P. 1
C11mrf

C11mrf

|Views: 266|Likes:

More info:

Published by: Amber Bunnylover Liu on Jun 06, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/05/2015

pdf

text

original

Sections

  • 1. PENDAHULUAN
  • 1.1. Latar Belakang
  • 1.2. Tujuan
  • 2. TINJAUAN PUSTAKA
  • 2.1. Biologi, Morfologi, dan Habitat Chlorella sp
  • 2.3. Kultivasi Mikroalga
  • 2.3.1. Syarat Kultivasi Mikroalga
  • 2.3.2. Fase Pertumbuhan Mikroalga
  • Gambar 3. Fase pertumbuhan mikroalga
  • 2.3.3. Biofuel dari mikroalga
  • 2.3.4. Teknik Kultivasi Mikroalga
  • 2.4. Logam Berat
  • 2.4.1. Deskripsi Logam Berat
  • 2.4.3.1. Timbal (Pb)
  • 2.4.3.2 Kadmium (Cd)
  • 2.5. Adsorpsi Logam Berat Oleh Mikroorganisme
  • 2.5.1. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Proses Bioabsorpsi
  • 2.5.2. Mekanisme Proses Adsorpsi
  • 3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian
  • 3.2. Alat dan Bahan
  • 3.3. Prosedur Penelitian
  • 3.3.2. Filterisasi
  • 3.3.3. Sterilisasi
  • 3.3.4. Proses Kultur Nannochloropsis sp. dan Chlorella sp
  • 3.3.5. Perhitungan Kepadatan Sel Mikroalga
  • 3.3.7. Pemanenan Populasi Mikroalga
  • 3.4. Analisis Data
  • 4. HASIL DAN PEMBAHASAN
  • Gambar 10. Grafik kepadatan sel Chlorella sp
  • 4.5. Kualitas Air Media Kultur
  • 4.5.1. Salinitas
  • 4.5.2. Derajat Keasaman (pH)
  • 5. KESIMPULAN DAN SARAN
  • 5.1. Kesimpulan
  • DAFTAR PUSTAKA
  • LAMPIRAN

LAJU PERTUMBUHAN MIKROALGA PENGHASIL BIOFUEL JENIS Chlorella sp. DAN Nannochloropsis sp.

YANG DIKULTIVASI MENGGUNAKAN AIR LIMBAH HASIL PENAMBANGAN TIMAH DI PULAU BANGKA

MUHAMMAD REZZA FACHRULLAH

SKRIPSI

DEPARTEMEN ILMU DAN TEKNOLOGI KELAUTAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2011

RINGKASAN MUHAMMAD REZZA FACHRULLAH. Laju Pertumbuhan Mikroalga Penghasil Biofuel Jenis Chlorella sp. dan Nannochloropsis sp. yang Dikultivasi Menggunakan Air Limbah Hasil Penambangan Timah di Pulau Bangka. Dibimbing oleh MUJIZAT KAWAROE dan ADRIANI SUNUDDIN. Penelitian dengan topik kultivasi mikroalga penghasil biofuel jenis Chlorella dan Nannochloropsis dengan menggunakan air limbah tailing timah ini dilakukan pada bulan Februari - April 2011 di Laboratorium PT. TIMAH Tbk. Bangka. Penghitungan kepadatan sel mikroalga menggunakan haemacytometer dan mikroskop. Parameter fisika dan kimia yang diukur meliputi suhu ruangan, salinitas, derajat keasaman (pH), dan kadar logam berat (Pb, Cu, Cd, dan Cr). Analisis yang digunakan meliputi penghitungan kepadatan, laju pertumbuhan spesifik, kapasitas biosorpsi, dan uji validitas Pearson terhadap kualitas air media. Kultivasi sel Chlorella dan Nannochloropsis dilakukan dengan tiga perlakuan, yaitu kontrol, menggunakan pupuk, dan tanpa pupuk. Perlakuan kontrol menggunakan media kultur non-limbah yang disesuaikan dengan keadaaan optimum pertumbuhan mikroalga dengan kualitas air pH 8 dan salinitas 27‰. Kualitas air media perlakuan limbah logam berat dengan menggunakan pupuk dan tanpa pupuk disesuaikan dengan keadaaan kualitas air di lokasi pengambilan sampel, yaitu dengan pH 6 dan salinitas 37‰. Kultivasi dengan menggunakan Chlorella memperlihatkan bahwa pada perlakuan kontrol sel memiliki kepadatan maksimum tertinggi sebesar 31×106 sel/ml. Media dengan perlakuan memperlihatkan bahwa Chlorella memiliki kepadatan sel maksimum sebesar 16,72×106 sel/ml, sedangkan media tanpa perlakuan pupuk memiliki kepadatan sel maksimum terendah yaitu sebesar 1,71×106 sel/ml. Kultivasi dengan menggunakan sel Nannochloropsis memperlihatkan bahwa dengan perlakuan kontrol sel memiliki kepadatan sel maksimum tertinggi sebesar 42,50×106 sel/ml. Media perlakuan pupuk memperlihatkan bahwa sel Nannochloropsis memiliki kepadatan sel maksimum sebesar 9,30×106 sel/ml, sedangkan media tanpa perlakuan pupuk memiliki kepadatan sel maksimum terendah sebesar 1,26×106 sel/ml. Logam berat Pb, Cu, dan Cd mampu diserap oleh sel Chlorella maupun Nannochloropsis mencapai lebih dari 80%. Nannochloropsis memiliki kapasitas penyerapan logam berat lebih besar dibandingkan Chlorella untuk semua jenis logam, yaitu Pb 99%, Cu 99%, Cd 98,73%, dan Cr 52,63%. Kapasitas serapan terendah sel mikroalga terdapat pada logam berat Cr. Kultivasi menggunakan media limbah logam berat memperlihatkan bahwa sel Chlorella memiliki daya kemampuan tumbuh yang lebih baik dibandingkan sel Nannochloropsis. Hal tersebut dibuktikan dengan jumlah kepadatan sel maksimum sel Chlorella yang lebih besar mencapai 16,72×106 sel/ml dan 1,71×106 sel/ml untuk media perlakuan pupuk dan tanpa pupuk dibandingkan dengan sel Nannochloropsis. Sebaliknya, sel Nannochloropsis memiliki kapasitas serapan logam berat lebih tinggi dibandingkan sel Chlorella untuk semua jenis logam berat.

LAJU PERTUMBUHAN MIKROALGA PENGHASIL BIOFUEL JENIS Chlorella sp. DAN Nannochloropsis sp. YANG DIKULTIVASI MENGGUNAKAN AIR LIMBAH HASIL PENAMBANGAN TIMAH DI PULAU BANGKA

MUHAMMAD REZZA FACHRULLAH

SKRIPSI Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ilmu Kelautan pada Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan

DEPARTEMEN ILMU DAN TEKNOLOGI KELAUTAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2011

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini Saya menyatakan bahwa Skripsi yang berjudul: LAJU PERTUMBUHAN MIKROALGA PENGHASIL BIOFUEL JENIS Chlorella sp. DAN Nannochloropsis sp. YANG DIKULTIVASI MENGGUNAKAN AIR LIMBAH HASIL PENAMBANGAN TIMAH DI PULAU BANGKA adalah benar merupakan hasil karya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Semua sumber data dan informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan oleh penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir Skripsi ini. Bogor, September 2011

MUHAMMAD REZZA FACHRULLAH C54070074

© Hak Cipta milik IPB. Tahun 2011 Hak Cipta dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB

SKRIPSI

Judul Skripsi:

Laju Pertumbuhan Mikroalga Penghasil Biofuel Jenis Chlorella sp. dan Nannochloropsis sp. yang Dikultivasi Menggunakan Air Limbah Hasil Penambangan Timah di Pulau Bangka

Nama Mahasiswa: Nomor Pokok: Departemen:

Muhammad Rezza Fachrullah C54070074 Ilmu dan Teknologi Kelautan

Menyetujui, Dosen Pembimbing

Dr. Ir. Mujizat Kawaroe, M.Si. NIP. 19551213199403 2 002

Adriani Sunuddin, S.Pi., M.Si. NIP. 19790206 200604 2 013

Mengetahui,

Prof. Dr. Ir. Setyo Budi Susilo, M.Sc. NIP. 19580909 198303 1 003

Tanggal Sidang: 18 Agustus 2011

TIMAH Tbk. Ibu Adriani Sunuddin selaku pembimbing anggota. Ikbal. Hera. Adit. Ryan.KATA PENGANTAR Puji dan rasa syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. Skripsi yang berjudul “Laju Pertumbuhan Mikroalga Penghasil Biofuel Jenis Chlorella sp. Bapak Adrianis dan Ibu Henny Kristin selaku pembimbing lapang dan juga yang telah memberikan izin tempat untuk melakukan kegiatan penelitian. Ayu. penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. oleh karena itu saran dan kritik sangat diharapkan demi kesempurnaan skripsi ini. Dina. Bogor. serta semua pihak yang telah membantu dalam pelaksanaan kegiatan dan penyusunan skripsi penelitian ini. Rama. yang Dikultivasi Menggunakan Air Limbah Hasil Penambangan Timah di Pulau Bangka” diajukan sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana. Dori. Ari. Akhir kata penulis berharap agar skripsi ini dapat berguna bagi diri sendiri maupun orang lain dan dapat dikembangkan untuk penelitian selanjutnya. Bangka. dan Nannochloropsis sp. Alvi. Barok. Penulis mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada orang tua dan keluarga. September 2011 M. karena atas rahmat dan karunianya. keluarga besar ITK khususnya angkatan 44. Rezza Fachrullah vii . Mbak Dwi. Bang Yoga. staf karyawan PT. Penulis menyadari skripsi ini jauh dari kesempurnaan. Maemar. Tidak lupa ucapan terima kasih juga penulis ucapkan kepada Ibu Mujizat Kawaroe selaku dosen pembimbing utama. Agus.

........ Biologi............................... Pencemaran Logam Berat Aktivitas Penambangan di Pulau Bangka ..... Kadmium (Cd) .........1................................ .............................3.........3......4.................................................. 3..DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN ........................ Logam Berat .3....................................................... Pemindahan Populasi Kultur ke Media yang viii .....3......................3........ Syarat Kultivasi Mikroalga ...........Adsorpsi Logam Berat oleh Mikroorganisme ............................................... TINJAUAN PUSTAKA ...1. 2.....................2........6.... 3... 2........ 2........8.........1............. 3...... Timbal (Pb) ............. ...... 1... dan Habitat Chlorella sp...............................................3.......3......... Sterilisasi .....................3...........3.......4............................................. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Proses Biosorpsi .... 2..............4......... PENDAHULUAN ..5........................... Prosedur Penelitian .... 2........3.......... Alat dan Bahan ............3........2.....................3..................... Mekanisme Proses Adsorpsi .. 2.. Deskripsi Logam Berat ...............3.................... 3....................... 2.................5...... 3.......................................5.............................................................4........................ 3........ Kromium (Cr) ........ 2............................... 3...........2.. 2..3. 3....... Morfologi.........3........... Proses Kultur Nannochloropsis sp............. Waktu dan Lokasi Penelitian ........2........1.......................... Beberapa Karakteristik Logam Berat...3..........................4........ Pemanenan Populasi Mikroalga ................ Perhitungan Kepadatan Sel Mikroalga ..............3.................................. Kultivasi Mikroalga .........2............................... ..............................3.........4..... 2.....4........... ..... dan Habitat Nannochloropsis sp..........4............................3............1............................. 2.......... 2............ 3....................2. 3................ 2................ 3...... 2... Latar Belakang ........... 2..................... ..... Pengambilan Air Limbah di Daerah Penambangan Timah ........ 2.... dan Chlorella sp.. Biofuel dari Mikroalga ...7.......... 2..4.1............................... x xi xii 1 1 2 3 3 5 7 7 10 11 11 12 12 13 14 14 15 15 16 17 17 19 21 21 22 23 23 23 24 25 26 27 27 1................. 2..... METODOLOGI PENELITIAN ..... Sumber...........1....3.................5............. Teknik Kultivasi Mikroalga .................................................1......................... Tembaga (Cu) ....................................... dan Dampaknya ...................4... Filterisasi .......... Fase Pertumbuhan Mikroalga ........ 2..........................2. Biologi................................................................4..................................... 1.............. Morfologi.................. 3......... Tujuan .... Pengukuran Parameter Kimia dan Fisika Media Kultivasi Mikroalga ....3..................3................2.....................

.................... 3............... 4......... dan Nannochloropsis sp..................................... 5................................ 4...... 4..... dengan Perlakuan Kontrol ... 4.............. 4................2.. 4..............2... 5....3.. dengan Perlakuan Kontrol .........................................) Media Limbah Logam Berat .......................3..5.... Kepadatan dan Laju Pertumbuhan Spesifik Chlorella sp......2........ Kepadatan dan Laju Pertumbuhan Spesifik Chlorella sp........2........ dengan Perlakuan menggunakan Pupuk dalam Media Logam Berat ..............2..1................................ Perhitungan Laju Serapan Sel Mikroalga terhadap Logam Berat .......3.......... Kualitas Air Media Kultur ................... 4..... 4.................... Kepadatan dan Laju Pertumbuhan Spesifik Nannochloropsis sp..... KESIMPULAN DAN SARAN .........5......... Kepadatan dan Laju Pertumbuhan Spesifik Nannochloropsis sp.................................................. dengan Nannochloropsis sp.........2.........1...........................5...... dalam Media ............ Kapasitas Biosorpsi Mikroalga (Chlorella sp............. Perbandingan Kepadatan Sel Mikroalga (Chlorella sp....................... dalam Media . 4.... 4...................................... 4.........) ............... 28 30 32 33 33 34 35 38 39 40 41 42 43 44 46 48 50 55 55 58 61 61 62 63 66 ix .....4.............. LAMPIRAN ....... Kultivasi Chlorella sp....2....................... Tanpa Pupuk dalam Media Limbah Logam Berat .................................................................. Menggunakan Pupuk dalam Media Limbah Logam Berat . 5.. Kesimpulan ... Kepadatan dan Laju Pertumbuhan Spesifik Nannochloropsis sp.................................. dengan Perlakuan Menggunakan Pupuk dalam Media Logam Berat ............................................ dengan Nannochloropsis sp.....3.................................3..................... Analisis Data ...................... 4.................... 4............. 4...........................1................................................................... Saran .........4.3........ Kultivasi Chlorella sp.............. dengan Perlakuan Tanpa Menggunakan Pupuk dalam Media Logam Berat ...............2............2..... dengan Nannochloropsis sp....9..............3.....1................. DAFTAR PUSTAKA ..... 4. Derajat Keasaman .. dan Nannochloropsis sp................. 4.......1....1.... pada Media Kontrol ................. 3...............3...................................... Salinitas ................... Kepadatan dan Laju Pertumbuhan Spesifik Chlorella sp.................1... Kepadatan dan Laju Pertumbuhan Spesifik Nannochloropsis sp.......... Kultivasi Chlorella sp...Tercemar Logam Berat ..........1....................... dengan Perlakuan Tanpa Menggunakan Pupuk dalam Media Logam Berat .......... HASIL DAN PEMBAHASAN ....... 4.................... Kepadatan dan Laju Pertumbuhan Spesifik Chlorella sp..1............................

... perlakuan pupuk pada media limbah logam berat ................ Indeks Korelasi Pearson pengaruh salinitas dan pH pada Chlorella sp.......... perlakuan kontrol ......... 11.... 71 5..... Alat dan bahan yang digunakan .. 76 77 78 79 ........................ Kepadatan dan laju pertumbuhan spesifik Chlorella sp...... .......... 73 7........................... 75 9... perlakuan tanpa pupuk pada media limbah logam berat 10.... Kepadatan dan laju pertumbuhan spesifik Nannochloropsis sp.............. 74 8............................ Kepadatan dan laju pertumbuhan spesifik Nannochloropsis sp................... Komposisi kimiawi pupuk analis (Walne) ....... Tembaga (Cu)........... ................................................. 72 6.................. Derajat keasaman (pH) pada media limbah logam berat 12. dan Kromium (Cr ) pada media limbah logam berat 3.......... Salinitas pada media limbah logam berat ................ Kadmium (Cd).. perlakuan tanpa pupuk pada media limbah logam berat . 22 2...... Kepadatan dan laju pertumbuhan spesifik Nannochloropsis sp.......... Konsentrasi logam Timbal (Pb)........................... perlakuan kontrol ........ 60 ................ Kepadatan dan laju pertumbuhan spesifik Chlorella sp..................................... 50 4.............. x ..........................DAFTAR TABEL Halaman 1....... Kepadatan dan laju pertumbuhan spesifik Chlorella sp.................. perlakuan pupuk pada media limbah logam berat .......................................

.............. 44 14................... . menggunakan pupuk............................................... Peta lokasi pengambilan sampel air limbah logam brerat di pulau bangka ........................... dan Nannochloropsis sp............................. dan Nannochloropsis sp... dan tanpa pupuk .................................... ................................................................ 49 16................. 3 5 10 2.......................................................... 31 33 39 10.......... Derajat keasaman (pH) pada medium Chlorella sp....... dengan perlakuan kontrol ............... Bentuk sel Nannochloropsis sp............... dan tanpa pupuk 17............................... 3..... dan Nannochloropsis sp................. ..... 7.......................................... Grafik Kepadatan Sel Chlorella sp. dengan perlakuan pupuk ................................................... Haemacytometer 8.. Autoclave . Grafik kepadatan sel Chlorella sp.... 21 23 25 26 5............. Salinitas pada medium Chlorella sp................................... dengan perlakuan kontrol........... .. dengan perlakuan kontrol......... Grafik kepadatan sel Chlorella sp.... 11.................................. Grafik kepadatan sel Chlorella sp........ 46 15.................. dengan perlakuan tanpa pupuk ...... dan Nannochloropsis sp............ Bentuk sel Chlorella sp. 29 9....... .. ........................................... perlakuan kontrol....DAFTAR GAMBAR Halaman 1. 12............................................ menggunakan pupuk..... 55 xi ....................... dan Nannochloropsis sp.. .......... 58 .................................................................................................... Pemindahan bibit sel mikroalga ke dalam media limbah ........................ Diagram alir proses pelarutan biomassa mikroalga hingga analisis logam berat ......................................................... Kepadatan sel Chlorella sp......... Alat penyaring sampel air laut 6..................... Grafik kepadatan sel Nannochloropsis sp.......................... 43 13... dan tanpa pupuk ........... Fase pertumbuhan mikroalga 4.............................. menggunakan pupuk.......... dan Nannochloropsis sp...............

... ...................................... ........... 5....................... serta kegiatan penelitian 9....................................... Uji validitas Pearson dan uji lanjut regresi ........... ...... 66 67 68 69 .. ............... xii ... Komposisi kimiawi pupuk analis (Walne Media) 8......... Penghitungan laju pertumbuhan spesifik mikroalga 3...................................................................... Penghitungan kepadatan Chlorella sp..... ........ 2.................... Kepadatan dan laju pertumbuhan spesifik Chlorella sp........ Dokumentasi kegiatan kultivasi ............... dan Nannochloropsis sp.............DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1..... ....... dan Nannochloropsis sp................ Kualitas air media kultivasi 7.. Penghitungan kapasitas bioabsorpsi logam berat 4. 71 77 79 80 86 6..... Dokumentasi foto alat dan bahan...

yaitu bioaugmentasi dan biostimulasi. 6 Tahun 2001 yang mengizinkan kegiatan penambangan timah rakyat. tembaga (Cu). sehingga menumpuknya tailing dan mayoritas tidak melalui proses pengelolaan yang layak. Salah satu upaya yang perlu dilakukan dalam pengendalian lingkungan adalah melakukan analisis mineral atau unsur (logam berat) terutama yang terdapat di wilayah sekitar penambangan. Penelitian ini dikembangkan melalui sistem biostimulasi (menggunakan pupuk) dengan melakukan kultivasi. menjadikan aktivitas penambangan timah berkembang pesat dan tidak terkendali. Selanjutnya. PENDAHULUAN 1. sehingga menjadikan penambangan sebagai roda penggerak ekonomi masyarakat dan pemerintah pulau ini. Upaya bioremediasi terbagi menjadi dua sistem. Adanya Perda No. yang berdampak mencemari biota dan lingkungan laut. dan kromium (Cr). Hal ini dilihat dari adanya sejumlah penambang liar yang tidak memiliki izin dan kurangnya kapasitas dalam menangani buangan sisa hasil penambangan.1. Latar Belakang Pulau Bangka dikenal sebagai pulau yang kaya dengan sumber daya alam mineral. khususnya timah. . Pemulihan kondisi lingkungan dari pencemaran logam berat dapat dilakukan dengan memanfaatkan makhluk hidup atau dikenal dengan istilah bioremediasi. upaya analisis mineral tersebut dapat dikembangkan menjadi upaya pemulihan bahan pencemar logamlogam berat. kadmium (Cd).1 1. sehingga antisipasi adanya akumulasi logam berat di dalam tubuh mahluk hidup menjadi lebih kecil. Sisa dari aktivitas penambangan ini berupa tailing (buangan pasir yang tidak digunakan) yang mengandung logam berat seperti timbal (Pb).

penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan tumbuh dan bioabsorben mikroalga Chlorella sp. Namun sebelum pengembangan ini dilakukan.. memiliki toleransi yang baik terhadap lingkungan ekstrim. Kemudahan dalam mengkultur mikroalga ini memungkinkan untuk dilakukan penelitian terhadap kedua jenis mikroalga tersebut. Cu. dan Nannochloropsis sp. dan Nannochloropsis sp.. . Beberapa jenis mikroalga seperti Chlorella sp. 3. yang ditumbuhkan di media kultivasi tercemar logam berat. dan Nannochloropsis sp. Sistem kultivasi umumnya telah dikembangkan menggunakan mikroalga.2. Selanjutnya. Membandingkan kapasitas penyerapan logam berat Pb. Sistem kultivasi mikroalga memiliki peran penting dalam upaya perbaikan lingkungan perairan yang tercemar logam berat. Tujuan Tujuan dari penelitian ini adalah: 1.) yang dikultivasi menggunakan limbah tailing timah. 2010). Oleh karena itu. dan Cr oleh Chlorella sp. dan Nannochloropsis sp.2 sehingga organisme yang digunakan untuk rekoveri dapat bertahan hidup di dalam media kultur limbah logam berat. Cd. 2. mikroalga berpotensi untuk menghasilkan biofuel sebagai salah satu solusi dalam mengatasi krisis sumber daya minyak (Kawaroe et al. dengan kandungan lemaknya yang tinggi. Membandingkan laju pertumbuhan dua jenis mikroalga (Chlorella sp. 1. kajian biologi mikroalga seperti kemampuan penyerapan logam berat dan adaptasi terhadap media tumbuh yang tercemar logam berat sangat perlu dilakukan. dan Nannochloropsis sp. Menentukan pengaruh parameter fisika dan kimia media kultivasi terhadap laju pertumbuhan Chlorella sp.

termasuk dalam: Filum : Chlorophyta Kelas : Chlorophyceae Ordo : Chlorococcales Famili : Chlorellaceae Genus : Chlorella sp. B. lemak serta vitamin A. D. mengandung vitamin A. berbentuk bulat. di samping banyak terdapat pigmen hijau (klorofil) yang berfungsi sebagai katalisator dalam proses fotosintesis (Sachlan. Biologi. dan Habitat Chlorella sp.1. TINJAUAN PUSTAKA 2. Sel Chlorella sp. 2007). Chlorella sp. E dan K. di dalamnya mengandung 50% protein. . yaitu 30 kali lebih banyak dibandingkan yang terdapat dalam hati anak sapi. E. berukuran 2-8 µm. serta empat kali vitamin yang terkandung dalam sayur bayam (Watanabe. hidup soliter. 1978 dalam Rostini.3 2. Sel Chlorella sp. Morfologi. Setiap berat kering yang sama. Gambar 1. Menurut Vashista (1979) dalam Rostini (2007). D. Chlorella sp. 1982 dalam Rostini. 2007). dan K. B. Bentuk sel Chlorella sp.

dan hampir tidak tumbuh pada salinitas 0 ‰ dan 60 ‰. klorofil. tumbuh baik pada suhu 20 oC. Alga tumbuh lambat pada salinitas 15 ‰. vitamin. yaitu suatu zat yang dapat melawan penyakit-penyakit yang disebabkan oleh bakteri (Vashista. Hal tersebut disebabkan Chlorella sp. 2007). dilakukan menggunakan teknik kultur. 1979 dalam Rostini. Chlorella sp. 2010). 1981 dalam Rostini. tetapi tumbuh lambat pada suhu 32 oC. 1979 dalam Rostini. dan serat yang tinggi (Kawaroe. penghasil komponen bioaktif. pakan ternak. mengandung berbagai nutrien seperti protein. Protoplas sel dikelilingi oleh membran yang selektif. Perubahan nilai pH yang drastis dapat mempengaruhi kerja enzim serta dapat menghambat proses fotosintesis dan pertumbuhan beberapa mikroalga. dapat tumbuh pada salinitas 25 ‰. juga menghasilkan suatu antibiotik yang disebut Chlorellin. Pineroid-pineroid stigma dan vakuola kontraktil tidak ada (Vashista. Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah faktor derajat keasaman (pH) agar metabolisme sel mikroalga tidak terganggu. bahan farmasi dan kedokteran. . asam lemak tak jenuh. sedangkan di luar membran sel terdapat dinding yang tebal terdiri dari selulosa dan pektin. Derajat keasaman (pH) media menentukan kelarutan dan ketersediaan ion mineral sehingga mempengaruhi penyerapan nutrien oleh sel. karbohidrat. Chlorella sp. Tumbuh sangat baik sekitar 20-23 oC (Hirata. memiliki potensi sebagai pakan alami. Keberhasilan teknik kultur bergantung pada kesesuaian antara jenis mikroalga yang dibudidayakan dan beberapa faktor lingkungan. Di dalam sel terdapat suatu protoplas yang tipis berbentuk seperti cawan atau lonceng dengan posisi menghadap ke atas. suplemen.4 Mikroalga Chlorella sp. Pemanfaatan Chlorella sp. enzim. 2007). 2007). Chlorella sp.

Biologi. Nannochloropsis sp. tidak motil. 2009). Morfologi. Bentuk sel Nannochloropsis sp.85%). Organisme ini merupakan divisi yang terpisah dari Nannochloris karena tidak adanya klorofil b.64%).89%). Nannochloropsis sp. merupakan pakan yang populer untuk rotifer.5 2. Gambar 2. menurut Adehoog dan Simon (2001) dalam Anon et al.2. memiliki sejumlah kandungan pigmen dan nutrisi seperti protein (52. Nannochloropsis sp.11%).. vitamin C (0. merupakan sel berwarna kehijauan. Selnya berbentuk bola dan berukuran kecil. dan pada umumnya merupakan organisme filter feeder (penyaring) (Anon et al. artemia. Klasifikasi Nannochloropsis sp. lemak (27. karbohidrat (16%). dan Habitat Nannochloropsis sp. dan tidak berflagel. . (2009) adalah sebagai berikut: Filum : Chromophyta Kelas : Eustigmatophyceae Ordo : Eustigmatales Famili : Eustigmataceae Genus : Nannochloropsis sp. dan klorofil A (0.

Nannochloropsis sp. Mikroalga ini dapat tumbuh baik pada kisaran pH 8-9. Kawaroe. skala semi massal 20-25 juta sel/mL dan massal 15-20 juta sel/mL dengan masa kultur 4-7 hari (Anon. Nannochloropsis sp. Salinitas optimum untuk pertumbuhannya adalah 25-35 ‰. bersifat kosmopolit dapat tumbuh pada salinitas 0-35 ‰.02% . Nannochloropsis sp. memiliki kloroplas dan nukleus yang dilapisi membran. serta mengandung protein 57. Persentase PUFA (Poly Unsaturated Fattc Acid) utama pada Nannochloropsis sp. 2009). Nannochloropsis sp. 2007.6 Nannochloropsis sp. dapat berfotosintesis karena memiliki klorofil. berwarna hijau dan memilki dua flagella (Heterokontous) yang salah satu flagella berambut tipis. tetapi pada kondisi dengan intensitas cahaya jenuh kandungan PUFA menurun yang diikuti dengan kenaikan proporsi SFA dan MUFA (Mono Unsaturated Fatty Acid). lebih dikenal dengan nama Chlorella sp. laut dikultur untuk pakan Barchionus plicatilis atau Rotifer karena mengandung Vitamin B12. memiliki ukuran sel 2-4 mikron. Kloroplas memiliki stigma (bintik mata) yang bersifat sensitif terhadap cahaya. Ciri khas dari Nannochloropsis sp. mengandung Vitamin B12 dan Eicosapentaenoic acid (EPA) sebesar 30. adalah memiliki dinding sel yang terbuat dari komponen selulosa. 2008.5 % dan total kandungan omega 3 HUFAs sebesar 42. . dan suhu 25-30 o C merupakan kisaran suhu yang optimal. Nannochloropsis sp. memiliki kandungan lipid yang cukup tinggi yaitu antara 31-68% berat kering (Campbell. tetap stabil pada kondisi dengan keterbatasan cahaya. Nannochloropsis sp. Kepadatan optimum yang dapat dicapai untuk skala laboratrium 50-60 juta sel/mL.5 dan intensitas cahaya 100-10000 lux. Rao.7%. 2008).

. Secara umum kisaran pH yang optimum untuk kultur mikroalga adalah antara 7–9. Variasi pH dalam media kultur dapat mempengaruhi metabolisme dan pertumbuhan kultur mikroalga antara lain mengubah keseimbangan karbon anorganik.3. Namun. Kisaran salinitas yang paling optimum untuk pertumbuhan mikroalga adalah 25-35 ‰ (Sylvester et al.1. kisaran optimum untuk alga laut berkisar antara 7.. Syarat Kultivasi Mikroalga Kultivasi mikroalga dipengaruhi oleh beberapa faktor umum seperti faktor eksternal (lingkungan) yang biasa dikenal. (2) Salinitas Kisaran salinitas yang berubah-ubah dapat mempengaruhi pertumbuhan mikroalga. hampir semua jenis mikroalga dapat tumbuh optimal pada salinitas sedikit dibawah habitat asal.3. Beberapa mikroalga dapat tumbuh dalam kisaran salinitas yang tinggi tetapi ada juga yang dapat tumbuh dalam kisaran salinitas yang rendah. Faktor-faktor tersebut antara lain: (1) Derajat Keasaman (pH) Derajat keasaman atau pH digambarkan sebagai keberadaan ion hidrogen.7 2. mengubah ketersediaan nutrien dan mempengaruhi fisiologi sel. Kisaran pH untuk kultur alga biasanya antara 7-9. Faktor-faktor lingkungan tersebut berpengaruh terhadap laju pertumbuhan dan metabolisme dari makhluk hidup mikro ini. Kultivasi Mikroalga 2.5. 2002). Pengaturan salinitas pada media yang diperkaya dapat dilakukan dengan pengenceran dengan menggunakan air tawar.8-8.

1990). Intensitas cahaya sangat menentukan pertumbuhan mikroalga yaitu dilihat dari lama penyinaran dan panjang gelombang yang digunakan untuk fotosintesis. Kadar karbondioksida yang berlebih dapat menyebabkan pH kurang dari batas optimum sehingga akan berpengaruh terhadap pertumbuhan mikroalga (Taw. (5) Karbondioksida Karbondioksida diperlukan oleh mikroalga untuk memenbantu proses fotosintesis. biologi dan fisika. Cahaya berperan penting dalam pertumbuhan mikroalga.8 (3) Suhu Suhu merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi pertumbuhan mikroalga. tetapi kebutuhannya bervariasi yang disesuaikan dengan kedalaman kultur dan kepadatannya. (4) Cahaya Cahaya merupakan sumber energi dalam proses fotosintesis yang berguna untuk pembentukan senyawa karbon organik. Suhu di bawah 16 oC dapat menyebabkan kecepatan pertumbuhan turun. . 1990). Karbondioksida dengan kadar 1-2% biasanya sudah cukup digunakan dalam kultur mikroalga dengan intensitas cahaya yang rendah. Perubahan suhu berpengaruh terhadap proses kimia. Secara umum suhu optimal dalam kultur mikroalga berkisar antara 20-24 oC. Suhu dalam kultur diatur sedemikian rupa bergantung pada media yang digunakan. peningkatan suhu dapat menurunkan suatu kelarutan bahan dan dapat menyebabkan peningkatan kecepatan metabolisme dan respirasi mikroalga di perairan. sedangkan suhu diatas 36 oC dapat menyebabkan kematian (Taw.

C (Karbon). digunakan untuk mengetahui pertumbuhan jenis mikroalga hijau tersebut.9 (6) Nutrien Mikroalga memperoleh nutrien dari air laut yang sudah mengandung nutrien yang cukup lengkap. dan Chlorella sp. (7) Aerasi Aerasi dalam kultivasi mikroalga digunakan dalam proses pengadukan media kultur. Pengadukan sangat penting dilakukan bertujuan untuk mencegah terjadinya pengendapan sel. . Pertumbuhan mikroalga dalam media kultur dapat ditandai dengan bertambah besarnya ukuran sel atau bertambah banyaknya jumlah sel. Cahyaningsih. Kecepatan tumbuh dalam kultur ditentukan dari media yang digunakan dan dapat dilihat dari hasil pengamatan kepadatan Nannochloropsis sp. Co (Kobalt). Kepadatan sel dalam kultur Nannochloropsis sp. Unsur mikro nutrien terdiri atas Fe (Besi). mencegah sratifikasi suhu. Namun pertumbuhan mikroalga dalam kultur dapat mencapai optimum dengan mencampurkan air laut dengan nutrien yang tidak terkandung dalam air laut tersebut. Nutrien tersebut dibagi menjadi makro nutrien dan mikro nutrien. nutrien tersebar dengan baik sehingga mikroalga dalam kultur mendapatkan nutrien yang sama. Si (silikat). Edhy et al. yang dilakukan setiap 24 jam. Unsur makro nutrien terdiri atas N (meliputi nitrat). P (Posfat). Cu (Tembaga).. dan Chlorella sp. dan meningkatkan pertukaran gas dari udara ke media (Taw. dan lainnya (Sylvester et al. K (Kalium). Mg (Magnesium). 2009). S (Sulfat) dan Ca (Kalsium).. B (Boron). Mo (Molybdate). 2003. 2002. 1990). Zn (Seng).

Pada fase stasioner. fase stasioner dan fase kematian.10 2.3. 2003 Gambar 3. . Pada fase kematian. Phase of declining relative growth 4. faktor pembatas dan kecepatan pertumbuhan bersifat setimbang karena jumlah sel yang membelah dan yang mati sama. Death phase 1 Age of culture Sumber: Fogg dan Thake. Pada fase eksponensial terjadi penambahan kepadatan sel mikroalga (N) dalam waktu (t) dengan kecepatan tumbuh (µ) sesuai dengan rumus eksponensial. Exponential phase 2 3. Lag or Induction phase 2. fase eksponensial.2. fase penurunan kecepatan pertumbuhan (deklinasi). Fase pertumbuhan mikroalga Pada fase lag penambahan jumlah densitas mikroalga sangat rendah atau bahkan dapat dikatakan belum ada penambahan densitas. Fase Pertumbuhan Mikroalga Pertumbuhan mikroalga secara umum dapat dibagi menjadi lima fase yang meliputi fase lag (adaptasi atau istirahat). 3 4 5 Log of cell numbers 1. Stationary phase 5. Hal tersebut disebabkan karena sel-sel mikroalga masih dalam proses adaptasi secara fisiologis terhadap media tumbuh sehingga metabolisme untuk tumbuh manjadi lamban. 1987 dalam Edhy et al. Pada fase penurunan kecepatan tumbuh pembelahan sel mulai melambat karena kondisi fisik dan kimia kultur mulai membatasi pertumbuhan. kualitas fisik dan kimia kultur berada pada titik dimana sel tidak mampu lagi mengalami pembelahan..

Dapat dipanen lebih dari satu kali dalam satu tahun (Umdu et al. (2008) bahwa minyak mikroalga mengandung lipid yang cocok untuk esterifikasi atau transesterifikasi.. 2008). sehingga diperlukan pendingin ruangan (AC) agar suhu ruangan selalu terkendali dan ruangan terisolasi dari lingkungan luar..11 2. Mikroalga merupakan biota yang menjanjikan hasil lebih baik karena: 1. Biodiesel dan Bioethanol merupakan bahan bakar yang berpotensi dapat diperbaharui yang menarik perhatian dunia. Memiliki laju pertumbuhan tinggi (Umdu et al.3. 4. Selain itu. ada beberapa mikroalga yang dapat tumbuh baik pada suhu rendah. 2008). Biodiesel dan bioethanol diproduksi oleh tanaman pertanian menggunakan metode yang ada dan keberadaannya tidak dapat menggantikan minyak fosil yang dijadikan bahan bakar.. 3..3. Biofuel dari mikroalga Mikroalga berpotensi menghasilkan biofuel dalam jumlah yang sangat besar. Tingginya potensi bahan dari mikroalga ini telah dikemukakan oleh Umdu et al. 2008). Dapat menggunakan air laut atau air limbah (Umdu et al. .4.3. 2. 2. Kandungan lipid dapat disesuaikan dengan mengubah komposisi media untk tumbuh (Umdu et al. 2008). Teknik Kultivasi Mikroalga Kultivasi (kegiatan kultur) mikroalga dalam skala laboratorium membutuhkan kondisi lingkungan yang stabil. Biofuel yang dapat terbarukan dapat menggantikan minyak yang dijadikan bahan bakar yang berkontribusi pada pemanasan global dan ketersediannya yang terbatas.

dan berikutnya berasal dari hasil aktivitas manusia terutama hasil limbah industri. Cu. di mana keberadaannya dalam jumlah tertentu sangat dibutuhkan oleh organisme hidup. 1995). Jenis pertama adalah logam berat esensial. dimana keberadaannya dalam tubuh masih belum diketahui manfaatnya atau bahkan dapat bersifat racun. logam berat dapat dibagi dalam dua jenis.4. Penggunaan pupuk pada skala laboratorium dimanfaatkan agar pertumbuhan mikroalga optimal sehingga didapatkan bibit (starter) yang bermutu tinggi untuk skala kultur selanjutnya. yaitu berasal dari proses alamiah seperti pelapukan secara kimiawi dan kegiatan geokimiawi serta dari tumbuhan dan hewan yang membusuk. kemudian diserap oleh organisme yang hidup di perairan tersebut. Mn.12 Pupuk yang digunakan pada skala laboratorium terbuat dari bahan kimia PA (Pro Analis) dengan dosis pemakaian 1ml/L volume kutur. Jenis dan formula pupuk adalah yang telah distandarkan dan umum digunakan yaitu Conwy (Walne’s Media). pengenceran dan dispersi. Sedangkan jenis kedua adalah logam berat tidak esensial atau beracun. Berdasarkan sudut pandang toksikologi. namun dalam jumlah yang berlebihan dapat menimbulkan efek racun. dan Rhyter modifikasi F.4. Contoh logam berat ini adalah Zn.1. dan lain sebagainya. seperti Hg. Logam berat yang masuk ke dalam lingkungan perairan akan mengalami pengendapan. Cr. dan lain-lain. 2. Pengendapan logam berat di suatu perairan terjadi karena adanya anion karbonat hidroksil dan klorida (Hutagalung. Logam berat mempunyai sifat yang mudah mengikat bahan organik dan mengendap di . Pb. Deskripsi Logam Berat Keberadaan logam berat dalam lingkungan dapat berasal dari dua sumber. Fe. Co. Guilard. Cd. Logam Berat 2.

577 ha dan PT. Eksplorasi timah di daerah laut secara besar-besaran telah menghasilkan limbah tailing yang besar pula dan dibuang langsung ke laut tanpa pengolahan terlebih dahulu. yang pada awalnya penambangan timah tidak diperbolehkan untuk skala rakyat. Keadaan ini terlihat dengan semakin maraknya kegiatan penambangan rakyat yang sifatnya ilegal. Dari luas Pulau Bangka sebesar 1. Kobatin seluas 35.294. Hal tersebut menyebabkan terjadinya sedimentasi pada sebagian Laut Bangka.050 ha. khususnya oleh penambang skala kecil. Tambang Timah menguasai lahan seluas 321.56 % daratan pulau ini merupakan areal Kuasa Penambangan (KP) timah PT. Kegiatan penambangan timah di pulau Bangka ini telah berlangsung sejak zaman kolonial Belanda hingga sekarang. tumpahan oli dan solar dari aktivitas penambangan juga turut memperparah pencemaran terutama berkaitan dengan pencemaran logam berat di perairan Pulau Bangka. Berdasarkan Perda No.4. Pulau Bangka merupakan pulau penghasil timah terbesar di Indonesia. Pencemaran Logam Berat Aktivitas Penambangan di Pulau Bangka Pulau Bangka dikenal sebagai daerah penghasil timah sejak 3 abad silam yang dimulai pada pemerintahan Kolonial Belanda. Pemprov Bangka membolehkan penambangan timah rakyat untuk tujuan kemakmuran.2. dan cenderung mengabaikan pengelolaan hasil samping penambanganyang dapat mencemari lingkungan. Di samping limbah tailing.13 dasar perairan dan bersatu dengan sedimen sehingga kadar logam berat dalam sedimen lebih tinggi dibanding dalam air (Hutagalung. 6 Tahun 2001. 1995).063 ha. . 2. sehingga aktivitas penambangan tumbuh pesat. sekitar 27. Seiring bergulirnya roda pemerintahan.

bahkan gangguan pertumbuhan pada anak-anak dan bayi (Vinithkumar. jumlah KP timah mencapai 101 izin dengan luas pencadangan 320. . Selain itu menurut Vinithkumar (2004). hemetologik.5 – 3. Sumber. 2001).0 ppm. hemetotoksik. Mobilitas timbal di tanah dan tumbuhan cendrung lambat dengan kadar normalnya pada tumbuhan berkisar 0.1. 2. dan mempengaruhi kerja ginjal serta paru-paru.4.5 – 3. Mobilitas timbal di tanah dan tumbuhan cenderung lambat dengan kadar normalnya pada tumbuhan berkisar 0. Sumber utama timbal adalah dari makanan dan minuman yang terkontaminasi timbal (Suhendrayatna.3.4. timbal juga terdapat di udara bebas sebagai akibat dari penggunaan bahan bakar kendaraan dan industri yang tidak bebas timbal.0 ppm (Suhendrayatna. Timbal menimbulkan efek beracun pada sistem syaraf. dan yang telah ditambang 6. Timbal (Pb) Timbal merupakan logam berat beracun yang dapat dideteksi secara praktis pada seluruh benda mati di lingkungan dan seluruh sistem biologis.219 ha.3. Sampai dengan pertengahan tahun 2007. Logam ini merupakan racun yang mudah terakumulasi dan akan mengalami peningkatan jumlah dalam tubuh. izin kuasa penambangan (KP) timah juga diberikan kepada perusahaan swasta. hingga akhirnya mencapai suatu titik dimana telah terjadi kerusakan sistem tubuh.14 Selain kedua perusahan tersebut.084 ha. 2004). 2001). Beberapa Karakteristik Logam Berat. dan Dampaknya 2.

4. 2001). Kromium adalah logam yang berwarna putih. ion halida dan CN-. Jika tidak terkena udara. khususnya di hati dan ginjal.2 Kadmium (Cd) Kadmium lebih mudah diakumulasi oleh tanaman dibandingkan dengan timbal dan lebih banyak dijumpai pada permukaan sampel tanah yang diambil dekat penambangan bijih seng (Suhendrayatna. Kadmium berpengaruh terhadap tubuh manusia dalam jangka waktu panjang dan dapat terakumulasi dalam tubuh. logam kromium teroksidasi dalam jumlah .4. plastik. Logam kromium larut dalam asam klorida encer atau pekat. tak begitu liat (keras tapi rapuh). Sumber dari logam ini antara lain berasal dari industri baterai. dan pengolahan logam.Cr2O3). Kadmium adalah logam beracun yang merupakan polutan yang berbahaya bagi lingkungan karena bersifat toksik selain dapat membahayakan makhluk hidup dan ekosistem perairan. dan tak dapat ditempa.3 Kromium (Cr) Logam kromium di alam ditemukan dalam bentuk chromite (FeO. Logam kadmium tergolong berbahaya karena memiliki resiko tinggi pada pembuluh darah. Logam kromium tidak dapat teroksidasi oleh udara yang lembab dan bahkan pada proses pemanasan cairan.3. Logam berat ini bersama timbal dan merkuri sebagai the big three heavy metal yang memiliki tingkat bahaya tertinggi pada kesehatan manusia. pewarnaan. akan terbentuk ion-ion kromium. Kadmium dapat melarut lambat dalam asam encer dengan melepaskan hidrogen.15 2. 2. Logam ini memiliki titik leleh di atas 1800 oC.3. Logam-logam kadmium cenderung membentuk kompleks dengan NH3. Kadmium dapat meleleh pada 320 oC dan bersifat sangat elektropositif.

Cu juga sebagai kompleks Cu protein yang mempunyai fungsi tertentu dalam pembentukan hemoglobin. kolagen. logam atau ion kromium yang telah membentuk senyawa.4 Tembaga (Cu) Tembaga di alam dapat ditemukan dalam bentuk logam bebas. Sebagai logam berat. mineral.16 yang sangat sedikit. 2004). dan lainnya. dan perklorat. dan bisul serta radang pada membran mukus nasal (Vinithkumar. pertambangan. penyakit kulit. Sesuai dengan tingkat oksidasinya. yang berarti walaupun termasuk logam berat yang berbahaya tetapi unsur ini dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah sedikit. khususnya buangan industri yang memakai Cu dalam proses produksinya. Cu digolongkan sebagai logam berat esensial. buangan rumah tangga. Walaupun demikian.3. sulfat. . industri pengolaan kayu. akan tetapi lebih banyak ditemukan dalam bentuk persenyawaan atau sebagai senyawa padat dalam bentuk mineral. Selain itu. Umumnya dijumpai di alam dalam bentuk bervalensi tiga yang sifat racunnya lebih rendah daripada 6 valensi. seperti industri galangan kapal. kromium termasuk logam yang mempunyai daya racun tinggi.4. kromium terutama yang bervalensi 6 dapat mengakibatkan kanker saluran pencernaan. pembuluh darah dan mielin otak. Secara global. debu atau partikulat Cu yang ada di udara. Sumber Cu di alam kini lebih banyak dipengaruhi aktifitas manusia. sumber masuknya logam Cu ke dalam lingkungan dapat terjadi secara alamiah (akibat berbagai peristiwa alam) seperti: erosi batuan. mempunyai sifat-sifat yang berbeda sesuai dengan tingkat oksidasinya. Logam kromium mudah larut dalam HCl. 2. Meskipun demikian. Manusia memerlukan Cu sebagai metalloenzim dalam sistem metabolismenya atau sistem enzim oksidatif.

5. interaksi pertukaran ion dan pengendapan. biasanya air) yang mengandung spesies terlarut yang akan diserap (adsorbat. . sedangkan konsentrasi yang aman bagi air minum manusia adalah < 1 ppm. adsorbatnya adalah ion logam Pb (Timbal). 2006). Cd (Cadmium). 2008). Tembaga bersifat racun terhadap semua tumbuhan pada konsentrasi larutan di atas 0. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Proses Bioabsorpsi Adsorpsi secara umum adalah proses pengumpulan benda-benda terlarut yang terdapat dalam larutan antara dua fase. Secara umum ada dua jenis adsorpsi logam berat oleh mikroorganisme yaitu yang tidak bergantung pada mikroorganisme (metabolism-independent) yang terjadi pada permukaan sel dan adsorpsi yang bergantung pada metabolisme (metabolism-dependent) yang menyebabkan logam terakumulasi di dalam sel (Lestari et al.5. Cr (Chromium). yaitu fase padat (adsorben) dan fase cair (pelarut.. pembentukan kompleks (dengan bahanbahan organik / gugus funngsional sel) dan adsorpsi itu sendiri. 1994 dalam Yefrida. dan Cu (Tembaga / Cuprum) dan mikroalga sebagai adsorbennya. Jenis interaksi yang terjadi antara logam dengan permukaan sel adalah interaksi ionik. 2002 dalam Triani. Dalam penelitian ini.1 ppm.1. 2. ion logam). interaksi pengomplekan. Adsorpsi Logam Berat Oleh Mikroorganisme 2.17 logam Cu dalam metabolismenya akan berbalik menjadi bahan racun untuk manusia bila masuk dalam jumlah berlebihan (Palar. Konsentrasi normal komponen ini di tanah berkisar 20 ppm. Proses tersebut terjadi pada dinding sel dan permukaan eksternal lainnya melalui mekanisme kimia dan fisika misalnya pertukaran ion (kation exchangeable).

pH optimum untuk adsorpsi tembaga oleh Chlorella sp.18 Proses adsorpsi dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut: (1) pH (Derajat Keasaman) Derajat keasaman (pH) mempunyai pengaruh besar dalam proses adsorpsi karena pH mampu mempengaruhi terjadinya interaksi ion logam dengan gugus aktif adsorben. Jadi dengan memperbesar konsentrasi larutan serapan logam akan meningkat secara linier hingga konsentrasi tertentu. Pada permukaan penyerap (biomassa mikroalga) terdapat sejumlah sisi aktif yang proporsional dengan luas permukaan penyerap. yang diimobilisasi pada silika gel dicapai pada pH 5 (Triyatno. Triyatno (2004) melaporkan bahwa adsorpsi 2+ maksimum Cu dalam Chlorella sp. (2) Konsentrasi Logam Konsentrasi logam sangat berpengaruh terhadap penyerapan logam oleh adsorben. (4) Tumbukan Antar Partikel Proses adsorpsi tergantung pada banyaknya tumbukan yang terjadi antara partikel-partikel adsorbat dan adsorben. Tumbukan antar partikel ini dapat dipercepat dengan adanya kenaikan suhu. . 2004). (3) Waktu Kontak Waktu kontak antara adsorbat dengan adsorben selama proses adsorpsi berlangsung dipertahankan konstan. yang terimobilisasi silika gel dicapai setelah 20 menit.

2. dan lain-lain. hidroksil.5. sulfidril. Melalui tingginya tingkat resirkulasi di perairan. cahaya. Mekanisme active uptake atau proses bioremoval terjadi pada berbagai sel hidup dan secara simultan terjadi sejalan dengan konsumsi ion logam untuk pertumbuhan mikroorganisme dan/atau akumulasi intraselular ion logam tersebut. Dalam tulisannya. logam berat terserap oleh alga dan mendiami tempat yang bersifat fakultatif atau di bawah kondisi lingkungan normal. 2. Mekanisme Proses Adsorpsi Mekanisme adsorpsi logam berat menggunakan biomassa mikroalga telah banyak dikembangkan. Metode yang digunakan adalah absorbsi kation logam berat oleh dinding sel media bio (mikroalga) yang bermuatan negatif dari gugus karboksil. Semakin kecil ukuran partikel akan semakin cepat proses adsorpsi yang terjadi dan semakin besar luas permukaan adsorben maka penyerapan yang terjadi semakin merata. amina dan fosfat. Hal demikian dapat terjadi pada mikroorganisme dari golongan alga (fitoplankton). . namun masih memiliki kelemahan dan resiko terkait akumulasi logam berat terhadap sel mikroalga. kekuatan ikatan ionik.19 (5) Karakteristik dari Adsorben Ukuran partikel dan luas permukaan adsorben akan mempengaruhi proses adsorpsi. pH. Proses ini tergantung pada energi yang terkandung dan sensitifitasnya terhadap parameter-parameter yang berbeda seperti suhu. Oswald (1988) menyebutkan bahwa alga atau ganggang memiliki permukaan yang bermuatan negatif tinggi sehingga dapat menarik logam berat yang memiliki muatan positif yang kuat.

sehingga dapat menghalangi pertumbuhan mikroorganisme disaat keracunan terhadap ion logam tercapai. .20 Proses bioabsorpsi dapat dihambat dengan suhu rendah. dan penghambat-penghambat metabolisme sel. Di sisi lain. bioabsorpsi logam berat dengan sel hidup ini terbatas dikarenakan oleh akumulasi ion yang menyebabkan racun terhadap mikroorganisme. tidak tersedianya sumber energi. Mikroorganisme yang tahan terhadap efek racun ion logam akan dihasilkan berdasarkan prosedur seleksi yang ketat terhadap pemilihan jenis mikroorganisme yang tahan terhadap kehadiran ion logam berat.

21 3. Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Pangkalpinang.9″ BT.1. Tempat pengambilan sampel air limbah logam berat hasil aktifitas penambangan timah di Pulau Bangka dapat dilihat pada Gambar 4. Tbk. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari . Gambar 4. Bangka. Peta lokasi pengambilan sampel air limbah logam berat di pulau Bangka .April 2011 di Laboratorium Air PT. BAHAN DAN METODE 3.2″ LS dan 106°10′30. Penelitian ini menggunakan air laut sampel yang berasal dari aktivitas hasil penambangan timah di Pantai Rebo. Kabupaten Bangka Induk. referensi geografis tempat pengambilan sampel air laut adalah 01°55′22. TIMAH. Secara rinci.

Bibit Chlorella sp. KNO3 Pekat NaOH Pekat Tisu Kertas Saring Millipore Filtering Apparatus Ember 100 L Corong kaca Labu Ukur Inkubator Jerigen Botol Duran Spesifikasi Air Pump AC-9902 1. dan 2800 mL Iwaki 1000 dan 2000 mL Iwaki 50. 10.22 3. 250.5 L Assistant Iwaki 100. dan 25 mL Hand Refraktometer Atago Air Raksa (Hg) Iwaki 15 mL AND EK-3000i 70% Wheatman 100 mL Memmert 35 L 500 mL Jumlah Unit 4 1 9 12 12 1 1 1 1 1 1 1 1 3 1 1 1 1 1 1 18 1 60 L 5L 100 L 1000 L 1 250 mL 250 mL 100 mL 100 mL 5 gulung 150 1 2 1 18 1 1 9 . 2. 100×) Merck (pH 1-14) Iwaki 1.2. 100. Alat dan Bahan Alat dan bahan yang digunakan pada penelitian ini disajikan pada Tabel 1. 40×. 750. dan 500 mL Assistant (Neubauer) 25x10-4 mm2 Labinco L-32 Philips 40 watt Olympus (4×. Tabel 1. 10×. Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian Alat dan Bahan Aerator Autoklaf Batu dan selang Aerasi Pipet Tetes Botol Gelas Bulb Bunsen Erlenmeyer Gelas Beker Gelas Ukur Haemacytometer Handcounter Hotplate Lampu Neon Mikroskop Kertas pH Indikator Pipet Mohr Refraktometer Thermometer Sprayer Tabung Durham Timbangan Analitik Air laut Akuabides Akuades Alkohol Aluminium Foil Bibit Nannochloropsis sp.

Sampel air laut diambil menggunakan wadah polietilen berukuran 35 Liter.3. sehingga yang terlarut akan menjadi media bagi kultivasi mikroalga. Alat yang digunakan dalam proses filterisasi ini adalah penyaring air laut. selang silikon (penghubung pompa vakum dengan gelas filtrat).23 3. dan kertas saring Millipore. 3. Bagian-bagiannya terdiri atas pompa vakum. Penggunaan kertas saring dimaksudkan agar partikel-partikel suspensi dapat tersaring.1. Filterisasi Filterisasi merupakan suatu metode yang dilakukan untuk menyaring air laut dengan tujuan menghilangkan partikel-partikel sedimentasi yang ada di dalam sampel tersebut.2. gelas media tampungan (sebagai wadah filtrat).3. Alat penyaring sampel air laut . Gambar 5. pukul 14:30 WIB dengan menggunakan perahu nelayan. Metode ini menggunakan prinsip penyaringan dengan kertas Millipore. Prosedur Penelitian 3.3. Pengambilan Air Limbah di Daerah Penambangan Timah Pengambilan sampel air laut dilakukan tanggal 6 Februari 2011.

Wadah dan alat yang sebelumnya telah dicuci dan dibilas dengan air tawar.3. selanjutnya air filtrat (yang tersaring) akan digunakan sebagai media kultur yang sebelumnya akan melalui tahap sterilisasi (autoclave) agar air sampel limbah bebas dari patogen dan sel plankton lainnya yang memiliki ukuran sel kurang dari 0.5 atm. dan 25 mL.45 µm. Sterilisasi Sterilisasi bertujuan untuk menyucihamakan alat serta bahan yang akan digunakan untuk isolasi maupun kultur mikroalga dari mikroorganisme serta bahan kimia yang dapat menjadi kontaminan (Kawaroe. dan tekanan mencapai 1. dan erlenmeyer volume 2800 mL. 5 mL. 3.45 µm akan tersaring. Sterilisasi dimulai dengan pemanasan air tawar dengan menggunakan hot plate hingga mendidih. 10 mL. penutup tabung reaksi.45 µm akan menjadi bagian partikel terlarut. tabung reaksi. Pemanasan air tawar atau akuades digunakan untuk sterilisasi alat dan wadah kultur.24 Metode filterisasi tidak bertujuan untuk membunuh bakteri. terdiri atas: selang dan batu aerasi. termasuk ion atau logam-logam berat di dalamnya. dan kurang dari 0.3. 2 mL. Metode sterilisasi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu melalui pemanasan sederhana (air tawar untuk sterilisasi alat dan wadah) dan menggunakan autoclave (panas bertekanan) untuk media air laut dan peralatan yang tahan panas lainnya. dengan suhu hingga 126 oC. karena hal tersebut bertujuan agar partikel yang berukuran lebih dari 0. pipet mohr 1 mL. selanjutnya dialirkan air panas dari hot plate (membunuh bakteri yang ada di wadah) dan ditiriskan. Proses filterisasi dimulai dengan mengalirkan air limbah yang mengandung suspensi ke filtering apparatus. 2008). Sterilisasi menggunakan autoclave merupakan suatu metode yang memanfaatkan uap panas bertekanan. .

. dan 2800 mL) yang telah disterilkan. Wadah yang telah disiapkan diberi air laut sesuai dengan kapasitas masing-masing wadah. Dalam penelitian ini. dan selanjutnya media dapat digunakan untuk keperluan penelitian. media 250 mL dapat dikultur kembali dengan menggunakan media 2000 mL. atau dari gelas erlenmeyer 250 mL. baik menggunakan autoclave maupun pemanas disusun sesuai dengan kebutuhan pengkulturan. (1) Persiapan Wadah Kultur Wadah kultur (250 mL. dan Nannochloropsis sp. yang bertujuan untuk menghilangkan kontaminasi dari patogen yang ada di dalam media.25 Gambar 6. wadah yang digunakan berisi pupuk dari media Conwy (Walne’s media) sebanyak 1 mL untuk 1000 mL air sampel. 1500 mL. 750 mL. dan Chlorella sp. 3. media 250 mL diberi pupuk Pro Analis.4. Setelah mencapai masa puncak populasi. yaitu wadah bagi media Chlorella sp. Wadah kultur terbagi menjadi dua. Autoclave Metode ini digunakan untuk peralatan kultivasi dan air media. Selanjutnya. Media autoclave dapat digunakan setiap pemakaian selama kurang-lebih 30 menit. Proses Kultur Nannochloropsis sp.3. Dengan luas penampang kira-kira 2 liter media. Tahap awal kultur dimulai dari media 250 mL.

26 (2) Persiapan Pupuk (Conwy atau Walne) Untuk Kultivasi Mikroalga Pupuk yang digunakan mengandung campuran dari beberapa bahan-bahan kimia yang berfungsi untuk memberikan nutrisi dalam mendukung pertumbuhan mikroalga. Sumber: Isnansetyo (1995) Gambar 7. Haemacytometer terbuat dari gelas yang dibagi menjadi kotak-kotak pada dua tempat bidang pandang untuk menghitung jumlah kepadatan sel. Tempat penyimpanan bahan-bahan kimia biasanya disediakan khusus agar tidak menimbulkan kontaminasi dengan benda-benda sekitarnya.3. 3. Perhitungan Kepadatan Sel Mikroalga Perhitungan kepadatan bertujuan untuk menentukan kondisi mikroalga setiap harinya (sel yang bertambah besar dan bertambah banyak). Perhitungan sel mikroalga menggunakan haemacytometer dan alat bantu handcounter untuk mencatat jumlah perhitungan. Larutan media ini dicampurkan ke dalam wadah kultur sesuai dengan volume media kultur. Haemacytometer . Selanjutnya media tersebut dapat dihitung jumlah kepadatan sel secara rutin dengan menggunakan haemacytometer.5.

Pengukuran Parameter Fisika dan Kimia Media Kultivasi Mikroalga Pengukuran parameter ini bertujuan untuk menentukan pengaruh dari masing-masing parameter terhadap pertumbuhan dari mikroalga (Chlorella sp. sehingga bila ditutup dengan cover glass.3.27 Kotak tersebut berbentuk bujur sangkar dengan sisi 1 mm dan tinggi 0. Pemanenan Populasi Mikroalga Pemanenan dilakukan apabila hasil kultivasi telah mencapai tahap maksimum. Dalam beberapa (80) kotak (bila kepadatan terlalu tinggi) Rata-rata jumlah sel (dari 80 kotak) x 400 x 104/ml = N sel/mL 3. yang masing-masing dibagi lagi menjadi enam belas kotak bujur sangkar yang lebih kecil (Isnansetyo. akan mengalami penurunan jumlah kepadatan (fase drop . dan Nannochloropsis sp. Hal tersebut dikarenakan.3. 1995). dan pH meter untuk parameter keasaman air sampel limbah dalam media kultivasi. akan menghasilkan volume ruangan 0. Refraktometer untuk salinitas (‰). dan Nannochloropsis sp. Contoh penghitungan kepadatan Chlorella sp.). dan Nannochloropsis sp.6.7. Pengukuran parameter dilakukan setiap hari dengan menggunakan thermometer untuk parameter suhu (oC). dapat dilihat pada Lampiran 1.1 mm3 atau 10-4 ml. Dalam 400 kotak (bila kepadatan rendah) …………………… (1) Jumlah sel x 104/ml = N sel/mL 2. pengukuran ini juga berperan penting dalam membandingkan pengaruh keadaan yang terkontrol dan fluktuatif terhadap kehidupan mikroalga. Kotak tersebut dibagi lagi menjadi dua puluh lima kotak bujur sangkar. masa pertumbuhan mikroalga Chlorella sp. Estimasi kepadatan sel mikroalga dapat digambarkan dalam perhitungan pada persamaan (1) sebagai berikut: 1.1 mm. Selain itu. 3.

yang diperoleh dari rumus pengenceran adalah sebesar 51 mL dalam media 1500 mL dan 25. Jumlah sel (ml sampel mikroalga) yang dimasukkan ke dalam media sesuai dengan kepadatan sel yang diperoleh ketika mencapai puncak populasi.28 atau kematian). Pemindahan Populasi Kultur ke Dalam Media Limbah Logam Berat Populasi mikroalga akan mencapai masa puncak populasi. Selanjutnya populasi dari masing-masing jenis mikroalga (Chlorella sp. Dengan demikian. Apabila pemanenan mikroalga terlalu cepat atau belum mencapai puncak populasi. Pemanenan dilakukan agar diperoleh bibit awal yang sesuai dengan kualitas yang baik. dan Nannochloropsis sp. Semakin tinggi kepadatan sel mikroalga.) dikontakkan ke dalam media khusus yang tercemar logam.8. dan Nannochloropsis sp. maka semakin sedikit inokulan (sel) yang ditambahkan.3. Ketepatan pemindahan jumlah sel dapat menggunakan formula pengenceran air media dengan sampel bibit mikroalga. perhitungan dapat dimulai dengan menggunakan rumus pengenceran (N1×V1 = N2×V2). ke dalam wadah 1500 mL (perlakuan pupuk) dan 750 mL (tanpa pupuk) dihitung berdasarkan kepadatan Chlorella sp. Hal ini dimaksudkan kepadatan sel akan mencapai maksimum dan dapat digunakan untuk keperluan penelitian menggunakan media limbah logam berat dari air laut sampel. dan selanjutnya dapat digunakan sebagai bibit kultur untuk perlakuan penelitian dengan media yang tecemar logam berat.575 mL dalam media 750 mL air sampel limbah (untuk memperoleh kepadatan . Pemindahan bibit (inokulasi bibit sel) Chlorella sp. Volume awal Chlorella sp. sisa zat hara masih cukup besar sehingga dapat membahayakan organisme yang memanfaatkannya sebagai pakan alami. dan Nannochoropsis dalam wadah inokulum. 3.

air limbah + sel Chlorella sp. Bibit sel mikroalga dalam media kultur non-limbah Media limbah logam berat yang digunakan untuk kultur Gambar 8. Volume air media (air laut sampel) yang dibutuhkan dalam proses pengkulturan diperoleh dari jumlah volume kultur media dikurangi volume bibit sel mikroalga yang dimasukkan ke dalam media. yaitu 1. Dengan demikian.000 sel/mL.570 mL untuk media 750 mL. Pemindahan bibit sel mikroalga ke dalam media limbah .375.325. Metode pemindahan bibit sel mikroalga ke dalam media limbah pada penelitian ini disajikan pada Gambar 8. dengan jumlah kepadatan sel Nannochloropsis sp. bervolume 35 ml untuk wadah media 1500 mL. Pada tahap akhir.000. 2000 ml Chlorella sp.000 sel/mL. sebesar 40.000. Volume ini diperoleh dari jumlah sel Chlorella sp. akan diperoleh jumlah kepadatan sel yang diharapkan untuk kultur awal.000 sel/mL dalam media kultur dari limbah). sebesar 29. Berbeda hal nya sel Nannochloropsis sp. dengan menggunakan rumus pengenceran.29 1.000 sel/mL. jumlah volume antara air laut sampel dengan bibit sel adalah 1500 mL untuk perlakuan menggunakan pupuk dan 750 mL tanpa menggunakan pupuk. dan 18. 1500 ml 50 ml 35 ml 1500 ml air limbah + sel Nannochloropsis sp.325.000 sel/mL Media Perlakuan 1450 ml air limbah. 1465 ml air limbah. 2000 ml Nannochloropsis sp.325. 29.000 sel/mL 40.

80 oC.30 Dengan demikian. kepadatan sel awal yang diperoleh dalam media air laut limbah 1500 mL dan 750 mL adalah 1. Selanjutnya sampel tersebut disaring menggunakan alat penyaring sampel air dan kertas saring Whatman bebas abu. Langkah awal yang dilakukan adalah menyiapkan sampel mikroalga Chlorella sp. Setelah disaring. sehingga yang tersisa adalah bahan-bahan anorganik termasuk logam berat. Selanjutnya akan dilakukan perhitungan harian. 3.000 sel/mL. yakni asam sulfat (H2SO4) 98% dan asam nitrat pekat (HNO3) masing-masing sebanyak 5 ml. Proses berikutnya dilanjutkan di ruang pemanasan agar air sampel benar-benar bebas dari abu atau bahan-bahan organik . kertas saring ditimbang terlebih dahulu untuk mengetahui berat kering dari kertas saring).9. Proses pelarutan (melepaskan) logam yang menempel pada mikroalga memerlukan asam kuat. dimana jumlah sel diduga akan terus bertambah hingga mencapai masa puncak populasi sel dan dilakukan pemanenan serta perhitungan kapasitas ion logam berat yang diserap oleh mikroalga. hitung berat biomassa yang telah dikeringkan dengan menggunakan oven pada suhu 60 .000.3. dan Nannochloropsis sp. Setelah kering biomassa ditimbang menggunakan neraca analitik (sebelumnya. Sehingga ion logam berat yang terserap dapat dihitung menggunakan AAS (Spektrofotometer Serapan Atom) yang diperoleh dari biomassa sampel air (mikroalga) yang sebelumnya telah dilakukan penyaringan dan pengasaman sampai proses pelarutan bahan organik. Perhitungan Laju Serapan Sel Mikroalga terhadap Logam Berat Perhitungan laju serapan (kapasitas bioabsorpsi) ini dilakukan setelah populasi dari Chlorella sp. mencapai masa puncaknya. dan Nannchloropsis sp.

FMIPA IPB. Tahap akhir dari proses ini adalah analisis logam berat menggunakan AAS.d. Cd. Cu. Analisis logam berat yang terserap Gambar 9. Setelah dipanaskan. IPB. Kimia. termasuk logam-logam berat. sampel diencerkan dengan menambahkan HCl ke dalam labu ukur ukuran 50 ml. Proses pelarutan biomassa mikroalga dalam penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 9.31 lainnya. Penyaringan biomassa Hitung bobot kering biomassa Lab. dan Cr. 800 C Gelas beker 100 mL ditambahkan masing-masing 5 ml H2SO4 dan HNO3 Sehingga bahan-bahan organik dalam media larut (+ 2-3 jam) Menggunakan HCl dalam labu ukur 50 mL Menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom (tipe AA 7000) Melarutkan biomassa dengan pelarut asam kuat Dipanaskan (digest) Pengenceran Lab. dan Chlorella sp. Kertas saring bebas abu (Wheatman) Dikeringkan menggunakan oven pada suhu 60 s. Ion-ion logam berat yang diukur adalah logam Pb. Produktifitas dan Lingkungan Perairan. FPIK. 100 mL air sampel sel Nannochloropsis sp. Proses pemanasan dilakukan selama kurang-lebih 3 jam hingga yang tersisa dari sampel hanya berupa bahan-bahan anorganik. Diagram alir proses pelarutan biomassa mikroalga hingga analisis logam berat . MSP.

.....).32 3. Cu) dalam larutan (mg/l)....... dan Nannochloropsis sp. dan Nannochloropsis sp. Kapasitas bioabsorpsi mikroalga (qe) dihitung menurut model adsorpsi isothermal dengan rumus menurut Vijayaraghavan. Kepadatan populasi sel pada waktu ke-0. Contoh penghitungan dapat dilihat pada lampiran 2.. Cr. W adalah massa sel (g).. Cr. .... et al... Cu) dalam larutan (mg/l). laju pertumbuhan spesifik (µ)... Cd.. Waktu pengamatan.05. Cd.... pada persamaan (2).4... Waktu awal.. Contoh penghitungan dapat dilihat pada Lampiran 3... Perbandingan tersebut digambarkan dengan menggunakan grafik. Analisis Data Analisis dilakukan dengan cara membandingkan laju pertumbuhan spesifik (µ). Konsentrasi ion (Pb.. Ci = Ce = Konsentrasi akhir atau keseimbangan ion (Pb. (2004). qe = (C i − C e )V W . (3) Keterangan : qe = Kapasitas bioabsorpsi (mg Pb. Kualitas air dianalisis menggunakan uji validitas Pearson untuk melihat korelasi yang terjadi dan uji lanjut regresi untuk melihat pengaruh parameter kualitas air terhadap kelimpahan dengan nilai p=0. Cu) /g biomassa mikroalga (mg/g). Cr. (2) Kepadatan populasi pada waktu ke-t.... µ= keterangan : Nt = No = To = Tt = ………………………………. V = Volume larutan dalam wadah gelas atau erlenmeyer dengan kontak batch (ml).. Laju pertumbuhan spesifik (µ) mikroalga dihitung dengan formula menurut Krichnavaruk et al. serta serapan logam berat dari spesies Chlorella sp. (2004) pada persamaan (3).. Cd. dan kapasitas bioabsorpsi (mg logam berat/g biomassa Chlorella sp.

dapat dilihat pada Lampiran 5 dan grafik kepadatan sel Chlorella sp. Sel Chlorella sp. Kepadatan dan Laju Pertumbuhan Spesifik Chlorella sp. Puncak kepadatan populasi sel Chlorella sp. Pertumbuhan masa puncak populasi Chlorella sp.00×106 sel/mL. Grafik kepadatan sel Chlorella sp. dapat dilihat pada Gambar 10. tertinggi terdapat pada perlakuan kontrol.1. dengan perlakuan limbah logam berat pada awal kultivasi adalah 1. dengan . memiliki laju pertumbuhan spesifik dan kepadatan yang cukup baik untuk setiap perlakuan. 35 Kepadatan sel (×106 sel/ml) 30 25 20 15 10 5 0 1 3 5 Kontrol 7 9 Hari ke11 Tanpa Pupuk 13 15 Pupuk Gambar 10. Kepadatan Chlorella sp. sedangkan kepadatan sel terendah terdapat pada perlakuan tanpa pupuk.72×106 sel/mL. memiliki jumlah kepadatan sel dan laju pertumbuhan spesifik yang berbeda tiap perlakuan. terjadi pada hari ke-10 dengan jumlah sel mencapai 16. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. Jumlah kepadatan sel Chlorella sp. Laju pertumbuhan spesifik dan kepadatan sel Chlorella sp. Penelitian ini mendapati bahwa mikroalga Chlorella sp.33 4.

dan pH optimum berkisar 7-8. Jumlah sel media perlakuan kontrol dan perlakuan menggunakan pupuk menunjukkan adanya peningkatan setiap harinya. Chlorella sp. yang merupakan nilai tertinggi dibandingkan dengan kultivasi pada perlakuan lain. Chlorella sp. Sesuai dengan penelititan yang dilakukan Sylvester et al.1. salinitas. Hal tersebut diduga karena keadaan lingkungan yang terkontrol meliputi suhu. Perlakuan menggunakan pupuk dan tanpa pupuk tidak mengalami penurunan jumlah kepadatan sel secara signifikan hingga akhir pengamatan. suhu optimum 25-32 oC. sedangkan untuk perlakuan pupuk dan tanpa pupuk pada hari ke-13 dan hari ke-9. Sel mengalami penurunan jumlah secara signifikan pada hari ke-15 untuk perlakuan kontrol. ini berlangsung . Kepadatan dan Laju Pertumbuhan Spesifik Chlorella sp. untuk perlakuan kontrol tercatat mencapai 30×106 sel/mL. Fase lag pada pertumbuhan Chlorella sp.751. (2002) bahwa keadaan mikroalga laut yang dapat hidup normal pada salinitas optimum 25-35 ‰.1. dengan Perlakuan Kontrol Kepadatan puncak mikroalga Chlorella sp. dengan perlakuan kontrol memiliki adaptasi yang sangat baik terhadap media kultur. 4. pada media tumbuh. dan pH yang optimum untuk pertumbuhan mikroalga. sehingga mempengaruhi pertumbuhan Chlorella sp. serta kualitas air pada media kultur. Hal tersebut dapat diduga karena pengaruh nutrisi. Hal ini berbeda dengan perlakuan tanpa pupuk dengan jumlah kepadatan sel cenderung stagnan atau tetap. Hal tersebut menggambarkan bahwa dalam waktu yang kurang dari satu hari. dapat dilihat dari nilai laju pertumbuhan spesifik pada hari ke-1 sebesar 2. memiliki adaptasi yang sangat baik terhadap lingkungan kultur.34 perlakuan kontrol terjadi pada hari ke-10.

seperti adanya toksik yang dihasilkan oleh mikroalga sebagai hasil dari metabolisme yang meracuni mikroalga itu sendiri dan berkurangnya proses fotosintesis akibat bertambahnya jumlah sel sehingga hanya bagian tertentu saja yang memperoleh cahaya. Hal tersebut dibuktikan pada hari ke-2. dan diikuti Chlorella sp. Fase adaptasi tidak terlihat secara jelas pada media perlakuan kontrol yang mungkin disebabkan oleh cepatnya kemampuan sel mikroalga menyesuaikan dirinya terhadap media kultur yang baru. 4..2. pada perlakuan logam berat yang ditambahkan pupuk pada media nya mencapai 16. Salah satu faktor yang menentukan lamanya fase adaptasi adalah umur kultur yang digunakan sebagai inokulum. karena jumlah sel yang bertambah seimbang dengan jumlah sel yang mati. dengan Perlakuan Pupuk dalam Media Logam Berat Jumlah kepadatan sel mikroalga Chlorella sp. 1987 dalam Prihantini et al.72×106 sel/mL. 2005).35 selama kurang dari 24 jam. mulai memasuki fase kematian pada hari ke-13. Turunnya laju pertumbuhan Chlorella sp. karena ketersediaan nutrien yang telah jauh berkurang di dalam media kultur. Laju . Chlorella sp. Pertumbuhan sel terus bertambah hingga hari ke-10. ditandai dengan jumlah sel yang menurun secara drastis. juga dapat disebabkan oleh beberapa hal. Kepadatan dan Laju Pertumbuhan Spesifik Chlorella sp. jumlah populasi mikroalga terus meningkat hingga memasuki fase pertumbuhan eksponensial.1. Fase adaptasi akan menjadi lebih singkat atau bahkan tidak terlihat apabila sel-sel yang diinokulasikan berasal dari kultur yang berada dalam fase eksponensial (Fogg dan Thake. fase stasioner pada hari ke-11 dan ke-12. sehingga mampu tumbuh dan berkembang dengan cepat.

Pada hari ke-12 hingga ke-15. Pada hari ke-11. karena sistem perlindungan organisme tidak mampu mengimbangi efek toksisitas logam. Penurunan jumlah sel ini diduga karena adanya pemanfaatan nutrien yang berlebih dari hari-hari sebelumnya. Hari ke-6.16×106 sel/mL. sel memasuki fase eksponensial. akumulasi dapat menganggu pertumbuhan sel. yang lisis untuk pertumbuhannya sehingga dapat meningkatkan populasinya kembali . Hal tersebut menunjukkan sel mengalami fase adaptasi terhadap lingkungan kultur. pada konsentrasi logam yang tinggi. sehingga pertambahan jumlah kepadatan sel relatif lebih lambat. jumlah sel relatif bertambah tidak signifikan dari sebelumnnya dan selanjutnya berkurang memasuki fase stasioner. jumlah sel mengalami penurunan. yang diduga karena sel memasuki periode kriptik dimana sel-sel Chlorella sp. sehingga ketersediaan nutrien berkurang dari kebutuhan sel mikroalga untuk hari berikutnnya. Selanjutnya laju pertumbuhan meningkat relatif lambat di hari ke-2 sampai hari ke-5. yang masih hidup memanfaatkan tambahan nutrisi dari sel Chlorella sp. menggunakan air sampel limbah pada lokasi penelitian dengan salinitas sebesar 37 ‰. Laju pertumbuhan yang lambat ini diduga karena faktor lingkungan pada media kultur.36 pertumbuhan ini berlangsung relatif lambat. dan pH 6. Hal tersebut dapat menghambat laju pertumbuhan mikroalga dan didukung kontaminasi logam berat dari hasil penambangan yang cenderung dapat mempengaruhi jumlah kepadatan sel.00×106 sel/mL dari hari pertama kultur.468 dan terus meningkat hingga hari ke-10 dengan jumlah sel mencapai 15. dengan laju pertumbuhan spesifik mencapai 0. dengan jumlah kepadatan awal sel 1. Menurut Connel (1990) dalam Haryoto (2004). Media kultur Chlorella sp.

1983 dalam Prihantini et al. Pertumbuhan sel kultur di dalam media logam berat sangat dipengaruhi oleh nilai pH. 1984 dalam Prihantini et al. 2005). (2005) menunjukkan bahwa Chlorella pyrenoidosa yang ditumbuhkan dalam media Bristol dengan pH 7 memiliki kerapatan sel yang lebih tinggi dibandingkan dengan media dengan pH 6.. jenis karbon anorganik yang paling banyak terdapat pada media asam (pH 4-6) adalah asam karbonat (H2CO3) (Goldman et al. Rendahnya kepadatan sel dapat disebabkan adanya nilai pH yang rendah (asam). sehingga laju pertumbuhan sel semakin lambat. Hal tersebut menyebabkan CO2 sebagai sumber karbon utama bagi proses fotosintesis mikroalga cukup tersedia sehingga proses metabolisme dapat berlangsung cepat dan kerapatan sel meningkat.. 2009). Fase deklinasi (penurunan kecepatan petumbuhan) dapat terjadi karena nutrisi pada media kultur berkurang dan telah terbentuk senyawa NH4+ dalam konsentrasi tinggi dan adanya produk esktraseluler dari mikroalga yang meracuni diri sendiri sehingga dapat meningkatkan mortalitas Chlorella sp. Grafik perlakuan kontrol menunjukkan jumlah kepadatan sel jauh lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan logam berat. 2005). CO2 berada dalam bentuk bebas sehingga dapat berdifusi dengan mudah ke dalam sel mikroalga (Reynolds. 2005). 2000 dan Suantika.26×106 sel/mL. Selain itu.4.37 (Annisa. (Fogg. Hal demikian disebabkan pada lingkungan netral (pH internal sel netral adalah 7. Hal tersebut dapat dilihat melalui perbandingan antara grafik media kontrol dengan perlakuan limbah logam berat pada Gambar 10. sehingga dalam waktu kurang dari tiga hari sel mengalami penurunan jumlah manjadi 15.15). 1965 dalam Panggabean. Penelitian Wong dan Lay (1980) dalam Prihantini et al. Asam ..

1. CO2 bebas merupakan jenis karbon anorganik utama yang digunakan mikroalga.. Mikroalga juga dapat menggunakan ion karbonat (CO32-) dan ion bikarbonat (HCO3-). Faktor . Hal tersebut diduga merupakan penyebab rendahnya kerapatan sel pada media perlakuan limbah logam berat dengan pH awal 6. faktor lingkungan juga mempengaruhi proses pertambahan kepadatan sel dari mikroalga. Pada saat fotosintesis. 1981 dalam Prihantini et al. dengan Perlakuan Tanpa Pupuk dalam Media Logam Berat Jumlah sel Chlorella sp. Media limbah logam berat pada perlakuan tanpa pupuk ini memiliki salinitas 37 ‰ dan pH 6-7. 1993 dalam Prihantini et al. 2005). Air laut yang tercemar logam berat juga turut mempengaruhi kepadatan sel dari media kultur. 2005). Kondisi pH asam mengakibatkan proses biokimia sel terganggu sehingga mempengaruhi pertumbuhan sel (Lane. Meningkatnya pH kemungkinan disebabkan adanya aktivitas fotosintesis Chlorella sp. 4.3.. Secara umum sejak pengamatan hari ke-7 hingga hari ke-15 seluruh media logam berat dengan perlakuan pupuk mengalami peningkatan pH.38 karbonat pada kisaran pH tersebut umumnya berada dalam bentuk senyawa yang sangat mudah masuk ke dalam sel sehingga membuat pH internal sel menjadi asam. Dengan demikian. dengan perlakuan tanpa pupuk relatif lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Media perlakuan tanpa pupuk memiliki batasan ketersedian nutrien yang bermanfaat untuk memacu pertumbuhan mikroalga. hal tersebut membuktikan bahwa selain kurangnya ketersediaan nutrien. Penyerapan CO2 bebas dan bikarbonat oleh mikroalga menyebabkan penurunan konsentrasi CO2 terlarut dan mengakibatkan peningkatan nilai pH (Sze. Kepadatan dan Laju Pertumbuhan Spesifik Chlorella sp.

dapat dilihat pada Gambar 11. Penelitian ini mendapati bahwa mikroalga Nannochloropsis sp.39 lingkungan yang optimum untuk pertumbuhan mikroalga adalah salinitas berkisar 25-35 ‰.12×106 sel/mL. memiliki laju pertumbuhan spesifik dan kepadatan yang cukup baik untuk setiap perlakuan. yang dapat ditunjukkan dari laju pertumbuhan spesifik mikroalga (negatif) dari setiap pertambahan sel nya. dan pH optimum berkisar 7-8 (Sylvester et al. suhu optimum 25-32 oC. Kepadatan sel maksimum terjadi pada hari ke-9 dengan jumlah sel 1. Laju pertumbuhan spesifik dan kepadatan sel Nannochloropsis sp. Laju pertumbuhan mikroalga relatif konstan dan bahkan menurun setiap hari waktu pengamatan.72×106 sel/mL dan kepadatan sel menurun hingga hari ke-15 dengan jumlah 1..2. Grafik kepadatan sel Nannochloropsis sp. dapat dilihat pada Lampiran 5. . Grafik kepadatan sel Nannochloropsis sp. Kepadatan dan Laju Pertumbuhan Spesifik Nannochloropsis sp. 2002). 4. 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 1 Kontrol 6 Hari Pupuk 11 Tanpa Pupuk Kepadatan sel (×106 sel/ml) Gambar 11.

50×106 sel/mL. 2009). mampu menambah jumlah kepadatan selnya sebanyak 2. Gambar 11 juga menggambarkan adanya adaptasi yang baik oleh Nannochloropsis sp. dengan perlakuan limbah logam berat pada awal kultivasi adalah 1. dengan Perlakuan Kontrol Jenis mikroalga ini memiliki laju pertumbuhan yang sangat tinggi. Hal ini dapat dilihat dari jumlah kepadatan sel yang sangat dominan pada hari ke-10 dan hari ke-14.15×106 sel/mL. Puncak kepadatan populasi Nannochloropsis sp.2. Hal tersebut menunjukkan bahwa dalam waktu kurang dari 24 jam.25×106 sel/mL dan massal 15 .092.1.40 Sel Nannochloropsis sp. sedangkan jumlah kepadatan sel terendah pada perlakuan tanpa pupuk. terjadi pada hari ke-8 dengan jumlah sel mencapai 9.00×106 sel/mL.60×106 sel/mL. skala semi massal 20 . juga memiliki jumlah kepadatan dan laju pertumbuhan spesifik yang berbeda tiap perlakuan. yang dibuktikan dengan laju pertumbuhan spesifik pada hari ke-2 yang meningkat signifikan sebesar 2. sedangkan untuk perlakuan pupuk pada hari ke-13 dan perlakuan tanpa pupuk pada hari ke-10. Jumlah kepadatan sel maksimum pada puncak pertama sebesar 42. sel Nannochloropsis sp. Jumlah kepadatan sel tertinggi terdapat pada perlakuan kontrol.13×106 sel/mL. yang dapat dicapai untuk skala laboratrium adalah 50 ... untuk perlakuan kontrol teramati pada hari ke-10 dan hari ke-14. . Jumlah kepadatan sel Nannochloropsis sp.20×106 sel/mL dengan masa kultur 4-7 hari (Anon et al. Kepadatan dan Laju Pertumbuhan Spesifik Nannochloropsis sp.28×106 sel/mL. Masa puncak populasi sel Nannochloropsis sp. dan diikuti puncak populasi kedua sebesar 41. Kepadatan optimum kultur Nannochloropsis sp. 4.

2005). Faktor-faktor lingkungan tersebut adalah perlakuan parameter media yang disesuaikan dengan keadaan lingkungan penambangan..41 Dengan demikian. sehingga terjadi akumulasi senyawa amonia dalam konsentrasi tinggi dan menyebabkan kematian pada sel kultur (Fogg. 2009). 4. Laju pertumbuhan spesifik menurun menjadi -1. Hal tersebut dapat dikarenakan adanya tambahan nutrisi untuk pertumbuhan Nannochloropsis sp.2.90×106 sel/mL. relatif rendah dan stabil dari hari ke-1 sampai hari ke-4. Hal tersebut diduga karena adanya faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan dari sel Nannochloropsis sp. proses ini membuktikan bahwa fase lag berlangsung sangat cepat (kurang dari 24 jam).160 setelah masa puncak populasi. suhu . dengan Perlakuan Pupuk dalam Media Logam Berat Pertumbuhan Nannochloropsis sp. dan dilanjutkan dengan fase stasioner. 1965 dalam Panggabean. Selanjutnya sel mengalami penurunan jumlah pada hari ke-11 dan dilanjutkan kembali adanya peningkatan jumlah sel pada hari ke-12 sampai hari ke-14. dengan kepadatan sel kultur 12. Kualitas air tersebut dapat menghambat pertumbuhan sel Nannochloropsis sp.2. yang ditandai pertambahan kepadatan sel kultur secara eksponensial sampai puncak populasi pada hari ke-10. dimana besarnya salinitas adalah 37 ‰ dan dengan pH relatif asam yaitu 6-7. yang diperoleh dari lisis sel-sel yang telah mati (Annisa. 2000 dan Suantika. Hal ini diduga nutrisi di dalam media kultur telah banyak dimanfaatkan oleh sel Nannochloropsis sp. Kepadatan dan Laju Pertumbuhan Spesifik Nannochloropsis sp. karena mikroalga dapat hidup normal pada salinitas optimum 25-35 ‰.

Jumlah kepadatan sel dari hari pertama kultur relatif menurun. sehingga tingkat kelarutan ion-ion logam berat lebih tinggi di dalam media kultur.42 optimum 25-32 oC. hal ini didukung dengan kondisi media yang relatif asam. dimana pada hari ke-9. terdapat banyak akumulasi logam berat di dalam tubuh mikroalga yang menyebabkan pertumbuhan sel terhambat. Dengan demikian. Hari berikutnya kepadatan sel relatif konstan. 4. Laju pertumbuhan mulai menurun pada hari ke-11 dengan kepadatan sel 0. Selanjutnya kepadatan sel Nannochloropsis sp.3. Kepadatan sel maksimum sel Nannochloropsis sp. cenderung lebih kecil dibandingkan perlakuan yang lain. 2002).044.00×106 sel/mL dan laju pertumbuhan spesifik (negatif).76×106 sel/mL dan laju pertumbuhan .26×106 sel/mL pada hari ke-10.2. memasuki fase eksponensial pada hari ke-5 sampai hari ke-8. dan pH optimum berkisar 7-8 (Sylvester et al.094 dan -0. Pertumbuhan Nannochloropsis sp. sehingga jumlah kepadatan sel cenderung meningkat walaupun hanya sedikit. Kepadatan dan Laju Pertumbuhan Spesifik Nannochloropsis sp. yang diduga karena nutrisi di dalam media mulai berkurang. Selain itu. hanya mencapai 1. nilai laju pertumbuhan spesifik sel menurun menjadi -0. yaitu -0. menurun dari hari ke-14 sampai hari ke-15. Penurunan jumlah sel dapat disebabkan oleh kurang tersedianya makro dan mikronutrien yang dibutuhkan untuk pertumbuhan mikroalga. Selain itu faktor-faktor lingkungan masih sangat rentan terjadi di dalam media kultur. dengan Perlakuan Tanpa Pupuk dalam Media Logam Berat Laju pertumbuhan dan kepadatan sel Nannochloropsis sp. fase tersebut dapat dilihat dari laju pertumbuhan spesifik sel Nannochloropsis sp. ditandai dengan jumlah kepadatan sel yang menurun menjadi 8.90×106 dan 8.494..

Gambar 12. Salinitas di media kultur mencapai 37 ‰. 45 40 Kepadatan (×106 sel/ml) 35 30 25 20 15 10 5 0 1 3 5 7 Hari keChlor (Kontrol) Nanno (Kontrol) Chlor (PP) Nanno (PP) Chlor (TP) Nanno (TP) 9 11 13 15 Keterangan: PP = menggunakan pupuk. dan Nannochloropsis sp. Hal tersebut juga dapat digambarkan dengan warna media yang relatif tidak berubah dari hari pertama hingga hari terakhir kultur. menggunakan pupuk.3. Kepadatan sel Chlorella sp. dan Nannochloropsis sp. menunjukkan jumlah kepadatan sel Chlorella sp. dengan kepadatan sel 0. Perbandingan Kepadatan sel Mikroalga (Chlorella sp. TP= tanpa menggunakan pupuk Gambar 12.43×106 sel/mL.43 spesifik -0. dengan perlakuan kontrol. dan kisaran pH antara 6-7. dan Nannochloropsis sp. sehingga jumlah kepadatan sel cenderung menurun. dan tanpa pupuk .) Perbandingan jumlah kepadatan sel Chlorella sp. memperlihatkan pola pertumbuhan yang berbeda tiap perlakuan.507. 4. Selanjutnya kepadatan sel relatif menurun sampai hari ke-15. Keadaan ini juga dihambat oleh adanya faktor lingkungan di media kultur. dan Nannochloropsis sp.

pada media Kontrol Kepadatan sel Chlorella sp. Keadaan tersebut dibuktikan dengan jumlah sel yang cenderung meningkat dari hari ke-1 kultur sampai hari ke-10. mengalami satu kali puncak pertumbuhan populasi.50×106 sel/mL dan 41. relatif lebih stabil dibandingkan Nannochloropsis sp. perlakuan kontrol . dan Nannochloropsis sp. dengan jumlah sel 9. yaitu pada hari ke-10. maksimum terjadi dua kali. jauh lebih tinggi dibandingkan Chlorella sp. Sebaliknnya. Kapadatan sel Nannochloropsis sp. dan dilanjutkan penurunan jumlah sel sampai hari ke-15. dengan perlakuan kontrol. Kultivasi Chlorella sp.30×106 sel/mL. Jumlah sel maksimum pada hari ke-10 adalah 42. Sel Chlorella sp. dan dilanjutkan dengan penurunan sel yang tidak signifikan. yaitu pada hari ke-10 dan ke-14.15×106 sel/mL pada hari ke-14.44 Chlorella sp. dengan perlakuan menggunakan pupuk dan tanpa pupuk. dan Nannochloropsis sp. Grafik kepadatan sel Chlorella sp.3. 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 1 3 5 Chlorella 7 9 11 13 15 Nannochloropsis Gambar 13. Kepadatan sel Nannochloropsis sp. memiliki jumlah kepadatan sel lebih tinggi dibandingkan Nannochloropsis sp.1. 4.

50×106 sel/mL sedangkan Chlorella sp. dan menunjukkan sel masih mengalami adaptasi terhadap lingkungan kultur media. Hal tersebut dibuktikan dengan jumlah kepadatan sel Nannochloropsis sp. 31. yang terlihat melalui mikroskop lebih besar dibandingkan dengan Nannochloropsis sp.70×106 sel/ ml. . dan ditunjukkan dengan laju pertumbuhan spesifik sebesar 2. ditandai dengan jumlah sel yang meningkat relatif lebih lambat.45 Masa fase lag dari Nannochloropsis sp.00×106 sel/mL. maka ruang untuk tumbuh dan berkembang akan semakin kecil. Kepadatan maksimum Nannochloropsis sp. mencapai 42. memasuki tahap eksponensial dari hari ke-2 sampai hari ke-10. Periode eksponensial untuk sel Nannochloropsis sp. cenderung lebih besar daripada Chlorella sp. Semakin besar luas permukaan sel. yang ditandai dengan pertambahan kepadatan sel dan warna media yang berubah menjadi hijau gelap. memiliki sifat adaptasi yang sangat baik terhadap lingkungan media kultur. Peningkatan jumlah sel dalam media diduga karena luas permukaan sel Chlorella sp. Kepadatan sel Chlorella sp. lebih besar dibandingkan Chlorella sp. dengan kepadatan sel mencapai 4. ditandai dengan penambahan jumlah sel yang meningkat secara eksponensial dan warna media yang semakin pekat menjadi hijau cerah hingga hari ke-10.751. sehingga penambahan kepadatan maksimum sel Nannochloropsis sp. terjadi pada hari ke-4 sampai hari ke-10. meningkat hingga 15 kali lipat dari hari pertama kultur. Hal tersebut ditandai dengan penambahan jumlah sel kultur yang meningkat drastis pada hari ke-2. Sel Chlorella sp. terjadi kurang dari empat hari. Sel Chlorella sp. lebih besar dibandingkan dengan Chlorella sp. Masa pertumbuhan eksponensial sel Nannochloropsis sp.

dengan Nannochloropsis sp.468.30×106 sel/mL. 18 16 14 12 10 8 6 4 2 0 1 3 5 Chlorella 7 9 11 13 15 Nannochloropsis Gambar 14. sedangkan sel Nannochloropsis sp. Grafik kepadatan sel Chlorella sp. yang memiliki adaptasi lebih cepat terhadap lingkungannya. yang dibuktikan dari hari ke-6 memasuki fase eksponensial. mulai memasuki fase eksponensial..189 menjadi 0. dan Nannochloropsis sp.46 4. Fase lag Chlorella sp. Kultivasi Chlorella sp. Menggunakan Pupuk dalam Media Limbah Logam Berat Kepadatan sel Chlorella sp. dimulai dari hari ke-1 hingga hari ke-5. dengan perubahan . 9. Kultivasi mulai memasuki fase eksponensial pada hari ke-6 yang ditandai dengan perubahan laju pertumbuhan spesifik dari 0. sel Nannochloropsis sp. Adaptasi yang baik ini ditandai pada hari ke-5 kultur.2. mencapai 16.3.72×106 sel/mL. cenderung lebih besar dibanding Nannochloropsis sp. masih menunjukkan peningkatan dibandingkan sel Nannochloropsis sp. juga lebih tinggi dibandingkan Nannochloropsis sp. Hal tersebut ditunjukkan dengan kepadatan sel maksimum sel Chlorella sp. dengan menggunakan pupuk Berbeda dengan Nannochloropsis sp. Laju pertumbuhan spesifik Chlorella sp. laju pertumbuhan Chlorella sp.

sehingga kepadatan sel cenderung sedikit untuk meningkat pada hari-hari berikutnya. dengan jumlah kepadatan sel Chlorella sp. mulai mengalami pertumbuhan kembali pada hari ke-12. Pertumbuhan sel di dalam media kultur logam berat sangat dipengaruhi oleh nilai pH. Perbedaan pada fase deklinasi dapat disebabkan oleh pemanfaatan nutrisi di dalam media kultur. Dapat dilihat perbandingan antara grafik media kontrol dengan . dan 8. memasuki periode eksponensial berlangsung dari hari ke-6 sampai hari ke-10.00×106 sel/mL untuk Nannochloropsis sp.27×106 sel/mL. Pertambahan jumlah kepadatan sel Chlorella sp. turun hingga 15. dengan pemanfaatan lisis sel-sel dari sisa metabolisme yang telah mati. Sel Chlorella sp.531 dari hari ke-4 yaitu 0. dengan kepadatan sel meningkat hingga 15. dan Nannochloropsis sp. Fase deklinasi terjadi pada hari ke-11 dari sel Chlorella sp. yang memasuki periode fase eksponensial dari hari ke-5 hingga hari ke-8.. dengan kepadatan sel lebih besar daripada Chlorella sp. dengan kepadatan sel mencapai 9.431. dan hari ke-9 untuk sel Nannochloropsis sp. Pertumbuhan ini berbeda dengan sel Nannochloropsis sp. proses tersebut menegaskan bahwa Nannochloropsis sp. memiliki sifat adaptasi terhadap lingkungan kultur lebih baik daripada Chlorella sp.28×106 sel/mL.47 laju pertumbuhan spesifik menjadi 0. Sel Nannochloropsis sp. telah memaksimalkan pemanfaatan nutrisi dari pertama kultur hingga hari ke-5. Dengan demikian.17×106 sel/mL. Masa eksponensial dapat terjadi apabila ditandai dengan penambahan jumlah sel yang dimulai secara signifikan. Selanjutnya sel memasuki fase kematian yang ditandai dengan jumlah kepadatan sel menurun dari hari ke-14 sampai ke-15.

Sel Chlorella sp. Dengan demikian. mengalami laju pertumbuhan yang relatif lebih lambat daripada perlakuan lainnya. Menurut Sutomo (1991). Grafik perlakuan kontrol menunjukkan jumlah kepadatan sel jauh lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan logam berat. Hal tersebut dapat disebabkan karena rendahnya nilai derajat keasaman (pH asam) yang menyebabkan laju pertumbuhan menjadi lambat serta jumlah kepadatan sel akan semakin kecil. Penelitian Wong dan Lay (1980) dalam Prihantini et al. dengan Nannochloropsis sp. Selain hal tersebut. pertumbuhan Chlorella sp.72×106 .3.48 perlakuan media logam berat pada Gambar 12.3.4. dan Nannochloropsis sp. maupun dengan menurunnya salinitas dari 20-5 ‰. dan Nannochloropsis sp. sel Chlorella sp. menurun sejalan dengan meningkatnya salinitas. (2005) menunjukkan bahwa Chlorella pyrenoidosa yang ditumbuhkan dalam media Bristol dengan pH 7 memiliki kerapatan sel yang lebih tinggi daripada media dengan pH 6. yaitu dari 40–60 ‰. Namun. ada faktor lain yang dapat mempengaruhi kepadatan sel Chlorella sp. masih mampu tumbuh dengan kepadatan sel mencapai 1.. Salinitas dapat mempengaruhi kinerja proses fotosintesis dan pembentukan sel individu baru. Kultivasi Chlorella sp. Tanpa Pupuk dalam Media Limbah Logam berat Jumlah kepadatan sel Chlorella sp. dapat diketahui bahwa naik atau turunnya salinitas sangat berpengaruh terhadap tekanan osmosis dalam tubuh dan mekanisme osmoregulasi yang secara langsung dapat mempengaruhi sistem metabolisme yang berakibat terhadap penurunan jumlah populasi sel mikroalga. lebih stabil dibandingkan dengan sel Nannochloropsis sp. 4. yaitu kadar salinitas.

selanjutnya penurunan sel terjadi pada hari ke-14 sampai hari ke-15.60 1.49 sel/mL pada hari ke-9. . mengalami penurunan. dibandingkan dengan kepadatan sel Nannochloropsis sp. dibandingkan sel Nannochloropsis sp. dengan perlakuan tanpa pupuk Pola adaptasi Chlorella sp.26×106 sel/mL pada hari ke-10. yang ditandai dengan adanya penambahan jumla kepadatan sel dari hari ke-1 sampai hari ke-5. masih menunjukkan adanya pertumbuhan. mencapai 1. pada sistem kultur ini lebih baik daripada sel Nannochloropsis sp.00 1 3 5 Chlorella 7 9 11 13 15 Nannochloropsis Gambar 15. Grafik kepadatan sel Chlorella sp.40 0. 2.20 0. yang cenderung menurun sampai hari ke-5. dan Nannochloropsis sp.80 0.80 1. Hari berikutnya sampai hari ke-13.20 1. Pada hari ke-6 kapadatan sel Chlorella sp.00 0. Pola adaptasi ini menggambarkan pertumbuhan sel Chlorella sp.40 1. cenderung mengalami penurunan jumlah sel dari hari ke-11 sampai hari ke-15.60 0. yang mulai mengalami pertambahan kepadatan sel. dan sebaliknya dengan sel Nannochloropsis sp. jumlah sel Chlorella sp.00 1. lebih dominan dbandingkan dengan sel Nannochloropsis sp. sedangkan sel Nannochloropsis sp.

Kadmium (Cd). Chlorella sp.314 3.999 99. 4.999 99.001 0.158 1.083 98. disertai dengan adanya ion-ion logam berat dengan konsentrasi tinggi yang terdapat di dalam media kultur.212 1.110 0.002 0. Nilai konsentrasi logam berat awal dan akhir setelah kultivasi disajikan melalui Tabel 5.959 2.) dalam Media Limbah Chlorella sp.626 Konsentrasi Logam Berat pada Biomassa (mg/g) 5. Nannochloropsis sp. memiliki kapasitas serapan (bioabsorpsi) yang berbeda terhadap perlakuan ion logam berat.111 0.001 <0. Chlorella sp. Konsentrasi logam Timbal (Pb). Nannochloropsis sp.4. Sel Nannochloropsis sp. 18. Kapasitas Bioabsorpsi Mikroalga (Nannochloropsis sp. 99. Tabel 5.001 <0. Kontrol (Hari ke-15) Sisa Konsentrasi Logam Berat dalam Media (mg/L) 3. dan Chlorella sp.029 0.180 0.100 Persentase Serapan Logam Berat (%) 4.700 0.543 2.999 99. memiliki daya serap yang lebih tinggi dibandingkan Chlorella sp.733 47. dan Nannochloropsis sp.115 0.059 .950 2. salinitas tinggi. Keterangan Konsentrasi Logam Berat (mg/L) Pb Cu Cd Cr 0. Tembaga (Cu).669 52. memiliki sifat adaptasi yang lebih baik dibandingkan Nannochloropsis sp. Nannochloropsis sp. Chlorella sp.50 Hal tersebut menggambarkan bahwa sel Chlorella sp. <0. Kontrol (Hari ke-0) 2.210 1.285 1. dan Kromium (Cr ) pada media limbah logam berat No.260 23..001 <0.999 84.127 0. dan pH yang berfluktuatif.182 0. dan mampu bertahan hidup walaupun di lingkungan yang ekstrim miskin nutrisi.

dari kontrol yaitu meningkat hampir 40%. Intensitas cahaya (lampu neon) yang diberikan pada media kultur mempengaruhi konsentrasi akhir logam berat. Peningkatan konsentrasi ini diduga karena adanya penguapan dari media kultur yang disebabkan oleh intensitas cahaya yang berasal dari lampu neon 40 watt saat kultur. 2004) mengenai pedoman penetapan baku mutu lingkungan. karena intensitas aerasi yang tinggi dapat mempengaruhi kualitas air media. ion logam berat mengalami perubahan. Contoh penghitungan dapat dilihat pada Lampiran 3. dan logam berat Cr meningkat 1% dari konsentrasi logam berat awal. Cd. ion logam Cu meningkat hingga 36% dari konsentrasi awal.51 Berdasarkan nilai yang disajikan oleh Tabel 5 di atas. dalam penelitian ini dilakukan kajian adsorpsi (penyerapan) logam berat oleh mikroalga Chlorella sp. Hal tersebut berpengaruh pada pemekatan konsentrasi logam yang ada pada media. ion logam Cd meningkat 11% dari konsentrasi awal. Selain itu. yang ditandai dengan adanya kerak berwarna kehijauan yang menempel pada toples media kultur. Secara khusus. 2004). . aerasi atau pengadukan juga ikut membantu proses penguapan dari media. Dalam penelitian ini dipilih logam berat Pb. dan Cr karena ion logam-logam tersebut memiliki tingkat konsentrasi melebihi NAB (Nilai Ambang Batas) yang telah ditetapkan oleh Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup (KMNLH. 1981 dalam Haryoto. Ion logam Pb meningkat hingga 40% dari konsentrasi logam Pb awal. Cu. dari lingkungan yang tercemar logam berat di perairan laut. Logam berat tersebut juga merupakan pencemar lingkungan laut karena memiliki sifat racun yang tinggi serta terakumulasi dalam hati dan ginjal melalui ikatan yang kuat dengan residuresidu dari metalotionin (Faust dan Aly. dan Nannochloropsis sp.

2004). 82 tahun 2001. Cu.700. Menurut KMNLH No.008 ppm untuk kepentingan biota-biota di lingkungan perairan laut dan juga berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. mekanisme perlindungan ini melibatkan penbentukan kompleks-kompleks logam dengan protein dalam sel.210 ppm. 51 Tahun 2004 NAB (Nilai Ambang Batas) dari logam berat Pb. Dengan demikian.008. konsentrasi logam berat Pb. Menurut Connel (1990) dalam Haryoto (2004). Cd. 0. dan Nannochloropsis sp. akumulasi dapat menganggu pertumbuhan sel. dan 0. 0. Cd. Pada dasarnya alga atau ganggang memiliki permukaan yang bermuatan negatif tinggi sehingga dapat menarik logam berat yang memiliki muatan positif yang kuat (Oswald. Mikroalga. Pada konsentrasi logam yang tinggi. 1988). Selain itu. seperti halnya organisme lain memiliki mekanisme perlindungan untuk mempertahankan kehidupannya. Pemilihan jenis mikroalga ini dikarenakan spesies tersebut merupakan salah satu dari spesies mikroalga yang memenuhi persyaratan sebagai bioindikator pencemaran perairan dan mudah untuk dibudidayakan (Arifin. dan Cr sebaiknya kurang dari .110. dan Cr berturut-turut adalah 0. 0.115. dan 0. konsentrasi logam berat dalam media kultivasi menggunakan limbah logam berat tidak berpotensi menghambat laju pertumbuhan dari kedua spesies mikroalga tersebut. setiap sel dengan luas permukaan yang berbeda juga mempengaruhi kapasitas serapan dari ion-ion logam berat. Cd. 0. 1997 dalam Haryoto. yaitu Chlorella sp. sehingga logam dapat terakumulasi dalam sel tanpa menganggu aktivitasnya. Cu. karena sistem perlindungan organisme tidak mampu mengimbangi efek toksisitas logam. Cu.52 Penelitian ini menggunakan dua spesies mikroalga. Konsentrasi awal logam berat Pb. dan Cr berturut-turut adalah 0.001.008.

hal tersebut mempengaruhi kapasitas serapan logam berat dari masing-masing sel mikrolaga. menunjukkan bahwa pH optimum akumulasi Pb2+ .01. Kapasitas serapan ini dapat terlihat dari persentase serapan ion logam berat yang mencapai hampir 100%. dan Cr) dapat mempengaruhi kapasitas serapan dari masing-masing ion logam berat. Sel Chlorella sp. luas permukaan sel dari Nannochloropsis sp. Perbedaan diduga karena tiap sel mikroalga memiliki daya serap yang berbeda-beda. sehingga kepadatan sel Nannochloropsis sp. Hal tersebut diduga terjadi karena dalam suatu wadah dengan kapasitas volume yang sama.53 0. Cu. yang diamati lebih tinggi dibandingkan Chlorella sp. dan 0. luas permukaan sel dari masingmasing jenis mikroalga juga memperngaruhi laju serapan logam berat oleh mikroalga tersebut. Kapasitas serapan yang tinggi dapat disebabkan oleh adanya faktor lingkungan yang mendukung pertumbuhan mikroalga dan tingkat kelarutan logam berat di dalam media kultur. memiliki kapasitas serapan lebih baik dibandingkan Chlorella sp. (2-8 µm).) dan jenis logam berat sebagai adsorbat (Pb. lebih kecil (2-4 µm) dibandingkan Chlorella sp. tergantung dari kandungan gugus fungsional dari dinding sel dan pertukaran ion yang terjadi pada permukaan selnya.01 ppm. Cd. dan Nannochloropsis sp.01. Menurut penelitian yang pernah dilakukan oleh Suh et al. 0. 0. dan Nannochloropsis sp.03. Hasil akhir penelitian menunjukkan bahwa biomassa sel Nannochloropsis sp. Selain itu. Penelitian ini telah memperlihatkan bahwa perbedaaan jenis mikroalga sebagai adsorben (Chlorella sp. memiliki daya serap yang tinggi terhadap ion logam berat. (1999) dalam Triyatno (2004) mengenai pengaruh pH terhadap akumulasi Pb2+ dari limbah industri oleh mikroorganisme. Dengan demikian.

Proses akumulasi kedua mikroorganisme tersebut jelas berbeda. Cu. sedangkan Aureobasidium pullulans pada pH 6-7. dan Cu. (2005) bahwa logam Cr(III) mudah diendapkan atau diabsorpsi oleh senyawa-senyawa organik dan anorganik pada pH netral atau alkalin (basa). et al. dengan kapasitas penyerapan hingga 90%. Konsentrasi akhir logamlogam berat tersebut secara keseluruhan diduga telah berada di bawah NAB (Nilai Ambang Batas) dari ion logam berat yang berbahaya bagi makhluk hidup yang diputuskan oleh KMNLH No. dan Nannochloropsis sp. Logam berat Cr memiliki kapasitas serapan sebesar 50% dibandingkan dari rata-rata serapan logam keseluruhan (Pb. Hal tersebut diduga karena kelarutan ion logam Cr lebih tinggi dalam kondisi media basa. dan Cd) >80%. 51 Tahun 2004 khususnya di perairan laut. Berbeda dengan hasil serapan logam berat Pb. ion Pb2+ dapat menembus ke dalam bagian dalam sel. Cd. cerevisiae. . Secara keseluruhan. Ion logam yang memiliki valensi lebih dari 2 biasanya memiliki kelarutan ion pada kondisi basa. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan Kimbrough. sedangkan pada A. mekanisme serapan logam berat hampir mencapai optimum. karena pada S.54 pada Saccharomyces cerevisiae adalah pH 4-5. (1999) dalam Slamet et al. Dengan demikian. pullulans akumulasi hanya terjadi pada bahan polimerik ekstraselular di sekitar permukaan sel. pH memegang peranan penting dalam kapasitas serapan logam berat oleh Chlorella sp.

5. . dan Nannochloropsis sp. dan Nannochloropsis sp. Salinitas media ini merupakan salinitas optimum dengan kisaran 25-32 ‰ (Sylvester et al. Salinitas media meningkat karena terjadi penguapan akibat pengaruh dari panas lampu yang digunakan saat kultivasi. Perubahan salinitas pada media kultur dapat dilihat dari Gambar 16. 2002).5.00 1 3 Chlor (PP) 5 7 9 11 13 15 Chlor (TP) Nanno (PP) Nanno (TP) Keterangan: PP = menggunakan pupuk. dan Nannochloropsis sp. Chlorella sp. Salinitas awal pada kultivasi Chlorella sp.. Salinitas Salinitas air media kontrol relatif meningkat setiap harinya. dan salinitas akhir adalah 40 ‰.55 4.00 40. Salinitas yang digunakan hari ke-1 kultur adalah 27 ‰.1.00 35. adalah 27 ‰. 55. memiliki salinitas maksimum pada hari ke-15 sebesar 40 ‰. Kenaikan salinitas pada media kultur berkorelasi positif terhadap waktu. Hal tersebut dapat diduga karena adanya penguapan dari media kultivasi.00 45. TP= tanpa menggunakan pupuk Gambar 16. Kualitas Air Media Kultur 4. Salinitas media limbah logam berat Chlorella sp.00 50. memiliki salinitas maksimum pada hari ke15 sebesar 39 ‰.00 30.

dan Nannochloropsis sp.56 Selain itu. dan Nannochloropsis sp.05). terjadi pada hari ke-1 hingga hari ke-6 dan ke-7. sehingga mengakibatkan perubahan pada salinitas. dengan perlakuan pupuk ini adalah pada hari ke-15 sebesar 51 ‰ dan 50 ‰ untuk kultur Chlorella sp. dan Nannochloropsis sp. Salinitas maksimum kultur Chlorella sp. adalah 37 ‰. Pengaruh tersebut dibuktikan melalui uji validitas Pearson yang . sehingga salinitas terus meningkat dengan bertambahnya waktu. Hal tersebut dikarenakan salinitas optimum untuk pertambahan kepadatan sel mikroalga adalah kisaran 25-32 ‰. Berdasarkan analisis validitas Pearson. Uji lanjut regresi (lampiran 4) memperlihatkan bahwa perubahan salinitas mempengaruhi kepadatan sel Chlorella sp. (p<0. Keadaan ini dapat diduga salinitas optimum Chlorella sp. Bertambahnya salinitas dapat mempengaruhi secara nyata pertambahan jumlah kepadatan sel kultur dari kedua media. Panas dari lampu neon menguapkan air dalam media dan meninggalkan garam di dalam media kultur. Salinitas air pada media perlakuan pupuk relatif meningkat dan berkorelasi positif terhadap waktu yang diduga karena adanya penguapan yang terjadi di dalam media kultur. adalah 50 ‰ (Lampiran 6). dan Nannochloropsis sp. Penguapan ini berasal dari lampu neon 40 watt serta aerasi dari media kultur. Salinitas awal media kultur Chlorella sp. Selain itu. sedangkan salinitas akhir media Chlorella sp. salinitas memiliki korelasi positif terhadap jumlah kepadatan sel Chlorella sp. 51 ‰ dan Nannochloropsis sp. faktor yang cukup berpengaruh lainnya adalah pengadukan media kultur yang membantu terjadinya penguapan air media. dan Nannochloropsis sp. kenaikan salinitas juga diduga berasal dari pengadukan media kultur dari aerator sehingga mengakibatkan terjadinya penguapan.

pengaruh salinitas ini didukung . dan tidak mempengaruhi kepadatan sel Nannochloropsis sp. terjadi pada hari ke-12 sebesar 45 ‰. 2007). Selanjutnya salinitas pada akhir kultur Chlorella sp.. dan tidak berpengaruh terhadap kepadatan sel Nannochloropsis sp. Aerasi yang tidak diberikan dalam media kultur juga merupakan faktor utama salinitas meningkat. Mikroalga hampir tidak dapat bertahan hidup dengan kadar salinitas 0 ‰ dan 60 ‰ (Hirata. Berdasarkan uji validitas Pearson. secara nyata. salinitas meningkat drastis menjadi 45 ‰ dalam waktu 24 jam. Peningkatan konsentrasi salinitas dapat diduga karena adanya penguapan dari media kultur yang berasal dari lampu neon 40 watt.05).00 ×106 sel/mL dengan perlakuan salinitas 50 ‰ (Sutomo. dapat mencapai 60. adalah 37‰. melalui media dengan kadar garam lebih besar dari 50 ‰ seharusnya masih memiliki kesetimbangan biologis terhadap metabolisme tubuh dan kesetimbangan ekologis terhadap media kultur. karena tanpa adanya pengadukan menyebabkan panas dari media menyebar di dalam media kultur. adalah 45 ‰. Salinitas pada hari pertama kultur Chlorella sp. Kepadatan sel Chlorella sp. Hal ini dapat diduga kepadatan sel Chlorella sp.57 menyatakan bahwa salinitas dapat mempengaruhi kepadatan sel Chlorella sp. Salinitas maksimum kultur Chlorella sp. Selanjutnya. dan salinitas akhir media kultur adalah 43 ‰. salinitas pada perlakuan tanpa menggunakan pupuk berpengaruh terhadap jumlah kepadatan sel Chlorella sp. 1991). terjadi pada hari ke-9 dan hari ke13 sebesar 46 ‰. Salinitas media tanpa perlakuan pupuk fluktuatif dengan bertambahnya waktu. Salinitas maksimum kultur Nannochloropsis sp. dan Nannochloropsis sp. (p<0. 1981 dalam Rostini.

adalah 6-8. (p<0. 2009). dengan kisaran 6-7. dapat diduga karena adanya perubahan kelarutan CO2 dan mineral di dalam media pertumbuhan (Suantika.67. Perubahan derajat keasaman dalam media kultur Chlorella sp. Secara umum sejak pengamatan hari ke-7 hingga hari ke-15 seluruh media logam berat dengan perlakuan pupuk mengalami peningkatan pH (Lampiran 6). Derajat Keasaman (pH) Derajat keasaman pada media kultur berfluktuatif. Kisaran perubahan pH media kultur Chlorella sp. pH media limbah logam Chlorella sp.5 7 pH 6. pH awal kultur Chlorella sp.2. dan 7. TP= tanpa menggunakan pupuk Gambar 17. 8.5 4 1 3 5 Chlorella (PP) Chlorella (TP) 7 Hari Nannochloropsis (PP) Nannochloropsis (TP) 9 11 13 15 Keterangan: PP = menggunakan pupuk. dan Nannochloropsis sp. .5 8 7. adalah 8. Hal tersebut kemungkinan disebabkan adanya aktivitas fotosintesis Chlorella sp. adalah 6.5.05).58 dengan uji regresi linear yang menunjukkan bahwa perubahan salinitas mempengaruhi kepadatan sel Chlorella sp. 4. dan Nannochloropsis sp. dan Nannochloropsis sp.5 5 4.67 untuk Nannochloropsis sp. dan pada akhir kultur untuk Chlorella sp.5 6 5. dan Nannochloropsis sp.

Amonium dihasilkan melalui proses disosiasi amonium hidroksida.. Amonium (NH4+). Pada saat fotosintesis. (2005).M. Amonium hidroksida merupakan amonia yang terlarut dalam air. Kandungan logam berat dapat terlarut dalam keadaan pH yang lebih asam dibandingkan lingkungan sekitarnya. Peningkatan nilai pH pada media perlakuan logam berat Chlorella sp. nitrat (NO3-). Beberapa penelitian memperlihatkan bahwa pH mempengaruhi konsentrasi dan tingkat kelarutan logam berat dalam sel Chlorella sp.) berupa amonium. CO2 bebas merupakan jenis karbon anorganik utama yang digunakan mikroalga. sehingga perlakuan yang diberikan terhadap media menggunakan pH berkisar 6. 2005). 2005). Pada umumnya. Hal ini digambarkan oleh Pawlik et al. reaksi pembentukan amonium adalah sebagai berikut: NH3 + H2O NH4OH NH4+ + OH- Bila reaksi di atas bergerak ke kanan maka konsentrasi amonium di dalam media akan meningkat dan pH media kultur menjadi basa. 2005).. 1983 dalam Prihantini et al. (1998). bahwa mikroalga jenis .. juga disebabkan oleh terjadinya penguraian protein dan persenyawaan nitrogen lain. dan nitrit (NO2-) merupakan bentuk senyawa nitrogen anorganik yang telah mengalami penguraian (Darley. 1982 dalam Prihantini.. W. 1993 dalam Prihantini et al. senyawa nitrogen yang digunakan dalam metabolisme sel mikroalga (Chlorella sp. Penyerapan CO2 bebas dan bikarbonat oleh mikroalga menyebabkan penurunan konsentrasi CO2 terlarut dan mengakibatkan peningkatan nilai pH (Sze. Mikroalga juga dapat menggunakan ion karbonat (CO32-) dan ion bikarbonat (HCO3-) (Goldman et al.. Menurut Goldman dan Horne (1983) dalam Prihantini et al.59 dan Nannochloropsis sp.

pH awal dari media kultur Chlorella sp. Indeks Korelasi Pearson pengaruh salinitas dan pH pada Chlorella sp. logam berat Pb sebagai ion bebas berada pada pH di bawah 7. yang dapat dibuktikan dengan uji regresi linear yang menunjukkan bahwa pH mempengaruhi kepadatan sel Chlorella sp.1. yang ditunjukkan menggunakan regresi linear.05). Tabel 6. adalah 6. Hal ini menunjukkan bahwa sel Chlorella sp.05. dan 8 pada saat akhir kultur. pH mempengaruhi kepadatan sel Chlorella sp. dan tidak mempengaruhi kepadatan sel Nannochloropsis sp. Uji korelasi validitas Pearson ini dapat dilihat pada Tabel 6. Uji pH kepadatan salinitas Korelasi Pearson Kepadatan 1 0.05 Hal tersebut ditegaskan dari penelitian yang pernah dilakukan oleh Wong dan Lay (1980) dalam Prihantini et al.755** Salinitas 0. (1998) juga mengatakan.. Uji validitas Pearson memperlihatkan bahwa pH tidak mempengaruhi jumlah kepadatan sel Chlorella sp. serta Nannochloropsis sp.884** 1 ** = Korelasi signifikan pada level 0.942** 0. (p<0. dan tidak mempengaruhi Nannochloropsis sp. . dan 6-7 untuk Nannochloropsis sp. Vuceta dan Morgan (1978) dalam Pawlik et al.942** 1 0. (2005) mendapati kultivasi Chlorella pyrenoidosa yang ditumbuhkan dalam media Bristol pH 7 memiliki kerapatan sel yang lebih tinggi daripada media pH 6.884** pH 0. Menurut uji validitas Pearson.755** 0. telah dipengaruhi kondisi keasaman media dengan kondisi pH 6.60 Chlorella kessleri mampu menyerap dengan baik logam berat Cu dengan pH optimum antara 6 dan 7.4. Perubahan derajat keasaman pada media kultur tanpa perlakuan pupuk adalah 6-8 untuk Chlorella sp. memiliki nilai pH awal 6 dan pH akhir 6. dan Nannochloropsis sp. dengan p>0.

pada perlakuan menggunakan pupuk dan tanpa pupuk. Berdasarkan nilai kapasitas bioabsorpsi. perlakuan kontrol memiliki laju pertumbuhan spesifik dan kepadatan maksimum lebih rendah dibandingkan sel Nannochloropsis sp. . memiliki nilai µmaks dan kepadatan maksimum lebih tinggi dibandingkan sel Nannochloropsis sp. sedangkan intensitas penyerapan paling rendah adalah pada logam berat Cr. Kesimpulan Kultivasi dengan menggunakan sel Chlorella sp. memperlihatkan bahwa sel Chlorella sp. dan Nannochloropsis sp. Kualitas air media kultivasi (pH dan salinitas) mempengaruhi laju pertumbuhan Chlorella sp. memiliki laju serapan logam berat lebih rendah dibandingkan sel Nannochloropsis sp. pada perlakuan media menggunakan limbah logam berat Chlorella sp. yang diperlihatkan dari nilai kapasitas bioabsorpsi dari kedua spesies tersebut. Intensitas penyerapan logam berat tertinggi pada kedua sel mikroalga adalah terdapat pada logam berat Pb dan Cu. dan Nannochloropsis sp. Sebaliknya.1. perlakuan kontrol memiliki tingkat pertumbuhan teringgi dan laju pertumbuhan spesifik teringgi dibandingkan perlakuan menggunakan pupuk dan tanpa pupuk. Perlakuan menggunakan pupuk memperlihatkan bahwa pH dan salinitas mempengaruhi pertumbuhan Chlorella sp. yang memperlihatkan bahwa µmaks dan kepadatan maksimum tertinggi ditemukan pada perlakuan kontrol. KESIMPULAN DAN SARAN 5.61 5. Begitu pula dengan sel Nannochloropsis sp. memperlihatkan bahwa.. Perbandingan laju pertumbuhan spesifik maksimum dan kepadatan sel maksimum sel Chlorella sp. Chlorella sp.

2.62 5. . Saran Penelitian selanjutnya perlu dilakukan pengujian kandungan lipid (fatty acid) yang terdapat di dalam sel mikroalga dan pengujian terhadap waktu untuk mencapai kesetimbangan mikroalga dalam menyerap logam berat.

Wulan Sari. 16-20 Juni 2009. Situbondo. 2004. Anon. Surakarta.. Lembaga Pengabdian Pada Masyarakat. Pelatihan MPM-CPIB Pembenihan Udang. Pedoman Penetapan Baku Mutu Lingkungan. 2004. Lingkungan Perairan Laut. Januar. Respon Chlorella pyrenoidosa terhadap Senyawa Klorporifos. Kep-51/MENEGLH/ 2004. 5(2): 89-103. Kinetika Bioakumulasi Logam Berat Kadmium oleh Fitoplankton Chlorella sp. Departement of Basic Aquatic Sciences. 17(4): 196-200. Elazig. Sen M. Departemen Biologi. Bandung. M. Fakultas Farmasi. 2008. KS Wong and Vigers Eds) Asean Canada CPMS II. Tesis. KMNLH. Cahyaningsih.63 DAFTAR PUSTAKA Annisa. Proceeding of Asean Canada Midterm Technical Review Conference on Marine Science. Tulang Bawang. Hal: 273-275 Kawaroe.. Singapore 24-28 Oktober 1994. H. Universitas Muhammadiyyah. Sekretariat Negara. Bogor.A. Hutagalung. Faculty of Aquaculture.T. Plankton di Lingkungan PT. . Nannochloropsis oculata (Eustigmatophyta). Heavy Metals Content in Sediment in Jakarta Bay. S.T. W. Vol. Prartono. Situbondo. Studies on Growth Marine Microalgae in Batch Cultures: III. T. 2010. Kawaroe. HAYATI Journal of Biosciences. dan H. Mikroalga sebagai Bahan Baku Biofuel. Asian Journal of Plant Sciences 4(6) : 642-644.A. Turkey. Kantor Menteri Negara Kependudukan Lingkungan Hidup 2004. Alp. Advance in Marine Environmental Management and Human Health Protection (Watson D.. Dalam : Asean Criteria and Monitoring. Standar Nasional Indonesia Pembenian Perikanan (Pakan Alami). Central Pertiwi Bahari. Jakarta. Augustine. Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup. 2009. 2003. Laboratorium Central Department. Vol. Firat University. Kocer M. Erbas. Balai Budidaya Air Payau Situbondo. Jurnal Penelitian Sains dan Teknologi. Institut Pertanian Bogor. Fatty Acid Content of Indonesian Aquatic Microalgae. 2009. Edhy. Institut Teknologi Bandung. Central Pertwi Bahari. Indonesia. Aquaculture Division PT. dan Kurniawan. 1995. M. Haryoto dan Wibowo. 2005. Surfactant and Bioenergy Research Centre.

Rostini. 2005. Microalgal Biotechnology. 1-14 Februari 2001.. Bandung. Sinergy Forum – PPI Tokyo Institute of Technology.) pada Skala Laboratorium di Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian Bojonegara. Worapanne. cambridge University Press. 2000. Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi – LIPI Jakarta. 1991.A and Borrow L.G. dan Tetraselmis sp. Universitas Indonesia.J. p: 101-102 Prihantini. dalam Medium Ekstrak Tauge (Met) Dengan Variasi pH Awal. Sorawit. Poland. Institut Teknologi Bandung. Karakteristik Pertumbuhan Beberapa Jenis Diatomae dalam Kultur Laboratoris. R. Lublin. Sutomo. .. 2004. Putri. Depok.. dan CdS-TiO2. Indonesia. Cambridge. Skowronska. Institute of Technology. Diseminarkan pada Lustrum VII Fakultas Bioologi UGM.B. Pingkan. B. Teknologi. Departemen Teknik Gas dan Petrokimia.. Pirszel. Optimal Growth Conditions and the Cultivation of Chaetoceros calcitrans in Airlift Photobioreactor. Fakultas Teknik. Panggabean. Pengaruh Kepadatan Awal Inokulum terhadap Kualitas Kultur Chaetoceros gracilis (Schuut) pada Sistem Batch. Universitas Padjajaran.. W. Tesis.64 Krichnavaruk. 2009. Micro-algae and Wastewater Treatment. dan Daryanto. 1998. Departemen Biologi Fakultas MIPA. 1988. Slamet. Experimental Station. Seminar Lustrum IX Fakultas Biologi dan Kongres I Kabiogama.M. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.J. Puslitbang Oseanologi-LIPI. Pertumbuhan Chlorella spp. Suantika. Arbianti. Makara. Kultur Fitoplankton (Chlorella sp. ZnO-TiO2. Jurnal Biologi. M. Karya Ilmiah. Pengaruh Salinitas dan pH Terhadap Pertumbuhan Chlorella sp. The Sorption and Removal of Heavy Metals by Algal Biomasses. Oswald. G. 1(1): 39-47. Depok. Edited by Borowtzka. dan Yuniati. Jakarta. 2005. dan Skowronski. N. 2007. XVIth Symposium. Polish Academy of Science. dan Sutomo. Disampaikan pada Seminar On-Air Bioteknologi untuk Indonesia Abad 21. Makalah. Universitas Indonesia. I.. 9(2): 66-71. dan Prasert. Bioremoval Logam Berat dengan Menggunakan Mikroorganisme: Suatu Kajian Kepustakaan (Heavy Metal Bioremoval by Microorganisme: A Literature Study). Chemical Engineering. Bandung. 105: 91-98. Yogyakarta. Suhendrayatna. 22-24 September 2000. Pengolahan Limbah Organik (Fenol) dan Logam Berat (Cr6+ atau Pt4+) Secara Simultan dengan Fotokatalis TiO2. 2001. L. S. Pawlik. dan Yusuf.

K. Triani. Proyek Pengembangan Udang. Biologi Fitoplankton. E. 100: 2828-2831. Bioresource Technology..V.S. United nations development Programme. Universitas Negeri Semarang. 8(1): 24-28. Kapasitas Adsorpsi Alga Chlorella sp. 2004. Monitoring and Control in India. Nelvy. Vinithkumar. Desorpsi Ion Logam Tembaga (II) dari Biomassa Chlorella sp yang Terimobilisasi Dalam Silika Gel. [Diunduh tanggal 15 Maret 2011] Yefrida. Semarang. 2008. 2006.. 2004.) as a sorbent for cadmium ion in water. Transesterification of Nannochloropsis oculata microalga’s lipid to biodiesel on Al2O3 supported CaO and MgO catalyst. Regeneration and reuse sawdust powder from Kayu Meranti (Shorea sp. R. Jurnal of Biotechnology. N. Petunjuk Pemeliharaan Kultur Murni dan Massal Mikroalga. 2002. Teknologi. 2004. Copper Removal from Aqueous Solution by Marine Green Algae Ulva reticulata. 7(1): 61-71.. Mert.65 Sylvester. Marine Pollutions: A Perspective. dan Erol.org/artikel_kimia/biokimia/ alga_sebagai_bioindikator _dan_biosorben_logam_berat_bagian_2 _biosorben/.chem-is try. Electronic Journal of Biotechnology. 1990. 9: 3-23. dan Sudjiharno. Palanivelu and Velan. Jurusan Kimia Universitas Negeri Semarang. Umdu. Vijayaraghavan. Food and Agriculture Organizations of the United Nations. L. Taw. Budidaya Fitoplankton dan Zooplankton. Balai Budidaya Laut Lampung. . Makara. Jegan. N. Triyatno. B. http://www. Semarang. Jurusan Kimia FMIPA. yang Diimobilisasi dalam Silika Gel Terhadap Ion Logam Cu dalam Limbah Kuningan. Refilda. Kamila. 2009.

LAMPIRAN .

. Penyelesaian : N = Kelimpahan (sel/ml) = 20 × (25/5) × 104 = 100×104 Jadi jumlah sel pada ulangan 1 didapat 100×104 sel/ml. dan Nannochloropsis sp. Contoh: Pengamatan pada Chlorella sp.66 LAMPIRAN Lampiran 1 Penghitungan kelimpahan Chlorella sp. pada hari ke-1 pada ulangan 1 diperoleh N = 20. Kepadatan (ind/ml) = 104 ……………… (1) Bidang Pengamatan Pengamatan dilakukan dengan 3 kali pengulangan.

Waktu awal. Contoh: Nannochloropsis sp. Laju pertumbuhan spesifik (µ) hari ke-2 adalah µ = . . (2) Kepadatan populasi pada waktu ke-t. = 0. µ= dimana : Nt = No = To = Tt = ………………………….28 Laju pertumbuhan spesifik maksimum (µmaks) adalah µ = . Waktu pengamatan Laju pertumbuhan spesifik maksimum dihitung dari kelimpahan pada saat awal kultur hingga puncak kelimpahan maksimum.063×106 sel/ml.717×106 sel/ml. Kepadatan populasi sel pada waktu ke-0. dan kepadatan hari ke-3 = 2. (2004).00×106 sel/ml. yang memiliki kepadatan pada hari ke-1 = 1. = 0. . kepadatan hari ke-2 = 2.dengan perlakuan pupuk pada media limbah logam berat.19 . = 0. .67 Lampiran 2 Penghitungan laju pertumbuhan spesifik mikroalga Laju pertumbuhan spesifik (µ) mikroalga dihitung dengan rumus berikut menurut Krichnavaruk et al.72 Laju pertumbuhan spesifik (µ) hari ke-3 adalah µ = .

203 0. (3) 1000W Dimana : qe V = Kapasitas bioabsorpsi (mg Pb.. Cr....003 mg/L...68 Lampiran 3 Penghitungan kapasitas bioabsorpsi logam berat qe = (Ci − C e )V .636 0.636 + 2. U2 = 0. Cd...203) / 3} = 2. dan siap diukur menggunakan AAS. Penyelesaian: U1 qe = (0. Cu) dalam larutan (mg/l)..0713 qe = U2 (0.0569 qe (Urata-rata) {(2.0713 gram.. Cd..0569 qe = U3 (0.314 mg/g ....104 0.. Cu) dalam larutan (mg/l).0569. mg / g . Besarnya nilai konsentrasi logam Cd yang terbaca di AAS adalah 0..... Cu) /g biomassa Mikroalga).0681. Cr....104 + 2.003)50 =2. Pada ulangan pertama (U1) adalah 0. Cd. Ci = Konsentrasi ion (Pb.... Biomassa sel dilarutkan ke dalam media cair 50 ml.. W adalah massa sel (g) Ce = Contoh: Diketahui berat kering biomassa sel Chlorella sp... dan U3 = 0.... Cr. Konsentrasi akhir atau keseimbangan ion (Pb.. = Volume larutan dalam wadah gelas atau erlenmeyer dengan kontak batch (ml)...003)50 = 2...003)50 =2.

69

Lampiran 4 Uji validitas Pearson dan uji lanjut regresi Uji validitas Pearson dilakukan dengan menggunakan SPSS. Uji validitas Pearson digunakan untuk melihat korelasi dua variabel pada penelitian yang dilakukan dengan derajat signifikan 0,05. Variabel yang digunakan pada penelitian ini adalah kepadatan mikroalga dan kualitas air (pH dan salinitas). Penggunaan uji Pearson pada penelitian ini dengan membuat tabel yang memiliki empat kolom, pertama adalah kepadatan mikroalga dan kolom lainnya adalah kualitas air. Contoh: Kepadatan Chlorella sp. dan kualitas air perlakuan menggunakan pupuk.

Menu yang dipilih adalah Analyze, Correlate, Bivariate, dan Pearson.

Apabila terlihat ada hubungan maka dilanjutkan dengan uji lanjut menggunakan analisis regresi. Contoh: Salinitas dan pH memiliki korelasi dengan kepadatan sel.

Lanjutan Lampiran 4.

70

Uji lanjut regresi menggunakan software minitab. Hal yang pertama kali dilakukan adalah membuat dua kolom, untuk variabel x dan y. kemudian melihat bentuk grafik dengan memilih menu Graph, Scatterplot, dan masukkan variabel x dan y. Kemudian menentukan pola grafik yang terbentuk, linear, kuadratik, atau kubik.

Pola yang terbentuk dari kelimpahan Chlorella sp. dan salinitas adalah linear. Kemudian dilanjutkan dengan melihat pengaruh salinitas terhadap kepadatan dengan cara masuk ke menu Stat, Regression, Fitted line plot, masukkan variabel x dan y dan pilih linear.

Hasil yang didapat adalah salinitas mempengaruhi kepadatan sel Chlorella sp. Hal ini dapat dilihat dari nilai P linear yang kurang dari 0,05.

71

Lampiran 5 Kepadatan dan laju pertumbuhan spesifik Chlorella sp. dan Nannochloropsis sp. Tabel 7. Kepadatan dan laju pertumbuhan spesifik Chlorella sp. dengan perlakuan kontrol No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Hari Senin Selasa Rabu Kamis Jum'at Sabtu Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jum'at Sabtu Minggu Senin Tanggal 14-03-11 15-03-11 16-03-11 17-03-11 18-03-11 19-03-11 20-03-11 21-03-11 22-03-11 23-03-11 24-03-11 25-03-11 26-03-11 27-03-11 28-03-11 Kepadatan sel (×106 sel/ml) 0,30 4,70 9,10 10,35 15,35 20,45 22,60 24,40 27,70 31,00 28,65 28,70 25,40 19,15 9,30 µ 2.752 0.661 0.129 0.394 0.287 0.100 0.077 0.127 0.113 -0.079 0.002 -0.122 -0.282 -0.722 µmaks 0,515 -

48 3.00 2.73 14.40 15.034 0.Lanjutan Lampiran 5.85 14.90 12.85 16.89 9.468 0. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Hari Senin Selasa Rabu Kamis Jum'at Sabtu Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jum'at Sabtu Minggu Senin Tanggal 14-03-11 15-03-11 16-03-11 17-03-11 18-03-11 19-03-11 20-03-11 21-03-11 22-03-11 23-03-11 24-03-11 25-03-11 26-03-11 27-03-11 28-03-11 1 1.84 3.45 18.72 16.80 13.068 .00 13.00 21.00 2.95 5.14 3.05 Rata-rata (×106 sel/ml) No.70 10.95 15.35 13. dengan perlakuan menggunakan pupuk pada media limbah logam berat Pengulangan (×106 sel/ml) 2 1.55 12.21 5.75 15.47 4.45 12.77 16.68 9.189 0.78 6.102 0.55 11.078 0.27 0.45 17.235 -0.50 12.41 10.00 3.15 16.00 1.69 15.908 0. Kepadatan dan laju pertumbuhan spesifik Chlorella sp.33 10.309 0.60 11.368 0.88 5.75 18.17 14.20 10.45 13.28 9.08 8.58 4.85 17.178 -0.42 11.33 16.55 18.090 0.33 15.55 8.74 12. 72 Tabel 8.027 0.16 4.10 µ µmaks 3 1.38 3.90 6.023 -0.65 1.120 0.

43 1.26 1.56 1.54 1.47 1.72 1.44 1.17 1.68 1.00 1.27 1.022 -0.28 1.23 1.106 0.16 1.99 0.52 1.044 µmaks 0.56 1.00 1.77 1.09 2.34 1.221 0.19 1.62 1.99 2.026 -0.21 2.12 Rata-rata (×106 sel/ml) µ 0.03 1.068 - 1.20 1.56 1.160 0.137 0.48 1.126 -0.17 1.23 1. 73 Tabel 9.35 1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Hari Senin Selasa Rabu Kamis Jum'at Sabtu Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jum'at Sabtu Minggu Senin Tanggal 14-03-11 15-03-11 16-03-11 17-03-11 18-03-11 19-03-11 20-03-11 21-03-11 22-03-11 23-03-11 24-03-11 25-03-11 26-03-11 27-03-11 28-03-11 1 1.16 1.50 1.74 2.56 1.34 3 1.00 1.80 1.68 1.Lanjutan Lampiran 5. Kepadatan dan laju pertumbuhan spesifik Chlorella sp.37 0.23 1.00 0. dengan perlakuan tanpa menggunakan pupuk pada media limbah logam berat Pengulangan (x106 sel/ml) No.72 1.013 -0.30 1.17 1.35 1.77 1.360 -0.34 1.90 2 1.40 1.41 1.07 1.051 0.12 .051 0.150 -0.69 1.062 -0.90 2.32 1.46 1.38 1.

30 28. dengan perlakuan kontrol No.90 µ 2.371 -1.097 0.65 14.239 0.193 -0.752 0.174 0.60 35.05 31.386 0.627 0.335 0.550 -0. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Hari Senin Selasa Rabu Kamis Jum'at Sabtu Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jum'at Sabtu Minggu Senin Tanggal 14-03-11 15-03-11 16-03-11 17-03-11 18-03-11 19-03-11 20-03-11 21-03-11 22-03-11 23-03-11 24-03-11 25-03-11 26-03-11 27-03-11 28-03-11 Kepadatan sel (×106 sel/ml) 0.50 18.550 - .43 4.856 0.30 2.60 23.05 42.55 9.156 0. Kepadatan dan laju pertumbuhan spesifik Nannochloropsis sp.092 0.40 41.Lanjutan Lampiran 5.160 µmaks 0.20 16.20 27.15 12. 74 Tabel 10.

60 5.174 0.107 .35 Rata-rata (×106 sel/ml) µ µmaks 1.20 7.00 5.06 2.044 -0.15 11. 75 Tabel 11.186 -0.25 7.82 4.45 4.00 1.13 8.88 10.30 11.531 0.213 0.08 9.45 11.00 0.90 8.38 7.724 0.00 2.32 6.28 8.40 11.00 2.73 6.00 2.60 3.83 4.30 8.29 2.95 2 1.03 7.022 -0.70 9.00 7.00 9.58 12.038 -0.30 9.40 11.75 7.40 11.127 0.00 9.106 0.63 7.70 7. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Hari Senin Selasa Rabu Kamis Jum'at Sabtu Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jum'at Sabtu Minggu Senin Tanggal 14-03-11 15-03-11 16-03-11 17-03-11 18-03-11 19-03-11 20-03-11 21-03-11 22-03-11 23-03-11 24-03-11 25-03-11 26-03-11 27-03-11 28-03-11 1 1.275 0.026 -0.85 2.50 11.93 8. Kepadatan dan laju pertumbuhan spesifik Nannochloropsis sp.65 7.64 7.434 0.70 3 1.75 9.80 8.10 10.Lanjutan Lampiran 5.68 7.72 4.82 9.51 3.45 8.13 7.20 7. dengan perlakuan menggunakan pupuk pada media limbah logam berat Pengulangan (x106 sel/ml) No.05 2.00 2.115 0.

Kepadatan dan laju pertumbuhan spesifik Nannochloropsis sp.038 -0.80 0.26 0.174 0.98 1.305 0.07 0.155 -0.52 0.240 0.89 0.494 0.176 0.90 0.86 0. Hari Tanggal µ (×106 sel/ml) 1 2 3 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Senin Selasa Rabu Kamis Jum'at Sabtu Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jum'at Sabtu Minggu Senin 14-03-11 15-03-11 16-03-11 17-03-11 18-03-11 19-03-11 20-03-11 21-03-11 22-03-11 23-03-11 24-03-11 25-03-11 26-03-11 27-03-11 28-03-11 1.79 0.79 0.99 1.17 0.01 1. dengan perlakuan tanpa menggunakan pupuk pada media limbah logam berat µmaks Pengulangan (x106 sel/ml) Rata-rata No.43 -0.136 0.50 0.80 0.04 1.148 -0. 76 Tabel 12.99 1.106 -0.59 0.78 0.025 - .92 0.21 0.50 1.77 0.008 0.094 -0.70 0.57 0.74 0.05 1.05 0.70 0.63 0.124 -0.81 0.40 1.88 0.Lanjutan Lampiran 5.76 0.68 0.88 0.71 0.95 1.90 1.40 1.80 0.87 1.30 1.13 1.507 0.78 0.76 0.70 0.65 0.00 0.73 0.00 0.70 0.88 0.12 1.75 0.00 0.00 0.65 0.51 0.

77 Lampiran 6 Kualitas air pada media Kultivasi Tabel 13.67 44.67 37 44 44 45 45 45 45 45 45 44 45 45 45 45 43 37 43 43 44 45 45 44 44 44 44 44 45 44 44 43 37 44 44 44 44 44 45 44 47 44 44 44 44 44 44 37.33 45.33 45.33 43.33 46. Salinitas pada media limbah logam berat Salinitas (‰) No Tanggal Chlorella sp.67 50.00 45.00 39.00 45.33 46.33 45.67 43.67 44.00 37 44 44 44 44 45 45 45 45 44 44 45 45 43 43 37 47 47 47 47 47 47 47 48 48 47 47 48 47 47 37 44 44 44 44 44 44 44 44 44 44 44 44 44 44 37.00 40.00 50.33 42.33 47.33 44.00 43.67 44.67 44.33 44.67 44.67 44.33 45. (TP) Ulangan 1 2 3 Nannochloropsis (TP) Ulangan 1 2 3 Rata-rata Rata-rata Rata-rata Rata-rata 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 14-03-11 15-03-11 16-03-11 17-03-11 18-03-11 19-03-11 20-03-11 21-03-11 22-03-11 23-03-11 24-03-11 25-03-11 26-03-11 27-03-11 28-03-11 37 39 39 40 41 42 42 44 45 46 47 49 50 52 54 37 39 39 40 41 41 42 42 44 44 45 45 46 47 47 37 39 39 41 41 41 43 44 45 46 47 49 49 51 51 37.00 43.00 45.00 44.00 45.33 45.33 43.33 39.00 45.67 48.67 44.67 44.00 41.67 41.67 45.00 50.67 40.33 40.00 39.33 45.33 43.67 45.33 47.00 38. (PP) Ulangan 1 2 3 Nannochloropsis (PP) Ulangan 1 2 3 Chlorella sp.33 44.33 41.00 45.33 44.33 44.33 47.33 .33 50.33 45.67 37 38 39 40 40 40 41 42 42 43 43 43 43 43 43 37 38 39 41 41 42 44 45 46 47 49 51 52 57 57 37 39 40 41 41 42 44 44 45 46 47 48 48 50 50 37.

00 7.67 7.67 6.00 6. Derajat keasaman (pH) media limbah logam berat pH No Tanggal Chlorella sp.00 6.33 7.00 8.00 6.00 8.00 .67 6.67 8.67 6. (TP) Nannochloropsis sp.00 6.00 6.00 8.00 6.00 6 6 7 6 6 6 6 6 6 6 6 6 7 7 7 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 7 7 8 8 8 6 6 6 6 6 7 6 6 6 6 6 6 7 8 8 6.00 7.67 7.00 7.33 6.00 6.00 7.00 6.67 7.00 7.67 6.17 7.67 7.00 6. 78 Tabel 14.00 6.Lanjutan Lampiran 6.67 7.00 8.00 6.00 8.00 8.00 6.33 6.00 8.00 6.33 6. (TP) Ulangan 1 2 3 Ulangan ULangan 3 Ulangan 3 Rata-rata 1 2 Rata-rata 1 2 Rata-rata 1 2 3 Rata-rata 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 14-03-11 15-03-11 16-03-11 17-03-11 18-03-11 19-03-11 20-03-11 21-03-11 22-03-11 23-03-11 24-03-11 25-03-11 26-03-11 27-03-11 28-03-11 6 7 6 6 6 6 7 7 7 6 7 8 8 8 8 6 7 6 6 6 6 6 6 7 7 7 8 7 8 8 6 7 6 6 6 6 6 7 7 7 7 7 8 8 8 6.67 7.00 6.67 7.67 8.33 7.67 6 8 8 8 8 7 7 7 7 7 8 8 7 8 8 6 8 8 8 8 8 8 7 8 8 8 8 8 8 8 6 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 6.00 6.33 6.67 7.00 6.67 7.67 8. (PP) Chlorella sp.00 6.33 7.00 6.00 7.67 6.00 6 7 7 6 7 6 6 6 6 7 6 7 6 7 6 6 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 6 8 6 6 7 7 7 7 7 7 7 7 6 7 7 6 6 6 6. (PP) Nannochloropsis sp.

5 gram 4 H3BO3 33.4177 gram 3 FeCl3.6H2O 1.6 gram 5 MnCl2.79 Lampiran 7 Komposisi kimiawi pupuk analis (Walne’s media) Tabel 15.4H2O 0.36 gram 6 NaNO3 100 gram 7 Akuabides 1000 ml . Jumlah Medium Walne 1 Na2EDTA 45 gram 2 NaH2PO4. Komposisi kimiawi pupuk analis Walne Nama bahan penyusun No.2H2O 5.

Sampel air limbah 35 Liter 5.80 Lampiran 8 Dokumentasi foto alat dan bahan. Kapal Sedot Pasir Ilegal 4. Tailing atau buangan pasir yang tidak dipakai 3. Bibit Mikroalga dari SBRC. serta kegiatan penelitian 1. Keadaaan wilayah penelitian 2. Pengambilan sampel 6. Bogor .

Aerator 12. Haemacytometer 8. Mikroskop Olympus 11. 81 7. Alat penyaring sampel air (filtering apparatus) .Lanjutan Lampiran 8. Refraktometer 10. pH Meter 9.

Alat Pemanas (Digest) . Kertas pH Indikator 16. Thermometer 15.Lanjutan Lampiran 8. Inkubator 17. Pipet Tetes 18. Autoklaf 13. 82 14.

Kertas Saring Wheatman 19. Kegiatan Pelarutan Biomassa 23. Kertas Saring dan Biomassa Mikroalga 24. Biomassa yang telah larut .Lanjutan Lampiran 8. 83 20. Timbangan Analitik 21. Proses Penyaringan Biomassa Mikroalga 22.

Tabung Durham 31. Asam Sulfat dan Nitrat Pekat ] 29. Gelas Ukur 28.Lanjutan Lampiran 8. Akuades . 84 26. Kertas Saring Fiber Glass 25. Gelas Scott 30. Oven 27.

(perbesaran 40×) . (perbesaran 10×) 33.Lanjutan Lampiran 8. 85 0. Sel Chlorella sp. Sel Chlorella sp.05 mm 32.

86 Lampiran 9 Dokumentasi kegiatan kultivasi 2. Kultur Percobaan (25 Januari .14 Februari 2011) 3. Persiapan wadah 750 ml dan 1500 ml 6. PT. TIMAH (8 .8 Februari 2011) 4. Kultur Pra Penelitian (3 . Kultur Awal di lab.9 Maret 2011) 5. Wadah kultur 750 ml . Kultur Pendahuluan (4-9 Januari 2011) 1.

Kultur hari ke. 7. Kultur hari ke-3 media 1500 ml 11. kanan: Kontrol logam berat 10. kanan: Kontrol logam berat 12.3 media 750 ml 14. Media yang telah disterilisasi autoklaf Ulangan 1 Ulangan 2 Ulangan 3 Ulangan 1 Ulangan 2 Ulangan 3 9. tengah: Chlorella sp. 87 8. Kultur hari ke-1 media 1500 ml (menggunakan Pupuk 3× ulangan) kiri: Nannochloropsis sp.6 media 750 ml . tengah: Chlorella sp.Lanjutan Lampiran 9. Kultur hari ke-1 media 750 ml (Tanpa Pupuk 3× ulangan) kiri: Nannochloropsis sp.6 media 1500 ml 13. Kultur hari ke. Kultur hari ke. Bibit Awal Penelitian kiri: Nannochloropsis sp. kanan: Chlorella sp.

14 media 750 ml . Kultur hari ke. 88 16. Kultur hari ke.13 media 1500 ml 17.Lanjutan Lampiran 9.10 media 1500 ml 15.10 media 750 ml 18. Kultur hari ke. Kultur hari ke.

Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. yang Dikultivasi Menggunakan Air Limbah Hasil Penambangan Timah di Pulau Bangka”. Asisten Luar Biasa mata kuliah Oseanografi Kimia tahun 2010. Selain itu.DAFTAR RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Pangkalpinang.2009. Selama mengikuti perkuliahan di Institut Pertanian Bogor. Penulis adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan melalui jalur SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru). Dalam menyelesaikan studi di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Penulis melaksanakan penelitian dengan judul “Laju Pertumbuhan Mikroalga Penghasil Biofuel Jenis Chlorella sp. dan Ketua Umum Himiteka tahun 2010 – 2011. Bangka Belitung.2009. Penulis pernah aktif menjadi Asisten Luar Biasa mata kuliah Iktiologi tahun 2009. anggota Divisi Pengembangan Sumber Daya Mahasiswa Himiteka (Himpunan Mahasiswa Ilmu dan Teknologi Kelautan) tahun 2008 . Tahun 2004 – 2007 Penulis menyelesaikan pendidikan di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Pangkalpinang. dan Nannochloropsis sp. Penulis juga turut aktif mengikuti beberapa aktivitas dan kompetisi ilmiah. Bangka Belitung. 9 Juni 1989 dari Ayah Muhammad Amrullah dan Ibu Ulyati. Asisten Luar Biasa mata kuliah Biologi Laut tahun 2010. . seperti organisasi internal dan eksternal kampus sebagai Wakil Ketua ISBA (Ikatan Mahasiswa Bangka) tahun 2008 . Tahun 2007 Penulis diterima sebagai mahasiswa Institut Pertanian Bogor. dan Asisten Lapangan mata kuliah Ekologi Perairan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->