Respon Imun Terhadap Bakteri

Eksperimen Pasteur

Unit Pembelajaran II Blok 10

TUJUAN PEMBELAJARAN 1. Bagaimana respon imun terhadap infeksi bakteri? 2. Apa saja komponen darah yang berperan dalam sistem imun? 3. Jelaskan yang dimaksud dengan vaksinasi dan macamnya!

I. RESPON IMUN TERHADAP INFEKSI BAKTERI 1. Respon Innate Immunity Innate immunity adalah imunitas alami sebagai pelindung yang selalu ada dan aktif pada setiap spesies hewan untuk melindungi dari aksi agen infeksi. Innate immunity terdiri dari barier fisik dan barier mikrobiologis (flora normal), komponen fase cair, dan konstituen seluler (Hirsch & Zee, 1999). 1. Barier Fisik Terdiri dari kulit dan permukaan mukosa. 2. Flora Normal Dalam rangka memproduksi suatu penyakit pada permukaan mukosa, mikroorganisme patogen harus berinteraksi dengan sel permukaan. Jika sel tersebut telah ditempati oleh flora normal, maka tidak akan terjadi interaksi antara mikroorganisme patogen dengan sel permukaan, sehingga tidak terjadi penyakit. Dari mekanisme tersebut, flora normal digolongkan sebagai bagian dari innate immunity. Flora normal terdiri dari bakteri dan fungi (umumnya yeast). Bakteri dan fungi ini memiliki hubungan yang unik dengan organisme yang

Proses ini dibantu oleh opsonin dan/atau imunoglobulin dan komponen komplemen. Lisozim adalah enzim yang terdapat pada sekret berbagai sel tubuh. Diantaranya protein komplemen. saluran pernapasan. protein ini sangat berperan dalam innate immunity (Hirsch & Zee. Terdiri dari interferon alfa dan beta. mereka bertambah banyak. Pertama terjadi pengenalan dan pengikatan awal. sedangkan interferon gamma termasuk imunitas yang diperoleh (acquired immunity). mengenali dan mengikat Ca2+ ke permukaan berbagai spesies bakteri dan fungi. 1999). transferin) ditemukan dalam fase cair sebatas keberadaan zat besi (iron). Mikroorganisme penginfeksi dicerna oleh neutrofil melalui proses fagositosis. hubungan ini dimulai saat fetus yang steril mulai memasuki birth canal. Fagositosis bakteri oleh neutrofil terjadi dalam beberapa tahap. Pergerakan neutrofil dipengaruhi oleh faktor kemotaktis. interferon. extravasation ke dalam ruang antarjaringan. Selama infeksi. dan chemotaxis sel menuju ke daerah luka. Bakteri Gram-positif mudah diserang. Karena besi merupakan kebutuhan utama untuk pertumbuhan bakteri dan fungi. Interferon penting untuk imunitas terhadap virus. termasuk permukaan mukosa pencernaan. sehingga terjadi akumulasi neutrofil. Iron-binding protein (laktoferin. 4. Lalu pseudopodia terbentuk mengelilingi organisme dan fusi membentuk vakuola fagositik yang berisi organisme. Proses akumulasi neutrofil diawali dengan adherence neutrofil di sistem sirkulasi ke endotelium vaskuler (margination). . Enzim ini memotong lapisan peptidoglikan dinding sel bakteri. Bakteri dan fungi mulai berkoloni di seluruh permukaan yang terbuka. dan saluran urogenital distal. protein fase akut. Sel-Sel Imunitas Alami 1. lisozim. 3. Protein ini juga mengaktivasi sistem komplemen. Sel-sel fagosit Infeksi bakteri di dalam tubuh menyebabkan mobilisasi neutrofil yang cepat dari tempat penyimpanannya ke area infeksi. dan iron-binding protein. Konstituen Fase Cair (Fluid Phase Constituents) Ada banyak molekul cair yang penting untuk pertahanan alami melawan mikroorganisme patogenik. Protein fase akut secara normal terdapat dalam jumlah yang sangat kecil dalam plasma.ditempatinya (host). Contohnya protein C-reaktif. C-reaktif berperan sebagai opsonin yang memfasilitasi fagositosis.

Makrofag distimulasi oleh sitokin (misalnya interferon) atau produk mikrobial (misalnya lipopolisakarida) untuk mengaktivasi nitric oxide synthase yang mengkatalis produksi nitro oksida (NO) dari Larginin. selain penting dalam acquired immunity. Setelah ditelan. misalnya keberadaan kapsul polisakarida menyebabkan organisme resisten terhadap fagositosis. Sel ini tidak memiliki reseptor sel T. ia dilepaskan ke aliran darah dalam bentuk monosit sebelum menuju ke jaringan di mana ia akan menjadi makrofag yang fungsional.Beberapa organisme dapat mengantisipasinya. Makrofag merupakan sel mononuklear yang dibentuk di sumsum tulang. setelah 8-12 jam. Makrofag dan neutrofil memiliki persamaan dan perbedaan. atau CD2 dan tidak memiliki imunoglobulin. Untuk beberapa hari setelah dilepaskan dari sumsum tulang. Sel NK berfungsi membunuh sel tumor. Neutrofil merespon stimulus dengan cepat. Makrofag Makrofag. Kadangkala neutrofil dapat mengeliminasi organisme sebelum makrofag datang dalam jumlah besar. CD4. Inflamasi . Sel Natural Killer (NK) Sel natural killer merupakan sel limfoid dengan karakteristik bukan sebagai limfosit T ataupun limfosit B. CD8. dan beberapa bakteri. 5. Makrofag mirip dengan neutrofil dalam hal enzim hidrolitik dan peptida kationik (defensins) yang dihasilkan oleh lisosom. makrofag tidak ada sampai terjadi proses infeksi. 3. suatu reseptor IgG afinitas rendah. 2. Perbedaannya. Kapsul tersebut memiliki muatan negatif (sama dengan muatan di permukaan sel fagosit) dan relatif hidrofilik (membran sel fagosit relatif hidrofobik). makrofag memiliki waktu hidup yang lebih panjang di jaringan. granula lisosom fusi dengan membran fagosom membentuk fagolisosom. juga penting dalam imunitas alami. Sel NK memiliki membran reseptor CD16. NO sangat toksik bagi kebanyakan bakteri. sel yang terinfeksi virus.

1999). Antigen ditangkap oleh makrofag dari lingkungan eksternal. 2) meningkatnya permeabilitas kapiler. Proses fagositosis: A) Bakteri diopsonisasi oleh antibodi. Secara patologis ada empat tanda-tanda inflamasi: calor (panas). C) Fagosom berisi bakteri. Respon imun kemudian terjadi secara lokal dan sistemik karena antigen dapat dibawa ke aliran darah kemudian ke limpa. tumor (bengkak). Terjadi transportasi agen ke nodus limfatikus lokal. akan diproses di fagosom dan bagian dari antigen yang tercerna akan dibawa ke permukaan. dan rubor (kemerahan). E) Produk pembongkaran bakteri dieliminasi dari sel. dolor (sakit). B) Fagosit mulai melingkupi bakteri yang menempel. antigen diproses dan dipresentasikan ke limfosit. fusi dengan lisosom pada sitoplasma fagosit membentuk fagolisosom. Pengenalan awal antigen kepada host diikuti dengan pemrosesan yang tepat dan stimulasi sel T sehingga menghasilkan pembentukkan klon-klon . Respon Antibodi Respon acquired immunity dimulai dengan penelanan agen infeksi oleh APC. Beberapa bagian bakteri masih terdapat pada membran makrofag untuk digunakan dalam presentasi ke sel T (Hirsch. Antibodi mengikat reseptor Fc pada fagosit. Respon Acquired Immunity Respon ini digerakkan oleh adanya presentasi antigen terhadap sel T dan B oleh antigen-presenting cell (APC). D) Bakteri mati dan dicerna. Gambar 1. 3) kemotaksis neutrofil dan makrofag ke area (Hirsch & Zee. 1. 2. misalnya bakteri yang difagosit dan didigesti di dalam vakuola fagositik. Pada nodus limfatikus. Proses ini memiliki 3 komponen: 1) meningkatnya sirkulasi ke area.Inflamasi adalah istilah untuk respon tubuh terhadap kelukaan. 1999).

Antibodi pertama yang diproduksi adalah isotipe IgM dan akan terdapat dalam sirkulasi saat 7-10 hari setelah inisiasi respon imun.sel B spesifik terhadap epitop yang berbeda pada antigen. Gamma interferon juga merupakan aktivator sel NK. Tipe infeksi ini membutuhkan respon TH1 untuk memproduksi gamma interferon. 1999). Salmonella. maka antibodi antitoksin penting untuk menetralkan dan mengikat toksin sebelum toksin itu mengikat area seluler lain dan menginisiasi gejala klinis. Makrofag teraktivasi berguna untuk menghancurkan agen infeksi intraseluler (misalnya Brucella. dan isotipe antibodi yang dikeluarkan. misalnya tetanus. 1999). memungkinkan makrofag untuk membunuh mikroorganisme yang mampu menghindari antibodi. Gamma interferon dikenal sebagai macrophage activating factor. IgG dan IgM berfungsi sebagai opsonin dan bekerja bersama sel fagosit untuk meningkatkan proses menelan dan membunuh. Lalu IgG akan muncul tetapi tidak meningkat tinggi pada respon imun primer ini. Isotipe yang predominan adalah IgG. berkelanjutan mencari mikroba patogen di jaringan dan darah. Terdapat beberapa subtipe leukosit. . KOMPONEN DARAH YANG BERPERAN DALAM SISTEM IMUN Terdapat tiga tipe sel darah. Respon antibodi untuk pertahanan terhadap penyakit bakterial. misalnya Listeria dan Mycobacterium. Mycobacterium. Sel T sitotoksik melisiskan sel host dimana agen infeksi berada (Hirsch & Zee. Pertemuan berikutnya dengan antigen. respon anamnestik sekunder akan terjadi. Untuk bakteri yang hidup secara intraseluler fakultatif. IgG dan IgM juga mengaktivasi urutan komplemen sehingga mengakibatkan lisisnya bakteri (jika Gram negatif). dilihat dari perbedaan morofologinya dan kemampuannya. antibodi relatif inefektif untuk membunuh dan membuang agen tersebut. Leukosit bekerja berhubungan dengan protein plasma. 2. tetapi mikroba masih dapat menembus pembatas ini dan berlanjut hingga bisa terjadi infeksi internal. II. sel B akan berdiferensiasi menjadi sel plasma penghasil antibodi. area proses infeksi. eritrosit (sel darah merah) leukosit (sel darah putih) dan platelet (trombosit). Imunitas Yang Dimediasi Sel (Cell-Mediated Immunity) Respon ini terdiri dari dua mekanisme yang berbeda: aktivasi makrofag (hipersensitifitas) dan sel T sitotoksik. meningkatkan kemampuan sel NK untuk membunuh targetnya (Hirsch & Zee. tergantung mekanisme patogenik yang terlibat. Jika penyakitnya disebabkan oleh toksin ekstraseluler. Dibawah pengaruh sel T sitokin. Rickettsia). Leukosit darah termasuk dalam pertahanan tubuh melawan infeksi mikroorganisme. Ketika kulit dan membran mukosa secara fisik membatasi masuknya agen infeksius. meningkatkan regulasi proses metabolik pada makrofag.

1. dan mencerna bakteri. Imunisasi Aktif . memakan dan mempresentasikan antigen. 2003). yang berdiferensiasi dari monosit teraktivasi dalam jaringan (Rhoades. Jumlah dan proporsi relatif subtipe leukosit dapat sangat bervariasi pada keadaan penyakit yang berbeda. Sel mononuklear. Basofil: mendatangkan reaksi hipersensitif lewat sekresi mediator vasoaktif dengan degranulasi. Limfosit menurun ketika terkena AIDS dan selama infeksi beberapa virus lain (Rhoades. 2003). berperan dalam pengaturan respon inflamatori alergik dan akut.Dari total leukosit. Eosinofil meningkat ketika individu terekspos alergen. 2005). 5. Sedangkan imunisasi merupakan proses buatan untuk menghasilkan perlawanan terhadap infeksi. dan mengontrol parasit metazoa. respon imun yang dimediasi secara humoral (sel B). Sel fagosit ini aktif mencerna dan menghancurkan mikroorganisme penginvasi. Neutrofil: memakan. termasuk monosit dan limfosit menyusun 20-50% dari total leukosit. 4. Eosinofil dan basofil adalah sel polimorfonuklear yang terdapat dalam jumlah sedikit (1-6% dari total leukosit) dan ikut serta dalam reaksi alergi hipersensitif. 3. biasanya menggunakan vaksin. 2. Vaksinasi VAKSINASI adalah metode untuk menghasilkan imunitas aktif melawan infeksi spesifik melalui pemberian vaksin. mencerna kompleks antigen-antibodi. III. Eosinofil: menghancurkan. Misalnya jumlah neutrofil absolut seringkali meningkat selama infeksi. Sel ini membentuk antibodi dan menjaga reaksi imun seluler melawan agen penginvasi. Limfosit: respon imun yang dimediasi sel (sel T). Semua sel tersebut ditemukan dalam sirkulasi kecuali makrofag. Monosit: prekursor makrofag. Gambar 2. mediasi respon inflamatori. Berbagai peranan tipe-tipe leukosit: 1. kadang-kadang menggunakan antisera atau antitoksin (Boden. Tipe-tipe leukosit dalam darah dan jaringan. mencerna. 40-75% adalah neutrofil yang bersifat neutrofilik dan polimorfonuklear. menghancurkan.

DNA yang mengkode protein viral dapat digunakan sebagai material vaksin (Kayser. 2. rabies. Vaksinasi booster perlu diberikan secara berulang. 2005). antigen (virus) diintroduksi ke dalam tubuh. vektor digunakan untuk mengeskpresikan gen virus tersebut pada vaksin. Vaksin hidup yang dilemahkan (Live attenuated vaccines) Vaksin ini lebih efektif dan dapat bertahan lama setelah pemberian dosis tunggal. Vaksin Inaktif Menggunakan antigen dari virus yang dimatikan. 4. misalnya untuk melawan hepatitis B dan rabies (Kayser. Vaksin Rekombinan Karena hanya dibutuhkan sebagian kecil dari protein viral yang akan menginduksi imunisasi. Beberapa vaksin inaktif yang masih digunakan sampai sekarang antara lain influenza. baik dalam bentuk inaktif atau dengan patogenitas yang dilemahkan tetapi masih dapat berreplikasi. Vaksin hidup lebih disukai bila tersedia. 2. Namun vaksin hidup memiliki kekurangan dan resiko. Vaksin rabies berisi vaksin rekombinan merupakan satu-satunya yang sering dipakai. misalnya strain picornavirus. dan poxvirus. mampu menginduksi respon humoral dan kadang juga seluler. 1. 2005). Proteksi yang didapat bersifat jangka pendek dan hanya efektif melawan virus yang menyebabkan viremia. Vaksin DNA Sejak DNA murni dapat dimasukkan ke dalam sel eukariotik (transfeksi) dan informasi yang dibawanya dapat diekspresikan.Pada metode ini. tidak stabil. Beberapa vaksin berisi protein imunogenik utama dari virus dan membuat perlindungan yang lebih efektif. Vektor yang baik memiliki virulensi rendah. Imunisasi Pasif Tipe vaksin ini melibatkan injeksi antibodi yang hanya menggunakan imunoglobulin manusia. dan vaksin hepatitis A dan B. alphavirus. Beberapa vaksin rekombinan belum disetujui penggunaannya pada manusia. dan kemungkinan mutasi balik yang dapat menghasilkan strain patogenik. *** . 3. potensi kontaminasi dengan virus lain. karena virus yang terdapat dalam vaksin masih mampu berreplikasi. Imunisasi pasif biasanya dilakukan setelah terjadi penyebaran (epidemi) dan didesain untuk mencegah penyebaran patogen yang melibatkan infeksi berisiko tinggi. untuk memungkinkan tubuh menyusun imunitasnya sendiri.

Philadelphia: Lippincott William & Wilkins . (2005). London: A & C Black Hirsch. Veterinary Microbiology. & Zee. A. Oxford: Blackwell Science Kayser. E. J. R. (2005). (1999). G. Medical Physiology 2nd.... & Zinkernagel. C.DAFTAR PUSTAKA Boden. Bienz. New York: Thieme Rhoades.. Black’s Veterinary Dictionary. F.. K. D. R. Medical Microbiology. Eckert. & Tanner. (2003).