PERILAKU PROSOSIAL

Perilaku prososial dapat dimengerti sebagai perilaku yang menguntungkan penerima, tetapi tidak memiliki keuntungan yang jelas bagi pelakunya. William (1981) membatasi perilaku prososial secara lebih rinci sebagai perilaku yang memiliki intensi untuk mengubah keadaan fisik atau psikologis penerima bantuan dari kurang baik menjadi lebih baik, dalam arti secara material maupun psikologis. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa perilaku prososial bertujuan untuk membantu meningkatkan well being orang lain. Lebih jauh lagi, pengertian perilaku prososial mencakup tindakan-tindakan: sharing (membagi), cooperative (kerjasama), donating (menyumbang), helping (menolong), honesty (kejujuran), generosity (kedermawanan), serta mempertimbangkan hak dan kesejahteraan orang lain. Perilaku prososial meliputi segala bentuk tindakan yang dilakukan atau direncanakan untuk menolong, tanpa memperhatikan motif penolongnya. Perilaku prososial mencakup kategori yang lebih luas yaitu meliputi segala bentuk tindakan yang dilakukan atau direncanakan untuk menolong orang lain, tanpa memperdulikan motif-motif si penolong. Beberapa jenis perilaku prososial tidak merupakan tindakan altruistik(tindakan sukarela yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang untuk menolong orang lain tanpa mengharapkan imbalan apa pun). Lebih tandas, Brigham (1991) menyatakan bahwa perilaku peososial mempunyai maksud untuk menyokong kesejahteraan orang lain. Ada tiga indikator yang menjadi tindakan prososial, yaitu: 1. tindakan itu berakhir pada dirinya dan tidak menuntut keunrungan pada pihak pelaku. 2. tindakan itu dilahirkan secara sukarela. 3. tindakan itu menghasilkan kebaikan. Berdasarkan batasan-batasan diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa perilaku prososial adalah segala bentuk perilaku yang memberikan konsekwensi positif bagi penerima, baik dalam bentuk materi, fisik maupun psikologis, tetapi tidak memiliki keuntungan yang jelas bagi pemiliknya. Menurut Staub (1978) terdapat beberapa faktor yang mendasari seseorang untuk bertindak prososial, yaitu: 1. Self-gain Harapan seseorang untuk memperoleh atau menghindari kehilangan sesuatu. 2. Personal values and norms Adanya nilai-nilai dan norma sosial yang diinternalisasi oleh individu selama mengalami sosialisasi dan sebagian nilai-nilai serta norma tersebut berkaitan dengan tindakan prososial.

ia akan menolong atau tidak tergantung norma-norma yang dipersepsi dalam situasi itu. tenaga. gender. Kehadiran orang lain Penelitian yang dilakukan oleh Darley dan Latane kemudian Darley dan Latane (1969) menunjukkan hasil bahwa orng yng melihat kejadian darurat akan lebih suka memberikan pertolongan apabila mereka sendirian daripada bersama orang lain. seseorang akan mengalami kekaburan tanggung jawab. 2. yaitu: 1. Jika pengorbanan untuk menolong rendah. b. waktu. . Pengalaman dan suasana hati. karakteristik orang yang melihat kejadian seperti usia. Jika keduanya relatif sama tinggi kemungkinan ia akan melakukan pertolongan secara tidak langsung. Jika pengorbanan untuk menolong tinggi dan pengorbanan jika tidak menolong rendah. Jadi prasyarat untuk mampu melakukan empati. c. daya tarik Dengan demikian beberapa faktor yang termasuk dalam faktor situasional yaitu a. Ada beberapa faktor personal maupun situasional yang menetukan tindakan prososial. dan 3. Kemampuan untuk empati ini erat kaitanya dengan pengambilalihan peran. individu harus memiliki kemampuan untuk melakukan pengambilan peran. Sebab dalam situasi kebersamaan. Ada tiga faktor yang mempengaruhi kemungkinan terjadinya perilaku prososial. Empathy Kemampuan seseorang untuk ikut merasakan perasaan atau pengalaman orang lain. ras. ia mungkin akan menghindari atau meninggalkan situasi darurat itu. ras. tindak pertolongan secara langsung akan terjadi. Biasanya seseorang akan membandingkan antara besarnya pengorbanan jika ia menolong dengan besarnya pengorbanan jika ia tidak menolong. maka kecil kemungkinan baginya untuk bertindak prososial. Demikian pula sebaliknya jika keduanya. karakteristik korban seperti jenis kelamin.3. karakteristik situasional. Pengorbanan yang harus dikeluarkan Meskipun calon penolong tidak mengalami kekaburan tanggung jawab. resiko terluka fisik) diantisipasikan terlalu banyak. kemampuan untuk menolong. atau mungkin akan melakukan interpretasi ulang secara kognitif terhadap situasi tersebut. baik pengorbanan untuk menolong atau pun tidak menolong diinterpretasikan sama rendahnya. tetapi bila pengorbanan (misalnya. sedangkan jika pengorbanan jika tidak menolong tinggi. seperti situasi yang kabur atau samar-samar dan jumlah orang yang melihat kejadian. uang.

Masing-masing orang memiliki tanggung jawab sosial untuk menolong mereka yang lemah. Hubungan antara calon penolong dengan si korban makin jelas dan dekat hubungan antara calon penolong dengan calon penerima bantuan akan memberi dorongan yang cukup besar pada diri calon penolong untuk lebih cepat dan bersedia terlibat secara mendalam dalam melakukan tindakan pertolongan. sehingga ada kemungkinan besar ia akan mengurungkan niatnya untuk memberikan pertolongan. artinya seseorang cenderung memberikan bantuan kepada mereka yang pernah memberikan bantuan kepadanya sehingga dengan ini dapat dipertahankan adanya keseimbangan dalam hubungan interpersonal.com/2012/04/perilaku-prososial. d.html . orang akan kurang suka memberikan pertolongan. Kejelasan stimulus semakin jelas stimulus dari situasi darurat. Adanya norma-norma sosial. Sebaliknya situasi darurat yang sifatnya samar-samar akan membingungkan dirinya dan membuatnya ragu-ragu. akan meningkatkan kesiapan calon penolong untuk bereaksi. Norma sosial yang berkaitan dengan tindakan prososial adalah resipprokal (timbal balik) dan norma tanggung jawan sosial. Kedekatan hubungna ini dapat terjadi karena adanya pertalian keluarga. Demikian pula orang yang mengalami suasana hati yang gembira akan lebih suka gembira. http://ngobrolpsikologi. bila sebelumnya mengalami kesuksesan atau hadiah dengan menolong. f.blogspot. e. kesamaan latar belakang atau ras. Sedangkan dalam suasana hati yang sedih.Seseorang akan lebih suka memberikan pertolongan pada orang lain. Sedang pengalaman gagal akan menguranginya. Biasanya didalam masyarakat berlaku pula norma bahwa kita harus menolong orang yang membutuhkan pertolongan.

sekolah maupun masyarakat umum. Pembentukan perilaku prososial dapat kita lakukan dengan sering memberikan stimulus tentang perilakuperilaku baik (membantu orang yang kesulitan dan lain sebagainya). sehingga kondisi ini akan memberikan dorongan untuk senantiasa berbuat baik untuk orang lain. yaitu : a. Memberikan penekanan terhadap norma-norma prososial. menyelamatkan. ia akan berusaha tetap berada di kelompok tersebut dan akan melakukan perbuatan yang menuntun ia dapat diterima oleh anggota kelompok yang lain. 4. Perilaku prososial mempunyai maksud untuk menyokong kesejahteraan orang lain dengan cara menolong. Tindakan tersebut berakhir pada dirinya dan tidak menuntut keuntungan pada pihak pemberi bantuan b. Memberikan pemahaman tentang superordinate identity Pandangan bahwa setiap orang merupakan bagian dari kelompok manusia secara keseluruhan adalah hal penting yang perlu dilakukan. Dengan adanya proses sosialisasi dan internalisasi tentang norma-norma prososial ini. psikologis dan sosial penerima bantuan dari kurang baik menjadi lebih baik. salah satu cara adalah senantiasa berbuat baik untuk orang lain. Longgarnya sosialisasi dan pembelajaran terhadap norma-norma ini akan mendorong munculnya prilaku anti-sosial atau tidak peduli dengan lingkungan sekitar dan hal ini sangat mengkhawatirkan bagi perkembangan psikologis dan sosial seseorang. Semakin sering seseorang memperoleh stimulus. 2. Norma-norma di masyarakat yang memberikan penekanan terhadap tanggungjawab sosial dapat dilakukan melalui lingkungan keluarga. . maka perilaku prososial akan mudah dijumpai dimanamana dan hal ini akan mengembangkan pranata sosial yang lebih baik. Tindakan tersebut dilahirkan secara suka rela c. berkorban. Manakala seseorang merasa menjadi bagian dari suatu kelompok yang lebih besar. Ia akan menghindarkan diri dari perbuatan yang tidak disenangi oleh kelompoknya. Tindakan tersebut menghasilkan kebaikan Cara meningkatkan perilaku prososial antara lain : 1. misalnya melalui media massa semakin mudah akan melakukan proses imitasi (meniru) terhadap perilaku tersebut.Perilaku Prososial Perilaku prososial dapat dimengerti sebagai perilaku yang menguntungkan penerima bantuan tetapi tidak memiliki keuntungan yang jelas bagi pemberi bantuan. Menyebarluaskan penayangan model perilaku prososial Dalam mengembangkan perilaku-perilaku tertentu kita dapat melakukan melalui pendekatan behavioral dengan model belajar sosial. kerjasama maupun persahabatan. Ada 3 (tiga) ciri seseorang dikatakan menunjukkan perilaku prososial. William membatasi oerilaku prososial secara lebih rinci sebagai perilaku yang memiliki intensi untuk mengubah keadaan fisik (material).

d. e. yaitu kesediaan memberikan bantuan atau pertolongan kepada orang lain yang sedang mengalami kesulitan. tidak berbuat curang terhadap orang lain. dalam arti secara material maupun psikologis. Sears. c. Berderma (donating). Staub (dalam Sirodj. Bertindak jujur (honesty). yaitu kesediaan untuk bekerja sama dengan orang lain demi tercapainya suatu tujuan. yaitu kesediaan untuk melakukan sesuatu seperti apa adanya. saling menolong dan menenangkan. . 2000) berpendapat bahwa perilaku prososial adalah perilaku yang menguntungkan orang lain yang dilakukan secara sukarela dan tanpa paksaan. Freedman. baik berupa moril maupun meteriil. tanpa memperdulikan motif motif si penolong Dayakisni & Hudaniah (2003) menyimpulkan perilaku prososial adalah segala bentuk perilaku yang memberikan konsekuensi positif bagi si penerima. saling memberi. Sedangkan Faturochman (2006) mengartikan perilaku prososial sebagai perilaku yang memberi konsekuensi positif pada orang lain. Cooperating biasanya saling menguntungkan. dan Peplau dalam Rufaida (2009) menjelaskan perilaku prososial meliputi segala bentuk tindakan yang dilakukan atau direncanakan untuk menolong orang lain. Menolong meliputi membantu orang lain atau menawarkan sesuatu yang menunjang berlangsungnya kegiatan orang lain. 2) Aspek-aspek Perilaku Prososial Terdapat beberapa macam aspek-aspek perilaku prososial. William (dalam Dayakisni & Hudaniah. dan mungkin bahkan melibatkan suatu resiko bagi orang yang menolong. Bentuk yang paling jelas dari prososial adalah perilaku menolong (Faturochman. Gerungan (2000) menyatakan bahwa perilaku prososial mencakup perilaku yang menguntungkan orang lain yang mempunyai konsekuensi sosial yang positif sehingga akan menambah kebaikan fisik maupun psikis. yaitu kesediaan untuk berbagi perasaan dengan orang lain dalam suasana suka maupun duka. Berbagi (sharing).Perilaku Prososial 1) Pengertian Prososial Baron & Byrne (2005) mengatakan bahwa perilaku prososial adalah suatu tindakan menolong yang menguntungkan orang lain tanpa harus menyediakan suatu keuntungan langsung pada orang yang melakukan tindakan tersebut. fisik ataupun psikologis tetapi tidak memiliki keuntungan yang jelas bagi pemiliknya. 2006). baik dalam bentuk materi. 2009) aspek-aspek perilaku prososial antara lain : a. Menurut Mussen dkk (dalam Rufaida. 2003) membatasi perilaku prososial sebagai perilaku yang memiliki intensi untuk mengubah keadaan fisik atau psikologis penerima bantuan dari kurang baik menjadi lebih baik. Menolong (helping). Kerjasama (cooperating). yaitu kesediaan untuk memberikan secara sukarela sebagian barang miliknya kepada orang yang membutuhkan. Menurut Delameter & Michener dalam Rufaida (2009) perilaku prososial muncul atas inisiatifnya sendiri bukan karena paksaan atau tekanan dari luar. b.

tetapi hanya bila orang lain menyaksikannya. b. dan derajat kebisingan. lebih cenderung memberikan sumbangan bagi kepentingan amal. Antara lain : Faktor Situasional. c. Tekanan Waktu Tekanan waktu menimbulkan dampak yang kuat terhadap pemberian bantuan.a. 2007) menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku prososial dengan lebih spesifik. Kondisi Lingkungan Keadaan fisik lingkungan juga mempengaruhi kesediaan untuk membantu. Misalnya. Personal values and norms: adanya nilai-nilai dan norma sosial yang diinternalisasikan oleh individu selama mengalami sosialisasi dan sebagian nilai-nilai serta norma tersebut berkaitan dengan tindakan prososial. Faktor Penolong. maka orang itu mempunyai tanggung jawab penuh untuk memberikan reaksi terhadap situasi tersebut. Individu tersebut dimotivasi oleh keinginan untuk memperoleh pujian dari orang lain sehingga berperilaku lebih prososial hanya bila tindakan itu diperhatikan. Semakin banyak orang yang hadir. semakin kecil kemungkinan individu yang benar-benar memberikan pertolongan. 2003) menyatakan ada tiga indikator yang menjadi tindakan prososial yaitu: a. b. individu yang mempunyai tingkat kebutuhan tinggi untuk diterima secara sosial. Selanjutnya Staub (dalam Dayakisni & Hudaniah. Tindakan itu menghasilkan kebaikan. 2) Suasana Hati . Self-gain: harapan seseorang untuk memperoleh atau menghindari kehilangan sesuatu. begitu juga bila seseorang melakukan perilaku prososial. Sedangkan Sears (dalam Dahriani. c. seperti berkewajiban menegakkan kebenaran dan keadilan serta adanya norma timbal balik. 3) Faktor-Faktor yang mempengaruhi perilaku prososial Setiap perilaku yang muncul pada diri individu selalu ada yang melatarbelakanginya. ukuran kota. Faktor ini sering disebut dengan efek penonton (bystander effect). misalnya ingin mendapatkan pengakuan. Individu yang tergesa-gesa karena waktu sering mengabaikan pertolongan yang ada di depannya. punya kepedulian terhadap orang lain dengan mengindahkan dan menghiraukan masalah orang lain. Tindakan itu berakhir pada dirinya dan tidak menuntut keuntungan pada pihak pelaku. pujian atau takut dikucilkan. meliputi : Kehadiran Orang Lain Individu yang sendirian lebih cenderung memberikan reaksi jika terdapat situasi darurat ketimbang bila ada orang lain yang mengetahui situasi tersebut. Pengaruh kondisi lingkungan ini seperti cuaca. yaitu memberi sarana bagi orang lain untuk mendapatkan kemudahan dalam segala urusan. Mempertimbangkan kesejahteraan orang lain. Empathy: kemampuan seseorang untuk ikut merasakan perasaan atau pengalaman orang lain. Tindakan itu dilahirkan secara sukarela. meliputi : 1) Faktor Kepribadian Adanya ciri kepribadian tertentu yang mendorong individu untuk memberikan pertolongan dalam beberapa jenis situasi dan tidak dalam situasi yang lain. Menurut Staub dalam Dayakisni dan Hudaniah (2003) faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku prososial yaitu : a. Individu yang sendirian menyaksikan orang lain mengalami kesulitan. b. 1) 2) 3) f.

Individu lebih terdorong untuk memberikan bantuan bila berada dalam suasana hati yang baik. Orang yang membutuhkan pertolongan. suasana perasaan positif yang hangat meningkatkan kesediaan untuk melakukan perilaku prososial. takut. Individu lebih cenderung menolong orang lain bila yakin bahwa penyebab timbulnya masalah berada di luar kendali orang tersebut. Sedangkan individu yang memiliki daya tarik fisik mempunyai kemungkinan yang lebih besar untuk menerima bantuan. Sebaliknya. Distres diri terfokus pada diri sendiri yaitu memotivasi diri untuk mengurangi kegelisahan diri sendiri dengan membantu orang yang membutuhkan. seperti perasaan terkejut. meliputi : 1) Menolong orang yang disukai Rasa suka awal individu terhadap orang lain dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti daya tarik fisik dan kesamaan. c. tetapi juga dapat melakukannya dengan menghindari situasi tersebut atau mengabaikan penderitaan di sekitarnya. apakah orang tersebut layak untuk diberi pertolongan atau tidak. atau perasaan apapun yang dialaminya. rasa empatik (empathic concern) adalah perasaan simpati dan perhatian terhadap orang lain. http://zamzamisabiq. 2) Menolong orang yang pantas ditolong Individu membuat penilaian sejauh mana kelayakan kebutuhan yang diperlukan orang lain. dengan kata lain. individu lebih suka menolong teman dekat daripada orang asing.blogspot. Penilaian tersebut dengan cara menarik kesimpulan tentang sebab-sebab timbulnya kebutuhan orang tersebut. tidak berdaya. khususnya untuk berbagi pengalaman atau secara tidak langsung merasakan penderitaan orang lain. cemas. Distres dan Rasa Empatik Distres diri (personal distress) adalah reaksi pribadi individu terhadap penderitaan orang lain.html . Sebaliknya. Karakteristik yang sama juga mempengaruhi pemberian bantuan pada orang yang mengalami kesulitan. 3) Rasa Bersalah Keinginan untuk mengurangi rasa bersalah bisa menyebabkan individu menolong orang yang dirugikannya. Misalnya. perihatin.com/2012/05/perilaku-prososial. 2. Perilaku prososial juga dipengaruhi oleh jenis hubungan antara orang seperti yang terlihat dalam kehidupan seharihari. rasa empatik terfokus pada si korban yaitu hanya dapat dikurangi dengan membantu orang yang berada dalam kesulitan dalam rangka meningkatkan kesejahteraannya. atau berusaha menghilangkannya dengan melakukan tindakan yang baik.

probabilitas bahwa seorang bystander akan menolong menurun dan lamanya waktu sebelum pertolongan diberikan meningkat. Jika ada 100 orang bystander. Jika hanya ada 2 orang bystander. Contoh: di tengah kerumunan orang banya di pasar. besar kemungkinan tidak ada yang menolong ibu tersebut karena terjadi penyebaran tanggung jawab—suatu pendapat bahwa jumlah tanggung jawab yang diasumsikan oleh bystander pada suatu keadaan darurat dibagi di antara mereka. Sejalan dengan meningkatnya jumlah bystander.lalu dia juga mendengar anak kecil yang menangis. Menyadari adanya keadaan darurat. karena ibunya samasama diuntungkan karena tidak kehilangan anaknya. Contoh: bisa saja saat itu Susi . dikenal konsep bystander yang didalamnya ada efek bystander—fakta menunjukkan bahwa kecenderungan untuk berespons prososial pada keadaan darurat dipengaruhi oleh jumlah bystander yang ada. Lain ceritanya bila yang masuk ke rumah tersebut adalah ibu dari anak yang terperangkap itu. seorang ibu terjatuh dan barang belanjaannya tercecer kemana-mana. Beberapa Istilah : Altruisme : Tingkah laku yang murni dilakukan untuk menolong orang lain secara sukarela tanpa mengharapkan imblan Restitusi : Tingkah laku menolong yang melibatkan pemikiran tentang akibat dari tingkah lakunya terhadap relasi sosial Terdapat 5 langkah yang dapat menentukan untuk melakukan tindakan prososial atau tindakan berdiam diri saja: 1. Sementara itu Altruisme (Altruism) adalah melakukan tindakan yang tidak mementingkan diri sendiri demi kebaikan orang lain. masing-masing menanggung 50% dari tanggung jawab. Dalam studi tingkah laku prososial. Dalam kondisi banyak orang seperti itu. tanpa harus menyediakan suatu keuntungan langsung pada orang yang melakukannya . Jika hanya ada 1 orang bystander.dan mungkin membahayakan dirinya sendiri. Dalam hal ini. Misalnya: Santi lari ke dalam rumah yang sedang terbakar demi menyelamatkan seorang anak kecil yang terperangkap di dalamnya. dia menanggung keseluruhan tanggung jawab. Pertolongan tidak diberikan karena tidak adanya kesadaran bahwa keadaan darurat itu terjadi. mereka makin merasa kurang bertanggung jawab untuk bertindak. masingmasing menanggung 1% tanggung jawab. dan ternyata ada kecelakaan di jalan tol. perilaku Santi disebut dengan perilaku Prososial. Makin banyak bystander. seseorang yang terlalu sibuk untuk memperhatikan lingkungan sekitarnya gagal untuk menyadari situasi darurat yang nyata-nyata terjadi. Namun. Contoh: Di jalan tol Susi mendengar teriakan minta tolong.tingkah Laku Prososial Tingkah laku Prososial (Prosocial behavior) adalah segala tindakan menolong yang menguntungkan orang lain.

Mengetahui apa yang harus dilakukan. seperti menolong korban tenggelam. . Susi kemudian menilai apakah kejadian tersebut darurat? Seberapa daruratnya kah?. Apa pun factor yang dapat meningkatkan ketertarikan bystander pada korban akan meningkatkan kemungkinan terjadinya respons prososial apabila individu tersebut membutuhkan pertolongan atau orang menolong orang lain karena orang tersebut punya kemiripan dengan kita. Ketika orang yang potensial menolong tidak yakin sepenuhnya apa yang terjadi. Contoh: setelah menyadari adanya keadaan darurat di jalan tol tadi. 2. Santi akan menilai bahwa orang tersebut terjatuh karena kesalahannya sendiri sehingga tidak perlu ditolong. 3. yaitu: 1. dst. 5. Contoh: Susi pernah membantu seorang ibu-ibu yang terjatuh di pasa. Daya tarik fisik. Kecenderungan yang berada dalam sekelompok orang asing untuk menahan diri dan tidak berbuat apa pun disebut sebagai pengabaian majemuk (pluralistic ignorance). Atribusi pada korban. mereka cenderung untuk menahan diri dan menunggu informasi lebih lanjut. dan setelah melihat ternyata orang tersebut membawa botol minuman keras. masing-masing bergantung pada yang lain untuk memberi petunjuk. Yaitu. Menginterpretasikan keadaan sebagai keadaan darurat. Beberapa keadaan darurat membutuhkan pengetahuan dan keterampilan khusus yang tidak dimiliki oleh ebanyakan bystander. Kejadian ini dapat mempengaruhi Susi untuk melakukan tindakan prososial di masa mendatang.terlalu asyik dengan mp4 nya sehingga tidak memperhatikan tanda-tanda akan adanya keadaan darurat. Mengambil keputusan untuk menolong. Contoh: setelah Susi menginterpretasik bahwa kejadian itu adalah bahaya—yaitu terjadi kecelakaan di jalan tol dia kemudian akan berpikir: apakah saya harus menolongnya? Berapa banyak orang yang bisa datang membantu? Apakah saya harus ikut membantu?. Salah satu alasan bahwa bystander yang seorang diri lebih mungkin untuk bertindak prososial adalah karena tidak ada orang lain yang dapat bertanggung jawab. 2. Mengasumsikan bahwa dirinya bertanggung jawab untuk menolong. Contoh: ketika Santi melihat ada orang terjatuh. Pengalaman pada kejadian prososial. 4. karena bystander tidak tahu dengan jelas apa yang sedang terjadi. Ini adalah tahap yang paling menentukan: apakah bystander akhirnya memutuskan untuk menolong korban tersebut atau hanya berdiam diri? Factor-faktor yang mendorong tindakan prososial ada 7. Contoh: setelah mengasumsikan bahwa dirinya harus menolong. Susi berpikir tindakan apa yang harus dilakukan? Pertama dia akan menelpon nomor darurat 911 dan ambulance lalu dia akan mencari korban yang mungkin tertindih di selasela mobil. 3. Ternyata ib tersebut adalah seorang pencopet dan langsung saja setelah ditolong ia merampas dompet Susi dan melarikan diri. Contoh: Susi akhirnya memutuskan untuk menolong korban kecelakaan tersebut.

Sebaliknya juga bila perilaku prososial dapat memberikan pengaruh positif pada emosi yang negatif. 5. dan mengambil perspektif orang lain. Kondisi emosional bystander. Empati—respons afektif dan kognitif yang kompleks pada distress emosional orang lain. 6. Wanita cenderung lebih mau menolong daripada pria.shvoong. Kondisi suasana hati yang baik akan meningkatkan peluang terjadinya tingkah laku menolong orang lain. 7. Empati termasuk kemampuan untuk merasakan keadaan emosional orang lain. sedangkan kondisi suasana hati yang tidak baik akan menghambat pertolongan. makasuasana hati yang buruk dapat menyebabkan meningkatnya perilaku menolong. Jika tingkah laku prososial dapat merusak suasana baik hati seseorang. merasa simpatik dan mencoba menyelesaikan masalah.4. Kejadian khusus. Sumber: http://id. wanita). Factor disposisional (gen. Namun. Rasa kesedihan dan kehilangan juga dapat meningkatkan perilaku prososial karena dapat menjadi kompensasi atas rasa kehilangannya.com/social-sciences/psychology/2216172-tingkah-lakuprososial/#ixzz1vVnVjkE9 . suasana hati yang baik menyebabkan berkurangnya perilaku menolong.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful