P. 1
Kelembagaan Lokal (Studi Kasus Di Subak Bali)

Kelembagaan Lokal (Studi Kasus Di Subak Bali)

|Views: 1,307|Likes:
Published by Yoga Setiagi

More info:

Published by: Yoga Setiagi on Jun 06, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/14/2013

pdf

text

original

KELEMBAGAAN LOKAL

(Studi Kasus Subak di Bali) Makalah ini diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Sistem Pemerintahan Desa

Oleh : Muhammad Sallis – 1704101101 M David Cipta TR – 170410110141 Yoga Setiagi – 170410110139

PROGRAM SARJANA JURUSAN ILMU PEMERINTAHAN FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG 2012

BAB I PENDAHULUAN

Kelembagaan lokal merupakan pranata sosial tingkat lokal yang berdiri di antara individu dalam kehidupan peribadinya dengan lingkungannya, yang ternyata tidak hanya berperan mengatur tata kehidupan masyarakat saja, akan tetapi juga mempunyai peranan yang sangat penting bagi pertumbuhan ekonomi suatu masyarakat.1 Misalnya kelembagaan subak yang berperan sangat penting bagi masyarakat pedesaan di bali. Namun terkait dengan kelembagaan ini berbeda tentunya dengan organisasi. Jadi dalam hal ini, perlu diketahui perbedaan antara kedua pengertian tersebut. Perbedaan antara kelembagaan dan organisasi menurut Indra dalam artikelnya2, menyebutkan bahwa organisasi adalah suatu pola hubungan-hubungan yang melalui mana orang-orang di bawah pengarahan manajer mengejar tujuan bersama. Organisasi tersusun secara sistematis, tersdiri dari susunan keanggotaan yang memiliki tugas dan fungsi masing masing. Sedangkan yang dimaksud dengan lembaga adalah suatu institusi yang dibentuk maupuan tidak oleh suatu masyarakat tertentu untuk menunjang kehidupannya. Lembaga lokal berbeda dengan organisasi dilihat dari berbagai sisi, dari sudut komponen pembentuk misalnya, lembaga tidaklah memiliki struktur kepungurusan, pola kepemimpinan dalam lembaga tidak berdasarkan pemilihan atau diangkat, akan tetapi kepemimpianan Muhammad akan terbentuk dalam dengan sendirinya. menjelaskan Kemudian pengertian menurut tentang

Zainal

artikelnya

kelembagaan3, yaitu institusi atau pranata dan organisasi yang dapat dikenali melalui unsur-unsurnya, seperti aturan main, hak dan kewajiban, batas yuridiksi atau ikatan dan sangsi. Kemudian perbedaan tersebut menurut Wasistiono dalam artikelnya diperjelas lagi sebagai berikut :
1 2

Wasistiono, Sadu dan Tahrir, Irwan. Prospek Pengembangan Desa. 2006. Halaman 42 Munawar, Indra. 2009. Organisasi dan Lembaga Serta Perbedaannya. [online]. (http://bit.ly/M1SeBt, diakses tanggal 13 Maret 2012) 3 Muhammad Zainal. 2011. Pengertian Moralitas dalam Kelembagaan. Diunduh dalam www.masbied.com /2011/08/23/pengertian-moralitaas-dalam-kelembagaan/ pada 13 maret 2012 pukul 21.29

1

1. Kelembagaan cenderung tradisional, sedangkan organisasi cenderung modern, 2. Kelembagaan dari masyarakat itu sendiri dan organisasi datang dari atas. Menurut Tjondronegoro lembaga semakin mencirikan lapisan bawah dan lemah, dan organisasi mencirikan lapisan tengah dengan orientasi ke atas dan kota. Disamping itu, menurut Warsito dalam artikelnya menjelaskan bahwa lembaga dibentuk berdasarkan hal-hal sebagai berikut :

1. Cara. Yang dimaksud dengan cara disisni adalah mengacu pada suatu keadaan dalam masyarakat yang menggunakan symbol-simbol tertentuk untuk memaknai sebuah hal atau peristiwa. 2. Kebisaan. Yang dimaksud dengan kebiasan adalah prilaku masyaralat berulang secara terus-menerus dalam jangka waktu tertentu, sehingga perilaku tersebut sudah menjadi kebisaan yang sulit untuk dilupakan. 3. Adat Istiadat. Adalah suatu cara dan prilaku masyarakat dalam memaknai kehidupan dalam bentuk upacara ritual, makan adat istiada disini lebih mengacu pada nilai-nilai budaya yang dipegang oleh masyarakat dan menjadi nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat. Selanjutnya dalam kelembagaan ini juga terdapat manfaat, fungsi dan tujuan. Tiap kelembagaan memiliki tujuan tertentu, dan orang-orang yang terlibat di dalamnya memiliki pola perilaku tertentu serta nilai-nilai dan norma yang sudah disepakati yang sifatnya khas. Tiap kelembagaan dibangun untuk satu fungsi tertentu. Memiliki tradisi tertulis atau tidak tertulis tertentu. Tujuan tersebut untuk mengatur antar hubungan yang diadakan untuk memenuhi kebutuhan manusia yang paling penting. Sedangkan manfaatnya adalah untuk mengatur masyarakat dan mengefisiensikan kehidupan sosial. Kemudian Fungsi dari kelembagaan itu sendiri yaitu : 1. Memberi pedoman berperilaku pada individu/masyarakat, 2. Menjaga keutuhan, 3. Memberi pegangan kepada masyarakat untuk mengadakan kontrol sosial dan
4

4

Hayyah. 2010. Kelembagaan, Organisasi, dan Kepemimpinan. http://hayyah08.student.ipb.ac.id /2010/06/21/kelembagaan-organisasi-dan-kepemimpinan/

2

4. Memenuhi kebutuhan pokok manusia/masyarakat.

Kelembagaan Lokal di Indonesia Pengertian dari kata kelembagaan adalah suatu sistem badan sosial atau organisasi yang melakukan suatu usaha untuk mencapai tujuan tertentu. Aspek kata kelembagaan memiliki inti kajian kepada prilaku dengan nilai, norma dan aturan yang mengikuti dibelakangnya. Lembaga dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu lembaga formal dan lembaga non-formal. Kelembagaan lokal dan area aktivitasnya terbagi menjadi tiga kategori, yaitu kategori sektor publik (administrasi lokal dan pemerintah lokal); kategori sektor sukarela (organisasi keanggotaan dan koperasi); kategori sektor swasta (organisasi jasa dan bisnis swasta). Bentuk resmi suatu lembaga yaitu lembaga garis (line organization, military organization); lembaga garis dan staf (line and staff organization); lembaga fungsi (functional organization). Jadi pengertian dari kelembagaan adalah suatu sistem sosial yang melakukan usaha untuk mencapai tujuan tertentu yang memfokuskan pada perilaku dengan nilai, norma dan aturan yang mengikutinya, serta memiliki bentuk dan area aktivitas tempat berlangsungnya. Kelembagaan dalam masyarakat pedesaan di Indonesia telah tumbuh dan berkembang sejak zaman dahulu kala, dengan fungsi utamanya sebagai kelembagaan gotong royong (kerjasama) terutama dalam menghadapi berbagai masalah yang terjadi dalam masyarakat yang bersangkutan. Anggota

kelembagaan-kelembagaan masyarakat non formal tersebut secara sadar saling terikat dan saling memerlukan, bahkan mereka akan merasa terasingkan ketika mereka tidak mengikuti aturan atau kegiatan yang diselenggarakannya. Kelembagaan tradisional senantiasa berevolusi menyesuaikan diri ke bentuk dan tingkat yang sejalan dengan proses dan tingkat evolusi sosial masyarakat dan lingkungannya. Kelmbagaan yang tidak mampu beradaptasi terhadap perubahan lingkungannya akan kehilangan perannya dan akhirnya mati digantikan oleh kelembagaan baru yang lebih sesuai dengan tuntutan kebutuhan masyarakat.

3

Kelembagaan masyarakat memiliki nama khas untuk masing-masing daerah, beberapa contoh kelembagaan masyarakat lokal antara lain sbb: 1) Candoli; lembaga ini bersifat lokal terdapat di wilayah Priangan Timur Jawa Barat (Ciamis, Tasikmalaya, Garut, dan Sumedang). Lembaga ini diakui eksistensinya sebagai penentu waktu panen komunal dan dibutuhkan karena penguasaan akan informasi terkait perkembangan fisik padi (fenomena pertumbuhan) di lahan sawah. 2) Kepunduhan di Jawa Barat; yang merupakan suatu lingkup kehidupan bertetangga (neighborhood) yang meliputi areal fisik dan populasi di bawah desa. Kepunduhan diketuai oleh seorang punduh yang berfungsi sebagai penyalur informasi dan mediator dengan punduh-punduh lain dan dengan kepala desa setempat. 3) Otini-tabenak atau dewan adat di wilayah pegunungan tengah Papua, yang berfungsi sebagai penyaring dan penyalur informasi dari dunia luar. 4) Subak di Bali; Kelembagaan/organisasi petani pengguna air. Kelembagaan ini sebagai contoh yang mampu beradaptasi dan berintegrasi dengan lembaga eksternal. Subak merupakan kelembagaan tradisional unik yang berbentuk organisasii formal di hierarki pemerintah daerah tingkat kabupaten, namun di tingkat lapang (daerah aliran sungai) tetap berbentuk organisasi non-formal. Struktur organisasi subak terdiri atas: Sedahan Agung yang merupakan posisi kepemimpinan formal (official position) tingkat pemerintah daerah kabupaten, yang dikepalai oleh pejabat yang mendapat gaji sebagai pegawai negeri. Sedahan Agung membawahi seluruh pekaseh (ketua) subak gde yang berada di wilayah kabupaten tersebut. Subak gde berupa organisasi non-formal dengan seorang seorang pekaseh sebagai ketua yang tidak mendapat gaji atau imbalan dari pemerintah. Subak merupakan contoh terlengkap kelembagaan petani yang memiliki keterkaitan lintas sektor. Kegiatan produksi pertanian dalam konteks subak merupakan suatu kegiatan sosio-tekno-religius daripada sebagai kegiatan tekno-ekonom. 5) Mayorat di Jawa Barat; merupakan organisasi nonformal yang bertugas mengelola dan mengatur pembagian air guna memenuhi kebutuhan

4

kelompok petani setempat. Mayorat diketuai oleh seorang mayor atau uluulu dan bertugas mengatur penggunaan air dari sumber air komunal di lokasi desa atau kampung. Eksistensi mayorat kini telah dievolusikan menjadi organisasi formal Kelompok Petani Pengguna Air (KPPA). 6) Plong dan Sonor di Sumatera Selatan. Oragnisasi ini bersifat temporer di lokasi pemukiman transmigrasi pasang surut. Plong adalah kelembagaan normatif gotong royong yang menyediakan pelayanan pengolahan lahan secara bergilir antar anggota, Sonor adalah organisasi gotong royong penanaman padi pada lahan kosong yang dikuasai keluarga petani transmigran dan hanya dilakukan saat kemarau panjang yang terjadi 5 tahun sekali. 7) Sasi. Salah satu cara untuk memelihara lingkungan darat dan laut oleh masyarakat Kei Maluku adalah dengan mengenalkan suatu lembaga yang diberi nama sasi5. 8) Mapalus merupakan lembaga ketenagakerjaan baik untuk pembangunan di daerah Minahasa. Karena sistem ini dilahir oleh masyarakat sendiri inilebih cocok sebagai program-program pembangunan daripada program yang dibawa darinegara luar. Kegiatannya berupa pengolahan ladang secara bersama ataupun bergiliran, membangun rumah maupun pindah rumah6.

Sejarah Subak Sejarah klasik Bali secara utuh tidak dapat dilepaskan dari sejarah pulau Jawa. Begitu juga secara politik peranan Sumatra di bawah Kerajaan Sriwijaya tidak dapat dilepaskan terhadap peristiwa sejarah di Pulau Jawa. Jadi pergeseran pengaruh dari arah barat (Sriwijaya) ke arah timur sampai di Pulau Bali membawa berbagai macam dampak budaya. Ini berdasarkan temuan-temuan prasasti yang sudah diterbitkan. Bermula dari prasasti Kota Kapur (686 M) tentang perluasan kekuasaannya ke pulau Jawa yaitu dengan menundukkan To-lo-mo

5

6

Akbaruddin, Faisal. Lembaga Sasi Sebagai Bagian Hukum Tanah Dan Hukum Laut Di Kepulauan Kei dalam http://bit.ly/wXjc16 pada 15 Maret pukul 15.52 WIB. Rusch, Miriam. Mapalus dan Perubahan-perubahannya. http://scr.bi/KO1iqE pada 15 Maret pukul 15.52 WIB.

5

(Tarumanagara). Kemudian terjadi pelarian ke Jawa-Tengah ditandai dengan berdirinya Dinasti Sanjaya berdasarkan prasasti Canggal berangka tahun 732 M7. Menurut Casparis, di Jawa-tengah juga terjadi konflik antara Dinasti Sanjaya dengan Saelendra yang menyebabkan terjadi perpindahan ke Jawa-Timur yaitu ditandai dengan munculnya Kerajaan Kanjuruhan yang terdapat di Kota Malang8. Dari Jawa-Timur terjadi lagi perpindahan ke Bali berdasarkan prasasti Sukawana I, dan inilah diperkirakan sebagai bukti awal pengaruh Jawa ke Bali dengan segala budaya yang dimiliki, kemudian semakin menyempurnakan budaya setempat termasuk dalam teknologi pertanian9. Sejak abad ke IX sudah terjadi imigrasi secara besar-besaran dari Jawa ke Bali sampai abad ke XVI yang sangat terkait dengan kedatangan Islam pada masa Kerajaan Majapahit. Pada saat inilah diperkirakan terjadi perkembangan pertanian sawah yang dikelola oleh lembaga Subak yang merupakan perkembangan lebih lanjut dari sawah kering atau tegalan yang sebelumnya dimungkinkan pernah dilaksanakan di Pulau Jawa, khususnya di Jawa Timur. Dan nampaknya teknologi ini kemudian berkembang di Bali melalui organisasi Subak. Pernyataan semacam ini pernah juga dilontarkan oleh Ir.P.L.E. Happe, bahwa dimungkinkan Subak yang dikenal di Bali sudah menjadi adat sebelumnya di Pulau Jawa. Dia adalah seorang direktur pekerjaan umum di masa Hindia Belanda (1916-1919) yang berpusat di Singaraja. Menurutnya, berbagai petunjuk bahwa persubakan di Bali baik dalam lapangan administrasi maupun teknik membuktikan, adanya pengaruh dari Pulau Jawa sejak jaman Hindu yang merupakan daerah rampasan Majapahit. Di daerah Pasuruan, dimana Hindhu paling lama bertahan, disini banyak ditemukan bendungan-bendungan tanah yang tinggi, dibangun dari endapan tanah seperti di Bali. Sejarah Subak, sebagai organisasi yang bergerak dalam bidang bidang irigasi. Walaupun secara pasti kapan dikenalnya kata Subak, tetapi diperkirakan sejak dikenalnya kata itu masyarakat setempat sudah mengenal teknologi pengairan yang baik. Menurut Korn organisasi serupa terdapat juga di Madagaskar dan Philipina, di sebelah utara Luzon yang bernama pasayak.
7 8

Muljana, S. 1979. Negarakertagama dan Tafsir Sejarahnya. Halaman 5-6. Porbatjaraka. 1976. Riwayat Indonesia I. Halaman 92. 9 Goris. 1948. Sejarah Bali Kuno. Halaman 3.

6

Berdasarkan data archeologi diperkirakan Subak sudah dikenal pada abad XI M yaitu berasal dari kata kasuwakan. Kata ini terdapat di dalam prasasti Klungkung A, B dan C (tahun 1072 M), prasasti Pengotan (tanpa tahun) dan prasasti Buwahan D (tahun 1181 M) dari raja Jayapangus10. Disebutkan juga, bahwa subak adalah organisasi yang anggotanya terdiri dari orang-orang yang memiliki sawah yang memperoleh air dari sumber yang sama, serta mempunyai kebebasan dalam mengatur rumah tangganya sendiri. Berdasarkan penemuan prasasti di Bangli, informasi tentang Subak sudah ada sejak tahun 882 M berdasarkan prasasti Sukawana yang terdapat di desa Sukawana. Dari ketiga prasasti tersebut diatas, dua di antaranya terdapat di Kabupaten Bangli yaitu prasasti Buwahan di Kecamatan Kintamani dan Prasasti Pengotan di Kecamatan Bangli.

Munculnya Organisasi Subak di Bali Berdasarkan beberapa pandangan tersebut diatas, bahwa Jawa khususnya Jawa-Timur lebih dahulu mengenal sistem pertanian sawah kemudian

disempurnakan lagi setelah pengaruh tersebut sampai di Bali. Tentu ini sangat berkaitan dengan datangnya orang Hindhu Jawa ke Bali dengan budaya yang dimilikinya, termasuk budaya bercocok tanam dengan teknik pengairannya. Kadatangan ini mengakibatkan pembauran dengan masyarakat setempat, diantaranya melalui perkawinan. Pandangan Goris dapat dipakai sebagai acuan dalam hal ini, berdasarkan pada latar belakang sejarah. Bahwa

Gunapriyadharmapatni (Mahendradata), cucu dari Sindok kawin dengan Raja Bali Udayana berdasdarkan prasasti Pucangan tahun 1042 M. Sehingga tidak mustahil juga hal serupa terjadi pada masyarakat secara umum atau rakyat dari kedua belah pihak11. Nampaknya dengan perkawinan ini akan berpengaruh terhadap mobilitas manusia dari Jawa ke Bali, termasuk budaya yang dimilikinya. Apalagi hasil perkawinan tersebut lahirlah Erlangga yang menjadi penguasa di Jawa Timur dan adiknya bernama Anak Wungsu tetap di Bali. Sejak itulah hubungan Jawa-Bali nampak lancar disegala bidang yang tidak nampak sebelum bahkan sesudahnya. Ini dapat dimaklumi karena pada waktu itu baik Jawa maupun Bali ada dibawah
10

Setiawan,K. 1995. Subak: Organisasi Irigasi Pada Pertanian Sawah Masa Bali Kuno. Halaman 104-105. 11 Goris. 1948. Sejarah Bali Kuno. Halaman 23.

7

kekuasaan Dinasti Warmadewa. Begitu juga pada masa Majapahit dengan maha patihnya Gajah Mada, sudah mengadakan ekspansi ke Pulau Bali tahun 1343 M. Dan dengan runtuhnya Majapahit tahun 1478 M terjadilah eksodus secara besarbesaran ke Bali, sehingga sampai sekarang di Bali dikenal istilah penduduk Bali Age (Bali asli) dan Bali Majapahit 12. Jadi kemajuan di Jawa, khususnya di JawaTimur baik dalam bidang politik, keagamaan, kesusastraan, ekonomi tidak terkecuali teknologi pertanian akan berakibat juga terhadap kemajuan Bali 13. Latar belakang sejarah tersebut diatas sangat sesuai dengan keadaan masyarakat di Bali pada umumnya. Di Bali terdapat masyarakat yang dikriteriakan Bali Age dan Bali Majapahit, disamping keadaan serupa terdapat juga di daerah Tenganan Pangringsingan (Kabupaten Karangasem) dan di desa Sembiran, Cempaga, Sidetapa, Pedawa, Tigawasa (Kabupaten Singaraja) dan di Kabupaten Bangli yang termasuk Bali Age adalah Desa Trunyan (Kecamatan Kintamani) yang sampai sekarang tidak mengenal sistem Subak. Dari uraian tersebut mudah-mudahan dapat memberi pandangan latar belakang sejarah munculnya sistem Subak di Bali. Permasalahan yang sering muncul adalah, siapakah yang memprakarsai berdiri-nya Subak, atas inisiatif rakyat atau raja atau penguasa. Menurut Happe sejak tahun 1916-1919 mengadakan pengamatan terhadap Subak bekas kerajaan Tabanan, Badung, Gianyar, Klungkung dan Bangli, bahwa berdirinya bangunan-bangunan irigasi merupakan dorongan pribadi dari raja atau punggawa-punggawanya karena ingin memproleh keuntungan pribadi. Dengan cara memerintahkan rakyatnya membangun bangunan irigasi tersebut sehingga tanah-tanah yang terairi akan mempunyai nilai atau harga yang lebih tinggi. Raja terlebih dahulu mengadakan observasi terhadap keadaan tanah, apabila keadaan tanah suatu daerah memungkinkan diairi, maka raja mengumpulkan sejumlah orang untuk menggarap tanah dengan luas berdasarkan perkiraan saja. Penghargaan yang diberikan kepada penggarap adalah; penggarap memproleh hak penuh untuk menikmati hasil tanah yang dikelola-nya dalam waktu tiga tahun pertama sampai proses pengairan tersebut dianggap lancar. Kemudian dalam tahan berikutnya, para penggarap diberi hak penuh untuk
12 13

Muljana, S. 1979. Negarakertagama dan Tafsir Sejarahnya. Halaman 36. Pandit Shastri, N.D. 1963. Sejarah Bali Dwipa. Halaman 19.

8

menyewanya. Dengan lancarnya saluran air kemudian dimulailah pembangunanpembangunan irigasi dan bersamaan dengan itu diangkat seorang pejabat oleh raja untuk hal-hal yang menyangkut penanaman padi. Pejabat ini melaksanakan semua pekerjaan untuk memperlancar proses irigasi seperti, menyusun peraturanperaturan kerja, membangun bendungan dan terowongan dengan bantuan rakyat. Karena itu Subak semacam ini tidak mempunyai aturan tertulis, tetapi dikenal hanya berdasarkan adatnya saja. Happe mengakui juga tidak semua proses berdirinya Subak di Bali seperti itu, kecuali Bali Utara (Singaraja), dan Bali Timur (Karangasem) karena di kedua tempat tersebut sudah mengenal aturan Subak secara tertulis. Menurut pandangan Polderman dan Graad van Borgen bahwa Subak semacam itu pada mulanya tumbuh bukan karena pengaturan air, tetapi dari pembukaan tanah-tanah hutan, tanah-tanah tandus dan tegalan yang kemudian dijadikan sawah. Bersamaan dengan itu dibuat juga bangunan-bangunan irigasi seperti dam, terowongan (aungan), pembagian air (temukuan) dan sebagainya. Para pembuka tanah yang pertama ini bersama-sama menghimpun diri dalam suatu perkumpulan yang bernama Sekeha atau Seke sebagaimana yang dilakukan oleh orang Bali sejak dahulu.

9

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Subak Sebagai Kelembagaan Lokal Perlu diketahui sebelum membahas lebih jauh mengenai subak, pada intinya yang dimaksud dalam analisa kami ini membahas subak yang terdapat di desa-desa di Bali secara umum. Mengenai sejarah Subak di Bali14, menurut Agus Purbatin dalam penelitiannya, mengemukakan mulai dari sejarah manusia Bali sampai dengan adanya bukti-bukti tertulis menyimpulkan bahwa secara faktual Subak telah ada di Bali pada tahun 1071 Masehi. Sebagaimana halnya dengan organisasi tradisional yang tumbuh di Bali, Subak juga berdasar atas filosofi Tri Hita Karana, yang mengupayakan keharmonisan hubungan antara manusia, Tuhan, dan alam semesta. Kemudian menurut Agus juga mengatakan bahwa pengertian subak dapat dilihat segi fisik dan segi sosial. Secara fisik, subak adalah hamparan persawahan dengan segenap fasilitas irigasinya, sedangkan secara sosial Subak adalah organisasi petani pemakai air yang otonom. Subak adalah organisasi petani yang bergerak dalam usaha pengaturan air irigasi untuk lahan basah (sawah). Jadi berdasarkan gambaran tentang kelembagaan lokal di atas, maka menurut kami subak merupakan kelembagaan lokal. Dasar tersebut adalah karena subak selain memiliki dasar bentuk dari cara, kebiasaan dan adat istiadat, juga memiliki manfaat, fungsi, dan tujuan seperti yang dijelaskan diatas. Kemudian yang menjadikan ciri khas atau lokalnya yang membedakan dengan daerah lain, subak tersebut berkaitan dengan Tri Hita Karana (THK)15, yaitu : a. Parahyangan (mewujudkan hubungan manusia dengan pencipta-Nya yaitu Hyang Widhi Wasa), b. Pelemahan (mewujudkan hubungan manusia dengan alam lingkungan tempat tinggalnya), dan

14

Agus Purbatin. Eksistensi Desa Adat dan Kelembagaan Lokal Kasus Bali. Diunduh dalam http://bit.ly/KT8az1 pada 15 Maret pukul 19.27 15 Ibid 2.

10

c. Pawongan (mewujudkan hubungan antara sesama manusia, sebagai makhluk ciptaan-Nya) Dari dasar tersebut kekhasannya adalah segala kegiatan yang dilakukan dalam subak tidak semata-mata karena ekonomi dan bisnis, tetapi lebih ke harmonisasi terhadap alam sebagai bentuk pertanggungjawaban terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

2.2 Sistem Pemerintahan Desa di Bali Menurut Arif dalam artikelnya, menjelaskan bahwa Sistem Pemerintahan Bali dibagi menjadi dua, yaitu desa adat dan desa dinas. 16 a. Desa Adat Kegiatan yang dilakukan dalam desa adat meliputi bidang adat dan keagamaan, dimana suatu desa adat di Bali memiliki aturan adat tersendiri yang di tuangkan dalam awig-awig desa. Dari segi pemerintahan adat, masingmasing desa adat bersifat otonomi, dalam arti setiap desa adat mempunyai aturan tesendiri yang hanya berlaku bagi warga desa/ banjar yang bersangkutan, yang sama sekali terlepas dari sistem pemerintahan Republik Indonesia. Walau demikian aturan-aturan yang tertuang dalam awig-awig sama sekali tidak bertentangan dengan peraturan yang berlaku baik di tingkat nasional maupun daerah. Batas wilayah geografis suatu desa adat adalah sama dengan batas pemerintahan adat yang secara fisik ditentukan oleh batas alam seperti sawah, sungai, bukit, gunung, garis pantai, lautan jalan dan sebagainya. Sampai saat ini jumlah desa adat yang terdapat di Kabupaten Gianyar mengalami penambahan. Dan di setiap desa adat atau lebih dikenal dengan istilah desa pakraman maish memegang falsafah hidup yang berdasarkan pada ajaran agama Hindu, dan masih tetap berpegang pada konsep Tri Hita Karana, Tat Twan Asi dan Desa Kala Patra. Anggota desa adat dinamakan sebagai Krama Adat atau sering disebut Krama Desa. Namun ada juga di beberapa tempat krama tersebut di golongkan lagi menurut status pribadi dan perkawinannya, utuh atau duda. Prajuru Desa Adat merupakan perangkat desa adat yang berfungsi untuk senantiasa menjaga
16

Lebih lengkapnya dapat dilihat Arif. 2010. Artikel : Sistem Pemerintahan Bali.

11

kesuciaan dan keselarasan serta keserasian kehidupan dalam desa adat dengan menjaga ketertiban, keamanan dalam arti yang dinamis bersama-sama segenap anggota masyarakat adatnya, guna mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan lahir dan batin. Dalam melaksanakan tugasnya, Prajuru desa adat berpegang kepada aturan-aturan yang ditentukan dalam awig-awig yang didalamnya memiliki satua-satuan Kahyangan Tiga. Secara garis besar awig-awig mengatur hubungan anggota masyarakat adat dalam keyakinannya terhadap Tuham Yang Maha Esa/ Sanghyang Widhi Wasa, hubungan antar sesama anggota masyarakat adat dan hubungan anggota masyarakat dengan wilayah dan lingkunannya. Secara umum jabatan-jabatan dalam Prajuru Desa Adat adalah sebagai berikut : 1. Bendesa Adat atau Kelian Adat sebagai kepala desa adat. 2. Petajuk Bendesa sebagai wakilnya. 3. Penyarikan sebagai juru tulis. 4. Sinoman atau Kesinoman sebagai juru arah. 5. Jero Mangku, Mangku Desa atau Jero Gede untuk jabatan Pimpinan pelaksana upacara di Pura Kahyangan Desa. 6. Pekaseh atau Kelian Subak untuk jabatan yang mengurusi pengairan subak. Semua aturan-aturan/ awig-awig yang berlaku pada suatu desa adat berpegang teguh pada falsafah ini yang merupakan suatu konsepsi keseimbangan antara manusia, Tuhan Yang Maha Esa/ Sanghyang Widhi Wasa dan alam lingkungannya, karena Tuhan Yang Maha Esa sebagai pencipta telah menciptakan manusia beserta alam/ bumi yang mengandung segala sumber potensi kebutuhan hidup bagi manusia. Tri Hita Karana sebagai pola dasar keorganisasin Desa Adat dalam mewujudkan hal sebagai berikut : 1. Unsur Sanghyang Widhi Wasa Dengan konsep Tri Murti yaitu : Bhrahma, Wisnhu dan Siwa merupakan manifesatasi Tuhan Yang Maha Esa sebagai Maha Pencipta, Maha Pemelihara dan Maha Pelebur. Dalam Desa Adat dicerminkan dalam Tri Kahyangan (Kahyangan/ Pura Puseh, Pura Desa/ Bale Agung dan Pura Dalem)

12

2. Unsur Manusia Krama Adat terorganisir secara tertib dengan pimpinan para prajuru adat. Falsafat Tat Twam Asi merupakan dasar kehidupan Krama Adat yang lebih mengutamakan keputusan umum dan menyelaraskan kepentingan pribadi dalam hubungannya dengan kepentingan krama adatnya. 3. Unsur Alam Wujudnya adalah palemahan atau wilayah desa adat dengan batasbatasnya yang definitif yang dikukuhkan dengan suatu upacara tertentu. Palemahan desa adat meliputi luas wilayah Asengker kekuasaan Pula Bale Agung. b. Desa Dinas Lingkup kegiatan desa dinas berfungsi pada bidang administrasi kepemerintahan formal atau kedinasan serta bidang pembangunan umum. Secara struktural pemerintahan desa dinas terkait langsung dengan sistem pemerintah Republik Indonesia. Dalam kaitannya dengan wilayah desa adat, terdapat pola hubungan wilayah yaitu :
   

Satu desa dinas bisa mencakup beberapa desa adat. Satu desa dinas terdiri atas satu desa adat. Satu desa adat bisa mencakup beberapa desa dinas. Satu desa adat juga terbagi ke dalam beberapa desa dinas.

Dalam hal kedinasan, desa dinas membawahi sejumlah Banjar Dinas.

2.3 Kaitan antara kelembagaan lokal (Subak) dengan Pemerintahan Desa Berdasarkan UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, pada pasal 211, dijelaskan bahwa di desa dapat dibentuk lembaga kemasyarakatan yang ditetapkan dengan peraturan desa dengan berpedoman pada peraturan perundangundangan. Lembaga kemasyarakatan sebagaimana dimaksud bertugas membantu pemerintah desa dan merupakan mitra dalam memberdayakan masyarakat desa. 17 Kemudian berdasarkan UU 32 tahun 2004 tersebut, maka ditetapkanlah peraturan pemerintah No. 72 tahun 2005 tentang Desa. Pada peraturan ini, yang terkait subak terdapat pada pasal 7, yaitu mengenai kewenangan Desa. Dengan
17

UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah

13

kewenangan tersebut berdasarkan hak asal-usul desa adalah hak untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan asal usul, adat istiadat yang berlaku dan tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan seperti subak. Pemerintah daerah mengidentifikasi jenis kewenangan berdasarkan hak asal-usul dan mengembalikan kewenangan tersebut, yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah Kabupaten/Kota.18 Jadi berdasarkan pengertian di atas, menurut kami dapat diketahui bahwa lembaga masyarakat juga merupakan kelembagaan lokal, yang memiliki regulasi yang mendasari dari keberadaan kelembagaan subak seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Dari regulasi tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan peraturan yang mengatur lebih spesifik mengenai kelembagaan subak dalam tingkat peraturan yang lebih rendah. Namun berdasarkan penelitian yang kami cari, tidak menemukan Peraturan Daerah mupun Peraturan Desa yang mengatur kewenangan desa berdasarkan hak asal-usulnya. Namun berdasarkan regulasi tahun 1972, ditetapkanlah Peraturan Daerah Provinsi Bali No.02/PD/DPRD/l972, yang menerangkan bahwa pengertian tentang subak seperti yang telah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya. Status keberadaan subak ini dalam pemerintahan desa, pada intinya merupakan mitra bagi pemerintahan desa dalam rangka membantu dan memberdayakan masyarakat desa. Beberapa hal terkai status tersebut, dapat dilihat dari peran subak yang ikut membantu mengatur bagaimana cara sistem irigasi yang baik dalam suatu masyarakat desa. Upaya pemberdayaannya dapat kami lihat dari para petani-petani yang menerapkan subak ini akan lebih bertanggungjawab terhadap proses pertaniannya. Karena dalam subak ini seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, yaitu bahwa mereka para petani tidak hanya semata-mata mencari penghidupan ekonomi dan berbisnis dalam bertani saja, melainkan hal tersebut merupaka proses kegiatan yang bertanggungjawab langsung kepada tuhan. Sehingga dalam hal ini masyarakat lebih berdaya dengan kerajinan, kegigihan, dan tanggung jawab yang ditanamkan melalui subak. Pernyataan tersebut juga sesuai dengan kutipan dalam artikel Widya terkait Subak, THK dan permasalahannya, menerangkan bahwa Subak merupakan
18

PP No. 72 Tahun 2005 Tentang Desa

14

Subsistem budaya

yang

dicerminkan dengan pola pikir pengelolaan air irigasi

yang dilakukan dengan landasan harmoni dan kebersamaan yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa.19 Berdasarkan informasi Inilah.com pada 23 Februari 2012, diberitakan bahwa untuk melestarikan subak di Bali dan meminimalkan alih fungsi lahan pertanian, Pemprov Bali menyiapkan Raperda Subak. Sedangkan untuk membahas Raperda Subak tersebut sampai saat ini masih dalam tahap sosialisasi kepada klian subak wakil dari kabupaten/kota se-Bali. 20 Jadi melihat informasi tersebut membuktikan bahwa kenyataan dari dulu keberadaan Subak yang sudah membudaya sampai sekarang, namun baru ada masukan untuk mempersiapkan peraturan untuk melestarikan kelembagaan lokal tersebut.

19

Widya. Subak, THK dan Permasalahannya. Diunduh dalam http://scr.bi/KObuPR pada 13 Maret 2012 pukul 16.54 WIB. 20 Keberadaan Subak terancam, Pemprov siapkan Perda. Diunduh dalam http://bit.ly/K8kTUl pada 13 Maret 2012 pukul 16.12 WIB.

15

BAB III KESIMPULAN

Kelembagaan dalam masyarakat pedesaan di Indonesia telah tumbuh dan berkembang sejak zaman dahulu kala, dengan fungsi utamanya sebagai kelembagaan gotong royong (kerjasama). Subak bukanlah satu-satunya

kelembagaan lokal yang terdapat di Indonesia, contoh lainnya yaitu condoli, kepunduhan, otini-tabenak, mayorat, polong dan sonor, sasi, mapalus dan sebagainya. Kelembagaan lokal adalah suatu aturan yang ada di masyarat dan sudah menjadi tradisi atau kebiasaan yang telah diwariskan oleh alam. Bukti bahwa kelembagaan lokal ada di indonesia yaitu terdapat di Bali yang budaya dan adat istiadatnya yang khas. Adat istiadat inilah yang menjadi dasar kelembagaan lokal yang dikenal dengan nama Subak. Subak merupakan suatu tradisi masyarakat desa di bali yang khusus mengatur sistem pengairan sawah yang digunakan dalam cocok tanam padi di Bali. Peran pemerintahan desa terhadap subak sebagai kelembagaan lokal adalah sebagi mitra yang berperan memberdayakan masyarakat desa dalam memajukan dan mensejahterakan masyarakat tersebut. Peran pemerintah yang lebih luas lagi terkait regulasi belum dapat terlihat, hanya saja masih dalam proses merencanakan kebijakan untuk melestarikan subak. Namun tindakan dukungan dari pemerintah sebenarnya sudah ada, yaitu dukungannya dalam ikut melestarikan Subak dengan mendirikan Museum Subak. Maka dengan itu kami harus ikut serta dalam melestarikan, merawat, menjaga tradisi dan adat yang diwariskan oleh alam kepada kami

16

REFERENSI

Akbaruddin, Faisal. Lembaga Sasi Sebagai Bagian Hukum Tanah Dan Hukum Laut Di Kepulauan Kei dalam http://bit.ly/wXjc16 pada 15 Maret pukul 15.52 WIB. Arif. 2010. Artikel : Sistem Pemerintahan Bali. Diunduh dalam

http://bit.ly/KT98Lz pada 28 Mei 2012 pukul 10.37 WIB. Dinas Kebudayaan Kota Denpasar. (http://kebudayaan.denpasarkota.

go.id/dpsculture/subak.php, diakes tanggat 13 Maret 2012). Goris. 1948. Sejarah Bali Kuno. Singaraja: tanpa penerbit. Hayyah. 2010. Kelembagaan, Organisasi, dan Kepemimpinan. [online].

(http://bit.ly/KZCT2V, diakses tanggal 13 Maret 2012). Keberadaan Subak terancam, Pemprov siapkan Perda. Diunduh dalam http://bit.ly/K8kTUl pada 13 Maret 2012 pukul 16.12 WIB. Munawar, Indra. 2009. Organisasi dan Lembaga Serta Perbedaannya. [online]. (http://bit.ly/M1SeBt, diakses tanggal 13 Maret 2012). Muljana, S. 1979. Negarakertagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta: Bhratara. Pandit Shastri, N. D. 1963. Sejarah Bali Dwipa. Denpasar: Bhuwana Saraswati. PP No. 72 Tahun 2005 Tentang Desa. Purbatin, Agus. Eksistensi Desa Adat dan Kelembagaan Lokal Kasus Bali. Diunduh dalam http://bit.ly/LBBr2p pada 15 Maret pukul 19.27 Porbatjaraka. 1976. Riwayat Indonesia I. Tanpa penerbit. Rusch, Miriam. Mapalus dan Perubahan-perubahannya http://www.scribd.

com/doc/74005961/Mapalus-ISP pada 15 Maret pukul 15.52 WIB. Setiawan,K. 1995. Subak: Organisasi Irigasi Pada Pertanian Sawah Masa Bali Kuno. Jakarta: Tesis Universitas Indonesia. UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Wasistiono, Sadu dan Tahrir, Irwan. Prospek Pengembangan Desa. 2006. Widya. Subak, THK dan Permasalahannya. Diunduh dalam http://scr.bi/KObuPR pada 13 Maret 2012 pukul 16.54 WIB.

17

Zainal, Muhammad. 2011. Pengertian Moralitas dalam Kelembagaan. Diunduh dalam www.masbied.com /2011/08/23/pengertian-moralitaas-dalamkelembagaan/ pada 13 maret 2012 pukul 21.29.

18

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->