LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI SEKOLAH STAF DAN PIMPINAN MENENGAH

TOPIK ETIKA KEPEMIMPINAN POLRI DAN MIND SET POLRI JUDUL OPTIMALISASI KEPEMIMPINAN KAPOLRES X GUNA MENDUKUNG TRANSFORMASI BUDAYA ORGANISASI DALAM RANGKA MENCAPAI PELAYANAN PRIMA BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Pelayanan adalah suatu proses membantu orang lain dengan cara-cara tertentu dimana sensivitas dan kemampuan interpersonal dibutuhkan untuk menciptakan kepuasan dan loyalitas yang di tentukan dengan keakraban, kehangatan, penghargaan, kedermawanan dan kejujuran yang di lakukan oleh penyedia jasa. Sebagai bagian dari institusi pemerintah di bidang keamanan dan ketertiban Polri mempunyai tugas pokok untuk melindungi mengayomi dan melayani masyarakat. Untuk mewujudkan harapan masyarakat terhadap Polri maka dalam Renstra Polri Tahap II Tahun 2010-2014 ditetapkan salah satu visi Polri yaitu terwujudnya Pelayanan Kamtibmas Prima dengan indikator terciptanya kondisi masyarakat yang bebas dari gangguan dan ketakutan. Salah satu agenda utama dalam reformasi birokrasi Polri adalah Manajemen Perubahan Budaya. Manajemen perubahan dan transformasi budaya melalui transformasi budaya organisasi. Transformasi budaya organisasi Polri dalam rangka mencapai pelayanan prima adalah hal yang tidak mudah dan sederhana bagi Polri saat ini. Masih adanya kendala internal dan ekternal merupakan tantangan yang harus di hadapi dan dipecahkan solusinya. Brown (1998:743) menyatakan bahwa para pemimpin menyampaikan budaya melalui apa yang mereka katakan dan apa yang mereka lakukan1. Peran kepemimpinan dalam organisasi sangat esensial dan menentukan arah organisasi. Salah satu solusi untuk mendukung tercapainya
1

Brown, R. 1998. Organizational Culture. Prentice Hall Inc, Toronto.

1

Bagaimana pengaruh Kepemimpinan Kapolres X terhadap transformasi budaya organisasi? D. Ruang Lingkup Ruang lingkup penulisan dibatasi pada pembahasan upaya optimalisasi Kepemimpinan Kapolres X guna mendukung transformasi budaya organisasi dalam rangka mencapai pelayanan prima di Polres X. BAB II PEMBAHASAN E. B. Permasalahan Berdasarkan uraian di atas maka penulis merumuskan permasalahan dalam tulisan ini adalah “ Bagaimana optimalisasi Kepemimpinan Kapolres X guna mendukung transformasi budaya organisasi dalam rangka mencapai pelayanan prima ” C. hutan dan pertanian. Jumlah anggota Polres adalah 702 personel terdiri dari 697 Polri dan 5 Pegawai Negeri Sipil. Hal ini merupakan salah satu unsur penentu keberhasilan organisasi dalam menuju perubahan dalam rangka mencapai pelayanan prima terhadap masyarakat. Terkait dengan judul naskah ada beberapa hal yang bisa penulis kemukakan : 2 . Faktor – faktor yang mempengaruhi keberhasilan Kepemimpinan Kapolres X ? 3.5 km² dengan jumlah penduduk 182.269 jiwa terbagi dalam 25 Distrik. 9 Kelurahan dan 389 Kampung . Dalam pelaksanaan tugas ada beberapa kelebihan dan kelemahan.235. Polres X terus melakukan upaya perbaikan kinerjanya dalam tercapainya pelayanan prima di Polres X. Fakta – fakta Polres X memiliki luas wilayah 10. Persoalan Adapun persoalan dalam penulisan ini adalah : 1. Mayoritas penduduknya bekerja di sektor laut.pelayanan prima melalui transformasi budaya organisasi adalah mengoptimalkan kepemimpinan Kapolres untuk menanamkan dan memperkuat aspek-aspek budaya organisasi baik melalui perkataan maupun perilakunya didalam memimpin organisasinya. Bagaimana Model kepemimpinan Kapolres X ? 2.

transparan dengan memperhatikan masukan staf. 2) Memberikan sanksi dan teguran melalui mekanisme sidang disiplin maupun kode etik profesi terhadap anggota yang melakukan pelanggaran 3 . mulai dari apel pagi hingga kerapian dalam penampilan kesehariannya. b. 3) Pembangunan sarana SPBU dan gudang BBM untuk Polres X 4) Memperhatikan aspek kebersihan dan kerapian lingkungan Polres X. Hubungan interpersonal dengan anggota 1) Kapolres X berusaha untuk menjadi contoh dalam pelaksanaan tugas sehari hari . Menciptakan lingkungan fisik yang baru 1) Pembangunan fasilitas pos pol Satuan Polisi Perairan di Polres X yang sebelumnya belum ada. 2) Perbaikan dan penambahan ruangan pelayanan SKCK Satuan Intelkam.1. khususnya di penjagaan dan ruangan-ruangan pelayanan kepada masyarakat. Model Kepemimpinan Kapolres X a. Apresiasi terhadap kinerja anggota 1) Mutasi memperhatikan kinerja. 5) Kapolres X berusaha memberian secara langsung santunan atau sumbangan kepada setiap personel yang sakit atau mendapat musibah. 6) Kapolres X terus menciptakan media komunikasi informal dengan mengundang anggota ke kediaman Kapolres untuk bertatap muka secara langsung. 3) Kapolres X memimpin kegiatan tatap muka dengan anggota secara rutin dalam rangka menampung aspirasi dari anggota Polres X 4) Kapolres X berusaha senantiasa hadir di tengah-tengah anggota dalam pelaksanaan tugas pengamanan unjuk rasa maupun dalam pelaksanaan olah TKP. 2) Kapolres X turun secara langsung dalam melaksanakan pembinaan kegiatan agama untuk meningkatkan keimanan anggota dan membina kerukunan. c.

4) Profesionalisme personil Polres X dalam melaksanakan tugas operasional 5) Kerja sama pihak – pihak terkait untuk membantu Polres X dalam mengungkap setiap kasus dan menjaga situasi kamtibmas. Faktor pendukung 1) Latar belakang pendidikan dan pengalaman tugas Kapolres X sudah teruji dan bisa diandalkan. 2) Kapolres X membina komunikasi dengan tokoh-tokoh masyarakat dari berbagai golongan maupun lintas agama dengan menghadiri undangan-undangan acara kemasyarakatan maupun keagamaan. kegiatan Polres. 2) Unsur jajaran di Polres X mempunyai komitmen kuat untuk mendukung perncapaiain visi dan misi organisasi secara bersama sama. 3) Kapolres X juga membuka komunikasi luas dengan media massa dengan memberikan keterangan-keterangan mengenai program baru. b. Faktor – faktor yang mempengaruhi a. d. 2. 4 . Pola hubungan keluar : 1) Kapolres X melaksanakan komunikasi intens baik dengan Jaksa dan Hakim selaku bagian integral dari Criminal Justice System maupun dengan Bupati dan Dandim sebagai satu kesatuan Musyawarah Pimpinan Daerah. Faktor penghambat 1) Keterbatasan fasilitas komunikasi maupun Peralatan Dalmas / PHH yang dimiliki sebagai penunjang pelaksanaan giat Kepolisian maupun Operasi kepolisian.3) Kapolres X tidak mempersulit anggota yang akan mengajukan ijin atau cuti selama sesuai prosedur 4) Anggaran didistribusikan sesuai mekanisme dan utuh kepada satuan bawah. maupun kejadian-kejadian menonjol yang terjadi di wilayah hukum Polres X. 3) Dedikasi anggota untuk menyelesaikan setiap kasus kejahatan cukup kuat.

2) Kurangnya jumlah personel Polres X dibandingkan dengan DSPP. Dari Tabel 1 di atas jumlah tindakan disiplin yang ada berjumlah 18 kali. pidana 3 kali sedangkan untuk penghargaan 6 kali. 2. Data masih bersifat fluktuatif 5 . NO 1. NO BULAN JANUARI FEBRUARI MARET APRIL TINDAKAN DISIPLIN PIDANA PENGHARGAAN JUMLAH 1 2 3 4 4 5 5 4 1 1 1 - 1 2 2 1 6 8 8 5 Sumber : Laporan Bulanan Sie Propam Polres X Bulan April 2012 Data jumlah anggota yang tidak hadir tanpa keterangan dari Januari s/d April 2012 Tabel 2. 3. 4) Kondisi geografis wilayah Polres X yang terdiri dari perbukitan dan pegungungan menyebabkan komunikasi secara langsung Kapolres X dengan jajaran di Polsek terpencil sangat minim. Pengaruh kepemimpinan Kapolres X terhadap transformasi budaya organisasi a. Disiplin Anggota Pelanggaran dan penghargaan kurun waktu Januari s/d April 2012 Tabel 1. BULAN JANUARI FEBRUARI MARET APRIL JUMLAH 20 19 19 18 Kapolres X menerapkan sistem reward and punishment untuk menilai kinerja anggotanya. 3) Keterbatasan lahan dan kondisi bangunan mako Polres X yang terbatas dan kondisi wilayah yang terus berkembang sebagai ibu kota propinsi. 3. 4.

6% Dari Tabel 3 di atas dapat diketahui terjadi peningkatan jumlah tindak pidana (crime total) dan jumlah penyelesaian perkara (crime clearance) selama periode Januari s/d Maret 2012.3% CT 32 MAR CC 21 % 65. Kinerja Sat Reskrim Data crime total dan crime clearance periode Januari s/d Maret 2012 Tabel 3 JAN CT 23 CC 14 % 60.9% CT 30 FEB CC 19 % 63. Hal ini perlu menjadi evaluasi bagi Kapolres X dalam melaksanakan pengawasan dan pengendalian kepada anggota khususnya terkait kedisiplinan waktu dan kerja. b.sehingga belum dapat disimpulkan hubungan antara sistem reward and punishment dan perilaku maupun kinerja anggota. NO 1. c. Pada satu sisi hal ini merupakan salah satu indikator produktivitas di bidang fungsi Reserse. Meskipun jumlah tindak pidana meningkat namun diimbangi dengan jumlah penyelesaian perkara. Dari Tabel 2 di atas dapat di lihat bahwa periode Januari – April 2012 rata-rata anggota di Polres X setiap bulannya yang tidak hadir tanpa keterangan berjumlah 19 orang. Jumlah ini berkisar 2.7% dari keseluruhan anggota dan merupakan prosentase yang tergolong tinggi. namun disisi lain juga menjadi evaluasi bagi Kapolres untuk meningkatkan kegiatan pencegahan kejahatan untuk menurunkan angka crime total di wilayah hukum Polres X. URAIAN LAKA LANTAS JANUARI CT 6 KASUS CC 5 KASUS P 21 : 3 KASUS KEL : 2 KASUS FEBRUARI CT 5 KASUS CC 2 KASUS KEL 2 KASUS SISA 3 KASUS MARET CT 4 KASUS CC 1 KASUS KEL 1 KASUS SISA 3 KASUS 6 . Kinerja Sat Lantas Data Kejadian Laka Lantas dan Langgar Lantas Januari s/d Maret 2012 Tabel 4.

SISA : 1 KASUS KORBAN : MD LB LR RUGI MATERI 2 LANGGAR LANTAS DENDA 2 ORANG 3 ORANG 5 ORANG Rp 64. Analisa Berdasarkan fakta-fakta di atas maka dapat penulis analisa beberapa hal sebagai berikut : 1. Sementara untuk pelanggaran lalu lintas masih fluktuatif sehingga belum dapat disimpulkan efektifitas kinerja Sat Lantas di bidang tersebut. Dobbs.000.500.00 1 ORANG 3 ORANG 5 ORANG Rp 27. yaitu:2 2 Nanus. Burt and Stephen M. Leaders Make Different Strategies for Meetingthe Non Profit Challenge.500.00 359 KASUS Rp 45.00 342 KASUS Rp 43. 1999. San Francisco: Jossey bass.500.700.150.00 365 KASUS Rp 46.000.000. 7 .000.00 3 ORANG 3 ORANG 5 ORANG Rp 22.00 Dari Tabel 4 di atas menunjukkan adanya penurunan jumlah laka lantas setiap bulannya.800. Bentuk atau Model Kepemimpinan Kapolres X Burt Nanus (1999 : 18) menemukan model khusus yang digunakan untuk memahami peran pemimpin organisasi non profit yang diwujudkan dalam kegiatan. Kedua hal ini menunjukan indikator produktivitas di bidang Fungsi Lantas F.00.000.

artinya berperan sebagai penasehat. Agen Perubahan 8 . Kelemahan struktur organisasi yaitu kurangnya jumlah anggota harus dapat diatasi dengan optimalisasi peran anggota di lapangan. Kapolres X telah melaksanakan fungsi coaching dengan baik yang dapat dilihat dari hubungan interpersonal yang dekat dengan para perwira maupun anggota secara formil maupun non formil. d. juru bicara dan negosiator terhadap bawahannya. Citra Polri yang ingin ditampilkan oleh Kapolres X menjadi visi yang mendasari model kepemimpinannya dalam kegiatan pembinaan personel yang ditujukan untuk adanya transformasi budaya sehingga trend peningkatan kejahatan maupun peningkatan laka dan langgar lantas dapat diantisipasi dengan baik seiring dengan meningkatnya disiplin anggota. Apresiasi elemen pemimpin daerah dan masyarakat terhadap kinerja kepolisian di wilayah kabupaten tersebut tidak lepas dari peran Kapolres X sebagai politisi dan juru bicara bagi organisasi yang dipimpinnya. Kapolres X mampu memposisikan diri sebagai cerminan bagi organisasi yang dipimpinnya di hadapan masyarakat maupun lingkup CJS dan Muspida. perbaikan ruang SKCK dan kebersihan serta kerapihan Mapolres X menjadi nilai tambah yang dapat menambah tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja pelayanan kepolisian. selain itu juga informasi yang lancar diharapkan dapat mengatasi kendala jarak antara Polres X ke polsek-polsek jajaran. b. Pemodelan peran dengan terjun langsung dan menjadi teladan dalam pelaksanaan tugas juga menjadi nilai tambah peran pelatih yang dijalankan. Pemberi Visi dan Strategi Pemimpin adalah orang yang bertanggung jawab untuk menggerakkan organisasi ke arah yang benar. Visi ini dijabarkan oleh Kapolres X dengan strategistrategi yang dipaparkan kepada anggota Polres X agar dapat mengerti visi yang diharapkan dan bagaimana mencapainya. Aspek yang harus diperhatikan oleh Kapolres X adalah memperkuat sistem informasi sehingga pembaharuan data dapat terpantau secara kontinyu dan dapat membantu pimpinan untuk mengadaptasi perubahan strategi. Peningkatan kualitas layanan yang diwujudkan dengan penciptaan lingkungan fisik seperti Pos Pol. c.a. Pelatih Pemimpin sebagai pelatih dimaksudkan bahwa pemimpin bertanggung jawab membangun kerjasama tim atau regu dan membina orang-orang dalam organisasi. Politisi dan Juru Bicara Pemimpin adalah politisi dan juru bicara.

nilai-nilai dan perhatian lain kepada anggota secara formal maupun informal. ke dalam. Pengaruh Kepemimpinan Kapolres X guna mendukung transformasi budaya Schein dalam Yukl (1998:300-301) mengemukakan peranan pemimpin dalam budaya organisasi. Prenhallindo. sedangkan dalam 3 Yukl. khususnya dalam rangka pelaksanaan tugas seperti menghadapi massa atau kasus-kasus menonjol yang mendapat perhatian publik atau media massa. Perhatian Kapolres X dalam menjalankan kepemimpinannya berusaha untuk mengkomunikasikan prioritas-prioritas. Kapolres X berusaha untuk mengajak anggota tetap percaya diri dan mendorong lebih rajin dalam bekerja. Berdasarkan hasil analisa diatas dapat dilihat bahwa model kepemimpinan yang dilaksanakan oleh Kapolres X telah memperhatikan aspek ke luar. b. meningkatnya crime total. Reaksi terhadap krisis Kapolres X berusaha untuk menjunjung nilai-nilai kebersamaan dalam menghadapi situasi. Dalam pelaksanannya Kapolres X harus berfokus pada peningkatan program-program pencegahan kejahatan maupun pelanggaran lalu lintas dengan perkuatan fungsi Bina Mitra untuk mengantisipasi trend di masa mendatang. Kepemimpinan dalam Organisasi (Edisi Bahasa Indonesia). Kapolres X harus mencermati hal-hal yang masih menjadi bahan evaluasi seperti masih tingginya prosentase anggota yang tidak masuk tanpa keterangan. Kapolres juga menyediakan wahana khusus bagi anggota untuk menyampaikan aspirasinya. 1998. 2. Pemodelan peran Kapolres X berusaha untuk memberikan contoh dalam hal ketepatan waktu apel pagi dan mematuhi jam dinas kantor bagi anggota yang berseragam. Gary. dimana para pemimpin mempunyai potensi yang paling besar dalam menanamkan budaya dan memperkuat aspek-aspek budaya melalui mekanisme antara lain3 a. dan dalam kondisi masa kini namun belum memberi perhatian yang sama besar terhadap bagiamana kecenderungan trend di masa mendatang. serta fluktuasi tingkat laka lantas dan langgar lantas.Pemimpin mempunyai pengaruh besar dalam pengambilan keputusan untuk perubahan dengan memperkenalkan program-program baru dan menciptakan strategi kerja sama dengan publik. c. masih adanya pelanggaran kode etik maupun tindak pidana yang dilakukan anggota. Jakarta. 9 .

Selain itu Kapolres X menyalurkan semua dana anggaran sesuai petunjuk yang ada dan mengikuti peraturan yang ada. Sosialisasi ini dapat berupa arahan pada saat apel. kepada anggota yang melakukan pelanggaran Kapolres X memberikan sanksi yang di sesuaikan dengan mekanisme pengambilan sanksi. Kepemimpinan yang dijalankan ini bersifat menguatkan budaya kerja yang bersifat internal (ke dalam) dan dalam masa saat ini (present). Dalam rangka promosi jabatan untuk anggota Kapolres X memperhatikan dan memperjuangkannya.kehidupan sehari hari Kapolres berusaha untuk menunjukkan pola penampilan sederhana di hadapan anggotanya. ataupun secara khusus menempatkan visi strategi ini di setiap ruangan kerja sehingga seluruh anggota dapat mengadaptasi visi tersebut 10 . Kriteria dan memberhentikan karyawan Dalam menempatkan perwira atau bintara untuk menduduki posisi tertentu Kapolres mempertimbangkan saran dan masukan dari pada perwira pembantu dan fungsi terkait melalui mekanisme yang di atur. Dari uraian analisa tersebut maka dapat dikatakan bahwa gaya kepemimpinan Kapolres X telah memenuhi kriteria mekanisme yang baik untuk menanamkan budaya kerja kepada para anggotanya. Upaya Pemecahan Masalah Berdasarkan hasil analisa dapat dilihat bahwa Kapolres X adalah kriteria pemimpin yang telah memenuhi kriteria kepemimpinan yang baik dalam hal menanamkan budaya kerja kepada para anggotanya. Kapolres X memberikan sanksi tegas kepada anggota yang melakukan perbuatan tindak pidana melalui sidang kode etik. Oleh karena itu ada beberapa upaya peningkatan yang perlu dilaksanakan oleh Kapolres X untuk meningkatkan kinerja anggota. Sosialisasi Visi – Strategi Kapolres mengajak seluruh unsur-unsurnya untuk memahami visi yang ingin dicapai. Alokasi imbalan-imbalan Kapolres X memberikan apresiasi terhadap kinerja anggota yang dalam tugasnya berprestasi. G. Evaluasi yang perlu dilaksanakan oleh Kapolres X adalah mengarahkan budaya kerja ini untuk ke masa mendatang yaitu bagaimana menghadapi kecenderungan peningkatan kejahatan maupun laka lantas dan langgar lantas. e. Kapolres X berusaha untuk menjadi sosok yang tidak susah di temui bagi anggotanya ketika membutuhkan. d. a. Budaya kerja ini juga disuarakan pemimpin keluar dengan menjalankan posisinya sebagai bagian Criminal Justice System maupun muspida dan tokoh masyarakat dengan baik.

dalam hal ini Kapolres X. c. Penolakan secara tertutup bisa dengan secara mengabaikan dan tidak menjalankan program yang dimaksud. namun demikian adanya trend peningkatan kejahatan maupun laka dan langgar lantas menuntut ditimbulkannya paradigma baru yakni pencegahan. Penguatan budaya internal yang dilakukan Kapolres X sudah baik. BAB III PENUTUP H. Perbaikan Sistem Informasi Sistem Informasi seharusnya menjadi instrumen vital dalam sebuah organisasi karena menjadi dasar pengambilan keputusan bagi pimpinan organisasi. Perubahan sekecil apapun dalam lingkungan kerja berpotensi menimbulkan resistensi baik secara terbuka maupun tertutup.dengan baik. baik di bidang reskrim maupun lantas harus dapat diakses setiap saat dan diperbaharui sesuai dengan jumlah terbaru. artinya ketika program tersebut dijalankan dan tidak membawa hasil yang diinginkan maka harus dilakukan perubahanperubahan. Kesimpulan 11 . Hal ini menuntut peningkatan fungsi Bina Mitra baik yang dilaksanakan oleh anggota Bina Mitra sendiri maupun anggota fungsi-fungsi lain. Sistem Informasi juga dapat menjadi alternatif solusi kegiatan pengawasan dan pengendalian terhadap polsek-polsek yang jaraknya jauh dari Polres. b. Data-data seperti CC. CT. di samping kunjungan kerja secara langsung. Polres X sebagai penyedia jasa layanan juga seharusnya mempunyai sarana media menampung aspirasi masyarakat yang dapat dijadikan indikator tingkat kepuasan masyarakat terhadap pelayanan di Polres X. Jika terjadi resistensi maka Kapolres X harus siap untuk melaksanakan perubahan program untuk mencapai sasaran yang lebih realistis. Pembaharuan data merupakan masukan bagi Kapolres X sebagai salah satu alat untuk melaksanakan analisa dan evaluasi sebagai bentuk pengendalian program yang dijalankan di Polres X. Misalnya dengan menyediakan kotak saran atau mini angket sehingga ada input bagi Kapolres X untuk mengevaluasi program kerja. Dengan kemajuan teknologi saat ini aliran data tidak lagi harus berupa laporan tertulis namun dapat berupa laporan elektronik yang mempersingkat waktu akses. Adaptasi Program Program kerja yang dijalankan harus bersifat adaptif.

Evaluasi terhadap Kapolres X adalah harus ada kerangka berpikir untuk menanamkan budaya yang bercirikan ke luar organisasi dan memperhatikan trend di masa mendatang. pemodelan peran. serta kriteria dan pemberhentian jabatan. reaksi terhadap krisis. Kapolres X telah berhasil telah memenuhi kriteria mekanisme yang baik untuk menanamkan budaya kerja kepada para anggotanya melalui pemberian atensi. Dengan demikian aspek kepemimpinan visionary and strategies dan peran Kapolres X sebagai agen perubahan transformasi budaya organisasi dapat terpenuhi. alokasi imbalan-imbalan. 12 . b Kapolres X agar memperkuat aspek sumber daya manusia dan teknologi kepada jajaran anggota dengan mengadakan pelatihan Manajemen Course dan pengenalan sistem informasi manajemen berbasis komputer dalam rangka beradaptasi dengan perkembangan dan tuntutan masyarakat di masa depan yang semakin meningkat dalam bidang pelayanan. c Dari sisi luat untuk mendukung transformasi budaya organisasi yang transparan Kapolres X bisa memberdayaan masyarakat melalui kemudahan akses informasi dan partisipasi masyarakat dalam bentuk saran balik untuk perbaikan kinerja Polres X. Menyebarkan visi dan misi Polres X melalui perkataan dan tindakan yang kuat serta konsisten maka Kapolres X akan menciptakan budaya organisasi yang kuat dan karakter mind set anggota yang berorientasi melayani bukan di layani.Kapolres X dalam menjalankan kepemimpinan telah mengadakan kegiatan yang bersifat pembinaan ke dalam organisasi pada saat ini (present). mengarahkan anggota organisasi untuk mencapai perubahan yang diharapkan. Saran a Untuk merencanakan dan mengimplementasikan transformasi budaya organisasi dalam rangka mencapai pelayanan prima di Polres X maka perlu kepemimpinan Kapolres X yang kuat melalui tindakan tindakan pimpinan dalam mempengaruhi. I.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful