Aliran Khawarij

KHAWARIJ A. Pengertian Khawarij
Secara bahasa kata khawarij berarti orang-orang yang telah keluar. Kata ini dipergunakan oleh kalangan Islam untuk menyebut sekelompok orang yang keluar dari barisan Ali ibn Abi Thalib r.a. karena kekecewaan mereka terhadap sikapnya yang telah menerima tawaran tahkim (arbitrase) dari kelompok Mu‟awiyyah yang dikomandoi oleh Amr ibn Ash dalam Perang Shiffin ( 37H / 657 ). Jadi, nama khawarij bukanlah berasal dari kelompok ini. Mereka sendiri lebih suka menamakan diri dengan Syurah atau para penjual, yaitu orang-orang yang menjual (mengorbankan) jiwa raga mereka demi keridhaan Allah, sesuai dengan firman Allah QS. Al-Baqarah : 207. Selain itu, ada juga istilah lain yang dipredikatkan kepada mereka, seperti Haruriah, yang dinisbatkan pada nama desa di Kufah, yaitu Harura, dan Muhakkimah, karena seringnya kelompok ini mendasarkan diri pada kalimat “la hukma illa lillah” (tidak ada hukum selain hukum Allah), atau “la hakama illa Allah” (tidak ada pengantara selain Allah). Secara historis Khawarij adalah Firqah Bathil yang pertama muncul dalam Islam sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Al-Fatawa, “Bid‟ah yang pertama muncul dalam Islam adalah bid‟ah Khawarij.” Kemudian hadits-hadits yang berkaitan dengan firaq dan sanadnya benar adalah hadits-hadits yang berkaitan dengan Khawarij sedang yang berkaitan dcngan Mu‟tazilah dan Syi‟ah atau yang lainnya hanya terdapat dalam Atsar Sahabat atau hadits lemah, ini menunjukkan begitu besarnya tingkat bahaya Khawarij dan fenomenanya yang sudah ada pada masa Rasulullah saw. Di samping itu Khawarij masih ada sampai sekarang baik secara nama maupun sebutan (laqob), secara nama masih terdapat di daerahOman dan Afrika Utara sedangkan secara laqob berada di mana-mana. Hal seperti inilah yang membuat pembahasan tcntang firqah Khawarij begitu sangat pentingnya apalagi buku-buku yang membahas masalah ini masih sangat sedikit, apalagi Rasulullah saw. menyuruh kita agar berhati-hati terhadap firqah ini. B. Awal Mula Munculnya Dasar-Dasar Pemikiran Khawarij Sebenarnya awal mula kemunculan pemikiran khawarij, bermula pada saat masa Rasulullah SAW. Ketika Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam membagi-bagikan harta rampasan perang di desa Ju‟ronah -pasca perang Hunain- beliau memberikan seratus ekor unta kepada Aqra‟ bin Habis dan Uyainah bin Harits. Beliau juga memberikan kepada beberapa orang dari tokoh quraisy dan pemuka-pemuka arab lebih banyak dari yang diberikan kepada yang lainnya. Melihat hal ini, seseorang (yang disebut Dzul Khuwaisirah) dengan mata melotot dan urat lehernya menggelembung berkata: “Demi Allah ini adalah pembagian yang tidak adil dan tidak mengharapkan wajah Allah”. Atau dalam riwayat lain dia mengatakan kepada Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam: “Berbuat adillah, karena sesungguhnya engkau belum berbuat adil!”.

Mereka akan keluar dari Islam ini sebagaimana keluarnya anak panah dari buruannya. pasti aku bunuh mereka seperti terbunuhnya kaum „Aad.” (HR. kalimat tersebut bagaikan petir di siang bolong. namun ia tidak mengambil faedah dari apa yang mereka baca. Mereka membunuh kaum muslimin dan membiarkan para penyembah berhala. Pemilik kebun ketakutan seraya berkata: “Ambillah seluruhnya apa yang kalian . yakni mereka dapat membaca al-Qur‟an dengan baik dan indah. mereka keluar dari agama seperti keluarnya anak panah dari buruannya. 33) Demikianlah Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam mensinyalir akan munculnya generasi semisal Dzul Khuwaisirah -sang munafiq-. “Sesungguhnya sepeninggalku akan ada dari kaumku.” (HR. Bukhari Muslim) Sebagaimana yang telah mereka lakukan terhadap seorang yang shalih dan keluarganya yaitu Abdullah –anak dari shahabat Khabbab bin Art radhiallahu „anhu. kita mendapatkan ciri-ciri dari kaum khawarij. Setelah itu dalam keadaan pedang masih berlumuran darah. Ciri khas mereka lainnya adalah: “Mereka membunuh kaum muslimin dan membiarkan orang-orang kafir” sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut: “Sesungguhnya akan keluar dari keturunan orang ini satu kaum. menentang penguasanya walaupun sebaik Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam. ada seorang yang berani berbuat lancang dan menuduh bahwa Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam tidak berbuat adil. Mereka akan keluar dari Islam ini sebagaimana keluarnya anak panah dari buruannya. Kemudian mereka tidak akan kembali padanya. merobek perut istrinya dan mengeluarkan janinnya.” (HR. padahal ia telah melewati darah dan kotoran hewan buruan tersebut. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa mereka adalah orang-orang yang bagus bacaan alQur‟annya. namun dia bersabar. orang yang membaca alQur‟an tapi tidak melewati kerongkongan mereka. namun Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam melarangnya. Dia disakiti lebih dari pada ini. Lihat asy-Syari‟ah. Mereka membantainya. Bukhari Muslim) Saat itu Umar bin Khathab radhiallahu „anhu meminta izin untuk membunuhnya. Atau dapat memahaminya tapi tidak sampai ke dalam hatinya. Muslim) Dari riwayat ini. puasanya dengan puasa mereka. Yaitu suatu kaum yang tidak pernah puas dengan penguasa manapun. Jika sekiranya aku menemui mereka. Mendengar ucapan ini Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam dengan wajah yang memerah bersabda: “Siapakah yang akan berbuat adil jika Allah dan rasul-Nya tidak berbuat adil? Semoga Allah merahmati Musa. Mereka berjalan hanya dengan hawa nafsu dan emosinya. salah seorang di antara kalian akan merasa kalah shalatnya dibandingkan dengan shalat mereka. tapi tidak memahaminya dengan benar.Sungguh. Yaitu masuk dari satu sisi dan keluar dari sisi yang lain dengan tidak terlihat bekas-bekas darah maupun kotorannya. hal.” (HR. namun tidak melewati kerongkongannya. Dikatakan oleh Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam bahwa mereka akan keluar dari agama ini seperti keluarnya anak panah dari buruannya. alAjurri. Pada masa generasi terbaik dan di hadapan manusia terbaik pula. Mereka adalah sejelek-jelek makhluk. yang membaca alQur‟an. mereka mendatangi kebun kurma milik seorang Yahudi. Beliau menghabarkan akan munculnya dari turunan orang ini kaum reaksioner (khawarij) sebagaimana disebutkan dalam riwayat berikutnya: “Sesungguhnya orang ini dan para pengikutnya.

Pada akhirnya setelah Tahkim berlalu dengan hasil pengangkatan Mu‟awiyah ra. (Lihat al-Milal wan Nihal) Maka kelompok ini sungguh sangat membahayakan kaum muslimin. Yaitu dari tubuh militer pimpinan Ali ra. ketika Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam bersabda: “Akan keluar di akhir zaman. Mereka hanya mengandalkan semangat dan emosinya. Di mana saja kalian temui mereka. Ibnu Abi Ashim dalam As Sunnah dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Dlilalul Jannah) C. Ciri berikutnya adalah: kebanyakan di antara mereka berusia muda. pembunuhan. Tidak menyetujui tawaran ini. bodoh pemikirannya. sendiri. Anehnya. malah mengalah pada nama Abu Musa al-Asy‟ary yang diajukan kelompok itu menggantikan Abdullah bin Abbas ra. Bahkan saat keputusan yang diambil Ali ra. tanpa dilandasi oleh ilmu dan pertimbangan yang matang. untuk menyetujui tawaran kubu Mu‟awiyah ra. Mereka berbicara seperti perkataan manusia yang paling baik. karena telah melanggar prinsip dasar bahwa setiap keputusan berada pada kekuasaan Tuhan (lâ hukma illa lillâh). Untuk mengutus Abdullah bin Abbas ra. kelompok ini yang sebelumnya memaksa Ali ra. menghadapi utusan kubu lawannya Amar bin al-Ash dalam tahkim. bunuhlah mereka. Namun sebagian kecil dari kelompok militer pimpinannya memaksa Ali ra. pembantaian dan sejenisnya terhadap kaum muslimin sendiri. dengan prinsip bahwa kakuatan hukum kekhilafahannya sudah jelas dan tidak dapat dipungkiri. Pada saat kondisi politik yang makin tidak terkendali dan dirasa sulit untuk mereda dengan prinsip masing-masing. mereka keluar dari agama ini seperti keluarnya anak panah dari buruannya. Mereka kemudian menilai dengan sepihak bahwa genjatan senjata dengan cara Tahkim tidak dapat dibenarkan dan illegal dalam hukum Islam. menerima ajakan kubu Mu‟awiyah ra. Muslim) Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam menjuluki mereka dengan gelaran yang sangat jelek yaitu “anjing-anjing neraka” sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Abi Aufa bahwa dia mendengar Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam bersabda: “ Khawarij adalah anjing-anjing neraka. Maka kubu Mu‟awiyah ra. (Abu Zahrah: 60) . Mereka menghalalkan darah kaum muslimin dengan kebodohan.” (HR. Untuk itu mereka tidak segan-segan melakukan teror. dan bodoh pemikirannya karena kurangnya kedewasaan mereka. semua kelompok bahkan setiap individu yang telah mengikuti proses itu telah melanggar ketentuan syara‟. terlepas dari niat mereka dan kesungguhan mereka dalam beribadah. Sejarah Kelahiran Khawarij Seperti yang disinggung sebelumnya dalam pendahuluan bahwa Khawarij lahir dari komponen paling berpangaruh dalam khilafah Ali ra. Sesungguhnya membunuh mereka akan mendapatkan pahala pada hari kiamat.mau!” Pimpinan khawarij itu menjawab dengan arif: “Kami tidak akan mengambilnya kecuali dengan membayar harganya”. Ali ra. Semula Ali ra. Keimanan mereka tidak melewati kerongkongannya. Sebagai khilafah menggantikan Ali ra. “ (HR. Sebagaimana yang terdapat dalam riwayat lainnya. Artinya menurut mereka. Untuk mengakhiri perseteruannya dengan jalan Tahkim. Kelompok ini terbukti dapat mempengaruhi pendirian Ali ra. suatu kaum yang masih muda umurnya. yang merasa akan dikalahkan dalam perang syiffin menawarkan untuk mengakhiri perang saudara itu dengan “Tahkim dibawah Al-Qur‟an”.

Sehingga Mereka memaksanya untuk bertobat atas dosanya itu sebagaimana mereka telah bertobat karena ikut andil dalam proses Tahkim. Abu Musa al-Asy‟ari dan lain-lain yang . namun keadaan ekonomi yang dibawah standar tidak mendorong mereka untuk meningkatkan pendapatan. kelompok ini cenderung sempit wawasan dan keras pendirian. (Abu Zahrah: 60) Demikian watak dasar kelompok ini. Yaitu. Selain itu mereka juga disebut “Haruriyah” yang merujuk pada “Harurah‟ sebuah tempat di pinggiran sungai Furat dekat kota Riqqah. Sebagai kelompok dengan prinsip dasar “lâ hukma illa lillâh”. Begitu „Ali menolak pandangan mereka walaupun dengan mengemukakan argumentasi. (Abu Zahrah: 63-64). Ditempat ini mereka memisahkan diri dari barisan pasukan Ali ra. saat pulang dari perang Syiffin. Walaupun keikhlasan itu ditutupi keberpihakan dan fanatisme buta. mereka menyatakkan keluar dari pasukan „Ali dan kemudian melakukan pemberontakan dan kekejamankekejaman. Misalnya mereka menilai „Ali ibn Abi Thalib salah karena menyetujui dan kesalahan itu membuat „Ali menjadi kafir. Khawarij memiliki pemikiran dan sikap yag ekstrem. 207. Ada sifat lain yang sangat kontradiksi dengan sifat sebelumnya. Selanjutnya mereka juga menyebut kelompoknya sebagai Syurah yang berasal dari kata Yasyri (menjual). kecuali hukum Tuhan” mereka tafsirkan secara dzohir saja. Yang menjadi sasaran pengkafiran tidak hanya „Ali bi Abi Thalib sendiri. Mereka memaksa „Ali mengakui kesalahan dan kekufurannya untuk kemudian bertaubat. namun dari mereka menganggap bahwa nama itu berasal dari kata dasar kharaja yang terdapat pada QS: 4. Dengan komposisi seperti itu. maka mereka menilai bahwa setiap individu yang telah melangar prinsip tersebut telah kafir. tentang seseorang yang menjual dirinya untuk mendapatkan ridlo Allah (Nasution: 13. radikal dan cederung kejam. tapi juga Mu‟awiyah ibn Abi Sufyan. Nama khawarij diberikan pada kelompok ini karena mereka dengan sengaja keluar dari barisan Ali ra.Dan sesuai dengan pokok-pokok pemikiran mereka bahwa setiap yang berdosa maka ia telah kafir. Khawarij adalah kelompok yang didalamnya dibentuk oleh mayoritas orang-orang Arab pedalaman (a‟râbu al-bâdiyah). dan tidak mendukung barisan Mu‟awiyah ra. menyatakan bahwa Allah sebenarnya juga mengutus seorang Nabi dari golongan Ajam (diluar golongan Arab) yang kemudian menghapus Syari‟at Nabi Muhammad SAW. D. Latar Belakang Ekstremitas Khawarij Seperti yang sudah diungkap di atas. yang merujuk pada seseorang yang keluar dari rumahnya untuk hijrah di jalan Allah dan Rasul-Nya (Nasution: 13). (Syalabi: 309). yaitu kesederhanaan dan keikhlasan dalam memperjuangkan prinsip dasar kelompoknya. Bahkan al-Yazidiyah salah satu sekte dalam Khawarij. termasuk Ali ra. 100. (Abu Zahrah: 63) Bukan hanya itu. Mereka cenderung primitive. yaitu keras kepala dan dikenal kelompok paling keras memegang teguh prinsipnya. Prinsip dasar bahwa “tidak ada hukum. Kelompok ini juga dikenal sebagai kelompok “Muhakkimah”. tradisional dan kebanyakan dari golongan ekonomi rendah. keras. Inilah yang sebenarnya menjadi penyabab utama lahirnya kelompok ini (Syalabi: 333). „Amru ibn „Ash. Syalabi: 309). sebagaimana disebutkan dalam QS: 2. sebenarnya ada “kepentingan lain” yang mendorong dualisme sifat dari kelompok ini. Dan pada saatnya kemudian Khawarij memilih Abdullâh bin Wahab ar-Râsiby yang diluar golongan Quraisy sebagai khalifah. kecemburuan atas kepemimpinan golongan Quraisy.

Mereka gampang sekali menggunakan ayat-ayat Al Qur‟an untuk menguatkan pendapat-pendapat mereka. sufahâ. tidak hanya menyatakan „Ali kafir. Wa min an-nâsi man yu‟jibuka qauluhu fi al-hayâh ad-dunya wa yusyhidullah „ala mâ fi qalbihi wa huwa aladdu al-khshâm) diturunkan Allah mengenai „Ali sedangkan tentang „Abdurrahman ibn Muljam yang membunuh „Ali Allah menurunkan ayat (wa minannâsi man yasyri nafsahu ibtighâa mardhâtillah). Hidup di padang pasir yang tandus membuat mereka bersifat sederhana dalam cara hidup dan pemikiran. Istilah-istilah lain yang dipakai oleh para sejarawan menunjukkan kelompok yang sama yang melakukan pemberontakan di Kufah waktu itu adalah asyrâf. England dengan judul bahasa Inggris The Origins of The Khawarij. Kalau sekiranya yang benar adalah yang pertama maka persoalannya adalah persoalan teologis murni (persoalan intepretasi yang sempit dan picik). Sejalan dengan itu Harun Nasution menulis bahwa kaum Khawarij pada umumnya terdiri dari orang-orang Arab Badawi. “Ahabbukum ilayya akramukum li kitâbillah. Sebagian dari mereka ini telah disingkirkan dari jabatan-jabatan penting dalam masa pemerintahan Khalifah „Utsman. dan . sejarawan Muslim dari IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang pernah menulis paper tenang Khawarij waktu studi di McGill University. Canada menyatakan bahwa Ahlu al-Qurrâ‟ lebih tepat diartikan sebagai „para penetap‟ walaupun Ahl al-Qurrâ‟ bisa juga berarti para penghafal Al-Qur‟an. latar belakang apa yang menyebabkan mereka memiliki pandangan seperti itu. Apakakah istilah itu berarti para penghafal Al-Qur‟an atau orang orang kampung. orang-orang kenamaan dan pemimpin-pemimpin Kufah yang tinggal atau menguasai kampung-kampung di Irak dan disifatkan sebagai orang-orang yang bodoh. maka penulis lebih cenderung mengartikan istilah Qurrâ‟ bukan sebagai para penghafal Al-Qur‟an. mereka menggunakan ayat-ayat Al-Qur‟an. sebutan mereka sebelum menjadi Khawarij. Untuk mendukung pandangan mereka baik dalam aspek politik maupun teologi. at-Thabary dan Ibn „Atsam cenderung menafsirkan alQurrâ‟ sebagai para penghafal Al-Qur‟an. khyar ahli al-kufah. Tetapi yang jelas ialah bahwa al-Qurra‟ itu ialah golongan manusia di Kufah. Uraian yang panjang lebar dan agak memuaskan tentang pengertian istilah al-Qurrâ‟ ditulis oleh Mahayadin Haji Yahaya dalam bukunya Sejarah Awal Perpecahan Umat Islam (11-78 H/632-698 M) yang berasal dari disertasi doktor yang bersangkutan di Exterter University. Untuk menjawab pertanyaan tersebut kita perlu melakukan analisis terhadap pengertian istilah Qurrâ‟ atau Ahl al– Qurrâ‟.mendukung mereka. Kekeliruan itu mungkin muncul terpegaruh dengan ucapan Sa‟idi ibn ‟Ash dalam sebuah khutbah di Masjid besar di Kufah yang mengatakan. kelompok al-Azariqah. Nourouzzaman Shiddiqi. Penulis kira inilah kata kunci yang dapat membantu kita memahami latar belakang ekstremitas Khawarij. tapi kalau yang benar adalah yang kedua persoalannya adalah persoalan sosial politik. tapi juga mengatakan ayat. Menurut Yahaya para sejarawan seperti Sayf. Yang menarik kita teliti adalah. wujûh. tetapi orang-orang desa. tetapi keras hati serta berani. jama‟ah ahli al kufah dan lain-lain yang tidak satu pun yang menunjukkan makna penghafal-penghafal Al-Qur‟an. Melihat pemahaman Khawarij yang dangkal dan literer terhadap ayat-ayat Al-Qur‟an yang mereka jadikan dalil membenarkan pandangan dan sikap politik mereka. Misalnya . Dalam perkembangan selanjutnya mereka perdebatkan apakah „Ali hanya kafir atau musyrik. rijâl min qurâ‟ ahli al-kufah. atau sebagian dari golongan asyrâf.

Fenomena ini sekarang banyak bermunculan. bagaimana mudahnya kaum Khawarij terpecah belah menjadi golongan-golongan kecil serta dapat pula dimengerti tentang sikap mereka yang terus menerus mengadakan perlawanan terhadap penguasapenguasa Islam dan umat Islam yang ada di zaman mereka. tetapi dikelola oleh kelompok Qurrâ’. Mereka mengkafirkan Ali. ‘Utsman tidak berani menentang hak yang dirampas ini secara terbuka. Sebagai orang Badawi mereka tetap jauh dari ilmu pengetahuan. Kelompok Qurrâ’ itu menganggap diri mereka sendiri hampir-hampir seperti pemilik sah atas kekayaan-kekayaan yang sangat besar ini. bahkan Rasul saw. Kalau terhadap Rasul sebagai pemimpin umat berani berkata sekasar itu. dan penghasilannya dibagi-bagi antara para veteran perang penaklukan terhadap wilayah tersebut. sendiri dianggap tidak adil dalam pembagian ghanimah. Khawarij tidak hanya mengkafirkan ‘Ali bn Abi Thalib tapi juga Kalifah ‘Utsman ibn ‘Affan mulai tahun ketujuh pemerintahannya. Sifat-sifat Khawarij 1. dengan demikian membuktikan bahwa para veteran Kufah tidak memiliki hak lebih besar atas tanah ini. tepatnya masalah tanah-tanah Sawad yang luas di wilayah Sasaniyah yang ditinggalkan oleh para pemiliknya. Oleh karena itu iman dan paham mereka merupakan iman dan paham orang sederhana dalam pemikiran lagi sempit akal serta fanatik. Efek dari mudahnya mereka saling mengkafirkan adalah kelompok mereka mudah pecah disebabkan kesalahan kecil yang mereka perbuat. Kelompok Qurrâ’ dalam jawabannya menegaskan bahwa tanpa kehadiran mereka secara berkesinambungan di Iraqkekayaan-kekayaan ini sama sekali tidak akan pernah terkumpulkan. walau pun penyimpangan dalam bentuk kecil. tetapi sempit. apalagi terhadap Muslim yang lainnya. tanpa mempertimbangkan hak-hak mereka. Mereka memilih Abu Musa al-Asy’ary sebagai Gubernur dan memaksa ‘Utsman mengakui tindakan kekerasan ini. mereka tetap bersikap bengis. tulis Shaban. suka kekerasan dan tak gentar mati. Tanah-tanah itu tidak dibagi-bagi. 2. Sebagai manifestasi perlawanan mereka pada ‘Utsman kelompok ini menghalang-halangi kedatangan Sa’id ibn ‘Ash. tetapi menggunakan pendekatan secara berangsur-angsur. Iman yang tebal. tentu dengan mudahnya mereka menganggap kafir. Antara lain ‘Utsman menyatakan bahwa para veteran yang telah kembali ke Mekah dan Madinah tidak lantas kehilangan hak-hakya atas tanah-tanah Sawad ini. konflik itu terpusatkan. Akibat dari pelaksanaan kebijaksanaan ‘Utsman itu kelompok Qurrâ’ belakangan mengetahui bahwa landasan kekuatan ekonomi mereka sedang dihancurkan karena tanah-tanah mereka dibagi-bagi.Gubernur yang ditunjuk oleh ‘Utsman–memasuki Kufah. Mencela dan Menyesatkan Orang-orang Khawarij sangat mudah mencela dan menganggap sesat Muslim lain. Di sinilah letak penjelasannya.bersikap merdeka. mereka artikan menurut lafaznya dan haus dilaksanakan sepenuhnya. Di sekitar tanah yang ditinggalkannya itu. Muawiyah. dan sahabat yang lain. Buruk Sangka . Ajaran-ajaran Islam sebagaimana terdapat dalam Al-Qur‟an dan Hadits. ditambah lagi dengan sikap fanatik ini membuat mereka tidak bisa mentolelir penyimpangan terhadap ajaran Islam menurut paham mereka. Pengkafiran terhadap ‘Utsman (masalah teologis) juga berlatar belakang politik (kepentingan). E.

Berlebih-lebihan dalam ibadah Ini dibuktikan oleh kesaksian Ibnu Abbas. menyebutkan bahwa mereka mudah membunuh orang Islam. Keras terhadap sesama Muslim dan memudahkan yang lainnya Hadits Rasulullah saw. termasuk Umar bin Khattab. tetapi setelah yang lain mengingatkan bahwa kurma itu bukan miliknya. Mereka tidak cukup sabar menanyakan cara dan tujuan Rasulullah saw. Nilai Khawarij . Ibnu Abdil Bar meriwayatkan. “Yang duduk pada waktu itu lebih baik dari yang berdiri. Maka serta-merta mereka langsung memenggal Abdullah. tidak mencari ridha Allah. masih tidak ada apa-apanya. Padahal itu dilakukan Rasulullah saw. Bahkan Rasulullah saw.Fenomena sejarah membuktikan bahwa orang-orang Khawarij adalah kaum yang paling mudah berburuk sangka. Di sisi lain tatkala mereka di kebun kurma dan ada satu biji kurma yang jatuh kemudian salah seorang dari mereka memakannya. tapi setelah diingatkan bahwa babi itu milik orang kafir ahli dzimmah. jidat mereka hitam karena lama dalam sujud. Mereka adalah orang yang sangat sederhana. 5. Sedikit pengalamannya Hal ini digambarkan dalam hadits bahwa orang-orang Khawarij umurnya masih muda-muda yang hanya mempunyai bekal semangat. melebihkan pembesar-pembesar dibanding yang lainnya. tetapi membiarkan penyembah berhala. “Ketika Abdullah bin Habbab bin Al-Art berjalan dengan isterinya bertemu dengan orang Khawarij dan mereka meminta kepada Abdullah untuk menyampaikan hadits-hadits yang didengar dari Rasulullah saw. 7. Dan isterinya dibunuh dengan mengeluarkan janin dari perutnya. berdakwah pada manusia untuk mengamalkan Al-Qur‟an dan kembali padanya. sendiri membandingkan ibadah orang-orang Khawarij dengan sahabat yang lainnya. kemudian Abdullah menyampaikan hadits tentang terjadinya fitnah. tetapi mereka sendiri tidak mengamalkannya dan tidak memahaminya. 6. muka mereka pucat karena jarang tidur malam.” Mereka bertanya. 4. Dan ketika mereka di Kuffah melihat babi langsung mereka bunuh.. apalagi kalau dibandingkan dengan kita. langsung saja orang itu memuntahkan kurma yang dimakannya. Ini menunjukkan betapa sangat berlebih-lebihannya ibadah mereka. Mereka disebutquro‟ karena bacaan AlQur‟annya bagus dan lama. dalam rangka dakwah dan ta‟liful qulub. langsung saja yang membunuh babi tadi mencari orang yang mempunyai babi tersebut. padahal sebaliknya akan membahayakannya.” jawab Abdullah. Mereka juga menuduh Utsman sebagai nepotis dan menuduh Ali tidak mempunyai visi kepemimpinan yang jelas. meminta maaf dan membayar tebusan. “Apakah Anda mendengar ini dari Rasulullah?” “Ya. Merasa bahwa Al-Qur‟an akan menolongnya di akhirat. yang berdiri lebih baik dari yang berjalan…. Mereka berburuk sangka kepada Rasulullah saw. bahwa beliau tidak adil dalam pembagian ghanimah. 3. tangan dan kaki mereka „kapalan‟. bahkan menuduh Rasulullah saw. Sedikit pemahamannya Disebutkan dalam hadits dengan sebutan Sufahaa-ul ahlaam (orang bodoh). Karena itu mereka menganggap ibadah kaum yang lain belum ada apa-apanya. pakaian mereka sampai terlihat serat-seratnya karena cuma satu dan sering dicuci.

Di dunia disebut sebagai seburuk-buruk makhluk dan di akhirat disebut sebagai anjing neraka. “Mereka akan senantiasa keluar sampai yang terakhir keluar bersama Al-Masih Ad-Dajjal” 9. Kedudukan Khawarij Kedudukan mereka sangat rendah.” 8. menyuruh kita untuk membunuh jika menjumpai mereka.” . 10. maka bunuhlah mereka. Fenomena Khawarij Mereka akan senantiasa ada sampai hari kiamat. “Mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah keluar dari busurnya. Sikap terhadap Khawarij Rasulullah saw.. “Jika engkau bertemu dengan mereka.Orang-orang Khawarij keluar dari Islam sebagaimana yang disebutkan Rasulullah saw.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful