1.

Pena Hitam Ayam mencuat kokok di kala pagi Sang mentari bangun meyejukkan hati Membawa daku ingin mandi Hasrat pun tak terbendung Membawa maksud untuk mengepung Berbagai ilmu yang menggunung Ke sekolah daku berangkat Tak lupa tas aku angkat Pena hitam pun ikut mangkat Dan kugoreskan dengan singkat Daku ingin dapat cepat Tidak mau dengan lambat Pena hitam mengubah nasib dengan makrifat.

menyerang. sepak bola siapa gerangan engkau mencipta Keberadaanmu membawa angin segar dunia Semangat didalammu membawakan kobaran gelora Oh. suram ! bak kota mati yang ditinggal pergi 3. sunyi !. sepak bola apa dikata engkau tiada dunia sepi!. menyerbu lawan membawa bola lari masuk ke gawang Oh. Sajak Untuk Tidur Hai kawan waktu sudah beranjak malam Ayo kita tidur. pejam. pejamlah sang mata. mata sudah mulai sayu Sang mata sudah berbisik berkata pejamkan aku. aku mau tidur teman ! Bersiaplah untuk berlomba esok hari Pak guru sudah menanti Ilmu baru pun akan di dapati Selamat tidur kawan. Sepak bola Begitu senang aku bermain hingga waktu sampai aku lupakan Berlari. Besok kita akan bertempur .2.

Bangsa yang aman . Sepertiga Akhir Malam Kubuka pintu depan rumah Kusaksikan langit begitu berkilauan Dihiasi gugusan bintang Hati pun nampak senang Sungguh udara dan pikiran begitu lengang Di sepertiga akhir malam Kulawan dan kukalahkan udara dingin Air wudlu pun menembus membasahi kulitku Dalam sujudku kupanjatan doa kehadiratMu Jadikanlah bangsa ini.tenteram dan sejahtera Bangsa yang menghidupkan akhir sepertiga malam itu .4.

Tuhan walau seribu jalan berliku Berikanlah petunjukMu pada langkah kaki ini Agar hambaMu termasuk ke dalam golongannya . Sungguh mempesona tak ada duanya Ku bayangkan dan kuresapi siapa gerangan Membuat sama sedemikian rupa Hati semakin berdegup seraya menangis teringat dan terngiang. Taman Surga Saat tatapan mata memandang lepas Wujud ciptaanNya di dunia Berdegup hati ini berkata. seperti apa taman surga berada Meratap dan menangis kembali hati ini Mengingat janji Tuhan Hanyalah mereka manusia pilihan Yang jauh dari perbuatan nista dan angkara murka Yang akan menjadikan mereka penghuni taman surga kekal selamanya Oh.5.

hai mentari Di seluruh bumi ini Akan mati tiada lagi 7.6. membenakan hati dirimu itu terlukiskan Namun siapa gerangan bisa berbuat Tuk’membalikkan telapak tangan tentang keberadaanmu itu berada . Pengemis-Pengemis Kecil Ditengah persimpangan warna warni Di banyak kerumunan besi berasap Tersaksikan tangan tangan kecil menengadah Meminta belas kasihan pada sang raja jalanan Bertalu talu berada di bawah mentari Menahan hausnya rintihan hati Mengharap ada yang memberi Tak pernah lusuh walau dilakukan setiap hari Sungguh. Mentari Hai mentari pagi Hari ini kau datang tampak cerah sekali Engkau datang tiap hari Untuk sumber energi pribumi Semua orang berlari pagi Untuk menyehatkan diri Tanpa kau.

alam desaku ……lestarikanlah . Indah Nian Desaku Kulihat sawah membentang Warna hijau bagai permata alam Ku coba telusuri jalan Akankah tetap begitu ? Kuingin tetap begini Terlihat apa adanya Kuingin tetap begitu Terlihat kenyataannya Mentari mulai tenggelam Dan…akupun tetap disini Menikmati alam yang ada Anugrah dari yang kuasa Oh…..8..alam desaku ……aman dan damai Oh….

9. Sang Khalik memang sudah menakdirkan semua harus terjadi agar kita bertaulan. . Berteman Dengan Gempa Seribu jalan di bumiku itu telah merekah Laut pun juga ikut tumpah Manusia Indonesia menggeliat Menggeliat ke angkasa dan ke dalam bumi Rumahpun ambil bagian tuk beterbangan Bagaikan burung yang mengangkasa di udara lepas Nuansa jauhari bumi Indonesia pun menghilang ditelan kejamnya keuatan alam Apa yang akan kau tangisi ? Bila memang begitu adanya Apakah bubur itu bisa kau jadikan nasi ? Tidak !. dan tidak berseteru dengan Sang Gempa.

merah berjalan merayap Menyelinap mencari celah Mencari makan. Berguru Pada Semut Hitam. Berpesta bersama dalam semangat yang tetap mempesona.10. Hitam dan merah tak pernah gerah Menjunjung makanan bersama sama Membawa masuk ke istana raja. .

Istana Langit Memandang ke angkasa lepas biru. Memang manusia tak berhak tinggal Apalagi tidur di istana langit Hanya Tuhan sang pencipta alam Yang menguasai jagad raya.putih bahkan abu-abu warnamu menampakkan Tak terbayang jika manusia berpijak di atasnya Apa yang akan dirasa.11. senang. gembira pasti bahagia disana. Yang bersemayam didalamnya Untuk mengatur kehidupan ini sampai kiamat nanti tiba .

Andaikan Boleh Meminta Teringat pesan ibu di hari minggu saat bus aku tunggu Dik. kamu mau apa ? Aku masih diam. tak menjawab Dan ibu pun bosan bertanya Saat duduk di atas bus tua yang pengap Aku tetap tak menjawab Aku hanya bicara pada ibu aku ingin belaian kasih sayang ayah dan ibu sampai matahari terbit dari barat .12. jika ayah pulang kamu ingin apa ? Aku tidak menjawab. diam Dik.

Tuhan Kau masih biarkan aku terbangun hari ini Kau masih ijinkan hidungku bernafas hari ini Kau masih memberikanku hidup hari ini Sehingga aku masih dapat menikmati karuniaMu yang terindah dalam permata yang terus bersinar .13. Dialah Batu Besar. kecil. di bawah sinar mentari.hitam dan putih engkau menampakkan Orang akan memukulmu bila kau membangkang Dan kau dilempar . Sinar Mentari Pukul Sepuluh Pagi Pukul sepuluh pagi aku berdiri berjalan dan lalu berlari. Ingin ku utarakan semua biar dunia tahu. dan menyilaukan mataku.bila orang itu kesal Sungguh malang keberadaanmu Hanya tukang batu yang mengerti kamu. 14. Panasnya menusuk kulitku. namun tenang menembus hatiku. aku bangga sebagai makhlukNya! Terima kasih.

15. Aku ingin sehat Badan kurus kering kerontang tak nafsu makan Bagaikan bunga-bunga kering yang beterbangan Pagi hari yang indah Harus bangun tanpa gundah Tinggalkan kelana Memutar badan berolahraga Minum dan makan membahana Menggapai tubuh sehat maha sempurna .

Puzzle Ajaib Di tempat teduh nan rindang bersama teman ku belajar Bila ku bosan dan lelah Puzzle ajaib ku mainkan Memutar otak ke kiri dan ke kanan Meski pusing namun asyik dan pintar ku dapatkan Puzzle ajaib teman baik ku Selalu setia menemaniku Dalam langkah langkah kecilku Menggapai impian yang masih saja termangukan PENULIS : AKHID HERU PRABAWA .16.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful