P. 1
KORELASI ANTARA KEMAMPUAN BELAJAR MATA KULIAH PENGGUNAAN DAN PENGATURAN MOTOR (PPM) DENGAN KEMAMPUAN BELAJAR MATA KULIAHPROGRAMMABLE LOGIC CONTROLLER (PLC)

KORELASI ANTARA KEMAMPUAN BELAJAR MATA KULIAH PENGGUNAAN DAN PENGATURAN MOTOR (PPM) DENGAN KEMAMPUAN BELAJAR MATA KULIAHPROGRAMMABLE LOGIC CONTROLLER (PLC)

|Views: 71|Likes:
Published by Andri Satrio

More info:

Published by: Andri Satrio on Jun 05, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/05/2012

pdf

text

original

KORELASI ANTARA KEMAMPUAN BELAJAR MATA KULIAH PENGGUNAAN DAN PENGATURAN MOTOR (PPM) DENGAN KEMAMPUAN BELAJAR MATA

KULIAHPROGRAMMABLE LOGIC CONTROLLER (PLC)

Budi Prabowo Wijayanto[1] , Dr. Moch Sukardjo, M.Pd.[2] , Drs. Readysal Monantun[3]

Abstrak : Penelitian ini bertujuan untuk mencari hubungan korelasi antara kemampuan belajar MK PPM dengan kemampuan belajar MK PLC. Karena secara jenjang pengetahuan seharusnya mahasiswa/i terlebih dahulu mengambil MK PPM baru kemudian dilanjutkan dengan MK PLC. Penelitian ini dilakukan di lingkungan Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, UNJ. Populasi pada penelitian ini adalah Mahasiswa Program studi Pendidikan Teknik Elektro (S1). Sampel yang diambil sebanyak 30 orang mahasiswa/i Angkatan 2001-2003. Instrument penelitian yang digunakan adalah tes tertulis berbentuk soal pilihan ganda dengan skor satu untuk jawaban benar dan nol untuk jawaban salah. Reliabilitas yang didapat adalah 0,923 untuk PPM dan 0,903 untuk PLC. Hasil penelitian menunjukkan skor tertinggi untuk nilai kemampuan belajar PPM adalah 39, skor terendah adalah 11, rata-rata 29,73 dan simpangan baku 8,68. Uji normalitas dengan uji Liliefors dengan taraf signifikansi α = 0,05 diperoleh Lhitung0,1423 dan Ltabel 0,161. Karena Lhitung < Ltabel maka dapat disimpulkan bahwa sampel kemampuan belajar PPM berdistribusi normal. Data kemampuan belajar mata kuliah PLC menunjukkan skor tertinggi adalah 36, skor terendah adalah 8, rata-rata 20,3 dan simpangan baku 8,25. Uji homogenitas sampel menggunakan uji Bartlett dengan taraf nyata α = 0,05 diperoleh = 0,023 dan = 26,3. Karena < maka dapat disimpulkan bahwa sampel kemampuan belajar PPM dan kemampuan

belajar MK PLC homogen. Uji linearitas dengan taraf signifikansi α = 0,05 diperoleh Fhitung 1,733 dan Ftabel 2,63. Karena Fhitung < Ftabel maka dapat disimpulkan bahwa sampel kemampuan belajar PPM dan kemampuan belajar PLC adalah linear. Pengujian hipotesis dengan Product Moment diperoleh hasil koefisien diperoleh hasil koefisien korelasi = 0,91 serta diperolehpersamaan regresi Y = -5,39 + 0,86 X. Uji t pada taraf signifikansi α = 0,05 diperoleh thitung = 11,51 dan ttabel = 1,70. Karena thitung > ttabel maka dapat disimpulkan terdapat korelasi positif antara kemampuan belajar PPM dan kemampuan belajar PLC Kata Kunci : PLC, PPM, Jurusan Teknik Elektro, Pengendalian Motor Listrik, magnetic contractor

Pendahuluan : “Pendidikan adalah cermin dari kualitas bangsa” itulah sebuah iklan pendidikan yang pernah ditayangkan di televise. Hal tersebut kepada bermaksud elemen

pula kredibilitas sebuah Negara bias dipertaruhka, karena pendidikan begitu menentukan kecerdasan bangsa suatu

Negara tak terkecuali bangsa Indonesia. Begitu banyak spesifikasi keahlian yang ditawarkan di lembaga pendidikan seperti Universitas Negeri Jakarta dan salah satunya adalah bidang pendidikan teknik elektro, agar mahasiswa/i mampu bersaing dan salah satunya adalah mata kuliah PLC yang merupakan mata kuliah wajib yang berkenaan dengan

menyadarkan

semua

bangsa ini bahwa sebenarnya, pendidikan harus ditempatkan kepada posisi yang sangat tinggi karena “cerdas” tidaknya suatu bangsa sangat ditentukan sejauh mana keberhasilan pendidikan di bangsa tersebut. Pendidikan adalah bagian penting dari kehidupan manusia, karena

pengendalian motor listrik yang telah terprogram melalui komputer. Namun saat ini di Elektro UNJ dijadikan mata kuliah

pendidikan ikut menentukankeberhasilan setiap insane manusia. Melalui pendidikan

prasyarat (mahasiswa/i boleh mengikuti mata kuliah PLC bila mata kuliah wajib PPM telah lulus). PPM merupakan mata kuliah yang didalamnya membahas listrik

antaranya terkadang telah mengikuti kuliah wajib PLC sebelum kuliah PPM, dalam artian PPM tersebut terlangkahi. Berdasarkan hal itulah, peneliti mencoba meneliti mengenai keterkaitan mata kuliah PLC dan mata kuliah PPM melalui hasil belajar para mahasiswa/i Pendidikan Jurusan Teknik Elektro strata 1 baik yang sudah maupun yang belum mengikuti mata kuliah PPM terlebih dahulu. Karena secara jenjang pengetahuan seharusnya mahasiswa/i terlebih dahulu mengikuti mata kuliah PPM baru

mengenai

pengendalian

motor

secara otomatis dengan menggunakan kontraktor. Karena secara jenjang pengetahuan seharusnya mahasiswa/i terlebih dahulu mengambil mata kuliah PPM baru

kemudian dilanjutkan dengan mata kuliah PLC. Secara struktural pada mata kuliah PPM mahasiswa/i akan diajarkan

bagaimana membuat rangkaian pengendali motor listrik dengan contractor. Pada

kemudian dilanjutkan dengan mata kuliah PLC. Secara struktural pada mata kuliah PPM mahasiswa/i akan diajarkan rangkaian dengan

menggunakan magnetic

mata kuliah PLC-lah pengembangan mata kuliah ini, pengendalian motor listrik ditingkatkan menggunakan processor dan secara terprogram. Namun demikian karena rasa ingin tahu mahasiswa/i yang terlalu tinggi terkadang diindahkan prasyarat begitu tersebut selalu di dengan dikontrol

bagaimana pengendalian

membuat motor listrik

menggunakan magnetic contractor. Pada mata kuliah PLC-lah pengembangan mata kuliah PPM tersebut mulai diterapkan karena pada mata kuliah inilah

pengendalian motor listrik ditingkatkan

saja.

Beberapa

dengan

menggunakanprossesor dan

Dan penelitian ini bertujuan untuk mencari hubungan atau korelasi antara kemampuan belajar mata kuliah PPM dengan kemampuan belajar mata kuliah PLC.

dikontrol secara terprogram. Dari pemaparan diatas, peneliti dapat mengidentifikasi beberapa masalah berdasarkan keadaan para mahasiswa/i Pendidikan Jurusan Teknik Elektro strata 1 : 1. Apakah terdapat korelasi antara mata kuliah PPM dengan mata kuliah PLC ? 2. Apakah mata kuliah PPM menunjang mata kuliah PLC ? 3. Apakah terdapat korelasi antara

Metode : Metode penelitian yang digunakan pada penilitian ini adalah metode

deskriptif. Metode deskriptif dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi mengenai satatus suatu gejala yang ada, yaitu keadaan gejala menurut apa adanya pada

kemampuan belajar mata kuliah PPM dengan kemampuan belajar mata kuliah PLC ? Sedangkan pembatasan masalahnya menitikberatkan pada keterkaitan

saat

penelitian

dilakukan.

Sedangkan

untuk pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah penekatan penelitian korelasi. Suharsimi Arikunto mengatakan bahwa penelitian korelasi bertujuan untuk menemukan ada tidaknya hubungan dan apabila ada, betapa eratnya hubungan serta berarti atau tidak hubungan itu. Penelitian ini pun mencoba meneliti hubungan antara dua variabel, yaitu kemampuan belajar

(korelasi) antara kemampuan belajar mata kuliah PPM dengan kemampuan belajar mata kuliah PLC. adalah Lalu perumusan terdapat

masalahnya

“Apakah

korelasi antara kemampuan belajar mata kuliah PPM dengan kemampuan belajar mata kuliah PLC?”

Penggunaan dan Pengaturan Motor (PPM) sebagai variabel bebas dan kemampuan belajarProgrammable Control sebagai variabel terkait. Dalam penelitian ini, variabel yang akan diteliti yaitu kemampuan belajar mata kuliah Penggunaan dan Pengaturan Motor (PPM) sebagai variabel bebas (X) dan kemampuan belajar Programmable Logic Control (PLC) sebagai variabel terkait (Y). Populasi mahasiswa penelitian ini adalah Elektro Logic

terdapat variasi sampel sesuai dengan yang dibutuhkan. Variabel menjadi penelitian dua, ini terbagi

yaitu variabel

bebas dan variabel terkait. Adapun yang menjadi variabel bebas pada penelitian ini adalah kemampuan belajar mata kuliah Penggunaan dan Pengaturan Motor (PPM). Sedangkan yang menjadi variabel terkait pada penelitian ini adalah kemampuan belajar mata kuliahProgrammable Logic Control (PLC).

Jurusan

Teknik

Universitas Negeri Jakarta angkatan 20012003, sementara sampelnya sendiri akan diambil secara acak sebanyak 30 orang mahasiswa. Teknik pengambilan secara acak atau random ini dilakukan dengan melihat kesesuaian jumlah atau sebuah perbandingan antarra mahasiswa yang sudah mengikuti mata kuliah Penggunaan dan Pengaturan Motor (PPM) dengan mahasiswa yang belum mengikuti mata kuliah Penggunaan dan Pengaturan Motor (PPM). Dengan demikian diharapkan akan Ada beberapa jenis instrument penelitian, yaitu : 1. Instrumen penelitian berupa wawancara Sebagai alat penelitian, wawancara dapat digunakan untuk menilai hasil dan proses belajar. Kelebihannya dapat kontak

langsung dengan siswa sehingga dapat mengungkapkan jawaban secara lebih bebas dan mendalam. 2. Instrumen penelitian berupa kuisioner

Kelebihan kuisioner ialah sifatnya praktis, hemat waktu, tenaga dan biaya. Sedang kelemahannya, jawaban yang di beri narasumber terkadang tidak objektif, lebihlebih bila pertanyaannya kurang tajam. 3. Instrumen penelitian berupa tes Tes adalah pertanyaan- pertanyaan yang diberikan kepada mahasiswa untuk

mengungkapkan sesuatu atau yang diukur atau diamati oleh peneliti sesuai dengan apa yang sesungguhnya ada dalam

kenyataan. 2. Rehabilitasi instrument Dapat diartikan sebagai pemberian hasil yang relatif sama. 3. Analisis tingkat kesukarandan pembeda Menganalisis tingkat kesukaran soal

mendapat jawaban dari mahasiswa dalam bentuk tulisan. Pada umumnya digunakan untuk menilai dan mengukur hasil belajar mahasiswa, terutama hasil belajar kognitif berkenaan pengajaran dengan sesuai penguasaan dengan bahan tujuan

artinya mengkaji soal-soal tes dari segi kesulitan sehingga dapat diperoleh soalsoal yang mana yang termasuk mudah, sedang dan sukar. Hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan keseimbangan tingkat kesulitan soal, yaitu antara yang mudah, sedang dan sukar. Sedangkan menganalisis daya pembeda artinya mengkaji soal-soal

pendidikan dan pengajaran. Instrumen uji prasyarat penelitian 1. Validitas instrumen Artinya kemampuan instrumen untuk

tes dari segi kesanggupan tes tersebut dalam membedakan mahasiswa yang

mengukur apa yang seharusnya diukur. Validitas instrument dimaksudkan untuk dapat mengungkapkan gejala-gejala secara objektif. Untuk itu, suatu instrumen

termasuk ke dalam kategori lemah atau rendah dan kategori kuat atau tinggi prestasinya.

dituntut untuk memiliki sifat sahih, dalam arti bahwa instrumen penelitian merupakan bukti kemampuannya dalam Perumusan hipotesis = =0

= 0 Keterangan : = tidak ada hubungan positif yang signifikan antara kemampuan belajar

Perhitungan normalitas dilakukan untuk melihat apakah sebaran data yang akan dianalisis memiliki distribusi yang normal atau tidak. Perhitungan homogenitas data Y terhadap X digunakan uji Bartlett. Perhitungan ini dilakukan untuk

Penggunaan dan Pengaturan Motor (PPM) dengan hasil Programmable Logic

Control (PLC) mahasiswa. = ada hubungan positif yang signifikan antara kemampuan belajar Penggunaan dan Pengaturan Motor (PPM) dengan hasil Programmable Logic Control (PLC) mahasiswa.

mengetahui apakah data yang diambi memiliki varian

[1]

Mahasiswa Program Studi Pendidikan

Teknik Listrik Tenaga Angkatan 2001
Teknik analisis data dapat

UNJ, Lulus tahun 2007
[2]

dilakukan bila data yang diperoleh telah terkumpul yang dilanjutkan dengan

Dosen Jurusan Pendidikan Teknik

Elektro (Pembimbing Pertama)
[3]

pengujian hipotesis. Pengujian hipotesis pada penelitian ini terbagi menjadi dua, yaitu pengujian persyaratan analisis dan pengujian hipotesis analisis yang meliputi tiga hal, yaitu perhitungan normalitas sampel, perhitungan homogenitas dan perhitungan linearitas. Perhitungan

Dosen Jurusan Pendidikan Teknik

Elektro (Pembimbing Kedua)

normalitas dilakukan dengan uji Liliefors dengan taraf signifikasi α = 0,05.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->