P. 1
Asuhan Keperawatan Stroke Hemoragik

Asuhan Keperawatan Stroke Hemoragik

|Views: 50|Likes:
Published by Agus Wahyu

More info:

Published by: Agus Wahyu on Jun 05, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/13/2013

pdf

text

original

Asuhan Keperawatan Stroke Hemoragik

secara garis besar asuhan keperawatan pada stroke hemoragik terdiri dari lima tahap yaitu : 1. pengkajian keperawatan 2. diangnosa keperawatan 3. rencana keperawatan 4. pelaksanaan keperawatan 5. evaluasi keperawatan A. Pengkajian Pengkajian merupakan pengumpulan data yang sengaja dilakukan secara sistematik untuk menentukan keadaan kesehatan klien sekarang dan masa lalu serta untuk mengevaluasi pola koping klien sekarang dan masa lalu. Data dapat diperoleh dengan 5 (lima) cara yaitu wawancara, pemeriksaan fisik, observasi, menelaah catatan dan laporan diagnostik serta berkolaborasi dengan tim kesehatan lain. Untuk mewujudkan pengkajian yang akurat, perawat harus dapat berkomunikasi secara efektif, mengobservasi secara sistematik dan menginterprestasikan data yang akurat (Carpenito, 2000) Data dasar yang ada pada saat pengkajian pasien stroke menurut Doenges, Moorhouse, Geissler (1999) adalah : 1. Aktifitas/istirahat Adanya kelemahan, kehilangan sensasi atau paralisis, terdapat gangguan tonus otot dan gangguan tingkat kesadaran. 2. Sirkulasi Adanya hipertensi arterial, disritmia, desiran pada karotis, femoralis dan aorta yang abnormal. 3. Integritas Ego Ditemukan adanya emosi yang labil dan kesulitan untuk mengekspresikan diri, perasaan tidak berdaya dan putus asa. 4. Eliminasi Ditemukan adanya perubahan pola berkemih seperti inkontinensia urine maupun anuria, distensi abdomen (pada perabaan kandung kemih berlebihan). 5. Status Nutrisi Didapatkan anoreksia, mual dan muntah selama fase peningkatan TIK, kehilangan sensasi (rasa kecap) pada lidah, pipi, tenggorokan dan disfagia (kesulitan menelan). 6. Neurosensori Adanya sakit kepala (yang bertambah berat dengan adanya perdarahan intraserebral), kelemahan, kesemutan, penglihatan menurun (total), kehilangan daya lihat sebagian (kebutaan monokuler), penglihatan ganda (diplopia) serta hilangnya rangsang sensorik kontralateral (pada sisi tubuh yang berlawanan) pada ekstremitas. Dapat juga ditemukan adanya gangguan tingkat kesadaran seperti koma, kelemahan atau paralisis, pada ekstermitas (kontralateral pada semua jenis stroke), parase pada wajah, afasia, miosis/midriasis pada pupil disertai dengan ukuran yang tidak sama. 7. Nyeri/kenyamanan Sakit kepala dengan intensitas yang berbeda-bada, adanya tingkah laku yang tidak stabil dan gelisah 8. Pernafasan Ditandai dengan ketidakmampuan menelan/batuk/hambatan jalan nafas. 9. Keamanan Ditemukan perubahan persepsi terhadap orientasi tempat tubuh, kesulitan untuk melihat

b. tapi bukan prioritas. 3. Kurang perawatan diri berhubungan dengan kerusakan neuromuskuler. d. gangguan oklusif. 2. ketidak mampuan untuk berkomunikasi 11. Angiografi serebral memperlihatkan adanya perdarahan arteri atau adanya oklusi atau ruptur. Gangguan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan interupsi aliran darah. et al (1999) adalah : 1. Fase perencanaan dari proses keperawatan mempunyai 3 (tiga) komponen (Carpenito. Resiko tinggi terhadap kerusakan menelan berhubungan dengan kerusakan neuromuskuler atau perseptual. Kurang pengetahuan tentang kondisi dan pengobatan serta perawatan. Menetapkan set prioritas diagnosis Untuk membedakan prioritas diagnosa dari semua yang penting. kehilangan tonus/kontrol otot fasial atau oral. kelemahan/kelelahan umum. MRI menunjukkan daerah yang mengalami infark. 8. kerusakan perseptual/kognitif. Pungsi lumbal memperlihatkan adanya peningkatan dan cairan yang mengandung darah menunjukan adanya perdarahan intrakranial. parestesia. C. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan kerusakan sirkulasi serebral. memfokuskan dan mengatasi kebutuhan spesifik serta respons terhadap masalah aktual dan resiko tinggi (Doenges dkk. Interaksi sosial Masalah dalam berbicara. hemoragik. malformasi arteriovena (AVM). 4. 7. Diagnosa prioritas Diagnosa-diagnosa keperawatan atau masalah-masalah kolaboratif yang apabila tidak diarahkan akan menghambat kemajuan untuk mencapai hasil atau akan berpengaruh negative . a. B. flaksid/paralisis hipotonik (awal). psikososial. 10. Penyuluhan atau pembelajaran Adanya riwayat hipertensi pada keluarga. paralisis spastis. 12. Diagnosa keperawatan yang timbul pada pasien dengan stroke hemoragik menurut Doenges. perseptual kognitif. c. e. EEG mengidentifikasi masalah berdasarkan pada gelombang otak dan mungkin memperlihatkan daerah lesi yang spesifik. 6. gangguan berespon terhadap panas atau dingin. f. edema serebral. stroke dan pacandu alcohol. Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan adalah cara mengidentifikasi. kehilangan kontrol/koordinasi otot. CT Scan memperlihatkan edema. Sinar X menggambarkan klasifikasi parsial dinding aneurisma pada perdarahan subarakhnoid. iskemia dan adanya infark. 1999). 2000) yaitu : 1. hematoma. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan keterlibatan neuromuskuler. 5. vasospasme serebral. penurunan kekuatan dan ketahanan. kelemahan.objek dari sisi kiri atau kanan. hemoragi. integrasi (trauma neurologis atau defisit). Pemeriksaan Diagnostik a. Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan perubahan persepsi sensori. transmisi. Gangguan harga diri rendah berhubungan dengan perubahan biofisik. kerusakan neuromuskuler. Perencanaan Keperawatan Stroke Hemoragik Sebagai langkah selanjutnya dalam proses keperawatan adalah perencanaan yaitu penentuan apa yang ingin dilakukan untuk membantu klien dalam pemenuhan kebutuhan kesehatan dan mengatasi masalah keperawatan.

Memutuskan intervensi keperawatan Bulechek dan McCloskey (1989) mendifinisikan intervensi keperawatan sebagai suatu tindakan perawatan langsung yang dapat dilakukan perawat atas nama klien. Tentukan faktor-faktor yang berhubungan dengan keadaan tertentu atau yang menyebabkan koma atau penurunan perfusi jaringan otak dan potensial peningkatan TIK. gangguan oklusif. Hipotensi dapat terjadi karena syok (kolaps sirkulasi vaskuler). Rasional : Mempengaruhi penetapan intervensi. (1999) adalah : 1. Dapat menunjukan Transient Ischemic Attack (TIA). mempertahankan tingkat kesadaran biasa atau perbaikan. Berikan istirahat secara periodik antara aktivitas perawatan. vasospasme serebral. adanya . seperti fungsi bicara jika pasien sadar. Intervensi : a. mendemostrasikan tanda-tanda vital stabil dan tidak adanya tanda-tanda peningkatan Tekanan Intrakranial (TIK). hemoragi. batasi pengunjung/aktivitas pasien sesuai indikasi. Peningkatan TIK dapat terjadi karena edema. Pentau tanda-tanda vital seperti adanya hipertensi/hipotensi. Rasional : Aktivitas/stimulasi yang kontinu dapat meningkatkan TIK. 3. c. b. Diagnosa keperawatan yang telah disusun pada pasien dengan stroke hemoragik. Pantau atau catat status neurologis sesering mungkin dan bandingkan dengan keadaan normalnya atau standar Rasional : Mengetahui kecenderungan tingkat kesadaran dan potensial peningkatan TIK dan mengetahui lokasi. b.pada status fungsional klien (gangguan perfusi jaringan serebral pada klien dengan perdarahan di otak) b. Kerusakan atau kemunduran tanda atau kemunduran tanda atau gejala neurologis atau kegagalan memperbaikinya setelah fase awal memerlukan pembendahan dan atau pasien harus di pindahkan ke ruang perawatan kritis (ICU). Menyusun kriteria hasil dan sasaran keperawatan Menurut Bulechek dan McCloskey (1985) dalam Carpenito (2000) Tujuan diagnosa keperawatan adalah sebagai “pos pemandu untuk memilih intervensi keperawatan dan kriteria evaluasi dari intervensi keperawatan”. luas dan kemajuan/resolusi kerusakan Sistem Saraf Pusat (SSP). Diagnosa penting Diagnosa-diagnosa keperawatan atau masalah-masalah kolaboratif dimana pengobatanya dapat ditangguhkan pada waktu lain tanpa menurunkan status fungsional yang ada (resiko gangguan perawatan diri pada pasien dengan kondisi kesehatan yang mulai stabil) 2. Istirahat total dan ketenangan mungkin diperlukan untuk pencegahan terhadap perdarahan dalam kasus stroke hemoragi e. Pertahankan keadaan tirah baring. Kaji fungsi-fungsi yang lebih tinggi. Rasional : Perubahan dalam isi kognitif dan bicara merupakan indikator dari lokasi/derajat gangguan serebral dan mungkin mengidentifikasikan dengan penurunan/peningkatan TIK. bandingkan tekanan darah yang terbaca pada kedua lengan. Tindakan ini termasuk tindakan inisiatif perawat sebagai hasil dari diagnosa keperawatan. ciptakan lingkungan yang tenang. Rasional : Hipotensi postural dapat menjadi faktor pencetus. tindakan inisiatif dokter sebagai hasil dari diagnosa medis dan penampilan dari fungsi harian yang esensial bagi klien yang tidak dapat melakukannya. Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan interupsi aliran darah. maka rencana asuhan keperawatan yang dapat dilakukan menurut Doenges et al. kognisidan fungsi motorik atau sensori. edema serebral. d. batasi lamanya setiap prosedur. Kriteria evalusi pasien akan : a.

Rasional : Reaksi pupil diatur oleh saraf kranial okulomotor (III) dan berguna dalam menentukan apakah batang otak tersebut masih baik. lapang pandang menyempit dan kedalaman persepsi. gunakan papan kaki selama periode paralisis. kelemahan. menurunkan sirkulasi. Kriteria evaluasi pasien akan : a.formasi bekuan darah. catat ukuran. Tersumbatnya arteri subklavia dapat dinyatakan dengan adanya perbedaan tekanan pada kedua lengan. j. seperti adanya penglihatan yang kabur. Hindari pemakaian bantal besar pada kepala. Bantu dalam pemilihan terhadap intervensi sebab teknik yang berbeda digunakan untuk paralisis spastik dengan flaksid. flaksid/paralisis hipotonik. g. h. kesamaan antara kiri dan kanan. Lakukan latihan gerak aktif dan pasif pada semua ekstremitas (bila memungkinkan). Rasional : Meminimalkan atrofi otot. paralisis spastis. 1998). Kolaborasi dalam analisa gas darah dan pemberian terapi medis. Rasional : Menurunkan tekanan arteri dengan meningkatkan drainase dan meningkatkan sirklasi atau perfusi serebral (Tucker et al. c. mempertahankan atau meningkatkan kekuatan dari fungsi bagian tubuh yang terkena. Kaji kemampuan secara fungsional/luasnya kerusakan awal dengan cara yang teratur. Daerah yang terkena mengalami perburukan/sirkulasi yang lebih jelek dan menurunkan sensasi dan lebih besar menimbulkan kerusakan pada kulit/dekubitus c. Ubah posisi minimal tiap dua jam (miring. ganda. serta mempertahankan integritas kulit. Rasional : Keseimbangan harus dipertahankan untuk menjamin hidrasi untuk mengencerkan sekresi pada saat yang sama mencegah hipovolemia yang meningkatkan TIK (Tucker et al. f. b. Rasional : Hipoksia dapat menyebabkan vasodilatasi serebral dan terbentuknya edema (Tucker et al. Klasifikasikan melalui skala 0-4. Pertahankan kepala atau leher pada posisi tengah atau posisi netral. membantu mencegah kontraktur . Kaji perubahan pada penglihatan. Rasional : Menurunkan resiko terjadinya trauma/iskemia jaringan. 1998). sokong dengan gulungan handuk kecil atau bantal kecil. i. ketajaman. Pantau pemasukan dan pengeluaran. 2. mendemonstrasikan perilaku yang memungkinkan melakukan aktivitas. mempertahankan posisi yang optimal yang dibuktikan oleh tidak adanya kontraktur.1998). Rasional : Gangguan penglihatan yang telah spesifik mencerminkan daerah otak yang terkena mengindikasikan keamanan yang harus mendapat perhatian dan mempengaruhi intervensi yang harus dilakukan. Ukuran dan kesamaaan pupil ditentukan oleh keseimbangan antara persarafan simpatis dan parasimpatis yang mempersarafinya. dan reaksinya terhadap cahaya. b. Sokong ekstermitas dalam posisi fungsionalnya. Evaluasi keadaan pupil. telentang). 0 = pasien tidak tergantung pada orang lain 1 = pasien butuh sedikit bantuan 2 = pasien butuh bantuan/pangawasan/bimbingan sederhana 3 = pasien butuh bantuan/peralatan yang banyak 4 = pasien sangat tergantung pada pemberian pelayanan Rasional : Mengidentifikasi kekuatan/kelemahan dan dapat memberikan informasi mengenai pemulihan. Intervensi : a. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan keterlibatan neuromuskuler.

kerusakan neuromuskuler. Kolaborasikan dengan ahli fisioterapi dan obat-obatan medis dalam membantu pemulihan kondisi. Rasional : Mencegah/menurunkan tekanan koksigeal atau kerusakan kulit. e. g. membuat metode komunikasi dimana kebutuhan dapat diekspresikan. Susun tujuan dengan klien atau orang terdekat untuk berpartisipasi dalam latihan dan mengubah posisi. Kriteria hasil pasien akan : mengidentifikasi pemahaman tentang masalah komunikasi. Rasional : Titik-titik takanan pada daerah yang menonjol paling beresiko untuk terjadinya penurunan perfusi/iskemia. Rasional : Program yang khusus dapat dikembangkan untuk menemukan kebutuhan yang berarti/menjaga kekurangan tersebut dalam keseimbangan. l. Observasi daerah yang terkena termasuk warna. Rasional : Meningkatkan harapan terhadap perkembangan atau peningkatan dan memeberikan perasaan kontrol atau kemandirian. dan kekuatan. sesuai indikasi. d. Intervensi : a. j. Kaji derajat disfungsi. penggunaan penyangga dapat menurunkan resiko terjadinya subluksasio lengan dan “sindrom bahu-lengan”. Anjurkan klien untuk membantu pergerakan dan latihan dengan menggunakan ekstremitas yang tidak sakit untuk menyokong/menggerakkan daerah tubuh yang mengalami kelemahan. f. edema atau tanda lain dari gangguan sirkulasi. Rasional : Jaringan yang mengalami edema lebih mudah mengalami trauma dan penyembuhannya lambat. h. Umpan balik membantu . koordinasi. Perhatikan kesalahan dalam komunikasi dan berikan umpan balik. Rasional : Pasien mungkin kehilangan kemampuan untuk memantau ucapan yang keluar dan tidak menyadari bahwa komunikasi yang diucapkan tidak nyata. i. Rasional : Membantu menentukan daerah atau derajat kerusakan serebral yang terjadi dan kesulitan pasien dalam beberapa atau seluruh tahap proses komunikasi. 3.menurunkan resiko terjadinya hiperkalsiuria dan osteoporosis jika masalah utamanya adalah perdarahan. Stimulasi sirkulasi dan memberikan bantalan membantu mencegah kerusakan kulit dan berkembangnya dekubitus. Alasi kursi duduk dengan busa atau balon air dan bantu pasien untuk memindahkan berat badan dalam interval yang teratur. kehilangan tonus otot fasia/oral. meningkatkan respon proprioseptik dan motorik. Lakukan massase pada daerah kemerahan dan beri alat bantu seperti bantalan lunak kulit sesuai kebutuhan. k. Posisikan lutut dan panggul dalam posisi ekstensi Rasional : Mempertahankan posisi fungsional. Rasional : Membantu dalam melatih kembali fungsi saraf. Rasional : Dapat berespon dengan baik jika daerah yang sakit tidak menjadi lebih terganggu dan memerlukan dorongan serta latihan aktif untuk menyatukan kembali sebagai bagian dari tubuhnya sendiri. Gunakan penyangga lengan ketika klien berada dalam posisi tegak. menggunakan sumber-sumber dengan tepat. b. Bantu untuk mengembangkan keseimbangan duduk (seperti meninggikan bagian kepala) tempat tidur. bantu untuk duduk disisi tempat tidur. Rasional : Selama paralisis flaksid. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan kerusakan sirulasi serebral. seperti klien mengalami kesulitan berbicara atau membuat pengertian sendiri.

Orientasikan kembali pasien secara teratur pada lingkungannya. Rasional : Pemberian pengenalan terhadap adanya orang/benda dapat membantu masalah persepsi. Bicaralah tanpa tekanan pada sebuah respons. Intervensi : a. f. gerakan bibir. Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan perubahan persepsi sensori. Dekati pasien dari daerah penglihatan yang normal. d. trasmisi. mendemonstrasikan perilaku untuk mengkompensasikan terhadap/defisit hasil. Ciptakan lingkungan yang sederhana. Minta klien untuk menggucapkan suara sederhana seperti “Sh” atau “Pus”. tajam/tumpul. Berikan pasien jatak waktu untuk merespons. e. Minta klien untuk menulis nama atau kalimat pendek. Rasional : Melakukan penilaian terhadap adanya kerusakan motorik (afasia motorik) seperti pasien mungkin mengenalinya tetapi tidak dapat menyebutkannya. e. Penutupan mata mungkin dapat menurunkan kebingungan karena adanya pandangan ganda. Rasional : Mengurangi isolasi sosial pasien dan meningkatkan penciptaan komunikasi yang efektif. meningkatkan resiko terjadinya trauma. Rasional : Membantu klien untuk mengidentifikasi ketidak-konsistenan dari persepsi dan integritas stimulasi dan mungkin menurunkan distorsi persepsi pada realitas. Tutup mata yang sakit jika perlu. 4. pindahkan perabotan yang membahayakan. Rasional : Meningkatkan keamanan pasien dan menurunkan resiko terjadinya trauma. Rasional : Penurunan kesadaran terhadap sensorik dan kerusakan perasaan kinetik berpengaruh buruk terhadap keseimbangan/posisi tubuh dan kesesuaian dari gerakan yang menggangu ambulasi. Kaji kesadaran sensorik seperti membedakan panas/dingin. Bicara dengan nada normal dan hindari percakapan yang cepat. Rasional : Mengidentifikasi adanya disartria sesuai komponen motorik dari bicara (seperti : lidah. Hindari kebisingan/stimulasi eksternal yang berlebih sesuai kebutuhan. mengakui perubahan dalam kemampuan dan adanya keterbatasan residual. kaji adanya lingkungan yang membahayakan. Rasional : Menilai kemampuan menulis (agrafia) dan kekurangan dalam membaca yang benar (aleksia) yang juga merupakan bagian dari afasia sensori dan afasia motorik. b. Rasional : Perawat tidak perlu merusak pendengaran dan meninggikan suara dapat menimbulkan pasien marah. Lakukan validasi terhadap persepsi pasien. menurunkan resiko terjadinya kecelakaan d. Rasional : Menurunkan/membatasi jumlah stimulasi penglihatan yang mungkin dapat menimbulkan kebingungan terhadap interprestasi lingkungan. Rasional : Menurunkan ansietas dan respons emosi yang berlebihan/kebingungan yang berhubungan dengan sensori berlebihan. f. Biarkan lampu menyala. integrasi (trauma neurologis). Tunjukkan objek dan minta klien untuk menunjukkan nama dari objek tersebut. . Kriteria evaluasi pasien akan : mempertahankan tingkat kesadaran dan fungsi perceptual.pasien merealisasikan kenapa pemberi asuhan tidak mengerti atau berespon sesuai dan memberikan kesempatan untuk mengklarifikasi isi atau makna yang terkandung. letakkan banda dalam jangkauan lapang penglihatan yang normal. c. Anjurkan kepada orang terdekat untuk tetap memelihara komunikasi dengan klien. Lindungi pasien dari suhu yang berlebih. mencegah pasien dari terkejut. kontrol nafas) yang dapat mempengaruhi artikulasi. g. c. Mefokuskan respons dapat mengakibatkan frustasi dan mungkin menyebabkan pasien terpaksa untuk bicara otomatis seperti : memutarbalikkan kata. Rekomendasikan pemeriksaan terhadap suhu air dengan tangan yang normal. staf dan tindakan yang akan dilakukan.

Berikan umpan balik yang positif untuk setiap usaha yang dilakukan atau keberhasilannya. kehilangan kontrol atau koordinasi otot. Pertahankan dukungan. Kurang perawatan diri berhubungan dengan kerusakan neuromuskuler. Rasional : Mambantu dalam mangantisipasi/merencanakan pemenuhan kebutuhan secara individual. perseptual kognitif. mengidentifikasi sumber pribadi/komunitas memberikan bantuan sesuai kebutuhan. Rasional : Mendemonstrasikan penerimaan/membantu pasien untuk mengenal dan mulai mamahami perasaan ini. Kriteria evaluasi pasien akan : Berkomunikasi dengan orang terdekat tentang situasi dan perubahan yang telah terjadi. Bantu dorong kebiasaan berpakaian dan berdandan yang baik. Meningkatkan kemandirian. c. Kriteria evaluasi pasien akan : mendemonstrasikan teknik/perubahan gaya hidup yang memenuhi kebutuhan perawatan diri. 0 = pasien tidak tergantung pada orang lain. Rasional : Pasien ini mungkin menjadi sangat ketakutan dan sangat tergantung dan meskipun bantuan yang diberikan bermanfaat dalam mencegah frustasi. Intervensi : a. 2 = pasien butuh bantuan/pangawasan/bimbingan sederhana. psikososial. melakukan akativitas perawatan diri dalam tingkat kemampuan sendiri. d. 1 = pasien butuh sedikit bantuan. sikap yang tegas. Rasional : Mengkonsolidasikan keberhasilan membantu menurunkan perasaan marah dan ketidakberdayaan dan menimbulkan perasaan adanya perkembangan. Anjurkan pasien untuk mengekpresikan perasaannya termasuk rasa bermusuhan dan perasaan marah. Intervensi : a. Rasional : Penentuan faktor-faktor secara individu membantu dalam mengembangkan perencanaan asuhan/pilihan intervensi. mengungkapkan penerimaan pada diri sendiri dalam situasi. penurunan kekuatan dan ketahanan. c. tetapi berikan bantuan sesuai kebutuhan. b. Rasional : Meningkatkan perasaan makna diri. Hindari melakukan sesuatu untuk pasien yang dapat dilakukan pasien sendiri. Kaji luasnya gangguan peresepsi dan hubungkan dengan derajat ketidakmampuannya.5. dan mendorong pasien untuk berusaha secara kontinu. Rasional : Pasien akan memerlukan empati tapi perlu untuk mengetahui pemberi asuhan yang akan membantu pasien secara konsisten 6. Gangguan harga diri rendah berhubungan dengan perubahan biofisik. b. adalah penting bagi pasien untuk melakukan sebanyak mungkin untuk diri sendiri untuk mempertahankan harga diri dan meningkatkan pemulihan. 4 = pasien sangat tergantung pada pemberian pelayanan. beri pasien waktu yang cukup untuk mengerjakan tugasnya. 3 = pasien butuh bantuan/peralatan yang banyak. mengenali dan menggabungkan perubahan dalam konsep diri dalam cara yang akurat tanpa menimbulkan harga diri negatif. d. Rasional : Membantu meningkatkan perasaan harga diri dan kontrol atas salah satu bagian . Kaji kemampuan dan tingkat kekurangan (dengan menggunakan skala 0-4) untuk melakukan kebutuhan sehari-hari. Tekankan keberhasilan yang kecil sekali pun baik mengenai penyembuhan fungsi tubuh ataupun kemandirian pasien.

Kriteria evalusi pasien akan : berpartisipasi dalam proses belajar. f. . Rasional : Mengisyaratkan kemungkinan adaptasi untuk mengubah dan memahami tentang peran diri sendiri dalam kehidupan selanjutnya. mempertahankan berat badan yang diinginkan Intervensi : a. Rasional : Meningkatkan pemahaman. Rasional : Membangun kembali rasa kemandirian dan menerima kebanggaan diri dan meningkatkan proses rehabilitasi. Berikan cairan melalui IV dan/atau makanan melalui selang. 8. gangguan lidah. b. Berikan makan dengan perlahan pada lingkungan yang tenang. memberikan harapan pada masa. catat jumlah kalori yang masuk. e. contohnya : telur. Identifikasi cara meneruskan program setelah pulang. Rasional : Pasien dapat berkonsentrasi pada mekanisme makan tanpa adanya distraksi/gangguan dari luar. memulai perubahan gaya hidup yang diperlukan. catat luasnya paralisis fasial. menurunkan resiko terjadinya aspirasi. Berikan dukungan terhadap perilaku/usaha seperti meningkatkan minat/pertisipasi pasien dalam kegiatan rehabilitatif. Kriteria evaluasi pasien akan : mendemostrasikan metode makan tepat untuk situasi individual dengan aspirasi tercegah. makanan kecil yang lunak lainnya. Tinjau ulang/pertegas kembali pengobatan yang diberikan. Rasional : Menguatkan otot fasialis dan otot menelan dan menurunkan resiko terjadinya tersedak. Anjurkan pasien menggunakan sedotan untuk meminum cairan. c. makanan lunak ketika pasien dapat menelan air. mengungkapkan pemahaman tentang kondisi/prognosis dan aturan terapeutik. Datang dan menimbulkan harapan dari keterabatasan hidup secara “normal”. Pilih/Bantu pasien untuk memilih makanan yang kecil atau tidak perlu mengunyah dan mudah ditelan. Tinjau ulang keterbatasan saat ini dan diskusikan rencana/kemungkinan melakukan kembali aktifitas.kehidupan. Rasional : Identifikasi kemampuan menelan pasien untuk menentukan pemilihan intervensi yang tepat. Rasional : Mungkin diperlukan untuk memberikan cairan pengganti dan juga makanan jika pasien tidak mampu untuk memasukkan segala sesuatu melalui mulut. f. Kurang pengetahuan tentang kondisi dan pengobatan serta perawatan. d. Timbang berat badan secara periodik sesuai kebutuhan. 7. agar-agar. Rasional : Makanan lunak/cair kental lebih muda untuk mengendalikannya di dalam mulut. Resiko tinggi terhadap kerusakan menelan berhubungan dengan kerusakan neuromuskuler atau perseptual. b. Kaji ulang kemampuan menalan pasien secara individual. Dorong orang terdekat agar memberikan kesempatan pada klien untuk melakukan sebanyak mungkin untuk dirinya sendiri. Intervensi : a. kemampuan untuk melindungi jalan nafas. Pertahankan masukan dan haluan dengan akurat. e. Mulai berikan makan per oral setengah cair. Rasional : Jika usaha menelan tidak mamadai untuk memenuhi kebutuhan cairan dan makanan harus dicarikan metode alternatif untuk makan.

Evaluasi mengenai status dan kejadian rencana perawatan. 2.Rasional : Aktvitas yang dianjurkan. Identifikasi sumber-sumber yang ada dimasyarakat. atau program pendukung lainnya. E. Melakukan penyuluhan untuk membantu klien mamperoleh pengetahuan baru mangenai kesehatan mereka sendiri atau penatalaksanaan penyimpangan. atau masalah dan menggali pilihan yang tersedia. seperti perkumpulan stroke. 4. Melakukan aktivitas untuk klien atau membantu klien. Kebutuhan pasien sehari-hari dapat dipenuhi oleh pasien sendiri atau dengan bantuan yang minimal dari orang lain. mengurangi atau mengatasi masalah kesehatan. Hasil yang diharapkan sebagai indikator evaluasi asuhan keperawatan pada penderita stroke yang tertuang dalam tujuan pemulangan (Doenges et al. Keterampilan dan pengetahuan perlu untuk implementasi yang biasanya difokuskan pada : 1. pembatasan dan kebutuhan obat/terapi dibuat pada dasar pendekatan interdisipliner terkoordinasi. Rasional : Stimulasi yang beragam dapat memperbesar gangguan proses berfikir. d. Proses dan prognosis penyakit dan pengobatanya dapat dipahami. Sarankan menurunkan/membatasi stimulasi lingkungan terutama selama kegiatan berpikir. Evaluasi mencakup tiga pertimbangan yang berbeda (Carpenito. 2000) yaitu : 1. Evaluasi tentang kemajuan klien kearah pencapaian sasaran. Evaluasi Evaluasi adalah hasil yang didapatkan dengan menyebutkan item-item atau perilaku yang dapat diamati dan dipantau untuk menentukan apakah hasilnya sudah tercapai atau belum dalam jangka waktu yang telah ditentukan (Doenges et al. penurunan fungsi neurologis diminimalkan atau dapat stabil. Membantu klien untuk mengidentifikasi resiko. Dokumentasi keperawatan sangat penting bagi perawat dalam memberikan asuhan . Pelaksanaan Keperawatan Stroke Hemoragik Tindakan keperawatan (implementasi) adalah preskripsi untuk mengetahui perilaku positif yang diharapkan dari klien atau tindakan yang harus dilakukan oleh perawat sesuai dengan apa yang direncanakan (Doenges et al. 4. 7. perencanaan untuk masa depan. Mampu melakukan koping dengan cara yang positif. 3. Konsultasi dan rujuk pada profesional perawatan kesehatan lainnya untuk memperoleh arahan yang tepat. c. 2000) adalah : 1. Memberikan tindakan perawatan spesifik untuk menghilangkan. 8. Komplikasi dapat dicegah atau diminimalkan. Membantu klien untuk melaksanakan aktivitas mereka sendiri. 3. 1999). Alfaro (1994) dalam Carpenito (2000) menyatakan bahwa komponan implementasi dari proses keperawatan meliputi penerapan keterampilan yang perlu implementasi intervensi keperawatan. Melakukan pengakajian keperawatan untuk mengidentifikasi masalah baru atau mamantau status atau masalah yang ada. Fungsi serebral membaik/meningkat. Rasional : Meningkatkan kemampuan koping dan meningkatkan penanganan di rumah dan penyelesaian terhadap kerusakan. Mengikuti cara tersebut merupakan suatu hal yang penting pada kemajuan pemulihan/pencegahan komplikasi. 2. 5. 5. 6. D. Evaluasi mengenai status klien 2. 3. 2000). Membantu klien membuat keputusan tantang perawatan kesehatan dirinya sendiri.

. Dokumentasi ini penting karena pelayanan keperawatan yang diberikan kepada klien membutuhkan catatan dan pelaporan yang dapat digunakan sebagai tanggung jawab dan tanggung gugat dari berbagai kemungkinan masalah yang dialami klien baik masalah kepuasan maupun ketidakpuasan terhadap pelayanan yang diberikan (Hidayat 2001).keperawatan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->