Seiring dengan kian maraknya produk nasyid dan lagu-lagu lokal maupun impor yang dikategorikan sebagai

representasi seni bernafaskan Islam, baik dalam berbagai bentuk media antara lain kaset, CD, pentas seni, album grup nasyid; kreativitas seni yang „bernafaskan Islam‟ dipertanyakan. Hal itu sejalan dengan meningkatnya animo masyarakat muslim untuk memiliki identitasnya dalam kesenian. Namun, karena tidak jelasnya rambu-rambu syariah tentang seni sehingga banyak timbul penyimpangan dari segi lirik, gaya maupun cara penyajian, seperti pengkultusan manusia, aroma aqidah yang tidak sesuai dengan ahlus sunnah wal jama‟ah (aqidah salaf), dominasi suara irama musik. Meskipun begitu, karena minimnya produk album yang murni islami, masyarakat terpaksa membeli album-album tersebut asal masih bernuansa dzikir, dakwah dan nasehat. Persoalan yang sering menjadi perdebatan adalah adakah hubungan Islam dengan seni, apakah sebenarnya yang dinamakan seni Islami dan bagaimanakah rambu syariah yang dapat memilahkan dan mengambil sikap antara seni islami dengan jahiliyah. Dapatkah kita katakan bahwa al-Qur‟an adalah wahyu yang mengajarkan seni agung di samping petunjuk hidup. Islam adalah dien al-fitroh, seluruh ajarannya berjalan harmonis dan selaras dengan naluri dasar dan kesiapan manusia bahkan prinsip-prinsip dan kaedah-kaedah syari‟ahnya memenuhi hajat hidup manusia dalam berbagai aspeknya. Firman Allah swt. yang artinya : “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” ( QS. 30:30 ) Al-Imam Al-Ghozali menjelaskan bahwa Allah swt. telah memberi manusia akal dan pancaindera. Tiap-tiap dari pancaindera itu ingin menikmati sesuatu menurut nalurinya masingmasing. Umpamanya, penglihat ingin menikmati sesuatu yang indah; pendengar, ingin mendengarkan sesuatu yang merdu dan nyaring. Jadi tidak masuk akal bila semua pemandangan, tontonan/hiburan kesenian dan berbagai apresiasi estetika dihalangi dalam Islam. Namun naluri pancaindera itu jangan dibiarkan berjalan sekehendaknya, melainkan harus dikontrol dan disalurkan ke jalan yang baik. (Ihya Ulumuddin,VI/136-169) Rasul pun menyatakan bahwa naluri estetika tidak bertentangan dengan Islam bahkan disukai dan menjadi bagian kehidupan integralnya dengan sabdanya, “Allah itu indah dan menyukai keindahan ” (HR. Muslim). Prof. Mahmoud Syaltout dalam bukunya Al-Fatawa (hal. 375-380) menegaskan bahwa syari‟at Allah tidak membunuh naluri (ghorizah/instink) manusia tetapi dirawatnya, karena manusia tidaklah bisa melaksanakan tugasnya di dalam dunia ini tanpa mempergunakan naluri panca inderanya. Tidaklah masuk akal sama sekali bahwa Allah dalam memberikan perintah-perintahNya kepada manusia harus pula membunuh nalurinya, tetapi yang logis adalah kekuatan dan tenaga naluri itu harus dipergunakan dan disalurkan kepada yang wajar sebagaimana yang diridhai Allah. Berbicara masalah seni sebagai manifestasi dari sebuah apresiasi, kreasi dan ekspresi gagasan, emosi dan ide tidak bisa terlepas dari nilai, norma dan etika. Sebab tiada satu pun aktivitas dinamika kehidupan manusia yang bebas nilai dan norma, termasuk kegiatan dunia seni yang tidak dapat dihindarkan dari muatan motivasi, pesan ajaran, dan idealisme yang melatarbelakangi semua itu dari lingkungan sosio kulturalnya.

panggung. para pengajar dan pelajar. umat Islam khususnya generasi mudanya terlanjur sulit melepaskan diri dari seni budaya materialistis sekuler Barat karena telah merasuk ke dalam dirinya. Bahkan sudah lebih lekat dari pada nama-nama para Nabi dan Rasul. sejak kelahiran anak Adam as. Idola-idola semu mereka tersebut lebih lekat di benak kawula muda Islam lengkap dengan ulah dan lika liku hidupnya. di jalan. pola dominasi Barat telah banyak mempengaruhi dan menguasai kehidupan sosial. Dalam mempengaruhi pola pikir dan budaya umat Islam. Bon Jovi. hal. sementara itu pemikiran dan kehidupan mereka jauh dari nilai-nilai Islam. di rumah. para pemikir dan ulama Islam serta budayawan dan seniman muslim masa kini dan yang lampau. Kemelut ini sebenarnya telah berlangsung lama. dalam ceramah-ceramah dan bukubuku. Pemeran dan pelakunya adalah para generasi muda. . budaya dan berbagai aspek lainnya. Tidak mengherankan lagi bila mereka tergila-gila dan menggandrungi para seniman Barat begitu „ngefans„ dan mengidolakan berbagai group band dan musik serta personilnya seperti. politik. sejak kejatuhan negerinegeri Islam ke tangan kaum imperialis Barat pada abad XIX M ( XIII H ).(Ma‟rokah At-Taqolid. antara fitrah kesopanan dan nafsu urakan. Mick Jagger. Arenanya meliputi semua lapangan kehidupan. pria dan wanita bahkan semua manusia ikut terlibat dengan kemelut ini. Kemelut ini bergejolak di seluruh negeri-negeri Islam yang merupakan suatu realisasi pertarungan hak dan batil.Dewasa ini tengah berlangsung -disadari atau tidak. podium dan banyak media massa dan komunikasi lainnya. antara nilai-nilai islami dan jahili. Madonna. Pada gilirannya. Kebekuan yang telah mengubah karya dan upaya generasi sebelumnya menjadi monumen mati tanpa ruh dan lebih suka menirukan dan menelan budaya asing. pemikiran dan kreasi. di muka bumi dan tiada henti-hentinya sampai kiamat. di pedesaan dan di perkotaan. Prof.2) Fenomena pertarungan budaya ini semakin tragis dan parah semenjak dunia Islam terlena dan lelap dalam tidur selama lebih kurang dua abad dan yang paling dahsyat. di tempat hiburan dan sekolah. Hal itu sebagai efek kejumudan (stagnasi) umat dalam bidang mental. Sangat disayangkan. cita rasa. Rod Stewart. di bis dan kendaraan umum lainnya. Muhammad Quthb menggambarkan betapa pertarungan tersebut hebat sekali. Selanjutnya. Sungguh memalukan dan memprihatinkan bila kondisi generasi kita telah terjangkit kronis penyakit ‘demam asing’ asal trendi. Jason Donovan. para pengarang dan pemikir.suatu kemelut yang berhubungan dengan masalah tradisi dan kebudayaan. Mereka lebih hafal dan fasih dengan lagu-lagu dan film-film „asing‟ yang urakan ketimbang membaca surat Al-Fatihah. elektronik. gandrung dengan produk seni budaya yang asing dari nilai-nilai Islam dan budaya kesopanan Timur sebagai korban dari Ghazwul Fikri suatu upaya bertahap pemurtadan umat Islam dan pengasingan nilai-nilai Islami. Tommy Page dan masih banyak idola-idola lainnya baik di bidang film. mereka menggunakan segala cara yaitu media cetak. Dr. dalam majalah dan surat kabar. Sebagai akibat kejatuhan politik dan peradaban Islam pada abad XIX Masehi. ekonomi. Michael Jackson. tanpa berdaya membuat terobosan dan gebrakan baru sebagai alternatif islami bagi dinamika perubahan zaman di tengahtengah kekacauan nilai. seni budaya Islam mengalami kristalisasi (idzabah/peleburan) dan memasuki proses akulturasi dengan kesenian dan kebudayaan Barat yang berakibat hilangnya unsur ashalah dari yang dinamakan seni dan budaya Islam. orangtua. musik maupun seni lainnya. putraputri. spiritual.

Umat Islam semakin sulit dan hampir tidak bisa mengidentifikasi hasil seni budaya yang pantas untuk budaya kesopanan bangsa Timur apalagi yang sesuai dengan ketentuan dan ajaran Islam karena kepribadian dan pemikiran mereka sudah menjadi „Barat’ atau „Semi Barat’. belum dapat dikatakan representatif dan komprehensif yang mencakup dan mewakili semua unsur esensial dan substansial dari seni itu sendiri. idiom. keyakinan. hinduisme. arah dan tujuan di samping aspek gaya dan estetikanya. feodalisme. serba samar-samar dan batasan yang transparan. Jadi. ideologi. Ironis memang namun sudah jamak bila sering terjadi di masyarakat kita tradisi salah kaprah dalam menilai dan menyajikan sebuah seni Islam. 3081) Seni menurut Islam hakikatnya sebuah refleksi dan ekspresi dari berbagai cita rasa. (Ensiklopedi Indonesia. gaya dan berbagai atribut keislaman lainnya dan dipoles dengan sebutan dan sentuhan warna dan nuansa keislaman. Maka setiap karya budaya dan segala bentuk apresiasi seni yang asalkan sudah menyebut lafazh. faktor keawaman ataupun pemaksaan image tanpa didukung penghayatan nilai dasar keislaman. setelah dikaji lebih matang dan cermat ternyata hakikatnya baik dari faktor penunjangnya maupun unsur substansial dan essensialnya juga muatan materi dan cara penyajiannya sudah menyimpang dari ketentuan syariah Islam. Di antara kaedah-kaedah dan kriteria tersebut adalah: 1. interpretasi. V / 3080. liberalis dan permissivis “Barat” atau terrembesi oleh seni budaya sinkritis pluralis “Timur” yang masih tersisa akar-akar tradisi animisme. Oleh karenanya. Seni secara umum merupakan penjelmaan rasa indah yang terkandung dalam jiwa manusia. kepekaan. Oleh karenanya. kehidupan. menurut hemat saya.Menjaga dan menghormati nilai-nilai susila Islam dalam . longgar dan lemah sebatas pengetahuan mereka yang minim/awam dan dangkal tentang disiplin keislaman.Harus mengandung muatan pesan-pesan hikmah kebijakan dan ajaran kebaikan di antara sentuhan estetikanya agar terhindar laghwun (perilaku absurdisme. panorama dan aksioma yang menyangkut dimensi alam. sekaligus kreasi. dinamisme. manusia dan keesaan/keagungan rabbani berdasarkan konsepsi ilahi dan nilai-nilai fitri yang tertuang dan tersajikan dalam bentuk suara/ucapan. kepedulian. Seni budaya kita telah terkontaminasi oleh seni budaya materialis. budhaisme. sudah dapat dikategorikan dan dinamakan “seni Islam” atau “seni budaya yang bernafaskan Islam. sebenarnya kita lebih sering terjebak dengan tradisi dan budaya „polesan„ yang mungkin karena pertimbangan komersial. Klasifikasi dan identifikasinya berdasarkan asumsi kabur dan kriteria yang tidak jelas. dunia dewataisme kultus figur dan penyimpangan lainnya. sangat tipis. sia-sia) 2. drama)” . istilah. mereka mencoba mereka-reka sendiri apa yang dinamakan seni budaya Islam. hampa. lukisan/tulisan. dilahirkan dengan perantara alat komunikasi ke dalam bentuk yang dapat ditangkap oleh indera pendengar (seni suara) penglihatan ( seni tulis/lukis) atau dilahirkan dengan perantara gerak (seni tari. Seni realitanya sebagai suatu media komunikasi. pola pikir. Maka dalam menilai sebuah apresiasi seni tidak dapat dielakkan dari unsur-unsur dan dimensi-dimensi integralnya yang menyangkut. tiada satu pun bentuk apresiasi dan karya seni yang bebas nilai. gagasan dan ide sebagai media komunikasi yang bergaya estetis untuk menggugah citarasa inderawi dan kesadaran manusiawi dalam memahami secara benar berbagai fenomena. Maka dalam menilai satu seni sebagai seni Islam diperlukan kriteria dan rambu-rambu syariah yang jelas sehingga dapat mudah membedakan dan memilahkannya dari kesenian jahiliah meskipun bernama ataupun menyebut lafal keislaman. motivasi.” Padahal. kebatinan. gerak dan berbagai implementasi dan apresiasi lainnya.

kemiskinan. pendidikan. Dr. penjajahan. teknik. kejahatan. kerendahan hati. keindahan bukan berhenti pada keindahan dan kepuasan estetis. kebijaksanaan. perjuangan/kesungguhan. pengabdian. 6. Menghindari perilaku takhonnus (kebancian) dan sebaliknya. keagungan dan transendensi (kemahaannya) dalam segala-galanya. mengutuk kezhaliman/penindasan. menganjurkan keadilan. menegakkan dan membelanya demi mencari ridha Allah swt. Dilakukan dan dinikmati sebatas keperluan dan menghindari berlebihan (israf dan tabdzir) sehingga melalaikan kewajiban kepada Allah. (Abdurrahman Aljaziri dalam AlFiqh „alal Madzahibil Arba‟a. tema kejujuran. Dan jika pikiran muslim telah dipengaruhi oleh sesuatu maka . 5. kesetiaan. 4. prinsip-prinsip uluhiyah dan „ubudiyah. kebodohan. Jika ada sesuatu yang bisa dikatakan sebagai seni. maka Al-Qur‟an adalah mahaseni. keramahan. memberantas kriminalitas. bukan mencari popularitas ataupun materi duniawi semata. Seni Islam harus memiliki semua unsur pembentuknya yang penting yaitu.Tetap menjaga aurat dan menghindari erotisme dan keseronokan. cara penyampaiannya. 273-276) Menurut Islam seni bukan sekadar untuk seni yang absurd dan hampa nilai (laghwun). Sebab semua aktivitas hidup tidak terlepas dari lingkup ibadah yang universal.Menjauhi kata-kata. Menghindari semua syair. II/ 42-44.semua segi sajiannya. jiwanya. 3. menjalankan kebenaran (haq). kasih sayang. perusakan lingkungan hidup. keikhlasan dan seterusnya. kepedulian sosial-alam dan sebagainya. ekspresi dan penghayatan keindahan alam. gambaran yang tidak mendidik atau meracuni fitrah. 9. kedermawanan. prinsipnya. solidaritas. 8. Juga penjelasan nilai-nilai keislaman dalam berbagai segi seperti sosial keluarga dan kemasyarakatan. Insaniyah dan Inqodz al-Hayah (menyelamatkan hak-hak asasi manusia dan kehidupan alam) seperti. Menghindari fitnah dan praktek kemaksiatan dalam penyajian dan pertunjukannya. konsep dan praktek ajaran Islam) seperti. Motivasi seni Islam adalah spirit ibadah kepada Allah. Wahyu Islam Al-Qur‟an Al-Karim. Akhlaqiyah dan Ta‟alim Islam (kepribadian/akhlaq. 3. metode. memang tampil sebagai sajian agung (ma‟dubatur rahman) yang menggarap semua nilai-nilai keagungan. sarana dan instrumen yang diharamkan syari‟at terutama yang meniru gaya khas ritual religius agama lain (tasyabbuh bil kuffar) dan yang menjurus kemusyrikan.Menjaga disiplin dan prinsip hijab dan 7. ke-takberdayaan manusia dan ketergantunganya terhadap Allah. Dalam presentasinya dapat diperkaya dengan hikmah ayat-ayat. 2. gerakan. perampasan hak. tujuan dan sasaran. Dari semua tema dan pesan-pesan di atas dapat mengambil contoh-contoh dari peristiwaperistiwa aktual maupun saksi dan fragmen kehidupan sejarah masa lampau ataupun kisah fiktif yang tidak bertentangan dengan kaidah syar‟i dan melewati batas-batas kewajaran. dengan menguak dan mengungkap kekuasaan. Seni Islam harus memiliki risalah dakwah melalui sajian seninya yaitu melalui tiga pesan : 1. ekonomi. politik dan seterusnya. metode. hal. hadits-hadits. kepahlawanan/ kesatriaan. sirah rasul serta ujar para ulama dan warisan bijak tradisional. Yusuf Al-Qordhowi dalam Al Halal Wal Haram fil Islam.Tauhid. penyalahgunaan wewenang dan kekuasaan. pengorbanan.

(Lihat. pada saat segenap perangkat dan daya dukung pembentukan seni budaya Islam belum mendapatkan tempat dan kesempatan yang layak untuk hadir di tengahtengah umat. Setiap ayatnya adalah lengkap dan sempurna menjadi satu kesatuan yang harmonis (wihdah maudhu’iyah wa jamaliyah) yang kaya akan nilai ungkapan-ungkapan sastra atau artikulasi yang hidup. Al-Baqarah:23-24) dan sekaligus membungkam mereka karena ketidakmampuan dan berdayaan mereka melakukan hal itu (QS 10:38 . 251-267 ). Aspek dari Al-Qur‟an inilah yang disebut i’jaz nya atau “kekuatannya yang menaklukkan”. kaum intelektual dan generasi muslim yang berorientasi dan berobsesi mewujudkan dan menghadirkan kembali seni budaya Islam yang selalu aktual masih langka.sesuatu itu adalah Al-Qur‟an. 17:88 ). potensi dan keindahannya karena bersumber dari Yang Maha Indah untuk memenuhi hajat naluri kemanusiaan kita dan tidak akan kehabisan unsur. menyentuh. Tidak ada muslim yang norma-norma dan standarstandar keindahannya tidak dibentuk kembali oleh Al-Qur‟an dan citranya sendiri. pada saat dinamika kreativitas dunia seni Islam baru dalam tahap mulai merangkak kembali. namun ayat-ayat tersebut menghasilkan efek yang sama dengan puisi bahkan pada tingkat yang paling tinggi. (Abdul Qadir Al-Jurjani dalam Dalail Al-I‟jaz ) Setiap orang mengakui bahwa meskipun ayat-ayat Al-Qur‟an tidak mengikuti pola-pola puisi konvensional. menantikan ayat berikutnya dan terpaku diam ketika mendengarnya.” The Character of Islamic Art. materi dan sentuhan aktualitas. citrarasa dan kesadarannya oleh irama. Sebagian dari musuh-musuh Islam di zaman Nabi ada yang memaksakan diri menjawab tantangan tersebut dan hasilnya dipermalukan oleh penilaian lawan-lawan mereka dan juga kawan-kawan mereka sendiri. orang-orang Arab dengan ketinggian sastra mereka. Proses ini berulang lagi dengan ayat-ayat berikutnya. Al-Qur‟an telah menantang para pendengarnya. sajian seni aksiomatik ayat-ayat Qur‟aniyah dan panorama estetika alamiah sudah lama menunggu dan selalu siap hadir menjadi alternatif dasar fitri dengan kekayaan nilai. Tidak ada manusia muslim yang tidak tersentuh lubuk hatinya. untuk menghasilkan sesuatu yang serupa dengan Al-Qur‟an” baik segi santun bahasa maupun bobot isinya (QS. Estetika dan harmoni seni Islam tidak saja mewarnai ayat-ayat Qur‟aniyah. Semuanya Allah ciptakan dengan kecermatan yang sempurna.” Dalam kenyataannya. pada saat para seniman. indah dan agung. Al Ishfahani dalam Kitab Al-Aghoni dan Sayyid Qutb dalam Tashwiiru Al Fanni Fil Qur‟an dan Masyahidul Qiyamah). variasi dan . 11:13 . meratap dan putus asa yang berakibat kepasrahan ataupun kekalahan sebab. “kemampuannya untuk menantang pembaca tanpa bisa ditandingi olehnya. The Arab Heritage (hal. lebih jauh seni Islam terhampar pada gelaran jagad raya yang tiada cacatnya. sajak dan segi-segi kefasihan (aujuh balaghoh) Al-Qur‟an. pada saat masyarakat pada umumnya belum akrab dengan nilai budaya Islam kita tidak perlu bingung. Demikian kuat momentum yang dihasilkannya hingga pembacanya akan tertarik hanyut bersamanya tanpa dapat menahan dirinya. Dengan demikian generasi muslim dapat membuktikan kesanggupan dan kesiapannya untuk mewarisi karya jenius seni dan kebudayaan Islam dari para perintis seni budaya Islam yang agung serta mengubur anggapan gagalnya proses upaya regenerasi seni budaya Islam seperti pernyataan Richard Ettinghausen dalam bukunya. tidak ada segi dan unsurnya yang sia-sia atau kerancuan (bathilah) semua serba melengkapi dan mendukung membentuk kesatuan fitrah panorama yang indah (QS 3:190-191). maka demikian pula dalam segi estetika. Jika pengaruh tersebut cukup dalam sehingga bersifat konstitutif dalam setiap segi. Namun.

com/2009/07/3211/seni-budaya-dan-kriteria-kesenianislami/#ixzz1wES66J00 . Wabillahit Taufiq wal Hidayah. Sumber: http://www. Wallahu A’lam.dakwatuna.estetika tanpa harus menabrak rambu syariah dalam bidang seni seperti di atas.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful