P. 1
Gender - Agama Kristen

Gender - Agama Kristen

|Views: 179|Likes:

More info:

Published by: Daido Tri Sampurna LumbanRaja on Jun 05, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/07/2015

pdf

text

original

I PENDAHULUAN Dewasa ini status dan peran perempuan dalam masyarakat menjadi salah satu tema penting yang

sering dibahas. Dalam banyak seminar nasional perbedaan status dan peran itu, yang terbentuk dalam proses sosial serta budaya yang panjang, dikemukakan sebagai masalah gender, masalah dominasi patriarkhat yaitu sistem yang dilahirkan oleh praktik-praktik sosial dan politik di mana kaum laki-laki menguasai serta menindas perempuan. Tidak heran kalau perbedaan status dan peran perempuan dengan laki-laki dikategorikan kepada masalah ketidakadilan gender yang umumnya mengorbankan perempuan. Sensitivitas gender menuntut suatu upaya untuk mengungkap masalah gender, menyikapinya, dan ditindaklanjuti oleh banyak pihak termasuk oleh para tokoh agama. Mengapa para tokoh agama? Karena salah satu penyebab ketidak-adilan gender adalah tinjauan teologis dan etis yang sarat dengan budaya yang merendahkan perempuan. Apalagi kitab suci yang menjadi dasar tinjauan teologis dan etis itu sendiri amat diwarnai budaya patriarkhat. Dengan demikian seminar-seminar atau tulisan dengan pokok bahasan “gender dari sudut pandang agama” amatlah penting. Khususnya tulisan dengan “gender dari sudut pandang agama Kristen” sangat berguna. Karena dalam tulisan ini akan diperlihatkan perbedaan gender dan seks dalam Alkitab. Dengan demikian akan terlihat dengan jelas yang manakah status dan peran laki-laki serta perempuan yang berubah-ubah sesuai situasi dan kondisi serta mana pula yang tidak pernah berubah karena merupakan kodrat dari Tuhan. Terutama melalui tulisan ini akan terlihat seperti apakah kesetaraan laki-laki dan perempuan atau diskriminasi terhadap perempuan (kalau ada tentunya). Juga dalam tulisan ini akan dibahas proses sosial budaya yang mempengaruhi kesetaraan dan diskriminasi tersebut.

1

Istilah gender lebih banyak menunjuk kepada perbedaan status dan peranan lakilaki dan perempuan yang terbentuk dalam proses sosial dan budaya yang panjang. dan bahwa peran 2 . Pembakuan perbedaan sosial itu amat ditekankan oleh Wilson dan Lindsey. menindas. Kemudian istilah ini dipergunakan untuk jenis kelamin (laki-laki atau perempuan). Wilson misalnya mengartikan gender sebagai suatu dasar untuk menentukan perbedaan sumbangan laki-laki dan perempuan pada kebudayaan dan kehidupan kolektif yang sebagai akibatnya mereka menjadi berbeda yaitu laki-laki dan perempuan. Sementara itu Lindsey mengatakan bahwa yang termasuk kajian gender adalah semua ketetapan masyarakat perihal penentuan seseorang sebagai laki-laki atau perempuan. artinya jenis atau tipe. Pembedaan laki-laki dan perempuan yang dihasilkan dominasi patriarkhat tersebut. Dikemukakannya bahwa gender adalah perbedaan sosial yang berpangkal pada perbedaan jenis kelamin. Istilah Gender dan Maknanya Istilah gender berasal dari bahasa Latin (genus). Dalam kamus bahasa Inggris istilah ini juga diberi arti jenis kelamin. dan mengeksploitasi perempuan. yang kemudian melahirkan keyakinan bahwa laki-laki berstatus dan mempunyai hak yang lebih dari perempuan. yaitu suatu sistem dari praktik-praktik sosial dan politik di mana kaum laki-laki menguasai. Istilah gender belum masuk dalam perbendaharaan kata Kamus Besar Bahasa Indonesia. Budaya yang biasanya dikaitkan dengan pembahasan gender dan yang mengakibatkan ketidakadilan gender adalah dominasi patriarkhat.II PEMBAHASAN a. Orang yang pertama sekali memakai istilah gender dalam makna yang berbeda dengan jenis kelamin adalah Ann Oakley. Tetapi dalam pemakaian berikutnya istilah ini selalu dikaitkan dengan budaya. Jadi gender itu merupakan harapan-harapan budaya terhadap laki-laki dan perempuan. dalam hal mana perbedaan sosial itu dibakukan dalam tradisi dan sistem budaya masyarakat.

sehingga perbedaan itu berlaku sepanjang masa dan di mana pun serta bagi golongan mana saja. menyingkirkan. berbeda-beda antara kelompok yang satu dengan yang lainnya sesuai budaya. sedangkan yang melanggarnya dianggap tidak normal tetapi melawan kodrat.perempuan terbatas hanya pada area tertentu. perbedaan laki-laki dan perempuan dikodratkan Tuhan tidak dapat berubah apalagi dipertukarkan. bukan dikodratkan oleh Tuhan tetapi ditentukan oleh masyarakat (konstruksi sosial). dan hubungan kerja sama antara laki-laki dan perempuan. Jadi perbedaan antara laki-laki dan perempuan dapat ditinjau dari sudut gender dan dari segi seks (biologis). dapat berubah bahkan dipertukarkan sesuai dengan budaya. bahkan identik dengan kodrat. Peran dan tanggung jawab menurut gender merupakan warisan satu generasi atasan. dan keadaan yang tertentu. normal. Berbeda dengan sudut pandang seks (biologis). c. b. dan kesejajaran peran dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan bagi hal-hal yang tidak dikodratkan. tempat. Sedangkan diskriminasi gender adalah setiap tingkah laku yang membedakan. Kesetaraan gender adalah adanya keseimbangan. kesepadanan. Dan tingkah laku ini mengakibatkan penolakan pengakuan dan kebahagiaan serta penolakan keterlibatan dan 3 . Misalnya peran dan tanggung jawab perempuan untuk mengandung dan melahirkan tidak dapat berubah atau dipertukarkan dengan laki-laki. membatasi. Jadi dalam kesetaraan dan keadilan gender (KKG) terdapat suatu kondisi yang setara (equality) dan adil (equity) dalam hak. tempat. pilih kasih yang dilakukan karena alasan gender. Kata gender sering dikaitkan dengan kesetaraan dan keadilan serta diskriminasi. ke generasi berikutnya. kesempatan. Dari sudut gender peran dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan: a. Memang peran dan tanggung jawab itu telah melewati proses negosiasi tetapi lama kelamaan dianggap alamiah. dan keadaan masing-masing kelompok. Tetapi peran dan tanggung jawab dalam merawat dan mendidik yang selama ini dianggap kewajiban perempuan dapat disamakan dipertukarkan dengan laki-laki. dan ujung-ujungnya adalah diskriminasi terhadap perempuan dalam status dan peranan.

Gender dan Seks dalam Alkitab dan Masalahnya Alkitab adalah sumber utama bagi dogma dan etika Kristen. Tetapi seperti dikemukakan sebelumnya kitab suci yang menjadi sumber utama dogma dan etika itu amat diwarnai budaya patriakhat. dan pernikahan adalah satu-satunya panggilan kodrati baginya. khususnya 4 .pelanggaran atas pengakuan asasi dan persamaan antara laki-laki dan peempuan dalam biang ekonomi. 1: 26 – 28. Tokoh reformator lain yaitu Johanes Calvin. b. untuk laki-laki. Mereka tidak dapat membedakan konsep gender yang berubahubah dan yang terbentuk dalam proses sosial budaya yang panjang dari konsep seks yang tetap dalam Alkitab. berdasarkan apa yang dikemukakan Alkitab sangatlah penting. mengemukakan bahwa perempuan memang diciptakan lebih lemah intelektualitasnya ketimbang laki-laki. dan sosial-budaya. Karena itu Alkitab. sedangkan perempuan berstatus a secondary degree. politik. tokoh reformator Martin Luther. kodrat atau kehendak Tuhan. Dalam Alkitab memang dapat ditemukan perbedaan status dan peran serta tanggung jawab laki-laki dan perempuan baik dari sudut pandang gender maupun seks. para penafsir tradisional sudah begitu terbiasa mengutip sebagian ayat-ayat Alkitab (yang “berbicara negatif” tentang status perempuan) untuk membuktikan bahwa perempuan itu berasal dari lakilaki. serta tanggung jawab laki-laki dan perempuan yang bukan kodrat tetapi merupakan konstruksi sosial. perempuan bertanggung jawab untuk kejatuhan manusia ke dalam dosa. 2: 18 dia disebut “penolong”. karena itu pemaha-man yang benar tentang status dan peranan laki-laki dan perempuan baik secara fungsional dan struktural. dan kelompok yang berbeda satu dengan lainnya. hanya laki-laki yang diciptakan segambar dengan Allah. sepanjang waktu bahkan kekal statusnya lebih rendah dari laki-laki. berubah-ubah pada situasi. kondisi. yang dipengaruhi oleh refleksi dari budaya tersebut. Ditemukan nilai. peran. Karenanya status dan peran ini dapat dipertukarkan. menegaskan bahwa menurut Kej. Contohnya. Selain itu. Dengan demikian cukup banyak para teolog dan penafsir menganggap ketidakadilan dan diskriminasi terhadap perempuan. Khususnya dalam Kej. Karena itu sepanjang zaman perempuan harus dikucilkan dari kepemimpinan publik.

14: 2 – 20. 14: 34). sebagai penasihat hikmat istana. tidak boleh berperan aktif dalam masyarakat apalagi mengajar laki-laki (Kej. bisa memberikan penjelasan tentang hal ini yang bukan saja beraneka ragam bahkan kadangkala tampaknya bertentangan satu dengan lainnya. suami. Kel. 20: 17). Hak. Sebagian teks Alkitab memperlihatkan bahwa status dan peran yang layak bagi seorang perempuan adalah sebagai ibu dan istri yang fungsinya bermanfaat bagi laki-laki. Di satu pihak perempuan itu digambarkan berstatus sangat rendah. Ul. 16: 2 – 6. 21: 9. melayani untuk menyenangkan atau demi kepentingan si suami.Perjanjian Lama. tetapi si suami tidak (Ul 22: 13 – 19). Di satu pihak ia ditayangkan sebagai tokoh yang tak memiliki hak yang sama dengan laki-laki. 19). Hak 4: 4 – 6. Contohnya ia dapat dihukum suami dengan brutal. 38: 24. disangsikan kesetiaannya oleh calon atau suami. seperti melahirkan anak-anak bagi suami. Perbedaan ini jelas sekali merupakan masalah gender bukan kodrat yang ditetapkan Tuhan. dan anak-anaknya sendiri. tetapi seks dalam Alkitab tidak berubah karena situasi dan kondisi masyarakat. 29: 11. 4: 1 – 17. ia bernilai sama dengan ternak (Ul. harta warisan. Ia dapat diuji keperawanannya. bahkan atas dirinya. 30: 1 – 24.16. 19: 22 – 26). Perbedaan status dan peran yang dikemukakan di atas sesuai dengan dengan situasi dan kondisi masyarakat yang melatar-belakangi tujuan penulisan setiap bagian Alkitab (Kejadian: melahirkan. Hakim-Hakim: menjadi kepala negara. diusir dari rumah. Rut. 3: 28). 1 Kor. 11: 1 – 3. misalnya ia tak berhak atas rumah tangganya. 20: 15 – 22. lebih rendah dari lakilaki. 5 . Gal. 2 Raj. diceraikan dengan mudah. Tetapi sebagian teks Alkitab yang lain memperlihatkan status dan peran perempuan itu bukan hanya sebagai istri atau ibu tetapi sebagai mitra kerja laki-laki. Korintus: tidak boleh mengajari laki-laki). (2 Sam. Di lain pihak ia digambarkan bernilai sangat tinggi. 29: 18. hakim. Sebagai contoh ayatayat Alkitab yang berasal dari masa sebelum Kerajaan seperti 2 Sam. 25: 2 – 44). 5: 21. 24: 67. 24: 1 – 3). 19. ia bahkan bisa diserahkan untuk diperkosa beramai-ramai demi keselamatan suami (Hak. Im. nabi. ia lebih bijaksana dari si suami (1 Sam. dll. lebih tinggi dari nilai permata (Ams. 20: 15 – 22. 23: 2. 14: 2 – 20. 3: 15). pedagang ekspor impor. 31: 10. Tetapi di pihak lain diperlihatkan bahwa ia bukan saja dihormati tapi dicintai dan ditaati nasihatnya oleh suami (Kej. 21:8 – 21. sedangkan suami tidak (Kej.

Hak. Kepala “Rumah Bapa”. tentulah status dan peran perempuan menjadi sangat 6 . Dalam masyarakat yang satuan dasarnya adalah “Rumah Bapa”. khususnya dalam situasi yang amat bermasalah seperti dikemukakan di atas. termasuk dalam menjatuhkan hukuman mati. masalah muncul dari struktur masyarakat Israel sendiri. 6: 34 – 35. orang Israel juga mengalami wabah. Sebagai masyarakat suku yang satuan dasarnya adalah “Rumah Bapa”. 12: 1). Selain itu. Mereka juga menghadapi banyak masalah dari lingkungan. Seperti semua bangsa lain di Timur Tengah kuno di waktu ini. misalnya harus berpartisipasi dalam perang melawan bangsa-bangsa asing di sekitar mereka (Yos. sebelum mena-nam tanaman. Banyak sekali penyakit yang mematikan pada saat itu. tetapi anggota satuan ini juga harus menghadapi masalahnya sendirian. Semua pekerjaan dan kegiatan ini tentu membutuhkan banyak waktu dan energi. 4: 10. Mereka harus membangun rumah mereka. 5: 18. Di masa tersebut orang Israel adalah pioner di daerah pegunungan Palestina. 2 Sam. terutama yang datang dari luar. Di sini ditemukan status dan peran perempuan yang bukan saja setara bahkan bisa melampau laki-laki. 1: 21). Mereka tak bisa terlalu banyak mengharapkan bantuan dari “Rumah Bapa” yang lain. Persekutuan antar anggota amat kuat. tentulah masyarakat ini tidak memiliki kesatuan yang cukup kuat untuk menghadapi masalah. Khususnya masalah ini dialami oleh “Rumah Bapa” apabila rasa kebersamaan para tua-tua “Gabungan Rumah-Rumah Bapa”nya tidak begitu kuat. Pada periode sebelum Kerajaan aneka ragam masalah harus dihadapi masyarakat Israel kuno. 17: 18. Banyaknya wabah ini sesuai dengan aneka ragam penyakit yang disebutkan dalam Perjanjian Lama. dan menggali tempat penyimpanan air. sambil membuka hutan untuk pertanian. Masalah lingkungan lainnya adalah penyakit. 7: 24. struktur masyarakat dan budaya saat itu. kemungkinan berbentuk penyakit endemis dan infeksi. Pada periode ini.Hak 4: 4 – 6 memberikan gambaran tentang status dan peran perempuan yang sangat berbeda dari masa Kerajaan. Hal ini disebabkan oleh situas. memang mempunyai wibawa yang mutlak terhadap anggotanya. terlebih dahulu mereka harus membangun teras-teras di daerah pegunungan (Hak. kecuali dalam hal-hal tertentu saja seperti telah disebutkan sebelumnya.

Ketiga. pada periode awal kerajaan diundang ke istana untuk memberikan nasihat kepada raja. dapat dijadikan sebagai sumber dogma dan etika bagi orang Kristen? Apakah di dalam Alkitab dapat ditemukan pengajaran tentang kesetaraan gender? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang sering dikemukakan. memeliharanya. seorang perempuan tidak hanya bertanggungjawab untuk melahirkan anak. bertani dan berternak. Di dalam Alkitab ditemukan status dan peran perempuan yang merupakan refleksi dari situasi kondisi atau budaya patriakhat. Pada masa ini. ada perempuan tertua dalam keluarga. bahkan yang kadang-kadang seperti bias gender.penting. Dia bisa menjadi konselor yang diundang untuk memberi nasihat. direfleksikan dalam bagian Alkitab yang berasal dari periode ini. Kadangkala seorang perempuan harus bertang-gung jawab dan berperan sebagai kepala dalam rumah tangganya. tetapi bagi masyarakat kecil “rumah bapa” lain. Status dan peran penting itu. Dalam situasi seperti ini. Kedua. seringkali bukan hanya kepada keluarganya. baik yang masih berupa tradisi lisan ataupun sudah berbentuk tradisi tertulis. Tidak berbeda dengan suaminya ia juga memiliki wibawa mutlak atas anggota keluarga. Jumlah anggota keluarga yang besar dibutuhkan dalam pekerjaan membuka ladang dan peperangan melawan bangsa-bangsa asing di sekitar mereka. pada waktu itu para laki-laki sebagai pioner amat terikat pada pekerjaan mereka untuk membuka ladang dan berperang. Kesetaraan Gender dalam Alkitab Apakah Alkitab. c. kesejahteraan suatu keluarga amatlah ditentukan oleh besarnya jumlah anggotanya. yang penulisannya amat dipengaruhi oleh budaya patriakhat. Tetapi 7 . khususnya bila para laki-laki harus berada jauh dari rumah untuk jangka waktu yang panjang. tetapi juga mengajar. sering sekali perempuan harus bertanggung penuh untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. tentunya yang mempunyai kemampuan menonjol sehingga dianggap seorang perempuan bijaksana. status dan peran penting tersebut disebabkan oleh wibawa setiap perempuan tertua dalam kedudukannya sebagai istri kepala “Rumah Bapa”. Status dan peran penting tersebut. bahkan mengatasi semua masalah yang dihadapi. Bahkan beberapa peneliti telah membuktikan bahwa. pertama-tama disebabkan peran perempuan dalam melahirkan yang dinilai amat penting. karena seperti telah disebutkan di atas.

Status dan peran yang ideal ini dapat diperlihatkan melalui gambar yang ideal dan yang tak ideal. kitab ini ditulis untuk diajarkan. Seperti umumnya cerita-cerita penciptaan dari Timur Dekat Kuno. Demikian pula kitab Amsal yang berasal dari suatu proses dan periode yang panjang. 1 s. dll) dan sebagai pejuang bagi anggota masyarakat lain di sekitarnya yang lemah dan miskin. Kej. walaupun kemungkinan ia sudah ada dalam bentuk tradisi lisan jauh sebelum penulisannya. Keduanya sama-sama diberi kebebasan dan kuasa untuk beridentitas dalam masyarakat sebagai sintua. karena keduanya "segambar dengan Allah". jelasnya ia sudah lengkap berbentuk tulisan pada masa sesudah pembuangan. bahan pendidikan seperti Kitab Amsal. kebebasan. 8 . sehingga keduanya diberi kesempatan. pendeta. Perempuan bijaksana dalam perikop ini diperlihatkan ber-identitas bukan hanya sebagai istri yang setia bagi suaminya. dan mendominasi bumi dengan mengembangkan segala jenis ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kesejahteraan lahiriah dan batiniah manusia itu (dengan identitas sebagai pekerja atau pemimpin dalam masyarakat. laporan penciptaan itu dirancang untuk memperlihatkan sta tus perempuan yang direncanakan Allah pada mulanya dan secara idealnya. memanfaatkan. mengerti. bahkan menjadi presiden. walikota. kewajiban. Kesetaraan gender itu antara lain dapat dilihat dalam laporan-laporan penciptaan seperti Kej. tetapi juga sebagai kepala yang bijaksana bagi anggota masyarakat yang di-pimpinnya (dalam semua kebutuhan mereka seperti ekonomi. dan hak yang sama untuk menyelidiki. 1 s. Entah kapan atau entah siapa pun yang menuliskan laporan penciptaan dalam Kej.d. keduanya adalah mitra dalam masya-rakat. 31: 10 – 31. pendidikan. 1 26 – 28). 3 dan bahan pendidikan pada kitab Amsal. mengolah. Gambar yang ideal memperlihatkan bahwa perempuan berstatus sederajat dengan lakilaki. gubernur. Yang diajarkan tentu yang idealnya. mengelola.d. Gambar yang rinci tentang kesempatan untuk berperan bagi perempuan dalam masyarakat diberikan misalnya dalam Ams.bagian-bagian Alkitab yang tertentu tidak begitu dipengaruhi budaya patriakhat sehingga memperlihatkan kesetaraan gender. 3.

mendatangkan banyak kesulitan. Dari pihak laki-laki ia adalah "penye-suai" yang bertindak aktif dalam memberikan dan menyesuaikan dirinya yang tentunya berdasarkan kekhasan dan karunia yang ia miliki -misalnya dalam kekuatan fisik dan kejantanannya.. mempersiapkan makanan. Gambar laki-laki yang berstatus lebih tinggi. Perempuan adalah "penolong" bagi suaminya sedangkan laki-laki adalah "penyesuai" bagi istrinya. sesuai pula dengan situasi dan kebutuhan si perempuan sebagai istri misalnya istri yang juga memiliki profesi dalam masyarakat (". kebebasan. Janganlah mengindentikkan kodrat perempuan dalam melahirkan dengan pekerjaan rumah tangga. kekhasan. Keduanya saling tolong-menolong sesuai dengan kodrat. yang menjadi saluran keselamatan bahkan kehidupan. Dari pihak perempuan ia adalah "penolong" yang melengkapi suaminya dalam kelemahan laki-laki bila ia membujang misalnya dalam kebutuhan biologis laki-laki. Kej.seorang laki-laki akan mening-galkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya. dan situasi yang mereka miliki ("inilah dia. Istilah Ibrani untuk penolong disini adalah ezer. Perempuan berfungsi penuh dalam rumah tangga (dalam kebutuhan biologis suami dan melahirkan anak 9 .". istilah ini menunjuk kepada penolong yang berkarak-teristik Ilahi. dan disebabkan oleh dosa manusia. berkuasa atas perempuan (yang seolah-oleh harkat dan martabatnya lebih tinggi dari perempuan) adalah gambaran yang diperlihatkan sebagai yang tak ideal.. ayat 18). Dalam hal ini tidak dikenal pembagian tugas yang kaku. Status yang sederajat ini dibutuhkan untuk kesatuan dalam keluarga. bahkan belanja ke pasar. 2: 24). ayat 23). contohkalau perlu seorang laki-laki bisa ambil bagian dalam pekerjaan rumah tangga seperti mendidik anak. tulang dari tulangku dan daging dari dagingku". karunia. misalnya istri tidak boleh membantu mencari nafkah atau suami tidak boleh ambil bagian dalam pekerjaan rumah tangga..Walau tak secara rinci juga diperlihatkan bahwa idealnya perempuan dan laki-laki berstatus dan berperan sebagai mitra dalam rumah tangga (Kej.. dan haknya yang lebih rendah. dalam kodrat dan kekhasannya sebagai perempuan misalnya dalam kemampuannya untuk melahirkan dan kehalusan perasaannya ("tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja". Status dan peran si perempuan sebagai penolong tak menunjuk kepada otoritas. 2: 16 – 22).

Yoh. Dalam hal mana ukuran penentuan status seorang anggota Kerajaan Allah bukan lagi jenis kelaminnya tetapi ketaatannya melakukan kehendak Allah (Mark. Yoh.1: 26 – 56. 13: 34. 1: 12 – 14. dari persiapan pelayanan bagi perempuan dan laki-laki yang sama (Kis. PB lebih sering merefleksikan status yang ideal yang telah atau seharusnya dipulihkan ketimbang PL. 8: 1 – 3. 5: 25 – 34. Status dan peran yang ideal inilah yang harus diperjuangkan sebagai pola kesejajaran status perempuan dan laki-laki bukan hanya dulu tetapi juga kini dan bukan hanya oleh perempuan bahkan oleh semua orang beriman. 13: 10 – 17. Ini tampak dari sikap dan pandangan Yesus yang menjunjung tinggi perempuan (Mrk. Konsep yang ideal bagi status peermpuan ini dipulihkan dalam PB melalui pekerjaan Yesus Kristus. 18: 1 – 4. sehingga ditemukan apa yang mau diajarkan melaluinya kepada pembaca dulu dan kini. 10 . 12: 12 – 17. bukan ditolak tetapi dipelajari sosial budaya yang melatarbelakanginya dan tujuan penulisannya. 11: 1 – 46. 3:31 – 35). 16: 1 – 8. Laki-laki berfungsi sendirian dalam mencari nafkah. 10: 38 – 42. Kis. 12. 21: 8. Bahkan dengan jelas dikemukakan bahwa dalam Dia tidak lagi ada perbedaan status karena perbedaan jenis kelamin (Gal. 7: 24 – 30. 2 – 28. 2: 36 – 38. 17: 4. Roma 16: 1 – 16). Dan bagian Alkitab yang berisi status dan peran yang tak ideal. 11: 27 – 28. 12: 18 – 27. dan dari pelayanan perempuan sebagai mitra laki-laki (mencakup pelayanan bernubuat dan mengajar) dalam masyarakat (Mark. bahkan kadang-kadang sepertinya memperlihatkan diskriminasi terhadap perempuan. perempuan tergantung kepada laki-laki (Kej. 4: 23 – 30. 16 – 18. Akibatnya laki-laki sangat bersusah payah dalam pekerjaannya. Luk. 2: 1 – 4. 3: 27 – 28). 3: 1 – 16). 7: 11 – 17. 41 – 44. 4). 1: 29 – 31. Luk.semata-mata). 14: 3 – 9. 15: 8 – 10.

Ada bagian Alkitab dalam gender yang lepas dari pengaruh budaya. yang mengajarkan kesetaraan dan keadilan gender. Pengajaran yang seperti ini dapat ditemukan dalam laporanlaporan penciptaan (mis.1 s. Bagian ini memperlihatkan status dan peran laki-laki serta perempuan yang ideal. Bagian Alkitab yang memperlihatkan ketidakadilan gender sebagai pengaruh sosial budaya yang panjang. Pengaruh budaya patriarkhat terlihat melalui status dan peran laki-laki dan perempuan yang tidak seimbang atau tidak adil gender. Status dan peran yang berubah-ubah ini bukanlah kodrat Tuhan.d.III KESIMPULAN Alkitab terutama Perjanjian Lama baik dalam penulisan maupun pemberitaannya tidak lepas dari pengaruh budaya. jangan ditolak tetapi dipelajari latar belakangnya dan tujuan penulisannya sehingga dapat ditemukan pengajarannya untuk masa dulu dan kini. 11 . Kej. 3) dan dalam bahan pendidikan (mis. yang tetap dan tak berubah-ubah adalah seks (biologis). Kitab Amsal). Situasi sosial budaya yang berubah-ubah meng-hasilkan gambaran tentang status dan pera-nan laki-laki dan perempuan yang berubah-ubah.

C. Crenshaw. the Sage in Israel.). 1999. Sinulingga. Perdue. Eisenbrauns. R. Peranan Wanita Berhikmat di dalam kitab Amsal sebagai Model bagi Wanita Kristen (Thesis). 1990.G. Forum Biblika.L. STT HKBP.G. Sinulingga. The Social Status of Woman in the Old Testament. R. R. Jakarta. 1910. 1989. J.KEPUSTAKAAN Breyfogle. Gammie and L. J. Sinulingga. the Biblical World XXXV.M. Darius Duhut. Winona Lake. Perempuan Perlukah Kita Menggugat Kitab Suci? Kurban yang Berbau Harum (ed. The Sage in Proverbs. 1998. ed. Status Perempuan dalam Perjanjian Lama. Badan Penelitian dan Pengembangan PGI. 12 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->