PENDAHULUAN 1.

1 LATAR BELAKANG Dalam era global sekarang ini, peranan perbankan dalam memajukan peranan suatu negara sangatlah besar. Hampir semua sektor yang berhubungan dengan berbagai kegiatan keuangan selalu membutuhkan jasa perbankan. Oleh karena itu, saat ini dan dimasa yang akan datang kita tidak akan lepas dari dunia perbankan, jika sedang menjalankan aktifitas keuangan, baik perorangan ataupun suatu perusahaan. Produk-produk perbankan syariah sangat populer dan banyak diminati adalah produk pembiayaannya. Dalam produk pembiayaan ini banyak macam-macamnya antara lain: produk pembiayaan konsumtif. Pembiayaan konsumtif diperlukan oleh pengguna dana untuk memenuhi kebutuhan yang langsung dikonsumsi. Kebutuhan konsumtif dapat dibedakan atas kebutuhan primer (pokok atau dasar) dan kebutuhan sekunder. Kebutuhan primer misalnya: makanan, minuman, pakaian, rumah tinggal, maupun berupa jasa seperti : pendidikan dasar atau pengobatan. Adapun kebutuhan sekunder adalah kebutuhan tambahan yang secara kuantitatif maupun kualitatif lebih tinggi atau lebih mewah dari kebutuhan primer baik berupa barang ataupun jasa seperti : pendidikan, pariwisata, hiburan dan lain-lain. Indonesia merupakan Negara berpenduduk muslim terbesar didunia hampir 85% yang tersebar dari sabang samapi merauke, oleh karena itu merupakan salah satu modal utama kenapa banyak bank-bank konvensional membuka unit usaha syariah ataupun membuka bank syariah yang terlepas dari induk usahanya. Selain itu bank-bank syariah berlomba-lomba membuat berbagai macam produk pembiayaan salah satunya produk pembiayaan talangan haji. Produk pembiayaan ini menggunakan prinsip Qardh wal Ijarah. Dalam pengertian prinsip Qard wal Ijarah adalah akad pemberian pinjaman dari bank untuk nasabah yang disertai dengan penyerahan tugas agar bank menjaga barang jaminan yang diserahkannya, dalam arti kata, pihak bank menjaga jaminan yang diberikan oleh nasabahnya. Produk pembiayaan ini merupakan produk yang prospeknya bagus karena banyak orang-orang muslim ingin sekali menunaikan ibadah haji seperti tercantum pada Rukun Islam yang terakhir. Akan tetapi selalu terbentur masalah biaya yang sangat mahal, oleh karena itu sebagai peranan perbankan syariah sangat besar. Bank bukan hanya sebagai tempat untuk mencari keuntungan ataupun berinvenstasi untuk kehidupan dunia saja akan tetapi sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Akan tetapi pada saat ini banyak sekali nasabah yang ingin menunaikan ibadah haji dengan menggunakan jasa dari ,apakah dalam pembiayaan ini sesuai dalam penempatan akad nya? Pembiayaan untuk talangan haji ini pada dasarnya menggunakan akad Qard wal Ijarah, pembiayaan ini adalah pinjaman kebajikan atau lunak tanpa imbalan. Apakah jenis pembiayaan ini sesuai dengan prinsip tersebut, kita tahu bahwasannya bank adalah salah satu lembaga profit yang senantiasa mengambil

keuntungan pada setiap transaksi yang dijalankan, apakah benar begitu yang dijalankan, lantas darimana bank mendapatkan keuntungan dari pembiayaan jenis ini. Ibadah Haji adalah perjalanan rohani menuju rahmat dan karunia Allah swt, ia merupakan salah satu dari kelima pilar penyangga tegaknya agama islam di muka bumi yang disyariatkan oleh Allah swt kepada hamba-hambanya. Kita sebagai umat islam tentu harus tetap menjaga supaya ibadah haji ini menjadi pilar yang semakin memperkokoh pondasi islam, bukan sebaliknya. Yaitu dengan cara mengamalkan sesuai dengan rukun, syarat, dan ketentuan-ketentuan yang ada. Ibadah haji juga sebagai penyempurna dari Rukun Islam. Bahkan as-Sayyid as-Sabiq mengatakan sekiranya ada orang yang mengingkari kewajibannya maka sungguh dia telah kafir dan keluar dari agama Islam (as-Sabiq: 2001: 460) Allah swt telah berfirman dalam Surat al-Baqarah ayat 196 :

ْ َ ْ َّ َ ْ ُ ْ َ َّ َ ْ ُّ َ ََ ِ ْ ْ ِ َ َ ْ ْ َ ْ ِ ًٍَ‫ٔأَذًِٕا انحج ٔانعًسجَ َِلِلِ فَاٌِ أُحْ صسْ ذُى فًَا اصرَٛضس يٍَ انَٓد٘ َٔل ذَحْ هِقُٕا زءٔصكى حرَّٗ َٚثهُغ انَٓد٘ يحهَُّّ ف‬ َ ُْ َ ُ ُ ِ َ ُ ْ ْ َ ْ ‫كاٌَ يُكى يسٚضًا أَْٔ تِّ أَذٖ يٍ ز ْأصّ فَفِدَٚحٌ يٍ صَٛاو أَْٔ صدقَح أَْٔ َُضُك فَاِذا أَيُرُى فًٍَ ذًَرَّع تِانعًسج ئِنَٗ انحج‬ ِّ َ ْ ٍ ََ َِ ُْْ َ َ ْ َ ْ ِْ َ ٍ ٍ ِ ْ ِ ْ ِ ِ َ ْ ِ ً ِ ِ َ ُِْْ َ َ ِ َ َ َ َ ‫فًَا اصرَٛضس يٍَ انَٓد٘ فًٍَ نَى َٚجد فَصَٛاو ثََلثَح أََّٚاو فِٙ انحجِّ ٔصثعح ئِذا زجعرُى ذِ ْهكَ ََسجٌ كايهَحٌ ذنِكَ نًٍِ نَى‬ ْ ْ َ ْ ْ َ َ َ ٍ ََْ َ َ ْ ٍ ِ َ ُ ِ ِْ ْ ْ َ ِ ْ ْ ِ َ َ ْ ْ َ .‫َٚكٍ أَْهُُّ حاضس٘ انًضْجد انحساو ٔاذَّقُٕا َّللاَ ٔاَهًَٕا أٌَ َّللاَ شدٚد انعقَاب‬ ِ ِ ْ ُ ِ َ َّ َّ ُ ْ َ َّ َ ِ َ َ ْ ِِ َْ ِ ِ َ ْ ْ ُ
Dan sempurnakanlah ibadah haji dan 'umrah karena Allah. jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), Maka (sembelihlah) korban yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu, sebelum korban sampai di tempat penyembelihannya. jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfidyah, yaitu berpuasa atau bersedekah atau berkorban. Apabila kamu telah (merasa) aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan 'umrah sebelum haji (di dalam bulan haji), (wajiblah ia menyembelih) korban yang mudah didapat. tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. Demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidil Haram (orang-orang yang bukan penduduk kota Mekah). Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya. (Q.S. Al Baqarah (2): 196 Atas dasar inilah orang-orang Muslim berusaha untuk menunaikan ibadah haji guna menyempurnakan rukun Islam yang kelima. Ibadah haji termasuk ibadah yang membutuhkan biaya relatif tinggi, setidaknya untuk muslim Indonesia. Kurang lebih untuk saat ini harta senilai tiga puluh juta harus dipersiapkan untuk pembiayaan ibadah haji. Dana yang sebesar itu tentu bukanlah jumlah yang sedikit, sehingga tidak semua orang bisa melaksanakannya, hanya orang-orang tertentu yang sudah dikatakan berkemampuan, ironisnya pula bagi sebagian masyarakat di Indonesia masih ada anggapan bahwa berhaji akan menaikan status sosial seseorang. Faktor-faktor ini mendorong tingginya animo masyarakat untuk

saya ingin mencoba akan memaparkan secara singkat mengenai dana talangan haji. Untuk dapat menyikapi dan menentukan pilihan mengenai permasalahan tersebut. maksud dan menyengaja. masyarakat selama ini antusias dengan datangnya produk ini. tak terkecuali dalam dunia perbankan syari‟ah. haji ialah menuju ke Baitullah dan tempat-tempat tertentu untuk melaksanakan amalan-amalan ibadah tertentu pada waktu tertentu ( az-Zuhaily: 2006: 2064). haji berarti menyengaja atau menuju dan mengunjungi. membawa kemajuan yang sangat signifikan. Salah satu inovasi dunia perbankan syariah baru-baru ini adalah mengeluarkan produk pembiayaan talangan haji yang bagi sebagian besar orang merupakan terobosan positif yang menawarkan kemudahan untuk membantu masyarakat muslim mewujudkan cita-cita mulianya dalam menegakkan salah satu pilar islam. Dana talangan ini dijamin dengan deposit yang dimiliki nasabah. bahwa Pembiayaan talangan haji adalah pinjaman (Qardh) dari bank Syariah kepada nasabah untuk menutupi kekurangan dana guna memperoleh kursi (seat) haji pada saat pelunasan BPIH (Biaya Perjalanan Ibadah Haji). PEMBAHASAN II. Dalam pada itu. Sedangkan menurut istilah syara‟. bahkan secara nasional produk ini mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Pembiayaan talangan haji sebagai hasil dari pemikiran dan peradaban manusia tentu perlu kita kaji dengan seksama untuk kemudian kita sebagai umat Islam bisa menentukan sikap terhadap keberadaan dana talangan haji. Sehingga menuntut para ekonom syari‟ah untuk terus berpikir kreatif dan inovatif dalam merespon kebutuhan masyarakat yang semakin kompleks. I PENGERTIAN. Secara lughawi. baik secara teoritis maupun secara praktis.berusaha melaksanakan ibadah haji dalam keadaan dan kondisi apapun tanpa melihat lagi beberapa pertimbangan yang menjadi syarat wajib dan sahnya haji. perkembangan zaman yang menjalar ke seluruh lini kehidupan. Secara rinci as-Sayyid as-Sabiq mendefinisikan haji adalah menuju . Kata haji mempunyai arti qashd yaitu tujuan. Atas jasa peminjaman dana talangan ini. Sebelum kita melangkah pada analisis dan pengambilan hukum. Nasabah kemudian wajib mengembalikan sejumlah uang yang dipinjam itu dalam jangka waktu tertentu. maka sebaiknya kita mengetahui dana talangan haji itu sendiri. bank Syariah memperoleh imbalan (fee/ujrah) yang besarnya tak didasarkan pada jumlah dana yang dipinjamkan. Dalam perkembangannya. yaitu ibadah haji. Sebagaimana yang ditulis dalam website bank Syariah Mandiri.

(di antaranya) maqam Ibrâhim.حدٚث " تُٙ اإلصَلو َهٗ خًش 4 شٓادج أٌ َل ئنّ ئَل َّللا ٔأٌ يحًدا زصٕل َّللا ٔئقاو‬ ّٛ‫انصَلج ٔاٚراء انزكاج ٔصٕو زيضاٌ ٔحج انثٛد ) يرفق َه‬ “Islam dibangun atas lima perkara: Bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. lalu ia bersabda”: “Wahai umat manusia. ia berkata: “Rasulullah saw berkhutbah kepada kami. inilah ayat yang menunjukkan wajibnya haji (Ibnu Katsír. Di sana terdapat tanda-tanda yang jelas. maka ia dihukumi murtad dari agama Islam (as-Sayyid as-Sâbiq. 2006: 189). puasa ramadhan. Muttafaq „Alaih). wukuf di arafah dan semua manasik haji guna mengharapkan ridha Allah swt. menunaikan zakat. ialah (Baitullah) yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam. maka berhajilah”. 2002: II: 409) dan merupakan salah satu dari rukun Islam yang lima (ash-Shanâniy. Wajibnya ibadah haji merupakan perkara yang benar-benar telah diketahui dalam agama Islam (‫تانضسٔزج‬ ٍٚ‫)انًعهٕو يٍ اند‬ (Âlu Bassâm. sa‟i. sungguh Allah telah mewajibkan haji kepada kalian. yaitu bagi orangorang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barang siapa memasukinya (Baitullah) amanlah dia. (as-Sabiq: 2001:II: 460). 2) as-Sunnah 242 /3( ‫)ئزٔاء انغهٛم‬ ‫كراب انزكاج 121 .ke Makkah untuk melaksanakan ibadah thawaf. dan berhaji ke baitullah”. 2008: 348). Jika ada diantara umat Islam yang mengingkari wajibnya haji. 2002: 409). Barang siapa mengingkari (kewajiban) haji. Dan (diantara) kewajiban manusia terhadap Allah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah. 2001: 460). mendirikan salat. Lalu ada seorang . 1) al-Qur‟an “Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia.R. as-Sunnah. Ibadah haji telah absah berdasarkan al-Qur‟an. ‫ٍَٔ أتٙ ْسٚسج قال خطثُا زصٕل َّللا صهٗ َّللا َهّٛ ٔصهى فقال ٚا أٚٓا انُاس ئٌ َّللا قد فسض َهٛكى انحج‬ ‫فحجٕا فقال زجم أكم َاو ٚازصٕل َّللا فضكد حرٗ قانٓا ثَلثا فقال زصٕل َّللا صهٗ َّللا َهّٛ ٔصهى نٕ قهد َعى‬ ٙ‫نٕجثد ٔنًا اصرطعرى ثى قال ذزَٔٙ يا ذسكرى زٔاِ أحًد ٔيضهى ٔانُضائ‬ Dari Abu Hurairah. maka ketahuilah banwa Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam”(Âli Imrân (3): 9697) Menurut Jumhur Ulama. Masing-masing dalil tersebut adalah sebagai berikut. (H. dan Ijma‟ umat Islam (Âlu Bassâm.

Jika yang dimaksud dari perintah tersebut adalah anjuran (an-nadb) atau kebolehan (al-ibâhah). Kemudian Rasulullah saw bersabda: “Ambillah apa yang aku tinggalkan kepada kalian”. 2008: 631) Ibadah haji hanya diwajibkan sekali seumur hidup. 1997: 19).051 ) ، صحٛح أتٙ دأد‬ Dalil-dalil di atas secara jelas menggambarkan wajibnya ibadah haji dan secara pasti telah menjadi kesepakatan umat Islam (Âlu Bassâm. 1973: 3). Di dalam fatwa tersebut DSN MUI mengemukakan dalil-dalil umum mengenai kebolehan akad al-qardh dan al-ijārah sebagai akad yang menjadi komponen produk ini. فاٌ أزٚد تّ انُدب أٔاإلتاحح فَل تد يٍ قسُٚح ذدل َهٗ ذنك‬ … Karena hukum pokok dari perintah adalah wajib. sebagaimana yang dikatakan oleh imam an-Nawawiy. al-Hâfidz. 2007: 296). Dalam riwayat lain dikatakan 55 /1( ٙ‫)صحٛح ٔضعٛف صٍُ انُضائ‬ ( ٙ‫)صٍُ انُضائ‬ ‫أخثسَا يحًد تٍ ٚحٛٗ تٍ َثد َّللا انُٛضاتٕز٘ قال حدثُا صعٛد تٍ أتٙ يسٚى قال أَثأَا يٕصٗ تٍ صهًح قال‬ ّٛ‫حدثُٙ َثد انجهٛم تٍ حًٛد ٍَ اتٍ شٓاب ٍَ أتٙ صُاٌ اندؤنٙ ٍَ اتٍ َثاس أٌ زصٕل َّللا صهٗ َّللا َه‬ ‫ٔصهى قاو فقال ئٌ َّللا ذعانٗ كرة َهٛكى انحج فقال األقسع تٍ حاتش انرًًٛٙ كم َاو ٚا زصٕل َّللا فضكد فقال‬ ‫. Hal ini telah disepakati. secara eksplisit. wahai Rasulullah ?” Rasul diam (belum menjawab) hingga laki-laki tersebut mengulangi pertanyaannya sebanyak tiga kali. Serta menyertakan ketentuan-ketentuan sebagai berikut : . dan ulama lainnya (asy-Syaukâniy.laki-laki yang bertanya: “Apakah setiap tahun. (Diriwayatkan oleh Ahmad. Setelah itu Rasulullah menjawab: “sekiranya aku berkata „ya‟ maka ia akan diwajibkan (setiap tahun) dan kalian pasti tidak mampu (melaksanakannya)”. Mereka beralasan bahwa di dalam ayat tersebut (Âli Imrân (3): 97) tidak terdapat qarínah yang menunjukkan perintah untuk melakukan haji berkali-kali (tikrâr) (ash-Shâbuniy. maka harus ada qarínah yang menunjukkan pada hal tersebut (Ibnu Najâr.نٕ قهد َعى نٕجثد ثى ئذا َل ذضًعٌٕ َٔل ذطٛعٌٕ ٔنكُّ حجح ٔاحدج‬ َٙ‫:ذحقٛق األنثا‬ 1514 ( ‫)صحٛح ، اإلزٔاء ( 341 . dan an-Nasâi dan dishahihkan oleh al-Albâniy). Muslim. Ini merupakan pendapat Jumhur Ulama. kedua hadits di atas menunjukkan haji hanya diwajibkan sekali. Selain itu. 29/DSN-MUI/VI/2002 tanggal 26 Juni 2002 tentang pembiayaan pengurusan haji oleh LKS (Lembaga Keuangan Syariah). Kaidah ushul fikih mengatakan : ‫…ألٌ األصم فٙ األيس نهٕجٕب. Pihak perbankan mendasarkan produk ini kepada fatwa DSN (Dewan Syariah Nasional) MUI Nomor No.

LKS dapat memperoleh imbalan jasa (ujrah) dengan menggunakan prinsip al-Ijarah sesuai Fatwa DSN-MUI nomor 9/DSN-MUI/IV/2000. 3) Jasa pengurusan haji yang dilakukan LKS tidak boleh dipersyaratkan dengan pemberian talangan haji. wajib dan haram semua itu sesuai dengan cara mempraktekkannya karena hukum wasilah itu meliputi hukum tujuan. Mazhab Maliki berpendapat. (Ath-Thayyar : 2009 : 157). terkadang boleh terkadang makruh. LKS dapat membantu menalangi pembayaran BPIH nasabah dengan menggunakan prinsip al-Qardh sesuai Fatwa DSN-MUI nomor 19/DSN-MUI/IV/2001. hak kepemilikan dalam shadaqah dan ariyah berlangsung dengan transakasi. 2) Nasabah al-Qardh wajib mengembalikan jumlah pokok yang diterima pada waktu yang telah disepakati bersama. Jika pemberi hutang mengetahui bahwa yang menghutang akan berbuat maksiat dengan barang yang dihutangi. maka haram bagi si pemberi hutang untuk memberikan hutang dan lain sebagainya berdasarkan kondisi-kondisi yang bisa merubah hukumnya. Muqtaridh diperbolehkan mengembalikan harta semisal yang telah dihutang dan boleh juga mengembalikan harta yang dihutang itu sendiri. maka orang kaya itu wajib memberi hutang. Baik harta itu . Jika orang yang berhutang adalah orang yang mendesak sedangkan orang yang dihutangi orang kaya. meski tidak menjadi qardh atas harta. 3) Biaya administrasi dibebankan kepada nasabah (FATWA DEWAN SYARI'AH NASIONAL NO: 19/DSN-MUI/IV/2001 Tentang AL-QARDH) Hal-Hal Yang Diperbolehkan Dalam Qardh Hukum qardh mengikuti hukum taklifi . 2) Apabila diperlukan.1) Dalam pengurusan haji bagi nasabah. 4) Besar imbalan jasa al-Ijarah tidak boleh didasarkan pada jumlah talangan al-Qardh yang diberikan LKS kepada nasabah (FATWA DEWAN SYARI'AH NASIONAL NO: 29/DSNMUI/VI/2002 Tentang PEMBIAYAAN PENGURUSAN HAJI LEMBAGA KEUANGAN SYARI‟AH) Dibawah ini akan dijelaskan mengenai prinsip dan ketentuan akad al-qard dan al-Ijarah : Prinsip al-Qard Ketentuan Umum al-Qardh 1) Al-Qardh adalah pinjaman yang diberikan kepada nasabah (muqtaridh) yang memerlukan.

Sedangkan jika obyek qardh bukan harta yang ditakar dan ditimbang. hak milik dalam qardh berlangsung dengan qabdh. karena Rasulullah saw telah berutang unta usia bikari lalu mengembalikan unta usia ruba‟iyah. Menurut Syafi‟I muqtaridh mengembalikan harta yang semisal manakala harta yang dihutang adalah harta yang sepadan. jika berubah maka harus mengembalikan harta yang semisalnya. Atau dengan syarat dikembalikan seribu dinar dari mutu yang lebih baik atau dikembaliakan lebih banyak dari itu. Mazhab Maliki : tidak diperbolehkan mengambil manfaat dari harta muqtaridh. Karena Nabi SAW melarang hutang bersama jual beli. Jika belum disepakati sebelumnya dan bukan merupakan tradisi yang biasa berlaku. maka ada dua versi : harus dikembalikan nilainya pada saat terjadi qardh. Mazhab Syafi‟I dan Hanabilah berpendapat bahwa qardh yang mendatangkan keuntungan tidak diperbolehkan.memiliki kesepadanan atau tidak. sebagaimana kesepakatan di kalangan para ahli fiqih. maka tidak mengapa. atau harus dekembalikan semisalnya dengan kesamaan sifat yang mungkin. Wahbah Zuhaili jika seseorang mengutangkan kepada orang lain tanpa ada persyaratan tertentu. Sebagaimana hadiah dari muqtaridh diharamkan bagi pemilik harta jika tujuannya untuk penundaan pembayaran hutang dan sebagainya. Begitu juga hukum hadiah bagi muqridh. Hukum Qardh Yang Mendatangkan Keuntungan Mazhab Hanafi dalam pendapatnya yang paling kuat menyatakan bahwa qardh yang mendatangkan keuntungan hukumnya haram. Menurut Dr. Hanabilah mengharuskan pemgembalian harta semisal jika yang dihutang adalah harta yang bisa ditakar dan ditimbang. ia mengembalikan dengan bentuk yang semisal. seperti menaiki untanya dan makan di rumahnya karena hutang tersebut dan bukan karena penghormatan dan semisalnya. jika keuntungan tersebut disepakati sebelumnya. diperbolehkan dan muqridh boleh mengambilnya berdasar pada riwayat Abi Rofii‟bahwa ia berkata “ Rasulullah Saw pernah berutang unta . seperti mengutangkan seribu dinar dengan syarat rumah orang tersebut dijual kepadanya. lalu orang tersebut membayarnya dari jenis yang lebih baik atau jenis yang lebih banyak. selama tidak mengalami perubahan. Mazhab Syafi‟I menurut riwayat yang paling shahih dan mazhab Hambali berpendapat. karena yang demikian itu lebih dekat dengan kewajibannya dan jika yang dihutang adalah yang memiliki nilai. bertambah atau berkurang. kalau tidak maka tidak makruh. atau menjual rumahnya kepada pemberi hutang. seraya berkata “sesunguhnya sebaik-baik kamu adalah yang paling baik dalam membayar utang”. Jika ada dalam persyaratan maka dimakruhkan.

Sebagaimana diperbolehkan jika antara Muqridh dan Muqtaridh ada hubungan yang menjadi fakor pemberian hadiah dan bukan karena hutang tersebut. tidak boleh. Pinjaman uang tersebut dijamin dengan deposit yang . Karena ada larangan dari syariat dan karena sudah keluar dari jalur kebajikan. Atas jasa bank memberikan dana talangan tersebut bank dapat memperoleh fee (ujrah). seperti membantu memanen sehari dengan imbalan ia akan dibantu memenen sehari. Ringkasnya. kecuali jika sangat dibutuhkan. saya tidak mendapati kecuali unta berusia Rubai‟yah dari jenis yang bagus. sesungguhnya sebaik baik kamu adalah yang paling baik membayar hutang”. dan tidak dibenarkan melakukan qardh atas manfaat/jasa. Adapun hadiah dari pihak muqtaridh. dimana nasabah calon haji diberikan pinjaman haji. Jika keuntungan tersebut untuk muqridh. atau menempoati rumah orang lain dengan imbalan orang tersebut menempati rumahnya. Dari sini. maka menurut Malikiah tidak boleh diterima oleh Muqridh karena mengarah pada tanbahan atas pengunduran. menurut jumhur ahli fiqih. IV. Contoh lain penggunaan skema qardh dalam perbankan syariah adalah pemberian dana talangan/pinjaman uang kepada nasabah premium yang memiliki deposito di bank tersebut guna mengatasi kesulitan likuiditas nasabah tersebut. maka diperbolehkan. Sedangkan Jumhur ulama membolehkan jika bukan merupakan kesepakatan. APLIKASI QARDH DALAM PERBANKAN SYARI’AH DI INDONESIA. Dan jika untuk mereka berdua. diperbolehkan melakukan qardh atas semua benda yang boleh diperjualbelikan kecuali manusia. Qardh adalah pinjaman uang.seusia bikari kepada seseorang lalu Rasulullah mendapat unta sedekah. maka para ulama sudah bersepakat bahwa ia tidak diperbolehkan. Saya berkata “ ya Rasul. jika untuk muqtaridh. berbeda dengan pendapat Ibnu Taimiyah. Aplikasi qardh dalam perbankan antara lain untuk pinjaman talangan haji. Rasulullah bersabda “berikanlah kepadanya. Akan tetapi ada perbedaan pendapat dalam mengartikan “sangat dibutuhkan”. Nasabah akan melunasinya sebelum keberangkatannya ke haji. (2) Tidak dibarengi denagan transaksi lain. Lalu beliau menyuruh saya untuk membayar kepada orang tersebut seekor unta bikari. Qardh diperbolehkan dengan dua syarat : (1) Tidak mendatangkan keuntungan. seperti jual beli dan lainnya.

atau membantu sector social. Manfaat lainnya berupa manfaat nonfinansial. Manfaat akad qardh terhitung sangat banyak sekali diantaranya : 1) Memungkinkan nasabah yang sedang dalam kesulitan mendesak untuk mendapat talangan jangka pendek. Dalam perbankan syariah. bunga atas jaminan L/C di bank asing. . 3) Adanya misi sosial kemasyarakatan ini akan meningkatkan citra baik dan meningkatkan loyalitas masyarakat terhadap bank syariah. 2) Qardhul hasan juga merupakan salah satu ciri pembeda bank syariah dengan bank konvensional yang didalamnya terkandung misi sosial. 2. tersimpan dalam bentuk deposito. yaitu kepercayaan dan loyalitas nasabah kepada bank tersebut. Karena itu. Risiko dalam qardh terhitung tinggi karena ia dianggap pembiayaan yang tidak ditutup dengan jaminan. Sebagai produk pelengkap kepada nasabah yang telah terbukti loyalitas dan bonafiditasnya yang membutukkan dana talangan segera untuk masa yang relative pendek. misalnya. 3. Sebagai produk untuk menyumbang usaha yang sangat kecil. Manfaat yang didapat oleh bank dari transaksi qardh adalah bahwa biaya andministrasi utang dibayar oleh nasabah. seperti talangan danda di atas. disamping misi komersial. Atas jasa peminjaman dana bank memperoleh fee (ujrah) yang besarnya tidak tergantung pada jumlah dana yang di pinjamkan.dimiliki nasabah. Sebagai fasilitas nasabah yang memerlukan dana cepat sedangkan ia tidak bisa menarik dananya karena. Nasabah tersebut akan mengembalikan secepatnya sejumlah uang yang dipinjamnya itu. dan sebagainya. Sifat qardh tidak memberi keuntungan financial. pendanaan qardh dapat diambil menurut kategori berikut : 1) Qardh yang diperlukan untuk membantu keuangan nasabah secara cepat dan berjangka pendek. dapat diambilkan dari modal bank. 2) Qardh yang diperlukan untuk membantu usaha sangat kecil dan keperluan social. dapat bersumber dari dana zakat. akad qardh biasanya diterapkan sebagai berikut : 1. dan juga dari pendapatan bank yang dikategorikan seperti jasa nostro di bank korespondeng yang konvensional. Guna pemenuhan skema khusus ini telah dikenal suatu produk khusus yaitu qardhul hasan. infaq. dan shadaqah.

3) Kewajiban LKS dan Nasabah dalam Pembiayaan Ijarah : 1) Kewajiban LKS sebagai pemberi manfaat barang atau jasa: a) Menyediakan barang yang disewakan atau jasa yang diberikan b) Menanggung biaya pemeliharaan barang. tempat dan jarak. Rukun dan Syarat Ijarah: 1) Sighat Ijarah. 2) Kewajiban nasabah sebagai penerima manfaat barang atau jasa: a) Membayar sewa atau upah dan bertanggung jawab untuk menjaga keutuhan barang serta menggunakannya sesuai kontrak. . Sesuatu yang dapat dijadikan harga dalam jual beli dapat pula dijadikan sewa atau upah dalam ijarah. h) Pembayaran sewa atau upah boleh berbentuk jasa (manfaat lain) dari jenis yang sama dengan obyek kontrak. termasuk jangka waktunya. baik secara verbal atau dalam bentuk lain. Bisa juga dikenali dengan spesifikasi atau identifikasi fisik. i) Kelenturan (flexibility) dalam menentukan sewa atau upah dapat diwujudkan dalam ukuran waktu. g) Sewa atau upah adalah sesuatu yang dijanjikan dan dibayar nasabah kepada LKS sebagai pembayaran manfaat. d) Kesanggupan memenuhi manfaat harus nyata dan sesuai dengan syari‟ah. c) Manfaat barang atau jasa harus yang bersifat dibolehkan (tidak diharamkan). yaitu ijab dan qabul berupa pernyataan dari kedua belah pihak yang berakad (berkontrak).Prinsip Ijarah 1. 2) Pihak-pihak yang berakad: terdiri atas pemberi sewa/pemberi jasa dan penyewa/pengguna jasa. b) Menanggung biaya pemeliharaan barang yang sifatnya ringan (tidak materiil). b) Manfaat barang atau jasa harus bisa dinilai dan dapat dilaksanakan dalam kontrak. c) Menjamin bila terdapat cacat pada barang yang disewakan. atau b) manfaat jasa dan upah. 3) Obyek akad ijarah adalah : a) manfaat barang dan sewa. e) Manfaat harus dikenali secara spesifik sedemikian rupa untuk menghilangkan jahalah (ketidaktahuan) yang akan mengakibatkan sengketa. 2) Ketentuan Obyek Ijarah: a) Obyek ijarah adalah manfaat dari penggunaan barang dan/atau jasa. f) Spesifikasi manfaat harus dinyatakan dengan jelas.

sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan” (Al-Baqarah : 245) 2) Al-Maidah : 2 “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa. bukan karena pelanggaran dari penggunaan yang dibolehkan. . Aspek As-Sunnah Dari Anas ra. peminta tersebut memiliki sesuatu. orang tersebut tidak berutang kecuali karena kebutuhan”. Thabrani dan Baihaqi meriwayatkan hadits serupa dari Abu Umamah ra). juga bukan karena kelalaian pihak penerima manfaat dalam menjaganya. maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Rasulullah SAW bersabda : ”Pada malam peristiwa Isra‟ aku melihat di pintu surga tertulis „shadaqoh (akan diganti) dengan 10 kali lipat. (HR. “ Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik. sementara ketika berutang. II TINJAUAN FIQH TERHADAP AL-QARDH (DANA TALANGAN) A. dan jangan tolongmenolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah. Ibnu Majah dan Baihaqi dari Abas bin Malik ra. dia berkata. pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah). mengapa Qardh lebih utama dari shadaqoh?‟ ia menjawab “karena ketika meminta. sedangkan Qardh dengan 18 kali lipat. aku berkata : “Wahai jibril. maka Allah akan melipatgandakan (balasan) pinjaman itu untuknya. dan dia akan memperoleh pahala yang banyak” (alHadid ayat 11) B. ia tidak bertanggung jawab atas kerusakan tersebut (FATWA DSN MUI No.” (Al-Maidah : 2) 3) al-Hadid ayat 11. Aspek Al-Qur’an 1) Al-Baqarah : 245 “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah. 09/DSN-MUI/IV/2000 Tentang PEMBIAYAAN IJARAH) II.c) Jika barang yang disewa rusak.

biji-bijian yang memiliki ukuran serupa seperti kelapa. telur. atau ditimbang. (HR Ibnu Majah) C. baik ditakar. Hendaklah barang yang dipinjamkan mempunyai nilai jual.Dari Ibnu Mas`ud meriwatkan bahwa nabi Muhammad SAW bersabda : “bukan seorang muslim (mereka) yang meminjamkan muslim (lainnya) dua kali kecuali yang satunya adalah ( senilai ) shodaqoh”. diperbolehkan melakukan qardh atas semua harta yang bisa diperjualbelikan objek salam. kayu dan agrarian. seperti emas. Tidak diperbolehkan melakukan qardh atas harta yang tidak memiliki kesepadanan. karena gandum itu bukan lagi miliki muqridh. Pengembalian pinjaman hendaklah diberikan sesudah menerima pinjamannya. biji-bijian. seperti hartaharta. . 3. yaitu harta yang perbedaan nilainya tidak meyolok. Karena menurut golongan ini. dengan begitu tidak dibenarkan meminjamkan sepotong api. Syafi‟i. perak dan makanan atau dari harta yang bernilai. Hak kepemilikan dalam Qardh menurut Abu Hanifah dan Muhammad – berlaku melalui Qabdh (penyerahan). Madzhab Hanafi berpendapat. Yang menjadi tanggung jawab muqtaridh adalah gandum yang semisalnya dan bukan gandum yang telah diutangnya. Qardh dibenarkan pada harta yang memiliki kesepadanan. meskipun Qardh itu berlangsung. Jika seseorang berhutang satu mud gandum dan sudah terjadi qabdh. Madzhab Imam Malik menambahkan definisi ini dengan beberapa point berikut : 1. Qardh bersifat mandub (dianjurkan) bagi muqridh (orang yang mengutangi) dan mubah bagi muqtaridh (orang yang berutang). baik yang bernilai seperti binatang. seperti barang-barang yang ditakar. seperti barang-barang dagangan. Orang yang meminjam harus mengembalikan barang pinjamannya. 2. karena tidak mungkin mengembalikan dengan semisalnya. ditimbang. Madzhab Maliki. dan harta biji-bijian yang memiliki perbedaan menyolok. binatang dan sebagainya. bahwa pinjam meminjam dengan sesuatu yang tidak dapat digantikan dengan yang serupa tidak diperbolehkan. Aspek Ijma’ Secara ijma‟ juga dinyatakan bahwa Qardh diperbolehkan. dan Hanbali berpendapat. maka ia berhak menggunakan dan mengembalikan dengan semisalnya meskipun muqridh meminta pengembalian gandum itu sendiri.

begitu juga apabila pinjaman tersebut telah jatuh tempo. Lalu Allah SWT pun menghapus dosadosanya dan mengampuninya. kita sebagai orang yang memiliki kelebihan harta hendaklah menolong saudara-saudara kita yang telah dilanda kesusahan dengan memberikan bantuan berupa pinjaman yang ihsan.4. (Dalam versi lain : „…. . Hendaklah orang yang meminjam sesuatu harus menjamin bahwa ia akan mengembalikan pinjamannya. sehingga dalam hal ini masjid dan madrasah tidak bisa dipinjamkan.dan maafkanlah (yakni anggaplah hutangnya lunas) bagi yang dalam kesusahan‟). „mudah dalam membayar dan „mudah‟ dalam menagih” Rasulullah SAW. hendaklah pinjaman tersebut mengandung unsur kebaikan. “Apakah anda tidak pernah melakukan kebaikan apapun ? “Tidak. ataupun dengan mengurangi pelbagai persyaratan pembayaran yang telah memberatkan. dan senantiasa mengingatkan kepada para pegawai saya : „Perlakukanlah yang mampu diantara para penghutang dengan perlakuan yang baik. “jawabnya. Semua itu sangat dianjurkan. „mudah‟ dalam menjual. yang ketika dihisab. 5. Ber-ihsan dalam menagih hutang (Qardh). ternyata tidak memiliki cacatan amal kebaikan yang pernah ia lakukan. Hendaklah orang yang memberikan pinjaman tersebut berniat untuk memberikan manfaat kepada orang yang meminjam saja. dan tidak berniat untuk mendapatkan keuntungan pribadi maupun untuk mendapatkan keuntungan bersama. bahkan tidak sekadar itu dapat memberikan Qardhul Hasan (menginfakkan. Tidak boleh meminjamkan alat fital seorang sahaya perempuan kepada seseorang untuk dimanfaatkan 6. Setelah kita memberikan pinjaman kepada seseorang (saudaranya). Sebagaimana dalam Sabda Nabi SAW : “Rahmat Allah tercurah atas siapa-siapa yang‟mudah‟ dalam membeli. adakalanya dilakukan dengan menganggapnya lunas. Seandainya semua masyarakat mengetahui hal demikian. yang diingat hanyalah berapa besar kelebihan dari kembalian harta yang telah dipinjamkan. dan undurkanlah waktu pembayaran bagi yang dalam kesusahan‟. juga pernah menyebutkan tentang seorang laki-laki yang masa lalunya penuh dengan perbuatan dosa. tidak akan terjadi hal-hal yang dapat mengakibatkan seseorang (pemilik harta) berbuat zhalim kepada orang yang membutuhkan bantuan. “Tetapi saya dahulu adalah seorang pemberi hutang. Tetapi kalau hanya memikirkan kehidupan duniawi manusia takluput akan kerakusan harta. Maka ditanyakan kepadanya. atau dengan mengundurkan waktu pembayaran tersebut yang telah jatuh tempo. Dimana. mensedeqahkan sebagaian hartanya tanpa mengaharapkan imbalan seperserpun tetapi hanya mengharap ridha Allah SWT). Apalagi ditengah kondisi krisis sekarang ini. semua maupun sebagiannya.

kursi akan dibatalkan dan angsuran nasabah dikembalikan dipotong biaya adminsitrasi yang dibayar dimuka sebesar Rp 2.000. jika tidak bisa melunasi tepat pada waktunya. Hasil wawancara kami pada empat bank yang berbeda pada tanggal 15 Februari 2012. Jika dalam masa tambahan tersebut belum juga bisa melunasi. 4.000. maka dana talangan akan ditarik. Peminjam diberikan kebebasan membayar berapapun. tanpa ada tambahan. BPD Syariah. diperoleh informasi adanya praktek talangan haji sebagai berikut : 1. Cik Ditiro dengan costumer service saudari Rini) 2. Namun pada prakteknya. Pelunasan tidak menggunakan system angsuran per bulan. BPD Syariah melaksanakan program talangan haji dengan akad Multi ijarah semata. Batas pembayaran selama satu tahun. Ketentuannya yaitu dengan membayar ujrah dimuka sebesar Rp 2. menunjukkan bahwa ketentuan pembiayaan talangan haji hampir sama dengan BSM yaitu . III PERMASALAHAN YANG MUNCUL A. pembiayaan talangan haji yang dilakukan menggunakan akad al-qardh wa al-ijarah mengacu pada fatwa MUI di atas.II. yaitu BSM (Bank Syariah Mandiri). bank-bank memilki ketentuan yang berbeda-beda.000. dengan tambahan waktu 6 bulan jika dalam masa 3 tahun tersebut belum bisa melunasi. Bank Muamalat Indonesia. maka kursi (seat) akan dibatalkan dan uang pinjaman akan dikembalikan pada bank. tanpa adanya tambahan dari jumlah pokok pinjaman. Bank Syariah Mandiri. namun sebagai administrasi memakai aqad ijarah.000. dalam artian tidak ada jumlah tertentu yang harus dibayarkan per bulannya. (hasil wawancara pada Bank Muammalat jln. Uang pinjaman yang nantinya dikembalikan hanyalah jumlah pokok pinjaman. maka akan diberi waktu maksimal 6 bulan. jika si peminjam tidak bisa melunasinya tepat sesuai dengan waktu yang telah disepakati. Masa pelunasan maksimal 3 tahun. Sesuai dengan aqad qardh yang dipakai. melaksanakan program talangan haji dengan akad qardh.500. sedangkan angsuran akan dikembalikan kepada nasabah dipotong biaya administrasi yang dibayarkan dimuka sebesar Rp 250. Mangkubumi dengan costumer service saudari Gita) 3.2 %. yang penting ketika jatuh tempo sudah lunas. Artinya pembayaran harus lunas sebelum berangkat haji. dan Bank Muamalat. BRI Syariah. Dalam prakteknya pelunasan dilakukan dengan dana angsuran perbulan. sebatas informasi yang kami terima dari costumer service bank tersebut. Mengenai Akad Berdasarkan pengumuman Dewan Pengawas Syariah (DPS) Indonesia bahwa semua lembaga keuangan syariah melakukan praktek pembiayaan talangan haji sesuai dengan fatwa MUI yang telah kami paparkan di atas. Bank Rakyat Indonesia Syari‟ah. utamanya dalam hal akad. (hasil wawancara pada BPD Syari‟ah Jln. Bank tersebut membatasi masa pelunasan sampai 4 tahun dengan ketentuan marginnya 7.

nasabah hanya mengembalikan jumlah pokok pinjaman yang ia terima. Karena yang dimaksud dengan menggabungkan dua akad adalah menggabungkan dua akad dalam satu transaksi. Al-qardh wa al-ijarah Pada umumnya mereka yang mengharamkan praktik ini berargumen bahwa dalam praktik semacam ini ada unsur riba terselubung yaitu uang sewa (ujrah) yang diterima oleh kreditur. Pertama. diantaranya : al-qardh. yaitu uang dan jasa. Kedua. Dari sini kemudian muncul persoalan baru. Jadi. argument tersebut tidak bisa menunjukkan bahwa praktik ini bukanlah menggabungkan dua akad. misalnya untuk jangka waktu pengembalian pinjaman pada BSM jangka waktunya 3 tahun sedangkan untuk BRI Syari‟ah 5 tahun dan untuk besar talangan haji pada BSM sebesar 5 – 25juta sedangkan pada BRI Syari‟ah 10-23juta. praktik ini tetap dikatakan menggabungkan dua akad. Memang ada yang menyanggah bahwa ini bukanlah menggabungkan dua akad. akad al-qard (pinjaman) dengan obyek uang. karena sudah sesuai dengan prinsip qardh dan ijarah di atas. Namun jika kita kembali cermati contoh transaksi di atas maka sama sekali tidak terkandung adanya unsur riba. dan al-qardh wal ijarah. Sedangkan biaya administrasi/ujrah yang dibebankan kepada nasabah hanyalah imbalan atas jasa pengurusan haji. Berangkat dari praktek akad talangan haji ini. Jadi secara akad. Namun menurut penulis. Karena masih dalam lingkup satu transaksi pembiayaan talangan haji. Contoh di atas jelas menunjukkan bahwa akad qardh dalam transaksi tersebut tidak mensyaratkan imbalan tambahan. dengan beralasan bahwa dua akad tersebut adalah untuk dua jenis obyek yang berbeda. 1. meskipun dengan dua objek yang berbeda. Hasil wawancara ini menunjukan bahwa bank melaksanakan program talangan haji dengan beberapa akad. Karenanya. . di sini nasabah hanya mengembalikan sejumlah yang dipinjam. bukankah yang demikian berarti menggabungkan dua akad dalam satu transaksi atau yang sekarang lebih populer dengan istilah hybrid contract (multi akad) ?.dengan akad al-qardh wa al-ijarah. al-ijarah multi jasa. Perbedaannya hanya pada ketentuan teknis talangan haji dan besar talangan yang diberikan pada nasabah. yaitu jasa pengurusan haji. yaitu ijarah al-maal (sewa barang) dan ijarah al-„amal (sewa jasa). penulis akan membahas tentang bagaimana pendapat di kalangan para ulama‟ tentang multi akad ini. sebagaimana diketahui bahwa al-ijarah ada dua jenis. baik qardh maupun ijarah dalam praktik ini tidak ada masalah. akad ijarah al `amal (sewa jasa).. Mereka juga berdalih bahwa menggabungkan dua akad dalam satu transaksi itu tidak diperbolehkan dalam syari‟ah.

karena maksud hadits kedua dan ketiga sama. sebagian pendapat ulama Malikiyah. Ketiga hadits itu berisi tiga larangan : Pertama. sebagaimana akibat hukum dari satu akad. syirkah. walaupun redaksinya berbeda. wakalah. ulama Syafi‟iyah. Namun harus dicatat. karena adanya larangan hadits . larangan shafqataini fi shafqatin (al-Bashri: 1998: V: 384) ‫َََٓٗ زصُٕل َّللاِ صهَّٗ َّللاُ َهَّٛ ٔصهَّى ٍََ صفقَرٍَْٛ فِٙ صفقَح‬ ُ َ ٍ َْ َ ِ ْ َ ْ َ َ َ ِ ْ َ َّ Ketiga hadits itulah yang selalu dijadikan rujukan para konsultan dan banker syariah tentang larangan two in one. tidak diharamkan dan dibatalkan selama tidak ada dalil hukum yang mengharamkan atau membatalkannya (al-„Imrani: tt: 69) Kecuali menggabungkan dua akad yang menimbulkan riba atau menyerupai riba. Al-“Imrani dalam buku Al-Ukud al-Maliyah al-Murakkabah mendefinisikan hybrid contract yaitu “Kesepakatan dua pihak untuk melaksanakan suatu akad yang mengandung dua akad atau lebih –seperti jual beli dengan sewa menyewa. hibah. dan al-‟Ukud al-Mukhtalitah.Ada tiga buah hadits Nabi Saw yang menunjukkan larangan penggunaan hybrid contract. muzara‟ah. yaitu al-ukud al-murakkabah dan al-ukud al mujtami‟ah. Ulama yang membolehkan beralasan bahwa hukum asal dari akad adalah boleh dan sah. al-‟uqûd almutaqâbilah. seperti menggabungkan qardh dengan akad yang lain. ‫ٍَ أتٙ ْسٚسج قال 4 َٓٗ زصٕل َّللا صهٗ َّللا َهّٛ ٔ صهى ٍَ تٛعرٍٛ فٙ تٛعح‬ Ketiga. serta semua hak dan kewajiban yang ditimbulkannya dipandang sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan. al-‟uqûd al-muta‟addidah .” Ada beberapa pandangan di kalangan ulama‟ mengenai multi akad : 1. larangan itu hanya berlaku kepada dua kasus. mudharabah … dst.al-‟uqûd al-mujtami‟ah. seperti al-‟uqûd al-murakkabah. sahraf (penukaran mata uang). (Imam Malik:tt: II:657). menyebut istilah hybrid contract dengan istilah yang beragam. larangan bay‟ dan salaf. Namun istilah yang paling populer ada dua macam . qardh. Buku-buku teks fikih muamalah kontemporer. larangan bai‟ataini fi bai‟atin (at-Tirmidzi: 1999: III: 533). dan Hanbali berpendapat bahwa hukum hybrid contract adalah sah dan diperbolehkan menurut syariat Islam.– sehingga semua akibat hukum akad-akad yang terhimpun tersebut. ‫اٌ زصٕل َّللا صهٗ َّللا َهّٛ ٔ صهى َٓٗ ٍَ تٛع ٔصهف‬ Kedua. Mayoritas ulama Hanafiyah.

tiada yang haram kecuali yang diharamkan Allah. selama setiap akad yang membangunnya ketika dilakukan sendiri-sendiri hukumnya boleh dan tidak ada dalil yang melarangnya. Nazih Hammad dalam buku al-‟Uqûd al-Murakkabah fi al-Fiqh al-Islâmy menuliskan. yang harus diperhatikan bahwa penggabungan aqad tersebut tidak menimbulkan riba. Kedua jenis aqad ini memiliki orientasi yang sangat berbeda. maka dalil itu tidak diberlakukan secara umum. dan tidak ada agama kecuali yang disyariatkan(Ibnu Taimiyah: 1989: II: 317) 3. dapat diketahui bahwa multi aqad pada dasarnya dibolehkan karena penggabungan akad pada masa sekarang merupakan sebuah kensicayaan. hukum asal dari segala muamalat di dunia adalah boleh kecuali yang diharamkan Allah dan Rasulnya. sementara dalam bidang muamalat terbuka lebar kesempatan untuk melakukan perubahan dan penemuan yang baru. ia berpendapat bahwa hukum asal dari akad dan syarat adalah sah. aqad yang digunakan untuk mendapatkan keuntungan. jika kita melihat aqad yang digabungkan dalam praktek talangan haji adalah aqad tabarru‟at yaitu qardh dan aqad muawwadat yaitu ijarah. Menurut Ibn Taimiyah. karena prinsip dasarnya adalah diperbolehkan (al-idzn) bukan melaksanakan (ta‟abbud) (asy-Syatibi: 2000: 284) Dari pandangan ulama-ulama di atas. Ketika ada dalil yang melarang. ”Hukum dasar dalam syara‟ adalah bolehnya melakukan transaksi hybrid contract . hukum asal dari ibadat adalah melaksanakan (ta‟abbud) apa yang diperintahkan dan tidak melakukan penafsiran hukum. sudah masuk dalam wilayah pelarangan hadits Nabi saw. kecuali yang dibatalkan atau dilarang oleh agama (al-Qayyim: tt: 344) Al-Syâtiby menjelaskan perbedaan antara hukum asal dari ibadat dan muamalat. Demikian pula dengan Ibn al-Qayyim. Karena itu.me\nggabungkan jual beli dan qardh. Sedangkan hukum asal dari muamalat adalah mendasarkan substansinya bukan terletak pada praktiknya (iltifât ila ma‟âny). Demikian pula menggabungkan jual beli cicilan dan jual beli cash dalam satu transaksi. sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Ibnu Taimiyah: . Akan tetapi. Sementara aqad mu‟awwadat merupakan aqad komersil. 2. tetapi mengecualikan pada kasus yang diharamkan menurut dalil itu. Jika keduanya digabungkan maka berpotensi menimbulkan riba karena merusak masing-masing tujuan dari kedua aqad tersebut. Menurutnya. Sehingga penggabungan dua aqad dalam dana talangan haji ini. Kemudian. 4. kasus itu dikatakan sebagai pengecualian atas kaidah umum yang berlaku yaitu mengenai kebebasan melakukan akad dan menjalankan perjanjian yang telah disepakati. tidak bertujuan untuk mencari keuntungan. Dalam hal ibadah tidak bisa dilakukan penemuan atau perubahan atas apa yang telah ditentukan. Aqad tabarru‟at merupakan aqad sosial.

ialah adanya perbedaan asas aqad tersebut yaitu asas komersial dan asas sosial. Yang demikian itu karena keduanya(orang yang beraqad) menjalin aqad sosial karena adanya aqad komersial antara mereka. Oleh karena itu. bahwa al-qardh mengikuti hukum taklifi yang bisa berubah. 1987 : 39).5 juta sebagai jasa kepengurusan haji tanpa memperinci biaya administrasinya." (Ibnu Taimiyah. mulai dari dianjurkan hingga dilarang. Hal ini disebabkan karena penggabungan itu menyebabkan motif sosialnya tidak murni lagi tapi menjadi mencari keuntungan. 3. Al-Qardh Semata Sesuai yang telah kami jelaskan pada hukum al-qardh. dan keuntungan itulah yang rentan menjadi riba‟. bahkan aqad sosial secara tidak langsung menjadi bagian dari nilai transaksi dalam aqad komersial. bahwa Bank Muamalat Indonesia masih menarik biaya administrasi sebesar 2. Hal ini dibuktikan dari hasil wawancara kami. Ijarah (multi jasa) . sehingga selama illat ini ada maka hukum hadits diatas bisa diterapkan bagi aqad yang lain. Bahkan costumer service bank tersebut memberikan keterangan bahwa administrasi ini didasarkan pada aqad ijarah. hal ini berdasarkan kaidah ushul fiqih: ‫اأنحكى ٚدٔ ز يع َهرّ ٔجٕدا َٔديا‬ “Hukum itu berlaku berdasarkan ada tidak adanya illat” 2. sedangkan penggabungan dua aqad ini tidak diperbolehkan sebagaimana yang kami paparkan diatas. Pada Bank Muamalat yang mendasarkan aqadnya dengan al-qardh ternyata pada prakteknya masih menggabungkan aqad al-qardh dengan ijarah meskipun tidak dipaparkan secara tertulis. Perubahan tersebut didasarkan pada praktek aqad yang dilakukan. meski secara tertulis aqadnya al-qardh tapi pada prakteknya masih menggabungkan dengan aqad ijarah. kita dapat mengetahui bahwa yang menjadi Illat larangan Rasulullah menggabungkan dua aqad.َ َّ ِ ٍ َ ِ َ َ َُْ ِ ِ َ َ َ َ ْ ِ َِ ْ َْ ُ َ ِ ‫فَجًاع يعَُٗ انحدٚث أٌَ َل ُٚجْ ًع تٍََٛ يعأضح ٔذَثَسُّ ع ؛ ألٌَ ذنِكَ انرَّثَسُّ ع ئًََّا كاٌَ ألَجْ م انًعأضح َل‬ َ ٍ َ َ َُ ْ َ َ ْ ُ َ ِ َ ِْ ْ ِ ً ْ ُ ِ َّ ٌِ‫ذَثَسُّ ًَا يطهَقًا ؛ فََٛصٛس جُزءا يٍ انعٕض فَاِذا اذَّفَقَا َهَٗ أَََُّّ نَْٛش تِعٕض جًعا تٍََٛ أَيسٍْٚ يرَثَاٍَُِْٚٛ ؛ فَا‬ َ ُ ِ َ ْ ْ ََ َ ٍ َ ِ َ ِ َّ ِ َ ْ ِ ْ َ ً َ َ َ ْ ْ َ ‫يٍ أَقسض زجَُل أَ ْنفَ دزْ َْى ٔتَاَُّ ص ْهعحً ذُضأ٘ خَ ًضًائَح تِأ َ ْنف نَى َٚسْ ض تِاإلقساض ئَل تِانًٍَّّ انزائِد‬ ٍ َِ ْ ْ ٍ َ ِ َ َ ٍ ِ ِ َّ ِ َ ِ َ َ ِ ْ َ َ ‫نِهضِّهعح ؛ ٔانًَرَس٘ نَى َٚسْ ض تِثَدَل ذنِكَ انًٍَّّ انزائِد ئَل ألَجْ م األَ ْنف انَّرِٙ اقرَسضَٓا ؛ فََل َْرا تَٛعًا تِأ َ ْنف‬ ٍ ْ ِ ْ ُْ َ ِ َْ َ َ ْ َ ِ ْ ِ ِ َّ ِ َّ ِ َ َ ََ ‫َٔل َْرا قَسْ ضًا يحْ ضًا‬ َ “Kesimpulan dari hadits ini menegaskan bahwa : Tidak dibenarkan menggabungkan antara aqad komersial dengan aqad sosial. semisal penggabungan aqad Qardh dan Ijarah dalam praktek talangan haji. Dengan demikian aqad sosial itu tidak sepenuhnya sosial. Dari kesimpulan yang ditetapkan oleh ibnu Taimiyah.

” Ayat diatas dalam ilmu ushul fiqh termasuk dalam pembahasan takhsis. Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah. barang siapa mengingkari (kewajiban haji) maka sesungguhnya Allah maha kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. Karena bank tersebut tetap meminjamkan uang kepada nasabah dengan adanya tambahan (margin sebesar 7. B.صثِٛما‬yakni bagi yang sudah mampu. apalagi dengan niat membantu orang. sebenarnya tidak murni ijarah. tapi di akhir lafadz ada pengecualian dengan bentuk badal ْ ِ َ َّٛ‫يٍ اصرَطَاع ئِن‬ ِْ َ ‫ . yaitu mengecualikan sebagian dari lafadz umum. sebagaimana disebutkan dalam suatu hadis. Sepintas praktek seperti ini tidak ada masalah. seperti BPD Syari‟ah. barang siapa memasukinya (baitullah itu) menjadi amanlah dia. Dimaksudkan dengan ististha‟ah dalam firman-Nya “man istathaa‟a ilaihi sabiilan” ialah mempunyai bekal dan mampu dalam perjalanan. . yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. (Qudamah tt : 432 ).2 persen). Bank tersebut tidak mengakui bahwa pinjaman tersebut sebagai alQardh tetapi sebagai jasa bantuan bagi orang yang ingin melaksanakan ibadah haji agar mendapatkan seat (kursi) lebih cepat. Dari sinilah kemudian muncul pendapat-pendapat dalam ً َ memahami maksud istitha‟ah dalam ayat tersebut. tetapi menurut penulis praktek seperti ini tidak dibenarkan karena pada dasarnya jasa uang dalam konteks ini harusnya memakai prinsip al-Qardh sebab bertujuan untuk membantu orang lain (aqad sosial/muawwad) yang tidak boleh menetapkan biaya tambahan.Pada bank yang menggunakan aqad ini. Mengenai ke-Istitho’an seseorang Dalil yang menjadi dasar hukum kewajiban ibadah haji adalah surat ali imran ayat 97 : ٌ ْ َ َ ً َ ِْ َ َ ْ ِ َ ِ ْ ْ ِ ِ ٍ‫فِّٛ آَٚاخ تََُِّٛاخ يقَاو ئِتْساْٛى ٔيٍ دخَ هَُّ كاٌَ آيًُا ٔ َِلِلِ َهَٗ انَُّاس حجُّ انثَٛد يٍ اصرَطَاع ئِنَّٛ صثَِٛل ٔي‬ َ َّ َ ِ َ ْ َ َ َ ِ َ ُ َ ٌ ِ ًٍََٛ‫كفَس فَاٌِ َّللاَ غُِٙ ٍََ انعان‬ ِ َ ْ ِ ٌّ َ َّ َّ َ َ “padanya terdapat tanda-tanda yang nyata. (diantaranya) maqam Ibrahim. Pada mulanya dalam ayat tersebut disebutkan bahwa haji diwajibkan bagi seluruh umat islam. Jika terdapat biaya tambahan maka akan menimbulkan larangan sesuai qaidah fiqh yang disampaikan Ibnu Qudamah di dalam al-Mughni: ‫كم قسض شسط فّٛ أٌ ٚزٚدِ فٕٓ حسو تغٛس خَلف‬ “Setiap pinjaman yang mensyaratkan tambahan hukumnya haram tanpa ada perbedaan pendapat”.

II : 179). Dari hadis tersebut jumhur „ulama berpendapat. dan memiliki jaminan keamanan (az-Zuhaily: 2006: 2082). baik melalui darat. Uang belanja cukup bagi dirinya dan bagi keluarga yang ditinggalkan. dan dirinya dalam keadaan sehat. memiliki bekal dan biaya perjalanan. . yaitu memiliki badan (tubuh) yang sehat. meskipun ia memiliki bekal dan kendaraan”.a. (asSan‟aniy. Nailul Authar. 1960: II : 179). as-San‟aniy. atha. laut maupun udara (az-Zuhaily: 2006: III: 2050). Mengenai makna Istithā‟ah ini para pengikut madzhab yang empat juga berpendapat : Hanafiyah berpendapat bahwa Istithā‟ah itu ada tiga. dan semua orang yang kesulitan melakukan ibadah haji haji termasuk dalam kategori orang yang tidak mempunyai isthithā‟ah. bekal dan kendaraan bukan merupakan syarat mutlak tanpa mempertimbangkan hal-hal lainnya. dan dinilai sahih oleh al-Hakim. bahwa yang dimaksudkan dengan „istitha‟ah‟ ialah mampu dalam perjalanan dan perbelanjaan. orang tua yang tidak mampu lagi menempuh perjalanan (‫ . Sehingga. yaitu memiliki badan yang kuat. Sebab. Dijelaskan pula bahwa yang dimaksud dengan bekal oleh kebanyakan ulama adalah bekal untuk dirinya dan keluarganya sampai ia pulang dari tanah suci (menunaikan ibadah haji). bukan yg lainnya Selain pendapat-pendapat di atas. „Hai Rasulullah. 1960. ( زٔاِ انداز قط‬ ُ ْ َّ َ َ َ َ َ َ ِ َ ِ َ ٍ )113 42 َٙ‫صححّ انحاكى، انصُعا‬ “Dari Anas r.)انَٛخ َل ّٚثد َهعٗ انساحهح‬az-zamin. aman dalam perjalanan. Pengikut Imam Malik (Malikiyah) juga mensyaratkan Istithā‟ah dengan terpenuhinya tiga hal. atau bekal. Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh al-Hakim. Juz V:13).” (Ditakhrijkan oleh adDaruqutniy. Malikiyah berpendapat bahwa Istithā‟ah adalah memungkinkannya seseorang sampai di Makkah. apakah yang dimaksudkan dengan as-sabil (jalan)?‟ Beliau menjawab. kiranya kita pun perlu menyimak perkataan imam AlJashāsh. seseorang yang sedang sakit keras. Subulus Salam. adanya bekal yang dimampui oleh seseorang.َْ ْ ُ َّ ٔ ُٙ‫ٍََ أَََش زضٙ َّللاُ َُُّ قَال 4 قِْٛم َٚا زصُْٕ ل َّللاِ يا انضثِٛم ؟ قَال 4 انزاد ٔ انسَّاحهَحُ . dan beliau juga mensahihkannya (AsySyaukani. dan banyaknya jalan yang bisa dilalui untuk pergi ke Makkah. Ibnu zubair. baik dengan berjalan atau dengan berkendara. ia berkata: Rasululullah SAW ditanya. „bekal dan perjalanan‟. ikrimah dan malik berpendapat bahwa al istitha‟ah adalah kesehatan. Beliau menjelaskan “makna isthithā‟ah tidak hanya terbatas pada bekal dan kendaraan.

Kesehatan jasmani. Nabi saw bersabda : Cukuplah dosa bagi seseorang (tatkala) dia menyianyiakan orang-orang yang menjadi tanggungjawabnya" ( Abu Dawud: ttb: II: 59). Mengingat bahwa haji sebagai sebuah kewajiban (rukun Islam yang kelima). Ketiga. apakah aku melaksanakan haji untuk mewakilinya? “ (al-Baihaqy: 1991: VII: 14) Kedua. sesungguhnya ayahku telah diwajibkan untuk melaksanakan ibadah haji disaat dia telah tua renta. serta mencukupi segala hajat atau kebutuhanya dan kebutuhan orang-orang yang menjadi tanggungjawabnya dalam hal nafkah. memiliki harta. dan adanya kendaraan untuk melakukan perjalanan (az-Zuhaily: 2006: III: 2087) Hanabilah (pengikut Imam Ahmad ibn Hambal) berpendapat bahwa Istithā‟ah itu hanya disyaratkan memiliki bekal dan biaya perjalanan (az-Zuhaily: 2006: III: 2089) Dari semua pendapat di atas. maka dapat kita rangkum makna istitha‟ah ke dalam 3 cakupan makna : Pertama. padahal menurut ketentuan syari‟at bahwa ‫(انضسز ٚزال‬sesuatu yang berbahaya harus dihindari). Memiliki bekal yang cukup untuk pergi dan kembali.Mengenai Istithā‟ah ini Syafi‟iyah sependapat dengan Malikiyah. baik bekal dan biaya perjalanan. yaitu memiliki badan yang mampu (sehat). Keamanan dalam perjalanan.a : َٗ‫أٌَّ ايْسَأَجً يٍِْ خَّْعَىَ قَانَدْ4َٚازَصُْٕلَ انهِّ ئٌَِّ أَتِٙ أَدْزَكَرُّْ فَسِْٚضَحُ انْحَجِّ شَْٛﺨًا كَثِْٛسًا َلَ َٚضْرَطِْٛعُ أٌَْ َٚضْرََِٕٖ ََه‬ ََُُّْ ِّٗ‫انسَّاحِهَحِ أَفَأَحُجُّ ََُُّْ؟ قَالَ4حُج‬ “Bahwasanya seorang wanita dari Khats‟am berkata: „Wahai Rasulullah . dia tidak mampu untuk tetap bertahan diatas kendaraan. maka hendaknya setiap orang Islam yang diberi keluasan rizki bercita-cita dan berusaha untuk dapat . hal ini disebabkan karena mewajibkan ibadah haji yang tidak disertai dengan jaminan keamanan selama perjalanan merupakan sesuatu yang berbahaya (dharar). Jika ketiga syarat diatas telah terpenuhi maka telah wajib bagi seseorang untuk melaksanakan ibadah haji bagi laki-laki maupun perempuan. Hal ini berdasarkan hadits nabi saw : " َ ُ‫عَيْ عثد َّللاِ تي عورو ، أَىه الٌهثِي صلهً َّللاُ علَيه وسلهن قَاه : " مفًَ تِالورء إِثوا أَىْ يُضيِّع هيْ يَقُىت‬ َ ‫ه‬ ٍ َْ ِ ْ ‫َِْ ه‬ َ َ َ ًْ ِ َْْ َ َ َ َ ِ ْ َ ‫ه‬ "Dari Abdullah bin Umar. berdasarkan hadits Abdullah Ibnu Abbas r.

Sepintas tujuan dari adanya dana talangan haji ini baik. Uang tabungan haji ini hendaknya dijaga sedemikian rupa agar tidak digunakan untuk keperluan lain. Dari sinilah muncul salah satu produk Lembaga Keuangan Syariah yang disebut dengan Dana Talangan Haji guna membantu mereka yang berkeinginan menunaikan ibadah haji tapi mempunyai kendala keuangan. Di samping itu produk ini memiliki peminat yang cukup banyak sehingga berpotensi memajukan Lembaga Keuangan Syari‟ah sebagai instrument ekonomi umat Islam. Oleh karena itu. Dalam qaidah ushuliyah ditegaskan: ‫نِهٕصائِم حكى ْانًقَاصد‬ ِِ َ ُْ ُ ِ َ َ Artinya : “Hukum bagi sarana sama dengan hukum tujuannya. menabung dan mengikrarkan untuk biaya perjalanan ibadah haji (BPIH). karena dalam akad ini terjadi penggabungan antara akad al-qardh dan al-ijarah dengan mensyaratkan adanya tambahan imbalan sebagai jasa. baik dari tinjauan status hukum dan manfaatnya secara syar‟i. Manfaat utama dari produk ini adalah memberikan bantuan kepada masyarakat untuk melaksanakan salah rukun Islam yakni berhaji ke Baitullah. tapi ternyata dengan adanya program tersebut menimbulkan banyak permasalahan.menunaikan ibadah haji dengan terlebih dahulu berupaya untuk dapat memiliki bekalnya sebagai sarana dapat dilakukan ibadah haji itu. Sehingga ia bisa saja dianggap sebagai bagian dari fath aldzari‟ah. Lalu bagaimana dengan orang yang tidak memiliki tabungan tapi berkeinginan menunaikan ibadah haji. bahkan tambahan tersebut besarnya tergantung pada masa pinjaman (Riba an-Nasi‟ah). Namun demikian ada banyak mudarat yang timbul dari praktek dana talangan haji ini. sehingga maksud dari menabung dapat menjadi kenyataan.” Dalam kaitannya dengan pelaksanaan ibadah haji dapat dikatakan bahwa bagi orang Islam yang diberi keluasan rizki wajib untuk berusaha agar memiliki bekal guna dapat menunaikan ibadah haji. C. untuk lebih rincinya akan dibahas dalam pembahasan mengenai manfaat dan mudharat program dana talangan haji pada penjelasan dibawah ini. Manfaat dan mudharat dari program dana talangan haji Tidak bisa dipungkiri bahwa sebuah produk tentu memiliki sisi positif dan negatif. baik ditinjau dari aspek syariah yakni keabsahan akadnya yang sangat riskan menjatuhkan kepada riba tersembunyi. sebagaimana firman Allah swt : . merupakan perbuatan bijak dan terpuji. Penabungnya dapat dikatakan sebagai hamba Allah yang sungguh-sungguh berupaya untuk dapat melaksanakan ibadah haji.

Subulus Salam. Juz 3. orang-orang yang Telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya.” ( HR. keadaan mereka yang demikian itu. karena selain hukum dari riba itu sendiri haram juga setiap qardh (pinjaman) yang mensyaratkan tambahan termasuk riba. hal.media-islam. meski besarnya tak didasarkan pada jumlah dana yang dipinjamkan. orang yang kembali (mengambil riba). maka kita dapat membayangkan apa yang terjadi jika produk ini tetap dijalankan oleh LKS pada tahun-tahun yang akan datang. Di media lain yakni situs Media Islam (www.” ( HR. Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba.id) ada pengunjung situs tersebut yang mengeluhkan tentang orang . Jika dilihat dari aspek sosial. dan urusannya (terserah) kepada Allah. padahal Allah Telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. menceritakan kepada kami Abdullah bin Idris dari Abi Ma‟syar dari Sa‟id al-Muqbiri dari Abi Hurairah berkata. adalah disebabkan mereka Berkata (berpendapat). lalu terus berhenti (dari mengambil riba). penulisnya.“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. أٚضسْا أٌ ُٚكح انسجم أي‬ “Menceritakan kepada kami Abdullah bin Sa‟id. Maka baginya apa yang Telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan). yang paling ringan adalah (sama dengan) dosa orang yang berzina dengan ibunya. Hal ini menyebabkan membengkaknya peserta tunggu sehingga banyak orang yang sebenarnya sudah mampu namun “diserobot” antriannya oleh mereka yang memakai jasa talangan haji dan antriannya mundur bahkan sampai tahun 2017. Beliau bersabda: “Mereka itu sama. yang intinya menyatakan bahwa adanya dana talangan haji menyebabkan berbondong-bondongnya masyarakat untuk mendaftarkan diri guna mendapatkan seat haji dengan bantuan dari dana talangan haji meskipun sebenarnya mereka belum sanggup membayarnya. pemberi makan riba. sebuah media lokal yakni Kabar Cirebon pada hari Rabu. dan dua orang saksinya. bersabda Rasulullah saw: “Riba ada tujuh puluh dosa. Ibnu Majah) ّٚ‫ٍَ جاتس زضٙ َّللا َُّ قال " نعٍ زصٕل َّللا صهٗ َّللا َهّٛ ٔصهى آكم انستا ٔيإكهّ ٔكاذثّ ٔشاْد‬ ‫ٔقال ْى صٕاء" زٔاِ يضهى‬ “ Dari Jabir Radliyallaahu „anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu „alaihi wa Sallam melaknat pemakan riba. 36) Hal ini tidak diperbolehkan. mereka kekal di dalamnya” (al-Baqarah : 275 ). Muslim. 05 Oktober 2011 menurunkan berita berjudul “Dana Talangan Haji Harus Dihentikan”. Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka. Juga hadist : ‫حدثُا َثد َّللا تٍ صعٛد .or. Jika berita itu dimuat pada tahun 2011. حدثُا َثد َّللا تٍ ئدزٚش ٍَ أتٙ يعَس ٍَ صعٛد انًقثس٘ ٍَ أتٙ ْسٚسج قال‬ ) ّ‫قال زصٕل َّللا صهٗ َّللا َهّٛ ٔ صهى 4 ( انستا صثعٌٕ حٕتا .

yang muncul dipermukaan hanya beberapa kasus padahal di lapangan hal ini telah terjadi cukup banyak. Jika melihat pengertian isthita'ah yang merupakan syarat kewajiban haji. 2. 3.tuanya yang tidak mendapatkan lagi jatah seat hingga bertahun-tahun yang akan datang padahal orang tuanya itu sudah tergolong mampu. Allah swt berfirman : ‫َل ُٚكهِّف َّللاُ ََفضًا ئَِل ٔصعَٓا‬ َ ْ ُ َّ ْ َّ ُ َ َ . Maka barang siapa yang berhati-hati terhadap perkara-perkara mutasyabihat maka ia sugguh telah menjaga agama serta kehormatannya. ‫دزأانًفاصد يقدو َهٗ جهة انًصانح‬ Artinya : menolak kemudaratan lebih diutamakan dari pada mencari kemaslahatan. atau setidaknya masih berupa hal syubhat yang diperintahkan oleh Rasulullah untuk dijauhi dalam sabdanya : ‫حدّثٌا هحود تْيُ عثد َّللاِ تي ًُوير الهودَاًِي : حدثٌََا أَتِي: حدثٌََا زَ مريهاء عَي الشعثِي عَي الٌُّعواى تي‬ ‫َ ه‬ ‫َ ه‬ ُ‫ُ َ ه‬ ِ ْ ِ َ ْ ِ ِّ ْ ‫َ ِ ُ ِ ه‬ ُّ ْ َ ْ ٍ ْ َ ِ ْ ّ ِ ْ َ ّ َ ُ َ َِْ ُ ٌ‫تَشير ، قَاه: سوعحُهُ يَقُىه سوعثُ رسىه َّللاِ يَقُىه: وأَهْىي الٌُّعواىُ تِإِصثَعيه إلًَ أُذًَيه «إىه الحالَه تَيِّي‬ َِْ َ ِ ْ ُ ٰ ِ َْ ْ َ َ ُ ٍ ِ َ َ ْ َْ ‫وإىه الحرام تَيِّيٌ وتَيٌَهوا هشحَثِهاتٌ الَ يَعلَوهيه مثِير هيَ الٌهاس، فَوي اجهقًَ الشثُهات اسحَثرأَ لِديٌِه‬ َ ْ ُ َُ ْ َ ِ ِ َ ْ ْ ِ َ ُّ ِ ٌ َ ُ ُ ْ َ ِ َ ِ َ َ َ ْ ،‫وعرضه، وهيْ وقَع فِي الشثُهات وقَع فِي الحرام‬ َ َ ِ َ ُّ َ َ َ َ ِ ِ ْ ِ َ ِ َ َ ْ Artinya : Sesungguhnya perkara yang halal telah jelas dan yang harampun telah jelas. (HR. Dalam ushul fikih kita mengenal kaidah yang berbunyi . Dan barang siapa yang terjatuh ke dalam perkara yang syubhat. penyebabnya adalah membludaknya pendaftar sebab banyak orang yang memakai dana talangan haji. V. Kedua fakta ini bisa saja merupakan fenomena gunung es. Justru jika ia memaksakan diri dengan berhutang kepada LKS. maka ia telah terjatuh ke dalam hal yang haram. KESIMPULAN DAN SARAN Dana talangan haji dibolehkan oleh DSN atas dasar kebolehan akad qardh dan ijarah yang menjadi komponen akadnya. Status akad gabungan qardh dan ijarah dalam produk ini sangat rentan terjatuh pada praktek riba terselubung. Diantara keduanya terdapat perkara-perkara mutasyabihat yang tidak diketahui sebagian besar manusia. maka ada kemungkinan ia akan menyusahkan dirinya sendiri padahal Allah sendiri memberikan beban (taklif) kepada hamba-Nya sesuai kesanggupan hamba tersebut. sebenarnya orang yang memakai jasa talangan haji belum bisa dikatakan memenuhi syarat tersebut. Muslim). 1. Padahal riba sangat dicela oleh agama. sehingga ia belum dikenai kewajiban berhaji.

(al-Sayuti. Maka dalam keadaan seperti ini mencegah kemudaratan harus diutamakan dari pada mendatangkan kemanfaatan sesuai dengan kaidah : ‫دزاانًفاصد يقدو َهٗ جهة انًصانح‬ Artinya : menolak kemudaratan lebih diutamakan dari pada mencari kemaslahatan. Jika kita menerima argument mereka yang membolehkannya. maka keharaman dimenangkan. Dalam kitab alAsybah wa an-Nazhair al-Sayuti menyebutkan sebuah kaidah fikih : ‫إذا اجحوع الحاله و الحرام غلة الحرام‬ Artinya : jika berkumpul haram dan halal. Bagi umat Islam untuk memenuhi perintah Allah swt kepada kita yakni melaksanakan ibadah haji.(al-Sayuti. Maka yang perlu dilakukan adalah mecari khuruj (jalan keluar) dari perselisihan ini. baik ditinjau dari aspek syar‟i maupun dari aspek kemaslahatan sosial.Artinya : “Allah tidak membebani seseorang kecuali yang sesuai kemampuannya” (Al-Baqarah : 268). Jika ada pendapat yang membolehkan namun yang lain mengharamkan. tetap saja pendapat ulama-ulama yang melarang praktek ini tidak bisa diabaikan. selain dana talangan haji ini kita masih bisa menabung untuk haji. . 7. As-Sayuti juga menukil perkataan para Imam : ‫قاه األئوة : و إًوا ماى الححرين أحة ألى فيه جرك هثاح الجحٌاب هحرم و ذلل أولً هي عنسه‬ Artinya : para Imam berkata : mengharamkan lebih disukai dari membolehkan. maka jalan keluar yang paling aman dan menentramkan adalah mengikuti pendapat yang melarangnya. dengan memakai metode sadd al-dzari‟ah dana talangan haji sangat mungkin diharamkan untuk mencegah kemudaratan yang dikandungnya. 1983 : 209). sehingga dapat dikatakan bahwa telah terjadi ikhtilaf seputar hukum talangan haji ini. 7. Lebih jauh lagi. 5. sesuai kaidah : ‫الخروج هي الخالف هسححة‬ Artinya : keluar dari suatu perselisihan pendapat itu disukai. karena pada pengharaman kita meninggalkan yang mubah untuk menjauhi yang haram dan itu lebih utama daripada melakukan hal yang sebaliknya. 6. 1983 : 209). 4. Meskipun memiliki manfaat bagi sebagian umat Islam. juga kita memang telah termasuk hamba-Nya yang mampu. Dengan cara seperti itu hati lebih tentram dan ketika melaksanakannya. dana talangan haji ternyata mengandung mudarat yang tidak sedikit.

Mausu‟ah al-Qawa‟id al-Fiqhiyah. dan Hanabilah. penggabungan dua akad menjadi satu akad sendiri hukumnya tidak boleh. (Setiap pinjaman yang mensyaratkan tambahan hukumnya haram tanpa ada perbedaan pendapat). hal. 3. (M. Ketiga. Al-Ijarah Baina Al-Fiqh al-Islami wa alTathbiq al-Mu‟ashir. yakni ulama Hanafiyah. Majmu‟ al-Fatawa. Keempat. dalil yang digunakan tak sesuai untuk membolehkan akad qardh wa ijarah. Ini tidak boleh. Sebab dalil yang ada hanya membolehkan qardh dan ijarah secara terpisah. 11/230. 2. Abdul Aziz Hasan Zaid. Malikiyah. . Al-Majmu‟.. Pertama. PENUTUP Pandangan saya tentang dana talangan haji merupkan akad yang tidak diperbolehkan. 1. Dari pemaparan diatas kami berpendapat bahwa dana talangan haji tidak boleh digunakan karena beberapa pertimbangan yang telah dipaparkan diatas. An-Nizham al-Iqtishadi fi al-Islam. 17. ibid. Taqiyuddin Nabhani. Al-Mabsuth.VI. Dalam akad qardh wa ijarah. Fahad Hasun. Kaidah fikih menyebutkan : Kullu qardhin syaratha fiihi an yazidahu fahuwa haram bighairi khilaf. Syafi‟iyah. M. (Imam Sarakhsi. 8/484). 45). 24). Al-Ijarah al-Muntahiyah bi At-Tamlik. 3/66. Sa‟id Burnu. Tak ada satupun dalil yang membolehkanqardh dan ijarah secara bersamaan dalam satu akad. 4. 9/230. disyaratkan obyek akadnya bukan jasa yang diharamkan. akad qardh wa ijarah tidak memenuhi syarat ijarah.93). Abdul Aziz Hasan Zaid. penggabungan qardh dan ijarah termasuk akad yang tak dibolehkan. Hasyiah alDasuqi „Ala Al-Syarh al-Kabir. seperti Imam Ibnu Taimiyah (ulama Hanabilah) dan Imam Asyhab (ulama Malikiyah). meski besarnya tak didasarkan pada jumlah dana yang dipinjamkan. Kedua. obyek akadnya adalah jasa qardh dengan mensyaratkan tambahan imbalan. menurut ulama yang membolehkan penggabungan dua akad pun. yakni pendapat jumhur ulama empat mazhab. hal. Demikianlah paparan singkat seputar permasalahan dana talangan haji yang akhir-akhir ini sedang menjadi trend dan marak dilakukan oleh banyak kalangan. Al-Syarh alKabir. (Ibnu Taimiyah. hal. 29/62. Memang sebagian ulama membolehkan. hal. Imam Nawawi. (M. Namun yang rajih adalah pendapat yang tidak membolehkan. Sebab dalam akad ijarah. 13/16. sebab setiap qardh (pinjaman) yang mensyaratkan tambahan adalah riba.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful