P. 1
MIKROBIOLOGI KEDOKTERAN

MIKROBIOLOGI KEDOKTERAN

|Views: 954|Likes:
Published by fandisanjaya

More info:

Published by: fandisanjaya on Jun 05, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/10/2013

pdf

text

original

MIKROBIOLOGI KEDOKTERAN Postulat Koch : 1. Mikroorganisme (MO) harus dapat diisolasi dari setiap kasus infeksi 2.

MO tersebut harus dapat dikultur pada biakan murni 3. MO dari kultur tersebut dapat menimbulkan penyakit yang sama apabila diinokulasi pada hewan coba 4. Dari hewan coba yang sakit tersebut harus dapat diisolasi MO yang sama seperti semula Para Penemu Penyakit • • • • • • • • Robert Koch---Anthrax, Mycobacterium tuberculosis, Vibrio cholera Albert Neisser----Neisseria gonorrhoea Theodor Klebs----Corynebacterium diphthteriae Alexander Ogston---Staphylococcus aureus---Pyogenic infections Friedrich Fehleisen----Streptococcus pyogenes Georg Gaffky---Salmonella typhi David Bruce---Brucella melitensis August Gaertner---Salmonella enteridis---gastroenteritits

 Merupakan pengetahuan tentang : mikroorganisme penyebab penyakit infeksi pada manusia termasuk organisme yang dapat ditularkan dari hewan kepada manusia (zoonosis) reaksi host terhadap infeksi tersebut  RUANG LINGKUP MIKOBIOLOGI KEDOKTERAN 1. Bakteriologi : tentang Bakteri 2. Virologi :tentang virus / virion 3. Mikologi :tentang fungi / jamur 4. Parasitologi :tdd : helminthologi (tentang helminth / cacing) ; Protozologi(tentang Protozoa) & Entomologi (tentang arthropoda) 5. Immunologi : tentang kekebalan & reaksi terhadap infeksi  Akhir abad 19 : Klasifikasi mahkluk hidup tdd : 2 kingdom : Plant & animal Kingdom yang ke 3 protista.  Protista ternyata terdiri dari 2 tingkat yaitu : • 1. Lower Protista (procaryota / procaryotic) • 2. Higher protista(eucaryota /eucaryotic) PROTISTA: • LOWER PROTISTA = PROCARYOTIC - Tidak mempunyai nuclear membrane - Tidak mempunyai mitotic apparatus - Mempunyai struktur dinding sel yang lebih kompleks daripada dinding sel higher protista - Eg : BAKTERI ; BLUE GREEN ALGAE

HIGHER PROTISTA = EUCARYOTIC Mempunyai nuclear membrane Mempunyai mitotic apparatus Mempunyai struktur dinding sel yang lebih sederhana daripada dinding sel lower protista Eg: RED , BLUE & BROWN ALGAE ; PROTOZOA ; FUNGI ; SLIME MOULDS

 CIRI PENAMAAN BAKTERI Genus dan spesies dapat diberi nama berdasarkan kata latin atau kata baru yang dilatinkan misalnya dari nama penemunya, daerah ditemukannya, sifat bakteri, gejala yang ditimbulkan atau ciri fisik koloni bakteri.  MORFOLOGI • Pada dasarnya terdapat 3 bentuk dasar bakteri  Coccus  Bacill  Spiral  Coccus (pl: cocci) • berbentuk spheris ( bulat) tetapi dapat oval, memanjang atau datar di salah satu sisinya dan jika membelah akan menjadi, diplo, strepto, tetrad, Staphylo, sarcinae, micrococcus Bacill 

Berbentuk batang , ada yang gemuk panjang, gemuk pendek, kurus panjang, kurus pendek, berspora, tidak berspora & susunannya dapat sendiri – sendiri / solitair , bergabung ke arah poros memanjangnya atau berjajar membentuk palisade (seperti pagar) jika membelah akan membentuk diplobacilli, streptobacilli

Spiral    Berbentuk melingkar – lingkar dg 1 atau lebih putaran spirilla berbetuk helix /spiral seperti pembuka gabus & kaku ; bergerak dengan flagella spirochetes berbentuk helix / spiral & fleksibel ; bergerak dengan axial filament

 Morfologi bakteri yang tidak umum Bentuk lain yang penting diketahui adalah: • • Pleimorphic bentuk berubah – ubah karena bakteri tersebut tidak mempunyai dinding sel yang rigid ( eg. Mycoplasma) L- form : (berasal dari kata Lister, sebuah institut di London yang melakukan penelitian bentuk bakteri ini pertamakalinya) .Tdd : protoplast & spheroplast : sangat pathogen pada hewan coba WDMF = Wall Defective Microbial Form  L form Bakteri Actynomycetes  Mirip fungi / jamur

• •

lurus . electron microscope atau dengan pewarnaan khusus  Menurut ada/tidaknya & letak flagella : o o o o o Antrichous  tidak mempunyai flagel Monotrichous  mempunyai1 flagel pada salah satu ujungnya Amphitrichous  mempunyai bbrp flagel pada tiap ujungnya Lopotrichous mempunyai sekumpulan flagella pada salah satu ujungnya Peritrichous  mempunyai banyak flagella yang tersebar rata pada seluruh permukaannya 3. pendek Berfungsi sebagai alat perlekatan & transfer DNA Mengandung protein = pilin Untuk melihat fimbria atau pili dengan : menggunakan EM . Axial filament ( = endoflagella)  golongan Spirochetes( Borrelia. meluncur) 4. tdd polysacharida dan atau polypeptide Bila melekat pada dinding sel disebut sebagai capsule / simpai. berfungsi untuk motilitas (pergerakan)  Bersifat antigenik. Bila tidak melekat erat pada dinding sel disebut sebagai slime layer (lapisan lendir). Leptospira & Treponema)  Merupakan sekumpulan filament yang terletak diantara membran sitoplasma dan dinding sel  Berbentuk spiral. reaksi haemaglutinasi atau pembentukan pelicle pada perbenihan cair . berputar . Fimbriae ( single = fimbria) = pili Dimiliki oleh beberapa bakteri Gram negatif Berupa organel berbentuk seperti rambut . tipis.  Glycocalyx terbuat dari gula /sugar yang disebut extraseluler polysacharida (EPS)--Streptococcus mutans 2. Flagella  Beberapa bakteri mempunyai flagella (single : flagellum = whip)  Berupa filament panjang. bersifat lengket. Glycocalyx (sugar coat)  Bahan yang menyelimuti sel . mempunyai sheath  Berfungsi untuk motilitas ( gerakan terjadi karena dapat fleksi & ekstensi / berkerut dan memanjang . tdd bahan protein (= flagelin)  Untuk melihat flagel dapat dilakukan dengan Darkfield microscope.• • Bakteri Rickettsia : Sangat kecil dengan ukuran mirip virus Chlamydia : Mempunyai 2 fase bentuk  Mirip protozoa  Struktur Bakteri • Struktur external dari dinding sel / cel wall : 1.

 Di dalam tubuh host L form dapat menyebabkan infeksi kronis  Perubahan bentuk bakteri dari L form ke bentuk semula menyebabkan kekambuhan penyakit  L fom tidak patogen terhadap hewan coba  Terdapat 2 macam L form : protoplast & spheroplast Karakteristik Protoplasma dan Speroplast Karakteristik Dinding sel Jenis bakteri Pengalihan bentuk Protoplasma semua hilang Gram + No kembali semula Speroplast sebagian menghilang / menipis Gram Dapat kembali kebentuk semula Diameter & Letak pembentukan spora :  Di tengah / central  Subterminal  Terminal / di ujung  Diameter lebih kecil daripada vegetativenya  Diameter lebih besar daripada vegetativenya  Bentuk spora dapat bulat atau oval . london) L Form  L form merupakan bakteri yang kehilangan dinding selnya karena : pengaruh inhibitor sintesa dinding sel eg.produksi exotoxin  Bakteri Gram negatif: o Mempunyai lapisan peptidoglycan yang tipis o Mempunyai outer membrane (lipopoliskarida /LPS. komplemen & lisozym. Penicilin. Lisin atau akibat antibodi.kepekaan terhadap lisosim tinggi o Mengandung teichoic acid( gliserol . bakteri tdd :  Bakteri Gram positif : o Mempunyai lapisan peptidoglycan (=murein) yang tebal.Cell wall ( = dinding sel) o o lapisan penyokong terluar yang dapat melindungi struktur dalam  sehingga bakteri mempunyai bentuk Semua bakteri mempunyai dinding sel kecuali : Mycoplasma & L-form Berdasarkan jenis dinding selnya. fosfat). bacitracin atau kekurangan nutrisi eg. sorbitol. lipoprotein .. fosfolipid) Atypical cell walls o Mycoplasma plasma membran yang unik o Acid fast cell wall genus Mycobacteria & Nocardia  mengandung 60% hydrophobic waxy lipid (= mycolic acid pada dinding selnya  tidak dapat menyerap zat warna Gram. Perlu pewarnaan khusus  yaitu acid fast (Tahan Asam) o Kerusakan dinding sel (WDMF = Wall Defective Microbial Forms) : L form (L=Lister Institut.

Benda mati (fomite) eg.  Tropisme jaringan : kecenderungan mikroorganisme tertentu untuk menetap di tempat tertentu yang sesuai bagi dirinya  Kolonisasi : kegiatan berkembang biaknya (reproduksi) suatu bakteri di suatu tempat  Invasi : proses masuk/ menembusnya suatu bakteri ke dalam tubuh host  Infeksi: masuk & berkembang biaknya suatu mikroorganisme ke tubuh host  Patogenitas : kemampuan mikroorganisme untuk menyebabkan penyakit  Virulensi : kemampuan mikroorganisme untuk menimbulkan infeksi Istilah – istilah Infeksi  Infeksi primer : infeksi awal  Reinfeksi : infeksi berikutnya oleh mikroorganisme yang sama dengan infeksi awal  Infeksi sekunder: infeksi berikutnya oleh suatu mikroorganisme yang berbeda pada saat host menderita infeksi yang ada sebelumnya  Infeksi opportunistik : infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme non patogen pada saat kondisi imunologis host turun  Infeksi nosokomial : infeksi yang terjadi di lingkungan rumah sakit  Infeksi iatrogenik: infeksi akibat tindakan bedah yang tidak aseptis PROSES KOLONISASI MIKROORGANISME PATOGEN 1. Nyamuk. Transmisi 2. Invasi 5. Ada 2 macam : a. Alat makan . alat mandi. toxin .PARASITE RELATIONSHIP Merupakan pola hubungan (interaksi) antara parasite dengan hostnya Istilah-istilah Penting:  Transmisi : proses perpindahan mikroorganisme dari satu tempat ke tempat lainnya  Transmisi mikroorganisme dapat melalui perantaraan : 1. vektor biologik : mikroorganisme melakukan perubahan bentuk & atau reproduksi di dalam tubuh menjadi bentuk infektif eg: nyamuk Anopheles sp mentransmisikan protozoa Plasmodium sp (Penyebab malaria) 2. alas tempat tidur etc. Infeksi Sifat mikroorganisme pathogen o Harus dapat invasi o Harus dapat berkolonisasi o Harus dapat bersaing dengan flora normal o Harus dapat merusak jaringan host o Harus dapat mengatasi sistim pertahanan tubuh host  Dilengkapi oleh faktor : invasi. vektor mekanik : mikroorganisme tidak melakukan perubahan bentuk atau reproduksi di dalam tubuh vektor mekanik eg: lalat mentransmisikan bakteri Shigella dysenteri b. Tropisme Jaringan 3. virulensi.HOST . Benda hidup (vector) eg. Kolonisasi 4. lalat etc. proteksi al : enzim.

Escherechia coli ) -Termostabil . Daya penyebaran kurang  menimbulkan infeksi lokal eg. Dapat patogen atau komensal Patogen : mo yang dapat menyebabkan penyakit pada host FLORA NORMAL o Merupakan mikroorganisme yang sering ada pada individu sehat o Variasi sangat luas. Vibrio cholerae.Antigen lemah .Dinetralkan oleh antitoxin yang khas . abces oleh Staphylococcus. Enzim .Protein polisakarida lipid termostabil . Daya penyebaran tinggi  menyebabkan infeksi sistemik eg.Dapat diolah menjadi toxoid  Mikroorganisme    Saprofit : mo yang hidup bebas di alam .Mempunyai efek farmakologik khas . toxin & organel tambahan bakteri misalnya capsul     Endotoxin .Mempunyai afinitas terhadap jaringan tertentu .Netralisasi oleh antibodi tidak efektif .Tidak mempunyai afinitas terhadap jaringan tertentu .Merupakan bagian dari dinding sel . komposisinya maupun jumlahnya o Pada proses kolonisasi tidak berlanjut ke tahap invasi o Umumnya bersifat komensal dan sebagian kecil bersifat mutualis o Pada keadaan tertentu dapat berpindah tempat sehingga sifatnya menjadi pathogen: .Tidak mempunyai efek enzimatis .(eg.Sangat toksis ( dosis kecil) . Umumnya non patogen tetapi dapat menimbulkan infeksi opportunistik eg: fungi Parasit : mo yang hidup di dalam tubuh host.Virulensi  Merupakan gabungan dari faktor – faktor :  Daya penyebaran: kemampuan mo untuk menyebar ke jaringan. septikemia oleh Streptococcus Toxigenitas : mo yang menghasilkan toxin.Bersifat enzimatis .Efek tidak khas .Diproduksi oleh bakteri Gram negatif . hidup dari sisa – sisa bahan organik. baik jenisnya.Tidak dapat diolah menjadi toxoid  Exotoxin .Diproduksi oleh bakteri Gram + & beberapa Gram .Dikeluarkan pada saat bakteri lisis .Antigenik kuat . Daya penularan : dosis infeksi & caramasuk ke host Produk bakteri :eg.Shigella.Bekerja dengan dosis 5-25 mg .

Streptococcus viridans. Cairan cerebrospinal 3. Streptococcus epidermidis. Bacil pembentuk spora. Tropisme Jaringan 3. Transmisi 2. Mycobacteria saprofitik (didaerah genital & axilla ). Fungi : yeast lipofilik :Pityrosporum ovale & Pityrosporum orbiculare (kepala . Cairan synovial 4. Kolonisasi  Habitat Flora Normal FLORA TRANSIENT : Saluran pernafasan selain hidung dan oropharynx Saluran pencernaan selain mulut dan colon Saluran kemih : vesica urinaria Saluran genitalia : uterus FLORA RESIDENT / indigenous: Kulit terutama yang lembab misalnya di daerah lipatan Saluran pernafasan : hidung dan oropharynx Saluran pencernaan : mulut dan colon Saluran kemih : urethra anterior Saluran genitalia : vagina  AREA STERIL Merupakan daerah yang tidak ada mikroorganismenya yaitu: 1. Darah 2. dada & punggung) . Organ – organ dalam pada umumnya  Flora Normal Kulit Flora resident : bacil diphteroid. Streptococcus fecalis. Infeksi Opportunistic  Infeksi Iatrogenic  Infeksi Nosocomial  Syarat menjadi flora normal Mempunyai daya adaptasi yang sangat baik terhadap host Mampu berkompetisi dengan kompetitor Istilah Jenis Flora Normal o FLORA TRANSIENT : mikroorganisme yang hanya ada pada individu sehat sementara waktu saja o FLORA RESIDENT : mikroorganisme yang ada pada individu sehat secara menetap Proses Kolonisasi Flora Normal 1. Fungi yeast non lipofilik : Candida albicans & Torulopsis gilbrata .

berbau asam  99% Lactobacillus bifidus. translokasi kelompok zat & dfusi pasif gas & ion ke dalam sel bakteri . Bacteroides sp. Neisseria catharralis. lactobacillus anaerob) . Staphylococcus. Coliform. Mycobacteium smegmatis  Wanita :Doderlein’s lactobacillus.. Staphylococcus epidermidis. Bifidobacteria. lambung yang kosong bebas mikroba ( dihalau oleh asam lambung & enzim pencernaan ). Salmonella sp. Enterobacter aerogenes. duodenum mengandung 103 -106 bakteri /gram . Flora Normal Tractus Respiratorius  Sebagian besar terdapat di mucosa hidung  Sebagian kecil dapat masuk ke mucosa trachea & bronchi (flora transient)  dieliminasi dengan reflex batuk  Beberapa individu dapat menjadi carrier : eg. Beberapa bakteri dapat menghindar dari mekanisme tersebut eg. Yeast. Clostridium etc)  supaya feces mirip seperti yang mendapat ASI. illeum 10 5 -108 bakteri / gram . memerlukan energi o Katabolisme meliputi proses-proses degradasi. pada penderita yang baru sembuh (convalescent carrier) atau pada orang sehat (healthy carrier)  dapat menyebar ke nasopharynx & dapat menimbulkan infeksi pada saluran nafas  Flora Normal Traktus Digestivus  MULUT & SALURAN CERNA BAGIAN ATAS : bayi baru lahir steril.Streptococcus haemolyticus & Staphylococcus sp. 4-12 jam kemudian terjadi kolonisasi mikroba dari ibu & pengasuhnya serta orang sekitarnya  LAMBUNG :pada orang normal. Staphylococcus  Bayi yang mendapat makanan buatan : feces keras coklat tua. 1-4 % mikroba fakultatif anaerob ( Coliform.lactobacillus. Streptococcus. colon 1011 Susunan mikroba di colon sama dengan di feces yi 96-99% tdd bakteri anaerob (Clostridium sp. Shigella. disimilasi. transpor aktif. Escherechia coli. Mycobacterium smegmatis. Proteus. Neisseria sicca Metabolisme & Fisiologi bakteri  Metabolisme o Semua proses biokimiawi dalam sel bakteri o Merupakan penjumlahan proses anabolisme dengan katabolisme o Tdd : anabolisme & katabolisme o Anabolisme meliputi proses – proses pembentukan. menghasilkan vit B kompleks & Vit K  Flora Normal Tractus Urogenital Pada keadaan normal jenis flora normal pada wanita & pria berbeda  Pria : Escherechia coli. Candida)  Bayi yang mendapat ASI : feces lunak kuning kecoklatan. perombakan. coliform. sintesis. Veillonella. Pseudomonas. biasanya ditambah 12 % lactosa  Keuntungan adanya flora normal di saluran cerna : menghambat patogen . menghasilkan energi o Pada bakteri patogen bersifat heterotropik o Bervariasi tergantung dari lingkungan nutrisi bakteri o Umumnya tergantung pada difusi terarah. 1% Enterococcus. berbau busuk  dominan Lactobacillus acidophilus & sebagian kecil Enterococcus.. Helicobacter pylori  SALURAN CERNA BAGIAN BAWAH : duodenum umumnya jarang ada mikroba kecuali ada keradangan kelenjar empedu . Vibrio cholerae. Enterococcus. jejenum 105 108 bakteri / gram . asimilasi.

& faktor – faktor pembentukan pasangan  FISIOLOGI & PERTUMBUHAN BAKTERI Bila suatu bakteri dibiakkan dalam suatu media perbenihan yang sesuai. • metabolisme sangat tinggi • jumlah bakteri akan meningkat secara logaritmik Fase stationer = menetap : suatu keadaan seimbang  jumlah bakteri yang tumbuh = jumlah bakteri yang mati  jumlah nutrisi dalam media berkurang & terjadi penumpukan produk sisa metabolisme yang toxis bagi bakteri  bakteri dapat berbentuk spora (bagi bakteri yang mempunyai kemampuan membentuk spora) . tidak penting untuk medical microbiology)  Pada bakteri patogen : meliputi oksidasi senyawa organik (fermentasi atau respirasi) Fermentasi  Ditandai dengan suatu fosforilasi substrat  Meliputi pembentukan ATP yang tidak berpasangan dengan pemindahan elektron  Perlu suatu produk antara metabolisme glukosa (seringkali berupa piruvat) sebagai reseptor Hidrogen terakhir  Menghasilkan sintesis produk akhir metabolisme khas  membantu identifikasi spesies bakteri pada pemeriksaan lab  Sering terjadi melalui EMP  Membentuk 1 produk akhir (homofermentasi) atau beberapa produk akhir (heterofermentasi Respirasi • Menggunakan fosforilasi oksidatif • Meliputi pembentukan ATP selama pengangkutan elektron & pengurangan O2 berupa gas • Meliputi rangkaian pengangkutan elektron pada selaput sitoplasma yang diatur oleh enzim sitokrom. maka akan terjadi proses sbb: Fase lag : merupakan fase penyesuaian terhadap lingkungan yang baru o Ukuran sel bakteri bertambah besar o kegiatan metabolisme bertambah o belum terjadi pertambahan jumlah sel bakteri Fase log = logaritmik • terjadi perkembangbiakan bakteri secara Binary fission. kofaktor lipid.Sistim transport bakteri  meliputi protein pengikat yang berhubungan dengan selaput sitoplasma bakteri atau protein pengangkut  Perlu energy Untuk mengangkut gula & asam amino Metabolisme energi pada bakteri  Fermentasi  Respirasi  Fotosintesa (tidak dibahas .

Berdasar kebutuhan oksigen. bakteri dikelompokkan menjadi :  Bakteri Aerob (obligat aerob) o o o o Hanya tumbuh dalam suasana yang mengandung Oksigen Mempunyai enzim dismutase superokside melindungi dari efek toxis radikal bebas oksigen Oksigen dipakai sebagai reseptor hidrogen. pepton. Bakteri fototrof  mengambil energi dari reaksi fotokimiawi 2. AA. bakteri dikelompokkan dalam 1. fosfat dll) &CO2 sebagai sumber karbon utama 2. Bakteri autotrof  membuat semua metabolit penting dari sumber anorganik (nitrit. nitrat. bakteri dilkelompokkan dalam: 1. Mg.K. Zn. amonium sulfat. Bakteri kemotrof  mengambil energi dari reaksi kimiawi Berdasar kemampuan membuat metabolit. senyawa organik (protein. Chlor. Fe. Memakai jalur respirasi pada metabolismenya Eg: Pseudomonas aeruginosa  Bakteri fakultatif anaerob • • Dapat hidup dengan atau tanpa oksigen Memakai jalur respirasi & fermentasi dalam metabolismenya .Eg: Staphylococcus aureus . faktor pertumbuhan ) diperoleh dari luar Sebagian Besar Bakteri Patogen Bersifat Heterotrof  MINERAL : yang dibutuhkan al. Cu. hidup seterusnya dalam keadaan tidak aktif selama beberapa bulan / tahun  NUTRISI & LlNGKUNGAN YANG SESUAI UNTUK BAKTERI Sumber energi : berdasar sumber energi.Fase decline = penurunan • jumlah sel bakteri yang mati lebih banyak daripada jumlah sel bakteri yang hidup • nutrisi dalam media telah habis • terdapat penumpukan zat sisa metabolisme yang toxis • enzim autolitik sangat berperan • sering terjadi bentuk involusi (kelainan bentuk akibat gangguan sintesis dinding sel) Pada sebagian jenis bakteri dapat terjadi Fase survival = sebagian kecil sel bakteri akan tetap survive . vit. Bakteri heterotrof  metabolit yang penting tidak dibuat .Ca. Iodium dll  KEBUTUHAN OKSIGEN: kemampuan bakteri untuk tumbuh dalam suasana yang mengandung oksigen ditentukan oleh adanya sistim oksidase sitokrom. Na.

Eg: Vibrio  Bakteri asidofilik : pH optimum dibawah 7.2-7. Bakteri mesofilik . Bakteri anaerob (obligat anaerob) • • • • Hanya dapat hidup dalam suasana tanpa oksigen Mempunyai zat lain sebagai ganti reseptor hidrogen Tidak mempunyai enzim dismutase superokside Memakai jalur fermentasi untuk metabolismenya. Keadaan kering umumnya akan menyebabkan kematian Zat Gizi Tambahan : beberapa bakteri membutuhkan zat gizi tambahan misalnya Neisseria gonorrhoea butuh glutation Temperatur / Suhu : berdasarkan kebutuhan suhu optimum untuk pertumbuhan. tumbuh optimum pada suhu 20°C. Eg: Bacillus stearotermophylus 3.25°C . Bakteri psikrofilik : tumbuh optimum pada suhu 0°C . bakteri dikelompokkan : 1. Eg:Clostridium tetani  Anaerob aerotoleran : mirip fakultatif anaerob tetapi tanpa jalur respirasi .6 Bakteri Patogen Umumnya Bersifat Mesofilik . Beberapa spesies bakteri disertai keperluan peningkatan kadar karbondioksida Eg: Neisseria gonorrhoea “Bakteri Patogen Umumnya Bersifat Fakultatif Anaerob”  Dismutase superokside o o o Merupakan enzim yang dimiliki oleh golongan bakteri fakultatif anaerob & anaerob aerotoleran Melindungi bakteri terhadap pengaruh toxis radikal bebas oksigen Menyebakan reaksi dengan hidrogen menjadi hidrogen peroksida & oksigen  hidrogen peroksida bersifat toxis & merusak DNA  bakteri dilindungi oleh enzim katalase Bakteri asam laktat merupakan bakteri anaerob aerotoleran yang tidak mempunyai enzim katalase  mempunyai enzim peroksidase untuk melindungi terhadap hidrogen peroksida Bakteri obligat anaerob tidak mempuyai dismutase superokside.90°C.6. Eg : bakteri yang habitatnya di tanah & air 2. bakteri dikelompokkan :  Bakteri basofilik : pH optimum diatas 7.44°C  KONSENTRASI ION HIDROGEN / TINGKAT KEASAMAN / pH : berdasarkan pH optimum. Bakteri termofilik : tumbuh optimum pada suhu 50°C. mempunyai enzim dismutase superokside  Mikro aerofilik : membutuhkan tekanan oksigen / kadar oksigen yang rendah . Eg:Lactobacillus  Bakteri mesofilik : pH optimum 7. katalase maupun peroksidase o o    Kelembaban : bakteri perlu air untuk menjaga suasana kelembaban.

Semi solid medium. arabinosa. Tingkat keasaman / pH media Berdasarkan bentuk fisiknya.Uji Indol .) o Uji Oksidase . Tusukan : penanaman pada media semi solid dengan mempergunakan needle 4. Untuk mendapatkan bakteri yang dikehendaki. sucrosa. Kandungan harus sesuai dengan kebutuhan hidup masing – masing spesies bakteri. Media broth / media cair: adalah media berbentuk cair yang ditempatkan dalam suatu tabung reaksi eg. 3. maka hasilnya akan bercampur. sterilisasi dapat dilakukan dengan oven atau autoclave . xylosa etc. 2. Untuk test Biokimiawi terhadap suatu bakteri eg : o Uji fermentasi Karbohidrat / gula – gula (rhamnosa. Streaking / goresan : penanaman pada media solid (slant atau plate) dengan menggunakan ose 2. Untuk memperbanyak jumlah bakteri 2. antara lain: 1. • Kelemahan media bentuk broth: Apabila spesimen mengandung lebih dari 1 macam bakteri.Media Pembuatan media pertumbuhan bakteri • Dalam pembuatan media pertumbuhan bakteri perlu diperhatikan : 1. untuk sterilisasinya dapat dilakukan dengan tehnik lainnya eg. Goresan & tusukan : penanaman pada media slant (yaitu TSIA) dengan mempergunakan needle 5.disterilkan dengan autoclave tetapi beberapa bahan yang berpotensi rusak akibat pemanasan. Sterilitas bahan & alat yang dipergunakan: . 3. Media Semi Solid / media setengah padat :adalah media berbentuk setengah padat yang ditempatkan dalam suatu tabung reaksi eg. Nutrient Agar Plate Umumnya terdapat beberapa tehnik penanaman sesuai dengan kebutuhan . filtrasi etc. Nutrient Agar Slant etc.untuk alat – alat . perlu penambahan zat – zat penghambat bakteri yang tidak dikehendaki. media dikelompokkan menjadi 1. Swab : penanaman pada media solid (slant atau plate) dengan menggunakan cotton swab (lidi kapas) steril 3. Media Solid / media padat : adalah suatu media berbentuk padat yang ditempatkan dalam : tabung dengan permukaan yang miring ( disebut Agar miring / Slant ) eg. Pouring (tuang) = Pour Plate Methode : penanaman pada media plate dengan cara mencampur sample dengan media yang masih cair Jenis Media  Broth Fungsi Pembiakan Bakteri Pada Media Broth: 1. Petri disk ( disebut Lempeng Agar / Plate Agar) eg. 2.untuk bahan . inositol. tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya.Uji Urease . . Tyndalisasi. Uji Coagulase etc. Nutrient Broth Agar etc.

Untuk stock bakteri ( menyimpan bakteri dalam waktu yang lama) 3. untuk memperbanyak jumlah bakteri 2. maka media di tempat pertumbuhan bakteri tersebut akan berwarna merah Cara pembacaan :  Hanya tumbuh di daerah bekas tusukan  bakteri bersifat non motil  Tumbuh menyebar ke seluruh media  bakteri bersifat motil •  Bentuk Media Solid • Ada 2 macam : 1. Plate Agar : media bentuk padat yang ditempatkan dalam Petri disk. Untuk uji biokimiawi (eg: Triple Sugar Iron / TSI etc. Nama lain : Agar Miring. Khusus untuk media TSI dengan bantuan needle digoreskan dan ditusukkan pada media . atau dengan metode pouring (Pour Plate Methode) • Cara pembacaan : secara visual pertumbuhan bakteri terlihat sebagai koloni  Slant 1. untuk mendapatkan koloni yang terpisah (isolated colony) 3. Plate eg: Blood Agar Plate (BAP) etc. T streaking .) o Cara penanaman : dengan bantuan ose digoreskan pada permukaan media.  Plate Agar • Fungsi : 1. Nama lain : Lempeng Agar. untuk uji Biokimiawi ( eg: Mannitol Salt Agar etc. Penamaan secara umum: …….slant eg: Nutrient Agar Slant etc. Slant : media bentuk padat yang ditempatkan dalam tabung reaksi dengan posisi permukaannya miring. Untuk memperbanyak jumlah bakteri 2.• • Cara penanaman : dengan bantuan ose Cara pembacaan : pertumbuhan bakteri secara visual terlihat sebagai kekeruhan  Semi Solid • • • Fungsi : untuk mengetahui motilitas bakteri Cara penanaman : dengan metode tusukan menggunakan needle Media ini teksturnya sangat lembut dan mengandung indikator warna sehingga kalau terjadi pertumbuhan bakteri..) • Cara penanaman : disesuaikan dengan kebutuhan : dapat dengan bantuan ose dibuat goresan (streaking) biasa . Penamaan secara umum: ……. 2.

o JENIS MEDIA 1. netral red indicator dan crystal violet  Bersifat selektif terhadap enterobacteriaceae (Gram negatif) karena mengandung penghambat pertumbuhan bakteri Gram positif yaitu crystal violet  Bersifat differential untuk membedakan golongan bakteri Gram negatif ( Enterobacteriaceae) yang memfermentasi lactosa dan yang tidak memfermentasi lactosa berdasarkan pembentukan warna koloninya  lactosa fermenter (LF) secara visual tampak sebagai koloni yang berwarna (color) / merah sedangkan Non lactosa Fermenter (NLF) secara visual tampak sebagai koloni yang tidak berwarna (colorless) . garam empedu. Blood Agar Plate (Bap) & Chocolate Agar Plate (Cap) • • • • pH 7. polypepton.CONKEY  Lazim dipakai untuk golongan Enterobacteriaceae  Berbentuk plate  Mengandung pepton. NaCl. lactosa. yeast extract dan NaCl Bersifat differential  dapat membedakan antara bakteri yang bersifat hemolisis (beserta tipe hemolisis) dengan bakteri yang bersifat non hemolisis 3. pepton dan yeast Dapat berbentuk broth ( nutrient broth) dan solid (Nutrient Agar Plate / NAP dan Nutrient Agar Slant /NAS) 2. Nutrient Agar • • • • Merupakan media minimum essensial Merupakan media general untuk menumbuhkan bakteri Mengandung NaCl. MC.4 Merupakan media yang diperkaya / enriched dengan darah (BAP) atau darah yang dipanaskan (CAP) Mengandung protease pepton. liver extract. Mannitol Salt Agar (Msa)  Berbentuk plate  Lazim dipakai untuk Gram positif ( Staphylococcus)  Bersifat selektif untuk genus Staphylococcus  Cara penanaman : streaking  Dipakai untuk uji biokimiawi terhadap Staphylococcus aureus berdasarkan kemampuan bakteri ini memfermentasi mannitol  Sebagai media differential untuk membedakan Staphylococcus aureus degan Staphylococcus yang lain  cara pembacaan : Staphylococcus aureus dapat memfermentasi mannitol dan menghasilakan sejumlah asam yang akan merubah warna media dari merah menjadi kuning 4.

/…… . SIMMON’S CITRATE Berbentuk slant Untuk uji biokimiawi berdasarkan kemampuan menggunakan citrate sebagai sumber energi (bakteri yang memiliki enzim citrase / citrate fermentase) Bersifat differential karena mengandung indikator warna bromthymol blue Cara pembacaan : bakteri yang mempunyai enzim citrase akan mengaktifkan citrate dan menghasilkan oxalactic acid & acetate  diubah menjadi asam piruvat &CO2  media menjadi bersifat alkalis (CO2 + Na +air  sodium carbonate)  merubah warna media dari hijau menjadi biru 7. terdapat gelembung udara atau terdapat pecahnya media. ferrosulfat. pepton  pH : 7. Klebsiella dan Enterobacter : koloni warna ungu. EOSINE METHYLENE BLUE (EMB)  Berbentuk plate  Kandungan : eosine.2  Bersifat selektif untuk bakteri Gram negatif karena menghambat pertumbuhan bakteri Gram positif  Bersifat differential untuk Escherechia coli karena dapat memfermentasi lactosa dan menghasilkan asam yang sangat banyak yang akan bereaksi dengan methylene blue dan eosin sehingga menghasilkan koloni yang secara visual warnanya khas : green metallic sheen. pepton..H2S +  artinya memfermentasi glucosa. ferrosulfat ( detektor H2S) • Mengandung lactosa 1 %. butt kuning. beef extract. indicator warna phenol red • Cara penanaman : dengan needle digoreskan dan ditusukkan • Cara pembacaan : Cara penulisan :……. lactosa. Methylene Blue. terdapat warna hitam pada media  Alk/Ac . pepton protease. Ac/Ac = memfermentasi lactosa atau sucrosa atau keduanya 3. gas +/. gas +. Enterobacteriaceae yang lain : koloni transparan . H2S +/ media warna merah = alkalis  media warna kuning = acid  media pecah/ gelembung =gas  media berwarna hitam =H2S • Interpretasi : 1. sucrosa 1 % dan glucosa 1 %. menghasilkan gas dan H2S 6.5. Alk/Alk = tidak memfermentasi ketiga gula • Contoh :  Slant merah. TRIPLE SUGAR IRON AGAR (TSI) • Untuk uji biokimiawi • Berbentuk slant • Bersifat differential karena mengandung 3 macam gula (berdasarkan kemampuan kemampuan fermentasinya). Alk/Ac = memfermentasi glucosa 2.

ferric citrate. ferri citrate. • pH 6 -7. THYOGLYCHOLATE o o o Berbentuk broth Bersifat anaerob  merupakan reduktor kuat terhadap oksigen Cara pembacaan : bakteri tumbuh  media terjadi kekeruhan 13.pepton. THIOSULPHATE CITRATE BILE SUCROSA (TCBS) • Bersifat seletif dan differential untuk Vibrio sp. lactosa. SALMONELLA SHIGELLA (ss) • Berbentuk plate • Bersifat highly selective untuk Salmonella dan Shigella • Mengandung beef extract . natrium thiosulfat.6 • Cara pembacaan :  Koloni kuning  memfermentasi sucrosa  Vibrio cholerae  Koloni hijau  tidak memfermentasi sucrosa  Vibrio parahaemolyticus 10. gram empedu. ALKALINE PEPTON WATER (APV)  Berbentuk broth  Bersifat alkalis (pH 9)  Mengandung kadar garam yangtinggi  cocok untuk halophile : Vibrio sp  Vibrio yang tumbuh tampak sebagai lapisan / membrane di permukaan media 11.8. pepton. MUELLER HINTON • Berbentuk plate & broth • Dipergunakan untuk antibiotic sensitivity test • Yang berbentuk plate  dipakai untuk metode cakram / disc / diffusi / Kirby Bauer  Cara penanaman : dengan cotton swab sejumlah tertentu bakteri yang diuji dioleskan pada media kemudian beberapa jenis antibiotic bentuk disc direkatkan di atasnya . natrium citrate. • BERBENTUK PLATE • Mengandung extract yeast. CHOPPED COOKED MEAT o Berbentuk broth o Mengandung cacahan daging sapi o Bersifat anaerob o Bagian permukaan media dilapisi parafin cair  untuk membantu menjaga suasana anaerob o Cara pembacaan : terjadi kekeruhan pada media bila terjadi pertumbuhan bakteri 12. natrium cholate. sucrosa. NaCl.Koloni colorless tanpa bintik hitam  shigella 9. natrium citrate. indikator netral red • Cara pembacaan : koloni colorless dengan bintik hitam ditengahnya  Salmonella . bromthymol blue. empedu sapi. natrium thiosulfat.

Negatif : Zat warna tidak dapat berikatan dengan sitoplsma bakteri  Pewarnaan yang bersifat positif • Zat warna yang dipakai harus bersifat basa ( basic dyes) untuk dapat berikatan dengan sitoplasma bakteri yang cenderung bersifat asam • Contoh zat warna yang bersifat basa: Crystal violet  berwarna ungu Safranin  berwarna merah Methylene Blue  berwarna biru Carbol fuchsin  berwarna merah Malachite Green  berwarna hijau . larut dalam air Neisser AB & Neisser C  larut dalam air . kecuali terdapat indikasi lain misalnya untuk spesimen penderita yang diduga TBC atau lepra . tidak melisis eritrosit  secara visual tidak terjadi perubahan apapun baik pada media BAP maupun CAP. saat ini sudah sangat jarang dilakukan  Untuk memeriksa bakteri secara mikroskopis perlu dilakukan pewarnaan /pengecatan  Umumnya dilakukan pewarnaan rutin lab Mikrobiologi yaitu Pewarnaan Gram. terjadi hemolisa eritrosist secara total  Secara visual tampak perubahan pada media berupa zona jernih  Pada media BAP sekitar pertumbuhan koloni bakteri sedangkan pada media CAP tidak terjadi perubahan apapun ( tidak dapat dideteksi pada media CAP) o Hemolisis tipe gamma / non hemolisis . Positif : Zat warna dapat berikatan dengan sitoplsma bakteri 2.  PEWARNAAN / PENGECATAN BAKTERI  Pemeriksaan mikroskopis untuk mengetahui morfologi & sifat afinitas bakteri terhadap zat warna  Kultur (perbenihan) untuk mengetahui sifat fisiologis & kimiawi bakteri  Hewan coba (bila perlu) . tidak dilakukan pewarnaan Gram melainkan pewarnaan Tahan Asam / Acid Fast / Ziehl Nelsen  Pewarnaan Berdasarkan ikatan zat warna dengan Sitoplasma Bakteri 1. Cara pembacaan : Bakteri sensitif atau intermediate atau resisten terhadap antibiotic tertentu dilihat dari terjadinya zona hambatan pertumbuhan bakteri yang terjadi diukur diameternya dalam satuan mm kemudian dibandingkan dengan standard zona hambatan pertumbuhan bakteri yang baku o Beberapa Tipe Hemolisis o Hemolisis tipe alfa ( α ) / partial haemolysis / hemolisis sebagian .  Terjadi hemolisis sebagian dari eritrosit & terjadi reduksi hemoglobin menjadi methemoglobin  Secara visual tampak perubahan pada media BAP berupa zona kehijauan pada media sekitar pertumbuhan koloni bakteri sedangkan pada media CAP zona kehijauan tampak lebih jelas o Hemolisis tipe betha (ß) / hemolisis total .

• untuk mengetahui bagian – bagian khusus yang dimiliki oleh bakteri misalnya Granula metachromatic. besar. bakteri akan tampak berwarna biru  Informasi yang didapat dari pewarnaan ini hanyalah morfologi & susunan bakteri  Morfologi : coccus . mempunyai spora (spora tampak sebagai daerah tak berwarna karena spora tidak dapat ditembus zat warna)  PEWARNAAN GRAM o Merupakan pewarnaan differential untuk membedakan antara bakteri Gram positif dengan bakteri Gram negatif berdasarkan afinitas dinding sel bakteri terhadap zat warna Gram o Gram  merupakan nama penemu pewarnaan ini  tulis huruf awal dengan huruf capital o Mempergunakan 2 macam zat warna basa yaitu : Crystal violet ( berwarna ungu ) sebagai zat warna utama = main stain & safranin (berwarna merah) sebagai zat warna pembanding = counter stain o Mempergunakan zat kimia pelarut organik : Alkohol absolut = alkohol 95 – 96 % sebagai decolorizing agent = peluntur o Mempergunakan zat kimia : lugol (KI3 3%) sebagai mordant = pemantek = zat yang membantu pengikatan zat warna Crystal violet dengan sitoplasma bakteri (Iodine-dye complex) . pendek. indian ink.sifat Acid fast 3. zat warna yang dianjurkan : safranin atau methylene blue  Di bawah mikroskop bakteri akan tampak berwarna merah bila menggunakan safranin & bila menggunakan methylene blue. chinese ink. Sederhana / simple staining : • mempergunakan 1 macam zat warna basa • tujuannya hanya untuk mengetahui bentuk/morfologi & susunan bakteri secara cepat 2. sangat pendek. nigrosin  PEWARNAAN SEDERHANA Sama dengan Simple Staining  Mempergunakan 1 macam zat warna basa . maka di bawah mikroskop bakteri akan tampak bening / tidak terwarnai / transparan & hanya latar belakang / daerah di sekitar bakteri yang akan terwarnai Zat warna yang dipakai harus bersifat asam / acidic dyes sehingga tidak dapat berikatan dengan sitoplasma bakteri yang cenderung bersifat asam Contoh zat warna yang bersifat asam : tinta bak. capsule dll  PEWARNAAN YANG BERSIFAT NEGATIF Karena menggunakan zat warna yang tidak dapat berikatan dengan sitoplasma bakteri. Macam Pewarnaan yang bersifat positif 1. gemuk. batang = bacill  panjang. Differential : • dapat membedakan sifat –sifat bakteri berdasarkan afinitas terhadap zat warna • mempergunakan lebih dari 1 macam zat warna basa • selain untuk mengetahui bentuk & susunan bakteri juga untuk mengetahui sifat bakteri berdasarkan afinitas terhadap zat warna misalnya sifat Gram. endospora / spora. Khusus: • mempergunakan lebih dari 1 macam zat warna basa. kurus . kecil.

umumnya tinta bak dengan kualitas yang baik Metode Pembuatan preparat bakteri untuk pewarnaan negatif berbeda dengan metode pembuatan preparat bakteri untuk pewarnaan positif (simple. Acid Fast.Bakteri yang mempunyai struktur dinding sel peptidoglikan yang tebal  mempertahankan zat warna crystal violet pada saat pelunturan  warna tetap ungu  Gram POSITIF Bakteri yang mempunyai struktur dinding sel peptidoglikan yang tipis  tidak dapat mempertahankan zat warna crystal violet pada saat pelunturan  akan mengikat zat warna pembanding ( safranin)  warna merah  Gram NEGATIF  PEWARNAAN ACID FAST o = Pewarnaan Tahan Asam = Pewarnaan Ziehl-Neelsen o Ada beberapa metode . Spora. Gram. diantaranya Ziehl-Neelsen . Tan Thiam Hok  dari nama orang penemunya o Merupakan pewarnaan diffrential  untuk membedakan antara bakteri yang tahan asam (Acid Fast) dengan bakteri yang tidak Tahan Asam ( Non Acid Fast) o Contoh bakteri Acid Fast adalah : Mycobacterium leprae & Mycobacterium tuberculosis o Mempergunakan 2 macam zat wana basa yaitu: Carbol Fuchsin ( wana merah ) sebagai main stain dengan Methylene Blue ( warna biru) sebagai counter stain o Mempergunakan zat kimia pelarut organik yang kuat yaitu Alkohol asam (larutan Alkohol + HCl) sebagai decolorizing agent o Mempergunakan tehnik pemanasan preparat  untuk merenggangkan pori dinding sel / lapisan mycolic acid bakteri yang bersifat tahan asam .Neisser) yaitu dengan tehnik ulas  secara detail di Buku P Bakteri tampak tidak berwarna (transparant) dengan latar belakang hitam /gelap Pewarnaan yang menggunakan metode pemanasan preparat : Acid Fast & Spora Pewarnaan yang menggunakan metode pelunturan: Gram (alkohol 95-96%) & Acid Fast (alkohol asam) • • • . sehingga diharapkan zat warma Carbol Fuchsin dapat masuk & berikatan dengan sitoplasma bakteri o Bakteri yang mempunyai struktur dinding sel mycolic acid akan mempertahakan zat warna Carbol Fuchsin pada saat pelunturan  Bakteri Acid Fast / bakteri tahan Asam /BTA  berwarna merah o Bakteri yang tidak mempunyai struktur dinding sel mycolic acid tidak dapat mempertahankan zat warna Carbol Fuchsin akan mengikat zat warna pembanding Methylene Blue  bakteri tidak Tahan Asam / Non Acid Fast  berwarna biru  PEWARNAAN NEISSER Merupakan pewarnaan khusus : untuk melihat granula metachromatic bakteri Contoh bakteri patogen yang mempunyai granula metachromatic adalah Corynebacterium diphteriae Menggunakan 2 macam zat warna basa Neisser AB & Neisser C (keduanya larut dalam air)  oleh karena itu selama pewarnaan tidak boleh ada proses pencucian Granula metachromatik tampak berwarna biru gelap & sitoplasma bakteri akan tampak kuning kecoklatan  PEWARNAAN NEGATIF • • • = negative stain = Burrie  nama penemunya Menggunakan zat warna asam.

dan termofilik ! jenis mikroba P. etilena oksida 2. sterilisasi • penghancuran semua bentuk mikroba termasuk endospora • uap air (steam) + tekanan. mesofilik. namun tidak akan tumbuh pada penyimpanan 3. Antisepsis • Penghancuran bentuk vegetatif pada jaringan hidup • Cara kimiawi 5. kecuali pada pewarnaan Neisser  PENGENDALIAN MIKROBA (MICROBIAL CONTROL) • • mengubah permeabilitas membran plasma merusak protein & asam nukleat Beberapa Hal Yang Berpengaruh dalam pengendalian mikroba: • • • • • • • • • • • • suhu Ingat istilah-istilah psikrofilik. Degermasi (degermation/degerming)  Pemindahan mikroba dari daerah/tempat yang terbatas  Misalnya kulit pada daerah injeksi diusap dengan kapas beralkohol . sterilisasi komersial (commercial sterilization) • Membunuh endospora C. aeruginosa vs bakteri lain keadaan fisiologis mikroba spora vs bentuk vegetatif lingkungan pH tertentu konsentrasi konsentrasi tertentu misalnya alkohol 70% waktu pemaparan sinar ultraviolet : 10 menit vs 24 jam  Terminologi 1. Disinfeksi • penghancuran bentuk vegetatif pada benda mati • cara fisik & kimiawi 4. botulinum pada makanan kaleng dengan panas • Endospora bakteri termofilik yang lebih resisten mungkin masih hidup.• • Pada pewarnaan dengan metode pemanasan : selama pemanasan preparat tidak boleh kering & tidak boleh mendidih Semua jenis pewarnaan terdapat tahap pencucian dengan air (pergunakan air kran) .

otoklaf o pasteurisasi o panas kering : direct flaming. incineration. sterilisasi dengan udara panas  penyaringan  dingin o refrigeration o deep-freezing o lyophilization  desikasi  tekanan osmotik  radiasi o radiasi mengion o radiasi tidak mengion Cara Kimiawi  fenol & fenolik  -fenol  -fenolik  -bisfenol  Klorheksidin  halogen  iodin  klorin  alcohol  logam berat  Ag  Hg  Zn  Cu .6. sanitisasi (sanitization) • Menurunkan jumlah mikroba pada alat-alat minum & makan • Mengurangi kemungkinan penularan penyakit antarkonsumen  Metoda Pengendalian Mikroba • Cara Fisik • Cara Kimiawi Cara Fisik  Panas o panas basah : perebusan.

dan jarum  → sterilisasi 2. alat-alat semikritis (semicritical items/devices) o kontak dengan membrana mukosa o misalnya endoskop. dan dinding o → DKS. alat-alat nonkritis (noncritical items/devices) o kontak dengan kulit utuh o Misalnya stetoskop. elektroda EKG. implan. kateter urin. pisau bedah (scalpel blade). alat-alat kritis (critical items/devices)  kontak dengan darah dan daerah steril  misalnya kateter jantung. tang pemindah (transfer forceps). lantai. manset sfigmomanometer. DKS 3. DKB. Kategori Spaulding 1. sistoskop. DKR  Klasifikasi Disinfektan  Disinfektan Kelas-Berat (High-Level Disinfectant) etilena oksida glutaraldehid formaldehid + alkohol peracetic acid hidrogen peroksida  Disinfektan Kelas-Sedang (Intermediate-Level Disinfectant) senyawa klorin alkohol iodin + alkohol formaldehid  Disinfektan Kelas-Ringan (Low-Level Disinfectant) quats (quaternary ammonium compounds) heksaklorofen senyawa merkuri . dan termometer o → sterilisasi.

d. basitrasin. 60 S & 40 S 50 S/60 S ↔ large subunit 30 S/40 S ↔ small subunit . Inhibisi sintesis dinding sel • contoh : penisilin. Inhibisi sintesis protein • • • • • • • • • • • contoh : kloramfenikol. 50 S & 30 S ribosom eukariota : 80 S t. ANTIBIOTIKA  Mekanisme Kerja Antibiotika 1.d.inhibisi sintesis mycolic acid (komponen dinding sel mikobakteria) . dll. dan streptomisin kloramfenikol → berikatan dengan bagian 50 S dan menghambat pembentukan ikatan peptide eritromisin → berikatan dengan bagian 50 S dan mencegah translokasi ribosom sepanjang mRNA tetrasiklin → mempengaruhi pengikatan (attachment) tRNA ke kompleks ribosom-mRNA streptomisin dan gentamisin → mengubah bentuk bagian 30 S sehingga mengakibatkan salah baca kode mRNA ribosom prokariota : 70 S t. isoniazid. sefalosporin. -laktamase-β (β-lactamase) = penisilinase 2. karbapenem. monobaktam. gentamisin. vankomisin. sefalosporin. dan etambutol • yang dihalangi : sintesis peptidoglikan utuh Inhibisi sintesis dinding sel • • • yang terpengaruh : sel yang sedang tumbuh aktif bakteri Gram (+) → lapisan peptidoglikan banyak lapis → sensitif bakteri Gram (-) → lapisan peptidoglikan satu lapis → resisten manusia → tidak punya dinding sel .peptidoglikan → tidak terpengaruh isoniazid . tetrasiklin. eritromisin.bakteriostatik etambutol -inhibisi pemasukan (incorporation) mycolic acid ke dalam dinding sel -bakteriostatik cincin β-laktam : penisilin. aztreonam.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->