Bert Ely. Hal ini erat kaitannya deng an belum diterapkannya secara penuh prinsip risk-sensitive premium sebagaimana yang dipersyaratkan oleh Section 302 FDICIA6 serta penggunaan alat ukur risiko yang b elum sesuai. seharusnya alat ukur yang digunakan adalah leading indicators of banking risks seperti risk mismatches. Mekanisme Cross-Guarantee ini memiliki kemiripan dengan mekanisme yang berlaku pada Standby Letter of Credits.34 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. lemba ga penjamin. rapid growth. Melalui premi yang mereka bayar. meskipun belum seutuhnya.

lembaga lain y ang terlibat dan lain-lain. dalam Journal of Banking & Finance.Kaufman. pelaksana pengawasan bank. FDICIA and Bank Capital n 1995. Selanjutnya lihat George G. Menurut George G. apabila diterapkan secara penuh maka ketentuan yang tercakup dalam FDICIA dapat efektif menurunkan moral hazard. hal. Pada Lampiran-1 disajikan perbandingan antara Cross-Guar antee dengan skim penjaminan deposit insurance konvensional untuk masing-masing aspek tersebut. No.mber pembayaran klaim. Tahu . 6 FDICIA singkatan dari FDIC Improvement Act.Kaufman. ketentuan perbankan.721-722.19.

akan terjadi pergeseran dari government regulation and deposit insuran ce kepada contractual regulation and guarantees (swasta). selur uh kerugian karena bangkrutnya suatu bank akan langsung diserap oleh modal bank-ban k yang ada dalam sistem perbankan suatu negara. Direct guarantor akan melakukan pembayaran dengan menggunakan general fun ds (cadangan umum) yang merupakan salah satu unsur modalnya. Lembaga ini berfungsi untuk memastikan bahwa perjanjian penjaminan (cr ossguarantee contract) yang disepakati para pihak telah sesuai dengan aturan penyebaran risiko (risk dispersion rule) serta ketentuan-ketentuan lainnya. Apabila direct guarantor gagal memenuhi kewajibannya maka guarantor dari direct guarantor tersebut harus bertanggungjawab. Setiap bank diberi kebebasan untuk menentukan sendiri penjaminnya (direct guaran tornya). Syndicate agent ini selanjutnya akan menggantikan fungsi pengawas dan pemeriksa bank yang ada sekarang. b. Dengan cara ini. Perlu kiranya dikemukakan bahwa aturan penyebaran risiko (risk dispersion rule) merupakan salah satu pilar penting dalam konsep Cross-Guarantee. Setiap penjamin (guarantor) harus dijamin oleh penjamin-penjamin lainnya dalam suatu sistem cross-guarantee. Untuk memastikan bahwa bank-bank yang dijamin mematuhi cross-guarantee contract maka sebuah perusahaan swasta yang disebut syndicate agent akan disewa. Perjanjian ini ak an berfungsi sebagai pengganti ketentuan perbankan yang berlaku sekarang.Konsep Cross-Guarantee dalam Program Penjaminan dan Kemungkinan Penerapannya di Indonesia 35 Agar konsep Cross-Guarantee tersebut dapat diimplementasikan dalam praktek maka perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: a. secar a accrual accounting setiap direct guarantor akan langsung mengakui dan mencatat kerugian sebesar share yang harus ditanggungnya apabila bank yang dijaminnya mengalami kegagalan usaha. Selanjutnya. d. Aturan ini menc akup hal-hal sebagai berikut: . Bank yang dijamin (insured bank) selanjutnya akan melakukan pembicaraan dengan direct guarantor-nya untuk mencapai kesepakatan-kesepakatan yang akan dituangkan dalam bentuk perjanjian penjaminan (cross-guarantee contract). Penunjukan syndicate agent ini dilakukan secara terbuka sehingga a kan mendorong adanya kompetisi yang sehat dan efisiensi. Jumlah modal yang tersedia untuk menyerap kerugian juga akan semakin besar dan semua itu terjadi atas dasar komit men sukarela (committed voluntarily). Dengan demikian. minimal untuk menyelesaikan kewajiban cross-guarantee da . c. Sebuah lembaga baru yang disebut Cross Guarantee Regulation Corporation (CGRC) h arus dibentuk. Secara bersama-sama para direct guarantor akan membentuk suatu sindikat direct guarantor (lihat Lampiran-2).

.ri setiap penjamin. Dengan demikian setiap dolar kerugian pasti akan dapat diselesa ikan oleh bank-bank yang berada dalam himpunan para penjamin (the universe of guarant ors).

Demikian pula penentuan perjanjian penjaminan (cross -guarantee contract) sepenuhnya diserahkan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Karena adanya kebebasan dalam proses merumuskan mekanisme penjaminan untuk setiap bank. Untuk memastikan bahwa tidak akan pernah ada suatu bank mengalami kegagalan usaha karena menjadi penjamin maka perlu diberlakukan suatu standard stop-loss r ule. yaitu in sured banks dan direct guarantor-nya. Secara aggregat. baik untuk setiap bank maupun secara aggregat. Yang perlu dijaga adalah agar perjanjian dimaksu d sudah memperhitungkan premi atas dasar sensitivitas terhadap risiko (risk-sensitive pr emium). Cross-Guarantee memerlukan peran aktif dari p ihak swasta untuk mewujudkan suatu skim penjaminan yang diarahkan oleh kekuatan pasar (market-driven cross-guarantee). Oleh karena itu . Maret 1999 . Sebagai aturan yang akan menggantikan pru dential regulation maka perjanjian penjaminan harus dibuat sedemikian rupa agar dapat me nampung prinsip kehati-hatian. yang menyatakan bahwa apabila satu penjamin mengalami kerugian cross-guarantee melebihi lima kali premi yang diperolehnya dalam setahun maka kewajiban crossgua ranteenya harus dialihkan kepada direct guarantor-nya. s etiap bank penjamin tidak diperkenankan menerima pendapatan dari premi7 dalam setahun melebihi 3 (tiga) persen dari total modalnya. penerapan konsep CrossGuarantee akan menimbulkan pergeseran peranan dari pemerintah kepada pihak swast a dalam melakukan penjaminan serta pengaturan dan pengawasan bank. . sehingga penjaminan akan terlaksana sec ara efisien dan efektif. Manfaat Swastanisasi Penjaminan melalui Cross-Guarantee Sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya. agar dapat terlaksana dengan baik. memenuhi aturan penyebaran risiko (risk dispersion rule) serta ketentuan-ketentu an lainnya yang dianggap penting oleh para pihak. maka konsep Cross-Guarantee dipandang lebih berori entasi ke depan dibandingkan dengan konsep penjaminan (FDIC) yang berlaku sekarang. Setiap penjamin bertanggungjawab sebatas jumlah risiko cross-guarantee yang ditanggungnya. . Setiap perjanjian penjaminan (cross guarantee contracts) harus menyebutkan jum lah minimum para penjamin dan persentase risiko yang ditanggung mereka masing-masing .36 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Skim penjaminan berbasiskan pasar tersebut diha rapkan dapat mengeliminir intervensi dari pemerintah. 7 Dalam hal ini premi merupakan proxy terbaik dari cross-guarantee risk. Semangat untuk melakukan privatisasi penjaminan melalui Cross-Guarantee jelas terlihat sejak awal penentuan bank penjamin (direct guarantor) yang dilakukan se cara sukarela (voluntary) dan demokratis. .

.

asal bank-bank tersebut dapat menemukan direct guarantor-nya. tetapi j uga menjalar kepada bank yang menjadi direct guarantor. Dalam praktek selama ini sering ditemukan adan ya beberapa ketentuan yang sulit diterapkan karena bersifat terlalu umum dan kurang mempertimbangkan karakteristik individual bank. maka transaks itransaksi non-funding obligations seperti account payment. insured banks dapat membuat berbagai ketentuan yang mengatur dirinya secara spes ifik berdasarkan kesepakatan dengan direct guarantor-nya. Oleh karena itu. unexpired leases dan kewajiban yang . Apabila suatu bank memperoleh penilaian yang jelek dari pas ar maka yang akan menanggung akibatnya bukan hanya bank yang bersangkutan saja. mereka akan di jamin sebagaimana layaknya bank-bank lainnya. Hal-hal tersebut akan membua t persaingan dalam industri perbankan akan semakin ketat dan mendorong efisiensi b esarbesaran dalam sektor keuangan. Hal ini pada gil irannya dapat mendorong kompetisi yang sehat diantara sesama perusahaan syndicate agent dan mendorong efisiensi pekerjaan penjaminan. Atas dasar konsep Cross-Guarante e ini. Manfaat berikutnya dari konsep Cross-Guarantee dapat ditinjau dari segi ruang lingkup penjaminannya. Konsep Cross-Guarantee juga memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi insured banks untuk berdiskusi dan bernegosiasi dengan direct guarantor-nya untu k segala hal termasuk mengenai masa depan bank tersebut. Hal ini pada gilirannya akan mem buat strategi business dan perencanaan bank menjadi semakin tajam dan terarah. pendekatan TBTF menjadi tidak relevan sama sekal i dalam konsep Cross-Guarantee. Karena kemungki nan akan banyak perusahaan syndicate agent yang muncul maka direct guarantor diberi keleluasaan dalam menentukan syndicate agent yang mereka pilih. Persaingan sehat juga akan terjadi diantara sesama syndicate agent yang akan ber fungsi sebagai pengganti pengawas dan pemeriksa bank yang ada sekarang. Tanpa memandang besar kecilnya suatu bank.Konsep Cross-Guarantee dalam Program Penjaminan dan Kemungkinan Penerapannya di Indonesia 37 Dengan swastanisasi penjaminan dan pengawasan bank maka nantinya tidak akan ada lagi fenomena satu ketentuan yang berlaku untuk semua (one-size-must-fit-all g overnment regulation) yang selama ini merupakan salah satu kelemahan inheren dari ketentua n perbankan yang dibuat pemerintah. kegiatan kontrol atau pengawasan akan semakin lebih ketat karena langsung dilakukan oleh kekuatan pasar. Dengan menggunakan konsep Cross-Guarantee. Pada p ihak lain.

. Sama halnya dengan program penjaminan biasa. 8 Pengecualian hanya terjadi dalam hal TBTF. maka dalam crossguarantee. unsur modal juga tidak dijamin8 . Kewajiban yang tidak dapat dijamin hanyalah pinjaman subordinasi karena memiliki karakteristik campuran (hybrid) hu tang dengan modal. karena ada kemungkinan pinjaman sub ordinasinya juga akan ikut dibayar.muncul karena tuntutan hukum akan dapat ikut dijamin. tergantung pada bobot permasalahan bank yang TBTF tersebut.

Penggunaan konsep Cross-Guarantee ini juga dapat mendorong penggunaan secara luas net settlement procedures dalam Sistem Pembayaran. Bagi bank sentral hal in i akan sangat menguntungkan karena net settlement procedures tersebut dapat lebih efisien dari real-time gross settlement . untuk melaksanakan penjaminan transaksi off-balance sheet derivatives perlu ada buktibukti bahwa transaksi itu genuine.38 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. padahal kemampuan keuangan pemerintah sendiri sudah sangat terbatas. Pad a tingkat konsep. karena bersifat blanket guarantee (jaminan menyeluruh) maka skim tersebut dapat mengakibatkan beban yang sangat berat bagi keuangan pemerintah. . Dengan adanya kemungkinan untuk melakukan perhitungan premi berdasarkan kecenderungan pasar tersebut maka cross-subsidies yang inheren dalam skim penjaminan yang ada sekarang diharapkan akan dapat dihilangkan. Sistem Kliring akan terbebas dari risik o tidak dibayarnya tagihan antar bank karena adanya jaminan bahwa direct guarantor masin g-masing bank pada akhirnya akan bertanggungjawab sesuai perjanjian penjaminan (cross-gua rantee contract) yang mereka sepakati. sesuatu yang sangat sulit dibuktikan kecuali oleh p erbankan sendiri. Pada tingkat pelaksanaan. terdapat pula indikasi bah wa dalam praktek tidak seluruh aspek penjaminan dapat terlaksana. Hal ini pada gilirannya memungkinkan terselengga ranya suatu Sistem Pembayaran yang bebas risiko (risk-free basis). Kemungkinan Penerapan Konsep Cross-Guarantee di Indonesia Skim penjaminan yang sekarang ini diterapkan di Indonesia masih mengandung berbagai kelemahan baik pada tingkat konsep maupun pada tingkat pelaksanaan. Maret 1999 Manfaat lainnya dari konsep Cross-Guarantee adalah adanya kesempatan untuk melakukan penyesuaian secara cepat terhadap perhitungan premi berdasarkan kekuat an pasar. Sebagai contoh. Pengaruh terhadap Pasar Antar Bank dan Sistem Pembayaran Cross-guarantee dapat menghilangkan counterparty risk yang selama ini melekat da lam transaksi antar bank (lihat Lampiran-3). Disamping itu pelua ng untuk moral hazard juga besar karena unsur keadilan yang kurang terpenuhi yang t ercermin antara lain dari gejala cross-subsidies dimana bank-bank yang sehat membayar kew ajiban bank-bank yang tidak sehat. Perhitungan tersebut akan mencerminkan risk-sensitivity dari bank yang di jamin dan diharapkan dapat disesuaikan segera baik secara bulanan atau mingguan. Dalam hal ini besarnya premi dapat langsung dibicarakan oleh masing-masing bank dengan dir ect guarantor-nya.

konsep Cross-Guarantee tampaknya dapat menjadi salah satu alternatif jalan keluar.Sehubungan dengan hal-hal tersebut di atas. karena hakekat persoalan penja minan dikembalikan secara utuh kepada pelaku pasar sendiri yaitu antara bank-bank yang .

Pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas cukup relevan untuk kondisi Indonesia dan memerlukan jawaban-jawaban yang tidak sederhana. apalagi dalam situasi krisis seperti sekarang. Pertanyaan ini cukup penting mengingat selama ini bank-ba nk di Indonesia sangat tergantung pada petunjuk dan arahan yang diberikan oleh otor itas moneter sebagai pengawas dan pembina bank-bank. yai tu untuk mencegah kegagalan pasar perbankan (banking market failure) dan untuk membangkit kan kembali kepercayaan masyarakat serta menghentikan bank runs9. Hal yang terakhir ini tampaknya ada benarnya juga karena untuk sampai pada konsep Cross-Guarantee perlu dijawab terlebih dahulu pertanyaan-pertanyaan berikut ini: v Apakah bank-bank di Indonesia sudah sedemikian sehat dan kuat sehingga mampu untuk saling menjamin (cross-guarantee) sesama mereka ? v Apakah bank-bank di Indonesia sudah cukup dewasa untuk mendiskusikan sendiri sesama mereka hal-hal yang berkenaan dengan penjaminan. Pengkajian lebih lanjut sangat . Sementara itu. v Apakah sistem informasi yang terdapat pada masing-masing bank dan secara nasiona l telah sanggup menyediakan data/informasi yang diperlukan untuk penetapan premi yang sensitif terhadap risiko ? v Apakah pihak otoritas pengawas yang ada sekarang berkenan menyerahkan fungsinya pada mekanisme pasar melalui syndicate agent dan dapat menerima keberadaan Cross Guarantee Regulation Corporation (CGRC) sebagai lembaga yang akan memverifikasi perjanjian penjaminan (cross-guarantee contract) ?. Mereka yan g pro mungkin lebih didasarkan atas adanya peluang besar untuk meringankan beban keuan gan pemerintah. Namun demikian perlu kiranya diingat agar pemilihan konsep Cross-Guar antee tersebut hendaknya tidak terlepas dari tujuan utama dari program penjaminan.Konsep Cross-Guarantee dalam Program Penjaminan dan Kemungkinan Penerapannya di Indonesia 39 bertransaksi. penerapan konsep Cross-Guarantee di Indonesia dapat menimbulkan pro dan kontra. yang k ontra lebih melihat dari sisi kesiapan perbankan dan kalangan pemerintahan kita dalam menera pkan konsep dimaksud. sehingga mereka perlu saling menjamin dan saling menjaga kestabila n sistem perbankan. business strategy dan prudential regulation untuk dituangkan dalam semacam perjanjian yang mengikat me reka secara bersama-sama ?. Meskipun dapat dipandang sebagai salah satu alternatif jalan keluar.

Fraser. 9 Mengenai hal ini lihat misalnya Kerry Cooper dan Donald R. Ballinger Publishing Company.diperlukan untuk mencegah pengambilan keputusan yang keliru yang dapat berakibat kontraproduktif terhadap masa depan sistem perbankan dan sektor keuangan negara kita. . 1984. The Risk of D epository Institution Failure and The Role of Deposit Insurance dalam Banking Deregulation and The New Competit ion in Financial Services. Cambridge Massachusetts.

Banking Crises: Cases and Issues. C. No. dalam Journal of Banking & Finance.3. Bank In donesia. The Federal Reserve Bank of Chicago. 7 Mei 1999.531-552.Balino. Ballinger Publishing Company. International Monetary Fund.Fraser. Desember 1998.W.S. hal. Arthur F.. 1991. Yoram Landskroner dan Jacob Paroush.Sundararajan dan Tomas J.18. FDICIA and Bank Capital No.. Jin-Chuan Duan.19 Tahun 1995. Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.Kaufman. Deposit Insurance Pricing and Social Welfare dalam Journal of Banking and Finance. 1984.Sundararajan dan Tomas J.T.1091-1108.Sealey dalam Deposit Insurance and Bank Interest Rate Risk: Pricing and Regulatory Implications dalam Journal of Ban king & Finance. No. Kusumaningtuti S.721-722. George G. hal. Ketentuan Blanket Guarantee dan Kemungkinan Penggantiannya dengan Deposit Protection Scheme. hal. Washington. Maret 1999 Daftar Pustaka Bert Ely. Editor V.Moreau and C. Paper dalam The 35th Annual Conference on Bank Structure and Competition . Tahun 1994. D.T. Vol. No.19.1. Kerry Cooper and Donald R. . Tahun 1995. The Cross-Guarantee Concept and Interbank Markets. V.Balino. Cambridge Massachusetts.40 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. The Risk of Depository Institution Failure and The Role of Deposit Insurance dalam Banking Deregulation and The New Competition in Financial Services.

dilaksanakan ole h "Syndicate Agent". 6 Pelaksana pengawasan bank Bank Sentral dan FDIC Murni swasta. Premi ("risk sensitive premium"). 3 Ruang-lingkup Penjaminan Terbatas dan sangat subjektif dalam penentuan bank-bank yang "TBTF" (Too-Big-Too-Fail). General funds (general reserves) dari direct guarantors. Seluruh pos-pos kewajiban. 8 Lembaga lain yang terlibat Tidak ada lembaga lain yang terlibat kecuali FDIC.Lampiran-1 PERBANDINGAN ANTARA CROSS-GUARANTEE DENGAN DEPOSIT INSURANCE KONVENSIONAL No. baik sebagai direct guarantor maupun indirect guarantor. 4 Bentuk kontribusi dari yang dijamin Premi (namun belum memenuhi kriteria "risk-sensitive premium"). Dibentuk lembaga baru yang disebut Cross Guarantee Regulation Corporation (CGRC) untuk memastikan bahwa perjanjian jaminan sudah sesuai aturan penyebaran risiko dan ketentuan lainnya. Konsep Cross-Guarantee dalam Program Penjaminan dan Kemungkinan Penerapannya di Indonesia 41 . 5 Sumber pembayaran klaim Hasil pengelolaan dan penanaman premi pada sektor-sektor yang menguntungkan. kecuali Pinjaman Subordinasi. ASPEK DEPOSIT INSURANCE CROSS-GUARANTEE 1 Penyelenggara Pemerintah Swasta 2 Lembaga Penjamin FDIC Sesama bank. 7 Ketentuan perbankan Prudential regulation konvensional Berdasarkan kesepakatan antara bank yang dijamin (insured banks) dengan direct guarantor-nya ("Contractual Regulation"). Bank Sentral dan "insured banks".

........ Syndicate of Direct Guarantors Contractual relationship = Bank or non-depository guarantor Contract approval .......... .... ............. .......................................... Maret 1999Monitoring fee Obligation to protect competitively sensitive data Syndicate Agent (Independent of any other party) complies with risk dispersion rules and other statutory requirements ........ 1998 Ely & Company Inc. Permission granted to reproduce with attribution .................. ...................................................... Guaranteed Bank of Thrift Delegation ofmonitoring responsibility Fiduciary responsibilityEnsures that cross-guarantee contract complies with risk dispersion rules and other statutory requirementsCross-guarantee commitment Guarantee premium Ensures that cross-gurantee contract ................ ...... ......... ..................................................... . ...... ............... ........................................... ......................................................... ......................Lampiran 2 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan... ............................................................ . ......................................................................................................................................................... ............................ ............................................................. ..............

In effect. counterparties. stc) that are direct participants in the clearing system Guarantors of counterparties Konsep Cross-Guarantee dalam Program Penjaminan dan Kemungkinan Penerapannya di Indonesia 43 . Clearing Systems Flow of insolvency loss if a clearing system participant becomes insolvent Failure Failure Counterparties (banks. thereby ensuring payment finality. securities. to protect clearing systems participant from a are fully guaran teed by the guarantors of the clearing system s default by a counterparty. including Clearing syst ems will be able to operate much more efficiently daylight overdraft limits. cross-guarantee contracts will ensure payment finality. bilateral caps. and collateralized net and safely whe re balances due to clearing system participants debit positions. firms.Lampiran 3 Using Cross-Guarantees to Ensure Payment Finality Will Permit Clearing Systems to Operate Much More Efficiently by Eliminating Counterparty Risk Present System In a World of Cross-Guarantees Clearing systems presently utilize a variety of devices.

tingkat penghasilan nasabah. dan kiranya akan menjadi topik pembica raan tersendiri. Bank Indonesia **) Sumantoro Martowijoyo : Peneliti pada Tim Penyiapan Pusat Pendidikan dan Ris et. Badan Kredit Kecamatan di Jawa Tengah. jarak rata-rat a antara lokasi LKM ke lokasi nasabah. tidak demikian halnya pengusaha konglomerat. USDM.Kinerja Lembaga Keuangan Mikro dan Perilaku Masyarakat Pedesaan 45 KINERJA LEMBAGA KEUANGAN MIKRO DAN PERILAKU MASYARAKAT PEDESAAN *) Sumantoro Martowijoyo **) Setelah disuguhi banyak topik moneter dengan teknik-teknik analisis canggih ekon ometrika tingkat pascasarjana. tulisan ini mengajak pembaca untuk turun ke dunia nyata te mpat sebagian besar saudara kita sebangsa hidup. Ukuran kinerja sendiri jauh berbeda dengan kriteria CAMEL yang tidak akan mudah te rcerna oleh kesahajaan lembaga-lembaga tersebut. suk u bunga tabungan dan suku bunga pinjaman. Bank Indonesia . Indonesia telah menjadi laboratorium bagi penelitian di bidang Lembaga Keuangan Mikro (LKM). Di luar BRI Unit yang merupakan kisah sukses tingkat dunia. Di era pengentasan kemiskinan ini. waktu pemrosesan kredit. bahwa faktor yan g paling mempengaruhi kinerja adalah jarak ke lokasi nasabah dan selang waktu pemrosesan kredit. karena sebagian justru sengaja memacetkan kreditnya. di samping berkembangnya kelompok-kelompok swadaya masyarakat sebagai bentuk lembaga keuang an yang paling sederhana di tingkat akar rumput . Di sini dibahas beberapa faktor yang menggambarkan perilaku masyarakat perdesaa n yang mempengaruhi kinerja lembaga keuangan mikro. misalnya: jam kerja. Dari hasil analisis dapat diungkapkan. kenangan dan salam perpisahan p enulis kepada Urusan Kredit. karena memi liki berbagai jenis sejak lama. *) Bagian dari tulisan yang sedang dalam proses. ad a Badan Kredit Desa yang didirikan di zaman Belanda. Tergambar pula masih lugu dan mandirinya sifat pengusaha mikro perdesaan nasabah LKM diban ding pengusaha konglomerat nasabah bank umum: apabila kenaikan pendapatan pengusaha mikro perde saan dipakai untuk menambah tabungan dan melunasi tunggakan.

Indonesia sebetulnya sudah lebih maju dalam pencipt aan lembaga keuangan mikro sejak zaman Belanda. Dengan begitu. Kelompok Swadaya Masyarakat Di Indonesia. 1 banyak pula yang menyebutnya rural financial institutions (RFI) atau lembaga k euangan pedesaan (LKP). tapi untuk Indonesia karena lokasinya banyak pula di perkotaan maka dipilih istilah y ang dikenal sejak Summit ini. dan dalam pengembangan LKM melalui Proyek Kredit Mikro yang didanai bersama Asian Development Bank. Apabila kebutuhan akan uang tersebut makin terasa dan jumlah yang diperoleh dari arisan terlalu kecil. . para pakar merekomendasikan prinsip keswadayaan dan kesehatan (viability) dari progra mprogram pengentasan kemiskinan. Di luar perhatian para penentu kebijakan kita. timbullah gagasan untuk menambah jumlah dan jenis uang set oran menjadi simpanan pokok. simpanan wajib. Setelah dua dasawarsa diwarnai kr editkredit murah bersubsidi yang sebagian tidak jatuh ke tangan kelompok sasaran dan mengakibatkan merosotnya kinerja serta moralitas lembaga keuangan pelaksananya. terdapat banyak LKM yang semiformal maup un informal di Indonesia. kegiatan yang dilakukan secara kelompok sudah merupakan budaya masyarakat yang berazaskan paguyuban. dan simpanan sukarela. Kegiatan arisan sudah tumbuh menjamur diperdesaan dan perkotaan dan jumlahnya mungkin melebihi satu juta. di samping BRI Unit yang merupakan k isah sukses dunia. Dalam pengembangan KSM Bank Indonesia ikut berkiprah melalui Pengembangan Hubungan Bank dengan Kelompok Swadaya Masyarakat (PHBK) yang gagasannya berasal dari APRACA (Asia Pacific Rural and Agricultural Credit Assoc iation).46 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. pencarian model lembaga keuangan mikro1 yang tepat untuk melayani rakyat miskin dilakukan di mana-mana. dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat (LSM) bergiat membina keswadayaan masyarakat melalui kelompok-kelompok swadaya masyarakat (KSM). tanpa melihat status hukumnya. Lembaga Keuangan Mikro di Indonesia Selain lembaga yang formal seperti BRI Unit dan BPR yang secara hukum diakui sebagai lembaga keuangan formal (bank). Maret 1999 Latar Belakang D D engan disepakatinya ikrar dalam Microcredit Summit di Washington DC Amerika Serikat pada tahun 1997 untuk membebaskan 100 juta penduduk dunia dari kemiskinan. Tiga lembaga yang dipilih adalah yang efektif beroperasi di tingkat akar rumput dan menerapkan prinsip suku bunga pasar yang terbukti lestari. Model Grameen Bank Bangladesh direplikasikan di manamana.

Istilah mikro selain menunjuk skala yang lebih kecil dari yang kecil. konotasinya terkait dengan kemiskinan .

Sedangkan bank desa menghimpun tabungan berupa uang dan memberikan kredit berupa uang. BI sendiri meny . Dengan berlakunya Undang-undang Perbankan No. Lumbung desa mengumpulkan padi untuk diberikan sebagai pinjaman berupa padi kepada petani di saat mereka membutuhkan. semata-mata berdasarkan penilaian kelayakan nasabah oleh K omisi I.7 tahun 1992 yang mencabut berlakunya Staatsblad no. Pengawasan terhadap BKD dilakukan secara langsung oleh Mantri BKD yang mewilayah i satu kemantren yang terdiri dari 18 BKD. Jumlah kredit yang dapat diberikan sampai dengan Rp 400. kemudian mulai tumbuh kembali sesudah kemerdekaan. Akan tetapi mengingat banyak faktor.000 tanpa agunan. banyak LSM yang lahir dan tumbuh untuk dapat menangkap bantuan dari badan atau LSM internasional. Sistem kredit BKD sederhana. 1995). Perkumpulan semacam ini secara tidak sadar sudah berfungsi sebagai lembaga keuan gan perdesaan: menghimpun dana dan memberikan kredit kepada anggota. berguguran di zaman pendudukan Jepang dan Perang Kemerdekaan. Suharto.Kinerja Lembaga Keuangan Mikro dan Perilaku Masyarakat Pedesaan 47 perkumpulan arisan telah berubah menjadi koperasi kredit (credit union). pengawasan terhadap BKD sebetulnya ada di tangan Bank Indonesia (BI). Berkembangnya KSM di Indonesia tidak lepas dari berkembangnya lembaga swadaya masyarakat (LSM) dari tahun 1960-an sampai awal 1990-an yang jumlahnya diperkira kan antara 1000-2000 buah (Saidi. 357 tahun 1929. memungut bunga berupa jasa . 1988) dan keduanya diku kuhkan dengan Staatsblad nomor 357 tahun 1929. Seperti halnya di Filipina. Selama zaman Belanda sistem BKD telah berfungsi dengan baik sebagai lembag a keuangan bagi rakyat perdesaan. di mana untuk peminjaman uang ditarik pula semacam jasa yang dipotongkan dari jumlah pinjaman. Sebagai bank sekunder dalam pembinaan BRI. terutama terdiri dari kredit pasaran dan mingguan y ang berjangka waktu 12 pasar2 atau 12 minggu dengan pembayaran angsuran pokok maupun bunga dengan jumlah yang tetap. Badan Kredit Desa Badan Kredit Desa (BKD) terdiri dari lumbung desa yang didirikan tahun 1897 dan bank desa yang didirikan sekitar tahun 1904 (P. organisasi dan pengelolaan BKD dipertahankan tetap seperti konsep semula yaitu Komisi BKD terdiri dari kepala d esa sebagai ketua komisi (Komisi I) dan 2 orang pemuka masyarakat atau aparat desa sebagai K omisi II dan III. serta di akhir tahun membagikan dividen bagi para pemegang saham. Pembukuan dilakukan oleh Juru Tata Usaha (JTU) yang bekerja untuk 6 BKD secara bergilir (BKD umumnya buka sekali seminggu pada hari atau hari pasaran tertentu) .

etujui BRI meneruskan tugas pengawasannya terhadap BKD dengan bantuan keuangan dari BI. 2. Satu pasar=5 hari (kalender Jawa). kredit pasaran diberikan oleh BKD yang buk anya setiap hari pasaran tertentu .

48 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Maret 1999 Lepas dari suara yang mendiskreditkan BKD, keberadaannya dibutuhkan oleh rakyat dan telah membuktikan kelestarian dan kemandiriannya dalam arti tidak pernah men erima dana maupun subsidi bunga dari pemerintah. Di tengah maraknya kredit Bimas, misa lnya, lumbung desa tetap menjadi sumber kredit bagi rakyat kecil untuk konsumsi sehari -hari (Dibyo Prabowo, 1981). Sebagai LKM, BKD mampu menjangkau masyarakat paling miski n di pedesaan, tercermin dari paling rendahnya jumlah kredit rata-rata BKD dibandi ng beberapa lembaga keuangan mikro yang terkenal di dunia, yaitu sebesar USD 38 di tahun 1993 (Christen, 1995,p.26). Jumlah BKD di Jawa dan Madura tercatat 5345 terdiri dari 4806 yang aktif dan 539 yang tidak aktif (BRI, 1998). Badan Kredit Kecamatan Badan Kredit Kecamatan (BKK) adalah lembaga keuangan yang beroperasi di tingkat kecamatan yang didirikan oleh Pemerintah Daerah Tingkat I Jawa Tengah di awal ta hun 1970an dengan status sebagai suatu proyek, dan kemudian dengan Peraturan Daerah (Perda) No. 11 tahun 1981 dikukuhkan menjadi badan usaha milik daerah. BKK didirikan dengan tujuan: (1) mendekatkan modal pada masyarakat pengusaha miskin di perdesaan dengan cara mudah, murah dan mengarah, (2) menciptakan pemer ataan kesempatan berusaha di pedesaan, dan (3) mendidik masyarakat pedesaan untuk gema r menabung (BP-BKK,1994). Prosedur permohonan kredit kepada BKK cukup sederhana da n untuk jumlah kredit sampai dengan Rp 500.000 tidak diperlukan agunan selain reko mendasi kepala desa. Selang waktu antara saat pengajuan permohonan dengan realisasi kred it untuk nasabah baru paling lama seminggu, sedangkan untuk nasabah ulangan yang lancar pencairan kredit dapat dilakukan pada hari yang sama. Jenis kredit BKK sama dengan BKD, yaitu kebanyakan kredit pasaran, mingguan, bulanan (3 bulan), dan musiman (6 bulan). Sama dengan BKD jumlah angsuran sama s etiap pembayaran, hanya menuruti peraturan BPR, dibukukan terpisah sebagai angsuran po kok dan bunga. Manajemen BKK terdiri dari Pimpinan, Pemegang Kas dan Pemegang Buku. Kinerja manajemen BKK dipantau oleh Camat sebagai penanggung jawab BKK di wilayahnya. Berdasarkan Perda no.11 tahun 1981 Bank Pembangunan Daerah (BPD) Jawa Tengah ditugasi sebagai pembina dan pengawas teknis BKK. BKK diharuskan menyimpan keleb ihan alat likuidnya di BPD, di pihak lain apabila BKK kekurangan modal kerja BPD akan memberikan pinjaman likuiditas. Jumlah BKK di seluruh Jawa Tengah 510, 202 di antaranya sudah berstatus BPR, rat

arata peminjam per unit 978 orang, jumlah pinjaman rata-rata per unit Rp 96 juta dan p er nasabah Rp 132.584 (DAI, 1993)

Kinerja Lembaga Keuangan Mikro dan Perilaku Masyarakat Pedesaan 49 Metodologi Penelitian Penelitian ini dilakukan di lapangan terhadap 105 lembaga keuangan mikro (LKM) di Jawa Tengah, yang merupakan 34 % dari populasi, untuk masing-masing jenis LKM (KSM, BKD, BKK) diambil proporsional berdasarkan jumlah populasinya masing-masin g secara purposif, beserta masing-masing 3 nasabah per LKM yang diambil secara aca k. Analisis data primer dilakukan dengan teknik statistik nonparametrik, pertama de ngan uji Kruskal-Wallis untuk beda populasi dan uji Kendall untuk kesesuaian (concordance ) pemeringkatan faktor-faktor kinerja, kemudiaan untuk hubungan antarfaktor kinerj a dengan korelasi jenjang Spearman3 . Keuntungan penggunaan statistik nonparametrik adala h tidak perlu dibuktikannya kenormalan distribusi data (yang merupakan prasyarat bagi sa hihnya penggunaan statistik parametrik) dan dapat diterapkannya pada sampel kecil atau data kualitatif (Siegel, 1997). Faktor-faktor yang mempengaruhi Kinerja LKM Terdapat beberapa faktor atau variabel yang secara rasional dianggap mempengaruh i kinerja, seperti: umur LKM, jam kerja, jarak rata-rata ke lokasi nasabah (JARAK) , selang waktu pemrosesan kredit (SELANG), penghasilan rata-rata nasabah (RAYNAS), suku b unga tabungan (ITAB), dan suku bunga pinjaman (IPIN). Mengenai kriteria kinerja, dari pengkajian terhadap falsafah dan hakekat LKM ser ta pendapat para praktisi keuangan perdesaan, penulis mengajukan beberapa faktor pe nentu kinerja LKM, yaitu tingkat akses kepada penabung (AKPEN), tingkat akses kepada p eminjam (AKPEM), persentase jumlah penunggak (PERPUNG), efisiensi (biaya usaha per rupia h kredit, BIRUP) dan laba per rupiah kredit (LARAP). AKPEN dan AKPEM adalah masing masing jumlah penabung dan peminjam dibagi jumlah penduduk di wilayah kerja LKM. PERPUNG adalah persentase jumlah penunggak (debitur kredit macet) dari jumlah pe minjam, BIRUP dihitung dari jumlah biaya operasional dibagi dengan saldo pinjaman, sedan gkan LARAP merupakan laba bersih sebelum pajak dibagi saldo pinjaman. Kegunaan kriter ia ini akan dapat dipahami setelah selesai membaca hasil analisis di belakang. N 6 S d2 i=1 i r = 1 -

s N3 - N di mana rs = koefisien korelasi Spearman N = jumlah pasangan observasi d = perbedaan jenjang yang diperoleh dari setiap pasangan observasi

3406. a=0.003) IPIN xxxxxxx -. a=0. meningkatka n jumlah penunggak walaupun tidak signifikan (rs=0.000) dan biaya per rupiah kredit (rs=0. a=0.3981. Faktor yang berpengaruh paling besar terhadap faktor kinerja adalah jarak antara lokasi nasabah ke kantor atau pos desa LKM (JARAK).229.4816. a=0.2073.000) . a=0.474). apabila din aikkan akan menurunkan jumlah peminjam dan mengakibatkan meningkatnya jumlah penunggak.4816(.4959(.229) -.019) juga berpengaruh sangat signifikan dalam penurunan laba per rupiah kredit (rs=-0. demiki an pula uji Kendall menghasilkan nilai W yang sangat signifikan.2292(. Dari hasil analisis korelasi peringkat Spearman antara variabel nonkinerja denga n faktor penentu kinerja terdapat beberapa temuan yang berhubungan dengan perilaku nasabah. serta peningkatan jumlah penunggak (rs=0.2674. 0276.1325(. meningkat kan biaya per rupiah kredit secara tidak signifikan (rs=0. berpengaruh cukup signifikan terhadap jumlah penunggak (rs=0.006) .2864(.003). a = 0.000) SELANG xxxxxx -. Selang dan Sukubunga Pinjaman terhadap Faktor Kinerja AKPEN AKPEM PERPUNG BIRUP LARP JARAK -.3406(.50 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Lamanya waktu pemrosesan kredit berpengaruh menurunkan jumlah peminjam cukup signifikan (rs=-0. membuktikan bahwa angka rata-rata yang dianalisis memang berasal dari tiga populasi yang berbeda dan pem eringkatan semua faktor kinerja dilakukan secara konsisten. mengingat banyaknya kredit murah serta persaingan berat dari BRI Unit .3981 (.000).474) .1325.000) -.006). a=0. 2.000) . a=0. menurunkan laba per rupiah kredit secara sangat signifikan (rs=-0. a=0.2674(. a=0.1183(.0276(.000).019) -. Jauhnya jarak berpengaruh sangat signifikan terhadap penurunan jumlah penabung (rs=-0.109) dan berpengaruh tidak signifikan terhadap laba per rupiah kredit (rs=0.076(. Suku bunga pinjaman berpengaruh sangat signifikan terhadap jumlah peminjam (rs=0 .780).000) dan jumlah peminjam (rs=-0. Maret 1999 Hasil Analisis Uji Kruskal-Wallis menghasilkan nilai chi-kuadrat yang sangat signifikan. a=0. Tabel 1.2073(.178) . berarti bahwa suku bunga pinjaman sudah ada di batas atas.109) xxxxxxx . Faktor lain yang cukup berpengaruh kepada faktor kinerja adalah lamanya waktu pemrosesan kredit (SELANG). Korelasi antara Jarak. 3.178).2864.2292.1183.4959.780) 1.0706. a =0.

Kinerja Lembaga Keuangan Mikro dan Perilaku Masyarakat Pedesaan 51 dan BPR yang memperoleh fasilitas kredit dari pemerintah. pengaruh penghasilan nasabah terhadap kiner ja tidak begitu signifikan.196).1466(.2784(.949) .169 di tahun 1992 dan melonjak menjadi Rp 132.0063(.0539(.297) . (c) Walaupun begitu terlihat masih adanya sifat jujur dan mandiri pada pengusaha mikro nasabah BKK dibanding pengusaha besar nasabah bank umum saat ini.027) .000) -.339) -. dapat diungkapkan beberapa temuan yang menarik.274).3412.610) .1131(.516) -.349) (61) .3194(.196) -.876) -. terutama kepada jumlah penabung (rs=0.1131(. a=0. karena jauhnya jarak lokasi LKM akan menyebabkan nasabah malas untuk berhubungan karena besarnya biaya transaksi yang harus ditanggungnya.567) . nasabah yang penghasilannya relatif lebih tinggi mempunyai akses kepada pelayanan tabungan dan pinjaman yang lebih besar dibanding dengan nasabah yang 98. terlihat bahwa penghasilan nasabah paling berpengaruh terhadap kinerja BKK.645) .0565(.1281(.3670(.585) .3412(. Hal sederhana ini kiranya dapat dimaklumi. dan jumlah penunggak (rs=-0. Akan tetapi apabila dianalisis per jenis LKM. sama dengan perilaku pengusaha besar nasabah bank umum. yaitu apabila penghasilan pengusaha mikro nasabah BKK meningkat. a=0.5500(. nasabah BKK yang relatif lebih mampu meningkatkan tabungan tetapi terus memanfaatkan kredit.0025(.0237(. Dari sini dapat disimpulkan bahwa pada BKK.2912.594 di tahun 1993 (DAI. Tabel 2 Korelasi antara Penghasilan Rata-rata Nasabah dengan Faktor Kinerja untuk Seluruh LKM dan Per Jenis LKM AKPEN AKPEM PERPUNG BIRP LARP LKM KSM BKD BKK (105) -. yaitu biaya angkutan dan hilangnya waktu meninggalkan pekerjaan.012) .251) (28) -.5500. jarak mempunyai dampak yang lebih kuat terhadap berkurangnya jumlah peminjam dan bertambahnya jumlah penunggak dibandingkan suku bunga pinjaman. (b) Dilihat per segmen nasabah terdapat perbedaan perilaku apabila penghasilanny a meningkat: nasabah BKD yang relatif kurang mampu lebih suka menabung dan tidak meminjam.668) (16) . Dari analisis mengenai pengaruh penghasilan nasabah dan jumlah tabungan rata-rat a terhadap kinerja.0 4. jumlah peminjam (rs=0. sedangkan pengaruhnya pada BKD kurang signifikan.274) . mereka .1840(. a=0.0601(.2912(.456) -.1245(.0309(. 1993). (a) Dilihat LKM sebagai keseluruhan. Akan tetapi dilihat da ri kuat dan signifikannya korelasi.985) .027).

Pengawas BPR hendaknya tidak melihat pemberian kredit dalam jumlah kecil-kecil pada LKM sebagai suatu hal yang tidak efisien atau tidak maju . seperti terlihat pada gejala pemberian kredit BKK d i atas. Mengingat pula bahwa lamanya waktu pemrosesan kredit juga berpengaruh cukup kuat kepada kinerja. 4. Adanya kredit dari pemerintah untu k BPR condong menguntungkan BPR Gaya Baru yang dimiliki para pemodal berdasi.52 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. (c) pelarangan/penutupan pos pelayanan justru akan lebih memperparah kinerja LKM . LKM diharapkan membuka sebanyak mungkin pos pelayanan dan/atau mengintensifkan kunjungan lapangan. keadaannya justru dibuat seperti telor di ujung tanduk karena banyaknya programprogram kredit murah bersubsidi di perdesaan. terus memanfaatkan kredit dan tidak lupa melunasi tunggakannya. sedangkan pemrosesan kredit ulangan hendaknya dapat diselesaikan pada hari yang sama. tetapi apabila pendapatan pengusaha konglomerat nasabah bank umum meningkat (dan pasti setiap tarikan napas menghasilkan uang). karena pengertian kantor di bawah kantor cabang bagi LKM umumnya bukan merupakan gedung atau kantor seperti bank umum. Mendorong LKM untuk memberikan kredit dalam jumlah yang semakin besar berarti menjauhkan LKM dari nasabahnya yang miskin. tetapi mungkin hanya sekedar meja dan kursi tempat petugas lapangan menemui nasabahnya. oleh karena (a) kriteria CAMEL tidak menampung aspirasi dan misi LKM (tersurat ataupun tersi rat dalam Undang-undang) sebagai pelayan keuangan bagi masyarakat papan bawah. BKD telah beroperasi selama satu abad dan BKK selama hampir tiga dasawarsa denga n pendekatan pasar yang telah membuat mereka lestari (sustainable) dan mandiri. karena hal itu justru sesuai dengan misi LKM membantu pengentasan kemiskinan. Otoritas perbankan hendaknya tidak melarang pembukaan pos pelayanan ataupun memberi sanksi berupa penutupan pos pelayanan ( kantor di bawah kantor cabang ) kepada LKM yang sudah menjadi BPR karena alasan tingkat kesehatan yang tidak baik. maka keputusan pemberian kredit kepada peminjam baru hendaknya dilakukan sesegera mungkin. Mengingat jarak merupakan variabel yang paling mempengaruhi kinerja. Implikasi Kebijakan 1. 2. 3. karena sebagian dari mereka sengaja menunggak dan memacetkan kreditnya. Maret 1999 meningkatkan tabungan. karena menghambat akses kepada masyarakat yang merupakan sumber dana dan penghasilannya. . belum tentu mengurangi jumlah penunggak. (b) pelarangan pembukaan kantor di bawah kantor cabang kiranya dapat dihapuskan.

Daftar Pustaka Badan Pembina BKK Propinsi Jawa Tengah. Zaim. Boulder. dalam Hansen. Agricultural and Rural Development in Indonesia .1997 Suharto. May 1993 Dibyo Prabowo dan Sayogyo: The Green Revolution: Sidoarjo. Secangkir Kopi Max Havelaar. Pandu. PT Gra media Pustaka Utama-Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia. Westview Press. LPPI. Robert Peck. USAID Program and Operations Assessment Report No. Jakarta.Kinerja Lembaga Keuangan Mikro dan Perilaku Masyarakat Pedesaan 53 memungkinkan mereka menurunkan sukubunga kreditnya sehingga menambah pesaing bagi LKM.Gramedia. Perkembangan BKK dan BPR-BKK. Di era reformasi ini pemerintah seyogianya lebih membina semangat keswadayaan masyarakat dan tidak menggunakan program-program kredit murah sebagai alat politik karena merusak moralitas masyarakat perdesaan yang masih ju jur seperti terbukti dari perilakunya terhadap LKM. 1988 . and Subang .(ed). 31 Maret 1994 Christen. terj. Sidney. Zanzawi Suyuti & Landung Simatupang. 497-0341) in Indone sia. Gary E. East Java. 10. 1981 Saidi. West Java. dkk. Sejarah Pendirian Bank Perkreditan Rakyat. July 1995 Development Alternatives. Jakarta.. 1995 Siegel. Project Completion Report of Technical Support P rovided to the Financial Institutions Development Project (USAID No. Maximizing the Outreach of Microenterprise Finance.Jakarta. Statistik Nonparametrik. Inc. LSM dan Kebangkitan Masyarakat.

serta tidak adanya sistem yang mampu mengan tisipasi resiko fluktuasi harga barang jaminan khususnya emas. Untuk mewujudkan potensi tersebut terlebi h dahulu harus dibenahi berbagai kelemahan khususnya kelemahan struktural yang ada. kuran g diminati masyarakat. . Rp 20 juta). relatif kecilnya skala kredit yang diberikan (Rp 5. Perum Pegadaian (PP) merupakan salah s atu lembaga keuangan yang masih mampu bertahan. sistem manajemen yang sentralistik sehingga berpotensi menghambat kinerja. Dalam kondisi krisis tersebut. Potensi Perum Pegadaian untuk lebih berperan dalam pemberdayaan ekonomi rakyat d apat dilihat dari keberpihakan terhadap masyarakat berpendapatan rendah (mayoritas na sabah). Permasalahan lain yang bersifat struktural antara lain rentang kendali yang terlalu luas namun tidak ditunjang sistem pengawasan yang memadai. bahkan menunjukkan peningkatan kinerja baik operasional maupun keuangan. beberapa kelemahan pro sedur yang berpotensi menimbulkan penyimpangan.d. khususnya sektor perbankan yang berakibat terhentinya aliran kredit perbankan.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekono mi Rakyat 55 KEGIATAN USAHA PERUM PEGADAIAN DAN PERANANNYA DALAM MENDUKUNG PEMBERDAYAAN EKONOMI RAKYAT Satrio Wibowo dan Gunawan *) Krisis ekonomi yang terjadi sejak pertengan tahun 1997 telah berdampak luas terh adap segala aspek perekonomian. serta kekurangan lik uiditas juga disebabkan karena obligasi yang diterbitkan untuk membayar obligasi yang jatuh tempo. Untuk mengatasi permasalahan tersebut Perum Pegadaian telah menerima bantuan dalam bentuk RDI dari pemerintah dan KLBI. serta mudahnya prosedur gadai. Sedangkan u ntuk meningkatkan efisiensi pembiayaan usaha kecil perlu dikaji kemungkinan pemberian izin bagi perusahaan/lembaga lain untuk bergerak dalam usaha pegadaian.000 s. Dalam masa krisis ini. Perum Pegadaian menghadapi permasalahan temporer berupa l onjakan nasabah (puncaknya terjadi pada Juni 1998) yang mendorong Perum Pegadaian melaku kanoverdraft sangat besar atas fasilitas kredit yang diperoleh dari BRI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dibandingkan dengan peer-gro upnya (BPR dan BRI Udes) secara umum kinerja PP relatif lebih baik. Porsi kredit yang diberikan oleh PP semakin meningkat walaupun secara nominal relatif lebih kecil dibandingkan dua l embaga tersebut. suku bunga yang dikenakan relatif rendah.

Bagian Studi Struktur dan Perkembangan Pasar Keuanga n. Bagian Studi Struktur dan Per kembangan Pasar Keuangan. UREM. BI. UREM.go. Bagian Studi Struktur dan Perkembangan Pasar Keuangan. BI. USDM. BI. Penulisan paper ini juga dibantu oleh Didy Laksmono. dan Sudiro Pambudi. .id. Gunawan : Asisten Peneliti. Budi Wikanto.*) Penulis utama dari paper ini adalah : Satrio Wibowo : Kepala Bagian Pendidikan dan Pengembangan Pegawai. email: gunawan@bi. Erwin Gunawan. Mak alah ini ditulis ketika yang bersangkutan masih menjadi Peneliti Ekonomi . Bank Indon esia. UREM. Ridho Hakim.

Jika pada tahun 1996. Maret 1999 I. Dari sisi permintaan.7% pada tahun 1 997 menjadi -13. khususnya konsumsi rumah tangga dan investasi swasta.67 juta orang warga pedesaan1 . jumlah penduduk miskin di Indonesia berdasarkan data SUSENAS berjumlah 22. khususnya masyarakat kecil. Sehingga dikhawatirkan akan semakin memperparah kondisi perekonomian nasional Dalam upaya penyehatan perekonomian nasional. 5 juta orang.1. Melonjak nya jumlah pengangguran dan penduduk miskin tersebut. Hal ini tercermin dari beberapa indikator ekonomi makro seperti pertumbuhan ekonomi yang merosot tajam.4 juta orang tiap tahun. jika tidak dapat diatasi akan berpotensi mendorong terjadinya gejolak sosial ekonomi yang lebih luas. Jumlah pengangguran yang pada masa sebelum krisis berkisar antara 3 . laju inflasi yang meningkat dan angka pengangguran y ang melonjak. Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) merosot dari 4.31% pada tahun 1997 menjadi 77. pada tahun 1998 diperkirakan membengkak hingga mencapai 13.63% pada tahun 1998. Salah satu langkah yang ditempuh adalah pemberdayaan ekonomi raky at yang bertujuan meningkatkan akses rakyat kecil terhadap perekonomian dan menguta makan . telah mengakibatkan terjadinya kontraksi perekonomian dan mendorong meningkatnya jumlah penduduk miskin. Latar Belakang Masalah K K risis ekonomi di Indonesia yang berlangsung sejak pertengahan tahun 1997 telah berdampak luas terhadap hampir semua aspek perekonomian. yaitu melem ahnya nilai tukar rupiah (imported inflation) dan kelangkaan pasokan (supply shortage) khususnya sembilan bahan pokok. Pemerintah telah menempuh serangkaian langkah dan tindakan yang juga memperoleh bantuan dari beberapa lemb aga internasional. melambatnya pertumbuhan e konomi disebabkan oleh melemahnya permintaan domestik. Meningkatnya inflasi tersebut telah mengakibatkan semakin melemahnya daya beli masyarakat.35 juta orang.68 juta orang warga perkotaan dan 56.68% pada tahun 1998. melambatnya pertumbuhan ekonomi terut ama disebabkan oleh tingginya biaya impor bahan baku.56 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Krisis ekonomi yang berkepanjangan. Hal tersebut didoro ng pula oleh meningkatnya jumlah pengangguran sebagai dampak dari banyaknya perusah aan yang pailit dan melemahnya investasi. maka berdasarkan perkiraan BPS jumlah tersebut pada pertengahan 1998 meningkat empat kali mencapai 79. Sedangkan laju inflasi yang di ukur dengan IHK meningkat tajam dari 10. Dari sisi penawaran. Pendahuluan 1.8 juta orang. Jumlah perkiraan tersebut terdir i dari 22. Tingginya laju inflasi terutama disebabkan oleh dua hal pokok.

Perhitungan Jumlah Penduduk Miskin 1998 .kepentingan rakyat. . Pemerintah juga mendorong komitmen perbankan dal am 1 Badan Pusat Statistik. Selain itu.

terganggunya fungsi intermediasi perbankan te rsebut memberi peluang bagi Perum Pegadaian untuk semakin berperan dalam pembiayaan. tentunya sangat diperlukan untuk membantu pemuli han perekonomian nasional.3. sejak terjadinya krisis ekonomi perbankan nasional juga menghadapi permasalahan yang cukup berat. Hipotesa Kegiatan usaha Perum Pegadaian dapat dikembangkan untuk mendukung perkembangan usaha kecil khususnya sektor informal. Tujuan Penelitian . cepat. Sektor keuangan khususnya perbankan yang selama ini sangat berperan dalam menggerakkan roda perekonomian. Upaya-upaya tersebut juga diimb angi dengan upaya lain di sektor riil. 1. dan aman merupakan suatu potensi keunggulan Perum Pegadaian dibandingkan dengan lembaga keuangan lainnya. menengah dan koperasi. untuk mendorong pertumbuhan ekonomi diperluk an peran lembaga keuangan lain yang dapat berperan sebagaicomplementary institution sdari perbankan.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekono mi Rakyat 57 pengembangan usaha kecil. Kinerja perbankan yang memburuk tersebut mengakibatkan terhambatnya penyaluran kredit. antara lain dengan melaksanakan program Jaring Pengaman Sosial (JPS) untuk memberdayakan masyarakat (khususnya yang terkena dampak langs ung dari krisis ekonomi). Peran dalam pembiayaan nasabah kecil tersebut. Hal tersebut ditandai dengan meningkat nya jumlah non performing loan. serta ancaman kesulitan likuiditas yang masih berlangsung hingga awal tahun 1999 ini. Hal tersebut didukung oleh karakteristik Perum Pegadaian. Namun. jaringan kantor dan wilayah kerj a yang menjangkau hampir seluruh wilayah Indonesia serta prosedur yang sederhana. Disamping itu. memburuknya net interest margin dan kondisi permodal an. mudah .2. serta dengan melakukan reformasi struktural untuk meningka tkan efisiensi perekonomian. terutama prosedurnya yang sederhana. sesuai dengan tujuan Perum Pegada ian yang tidak hanya semata-mata mencari untung tetapi juga sebagai penunjang kebija kan dan program Pemerintah di bidang ekonomi dan pembangunan nasional melalui penyal uran pinjaman atas dasar hukum gadai. Pada masa krisis. 1. mudah dan ce pat. Salah satu lembaga keuangan selain bank yang telah lama dikenal masyarakat adala h Perum Pegadaian. Sehubungan dengan kondisi tersebut. sumber daya manusia yang memadai serta jaringan usaha yang luas. khususnya usaha kecil dan dalam masa krisis ini juga telah menjadi salah satu al ternatif pemenuhan kebutuhan pembiayaan bagi sebagian masyarakat yang terkena dampaknya.

.Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari peran usaha Perum Pegadaian serta potensinya untuk ikut berperan dalam pelaksanaan program Jaring Pengaman Sosial (JPS).

ketentuan-ketentuan operasion al. Salah satu produk Perum Pegadaian adalah memb erikan kredit berdasarkan hukum gadai. Data sekunder yang dipergunakan berupa laporan-laporan yang telah tersedia dari Perum Pegadaian. maka Perum Pegadaian berpotensi untuk berperan serta dalam program JPS. sifat Pegadaian ada lah menyediakan pelayanan bagi masyarakat umum dan sekaligus memupuk keuntungan berdasarkan prinsip pengelolaan perusahaan yang sehat. Tengah dan Timur. namun diubah kembali menjadi Perusahaan Jawatan (Perjan) tahun 1969. st atusnya diubah menjadi Perusahaan Negara (PN). Wilayah tengah diwakili oleh 1 kantor daerah di Pulau Bali dan 1 kantor daerah di Pulau Kalimantan. Perum Pegadaian telah merancang Rencana Jangka Panjang II (RJP II) yaitu periode tahun 1997-2001. data operasional. manajemen maupun dari sumber lainnya.d September 1998. Nasabah yang dipilih sebagai responden dikelompokkan sebagai nasabah biasa dan nasabah yang dianggap potensial (prima) berdasarkan frekwensi dan lamanya berhubungan dengan Perum Pegadaian. Wilayah barat diwakili oleh 3 kantor d aerah di Pulau Jawa dan 2 kantor daerah di Pulau Sumatera. Pada tahun 1961. Dengan status sebagai Perum. Dengan PP No. dengan periode pengamatan sej ak tahun 1996 s. untuk memperoleh data mengenai kea daan dan operasionalisasi Perum Pegadaian dilakukan metode survey terhadap kantor pus at. RJP II ini mer . Dalam upaya meningkatkan kinerja perusahaan. 1. 8 kantor daerah. berupa data keuangan. penelitian juga dimaksudkan unt uk mempelajari peran dan potensi Perum Pegadaian dalam mendukung pemberdayaan usaha kecil. khususnya sektor informal. Maret 1999 Sesuai dengan karakteristik usaha dan mayoritas nasabah Perum Pegadaian yang merupakan masyarakat berpendapatan rendah.4 Metode Penelitian Penelitian dilakukan dengan melakukan analisis data sekunder dan primer. Disamping itu. Profil Perum Pegadaian Pegadaian Negeri didirikan pertama kali oleh pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 1 April 1901 di kota Sukabumi dengan status Jawatan. 36 kantor cabang. Survey tersebut dilaksanakan pa da tanggal 23 November . II. serta dengan mewawancarai beberapa nasabah yang dipilih sebagai responden di kantor-kantor cabang tersebut. Sedangkan wilayah timur diwakili oleh 1 kantor daerah di Pulau Sulawesi.10 Desember 1998. Disamping itu. 10/1990 tanggal 10 April 1990 status Perjan Pegadaian diubah menjadi Perusahaan Umum (Perum) Pegadaian guna meningkatkan efisiensi dan produktivitas usaha.58 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Sampel kantor daerah dipilih dengan sistem purposive sampling yang mewakili wila yah Indonesia Bagian Barat. kepegawaian.

upakan .

Melaksanakan optimalisasi kantor-kantor cabang sebagai ujung tombak operasi perusahaan. Laba bersih (earnings after taxes) meningkat dengan 30. Meningkatkan pelayanan kepada seluruh nasabah dengan baik. cepat dan manusiawi. Memiliki SDM yang handal dan profesional. Meningkatkan produktivitas di seluruh bidang kegiatan. b. Posisi keuangan yang likuid dan solvabel dengan current ratio di atas 1 dan debt to equity ratio di bawah 3. Pefindo merupakan perusah aan atau efek hutang yang berisiko investasi rendah dan berkemampuan baik untuk membayar bunga dan po kok hutang sesuai dengan yang diperjanjikan dan hanya sedikit dipengaruhi oleh perubahan keadaan yang mer . Meningkatkan efisiensi perusahaan 1 Yang dimaksud dengan rating A sesuai dengan definisi PT. Perum Pegadaian merumuskan misinya yang dijadikan acuan untuk menentukan arah pengusahaan.1% dari laba usaha. kelemahan. Hasil usaha lain-lain menyumbang sekitar 5. Sementara. c.2% per tahun. sasaran pengusahaan dan strategi pokok perusahaan dalam periode RJP II. d. Misi perusahaan tersebut yaitu : Ikut meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat golongan menengah ke b awah melalui penyediaan dana berdasarkan hukum gadai secara inovatif dan melakukan us aha lain yang menunjang. d. sasaran pengusahaannya adalah : a. b. Memiliki kinerja sehat sekali (SS) dengan rating minimal A 1 . Visi Perum Pegadaian dalam PJPT II ini adalah : a. c.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekono mi Rakyat 59 bagian dari visi Perum Pegadaian yang dirumuskan dengan mengindentifikasi kekuat an. peluang dan ancaman (analisis SWOT) yang dihadapi dalam Pembangunan Jangka Panjang Tahap II (PJPT II). Omzet perkreditan meningkat dengan 20% per tahun. b. c. Berdasarkan visi tersebut. Perum Pegadaian menyusun suatu strategi pokok perusahaan yang meliputi : a. Arah pengusahaan dalam periode ini adalah : 1) menjadi persero pada tahun 19982 . Untuk mendukung pencapaian sasaran tersebut. 2) melaksanakan go public. dan 3) memiliki kinerja dan citra yang meningkat. Menjadi lembaga keuangan yang modern dan dinamis.

target menjadi Persero terutama bertujuan untuk mengatas i kelemahan pendanaan dengan menjual saham di bursa. 2 Menurut Perum Pegadian. .ugikan. (ii) kekhawatiran bahwa dengan status persero Perum Pegadaian akan meninggalkan segmen nasabah kecil dengan tujuan untuk memperoleh laba maksimal. Namun target terse but tidak tercapai pada tahun 1998 karena tidak memperoleh ijin dari Menkeu dengan pertimbangan (i) masih besa rnya misi sosial yang harus dilaksanakan oleh Perum Pegadaian. serta membuka anak perusahaan.

Produk usaha baru yang sama sekali di luar usaha gadai dan lembaga keuangan sepe rti toko emas. s eperti yang telah dilaksanakan di lokasi Salemba dan Pasar Baru. Produk baru di luar lingkup usaha gadai tetapi masih dalam lingkup lembaga pembiayaan seperti BPR. franchisor usaha gadai. f. Sebagai implementasi dari salah satu strategi pokok perusahaan. pedagang valut a asing dan leasing. jasa taks iran. Usaha ini juga mempunyai misi sosial untuk mendidik masyarakat untuk berinvestasi dalam bentuk emas serta meningkatkan image masyarakat terhadap Perum Pegadaian Produk-produk usaha baru tersebut merupakan upaya untuk mengoptimalkan aset. Dua diantaranya yait u jasa titipan dan taksiran sudah dilaksanakan. sehingga bisa meningkatkan citra perusahaan dan nasabah tidak malu lagi u ntuk datang ke Pegadaian. Sampai dengan 30 September 1998. khususnya di kawasan timur Indonesia. hotel/penginapan dan ruko) dan toko bar angbarang perhiasan/asesoris dan arloji.1. Produk baru yang masih dalam lingkup usaha gadai seperti jasa titipan. Dalam menjalankan tugas rutin di 3 Menurut Perum Pegadaian. modal ventura. guarantee fund. Produk-produk baru tersebut meliputi : a. factoring. dan bidang umum. Khusus untuk bisnis properti dapat dilakukan melalui kerja sama dengan pihak ketiga (investor) dengan sistem Built Operate and Transfer (BOT). bidang keuangan. usaha toko emas sudah dilaksanakan di 28 kantor cabang Perum Pegadaian. kredit dengan jaminan surat berharga dan sertifikat tanah dan kredit dengan sistem pinjam pakai. Melaksanakan pengembangan produk baru hingga mampu menyumbangkan 20% dari total pendapatan usaha.3 c. Perum Pegadaian telah merencanakan untuk melakukan ekspansi jenis produk perusahaan dengan mengembangkan usaha baru. leasing yang akan dilaksanakan merupakan leasing menu rut format Perum Pegadaian dimana barang jaminan yang digadaikan tidak disimpan oleh Perum Pegadaian namun tetap dapat digunakan oleh .60 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. b. Kepengurusan dan Kelembagaan Perum Pegadaian memiliki 4 orang anggota direksi yang terdiri dari satu orang di rektur utama dan 3 orang direktur yang masing-masing membawahi bidang operasi dan pengembangan. yaitu pemanfaatan 20 lokasi strategis yang nantinya dapat merupakan kompleks lok asi usaha. Maret 1999 e. properti (gedung perkantoran. jasa sertifikasi kadar emas. Memperluas jaringan pelayanan dengan membuka cabang-cabang baru di daerah yang potensial. 2.

.nasabah untuk menjalankan usahanya (diestimasikan akan dilaksanakan pada tahun 2 000).

Perum Pegadaian telah memiliki cabang di 27 propinsi dengan jumlah Kanca mencapa i 633 buah dengan dikoordinasikan oleh 14 kantor daerah (Lampiran 2). Sel ain itu. Perum Pegadaian juga memiliki Satuan Pengawasan Intern (SPI) yang bertanggung ja wab langsung kepada direksi. Untuk meningkatkan profesionalitas pegawai Perum Pegadaian memiliki Balai Diklat yang langsung berada di bawah direksi.2/41/10 sebagai upaya untuk meningkatkan sistem dan sarana pengaw . direksi dibantu oleh 9 subdirektorat (subdit) yang masing-masing m emiliki rincian tugas sesuai bidangnya (Lampiran 1).4 Struktur organisasi Perum Pegadaian ditunjukkan bagan 1. Kegiatan operasional Perum Pegadaian dilaksanakan melalui kantor-kantor cabang (Kanca) yang dikoordinasikan oleh kantor daerah (Kanda).Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekono mi Rakyat 61 kantor pusat. Perum Pegadaian membentuk Subdit Teknologi Informasi b erdasarkan Keputusan Direksi No. Sampai dengan September 1998. Struktur Organisasi Perum Pegadaian Direksi Balai Diklat Subdit LB Subdit OPP dan Pengembangan Subdit AK Subdit AP Keuangan Umum Subdit BG Subdit KP Direktur Utama Kantor Daerah Kantor Cabang Subdit PB Direktur Subdit TURT Direktur Subdit SP Direktur Operasi SPI Keterangan : OPP = Operasi dan Pengembangan AP = Anggaran dan Permodalan KP = Kepegawaian LB = Penelitian dan Pengembangan Operasi AK = Akuntansi BG = Bangunan SP = Kesekretariatan Perusahaan P = Perbendaharaan TURT = Tata Usaha dan Rumah Tangga 4 Tanggal 25 November 1998. Kp. Bagan 1. Dari 633 Kanca t ersebut. 58 diantaranya merupakan anak cabang (Ancab) yaitu cabang yang baru berdiri (bia sanya kurang dari 2 tahun).

asan yang memadai. .

kelas II sebanyak 78 dan kelas III seban yak 491. d. Omzet usaha (bobot nilai 40). II. Perbandingan Kanda tipe A dan B dapat dilihat dalam tabe l 2.62 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. yang mencerminkan tingkat tanggung jawab penanganan/pengelolaan. Kanda tipe A mem iliki struktur organisasi yang lebih lengkap dibandingkan Kanda tipe B karena besarnya jumlah Kanca yang dibawahinya. Formasi dan adanya pegawai Kanca (bobot nilai 20). Pembagian kelas masing-masing Kanca dilakukan berdasarkan tingkat efisiensi dan produktivitas yang diukur dari 4 faktor yaitu : a. Tabel 2. perawatan dan faktor risiko. Maret 1999 Kanda Perum Pegadaian terdiri dari dua tipe yaitu tipe A dan B. yang mencerminkan tingkat kemampuan penjualan p roduk (produktivitas). Efisiensi (bobot nilai 40). yang diukur dari besarnya surplus (laba-rugi) cab ang dalam satu periode akuntansi.1 Perbandingan Tipe Kantor Daerah Jabatan Kanda Tipe A Kanda Tipe B Ka Kanda Inspektur Daerah Kepala Seksi Pemeriksa Ka Sub Seksi Pemeriksa Pembantu Staf Pemeriksa 1 1 4 2 12 3 2 1 0 2 1 8 3 0 Sumber : Perum Pegadaian Kanca Perum Pegadaian digolongkan menjadi 3 kelas. D itinjau dari kuantitasnya. Barang jaminan (bobot nilai 10). c.1 5 . dan III. b. Berdasarkan keempat kriteria di atas. Seluruh kantor yang berstatus Ancab diklasifikasikan sebagai cabang kelas III. yaitu kelas I. per Juni 1998 jumlah Kanca Pegadaian di Pulau Jawa merupakan yang . yang mencerminkan tingkat efektivitas dan kemampuan pegawai sebagai sumber daya dalam menjalankan perusahaan. jumlah Kanca untuk masing-masing kelas per Juni 1998 adalah : kelas I sebanyak 54.

terbanyak yaitu 401 buah atau 64.4%. . 5 Jumlah total pemeriksa per Kanda sejak 1 Februari 1999 telah diperbanyak menja di 6-7 orang.

merupakan jasa utama Pegadaian yaitu memberikan pinjaman kepada masyarakat berdasarkan hukum gadai. Perum Pegadaian juga melakukan peningkatan kualitas karyawan yang terlihat dari meningkatnya jumlah karyawan yang berpendidikan S1 dan S2 dan berkurangnya karya wan yang berpendidikan SD sampai dengan D3. Produk dan Pasar Produk-produk Perum Pegadaian yang sudah tersedia hingga saat ini meliputi empat jenis produk. Jasa gadai. media elektronis. Selain terjadi pengurangan j umlah.541 orang). Dalam memperkenalkan produk-produknya. yang ditujukan untuk memberikan keyakinan kepada masyarakat at as kualitas barang-barang perhiasan miliknya. Galeri 24. Manajemen dan Instrumen Kebijakan Dalam menjalankan usahanya Perum Pegadaian melaksanakan fungsi-fungsi manajemen dan menetapkan kebijakan-kebijakan yang menjadi patokan bagi Kanda mau pun Kanca. pembukaan toko e mas yang hingga September 1998 baru berjumlah 28 buah. Hal ini berkaitan dengan salah satu upaya Perum Pegadaian untuk meningkatkan efisiensi. ketersediaan sumber daya manusia dan dana. 2. nelayan. Perum Pegadaian telah berhasil melayani kebutuhan 5. yang terdiri dari 4.3.2. Selama tahun 1997.426 pegawai tidak tetap. Jasa titipan.817 pegawai tetap dan 1. Komposisi karyawan tetap menurut jenjang karir dan pendidikan dapat dilihat dalam lampiran 3. pedagang dan lain-lain . yaitu toko emas Pegadaian yang menjamin kualitas emas/perhiasan ya ng dijualnya. Jasa taksiran. Misalnya. Jumlah karyawan tetap ini lebih rendah dari jumlah pada akhir 1996 (5. Hal ini terkait den gan fasilitas. yang ditujukan untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat ata s barang-barang yang dimilikinya apabila akan bepergian dalam jangka waktu yang cukup lama. Tidak semua Kanca menyediakan keempat jenis produk tersebut. d. yaitu : a. 2. c. Konsumen sasaran Per um Pegadaian ini adalah seluruh lapisan masyarakat yang membutuhkan dana-dana jangk a pendek. pelaku industri.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekono mi Rakyat 63 Jumlah karyawan Perum Pegadaian hingga Oktober 1998 mencapai 6.233 orang. b. leaflet. Berikut merupakan uraian tentang kebijakan-kebijakan dan fungsi pengawasa n yang . Perum Pegadaian diantaranya menggunakan papan-papan reklame.3 juta orang yang terdiri dari petani. menjadi sponsor kegi atan olahraga serta dengan layanan yang relatif mudah dan cepat.

.dilaksanakan oleh Perum Pegadaian.

64 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Selain itu. Bila terdapat n . Mengingat besarnya permintaan terhadap jasa gadai dari masyarakat. Penghimpunan dana hanya dapat dilakukan oleh kantor pusat.85 miliar (per 30 September 1998). Dengan demikian Kanda dapat mengontrol secara langsung kebutuhan dana masing-mas ing Kancanya. Seja k Desember 1997. Untuk itu Perum Pegadaian mencari sumber-sumber pendanaan baru untuk menambah modal kerja melalu i pinjaman bank. Biasanya batas maksimum kredit yang dapat diberikan oleh masing-masing cabang mencapai Rp 20 juta per SBK (Surat Bukti Kredit). suratsur at berharga dan penyertaan di perusahaan lain. Perum Pegadaian memiliki beberapa sumber. sehingga Kanda dan Kanca hanya melaksanakan penanaman dana berdasarkan alokasi dana yang diberikan.75 miliar (91. 2.3.0 %) pada Septe mber 1998 (Lampiran 4). Perum Pegadaian telah menerbitkan MTN sebanyak 4 kali dengan nilai nominal keseluruhan Rp 16.5 miliar. Dana yang telah dihimpun ini kemudian didistribusikan dari kantor pusat ke Kanca melalui masing-masing Kandanya. Maret 1999 2. penerbitan obligasi dan MTN. penyertaan modal pemerintah Rp 46. Bila terjadi kekurangan dana. Besarnya jumlah dana yang diterima oleh masing-m asing Kanda tersebut ditentukan berdasarkan hasil evaluasi perkembangan omzet selama 6 bulan terakhir dan dievaluasi setiap 3 bulan.2. maka modal tersebut tidak lagi mencukupi. pada bulan September 1998 Perum Pegadaian me mperoleh pinjaman dari pemerintah berupa Rekening Dana Investasi (RDI) sebesar Rp 100 mil iar dengan jangka waktu 3 tahun. Kebijakan Penanaman Dana Penanaman dana Perum Pegadaian dilakukan dalam bentuk kredit. Kredit kepada masyarakat merupakan porsi terbesar penanaman dana yang mencapai Rp 756. maka Kanca harus meminta tambahan dana kepada Kand anya masing-masing dan tidak diperkenankan untuk melakukan transfer langsung antarcab ang. Kebijakan Pendanaan Dalam penyediaan dana bagi keperluan usahanya.25 miliar dan dari sa ldo laba sebesar Rp 111.1. Sesuai dengan hukum gadai. deposito. Sementara pinjaman dari bank pada posisi September 1 998 mencapai Rp 321 miliar. Sebagai sumber utama adalah modal awal Perum Pegadaian yang berjumlah Rp 205 miliar. Hingga saat ini Perum Pegadaian tela h menerbitkan 5 seri obligasi dengan nilai nominal keseluruhan Rp 425 miliar. kredit yang diberikan dijamin deng an barang jaminan nasabah. tetapi se jak 30 Juli 1998 batas maksimum kredit diturunkan menjadi Rp 5 juta per SBK.3.

asabah yang ingin memperoleh kredit melebihi batas maksimum maka cabang tersebut harus meminta persetujuan dari Kanda. Golongan B (kredit .000-Rp 40.000). Perum Pegadaian membagi pemberian kredit kepada nasabah menjadi empat golongan yaitu Golongan A (kredit Rp 5.

DPS yang menjadi hak negara wajib segera disetor kan ke Bendahara Umum Negara setelah Laporan Tahunan disahkan. Prosedur Kredit Dalam memberikan kredit.000-Rp 500. 13/1998.3.3. membawa Nasabah barang jaminan Penaksir Kasir menerima kredit . b. Tabel seleng kapnya dapat dilihat dalam lampiran 5.000). sisa dari keseluruhan penggunaan laba bersih di atas disetorkan sebag ai Dana Pembangunan Semesta (DPS).000. Jasa produksi. Sementara. Golongan C (kredit Rp 151. Sosial dan pendidikan.Alokasi Laba Setelah diaudit. Cadangan umum yang dilakukan sampai cadangan mencapai sekurang-kurangnya dua kali lipat dari modal yang ditempatkan. a. Selain itu. 2. Kemudian 45% dari sisa penyisihan tersebut dialo kasikan untuk lima hal berikut yang masing-masing persentase alokasinya ditetapkan oleh Menteri Keuangan.4.000) dan Golongan D ( kredit Rp 510.3. Sumbangan dana pensiun. dari laba bersih yang diperoleh P erum Pegadaian. 2. sesuai dengan PP No. Perum Pegadaian memiliki mekanisme dan prosedur yang harus dilalui oleh nasabah. d.500-Rp150. nasabah juga dikenakan biaya penitipan dan asuransi (PA) yang besarnya disesuaikan dengan jenis barang dan golongannya. dan e.000). c. Jangka waktu kredit maksimum adalah 120 hari dengan bu nga dihitung setiap 15 hari. penyusutan dan pengurangan yang wajar lainnya.000-Rp 5.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekono mi Rakyat 65 Rp 40. Sokongan dan sumbangan ganti rugi. sebesar jumlah tertentu disisihkan untuk cadangan tujuan. Berikut ini merupakan ilustrasi proses memperoleh kr edit di Perum Pegadaian.

dan uang pinjaman (UP) yang dapat diberikan berdasarkan plafon UP yang yang menjadi wewenangnya (Lampiran 6). maka harus diajukan dan disetujui o leh kepala Kanca selaku kuasa pemutus kredit (KPK). Petugas penaksir memeriksa keadaan barang termasuk kelengkapan yang disyaratkan. Penaksir menetapkan harga pedoman standar. taksiran. Jika besarnya UP yang telah dipu tuskan . Jika UP yang dapat diberikan melebihi kewenangannya.Nasabah Nasabah yang datang ke Pegadaian terlebih dulu menyerahkan barang-barang bergerak sebagai agunan kepada petugas penaksir yang disertai dengan identitas d iri.

Untuk barang-barang tertentu seperti k amera dan mobil mendapat perlakuan khusus.3. dengan terlebih dahulu membayar biaya penyimpanan dan asuransi (PA) yang telah ditetapkan sesuai dengan besarnya UP da n jenis barang yang diagunkan. Pada SBK tersebut dimuat nama dan alamat nasabah. Selain petugas gudang dilarang u ntuk memasuki gudang tanpa mendapat izin dari petugas tersebut. Dalam hal petugas gud ang berhalangan sampai dengan 7 hari. Di samping itu. Walaupun telah digantikan petugas sementara. saldo Buku Gudang ini dicocokkan dengan saldo Ikhtisar Kredit dan Pelunasan. maka diterbitkan Surat B ukti Kredit (SBK) sesuai dengan golongannya. Maret 1999 oleh penaksir maupun KPK telah disepakati oleh nasabah. SBK diserahkan kepada nasabah. Kamera harus disimpan dalam tempat tertutup (le mari kaca atau peti kayu yang tidak lembab) yang diberi penerangan cukup.5. rubrik dan ribuan. perhiasan atau barang-barang kecil lainnya yang masuk di dalam kantong disebut barang kantong dengan rubrik K. Pegawai yang menjadi petu gas . sedangkan yang mengelola barang gudang dan barang kain disebut pemegang gudang. Sistem Pengelolaan Barang Jaminan Barang-barang jaminan yang diterima oleh Pegadaian ditatausahakan dalam suatu Bu ku Gudang yang diisi menurut golongan. Barang emas. 2.66 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Petugas gud ang yang mengelola barang kantong disebut penyimpan. petugas gudang lama tetap bertanggung jawab atas barang jaminan di dalam gudang. Sedangkan barang jaminan yang tidak masuk di dalam kantong disebut dengan barang gudang dengan rubrik G. Tempat penyimpanan barang tersebut harus selalu dalam keadaan tert utup dan terkunci apabila tidak ada keperluan. Nasabah mengambil UP pada kasir seperti yang tertera pada SBK. tidak kena hujan dan panas. Setelah ditandatan gani nasabah dan penaksir/KPK. Pegawai yang bertanggung jawab (sesuai dengan SK penunjukan) atas pengelolaan gudang dan semua barang yang ada di dalamnya disebut petugas gudang. Barang kantong ini disimpan dala m kamar emas (kluis/khasanah). Barang jenis ini disimpan di dalam gudang. besarnya taksiran dan UP. Mobil disim pan dalam tempat tertutup. Untuk me ngontrol kebenarannya. keterangan barang jaminan. Barang masuk dan keluar s elalu dicatat sehingga pada akhir hari dapat ditentukan saldo barang jaminan. mobil juga ha rus dalam keadaan terkunci dan bila ada tutupnya (cover) digunakan dengan baik agar tidak kotor. maka petugas gudang tersebut dapat menunjuk du a orang pegawai lainnya sebagai pengganti sementara dan harus diberitahukan kepada kepala cabang.

Posedur terseb ut dapat dilihat dalam lampiran 7.gudang mempunyai masa tugas maksimum selama 6 bulan. . Untuk mencegah terjadinya kesalahan atau penyimpangan dalam pengelolaan gudang maka Perum Pegadaian membuat prosedur pemeriksaan barang jaminan.

b. Masing-masing kanca sedapat mungkin melaksanakan lelang pada hari dan tanggal yang sama setiap bulannya. Sebelum pelaksanaan lelang. Dalam bulan puasa lelang sedapat mungkin dilakukan sebelum lebaran.6. Hal ini dilakukan dengan penjualan barang jaminan tersebut pada waktu yang telah ditentukan. Sistem Lelang Lelang merupakan upaya pengembalian uang pinjaman beserta sewa modalnya yang tidak dilunasi sampai batas waktu yang ditentukan. Cara penyelesaian BSL ini dapat dilakukan dengan dua cara yait .7%). maka kelebihannya akan dikembalikan kepada nasabah tersebut. Barang-bar ang yang telah laku pada saat lelang harus dibayar tunai setelah lelang ditutup. Media yang digunakan untuk mengumumkan tanggal lelang adalah melalui papan pengumuman di Kanca setempat. Tim Pelaksana Lelang akan mengawasi/memeriksa jumlah setoran uang jaminan dari masing-masing peserta/calon pembeli. Lokasi kanca. agar bisa dijadikan acuan oleh masyarakat. Uan g yang akan dibayar oleh pembeli harus ditambah 9% untuk ongkos lelang dan 0. Untuk barang-barang jaminan yang telah ditaksir dengan wajar tetapi tidak laku dilelang disebut sebagai Barang Sisa Lelang (BSL). Bila hasil lelang mel ebihi nilai kewajiban nasabah.3.7% (tujuh permil) untuk dana sosial yang dihitung dari nilai lakunya lelang.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekono mi Rakyat 67 2. Perlakuan administrasi dan pembukuan terhadap BSL dapat dil ihat dalam lampiran 8. setiap Kanda membuat suatu daftar ikhtisar lelang berdasarkan us ulan dari masing-masing kanca-nya dengan memperhatikan : a. BSL ini ditetapkan menjadi as et perusahaan yang diakui dan dicatat sebagai transaksi mutasi aset dari Pinjaman Y ang Diberikan (aktiva lancar) menjadi Aktiva Lainnya (aktiva tidak lancar). untuk kanca-kanca yang lokasinya berdekatan tidak diizinkan untuk melaksanakan lelang pada hari dan tanggal yang bersamaan. Penundaan hari lelang ini harus diumumkan kepada masyarakat dan diberitahukan ke pada Ka Kanda dan Inspektur Daerah. Apabila di kemudian hari ternyata lelang tidak dapat dijalankan pada tanggal yan g telah ditetapkan maka pelaksanaan lelang itu harus diundur pada hari berikutnya. d. BSL dini lai berdasarkan harga pembeliannya yaitu sebesar harga jual minimal lelang tanpa tam bahan biaya lelang (9. media cetak dan elektr onik. Lelang dilaksanakan tidak pada hari libur. c. pemberitahuan langsung oleh pegawai di loket dan pemberitahuan tertulis kepada p emilik barang dan Dinas Penerangan setempat (minimum 15 hari sebelum pelaksanaan). Untuk menent ukan tanggal lelang.

Sedangkan mutasi antarcabang merupakan upaya penjualan di kantor caban g yang berada di daerah lain yang diyakini dapat terjual lebih cepat (Lampiran 9).u dijual di bawah tangan dan dimutasikan antarcabang. Penjualan di bawah tangan merupakan penjualan yang terbuka bagi siapa saja yang berminat dengan suatu patokan harga minimum tertentu. .

c. yang berisi laporan rincian sisa uang pinjaman dan perhitungan sewa modal.3.7. d. Laporan bulanan. Jenis-jenis laporan operasional yang dibuat oleh Kanca yang harus dikirimkan ke Kanda adalah berbentuk : a. rincian data nasabah dan kredit menurut profesi. Laporan-laporan yang dibuat oleh masing-masing Kanca tersebut di atas kemudian dikonsolidasikan oleh Kanda sebelum dikirimkan ke kantor pusat. Pengawasan ditujukan untuk meyakinkan apakah kegiatan perusahaan telah dilaksana kan sesusai dengan rencana yang ditetapkan. Hal ini dilakuka n karena Perum Pegadaian telah melakukan go public dengan menerbitkan obligasi. rincian sis a uang pinjaman. teknik serta metode dalam menjala nkan fungsi pengawasan. sisa uang kelebihan. mutasi aktiva yang disisihkan. . Sejak tahun 1993 audit te rhadap laporan keuangan Perum Pegadaian dilakukan oleh akuntan publik. Laporan mingguan. yang berisi rekapitulasi dari laporan bulanan ditambah laporan mutasi aktiva serta laporan surplus usaha. Selain kewajiban mengirimkan laporan ke kantor pusat. Sementara. yang berisi laporan tentang : perkembangan usaha. Tujuan pembuatan laporan operasi onal ini adalah untuk menyediakan informasi tentang perkembangan operasional kepada manajemen sebagai dasar untuk pengambilan keputusan lebih lanjut pembinaan Kanca . ikhtisar barang sisa lelang. dan perhitu ngan surplus operasi. Sistem Pelaporan dan Auditing Setiap Kanca Pegadaian harus membuat laporan operasional rutin secara berkala. Tugas SPI tersebu t adalah melakukan pengawasan dan pemeriksaan terhadap jalannya kegiatan perusahaan. yang berisi perkembangan penyaluran kredit dan barang jaminan yang tercantum dalam laporan mingguan keuangan yang dikirimkan ke Kanda b. Kelayakan laporan keuanga n Perum Pegadaian setiap tahun diperiksa oleh pihak eksternal. masing-masing Kanca dan Kanda Perum Pegadaian secara internal juga diperiksa oleh SPI. Maret 1999 2. pemeriksaan merupakan bagian dari fungsi pengawasan yaitu tindakan secara fisik. Laporan semester. Di kantor pusat laporanlaporan dari seluruh Kanda dikumpulkan sehingga dapat dibuat suatu laporan keuangan konsolidasi secara nasional yang diaudit setiap tahun. pemeriksaan atas laporan keuangan Perum Pegadaian dilakukan oleh BPK P.68 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Laporan tahunan. bulanan dan tahunan. barang jaminan yang tidak ditebus/dilelang/barang polisi. Sebelumnya. penerimaan se wa modal dan biaya PA. Laporan operasional adalah laporan tentang perkembangan operasional Kanca yang meliputi laporan mingguan.

kewajiban atasan untuk mengaw asi .Aspek-aspek yang dilihat dalam melakukan pemeriksaan oleh SPI mencakup tiga hal yaitu sistem dan prosedur yang menyangkut kendali.

sesuatu yang diatur secara umum yang diakui dan sesuatu yang diatur oleh ketentuan perusahaan. . Sebagai gambaran setiap kanda di pulau Jawa rata-rata memba wahi lebih dari 50 Kanca. Rentang kendali yang terlalu lua s yang belum ditunjang dengan saluran komunikasi yang memadai (canggih) sangat tidak menunjang efektivitas pemantauan kinerja kantor-kantor cabang. Dalam melakukan pemeriksaan seora ng pemeriksa harus bersifat objektif dan independen karena pertanggungjawabannya la ngsung kepada direksi. dan (iii) Irwil III mengawasi kanda XI XIV. (ii) Irwil II mengawasi kanda VI X.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekono mi Rakyat 69 bawahan (waskat) dan aparat pengawasan fungsional. Kanda-kanda lainnya di luar Jawa harus memba wahi kanca-kanca yang secara geografis terlalu jauh. serta bisa menyeb abkan timbulnya berbagai penyimpangan seperti yang tercantum dalam lampiran 10. Tugas Irda adalah mengawasi kanca-kanca di bawahnya dengan frekwensi 1 4 kali pemeriksaan dalam satu tahun. Mengingat karakteristik Perum Pegadaian seba gai lembaga keuangan formal yang memberikan pinjaman berjangka pendek dalam skala ke cil dengan sistem gadai. Di setiap Kanda terdapat Inspektorat Daerah (Irda) yang dipimpin oleh orang kedua di kanda yang bersangkutan dengan tenaga pemeriksa ber jumlah 4-5 orang. Kondisi yang seharusnya merupakan sesuatu yang ditet apkan oleh peraturan/ketentuan pemerintah. Kanda (14 kantor). Berdasarkan perbandingan antara jumlah Kanca (633 kantor). Sementara itu. menunjukkan terlalu luasnya rentang kendali Kanda terhadap kanca-kanca yang ada di bawah koordinasinya.1 Pembiayaan Kredit Pedesaan Untuk memahami pegadaian terutama sebagai salah satu alternatif pembiayaan bagi usaha/nasabah kecil perlu dilakukan pendekatan yang mempunyai relevansi dengan kegiatan operasi lembaga keuangan baik formal maupun informal yang telah ada di masyarakat dalam penyaluran kredit. PENDEKATAN TEORITIS 3. tidak melakukan penghimpunan dana seperti layaknya bank. SPI tersebut dibagi menjadi 3 Inspektorat Wilayah (Irwil). III. Tenaga pemeriksa di masing-masing Irwil rata-r ata sejumlah 4 orang yang bertugas melakukan pemeriksaan terhadap setiap kanda denga n frekwensi 1 . Tolok ukur yang dipakai dalam melakukan pemeriksaan adalah membandingkan antara kondisi sebenarnya (fakta) den gan yang seharusnya (kriteria). yaitu : (i) Irwil I mengawasi kanda I V. Dalam melaksanakan tugasnya SPI dipimpin oleh seorang kepala yang bertanggung jawab langsung kepada Direktur Utama.2 kali setahun. frekwensi pemeriksaan serta jumlah tenaga pemeriksa di masing-masing Kanda.

mempunyai jaringan kerja yang luas sampai ke daerah-daerah. serta mempunyai nasa bah .

teori Farm Finance (FF) dan Teori Rural Financial Market (RFM). USA. proses penyediaan sederhana. Dengan kata lain. koperasi dan pegadaian se rta pasar kredit informal di pedesaan (rentenir atau pelepas uang komersial). teori RFM berpendapat bahwa pedesaan memiliki kemampuan/resources untuk membiayai kegiatan-kegiatan produkti f yang berlangsung di pedesaan. cepat. untuk penghimpunan dana di pedesaan lebih banyak melalui lembaga formal. Sebagian besar pinjaman relatif kecil jumlahnya. Teori RF M yang bertumpu pada mekanisme pasar berpendapat bahwa pembiayaan/kredit pedesaan merupakan proses intermediasi dimana financial assets dan debts di relokasi dian tara pelaku-pelaku ekonomi di pedesaan. Beberapa pendekatan yang dapat digunakan untuk analisis tersebut antara lain Teori Rural Financial Interm ediation (RFI). Pasar informal tersebut ada di dalam masy arakat namun tidak diatur oleh pemerintah. kredit di pedesaan dapat disediakan oleh lembaga keuangan formal maupun pasar informal.1 Lembaga Kredit Informal Sebagaimana dikemukakan. BRI Unit Desa. sedangkan teori FF berpendapat perlu adanya extern al funds (dana pihak luar) untuk membiayai kegiatan-kegiatan produktif di pedesaan.6 Sedangkan untuk melihat sumber dana untuk kredit pedesaan dikenal dua teori. yai tu Farm Finance dan teori Rural Financial Market yang dikembangkan oleh Department of Agricultural Economics and Rural Sociology. berjangka wakt u pendek. Ohio State University. Maret 1999 mayoritas masyarakat berpenghasilan rendah yang sulit untuk akses ke perbankan s erta jaringan kerja hingga ke daerah-daerah. Pasar kredit pedesaan informal biasanya bers ifat quasimonopolistik.1. dan pemberian kredit tersebut lebih didasark . Teori RFI menjelaskan keterkaitan antara lembaga keuangan formal dan informal dalam pasar keuangan pedesaan. Di dalam pasar terdapat beberapa kreditur namun seorang debitur punya akses yang sangat terbatas. Kredit pedes aan pada dasarnya dapat diperoleh dari sumber informal dan formal. Dalam teori ini dijelaskan karakteristik lembaga keuangan formal seperti Bank Perkreditan Rakyat. Sementara itu. Berdasarkan ketiga pendekatan tersebut. maka perlu dilakukan analisis tterhadap posisi dan keterkaitan Perum Pegadaian dengan lembaga lainnya.70 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. lembaga kredit formal dan informal serta struktur pasar kredit pedesaan untuk masing-masing lembaga keuangan tersebut dap at dijelaskan sebagai berikut : 3. Seorang kreditur hanya melayani sejumlah kecil peminjam yang sudah dikenal baik dan berisiko rendah. Ketergantungan seorang debitur terhadap kreditur san gat tinggi.

1992 .an pada unsur kepercayaan. S Rural Financial Intermediation : Lessons From Indonesia. 6 Robinson.

etc . financial channels and market shares of lenders are inextricably related to local distribution of wealt h and power. Menurut penelitian Robinson. political alliances. Kreditur pada umumnya berkeberatan apabila nasabahnya meminjam kepada kreditur informal lainnya karena khawatir ikatan bisnis lainnya juga akan berpindah sehingga dapat melakukan pembalasan di kemudian hari. . Alasan utamanya adalah terlalu berisiko untuk melakukan ekspansi ke luar pasar tradisonalnya. Hal ini terjadi k arena antara satu kreditur dengan kreditur lainnya dalam satu wilayah umumnya punya ikatan ya ng erat. Mereka tidak mau bersaing karena justru akan menurunkan keuntungan masingmasing.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekono mi Rakyat 71 Terjadinya pasar yang bersifat quasi-monopolistik dimungkinkan oleh kecenderunga n setiap kreditur untuk membatasi jumlah nasabah yang dilayani dan berupaya menjag a portofolio pinjamannya sedemikian rupa. T ingginya suku bunga tersebut disebabkan adanya quasi-monopolistic many-lender credit mark et. and Meghir bahwa 8 : Informal commercial credit forms parts of the local political economy. seperti India dan Philipina sebagaimana dikemukakan oleh Germ idis. Terdapat pula kecenderungan para kreditur untuk memberikan kredit yang lebih besar kepada pejabat lokal serta rekan bisnis dengan tujuan menjaga hubungan baik agar diberi kesempatan memperoleh akses yang lebih luas bagi kepentingan politik dan/atau bisnisnya. Dengan praktek tersebut. sehingga risiko tidak terbayarnya pinjam an yang diberikan kepada nasabah dapat ditekan serendah mungkin. Selain itu. setiap kreditur dapat memelihara kesetiaan debiturnya. Sebaliknya. Caranya antara lain den gan hanya memberikan kredit kepada orang-orang yang berkaitan dengan jaringan bisnis nya seperti sistem ijon dan yang mempunyai aliran politik yang sama. Kessler. market interlinkages. Suku bunga kredit dalam pasar informal sangat bervariasi.7 Kreditur cenderung tidak tertarik untuk meningkatkan market share. suku bunga berkisar antara 2 sampai 10 kali dari tingkat bunga bank. terdapat kecenderungan debitur untuk hanya setia kepada satu debitur karena khawatir akan memperoleh kesulitan di kemudian hari. bagi kreditur yang sudah lebih kaya dan memiliki status sosial yang tinggi melakukan diversifikasi investasi dianggap lebih menguntungkan dibandingkan deng an hasil yang diperoleh dari kredit dalam skala kecil. Fenomena ini terjadi di be berapa negara berkembang. information flows.

. 8 Germidis. suku bunga dapat dipertahankan tinggi lebih-lebih jika di wilayah tersebut tidak terdapat lembaga perkreditan formal. Kessler Financial Systems and Development : What Role for the Formal and Informal Financial Sectors ? (1991). 7 Ibid. hal 81.Dengan kondisi tersebut.

Bah kan di beberapa tempat dianggap sebagai rekan kerja. bagi merek a yang tidak memenuhi syarat untuk memperoleh dana dari lembaga formal disebabkan tidak memiliki agunan ataupun sebab lainnya akan tetap bergantung pada kreditur inform . lembaga formal pada umumnya dapat mempelajari karakteristik pasar keuangan pedesaan dan memperoleh informasi terpercaya mengen ai nasabah potensial melalui stafnya yang profesional. meskipun ada kemungkinan mereka masih memerlukan dana dari kredit informal sebagai tambahan. Tid ak tertutup kemungkinan. Sebagai contoh. lembaga formal tidak dicurigai akan merebut kekuasaan para kreditur informal yang pada umumnya juga memiliki kaitan usaha di sektor riil atas nasabahnya. Perlu dikemukakan bahwa jika lembaga kredit formal dapat memberikan pelayanan yang baik dengan beban bunga ya ng lebih rendah maka sebagian masyarakat desa yang sebelumnya bergantung kepada kre ditur informal akan beralih ke lembaga formal. terper caya. untuk menunjang berlangsungnya keg iatan operasi lembaga keuangan tersebut harus mampu menyalurkan kredit dalam jumlah ya ng cukup dan bersumber dari penghimpunan dana dengan spread yang cukup menguntungka n. Di samping itu. seorang kreditur informal akan mendorong nasabahnya untuk meminta kredit ke lembaga formal jika memerlukan dana yang relatif besar. Kreditur informal yang kekurangan dana dapat meminjam dari bank dan lembaga kredit formal lainnya untuk kemudian disalurkan ke nasabahnya. Disamping itu. Persya ratan tersebut berkaitan dengan perlunya lembaga keuangan dikelola secara baik. Sementara itu. Disamping itu. Kemudahan bagi lembaga formal dalam memasuki pasar tersebut selain dilindungi hukum. Hal ini terjadi karena lembaga kredit forma l dapat memanfaatkan economies of scale sehingga dapat menjalankan kegiatannya dengan biay a yang relatif murah. Suku bunga pada lembaga kredit formal pada umumnya lebih rendah dibandingkan dengan suku bunga kreditur informal. Dengan biaya yang murah ters ebut maka lembaga formal dapat menawarkan suku bunga rendah untuk menarik nasabah. karena berspesialisasi pada k egiatan perkreditan.1. Maret 1999 3. Su ku bunga yang lebih rendah tersebut akan meningkatkan permintaan kredit yang akan menyebabkan biaya operasi per unit menjadi lebih murah. dan berlokasi strategis. lembaga formal tidak dianggap sebagai pesaing oleh kreditur informal. seseorang yang tid ak memiliki agunan dapat datang ke kreditur informal untuk meminjam uang. aman.2 Lembaga Kredit Formal Lembaga keuangan formal dapat juga memasuki pasar keuangan pedesaan dengan perspektif perhitungan jangka panjang bila didukung beberapa persyaratan.72 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.

hal tersebut tidak terlalu mengganggu karena mereka masi h tetap memiliki pangsa pasar yang aman. . Bagi kreditur informal.al.

10 D alam 9 Data akurat mengenai potensi lembaga informal pemberi pinjaman sulit untuk diper oleh. Lembaga lain yang juga mempunyai potensi besar untuk menjadi pesaing Perum Pegadaian adalah Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan BRI Unit Desa (BRI UDes). Persaingan tidak terjadi karena nasabah masing-masing le mbaga keuangan tersebut mempunyai karakteristik khusus yang menentukan preferensi mere ka untuk menjadi nasabah lembaga keuangan tertentu (struktur pasar bersifat quasi-m onopolistik). diperoleh temuan bahwa antara Perum Pegadaian dengan lembaga-lembaga keuangan formal dan informal lainnya yang ada di masyarakat tidak saling bersaing meskipun mempunyai segmen pasar yang hampir sama.40% per bul . bahkan dapat dikatakan saling melengkapi sesu ai dengan kondisi masyarakat. Namun kebijakan tersebut pada beberapa aspek justru menghambat perkembangan Peru m Pegadaian terutama pada saat terjadinya kekurangan likuiditas.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekono mi Rakyat 73 IV. Mengacu pada teori tersebu t.9 Pada dasarnya antar lembaga-lembaga tersebut tidak saling bersaing karena masing-masi ng sudah mempunyai pangsa pasar tersendiri. Informasi yang diperoleh dari hasil studi lapangan hanyalah mengenai besarnya suku bunga yang dikenakan r entenir dan toko emas pada umumnya sangat tinggi berkisar 10% 20% per bulan. Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Temuan ini sesuai dengan teori RFM bahwa pada dasarnya masyarakat pedesaan juga mampu menabung dan masuknya dana pihak luar justru akan menghambat perkembangan pasar keuangan pedesaan. Kebijakan penghimpunan dan penyaluran dana serta sistem manajemen pendanaan yang sentralistik seperti diterapkan Perum Pegadaian. nampaknya sesuai dengan te ori FF. Disamping itu juga terdapat beberapa lembaga informal yang be rperan dalam memberikan pinjaman kepada masyarakat antara lain pelepas uang (rentenir). dan BRI Unit Desa. Sementara itu dari temuan pene litian CPIS (pada periode 1982-1990) koperasi simpan pinjam mengenakan suku bunga antara 20% . toko emas yang memberikan pinjaman dengan sistem gadai serta pegadaian gelap. Studi lapangan me nunjukkan bahwa pada dasarnya masing-masing Kantor Daerah mempunyai potensi untuk menghimp un dana sendiri yang berasal dari potensi daerah setempat. Hasil penelitian tersebut sejalan dengan hasil penelitian Robinson dengan mempergunakan teori RFI (dijelaskan pada bagian III). HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pada pasar kredit pedesaan di Indonesia dapat diidentifikasikan beberapa lembaga formal yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat khususnya golongan ekonomi lemah adalah Perum Pegadaian. Koperasi Simpan Pinjam (K osipa).

142 buah) berada di pulau Jawa (persebaran jumlah BPR terbanyak berada di wilayah Jawa Timur sebanya k 362 BPR. Sebagia n besar BPR (1. .an. kemudian Jabotabek sebanyak 345 BPR) dan yang paling sedikit berada di wilayah Kalimantan (22 BPR).60% dibandingkan dengan rentenir. toko emas dan pega daian gelap.706 kantor. pangsa pasar kredit pedesaan yang dapat di kuasai oleh Perum Pegadaian diperkirakan berkisar 40% . 1 0 Sampai dengan September 1998 di seluruh Indonesia terdapat sebanyak 1.558 BP R non BKD dengan total aset sebesar Rp 2.7 triliun.4 triliun dan kredit yang diberikan sebesar Rp 1. Sedangkan jumlah BRI UDes sebanyak 3. Di daerah-daerah di mana terdapat kantor Perum Pegadaian.

atau meningkat 11% dibandingkan dengan realisasi omset tahun 1997 (Tabel 4.3 triliun dengan pencapaian target seb esar 87. Maret 1999 analisis selanjutnya. lonjakan omset terutama dialami oleh Kantor Daerah Jakarta. sementara beberapa Kantor Daerah (Padang. Namu n lonjakan omset yang terjadi pada Juni 1998 selanjutnya untuk bulan Agustus dan S eptember mengalami penurunan terutama sebagai dampak dihentikannya fasilitas overdraft di BRI pada pertengahan Agustus. sementara untuk institusi lain dan lembaga kredit informal tidak diperoleh data akurat. kinerja Perum Pegadaian akan dibandingkan dengan BPR dan B RI UDes (untuk beberapa rasio keuangan) untuk memperoleh gambaran mengenai peranan Perum Pegadaian dalam pemberdayaan ekonomi rakyat dibandingkan dengan institusi kredit lainnya.1 Kinerja Operasional Omset 11 Peran Perum Pegadaian dalam memberikan pinjaman kepada masyarakat berpendapatan rendah menunjukkan perkembangan yang cukup pesat. Pemilihan ini berdasarkan ketersediaan data BPR dan BRI Unit Desa (BRI UDes).9%.74 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. dan Balikpapan) mencatat perkembangan yang kurang memuaskan. Medan . Ujung Pandang. Bandung dan Yogyakarta.1 Hasil Studi Lapangan 4. Untuk masing-masing wilayah. Sampai dengan 30 Septembe r 1998 omset Perum Pegadaian telah mencapai Rp 2.1).1. Perkembangan Omset Perum Pegadaian 0 500 1000 1500 2000 2500 1994 1995 1996 1997 Triw III/ 1998 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Rp miliar 1998 11 Omset : adalah jumlah/nilai pinjaman yang diberikan dalam suatu periode terte ntu (konsep flow). . Grafik 1. 4. terutama sejak terjadinya krisis ekonomi pada pertengahan tahun 1997.

Tabel 4. Perkembangan Omzet Perum Pegadaian (miliar rupiah) Gol. Dengan demikian kebijakan pembiayaan Perum Pegadaian telah bergeser ke arah nasabah dengan nilai pinjaman yang lebih besar. Pergeseran dari nasabah mikro ke nasabah besar tersebut terutam a merupakan dampak dari : (i) Kebijakan Perum Pegadaian untuk meningkatkan laba. Jan -Sept.d September).4% dan 24. sehingga dengan barang jaminan yang sama nasabah golongan A dan B bisa mendapatkan pinjaman yang lebih besar.9 547. dengan alasan bahwa selama ini Perum Pegadaian telah memberikan subsidi kepada golongan nasabah mikro. Nasabah 1996 1997 1998 Proyeksi Realisasi Des.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekono mi Rakyat 75 Lonjakan kenaikan omset tersebut ternyata tidak diikuti dengan meningkatnya aspe k pemerataan. Des.3% (tahun 1998 s. (ii) Kenaikan harga barang jaminan sejalan dengan kenaikan harga barang jaminan khususnya emas.4% (tahun 1997) menjadi 50.4 545.6% (1997) menjadi 41.9 10.1. Nominal % Nominal % Nominal % Nominal % Nominal % A B C D E 184. Alokasi pinjaman untuk golongan D12 melonjak sehingga porsinya menin gkat dari 35.0 8. B dan C semakin berkurang (Tabel 4.3 437. Kebijakan untuk meningkatkan keuntungan dengan mengurangi porsi pemberian pinjaman kepada nasabah mikro tersebut kurang sejalan dengan misi Perum Pegadaia n untuk lebih memihak kepada nasabah mikro.9% dan 27. melalui peningkatan kualitas barang jaminan serta meningkatkan porsi nasabah golongan D (proyeksi tahun 1998) . Kecenderungan pergeseran orie ntasi pembiayaan Perum Pegadaian ke arah nasabah besar juga terlihat pada menurunnya p orsi nasabah golongan A dan B masing-masing dari 43. Jan -Jun. Sementara itu. Fenomena dominasi pinjaman oleh golongan D juga terlihat di setiap kantor daerah yang diteliti kecuali untuk Kantor Daerah Bandung dimana pinjaman didomin asi oleh golongan C.3% (1998).1). porsi golongan A.7 .

000.9 679.7 8.5 115.5 256.8 32.166.4 645. Gol.4 0.000 .2 31.0 1.7 0.000 C = Rp 151.Rp 150.4 31.2 100. A = Rp 5.Rp 40.0 10. Gol.8 1.3 0.5 5.5 80.500.088.317.7 30.000 500.4 0.0 2.5 666.000 .6 50.035.000.9 8.000. D = Rp 510.0 100.000 E = pinjaman kepada pegawai B = Rp 40. B = Rp 40.0 226.7 31.1 475.9 100.000.397.9 8.9 709.4 1.8 22.8 32.2 14.000.0 2.000 .0 13. Keterangan : A = Rp 5.3 100.4 439.4 46. D = Rp 510.5 35. Gol.2 0.723.7 16.00. .4 317.000 Gol.5 739.8 22.5 35.000 20. diolah. C = Rp 151.0 1.0 Sumber : Perum Pegadaian.000 Rp 40.7 5.000 Perum Pegadaian 12 Perum Pegadaian menetapkan 5 macam golongan nasabah berdasarkan besarnya plaf on pinjaman sebagai berikut: Rp 150.000 -20.0 2.5 183.6 951.25.5 100. dan Gol. E = pegawai Perum Pegadaian.0 6.925.000.

. Lonjakan jumlah nasabah dari posisi Mei ke Juni 1998 tersebut diduga merupakan dampak krisis ekonomi sehingga akses masyarakat untuk dapat memperoleh kredit dari perbankan semakin sulit.8% dan 2. Namun seiring dengan berkurangnya kemampuan Perum Pegadaian dalam memberikan pinjaman kepada masyarakat maka jumlah nasabah pada Juli s. meskipun masih lebih banyak jika dibandingkan periode yang sama tahun 1997. Maret 1999 Jangka waktu peminjaman rata-rata dalam tahun 1998 adalah 89 hari yang berarti lebih singkat dibandingkan dengan tahun 1997.7 hari. Jumlah Nasabah Sejalan dengan lonjakan omset.3%). Jumlah nasabah ya ng mampu diraih Perum Pegadaian tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan juml ah nasabah yang mampu diraih BPR (4. Lonjakan nasabah sepanjang tahu n 1998 tersebut sangat signifikan jika dibandingkan dengan perkembangan nasabah pada bu lan yang sama tahun 1997 (Grafik 2). Faktor lain yang menyebabkan lonjakan jumlah nasabah tersebut menurut Perum Pegadaian adalah peak season tahun ajaran baru serta meningkatnya gangguan keamanan. peningkatan jumlah nasabah terbesar terjadi pada Kanda Surabaya (243.6 juta orang. yaitu 95.3%. Dari segi persebaran nasabah. mulai banyaknya perusahaan yang melakukan PHK terhadap karyawan dan meningkatnya harga emas.d Mei 1998) sekitar 400 ribu nasabah.d Septembe r menunjukkan kecenderungan menurun.2 juta nasabah). Lonjakan nasabah Perum Pegadaian yang sangat besar terjadi sejak bulan Juni 1998 dengan rata-rata per bulan di atas 1 juta nasabah dibandingkan bulan-bulan sebel umnya (Januari s. sementara itu golongan B meminjam dalam jangka wak tu paling singkat. sedangkan jumlah nasabah yang paling sedikit terdapat di wilayah Kalimantan masi ngmasing 2. terdapat kesamaan antara Perum Pegadaian dengan BPR dimana baik untuk Perum Pegadaian dan BPR sebagian besar nasabah terkonsentrasi di wilayah Jawa (masing-masing 70% dan 57%).76 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. yaitu 68 hari. sehingga mendorong penebusan oleh nasabah terutama dengan barang jaminan emas untuk dijual ke pasar. Berdasarkan Kandan ya. Penurunan tersebut juga disebabkan oleh meningkatn ya harga barang jaminan khususnya emas. jumlah nasabah Perum Pegadaian juga mengalami lonjakan tajam khususnya pada bulan Juni 1998 sehingga sampai dengan 30 Septembe r 1998 jumlah nasabah yang dapat diraih mencapai 6.7%) dan ter endah pada Kanda Malang (2. Golongan D meminjam dalam jangka w aktu paling lama.

.

......................... ............... .............................. ....... .. ............................... .. .. .. .. ..... . ...... ....................................... Perkembangan Jumlah Nasabah ........................ ..200 ...... ............ .................... .. ............... ..................................... .............. ............ ...... ............... ......... ........................................ ..... ..................... ........................... ........ . .......................Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekono mi Rakyat 77 Grafik 2... ...... ............... ..... ................... ............................. .... .......... ................... 0 200 400 600 800 1..... .... . ......... ...... .............000 1................... ............ .

Nsb.6 6.612.0 1. terlihat adanya pergeseran kompo sisi jumlah nasabah menurut golongan dan meningkatnya jumlah nasabah dengan profesi sebagai karyawan (Tabel 4.9 2.9 0.4 Nelayan 405.305.0 Sumber : Perum Pegadaian. Nsb.000 -Rp 150.000 D = Rp 510.1 3.20.9 2.0 Industri 325.621.3 Lain-lain 1.5 Petani 1.0 D 635.3 E 3.0 5.7 B 1. Tabel 4.2 27.4 21.0 Pedagang 1.458.5 43. Meningkatnya jumlah nasabah yang berprofesi sebaga i karyawan (berdasarkan kartu identitas/KTP) merupakan indikasi dari meningkatnya jumlah karyawan yang terkena PHK.3 23..221. Komposisi Jumlah Nasabah Menurut Golongan dan Profesi 1997 1998*) 1997 1998*) Gol.1 331.682. mayoritas nasabah Perum Pegadaian (40.000 -500.000 pegawai Perum Pegadaian .000 E = pinjaman kepada B = Rp 40..4 6.032.410.463.2.0 864.400 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sep Okt Nop Des 1997 .331.0 6.2 Jumlah 5. Keterangan : *) : s. (ribu) % Jml. (ribu) % Profesi Jml.3 0.1 16.265.1. (ribu) % Jml.000 .0 8..... 1998 (ribu) Berdasarkan golongannya.05 Karyawan 449... Dibandingkan dengan tahun 1997.6 430.5%) pada tahun 1998 berasal dari golongan A.734.5 C 871. Sementara dari profesinya mayoritas nasabah (30.638..000 . Nsb.d September A = Rp 5.9 26.1 6. diolah.Rp 40.3 23.7 40.5 682.6 1.9 30.305. Nsb.1 13.000.7 100.2).9 1.2 30.0 10.1 100.621.7 7. (ribu) % A 2.4 1. Nasabah Jml.9 22.7 100.7% ) berprofesi sebagai petani.000 C = Rp 151.4 12.8 24.1 5.

Sedangka n rasio terendah adalah golongan D yaitu sebesar 0. da n keperluan keluarga lainnya.5% dari omset atau 1.78 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.810 potong (1. usaha catering. usaha yang bersifat pesanan seperti kontraktor skala k ecil.0% dari omset dan 4. Jika dibandingkan dengan volume dan nil ai lelang sampai sebelum krisis (1997).3% (1998) tertinggi dibandingkan dengan golongan lain. .2% (1997) menjadi 2. Lelang 13 Barang jaminan yang dilelang sampai dengan 30 September 1998 adalah sebanyak 261. Sementara itu.5% dari tot al kredit yang diberikan). Penggunaan yang bersifat produktif antara lain modal kerja bagi petani dan pedagang. Menurut masing-masing golon gan nasabah. rasio tersebut menurun jika dibandingkan dengan tahun 1997 (1. Kebutuhan konsumtif yang dapat dipenuhi dari pegadai an antara lain pemenuhan kebutuhan sehari-hari. pinjaman yang digolongkan sebagai kredit macet di BPR (per 30 Jun i 1998) mencapai Rp 253 miliar (15 % dari total kredit yang diberikan). 13 Lelang merupakan upaya pengembalian uang pinjaman beserta sewa modal yang tid ak dilunasi atau pinjamannya tidak diperpanjang (roll over) oleh nasabah sampai batas waktu yang ditentukan. maka telah terjadi penurunan jumlah dan nil ai barang yang dilelang masing-masing sebesar 36. Berdasarkan hasi l wawancara dengan beberapa nasabah diperoleh informasi bahwa sebagian besar dana pinjaman pegadaian dipergunakan untuk tujuan produktif (profil nasabah dikemukak an pada persepsi masyarakat ). 5% dari sisa uang pinjaman). Maret 1999 Penggunaan dana pinjaman oleh nasabah sangat bervariasi baik untuk tujuan konsumtif maupun produktif.7% omset) atau senilai Rp 11. rasio nilai lelang terhadap total kredit untuk golongan A meningkat dar i 2. sedangkan kredit macet di BRI UDes (per 30 September 1998) mencapai Rp 22. pembayaran upah karyawan. Perbandingan kualitas pinjaman yang diberikan tersebut menunjuk kan persentase kredit macet di Perum Pegadaian lebih besar dibandingkan dengan BRI U Des (0. dengan menjual barang jaminan kepada masyarakat umum pada waktu yang telah ditentukan. namun jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan kredit macet di BPR.1% dari sisa uang pinjaman).7% dan 47. Kondisi tersebut menunjukkan bahw a krisis ekonomi sangat dirasakan dampaknya khususnya oleh nasabah mikro dengan se makin meningkatnya nilai pinjaman yang tidak dilunasi oleh golongan tersebut.8%. perajin mebel.1%. biaya sekolah. dan lain-lain.1 miliar (0.3 miliar (0.5%). biaya pengobatan.

.

Sedangkan kredit macet di BRI UDes baik sebelum maupun sesudah krisis.9 C 25. barang jaminan yang dilelang merupakan barang bergerak serta hasil lelang selalu dapat menutup nilai pinjaman ditambah bunga dan biaya administrasi.403 3.5 2.7 1.9 118. kredit macet BPR sebagian besar terdapat di wilayah Jawa yang mencapai 58% total kredit macet.504 3.3 2. lelang terbanyak dilakukan oleh Kanda Yogyakarta (38.0 1.7 juta).6 6. Perlu dikemukakan bahwa lelang barang jaminan yang dilakukan Perum Pegadaian pada dasa rnya bukan merupakan kerugian bagi Perum Pegadaian karena sesuai dengan hukum gadai.3% total kredit atau 29% total kredit macet).0 227.9 3. Untuk tahun 1998.8 ribu potong) sedangkan yang paling sedikit dilakukan oleh Kanda Balikpapan (3 ribu potong).3 D 3.2 4.309.810 11.813 7.5 1.9% dari total kredit macet. Perbandingan kualitas pinjaman ketiga lembaga tersebut menunjukkan kesamaan wilayah kerja yang mempunyai jumlah kredit macet terbesar yaitu di wilayah Jawa. Irian Jaya dan Timor Timur) sebesar 0.7 B 98.0 750.0 182.81% total kredit macet).6% total kredit macet).5 Keterangan: *) potong a): rasio lelangthd omset **): nilai barang yang dilelang(miliar rupiah) b): rasio lelang thd sisauang pin jaman ***): omset pinjaman (miliar rupiah) Sumber : PerumPegadaian.9 2.6% total kredit mace t).6 12. Sementara itu.1 0.077.4 miliar ( 4. sebagian besar terdapat di wilayah Jawa dan paling sedikit di wilayah Bali (termasuk NTT dan NTB).27% tot al kredit atau 56.6 miliar (0.1 197.7 1.166.0 4.914 3.278 21.1 261.9 78.9 317.4 1.5 0.7 475.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekono mi Rakyat 79 Tabel 4.3 7.9 183.d September 1998.5 50.8 408. khususnya di Jabotabek sebesar Rp 73.8 1. Jaminan*) Nilai**) Omset***) SisaUP Rasio (%)a) Rasio (%)b) Brg. diolah. Pada periode Januari s.6 521. Perkembangan Lelang Barang Jaminan Gol. kecuali dalam kasu s tertentu dimana terjadi penurunan harga barang jaminan yang sangat besar.047 6.2 0. Sedangkan volume kredit macet paling kecil terdapat di wilayah Sulawesi (termasuk Maluku.3 34.14 .2 48.0 709.010 2.2 679.5 milia r (0.4 TOTAL 413.9 0.9 0.9 0. Untuk wilayah Bali (termasuk NTT da n NTB) kredit macet sebesar Rp 794 juta (0.5 2.6 2.1% tota l kredit atau 0.7 739. kredit macet di wilayah Jawa sebesar Rp 12.14% total kredit atau 29.3.5 172. Ja minan*) Nilai**) Omset***) Sisa UP Rasio (%)a) Rasio (%)b) A 285. khususnya DKI & Jawa Barat sebesar Rp 6.801 3.7 115.596 1.1 1.02% total kredit atau 3. Sementara nilai lelang terbesar terdapat di Kanda Ja karta (Rp 2 miliar) dan yang paling sedikit di Kanda Balikpapan (Rp 289. 1997 1998 Nasabah Brg.2 8.

sehingga banyak nasabah dengan b arang jaminan emas yang meminjam pada bulan Juni 1998 dan jatuh tempo pada November 1998 tidak melunasi pinjamannnya. .1 4 Sebagai contoh turunnya harga barang jaminan adalah turunnya harga emas seca ra drastis di bulan November hingga mencapai 60% dari harga bulan Juni 1998.

4). dengan tujuan penggunaan dana untuk pelunasan obligasi I (sebesar . total aset Perum Pegadaian sebagian besar terkonsentrasi di wilayah Jawa (Rp 573 miliar atau 50.9% total aset Perum Pegadaian). Sebagaimana telah disebutkan dalam Bab II bahwa u ntuk memenuhi kebutuhan dana maka selama periode 1993 1998. Sementar a itu.7% dari periode yang sama tahun 1997. Total aset Perum Pegada ian tersebut lebih kecil jika dibandingkan dengan total aset BPR (per Juni 1998) yan g telah mencapai Rp 2.3% total aset Perum Pegadaian) dan yang paling kecil adalah wilayah Kalimantan (Rp 44 miliar atau 3.7 triliun ata u 70. dengan komponen terbesar adalah hutang ob ligasi (Rp 264.6 miliar yang akan jatuh tempo pada periode 1998 2003. Emisi terakhir adalah oblig asi emisi V (Juni 1998).4 triliun.8% dari total aset BPR) sedangkan yang paling kecil terdapat di wilayah Kalimantan sebes ar Rp 63. Perbandingan total aset berdasarkan wilayah terseb ut menunjukkan adanya kesamaan antara Perum Pegadaian dengan BPR yaitu konsentrasi aset berada di wilayah Jawa dan aset terkecil di wilayah Kalimantan.9 miliar (2. Maret 1999 4.1 triliun. Jumlah modal per 30 September 1998 sebesar Rp 363 miliar. Jumlah aset per 30 September 1998 tercatat sebesar Rp 1. Komponen terbesar dari kewajiban jangka pende k tersebut adalah hutang bank (Rp 321 miliar). Perum Pegadaian telah menerbitkan obligasi sebanyak lima kali (seri I s. Kewajiban jangka panjang Perum Pega daian (terdiri dari hutang obligasi dan hutang jangka panjang lainnya) sebesar Rp 364.7% total aset BPR).80 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.2 Kinerja Keuangan Aset Aset Perum Pegadaian menunjukkan kecenderungan meningkat. sedangkan yang terkecil adalah Kanda Kupang (Rp 34 mili ar).d V) dengan nilai nominal sebe sar Rp 289. Realisasi aset pada tahun 1998 ters ebut meningkat sebesar 51. 6 miliar meningkat 32.4). Total aset terbesar dimiliki oleh Perum Pegadaian di wi layah Kanda Jakarta (Rp 183 miliar). sementara kewajiban jangka pe ndek (terdiri dari hutang bank dan kewajiban lainnya) sebesar Rp 412 miliar. Sumber dan Penggunaan Dana Sumber dana Perum Pegadaian selain terdiri dari modal (ekuitas) juga sumber dana lain yang diperoleh dari penerbitan surat berharga maupun pinjaman dari pihak la in.6 miliar) (Tabel 4. meningka t 171. Ditinjau berdasarkan wilayah.4% dari tahun sebelumnya. melampaui target yang ditetapkan untuk tahun 1998 sebesar Rp 1 triliun (Tabel 4. total aset BPR sebagian besar terkonsentrasi di wilayah Jawa (Rp 1.1.6% dibandingkan periode yang sama tahun 1997.

d 30 September 1998 dana pelunasan o bligasi . Berdasarkan tujuan tersebut dapat dikemukakan bahwa Perum Pegadaian nampaknya tidak mempersiapkan cadangan dana pelunasan obligasi (sinking fund) yang memadai untuk memenuhi kebutuhan dana pelunasan obligasi yang akan jatuh tempo (s.Rp 50 miliar) dan pengembangan usaha (modal kerja).

6 17.9 178.3 35.9 Dana pelunasan obligasi 5.3 91 11. Menurut Perum Pegadaian.9 Aktiva Lain 166.9 Hutang Obligasi 175 275 225 390 225 264.7 0.7 8.2 778.6 Hutang Sewa Guna Usaha 0. Dana dengan suku bunga murah yang diperoleh Perum Pegadaian tersebut di satu sisi sangat membantu dalam mengatasi kesulitan likuiditas yang dialami.5 8.4 Neraca Singkat Perum Pegadaian (miliar rupiah) Pos .8 615 837. Per 31 Des.028 864 1139. alokasi dana tersebut lebih diu tamakan untuk penambahan modal kerja.7 Kas dan setara kas 30. namun dari sisi makro berdampak pada timbulnya distorsi suku bunga pasar pinjaman berskala kecil.2 72.7 8.9 325 333 363.1 275 282.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekono mi Rakyat 81 yang dicadangkan hanya sebesar Rp 8.9 Sumber : Perum Pegadaian -diolah Penanaman dana oleh Perum Pegadaian dalam bentuk aktiva lancar (dikelompokkan dalam kas dan setara kas. pinjaman yang diberikan dan lainnya) serta aktiva lain . Perum Pegadaian juga memperoleh pinjaman berbun ga rendah dalam bentuk RDI pemerintah sebesar Rp 100 miliar (sejak tanggal 4 Septem ber 1998).8 412 45.6 119.7 31.4 167.7 Hutang bank 140.75 52.5 miliar).5 55.4 201.8 29. Tabel 4.2 947.2 476. Selain dari penerbitan obligasi.0 Total Aktiva 647 752 798.7 182. bahwa suku bunga bersubsidi dapat menimbulkan inefisiensi dalam penyaluran dana di pedesaan.4 71.4 191 190. (%) Per 30 Juni Per 30 Sept.9 34. Aktiva dalam bentuk kas dan setara kas per 30 September 1998 tercatat sebesar Rp 119 mi . sinking fund tersebut tidak dihimpun karena tidak diperoleh ijin dari Menkeu untuk membentuk cadangan sebesar obligasi yang akan jatuh tempo.6 151.2 Pinjaman yg diberikan 412.487 0.5 321 59.6 53.Pos Neraca Per 31 Des.2 40.4 756.4 119 236. 1996 1997 1998 Per 30 Sep.5 174.1 526.2 183. Aktiva Lancar 480. khususnya untuk memenuhi kebutuhan dana akibat lonjakan nasabah dan bantu an KLBI sejumlah Rp 50 miliar (per 31 Desember 1998).3 Kewajiban lainnya 22. Jun -Sept. kebijakan subsidi bunga hanya akan efektif apabila diterapkan dalam jangka pendek.7 81.4 582.7 564.9 Kewajiban Jangka Pendek 163. Proyeksi Realisasi Pertumb.4 187.6 240.3 356.4 28.9 32.9 36. Dengan demikian.9 Lainnya 35.9 192.5 --Hutang jangka panjang lainnya ----100 Ekuitas 307. Mengacu pada temuan Robinson yang menggunak an pendekatan RFI.2 673.7 0.7 8.2 1.0 Lainnya 160.2 184 1.3 363 1.

Perlu dikemukakan bahwa lonjakan deposito tersebut terjadi karena adanya pencair an bantuan modal kerja dari Pemerintah dalam bentuk RDI sebesar Rp 100 miliar pada tanggal 4 September 1998.liar meningkat 240. dan sisanya sebesar Rp 65 miliar untuk sementara disimpan dalam . terutama diakibatkan oleh meningkatnya nilai deposito sebesar 605%.9% dari periode yang sama tahun 1997. dimana sampai dengan 30 September 1998 telah disalurkan ke nas abah sejumlah Rp 35 miliar.

3 27.3 1. yaitu dari 7. Por si kredit yang diberikan Perum Pegadaian terhadap total kredit pada September 1998 sebesar 0.8 miliar.9 0. meningkat 58.5).5 65. Rp 50 miliar dalam deposit on-call dan Rp 15 miliar untuk cadangan investasi.6 64. porsi BPR dan BRI UDes justru mengalami penurunan.1 0.0 7. Pinjaman yang diberikan per tanggal 30 September 1998 sebesar Rp 756.6% total kredit peer-group. Rasio Perkembangan Pinjaman yang Diberikan 1996 1997 1998 Lembaga Nominal Rasio (%) Nominal Rasio (%) Nominal Rasio (%) ( Rp miliar ) (1) (2) ( Rp miliar ) (1) (2) ( Rp miliar ) (1) (2) Pegadaian BPR BRI Unit Desa 414.077. Dari jumlah tersebut.0 6. Meskipun porsi Perum Pegadaian s aat ini masih kecil dan secara makro tidak terlalu besar dampak moneternya.5%) dibandingkan aktiva produktif lainnya.2 .795. sedangkan porsi BRI UDes meskipun meningkat namun tidak sebesar peningkatan Perum Pegadaian (Tabel 4. Dalam kon disi perkembangan perbankan saat ini yang tidak menentu maka tidak tertutup kemungkin an pangsa pegadaian akan mampu melampaui pangsa BPR.0 4.688. Sementara akti va lain hanya meningkat sebesar 2.2 1.3% (1997) menjadi 10.9%.82 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.4 526. Tabel 4. sementara porsi BPR menunjukkan penurunan.5. pinjaman yang diberikan oleh Perum Pegadaian baik dibandingkan dengan total kredit yang diberikan maupun dalam peer-groupnya relatif kecil. Perbandingan dalam peer-groupnya menunjukkan peningkatan porsi Perum Pegadaian yang lebih besar dibandingkan dengan BPR dan BRI UDes.6 1.1% total kredit atau 6.6 28. Secara makro. Penanaman dana dalam bentuk pinjaman yang dib erikan mempunyai porsi yang paling besar (86.3 4. Maret 1999 bentuk deposito. namun peran Perum Pegadaian dalam memberikan pinjaman cenderung tidak mengalami penurunan dalam masa krisis ini.976.9% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 1997.7% (1998 ).

0 10.557.3 0.621. BPR.1 0.0 65.9 378.0.286.5 623.696.1 7.921.1 0.8 1.5 1.0 98.2 756.3 0.9 7.483.0 98.134.0 97.3 385.074.7 24.9 98.7 Sub-Total 6.324.3 2.1 616.7 1. BPR dan BRI UDes menurut wilayah adalah sebagai berikut : .9 4.5 1.207.1 Bank Umum 292.190.7 Keterangan : Rasio (1) : rasio terhadap peer-group ( PP. BRI Udes) Rasio (2) : rasio terhadap total kredit (termasuk bank umum) Pinjaman yang diberikan oleh Perum Pegadaian.9 Total 299.

dengan porsi terbesar adalah bi aya bunga dan provisi yang mencapai 57.0% dari total biaya operasional.7% dibandingkan tahun 1997.7 miliar dan Rp 9.8%.6 miliar (4.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekono mi Rakyat 83 Pinjaman terbesar diberikan oleh Perum Pegadaian di wilayah Jawa. yaitu sebesar Rp 441. ya itu sebesar Rp 1. . Biaya dan Efisiensi Kemampuan Perum Pegadaian dalam meraih pendapatan menunjukkan kecenderungan semakin meningkat. Pendapatan. meningkat masing-masing sebesar 4. uang kelebihan lewat waktu. dengan komponen terbesar berasal dari penda patan bunga sebesar 44.8 triliun (64% dari total kredit) dan yang pal ing sedikit di wilayah Bali (termasuk NTB dan NTT) sebesar Rp 293 miliar (6.3 miliar. Sedangkan untuk BRI UDes.4 miliar.9%). 5 miliar (2% dari total kredit).4% menurun dari pangsa tahun sebelumnya sebesar 79. kredit yang diberikan per 30 September 1998 terkonsent rasi di pulau Jawa. sedangkan yang terkecil diberikan oleh Peru m Pegadaian di wilayah Kalimantan sebesar Rp 36. pendapatan operasional BPR menunjukkan peningkatan dari Rp 543 miliar (1997) menjadi Rp 758 miliar (1998). menurun dari tahun sebelumnya sebesar 31. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pinjaman yang diberikan oleh ketiga lembaga formal tersebut selama ini terkonsentrasi di pulau Jawa. Kredit yang diberikan oleh BPR sebagian besar terkonsentrasi di wilayah Jawa. Sementara itu biaya operasional tercatat sebesar Rp 180. meningkat 10.3% total pinjaman). dimana pendapatan bunga dan biaya bunga merupakan komponen terbesar dari pendapatan dan biaya operasional. dan k euntungan barang sisa lelang) sampai dengan 30 September 1998 tercatat masing-masing sebes ar Rp 209.3%.5% dan 144.4%.3% dari total kr edit). Seperti juga Perum Pegadaian. Penyumbang terbesar dari pendapatan usaha tersebut adal ah pendapatan sewa modal (88. Biaya operasional BPR juga mengalami peningkatan dari Rp 519 miliar (1997) menjadi Rp 742 miliar (1998) dengan komponen terbesar adalah biaya bunga deposito berjangka seb esar 21.8% total pinjaman). Pendapatan Perum Pegadaian yang terdiri dari pendapatan usaha (meliputi: sewa modal dan bea penyimpanan & asuransi) dan penda patan usaha lainnya (meliputi: pendapatan investasi. Irian dan Tim-Tim) sebesar Rp 36.7% dibandingkan tahun 1997.1 miliar (58. sedangkan yang paling kecil diberikan oleh BPR di wilayah Sulawesi (termasuk Maluku. yaitu sebesar Rp 2. Terlihat adanya kesamaan ant ara Perum Pegadaian dengan BPR.2 triliun (74% dari total kredit BPR).

0%. diperoleh nilai rasio antara biaya operasional dengan pendapatan operasional unt uk tahun 1997 dan tahun 1998 masing-masing sebesar 80.Berdasarkan besarnya pendapatan dan biaya operasional Perum pegadaian tersebut. terutama sebagai dampak meningkatnya beban bunga dan . Rasio tersebut menunj ukkan terjadinya penurunan efisiensi.3% dan 81.

3%.7% dan 3.5% (1997) dan 4.3% (1998). Salah satu aspek yang mendorong tingginya efisiensi yang mampu diraih P erum Pegadaian dibandingkan dengan BPR dan BRI UDes adalah karena Perum Pegadaian tid ak memperhitungkan cadangan kredit macet dalam komponen biaya operasionalnya. Jika dibandingkan d engan rasio BPR sebesar 1. Perum Pegadaian memiliki struktur modal yang lebih kuat dan juga memperoleh pinjaman d engan suku bunga relatif murah.4 kali.3% . Pencapaian rasio tersebut berarti telah sesuai dengan target yang ditetapkan. Profitabilitas Dengan menggunakan indikator ROA dan ROE.8% dan 3.4 kali dan untuk tahun 1998 tidak berubah yaitu sebesar 2. Profitabilitas yang tinggi t ersebut mampu diraih Perum Pegadaian karena besarnya sewa modal hampir sama dengan suku bunga perbankan. sementara realisasi p endapatan sewa modal baru mencapai 82. Perum Pegadaian masih mencata t tingkat efisiensi yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan BPR (95. khususnya pada masa krisis ekonomi.7%) dan BRI UDes (84. Likuiditas Rasio antara aktiva lancar dengan kewajiban lancar Perum Pegadaian rata-rata tah un 1997 sebesar 2. untuk periode 1997 dan 1998 diperoleh koefisien ROA sebesar 6.3% dan 1.1%).4%.7% (1997) dan 9.2 kali menunjukkan bahwa Perum Pegadaian mempunyai kemampuan yang lebih baik dalam memenuhi kewajiban lancarnya (Lampiran 13). Cadan gan tersebut tidak dihimpun oleh Perum Pegadaian karena nilai pinjaman yang diberika n sudah didiskonto dari nilai pasar/taksiran barang jaminan (Lampiran 13). Koefisien tersebut menunjukkan bahwa pada tahun 19 98 terjadi penurunan kemampuan Perum Pegadaian dalam meraih keuntungan. Dengan membandingkan besarnya rasi o profitabilitas Perum Pegadaian dan BPR untuk masing-masing periode tersebut terl ihat bahwa kemampuan Perum Pegadaian dalam meraih keuntungan relatif lebih baik jika dibandingkan dengan BPR dan BRI UDes (Lampiran 13). Solvabilitas . Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pada tahun 1997 dan 1998 Perum Pegadaian mempunyai kemampuan untuk memenuhi kewajiban lancarnya sebesar 2. Sementara ROA yang mampu diraih BPR sebesar 1. Disamping itu . sedangkan ROA BRI UDes sebesar 4.4 kali. Meskipun demikian.4% (1998).6% dari target tahun 1998. dan koefisien ROE s ebesar 10. Maret 1999 provisi yang sudah mencapai 112.1% dengan ROE sebesar 4.84 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. di sisi lain sumber dana be rsubsidi yang diperoleh serta modal Perum Pegadaian cukup besar.

Kemampuan Perum Pegadaian untuk memenuhi semua kewajibannya berdasarkan rasio antara total hutang dengan total aktiva rata-rata tahun 1997 dan tahun 199 8 adalah .

marjin keuntungan/kerugian untuk tiap golongan dianggap sa . Sementara itu.76% (Lampiran 14). Turunnya marjin pada golongan A. Namun karena prosedurnya mudah. Analisis sensitivitas dilakukan untuk melihat sejauh mana pengaruh penurunan marjin pada golongan B. Pada bagian pertama (Lampiran 1 5-A).26% (1998) (Lampiran 15-A).26%.39%. sejalan dengan komitm en Perum Pegadaian untuk membantu nasabah mikro dengan menerapkan subsidi silang pa da sewa modal. Dalam simulasi pertama ini. D sebesar 8. dan D serta pengaruh peningkatan porsi omzet pada gol ongan A terhadap keuntungan yang mampu diraih Perum Pegadaian.24%. Marjin yang diperoleh pada tahun 1997 unt uk nasabah golongan A adalah 3.1%.34% (1997) menjadi 10. B dan C tersebut ternyata tidak men yebabkan penurunan laba. Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa secara umum harga kredit di Perum Pegadaian lebih mahal dibandingkan perbankan. lebih baik jika dibandingkan dengan BPR dan BRI UDes dengan rasio masingmasing sebesar sebesar 76.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekono mi Rakyat 85 sebesar 64. Rasio tersebut menunjukkan bahwa Perum Pegadaian mempunyai kemampuan lebih besar dalam memenuhi seluruh kewajibannya dibandingkan dengan BPR dan BRI UDes (Lampiran 13). Untuk golongan A terjadi peningkat an marjin negatif menjadi 7. ma ka masyarakat masih tertarik untuk meminjam dari Perum Pegadaian.61% dan golongan B. Kebijakan Per um Pegadaian untuk menaikkan sewa modal pada Juni dan Agustus 1998.8% dan 89%. dilakukan simulasi yang terdiri dari dua bagian. sisa omzet dibagi secara merata diantara golongan lainnya . sedangkan gol ongan D (rata-rata D dan D1) meningkat menjadi 13. golongan B dan C turun menjadi 8. Biaya Aktiva Produktif dan Analisis Sensitivitas Marjin (selisih biaya dana yang ditanamkan dalam bentuk aktiva produktif dengan sewa modal pada masing-masing golongan nasabah) yang diperoleh pada masa sebelum dan sesudah krisis menunjukkan. Pada per iode 1996 s. telah berdampak cukup berarti pada perubahan besarnya marjin. Defisit pada golongan A yang ditandai oleh marjin negatif. Marjin yang diperoleh Perum Pegadaian tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan perbankan (Lampiran 16). C. yang terlihat dari meningkatnya marjin tertimbang (weighted prof it/loss) dari 7. Untuk tujuan tersebut. dilakukan peningkatan porsi omzet pada nasabah golongan A secara bertahap sebesa r 5 persen. bahwa Perum Pegadaian masih memiliki marjin yang positif untuk semua golongan selain A. C.d 1998 perbankan mencatat marjin negatif dengan kecenderungan semakin besar pa da tahun 1998.

Pegadaian baru akan merugi sebesar Rp 7. Berdasarkan hasil simulasi terlihat bahwa setiap peningkatan porsi omzet terhadap nasabah golongan A sebesar 5% akan pada simulas i ke1 akan menurunkan keuntungan nominal + Rp 44 miliar.2 miliar pada saat omzet nasabah golongan A sebesar 60 %.ma dengan kondisi pada tahun 1998. . sementara untuk simulasi selanjutnya akan menurunkan keuntungan nominal sebesar +Rp 20 miliar.

Produktivitas Omset Realisasi omset sampai dengan 30 September 1998 adalah sebesar Rp 2.925 M Rp 2. B = -1.5 juta 6.74%. marjin untuk nasabah golongan A dibiarkan tetap dan distribusi omzet untuk tiap golongan nasa bah sama dengan kondisi pada tahun 1998. Rasio yang dicapai pada tahun 1998 tersebut masih l ebih besar dibandingkan tahun 1996 (Rp 311 juta) dan 1997 (Rp 340 juta). dan D = 3. C dan D akan menurunkan keuntungan +Rp 22 miliar. Berdasarkan kedua simulasi tersebut di atas. C = 1. Perum Pegadaian masih memiliki ruan g untuk meningkatkan porsi pemberian kredit kepada nasabah golongan A dan menurunk an sewa modal pada golongan B. dilakukan penurunan marjin keuntungan pada nasabah golongan B.243 orang.76%. dan D 15 . dan D secara bertahap sebesar 1%. Produktivitas omset yang diukur deng an rasio antara realisasi omset dengan jumlah pegawai selama Januari .318 miliar dengan jumlah pegawai sebanyak 6.24%.3 juta Rata-rata per bulan Rp 52 juta Rp 41.86 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.243 Rp 371.2% dari target ya ng ditetapkan untuk tahun 1998. atau rata-rata Rp 41. Berdasarkan hasil simulasi terlihat bahwa s etiap penurunan marjin keuntungan sebesar 1 % pada golongan B.9 Tahun 1998 .September 19 98 yaitu sebesar Rp 371. C.6 Target dan Realisasi Produktivitas Omset Target Realisasi Omset Rp 9..74%.6 miliar pad a saat marjin untuk tiap golongan nasabah sebagai berikut : A = -7.317. Produktivitas omset untuk tahun 1998 tersebut adalah sebagai berikut : Tabel 4.3 juta per bulan.3 juta Berdasarkan realisasi tersebut terlihat bahwa produktivitas omset yang mampu dic apai Perum Pegadaian sampai dengan September 1998 sudah mencapai 79. Maret 1999 Pada bagian kedua (Lampiran 15-B).3 juta. Pada bagian ini.9 M Jumlah Pegawai Rasio 6. C. Pegadaian masih memiliki keuntungan Rp 17.243 Rp 468. Sedangkan be rdasarkan analisis untuk masing-masing wilayah kerja Perum Pegadaian menunjukkan bahwa pegadaian di wilayah Ujungpandang mempunyai produktivitas omset terbesar (Rp 682 .

Perum Pegadaian telah menetapkan keputusan (SK.C dan D) yang berlaku mulai tanggal 1 Maret 1999 .15 Berdasarkan informasi. . No. 16 /UT/II/1999) untuk menurunkan besarnya sewa modal (golongan B.

1 juta).. 4.9 (1998) dan 1.133.7 orang atau rata-rata setiap pegawai dapat melayani sebanyak 126 orang pe r bulan.3 (1998). 480 orang (1997) dan 448 nas abah (1996) untuk satu orang pegawai. .Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekono mi Rakyat 87 juta) baik sebelum maupun sesudah krisis ekonomi. Rasio tersebut meningkat jika dibandingkan dengan rasio tahun 1 996 (907.3 Masalah yang Dihadapi Perum Pegadaian Masalah Temporer Lonjakan nasabah yang sangat besar terutama sejak Juni 1998 telah menyebabkan Perum Pegadaian melakukan overdraft yang besar atas pinjaman rekening koran di B RI. sedangkan yang terendah pada 1997 adalah Perum Pegadaian di wilayah Jawa.243 982 6.400. sementara target yang ditetapkan untuk tahun 1998 sebesar 982 orang atau sekitar 82 orang per bulan. Rasio antara jumlah nasabah dengan jumlah Pegawai tahun 1998 adalah sebagai berikut : Tabel 4.7 Target dan Realisasi Rasio Nasabah dengan Jumlah Pegawai Tahun 1998 Target Realisasi Jumlah Nasabah 6.137 Rata-rata per bulan 82 126 Rasio tersebut menunjukkan bahwa realisasi rasio jumlah nasabah dengan jumlah pegawai yang dicapai Perum Pegadaian sampai 30 September 1998 telah melampaui ta rget yang ditetapkan. r asio nasabah dengan pegawai tertinggi baik sebelum maupun sesudah krisis ekonomi terd apat di wilayah Ujungpandang dengan rasio sebesar 1.6 orang).1.379 orang (199 7). Untuk masing-masing wilayah kerja.September 1998 sebesa r 1.1 juta Jumlah Pegawai Rasio 6. 1.582 orang (1996) nasabah untuk satu orang pegawai. sedangkan produktivitas omset terendah terdapat di wilayah Sumatera (Rp 336. sedangkan produktivitas terendah adalah wilayah Sumatera dengan rasio sebesar 806. Rasio Nasabah dengan Jumlah Pegawai Rasio antara nasabah dengan jumlah pegawai selama Januari.8 orang) dan tahun 1997 (862.243 1.1 juta 7.

yang mengakibatkan BRI menghentikan pemberian kredit lebih lanjut ke Perum Pegad aian .

Kesulitan likuiditas tersebut semakin dalam karena Perum Pegadaian harus membaya r pokok dan bunga obligasi yang jatuh tempo.8%).3 miliar (plafond Rp 181.2%).1% masih lebih kecil dari ketentuan yang berlaku (Tabel 4. B dan C sebesar 85%.5 juta) sebesar 81%. maka nilai rata-rata realisasi uang pinjaman terhadap nilai taksiran untuk golongan A sebesar 85. Nilai realisasi uang pinjaman dengan persentase t ertinggi diberikan oleh Kantor Daerah Jember (81.5 juta) sebesar 81% dan D (diatas 2.3%.8. Saldo pinjaman rekening koran di BRI tersebut pa da akhir September 1998 sebesar Rp 284.9% . Tabel 4.4% dan D 73. Damp ak dari kesulitan likuiditas tersebut adalah semakin terbatasnya kemampuan Perum Pe gadaian dalam memberikan kredit kepada masyarakat.8). Kesulitan likuiditas yang dialami Perum Pegadaian juga terlihat dari perbandinga n antara realisasi pinjaman yang diterima nasabah dengan nilai taksiran yang ditet apkan. D (diba wah 2. Maret 1999 sejak pertengahan Agustus 1998. sejak November 1998 setiap kantor daerah wajib melakukan setor an ke kantor pusat secara proporsional berdasarkan modal kerja yang dimanfaatkan. Untuk mengatasi hal tersebut Perum Pegadaian telah memperoleh RDI Pemerint ah sebesar Rp 100 miliar (4 September 1998) serta KLBI sebesar Rp 50 miliar pada bu lan Desember 1998. perbandingan tersebut relatif rendah dengan per sentase secara nasional sebesar 73. Realisasi Pinjaman yang Diterima Nasabah Tahun 1998 Golongan Nasabah Ketentuan Realisasi Pinjaman (%)*) Realisasi Pinjaman yang Diterima Nasabah (%) A B C D 90 . sedangkan yang terendah diberikan o leh Kantor Daerah Balikpapan (65.88 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. C sebesar 73. Sebelumnya.5%.7 miliar). sementara penerbitan obligasi baru ku rang laku. Sampai dengan 30 September 1998. B sebesar 71. Kon disi tersebut tentunya kurang menguntungkan bagi nasabah yang membutuhkan dana lebih besar kar ena pinjaman yang diterima jauh lebih kecil dari nilai taksiran maupun nilai pasar b arang yang diagunkan. Jika mengacu pada ketentuan yang menetapkan re alisasi uang pinjaman untuk nasabah golongan A sebesar 90%.

3 71.1/1/117 tanggal 17 Juni 1998. 28/OPP.85 85 81 85. 30 Juli 1998 Kebijakan yang telah ditempuh agar tetap mampu melayani sebanyak mungkin nasabah dalam kondisi keterbatasan dana. Perum Pegadaian menurunkan plafon maksimum pinjaman yang . maka berdasarkan SE No.9 73.4 73.1 *) SE No. 37-OPP-1/1/23 tgl.

Permasalahan Struktural Perum Pegadaian sebagai satu-satunya lembaga keuangan yang memberikan pinjaman dengan sistem gadai mempunyai jaringan kantor cabang yang sangat banyak dengan wilayah operasional yang sangat luas. Kebijakan l ain adalah dengan memberlakukan sistem antrian (waiting list) seperti yang diterapkan oleh beberapa kantor cabang. kebijakan tersebut dianggap memberatkan bagi beberapa nasabah meskipun bagi nasabah lainny a tidak terlalu memperdulikan kenaikan suku bunga tersebut. Permasalahan yang timbul terutama adalah terlalu luasnya rentang kendali masing-masing kantor daer ah terhadap kantor cabang-kantor cabang yang ada di wilayah koordinasinya. Namun di sisi nasabah. setiap kantor daerah rata-rata membawahi lebih d ari 50 Kanca dengan frekuensi pemeriksaan untuk masing-masing kantor cabang rata-rata 3 4 kali dalam satu tahun. Kenaikan suku bunga pasar juga menimbulkan permasalahan tersendiri bagi Perum Pegadaian karena biaya dana yang sebagian besar diperoleh dari kredit bank semak in besar.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekono mi Rakyat 89 dapat diperoleh nasabah dari Rp 20 juta (golongan D) menjadi maksimum Rp 5 juta per SBK. bahkan pada beberapa kantor cabang terpaksa melakukan penutupan k antor sebelum waktunya. namun di sisi lain menimbulkan permasalahan tersendiri bagi Perum Pegadaian. Luasnya jaringan kerja tersebut di satu sisi sangat mendukung usaha Perum Pegadaian dalam membantu masyarakat.16 Dampak kebijakan penurunan batas maksimum pinjaman tersebut adalah semakin sulitnya nasabah-nasabah potensial untuk bisa memperoleh pinjaman di atas Rp 5 j uta dengan satu barang jaminan. Kebijakan terseb ut tetap dipertahankan sampai saat ini meskipun sudah ada tambahan dana RDI dan KLBI yang sebagian justru ditanamkan dalam bentuk deposito. Beberapa kantor cabang yang diamati bahkan telah melakukan pembatasan plafon pin jaman maksimum untuk seorang nasabah rata-rata kurang dari Rp 5 juta. maka Perum Pegadaian sejak 30 Juni 1998 menempuh kebijakan dengan menaikkan suku bunga pinjaman untuk golongan D dengan nilai pinjaman di atas Rp 500 ribu (Lampiran 5). Untuk memperkecil dampak naiknya suku bunga pasar. Dengan j umlah tenaga pemeriksa hanya 4 orang. kanda di luar Jawa harus membawahi kanca y . Sementara itu. kondisi tersebut berpotensi menyebabkan beralihnya n asabahnasabah potensial tersebut ke sumber pendanaan lainnya (seperti toko emas dan pegadaian gelap) yang masih bersedia memberikan pinjaman lebih dari Rp 5 juta.

ang secara geografis terlalu jauh. Luasnya rentang kendali tersebut belum diimbangi dengan 1 6 Menurut Perum Pegadaian. . dana sebesar Rp 50 milyar yang disimpan dalam bentu k deposito (on call) dengan jangka waktu kurang dari 1 bulan dimaksudkan untuk cadangan pelunasan pinjaman B RI yang jatuh tempo.

Wewenang untuk menghimpun dana sepenuhnya berada di kantor pusat dimana baik kantor daerah maupun kantor cabang tidak diperbolehkan menghimpun dana sendiri. Bebera pa kelemahan prosedur yang dijumpai antara lain adalah kewenangan Kantor daerah yan g seakan tanpa batas dalam memutuskan besarnya nilai pinjaman di atas plafon Rp 20 juta serta penyimpanan seluruh kunci duplikat pada satu orang (Kepala Kantor Cabang) 17 . (ii) Penetapan harga patokan emas. Penyimpangan tersebut antara lain adalah 17 Menurut Perum Pegadaian. Dampak dari ketentuan ini adalah.90 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. dwilipat kunci disimpan oleh Kepala Cabang karena da lam setiap pemeriksan intern dwilipat kunci tersebut diperiksa sampai sejauh mana penyalahgunaan pemakaiannya . namun di sisi lain berpotensi menghambat kinerja Perum Pegadaian. Sistem ini berdampak pada lambatnya antisipasi kantor cabang dalam merespon perkembangan harga emas di daerah. Sistem manajemen tersebut dalam jangka panja ng akan menimbulkan permasalahan tersendiri khususnya jika kebijakan pemberian oton omi yang lebih besar untuk masing-masing propinsi di Indonesia akan dilaksanakan ole h Pemerintah. Sistem manajemen yang diterapkan oleh Perum Pegadaian saat ini cenderung menekankan pada besarnya peranan kantor pusat. Kantor daerah dan kantor cabang tidak diperbolehk an untuk menetapkan besarnya tingkat sewa modal (suku bunga) meskipun terhadap nasabah-nasabah potensial. (iii) Penghimpunan dana. Harga patokan emas ditetapkan oleh kantor pusat dengan berdasarkan harga emas di Jakarta. Sistem manajemen sentralistik ter sebut di satu sisi dapat menunjang sistem internal control yang handal. antara lain dalam : (i) Penetapan besarnya sewa modal. Permasalahan struktural lainnya terutama adalah masih terdapatnya beberapa kelemahan prosedur yang dapat mendorong terjadinya berbagai penyimpangan. Disamping kelemahan tersebut. serta sewaktu-waktu dapat digunakan apabila pemegang kunci utama (pemegang gudang) berhalangan untuk masuk . Maret 1999 sarana komunikasi yang memadai sehingga belum dapat menunjang pemantauan kinerja kanca-kanca secara efektif. Sistem manajemen yang sentralistik tersebut tercermin pada terpusatnya wewenang penetapan kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan operasional Perum Pegadaian. dalam penelitian lapangan juga dijumpai beberapa k egiatan yang dapat dikategorikan sebagai penyimpangan. masing-masing kantor daerah atau kantor cabang tidak mampu memanfaatkan potensi daerah sepenuhnya terutama dalam kondisi terbatasnya likuiditas seperti yang dialami dewasa ini.

.kerja.

Berdasarkan penggunaann ya. khususnya yang berpendapatan rendah. mayoritas berpenghasilan antara Rp 150 ribu s. Dari 90 nasabah yang dipilih secara acak dan be rhasil diwawancarai. serta tidak dilaksanakannya prosedur internal control kluis dan gudang. kebutu han sehari-hari (16%). pelanggaran kriteria barang jaminan yang d apat diterima Perum Pegadaian 19 . emergency (5%).d Rp 500 ribu per bu lan. ditemukan berba gai persepsi masyarakat terhadap Perum Pegadaian. Perum Pegadaian juga akan terus menghadapi risiko fluktuasi harga barang jaminan akibat fluktuasi nilai tukar mengingat besarnya jumlah agunan di Perum Pegadaian berupa emas/perhiasan yang harganya mengikuti pergerakan harga pasar internasional. dan lain-lain (3%). Persepsi Masyarakat Berdasarkan hasil penelitian lapangan ke beberapa kantor cabang. meskipun di . Hal tersebut menunjukkan adanya peningkatan jumlah barang jaminan dalam b entuk emas/perhiasan semenjak terjadinya krisis ekonomi di Indonesia. Sementara itu. Sebagian besar nasabah tersebut tidak mempunyai akses ke perbankan atau tidak ma u berhubungan dengan perbankan karena prosedur yang rumit. praktek transfer antarcabang masih diijinkan sepanja ng BRI yang terdapat di wilayah kantor cabang tersebut tidak menyediakan fasilitas rekening giro.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekono mi Rakyat 91 praktek transfer dana antarcabang 18. Pada umumnya masyarakat. mayoritas nasabah (± 59%) mempergunakan pinjaman yang diperoleh dari Perum Pegadai an untuk tujuan produktif seperti modal kerja (56%) dan bridging financing (3%). Namun dalam pr akteknya dijumpai beberapa kantor cabang yang berlokasi di wilayah kota besar masih melakukan praktek trans fer antarcabang. merasa sangat terbantu oleh Perum Pegadaian. biaya s ekolah dan kebutuhan mendesak lainnya). (Grafik 3). se dangkan sisanya mempergunakan untuk tujuan konsumtif seperti biaya sekolah (17%). penyimpanan barang jaminan pada tempat yang tidak sesuai dengan prosedur. Pengguna an dana oleh nasabah sangat beragam baik untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat pro duktif (misalnya untuk modal kerja dan bridging financing) sampai untuk memenuhi kebutu han yang bersifat konsumtif (misalnya untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari. 18 Menurut Perum Pegadaian. Nilai barang jaminan dalam bentuk emas/perhiasan pada tahun 1998 dan 1997 masing-masing sebesar 75% dari total pinjaman meningkat dibandingkan tahun 1996 (72%).

. barang jaminan yang tidak memenuhi ketentuan yang su dah ditetapkan masih bisa diterima asalkan secara ekonomis tidak menimbulkan kerugian bagi Perum Pegadaian . 19 Menurut Perum Pegadaian.wilayah tersebut terdapat kantor BRI yang cukup besar.

2%).3%) terbanyak kedua ad alah nasabah berpendidikan SLTP (20%) dan yang paling sedikit adalah nasabah dengan pendidikan tidak tamat SD (2. Kondisi tersebut mendorong beberap a nasabah besar untuk beralih ke pemberi pinjaman lainnya seperti pelepas uang. keunggulan Perum Pegadaian dibandingkan lembaga pember i pinjaman lainnya terutama adalah dari segi pelayanan kepada nasabah. Financing 3% Keb. khususnya f aktor keamanan barang jaminan dan kewajaran nilai taksiran.92 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. menyebabkan pada beberapa wilayah masyarakat masih merasa malu untuk berhubungan . Disamping persepsi positif nasabah tersebut. Kurangnya sosialisasi/pemasaran produk Perum Pegadaian kepada masyarakat. Komposisi Penggunaan Dana oleh Nasabah Biaya Sekolah 17% Emergency 5% Lain-lain 3% Brid. dari penelitian lapangan juga ditem ukan bahwa beberapa nasabah merasakan tingginya suku bunga Perum Pegadaian saat ini s erta sistem penghitungan bunga dengan acuan minimal 15 hari dirasakan cenderung merug ikan nasabah. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas nasabah mempunyai pendidikan yang cukup. Menurut persepsi nasabah. Sehari-hari 16% Modal Kerja 56% Sedangkan berdasarkan tingkat pendidikannya. pe gadaian gelap atau toko emas. mayoritas responden yang banyak berhubungan dengan Perum Pegadaian berpendidikan SLTA (43. sehingga nasabah khususnya nasabah besar mulai merasakan bahwa Perum Pegadaian tidak selalu dapat memberikan pinjaman sesuai permintaan mereka. Dengan melihat keunggulan tersebut nasabah Perum Pegadaian pada umumnya tidak terlalu memperdulikan besarnya suku b unga meskipun saat ini relatif tinggi pada kondisi suku bunga pasar yang cenderung me nurun. Kesulitan likuiditas yang dialami sejak Agustus 1998 berdampak pada berkurangnya kemampuan Perum Pegadaian dalam melayani nasabah. Maret 1999 Grafik 3. berpenghasilan rendah dan mempergunakan dana yang diperoleh dari Perum Pegadaian untuk tujuan produktif.

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekono mi Rakyat 93 dengan Perum Pegadaian. Namun tidak semua masyarakat merasa malu berhubungan den gan Perum Pegadaian, terlihat pada beberapa wilayah seperti Ujung Pandang (mencakup Sulawesi, Maluku, dan Irian Jaya) serta Kodya Yogyakarta, sedangkan pada beberapa wilayah kantor Perum Pegadaian lainnya yang diamati sebagian nasabah masih merasa malu untuk berhubungan langsung dengan pegadaian dan lebih suka menggunakan jasa perantara (calo). 4.2 Program Pemberdayaan Ekonomi Rakyat Perhatian terhadap ekonomi kerakyatan semakin meningkat seiring dengan meluasnya ketimpangan ekonomi dan kesenjangan sosial. Salah satu faktor dalam pemberdayaan ekonomi rakyat adalah pemberian prioritas dan bantuan dalam pengembangan usaha kepada ekonomi lemah. Berkaitan dengan pemberdayaan ekonomi rakyat tersebut, pemerintah telah menempuh berbagai upaya yang antara lain meliputi : 1. Kredit Program Dalam rangka mendorong berputarnya roda perekonomian di lapisan bawah yang saat ini menghadapi kesulitan sumber-sumber pembiayaan/pendanaan di lembaga formal (bank), maka Bank Indonesia mendorong komitmen perbankan dalam melayani usaha kecil (KUK), merealisasikan berbagai skim kredit program yang dananya berasal da ri KLBI (seperti KKPA, KKop, KUT, dll), memberi bantuan teknis yang diarahkan kepad a kemitraan dan pendekatan kelompok melalui PPUK, PHBK dan PKM serta mengembangkan kelembagaan keuangan sesuai kebutuhan usaha kecil menengah dan koperasi. 2. Program Jaring Pengaman Sosial (JPS) Program JPS ditujukan untuk menciptakan kesempatan kerja produktif bagi pengangg ur, meningkatkan pendapatan dan daya beli masyarakat, meningkatkan kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat terutama yang terkena dampak krisis serta mengkoordinasikan berbagai program penanggulangan dampak krisis dan berbagai program penanggulangan kemiskinan. Realisasi JPS ditempuh dalam empat program; (i) program ketahanan pangan, (ii) program padat karya dan penciptaan lapangan k erja produktif (iii) program perlindungan sosial, dan (iv) program pemberdayaan ekonom i rakyat. 3. Reformasi Struktural Sektor Riil Program ini dijalankan melalui reformasi di bidang perdagangan, investasi, dereg ulasi dan privatisasi, yang diwujudkan dengan berbagai kebijakan untuk menghapuskan berbagai aspek yang menyebabkan inefisiensi dalam perekonomian. Semakin berkurangnya kemampuan perbankan dalam memberikan pinjaman kepada masyarakat dewasa ini semakin membuka peluang bagi Perum Pegadaian untuk berpera n lebih besar dalam program pemberdayaan ekonomi rakyat.

94 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Maret 1999 Potensi Perum Pegadaian tersebut dapat dilihat dari beberapa aspek, yaitu : a. Kesiapan jaringan kerja dan sumber daya manusia Perum Pegadaian mempunyai jaringan kerja yang sangat luas (633 kantor cabang) ya ng tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Selain jaringan kerja yang sangat luas, P erum Pegadaian juga didukung oleh jumlah dan kualitas pegawai yang cukup memadai. b. Keberpihakan pada masyarakat khususnya golongan ekonomi lemah Keberpihakan Perum Pegadaian kepada masyarakat khususnya golongan ekonomi lemah terlihat dari relatif kecilnya skala kredit yang diberikan dibandingkan dengan l embaga formal lainnya, dengan plafon terendah Rp 5.000 dan tertinggi Rp 20 juta. Disamp ing itu, Perum Pegadaian juga masih memberikan peluang bagi permintaan pinjaman dalam skala yang lebih besar (diatas Rp 20 juta). Prosedur pengajuan dan pelunasan pin jaman relatif mudah dan cepat. Suku bunga pinjaman yang dikenakan Perum Pegadaian pada umumnya juga relatif rendah. Nasabah pegadaian sebagian besar merupakan nasabah mikro dan mayoritas berprofesi sebagai petani. Keberpihakan tersebut juga tercer min dalam misi yang ditetapkan dalam periode RJP II untuk ikut meningkatkan kemakmur an dan kesejahteraan masyarakat golongan menengah ke bawah melalui penyediaan dana berdasarkan hukum gadai secara inovatif dan melakukan usaha lain yang menunjang. c. Meningkatnya jumlah pinjaman yang diberikan. Pinjaman yang diberikan pegadaian kepada masyarakat semakin meningkat seiring dengan lonjakan permintaan khususnya sejak krisis ekonomi. Lonjakan tersebut merupakan dampak semakin sulitnya akses masyarakat ke perbankan. d. Kinerja yang semakin meningkat Perum Pegadaian merupakan salah satu usaha di sektor keuangan yang masih dapat bertahan di masa krisis ekonomi dewasa ini bahkan menunjukkan kinerja yang semak in meningkat, khususnya jika dibandingkan dengan BPR. Kinerja efisiensi, profitabil itas, likuiditas maupun solvabilitas Perum Pegadaian pada umumnya juga relatif lebih b aik jika dibandingkan dengan lembaga lain khususnya BPR dan BRI UDes. e. Keunggulan Perum Pegadaian Keunggulan utama Perum Pegadaian dibandingkan lembaga lain adalah prosedur yang mudah, murah dan cepat. Disamping itu pemberian pinjaman dengan sistem gadai dap at memperkecil moral hazard khususnya dalam penyaluran kredit-kredit bersubsidi, ka rena dengan sistem gadai nasabah dididik untuk berupaya mengembalikan pinjaman yang diterima. Potensi Perum Pegadaian untuk berperan dalam pemberdayaan ekonomi rakyat terlihat jelas terutama pada aspek keberpihakan pada masyarakat kecil. Pelaksana an peran tersebut selama ini dilakukan oleh Perum Pegadaian dengan memberikan pinjaman ke pada masyarakat (khususnya masyarakat berpendapatan rendah) dalam skala kecil dengan

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekono mi Rakyat 95 prosedur dan persyaratan yang mudah dan murah. Nasabah mikro pada Perum pegadaia n tersebut terutama adalah golongan A (dengan nilai pinjaman antara Rp 5.000 Rp 40 .000) pada tahun 1998 mencapai 41,4% total nasabah. Namun porsi dan nilai pinjaman yan g diperoleh golongan ini relatif sangat kecil (rata-rata sebesar Rp 18.000) diband ingkan golongan B,C dan D. Kecilnya skala pinjaman golongan A tersebut juga terlihat da ri jenisjenis barang yang banyak dijadikan agunan seperti : kain, alat rumah tangga (misal : k uali/ panci, piring, sendok, lampu tekan, dll), sepeda dan lain-lain. Fenomena tersebu t nampak jelas di kantor-kantor Perum Pegadaian di wilayah Jawa, khususnya di wilayah pan tai utara. Total nilai pinjaman untuk golongan A pada tahun 1998 sebesar Rp 115,4 mi liar atau hanya sebesar 5% dari total omset Perum Pegadaian. Namun perkembangan terakhir menunjukkan kecenderungan pergeseran orientasi pemberian pinjaman ke nasabah bes ar (golongan D) meskipun Perum Pegadaian masih mempunyai peluang untuk meningkatkan porsi pinjaman untuk nasabah mikro (golongan A). Sejalan dengan perkembangan usaha Perum Pegadaian, terlihat kebijakan Perum Pegadaian untuk mengembangkan produk-produk baru yang di luar lingkup usaha pegadaian. Salah satu produk yang akan dikembangkan yaitu memberikan kredit deng an jaminan surat berharga dan sertifikat tanah, serta kredit dengan sistem pinjam p akai sebenarnya sudah tidak sesuai dengan prinsip dari hukum gadai yang mewajibkan ba rang jaminan berbentuk barang bergerak dan dititipkan (tidak boleh dipakai oleh pemil iknya). Begitu pula dengan adanya rencana untuk mengembangkan produk-produk pembiayaan lainnya merupakan suatu upaya yang kurang sesuai dengan misi dari Perum Pegadaia n yang ingin melayani kebutuhan masyarakat golongan menengah ke bawah. Namun renca na tersebut justru menimbulkan kekhawatiran akan terjadi pergeseran dari core busin ess Perum Pegadaian dan orientasi nasabah yang dilayani seperti yang ditetapkan dalam PP N o. 10 tahun 1990. Apalagi pada beberapa tahun terakhir terdapat kecenderungan di dalam kelompok-kelompok usaha untuk kembali ke core business masing-masing untuk meningkatkan kinerja usahanya. Oleh karena itu, pengembangan produk-produk baru diusahakan tetap dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat kecil apabila tetap mengacu pada prinsip-prinsip hukum gadai dan misi perusahaan, dengan tetap berpihak pada masyarakat berpendapatan rendah. V. PENUTUP 5.1 Kesimpulan

1. khususnya tahun 1998 (setahun terakhir) terjadi pelonjakan kinerja terutama karena beralih nya sebagian nasabah perbankan ke Perum Pegadaian. Perkembangan Perum Pegadaian dalam tiga tahun terakhir cukup pesat. .

Untuk menutupi kekurangan dana tersebut (khususnya modal kerja). 3.d September 1998. Suku bunga (sewa modal) yang dikenakan Perum Pegadaian kepada nasabah saat ini relatif tinggi. serta meningkatkan porsi pemberian kredit bagi golongan A tanpa menimbulkan kerugian bagi Perum Pegadaian. Peran Perum Pegadaian dalam mendukung pemberdayaan ekonomi rakyat cukup besar terlihat dari jumlah nasabah mencapai 6. Kredit yang diberikan terutama kepada nasabah menengah ke ba wah yang pada umumnya bergerak di sektor informal dan tidak memiliki akses ke perban kan.6 juta (September 1998) dengan mayoritas merupakan nasabah mikro (40. serta sistem manajemen yang sangat . Perum Pegadaian telah memperoleh fasilitas RDI dari Pemerintah dan KLBI. Untuk memenuhi lonjakan tersebut. Namun masih terdapat peluang (room) bagi Perum Pegadaian untuk menurunkan sewa modal khususnya untuk golongan B. profitabilitas dan efisiensi. Secara makro dan jika dibandingkan dengan BPR dan BRI UDes yang memiliki pasar yang hampir sama. sumbangan Perum Pegadaian dalam pemberian kredit masih lebih rendah. Meskipun demikian. Perum Pegadaian melakukan penarikan overdraft sangat besar sehingga mengakibatkan penghentian pemberian fasilitas ov erdraft BRI. sementara dana pelunasan obligasi yang dihimpun (sinking fund) kura ng memadai. Dalam tiga tahun terakhir telah terjadi pergeseran pemberian kredit dari nasabah kecil ke nasabah besar.5%). Perum Pegadaian mempunyai beberapa kelemahan struktural yang dapat menghambat peningkatan kinerja dan merupakan potensi timbulnya berbagai penyimpangan yaitu : terlalu luasnya rentang kendali manajemen yang tidak didukung dengan sistem dan sarana pengawasan/pelaporan yang memadai. Jarin gan Perum pegadaian yang didukung oleh 633 kantor menjangkau seluruh wilayah Indones ia sampai ke pedesaan. C dan D dengan tetap memberika n subsidi bagi golongan A. Perum Pegadaian telah ikut berperan dalam kegiatan pembiayaan usaha kecil. 7. Keunggulan dalam profitab ilitas dan efisiensi tersebut terutama disebabkan oleh tingginya sewa modal yang dikena kan (hampir sama dengan suku bunga perbankan).96 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Hal ini terutama disebabkan oleh perubahan orientasi kebijakan Pe rum Pegadaian untuk meningkatkan laba serta kenaikan golongan pinjaman karena adanya kenaikan harga barang jaminan. Perum Pegadaian mengalami kesulitan likuiditas akibat lonjakan permintaan nasabah dan kurangnya peminat obligasi yan g diterbitkan. 6. Maret 1999 2. Perum Pegadaian memiliki keunggulan dalam kualitas pinjaman yang diberikan. Pada periode Agustus s. 5. 4. sementara dana yang diperoleh sebagia n besar bersuku bunga rendah.

.sentralistik.

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekono mi Rakyat 97 8. 4. Dengan mempertimbangkan potensi dan rencana jangka panjang. Di samping itu. sehingga Kanda berpotensi untuk mencari dana pinjaman sendiri. untuk mengkaji apakah akan melakukan pemindahan kantorkan tor cabang tersebut ke lokasi yang lebih strategis atau melakukan penutupan. 3. Perum Pegadaian perlu lebih intensif dalam memonitor nasabah.40%. Untuk mengetahui efektivitas penggunaan kredit dalam rangka pemberdayaan ekonomi rakyat. . Perum Pegadaian perlu melakukan evaluasi secara lebih intens terhadap kantor-kan tor cabang yang merugikan. 5. 6. Mengingat masih besarnya potensi pasar yang dapat dimanfaatkan oleh lembaga keuangan yang memberikan pinjaman berdasarkan sistem gadai. Berdasarkan kinerjanya Perum Pegadaian memiliki potensi untuk berperan dalam channeling pemberdayaan ekonomi rakyat.1 Saran 1. Hal ini sekaligus dapat mendorong kompetisi untuk meningkatkan efisiensi. untuk menjaga konsistens i pelaksanaan misi Perum Pegadaian. pemerintah hendaknya menetapkan ketentuan yang mengatur batas minimum porsi kredit untuk nasabah kecil (golongan A dan B). rentabilitas yang lebih baik diban dingkan lembaga formal lainnya. misa lnya sebesar 30% . nampaknya Perum Pegadaian perlu lebih menekankan pada pemberian kredit daripada melakukan usahau saha lain di luar core usaha Perum Pegadaian. 5. serta kecenderungan penurunan suku bunga pasar. khususnya bagi Kanca defisit yang sudah lama didirikan dengan tetap mempertimbangkan pelaksanaan misi sosial yang diemban. Namun untuk mewujudkan potensi tersebut Perum Pegadaian harus terlebih dahulu membenahi kelemahan-kelemahan struktural yang ada. 7. maka sud ah saatnya besarnya sewa modal diturunkan. maka Pemerintah perl u mengkaji kemungkinan pemberian izin bagi perusahaan lain untuk bergerak dalam usaha pegadaian. tersedianya room yang cukup luas. Masalah kesulitan likuiditas dapat diminimalkan apabila sampai batas tertentu ka ntor daerah diberi kewenangan untuk mencari dana sendiri dengan memanfaatkan potensi daerah setempat (sesuai dengan teori RFM). namun dari penelitian diperoleh temuan bahwa daerah juga mempunyai potensi pendanaan (sesuai dengan teori RFM). Sistem manajemen pendanaan secara sentralistik yang diterapkan Perum Pegadaian sampai saat ini nampaknya sangat sejalan dengan teori FF. Sesuai dengan misi Perum Pegadaian yang didukung oleh sumber dana yang mayoritas bersubsidi. 2.

Pedoman Pemeriksaan Satuan Pengawasan Intern Perum P egadaian. Laporan-Laporan Keuangan Robinson. PERUM PEGADAIAN (1997). 9. . Laporan-Laporan Operasional Bulanan dan Tahunan ___________________. Pedoman Operasional Kantor Cabang. Fumio (1986). Harvard University. 1970-91. Fred dan Brigham. Eugene F (1981). Penerbit Erlangga Jakarta. Tim Analisis Jabatan Perum Pegadaian (1990). Maret 1999 8. DAFTAR PUSTAKA Egaitsu. Manajemen Keuangan Edisi ke-7 Jili d I (Terjemahan dari Managerial Finance 7th edition). Penerbit BPFE Yogyakarta. Suad (1985). Uraian Tugas dan Kegiatan : Direkto rat Operasi dan Pengembangan. ___________________. Tokyo : Asian Productivity Organization. maka kebijakan pemberi an bantuan likuiditas dengan subsidi bunga kepada lembaga pembiayaan yang berorient asi pada masyarakat menengah ke bawah hendaknya hanya dilakukan dalam jangka pendek atau dalam bentuk sekuritisasi. ___________________. Rural Financial Markets : Two School of Thoughts. ___________________ (1997). Company Profile Perum Pegadaian ___________________. Untuk menghindarkan terjadinya distorsi suku bunga pasar. Harvard Institute for International Development.98 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Marguerite S (1992). Rural Financial Intermediation : Lessons From Ind onesia Part One The Bank Rakyat Indonesia : Rural Banking. ___________________. dalam F arm Finance and Agricultural Development. dan Direktorat Umum. Direktorat Keuangan. maka Perum Pegadaian perlu memperhitungkan biaya dana untuk masing-masing Kanca. Prospektus Obligasi V Perum Pegadaian Tahun 1998. Untuk memperoleh penilaian efisiensi yang lebih riil. Weston. Surat-Surat Keputusan Direksi Perum Pegadaian. Development Discussion Paper No. Husnan. J. Manajemen Keuangan : Teori dan Penerapan (Keputusan Jangka Pendek) Jilid 2. 434.

gaji. Subdit Kepegawaian (KP). verifikasi. pemensiunan. Subdit Perbendaharaan (PB). 4. promosi. bertugas untuk mengkoordinasikan penyusunan formal. 6. pengevaluasian pelaksanaan anggaran. kesejahteraan serta pengembangan manajemen . surat berharga. bertugas untuk mengkoordinasika n dan melaksanakan penelitian dan pengembangan jenis. Subdit Akuntansi (AK). 3. perpajakan. kepangkatan. kepustakaan dan pengelolaan produk hukum serta pemberian pertimbangan hukum sesuai dengan peraturan yang berlaku dalam rangka menunjang kelancaran pelaksanaan tugas pimpinan perusahaan. ba nk. 2. Subdit Penelitian dan Pengembangan Operasi (LB). urusan kehumasan. perjalanan dinas dan tunjangan serta pelaksana an penagihan piutang perusahaan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam rangka menunjang kelancaran pelaksanaan tugas. pemberhentian. 5. penyelenggaraanpembukuan dan penyajian laporan keuangan perusahaan serta pengembangan sistem informasi keuangan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dala m rangka pengendalian keuangan perusahaan. bertugas untuk membina penyaluran kredit gadai. pemindahan. Subdit Anggaran dan Permodalan (AP). bertugas untuk mengkoordinasikan dan mengedalikan penyelenggaraan kesekretariatan pimpinan. prosedur dan wilayah operasi serta bentuk usaha lain berdasarkan peraturan yang berlaku dalam rangka meningkatkan kinerja perusahaan. jasa dan mengembangkan kegiatan pemasaran serta mengkoordinasikan pengolahan dan dan penyajian statistik perusahaan sesuai dengan ketentuan yang berlaku sebagai bahan pertimbangan pimpinan dalam rangka meningkatkan pendapatan perusahaan.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekono mi Rakyat 99 LAMPIRAN Lampiran 1 Tugas masing-masing Kepala Sub Direktorat 1. kebutuhan modal kerja dan pengalokasian modal kerja serta investasi la innya sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam rangka menjamin kontinuitas keuangan perusahaan. bertugas untuk mengkoordinasikan pengelolaan kas. bertugas untuk mengkoordinasikan penyusunan rencana anggaran. 7. Subdit Operasi dan Pengembangan (OPP). bertugas untuk mengkoordinasikan evaluasi. pengadaan dan penyelenggaraan pengangkatan. pengalokasian dana. Subdit Kesekretariatan Perusahaan (SP). sistem.

izin mendirikan bangunan dan penghapusan serta penyelenggaraan tata usaha pembangunan atau perbaikan bangunan prasarana dan rumah jabatan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam rangka penyediaan sarana kerja yang memadai untuk menunjang kelancaran pelaksanaan tugas. urusan rumah tangga dan perlengkapan kantor agar pelaksanaan tugas berjalan lancar dan terpadu. 8. 10. Kepala Pusat Pengembangan Teknologi Informasi (Kapus TI). . bertugas mengkoordinasikan perencanaan pengembangan program penyelenggaraan dan evaluasi pelaksanaan pendidikan dan pelatihan serta penyusunan laporannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku agar penyelenggaraan diklat berjalan lancar dan te rpadu. bertugas untuk mengkoordinasikan pembuatan disain bangunan pemrosesan pelaksanaan pembangunan atau perbaikan. pengadaan denah. Kepala Balai Diklat (Kabal Diklat). Maret 1999 perusahaan berdasarkan peraturan yang berlaku dalam rangka pembinaan kepegawaian dan peningkatan kesejahteraan pegawai. pemilikan hak atas tanah. bertugas untuk mengkordinasikan pengurusan ketatausahaan. Subdit Tata Usaha dan Rumah Tangga (TURT). 11. Subdit Bangunan (BG). pengurusan persewaan bangunan. 9.100 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. bertugas mengkoordinasikan penyelenggaraan pengelolaan database dan jaringan serta pengembangan dan pengimplementasian sistem dalam menunjang kegiatan operasional perusahaan.

Semarang 45 2 47 VII.974 Tingkat Pendidikan SD 982 954 885 829 SLTP 465 437 404 377 SLTA 2. Kupang 17 6 23 JUMLAH 575 58 633 Lampiran 3 Komposisi Pegawai Tetap Perum Pegadaian Jenjang Karir 1995 1996 1997 Okt.171 2.365 4.442 2. Bandung 49 2 51 V. Yogyakarta 56 0 56 VIII.129 5.817 . Jakarta 44 11 55 IV. Surabaya 50 2 52 X.050 3.349 4. Balikpapan 22 9 31 XIV.893 4. Denpasar 31 10 41 XIII.303 2. Malang 51 0 51 XI. Medan 35 7 42 II.118 D3 897 814 811 803 S1 468 511 591 655 S2 14 2531 35 T O T A L 5. Surakarta 53 0 53 IX.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekono mi Rakyat 101 Lampiran 2 Jumlah Cabang yang Dibawahi oleh Setiap Kanda KANDA JUMLAH CABANG JUMLAH TOTAL ANAK CABANG I. 1998 Manajemen Puncak 4 4 4 4 Manajemen Menengah 34 34 45 45 Manajemen Pelaksana 742 780 794 794 Staf Administrasi 4.183 4. Pandang 49 6 55 VI. Padang 36 3 39 III. Jember 37 0 37 XII. U.

000 2. Danareksa Fund MGT. BIG Palapa .BRI 7. Semen Gresik 50 50 -Saham PT. Bahana Dana Selaras 2.Saham PT.Saham PT.Saham PT.150 Sumber : Perum Pegadaian .320 Penyertaan (Dalam bentuk 500 lembar saham PT. Semen Gresik (Sertifikat Bukti Right) 70 70 .Saham PT.150 1.500 5. Maret 1999 Lampiran 4 Penanaman Dana Perum Pegadaian (Juta rupiah) Jenis Penanaman 1997 Per-31 Des 1998 Per-30 Sep. -500 Cadangan penurunan nilai surat berharga -1.351 3.000 876 .000 2.000 .176 .000-Saham PT.Saham PT. Diberikan 526.500 .000 Surat Berharga 5.243 756. Danareksa Seruni 2.000 70. BNI Dana Berbunga 1.768 -2. Dua Satu Tiga Puluh) 1.BEII 2.000 2.500 65. Pinjaman yg.500 .751 Deposito 10.102 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.

500-150.000 1.000 2.000 2. M=Mobil. minimum Rp 25. minimum Rp 8. 3.25% 2.000 ke atas) Biaya PA dengan jaminan Mobil ditetapkan 0.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekono mi Rakyat 103 Lampiran 5 Tabel Sewa Modal dan Biaya PA masing-masing Golongan Gol Uang Pinjaman Maksimum Sewa Modal Jangka Waktu Per 15 Hari Per Tahun Kredit A B C D D 5. minimum Rp 10. G=Gudang.5%XUP.500.50% 3.5 juta ditetapkan 0.25% 2.50% 120 hari 40.5%XUP.5 juta ditetapkan 0.000-500. 1. Harga Pasar Setempat. DG selain mobil u/ UP > Rp 1.25% 2.000 2. yang direvisi minimum ti ga .000 ke atas) Lampiran 6 Jenis-jenis Harga Pasar Untuk menentukan nilai barang jaminan yang akan digadaikan oleh masyarakat. Perum Pegadaian mengacu kepada harga pasar.000 (pembulatan Rp 1.000-40. 2. HPS adalah harga pasar barang-barang gudang yang didasa rkan pada harga pasar barang baru (toko) di daerah setempat.000-5. Harga Pasar Daerah HPD adalah harga pasar yang ditentukan oleh Kanda dengan memperhatikan toleransi maksimum 4% di atas HPP dan 2% di bawah HPP.25% 120 hari 151.5%XUP.25% 120 hari 510. DK u/ UP > Rp 1.500. UP=Uang Pinjaman Biaya PA gol.000 (pembu latan Rp 500 ke atas) Biaya PA gol. harga pasar daerah (HPD ) dan harga pasar setempat (HPS).000.50% 120 hari >2.50% 1. Harga Pasar Pusat HPP adalah harga pasar emas/perak/permata yang ditetapkan oleh Kanpus sebagai patokan umum baik bagi Kanda maupun Kanca berdasarkan perkembangan harga pasaran umum dengan memperhitungkan kecenderungan perkembangan harga di masa mendatang.000 2.00% 120 hari Keterangan : K=Kantong.000 (pembulatan Rp 1.000-1. Dalam hal ini Perum Pegadaian membua t tiga kriteria harga pasar yaitu harga pasar pusat (HPP).

Lampiran 8 Administrasi dan Pembukuan Barang Sisa Lelang (BSL) 1. sedangkan cabang kelas I dan II minimal satu kali sebulan oleh Kacab. Kemudian berdasarkan RBSL tersebut dibukukan pada : a. Menghitung barang jaminan. 2. 4. Meronda gudang. Dengan demikian BAL hanya be risi data barang jaminan yang laku dilelang saja. 2. yaitu dengan mencocokkan jumlah barang yang ada di gudang dengan saldo menurut buku gudang. kerapihan dan keamanan gudang berserta isinya. Buku Ikhtisar Kredit dan Pelunasan bulan kredit yang bersangkutan dikredit sebes ar uang pinjaman BSL. Meskipun demikian dalam jangka waktu 2 bu lan tiap-tiap rubrik/golongan/ribuan harus sudah pernah dihitung sebanyak dua kali. c. Karena BSL diakui dan dicatat sebagai mutasi aset. Buku Kas didebet sebagai pelunasan dan dikredit pembelian BSL. Pemeriksaan buku gudang yang dilakukan setiap hari. Maret 1999 bulan sekali. . Barang jaminan yang sudah ditetapkan sebagai BSL pada buku Redister Barang Si sa Lelang (RBSL). Penghitungan barang jaminan ini dilakuk an minimal sepuluh kali dalam satu bulan. kemudian ditentukan besarny a persentase uang pinjaman terhadap taksiran menurut masing-masing golongan yaitu : -Golongan A -Golongan B -Golongan D -Golongan D Lampiran 7 = 90% dan C = 85% s/d Rp 5 juta = 85% > Rp 5 juta = 84% Kegiatan pemeriksaan barang jaminan di gudang 1. maka adanya BSL pada setia p lelang tidak perlu dicatat pada Berita Acara Lelang (BAL). d. Pemeriksaan isi barang jaminan. yaitu dengan melakukan pemeriksaan secara langsung ke dalam g udang tentang kebersihan. dan minimal 60% dari tiap rubrik/golongan/ribuan telah dihitung untuk ketiga kalinya . Pemeriksaan ini dilakukan s etelah penghitungan barang jaminan selesai dilaksanakan. Berdasarkan harga-harga pasar di atas. Kegiatan ini dilakukan minimal 3 kali sebulan untuk cabang kelas III. yaitu dengan mencocokkan fisik barang jaminan dengan keterangan pada SBK dwilipatnya (lembar II/kopinya). Laporan Bulanan Operasionalatas penambahan BSL.104 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Buku Kredit yang bersangkutan pada nomor yang menjadi BSL sebagai penghapusan b. 3.

Buku Gudang dikreditkan sejumlah BSL. f. . Buku Uang Kelebihan eks BSL.e.

mutasi aktiva dan harus mendapat izin dari Kakanda dan penjualannya di tempat yang baru harus memperhitungkan biaya pengirimannya. makin sedikitnya sumber pe ndanaan yang ada menyebabkan Perum Pegadaian mengurangi batas nilai kredit maksimum. Dijual di bawah tangan Pedoman harga penjualan BSL ditetapkan sebagai berikut : a) BSL Perhiasan Emas · Penjualan BSL jangka waktu kurang dari 30 (tiga puluh) hari. Dimutasikan Antarcabang BSL emas atau non-emas sebelum diusulkan penurunan harga jualnya dapat juga diupayakan penjualannya di kantor cabang yang berada di daerah lain yang diyakin i dapat terjual lebih cepat. permintaan terhadap jasa Pega daian meningkat pesat sehingga masing-masing cabang Pegadaian melakukan penarikan dana dari BRI dalam jumlah cukup besar. tidak diijinkan untuk menjualnya. Pedoman penurunan harga jual secara bertahap sesuai kebijakan Kakanda. Sebelum mendapat keputusan penurunan harga jual dari Kakanda. Di samping itu. Selisih lebih atau kurang atas penjualan ini dibukukan sebagai laba/rugi perusahaan. Perum Pegadaian diberikan fasilitas kredi t oleh BRI sebesar Rp 181. Sebelumnya. Sejak terjadinya krisis ekonomi. Pengiriman BSL ini dibukukan sebagai Rekening Antar K antor (RAK). . Hal ini menyebabkan kredit yang ditarik secara keseluruhan melebihi plafon yang ditentukan (overdraft) sehingga BRI menghentikan fasilitas tersebut pada bulan Agustus 1998.Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekono mi Rakyat 105 Lampiran 9 Penyelesaian Barang Sisa Lelang (BSL) 1. BSL yang diminta oleh Hakim/Jaksa/Polisi harus diselesaikan menurut peraturan yang berlaku. Kelebihan kredit yang d itarik tersebut dikenakan suku bunga pasar sebesar 71% per tahun. dijual sebesar Harg a Pembelian x 109. atau kebijakan lain dari Kakanda atas usu l penurunan harga jual yang telah diajukan sebelumnya.7% · Penjualan BSL jangka waktu lebih dari 30 (tiga puluh hari s/d 60 (enam puluh har i) dijual sebesar Harga Pembelian x 105%.75 miliar (suku bunga 36 %) yang secara langsung dapat ditari k oleh cabang-cabang Perum Pegadaian melalui kantor-kantor cabang BRI setempat yang telah ditentukan. Kacab dapat mengusulkan penurunan harga jual kepada Kakanda. Kesulitan likuiditas yang dialami Perum Pegadaian antara lain akibat dihentikann ya fasilitas kredit dari BRI. Beban suku bunga pendanaan yang tinggi menyebabkan Perum Pegadaian menaikkan sewa modalnya seperti terlihat dalam tabel di atas. b) BSL Non-Emas Diusahakan BSL harus sudah terjual dalam jangka waktu 30 (tiga puluh hari) namun demikian apabila dalam jangka waktu tersebut belum laku terjual.

.

Maret 1999 .106 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekono mi Rakyat 107 .

108 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Maret 1999 .

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekono mi Rakyat 109 .

110 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Maret 1999 .

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekono mi Rakyat 111 .

Maret 1999 .112 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekono mi Rakyat 113 .

Maret 1999 .114 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.

Kegiatan Usaha Perum Pegadaian dan Peranannya dalam Mendukung Pemberdayaan Ekono mi Rakyat 115 .

116 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Maret 1999 .

Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Int ernasional 117 KAJIAN AWAL TENTANG MONEY LAUNDERING SERTA IMPLIKASINYA DALAM PASAR KEUANGAN INTERNASIONAL Hariyadi Ramelan. volatilitas yang sangat besar pada modal internas ional dari transfer asset antar negara yang tidak terantisipasi. Kajian ini diharapkan akan mampu memb erikan gambaran serta perbaikan-perbaikan yang memadai dan perlu dilakukan oleh masyarakat keuan gan internasional dalam upaya pencegahan maupun penindakan terhadap kegiatan money laundering. senjata gelap. Namun pada sisi yang lain. Ketidakberhasilan dalam menggalang kerjasama internasional dalam memerangi money laundering akan menimbulkan risiko perubahan variabel permintaan uang yang tak terduga. serta implikasi yang timbul sehu bungan dengan peranan bank sebagai lembaga intermediasi. suap/korupsi/ manipulasi serta fraud perbankan) telah menjadi legal dalam dunia bisnis di pasar keuangan internasional. efek kontaminasi pada transaksi keuangan yang legal. Urusan Devisa. teknik-teknik. *) Haryadi Ramelan : Dealer pada Dealing Room. terorganisasi rapi dan profesional. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan gambaran awal tentang kegiatan money laun dering. Dalam posisi ini. dan Delfianto Ras*) Perkembangan teknologi perbankan internasional dalam dekade terakhir ini telah m emberikan jalan bagi tumbuhnya jaringan-jaringan perbankan yang semula lokal/regional menj adi suatu lembaga keuangan yang global. sumber-sumber regulasi. Bank Indonesia . layering ataupun integration. risiko pada kesehatan perbankan. Bank Indonesia Delfianto Ras : Dealer Yunior pada Dealing Room. yan g dari tahun ke tahun semakin canggih. perbankan internasional khususnya International Offshore Banking Centres (I OBC) dengan segala aspek perlindungan data serta keleluasaan pajaknya telah menjadi lembaga interme diasi yang sangat diminati oleh para money launderer. juga merupakan le mbaga yang sangat rentan terhadap proses placement. Urusan Devisa. batasan. Uang hasil transaksi ilegal (obat bius/ narkotika. Kecenderungan tersebut ternyata juga memberikan kesempatan bagi para pelaku money laundering untuk turut memanfaatkan kecanggihan jaringan layanan pe rbankan.

Contoh-contoh tersebut hanya menggambarkan situ asi mikro dari satu konsekuensi bercampurnya uang halal yang secara resmi masuk dalam hitung an otoritas moneter dengan uang haram yang merupakan hasil kegiatan melawan hukum dalam bisnis keuangan internasional. Pada situasi global. Hal kedua tersebut diakui sebagai mas alah yang pelik namun realitasnya memang terdapat permintaan pasar yang cukup kuat un tuk secret money. yakni Bancomer d an Banco Serfin dinyatakan bersalah oleh Pengadilan Federal (Fed Court) Los Angeles . Pada saat yang bersamaan di London. Secara lebih rinci. penjumlahan total nilai import dan pembayaran bunga seharusnya sama dengan total nilai ekspor dan penerimaan bunga. Dua bank besar tersebut diharuskan membayar denda masing masing USD 9. Dinas Pajak Dalam Negeri Inggris melakukan razia terhadap 2 kantor akuntan besar dan j uga rumah pengacara serta akuntan yang terbukti berupaya menghindari objek pajak yan g diperoleh dari money laundering. dalam kasus money laundering. Hal tersebut paling tidak terbukti pada hasil Operation Cassablanca yang berlangsung akhir bulan Maret 1999. Dua bank besar Mexico. dll).9 juta dan USD 4. 1) uang yang dibayarkan unt uk barang atau jasa-jasa tersebut tidak pernah tercatat oleh perusahaan/ individu yang umu mnya dengan berbagai alasan antara lain untuk menghindari pajak ataupun karena transa ksi tersebut ilegal (manipulasi oleh perusahaan swasta. bila sebuah komodit as diimpor dan dibayar.7 juta. Maret 1999 I. Secar a teoritis dan teknis. Kalimat tersebut nampaknya bukan se kedar slogan kosong bagi Pemerintah Amerika Serikat dalam memberantas kegiatan money laundering.118 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Kedua bank juga terbukti bersalah dan mengaku bertanggung jawab penuh bahwa karyawan-karyawan banknya telah melakukan money laundering atas hasil-hasil ilegal narkotik. kegiatan money laundering dalam konsep akuntansi internasio nal ternyata mampu menjelaskan adanya defisit neraca transaksi berjalan dunia. Lantas kemanakah uangnya? Beberapa sebab dapat dikemukakan seperti statistical e rror atau (bukan mustahil) adanya secret money. Dalam kasus black hole di atas. tidak hanya dari para kriminal namun juga dari perusahaan-perusaha an dan bahkan pemerintahan. Pendahuluan T T he war against money launderer is not over . namun tidak ada catatan bahwa seseorang telah menerima pembayaran t ersebut. saat ini perkembangan pasar . Sejalan dengan praktek money laundering tersebut. suap kepada pejabat pemerint ahan.

1.keuangan internasional telah memungkinkan terbukanya peluang untuk menampung rekening secret money. London. pp. Samuel.22-23. 1996. .M et al. Cha pman & Hall. 6th Ed. J. Hal ini antara lain ditandai dengan semakin maraknya Inte rnational Offshore Banking Centers (IOBC) di berbagai belahan dunia seperti Gambar 1. Management of Company Finance.

International Monetary Fund (IMF) 2) berpendapat bahwa money laundering merupakan salah satu ancaman paling serius ba gi masyarakat keuangan internasional khususnya dan sistem keuangan global pada umum nya. Batasan. 2. Dengan memiliki pemahaman yang cukup memadai. Keempat. serta implikasinya bagi pelaku-pelaku transaksi-transaksi perban kan internasional seperti bankir. yakni 2-5% dari GDP dunia. Ketiga. Teknik dan Regulasi dalam Kegiatan Money Laundering A. Kedua. bagian kedua tulisan ini akan memaparkan batasan. mengupas beberapa implikasi yan g sifatnya represif dan antisipatif terhadap kegiatan money laundering dan Bagian Keempat berisi Kesimpulan akhir. Pertama. pengawasan melekat terhadap uang (dirty money) harus dipertahankan. _____________. bentuk pengambilan uangnya harus diubah. Dalam textbook. Annu . 1997. yakni sebagai suatu proses dimana para kriminal berupaya untuk menyembunyikan sumber d an kepemilikan hasil-hasil aktivitas kriminal yang melawan hukum. Secara rinci. namun demikian money laundering secara khusus dapat diartikan pencucian uang (laundering money from illicit proc eeds). jejak proses pencucian uang harus disamarkan dalam upaya menghilangkan jejak jika seseorang menelusuri proses uang dari awal hingga akhir. pemilik uang dan sumber sesungguhnya uang tersebut harus disembunyikan. a da empat faktor yang umum terdapat dalam kegiatan money laundering. proses kegiatan dan pelanggaran money laundering. Batasan dan Proses Kegiatan Money Laundering Tak ada batasan money laundering secara umum. Bagian Ketiga. batasan. The Finacial Action Task Force on Money Laundering. trend dan teknik umum yang digunakan. regulator atau lembaga lain yang berwenang (bank s entral) serta pelaku-pelaku pasar finansial lainnya. II. Tujuan dari penulisan makalah ini antara lain memberikan gambaran yang menyeluruh berkaitan dengan kegiatan money laundering.Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Int ernasional 119 Berkaitan dengan permasalahan tersebut. maka diharapkan dapat diupayakan langkah-langkah efektif untuk mencegah terjadinya money laundering ma upun langkah-langkah represif seandainya money laundering terjadi dengan tetap mengac u pada Undang-undang ataupun regulasi yang berlaku secara internasional. yang besarnya mencapai 300 400 milyar USD. Angka ini secara ekstrim dapat diartikan bahwa bisnis money laundering merupakan bisnis terbesar ketiga di dunia setelah forex market dan bisnis minyak dunia. Sebagai gambaran turn over kegiatan money laundering saat ini telah melampaui ba tas imaginasi.

al Report. .

120 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. Maret 1999 .

Teknik-Teknik Money Laundering Berdasarkan survey yang dilakukan oleh The FATF 4) (The Financial Action Task Fo rce) sepanjang tahun 1996-1997. 2. J. Cara tradisional dalam money laundering adalah dengan cara menyelundupkan secara fisik uang tunai hasil transaksi ilegal ke luar negeri (perbatasan nasional suat u negara). Hal ini dilakukan dalam upaya untuk menghilangkan jejak atau upaya audit sehingga seolah-olah merupakan transaksi finansial yang legal. proses pencucian yang dapat dilihat pada Gambar 2. 3. Cara tradisional. Spin Dry (Repatriation and Integration) Spin dry merupakan gabungan dari langkah repatriasi dan integrasi.Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Int ernasional 121 Secara kronologis. kegiatan money laundering biasanya terdiri atas 3 proses yang berkelanjutan yakni: 1. obat-obatan terlarang. teknik-teknik yang dilakukan dalam pencucian uang dap at dikategorikan dalam 2 cara umum yakni: 1. B. 1998) 3). Proses Pencucian Uang. Langkah ini disebut juga sebagai immersion ya ng merupakan gabungan dari consolidation dan placement (Robinson. Langkah lain yang sering dilakukan adalah menciptakan sebanyak mungkin account dari perusahaan fiktif/semu dengan memanfaatkan aspek kerahasian bank dan keistimewaan hubungan antara nasabah bank dan pengacara. penipuan/ penggelap an (fraud) serta hasil-hasil korupsi. Secara ringkas. stocks. forex mark et. . Layering (Pemilahan Dana) Layering atau heavy soaping merupakan langkah kedua dalam money laundering yang ditandai dengan pemilahan hasil-hasil ilegal tersebut dari sumber-sumber asalnya melalui pembelian/transaksi-transaksi finansial seperti bearer bonds. senjata gelap. Placement (Penempatan Dana) Penempatan dana merupakan proses awal dalam money laundering yang ditandai denga n penyerahan secara fisik uang yang dihasilkan dari aktivitas melawan hukum sepert i perdagangan narkotika. Proses yang t erjadi adalah apabila hasil-hasil ilegal dari money laundering masuk kembali ke dalam s istem keuangan dan muncul sebagai dana-dana bisnis yang wajar/ normal.

Cara lain yang juga relatif konvensional adalah menggunakan pedagang valuta asin g, lawyers maupun akuntan pribadi. Penggerebekan yang terjadi di London pada contoh 3. Robinson, Jeffrey. 1998. Laundrymen. Pocket Books, London 4. ____________, 1997. The Financial Action Task Force on Money Laundering, Annu al Report.

122 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Maret 1999

Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Int ernasional 123 kasus di atas jelas menunjukkan kecurangan seorang pengacara/akuntan dalam menyembunyikan hasil-hasil kejahatan seperti money laundering. 2. Cara-cara Modern. Berkembangnya teknologi baru dibidang perbankan antara lain elektronic money (e money) telah memberikan ancaman baru dalam teknik money laundering yang lebih canggih. Tiga cara yang mungkin dilakukan adalah melalui : Stored value cards, i nternet/ network based systems dan hybrid systems. Namun demikian, aplikasi ke tiga cara ini dalam sistem pembayaran masih relatif belum termanfaatkan. Hal yang sulit untuk dilacak justru hasil-hasil ilegal yang ditransfer melalui International Electron ic Fund Transfer. Berdasarkan pengalaman di Inggris, ciri-ciri yang sering dilakukan ole h money launderer antara lain menggunakan institusi yang terkait (perbankan) serta Pedag ang Valuta Asing (PVA), lawyer, serta accountant. 2.1. Bank sebagai money launderer Salah satu contoh yang sangat berharga berkaitan dengan kasus money laundering adalah skandal yang dilakukan oleh The Bank of Credit and Commerce International (BCCI) pada tahun 1991. Bank yang didirikan di Luxembourg tahun 1972 oleh pengusaha Pakistan (Agha Hasan Abedi), dalam perjalanannya asset bank tumbuh dengan cepat hingga mencapai USD 20 milyar dan mempunyai cabang di 70 negara. Namun sayangnya bank tersebut mengirimkan dananya ke rekening rahasia di Cayman Islands, dimana tempat tersebut banyak uang hasil curian. Diperkirakan hampir setengah assets bank telah hilang (disappeared). Penggelapan uang tersebu t tidak hanya menjadi kegiatan bayangan BCCI, namun BCCI diperkirakan juga membantu diktator seperti Sadam Hussein (Irak), Manuel Noriega (Panama) dan Ferdinand Marcos (Philipina) dalam mencuri uang dari negaranya, serta bertindak sebagai bankir dari kelompok Abu Nidal. Tidaklah mengejutkan bila BCCI diplesetkan artinya menjadi Bank of Crook and Criminals, Inc . Bagaimana BCCI menjalankan aktivitas penggelapan dalam waktu yang cukup lama? Jawabannya adalah sulitnya mengatur bank yang beroperasi di banyak negara. Meskipun kantor pusat BCCI di London, namun lemahnya peraturan bank oleh Institut Monetaire Luxembourgeois (IML) di Luxembourg, mengakibatkan BCCI beroperasi bebas dari peraturan pemerintah selama 15 tahun. Pada tahun 1987, IML mencapai persetujuan dengan tujuh negara dimana BCCI beroperasi, tetapi masih belum dapat menelusuri aktivitas bank tersebut. Pada musim semi tahun 1990 IML dapat menemukan beberapa bukti penggelapan dan pada Juli 1991 perusahaan akuntan Price Waterhouse menemukan dokumen serta menyerahkan pada Bank of England, selanjutnya BCCI dinyatakan ditutup. Kerugian deposan

124 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Maret 1999 dan pemegang saham dari colapse-nya BCCI sudah tak terhingga dan pengawas bank dalam hal ini Bank of England sulit disalahkan atas kelambanan menuntaskan skandal tersebut. Setahun setelah BCCI colapse, the Basle Committee baru mengumumkan dan menyetujui standarisasi dari peraturan bank internasional. 2.2 Payable through account Salah satu cara yang juga tergolong cukup modern dan sering digunakan oleh money launderers adalah payable through account (lihat Gambar 3). Pada gambar tersebut diilustrasikan adanya pembelian US bonds yang pembayarannya dilakukan melalui account oleh client bank yang kemudian diperjual belikan pada level nasa bah client bank tersebut (third bank) dan diteruskan pada level nasabah third bank. Melalui transaksi beberapa jenjang tersebut pada level terbawah yaitu pada level nasabah third bank tersebut para money launderers banyak melakukan aktivitasnya untuk memasukkan dananya ke dalam sistem jasa keuangan bank. C. Regulasi Kegiatan Money Laundering Sebagaimana diketahui, bank ataupun lembaga finansial lainnya merupakan lembagal embaga yang sangat rentan bagi kemungkinan penyusupan hasil-hasil transaksi ilegal (secret money). Rentannya lembaga-lembaga tersebut dari kegiatan money launderin g dimungkinkan baik dalam proses placement, layering maupun integration. Berkaitan dengan upaya untuk mencegah dan memerangi kegiatan money laundering tersebut, perlu adanya aturan hukum yang mengikat secara internasional dan berke kuatan hukum yang tetap. Rezim yang dapat dijadikan contoh untuk pencegahan kegiatan mo ney laundering adalah Inggris. Mengapa demikian, karena London sebagai salah satu pu sat pasar keuangan terbesar dunia, merupakan target yang menarik bagi para pencuci u ang. Pasar finansial London yang terkenal dengan kemajuan dan transparannya sangat me mberi peluang untuk memuluskan tahapan-tahapan kegiatan money laundering, apakah itu placement, layering dan integrasi. Kondisi ini lebih membuka peluang setelah dip erkenalkan Euro sebagai mata uang tunggal Eropa yang secara tidak langsung telah menurunkan kontrol dan hambatan-hambatan dalam rangka pasar tunggal Eropa, khususnya untuk mobilitas barang-barang, jasa, orang dan modal secara leluasa di seluruh Eropa. Dalam rangka merespon hal-hal tersebut di atas, beberapa ketentuan perundangan telah disahkan oleh oleh Parlemen Inggris, yakni antara lain: 1. Ketentuan Primer (Tier 1) 1) Drug Trafficking Offences Act 1986 (DTOA) 2) Criminal Justice Scotland Act 1987 (CJSA)

Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Int ernasional 125 .

dan sejenisnya untuk membuat sistem untuk menghalangi terjadinya money laundering. Prosedur pelaporan antara lain mencakup laporan identifikasi orang dalam suatu organisasi. Peraturan tersebut mensyaratkan b agi semua lembaga keuangan. b) Identifikasi dan Verifikasi. apa jenis informasinya . kepada siapa informasi tersebut harus dibuat. masalahmasalah yang muncul dan pegawai yang menanggulanginya. pencatatan yang berhubungan dengan pembukaan rekening nasabah baru (client) atau identitas counterparty dan pencatatan yang berhubungan dengan transaksi yang dilakukan oleh client atau cou nterparty.126 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. d) Pencatatan. Ketentuan Sekunder (Tier 2) Ketentuan sekunder yang merupakan bentuk dari Money Laundering Regulation 1993 secara khusus ditujukan pada lembaga keuangan. .lembaga keuangan adalah sebagai berikut: a) Sistem Kontrol. Ketentuan ini menjamin pegawai dari waktu ke waktu diberikan kesempatan mengikut i pelatihan dalam upaya mengenali dan menguasai transaksi yang dilakukannya sendir i atau atas nama orang lain . pendapat orang yang menanggulangi masalah tersebut dalam upaya meningkatkan pengetahuan terutama mengenai dasar kecurigaan terhadap orang yang melakukan money laundering. Maret 1999 3) 4) 5) 6) 7) 8) Criminal Justice Act 1988 (CJA88) Prevention of Terrorism (Temporary Provisions) Act 1989 (POTA) Criminal Justice (Int. yang sangat berpotensi dimanfaatkan pihak lain untuk money laundering. Setiap calon nasabah harus diidentifikasi dan diverifikasi bahwa yang bersangkut an memang memenuhi syarat sebagai applicant for business. pencatatan dapat dibagi dua yaitu. Dalam kaitan ini. Cooperation) Act 1990 (CJCA) Criminal Justice (Confiscation) ( Northern Ireland) Order CJO 1990 Northern Ireland Act 1991. e) Pelaporan. c) Uji/Pemeriksaan atas Transaksi. (NIEPA) Criminal Justice Act 1993 (CJA93) 2. Prosedur pencegahan terhadap terjadinya money laund ering yang umumnya digunakan pada lembaga. Sistem ini berupa peraturan yang meliputi prosedur internal control dan komunika si tepat pada lembaga-lembaga keuangan yang bertujuan mencegah dan menghalangi terjadinya money laundering.

f) Pendidikan dan Pelatihan. Prosedur ini sangat dibutuhkan bagi seluruh personil perbankan dan lembaga terka it .

melakukan transfer atau menyembunyikan kekayaan dari pengadilan baik secara langsung maupun tidak langsung. 4. atau pegawai yang mengetahui atau mencurigai orang lain melakukan money launderi ng .Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Int ernasional 127 dalam upaya peningkatan kualitas pemahaman terhadap pekerjaan yang dijalani sert a kontribusinya terhadap pengawasan internal. Tindakan ini digolo ngkan sebagai pelanggaran bagi seseorang yang memberikan bantuan kepada money laundere r untuk memperoleh. yaitu: a) Membantu seseorang untuk menyimpan hasil-hasil kejahatan. g) Tindakan hukum. Buku ketentuan ini bia sanya disebut sebagai the read book untuk perbankan. memiliki . profesi. Prosedur ini merupakan langkah terakhir yang harus dilakukan dan biasanya berupa investigasi oleh National Criminal Inteligent Service (NCIS). yellow book untuk bisnis investas i swasta. c) Menyembunyikan atau mentransfer penerimaan untuk menghindari tindakan pencegahan atau perintah penyitaan. dan secara langsung atau tidak langsung dia menguasai atau menggunakan atau memiliki kekayaan tersebut. Pelanggaran Hukum dalam Money Laundering Berdasarkan perundangan di Inggris (Criminal Justice Act 1993/ CJA) tersebut di atas. asuransi dan lembaga investasi lainnya. menyembunyikan. d) Menggagalkan usaha penyingkapan atau kecurigaan dari praktek money laundering . dan green book untuk bisnis asuransi. Seseo rang dianggap bersalah melakukan pelanggaran jika dia mengetahui sebagian atau keseluruhan kekayaan orang lain baik secara langsung atau tidak langsung berasal dari hasil kejahatan. atau menginvestasikan dana jika dan a yang bersangkutan diketahui atau dicurigai merupakan hasil penerimaan kriminal. 3. mengubah. menguasai. b) Mengakuisisi . terdapat 5 pelanggaran utama yang dapat dikategorikan sebagai tindakan mon ey laundering. seluruh atau sebagian penerimaan yang berasal da ri kegiatan kriminal. bisni s. dan menggunakan hasil dari kegiatan kriminal. CJA mensyaratkan siapapun sehubungan dengan transaksi yang dilakukan. Dibawah aturan CJA seseorang dianggap melakukan pelanggaran apabila menyembunyikan. menyamarkan. Ketentuan Tambahan (Tier 3) Ketentuan tambahan ini lebih merupakan petunjuk teknis yang diterbitkan oleh The Joint Money Laundering Steering Group (JMLSG) yang ditujukan bagi bank-bank dan lembaga keuangan lainnya.

.

Sejalan dengan hal tersebut. namun juga bera sal dari perkembangan teknologi seperti EFT (cyber payment) yang memungkinkan pembayaran transfer berlangsung dengan mobilitas yang tinggi dengan mengoptimalkan jaringan perbankan internasional sebagai lembaga intermediasi. including strict know your customer rules.128 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. that promote high ethical and pr ofessional standards in the financial sector and prevent the bank being used. practices a nd procedures in place. Hal ini berarti b ahwa seseorang dianggap melanggar hukum apabila tidak melaporkan kepada pihak berwenang apabila mengetahui adanya praktek money laundering. Dalam kaitan di atas. e) Tipping off (Peringatan). Maret 1999 harus melaporkan informasi tersebut pada polisi sesegera mungkin. Kondisi ini memberikan suatu implikasi yang sangat luas dan kompleks dalam upaya menciptakan kestabilan masyarakat global di pasar finansial. yang secara pokok dapat dijabarkan se bagai berikut: . Implikasi tersebut menuntut adanya suatu langkah kerjasama preventif dan represif yang berskala internasiona l terhadap kegiatan money laundering. FATF memberikan 40 rekomendasi langkah-langkah utama dalam memerangi kegiatan money laundering. CJA hanya ment olerir kesalahan atas kecurigaan yang dilaporkan dengan alasan yang dapat diterima. by criminal elements . Satu upaya upaya penting yang telah dilakukan oleh ma syarakat internasional adalah dibentuknya FATF yang salah satu rekomendasinya menyatakan bahwa countries should monitor the physical cross border transportation of cash a nd bearer instruments without impeding in any way the freedom at capital movement . III. Beberapa Upaya Represif dan Antisipatif terhadap Kegiatan Money Laundering Sebagaimana diuraikan di atas. Faktor instabilitas tersebut tidak han ya bersumber dari turn over yang sangat besar (300 400 milyar USD per tahun). Suatu pemaksaan terhadap keterbukaan konsumen atau pihak ketiga untuk menyampaikan informasi pada pihak yang berwenang bahwa telah terjad i praktek money laundering atau adanya rencana money laundering. kegiatan money laundering memiliki dampak instabilitas pada sistem finansial dunia. BIS melalui Basle Committee pada bulan September 19 97 juga menetapkan prinsip utama dalam supervisi perbankan yang efektif yang berbun yi Banking supervisor must determine that banks have adequate policies. intentionally or uninte ntionally. Rekomend asi ini merupakan kunci utama dalam pemahaman konsep know your customer approach.

b) Modifikasi sistem pelaporan transaksi mata uang (CTR= Currency Transaction Re porting System).a) Introduksi sistem SAR (suspicious activity reporting system) yang baru. .

f) Penetapan aturan baru dalam pencatatan transfer-transfer dana (system at determi ne internal control. 2. Pelatihan terhadap dealer/staf lainnya seharusnya juga mencakup tanggung jawab secara hukum. 4. Pelatihan terhadap pegawai baru sebaiknya mencakup latar belakang terjadinya money laundering. Pelatihan terhadap petugas front office harus meliputi prosedur-prosedur identif ikasi dan verifikasi ( sebagai contoh. 3. pengecekan akan kecocokan identitas investor). d) Peningkatan kerjasama antar negara dan perwakilan industri keuangan global dalam upaya melawan kegiatan money laundering melalui penetapan kelompok kerja. Supervisors/ Manager. h) Staff Training : dalam rangka mengenali dengan baik dan menangani transaksi-tran saksi yang mencurigakan. pelanggaran migrasi dan kesehatan. pengenalan terhadap faktor-faktor yang mencurigakan. jaminan hukum yang dilaporkan. mengenali secara baik proses settlement/payment/delivery instructions yang dilua r batas kewajaran. e) Implementasi proyek Gateway yang menyediakan data-data inteligen keuangan secara on line antar negara dan pemerintah-pemerintah daerah. dealing dengan customer yang jarang dilakukan (antara lain transaksi kas dalam jumlah besar/ bearer securities). policies and prosedures).Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Int ernasional 129 c) Perluasan daftar tindakan pelanggaran money laundering dalam memberantas teroris me. kebijaksanaan perusahaan terhadap adanya kasus-kasus pengecualian. Pegawai baru (New employees). pelaporan kondisi yang terjadi. 5 kelompok yang diharuskan mengikutinya adalah: 1. lebih ditekankan pada detail mengenai ketentuan perundang-undangan yang berlaku meliputi identifikasi. Pelatihan terhadap manajer yang memberikan instruksi. g) Memperluas upaya pelaksanaan hukum dan pengaturan hukum dalam memerangi kegiatan money laundering. Account Opening staff. Dealers and sales staff. dan jaminan perorangan menurut ketentuan yang berlaku. sistem pelaporan. staf pelaksana harus menerima pelatihan khusus money launderi ng. .

dan laporan transaksi yang mencurigakan. peraturan dan prosedur internal. . validasi. Reporting Officers. 5.pencatatan. pelaporan prosedur serta tindakan pinalti. Pendalaman materi pelatihan terhadap kelompok staf ini meliputi seluruh aspek perundangan-undangan.

1991). Peningkatan tersebut dapat diupaya kan dalam bentuk investigasi khusus terhadap asal modal disetor. 4. asal dana-dana piha k ketiga yang diterima. dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1. Perbedaan visi dan persepsi ini tentunya akan berimplikasi pada kelompok-kelompok kerja yang dibentuk oleh FATF. Hal ini sangat penting mengingat dalam banyak kasus money laundering. dan transaksi finansial yang dilakukan khususnya transaksi transaksi off balance sheet.130 Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. bahwa setiap negara memiliki prioritas yang berbeda-beda khususnya dalam menghadapi kegiatan/praktek money laundering. 3. Sebagai mana kita ketahui. Konsekwensi lain. Maret 1999 IV. lembaga perbankan seringkali dipergunakan sebagai intermediasi oleh pelaku tindakan kriminal yang tidak mustahil juga dibantu oleh adanya moral haza rd oleh karyawan bank sendiri (contoh kasus BCCI. Hal ini berarti. Dalam konteks ini maka pendekatan know your customer rule menjadi acuan yang sangat mendasar dalam menggali informas . para anggota kelompok kerja FATF ataupun masyarakat keuangan internasional sudah selayaknya menerapkan aturan-aturan standar minimum dalam upaya memerangi kegiatan money laundering misalnya keseragaman penggunaan sistem SAR. CTR maupun Gateway Intelligence System. Secara taktis. Berkaitan dengan butir (1). tindakan yang paling efektif dalam menangkal kegiatan money laund ering pada lembaga perbankan adalah mendeteksi sedini mungkin aktivitas kriminal terse but pada titik paling crucial yakni pada saat hasil-hasil ilegal tersebut masuk ke d alam sistem perbankan/keuangan (placement process). maka upaya pemberantasan terhadap kegiatan money laundering merupakan real test case bagi masyarakat dan sistem keuangan internasional. Dengan semakin berkembangnya kegiatan/transaksi-transaksi illegal internasional. ataupun tidak diakuinya transaksi keuangan yang terjadi di negara tersebut secara internasional (default). Mengapa demikian? Karena anti money laundering measures membutuhkan kerjasama internasional yang harus kondusif baik bersifat multilateral maupun bilateral (antar dua negara). Penutup Dari pokok-pokok rekomendasi yang diberikan oleh FATF di atas. bahwa apabi la terdapat negara-negara yang tidak mematuhi kesepakatan bersama tersebut akan mendapatkan pinalti yang dapat berupa punitive taxes atas transaksi-transaksi ya ng terbukti berkaitan dengan money laundering di pasar finansial di negara yang bersangkutan. adalah bahwa kualitas supervisi terhadap transaksi finansial o leh bank khususnya harus senantiasa ditingkatkan. khususnya bagi lembaga pengawas perbankan ataupun lembaga keuangan lainnya. 2.

i calon nasabah bank. maka kecil kemungkinan . Jika langkah preventif ini diterapkan secara universal terha dap semua lembaga keuangan/ jaringan perbankan internasional.

Andrew. Michael.Kajian Awal Tentang Money Laundering serta Implikasinya dalam Pasar Keuangan Int ernasional 131 money launderer akan mampu menembusnya.1996. 10) _________. 2) Camdesus. Journal of Internation al Banking and Financial Law. 1998 (Feb). 4) Morris. Sebaliknya bila langkah tersebut tidak berhasil. Pp 29-31. Payable Through Accounts and Money Laundering. July August. CCH Inc. maka money launderer akan selalu mencari titik terlemah dari sistem ja ringan keuangan internasional. Bancomer and Banca serfin Plead Guilty to Money La undering. Pocket Books. Money Laundering: Butterworths. pp 350. Guide to Financial Services Regulation. 6) Reuters News. 3) Hayaes. 1997. 3rd Edition. International Guide to Money Laundering and Practice. 7) Richard.1998.1999 (March 31). Money Laundering: The Regim in the United Kingdom.1998. 8) Robinson.1995. London. Money Laundering: The Importance of International Countermeasures. baik melalui International offshore Banking Centre (IOBS ) yang memiliki insentif pembebasan pajak dan longgarnya peraturan ataupun memanfaatkan negara-negara/ lokasi yang relatif tidak/ belum terjangkau oleh hukum internasio nal.1995. Daftar Pustaka 1) Abrahamson. Legal Analys is. Barry. Richard. Jeffrey. Laundrymen. But terworths. Money Laundering: The Sky s the Limit. .1998.1996. 9) The Banker. Jeffrey. et al. Allan. The Financial Action Task Force on Money Laundering. 5) Parlour. pp 52-53. USA. Annual Report. Illinois. Paris (Feb 10).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->