P. 1
SKRIPSIKH

SKRIPSIKH

|Views: 473|Likes:
Published by Gyrooll Doang

More info:

Published by: Gyrooll Doang on Jun 04, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/03/2013

pdf

text

original

Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis dengan analisa statistik

menggunakan rumus kualitatif sebagai berikut :

1.

Analisis Ketuntasan Belajar Siswa

Setelah memperoleh data hasil belajar siswa maka data tersebut

dianalisis dengan mencari ketuntasan belajar kemudian dianalisis secara

kuantitatif. Untuk menghitung ketuntasan belajar siswa digunakan

kriteria sebagai berikut :

a. Ketuntasan individu setiap siswa dalam proses belajar mengajar

dikatakan tuntas secara individu apabila mampu memperoleh nilai

sebagai setandar ketuntasan belajar minimal yang ditetapkan

oleh sekolah tempat penelitian, dalam hal ini adalah SMKN 1

Batukliang. Rumus yang digunakan untuk menentukan ketuntasan

siswa secara individu yaitu :

KB =

x 100

Keterangan :

KB = ketuntasan belajar

T = jumlah skor yang diproleh siswa

Tt = jumlah skor total

33

b. Ketuntasan klasikal

Sesuai dengan petunjuk teknik penilaian kelas dapat

dikatakan tuntas secara klasikal, bila ketuntasan klasikal mencapai

85% (Trianto, 2010).

2.

Indikator Kinerja

1) Siswa dikatakan tuntas belajarnya apabila hasil belajarnya mencapai

KKM yang berlaku disekolah tersebut.

2) Siswa dikatakan tuntas secara klasikal apabila jumlah siswa yang

tuntas mencapai 85% dari seluruh jumlah siswa.

34

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini dilakukan untuk mengetahui peningkatan

ketuntasan belajar siswa kelas XI-Multimedia SMKN 1 Batukliang dengan

penerapan media visual. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 8 juli sampai

dengan 29 Juli 2011. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus, tiap siklus

dilakukan 4 kali pertemuan, dimana pada pertemuan terakhir dilakukan dengan tes

evaluasi untuk mengetahui berhasil atau tidaknya penelitian tersebut.

Data yang diperoleh pada penelitian ini berupa data kuantitatif. Data

kuantitatif berupa data ketuntasan belajar siswa yang diperoleh dari hasil evaluasi.

Adapun analisis data tiap-tiap siklus akan dipaparkan sebagai berikut:

1. Siklus I.

a. Data Ketuntasan Belajar Siswa

Setelah proses pembelajaran pada siklus I selesai maka diadakan

evaluasi atau tes akhir untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa

terhadap materi yang sudah diajarkan. Evaluasi ini diberikan dalam bentuk

tes tulis pilihan ganda dengan jumlah soal sebanyak 32. Untuk lebih

lengkapnya, Data hasil belajar siswa siklus I dapat dilihat pada lampiran

18. Sedangkan tes evaluasinya dapat dilihat pada lampiran 16. Data pada

lampiran tersebut dianalisis sehingga diperoleh hasil sebagai berikut:

35

Tabel 4.1 Data hasil Evaluasi Belajar Siswa Siklus I

Jumlah siswa
yang ikut tes

Jumlah siswa yang
tuntas

Rata-rata

Persentase
Ketuntasan

33 orang

4 orang

63,6

0.12%

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa dari 33 orang siswa yang

mengikuti tes evaluasi, hanya 4 orang siswa yang tuntas dengan nilai rata-rata

siswa adalah 63,6 dan persentase ketuntasan 0.12%. Walaupun nilai rata-

ratanya di atas nilai ketuntasan minimal namun persentase ketuntasannya

belum mencapai persentase ketuntasan secara klasikal yakni 85%. Oleh karena

itu pada siklus I, dikatakan belum berhasil karena hasil belajar siswa belum

mencapai ketuntasan secara klasikal.

b. Refleksi

Masih rendahnya aktivitas dan ketuntasan belajar siswa secara klasikal

seperti yang diperlihatkan pada tabel 4.1 di atas, disebabkan masih banyaknya

kekurangan-kekurangan selama proses pembelajaran. Adapun kekurangan-

kekurangan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Rendahnya perhataian siswa saat guru membuka pembelajaran, seperti

rendahnya perhatian siswa saat guru memberikan motivasi dan apersepsi.

2. Rendahnya interaksi antar siswa dalam diskusi, seperti saat mengerjakan

tugas diskusi kebanyakan yang mengerjakan hanya seorang saja tanpa

adanya kerja sama antar anggota.

3. Sedikitnya contoh soal yang diberikan guru pada siswa.

36

4. Rendahnya partisipasi siswa saat guru menutup pelajaran, seperti

sedikitnya siswa yang mau membuat rangkuman hasil belajar dan

menyimpulkan materi yang dibahas.

5. Masih rendahnya interaksi siswa dengan guru, seperti interaksi saat

pembelajaran dan diskusi

Memperhatikan kekurangan-kekurangan di atas, maka rencana

perbaikan yang akan dilakukan pada siklus II adalah:

1. Guru berusaha menarik perhatian siswa saat akan membuka pelajaran

dengan cara guru berusaha menarik perhatian siswa, misalnya dengan

memukul bangku pake penghapus atau memperlihatkan langsung media

visual pembelajaran. Setelah merasa semua siswa memperhatikan barulah

guru membuka pelajaran.

2. Untuk meningkatkan interaksi antar siswa saat diskusi, guru memberikan

pembagian tugas yang jelas dan menghampiri setiap kelompok selama

diskusi dan sebisa mungkin mengaktifkan siswa yang sudah paham untuk

memberikan penjelasan pada temannya yang kurang paham.

3. Guru berusaha berinteraksi dengan siswa selama proses pembelajaran

dengan memberikan lebih banyak contoh soal dan memberi pertanyaan

singakat (Tanya jawab) saat memberi penjelasan.

4. Saat menutup pelajaran, guru mengajak semua siswa untuk menyimpulkan

bersama materi pelajaran yang sudah dibahas dengan mengusahakan setiap

bangku bisa menyimpulakan materi pelajaran yang sudah dibahas.

37

2. Siklus II

b. Data Ketuntasan Belajar Siswa

Setelah proses pembelajaran pada siklus II selesai maka diadakan

evaluasi atau tes akhir untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa

terhadap materi yang sudah diajarkan. Evaluasi ini diberikan dalam bentuk tes

tulis pilihan ganda dengan jumlah soal sebanyak 24. Data lengkap hasil belajar

siswa siklus II dapat dilihat pada lampiran 19, sedangkan tes evaluasinya dapat

dilihat pada lampiran 17. Data pada lampiran tersebut dianalisis sehingga

diperoleh hasil sebagai berikut:

Tabel 4.4 Data hasil Evaluasi Belajar Siswa Siklus I

Jumlah siswa
yang ikut tes

Jumlah siswa yang
tuntas

Rata-
rata

Persentase
Ketuntasan klasikal

32 orang

29

78,9

87,5 %

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa dari 32 orang siswa yang

mengikuti tes evaluasi, terdapat 29 orang siswa mampu mencapai ketuntasan

dengan nilai rata-rata seluruh siswa adalah 78,9 dan persentase ketuntasan

secara klasikal 87.5%. Jika dilihat dari persentase ketuntasan siswa secara

klasikal, dikatakan sudah tunatas karena siswa yang bernilai ≥ 75 secara

klasikal melebihi 85%.

Berdasarkan hasil yang diperoleh pada siklus I dan siklus II, terdapat

peningkatan nilai rata-rata kelas, ketuntasan belajar secara klasikal dan

aktivitas belajar secara terus menerus. Secara umum peningkatan data aktivitas

belajar dan ketuntasan belajar siswa dari siklus I sampai siklus II dapat

digambarkan dalam bentuk grafik sebagai berikut :

38

Grafik 4.1. Data hasil belajar siswa untuk siklus I dan II

Dengan demikian, penerapan media visual dalam pembelajaran pada

siswa kelas XI-Multimedia SMKN 1 Batukliang dapat meningkatkan aktivitas

dan ketuntasan belajar siswa. Oleh karna itu penelitian pada siklus berikutnya

dapat dihentikan. Namun hasil tersebut masih perlu disempurnakan karena

masih dibawah target 100% ketuntasan, maka perlu mendapat perhatian dan

penanggulangan, khususnya dari guru bidang studi yang bersangkutan.

63.6

78.9

0.12

87.5

0

10

20

30

40

50

60

70

80

90

100

1

2

3

4

5

6

7

8

nilai rata-rata
persentase ketuntasan

39

B. Pembahasan

Penelitian ini dilaksanakan sesuai dengan prosedur penelitian tindakan

kelas (PTK) yang telah ditetapkan seperti tahap perencanaan, tahap pelaksanaan

tindakan, tahap observasi/evaluasi, dan tahap refleksi.

Pelaksanaan tindakan dilaksanakan dalam 3 kali pertemuan pada tiap

siklus dan 1 kali pertemuan untuk evaluasinya. Adapun langkah-langkah

pembelajaran tertuang dalam RPP (lampiran 29 dan 30). Selama proses

pembelajaran berlangsung dilakukan observasi terhadap kegiatan guru yang

dicatat pada lembar observasi. Dimana pada lembar observasi terdapat penilaian

afektif. Sedangkan untuk penilaian aspek kognitif terdapat pada lembar tes

evaluasi yang dilaksanakan pada setiap akhir pertemuan untuk setiap siklus.

Adapun hasil ketuntasan belajar siswa pada siklus I dari hasil evaluasi

didapat nilai rata-rata kelas 63,6 dan persentase ketuntasan 0,12 % atau dari 33

siswa dalam kelas tersebut hanya 4 siswa saja yang tuntas. ini menunjukkan

bahwa pada siklus I ketuntasan belajar siswa secara klasikal dengan

menggunakan media visual masih rendah (dibawah 85%) atau belum mencapai

indikator keberhasilan.

Masih rendahnya nilai ketuntasan belajar siswa secara klasikal pada siklus

I ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti yang sudah dirincikan pada tahap

refleksi diantaranya adalah kurangnya interaksi antara siswa disaat diskusi dan

rendahnya interaksi antara siswa dengan guru saat pembelajran dan diskusi.

Masalah tersebut dapat diatasi yaitu dengan cara, guru melakukan

perbaikan-perbaikan dalam pembelajaran dan meningkatkan hal-hal yang masih

40

dianggap kurang. Misalnya Untuk meningkatkan interaksi antar siswa saat

diskusi, guru memberikan pembagian tugas yang jelas dan menghampiri setiap

kelompok selama diskusi dan sebisa mungkin mengaktifkan siswa yang sudah

paham untuk memberikan penjelasan pada temannya yang kurang paham.

Sementara untuk meningkatkan interaksi antara siswa dengan guru dilakukan

dengan cara mengadakan Tanya-jawab saat pembelajaran.

Dari

perbaikan-perbaikan

yang

dilakukan

guru

selama

pemebelajaran/pelaksanaan tindakan didapat hasil analisis data pelaksanaan

tindakan pada siklus II yang menunjukkan bahwa nilai rata-rata kelas mengalami

peningkatan yang sebelumnya 63,6 pada siklus I menjadi 78,9 pada siklus II

begitupun untuk persentase ketuntasan, yang sebelumnya pada siklus I sebesar

0,12% mengalami peningkatan pada siklus II menjadi 87,5%. Karena telah

tercapainya ketuntasan belajar sesuai indikator keberhasilan, penelitian ini

dilaksanakan sampai pada siklus II.

Tercapainya ketuntasan belajar siswa dikarenakan penerapan media visual

membuat siswa bisa langsung melihat visualisasi materi yang dibahas sehingga

memudahkan mereka dalam berpikir mengenai maksud dari materi yang

disampaikan guru. Seperti saat memahami maksud dari pernyataan, hukum dan

rumus-rumus pada fluida statis, dengan penggunaan media visual dalam

pembelajaran, siswa dengan mudah memahaminya karna siswa bisa melihat

langsung maksud dari materi tersebut sehingga pembelajaran menjadi lebih jelas,

terarah dan menarik. Oleh karna itu dapat dibuktikan, dengan penerapan media

41

visual pada kelas XI-multimedia SMKN 1 Batukliang Tahun Pelajaran 2011/2012

mampu meningkatkan aktivitas dan ketuntasan belajar siswa.

42

BAB V

PENUTUP

A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat ditarik kesimpulan yaitu: Penerapan

media visual dalam pembelajaran fisika pada siswa kelas XI-multimedia SMKN 1

Batukliang tahun pelajaran 2011/2012 dapat meningkatkan ketuntasan belajar

siswa yaitu dari ketuntasan klasikal 0,12% pada siklus I meningkat menjadi

87,50% pada siklus II.

B. Saran

Berdasarkan hasil yang diperoleh pada penelitian ini, maka peneliti

memberikan beberapa saran antara lain:

1. Kepada guru fisika SMKN 1 Batukliang dan pada guru yang lain agar

melanjutkan penggunaan media khususnya media visual pada proses

pembelajaran karna dengan penggunaan media visual memudahkan siswa

dalam memahami suatu materi.

2. Kepada peneliti selanjutnya yang berminat diharapkan agar dalam kegiatan

penelitiannya, penerapan metode pembelajaran media visual ini lebih

disempurnakan.

43

DAFTAR PUSTAKA

Aqib, Z. 2010. Profesionalisme Guru Dalam Pembelajaran. Jakarta: Insan
Cendekia.

Aqib, Z. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Yrama Widya
Arikunto, S, Suhardjono dan Supardi 2010. Penelitian Tindakan Kleas. Jakarta:
Bumi Aksara.

Arikunto, S. 2009. Dasar-dasar Evaluasi pendidikan-edisi revisi. Jakarta: Bumi
Aksara.

Arikunto, S. 2003. Dasar-dasar Evaluasi pendidikan-edisi revisi. Jakarta: Bumi
Aksara.

Arsyad, A.2007. Media Pembelajaran. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada.

Bakir, S dan Suryono, S. 2006. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Batam:
Karisma Publising Group.

Djamarah, B dan Zain, A. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka
Cipta.

Erianawati. 2005. Penggunaan Media Visual (Gambar) Dalam Pembelajaran
Anak Hiperaktif Di Lembaga Terapi Anak Altisma Kudus . Skripsi
S1. Universitas Semarang

Hamalik, O. 2010. Kurikulum Dan Pembelajaran. Jakarta : Bumi Aksara.
Hanafiah, N dan Suhana, C. 2010. Konsep Strategi Pembelajaran. Bandung: PT
Refika Aditama.

Nurkancana, W dan Sumartana. 1983. Evaluasi Hasil Belajar. Surabaya: Usaha
Nasional.

Santyasa, W. 2007. Landasan Konseptual Media Pembelajaran. Makalah Disajikan
dalam Workshop Media Pembelajaran bagi Guru-Guru SMA Negeri
Banjar Angkan, Banjar Angkan Klungkung, 10 Januari 2007.

Sudjana, N dan Rivai, A. 2010. Media Pengajaran. Bandung: Sinar Baru
Algesindo

Sugiono. 2010. Statistika Untuk Penelitian. Bandung : Alfabeta
Supriatna, D.2009. Pengenalan Media Pembelajaran. ________: PPPPTK TK
dan PLB.

44

Trianto. 2010. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Jakarta:
Kencana Prenada Media Group.

Zaedah. 2009. Peningkatan Aktivitas Dan Ketuntasan Belajar Siswa Dengan
Menggunakan Multimedia. Mataram : IKIP Mataram

_____. 2008. Aktivitas belajar. (online). http:// ipotes. wordpress.
com/2008/05/24/ aktivitas-belajar/, Diakses tanggal 12 januari
2010.

______. 2010. Skripsi fisika. (online). http://www.ziddu.com/2010/02/30/
skripsifisikagratis/, Diakses tanggal 12 januari 2010.

Joomla. 2011. Sebuah Dedikasi Bagi Pendidikan (online). http://www.isjoni.com.
Diakses tanggal 17 agustus 2011

Purnama,Y. 2010. Fisika.(online). http://chikaadc.wordpress. Com /2010 /03/22
/fisika/.Diakses tanggal 12 januari 2010.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->