P. 1
NKP 1

NKP 1

|Views: 3,014|Likes:

More info:

Published by: maharani_arendra4088 on Jun 04, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/24/2013

pdf

text

original

LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI SEKOLAH STAF DAN PIMPINAN MENENGAH

TOPIK ETIKA KEPEMIMPINAN POLRI DAN MIND SET POLRI JUDUL OPTIMALISASI KEPEMIMPINAN KAPOLRES X GUNA MENDUKUNG TRANSFORMASI BUDAYA ORGANISASI DALAM RANGKA MENCAPAI PELAYANAN PRIMA BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Pelayanan adalah suatu proses membantu orang lain dengan cara-cara tertentu dimana sensivitas dan kemampuan interpersonal dibutuhkan untuk menciptakan kepuasan dan loyalitas yang di tentukan dengan keakraban, kehangatan, penghargaan, kedermawanan dan kejujuran yang di lakukan oleh penyedia jasa. Sebagai bagian dari institusi pemerintah di bidang keamanan dan ketertiban Polri mempunyai tugas pokok untuk melindungi mengayomi dan melayani masyarakat. Untuk mewujudkan harapan masyarakat terhadap Polri maka dalam Renstra Polri Tahap II Tahun 2010-2014 ditetapkan salah satu visi Polri yaitu terwujudnya Pelayanan Kamtibmas Prima dengan indikator terciptanya kondisi masyarakat yang bebas dari gangguan dan ketakutan. Salah satu agenda utama dalam reformasi birokrasi Polri adalah Manajemen Perubahan Budaya. Manajemen perubahan dan transformasi budaya melalui transformasi budaya organisasi. Transformasi budaya organisasi Polri dalam rangka mencapai pelayanan prima adalah hal yang tidak mudah dan sederhana bagi Polri saat ini. Masih adanya kendala internal dan ekternal merupakan tantangan yang harus di hadapi dan dipecahkan solusinya. Brown (1998:743) menyatakan bahwa para pemimpin menyampaikan budaya melalui apa yang mereka katakan dan apa yang mereka lakukan1. Peran kepemimpinan dalam organisasi sangat esensial dan menentukan arah organisasi. Salah satu solusi untuk mendukung tercapainya
1

Brown, R. 1998. Organizational Culture. Prentice Hall Inc, Toronto.

1

BAB II PEMBAHASAN E.5 km² dengan jumlah penduduk 182. 9 Kelurahan dan 389 Kampung . Jumlah anggota Polres adalah 702 personel terdiri dari 697 Polri dan 5 Pegawai Negeri Sipil. Bagaimana pengaruh Kepemimpinan Kapolres X terhadap transformasi budaya organisasi? D. Polres X terus melakukan upaya perbaikan kinerjanya dalam tercapainya pelayanan prima di Polres X. Faktor – faktor yang mempengaruhi keberhasilan Kepemimpinan Kapolres X ? 3. Mayoritas penduduknya bekerja di sektor laut.269 jiwa terbagi dalam 25 Distrik. Bagaimana Model kepemimpinan Kapolres X ? 2. Terkait dengan judul naskah ada beberapa hal yang bisa penulis kemukakan : 2 . Persoalan Adapun persoalan dalam penulisan ini adalah : 1. B. Fakta – fakta Polres X memiliki luas wilayah 10. hutan dan pertanian.235. Dalam pelaksanaan tugas ada beberapa kelebihan dan kelemahan. Hal ini merupakan salah satu unsur penentu keberhasilan organisasi dalam menuju perubahan dalam rangka mencapai pelayanan prima terhadap masyarakat. Ruang Lingkup Ruang lingkup penulisan dibatasi pada pembahasan upaya optimalisasi Kepemimpinan Kapolres X guna mendukung transformasi budaya organisasi dalam rangka mencapai pelayanan prima di Polres X.pelayanan prima melalui transformasi budaya organisasi adalah mengoptimalkan kepemimpinan Kapolres untuk menanamkan dan memperkuat aspek-aspek budaya organisasi baik melalui perkataan maupun perilakunya didalam memimpin organisasinya. Permasalahan Berdasarkan uraian di atas maka penulis merumuskan permasalahan dalam tulisan ini adalah “ Bagaimana optimalisasi Kepemimpinan Kapolres X guna mendukung transformasi budaya organisasi dalam rangka mencapai pelayanan prima ” C.

2) Memberikan sanksi dan teguran melalui mekanisme sidang disiplin maupun kode etik profesi terhadap anggota yang melakukan pelanggaran 3 . 2) Kapolres X turun secara langsung dalam melaksanakan pembinaan kegiatan agama untuk meningkatkan keimanan anggota dan membina kerukunan.1. khususnya di penjagaan dan ruangan-ruangan pelayanan kepada masyarakat. 3) Kapolres X memimpin kegiatan tatap muka dengan anggota secara rutin dalam rangka menampung aspirasi dari anggota Polres X 4) Kapolres X berusaha senantiasa hadir di tengah-tengah anggota dalam pelaksanaan tugas pengamanan unjuk rasa maupun dalam pelaksanaan olah TKP. 3) Pembangunan sarana SPBU dan gudang BBM untuk Polres X 4) Memperhatikan aspek kebersihan dan kerapian lingkungan Polres X. 5) Kapolres X berusaha memberian secara langsung santunan atau sumbangan kepada setiap personel yang sakit atau mendapat musibah. c. Hubungan interpersonal dengan anggota 1) Kapolres X berusaha untuk menjadi contoh dalam pelaksanaan tugas sehari hari . 2) Perbaikan dan penambahan ruangan pelayanan SKCK Satuan Intelkam. b. Menciptakan lingkungan fisik yang baru 1) Pembangunan fasilitas pos pol Satuan Polisi Perairan di Polres X yang sebelumnya belum ada. mulai dari apel pagi hingga kerapian dalam penampilan kesehariannya. Model Kepemimpinan Kapolres X a. 6) Kapolres X terus menciptakan media komunikasi informal dengan mengundang anggota ke kediaman Kapolres untuk bertatap muka secara langsung. Apresiasi terhadap kinerja anggota 1) Mutasi memperhatikan kinerja. transparan dengan memperhatikan masukan staf.

4 . Pola hubungan keluar : 1) Kapolres X melaksanakan komunikasi intens baik dengan Jaksa dan Hakim selaku bagian integral dari Criminal Justice System maupun dengan Bupati dan Dandim sebagai satu kesatuan Musyawarah Pimpinan Daerah. Faktor – faktor yang mempengaruhi a.3) Kapolres X tidak mempersulit anggota yang akan mengajukan ijin atau cuti selama sesuai prosedur 4) Anggaran didistribusikan sesuai mekanisme dan utuh kepada satuan bawah. 3) Dedikasi anggota untuk menyelesaikan setiap kasus kejahatan cukup kuat. kegiatan Polres. Faktor pendukung 1) Latar belakang pendidikan dan pengalaman tugas Kapolres X sudah teruji dan bisa diandalkan. d. 2) Kapolres X membina komunikasi dengan tokoh-tokoh masyarakat dari berbagai golongan maupun lintas agama dengan menghadiri undangan-undangan acara kemasyarakatan maupun keagamaan. 3) Kapolres X juga membuka komunikasi luas dengan media massa dengan memberikan keterangan-keterangan mengenai program baru. 2. maupun kejadian-kejadian menonjol yang terjadi di wilayah hukum Polres X. Faktor penghambat 1) Keterbatasan fasilitas komunikasi maupun Peralatan Dalmas / PHH yang dimiliki sebagai penunjang pelaksanaan giat Kepolisian maupun Operasi kepolisian. 4) Profesionalisme personil Polres X dalam melaksanakan tugas operasional 5) Kerja sama pihak – pihak terkait untuk membantu Polres X dalam mengungkap setiap kasus dan menjaga situasi kamtibmas. b. 2) Unsur jajaran di Polres X mempunyai komitmen kuat untuk mendukung perncapaiain visi dan misi organisasi secara bersama sama.

NO BULAN JANUARI FEBRUARI MARET APRIL TINDAKAN DISIPLIN PIDANA PENGHARGAAN JUMLAH 1 2 3 4 4 5 5 4 1 1 1 - 1 2 2 1 6 8 8 5 Sumber : Laporan Bulanan Sie Propam Polres X Bulan April 2012 Data jumlah anggota yang tidak hadir tanpa keterangan dari Januari s/d April 2012 Tabel 2. 2. 3) Keterbatasan lahan dan kondisi bangunan mako Polres X yang terbatas dan kondisi wilayah yang terus berkembang sebagai ibu kota propinsi. 3. Dari Tabel 1 di atas jumlah tindakan disiplin yang ada berjumlah 18 kali. Data masih bersifat fluktuatif 5 . Pengaruh kepemimpinan Kapolres X terhadap transformasi budaya organisasi a. 3. BULAN JANUARI FEBRUARI MARET APRIL JUMLAH 20 19 19 18 Kapolres X menerapkan sistem reward and punishment untuk menilai kinerja anggotanya. Disiplin Anggota Pelanggaran dan penghargaan kurun waktu Januari s/d April 2012 Tabel 1. 4. pidana 3 kali sedangkan untuk penghargaan 6 kali.2) Kurangnya jumlah personel Polres X dibandingkan dengan DSPP. 4) Kondisi geografis wilayah Polres X yang terdiri dari perbukitan dan pegungungan menyebabkan komunikasi secara langsung Kapolres X dengan jajaran di Polsek terpencil sangat minim. NO 1.

namun disisi lain juga menjadi evaluasi bagi Kapolres untuk meningkatkan kegiatan pencegahan kejahatan untuk menurunkan angka crime total di wilayah hukum Polres X. Meskipun jumlah tindak pidana meningkat namun diimbangi dengan jumlah penyelesaian perkara.3% CT 32 MAR CC 21 % 65. Dari Tabel 2 di atas dapat di lihat bahwa periode Januari – April 2012 rata-rata anggota di Polres X setiap bulannya yang tidak hadir tanpa keterangan berjumlah 19 orang. Pada satu sisi hal ini merupakan salah satu indikator produktivitas di bidang fungsi Reserse.9% CT 30 FEB CC 19 % 63. NO 1. Jumlah ini berkisar 2.7% dari keseluruhan anggota dan merupakan prosentase yang tergolong tinggi.sehingga belum dapat disimpulkan hubungan antara sistem reward and punishment dan perilaku maupun kinerja anggota. Kinerja Sat Lantas Data Kejadian Laka Lantas dan Langgar Lantas Januari s/d Maret 2012 Tabel 4. b. Hal ini perlu menjadi evaluasi bagi Kapolres X dalam melaksanakan pengawasan dan pengendalian kepada anggota khususnya terkait kedisiplinan waktu dan kerja. Kinerja Sat Reskrim Data crime total dan crime clearance periode Januari s/d Maret 2012 Tabel 3 JAN CT 23 CC 14 % 60. URAIAN LAKA LANTAS JANUARI CT 6 KASUS CC 5 KASUS P 21 : 3 KASUS KEL : 2 KASUS FEBRUARI CT 5 KASUS CC 2 KASUS KEL 2 KASUS SISA 3 KASUS MARET CT 4 KASUS CC 1 KASUS KEL 1 KASUS SISA 3 KASUS 6 .6% Dari Tabel 3 di atas dapat diketahui terjadi peningkatan jumlah tindak pidana (crime total) dan jumlah penyelesaian perkara (crime clearance) selama periode Januari s/d Maret 2012. c.

000.000. Bentuk atau Model Kepemimpinan Kapolres X Burt Nanus (1999 : 18) menemukan model khusus yang digunakan untuk memahami peran pemimpin organisasi non profit yang diwujudkan dalam kegiatan. yaitu:2 2 Nanus.00 1 ORANG 3 ORANG 5 ORANG Rp 27.00 3 ORANG 3 ORANG 5 ORANG Rp 22.00 342 KASUS Rp 43.500. Sementara untuk pelanggaran lalu lintas masih fluktuatif sehingga belum dapat disimpulkan efektifitas kinerja Sat Lantas di bidang tersebut.500.700. 1999.00. Burt and Stephen M.500. Leaders Make Different Strategies for Meetingthe Non Profit Challenge. 7 .00 359 KASUS Rp 45.SISA : 1 KASUS KORBAN : MD LB LR RUGI MATERI 2 LANGGAR LANTAS DENDA 2 ORANG 3 ORANG 5 ORANG Rp 64. Kedua hal ini menunjukan indikator produktivitas di bidang Fungsi Lantas F.800.000.00 365 KASUS Rp 46. Analisa Berdasarkan fakta-fakta di atas maka dapat penulis analisa beberapa hal sebagai berikut : 1.000.00 Dari Tabel 4 di atas menunjukkan adanya penurunan jumlah laka lantas setiap bulannya. San Francisco: Jossey bass. Dobbs.150.000.

Citra Polri yang ingin ditampilkan oleh Kapolres X menjadi visi yang mendasari model kepemimpinannya dalam kegiatan pembinaan personel yang ditujukan untuk adanya transformasi budaya sehingga trend peningkatan kejahatan maupun peningkatan laka dan langgar lantas dapat diantisipasi dengan baik seiring dengan meningkatnya disiplin anggota. Pemberi Visi dan Strategi Pemimpin adalah orang yang bertanggung jawab untuk menggerakkan organisasi ke arah yang benar. perbaikan ruang SKCK dan kebersihan serta kerapihan Mapolres X menjadi nilai tambah yang dapat menambah tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja pelayanan kepolisian. Pelatih Pemimpin sebagai pelatih dimaksudkan bahwa pemimpin bertanggung jawab membangun kerjasama tim atau regu dan membina orang-orang dalam organisasi. Politisi dan Juru Bicara Pemimpin adalah politisi dan juru bicara. Peningkatan kualitas layanan yang diwujudkan dengan penciptaan lingkungan fisik seperti Pos Pol. Visi ini dijabarkan oleh Kapolres X dengan strategistrategi yang dipaparkan kepada anggota Polres X agar dapat mengerti visi yang diharapkan dan bagaimana mencapainya. Kapolres X mampu memposisikan diri sebagai cerminan bagi organisasi yang dipimpinnya di hadapan masyarakat maupun lingkup CJS dan Muspida. Apresiasi elemen pemimpin daerah dan masyarakat terhadap kinerja kepolisian di wilayah kabupaten tersebut tidak lepas dari peran Kapolres X sebagai politisi dan juru bicara bagi organisasi yang dipimpinnya. d. Kelemahan struktur organisasi yaitu kurangnya jumlah anggota harus dapat diatasi dengan optimalisasi peran anggota di lapangan. artinya berperan sebagai penasehat. b. Agen Perubahan 8 . Aspek yang harus diperhatikan oleh Kapolres X adalah memperkuat sistem informasi sehingga pembaharuan data dapat terpantau secara kontinyu dan dapat membantu pimpinan untuk mengadaptasi perubahan strategi. Kapolres X telah melaksanakan fungsi coaching dengan baik yang dapat dilihat dari hubungan interpersonal yang dekat dengan para perwira maupun anggota secara formil maupun non formil. Pemodelan peran dengan terjun langsung dan menjadi teladan dalam pelaksanaan tugas juga menjadi nilai tambah peran pelatih yang dijalankan. juru bicara dan negosiator terhadap bawahannya. c.a. selain itu juga informasi yang lancar diharapkan dapat mengatasi kendala jarak antara Polres X ke polsek-polsek jajaran.

2. nilai-nilai dan perhatian lain kepada anggota secara formal maupun informal. Perhatian Kapolres X dalam menjalankan kepemimpinannya berusaha untuk mengkomunikasikan prioritas-prioritas. dimana para pemimpin mempunyai potensi yang paling besar dalam menanamkan budaya dan memperkuat aspek-aspek budaya melalui mekanisme antara lain3 a. Reaksi terhadap krisis Kapolres X berusaha untuk menjunjung nilai-nilai kebersamaan dalam menghadapi situasi.Pemimpin mempunyai pengaruh besar dalam pengambilan keputusan untuk perubahan dengan memperkenalkan program-program baru dan menciptakan strategi kerja sama dengan publik. Jakarta. 9 . ke dalam. Dalam pelaksanannya Kapolres X harus berfokus pada peningkatan program-program pencegahan kejahatan maupun pelanggaran lalu lintas dengan perkuatan fungsi Bina Mitra untuk mengantisipasi trend di masa mendatang. 1998. meningkatnya crime total. Kapolres X berusaha untuk mengajak anggota tetap percaya diri dan mendorong lebih rajin dalam bekerja. Gary. Berdasarkan hasil analisa diatas dapat dilihat bahwa model kepemimpinan yang dilaksanakan oleh Kapolres X telah memperhatikan aspek ke luar. Kepemimpinan dalam Organisasi (Edisi Bahasa Indonesia). masih adanya pelanggaran kode etik maupun tindak pidana yang dilakukan anggota. sedangkan dalam 3 Yukl. Prenhallindo. Kapolres juga menyediakan wahana khusus bagi anggota untuk menyampaikan aspirasinya. c. Pengaruh Kepemimpinan Kapolres X guna mendukung transformasi budaya Schein dalam Yukl (1998:300-301) mengemukakan peranan pemimpin dalam budaya organisasi. Kapolres X harus mencermati hal-hal yang masih menjadi bahan evaluasi seperti masih tingginya prosentase anggota yang tidak masuk tanpa keterangan. khususnya dalam rangka pelaksanaan tugas seperti menghadapi massa atau kasus-kasus menonjol yang mendapat perhatian publik atau media massa. Pemodelan peran Kapolres X berusaha untuk memberikan contoh dalam hal ketepatan waktu apel pagi dan mematuhi jam dinas kantor bagi anggota yang berseragam. b. serta fluktuasi tingkat laka lantas dan langgar lantas. dan dalam kondisi masa kini namun belum memberi perhatian yang sama besar terhadap bagiamana kecenderungan trend di masa mendatang.

Dalam rangka promosi jabatan untuk anggota Kapolres X memperhatikan dan memperjuangkannya. Evaluasi yang perlu dilaksanakan oleh Kapolres X adalah mengarahkan budaya kerja ini untuk ke masa mendatang yaitu bagaimana menghadapi kecenderungan peningkatan kejahatan maupun laka lantas dan langgar lantas. Dari uraian analisa tersebut maka dapat dikatakan bahwa gaya kepemimpinan Kapolres X telah memenuhi kriteria mekanisme yang baik untuk menanamkan budaya kerja kepada para anggotanya. Budaya kerja ini juga disuarakan pemimpin keluar dengan menjalankan posisinya sebagai bagian Criminal Justice System maupun muspida dan tokoh masyarakat dengan baik. e. Sosialisasi ini dapat berupa arahan pada saat apel. Upaya Pemecahan Masalah Berdasarkan hasil analisa dapat dilihat bahwa Kapolres X adalah kriteria pemimpin yang telah memenuhi kriteria kepemimpinan yang baik dalam hal menanamkan budaya kerja kepada para anggotanya.kehidupan sehari hari Kapolres berusaha untuk menunjukkan pola penampilan sederhana di hadapan anggotanya. ataupun secara khusus menempatkan visi strategi ini di setiap ruangan kerja sehingga seluruh anggota dapat mengadaptasi visi tersebut 10 . Oleh karena itu ada beberapa upaya peningkatan yang perlu dilaksanakan oleh Kapolres X untuk meningkatkan kinerja anggota. Kapolres X berusaha untuk menjadi sosok yang tidak susah di temui bagi anggotanya ketika membutuhkan. Selain itu Kapolres X menyalurkan semua dana anggaran sesuai petunjuk yang ada dan mengikuti peraturan yang ada. Kapolres X memberikan sanksi tegas kepada anggota yang melakukan perbuatan tindak pidana melalui sidang kode etik. Alokasi imbalan-imbalan Kapolres X memberikan apresiasi terhadap kinerja anggota yang dalam tugasnya berprestasi. Kriteria dan memberhentikan karyawan Dalam menempatkan perwira atau bintara untuk menduduki posisi tertentu Kapolres mempertimbangkan saran dan masukan dari pada perwira pembantu dan fungsi terkait melalui mekanisme yang di atur. Kepemimpinan yang dijalankan ini bersifat menguatkan budaya kerja yang bersifat internal (ke dalam) dan dalam masa saat ini (present). d. a. Sosialisasi Visi – Strategi Kapolres mengajak seluruh unsur-unsurnya untuk memahami visi yang ingin dicapai. G. kepada anggota yang melakukan pelanggaran Kapolres X memberikan sanksi yang di sesuaikan dengan mekanisme pengambilan sanksi.

dalam hal ini Kapolres X. di samping kunjungan kerja secara langsung. artinya ketika program tersebut dijalankan dan tidak membawa hasil yang diinginkan maka harus dilakukan perubahanperubahan. Pembaharuan data merupakan masukan bagi Kapolres X sebagai salah satu alat untuk melaksanakan analisa dan evaluasi sebagai bentuk pengendalian program yang dijalankan di Polres X. Jika terjadi resistensi maka Kapolres X harus siap untuk melaksanakan perubahan program untuk mencapai sasaran yang lebih realistis. Kesimpulan 11 . Polres X sebagai penyedia jasa layanan juga seharusnya mempunyai sarana media menampung aspirasi masyarakat yang dapat dijadikan indikator tingkat kepuasan masyarakat terhadap pelayanan di Polres X. CT. Data-data seperti CC. b. BAB III PENUTUP H. Dengan kemajuan teknologi saat ini aliran data tidak lagi harus berupa laporan tertulis namun dapat berupa laporan elektronik yang mempersingkat waktu akses. c. Penolakan secara tertutup bisa dengan secara mengabaikan dan tidak menjalankan program yang dimaksud. Penguatan budaya internal yang dilakukan Kapolres X sudah baik. Misalnya dengan menyediakan kotak saran atau mini angket sehingga ada input bagi Kapolres X untuk mengevaluasi program kerja.dengan baik. Perbaikan Sistem Informasi Sistem Informasi seharusnya menjadi instrumen vital dalam sebuah organisasi karena menjadi dasar pengambilan keputusan bagi pimpinan organisasi. Hal ini menuntut peningkatan fungsi Bina Mitra baik yang dilaksanakan oleh anggota Bina Mitra sendiri maupun anggota fungsi-fungsi lain. Perubahan sekecil apapun dalam lingkungan kerja berpotensi menimbulkan resistensi baik secara terbuka maupun tertutup. namun demikian adanya trend peningkatan kejahatan maupun laka dan langgar lantas menuntut ditimbulkannya paradigma baru yakni pencegahan. Adaptasi Program Program kerja yang dijalankan harus bersifat adaptif. Sistem Informasi juga dapat menjadi alternatif solusi kegiatan pengawasan dan pengendalian terhadap polsek-polsek yang jaraknya jauh dari Polres. baik di bidang reskrim maupun lantas harus dapat diakses setiap saat dan diperbaharui sesuai dengan jumlah terbaru.

Kapolres X dalam menjalankan kepemimpinan telah mengadakan kegiatan yang bersifat pembinaan ke dalam organisasi pada saat ini (present). Evaluasi terhadap Kapolres X adalah harus ada kerangka berpikir untuk menanamkan budaya yang bercirikan ke luar organisasi dan memperhatikan trend di masa mendatang. Saran a Untuk merencanakan dan mengimplementasikan transformasi budaya organisasi dalam rangka mencapai pelayanan prima di Polres X maka perlu kepemimpinan Kapolres X yang kuat melalui tindakan tindakan pimpinan dalam mempengaruhi. mengarahkan anggota organisasi untuk mencapai perubahan yang diharapkan. reaksi terhadap krisis. pemodelan peran. c Dari sisi luat untuk mendukung transformasi budaya organisasi yang transparan Kapolres X bisa memberdayaan masyarakat melalui kemudahan akses informasi dan partisipasi masyarakat dalam bentuk saran balik untuk perbaikan kinerja Polres X. I. Menyebarkan visi dan misi Polres X melalui perkataan dan tindakan yang kuat serta konsisten maka Kapolres X akan menciptakan budaya organisasi yang kuat dan karakter mind set anggota yang berorientasi melayani bukan di layani. Dengan demikian aspek kepemimpinan visionary and strategies dan peran Kapolres X sebagai agen perubahan transformasi budaya organisasi dapat terpenuhi. b Kapolres X agar memperkuat aspek sumber daya manusia dan teknologi kepada jajaran anggota dengan mengadakan pelatihan Manajemen Course dan pengenalan sistem informasi manajemen berbasis komputer dalam rangka beradaptasi dengan perkembangan dan tuntutan masyarakat di masa depan yang semakin meningkat dalam bidang pelayanan. alokasi imbalan-imbalan. serta kriteria dan pemberhentian jabatan. Kapolres X telah berhasil telah memenuhi kriteria mekanisme yang baik untuk menanamkan budaya kerja kepada para anggotanya melalui pemberian atensi. 12 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->